Umat Islam Indonesia jangan kesusupan wahabi ! Kebencian terhadap syi’ah di Indonesia ditunggangi salafi wahabi si penumpang gelap

Wahabi Ideologi Trans Nasional

Menurut Emha Ainun Nadjib, 5 november 2013, saat ini umat Islam di Indonesia menjadi incaran pihak luar untuk diadu domba dengan mempertentangkan  kelompok-kelompok yang berseberangan dari sisi amaliah.

“Mereka punya kepentingan terselubung,” ujarnya.

Suami Novia Kolopaking itu terang-terangan menuding Arab Saudi yang bersekongkol dengan Israel dan Amerika Serikat sebagai pihak yang terus mengoyak keutuhan umat Islam Indonesia. Tujuannya, agar umat Islam Indonesia lemah.

“Kalau kita (umat Islam) lemah, Indonesia juga lemah. Kalau sudah lemah, gampang dijajah, karena umat Islam merupakan mayoritas,” tukas Cak Nun.

Cak Nun menambahkan, sebenarnya tidak ada yang perlu dipersoalkan, apalagi dipertentangkan antarkelompok umat Islam. Yang penting, katanya, rukun Iman dan rukun Islam tidak diubah, sesuai dengan syariat yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

“Sedikit-sedikit bid’ah, kafir, apa tidak ada pekerjaan lain?” ucapnya mengkritik kelompok yang gemar memvonis salah pihak lain.

MetroTV pernah  memunculkan tokoh bernama Prof. DR. Azyumardi Azra. Ketika diberi kesempatan menyampaikan pandangannya (27 Agustus 2012), Azra mengatakan, kebencian terhadap syi’ah di Indonesia berasal dari paham salafy-wahaby yang merupakan ‘ideologi’ trans nasional.

Salafy-Wahaby sebagai ‘ideologi’ trans nasional yang seolah-olah menjadi sumber radikalisme

Azra juga mengatakan, bahwa di tahun 1980-an, para penganut paham salafy-wahaby yang sangat anti syi’ah ini, getol meminta pemerintah Soeharto untuk ‘mengeliminasi’ keberadaan syi’ah di Indonesia, namun ditolak Soeharto.

Ketika itu Azra juga menunjukkan rasa herannya, mengapa kaum Nahdliyin yang secara tradisi dikatakan (oleh mendiang Abdurrahman Wahid) syi’ah kultural (kini tahu-tahu) justru memberangus syi’ah. Hal itu, kata Azra kemungkinan kaum Nahdliyin di Sampang sudah disusupi paham salafy-wahaby yang anti syi’ah.

Menurut Azra, ketika di tahun 1980-an sejumlah tokoh Islam (ahlussunnah wal jama’ah) meminta pemerintah Soeharto untuk ‘mengeliminasi’ keberadaan syi’ah di Indonesia, Soeharto menolaknya.

Mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan bahwa NU (Nahdlatul Ulama) itu syi’ah kultural.

PESANTREN BERAFILIASI WAHABI SALAFI

Gerakan Wahabi

Gerakan Wahabi

Pesantren wahabi  memproduksi kalangan anak muda radikal. Pesantren ini dipengaruhi oleh gerakan Wahabi Salafi. Yakni, versi garis keras pemahaman Wahabi/Salafi. Mereka mudah mengkafirkan atau membid’ah-kan siapa saja yang bukan bagian dari dirinya.

Ciri khas dari pesantren ini sama dengan ciri khas pesantren Muhammadiyah. Yaitu, tidak ada ritual tahlil, tidak ada qunut saat shalat subuh, dll. Tidak suka bermadzhab kecuali kepada tokoh ulama Wahabi. Mereka bahkan menganggap acara tahlil, ziarah kubur dan maulid Nabi dkk sebagai bid’ah, syirik atau kufur.

Banyak dari pesantren ini yang mendapat dana dari pemerintah Arab Saudi melalui berbagai jalur antara lain Rabithah Alam Islamy dan jalur-jalur lain.

Jauhi pesantren seperti ini. Sebaik apapun kualitas pendidikan di dalamnya. Kecuali kalau Anda ingin anak Anda menjadi pengebom bunuh diri. Contoh dari pesantren radikal ini adalah pesantren Umar bin Khattab, NTB.

Ketua PBNU Agil Siradj mengatakan di berbagai kesempatan bahwa akar terorisme dan konflik pemecah belah antar-golongan umat Islam di Indonesia adalah kelompok Islam penganut Wahabi Salafi.


PONDOK PESANTREN RADIKAL 

Pondok Pesantren Radikal

Ponpes Pondok Pesantren Radikal penganut Islam garis keras ekstrim

Pesantren apa yang dimaksud dengan Pondok Pesantren Radikal?

Yang disebut dengan pondok pesantren radikal adalah pondok pesantren (ponpes) yang memiliki paham radikal dalam menafsiri Al Quran dan Hadits. Serta memiliki rasa toleransi yang minim terhadap golongan lain.

Pesantren tipe ini adalah pesantren yang secara langsung atau tidak langsung ada hubungannya dengan faham Wahabi garis keras yang dikenal dengan sebutan Salafi.

Umumnya pengasuhnya lulusan dari salah satu universitas di Arab Saudi atau mendapat biaya dari pemerintah Arab Saudi.

Seberapa intoleransi sikap mereka terhadap golongan lain di luar dirinya?

Mereka sangat mudah mengkafirkan orang lain (takfir) yang tidak sepaham. Ideologi takfir ini pada gilirannya menjadi pemicu adanya terorisme.

Apa hubungannya?

Saat seroang muslim menghakimi muslim lain sebagai kafir, maka tinggal selangkah lagi baginya untuk membunuh yang dianggap kafir tersebut kalau ada kesempatan.

Apa saja pesantren yang termasuk dalam katagori radikal?

Setiap pesantren yang mengedepankan kekerasan dibanding perdamaian; dan kebencian dibanding sikap cinta damai, patut disebut dengan pesantren radikal.

Apa pesantren semacam itu banyak terdapat di Indonesia?

Tidak banyak. Hanya satu dua. Tapi itu sudah cukup membuat kita prihatin.


PONDOK PESANTREN WAHABI wujud wahabinisasi dikalangan NU

Sistem aqidah dan manhaj fiqihnya  lebih cenderung ke madzhab Hanbali secara umum atau secara khusus mengikuti fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama Wahabi seperti Ibnu Utsaimin, Abdullah bin Baz, dan lain-lain.

Wahabi Jelas Bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ! NU Harus Berani terang terangan melawan gerakan Radikal.

Wahabi Jelas Bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Pada saat sekarang ini kaum Salafi Wahabi (SAWAH) sudah mulai getol menyatakan dirinya Ahlus Sunnah Wal jama’ah,tapi benarkah mereka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?

Wahabi Ideologi Trans Nasional

Menurut Emha Ainun Nadjib, 5 november 2013, saat ini umat Islam di Indonesia menjadi incaran pihak luar untuk diadu domba dengan mempertentangkan  kelompok-kelompok yang berseberangan dari sisi amaliah.

“Mereka punya kepentingan terselubung,” ujarnya.

Suami Novia Kolopaking itu terang-terangan menuding Arab Saudi yang bersekongkol dengan Israel dan Amerika Serikat sebagai pihak yang terus mengoyak keutuhan umat Islam Indonesia. Tujuannya, agar umat Islam Indonesia lemah.

“Kalau kita (umat Islam) lemah, Indonesia juga lemah. Kalau sudah lemah, gampang dijajah, karena umat Islam merupakan mayoritas,” tukas Cak Nun.

Cak Nun menambahkan, sebenarnya tidak ada yang perlu dipersoalkan, apalagi dipertentangkan antarkelompok umat Islam. Yang penting, katanya, rukun Iman dan rukun Islam tidak diubah, sesuai dengan syariat yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

“Sedikit-sedikit bid’ah, kafir, apa tidak ada pekerjaan lain?” ucapnya mengkritik kelompok yang gemar memvonis salah pihak lain.

Cover_Depan

Ada bermacam  macam aliran di dalam Islam. Tidak semua aliran mengaku sebagai bagian Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Ahlussunah adalah aliran yang diikuti mayoritas umat Islam dunia sejak dari dulu hingga saat ini. sementara ada beberapa aliran yang jelas bukan bagian dari Ahlussunah di antaranya Syiah, Khawarij, dan Mu’tazilah.

Salah satu aliran yang bukan ahlusunnah, adalah Syi’ah sang pengikut ahlul bait Nabi SAW

Perlu dicatat bahwa Islam di Iran bukanlah Islam seperti yang sebagaimana kita kenal pada umumnya, melainkan Islam Syiah. Syiah adalah golongan minoritas yang seringkali “dikafirkan” oleh mayoritas muslim yakni golongan Ahlussunnah. Beberapa perbedaan seperti cara sholat, pandangan mereka terhadap Rasul & Sahabat, Hadits yang berbeda akan dengan mudah ditemukan bila membandingkan kedua golongan ini

mungkin anda akan berfikir bahwa pemerintah Iran adalah semacam diktator dan tidak memikirkan nasib kaum minoritas (Non-Syiah), hal tersebut adalah salah karena di Iran, kaum minoritas justru sangat diperhatikan. Sinagog (tempat ibadah Yahudi) dan Gereja disana jumlahnya sama banyaknya dengan Masjid Syiah. Syiah, Yahudi, dan Nasrani hidup berdampingan tanpa pernah ada saling terror dan intimidasi satu dengan lainnya, padahal perbandingan jumlah mereka sangatlah jauh.

Masyarakat Iran begitu religius dengan Islam Syiah-nya tetapi sangat menghormati kaum minoritas beragama lain, Indonesia dengan masyarakatnya yang sangat tidak religius dengan Islam Ahlussunnah-nya tetapi begitu menentang keberadaan kaum minoritas beragama lain. Sudah saatnya bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan nilai-nilai tradisional dan spiritualnya supaya bisa menjadi bangsa yang kuat, mandiri, dan religius layaknya yang dilakukan Iran

Cover_Depan

Fakta kuat : Sekte Wahhabi Sedikit Pun Tak Layak Mengaku Ahlussunnah Wal Jamaah!

.
Bahkan Ulama Ahlussunnah Terkemuka Sekelas Imam Ibn Hajar al-Asqalani Dituduh Sesat Oleh Kaum Wahhabi !!! Na’udzu Billah !!
Masalah yang paling banyak mendapat pengingkaran keras dari kaum Musyabbihah [kaum Wahhabi di masa sekarang] yang sangat benci terhadap Ilmu Kalam adalah pembahasan nama-nama atau sifat-sifat Allah. Mereka seringkali mengatakan bahwa ungkapan istilah-istilah seperti al-jism (benda/tubuh), al-hadaqah (kelopak mata), al-lisan (lidah), al-huruf (huruf), al-qadam (kaki), al-jauhar (benda), al-‘ardl (sifat benda), al-juz’ (bagian), al-kammiyyah (ukuran) dan lain sebagainya, dalam pembahasan tauhid adalah perkara bid’ah. Mereka mengatakan bahwa dalam mentauhidkan Allah tidak perlu mensucikan Allah dari istilah-istilah tersebut.

.

Menurut mereka pembahasan seperti itu bukan ajaran tauhid yang diajarkan Rasulullah, dan karenanya, -menurut mereka-, hal semacam itu bukan merupakan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
.
Dalam berbagai masalah akidah, kaum jumud yang sangat keras kepala ini hanya berkiblat kepada Ibn Taimiyyah. Semua akidah Tasybih dan Tajsim yang ada pada Ibn Taimiyyah dengan sangat rapih mereka ikuti setiap jengkalnya, seperti berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy, Allah memiliki bentuk dan ukuran, nereka akan punah, dan lain sebagainya

 

Cover_belakang


Simak pula tulisan pemuka Wahhabi lainnya, Shalih ibn Fauzan al-Fauzan, dengan tanpa sungkan ia berkata: “Kaum al-Asy’ariyyah dan kaum al-Maturidiyyah adalah kaum yang menyalahi para sahabat dan Tabi’in, juga para Imam madzhab yang empat dalam kebanyakan permasalahan akidah dan dasar-dasar agama. Karenanya mereka tidak layak untuk diberi gelar Ahlussunnah Wal Jama’ah” (Lihat dalam karyanya berjudul “Min Masyahir al-Mujaddidin Fi al-Islam; Ibn Taimiyah, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab”. Cet. Dar al-Ifta’, Saudi Arabia, 1408 H, h. 32).
.
Pemuka wahhabi lainnya bernama Muhammad ibn Shalih al-‘Utsaimin, salah seorang pendakwah ajaran Wahhabi terdepan, dalam salah satu bukunya berjudul Liqa’ al-Bab al-Maftuh menusikan sebagai berikut:
.
“Soal: “Apakah Ibn Hajar al-‘Asqalani dan an-Nawawi dari golongan Ahlussunnah atau bukan?”.

Jawab (‘Utsaimin):

“Dilihat dari metode keduanya dalam menetapkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah maka keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah”.

.
Soal: “Apakah kita mengatakan secara mutlak bahwa keduanya bukan dari golongan Ahlussunnah?”.

Jawab: “Kita tidak memutlakan” (Lihat buku dengan judul Liqa al-Bab al-Maftuh, cet. Dar al-Wathan, Riyadl, 1414 H, h. 42).

Ratusan Pesantren di Indonesia Terindikasi Radikal karena kesusupan Wahabi Salafi

103 Pesantren di Indonesia Terindikasi Radikal
 
Kamis, 07/03/2013 19:55

Di Indonesia jumlah pesantren mencapai sekitar 24.000, terdiri dari pesantren bergaya tradisional, modern, dan kombinasi keduanya. Namun, akhir-akhir ini terdapat corak lain, yakni pesantren berhaluan keras atau radikal.

”Ada 103 pesantren yang terindentifikasi radikal,” kata koordinator media, data, dan informasi Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMINU), Agus Muhammad, Kamis (7/3), di Jakarta.

Agus menjelaskan, indikasi pesantren radikal dapat dilihat dari paham dan sikap keberagamaannya, antara lain, berpaham wahabi, gemar memaksakan pendapat, anti-keragaman, dan mengambil jalan kekerasan. Pesantren garis keras ini tersebar baik di dalam maupun di luar Pulau Jawa dan jumlahnya dimungkinkan akan bertambah.

”Mereka mengklaim sebagai kelompok Islam paling murni sehingga merasa berkewajiban mempurifikasi orang lain. Makanya mereka disebut puritan. Mereka suka memaksakan pendapat, sangat koersif,” ujarnya.

Menurut Agus, kelompok-kelompok yang berseberangan dengan paham ke-NU-an ini mulai tumbuh di Indonesia sekitar tahun 80-an. Mereka berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah alumni pendidikan Timur Tengah atau dalam negeri yang mendorong perilaku ekstrem.

”Sebagian dari mereka malah ada yang jelas-jelas melakukan konsolidasi melakukan kekerasan, seperti pesantren Umar bin Khattab di Bima Nusa Tenggara Barat,” imbuhnya.

RMINU memastikan, pesantren berbasis nahdliyin tidak ada yang terlibat dalam radikalisme, apalagi terorisme. Melalui prinsip tasammuh (toleransi), tawasuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), dan i’tidal (tegak), lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara ini menolak berbagai bentuk kekerasan dan pembelotan

KH Sya’roni: Sebarkan Islam Seperti Sunan Kalijaga
Selasa, 20/11/2012 13:12

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sya’roni Ahmad dari Kudus merasa prihatin dengan munculnya berbagai kelompok Islam garis keras dan radikal. Ia meminta para ulama, kiai dan umaro untuk selalu waspada namun tetap arif dan bijaksana.

Demikian disampaikan KH Sya’roni Ahmad saat menyampaikan mauidhotul hasanah di hadapan ulama, kiai dan umaro sekabupaten Demak dalam rangka pertemuan rutin antara ulama umaro yang diselenggarakan oleh forum komunikasi ulama umaro se Kabupaten Demak di pendopo kabupaaten Demak, Ahad (18/11) lalu.

“Akhir akhir ini ada beberapa orang atau kelompok yang mengatasnamakan mubaligh maupun ulama yang dalam menyampaikan da’wahnya selalu memaksakan pendapatnya agar dianut dan diterima dan ini sangat memprihatinkan bagi umat Islam itu sendiri,” kantanya.

Kiai Sya;roni mengimbau agar para ulama meniru cara dakwah Wali Songo. Ia menyontohkan,Sunan Kalijaga yang selalu menggunakan cara budaya adat yang mudah dan bisa diterima oleh umat itu secara halus dan tidak adanya unsur kekerasan sesuai dengan cara yang dilakukan para Nabi.

“Sunan kali jaga itu punya gong sekaten (syahadatain), beliau berdakwah atau mulai pagelaran wayang kalau gong sudah berbunyi, la gong dipukul kalau semua yang hadir sudah bersahadad,” tambah kiai Sya’roni.

Bupati Demak H Dachirin Sa’id dalam sambutannya memaparkan program pemkab Demak dalam membangun sikap dan mental masyarakat Demak. Diantaranya menjalin kerjasama dan saling dukung antara pemerintah, ulama, kiai dan tokoh masyarakat Demak.
“Masyarakat Demak berniat membangun umat dan mental masyarakatnya dan itu butuh dukungan dan kerja sama para alim, tokoh, kiai dan umaro se kabupaten Demak,” demikian pinta Dachirin dihadapan 600-an ulama dan umaro di pendopo kemaren

Dachirin juga menyampaikan bahwasannya dalam menindaklanjuti program semacam itu juga dilakukan di tingkat kecamatan yang melibatkan kiai desa.

“Silaturrahmi ini akan kami lanjutkan di tingkat kecamatan kalau tahun kemaren hanya sekali dalam setahun maka tahun depan kita lakukan dua kali dalam setahun,” paparnya.

katib Aam: Tantangan Aswaja NU Kian Berat
Ahad, 19/05/2013 14:30

 

Era reformasi yang didalamnya diiringi globalisasi sangat terbuka bagi merebaknya sejumlah isme, khususnya di Indonesia. Pada saat yang bersamaan, di tanah air juga bermunculan sejumlah aliran keislaman produk lokal.

Efek dari kemunculan isme-isme ini mengakibatkan keberadaan Ahlussunnah wal Jamaah ala NU kian terjepit. Baik Islam yang beraliran kanan maupun kiri.

“Gerakan Islam kanan sering diidentifikasikan sebagai gerakan radikal yang biasa mengklaim kebenaran sebagai milik eksklusif mereka dan harus diperjuangkan dan diterima orang lain,” kata Katib Aam PBNU ini (18/5).

“Bila perlu kelompok ini melakukan paksaan bahkan teror untuk memaksakan ide dan gagasannya,” lanjutnya.

Bagi Malik Madani, apa yang dilakukan kalangan kanan ini bertolak belakang dengan gerakan Islam kiri (al-yasari) yang bernuansa liberal.

Pandangan ini disampaikan Malik Madani pada Seminar Keagamaan Pra Konferensi Wilayah NU Jawa Timur yang bertepatan dengan Harlah ke-90 NU. Seminar dengan tema Aswaja NU dan Tantangan Sosial Keagamaan di Tengah Perubahan ini menghadirkan Prof Dr Muhammad Baharun (MUI Pusat) serta Dr Noorhaidi Hasan (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan dimoderatori H Nur Hidayat (Wakil Sekretaris PWNU Jatim). Kegiatan diselenggarakan di lantai 3 gedung PWNU Jatim.

Di hadapan undangan dari sejumlah PCNU se Jawa Timur ini, Malik menandaskan bahwa gerakan Islam kanan transnasional secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tipe berdasarkan basis perjuangan, yakni gerakan Islam kanan yang berbasis purifikasi.

“Beberapa yang masuk kategori ini adalah Wahabi, Salafi, Taliban serta Jama’ah Tabligh dengan tradisi khurujnya.”

Tipe kedua adalah gerakan Islam kanan berbasis politik diantaranya adalah Al-Ikhwanul Muslimun, Al-Jama’ah Islamiyyah, Hizbut Tahrir al-Islami, Jamaah al-Islami serta Taliban.

“Sedangkan yang ketiga adalah gerakan Islam kanan berbasis kekerasan dan teror,” tandasnya.

“Beberapa yang masuk kategori ini adalah al-Qaidah, al-Jamaah al-Islamiyyah, Taliban, Wahabi Sururi serta Tanzimul Jihad,” tandasnya.

Kondisi ini kian diperparah munculnya gerakan-gerakan Islam kanan produk lokal seperti Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) serta Frtont Pembela Islam atau FPI.

Karena itu kalau kemudian di PWNU Jatim telah berdiri Aswaja NU Center, maka hal itu harus diapresiasi. “Rasanya Aswaja NU Center hanya ada  NU Jawa Timur,” katanya.

“Dan ini harus disambut dengan sambutan meriah,” lanjutnya.

Dengan berdirinya Aswaja NU Center ini diharapkan kesadaran warga akan pentingnya melakukan pengkajian bagi Aswaja di segala tingkatan. Demikian juga bagaimana dari pengkajian tersebut dapat ditindaklanjuti dengan kesadaran kolektif seluruh jajaran NU di segala tingkatan.

“Namun demikian, dengan dunia yang kian berubah, harus mulai dipikirkan agar Aswaja NU dapat tetap up to date sehingga tetap dicintai semua kalangan, khususnya anak muda NU,” harapnya

Yahya Staquf: Gerakan Radikal Ingin Ambil Alih Kekuasaan
Senin, 29/04/2013 07:02

Katib Syuriyah PBNU KH Yahya C. Staquf mengatakan, gerakan radikalisme Islam memiliki agenda ingin mengambil alih kekuasaan untuk membentuk negara baru sesuai dengan paham mereka.

“Gerakan lainnya adalah selalu menolak bahkan mengkafirkan orang Islam di luar kelompoknya,” ujarnya dalam acara dialog publik Nation dan carakter building yang diadakan GP Ansor – Fatayat NU bekerjasama dirjen IKP Kementrian Kominfo di Gedung MWCNU Kecamatan Dawe Kudus, Sabtu (27/4).

Gus Yahya menandaskan, radikalisme Islam telah menjadi ancaman yang sangat berbahaya sehingga gerakannya harus dibendung.

“Jika gagal dibendung, NU Islam moderat di Indonesia juga akan hilang,” tegasnya di hadapan ratusan Nahdliyyin.

NU didirikan di Indonesia, tambahnya, untuk mengikat bangsa ini supaya tidak lepas. Hal ini terlihat dari simbol tali yang melingkari bumi (peta) Indonesia pada lambang NU.

“Maksudnya tali itu sebagai pengikat Indonesia, kalau lepas maka negara akan meleleh,” jelas putra almarhum KH Cholil Bisri ini.

Dikatakan, orang berpotensi menjadi radikal bukan disebabkan miskin melainkan merasa terasing dan mempunyai masalah. Sebagaimana orang Badui yang berpenduduk asli Arab tersingkirkan ketika pada masa masuknya Islam, kepemimpinannya jatuh di tangan orang lain.

“Karena merasa tersingkir sehingga mereka melakukan penolakan-penolakan dalam beberapa hal secara radikal. Bahkan mereka menolak kekuasaan pemerintah dalam tanah hijaz.”tambah mantan juru bicara presiden RI KH.Abdurrahman Wahid ini.

Di akhir ceramahnya, Gus Yahya mengajak nahdliyyin merawat tradisi amalan NU dan mengumpulkan jamaah atau komunitas seperti NU. Melalui komunitas itu akan mudah memberi pemahaman yang benar serta memilah-milah aliran  maupun gerakan radikalisme.

“Kalau jamaah NU  kendor maka akibatnya mudah dirusak oleh orang-orang radikal maupun  Wahabi, ” tandasnya.

Selain Gus Yahya, nara sumber lainnya dalam dialog publik bertema peran pemuda Islam moderat dalam  menangkal radikalisasi agama ini adalah ketua Umum PP GP Ansor H. Nusron Wahid, Staf Ahli Menkominfo Suprawoto dan Dirjen IKP Kementrian kominfo Freddy H.Tulung.

 

Munculnya Gerakan Islam Militan Menjadi Tantangan NU
Sabtu, 25/05/2013 09:03

Munculnya gerakan Islam militan yang aktif mendemonstrasikan   dan menggelar aksi kekerasan bahkan jihad adalah tantangan yang nyata bagi Nahdlatul Ulama (NU).

“Dinamika baru gerakan Islam di Indonesia memperlihatkan persinggungan yang semakin kompleks antara agama dengan persoalan sosiologis, politik, geo-strategis, ekonomi dan lainnya yang berkembang sebagai konsekuensi modernisasi dan globalisasi,” kata DR Noorhaidi Hasan saat dihubungi NU Online (25/5). Perbincangan ini sebagai bagian dari refleksi 90 tahun berdirinya NU sesuai dengan kelender hijriyah, yakni 16 Rajab 1344 H.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menandaskan bahwa ideology dan gerakan yang berwajah transnasional semisal Hizbut Tahrir Indonesia, Laskar Jihad dan Jamaah Islamiyah bermunculan menandai dinamika baru gerakan Islam di Indonesia.

“Mereka  aktif mengkampanyekan ekslusivitas, militansi, radikalisme, dan bahkan kekerasan di ruang public yang semakin terbuka,” katanya.

“Tak kalah penting, gerakan-gerakan ini juga mengancam eksistensi gerakan Islam arus utama di tanah air, terutama NU yang terkenal dengan doktrin ahlussunnah wal jamaah atau Aswaja-nya,” lanjutnya.

Melihat tantangan gerakan Islam transnasional terhadap eksistensi gerakan Islam arus utama di Indonesia yang dikenal ramah dan mencintai perdamaian, maka sudah saatnya NU tampil lebih dominan.

“NU harus bisamengkonsolidasikan diri dan jamaahnya dalam upaya mengembangkan syiar Islam sebagai agama pembawa rahmat bagi sekalian alam atau rahmatan lil’alamin,” terangnya.

Disamping itu, NU harus memantapkan pengalaman pilar-pilarajarannya yang terangkum dalam doktri Aswaja sebagai mekanisme kultural dan daya tolak social atau social resilience yang berakar di masyarakat untuk melawan pengaruh gerakan Islam transnasional yangdapat membahayakan keutuhan NKRI.

“Hanya dengan cara inilah NU dapat melindungi jamaah, terutama kaum mudanya dari kesalahan mengambil jalan sebagai akibat persentuhan mereka yang semakin intens dengan perubahan sosial dan globalisasi,” pungkasnya.

 

Negara Islam, Adakah Konsepnya? Adakah Konsep Negara Islam? Adakah Negara Islam (Daulah Islamiyah)???

13910439952055082070

Adakah Dalil yang Mewajibkan Kaum Muslimin Mendirikan Negara?

Konsep  Politik Syi’ah

kekhalifahan, yang diartikan sebagai pengganti dari pemimpin sebelumnya (Nabi Muhammad SAW)

event/community/cover_negara_islam.jpg

Allah Swt telah memerintahkan kita untuk menaati ulil amri atau 12 khalifah ahlulbait.  Allah Swt berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (TQS. an-Nisâ’ [04]: 59)

Allah memerintahkan untuk menerapkan syariat Islam.  Allah berfirman :

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’ân dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. (TQS. al-Mâ’idah [05]: 48)

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. (TQS. al-Mâ’idah [05]: 49)

Kemudian terhadap perintah di atas datang berbagai qarinah (indikasi) yang mengindikasikan bahwa perintah tersebut sifatnya adalah tegas.  Indikasi-indikasi tersebut adalah firman Allah :

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yang kafir (TQS. al-Mâ‘idah [05]: 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa yang tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yang zalim (TQS. al-Mâ‘idah [05]: 45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barangsiapa yang tidak menghukumi (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan oleh Allah maka ia termasuk orang-orang yang kafir (TQS. al-Mâ‘idah [05]: 47)

Disifatinya orang yang tidak menghukumi dengan apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam) sebagai orang zalim, fasik atau kafir, menunjukkan adanya celaan atasnya.  Jika perintah melakukan sesuatu, lalu orang yang tidak melakukannya mendapat celaan, maka itu menunjukkan bahwa perintah tersebut sifatnya tegas yakni wajib.  Dengan demikian perintah Allah untuk menghukumi manusia menggunakan apa-apa yang diturunkan oleh Allah yakni dengan syariat Islam adalah wajib.

Disamping itu banyak nash yang menjelaskan hukum-hukum rinci baik dalam masalah jihad, perang dan hubungan luar negeri; masalah pidana seperti hukum potong tangan bagi pencuri, qishash bagi pembunuh, jilid atau rajam bagi orang yang berzina, jilid bagi qadzaf (menuduh seseorang berzina dan tidak bisa mendatangkan empat orang saksi) dan sebagainya; hukum masalah muamalah semisal jual beli, utang piutang, pernikahan, waris, persengketaan harta, dan sebagainya.  Semua hukum itu wajib kita laksanakan.

Hukum-hukum itu tentu saja tidak bisa dilaksanakan secara individual.   Akan tetapi sudah menjadi pengetahuan bersama dan tidak ada satu orangpun yang memungkirinya, bahwa penerapan hukum-hukum itu hanya melalui institusi negara dan dilaksanakan oleh penguasa.  Jadi pelaksanaan berbagai kewajiban itu yaitu kewajiban menghukumi segala sesuatu dengan syariat Allah itu hanya akan sempur bisa kita laksanakan jika ada negara dan penguasa yang mengadopsi dan menerapkannya.

kita diperintahkan untuk mendirikan negara dan mengangkat penguasa.  Hal itu merupakan kewajiban,  Juga jelas bahwa negara dan penguasa yang wajib kita wujudkan itu bukan sembarang negara dan sembarang penguasa.  Akan tetapi negara yang wajib kita wujudkan itu adalah negara yang menerapkan hukum-hukum Allah.  Karena pendirian negara itu adalah dalam rangka melaksanakan kewajiban menghukumi segala sesuai dengan hukum-hukum Allah.

event/community/cover_negara_islam.jpg

Masalah khalifah ada silang pendapat antara Sunni dan Syi’ah sejak masa wafatnya Nabi Muhammad SAW. Kalangan Syi’ah berpendapat bahwa Ali lah yang pantas menggantikan kedudukan Nabi karena mereka berkeyakinan bahwa Nabi telah menunjuknya sebagai pengganti.

Sementara kalangan Sunni berpendapat bahwa pengganti Nabi tidak harus berasal dari ahl bait, akan tetapi boleh dipilih dari masyarakat Muslim pada umumnya, asalkan dia berasal dari keturunan Quraisy.

konsep Syi’ah lebih layak diterima . Karena jika kita melihat contoh kecil dari sejarah para nabi terdahulu misalnya, dalam kasus nabi Musa AS. Yang pada waktu akan meninggalkan kaumnya ke gunung tuwa’, beliau mewalikan Harun AS. Sebagai washinya.

Dan yang demikian itu beliau sendiri yang menunjuknya, atas persetujuan Allah SWT melalui firman-Nya

Secara literal Syi’ah berarti “pengikut”, “pendukung”, “partai”, “kelompok”. Secara terminologis istilah ini merujuk kepada sebagian kaum muslimin yang dalam dimensi spiritual keagamaan dan juga politik membela keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis keturunan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib atau yang dikenal dengan istilah ahl al-bayt.

Dalam perkembangan selanjutnya, istilah Syi’ah dan ahl al-bayt ini dibaptiskan kepada sebagian kaum Muslim yang mempropagandakan dan mendukung kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

Syi’ah adalah kelompok yang percaya bahwa hak untuk menjadi penerus Nabi hanya dimiliki oleh keluarganya dan mengikuti keluarga Nabi (ahl al-bayt) sebagai sumber inspirasi dan bimbingan untuk memahami petunjuk al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi itu. Keluarga Nabi adalah saluran melalui mana ajaran dan barakah wahyu mencapai kaum Syi’ah.

doktrin Imamah menempati kedudukan sentral dalam aspirasi politik Syi’ah. Doktrin itu antara lain: Pertama, tentang Imamah, yang menurut mereka merupakan salah satu rukun agama. Karenanya pemilihannya tidak boleh diserahkan kepada ummat, melainkan Nabi-lah yang menetapkan seseorang Imam dengan jelas. Kedua, Seorang Imam haruslah seorang maksum.

Pengertian maksum ini menurut anggapan mereka yaitu seorang yang suci, terpelihara dari dosa besar dan dosa kecil, dan ia tidak boleh berbuat suatu kesalahan. Semua yang bersumber dari dirinya, berupa ucapan atau tindakan adalah hak dan benar belaka.

Kaum Syi’ah menganggap bahwa Ali ibn Abi Thalib adalah Imam yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh Nabi sepeninggalnya dengan ketetapan nash yang jelas.

Ssetiap Imam yang baru harus ditunjuk dan ditetapkan dengan nash oleh pendahulunya. Mereka berpegangan bahwa jabatan itu tidak dibenarkan pelaksanaannya di tangan ummat. Kelima, sekte-sekte Syi’ah bersepakat jabatan Imamah hanyalah hak Ali dan keturunannya.

jika ditelusuri secara mendalam, doktrin Imamah Inilah yang mewarnai Perjuangan mereka dalam melawan otoritas Sunni yang dinilai merebut hak dari ahlul bait Nabi SAW.Bagi kaum Syi’ah, Ali Ibn Abi Thalib dan sebelas keturunannya (ahl al-bayt) adalah yang paling berhak menggantikan kedudukan Nabi. Hal ini, menurut seorang ulama Syi’ah, A. Syariffudin al-Musawi, antara lain ditandaskan dalam ucapan Imam Ali yang pernah mengatakan:

 

“Di manakah orang-orang yang mengaku bahwa merekalah dan bukannya kami (ahl al-bayt), yang dengan mantapnya menguasai ilmu? Semata-mata disebabkan kebohongan dan kedengkian mereka atas kami, karena Allah telah melimpahkan karunia-Nya atas kami dan menjauhkannya dari mereka? Memadukan kami dalam lindungan-Nya dan mengeluarkan mereka?! Dengan kami orang mendapat petunjuk, dan dengan kami dihilangkan kebodohan. Kepemimpinan (imamah) haruslah diserahkan pada Imam dari Bani Hasyim di antara Quraisy. Tidaklah ia pantas bagi selain mereka dan tidaklah pantas para pemimpin (Imam) kecuali yang berasal dari mereka.”

event/community/cover_negara_islam.jpg

Berbeda dengan kaum Sunni, kalangan Syi’ah menganggap bahwa masalah kepemimpinan ummat adalah masalah yang terlalu vital untuk diserahkan kepada musyawarah manusia-manusia bisa, yang bisa saja memilih orang yang salah untuk kedudukan tersebut, dan karenanya bertentangan dengan tujuan wahyu ilahi. Adapun paradigma pemikiran politik yang dianut oleh kalangan Syi’ah memandang bahwa negara atau kepemimpinan ummat yang relevan disebut imamah, adalah lembaga keagamaan dan mempunyai fungsi keagamaan.

Revolusi Islam di Iran tahun 1979 berhasil menggulingkan penguasa diktator Syah Reza Pahlevi, dan kemudian membangun sistem negara Islam dalam bentuk republik, menggantikan sistem kerajaan yang dianut sebelumnya.

 

Bagi Ali Syariati, negara seharusnya menganut sistem politik demokrasi terkendali, yang selaras dengan ideologi Islam revolusioner. Sementara itu menurut Taliqani dan Bazargan, solusi negara terletak pada demokrasi konstitusional, yang pernah dianut pasca Revolusi Konstitusi 1906, ketika ulama hanya berfungsi sebagai pengawas legislasi. Sementara itu Ayatullah Khomeini menganut konsep demokrasi agama, yang kemudian dikenal sebagai konsep Wilayah Al-Faqih (kepemimpinan faqih), yang akhirnya menjadi basis utama sistem demokrasi di Iran.

Sistem politik Syiah menganut konsep Imamah. Konsep ini menegaskan bahwa kepemimpinan umat adalah urusan Tuhan. Syiah berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW telah menetapkan pengganti kepemimpinannya setelah beliau wafat. Mereka berdalil pada beberapa hadits, di antaranya adalah hadits Al-Ghadir, yang berisi pernyataan lugas Nabi Muhammad SAW bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus kepemimpinannya.

Konsep Wilayah Al-Faqih pada dasarnya adalah kelanjutan dari konsep Imamah Syiah. Selain itu, konsep ini identik dengan pemikiran Khomeini. Untuk mengenal konsep ini, kita harus menelaah pemikiran politiknya, yang bisa dikatakan sebagai hasil fusi dari teologi politik, filsafat politik dan fiqih politik.

Sejak awal, Khomeini selalu menekankan bahwa  agama tidak terpisah dari politik dengan segenap dimensinya. Menurutnya, pemisahan agama dari politik serta tuntutan  agar ulama tidak turut campur dalam urusan sosial-politik merupakan slogan yang dipropagandakan oleh para imperialis, yang dengannya mereka dapat mendominasi  dan menjarah semua sumber daya masyarakat. Ia juga menambahkan bahwa segala bentuk ibadah yang dipraktikkan dalam Islam selalu berkaitan dengan politik dan penyiapan masyarakat.

Dalam pandangan Khomeini, politik Islam adalah politik yang tujuannya adalah Allah SWT, atau kesempurnaan insan. Dengan politik ini, manusia akan memperoleh segala kebaikan sejati, baik secara maknawi maupun materi. Berdasarkan hal tersebut, Khomeini berpendapat bahwa pemerintahan Islam hanya dapat dipimpin oleh seorang faqih, yaitu orang yang memahami Islam secara mendalam, termasuk di dalamnya hukum-hukum syariat.

Secara praktis, Republik Islam Iran sebenarnya telah menerapkan prinsip-prinsip demokrasi, khususnya yang terkait dengan kebebasan politik (adanya kontestasi/kompetisi dan partisipasi dalam pemilu) dan kebebasan sipil (yang meliputi kebebasan intelektual, perlindungan hak minoritas, pemberdayaan wanita, dan kebijakan luar negeri). Terlepas dari kritik-kritik yang ada, Republik Islam Iran tampaknya berhasil menawarkan sebuah konsep pemerintahan  alternatif dalam peta politik dunia. Keunikannya terletak pada metodenya yang mengkombinasikan bukan hanya agama dan negara, melainkan juga teokrasi dan demokrasi.

Perbedaan mendasar antara demokrasi agama dengan demokrasi barat adalah terletak pada prinsip legislasi. Demokrasi barat berkeyakinan bahwa undang-undang harus dibuat oleh manusia. Sementara itu, dalam demokrasi agama undang-undang harus berasal dari Tuhan, melalui utusan-Nya, sehingga setiap undang-undang yang dihasilkan harus berada dalam koridor hukum Ilahi.

Perbedaan lainnya terletak pada tujuan. Demokrasi barat yang berkarakter materialistik memiliki tujuan-tujuan yang terbatas pada dimensi lahhiriah manusia, seperti kesejahteraan dan kemakmuran. Sementara itu, demokrasi agama lebih menekankan dimensi mental dan spiritual manusia, sehingga politik dalam demokrasi agama bermakna upaya untuk menghidayahi manusia menuju Allah. Terkait hal itu, Murthadha Mutahhari berargumen,

“Upaya untuk membenturkan konsepsi Islam dengan demokrasi merupakan tindakan yang keliru. Konsepsi demokrasi hanya berkutat pada hak-hak manusia dalam urusan kesejahteraa material, seperti sandang, pangan dan papan. Padahal lebih dari itu, manusia membutuhkan sebuah sistem yang akan mengantarkannya menuju kebahagiaan dan kesejahteraan maknawi dan nilai puncak kemanusiaan.”

Perbedaan Konsep Politik Syiah dengan Sunni

Berbeda dengan sistem politik Syiah yang menganut konsep Imamah, sistem politik Sunni menganut konsep Khilafah-Syura. Jika Syiah berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW telah menetapkan pengganti kepemimpinannya setelah beliau wafat, maka sistem Sunni menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW menyerahkan urusan kepemimpinan umat  kepada umat itu sendiri.

event/community/cover_negara_islam.jpg

Mengapa kaum Syi’ah menginginkan berlakunya syari’at Islam dan berdirinya Negara Islam?

 

Karena, ajaran Islam tidak menyetujui penyekatan antara agama dan politik.


Islam ingin melaksanakan politik selaras dengan tuntunan yang telah diberikan agama dan menggunakan negara sebagai sarana melayani Allah. Islam menggunakan kekuatan politik untuk mere-formasi masyarakat dan tidak membiarkan masyarakat melorot ke dalam “tempat terakhir yang paling buruk”.

Hal ini menunjukkan bahwa reformasi yang dike-hendaki Islam tidak dapat dilaksanakan melalui khutbah–khutbah saja. Kekuatan politik juga penting untuk mencapainya. Inilah cara pendekatan Islam. Dan konsekuensi logis dari cara ini adalah bahwa negara harus dibentuk berdasarkan pola-pola Islami.

Inilah ketentuan keimanan Islam dan tidak dapat diabaikan begitu saja. Konsep Barat yang menerapkan pemisahan agama dari politik (sekulerisme) adalah asing bagi Islam, dan menganut paham ini sama artinya pembangkangan hakiki dari konsep politik Islam.

tulisan ini  bertujuan untuk mempromosikan konsep politik Syiah,  konsep politik Wilayah Al-Faqih yang diterapkan di negara Islam Iran. Tak dapat dipungkiri, bahwa Iran merupakan contoh negara yang berhasil memadukan konsep demokrasi dan teokrasi, yang mampu membimbing stabilitas politik di Iran setelah terbentuknya pemerintahan pasca revolusi tahun 1979 hingga kini.

Mantan Ketua MPU: Di Aceh Tidak Ada Tempat Bagi Syiah

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU/MUI) Aceh adalah Tgk Ghazali Muhammad Syam, bukan Muslim Ibrahim
.

Kenapa syi’ah dituduh sesat ? tahu penyebabnya ??  karena sebagian besar umat Islam negeri ini saat belajar dari SD hingga kuliah hanya pelajaran fikih, tauhid dan aqidah minim, kedua sebagian besar umat islam negeri ini beragama krn keturunan jd hanya ikut ikutan tanpa tahu dasar dan dalil, bukan krn pilihan, dan juga malas belajar. kemudian yg jelek sebagian umat Islam negeri ini suka taklid/ta’ashub buta tanpa mau mencari kebenaran dari sumber aslinya. Akibat agama, ajaran hanya ikut ikut an akhirnya mudah dijerumuskan.

.

maka saran saya, jadilah manusia yang terbuka dengan logika positif terlebih dahulu jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat bila hanya mengetahui kulitnya saja, tapi kenalilah setiap sesuatu sampai pada akarnya… baru kalian-kalian simpulkan, apakah hal yang kalian bicarakan itu baik atau buruk

syiah akan terus berkembang seiring dengan semakin berkembangnya tingkat rasio serta intelektualitas masyarakat, karena syiahlah sepengetahuan saya yg masih melestarikan khasanah intelektual islam, sementara mazhab lain justru menenggelamkannya menjadi doktrin yang tabu untuk di diskusikan.semakin banyak hujatan serta umpatan kepada kaum syiah, semakin besar pula rasa ingin tahu masyarakat akan syiah, rasa ingin tahu inilah yang menjadi modal awal untuk kemudian memilih syiah sebagai paradigma alternatif

Mantan Ketua MPU: Di Aceh Tidak Ada Tempat Bagi Syiah

Ahad, 20 April 2014 -

 

MPU Aceh: Kopi Luwak Halal

Mantan Ketua Majelis Permusyawaran Ulama Aceh Prof Dr Tengku Muslim Ibrahim.
.
Prof Dr Tengku Muslim Ibrahim, Mantan Ketua Majelis Permusyawaran Ulama (MPU) Aceh, menegaskan bahwa Nanggroe Aceh Darussalam adalah bumi ahlus sunnah wal jamaah
.
“Sesuai dengan Perda akidah umat, maka akidah yang bisa berjalan di Aceh adalah akidah ahlus sunnah wal jama’ah. Syiah tidak ada tempat di Aceh,” kata Tengku Muslim saat berorasi pada deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah di Masjid Al-Fajr Bandung, Jawa Barat, Ahad (20/4/2014)
.
Fatwa ulama Aceh juga menyebutkan, Syiah merupakan aliran di luar Islam.“
.
Jadi secara organisasi Syiah dilarang di Aceh,” tegas Tengku Muslim.Tengku Muslim berharap daerah-daerah lain juga mewaspadai bahayanya gerakan Syiah.
 .
“Aliansi Anti Syiah ini diharapkan dapat berkembang ke pelosok-pelosok,” kata Tengku Muslim

Pemuda Aceh enggan pelajari “Ahlul Sunnah wal jamaah” ??

Nahdatul Ulama (NU) Lhokseumawe, Provinsi Aceh (tanggal 20 juli 2011) menilai pemuda di daerah itu tidak tertarik lagi mempelajari agama Islam, sehingga majelis taklim yang diadakan di masjid dan meunasah selalu sepi.

“Sebenarnya, jumlah majelis taklim sangat banyak, namun jumlah kaum remaja dan pemuda yang memanfaatkannya sebagai sarana pembelajaran ilmu agama Islam sangat kurang,” kata Ketua NU Lhokseumawe, Tgk H Misran Fuadi, 20 juli 2011.

Ia mengatakan, jumlah majelis taklim hampir semua menasah atau mesjid mengadakannya, sedangkan jumlah pengunjung sedikit serta mayoritas diisi oleh kaum tua.

Ia menyatakan, kenyataan sekarang, banyak kuliah umum agama secara gratis tersebut hanya diisi oleh kaum tua, sedangkan pemuda dan remaja, terlena dengan buaian pengaruh global, sehingga tidak jarang terjadi tindakan asusila dan lainnya akibat dari dangkalnya pengetahuan agama.

Bukan itu saja, jumlah warga yang menghadiri majelis taklim juga sangat terbatas, serta terkesan hanya jamaah langganan saja yang menghadiri majelis taklim. “Dalam satu jamaah majelis taklim hanya sekitar 50 orang saja yang hadir. Sementara yang lainnya lebih memilih kesibukan lain,” terang Misran.

Padahal, lanjutnya, umumnya pelaksanaan kegiatan majelis taklim, biasanya dilakukan pada waktu-waktu tidak sibuk, seperti habis shalat Maghrib atau waktu yang dianggap tidak sedang jam kerja. Namun, masih saja warga enggan untuk menghadiri majelis taklim yang dilakukan secara gratis oleh pengurus meunasah atau masjid.

pelepasan syahwat (secara tidak sah) begitu mengkhawatirkan Di Aceh, banyak anak-anak muda yang bergaul kelewat batas dengan pasangannya

Gawat, fenomena seks bebas ternyata digandrungi sejumlah besar kaum remaja di Aceh. Hal ini terkait dengan banyaknya tangkapan, dari petugas Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) Kota Banda Aceh, dalam menangani kasus mesum.

Akhir-akhir ini, pelepasan syahwat (secara tidak sah) begitu mengkhawatirkan. Di Aceh, sudah ada gejala anak-anak muda yang bergaul kelewat batas dengan pasangannya. Berita-berita yang berkait dengan syahwat dalam suratkabar, sepertinya datang silih berganti. Tentu dengan segala bentuk kejadian, penyelesaian, dan tanggapan masyarakat di sekelilingnya.

Terakhir ada dua kasus anak SMA di Aceh yang berzina di kompleks sekolah. Ini bukan merupakan kasus mutakhir, tapi kasus yang penting mendapat perhatian karena dilakoni oleh mereka yang masih remaja. Sedangkan kasus pada umumnya, umumnya dilakukan oleh mereka yang sudah menginjak dewasa.

Di samping itu, temuan film porno yang beredar dari handphone ke handphone, juga menjadi satu masalah tersendiri. Film juga dengan mudah diproduksi dengan fasilitas lengkap dari handphone murah sekalipun. Film –tepatnya rekaman—yang dibuat melalui fitur kamera-video handphone, sangat mudah untuk merekam berbagai hal. Lagipula handphone yang menyediakan fitur tersebut bukan lagi barang mewah. Kini handphone yang menyediakan berbagai fitur berharga ”sachet”. Sudah demikian murahnya.

Namun masalah sebenarnya bukanlah pada mudah atau tidaknya membuat rekaman sesuatu. Tapi temuan ini sebenarnya bisa menjadi semacam aba-aba, bahwa penyaluran syahwat dengan naluri kebinatangan sudah sangat dekat dengan kehidupan kita.

Barangkali sesuatu yang terjadi selaras dengan fenomena sekitar kita. Di tempat-tempat umum semisal pantai atau lokasi pariwisata, orang-orang berpacaran semakin miskin etika. Di jalan-jalan, anak-anak berpakaian SMP sudah mulai terang-terangan (maaf) pegang-pegang kemaluan pasangannya. Tidak ada lagi yang patut digelisahkan (karena mungkin orang tuanya sendiri juga tidak menggelisahkan), ketika melihat perempuan berbaju SMP duduk di belakang kendaraan sambil memeluk erat pasangannya, dan tangannya benar-benar di atas kemaluan pasangannya. Belum lagi di sebagian tempat penjualan pinggir jalan yang sengaja membuat suasana remang-remang. Ketika melewati kawasan seperti itu, kita bisa menyaksikan bagaimana anak muda kita duduk manis berdua-duaan, dan tidak peduli pada suasana sekelilingnya. Ada pertanyaan, apakah suasana itu benar di Aceh atau bukan? Hal tersebut dilakukan oleh anak Aceh atau bukan?

Sungguh, fenomena itu menampakkan gejala pelipatgandaan mundurnya moralitas generasi muda kita (tentu dengan tidak melupakan moralitas dalam bentuk yang lainnya). Dan ironisnya, ternyata fenomena tersebut tak hanya terjadi di kota. Fenomena tersebut sudah jamak kita temukan hingga ke kampung-kampung sekalipun.

Segala fenomena tersebut menunjukkan kecenderungan bahwa suatu saat, bila kita mendengar kabar-kabar yang tak lazim –bahkan melawan nilai agama dan budaya, kita menjadi terbiasa dengan sendirinya. Bukan hanya di tempat orang lain, barangkali di sekitar kita sekalipun, kita akan terbiasa.

Kemudian lihatlah pula bagaimana koran-koran di Aceh tak pernah sepi membawa kabar perzinahan yang terus terjadi. Bila kita tilik berita koran akhir-akhir ini, hampir tiada hari yang tiada kabar mengenai perilaku zina yang terjadi di berbagai tempat.

Barangkali fenomena tersebut menjadi semacam tanda bahwa gelora syahwat di nanggroe kita sedang beranjak naik –dan entah kapan grafiknya akan turun—yang oleh penguasanya sedang mengatakan sedang melaksanakan syariat Islam.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (1995), syahwat diartikan dengan nafsu atau keinginan untuk bersetubuh. Dalam konteks hukum, makna tersebut memiliki konsep yang sangat umum. Proses pelepasan syahwat, di satu pihak memiliki tata krama –sehingga membedakan manusia dengan binatang, di pihak lain tidak seluruh pelepasan syahwat secara tidak sah memiliki implikasi terhadap hukum.

Di samping pelaku yang muda, juga ada beberapa kasus lain yang terjadi. Seorang remaja yang karena keseringan menonton ”film biru”, lantas ketagihan melakukan sodomi terhadap tiga anak tetangganya. Gambaran ini sekaligus memperlihatkan bahwa ”film biru” juga bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan di Aceh.

Polisi, WH dan masyarakat juga pernah menangkap 80-an judul CD porno yang diselip dalam tempat CD Islami yang dijual di tengah kota. Kasus lainnya di suatu tempat, masyarakat menangkap seorang perempuan yang sedang berzina dengan dua laki-laki sekaligus. Dari berita juga kita mengetahui bahwa ditemukan tiga video ”adegan dewasa” yang ditemukan dari handphone ”anak-anak kecil” Aceh. Yakinilah, fenomena remaja sekarang ini tidak terlepas dari berbagai hal yang mengelilinginya.

Sekali lagi, fenomena ini adalah aba-aba agar keluarga di Aceh berbenah diri. Membiarkan fenomena tersebut sangat merusak moralitas generasi muda di masa mendatang. Membiarkan penyaluran nafsu bagai pola kebinatangan itu, pada akhirnya akan membawa malapetaka bagi keluarga di Aceh.

Berbagai peristiwa di atas, kini juga sudah dibarengi dengan pola penyelesaian kasusnya yang beragam. Orang-orang yang berzina, ketika ditemukan orang banyak, akan diperlakukan dengan berbagai cara. Bila hal ini tidak diarahkan, suatu saat, anarki massa juga akan menjadi fenomena yang menakutkan.

Dari proses penyelesaian kasus zina, selama ini didominasi oleh perilaku ”main hakim sendiri”. Kecenderungan tersebut juga tidak terjadi dengan sendirinya. Ketika penzina dicambuk, perilaku main hakim sendiri berkurang—bahkan di tempat tertentu tak terjadi. Namun ketika pengawasan syariat tidak berlangsung—terutama karena alasan ketiadaan anggaran—membuat masyarakat bergerak sendiri. Konon lagi ternyata ada oknum dari institusi yang mengawasi syariat, juga ditemukan berzina dan tidak dicambuk.

Hal inilah barangkali yang menyebabkan orang-orang yang berzina diperlakukan sedemikian rupa. Di tangan pemuda kampung, orang-orang berzina dimandikan dengan air comberan. Menurut saya keliru bila dikatakan itu sebagai model penyelesaian secara adat –kecuali penzina dimandikan dengan air bersih atau disuruh membersihkan tempat ibadah. Tapi ada proses yang sedang mandeg, sedang tidak jalan, hingga pola-pola seperti di atas dilakukan.

Tapi sekali lagi, bahwa jalan ini dipilih karena lewat mekanisme hukum yang dibentuk sudah tidak jalan sebagaimana yang diharapkan. Seharusnya proses eksekusi hanya berhak dilakukan oleh negara, sebagaimana halnya proses cambuk. Namun cambuk ini menghadapi dua hal krusial: Pertama, mengeksekusi cambuk juga butuh anggaran, sehingga karena ketiadaan anggaran membuat seseorang tidak bisa dicambuk. Kondisi ini tentu dipertanyakan oleh mereka yang sudah dicambuk. Mengapa dulu ada anggaran sedangkan sekarang tidak ada anggaran? Kedua, ada kekosongan hukum dalam ”menjaga” terhukum cambuk. Aturan yang sudah ada tidak bisa menjangkau, bila seorang yang akan dieksekusi tiba-tiba mangkir dan tidak datang ke arena eksekusi. Ketiga, hal ini menimbulkan kesan bahwa cambuk yang sudah berlangsung adalah untuk orang-orang kecil, sedangkan untuk orang-orang besar yang berzina, belum ada yang dicambuk di depan umum.

Di samping pola penyelesaian di atas, pola lainnya adalah terdapatnya perbedaan dalam penyelesaian di tingkat elite. Ada yang diselesaikan secara kekeluargaan. Di sini keluarga dari penzina laki-laki dan perempuan duduk bersama dan membahas apa yang harus dilakukan. Bila kedua pihak bersepakat jalan penyelesaiannya adalah menikahkan, maka itulah yang dianggap sebagai pola penyelesaian secara kekeluargaan.

Cara lainnya adalah membayar denda sejumlah tertentu yang dianggap sebagai uang untuk membersihkan kampung yang telah dikotori dengan perilaku zina.

Model penyelesaian secara adat juga beragam. Ada yang hampir sama dengan konsep penyelesaian secara kekeluargaan, namun ada juga yang diusir dari kampung karena dianggap telah mengotori kampung dengan perilakunya.

Semua kondisi tersebut, sudah seyogianya membuat semua kita bergerak untuk membawa masyarakat kita ke arah yang lebih beradab dan bermartabat

Hampir setiap hari, di Aceh, dari berbagai daerah kita mendapat laporan tentang hal-hal yang terkait perbuatan berbau mesum yang ditemukan masyarakat atau aparat berwenang. Dalam catatan Dinas Syariat Banda Aceh, pelanggar qanun atau aturan tentang khalwat, sepanjang lima bulan terakhir ada 491 pasangan. Pihak DSI menyebutkan, kasus berdua-duaan beda kelamin dengan bukan muhrim itu, sebagian besar dilakukan kaum muda

.
Ternyata, sebagian kaum muda Aceh tidak mempan lagi atas ancaman hukum syariat Islam yang berlaku di Aceh. Bahkan, bila kasus tersebut ditangani masyarakat di lingkungan mereka pun, tak membuat para pelanggar hukum syariat Islam itu malu dan benar-benar menjadikan pasangan lain jera. Sepertinya, kasus-kasus yang terungkap selama ini, tidak menjadi pula peringatan berarti kepada pasangan muda lainnya, agar menghindari perbuatan yang dapat mempermalukan diri dan keluarga mereka tersebut. Sejauh pengamatan kita, sebagian kaum muda Aceh, malah telah dengan terang-terangan menunjukkan keberaniannya, untuk menafikan aturan yang hanya berlaku di bumi serambi Mekkah ini.

Dalam keseharian di Banda Aceh, kita menyaksikan para perempuan muda berjilbab yang dibonceng pasangannya dengan berpelukan ketat di atas sepeda motor. Atau bila kita bertandang ke pantai, seperti Ulheelheu, banyak pula terlihat pasangan di sana yang berdua-duaan dengan mesra. Lalu hal serupa juga tampak jelas di berbagai café yang bertaburan di ibu kota provinsi ini. Kita melihat pemandangan yang seharusnya tidak ada di negeri yang diberikan kekhususan untuk menerapkan syariat Islam ini.

Barangkali, pihak DSI perlu lebih kreatif berkampanye untuk menyosialisasikan dan menegakkan aturan tentang khalwat. Agar para pemuda dan rakyat Aceh umumnya, tak menangkap dan memahami aturan tersebut secara kaku dan kering. Mereka bukan lagi takut ditangkap karena tak pakai jilbab atau berkhalwat. Tapi, mereka dengan sadar melakukan hal baik tersebut, karena seharusnya memang seperti itulah yang mampu membuat mereka lebih nyaman dan aman berada dalam masyarakat. Terlepas dari soal halal atau haram, akan masuk surga atau neraka, kena cambuk atau tidak. Tapi, mereka bersedia dengan rela memakai jilbab, dengan senang hati berusaha menjaga diri untuk tidak berkhalwat, sebelum menjadi pasangan suami isteri.

Bila pendekatan hukum saja yang yang dilekatkan dalam kampanye sosialisasi hukum syariat, kita hanya akan cenderung menemukan kepura-puraan. Para anak perempuan Aceh dapat saja dengan terpaksa memakai jilbab, lalu perilaku yang lain yang menyimpang, yang tidak sesuai dengan kehendak ajaran Islam yang dipraktikkan. Pendekatan formal terhadap simbol-simbol hukum Islam, kita yakin, tidak akan mampu menjadikan Aceh benar-benar dapat menjadi kawasan yang dapat menegakkan hukum syariat dengan benar.

Di daerah lain, seperti kota-kota besar di Jawa, banyak sekali perempuan, anak remaja dan mereka yang beragama Islam, telah bersedia secara sukarela memakai jilbab dan melaksanakan sebagian ketentuan dari syariat Islam, sebagaimana dipahami mereka. Tak ada hukum seperti di Aceh, yang memaksa mereka. Tak ada tetangga, yang senantiasa mengintip, dengan siapa seorang remaja putri biasanya pulang ke rumah. Mereka, bahkan tidak pula dengan demonstratif ketika berada di depan khalayak, berpegangan tangan atau memeluk bahu lawan jenisnya. Mereka juga tidak terganggu bila ada rekannya yang sepaham atau tidak memakai jilbab berbuat sesuatu yang tak ingin dia lakukan. Misalnya, seperti pacaran atau berkhalwat. Mereka berupaya menjaga diri dan mendiskusikan hal itu di lingkungan komunitasnya.

Tapi, hingga kini, di Aceh, kita menangkap kesan berbeda. Para remaja seolah-olah tengah melakukan kesengajaan untuk membangkang. Seolah mereka tidak peduli hukuman yang akan dijatuhkan terhadap mereka bila bersunyi-sunyi dengan pasangan bukan muhrim. Agaknya, penegakan hukum syariat Islam di Aceh bagaikan hukum bola karet. Kian ditekan, malah tambah meloncat lebih tinggi.[]

.
Firasat Gus Dur jelang Tsunami Aceh

GUS DUR 

 

“Nahdlatul Ulama (NU) itu Syiah minus Imamah. Syiah itu NU plus Imamah.” Demikian pernyataan populer almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), cendekiawan NU. Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah. Bahkan peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan posisi Imam dalam tradisi Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud budaya, sementara di Syiah dalam bentuk teologi. Ini substansi pernyataan Gus Dur di atas.

Tentu bukan tanpa alasan steatment di atas dilontarkan, karena NU dan Syiah secara budaya memiliki banyak kesamaan

Desember 2004 pagi yang cerah di Aceh tiba-tiba saja menjadi bencana mengerikan ketika gelombang besar dari laut atau tsunami meluluhlantakkan segala hal yang ada dibibir pantai. Ratusan ribu nyawa melayang dan nasib ratusan ribu rakyat lainnya mengenaskan akibat kehilangan harta benda dan keluarga yang menopang hidup.

Ditempat lain beberapa minggu sebelumnya, tepatnya di Masjid Agung Demak, H Sulaiman, asisten Gus Dur diperintahkan melalui telepon untuk membuka-buka Al Qur’an dan membaca ayat tepat di halaman yang dibuka tersebut.

Halaman yang terbuka waktu itu adalah surat Nuh, yang menceritakan tentang banjir besar yang melanda dan menghabiskan umat nabi Nuh yang ingkar terhadap Allah.

Sulaiman pun bertanya kepada Gus Dur tentang makna atas surat dalam Al Qur’an yang dibacanya tersebut. “Akan ada bencana besar yang menimpa Indonesia,” kata Gus Dur, tetapi tidak menyebutkan secara detail dimana dan kapan, serta bentuk bencananya seperti apa. Sulaiman pun terdiam mendengan penjelasan tersebut dan tidak banyak berkomentar.

Benar saja, tak berselang lama, tsunami yang diakibatkan oleh gempa berkekuatan 8.9 skala richter, yang berkolasi di Samudera Indonesia, 32 km di dekat Meulaboh Aceh menghebohkan dunia dan menimbulkan korban lebih dari 200 ribu jiwa.

Kesedihan pun melanda bangsa Indonesia, dan secara bersama-sama semuanya bahu-membahu memberikan bantuan yang diperlukan sesuai dengan kemampuannya masing-masing untuk mengurangi penderitaan para korban serta melakukan upaya pemulihan.

Setelah kejadian tersebut, Sulaiman kembali mendiskusikan masalah bacaan surat Nuh dan bencana tsunami Aceh dengan Gus Dur.

“Ini merupakan peringatan Allah bagi orang Aceh dan bangsa Indonesia,” katanya.

Wahabi Aceh MengeluhSekelumit Pengantar Redaksi:

Ternyata di Aceh juga ada Pengikut Wahabi, padahal di sana adalah pusatnya ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

MESKIPUN isu wahabi terkesan sudah usang namun kontroversi terhadap wahabi terus terjadi sampai hari ini.  Bagi kaum modernis wahabisme merupakan sebuah gerakan pembaharuan dan pemurnian ajaran Islam sedangkan bagi kaum tradisional/konservatif wahabisme dianggap sebagai ajaran baru yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Terlepas dari kontroversi tersebut dalam tulisan singkat ini penulis akan mencoba mengulas kembali isu – isu seputar wahabisme dan pengaruhnya terhadap pendidikan Islam di Indonesia.

di Indonesia bahkan ada beberapa tokoh Islam konservatif yang sudah menyamakan wahabi dengan “teroris”.Mereka menganggap dakwah yang dilakukan oleh Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab adalah faham sesat dan tidak sesuai dengan prinsip ahlussunnah wal jama’ah.

Inilah akibatnya bila Kaum Salafi MENYESATKAN orang lain…. Sekarang Giliran Muslimin Tradisional MENYESATKAN salafi….. Dari Awal memang Salafi Bikin Kacau dan Memecah Belah…. dan Cenderung Zahiriyah.

Kenapa banyak ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah benci Wahabi? Karena meski dalihnya memurnikan agama, ujung2nya Wahabi gampang membid’ahkan (bid’ah>sesat>neraka) ummat Islam lainnya. Misalnya mereka anggap: Maulid, Dzikir Jama’ah, Dzikir jahr seperti sholat Isya,  dsb sbg bid’ah. Terhadap sesama Wahabi pun terlontar kata kecoak, ular, dsb. Jadi memang caranya itu yg tidak benar.

“Barang siapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’: 115).

Masalahnya Wahabi terlalu bolot dalam memahami hadits. Sebagai contoh mereka bid’ahkan zikir berjama’ah dan suara keras seperti sholat Isya. Jika Nabi zikir sendirian dan suara tidak terdengar, bagaimana mungkin kita bisa dapat banyak hadits tentang zikir yg biasa Nabi baca?

jangan menyalahkan masyarakat aja, coba renungi metoda yg digunakan dlm menyampaikan pesan kepada masyarakat, jgn-jgn metodanya yg salah yg membuat orang lari dari seruan dawah bukan mendekat

di Aceh, tuduhan sesat terhadap wahabi masih terus terjadi sampai saat ini. Bahkan ada sebagian tokoh – tokoh agama di Aceh hususnya yang berasal dari kalangan pesantren/dayah yang tidak segan – segan mengkafirkan orang – orang yang dianggap sebagai wahabi. Penyesatan ini tidak saja dilakukan ditempat – tempat pengajian tetapi juga di forum – forum terbuka seperti khutbah Jum’at.

Pernah pada suatu ketika, beberapa murid di sekolah tempat penulis mengajar menjadi malas kesekolah karena menganggap pendidikan di sekolah adalah pendidikan wahabi. Penulis sempat berfikir, tidak mungkin anak kecil seperti dia mengenal istilah wahabi jika tidak ada orang yang mengajarkan padanya. Setelah penulis teliti rupanya beberapa murid tersebut pada sore hari juga belajar disebuah pesantren yang tidak seberapa jauh dari sekolah.

Di kesempatan lain penulis juga sempat terjebak perdebatan kecil dengan seorang guru pesantren (di Aceh dikenal dengan sebutan Teungku). Sebelum terjadi perdebatan kami sempat shalat bersama di sebuah mesjid di Bireuen, Aceh. Kebetulan teungku tersebut yang menjadi imam shalat. Selepas shalat, teungku tersebut memulai zikir bersama dan dilanjutkan dengan berdoa. Rupanya sambil berdoa teungku tersebut melirik kearah sebagian jamaah yang tidak ikut berzikir dan tidak mengangkat tangan sewaktu teungku tersebut memimpin doa. Waktu itu penulis yang duduk pas disamping imam juga tidak mengangkat tangan. Selepas berdoa teungku tersebut berkata kepada penulis; “Wahabi itu kafir dan bukan ahlusunnah masa berdoa saja tidak mau.”

“Pokoknya wahabi itu kafir,” sambung teungku tersebut.

Pada suatu malam penulis sempat mengikuti pengajian di menasah (surau) di kampung penulis. Pada malam tersebut pengajian membahas tentang tata cara shalat. Sang teungku dengan semangatnya mengajarkan cara – cara shalat sampai pada bab meletak tangan sang teungku berkata; “Meletakkan tangan dalam shalat harus diatas pusar agak ke kiri, jangan letak diatas dada seperti orang kedinginan.”

Beberapa kasus yang pernah penulis temui tersebut setidaknya menjadi bukti kecil bahwa klaim – klaim sesat terhadap tokoh – tokoh pendidikan Islam yang terkena imbas tuduhan wahabi. Kita semua juga yakin bahwa kejadian – kejadian serupa juga terjadi didaerah lain. Pada majelis –majelis tertentu materi pendidikan Islam cuma terbatas pada pemikiran dan pendapat – pendapat tokoh pendidikan dari kalangan tradisional.

Ramalan kebangkitan Islam di Iran sudah lama diramalkan dalam surah Muhammad dan Jumu’ah

“….dan jika mereka berpaling, digantikan satu kaum selain kamu kemudian mereka tidak menjadi seperti kamu” (surah Muhammad, ayat 38)

“… mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Siapakah mereka yang jika kami berpaling, kami akan digantikan dan mereka tidak akan jadi seperti kami?” jawab Rasulullah sambil menepuk tangannya ke bahu Salman al-Farisi, sambil bersabda: “dia dan kaumnya, sekiranya ad-Din terletak di bintang Suria nescaya akan dicapai oleh pemuda-pemuda daripada kalangan bangsa Parsi” (Tafsir Ibnu Kathir)
.
Begitu juga Surah Jumuah ayat 3 dalam Sunan Tirmidzi menceritakan hal yang sama.
Perkataan Syiah sendiri bermaksud ‘pengikut’ atau ‘golongan’. Hari ini perkataan Syiah banyak difokuskan kepada pengikut Imam Ali bin Abi Talib (a). Antara yang menarik perhatian kita adalah perkataan Syiah itu pernah diabadikan dalam beberapa kitab tafsir antaranya ialah Tafsir Dur Mathur Fi Tafsir Ma’thur, jilid ke-8, halaman 589:

(dikeluarkan oleh Ibn Adi daripada ibn Abbas yang telah berkata: apabila turunnya ayat {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} telah bersabda Rasulullah (s) pada Ali : (( ia adalah kamu dan Syiah kamu di hari kiamat adalah orang yang meredha dan diredhai))

Dan dinukilkan ibn Mardawiyah daripada Ali yang telah berkata: Telah bersabda Rasulullah (s) untukku: ((tidakkah engkau mendengar firman Allah {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} ia adalah kamu dan Syiah kamu, di mana janjiku dan janjimu bertemu di telaga Haudh, jika telah datang kepadamu umat untuk perhitungan, mereka dalam kehilangan panduan lantas memohon pertolongan))

Fatwa al-Azhar Mesir terhadap Mazhab Syiah dapat dirujuk kembali dalam kebanyakan media cetak pada 6 Julai 1959.

Pejabat Pusat Universiti Al-Azhar:
DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG
Teks Fatwa Al-Azhar diterbitkan daripada kewibawaannya
Shaikh al-Akbar Mahmud Shaltut,
Dekan al-Azhar Universiti, dalam sahnya mengikuti mazhab Syiah Imamiah

Pertanyaan:
Sesungguhnya setengah golongan manusia percaya, bahawa wajib beribadat dan bermuamalat dengan jalan yang sah dan berpegang dengan salah satu daripada mazhab-mazhab yang terkenal dan bukan daripadanya mazhab Syiah Imamiah atau mazhab Syiah Zaidiah. Apakah pendapat tuan bersetuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab Syiah Imamiah al-Istna Ashariyah misalannya?

Jawabnya:

1) Sesungguhnya Islam tidak mewajibkan seseorang Muslim mengikuti mana-mana mazhab pun adanya. Akan tetapi kami mengatakan setiap Muslim punyai hak untuk mengikuti satu daripada mazhab yang benar yang fatwanya telah dibukukan dan barangsiapa yang mengikuti mazhab-mazhab itu boleh juga berpindah ke mazhab lain tanpa rasa berdosa sedikit pun.

2) Sesunguhnya mazhab Jafari yang dikenali juga sebagai Syiah Imamiah al-Istna Asyariyyah dibenarkan mengikuti hukum-hukum syaraknya sebagaimana mengikuti mazhab Ahlul Sunnah.

Maka patutlah bagi seseorang Muslim mengetahuinya dan menahan diri dari sifat taksub tanpa hak terhadap satu mazhab. Sesungguhnya agama Allah dan syariatnya tidak membatas kepada satu mazhab mana pun. Para Mujtahid diterima oleh Allah dan dibenarkan kepada bukan Mujtahid mengikuti mereka dengan yang mereka ajar dalam Ibadah dan Muamalat.

Sign,
Mahmud Shaltut.

Demikian fatwa diumumkan pada 6 Julai 1959 dari pejabat Universiti al-Azhar kemudiannya disiarkan dalam media cetak antaranya:

1. Surat khabar al-Sha’ab Mesir, 7 Julai 1959.
2. Surat Khabar Lubnan, 8 Julai 1959.

Rasulullah bersabda: Seandainya agama itu berada pada gugusan bintang yang bernama Tsuraya niscaya salah seorang dari Persia atau dari putra-putra Persia akan pergi ke sana untuk mendapatkannya. (Shahih Muslim No.4618 Kitab Keutamaan Sahabat )

  • Diriwayatkan daripada Abu Hurairah yang berkata, “Kami sedang duduk bersama para sahabat Rasulullah saw ketika Surah Jumuah turun kepada baginda lalu baginda membacakan ayat ” … Dan juga (telah mengutuskan Nabi Muhammad kepada) orang-orang yang lain dari mereka, yang masih belum datang …”Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw sebanyak dua atau tiga kali tetapi baginda tidak menjawab. Bersama kami adalah Salman al-Farisi. Rasulullah saw berpaling kepadanya dan meletakkan tangan baginda ke atas paha Salman seraya bersabda, “Sekiranya iman berada di bintang Suraya sekalipun, nescaya lelaki dari bangsa ini yang akan mencapainya.” (Sahih Muslim, Kitab al-Fada’il as-Sahabah hadis 6178 dan Sahih Bukhari, Kitab Tafsir, Jilid 5, halaman 108).
  • Allah SWT dalam surah Muhammad ayat 38, berfirman, “Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertakwa dan berderma) Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain; setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu.”Ketika turun ayat ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, siapakah yang akan menggantikan kami? Baginda menepuk bahu Salman al-Farisi dan bersabda, “Dia dan kaumnya! Dan jika agama berada di bintang Suraya sekalipun, nescaya yang akan mengambilnya adalah lelaki dari bangsa Farsi.(Tafsir Ibnu Kathir, Jilid 4, halaman 182)

saudaraku….

Syi’AH iMAMiYAH ADALAH AHLUSSUNNAH YANG SESUNGGUHNYA

Kewajiban berpegang teguh dengan al-Quran dan Ahlul Bait

Dalam Sunan Sittah (Kitab Hadis Enam) banyak kali menyebut bahawa nabi meninggalkan dua perkara yang beharga iaitu al-Quran dan Ahlul Bait umpamanya Sunan at-Tirmidzi hadis no. 3874, jilid 5, halaman 722, cetakan Victory Agencie Kuala Lumpur 1993.

Hadis seumpama ini boleh ditemui dalam Sahih Muslim hal. 1873 – 1874 juz 4 no. 2408, sunt: Muhd Fuad Abd Baqi, t.t, cet. Dar al-Fikr Bayrouth, Imam Ahmad di dalam musnadnya hal. 366 juz 4, al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubra hal. 148 juz 2 serta al-Darimiy di dalam Sunannya m/s 431-432 juz 2.

Allah (s) berfirman dalam surah Syura, ayat 23: {Katakanlah wahai Muhammad, tiada aku minta ganjaran atas seruan dakwahku melainkan kecintaan ke atas kerabat}

Amin Farazala Al Malaya adalah seorang Syiah yang rajin mengkaji dan menyimpan rujukan beliau dalam bentuk salinan fotokopi. Hasil kerja beliau ini sangat berguna untuk menjelaskan siapakah Syiah yang sebenar dengan rujukan-rujukan daripada kitab-kitab Ahlussunnah sendiri.

Menarik di sini selepas meneliti isi kandungannya, saya mulai faham mengapa puak Wahabi tidak berani berdepan dengan Syiah untuk berdialog atau berdebat. Dari sudut yang lain tidak keterlaluan saya mengatakan kalau Wahabi berdebat dengan Syiah jadinya: menang belum pasti, kalah dah tentu. Alhamdulillah, ada saudara kita daripada puak Wahabi mulai insaf setelah membaca ‘Sekilas Pandang’ ini kerana sedar, selama ini dia ditipu tanpa penjamin
.
12 orang Imam adalah manusia suci berketurunan Rasulullah yang mewarisi seluruh khazanah ilmu dan penjaga umat selepas wafatnya Rasulullah (s). Dalam kitab Sahih Muslim yang diterbit oleh Klang Book Centre cetakan 1997, bab pemerintahan (Kitabul Imarah), hadis ke 1787 menyebut pemerintahan 12 orang khalifah daripada bangsa Quraysh, jelas sekali 12 khalifah ini bukan dari kalangan Bani Umayah dan Abasiyah kerana bani-bani ini mempunyai lebih dari 12 orang pemerintah.
.
Menurut sejarah selama pemerintahan dinasti Umayah dan Abasiyah, kesemua Imam 12 dan pengikut-pengikutnya diburu untuk dibunuh. Dalam suasana genting ini ramai ulama terpaksa menyembunyikan keimanan mereka. Nama-nama Imam 12 hari ini masih boleh ditemui dalam Kitab jawi karangan Syeikh Zainal Abidin al-Fatani berjudul Kasyful Ghaibiyah, halaman 53:
Transliterasi:
“…daripada keluarga nabi Sallahualaihi Wa Sallam, daripada walad Fatimah Radiallahuanha, bermula neneknya itu Hasan bin Ali bin Abi Talib, bermula bapanya Imam Hasan al-Askari ibni Imam Ali al-Taqi bin al-Imam Muhammad al-Taqi, al-imam Ali al-Ridha, anak al-Imam Musa al-Kazim anak al-Imam Jaafar al-Sodiq, anak al-Imam Muhammad al-Baqir, anak al-Imam Zainal Abidin bin Ali, anak al-Imam al-Husein, anak al-Imam Ali bin Abi Talib Radiallahuanhu ….”
Ternyata Syeikh Zainal Abidin al-Fatani dalam menyatakan jurai keturunan Imam Mahdi, beliau langsung mengaitkan nama Imam Hasan bin Ali (a) padahal beliau boleh terus mendaftar sisilah Imam Mahdi melalui al-Imam Husein bin Ali (a) tanpa menyebut Imam Hasan (a). Maksud pengarang ini tidak ingin memisahkan Imam Hassan dengan Imam Mahdi. Dengan ini juga lengkaplah nama-nama 12 Imam dalam menyatakan silsilah Imam Mahdi.

Lima kitab nabi Musa (Pentateuch) dalam Bible tidak mahu ketinggalan meramalkan 12 orang khalifah itu daripada keturunan nabi Ismail (a). Berikut adalah petikan dari Perjanjian Lama Kitab Keluaran, Fasal 17, ayat ke-20:

.
saudaraku…
-
Kebangkitan Islam di Iran

Ramalan kebangkitan Islam di Iran sudah lama diramalkan dalam surah Muhammad dan Jumu’ah

“….dan jika mereka berpaling, digantikan satu kaum selain kamu kemudian mereka tidak menjadi seperti kamu” (surah Muhammad, ayat 38)

“… mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Siapakah mereka yang jika kami berpaling, kami akan digantikan dan mereka tidak akan jadi seperti kami?” jawab Rasulullah sambil menepuk tangannya ke bahu Salman al-Farisi, sambil bersabda: “dia dan kaumnya, sekiranya ad-Din terletak di bintang Suria nescaya akan dicapai oleh pemuda-pemuda daripada kalangan bangsa Parsi” (Tafsir Ibnu Kathir)
.
Begitu juga Surah Jumuah ayat 3 dalam Sunan Tirmidzi menceritakan hal yang sama.
Perkataan Syiah sendiri bermaksud ‘pengikut’ atau ‘golongan’. Hari ini perkataan Syiah banyak difokuskan kepada pengikut Imam Ali bin Abi Talib (a). Antara yang menarik perhatian kita adalah perkataan Syiah itu pernah diabadikan dalam beberapa kitab tafsir antaranya ialah Tafsir Dur Mathur Fi Tafsir Ma’thur, jilid ke-8, halaman 589:

(dikeluarkan oleh Ibn Adi daripada ibn Abbas yang telah berkata: apabila turunnya ayat {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} telah bersabda Rasulullah (s) pada Ali : (( ia adalah kamu dan Syiah kamu di hari kiamat adalah orang yang meredha dan diredhai))

Dan dinukilkan ibn Mardawiyah daripada Ali yang telah berkata: Telah bersabda Rasulullah (s) untukku: ((tidakkah engkau mendengar firman Allah {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} ia adalah kamu dan Syiah kamu, di mana janjiku dan janjimu bertemu di telaga Haudh, jika telah datang kepadamu umat untuk perhitungan, mereka dalam kehilangan panduan lantas memohon pertolongan))

Fakta dan data perkembangan Syiah di Indonesia

MUI Pusat memandang akar masalah menjamurnya syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan kebudayaan dan keagamaan

Ke Indonesia, Menlu Iran Singgung masalah Syiah

Marty Natalegawa dan Javad Zarif:

Ke Indonesia, Menlu Iran Singgung masalah Syiah

Indonesia dan Iran telah menjalin hubungan sejarah, budaya, dan agama yang sangat panjang dan saling terkait selama lebih dari seribu tahun. Antara RI dan Iran  telah memiliki lebih dari 50 perjanjian kerja sama di segala bidang. Javad Zarif sempat mengajak mengatasi radikalisme dalam kasus yang menimpa Syiah

 

perkembangan syiah makin pesat di indonesia

perkembangan syiah makin pesat di indonesia

Propaganda anti syi’ah menyebabkan Syi’ah di Indonesia justru tumbuh pesat

Pertumbuhan Kaum Syi’ah Indonesia Semakin Pesat ! Perkembangan Syi’ah Indonesia kian subur

syiah semakin berkembang

Ketua Dewan Syariah Surakarta: Syiah Berkembang karena Ideologi Iran

Berkembangnya ajaran Syiah di Indonesia khususnya dan di Negara lain tidak semerta-merta karena paham Syiah sendiri, tapi  didorong kekuatan ideologi Iran. “Syiah didorong karena Ideologi,” demikian yang disampaikan Dr Muinudinillah Basri, MA, Ketua Dewan Syariah Surakarta

Menurut Muin, saat ini pergerakkan dan paham Syiah telah masuk di beberapa institusi strategis di Indonesia.

“Di dalam tubuh Polri, TNI, DPR, bahkan MUI ada Syiah,” ujarnya.

Pergolakan ideologi pada abad 21 ini sangat dahsyat. Berbagai aliran terus memperjuangkan ideologinya masing-masing. Termasuk Komunis dan Syiah, yang diprediksi akan terus ingin berkuasa di Indonesia.

Demikian menurut Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat Hidayatullah Dr Abdul Mannan.

“Kita akan berkompetisi yang sangat dahsyat, di tengah pertarungan ideologi yang sangat besar. Dan maaf, lima tahun lagi, Syiah di Indonesia ini bisa makin berkembangakan,” ujar Mannan di Cilodong, Depok, Jawa Barat, baru-baru ini.

Keyakinan Mannan didasari perkembangan Syiah di berbagai Negara, sebagaimana ia memantau perkembangan Syiah di berbagai televisi siaran internasional, seperti di Iraq, Libanon, dan Aljazair.

Mannan mengatakan itu saat menutup acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Hidayatullah, Sabtu, 16 Rabiul Awal 1435 H (18/1/2014).

Kepada ratusan pengurus Hidayatullah se-Indonesia, dia mewanti-wanti untuk terus memantau perkembangan berbagai ideologi dan aliran di negeri ini.

“Oleh karena itu saudara-saudara, jangan sampai nggak ikut berita, ikutilah berita. Seorang pejuang nggak ngerti dinamika ideologi yang lain, bahaya,” serunya.

Revolusi Syiah di Iran yang dipimpin Imam Khomeini dan berhasil melahirkan berdirinya Negara Syiah, merupakan titik awal penyebaran aqidah dan ajaran syiah ke seluruh pelosok dunia. Berbagai cara dilakukan oleh tokoh-tokoh syiah untuk masuk mengekspor revolusi syi’ah ke berbagai Negara, khususnya yang berpenduduk muslim. Indonesia tentu saja menjadi salah satu Negara sasaran utama, karena berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Ditanah air muncul tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok yang berbau syiah atau mengatasnamakan madzhab ahlul bait. Kemudian mereka mendirikan sebuah organisasi bernama IJABI (Ikatan Ahlus Bait Indonesia), sebuah organisasi yang menyandarkan dirinya pada ahli bait (keluarga) Rasulullah Saw. Di samping itu, kedutaan besar Iran banyak berperan membantu perkembangan faham syiah di Indonesia dengan membangun gedung Islamic Cultural Center (ICC) di Jakarta. Di gedung itu sering dilaksanakan berbagai ritual kepercayaan syiah.

Syiah di Indonesia berkembang di antaranya lewat buku-buku yang diterbitkan oleh beberapa penerbit terkemuka di Indonesia. Di samping buku, mereka juga mencetak majalah-majalah dan bulletin.

Untuk mendapat legitimasi dan pengakuan eksistensi mereka di Indonesia, lembaga-lembaga syiah pun didirikan dan tersebar di banyak kota di Indonesia. Sehingga secara sistematis dan alamiah membentuk jaringannya sendiri.

Perjalanan Iran khususnya pasca revolusi khomeini 1979 benar-benar merupakan praktek dari madzhab Syi’ah yang dianutnya. Ini tercantum dalam undang-undang dasar negara Iran pasal 12 yang berbunyi:

“Agama resmi negara Iran adalah Islam dengan madzhab ja’fariyah 12 imam. Pasal ini tidak boleh diubah selamanya.”

Nampak jelas negara Iran berdasar atas ideologi sektarian, yaitu berdasar madzhab ja’fari 12 imam yang tak lain hanyalah nama lain dari Syi’ah imamiyah. Ini diperkuat lagi dengan pasal 72 yang berbunyi:

“Majlis syura Islami tidak berhak membuat undang-undang yang menyelisihi prinsip-prinsip madzhab resmi negara.”

Hal ini juga tercantum pada pasal 85. Begitu juga pasal 144 berbunyi:

“Tentara republik Islam Iran haruslah berbentuk tentara Islam, yaitu berdasarkan kepada akidah dan terdiri dari pasukan yang meyakini visi dan misi revolusi Islam.” Sumpah presiden Iran yang tercantum pada pasal 121 berbunyi sebagai berikut:

“Saya sebagai presiden bersumpah demi Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa, di depan Al Qur’an dan di depan seluruh rakyat Iran, saya akan menjaga madzhab resmi negara….”

Selain berdasarkan pada madzhab syi’ah imamiyah, negara Iran adalah negara kesukuan persia. Bahasa dan tulisan persia dijadikan bahasa resmi negara. Hal ini termaktub dalam pasal 15.

Maka memahami madzhab Syi’ah adalah kunci untuk memahami sepak terjang dan arah politik negara Iran.

“afala ta’qilun , afala tatafakkaruun” itulah yg diajarkan allah swt pada ummatNya. sudah menjadi agama fitrah yakni islam dikenal dan dilaksanakan melalui pikiran yg rasional tidak melalui dktrin2 yg susah diterima dengan akal. usaha apapun yg dilakukan untuk membendung ajaran fitrah (syiah) ini tidak akan berhasil. selama orang masih menggunakan akalnya.

Walaupun tidak semua; tetapi banyak Ulama Sunnah yang rajin mengakafirkan Kaum Syiah; berdasarkan buruk sangka dan kebohongan2 tentang madhab Ahlul Bait (Syi’ah) yang sengaja dikarang oleh Ulama Sunni sendiri.

ALLAH akan mengadili semua manusia di hari Qiyammah nanti; dan ALLAH akan menentukan siapa saja yang sesat dan siapa saja yang tidak sesat; tetapi Ulama Sunni tertentu telah mendahului ALLAH; sehingga Ulama Sunni tertentu main hakim sendiri dan mengkafirkan Kaum Syiah.

Kaum Syiah berusaha mencerdaskan ummat Islam dengan cara menerangkan AlQuran dan Hadith; karena Kaum Syiah tidak suka melihat penyebaran agama Kristen yang cepat di dalam negara2 muslim.

Ulama Sunni yang tidak bertangung-jawab sengaja mengarang kebohongan2 tentang Kaum Syiah untuk menghancurkan persatuan ummat Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri.

di Indonesia, perguruan tinggi Islam (negeri) dan Muhammadiyah justru menerima dengan welcome terhadap referensi dari Iran, bahkan Iran telah memiliki 12 Iranian Corner di perguruan-perguruan tinggi Islam (negeri) dan Muhammadiyah di Indonesia.

mereka menerima Iranian Corner di berbagai Universitas Muhammadiyah itu. Cara berfikirnya model mantan rector UMS Malang, Malik Fajar, apalagi hanya buku-buku dari Iran

Di antara perguruan Tinggi Islam yang memiliki Iranian Corner, menurut Majalah Hidayatullah April 2009 adalah: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta (alhamdulillah Iranian Corner di UMJ ini telah musnah terkena banjir Situ Gintung, red) Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah

saat sudah kalap, karena melihat kemajuan lawan maka wahabi ngomongnya sudah srudak sruduk. ilmiahnya gk lagi dipake. ini adalah sindrom inferior. penyakit ini biasanya dimiliki oleh orang 2 kalah dan terima!

setahu saya penyakit ini banyak melanda kalangan wahabiah. kerjanya hanya marah2 tapi gak punya karya intelektual.

Tidak kurang dari 7.000-an mahasiswa Indonesia diperkirakan sedang dan telah belajar ke Iran, sebuah negara yang notabene pusat cuci otak untuk menjadi pendukung Syiah. Kabar ini dikemukakan oleh salah seorang anggota DPR Komisi VIII, Ali Maschan Musa, termuat di http://www.republika.co.id dengan link http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/03/03/167288-ribuan-pemuda-belajar-di-iran-polri-diminta-waspadai-syiah.

Padahal sewaktu kemarin ada evakuasi besar-besaran mahasiswa Indonesia di Mesir, ternyata jumlah mereka hanya sekitar 4.000-5.000 orang saja. Kalau yang kuliah ke Iran sampai angka 7.000, berarti ini bukan angka yang main-main.

“Saya tahun 2007 ke Iran dan bertemu dengan beberapa anak-anak Indonesia di sana yang belajar Syiah. Mereka nanti minta di Indonesia punya masjid sendiri dan sebagainya,” kata Ali dalam rapat dengan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komjen (Pol) Ito Sumardi, di ruang rapat Komisi VIII DPR, Jakarta, Kamis (3/3).

Ini berarti dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan diramaikan oleh demam paham Syi`ah. Karena dalam hitungan 4-5 tahun ke depan, tentu mereka akan kembali ke Indonesia dengan membawa paham yang secara tegak lurus bertentangan dengan paham umat Islam di Indonesia yang nota bene ahli sunnah wal jamaah.

Perkembangan Syiah di Indonesia

Sebenarnya untuk melihat hasil dari `kaderissasi` pemeluk syi`ah di Indonesia, tidak perlu menunggu beberapa tahun ke depan. Sebab data yang bisa kita kumpulkan hari ini saja sudah biki kita tercengang dengan mulut menganga.

Betapa tidak, rupanya kekuatan Syi`ah di negeri kita ini diam-diam terus bekerja siang malam, tanpa kenal lelah. Hasilnya, ada begitu banyak agen-agen ajaran syi`ah yang siap merenggut umat Islam Indonesia untuk menerima dan jatuh ke pelukan ajaran ini.

Iranian Corner di Perguruan Tinggi Islam

Perkembangan Iranian Corner di Indonesia khususnya Perguruan Tinggi cukup marak. Di Jakarta, Iranian Corner ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Jogjakarta sebagai kota pelajar malah punya tiga sekaligus, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah. Di Malang juga ada di Universitas Muhammadiyah Malang.

Islamic Cultural Center (ICC)

Di Indonesia Iran memiliki lembaga pusat kebudayaan Republik Iran, ICC (Islamic Cultural Center), berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah didirikannya Iranian Corner di 12 tempat tersebut, bahkan ada orang-orang yang aktif mengajar di ICC itu.

Dii antara tokoh yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar Shihab ( salah seorang Ketua MUI -Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan Prof Quraish Shihab (mantan Menteri Agama), Dr Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir dan O. Hashem. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.

Beasiswa Pelajar ke Iran

Syi’ah merekrut para pemuda untuk diberi bea siswa untuk dibelajarkan ke Iran. Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dibelajarkan di Iran, disamping sudah ada ribuan yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan dan sebagainya.

Sekembalinya ke tanah air, para lulusan Iran ini aktif menyebarkan faham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga pesantren.

Di antaranya Ahmad Baraqbah yang mendirikan Pesantren al-Hadi di Pekalongan (sudah hangus dibakar massa), ada juga Husein al-Kaff yang mendirikan Yayasan Al-Jawwad di Bandung, dan masih puluhan yayasan Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Yayasan, Pengajian dan Ikatan Penyebar Aqidah Syi`ah

Pada tahun 2001 saja sudah terdapat 36 yayasan Syi`ah di Indonesia. Dan tidak kurang dari 43 kelompok pengajian yang intensif menanamkan aqidah syi`ah sudah berdiri

 

 

Penyimpangan Syiah dan Bahaya Syiah Cuma Halusinasi Ulama Dungu yang tidak paham kerangka keilmuan mazhab Syi’ah

Kata wahabi : “Tatkala kami membawakan fatwa ulama syiah, dan fatwa tersebut ada dalam kitabnya sendiri, para penganut syiah mengelak dan beralasan yang bla bla bla.”


Deklarasi anti-Syiah dari perwakilan ulama seluruh Indonesia dan MUI di Bandung. (VOA/R. Teja Wulan)

Deklarasi anti-Syiah dari perwakilan ulama seluruh Indonesia dan MUI di Bandung

juru bicara komunitas Syiah Al-Muntazar, Abdi M. Soeherman mengatakan, Deklarasi Anti Syiah tidak layak digelar karena melanggar hukum, Undang-Undang Dasar 1945, serta nilai dan semangat Pancasila. Pernyataan anti-agama atau mazhab tertentu secara luas di hadapan publik merupakan pelanggaran hukum dalam pidana kebencian.

Wahai wahabi Belajarlah dari Iblis,ribuan tahun ibadahnya hangus hanya karena ia menolak bersujud pada Adam as

dulu ketika saya masih belum syiah, saya juga sama seperti anda
.
tapi ketika saya berkenalan dengan seorang syiah, sy menemukan kelembutan seperti kelembutan sentuhan suapan Rasulullah kepada yahudi yang menyumpahinya..
.
adakah niatmu menulis ini utk mencari kebenaran ?
tidak kah merasa aneh ribuan tahun sudah permusuhan sunni syiah ini namun Iran tetap dianggap negara islam ?????
.

Apakah bisa disebut sebagai sahabat Rasulullah orang-orang yang merampas wasiat Nabi, merampok warisannya, dan membunuh cucu-cucu yang paling beliau sayangi?

  1. Jika mereka berhujjah dengan riwayat dhaif [di sisi mazhab Syi’ah] yang mengandung kemungkaran kemudian mengatasnamakan kemungkaran tersebut atas nama Syi’ah maka orang Syi’ah pun bisa berhujjah dengan riwayat dhaif [di sisi mazhab Ahlus Sunnah] yang mengandung kemungkaran kemudian mengatasnamakan kemungkaran tersebut atas nama Ahlus Sunnah
  2. Jika mereka berhujjah dengan riwayat shahih [di sisi mazhab Syi’ah] yang mengandung sesuatu yang gharib untuk mencela mazhab Syi’ah maka orang Syi’ah pun bisa berhujjah dengan riwayat shahih [di sisi mazhab Ahlus Sunnah] yang mengadung sesuatu yang gharib untuk mencela mazhab Ahlus Sunnah
  3. Jika mereka berhujjah dengan qaul atau pendapat ulama yang menyimpang atau gharib dalam mazhab Syi’ah untuk merendahkan Syi’ah maka orang Syi’ah pun bisa berhujjah dengan qaul ulama ahlus sunnah yang menyimpang atau gharib untuk merendahkan mazhab Ahlus Sunnah.

Mereka para pendusta tersebut tidak akan pernah sadar bahwa dalam hal kerangka keilmuan mazhab Syi’ah sudah seperti mazhab Ahlus Sunnah. Syi’ah memiliki kitab-kitab rujukan sama seperti Ahlus Sunnah baik dalam hal ilmu hadis, ilmu rijal, ilmu fiqih, ilmu tafsir dan sebagainya. Syi’ah memiliki banyak ulama beserta kitab-kitab mereka sama seperti Ahlus Sunnah memiliki banyak ulama beserta kitab-kitab mereka. Baik ulama-ulama Syi’ah dan Ahlus Sunnah bukanlah orang-orang yang terbebas dari kesalahan.

Bisa saja diantara ulama Syi’ah dan Ahlus Sunnah terdapat ulama dengan pendapat yang menyimpang, ketidaktahuan akan dalil [dalam masalah tertentu], dan fanatisme terhadap mazhab. Apakah hal ini menjadi dasar untuk merendahkan mazhab Syi’ah dan mazhab Ahlus Sunnah?.

Jawabannya jelas tidak, kalau para pendusta tersebut tidak paham akan hal ini maka menunjukkan bahwa mereka jahil dan bodoh tetapi jika mereka paham akan hal ini dan tetap melakukannya maka mereka kualitasnya tidak lebih dari pendusta dan penipu yang menghalalkan kedustaan demi membela mazhabnya dan merendahkan mazhab lain.

Zurarah adalah seorang yang tsiqah dan diakui kredibilitasnya oleh Imam Ahlul Bait, berdasarkan pendapat yang rajih di sisi mazhab Syi’ah

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Mengenal Perawi Syi’ah : Zurarah bin A’yan

Zurarah bin A’yan adalah sahabat Imam Abu Ja’far Al Baqir [‘alaihis salaam] dan Imam Ja’far [‘alaihis salaam]. Ath Thuusiy menyebutkan bahwa kuniyah Zurarah adalah Abu Hasan, dikatakan bahwa namanya adalah Abdur Rabbihi dan Zurarah adalah laqab yang melekat padanya. Ayah-nya A’yan bin Sansan adalah budak romawi milik bani syaiban, dia mempelajari Al Qur’an kemudian dimerdekakan. Sedangkan kakek Zurarah adalah rahib di negri Romawi [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 133-134]. An Najasyiy menyebutkan bahwa Zurarah wafat pada tahun 150 H [Rijal An Najasyiy hal 175 no 463]

.

.

Zurarah termasuk perawi Syi’ah yang banyak meriwayatkan hadis dari Imam Baqir [‘alaihis salaam] dan Imam Ja’far [‘alaihis salaam]. Para ulama Syi’ah baik mutaqaddimin dan muta’akhirin telah bersepakat mengenai kredibilitas-nya. An Najasyiy dan Ath Thuusiy telah memujinya dalam kitab Rijal mereka.

زرارة بن أعين بن سنسن مولى لبني عبد الله بن عمرو السمين بن أسعد بن همام بن مرة بن ذهل بن شيبان، أبو الحسن. شيخ أصحابنا في زمانه ومتقدمهم، وكان قارئا فقيها متكلما شاعرا أديبا، قد اجتمعت فيه خلال الفضل والدين، صادقا فيما يرويه

Zurarah bin A’yan bin Sansan maula bani ‘Abdullah bin ‘Amru As Samiin bin As’ad bin Hamaam bin Murah bin Dzahl bin Syaiban, Abu Hasan Syaikh sahabat kami pada zamannya dan terdahulu diantara mereka, ia seorang qari’ faqih, ahli kalam, penyair, ahli sastra sungguh telah berkumpul padanya kemuliaan, keutamaan dan agama, ia seorang yang jujur dalam riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 175 no 463]

زرارة بن أعين الشيباني، ثقة، روى عن أبي جعفر وأبي عبد الله عليهما السلام

Zurarah bin A’yan Asy Syaibaniy seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu Abdullah [‘alaihimas salaam] [Rijal Ath Thuusiy hal 337]

قال الكشي: أجمعت العصابة على تصديق هؤلاء الأولين من أصحاب أبي جعفر عليه السلام وأبي عبد الله عليه السلام وانقادوا لهم بالفقه، فقالوا: أفقه الأولين ستة زرارة، ومعروف بن خربوذ، وبريد، وأبو بصير الأسدي، والفضيل بن يسار، ومحمد بن مسلم الطائفي، قالوا: وأفقه الستة زرارة، وقال بعضهم مكان أبي بصير الأسدي أبو بصير المرادي وهو ليث بن البختري

Al Kasyiy berkata “terdapat ijma’ di kalangan ulama mengenai kejujuran dari sahabat terkemuka Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] dan penguasaan mereka dalam fiqih. Maka para ulama berkata enam orang diantara mereka yang paling faqih adalah Zurarah, Ma’ruf bin Kharrabudz, Buraid, Abu Bashir Al Asdiy, Fudhail bin Yasar, Muhammad bin Muslim Ath Thaa’ifiy. Mereka berkata “yang paling faqih dari mereka berenam adalah Zurarah” dan berkata sebagian yang lain Abu Bashir Al Asdiy, Abu Bashir Al Muradiy dan ia adalah Laits bin Bakhtariy [Rijal Al Kasyiy 2/507]

Ibnu Dawud Al Hilliy memasukkan Zurarah dalam kitab Rijal-nya bagian pertama yang memuat para perawi yang terpuji di sisinya [Rijal Ibnu Dawud hal 96 no 629] dan Allamah Al Hilliy juga memasukkan Zurarah dalam kitabnya bagian pertama yang memuat para perawi yang ia berpegang dengannya dan dengan sharih menyatakan tentang Zurarah “di sisiku hadisnya maqbul” [Khulashah Al Aqwaal Al Hilliy hal 152 no 2]

حدثني إبراهيم بن العباس الختلي، قال: حدثني أحمد بن إدريس القمي، قال: حدثني محمد بن أحمد بن يحيى، عن محمد بن أبي الصهبان أو غيره عن سليمان بن داود المنقري، عن ابن أبي عمير، قال: قلت لجميل بن دراج، ما أحسن محضرك وأزين مجلسك فقال: أي والله ما كنا حول زرارة بن أعين الا بمنزلة الصبيان في الكتاب حول المعلم

Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin ‘Abbaas Al Khattaliy yang berkata telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Idriis Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad bin Yahya dari Muhammad bin Abi Ash Shahbaan atau selainnya dari Sulaiman bin Dawud Al Munqariy dari Ibnu Abi ‘Umair yang berkata aku berkata kepada Jamiil bin Daraaj “alangkah baiknya kehadiranmu dan beruntunglah majelismu”. Maka Ia berkata “demi Allah tidaklah kami di hadapan Zurarah kecuali kedudukannya seperti anak-anak di kuttab [tempat belajar anak kecil] di hadapan mu’allim [guru yang alim] [Rijal Al Kasyiy 1/346]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya jayyid, para perawinya shalih dan tsiqat. Berikut keterangannya

  1. Ibrahim bin ‘Abbas Al Khattaliy adalah Ibrahim bin Muhammad bin ‘Abbas disebutkan oleh Ath Thusiy bahwa ia seorang yang shalih [Rijal Ath Thuusiy hal 407]. Sayyid Al Khu’iy dalam biografi Yunus bin ‘Abdurrahman menyatakan bahwa Ibrahim tsiqat [Mu’jam Rijal Al Hadits 21/213]
  2. Ahmad bin Idriis Al Qummiy seorang yang tsiqat faqih banyak meriwayatkan hadis, shahih riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 92]
  3. Muhammad bin Ahmad bin Yahya bin ‘Imraan Al Qummiy seorang yang tsiqat dalam hadis [Rijal An Najasyiy hal 348 no 939]
  4. Muhammad bin Abi Ashbahan seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 401]
  5. Sulaiman bin Dawud Al Munqariy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 184 no 488]
  6. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  7. Jamil bin Daraaj, ia termasuk orang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 126 no 328]

Maka tidak diragukan bahwa Zurarah adalah perawi yang menjadi pegangan bagi mazhab Syi’ah. Para pencela Syi’ah sering merendahkan mazhab Syi’ah dengan mengutip berbagai riwayat dari Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam] yang mencela Zurarah. Intinya mereka para pencela tersebut menyebarkan syubhat bahwa perawi yang menjadi pegangan Syi’ah ternyata perawi yang dilaknat dan dicela oleh Imam Syi’ah sendiri.

.

.

.

Benarkah demikian?. Tulisan ini berusaha meluruskan syubhat tersebut. Ternukil berbagai riwayat tentang Zurarah. Riwayat-riwayat tersebut terbagi menjadi

  1. Riwayat Imam Ahlul Bait yang memuji Zurarah
  2. Riwayat Imam Ahlul Bait yang mencela Zurarah
  3. Riwayat Zurarah yang dikatakan mencela Ahlul Bait

Dengan menerapkan ilmu Rijal Syi’ah sebagai timbangan riwayat-riwayat tersebut maka didapatkan bahwa riwayat yang rajih dan tsabit adalah riwayat Imam Ahlul Bait yang memuji Zurarah. Sedangkan riwayat yang mencela Zurarah, sebagiannya tidak tsabit dan terdapat perbincangan atasnya.

.

.

Riwayat Yang Memuji Zurarah bin A’yan

حدثني حمدويه بن نصير، قال: حدثني يعقوب بن يزيد، ومحمد ابن الحسين بن أبي الخطاب، عن محمد بن أبي عمير، عن إبراهيم بن عبد الحميدوغيره، قالوا: قال أبو عبد الله عليه السلام: رحم الله زرارة بن أعين، لولا زرارة بن أعين، لولا زرارة ونظراؤه لاندرست أحاديث أبي عليه السلام

Telah menceritakan kepadaku Hamdawaih bin Nashiir yang berkata telah menceritakan kepadaku Yaqub bin Yaziid dan Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari Ibrahim bin ‘Abdul Hamiid dan selainnya, mereka mengatakan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata “semoga Allah merahmati Zurarah bin A’yan, seandainya tidak ada Zurarah dan orang-orang sepertinya maka tidak akan tersisa hadis-hadis Ayahku [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 1/347-348]

Muhammad bin Husain bin Abil Khaththab dalam riwayat diatas memiliki mutaba’ah dari Ibrahim bin Hasyiim sebagaimana disebutkan dalam riwayat Syaikh Al Mufiid dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffar [Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 66]. Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya muwatstsaq berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Para perawinya tsiqat hanya saja disebutkan bahwa Ibrahim bin ‘Abdul Hamiid bermazhab waqifiy

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Yaqub bin Yaziid bin Hamaad seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  3. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththab adalah seorang yang jalil, tsiqat banyak memiliki riwayat dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Ibrahim bin ‘Abdul Hamiid, ia seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 40]

حدثني حمدويه بن نصير، قال حدثنا يعقوب بن يزيد، عن محمد بن أبي عمير، عن جميل بن دراج، قال سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول بشر المخبتين بالجنة بريد بن معاوية العجلي، وأبو بصير بن ليث البختري المرادي، ومحمد بن مسلم، وزرارة، أربعة نجباء أمناء الله على حلاله وحرامه، لولا هؤلاء انقطعت آثار النبوة واندرست

Telah menceritakan kepadaku Hamdawaih bin Nashiir yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaqub bin Yaziid dari Muhammad bin Abi Umair dari Jamil bin Daraaj yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan berilah kabar gembira dengan surga kepada Buraid bin Mu’awiyah Al ‘Ajliy, Abu Bashiir Laits Al Bakhtariy Al Muradiy, Muhammad bin Muslim dan Zurarah. Mereka berempat adalah orang yang terbaik dan kepercayaan Allah atas halal dan haram-Nya dan seandainya tidak ada mereka maka akan hilanglah atsar nubuwah [Rijal Al Kasyiy 1/398]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Para perawinya tsiqat yaitu

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Yaqub bin Yaziid bin Hamaad seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Jamil bin Daraaj, ia termasuk orang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 126 no 328]

حمدويه، قال: حدثني محمد بن عيسى بن عبيد، ويعقوب بن يزيد، عن ابن أبي عمير، عن أبي العباس البقباق، عن أبي عبد الله عليه السلام أنه قال: أربعة أحب الناس إلي أحياءا وأمواتا، بريد بن معاوية العجلي، وزرارة بن أعين، ومحمد ابن مسلم، وأبو جعفر الأحول، أحب الناس إلى أحياءا وأمواتا

Hamdawaih berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Iisa bin Ubaid dan Ya’qub bin Yaziid dari Ibnu Abi Umair dari Abi Abbaas Al Baqbaaq dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] bahwasanya ia berkata empat orang yang paling aku cintai hingga hidup dan wafat mereka Buraid bin Mu’awiyah Al Ajliy, Zurarah bin A’yan, Muhammad bin Muslim dan Abu Ja’far Al Ahwal, mereka paling aku cintai hingga hidup dan wafat mereka [Rijal Al Kasyiy 2/423]

Muhammad bin Iisa bin Ubaid dalam riwayat di atas memiliki mutaba’ah dari Muhammad bin Ahmad bin Yahya bin ‘Imraan sebagaimana dalam riwayat yang disebutkan Syaikh Ash Shaduq [Kamal Ad Diin Wa Tammam An Ni’mah, Syaikh Shaduq hal 76] Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya shahih berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Para perawinya tsiqat yaitu

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896]. Ath Thuusiy menyatakan bahwa ia dhaif [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 216]. Tetapi dalam sanad ini ia dikuatkan oleh Yaqub bin Yazid.
  3. Yaqub bin Yaziid bin Hamaad seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Abu Abbas Al Baqbaaq adalah Fadhl bin ‘Abdul Malik seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 308 no 843]

حدثني حمدويه: قال حدثني يعقوب بن يزيد، عن ابن أبي عمير، عن هشام بن سالم، عن سليمان بن خالد الاقطع، قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول ما أجد أحدا أحيى ذكرنا وأحاديث أبي عليه السلام الا زرارة وأبو بصير ليث المرادي ومحمد بن مسلم وبريد بن معاوية العجلي، ولولا هؤلاء ما كان أحد يستنبط هذا هؤلاء حفاظ الدين وأمناء أبي عليه السلام على حلال الله وحرامه، وهم السابقون إلينا في الدنيا والسابقون إلينا في الآخرة

Telah menceritakan kepadaku Hamdawaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Yaquub bin Yaziid dari Ibnu Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Sulaiman bin Khaalid Al Aqtha’ yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakana “tidak ada yang menghidupkan sebutan tentang kami dan hadis-hadis ayahku [‘alaihis salaam] kecuali Zurarah, Abu Bashiir Laits Al Muradiy, Muhammad bin Muslim, Buraid bin Mu’awiyah Al Ajliy. Seandainya tidak ada mereka berempat maka tidak ada seorangpun yang dapat beristinbath dari hal ini. Merekalah penjaga agama dan kepercayaan ayahku [‘alaihis salaam] atas apa yang dihalalkan Allah dan yang diharamkannya, dan mereka terdahulu kepada kami di dunia dan terdahulu kepada kami di akhirat [Rijal Al Kasyiy 1/348]

Hamdawaih dalam riwayat di atas memiliki mutaba’ah dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar sebagaimana yang diriwayatkan Al Mufiid dalam Al Ikhtishaash [Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 66]. Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Para perawinya tsiqat yaitu

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Yaqub bin Yaziid bin Hamaad seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Hisyam bin Saalim, ia dikatakan An Najasyiy “tsiqat tsiqat” [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]
  5. Sulaiman bin Khalid Al Aqtha’ sahabat Imam Baqir dan Imam Ash Shadiq, seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 264]

.

وما رواه أحمد بن محمد بن عيسى عن يحيى بن حبيب قال سألت الرضا عليه السلام عن أفضل ما يتقرب به العباد إلى الله تعالى من الصلاة قالستة وأربعون ركعة فرائضه ونوافله، قلت هذه رواية زرارة قال أو ترى أحدا كان أصدع بالحق منه؟

Dan apa yang diriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Yahya bin Habiib yang berkata aku bertanya kepada Ar Ridha [‘alaihis salaam] tentang yang paling utama dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dari Shalat. Beliau berkata “empat puluh enam rakaat fardhu-nya dan nawafil-nya”. Aku berkata “ini riwayat Zurarah”. Beliau berkata “apa engkau melihat ada orang yang lebih berpegang kepada kebenaran dibanding dirinya” [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 2/6]

Riwayat ini sanadnya jayyid berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Jalan Syaikh Ath Thuusiy kepada Ahmad bin Muhammad bin Iisa telah dinyatakan shahih oleh Sayyid Al Khu’iy, hal ini disebutkan olehnya dalam biografi Ahmad bin Muhammad bin Iisa [Mu’jam Rijal Al Hadits 3/89] dan disebutkan pula oleh Ahmad bin Abdur Ridha bahwa jalan Ath Thusiy kepada Ahmad bin Muhammad bin Iisa shahih [Fa’iq Al Maqal Fii Al Hadits Wa Rijal hal 196]. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Asy’ariy Al Qummiy seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]

Yahya bin Habiib, ia adalah Az Zayaat. Ibnu Syahr Asyub memasukkannya dalam golongan para perawi tsiqat yang meriwayatkan dari Ar Ridha

وقد ثبت بقول الثقات إشارة أبيه إليه، منهم: عمه علي بن جعفر الصادق، وصفوان بن يحيى، ومعمر بن خلاد، وابن أبي نصر البزنطي، والحسين بن يسار، والحسن بن جهم، وأبو يحيى الصنعاني، ويحيى بن حبيب الزيات

Dan sungguh telah tsabit perkataan orang-orang tsiqat mengenai isyarat Ayahnya [Ar Ridha] terhadapnya [Al Jawaad], diantara mereka adalah pamannya Aliy bin Ja’far Ash Shaadiq, Shafwaan bin Yahya, Ma’mar bin Khalaad, Ibnu Abi Nashr Al Bizanthiy, Husain bin Yasaar, Hasan bin Jahm, Abu Yahya Ash Shan’aniy dan Yahya bin Habiib Az Zayaat [Manaqib Ibnu Syahr Asyub 3/487]

Sayyid Al Khu’iy juga menukil tautsiq Ibnu Syahr Asyub ini dalam kitab Mu’jam-nya [Mu’jam Rijal Al Hadits 21/42 no 13500] dan Muhammad Al Jawahiriy menyatakan bahwa Yahya bin Habiib majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 661]. Nampaknya ia tidak berpegang dengan tautsiq Ibnu Syahr Asyub tersebut.

Pernyataan majhul terhadap Yahya bin Habiib tersebut tidak benar karena adanya tautsiq Ibnu Syahr Asyuub. Ibnu Syahr Asyub adalah seorang yang alim, fadhl, tsiqat, muhaddis, muhaqqiq, arif dalam rijal dan kabar [Amal Al Amil, Syaikh Al Hurr Al Amiliy 2/285] disebutkan bahwa ia lahir tahun 489 H dan wafat tahun 588 H maka ia tergolong ulama Syi’ah muta’akhirin jika dibandingkan dengan An Najasyiy dan Ath Thuusiy tetapi jika dibandingkan dengan ulama muta’akhirin lainnya maka nampaknya ia tergolong yang paling awal diantara mereka. Mungkin karena ia tergolong muta’akhirin maka Al Jawahiriy tidak berpegang pada tautsiq-nya padahal sebenarnya dalam ilmu hadis [baik Sunni maupun Syi’ah] tidak ada halangan untuk berpegang pada tautsiq ulama muta’akhirin.

.

.

.

Riwayat Yang Mencela Zurarah bin A’yan

حدثني أبو جعفر محمد بن قولويه، قال: حدثني محمد بن أبي القاسم أبو عبد الله المعروف بماجيلويه، عن زياد بن أبي الحلال، قال: قلت لأبي عبد اللهعليه السلام ان زرارة روى عنك في الاستطاعة شيئا فقبلنا منه وصدقناه، وقد أحببت أن أعرضه عليك، فقال: هاته، قلت: فزعم أنه سألك عن قول الله عز وجل ” ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ” من ملك زادا وراحلة، فقال: كل من ملك زادا وراحلة، فهو مستطيع للحج وان لم يحج؟ فقلت نعمفقال: ليس هكذا سألني ولا هكذا قلت: كذب علي والله كذب علي والله لعن الله زرارة لعن الله زرارة، لعن الله زرارة انما قال لي من كان له زاد وراحلة فهو مستطيع للحج؟ قلت: وقد وجب عليه الحج، قال: فمستطيع هو؟ فقلت: لا حتى يؤذن له، قلت: فأخبر زرارة بذلك؟ قال: نعم. قال زياد: فقدمت الكوفة فلقيت زرارة فأخبرته بما قال أبو عبد الله عليه السلام وسكت عن لعنة، فقال: اما أنه قد أعطاني الاستطاعة من حيث لا يعلم، وصاحبكم هذا ليس له بصر بكلام الرجال

Telah menceritakan kepadaku Abu Ja’far Muhammad bin Quluwaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi Qaasim Abu Abdullah yang dikenal dengan Majilawaih dari Ziyaad bin Abi Hilaal yang berkata aku berkata kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] bahwa Zurarah meriwayatkan darimu tentang ‘istitha’ah, sesuatu yang kemudian kami menerimanya dan kami membenarkannya. Dan sungguh kami ingin menanyakan hal itu kepadamu. Abu Abdillah berkata “sampaikanlah”. Aku berkata Zurarah mengaku bahwa dia pernah bertanya kepadamu tentang firman Allah “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu [bagi] orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”[kemudian dijawab]Bagi siapa saja yang memiliki bekal dan kendaraan. Maka dia berkata “siapa saja yang memiliki bekal dan kendaraan berarti dia mampu untuk mengerjakan haji, meskipun dia tidak pergi haji?”. Maka kamu menjawab “benar”. Abu Abdullah berkata ”Bukan seperti itu dia bertanya dan juga bukan seperti ituaku menjawab, dia berdusta atasku demi Allah dia telah berdusta atasku, demi Allah semoga Allah melaknat Zurarah, semoga Allah melaknat Zurarah, semoga Allah melaknat Zurarah. Sesungguhnya yang sebenarnya dia katakan kepadaku adalah “Barang siapa yang memiliki bekal dan kendaraan, apakah dia dikatakan mampu menunaikan haji?” Aku menjawab “telah wajib baginya haji”. Dia berkata “apakah dia mampu?” maka aku berkata “tidak sehingga diizinkan atasnya”. Abu Abdillah berkata “beritahukan hal ini kepada Zurarah”. Ketika aku datang ke Kufah dan aku bertemu Zurarah, aku beritahukan kepadanya apa yang telah dikatakan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] dan dia pun diamterhadap ucapan laknatnya [Abu Abdullah]. Zurarah berkata ”Dia memberikan kepadaku pengertian istitha’ah dengan sesuatu yang tidak bisa difahami dan sahabat kalian ini tidak memiliki pemahaman terhadap perkataan seseorang”. [Rijal Al Kasyiy 1/359-361]

Riwayat Al Kasyiy di atas para perawinya tsiqat, tetapi mengandung illat [cacat] yaitu Muhammad bin Abi Qaasim Majilawaih tidak mendengar dari Ziyaad bin Abi Hilaal. Hal ini nampak dalam qarinah berikut

Sayyid Al Khu’iy dalam kitab Mu’jam-nya menyebutkan bahwa diantara yang meriwayatkan dari Muhammad bin Abi Qaasim Majilawaih adalah Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid [Mu’jam Rijal Al Hadits 15/309 no 10052]. Dan dinyatakan dengan jelas dalam contoh riwayat Ash Shaduq dengan lafaz “telah menceritakan kepada kami Ayahku dan Muhammad bin Hasan [radiallahu ‘anhuma], keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Qaasim Majilawaih [Kamal Ad Diin Wa Tamam An Ni’mah hal 651 no 11]. Hal ini menunjukkan bahwa Majilawaih semasa dengan Ibnu Walid. An Najasyiy menyebutkan bahwa Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid wafat pada tahun 343 H [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]. Artinya Majilawaih kemungkinan hidup di pertengahan abad ke 3 H

Sedangkan Ziyad bin Abi Hilal, disebutkan dalam Mu’jam Rijal Al Hadits bahwa ia termasuk sahabat Imam Baqir [‘alaihis salaam] dan sahabat Imam Ja’far [‘alaihis salaam] [Mu’jam Rijal Al Hadits 8/312 no 4772]. Imam Baqir [‘alaihis salaam] wafat tahun 114 H. Artinya Ziyad bin Abi Hilal termasuk perawi yang hidup di masa awal abad ke-2 H. Bagaimana bisa Majilawaih yang kemungkinan hidup di pertengahan abad ke-3 Hbisa bertemu dengan Ziyad bin Abi Hilal yang hidup di awal abad ke 2 H?. Jadi tidak diragukan kalau sanad tersebut munqathi’ [terputus] maka kedudukannya dhaif.

.

حدثني حمدويه بن نصير، قال: حدثني محمد بن عيسى، عن عمار ابن المبارك، قال: حدثني الحسن بن كليب الأسدي، عن أبيه كليب الصيداوي، أنهم كانوا جلوسا، ومعهم عذافر الصيرفي، وعدة من أصحابهم معهم أبو عبد الله عليه السلام قال، فابتدأ أبو عبد الله عليه السلام من غير ذكر لزرارة، فقال لعن الله زرارة لعن الله زرارة لعن الله زرارة ثلاث مرات

Telah menceritakan kepadaku Hamdawaih bin Nashiir yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Iisa dari ‘Ammar bin Mubarak yang berkata telah menceritakan kepadaku Hasan bin Kulaib Al Asdiy dari Ayahnya Kulaib Ash Shaidawiy bahwa mereka sedang duduk dan bersama mereka ada ‘Udzafir Ash Shairafiy dan sekelompok sahabat mereka. Bersama mereka ada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]. [Perawi] berkata Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam] mulai tanpa menyebutkan Zurarah kemudian Beliau berkata “Allah melaknat Zurarah, Allah melaknat Zurarah, Allah melaknat Zurarah” sebanyak tiga kali [Rijal Al Kasyiy 1/365]

Riwayat di atas dhaif karena ‘Ammar bin Mubarak seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 421] dan Hasan bin Kulaib seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 152]

.

.

حدثني حمدويه، قال: حدثني محمد بن عيسى، عن يونس، عن مسمع كردين أبي سيار، قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: لعن الله بريدا ولعن الله زرارة

Telah menceritakan kepadaku Hamdawaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Iisa dari Yunus dari Masma’ Kardiin Abi Sayaar yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Allah melaknat Buraid dan Allah melaknat Zurarah [Rijal Al Kasyiy 1/364]

Sayyid Muhsin Al Amin menyatakan bahwa sanad hadis ini shahih [A’yan Asy Syi’ah 7/50]. Tetapi penilaian ini perlu ditinjau kembali dengan kaidah ilmu Rijal Syi’ah. Riwayat di atas para perawinya tsiqat kecuali Muhammad bin Iisa bin Ubaid, ia termasuk perawi yang diperselisihkan. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896]. Ath Thuusiy menyatakan bahwa ia dhaif [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 216].

وذكر أبو جعفر بن بابويه، عن ابن الوليد أنه قال: ما تفرد به محمد بن عيسى من كتب يونس وحديثه لا يعتمد عليه ورأيت أصحابنا ينكرون هذا القول، ويقولون: من مثل أبي جعفر محمد بن عيسى. سكن بغداد

Dan Abu Ja’far bin Babawaih menyebutkan dari Ibnu Waliid bahwasanya ia berkata “apa yang diriwayatkan menyendiri Muhammad bin Iisa dari kitab Yunus dan hadis-hadisnya tidak bisa dijadikan pegangan atasnya. Dan aku melihat sahabat kami mengingkari perkataan ini dan mereka mengatakan “siapa yang seperti Abu Ja’far Muhammad bin Iisa”, ia tinggal di Baghdad [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896]

Ibnu Dawud memasukkan namanya dalam kitab Rijal-nya bagian kedua yang memuat daftar perawi yang majhul dan tercela di sisinya [Rijal Ibnu Dawud hal 275]. Sedangkan Allamah Al Hilliy memasukkannya dalam kitab Rijalnya bagian pertama yang memuat daftar perawi yang ia berpegang dengannya dan dengan sharih ia berkata “dan yang kuat di sisiku adalah ia diterima riwayatnya” [Khulashah Al Aqwaal hal 242-243]

Pendapat yang rajih tentang Muhammad bin Iisa adalah dia pada dasarnya seorang yang tsiqat tetapi terdapat kelemahan dalam sebagian hadisnya yaitu hadisnya dari Yunus. Pengingkaran terhadap perkataan Ibnu Walid justru tidak bisa dijadikan pegangan karena apa yang dikatakan Ibnu Walid adalah jarh yang jelas dan tidak bersifat menjatuhkan kredibilitas Muhammad bin Iisa melainkan hanya menunjukkan terdapat kelemahan dalam sebagian hadisnya. Adapun pendhaifan Ath Thuusiy maka itu dikembalikan kepada perkataan Ibnu Walid yaitu pada sebagian hadisnya.

Kesimpulannya riwayat Muhammad bin Iisa dari Yunus yang diriwayatkan secara menyendiri maka kedudukannya dhaif. Riwayat di atas adalah riwayat Muhammad bin Iisa dari Yunus secara tafarrud maka statusnya dhaif apalagi hadis ini bertentangan dengan hadis shahih dari Imam Ja’far [‘alaihis salaam] bahwa Buraid dan Zurarah termasuk orang yang dikabarkan surga.

.

.

وبهذا الاسناد: عن يونس، عن إبراهيم المؤمن، عن عمران الزعفراني قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول لأبي بصير: يا أبا بصير وكنى أثنى عشر رجلا ما أحدث أحد في الاسلام ما أحدث زرارة من البدع، لعنه الله، هذا قول أبي عبد الله

Dan dengan sanad ini, dari Yunus dari Ibrahim Al Mu’min dari ‘Imraan Az Za’faraniy yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan kepada Abu Bashir “wahai Abu Bashiir akan ada dua belas orang yang tidak seorangpun yang membuat hal-hal baru dalam islam seperti hal-hal baru yang diadakan Zurarah dari bid’ahnya, laknat Allah atasnya, ini perkataan Abu ‘Abdullah [Rijal Al Kasyiy 1/365].

Riwayat di atas dhaif karena Ibrahim Al Mu’min seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 18] dan ‘Imraan Az Za’faraniy seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 442]

.

محمد بن مسعود، قال حدثني جبرئيل بن أحمد، عن العبيدي، عن يونس، عن هارون بن خارجة، قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام عن قول الله عزو جل الذين آمنوا ولم يلبسوا ايمانهم بظلم ” قال: هو ما استوجبه أبو حنيفة وزرارة
وبهذا الاسناد: عن يونس، عن خطاب بن مسلمة، عن ليث المرادي قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: لا يموت زرارة الا تائها

Muhammad bin Mas’ud berkata telah menceritakan kepadaku Jibra’il bin Ahmad dari Al ‘Ubaidiy dari Yunus dari Haruun bin Khaarijah yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang firman Allah ‘azza wajalla “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman”. Beliau berkata itu adalah apa yang sepatutnya bagi Abu Hanifah dan Zurarah. Dan dengan sanad ini dari Yunus dari Khaththaab bin Maslamah dari Laits Al Muradhiy yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan tidak akan mati Zurarah kecuali dalam keadaan tersesat [Rijal Al Kasyiy 1/364-365]

Riwayat di atas dhaif, Al Ubaidiy adalah Muhammad bin Iisa bin Ubaid maka riwayatnya dari Yunus secara tafarrud [tanpa adanya penguat] statusnya dhaif, sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya. Selain itu sanad di atas dhaif karena Jibra’il bin Ahmad.

جبرئيل بن أحمد: الفاريابي، يكنى أبا محمد، كان مقيما بكش، كثير الرواية عن العلماء بالعراق، وقم، وخراسان، رجال الشيخ – مجهول – يروى عنه الكشي كثيرا

Jibra’il bin Ahmad Al Faryaabiy kuniyah Abu Muhammad, ia tinggal di Kasy, banyak memiliki riwayat dari ulama Iraq, Qum dan Khurasan, termasuk Rijal Syaikh, seorang yang majhul, Al Kasyiy banyak meriwayatkan darinya [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 101]

Sebagian ulama syi’ah mensifatkannya dengan mamduh dan menilai hadisnya hasan, seperti Sayyid Muhsin Amin dalam A’yan Asy Syi’ah [A’yan Asy Syi’ah hal 49-50]. Pernyataan ini patut ditinjau kembali, mamduh [pujian] yang dimaksud mengenai Jibra’il bin Ahmad adalah ia memiliki banyak riwayat dan Al Kasyiy banyak meriwayatkan darinya. Dan pujian seperti ini bukan termasuk pujian yang dapat dijadikan pegangan untuk menyatakan hadisnya hasan. Banyaknya periwayatan bukanlah tautsiq karena seorang dhaif dan majhul pun bisa memiliki banyak riwayat.

Begitu pula pujian sebagian ulama bahwa Al Kasyiy telah berpegang dengannya dan tulisannya maka inipun tidak menjadi tautsiq. Yang dimaksud “Al Kasyiy berpegang dengannya” tidak lain adalah Al Kasyiy banyak meriwayatkan darinya. Periwayatan Al Kasyiy darinya baik sedikit ataupun banyak tidak memberikan predikat tautsiq karena Al Kasyiy bukan tipe ulama yang meriwayatkan dari perawi tsiqat saja [bahkan An Najasyiy mensifatkan dia banyak meriwayatkan dari perawi dhaif] dan tidak pula Al Kasyiy mensyaratkan dalam kitab Rijal-nya bahwa syaikh-nya [gurunya] dalam kitab Rijal tersebut tsiqat.

.

حدثني محمد بن نصير قال: حدثني محمد بن عيسى، عن حفص مؤذن علي بن يقطين يكني أبا محمد، عن أبي بصير، قال: قلت لأبي عبد الله عليه السلام الذين آمنوا ولم يلبسوا ايمانهم بظلم؟ قال: أعاذنا الله وإياك يا أبا بصير من ذلك الظلم ذلك ما ذهب فيه زرارة وأصحابه وأبو حنيفة وأصحابه

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Nashiir yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Iisa dari Hafsh mu’adzin Aliy bin Yaqthiin kuniyah Abu Muhammad dari Abu Bashiir yang berkata aku berkata kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam] “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman”. Beliau berkata semoga Allah melindungi kami dan engkau wahai Abu Bashiir dari kezaliman tersebut, hal itu untuk Zurarah dan sahabatnya, Abu Hanifah dan sahabatnya [Rijal Al Kasyiy 1/358]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya dhaif karena Hafsh mu’adzin Aliy bin Yaqthiin seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 189]

.

محمد بن أحمد: عن محمد بن عيسى عن علي بن الحكم، عن بعض رجاله عن أبي عبد الله عليه السلام قال: دخلت عليه فقال: متى عهدك بزرارة؟ قال، قلت ما رأيته منذ أيام، قال: لا تبال وان مرض فلا تعده وان مات فلا تشهد جنازته قال، قلت زرارة؟ متعجبا مما قال، قال: نعم زرارة، زرارة شر من اليهود والنصارى ومن قال إن مع الله ثالث ثلاثة

Muhammad bin Ahmad dari Muhammad bin Iisa dari Aliy bin Al Hakam dari sebagian perawi dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], [orang tersebut] berkata aku masuk menemuinya, maka Beliau berkata “kapan kau terakhir bertemu Zurarah?”. Aku berkata “aku tidak melihatnya sejak beberapa hari”. Maka Beliau berkata “jangan mempedulikannya dan jika ia sakit jangan menjenguknya dan jika ia wafat jangan menyaksikan jenazahnya”. Aku berkata “Zurarah?” seraya heran dengan perkataan tersebut. Beliau berkata “benar Zurarah, Zurarah lebih buruk dari Yahudi dan Nasraniy dan dari orang yang mengatakan bahwa bersama Allah tiga dari yang tiga” [Rijal Al Kasyiy 1/380-381]

Riwayat Al Kasyiy di atas dhaif karena tidak diketahui siapa yang meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam].

.

محمد بن نصير، قال: حدثنا محمد بن عيسى، عن عثمان بن عيسى عن حريز، عن محمد الحلبي، قال قلت لأبي عبد الله عليه السلام: كيف قلت لي ليس من ديني ولا دين آبائي؟ قال: انما أعني بذلك قول زرارة وأشباهه

Muhammad bin Nashiir berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Iisa dari ‘Utsman bin Iisa dari Hariiz dari Muhammad Al Halabiy yang berkata aku berkata kepada Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] apa yang engkau katakan kepadaku “bukan dari agamaku dan bukan dari agama ayahku?”. Beliau berkata sesungguhnya perkataan itu dariku untuk Zurarah dan orang-orang yang sepertinya [Rijal Al Kasyiy 1/381].

Terdapat sedikit pembicaraan mengenai sanad riwayat ini yaitu seputar perawinya yang bernama Utsman bin Iisa, ada yang menyatakan ia tsiqat dan ada yang mendhaifkannya

  1. Muhammad bin Nashiir gurunya Al Kasyiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 440]
  2. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896]. Ath Thuusiy menyatakan bahwa ia dhaif [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 216]. Dalam pembahasan sebelumnya kami merajihkan bahwa ia pada dasarnya tsiqat tetapi dhaif dalam riwayatnya dari Yunus
  3. Utsman bin Iisa, An Najasyiy menyebutkan bahwa ia seorang waqifiy [Rijal An Najasyiy hal 300 no 817]. Ibnu Syahr Asyub memasukkannya kedalam golongan orang tsiqat yang meriwayatkan dari Imam Musa bin Ja’far [‘alaihis salaam] [Manaqib Ibnu Syahr Asyub 3/438]. Muhaqqiq Al Hilliy menyatakan ia dhaif [Al Mu'tabar 2/770]. Allamah Al Hilliy memasukkannya dalam bagian kedua kitabnya yang memuat perawi tercela dan perawi yang ia bertawaqquf atasnya [Khulashah Al Aqwaal hal 382-383]
  4. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  5. Muhammad Al Halabiy adalah Muhammad bin Aliy bin Abi Syu’bah Al Halabiy seorang yang faqih tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 325 no 885]

Pendapat yang rajih mengenai Utsman bin Iisa adalah tidak bisa dijadikan hujjah jika riwayatnya bertentangan dengan riwayat shahih. Allamah Al Hilliy berkata tentang Utsman bin Iisa dalam Khulashah Al Aqwaal

والوجه عندي التوقف فيما ينفرد به

Dan di sisiku, aku bertawaqquf atas apa yang diriwayatkannya secara tafarrud [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 383]

عثمان بن عيسى وهو واقفي فلا تعويل على روايته خصوصا مع وجود الأحاديث الصحيحة الدالة على خلافها

Utsman bin Iisa dia bermazhab waqifiy, tidak boleh bergantung dengan riwayatnya, khususnya jika terdapat hadis shahih yang menyelisihinya [Muntaha Al Mathlab, Allamah Al Hilliy 1/36].

Dalam hal ini Utsman bin Iisa telah menyelisihi berbagai hadis shahih yang memuat pujian Imam Ahlul Bait kepada Zurarah bin A’yan maka riwayatnya disini tidak bisa dijadikan hujjah.

Atau kalau diterapkan metode jama’ [menggabungkan] maka riwayat Utsman bin Iisa ini bisa digabungkan dengan riwayat shahih yang memuji Zurarah dengan alasan bahwa Imam Ja’far mencelanya karena taqiyah untuk melindungi Zurarah. Terdapat riwayat shahih yang menguatkan bukti bahwa Imam Ja’far [‘alaihis salaam] mengakui bahwa kritiknya terhadap Zurarah dalam rangka melindunginya.

حدثني حمدوية بن نصير، قال: حدثنا محمد بن عيسى بن عبيد قال: حدثني يونس بن عبد الرحمن، عن عبد الله بن زرارة.
ومحمد بن قولويه والحسين بن الحسن، قالا: حدثنا سعد بن عبد الله قال حدثني هارون بن الحسن بن محبوب، عن محمد بن عبد الله بن زرارة وابنيه الحسن والحسين، عن عبد الله بن زرارة قال: قال لي أبو عبد الله عليه السلام اقرأ مني على والدك السلام. وقل له: اني انما أعيبك دفاعا مني عنك فان الناس والعدو يسارعون إلى كل من قربناه وحمدنا مكانه لادخال الأذى في من نحبه ونقربه، يرمونه لمحبتنا له وقربة ودنوه منا، ويرون ادخال الأذى عليه وقتله ويحمدون كل من عبناه نحن وأن نحمد أمره. فإنما أعيبك لأنك رجل اشتهرت بنا ولميلك إلينا وأنت في ذلك مذموم عند الناس غير محمود الأثر لمودتك لنا ولميلك إلينا، فأحببت أن أعيبك ليحمدوا أمرك في الدين بعيبك ونقصك ويكون بذلك منا دفع شرهم عنك يقول الله جل وعز ” أما السفينة فكانت لمساكين يعملون في البحر فأردت أن أعيبها وكان ورائهم ملك يأخذ كل سفينة غصبا

Telah menceritakan kepadaku Hamdawaih bin Nashiir yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Iisa bin ‘Ubaid yang berkata telah menceritakan kepadaku Yunus bin ‘Abdurrahman dari ‘Abdullah bin Zurarah. Dan Muhammad bin Quluwaih dan Husain bin Hasan keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Haruun bin Hasan bin Mahbuub dari Muhammad bin ‘Abdullah bin Zurarah dan kedua anaknya Hasan dan Husain dari ‘Abdullah bin Zurarah yang berkata Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata kepadaku sampaikan salam dariku kepada ayahmu dan katakan kepadanya bahwa sesungguhnya pencelaan terhadapmu hanyalah perlindungan dariku untuknya, orang-orang dan musuh-musuh akan bersegera mengganggu setiap orang yang dekat dan terpuji di sisi kami karena kecintaan dan kedekatannya kepada kami, mereka akan menuduhnya karena kecintaan kami kepadanya dan kedekatan kami kepadanya, mengganggunya bahkan membunuhnya. Dan mereka akan memuji orang-orang yang kami cela dan memuji perkaranya. Maka sesungguhnya pencelaanku terhadapmu hanya karena engkau mengenal kami dan cenderung terhadap kami, engkau tercela di mata orang-orang dan tidak diterima karena kecintaanmu dan kecenderunganmu kepada kami. Maka aku ingin bahwa pencelaanku kepadamu agar orang-orang memuji urusanmu karena hal itu dan yang demikian itu dari kami adalah perlindungan terhadapmu dari keburukan mereka sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla “adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin di laut dan aku bertujuan merusak bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera” [QS Al Kahfiy : 79]…[Rijal Al Kasyiy 1/349]

Riwayat Al Kasyiy ini sanadnya shahih, ada dua jalan sanad dalam riwayat di atas, jalan pertama lemah karena riwayat Muhammad bin Iisa dari Yunus tetapi telah dikuatkan oleh jalan kedua oleh para perawi tsiqat sebagai berikut

  1. Muhammad bin Quluwaih, ia adalah ayahnya Ja’far bin Muhammad penulis kitab Kamil Ziyaarat dan ia seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Haruun bin Hasan bin Mahbuub seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 438-439 no 1181]
  4. Muhammad bin ‘Abdullah bin Zurarah, ia lebih shaduq dari Ahmad bin Hasan dan ia seorang yang memiliki keutamaan dalam agama [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 544]
  5. Abdullah bin Zurarah, meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 223 no 583]

.

.

.

Riwayat Zurarah Mencela Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

يوسف: قال: حدثني علي بن أحمد بن بقاح، عن عمه عن زرارة قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام عن التشهد؟ فقال: اشهد ان لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله، قلت التحيات والصلوات؟ قال التحيات والصلوات فلما خرجت قلت إن لقيته لأسألنه غدا فسألته من الغد عن التشهد، فقال كمثل ذلك قلت التحيات والصلوات؟ قال التحيات والصلوات، قلت: ألقاه بعد يوم لأسألنه غدا فسألته عن التشهد: فقال كمثله، قلت التحيات والصلوات؟ قال التحيات والصلوات فلما خرجت ضرطت في لحيته وقلت لا يفلح ابدا

Yuusuf berkata telah menceritakan kepadaku Aliy bin Ahmad bin Baqaah dari pamannya dari Zurarah yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang tasyahud?. Maka Beliau berkata “asyhadu allaa ilaaha illallahu wahdahu lasyariikalahu waasyhadu annamuhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu”. Aku berkata “attahiyaatu washshalawaatu?”. Beliau berkata “attahiyaatu washshalawaatu”. Ketika aku keluar aku berkata bahwa akan menemuinya dan menanyakan kepadanya besok, maka aku bertanya kepadanya besok tentang tasyahud. Beliau menjawab dengan jawaban yang sama. Aku berkata “attahiyaatu washshalawaatu?”. Beliau berkata “attahiyaatu washshalawaatu”. Aku berkata “aku akan menemuinya setelah hari ini dan menanyakan kepadanya besok, maka aku bertanya lagi kepadanya tentang tasyahud. Beliau menjawab dengan jawaban yang sama. Aku berkata “attahiyaatu washshalawaatu?”. Beliau berkata “attahiyaatu washshalawaatu”. Maka ketika aku keluar aku buang angin pada jenggotnya dan aku berkata “tidak akan beruntung selamanya” [Rijal Al Kasyiy 1/379]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya dhaif. Yusuf yang dimaksud dalam sanad di atas kemungkinan adalah Yusuf bin Sakht dan dia seorang yang dhaif [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 677]. Aliy bin Ahmad bin Baqqaah tidak ditemukan keterangan tentangnya dalam kitab Rijal Syi’ah. Sedangkan Pamannya Aliy bin Ahmad bin Baqqah disebutkan bahwa ia seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 751].

Ada sedikit catatan mengenai matan riwayat Al Kasyiy di atas, lafaz dharath memang zahirnya bermakna “buang angin” tetapi disebutkan juga dalam kitab Lisan Al Arab bahwa lafaz ini dalam konteks pemakaiannya terhadap “perkataan seseorang” bisa juga bermakna pengingkaran terhadap perkataan orang tersebut [Lisan Al Arab Ibnu Manzhur 7/341]

.

محمد بن مسعود، قال: كتب إلينا الفضل، يذكر عن ابن أبي عمير عن إبراهيم بن عبد الحميد، عن عيسى بن أبي منصور وأبي أسامة الشحام و يعقوب الأحمر، قالوا: كنا جلوسا عند أبي عبد الله عليه السلام فدخل عليه زرارة فقال إن الحكم بن عيينة حدث عن أبيك أنه قال صل المغرب دون المزدلفة، فقال له أبو عبد الله عليه السلام انا تأملته ما قال أبى هذا قط كذب الحكم على أبي، قال: فخرج زرارة وهو يقول: ما أرى الحكم كذب على أبيه

Muhammad bin Mas’ud berkata Fadhl menulis kepada kami, ia menyebutkan dari Ibnu Abi Umair dari Ibrahim bin ‘Abdul Hamiid dari Iisa bin Manshuur, Abi Usamah Asy Syahaam, dan Yaqub Al Ahmar, ketiganya mengatakan kami duduk di sisi Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] maka Zurarah masuk menemuinya, ia berkata bahwa Al Hakam bin Uyainah menceritakan hadis dari ayahmu bahwasanya ia berkata shalatlah maghrib sebelum sampai di Mudzalifah, Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata “setelah aku perhatikan, Ayahku tidak mengatakan hal ini, Al Hakam telah berdusta atas ayahku. [perawi] berkata “maka Zurarah keluar dan ia mengatakan aku tidak beranggapan kalau Al Hakam berdusta atas ayahnya” [Rijal Al Kasyiy 1/377]

Riwayat Al Kasyiy di atas para perawinya tsiqat tetapi terdapat illat [cacat] pada lafaz perkataan “maka Zurarah keluar dan ia mengatakan aku tidak beranggapan kalau Al Hakam berdusta atas ayahnya”. Lafaz tersebut didahului dengan lafaz “qala” sedangkan matan sebelumnya didahului lafaz “qaaluu”, lafaz qaaluu ini menunjukkan bahwa matan tersebut berasal dari ketiga perawi yaitu Iisa bin Manshuur, Abi Usamah dan Yaqub Al Ahmar. Sedangkan lafaz qaala mengandung dua kemungkinan

  1. Lafaz tersebut berasal dari salah satu dari ketiga orang sebelumnya yaitu Iisa bin Manshuur, Abi Usamah atau Yaqub Al Ahmar. Karena ketiganya tsiqat maka jika benar demikian kedudukan lafaz qala tersebut shahih
  2. Lafaz tersebut berasal dari salah satu perawi selain mereka bertiga yaitu Ibrahim bin Abdul Hamiid, Ibnu Abi Umair, Fadhl bin Syadzaan, atau Muhammad bin Mas’ud. Walaupun mereka semua tsiqat tetapi karena mereka tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut maka status lafaz qaala tersebut adalah idraaj dan hukumnya mursal.

Tidak diketahui yang mana kemungkinan tersebut yang benar maka lafaz qaala tersebut tidak bisa dijadikan hujjah untuk mencela Zurarah karena tidak bisa ditetapkan apakah lafaz tersebut shahih bahkan mengandung kemungkinan bahwa lafaz tersebut dhaif mursal.

Terdapat qarinah yang menguatkan bahwa lafaz qaala tersebut adalah idraaj [sisipan] dari perawi sebelum Ibrahim bin ‘Abdul Hamiid. Al Kasyiy juga meriwayatkan kisah di atas dengan sanad berikut

حدثني أبو الحسن وأبو إسحاق حمدويه وإبراهيم ابنا نصير، قالا: حدثنا الحسن بن موسى الخشاب الكوفي، عن جعفر بن محمد بن حكيم، عن إبراهيم بن عبد الحميد، عن عيسى بن أبي منصور، وأبي أسامة، ويعقوب الأحمر قالوا: كنا جلوسا عند أبي عبد الله عليه السلام فدخل زرارة بن أعين، فقال له: ان الحكم ابن عيينة روى عن أبيك أنه قال له: صل المغرب دون المزدلفة، فقال له أبو عبد الله عليه السلام بأيمان ثلاثة: ما قال أبي هذا قط، كذبالحكم بن عيينة على أبي عليه السلام

Telah menceritakan kepadaku Abul Hasan dan Abu Ishaaq, Hamdawaih dan Ibrahim keduanya putra Nashiir, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin Muusa Al Khasyaab Al Kuufiy dari Ja’far bin Muhammad bin Hukaim dari Ibrahim bin ‘Abdul Hamiid dari Iisa bin Abi Manshuur, Abi Usamah, Yaqub Al Ahmar ketiganya berkata kami duduk di sisi Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] maka Zurarah masuk menemuinya, ia berkata bahwa Al Hakam bin Uyainah menceritakan hadis dari ayahmu bahwasanya ia berkata shalatlah maghrib sebelum sampai di Mudzalifah, Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata “Ayahku tidak mengatakan hal ini, Al Hakam telah berdusta atas ayahku. [Rijal Al Kasyiy 2/468]

Riwayat di atas adalah riwayat Ibrahim bin Abdul Hamiid dengan kisah yang sama hanya saja tanpa tambahan lafaz qaala yaitu perkataan Zurarah. Maka riwayat ini menjadi qarinah yang menguatkan bahwa lafaz qaala tersebut berasal dari perawi sebelum Ibrahim bin ‘Abdul Hamiid yaitu Ibnu Abi Umair, Fadhl bin Syadzan atau Muhammad bin Mas’ud maka statusnya adalah idraj [sisipan] yang dihukumi mursal.

.

.
حدثنا محمد بن مسعود، قال حدثنا جبريل بن أحمد الفاريابي، قال: حدثني العبيدي محمد بن عيسى، عن يونس بن عبد الرحمن، عن ابن مسكان، قال: سمعت زرارة يقول: رحم الله أبا جعفر واما جعفر فان في قلبي عليه لعنة

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami Jibril bin Ahmad Al Faryaabiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Al ‘Ubaidiy Muhammad bin Iisa dari Yunus bin ‘Abdurrahman dari Ibnu Muskaan yang berkata aku mendengar Zurarah mengatakan Allah merahmati Abu Ja’far adapun Ja’far maka dalam hatiku laknat untuknya…[Rijal Al Kasyiy 1/356]

Riwayat di atas dhaif sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya karena Jibril bin Ahmad Al Faryabiy majhul dan kelemahan riwayat Muhammad bin Iisa dari Yunus.

.

Ada pembenci Syi’ah yang berhujjah dengan salah satu riwayat Al Kafiy untuk menunjukkan bahwa Zurarah menggerutu di dalam hati mencela imam ahlul bait, yaitu riwayat dengan penggalan lafaz berikut

قُلْتُ فِي نَفْسِي شَيْخٌلَا عِلْمَ لَهُ بِالْخُصُومَةِ

Zurarah berkata “aku berkata di dalam hati, Syaikh [orang tua] yang tidak tahu tentang perdebatan… [Al Kafiy Al Kulainiy 2/385/386].

Sebenarnya kalau diperhatikan riwayat utuh kisah Zurarah tersebut maka akan nampak bahwa berhujjah dengan riwayat ini adalah sia-sia. Berikut riwayat utuhnya

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن عبد الرحمن بن الحجاج عن زرارة قال: قلت لأبي جعفر (عليه السلام) يدخل النار مؤمن؟ قال: لا والله، قلت فما يدخلها إلا كافر؟ قال: لا إلا من شاء الله، فلما رددت عليه مرارا قال لي: أي زرارة إني أقول: لا وأقول: إلا من شاء الله وأنت تقول: لا ولا تقول: إلا من شاء الله، قال: فحدثني هشام بن الحكم وحماد، عن زرارة قال: قلت في نفسي: شيخ لا علم له بالخصومة. قال: فقال لي: يا زرارة ما تقول فيمن أقر لك بالحكم أتقتله؟ ما تقول في خدمكم وأهليكم أتقتلهم؟ قال: فقلت: أنا والله الذي لا علم لي بالخصومة

Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari ‘Abdurrahman bin Hajjaaj dari Zurarah yang berkata “aku berkata kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] apakah seorang mu’min akan masuk neraka?. Beliau menjawab “demi Allah, tidak. Aku [Zurarah] berkata “maka hanya orang kafir yang memasukinya?”. Beliau berkata “tidak, kecuali yang dikehendaki Allah”. Aku mengulangi terus pertanyaan tersebut, kemudian Beliau berkata kepadaku “wahai Zurarah aku mengatakan tidak dan mengatakan kecuali yang dikehendaki Allah dan engkau mengatakan tidak tetapi tidak mengatakan kecuali yang dikehendaki Allah. [perawi] berkata maka telah menceritakan kepadaku Hisyaam bin Hakam dan Hamaad dari Zurarah yang berkata “aku berkata di dalam hati “Syaikh [orang tua] yang tidak tahu tentang perdebatan. Zurarah berkata maka Beliau berkata kepadaku ”wahai Zurarah, apa yang engkau katakan tentang orang yang menyatakan kepadamu hukum, engkau akan membunuhnya? apa yang engkau katakan tentang pembantu kalian dan keluarga kalian, engkau akan membunuh mereka?. Zurarah berkata maka aku berkata “demi Allah sebenarnya akulah orang yang tidak mengetahui tentang perdebatan” [Al Kafiy Al Kulainiy 2/385/386].

Al Majlisiy menyatakan hadis ini hasan seperti shahih dalam Mir’atul Uquul 11/115 dan memang dalam matan riwayat disebutkan Zurarah awalnya menggerutu bahwa Imam Abu Ja’far ['alaihis salaam] tidak tahu tentang perdebatan tetapi pada akhirnya ia menyadari bahwa dirinya lah yang sebenarnya tidak mengetahui perdebatan bukan Abu Ja’far ['alaihis salaam]. Oleh karena itu riwayat ini tidak tepat dijadikan hujjah untuk mencela Zurarah.

.

.

Zurarah Tidak Mengenal Imamah Musa bin Ja’far [‘alaihis salaam]

Syubhat lain yang sering dilontarkan oleh para pembenci syiah adalah bahwa Zurarah tidak mengenal Imamah Musa bin Ja’far ['alaihis salaam] padahal ia menemui masa hidup Imam Musa bin Ja’far ['alaihis salaam]

حمدويه بن نصير، قال: حدثني محمد بن عيسى بن عبيد عن محمد ابن أبي عمير، عن جميل بن دراج وغيره، قال: وجه زرارة عبيدا ابنه إلى المدينة يستخبر له خبر أبي الحسن عليه السلاموعبد الله بن أبي عبد الله، فمات قبل أن يرجع إليه عبيد

Hamdawaih bin Nashiir berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Iisa bin ‘Ubaid dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari Jamiil bin Daraaj dan yang lainnya, ia berkata Zurarah mengutus ‘Ubaid anaknya ke Madinah untuk mencari kabar tentang Abi Hasan [‘alaihis salaam] dan ‘Abdullah bin Abi ‘Abdullah, maka ia wafat sebelum kembalinya ‘Ubaid [Rijal Al Kasyiy 1/372]

Riwayat ini sanadnya shahih para perawinya tsiqat berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896]. Ath Thuusiy menyatakan bahwa ia dhaif [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 216]. Dalam pembahasan sebelumnya kami merajihkan bahwa ia pada dasarnya tsiqat tetapi dhaif dalam riwayatnya dari Yunus
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Jamil bin Daraaj, ia termasuk orang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 126 no 328]

Dalam matan riwayat di atas sebenarnya tidak ada penjelasan sharih [dengan tegas] bahwa Zurarah tidak mengenal Imamah Abu Hasan [‘alaihis salaam]. Lafaz “mencari kabar tentang Abu Hasan [‘alaihis salaam] dan Abdullah bin Abu ‘Abdullah” tidak mesti bermakna mencari tahu tentang Imamah yaitu siapa imam setelah Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam].

Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] wafat tahun 148 H dan Zurarah wafat pada tahun 150 H. Artinya terdapat selang waktu yang cukup lama bagi Zurarah untuk mengutus anaknya Ubaid. Mengapa Zurarah harus menunggu sampai dua tahun yaitu di akhir hayatnya baru ia mengutus Ubaid untuk mencari tahu Imam selepas Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam].

حدثني بن قولويه ، قال : حدثني سعد ، عن أحمد بن محمد بن عيسى ، ومحمد بن عبد الله المسمعي ، عن علي بن أسباط ، عن محمد بن عبد الله بن زرارة ، عن أبيه قال : بعث زرارة عبيدا ابنه يسئل عن خبر أبي الحسن عليه السلام فجائه الموت قبل رجوع عبيد إليه فأخذ المصحف فأعلاه فوق رأسه . وقال : ان الامام بعد جعفر بن محمد من اسمه بين الدفتين في جملة القرآن منصوص عليه من الذين أوجب الله طاعتهم على خلقه ، أنا مؤمن به قال : فأخبر بذلك أبو السحن الأول عليه السلام فقال : والله كان زرارة مهاجرا إلى الله تعالى

Telah menceritakan kepadaku Ibnu Quluwaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dan Muhammad bin ‘Abdullah Al Masma’iy dari ‘Aliy bin Asbath dari Muhammad bin ‘Abdullah bin Zurarah dari Ayahnya yang berkata Zurarah mengutus anaknya Ubaid untuk menanyakan kabar tentang Abu Hasan [‘alaihis salaam] maka ia wafat sebelum kembalinya Ubaid. Maka ia mengambil mushaf dan meletakkan di atas kepalanya kemudian berkata “bahwa Imam setelah Ja’far bin Muhammad adalah yang namanya terletak diantara dua sampul Al Qur’an yang ditunjuk oleh orang yang diwajibkan oleh Allah untuk taat kepada mereka atas makhluknya, aku beriman dengannya. [Abdullah bin Zurarah] berkata maka dikabarkan hal itu kepada Abu Hasan Al ‘Awwaal [‘alaihis salaam], Beliau berkata demi Allah, Zurarah adalah orang yang hijrah kepada Allah [Rijal Al Kasyiy 1/372]

Riwayat ini sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Quluwaih, ia adalah ayahnya Ja’far bin Muhammad penulis kitab Kamil Ziyaarat dan ia seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Asy’ariy Al Qummiy seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Aliy bin Asbath seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 252 no 663]
  5. Muhammad bin ‘Abdullah bin Zurarah, ia lebih shaduq dari Ahmad bin Hasan dan ia seorang yang memiliki keutamaan dalam agama [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 544]
  6. ‘Abdullah bin Zurarah, meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 223 no 583]

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال: حدثنا علي ابن إبراهيم بن هاشم قال: حدثني محمد بن عيسى بن عبيد، عن إبراهيم بن محمد الهمداني رضي الله عنه قال: قلت للرضا عليه السلام: يا ابن رسول الله أخبرني عن زرارة هل كان يعرف حق أبيك عليه السلام؟ فقال: نعم، فقلت له: فلم بعث ابنه عبيدا ليتعرف الخبر إلى من أوصىالصادق جعفر بن محمد عليهما السلام؟ فقال: إن زرارة كان يعرف أمر أبي عليه السلام ونص أبيه عليه وإنما بعث ابنه ليتعرف من أبي عليه السلام هل يجوز له أن يرفع التقية في إظهار أمره ونص أبيه عليه وأنه لما أبطأ عنه ابنه طولب باظهار قوله في أبي عليه السلام فلم يحب أن يقدم على ذلك دون أمره فرفع المصحف وقال: اللهم إن إمامي من أثبت هذا المصحف إمامته من ولد جعفر بن محمد عليهما السلام

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radiallhu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Ibrahim bin Haasyim yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Iisa bin ‘Ubaid dari Ibrahim bin Muhammad Al Hamdaniy [radiallahu ‘anhu] yang berkata aku berkata kepada Ar Ridha [‘alaihis salaam] “wahai putra Rasulullah kabarkanlah kepadaku tentang Zurarah, apakah ia mengenal hak Ayahmu [‘alaihis salaam]?. Beliau berkata “benar”. Aku berkata “kalau begitu mengapa ia mengutus anaknya Ubaid untuk mencari kabar siapa washi Ash Shaadiq Ja’far bin Muhammad [‘alaihimas salaam]?. Beliau berkata “sesungguhnya Zurarah mengenal kepemimpinan ayahku [‘alaihis salaam] dan nash Ayahnya terhadapnya, dan sesungguhnya ia mengutus anaknya hanyalah untuk mengetahui dari ayahku [‘alaihis salaam] apakah boleh mengangkat taqiyah dalam menzhahirkan kepemimpinannya dan nash Ayahnya [Imam Ja’far] terhadapnya. Dan ketika anaknya belum kembali, dia diminta menampakkan perkataannya tentang Ayahku [‘alaihis salaam] dan dia tidak suka mendahului hal ini tanpa perintahnya maka ia mengangkat mushaf dan berkata “ya Allah sesungguhnya imamku adalah yang ditetapkan dalam mushaf ini Imamahnya dari anaknya Ja’far bin Muhammad [‘alaihimas salaam] [Kamal Ad Diin Wa Tammam An Ni’mah hal 75, Syaikh Shaduq]

Para perawi dalam riwayat Ash Shaduq di atas semuanya tsiqat kecuali Ibrahim bin Muhammad Al Hamdaniy, tidak didapatkan tautsiq dari kalangan mutaqaddimin dan telah berselisih ulama dari kalangan muta’akhirin.

  1. Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaniy, ia seorang yang tsiqat fadhl sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shaduq [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 369]
  2. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  3. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896]. Ath Thuusiy menyatakan bahwa ia dhaif [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 216]. Dalam pembahasan sebelumnya kami merajihkan bahwa ia pada dasarnya tsiqat tetapi dhaif dalam riwayatnya dari Yunus
  4. Ibrahim bin Muhammad Al Hamdaniy, dinyatakan oleh Al Majlisiy dalam Al Wajiizah bahwa ia tsiqat [Al Wajiizah Al Majlisiy no 44]. Syaikh Ali Asy Syahruudiy menyatakan ia tsiqat jalil [Mustadrakat Ilm Rijal 1/205 no 490]. Ghulam Ridha menyatakan ia tsiqat [Masyaikh Ats Tsiqat hal 54 no 9]. Ahmad bin ‘Abdu Ridha Al Bashriy berkata tentangnya “shahih hadis dan riwayatnya” [Fa’iq Al Maqal Fii Al Hadits Wa Rijal hal 80 no 37]. Muhammad Al Jawahiriy menyatakan ia majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 15]

Jika tsabit riwayat di atas maka didapatkan keterangan bahwa Zurarah sebenarnya telah mengenal Imamah Musa bin Ja’far [‘alaihis salaam] hanya saja ia bertaqiyah dengannya kemudian ia mengutus anaknya Ubaid apakah ia boleh menampakkan keyakinannya tersebut atau terus bertaqiyah. Syaikh Ash Shaduq telah mengatakan hal ini dalam kitabnya sebelum membawakan riwayat di atas, ia berkata

قد قيل: إن زرارة قد كان عمل بأمر موسى بن جعفر عليهما السلام وبإمامته وإنما بعث ابنه عبيدا ليتعرف من موسى بن جعفر عليهما السلام هل يجوز له إظهار ما يعلم من إمامته أو يستعمل التقية في كتمانه

Sungguh dikatakan bahwa Zurarah telah mengenal kepemimpinan Musa bin Ja’far [‘alaihimas salaam] dan Imamah-nya dan sesungguhnya ia mengutus Ubaid anaknya hanya untuk mengetahui dari Musa bin Ja’far [‘alaihimas salaam] apakah dibolehkan baginya menampakkan apa yang ia ketahui tentang imamah-nya atau tetap melakukan taqiyah dan menyembunyikannya [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 75]

Pernyataan bahwa Zurarah taqiyah mengenai Imamah Musa bin Ja’far bersesuaian dengan fakta bahwa ia mengirim anaknya Ubaid pada akhir hayatnya. Maka jelas tujuan ia mengirimkan anaknya untuk bertanya apakah ia boleh menampakkan keyakinannya mengenai Imamah Musa bin Ja’far [‘alaihis salaam] atau tetap bertaqiyah. Dan memang sangat musykil kalau Zurarah harus menunggu dua tahun sampai mendekati akhir hayatnya baru ia mengutus anaknya, kalau memang ingin mencari tahu mengenai siapa Imam setelah wafatnya Imam Ja’far maka lebih masuk akal kalau sepeninggal wafat Imam Ja’far ia langsung mengirimkan anaknya Ubaid bukan harus menunggu sampai dua tahun mendekati akhir hayatnya.

.

.

.

Zurarah Dalam Riwayat Ahlus Sunnah

حدثنا أبو بكر قال ثنا سفيان قال قال ابن السماك: أردت الحج فقال لي زرارة بن أعين أخو عبد الملك بن أعين: إذا لقيت جعفر بن محمد فأقرئه مني السلام وقل له: أخبرني في الجنة أنا أم في النار ؟ قال: فلقيت جعفر بن محمد فقلت له: يا ابن رسول الله أتعرف زرارة بن أعين ؟ قال: نعم رافضي خبيث. قال: قلت: إنه يقرئك السلام ويقول: أخبرني في الجنة أنا أم في النار؟ قال: فأخبره أنه في النار. ثم قال: وتعلم من أين علمت أنه رافضي إنه يزعم إني أعلم الغيب، ومن زعم أن أحداً يعلم الغيب إلا الله عز وجل فهو كافر، والكافر في النار

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata Ibnu Sammaak berkata aku ingin pergi haji, maka Zurarah bin A’yan saudara ‘Abdul Malik bin A’yan berkata kepadaku “jika engkau menemui Ja’far bin Muhammad maka sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya “kabarkan kepadaku apakah aku akan di dalam surga atau di neraka?”. Ia [Ibnu Sammaak] berkata maka aku menemui Ja’far bin Muhammad dan aku berkata kepadanya “wahai putra Rasulullah apakah engkau mengenal Zurarah bin A’yun?”. Beliau menjawab “ya, rafidhah busuk”. [Ibnu Sammaak] berkata aku berkata “ia menyampaikan salam kepadamu dan bertanya “apakah aku akan masuk surga atau di neraka?”. Beliau berkata “maka kabarkan kepadanya bahwa ia di dalam neraka”. Kemudian ia berkata engkau tahu, darimana aku mengetahui ia rafidhah sesungguhnya ia menganggap aku mengetahui yang ghaib dan barang siapa yang menganggap ada orang yang mengetahui yang ghaib selain Allah ‘azza wajalla maka ia kafir dan orang kafir berada di dalam neraka [Ma’rifat Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 3/34]

Sufyan dalam riwayat di atas memiliki mutaba’ah dari Sa’id bin Manshuur sebagaimana yang disebutkan Al Uqaili dalam kitabnya Adh Dhu’afa biografi Zurarah bin A’yan [Adh Dhu’afa Al Kabir Al Uqailiy 2/96 no 557] hanya saja dengan sedikit tambahan lafaz dari Zurarah yang berkata kepada Ibnu Sammaak bahwa jawaban Imam Ja’far tersebut adalah taqiyah. Berikut keterangan mengenai perawinya

  1. Abu Bakar adalah Abdullah bin Zubair Al Humaidiy, Abu Hatim menyebutkan bahwa ia orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Ibnu Uyainah, pemimpin para sahabat Ibnu Uyainah, seorang imam yang tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/56-57 no 264]
  2. Sufyan bin Uyainah adalah seorang imam tsiqat, termasuk sahabat Az Zuhriy yang paling tsabit dan ia lebih alim dalam riwayat ‘Amru bin Diinar daripada Syu’bah [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 1/35]
  3. Ibnu Sammaak kemungkinan ia adalah Muhammad bin Shubaih Abu ‘Abbaas Al Kuufiy, Ibnu Hibban berkata tentangnya “hadisnya lurus, ia menasehati orang-orang dalam majelisnya” [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 9/32 no 15020]. Daruquthniy berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Numair terkadang berkata shaduq terkadang berkata “hadisnya tidak ada apa-apanya” [Lisan Al Miizan Ibnu Hajar 5/204 no 711]. Nampaknya yang tsabit dari Ibnu Numair adalah perkataan “hadisnya tidak ada apa-apanya” sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad shahih [Al Jarh Wat Ta’dil 7/290 no 1573]

Terdapat sedikit kelemahan pada hadis Ibnu Sammaak sebagaimana dikatakan Ibnu Numair tetapi ia pada dasarnya seorang yang shaduq. Tidak mengherankan kalau di sisi sunni Zurarah termasuk perawi yang tercela karena ia seorang rafidhah.

.

.

Kesimpulan

Zurarah bin A’yan adalah perawi syi’ah yang diakui kredibilitasnya di sisi Syi’ah, terdapat berbagai syubhat mengenai kedudukannya tetapi telah berlalu pembahasannya di atas bahwa berdasarkan pendapat yang rajih di sisi mazhab Syi’ah, Zurarah adalah seorang yang tsiqah dan diakui kredibilitasnya oleh Imam Ahlul Bait. Adapun di sisi mazhab Sunni, Zurarah adalah perawi yang majruh [tercela]

wahabi salafi takfiri memfitnah Dengan Terang – Terangan bahwa Syi’ah Membolehkan Menonton Film Porno

Contoh Kelicikan Dan Kedustaan Si Pembenci Syi’ah Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Orang yang kami maksudkan dalam judul di atas adalah pemilik situs www. alamiry.net, penulis menyedihkan yang menyebut dirinya Muhammad Abdurrahman Al Amiry. Orang ini telah menunjukkan kerendahan kualitas akalnya dalam berhujjah. Sejauh ini kami telah menunjukkan berbagai kedustaannya terhadap Syi’ah dalam lima tulisan kami

  1. Nama Allah Digunakan Untuk Beristinja’ : Kedustaan Terhadap Syi’ah
  2. Benarkah Syi’ah Mencela Malaikat : Kedustaan Terhadap Syi’ah
  3. Benarkah Syi’ah Melecehkan Nabi : Kedustaan Terhadap Syi’ah
  4. Syi’ah Agama Para Binatang Penganut Seks : Kedustaan Terhadap Syi’ah
  5. Syi’ah Membolehkan Melihat Film Atau Gambar Wanita Telanjang : Kedustaan Terhadap Syi’ah

Kami telah menunjukkan secara ilmiah kedustaan berbagai tuduhan orang tersebut. Dalam tulisan kami, kami berusaha menganalisis secara objektif tuduhan-tuduhan tersebut dan hasilnya memang Muhammad Abdurrahman Al Amiry tersebut telah berdusta terhadap Syi’ah. Berbeda mazhab sah-sah saja tetapi berdusta atas mazhab lain tetap merupakan kesalahan walaupun anda berdiri di atas mazhab yang benar. Camkanlah itu wahai pendusta.

.

 

Para pendusta [termasuk di dalamnya Muhammad Abdurrahman Al Amiry] tidak memiliki akal yang cukup untuk memahami bahwa cara-cara mereka berdusta atas mazhab Syi’ah sebenarnya bisa diterapkan atas mazhab Ahlus Sunnah.

  1. Jika mereka berhujjah dengan riwayat dhaif [di sisi mazhab Syi’ah] yang mengandung kemungkaran kemudian mengatasnamakan kemungkaran tersebut atas nama Syi’ah maka orang Syi’ah pun bisa berhujjah dengan riwayat dhaif [di sisi mazhab Ahlus Sunnah] yang mengandung kemungkaran kemudian mengatasnamakan kemungkaran tersebut atas nama Ahlus Sunnah
  2. Jika mereka berhujjah dengan riwayat shahih [di sisi mazhab Syi’ah] yang mengandung sesuatu yang gharib untuk mencela mazhab Syi’ah maka orang Syi’ah pun bisa berhujjah dengan riwayat shahih [di sisi mazhab Ahlus Sunnah] yang mengadung sesuatu yang gharib untuk mencela mazhab Ahlus Sunnah
  3. Jika mereka berhujjah dengan qaul atau pendapat ulama yang menyimpang atau gharib dalam mazhab Syi’ah untuk merendahkan Syi’ah maka orang Syi’ah pun bisa berhujjah dengan qaul ulama ahlus sunnah yang menyimpang atau gharib untuk merendahkan mazhab Ahlus Sunnah.

Mereka para pendusta tersebut tidak akan pernah sadar bahwa dalam hal kerangka keilmuan mazhab Syi’ah sudah seperti mazhab Ahlus Sunnah. Syi’ah memiliki kitab-kitab rujukan sama seperti Ahlus Sunnah baik dalam hal ilmu hadis, ilmu rijal, ilmu fiqih, ilmu tafsir dan sebagainya. Syi’ah memiliki banyak ulama beserta kitab-kitab mereka sama seperti Ahlus Sunnah memiliki banyak ulama beserta kitab-kitab mereka. Baik ulama-ulama Syi’ah dan Ahlus Sunnah bukanlah orang-orang yang terbebas dari kesalahan. Bisa saja diantara ulama Syi’ah dan Ahlus Sunnah terdapat ulama dengan pendapat yang menyimpang, ketidaktahuan akan dalil [dalam masalah tertentu], dan fanatisme terhadap mazhab. Apakah hal ini menjadi dasar untuk merendahkan mazhab Syi’ah dan mazhab Ahlus Sunnah?.

Jawabannya jelas tidak, kalau para pendusta tersebut tidak paham akan hal ini maka menunjukkan bahwa mereka jahil dan bodoh tetapi jika mereka paham akan hal ini dan tetap melakukannya maka mereka kualitasnya tidak lebih dari pendusta dan penipu yang menghalalkan kedustaan demi membela mazhabnya dan merendahkan mazhab lain.

.

.

Kembali pada penulis menyedihkan Muhammad Abdurrahman Al Amiry, dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Contoh Kelicikan Para Penganut Syi’ah”. Ia seolah ingin membantah tulisan kami yang berjudul Syi’ah Membolehkan Melihat Film Atau Gambar Wanita Telanjang : Kedustaan Terhadap Syi’ah. Ia seolah menuduh bahwa kami adalah orang Syi’ah yang membantah tulisannya dengan tidak ilmiah. Ia berkata

Kami sempat tergelikkan dengan beberapa orang syiah yang membantah dengan tidak ilmiyyah akan adanya fatwa ulama syiah yang membolehkan film porno. Tatkala kami membawakan fatwa ulama syiah, mereka dengan terang-terangan membolehkan nonton video porno dan fatwa tersebut ada dalam kitabnya sendiri, para penganut syiah mengelak dan beralasan yang bla bla bla.

Sejauh yang kami tahu, kami tidak menemukan adanya orang Syi’ah yang membantah tulisannya tersebut. Jadi disini mari kita asumsikan bahwa kamilah yang ia maksudkan dengan tuduhan dustanya sebagai orang syi’ah yang membantah dengan tidak ilmiah. Ajaib-nya orang itu tidak bisa menunjukkan letak bantahan tidak ilmiah yang ia maksudkan. Dan seandainya memang bukan kami yang ia maksudkan maka hal itu tidak menafikan fakta bahwa ia telah melakukan kelicikan dan kedustaan terhadap Syi’ah dalam tulisannya tersebut.

Pada tulisan kami sebelumnya kami telah membuktikan bahwa Muhammad Abdurrahman Al Amiry tersebut telah memotong fatwa Sayyid Aliy Al Khamene’iy kemudian ia giring potongan tersebut ke arah kedustaan bahwa Sayyid Aliy Khamene’iy membolehkan menonton film porno. Aneh bin ajaib dalam tulisan bantahannya, Bahkan setelah kami tunjukkan bahwa ia telah berdusta atas ulama Syi’ah Sayyid Aliy Al Khamene’iy, ia tetap saja bersikeras akan kedustaannya bahwa Sayyid Aliy Al Khamene’iy membolehkan menonton film porno. Kami tidak keberatan untuk membawakan kembali fatwa Sayyid Aliy Khamene’iy yang dimaksud

هل يجوز مشاهدة صور النساء العاريات أو شبه العاريات المجهولات اللواتي لا نعرفهن في الأفلام السينمائية وغيرها؟ ج: النظر إلى الأفلام والصور ليس حكمه حكم النظر إلى الأجنبي، ولا مانع منه شرعا إذا لم يكن بشهوة وريبة ولم تترتب على ذلك مفسدة، ولكن نظرا إلى أن مشاهدة الصورة الخلاعية المثيرة للشهوة لا تنفك غالبا عن النظر بشهوة، ولذلك تكون مقدمة لارتكاب الذنب، فهي حرام

[Soal] Apakah boleh menonton gambar wanita-wanita telanjang atau seperti telanjang yaitu wanita-wanita majhul yang tidak dikenal, dalam film sinema dan selainnya?. [Jawaban]. Melihat film dan gambar tidaklah hukumnya seperti hukum melihat langsung kepada wanita ajnabiy [yang bukan mahram], tidak ada halangan dari syari’at jika tanpa dengan syahwat serta tidak menimbulkan keburukan olehnya, tetapi melihat kepada tontonan dan gambar mesum yang membangkitkan syahwat pada umumnya tidak bisa lepas dari melihat dengan syahwat dan dengan demikian hal itu dapat menjadi awal dari berbuat dosa, maka hukumnya adalah haram [Ajwibah Al Istifta’at Sayyid Aliy Khamene’iy 2/40 no 107]

Adakah dari fatwa Sayyid Aliy Khamene’iy di atas kalimat yang menyatakan boleh menonton film porno?. Orang yang objektif akan memahami bahwa Sayyid Aliy Khamene’iy justru mengharamkan menonton film porno karena sudah pasti menimbulkan syahwat. Adapun kalimat pertama yang dikutip pendusta tersebut adalah penjelasan bahwa menonton film atau melihat gambar wanita secara umum hukumnya berbeda dengan melihat wanita tersebut secara langsung. Berikut kami tambahkan fatwa-fatwa Sayyid Aliy Khamene’iy yang berkaitan dengan masalah ini

بعض الشباب ينظرون إلى الصور المبتذلة، ويقدمون تبريرات مصطنعة لمشاهدتها، فما هو حكم ذلك؟ وإذاكانت رؤية هذا النوع من الصور يخمد مقدارا من شهوته فتؤثر في صونه عن الحرام فما هو حكمها؟ ج: إذا كان النظر إلى الصور بريبة أو كان يعلم أنه يؤدي إلى إثارة الشهوة فهو حرام، وليس الامتناع بذلك عن الوقوع في حرام آخر مبررا له للالتجاء إلى الفعل الحرام شرع

[Soal] Sebagian pemuda sering melihat gambar cabul [porno] dan mereka menyampaikan pembenaran yang dibuat-buat untuk melakukannya, maka bagaimanakah hukumnya?. Dan jika dengan melihat gambar seperti ini dapat meredam sedikit gejolak syahwatnya sehingga dapat menjaga dari sesuatu yang haram, maka bagaimana hukumnya?. [Jawaban] Jika ia melihat gambar tersebut dengan syahwat atau ia mengetahui bahwa hal itu dapat membangkitkan syahwat maka hukumnya haram, dan tidaklah terhindarnya dari jatuh kepada sesuatu yang haram menjadi alasan baginya untuk melakukan sesuatu yang diharamkan pula. [Ajwibah Al Istifta’at Sayyid Aliy Khamene’iy 2/41-42 no 112]

هل يجوز النظر إلى الأفلام التي تثير الشهوة في حالة كون الناظر متزوجا؟ ج: لو كان النظر بقصد إثارة الشهوة أو كان موجبا لها لم يجز له ذلك

[Soal] Bolehkah melihat film yang dapat membangkitkan syahwat dalam hal orang yang melihat tersebut sudah beristri?. [Jawaban] seandainya ia melihat dengan tujuan membangkitkan syahwat atau hal itu menjadikan bangkit syahwatnya maka tidak boleh melakukannya [Ajwibah Al Istifta’at Sayyid Aliy Khamene’iy 2/43-44 no 119]

ما هو حكم مشاهدة الرجال المتزوجين الأفلام التي تحتوي على تعليم الطريقة الصحيحة لمقاربة المرأة الحامل علما أن ذلك لن يوقعه في الحرام؟ ج: لا تجوز مشاهدة مثل هذا النوع من الأفلام التي لا تنفك عن النظر المثير للشهوة

[Soal] Apa hukumnya seorang laki-laki yang sudah beristri menonton film tentang pengetahuan cara yang benar untuk menggauli wanita yang hamil dengan catatan ia tidak terjerumus kedalam perkara yang haram?. [Jawaban] Tidak diperbolehkan menonton film-film yang seperti itu karena menontonnya akan selalu [tidak lepas dari] menimbulkan syahwat [Ajwibah Al Istifta’at Sayyid Aliy Khamene’iy 2/44 no 120]

هل يجوز للزوجين مشاهدة أفلام الفيديو الجنسية داخل المنزل؟ وهل يجوز للمصاب بقطع النخاع مشاهدة هذه الأفلام بقصد إثارة شهوته ليتمكن بذلك من مقاربة زوجته؟ ج: لا تجوز إثارة الشهوة بواسطة مشاهدة أفلام الفيديو الجنسية.

[Soal] Bolehkah suami istri menonton fim atau video porno di dalam rumah?. Dan bolehkah orang yang putus saraf belakangnya menonton film-film seperti ini dengan tujuan membangkitkan syahwat agar dengan demikian ia dapat menggauli istrinya?. [Jawaban] Tidak boleh membangkitkan syahwat dengan jalan menonton film atau video porno [Ajwibah Al Istifta’at Sayyid Aliy Khamene’iy 2/44-45 no 123]

  ما هو حكم بيع وشراء وإجارة أفلام الفيديو المبتذلة وكذلك الفيديو نفسه؟ج: إن كانت الأفلام تحتوي على الصور الخلاعية المثيرة للشهوة الموجبة للانحراف والفساد، أو على الغناء، أو على الموسيقى المطربة اللهوية المناسبة مع مجالس اللهو والعصيان، فلا يجوز انتاجها ولا بيعها وشراؤها ولا إجارتها ولا إجارة الفيديو للانتفاع بها في ذلك

[Soal] Apa hukumnya membeli, menjual, dan menyewakan film video cabul [porno] dan bagaimana dengan video itu sendiri?. [Jawaban] Jika film-film tersebut mengandung gambar-gambar mesum yang dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan kerusakan moral atau mengandung musik atau nyanyian hura-hura yang pantasnya berada di tempat hura-hura dan maksiat maka [film-film tersebut] tidak boleh dibuat, tidak boleh dijual, tidak boleh dibeli dan tidak boleh disewakan. Dan juga tidak boleh menyewakan video untuk hal semacam itu [Ajwibah Al Istifta’at Sayyid Aliy Khamene’iy 2/46 no 130]

Silakan para pembaca melihat dengan objektif, apakah Sayyid Aliy Khamene’iy membolehkan menonton film porno?. Tentu saja tidak, dan alangkah dusta dan tidak tahu malu, Muhammad Abdurrahman Al Amiry itu berkata

Tatkala para penganut agama syiah melihat fatwa diatas (yang mana fatwa ini adalah fatwa yang hanya keluar dari manusia yang berotak binatang), mereka kebingungan bagaimana cara mengelak dari fatwa ini, bagaimana para penganut syiah melepaskan fatwa ini agar syiah tidak disalahkan dan bla bla bla.

Siapakah yang lebih pantas dikatakan “manusia berotak binatang”?. Sayyid Aliy Khamene’iy yang dengan jelas-jelas menyatakan haram menonton film porno atau Muhammad Abdurrahman Al Amiry yang berdusta atas nama Sayyid Aliy Khamene’iy, bahkan ketika telah ditunjukkan bukti bahwa ia berdusta, ia tetap saja bersikeras berdusta. Silakan para pembaca menilainya dengan objektif.

.

.

.

Kemudian penulis menyedihkan tersebut menukil ulama Syi’ah lain yaitu Sayyid Muhammad Shalih bin Al Hujjah Al Musawiy dalam kitabnya Kaifa Yaltaqiiy Az Zawjaan Fii Makhda’ Al Hubb hal 221. Berikut nukilannya

 و الشكل الثاني من أشكال المخالفة هو الشكل الحيواني المتداول بين البهائم و الحيوانات و هو أن يأتي المرأة من الخلف و هي في حال ركوع أو سجود… و هذا الشكل هو المتداول عند أهل الغرب كما شاهده النازحون لهم و شاهدناه على أشرطة (أكس)

“Dan bentuk (jima’) kedua dari bentuk yang dilarang adalah bentuk jima’nya hewan dan ini sering dipraktekkan oleh hewan-hewan ternak ataupun hewan lainnya, yakni seorang suami mendatangi istrinya dari belakang sedangkan sang istri dalam keadaan ruku’ maupun sujud… Dan bentuk seperti ini adalah bentuk yang sering dipraktekkan oleh orang-orang barat SEBAGAIMANA YANG TELAH KITA TONTON DALAM VCD X” Kaifa Yaltaqii Az Zaujaan Fii Makhda’ Al Hubb hal. 221

Kami sebelumnya sudah pernah membaca tentang ini. Contohnya dapat dilihat disini dimana situs tersebut menampilkan scan kitab tersebut. Setelah membaca hal ini kami menelusuri situs-situs Syi’ah untuk mendapatkan kitab tersebut tetapi sampai saat ini kami tidak menemukannya [dan menurut kami Muhammad Abdurrahman Al Amiry tersebut juga menukil dari situs lain bukan membaca dari kitab aslinya].

Bagi kami bukti scan kitab sudah cukup menjadi hujjah kecuali orang-orang Syi’ah bisa membuktikan kalau memang penukilan situs tersebut tidak benar. Kami bersikap objektif saja disini, tidak ada keharusan bagi kami untuk membela ulama Syi’ah jika memang keliru. Apa yang dikatakan ulama Syi’ah tersebut jika benar maka menjadi aib bagi dirinya. Dan terkait masalah ini, tidak layak kesalahan seorang ulama Syi’ah dijadikan hujjah untuk merendahkan mazhab Syi’ah secara keseluruhan apalagi dikait-kaitkan dengan fatwa Sayyid Aliy Khamene’iy di atas. Itu jelas tidak ada hubungannya, perkataan Sayyid Aliy Khamene’iy adalah satu hal tertentu dan apa yang dilakukan Sayyid Muhammad Shalih bin Al Hujjah Al Musawiy adalah hal lain.

Masih terdapat kemungkinan disini bagi orang Syi’ah untuk mencarikan dalih-dalih pembelaan untuk Sayyid Muhammad Shalih bin Al Hujjah Al Musawiy. Dalam hal memberikan fatwa terhadap suatu perkara, seorang ulama harus mengetahui dengan jelas perkara tersebut. Maka disini mungkin saja apa yang dilakukan Sayyid Muhammad Shalih tersebut untuk mengetahui dengan jelas perkara yang akan ia sebutkan. Hal ini juga pernah dilakukan oleh ulama ahlus sunnah, misalnya dapat dilihat disini.

Apapun kemungkinannya kami tidak berhujjah dengan hal ini karena kami tidak perlu mencari dalih pembelaan untuk ulama Syi’ah, kami cukup melihat perkara ini dengan objektif. Yang keliru katakan keliru dan yang benar katakan benar terlepas apapun mazhabnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam masalah melihat gambar atau film yang berkesan membuka aurat memang terdapat perselisihan, ada yang mengharamkan secara mutlak tetapi ada juga yang membolehkan untuk kasus tertentu yang memang diperlukan seperti halnya untuk kepentingan penegakan hukum dan peradilan atau kepentingan ilmu dalam dunia kedokteran.

Silakan saja kalau Muhammad Abdurrahman Al Amiry itu ingin mencela ulama Syi’ah yang dimaksud. Fatwa aneh, pendapat menyimpang dan kesalahan ulama tertentu dalam suatu mazhab tertentu bisa saja dicari-cari termasuk dalam mazhab Ahlus Sunnah. Tetapi menjadikan aib seorang ulama tersebut untuk merendahkan mazhab secara keseluruhan adalah cara berpikir yang keliru. Berikut contoh yang ternukil dalam salah satu situs mengenai pendapat menyimpang dalam kitab ahlus sunnah yang disebutkan oleh situs tersebut sebagai “fiqih porno”. Kami tidak akan membenarkan kesimpulan penulis situs tersebut, karena memang apa yang dilakukan penulis itu dengan mengaitkannya kepada para ulama Salafiy jelas tidak benar karena apa yang dinukil oleh Syaikh Al Albaniy itu adalah pendapat yang ada dalam fiqih ahlus sunnah. Kami menjadikan hal ini sebagai contoh apakah dengan adanya pendapat menyimpang seperti ini dalam fiqih Ahlus Sunnah maka seseorang bisa merendahkan mahzab Ahlus Sunnah?. Orang yang objektif akan menjawab tidak

Terkait dengan tema tulisan di atas maka juga terdapat salah satu situs yang menukil pendapat sebagian ulama ahlus sunnah yang dikatakannya membolehkan melihat gambar aurat. Berikut kami kutip langsung dari situs tersebut [atau pembaca dapat meluncur langsung ke situs yang dimaksud]

Di antara ulama-ulama yang membolehkan melihat gambar aurat –dari sisi melihatnya saja– adalah Al-‘Allamah Syaikh Suwaikiy rahimahullah ta’ala. Di dalam Kitab al-Khalaash wa Ikhtilaaf al-Naas, beliau menyatakan bahwasanya hukum asal melihat (al-nadhr) adalah mubah; kecuali terdapat dalil-dalil khusus yang melarangnya; seperti melihat aurat laki-laki atau wanita; larangan melihat bagian tubuh wanita yang tidak termasuk aurat jika disertai dengan syahwat; dan lain-lain. Menurut beliau, kebolehan melihat gambar aurat didasarkan pada dalil-dalil umum. Di dalam Kitab itu beliau juga membedakan hukum melihat aurat dengan hukum melihat gambar aurat. Masih menurut beliau, nash-nash yang menerangkan kewajiban ghadldl al-bashar berlaku hanya pada aurat itu sendiri, bukan pada gambar aurat. Pandangan beliau yang membedakan hukum melihat aurat itu sendiri dengan hukum melihat pantulan, atau bayangannya, sejalan dengan pandangan ulama-ulama mu’tabar dari kalangan Hanafiyyah dan Syafi’iyyah. Di dalam Kitab al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah disebutkan:

عَلَى أَنَّهُ قَدْ عُلِمَ مِنْ مَذْهَبِ الْحَنَفِيَّةِ دُونَ سَائِرِ الْمَذَاهِبِ : أَنَّ الرَّجُل إِِذَا نَظَرَ إِِلَى فَرْجِ امْرَأَةٍ بِشَهْوَةٍ ، فَإِِنَّهَا تَنْشَأُ بِذَلِكَ حُرْمَةُ الْمُصَاهَرَةِ ؛ لَكِنْ لَوْ نَظَرَ إِِلَى صُورَةِ الْفَرْجِ فِي الْمِرْآةِ فَلاَ تَنْشَأُ تِلْكَ الْحُرْمَةُ ؛ لأَِنَّهُ يَكُونُ قَدْ رَأَى عَكْسَهُ لاَ عَيْنَهُ . فَفِي النَّظَرِ إِِلَى الصُّورَةِ الْمَنْقُوشَةِ لاَ تَنْشَأُ حُرْمَةُ الْمُصَاهَرَةِ مِنْ بَابٍ أَوْلَى . وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ : لاَ يَحْرُمُ النَّظَرُ – وَلَوْ بِشَهْوَةٍ – فِي الْمَاءِ أَوِ الْمِرْآةِ . قَالُوا : لأَِنَّ هَذَا مُجَرَّدُ خَيَال امْرَأَةٍ وَلَيْسَ امْرَأَةً . وَقَال الشَّيْخُ الْبَاجُورِيُّ : يَجُوزُ التَّفَرُّجُ عَلَى صُوَرِ حَيَوَانٍ غَيْرِ مَرْفُوعَةٍ . أَوْ عَلَى هَيْئَةٍ لاَ تَعِيشُ مَعَهَا ، كَأَنْ كَانَتْ مَقْطُوعَةَ الرَّأْسِ أَوِ الْوَسَطِ ، أَوْ مُخَرَّقَةَ الْبُطُونِ . قَال : وَمِنْهُ يُعْلَمُ جَوَازُ التَّفَرُّجِ عَلَى خَيَال الظِّل الْمَعْرُوفِ ؛ لأَِنَّهَا شُخُوصٌ مُخَرَّقَةُ الْبُطُونِ .

“Hanya saja, sesungguhnya telah diketahui dari madzhab Hanafiyyah, berbeda dengan madzhab-madzhab yang lain, bahwasanya seorang laki-laki, jika melihat farji wanita dengan syahwat, maka lahir dengan hal ituhurmat al-mushaharah . Jika Akan tetapi jika ia melihat gambar farji wanita di dalam cermin, maka hal itu tidak melahirkan al-hurmah. Sebab, ia hanya melihat bayangan farji, bukan farji itu sendiri. Lebih-lebih lagi melihat lukisan (farji) maka hal itu tidak melahirkan hurmat al-mushaharah . [Haasyiyyah Ibnu ‘Abidin, Juz 2/281 dan 5/238; lihat Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Juz 12/123], Menurut kalangan Syafi’iyyah, tidak haram melihat –meskipun dengan syahwat— di dalam air atau cermin. Mereka menyatakan, “Sebab, hal itu hanyalah bayangan wanita, bukan wanita itu sendiri. Syaikh al-Bajuriy berkata, “Boleh melihat gambar hewan yang tidak utuh, atau pada bentuk yang tidak mungkin hidup jika hanya dengan anggota tubuh itu saja, seperti terpotong kepalanya, tengahnya, atau perutnya berlubang”. Beliau berkata, “Darinya diketahui kebolehan melihat bayangan seseorang, sebab bayangan adalah sosok yang perutnya berlubang (tidak ada isinya).[Al-Qalyubiy ‘Ala Syarh al-Minhaaj, Juz 3/208, dan Haasyiyyah al-Baajuuriy ‘Ala Ibn al-Qaasim, Juz 2/99, 131; lihat lihat Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Juz 12/123-124]

Al-‘Allamah Syaikh Mohammad al-Syuwaikiy rahimahullah berkata:

فقد قال الكمال ابن الهمام – رحمه الله – (1) في مثل هذه المسألة ما نصه ” النظر من وراء الزجاج إلى الفرج محرَّم، بخلاف النظر في المرآة، ولو كانت في الماء ونظر فيه فرأى فرجها فيه ثبتت الحرمة، ولو كانت على الشط فنظر في الماء فرأى فرجها لا يحرم، كان العلة والله أعلم أنَّ المرئي في المرآة مثاله لا هو، وبهذا علَّلوا الحنث فيما إذا حلف لا ينظر في وجه فلان، فنظره في المرآة أو الماء، وعلى هذا فالتحريم به من وراء الزجاج بناءً على نفوذ البصر منه، فيرى نفس المرئي، بخلاف المرآة والماء”. ومثاله فيه لا عينه، ويدل عليه تعبير قاضيخان (2) بقوله لأنه لم يرَ فرجها، وإنما رأى عكس فرجها فافهم”.فإذا كان النظر في الماء والمرآة مع رؤية فرج امرأة انعكس فيهما خيالاً جائز عند هؤلاء العلماء لأنَّ المرئي مثاله لا حقيقته، فأقول بأنَّ النظر إلى الصورة هو نظر إلى ظل الشيء، وهو مثاله لا حقيقته ولا عينه، وهو غير النظر في الماء، أو المرآة لأنَّ الصورة اشد خيالاً من الماء والمرآة.وعليه فالأدلة على تحريم النظر إلى العورة لا تنطبق على الصورة

“Al-Kamaal Ibn al-Hammam rahimahullah ta’ala menyatakan berkaitan dengan masalah ini sebagai berikut, “Melihat farji dari balik kaca transparan diharamkan. Ini berbeda dengan melihat di dalam cermin. Jika seorang wanita berada di dalam air, lalu ada seorang laki-laki melihat ke dalamnya dan melihat farji wanita itu, maka berlakulah al-hurmah (maksudnya hurmat al-mushaharah). Seandainya wanita itu berada di tempat jauh, lalu laki-laki itu melihat ke dalam air, dan melihat farji wanita itu, maka tidaklah diharamkan (al-musharah). ‘Illatnya, hanya Allah yang lebih mengetahui, adalah orang yang ada di dalam cermin adalah bayangannya, bukan orang itu sendiri. Dengan inilah mereka bisa beralasan menyelisihi sumpah jika ia diminta untuk bersumpah tidak melihat wajah si fulan, tetapi melihat (bayangan) di dalam cermin atau di dalam air. Atas dasar itu, pengharaman (al-mushaharah) karena melihat farji perempuan dari balik kaca transparan didasarkan pada alasan bahwa mata bisa menembus kaca, sehingga ia bisa menyaksikan sosok orang itu sendiri. Ini berbeda dengan cermin atau air; maka bayangan di dalamnya bukanlah orang itu sendiri. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan Qadlihaan dalam perkataannya, “Sebab, ia tidak melihat farji wanita, tetapi ia melihat bayangan farjinya, maka fahamlah”. Dengan demikian, melihat di dalam air dan cermin, bersamaan dengan melihat bayangan farji wanita yang terpantul di dalamnya adalah boleh menurut ulama ini. Sebab, yang dilihat adalah bayangannya, bukan orangnya sendiri. Maka, saya menyatakan bahwasanya melihat gambar adalah melihat bayangan sesuatu. Sedangkan bayangan adalah cerminannya, bukan hakekat maupun sesuatu itu sendiri. Melihat gambar berbeda dengan melihat di dalam air dan cermin. Sebab, gambar itu khayalnya lebih kuat dibandingkan (pantulan yang ada di dalam) air dan cermin. Atas dasar itu, dalil-dalil yang menjelaskan pengharaman melihat aurat tidak bisa diterapkan pada gambar”.[Al-‘Allamah Mohammad Syuwaikiy, al-Khalaash wa Ikhtilaaf al-Naas, hal. 259]

Beliau juga menolak penggunaan kaedah al-wasilah ila al-haraam untuk mengharamkan melihat gambar aurat. Menurut beliau, kaedah ini tidak bisa diterapkan pada kasus melihat gambar aurat wanita. Beliau juga menangkis beberapa argumen yang ditujukan untuk melemahkan pendapat beliau. Semua itu beliau jelaskan dengan gamblang di dalam Kitab al-Khalaash wa Ikhtilaaf al-Naas.

Kami pribadi tidak heran dengan fenomena seperti ini karena siapapun yang membaca berbagai kitab fiqih akan menemukan perselisihan yang banyak dan terkadang dalam perselisihan tersebut terdapat pendapat ulama yang aneh, menyimpang, tidak berdasarkan dalil atau berhujjah dengan dalil yang lemah. Pada intinya menjadikan hal ini untuk merendahkan mazhab tertentu adalah cara berpikir yang benar-benar jahil dan licik. Itulah hakikat orang yang bernama Muhammad Abdurrahman Al Amiry dalam perkara ini, ia berdusta atas nama Sayyid Aliy Al Khamene’iy kemudian dengan liciknya ia menggiring kesalahan seorang ulama Syi’ah untuk merendahkan mazhab Syi’ah secara keseluruhan. Kelicikan dan Kedustaan, itulah hakikat tulisan Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiry.

Mungkin para pembaca masih ingat kasus tuduhan terhadap Syi’ah yang katanya membolehkan memakan kotoran imam mereka karena terdapat salah seorang ulama yang menyatakan kesucian kotoran imam mereka. Kami melihat begitu banyak orang awam dan bodoh berduyun-duyun mentertawakan dan merendahkan mazhab Syi’ah karena hal ini. Tetapi orang yang paham dan memiliki ilmu dalam hal ini akan merasa risih dan miris ketika melihat ternyata dalam mazhab Ahlus Sunnah juga ada fenomena yang sama dimana sebagian ulama menyatakan kesucian kotoran Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam]. Para pembaca dapat melihatnya dalam tulisan kami disini. Apakah lantas mazhab ahlus sunnah akan ditertawakan dan direndahkan pula?. Kami pribadi jelas tidak menyukai cara-cara licik seperti ini untuk merendahkan mazhab tertentu baik itu mazhab Ahlus Sunnah ataupun Syi’ah. Jika ingin mengkritik maka silakan mengkritik dengan objektif.

Boleh-boleh saja bagi siapapun untuk mengumpulkan fatwa aneh dan kesalahan para ulama dalam mazhab tertentu baik Ahlus Sunnah maupun Syi’ah kemudian dituliskan dalam kitab khusus yang berjudul “Ensiklopedi Kesalahan Ulama”. Kita tidak akan menyatakan hal ini sebagai suatu kelicikan tetapi jika dituliskan dalam kitab khusus yang berjudul “Inilah Islam Yang Sebenarnya” maka hal itu termasuk dalam kelicikan dan kedustaan. Bagaimana mungkin kesalahan para ulama tersebut dikatakan sebagai Islam yang sebenarnya. Bukankah cara licik seperti ini sering dipakai oleh para orientalis yang memang berniat merendahkan islam. Nah begitulah hakikatnya apa yang dilakukan penulis yang menyebut dirinya Muhammad ‘Abdurrahman Al Amiry kurang lebih sama dengan para orientalis yang berdusta atas nama islam.

syubhat bahwa Jabir memiliki tujuhpuluh ribu hadis padahal ia hanya sekali menemui Imam Baqir

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

syubhat bahwa Jabir memiliki tujuhpuluh ribu hadis padahal ia hanya sekali menemui Imam Baqir [‘alaihis salaam] adalah syubhat yang bathil karena dalam kitab hadis Syi’ah, Jabir tidak memiliki hadis sebanyak tujuh puluhribu, hal itu hanyalah riwayat dari Jabir bahwa ia mengaku memiliki tujuh puluh ribu hadis sebagaimana yang disebutkan di atas dan kedudukan hadis tersebut dhaif.

Syubhat Seputar Perawi Syi’ah : Jabir bin Yazid Al Ju’fiy

Salah satu syubhat miring tentang Syi’ah adalah keraguan seputar Jabir bin Yazid Al Ju’fiy. Bermula dari sebagian pengikut Syi’ah yang mencela Abu Hurairah [radiallahu ‘anhu] dengan banyaknya hadis riwayatnya dalam kitab Ahlus Sunnah maka sebagian ahlus sunnah dan Pembenci Syi’ah balas mencela perawi syi’ah yaitu Jabir bin Yazid Al Ju’fiy yang konon kabarnya memiliki hadis sampai tujuhpuluh ribu [jauh lebih banyak dari Abu Hurairah].

.

.

Kami akan menetapkan terlebih dahulu apa pandangan kami soal Abu Hurairah [sebelum para pencela yang hina dina menuduh yang tidak-tidak kepada kami]. Bagi kami kedudukan Abu Hurairah adalah sama seperti sahabat Nabi lainnya memiliki keutamaan persahabatan dengan Nabi tetapi sebagaimana yang kami pernah tulis dalam tulisan sebelumnya bahwa seorang sahabat Nabi tetap bisa melakukan kesalahan, tidak terlepas Abu Hurairah.

Adapun hadisnya yang banyak maka itupun tidak menjadi masalah, kalau mau dikatakan aneh ya memang aneh, kenapa Abu Hurairah hadisnya jauh lebih banyak dari sahabat Nabi yang lain, tapi ya cukup sampai disitu. Keanehan tersebut bukan suatu perkara yang mustahil dan selagi tidak ada bukti kuat maka tidak ada gunanya menjadikan hal ini sebagai celaan terhadap Abu Hurairah. Prinsip dalam berhujjah adalah mana buktinya? Kalau cuma kemungkinan maka cukup dikatakan kemungkinan yang satu tidak menafikan kemungkinan yang lain. Dan kemungkinan akan selalu bisa dimunculkan sebanyak siapapun bisa berandai-andai. Apalah artinya hujjah yang ujungnya hanyalah andaikata-andaikata.

Begitupula dengan syubhat seputar Jabir bin Yazid Al Ju’fiy, hakikat permasalahannya malah jauh sekali jika dibandingkan dengan Abu Hurairah. Kami tidak akan membahas kedudukan Jabir bin Yazid Al Ju’fiy di dalam kitab Ahlus Sunnah, karena sudah jelas sebagian besar ulama ahlus sunnah mencelanya [dan sebagian kecil memujinya]. Kami hanya akan membahas seputar syubhat yang dilontarkan oleh para Pembenci Syi’ah yang katanya mengambil dari kitab ulama syi’ah.

Syubhat ini salah satunya bisa dilihat dalam salah satu tulisan dari orang yang menyebut dirinya Abul-Jauzaa’. Nampak jelas bahwa orang ini hanya ingin merendahkan mazhab Syi’ah dengan cara yang tidak ilmiah atau bisa disebut peneliti yang berniat bengkong bukan seorang yang objektif. Silakan pembaca bandingkan dengan pembahasan berikut manakah yang lebih objektif dalam mempelajari mazhab Syi’ah dan mana yang membuat syubhat untuk merendahkan mazhab Syi’ah. Pembahasan berikut kami cukupkan pada Jabir bin Yazid Al Ju’fiy adapun untuk Zurarah dan Muhammad bin Muslim akan ada pembahasan khusus.

.

.

Syubhat mengenai Jabir bin Yazid Al Ju’fiy adalah ia dikatakan memiliki tujuhpuluh ribu riwayat dan dinukil dalam riwayat Syi’ah bahwa ia hanya sekali menemui Imam Baqir [‘alaihis salaam] dan tidak pernah menemui Imam Ja’far [‘alaihis salaam]. Bagaimana mungkin bisa riwayatnya sampai tujuh puluh ribu dan bukankah ini jauh lebih musykil dibanding Abu Hurairah.

Kami akan menganalisis hal ini berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah, benarkah demikian atau seperti biasanya hanya sekedar syubhat murahan yang dilontarkan terhadap Syi’ah.

جبريل بن أحمد، حدثني محمد بن عيسى، عن إسماعيل بن مهران عن أبي جميلة المفضل بن صالح، عن جابر بن يزيد الجعفي، قال: حدثني أبو جعفر عليه السلام بسبعين ألف حديث لم أحدث بها أحدا قط، ولا أحدث بها أحدا أبدا، قال جابر: فقلت لأبي جعفر عليه السلام جعلت فداك انك قد حملتني وقرا عظيما بما حدثتني به من سركم الذي لا أحدث به أحدا، فربما جاش في صدري حتى يأخذني منه شبه الجنون، قال: يا جابر فإذا كان ذلك فاخرج إلى الجبان فاحفر حفيرة ودل رأسك فيها، ثم قل: حدثني محمد بن علي بكذا وكذا

Jibril bin Ahmad berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Iisa dari Ismaiil bin Mihraan dari Abi Jamiilah Mufadhdhal bin Shalih dari Jabir bin Yazid Al Ju’fiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Ja’far [‘alaihis salaam] tujuh puluh ribu hadis yang tidak pernah aku ceritakan pada siapapun dan tidak akan aku ceritakan kepada seorangpun selamanya. Jabir berkata aku berkata kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] “aku menjadi tebusanmu, sesungguhnya engkau telah membebaniku dengan perkara besar dengan menceritakan kepadaku rahasia yang tidak diceritakan kepada seorangpun maka hal itu bergejolak di dalam dadaku sampai membuatku seperti orang gila. Maka Beliau berkata “wahai Jabir jika demikian maka pergilah engkau ke kuburan dan galilah lubang, letakkan kepalamu di dalamnya kemudian katakanlah “telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Aliy demikian demikian” [Rijal Al Kasyiy 2/441-442]

Riwayat di atas sanadnya dhaif karena Jibril bin Ahmad majhul dan Mufadhdhal bin Shalih seorang yang dhaif.

جبرئيل بن أحمد: الفاريابي، يكنى أبا محمد، كان مقيما بكش، كثير الرواية عن العلماء بالعراق، وقم، وخراسان، رجال الشيخ – مجهول – يروى عنه الكشي كثيرا

Jibra’il bin Ahmad Al Faryaabiy kuniyah Abu Muhammad, ia tinggal di Kasy, banyak memiliki riwayat dari ulama Iraq, Qum dan Khurasan, termasuk Rijal Syaikh, seorang yang majhul, Al Kasyiy banyak meriwayatkan darinya [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 101]

Mengenai Mufadhdhal bin Shalih Abu Jamiilah, ia didhaifkan oleh Ibnu Ghada’iriy dan An Najasyiy telah melemahkannya dalam biografi Jaabir bin Yazid Al Ju’fiy, ia berkata

روى عنه جماعة غمز فيهم وضعفوا، منهم: عمرو بن شمر، ومفضل بن صالح، ومنخل بن جميل، ويوسف بن يعقوب

Telah meriwayatkan darinya [Jabir bin Yazid], jama’ah yang yang terdapat perbincangan atasnya dan didhaifkan diantara mereka adalah ‘Amru bin Syimr, Mufadhdhal bin Shalih, Minkhal bin Jamiil dan Yusuf bin Ya’quub [Rijal An Najasyiy hal 128 no 332]

المفضل بن صالح، أبو جميلة، الأسدي، مولاهم النخاس ضعيف، كذاب، يضع الحديث

Al Mufadhdhal bin Shhalih Abu Jamiilah Al Asdiy maula mereka An Nukhaas, seorang yang dhaif pendusta dan pemalsu hadis [Rijal Ibnu Ghada’iriy hal 88]

Dalam riwayat Abu Jamiila [Mufadhdhal bin Shalih] yang lain disebutkan bahwa jumlah riwayat yang dimaksud adalah lima puluh ribu

علي بن محمد، قال: حدثني محمد بن أحمد، عن يعقوب بن يزيد، عن عمرو بن عثمان، عن أبي جميلة، عن جابر، قال: رويت خمسين الف حديث ما سمعه أحد مني

Aliy bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ahmad dari Ya’qub bin Yaziid dari ‘Amru bin ‘Utsman dari Abi Jamiilah dari Jaabir yang berkata “aku meriwayatkan lima puluh ribu hadis yang tidak ada seorangpun yang mendengarnya dariku” [Rijal Al Kasyiy 2/440]

Riwayat ini dhaif dengan kelemahan Aliy bin Muhammad, ia adalah Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, pembahasan tentangnya telah disebutkan dalam salah satu tulisan khusus. Dan riwayat di atas juga dhaif karena Abu Jamiilah, Mufadhdhal bin Shaalih sebagaimana disebutkan sebelumnya.

.

.

حدثني حمدويه وإبراهيم ابنا نصير، قالا: حدثنا محمد بن عيسى عن علي بن الحكم، عن ابن بكير، عن زرارة، قال: سألت أبا عبد الله عليه السلام عن أحاديث جابر؟ فقال: ما رأيته عند أبي قط الامرة واحدة وما دخل علي قط

Telah menceritakan kepadaku Hamdawaih dan Ibrahim, keduanya putra Nashiir, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Iisa dari Aliy bin Al Hakam dari Ibnu Bukair dari Zurarah yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang hadis-hadis Jaabir?. Maka Beliau menjawab “aku tidak pernah melihatnya di sisi Ayahku kecuali satu kali, dan ia tidak pernah masuk menemuiku” [Rijal Al Kasyiy 2/436]

Riwayat ini sanadnya muwatstsaq berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah, para perawinya tsiqat hanya saja Ibnu Bukair ia seorang bermazhab Fathhiy

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Ibrahiim bin Nashiir seorang yang tsiqat ma’mun banyak memiliki riwayat [Rijal Ath Thuusiy hal 407]
  3. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896]. Ath Thuusiy menyatakan bahwa ia dhaif [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 216]. Pendapat yang rajih ia pada dasarnya tsiqat tetapi dhaif dalam riwayatnya dari Yunus
  4. Aliy bin Al Hakam Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 151]
  5. Abdullah bin Bukair adalah seorang yang tsiqat hanya saja bermazhab Fathhiy [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 173]
  6. Zurarah bin A’yan seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 337].

Sebelum memahami hadis di atas maka ada baiknya melihat riwayat dari Imam Ja’far [‘alaihis salaam] berikut

حمدويه وإبراهيم، قالا: حدثنا محمد بن عيسى، عن علي بن الحكم عن زياد بن أبي الحلال، قال: اختلف أصحابنا في أحاديث جابر الجعفي، فقلت لهم: أسأل أبا عبد الله عليه السلام، فلما دخلت ابتدأني، فقال: رحم الله جابر الجعفي كان يصدق علينا، لعن الله المغيرة بن سعيد كان يكذب علينا

Hamdawaih dan Ibrahiim keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Iisa dari Aliy bin Al Hakam dari Ziyaad bin Abi Hilaal yang berkata “para sahabat kami berselisih tentang hadis-hadis Jabir Al Ju’fiy, maka aku berkata kepada mereka “Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] pernah ditanya ketika aku masuk menemuinya, Beliau berkata “semoga Allah merahmati Jaabir Al Ju’fiy, ia seorang yang jujur atas kami dan semoga Allah melaknat Mughiirah bin Sa’id, ia seorang yang berdusta atas kami” [Rijal Al Kasyiy 2/436]

Riwayat ini sanadnya shahih berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Ibrahiim bin Nashiir seorang yang tsiqat ma’mun banyak memiliki riwayat [Rijal Ath Thuusiy hal 407]
  3. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896]. Ath Thuusiy menyatakan bahwa ia dhaif [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 216]. Pendapat yang rajih ia pada dasarnya tsiqat tetapi dhaif dalam riwayatnya dari Yunus
  4. Aliy bin Al Hakam Al Kuufiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 151]
  5. Ziyad bin Abi Hilaal seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 171 no 451]

Hadis ini menunjukkan bahwa Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] telah memuji Jabir bin Yazid Al Ju’fiy sebagai seorang yang shaduq dalam riwayatnya dari Ahlul Bait. Jika kita memperhatikan riwayat Al Kasyiy sebelumnya dimana Abu ‘Abdullah berkata bahwa Jabir bin Yazid tidak pernah menemuinya dan menggabungkan dengan riwayat dimana Abu ‘Abdullah menyatakan “Jabir seorang yang shaduq atas kami” maka diketahui bahwa maksud hadis Zurarah adalah pada saat Zurarah menanyakan hal itu kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], Jabir bin Yazid belum mengambil hadis dari Abu ‘Abdullah tetapi setelah itu Jabir menemui dan mengambil hadis dari Abu ‘Abdullah dan Abu Abdullah menyatakan ia seorang yang jujur.

Begitu pula pernyataan Abu ‘Abdullah “aku tidak pernah melihat di sisi Ayahku kecuali satu kali” bukanlah pembatas bahwa Jabir bin Yazid hanya sekali menemui Imam Baqir [‘alaihis salaam]. Terdapat kemungkinan bahwa Jabir bin Yazid bertemu Imam Baqir [‘alaihis salaam] dan pada saat itu Abu ‘Abdullah tidak melihatnya. Yang jelas riwayat Zurarah tidaklah menjatuhkan kredibilitas Jabir bin Yazid Al Ju’fiy apalagi riwayat Ziyad bin Abi Hilal telah menetapkan kejujuran Jabir bin Yazid Al Ju’fiy dalam pandangan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam].

Riwayat Ziyad bin Abi Hilal lebih kuat kedudukan sanadnya [shahih] dibanding riwayat Zurarah [muwatstsaq] selain itu riwayat Ziyad bin Abi Hilal lebih jelas penunjukkannya dibanding riwayat Zurarah [yang masih mengandung kemungkinan-kemungkinan seperti yang kami jelaskan di atas]. Maka tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa riwayat Zurarah harus dipalingkan kepada riwayat Ziyaad bin Abi Hilaal.

.

.

Kesimpulan

Maka syubhat bahwa Jabir memiliki tujuhpuluh ribu hadis padahal ia hanya sekali menemui Imam Baqir [‘alaihis salaam] adalah syubhat yang bathil karena dalam kitab hadis Syi’ah, Jabir tidak memiliki hadis sebanyak tujuh puluhribu, hal itu hanyalah riwayat dari Jabir bahwa ia mengaku memiliki tujuh puluh ribu hadis sebagaimana yang disebutkan di atas dan kedudukan hadis tersebut dhaif.

Tidak ada satupun hadis keutamaan dari muawiyah yang sahih. Pastinya perawi keutamaan keutamaan muawiyah patut diteliti motifnya

sumber tulisan ini dari web http://www.secondprince.wordpress.com

Apakah bisa disebut sebagai sahabat Rasulullah orang-orang yang merampas wasiat Nabi, merampok warisannya, dan membunuh cucu-cucu yang paling beliau sayangi?

Apakah ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Termasuk Sahabat Nabi?

‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah adalah perawi yang dikenal meriwayatkan hadis keutamaan Mu’awiyah yaitu dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakannya “Ya Allah jadikanlah Mu’awiyah pemberi petunjuk dan diberi petunjuk”. Kami pernah membahas kedudukan hadis ini sebelumnya bahwa hadis ini dhaif mudhtharib dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Pada tulisan kali ini kami akan meneliti lebih lanjut status ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah sebagai perawi yang dikenal meriwayatkan hadis keutamaan Mu’awiyah tersebut [sekaligus sebagai tambahan dan revisi tulisan kami sebelumnya tentang hadis keutamaan Mu'awiyah tersebut]. Apakah benar perkataan sebagian ulama bahwa ia tergolong sahabat Nabi? Ataukah ia sebenarnya bukan sahabat Nabi sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama lain.

.

.

Terdapat perselisihan di kalangan ulama mengenai status persahabatannya, sebagian ulama menetapkan bahwa ia sahabat dan sebagian lagi menyatakan bahwa ia bukan sahabat. Diantara yang menyatakan ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah sebagai sahabat adalah Ibnu Abi Hatim Ar Raaziy

عبد الرحمن بن أبي عميرة المزني، له صحبة يعد في الشاميين روى عن القاسم أبو عبد الرحمن وربيعة بن يزيد وجبير بن نفير

‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Muzanniy, sahabat Nabi termasuk penduduk syam, meriwayatkan darinya Al Qaasim Abu ‘Abdurrahman, Rabi’ah bin Yaziid dan Jubair bin Nufair [Al Jarh Wat Ta’dil 5/273 no 1296]

Ibnu Hajar dalam Al Ishabah mengutip bahwa diantara para ulama yang menyatakan ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah sebagai sahabat adalah Abu Hatim, Ibnu Sakan, Ibnu Sa’ad, Bukhariy, Ibnu Barqiy, Ibnu Hibban, Abdush Shamad bin Sa’id dan Abu Hasan bin Sumai’ [Al Ishabah Ibnu Hajar 4/342 no 5181]. Ahmad bin Hanbal memasukkan hadisnya dalam kitab Musnadnya dengan judul Hadis ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Azdiy [Musnad Ahmad 4/216]. Al Baghaawiy memasukkannya dalam Mu’jam Ash Shahabah 4/489. Ibnu Qani’ memasukkannya dalam Mu’jam Ash Shahabah 2/146. Abu Nu’aim memasukkannya dalam Ma’rifat Ash Shahabah no 4129 & 4130. Adz Dzahabiy dalam Tarikh Al Islam 4/309 menyatakan ia sahabat. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 35/231 juga menyatakan ia sahabat.

Tetapi ternukil pula sebagian ulama yang menyatakan bahwa ia bukan sahabat dan hadisnya tidak tsabit dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Adz Dzahabiy berkata dalam Tarikh-nya

عبد الرحمن بن أبي عميرة المزني، صحابي، له أحاديث، وقد سكن حمص وتاجر.روى عنه: خالد بن معدان، والقاسم أبو عبد الرحمن، وربيعة بن يزيد القصير.وبعضهم يقول: هو تابعي.

Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Muzanniy sahabat Nabi, memiliki hadis-hadis, menetap di Syam telah meriwayatkan darinya Khalid bin Ma’dan, Qaasim Abu ‘Abdurrahman dan Rabi’ah bin Yaziid. Dan sebagian ulama mengatakan “ia tabiin” [Tarikh Al Islam 4/309].

Ibnu Hajar dalam At Taqrib berkata “diperselisihkan bahwa ia sahabat” [At Taqrib 1/575]. Al Hafizh Al Maghlathay memasukkannya dalam kitab Al Inabah Ila Ma’rifat Al Mukhtalaf Fiihim Min Shahabat 2/23 no 667.

Diantara yang menetapkan bahwa Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah bukan sahabat adalah Ibnu Abdil Barr dalam Al Isti’ab yang berkata hadisnya mudhtharib dan tidak tsabit bahwa ia sahabat [Al Isti’ab 2/843]. Ibnu Atsir juga mengatakan demikian [Usud Al Ghabah 3/313]. Diikuti oleh Al Mubarakfuriy dalam Syarh Sunan Tirmidzi [Tuhfatul Ahwaaziy 10/230]. Al Hafizh Al Ala’iy memasukkannya dalam kitabnya Jami’ At Tahsiil Fii Ahkam Al Maraasil no 448 yang berarti di sisinya tidak tsabit bahwa ia sahabat Nabi.

Dalam kitab biografi perawi hadis tidak dikenal tahun lahir dan wafat ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah. Keberadaannya ditetapkan dari hadis-hadis yang ia riwayatkan. Hadis-hadis inilah yang menjadi hujjah para ulama dalam menetapkan status persahabatannya yang berarti hadis-hadis tersebut tsabit di sisi mereka. Dan hadis-hadis ini pulalah yang menyebabkan sebagian para ulama menetapkan bahwa ia tidak tsabit sebagai sahabat karena di sisi mereka hadis-hadis tersebut tidak tsabit sanadnya.

Dalam kitab hadis dan kitab biografi perawi ada empat hadis ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah yang menjadi dasar para ulama menyatakan bahwa ia adalah sahabat Nabi. Hadis-hadis itulah yang akan dibahas dan diteliti apakah benar hadis tersebut tsabit sanadnya.

.

.

.

 

Hadis Pertama Tentang Keutamaan Mu’awiyah

Hadis ini diriwayatkan dengan jalan sanad dari Sa’id bin Abdul Aziz dari Rabi’ah bin Yazid dari Abdurrahman bin Abi Amiirah secara marfu’ kemudian Sa’id juga meriwayatkan dari Yunus bin Maisarah dari Abdurrahman bin Abi Amiirah secara marfu’. Berikut takhrij lengkap hadis tersebut beserta pembahasannya

Riwayat Abu Mushir

حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ ثنا أَبُو مُسْهِرٍ ثنا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمِيرَةَ الْمُزَنِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِمُعَاوِيَةَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا ، وَاهْدِهِ وَاهْدِ بِه

Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mushir yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Abdul Aziiz dari Rabii’ah bin Yaziid dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Muzanniy yang berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda tentang Mu’awiyah “Ya Allah jadikanlah ia pemberi petunjuk dan diberi petunjuk, berilah petunjuk kepadanya dan petunjuk [bagi umat] dengan keberadaannya [Mu’jam Asy Syamiyyiin Thabraniy no 334]

Riwayat Abu Zur’ah dari Abu Mushir di atas juga disebutkan Abu Nu’aim dalam Ma’rifat Ash Shahabah no 4129, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 59/81-82. Abu Zur’ah dalam periwayatan dari Abu Mushir memiliki mutaba’ah sebagai berikut

  1. Muhammad bin ‘Auf Al Himshiy sebagaimana disebutkan Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al Ahad Al Matsaaniy 2/358 no 1129
  2. Muhammad bin Sahl bin Askar sebagaimana disebutkan Al Baghaawiy dalam Mu’jam Ash Shahabah 4/491 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 6/61 dan Tarikh Dimasyiq 59/82.
  3. ‘Abbas bin ‘Abdullah At Tarqufiy sebagaimana disebutkan dalam Juz At Tarqufiy no 46, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 1/207, Al Jurqaaniy dalam Abaathiil Wal Manakiir no 182, Aajurriy dalam Asy Syari’ah no 1917, Al Lalkaa’iy dalam Syarh Ushul I’tiqaad no 2288 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 59/82.
  4. Yahya bin Ma’in sebagaimana disebutkan Al Aajurriy dalam Asy Syari’ah no 1914 & 1916 dan Ibnu Jauziy dalam Al Ilal Al Mutanaahiyah 1/275 no 442
  5. Muhammad bin Rizqullah Al Kaluudzaaniy sebagaimana disebutkan Al Aajurriy dalam Asy Syari’ah no 1915
  6. Muhammad bin Yahya Adz Dzuhliy sebagaimana disebutkan At Tirmidzi dalam Sunan-nya no 3842.
  7. Al Bukhari sebagaimana yang disebutkannya dalam kitabnya Tarikh Al Kabir 5/240
  8. Ibnu Sa’ad sebagaimana yang disebutkannya dalam kitabnya Thabaqat Al Kubra 7/418
  9. Muhammad bin Mughiirah sebagaimana disebutkan Al Khatib dalam Talkhis Al Mutasyaabih 1/405-406

Abu Mushir dalam periwayatannya dari Sa’iid bin ‘Abdul Aziiz memiliki mutaba’ah yaitu dari Marwan bin Muhammad, ‘Umar bin Abdul Wahiid, Walid bin Muslim, dan Muhammad bin Sulaiman Al Harraniy

Riwayat Marwan bin Muhammad

وقال لي بن أزهر يعني أبا الأزهر نا مروان بن محمد الدمشقي نا سعيد نا ربيعة بن يزيد سمعت عبد الرحمن بن أبي عميرة المزني يقول سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول في معاوية بن أبي سفيان اللهم اجعله هاديا مهديا واهده واهد به

Dan telah mengatakan kepadaku Ibnu Azhar yaitu Abul Azhar yang berkata telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muhammad Ad Dimasyiqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid yang berkata telah menceritakan kepada kami Rabii’ah bin Yaziid yang berkata aku mendengar ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Muzanniy yang mengatakan aku mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata tentang Mu’awiyah bin Abi Sufyaan “Ya Allah jadikanlah ia pemberi petunjuk dan diberi petunjuk, berilah petunjuk kepadanya dan petunjuk [bagi umat] dengan keberadaannya [Tarikh Al Kabiir Bukhari juz 7 no 1405]

Riwayat Abul Azhar di atas juga disebutkan Ibnu Asakir dalam kitabnya Tarikh Dimasyiq 59/80. Abul Azhar dalam periwayatannya dari Marwan bin Mu’awiyah memiliki mutaba’ah yaitu sebagai berikut

  1. Muhammad bin ‘Auf Al Himshiy sebagaimana disebutkan Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al Ahad Al Matsaaniy 2/358 no 1129
  2. Salamah bin Syabiib sebagaimana disebutkan Al Baghawiy dalam Mu’jam Ash Shahabah 4/490 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 59/80
  3. Ibrahiim bin Iisa sebagaimana disebutkan Abu Syaikh Al Ashbahan dalam Thabaqat Al Muhadditsin 2/343 dan Abu Nu’aim dalam Akhbaru Ashbahaan 1/180
  4. Iisa bin Hilaal As Saaliihiy sebagaimana disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 59/80 dan Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal 17/321
  5. Shafwan bin Shalih sebagaimana disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 59/81

Mereka semua meriwayatkan dari Marwan bin Muhammad dari Sa’id bin ‘Abdul Aziz dari Rabi’ah bin Yazid dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah secara marfu’. Muhammad bin Mushaffa meriwayatkan dari Marwan dengan menyebutkan Abu Idris antara Rabiiah dan Ibnu Abi ‘Amiirah.

وَأَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ الأَكْفَانِيِّ نَا أَبُو مُحَمَّدٍ الْكَتَّانِيُّ أَنَا تَمَّامُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ مَرْوَانَ نَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى نَا مَرْوَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عُمْيَرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا لِمُعَاوِيَةَ فَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْعِلْمَ ، وَاجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا ، وَاهْدِهِ وَاهْدِ بِهِ

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Al Akfaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al Kattaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Tammaam bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah bin Marwan yang berkata telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Mushaffaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’id bin ‘Abdul Aziz dari Rabii’ah bin Yaziid dari Abu Idris dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakan Mu’awiyah, Beliau berkata “Ya Allah, berikanlah padanya ilmu, jadikanlah ia pemberi petunjuk dan diberi petunjuk, berilah petunjuk kepadanya dan petunjuk [bagi umat] dengan keberadaannya [Tarikh Ibnu Asakir 59/80]

Disini Muhammad bin Mushaffa menyelisihi para perawi tsiqat yang meriwayatkan dari Marwan bin Muhammad dimana mereka tidak menyebutkan Abu Idris antara Rabii’ah bin Yaziid dan ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah. Seolah-olah Muhammad bin Mushaffa melakukan kekeliruan dalam riwayatnya. Hal ini tidaklah benar, karena riwayat Muhammad bin Mushaffa telah dikuatkan oleh riwayat lain yaitu riwayat Umar bin ‘Abdul Wahiid dari Sa’id bin ‘Abdul Aziz.

Riwayat Umar bin ‘Abdul Wahiid

أَخْبَرَنَا أَبُو حَفْصِ بْنُ شَاهِينَ ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ ثنا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ يَعْنِي الدِّمَشْقِيَّ ثنا الْوَلِيدُ يَعْنِي ابْنَ مُسْلِمٍ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْواحِدِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلانِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عُمَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِمُعَاوِيَةَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيَا وَاهْدِ بِهِ وَاهْدِهِ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Hafsh bin Syaahiin yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Sulaiman yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Khaalid yakni Ad Dimasyiqiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid yakni Ibnu Muslim dan ‘Umar bin ‘Abdul Waahid dari Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziiz dari Rabii’ah bin Yaziid dari Abu Idriis Al Khawlaniy dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah yang berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan kepada Mu’awiyah “Ya Allah, berikanlah padanya ilmu, jadikanlah ia pemberi petunjuk dan diberi petunjuk, berilah petunjuk kepadanya dan petunjuk [bagi umat] dengan keberadaannya” [Juz Abu Dzar Al Haraawiy no 34]

Riwayat Ibnu Syahiin ini juga disebutkan oleh Adz Dzahabiy dalam kitabnya As Siyaar 3/126. Kemudian Adz Dzahabiy dalam kitab Talkhis Al Ilal Al Mutanaahiyah berkata “Diriwayatkan ‘Umar bin ‘Abdul Wahid dan Walid bin Muslim dari Sa’id dari Rabii’ah yang berkata dari Abu Idriis bahwa ia mendengar ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah, sanad ini kuat” [Talkhis Al Ilal Al Mutanaahiyah hal 93 no 225]

Sebagian orang mengira bahwa riwaat Ibnu Abi Dawud dari Mahmuud bin Khaliid di atas syadz karena menyelisihi riwayat jama’ah tsiqat dari Mahmuud yaitu Yaquub bin Sufyan, Ahmad bin Al Mu’alla dan Ishaq bin Ibrahim Al Anmaathiy. Pernyataan ini tidaklah benar, justru riwayat yang lain tersebut menguatkan riwayat Ibnu Abi Dawud.

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ أَبُو يُوسُفَ الْفَارِسِيُّ قَالَ ثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الأَزْرَقُ قَالَ ثَنَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ قَالَ ثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بن يَزِيدَ أَنَّ بَعْثًا مِنْ أَهْلِ الشَّامِ كَانُوا مُرَابِطِينَ بِآمِدَ وَكَانَ عَلَى حِمْصَ عُمَيْرُ بْنُ سَعْدٍ فَعَزَلَهُ عُثْمَانُ وَوَلَّى مُعَاوِيَةُ فَبَلَغَ ذَلِكَ أَهْلُ حِمْصَ فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي عَمِيرَةَ الْمُزَنِيُّ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِمُعَاوِيَةَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِهِ وَاهْدِ بِهِ

Telah mengabarkan kepada kami Ya’quub bin Sufyaan Abuu Yuusuf Al Faarisiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Khaalid Al Azraq yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin ‘Abdul Waahid yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Abdul ‘Aziiz dari Rab’iiah bin Yaziid bahwa ada utusan dari penduduk Syam, mereka tinggal di ‘Amid dan pada saat itu yang memimpin di Himsh adalah Umair bin Sa’d. Maka Utsman menurunkannya dan mengangkat Mu’awiyah. Ketika hal itu disampaikan kepada penduduk Himsh, mereka keberatan akan hal itu maka ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Muzanniy berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan kepada Mu’awiyah “Ya Allah, jadikanlah ia pemberi petunjuk dan diberi petunjuk, berilah petunjuk kepadanya dan petunjuk [bagi umat] dengan keberadaannya” [As Sunnah Al Khalaal 2/450 no 697]

Dalam penyebutan kisah oleh Rabii’ah bin Yaziid, Yaqub bin Sufyan memiliki mutaba’ah dari Ahmad bin Al Mu’alla sebagaimana yang disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 59/82.

Kisah di atas terjadi di masa pemerintahan Utsman bin ‘Affan artinya terjadi sebelum tahun 35 H. Rabii’ah bin Yazid dikatakan bahwa usianya sekitar 80 tahun dan ia wafat pada tahun 123 H [As Siyaar Adz Dzahabiy 5/239-240]. Artinya ia lahir lebih kurang tahun 43 H dan tidak mungkin menyaksikan kisah tersebut. Dalam riwayat di atas nampak bahwa Rabii’ah bin Yazid tidak mendengar atau menyaksikan kisah tersebut. Rabii’ah meriwayatkan kisah tersebut secara mursal. Kesimpulannya riwayat Yaqub bin Sufyan dan Ahmad bin Al Mu’alla menunjukkan adanya inqitha’ [keterputusan sanad] antara Rabii’ah dan ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah dan ternyata dalam riwayat Ibnu Abi Dawud disebutkan bahwa diantara mereka berdua ada perawi yang bernama Abu Idris Al Khawlaaniy. Secara keseluruhan maka riwayat-riwayat tersebut saling melengkapi

Adapun riwayat Ishaaq bin Ibrahiim Al Anmaathiy disebutkan Ibnu Qani’ dalam Mu’jam Ash Shahabah 2/146 yaitu dengan sanad sebagai berikut

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الأَنْمَاطِيُّ نا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ نا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ نا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمِيرَةَ عَنِ النَّبِيِّ

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahiim Al Anmaathiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Khaalid yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin ‘Abdul Waahid yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Abdul Aziiz dari Rabii’ah bin Yaziid dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Mu’jam Ash Shahabah Ibnu Qani’ 2/146]

Riwayat Ishaaq bin Ibrahiim Al Anmaathiy adalah ringkasan dari riwayat Ya’qub bin Sufyan dan Ahmad bin Al Mu’alla. Disini disebutkan bahwa Rabii’ah bin Yazid meriwayatkan dengan ‘an anah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah dan diketahui dari riwayat lain [Yaqub bin Sufyan dan Ahmad bin Al Mu’alla] bahwa ‘an anah tersebut ternyata mursal dan disebutkan dalam salah satu riwayat [Ibnu Abi Dawud] bahwa diantara Rabii’ah dan Ibnu Abi ‘Amiirah ada Abu Idris Al Khawlaaniy. Secara keseluruhan riwayat ‘Umar bin ‘Abdul Wahid memang menunjukkan bahwa sanad Rabii’ah dari Abu Idriis dari Ibnu Abi ‘Amiirah tidaklah syadz.

Riwayat Waliid bin Muslim

Walid bin Muslim meriwayatkan hadis ini dari Sa’iid bin Abdul Aziiz melalui dua jalan sanad yaitu dari Sa’iid dari Rabii’ah dari Ibnu Abi ‘Amiirah dan dari Sa’iid dari Yunus bin Maisarah dari Ibnu Abi ‘Amiirah

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا علي بن بحر ثنا الوليد بن مسلم ثنا سعيد بن عبد العزيز عن ربيعة بن يزيد عن عبد الرحمن بن أبي عميرة الأزدي عن النبي صلى الله عليه و سلم انه ذكر معاوية وقال اللهم اجعله هاديا مهديا واهد به

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Bahr yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Abdul Aziiz dari Rabii’ah bin Yaziid dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Azdiy dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa ia menyebutkan Mu’awiyah dan berkata “Ya Allah, jadikanlah ia pemberi petunjuk dan diberi petunjuk, berilah petunjuk [bagi umat] dengan keberadaannya” [Musnad Ahmad 4/216 no 17926]

Riwayat Aliy bin Bahr di atas juga disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 59/83. Ali bin Bahr dalam riwayatnya dari Walid bin Muslim memiliki mutaba’ah yaitu Hisyam bin ‘Ammar sebagaimana disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 6/61 dan Shafwan bin Shaalih sebagaimana disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 6/61 dan Tarikh Dimasyiq 59/81. Aliy bin Bahr memiliki mutaba’ah dari Mahmuud bin Khalid sebagaimana disebutkan dalam Juz Abu Dzar Al Haraawiy no 34 hanya saja ia menyebutkan Abu Idriis antara Rabii’ah dan ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah.

حدثنا عبدان بن أحمد ثنا علي بن سهل الرملي ثنا الوليد بن مسلم عن سعيد بن عبد العزيز عن يونس بن ميسرة بن حلبس عن عبد الرحمن بن عمير المزني أنه سمع النبي صلى الله عليه و سلم وذكر معاوية فقال اللهم اجعله هاديا مهديا واهد به

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdaan bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Sahl Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Waliid bin Muslim dari Sa’iid bin ‘Abdul Aziiz dari Yunus bin Maisarah bin Halbas dari ‘Abdurrahman bin ‘Amiir Al Muzanniy bahwa ia mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan tentang Mu’awiyah, Beliau berkata “Ya Allah jadikanlah ia pemberi petunjuk dan diberi petunjuk, berilah petunjuk [bagi umat] dengan keberadaannya” [Musnad Asy Syamiyyin Ath Thabraniy 1/181 no 311]

Riwayat Aliy bin Sahl Ar Ramliy juga disebutkan Ath Thabraniy dalam Musnad Asy Syamiiyyin 3/254 no 2198, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ 8/358 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 59/83.

Aliy bin Sahl Ar Ramliy dalam periwayatan dari Walid bin Muslim memiliki mutaba’ah dari Zaid bin Abi Zarqaa’ sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Ausath 1/205 no 656, Al Khalaal dalam As Sunnah 2/451-452 no 699, Ibnu Qani’ dalam Mu’jam Ash Shahabah 2/146, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa 8/358 dan Abu Qasim Al Ashbahaniy dalam Al Hujjah Fii Bayaan 2/377-378.

Walid bin Muslim Ad Dimasyiq disebutkan Ibnu Hajar bahwa ia seorang yang tsiqat tetapi banyak melakukan tadlis taswiyah [At Taqrib 2/289]. Dalam ilmu hadis, perawi yang melakukan tadlis taswiyah hadisnya diterima jika ia menyebutkan tahdits atau sima’ hadis dari Syaikh-nya dan Syaikh-nya itu menyebutkan tahdits atau sima’ hadis dari Syaikh-nya pula. Dalam riwayat di atas, Walid bin Muslim telah menyebutkan tahdits atau sima’ hadisnya dari syaikh [guru]-nya Sa’iid bin ‘Abdul Aziiz tetapi Sa’iid bin ‘Abdul Aziiz tidak menyebutkan tahdits atau sima’ hadisnya dari Rabii’ah bin Yazid ataupun Yunus bin Maisarah.

Riwayat Muhammad bin Sulaiman Al Harraniy

فَأَخْبَرَنَاهُ أَبُو الْقَاسِمِ زَاهِرٌ وَأَبُو بَكْرٍ وَجِيهٌ ابْنَا طَاهِرِ بْنِ مُحَمَّدٍ وَأَبُو الْفُتُوحِ عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ شَاهِ بْنِ أَحْمَدَ قَالُوا أَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ مُحَمَّدٍ الأَزْهَرِيُّ أَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ الْمَخْلَدِيُّ نَا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ الإِسْفَرَايِينِيُّ نَا مُحَمَّدُ بْنُ غَالِبٍ الأَنْطَاكِيُّ نَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ نَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عُمَيْرَةَ الْمُزَنِيِّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ مُعَاوِيَةَ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِهِ وَاهْدِ عَلَى يَدَيْهِ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Qaasim Zaahiir, Abu Bakar Wajiih keduanya anak Thaahir bin Muhammad, Abul Futuuh ‘Abdul Wahhaab bin Syaah bin Ahmad, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hasan bin Muhammad Al Azhariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad Al Makhladiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ‘Abdullah bin Muhammad bin Muslim Al Isfaraayiniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ghaalib Al Anthaakiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Abdul Aziiz dari Rabii’ah bin Yaziid dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Muzanniy dan ia termasuk sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa ia mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “Ya Allah jadikanlah Mu’awiyah pemberi petunjuk dan diberi petunjuk, berilah petunjuk kepadanya dan berilah petunjuk [bagi umat] melalui tangannya” [Tarikh Ibnu Asakir 59/83]

Riwayat ini tidak tsabit sanadnya sampai Sa’id bin ‘Abdul Aziiz karena Muhammad bin Ghaalib Al Anthaakiy tidak dikenal kredibilitasnya. Biografinya hanya disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan ia menyebutkan bahwa telah meriwayatkan darinya ‘Aliy bin Hamzah bin Shaalih [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 9/139 no 15636]. Selain itu Muhammad bin Sulaiman Al Harraniy diperselisihkan, Ibnu Hajar dalam At Taqrib menyatakan ia shaduq tetapi di dalam Tahrir At Taqrib disebutkan bahwa ia dhaif, Abu Hatim menyatakan ia “mungkar al hadits”. Daruquthni berkata dhaif. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Dawud Al Harraniy menyatakan ia tsiqat. [Tahrir At Taqrib no 5927]

Berdasarkan pembahasan di atas nampak bahwa ada lima perawi yang meriwayatkan dari Sa’id bin ‘Abdul Aziz yaitu Abu Mushir, Marwan bin Muhammad, Umar bin ‘Abdul Wahid, Walid bin Muslim dan Muhammad bin Sulaiman. Riwayat Walid bin Muslim dan Muhammad bin Sulaiman mengandung illat [cacat] seperti yang kami sebutkan sebelumnya.

Riwayat Abu Mushir dan Marwan bin Muhammad dari Sa’iid bin Abdul Aziiz hanya menyebutkan hadis tersebut secara ringkas, sedangkan asal riwayat tersebut adalah riwayat ‘Umar bin Abdul Wahiid yang menyebutkan kisahnya secara lengkap.

Riwayat Marwan bin Muhammad, telah meriwayatkan darinya tujuh orang perawi tsiqat dan shaduq.

  1. Muhammad bin ‘Auf, Ibrahiim bin Iisa, dan Iisa bin Hilaal As Salihiy meriwayatkan dari Marwan dengan menyebutkan lafaz ‘an anah Rabii’ah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah.
  2. Abul Azhaar, Salamah bin Syabiib dan Shafwan bin Shalih meriwayatkan dari Marwan dengan menyebutkan lafaz sima’ Rabii’ah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah
  3. Muhammad bin Mushaffa meriwayatkan dari Marwan dengan menyebutkan Rabii’ah meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah melalui perantara Abu Idriis.

Riwayat Abu Mushir, telah meriwayatkan darinya sepuluh perawi tsiqat dan shaduq kecuali Muhammad bin Mughiirah yang tidak dikenal kredibilitasnya

  1. Abu Zur’ah Ad Dimasyiq, Muhammad bin ‘Auf, Abbas At Tarqufiy, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Rizqullah, Muhammad bin Yahya, Bukhari, Ibnu Sa’ad dan Muhammad bin Mughiirah meriwayatkan dari Abu Mushiir dengan menyebutkan lafaz ‘an anah Rabii’ah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah.
  2. Muhammad bin Sahl bin Askar meriwayatkan dari Abu Mushir dengan menyebutkan lafaz sima’ Rabii’ah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah

Riwayat ‘Umar bin ‘Abdul Wahid, telah meriwayatkan darinya Mahmuud bin Khalid yang telah meriwayatkan darinya empat orang perawi tsiqat dan shaduq

  1. Ishaaq bin Ibrahiim Al Anmaathiy meriwayatkan dari Mahmuud bin Khaliid dari ‘Umar bin ‘Abdul Wahiid dengan menyebutkan lafaz ‘an anah Rabii’ah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah
  2. Yaquub bin Sufyaan dan Ahmad bin Al Mu’alla meriwayatkan dari Mahmuud bin Khaliid dari ‘Umar bin ‘Abdul Wahiid dengan menyebutkan bahwa Rabii’ah meriwayatkan secara mursal dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah
  3. Abdullah bin Sulaiman atau Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dari Mahmuud bin Khaliid dari ‘Umar bin ‘Abdul Wahiid dengan menyebutkan sanad Rabii’ah dari Abu Idriis dari Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah

Riwayat Waliid bin Muslim, telah meriwayatkan darinya enam perawi tsiqat

  1. Aliy bin Bahr dan Hisyam bin ‘Ammar meriwayatkan dari Walid bin Muslim dengan menyebutkan lafaz ‘an anah Rabii’ah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah
  2. Shafwaan bin Shaalih meriwayatkan dari Walid bin Muslim dengan menyebutkan lafaz sima’ Rabii’ah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah
  3. Mahmuud bin Khalid meriwayatkan dari Walid bin Muslim dengan menyebutkan sanad Rabii’ah dari Abu Idriis dari Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah
  4. Aliy bin Sahl Ar Ramliy dan Zaid bin Abi Zarqaa’ meriwayatkan dari Walid bin Muslim dengan menyebutkan sanad dari Sa’id dari Yunus bin Maisarah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah.

Kalau kita kelompokkan maka dapat dilihat bahwa terjadi idhthirab pada hadis di atas. Seperti yang kami katakan sebelumnya riwayat Umar bin ‘Abdul Wahiid adalah riwayat lengkap hadis di atas sedangkan riwayat Abu Mushir dan Marwan adalah ringkasan dari hadisnya. Oleh karena itu semua riwayat Sa’id yang memuat lafaz ‘an anah Rabii’ah dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah dapat dikembalikan pada riwayat Umar bin ‘Abdul Wahid yang mengandung kisah dimana ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah menyebutkan hadis tersebut di masa Utsman bin ‘Affan. Rabii’ah meriwayatkan secara mursal artinya ia tidak mendengar hadis tersebut dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah. Kemudian terjadi idhthirab

  1. Sa’iid menyebutkan bahwa Rabii’ah meriwayatkan dari Abu Idris dari Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah [yaitu riwayat Umar bin ‘Abdul Wahiid, Walid bin Muslim, dan Marwan bin Muhammad]
  2. Sa’iid menyebutkan bahwa Rabii’ah mendengar langsung dari Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah [yaitu riwayat Marwan bin Muhammad, riwayat Abu Mushir dan riwayat Walid bin Muslim]

Kedua jenis riwayat Sa’id ini sama kuat dan tidak bisa ditarjih maka ini membuktikan bahwa terjadi idhthirab dan perawi yang mengalami idhthirab tersebut tidak lain adalah Sa’id bin ‘Abdul Aziz. Sa’id bin ‘Abdul Aziz adalah seorang yang tsiqat tetapi telah ternukil bahwa ia mengalami ikhtilath atau berubah hafalannya di akhir umurnya. Abu Dawud berkata “berubah hafalannya sebelum wafat”[Su’alat Abu Dawud no 1620]. Abu Mushir mengatakan ia ikhtilath di akhir umurnya [Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy 2/367 no 5377]

Tidak diketahui siapa saja perawi yang meriwayatkan dari Sa’id bin Abdul Aziz setelah ia mengalami ikhtilath. Memang riwayat Abu Mushir dan Marwan dari Sa’id telah diambil Muslim dalam Shahih-nya tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja mereka meriwayatkan juga setelah ia mengalami ikhtilath. Illat [cacat] hadis di atas adalah idhthirab dan ini telah kami buktikan dalam pembahasan di atas dan yang mengalami idhthirab adalah Sa’id bin ‘Abdul Aziiz. Pernyataan bahwa Sa’id mengalami ikhtilath hanya sebagai qarinah yang menguatkan bahwa ia mengalami idhthirab dalam hadis di atas.

Sebagian orang berhujjah bahwa Sa’id dikatakan ikhtilath itu berasal dari perkataan muridnya yaitu Abu Mushir dan hadis ini adalah riwayat Abu Mushir maka tidak mungkin riwayat ini diambil setelah Sa’id mengalami ikhtilath. Pernyataan ini masuk akal tetapi tidak selalu benar karena faktanya dalam ilmu hadis terdapat perawi yang tetap meriwayatkan hadis dari gurunya walaupun ia tahu kalau gurunya mengalami ikhtilath.

وأخبرنا يزيد بن هارون قال سمعت من الجريري سنة اثنتين وأربعين ومائة وهي أول سنة دخلت البصرة ولم ننكر منه شيئا وقد كان قيل لنا إنه قد اختلط قال وسمع منه إسحاق الأزرق بعدنا

Dan telah mengabarkan kepada kami Yaziid bin Haruun yang berkata aku mendengar dari Al Jurairiy pada tahun 142 H dan itu tahun pertama aku memasuki Bashrah, kami tidak mengingkari sesuatu darinya dan sungguh dikatakan kepada kami bahwa ia mengalami ikhtilath. Yazid berkata dan telah mendengar darinya Ishaq Al Azraq setelah kami [Thabaqat Ibnu Sa’ad 7/261]

Dalam riwayat di atas terbukti bahwa Yaziid bin Haruun mengetahui Al Jurairiy mengalami ikhtilath dan ia tetap meriwayatkan hadis darinya. Salah satu hadis Yazid bin Harun dari Al Jurairiy dapat ditemukan dalam Shahih Muslim dan Sunan Ibnu Majah.

Ada qarinah lain yang menunjukkan bahwa Sa’id bin Abdul Aziiz mengalami ikhtilath dalam hadis keutamaan Mu’awiyah ini. Ia mengalami kekacauan dalam matan hadis tersebut, terkadang ia meriwayatkannya dengan matan berikut

حدثنا أبو زرعة وأحمد بن محمد بن يحيى الدمشقيان قالا ثنا أبو مسهر ثنا سعيد بن عبد العزيز عن ربيعة بن يزيد عن عبد الرحمن بن أبي عميرة المزني وكان من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم أن النبي صلى الله عليه و سلم قال لمعاوية اللهم علمه الكتاب والحساب وقه العذاب

Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah dan Ahmad bin Muhammad bin Yahya keduanya orang Dimasyiq, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mushir yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Abdul Aziiz dari Rabii’ah bin Yaziid dari ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Muzanniy dan ia termasuk sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata kepada Mu’awiyah “Ya Allah berikanlah padanya ilmu tentang alkitab dan ilmu hisab, dan lindungilah ia dari azab” [Musnad Asy Syammiyyiin 1/190 no 333]

Riwayat di atas juga disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 59/80 dan Tarikh Dimasyiq 35/230. Riwayat ini menunjukkan kekacauan matan hadis yang diriwayatkan Sa’id bin ‘Abdul Aziiz.

.

.

Hujjah para ulama menetapkan ‘Abdurrahman bin ‘Abi ‘Amiirah sebagai sahabat adalah dengan menggunakan hadis keutamaan Mu’awiyah ini yaitu lafal “sami’tu” Abdurrahman dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan lafaz perkataan Sa’id bin ‘Abdul Aziz yang mengatakan bahwa Abdurrahman adalah sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hujjah ini bisa dikatakan ma’lul karena Sa’id bin ‘Abdul Aziz terbukti mengalami idhthirab dalam hadis tersebut dan kuat dugaan bahwa ia mengalami ikhtilath dalam periwayatan hadis ini sehingga hujjah tersebut tidaklah kuat sebagai bukti persahabatan.

Ada contoh menarik mengenai fenomena ini, masih seputar hadis keutamaan Mu’awiyah. Terdapat hadis yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqat tentang keutamaan Mu’awiyah, nampaknya hadis tersebut shahih tetapi ternyata sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut bukanlah sahabat Nabi melainkan seorang yang majhul dan hadisnya mungkar.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ الْبَلْخِيُّ عَنْ لَيْثِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ يُونُسَ بْنِ سَيْفٍ عَنِ الْحَارِثِ بْنِ زِيَادٍ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا لِمُعَاوِيَةَ فَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ وَقِهِ الْعَذَابَ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid Al Balkhiiy dari Laits bin Sa’d dari Mu’awiyah bin Shalih dari Yunus bin Saif dari Al Haarits bin Ziyaad sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakan Mu’awiyah, beliau bersabda “ya Allah berikanlah padanya ilmu tentang alkitab dan ilmu hisab, dan lindungilah ia dari azab” [Juz Hasan bin ‘Urfah no 36]

Hadis di atas semua perawinya tsiqat kecuali Al Haarits bin Ziyaad. Dalam sanad di atas secara zhahir riwayat ia adalah sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi riwayat ini mengandung illat [cacat] karena Al Harits bin Ziyad bukanlah sahabat Nabi, ia seorang yang majhul. Ibnu Mahdiy meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Shalih dari Yunus bin Saif dari Al Haarits bin Ziyaad dari Abu Rahm dari ‘Irbadh bin Saariyah secara marfu’ [Fadha’il Ash Shahabah Ahmad bin Hanbal no 1748]. Ibnu Abdil Barr berkata “Al Haarits bin Ziyaad majhul tidak dikenal selain dari hadis ini” [Al Isti’ab 3/1420]. Jadi zhahir sanad di atas diantara para perawinya ada yang telah keliru dalam meriwayatkan hadis tersebut dan menambahkan lafaz Al Haarits bin Ziyaad sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] padahal sebenarnya ia seorang yang majhul.

‘Abdurrahman bin ‘Abi Amiirah kedudukannya sama seperti Al Haarits bin Ziyaad, ia sebenarnya bukan seorang sahabat dan Sa’id bin ‘Abdul Aziz keliru dalam periwayatan hadis keutamaan Mu’awiyah tersebut.

.

.

.

Hadis Kedua ‘Abdurrahman bin ‘Abi ‘Amiirah

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُصَفَّى نا سُوَيْدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ النَّجْرَانِيِّ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عَمِيرَةَ الْمُزَنِيِّ قَالَ خَمْسٌ حَفِظْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لا صَفَرَ وَلا هَامَةَ وَلا عَدْوَى وَلا يَتِمُّ شَهْرَانِ سِتِّينَ يَوْمًا وَمَنْ خَفَرَ ذِمَّةَ اللَّهِ تَعَالَى لَمْ يَرَحْ رِيحَ الْجَنَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mushaffaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Suwaid bin ‘Abdul Aziiz dari Abu ‘Abdullah An Najraaniy dari Al Qaasim bin ‘Abdurrahman dari ‘Abdurrahman bin ‘Abi ‘Amiirah Al Muzanniy yang berkata lima hal yang aku hafal dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau bersabda “tidak ada shaffar, tidak ada Haamam, tidak ada ‘Adwa, jangan sempurnakan dua bulan enam puluh hari dan barang siapa yang melanggar dzimmah [perlindungan] Allah ta’ala maka ia tidak akan mencium bau surga” [Al Ahad Al Matsaniy Ibnu Abi ‘Ashiim 2/359 no 1130]

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam Ma’rifat Ash Shahabah no 4635 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 35/231 dengan jalan sanad Suwa’id bin ‘Abdul Aziiz seperti di atas.

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menjadikan hadis ini sebagai bukti bahwa ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah adalah sahabat Nabi. Hal ini keliru, hadis di atas kedudukannya dhaif tidak layak sebagai hujjah. Suwaid bin ‘Abdul Aziiz termasuk perawi Tirmidzi dan Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal berkata tentangnya “matruk”. Ibnu Ma’in berkata “tidak tsiqat” terkadang berkata “tidak ada apa-apanya” terkadang berkata ‘dhaif”. Ibnu Sa’ad berkata “meriwayatkan hadis-hadis mungkar”. Bukhari berkata “di dalam hadisnya terdapat hal-hal mungkar”. Nasa’i berkata “tidak tsiqat” terkadang berkata “dhaif”. At Tirmidzi berkata “banyak melakukan kesalahan dalam hadis”. Al Khalaal berkata ‘dhaif al hadits” [At Tahdzib juz 4 no 484]./

.

.

.

Hadis Ketiga ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah

حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ قَالَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنِ ابْنِ أَبِي عَمِيرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ النَّاسِ نَفْسُ مُسْلِمٍ يَقْبِضُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تُحِبُّ أَنْ تَعُودَ إِلَيْكُمْ وَأَنَّ لَهَا الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا غَيْرُ الشَّهِيدِ و قَالَ ابْنُ أَبِي عَمِيرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أُقْتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَكُونَ لِي الْمَدَرُ وَالْوَبَرُ

Telah menceritakan kepada kami Haywah bin Syuraih yang berkata telah menceritakan kepada kami Baqiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Bahiir bin Sa’d dari Khalid bin Ma’dan dari Jubair bin Nufair dari Ibnu ‘Abi ‘Amiirah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “tidak seorang muslim pun yang diwafatkan oleh Allah SWT menginginkan untuk kembali kepada kalian walaupun diberikan padanya dunia dan seisinya kecuali orang yang mati syahid. Ibnu ‘Abi ‘Amiirah berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sungguh aku terbunuh di jalan Allah lebih aku sukai daripada aku diberi negri dan lembah ini” [Musnad Ahmad 4/216 no 17925]

Hadis riwayat Ahmad di atas juga disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyiq 35/230, An Nasa’i dalam Sunan-nya 6/33 no 3153, Ath Thabraniy dalam Musnad Asy Syamiyyin 2/179 no 1145 [lafaz hadis pertama] & 1146 [lafaz hadis kedua], Ibnu Abi Ashim dalam Al Jihaad no 214 [untuk lafaz hadis yang pertama] dan Al Jihaad no 188 [untuk lafaz hadis Ibnu Abi ‘Amiirah yang kedua], Ibnu Jauziy dalam Ats Tsabat Indal Mamaat hal 63-64, Ibnu Qaani’ dalam Mu’jam Ash Shahabat 3/23 no 968 [hanya lafaz hadis pertama], Al Bukhariy dalam Tarikh Al Kabir juz 1 no 5 [hanya lafaz hadis pertama]. Semuanya meriwayatkan dengan jalan sanad dari Baqiyyah dari Bahiir bin Sa’d dari Khalid bin Ma’dan dari Jubair bin Nufair dari Ibnu ‘Abi ‘Amiirah. Hadis ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan persahabatan Abdurrahman bin ‘Abi Amiirah karena alasan sebagai berikut

  1. Dalam hadis tersebut tidak ada lafaz bahwa Ibnu ‘Abi ‘Amiirah mendengar langsung dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].
  2. Kedudukan hadis tersebut dhaif karena Baqiyah bin Waliid walaupun dinyatakan tsiqat ia sering melakukan tadlis taswiyah [Al Mudallisin Al Iraaqiy hal 37 no 4] [At Tibyaan Asma Al Mudallisin Sibt Ibnu Ajamiy hal 16 no 5]. Abu Hatim pernah menyebutkan hadis yang menjadi bukti tadlis taswiyah dari Baqiyah bin Waliid [Al Ilal Ibnu Abi Hatim no 1957]. Baqiyah memang telah menyebutkan tahdiits nya dari Bahiir bin Sa’d tetapi dalam semua riwayat Bahiir bin Sa’d meriwayatkan dengan ‘an anah dari Khalid bin Ma’dan.
  3. Hadis tersebut sebenarnya bukan milik ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah melainkan milik Muhammad bin Abi ‘Amiirah. Semua riwayatnya [selain riwayat Ibnu Qaani’] disebutkan dengan lafaz “Ibnu Abi ‘Amiirah”. Ahmad bin Hanbal memasukkan hadis tersebut dalam hadis ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Azdiy hal ini keliru, ia telah diselisihi oleh Bukhari yang memasukkan hadis tersebut dalam biografi Muhammad bin Abi ‘Amiirah. Al Mizziy juga memasukkan hadis ini kedalam Musnad Muhammad bin Abi ‘Amiirah [Al Athraaf 8/36 no 496]. Ibnu Qaani’ memasukkan hadis ini kedalam biografi Muhammad bin Abi ‘Amiirah dan ia membawakan hadis yang menyebutkan dengan sharih bahwa Ibnu Abi ‘Amiirah yang dimaksud adalah Muhammad bukan ‘Abdurrahman.

.

.

.

Hadis Keempat ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah

Ibnu Sa’ad dalam kitabnya Ath Thabaqat Al Kubra menyebutkan biografi ‘Abdurrahman bin ‘Abi ‘Amiirah dan membawakan hadis Walid bin Muslim, dimana Walid bin Muslim berkata

قَالَ حَدَّثَنَا شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ دِمَشْقَ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مَيْسَرَةَ بْنِ جَلِيسٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي عَمِيرَة الْمُزَنِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلم يَقُولُ يَكُونُ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ بَيْعَةُ هُدًى

[Walid bin Muslim] berkata telah menceritakan kepada kami Syaikh dari penduduk Dimasyiq yang berkata telah menceritakan kepada kami Yuunus bin Maisarah bin Halbas yang berkata aku mendengar ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah Al Muzanniy mengatakan aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “akan terjadi baiat yang mendapat petunjuk di Baitul Maqdis” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 9/421 no 4575]

Hadis ini tidak bisa dijadikan hujjah, kedudukannya dhaif karena terdapat perawi mubham dalam sanadnya yaitu Syaikh penduduk Dimasyiq dimana Walid bin Muslim tidak menyebutkan siapa dirinya.

.

.

.

Kesimpulan

Dengan melihat hadis-hadis ‘Abdurrahman bin Abi ‘Amiirah maka tidak ada satupun yang tsabit sanadnya sebagai bukti persahabatannya dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Para ulama telah berselisih mengenai status persahabatannya. Disini kami lebih merajihkan pendapat yang menyatakan bahwa ia bukan sahabat Nabi. Karena ia tidaklah ma’ruf sebagai sahabat Nabi, tidak diketahui tahun lahir dan wafatnya, bahkan keberadaannya sebagai sahabat hanya dikenal melalui hadis-hadis yang ia riwayatkan dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan telah berlalu dalam pembahasan di atas bahwa hadis-hadis tersebut tidaklah tsabit. Sungguh benarlah Ibnu Abdil Barr dan selainnya yang menyatakan bahwa tidak tsabit hadisnya dan ia bukan sahabat Nabi.