sunni tidak kenal Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, berarti Sunni tidak cinta Ahlul Bait

azr1“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Qs. Al-Ahzab : 33).

“Jika dengan mencintai keluarga Nabi Saw aku disebut Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah sesungguhnya aku seorang Rafidhi (Syiah) dan cukuplah shalatku menjadi tidak sah dengan tidak menyertakan shalawat kepada mereka.” (Imam Syafi’i ra).

Sebagaimana pernyataan Imam Syafi’i ra di atas, akan timbul berbagai pertanyaan dalam benak kaum muslimin yang mau berpikir tentang kebenaran sebuah keyakinan, siapakah yang dimaksud keluarga Nabi (Ahlul bait) yang hendak disucikan oleh Allah swt? adakah kewajiban untuk mencintai mereka sebagaimana kewajiban mencintai Nabi? mengapa dalam redaksi shalawat kepada Nabi kita harus menyertakan pula shalawat kepada keluarganya? Keistimewaan seperti apa yang dimiliki keluarga Nabi sampai dalam setiap shalat kita harus menyertakan shalawat kepada mereka? Kalau mereka memiliki kedudukan yang agung dan mulia dalam agama ini, namun mengapa kajian tentang keluarga nabi tidak banyak kita dapatkan dalam kehidupan religius kita sehari-hari?

Tidaklah berlebihan, dalam ruang yang sempit ini saya mencoba menyelipkan sedikit tulisan mengenai mereka. Semoga dengan itu kita mau mengenal, mengikuti dan mencintai keluarga nabi atau yang sering kita dengar dengan ungkapan: Ahlul Bait.

Keistimewaan Keluarga Para Nabi.
Telah menjadi sunatullah, Nabi-nabi memiliki keluarga yang dimuliakan, diagungkan dan anak keturunan mereka dipilih oleh Allah sebagai washi, pelanjut risalah kenabian. Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an menjelaskan masalah ini :
“Dan Kami menganugerahkan kepada Ishak dan Yaqub. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik; dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh; dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth, masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya); dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Inilah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. Al-An’am : 84).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan al-kitab, maka diantara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak diantara mereka yang fasiq” (Qs. Al-Hadid : 26).

“Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yaqub dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab kepada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasan di dunia; dan sesungguhnya di akhirat mereka benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh” ( Qs. Al-Ankabut : 27)
Dan beberapa ayat lainnya yang tersebar dalam Al-Qur’an satu-satunya kitab Samawi yang tetap steril dari berbagai upaya penyelewengan dan perubahan.

Ayat-ayat di atas berbicara tentang sunatullah di muka bumi, dalam hal pemilihan washi para Nabi yang berasal dari keturunan mereka yang saleh dan suci, bukan yang fasiq dan bahwa pewarisan ilmu al-Kitab, hukum dan kenabian di antara putra-putra mereka yang suci telah ditetapkan sejak diturunkannya Adam as ke muka bumi. Silsilah yang suci ini memberikan gambaran yang jelas bahwa risalah Ilahiah ini tidak pernah keluar dari lingkaran keluarga-keluarga Nabi yang disucikan, dan tidak diwarisi oleh hati yang pernah dikotori oleh kesyirikan, kekejian dan kezaliman.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qs. Al-Baqarah: 124).

Jika ajaran Nabi terdahulu saja yang hanya berlaku untuk masa dan kaum tertentu memerlukan silsilah yang suci dan jiwa yang bersih, maka bagaimana mungkin ajaran Islam tidak memerlukan silsilah yang suci yang akan saling mewarisi ajaran Muhammad Saw yang luhur dan kekal hingga hari kiamat?. Jika Nabi terdahulu saja memerlukan orang yang menggantikannya di dalam urusan tabligh dari kalangan keluarga dan keturunannya yang saleh, maka bagaimana mungkin Rasulullah Saw tidak membutuhkan orang-orang yang meneruskan ajaran ini dari keluarga dan keturunannya yang suci?

Jika ayat-ayat tentang nabi dan keturunannya menekankan bahwa pemilihan washi para nabi telah berlaku bagi keluarga nabi yang saleh dengan tujuan untuk menjaga kesucian risalah, maka bagaimana mungkin ajaran Muhammad Saw yang kekal tidak membutuhkan pribadi-pribadi suci dari keturunannya yang akan menjaga nilai-nilai ajaran Ilahi dari usaha penyimpangan?

Melalui pengkajian ayat-ayat Al-Qur’an, tampak jelas bahwa masalah pemilihan atau seleksi pelanjut kepemimpinan Ilahiah adalah semata-mata wewenang Dzat yang Maha Mengetahui, tanpa adanya campur tangan siapapun.

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (Qs. Fathir : 32).

Dalam ayat lain, dikisahkan tentang Nabi Musa as, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui (keadaan) kami.” Allah berfirman : “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.” (Qs. Thaha : 29-36).

Kita menyaksikan dalam ayat ini betapa Nabi Musa memohon kepada Allah SWT dengan penuh pengharapan dan kerendahan hati untuk memilih saudaranya, Harun, sebagai pembantunya dalam urusan Tabligh. Jika nabi Musa as saja, dengan segala ketinggian kedudukan dan kedekatannya kepada Allah SWT tidak memperkenankan dirinya untuk memilih langsung orang yang akan menggantikan dia sepeninggalnya dan yang membantunya dalam tugas-tugasnya, maka bagaimana mungkin umat Islam berhak memilih orang-orang yang menggantikan Rasulullah Saw sebagai khalifah sepeninggalnya? sebuah keberanian ‘ijtihad’ yang telah menimbulkan perselisihan, perpecahan bahkan sampai pertumpahan darah dikalangan sahabat.

Imamah dan Ahlul Bait.

Sekarang, seberapa banyakkah yang kita tahu tentang ayat muhkamah di dalam Al-Qur’an yang turun berkaitan dengan keagungan keluarga Rasulullah yang mulia? Atau seberapa banyakkah kisah yang kita ketahui tentang Rasulullah yang selalu mengingatkan ummatnya akan pengutamaan Allah atas keluarganya.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, (juz 4 hal 123, cetakan Beirut Lebanon), Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Saw berdiri di tengah-tengah kami dan menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak antara Makah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah Saw berkata, “Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka akupun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barang siapa yang meninggalnya maka ia berada di atas kesesatan.”

Kemudian Rasulullah Saw melanjutkan sabdanya, Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.” Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadraknya dari Zaid bin Arqam bahwa nabi bersabda pada Haji Wada’, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga) yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain, Kitabullah (Al-Qur’an) dan keturunanku. Oleh karena itu perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.” Setelah menyebutkan hadits ini Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat (yang ditetapkan Bukhari-Muslim).”

Sebagaimana diketahui bahwa kaum muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, maka saya mencukupkan dengan hanya mengutip kedua hadits ini sebab dalam banyak kitab hadits ini pun dinukil. Di antaranya juga terdapat dalam Sunan Ad-Darimi, Shahih Turmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan beberapa kitab lainnya. Ibnu Hajar dalam kitabnya ash-Shawai’iq telah menyampaikan silsilah hadits ini hingga kepada dua puluh lebih sahabat, lalu beliau (rahimahullah) menyatakan dengan tegas, ” Ketahuilah, sesunggguhnya hadits berpegang teguh kepada Kitab Allah dan ahlul bait mempunyai jalur yang banyak, dan diriwayatkan lebih dari 20 orang sahabat.”

Dalam riwayat tersebut, Rasul menyebut keduanya (Al-Qur’an dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya sebagaimana hadits Rasulullah tidak akan pernah terpisah dan saling melengkapi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, apalagi oleh sekedar perkataan Umar bin Khattab pada saat Rasulullah mengalami masa-masa akhir dalam kehidupannya, bahwa Al-Qur’an sudah cukup bagi kita (baca tragedi ini dalam Al-Bukhari pada bab “Al-Ilmu” (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355). Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini.

Tentu saja sabda Rasul tentang Ahlul Baitnya yang tidak akan terpisah dengan Al-Qur’an bukan berdasarkan hawa nafsu pribadinya, sebab Allah SWT telah menjamin dalam Al-Quran bahwa apapun yang disampaikan Rasul adalah semata-mata wahyu dari-Nya. Pertanyaanya, mengapa Al-Quran saja tidak cukup menjadi petunjuk bagi kaum muslimin sepeninggal Rasulullah?.

Di antara jawabannya, semua kitab suci adalah kitab-kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip dasar petunjuk dan tidak menjelaskan prinsip-prinsip tersebut secara mendetail dan terperinci. Dan para Rasul diutus untuk menjelaskan kitab yang diwahyukan yang menjadi bukti kerasulannya, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. ” (Qs. Ibrahim: 4).

Apakah semasa hidupnya Rasulullah telah menjelaskan kepada ummat Islam seluruh aturan-aturan dalam Al-Qur’an secara mendetail? Niscaya kita akan menjawab tidak seluruhnya, sebab selama sepuluh tahun Rasulullah Saw memerintah di Madinah, telah terjadi sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan tiga puluh lima hingga sembilan puluh sariyah.

Ghazwah adalah sebuah peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw, sedangkan sariyah adalah sebuah peperangan yang tidak langsung dipimpin olehnya. Akan tetapi, ia mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh salah seorang sahabat yang telah ditunjuk olehnya. Tentu saja dengan berbagai kesibukan mengatur pertahanan dan peperangan menghadapi kaum kafir pada awal-awal revolusi Islam membuat Rasululllah tidak sempat untuk menjelaskan semua maksud ayat-ayat Al-Qur’an secara terperinci.

Sementara Allah SWT berfirman, ” Alif Lam Ra. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci , (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti”. (Qs. Hud : 1). Dan di ayat lain, “Tidaklah Kami lalaikan sesuatu pun dalam Kitab ini.” (Qs. Al-An’am : 38).

Berkembangnya paham-paham yang saling bertolak belakang misalnya antara paham Jabariyah dan Qadariyah yang masing-masing menjadikan Al-Qur’an menjadikan landasan pemikirannya, menjadi bukti bahwa kaum muslimin di awal perkembangan Islam mengalami kehilangan pegangan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Bahwa sesungguhnya Rasul belum menjelaskan seluruhnya, walaupun agama ini telah sempurna, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” (Qs. Al-Maidah : 3 ).

Sebab, “Kewajiban Rasul tidak lain hanya menyampaikan (risalah Allah).” (Qs. Al-Maidah : 99).

Bukan berarti Rasulullah sama sekali tidak menjelaskan, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64),

masalah ini berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al-Qur’an, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.

Al-Qur’an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf : 52). Dan menurut hadits Rasulullah Ahlul Baitlah yang meneruskan tugas Rasulullah untuk menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Al-Qur’an.

Penerus nabi adalah orang-orang tahu interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya yang dihimpun dalam Nahj Balaqah, khutbah ke-4, “Melalui kami kalian akan dibimbing dalam kegelapan dan akan mampu menapakkan kaki di jalan yang benar. Dengan bantuan kami kalian dapat melihat cahaya fajar setelah sebelumnya berada dalam kegelapan malam. Tulilah telinga yang tidak mendengarkan seruan (nasihat) sang pemandu”.

Tentang Imam Ali as Rasulullah bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya” Hadits ini disepakati keshahihannya oleh kaum muslimin sebab banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits, diantaranya At-Thabari, Hakim, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan lainnya. Umar bin Khattab pun mengakui keilmuan Imam Ali as sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabari, Al-Kanji Asy-Syati’i dan As-Shuyuti dalam kitabnya masing-masing, “Dari sanad Abu Hurairah, Umar bin Khattab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum. Aku mengetahui hal itu dari Rasululah maka sekali-kali aku tidak akan pernah meninggalkannya”

Dalil yang menyatakan bahwa tidak hanya Rasulullah yang mengetahui makna Ilahiah Al-Qur’an, maksud sebagaimana yang diinginkan Allah SWT terdapat dalam ayat, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas dalam dada orang-orang berilmu.” (Qs. Al-Ankabut : 49). Dan Ahlul Baitlah yang dimaksud dengan orang-orang berilmu tersebut.

Dan dengan firman Allah SWT, “Aku hendak jadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah : 30), berarti di muka bumi akan senantiasa ada yang menjadi pemimpin otoritatif yang diangkat Allah SWT untuk menjadi khalifahnya. Akan tetap ada di muka bumi orang-orang yang menerima pengetahuan dari sumber Ilahiah. Imam Ali as berkata, “Pengetahuan masuk ke mereka, sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam tentang kebenaran.” Mereka memiliki pengetahuan bukan hasil belajar dan terlepas dari kekeliruan. Mereka pun memiliki ‘Roh Tuhan’ yang menghubungkan mereka dengan dunia gaib.

Betapa pentingnya keberadaan Imam dan seorang Khalifah di muka bumi, “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. ” (Qs. Al-Baqarah : 251). Sebagian manusia yang menjadi pelindung atas manusia yang lainnya adalah Ahlul Bait sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Perumpamaan Ahlul Baitku seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.”

Seluruh ulama Islam sepakat akan keshahihan hadits ini yang dikenal sebagai hadits Safinah, diantaranya Al-Hakim, Ibnu Hajar dan Ath-Thabrani. Dan kitapun tahu dari informasi Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul juru penyelamat yang akan menyelamatkan manusia dari berbagai kedzaliman dan menyebarkan keadilan di muka bumi, dialah yang dinanti-nantikan, Imam Mahdi as. Rasulullah Saw bersabda, “Kiamat tidak akan tiba kecuali kalau dunia ini sudah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Kemudian keluar setelah itu seorang laki-laki dari Ahlul Baitku memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan.” Hadits-hadits Rasulullah Saw tentang Imam Mahdi sangat banyak jumlahnya.

Hanya saja, sejauh mana kita mencoba mengenali siapa yang termasuk Ahlul Bait nabi, siapakah mereka Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, dan siapakah Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman?. Sebagai muslim adalah kewajiban untuk mengetahui dan taat kepada mereka, sebagaimana wajibnya kaum muslimin taat kepada titah Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” Dan dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), pada hari ketika Kami panggil setiap umat dengan imamnya.” (Qs. Al-Isra’: 71).

Jadi kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi Saw bukan sekedar cinta biasa, bukan sekedar efek dari kecintaan kepada Nabi Saw bukan pula sekedar upah terhadap dakwah Rasulullah Saw, bukan pilihan, melainkan kewajiban yang telah menjadi bagian dari syariat agama karena Ahlul Bait dan Itrah Nabilah yang menjadi pelanjut tugas kenabian untuk menjaga kemurnian risalah Ilahi. Kecintaan kita kepada Ahlul Bait adalah juga kecintaan kepada Rasulullah Saw, kecintaan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Islam dan agama ini. Imam Syafii pernah mengatakan, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak menyertakan dalam shalatnya, shalawat kepada Nabi dan Ahlul Baitnya.”

Ulama Harus Menjelaskan Makna Hakiki Kecintaan Terhadap Ahlul Bait as

Ayatullah Naser Makarem Shirazi, salah satu marji’ besar Syiah di kota Qom, Iran, menyatakan, “Para mubaligh harus benar-benar perhatian dalam menjelaskan makna dan kandungan dari kecintaan kepada Ahlul Bait sehingga jangan sampai sebagian orang beranggapan bahwa dengan melakukan perbuatan menyimpang, mereka dapat tetap masuk surga dengan hanya menyimpan kecintaan terhadap Sayidah Zahra sa.

Ayatullah Makarem Shirazi menjelaskan tingkatan para pecinta Ahlul Bait as dan menegaskan, “Para pecinta Ahlul Bait as terbagi menjadi tiga bagian. Pertama kelompok yang hanya mencintai Ahlul Bait as demi riya, dan kelompok itu termasuk dalam golongan para pendusta. Kedua kelompok yang mencintai Ahlul Bait as secara awam atau yang hanya menyatakan cinta akan tetapi tidak pernah memperhatikan ucapan dan perilaku manusia-manusia suci itu.”

Adapun dalam menjelaskan para pecinta sejati Ahlul Bait as, Ayatullah Makarem Shirazi mengatakan, “Kelompok ketiga adalah para pecinta sejati, mereka yang sepanjang hidupnya mematuhi perintah Allah Swt dengah sepenuh hati. Mereka adalah kelompok yang merasa mudah untuk mematuhi perintah-Nya akan tetapi merasa sangat berat untuk berbuat maksiat.”

Saudi Tunjuk Orang Syi’ah sebagai Menteri ! Ocehan Syiah kafir hanya bualan ulama sinting

KSA-King1714

Betapa hangus hati pimpinan Albayyinat, Ahmad bin Zen Alkaff, Thahir Alkaf, Muhammad Baharun, Fahmi Salim, Farid Okbah, Athian Ali, Bahtiar Nastir, Abu Jibril, atas pengangkatan menteri Syiah di markas besar penyebar kebencian atas Syiah?

 

Abdullah

Abdullah

bendera-arab-saudi-_110529140405-497Arab Saudi memasuki sejarah baru setelah untuk kali pertama menunjuk Muslim Syiah sebagai menteri dalam pemerintahannya.

Sebagaimana dilaporkan dari kantor berita televisi Aljadeed,  penunjukan historis ini adalah hasil desakan banyak tokoh dan setelah mempertimbangkan kiprahnya selama menjalankan tugas di kawasan Timur dan Selatan negeri Petrodollar tersebut.

DR. Mohammad Abu Ishaq yang notabene bermazhab Syiah, diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Dewan Permusyawaratan Negara menggantikan DR. Saud Almathami.

Beberapa hari sebelumnya Raja Abdullah memecat Khalid bin Bandar bin Sultan dari jabatan Wakil Menteri Pertahanan.

kerajaan Arab Saudi (baca, AS) untuk pertama kalinya mengangkat seorang Muslim Syiah sebagai menteri dalam pemerintahannya. Sejumlah media massa Timur Tengah kemudian menayangkan foto DR. Mohammad Abu Ishaq yang bermazhab Syiah tersebut. Abu Ishaq diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Dewan Permusyawaratan Negara menggantikan DR. Saud Almathami. Berita pengangkatan ini telah menghebohkan kawasan.

Kita semua sudah mafhum bahwa Kerajaan AS termasuk yang paling getol memusuhi dan memerangi Syiah di seluruh dunia. Alumni universitas-universitas AS juga 95% membenci bahkan mengkafirkan Syiah. Boleh jadi ada di antara mereka yang terpaksa memusuhinya demi kemudahan dan kelancaran studi, tapi sebagian terbesar memang menganggap Syiah di luar Islam. Di forum-forum internasional, pejabat-pejabat AS juga tak segan-segan memperlihatkan kebencian pada Iran. Menlu AS Saud Al-Faisal di mana-mana bicara negatif tentang Iran, meski tak pernah digubris atau ditanggapi serius oleh para pejabat negara Mullah tersebut.

Nah, mengapa sekarang tiba-tiba kerajaan AS mengangkat seorang menteri dari kalangan Syiah? Apakah ini pengakuan akan kekalahan? Atau kegagalan strategi? Atau sebuah rayuan? Atau apa? Apa kira-kira motif politik di balik pengangkatan ini?

Ada banyak spekulasi yang terlontar di kalangan pengamat. Rata-rata mengarah pada kesimpulan yang sama: AS mulai merasa khawatir dengan seabrek kegagalan strategisnya di kawasan. Di antaranya ialah kegagalannya memerangi Syiah di negerinya sendiri. Lebih tepatnya, di wilayah Provinsi Timur yang paling kaya minyak. AS juga gagal membekam aksi protes mayoritas rakyat Bahrain yang bermazhab Syiah terhadap kekuasaan keluarga Al Khalifa. Belum lagi kegagalannya menetralisir gerakan Anshar Allah yang lebih dikenal dengan Al-Houtsi di Yaman Utara yang berbatasan dengannya.

Tapi embahnya kegagalan AS (dan semua negara Arab di Teluk) adalah di Suriah dan Irak. Di kedua negara itu AS mencoba menggulirkan konflik bersenjata memakai proksi gerakan ekstremis yang digadang-gadang mendukung “kelompok Sunni” melawan dominasi rezim Syiah. Mula-mula AS dan media pendukungnya mengklaim bahwa mereka hanya mendukung rakyat Sunni yang tertindas di Dar’a menghadapi para penjagal seorang pemuda yang hendak menyuarakan haknya. Itu klaim mereka pada April 2011 lampau.

Tak lama berselang AS dan konco-konconya mengklaim mendukung kalangan aktivis mahasiswa yang hendak mewujudkan demokrasi di Suriah. Di belakang para mahasiswa ini ada sejumlah intelektual sekuler seperti Burhan Ghalyoun, Michel Kilo dan sebagainya. Selanjutnya, tiba-tiba saja mereka menyatakan mendukung kelompok pemberontak bersenjata yang menyebut dirinya Tentara Bebas Suriah (Free Syrian Army) yang konon merupakan eks prajurit yang ingin membangun demokrasi. AS dkk lantas memasok FSA dengan senjata untuk membela rakyat dari “kebrutalan” rezim Bashar Assad.

Tapi tidak lama setelahnya FSA pecah menjadi 2000 faksi dengan berbagai nama yang berbeda. Jika Anda punya cukup waktu Anda lihat sendiri nama-nama faksi mereka di internet—dan mungkin Anda akan terheran dengan produksi nama yang begitu banyak untuk jumlah yang begitu sedikit. Melihat betapa tidak efektifnya FSA ini, tak segan-segan mereka mobilisasi para begawan fatwa untuk mendaur ulang fatwa-fatwa jihad Afghanistan untuk konteks Suriah (dan kemudian Irak).

Pada saat ini, AS mulai pecah kongsi dengan Qatar dan Turki yang melihat ISIS sebagai ancaman. AS pun akhirnya memecah ISIS menjadi Front Islam (Al-Jabhah Al-Islamiyyah) dan Pasukan Islam (Jaish Al-Islam) pimpinan orang kepercayaan Saudi, Zahran Allousy. Pada saat yang sama, Qatar dan Turki lebih suka menyokong Abu Muhammad Al-Julani pimpinan Jabhat Al-Nushra. Walhasil, pecah kongsi ini bukan saja berakibat pada konstelasi politik di kawasan, tapi juga berdampak langsung pada situasi medan laga. Alih-alih bergandengan melawan Assad, faksi-faksi ekstremis Takfiri itu berakhir saling bunuh. Per awal Juni 2014 tidak kurang dari 15 ribu nyawa mereka melayang akibat saling bantai di antara mereka sendiri.

Sekarang, para produsen partai besar fatwa AS (dan Qatar) mulai melayangkan fatwa menentang ISIS dan Khalifah Abu Bakar Al-Baghdadi. Adalah Yusuf Qardhawi yang pertama lantang menyatakan bahwa Kekhalifahan Abu Bakar Al-Baghdadi tidak sah menurut Islam. Alasannya, sebagian besar umat Islam menganggap ISIS sebagai organisasi ekstremis. Dan sungguh ironis bagi Qardhawi yang sempat terang-terangan meminta Amerika Serikat (AS yang satu lagi) untuk menggempur Assad justru menolak ISIS yang juga hendak menjatuhkan musuh bebuyutan yang sama.

Menghadapi segala rupa kegagalan politik, militer dan strategis ini, Arab Saudi (AS) tampaknya tak bisa lagi gagah-gagahan. Tak bisa lagi ia petantang-petenteng main remehkan kelompok lain, apalagi kelompok Syiah yang menduduki wilayah paling kaya minyak di kerajaan itu. AS sadar bahwa kegagalannya di Suriah, Irak dan berbagai negara lain akan segera jadi bumerang yang mematikan. Untuk itu, ia perlu segera mengamankan situasi domestiknya dan selama mungkin menggenggam secuil kekuasaan yang masih tersisa. Tentu saja, AS tak mungkin membuang segenap dampak kesalahan yang telah dilakukannya.

Tapi, setidaknya, seperti watak kekuasaan manapun, AS akan berusaha mempertahankan diri. Dan yang paling harus ia amankan adalah pekarangan dalam rumahnya sendiri. Itulah alasan seorang Muslim Syiah diangkat jadi menteri.

Masalahnya, langkah AS ini akan punya dampak serius di tempat lain, nun jauh di negeri tercinta kita Indonesia. Mengapa? Karena AS sebagai penyokong terbesar gerakan anti Syiah di dunia telah mengecewakan dan menyia-nyiakan bidak-bidaknya di Indonesia. Betapa hangus hati pimpinan Albayyinat, Ahmad bin Zen Alkaff, Thahir Alkaf, Muhammad Baharun, Fahmi Salim, Farid Okbah, Athian Ali, Bahtiar Nastir, Abu Jibril, atas pengangkatan menteri Syiah di makas besar penyebar kebencian atas Syiah?

Apa yang akan meraka sampaikan kepada massa yang selama ini mendengar ocehan mereka bahwa Syiah kafir? Apakah mereka akan menyatakan bahwa AS telah mengangkat orang kafir sebagai menteri dengan alasan taqiyah? Apakah mereka akan mengatakan bahwa menteri non-Muslim boleh memimpin suatu kementerian di AS, dan diangkat langsung oleh Khadimul Haramayn?

Ataukah mereka akan mengatakan bahwa AS dan seluruh ulama begawan fatwa di sana semuanya takut pada Syiah? Dan karenanya kalian juga harus takut? Ataukah ini sinyal positif bagi pemerintah Indonesia yang akan datang untuk memasang menteri dari kalangan Syiah, lantaran AS telah memberi teladan? Atau ini yang benar: kalian terus berjihad sampai titik darah penghabisan sementara kami keluarga mulia Al-Saud masih ingin berkuasa untuk beberapa saat lagi dan karenanya mau berkompromi dengan iblis terjelek sekalipun.

Republik Islam Iran Amalkan Ayat Ayat Semesta Tentang Sains Islam

Revolusi Islam, Kemajuan dan Pembangunan Iran

 

Sanksi ekonomi adalah sebuah instrumen yang dipakai oleh kekuatan-kekuatan Barat untuk menekan Iran sejak hari-hari pertama berdirinya pemerintahan Republik Islam. Amerika Serikat dan Uni Eropa mengadopsi sejumlah langkah untuk menghambat pertumbuhan ekonomi Iran. Sekarang, usia Revolusi Islam sudah menginjak 35 tahun dan bangsa Iran mengukir sejumlah prestasi di segala bidang di tengah keterbatasan dan tekanan.

Bangsa Iran menanggung beban berat dalam menghadapi tekanan ekonomi, tapi mereka sama sekali tidak pesimis dan justru termotivasi untuk bangkit demi mencegah terhentinya perputaran roda produksi di berbagai sektor, seperti industri minyak.

AS menggunakan semua kemampuannya – mulai dari sanksi minyak hingga merusak pasar dan iklim investasi di Iran – untuk mengubah struktur ekonomi yang ada dan membangkitkan ketidakpuasan di tengah masyarakat. Saat ini, para pejabat Gedung Putih juga masih berbicara tentang terbukanya semua opsi di atas meja, mulai dari sanksi hingga invasi militer. AS dan sekutunya melakukan banyak investasi untuk mencegah Iran mencapai kemajuan dan mengesankan kegagalan Republik Islam.

Pada dasarnya, tekanan ekonomi Barat terhadap Iran mengincar dua tujuan strategis. Tujuan pertama, Barat pada awalnya fokus untuk mengesankan ketidakmampuan Iran dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya di sektor-sektor utama produksi, tapi cara ini tidak berjalan efektif. Iran menunjukkan perlawanan dan berusaha untuk mencapai swasembada di bidang infrastuktur. Oleh karena itu, strategi tersebut secara praktis gagal dan Barat beralih ke manuver yang lebih agresif yaitu mencegah kemajuan Republik Islam. Strategi itu jauh lebih berbahaya dari cara pertama.

Barat ingin mencegah pengembangan teknologi nasional Iran serta menurunkan kualitas dan kuantitas tingkat produksi di dalam negeri sebagai cara untuk merusak ekonomi Republik Islam. Sanksi dan tekanan juga mulai diarahkan untuk mengejar tujuan strategis kedua. Sejalan dengan itu, Barat fokus untuk melumpuhkan industri minyak Iran sebagai sumber pendapatan utama negara yang akan menjamin kelancaran pembangunan ekonomi. Mereka mencoba menghentikan kemampuan ekonomi Iran di berbagai sektor produksi dan kemajuan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pidatonya pada Hari Nasional Melawan Arogansi Dunia, mengatakan, “Salah satu pelajaran besar konfrontasi bangsa Iran dengan AS adalah mempertahankan resistensi dan kearifan, bertawakkal kepada Allah Swt, kerja keras, dan persatuan di antara para pejabat negara.” Rahbar menilai perang bangsa Iran dengan AS akan terus berlanjut dan menegaskan, “Salah satu hal yang dibutuhkan dalam perang besar itu adalah resistensi dan kerja keras untuk kemajuan negara di bidang sains dan pembangunan sebagai mukaddimah untuk meraih kemenangan.”

Pasca kemenangan Revolusi Islam pada 1979, bangsa Iran melewati tahun-tahun yang penuh dengan aksi heroik dan perlawanan untuk menghadapi tekanan seperti, perang yang dipaksakan, konspirasi, dan sanksi. Namun, mereka meraih kemenangan setelah perjuangan panjang di semua bidang, termasuk di bidang ekonomi. Kemajuan di bidang teknologi nano, teknologi nuklir damai, sel punca, produksi ilmu pengetahuan, dan dunia antariksa, termasuk di antara prestasi utama Iran pasca revolusi. Saat ini, Iran menduduki posisi pertama produksi ilmu pengetahuan di Timur Tengah dan termasuk di antara sepuluh negara dunia dari segi pertumbuhan indeks ilmiah.

Saat ini, tercatat hanya segelintir negara yang sedang menyusun program nasional nano dan Iran juga termasuk salah satu dari mereka. Di bidang produksi teknologi itu, Tehran menempati posisi pertama di Timur Tengah dan di antara negara-negara Islam, serta menduduki posisi ke-14 dunia. Di Iran saat ini, ada banyak ilmuan muda termasuk dari kalangan perempuan yang menggeluti bidang nano teknologi.

Bangsa Iran membuktikan kepada dunia bahwa tekanan dan sanksi dapat dipatahkan dengan kebijakan ekonomi muqawama, tanpa menghambat laju kemajuan negara. Tentu saja, sektor ekonomi merupakan medan perang yang sangat rumit dan sarat dengan pasang surut. Kemenangan di perang ini hanya bisa diraih oleh negara-negara yang sukses menggabungkan perlawanan dengan kemajuan di bidang teknologi strategis.

Di bidang teknologi nuklir damai, Barat telah mempolitisasi kasus nuklir Iran dan bahkan tidak bersedia menjual bahan bakar untuk kebutuhan reakor riset medis Iran. Standar ganda itu mendorong Tehran memperkaya uranium ke tingkat 20 persen guna memenuhi kebutuhan bahan bakar reaktor riset dan industri. Selama ini, reaktor riset tersebut digunakan untuk memproduksi obat-obatan seperti radio isotop bagi pengobatan kanker dan penyakit kronis lainnya. Keberhasilan Iran di bidang nuklir merupakan sebuah penekanan terhadap tekad bangsa untuk melangkah maju serta komitmennya dalam memperjuangkan kepentingan negara di tingkat regional maupun internasional.

Kekuatan-kekuatan hegemonik membentuk poros yang kuat untuk memonopoli sains dan teknologi. Tidak hanya itu, Barat juga menghalangi negara-negara lain yang melakukan riset di bidang teknologi mutakhir. Selain membentuk blok militer semacam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), negara-negara arogan juga melancarkan tindakan serupa di bidang sains dan teknologi. Dalam kondisi demikian, negara dunia terbagi menjadi negara kaya dan miskin. Namun, bangsa Iran dengan tekadnya telah menerobos monopoli tersebut. Dengan capaian besar ini, reaktor riset Tehran yang bertumpu pada kemampuan para ilmuannya tidak lagi bergantung kepada negara lain dalam pengayaan uranium.

Prestasi-prestasi bangsa Iran diperoleh setelah lebih dari tiga dekade kerja keras dan perlawanan terhadap dikte Barat. Kemajuan itu menunjukkan bahwa tidak ada faktor yang bisa menghalangi bangsa Iran untuk mencapai puncak kemajuan sains dan teknologi. Koran Christian Science Monitor belum lama ini, mengulas tentang sanksi dan dampak-dampkanya terhadap ekonomi Iran, dan menulis, “Pembatasan telah mendorong Republik mengambil langkah-langkah menuju kemajuan.” Menurutnya, Barat gagal mencapai hasil yang diharapkan lewat sanksi, sebab penerapan sanksi ketat telah membakar semangat Tehran untuk maju di semua bidang.

Presiden Konfederasi Kamar Dagang dan Industri Asia-Pasifik (CACCI), Benedicto Yujuico dalam kunjungannya ke Tehran, mengatakan Iran berada di posisi luar biasa di bidang pengembangan ekonomi. Dia menambahkan, “Iran harus bekerjasama dengan negara-negara anggota CACCI dalam proyek-proyek bersama di sektor minyak dan gas, suku cadang mobil dan pesawat, dan bidang-bidang lain.

Di sektor energi, Iran berupaya menjalankan program terpadu untuk menjaga keamanan pasokan energi dunia. Republik Islam saat ini tercatat sebagai salah satu negara pemilik cadangan minyak dan gas terbesar di dunia. Betapa tidak, negara ini menguasai 10 persen cadangan minyak dunia, dan 17 persen cadangan gas dunia. Pada Juli 2013, raksasa energi Inggris, British Petroleum (BP) memasukkan Iran sebagai negara dengan cadangan gas teratas dunia sekitar 32.9 triliun meter kubik. Perusahaan itu menurunkan cadangan gas Rusia menjadi 32,9 triliun meter kubik dari 44,6 triliun meter kubik dalam sebuah laporan tahunan.

Iran telah berusaha untuk meningkatkan produksi gasnya dengan menarik investasi domestik dan asing, khususnya di ladang gas Pars Selatan. Pars Selatan merupakan bagian dari ladang gas yang lebih luas dan terbagi dengan Qatar. Bidang yang lebih besar meliputi area seluas 9.700 kilometer persegi, di mana 3.700 kilometer persegi berada di wilayah perairan Iran di Teluk Persia. Sisanya, 6.000 kilometer persegi atau disebut sebagai Dome Utara, berada di perairan teritorial Qatar. Menurut catatan Badan Energi Internasional (IEA), ladang itu diperkirakan memiliki 50,97 triliun meter kubik gas dan 50 miliar barel cadangan minyak mentah.

Presiden Iran Hassan Rohani dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, mengatakan bahwa Iran dapat menjadi salah satu dari 10 kekuatan ekonomi dunia dalam waktu dekat dan berencana membuka kembali perdagangan dengan negara-negara lain. Dia mengatakan besarnya cadangan minyak Iran dapat berperan penting dalam upaya menjaga stabilitas energi global.

Sistem Pendidikan Republik Islam Iran MENGGUNCANG DUNiA !!!!!

pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa Republik Islam Iran terbukti bisa meraih kehormatan dan kemajuan tanpa dukungan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lainnya. Dia juga menilai realitas ini sebagai faktor yang telah membangkitkan kegusaran AS.

Hal ini dia ungkapkan dalam kata sambutannya pada acara wisuda calon perwira Garda Revolusi Islam Iran di Universitas Imam Husain, Teheran, Rabu (21/5).

“Dewasa ini kubu arogan dunia sangat gusar menyaksikan kemajuan yang diraih Iran dan pemerintahan Islam tanpa bergantung pada AS dan kekuatan-kekuatan Barat lainnya, melainkan dengan mengandalkan kapasitas dan kemampuan dalam negeri sendiri. Untuk menanggapi (kegusaran) mereka itu kita mengulang lagi ungkapan terkenal Syahid Baheshti, ‘Matilah akibat kemarahan kalian!’,” tegasnya.

Menurut Khamenei, isu-isu yang dikembangkan oleh kekuatan-kekuatan raksasa dunia untuk menyudutkan Iran, termasuk isu nuklir dan hak asasi manusia (HAM) adalah nonsen dan tendensi belaka. “Dengan dalih dan tekanan inilah mereka berusaha mengalihkan bangsa Iran dari resistensinya di depan pemaksaan kehendak dan gertakan mereka, namun hal ini tidak akan pernah terjadi,” ujar Khamenei.

Dia menambahkan, “Bangsa Iran telah membuktikan keberdayaannya di berbagai bidang dan menunjukkan kemampuannya meraih kemajuan sains dan sosial serta pengaruh internasional dan kehormatan politik tanpa bersandar pada AS.”

Dia juga menilai Iran didukung oleh mayoritas khalayak dunia. Dia mengatakan, “Meski ada sepak terjang (Barat) sedemikian rupa, dewasa ini mayoritas masyarakat dunia mempercayai dan memuji bangsa Iran.”

Rahbar juga menyinggung upaya imperium media negara-negara adidaya dunia untuk mencegah masyarakat internasional sadar akan kemajuan dan keberhasilan bangsa Iran. Ia menjelaskan, dengan memperhatikan upaya-upaya ini, sekarang banyak dari masyarakat dunia yang percaya kepada rakyat Iran dan sebagian besar dunia bersama bangsa Iran.

Di bagian lain pidatonya, Rahbar memprotes penggunaan istilah palsu “masyarakat internasional” sebagai lawan Republik Islam Iran. “Realitasnya adalah mereka bukan masyarakat internasional dan hanya segelintir negara arogan yang dipengaruhi korporasi-korporasi milik Zionis,” tegasnya.

Masyarakat internasional, katanya, adalah negara-negara dan bangsa-bangsa yang tertindas dan tidak kuasa menentang arogansi kekuatan-kekuatan besar dunia karena ditekan. Akan tetapi jika ada peluang, pasti mereka akan menunjukkan penentangannya.

“Masyarakat dunia,” lanjutnya, “adalah bangsa-bangsa dan pemerintah-pemerintah tertindas yang akibat tekanan kekuatan-kekuatan besar tidak berani menunjukkan perlawanan terhadap mereka, dan seandainya mendapatkan kesempatan maka pasti akan menunjukkan perlawanan… Masyarakat dunia adalah para para ilmuwan, pemikir, penuntut kebaikan dan pendamba kebebasan dunia.”

Menurut Rahbar, Islam adalah satu-satunya jalan keselamatan manusia dari peristiwa-peristiwa mengerikan sepanjang masa dan merupakan jalan untuk merealisasikan kemuliaan manusia.

“Pemuda-pemuda beriman dan loyal adalah para pembangun masa depan Iran dan merupakan cikal bakal utama terbentuknya kebudayaan baru Islam,” tandasnya

kemajuan ilmu pengetahuan akan mendasari kekuatan ekonomi dan politik Republik Islam Iran. Selain menekankan gerakan maju ilmiah dengan menyinggung kebangkitan satu dekade terakhir di sektor produksi ilmu, kelanjutan gerakan tersebut sangat penting dan esensial, yang bahkan diakui oleh lembaga pusat ilmiah dunia meski adanya berbagai pandangan negatif terhadap Republik Islam.

 

Dalam menjelaskan sejumlah data statistik lembaga-lembaga informasi sains dunia, Rahbar mengatakan, “Berdasarkan data-data tersebut, perkembangan sains di Iran dalam 12 tahun terakhir jika dibanding dengan sebelumnya mengalami kenaikan 16 kali lipat dan perkembangan ilmiah di Iran 13 kali lipat lebih tinggi di atas rata-rata dunia.” Beliau menambahkan pula, lembaga-lembaga informasi sains dunia juga menyatakan bahwa jika perkembangan sains di Iran ini terus berlanjut, maka dalam lima tahun mendatang, Republik Islam akan merah posisi keempat dunia di bidang ini.

 

Yang pasti ini semua menunjukkan indeks positif dalam gerakan maju sektor ilmiah dan sains di Iran, akan tetapi pada saat yang sama juga harus diperhatikan bahwa sektor ilmiah dan sains dunia juga tidak akan stagnan dan terus berlanjut. Dengan adanya gerakan berkesinambungan ini, masalah yang muncul adalah perbedaan jarak ilmiah dan sains antara negara-negara dunia ketiga dan negara-negara maju. Oleh karena itu, untuk mengejar ketertinggalan itu harus dikerahkan upaya ganda.

 

Pengalaman membuktikan bahwa dalam dua dekade terakhir, kekuatan dunia tidak akan menyia-nyiakan segala upaya untuk menjegal kemajuan ilmiah di Iran. Dan sekarang, tahap baru gerakan maju telah dimulai bersamaan dengan dimulainya masa tugas pemerintahan kesebelas Iran, yang diharapkan dapat melanjutkan dan bahkan semakin meningkatkan laju kemajuan sains, ekonomi dan diplomasi bangsa ini

Di antara kemajuan sains yang dicapai Iran terkait bidang teknologi nano, lingkungan dan eurospace. “Tahun 1390 HS, para ilmuan muda kita berhasil mengayakan uranium sampai 20 persen dan ini yang membuat musuh tercengang,”

Pihaknya menilai sanksi yang diberlakukan Barat tehadap Iran tidak akan berdampak apapun terhadap prinsip-prinsip dan sikap Teheran.

Sejak masa-masa awal kemenangan Revolusi Islam, masalah kemandirian di bidang ekonomi senantiasa menjadi perhatian utama. Pasalnya, pada era pra-revolusi, akibat kesalahan fatal politik Rezim Pahlevi, menyebabkan Iran amat bergantung dengan Barat, khususnya AS. Sebaliknya, pasca kemenangan Revolusi Islam, negara-negara Barat berupaya menekan dan mengancam Republik Islam Iran dengan berbagai cara, termasuk dengan menerapkan embargo ekonomi.

Karena itu, Iran pun berusaha mencapai kemandirian di bidang pertanian dan industri. Upaya ini bahkan terus dilanjutkan, meski di saat Iran menjalani masa-masa sulit perang yang dipaksakan oleh Rezim Ba’ats, Irak selama delapan tahun. Upaya tiada kenal lelah inipun, akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Iran berhasil mencapai swasembada gandum, sebuah komoditas strategis pertanian. Sejak tahun lalu, Iran bahkan sanggup mengekspor hasil produksi gandumnya ke sejumlah negara. Begitu pula di berbagai komoditas pertanian lainnya. Iran juga berhasil meraih kemajuan dengan menerapkan program mekanisasi pertanian.

Salah satu dampak buruk yang diwariskan sistem perekonomian Rezim Pahlevi dan masih berpengaruh hingga kini adalah ketergantungan Iran terhadap pendapatan minyak bumi. Masalah ini membuat struktur ekonomi menjadi rapuh, namun dengan usaha keras pemerintah Republik Islam Iran, ketergantungan terhadap pendapatan minyak pun perlahan-lahan mulai dibatasi. Sebagai misal, pada tahun 2007-2008 ini, komposisi pendapatan minyak dalam anggaran negara Iran kurang dari 50 persen. Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir pendapatan dari sektor non-minyak makin naik secara signifikan. Berdasarkan sejumlah data, pendapatan Iran di sektor non-minyak pada tahun 2006 mengalami peningkatan 47 persen atau sekitar 16 miliar USD. Peningkatan ini membuat situasi ekonomi Iran relatif bisa bertahan meski harga minyak dunia mengalami fluktuatif.

Di sisi lain, untuk memanfaatkan secara optimal cadangan minyak, Iran berupaya meningkatkan produksi komoditas petrokimia dan olahan minyak lainnya agar lebih bermanfaat dan bernilai. Sehingga pada periode 2007-2008, produksi petrokimia Iran meningkat lebih dari 30 juta ton. Rencananya tiga tahun lagi, produksi di sektor ini akan ditingkatkan menjadi 58 juta ton.

Salah satu produksi industri Iran yang berhasil diekspor sejak beberapa tahun terakhir adalah produk otomotif. Iran mengekspor kendaraan penumpang dan barangnya ke berbagai negara seperti Syria, Turkmenistan, Afghanistan, Azerbaijan, dan Venezuela. Iran juga menjalin kerjasama pembangunan pabrik mobil dengan sejumlah negara. Pada tahun 2006, Iran mengeskpor lebih dari 30 ribu kendaraan senilai 350 juta USD. Pembangunan di bidang infrastruktur, seperti pembangunan jalan, rel kereta api, jembatan, jalan tol dalam kota, dan kereta api bawah tanah (subway) merupakan langkah pembangunan paling kentara pasca revolusi.

Kemajuan lain ekonomi Iran pasca Revolusi Islam adalah meningkatnya investasi asing, padahal Iran saat ini masih berada di bawah tekanan sanksi ekonomi AS. Tahun lalu, investasi asing di sektor perminyakan, yang merupakan salah satu bidang yang paling dikhawatirkan oleh AS, mengalami peningkatan sekitar 9 persen. Begitu juga di bidang gas, tingkat eksplorasi, produksi, dan ekspor di bidang ini mengalami peningkatan signifikan. Pada bulan Februari ini, menteri perminyakan Iran melaporkan adanya penemuan ladang gas baru dengan cadangan gas sebesar 11 triliun kaki kubik. Iran adalah negara pemilik cadangan gas terbesar kedua di dunia, setelah Rusia. Selain itu, Teheran juga telah menjalin beragam kontrak kerjasama di bidang gas dengan negara-negara lain. Sebagai contoh, baru-baru ini Iran dan Austria menandatangani kontrak ekspor gas senilai 50 miliar USD dan kerjasama produksi gas dengan Malaysia senilai 16 miliar USD.

Salah satu slogan utama Revolusi Islam Iran adalah meningkatkan taraf hidup rakyat, khususnya kalangan menengah ke bawah dan mewujudkan keadilan sosial. Karena itu, pemerintah Republik Islam Iran berusaha keras meningkatkan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Terlebih khusus di era kepemimpinan Presiden Ahmadinejad, yang lebih fokus untuk merealisasikan visi keadilan yang yang disuarakan oleh Revolusi Islam. Program kunjungan ke daerah Presiden Ahmadinejad beserta kabinetnya merupakan upaya serius pemerintah untuk menyentuh secara langsung persoalan rakyat di berbagai daerah sehingga bisa diupayakan tindakan yang lebih cepat untuk mengatasi persoalan daerah. Selama dua tahun pertama masa kepemimpinannya, Presiden Ahmadinejad berhasil mengunjungi 30 propinsi. Kini, di paruh kedua masa kepemiminannya, dia pun melaksanakan kembali rangkaian safari ke berbagai daerah untuk menganalisa dan menindaklanjuti kebijakan sebelumnya.

Masih di bidang pembangunan keadilan sosial, Pemerintahan Ahmadinejad juga mengeluarkan program pembagian ‘saham keadilan’. Lewat program ini, saham perusahaan-perusahaan negara dibagikan kepada kalangan masyarakat berpendapatan rendah, sementara hasil keuntungannya akan dikembalikan lagi kepada mereka.

Kendati Iran pasca revolusi, menghadapi beragam tekanan dan embargo, namun para ilmuan dan teknisi militer Iran tidak pernah menyerah untuk memajukan kekuatan pertahanan negaranya. Tak heran bila kini Iran berhasil meraih keberhasilan yang tidak pernah diduga sebelumnya di bidang persenjataan modern. Angkatan bersenjata RII, saat ini berhasil membuat dan mengembangkan berbagai bentuk roket, seperti roket darat ke darat, darat ke laut, dan darat ke udara. Begitu pula di bidang pembuatan helikopter dan pesawat tempur, para ilmuan Iran berhasil mencapai kemajuan yang menarik di bidang ini. Sejumlah pesawat tempur berteknologi tinggi baik berjenis tanpa awak maupun standar, berhasil dibuat oleh Iran.

Angkatan darat militer Iran juga berhasil membuat peralatan perang modern lainnya seperti, tank, panser, meriam, dan beragam bentuk senjata personal. Begitu pula di matra laut, kekuatan pertahanan laut Iran juga berhasil menorehkan prestasi gemilang. Seperti pembuatan beragam jenis kapal perang dan perahu cepat militer serta beragam persenjataan penting lainnya. Di bidang perangkat militer elektronik, Iran juga berhasil membuat gebrakan baru di bidang ini. Tak heran jika kini Iran menyatakan siap mengadapi ancaman perang elektronik.

Kemajuan mengagumkan Iran di bidang industri militer membuat sejumlah negara kian tertarik menjalin kerjasama dengan Iran. Saat ini, Iran telah mengekspor hasil-hasil industri militernya ke 57 negara.

Revolusi Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan ekonomi dan kemajuan iptek.

Islam senantiasa menekankan perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran. Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”.

Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf. Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf. Upaya kontinyu dan tak kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50 persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10 persen. Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Unesco.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200 ribu kursi. Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.

Pasca Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah. Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki molekul dan sel-sel badan yang rusak. Teknologi nano biasa dimanfaatkan untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.

Salah satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun, para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya. Sel punca ini mampu memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.

Pusat Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan teknologi stem cell atau sel punca di Iran. Televisi CNN dalam laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan, “Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat”. CNN dalam laporannya ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.

Salah satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi. Begitu juga di bidang kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf, jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.

Ternyata Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Namun, dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan Iran di bidang ini,  Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo, namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam teknologi nuklir. Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik. Atas dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif. Selain dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang pertanian dan peternakan.

Untuk menghilangkan adanya kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan, bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase industrialisasi produksi bahan bakar nuklir. Upaya ini merupakan salah satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang nuklir.

Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa. Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini. Seluruh keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran. Mari belajar dari Iran.

Revolusi Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan ekonomi dan kemajuan iptek.

Islam senantiasa menekankan perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran. Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”.

Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf. Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf. Upaya kontinyu dan tak kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50 persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10 persen. Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Unesco.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200 ribu kursi. Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.

Pasca Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah. Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki molekul dan sel-sel badan yang rusak. Teknologi nano biasa dimanfaatkan untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.

Salah satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun, para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya. Sel punca ini mampu memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.

Pusat Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan teknologi stem cell atau sel punca di Iran. Televisi CNN dalam laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan, “Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat”. CNN dalam laporannya ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.

Salah satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi. Begitu juga di bidang kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf, jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.

Isu nuklir Iran adalah topik yang begitu akrab. Namun, dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan Iran di bidang ini, ternyata Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo, namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam teknologi nuklir. Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik. Atas dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif. Selain dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang pertanian dan peternakan.

Untuk menghilangkan adanya kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan, bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase industrialisasi produksi bahan bakar nuklir. Upaya ini merupakan salah satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang nuklir.

Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa. Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini. Seluruh keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran.

Wilayah Negara Iran masuk dalam kategori Negara-negara timur tengah yang memiliki luas wilayah 1.648.195 kilometer persegi dengan jumlah penduduk pada tahun 2006 sebesar 7.270.198 jiwa. Tingkat ekonomi pada tahun 2006 di Negara ini tergolong menengah kebawah pada tahun 2004 sebesar   US$ 2439.  Negara ini menmpati peringkat HDI ke 96 dari 177 negara. Dan  EDI ke 86 dari 125 negara.

Menurut dokumen yang disetujui oleh supreme council of education pada 1998, perkembangan nasional adalah tujuan utama bagi pendidikan yaitu untuk meningkatkan produktivitas, mencapai integrasi social dan nasional, mengelaola nilai-nilai social, moral dan spiritual denagan penekanan pada penguatan dan dorongan keyakinan terhadap Islam. Tujuan-tujuan yang disetujui council juga menekankan peran pendidikan pada pengembangan sumberdaya manusia untuk level ekonomi yang berbeda-beda dan oleh karena itu pendidikan dipandang sebagai investasi untuk masa depan

Anggaran Pendidikan

Anggaran kementrian pendidikan pada tahun 1996 adalah 6.130 miliyar riyal (RI), merupakan 3,8% dari anggaran belanja Negara. Anggaran yang disetujui adalah RI 5.455,6 miliyar riyal, tetapi untuk menyediakan dana talangan bagi kementrian pendidikan, bebrapa tambahan tambahan dana telah di alokasikan dan anggaran pendidikan bertambah menjadi RI 6.130 miliyar riyal. Selain itu, untuk meningkatkan anggaran, beberapa kesepakatan telah disetujui selama dua tahun terakhir untuk memberikan sumber dana baru bagi kementrian pendidikan.

Pada tahun 2003, total pembiayaan pendidikan (termasuk pendidikan dasar hingga prauniversitas) sejumlah RI 39, 880 miliyar riyal atau 12% dari total anggaran belanja Negara pada tahun 2001.

Peran Pemerintah

Sistem sekolah berada di bawah yurisdiksi Kementerian Pendidikan dan Pelatihan.Selain sekolah, Kementerian ini juga memiliki tanggung jawab untuk beberapa pelatihan guru dan beberapa lembaga teknis. Departemen Pendidikan mempekerjakan jumlah tertinggi pegawai negeri sipil 42%  dari total dan menerima 21%  dari anggaran nasional. Sebanyak 15.018.903 siswa telah bersekolah di sekolah dengan 87.024 kelas 485.186 di seluruh negeri pada tahun akademik 1990-1991. Dengan rincian sebagai berikut: 509 sekolah untuk anak-anak cacat, 3.586 TK, 59.280 Sekolah Dasar, 15.580 Sekolah Menengah Pertama, 4.515 Sekolah Menengah Atas, 380 Sekolah Teknik, 405 Studi Bisnis dan sekolah-sekolah kejuruan, 64 Sekolah Pertanian, 238 kota dan 182 guru sekolah dasar pedesaan ‘akademi pelatihan, tujuh kejuruan dan profesional latihan guru dan 19 lembaga perguruan tinggi teknologi. Ada juga 2.259 sekolah-sekolah pendidikan orang dewasa.

Pendidikan Pra- Sekolah

Pendidikan sebelum sekolah dasar ditempuh 1 tahun dan melayani anak usia 5 tahun. Pendidikan sebelum sekolah dasar tidak wajib. Tidak ada ujian pada akhir sekolah  ini dan anak-anak secara otomatis melanjutkan ke pendidikan berikutnya.

Pendidikan dasar

Sekolah dasar adalah pendidikan formal tahap pertama dan hukumnya adalah wajib. Dan ditempuh selama 5 tahun dan usia masuk sekolah dasar adalah 6 tahun. Para siswa mengikuti ujian akhir pada tingkat ke lima, dan apabila lulus mereka mendapatkan ijazah tamat sekolah dasar

Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah terdiri dari dua tahapan, sekolah menengah rendah dan sekolah menengah tinggi. Sekolah menengah rendah ditempuh selama 3 tahun (kelompok usia 11- 13 tahun). Pendidikan delapan tahun yang terdiri dari sekolah dasar dan sekolah menengah rendah di kategorikan sebagai pendidikan dasar.

Program 3 tahun sekolah menengah tinggi adalah untuk para siswa yang telah lulus dari sekolah menengah rendah. Mata pelajaran yang ditawarkan pada sekolah menengah tinggi dapat di klasifikasikan menjadi tiga bidang : akademik, teknik, dan kejuruan, sertaKar-Danesh (ilmu pengetehuan ketrampilan, sebuah cabangdari kejuruan yang fleksibel).

Program satu tahun prauniversitas tersedia bagi mereka yang berhasil lulus dari sekolah menengah atas jurusan akademik. Bagi yang mengambil jurusan teknik dan kejuruan, para siswa yang telah lulus sekolah menengah atas dapat mendaftar pada program dua tahun yang dapat mengantarkan di dalamnya termasuk universitas,collage dan pusat-pusat pendidikan tinggi. Yang dapat masuk perguruan tinggi adalah mereka yang telah lulus sekolah menengah atas dan berhasil lulus pada ujian masuk perguruan tinggi. Universitas di bagi menjadi universitas umum dan khusus, universitas teknologi komperhensif, universitas terbuka, universitas Islam azad, dan universitas kedokteran

————————————

Kurikulum Pendidikan

Pendidikan pra sekolah

Pada jenjang pra sekolah murid diajarkan mengenai belajar bahsa, pengantar matematika, dan konsep sains, lebih-lebih pada nilai-nilai agama dan kepercayaan. Selain itu juga meliputi tentang kegiatan ketrampilan seperti kerajinan tangan, menggunting, mancetak, menggambar, bercerita, bermain, dan berolahraga.

Pendidikan dasar

Fokus kurikulum pendidikan dasar adalah pada pengembangan ketrampilan dasar baca dan berhitung, studi lingkungan dalam tema fisik dan fenomena social, dan pembelajaran agama. Semua mata pelajaran dan buku pelajaran untuk sekolah dasar diputuskan dan disiapkan pada level pusat.

Pendidikan menengah

Pendidikan menengah rendah

Kelompok agama minoritas melakukan pembelajaran khusus mereka dan terdapat daftar bacaan khusus untuk kelompok sunni. Diwajibkan untuk lulus semua mata pelajaran pada jurusan yang berbeda. Pembelajaran digunakan dengan bahasa Persia pada semua level. Untuk daerah bilingual, maka diadakan kursus satu bulan untuk mengajarkan kunci-kunci konsep bahasa sebelum tahun ajaran baru di mulai. Ujian dilakukan pada akhir kelas III yang diadakan oleh level kabupaten dan propinsi.

Pendidikan menengah atas

Sekolah menengah atas diperuntukkan bagi siswa yang telah lulus sekolah menengah dasar. Mata pelajaran yang ditawarkan dikelompokkan dalam jurusan sebagai berikut:

Jurusan akademik: tujuan jurusan ini adalah mempromosikan pengetahuan umum dan budaya. Tedapat ujian akhir yang dikelola oleh tingkat nasional dan bagi siwa yang lulus mendapat ijazah diploma.

Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan: Jurusan ini terdiri dari tiga bidang: teknik pertanian dan kejuruan. Sekarang terdapat 30 bidang pada pendidikan teknik dan kejuruan (TVE). Siwa yang memenuhi kualifikasi pendidikan TVE dapat juga masuk  pada lembaga yang menawarkan program teknik atau preuniversity dan mendapat sertifikat terampil pertama.

Jurusan kar-danesh (knowledge skill):  Tiap kar-danesh mempunyai silabi yang dikembangkan di bawah secretariat pendidikan menengah proses pendidikan ini mencakup 400 ketrampilan, berbeda dengan jurusan yang lain. Pendidikan ini bersifat berbasis kompetensi. Siswa yang beehasil dianugrahi ijazah terampil tingkat II, dan diploma.

Pendidikan di Iran mempunyai jenjang pendidikan pra sekolah 1 tahun, pendidikan dasar 5 tahun, pendidikan menengah dasar 3 tahun, pendidikan menengah atas 3 tahun. Pendidikan menengah atas terbagi atas: jurusan akademik, Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan, Jurusan kar-danesh.pendidikan Pendidikan di Iran di pegang oleh Kementerian Pendidikan dan Pelatihan.

Ulama sunni  seakan-akan lupa bahwa perintah Al-Quran untuk memikirkan ayat-ayatnya tidak hanya tertuju kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi-generasi sesudahnya yang tentunya harus berpikir sesuai dengan perkembangan pemikiran pada masanya masing-masing.

Pintu ijtihad syi’ah jauh lebih cair dan berkelanjutan. Filsafat syi’ah terus berjalan dan tetap hidup. Metode burhani (demonstrative) yang dipakai dalam filsafat lebih unggul daripada metode dialektika (jadal) yang dipakai dalam teologi dan yurisprudensi

Metode akidah syi’ah dibagi tiga yang terintegrasi : 1. Metode teologi/kalam.. 2. Metode filsafat/falsafi.. 3. Metode irfan/akhlak/etika.. Jelas syi’ah lebih unggul karena keyakinan syi’ah memiliki keterikatan dengan filsafat

Ma’rifatullah  syi’ah melalui penelitian mendalam pada alam semesta untuk membuktikan kebenaran empiris dari ayat ayat kauniyah melalui pengujian dan penyelidikan…

Ulama yang dimaksud oleh AL QURAN  dan  mazhab syi’ah  adalah ilmuan peneliti pengkaji alam dan bukan Cuma ahli fikih saja… Dalam mazhab sunni pengkajian terhadap tanda tanda kebesaran Allah (ayat ayat kauniyah) SECARA THE FACTO dianggap bukanlah masalah agama

Sering kita jumpai pertanyaan dari beberapa orang yang ingin mengetahui apa perbedaan dan persamaan makna dari istilah Ilmuwan dengan Ulama. Apakah Ilmuwan hanya sebutan khusus untuk para ahli ilmu alam (eksakta) sedangkan Ulama sebutan untuk para ahli Ilmu Agama (baca:Dinul Islam)? Apakah telah terjadi berbagai pergeseran atau penyempitan makna, sehingga terjadi dikotomi keduanya? Adapula yang menganggap bahwa al ulama hanyalah orang-orang yang hanya mengurusi rutinitas ibadah pokok (makhdo) dalam rukun Islam dengan menafikan masalah lainya. Sehingga mereka menganggap para ulama tidak punya ilmu dan kemampuan dalam mengentaskan masalah pembangunan peradaban dan perkembangan iptek.Bukankah dimensi ibadah itu tidak hanya terbatas masalah rukun Islam yang lima perkara saja.

Untuk mencari kejelasannya, berikut ini kami ulas permasalahannya. Mudah-mudahan dapat membantu kita menyibak makna yang sebenarnya. Kita mencoba dengan menggali akar katanya, lalu menelusuri darimana munculnya.


Definisi ulama  ialah orang yang bekerja dan mendalami dengan tekun dan sungguh-sungguh dalam bidang ilmu pengetahuan. Ulama merupakan hamba Allah yang takut melanggar perintah Allah dan takut melalaikan perintahNya dikarenakan dengan ilmunya ia sangat mengenal keagungan Allah. Ia bertahuid (mengesakan) Allah ketika bekerja dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbeda. Di sini diberikan beberapa contoh: Mereka yang belajar fisika ialah ulama  fisikawan. Yang belajar kimia ialah ulama  kimiawan. Yang belajar biologi ialah ulama biolog.

Dari definsi di atas jelas bahwa arahnya hanya kepada para ahli ilmu alam (eksakta) yang merupakan ayat kauniyah Allah.

(sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hambaNya adalah ulama- Qs.Fathir 28).

Nash yang jelas tentang lafadz al Ulama dalam al Quran di atas adalah berbentuk ism makrifat (khusus-dapat dikenali secara jelas) bukan berbentuk umum (ism nakirah), yaitu ulama. Artinya al Ulama adalah hamba Allah yang takut melanggar perintah Allah dan takut melalaikan perintahNya dikarenakan dengan ilmunya ia sangat mengenal keagungan Allah. Ia bertahuid (mengesakan) Allah

Ulama pemegang amanah para rosul, selama ia tidak menggauli penguasa / ambisi kekuasaan, dan tidak cinta berat terhadap dunia / materialis, jika ia menjilat penguasa / ambisi kekuasaan, dan cinta berat terhadap dunia / materialis maka sungguh ia telah menghianati para rosul, maka berhati-hatilah kepadanya

Ciri lain seorang al ulama adalah memiliki kepekaan terhadap penderitaan ummat lalu mengupayakan jalan keluarnya (Qs.9:128). Ia umumnya dibangkitkan Allah di tengah-tengah qoum yang ummi (buta huruf, masyarakat biasa/kecil : Qs.62:2).

Al Ulama adalah kedudukan mulia dari Allah kepada hamba pilihan yang memahami ayat-ayat Allah berupa Ilmu kauniyah yang dibentangkan Allah di alam semesta dan Ilmu Syariah yang tertulis dalam kitabNya. Maka untuk mendapatkan definisi yang benar harus dikembalikan yang membuat istilah al Ulama (dalam hal ini Allah)

.
Jelas bahwa kata al Ulama bukan sekedar istilah dan kedudukan sosial buatan manusia. Bukan pula orang yang didudukan di lembaga bentukan pemerintahan sekular dengan subsidi dana. Namun kosa kata al Ulama berasal dari Kalamullah dan memiliki arti dan kedudukan sangat terhormat disisi Rabb.

Untuk lebih jelasnya coba perhatikan kembali dalilnya sebagai berikut:

  1. Dalam Qs. 35:27-28 dan al Hadits yang menjelaskannya, diperoleh ciri dari al Ulama, yaitu yang memahami Ilmu Alam Semesta. Selain itu rasa takutnya kepada Allah sebagai faktor utama keulamaan. Ia dapat mencapai derajat demikian dikarenakan pengenalannya kepada Allah melalui ilmu sehingga muncul sifat dan perilaku taqwa.
  2. Dalam Qs. 42:13 dan al Hadits yang menjelaskannya, diperoleh makna bahwa Ulama adalah yang memahami Ilmu Syariat Dinullah.
  3. Dalam Qs.9: 128, al Ulama memiliki kepekaan, kepedulian terhadap penderitaan ummat serta mampu memberikan solusi yang tepat atas dasar sunnah.
  4. Dalam Qs. 24 : 37, al ulama adalah lelaki yang mengutakan zikrullah (mendakwahkan Islam) diatas urusan bisnis dan pekerjaan pribadi demi mendapatkan keridhoanNya.
  5. Dalam Qs. 2 : 207-208, al ulama bercirikan pribadi-pribadi tangguh yang telah melakukan transaksi kepada Allah atas dirinya secara lahir-bathin serta hartanya. Kemudian berupaya untuk mengamalkan Dinul Islam secara kaffah dengan mengajak para ulama sedunia membangun kesepakatan dan kerjasama menuju hal itu. Ia bukanlah orang yang menjual Islam untuk kepentingan pribadi berupa materi, pujian, dan kedudukan.

Adapun manusia yang hanya faham dan ahli mengenai ilmu eksakta (alam) tapi jahil mengenai al Quran, maka bukanlah termasuk al ulama. Bisa jadi ia hanyalah ilmuwan, cendikia atau intelektual dari golongan orang-orang kafir atau penganut sekularisme (munafiq), dan dari golongan moderat (muqtasidah) yang selalu mengambil jalan yang aman. Para penganut faham moderat ini, umumnya orang yang memiliki kedudukan di tengah masyarakat umum (kafir dan mukmin) sehingga takut menanggung resiko ujian dan hilang kedudukan apabila menyatakan dirinya muslim yang kaffah. Sebaliknya seorang ulama memahami ilmu ˜alam, eksakta (ilmuwan) sekaligus faham ilmu syariat dinullah, atau salah satunya saja, beraqidah lurus dan beramal sholih.

Maka, titik temu antara Ilmuwan dengan al Ulama berpangkal pada masalah aqidah yang benar sebagai syarat pokok keulamaan. Ulama dan Ilmuwan satu kesatuan, dan ulama jelas bukan orang bodoh yang tidak faham urusan duniawiyah. Ilmu yang mereka miliki hanyalah sebagai jalan untuk mengenal Allah dan mendapat ridhoNya, bukan ilmu pengetahuan sebagai tujuan akhir hidupnya. Kemudian dengan ilmunya ia mengajak manusia bertauhid kepada Allah subhanahuwata’ala bukan dengan ilmunya menyesatkan dirinya dan ummat, naudzubillah min dzalik.

Dzikir Alam Semesta dan Sains Islam

Al-Qur’an bukanlah kitab sains, akan tetapi ia satu-satunya kitab suci yang kaya dengan konsep-konsep seminal saintifik. Kekayaan inilah yang mengilhami ilmuan-ilmuan muslim dahulu mengembangkan karya-karya sainsnya. Bahkan rata-rata, ulama’ dahulu tidak hanya mengkaji ilmu-ilmu keislaman akan tetapi juga mempelajari sains, atau setidaknya mengenalnya – sesuatu yang jarang kita temui di era kontemporer sekarang. Orang pun belum banyak mengenal, bahwa al-Ghazali memiliki teori kedokteran atau al-Razi yang menulis berjilid-jilid buku kimia dan matematika.

Semua hal itu dibimbing oleh ayat-ayat saintifik dalam al-Qur’an. Al-Qur’an hanya menyediakan konsep-konsep seminal, manusialah yang harus mengeksplorasi – agar bermanfaat bagi kehidupan. Karena pada dasarnya alam dan lingkungan diciptakan untuk membantu manusia menjalankan tugasnya sebagai Khalifah di bumi.

Al-Qur’an telah menurukan petunjuk, bahwa alam dan lingkungannya hendaknya dapat dipikirkan secara mendalam. “Katakanlah, Perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul-Nya yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (QS. Yunus: 101).

Salah satu fenomena alam yang diungkap oleh al-Qur’an adalah bahwa alam semesta ini selalu bertasbih kepada Allah Zat Pencipta. Satu hal yang cukup membuat kita takjub dan perlu bertafakkur serta juga bertasbih adalah, ternyata seluruh alam semesta beserta isinya ini bertasbih secara kontinyu kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:
Apa yang ada di langit dan bumi membaca tasbih. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Hasyr: 24).
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi” (QS. Al-Jumu’ah:1).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa alam semesta tidak berhenti berdzikir, hingga hari kiamat, seperti QS. Al-Anbiya’: 79 al-Nur: 41, al-Hajj: 18 dan QS.al-Ra’d:13.

Sebagai manusia awam, kita tidak mengetahi secara jelas bagaiman alam semesta itu membaca tasbih.Bertasbih adalah membaca dzikir tertentu yang mensucikan Allah SWT dari hal-hal yang tidak pantas bagi-Nya. Bacaan tasbih berfungsi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kalimat tasbih juga mengandung pengertian hanya Allah saja yang patut dipuji dan disucikan Dzat-Nya. Dalam konteks ini, tasbih adalah media untuk mentauhidkan-Nya.

Jadi, membaca tasbih berfungsi ganda yang saling berkait : fungsi Tauhidiy dan fungsi Taqarrub. Hal ini mengandung pengertian, pendekatan diri kepada Allah mesti akan mencapai pada level keimanan. Dengan kata lain, jika kita mendekatkan diri kepada-Nya akan tetapi level keimanan kita justru jatuh, maka ada problem dengan cara kita mendekat kepada-Nya.

Tugas Saintis Muslim

Tasbih dalam kaitannya dengan alam, baik langit, bumi dan seisinya sudah tentu menuntut untuk dipahami menurut cara pandang khusus. Manusia tidak mudah membuka rahasia itu, akan tetapi substansi dan kontinuitas tasbih alam setidaknya dapat ditangkap secara riil dan konkrit. Bagimanakah makrokosmos itu bertasbih? Para ilmuan memiliki beragam tafsir yang saling melengkapi. Pergerakan gunung, gelombang laut atau metamorphosis binatang ada yang menafsirkan mereka bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Ada pula penelitian, asal muasal sinar kosmis oleh NASA.

Penemuan spektakuler adalah terdapat sinar radiasi dari Ka’bah –sebagai pusat. Radiasi dari Ka’bah itu bahkan terusannya dapat ditemukan di planet Mars, panjang sinar itu tak berujung entah kemana. Ada yang menduga, sinar itu hingga ke langit bumi tepatnya di Baitul Izzah. Wallahu a’lam. Yang menarik sinar radiasi dari Ka’bah tersebut member efek kepada penduduk sekitarnya. Menurut penelitian, penduduk Makkah lebih sehat dan rata-rata umurnya lebih panjang dari manusia umumnya. Apakah keajaiban sinar tersebut menjadi penyebab kelak Dajjal tidak bisa melihat kota Makkah sehingga tak mampu dimasuki? Hanya Allah yang tahu.

Pelajaran yang bisa kita serap adalah, pergerakan alam tersebut sesungguhnya untuk kebaikan manusia. Dzikir mereka kepada Allah tidak semata-mata untuk beribadah, karena mereka tidak memiliki kewajiban beribadah. Akan tetapi dzikir itu sebenarnya agar manusia bisa menangkap keagungan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, perusakan alam, berarti sama saja menghentikan mereka untuk berdzikir – yang artinya, manusia tidak mau ‘mendengarkan’ tasbih dan sujud mereka untuk mengingat-Nya.

Selain itu, makna yang semestinya bisa ditangkap manusia adalah, ada perintah untuk meneliti rahasia alam. Maka tugas ilmuan muslim adalah mengembangkan konsep-konsep seminal dalam al-Qur’an untuk diterapkan menjadi sebuah sains terapan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan keimanan kaum muslimin.

Tujuan sains Islam bukanlah pragmatism sebagaimana sains sekular.
Sains Islam diemplementaiskan dengan 3 fungsi utama :
Pertama, menambah keimanan kepada-Nya, taqarrub kepada-Nya dan memudahkan manusia menjalankan kehidupan. Jika ada sains yang justru menjauhkan pada Allah, maka itu sesungguhnya bukanlah sains, tapi ‘rekayasa’ manusia sekuler. Tinga fungsi utama inilah yang diterapkan para ulama terdahulu untuk menciptakan peradaban Islam.

Sangat banyak tata cara alam semesta bertasbih dan berdzikir. Untuk itu, saintis muslim wajib mengesplorasi agar ada penemuan-penemuan sepektakuler yang menambah keimanan kita kepada Allah. Anak didik perlu diajar adab terhadap alam sehingga lahirlah kelak al-Ghazali dan al-Razi baru di era kontemporer yang siap menyambut peradaban Islam yang bermartabat

  1. Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. ( QS. Al Israa’ 17:44 )
  2. Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al Jumuah 62:1 )
  3. Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( QS. At Taghaabun 64:1 )
  4. Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.( QS. Al A’raf 7:206 )
  5. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya. ( QS. Ar Ra’d 13:13 )
  1. Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. ( QS. Az-Zumar 39:75 )
  2. (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, ( QS. Al Mu’min 40:7 )
  3. Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya [1044], dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. ( QS. An Nuur 24:41 ) [1044] Masing-masing makhluk mengetahui cara shalat dan tasbih kepada Allah dengan ilham dari Allah.
  1. maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya. (QS. Al Anbiyaa’ 21:79 )
  2. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuk- nya,( QS. Saba’ 34:10 )
  3. Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, ( QS. Shaad 38:18 )
  4. Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. ( QS. Ath-Thuur 52:48 )
  1. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar. ( QS. Al Waaqi’ah 56:74 )
  2. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.( QS. Al Waaqi’ah 56:96 )
  3. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar. ( QS. Al Haaqqah 69:52 )
  4. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( QS. Al Hasyr 59:24 )
  5. Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?” ( QS. Al Qalam 68:28 )
  6. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),( QS. Al Hijr 15:98 )
Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. ( QS. As Sajdah 32:15 )

Al-Quran dan Alam Raya

Seperti dikemukakan di atas bahwa Al-Quran berbicara tentang alam dan fenomenanya. Paling sedikit ada tiga hal yang dapat dikemukakan menyangkut hal tersebut:

(1) Al-Quran memerintahkan atau menganjurkan kepada manusia untuk memperhatikan dan mempelajari alam raya dalam rangka memperoleh manfaat dan kemudahan-kemudahan bagi kehidupannya, serta untuk –mengantarkannya kepada kesadaran akan Keesaan dan Kemahakuasaan Allah SWT.Dari perintah ini tersirat pengertian bahwa manusia memiliki potensi untuk mengetahui dan memanfaatkan hukum-hukum yang mengatur fenomena alam tersebut. Namun, pengetahuan dan pemanfaatan ini bukan merupakan tujuan puncak (ultimate goal).

(2) Alam dan segala isinya beserta hukum-hukum yang mengaturnya, diciptakan, dimiliki, dan di bawah kekuasaan Allah SWT serta diatur dengan sangat teliti.

Alam raya tidak dapat melepaskan diri dari ketetapan-ketetapan tersebut –kecuali jika dikehendaki oleh Tuhan. Dari sini tersirat bahwa:

(a) Alam raya atau elemen-elemennya tidak boleh disembah, dipertuhankan atau dikultuskan.(b) Manusia dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tentang adanya ketetapan-ketetapan yang bersifat umum dan mengikat bagi alam raya dan fenomenanya (hukum-hukum alam).

(3) Redaksi ayat-ayat kawniyyah bersifat ringkas, teliti lagi padat, sehingga pemahaman atau penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut dapat menjadi sangat bervariasi, sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan masing-masing penafsir.

Dalam kaitan dengan butir ketiga di atas, perlu digarisbawahi beberapa prinsip dasar yang dapat, atau bahkan seharusnya, diperhatikan dalam usaha memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang mengambil corak ilmiah. Prinsip-prinsip dasar tersebut adalah

(1) Setiap Muslim, bahkan setiap orang, berkewajiban untuk mempelajari dan memahami Kitab Suci yang dipercayainya, walaupun hal ini bukan berarti bahwa setiap orang bebas untuk menafsirkan atau menyebarluaskan pendapat-pendapatnya tanpa memenuhi seperangkat syarat-syarat tertentu.(2) Al-Quran diturunkan bukan hanya khusus ditujukan untuk orang-orang Arab ummiyyin yang hidup pada masa Rasul saw. dan tidak pula hanya untuk masyarakat abad ke-20, tetapi untuk seluruh manusia hingga akhir zaman. Mereka semua diajak berdialog oleh Al-Quran serta dituntut menggunakan akalnya dalam rangka memahami petunjuk-petunjuk-Nya. Dan kalau disadari bahwa akal manusia dan hasil penalarannya dapat berbeda-beda akibat latar belakang pendidikan, kebudayaan, pengalaman, kondisi sosial, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), maka adalah wajar apabila pemahaman atau penafsiran seseorang dengan yang lainnya, baik dalam satu generasi atau tidak, berbeda-beda pula.

(3) Berpikir secara kontemporer sesuai dengan perkembangan zaman dan iptek dalam kaitannya dengan pemahaman Al-Quran tidak berarti menafsirkan Al-Quran secara spekulatif atau terlepas dari kaidah-kaidah penafsiran yang telah disepakati oleh para ahli yang memiliki otoritas dalam bidang ini.

(4) Salah satu sebab pokok kekeliruan dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran adalah keterbatasan pengetahuan seseorang menyangkut subjek bahasan ayat-ayat Al-Quran. Seorang mufasir mungkin sekali terjerumus kedalam kesalahan apabila ia menafsirkan ayat-ayat kawniyyah tanpa memiliki pengetahuan yang memadai tentang astronomi, demikian pula dengan pokok-pokok bahasan ayat yang lain.

Dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pokok di atas, ulama-ulama tafsir memperingatkan perlunya para mufasir –khususnya dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan penafsiran ilmiah– untuk menyadari sepenuhnya sifat penemuan-penemuan ilmiah, serta memperhatikan secara khusus bahasa dan konteks ayat-ayat Al-Quran.

Pesan Al-Quran bagi  Ulama

Dalam Al-Quran terdapat lebih dari 750 hingga 1108  ayat membahas berbagai fenomena alam  Sehingga termasuk kepentingan yang mendasar untuk menyingkap ayat-ayat keilmuan tersebut, dan bagaimana kita bisa memanfaatkannya.   Mengenai hal di atas terdapat pandangan berbeda di kalangan ulama..


…. dan telah Kami wahukan Kitab (Al-Quran) kepadamu untuk menerangkan segala-sesuatu dengan jelas …. (16:89)

Hadis Rasul :
 Rasulullah berkata, ” Akan terjadi kejahatan-kejahatan “. Beliau ditanya, ” Apa yang menyelamatkan kita darinya ?” Beliau menjawab, ” Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita-berita tentang apa yang terjadi sebelum kalian dan yang terjadi setelah kalian “

Ayat-ayat  sains  melibatkan sebuah pesan penting bagi para ilmuwan Muslim.

1. Dianjurkan untuk mengkaji seluruh aspek alam dan menemukan misteri-misteri penciptaan.

” Dan pada penciptaan kalian dan pada binatang0binatang melata itu terdapat ayat-ayat bagi kaum yang meyakininya (45 :5)

Tetapi mengkaji ayat-ayat keilmuan dalam Al-Quran harus mendorong kaum Muslim untuk mengejar sains dan tidak hanya terpaku pada petunjuk-petunjuk yang ada.

2. Ayat-ayat itu menegaskan bahwa segala sesuatu di dunia itu teratur dan bertujuan. Dan tidak ada cacat.

“… Dan Dia ciptakan segala sesuatu, kemudian Dia mengaturnya dengan sangat tepat.”(25:2)

3. Al-Quran menyuruh kita mengenali hukum-hukum alam ( pola-pola Allah di alam semesta) dan mengeksploitasinya untuk kesejahteraan manusia denga tidak melampaui batas-batas syariah.

” …. Allah telah meninggikan langit dan menyeimbangkannya. janganlah kalian menyalahi keseimbangan (55:5-8)

Eksploitas material harus menggiring kita pada kemajuan spiritual dan bukan menghancurkannya.

4. Sains adalah perwujudan berbeda dari satu dunia yang diciptakan dan yang dikelola oleh satu Tuhan. Karena itu kombinasi ilmu-ilmu tersebut harus menggiring kita kepada gambaran tunggal dunia.

5. Al-Quran dan hubungannya dengan sains, adalah keunikan pandangan dunia dan epistemologinya. Kebanyakan kesalahan yang terjadi pada perkembangan sains memiliki akar pada pandangan materialistik yang menyertai sains modern. Al-Quran memperingatkan kita pada perangkap-perangkap ini dan memberitahukan rintangan-rintangan terhadap pengetahuan alam yang benar kepada kita.

Ringkasnya, Pelajaran penting dari ayat-ayat keilmuan Al-Quran :

1. Priorotas harus diberikan pada manusia pada penemuan alam dengan menggunakan indera dan akal

2. Al-Quran memberi kita pandangan-dunia (world-view) yang benar.

 

 

Sisi-Sisi al-Quran yang Terlupakan

 Ayat-Ayat Semesta


AL QUR’AN DAN ASTRONOMI
Banyak fakta, seperti penciptaan alam semesta dari ketiadaan, mengembangnya alam semesta, serta garis-garis edar planet di jagat raya, yang hanya mampu diketahui melalui astronomi modern, telah diberitakan dalam Al Qur’an sekitar 1400 tahun lalu.
AL QUR’AN DAN FISIKA
Tahukah Anda bahwa unsur besi pada awalnya terbentuk di bintang-bintang di luar angkasa, bahwa materi diciptakan berpasang-pasangan, dan bahwa waktu adalah suatu konsep yang relatif? Al Qur’an telah mengisyaratkan tentang semua fakta ilmiah ini.
AL QUR’AN DAN PLANET BUMI
Banyak fakta ilmiah, dari lapisan-lapisan atmosfir hingga fungsi geologis gunung, dari proses pembentukan hujan hingga struktur dunia bawah laut, dijelaskan dalam ayat-ayat Al Qur’an.
AL QUR’AN DAN BIOLOGI
Al Qur’an memaparkan perkembangan embrio manusia dalam rahim ibu melalui penjelasan yang benar-benar sesuai dengan penemuan embriologi modern.
INFORMASI MENGENAI PERISTIWA MASA DEPAN DALAM AL QUR’AN
Allah mengisahkan dalam Al Qur’an tentang sejumlah peristiwa penting yang akan terjadi di masa depan, dan berbagai peristiwa ini terjadi persis sebagaimana kisah tersebut.
PENGETAHUAN AL QUR’AN
Untuk meningkatkan pengetahuan Anda tentang Al Qur’an, Anda dapat mengunjungi, “Pengetahuan Al Qur’an” dan “Indeks Al Qur’an”. Pada bagian ini, ayat-ayat Al Qur’an dikelompokkan menurut pokok bahasannya.


Umat Islam, mulai dari kalangan skripturalis-fundamentalis sampai kontekstualis-liberal hingga kini masih satu pandangan dan keyakinan bahwa al-Quran merupakan kitab utama yang berkedudukan tertinggi. Diturunkannya al-Quran ke muka bumi diimani sebagai panduan umat manusia (huda al-linnas) dalam menjalani kehidupan di dunia. Karena itu pula al-Quran dipercaya sebagai sumber nilai obyektif, universal dan abadi.

Ajaran al-Quran mencakup seluruh aspek kehidupan (as-Syumul). Juga mencakup seluruh ruang lingkup kehidupan, ulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, Negara dan bahkan global (internasional).

Namun demikian, pengetahuan umat Islam tentang al-Quran tidak jarang dipahami sangat dangkal dan sempit. Universalitas al-Quran kemudian direduksi hanya menyangkut persoalan fikih, tasawuf dan politik (siyasah) saja. Umat Islam justru banyak mengabaikan pesan-pesan al-Quran yang berkaitan dengan persoalan-persoalan metafisik (kealaman). Ada kesan bahwa persoalan-persoalan kealaman bukan bagian dari persoalan ukhrawi.

Bahkan khusus untuk membincangkan “kebangkitan Islam”, tidak dapat dipungkiri bahwa fokusnya selalu dibelokkan ke ranah politik praktis-ideologis. Seakan-akan hanya dengan pendirian “negara khilafah”, kejayaan Islam dapat dibangkitkan kembali. Sedangkan aspek lain, utamanya aspek pengembangan ilmu pengetahuan, hanya menjadi suplemen (tambahan) bila impian tentang negara khilafah telah dapat diwujudkan, seolh pengembangan ilmu pengetahuan masih bukan persoalan yang mendesak bagi dunia Islam.

Memperhatikan pereduksian al-Quran dan Islam sedemikian sempit, syi’ahberupaya keras untuk menjebol kesempitan tersebut. Dengan kepakaran dalam fisika teori, dia berusaha melihat keunggulan Islam dari sisi yang lain. Kesadarannya sebagai seorang saintifik muslim,  yakin bahwa kebangkitan Islam saat ini hanya dapat diwujudkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Membeber bukti tentang luluh lantaknya Afghanistan dan Irak yang justru oleh produk sains Negara-negara Barat, khususnya AS dan Inggris. Di sisi lain, negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia umumnya memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Tapi kelimpahruahan tersebut tidak kemudian berarti kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Sebabnya satu: umat Islam tidak menguasai ilmu pengetahuan baik teoritis maupun praktis

Dengan melandaskan pada tafsir al-Jawahir karya Guru Besar Universitas Kairo, Syaikh Jauhari Thanthawi, Agus Purwanto bermaksud menggedor kesadaran umat Islam – utamanya kalangan akademisi – bahwa sesungguhnya ada 750 ayat kauniyyah dalam al-Quran yang terselip di antara 6236 ayat.

Sedangkan ayat-ayat fikih tidak lebih dari 150 ayat saja. Tapi anehnya, mengapa para ulama lebih banyak menghabiskan energinya untuk membahas persoalan fikih – yang justru sering memicu perseteruan dan konflik antar umat Islam – daripada membahas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan dan kelap-kelipnya bintang, gerak awan di langit, kilat dan petir yang menyambar, malam yang gelap gulita dan fenomena keajaiban alam lainnya.

mengingatkan bahwa fungsi al-Quran juga berlaku bagi konstruksi ilmu pengetahuan dengan memberi petunjuk tentang prinsip-prinsip sains yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Dengan kata lain, wahyu (dan sunnah) dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi bangunan ilmu pengetahuan

patut menjadi bacaan bagi siapa saja yang ingin mengetahui pertemuan antara alam logika bebas dan alam wahyu ilahiah, dilihat dari sisi fisika. Ajakan terhadap kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan Ilahi.

Ayat-ayat Semesta yang merana

Jika fenomena pergantian siang dan malam, terbit tenggelamnya matahari dan bintang-bintang, dan sabit purnamanya bulan di serangkaian malam adalah sesuatu yang biasa bagi kita, maka tidak demikian halnya bagi para ilmuwan sejati. Seperti lelaki ini.

menggebrak dan mendobrak dunia ilmu (sains) yang terkungkung Barat kini. Ia telah melihat ketimpangan itu: bahwa sains telah dijauhkan sedemikian rupa dari Tuhan, Sang Kreator Tunggal. Dan ia segera berpaling kepada kitab suci (Al-Quran) seraya menemukan keterkejutan, bahwa kitab yang dipandang sebagian (besar) orang adalah kitab agama (fikih) itu memuat lebih dari seperlimanya ayat-ayat yang berbicara tentang sains. Ayat-ayat tentang Semesta. Dan ayat tentang hukum (agama) hanyalah 150 ayat saja!

Namun sayang seribu sayang, ayat-ayat semesta dalam Al-Qur’an dalam arti ayat-ayat kauniyah, adalah ayat-ayat yang merana, karena diabaikan umat Islam dan praktis tidak pernah dibahas di dalam pengajian-pengajian atau seminar-seminar Islam. Di samping itu, fakta bahwa ilmuwan yang terkemuka di bidang sains saat ini sebagian besar datang dari Barat membuatnya sebagai seorang muslim tertantang. Jadilah ia seorang yang gandrung pada alam semesta, disamping sastra, sejarah, dan filsafat.

tak kurang dari 800 ayat Al-Qur’an mengandung petunjuk ke arah sains. Ini lebih banyak dibandingkan hitungan Syekh Jauhari Tanthawi, guru besar Universitas Kairo, Mesir, dalam bukunya: Al-Jawahir, yang menyebut adanya 750 ayat semesta di dalam Al-Qur’an – fakta yang dirujuk dan disitirnya selama 15 tahun, yang tentu membuatnya malu, lantas berusaha
menghitung sendiri.

Bukan seperti buku teks teori nan rumit, tetapi sudah diubahnya menjadi cerita yang mengalir, bisa diikuti dan dimengerti (tetapi bukan mudah lho!) sehingga bahkan membuat kita seperti enggan meletakkannya kecuali sudah sampai halaman terakhir.

Ia bicarakan banyak hal. Fenomena siang malam, garis edar, berpasang-pasangan, Tuhan yang supersibuk, ketidakkekalan materi, menghunjam ke bumi, menembus langit, Isra’ Mi’raj, teleportasi, hingga bahasa makhluk (lain) sebagaimana dimengerti Nabi Sulaiman as. Semuanya berangkat dari ayat di dalam Al-Qur’an. Semuanya bermuara pada satu hal: bahwa sungguh Allah telah meletakkan dasar-dasar sains di dalam kitab-Nya yang telah diturunkan-Nya 14 abad silam! Berharap sederhana: masyarakat muslim berbondong-bondong mempelajari, mengembangkan, menguasai sains eksakta sebagai bagian dari tugas kekhalifahan manusia di atas bumi. Yang kini banyak diambil orang Barat

Bagi mereka yang ingin lebih serius mempelajari dan membangun sains islam, saya  menganjurkan memahami dulu tiga hal: (1) sejarah (tradisi) Islam awal (Rasul saw. dan para sahabat) (2). bahasa Arab (nahwu-sharaf) dan (3). sejarah pemikiran/filsafat.

Renungan Alam Semesta

 Ayat-Ayat Semesta; Sisi – Sisi Al Quran Yang Terlupakan

Al Quran merupakan pedoman umat Islam dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Tapi kita sering kali melupakan sisi – sisi Al Quran yang menarik untuk dibahas. Padahal, ada banyak hal yan dapat dikaji lebih mendalam dari kalam Allah SWT terutama dalam menunjang sains. Ironisnya, tidak banyak masyarakat muslim yang dapat memahaminya, bahkan ada pula yang belum mengetahuinya.

Hal ini dikarenakan adanya tradisi masyarakat Indonesia sendiri yang cenderung kesufi-sufian. Akibatnya, Sains Islam tak kunjung berkembang, karena masyarakat (umat Islam) sebagai mayoritas bangsa ini juga di negeri –negeri Muslim umumnya masih terbelakang, bodoh dan miskin.

Padahal Dunia Islam, pernah mencapai masa keemasannya, di bidang sains, teknoligi, filsafat sekitar abad ke-8 samapai ke-15. tapi kini, dunia Islam terutama sains islam mulai meredup.

mencoba mengangkat kembali dunia Islam terutama sains Islam, dengan mengkaji ayat-ayat kauniyah yang berada dalam Al Quran. Ayat-ayat Kauniyah sendiri merupakan ayat – ayat Al Quran yang membahas tentang alam semesta.

Dari sekitar 1.108 ayat – ayat kauniyah. Dan setelah di kaji ulang hanya ada 800 ayat – ayat Kauniyah yang mengandung informasi dinamis. Selain itu juga, penulis mengajak pembaca untuk dapat membangun dunia Islam terutama sains Islam dengan cara memotivasi ilmuwam muslim khususnya untuk mendukung riset dengan ayat – ayat kauniyah.

Tak hanya mengulas tentang ayat-ayat kauniyah saja,  juga mengulas fenomena-fenomena alam yang disedernakan ke dalam konsep fisika, misalnya fisika kuantum, terori relativitas dan hal yang sederhana mungkin.

Fenomena yang di ungkap misalnya peristiwa Isra’ mi’raj yang pernah dialami Rasulullah SAW. Peristiwa Isra’ Mi’raj tidak bisa dijelaskan dengan metode fisika klasik ataupun teori relativitas. Peristiwa Isra’ Mi’raj sebenarnya merupakan peristiwa teleportasi kuantum, sehingga untuk sampai ke sidratul muntaha tidak dapat ditempuh dengan kecepatan cahaya sekalipun.

Selain itu pula, peristiwa pergantian siang dan malam pun turut dijelaskan oleh penulis. Walaupun sudah banyak diketahui orang bahwa pergantian siang dan malam terjadi karena bumi berputar pada porosnya. Dan peristiwa terjadinya malam terjadi lantaran bumi bagian yang bersangkutan membelakangi matahari sehingga tidak mendapatkan sinar matahari. Sementara itu, bagian bumi yang lainnya menghadap dan mendapat sinar matahari, sehhingga di belahan bumi tersebut mengalami peristiwa terang ataupun siang.

juga menambahkan peristiwa pergantian siang dan malam juga dikarenakan jarak bumi yang ideal terhadap matahari, sehingga intensitas matahari ke bumi pun ideal. Sehingga kehidupan di bumi pun dapat berlangsung, berbeda dengan kehidupan di planet yang lainnya, yang memiliki jarak yang berbeda.

Walaupun ada beberapa ayat-ayat kauniyah yang belum dibahas secara mendetail. Akan tetapi penuturan yang disampaikanseakan mengajak pembacanya untuk turut berdialog serta merenungkan segala fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Selain itu, yang dirancang sebagai salah satu media untuk memotivasi ilmuwan muslim khususnya, buku ini juga bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif pilihan untuk masyarakat umum guna menunjang pengetahuan tentang Dunia Islam dan sains.

juga disajikan dengan kalimat yang lugas dan mudah dipahami. Yang dilengkapi juga dengan penjelasan secara ilmiah terutama fisika serta juga judul yang menggelitik untuk dibaca. Salah satu kelebihan juga piawai mengarahkan para pembaca untuk dapat memahami teori-teori fisaka dengan mudah. Sehingga dapat menepis anggapan bahwa fisika sulit dimenegerti. Selain itujuga menyarankan bagi para pembaca yang berkeinginan untuk menjadi seorang ilmuwan dengan menempuh jalan sunyi, yakni jauh dari gemerlap duniawi.

mengajak kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan ilahi. Dia menunjukkan dengan sangat fasih bukan saja perhatian Al-Qur’an pada sains, tetapi juga perintah Allah Swt kepada umat Islam untuk mengembangkan sains dan teknologi. Yang terlibat dalam fisika sebagai misi sucinya, melakukan riset ilmiah adalah ibadah yang lebih utama daripada shalat tahajud.”

berimajinasi akan adanya sains matematika, astronomi, fisika kimia dan biologi yang sejak awal dibangun dari Kitab Suci Al-Qur’an Al-Karim. Karena itu, buku ini wajib dibaca oleh mereka yang memimpikan bangkitnya kembali peradaban Islam. Peradaban masa depan bertumpu pada sains, tanpa sains tidak ada masa depan.”

patut dibaca oleh siapa saja yang ingin mengetahui pertemuan antara alam logika bebas dan alam wahyu ilahiah, dilihat dari sisi fisika.”

menjelaskan mata rantai antara Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, dan ilmu pengetahuan sebagai olah pikir rasio manusia.”

“Sebuah karya penting yang mencoba menafsirkan ayat-ayat kauniyah Al-Qur’an dari perspektif sains modern. Patut dibaca semua kalangan.”

“Membaca Ayat-Ayat Semesta benar-benar mencerahkan. Kita bukan hanya dihadapkan dengan kesejajaran antara konsep-konsep teori dan fakta sains modern dengan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti yang dirintis oleh Maurice Bucaille yang melakukan interpretasi ilmiah Kitab Suci Al-Qur’an, tetapi menjadikan Kitab itu sebagai sumber hipotesis-hipotesis ilmiah yang bisa diuji secara eksperimen, langsung atau tak langsung seperti yang dilakukan oleh Ibnu Sina dan para ilmuwan Muslim pada zaman kejayaan peradaban Islam kurun pertama. Itulah sebabnya buku ini wajib dibaca dan dimiliki oleh para ilmuwan Muslim terutama pada kompilasi lebih dari 800 ayat yang berkaitan dengan alam semesta beserta indeksnya yang komprehensif sehingga memudahkan untuk mengambil inspirasi ilmiah yang cukup banyak.”

“Al-Qur’an berbicara banyak tentang alam semesta. Buku ini membantu para pembaca untuk mengetahui dengan mudah bagaimana pandangan Islam tentang alam semesta.”

semakin membuktikan bahwa Al-Qur’an, sebagai mukjizat, memberi porsi yang besar terhadap alam semesta dalam berbagai aspeknya, dan ‘penafsiran’ yang diberikan oleh penulis buku ini (yang memang ahli di bidangnya) semakin mempertegas kehebatan Al-Qur’an.”

melakukan rekonstruksi sains Islam dengan ontologi, aksiologi, dan epistemologi yang khas Islam melalui contoh-contoh lugas dan gamblang.”


Al Qur’an adalah firman Allah yang di dalamnya terkandung banyak sekali sisi keajaiban yang membuktikan fakta ini. Salah satunya adalah fakta bahwa sejumlah kebenaran ilmiah yang hanya mampu kita ungkap dengan teknologi abad ke-20 ternyata telah dinyatakan Al Qur’an sekitar 1400 tahun lalu. Tetapi, Al Qur’an tentu saja bukanlah kitab ilmu pengetahuan. Namun, dalam sejumlah ayatnya terdapat banyak fakta ilmiah yang dinyatakan secara sangat akurat dan benar yang baru dapat ditemukan dengan teknologi abad ke-20. Fakta-fakta ini belum dapat diketahui di masa Al Qur’an diwahyukan, dan ini semakin membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah.


Ammar bin Yasir kepalanya terlepas dari badan, Dibunuh Golongan Pendurhaka

 

 
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka membaiatnya di bawah pohon…(Al-Fath : 18).
.
Ayat ini menurut para mufasir berhubungan para sahabat Nabi yang memberikan baiatnya kepada Rasulullah. Salah satu dari mereka itu bernama Ammar Bin Yasir. Ia seorang putra dari Sumayyah yang dikenal sebagai syahidah pertama dalam Islam. Ammar berkulit sawo matang dan berperawakan tinggi. Kedua matanya hitam kebiru-biruan. Pundaknya bidang dan rambutnya lebat.
 
Ia masuk Islam ketika berada di Ka`bah tidak sengaja mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibacakan Muhammad SAW. Karena terasa berbeda dengan lantunan syair-syair Arab maka Ammar menelusurinya. Maka larangan untuk tidak mendekati Muhammad SAW tidak digubrisnya. Akhirnya Ammar pun sengaja datang ke Darul Arqam. Di depan rumah itu Ammar kepergok Suhaib Bin Sanan.
 
“Mau apa kau ke sini,” tanya Ammar mendahului. ”Aku mau menemui Muhammad dan ingin mendengarkan ajaran-ajarannya,” jawab Suhaib singkat. “Aku pun begitu,” ungkap Ammar. Dan setelah itu mereka masuk dan mendengarkan tausiyah Rasulullah hingga menjelang malam. Besoknya Ammar datang lagi dan masuk Islam. Ia menghafal ayat-ayat Al-Quran yang disampaikan Rasulullah SAW. Ia membacanya secara lunak. Hari berikutnya membaca secara keras dan makin keras hingga terdengar ke luar rumah.
 .
Ammar selain berjasa dalam membangun masjid pertama, Quba, juga ikut berjuang bersama Nabi dalam perang Badr, Uhud, Khaibar, Khandak dan peperangan lainnya. Ammar bersama orangtuanya, Sumayyah Binti Kahiyyat dan Yasir pernah disiksa oleh Abu Jahal Bin Hisyam ditengah-tengah padang pasir, ramdha. Saat tahu tentang itu, Rasulullah datang dan berkata, “hai keluarga Yasir, sabarlah! kalian dijanjikan pahala surga.”
 .
Bahkan mereka diancam akan dibunuh jika tidak meninggalkan agama Islam. Kedua orangtua Ammar, Yasir dan Sumayah, tetap berpegang teguh memegang Islam dengan berani berujar di hadapan para musyrikin, “kami yang sudah suci dengan Islam tidak mau mengotorinya lagi.”
.
Mendengar itu para musyrikin marah dan akhirnya membunuh keduanya dengan tombak. Atas tindakan itu, akhirnya Ammar tidak bisa apa-apa selain menuruti kaum musyrikin. Ia dihadapan para pemuka musyrikin melontarkan cacian dan makiannya kepada Rasulullah dan langsung menyatakan keluar dari agama Islam. Kejadian itu pun diketahui Nabi. Selang beberapa hari setelah kejadian itu turunlah ayat kepada Nabi, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap beriman (Dia tidak berdosa)” (QS An-nahl:106).
.
Berdasarkan ayat ini umat Islam pada waktu itu diizinkan untuk melakukan taqiyah dalam rangka menjaga keselamatan. Inilah yang dilakukan Ammar yang terpaksa mencaci maki Nabi dan menyatakan keluar dari Islam untuk penyelamatan jiwanya. Dan tindakan taqiyah yang dilakukan Ammar tadi dibenarkan oleh Nabi, “Kalau mereka kembali menyiksamu lagi, ucapkan cacianmu padaku; Allah akan mengampunimu dikarenakan kamu terpaksa melakukannya.”
.
Setelah Rasulullah SAW ke Madinah, kaum Muslimin tinggal bersama beliau bermukim di sana, secepatnya masyarakat Islam terbentuk dan menyempurnakan barisannya.Maka di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman ini, Ammar pun mendapatkan kedudukan yang tinggi. Rasulullah amat sayang kepadanya, dan beliau sering membanggakan keimanan dan ketakwaan Ammar kepada para shahabat.Rasulullah bersabda, “Diri Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang punggungnya!”
.
Dan sewaktu terjadi selisih paham antara Khalid bin Walid dengan Ammar, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memusuhi Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah. Dan siapa yang membenci Ammar, maka ia akan dibenci Allah!”Maka tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera mendatangi Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf
.Jika Rasulullah SAW telah menyatakan kesayangannya terhadap seorang Muslim demikian rupa, pastilah keimanan orang itu, kecintaan dan jasanya terhadap Islam, kebesaran jiwa dan ketulusan hati serta keluhuran budinya telah mencapai batas dan puncak kesempurnaan.

Demikian halnya Ammar, berkat nikmat dan petunjuk-Nya, Allah telah memberikan kepada Ammar ganjaran setimpal, dan menilai takaran kebaikannya secara penuh.

Hingga disebabkan tingkatan petunjuk dan keyakinan yang telah dicapainya, maka Rasulullah menyatakan kesucian imannya dan mengangkat dirinya sebagai contoh teladan bagi para sahabat.

Beliau bersabda, “Contoh dan ikutilah setelah kematianku nanti, Abu Bakar dan Umar. Dan ambillah pula hidayah yang dipakai Ammar untuk jadi bimbingan!”

Ketika Rasulullah dan kaum Muslimin membangun masjid di Madinah, beliau turut serta mengangkat batu dan melakukan pekerjaan yang paling sukar. Di tengah-tengah khalayak ramai yang sedang hilir mudik itu, terlihatlah Ammar bin Yasir sedang mengangkat batu besar.

Rasulullah juga melihat Ammar, dan langsung mendekatinya. Setelah berhampiran, maka beliau mengipaskan debu yang menutupi kepala Ammar dengan tangannya. kemudian bersabda di hadapan semua shahabatnya, “Malangnya Ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka!”

Kata-kata itu diulangi oleh Rasulullah sekali lagi… kebetulan bertepatan dengan ambruknya dinding di atas tempat Ammar bekerja, hingga sebagian kawannya menyangka bahwa ia tewas yang menyebabkan Rasulullah meratapi kematiannya itu.

Para sahabat terkejut dan menjadi ribut karenanya, tetapi dengan nada menenangkan dan penuh kepastian, Rasulullah menjelaskan, “Tidak, Ammar tidak apa-apa. Hanya nanti ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaka!”

Ammar mendengarkan ramalan itu dan meyakini kebenaran pandangan yang disingkapkan oleh Rasulullah. Tetapi ia tidak merasa gentar, karena semenjak menganut Islam ia telah dicalonkan untuk menghadapi maut dan mati syahid di setiap detik, baik siang maupun malam.

Ammar selalu terjun bersama Rasulullah dalam tiap perjuangan dan peperangan bersenjata, baik di Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk. Dan tatkala Rasulullah telah wafat, perjuangan Ammar tidaklah berhenti. Ia terus berjuang dan berjihad menegakkan agama Allah.

 
Ada hadits lain yang berkenaan dengan Ammar, yaitu dari Khalid Bin Walid yang berkata bahwa dirinya pernah bertengkar dengan Ammar. Lalu mengadukannya kepada Nabi. Saat itu Rasulullah SAW langsung berkata, “Hai Khalid, siapa yang memaki-maki Ammar Bin Yasir, Allah akan memaki-maki dia. Barang siapa yang memusuhinya, Allah akan menjadi musuh dia. Barangsiapa yang merendahkan Ammar, Allah pun akan merendahkan dia.” Inilah pujian yang menyatakan kedudukan Ammar Bin Yasir dihadapan Allah dan Rasul-Nya.
 
Selain tercatat sebagai muslim yang taat, Ammar juga termasuk orang berusaha mendamaikan pertengkaran antara Anshar dan Muhajirin saat peristiwa Saqifah, yang merebutkan kepemimpinan Islam pasca wafat Nabi. Orang-orang Anshar mengajukan Saad Bin Ubadah dan orang-orang muhajirin menunjuk Abu Bakar. Ammar ketika melihat perseturuan itu memberikan nasehat kepada kedua kelompok tersebut. Sebagai jalan keluarnya, Ammar mengadakan rapat yang disebut Majelis Syura. Konsep inilah bukti kontribusi gagasan/ide dari Ammar Bin Yasir pada Islam. Ammar juga pada masa khalifah Umar Bin Khattab diamanahi sebagai gubernur Kufah, Irak.
 
Bahkan pada masa khalifah Utsman Bin Affan, Ammar memberikan nasehat kepadanya. Terutama masalah pengangkatan pejabat-pajabat teras yang berasal dari keluarga Utsman. Atas tindakannya itu Ammar dianggap orang yang berusaha melakukan sabotase terhadap pemerintah. “Alhamdulillah, ternyata penegak kebenaran selalu dihinakan,” ucap Ammar ketika Hasyim Bin Walid Bin Mughira mengejeknya. Kemudian dalam buku Syarh Nahjul Balaghah dikabarkan tubuhnya dipukuli beberapa kaum musyrikin hingga pingsan. Dalam keadaan itulah sebagian kaum muslimin membawanya ke rumah Ummu Salamah, salah seorang istri Nabi. Ammar pingsan cukup lama hingga beberapa waktu tidak shalat—karena tidak sadar. Ketika sadar dari pingsan Ammar berkata, “Alhamdulillah bukan sekali ini aku disakiti, dahulu juga dianiaya ketika membela Rasulullah.”
 
 

Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Ammar berdiri di samping menantu Rasulullah tersebut. Bukan karena fanatik atau berpihak, tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji! Ali adalah khalifah kaum Muslimin, dan berhak menerima baiat sebagai pemimpin umat.

Ketika meletus Perang Shiffin yang mengerikan itu, Ammar ikut bersamanya. Padahal saat itu usianya telah mencapai 93 tahun. Orang-orang dari pihak Muawiyah mencoba sekuat daya untuk menghindari Ammar, agar pedang mereka tidak menyebabkan kematiannya hingga menjadi manusia “golongan pendurhaka”.

Tetapi keperwiraan Ammar yang berjuang seolah-olah ia satu pasukan tentara juga, menghilangkan pertimbangan dan akal sehat mereka. Maka sebagian dari anak buah Muawiyah mengintai-ngintai kesempatan untuk menewaskannya. Hingga setelah kesempatan itu terbuka, mereka pun membunuh Ammar.

Maka sekarang tahulah orang-orang siapa kiranya golongan pendurhaka itu, yaitu golongan yang membunuh Ammar, yang tidak lain dari pihak Muawiyah!

Jasad Ammar bin Yassir kemudian dipangku Khalifah Ali, dibawa sebuah ke tempat untuk dishalatkan bersama kaum Muslimin, lalu dimakamkan dengan pakaiannya.

Setelah itu, para sahabat kemudian berkumpul dan saling berbincang. Salah seorang berkata, “Apakah kau masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW dan tiba-tiba wajahnya berseri-seri lalu bersabda, “Surga telah merindukan Ammar?”

“Benar,” jawab yang lain. “Dan waktu itu juga disebutnya nama-nama lain, di antaranya Ali, Salman dan Bilal…” timpal seorang lagi.

Bila demikian halnya, maka surga benar-benar telah merindukan Ammar. Dan jika demikian, maka telah lama surga merindukannya, sedang kerinduannya tertangguhkan, menunggu Ammar menyelesaikan kewajiban dan memenuhi tanggungjawabnya. Dan tugas itu telah dilaksanakannya dan dipenuhinya dengan hati gembira.

Menurut sejarah Ammar Bin Yasir wafat dimasa khalifah Ali Bin Abi Thalib, yaitu pada usia 94 tahun, saat perang Siffin kepalanya terlepas dari badan. Ali Bin Abi Thalib kemudian menshalatkan dan menguburkannya di Riqqah, 300 km dari kota Damaskus, Suriyah.
 
Begitulah perjuangan seorang muslim di masa awal Islam. Meskipun penuh cobaan dari kaum musyrikin, tetapi kepatuhan dan ketangguhannya dalam memeluk Islam betul-betul sebuah teladan yang harus diikuti umat Islam.

Syi’ah Proklamirkan Perang Jihad Melawan ISIS ! Sambutlah Panggilan Husain…Mari berjumpa Tuhan, Syahid jadi harapan

PBB: Pembunuhan tentara Irak kejahatan perang

Perangi ISIS, Ulama Top Syiah Ingin Guncang Irak

Ulama terkemuka Syiah, Muqtada al-Sadr.

Pasukan khusus Irak terlibat pertempuran sengit dengan gerilyawan ISIS.

Warga Islam Syiah di Baghdad untuk dimobilisasi untuk menghadapi ISIS.

Tentara di Irak

Pasukan keamanan Irak mengadakan patroli di sejumlah tempat.

ISIS mengatakan mereka merencanakan serangan ke ibukota Baghdad. Kelompok yang memiliki kaitan dengan al-Qaida ini diperkirakan memiliki sekitar 3.000 sampai 5.000 pejuang.

Seorang gerilyawan anggota kelompok militan Sunni, ISIS, di Irak.

BAGHDAD -

“Kami akan mengguncang tanah di bawah kaki kebodohan dan ekstremisme”, katanya, mengacu pada pemberontak Sunni yang telah menguasai sebagian wilayah dalam dua minggu terakhir, dalam pidato televisi dari kota suci Syiah Najaf.

Dia menambahkan bahwa ia hanya mendukung “bentuk dukungan internasional dari negara-negara non-pendudukan tentara Irak”.

Ulama Syiah terkemuka, Moqtada al-Sadr menyerukan pendukungnya untuk mengguncang bumi Irak dengan perang melawan militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Al-Sadr juga menolak campur tangan militer Amerika Serikat.

Dalam pidatonya di televisi, al-Sadr menyatakan oposisi atau menentang penasihat militer Amerika Serikat yang bertemu dengan komandan pasukan Irak. Kehadiran sekitar 300 penasihat militer Amerika Serikat itu untuk memberikan pengarahan bagaimana memukul mundur para militan ISIS.

Sepak terjang ISIS sudah meluas di Irak. Mereka mengepung para pasukan Irak di beberapa kota, seperti Qaim, Rawa, Haditha dan Ramadi.

Komisaris hak asasi manusia PBB mengatakan pembunuhan berdarah dingin oleh kelompok militan Sunni di Irak utara hampir dipastikan sebagai kejahatan perang.

Navi Pillay mengatakan PBB memiliki bukti dari pengawas hak asasi manusia di Irak yang menunjukkan ratusan tentara yang ditahan dieksekusi.

“Bila ada yang membunuh orang dengan cara pembantaian massal seperti ini, tindakan itu harus dihentikan dan perlu dilakukan apa yang perlu untuk menghentikan melalui udara atau cara lain,” tambahnya.

Ulama Syiah paling senior di Irak Ali al-Sistani

Ulama Syiah paling senior di Irak Ali al-Sistani menyerukan kepada rakyat Irak untuk mengangkat senjata memerangi kelompok militan Sunni yang mengancam ibu kota Baghdad.

Ali al-Sistani menyampaikan seruan itu dalam khotbah Jumat (13/06) di Karbala. Di kota ini terdapat berbagai tempat suci umat Syiah.

“Dari sini Karbala, kami menyerukan kepada semua warga negara yang mampu mengangkat senjata dan memerangi teroris sebagai bentuk pembelaan terhadap negara mereka, rakyatnya, tempat-tempat suci, untuk menjadi relawan dan bergabung dengan pasukan keamanan guna menjalankan tugas suci ini,” kata Ali al-Sistani.

Pernyataan ini disampaikan bersamaan dengan munculnya sejumlah laporan bahwa terjadi pertempuran antara kelompok militan Sunni dan pejuang Syiah .

Kelompok militan yang tergabung di dalam ISIS itu menyatakan tekad untuk bergerak ke Baghdad dan bahkan menuju Karbala, tetapi beberapa kelompok pemberontak Sunni telah mengatakan mereka tidak berencana menyerang daerah yang mayoritas penduduknya umat Syiah.

Wiji Thukul PRD Masih Hidup dan Belum Mati

Penyair Wiji Thukul
.
Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul, juga berharap sang kakak masih hidup.Mantan pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD) bawah tanah, Andi Arief mengatakan, Goenawan Muhamad, Jaap Erkelens, Wahyu Susilo dan Daniel Indra Kusuma merupakan orang-orang yang diduga mengetahui keberadaan Widji Thukul
.
Menurut Andi, tulisan Goenawan Muhamad di Caping 2013, tulisan Linda Christanty “Wiji Thukul dan Orang Hilang”, pengakuan Wahyu Susilo dan Danial Indrakusuma yang mengatakan Thukul dalam keadaan aman pada tahun 2000, menjadi bukti mereka mengetahui keberadaan Thukul
.
“Jika dilihat dari kronologi yang terjadi, ada keterkaitan yang kuat mereka mengetahui keberadaan Widji Thukul. Goenawan Muhamad, Jaap Erkelens, Wahyu Susilo dan Daniel Indrakusuma perlu diajak bicara mengenai hal ini,” ujar Andi Arief, Minggu (29/6/2014).
.
.
.
.
.
.
.
.
,
,
Sejumlah sahabat Wiji Thukul di Solo masih yakin bahwa pencipta puisi Peringatan itu masih hidup. Menurut “eyang” Hartono, rekan Wiji Thukul di Teater Jagat, Thukul belum mati. Hartono yang dipercaya teman-temannya memiliki ilmu kebatinan tinggi sudah “menerawang” keberadaan Thukul.
.
“Ia tidak ada di dunia roh, artinya belum mati. Tapi ia juga tidak terdeteksi di alam sini, seperti berada di alam lain,” kata Hartono, 50 tahun, ketika ditemui di rumahnya di Desa Telukan, Grogol, Sukoharjo, pada Maret lalu.
.
Menurut Hartono, Thukul hanya hilang dan akan muncul kembali suatu saat nanti. “Saya punya kemampuan mencari barang hilang, bahkan bangkai yang sudah dimakan ikan sekali pun. Jika jasad Thukul tidak bisa saya temukan, berarti ia belum mati,” kata Hartono sambil meramalkan bahwa 30 tahun setelah menghilang, Thukul akan muncul kembali.
.

Andi Arief dan  Dyah Sujirah (Sipon), istri Widji Thukul, ternyata mempunyai keyakinan yang sama mengenai keadaan Thukul. Mereka berdua hingga kini meyakini Widji Thukul masih hidup dan sedang berada disuatu tempat.

Istri Wiji Thukul: Kalau Masih Hidup, Segera Muncul ke Publik

Penyataan aktivis 98, Andi Arief, tentang keberadaan penyair Wiji Thukul, mendapat berbagai tanggapan. Tak terkecuali pihak keluarga yang memberikan respons. Istri Thukul, Dyah Sujirah, berharap suaminya segera muncul di hadapan publik memberikan kesaksian sejujur-jujurnya apa yang dialami selama ini

.
“Beberapa kawan yang kembali (dari penahanan dan penculikan) juga mengatakan bahwa dia (Wiji Thukul) masih hidup. Feeling saya juga menyebutkan dia masih hidup. Sebagai tokoh SMID, Andi Arief tahu banyak dan mungkin baru sekarang dia bersedia bicara sebagai bagian dari tanggungjawabnya untuk menyampaikan kenyataannya,” kata Sipon saat ditemui di rumahnya di Kampung Kalangan, Jagalan, Jebres, Solo, Senin (30/6/2014)
.
“Lebih baik dia (Thukul) segera muncul ke publik untuk menyampaikan semua yang pernah dialaminya selama ini dengan segamblang-gamblangnya, dengan sejujur-jujurnya, tanpa perlu merasa tertekan apapun,” tambah Sipon yang kini menghidupi dirinya dari usaha menjahit dan jualan pakaian
.
Wiji Widodo atau yang kemudian akrab dengan nama seniman sebagai Wiji Thukul Wijaya atau Wiji Thukul adalah penyair asal Solo yang kemudian bergabung dengan Jaker (Jaringan Kesenian Rakyat), organisasi sayap Partai Rakyat Demokratik
.
Thukul menghilang dari berbagai aktivitas umum semenjak sejumlah tokoh partai tersebut dikejar-kejar aparat Orde Baru. Selanjutnya nama Wiji Thukul disebut-sebut sebagai salah satu korban penculikan aktivitis di masa Orde Baru
.
Belakangan Andi Arief menyebut Thukul masih hidup. Andi adalah mantan Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), organisasi kemahasiswaan pro PRD. Andi mengaku saat dikejar-kejar aparat, dia bersama Thukul dan beberapa kawan lainnya sempat berpindah-pindah tempat persembunyian.

.

Keyakinan yang sama muncul dari Sipon–panggilan akrab Dyah Sujirah, istri Wiji Thukul. Hingga kini, nama Wiji Widodo masih dicantumkan sebagai kepala keluarga di kartu keluarga Sipon. Dia tidak bersedia menyandang status janda apalagi menyatakan suaminya telah meninggal

.

“Suami saya hilang. Kalau dibilang mati, di mana jasadnya?” kata Sipon pada Maret lalu saat ditemui di rumahnya di Jagalan, Brebes, Solo

.
Wiji Thukul, aktivis buruh yang puisi-puisinya keras mengkritik orde baru dan penyemangat kala reformasi ’98 lalu masih belum diketahui jejaknya. Thukul pun masuk dalam daftar orang hilang yang diduga diculik pihak yang tak bertanggung jawab
.
Tapi di tengah misteriusnya nasib Wiji Thukul ada suara lain yang berkata soal nasib sang aktivis ini. Adalah Andi Arief mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang kini menjadi staf khusus Presiden SBY bidang bencana
.
Andi Arief yang bersahabat dan dekat dengan Wiji Thukul lewat organisasi PRD ini meyakini kalau Thukul masih hidup, tak seperti yang dikatakan orang soal penculikan dan pembunuhan.”Menurut saya Thukul masih hidup dan dia tidak ditangkap, tapi saya nggak tahu dia di mana,” kata Andi saat ditemui di Jakarta, Senin (30/6/2014) malam
.
Andi pun menyarankan agar menanyakan kemana Thukul ke Wahyu Susilo, adik Thukul atau ke Goenawan Muhammad yang disebutnya pernah memberi perlindungan pada Thukul.”Tapi saya yakin kasus ini akan terungkap, ini kan pelan-pelan sudah ada kemajuan sedikit-sedikit,” jelas Andi tanpa merinci kemajuan yang dimaksud
.
Dia mengisahkan soal pertemuan terakhirnya dengan Wiji Thukul pada 1998 lalu, usai dia keluar dari penjara Polda Metro Jaya. Andi mengaku dia ditangkap Kopassus hingga kemudian ditahan di Mabes Polri dan dipindahkan ke Polda Metro Jaya.
.
“Setelah dari Polda tahun ’98 saya ketemu dia di Alia Cikini. Saya kasih dia Rp 2 juta pas ketemu. Saya ngobrol-ngobrol biasa dengan Thukul, lupa lah itu sudah lama. Intinya saya ketemu dia 2 bulan setelah Juli ’98. Dia baik-baik saja ketemu saya,” jelas Andi.
.
Andi lalu bercerita, pertemuan itu dilakukan atas pertemuan Thukul. “Thukul yang kontak aku, dan saya memang setelah juli ’98 memang paling senang nongkrong di TIM. Setelah ketemu di TIM itu nggak pernah ketemu lagi. Dia bilangnya mau pergi saya nggak tahu,” urai Andi.
.
“Pada saat itu hingar bingarnya kan nggak ada yang bilang Thukul hilang dan saya ketemu Thukul berdasarkan permintaan Thukul,” tambahnya
.
Aktivis 98 Andi Arief yakin rekannya Wiji Thukul masih hidup dan tidak ditangkap. Alasan yang paling membuatnya yakin adalah pertemuannya dengan Thukul di TIM dan sejumlah testimoni lain.
.
Andi yang kini jadi staf khusus presiden mengatakan, pernah bertemu Thukul setelah keluar dari penjara Polda Metro Jaya tahun 1998 lalu. Mereka bertemu di Alia Cikini. Andi sempat memberi Thukul uang Rp 2 juta dan sempat mengobrol. Kondisi Thukul saat itu, baik-baik saja.
.
Setelah dua bulan selepas dari penjara, Andi juga sempat mengecek keberadaan Thukul pada adiknya. Lalu, dijawab baik-baik saja. “Jawabannya tukul aman. Itulah mengapa sampai tahun 2000 Thukul tidak dibicarakan sebagai orang hilang,” terang Andi dalam keterangan tertulis, Rabu (2/7/2014).
.
Andi menambahkan, Thukul bisa saja hilang dan sembunyi di tempat orang-orang yang pernah melindunginya selama Agustus 1996 sampai 1997. Petunjuk soal Thukul juga bisa didapat lewat testimoni sejumlah pihak.
.
Namun, dia menyayangkan sikap sejumlah pihak yang memperdagangkan isu hilangnya aktivis tahun 1997-1998 untuk kepentingan Pilpres 2014.
.
“Kader PRD tidak ada yang cengeng. Yang cengeng LSM dan NGO yang buat PRD seperti cengeng. Kemarin saya pada puncaknya kemuakan. Perjuangan kita sudah berat, kasarnya tidak dapat apa-apa, kekuasaan pun tidak, banyak yang hidup susah kawan-kawan saya. Lha kok seperti didagangkan lima tahunan,” terangnya
.

Indera Keenamku Melihat Wiji Thukul Masih Hidup

kenapa sunni mendiamkan pelaknatan terhadap Ahlulbait Nabi Saw di atas mimbar-mimbar yang dilakukan atas perintah Mu’awiyah dan para penguasa tiran Bani Umayyah ???

sejarah-dracula

Kaum Nawashib mengklaim bahwa Mu’awiyah tidak bisa disalahkan atas terbunuhnya Sahabat Nabi Ammar bin Yasir dan para rekannya!

Yazid tidak boleh dipersalahkan atas pembunuhan atas al Husain dan para sahabat setianya!

Dengan logika seperti itu mereka bermaksud menyucikan Fir’aun dari kejahatan membunuh dan membantai pengikut Nabi Musa as.

Sedangkan Al Qur’an berkata tentang Fir’aun:

يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي

(Dia membunuh anak-anak lelaki mereka -bani Israil- dan membiarkan hidup kaum wanita mereka).

Allah menetapkan bahwa tindakan membunuh itu adalah tindakan Fir’aun karena dialah penguasa, panglima dan yang emerintah pembantaian itu. Inilah kehama adilan Allah!

Kemaha-adilan Allah menetapkan bahwa tanggung jawab utama harus dipikul oleh para pemimpin (yang memerintahkan kejahatan) sebelum membebankannya kepada para pengikut… Tetapi kebiasaan kaum Nawashib adalah menjungkir balikkan permasalahan… 

Rahasia di balik sikap menyimpan mereka dengan ketentuan Allah adalah bahwa Allah tidak pernah akan takut kepada para pemimpin dan penguasa! Sedangkan kaum Nawashib sangat takut kepada para penguasa! Dari sini perbedaan itu muncul. Dan yang aneh bin ajaib adalah kaum Nawashib memberlakukan kaidah menyimpang ini setengah-setengah, mereka menyematkan kepada para pemimpin idola mereka jasa penaklukan negeri-negeri, pemberian santunan tanpa batas kepada para penyair yang memuji… Merekalah yang menaklukan negeri-negeri itu… Merekalah yang berbaik hati menyantuni para penyair itu… Bukan para prajurit yang berjuang di medan perang… Bukan rakyat (karena kenyataannya harta itu adalah harta umat Islam, bukan uang pribadi para penguasa dan emir_pen).

Kaum Nawashib menisbatkan kepada Allah kejahatan yang dilakukan para penguasa tiran... Mereka berkata: Allah-lah yang menetapkan taqdir semua urusan itu, maka hamba pasti tidak kuasa lari darinya! Dan kewajiban kita adalah diam dan pasrah (kepada taqdir Allah)…

Sementara itu mereka selalu mengingat-ingat dengan penuh kecaman pemenjaraan yang dialami oleh Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyah, mereka mengatakan bahwa para penguasa telah menzalimi mereka… Mereka bangkit murka demi mereka seakan mereka telah disembelih seperti yang dialami al Husain!!

Kaum Nawaashib mengecam siapapun yang mengkritik sebagian sahabat dan menuduhnya sebagai tindakan mencaci maki dan melaknat! Sementara mereka mendiamkan pelaknatan terhadap Ahlulbait Nabi Saw di atas mimbar-mimbar (yang dilakukan atas perintah Mu’awiyah dan para penguasa tiran Bani Umayyah_pen). Jadi pelaknatan terhadap Ahlulbait Nabi Saw di atas mimbar-mimbar masjid di seluruh negeri Islam sekan tidak terlihat oleh mereka! Seakan mereka tidak membaca buku-buku Sunnah/hadis seperti Shahih Bukhari hingga Sunan Ibnu Majah…

Sementara itu mencari-cari data di celah-celah lembaran sejarah seorang penduduk Kufah yang hidup di abad ketiga Hijrah yang mencerca Mu’awiyah…. Duhai andai aku tau apa jawaban mereka ketika kelak Mahkamah  Pengadilan Allah digelar ketika seluruh makhluk digiring untuk dihisab? Di mana ketika itu penuntutnya adalah Nabi Muhammad, para saksinya adalah penghuni langit dan Hakimnya adalah Allah Sang Maha Pencipta?

sejarah-dracula

Strategi Dan Makar Jahat Kaum Nawashib

Di antara setrategi kaum Nawashib dan makar jahat mereka adalah mereka bungkam seribu bahasa mendiamkan kejahatan kenashibian dan kaum Nawashib, sementara itu pada waktu yang sama mereka mencari-cari kesalahan pengikut kelompok lain, aliran dan pendapat mereka… Seakan kenashibian (sikap membenci keluarga Nabi Saw) itu tidak ada wujudnya di dunia nyata.

Mereka (kaum salafy -red) sesak napas ketika disebut dan dibongkar mazhab jahat ini (kenashibian) yang memimpin negeri-negeri kaum Muslimin selama sembilan dasawarsa! Dan telah mampu membangun generasi ideologis menyimpang yang eksis hingga hari ini walaupun dengan kualitas tertentu dan dengan nama-nama yang memukau tapi menipu!!

Mereka (salafiyun _red) hendak mengelabui umat Islam dengan mengatakan bahwa kaum Nawashib adalah Ahlusunnah… Kemudian mereka sangat sakit hati jika kaum Nawashib generasi pertama disebut-sebut, mereka (kaum Nawashib generasi belakangan) itu tidak suka jika disebut dan dibongkar kejahatan kaum Nawashib generasi pertama… Walaupun mereka telah melakukan kajahatan membantai dan melaknat atau merusak sendi-sendi agama dll.

Tetapi anehnya mereka tidak bersikap demikian dalam semua kasus, karena separuh akidah mereka adakah kecaman terhadap musuh-musuh kaum Nawashib yang sudah mati, baik mereka itu Syiah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij dll… Mengapakah mereka di sini melembek dan di sana meraung-raung?

Mereka menyibukkan kita dengen tuduhan bahwa kami hendak membongkar lembaran lama hanya demi masa lalu belaka.

Kaum Nawashib itu jika tidak kita adili dengan kebenaran mereka pasti akan menuduh kami dengan kebatilan. Kita harus serang terlebih dahulu dan kita sibukkan mereka dengan diri mereka sendiri, sebab jika kita tidak melakukannya mereka akan menyerang akal-akal dan hati-hati kita!!

Maka cara terafdhal dalam berhadapan dengan mereka adalah kita hadapi tuduhan palsu mereka dengan bukti kebenaran akan kajahatan mereka!! Jika mereka diam ya kami diam! (Allah tidak menyukai membongkar kejahatan dengan kata-kata kecuali orang yang dizalimi)

Latar belakang kemunafikan dan pola pikir bani Umayyah dalam memandang hina simbol-simbol kesucian sangat banyak, seperti:

  • Menanamkan perasaan tidak butuh kepada Nabi Saw agar beliau memintakan istighfar…
  • Kata-kata dan praktik yang kaku yang menyakitkan Nabi Saw, seperti berlambat-lambat dari memenuhi panggilan Nabi Saw dengan alasan masih belum selesai menyantap makanannya (merujuk kepada Muawiyah ketika dipanggil Nabi saw tidak bersegera menyambut panggilan beliau, akan tetapi beralasan masih makan _red)
  • Mencongkel dan menghancurkan kuburan Hamzah paman Nabi Saw dan memukul-mukulnya…
  • Upaya untuk merusak mimbar Nabi Saw di masjid beliau…
  • Menghancurkan Ka’bah sebanyak dua kali…
  • Dan juga melaknat Nabi Saw di atas mimbar-mimbar… Bukan hanya melaknati Ali saja, mereka melaknati Ali dan semua orang yang mencitai Ali… Dan para sahabat yang shaleh,…  seperti istri Nabi Ummul Mukminin Ummu Salamah dan Ibnu Abbas telah memahami maksud pelaknatan itu bahwa pada hakikatnya Rasulullah lah yang mereka incar!!!
  • Mereka lebih mengutamakan para Khalifah dari pada para Nabi dan Rasul as. Akidah itu mereka pekikkan dari atas mimbar-mimbar dan tidak mereka rahasiakan.

Imam Abu Daud telah meriwayatkan sebagian dari apa yang telah saya sebutkan di atas. Demikian juga dengan al Baladzuri dan ulama lain…

Marwan bin al Hakam melarang Abu Ayyub al Anshari meletakkan pipi beliau di atas tanah pusara Nabi Saw.. ISIS dan Pendahulu mereka lebih dekat kepada Marwan si fasik itu dan sangat jauh dari Abu Ayyub sang sahabat mulia itu!!

Ya, boleh jadi di kalangan lain ada yang bersikap berlebihan baik di sisi Ka’bah, makam Nabi Saw atau makam-makam Ahlulbait… Tetapi semua itu tidak membenarkan ISIS untuk menghancurkan Ka’bah dan membenci Nabi Saw dan Ahlulbait beliau!

kejahatan Mu’awiyah dan para penguasa bani Umayyah yang melestarikan kemunafikan dan kedengkian bani Umayyah kepada Allah dan Rasul-Nya… Data-data sejarah tak terbantahkan telah membuktikan semua kejahatan dan kemunafikan akidah dan kekafiran sikap mereka itu! Namun anehnya (walaupun tentu tidak aneh sebab sebagian kaum munafik adalah kekasih dan pembela kaum munafik lainnya) kaum Salafi Wahhabi akan berontak dengan emosi jahiliyah tak terkontrol jika ada yang berani membongkar bukti-bukti kemunafikan para penguasa bani Umayyah, utamanya Mu’awiyah, Yazid, Marwan dan juga Abu Sufyan dan al Hakam ayah Marwan yang terkutuk itu!!

Mereka akan segera menuduh siapapun yang menyentuh “kehormatan” Muawiyah, dituduh sebagai mencaci maki sahabat Nabi Saw. Dan karenanya ia berhak divonis sesat dan zindiq dan akhirnya darahnya  halal ditumpahkan… Inilah logika Salafi Wahhabi…

Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa Mu’awiyah telah melakukan perusakan dan penghancuran sendi-sendi agama Islam… Satu demi satu ajaran Islam ia lecehkan dengan terang-terangan dan seakan menantang umat Islam!

Kehormatan Nabi Mulia Muhammad saw. ia lecehkan…. Kesakralan ajarannya ia hinakan…  Kehormatan darah para pengikut setia Nabi saw. ia halalkan…

Dan yang lebih mengerikan dari kejahatan-kejahatan Mu’awiyah adalah ia jadikan Khalifah Ali dan Ahlulbait Nabi saw. sebagai alamat pelampiasan dendam kusumat jahiliyah dan balas dendamnya atas kekalahan kemusyrikan dan kekafiran para penyembah arca dan hawa nafsu! Imam Ali ra. ia laknati dan caci-maki di atas mimbar dan di hadapan keluarga; anak dan cucu-cucu Ali ra.! Lebih dari itu, ia jadikan pelaknatan atas Sayyidina Ali; sahabat agung, Khalifah Rasyid dan menantu kesayangan Nabi saw. sebagai bagian dari politik kotornya untuk memuntahkan dendam kemusyrikan dan kekafiranya!

Setelah itu semua, Mu’awiyah masih tidak puas… ia harus melakukan langkah akhir untuk melengkapi kejahatannnya… ia mengangkat Yazid; putranya yang sangat fasik itu sebagai Khalifah Rasul, Amirul Mukminin dan Bapak kaum Muslimin serta Pengawal Syari’at Islam! Dengan demikian telah lengkaplah penjungkir-balikan nilai-nilai agama Islam!

Karena Nabi saw. harus menyelamatkan Risalah Islam yang telah beliau bawa dan beliau perjuangkan bersama para sahabat, utamanya Sayyidina Ali ra.! Maka Nabi saw. bangkit untuk mengingatkan kaum Muslimin akan kejahatan yang akan dilakukan Mu’awiyah atas agama! Dan agar umat Islam mewaspadai pergerakan para pemimpin kekafiran yang berkedok Islam! Sebab orang munafik jauh lebih berbahaya dan mengancam Islam dan kaum Muslimin ketimbang kaum yang terang-terangan kafir!

sejarah-dracula

Syeikh Nâshiruddîn al Albâni Menshahihkan Hadis Mu’awiyah Orang Pertama yang Merusak Agama Nabi saw.!

Kendati kekejaman para penguasa tiran bani Umayyah telah merampas kebebasan umat Islam untuk menukil sabda-sabda Nabi saw. yang membongkar kejahatan, kefasikan dan kemunafikan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya yang didominasi kaum munafik dan utamanya adalah bani Umayyah, dan khususnya adalah Gembong Mereka seperti Abu Sufyan dan Mu’awiyah putranya. Namun Allah SWT tetap mengabadikan sabda-sabda suci itu walau karihal kafirûn wal munâfiqûn! Sampai-sampai para ulama yang biasanya sangat membela Mu’awiyah dan bani Umayyah pun tak kuasa mendustakannya! Ia begitu gamblang bak matahari di siang bolong! Karenanya, suka atau tidak suka, mereka tidak memenukan jalan untuk menudustakannya.

Sebagai contoh adalah bahwa hadis Nabi saw. yang berbunyi:

.

أول من يغير سنتي رجل من بني أمية

“Orang pertama yang akan merusaka Sunnah/agamuku adalah seorang dari bani Umayyah.”

http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=12235

.

Syeikh Nâshiruddîn al Albâni tidak kuasa kecuali mengakui bahwa ia adalah hadis hasan. Dan hadis hasan adalah bagian dari hadis shahih! demikian dikatakan para ulama!

Komentar Syeikh Nâshiruddîn al Albâni

Setelah mengatakan bahwa hadis ini adalah berststus hasan, ia menegaskan bahwa yang dimaksud dengan: seorang dari bani Umayyah adalah Mu’awiyah… dan di antara kejahatannya dalam merusak agama adalah dengan:

ولعل المراد بالحديث تغيير نظام اختيار الخليفة ، وجعله وراثة . والله أعلم

Mungkin yang dimaksud dengan hadis ini adalah merubah sistem kekhalifahan dan dijadikannya sebagai warisan/turun temurun. Allahu A’lam.

Lebih lanjut baca:

Silsilah al Ahâdîts ash Shahîhah,4/329/nomer hadis: 1749

http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=12235

.

Jadi jelaslah bagi kita semua bahwa Mu’awiyah yang sangat dibanggakan dan dibela secara membuta oleh Ustadz Firanda dan para tuannya, para Masyâikh Wahhâbi Arab adalah seorang PERUSAK AGAMA. Sebagaimana dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari, Nabi saw. menyebut Mu’awiyah sebagai PEMIMPIN KELOMPOK PENGANJUR KE DALAM API NERAKA!

Pengakuan dan keterangan Albâni di sini adalah penting bagi para mukallid Salafi Wahhâbi sebab ia adalah ahli hadis kebanggan mereka! Walaupun kami (Ahlusunnah) sama sekali tidak pernah membanggakannya karena kenashibian dan kelinglungannya dalam mentakhrij banyak hadis)… karenanya keterangannya saya sebutkan di sini!

Maka dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa: Mu’awiyah adalah Perusak agama Islam dan Sunnah Sayyidul Anâm!

Dan adalah sebuah kedunguan ketika seorang membela si perusak agama!

Untuk mengharumkan nama Mu’awiyah yang aroma busuknya telah menyengat setiap hidung kaum beriman dan mereka yang jujur, para Salafi Wahhâbi melakukan segala cara, yang walaupun pada akhirnya hanya akan membongkar kedok sebenarnya siapa mereka dan akan membawa malu di dunia sebelum nanti di akhirat!

Di antara cara yang mereka lakukan adalah mendustkan berbagai fakta sejarah yang terang benderang bak matahari di siang bolong yang membuktikan kemunafikan dan kejahatan Mu’awiyah dan banu Umayyah pada umumnya… Dan di antara yang mereka hendak sembunyikan adalah fakta sejarah bahwa Mu’awiyah telah melancarkan pencaci-makian dan pelaknatan atas Imam Ali (karramallahu wajhahu wa radhiyallahu ‘ahnu)…. bahkan lebih dari itu, Mu’awiyah telah memerintahkan umat Islam untuk memcaci-maki dan melaknati Khalifah Ali ra. serta menjadikannya program dinasti tiran yang dipimpinannya!

Terlampau banyak bukti yang menegeskan kenyataan ini… hanya saja dalam kesempatan ini saya akan menyajikan satu dari ratusan butki yang memastikan fakta sejarah itu. Sementara bukti-bukti lain insya Allah akan saya sajikan dalam kesempatan lain.

Di antara bukti itu adalah riwayat shahih yang dikeluarkan Imam Ibnu Mâjah,1/26 hadis no.121 (hadis terakhir dalam Bab Keutamaan Ali bin Ali Thalib ra.) di bawah ini:

Teks Hadis:

حدثنا علي بن محمد حدثنا أبو معاوية حدثنا موسى بن مسلم عن ابن سابط وهو عبد الرحمن عن سعد بن أبي وقاص قال قدم معاوية في بعض حجاته فدخل عليه سعد فذكروا عليا فنال منه فغضب سعد وقال تقول هذا لرجل سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من كنت مولاه فعلي مولاه وسمعته يقول أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي وسمعته يقول لأعطين الراية اليوم رجلا يحب الله ورسوله

…. dari Sa’ad bin Abi Waqqâsh, ia berkata, “Mu’awiyah datang dalam salah satu kesempatan ketika ia menunaikan ibadah haji, lalu Sa’ad menemuinya, ketika itu mereka (yang duduk-duduk bersama Mu’awiyah) menyebut-nyebut Ali, dan Mu’awiyah pun mencaci-makinya. Sa’ad marah dan berkata, ‘Hai Mu’awiyah  apakah engkau berkata demikian terhadap seorang yang aku telah mendengar Rasulullah saw., ‘Sesiapa yang aku Maulâ-nya maka Ali adalah Maulâ-nya’. Dan aku mendengar beliau bersabda, ‘Kedudukanmu (hai Ali) di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku’. Dan aku mendengar beliau bersabda, ‘Aku akan serahkan bendera kepanglimaan perang ini kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.’”

[ http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=2095 ]

.

Hadis riwayat di atas telah masyhur dinukil para ulama hadis kita dari sahabat Sa’ad ra. dan bukan sesuatu yang samar bagi para santri apalagi para kyia Ahlusunnah. Hanya saja yang penting dicatat di sini adalah bahwa riwayat di atas -yang tegas-tegas menyebutkan dan membuktikan bahwa Mu’awiyah mencaci-maki Imam Ali ra. itu- telah dishahihkan oleh Syeikh Nâshiruddîn al Albâni; Gembong Ahli Hadis Kebanggaan Wahhâbi Sallafi, walaupu kami Ahlusunnah sama sekali tidak pernah membanggakannya sebab ia sering linglung dalam mentakhrij hadis/riwayat/atsar. Baca keterangannya dalam Silsilah al Ahâdîts ash Shahîhah, 4/335. Baca juga dalam Shahîh Sunan Ibnu Mâjah; juga oleh al Albâni (terbitan Maktabah at tarbiyah al Arabi. Cet III. Tahun 1408 H/1988M.) atau lihat di tahrij hadis aleh Al Bani online DISINI

Jika Wahhâbi Salafi Mengelak!

Mungkin kaum awam Salafi Wahhâbi (yang sering menjadi korban pembodohan para ustdaz dan masyâikh mereka) berusaha mengelak dengan mengatakan bahwa tidak ada kejelasan dalam riwayat di atas bahwa Mu’awiyah mencaci-maki Ali! Yang ada hanya kata nâla yang artinya menyentuh atau menyebut-nyebut? Jadi mungkin saja Mu’awiyah sedang memuji Ali! Jika ada yang berkata demikian maka, pertama-tama saya ucapkan bela sungkawa atas kematian ilmu dan nurani. Sebab kecintaan kepada pemimpin pohon terkutuk rupanya telah membutakan akal pikirannya! Kedua, tidak ada ulama Ahlusunnah yang memahami demikian. Justeru semua menegskan bahwa dalam kesempatan itu Mu’awiyah mencaci-maki dan mencela-cela Sayyidina Ali ra. sehingga Sa’ad terpaksa membuktikan kedok kemunafikan Mu’awiyah dengan menyebut tiga hadis penting keutamaan Khalifah Ali ra. sebagai balasan atas kejahatan Mu’awiyah tersebut, sebab prbadi yang sedang mereka makan daging sucinya itu adalah pribadi yang sangat mulia dan agung kedudukannya di sisi Allah dan rasul-Nya…. dan apa yang dilakukan Mu’awiyah atasnya adalah bukti dendam kusumatnya atas Allah dan Rasul-Nya…

Tiga hadis itu adalah hadis Muwâlah, hadis Manzilah dan hadis Râyah. Ketiga hadis ini telah diriwayatkan para ahli hadis kita dengan banyak jalur yang shahih…. kendati sebagian kaum Wahhâbi Salafi berusaha mendha’ifkannya karena dianggapnya ia menguntungkan Syi’ah dalam menegakkan akidah mereka tentang imamah!

Hadis Di atas Tegas Mengatakan Bahwa Mu’awiyah Mencaci dan Mencela Sayyidina Ali ra.!

Sekali lagi saya katakan di sini bahwa teks hadis tersebut di atas sudah jelas dan gamblang! Mu’awiyah mencela dan mencaci maki Sayyidina Ali ra. perhatikan apa yang ditegaskan oleh Syeikh Fuâd Abdul Bâqi (pentahqiq kitab Sunan Ibnu Mâjah) ketika  beliau menerangkan kata-kata: فنال منه: Maksudnya Mu’awiyah mencela dan mencaci-maki Ali.” (Selanjutnya baca Sunan Ibnu Mâjah,1/45. Diterbitkan oleh Maktabah Dahlân-Indonesia)

Akhirnya!

Dan sebelum saya akhiri ulasan saya ini saya ingin katakan bahwa riwayat di atas adalah satu dari ratusan riwayat dan data sejarah akurat yang menegaskan kejahatan Mu’awiyah atas Islam dan atas Ali bin Abi Thalib ra. dan tidak cukup demikian ia memaksakan kejahatan itu agar dilakukan oleh kaum Muslimin… dan akhirnya kaum Muslimin pun terjatuh dalam kubangan kejahatan Mu’awiyah… mereka mena’ati Mu’awiyah dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq dengan mencela dan mencaci Sayyidina Ali ra. jadi pantaslah jika Nabi Muhammad saw. (yang tidak pernah akan berkata-kata melainkan dari wahyu suci) menyebut Mu’awiyah sebagai PEMIMPIN KELOMPOK PENGANJUR KE DALAM API NERAKA!

Umat Islam di masa kekuasaan zalim Mu’awiyah ikut-ikutan berlomba-lomba mencaci dan melaknati Ali, Khalifah Nabi saw. sementara Nabi telah bersabda bahwa mencaci Ali sama dengan mencaci Nabi saw.! Lalu apakah bayangan kita hukum orang yang mencaci Nabi saw.?! Pasti neraka tempatnya, karena ia adalah bukti kakafiran!

Jadi kaum Muslimin di zaman kekuasaan Mu’awiyah yang tiran itu yang ikut serta mencaci dan melaknati Ali ada dua kemungkinan:

Pertama: Mereka memang sudah menjadi munafik dengan membenci dan memerangi Ali serta mencaci dan melaknati beliau ra.

Atau kedua, mereka dalam melakukan semua kekufuran itu karena takut kekejaman Mu’awiyah atas siapapun yang menolak melaksanakan perintahnya untuk melaknati dan mencela-cela Ali ra.

Jika kemungkinan pertama yang terjadi itu artinya bahwa kaum Muslimin benar-benar telah disesatkan oleh Mu’awiyah dan digiring ke dalam api nereka Jahannam (atau dalam istilah kaum Wahhâbi Salafi seperti Ustadz Firanda: kaum Muslimin sedang diberi hidayah oleh Mu’awiyah sebab Mu’awiyah adalah Hâdiyan Mahdiyan/yang memberi petunjuk dan diberi petunujuk oleh Allah, seperti dalam hadis palsu yang sering dibanggakan Salafi Wahhâbi para pendukung kemunafikan dann kaum munafikin).

Dan jika kemungkinan kedua yang terjadi, dan bahwa mereka hanya karena terpaksa untuk menyelamatkan diri dalam melakukan kehendak Mu’awiyah… maka itu artinya kaum Muslimin sedang tertaqiyyah! Lalu mengapaka kaum Salafi Wahhâbi sering mengejek-ngejek kaum Syi’ah sebagai bermunafik karena mereka bertaqiyyah??!! Bukankah kenyataan ini akan membuat malu kita di hadapan kaum Syi’ah? Karena itulah saya sejak awal telah mengatakan bahwa kaum Wahhâbi Salafi termasuk gembong kaum Nashibi seperti Ibnu Taimiyah jika mereka masih kita akui sebagai bagian dari Ahlusunnah hanya akan membuat malu kita di hadapan kaum Syi’ah!!

Karena itu waspadai kelicikan dan kelicinan kejahatan mereka!

Saya benar-benar terkejut mendengar pertanyaan yang bertujuan membela Muawiyah di dalam sebuah komentar di blog ini. Mereka meragukan bahwa Muawiyah telah benar-benar mengutuk Imam Ali as. Apakah peristiwa ini benar-benar perintah Muawiyah? Begitu kata mereka. Mari kita buka kitab-kitab sejarah Islam yang mencatat kejadian tersebut, apakah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi? Apakah benar itu pengutukan atau bukan? Jika benar, apakah memang pengutukkan itu atas perintah Muawiyah?

MUAWIYAH TELAH MENGUTUK SAYYIDINA ALI PADA SETIAP KHOTBAH JUMAT DAN HAL INI MENJADI BID’AH YANG TERUS MENTRADISI SELAMA 90 TAHUN SAMPAI BERKUASANYA UMAR BIN ABDUL AZIZ YANG BIJAK

1. Ibn Abi al Hadid di dalam syarah atau komentarnya atas kitab Nahjul Balaghah Jil. 1 hlm. 464 menyatakan : Pada akhir khotbah Jumat, Muawiyah mengatakan : “Ya Allah, laknatlah Abu Turab, dia yang telah menentang agama-Mu dan jalan-Mu, laknat dia dan hukum dia di neraka!” Muawiyah inilah yang memperkenalkan bid’ah terbesar dan terburuk ini kepada khalayak umat Islam pada masa kekuasaannya hingga masa Umar bin Abdul Aziz.”

2. Di dalam kitab Mu’jam al-Buldan Jil. 1, hlm 191, ‘Allamah Yaquut Hamawi menyatakan : Atas perintah Mu’awiyyah, ‘Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Masyrik (Timur) hingga Maghrib (Barat) dari mimbar-mimbar Masjid.

3. Masih di dalam kitab yang sama, Mu’jam al-Buldan Jil. 5, hlm. 35, Hamawi mengatakan : “Salah satu perubahan (bid’ah) terburuk yang telah dimulai sejak awal mula pemerintahan Muawiyah adalah bahwa Muawiyah sendiri dan dengan perintah kepada gubernurnya, membiasakan menghina Imam Ali saat berkhotbah di Masjid. Hal ini bahkan dilakukan di mimbar masjid Nabi di hadapan makam Nabi Muhammad Saw, sampai sahabat-sahabat terdekat Nabi, keluarga dan kerabat terdekat Imam Ali mendengar sumpah serapah ini.”

4. Di dalam kitab Al-Aqd al-Farid Jil. 1 hlm. 246, Anda bisa membaca :Setelah kematian ‘Ali dan Hasan, Muawiyah memerintahkan sebuah titah ke seluruh masjid termasuk masjid Nabawi agar semua orang turut melaknat ‘Ali!”

5. Di dalam kitab yang sama, Al-Aqd al-Farid Jil. 2 hlm. 300 anda bisa membaca isi surat Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw, yang menulis kepada Muawiyah : “…Engkau sedang mengutuk Allah dan Rasul-Nya di mimbarmu karena engkau mengutuk Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa yang mencintai Ali, aku bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Tetapi tak seorang pun memperhatikan ucapannya.

6. Di dalam kitab al-Nasa’ih al-Kafiyah hlm. 77, Anda juga bisa membaca : Praktek (pelaknatan) yang berlangsung sekian lama ini memunculkan sebuah asumsi bahwa apabila seseorang tidak melakukan pelaknatan tersebut maka shalat Jumat-nya tidaklah dianggap sah!”

7. Seorang alim dari Pakistan yang bermazhab Hanafi, Maulana Raghib Rahmani, di dalam kitabnya tentang “Hazrat Umar bin Abdul Aziz”,Khalifatul Zahid, hlm. 246 menyampaikan komentarnya dengan tajam :“(Praktek pelaknatan) ini tentu saja tidak menguntungkan, karena ini adalah bid’ah yang telah diperkenalkan ke masyarakat yang telah “memotong hidung” (memalukan) kota-kota, di mana bid’ah ini bahkan dilakukan di mimbar-mibar masjid, bahkan tanpa malu sampai juga ke “telinga” masjid Nabawi. Inilah bid’ah yang diperkenalkan oleh Amir Muawiyah!

8. Di dalam bukunya Al-Khilafah wal Mulk yang sempat menggemparkan dunia Islam, Abul A’la al-Maududi, seorang alimPakistan bermazhab Hanafi, menulis :

Ketika pada zaman Muawiyah dimulai kebiasaan mengutuk Sayyidina Ali dari atas mimbar-mimbar dan pencaci-makian serta pencercaan terhadap pribadinya secara terang-terangan, di siang hari maupun di malam hari, kaum muslimin di mana-mana merasa sedih dan sakit hati sungguh pun mereka terpaksa harus berdiam diri menekan perasaannya itu. Kecuali Hujur bin Adi, yang tidak dapat menyabarkan dirinya…” (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209-210, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Dan akhirnya, Muawiyah menyuruh Ziyad untuk membunuh Hujur bin ‘Adi, salah seorang sahabat besar Nabi yang zahid, abid, dan termasuk di antara tokoh-tokoh umat terbaik. Di dalam surat perintahnya, Muawiyah menulis : “Bunuhlah orang ini (Hujur) dengan cara yang seburuk-buruknya.” Maka Ziyad mengubur Hujur dalam keadaan hidup-hidup. (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 211, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Kisah terperinci mengenai cobaan berat yang dialami oleh Hujur bin ‘Adi itu banyak terdapat di dalam buku-buku yang ditulis oleh para ahli hadis maupun para ahli sejarah, baik yang sudah tersebar luas maupun yang tidak disebarkan,” Begitu tulis Thaha Husain di dalam bukunya yang terkenal al-Fitnah al-Kubra yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Malapetaka Terbesar Dalam Sejarah Islam pada hlm. 624, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Cet. I, Tahun 1985.

Inilah sebagian bukti-bukti tertulis di dalam kitab-kitab sejarah yang bisa anda temui hingga saat ini. Apakah masih terbetik keraguan di dalam hati anda tentang bejatnya Muawiyah, si setan berwujud manusia ini?

Dan ketika Hasan bin Ali mengundurkan diri sebagai khalifah, Muawiyah pun akhirnya berdiri sebagai seorang penguasa tunggal, lalu dia menyampaikan pidatonya di kota Madinah :

Amma ba’du! Sesungguhnya aku, demi Allah ketika menjadi penguasa atas kamu sekalian, bukannya aku tidak mengetahui bahwa kalian tidak menyenangi kekuasaanku ini, tetapi sesungguhnya aku benar-benar tahu apa yang ada dalam hati kalian tentang hal ini, namun aku telah merampasnya dari kalian dengan pedangku ini. Dan sekiranya kalian tidak menadpati diriku telah memenuhi hak-hak kamu seluruhnya, hendaknya kalian memuaskan diri dengan sebagiannya saja dariku!” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Jil. 8, hlm. 132)

Pada masa kekuasaan Muawiyah, rakyat dibungkam dari menyampaikan kebenaran, mereka hanya boleh memuji-muji atau jika enggan sebaiknya diam. Karena jika rakyat berani memprotes pemerintah pada masa itu maka bersiap-siaplah untuk dijebloskan ke dalam penjara, dibunuh, disiksa atau paling tidak dibuang! (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Apakah orang seperti ini yang ingin anda bela mati-matian? Hanya orang-orang yang serupa dengan Muawiyah saja dan pengikutnya yang super dungu yang ngotot membela manusia keji semacam ini! Mereka itulah kaum Wahabi para pemuja kaum durjana seperti Muawiyah bin Abi Sufyan dan Yazid bin Muawiyah. Mereka menjadikan keduanya sebagai pemimpin-pemimpin mereka!

Jika anda membenci kekejaman, kezaliman, dan kebengisan yang dilakukan para diktator dunia seperti Adolf Hitler, Pol Pot, Slobodan Milosevich, Saddam Husein, George W Bush, Ehud Olmert, maka anda juga mesti membenci makhluk durjana seperti Muawiiyah ini. Tapi itu pun jika hati nurani anda masih sehat wal afiat…

Di dalam Musnad Ahmad bin Hanbal Jil. 6, hlm. 33, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw yang kita cintai telah bersabda, “Barangsiapa yang mengutuk Ali sesungguhnya ia telah mengutukku. Barangsiapa yang berani mengutukku berarti ia telah mengutuk Allah. Barangsiapa yang telah mengutuk Allah, maka Allah akan melemparkannya ke neraka Jahannam!

Rasulullah Saw telah menubuwatkan bahwa peristiwa pelaknatan atau pengutukan atas sahabat Nabi yang mulia, Ali bin Abi Thalib, yang juga salah seorang anggota Ahlul Bayt akan terjadi. Melalui mata batinnya, Rasulullah Saw telah melihat beberapa sahabatnya yang sangat dengki terhadap Sayyidina Ali as. Allah Swt pun menyingkapkan kedengkian mereka terhadap Nabi Saw dan Ahlul Baytnya :

Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun kepada manusia. Ataukah mereka dengki kepada manusialantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
(Al-Quran Surah Al-Nisaa [4] ayat 54)

Ingatkah anda, bagaimana anda melafadzkan shalawat kepada Nabi Saw di dalam shalat anda?

Inilah mengapa dengan teramat keras Nabi Saw memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan tindakan bodoh tersebut. Dan anda perhatikan, bahwa Ummu Salamah, isteri Nabi telah memperingatkan Muawiyah tentang hal ini, namun lelaki durjana ini tiada mempedulikan peringatan tersebut.

Saya berdoa kepada Allah Swt semoga orang-orang yang tulus namun masih meragukan kebenaran ini menjadi tersadarkan dan semakin mendapatkan keyakinan yang sahih…

Muawiyah Melaknat sayyidina Ali kw di Mimbar-mimbar Masjid

sejarah-dracula

- Bid’ah Terbesar Sepanjang Sejarah Islam (bag.2) –

Saya benar-benar terkejut mendengar pertanyaan yang bertujuan membela Muawiyah di dalam sebuah komentar di blog ini. Mereka meragukan bahwa Muawiyah telah benar-benar mengutuk Imam Ali as. Apakah peristiwa ini benar-benar perintah Muawiyah? Begitu kata mereka. Mari kita buka kitab-kitab sejarah Islam yang mencatat kejadian tersebut, apakah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi? Apakah benar itu pengutukan atau bukan? Jika benar, apakah memang pengutukkan itu atas perintah Muawiyah?

MUAWIYAH TELAH MENGUTUK SAYYIDINA ALI PADA SETIAP KHOTBAH JUMAT DAN HAL INI MENJADI BID’AH YANG TERUS MENTRADISI SELAMA 90 TAHUN SAMPAI BERKUASANYA UMAR BIN ABDUL AZIZ YANG BIJAK

1. Ibn Abi al Hadid di dalam syarah atau komentarnya atas kitab Nahjul Balaghah Jil. 1 hlm. 464 menyatakan : Pada akhir khotbah Jumat, Muawiyah mengatakan : “Ya Allah, laknatlah Abu Turab, dia yang telah menentang agama-Mu dan jalan-Mu, laknat dia dan hukum dia di neraka!” Muawiyah inilah yang memperkenalkan bid’ah terbesar dan terburuk ini kepada khalayak umat Islam pada masa kekuasaannya hingga masa Umar bin Abdul Aziz.”

2. Di dalam kitab Mu’jam al-Buldan Jil. 1, hlm 191, ‘Allamah Yaquut Hamawi menyatakan : Atas perintah Mu’awiyyah, ‘Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Masyrik (Timur) hingga Maghrib (Barat) dari mimbar-mimbar Masjid.

3. Masih di dalam kitab yang sama, Mu’jam al-Buldan Jil. 5, hlm. 35, Hamawi mengatakan : “Salah satu perubahan (bid’ah) terburuk yang telah dimulai sejak awal mula pemerintahan Muawiyah adalah bahwa Muawiyah sendiri dan dengan perintah kepada gubernurnya, membiasakan menghina Imam Ali saat berkhotbah di Masjid. Hal ini bahkan dilakukan di mimbar masjid Nabi di hadapan makam Nabi Muhammad Saw, sampai sahabat-sahabat terdekat Nabi, keluarga dan kerabat terdekat Imam Ali mendengar sumpah serapah ini.”

4. Di dalam kitab Al-Aqd al-Farid Jil. 1 hlm. 246, Anda bisa membaca :Setelah kematian ‘Ali dan Hasan, Muawiyah memerintahkan sebuah titah ke seluruh masjid termasuk masjid Nabawi agar semua orang turut melaknat ‘Ali!”

5. Di dalam kitab yang sama, Al-Aqd al-Farid Jil. 2 hlm. 300 anda bisa membaca isi surat Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw, yang menulis kepada Muawiyah : “…Engkau sedang mengutuk Allah dan Rasul-Nya di mimbarmu karena engkau mengutuk Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa yang mencintai Ali, aku bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Tetapi tak seorang pun memperhatikan ucapannya.

6. Di dalam kitab al-Nasa’ih al-Kafiyah hlm. 77, Anda juga bisa membaca : Praktek (pelaknatan) yang berlangsung sekian lama ini memunculkan sebuah asumsi bahwa apabila seseorang tidak melakukan pelaknatan tersebut maka shalat Jumat-nya tidaklah dianggap sah!”

7. Seorang alim dari Pakistan yang bermazhab Hanafi, Maulana Raghib Rahmani, di dalam kitabnya tentang “Hazrat Umar bin Abdul Aziz”,Khalifatul Zahid, hlm. 246 menyampaikan komentarnya dengan tajam :“(Praktek pelaknatan) ini tentu saja tidak menguntungkan, karena ini adalah bid’ah yang telah diperkenalkan ke masyarakat yang telah “memotong hidung” (memalukan) kota-kota, di mana bid’ah ini bahkan dilakukan di mimbar-mibar masjid, bahkan tanpa malu sampai juga ke “telinga” masjid Nabawi. Inilah bid’ah yang diperkenalkan oleh Amir Muawiyah!

8. Di dalam bukunya Al-Khilafah wal Mulk yang sempat menggemparkan dunia Islam, Abul A’la al-Maududi, seorang alimPakistan bermazhab Hanafi, menulis :

Ketika pada zaman Muawiyah dimulai kebiasaan mengutuk Sayyidina Ali dari atas mimbar-mimbar dan pencaci-makian serta pencercaan terhadap pribadinya secara terang-terangan, di siang hari maupun di malam hari, kaum muslimin di mana-mana merasa sedih dan sakit hati sungguh pun mereka terpaksa harus berdiam diri menekan perasaannya itu. Kecuali Hujur bin Adi, yang tidak dapat menyabarkan dirinya…” (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209-210, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Dan akhirnya, Muawiyah menyuruh Ziyad untuk membunuh Hujur bin ‘Adi, salah seorang sahabat besar Nabi yang zahid, abid, dan termasuk di antara tokoh-tokoh umat terbaik. Di dalam surat perintahnya, Muawiyah menulis : “Bunuhlah orang ini (Hujur) dengan cara yang seburuk-buruknya.” Maka Ziyad mengubur Hujur dalam keadaan hidup-hidup. (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 211, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Kisah terperinci mengenai cobaan berat yang dialami oleh Hujur bin ‘Adi itu banyak terdapat di dalam buku-buku yang ditulis oleh para ahli hadis maupun para ahli sejarah, baik yang sudah tersebar luas maupun yang tidak disebarkan,” Begitu tulis Thaha Husain di dalam bukunya yang terkenal al-Fitnah al-Kubra yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Malapetaka Terbesar Dalam Sejarah Islam pada hlm. 624, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Cet. I, Tahun 1985.

Inilah sebagian bukti-bukti tertulis di dalam kitab-kitab sejarah yang bisa anda temui hingga saat ini. Apakah masih terbetik keraguan di dalam hati anda tentang bejatnya Muawiyah, si setan berwujud manusia ini?

Dan ketika Hasan bin Ali mengundurkan diri sebagai khalifah, Muawiyah pun akhirnya berdiri sebagai seorang penguasa tunggal, lalu dia menyampaikan pidatonya di kota Madinah :

Amma ba’du! Sesungguhnya aku, demi Allah ketika menjadi penguasa atas kamu sekalian, bukannya aku tidak mengetahui bahwa kalian tidak menyenangi kekuasaanku ini, tetapi sesungguhnya aku benar-benar tahu apa yang ada dalam hati kalian tentang hal ini, namun aku telah merampasnya dari kalian dengan pedangku ini. Dan sekiranya kalian tidak menadpati diriku telah memenuhi hak-hak kamu seluruhnya, hendaknya kalian memuaskan diri dengan sebagiannya saja dariku!” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Jil. 8, hlm. 132)

Pada masa kekuasaan Muawiyah, rakyat dibungkam dari menyampaikan kebenaran, mereka hanya boleh memuji-muji atau jika enggan sebaiknya diam. Karena jika rakyat berani memprotes pemerintah pada masa itu maka bersiap-siaplah untuk dijebloskan ke dalam penjara, dibunuh, disiksa atau paling tidak dibuang! (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Apakah orang seperti ini yang ingin anda bela mati-matian? Hanya orang-orang yang serupa dengan Muawiyah saja dan pengikutnya yang super dungu yang ngotot membela manusia keji semacam ini! Mereka itulah kaum Wahabi para pemuja kaum durjana seperti Muawiyah bin Abi Sufyan dan Yazid bin Muawiyah. Mereka menjadikan keduanya sebagai pemimpin-pemimpin mereka!

Jika anda membenci kekejaman, kezaliman, dan kebengisan yang dilakukan para diktator dunia seperti Adolf Hitler, Pol Pot, Slobodan Milosevich, Saddam Husein, George W Bush, Ehud Olmert, maka anda juga mesti membenci makhluk durjana seperti Muawiiyah ini. Tapi itu pun jika hati nurani anda masih sehat wal afiat…

Di dalam Musnad Ahmad bin Hanbal Jil. 6, hlm. 33, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw yang kita cintai telah bersabda, “Barangsiapa yang mengutuk Ali sesungguhnya ia telah mengutukku. Barangsiapa yang berani mengutukku berarti ia telah mengutuk Allah. Barangsiapa yang telah mengutuk Allah, maka Allah akan melemparkannya ke neraka Jahannam!

Rasulullah Saw telah menubuwatkan bahwa peristiwa pelaknatan atau pengutukan atas sahabat Nabi yang mulia, Ali bin Abi Thalib, yang juga salah seorang anggota Ahlul Bayt akan terjadi. Melalui mata batinnya, Rasulullah Saw telah melihat beberapa sahabatnya yang sangat dengki terhadap Sayyidina Ali as. Allah Swt pun menyingkapkan kedengkian mereka terhadap Nabi Saw dan Ahlul Baytnya :

Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun kepada manusia. Ataukah mereka dengki kepada manusialantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
(Al-Quran Surah Al-Nisaa [4] ayat 54)

Ingatkah anda, bagaimana anda melafadzkan shalawat kepada Nabi Saw di dalam shalat anda?

Inilah mengapa dengan teramat keras Nabi Saw memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan tindakan bodoh tersebut. Dan anda perhatikan, bahwa Ummu Salamah, isteri Nabi telah memperingatkan Muawiyah tentang hal ini, namun lelaki durjana ini tiada mempedulikan peringatan tersebut.

Saya berdoa kepada Allah Swt semoga orang-orang yang tulus namun masih meragukan kebenaran ini menjadi tersadarkan dan semakin mendapatkan keyakinan yang sahih…

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

- See more at: http://www.inilah-salafi-takfiri.com/general/muawiyah-melaknat-sayyidina-ali-kw-di-mimbar-mimbar-masjid#sthash.yxh2weuP.dpuf

Wahabi Sedang Berusaha Rebut Kekuasaan Pemerintah dengan Merongrong NU dan Syi’ah

 Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menegaskan, warga Nahdlatul Ulama harus kian solid dalam menjaga aqidah Islam Ahlussunah Wal Jamaah karena kelompok Islam garis keras terus berupaya melemahkan NU dan NKRI dengan mengambil kesempatan Pemilu 2014.

Nusron menyampaikan hal itu dalam forum silaturahmi dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ngawi, berikut badan otonom, lembaga, dan lajnah NU setempat, di Pendopo Widya Graha Pemkab Ngawi, Jawa Tengah, Senin (16/6/2014).

Di tahun politik sekarang ini warga NU harus memperkuat aqidah Ahlussunah wal Jamaah, karena banyak kaum Islam Wahabi sedang berusaha merebut kekuasaan pemerintah dan merongrong warga NU,” ungkap Nusron

Nusron juga mengingatkan, pada musim kampanye seperti ini tak sedikit orang yang berusaha mendekati NU secara tidak serius. “Menjelang pilpres banyak ulama yang pura-pura NU, ke sana kemari mengaku kader ormas tertentu,” tuturnya.

Politik, lanjutnya, tidak boleh bergantung pada siapa yang bayar, tetapi mesti didasarkan atas pertimbangan aqidah. Pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, ini juga menekankan pentingnya membangun silaturahmi  sesama muslim.

Nusron mengatakan, silaturahmi ke Ngawi ia laksanakan dalam rangka menyambut datangnya  bulan suci Ramadhan 1435 H dan pemilu presiden 2014. Hadir dalam forum tersebut Bupati Ngawi yang juga Dewan Penasihat Ikatan Sarjana NU (ISNU) Ngawi, H Budi Sulistyono; dan segenap pengurus PCNU setempat.

KH Said Aqil Siroj : Anggapan Tahlilan berasal dari Hindu itu Keliru

 Salah satu tradisi keagamaan yang lekat dengan warga NU adalah Tahlilan, Selametan atau Kendurian. Ada sebagian yang menganggap bahwa tradisi itu berasal dari ajaran agama Hindu, padahal anggapan semacam itu adalah sebuah kekeliruan.

Pernyaatan itu disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (14/5/2014). Menurut doktor dari Universitas Ummul Qura ini, sikap dan ritual orang Hindu terhadap orang mati berbeda.

“Orang kalau `nyerang` kita itu lho, (Tahlilan) ini warisan hindu ini. Salah itu, bukan dari Hindu. Itu dibawa Sunan Ampel dari Champa sana, dari Vietnam. Kalau Hindu mayatnya dibakar, udah selesai, kalau ini tidak, ini dari umat Islam Champa,” terang Kiai Said

Menurut Kiai Said, secara genealogis, ajaran Islam yang ada di Champa pada waktu itu adalah ajaran Islam yang dibawa dari Timur Tengah.

“Champa dari mana? ya dari Timur Tengah juga, hanya beda dikit, kalau Mesir 3 hari saja, di Mesir mendoakan orang meninggal pakai Al-Quran saja. Kalau tahlil seperti kita, dari Yaman tuh. Kenapa? Karena tidak semua orang bisa baca Al-Quran, yang ta`ziyah kan ingin mendoakan semua, ya udah qulhu, falaq binnas, dipilih yang gampang, dari pada baca Alquran nanti salah malah dapat dosa,” jelas Kiai Said.

Kiai Said mengatakan, tradisi 3, 7, 40 malah itu dari Syiah, namun demikian bukan berarti dengan hitungan itu membuat keyakinan dan aqidah kita ikut menjadi Syiah.

“Ya ga apa-apa, yang penting bukan aqidahnya yang kita ambil dari Syiah, bukan mempercayai Ali itu ma`sum, gak pernah dosa; mencaci Abu Bakar, Umar, Usman, Tidak. Hanya budayanya saja,” tuturnya.

ISIS Irak hasil peninggalan kebencian bani Umayyah terhadap keluarga /Ahlulbait Nabi Saw

 

diyala ISIS Kuasai Dua Daerah di Provinsi Diyala Irak

 

 

 

 

 

 
ULAMA Syiah Berbasis di Irak Ayatollah Ali al-Sistani menyuarakan dukungannya terhadap tentara Irak untuk memerangi pejuang Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).

Sistani mengeluarkan pernyataan pada hari Selasa kemarin (10/6/2014) yang mengutuk penguasaan provinsi Nineveh oleh pejuang ISIS.

Ulama Syiah senior tersebut menyerukan persatuan di antara semua faksi politik yang ada di Irak untuk melawan ISIS.

conv Irak Klaim Helikopter Militer Mereka Berhasil Tewaskan 8 Pejuang ISIS

Al Qaeda, ISIS dan sejenisnya = Neo Bani Umayah

Latar belakang ideologis DAISY/ISIS/ISIL adalah Salafi berafiliasi kepada ide-ide Ibnu Taimiyah dan ekstrimis Wahhabi… Latar belakang ideologis inilah yang akan mendorong mereka untuk berani menghancurkan Ka’bah dan membongkar dan mencongkel makam Rasulullah dan menyembunyikannya… Hal ini telah diketahui oleh yang mengetahui latar belakang ideologis

Latar belakang ideologis ISIS bukan Hanbali (karena pengikut Hanbali dahulu sangat antusias bertabarruk/mengambil keberkahan dari penghuni kubur).. Latar belakarng ideologis ISIS adalah Taimiyah+Wahhabi dari sisi akidah. Adapun latar belakang politik mereka adalah Umawiyah!

Keimanan itu adalah ketundukan, kepatuhan dan mengambil pelajaran dari peninggalan dan tanda-tanda keagungan Allah baik yang tersebar di alam maupun dalam jiwa. Adapun kemunafikan, maka ia kering, tanpa perenungan matang dan pandangan baik dari sisi agama, ibadah mereka adalah kering… Kekauan hati.!

Latar belakang ideologis ini adalah hasil peninggalan kekakuan dan kebencian bani Umayyah terhadap Nabi Saw,  keluarga/Ahlulbait beliau. Sedangkan kekakuan sikap dan kebencian bani Umayyah adalah hasil dari kemunafikan. Jadi masalahnya saling terkait. 

Tidak seorang pun dapat menghentikan alasan ISIS untuk menghancurkan Ka’bah selama ia membenarkan alasan ISIS ketika menghancurkan kuburan para Nabi dan para wali Allah… Problemnya satu!

Ya, boleh jadi si pengecut tidak kuasa melaksanakan apa yang menjadi keyakinannya… Tetapi ISIS berani berterang-terangan dalam menyuarakan akidah Salafy mereka yang sangat kental… Mereka tidak takut siapa pun. Karena itu mereka tidak berbasa-basi dalam menyatakan kebatilannya!

Salafy moderat tidak diakui di tengah-tengah Salafy ekstirm dan tersingkirkan. Yang saya maksudkan dengan Salafy moderat adalah yang berani mengkritisi ide-ide Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Abdil Wahhab demi membela Al Quran dan Sunnah. Inilah Salafy moderat yang tersingkirkan dan tidak diakui. Yang akan diterima hanya kaum ekstrim yang mengedepankan ide-ide kaum Ekstrimis Salafy di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw. Dalam pandangan mereka inilah Salafy tulen yang sempurna dan lurus akidahnya.

Saya tidak bermaksud memaparkan alasan-alasan ISIS dalam merobohkan Ka’bah. Karena alasan-alasan mereka dari sisi mukaddimah adalah bersifat Salafiyah Saudiyah  yang umum yaitu bahwa konsekwensi dari kemurnian Tauhid (menurut mereka) adalah harus menghancurkan setiap simbol-simbol atau panji-panji Kemusyrikan. Dan tidak diragukan lagi bahwa berdasarkan pola pendidikan akidah yang kita pelajari (di Arab Saudi sesuai dengan akidah Wahabi/Salafy) mengusap-usap atau mengambil keberkahan dari dinding Ka’bah adalah KEMUSYRIKAN… bahwa mengusap-usap dan mengambil keberkahan dari Maqam Ibrahim adalah KEMUSYRIKAN… !!! Dan seterusnya.

ISIS berdiri tegak di atas akidah ini..! Dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah akidah dan pemahaman yang salah...tetapi mencongkel dari pikiran mereka yang sudah tercemar ini membutuhkan waktu…, Karena itu apabila para pengikut ISIS melihat bahwa Ka’bah sudah menjadi simbol praktik kemusyrikan maka ia harus segera dihancurkan!!

Inilah inti akidah ISIS dan hasil yang bakal lahir darinyaAkidah seperti ini telah memenuhi kitab-kitab akidah Salafy Wahhabi… Ini adalah mukaddimah yang saya maksudkan, hanya saja dalam mengetrapkannya mereka memilih obyek yang tidak akan membangkitkan emosi masyarakt umum.

Dan dalam membantah akidah menyimpang ISIS ini dan juga efek yang ditimbulkannya butuh kepada pembaharuan pemahaman yang besar-besaran… Pembaharuan yang menjadikan Al Quran sebagai pedoman dan bimbingan… Dan hal ini akan memporak-porandakan akidah menyimpang seperti itu… Jangan disangka bahwa kaum Muslimin siap meninggalkan apapun demi Al Quran. Yang menjadikan mereka memuji dan mencintai Al Quran adalah karena mereka mengira bahwa Al Quran berpihak kepada mereka…. Namun jika terbukti Al Quran melawan mereka pasti mereka pun tidak segan-segan membuang Al Quran!!

poli Ulama Syiah Irak Dukung Militer Lawan Pejuang ISIS

Latar belakang kemunafikan dan pola pikir bani Umayyah dalam memandang hina simbol-simbol kesucian sangat banyak, seperti:

  • Menanamkan perasaan tidak butuh kepada Nabi Saw agar beliau memintakan istighfar…
  • Kata-kata dan praktik yang kaku yang menyakitkan Nabi Saw, seperti berlambat-lambat dari memenuhi panggilan Nabi Saw dengan alasan masih belum selesai menyantap makanannya (merujuk kepada Muawiyah ketika dipanggil Nabi saw tidak bersegera menyambut panggilan beliau, akan tetapi beralasan masih makan _red)
  • Mencongkel dan menghancurkan kuburan Hamzah paman Nabi Saw dan memukul-mukulnya…
  • Upaya untuk merusak mimbar Nabi Saw di masjid beliau…
  • Menghancurkan Ka’bah sebanyak dua kali…
  • Dan juga melaknat Nabi Saw di atas mimbar-mimbar… Bukan hanya melaknati Ali saja, mereka melaknati Ali dan semua orang yang mencitai Ali… Dan para sahabat yang shaleh,…  seperti istri Nabi Ummul Mukminin Ummu Salamah dan Ibnu Abbas telah memahami maksud pelaknatan itu bahwa pada hakikatnya Rasulullah lah yang mereka incar!!!
  • Mereka lebih mengutamakan para Khalifah dari pada para Nabi dan Rasul as. Akidah itu mereka pekikkan dari atas mimbar-mimbar dan tidak mereka rahasiakan.

Imam Abu Daud telah meriwayatkan sebagian dari apa yang telah saya sebutkan di atas. Demikian juga dengan al Baladzuri dan ulama lain…

Marwan bin al Hakam melarang Abu Ayyub al Anshari meletakkan pipi beliau di atas tanah pusara Nabi Saw.. ISIS dan Pendahulu mereka lebih dekat kepada Marwan si fasik itu dan sangat jauh dari Abu Ayyub sang sahabat mulia itu!!

Ya, boleh jadi di kalangan lain ada yang bersikap berlebihan baik di sisi Ka’bah, makam Nabi Saw atau makam-makam Ahlulbait… Tetapi semua itu tidak membenarkan ISIS untuk menghancurkan Ka’bah dan membenci Nabi Saw dan Ahlulbait beliau!

kejahatan Mu’awiyah dan para penguasa bani Umayyah yang melestarikan kemunafikan dan kedengkian bani Umayyah kepada Allah dan Rasul-Nya… Data-data sejarah tak terbantahkan telah membuktikan semua kejahatan dan kemunafikan akidah dan kekafiran sikap mereka itu! Namun anehnya (walaupun tentu tidak aneh sebab sebagian kaum munafik adalah kekasih dan pembela kaum munafik lainnya) kaum Salafi Wahhabi akan berontak dengan emosi jahiliyah tak terkontrol jika ada yang berani membongkar bukti-bukti kemunafikan para penguasa bani Umayyah, utamanya Mu’awiyah, Yazid, Marwan dan juga Abu Sufyan dan al Hakam ayah Marwan yang terkutuk itu!!

Mereka akan segera menuduh siapapun yang menyentuh “kehormatan” Muawiyah, dituduh sebagai mencaci maki sahabat Nabi Saw. Dan karenanya ia berhak divonis sesat dan zindiq dan akhirnya darahnya  halal ditumpahkan… Inilah logika Salafi Wahhabi…

Inilah logika dan ideologi ISIS kelompok teroris ideologis yang didukung zionis Israel dan semua musuh-musuh Allah dan umat Islam, tidak terkecuali sebagian para raja  di Timur Tengah dan sebagian kaum dungu di tanah air tercinta Indonesia!!! kita semua harus waspada akan gelombang bahaya yang diusung mereka… Jangan sampai sang merah putih kita dinodai oleh darah-darah yang akan membuat najis kesuciannya!!

Dalam mazhab Syi’ah, Shalat tarawih berjama’ah hukumnya bid’ah dan yang disunahkah adalah shalat sunah malam di bulan Ramadhan yang dilakukan sendiri [tidak berjama’ah]

sumber tulisan : Secondprince

Kali ini kami akan menyampaikan bagaimana pandangan mazhab Syi’ah mengenai shalat tarawih.

Pembahasan berikut akan mengutip hadis-hadis Syi’ah dan melakukan penilaian dengan standar ilmu Rijal Syi’ah sehingga dapat disimpulkan pandangan yang shahih dalam mazhab Syi’ah berkenaan hukum shalat tarawih. Tujuan penulisan ini hanya berusaha menampilkan secara objektif [sesuai kaidah ilmiah] apa sebenarnya pandangan mazhab Syi’ah tentang shalat tarawih.

.

.

.

وعنه عن حماد عن عبد الله بن المغيرة عن ابن سنان عن أبي عبد الله عليه السلام قال: سألته عن الصلاة في شهر رمضان قال ثلاث عشرة ركعة منها الوتر وركعتان قبل صلاة الفجر كذلك كان رسول الله صلى الله عليه وآله يصلي ولو كان فضلا لكان رسول الله صلى الله عليه وآله أعمل به وأحق

Dan darinya [Husain bin Sa’iid] dari Hamaad dari ‘Abdullah bin Mughiirah dari Ibnu Sinaan dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam], [Ibnu Sinaan] berkata aku bertanya kepadanya tentang shalat di bulan Ramadhaan, maka Beliau menjawab “tiga belas raka’at termasuk di dalamnya witir dan dua raka’at sebelum shalat fajar, demikianlah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] shalat dan seandainya ada yang lebih utama maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lebih berhak dalam mengamalkannya [Tahdzib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 3/69]

Lafaz Syaikh Ath Thuusiy dalam awal sanad “dan darinya” maka “nya” yang dimaksud adalah Husain bin Sa’iid bin Hamaad sebagaimana yang nampak dalam riwayat sebelumnya [Tahdzib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 3/68]. Jalan sanad Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid adalah shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Al Khu’iy daam biografi Husain bin Sa’iid bin Hamaad [Mu’jam Rijal Al Hadiits Sayyid Al Khu’iy 6/267 no 3424]

Benarkah jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid bin Hamaad adalah shahih?. Berikut pembuktiannya, disebutkan oleh Syaikh Ath Thuusiy

وما ذكرته فهذا الكتاب عن الحسين بن سعيد فقد أخبرني به الشيخ أبو عبد الله محمد بن محمد بن النعمان والحسين بن عبيد الله وأحمد بن عبدون كلهم، عن أحمد بن محمد بن الحسن بن الوليد، عن أبيه محمد بن الحسن بن الوليد وأخبرني أيضا أبو الحسين بن أبي جيد القمي، عن محمد بن الحسن بن الوليد، عن الحسين بن الحسن بن أبان عن الحسين بن سعيد ورواه أيضا محمد بن الحسن بن الوليد، عن محمد بن الحسن الصفار، عن أحمد بن محمد، عن الحسين بن سعيد

Dan apa yang disebutkan tentangnya dalam kitab ini dari Husain bin Sa’iid maka sungguh telah mengabarkan kepadaku Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man, Husain bin ‘Ubaidillah dan Ahmad bin ‘Abduun semuanya dari Ahmad bin Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Ayahnya Muhammad bin Hasan bin Waliid. Dan telah mengabarkan kepadaku Abu Husain bin Abi Jayyid Al Qummiy dari Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Husain bin Hasan bin Abaan dari Husain bin Sa’iid. Dan diriwayatkan Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Ahmad bin Muhammad dari Husain bin Sa’iid [Syarh Masyaikh Tahdzib Al Ahkaam hal 63]

Untuk memudahkan cukuplah kami ambil salah satu jalan sanad dari keseluruhan sanad di atas yaitu Jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy dari Abu Husain bin Abi Jayyid Al Qummiy dari Muhammad bin Hasan bin Waliid dari Husain bin Hasan bin Abaan dari Husain bin Sa’iid. Para perawi sanad ini semuanya tsiqat

  1. Abu Husain bin Abi Jayyid adalah Aliy bin Ahmad bin Muhammad bin Abi Jayyid seorang yang tsiqat karena ia termasuk diantara guru-guru An Najasyiy [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 384]
  2. Muhammad bin Hasan bin Waliid adalah Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid seorang syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  3. Husain bin Hasan bin Abaan dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Daud Al Hilliy dalam biografi Muhammad bin Awramah [Rijal Ibnu Dawud hal 270 no 431]

Kesimpulannya adalah benar apa yang dikatakan Sayyid Al Khu’iy bahwa jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid adalah shahih. Kemudian bagaimanakah sanad riwayat di atas dari Husain bin Sa’iid sampai ke Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]. Berikut keterangan para perawinya

  1. Husain bin Sa’iid bin Hammaad adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  2. Hammaad bin Iisa Al Juhaniy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 334]
  3. ‘Abdullah bin Mughiirah seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 215 no 561]
  4. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]

Berdasarkan keterangan di atas maka disimpulkan bahwa sesuai kaidah ilmu Rijal Syi’ah maka riwayat Syaikh Ath Thuusiy di atas sanadnya shahih. Matan riwayat menunjukkan bahwa shalat tarawih termasuk sunnah. Apakah shalat tersebut dilakukan berjama’ah atau sendiri?. Jawabannya ada dalam riwayat berikut

الحسين بن سعيد عن حماد بن عيسى عن حريز عن زرارة وابن مسلم والفضيل قالوا: سألناهما عن الصلاة في رمضان نافلة بالليل جماعة فقالا: ان النبي صلى الله عليه وآله كان إذا صلى العشاء الآخرة انصرف إلى منزله، ثم يخرج من آخر الليل إلى المسجد فيقوم فيصلي، فخرج في أول ليلة من شهر رمضان ليصلي كما كان يصلي فاصطف الناس خلفه فهرب منهم إلى بيته وتركهم ففعلوا ذلك ثلاث ليال فقام في اليوم الرابع على منبره فحمد الله وأثنى عليه ثم قال: (أيها الناس إن الصلاة بالليل في شهر رمضان النافلة في جماعة بدعة، وصلاة الضحى بدعة ألا فلا تجتمعوا ليلا في شهر رمضان لصلاة الليل ولا تصلوا صلاة الضحى فان ذلك معصية، الا وإن كل بدعة ضلالة وكل ضلالة سبيلها إلى النار ثم نزل وهو يقول قليل في سنة خير من كثير في بدعة

Husain bin Sa’iid dari Hammaad bin Iisa dari Hariiz dari Zurarah dan Ibnu Muslim dan Fudhail, mereka berkata kami bertanya kepada mereka berdua [Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah] tentang shalat sunah malam di bulan Ramadhan dengan berjama’ah. Maka keduanya menjawab “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] jika telah mengerjakan shalat Isyaa’ Beliau pulang ke rumahnya kemudian keluar ke masjid di akhir malam untuk shalat. Beliau keluar di malam pertama di bulan Ramadhan untuk shalat seperti biasa kemudian orang-orang ikut shalat di belakangnya maka Beliau menghindar dari mereka, pulang ke rumahnya dan meninggalkan mereka, mereka melakukan hal ini tiga malam maka pada malam keempat Beliau naik mimbar mengucapkan pujian kepada Allah SWT dan berkata “wahai manusia sesungguhnya shalat sunnah malam di bulan Ramadhan dengan berjama’ah adalah bid’ah dan shalat Dhuha adalah bid’ah, mala janganlah kalian berkumpul di malam bulan Ramadhan untuk shalat malam dan janganlah kalian melakukan shalat Dhuha, sesungguhnya yang demikian adalah dosa. Dan sesungguhnya semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan tempatnya di neraka”. Kemudian Beliau turun [dari mimbar] dan mengatakan “sedikit dalam sunnah lebih baik dari banyak dalam bid’ah” [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 3/69-70]

Lafaz dalam riwayat Syaikh Ath Thuusiy dimana para perawi [yaitu Zurarah, Ibnu Muslim dan Fudhail] berkata “kami bertanya kepada mereka berdua”. Yang dimaksud mereka berdua disini adalah Imam Abu Ja’far Al Baqir dan Abu ‘Abdullah. Hal ini sebagaimana disebutkan [dalam hadis yang sama] dengan lafaz sharih [jelas] dalam riwayat Syaikh Ash Shaduq [Man La Yahdhuuru Al Faqiih 2/137 no 1964]

Jalan sanad Syaikh Ath Thuusiy sampai ke Husain bin Sa’iid telah disebutkan sebelumnya adalah shahih. Kemudian para perawi sanad di atas berikut keterangannya

  1. Husain bin Sa’iid bin Hammaad adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 355]
  2. Hammaad bin Iisa Al Juhaniy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 334]
  3. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy seorang penduduk Kufah yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  4. Zurarah bin A’yan Asy Syaibaniy seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu Abdullah [Rijal Ath Thuusiy hal 337]
  5. Muhammad bin Muslim seorang faqih wara’ sahabat Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah, termasuk orang yang paling terpercaya [Rijal An Najasyiy hal 323-324 no 882]

Berdasarkan keterangan di atas maka disimpulkan bahwa sesuai kaidah ilmu Rijal Syi’ah maka riwayat Syaikh Ath Thuusiy di atas sanadnya shahih. Matan riwayat menunjukkan bahwa shalat tarawih berjama’ah adalah bid’ah. Maka disini dapat dipahami pula bahwa shalat tarawih yang disunahkan pada riwayat sebelumnya adalah dikerjakan sendiri bukan dengan berjama’ah.

Terdapat riwayat lain dari imam Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] yang menegaskan kalau shalat tarawih berjama’ah adalah bid’ah. Riwayat ini disebutkan dalam Al Kafiy dengan matannya berupa khutbah Imam Aliy yang panjang dimana dalam sebagian khutbah Beliau terdapat ucapan berikut

والله لقد أمرت الناس أن لا يجتمعوا في شهر رمضان إلا في فريضة وأعلمتهم أن اجتماعهم في النوافل بدعة فتنادى بعض أهل عسكري ممن يقاتل معي: يا أهل الاسلام غيرت سنة عمر ينهانا عن الصلاة في شهر رمضان تطوعا

Demi Allah, ketika aku perintahkan orang-orang untuk tidak berkumpul [shalat berjama’ah] di bulan Ramadhan kecuali dalam shalat Fardhu dan aku beritahu mereka bahwa berkumpul [shalat berjama’ah] dalam shalat sunnah adalah bid’ah maka sebagian tentaraku yang berperang bersamaku berteriak “wahai orang islam, ia ingin mengubah sunah Umar, ia melarang kita untuk shalat sunah di bulan Ramadhan” [Al Kafiy Al Kulainiy 8/62-63]

Sanad riwayat Al Kafiy di atas disebutkan Al Kulainiy di awal riwayat yaitu sanad berikut

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن حماد بن عيسى، عن إبراهيم بن عثمان، عن سليم بن قيس الهلالي قال: خطب أمير المؤمنين عليه السلام

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammaad bin Iisa dari Ibrahim bin ‘Utsman dari Sulaim bin Qais Al Hilaaliy yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] berkhutbah…[Al Kafiy Al Kulainiy 8/58]

Para perawi sanad Al Kulainiy tersebut adalah tsiqat maka kedudukannya shahih. Berikut keterangan mengenai para perawinya sesuai standar ilmu Rijal Syi’ah

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Hammaad bin Iisa Al Juhaniy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 334]
  4. Ibrahim bin Utsman yang dimaksud disini ada dua kemungkinan, pertama yaitu Ibrahim bin Utsman Abu Ayuub sebagaimana disebutkan Sayyid Al Khu’iy bahwa ia meriwayatkan dari Sulaim bin Qais dan telah meriwayatkan darinya Hammaad bin Iisa [yaitu hadis ini] [Mu’jam Rijal Al Hadiits, Sayyid Al Khu’iy 1/233 no 208]. Ibrahim bin Utsman Abu Ayuub seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 11]. Kemungkinan kedua ia adalah Ibrahim bin Umar Al Yamaniy dan penulisan “bin Utsman” tersebut adalah tashif [keliru] sebagaimana disebutkan oleh Sayyid Muhammad Al Abthahiy [Tahdzib Al Maqaal Fii Tanqiih Kitab Rijal An Najasyiy 1/187]. Pendapat kedua ini kami nilai lebih rajih karena Ibrahim bin Umar Al Yamaniy memang dikenal meriwayatkan dari Sulaim bin Qais Al Hilaaliy [selain dari hadis ini]. Dan qarinah yang menguatkan adalah Al Kulainiy juga membawakan dua hadis lain dengan sanad “Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammad bin Iisa dari Ibrahim bin Umar Al Yamaniy dari Sulaim bin Qais” [Al Kafiy Al Kulainiy 1/191 dan Al Kafiy Al Kulainiy 8/343]. Ibrahim bin Umar Al Yamaaniy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 20 no 26]
  5. Sulaim bin Qais Al Hilaaliy termasuk sahabat Amirul Mukminin, seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 262]

.

.

.

Kesimpulan

Dalam mazhab Syi’ah ternyata memang shahih bahwa Shalat tarawih berjama’ah hukumnya bid’ah dan yang disunahkah adalah shalat sunah malam di bulan Ramadhan yang dilakukan sendiri [tidak berjama’ah].

Tentu saja pandangan mazhab Syi’ah tersebut berdasarkan riwayat shahih di sisi mereka dan tidak menjadi hujjah bagi mazhab Ahlus Sunnah sebagaimana pula riwayat shahih di sisi mazhab Ahlus Sunnah tidak menjadi hujjah bagi mazhab Syi’ah. Perbedaan di antara kedua mazhab adalah suatu keniscayaan karena kitab pegangan masing-masing yang berbeda, yang bisa dilakukan adalah hendaknya masing-masing penganut kedua mazhab tersebut tidak menjadikan perbedaan itu sebagai bahan celaan.