Takhrij Atsar Aliy bin Abi Thalib : Rasulullah Tidak Pernah Berwasiat Tentang Kepemimpinan Kepada Dirinya

Sumber : Secondprince

Takhrij Atsar Aliy bin Abi Thalib : Rasulullah Tidak Pernah Berwasiat Tentang Kepemimpinan Kepada Dirinya

Kepemimpinan Imam Ali telah ditetapkan dalam hadis-hadis shahih, dibenarkan oleh mereka yang mengetahuinya dan diingkari oleh para pengingkar. Di antara pengingkaran mereka adalah mengait-ngaitkan “kepemimpinan Imam Ali” dengan ciri khas kaum Syiah. Sehingga siapapun yang menetapkan kepemimpinan Imam Ali maka ia adalah Syiah Rafidhah dan kafir. Sebagian pengingkar yang sok mengaku-ngaku ahlus sunnah, mengutip atsar dimana Imam Aliy mengakui bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewasiatkan kepemimpinan kepada dirinya. Atsar tersebut dhaif sebagaimana yang telah kami bahas sebelumnya. Tulisan kali ini hanya pembahasan ulang yang lebih rinci untuk membuktikan bahwa atsar Imam Aliy tersebut dhaif sekaligus bantahan terhadap orang yang menguatkan atsar ini .

.

.

.

Riwayat Abdullah bin Sabu’

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبُعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: لَتُخْضَبَنَّ هَذِهِ مِنْ هَذَا، فَمَا يَنْتَظِرُ بِي الْأَشْقَى؟ ! قَالُوا: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، فَأَخْبِرْنَا بِهِ نُبِيرُ عِتْرَتَهُ، قَالَ: إِذًا تَالَلَّهِ تَقْتُلُونَ بِي غَيْرَ قَاتِلِي، قَالُوا: فَاسْتَخْلِفْ عَلَيْنَا، قَالَ: لَا، وَلَكِنْ أَتْرُكُكُمْ إِلَى مَا تَرَكَكُمْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا: فَمَا تَقُولُ لِرَبِّكَ إِذَا أَتَيْتَهُ؟ وَقَالَ وَكِيعٌ مَرَّةً: إِذَا لَقِيتَهُ؟ قَالَ: أَقُولُ: ” اللَّهُمَّ تَرَكْتَنِي فِيهِمْ مَا بَدَا لَكَ، ثُمَّ قَبَضْتَنِي إِلَيْكَ وَأَنْتَ فِيهِمْ، فَإِنْ شِئْتَ أَصْلَحْتَهُمْ، وَإِنْ شِئْتَ أَفْسَدْتَهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata aku mendengar Aliy [radiallahu ‘anhu] mengatakan Sungguh akan diwarnai dari sini hingga sini, dan tidak menungguku selain kesengsaraan.” Para shahabat bertanya “Wahai Amirul-Mukminiin beritahukan kepada kami orang itu, agar kami bunuh keluarganya”. Ali berkata “Kalau begitu demi Allah, kalian akan membunuh orang selain pembunuhku.” Mereka berkata “Angkatlah khalifah pengganti untuk memimpin kami”. ‘Aliy menjawab “Tidak, tapi aku tinggalkan kepada kalian apa yang telah Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wasallam] tinggalkan untuk kalian”. Mereka bertanya “Apa yang akan kamu katakan kepada Rabbmu jika kamu menghadap-Nya?”. Dalam kesempatan lain Wakii’ berkata “Jika kamu bertemu dengan-Nya?” ‘Aliy berkata “Aku akan berkata Ya Allah, Engkau tinggalkan aku bersama mereka sebagaimana tampak bagi-Mu, kemudian Engkau cabut nyawaku dan Engkau bersama mereka. Jika Engkau berkehendak, perbaikilah mereka dan jika Engkau berkehendak maka hancurkanlah mereka [Musnad Ahmad 1/30]

Hadis dengan jalan ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 3/20, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 14/596 & 15/118, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no 341, Al Khallaal dalam As Sunnah no 332, Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy dalam Al Mukhtarah no 594 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 42/538. Semuanya dengan jalan sanad dari Waki’ dari Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’

.

.

Waki’ mempunyai mutaba’ah dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy sebagaimana disebutkan Al Laalikaa’iy dalam Syarh Ushul Al I’tiqaad 1/664-665 no 1209 dan Ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyq 42/538-539 dengan jalan Ishaaq bin Ibrahim dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’. Ishaq bin Ibrahim berkata

سَمِعْتُ أَبَا بَكْرِ بْنَ عَيَّاشٍ، يَقُولُ: عِنْدِي فِي هَذَا الْحَدِيثِ إِسْنَادٌ جَيِّدٌ أَخْبَرَنِي الأَعْمَشُ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبْعٍ، أَنَّ عَلِيًّا خَطَبَهُمْ بِهَذِهِ الْخُطْبَةِ

Aku mendengar Abu Bakar bin ‘Ayyasy mengatakan “disisiku hadis ini sanadnya jayyid, telah mengabarkan kepadaku Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ bahwa Aliy berkhutbah kepada mereka dengan khutbah ini

Orang itu setelah membawakan hadis ini berkata bahwa tashih Abu Bakar bin ‘Ayyasy terhadap sanad ini menunjukkan tautsiq terhadap para perawinya termasuk Abdullah bin Sabu’. Sehingga menurutnya terangkatlah jahatul ‘ainnya Abdullah bin Sabu’. Hujjah ini tertolak dengan alasan tashih tersebut tidaklah benar.

Abu Bakar bin ‘Ayyasy adalah perawi yang diperbincangkan keadaannya sebagian menta’dilkannya dan sebagian menjarh-nya karena terdapat kelemahan pada hafalannya bahkan Muhammad bin Abdullah bin Numair mendhaifkan hadisnya dari Al A’masy dan selainnya. Abu Bakar buruk hafalannya ketika beranjak tua. Ibnu Hajar berkata “tsiqah, ahli ibadah, buruk hafalannya di usia tua, dan riwayat dari kitabnya shahih” [At Taqrib 2/366].

Ishaq bin Ibrahim yang meriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy wafat pada tahun 257 H sedangkan Abu Bakar bin ‘Ayyasy wafat tahun 194 H. Jadi ada selang waktu sekitar 63 tahun, tidak diketahui apakah Ishaq bin Ibrahim meriwayatkan dari Abu Bakar sebelum atau setelah hafalannya berubah, berdasarkan tahun wafat mereka berdua besar kemungkinan ia mendengar hadis ini dari Abu Bakar setelah ia beranjak tua dan hafalannya berubah. Bagaimana mungkin tashih dari perawi seperti ini dijadikan hujjah?. Selain itu yang menguatkan bahwa tashih Abu Bakar bin ‘Ayyasy ini berasal dari hafalannya yang buruk adalah tadlis Al A’masy merupakan perkara ma’ruf di sisi Abu Bakar maka bagaimana mungkin ia mengatakan hadis tersebut sanadnya jayyid padahal di dalamnya ada ‘an anah dari Al A’masy

وقال عبد الله بن أحمد عن أبيه في أحاديث الأعمش عن مجاهد قال أبو بكر بن عياش عنه حدثنيه ليث عن مجاهد

Abdullah bin Ahmad berkata dari ayahnya tentang hadis-hadis Al A’masy dari Mujahid, Abu Bakar bin Ayyasy yang meriwayatkan darinya [A’masy] berkata “telah menceritakan kepadanya dari Laits dari Mujahid” [At Tahdzib juz 4 no 386]

Apalagi hadis ini juga diriwayatkan oleh Aswad bin ‘Amir dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy dengan sanad yang berbeda yaitu dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ dan tanpa penyebutan tashih sanad yaitu sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 1/156 dan Fadha’il Ash Shahabah no 1211

نا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ هُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ  عَبْدِ  اللَّهِ  بْنِ  سَبُعٍ ، قَالَ: خَطَبَنَا عَلِيٌّ

Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar dan ia adalah Ibnu ‘Ayyasy dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari ‘Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Ali berkhutbah kepada kami”

Aswad bin ‘Aamir wafat tahun 208 H yang berdekatan dengan wafatnya Abu Bakar bin ‘Ayyasy tahun 194 H. Walaupun tidak diketahui apakah Aswad bin ‘Aamir meriwayatkan sebelum atau sesudah Abu Bakar berubah hafalannya tetapi dilihat dari tahun wafat mereka maka Aswad bin ‘Aamir memiliki kemungkinan yang lebih besar meriwayatkan dari Abu Bakar sebelum hafalannya buruk. Maka riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy yang lebih rajih adalah riwayat ‘Aswad bin ‘Aamir darinya yaitu riwayat  Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’

.

.

Khutbah Imam Ali riwayat Abdullah bin Sabu’ ini juga diriwayatkan oleh Jarir bin ‘Abdul Hamiid dari Al A’masy yaitu sebagaimana disebutkan Abu Ya’la

حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبُعٍ، قَالَ: خَطَبَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ

Telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jariir dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Saalim bin Abil Ja’d dari ‘Abdullah bin Sabu’ yang berkata Aliy bin Abi Thalib berkhutbah kepada kami [Musnad Abu Ya’la no 590]

Riwayat Jarir ini juga disebutkan Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy dalam Al Mukhtarah no 595, Al Muhaamiliy dalam Al Amaaliy no 198 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 42/540. Jarir memiliki mutaba’ah dari Abdullah bin Dawuud Al Khuraibiy sebagai mana disebutkan Ajjuriy dalam Asy Syari’ah

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْوَاسِطِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، قَالَ: سَمِعْتُ الأَعْمَشَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبْعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Hamiid Al Waasithiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Akhzam yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Dawud yang berkata aku mendengar Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari ‘Abdullah bin Sabu’ yang berkata aku mendengar Ali [radiallahu ‘anhu] di atas mimbar [Asy Syari’ah 3/267-268]

Riwayat Abdullah bin Dawud juga disebutkan Al Muhaamiliy dalam Al Amaaliy no 150 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 42/541

Kalau kita melihat dengan baik maka riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawud dari Al A’masy tidaklah sama dengan riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Al A’masy. Keduanya [Jarir dan 'Abdullah bin Dawud] menyebutkan dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ sedangkan Abu Bakar menyebutkan dari Al A’masy dari Salamah dari Abdullah bin Sabu’ tanpa menyebutkan Salim bin Abil Ja’d. Maka sungguh yang mengatakan bahwa riwayat tersebut sama adalah orang yang dibutakan matanya setelah dibutakan hatinya. Bagaimana tidak dikatakan buta, jika ia sendiri telah menuliskan riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawud tersebut!.

Yahya bin Yaman meriwayatkan dari Ats Tsawriy dari Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d tanpa menyebutkan ‘Abdullah bin Sabu’

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، نا يَحْيَى بْنُ يَمَانٍ، عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، قَالَ: قِيلَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yamaan dari Sufyaan Ats Tsawriy dari Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d yang berkata dikatakan kepada Ali [radiallahu ‘anhu] [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1249 & 1317]

Setelah mengutip riwayat ini orang itu berkata “sanad riwayat ini lemah”. Kami katakan Yahya bin Yamaan ini kedudukannya tidak jauh berbeda dengan Abu Bakar bin ‘Ayyasy, Ibnu Hajar berkata tentang Yahya bin Yaman Al Ijliy shaduq ahli ibadah, banyak melakukan kesalahan, hafalannya berubah ketika beranjak tua [At Taqrib 2/319]. Lantas mengapa sebelumnya ia berhujjah dengan Abu Bakar bin ‘Ayyasy dan melemahkan Yahya bin Yamaan. Tidak lain itu karena akal-akalan nafsunya, dengan melemahkan riwayat Yahya bin Yamaan maka berkuranglah riwayat Al A’masy yang idhthirab.

Dan selanjutnya ia akan lebih gampangan mencari qarinah tarjih atas riwayat idhthirab Al A’masy. Orang itu membawakan riwayat tanpa jalur Al A’masy sebagai qarinah tarjih untuk membatalkan hujjah idhthirab Al A’masy dan menguatkan salah satu jalur yang ia inginkan. Berikut riwayat yang ia katakan sebagai qarinah tarjih

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ حَكِيمٍ، قال: ثنا أَبِي، قال: ثنا بَكْرُ بْنُ بَكَّارٍ، قال: ثنا حَمْزَةُ الزَّيَّاتُ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَلِيٌّ،

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Muhammad bin Ibrahiim bin Hakiim yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Bakr bin Bakkaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Hamzah Az Zayyaat dari Hakiim bin Jubair dari Salim bin Abil Ja’d dari Aliy  [Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/29]

Riwayat ini lemah karena Bakr bin Bakkaar dan Hakim bin Jubair telah didhaifkan oleh sebagian ulama. Mengenai Bakr bin Bakkaar, Abu Ashim An Nabiil menyatakan ia tsiqat. Ibnu Abi Hatim berkata “dhaif al hadits, buruk hafalannya dan mengalami ikhtilath”. Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”. Nasa’i terkadang berkata “tidak kuat” dan terkadang berkata “tidak tsiqat”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Al Uqailiy, Ibnu Jaruud dan As Saajiy memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [At Tahdzib juz 1 no 882]. Mengenai Hakim bin Jubair, Ahmad berkata “dhaif al hadits mudhtharib”, Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”, Yaqub bin Syaibah berkata “dhaif al hadits”. Abu Zur’ah berkata “shaduq insya Allah”. Abu Hatim berkata “dhaif al hadits mungkar al hadits”. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Daruquthni berkata “matruk”. Abu Dawud berkata “tidak ada apa-apanya” [At Tahdzib juz 2 no 773]

Aneh bagaimana mungkin riwayat yang kedudukannya dhaif seperti ini dijadikan qarinah tarjih. Sungguh kami dibuat terheran-heran dengan caranyaberhujjah. Hal ini membuktikan bahwa ilmu hadis itu memang unik bisa diutak atik seenaknya demi kepentingan hawa nafsunya. Seandainya pun riwayat ini dijadikan tarjih riwayat A’masy maka itu menguatkan riwayat Yahya bin Yaman dari Ats Tsawriy dari A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Aliy tanpa menyebutkan Abdullah bin Sabu‘.

Kemudian orang itu mengutip pernyataan Ibnu Asakir bahwa Salim tidak mendengar dari Aliy dan ia hanyalah meriwayatkannya melalui perantara Abdullah bin Sabu’. Tentu saja pernyataan Ibnu Asakir adalah berlandaskan pada  riwayat-riwayat lain sedangkan zhahir riwayat Bakr bin Bakaar di atas adalah tanpa menyebutkan Abdullah bin Sabu’. Jika riwayat Bakr mau dijadikan qarinah tarjih idhthirab A’masy maka berhujjahlah dengan zhahir riwayat Bakr bukan dengan andai-andai riwayat lain. Hal ini menunjukkan bahwa cara berhujjah orang itu benar-benar sembarangan dan seenaknya saja.

Ada satu lagi riwayat Aban bin Taghlib dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ yang dikutipnya yaitu riwayat dalam Tarikh Ibnu Asakir 42/541, yaitu dengan sanad sebagai berikut

أَنْبَأناهُ أَبُو بَكْرٍ الشِّيرُوِيُّ، وَحَدَّثَنَا أَبُو الْمَحَاسِنِ عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْهُ.ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ الْوَاسِطِيُّ، أنا أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ، قَالا: أنا الْقَاضِي أَبُو بَكْرٍ الْحِيرِيُّ، نا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الأَصَمُّ، نا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبِيبَةَ الْقُرَشِيُّ، نا يَحْيَى بْنُ الْحَسَنِ بْنِ الْفُرَاتِ الْعِرَارُ، نا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ، عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبْعٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ

Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Asy Syiiruwiy dan telah menceritakan kepada kami Abu Mahaasin Abdurrazaq bin Muhammad darinya. Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Qaasim Al Waasithiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Khatib. Keduanya berkata telah mengabarkan kepada kami Al Qaadhiy Abu Bakar Al Hirriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Abbaas Muhammad bin Ya’qub Al Ashaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Aliy bin Muhammad bin Habiibah Al Qurasyiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hasan bin Furaat Al ‘Iraar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Umar dari Abaan bin Taghlib dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata Aliy bin Abi Thalib berkata [Tarikh Ibnu Asakir 42/541].

Riwayat ini dhaif sanadnya sampai Aban bin Taghlib karena diriwayatkan oleh para perawi majhul sehingga juga tidak bisa dijadikan qarinah tarjih.

  1. Abu Hasan Aliy bin Muhammad bin Habiibah Al Qurasyiy disebutkan Ibnu Makula biografinya dalam Al Ikmal tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil [Al Ikmal Ibnu Makula 3/120]
  2. Yahya bin Hasan bin Furaat Al ‘Iraar tidak ditemukan biografinya maka ia majhul tidak dikenal kredibilitasnya
  3. Muhammad bin Umar, tidak jelas siapa dirinya tetapi kemungkinan ia adalah Muhammad bin Abi Hafsh Al Athaar sebagaimana disebutkan Al Khatib bahwa ia meriwayatkn dari Aban bin Taghlib dan telah meriwayatkan darinya Yahya bin Hasan bin Furaat [Taliy Talkhiis Al Mutasyaabih 2/534]. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ia adalah Muhammad bin Umar Al Anshariy dan mengutip jarh Al Azdiy yang berkata “dibicarakan tentangnya” [Lisan Al Mizan juz 5 no 489].

Seandainya pun riwayat ini dijadikan qarinah tarjih sanad A’masy maka riwayat ini menguatkan riwayat Abu Bakar bin A’yasy dimana A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’. Maka tetap saja dua riwayat yang dijadikan qarinah tarjih oleh orang itu malah semakin menguatkan adanya idhthirab pada sanad A’masy. Kedudukan sebenarnya adalah tidak ada qarinah tarjih yang menguatkan salah satu sanad dalam idhthirab Al Amasy di atas.

  1. Al A’masy meriwayatkan dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’  dari Aliy [riwayat Waki’]
  2. Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy [riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy]
  3.  Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy [riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawuud]
  4. Al A’masy meriwayatkan dari Salim bin Abil Ja’d dari Aliy tanpa menyebutkan Abdullah bin Sabu’ [riwayat Yahya bin Yamaan dari Ats Tsawriy]

Tidak diragukan lagi kalau hadis ini mudhtharib dan sumbernya adalah Al A’masy dan dalam semua riwayatnya ia meriwayatkan dengan ‘an anah. Abdullah bin Sabu’ hanya dikenal melalui satu hadis ini saja dan ternyata sanadnya mudhtharib maka ia seorang yang statusnya majhul ‘ain dan hadisnya mudhtharib. Kedudukan riwayat Abdullah bin Sabu’ ini sudah jelas dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Kemudian orang itu mengutip riwayat Tsa’labah bin Yazid Al Himmany yang ia katakan sebagai syahid perkataan Abdullah bin Sabu’. Riwayat ini disebutkan dalam Musnad Al Bazzar no 871, Kasyf Al Astaar no 2572, Ad Dalaa’il Baihaqiy 6/439, dan Tarikh Ibnu Asakir 42/542 semuanya dengan jalan sanad dari Al A’masy dari Habib bin Abi Tsabit dari Tsa’labah bin Yaziid. Berikut riwayat Al Bazzar

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْجُنَيْدِ، قَالا: ثنا أَبُو الْجَوَابِ، قَالَ: ثنا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ ثَعْلَبَةَ بْنِ يَزِيدَ الْحِمَّانِيِّ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: ” وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، لَتُخْضَبَنَّ هَذِهِ مِنْ هَذِهِ لِلِحْيَتِهِ مِنْ رَأْسِهِ فَمَا يُحْبَسُ أَشْقَاهَا، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُبَيْعٍ: وَاللَّهِ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، لَوْ أَنَّ رَجُلا فَعَلَ ذَلِكَ أَبَرْنَا عِتْرَتَهُ، قَالَ: قَالَ: أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ، أَنْ تَقْتُلَ بِي غَيْرَ قَاتِلِي، قَالُوا: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَلا تَسْتَخْلِفُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: لا، وَلَكِنِّي أَتْرُكُكُمْ كَمَا تَرَكَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَمَاذَا تَقُولُ لِرَبِّكَ إِذَا أَتَيْتَهُ وَقَدْ تَرَكْتَنَا هَمَلا، قَالَ: أَقُولُ لَهُمُ اسْتَخْلَفْتَنِي فِيهِمْ مَا بَدَا لَكَ ثُمَّ قَبَضْتَنِي وَتَرَكْتُكَ فِيهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Ibrahiim bin Sa’iid Al Jawhariy dan Muhammad bin Ahmad bin Al Junaid yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abul Jawaab yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ammaar bin Ruzaiq dari Al A’masy dari Habib bin Abi Tsabit dari Tsa’labah bin Yazid Al Himmaniy yang berkata Aliy berkata “Demi Dzat yang menumbuhkan biji-bijian dan menciptakan semua jiwa. Sungguh akan diwarnai darah dari sini hingga sini, yaitu dari kepala hingga jenggot. dan tidak menungguku selain kesengsaraan”. ‘Abdullah bin Subai’ berkata “Demi Allah wahai Amiirul-mukminiin, seandainya ada seorang laki-laki yang melakukan hal itu, sungguh akan kami  binasakan keluarganya”. Aliy berkata “Aku bersumpah kepada Allah bahwasannya engkau membunuh orang yang tidak membunuhku”. Mereka berkata “Wahai Amiirul-mukminiin, tidakkah engkau mengangkat khalifah pengganti untuk kami?”. ‘Aliy menjawab “Tidak. Akan tetapi aku akan meninggalkan kalian sebagaimana Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] telah meninggalkan kalian”. ‘Abdullah bin Subai’ berkata “Lalu, apakah yang akan engkau katakan kepada Rabbmu apabila engkau menemui-Nya dimana engkau meninggalkan kami mengurus keadaan kami sendiri?”. Aliy menjawab “Aku berkata Engkau telah mengangkat aku sebagai khalifah di tengah-tengah mereka sesuai kehendak-Mu, kemudian engkau mematikanku dan aku tinggalkan Engkau di tengah-tengah mereka [Musnad Al Bazzaar no 871]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena ‘an anah Al A’masy dan Habib bin Abi Tsabit, keduanya dikenal sebagai mudallis. Ad Daruquthni memasukkan riwayat ini sebagai bagian dari idhthirab Al A’masy dan mengatakan tidak dhabit sanadnya [Al Ilal no 396]. Disebutkan oleh Adz Dzahabiy dalam Tarikh Al Islam 3/647 dan Ibnu Abdil Barr dalam Al Isti’ab 3/1125 yang mengutip riwayat Tsa’labah bin Yazid yaitu sampai lafaz “tidak ada yang menungguku selain kesengsaraan” tanpa menyebutkan lafaz Abdullah bin Sabu’ berkata. Disini terdapat qarinah yang menunjukkan illat [cacat] bahwa Al A’masy menampuradukkan antara hadis Tsa’labah bin Yazid dan hadis Abdullah bin Sabu’. Maka riwayat Tsa’labah bin Yazid tidak bisa dijadikan syahid riwayat Abdullah bin Sabu’ karena keduanya berasal dari idhthirab Al A’masy.

.

.

.

Riwayat Syu’aib bin Maimun

Riwayat ini disebutkan dalam Musnad Al Bazzar no 565, Mustadrak Al Hakim 3/79, As Sunnah Ibnu Abi ‘Ashim no 1158 & 1221, Sunan Baihaqy 8/149, Ad Dalaa’il Baihaqiy 7/223, Al I’tiqaad Baihaqiy 502, Amaliy Ibnu Bakhtariy no 42 dan Tarikh Ibnu Asakir 42/536-537 dengan sanad dari Syabaabah bin Sawwar dari Syu’aib bin Maimun dari Hushain bin ‘Abdurrahman dari Syaqiiq Abu Waiil dari Aliy [radiallahu ‘anhu]. Berikut riwayat Al Bazzar

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي الْحَارِثِ، قَالَ: نا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ، قَالَ: نا شُعَيْبُ بْنُ مَيْمُونٍ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ شَقِيقٍ، قَالَ: قِيلَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَلا تَسْتَخْلِفُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: ” مَا اسْتَخْلَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْتَخْلِفَ عَلَيْكُمْ، وَإِنْ يُرِدِ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِالنَّاسِ خَيْرًا، فَسَيَجْمَعُهُمْ عَلَى خَيْرِهِمْ كَمَا جَمَعَهُمْ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خَيْرِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Ismaiil bin Abil Haarits yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabaabah bin Sawwaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Maimun dari Hushain bin ‘Abdurrahman dari Asy Sya’biy dari Syaqiiq yang berkata Dikatakan kepada Aliy “Tidakkah engkau mengangkat pengganti?”. Ia menjawab “Rasululah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] tidak mengangkat pengganti maka haruskah aku mengangkat pengganti. Seandainya Allah tabaaraka wa ta’ala menginginkan kebaikan kepada manusia, maka Ia akan menghimpun mereka di atas orang yang paling baik di antara mereka sebagaimana Ia telah menghimpun mereka sepeninggal Nabi mereka di atas orang yang paling baik di antara mereka [Musnad Al Bazzaar no 565].

Riwayat ini dhaif karena Syu’aib bin Maimun. Abu Hatim dan Al Ijliy berkata “majhul”. Bukhari berkata “fiihi nazhar”. Ibnu Hibban menyatakan ia meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi masyhur tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri. [At Tahdzib juz 4 no 68]. Ibnu Hajar berkata “dhaif ahli ibadah” [At Taqrib 1/420]. Daruquthni berkata “tidak kuat” [Al Ilal no 493]. Al Uqailiy memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa 2/182-183 no 703]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 74]

Selain itu riwayat Syu’aib bin Maimun ini lemah karena idhthirab. Amru bin ‘Aun meriwayatkan hadis ini dari Syu’aib bin Maimun dari Abu Janaab Al Kalbiy dari Abu Wail dari Aliy sebagaimana disebutkan Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa 2/182-183 no 703. Abu Janaab seorang yang diperbincangkan termasuk mudallis thabaqat ketiga dan membawakan riwayat ini dengan ‘an anah.

Ibnu Hajar mengutip perkataan Muhammad bin Abaan Al Washithiy bahwa hadis Syu’aib ini termasuk hadis mungkarnya karena ma’ruf bahwa hadis ini diriwayatkan Hasan bin Umarah dari Washil bin Hayyaan dari Syaqiiq [At Tahdzib juz 4 no 608]. Kemudian orang itu berusaha membuat syubhat dengan mengutip pernyataan Al Bazzar “kami tidak mengetahui hadis tersebut diriwayatkan dari Syaqiiq dari Aliy kecuali dengan sanad ini” [Kasyf Al Astaar no 2484]. Artinya menurut Al Bazzar riwayat Syaqiiq dari Aliy hanya berasal dari jalur Syu’aib bin Maimun bukan dari jalur lain.

Perkataan ini tidak ada artinya karena yang mengetahui menjadi hujjah bagi yang tidak mengetahui. Muhammad bin Aban Al Wasithiy jelas lebih mengetahui dibanding Al Bazzar karena ia meriwayatkan langsung dari Syu’aib bin Maimun dan sezaman dengan Hasan bin Umarah. Apalagi riwayat Hasan bin Umaarah ini telah disebutkan Daruquthni dalam kitabnya Al Ilal [Al Ilal no 493]. Diantara riwayat Hasan bin Umarah telah diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Fadha’il Ash Shahabah no 622

حدثنا الحسين نا عقبة بن مكرم الضبي قثنا يونس بن بكير عن الحسن بن عمارة عن الحكم وواصل عن شقيق بن سلمة قال قيل لعلي الا توصي قال ما أوصى رسول الله صلى الله عليه وسلم فاوصى ولكن ان يرد الله بالناس خيرا فسيجمعهم على خيرهم كما جمعهم بعد نبيهم على خيرهم

Telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Makram Adh Dhabbiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair dari Hasan bin Umarah dari Al Hakam dan Washil dari Syaqiiq bin Salamah yang berkata dikatakan kepada Aliy “tidak engkau berwasiat?”. Aliy berkata “Rasulullah tidak berwasiat maka mengapa aku berwasiat?” tetapi jika Allah menghendaki kebaikan bagi manusia maka ia akan menghimpun mereka di atas orang yang paling baik diantara mereka sebagaimana Allah menghimpun atas mereka sepeninggal Nabi mereka di atas orang yang paling baik diantara mereka [Fadha’il Ash Shahabah Ahmad bin Hanbal no 622]

Yunus bin Bukair dalam periwayatannya dari Hasan bin Umarah memiliki mutaba’ah dari Ja’far bin ‘Aun sebagaimana yang disebutkan Abu Thalib Al Harbiy dalam Fadha’il Abu Bakar no 19. Hasan bin Umaarah adalah seorang yang disepakati dhaif matruk bahkan ia dinyatakan pendusta dan meriwayatkan hadis maudhu’. Maka benarlah apa yang dinukil Ibnu Hajar bahwa hadis Syu’aib bin Maimun ini termasuk diantara hadis-hadis mungkarnya

.

.

.

Riwayat ‘Amru bin Sufyan

Riwayat ‘Amru bin Sufyan ini memiliki banyak jalur periwayatan yang jika dikumpulkan akan nampak idhthirab pada sanad-sanadnya. Orang itu berusaha menguatkan hadis ini dengan menafikan idhthirab pada sanad-sanad riwayat ‘Amru bin Sufyan. Iaberusaha menerapkan metode tarjih untuk menguatkan hujjahnya tapi sayang sekali terlihat jelas bahwa apa yang ia lakukan hanya akal-akalan basi demi membela hadis yang sesuai dengan hawa nafsunya.

Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/114, Fadha’il Ash Shahabah Ahmad bin Hanbal no 477, As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1333, Al Ilal Daruquthni no 442 dengan jalan sanad dari ‘Abdurrazaaq dari Sufyan dari Aswad bin Qais dari seorang laki-laki dari Aliy. Berikut riwayat Ahmad dalam Musnad-nya

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ يَوْمَ الْجَمَلِ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم لَمْ يَعْهَدْ إِلَيْنَا عَهْدًا نَأْخُذُ بِهِ فِي إِمَارَةِ، وَلَكِنَّهُ شَيْءٌ رَأَيْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنْفُسِنَا، ثُمَّ اسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ، رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى أَبِي بَكْرٍ، فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ، ثُمَّ اسْتُخْلِفَ عُمَرُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى عُمَرَ، فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ، حَتَّى ضَرَبَ الدِّينُ بِجِرَانِهِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq yang memberitakan kepada kami Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari seorang laki-laki dari Aliy [radiallahu ‘anhu] bahwa ia berkata pada saat perang Jamal “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] tidak pernah berwasiat kepada kami satu wasiatpun yang mesti kami ambil dalam masalah kepemimpinan. Akan tetapi hal itu adalah sesuatu yang kami pandang menurut pendapat kami, kemudian diangkatlah Abu Bakar menjadi Khalifah, semoga Allah mencurahkan rahmatnya kepada Abu Bakar. Ia menjalankan dan istiqamah di dalam menjalankannya, kemudian diangkatlah Umar menjadi Khalifah semoga Allah mencurahkan rahmatnya kepada Umar maka dia menjalankan dan istiqamah di dalam menjalankannya sampai agama ini berdiri kokoh karenanya [Musnad Ahmad 1/114]

Abdurrazzaq dalam periwayatannya dari Sufyan memiliki mutaba’ah yaitu Zaid bin Hubaab sebagaimana yang disebutkan dalam As Sunnah Abdullah bin Ahmad bin Hanbal no 1327 dan Abul Yahya Al Himmaniy sebagaimana disebutkan dalam Al Ilal Daruquthniy no 442. Riwayat ini sanadnya shahih sampai Aswad bin Qais. Tidak diketahui laki-laki yang meriwayatkan dari Aliy maka hadis tersebut kedudukannya dhaif.

Kemudian diriwayatkan dalam As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1334, Al Ilal Daruquthniy no 442, Ad Dalaa’il Baihaqiy 6/439, Al I’tiqaad Baihaqiy hal 502-503 dan Tarikh Al Khatib 4/276-277 dengan jalan sanad dari Sufyan dari Aswad bin Qais dari ‘Amru bin Sufyan dari Aliy. Berikut sanadnya dalam riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal

حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، نا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ، عَنْ عِصَامِ بْنِ النُّعْمَانِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ، قَالَ: ” خَطَبَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَوْمَ الْجَمَلِ

Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Al Hafariy dari ‘Ishaam bin Nu’maan dari Sufyaan dari Al Aswad bin Qais dari ‘Amru bin Sufyan yang berkata “Ali berkhutbah pada saat perang Jamal [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1334]

Dalam riwayat Baihaqiy yaitu dalam Ad Dalaa’il dan Al I’tiqaad disebutkan bahwa Syu’aib bin Ayuub meriwayatkan dari Abu Dawud Al Hafariy dari Sufyan tanpa menyebutkan ‘Ishaam bin Nu’man. Hal ini keliru, karena dalam riwayat Daruquthni disebutkan dari Syu’aib bin Ayuub dari Abu Dawud Al Hafariy dari ‘Ishaam bin Nu’maan dari Sufyan. Kemudian dalam riwayat Al Khatib disebutkan dari Al Hafariy dari ‘Aashim bin Nu’maan dari Sufyan.

Riwayat ini sanadnya dhaif atau tidak tsabit sampai Aswad bin Qais karena ‘Ishaam bin Nu’man atau ‘Aashim bin Nu’man adalah seorang yang majhul tidak diketahui kredibilitasnya bahkan namanya pun tidak jelas apakah ‘Ishaam ataukah ‘Aashim dan yang meriwayatkan darinya hanya satu orang yaitu Abu Dawud Al Hafariy.

‘Ishaam bin Nu’maan dalam periwayatannya dari Sufyaan memiliki mutaba’ah yaitu dari Husain bin Walid sebagaimana disebutkan dalam Amaliy Al Jurjaniy no 13 yaitu dengan jalan sanad berikut

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ الْحَسَنِ، ثَنا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ السُّلَمِيُّ، ثنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْوَلِيدِ، ثنا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ الْعَبْدِيِّ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ الثَّقَفِيِّ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Husain bin Al Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid As Sulamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsawriy dari Aswad bin Qais Al ‘Abdiy dari ‘Amru bin Sufyan Ats Tsaqafiy [Amaliy Al Jurjaniy no 13]

Sanad ini dhaif jiddan atau tidak tsabit sanadnya sampai Aswad bin Qais karena Muhammad bin Yazid As Sulamiy, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 9 no 15677]. Daruquthni berkata “dhaif” [Ma’usuah Qaul Daruquthni no 3424]. Daruquthni juga berkata “ia memalsukan hadis dari para perawi tsiqat” [Ta’liqat Daruquthni ‘Ala Al Majruuhiin Ibnu Hibban 1/277]. Al Khatib berkata “matruk al hadits” [Tarikh Baghdad 2/289].

Kemudian disebutkan dalam As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1336, Al Ilal Daruquthni no 442, Al I’tiqaad Baihaqiy hal 503-504, Adh Dhu’afa Al Uqailiy 1/165, Al Mukhtaran Al Maqdisiy no 470 & 471, dengan jalan sanad dari Abu Ashim An Nabiil dari Aswad bin Qais dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dari Ayahnya dari Aliy. Berikut sanadnya dalam riwayat Abdullah bin Ahmad

حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ ثِقَةٌ، وَأَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Yahya Muhammad bin ‘Abdurrahiim tsiqat menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim dari Sufyaan dari Al Aswad bin Qais dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dari ayahnya [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1336]

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Al Aswad bin Qais dan Abu Ashim An Nabiil adalah Dhahhak bin Makhlaad Asy Syaibaniy termasuk perawi Bukhari Muslim yang dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Al Ijliy dan Ibnu Sa’ad. Umar bin Syabbah berkata “demi Allah aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya”. Al Khaliliy berkata disepakati atasnya zuhud, alim, agamanya dan keteguhannya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 4 no 793]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat lagi tsabit” [At Taqrib 1/444].

Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan tidak dikenal kredibilitasnya atau majhul, yang meriwayatkan darinya hanya Al Aswad bin Qais yaitu dalam hadis ini. Ibnu Abi Hatim dalam biografi Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan berkata

سعيد بن عمرو بن سفيان روى عن ابيه عمرو بن سفيان روى عنه الاسود بن قيس في حديث تفرد أبو عاصم النبيل في ادخاله سعيدا في الاسناد فيما رواه عن الثوري عن الاسود ولا يتابع عليه

Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan meriwayatkan dari ayahnya ‘Amru bin Sufyan, telah meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais dalam hadis dimana Abu ‘Aashim An Nabiil bersendirian dalam memasukkan Sa’id dalam sanad yang ia riwayatkan dari Sufyan dari Al Aswad, ia tidak memiliki mutaba’ah [Al Jarh Wat Ta’dil 4/53 no 230]

Kemudian orang itu berkata perkataan Ibnu Abi Hatim ini dapat bermakna penta’lilan menurut ulama mutaqaddimin terutama jika terdapat perselisihan. Perkataan ini tidak ada nilainya, pernyataan Ibnu Abi Hatim “tidak memiliki mutaba’ah” tidak sedikitpun memudharatkan riwayat Abu ‘Aashim An Nabiil karena ia seorang yang tsiqat tsabit. Seandainya pun ada perselisihan maka dilihat siapa yang berselisih dengan Abu ‘Aashim An Nabiil tersebut bukannya sembarangan berkata ma’lul [cacat].

قال قتيبة حدثنا جرير عن سفيان عن الأسود بن قيس عن أبيه عن علي رضى الله تعالى عنهم لم يعهد إلينا النبي صلى الله عليه وسلم في الإمرة شيئا

Qutaibah berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Sufyaan dari Al Aswaad bin Qais dari ayahnya dari Ali radiallahu ta’ala ‘anhum “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewasiatkan kepada kami sedikitpun tentang kepemimpinan” [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 6 no 2565]

Orang itu setelah mengutip hadis ini berkata sanad riwayat ini lemah karena tidak diketahui apakah Qutaibah mendengar dari Jarir sebelum atau sesudah masa ikhtilathnya. Pernyataan ini patut diberikan catatan karena riwayat Qutaibah dari Jarir telah disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Maka disini terdapat qarinah yang menguatkan bahwa Qutaibah mendengar dari Jarir sebelum masa ikhtilathnya itu pun jika memang benar Jarir bin Abdul Hamiid mengalami ikhtilath. Sanad riwayat Bukhari ini shahih sampai Al Aswad bin Qais [setidaknya shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim]

Yang perlu diperhatikan adalah Bukhari tidak memasukkan hadis ini dalam biografi Qais Al Abdiy ayah Aswad bin Qais sebagaimana bisa dilihat dalam biografi Qais [Tarikh Al Kabir juz 7 no 663]. Bukhari malah memasukkan hadis di atas dalam biografi ‘Amru bin Sufyan [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 6 no 2565]. Hal ini menunjukkan bahwa hadis di atas adalah bagian dari idhthirab riwayat ‘Amru bin Sufyan.

Hal ini telah disinyalir oleh Ibnu Hajar. Dalam biografi Qais Al Abdiy ia mengutip riwayatnya dalam Musnad Ali yang dikeluarkan Nasa’i dari Ali tentang kepemimpinan kemudian mengutip berbagai riwayat ‘Amru bin Sufyan [At Tahdzib juz 8 no 733]. Setelah itu dalam At Taqrib ia berkata

قيس العبدي والد الأسود مقبول من الثانية وفي الحديث الذي أخرجه له النسائي اضطراب

Qais Al Abdiy ayahnya Al Aswad maqbul termasuk thabaqat kedua dan hadisnya yang dikeluarkan oleh Nasa’i idhthirab [At Taqrib 2/36]

Dengan kata lain tidak tsabit periwayatannya dari Ali tentang hadis ini karena hadis ini sendiri idhthirab pada sanadnya. Benarkah demikian? Tentu jika mengumpulkan riwayat yang shahih, yang dhaif dan yang tidak ternukil sanad lengkapnya maka akan banyak sekali bukti bahwa hadis tersebut idhthirab. Dan seandainya kita hanya mengumpulkan riwayat yang sanadnya shahih hingga Al Aswad bin Qais [sebagaimana yang telah dibahas di atas] maka idhthirab itu pun juga nampak jelas

  1. Riwayat Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari seorang laki-laki dari Aliy
  2. Riwayat Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dari ayahnya dari Aliy
  3. Riwayat Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari ayahnya dari Aliy

Daruquthni dan Al Khatib menyatakan bahwa hadis ‘Amru bin Sufyan tersebut idhthirab dan menisbatkan hal itu pada Ats Tsawriy. Menurut kami diantara Sufyan Ats Tsawriy dan Al Aswad bin Qais, yang lebih mungkin mengalami idhthirab adalah Al Aswad bin Qais karena tingkat ketsiqatan dan dhabit Sufyan Ats Tsawriy lebih tinggi dari Al Aswad bin Qais.

.

.

Ada riwayat ‘Amru bin Sufyan yang lain tentang hadis ini yang sanadnya tidak melalui jalur Al Aswad bin Qais Al Abdiy yaitu riwayat dengan sanad berikut

وَحَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي دَاوُدَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَزَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُسَاوِرٌ الْوَرَّاقُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayuub bin Muhammad Al Wazzaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Marwan yang berkata telah menceritakan kepada kami Musawwir Al Warraaq dari ‘Amru bin Sufyaan [Asy Syari’ah Al Ajjuriy 2/441]

Riwayat ini mengandung illat [cacat] yaitu Marwan bin Mu’awiyah Al Fazaariy ia seorang tsiqat hafizh tetapi sering melakukan tadlis dalam penyebutan nama-nama gurunya [At Taqrib 2/172]. Penyifatan Ibnu Hajar terhadap Marwan ini berdasarkan pernyataan ulama mutaqaddimin seperti Ibnu Ma’in yang menyatakan bahwa ia sering mengubah nama gurunya sebagai bentuk tadlisnya dan pernyataan Abu Dawud bahwa ia sering membolak balik nama, dan Marwan dikenal sering meriwayatkan dari syaikhnya para perawi majhul [At Tahdzib juz 10 no 178].

Apa yang dilakukan Marwan bin Mu’awiyah itu dalam ilmu hadis dikenal dengan istilah tadlis syuyukh yaitu mengubah nama syaikh [gurunya] untuk menutupi kelemahan hadis yang dibawakan. Hadis di atas termasuk dalam tadlis Marwan bin Muawiyah dengan berbagai qarinah berikut

  1. Tidak dikenal Marwan meriwayatkan dari Musawwir Al Warraaq atau tidak dikenal Marwan sebagai murid Musawwir Al Warraaq, tidak ditemukan baik dalam biografi Marwan bin Muawiyah dan biografi Musawwir Al Warraaq bahwa mereka memiliki hubungan guru dan murid.
  2.  Disebutkan dalam biografi perawi bahwa riwayat di atas adalah milik Musawwir yang tidak dikenal nasabnya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dan Al Mizziy. Ibnu Hajar berkata ia adalah syaikh [guru] Marwan bin Mu’awiyah yang majhul [At Taqrib 2/174]. Adz Dzahabiy juga menyatakan ia majhul [Al Mizan no 8448 & Al Mughni no 6183]
  3. Disebutkan dalam riwayat lain bahwa Marwan bin Mu’awiyah meriwayatkan hadis ini dari Sawwaar perawi yang majhul sebagaimana disebutkan Al Qaasim bin Tsabit dalam Ad Dalaa’il Fii Gharibil Hadits 2/586 no 307 dan Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/104.

Jadi hadis ini sebenarnya diriwayatkan oleh Marwan dari salah satu syaikhnya yang majhul yaitu Musawwir atau Sawwaar [tidak jelas siapa namanya] kemudian Marwan dalam salah satu periwayatannya mengubahnya menjadi Musawwir Al Warraaq sebagai salah satu bentuk tadlis syuyukh-nya.

Terdapat Illat [cacat] lain dalam riwayat Marwan bin Mu’awiyah di atas, Al Mu’allimiy menyebutkan bahwa Marwan bin Mu’awiyah pernah melakukan tadlis taswiyah selain tadlis suyukh [At Tankiil hal 431]. Hal ini juga diisyaratkan Abu Dawud dalam Su’alat Al Ajjury bahwa Marwan pernah meriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Ayasy dari Abu Shalih dan menghilangkan nama seorang perawi di antara keduanya [Su'alat Abu Dawud Al Ajjuriy no 204]. Pentahqiq kitab Su’alat Abu Dawud tersebut berkomentar bahwa Marwan bin Muawiyah melakukan tadlis taswiyah dan tadlis syuyukh. Ibnu Ma’in menyebutkan bahwa perawi yang dihilangkan namanya itu adalah Al Kalbiy [Tarikh Ibnu Ma'in riwayat Ad Duuriy no 2241].

Perawi yang melakukan tadlis taswiyah maka hadisnya diterima jika ia menyebutkan sima’ hadisnya dari Syaikh [gurunya] dan gurunya tersebut juga menyebutkan sima’-nya dari gurunya. Intinya terdapat lafaz tahdits atau sima’ hadis pada dua thabaqat dari perawi yang tertuduh tadlis taswiyah. Bahkan beberapa ulama mensyaratkan bahwa lafaz tahdits atau sima’ itu harus ada pada setiap thabaqat sanad sampai ke sahabat. Dalam riwayat di atas Marwan bin Mu’awiyah memang menyebutkan lafaz sima’ dari syaikh-nya Musawwir tetapi ia tidak menyebutkan lafaz sima’ Musawwir dari ‘Amru bin Sufyan, maka hadisnya tidak bisa diterima. Bisa saja diantara Musawwir dan ‘Amru bin Sufyan terdapat perawi dhaif atau majhul yang dihilangkan namanya oleh Marwan bin Mu’awiyah.

Secara keseluruhan hadis ‘Amru bin Sufyan yang melalui jalan Al Aswad bin Qais dan yang melalui jalan Musawwir kedudukannya dhaif dan bisa dikatakan tidak ada asalnya atau berasal dari perawi majhul. Riwayat Al Aswad bin Qais tersebut mudhtharib dan sumber idhthirabnya adalah Al Aswad bin Qais. Disebutkan bahwa Ali bin Madini menyatakan Al Aswad bin Qais meriwayatkan dari beberapa perawi majhul yang tidak dikenal [At Tahdzib juz 1 no 622]. Jadi sangat mungkin bahwa riwayat ini diambil Aswad dari perawi yang majhul kemudian Al Aswad mengalami kekacauan dalam periwayatannya. Hal ini bersesuaian dengan kelemahan hadis ‘Amru bin Sufyan yang diriwayatkan Marwan bin Mu’awiyah yaitu berasal dari perawi majhul.

.

.

‘Amru bin Sufyan dalam hadis Aliy ini pun juga seorang yang majhul. Orang itu melakukan dalih akrobatik untuk menyatakan ‘Amru bin Sufyan ini tsiqat atau minimal shaduq. Sebelumnya kami pernah menyatakan bahwa ‘Amru bin Sufyan dalam hadis ini yang meriwayatkan dari Aliy berbeda dengan ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas. Hal ini telah dinyatakan oleh Bukhari dan Ibnu Hibban.

عمرو بن سفيان سمع بن عباس رضى الله تعالى عنهما قوله روى عنه الأسود بن قيس

‘Amru bin Sufyan mendengar dari Ibnu Abbas radiallahu ta’ala ‘anhuma dan meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 6 no 2564]

Disini Bukhari menetapkan bahwa ‘Amru bin Sufyan mendengar dari Ibnu ‘Abbas dan meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais. Sedangkan untuk ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ali, Bukhari berkata

عمرو بن سفيان أن عليا رضى الله تعالى عنه قاله أبو داود الحفري عن الثوري عن الأسود بن قيس وقال أبو عاصم عن سفيان عن الأسود عن سعيد بن عمرو بن سفيان عن أبيه عن علي قال قتيبة حدثنا جرير عن سفيان عن الأسود بن قيس عن أبيه عن علي رضى الله تعالى عنهم لم يعهد إلينا النبي صلى الله عليه وسلم في الإمرة شيئا

‘Amru bin Sufyaan bahwa Aliy [radiallahu ta’ala anhu], dikatakan Abu Dawud Al Hafariy dari Ats Tsawriy dari Al Aswad bin Qais dan berkata Abu ‘Aashim dari Sufyan dari Al Aswad dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dari ayahnya dari Aliy . Qutaibah berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Sufyaan dari Al Aswaad bin Qais dari ayahnya dari Ali radiallahu ta’ala ‘anhum “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewasiatkan kepada kami sedikitpun tentang kepemimpinan” [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 6 no 2565]

Jadi terlihat jelas bahwa hujjah Bukhari membedakan keduanya adalah berdasarkan fakta bahwa ‘Amru bin Sufyan dalam hadis Aliy itu berasal dari hadis yang idhthirab. Maka disini Bukhari tidak menetapkan bahwa yang meriwayatkan dari ‘Amru bin Sufyan adalah Al Aswad bin Qais. Tentu saja hujjah Bukhari jelas lebih kuat dibandingkan dengan hujjah orang itu yaitu riwayat yang hanya menunjukkan bahwa kedua ‘Amru bin Sufyan [baik dari Ibnu Abbas atau Aliy] telah meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais.

Hujjah orang itu keliru karena ia menafikan fakta bahwa ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy muncul atau ditetapkan keberadaannya dari hadis yang idhthirab. Penerapan metode tarjih olehnya itu bisa dibilang hanya akal-akalan semata. Karena pentarjihannya itu tidak sesuai dengan kaidah ilmu hadis. Bagaimana tidak dikatakan akal-akalan kalau hasil akhir tarjihnya malah menetapkan riwayat dhaif bahwa Aswad meriwayatkan dari ‘Amru bin Sufyan dari Aliy sebagai riwayat yang tsabit. Riwayat dhaif inilah yang dijadikan sandaran oleh orang itu untuk menetapkan bahwa Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy dan Ibnu Abbas itu adalah orang yang sama.

عمرو بن سفيان يروى عن بن عباس روى عنه الأسود بن قيس

Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan telah meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 5 no 4419]

Disini Ibnu Hibban menetapkan bahwa ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas itu telah meriwayatkan darinya Aswad bin Qais. Hal ini berbeda dengan ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy, Ibnu Hibban berkata tentangnya

عمرو بن سفيان يروى عن على روى عنه سعيد بن عمرو بن سفيان

‘Amru bin Sufyan meriwayatkan dari Aliy dan telah meriwayatkan darinya Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 5 no 4480]

Hujjah Ibnu Hibban membedakan kedua ‘Amru bin Sufyan tersebut karena berbeda periwayatan keduanya  dan perawi yang meriwayatkan dari keduanya. Hujjah Ibnu Hibban ini terbukti dari riwayat yang telah dibahas di atas. Sebenarnya jika kita memaksakan diri untuk menerapkan metode tarjih maka riwayat yang paling shahih sanadnya sampai Aswad bin Qais dan menetapkan dari mana Aswad bin Qais mengambil riwayat adalah riwayat Abu ‘Aashim An Nabiil yang menetapkan bahwa Aswad meriwayatkan dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dan Sa’id bin ‘Amru meriwayatkan dari ayahnya ‘Amru bin Sufyan. Maka baik dengan metode tarjih atau jamak berbagai riwayat ‘Amru bin Sufyan didapatkan kesimpulan bahwa ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy berbeda dengan ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas.

.

.
Orang itu mengutip bahwa Ibnu Abi Hatim menyatukan kedua ‘Amru bin Sufyan tersebut dalam kitabnya Al Jarh Wat Ta’dil dan mengoreksi Bukhari yang membedakan kedua perawi tersebut. Pernyataannya ini patut ditinjau kembali, inilah yang ditulis Ibnu Abi Hatim

عمرو بن سفيان روى عن ابن عباس قوله عزوجل (تتخذون منه سكرا ورزقا حسنا) روى عنه الاسود بن قيس، سمعت ابى يقول ذلك

‘Amru bin Sufyan meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas firman Allah ‘azza wajalla “kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik” telah meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais, aku mendengar ayahku berkata demikian [Al Jarh Wat Ta’dil 6/234 no 1297]

Apa yang ditulis oleh Ibnu Abi Hatim adalah biografi ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ibnu Abi Hatim menggabungkan kedua perawi ‘Amru bin Sufyan tersebut. Jadi pernyataan bahwa Ibnu Abi Hatim mengoreksi apa yang ditulis Bukhari itu adalah asumsi orang itu sendiri.

Kalau memang Ibnu Abi Hatim menggabungkan kedua ‘Amru bin Sufyan maka ia akan menyebutkan dalam biografinya bahwa ‘Amru bin Sufyan itu meriwayatkan dari Aliy dan Ibnu Abbas dan telah meriwayatkan darinya Aswad bin Qais. Itulah yang namanya menggabungkan. Atau mungkin Ibnu Abi Hatim akan menyatakan secara langsung bahwa Bukhari keliru karena membedakan keduanya, hal ini yang sering dilakukan Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya, ia pernah berkata

وفرق البخاري بين موسى الشوعبى وموسى ابى عمر الذي يروى عن القاسم بن مخيمرة روى عنه معاوية بن صالح فسمعت ابى يقول: هما واحد

Dan Bukhari telah membedakan antara Musa Asy Syar’abiy dan Musa Abi Umar yang meriwayatkan dari Qaasim bin Mukhaimarah yang meriwayatkan darinya Muawiyah bin Shalih, maka aku mendengar ayahku berkata “keduanya adalah orang yang sama” [Al Jarh Wat Ta’dil 8/169 no 750]

Bukhari memang membedakan keduanya dalam Tarikh Al Kabir. Bukhari menyebutkan Musa Asy Syar’abiy dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1218 &  dan menyebutkan Musa Abi Umar dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1239.

الوليد بن ابى الوليد مولى عبد الله بن عمر أبو عثمان المدنى، ويقال مولى لآل عثمان بن عفان روى عن ابن عمر وعثمان بن عبد الله بن سراقة وعبد الله بن ديناروعقبة بن مسلم روى عنه بكير بن الاشج وابن الهاد والليث بن سعد وحيوة بن شريح سمعت ابى يقول ذلك. نا عبد الرحمن قال سئل أبو زرعة عنه فقال: ثقة. قال أبو محمد جعله البخاري اسمين فسمعت ابى يقول هو واحد

Walid bin Abi Walid maula ‘Abdullah bin Umar Abu Utsman Al Madaniy, dikatakan ia maula keluarga Utsman bin ‘Affan, meriwayatkan dari Ibnu Umar, Utsman bin ‘Abdullah bin Suraaqah, Abdullah bin Diinar, dan Uqbah bin Muslim. Telah meriwayatkan darinya Bukair bin Al Asyaj, Ibnu Haad, Laits bin Sa’ad dan Haywah bin Syuraih, aku mendengar ayahku mengatakan demikian. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata Abu Zur’ah ditanya tentangnya, ia berkata “tsiqat”. Abu Muhammad berkata Bukhari menjadikannya sebagai dua nama maka aku mendengar ayahku mengatakan sebenarnya dia adalah satu orang yang sama [Al Jarh Wat Ta’dil 9/19-20 no 83]

Bukhari menyebutkan biografi Walid maula keluarga Utsman dalam Tarikh Al Kabir juz 8 no 2545 & menyebutkan biografi Walid bin Abi Walid dalam Tarikh Al Kabir juz 8 no 2546. Dengan contoh-contoh di atas maka dapat dipahami bahwa jika memang Ibnu Abi Hatim ingin mengoreksi Bukhari dengan menggabungkan kedua perawi yang dipisahkan Bukhari maka Ibnu Abi Hatim akan menyebutkan dengan jelas penggabungannya [misalnya dalam kasus ‘Amru bin Sufyan, jika memang Ibnu Abi Hatim menggabungkan kedua ‘Amru bin Sufyan maka Ibnu Abi Hatim akan menyebutkan bahwa ‘Amru meriwayatkan dari Aliy dan Ibnu Abbas atau menyatakan dengan jelas bahwa Bukhari keliru.

Dalam kitabnya Al Jarh Wat Ta’dil, Ibnu Abi Hatim hanya menyebutkan biografi ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan telah meriwayatkan darinya Aswad bin Qaais tanpa menyebutkan kalau ‘Amru bin Sufyan tersebut meriwayatkan dari Aliy. Ibnu Abi Hatim tidak menyebutkan biografi ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy bin Abi Thalib. Hal ini bisa saja dipahami bahwa Ibnu Abi Hatim bertawaqquf tentang Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy.

Pendapat yang rajih adalah ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas berbeda dengan ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy. Yang pertama telah tsabit bahwa Aswad bin Qais meriwayatkan darinya sedangkan yang kedua tidak tsabit Aswad bin Qais meriwayatkan darinya karena hadisnya mudhtharib.

.

.

.

Telah shahih Riwayat dimana Imam Ali mengakui bahwa dirinya adalah pemimpin atau berhak akan khilafah.

حدثني روح بن عبد المؤمن عن أبي عوانة عن خالد الحذاء عن عبد الرحمن بن أبي بكرة أن علياً أتاهم عائداً فقال ما لقي أحد من هذه الأمة ما لقيت توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أحق الناس بهذا الأمر فبايع الناس أبا بكر فاستخلف عمر فبايعت ورضيت وسلمت ثم بايع الناس عثمان فبايعت وسلمت ورضيت وهم الآن يميلون بيني وبين معاوية

Telah menceritakan kepadaku Rawh bin Abdul Mu’min dari Abi Awanah dari Khalid Al Hadzdza’ dari Abdurrahman bin Abi Bakrah bahwa Ali mendatangi mereka dan berkata Tidak ada satupun dari umat ini yang mengalami seperti yang saya alami. Rasulullah SAW wafat dan akulah yang paling berhak dalam urusan ini. Kemudian orang-orang membaiat Abu Bakar terus Umar menggantikannya, maka akupun ikut membaiat, pasrah dan menerima. Kemudian orang-orangpun membaiat Utsman maka akupun ikut membaiat, pasrah dan menerima. Dan sekarang mereka cenderung antara aku dan Muawiyah” [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 1/294 dengan sanad shahih]

وعن ابن عباس أن عليا كان يقول في حياة رسول الله صلى الله عليه و سلم  إن الله عز و جل يقول { أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم } والله لا ننقلب على أعقابنا بعد إذ هدانا الله تعالى والله لئن مات أو قتل لأقاتلن على ما قاتل عليه حتى أموت والله إني لأخوه ووليه وابن عمه ووارثه فمن أحق به مني رواه الطبراني ورجاله رجال الصحيح

Dan dari Ibnu Abbas bahwa Aliy berkata ketika semasa hidup Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] bahwa Allah ‘azza wajalla berfirman “maka apakah jika dia mati atau terbunuh kalian berbalik kebelakang”. Demi Allah kami tidak akan berbalik ke belakang setelah Allah memberikan hidayah kepada kami. Demi Allah jika Beliau wafat atau terbunuh maka aku akan berperang di atas jalan yang Beliau berperang sampai aku wafat. Demi Allah aku adalah Saudaranya, Waliy-nya, anak pamannya, dan pewarisnya maka siapakah yang lebih berhak terhadapnya daripada aku. Diriwayatkan Ath Thabraniy dan para perawinya perawi shahih [Majma' Az Zawaid Al Haitsamiy 9/134]

Riwayat Ath Thabrani memang diriwayatkan oleh para perawi tsiqat atau shaduq hanya saja riwayat tersebut mengandung illat [cacat]. Riwayat tersebut dibawakan oleh Simmak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Simmak telah diperbincangkan oleh sebagian ulama karena buruk hafalannya dan sebagian ulama telah memperbincangkan riwayatnya dari Ikrimah. Maka riwayat Ibnu Abbas tersebut sanadnya lemah tetapi bisa dijadikan i’tibar. Matan riwayat Ibnu Abbas juga mengandung makna yang jelas diantaranya bahwa Aliy merasa lebih berhak atas Nabi karena Beliau adalah Wali-nya. Makna Waliy disini tidak tepat dikatakan sebagai penolong atau teman karena jika memang begitu maka semua kaum mukminin adalah Waliy bagi Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam]. Padahal penyebutan Waliy disana oleh Imam Aliy adalah keutamaan dan kekhususan dirinya atas yang lain sehingga Beliau lebih berhak atas Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam]. Maka tidak lain makna Waliy tersebut adalah kedudukan Waliy yang diberikan oleh Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] sebagaimana nampak dalam beberapa hadis diantaranya hadis berikut

حدثنا يوسف بن موسى ، قال : ثنا عبيد الله بن موسى ، عن فطر بن خليفة ، عن أبي إسحاق ، عن عمرو ذي مر ، وعن سعيد بن وهب ، وعن زيد بن يثيع ، قالوا : سمعنا عليا ، يقول : نشدت الله رجلا سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم ، يقول يوم غدير خم لما قام ، فقام إليه ثلاثة عشر رجلا ، فشهدوا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم ، قالوا : بلى يا رسول الله ، قال : فأخذ بيد علي ، فقال : من كنت مولاه فهذا مولاه ، اللهم وال من والاه ، وعاد من عاداه ، وأحب من أحبه ، وأبغض من أبغضه ، وانصر من نصره ، واخذل من خذله

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa dari Fithr bin Khaliifah dari Abu Ishaaq dari ‘Amru Dziy Murr dan dari Sa’id bin Wahb dan dari Zaid bin Yutsai’, mereka berkata “kami mendengar Ali mengatakan aku meminta dengan nama Allah agar laki-laki yang mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata pada hari ghadir kum untuk berdiri, maka berdirilah tiga belas orang, mereka bersaksi bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “bukankah aku lebih berhak atas kaum muslimin lebih dari diri mereka sendiri”, mereka menjawab “benar wahai Rasulullah” [perawi] berkata maka Beliau memegang tangan Aliy dan berkata “barang siapa yang aku adalah maulanya maka dia ini adalah maulanya, ya Allah belalah orang yang membelanya, musuhilah yang memusuhinya, cintailah yang mencintainya, bencilah yang membencinya, tolonglah yang menolongnya dan hinakanlah yang menghinakannya. [Musnad Al Bazzar 1/460 no 786]

أخبرنا احمد بن شعيب ، قال : اخبرنا الحسين بن حريث المروزي ، قال : اخبرنا الفضل بن موسى ، عن الاعمش ، عن ابي اسحاق عن سعيد بن وهب قال : قال علي كرم الله وجهه في الرحبة : أنشد بالله من سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم غدير خم يقول : ان الله ورسوله ولي المؤمنين ، ومن كنت وليه فهذا وليه ، اللهم وال من والاه وعاد من عاداه ، وانصر من نصره

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Syu’aib yang berkata telah mengabarkan kepada kami Husain bin Huraits Al Marwaziy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Fadhl bin Muusa dari Al A’masy dari Abu Ishaaq dari Sa’id bin Wahb yang berkata Ali [karamallahu wajhah] berkata di tanah lapang “aku meminta dengan nama Allah siapa yang mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum berkata “Allah dan RasulNya adalah waliy [pemimpin] bagi kaum mukminin dan siapa yang menganggap aku sebagai waliy [pemimpinnya] maka dia ini [Aliy] menjadi pemimpinnya, ya Allah  belalah orang yang membelanya dan musuhilah orang yang memusuhinya dan tolonglah orang yang menolongnya [Tahdzib Al Khasa’ais no 93]

Hadis ghadir kum adalah hujjah kepemimpinan Imam Aliy, terlepas apakah itu ditafsirkan kepemimpinan dalam agama ataupun pemerintahan, hadis tersebut menyatakan dengan jelas dimana Imam Ali sebagai maula bagi kaum muslimin. Perselisihan mengenai hadis ini terletak pada makna dari lafaz “maula”. Mereka para pengingkar menolak makna maula atau waliy disana sebagai pemimpin, menurut mereka maula disana bermakna penolong.

Memang benar bahwa lafaz “maula” memiliki banyak makna tetapi tentu tidak boleh seseorang seenaknya menolak satu makna dan beralih pada makna lain yang sesuai dengan hawa nafsunya. Makna “maula” dalam hadis Ghadir kum harus dipahami sesuai dengan konteks kalimat yang digunakan bukan dengan konteks asal-asalan atau dibuat-buat untuk menyebarkan syubhat. Maula atau Waliy pada hadis ghadir kum di atas bermakna orang yang berhak atau memegang urusan orang banyak, hal ini nampak dari kalimat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم

“bukankah aku lebih berhak atas kaum muslimin lebih dari diri mereka sendiri”

Kemudian Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melanjutkan “maka barang siapa yang aku adalah maulanya maka Aliy adalah maulanya”. Lafaz ini jelas terikat dengan pernyataan Beliau sebelumnya bahwa Beliau lebih berhak atas kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri. Dan siapa yang menganggap Nabi sebagai maulanya yaitu sebagai orang yang berhak atas dirinya maka ia hendaknya menganggap Aliy juga sebagai maulanya. Artinya sebagaimana Nabi lebih berhak atas kaum muslimin dibanding diri mereka maka Aliy pun lebih berhak atas kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri. Tentu saja makna “maula” atau “waliy” yang sesuai dengan makna ini adalah pemimpin bukan penolong.

Hal ini dikuatkankan pula oleh hadis marfu’ Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Imam Ali adalah waliy atau khalifah bagi setiap muslim sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ ، عَنْ أَبِي بَلْجٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ لِعَلِيٍّ : ” أَنْتَ وَلِيُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ بَعْدِي

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah dari Abi Balj dari ‘Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda kepada Aliy “engkau Waliy setiap mukmin sepeninggalku” [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/360 no 2752]

ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Kedudukanmu di sisiku sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi kecuali engkau sebagai khalifahku untuk setiap mukmin sepeninggalku [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188]

Ini adalah hadis yang jelas menyatakan bahwa Imam Aliy adalah khalifah atau waliy [pemimpin] bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Bisa dimaklumi kalau para pengingkar akan berusaha keras menolak hadis ini dan menyebarkan syubhat untuk mentakwilkan hadis ini karena tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Silakan saja, memang sudah menjadi tingkahpara pengingkar, jika ada hadis Ibnu Abbas yang matannya tidak jelas tentang khalifah dan sesuai dengan hawa nafsunya maka ia akan mengambilnya tetapi jika hadis Ibnu Abbas yang jelas-jelas menyatakan khalifah dan menentang hawa nafsunya maka ia akan mencari-cari cara untuk menolak atau menyebarkan syubhat. Orang seperti ini tidak pantas bicara sok soal dalil karena hakikat sebenarnya dirinya hanya berpegang pada hawa nafsunya.

Diantara orang yang kami maksud ada yang berpegang pada atsar Imam Aliy yang sebenarnya tidak sedang membicarakan soal khilafah atau wasiat khilafah.

حَدَّثَنَا يَحْيَى، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَادٍ، قَالَ: انْطَلَقْتُ أَنَا وَالْأَشْتَرُ إِلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقُلْنَا: هَلْ عَهِدَ إِلَيْكَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا لَمْ يَعْهَدْهُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً؟ قَالَ: لَا، إِلَّا مَا فِي كِتَابِي هَذَا، قَالَ: وَكِتَابٌ فِي قِرَابِ سَيْفِهِ، فَإِذَا فِيهِ: ” الْمُؤْمِنُونَ تَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ، وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ، وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ، أَلَا لَا يُقْتَلُ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ، وَلَا ذُو عَهْدٍ فِي عَهْدِهِ، مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, dari Qataadah, dari Al-Hasan, dari Qais bin ‘Ubaad, ia berkata Aku pergi bersama Al-Asytar menuju ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu. Kami bertanya “Apakah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat sesuatu kepadamu yang tidak beliau wasiatkan kepada kebanyakan manusia?”. Ia berkata “Tidak, kecuali apa-apa yang terdapat dalam kitabku ini”. Perawi berkata “dan kitab yang terdapat dalam sarung pedangnya dimana padanya bertuliskan ‘Orang-orang mukmin sederajat dalam darah mereka. Mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dimana orang-orang yang paling rendah dari kalangan mereka berjalan dengan jaminan keamanan mereka. Ketahuilah, tidak boleh dibunuh seorang mukmin karena membunuh orang kafir. Tidak pula karena membunuh orang kafir yang punya perjanjian dengan kaum muslimin. Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru atau melindungi orang yang jahat, maka laknat Allah atasnya, laknat para malaikat dan manusia seluruhnya” [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/122]

Pertanyaan Qais bin ‘Ubaad di atas bukan tentang wasiat khilafah atau imamah melainkan tentang perjalanan Imam Aliy dalam perang Jamal tersebut. Hal ini nampak dalam riwayat Yunuus dari Hasan Al Bashriy dari Qais bin ‘Ubaad berikut

حدثنا عبد الله حدثني إسماعيل أبو معمر ثنا بن علية عن يونس عن الحسن عن قيس بن عباد قال قلت لعلي أرأيت مسيرك هذا عهد عهده إليك رسول الله صلى الله عليه و سلم أم رأى رأيته قال ما تريد إلى هذا قلت ديننا ديننا قال ما عهد إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فيه شيئا ولكن رأى رأيته

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Isma’iil Abu Ma’mar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah dari Yunus dari Al Hasan dari Qais bin ‘Ubaad yang berkata aku berkata kepada Aliy “apakah keberangkatanmu ini adalah wasiat dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] terhadapmu ataukah berasal dari pendapatmu?. Aliy berkata “apa yang kamu inginkan dengan hal ini?”. Aku berkata “agama kami, agama kami”. Aliy berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak berwasiat sesuatu tentangnya tetapi ini adalah pendapat dariku” [Musnad Ahmad 1/148 no 1270]

Jadi maksud dari Hadis Hasan Bashriy  dari Qais bin ‘Ubaad di atas adalah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewasiatkan kepada Imam Ali tentang keberangkatannya dalam perang Jamal. Hal itu berasal dari pendapat Imam Ali sendiri. Tidak ada hadis ini bicara soal khalifah atau imamah, orang itu [baca : Abul Jauzaa'] yang berhujjah dengan hadis ini hanya menunjukkan kelemahan akalnya saja. Sebagai informasi saja, riwayat Yunus dari Hasan itu lebih tsabit dibanding riwayat Qatadah dari Hasan dengan dua alasan

  1. Para ulama telah menguatkan riwayat Yunus dari Hasan sebagaimana Abu Zur’ah berkata Yunus lebih aku sukai dari Qatadah dalam riwayat dari Hasan
  2. Qatadah telah disifatkan sebagian ulama dengan tadlis maka riwayatnya disini mengandung illat [cacat] karena ia membawakannya dengan ‘an anah apalagi jika terdapat perselisihan.

Kemudian orang itu mengutip pula riwayat Abu Juhaifah yang sebenarnya juga tidak berbicara soal khalifah atau imamah.

أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مُطَرِّفٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: قُلْتُ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: هَلْ عِنْدَكُمْ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ؟ قَالَ: لَا، إلَّا أَنْ يُؤْتِيَ اللَّهُ عَبْدًا فَهْمًا فِي الْقُرْآنِ وَمَا فِي الصَّحِيفَةِ، قُلْتُ: وَمَا فِي الصَّحِيفَةِ؟ قَالَ: الْعَقْلُ وَفِكَاكُ الْأَسِيرِ، وَأَنْ لَا يُقْتَلَ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ

Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Mutharrif, dari Sya’biy, dari Abu Juhaifah, ia berkata Aku bertanya kepada ‘Aliy [radliyallaahu ‘anhu] “Apakah di sisimu ada sesuatu dari Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] yang tidak diketahui oleh orang-orang?”. Tidak, kecuali Allah memberikan kepada seorang hamba pemahaman dalam Al-Qur’an dan apa yang terdapat dalam shahiifah”. Aku bertanya  “Apakah yang terdapat dalam shahiifah tersebut?”. Aliy menjawab “Pembayaran diyat, pembebasan tawanan, dan tidak dibunuhnya orang mukmin karena membunuh orang kafir” [Al Umm Syafi’i 7/195]

حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ، قَالَ: نا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: قُلْتُ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ: هَلْ عَهِدَ إِلَيْكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا لَمْ يَعْهَدْهُ إِلَى النَّاسِ؟ قَالَ: ” لا، إِلا مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ فَإِذَا فِيهَا: فِكَاكُ الأَسِيرِ، وَلا يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ، الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Khaliifah, ia berkata telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Ismaa’iil, dari Asy-Sya’biy, dari Abu Juhaifah, ia berkata Aku bertanya kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib “Apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepadamu sesuatu yang tidak beliau wasiatkan kepada orang-orang?”. Ia menjawab “Tidak, kecuali yang ada dalam shahiifah ini”. Dalam shahiifah itu tertulis ‘pembebasan tawanan, tidak boleh dibunuh seorang mukmin karena membunuh orang kafir, dan kaum muslimin sederajat dalam darah-darah mereka” [Musnad Al Bazzar no 486]

Maksud pertanyaan Abu Juhaifah kepada Aliy [radiallahu ‘anhu] adalah apakah di sisi Aliy ada wasiat berupa wahyu atau catatan tertulis yang tidak diketahui dan tidak diwasiatkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepada orang-orang. Hal ini nampak lebih jelas dalam riwayat Abu Juhaifah berikut

حدثنا أحمد بن منيع حدثنا هشيم أنبأنا مطرف عن الشعبي حدثنا ابو حجيفة قال قلت لعلي يا أمير المؤمنين هل عندكم سوداء في بيضاء ليس في كتاب الله ؟ قال لا والذي فلق الحبة وبرأ النسمة ما علمته إلا فهما يعطيه الله رجلا في القرآن وما في الصحيفة قلت وما في الصحيفة ؟ قال العقل فكاك الأسير وأن لا يقتل مؤمن بكافر

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah memberitakan kepada kami Mutharrif dari Asy Sya’bi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Juhaifah yang berkata aku berkata kepada Aliy “wahai amirul mukminin apakah disisimu ada catatan hitam diatas putih yang tidak ada dalam kitab Allah?” Aliy berkata “tidak, demi Yang menciptakan biji-bijian dan menciptakan jiwa, aku tidak mengetahui kecuali pemahaman yang Allah berikan kepada seseorang tentang Al Qur’an dan shahifah. Aku berkata “apa yang ada dalam shahifah?”. Aliy menjawab “diyat, pembebasan tawanan, dan tidak dibunuh seorang mu’min karena membunuh orang kafir” [Sunan Tirmidzi 4/24 no 1412, shahih]

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مُطَرِّفٌ أَنَّ عَامِرًا حَدَّثَهُمْ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ مِنْ الْوَحْيِ إِلَّا مَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ لَا وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ مَا أَعْلَمُهُ إِلَّا فَهْمًا يُعْطِيهِ اللَّهُ رَجُلًا فِي الْقُرْآنِ وَمَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ قُلْتُ وَمَا فِي الصَّحِيفَةِ قَالَ الْعَقْلُ وَفَكَاكُ الْأَسِيرِ وَأَنْ لَا يُقْتَلَ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Mutharrif bahwa ‘Aamir menceritakan kepada mereka dari Abi Juhaifah [radiallahu ‘anhu] yang berkata aku berkata kepada Aliy [radiallahu ‘anhu] “apakah di sisimu ada wahyu selain apa yang ada dalam kitab Allah?”. Aliy berkata “tidak demi Yang menciptakan biji-bijian dan menciptakan jiwa, aku tidak mengetahui kecuali pemahaman yang Allah berikan kepada seseorang tentang Al Qur’an dan shahifah. Aku berkata “apa yang ada dalam shahifah?”. Aliy menjawab “diyat, pembebasan tawanan, dan tidak dibunuh seorang mu’min karena membunuh orang kafir” [Shahih Bukhari 4/69 no 3047]

Jadi kalau kita mengumpulkan keseluruhan riwayat Abu Juhaifah dari Aliy maka didapatkan bahwa Abu Juhaifah sebenarnya tidak sedang menanyakan wasiat khalifah atau Imamah tetapi wasiat berupa wahyu yang tidak disampaikan kepada orang-orang. Hal ini dikuatkan pula oleh hadis selain riwayat Abu Juhaifah

وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب وأبو كريب جميعا عن أبي معاوية قال أبو كريب حدثنا أبو معاوية حدثنا الأعمش عن إبراهيم التيمي عن أبيه قال خطبنا علي بن أبي طالب فقال من زعم أن عندنا شيئا نقرأه إلا كتاب الله وهذه الصحيفة ( قال وصحيفة معلقة في قراب سيفه ) فقد كذب فيها أسنان الإبل وأشياء من الجراحات وفيها قال النبي صلى الله تعالى عليه وسلم المدينة حرم ما بين عير إلى ثور فمن أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا وذمة المسلمين واحدة يسعى بها أدناهم ومن ادعى إلى غير أبيه أو انتمى إلى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb dan Abu Kuraib, semuanya dari Abu Mu’awiyah. Abu Kuraib berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim At Taimiy dari ayahnya yang berkata Ali bin Abi Thalib berkhutbah kepada kami “Barang siapa mengatakan bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain Kitab Allah dan Shahifah ini [berkata Ayah Ibrahim : lembaran yang tergantung di sarung pedangnya] maka sungguh dia telah berdusta. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang umur unta dan diyat. Di dalamnya juga terdapat perkataan Nabi SAW “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungankaum muslimin itu sama dan berlaku pula oleh orang yang terendah dari mereka. Barangsiapa menasabkan diri kepada orang yang bukan ayahnya atau menisbatkan diri kepada selain maulanya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak [Shahih Muslim 2/994 no 1370]

Jadi yang diingkari Imam Aliy dalam hadis Muslim di atas adalah anggapan bahwa Beliau memiliki kitab lain yang Beliau baca selain Kitab Allah dan shahifah yang dimaksud. Lagi-lagi tidak ada dalam hadis Muslim di atas keterangan soal khilafah atau imamah.

.

.

Dari semua ini kita dapatkan kesimpulan yang pasti bahwa Imam Ali mengakui kepemimpinannya dan tidak pernah mengingkari kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menetapkan kepemimpinannya. Disini terbukti pula bahwa para pengingkar hanya mencari syubhat basa basi kemudian membungkusnya dengan slogan ilmiah palsu untuk mengecoh kaum awam mereka. Sungguh mereka berharap bahwa seandainya semua orang bodoh seperti pengikut mereka sehingga bisa tertipu oleh dalil-dalil palsu yang mereka buat. Pembahasan di atas tidak lain untuk membuktikan kedustaan mereka dan tentu saja akan menambah kedongkolan hati mereka para. Ada baiknya kita mengingat firman Allah SWT yang sangat sesuai untuk mereka

هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman” dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah [kepada mereka] “Matilah kamu karena kemarahanmu itu” [QS. Aali ‘Imraan : 119].

Sebelum kami menutup pembahasan kali ini maka kami akan menyatakan dengan jelas pandangan kami dalam perkara ini untuk menutup syubhat pengingkar dan pendengki. Tidak dipungkiri kalau keyakinan Imamah Aliy bin Abi Thalib adalah bagian dari Aqidah Syiah tetapi kami bukanlah penganut Syiah. Pandangan kami berdasarkan analisis kami sendiri terhadap hadis-hadis yang kami pelajari sebagaimana dalam pembahasan di atas.

Kami tidak pula menetapkan Kepemimpinan dua belas Imam Syiah seperti yang telah dikenal menjadi dasar bagi Aqidah Syiah, karena kami belum menemukan dalil shahih tentang nama dua belas Imam yang dimaksud. Kami tidak pula berpandangan bahwa para sahabat yang membaiat Abu Bakr, Umar dan Utsman sebagai kafir, cukuplah kami berpandangan sebagaimana Imam Aliy yang walaupun mengakui bahwa dirinya yang paling berhak dalam masalah khalifah tetapi Beliau tidak mengkafirkan para sahabat yang menerima kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Inilah pandangan kami dan kami tidak peduli dengan lisan busuk para pengingkar yang gemar menuduh kami sebagai Syiah Rafidhah. Jika kami yang membela Ahlul Bait dikatakan Syiah Rafidhah maka mereka para penuduh itu hakikatnya adalah Nashibi.

.

.

Note : Tulisan ini merevisi tulisan sebelumnya dengan pokok bahasan yang sama. Secara keseluruhan kesimpulan tulisan di atas tidak jauh berbeda dengan tulisan sebelumnya hanya saja ada beberapa perincian yang ditambahkan.

Benarkah Imam Bukhariy Mengambil Hadis Dari Perawi Rafidhah?

Sumber : Secondprince

Benarkah Imam Bukhariy Mengambil Hadis Dari Perawi Rafidhah?

Salah satu isu yang sering dilontarkan penganut Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah adalah ulama Ahlus Sunnah diantaranya Imam Bukhariy juga meriwayatkan dari perawi Syi’ah.

Dan jawaban dari sebagian Ahlus Sunnah biasanya berupa bantahan yaitu Imam Bukhariy memang meriwayatkan dari Syi’ah tetapi Syi’ah yang dimaksud bukan Syi’ah Rafidhah tetapi Syi’ah dalam arti lebih mengutamakan Aliy bin Abi Thalib dari Utsman atau sahabat lainnya, Syi’ah yang tetap memuliakan para sahabat bukan seperti Syi’ah Rafidhah yang mencela para sahabat. Salah satu bantahan yang dimaksud dapat para pembaca lihat disini.

Benarkah demikian?. Tentu saja cara sederhana untuk membuktikan hal itu adalah tinggal menunjukkan adakah perawi Bukhariy yang dikatakan Rafidhah atau dituduh Syiah yang mencela sahabat Nabi. Akan diambil beberapa perawi Bukhariy sebagai contoh yaitu

  1. ‘Abdul Malik bin A’yan Al Kuufiy
  2. ‘Abbaad bin Ya’qub Ar Rawajiniy
  3. Auf bin Abi Jamiilah Al Arabiy
  4. Aliy bin Ja’d Al Baghdadiy

.

.

‘Abdul Malik bin A’yan Al Kuufiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi dalam Taqrib At Tahdzib hal 621 no 4192 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Abdul Malik bin A'yan

[perawi kutubus sittah] ‘Abdul Maaalik bin A’yaan Al Kuufiy maula bani Syaibaan, seorang Syi’ah yang shaduq, memiliki riwayat dalam Shahihain satu hadis sebagai mutaba’ah, ia termasuk thabaqat keenam

Dari keterangan di atas maka ‘Abdul Maalik bin A’yaan termasuk perawi Bukhariy dalam Shahih-nya. Adapun soal hadisnya yang hanya satu sebagai mutaba’ah maka itu tidak menjadi soal disini. Lantas Syi’ah seperti apakah dia? Apakah dia seorang rafidhah?. Jawabannya ada pada apa yang disebutkan Al Uqailiy dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabiir hal 792 no 990 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid]

Abdul Malik bin A'yan2

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin A’yan, seorang syi’ah ia di sisi kami rafidhah shaahib ra’yu

Atsar di atas sanadnya shahih sampai Sufyan dan ia adalah Ibnu Uyainah. Dalam atsar tersebut ia menyatakan bahwa Abdul Malik bin A’yan seorang rafidhah

  1. Bisyr bin Muusa seorang imam hafizh tsiqat [Siyar A’lam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 13/352 no 170]
  2. Al Humaidiy yaitu Abdullah bin Zubair bin Iisa seorang tsiqat hafizh faqih [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar hal 506 no 3340]
  3. Sufyan bin Uyainah seorang tsiqat hafizh faqiih imam hujjah [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar hal 395 no 2464]

.

.

.

‘Abbaad bin Ya’quub Al Asadiy

Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal 14/175 no 3104 [tahqiiq Basyaar Awwaad Ma’ruuf] menyebutkan salah satu biografi perawi yang termasuk perawi Bukhariy

Abbad bin Ya'qub4

[perawi Bukhariy, Tirmidzi dan Ibnu Majah] ‘Abbaad bin Ya’quub Al Asadiy Ar Rawaajiniy Abu Sa’iid Al Kuufiy, seorang Syi’ah

Lantas Syiah yang bagaimanakah dia?. Jawabannya bisa dilihat dari pernyataan Shalih bin Muhammad yang dinukil oleh Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal

'Abbad bin Ya'qub2

Aliy bin Muhammad Al Marwaziy berkata Shalih bin Muhammad ditanya tentang ‘Abbaad bin Ya’quub Ar Rawaajiniy, Maka ia berkata “ia telah mencaci Utsman”

Ibnu Hibban dalam kitabnya Al Majruuhin 2/163 no 794 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid] menyatakan dengan jelas bahwa ia rafidhah

'Abbad bin Ya'qub

‘Abbaad bin Ya’qub Ar Rawaajiniy Abu Sa’iid termasuk penduduk Kuufah, meriwayatkan dari Syariik, telah meriwayatkan darinya guru-guru kami, wafat pada tahun 250 H di bulan syawal, ia seorang Rafidhah yang mengajak ke paham rafadh, dan bersamaan dengan itu ia meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi masyhur maka selayaknya ditinggalkan

Bukhariy meriwayatkan darinya dan memasukkannya dalam kitab Shahih-nya. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah salah satu dari guru Imam Bukhariy. Bukhariy hanya meriwayatkan satu hadis darinya dan itu pun sebagai mutaba’ah. Tidak jadi soal berapa jumlah hadis yang diriwayatkan Bukhariy darinya, yang penting telah dibuktikan bahwa ia termasuk perawi Bukhariy yang dikatakan rafidhah.

.

.

.

‘Auf bin Abi Jamiilah Al A’rabiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi Bukhariy dalam Taqrib At Tahdzib hal 757 no 5250 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Auf bin Abi Jamilah

[perawi kutubus sittah] Auf bin Abi Jamiilah [dengan fathah pada huruf jiim] Al A’rabiy, Al ‘Abdiy, Al Bashriy, seorang yang tsiqat dituduh dengan faham qadariy dan tasyayyu’ termasuk thabaqat keenam wafat pada tahun 146 atau 147 H pada umur 86 tahun

Bagaimanakah tuduhan tasyayyu’ yang dimaksud?. Adz Dzahabiy menukil dalam kitabnya Mizan Al I’tidal 5/368 no 6536 [tahqiq Syaikh 'Aliy Al Mu'awwadh, Syaikh 'Adil Ahmad dan Ustadz Dr 'Abdul Fattah]

Auf bin Abi Jamilah2

Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshaariy berkata aku melihat Dawud bin Abi Hind memukul Auf Al Arabiy dan mengatakan “celaka engkau wahai qadariy”. Dan Bundaar berkata dan ia membacakan kepada mereka hadis Auf “demi Allah sungguh Auf seorang qadariy rafidhah syaithan”

.

.

.

‘Aliy bin Ja’d Al Baghdadiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi Bukhariy dalam Taqrib At Tahdzib hal 691 no 4732 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Aliy bin Ja'd

[perawi Bukhariy dan Abu Dawud] Aliy bin Ja’d bin Ubaid Al Jauhariy, Al Baghdadiy seorang tsiqat tsabit dituduh dengan tasyyayyu’, termasuk thabaqat kesembilan dari kalangan sighar, wafat pada tahun 230 H

Aliy bin Ja’d termasuk salah satu guru Bukhariy, tidak ada yang menuduhnya rafidhah tetapi ia pernah menyatakan Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam. Dalam Masa’il Ahmad bin Hanbal riwayat Ishaaq bin Ibrahim bin Haani’ An Naisaburiy 2/154 no 1866 [tahqiiq Zuhair Asy Syaawiisy], ia [Ishaaq] berkata

Aliy bin Ja'd2

Dan aku mendengar Abu ‘Abdullah [Ahmad bin Hanbal], telah berkata kepadanya Dalluwaih “aku mendengar Aliy bin Ja’d mengatakan demi Allah, Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam”

Dalluwaih yang dimaksud adalah Ziyaad bin Ayuub Abu Haasyim juga termasuk perawi Bukhariy, seorang yang tsiqat hafizh [Taqrib At Tahdzib hal 343 no 2067]

.

.

.

Ulasan Singkat

Fakta-fakta di atas adalah bukti yang cukup untuk membatalkan pernyataan bahwa Bukhariy tidak mengambil hadis dari perawi Rafidhah atau perawi Syi’ah yang mencela sahabat.

Yang kami sajikan disini hanyalah apa yang tertera dan ternukil dalam kitab Rijal Ahlus Sunnah, kami sendiri pada akhirnya [setelah mempelajari lebih dalam] memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hal ini. Pengalaman kami dalam menelaah kitab Rijal menunjukkan bahwa perawi dengan mazhab menyimpang [di sisi ahlus sunnah] seperti khawarij, syiah, qadariy, bahkan nashibiy tetap ada yang dikatakan tsiqat atau shaduq sehingga mazhab-mazhab menyimpang tersebut tidak otomatis menjadi hujjah yang membatalkan keadilan perawi.

Hal ini adalah fenomena yang sudah dikenal dalam mazhab Ahlus Sunnah dan tidak ada yang bisa diperbuat dengan itu, memang kalau dipikirkan secara kritis bisa saja dipermasalahkan [sebagaimana kami dulu pernah mempermasalahkannya] tetapi sekeras apapun dipikirkan tidak akan ada solusinya, tidak ada gunanya berkutat pada masalah yang tidak ada solusinya. Lebih baik menerima kenyataan bahwa memang begitulah adanya.

  1. Silakan dipikirkan berapa banyak hadis shahih Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mencela khawarij tetapi tetap saja dalam kitab Rijal ditemukan para perawi yang dikatakan khawarij tetapi tsiqat dan shaduq.
  2. Atau jika ada orang yang mau mengatakan bahwa mencela sahabat dapat menjatuhkan keadilan perawi maka ia akan terbentur dengan para perawi tsiqat dari golongan rafidhah yang mencela sahabat tertentu seperti Utsman dan dari golongan nashibiy yang mencela Aliy bin Abi Thalib.
  3. Bukankah ada hadis shahih bahwa tidak membenci Aliy kecuali munafik tetapi dalam kitab Rijal banyak perawi nashibiy yang tetap dinyatakan tsiqat.

Mungkin akan ada yang berpikir, bisa saja perawi yang dikatakan atau dituduh bermazhab menyimpang [rafidhah, nashibiy, qadariy, khawarij] tidak mesti memang benar seperti yang dituduhkan. Jawabannya ya memang mungkin, tetapi apa gunanya berandai-andai, kalau memang begitu maka silakan dipikirkan bagaimana memastikan tuduhan tersebut benar atau keliru. Dalam kitab Rijal secara umum hanya ternukil ucapan ulama yang menyatakan perawi tertentu sebagai rafidhah, nashibiy, qadariy, khawarij tanpa membawakan bukti atau hujjah. Perkara ini sama halnya dengan pernyataan tautsiq terhadap perawi. Kita tidak memiliki cara untuk membuktikan benarkah ucapan ulama bahwa perawi tertentu tsiqat atau shaduq atau dhaif. Yang bisa dilakukan hanyalah menerimanya atau merajihkan atau mengkompromikan perkataan berbagai ulama tentang perawi tersebut.

Lantas mengapa isu ini dibahas kembali disini?. Isu ini menjadi penting ketika ada sebagian pihak yang mengkafirkan orang-orang Syi’ah maka orang-orang Syi’ah melontarkan syubhat bahwa dalam kitab Ahlus Sunnah termasuk kitab Bukhariy banyak terdapat perawi Syi’ah. Kemudian pihak yang mengkafirkan itu membuat bantahan yang mengandung syubhat pula bahwa perawi Syi’ah dalam kitab Shahih bukanlah Rafidhah. Kami katakan bantahan ini mengandung syubhat karena faktanya terdapat sebagian perawi syiah dalam kitab Shahih yang ternyata dikatakan Rafidhah [contohnya sudah disebutkan di atas].

Takhrij Hadis Haram Al Kuubah : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Mengharamkan Musik

Sumber : Secondprince

Takhrij Hadis Haram Al Kuubah : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Mengharamkan Musik

Pada awal mula berdirinya blog ini, kami pernah menuliskan kajian singkat mengenai hukum Musik termasuk hadis-hadis yang dijadikan hujjah untuk mengharamkan Musik. Diantara hadis-hadis tersebut terdapat hadis yang matannya menyebutkan tentang pengharaman Al Kuubah. Dan Al Kuubah ini dinyatakan oleh sebagian ulama sebagai salah satu alat musik tabuh seperti gendang.

Tulisan ini akan mengkaji lebih dalam mengenai hadis Al Kuubah dan pendapat yang rajih [di sisi penulis] berdasarkan kaidah ilmiah mengenai makna hadis tersebut.

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin ‘Abbaas

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو أحمد ثنا سفيان عن على بن بذيمة حدثني قيس بن حبتر قال سألت بن عباس عن الجر الأبيض والجر الأخضر والجر الأحمر فقال ان أول من سأل النبي صلى الله عليه و سلم وفد عبد القيس فقالوا انا نصيب من الثفل فأي الاسقية فقال لا تشربوا في الدباء والمزفت والنقير والحنتم واشربوا في الاسقية ثم قال ان الله حرم على أو حرم الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام قال سفيان قلت لعلي بن بذيمة ما الكوبة قال الطبل

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Aliy bin Badziimah yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Habtar yang berkata aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas tentang Al Jarr [wadah air minum dari tembikar] putih, Al Jarr hijau dan Al Jarr merah. Maka Beliau berkata “sesungguhnya yang pertama kali bertanya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang hal itu adalah delegasi [utusan] ‘Abdul Qais, mereka berkata “sesungguhnya kami memperoleh peralatan, maka tempat-tempat air mana [yang boleh digunakan]?. Beliau berkata “Janganlah kalian minum dari Ad Dubaa’, Al Muzaffat, An Naqiir dan Al Hantam, tetapi minumlah dari tempat-tempat air, kemudian Beliau berkata “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atasku atau telah mengharamkan khamr, judi, Al Kuubah dan setiap yang memabukkan adalah haram. Sufyaan berkata aku bertanya kepada Aliy bin Badziimah, apakah Al Kuubah itu?. Ia berkata “gendang”. [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/274 no 2476, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan hadis di atas dalam kitabnya Al Asyribah hal 79 no 193, Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/356 no 3696, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 5/114 no 2729, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 12/187 no 5365, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20780, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 41/273-274 semuanya dengan jalan sanad Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyaan dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dengan matan yang menyebutkan lafaz haram Al Kuubah. Adapun Ath Thahawiy juga menyebutkan hadis ini dalam kitabnya Syarh Ma’aaniy Al Atsaar 4/223 no 6487 dengan sanad yang sama tetapi tanpa menyebutkan lafaz haram Al Kuubah.

Abu Ahmad Az Zubairiy dalam periwayatan dari Sufyaan memiliki mutaba’ah dari Qabiishah bin ‘Uqbah sebagaimana yang disebutkan Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy dalam Al Arba’iin hal 99 no 39 dan Ibnu Muqriy dalam Mu’jam-nya hal 375 no 1257.

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ بَذِيمَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ حَبْتَرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ يَعْنِي الطَّبْلَ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Telah menceritakan kepada kami Qabiishah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan Ats Tsawriy dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari ‘Ibnu ‘Abbaas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah yaitu gendang dan semua yang memabukkan adalah haram. [Al Arba’iin Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy hal 99 no 39]

Sedikit catatan mengenai hadis Qabiishah di atas yaitu lafaz “ya’niy Ath Thabl” setelah lafaz Al Kuubah bukanlah bagian dari lafaz hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi ia adalah perkataan Ali bin Badziimah sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyaan. Jadi telah terjadi idraaj dalam matan hadisnya.

Al Bazzaar meriwayatkan hadis Qabiishah dari Sufyaan dengan sanad dan matan berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَارَةَ بْنِ صُبَيْحٍ ثنا قَبِيصَةُ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ قَيْسِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ حَرَّمَ الْمَيْتَةَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ يَعْنِي الطَّبْلَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Umarah bin Shubaih yang berkata telah menceritakan kepada kami Qabiishah dari Sufyaan dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwasanya Beliau mengharamkan bangkai, judi, Al Kuubah yaitu gendang dan Ibnu ‘Abbas berkata “segala yang memabukkan adalah haram” [Kasyf Al Asytaar 3/349 no 2913]

Hadis riwayat Al Bazzar ini tidak mahfuuzh karena Muhammad bin ‘Umarah bin Shubaih telah menyelisihi Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy dalam riwayat dari Sufyaan. Muhammad bin ‘Umaarah bin Shubaih disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 9/112 no 15474] telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat seperti Ahmad bin ‘Amru Al Bazzaar, Abdullah bin Muhammad bin Naajiyah, Ibnu Abi Dunyaa dan yang lainnya [Mu’jam Syuyuukh Ath Thabariy no 302]. Maka ia seorang yang shaduq hasanul hadis hanya saja ia telah menyelisihi Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy seorang yang dikatakan Abu Hatim tsiqat dan Abu Zur’ah berkata “tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/201 no 1129]. Maka riwayat Qabiishah yang tsabit adalah dari Sufyaan dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas.

Sufyaan Ats Tsawriy dalam periwayatan dari Aliy bin Badziimah memiliki mutaba’ah dari

  1. Israiil bin Yunuus sebagaimana disebutkan oleh Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 12/101 no 12598 dan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 8/303 no 17208 dengan matan yang menyebutkan idraaj lafaz Ath Thabl setelah lafaz Al Kuubah.
  2. Qais bin Rabii’ sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 12/102 no 12599 dengan sanad dari Muhammad bin ‘Abdullah Al Hadhramiy dari Abu Bilal Al Asy’ariy dari Qais bin Rabii’. Hanya saja sanad ini tidak tsabit sebagai mutaba’ah karena Abu Bilal Al Asy’ariy seorang yang dhaif sebagaimana dikatakan Ad Daruquthniy [Sunan Daruquthniy 1/220 no 71]
  3. Muusa bin A’yaan sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 12/102 no 12600 dengan jalan sanad Muusa bin A’yaan dari Aliy bin Badziimah dari Sa’iid bin Jubair dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dengan matan hanya berupa lafaz “semua yang memabukkan adalah haram” tanpa menyebutkan Al Kuubah.

Sanad yang mahfuzh adalah riwayat Sufyaan dan Isra’iil dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbaas [tanpa menyebutkan Sa’iid bin Jubair]. Adapun periwayatan Muusa bin A’yaan yang menambahkan Sa’iid bin Jubair antara Aliy bin Badziimah dan Qais bin Habtar mengandung illat [cacat] sebagaimana disebutkan Al Mizziy dalam Tuhfatul Asyraf 4/657-658 no 6333. Al Mizziy membawakan riwayat yang menjadi bukti idhthirab Muusa bin A’yaan dan menukil dari Al Khatib yang mengatakan kalau Muusa bin A’yaan telah tercampur dalam hadis ini dan yang shahih adalah apa yang diriwayatkan Sufyaan dari Aliy bin Badziimah.

Aliy bin Badziimah dalam periwayatan dari Qais bin Habtar memiliki mutaba’ah dari ‘Abdul Kariim bin Maliik Al Jazariy seperti nampak dalam riwayat berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبى قال ثنا أحمد بن عبد الملك وعبد الجبار بن محمد قالا ثنا عبيد الله يعنى بن عمرو عن عبد الكريم عن قيس بن حبتر عن بن عباس عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ان الله حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة وقال كل مسكر حرام

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdul Malik dan ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad, keduanya berkata telah mencritakan kepada kami Ubaidillah yakni bin ‘Amru dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan semua yang memabukkan adalah haram [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/289 no 2625, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Ahmad bin ‘Abdul Malik dan ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad dalam periwayatan dari Ubaidillah bin ‘Amru memiliki mutaba’ah dari

  1. Zakaria bin ‘Adiy sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 1/350 no 3274 dan dalam kitabnya Al Asyribah hal 35 no 14
  2. ‘Aliy bin Ma’bad sebagaimana disebutkan Ath Thahawiy dalam Syarh Ma’aaniy Al Atsaar 4/216 no 6445
  3. Jandal bin Waaliq sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/213 no 20732
  4. Yahya bin Yuusuf Az Zammiy sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20779 dan Kitabnya Al Adaab hal 423 no 923

Yahya bin Yuusuf Az Zammiy meriwayatkan dari Ubaidillah bin ‘Amru hadis tersebut dengan lafaz berikut

أخبرنا أبو الحسين بن بشران أنبأ الحسين بن صفوان ثنا عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا ثنا يحيى بن يوسف الزمي ثنا عبيد الله بن عمرو عن عبد الكريم هو الجزري عن قيس بن حبتر عن بن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الله تبارك وتعالى حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة وهو الطبل وقال كل مسكر حرام

Telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Busyraan yang berkata telah memberitakan kepada kami Husain bin Shafwaaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunyaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yuusuf Az Zammiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Amru dari ‘Abdul Kariim, ia Al Jazariy dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Allah tabaraka wata’ala telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan ia adalah gendang dan berkata “segala yang memabukkan adalah haram” [Sunan Al Kubra Al Baihaqiy 10/221 no 20779]

Riwayat di atas mengandung illat [cacat] pada matan “wa huwa ath thabl” setelah lafaz Al Kuubah. Yahya bin Yusuf Az Zammiy adalah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/319] tetapi dengan lafaz itu ia telah menyelisihi lima perawi tsiqat shaduq yang meriwayatkan dari Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy tanpa menyebutkan lafaz tersebut. Mereka adalah

  1. Zakaria bin Adiy seorang yang tsiqat jaliil hafizh [Taqrib At Tahdzib 1/313]
  2. Aliy bin Ma’bad Ar Raqiy seorang yang tsiqat faqiih [Taqrib At Tahdzib 1/703]
  3. Ahmad bin ‘Abdul Malik Al Asdiy seorang yang tsiqat, telah membicarakan tentangnya tanpa hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/40]
  4. ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad Al Khaththaabiy seorang yang jaliil, dan Abu Aruubah telah memujinya dengan kebaikan [Su’alat Hamzah As Sahmiy no 328]
  5. Jandal bin Waaliq seorang yang shaduq pernah melakukan kekeliruan dan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/167].

Oleh karena itu tambahan lafaz “wa huwa ath thabl” tidaklah tsabit sebagai perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena illat [cacat] tafarrud Yahya bin Yusuf yang menyelisihi riwayat jama’ah bahkan diantaranya terdapat perawi yang lebih tsiqat dan hafizh darinya.

Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy adalah perawi yang tsiqat faqih dan pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/637] dan dalam periwayatan dari ‘Abdul Kariim Al Jazariy, ia memiliki mutaba’ah dari Ma’qil bin ‘Ubaidillah perawi yang shaduq sering keliru [Taqrib At Tahdzib 2/201] dalam penyebutan lafaz haram Al Kuubah, yaitu hadis berikut

حدثنا أحمد بن النضر العسكري ثنا سعيدبن حفص النفيلي قال قرأنا على معقل بن عبيد الله عن عبد الكريم عن قيس بن حبتر الربعي عن عبد الله بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ثمن الخمر حرام ومهر البغي حرام وثمن الكلب حرام والكوية حرام وإن أتاك صاحب الكلب يلتمس ثمنه فأملأ يديه ترابا والخمر والميسر وكل مسكر حرام

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nadhr Al ‘Askariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Hafsh An Nufailiy yang berkata kami membacakan kepada Ma’qil bin ‘Ubaidillah dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Habtar Ar Rib’iy dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “hasil penjualan khamar haram, hasil melacur haram, hasil penjualan anjing haram, Al Kuubah haram, dan jika datang kepadamu pemilik anjing meminta hasil penjualan anjingnya maka ia telah memenuhi kedua tangannya dengan tanah, khamar, judi dan segala yang memabukkan adalah haram [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 12/102 no 12601]

Ahmad bin Nadhr Al ‘Askariy disebutkan Ibnu Munadiy bahwa ia termasuk orang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 6/413-315 no 2905]. Sa’id bin Hafsh An Nufailiy adalah seorang yang shaduq tetapi berubah hafalannya di akhir umurnya [Taqrib At Tahdzib 1/350]. Sa’iid bin Hafsh An Nufailiy dalam periwayatannya dari Ma’qil bin Ubaidillah memiliki mutaba’ah dari Muhammad bin Yaziid bin Sinan Al Jazariy sebagaimana disebutkan Daruquthniy dalam Sunan-nya 3/7 no 19.

Qais bin Habtar dalam periwayatan dari Ibnu ‘Abbas memiliki mutaba’ah dari Syaibah bin Musaawir sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Awsath

حدثنا محمد بن أبان نا إسحاق بن وهب ثنا حفص بن عمر الإمام ثنا هشام الدستوائي عن عباد بن أبي علي عن شيبة بن المساور عن بن عباس أن النبي صلى الله عليه و سلم حرم ستة الخمر والميسر والمعازف والمزامير والدف والكوبة

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar Al Imaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam Ad Dustuwa’iy dari ‘Abbaad bin Abi ‘Aliy dari Syaibah bin Musaawir dari Ibnu ‘Abbaas bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengharamkan enam hal yaitu khamar, judi, al ma’azif, seruling, duff dan Al Kuubah [Mu’jam Al Awsath 7/241 no 7388]

Riwayat Ath Thabraniy di atas sanadnya dhaif sehingga tidak bisa dijadikan penguat dengan alasan sebagai berikut

  1. Hafsh bin ‘Umar Al Imam adalah perawi yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 1/228].
  2. ‘Abbad bin Abi ‘Aliy tidak dikenal kredibilitasnya, Adz Dzahabiy menyebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis mungkar dan Ibnu Qaththan berkata “tidak tsabit ‘adalah-nya” [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 4/32-33 no 4135]
  3. Syaibah bin Musaawir disebutkan Ibnu Hajar yang menukil dari Ibnu Ma’in [riwayat Ad Duuriy] bahwa ia tsiqat. Dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa riwayatnya dari Ibnu ‘Abbas mursal [Ta’jil Al Manfa’ah 1/646-647 no 461]. Tautsiq Ibnu Ma’in yang dinukil Ibnu Hajar tersebut keliru, dalam Tarikh Ad Duuriy no 4959 Yahya bin Ma’in menyebutkan tentang Syaibah bin Musaawir tetapi tidak menyebutkan tautsiq terhadapnya.

Kembali pada riwayat Aliy bin Badziimah yang dikeluarkan Ahmad bin Hanbal di atas, riwayat tersebut sanadnya shahih para perawinya tsiqat.

  1. Abu Ahmad Az Zubairiy gurunya Ahmad bin Hanbal adalah seorang yang tsiqat tsabit hanya saja sering keliru dalam riwayat Sufyaan Ats Tsawriy [Taqrib At Tahdzib 2/95]. Ia memiliki mutaba’ah dari Qabiishah bin ‘Uqbah seorang yang shaduq terkadang keliru [Taqrib At Tahdzib 2/26]
  2. Sufyan Ats Tsawriy seorang yang tsiqat hafizh faqiih ahli ibadah imam hujjah termasuk pemimpin thabaqat ketujuh, dituduh melakukan tadlis [Taqrib At Tahdzib 1/371]. Ia memiliki mutaba’ah dari Israil bin Yunus seorang yang tsiqat dan ada yang membicarakan tentangnya tanpa hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/88]
  3. Aliy bin Badziimah seorang yang tsiqat dan dikatakan tasyayyu’ [Taqrib At Tahdzib 1/688]. Ia memiliki mutaba’ah dari ‘Abdul Kariim bin Malik Al Jazariy seorang yang tsiqat mutqin [Taqrib At Tahdzib 1/611]
  4. Qais bin Habtar yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas adalah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/32]

Kesimpulannya hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas mengenai pengharaman Al Kuubah memiliki sanad yang shahih. Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas [radiallahu ‘anahu] memiliki syahid [penguat] dari riwayat ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash [radiallahu ‘anhu] dan Riwayat Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu].

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ قَال حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ وَالْغُبَيْرَاء

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Adh Dhahhaak bin Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Hamiid bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Al Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru yang berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan Al Ghubairaa’ [Al Asyribah Ahmad bin Hanbal no 207]

Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru [radiallahu ‘anhu] di atas juga disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 2/171 no 6591, Al Baihaqiy dalam Sunan-nya 10/221 no 20782. Ya’qub bin Sufyaan dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/519, biografi Walid bin ‘Abdah dan Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhiid 1/247-248 dan At Tamhiid 5/167. Semuanya dengan jalan sanad ‘Abdul Hamiid bin Ja’far dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash.

‘Abdul Hamiid bin Ja’far dalam periwayatan dari Yaziid bin Abi Habiib memiliki mutaba’ah dari

  1. Laits bin Sa’ad sebagaimana disebutkan Ibnu Wahb dengan lafaz sanad ‘Amru bin Waliid berkata telah disampaikan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash [Al Muwatta Ibnu Wahb no 75 dan Sunan Baihaqiy 10/222 no 20784]
  2. ‘Abdullah bin Lahii’ah sebagaimana disebutkan Ibnu Wahb dengan lafaz sanad ‘Amru bin Waliid berkata telah disampaikan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash dan matan yang mengandung tambahan lafaz pengharaman Al Qinniin [Al Muwatta Ibnu Wahb no 75 dan Sunan Baihaqiy 10/222 no 20784]. Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan riwayat Yahya bin Ishaaq dari Ibnu Lahii’ah dari Yazid dari ‘Amru bin Walid dengan lafaz ‘an anah dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan matan tanpa menyebutkan lafaz Al Qiniin [Musnad Ahmad bin Hanbal 2/158 no 6478]
  3. Muhammad bin Ishaaq, telah meriwayatkan darinya tiga perawi yaitu pertama Hammaad bin Salamah sebagaimana yang disebutkan Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/353 no 3685, Ath Thahaawiy dalam Syarh Ma’aaniy Al Atsar 4/217 no 6451, Ya’qub bin Sufyaan dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/518, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 20781. Kedua Muhammad bin Salamah Al Harraaniy sebagaimana disebutkan Al Bazzaar dalam Al Bahr Az Zukhaar 6/424-425 no 2454. Kedua perawi ini [Hammad dan Muhammad bin Salamah] meriwayatkan dengan jalan sanad dari Ibnu Ishaq dari Yaziid bin Abi Habiib dari Walid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash. Ketiga adalah Yaziid bin Haruun sebagaimana disebutkan Abu Ubaid Qaasim bin Salaam dalam Ghariib Al Hadiits 5/304 dengan jalan sanad dari Ibnu Ishaaq dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Abdullah bin ‘Amru [tanpa menyebutkan ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah atau ‘Waliid bin ‘Abdah].

Dari ketiga mutaba’ah tersebut hanya Laits bin Sa’ad yang tsabit sebagai penguat bagi ‘Abdul Hamiid bin Ja’far. Adapun riwayat Muhammad bin Ishaaq tidak mahfuzh dengan alasan sebagai berikut

  1. Adanya idhthirab pada riwayat Muhammad bin Ishaaq yaitu terkadang ia menyebutkan dari Yazid dari Waliid bin ‘Abdah dari Abdullah bin ‘Amru dan terkadang menyebutkan dari Yazid dari ‘Abdullah bin ‘Amru [tanpa menyebutkan Waliid bin ‘Abdah].
  2. Semua riwayat Muhammad bin Ishaaq, ia riwayatkan dengan lafaz ‘an anah padahal ia masyhur melakukan tadlis dari perawi dhaif dan majhul sehingga Ibnu Hajar memasukkan namanya dalam mudallis martabat keempat [Thabaqat Al Mudallisin hal 51 no 125]
  3. Muhammad bin Ishaaq telah menyelisihi riwayat Laits bin Sa’ad dan ‘Abdul Hamiid bin Ja’far dimana Muhammad bin Ishaaq menyebutkan orang yang meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru adalah Waliid bin ‘Abdah. Sedangkan kedua perawi tsiqat yaitu Laits dan ‘Abdul Hamiid [yang lebih tsiqat dari Ibnu Ishaaq] menyebutkan dengan nama ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah.

Sedangkan riwayat Abdullah bin Lahii’ah terdapat pembicaraan tentangnya karena mengandung illat [cacat] yang tersembunyi yaitu idhthirab pada sisi Ibnu Lahii’ah. Terkadang ia meriwayatkan dengan sanad berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى ثنا بن لهيعة عن عبد الله بن هبيرة عن أبي هبيرة الكلاعي عن عبد الله بن عمرو بن العاصي قال خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم يوما فقال ان ربي حرم على الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hubairah Al Kalaa’iy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui kami pada suatu hari maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku telah mengharamkan khamar, judi, mizr, Al Kuubah dan Al Qinniin” [Musnad Ahmad 2/172 no 6608]

حديث ابن لهيعة عن ابن هبيرة عن أبي هبيرة الكحلاني مولى لعبدالله بن عمرو عن عبدالله بن عمرو أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} خرج إليهم ذات يوم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين حدثناه طلق بن السمح اللخمي

Hadiist Ibnu Lahii’ah dari Ibnu Hubairah dari Abi Hubairah Al Kahlaaniy maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari di dalam masjid, maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamar, judi, mizr, Al Kuubah dan Al Qinniin. Telah menceritakan kepada kami Thalq bin As Samh Al Lakhmiy [Futuuh Mishr Wa Akhbaruha, Ibnu Abdul Hakam hal 169]

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ أنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هُبَيْرَةَ عَنْ أَبِي هُبَيْرَةَ الْكَحْلَانِيِّ عَنْ مَوْلَى لِعَبْدِ اللَّهِ بْن عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَيْهِمْ ذَاتَ يَوْمٍ وَهُمْ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَيَّ الْخَمْرَ والْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ والْقِنِّينَ وَالْكُوبَةُ الطَّبْلُ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb kepadaku Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah Al Kahlaaniy dari Maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan Al Qinniin, Al Kuubah adalah gendang [Al Muwatta Ibnu Wahb no 74]

Riwayat Ibnu Wahb di atas juga disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20783 dengan jalan sanad dari Ibnu Wahb dari Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hurairah atau Hubairah Al ‘Ajlaaniy dari maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari Abdullah bin ‘Amru secara marfu’.

Abdullah bin Lahii’ah adalah perawi yang shaduq hanya saja setelah kitabnya terbakar maka hafalannya berubah dan kedudukannya menjadi dhaif. Yahya yang dimaksud dalam riwayat Ahmad adalah Yahya bin Ishaaq As Sailahiiniy dan ia disebutkan Ibnu Hajar termasuk sahabat Ibnu Lahii’ah yang terdahulu [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 729 biografi Hafsh bin Haasyim]. Dan Ibnu Wahb juga termasuk yang mendengar Abdullah bin Lahii’ah sebelum ikhtilath, sehingga dikatakan bahwa riwayatnya dari Abdullah bin Lahii’ah adalah shahih [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 3563].

Thalq bin As Samh disebutkan Adz Dzahabiy bahwa Abu Hatim berkata “Syaikh Mesir tidak dikenal” dan berkata selainnya “tempat kejujuran, insya Allah” [Mizan Al I’tidal 3/472 no 4030]. Di saat lain Adz Dzahabiy berkata “ada kelemahan padanya” [Diwan Adh Dhu’afa no 2023]. Ibnu Hajar berkata “maqbul” [Taqrib At Tahdzib 1/453]. Dan tidak diketahui apakah ia meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Lahii’ah sebelum atau sesudah kitabnya terbakar.

Secara ringkas berikut sanad hadis ‘Abdullah bin ‘Amru tentang pengharaman Al Kuubah yang diriwayatkan Abdullah bin Lahii’ah

  1. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari Yazid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash
  2. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah Al Kalaa’iy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash
  3. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah dari Maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash

Ketiga sanad ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang mendengar dari Ibnu Lahii’ah sebelum ia mengalami ikhtilath [sebelum kitabnya terbakar] maka tidak bisa dinyatakan riwayat mana yang lebih rajih. Hal ini berarti menunjukkan adanya idhthirab dan nampak bahwa idhthirab tersebut berasal dari ‘Abdullah bin Lahii’ah.

Jika dikatakan bahwa sanad pertama yaitu dari Yazid dari ‘Amru bin Waliid lebih rajih karena dikuatkan oleh riwayat Laits bin Sa’ad maka ini bisa jadi benar, hanya saja perlu diperhatikan bahwa tidak semua matan riwayat ‘Abdullah bin Lahii’ah sama dengan matan riwayat Laits bin Sa’ad. Matan pengharaman lafaz Al Qinniin yang ada pada riwayat Ibnu Lahii’ah tidak terdapat pada riwayat Laits bin Sa’ad maka kedudukannya tidak mafuuzh.

‘Amru bin Waliid dalam periwayatan dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash memiliki mutaba’ah dari ‘Abdurrahman bin Raafi’ At Tanuukhiy, sebagaimana riwayat berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يزيد أنا فرج بن فضالة عن إبراهيم بن عبد الرحمن بن رافع عن أبيه عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الله حرم على أمتي الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين وزادني صلاة الوتر قال يزيد القنين البرابط

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid yang berkata telah menceritakan kepada kami Faraj bin Fadhalah dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Raafi’ dari Ayahnya dari ‘Abdullah bin ‘Amru yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas umatku khamar, judi, mizr, Al Kuubah, Al Qinniin dan menambahkan kepadaku shalat witir. Yazid berkata “Al Qinniin adalah gitar [Musnad Ahmad 2/165 no 6547]

Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan hadis ini dalam Musnad-nya 2/167 no 6564 dan Al Asyribah hal 84 no 214. Riwayat ini sanadnya dhaif karena

  1. Faraj bin Fadhalah seorang yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 2/8]
  2. Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Rafi’ seorang yang majhul [Ta’jil Al Manfa’ah no 15]
  3. Abdurrahman bin Rafi’ At Tanuukhiy seorang yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 1/568]

Sejauh ini dapat disimpulkan bahwa sanad yang tsabit adalah riwayat Abdul Hamiid bin Ja’far dan Laits bin Sa’ad yang bermuara pada Yazid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru. Para perawinya tsiqat hanya saja terdapat illat [cacat] dengan memperhatikan kedua riwayat

  1. Riwayat Abdul Hamiid menyebutkan ‘Amru bin Walid meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan lafaz ‘an anah
  2. Riwayat Laits bin Sa’ad menyebutkan ‘Amru bin Walid meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan lafaz “telah sampai kepadaku dari”

Jika ditarjih maka riwayat Laits bin Sa’ad lebih rajih karena ia seorang yang tsiqat tsabit faqiih imam masyhur [Taqrib At Tahdzib 2/48] sedangkan ‘Abdul Hamiid bin Ja’far seorang yang shaduq dituduh berpehaman qadariy dan pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/554]. Dan jika digabungkan maka menunjukkan bahwa lafaz ‘an anah pada riwayat Abdul Hamiid adalah mursal sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat Laits bin Sa’ad. Kesimpulannya hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash di atas ma’lul [cacat] karena mursal.

.

.

.

Hadis Qais bin Sa’ad Al Anshariy

‘Abdullah bin Wahb menyebutkan hadis Qais bin Sa’ad setelah ia menyebutkan hadis Abdullah bin Lahii’ah dari Ibnu Hubairah. Berikut hadis lengkapnya

وأخبرنا أبو زكريا بن أبي إسحاق المزكي وأبو بكر أحمد بن الحسن القاضي قالا ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ محمد بن عبد الله بن عبد الحكم أنبأ بن وهب أخبرني بن لهيعة عن عبد الله بن هبيرة عن أبي هريرة أو هبيرة العجلاني عن مولى لعبد الله بن عمرو عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه و سلم خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين والكوبة الطبل قال وأنبأ بن وهب أخبرني الليث بن سعد وبن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبدة عن قيس بن سعد وكان صاحب راية النبي صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ذلك قال والغبيراء وكل مسكر حرام قال عمرو بن الوليد وبلغني عن عبد الله بن عمرو بن العاص مثله ولم يذكر الليث القنين

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Zakaria bin Abi Ishaaq Al Muzakkiy dan Abu Bakar Ahmad bin Hasan Al Qaadhiy, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam yang berkata telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hurairah atau Hubairah Al ‘Ajlaaniy dari maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kubbah dan Al Qinniin, dan Al Kuubah adalah gendang, telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Laits bin Sa’ad dan Ibnu Lahii’ah dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari Qais bin Sa’ad dan ia sahabat yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan demikian mengatakan “dan ghubairaa’ dan segala yang memabukkan adalah haram”. ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah berkata “dan telah sampai kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash seperti itu”. Dan Laits tidak menyebutkan Al Qinniin. [Sunan Al Kubra Baihaqiy 10/222 no 20783-20784]

Riwayat di atas juga disebutkan dalam Al Muwatta Ibnu Wahb hal 46 no 74-75. Ibnu ‘Abdul Hakam meriwayatkan dari Ayahnya dari Ibnu Lahii’ah hadis Qais bin Sa’ad di atas sebagai berikut

حديث ابن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبدة عن قيس بن سعد أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين وكل مسكر حرام حدثناه أبي عبدالله بن عبد الحكم وربما أدخل فيما بين عمرو بن الوليد وبين قيس أنه بلغه

Hadis Ibnu Lahii’ah dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari Qais bin Sa’ad bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka di dalam masjd, maka Beliau berkata sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kuubah dan Al Qinniin dan setiap yang memabukkan adalah haram. Telah menceritakan tentangnya Ayahku ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dan sepertinya terdapat diantara ‘Amru bin Waliid dan Qais lafaz bahwasanya telah sampai kepadanya [Futuuh Mishr Wa Akhbaruha, Ibnu ‘Abdul Hakam hal 180]

Riwayat Ibnu Wahb dari Ibnu Lahii’ah telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya menunjukkan adanya idhthirab sehingga yang tersisa adalah riwayat Laits bin Sa’ad. Perhatikan matannya

عن قيس بن سعد وكان صاحب راية النبي صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ذلك قال والغبيراء وكل مسكر حرام

Dari Qais bin Sa’ad dan ia sahabat yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan demikian mengatakan “dan ghubairaa’ dan segala yang memabukkan adalah haram”.

Lafaz qaala dzalik di atas merujuk pada matan hadis sebelumnya yaitu hadis Ibnu Lahii’ah dari Ibnu Hubairah

عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه و سلم خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين والكوبة الطبل

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kubbah dan Al Qinniin” dan Al Kuubah adalah gendang

Hanya saja perlu dipahami [berdasarkan qarinah yang kuat] bahwa lafaz “wal kuubah ath thabl” setelah lafaz qinniin bukan bagian dari hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Qarinahnya adalah sebagai berikut

  1. Riwayat Yahya bin Ishaaq dan Thalq bin As Samh dari Ibnu Lahii’ah menyebutkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash di atas tanpa menyebutkan lafaz “wal kuubah ath thabl”
  2. Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dari Ibnu Lahii’ah [sebagaimana disebutkan Ibnu ‘Abdul Hakam] menyebutkan hadis Qais bin Sa’ad tanpa menyebutkan lafaz “wal kuubah ath thabl”. Dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dikatakan tsiqat oleh Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 5/105-106 no 485]. Hanya saja tidak diketahui apakah ia meriwayatkan dari Abdullah bin Lahii’ah sebelum atau sesudah kitabnya terbakar.
  3. Pada matan riwayat Baihaqiy di atas memang terdapat lafaz dimana perkataan perawi tercampur dengan hadisnya tanpa terdapat keterangan milik siapa lafaz tersebut. Seperti misalnya lafaz ولم يذكر الليث القنين lafaz ini tertulis sesudah lafaz ‘Amru bin Walid berkata “dan telah sampai kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash seperti itu”. Tidak mungkin lafaz ini masuk dalam perkataan ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah dan kemungkinannya lafaz ini adalah milik Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam. Maka lafaz والكوبة الطبل besar kemungkinan juga perkataan Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam terhadap tafsir Al Kuubah.

Maka dapat disimpulkan bahwa lafaz “wal kuubah ath thabl” bukan bagian dari hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Adapun lafaz qinniin, itu hanya ada pada riwayat Ibnu Lahii’ah sedangkan pada riwayat Laits tidak ada. Maka lafaz qaala dzalik itu mencakup pengharaman khamar, judi dan Al Kuubah pada riwayat sebelumnya. Secara keseluruhan matan riwayat Laits bin Sa’ad adalah pengharaman khamar, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan setiap yang memabukkan adalah haram.

Riwayat Laits bin Sa’ad sebagaimana yang diriwayatkan Al Baihaqiy kedudukan sanadnya jayyid diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq.

  1. Abu Zakariya bin Abu Ishaq Al Muzakkiy seorang yang tsiqat mulia baik zuhud wara’ dan mutqin [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 17/295-296 no 179]
  2. Ahmad bin Hasan Abu Bakar seorang imam alim musnad khurasan. As Sam’aniy berkata “tsiqat dalam hadis” [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 17/356 no 221]
  3. Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub Al ‘Asham seorang Imam muhaddis. Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah menyatakan tsiqat. Abu Nu’aim bin ‘Adiy berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Abi Hatim berkata “tsiqat shaduq” [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 15/452-458 no 258]
  4. Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam seorang yang faqih tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/96]
  5. ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy seorang yang faqiih tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqrib At Tahdzib 1/545]
  6. Laits bin Sa’ad Abu Harits Al Mishriy seorang yang tsiqat tsabit faqiih imam masyhur [Taqrib At Tahdzib 2/48]
  7. Yaziid bin Abi Habiib Al Mishriy seorang yang tsiqat faqih [Taqrib At Tahdzib 2/322]
  8. ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah seorang yang shaduq [Taqrib At Tahdzib 1/748]. Ibnu Yuunus menyebutkan bahwa ia temasuk seorang yang mempunyai keutamaan dan ahli fiqih [Tarikh Ibnu Yunus 1/378-379 no 1036]

Ibnu ‘Abdul Hakam yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dalam kitabnya Futuuh Mishr Wa Akhbaruha hal 180 menyebutkan riwayat dimana seolah ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah meriwayatkan dari Qais bin Sa’ad secara mursal yaitu dengan lafaz “telah sampai kabar kepadanya dari Qais”. Seandainya saja sanadnya tsabit dan shahih maka riwayat ini bisa menjadi illat [cacat] yang menjatuhkan hadis Qais bin Sa’ad. Riwayat Ibnu ‘Abdul Hakam tersebut adalah riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dari Ibnu Lahii’ah maka kedudukannya tidak tsabit sebagai hujjah karena tidak diketahui apakah ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam meriwayatkan sebelum atau setelah Ibnu Lahii’ah ikhtilath dan kitabnya terbakar.

‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dalam periwayatan dari Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu] memiliki mutaba’ah dari Bakr bin Sawadah yaitu riwayat berikut

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ قَال حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ ثنا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَحْرٍ عَنْ بَكْرِ بْنِ سَوَادَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَيَّ الْخَمْرَ  وَالْكُوبَةَ وَالْقِنِّينَ وَإِيَّاكُمْ وَالْغُبَيْرَاءَ فَإِنَّهَا ثُلُثُ خَمْرِ الْعَالَمِ قَالَ قُلْتُ لِيَحْيَى  مَا الْكُوبَةُ ؟ قَالَ الطَّبْلُ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayuub dari ‘Ubaidillah bin Zahr dari Bakr bin Sawaadah dari Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah [radiallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla mengharamkan atasku khamar, Al Kuubah dan Qinniin dan jauhilah Al Ghubairaa’ karena itu adalah sepertiga khamr di dunia. Ahmad bin Hanbal berkata aku berkata kepada Yahya “apa itu Al Kuubah?”. Ia berkata “gendang” [Al Asyribah Ahmad bin Hanbal hal 40 no 27]

Riwayat ini juga disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 3/422 no 15519, Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 18/352 no 897, Ibnu ‘Abdul Hakam dalam Futuuh Mishr Wa Akhbaruha hal 180, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 8/141-142 no 24540 dengan tambahan lafaz Qinniin adalah Al ‘Uud, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20784 dengan tambahan lafaz, Abu Zakariyaa berkata Al Qinniin adalah Al ‘Uud [Abu Zakariyaa adalah kuniyah Yahya bin Ishaaq maka ini menjelaskan bahwa tambahan lafaz dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah adalah idraaj dari Yahya bin Ishaaq]. Semuanya dengan jalan sanad Yahya bin Ayuub dari Ubaidillah bin Zahr dari Bakr bin Sawaadah dari Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu]. Kedudukan riwayat ini dhaif karena

  1. Ubaidillah bin Zahr berdasarkan pendapat yang rajih ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya
  2. Bakr bin Sawaadah berdasarkan qarinah yang kuat, riwayatnya dari Qais bin Sa’ad mursal.

Ubaidillah bin Zahr Al ‘Ifrikiy, Bukhariy berkata “tsiqat” [Ilal Tirmidzi no 335]. Abu Dawud berkata aku mendengar Ahmad mengatakan Ubaidillah bin Zahr tsiqat [Su’alat Abu Ubaid Al Ajurriy no 1523]. Ibnu Hajar mengatakan bahwa Ahmad yang dimaksud disini adalah Ahmad bin Shalih Al Mishriy [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 25]. Nasa’iy berkata “tidak ada masalah padanya”. Al Hakim berkata “layyin hadisnya”. Al Khatib berkata “seorang yang shalih dan dalam hadisnya layyin [lemah]. Al Harbiy berkata “selainnya lebih terpercaya darinya”. [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 25]

Ahmad bin Hanbal mendhaifkannya, Yahya bin Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”, Aliy bin Madiiniy berkata “munkar al hadiits”. Abu Hatim berkata “layyin [lemah] hadisnya”. Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah, shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/315 no 1499]

Yahya bin Ma’in dalam riwayat Ad Dariimiy berkata “semua hadisnya di sisiku dhaif” [Tarikh Ad Dariimiy no 626]. Yahya bin Ma’in berkata dalam riwayat Ibnu Junaid “dhaif dalam hadis” [Su’alat Ibnu Junaid no 549].

Abu Mushir mengatakan bahwa Ubaidillah bin Zahr pemilik riwayat-riwayat mu’dhal dan karenanya lemah hadisnya. Ibnu Adiy mengatakan bahwa hadis-hadisnya tidak memiliki mutaba’ah [Al Kamil Ibnu Adiy 5/522-5214 no 190]

Ya’qub bin Sufyaan berkata “dhaif” [Ma’rifat Wal Tariikh Ya’quub bin Sufyaan Al Fasawiy 2/424]. Daruquthniy berkata “dhaif” [Al Ilal Daruquthniy no 160]. Al Ijliy berkata “ditulis hadisnya dan tidak kuat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1156]. Ibnu Hibban berkata “mungkar hadis jiddan, ia meriwayatkan hadis-hadis maudhu’ dari para perawi tsabit” [Al Majruuhin Ibnu Hibban 2/28-29 no 603]

Ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib “shaduq sering keliru” [At Taqrib 1/632]. Dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib dikoreksi bahwa kedudukan Ubaidillah bin Zahr adalah dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4290]

Dengan mengumpulkan seluruh perkataan para ulama tentangnya maka pendapat yang rajih tentangnya adalah ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya karena banyak ulama mendhaifkannya dan sebagian jarh terhadapnya bersifat mufassar. Dalam kaidah ilmu hadis jarh mufassar lebih didahulukan dibanding ta’dil, maka dari itu ta’dil sebagian ulama terhadap Ubaidillah bin Zahr hanya mengangkat derajatnya sebagai perawi yang bisa dijadikan i’tibar hadisnya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah.

Bakr bin Sawaadah disebutkan oleh Ibnu Hajar yang menukil dari Ibnu Yunuus bahwa ia wafat tahun 128 H [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 888] sedangkan Qais bin Sa’ad disebutkan Ibnu Hajar yang menukil dari Al Haitsam bin Adiy, Al Waqidiy, Khaliifah bin Khayyaath dan yang lainnya bahwa ia wafat pada akhir pemerintahan Mu’awiyah [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 702] berarti tahun 60 atau kurang dari itu. Maka terdapat selisih 68 tahun atau lebih antara wafatnya Qais bin Sa’ad dan Bakr bin Sawaadah, hal ini merupakan qarinah kemungkinan terputusnya sanad.

Qarinah [petunjuk] lain adalah Ibnu Hajar menukil dari An Nawawiy bahwa Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 888]. Sedangkan ‘Abdullah bin ‘Amru wafat setelah wafatnya Qais bin Sa’ad, ada yang mengatakan tahun 63 H, 65 H, 68 H, 73 H, atau 77 H [Tahdzib At Tahdzib juz 5 no 575]. Jika Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Amru maka lebih mungkin lagi Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari Qais bin Sa’ad.

Berdasarkan keterangan di atas maka hadis Bakr bin Sawaadah tidak tsabit sebagai mutaba’ah bagi ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah karena kedhaifan Ubaidillah bin Zahr dan terputusnya sanad antara Bakr bin Sawaadah dan Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu].

.

.

Secara ringkas pembahasan di atas tentang hadis yang mengharamkan Al Kuubah dapat dilihat dalam poin berikut

  1. Hadis ‘Abdullah bin ‘Abbaas memiliki sanad yang shahih dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah dan segala yang memabukkan
  2. Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru diriwayatkan para perawi tsiqat hanya saja mengandung illat [cacat] mursal dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’
  3. Hadis Qais bin Sa’d memiliki sanad yang shahih dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan segala yang memabukkan

Kesimpulan takhrij hadis di atas dan pembahasannya adalah hadis pengharaman Al Kuubah memiliki sanad yang shahih dari jalan ‘Abdullah bin ‘Abbaas dan Qais bin Sa’ad. Dan lafaz yang tsabit termasuk di dalamnya pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan segala yang memabukkan. Adapun lafaz Al Qinniin maka kedudukannya tidak tsabit.

.

.

.

Pembahasan Makna Al Kuubah

Terdapat perselisihan soal makna Al Kuubah di sisi para ulama. Sebagian mengatakan bahwa Al Kuubah adalah gendang dan dikatakan juga bahwa Al Kuubah adalah dadu yang dipakai pada permainan judi.

   إِنَّ اللّه حَرَّم الخَمْرَ والكُوبةَ هي النَّرْدُ وقيل الطَّبْل وقيل البَرْبَطُ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan khamar dan Al Kuubah” itu maksudnya adalah dadu, dikatakan itu gendang dan dikatakan itu gitar [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar Ibnu Atsir hal 815]

وأما الكُوبة فإنّ محمد بن كثير أخبرني أن الكُوبة النرد في كلام أهل اليمن وقال غيره الطبل

Adapun Al Kuubah maka sesungguhnya Muhammad bin Katsiir mengabarkan kepadaku bahwasanya Al Kuubah adalah dadu dalam perkataan penduduk Yaman, dan berkata selainnya bahwa itu adalah gendang [Ghariib Al Hadiits Abu Ubaid Al Haraawiy 5/304]

وفي الحديث إِنَّ اللّه حَرَّم الخَمْرَ والكُوبةَ قَالَ ابْنُ الأَعْرَابِيِّ  الْكُوبَةُ النَّرْدُ  وَيُقَالُ الطَّبْلُ  وَقِيلَ الْبَرْبَطُ

Dan dalam hadis “sesungguhnya Allah mengharamkan khamar dan Al Kuubah”. Ibnu Arabiy berkata Al Kuubah adalah dadu, dan ada yang mengatakan itu adalah gendang, dan dikatakan itu adalah gitar [Al Gharibain Fii Al Qur’an Wal Hadiits Abu Ubaid juz 5 hal 1654]

Pendapat yang mengatakan Al Kuubah adalah gendang memiliki hujjah dari perkataan para perawi hadis yang mengharamkan Al Kuubah. [nampak dalam sebagian riwayat bahwa perawi-perawi tersebut menyisipkan penafsiran mereka ke dalam hadis]

  1. Aliy bin Badziimah sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal 1/274 no 2476
  2. Yahya bin Yuusuf Az Zammiy sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20779
  3. Muhammad bin ‘Abdullah bin Abdul Hakam sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20783
  4. Yahya bin Ishaaq sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Al Asyribah hal 40 no 27

Terdapat kaidah bahwa tafsir perawi hadis terhadap hadis yang ia riwayatkan lebih didahulukan dibanding tafsir selainnya. Sehingga dengan kaidah ini sebagian ulama merajihkan bahwa makna Al Kuubah adalah gendang.

Kaidah ini benar hanya saja ia tidak bersifat mutlak. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa makna Al Kuubah pada masa sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah nardu atau dadu

حدثنا عصام قال حدثنا حريز عن سلمان الإلهاني عن فضالة بن عبيد وكان بمجمع من المجامع فبلغه أن أقواما يلعبون بالكوبة فقام غضبانا ينهى عنها أشد النهي ثم قال ألا إن اللاعب بها ليأكل قمرها كآكل لحم الخنزير ومتوضىء بالدم يعني بالكوبة النرد

Telah menceritakan kepada kami ‘Ishaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Hariiz dari Salman Al ‘Alhaaniy dari Fadhalah bin ‘Ubaid dan pada saat itu ia berkumpul pada suatu perkumpulan, maka disampaikan kepadanya bahwa sekelompok orang bermain dengan Kuubah maka ia berdiri marah dan melarangnya dengan larangan yang keras kemudian berkata ketahuilah bahwa bermain dengan itu untuk memakan hasilnya maka seperti memakan daging babi dan berwudhu’ dengan darah. Yang dimaksud Kuubah adalah An Nardu [dadu] [Adabul Mufrad Al Bukhariy 1/433 no 1267]

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Fadhalah bin ‘Ubaid dan ia adalah seorang sahabat Nabi [Al Jarh Wat Ta’dil 7/77 no 433].

  1. ‘Ishaam bin Khalid Al Hadhramiy termasuk salah satu guru Bukhariy dalam kitab Shahih-nya. Nasa’iy berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 372]
  2. Hariiz bin ‘Utsman Al Himshiy. Abu Dawud berkata “guru-guru Hariiz semuanya tsiqat”. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. Duhaim menyatakan ia baik sanadnya shahih hadisnya dan tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 436]
  3. Salman bin Sumair Asy Syammiy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ia termasuk guru Hariiz dan Abu Dawud mengatakan bahwa semua guru Hariiz tsiqat. [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 230]. Ibnu Hajar berkata “maqbul” [Taqrib At Tahdzib 1/374]. Pendapat yang rajih ia seorang yang tsiqat berdasarkan apa yang disebutkan Abu Dawud dan Al Ijliy berkata “tabiin syam yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 651].

Lafaz “ya’niy bilkuubah annardu” [Kuubah yang dimaksud adalah dadu] bisa jadi berasal dari para perawi sanad tersebut termasuk Al Bukhariy. Hanya saja kami tidak menemukan qarinah kuat yang menunjukkan milik siapa lafaz tersebut. Tetapi riwayat tersebut sangat bersesuaian dengan hadis Nabi berikut

حدثني زهير بن حرب حدثنا عبدالرحمن بن مهدي عن سفيان عن علقمة بن مرثد عن سليمان بن بريدة عن أبيه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من لعب بالنردشير فكأنما صبغ يده في لحم خنزير ودمه

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy dari Sufyaan dari ‘Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Ayahnya bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “barang siapa yang bermain dadu maka ia seperti mencelupkan tangannya dalam daging babi dan darahnya” [Shahih Muslim 4/1770 no 2260]

Maka nampak bahwa makna Al Kuubah dalam riwayat Fadhalah bin ‘Ubaid tersebut adalah An Nardu yaitu dadu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tafsir Al Kuubah sebagai dadu sudah dikenal di masa sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Berdasarkan hal ini maka kami menilai pendapat yang lebih rajih adalah yang menyatakan bahwa makna Al Kuubah adalah dadu [yang dipakai dalam perjudian]. Terbukti bahwa penafsiran tersebut sudah dikenal di masa sahabat sedangkan penafsiran Al Kuubah adalah gendang berasal dari para perawi hadis yang hidup jauh setelah masa sahabat Nabi.

.

.

.

Syubhat Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Radd ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 285 dalam salah satu bantahannya kepada Syaikh Al Judai’ mengatakan bahwa An Nardu sudah termasuk dalam Judi maka ketika Al Kuubah disebutkan setelah Al Maisir [judi] maka makna Al Kuubah disana pasti bukan An Nardu [dadu] tetapi makna lain yaitu Ath Thabl [gendang]. Syaikh membawakan atsar berikut

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ أَخْبَرَنَا وَهْبُ بْنُ بَيَانٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ النَّرْدُ مِنَ الْمَيْسِرِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Wahb bin Bayaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah mengabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih dari Yahya bin Sa’iid dari Naafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata “an nardu [dadu] termasuk judi” [Tahriim An Nardu, Abu Bakar Al Ajurriy hal 131 hadis no 21]

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa menyatakan atsar ini shahih [dan memang demikian]. Hanya saja bantahan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dengan atsar ini tidak tepat, bahkan justru dengan atsar ini malah menguatkan qarinah bahwa Al Kuubah yang dimaksud adalah An Nardu.

وحدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن حاتم قالا حدثنا يحيى ( وهو القطان ) عن عبيدالله أخبرنا نافع عن ابن عمر قال ( ولا أعلمه إلا عن النبي صلى الله عليه و سلم ) قال  كل مسكر خمر وكل خمر حرام

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Haatim keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Yahya [ia Al Qaththaan] dari Ubaidillah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Nafi’ dari Ibnu ‘Umar yang berkata “aku tidak mengetahuinya kecuali dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata semua yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram” [Shahih Muslim 3/1587 no 2003]

Silakan perhatikan kembali hadis Ibnu ‘Abbaas tentang pengharaman Al Kuubah, dalam matan hadis tersebut ada empat perkara yang diharamkan yaitu

  1. Khamar
  2. Judi
  3. Al Kuubah
  4. Segala yang memabukkan

Telah tsabit dalam hadis shahih bahwa segala yang memabukkan adalah khamar maka pada dasarnya perkara no 4 itu adalah perkara yang sama dengan no 1. Maka wajar pula jika Al Kuubah tersebut bermakna An Nardu [dadu] dan telah tsabit bahwa An Nardu termasuk judi sehingga perkara no 3 itu adalah perkara yang sama dengan no 2. Jadi hujjah Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa menguatkan makna Al Kuubah dalam hadis tersebut sebagai Ath Thabl [gendang] dengan dasar bahwa An Nardu sudah termasuk dalam lafaz judi [maka tidak mungkin Al Kuubah disana bermakna An Nardu] adalah hujjah yang tidak tepat sasaran. Bukankah segala yang memabukkan sudah masuk dalam lafaz “khamar” tetapi tetap saja disebutkan lagi.

Atau mari kita melihat hadis Qais bin Sa’d [radiallahu ‘anhu] dimana terdapat lafaz pengharaman Al Ghubairaa’ setelah pengharaman Khamr. Dan Al Ghubairaa’ sendiri sebenarnya termasuk khamar

قَالَ مَالِك فَسَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ أَسْلَمَ مَا الْغُبَيْرَاءُ فَقَالَ هِيَ الْأُسْكَرْكَة

Maalik berkata aku bertanya kepada Zaid bin Aslam “apakah Al Ghubairaa’, maka ia berkata “ itu adalah Al ‘Uskarkah” [Muwatta Malik riwayat Yahya bin Yahya 2/413 no 2452]

Al ‘Uskarkah yang dimaksud dalam atsar di atas adalah khamar habsyah sebagaimana disebutkan oleh Al Jauhariy [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar Ibnu Atsiir hal 437]

Maka hal ini sangat bersesuaian, Khamr diharamkan dan setelah itu disebutkan pula Al Ghubairaa’ kemudian Judi diharamkan dan disebutkan pula Al Kuubah yang bermakna An Nardu [dadu].

.

.

.

Kesimpulan

Hadis pengharaman Al Kuubah adalah hadis yang shahih hanya saja tidak tepat jika hadis tersebut dijadikan hujjah untuk mengharamkan musik atau alat musik [yaitu gendang]. Pendapat yang rajih adalah makna Al Kuubah tersebut adalah An Nardu yaitu dadu yang sering dipakai dalam perjudian.

.

Note : Tulisan ini adalah versi yang lebih detail dan rinci [sekaligus revisi] dari tulisan sederhana kami sebelumnya soal Musik yang dapat dilihat disini. Secara keseluruhan makna kedua tulisan tersebut sama

Shahihkah Atsar Ibnu ‘Abbas : Haramnya Alat Musik Duff ?

 

Sumber : Secondprince

Shahihkah Atsar Ibnu ‘Abbas : Haramnya Alat Musik Duff ?

Terdapat riwayat dari Ibnu ‘Abbaas yang dijadikan hujjah oleh sebagian orang untuk mengharamkan musik.

أخبرنا أبو نصر بن قتادة أنبأ أبو منصور العباس بن الفضل النضروي ثنا أحمد بن نجدة ثنا سعيد بن منصور ثنا أبو عوانة عن عبد الكريم الجزري عن أبي هاشم الكوفي عن بن عباس قال الدف حرام والمعازف حرام والكوبة حرام والمزمار حرام

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nashr bin Qatadah yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Manshuur Al ‘Abbas bin Fadhl An Nadhrawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Najdah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari ‘Abdul Kariim Al Jazariy dari Abi Haasyim Al Kuufiy dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata “Duff haram, Al Ma’azif haram, Al Kuubah haram dan seruling haram” [Sunan Al Kubra Baihaqiy 10/222 no 20789]

Riwayat Ibnu ‘Abbaas di atas tidak tsabit, ia mengandung illat [cacat]. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Al Mathalib Al ‘Aaliyah no 2193 riwayat tersebut

قَالَ مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ الْكُوبَةُ حَرَامٌ وَالدُّفُّ حَرَامٌ وَالْمَعَازِفُ حَرَامٌ وَالْمَزَامِيرُ حَرَامٌ

Musaddad berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abi Haasyim dari Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhu] berkata “Al Kuubah haram, duff haram, Al Ma’aazif haram dan seruling haram” [Al Mathalib Al ‘Aaliyah no 2193]

.

.

Terdapat idhthirab pada sanadnya dari sisi Abu Awanah, terkadang ia meriwayatkan dari Abi Haasyim dari Ibnu ‘Abbaas dan terkadang ia meriwayatkan dari Abdul Kariim Al Jazariy dari Abu Haasyim Al Kuufiy dari Ibnu ‘Abbas.

Abu Awanah seorang yang tsiqat tsabit namun ternukil sedikit kelemahan padanya. Ahmad bin Hanbal berkata “Jika Abu Awanah menceritakan hadis dari kitabnya maka ia tsabit dan jika ia menceritakan dari selain kitabnya maka ia pernah melakukan kesalahan”. Abu Hatim berkata “kitabnya shahih dan jika ia menceritakan dari hafalannya maka terdapat banyak kekeliruan dan ia seorang yang shaduq tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 9/40-41 no 173]. Tentu saja kelemahan ini tidak melemahkan Abu Awanah secara mutlak, hanya sebagai qarinah yang menguatkan bahwa idhthirab sanad tersebut kemungkinan besar berasal darinya.

Kemudian cacat lain adalah Abu Haasyim Al Kuufiy. Tidak diketahui dengan pasti siapa dia?. Mereka yang menyatakan shahih atsar Ibnu ‘Abbaas di atas berhujjah bahwa Abu Haasyim yang dimaksud adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy

سعد أبو هاشم السنجاري سمع بن عباس وابن عمر روى عنه خصيف وعبد الكريم

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy mendengar dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar dan telah meriwayatkan darinya Khusaif dan ‘Abdul Kariim [Tarikh Al Kabiir Al Bukhariy juz 4 no 1981]

سعد أَبُو هَاشم السنجاري سكن دمشق يرْوى عَن بن عَبَّاس وابْن عمر روى عَنهُ خصيف وعَبْد الْكَرِيم الجزريان

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy tinggal di Dimasyiq meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar, telah meriwayatkan darinya Khusaif dan ‘Abdul Kariim, keduanya Al Jazariy [Ats Tsiqat 4/296 no 2987]

سعد أبو هاشم السنجارى جزرى روى عن ابن عمر و ابن عباس روى عنه على بن ذيمة وخصيف وعبد الكريم وهلال بن خباب سمعت ابى يقول ذلك. قال أبو محمد وروى عنه اسماعيل بن سالم. حدثنا عبد الرحمن انا أبو بكر بن ابى خيثمة فيما كتب إلى قال سألت يحيى بن معين عن ابى هاشم السنجارى قال اسمه سعد روى عن ابن عمر بصرى ثقة

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy Jazariy meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbaas, telah meriwayatkan darinya ‘Aliy bin Badziimah, Khusaif, ‘Abdul Kariim dan Hilaal bin Khabaab, aku mendengar ayahku mengatakan demikian. Abu Muhammad mengatakan telah meriwayatkan darinya Isma’iil bin Saalim. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Khaitsamah dengan kitabnya dimana ia berkata aku bertanya kepada Yahya bin Ma’in tentang Abi Haasyim As Sinjaariy, Ia berkata “namanya Sa’d, telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan dia orang Bashrah yang tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 4/98 no 436]

سعد أبو هاشم السنجاري حدث عن ابن عباس وابن عمر وعنه علي بن بذيمة وخصيف وعبد الكريم الجزري، وهلال بن خباب، وإسماعيل بن سالم وثقه ابن معين وقيل هو بصري نزل سنجار

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy menceritakan hadis dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar, telah meriwayatkan darinya Aliy bin Badziimah, Khusaif, ‘Abdul Kariim Al Jazariy, Hilaal bin Khabaab dan Isma’iil bin Saalim, ditsiqatkan Ibnu Ma’in dan dikatakan ia orang Bashrah yang tinggal di Sinjaar [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 3/53 no 75]

Jika melihat dari perawi yang meriwayatkan dari Abu Haasyim yaitu Abdul Kariim Al Jazariy dan ia meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas maka terdapat kemungkinan Abu Haasyim tersebut adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy. Hanya saja Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy tidak dikenal sebagai Abu Haasyim Al Kuufiy. Tidak ada keterangan dalam kitab biografi perawi bahwa ia adalah orang Kufah, justru disebutkan bahwa ia adalah orang Bashrah yang tinggal di Dimasyiq dan Sinjaar. Maka disini juga terdapat kemungkinan bahwa bisa saja Abu Haasyim Al Kuufiy yang dimaksud bukan Abu Haasyim As Sinjaariy.

Dua kemungkinan tersebut sama-sama memiliki qarinah yang menguatkan dan tidak bisa ditarjih maka hujjah mereka yang menshahihkan atsar Ibnu ‘Abbaas masih berdasarkan kemungkinan yang tidak menafikan kemungkinan yang lain.

.

.

Syaikh Al Albaniy dalam kitab Tahrim Alati Ath Tharb hal 92 menyatakan bahwa atsar Ibnu ‘Abbaas di atas kemungkinan sanadnya shahih dan ia menguatkan kemungkinan kalau Abu Haasyim tersebut adalah Abu Haasyim As Sinjaariy


Tahrim Alati Tharb

Tahrim Alati Tharb hal 92

قلت : و هذا إسناد صحيح إن كان ( أبو هاشم الكوفي ) هو ( أبو هاشم السنجاري ) المسمى ( سعدا ) فإنه جزري كعبد الكريم وذكروا أنه روى عنه لكن لم أر من ذكر أنه كوفي وفي ” ثقات ابن حبان ” ( 4 / 296 ) أنه سكن دمشق والله أعلم

Aku [Syaikh Al Albaniy] katakan “sanad ini shahih jika Abu Haasyim Al Kuufiy adalah Abu Haasyim As Sinjaariy yang bernama Sa’d. Ia adalah Al Jazariy sama seperti ‘Abdul Kariim dan disebutkan bahwa ia [Abdul Kariim] telah meriwayatkan darinya tetapi aku tidak melihat ada yang menyebutkan bahwa ia orang kuufah. Dalam Ats Tsiqat Ibnu Hibban 4/296 disebutkan bahwa ia tinggal di Dimasyiq, wallahu a’lam [Tahrim Alati Ath Tharb hal 92]

Sebenarnya pernyataan ini bisa dikatakan sesuatu yang aneh jika diteliti lebih lanjut bagaimana pandangan Syaikh Al Albani terhadap gurunya Al Baihaqi dalam sanad tersebut yaitu Abu Nashr bin Qatadah.

Silsilah Adh Dhaifah juz 8

Silsilah Adh Dhaifah juz 8 hal 337

Syaikh pernah berkomentar tentang suatu hadis dalam kitabnya yang lain, dimana ia berkata

ورجاله ثقات غير شيخ البيهقي أبي نصر بن قتادة فلم أعرفه

Dan para perawinya tsiqat selain gurunya Al Baihaqiy yaitu Abi Nashr bin Qatadah, aku tidak mengenalnya [Silsilah Al ‘Ahaadiits Adh Dhaiifah Syaikh Al Albaniy 8/337]

Kalau Syaikh Al Albaniy tidak mengenal Abu Nashr bin Qatadah maka apa yang membuatnya menyatakan shahih sanad yang di dalamnya ada Abu Nashr bin Qatadah.

Abu Nashr bin Qatadah salah seorang guru Al Baihaqiy memang tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal tetapi Al Baihaqiy banyak meriwayatkan hadis darinya dan dalam sebagian hadis yang ia riwayatkan telah dinyatakan shahih sanadnya oleh Al Baihaqiy [salah satunya bisa dilihat dalam Sunan Al Kubra Baihaqiy 4/336 no 8458]. Perkataan Baihaqiy “sanadnya shahih” berarti menunjukkan tautsiq terhadap Abu Nashr bin Qatadah.

Selain Syaikh Al Albaniy, Syaikh ‘Abdullah bin Yusuuf Al Judai’ juga menguatkan atsar Ibnu ‘Abbaas ini dengan alasan yang sama bahwa Abu Haasyim tersebut adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy. Adapun penyebutan Al Kuufiy maka Syaikh Al Judai’ menyebutkan bahwa mungkin saja ia pernah tinggal di Kuufah atau berasal dari Kuufah. [Ahaadiits Dzam Al Ghinaa’ Wal Ma’aazif Fii Miizaan hal 151]

Hujjah Syaikh Al Judai’ tersebut tetap berdasarkan pada kemungkinan bahwa Abu Haasyim tersebut adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy. Kemungkinan ini sama kuatnya dengan jika dikatakan Abu Haasyim Al Kuufiy seorang yang majhul tidak ditemukan biografinya dan ia bukan Abu Haasyim As Sinjaariy karena tidak ada keterangan dalam kitab Rijal yang menyebutkan kalau Abu Haasyim As Sinjaariy adalah orang Kuufah. Justru dengan mengumpulkan keterangan tentangnya dalam kitab-kitab Rijal dapat dinyatakan bahwa Abu Haasyim As Sinjaariy adalah orang yang berasal dari Bashrah dan tinggal di Dimasyiq dan Sinjaar.

.

.

Kemudian jika diteliti dengan baik maka matan atsar Ibnu ‘Abbas tersebut mungkar yaitu bertentangan dengan hadis shahih yang mengabarkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membolehkan seseorang memainkan duff di hadapan Beliau.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن الحباب ثنا حسين حدثني عبد الله بن بريدة عن أبيه ان أمة سوداء أتت رسول الله صلى الله عليه و سلم ورجع من بعض مغازيه فقالت انى كنت نذرت ان ردك الله صالحا ان أضرب عندك بالدف قال ان كنت فعلت فافعلي وان كنت لم تفعلي فلا تفعلي فضربت فدخل أبو بكر وهى تضرب ودخل غيره وهى تضرب ثم دخل عمر قال فجعلت دفها خلفها وهى مقنعة فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الشيطان ليفرق منك يا عمر أنا جالس ها هنا ودخل هؤلاء فلما ان دخلت فعلت ما فعلت

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubaab yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Buraidah dari Ayahnya bahwasanya seorang budak wanita hitam datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika Beliau kembali dari sebuah perperangan. Maka Budak itu berkata “sesungguhnya aku pernah bernadzar untuk memukul Duff di dekatmu jika Allah mengembalikanmu dalam keadaan selamat”. Beliau berkata “jika engkau telah bernadzar maka lakukanlah jika tidak maka tidak perlu kau lakukan”. Maka ia memukul duff, kemudian Abu Bakar masuk, ia tetap memukulnya. Masuklah sahabat yang lain maka ia tetap memukulnya kemudian ketika Umar masuk ia menyembunyikan Duff tersebut di balik punggungnya dan ia menutupinya. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya setan benar-benar takut kepadamu wahai Umar, aku duduk disini dan mereka masuk, ketika engkau masuk maka ia melakukan apa yang telah ia lakukan tadi” [Musnad Ahmad 5/353 no 23039, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

.

.

Kesimpulan

Atsar Ibnu ‘Abbaas yang mengatakan haramnya duff dari segi sanad memiliki illat [cacat] yang menjatuhkan sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, kemudian dari segi matan hal itu mungkar bertentangan dengan kabar shahih dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membolehkan menabuh duff.

Takhrij Hadis Haram Al Kuubah : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Mengharamkan Musik

Sumber : Secondprince

 

Takhrij Hadis Haram Al Kuubah : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Mengharamkan Musik

Pada awal mula berdirinya blog ini, kami pernah menuliskan kajian singkat mengenai hukum Musik termasuk hadis-hadis yang dijadikan hujjah untuk mengharamkan Musik. Diantara hadis-hadis tersebut terdapat hadis yang matannya menyebutkan tentang pengharaman Al Kuubah. Dan Al Kuubah ini dinyatakan oleh sebagian ulama sebagai salah satu alat musik tabuh seperti gendang.

Tulisan ini akan mengkaji lebih dalam mengenai hadis Al Kuubah dan pendapat yang rajih [di sisi penulis] berdasarkan kaidah ilmiah mengenai makna hadis tersebut.

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin ‘Abbaas

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو أحمد ثنا سفيان عن على بن بذيمة حدثني قيس بن حبتر قال سألت بن عباس عن الجر الأبيض والجر الأخضر والجر الأحمر فقال ان أول من سأل النبي صلى الله عليه و سلم وفد عبد القيس فقالوا انا نصيب من الثفل فأي الاسقية فقال لا تشربوا في الدباء والمزفت والنقير والحنتم واشربوا في الاسقية ثم قال ان الله حرم على أو حرم الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام قال سفيان قلت لعلي بن بذيمة ما الكوبة قال الطبل

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Aliy bin Badziimah yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Habtar yang berkata aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas tentang Al Jarr [wadah air minum dari tembikar] putih, Al Jarr hijau dan Al Jarr merah. Maka Beliau berkata “sesungguhnya yang pertama kali bertanya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang hal itu adalah delegasi [utusan] ‘Abdul Qais, mereka berkata “sesungguhnya kami memperoleh peralatan, maka tempat-tempat air mana [yang boleh digunakan]?. Beliau berkata “Janganlah kalian minum dari Ad Dubaa’, Al Muzaffat, An Naqiir dan Al Hantam, tetapi minumlah dari tempat-tempat air, kemudian Beliau berkata “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atasku atau telah mengharamkan khamr, judi, Al Kuubah dan setiap yang memabukkan adalah haram. Sufyaan berkata aku bertanya kepada Aliy bin Badziimah, apakah Al Kuubah itu?. Ia berkata “gendang”. [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/274 no 2476, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan hadis di atas dalam kitabnya Al Asyribah hal 79 no 193, Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/356 no 3696, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 5/114 no 2729, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 12/187 no 5365, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20780, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 41/273-274 semuanya dengan jalan sanad Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyaan dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dengan matan yang menyebutkan lafaz haram Al Kuubah. Adapun Ath Thahawiy juga menyebutkan hadis ini dalam kitabnya Syarh Ma’aaniy Al Atsaar 4/223 no 6487 dengan sanad yang sama tetapi tanpa menyebutkan lafaz haram Al Kuubah.

Abu Ahmad Az Zubairiy dalam periwayatan dari Sufyaan memiliki mutaba’ah dari Qabiishah bin ‘Uqbah sebagaimana yang disebutkan Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy dalam Al Arba’iin hal 99 no 39 dan Ibnu Muqriy dalam Mu’jam-nya hal 375 no 1257.

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ بَذِيمَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ حَبْتَرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ يَعْنِي الطَّبْلَ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Telah menceritakan kepada kami Qabiishah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan Ats Tsawriy dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari ‘Ibnu ‘Abbaas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah yaitu gendang dan semua yang memabukkan adalah haram. [Al Arba’iin Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy hal 99 no 39]

Sedikit catatan mengenai hadis Qabiishah di atas yaitu lafaz “ya’niy Ath Thabl” setelah lafaz Al Kuubah bukanlah bagian dari lafaz hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi ia adalah perkataan Ali bin Badziimah sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyaan. Jadi telah terjadi idraaj dalam matan hadisnya.

Al Bazzaar meriwayatkan hadis Qabiishah dari Sufyaan dengan sanad dan matan berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَارَةَ بْنِ صُبَيْحٍ ثنا قَبِيصَةُ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ قَيْسِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ حَرَّمَ الْمَيْتَةَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ يَعْنِي الطَّبْلَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Umarah bin Shubaih yang berkata telah menceritakan kepada kami Qabiishah dari Sufyaan dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwasanya Beliau mengharamkan bangkai, judi, Al Kuubah yaitu gendang dan Ibnu ‘Abbas berkata “segala yang memabukkan adalah haram” [Kasyf Al Asytaar 3/349 no 2913]

Hadis riwayat Al Bazzar ini tidak mahfuuzh karena Muhammad bin ‘Umarah bin Shubaih telah menyelisihi Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy dalam riwayat dari Sufyaan. Muhammad bin ‘Umaarah bin Shubaih disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 9/112 no 15474] telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat seperti Ahmad bin ‘Amru Al Bazzaar, Abdullah bin Muhammad bin Naajiyah, Ibnu Abi Dunyaa dan yang lainnya [Mu’jam Syuyuukh Ath Thabariy no 302]. Maka ia seorang yang shaduq hasanul hadis hanya saja ia telah menyelisihi Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy seorang yang dikatakan Abu Hatim tsiqat dan Abu Zur’ah berkata “tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/201 no 1129]. Maka riwayat Qabiishah yang tsabit adalah dari Sufyaan dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas.

Sufyaan Ats Tsawriy dalam periwayatan dari Aliy bin Badziimah memiliki mutaba’ah dari

  1. Israiil bin Yunuus sebagaimana disebutkan oleh Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 12/101 no 12598 dan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 8/303 no 17208 dengan matan yang menyebutkan idraaj lafaz Ath Thabl setelah lafaz Al Kuubah.
  2. Qais bin Rabii’ sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 12/102 no 12599 dengan sanad dari Muhammad bin ‘Abdullah Al Hadhramiy dari Abu Bilal Al Asy’ariy dari Qais bin Rabii’. Hanya saja sanad ini tidak tsabit sebagai mutaba’ah karena Abu Bilal Al Asy’ariy seorang yang dhaif sebagaimana dikatakan Ad Daruquthniy [Sunan Daruquthniy 1/220 no 71]
  3. Muusa bin A’yaan sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 12/102 no 12600 dengan jalan sanad Muusa bin A’yaan dari Aliy bin Badziimah dari Sa’iid bin Jubair dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dengan matan hanya berupa lafaz “semua yang memabukkan adalah haram” tanpa menyebutkan Al Kuubah.

Sanad yang mahfuzh adalah riwayat Sufyaan dan Isra’iil dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbaas [tanpa menyebutkan Sa’iid bin Jubair]. Adapun periwayatan Muusa bin A’yaan yang menambahkan Sa’iid bin Jubair antara Aliy bin Badziimah dan Qais bin Habtar mengandung illat [cacat] sebagaimana disebutkan Al Mizziy dalam Tuhfatul Asyraf 4/657-658 no 6333. Al Mizziy membawakan riwayat yang menjadi bukti idhthirab Muusa bin A’yaan dan menukil dari Al Khatib yang mengatakan kalau Muusa bin A’yaan telah tercampur dalam hadis ini dan yang shahih adalah apa yang diriwayatkan Sufyaan dari Aliy bin Badziimah.

Aliy bin Badziimah dalam periwayatan dari Qais bin Habtar memiliki mutaba’ah dari ‘Abdul Kariim bin Maliik Al Jazariy seperti nampak dalam riwayat berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبى قال ثنا أحمد بن عبد الملك وعبد الجبار بن محمد قالا ثنا عبيد الله يعنى بن عمرو عن عبد الكريم عن قيس بن حبتر عن بن عباس عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ان الله حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة وقال كل مسكر حرام

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdul Malik dan ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad, keduanya berkata telah mencritakan kepada kami Ubaidillah yakni bin ‘Amru dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan semua yang memabukkan adalah haram [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/289 no 2625, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Ahmad bin ‘Abdul Malik dan ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad dalam periwayatan dari Ubaidillah bin ‘Amru memiliki mutaba’ah dari

  1. Zakaria bin ‘Adiy sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 1/350 no 3274 dan dalam kitabnya Al Asyribah hal 35 no 14
  2. ‘Aliy bin Ma’bad sebagaimana disebutkan Ath Thahawiy dalam Syarh Ma’aaniy Al Atsaar 4/216 no 6445
  3. Jandal bin Waaliq sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/213 no 20732
  4. Yahya bin Yuusuf Az Zammiy sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20779 dan Kitabnya Al Adaab hal 423 no 923

Yahya bin Yuusuf Az Zammiy meriwayatkan dari Ubaidillah bin ‘Amru hadis tersebut dengan lafaz berikut

أخبرنا أبو الحسين بن بشران أنبأ الحسين بن صفوان ثنا عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا ثنا يحيى بن يوسف الزمي ثنا عبيد الله بن عمرو عن عبد الكريم هو الجزري عن قيس بن حبتر عن بن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الله تبارك وتعالى حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة وهو الطبل وقال كل مسكر حرام

Telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Busyraan yang berkata telah memberitakan kepada kami Husain bin Shafwaaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunyaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yuusuf Az Zammiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Amru dari ‘Abdul Kariim, ia Al Jazariy dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Allah tabaraka wata’ala telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan ia adalah gendang dan berkata “segala yang memabukkan adalah haram” [Sunan Al Kubra Al Baihaqiy 10/221 no 20779]

Riwayat di atas mengandung illat [cacat] pada matan “wa huwa ath thabl” setelah lafaz Al Kuubah. Yahya bin Yusuf Az Zammiy adalah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/319] tetapi dengan lafaz itu ia telah menyelisihi lima perawi tsiqat shaduq yang meriwayatkan dari Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy tanpa menyebutkan lafaz tersebut. Mereka adalah

  1. Zakaria bin Adiy seorang yang tsiqat jaliil hafizh [Taqrib At Tahdzib 1/313]
  2. Aliy bin Ma’bad Ar Raqiy seorang yang tsiqat faqiih [Taqrib At Tahdzib 1/703]
  3. Ahmad bin ‘Abdul Malik Al Asdiy seorang yang tsiqat, telah membicarakan tentangnya tanpa hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/40]
  4. ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad Al Khaththaabiy seorang yang jaliil, dan Abu Aruubah telah memujinya dengan kebaikan [Su’alat Hamzah As Sahmiy no 328]
  5. Jandal bin Waaliq seorang yang shaduq pernah melakukan kekeliruan dan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/167].

Oleh karena itu tambahan lafaz “wa huwa ath thabl” tidaklah tsabit sebagai perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena illat [cacat] tafarrud Yahya bin Yusuf yang menyelisihi riwayat jama’ah bahkan diantaranya terdapat perawi yang lebih tsiqat dan hafizh darinya.

Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy adalah perawi yang tsiqat faqih dan pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/637] dan dalam periwayatan dari ‘Abdul Kariim Al Jazariy, ia memiliki mutaba’ah dari Ma’qil bin ‘Ubaidillah perawi yang shaduq sering keliru [Taqrib At Tahdzib 2/201] dalam penyebutan lafaz haram Al Kuubah, yaitu hadis berikut

حدثنا أحمد بن النضر العسكري ثنا سعيدبن حفص النفيلي قال قرأنا على معقل بن عبيد الله عن عبد الكريم عن قيس بن حبتر الربعي عن عبد الله بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ثمن الخمر حرام ومهر البغي حرام وثمن الكلب حرام والكوية حرام وإن أتاك صاحب الكلب يلتمس ثمنه فأملأ يديه ترابا والخمر والميسر وكل مسكر حرام

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nadhr Al ‘Askariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Hafsh An Nufailiy yang berkata kami membacakan kepada Ma’qil bin ‘Ubaidillah dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Habtar Ar Rib’iy dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “hasil penjualan khamar haram, hasil melacur haram, hasil penjualan anjing haram, Al Kuubah haram, dan jika datang kepadamu pemilik anjing meminta hasil penjualan anjingnya maka ia telah memenuhi kedua tangannya dengan tanah, khamar, judi dan segala yang memabukkan adalah haram [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 12/102 no 12601]

Ahmad bin Nadhr Al ‘Askariy disebutkan Ibnu Munadiy bahwa ia termasuk orang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 6/413-315 no 2905]. Sa’id bin Hafsh An Nufailiy adalah seorang yang shaduq tetapi berubah hafalannya di akhir umurnya [Taqrib At Tahdzib 1/350]. Sa’iid bin Hafsh An Nufailiy dalam periwayatannya dari Ma’qil bin Ubaidillah memiliki mutaba’ah dari Muhammad bin Yaziid bin Sinan Al Jazariy sebagaimana disebutkan Daruquthniy dalam Sunan-nya 3/7 no 19.

Qais bin Habtar dalam periwayatan dari Ibnu ‘Abbas memiliki mutaba’ah dari Syaibah bin Musaawir sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Awsath

حدثنا محمد بن أبان نا إسحاق بن وهب ثنا حفص بن عمر الإمام ثنا هشام الدستوائي عن عباد بن أبي علي عن شيبة بن المساور عن بن عباس أن النبي صلى الله عليه و سلم حرم ستة الخمر والميسر والمعازف والمزامير والدف والكوبة

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar Al Imaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam Ad Dustuwa’iy dari ‘Abbaad bin Abi ‘Aliy dari Syaibah bin Musaawir dari Ibnu ‘Abbaas bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengharamkan enam hal yaitu khamar, judi, al ma’azif, seruling, duff dan Al Kuubah [Mu’jam Al Awsath 7/241 no 7388]

Riwayat Ath Thabraniy di atas sanadnya dhaif sehingga tidak bisa dijadikan penguat dengan alasan sebagai berikut

  1. Hafsh bin ‘Umar Al Imam adalah perawi yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 1/228].
  2. ‘Abbad bin Abi ‘Aliy tidak dikenal kredibilitasnya, Adz Dzahabiy menyebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis mungkar dan Ibnu Qaththan berkata “tidak tsabit ‘adalah-nya” [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 4/32-33 no 4135]
  3. Syaibah bin Musaawir disebutkan Ibnu Hajar yang menukil dari Ibnu Ma’in [riwayat Ad Duuriy] bahwa ia tsiqat. Dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa riwayatnya dari Ibnu ‘Abbas mursal [Ta’jil Al Manfa’ah 1/646-647 no 461]. Tautsiq Ibnu Ma’in yang dinukil Ibnu Hajar tersebut keliru, dalam Tarikh Ad Duuriy no 4959 Yahya bin Ma’in menyebutkan tentang Syaibah bin Musaawir tetapi tidak menyebutkan tautsiq terhadapnya.

Kembali pada riwayat Aliy bin Badziimah yang dikeluarkan Ahmad bin Hanbal di atas, riwayat tersebut sanadnya shahih para perawinya tsiqat.

  1. Abu Ahmad Az Zubairiy gurunya Ahmad bin Hanbal adalah seorang yang tsiqat tsabit hanya saja sering keliru dalam riwayat Sufyaan Ats Tsawriy [Taqrib At Tahdzib 2/95]. Ia memiliki mutaba’ah dari Qabiishah bin ‘Uqbah seorang yang shaduq terkadang keliru [Taqrib At Tahdzib 2/26]
  2. Sufyan Ats Tsawriy seorang yang tsiqat hafizh faqiih ahli ibadah imam hujjah termasuk pemimpin thabaqat ketujuh, dituduh melakukan tadlis [Taqrib At Tahdzib 1/371]. Ia memiliki mutaba’ah dari Israil bin Yunus seorang yang tsiqat dan ada yang membicarakan tentangnya tanpa hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/88]
  3. Aliy bin Badziimah seorang yang tsiqat dan dikatakan tasyayyu’ [Taqrib At Tahdzib 1/688]. Ia memiliki mutaba’ah dari ‘Abdul Kariim bin Malik Al Jazariy seorang yang tsiqat mutqin [Taqrib At Tahdzib 1/611]
  4. Qais bin Habtar yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas adalah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/32]

Kesimpulannya hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas mengenai pengharaman Al Kuubah memiliki sanad yang shahih. Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas [radiallahu ‘anahu] memiliki syahid [penguat] dari riwayat ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash [radiallahu ‘anhu] dan Riwayat Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu].

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ قَال حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ وَالْغُبَيْرَاء

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Adh Dhahhaak bin Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Hamiid bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Al Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru yang berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan Al Ghubairaa’ [Al Asyribah Ahmad bin Hanbal no 207]

Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru [radiallahu ‘anhu] di atas juga disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 2/171 no 6591, Al Baihaqiy dalam Sunan-nya 10/221 no 20782. Ya’qub bin Sufyaan dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/519, biografi Walid bin ‘Abdah dan Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhiid 1/247-248 dan At Tamhiid 5/167. Semuanya dengan jalan sanad ‘Abdul Hamiid bin Ja’far dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash.

‘Abdul Hamiid bin Ja’far dalam periwayatan dari Yaziid bin Abi Habiib memiliki mutaba’ah dari

  1. Laits bin Sa’ad sebagaimana disebutkan Ibnu Wahb dengan lafaz sanad ‘Amru bin Waliid berkata telah disampaikan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash [Al Muwatta Ibnu Wahb no 75 dan Sunan Baihaqiy 10/222 no 20784]
  2. ‘Abdullah bin Lahii’ah sebagaimana disebutkan Ibnu Wahb dengan lafaz sanad ‘Amru bin Waliid berkata telah disampaikan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash dan matan yang mengandung tambahan lafaz pengharaman Al Qinniin [Al Muwatta Ibnu Wahb no 75 dan Sunan Baihaqiy 10/222 no 20784]. Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan riwayat Yahya bin Ishaaq dari Ibnu Lahii’ah dari Yazid dari ‘Amru bin Walid dengan lafaz ‘an anah dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan matan tanpa menyebutkan lafaz Al Qiniin [Musnad Ahmad bin Hanbal 2/158 no 6478]
  3. Muhammad bin Ishaaq, telah meriwayatkan darinya tiga perawi yaitu pertama Hammaad bin Salamah sebagaimana yang disebutkan Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/353 no 3685, Ath Thahaawiy dalam Syarh Ma’aaniy Al Atsar 4/217 no 6451, Ya’qub bin Sufyaan dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/518, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 20781. Kedua Muhammad bin Salamah Al Harraaniy sebagaimana disebutkan Al Bazzaar dalam Al Bahr Az Zukhaar 6/424-425 no 2454. Kedua perawi ini [Hammad dan Muhammad bin Salamah] meriwayatkan dengan jalan sanad dari Ibnu Ishaq dari Yaziid bin Abi Habiib dari Walid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash. Ketiga adalah Yaziid bin Haruun sebagaimana disebutkan Abu Ubaid Qaasim bin Salaam dalam Ghariib Al Hadiits 5/304 dengan jalan sanad dari Ibnu Ishaaq dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Abdullah bin ‘Amru [tanpa menyebutkan ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah atau ‘Waliid bin ‘Abdah].

Dari ketiga mutaba’ah tersebut hanya Laits bin Sa’ad yang tsabit sebagai penguat bagi ‘Abdul Hamiid bin Ja’far. Adapun riwayat Muhammad bin Ishaaq tidak mahfuzh dengan alasan sebagai berikut

  1. Adanya idhthirab pada riwayat Muhammad bin Ishaaq yaitu terkadang ia menyebutkan dari Yazid dari Waliid bin ‘Abdah dari Abdullah bin ‘Amru dan terkadang menyebutkan dari Yazid dari ‘Abdullah bin ‘Amru [tanpa menyebutkan Waliid bin ‘Abdah].
  2. Semua riwayat Muhammad bin Ishaaq, ia riwayatkan dengan lafaz ‘an anah padahal ia masyhur melakukan tadlis dari perawi dhaif dan majhul sehingga Ibnu Hajar memasukkan namanya dalam mudallis martabat keempat [Thabaqat Al Mudallisin hal 51 no 125]
  3. Muhammad bin Ishaaq telah menyelisihi riwayat Laits bin Sa’ad dan ‘Abdul Hamiid bin Ja’far dimana Muhammad bin Ishaaq menyebutkan orang yang meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru adalah Waliid bin ‘Abdah. Sedangkan kedua perawi tsiqat yaitu Laits dan ‘Abdul Hamiid [yang lebih tsiqat dari Ibnu Ishaaq] menyebutkan dengan nama ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah.

Sedangkan riwayat Abdullah bin Lahii’ah terdapat pembicaraan tentangnya karena mengandung illat [cacat] yang tersembunyi yaitu idhthirab pada sisi Ibnu Lahii’ah. Terkadang ia meriwayatkan dengan sanad berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى ثنا بن لهيعة عن عبد الله بن هبيرة عن أبي هبيرة الكلاعي عن عبد الله بن عمرو بن العاصي قال خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم يوما فقال ان ربي حرم على الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hubairah Al Kalaa’iy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui kami pada suatu hari maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku telah mengharamkan khamar, judi, mizr, Al Kuubah dan Al Qinniin” [Musnad Ahmad 2/172 no 6608]

حديث ابن لهيعة عن ابن هبيرة عن أبي هبيرة الكحلاني مولى لعبدالله بن عمرو عن عبدالله بن عمرو أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} خرج إليهم ذات يوم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين حدثناه طلق بن السمح اللخمي

Hadiist Ibnu Lahii’ah dari Ibnu Hubairah dari Abi Hubairah Al Kahlaaniy maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari di dalam masjid, maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamar, judi, mizr, Al Kuubah dan Al Qinniin. Telah menceritakan kepada kami Thalq bin As Samh Al Lakhmiy [Futuuh Mishr Wa Akhbaruha, Ibnu Abdul Hakam hal 169]

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ أنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هُبَيْرَةَ عَنْ أَبِي هُبَيْرَةَ الْكَحْلَانِيِّ عَنْ مَوْلَى لِعَبْدِ اللَّهِ بْن عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَيْهِمْ ذَاتَ يَوْمٍ وَهُمْ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَيَّ الْخَمْرَ والْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ والْقِنِّينَ وَالْكُوبَةُ الطَّبْلُ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb kepadaku Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah Al Kahlaaniy dari Maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan Al Qinniin, Al Kuubah adalah gendang [Al Muwatta Ibnu Wahb no 74]

Riwayat Ibnu Wahb di atas juga disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20783 dengan jalan sanad dari Ibnu Wahb dari Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hurairah atau Hubairah Al ‘Ajlaaniy dari maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari Abdullah bin ‘Amru secara marfu’.

Abdullah bin Lahii’ah adalah perawi yang shaduq hanya saja setelah kitabnya terbakar maka hafalannya berubah dan kedudukannya menjadi dhaif. Yahya yang dimaksud dalam riwayat Ahmad adalah Yahya bin Ishaaq As Sailahiiniy dan ia disebutkan Ibnu Hajar termasuk sahabat Ibnu Lahii’ah yang terdahulu [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 729 biografi Hafsh bin Haasyim]. Dan Ibnu Wahb juga termasuk yang mendengar Abdullah bin Lahii’ah sebelum ikhtilath, sehingga dikatakan bahwa riwayatnya dari Abdullah bin Lahii’ah adalah shahih [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 3563].

Thalq bin As Samh disebutkan Adz Dzahabiy bahwa Abu Hatim berkata “Syaikh Mesir tidak dikenal” dan berkata selainnya “tempat kejujuran, insya Allah” [Mizan Al I’tidal 3/472 no 4030]. Di saat lain Adz Dzahabiy berkata “ada kelemahan padanya” [Diwan Adh Dhu’afa no 2023]. Ibnu Hajar berkata “maqbul” [Taqrib At Tahdzib 1/453]. Dan tidak diketahui apakah ia meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Lahii’ah sebelum atau sesudah kitabnya terbakar.

Secara ringkas berikut sanad hadis ‘Abdullah bin ‘Amru tentang pengharaman Al Kuubah yang diriwayatkan Abdullah bin Lahii’ah

  1. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari Yazid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash
  2. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah Al Kalaa’iy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash
  3. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah dari Maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash

Ketiga sanad ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang mendengar dari Ibnu Lahii’ah sebelum ia mengalami ikhtilath [sebelum kitabnya terbakar] maka tidak bisa dinyatakan riwayat mana yang lebih rajih. Hal ini berarti menunjukkan adanya idhthirab dan nampak bahwa idhthirab tersebut berasal dari ‘Abdullah bin Lahii’ah.

Jika dikatakan bahwa sanad pertama yaitu dari Yazid dari ‘Amru bin Waliid lebih rajih karena dikuatkan oleh riwayat Laits bin Sa’ad maka ini bisa jadi benar, hanya saja perlu diperhatikan bahwa tidak semua matan riwayat ‘Abdullah bin Lahii’ah sama dengan matan riwayat Laits bin Sa’ad. Matan pengharaman lafaz Al Qinniin yang ada pada riwayat Ibnu Lahii’ah tidak terdapat pada riwayat Laits bin Sa’ad maka kedudukannya tidak mafuuzh.

‘Amru bin Waliid dalam periwayatan dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash memiliki mutaba’ah dari ‘Abdurrahman bin Raafi’ At Tanuukhiy, sebagaimana riwayat berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يزيد أنا فرج بن فضالة عن إبراهيم بن عبد الرحمن بن رافع عن أبيه عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الله حرم على أمتي الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين وزادني صلاة الوتر قال يزيد القنين البرابط

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid yang berkata telah menceritakan kepada kami Faraj bin Fadhalah dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Raafi’ dari Ayahnya dari ‘Abdullah bin ‘Amru yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas umatku khamar, judi, mizr, Al Kuubah, Al Qinniin dan menambahkan kepadaku shalat witir. Yazid berkata “Al Qinniin adalah gitar [Musnad Ahmad 2/165 no 6547]

Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan hadis ini dalam Musnad-nya 2/167 no 6564 dan Al Asyribah hal 84 no 214. Riwayat ini sanadnya dhaif karena

  1. Faraj bin Fadhalah seorang yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 2/8]
  2. Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Rafi’ seorang yang majhul [Ta’jil Al Manfa’ah no 15]
  3. Abdurrahman bin Rafi’ At Tanuukhiy seorang yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 1/568]

Sejauh ini dapat disimpulkan bahwa sanad yang tsabit adalah riwayat Abdul Hamiid bin Ja’far dan Laits bin Sa’ad yang bermuara pada Yazid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru. Para perawinya tsiqat hanya saja terdapat illat [cacat] dengan memperhatikan kedua riwayat

  1. Riwayat Abdul Hamiid menyebutkan ‘Amru bin Walid meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan lafaz ‘an anah
  2. Riwayat Laits bin Sa’ad menyebutkan ‘Amru bin Walid meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan lafaz “telah sampai kepadaku dari”

Jika ditarjih maka riwayat Laits bin Sa’ad lebih rajih karena ia seorang yang tsiqat tsabit faqiih imam masyhur [Taqrib At Tahdzib 2/48] sedangkan ‘Abdul Hamiid bin Ja’far seorang yang shaduq dituduh berpehaman qadariy dan pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/554]. Dan jika digabungkan maka menunjukkan bahwa lafaz ‘an anah pada riwayat Abdul Hamiid adalah mursal sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat Laits bin Sa’ad. Kesimpulannya hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash di atas ma’lul [cacat] karena mursal.

.

.

.

Hadis Qais bin Sa’ad Al Anshariy

‘Abdullah bin Wahb menyebutkan hadis Qais bin Sa’ad setelah ia menyebutkan hadis Abdullah bin Lahii’ah dari Ibnu Hubairah. Berikut hadis lengkapnya

وأخبرنا أبو زكريا بن أبي إسحاق المزكي وأبو بكر أحمد بن الحسن القاضي قالا ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ محمد بن عبد الله بن عبد الحكم أنبأ بن وهب أخبرني بن لهيعة عن عبد الله بن هبيرة عن أبي هريرة أو هبيرة العجلاني عن مولى لعبد الله بن عمرو عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه و سلم خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين والكوبة الطبل قال وأنبأ بن وهب أخبرني الليث بن سعد وبن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبدة عن قيس بن سعد وكان صاحب راية النبي صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ذلك قال والغبيراء وكل مسكر حرام قال عمرو بن الوليد وبلغني عن عبد الله بن عمرو بن العاص مثله ولم يذكر الليث القنين

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Zakaria bin Abi Ishaaq Al Muzakkiy dan Abu Bakar Ahmad bin Hasan Al Qaadhiy, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam yang berkata telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hurairah atau Hubairah Al ‘Ajlaaniy dari maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kubbah dan Al Qinniin, dan Al Kuubah adalah gendang, telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Laits bin Sa’ad dan Ibnu Lahii’ah dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari Qais bin Sa’ad dan ia sahabat yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan demikian mengatakan “dan ghubairaa’ dan segala yang memabukkan adalah haram”. ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah berkata “dan telah sampai kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash seperti itu”. Dan Laits tidak menyebutkan Al Qinniin. [Sunan Al Kubra Baihaqiy 10/222 no 20783-20784]

Riwayat di atas juga disebutkan dalam Al Muwatta Ibnu Wahb hal 46 no 74-75. Ibnu ‘Abdul Hakam meriwayatkan dari Ayahnya dari Ibnu Lahii’ah hadis Qais bin Sa’ad di atas sebagai berikut

حديث ابن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبدة عن قيس بن سعد أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين وكل مسكر حرام حدثناه أبي عبدالله بن عبد الحكم وربما أدخل فيما بين عمرو بن الوليد وبين قيس أنه بلغه

Hadis Ibnu Lahii’ah dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari Qais bin Sa’ad bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka di dalam masjd, maka Beliau berkata sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kuubah dan Al Qinniin dan setiap yang memabukkan adalah haram. Telah menceritakan tentangnya Ayahku ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dan sepertinya terdapat diantara ‘Amru bin Waliid dan Qais lafaz bahwasanya telah sampai kepadanya [Futuuh Mishr Wa Akhbaruha, Ibnu ‘Abdul Hakam hal 180]

Riwayat Ibnu Wahb dari Ibnu Lahii’ah telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya menunjukkan adanya idhthirab sehingga yang tersisa adalah riwayat Laits bin Sa’ad. Perhatikan matannya

عن قيس بن سعد وكان صاحب راية النبي صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ذلك قال والغبيراء وكل مسكر حرام

Dari Qais bin Sa’ad dan ia sahabat yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan demikian mengatakan “dan ghubairaa’ dan segala yang memabukkan adalah haram”.

Lafaz qaala dzalik di atas merujuk pada matan hadis sebelumnya yaitu hadis Ibnu Lahii’ah dari Ibnu Hubairah

عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه و سلم خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين والكوبة الطبل

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kubbah dan Al Qinniin” dan Al Kuubah adalah gendang

Hanya saja perlu dipahami [berdasarkan qarinah yang kuat] bahwa lafaz “wal kuubah ath thabl” setelah lafaz qinniin bukan bagian dari hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Qarinahnya adalah sebagai berikut

  1. Riwayat Yahya bin Ishaaq dan Thalq bin As Samh dari Ibnu Lahii’ah menyebutkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash di atas tanpa menyebutkan lafaz “wal kuubah ath thabl”
  2. Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dari Ibnu Lahii’ah [sebagaimana disebutkan Ibnu ‘Abdul Hakam] menyebutkan hadis Qais bin Sa’ad tanpa menyebutkan lafaz “wal kuubah ath thabl”. Dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dikatakan tsiqat oleh Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 5/105-106 no 485]. Hanya saja tidak diketahui apakah ia meriwayatkan dari Abdullah bin Lahii’ah sebelum atau sesudah kitabnya terbakar.
  3. Pada matan riwayat Baihaqiy di atas memang terdapat lafaz dimana perkataan perawi tercampur dengan hadisnya tanpa terdapat keterangan milik siapa lafaz tersebut. Seperti misalnya lafaz ولم يذكر الليث القنين lafaz ini tertulis sesudah lafaz ‘Amru bin Walid berkata “dan telah sampai kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash seperti itu”. Tidak mungkin lafaz ini masuk dalam perkataan ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah dan kemungkinannya lafaz ini adalah milik Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam. Maka lafaz والكوبة الطبل besar kemungkinan juga perkataan Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam terhadap tafsir Al Kuubah.

Maka dapat disimpulkan bahwa lafaz “wal kuubah ath thabl” bukan bagian dari hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Adapun lafaz qinniin, itu hanya ada pada riwayat Ibnu Lahii’ah sedangkan pada riwayat Laits tidak ada. Maka lafaz qaala dzalik itu mencakup pengharaman khamar, judi dan Al Kuubah pada riwayat sebelumnya. Secara keseluruhan matan riwayat Laits bin Sa’ad adalah pengharaman khamar, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan setiap yang memabukkan adalah haram.

Riwayat Laits bin Sa’ad sebagaimana yang diriwayatkan Al Baihaqiy kedudukan sanadnya jayyid diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq.

  1. Abu Zakariya bin Abu Ishaq Al Muzakkiy seorang yang tsiqat mulia baik zuhud wara’ dan mutqin [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 17/295-296 no 179]
  2. Ahmad bin Hasan Abu Bakar seorang imam alim musnad khurasan. As Sam’aniy berkata “tsiqat dalam hadis” [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 17/356 no 221]
  3. Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub Al ‘Asham seorang Imam muhaddis. Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah menyatakan tsiqat. Abu Nu’aim bin ‘Adiy berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Abi Hatim berkata “tsiqat shaduq” [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 15/452-458 no 258]
  4. Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam seorang yang faqih tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/96]
  5. ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy seorang yang faqiih tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqrib At Tahdzib 1/545]
  6. Laits bin Sa’ad Abu Harits Al Mishriy seorang yang tsiqat tsabit faqiih imam masyhur [Taqrib At Tahdzib 2/48]
  7. Yaziid bin Abi Habiib Al Mishriy seorang yang tsiqat faqih [Taqrib At Tahdzib 2/322]
  8. ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah seorang yang shaduq [Taqrib At Tahdzib 1/748]. Ibnu Yuunus menyebutkan bahwa ia temasuk seorang yang mempunyai keutamaan dan ahli fiqih [Tarikh Ibnu Yunus 1/378-379 no 1036]

Ibnu ‘Abdul Hakam yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dalam kitabnya Futuuh Mishr Wa Akhbaruha hal 180 menyebutkan riwayat dimana seolah ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah meriwayatkan dari Qais bin Sa’ad secara mursal yaitu dengan lafaz “telah sampai kabar kepadanya dari Qais”. Seandainya saja sanadnya tsabit dan shahih maka riwayat ini bisa menjadi illat [cacat] yang menjatuhkan hadis Qais bin Sa’ad. Riwayat Ibnu ‘Abdul Hakam tersebut adalah riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dari Ibnu Lahii’ah maka kedudukannya tidak tsabit sebagai hujjah karena tidak diketahui apakah ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam meriwayatkan sebelum atau setelah Ibnu Lahii’ah ikhtilath dan kitabnya terbakar.

‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dalam periwayatan dari Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu] memiliki mutaba’ah dari Bakr bin Sawadah yaitu riwayat berikut

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ قَال حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ ثنا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَحْرٍ عَنْ بَكْرِ بْنِ سَوَادَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَيَّ الْخَمْرَ  وَالْكُوبَةَ وَالْقِنِّينَ وَإِيَّاكُمْ وَالْغُبَيْرَاءَ فَإِنَّهَا ثُلُثُ خَمْرِ الْعَالَمِ قَالَ قُلْتُ لِيَحْيَى  مَا الْكُوبَةُ ؟ قَالَ الطَّبْلُ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayuub dari ‘Ubaidillah bin Zahr dari Bakr bin Sawaadah dari Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah [radiallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla mengharamkan atasku khamar, Al Kuubah dan Qinniin dan jauhilah Al Ghubairaa’ karena itu adalah sepertiga khamr di dunia. Ahmad bin Hanbal berkata aku berkata kepada Yahya “apa itu Al Kuubah?”. Ia berkata “gendang” [Al Asyribah Ahmad bin Hanbal hal 40 no 27]

Riwayat ini juga disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 3/422 no 15519, Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 18/352 no 897, Ibnu ‘Abdul Hakam dalam Futuuh Mishr Wa Akhbaruha hal 180, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 8/141-142 no 24540 dengan tambahan lafaz Qinniin adalah Al ‘Uud, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20784 dengan tambahan lafaz, Abu Zakariyaa berkata Al Qinniin adalah Al ‘Uud [Abu Zakariyaa adalah kuniyah Yahya bin Ishaaq maka ini menjelaskan bahwa tambahan lafaz dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah adalah idraaj dari Yahya bin Ishaaq]. Semuanya dengan jalan sanad Yahya bin Ayuub dari Ubaidillah bin Zahr dari Bakr bin Sawaadah dari Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu]. Kedudukan riwayat ini dhaif karena

  1. Ubaidillah bin Zahr berdasarkan pendapat yang rajih ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya
  2. Bakr bin Sawaadah berdasarkan qarinah yang kuat, riwayatnya dari Qais bin Sa’ad mursal.

Ubaidillah bin Zahr Al ‘Ifrikiy, Bukhariy berkata “tsiqat” [Ilal Tirmidzi no 335]. Abu Dawud berkata aku mendengar Ahmad mengatakan Ubaidillah bin Zahr tsiqat [Su’alat Abu Ubaid Al Ajurriy no 1523]. Ibnu Hajar mengatakan bahwa Ahmad yang dimaksud disini adalah Ahmad bin Shalih Al Mishriy [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 25]. Nasa’iy berkata “tidak ada masalah padanya”. Al Hakim berkata “layyin hadisnya”. Al Khatib berkata “seorang yang shalih dan dalam hadisnya layyin [lemah]. Al Harbiy berkata “selainnya lebih terpercaya darinya”. [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 25]

Ahmad bin Hanbal mendhaifkannya, Yahya bin Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”, Aliy bin Madiiniy berkata “munkar al hadiits”. Abu Hatim berkata “layyin [lemah] hadisnya”. Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah, shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/315 no 1499]

Yahya bin Ma’in dalam riwayat Ad Dariimiy berkata “semua hadisnya di sisiku dhaif” [Tarikh Ad Dariimiy no 626]. Yahya bin Ma’in berkata dalam riwayat Ibnu Junaid “dhaif dalam hadis” [Su’alat Ibnu Junaid no 549].

Abu Mushir mengatakan bahwa Ubaidillah bin Zahr pemilik riwayat-riwayat mu’dhal dan karenanya lemah hadisnya. Ibnu Adiy mengatakan bahwa hadis-hadisnya tidak memiliki mutaba’ah [Al Kamil Ibnu Adiy 5/522-5214 no 190]

Ya’qub bin Sufyaan berkata “dhaif” [Ma’rifat Wal Tariikh Ya’quub bin Sufyaan Al Fasawiy 2/424]. Daruquthniy berkata “dhaif” [Al Ilal Daruquthniy no 160]. Al Ijliy berkata “ditulis hadisnya dan tidak kuat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1156]. Ibnu Hibban berkata “mungkar hadis jiddan, ia meriwayatkan hadis-hadis maudhu’ dari para perawi tsabit” [Al Majruuhin Ibnu Hibban 2/28-29 no 603]

Ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib “shaduq sering keliru” [At Taqrib 1/632]. Dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib dikoreksi bahwa kedudukan Ubaidillah bin Zahr adalah dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4290]

Dengan mengumpulkan seluruh perkataan para ulama tentangnya maka pendapat yang rajih tentangnya adalah ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya karena banyak ulama mendhaifkannya dan sebagian jarh terhadapnya bersifat mufassar. Dalam kaidah ilmu hadis jarh mufassar lebih didahulukan dibanding ta’dil, maka dari itu ta’dil sebagian ulama terhadap Ubaidillah bin Zahr hanya mengangkat derajatnya sebagai perawi yang bisa dijadikan i’tibar hadisnya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah.

Bakr bin Sawaadah disebutkan oleh Ibnu Hajar yang menukil dari Ibnu Yunuus bahwa ia wafat tahun 128 H [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 888] sedangkan Qais bin Sa’ad disebutkan Ibnu Hajar yang menukil dari Al Haitsam bin Adiy, Al Waqidiy, Khaliifah bin Khayyaath dan yang lainnya bahwa ia wafat pada akhir pemerintahan Mu’awiyah [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 702] berarti tahun 60 atau kurang dari itu. Maka terdapat selisih 68 tahun atau lebih antara wafatnya Qais bin Sa’ad dan Bakr bin Sawaadah, hal ini merupakan qarinah kemungkinan terputusnya sanad.

Qarinah [petunjuk] lain adalah Ibnu Hajar menukil dari An Nawawiy bahwa Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 888]. Sedangkan ‘Abdullah bin ‘Amru wafat setelah wafatnya Qais bin Sa’ad, ada yang mengatakan tahun 63 H, 65 H, 68 H, 73 H, atau 77 H [Tahdzib At Tahdzib juz 5 no 575]. Jika Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Amru maka lebih mungkin lagi Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari Qais bin Sa’ad.

Berdasarkan keterangan di atas maka hadis Bakr bin Sawaadah tidak tsabit sebagai mutaba’ah bagi ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah karena kedhaifan Ubaidillah bin Zahr dan terputusnya sanad antara Bakr bin Sawaadah dan Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu].

.

.

Secara ringkas pembahasan di atas tentang hadis yang mengharamkan Al Kuubah dapat dilihat dalam poin berikut

  1. Hadis ‘Abdullah bin ‘Abbaas memiliki sanad yang shahih dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah dan segala yang memabukkan
  2. Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru diriwayatkan para perawi tsiqat hanya saja mengandung illat [cacat] mursal dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’
  3. Hadis Qais bin Sa’d memiliki sanad yang shahih dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan segala yang memabukkan

Kesimpulan takhrij hadis di atas dan pembahasannya adalah hadis pengharaman Al Kuubah memiliki sanad yang shahih dari jalan ‘Abdullah bin ‘Abbaas dan Qais bin Sa’ad. Dan lafaz yang tsabit termasuk di dalamnya pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan segala yang memabukkan. Adapun lafaz Al Qinniin maka kedudukannya tidak tsabit.

.

.

.

Pembahasan Makna Al Kuubah

Terdapat perselisihan soal makna Al Kuubah di sisi para ulama. Sebagian mengatakan bahwa Al Kuubah adalah gendang dan dikatakan juga bahwa Al Kuubah adalah dadu yang dipakai pada permainan judi.

   إِنَّ اللّه حَرَّم الخَمْرَ والكُوبةَ هي النَّرْدُ وقيل الطَّبْل وقيل البَرْبَطُ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan khamar dan Al Kuubah” itu maksudnya adalah dadu, dikatakan itu gendang dan dikatakan itu gitar [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar Ibnu Atsir hal 815]

وأما الكُوبة فإنّ محمد بن كثير أخبرني أن الكُوبة النرد في كلام أهل اليمن وقال غيره الطبل

Adapun Al Kuubah maka sesungguhnya Muhammad bin Katsiir mengabarkan kepadaku bahwasanya Al Kuubah adalah dadu dalam perkataan penduduk Yaman, dan berkata selainnya bahwa itu adalah gendang [Ghariib Al Hadiits Abu Ubaid Al Haraawiy 5/304]

وفي الحديث إِنَّ اللّه حَرَّم الخَمْرَ والكُوبةَ قَالَ ابْنُ الأَعْرَابِيِّ  الْكُوبَةُ النَّرْدُ  وَيُقَالُ الطَّبْلُ  وَقِيلَ الْبَرْبَطُ

Dan dalam hadis “sesungguhnya Allah mengharamkan khamar dan Al Kuubah”. Ibnu Arabiy berkata Al Kuubah adalah dadu, dan ada yang mengatakan itu adalah gendang, dan dikatakan itu adalah gitar [Al Gharibain Fii Al Qur’an Wal Hadiits Abu Ubaid juz 5 hal 1654]

Pendapat yang mengatakan Al Kuubah adalah gendang memiliki hujjah dari perkataan para perawi hadis yang mengharamkan Al Kuubah. [nampak dalam sebagian riwayat bahwa perawi-perawi tersebut menyisipkan penafsiran mereka ke dalam hadis]

  1. Aliy bin Badziimah sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal 1/274 no 2476
  2. Yahya bin Yuusuf Az Zammiy sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20779
  3. Muhammad bin ‘Abdullah bin Abdul Hakam sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20783
  4. Yahya bin Ishaaq sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Al Asyribah hal 40 no 27

Terdapat kaidah bahwa tafsir perawi hadis terhadap hadis yang ia riwayatkan lebih didahulukan dibanding tafsir selainnya. Sehingga dengan kaidah ini sebagian ulama merajihkan bahwa makna Al Kuubah adalah gendang.

Kaidah ini benar hanya saja ia tidak bersifat mutlak. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa makna Al Kuubah pada masa sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah nardu atau dadu

حدثنا عصام قال حدثنا حريز عن سلمان الإلهاني عن فضالة بن عبيد وكان بمجمع من المجامع فبلغه أن أقواما يلعبون بالكوبة فقام غضبانا ينهى عنها أشد النهي ثم قال ألا إن اللاعب بها ليأكل قمرها كآكل لحم الخنزير ومتوضىء بالدم يعني بالكوبة النرد

Telah menceritakan kepada kami ‘Ishaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Hariiz dari Salman Al ‘Alhaaniy dari Fadhalah bin ‘Ubaid dan pada saat itu ia berkumpul pada suatu perkumpulan, maka disampaikan kepadanya bahwa sekelompok orang bermain dengan Kuubah maka ia berdiri marah dan melarangnya dengan larangan yang keras kemudian berkata ketahuilah bahwa bermain dengan itu untuk memakan hasilnya maka seperti memakan daging babi dan berwudhu’ dengan darah. Yang dimaksud Kuubah adalah An Nardu [dadu] [Adabul Mufrad Al Bukhariy 1/433 no 1267]

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Fadhalah bin ‘Ubaid dan ia adalah seorang sahabat Nabi [Al Jarh Wat Ta’dil 7/77 no 433].

  1. ‘Ishaam bin Khalid Al Hadhramiy termasuk salah satu guru Bukhariy dalam kitab Shahih-nya. Nasa’iy berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 372]
  2. Hariiz bin ‘Utsman Al Himshiy. Abu Dawud berkata “guru-guru Hariiz semuanya tsiqat”. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. Duhaim menyatakan ia baik sanadnya shahih hadisnya dan tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 436]
  3. Salman bin Sumair Asy Syammiy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ia termasuk guru Hariiz dan Abu Dawud mengatakan bahwa semua guru Hariiz tsiqat. [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 230]. Ibnu Hajar berkata “maqbul” [Taqrib At Tahdzib 1/374]. Pendapat yang rajih ia seorang yang tsiqat berdasarkan apa yang disebutkan Abu Dawud dan Al Ijliy berkata “tabiin syam yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 651].

Lafaz “ya’niy bilkuubah annardu” [Kuubah yang dimaksud adalah dadu] bisa jadi berasal dari para perawi sanad tersebut termasuk Al Bukhariy. Hanya saja kami tidak menemukan qarinah kuat yang menunjukkan milik siapa lafaz tersebut. Tetapi riwayat tersebut sangat bersesuaian dengan hadis Nabi berikut

حدثني زهير بن حرب حدثنا عبدالرحمن بن مهدي عن سفيان عن علقمة بن مرثد عن سليمان بن بريدة عن أبيه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من لعب بالنردشير فكأنما صبغ يده في لحم خنزير ودمه

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy dari Sufyaan dari ‘Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Ayahnya bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “barang siapa yang bermain dadu maka ia seperti mencelupkan tangannya dalam daging babi dan darahnya” [Shahih Muslim 4/1770 no 2260]

Maka nampak bahwa makna Al Kuubah dalam riwayat Fadhalah bin ‘Ubaid tersebut adalah An Nardu yaitu dadu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tafsir Al Kuubah sebagai dadu sudah dikenal di masa sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Berdasarkan hal ini maka kami menilai pendapat yang lebih rajih adalah yang menyatakan bahwa makna Al Kuubah adalah dadu [yang dipakai dalam perjudian]. Terbukti bahwa penafsiran tersebut sudah dikenal di masa sahabat sedangkan penafsiran Al Kuubah adalah gendang berasal dari para perawi hadis yang hidup jauh setelah masa sahabat Nabi.

.

.

.

Syubhat Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Radd ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 285 dalam salah satu bantahannya kepada Syaikh Al Judai’ mengatakan bahwa An Nardu sudah termasuk dalam Judi maka ketika Al Kuubah disebutkan setelah Al Maisir [judi] maka makna Al Kuubah disana pasti bukan An Nardu [dadu] tetapi makna lain yaitu Ath Thabl [gendang]. Syaikh membawakan atsar berikut

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ أَخْبَرَنَا وَهْبُ بْنُ بَيَانٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ النَّرْدُ مِنَ الْمَيْسِرِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Wahb bin Bayaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah mengabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih dari Yahya bin Sa’iid dari Naafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata “an nardu [dadu] termasuk judi” [Tahriim An Nardu, Abu Bakar Al Ajurriy hal 131 hadis no 21]

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa menyatakan atsar ini shahih [dan memang demikian]. Hanya saja bantahan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dengan atsar ini tidak tepat, bahkan justru dengan atsar ini malah menguatkan qarinah bahwa Al Kuubah yang dimaksud adalah An Nardu.

وحدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن حاتم قالا حدثنا يحيى ( وهو القطان ) عن عبيدالله أخبرنا نافع عن ابن عمر قال ( ولا أعلمه إلا عن النبي صلى الله عليه و سلم ) قال  كل مسكر خمر وكل خمر حرام

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Haatim keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Yahya [ia Al Qaththaan] dari Ubaidillah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Nafi’ dari Ibnu ‘Umar yang berkata “aku tidak mengetahuinya kecuali dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata semua yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram” [Shahih Muslim 3/1587 no 2003]

Silakan perhatikan kembali hadis Ibnu ‘Abbaas tentang pengharaman Al Kuubah, dalam matan hadis tersebut ada empat perkara yang diharamkan yaitu

  1. Khamar
  2. Judi
  3. Al Kuubah
  4. Segala yang memabukkan

Telah tsabit dalam hadis shahih bahwa segala yang memabukkan adalah khamar maka pada dasarnya perkara no 4 itu adalah perkara yang sama dengan no 1. Maka wajar pula jika Al Kuubah tersebut bermakna An Nardu [dadu] dan telah tsabit bahwa An Nardu termasuk judi sehingga perkara no 3 itu adalah perkara yang sama dengan no 2. Jadi hujjah Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa menguatkan makna Al Kuubah dalam hadis tersebut sebagai Ath Thabl [gendang] dengan dasar bahwa An Nardu sudah termasuk dalam lafaz judi [maka tidak mungkin Al Kuubah disana bermakna An Nardu] adalah hujjah yang tidak tepat sasaran. Bukankah segala yang memabukkan sudah masuk dalam lafaz “khamar” tetapi tetap saja disebutkan lagi.

Atau mari kita melihat hadis Qais bin Sa’d [radiallahu ‘anhu] dimana terdapat lafaz pengharaman Al Ghubairaa’ setelah pengharaman Khamr. Dan Al Ghubairaa’ sendiri sebenarnya termasuk khamar

قَالَ مَالِك فَسَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ أَسْلَمَ مَا الْغُبَيْرَاءُ فَقَالَ هِيَ الْأُسْكَرْكَة

Maalik berkata aku bertanya kepada Zaid bin Aslam “apakah Al Ghubairaa’, maka ia berkata “ itu adalah Al ‘Uskarkah” [Muwatta Malik riwayat Yahya bin Yahya 2/413 no 2452]

Al ‘Uskarkah yang dimaksud dalam atsar di atas adalah khamar habsyah sebagaimana disebutkan oleh Al Jauhariy [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar Ibnu Atsiir hal 437]

Maka hal ini sangat bersesuaian, Khamr diharamkan dan setelah itu disebutkan pula Al Ghubairaa’ kemudian Judi diharamkan dan disebutkan pula Al Kuubah yang bermakna An Nardu [dadu].

.

.

.

Kesimpulan

Hadis pengharaman Al Kuubah adalah hadis yang shahih hanya saja tidak tepat jika hadis tersebut dijadikan hujjah untuk mengharamkan musik atau alat musik [yaitu gendang]. Pendapat yang rajih adalah makna Al Kuubah tersebut adalah An Nardu yaitu dadu yang sering dipakai dalam perjudian.

Sayyidina Ali Pernah Peringatkan, Waspadai Kelompok ISIS !

Sayyidina Ali Pernah Peringatkan, Waspadai Kelompok Ini!
Selasa, 22/07/2014 11:00
Sayyidina Ali Pernah Peringatkan, Waspadai Kelompok Ini!

Solo, NU Online
Kemunculan kelompok ekstrem seperti ISIS (the Islamic State of Iraq and Syria), Al Nusro dan lain-lain, sudah diprediksi kedatangannya oleh sahabat Ali bin Abi Thalib.

Menurut pengasuh Majelis ‘Bismillah’ MWCNU Pasarkliwon Surakarta, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, 1.400 tahun silam, Imam Ali telah mengingatkan akan datangnya gerombolan bengis yang akan mengibarkan panji-panji hitam yang menyerupai panji-panji hitam Imam Mahdi.

“Ucapan beliau terekam dalam literatur Hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yakni dalam kitab Kanzul Ummal yang dihimpun oleh ulama besar yang bernama Al Muttaqi Al Hindi pada riwayat nomer 31.530,” terang cicit Muallif Simtuddurar, Habib Ali Al-Habsyi itu, Ahad (20/7).

Dalam kitab tersebut, diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah berkata: “Jika kalian melihat bendera-bendera Hitam, tetaplah kalian di tempat kalian berada, jangan beranjak dan jangan menggerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul kaum lemah (lemah akal sehat dan imannya), tiada yang peduli pada mereka, hati mereka seperti besi (hati keras membatu jauh dari cahaya Hidayah).

Mereka akan mengaku sebagai Ashabul Daulah (pemilik negara, saat ini ISIS telah mengumumkan berdirinya Daulah Islam di Iraq dan Syam), mereka tidak pernah menepati janji, mereka berdakwah pada Al Haq (kebenaran) tapi mereka bukan Ahlul Haq (pemegang kebenaran).

Namanya dari sebuah julukan, marganya dari nama daerah (nama pemimpin mereka, memakai nama julukan dan marga dari asal daerah Baghdad) rambut mereka tak pernah dicukur, panjang seperti rambut perempuan, jangan bertindak apapun sampai nanti terjadi perselisihan diantara mereka sendiri, kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Ajie Najmuddin/Mahbib)

 

 

Bagaimana Sejarah Terbentuknya ISIS?

Bagaimana Sejarah Terbentuknya ISIS ?
Rabu, 06/08/2014 15:59

Jakarta, NU Online
Negara Islam Irak dan Suriah ISIS merupakan kelompok Jihadis yang aktif di Irak dan Suriah.

ISIS dibentuk pada April 2013 dan cikal bakalnya berasal dari al-Qaida di Irak (AQI), tetapi kemudian dibantah oleh al-Qaida. Demikiran reportase yang dikutip dari laman BBC Indonesia.

Kelompok ini menjadi kelompok jihad utama yang memerangi pasukan pemerintah di Suriah dan membangun kekuatan militer di Irak.

Huruf “S” dalam singkatan ISIS berasal dari bahasa arab “al-Sham”, yang merujuk ke wilayah Damaskus (Suriah) dan Irak.

Tetapi dalam konteks jihad global disebut Levant yang merujuk kepada wilayah di Timur Tengah yang meliputi Israel, Yordania, Lebanon, wilayah Palestina, dan juga wilayah Tenggara Turki.

Jumlah mereka tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan memiliki ribuan pejuang, termasuk jihadis asing.

Koresponden BBC mengatakan tampaknya ISIS akan menjadi kelompok jihadis yang paling berbahaya setelah al-Qaida.

Siapa Abu Bakr al-Baghdadi?

Organisasi ini dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi. Hanya sedikit yang mengetahui tentang dia, tetapi dia diyakini lahir di Samarra, bagian utara Baghdad, pada 1971 dan bergabung dengan pemberontak yang merebak sesaat setelah Irak diinvasi oleh AS pada 2003 lalu.

Pada 2010 dia menjadi pemimpin al-Qaida di Irak, salah satu kelompok yang kemudian menjadi ISIS.

Baghdadi dikenal sebagai komandan perang dan ahli taktik, analis mengatakan hal itu yang membuat ISIS menjadi menarik bagi para jihadis muda dibandingkan al-Qaeda, yang dipimpin oleh Ayman al-Zawahiri, seorang teolog Islam.

Prof Peter Neumann dari King’s College London memperkirakan sekitar 80% pejuang Barat di Suriah telah bergabung dengan kelompok ini.

ISIS mengklaim memiliki pejuang dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara Eropa lain, seperti AS, dunia Arab dan negara Kaukakus.

Sumber dana

Tak seperti pemberontak di Suriah, ISIS tampak akan mendirikan kekhalifahan Islam di Suriah dan Irak.

Kelompok ini tampak berhasil membangun kekuatan militer. Pada 2013 lalu, mereka menguasai Kota Raqqa di Suriah – yang merupakan ibukota provinsi pertama yang dikuasai pemberonyak.

Juni 2014, ISIS juga menguasai Mosul, yang mengejutkan dunia. AS mengatakan kejatuhan kota kedua terbesar di Irak merupakan ancaman bagi wilayah tersebut.

Kelompok ini mengandalkan pendanaan dari individu kaya di negara-negara Arab, terutama Kuwait dan Arab Saudi, yang mendukung pertempuran melawan Presiden Bashar al-Assad.

Saat ini, ISIS disebutkan menguasai sejumlah ladang minyak di wilayah bagian timur Suriah, yang dilaporkan menjual kembali pasokan minyak kepada pemerintah Suriah.

ISIS juga disebutkan menjual benda-benda antik dari situs bersejarah.

ISIS menguasai kota Raqqa dan kota utama Mosul di Irak utara.

Prof Neumann yakin sebelum menguasai Mosul pada Juni lalu, ISIS telah memiliki dana serta aset senilai US$900 juta dollar, yang kemudian meningkat menjadi US$2 milliar.

Kelompok itu disebutkan mengambil ratusan juta dollar dari bank sentral Irak di Mosul. Dan keuangan mereka semakin besar jika dapat mengontrol ladang minyak di bagian utara Irak.

Kelompok ini beroperasi secara terpisah dari kelompok jihad lain di Suriah, al-Nusra Front, afiliasi resmi al-Qaeda di negara tersebut, dan memiliki hubungan yang “tegang” dengan pemberontak lain.

Baghdadi mencoba untuk bergabung dengan al-Nusra, yang kemudian menolak tawaran tersebut. Sejak itu, dua kelompok itu beroperasi secara terpisah.

Zawahiri telah mendesak ISIS fokus di Irak dan meninggalkan Suriah kepada al-Nusra, tetapi Baghdadi dan pejuangnya menentang pimpinan al-Qaida.

Di Suriah, ISIS menyerang pemberontak lain dan melakukan kekerasan terhadap warga sipil pendukung opoisisi Suriah. (mukafi niam) Foto: Reuters

Hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Diutus Menghancurkan Seruling dan Gendang

Sumber : Secondprince

Hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Diutus Menghancurkan Seruling dan Gendang

Hadis ini termasuk diantara hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh sebagian ulama untuk mengharamkan musik dan nyanyian. Kami membuat tulisan ini setelah membaca mengenai kedudukan hadis ini dari kitab Syaikh Abdullah Al Judai’ yaitu Al Muusiq Wal Ghinaa’ Fi Miizan Al Islam dan kitab bantahannya dari Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa yaitu Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’. Tulisan ini hanya ingin menelaah secara kritis pendapat mana yang lebih rajih dari kedua penulis tersebut mengenai hadis ini.

.

.

Takhrij Hadis Ibnu ‘Abbas

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْن عَلِيٍّ المقري نا جدي أَبُو منصور مُحَمَّد بْن أحمد الخياط نا عَبْدُ الملك بْن مُحَمَّد بْن بشران ثنا أَبُو علي أحمد بْن الفضل بْن خزيمة ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سويد الطحان ثنا عَاصِم بْن عَلِيّ ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْن ثابت عَنْ أبيه عَنْ مكحول عَنْ جبير بْن نفير عَنْ مالك بْن نحام الثقة عَنْ عِكْرِمَة عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللَّهُ عنه أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ بِهَدْمِ الْمِزْمَارِ وَالطَّبْلِ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Aliy Al Muqriy yang berkata telah menceritakan kepada kami kakekku Abu Manshuur Muhammad bin Ahmad Al Khayyaath yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Muhammad bin Bisyraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy Ahmad bin Fadhl bin Khuzaimah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Suwaid Ath Thahhaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aashim bin ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dari Malik bin Nahaam Ats Tsiqat dari ‘Ikrimah dari ‘Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhu] bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Aku diutus untuk menghancurkan seruling dan gendang” [Talbiis Ibliis Ibnul Jauziy hal 226]

Riwayat ini sanadnya tsabit hingga ‘Aashim bin ‘Aliy, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. ‘Abdullah bin ‘Aliy Al Muqriy, Ibnu Nuqthah mengatakan bahwa ia seorang yang tsiqat shalih termasuk imam kaum muslimin [Syadzratu Adz Dzahab Ibnu ‘Imaad Al Hanbaliy 6/211]
  2. Abu Manshuur Muhammad bin Ahmad bin Khayyaath seorang yang tsiqat shalih [Takmilatul ‘Ikmaal, Ibnu Nuqthah 2/309-310 no 1654]
  3. ‘Abdul Malik bin Muhammad bin Bisyraan, Al Khatib berkata “kami menulis darinya, ia seorang yang shaduq tsabit shalih [Tarikh Baghdad 12/188-189 no 5548]
  4. Abu ‘Aliy Ahmad bin Fadhl bin ‘Abbaas bin Khuzaimah, Al Khatib berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad 5/570-571 no 2453]
  5. Muhammad bin Suwaid bin Yaziid Abu Ja’far Ath Thahhaan, Al Khatib berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad 3/281 no 874]
  6. ‘Aashim bin ‘Aliy Al Wasithiy seorang yang shaduq pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/458]

Muhammad bin Suwaid bin Yaziid dalam periwayatan dari ‘Aashim bin ‘Aliy memiliki mutaba’ah dari ‘Umar bin Hafsh As Saduusiy sebagaimana yang disebutkan dalam Fawa’id Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy.

أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْقُوبَ إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ثنا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ ثنا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ وَعَنِ الثِّقَةِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ بِهَدْمِ الْمِزْمَارِ وَالطَّبْلِ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Ya’quub Ishaq bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aashim bin ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dan dari seorang yang tsiqat dari ‘Ikrimah dari ‘Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasalla] berkata “Aku diutus untuk menghancurkan seruling dan gendang” [Fawa’id At Tammaam Ar Raaziy 1/49 no 100]

Riwayat Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy di atas sanadnya tsabit hingga ‘Aashim bin ‘Aliy

  1. Abu Ya’qub An Nahdiy Ishaq bin Ibrahim, Ibnu Asakir mengatakan ia seorang yang tsiqat dan termasuk dalam hamba-hamba Allah yang shalih [Tarikh Ibnu Asakir 8/166 no 620]
  2. ‘Umar bin Hafsh Abu Bakar As Saduusiy, Al Khatib berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad 13/59-60 no 5883]
  3. ‘Aashim bin ‘Aliy Al Wasithiy seorang yang shaduq pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/458]

Kemudian hadis ini dengan matan “Aku diperintahkan menghancurkan seruling dan gendang” disebutkan oleh Syaikh Al Albaniy dalam kitabnya Silsilah Ahadits Adh Dhaifah dimana Beliau menukil riwayat dari Ad Dailamiy

رواه الديلمي (1/2/219) عن محمد بن عبد الله بن بزرة حدثنا همام عن عاصم بن علي عن ابن ثوبان عن أبيه عن مكحول عن جبر بن مالك عن عكرمة عن ابن عباس مرفوعا.

قلت: وهذا إسناد ضعيف مظلم، جبر بن الك لم أعرفه. ومثله همام ومحمد بن عبد الله بن بزرة

Diriwayatkan Ad Dailamiy 1/2/219 dari Muhammad bin ‘Abdullah bin Bazrah yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaam dari ‘Aashim bin ‘Aliy dari Ibnu Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jabr bin Maalik dari ‘Ikrimah dari ‘Ibnu ‘Abbas secara marfu’. Aku [Syaikh Al Albaniy] berkata “sanad ini dhaif gelap, Jabr bin Maalik aku tidak mengenalnya, dan begitu pula Hammaam dan Muhammad bin ‘Abdullah bin Bazrah [Silsilah Al ‘Ahaadiits Adh Dha’iifah 6/181 no 2663]

Riwayat Ad Dailamiy di atas tidak bisa dijadikan mutaba’ah karena Muhammad bin ‘Abdullah dan Hammaam majhul maka sanadnya tidak tsabit sampai ke ‘Aashim bin ‘Aliy.

.

.

.

Pembahasan Sanad Ibnu ‘Abbaas

Sanad Ibnu Jauziy sudah cukup jelas, adapun sanad Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy memerlukan penjelasan mengenai kemungkinan rincian sanadnya. Perhatikan lafaz sanad

مَكْحُولٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ وَعَنِ الثِّقَةِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Sanad di atas secara zhahir mengandung dua kemungkinan yaitu

  1. Makhuul meriwayatkan dari Jubair bin Nufair secara mursal dan Makhuul meriwayatkan dari seorang perawi tsiqat dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’
  2. Makhuul meriwayatkan dari Jubair dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’ dan Makhuul meriwayatkan dari seorang perawi tsiqat dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’

Berdasarkan riwayat Ibnu Jauziy dan Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy maka secara keseluruhan sanad riwayat tersebut terbagi menjadi

  1. ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dari Malik bin Nahaam seorang yang tsiqat dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbaas
  2. ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbaas secara marfu’ atau ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair secara mursal.
  3. ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari seorang yang tsiqat dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbaas

Nampak adanya idhtirab [kekacauan] dalam sanad riwayat tersebut. Dan hal ini kemungkinan berasal dari ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban. Ia seorang yang diperselisihkan kedudukannya.

Ahmad bin Hanbal dalam riwayat Muhammad bin Aliy berkata “tidak kuat dalam hadis”. Dalam riwayat Atsram berkata “hadis-hadisnya mungkar”. Dalam riwayat Al Marwadziy mengatakan bahwa ia seorang ahli ibadah dari penduduk Syam dan memiliki keutamaan [Mausu’ah Aqwaal Ahmad bin Hanbal no 1519]

Yahya bin Ma’in dalam riwayat Ad Duuriy terkadang berkata “tidak ada masalah dengannya” terkadang berkata “aku tidak menyebutnya kecuali yang baik” terkadang berkata “shalih al hadits”. Dalam riwayat Ibnu Junaid terkadang berkata “shalih” dan terkadang berkata “dhaif al hadits”. Dalam riwayat Ad Darimiy, Ibnu Ma’in berkata “dhaif”. Dalam riwayat Mu’awiyah bin Shalih menyatakan ia dhaif dan ditulis hadisnya. Dalam riwayat ‘Abdullah bin Syu’aib Ash Shaabuuniy berkata “dhaif”. Dalam riwayat Ibnu Abi Khaitsamah berkata “tidak ada apa-apanya” [Mausu’ah Aqwaal Yahya bin Ma’in no 2221]

Aliy bin Madiiniy, Abu Zur’ah dan Al Ijliy berkata “tidak ada masalah padanya”. ‘Amru bin Aliy berkata “hadis orang-orang syam semuanya dhaif kecuali sekelompok orang diantaranya Auza’iy dan ‘Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban”. Duhaim berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat berubah hafalan di akhir hidupnya dan hadisnya lurus. Abu Daud berkata “tidak ada masalah padanya”. Nasa’iy terkadang berkata “dhaif” terkadang berkata “tidak kuat” dan terkadang berkata “tidak tsiqat”. Shalih bin Muhammad mengatakan bahwa ia orang Syam yang shaduq dan orang-orang mengingkari hadis-hadis yang ia riwayatkan dari ayahnya dari Makhuul”. Ibnu Khirasy berkata “dalam hadisnya ada kelemahan”. Ibnu Adiy menyatakan ia seorang yang shalih ditulis hadisnya memiliki hadis-hadis yang baik bersamaan dengan kelemahan padanya [Tahdzib Al Kamal 17/12-17 no 3775]

Dengan mengumpulkan semua pendapat ulama tentangnya maka pendapat yang rajih adalah ‘Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban seorang yang shaduq hasanul hadis hanya saja terdapat kelemahan dalam sebagian hadisnya terutama hadisnya dari Ayahnya dari Makhuul.

Riwayat di atas termasuk riwayat ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul maka kedudukannya lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri]. Apalagi dalam riwayat di atas nampak adanya idhthirab [kekacauan] sanad yang besar kemungkinan berasal darinya.

.

.

.

Syahid [Penguat] Riwayat Ibnu ‘Abbaas

Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbaas [radiallahu ‘anhu] memiliki syahiid dari riwayat Aisyah [radiallahu ‘anha] dan Aliy bin Abi Thalib [radiallahu ‘anhu]. Hanya saja kedua riwayat itu sanadnya dhaif sehingga tidak bisa dijadikan penguat.

حدثنا إسحاق بن إبراهيم بن يونس وأحمد بن حفص السعدي قالا حدثنا احمد بن عيسى المصري حدثنا إبراهيم بن اليسع التيمي المكي عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرني ربي عزوجل بنفي الطنبور والمزمار

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahiim bin Yuunus dan Ahmad bin Hafsh As Sa’diy [keduanya] berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Iisa Al Mishriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahiim bin Yasa’ At Taimiy Al Makkiy dari Hisyaam bin ‘Urwah dari Ayahnya dari ‘Aisyah yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Aku diperintahkan Rabb-ku ‘azza wajalla untuk menghancurkan tanbur dan seruling” [Al Kamiil Ibnu Adiy 1/386]

Riwayat Aisyah [radiallahu ‘anha] di atas kedudukannya dhaif karena Ibrahim bin Yasa’ At Taimiy Al Makkiy atau Ibrahim bin Abi Hayyah. Bukhariy berkata “munkar al hadits”. Nasa’i berkata “dhaif”. Daruquthniy berkata “matruk”. Abu Hatim berkata “munkar al hadits”. Ibnu Madiniy berkata “tidak ada apa-apanya”. Yahya bin Ma’in menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban menyatakan ia meriwayatkan dari Ja’far dan Hisyaam hadis-hadis mungkar [Lisan Al Miizan Ibnu Hajar 1/271-272 no 166]

أَخْبَرَنَا ابْن الحصين نا أَبُو طالب بْن عيلان نا أَبُو بَكْر الشافعي ثنا عَبْد اللَّهِ بْن مُحَمَّد بْن ناجية  ثنا عباد بْن يعوق  ثنا مُوسَى بْن عمير عَنْ جَعْفَر بْن مُحَمَّد عَنْ أبيه عَنْ جده عَنْ علي قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثَ بِكَسْرِ الْمَزَامِيرِ “

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Thalib bin ‘Ailaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Asy Syafi’iy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Naajiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abbaad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Muusa bin ‘Umair dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari kakeknya dari Aliy yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Aku diutus untuk menghancurkan seruling” [Talbiis Ibliis Ibnu Jauziy hal 226]

Riwayat Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] di atas sanadnya dhaif karena Muusa bin Umair. Yahya bin Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”. Ibnu Numair, Abu Zur’ah dan Daruquthniy berkata “dhaif”. Abu Hatim menyatakan ia pendusta. Nasa’i berkata “tidak tsiqat”. Ya’qub bin Sufyaan berkata “dhaif”. Al Uqailiy berkata “munkar al hadits” [Tahdzib At Tahdzib juz 10 no 644]

.

.

Pembahasan Syaikh Al Judai’ dan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa

Syaikh ‘Abdullah bin Yuusuf Al Judai’ dalam kitabnya Al Muusiq Wal Ghinaa’ Fii Miizan Al Islaam hal 412-413 menyatakan hadis tersebut dhaif karena kelemahan ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dalam riwayat dari Ayahnya dari Makhuul.

Syaikh Abdullah Al Judai’ memahami sanad riwayat tersebut sebagai berikut. Beliau melihat ada dua jalan sanad dari Makhuul yaitu

  1. Makhuul meriwayatkan dari Jubair bin Nufair secara mursal
  2. Makhuul meriwayakan dari perawi majhul dari Ikrimah secara maushul.

Beliau juga menyebutkan kemungkinan bahwa perawi majhul tersebut sebagai mutaba’ah Jubair dari Ikrimah tetapi beliau lebih merajihkan bahwa Makhuul meriwayatkan dari Jubair secara mursal dan melalui perawi mubham secara muttashil. Maka menurut Syaikh Al Judai’ kedua jalan tersebut tetap dhaif.

Apa yang dikatakan Syaikh Al Judai’ perihal Ibnu Tsauban itu sudah benar sebagaimana yang telah kami sebutkan rincian jarh dan ta’dil dari para ulama tentangnya. Adapun cara Syaikh Judai’ melihat sanad tersebut maka kami katakan itu berdasarkan zhahir sanad dari riwayat Tammaam Ar Raaziy. Adapun riwayat Ibnu Jauziy zhahir sanadnya berbeda dengan riwayat Tammaam. Hal ini sepertinya terluput dari pandangan Syaikh atau Beliau mengira bahwa kedua jalan sanad Ibnu Jauziy dan Tammaam itu sama maka ini keliru.

.

.

.

Adapun Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 318 menyatakan bahwa sanad hadis tersebut jayyid dan hadisnya tsabit. Beliau membawakan hujjah-hujjahnya dan bantahan terhadap Syaikh Al Judai’. Berikut kami akan membahas hujjah yang digunakan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa untuk menguatkan hadis ini.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 321 ketika membantah Syaikh Al Judai’ mengenai lafaz jarh Shalih bin Muhammad terhadap ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban bahwa orang-orang mengingkari hadis-hadis yang ia riwayatkan dari ayahnya dari Makhuul. Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa mengatakan bahwa itu bermakna sebagian hadisnya dari Ayahnya dari Makhuul bukan semua hadisnya dari Ayahnya dari Makhuul.

Jadi perkataan Shalih bin Muhammad menurut Syaikh tidak bermakna mendhaifkan secara mutlak riwayat ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul. Menurut kami bantahan Syaikh disini tidak bernilai hujjah. Ini lafaz perkataan Shalih bin Muhammad [yang dinukil Ibnu Hajar]

قال صالح بن محمد شامي صدوق إلا أن مذهبه القدر وانكروا عليه أحاديث يرويها عن أبيه عن مكحول

Shalih bin Muhammad berkata “orang syam yang shaduq hanya saja mazhabnya qadari dan orang-orang mengingkari hadis-hadis yang ia riwayatkan dari Ayahnya dari Makhuul [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar juz 6 no 306]

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa mempermasalahkan lafaz أحاديث  [‘Ahaadits] yang menurutnya bukan lafaz yang bersifat umum jadi maknanya hanya sebagian hadis saja. Berbeda hal-nya jika lafaznya الأحاديث [Al ‘Ahadits] maka maknanya bersifat umum dan mencakup seluruh hadisnya. Oleh karena itu menurut Syaikh jarh Shalih bin Muhammad itu hanya berlaku pada sebagian hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul.

Pernyataan lafaz ‘Ahadits bisa bermakna sebagian itu memang benar. Sehingga jarh Shalih bin Muhammad itu maknanya adalah sebagian hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul mungkar dan itu adalah lafaz jarh mufassar. Dan jarh tersebut sudah cukup untuk menyatakan bahwa riwayatnya dari Ayahnya dari Makhuul tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri]. Adapun selain riwayat dari Ayahnya dari Makhuul maka kedudukannya shaduq hasanul hadis. Hal ini bersesuaian dengan jarh para ulama lain seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in bersamaan dengan tautsiq mutlak dari ulama lain semisal Abu Hatim dan Duhaim. Kalau ada orang yang ingin menyatakan shahih riwayat ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul maka orang tersebut harus membawakan bukti yang dapat mengeluarkan riwayat tersebut dari jarh yang dimaksud Shalih bin Muhammad yaitu dengan membawakan syawahid atau mutaba’ah bagi hadis tersebut.

Terdapat contoh dari ulama mu’tabar yaitu Ahmad bin Hanbal mengenai penggunaan lafaz ‘Ahaadiits dan ternyata memiliki makna seluruh atau sebagian besar hadisnya. Berikut contohnya

حدثنا محمبن عيسى قال سمعت محمد بن على الوراق قال سمعت أحمد بن حنبل يقول في أحاديث يزيد بن أبي حبيب عن سعد بن سنان عن أنس قال روى خمسة عشر حديثا منكرة كلها ما أعرف منها واحدا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Iisa yang berkata aku mendengar Muhammad bin ‘Aliy Al Waraaq yang berkata aku mendengar Ahmad bin Hanbal mengatakan tentang ‘Ahaadits [hadis-hadis] Yaziid bin Abi Habiib dari Sa’d bin Sinaan dari Anas. Ia berkata “diriwayatkan lima belas hadis mungkar seluruhnya aku tidak mengenalnya satupun” [Adh Dhu’afa Al ‘Uqailiy 2/473 no 596]

Apakah lafaz ‘Ahaadiits Yaziid bin Abi Habiib dari Sa’d bin Sinaan dari Anas di atas bermakna sebagian hadis saja?. Tidak, di sisi Ahmad bin Hanbal ia malah menyebutkan bahwa ada lima belas hadis dan semuanya mungkar. Maka hal ini menunjukkan bahwa lafaz tersebut pada saat itu di sisi Ahmad bin Hanbal bermakna keseluruhan.

وقال أحاديث عكرمة بن عمار عن يحيى بن أبي كثير ضعاف ليس بصحاح قلت له من عكرمة أو من يحيى قال لا إلا من عكرمة

[Ahmad bin Hanbal] berkata ‘Ahaadits [hadis-hadis] ‘Ikrimah bin ‘Ammaar dari Yahya bin Abi Katsiir dhaif tidak shahih, aku [‘Abdullah bin Ahmad] berkata kepadanya “apakah hal itu dari ‘Ikrimah atau dari Yahya?”. Ia menjawab “tidak lain itu dari ‘Ikrimah” [Al Ilal Ahmad bin Hanbal no 3255]

قال وعكرمة بن عمار مضطرب الحديث عن يحيى بن أبي كثير

[Ahmad bin Hanbal] berkata “dan ‘Ikrimah bin ‘Ammar mudhtharib al hadiits dari Yahya bin Abi Katsiir” [Al Ilal Ahmad bin Hanbal no 4492]

Lafaz ‘Ahaadiits Ikrimah bin ‘Ammar dari Yahya bin Abi Katsir di atas bermakna sebagian besar hadis Ikrimah dari Yahya, oleh karena itu di saat lain Ahmad bin Hanbal berkata Ikrimah mudhtharib al hadits dari Yahya, ini adalah lafaz umum yang mencakup sebagian besar hadisnya Ikrimah dari Yahya.

.

.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 323 menyatakan bahwa hadis di atas bukan bagian dari riwayat mungkar yang dikatakan dalam jarh Shalih bin Muhammad. Beliau menjadikan bukti bahwa hadis ini tidak disebutkan Ibnu Adiy dalam kitabnya Al Kamil dan tidak ada satupun ulama yang menyatakan hadis tersebut mungkar.

Adapun Ibnu Adiy tidak memasukkan hadis ini dalam Al Kamil maka itu memang benar tetapi hal ini tidak menjadi bukti bahwa hadis tersebut tidak mungkar. Ibnu Adiy memang menyebutkan beberapa hadis ‘Abdurrahman bin Tsabit yang mungkar dan ia tidak menyebutkan hadis ini maka bukan berarti langsung dikatakan Ibnu Adiy menganggap hadis ini tidak mungkar karena

  1. Bisa saja Ibnu Adiy tidak mengetahui hadis tersebut, hal ini sangat mungkin sekali dimana tidak setiap ulama mengetahui semua hadis mungkar yang ada.
  2. Manhaj Ibnu Adiy dalam Al Kamil tidak mensyaratkan ia harus menuliskan semua hadis mungkar milik perawi tertentu yang dijarh [dicela] sebagian ulama. Bisa saja ia menyebutkan sebagian dan merasa cukup untuk menjadikan sebagian tersebut sebagai bukti kelemahan perawi tertentu

Ibnu Adiy pernah berkata dalam  Al Kamil pada biografi Ahmad bin Salamah Abu ‘Amru Al Kuufiy

وأحمد بن سلمة هذا له من المناكير عن الثقات غير ما ذكرت وليس هو ممن يحتج بروايته

Dan Ahmad bin Salamah ini memiliki riwayat-riwayat mungkar dari perawi tsiqat selain apa yang aku sebutkan dan ia bukan termasuk orang yang dijadikan hujjah riwayatnya [Al Kamil Ibnu Adiy 1/311-312 no 27]

Perkataan Ibnu Adiy di atas menunjukkan bahwa terkadang ia cukup menyebutkan sebagian hadis mungkar yang menjadi bukti kelemahan perawi tertentu dan meninggalkan sebagian yang lain.

.

Kemudian perkataan Syaikh bahwa tidak ada satupun ulama yang menyatakan hadis Ibnu ‘Abbas tersebut mungkar, juga tidak menjadi hujjah. Pokok permasalahan disini bukanlah hadis Ibnu ‘Abbas tersebut dikatakan mungkar atau tidak oleh ulama tertentu. Yang dipermasalahkan disini adalah ternukil jarh dari ulama hadis Shalih bin Muhammad bahwa orang-orang mengingkari hadis-hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul.

Jarh ini bersifat khusus untuk riwayat tertentu sehingga memang tidak pada tempatnya dijadikan hujjah untuk mendhaifkan secara mutlak ‘Abdurrahman bin Tsaabit. Apalagi ia justru dikatakan Shalih bin Muhammad seorang yang shaduq dan sebagian ulama lain telah memberikan ta’dil terhadapnya.

Hanya saja memang ternukil sebagian ulama yang melemahkannya seperti Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnu Khirasy, Nasa’iy dan Ibnu Adiy. Maka penjamakan terhadap semua perkataan tersebut adalah ‘Abdurrahman bin Tsaabit memiliki kelemahan pada dhabitnya. Jika fakta ini digabungkan dengan jarh Shalih bin Muhammad mengenai orang-orang yang mengingkari riwayatnya dari Ayahnya dari Makhuul. Maka satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah riwayat-riwayat mungkar tersebut adalah bagian dari kelemahan ‘Abdurrahman bin Tsaabit pada sisi dhabit-nya. Jadi sangat wajar kalau dipahami bahwa riwayatnya dari Ayahnya dari Makhuul tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri]. Atau dengan bahasa lain kedudukannya dhaif sampai dibuktikan ada syawahid atau mutaba’ah yang menguatkannya.

.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa kemudian dalam kitabnya Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 324 membawakan hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit dari Ayahnya dari Makhuul yang tidak diingkari para ulama bahkan dishahihkan sebagian ulama yaitu hadis dalam Sunan Tirmidzi berikut

حدثنا إبراهيم بن يعقوب حدثنا علي بن عياش حدثنا عبد الرحمن بن ثابت بن ثوبان عن أبيه عن مكحول عن جبير بن نفير عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الله يقبل توبة العبد مالم يغرغر

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ya’quub yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Ayyaasy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban dari Ayahnya dari Makhuul dari Jubair bin Nufair dari Ibnu ‘Umar dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Sesungguhnya Allah akan tetap menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat” [Sunan Tirmidzi 5/547 no 3537]

Memang tidak dipungkiri bahwa hadis ini telah dikuatkan dan dishahihkan oleh sebagian ulama, diantaranya At Tirmidzi sendiri berkata “hasan gharib”, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Shahihnya [Shahih Ibnu Hibban no 628] dan Al Hakim menyatakan sanadnya shahih [Al Mustadrak 4/286 no 7659]

Tetapi jika Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa menyatakan tidak ada ulama yang mengingkarinya maka ia keliru. Hadis ini justru dimasukkan Ibnu Adiy dalam kitabnya Al Kamil biografi ‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsauban [Al Kamil Ibnu Adiy 5/461]. Dan Ibnu Adiy memasukkan hadis tersebut dalam Al Kamil menunjukkan bahwa itu termasuk dalam kelemahan dan kemungkaran hadis ‘Abdurrahman bin Tsaabit [sebagaimana hal ini diakui sendiri oleh Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa]

Dan Adz Dzahabiy ternukil dalam sebagian kitabnya bahwa ia menyatakan hadis tersebut mungkar

قلت بل هو منكر ضعفه ابن معين في رواية عثمان بن سعيد، وقال مرة ليس به بأس وقال أحمد أحاديثه مناكير، وقال النسائي ليس بالقوي وقال ابن عدي يُكتب حديثه على ضعفه. قلت ومكحول مدلِّس فأين الصحة منه

Aku [Adz Dzahabiy] berkata “bahkan ia mungkar, Ibnu Ma’in telah melemahkannya dalam riwayat Utsman bin Sa’iid dan terkadang berkata “tidak ada masalah padanya”. Ahmad berkata “hadis-hadisnya mungkar”. Nasa’iy berkata “tidak kuat”. Ibnu Adiy berkata “ditulis hadisnya untuk melemahkannya”. Aku [Adz Dzahabiy] berkata “dan Makhuul mudallis, maka dimana letak shahihnya?” [Naqd Al Imam Adz Dzahabiy Li Bayaan Al Wahm hal 122 no 81]

Adz Dzahabiy juga memasukkan hadis ini dalam kitabnya Miizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 4/264-264 no 4833 biografi ‘Abdurrahman bin Tsaabit. [hal ini menunjukkan di sisi Adz Dzahabiy bahwa hadis tersebut termasuk dalam kelemahan atau kemungkaran ‘Abdurrahman bin Tsaabit]

Anehnya dalam sebagian kitabnya yang lain Adz Dzahabiy justru menguatkan hadis ini [sebagaimana dishahihkan dalam Talkhiis Al Mustadrak] dan ia pernah berkata dalam bahwa hadis ini sanadnya shalih [Siyar A’lam An Nubala Adz Dzahabiy 5/160 biografi Makhuul]

Pada intinya memang ternukil ulama yang menyatakan mungkar hadis riwayat Tirmidzi yang dibawakan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dan sebenarnya berdasarkan pendapat yang rajih kedudukan hadis tersebut adalah dhaif [hal ini memerlukan pembahasan khusus]. Hujjah Syaikh dengan hadis ini seolah ingin membatasi jarh Shalih bin Muhammad jelas tidak mengena, justru hadis riwayat Tirmidzi ini bisa dilemahkan dengan menggunakan jarh Shalih bin Muhammad.

.

.

Kembali ke hadis pokok tulisan di atas. Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa memiliki cara pandang yang berbeda mengenai sanad hadis ini. Dalam kitab Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 318, Syaikh menjelaskan mengenai sanad Ibnu Jauziy, bahwa hadis tersebut tsabit dan sanadnya jayyid, para perawinya tsiqat adapun Maalik bin Nahaam yang ada dalam sanad tersebut adalah Maalik bin Yukhaamir [disini Syaikh menguatkan seolah terjadi tashif dalam sanad Ibnu Jauziy]

Dalam Raddu ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 319-320, Syaikh menjelaskan mengenai sanad Tammaam Ar Raaziy bahwa ada dua kemungkinan tentang lafaz “wa ‘an ats tsiqat” dalam sanad tersebut

  1. Kemungkinan pertama, bisa saja huruf waw disana adalah tambahan dari naskah atau dari perawi sehingga sanad Tammaam sebenarnya adalah Makhuul dari Jubair dari seorang yang tsiqat dari Ikrimah dari ‘Ibnu ‘Abbas secara marfu’. Maka hal ini bersesuaian dengan sanad Ibnu Jauziy
  2. Kemungkinan kedua, bisa saja huruf waw disana memang mahfuzh atau tsabit maka Makhuul meriwayatkan dari Jubair dan Makhuul juga meriwayatkan dari seorang yang tsiqat, kemudian keduanya [Jubair dan orang tsiqat tersebut] meriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas. Sehingga jika digabungkan dengan sanad Ibnu Jauziy, Syaikh menekankan bahwa Jubair mendengar hadis ini dari Maalik dan juga dari Ikrimah.

Yang manapun dari kedua kemungkinan ini maka hadis tersebut tetap shahih, karena kedua kemungkinan yang disebutkan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa tetap berkonsekuensi para perawinya tsiqat.

.

Cara pandang Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa terhadap sanad hadis tersebut jelas tidak bisa disalahkan tetapi juga tidak bisa dibenarkan secara mutlak. Jika kita bandingkan antara cara pandang Syaikh Al Judai’ dan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa ada perbedaan yang cukup signifikan yaitu Syaikh Al Judai’ tidak sedikitpun menyinggung kemungkinan adanya tashif dalam kitab, Beliau memperlakukan sanad tersebut sebagaimana zhahirnya. Berbeda dengan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa yang menyebutkan kemungkinan adanya tashif dalam kitab, misalnya

  1. Soal lafaz nama Malik bin Nahaam sebenarnya adalah Malik bin Yukhaamir [hal ini berarti tashif dalam kitab Talbiis Ibliis Ibnu Jauziy]
  2. Soal huruf “waw” dalam lafaz “wa ‘an ats tsiqat” seharusnya tidak ada maka lafaz sebenarnya adalah ‘an ats tsiqat [hal ini berarti tashif dalam kitab Fawa’id At Tammaam]

Soal dua kemungkinan yang disebutkan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa maka kami katakan itu tidak menafikan kemungkinan  lain yang membuat sanad tersebut dhaif, misalnya bagaimana kalau misalnya yang mengalami tashif itu adalah kitab Talbiis Ibliis Ibnu Jauziy. Seharusnya ada huruf “waw” dalam sanad Ibnu Jauziy, maka seharusnya sanad Ibnu Jauziy adalah

مكحول عَنْ جبير بْن نفير وَعَنِ مالك بْن نحام الثقة عَنْ عِكْرِمَة

Makhuul dari Jubair bin Nufair dan dari Maalik bin Nahaam seorang yang tsiqat dari ‘Ikrimah

Maka sanad Ibnu Jauziy akan bersesuaian dengan sanad Tammaam bin Muhammad Ar Raaziy. Dan zhahir sanad ini tidak semata-mata memiliki dua kemungkinan sanad

  1. Makhuul dari Jubair dari Ikrimah dari Ibnu Abbas secara marfu’
  2. Makhhul dari seorang yang tsiqat [Maalik] dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.

Bisa saja zhahir sanad di atas menunjukkan dua kemungkinan sanad lain yaitu

  1. Makhuul dari Jubair bin Nufair secara mursal
  2. Makhuul dari seorang yang tsiqat [Maalik] dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’

Sanad pertama jelas dhaif sedangkan sanad kedua mengandung illat [cacat] yaitu Makhuul dikenal banyak mengirsalkan riwayat maka apa buktinya Makhuul tidak mengirsalkan riwayat itu dari orang tsiqat yaitu Malik bin Nahaam, mengingat Maalik ini tidak ditemukan biografinya, sehingga tidak diketahui tahun lahir wafatnya dan tidak dikenal apakah ia termasuk gurunya Makhuul atau bukan.

Kalau dikatakan Maalik bin Nahaam adalah Maalik bin Yukhaamir maka ini pun masih perlu diteliti kembali, memang Makhuul disebutkan Al Mizziy dalam jajaran orang-orang yang meriwayatkan dari Malik bin Yukhaamir tetapi apakah Malik bin Yukhaamir termasuk orang yang meriwayatkan dari ‘Ikrimah. Jadi qarinah-nya masih kurang kuat untuk menyatakan Maalik bin Nahaam sebagai Maalik bin Yukhaamir.

Oleh karena itu kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa tidak menafikan kemungkinan lain dan tidak pula menafikan kemungkinan yang disebutkan Syaikh Al Judai’ [yang memperlakukan sanad itu sesuai dengan zhahirnya]

Menurut kami pendapat yang lebih rajih disini adalah memperlakukan sanad-sanad tersebut sebagaimana zhahir sanadnya. Adapun masalah kemungkinan tashif, hal itu tidak memberikan keyakinan yang kuat karena kekurangan qarinah [petunjuk] untuk menyatakan bahwa lafaz mana yang tashif dan di kitab mana. Dan seperti yang telah kami tunjukkan dalam pembahasan di atas, secara zhahir sanad riwayat Ibnu Jauziy dan Tammaam Ar Raaziy menunjukkan adanya idthirab.

.

.

Kesimpulan

Pembahasan panjang di atas membuktikan bahwa apa yang dikatakan Syaikh Al Judai’ bahwa hadis Ibnu ‘Abbas tentang menghancurkan seruling dan gendang kedudukannya dhaif adalah pendapat yang benar dan lebih rajih dibandingkan hujjah bantahan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa.

Dhaif Atsar Ibnu Mas’ud : Nyanyian Menumbuhkan Kemunafikan Dalam Hati

sumber : Secondprince

Dhaif Atsar Ibnu Mas’ud : Nyanyian Menumbuhkan Kemunafikan Dalam Hati

Sedikit membicarakan mengenai masalah Nyanyian. Sudah dikenal bahwa terdapat sekelompok orang islam [baca : salafiy] yang sangat keras dalam mengharamkan musik dan nyanyian. Diantara mereka ada yang membawakan dan berhujjah dengan atsar Ibnu Mas’ud [radiallahu ‘anhu] bahwa Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Tulisan ini berusaha membuktikan bahwa berdasarkan pendapat yang rajih kedudukan sebenarnya atsar tersebut di sisi ilmu hadis adalah dhaif.

.

.

Riwayat Pertama

حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ حَّدَثَنَا الحُسَيْنُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالا حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنِ الْحَكَمِ عَنْ حَمَّادٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah dan Ubaidillah bin ‘Umar keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar dari Syu’bah dari Al Hakam dari Hammaad dari Ibrahiim yang berkata ‘Abdullah bin Mas’ud berkata “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati” [Dzammul Malaahiy Ibnu Abi Dunyaa hal 42 no 31, tahqiq ‘Amru bin Abdul Mun’im bin Saliim]

Ibnu Abi Dunyaa juga menyebutkan sanad di atas dalam kitabnya Dzammul Malaaahiy hadis no 34, riwayat Ibnu Abi Dunyaa ini juga dikeluarkan oleh Al Baihaqiy dalam kitabnya Sunan Al Kubra 10/223 no 2795 dan Syu’ab Al Iman 4/278 no 5098

Ghundaar dalam periwayatan atsar di atas dari Syu’bah memiliki mutaba’ah dari

  1. Sa’iid bin ‘Aamir sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malahiy hadis no 36
  2. Waki’ bin Jarrah sebagaimana disebutkan Al Khallaal dalam kitabnya As Sunnah 5/76 no 1659

Al Hakam bin Utaibah dalam periwayatan atsar di atas dari Hammaad bin Abi Sulaiman memiliki mutaba’ah sebagai berikut

  1. Manshuur bin Mu’tamar sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malaahiy hadis no 35, Al Khallal dalam As Sunnah 5/73 no 1647, Al Baihaqiy dalam Syu’ab Al Imaan 4/279 no 5099, dan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah kitab Iman 2/703 no 945 semuanya dengan jalan sanad Sufyan dari Manshur dari Hammad dari Ibrahim dari Ibnu Mas’ud. Ibnu Abi Dunya dalam Dzammul Malaahiy hadis no 37 juga menyebutkan dengan sanad Syariik dari Manshuur dari Ibrahim yang berkata mereka mengatakan Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati [tanpa menyebutkan Ibnu Mas’ud]. Riwayat Syarik tidak mahfuuzh dibanding riwayat Sufyaan karena Syarik jelek hafalannya.
  2. Abu Awanah Wadhaah bin ‘Abdullah sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malahiy hadis no 38 dengan jalan sanad Abu Awanah dari Hammad dari Ibrahim seperti hadis tersebut [mitslahu]. Lafaz mitslahu secara zhahir merujuk pada hadis sebelumnya pada no 37 yaitu riwayat Syarik dengan lafaz Ibrahim berkata “mereka mengatakan Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati” tanpa menyebutkan Ibnu Mas’ud.
  3. ‘Awwaam bin Hausyab sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malahiy hadis no 39, Al Khallaal dalam As Sunnah 5/72 no 1646 dan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah kitab Iman 2/704 no 947 dengan jalan sanad dari Husyaim dari ‘Awwaam dari Hammad dari Ibnu Mas’ud [tanpa menyebutkan Ibrahim An Nakha’iy]. Sanad ini tidak mahfuuzh karena Husyaim dikenal sebagai mudallis dan riwayatnya disini dengan ‘an anah.
  4. Syu’bah bin Hajjaaj sebagaimana disebutkan Al Khallaal dalam kitabnya As Sunnah 5/76 no 1659. Dalam riwayat Al Khallal ini disebutkan bahwa Syu’bah setelah mendengar atsar itu dari Al Hakam maka ia mendatangi Hammaad dan Hammaad menyebutkan atsar tersebut kepadanya.

Sekilas seolah nampak adanya idhthirab yaitu dari sisi Hammaad bin Abi Sulaiman tetapi jika ditelaah dengan baik nampak bahwa yang rajih dan mahfuuzh adalah riwayat Hammaad dari Ibrahim dari Ibnu Mas’ud sebagaimana yang disebutkan Syu’bah, Al Hakam bin Utaibah dan Manshuur bin Mu’tamar. Adapun riwayat Abu Awanah bisa dijamak dengan riwayat Syu’bah, Al Hakam dan Manshuur yaitu bahwa diantara mereka yang dimaksudkan Ibrahim adalah Ibnu Mas’ud.

Ibrahim bin Yazid An Nakha’iy disebutkan biografinya dalam At Tahdzib dan Ibnu Hajar menukil bahwa Abu Nu’aim mengatakan ia wafat tahun 96 H dan umurnya ada yang mengatakan 49 tahun dan ada yang mengatakan 58 tahun [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 325]. Berdasarkan keterangan ini maka Ibrahim lahir tahun 38 H atau 47 H. Sedangkan Abdullah bin Mas’ud disebutkan dalam At Tahdzib bahwa ia wafat tahun 32 H atau 33 H [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 43]. Maka dapat disimpulkan bahwa Ibrahim tidak menemui masa Ibnu Mas’ud maka riwayatnya terputus [inqitha’] dan kedudukannya dhaif.

.

.

.

Syaikh Al Albani dalam Tahrim Alati Tharb hal 145 mengakui bahwa sanad Ibrahim dari Ibnu Mas’ud inqitha’ [terputus sanadnya] hanya saja dalam pandangan Syaikh Al Albaniy mursal Ibrahim khususnya dari Ibnu Mas’ud kedudukannya shahih. Diantara hujjah Syaikh Al Albani adalah riwayat berikut

حدثنا أبو عبيدة بن أبي السفر الكوفي حدثنا سعيد بن عامر عن شعبة عن سليمان الأعمش قال قلت لإبراهيم النخعي أسند لي عن عبد الله بن مسعود فقال إبراهيم إذا حدثتك عن رجل عن عبد الله فهو الذي سميت وإذا قلت قال عبد الله فهو عن غير واحد عن عبد الله

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidah bin Abi As Safri Al Kuufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Aaamir dari Syu’bah dari Sulaiman Al A’masyi yang berkata aku berkata kepada Ibrahim An Nakha’iy “berikan sanad kepadaku dari ‘Abdullah bin Mas’ud”. Ibrahim berkata “jika aku menceritakan kepadamu dari seseorang dari ‘Abdullah maka ia adalah orang yang aku sebutkan namanya dan jika aku berkata Abdullah berkata maka itu dari lebih dari seorang dari ‘Abdullah [Sunan Tirmidzi Kitab Al Ilaal hal 249]

Riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk menyatakan bahwa mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud kedudukannya shahih. Faedah yang didapatkan dari riwayat di atas adalah jika Ibrahim berkata Ibnu Mas’ud berkata maka sanadnya adalah Ibrahim dari lebih dari seorang dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Sanad ini tetap saja tidak bisa dijadikan hujjah karena mubham-nya orang-orang yang disebutkan Ibrahim dari Abdullah bin Mas’ud.

Mubham-nya orang-orang yang dimaksud mengandung kemungkinan bahwa bisa saja orang-orang tersebut tergolong dhaif atau majhul sehingga hadisnya tidak bisa dijadikan hujjah. Apalagi Ibrahim bin Yazid tidak dikenal sebagai perawi yang meriwayatkan hanya dari perawi tsiqat saja. Bahkan Aliy bin Madiniy menyatakan kalau Ibrahim bin Yazid juga meriwayatkan dari perawi majhul. Disebutkan dalam Tahdzib Al Kamal biografi Yazid bin Aus Al Kuufiy

فقال رجل يَا أَبَا الحسن فإبراهيم النخعي عمن روى من المجهولين ؟ فقال روى عن يزيد بْن أوس عَن علقمة فمن يزيد بْن أوس ؟ لا نعلم أحدا روى عنه غير إِبْرَاهِيم

Seorang laki-laki berkata “ wahai Abul Hasan apakah Ibrahim An Nakha’iy termasuk yang meriwayatkan dari orang-orang majhul?. Maka ia [Aliy bin Madiniy] berkata “ia telah meriwayatkan dari Yazid bin Aus dari Alqamah maka siapakah Yazid bin Aus?, tidak seorangpun diketahui meriwayatkan darinya kecuali Ibrahim [Tahdzib Al Kamal 32/91 no 6966]

Syaikh Al Muallimiy telah membahas perkataan Ibrahim kepada A’masyiy tersebut dan menurutnya riwayat tersebut tidaklah mengangkat inqitha’ sanad Ibrahim dari Ibnu Mas’ud karena masih mengandung kemungkinan bahwa lafaz “lebih dari seorang” itu termasuk mereka yang tidak bertemu dengan Ibnu Mas’ud atau bertemu dengannya tetapi tidak tsiqat [At Tankiil Al Mu’allimiy 2/142]

Sebagian orang mengatakan bahwa terdapat lafaz riwayat dimana Ibrahim menyebutkan “lebih dari seorang sahabatnya [Ibnu Mas’ud]” maka hal itu berarti sanad tersebut muttashil [bersambung] dan tidak ada sahabat Ibnu Mas’ud yang tidak tsiqat. Pernyataan ini juga tidak sepenuhnya benar, karena ketersambungan sanad tidak semata-mata berlandaskan pada lafaz “sahabat” karena seorang perawi bisa saja melakukan tadlis terhadap sahabatnya dan tidak ada jaminan bahwa semua sahabat Ibnu Mas’ud adalah tsiqat.

Mungkin orang tersebut bisa membawakan nama murid atau sahabat Ibnu Mas’ud yang menurutnya tsiqat dalam berbagai kitab Rijal tetapi apa yang ada dalam kitab Rijal bukanlah pembatas yang memustahilkan orang-orang majhul atau dhaif meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Nampak jelas disini bahwa sebagian orang memaksakan asumsinya sendiri berandai-andai dengan kemungkinan demi menyatakan shahih hadis yang sesuai keyakinannya.

Secara zhahir riwayat A’masyiy masih mengandung berbagai kemungkinan sehingga tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengangkat kelemahan inqitha’ sanad Ibrahim dari Ibnu Mas’ud. Bukankah terdapat kemungkinan bahwa bisa saja perkataan Ibrahim tersebut khusus untuk riwayat yang ia ceritakan kepada A’masyiy saja?. Apa jaminannya bahwa itu berlaku untuk semua riwayat dimana Ibrahim berkata “qaala Ibnu Mas’ud”?. Maka bagaimana mungkin bisa dinyatakan shahih jika terdapat berbagai kemungkinan yang melemahkan.

.

.

.

Syaikh Al Albaniy kemudian menukil dari Al Ala’iy yang menyebutkan bahwa jama’ah Imam telah menshahihkan riwayat mursal Ibrahim dan Al Baihaqiy telah mengkhususkan shahih mursalnya dari Ibnu Mas’ud. Pernyataan Al Ala’iy ini dapat dilihat dalam kitabnya Jami’ At Tahshiil Fii Ahkam Al Marasiil no 13 biografi Ibrahim bin Yazid An Nakha’iy.

Apa yang dikatakan oleh Al Ala’iy dan dinukil oleh Syaikh Al Albaniy tersebut tidak sepenuhnya benar. Memang terdapat sebagian ulama yang menyatakan shahih mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud dan sebagian ulama lain tetap menyatakan dhaif termasuk Al Baihaqiy. Maka penisbatan terhadap Al Baihaqiy tersebut tidak benar. Ulama yang menguatkan riwayat Ibrahim dari Ibnu Mas’ud diantaranya adalah

  1. Ath Thahawiy termasuk ulama yang menyatakan shahih riwayat mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud dan hujjahnya adalah berdasarkan riwayat Al A’masyiy di atas [Syarh Ma’aniy Al Atsar 1/226]. Seperti yang telah kami jelaskan di atas bahwa riwayat A’masyiy tersebut jika ditelaah secara kritis tidaklah menjadi bukti untuk menshahihkan mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud.
  2. Ibnu Rajab Al Hanbaliy dalam Syarh Ilal Tirmidzi menjadikan riwayat Al A’masyiy tersebut sebagai hujjah untuk mentarjihkan riwayat mursal atas musnad dan ini berlaku khusus bagi Ibrahim An Nakha’iy dan terkhusus untuk riwayat irsal-nya dari Ibnu Mas’ud. [Syarh Ilal Tirmdizi 1/542].

Adapun ulama yang tetap menyatakan dhaif inqitha’ Ibrahim dari Ibnu Mas’ud adalah Al Baihaqiy, Al Bukhariy [sebagaimana dinukil Al Baihaqiy], Al Jurqaaniy, Adz Dzahabiy dan An Nawawiy.

Al Khilafiyat Al Baihaqiy

Al Khilafiyat juz 3 hal 356

Al Baihaqiy dalam kitabnya Al Khilaafiyyaat pernah menukil riwayat Ibrahim dari Ibnu Mas’ud kemudian ia berkata

وهذا مرسل إبراهيم لم يسمع من عبد الله بن مسعود ومرسلات إبراهيم ليست بشيء

Riwayat ini mursal, Ibrahim tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud dan riwayat-riwayat mursal Ibrahim tidak ada apa-apanya [Al Khilaafiyyaat Al Baihaqiy 2/356]


Qiraat Khalaf Imam Baihaqiy

Qiraat Khalaf Imam Baihaqiy hal 212

Al Baihaqiy dalam kitabnya Qiraa’ah Khalaf Al Imaam hal 212 menukil dari Al Bukhariy yang membawakan riwayat Salamah bin Kuhail dari Ibrahim dari Abdullah kemudian Bukhariy berkata riwayat ini mursal tidak dapat dijadikan hujjah dengannya


Abathil Jurqaniy

Abathil Jurqaniy juz 2 hal 231

Al Jurqaaniy dalam kitabnya Al Abathiil Wal Manakiir 2/231 membawakan riwayat Hammaad dari Ibrahim dari Abdullah kemudian ia menyatakan riwayat tersebut bathil mudhtharib dan Ibrahim tidak mendengar dari Ibnu Mas’ud sedikitpun.


Mizan Itidal juz 1

Mizan Itidal juz 1 hal 204

Adz Dzahabiy dalam kitabnya Mizan Al I’tidal biografi Ibrahim bin Yazid An Nakha’iy menyebutkan

وأنه إذا أرسل عن ابن مسعود وغيره فليس ذلك بحجة

Bahwasanya ia [Ibrahim] jika mengirsalkan dari Ibnu Mas’ud dan selainnya maka tidaklah menjadi hujjah [Mizan Al I’tidal 1/204 no 252]


Al Majmu' Nawawi juz 3

Al Majmu' Nawawi juz 3 hal 311

An Nawawiy dalam kitabnya Al Majmu’ ketika menyebutkan riwayat dari Hammaad dari Ibrahim dari Ibnu Mas’ud maka ia berkata

 وهو ان إبراهيم النخعي لم يدرك ابن مسعود بالاتفاق فهو منقطع ضعيف

Dan ia sesungguhnya Ibrahim An Nakha’iy telah disepakati tidak menemui masa Ibnu Mas’ud maka ia munqathi’ [terputus sanadnya] dhaif [Al Majmu’ An Nawawiy 3/311-312]

Apa yang kami sebutkan di atas hanya ingin menunjukkan bahwa sebagian ulama menguatkan mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud dan sebagian yang lain tetap melemahkan inqitha’ antara Ibrahim dan Ibnu Mas’ud. Pada dasarnya pendapat ulama yang berselisih harus ditimbang dengan kaidah ilmu manakah yang lebih rajih. Berdasarkan pembahasan sebelumnya nampak bahwa yang lebih rajih adalah tetap menyatakan mursal Ibrahim dari Ibnu Mas’ud dhaif dan hal ini sudah sesuai dengan kaidah ilmu hadis.

.

.

Riwayat Kedua

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ طَلْحَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ كَعْبٍ الْمُرَادِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ وَإِنَّ الذِّكْرَ يُنْبِتُ الإِيمَانَ فِي الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman dari Muhammad bin Thalhah dari Sa’id bin Ka’b Al Muraadiy dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid dari Ibnu Mas’ud yang berkata “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman dan Dzikir menumbuhkan iman di dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanaman” [As Sunah Al Khalaal 5/73-74 no 1650]

Atsar ini juga diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Dzammul Malaaahiy hal 41 no 30 dan Al Baihaqiy dalam kitab Sunan-nya 10/223 no 2796 semuanya dengan jalan sanad Sa’iid bin Ka’b Al Muraadiy dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid dari Ibnu Mas’ud.

Sanad ini dhaif karena Sa’iid bin Ka’b Al Muraadiy tidak dikenal kredibilitasnya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat 8/262 no 13345 dan menyebutkan Muhammad bin Thalhah meriwayatkan darinya. Ibnu Abi Hatim menyebutkan biografinya dalam kitab Al Jarh Wat Ta’dil 4/57 no 249 tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil dan hanya menyebutkan Muhammad bin Thalhah yang meriwayatkan darinya. Berdasarkan hal ini nampak bahwa Sa’iid bin Ka’b Al Muraadiy adalah perawi yang majhul ‘ain karena hanya seorang yang meriwayatkan darinya, adapun penyebutan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat tidak memiliki qarinah yang menguatkan ta’dilnya.

Al Bukhariy menyebutkan tentangnya hanya saja dengan nama Sa’iid bin Kulaib. Ia berkata dalam kitab Tarikh-nya

سعيد بن كليب عن محمد بن عبد الرحمن بن يزيد مرسل روى عنه محمد بن طلحة الكوفي

Sa’iid bin Kulaib meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid mursal dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Thalhah Al Kuufiy [Tarikh Al Kabiir juz 3 no 1694]

Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid An Nakha’iy adalah seorang yang tsiqat termasuk perawi thabaqat keenam [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 2/106] dan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa perawi thabaqat keenam tidak tsabit bertemu dengan seorangpun dari sahabat Nabi [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/25]. Oleh karena itu sanad di atas juga dhaif karena munqathi’ [terputus sanadnya] yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yazid tidak bertemu dengan Ibnu Mas’ud.

Terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa perawi diantara Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yazid dan Ibnu Mas’ud adalah Ayahnya, hanya saja riwayat ini tidak mahfuzh.

وَحَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ثنا جَرِيرٌ عَنْ لَيْثٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ  الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ

Dan telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yazid dari Ayahnya yang berkata ‘Abdullah berkata “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati” [As Sunnah Al Khallaal 5/73 no 1649]

Riwayat ini tidak mahfuzh karena Laits bin Abi Sulaim, ia seorang yang shaduq hanya saja mengalami ikhtilath yang berat [bercampur hafalannya] dan hadisnya tidak bisa dibedakan sehingga ditinggalkan [Taqrib At Tahdzib 2/48]. Apalagi terdapat qarinah bahwa Laits mengalami idhthirab dalam periwayatan atsar ini, sebagaimana nampak dalam riwayat berikut

حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ حَّدَثَنَا الحُسَيْنُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Thalhah bin Musharrif yang berkata ‘Abdullah berkata “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati” [Dzammul Malaahiy Ibnu Abi Dunyaa hal 45 no 40]

Riwayat di atas menjadi bukti bahwa Laits mengalami idhthirab [kekacauan dalam periwayatan], ia terkadang meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yazid dari ayahnya dari Ibnu Mas’ud dan terkadang meriwayatkan dari Thalhah bin Musharrif dari Ibnu Mas’ud. Kekacauan periwayatan ini memang sudah dikenal terjadi padanya, oleh karena itu riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah.

.

.

Riwayat Ketiga

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ثنا وَكِيعٌ عَنْ سَلامِ بْنِ مِسْكِينٍ عَنْ شَيْخٍ لَهُمْ لَمْ يَكُنْ يُسَمِّيهِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ أَنَّهُ دُعِيَ إِلَى وَلِيمَةٍ فَرَأَى لَعَّابِينَ فَخَرَجَ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الْبَقْلَ

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Salaam bin Miskiin dari Syaikh mereka yang tidak disebutkan namanya dari Abi Wail bahwasanya ia diundang ke suatu walimah [pernikahan] maka ia melihat permainan [musik] maka ia keluar dan berkata aku mendengar Ibnu Mas’ud mengatakan Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati seperti air menumbuhkan sayuran [As Sunnah Al Khallaal 5/76 no 1658]

Riwayat ini juga disebutkan oleh Ibnu Bathah dalam Al Ibanah kitab Iiman 2/703 no 946 juga dengan jalan sanad Waki’ dari Salaam bin Miskiin dari Syaikh dari Abu Wail dari Ibnu Mas’ud secara mauquf.

Waki’ dalam periwayatan dari Salaam bin Miskiin tentang atsar Ibnu Mas’ud di atas secara mauquf telah diselisihi oleh

  1. Muslim bin Ibrahim yang meriwayatkan dari Salaam bin Miskiin secara marfu’ sebagaimana disebutkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya 2/699 no 4927
  2. Haramiy bin ‘Umarah yang meriwayatkan dari Salaam bin Miskiin secara marfu’ sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Dunyaa dalam Dzammul Malaahiy hal 45 no 41 dan Al Baihaqiy dalam kitab Sunan-nya 10/223 no 20797

Baik atsar tersebut mauquf atau marfu’ maka sanadnya tetap dhaif karena Syaikh yang disebutkan Salaam bin Miskiin tersebut majhul. Apalagi matan riwayat ini sudah jelas mungkar [karena bertentangan dengan hadis shahih], baik ulama yang mengharamkan musik maupun yang membolehkannya telah sepakat bahwa terdapat dalil shahih Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah mendengarkan nyanyian saat acara walimah.

.

.

.

Kesimpulan

Secara ringkas ada tiga riwayat Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Nyanyian menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, yaitu

  1. Riwayat Ibrahim An Nakha’iy dari Ibnu Mas’ud, kedudukannya dhaif karena sanadnya terputus
  2. Riwayat Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Yaziid dari Ibnu Mas’ud, kedudukannya dhaif karena terdapat perawi majhul dan sanadnya terputus
  3. Riwayat Abu Wail dari Ibnu Mas’ud, kedudukannya dhaif karena terdapat perawi majhul

Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada satupun atsar dengan sanad shahih dimana ‘Abdullah bin Mas’ud [radiallahu ‘anhu] mengatakan bahwa Nyanyian dapat menumbuhkan kemunafikan di dalam hati.

Kisah Pembakaran Abdullah bin Saba’ Dalam Kitab Syi’ah

Sumber : Secondprince

Kisah Pembakaran Abdullah bin Saba’ Dalam Kitab Syi’ah

Sebelumnya pernah disinggung dalam sebagian tulisan di blog ini bahwa dalam mazhab Syi’ah terdapat riwayat shahih yang menyebutkan tentang Abdullah bin Saba’ bahwa ia seorang ghuluw kafir menyatakan ketuhanan Aliy bin Abi Thalib sehingga Imam Aliy menghukum dengan membakarnya. Hal ini dijadikan syubhat celaan oleh para pembenci Syi’ah. Ada diantara mereka yang mengatakan bahwa perbuatan Imam Aliy membakar Abdullah bin Saba’ bertentangan dengan hadis tidak boleh menyiksa dengan siksaan Allah [api].

Perlu diingatkan bahwa pembahasan yang kami buat disini adalah berdasarkan sudut pandang Syi’ah. Kami akan menilai sejauh mana validitas tuduhan para pembenci Syi’ah tersebut.

.

.

.

Ada ulama Syi’ah menyatakan bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah tokoh fiktif. Anggapan ini keliru kalau dilihat dari sudut pandang mazhab Syi’ah karena telah terbukti melalui riwayat shahih bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ memang ada dan ia seorang ghuluw dalam kekafiran. Berikut riwayat shahih di sisi Syi’ah mengenai Abdullah bin Saba’

حدثني محمد بن قولويه، قال: حدثني سعد بن عبد الله، قال: حدثنا يعقوب بن يزيد ومحمد بن عيسى، عن ابن أبي عمير، عن هشام بن سالم، قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول وهو يحدث أصحابه بحديث عبد الله بن سبأ وما ادعى من الربوبية في أمير المؤمنين علي بن أبي طالب، فقال: انه لما ادعى ذلك فيه استتابه أمير المؤمنين عليه السلام فأبي أن يتوب فأحرقه بالنار

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Quluwaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Yaziid dan Muhammad bin Iisa dari Ibnu Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan dan ia menceritakan kepada para sahabatnya tentang perkataan Abdullah bin Saba’ dan apa yang ia serukan tentang Rububiyah [ketuhanan] Amirul Mukminin Aliy bin Abi Thalib, maka Beliau selanjutnya berkata “ketika ia menyerukan hal itu maka Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] memintanya bertaubat, ia menolak bertaubat maka Beliau membakarnya dengan api [Rijal Al Kasyiy 1/323 no 171]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  4. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896].
  5. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  6. Hisyam bin Saalim, ia dikatakan An Najasyiy “tsiqat tsiqat” [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

Dan disebutkan pula dalam riwayat muwatstsaq dan shahih bahwa imam ahlul bait [‘alaihis salaam] telah melaknat ‘Abdullah bin Saba’

حدثني محمد بن قولويه، قال: حدثني سعد بن عبد الله، قال: حدثنا يعقوب بن يزيد ومحمد بن عيسى، عن علي بن مهزيار، عن فضالة بن أيوب الأزدي عن أبان بن عثمان، قال سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: لعن الله عبد الله بن سبأ أنه ادعى الربوبية في أمير المؤمنين عليه السلام وكان والله أمير المؤمنين عليه السلام عبدا لله طائعا، الويل لمن كذب علينا وأن قوما يقولون فينا ما لا نقوله في أنفسنا، نبرأ إلى الله منهم نبرأ إلى الله منهم

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Quluwaih yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Yaziid dan Muhammad bin Iisa dari Aliy bin Mahziyaar dari Fadhalah bin Ayuub Al Azdiy dari Aban bin ‘Utsman yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan “laknat Allah atas ‘Abdullah bin Sabaa’ sesungguhnya ia menyerukan Rububiyah [ketuhanan] Amirul Mukminin [‘alaihis salaam], demi Allah, Amirul Mukminin adalah hamba Allah yang taat, celakalah yang berdusta atas kami dan sesungguhnya terdapat kaum yang mengatakan tentang kami apa yang tidak pernah kami katakan tentang diri kami, kami berlepas diri kepada Allah dari mereka, kami berlepas diri kepada Allah dari mereka [Rijal Al Kasyiy 1/324 no 172]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya muwatstsaq berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah karena para perawinya tsiqat hanya saja Aban bin ‘Utsman seorang yang jelek mahzabnya, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  4. Muhammad bin Iisa bin Ubaid, terdapat perbincangan atasnya. Najasyiy menyebutkan bahwa ia tsiqat, banyak riwayatnya dan baik tulisannya [Rijal An Najasyiy hal 333 no 896].
  5. Aliy bin Mahziyaar seorang yang tsiqat dalam riwayatnya, tidak ada celaan atasnya dan shahih keyakinannya [Rijal An Najasyiy hal 253 no 664]
  6. Fadhalah bin Ayuub Al Azdiy seorang yang tsiqat dalam hadisnya dan lurus dalam agamanya [Rijal An Najasyiy hal 310-311 no 850]
  7. Abaan bin ‘Utsman Al Ahmar, Al Hilliy menukil dari Al Kasyiy bahwa terdapat ijma’ menshahihkan apa yang shahih dari Aban bin ‘Utsman, dan Al Hilliy berkata “di sisiku riwayatnya diterima dan ia jelek mazhabnya” [Khulashah Al ‘Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 74 no 3]

وبهذا الاسناد، عن يعقوب بن يزيد، عن ابن أبي عمير وأحمد بن محمد بن عيسى، عن أبيه والحسين بن سعيد، عن ابن أبي عمير عن هشام بن سالم، عن أبي حمزة الثمالي، قال، قال علي بن الحسين عليهما السلام لعن الله من كذب علينا، اني ذكرت عبد الله بن سبأ فقامت كل شعرة في جسدي، لقد ادعى أمرا عظيما ماله لعنه الله، كان علي عليه السلام والله عبدا لله صالحا، أخو رسول الله، ما نال الكرامة من الله الا بطاعته لله ولرسوله، وما نال رسول الله (ص) الكرامة من الله الا بطاعته لله

Dan dengan sanad ini dari Ya’qub bin Yaziid dari Ibnu Abi Umair dan dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ayahnya dan Husain bin Sa’iid dari Ibnu Abi Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Abi Hamzah Ats Tsumaliy yang berkata Aliy bin Husain [‘alaihimas salaam] berkata “Laknat Allah kepada orang yang berdusta atas kami, aku menyebutkan Abdullah bin Sabaa’ maka berdirilah setiap bulu di badanku, sesungguhnya dia telah menyeru perkara yang berat, laknat Allah atasnya, demi Allah, Aliy [‘alaihis salaam] adalah hamba Allah yang shalih, saudara Rasulnya dan tidaklah ia mendapatkan karamah dari Allah kecuali dengan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-nya dan tidaklah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] mendapatkan karamah dari Allah kecuali dengan ketaatannya kepada Allah” [Rijal Al Kasyiy 1/324 no 173]

Adapun maksud perkataan Al Kasyiy “dan dengan sanad ini” adalah sanad pada riwayat sebelumnya yaitu dari Muhammad bin Quluwaih dari Sa’ad bin ‘Abdullah. Jadi sanad lengkap sanad di atas ada dua jalan yaitu

  1. Dari Muhammad bin Quluwaih dari Sa’ad bin ‘Abdullah dari Ya’qub bin Yaziid dari Ibnu Abi Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Abi Hamzah Ats Tsumaliy dari Aliy bin Husain
  2. Dari Muhammad bin Quluwaih dari Sa’ad bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ayahnya dan Husain bin Sa’iid dari Ibnu Abi Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Abi Hamzah Ats Tsumaliy dari Aliy bin Husain

Secara keseluruhan sanad riwayat Al Kasyiy tersebut shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan para perawinya dan kami cukupkan pada sanad yang pertama

  1. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Hisyam bin Saalim, ia dikatakan An Najasyiy “tsiqat tsiqat” [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]
  6. Abu Hamzah Ats Tsumaliy adalah Tsabit bin Diinar seorang yang tsiqat dan mu’tamad dalam riwayat dan hadis [Rijal An Najasyiy hal 115 no 296]

Setelah membawakan riwayat-riwayat mengenai ‘Abdullah bin Sabaa’ maka Al Kasyiy menutupnya dengan kata-kata berikut

وذكر بعضي أهل العلم أن عبد الله بن سبأ كان يهوديا فأسلم ووالى عليا عليه السلام، وكان يقول وهو على يهوديته في يوشع بن نون وصي موسى بالغلو، فقال في اسلامه بعد وفات رسول الله صلى الله عليه وآله في علي عليه السلام مثل ذلك وكان أول من شهر بالقول بفرض امامة علي وأظهر البراءة من أعدائه وكاشف مخالفيه وكفرهم، فمن هيهنا قال من خالف الشيعة أصل التشيع والرفض مأخوذ من اليهودية

Dan disebutkan oleh sekelompok ahli ilmu bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah seorang Yahudiy yang masuk Islam dan berwala’ kepada Aliy [‘alaihis salaam]. Dahulu ketika masih Yahudiy ia mengatakan tentang Yusya’ bin Nuun sebagai washi Musa dengan ghuluw, maka setelah ia memeluk islam, ia mengatakan setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] tentang Aliy [‘alaihis salaam] hal yang sama, ia orang pertama yang dengan jelas mengatakan tentang kewajiban Imamah Aliy dan menampakkan bara’ah terhadap musuh-musuhnya, menyingkap orang-orang yang menyelisihinya dan mengkafirkan mereka. Maka dari sinilah, orang-orang yang menyelisihi Syi’ah berkata “asal Tasyayyu’ dan Rafidhah diambil dari Yahudi” [Rijal Al Kasyiy 1/324]

Nukilan Al Kasyiy di atas sering dijadikan hujjah oleh para pembenci Syi’ah untuk merendahkan mazhab Syi’ah. Padahal kalau ditelaah secara kritis maka nukilan di atas tidak bernilai hujjah dengan alasan sebagai berikut

  1. Tidak disebutkan siapakah sekelompok ahli ilmu yang dimaksud dalam perkataan Al Kasyiy di atas apakah mereka dari kalangan Syi’ah atau dari kalangan ahlus sunnah. Apalagi jika dilihat lafaz bahwa sekelompok ahli ilmu tersebut mengatakan ‘Abdullah bin Sabaa’ orang pertama yang menyatakan Imamah Aliy maka lafaz seperti ini tidak akan mungkin diucapkan oleh ulama dari kalangan Syi’ah karena para ulama Syi’ah bersepakat bahwa Imamah Aliy itu dinyatakan pertama kali oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga dengan dasar ini maka kemungkinan besar ahli ilmu yang dimaksud Al Kasyiy adalah dari kalangan ahlus sunnah
  2. Di sisi mazhab Syi’ah tidak ada satupun riwayat shahih yang membuktikan bahwa ‘Abdullah bin Sabaa’ menyerukan tentang Imamah Aliy, justru riwayat-riwayat shahih membuktikan bahwa apa yang diseru ‘Abdullah bin Sabaa’ adalah tentang Rububiyah [ketuhanan] Aliy bin Abi Thalib. Maka apa yang dikatakan sebagian ahli ilmu tersebut tidak memiliki dasar dalam mazhab Syi’ah
  3. Riwayat-riwayat yang menyebutkan Abdullah bin Saba’ menyerukan Imamah Aliy atau Aliy sebagai washiy Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya ditemukan dalam kitab ahlus sunnah diantaranya adalah riwayat Saif bin Umar. Maka hal ini menguatkan dugaan bahwa “sekelompok ahli ilmu” yang dimaksud Al Kasyiy adalah dari kalangan ahlus sunnah.

Berbeda halnya dengan “sekelompok ahli ilmu” yang dinukil oleh Al Kasyiy, Syaikh Ath Thuusiy dalam kitab Rijal-nya menyebutkan tentang ‘Abdullah bin Sabaa’ dengan lafaz berikut

عبد الله بن سبا، الذي رجع إلى الكفر وأظهر الغلو

‘Abdullah bin Sabaa’, termasuk orang yang kembali pada kekafiran dan menampakkan ghuluw [Rijal Ath Thuusiy hal 75]

Apa yang dikatakan oleh Syaikh Ath Thuusiy di atas memiliki dasar dari riwayat shahih mazhab Syi’ah sebagaimana telah dibuktikan di atas bahwa Abdullah bin Sabaa’ telah kufur karena menyatakan Rububiyah Aliy bin Abi Thalib.

.

.

Tidak disebutkan dalam riwayat-riwayat di atas apakah Aliy bin Abi Thalib membakar Abdullah bin Sabaa’ hidup-hidup atau membunuhnya terlebih dahulu baru kemudian membakar jasadnya. Tetapi terdapat qarinah yang menguatkan bahwa Aliy bin Abi Thalib mungkin membakarnya hidup-hidup. Dalam salah satu riwayat shahih Syi’ah disebutkan

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: أتى قوم أمير المؤمنين عليه السلام فقالوا: السلام عليك يا ربنا فاستتابهم فلم يتوبوا فحفر لهم حفيرة وأوقد فيها نارا وحفر حفيرة أخرى إلى جانبها وأفضى ما بينهما فلما لم يتوبوا ألقاهم في الحفيرة وأوقد في الحفيرة الأخرى [نارا] حتى ماتوا

Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi Umair dari Hisyaam bin Saalim dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata “datang suatu kaum kepada Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] maka mereka berkata “salam untukmu wahai Tuhan kami”. Maka Beliau meminta mereka untuk bertaubat tetapi mereka tidak mau bertaubat. Beliau membuat lubang untuk mereka, menyalakan api di dalamnya dan membuat lubang lagi di sisi lainnya dan menghubungkan diantara keduanya, maka ketika mereka tidak mau bertaubat, Beliau memasukkan mereka ke dalam lubang dan menyalakan lubang yang lain dengan api hingga akhirnya mereka mati [Al Kafiy Al Kulainiy 7/258-259 no 18]

Riwayat Al Kafiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Hisyaam bin Saalim meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] ia tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

Walaupun memang dalam riwayat di atas masih terdapat kemungkinan bahwa mereka bukan mati terbakar tetapi mati karena asap dari api yang menyala di lubang yang satunya.

.

Kemudian para pembenci Syi’ah seperti yang dapat para pembaca lihat salah satunya disini, mengutip salah satu riwayat dari Imam Ja’far bahwa tidak boleh menghukum dengan azab Allah, mereka menyebutkan telah mengutip riwayat tersebut dari Kitab Gunahane Kabira oleh Ayatullah Dastaghaib Shiraziy

Kalau dilihat sepintas memang penulis situs tersebut agak aneh ketika membawakan riwayat tentang Abdullah bin Sabaa’ ia mengutip dari kitab sumber hadisnya [Rijal Al Kasyiy] tetapi ketika ia mengutip hadis larangan membakar, ia malah mengutip kitab bahasa parsi yang bukan kitab sumber hadisnya. Seperti biasa nampak bagi saya bahwa penulis situs tersebut hanya mengkopipaste hujjah para sahabatnya di forum pembenci Syi’ah.

Riwayat yang dijadikan hujjah oleh mereka para pembenci Syi’ah tersebut, telah disebutkan oleh Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar 79/45 dan Al Hurr Al Amiliy dalam Wasa’il Syi’ah 3/29-30

الحسن بن يوسف بن المطهر العلامة في ( منتهى المطلب ) رفعه قال : إن امرأة كانت تزني وتوضع أولادها وتحرقهم بالنار خوفا من أهلها ، ولم يعلم به غير أمها ، فلما ماتت دفنت فانكشف التراب عنها ولم تقبلها الارض ، فنقلت من ذلك المكان إلى غيره ، فجرى لها ذلك ، فجاء أهلها إلى الصادق ( عليه السلام ) وحكوا له القصة ، فقال لامها : ما كانت تصنع هذه في حياتها من المعاصي ؟ فأخبرته بباطن أمرها ، فقال الصادق ( عليه السلام ) : إن الارض لا تقبل هذه ، لانها كانت تعذب خلق الله بعذاب الله ، اجعلوا في قبرها شيئا من تربة الحسين ( عليه السلام ) ، ففعل ذلك بها فسترها الله تعالى

Al Hasan bin Yuusuf bin Muthahhar Al Allamah dalam Muntaha Al Mathlab, merafa’kan, [perawi] berkata “bahwa seorang wanita pezina membakar anak-anaknya dengan api karena takut kepada keluarganya, tidak ada yang mengetahui perbuatannya kecuali Ibunya, ketika ia wafat dan dikuburkan maka bumi mengeluarkannya dan tidak menerima jasadnya, maka kemudian dipindahkan ke tempat lainnya dan ternyata juga terjadi hal yang sama, maka keluarganya datang kepada Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] dan menceritakan kepada Beliau peristiwa tersebut. Maka Beliau berkata kepada ibunya “dosa apa yang pernah ia lakukan semasa hidupnya?”. Ibunya menceritakan kepada Beliau perbuatannya. Maka Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] berkata “sesungguhnya bumi tidak menerimanya karena ia telah menyiksa ciptaan Allah dengan siksaan Allah [api], kemudian Beliau menempatkan pada kuburnya sedikit dari tanah kuburan Husain [‘alaihis salaam], maka ketika hal itu dilakukan, Allah ta’ala menutup kuburnya [Wasa’il Syi’ah Syaikh Al Hurr Al Amiliy 3/29-30]

منتهى المطلب: قال: روي أن امرأة كانت تزني وتضع أولادها فتحرقهم بالنار، خوفا من أهلها، ولم يعلم بها غير أمها، فلما ماتت دفنت، فانكشف التراب عنها ولم تقبلها الأرض، فنقلت من ذلك المكان إلى غيره، فجرى لها ذلك، فجاء أهلها إلى الصادق عليه السلام وحكوا له القصة، فقال لامها ما كانت تصنع هذه في حياتها من المعاصي؟ فأخبرته بباطن أمرها، فقال الصادق عليه السلامإن الأرض لا تقبل هذه لأنها كانت تعذب خلق الله بعذاب الله، اجعلوا في قبرها من تربة الحسين عليه السلام، ففل ذلك بها فسترها الله تعالى

Muntaha Al Mathlab : berkata : diriwayatkan bahwa seorang wanita pezina membakar anak-anaknya dengan api karena takut kepada keluarganya, tidak ada yang mengetahui perbuatannya kecuali Ibunya, ketika ia wafat dan dikuburkan maka bumi mengeluarkannya dan tidak menerima jasadnya, maka kemudian dipindahkan ke tempat lainnya dan ternyata juga terjadi hal yang sama, maka keluarganya datang kepada Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] dan menceritakan kepada Beliau peristiwa tersebut. Maka Beliau berkata kepada ibunya “dosa apa yang pernah ia lakukan semasa hidupnya?”. Ibunya menceritakan kepada Beliau perbuatannya. Maka Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] berkata “sesungguhnya bumi tidak menerimanya karena ia telah menyiksa ciptaan Allah dengan siksaan Allah [api], kemudian Beliau menempatkan pada kuburnya sedikit dari tanah kuburan Husain [‘alaihis salaam], maka ketika hal itu dilakukan, Allah ta’ala menutup kuburnya [Bihar Al Anwar Al Majlisiy 79/45]

Al Majlisiy dan Al Hurr Al Amiliy menukil riwayat tersebut dari kitab Muntaha Al Mathlab Allamah Al Hilliy, dan inilah yang disebutkan dalam kitab tersebut

فقد روى أن امرأة كانت تزني تضع أولادها فتحرقهم بالنار خوفا من أهلها ولم يعلم به غير أمها فلما ماتت دفنت فانكشف التراب عنها ولم تقبلها الأرض فنقلت عن ذلك الموضع إلى غيره فجرى لها ذلك فجاء أهلها إلى الصادق عليه السلام وحكوا له القصة فقال لامها ما كانت تصنع هذه في حيوتها من المعاصي فأخبرته بباطن أمرها فقال عليه السلام أن الأرض لا تقبل هذه لأنها كانت تعذب خلق الله بعذاب الله اجعلوا في قبرها شيئا من تربة الحسين عليه السلام ففعل ذلك فسترها الله تعالى

Sungguh telah diriwayatkan bahwa seorang wanita pezina membakar anak-anaknya dengan api karena takut kepada keluarganya, tidak ada yang mengetahui perbuatannya kecuali Ibunya, ketika ia wafat dan dikuburkan maka bumi mengeluarkannya dan tidak menerima jasadnya, maka kemudian dipindahkan ke tempat lainnya dan ternyata juga terjadi hal yang sama, maka keluarganya datang kepada Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] dan menceritakan kepada Beliau peristiwa tersebut. Maka Beliau berkata kepada ibunya “dosa apa yang pernah ia lakukan semasa hidupnya?”. Ibunya menceritakan kepada Beliau perbuatannya. Maka Ash Shaadiq [‘alaihis salaam] berkata “sesungguhnya bumi tidak menerimanya karena ia telah menyiksa ciptaan Allah dengan siksaan Allah [api], kemudian Beliau menempatkan pada kuburnya sedikit dari tanah kuburan Husain [‘alaihis salaam], maka ketika hal itu dilakukan, Allah ta’ala menutup kuburnya [Muntaha Al Mathlab Allamah Al Hilliy 1/461]

Seperti yang dapat para pembaca lihat sumber hadis tersebut ternyata adalah nukilan ulama yang tidak bersanad, maka berdasarkan standar ilmu hadis Syi’ah hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah karena tidak ada sanadnya.

Bagaimana mungkin riwayat dengan kedudukan seperti ini dijadikan hujjah untuk menentang riwayat shahih bahkan menurut bahasa lebay para pembenci Syi’ah telah meruntuhkan kema’shuman Imam ahlul bait dalam mazhab Syi’ah. Saran kami kepada penulis situs tersebut, ada baiknya anda belajar bersikap objektif dan merujuk kepada kitab hadis serta menerapkan metode ilmiah, sebelum anda berbicara sok soal mazhab orang lain. Alangkah lucunya ketika anda menuliskan sebuah tulisan panjang untuk merendahkan Syi’ah ternyata inti tulisan tersebut berhujjah pada riwayat dhaif di sisi mazhab Syi’ah.

.

.

.

Kesimpulan

Dalam mazhab Syi’ah, hadis larangan membakar atau menyiksa dengan siksaan Allah kedudukannya dhaif sehingga walaupun telah shahih bahwa Imam Aliy membakar ‘Abdullah bin Sabaa’ maka hal itu tidaklah bertentangan dengan kema’shuman Imam dalam mazhab Syi’ah.

Adapun dalam mazhab Ahlus Sunnah [berdasarkan pendapat yang rajih dan menjadi pegangan kami] telah berlalu penjelasannya dalam beberapa tulisan kami [bisa dilihat di daftar artikel] bahwa tidak shahih Imam Aliy membakar orang-orang murtad hidup hidup, yang benar adalah Beliau membunuh mereka kemudian membakar jasadnya. Dalam pandangan kami, hal ini adalah kekhususan bagi Beliau dan tidak bertentangan dengan hadis larangan menyiksa dengan siksaan Allah SWT.

Tragedi Hari Kamis : Kritik Atas Tanggapan Ibnu Abdillah Al Katibiy

sumber : Secondprince

Tragedi Hari Kamis : Kritik Atas Tanggapan Ibnu Abdillah Al Katibiy

Beberapa hari yang lalu kami mendapat kiriman link yang katanya membantah tulisan kami tentang “Tragedi Hari Kamis”. Setelah kami membaca tulisannya, ternyata sang penulis tidaklah berbeda dengan para pengingkar lainnya yang mencari-cari syubhat demi membela Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu].

Pertama-tama kami tekankan kepada penulis tersebut tolong tidak usah mengkait-kaitkan tulisan kami tersebut dengan Syi’ah. Kami tidak menulisnya atas nama Syi’ah dan tidak pula berhujjah dengan pandangan Syi’ah. Kalau anda mau membantah kami ya silakan kutip tulisan kami dan silakan bantah apa yang ingin anda bantah. Jangan mencampuradukkan bantahan terhadap kami dengan bantahan terhadap Syi’ah. Berikut kami tunjukkan syubhat-syubhat dari penulis tersebut [tulisannya kami kutip dalam bentuk quote]

.

.

.

Syubhat Dalih Pembelaan Tehadap Umar bin Khaththab

Inti dari tulisan kami tentang Tragedi Hari Kamis adalah Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] telah keliru ketika mencegah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam penulisan wasiat tersebut. Sedangkan inti dari bantahan anda adalah Umar benar atas sikapnya, dan dalam bantahan tersebut anda membawakan syubhat-syubhat berikut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki perhatian yang begitu besar atas umatnya, hal yang paling dikhawatirkan Beliau sebelum wafatnya adalah keadaan umatnya sepeninggalannya. Meskipun beliau sudah menyampaikan semua yang harus disampaikan kepada umatnya, dan telah sempurna agama islam. Beliau masih merasa sesuatu yang kurang, maka beliau dalam keadaan payah memerintahkan para sahabat untuk menyediakan kertas agar bisa menulis sesuatu yang dianggap penting dari apa yang telah ada

Silakan tanya diri anda, anda umat siapa?. Jika anda memang umat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka bukankah seharusnya anda lebih mengedepankan dan membela dengan mati-matian apa yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kalau anda bisa mengatakan Rasulullah masih merasa sesuatu yang kurang maka bukankah sebagai umat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] harusnya menganggap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang lebih paham tentang kondisi umatnya dan apa yang terbaik bagi umatnya. Posisi kami disini jelas yaitu membela yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan menyalahkan Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu].

Sayidina Umar setelah mendengar firman Allah di Arafah yang disampaikan Nabi dalam haji Wada` :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا  [المائدة : 3[

“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”                (Al Maidah : 3)

Serta setelah mendengar sabda Rasullullah dalam haji wada’ :

وقد تَرَكْتُ فِيكُمْ ما لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إن اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللَّهِ

“..Benar-benar telah kutinggalkan dalam kalian sesuatu yang kalian tidak akan pernah tersesat setelahnya jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitab Allah..” (HR Muslim)

Jawaban kami sederhana saja. Siapakah yang lebih paham akan Al Qur’anul Karim terutama Al Maidah ayat 3 yang anda kutip?. Jawabannya ya jelas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Siapakah yang paling paham akan ucapan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat Haji Wada tersebut? Jawabannya ya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sendiri. Jadi tidak ada gunanya anda membela Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] dengan ayat Al Qur’an dan hadis tersebut. Bahkan seharusnya kalau memang Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] mau berpegang teguh pada Al Qur’an. Bukankah Beliau pernah membaca Ayat

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah [QS Al Hasyr : 7]

Jadi sikap yang benar disini adalah menerima apa yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut tidak peduli apakah wasiat tersebut sesuatu yang belum diucapkan atau penekanan terhadap sesuatu yang pernah diucapkan sebelumnya.

Alasan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sakit atau dalam keadaan payah bukanlah alasan yang kuat untuk membantah apa yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagian sahabat yang ada disana justru ingin memenuhi permintaan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya saja mereka diselisihi oleh sebagian lain yang mengikuti pendapat Umar. Artinya dalam pandangan sebagian sahabat, wasiat tersebut masih mungkin untuk dipenuhi dengan cara-cara yang tidak menyulitkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi berhentilah berapologi dan lihatlah masalah ini dengan objektif.

.

.

.

Syubhat Tragedi Yang Dimaksud Ibnu ‘Abbas

Pada tulisan kami sebelumnya [tentang Tragedi Hari Kamis] kami menyebutkan bahwa yang dimaksud tragedi atau bencana oleh Ibnu ‘Abbas adalah terhalangnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dari penulisan wasiat tersebut. Sedangkan penulis tersebut menganggap yang dimaksud bencana itu adalah perselisihan dan keributan di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Penulis tersebut telah melakukan syubhat halus disini, yaitu mencoba untuk menyimpangkan makna bencana yang dipahami Ibnu ‘Abbaas. Kami mengakui kalau perselisihan dan keributan di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] itu sangat tidak pantas apalagi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam keadaan sakit. Penulis tersebut mengatakan

Yang diratapi Sayidina Abbas bukan tidak jadinya Rasulullah dalam menuliskan wasiat akan tetapi perselisihan dan kegaduhan para sahabat di samping Rasulullah, padahal Rasulullah dalam keadaan sakit parah.

Pernyataan penulis tersebut tidak tepat karena dalam hadis Shahih Bukhariy terdapat matan yang dengan jelas menyebutkan bahwa yang diratapi Ibnu ‘Abbas adalah terhalangnya [tidak jadinya] Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam menuliskan wasiatnya.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَمَّا اشْتَدَّ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعُهُ قَالَ ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَا تَضِلُّوا بَعْدَهُ قَالَ عُمَرُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَلَبَهُ الْوَجَعُ وَعِنْدَنَا كِتَابُ اللَّهِ حَسْبُنَا فَاخْتَلَفُوا وَكَثُرَ اللَّغَطُ قَالَ قُومُوا عَنِّي وَلَا يَنْبَغِي عِنْدِي التَّنَازُعُ فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ كِتَابِهِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihaab dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas yang berkata Ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengalami sakit berat maka Beliau berkata “Berikan kepadaku kertas sehingga aku tuliskan untuk kalian tulisan maka kalian tidak akan tersesat setelahnya” Umar berkata “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sedang sakit dan cukuplah bagi kita Kitab Allah”. Maka mereka berselisih dan menimbulkan keributan. Beliau berkata “pergilah kalian dariku, tidak pantas terjadi pertengkaran di sisiku”. Maka Ibnu ‘Abbas keluar dan mengatakan “sesungguhnya musibah yang paling besar adalah terhalangnya antara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan wasiat tulisannya [Shahih Bukhariy 1/34 no 114]

أَخْبَرَنِي زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى ، قَالَ : ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، قَالَ : أنا عَبْدُ الرَّزَّاقِ ، قَالَ : ثنا مَعْمَرٌ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : ” لَمَّا حَضَر رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَفِي الْبَيْتِ رِجَالٌ فِيهِمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَلُمَّ أَكْتُبُ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا ، فَقَالَ عُمَرُ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غَلَبَ عَلَيْهِ الْوَجَعُ ، وَعِنْدَكُمُ الْقُرْآنُ حَسْبُنَا كِتَابُ اللَّهِ ، فَاجْتَمَعُوا فِي الْبَيْتِ ، فَقَالَ قَوْمٌ : قُومُوا يَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا ، وَقَالَ قَوْمٌ مَا قَالَ عُمَرُ ، فَلَمَّا أَكْثَرُوا اللَّغَطَ وَالاخْتِلافَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُمْ : قُومُوا عَنِّي ” ، قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ : وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ ، يَقُولُ : إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا فَاتَ مِنَ الْكِتَابِ الَّذِي أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكْتُبُ أَنْ لا تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا ، لَمَّا كَثُرَ لَغَطُهُمْ وَاخْتِلافُهُمْ

Telah mengabarkan kepadaku Zakariyaa bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas yang berkata ketika telah dekat [kematian] Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan berkumpul orang-orang di dalam rumahnya, diantara mereka ada Umar bin Khaththab. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kemarilah, aku akan menuliskan untuk kalian tulisan sehingga kalian tidak akan sesat selamanya”. Umar berkata “sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikuasai oleh sakitnya dan di sisi kalian terdapat Al Qur’an maka cukuplah bagi kita Kitab Allah”. Maka berkumpullah orang-orang di dalam rumah. Sebagian orang berkata “berikanlah agar Beliau menuliskan untuk kalian sehingga kalian tidak akan tersesat selamanya” dan sebagian orang berkata seperti yang dikatakan ‘Umar. Ketika terjadi keributan dan perselisihan di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Beliau berkata kepada mereka “pergilah kalian dariku”. ‘Ubaidillah berkata bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan “sesungguhnya musibah yang sangat besar adalah tidak jadinya dibuat tulisan yang mana Rasulullah berkeinginan menulisnya agar mereka tidak sesat selamanya ketika terjadi keributan dan perselisihan diantara mereka” [Sunan Nasa’iy no 7474, sanadnya shahih]

Kedua hadis di atas menjadi bukti shahih bahwa Ibnu ‘Abbas menganggap tidak jadinya ditulis wasiat tersebut sebagai musibah yang besar. Tidak dipungkiri bahwa penyebab Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak jadi menuliskannya karena keributan dan pertengkaran para sahabat di sisi Beliau. Tetapi bukan berarti seperti yang dikatakan penulis bahwa yang diratapi Ibnu ‘Abbas bukan tidak jadinya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menulis tetapi yang diratapi Ibnu ‘Abbas adalah perselisihan dan keributan para sahabat. Ini contoh syubhat halus untuk membela Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu].

Dalam ilmu logika ada yang namanya sebab dan ada yang namanya akibat. Nah penulis tersebut telah mencampuradukkan atau menjadikan sebab sebagai akibat dan ini keliru. Musibah besar yang dimaksud Ibnu ‘Abbas adalah tidak jadinya wasiat itu ditulis, ini adalah akibat sedangkan penyebab musibah besar tersebut adalah karena perselisihan dan keributan para sahabat di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], ini adalah sebab.

Kami akan bawakan analogi sederhana. Anda ingin pergi kerumah orang tua anda karena keperluan yang sangat mendesak tetapi hal itu tidak jadi terlaksana karena ada keributan yang besar di jalan menuju rumah orang tua anda. Anda akan menyampaikannya dengan kalimat berikut “sungguh masalah besar bagiku adalah tidak jadinya aku pergi ke rumah orang tuaku karena ada keributan besar di jalan”. Tentu saja yang dipahami dari kalimat tersebut adalah yang anda anggap masalah besar itu adalah tidak jadinya anda pergi ke rumah orang tua anda bukan keributannya walaupun memang hakikatnya keributan itu yang membuat anda tidak jadi pergi kerumah anda.

.

.

.

Syubhat Seolah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Menyetujui Umar

Pada akhirnya Rasulullah tidak menulis wasiat tersebut, itu berarti secara tidak langsung Beliau setuju dengan pendapat Umar. Seandainya perkara yang akan disampaikan beliau adalah perkara yang wajib diketahui oleh semua orang mukmin tidak mungkin beliau diam di akhir hayatnya, padahal Allah telah mewajibkan Beliau untuk menyampaikannya risalahnya dalam ayat :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (67) [المائدة : 67[

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS Al Maidah : 67)

Tidak perlu berandai-andai wahai penulis. Jangan terlalu berlebihan membela Umar bin Khaththab sampai-sampai anda mau menisbatkan hal yang aneh kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memang tidak jadi menuliskannya dan ini bermakna bisa saja bahwa apa yang Beliau ingin tuliskan itu sudah pernah Beliau sampaikan sebelumnya Atau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian menyampaikan hal tersebut secara lisan kepada beberapa orang yang mendengarnya [mengingat sebagian besar sahabat disuruh pergi pada saat itu].

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَحْوَلِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ثُمَّ بَكَى حَتَّى خَضَبَ دَمْعُهُ الْحَصْبَاءَ فَقَالَ اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعُهُ يَوْمَ الْخَمِيسِ فَقَالَ ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا فَتَنَازَعُوا وَلَا يَنْبَغِي عِنْدَ نَبِيٍّ تَنَازُعٌ فَقَالُوا هَجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعُونِي فَالَّذِي أَنَا فِيهِ خَيْرٌ مِمَّا تَدْعُونِي إِلَيْهِ وَأَوْصَى عِنْدَ مَوْتِهِ بِثَلَاثٍ أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَأَجِيزُوا الْوَفْدَ بِنَحْوِ مَا كُنْتُ أُجِيزُهُمْ وَنَسِيتُ الثَّالِثَةَ

Telah menceritakan kepada kami Qabiishah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Sulaiman Al Ahwal dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas [radiallahu ‘anhuma] bahwasanya ia berkata “hari Kamis dan tahukah kalian hari Kamis” kemudian Beliau menangis hingga air matanya mengalir, Beliau berkata “pada hari Kamis, sakit Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] semakin berat maka Beliau berkata “ambilkan aku kertas sehingga aku tuliskan untuk kalian maka kalian tidak akan tersesat selamanya” maka mereka bertengkar dan sangat tidak layak terjadi pertengkaran di sisi Nabi. Mereka berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] meracau”. Beliau berkata “biarkanlah aku, sesungguhnya aku lebih baik dari apa yang kalian seru atasnya”. Dan Beliau berwasiat tiga hal dekat kewafatannya, keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, dan perlakukan para utusan sebagaimana aku memperlakukan mereka, dan aku lupa yang ketiga [Shahih Bukhariy 4/69 no 3053]

Jadi bagian mana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akhirnya menyetujui Umar bin Khaththab. Apalagi anehnya penulis tersebut sebenarnya menukil hadis ini tetapi entah mengapa ia malah berkata

Dan jika hal ini memang hal yang harus (wajib) diketahui, kemudian sahabat tidak menyediakan kertas bagi beliau, apa yang menghalangi Rasulullah untuk mengatakan wasiatnya melalui lisan ??

Bukankah anda wahai penulis menukil hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berwasiat secara lisan. Jadi bagaimana bisa muncul perkataan anda di atas. Apakah anda tidak memahami hadis yang anda nukil?.

.

.

.

Syubhat Mengenai Perkataan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] Meracau

Perkataan sayidina Umar bukanlah bentuk pembangkangan beliau pada Rasulullah tapi merupakan pendapat yang ia utarkan untuk dimusyawarahkan. Hanya saja kaum syi’ah yang membenci Sayidina Umar menggambarkan peristiwa ini dengan gambaran yang berlebihan, seolah-olah Sayidina Umar menentang dengan keras mereka yang menghendaki penulisan ini dan dengan kasar berkata “Nabi tadi hanya mengingau”. Padahal dalam riwayat yang ada, perkataan “Nabi Mengingau” justru muncul dari mereka yang menentang Sayidina Umar itupun dengan makna istifham inkari.

Dalam tulisan kami sebelumnya [mengenai tragedi hari kamis], kami tidak pernah mengatakan bahwa Umar bin Khaththab yang mengatakan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengigau atau meracau. Inilah yang kami maksud bahwa sang penulis mencampuradukkan bantahannya terhadap Syi’ah dengan bantahan terhadap kami. Mungkin saja penulis tersebut menemukan banyak orang Syi’ah yang menuduh Umar yang mengatakan hal tersebut tetapi jangan coba-coba menisbatkan hal tersebut kepada kami. Kami berhujjah dengan objektif dimana jelas dalam hadis bahwa yang mengatakan hal tersebut adalah sebagian sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

حدثنا إسحاق بن إبراهيم أخبرنا وكيع عن مالك بن مغول عن طلحة بن مصرف عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أنه قال يوم الخميس وما يوم الخميس ثم جعل تسيل دموعه حتى رأيت على خديه كأنها نظام اللؤلؤ قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( ائتوني بالكتف والدواة ( أو اللوح والدواة ) أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا ) فقالوا إن رسول الله صلى الله عليه و سلم يهجر

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahiim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Wakii’ dari Malik bin Mighwal dari Thalhah bin Musharrif dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbaas bahwasanya ia berkata “hari kamis, ada apa dengan hari Kamis?” kemudian air matanya mengalir hingga aku melihat seperti butiran mutiara di kedua pipinya. [Ibnu ‘Abbas] berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata ambilkan tulang dan tinta atau lembaran dan tinta, akan aku tuliskan untuk kalian tulisan yang kalian tidak akan tersesat selamanya. Maka mereka berkata “sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mengigau” [Shahih Muslim 3/1257 no 1637]

حدثنا بكار بن قتيبة البكراوي قثنا يعقوب بن إسحاق الحضرمي قثنا مالك بن مغول عن طلحة بن مصرف عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أنه قال يوم الخميس وما يوم الخميس قال ثم نظرت إلى دموعه على خده كأنه نظام اللؤلؤ قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( ائتوني بكتف أكتب لكم كتابا لا تضلوا بعده أبدا ) فقالوا إنما رسول الله صلى الله عليه وسلم يهجر

Telah menceritakan kepada kami Bakkaar bin Qutaibah Al Bakraawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaquub bin Ishaaq Al Hadhraamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik bin Mighwaal dari Thalhah bin Musharrif dari Sa’iid bin Jubair dari Ibnu ‘Abbaas bahwasanya Beliau berkata “hari kamis, ada apa dengan hari Kamis?” kemudian aku melihat air matanya mengalir seperti butiran mutiara di kedua pipinya. [Ibnu ‘Abbas] berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata ambilkan aku tulang, akan aku tuliskan untuk kalian tulisan yang kalian tidak akan tersesat selamanya. Maka mereka berkata “sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya mengigau” [Mustakhraj Abu Awanah 3/477-478 no 5762, sanadnya shahih]

Aneh bin ajaib, penulis yang membantah dengan terlalu bersemangat itu malah mendistorsi riwayat dengan mengatakan

Maksudnya ketika Umar mengatakan usulanya dan mengatakan bahwa Nabi sedang payah, mereka yang menentang sayidina umar mengatakan “Apakah Nabi Mengingau (meracau) !!?” dengan maksud “tidak mungkin Nabi mengingau!” maka biarkanlah Nabi menuliskan wasiatnya.

Tidak perlu berbasa-basi, berkelit dan mencari dalih. Silakan perhatikan lafaz riwayat dimana para sahabat berkata “innama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yahjuru”. Apakah lafaz itu sesuai dengan basa-basi anda wahai penulis yaitu makna istifham inkari?. Jelas tidak, makna lafaz tersebut adalah sebagian sahabat mengatakan bahwa ucapan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya mengigau atau meracau.

Kalau kita lihat bahwa ada dua golongan sahabat yaitu yang pertama golongan yang menginginkan wasiat tersebut ditulis dan yang kedua golongan yang sependapat dengan Umar. Pertanyaannya golongan manakah yang mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengigau?. Penulis tersebut beranggapan bahwa golongan yang menginginkan wasiat tersebut ditulis yang mengucapkan lafaz yahjuru dan makna “Apakah Nabi mengigau?” disana adalah “tidak mungkin Nabi mengigau”. Sesungguhnya ini hanyalah syubhat basa-basi karena zhahir riwayat mendustakannya [sebagaimana telah kami tunjukkan dengan riwayat Muslim dan Abu Awanah di atas]. Anehnya penulis tersebut menukil hadis berikut

قالوا ما شأنه أهجر؟ استفهموه. فذهبوا يفدون عليه. قال: “دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه

Mereka berkata, Bagaimana keadaannya, apakah ia meracau (mengigau)? hendaknya kalian tanyakan kembali kepada beliau. Maka beliau bersabda : ”Menyingkirlah kalian dari-Ku, keadaanku sekarang lebih baik dari pada apa yg kalian kira “ (Sunan al-Kubra : 4/433)

Apakah zhahir lafaz di atas menunjukkan bahwa sahabat yang menginginkan wasiat tersebut ditulis adalah golongan yang mengucapkan lafaz “mengigau”. Kalau makna kalimat itu adalah “tidak mungkin Nabi mengigau” maka mengapa disana ada lafaz “kalian tanyakan kembali kepada Beliau”. Apakah mungkin orang yang yakin bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengigau malah meminta agar ditanyakan lagi kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Justru lebih masuk akal bahwa mereka menganggap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memang mengigau maka minta ditanyakan kembali maksudnya.

Kemudian apakah jawaban Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] “keadaanku sekarang lebih baik daripada apa yang kalian kira” pantas ditujukan kepada orang yang mengatakan “tidak mungkin Nabi mengigau”?. Jelas tidak, justru jawaban tersebut lebih pantas ditujukan pada orang yang memang mengatakan “Nabi mengigau”. Kami tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang dimainkan oleh penulis disini. Zhahir lafaz yang sudah jelas malah dipelintir demi melindungi kesalahan sebagian sahabat.

.

.

.

Syubhat Ahlul Bait Berselisih

Kalau kaum syi’ah mau jujur pun, maka akan terlihat nyata bahwa bukan hanya Umar saja yang mencegah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari menulis kerana sakitnya yang berat, melainkan ada sahabat lainnya juga yang mencegah Nabi, bahkan dimungkinkan juga dari kalangan ahlul bait, dalam riwayat imam Bukhari lainnya disebutkan :

لما حضر رسول الله صلى الله عليه وسلم وفي البيت رجال فقال: صلى الله عليه وسلم هلمّوا أكتب لكم كتاباً لا تضلون بعده”. فقال بعضهم: إن رسول الله قد غلبه الوجع وعندكم القرآن، حسبنا كتاب الله. فاختلف أهل البيت واختصموا، فمنهم من يقول قربوا يكتب لكم كتاباً لا تضلون بعده، ومنهم من يقول غير ذلك. فلما أكثروا اللغو والاختلاف قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: قوموا

“Ketika telah dekat kematian Rasulullah, dalam Rumahnya berkumpul beberapa orang. Nabi saw Berkata “Kemarilah, aku akan menulis sebuah tulisan yang dengannya kalian tidak akan tersesat selamannya” kemudian sebagian mereka berkata bahwa Rasululllah saw sedang sakit, dan kalian telah memiliki Al Qur`an, Cukuplah kitabullah. Maka ahlu bait berselisih, dan mereka bertengkar sebagian mereka berkata “Berikanlah agar Nabi saw menulis untuk kalian tulisan yang dengannya kalian tidak akan tersesat setelahnya” dan sebagian mereka berkata selain itu. Ketika mereka membuat suasana menjadi gaduh dan saling berselisih, Maka Rasulullah berkata “Berdirilah (pergilah) kalian semua” ( HR Bukhari )

Dengan riwayat ini penulis tersebut berusaha menunjukkan bahwa ahlul bait juga ikut berselisih yaitu sebagian sependapat dengan Umar dan sebagian menyelisihi Umar. Pertanyaan sederhana adalah siapakah ahlul bait yang dimaksud disana? Apakah yang dimaksud adalah Ahlul Bait Nabi?. Kalau iya maka Apakah istri-istri Nabi?. Apakah keluarga Ali? Apakah keluarga Ja’far? Apakah keluarga Abbaas?. Perhatikan hadis dengan kisah yang sama yaitu riwayat Nasa’iy yang kami nukil sebelumnya. Disana terdapat lafaz

فَاجْتَمَعُوا فِي الْبَيْتِ ، فَقَالَ قَوْمٌ : قُومُوا يَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا ، وَقَالَ قَوْمٌ مَا قَالَ عُمَرُ ، فَلَمَّا أَكْثَرُوا اللَّغَطَ وَالاخْتِلافَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُمْ : قُومُوا عَنِّي

Maka berkumpullah orang-orang di dalam rumah. Sebagian orang berkata “berikanlah agar Beliau menuliskan untuk kalian sehingga kalian tidak akan tersesat selamanya” dan sebagian orang berkata seperti yang dikatakan ‘Umar. Ketika terjadi keributan dan perselisihan di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Beliau berkata kepada mereka “pergilah kalian dariku” [Sunan Nasa’iy no 7474, sanadnya shahih]

Riwayat Nasa’iy menunjukkan bahwa “orang-orang di dalam rumah” pada saat itu terbagi menjadi dua yaitu yang ingin memenuhi permintaan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan yang sependapat dengan Umar. Lafaz “orang-orang di dalam rumah” inilah yang dalam riwayat Bukhariy disebut dengan “ahlul bait”. Maka makna “ahlul bait” tersebut adalah orang-orang yang berada di dalam rumah yaitu para sahabat Nabi.

Hal ini juga dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fath Al Bariy dan Muhammad bin ‘Abdul Haadiy As Sindiy dalam Hasyiyah As Sindiy Ala Shahih Bukhariy

قوله في الرواية الثانية فاختلف أهل البيت  أي من كان في البيت من الصحابة ولم يرد أهل بيت النبي صلى الله عليه وسلم

Perkataannya dalam riwayat kedua “maka Ahlul Bait berselisih” maksudnya adalah para sahabat yang berada di dalam rumah bukan maksudnya adalah ahlul bait Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 8/135]

قوله : (فاختلف أهل البيت) أي الذي كانوا فيه من الصحابة لا أهل بيته صلى الله عليه وسلّم

Perkataannya “maka Ahlul Bait berselisih” adalah orang-orang yang berada di dalamnya dari kalangan sahabat bukan ahlul baitnya [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Hasyiyah As Sindiy ‘Ala Shahih Bukhariy 3/35]

.

.

.

Syubhat Riwayat Al Mustadrak Al Hakim

Penulis tersebut membawakan hadis lain riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak yang menyebutkan soal tulisan agar tidak tersesat

أخبرني أحمد بن عبد الله المزني بنيسابور ومحمد بن العدل ثنا إبراهيم بن شريك الأسدي بالكوفة ثنا أحمد بن يونس عن أبو شهاب عن عمرو بن قيس عن ابن أبي مليكة عن عبد الرحمن بن أبي بكر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ائتني بدواة وكتف اكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا ثم ولانا قفاه ثم أقبل علينا فقال : يأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر

Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin ‘Abdullah Al Muzanniy di Naisabur dan Muhammad bin Al ‘Adl yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Syariik Al Asdiy di Kufah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus dari Abuu Syihaab dari ‘Amru bin Qais dari Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakar yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “ambilkan aku tinta dan tulang akan aku tuliskan tulisan sehingga kalian tidak akan sesat selamanya” kemudian Beliau membelakangi kami kemudian menghadap kami dan berkata “Allah dan kaum mukminin enggan kecuali Abu Bakar” [Al Mustadrak Ash Shahihain 3/542 no 6016]

Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Adz Dzahabiy dalam Talkhis Al Mustadrak. Tetapi Ibnu Hajar menyatakan hadis ini cacat dalam Ittihaful Maharah

قلت: بل معلول. فقد أخرجه أحمد من طريق: عبد الرحمن بن أبي بكرالدستكي، عن ابن أبي مليكة، عن عائشة، نحوه

Aku katakan “bahkan ia ma’lul [cacat]. Sungguh telah dikeluarkan oleh Ahmad dengan jalan ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ad Dastakiy dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah seperti di atas” [Ittihaful Maharah 10/596 no 13476]

Untuk mengetahui pendapat yang rajih maka akan kami tampilkan takhrij singkat riwayat Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah yang dimaksud

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو معاوية ثنا عبد الرحمن بن أبي بكر القرشي عن بن أبي مليكة عن عائشة قالت لما ثقل رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعبد الرحمن بن أبي بكر ائتني بكتف أو لوح حتى اكتب لأبي بكر كتابا لا يختلف عليه فلما ذهب عبد الرحمن ليقوم قال أبي الله والمؤمنون ان يختلف عليك يا أبا بكر

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Al Qurasyiy dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah yang berkata ketika sakit Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bertambah berat, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada ‘Abdurrahman bin Abu Bakar “ambilkan tulang atau lembaran sehingga aku bisa menuliskan untuk Abu Bakar sebuah tulisan agar tidak berselisih atasnya, ketika Abdurrahman pergi berdiri maka Beliau berkata “Allah dan kaum mukimin enggan berselisih atasmu wahai Abu Bakar” [Musnad Ahmad 6/47 no 24245]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Al Qurasyiy, Yahya bin Ma’in berkata “dhaif”. Abu Hatim berkata “tidak kuat dalam hadis”. Nasa’iy berkata “tidak tsiqat”. Ibnu Adiy berkata “hadisnya tidak memiliki mutaba’ah dan ia termasuk yang ditulis hadisnya”. Ibnu Sa’ad berkata “ia memiliki hadis-hadis dhaif”. Al Bazzaar berkata “layyin al hadits”. As Sajiy berkata “shaduq ada kelemahan padanya” [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar juz 6 no 299]. Tetapi ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Al Qurasyiy dalam riwayatnya dari Ibnu Abi Mulaikah memiliki mutaba’ah

  1. ‘Abdul Aziz bin Rafii’ sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud Ath Thayalisiy dalam Musnadnya [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisiy 1/210 no 1508] dengan jalan sanad dari Muhammad bin Aban dari Abdul ‘Aziz bin Rafii’ dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah. Muhammad bin Aban Al Ju’fiy dinyatakan dhaif oleh Abu Daud, Bukhariy berkata “tidak kuat” di saat lain berkata “dibicarakan hafalannya dan tidak bisa dijadikan pegangan”. Nasa’iy berkata “tidak tsiqat”. Ahmad berkata “bukan termasuk pendusta”. Abu Hatim mengatakan tidak kuat dalam hadis ditulis hadisnya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah [Lisan Al Mizan Ibnu Hajar juz 5 no 109]. Adapun ‘Abdul Aziz bin Rafii’ seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/603]
  2. Nafii’ bin ‘Umar sebagaimana diriwayatkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya [Musnad Ahmad bin Hanbal 6/106 no 24795] dengan jalan sanad dari Mu’ammal bin Ismaiil dari Naafii’ bin ‘Umar dari Ibnu Abi Mulaikah dari Aisyah. Mu’ammal bin Ismaiil dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Ma’iin . Abu Hatim berkata “shaduq keras dalam sunnah dan banyak melakukan kesalahan”. Bukhariy berkata “munkar al hadits”. Abu Daud memujinya hanya saja ia sering keliru dalam sesuatu. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata sering keliru. As Sajiy berkata “shaduq banyak melakukan kesalahan”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak melakukan kekelriuan”. Ibnu Qaani’ berkata “shalih terkadang keliru”. Daruquthniy berkata “tsiqat banyak melakukan kesalahan”. Ishaq bin Rahawaih menyatakan ia tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 10 no 682]. Adapun Naafii’ bin ‘Umar seorang yang tsiqat tsabit [Taqrib At Tahdzib 2/238]

Ibnu Abi Mulaikah dalam periwayatannya dari Aisyah memiliki mutaba’ah diantaranya adalah

  1. Urwah bin Zubair sebagaimana yang diriwayatakan Muslim dalam Shahih-nya [Shahih Muslim 4/1857 no 2387].
  2. Qaasim bin Muhammad sebagaimana diriwayatkan Bukhariy dalam Shahih-nya [Shahih Bukhariy 7/119 no 5666]
  3. Ubaidillah bin ‘Abdullah sebagaimana diriwayatkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya [Musnad Ahmad bin Hanbal 6/34 no 24107]. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata ‘sanadnya shahih dengan syarat syaikhain dan disebutkan bahwa konteks pembicaraan tersebut terkait dengan Abu Bakar sebagai Imam shalat.

Takhrij singkat di atas menunjukkam bahwa telah tsabit riwayat tersebut dari Aisyah termasuk Ibnu Abi Mulaikah juga meriwayatkan dari Aisyah. Yang meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah adalah Abdurrahman bin Abu Bakar Al Qurasyiy, ‘Abdul Aziz bin Rafii’ dan Naafii’ bin ‘Umar. Walaupun masing-masing sanad mengandung kelemahan tetapi kedudukannya saling menguatkan.

Oleh karena itu benarlah apa yang dikatakan Ibnu Hajar bahwa sanad riwayat Al Hakim tersebut ma’lul [cacat] karena Ibnu Abi Mulaikah tidak meriwayatkannya dari ‘Abdurrahman bin Abu Bakar tetapi dari Aisyah. Sanad riwayat Al Hakim terdiri dari perawi tsiqat dan shaduq hanya saja Abu Syihaab yang meriwayatkan dari ‘Amru bin Qais dari Ibnu Abi Mulaikah telah dibicarakan hafalannya.

Abu Syihaab Al Hanaath dikatakan Ahmad bin Hanbal tidak ada masalah dengan hadisnya, Yahya bin Ma’in menyatakan tsiqat. Ibnu Numair berkata “tsiqat shaduq”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat” dan Al Bazzar menyatakan tsiqat. Yahya bin Sa’id berkata “ia tidak hafizh”. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis, seorang yang shalih tidak kuat, dan dibicarakan hafalannya”. Nasa’iy berkata “tidak kuat”. As Sajiy berkata “shaduq sering keliru dalam hadisnya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak hafizh di sisi para ulama” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 271]. Dan riwayat Abu Syihaab ini tidak memiliki mutaba’ah yang menguatkan sehingga bisa jadi kekeliruan sanad tersebut berasal darinya. Kesimpulannya hadis riwayat Al Hakim tersebut ma’lul [cacat] sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

.

.

.

Memang tidak diketahui apakah sebenarnya yang akan dituliskan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] agar para sahabat tidak tersesat sepeninggalnya [terdapat riwayat soal tiga wasiat yang ternyata perawinya lupa isi wasiat terakhir] oleh karena itu kita disini hanya bisa menduga-duga berdasarkan hadis-hadis sebelumnya. Menurut pendapat kami wasiat tersebut sudah pernah disampaikan kepada para sahabat karena kami tidak bisa menerima pandangan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] belum pernah menyampaikannya.

Dalam tulisan kami sebelumnya kami menunjukkan hadis yang cocok dengan matan riwayat di atas dan memiliki sanad yang shahih yaitu hadis Tsaqalain yang menyebutkan agar para sahabat berpegang teguh pada Al Qur’an dan Ahlul Bait agar tidak tersesat.

حَدَّثَنَا يحيى قَال حَدَّثَنَا جرير عن الحسن بن عبيد الله عن أبي الضحى عن زيد بن أرقم قَال النبي صلى الله عليه وسلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله عز وجل وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hasan bin Ubaidillah  dari Abi Dhuha dari Zaid bin Arqam yang berkata Nabi SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh kepadanya maka kalian tidak akan sesat yaitu Kitab Allah azza wa jalla dan ItrahKu Ahlul Baitku dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaKu di Al Haudh [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 1/536 dengan sanad yang shahih]

Silakan bagi siapapun yang tidak setuju dengan pandangan kami, kami tidak pernah memaksa siapapun. Kami telah menunjukkan hujjah kami bukan atas nama Syi’ah dan bukan atas nama membela Syi’ah. Kami hanya berusaha memahami riwayat Ibnu Abbas tersebut dengan objektif dan hasilnya memang benar Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] telah keliru. Salam Damai