keimamahan berawal di tangan Imam Ali as, semua jumlah Imam ada 12 orang ( wakil dan washi dari Nabi Muhammad Saw)

Veronica:
Saya Menerima Kenabian Muhammad dan Ali adalah Washinya
“Dengan memilih Syiah, saya ikrarkan bahwa keyakinan saya keimamahan ada berawal di tangan Imam Ali as dan berakhir di tangan Imam Mahdi afs, dan kesemua jumlah Imam ada dua belas orang dan saya yakini kesemuanya adalah wakil dan washi dari Nabi Muhammad Saw yang ketaatan kepada mereka adalah wajib dan apa yang mereka ajarkan dan tuntunkan saya terima sebagai kebenaran dan kemestian untuk dijalankan.” 
 Saya Menerima Kenabian Muhammad dan Ali adalah Washinya

salah seorang perempuan muda asal Ukraina menyatakan keislamannya dihadapan Ayatullah Nurullah Tabarsi wakil Wali Faqih di Mazandaran Republik Islam Iran
.
Didampingi suami dan keluarganya, Veronica, nama perempuan tersebut mengumumkan keislamannya dan memilih Syiah sebagai mazhabnya dalam berislam.Veronica setelah mengucapkan ikrar keislamannya, beliau mengganti namanya menjadi Maryam sesuai keinginannya sendiri
.
Beliau berkata, “Setelah mempelajari mazhab Syiah khususnya dari suami
saya yang lebih dulu memantapkan diri untuk memeluk Islam, saya merasa bahwa
pilihannya itu tidak salah. Karenanya dengan ini saya menyatakan bahwa Nabi
Muhammad Saw adalah benar utusan Allah SWT dan Ali as adalah washinya.
Saya menerima kenabian Muhammad Saw, kebenaran hari kiamat, dan keadilan Ilahi,
serta wilayah keimamahan pada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as beserta
keturunannya yang terpilih. Diantara sekian mazhab Islam saya memilih Syiah
untuk diri saya.”
.

Dalam pernyataannya selanjutnya, Veronica alias Maryam mengatakan, “Dengan memilih Syiah, saya ikrarkan bahwa
keyakinan saya keimamahan ada berawal di tangan Imam Ali as dan berakhir di tangan
Imam Mahdi afs, dan kesemua jumlah Imam ada dua belas orang dan saya yakini
kesemuanya adalah wakil dan washi dari Nabi Muhammad Saw yang ketaatan kepada
mereka adalah wajib dan apa yang mereka ajarkan dan tuntunkan saya terima
sebagai kebenaran dan kemestian untuk dijalankan.”

.

Veronica, warga asal Ukraina tersebut adalah sarjana Arsitektur dan menyatakan masuk islam 17 Februari 2014
silam, menyusul suaminya yang telah lebih dulu memeluk agama Islam beralih dari agama sebelumnya. Keduanya memilih menyatakan keislamannya dibawah bimbingan Ayatullah di Iran dan memantapkan diri meyakini Syiah sebagai mazhab
pilihannya.

.

Kecintaan kepada Imam Husain as Menarikku ke Pusaran Islam

Ivan Misnakuv:
Kecintaan kepada Imam Husain as Menarikku ke Pusaran Islam
“Dengan mempelajari dan melihat langsung pengamalan Islam dan mazhab Syiah di Iran, saya akhirnya tidak bisa menutupi kekaguman ini. Harus saya akui, Islam adalah agama yang sempurna, dan hatiku telah begitu mantap untuk jatuh pada pilihan ini.” 
 

seorang Mahasiswa Kristiani berkebangsaan Rusia yang selama 8 tahun bermukim di Iran dan kuliah di Universitas Ghurghan, sabtu pagi [8/3] mendatangi kantor perwakilan Wilayatul Faqih di Gulestan dan mengucapkan syahadat dihadapan Imam Jum’at Ghurghan yang dengan itu dia mengikrarkan diri memeluk Islam sebagai agamanya yang baru.

Ivan Misnakuv mengucapkan syahadat dibawah bimbingan Ayatullah Sayyid Kadzhim Nur Mufidi dan menetapkan Syiah sebagai mazhab pilihannya dalam menjalani Islam. Ivan dalam pengakuannya menyebutkan, akhirnya memantapkan diri memeluk Islam setelah sebelumnya menyibukkan diri mempelajari Al-Qur’an dan menelusuri kisah kepahlawanan Imam Husain as.

“Dengan mempelajari dan melihat langsung pengamalan Islam dan mazhab Syiah di Iran, saya akhirnya tidak bisa menutupi kekaguman ini. Harus saya akui, Islam adalah agama yang sempurna, dan hatiku telah begitu mantap untuk jatuh pada pilihan ini.” Ungkapnya.

Ivan melanjutkan, “Kecintaan kepada Imam Husain as telah memenuhi hati ini, jauh sebelum hari ini. Selama 8 tahun di Iran, saya aktif mengikuti peringatan kesyahidan Imam Husain as setiap tahunnya di bulan Muharram. Karenanya saya yakin, kemantapan hati ini dalam memilih Islam adalah dari Allah melalui perantaraan keberkahan dan karamah pemimpin yang agung tersebut.”

“Islam Syiah diperkenalkan oleh dua orang saudara perempuan saya, yang sebelumnya juga sudah memeluk agama Islam. Berkat dorongannya, saya memilih Iran sebagai tempat menimba ilmu. Dan saya menemukan atmosfer keilmuan yang luar biasa di Negara ini. Meskipun sebelumnya saya Kristiani, saya bebas dalam memeluk keyakinan saya itu, dan akhirnya dalam beralih keyakinan itu sepenuhnya karena kehendak saya pribadi dan tidak ada paksaan sedikitpun dari siapapun.” Tambahnya.

Ayatullah Nur Mufidi dalam sambutannya mengatakan, “Kalau saudara memang benar meyakini kebenaran Islam dari dalam hati, dan memilih Islam dengan niat tulus untuk mendekati Tuhan, Insya Allah, Allah akan memberikan jalan kemudahan untuk saudara mencapai taufik Ilahi dan hakikat.”

Ulama yang menjabat Wakil Wali Faqih di Provinsi Ghulestan dan Imam Jum’at Ghurghan tersebut kemudian mendo’akan dan berharap kepada Allah SWT melalui perantaraan Maksumin as agar ikrar berislam Mahasiswa Rusia tersebut dapat dipegang teguh, dan mendoakan seluruh kaum muslimin untuk senantiasa berada dalam keberkahan dan kebaikan.

jaminan Allah untuk menjaga keotentikan Al Quran

Syiah Menjawab Tudingan:
Penolakan Syiah terhadap Tahrif Al-Quran

 

Ada sejumlah hadis yang juga seolah-olah menunjukkan tahrif dalam hadis-hadis Ahlus Sunnah. Misalnya dalam kitab tafsir Ad-Durr Al-Mantsur karya Jalaluddin As-Suyuthi, yang menyebutkan riwayat Ibnu Mardawaih dari Sayyidina Umar ibn Al- Khaththab, yang berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Al-Quran itu terdiri dari satu juta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa mem bacanya dengan niat mengharap pahala, maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.” 

Penolakan Syiah terhadap Tahrif Al-Quran

Pembahasan hadis-hadis riwayat Al-Kulaini yang dianggap membenarkan adanya tahrif Al-Quran.

Riwayat Pertama

Abu Ja’far (Imam Al-Baqir) a.s. berkata, “Tidak seorang pun yang mengaku telah mengumpulkan Al-Quran sebagaimana yang telah diturunkan, melainkan ia adalah pembohong besar.  Dan tidak ada yang mengum pulkan serta menghafalnya seba gaimana diturunkan, kecuali Ali ibn Abu Thalib dan para imam dari keturunannya.”

Terlepas dari masalah yang terkait dengan sanad riwayat di atas, sebab ‘Amr ibn Abu Al-Miqdâm masih diperselisihkan para ulama Rijal tentang ketsiqahannya79, perlu diketahui bahwa dalam hadis tersebut tid ak ada penegasan akan terjadinya pengurangan pada Al-Quran Al-Karîm.

Sebab kata ﲨﻊ disusul dengan kata ﺣﻔﻆ, yang memberikan makna bahwa yang dihafal dan dikumpulkan oleh Imam Ali dan para Imam suci Syiah a.s. adalah ilmu tentang seluruh teks ayat Al-Quran beserta takwil, tafsir, dan kandungannya baik yang zhahir maupun yang bathin. Dan bukan sekadar menghafal teks ayat-ayat suci Al-Quran. Selain itu, pemaknaan seperti itu sangat sejalan dengan keyakinan Al-Kulaini yang memasukkan hadis di atas dalam bab khusus dengan judul: ﹶﻤﻊﹺ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥﹶ ﻛﻠﱠﻪﹸ ﺇﻻﱠ ﺍﻷﺋﻤﺔ) ﻉ (ﻭ ﺃﳖﻢ ﺇﹺﻧﱠﻪﹸ ﱂ ﳚ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻤﹶﻪﹸ ﻛﻠﱠﻪﹸ . Bahwa sesungguhnya tidak ada yang mengumpulkan Al-Quran seluruhnya, kecuali para imam dan mereka mengetahui seluruh ilmu Al-Quran. Dalam bab ini Al-Kulaini meriwayatkan enam hadis, empat hadis terakhir berbicara tentang ilmu para Imam Ahlul Bait tentang apa yang terkandung dalam Al-Quran. Sedangkan dua hadis pertama adalah yang telah dikutip di atas.

Pada hadis di atas, terdapat dua masalah yang perlu didiskusikan, pertama, adanya mushaf milik Imam Ali a.s. Kedua, bentuk dan hakikat mushaf tersebut. Tent ang masalah pertama, tidak diragukan bahwa se- peninggal Rasulullah Saw. Imam Ali a.s. telah meluangkan waktu beliau untuk mengumpulkan Al-Quran. Berita tentangnya telah diterima kebenarannya oleh ulam a Ahlus Sunnah.

As-Sijistani dalam kitab Al-Mashâhif meriwayatkan dari Ibnu Sîrîn, berkata, “Ketika Rasulullah Saw. wafat, Ali bersumpah untuk tidak mengenakan ridâ’ kecuali untuk shalat Jumat sehingga dia selesai mengumpulkan Al-Quran dalam sebuah mushaf.”80 Berita tentangnya juga dapat dibaca dalam berbagai kitab Ahlus Sunnah seperti Al-Fahrasat Ibnu Nadîm, Al-Itqân As-Suyuthi, dan lain-lain. Kedua, tentang hakikat mushaf Imam Ali a.s. Para ulama menyebutkan bahwa ia ditulis sesuai dengan urutan nuzûl-nya, di samping disertakan keterangan tentang makna dan ta’wîlnya. Ibnu Juzzai berkata, “Ketika Rasulullah Saw. wafat, Ali ibn Abu Thalib r.a. duduk di rumahnya, dia mengumpulkan Al-Quran sesuai urutan tanzîl-nya.

Andai mushaf itu ditemukan pasti di dalamnya terdapat banyak ilmu pengetahuan, tetapi sayang tidak ditemu-kan.”81 Suyuthi mengatakan, “Jumhur ulama berpendapat bahwa tertib susunan/urutan surat-surat ditetap- kan berdasarkan ijtihad para sahabat. Ibnu Fâris berdalil bahwa di antara para sahabat ada yang menyusun surat-surat Al-Quran berdasarkan urutan tanzîl/turunnya, yaitu mushaf Ali. Awal mushaf itu adalah surat Iqra’ kemudian Nûn, kemudian Al-Muzammil, dan demikian seterusnya hingga akhir surat-surat Makkiyah, kemudian surat-surat Madaniyyah.”82

Riwayat Kedua

Hadis kedua yang diriwayatkan Al-Kulaini dalam bab tersebut adalah:

“Dari Abu Ja’far a.s. Dia berkata, ‘Tidak ada seorang yang mengaku memiliki seluruh Al- Quran, zhahir dan batinnya melainkan para washi (imam).’”

Terlepas dari kelemahan dua perawinya yang bernama Muhammad ibn Sinan dan Al-Munakhk hal— sebagaimana disebutkan oleh para pakar Ilmu Rijâl Syiah seperti An-Najjâsyi dalam Rijâlnya, Ath-Thûsi dalam Fihrasat, Tahdzîb Al-Ahkâm ketika menyebut hadis dengan nomor 1464 pada juz 7/361, Al-Istib- shâr (3/224) ketika menyebut hadis nomor 810, Al- Kasyi dalam Rijâl-nya, dan Al-Allamah Al-Hilli dalam Rijâl-nya dan sebagainya—penyebutan kalimat:  ﻇﺎﻫﺮﻩ ﻭ ﺑﺎﻃﻨﻪ akan memperjelas makna hadis tersebut, bahwa yang dimiliki para imam dan tidak dimiliki selain mereka adalah ilmu seluruh Al-Quran baik yang zhahir maupun yang batin. Jadi dalam usaha memfahami hadis pertama tidak dapat dipisahkan dari hadis kedua dan juga dari penempatan keduanya pada bab tentang ilmu para imam.

Demikianlah pemahaman para ulama Syiah seperti yang terungkap dalam Hasyiyah atas Al-Kâfî oleh Sayy id Ath-Thabathaba’i (1/228) dan Syarah Ash-Sha hîfah as-Sajjâdiyah oleh Sayyid Ali ibn Ma’shum Al-Madani (401). Untuk memperjelas makna kedua hadis di atas, mungkin kita bisa merujuk pada perkataan Ibnu Umar berikut ini: “Jangan sekali-kali seorang dari kalian mengatakan, ‘Aku telah mengambil seluruh Al- Quran!’ Tahukah dia apa ‘seluruhnya’ itu! Telah banyak (ilmu yang terkandung dalam) Al-Quran yang hilang. Akan tetapi, hendaknya dia berkata, ‘Aku mengambil yang zhahir saja.’”83

Riwayat Ketiga

Hadis ketiga yang disebutkan sebagai tuduhan tahrif dalam Al-Kâfi adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya Al-Quran yang dibawa Jibril a.s. kepada (Nabi) Muhammad Saw. adalah 17.000/tujuh belas ribu ayat.”

Hadis di atas diriwayatkan Al-Kulaini dalam ki- tab Al-Kâfi  pada bab Kitabu Fadhli Al-Quran, bab An- Nawâdir. Para perawi dalam silsilah riwayat di atas adalah tsiqâh seperti dinyatakan para Ahli Ilmu Rijâl Syiah. Karenanya, sebagian orang menyerang Syiah dengan menyatakan bahwa hadis riwayat Al-Kâfi  yang menunjukkan adanya tahrif  di atas adalah sahih, jadi berarti Syiah meyakini adanya tahrif. Padahal, seperti diketahui bersama, baik dalam disiplin Ilmu Hadis Ahlus Sunnah maupun Syiah, bahwa bisa jadi sebuah hadis itu sahih dari sisi sanadnya, dalam arti para perawinya tepercaya/tsiqât, namun sebenarnya pada matannya terdapat masalah. Sebab ketepercayaan seorang perawi bukan segalanya dalam menentukan status sebuah hadis. Kita harus membuka kemungkinan boleh jadi dia lupa, atau salah dalam menyampaikan matan hadis dan sebagainya.

Selain itu, hadis di atas adalah hadis ahâd (bukan mutawâtir) yang tidak akan pernah ditemukan baik dalam kitab Al-Kâfi maupun kitab-kitab hadis Syiah lainnya dengan sanad diatas. Di samping itu, perlu dimengerti bahwa Al-Kulaini memasukkan hadis di atas dalam bab An-Nawâdir. Dan seperti disebutkan Syaikh Mufîd, para ulama Syiah telah menetapkan bahwa hadis-hadis nawâdir tidak dapat dijadikan pijakan dalam amalan, sebagaimana istilah nadir (bentuk tunggal kata nawâdir) sama dengan istilah syâdz (ganjil). Para Imam Syiah telah memberikan kaidah dalam menimb ang sebuah riwayat, yaitu hadis yang syâdz harus ditinggalkan dan kita harus kembali kepada yang di- sepakati/al-mujma’ ‘alaih. Imam Ja’far a.s. bersabda,“Perhatikan apa yang diriwayatkan oleh mereka dari kami yang jadi dasar keputusan mereka. Di antara riwayat-riwayat itu, apa  yang disepakati oleh sahabat-sahabatmu, maka ambillah! Adapun riwayat yang syâdz dan tidak masyhur menurut sahabat-sahabatmu, maka tinggalkanlah! Karena riwayat yang sudah disepakati itu tidak mengandung keraguan ….”84

Sementara hadis di atas tidak meraih kemasyhuran dari sisi dijadikannya dasar amalan dan fatwa, tidak juga dari sisi berbilangnya jalur periwayatannya. Ia sebuah riwayat syâdz nâdirah (ganjil) dan bertentangan dengan ijmâ’ mazhab seperti yang dinukil dari para tokoh terkemuka Syiah di sepanjang zaman, di antaranya Syaikh Shadûq, Syaikh Mufîd, Sayyid Al-Murtadha ‘Almul Hudâ, Syaikh Ath-Thûsi, Allamah Al-Hilli, Syaikh Ath-Thabarsi, dan puluhan bahkan ratusan lainnya. Angka 17.000 itu ternyata dalam beberapa manuskrip Al-Kâfi  tertulis 7.000. Dengan demikian, belum dapat dipastikan angka tersebut dari riwayat Al-Kâfi . Bisa jadi kesalahan dilakukan oleh penulis sebagian  manuskrip kuno kitab Al-Kâfi . Anehnya, angka 17.000/tujuh belas ribu ayat telah dinukil dari Al Kâfi  oleh beberapa ulama yang menuduhkan tahrif kepada Syiah seperti:

1. Al-Alûsi dalam Mukhtshar Tuhfah al Itsnâ ‘Asyriyah (hal. 52).

2. Mandzûr An-Nu’mâni dalam Ats-Tsawrah Al- Irâniyha Fî Mîzâni Al-Islâm (hal. 198).

3. Muhammad Mâlullah dalam Asy-Syiah wa Tah- rif ‘u Al-Qurân (hal. 63).

4. Dr. Muhammad Al-Bandâri dalam At-Tasyayyu’ Baina Mafhûmi Al-Aimmah wa Al-Mafhûm Al- Fârisi (hal. 95).

5. Dr. Shabir Abdurrahman Tha’imah dalam Asy- Syiah Mu’taqadan wa Madzhaban (hal. 103).

6. Ihsân Ilâi Dzahîr dalam Asy-Syiah wa As-Sunnah: (hal. 80) dan Asy-Syiah wa Al-Qurân (hal. 31).

7. Dr. Umar Farîj dalam Asy-Syiah Fî At-Tashaw- wur Al-Qurâni (hal. 24).

8. Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An Al-Firaq Fî Târîkh Al-Muslimîn (hal. 228).

Adapun di antara yang menisbatkan tahrif dalam Syiah yang menyebutkan hadis tersebut dari Al- Kâfi dengan angka 7.000/tujuh ribu ayat adalah:

1. Musa Jârullah dalam Al-Wasyî’ah (hal. 23).

2. Abdullah Ali Al-Qashîmi dalam Ash-Shirâ’ Baina Al-Islâm wa Al-Watsaniyah (hal. 71).

3. Syaikh Muhammad Abu Zuhrah dalam kitab Al- Imâm Ash-Shâdiq (hal. 323).

4. Dr. Ahmad Muhammad Jali dalam Dirâsat ‘An Al-Firaq Fî Târîkh Al-Muslimîn (hal. 228).

5. Ihsân Ilâi Dzahîr dalam Asy-Syiah wa Al- Qurân (hal. 31).

Hadis riwayat Al-Kâfi  di atas, dalam naskah kuno yang dimiliki dan dijadikan pijakan Al-Faidh Al-Kâsyâni dalam penukilan hadis Al-Kâfi  dalam ensklopedia hadis berjudul Al-Wâfi  yang beliau karang, adalah 7.000/tujuh ribu ayat. Dan beliau tidak menyebut-nyebut adanya riwayat dengan redaksi 17.000/tujuh belas ribu ayat. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa naskah asli Al-Kâfi  yang dimiliki Al-Faidh Al-Kâsyâni redaksinya adalah 7.000/tujuh ribu ayat, bukan 17.000/tujuh belas ribu ayat! Lebih lanjut baca kitab Shiyânatu Al-Qurân; Al-Marhum Syaikh Allamah Muhammad Hadi Ma’rifah (hal. 223-224). Jumlah 7.000/tujuh ribu itu disebut tentunya dengan menggenapkan angka pecahan yang biasa dilakukan orang- orang Arab dalam menyebut angka/bilangan yang tidak genap. Demikian diterangkan oleh Allamah Asy-Sya’râni dalam Ta’lîqah-nya atas kitab Al-Wâfi .

Ada sejumlah hadis yang juga seolah-olah menunjukkan tahrif dalam hadis-hadis Ahlus Sunnah. Misalnya dalam kitab tafsir Ad-Durr Al-Mantsur karya Jalaluddin As-Suyuthi, yang menyebutkan riwayat Ibnu Mardawaih dari Sayyidina Umar ibn Al- Khaththab, yang berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, “Al-Quran itu terdiri dari satu juta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa mem bacanya dengan niat mengharap pahala, maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.”85

Dalam kitab Al-Itqânnya As-Suyuthi kembali menyebutkan riwayat di atas dalam pasal, Naw’ (macam) ke-19: Bilangan surat, ayat, kata-kata, dan hurufnya dari riwayat Ath-Thabarâni, dan setelahnya ia mengomentari dengan mengatakan, “Hadis ini, seluruh perawinya tepercaya, kecuali guru Ath-Thabarâni; Muhammad ibn Ubaid ibn Adam ibn Abi Iyâs. Adz-Dzahabi mempermasalahkannya karena riwayat hadis di atas.”86 Artinya pada dasarnya dia juga jujur tepercaya, hanya saja dipandang cacat karena dia meriwa- yatkan hadis di atas. Jalaluddin As-Suyuthi sendiri menerima kesahihan dan kemu’tabaran hadis di atas, dengan mengatakan, “Dan di antara hadis-hadis yang meng-i’tibar-kan masalah huruf-huruf Al-Quran adalah apa yang diriwayatkan At-Turmudzi (lalu dia menyebutkannya) dan apa yang diriwayatkan Ath- Thabarâni ….” yaitu hadis di atas. Hadis riwayat Khalifah Umar di atas telah diterima oleh para ulama Ahlus Sunnah, bahkan ada yang menyebutnya ketika menghitung jumlah huruf-huruf Al-Quran seperti yang dilakukan Doktor Muhammad Salim Muhaisin dalam kitabnya Rihâbul Qur’an Al- Karîm (hal. 132). Az-Zarkasyi dalam kitab Al-Burhân-nya87 menyebut beberapa hasil penghitungan para pakar Al- Quran tentang bilangan huruf Al-Quran, seperti di bawah ini:

1. Dalam penghitungan Abu Bakar Ahmad ibn Hasan ibn Mihrân: 323.015 huruf.

2. Dalam penghitungan Mujahid: 3.210.00 huruf.

3. Dalam penghitungan para ulama atas perintah Hajjaj ibn Yusuf: 340.740 huruf.

Inilah pendapat-pendapat yang disebutkan Az- Zarkasyi. Sengaja di sini disebutkan dengan beragam perbedaannya, agar dapat dilihat langsung bahwa jumlah tertinggi yang disebutkan di atas tidak melebihi tiga ratus empat puluh satu ribu huruf. Itu artinya jumlah ayat Al-Quran yang hilang sebanyak lebih dari 686.260 huruf. Sepertinya Khalifah Umar hendak memperkuat apa yang beliau riwayatkan dalam hadis di atas dengan penegasan lanjutan yang sangat tegas. Diriwayatkan dari Ibnu Abbâs, bahwa Umar memerintah agar umat Islam berkumpul. Setelah berkumpul dia berpidato, setelah memuji Allah, dia berkata: “Hai sekalian manusia! Jangan ada orang yang sedih atas ayat rajam. Sesungguhnya ia adalah ayat yang diturunkan dalam Ki tab Allah, kami semua membacanya, akan tetapi ia hilang bersama banyak ayat Al-Quran yang hilang bersama (wafatnya Nabi) Muh am- mad.”88

Namun, tak ada satu pun ulama Syiah yang menjadikan hadis-hadis di atas sebagai dasar untuk menuduh bahwa Ahlus Sunnah meyakini adanya tahrif, karena Syiah meyakini bahwa pendapat yang menyatakan ada mazhab Islam atau bahkan mazhab di luar Islam yang mampu mengubah Al-Quran berarti meng- ingkari Al-Quran dan jaminan Allah untuk menjaganya. Berikut ini adalah sebagian karya ulama Syiah yang menegaskan ketiadaan tahrif dalam Al-Quran:

1. I’tiqâdât: Ash-Shadûq (w. 381 H)

2. Aâil Al-Maqâlâl Fî Al-Madzâhib Al-Mukhtârât: Syaikh Mufid (w. 413 H)

3. Al-Masâil Ath-Tharablusiyah: Sayyid Murtadha yang bergelar ‘Alamul Huda (w. 436 H)

4. At-Tibyân Fi Tafsîr Al-Quran; Syaikh Ath-Thûsi yang bergelar Syaikh Ath-Thâifah (w. 460 H)

5. Tafsir Majma’ Al-Bayân: Ath-Thabarsi yang ber- gelar Aminul Islam (w. 548 H)

6. Sa’du As-Su’ûd: Sayyid Abul Qasim Ali Ibn Thâwûs Al-Hilli (w. 664 H)

7. Ajwibah Al-Masâil Al-Mihnâwiyah: Allamah Al-Hilli (w. 726 H)

8. Ash-Shirâth Al-Mustaqîm: Zainuddin Al-Baya- dhi Al-Amili (w. 877 H)

9. Tafsir Manhaj Ash-Shâdiqîn: Fathullah Al-Kâ- syân  i (w. 988 H)

10. Al-Wâfi: Al-Faidh Al-Kâsyâni (w. 1019 H)

11. Bihar Al-Anwâr, jilid 92: Syaikh Muhammad Baqir Al-Majlisi (w. 1111 H)

12. Kasyfu Al-Ghithâ’: Syaikh Akbar Ja’far yang  di- kenal dengan gelar Kâsyif Al-Ghithâ’ (w. 1228 H)

13. Tafsir ‘Âlâu Ar-Rahmân: Syaikh Muhammad Jawad Al-Balâghi (w. 1352 H)

14. A’yân Asy-Syiah: Sayyid Al-Mujtahid Al-Akbar Muhsin Al-Amin Al-‘Âmili (w. 1371 H)

15. Al-Fushûl Al-Muhimmah Fi Ta’lîf Al-Ummah dan Ajwibah Masâil Jârullah: Sayyid Al-Imam Syarafuddin Al-Muaswi (w. 1381 H)

16. Al-Bayân Fî Tafsîr Al-Qurân: Sayyid Al-Marja’ Al-A’la Abul Qâsim Al-Khûi.

17. Tahdzîb Al-Ushul dan Anwâr Al-Hidâyah: Imam Rûhullah Al-Muaswi Al-Khumaini (w. 1409 H)

Untuk kesempurnaan penelitian perlu diketahui bahwa konsep tanzîl dalam riwayat pertama difahami

oleh sebagian ulama Syiah sebagai tafsir atau penjelasan.

 

 

Catatan-Catatan

79. Lebih jelasnya baca Tanqîh Al-Maqâl, 2/323.

80. Al-Mashâhif: 16. 81. At Tas-hîl Li ‘Ulûmi at Tanzîl; Imam Muhammad ibn Ahmad ibn Juzzai Al-Kalbi, 1/4, Muqaddimah ‘Ulâ/mukadimah pertama).

82. Al-Itqân, 1/66.

83. Ad-Durr Al-Mantsûr, 1/106 dan Fadhâil Al-Qurân; Abu Ubid Al-Qâsim ibn Sallâm: bab 51, hadis 1, hal. 190.

84. HR. Al-Kâfi, Kitab Fadhli Al-‘Ilmi, bab Ikhtilâf al- Hadîts, hadis no. 10.

85. Ad-Durr al-Mantsûr, 6/422.

86. Al-Itqân, 2/93, cet. Al-Halabi-Mesir.

87. Al-Burhân Fî ‘Ulûmil Qur’ân, 1/314-315. cet. Dâr al-Kutub Al-Ilmiah. Lebanon. Thn. 1988.

88. Mushannaf Ash-Shan’âni, 7/345, hadis no. 13329. Maksud beliau, janganlah kalian bersedih dan ke- mudian mengingkari ayat rajam, walaupun ia sekarang tidak lagi tertera dalam Al-Quran. Sebab bukan hanya ayat itu yang hilang, banyak ayat lain juga hilang bersamanya!

Imam Ali Selaku Khalifah Pertama Rasulullah Ditentang Musuh nya !

Imam Ali dalam Kaca-mata Al-Quran

Banyak sekali buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali a.s. Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam mana pun [setelah Nabi Muhammad Saw] 

 Imam Ali dalam Kaca-mata Al-Quran

Syiah berpendapat, tidak sedikit ayat-ayat Al-Quran yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin Ali a.s. dan memperkenalkannya sebagai pribadi islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah Saw. Ini menunjukkan bahwa ia mendapat perhatian yang tinggi disisi Allah Swt.

Banyak sekali buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali a.s.[16] Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam mana pun. Ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kateg ori berikut ini:

1. Kategori pertama: ayat yang turun khusus berkenaan dengan Imam Ali secara pribadi.

2. Kategori kedua: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali a.s. dan keluarganya.

3. Kategori ketiga: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali dan para sahabat pilihan Rasulullah Saw.

4. Kategori keempat: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali a.s. dan mengecam orang-orang yang memusuhinya.

Berikut ini adalah sebagian dari ayat-ayat ter-sebut.

Kategori Ayat Pertama Ayat-ayat yang turun menjelaskan keutamaan, ketinggian, dan keagungan pribadi Imam Ali a.s. adalah sebagai berikut:

1.      Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Al-Ra‘d [13]: 7)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Ibn Abbâs. Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, Nabi Saw. meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda, ‘Aku adalah pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.’ Lalu dia memegang pundak Ali a.s. sembari bersabda, ‘Engkau adalah pemberi petunjuk itu. Dengan perantara tanganmu, banyak orang yang akan mendapat petunjuk setelahku nanti.’”[17]

2.      Allah Swt. berfirman:

“… dan (peringatan itu) diperhatikan oleh telinga yang mendengar.” (QS. Al-Hâqqah [69]: 12)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ali a.s. berkata: “Rasulullah Saw. berkata kepadaku, ‘Hai Ali, aku memohon kepada Tuhanku agar menjadikan telingamu yang menerima peringatan.’ Lantaran itu, aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah kudengar dari Ras ulullah Saw.”[18]

3.      Allah Swt. berfirman: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS. Al- Baqarah [2]: 274)

Pada saat itu, Imam Ali a.s. hanya memiliki empat dirham. Satu dirham ia infakkan di malam hari, satu dirham ia infakkan di siang hari, satu dirham ia infakkan secara rahasia, dan satu dirham sisanya ia infakkan secara terang-terangan. Rasulullah Saw. bertanya kepadanya: “Apakah yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ali a.s. menjawab: “Aku ingin memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadaku.” Kemudian, ayat tersebut turun.[19]

4.      Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, mereka itu adalah sebaik-sebaik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7)

Ibn ‘Asâkir meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir ibn Abdillah. Jâbir ibn Abdillah berkata: “Ketika kami bersama Nabi Saw., tiba-tiba Ali a.s. datang. Seketika itu, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Ali a.s. dan Syiah (para pengikut)-nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’ Kemudian, turunlah ayat itu. Sejak saat itu, setiap kali Ali a.s. datang, para sahabat Nabi Saw. mengatakan: ‘Telah datang sebaik-baik makhluk.’”[20]

5.      Allah Swt. berfirman: “… maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan (Ahl Adz- Dzikr) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al- Nahl [16]: 43)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir Al-Ju‘fî. Jâbir Al-Ju‘fî berkata: “Ketika ayat ini turun, Ali a.s. berkata: ‘Kami adalah Ahl Adz-Dzikr.’”[21]

6.      Allah Swt. berfirman: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalahmu. Se- sungguhnya Allah menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 67)

Ayat ini turun kepada Nabi Saw. ketika sampai di Ghadir Khum dalam perjalanan pulang dari haji Wadâ’. Nabi Saw. diperintahkan oleh Allah untuk menga ngkat Ali a.s. sebagai khalifah sepeninggalnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali a.s. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya. Di hadapan khalayak banyak, Nabi Saw. mengumandangkan sabdanya yang masyhur, “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali a.s. adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya, dan hinak anlah orang yang menghinakannya.” Setelah itu, Umar bangkit dan berkata kepada Ali a.s.: “Selamat, hai Putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”[22]

7.      Allah Swt. berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku pun rela Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)

Ayat yang mulia ini turun pada tanggal 18 Dzul- hijjah setelah Nabi Saw. mengangkat Ali a.s. sebagai khal ifah sepeninggalnya.[23] Setelah ayat tersebut turun, Nabi Saw. bersabda, “Allah Mahabesar lantaran pe- nyempurnaan agama, pelengkapan nikmat, dan keridhaan Tuhan dengan risalahku dan wilâyah Ali ibn Abu Thalib a.s.”[24]

8.      Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, seraya tunduk kepada Allah.” (QS. Al- Mâ’idah [5]: 55)

Seorang sahabat Nabi terkemuka, Abu Dzar berkata: “Aku mengerjakan shalat Zuhur bersama Rasu- lullah Saw. Tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang memberikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul Saw., tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Ali a.s. sedang mengerjakan rukuk. Kemudian, dia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi Saw. Lalu Nabi Saw. berdoa: ‘Ya Allah, sesungguhnya saudaraku, Musa a.s. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkan lah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar me reka dapat memfahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Harun. Kukuhkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku.’” (QS. Thâ’ Hâ’ [20]: 25- 32)

“Ketika itu engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kukuhkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin,’ (QS. Al- Qas hash [28]: 35).

‘Ya Allah, aku ini adalah Muhammad Nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah unt ukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kukuhkanlah punggungku dengannya.’” Abu Dzar melanjutkan: “Demi Allah, Jibril turun kepadanya sebelum sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah:

Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan ….’”[25] Seorang penyair tersohor, Hassân ibn Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata: “Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin, sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.”[26]

Arti kata “wali”

Kata-kata Wali, Wilayat, Wala, Maula, dan  Awla, berasal dari akar kata yang sama, yaitu Wala. Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam ben- tuk kata kerja. Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradat Al-Quran, karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqâyis Al-Lughah karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua benda sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada benda ketiga. Ketika kita katakan Waliya Zaid Amr, maka itu berarti Zaid dekat di sisi Amr. Kata ini juga bermakna teman, penolong, dan penanggung jawab.

Dengan kata lain, pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan, hubungan, atau interaksi. Dan untuk menentukan arti yang dimaksud, dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memahami konteks kalimatnya. Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memfahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah bahwa Allah, Rasulullah, dan Ali a.s. sajalah—perhatikan kata innama yang berarti “hanyalah”—yang memiliki kedekatan istimewa dengan kaum Muslim. Telah jelas arti dekat di sini berkonotasi spiritual/ metafi sik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula ‘alaih (yang dipimpin). Dengan pengertian semacam ini wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik upaya (ikhtiar).[27]

Dari satu sisi telah jelas bahwa Tuhan adalah wali sel uruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat me- reka. Dan Dia adalah wali kaum mukmin dalam urusan agama dan pencapaian kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin Tuhan merupakan wali bagi kaum mukmin. Sejalan dengan itu, wilayah Imam Ali a.s. yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu dan berhak mengelola masalah dan urusan kaum Muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan, dan agama.[28]

Ayat ini menempatkan wilâyah “kepemimpinan” universal (Al-Wilâyah Al-‘Âmmah) hanya untuk Allah Swt., Rasul-Nya yang mulia, dan Imam Ali a.s. Ayat ini menggunakan bentuk jamak dalam rangka meng agungkan kemuliaan Imam Ali a.s. dan menghormati kedudukannya. Di samping itu, ayat ini berbentuk ka- limat afi rmatif dan menggunakan kata pembatas (hashr) ‘innamâ’ (yang berarti hanya). Dengan demi kian, ayat ini telah mengukuhkan wilâyah tersebut untuk Imam Ali a.s. Sedangkan jika wali diartikan se bagai teman, akan muncul konsekuensi pelarangan pers ahabatan dan pertemanan dengan selain Allah, Ras ul, dan Ali a.s. bagi kaum Muslim. Padahal, kenyataannya kaum Muslim dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan yang lain.

Kategori Ayat Kedua

Al-Quran Al-Karim dihiasi dengan banyak ayat yang turun berkenaan dengan Ahlul Bait a.s. Ayat-ayat ini secara otomatis juga ditujukan kepada junjungan mereka, Amirul Mukminin Ali a.s. Berikut ini sebagian dari ayat-ayat tersebut: Allah Swt. berfirman: “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu upah apa pun atas dakwahku itu selain mencintai Al-Qurbâ. Dan barang siapa mengerjakan kebajikan akan Kami tambahkan kepadanya kebajikan itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.’” (QS. Al-Syûrâ [42]: 23)

Mayoritas ahli tafsir dan perawi hadis berpendapat bahwa maksud dari “Al-Qurbâ” yang telah diwajibkan oleh Allah Swt. kepada segenap hambaNya untuk mencintai mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain a.s. Sedangkan maksud dari “iqtirâf al-hasa- nah” (mengerjakan kebaikan) dalam ayat ini ialah mencintai dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Berikut ini beberapa riwayat yang menegaskan hal ini. Dalam sebuah riwayat, Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, siapakah sanak kerabatmu yang kami telah diwajibkan untuk mencintai mereka?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Mereka adalah Ali, Fathimah, dan kedua putranya.’”[29]

Dalam sebuah hadis, Jâbir ibn Abdillah berkata: “Seorang Arab Badui pernah datang menjumpai Nabi Saw. seraya berkata: ‘Jelaskan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad itu adalah hamba dan Rasul-Nya.’ Arab Badui itu segera men impali, ‘Apakah engkau meminta upah dariku?’ Rasul menjawab, “Tidak, selain mencintai Al-Qurbâ’.

Orang Arab Badui itu bertanya lagi, ‘Keluargaku ataukah keluargamu?’ Nabi Saw. menjawab: ‘Tentu keluargaku.’ Kemudian, orang Arab Badui itu berkata lagi: “Jika begitu, aku membaiatmu: barang siapa yang tidak mencintaimu dan tidak juga mencintai keluargamu, maka Allah akan mengutuknya.’ Nabi segera menimpali: ‘Amîn.’”[30]

Allah Swt. berfirman: “Barang siapa menghujatmu tentang hal itu setelah jelas datang kepa danya pengetahuan, maka katakanlah, ‘Mari kami panggil putra-putra kami dan putra-putra kamu, putri-putri kami dan putri-putri kamu, dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubâhalah agar kita jadi- kan kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.’” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 61) Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan Ahlu Bait Nabi Saw. Ayat tersebut menggunakan kata abnâ’ (anak-anak) yang maksudnya adalah Hasan dan Husain a.s.; kedua cucu Nabi yang dirahmati dan kedua imam pemberi hidayah. Dan maksud kata an- nisâ’ (wanita), yaitu Sayidah Az-Zahrâ’ a.s., penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Adapun pemuka dan junjungan Ahlul Bait, Amirul Mukminin Ali ibn Abu Thalib a.s., diungkapkan dengan kata anfusanâ (diri-diri kami).[31]

Allah Swt. berfirman: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum menjadi sesuatu yang dapat disebut ….” (QS. Al-Dahr [76]: 1) Mayoritas ahli tafsir dan para perawi hadis ber- pendapat bahwa surat ini diturunkan untuk Ahlu Bait Nabi Saw.32 Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya  lah bermaksud menghilangkan segala noda dari  kalian, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 33) Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang penuh berkah ini turun berkenaan dengan lima orang ahlul-Kisâ’.33 Mereka adalah Rasulullah Saw.; Ali a.s.; Sayyidah Fathimah, buah hatinya yang suci dan penghulu para wanita di dunia dan akhirat yang Allah ridha dengan keridhaannya dan murka dengan kemurkaannya; dan Hasan dan Husain a.s., ke- dua permata hatinya dan penghulu para pemuda ahli surga. Tak seorang pun dari keluarga Rasulullah Saw. yang lain dan tidak pula para pemuka sahabatnya yang ikut serta dalam keutamaan ini. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadis berikut ini: Pertama, Ummul Mukminin Ummu Salamah berkata: “Ayat ini turun di rumahku. Pada saat itu ada Fathim ah, Hasan, Husain, dan Ali a.s. di rumahku.

Kemudian, Rasulullah Saw. menutupi mereka dengan kisâ’ (kain panjang dan lebar), seraya berdoa: ‘Ya Allah, mereka adalah Ahlu Baitku. Hilangkanlah dari mer eka segala noda dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’” Ia mengulang-ulang doa tersebut dan Ummu  Salamah mendengar dan melihatnya. Lantas dia berkata: “Apakah aku masuk bersama Anda, ya Rasulullah?” Lalu dia mengangkat kisâ’ tersebut untuk aku masuk bersama mereka. Tetapi, beliau kembali menarik kisâ’ itu sembari bersabda, “Sesungguhnya eng- kau berada dalam kebaikan.”[34] Kedua, dalam sebuah riwayat Ibn Abbâs berkata: “Aku menyaksikan Rasulullah Saw. setiap hari mendatangi pintu rumah Ali ibn Abu Thalib a.s. setiap kali masuk waktu shalat selama tujuh bulan berturut-turut. Dia mendatangi pintu rumah itu sebanyak lima kali dalam sehari sembari berkata: ‘Assalamu‘alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya. Mari kita melakukan shalat, semoga Allah merahmati kalian!’”[35]

Ketiga, dalam sebuah riwayat Abu Barazah ber- kata: “Aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah Saw. selama tujuh bulan. Setiap kali keluar dari rumah, dia mendatangi pintu rumah Fathimah a.s. seraya bersabda, ‘Salam sejahtera atas kalian. Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala ko- toran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya.’”36 Sesungguhnya tindakan-tindakan Rasulullah Saw. ini merupakan sebuah pemberitahuan kepada umat dan seruan kepada mereka untuk mengikuti Ahlul Bait a.s. lantaran Ahlul Bait a.s. adalah pembimbing bagi mereka untuk meniti jalan kemajuan di kehidupan du- niawi maupun ukhrawi.

Kategori Ayat Ketiga Terdapat beberapa ayat yang turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali a.s. dan juga berkenaan dengan para sahabat Nabi pilihan dan terkemuka. Berikut ini ayat-ayat tersebut: Allah Swt. berfirman: “Dan diatas Al-A‘râf tersebut ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-A‘râf [7]: 46) Ibn Abbâs berkata: “Al-A‘râf adalah sebuah tempat yang tinggi di atas Shirât. Di atas tempat itu terdapat Abbâs, Hamzah, Ali ibn Abu Thalib a.s., dan Ja‘far pemilik dua sayap. Mereka mengenal para pencinta mer eka dengan wajah mereka yang bersinar dan juga mengenal para musuh mereka dengan wajah mereka yang hitam pekat.”[37]

Allah Swt. berfirman: “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 23) Ali a.s. pernah ditanya tentang ayat ini, sementara dia sedang berada di atas mimbar. Dia berkata: “Ya Allah, aku mohon ampunanmu. Ayat ini turun berkenaan denganku, pamanku Hamzah, dan pamanku ‘Ubaidah ibn Hârist. Adapun ‘Ubaidah, dia telah gugur sebagai syahid di medan Badar, dan Hamzah juga telah gugur di medan Perang Uhud. Sementara aku ma- sih menunggu orang paling celaka yang akan mengucurkan darahku dari sini sampai ke sini (sembari dia men unjuk jenggot dan kepalanya).”[38]

Kategori Ayat Keempat

Berikut ini kami paparkan beberapa ayat yang turun memuji Imam Ali a.s. dan mengecam para mu- suhnya yang senantiasa berusaha untuk menghapus segala keutamaannya.

Allah Swt. berfirman: “Apakah kamu menyama-kan pekerjaan memberi minuman kepada orang- orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masji dil Haram dengan (amal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di ja lan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Taubah [9]: 19)

Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali a.s., Abbâs, dan Thalhah ibn Syaibah ketika mereka saling men unjukkan keutamaan masing-masing. Thalhah ber- kata: “Aku adalah pengurus Ka‘bah. Kunci dan urusa n tab irnya berada di tanganku.” Abbâs berkata: “Aku adalah pemberi minum orang-orang yang beri badah haji.” Ali a.s. berkata: “Aku tidak tahu kalian ini berkata apa? Sungguh aku telah mengerjakan shalat menghadap ke arah Kiblat selama enam bulan sebelum ada seorang pun yang mengerjakan shalat, dan akulah orang yang selalu berjihad.” Kemudian, turunlah ayat tersebut.[39]

Allah Swt. berfirman: “Maka apakah orang yang telah beriman seperti orang yang fasik? Tentu tidak- lah sama.” (QS. Al-Sajdah [32]: 18) Ayat ini turun memuji Imam Ali a.s. dan mengecam Walîd ibn ‘Uqbah ibn Abi Mu‘îth. Walîd berbangga diri di hadapan Ali a.s. seraya berkata: “Lisanku lebih fasih daripada lisanmu, gigiku lebih tajam daripada gigimu, dan aku juga lebih pandai menulis.” Ali a.s. berkata: “Diamlah. Sesungguhnya engkau adalah orang fasik.” Kemudian turunlah ayat tersebut.[40] []

 

Catatan kaki:

16. Târîkh Baghdad, jil. 6/221; Ash-Shawâ‘iq Al- Muhriqah, hal. 76; Nûr Al-Abshâr, hal. 76.

17. Tafsir At-Thabarî, jil. 13/72; Kanz Al-‘Ummâl, jil. 6,/157; Tafsir Al-Haqâ’iq, hal. 42; Musadrak Al- Hâkim, jil. 3/129.

18. Kanz Al-‘Ummâl, jil. 6/108; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 329; Tafsir At-Thabarî, jil. 4/600; Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 8/267.

19. Usud Al-Ghâbah, jil. 4/25; Ash-Shawâ‘iq Al- Muhriqah, hal. 78; Asbâb An-Nuzûl, karya Al- Wâhidî, hal. 64.

20. Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 8/589; Tafsir At-Thabarî, jil. 30/17; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 96.

21. Tafsir At-Thabarî, jil. 8/145.

22. Asbâb An-Nuzûl, hal. 150.

23. Târîkh Baghdad, jil. 8/19; Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 6/19.

24. Dalâ’il Ash-Shidq, jil. 2/152.

25. Tafsir Ar-Râzî, jil. 12/26; Nûr Al-Abshâr, hal. 170; Tafsir Ath-Thabarî, jil. 6/186.

26. Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 3/106; Tafsir Al- Kasysyâf, jil. 1/692; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 102; Majma‘ Az-Zawâ’id, jil. 7/17; Kanz Al-‘Ummâl, jil. 7/305.

27. Ragib Al-Isfahani dalam Mufradat Al-Quran, ha- laman 570 mengatakan, “Wilayah berarti keme- nangan, penanggung jawab dan pemilik ikhtiar sebuah perbuatan.” Sebagian berpendapat wilayat dan walayat memiliki satu arti, yaitu penanggung jawab dan pemilik ikhtiar. Wali dan maula juga berarti demikian, hanya terkadang berkonotasi subjek (ism fa’il) dan terkadang objek (ism maf’uli). Thabarsi dalam Majma’ al-Bayân setelah ayat 157, Surat Al-Baqarah mengatakan, “Wali dari kata walâ berarti berdekatan tanpa ada penghalang,

wali adalah orang yang lebih berhak dan layak untuk melakukan perbuatan orang lain. Pemimpin sebuah kaum dapat dipanggil dengan wali, karena kedekatan, dan secara langsung, mengurusi, me- nyuruh, dan melarang berkenaan dengan semua urusan. Dan kepada majikan dikatakan maula karena secara langsung mengurusi masalah ham- ba.” Ibnu Faris juga mengatakan, “Barang siapa bert anggung jawab atas urusan seseorang, maka ia akan menjadi wali baginya.” (Maqâyis al-Lughah, jilid 6, hal. 141).

28. Allamah Sayyid Husain Tehrani, Imam Syenasi (Mengenal Imam), jilid 5, hal. 199-265; Allamah Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, Al-Murajaat, Dialog 38, Ustad Muthahhari, Majmue-ye Atsar, jilid 3, halaman 268-289.

29. Majma‘ Az-Zawâ’id, jil. 7/103; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 25; Nûr Al-Abshâr, hal. 101; Ad-Durr Al- Mantsûr, jil. 7/348.

30. Hilyah Al-Awliyâ’, jil. 3/102.

31. Tafsir Ar-Râzî, jil. 2/699; Tafsir Al-Baidhâwî, hal. 76; Tafsir Al-Kasysyâf, jil. 1/49; Tafsir Rûh Al-Bayân, jil. 1/457; Tafsir Al-Jalâlain, jil. 1/35; Shahîh Muslim, jil. 2/47; Shahîh At-Turmuzî, jil. 2/166; Sunan Al-Baihaqî, jil. 7/63; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jil. 1/185; Mashâbîh As-Sunnah, karya Al-Baghawî, jil. 2/201; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’, jil. 3/193.

32. Tafsir Ar-Râzî, jil. 10/243; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 133, Rûh Al-Bayân, jil. 6/546; Yanâbî’ Al-Mawaddah, jil. 1/93; Ar-Riyâdh An- Nâdhirah, jil. 2/227; Imtâ‘ Al-Asmâ‘, hal. 502.

33. Tafsir Ar-Râzî, jil. 6/783; Shahîh Muslim, jil. 2/331; Al-Khashâ’ish Al-Kubrâ, jil. 2/264; Ar- Riyâdh An-Nâdhirah, jil. 2/188; Tafsir Ibn Jarîr, jil. 22/5; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jil. 4/107; Sunan Al-Baihaqî, jil. 2/150; Musykil Al-Atsar, jil. 1/334; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 33.

34. Mustadrak Al-Hâkim, jil. 2/416; Usud Al-Ghâbah, jil. 5/521.

35. Ad-Durr Al-Mantsur, jil. 5/199.

36. Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 24.

37. Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 101.

38. Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 80; Nûr Al- Abshar, hal. 80.

39. Tafsir Ath-Thabarî, jil. 10/68; Tafsir Ar-Râzî, jil. 16/11; Ad-Durrul Mantsur, jil. 4/146; Asbâb An- Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 182.

40. Tafsir Ath-Thabarî, jil. 21/68; Asbâb An-Nuzûl, hal. 263; Târîkh Bagdad, jil. 13/321; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, jil. 2/206.

Jokowi Presiden, Syi’ah Untung Besar

Keberpihakkan PDIP  pada minoritas sudah tidak diragukan lagi. Misalnya, jika kelompok Islam radikal  menghajar syiah, eh…PDIP malah pasang tokoh syiah terkemuka–Kang Jalal—sebagai calegnya.

Aksi bar bar primitif ala Sampang tidak mungkin terulang jika Jokowi jadi Presiden.

Masa Sulit bagi Mazhab Syi’ah Indonesia Teratasi 9 April 2014

……. seperti angin….. tak terlihat bukan berarti tak ada…. Kebangkitan Syi’ah di ambang pintu…

1372388411622007945

Spanduk Jokowi Presidenku 2014 (photo: jokowidiary.blogspot.com )

Kongres Dukung Jokowi Presiden 2014 di Bandung EFFENDI SAMAN SH

Joko (Joko Widodo)

Jokowi Presiden 2014Joko Widodo Presiden (Jokowi)

Jokowi Selamatkan Indonesia

Ekonom: Jika Jokowi Presiden, ekonomi membaik 5 tahun ke depan

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo secara resmi sudah mengumumkan pencalonan dirinya sebagai calon presiden dari PDI Perjuangan. Sesaat setelah pengumuman ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung melejit. Pun demikian pada nilai tukar Rupiah yang ikut bergairah.

Penetapan Jokowi sebagai calon presiden ditanggapi beragam. Termasuk dari kalangan pengamat ekonomi. Salah satunya Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto yang memandang bila Jokowi memenangi pilpres dan menjadi Presiden untuk periode 2014-2019, ekonomi Indonesia bakal menguat.

“Namun, kondisi ini tergantung kepada kabinetnya nanti, sebaiknya jangan melibatkan banyak parpol,” ujarnya dalam pesan singkat kepada merdeka.com, Jakarta, Jumat (14/3).

Dia memandang, menguatnya Rupiah dan IHSG karena dorongan pencapresan Jokowi bukan hanya fenomena sesaat. “Malahan kondisi ini akan selamanya menggairahkan pasar dan forever,” jelas dia.

“Kalau pasar dan dunia usaha merespon positif pencapresan Jokowi , maka ekonomi diperkirakan akan membaik. Rupiah dan IHSG juga akan menguat. Itu semua karena gairah baru lantaran ada ekspektasi yang lebih baik,” ungkapnya.

Diakuinya, perlu dilihat kembali respon pasar beberapa hari ke depan setelah pencapresan Jokowi . “Harus menunggu beberapa saat ke depan respon pasar setelah ada kepastian pencapresan Jokowi ,” tutup dia.

Sebelumnya, usai pengumuman pencapresan Jokowi , bursa saham merespon positif.

Seminar Nasional :
Peringatan Hari Pahlawan dan Asyura Imam Husain as

Pembicara :
Keynote Speaker : Ir. Joko Widodo (Gubernur DKI)

.
Narasumber :
- Prof. Dr. Agil Siradj (Ketua Umum PB NU)
- Dr. Muhsin Labib, MA (Direktur Moderate Institute & Dewan Syuro ABI (Ahlul Bait Indonesia)
- Yudi Latif, MA., Spd (Direktur Reform Institute)

Ahok bilang Jokowi kyk Ahmadinejad… hehe

Zuhairi JIL

Zuhairi Misrawi kembali membuat statemen kontroversial. Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu mengusulkan tokoh Syiah, Jalaluddin Rakhmat untuk menjadi menteri agama kelak kalau partainya berkuasa.

“Saya usulkan tokoh Syiah, Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) jadi menteri Agama,  kelak kalau  PDIP berkuasa” katanya dalam diskusi “Politik Kebebasan Beragama”, acara rutin yang digelar Freedom Institute, Jakarta (18/2/2014).

Pandangan itu didasarkan pada sosok ideal  menteri agama yang menurutnya harus sosok yang mendukung pluralisme.

Dalam acara tersebut, Zuhairi Misrawi juga mengaku kalau dirinya memang secara khusus ditugaskan oleh PDIP untuk fokus terhadap isu pluralisme dan isu-isu keagamaan.  Terkait dengan tema yang diangkat, Zuhairi mengatakan bahwa pijakan keberagamaan, PDIP selalu mendasarkan geraknya pada Pancasila 1 Juni 1945

“Waktu itu Bung Karno dengan tegas mengatakan ketuhanan dengan berkeadaban, perbedaan tidak boleh menciptakan diskriminasi” Katanya.

Menanggapi adanya kekerasan antar umat beragama, Zuhairi mengritik aparat yang sering berpihak pada perilaku. Di sisi lain, katanya

“Kekerasan atas nama agama terjadi karena kurangnya penegakan hukum”. Dalam diskusi itu, hadir pembicara lain seperti Kastorius Sinaga (Partai Demokrat), Baron Basuning (Gerindra), juga Andy Yentriyani (Komnas Perempuan).

Perlu diketahui Jalaluddin Rakhmat kini bergabung dengan PDI P untuk menjadi calon Anggota legislatif nomor urut 1 di dapil Jabar II yang meliputi Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. Melihat ketokohan Jalal dan banyaknya warga Bandung yang ngefans dengan gembong Syi’ah ini, PDIP pun kala itu langsung meminangnya.

SALAFi WAHABi INGIN MEMECAH BELAH ISLAM DENGAN MENGADU DOMBA

Daftar Yayasan dan Ustadz-Ustadz Penyebar Salafy Wahabi.. Inilah musuh N.U dan syi’ah..

Daftar Yayasan dan Ustadz Penyebar Aliran Salafy Wahabi (Salafi) di Indonesia
Perpecahan dan kontradiksi di kalangan Salafy Wahabi, bukti ajaran yang tidak shahih!

SALAFI-WAHABI TERNYATA TERPECAH-PECAH DAN SALING MENGHUJAT

Ketika datang ke ash-Shofwa di Lenteng Agung (Salafi Turatsi), ustadz-ustadz ash-Shofwa berkata: “Haram hukumnya bermajelis dan berta’lim dengan Salafi Yamani.”
Ketika saya hadir di Jalan Haji Asmawi Jakarta Selatan (Salafi Wahdah Islamiyyah), Salafi Wahdah berkata: “Salafi Turatsi itu hizbi, antek PKS dan Ikhwanul Muslimin yang termasuk 72 golongan yang masuk neraka jahannam.”
Ketika saya hadir di ta’lim Salafi yang ada di masjid Hidayatus Shalihin Poltangan Pasar Minggu (Salafi Sururi), ustadz-ustadznya berkata: “Salafi Wahdah Islamiyyah adalah Khawarij anjing-anjing neraka yang menggunakan system marhala.”
Ketika saya hadir di masjid Fatahillah (Salafi Yamani), Salafi Yamani berkata: “Salafi Sururi, Salafi Haraki, Salafi Turatsi, Salafi Ghuraba, Salafi Wahdah Islamiyyah, Salafi MTA, Salafi Persis, Salafi Ikhwani, Salafi Hadadi, Salafi Turabi bukanlah Salafi, tapi Salaf-I (Salafi Imitasi) yang Khawarij, bid’ah dan hizbi.
Ja’far Umar Thalib (Salafi Ghuraba) berkata: “Abdul Hakim Abdat (Salafi Turatsi) itu ustadz otodidak yang pakar hadats (najis) bukan pakar hadits.”
Muhamad Umar as-Seweed (Salafi Yamani) berkata: “Ja’far Umar Thalib itu ahli bid’ah dan Khawarij.” Bahkan komplotan as-Seweed membuat buku dengan judul “Pedang Tertuju di Leher Ja’far Umar Thalib”, yang artinya Ja’far Umar Thalib halal dibunuh.
Abdul Hakim Abdat (Salafi Turatsi) berkata: “Salafi Wahdah Islamiyyah itu sesat menyesatkan dan melakukan dosa besar”, (hanya) karena mendirikan yayasan/organisasi. Organisasi menurutnya adalah hizbi.
Salafi Wahdah Islamiyyah berkata: “Salafi Yamani dan Abdul Hakim Abdat itu Salafi-salafi primitif dan terbelakang yang hanya cocok hidup di jaman puba atau pra sejarah.”
Pokoknya tak terhitung lagi perseteruan antar Salafi. Dan, ini baru kisah perseteruan antar sesama Salafi, belum lagi perseteruan Salafi dengan NU, Persis, Muhamadiyyah, Majelis Rasulullah, PKS, DDII, Tarbiyyah, Nurul Musthofa, HTI dan banyak lagi.
Ironis sekali, Salafi yang mengaku-ngaku anti perpecahan, anti hizbi kok malah berperan sebagai aktor utama perpecahan umat Islam. Juga sebagai biang kerok kekisruhan di kalangan Ahlussunnah. Salafi sendirilah penyebab dakwah salafus shalihin menjadi hancur berantakan.
Ironis sekali, Salafi yang konon belajar jauh-jauh dan lama-lama ke Timur Tengah, tapi di tataran basic yaitu akhlak, kurang tertata dan arogan.
·         Jangan halangi dakwah Salafi, biarkan Salafi sendiri yang menghalangi dakwah Salafi.
·         Jangan memecah belah barisan Salafi, karena barisan Salafi akan berpecah belah dengan sendirinya dan secara alami.
·         Jangan hancurkan Salafi, karena cukup Salafi sendiri dengan kesadaran penuh dan suka cita menghancurkan dirinya sendiri.
Sudah terlalu lama firqah Salafi dari apapun alirannnya dan sektenya melukai umat Islam, melukai Ahlussunnah, melukai ahlu atsar dengan gaya-gayanya yang egomaniak. Mungkin sekarang tiba saatnya pembalasan dari Allah Swt. Gara-gara cara dan tabiat orang Salafi lah yang menyebabkan masyarakat awam menjadi benci terhadap sunnah

.
__________________________________________________________________Versi  NU :
.
Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi telah menguraikan dalam kitabnya, al-I’tisham, menyebutkan bahwa salah satu tanda aliran atau firqah sesat adalah terjadinya perpecahan di antara mereka. Hal tersebut seperti telah diingatkan dalam firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (QS. 3:105). “Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.” (QS. 5:64).
Dalam hadits shahih riwayat Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha padamu tiga perkara dan membenci tiga perkara. Allah ridha kamu menyembahNya dan janganlah kamu mempersekutukanNya, kamu berpegang dengan tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai…”
.
Allah Swt telah pecah belahkan golongan-golangan mujassimmah musyabbihah yang menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jamaah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka (tauhidnya menyimpang seperti mujasimmah dan musyabihah/mensifati Allah dengan sifat makhluq) dan mereka menjadi beberapa golongan.
.
.
Baca :

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [alquran:30:32].

Ini adalah sebuah catatan buat kita untuk mengenali siapa-siapa saja ustadz-ustadz yang menyebarkan ajaran Wahabisme di Indonesia.

Tujuan kita mengenali mereka agar kita bisa membentengi kelurga, teman dan orang-orang yang kita cintai tidak jatuh terjerumus dalam bahaya lingkaran Wahabisme. Di sini kami memperoleh daftar sebagian nama para ustadz wahhabi yang dilansir oleh mereka sendiri (dan jaringannya sudah menyebar ke seluruh Indonesia).

Harap berhati-hati dengan provokasi para wahhabi ini. Para aktifis wahhabisme ini dalam gerakannya memakai kedok Salafi. Mereka tidak memakai nama Wahhabi, tetapi Salafi bahkan terkadang mereka juga menisbatkan diri mereka sebagai Ahlussunnh Waljama’ah, padahal sesungguhnya mereka adalah tidak lebih dan tidak kurang adalah Asli Wahhabi.

Ciri-ciri dakwah mereka bahwa mereka gemar membuat provokasi dan menebar isu-isu bid’ah, isu-isu kafir-musyrik, dan mengharamkan tahlilan, Membid’ahkan pembacaan Maulid Nabi Saw, mencemooh ratib, mengharamkan Tawassul kepada Nabi Saw setelah wafatnya, dan mengkafir-musyrikkan ummat Islam yang bukan dari golongan wahabi.

Berikut ini mereka para penyebar paham wahabi salafi yang sejak lama memang menganggap praktik-praktik amaliah kaum NU (ASWAJA) sebagai bid’ah:

Berikut adalah daftar dari kelompok Umar as-Sewed pasca perpecahannya dengan Ja’far Umar Thalib:

  • Al Ustadz Abal Mundzir Dzul Akmal, Lc, Yayasan Ta’zhim as Sunnah d/a JL. KHA. Dahlan Gg. Panda II No. 26 Sukajadi, PEKANBARU – 28121. Telp: +62 (761) 862397, HP: +62 8127566065; ·
  • Al Ustadz Abdullah (mukim di Purwakarta), d/a An Najah Agency, Jln kapten Halim no 40 Pasarebo, Purwakarta, Jawa Barat HP 08129764361; ·
  • Al Ustadz Abdul Azis As Salafy (Pembina Majelis Ta’lim Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Samarinda, Kaltim), Yayasan As Salaf, Samarinda, Kaltim (0542) 861712; ·
  • Al Ustadz Abdul Hadi Lahji (Posisi terakhir Pengajar Ponpes Ta’dhimus Sunnah, mukim di Ngawi), PP Ta’dhimus Sunnah, Dusun Grudo RT 01/02 Grudo, Ngawi, Jawa Timur (0351) 748913. ·
  • Al Ustadz Abdul Halim (Pengajar PP Ibnul Qoyyim Balikpapan, Kaltim) Alumni Ponpes Minhajus Sunnah Muntilan, Magelang, dan alamat di PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712; ·
  • Al Ustadz Abdul Haq asal Potorono (Posisi Terakhir Pengajar Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman, alamat Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja-Magelang Km. 13 Batikan, Pabelan, Mungkid (0293)782005 HP 0818269293; ·
  • Al Ustadz Abdul Jabbar (Posisi terakhir Staff Pengajar Ponpes Difa’ anis Sunnah Bantul, mukim di Dlingo, Bantul) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman, alamat di PP. Difa’ anis Sunnah, Bantul Telpon (0274) 7494930; ·
  • Al Ustadz Abdul Mu’thi al Maidani (mukim di Sleman, DI Jogjakarta) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : PP. AL Anshar, Dusun Wonosalam, kel Sukoharjo, Ngemplak, Sleman. Telp. (0274) 897519; ·
  • Al Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc (mukim di Petanahan, Kebumen) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia Pengajar Pondok Pesantren Anwarus Sunnah, Kebumen, Jawa Tengah Alamat : d/a Pondok Pesantren Anwarus Sunnah, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah Telp (0287) 386154; ·
  • Al Ustadz Abdurrazaq (mukim di Banyumas), Alamat : d/a Abu Husain, Sokaraja Kulon Rt 8/5 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah (0281) 692428; · Ust. Abdurrahim (mukim di Pangkep), Alamat : Jl. Wirakarya No.1-5 Minasate’ne, Pangkep, Sulsel (0410) 323855; ·
  • Al Ustadz Abdurahman Mubarak (Penerbit Al Atsari, Mubarak Press, sekarang mukim di Dammaj, Yaman), Alamat : Depan pasar Cileungsi, No. 10 Rt 2 RW 10, Kp. Cikalagan, Cileungsi, Bogor 16820; ·
  • Al Ustadz Abdurrahman asal Wonosari (Posisi Terakhir Pengajar Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja-Magelang Km. 13 Batikan, Pabelan, Mungkid (0293)782005 HP 0818269293; ·
  • Al Ustadz Abu Abdillah Al Barobisy (Pengajar PP Ibnul Qoyyim Balikpapan, Kaltim) Alumni Ponpes Minhajus Sunnah Muntilan, Magelang. Alamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712; ·
  • Al Ustadz Abu Abdirrahman Muhammad Wildan, Lc. (Mukim di Batam, Kepri) Alamat : Yayasan Anshorussunnah, d/a Perum. Cendana Blok A-1 Batam Centre Batam (Samping Kelurahan Belian), Batam – Kep. Riau – 29461. Telp. 0778-475376; ·
  • Al Ustadz Abu Bakar (Posisi Terakhir Pengajar Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, sekarang mukim di Dammaj, Yaman), Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja-Magelang Km. 13 Batikan, Pabelan, Mungkid (0293)782005 HP 0818269293; ·
  • Al Ustadz Abdul Barr (mukim di Palembang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : d/a Abdurrahman Safar Jl. Dwikora II No. 1221 No. HP 08153816801 / 081367050276; ·
  • Al Ustadz Abdussalam (mukim di Ambon, Maluku), Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780; ·
  • Al Ustadz Abdus Shomad (mukim di Pemalang, Jateng) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : d/a Emy Jamedi, Jl. Dorang 1/83 Perumnas Sugih Waras Pemalang, Jawa Tengah (0284)322771; ·
  • Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf (mukim di Bandung, Jawa Barat) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. Sekelimus VII no.11 Bandung, Jawa Barat Tlp. (022) 7563451, d/a Ali Jln Plesiran no 57A Dago, Bandung, Jawa Barat (022) 2509282; ·
  • Al Ustadz Abu Mu’awiyah Muhammad Ali Ishmah Al Medani (mukim di Medan, Sumut), Yayasan Sunniy Salafiy, Jl. Mesjid Raya Al Jihad no. 24 P. Brayan kota Medan 20116 HP 0812 64 02 403;
  • Al Ustadz Abu Najiyah Muhaimin Nurwahid (Penerjemah buku, mukim di Semarang, Jawa Tengah) (sekarang mukim di Yaman); ·
  • Al Ustadz Abu Karimah Asykari (Posisi Terakhir : Pengajar PP. Ibnul Qayyim, mukim di Balikpapan, Kalimantan Timur) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712; ·
  • Al Ustadz Abu Sa’id Hamzah (Posisi Terakhir Pengajar PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember) Alamat : Jl. MH Tamrin Gg. Kepodang No. 5 Jember (0331) 337440; · Al Ustadz Abu Rumaisho’ (mukim di Kendari). Alamat : d/a Abdul Alim, Jl.Pembangunan No.12, Kel. Sanwa, Kendari (0401)328568; ·
  • Al Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin (mukim di Sorong, Irian Jaya) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat :Jl. A Yani no.40, Poliklinik Masjid Raya Al-Akbar, HBM, Remu, Sorong, HP 08124853996/ 08124846960 (0951) 323115 Irian Jaya; ·
  • Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an Nawawi asal Lombok (Posisi Terakhir Mudir Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja-Magelang Km. 13 Batikan, Pabelan, Mungkid (0293)782005 HP 0818269293; ·
  • Al Ustadz Adi Abdullah (mukim di Lampung); Alamat : Purwosari Link VII Rt 20/8 Purwosari, Metro Utara, Lampung HP: 08154016031; · Al Ustadz Adib (mukim di Wonosobo), Alamat : d/a Yusuf, Jl. Bismo 151 Sumberan Utara Rt1/22 Wonosobo, Jawa Tengah; ·
  • Al Ustadz Adnan (mukim di Menado, Sulut). Alamat : Menado, Sulawesi Utara. HP 08152309777; ·
  • Al Ustadz Ahmad Khodim (Penerjemah buku terbitan Cahaya Tauhid Press, mukim di Malang), Alamat : Jl. Lesanpuro No. 31A Malang, Jawa Timur Telp. 0341-710755, HP.0818274197 (0341) 710755, HP 0818274197.; ·
  • Al Ustadz Ali Basuki, Lc (mukim di Aceh) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Alamat : Ma’had As Sunnah, Komplek Cempaka, Dusun Lambangtring, Desa Lampeuneureut, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, propinsi Naggroe Aceh Darussalam. Telpon (0651) 7407408; ·
  • Al Ustadz Agus Su’aidi (Mudir Ma’had Al Bayyinah, mukim di Gresik, Jawa Timur). Alamat : Ma’had Al Bayyinah, Jl. R. Mas Sa’id no 6, Sedagaran, Sedayu, Gresik 61153 Telpon (031) 3940350; ·
  • Al Ustadz Ahmad Kebumen (mukim di Kebumen). Alamat : d/a Abdullah (Kunto Wibisono), Rumah Bp. Rulin, Rt 02/XI Desa Kewarisan, Panjer (dekat pintu KA/belakang cuci mobil), Kebumen. (0287) 382255; ·
  • Al Ustadz Ahmad Hamdani (mukim di Tangerang) – Sekarang belajar di Ma’had Syaikh Yahya Al Hajuri, Dammaj, Yaman. Alamat : Perum Kroncong Blok DP4 no 2 Jatiuwung, Tangerang; ·
  • Al Ustadz Abu Najm Khotib Muwwahid (mukim di Ciamis, Jawa Barat). Alamat: Ponpes An-Nur Al Atsari, Kedung Kendal, Banjarsari Ciamis, Jawa Barat, HP 0815393247; ·
  • Al Ustadz Aslam (Posisi Terakhir Pengajar Majlis Ta’lim Al ‘Atiq, Banjar Baru) Alamat : Komplek Griya Ulin Permai Jl. Nuri no. 12 Landasan Ulin Banjar Baru Banjarmasin, Kalimantan Selatan.Kontak Person Abu Umar Hijaz (0511) 7488811, HP 081521539288, Abu Zaid 08195164006; ·
  • Al Ustadz Assasudin asal Lumajang (Posisi Terakhir Pengajar Ma’had Ittiba’us Sunnah, Magetan, Jawa Timur, mukim di Magetan) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. Syuhada No. 02 Sampung, Sidorejo, Plaosan, Magetan, Jawa Timur Telp. (0351) 888958, (0351) 888651; ·
  • Al Ustadz Azhari Asri (mukim di Pangkep, Sulsel) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. Wirakarya No.1-5 Minasate’ne, Pangkep, Sulsel (0410) 323855; ·
  • Al Ustadz Banani (mukim di Jambi). Alamat : d/a Suprayogi, BTN Karya Indah Blok I No. 2 Rt 42/15 Simpang 4, Sipin, Telenai Pura, Jambi (0741) 65956; dan Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780; ·
  • Al Ustadz Budiman (mukim di Cilacap). Alamat : d/a Ahmad Budiono, Jl. Urip Sumoharjo No. 202 Cilacap Jawa Tengah (0282) 543624; · Al Ustadz Bukhori (mukim di Palembang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : d/a Abdurrahman Safar Jl. Dwikora II No. 1221 No. HP 08153816801; ·
  • Al Ustadz Chalil (mukim Buton, Sultra), Alamat : Jl. MH. Thamrin no. 72 Kel. Batara Guru Kec. Wolio, Buton, Telp. (0402)22452 d/a Abdul Jalil, Yayasan Minhaj Al Firqotun Najiyah , Jl. Betoambari lrg. Pendidikan No. 155c, Bau-Bau, Sultra (0402) 24106 HP. 081 643163668; ·
  • Al Ustadz Dzulqarnain (mukim di Makassar, Sulsel), Alamat : Mahad As-Sunnah, Jl. Baji Rupa no. 06, Makassar, Sulawesi Selatan 90224. Telpon : +6281524642464, +624115015211; ·
  • Al Ustadz Fauzan (mukim di Sukoharjo) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Yayasan Darus Salaf, Jl. Raya Solo – Purwodadi, Sukoharjo, Jawa Tengah HP 08156745519. kontak d/a Ahmad Miqdad, Masjid Ibnu Taimiyah, Jl. Ciptonegaran Sanggrahan Grogol Sukoharjo Solo (0271) 722357; ·
  • Al Ustadz Hamzah Badjerei (Pengajar Ma’had Darul Atsar) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. Kapten Halim No.144 Gg. Banteng 1, Pasar Rebo Purwakarta, Jawa Barat. Telpon +62.264200584; ·
  • Al Ustadz Hannan Hoesin Bahannan (Owner Penerbit buku-buku Islami Pustaka Ar Rayyan). Pengajar Ma’had Darussalaf, Yayasan Darus Salaf, Sukoharjo, Jawa Tengah. Alamat : Jl Parang Kusuma 24 A, Sidodadi, Pajang, Solo HP +622715800518, +628155044372; ·
  • Al Ustadz Harits Abdus Salam (Pengajar PP Ibnul Qoyyim Balikpapan, Kaltim, mukim di Balikpapan). Alamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712; ·
  • Al Ustadz Hariyadi, Lc (mukim di Surabaya) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Alamat : Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jl. Jojoran 1 Blok K no. 18 Telp. (031) 5921921; ·
  • Al Ustadz Idral Harits Abu Muhammad (mukim di Sukoharjo) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Yayasan Darus Salaf, Sukoharjo, Jawa Tengah kontak d/a Ahmad Miqdad, Masjid Ibnu Taimiyah, Jl. Ciptonegaran Sanggrahan Grogol Sukoharjo Solo (0271) 722357; ·
  • Al Ustadz Isnadi (mukim di Palembang). Alamat : d/a Abdurrahman Safar Jl. Dwikora II No. 1221 Palembang, Sumsel. No. HP 08153816801; ·
  • Al Ustadz Ja’far Sholih (mukim di Depok). Alamat : d/a Masjid Fatahillah Jl. Fatahillah II Kampung Curug, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kotamadya Depok, Jawa Barat. Ma’had : +62.21 7757586; ·
  • Al Ustadz Jauhari, Lc (mukim di Boyolali) Alamat : d/a Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali; ·
  • Al Ustadz Kamaluddin (Posisi Terakhir Pengajar Majlis Ta’lim Al ‘Atiq, Banjar Baru, Kalsel). Alamat : Komplek Griya Ulin Permai Jl. Nuri no. 12 Landasan Ulin Banjar Baru Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kontak Person Abu Umar Hijaz (0511) 7488811, HP 081521539288, Abu Zaid 08195164006. ·
  • Al Ustadz Kholid (mukim di Petanahan, Kebumen) Pengajar Pondok Pesantren Anwarus Sunnah, Kebumen, Jawa Tengah. Alamat : d/a Pondok Pesantren Anwarus Sunnah, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah Telp (0287) 386154; ·
  • Al Ustadz Luqman Ba’abduh (Posisi Terakhir Mudir PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. MH Tamrin Gg. Kepodang No. 5 Jember (0331) 337440; ·
  • Al Ustadz Mahmud Barjeb (Pengajar Ma’had Darul Atsar) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. Kapten Halim No.144 Gg. Banteng 1, Pasar Rebo Purwakarta. Telpon : +62.264200584; ·
  • AL Ustadz Mahmud (Pengajar Majlis Ta’lim dan Dakwah Assunnah, mukim di Malang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Majlis ta’lim dan dakwah As Sunnah, Jl. S. Supriyadi 5F, Malang, Telpon (0341) 348833, Utsman (081803808567); ·
  • Al Ustadz Marwan Irfanuddin (mukim di Sukoharjo). Alamat : Yayasan Ittiba’us Sunnah Sukoharjo, Tawang Rt 02 Rw 01 Weru Sukoharjo, Hp. 08179475816/ 081329035280 Jawa Tengah kontak d/a Ahmad Miqdad, Masjid Ibnu Taimiyah, Jl. Ciptonegaran Sanggrahan Grogol Sukoharjo Solo (0271) 722357; ·
  • Al Ustadz Muallim Shobari (Pengajar PP Ibnul Qoyyim Balikpapan Kaltim, mukim di Balikpapan). Alamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111, Batu Ampar, Balikpapan, Kaltim (0542) 861712; ·
  • Ust. Muhammad (mukim di Pangkep). Alamat : Jl. Wirakarya No.1-5 Minasate’ne, Pangkep, Sulsel (0410) 323855; ·
  • Al Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawi, asal Sedayu, Gresik (Pengajar Ma’had Al Bayyinah, mukim di Gresik, Jawa Timur). Alamat : Ma’had Al Bayyinah, Jl. R. Mas Sa’id no 6, Sedagaran, Sedayu, Gresik 61153 Telpon (031) 3940350; ·
  • Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed (mukim di Cirebon, Jawa Barat) Murid Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin, Saudi Arabia; Alamat : Ponpes Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar RT 6, Rt 06/03 Kel. Kecapi, Kec.Harjamukti, Cirebon, Jawa Barat (0231) 222185/200721; ·
  • Al Ustadz Muhammad Barmim (Owner Penerbit buku-buku Islami Pustaka Ar Rayyan). Pengajar Ma’had Darussalaf, Yayasan Darus Salaf, Sukoharjo, Jawa Tengah. Alamat : Jl Parang Kusuma 24 A, Sidodadi, Pajang, Solo HP +622715800518, +628155092522. Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. kontak d/a Ahmad Miqdad, Masjid Ibnu Taimiyah, Jl. Ciptonegaran Sanggrahan Grogol Sukoharjo Solo (0271) 722357; ·
  • Al Ustadz Muhammad Ikhsan (Pimpinan Ponpes Difa’ anis Sunnah Bantul, sekarang mukim di Yaman). Alamat : PP. Difa’ anis Sunnah, Bantul; · Al Ustadz Muhammad Irfan (mukim di Surabaya). Alamat : Jl. Pulo Tegalsari 8 no 40 A, Wonokromo telpon (031) 8288817 /HP 08155046204; ·
  • Al Ustadz Muhammad Na’im, Lc (mukim di Boyolali). Alamat : d/a Grenjeng, Kenteng, Nogosari, Boyolali; ·
  • Al Ustadz Muhammad Sarbini (Posisi Terakhir Mudir Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja Magelang Km. 13 Batikan Mungkid (0293)782005; ·
  • Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari (Posisi Terakhir Mudir PP. Al Furqan Kroya) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : PP Al Furqan, Jl. Lawu RT 22, RW 3, Kroya, Cilacap 53282 Jawa Tengah (0282) 492412; ·
  • Ustadz Muslikh Zarqani asal Magetan (Posisi Terakhir Pengajar Ma’had Ittiba’us Sunnah, Magetan, Jawa Timur, sekarang mukim di Dammaj, Yaman). Alamat : Jl. Syuhada No. 02 Sampung, Sidorejo, Plaosan, Magetan, Jawa Timur Telp. (0351) 888958, (0351) 888651; ·
  • Al Ustadz Nurdin asal Magetan (Posisi Terakhir Pengajar Ma’had Ittiba’us Sunnah, Magetan, Jawa Timur, mukim di Magetan). Alamat : Jl. Syuhada No. 02 Sampung, Sidorejo, Plaosan, Magetan, Jawa Timur Telp. (0351) 888958, (0351) 888651; ·
  • Al Ustadz Nurwahid Abu Isa (saudara Ustadz Abu Najiyah Muhaimin) (Mukim di Semarang, Jateng), Yayasan Al-Lu’Lu’ Wal Marjan, Bagian koordinasi ta’lim, Jl Rambutan V/11-A Semarang Telpon : (024) 8440770 Atau Abu Syafiq, Yayasan Islam Al Lu’lu’ wal Marjan Jl. Lamper Tengah Gg. V no. 22A, Telp (024) 70142785; Hp 081575280591; ·
  • Al Ustadz Qomar Su’aidi, Lc (Posisi Terakhir Editor majalah Asy Syariah, Pengajar PP. Al Atsariyah, mukim di Temanggung) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Alamat : d/a Farhan, Yayasan Atsariyah Kauman Gg. I No. 20, RT1/RW1, Kedu, Temanggung; ·
  • Al Ustadz Ridwanul Bari (mukim di Purbalingga, Jawa Tengah). Alamat : d/a Karang Gedang 6/III, Bukateja, Purbalingga. HP 081542952337; ·
  • Al Ustadz Rifa’i (Pengajar PP Ta’dhimus Sunnah, mukim di Solo). Alamat : PP Ta’dhimus Sunnah, Dusun Grudo RT 01/02 Grudo, Ngawi, Jawa Timur (0351) 748913, HP 0816562158; ·
  • Al Ustadz Muhammad Rifa’i asal Magetan (Posisi Terakhir Pengajar Majlis Ta’lim Bontang, Kaltim), alamat HOP 4 no 89, Komplek PT Badang LNG, Bontang, Kalimantan Timur. (0548) 557150, alamat asal Jl. Syuhada No. 02 Sampung, Sidorejo, Plaosan, Magetan, Jawa Timur Telp. (0351) 888958, (0351) 888651; ·
  • Al Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc (Posisi Terakhir Mudir PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia; ·
  • Al Ustadz Salman (mukim di Denpasar, Bali). Alamat : d/a Miftahul Ulum, Jln Gunung Agung, Lingkungan Padang Udayana no 21 Denpasar (0361) 413969; ·
  • Al Ustadz Saifullah (mukim di Ambon, Maluku). Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780; ·
  • Al Ustadz Shodiqun (mukim di Ambon, Maluku). Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780; ·
  • Al Ustadz Suyuthi Abdullah (Posisi Terakhir Pengajar Ma’had Ittiba’us Sunnah, Magetan, Jawa Timur, mukim di Magetan). Alamat : Jl. Syuhada No. 02 Sampung, Sidorejo, Plaosan, Magetan, Jawa Timur Telp. (0351) 888958, (0351) 888651; ·
  • Al Ustadz Syaiful Bahri (Posisi Terakhir Pengajar PP. Al Furqan Kroya). Alamat : PP Al Furqan, Jl. Lawu RT 22, RW 3, Kroya, Cilacap 53282 Jawa Tengah (0282) 492412; ·
  • Al Ustadz Tsanin Hasanudin (Posisi Terakhir Pengajar PP. Al Furqan Kroya) Alamat : PP Al Furqan, Jl. Lawu RT 22, RW 3, Kroya, Cilacap 53282 Jawa Tengah (0282) 492412. ·
  • AL Ustadz Usamah bin Faishal Mahri, Lc (Pengajar Majlis Ta’lim dan Dakwah Assunnah, mukim di Malang) Alumni Jami’ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Alamat : Majlis ta’lim dan dakwah As Sunnah, Jl. S. Supriyadi 5F, Malang, Telpon (0341) 348833, Utsman (081803808567); ·
  • Al Ustadz Yasiruddin (mukim di Ambon, Maluku) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq, d/a Husein, BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780. ·
  • Al Ustadz Zainul Arifin (mukim di Surabaya) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, Dammaj, Yaman. Alamat : Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jl. Jojoran 1 Blok K no. 18 Telp. (031) 5921921; ·
  • Al Ustadz Zuhair Syarif (mukim di Bengkulu). Alamat : d/a Padang Jaya RT3/4 Bengkulu Utara 38657 Telp. (0737)522412

Berikut adalah dari kelompok yang sering dianggap oleh kelompok di atas sebagai sururi, tetapi sejatinya mereka juga asli wahabi yang kontra dengan kelompok Wahabi di atas:

  • Abdullah Hadrami, Masjid As Salam, Malang (Jilbab-online.net link, Rekan Agus Bashori dari Al Sofwah-al-Haramain link); ·
  • Abdul Fattah, Batam (At Turots link); ·
  • Abdul Hakim bin Amir Abdat Yayasan Ubudiyah Riau (Al Haramain , Al Sofwah, At Turots); ·
  • Abdur Rahman At-Tamimi – Surabaya (Al Irsyad – At Turots, Al Sofwa crosslink); ·
  • Abu Aziz – Jakarta (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots); ·
  • Abdul Aziz Malang (rekan Agus Bashari dari Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Abu Abdil Muhsin Firanda, Sorong – LN – (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah, At Turots – link); ·
  • Abdullah Taslim, Lc (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah, At Turots – link); ·
  • Abu Bakar M.Altway Lc (Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Abu Haidar – Bandung (Al Sofwa – At Turots link); ·
  • Abu Ihsan Al-Maidani – Medan (Al Sofwa, At Turots link); ·
  • Abu Izzi – Semarang (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots); ·
  • Abu Nida’, redaksi majalah Fatawa, Ma’had Jamilurahman, Ma’had Bin Baz, Bantul, Jogjakarta (gembong At-Turats link – Jum’iyyah Ihya ut Turots Kuwait link); ·
  • Abu Qatadah – Jakarta (Al Sofwa – Al Haramain link); · Abu Sa’ad – Jogjakarta (At Turots link); ·
  • Abu Thohir Lc – Padang (Abdul Hakim Abdat link); ·
  • Abu Umar Basyr – Solo (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link) ·
  • Adhi Faishal, Lc – Yayasan An Najiyah Madiun (Abdullah Taslim Lc link, At Turots); ·
  • Afifi Abdul Wadud – Jogjakarta (At Turots link); ·
  • Agus Hasan Bashari. MAg, FSI Qalbun Salim dan Pesma Al-Anshar wal Muhajirin, Malang (Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Ahmad Farhan Hamim Lc (Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Ahmad Rofi’i – Karawang (Abdul Hakim Abdat, Yazid Jawwas link); ·
  • Ahmad Ridwan – Batam (Rekan Abu Ihsan, Yazid Jawwas link); ·
  • Ahmad Sabiq, Lc (LIPIA, Jilbab-online.net link); ·
  • Ahmas Faiz Asifudin, Pimpinan Majalah As Sunnah (gembong At Turots); ·
  • Ainul Haris, Lc MAg – Nidaul Fitrah (Al Irsyad – At Turots, Al Sofwa crosslink); ·
  • Ali Saman Lc – Ma’had ALi Al Irsyad, Tengaran, Boyolali (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwa crosslink);
  • Alwy, Lc – Yayasan An Najiyah Madiun (Abdullah Taslim Lc link, At Turots); ·
  • Aman Abdurahman, Lc – Jakarta (Teroris Bom Cimanggis, Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Amri Mansyur – Padang (link Abdul Hakim Abdat); ·
  • Amrozi – Malang (Jilbab-online.net link, (Rekan Agus Bashori dari Al Sofwa – Al Haramain link);
  • Anas Burhanuddin bin Musta’in Ahmad, Lc – LN – (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah, At Turots – link); ·
  • Arif Syarifuddin, Lc – Ma’had Bin Baz Jogjakarta (At Turots link); ·
  • Aris Munandar Ss – Ma’had Taruna Al Qur’an (Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah/DDII eks Masyumi link, At Turots cross-link); ·
  • Arman Amri, Lc. – Jakarta (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots); ·
  • Aslam Muhsin, Lc. – Jakarta (Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Aspri Rahmat Lc. – LN (Rekan Abu Ihsan, Yazid Jawwas link); ·
  • Aunur Rofiq Ghufron, Lc, Gresik (Al Irsyad – At Turots, Al Sofwa crosslink); ·
  • Cholid Aboud Bawazeer (Al Irsyad – At Turots, Al Sofwa crosslink); ·
  • Fakhruddin – Jogjakarta (At Turots link); ·
  • Fariq Gazim Anuz (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link); ·
  • Firdaus Sanusi – Jakarta (Abdul Hakim Abdat, Yazid Jawwas link); ·
  • Hanif Yahya, Lc. (Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Haris Budiyatna (rekan Kholid Syamhudi, At Turots link); ·
  • Husnul Yaqin Lc (Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Ir. Muhammad Qosim Saguni (Wahdah Islamiyyah, Makassar – Al Haramain – Al Sofwa link); ·
  • Isnen Azhar Lc – Jakarta (Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Jazuli, Lc – Jakarta (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots); ·
  • Kholid Syamhudi – Ma’had Imam Bukhari, Solo (At Turots link); ·
  • Khusnul Yaqin, Lc. (Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • M. Sahri Malang (rekan Agus Bashari dari Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • M. Syukur Malang (rekan Agus Bashari dari Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Ma’ruf Nur Salam, Lc. (Jilbab-online.net, Al Irsyad link); ·
  • Marwan – Jogjakarta (At Turots link); ·
  • Masrukhin (Rekan Agus Bashori dari Al Sofwa – Al Haramain link, Jilbab-online.net link); ·
  • Mubarak bin Mahfudz Ba Mu’allim, Lc – Surabaya (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwa crosslink); ·
  • Muhammad Arifin Al Badri, Lc, MA – LN (Rekan Abdullah Taslim Lc, pemrakrasa syubhat “Bahtera Dakwah Salafiyyah di Indonesia); ·
  • Muhammad Elvi bin Syamsi Lc, – LN (Rekan Abu Ihsan, Yazid Jawwas link); ·
  • Muhammad Shio Batam – Medan, Sumatra (At Turots link); ·
  • Muhammad Subhan, Lc – (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah, At Turots – link); ·
  • Muhammad Wujud – Magelang, Jateng (At Turots link); ·
  • Muhammad Qoshim, Lc – Ma’had ALi Al Irsyad, Tengaran, Boyolali (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwa crosslink); ·
  • Muhammad Nur Ikhsan Lc. – LN (Rekan Abu Ihsan, Yazid Jawwas link); ·
  • Mustofa ‘Aini Lc (Al Sofwa – Al Haramain link); · Nasiruddin, Lc (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah, At Turots link); ·
  • Nur Ahmad, ST, MT – Dosen & Kajur D3 TE UGM (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah, At Turots link); ·
  • Nurul Mukhlisin Asyrafuddin, Lc. (Nidhaul Fithrah, rekan Kholid Syamhudi, At Turots link); ·
  • Qisman Abdul Mujib (Jilbab-online.net link); ·
  • Rahmat Abdul Qodir – Jakarta (Jilbab-online.net link – crosslink Al Haramain, Al Sofwa, At Turots); ·
  • Ramlan, Lc (LBI Al Atsary Jogjakarta, link Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah, At Turots link); ·
  • Ridwan LC – Batam, Sumatra (At Turots link); ·
  • Ridwan Abdul Aziz – Surabaya (Nidhaul Fithrah, Jilbab-online.net link); ·
  • Ridwan Hamidi, Lc – Ma’had Taruna Al Qur’an (Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah/DDII eks Masyumi link, At Turots cross-link); ·
  • Salim Ghonim, Lc, Surabaya (Jilbab-online.net, Al Irsyad link); ·
  • Sholih – Jogjakarta (At Turots link); ·
  • Tjahyo Suprajogo, FSI Qalbun Salim Malang (Al Sofwa, Al-Haramain, At Turats cross link); ·
  • Ulin Nuha – Ma’had Taruna Al Qur’an (Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah/DDII eks Masyumi link, At Turots – link); ·
  • Ummu Fathimah – isteri Abu Ihsan Medan (At Turots link); ·
  • Umar Budiargo – Ma’had Taruna Al Qur’an (Taruna Al Qur’an/L-Data/Al Dakwah/DDII eks Masyumi link); ·
  • Yahya Asy’ari – Jambi (At Turots link); ·
  • Yazid Abdul Qadir Jawwas, Jakarta (Al Haramain , Al Sofwa, DDII eks. Masyumi crosslink); ·
  • Yusuf Usman Baisa – Tengaran, Boyolali (Al Irsyad, At Turots, Al Sofwa crosslink); ·
  • Zainal Abidin Syamsudin, Lc. – Jakarta (Al Sofwa – Al Haramain link); ·
  • Zainal Arifin, Lc. – Karawang (Abdul Hakim Abdat, Yazid Jawwas link). Di luar itu masih ada satu sosok di bawah payung: · Ja’far Umar Thalib, pesantren Ihya’ as-sunnah Yogyakarta.

Masih ada kelompok-kelompok lain yang jumlahnya cukup banyak, sebab apa yang disebutkan di atas baru sebagiannya saja.

penguasa tiran Dinasti Umayyah dan Abbasiyah tidak merubah Islam yang asli ?

Mengenal Imam Ahlul Bait as:
Imam Hasan Askari as, Simbol Pejuang Sejati

 

Di era kegelapan pemikiran dan penyimpangan akidah, Imam Askari as bangkit menyampaikan hakikat agama secara jernih kepada masyarakat. Beliau mengobati dahaga para pencari ilmu dan makrifat dengan pancaran mata air kebenaran. Argumentasi-argumentasi Imam Askari as dalam kajian ilmiah, sangat berpengaruh, di mana filosof Arab Ya’qub bin Ishak al-Kindi mulai memahami kebenaran setelah berdebat dengan beliau dan kemudian membakar buku-bukunya yang ditulis untuk mengkritik beberapa pengetahuan agama. 
Imam Hasan Askari as, Simbol Pejuang Sejati

 

Pada
tahun 260 Hijriyah, dunia Islam larut dalam duka atas kesyahidan Imam Hasan
Askari as. Beliau sepanjang 28 tahun umurnya telah menorehkan tinta emas dalam
lembaran sejarah Islam. Kehidupan para imam maksum as dan Ahlul Bait Nabi as
adalah kumpulan dari ilmu pengetahuan dan ajaran-ajaran praktis untuk
pendidikan individu di tengah masyarakat. Akan tetapi, mereka menghadapi
kondisi sulit dalam menyebarluaskan pengetahuan Islam karena rezim penguasa
menerapkan batasan tertentu.

 

Pembatasan
itu mencapai puncaknya pada masa Imam Muhammad al-Jawad as, Imam Ali al-Hadi
as, dan Imam Hasan Askari as. Dinasti Abbasiyah bahkan memaksa Imam Hadi as dan
putranya Imam Askari as untuk meninggalkan kota kakeknya, Madinah dan hijrah ke
Baghdad, pusat kekhalifahan Abbasiyah. Setelah syahidnya Imam Hadi as, Imam
Askari as memikul tanggung jawab imamah dan dalam waktu enam tahun, beliau
mampu menyampaikan pandangan dan ajarannya di berbagai bidang politik dan
sosial kepada para pengikutnya.

 

Kebijakan
represif dan pembatasan yang diterapkan oleh para penguasa Abbasiyah terhadap
Imam Askari as justru kian menambah popularitas beliau di tengah masyarakat.
Itu semua karena obor yang dinyalakan oleh Rasulullah Saw dan Ahlul Bait beliau
adalah cahaya kebenaran yang tidak akan pernah padam untuk selamanya.

 

Instabilitas
Dinasti Abbasiyah memasuki puncaknya pada masa kepemimpinan Imam Askari as.
Ketidaklayakan para penguasa, pertikaian internal di lingkungan istana,
ketidakpuasan rakyat, aksi pemberontakan beruntun, dan penyebaran pemikiran
sesat, termasuk di antara faktor-faktor yang menganggu stabilitas politik dan
sosial  pada masa itu. Para penguasa Abbasiyah memeras masyarakat demi
membangun istana-istana yang megah dan membiarkan mereka hidup sengsara.

 

Akan
tetapi, masyarakat mengetahui bahwa seorang juru selamat dari keturunan Imam
Askari as, akan lahir ke dunia untuk membebaskan mereka dari kezaliman dan
ketidakadilan penguasa. Dia adalah juru selamat umat manusia yang akan bangkit
untuk melawan kezaliman dan menegakkan keadilan di dunia. Berita kelahiran juru
selamat mendorong penguasa Abbasiyah untuk meningkatkan aksi represif dan
membatasi kegiatan masyarakat. Imam Askari as pada hari tertentu juga dipaksa
untuk hadir di istana penguasa agar bisa diawasi dari dekat.

 

 

Penguasa
Abbasiyah telah melakukan banyak upaya untuk mengawasi gerak-gerik Imam Askari
as, akan tetapi Tuhan berkehendak lain dan juru selamat akan lahir ke dunia di
tengah keluarga Sang Imam. Setelah kelahiran Imam Mahdi as, ayah beliau mulai
mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi kondisi sulit di masa-masa mendatang.
Imam Askari as di berbagai kesempatan, berbicara tentang keadaan pada masa keghaiban
juru selamat dan peran berpengaruh Imam Mahdi as dalam memimpin masa depan
dunia. Beliau menekankan bahwa putranya akan menciptakan keadilan dan
kemakmuran di seluruh penjuru dunia.

 

Di
era kegelapan pemikiran dan penyimpangan akidah, Imam Askari as bangkit
menyampaikan hakikat agama secara jernih kepada masyarakat. Beliau mengobati
dahaga para pencari ilmu dan makrifat dengan pancaran mata air kebenaran.
Argumentasi-argumentasi Imam Askari as dalam kajian ilmiah, sangat berpengaruh,
di mana filosof Arab Ya’qub bin Ishak al-Kindi mulai memahami kebenaran setelah
berdebat dengan beliau dan kemudian membakar buku-bukunya yang ditulis untuk
mengkritik beberapa pengetahuan agama.

 

Meskipun
Dinasti Abbasiyah bermusuhan dengan Imam Askari as, namun salah satu menteri
rezim penguasa dengan nama Ahmad bin Khaqan, mengakui keutamaan dan karamah
keturunan Nabi Saw itu. Dia berkata, “Di Samarra, aku tidak melihat sosok
seperti Hasan bin Ali. Dalam hal martabat, kesucian, dan kebesaran jiwa, aku
tidak menemukan tandingannya. Meski ia seorang pemuda, Bani Hasyim lebih
mengutamakannya dari kelompok tua di tengah mereka. Ia memiliki kedudukan yang
sangat tinggi, di mana dipuji oleh sahabat dan musuhnya.”

 

Semua
kehormatan dan kemuliaan itu dikarenakan ketaatan Imam Askari as kepada Allah
Swt dan kebersamaan beliau dengan kebenaran. Beliau berkata, “Tidak ada
orang mulia yang menjauhi kebenaran kecuali dia akan terhina dan tidak ada
orang hina yang merangkul kebenaran kecuali dia akan mulia dan terhormat.”

 

Kedekatan
dengan Tuhan dan sifat tawakkal telah membantu Ahlul Bait Nabi as dalam memikul
beban penderitaan dan membuat mereka berkomitmen dalam memperjuangkan
kebenaran. Ibadah dan kecintaan kepada Sang Kekasih, ada dalam fitrah manusia
dan daya tarik internal ini mampu membantu mereka dalam peristiwa-peristiwa
sulit. Manusia-manusia yang bertakwa dan taat, telah terbebas dari ikatan dan
belenggu-belenggu hawa nafsu dan godaan duniawi. Mereka telah mencapai puncak
kemuliaan akhlak.

 

 

Rasul
Saw dan Ahlul Baitnya adalah pribadi-pribadi sempurna yang menduduki puncak
kemuliaan akhlak. Mereka dengan ketaatan penuh di hadapan kekuasaan Tuhan,
mencapai derajat spiritual yang tinggi dan sama sekali tidak merasa kalah dalam
melawan kemusyrikan dan kekufuran di tengah masyarakat. Dalam sirah Imam Askari
as disebutkan bahwa beliau saat berada di penjara, menghabiskan seluruh
waktunya dengan ibadah dan munajat kepada Tuhan. Pemandangan ini bahkan telah
menyihir para sipir yang ditugaskan untuk mengawasi dan menyiksa beliau.

 

Beberapa
pejabat Dinasti Abbasiyah memerintahkan Saleh bin Wasif, kepala penjara untuk
bersikap keras terhadap Imam Askari as. Mereka berkata kepada Wasif,
“Tekan Abu Muhammad semampumu dan jangan biarkan ia menikmati
kelonggaran!” Saleh bin Wasif menjawab, “Apa yang harus aku lakukan?
Aku sudah menempatkan dua orang terkejam dari bawahanku untuk mengawasinya,
keduanya sekarang tidak hanya menganggap Abu Muhammad sebagai seorang tahanan,
tapi mereka juga mencapai kedudukan yang tinggi dalam ibadah, shalat, dan
puasa.”

 

Para
pejabat tersebut kemudian memerintahkan Wasif untuk menghadirkan kedua
algojonya itu. Mereka berkata kepada para algojo tersebut, “Celaka kalian!
Apa yang telah membuat kalian lunak terhadap tahanan itu?” Mereka
menjawab, “Apa yang harus kami katakan tentang seseorang yang hari-harinya
dilewati dengan puasa dan seluruh malamnya dihabiskan dengan ibadah? Ia tidak
melakukan pekerjaan lain kecuali beribadah dan bermunajat dengan Tuhannya.
Setiap kali ia menatap kami, wibawa dan kebesarannya menguasai seluruh wujud
kami.”

 

Imam
Askari as dalam sebuah riwayat menyinggung kedudukan orang-orang yang shalat,
dan berkata, “Ketika seorang hamba beranjak ke tempat ibadah untuk
menunaikan shalat, Allah berfirman kepada para malaikatnya, ‘Apakah kalian
tidak menyaksikan hamba-Ku bagaimana ia berpaling dari semua makhluk dan datang
menghadap-Ku, sementara ia mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Ku? Aku jadikan
kalian sebagai saksi bahwa Aku khususkan rahmat dan kemuliaan-Ku
kepadanya.”

 

Para
hamba saleh ketika mereka telah mencicipi kenikmatan ibadah dan munajat dengan
Sang Pencipta, maka mereka menemukan kebahagiaan dan kemuliaannya dalam sujud
yang penuh cinta dan ketaatan yang penuh rindu di hadapan Tuhan. Mereka percaya
bahwa sujud adalah media terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. Imam Askari as
senantiasa mewasiatkan kepada para pengikutnya untuk memperpanjang sujud, dan
berkata, “Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa dalam agama kalian dan
berusaha karena Allah serta memperpanjang sujud.” (Kasfu al-Ghummah, jil
3, hal 290)

 

 

Pengaruh
pemikiran dan spiritualitas Imam Askari as membuat para penguasa Abbasiyah
ketakutan. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk menghapus keberadaan
beliau. Muktamid Abbasi, penguasa tiran Dinasti Abbasiyah, akhirnya menyusun
sebuah skenario untuk membunuh Imam Askari as. Beliau syahid setelah beberapa
hari menahan rasa sakit akibat diracun oleh Muktamid.

Seorang pembantu Imam
Askari as berkata, “Ketika beliau terbaring sakit dan sedang melewati
detik-detik terakhir dari kehidupannya, beliau teringat bahwa waktu shalat
subuh telah tiba. Beliau berkata, ‘Aku ingin shalat.’ Mendengar itu, aku
langsung menggelar sajadah di tempat tidurnya. Abu Muhammad kemudian mengambil
wudhu dan shalat subuh terakhir dilakukan dalam keadaan sakit dan selang
beberapa saat, ruh beliau menyambut panggilan Tuhan.”

Ketawa Mati Ala Syiah ? MATI KETAWA ALA FATWA SYIAH ?

Dialog Imajiner Mengenai Bid’ahnya Maulid Nabi Saw

Betapa keras usaha dan upaya Nabi untuk menjaga agar umat Islam bersatu. Janganlah dirusak hanya karena berbeda dalam memahami anjuran Nabi. Bid’ahnya maulid masih diperselisihkan, tapi mencela, melecehkan dan merendahkan sesama muslim tidak diperdebatkan keharamannya. Orang Islam itu, kesibukannya melakukan amalan-amalan yang akan memasukkannya ke surga, bukan sibuk membuktikan orang lain pasti ke neraka. 

 Dialog Imajiner Mengenai Bid’ahnya Maulid Nabi Saw

Suatu hari, disebuah masjid kampung, dipingggiran kota, sehabis shalat Ashar berjama’ah, seorang anak muda, yang tampak begitu saleh dengan bekas sujud yang tampak jelas di dahinya dan penampilannya yang sedemikian islami dengan baju koko dan kopiah yang serba putih, mendekati imam masjid yang sudah sedemikian berumur. Keriput diwajah imam masjid itu sedemikian jelas disertai tubuh yang mulai membungkuk. Dia sedang membereskan sajadahnya, memasukkan mic kedalam kotaknya dan menutup lemari yang berisikan deretan kitab Al-Qur’an dan beberapa majalah bulanan Islam. Sementara jama’ah sudah meninggalkan masjid satu-satu dan menyisakan mereka berdua.  

Singkat cerita terjadilah dialog sebagai berikut:

Anak Muda [AM]: Pak ustad, mau tanya. Boleh?

Imam Masjid [IM]: Silahkan nak..

Keduanya kemudian duduk bersilah di sisi mimbar masjid. Pak Imam menyandarkan tubuh tuanya di dinding.

AM: Begini pak, benar di masjid ini akan diadakan peringatan maulid Nabi?

IM: Benar. Memang kenapa, bukannya kamu juga penduduk kampung ini, dan sudah tahu bahwa peringatan maulid di kampung ini telah menjadi tradisi tahunan dan warga kampung menyambutnya dengan gembira?

AM: Iya pak. Tapi bukankah itu amalan bid’ah?

IM: Bid’ah? Maksudnya?

AM: Iya bid’ah. Tidak ada contohnya dalam Islam. Tidak pernah dianjurkan Nabi, dan juga tidak pernah diamalkan para sahabat.

IM: Apa semua yang tidak dianjurkan Nabi dan tidak diamalkan sahabat sudah berarti bid’ah?

AM: Iya. Mengadakan hal-hal yang baru yang tidak ada contohnya dari Nabi itu semuanya bid’ah, semua yang bid’ah itu sesat dan kesesatan itu di neraka.

IM: Kamu tahu dari mana semua itu nak?

AM: Dari pengajian di kampusku di kota. Saya diajari ustad alumni Arab Saudi.

IM: Terus, apakah mengenakan kopiah dan sarung itu juga bid’ah? mengenakan mic di masjid saat azan itu juga bid’ah karena tidak ada contohnya dari Nabi?

AM: Kalau itu termasuk bid’ah dari segi bahasa, dan tidak masalah.

IM: Jadi yang bermasalah, bid’ah dari segi mana?

AM: Bid’ah secara istilah. Yaitu melakukan amalan ibadah yang tidak ada contohnya dalam syariat. Menggunakan kopiah dan sarung itu, masalah duniawi, bahkan implementasi dari perintah untuk menutup aurat, jadi apa saja yang akan dikenakan itu diserahkan pada ummat.

IM: Bukankah, mengadakan maulid nabi juga dari perintah Nabi untuk mengagungkan, memuliakan dan selalu mengingatnya?

AM: Memang dalam agama kita, kita diperintahkan memuliakan Nabi, tapi ya tentu sesuai dengan tuntunan Nabi. Nabi misalnya telah menganjurkan untuk bershalawat dan mematuhi perintahnya. Sahabat-sahabat sedemikian besarnya cintanya pada Nabi, tapi tidak ada seorangpun dari mereka yang menganjurkan memperingati hari kelahiran Nabi apalagi melakukannya.

IM: Nabi juga tidak pernah meminta kita mendirikan pesantren, tapi mengapa dilakukan?

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Mendirikan pesantren bagian dari perintah Nabi untuk ummat ini menuntut ilmu dan belajar.

IM: Apa Nabi pernah memerintahkan mendirikan pesantren?

AM: Ya tidak pernah.

IM: Apa sahabat-sahabat melakukannya?

AM: Ya tidak. Tapi waktu itu memang tidak begitu penting mendirikan pesantren.

IM: Sekarang mengapa mendirikan pesantren? Apa karena dirasa penting, meskipun itu tidak pernah dilakukan Nabi dan sahabat-sahabatnya?

AM: Tapi pak. Mendirikan pesantren itu ada dasarnya. Pertama, adanya perintah untuk menuntut ilmu. Bentuk bagaimana menuntut ilmu itu diserahkan kepada ummat. Mau dipesantren, kajian di masjid, dengar ceramah, nonton program TV Islami, baca buku dan sebagainya, terserah.

Kedua, dimasa Nabipun dilakukan majelis-majelis ilmu, yang sesungguhnya itu adalah cikal bakal berdirinya pesantren. Hanya saja di masa Nabi masih dalam bentuk yang sangat sederhana.

IM: Bukankah memperingati maulid juga begitu?. Pertama, dasarnya adalah adanya perintah untuk mencintai dan mengagungkan Nabi. Bentuk amalannya diserahkan kepada ummat. Memperingati maulid Nabi adalah perwujudan dari kecintaan dan bentuk pengagungan pada Nabi. Sama halnya perintah mencintai dan menghormati orang tua. Nabi tidak memberi batasan dan pengkhususan mengenai bentuk amalannya. Ada yang mencintai orangtuanya dengan membiayai keduanya naik haji. Ada yang mencintai kedua orangtuanya dengan membangunkan rumah, membayarkan hutang-hutangnya atau dalam bentuk menjadi anak yang saleh dan berbakti. Ada pula yang sampai bertekad menjadi sarjana dengan niat, itu yang menjadi bentuk pengabdian dan kecintaannya pada orangtua. Jadi apa alasannya menghalangi mereka yang hendak mengekspresikan kecintaannya pada Nabi dengan memperingati hari kelahirannya dan bersuka cita didalamnya, sementara Nabi tidak pernah memberi batasan dan pengkhususan bagaimana amalan dari perintah mencintainya?.

Kedua, cikal bakalnya di masa Nabi sudah ada. Sahabat-sahabat sangat mengagungkan apa saja yang berkaitan dengan Nabi. Mereka berebutan untuk mengambil berkah dari sisa air wudhu Nabi. Mereka menyimpan rambut Nabi, mengambil keringat dan peluh Nabi. Mereka mendahulukan Nabi dari diri-diri mereka sendiri. Nah, dimasa kita yang tidak bisa bertemu Nabi, tentu tidak bisa mengagungkan Nabi sebagaimana yang dilakukan para sahabat. Kalau kita di Madinah, tentu kita akan setiap hari berziarah ke makam Nabi, dan mengambil berkah dengan menyentuh pusaranya. Sayang, kita menetap di tempat yang jauh dari itu. [Mata imam tua itu mulai berkaca-kaca]

Karenanya, cukuplah memperingati kelahiran Nabi dan memuliakan bulan kelahirannya, sebagai bentuk yang paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk meluapkan kecintaan dan kerinduan kepada baginda Nabi. Selain itu, tentu saja dalam keseharian adalah meneladani Nabi. [Tidak tahan, imam masjid itu untuk menyeka matanya yang sembab]

Kalau kita tidak bisa mengambil berkah dari fisik ataupun makam Nabi dan semua tempat bersejarah yang pernah dipijaknya, setidaknya kita mengambil berkah dari waktu-waktu mulia yang pernah dilalui Nabi. Bukankah kita sendiri tetap menganggap istimewa, hari saat kita dilahirkan, hari pertama masuk sekolah, hari saat diwisuda, hari pernikahan, hari lahirnya anak pertama dan sebagainya, dan ketika mengenang semua hari-hari menggembirakan itu kita lantas bersyukur dan bersuka cita atas rahmat Allah. Karena itu kita mengistimewakan hari lahirnya Nabi, saat beliau hijrah, saat isra mi’raj, dengan mengenang, memperingati dan membicarakannya, sebagai bentuk cinta kita pada beliau.

AM: Tapi pak, bagaimanapun itu sama saja menambah-nambahkan syariat dalam agama. Tidak ada contohnya, dan tidak pernah diamalkan. Kalau memang itu penting, pasti Nabi dan sahabatnya pasti yang lebih dulu melakukan dan menyemarakkannya.

IM: Lho, kalau pesantren itu penting. Pasti Nabi dan sahabatnya yang lebih dulu mendirikannya.

AM: Pesantren hanya wasilah pak. Bukan ibadah.

IM: Bukan ibadah? Maksudnya?

AM: Ya, hanya wasilah untuk lebih mudah menuntut ilmu, dan lebih tersistematis dengan adanya kurikulum. Intinya itu adalah pengamalan dari perintah Nabi untuk menuntut ilmu.

IM: Lho, kalau begitu, maulid adalah juga wasilah untuk menunjukkan kecintaan kepada Nabi. Maulid, jalan untuk bisa mengumpulkan warga, sehingga mereka mau mendengarkan ceramah tentang Nabi, mereka jadi tahu akhlak dan keindahan perangai Nabi, mereka jadi tahu sunnah-sunnah Nabi apa saja. Dan dibuat tersistematis, agar ummat bisa lebih mudah untuk mengingatnya. Setiap Muharram yang diingat, peristiwa hijrahnya Nabi. Setiap Zulhijjah, yang diingat peristiwa haji terakhir Nabi dan lengkapnya syariat Islam. Setiap Rajab yang diingat adalah peristiwa isra mi’raj. Setiap Ramadhan, disaat Nabi menerima wahyu dan turunnya Al Qur’an pertama kali. Setiap Safar bulan wafatnya Nabi dan setiap Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Nabi. Dengan adanya tradisi memperingati semua hal yang penting dari peristiwa yang pernah dialami Nabi tersebut menjadi wasilah bagi para ulama, da’i dan muballigh untuk lebih mudah menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada ummat.

Bapak tanya. Pembacaan proklamasi itu kapan? Hari ibu kapan diperingati? Kalau hari Kartini kapan?

AM: Hari proklamasi 17 Agustus. Hari Ibu 22 Desember dan Hari Kartini 21 April.

IM: Kok kamu bisa ingat?

AM: Ya, karena diperingati tiap tahun.

IM: Kalau tidak diperingati secara nasional, bagaimana? Apa kamu masih bisa ingat?

AM: Ya bisa jadi saya lupa. Tapi apa pentingnya mengetahui itu pak?

IM: Ya, apa pentingnya bagimu kamu tahu kapan kamu lahir, tanggal, bulan dan tahunnya?.

AM: [Diam]

IM: Sejarah itu penting nak. Dan adanya peringatan-peringatan itu diadakan sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah. Bukankah dalam Al-Qur’an sendiri banyak perintah untuk mengingat peristiwa-peristiwa ummat-ummat terdahulu, yang dengan itu kita bisa banyak mengambil ibrah?

AM: Tapi bukankah tanggal kelahiran Nabi itu diperselisihkan ulama pak?

IM: Tapi tidak ada yang menyelisihi bahwa baginda Nabi lahir dibulan Rabiul Awwal, iya kan?. Karena itu, kita juga tidak pernah mempersoalkan kapan acara maulid Nabi diadakan. Apa tepat 12 Rabiul Awal, lebih cepat atau lebih lambat. Ditiap kampung, masjid, kantor dan sekolah, beda-beda hari dimana mereka mengadakan Maulid. Dan itu tidak mesti dipersoalkan. Dan kami juga tidak pernah menyebut mereka yang tidak mau ikut maulidan sebagai orang yang tidak mencintai Nabi. Maulidan itu tidak wajib. Kalau ada yang menyatakan, yang tidak ikut acara maulidan itu berdosa, itu yang bid’ah.

AM: Tidak ada amalan yang kalau itu dianggap baik dan dapat mendekatkan pada Allah kecuali pernah dianjurkan Nabi dan diamalkan para sahabat. Maulid tidak dianjurkan dan tidak diamalkan, artinya tidak dianggap baik oleh Nabi.

IM: Nak, ceramah taraweh itu pernah tidak dilakukan Nabi? Pernah diamalkan sahabat?

AM: Setahu saya tidak.

IM: Lantas mengapa umat Islam saat ini menggalakkannya?. Di masjid-mesjid dibuatkan jadwal ceramah taraweh, ditentukan penceramahnya, temanya apa dan seterusnya. Kalau itu baik, pasti Nabi dan para sahabat yang lebih dulu mengamalkannya.

AM: Ya itu hanya karena memanfaatkan momentum Ramadhan saja pak. Ruhiyah umat Islam lebih siap mendengarkan siraman rohani dibanding bulan lain.

IM: Lho kalau itu alasannya. Kami mengadakan maulid juga sekedar memanfaatkan momentum Rabiul Awal saja. Ruhiyah umat Islam dibulan ini lebih siap untuk mendengarkan ceramah-ceramah mengenai keagungan Nabi dan keteladanannya. Jadi kalau memanfaatkan momentum Ramadhan bukan bid’ah, sementara memanfaatkan momentum Rabiul Awal menjadi bid’ah, begitu?.

AM: Tidak begitu juga sih pak. Tapi pak, memperingati Maulid itu menambah-nambah hari raya dalam Islam, sementara hari raya dalam Islam itu hanya tiga. Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak perlu ditambah lagi. Menambahhya sama halnya meragukan kesempurnaan ajaran Islam yang telah dijamin kesempurnannya oleh Allah Swt. Atau menuduh Nabi tidak amanah dalam menyampaikan syariat ini.

IM: Yang bilang Maulid itu hari raya siapa?. Kami menyebutnya peringatan. Bukan perayaan. Karena bentuknya peringatan, ya bisa dilakukan kapan saja. Bahkan diluar Rabiul Awal pun sah-sah saja. Kalau perayaan, ya harus di hari Hnya. Kalaupun ada yang menyebutkan merayakan maulid Nabi, itu bukan maksudnya menjadikan hari maulid sebagai hari raya dan menyikapinya sebagaimana hari raya Jum’at, Idul Fitri atau Idul Adha. Ketiga hari raya itu memiliki rukun yang tidak bisa dibolak balik, ditambah ataupun dikurangi. Sementara Maulid, ya terserah pada penyelenggaranya. Ada yang melengkapinya dengan barazanji, ada pula yang tidak. Ada yang menyertainya dengan lomba-lomba ada pula sekedar mendengar ceramah, shalawatan dan makan bersama sudah cukup. Ada yang melakukannya dipagi hari. Ada sore hari, ada pula yang malam hari setelah shalat Isya. Kalau idul Fitri ya sudah ditentukan kapan dan batasannya.

AM: Tetap saja bid’ah pak. Bukankah bapak mengharapkan pahala dari mengadakan Maulid itu? Nah karena mengharap pahala, berarti itu dianggap ibadah. Sementara dalam ibadah Islam, tidak ada yang namanya maulidan. Kalau bapak ngotot menyebutnya bukan ibadah, berarti bapak harus menyebut itu perbuatan sia-sia karena tidak mengharap pahala.

IM: Apa mereka yang mendirikan pesantren itu tidak mengharap pahala? Apakah yang menyumbang untuk pembangunan pesantren tidak mengharap pahala? Sementara dalam hadits Nabi sama sekali tidak ada perintah untuk membangun pesantren, mendirikan ormas Islam, membuat yayasan-yayasan, membangun rumah sakit, puskesmas dan sekolah-sekolah?.

AM: [Diam]

IM: Apa yang lepas dari masalah ibadah nak? Mana yang kamu sebut tadi masalah duniawi?

AM: Mengenakan sarung dan kopiah. [Menjawab dengan nada lemah]

IM: Saya tanya, kalau itu hanya masalah duniawi. Mana yang lebih afdhal yang shalat dengan mengenakan sarung, kopiah dan baju koko, dengan yang shalat mengenakan kaos oblong, celana jeans dan topi koboy?

AM: Tentu yang pertama.

IM: Kok bisa? Bukankah itu hanya masalah duniawi? Berpakaian pun bisa menjadi ibadah, jika itu diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan menjalankan tuntunan Nabi untuk mengenakan pakaian yang layak dan bersih. Bukankah tidurpun termasuk ibadah?. Apa Nabi pernah mencontohkan tidur di kasur yang empuk dan mahal?.

Jadi sekarang saya bertanya lagi. Mana yang lebih afdhal yang bergembira di bulan Maulid dengan niat kegembiraannya itu karena tahu bahwa bulan itu adalah bulan lahirnya Nabi yang mulia, yang dijunjung dan diagungkan oleh semua umat Islam. Yang kegembiraannya itu diluapkan dengan berbondong-bondong ke masjid, mendengar ceramah, bersilaturahmi dan makan bersama, atau yang lebih sibuk dan ribut-ribut menyebut mereka yang memperingati maulid itu sebagai ahli bid’ah, sesat dan tempatnya kelak di neraka?.

Mana yang lebih meneladani Nabi, mereka yang menyerukan persatuan dan persaudaraan Islam dengan memanfaatkan momentum bulan kelahiran Nabi atau mereka yang ngotot dan memaksakan pendapat mereka sendiri, dan menyebut mereka yang menyelisihnya sebagai golongan sesat dan jahil?.

AM: Lebih afdhal yang pertama, pak. [Sedikit tersipu]

Tapi pak, bukankah memperingati maulid Nabi sama halnya tasyabbuh dengan budaya kuffar yang juga memperingati hari kelahiran orang-orang yang mereka agungkan? Sementara Nabi melarang kita meniru-niru adat-adat dan kebiasaan mereka.

IM: Apa dalam semua hal? Kaum jahiliah Arab dulu dikenal sangat menghormati dan mengagungkan tamu, mereka juga punya ikatan yang kuat dengan keluarga dan kabilah mereka. Apa itu jelek dan harus diselisihi karena bakal menyerupai kebiasaan mereka? Kegigihan orang-orang Barat dalam menuntut ilmu, dalam menemukan hal-hal yang canggih dan baru dalam bidang tekhnologi, apa itu harus diselisihi karena telah menjadi tradisi keilmuan mereka?

Mengagungkan Nabi-nabi Allah, memuliakan orang-orang yang saleh dan mengistimewakan mereka diatas yang lainnya bukanlah kebiasaan jelek yang harus dihindari. Selama bentuk pengagungan dan pemuliaan kita tidak sampai menyamakan derajat mereka dengan Tuhan atau menyematkan sifat Rububiyah kepada orang-orang saleh itu.

Perintah agama kita jelas. Menyuruh kita melakukan hal-hal yang bisa menjengkelkan orang-orang kafir dan menyenangkan hati orang-orang beriman. Keras pada orang kafir dan berlembah lembut pada orang beriman. Nah, apa iya, melarang-larang umat Islam memperingat kelahiran Nabi itu menjengkelkan orang-orang kafir?. Apa iya mengharamkan makanan maulid itu membuat geram mereka? Apa iya sengaja menyulut perselisihan di bulan kelahiran Nabi itu membuat muak orang-orang kafir? 

Dalam keyakinan bapak, semakin semarak umat Islam memperingati kelahiran Nabinya, akan semakin menjengkelkan orang-orang kafir. Semakin ummat Islam mengagungkan Nabi di kantor-kantor, sekolah-sekolah, di jalan-jalan, di tanah lapang, dan memuliakan bulan kelahirannya akan semakin menggeramkan orang-orang kafir. Semakin anak-anak bergembira dan bersorak sorai, bershalawatan dan menyanyikan syair-syair rindu pada Nabi di bulan maulid, akan semakin membuat mereka putus asa untuk menjauhkan generasi muda Islam dengan Nabinya. 

Menyemarakkan maulid itu menyenangkan orang-orang beriman. Hari dimana kita berbagi kebahagiaan, keceriaan, kebersamaan, dengan makan bersama, duduk bersama, mendengarkan ceramah bersama, shalawatan bersama, melihat keceriaan anak-anak yang riang gembira, dan saling mematri janji untuk selalu saling memuliakan dan menjaga ukhuwah. Bukan begitu?. 

AM: Iya pak. [Pemuda itu menganggukkan kepalanya] 

Senyap sesaat, yang terdengar hanya suara gesekan tubuh imam masjid yang mengubah letak duduknya. 

AM: Tapi Pak. Yang patut disayangkan. Mereka yang getol memperingati maulid, justru hanya masuk masjid saat peringatan maulid, dan dihari selainnya tidak menampakkan lagi batang hidungnya di masjid. Bahkan pada saat shalat lima waktu sekalipun. 

IM: Justru, dengan adanya peringatan maulid itu setidaknya mereka tercatat pernah ke masjid. Coba kalau tidak ada maulid. Mungkin seumur-umur mereka tidak pernah ke masjid padahal mereka mengaku muslim juga.  

AM: [Mengangguk]  

IM: Nak, yang dimaksud bid’ah itu adalah jika mengubah-ubah syariat yang telah ditetapkan secara pasti. Misalnya menambah rakaat shalat. Naik haji bukan diwaktu yang telah ditentukan. Mengurangi rukun puasa. Dan sebagainya.  

Kita tidak mewajibkan maulid. Yang mau ikut silahkan, yang tidakpun tidak kita paksa. Apalagi sampai mencemoohnya tidak mencintai Nabi dan telah berdosa. Semua orang punya cara untuk meluapkan kecintaannya pada Nabi. Kita percaya, yang tidak memperingati maulid juga tetap tidak kurang cintanya pada Nabi. Hanya saja, kecintaan pada Nabi itu akan ternodai kalau sampai menyakiti hati sesama muslim dengan menggelari mereka yang memperingati maulid sebagai ahli bid’ah, sesat dan ahli neraka, padahal ini pun masih diperselisihkan para ulama. 

Betapa keras usaha dan upaya Nabi untuk menjaga agar umat Islam bersatu. Janganlah dirusak hanya karena berbeda dalam memahami anjuran Nabi. Bid’ahnya maulid masih diperselisihkan, tapi mencela, melecehkan dan merendahkan sesama muslim tidak diperdebatkan keharamannya. Orang Islam itu, kesibukannya melakukan amalan-amalan yang akan memasukkannya ke surga, bukan sibuk membuktikan orang lain pasti ke neraka.  

AM: Iya pak. Terimakasih.  

IM: Sama-sama. 

Imam Masjid itu kemudian berdiri. Menyalakan tape masjid, yang seketika itu juga memperdengarkan alunan Qari yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an.  Pak tua itu, keluar masjid, masuk WC, keluar dan memperbaharui wudhunya. Tidak lama lagi, matahari akan tenggelam, dan waktu maghrib akan masuk

.

Berbicara tentang Syiah seakan tidak ada habisnya.

Membaca Al Qur’an Di Kamar Mandi Dalam Fiqih Syi’ah Dan Fiqih Ahlus Sunnah?

Tulisan ini seperti biasa terkesan membela Syi’ah tetapi hakikat sebenarnya hanya ingin menunjukkan kedunguan para nashibiy. Sebagian orang yang memiliki kenifaqan di hatinya memasukkan perkara ini dalam kumpulan sampah yang disebutnya “Ketawa Merinding Ala Syi’ah” tanpa mereka sadari bahwa perkara yang sama juga ada dalam kitab pegangan mereka.

.

.

.

FiqihSyi’ah

Dalam Fiqih Syi’ah terdapat riwayat shahih di sisi mazhab mereka bahwa tidak mengapa membaca Al Qur’an di kamar mandi. Berikut riwayat yang dimaksud

Al Kafiy juz 6

Al Kafiy juz 6 hal 316

عنه، عن إسماعيل بن مهران، عن محمد بن أبي حمزة، عن علي بن يقطين قالقلت لأبي الحسن عليه السلام: أقرء القرآن في الحمام وأنكح؟ قال: لا بأس

Darinya dari Isma’iil bin Mihraan dari Muhammad bin Abi Hamzah dari Aliy bin Yaqthiin yang berkata aku bertanya kepada Abul Hasan [‘alaihis salaam] “bolehkah aku membaca Al Qur’an di kamar mandi dan nikah [di dalamnya]?”. Ia berkata “tidak apa-apa” [Al Kafiy 6/316 no 31]

Kemudian kebolehan membaca Al Qur’an di kamar mandi ini telah dikhususkan oleh riwayat setelahnya yaitu sebagai berikut

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن حماد بن عيسى، عن ربعي بن عبد الله، عن محمد بن مسلم قال: سألت أبا جعفر عليه السلام أكان أمير المؤمنين عليه السلام ينهى عن قراءة القرآن في الحمام؟قال: لا إنما نهى أن يقرء الرجل وهو عريان فأما إذا كان عليه إزار فلا بأس

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hammad bin Iisa dari Rib’iy bin ‘Abdullah dari Muhammad bin Muslim yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] “apakah amirul mukminin ‘alaihis salaam telah melarang membaca Al Qur’an di kamar mandi?”. Maka Beliau menjawab “tidak, sesungguhnya yang dilarang hanyalah orang yang membaca sedang ia dalam keadaan telanjang, adapun jika ia memakai kain maka tidak apa-apa” [Al Kafiy 6/316 no 32]

Al Majlisiy berkata bahwa riwayat pertama sanadnya shahih dan riwayat kedua sanadnya hasan [Mir’at Al ‘Uquul 22/405]. Sebagian nashibiy menjadikan adanya riwayat ini sebagai bahan celaan dan tertawaan terhadap mazhab Syi’ah. Anehnya mereka tidak menyadari bahwa sebagian ulama ahlus sunnah juga ada yang berpendapat demikian. Apakah lantas mereka akan dicela dan ditertawakan juga?.

.

.

.

Fiqih Ahlus Sunnah

Shahih Bukhariy juz 1

Shahih Bukhariy bab 36

Bukhariy menyebutkan dalam kitab Shahih-nya sebuah bab dengan judul sebagai berikut

باب قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بَعْدَ الْحَدَثِ وَغَيْرِهِ
وَقَالَ مَنْصُورٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ لاَ بَأْسَ بِالْقِرَاءَةِ فِى الْحَمَّامِ ، وَبِكَتْبِ الرِّسَالَةِ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ . وَقَالَ حَمَّادٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِمْ إِزَارٌ فَسَلِّمْ ، وَإِلاَّ فَلاَ تُسَلِّمْ

Bab bacaan Al Qur’an dan lainnya setelah hadats
Dan berkata Manshuur dari Ibrahiim “tidak apa-apa membaca Al Qur’an di kamar mandi dan menulis risalah tanpa berwudhu’. Dan berkata Hammad dari Ibrahiim “jika mereka memakai kain maka jawab salamnya tetapi jika tidak memakai kain maka jangan dijawab salamnya” [Shahih Bukhariy 1/79 Kitab Wudhu’  bab 36 ]

Ibnu Hajar dalam Kitab Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy memberikan penjelasan bahwa terjadi perselisihan di kalangan ulama mengenai membaca Al Qur’an di kamar mandi, berikut apa yang dijelaskan Ibnu Hajar

Fath Al Bariy juz 1

Fath Al Bariy juz 1 hal 344

قوله وقال منصور أي بن المعتمر عن إبراهيم أي النخعي وأثره هذا وصله سعيد بن منصور عن أبي عوانة عن منصور مثله وروى عبد الرزاق عن الثوري عن منصور قال سألت إبراهيم عن القراءة في الحمام فقال لم يبن للقراءة فيه قلت وهذا لا يخالف رواية أبي عوانة فإنها تتعلق بمطلق الجواز وقد روى سعيد بن منصور أيضا عن محمد بن أبان عن حماد بن أبي سليمان قال سألت إبراهيم عن القراءة في الحمام فقال يكره ذلك انتهى والإسناد الأول أصح

Perkataannya “dan berkata Manshuur yaitu bin Mu’tamar dari Ibrahim yaitu An Nakha’iy “Atsar ini telah disambungkan oleh Sa’id bin Manshuur dari Abi ‘Awaanah dari Manshuur seperti ini. Abdurrazaq meriwayatkan dari Ats Tsauri dari Manshur ia berkata “aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?” maka ia menjawab “tidak ada keterangan tentang membaca Al Qur’an di dalamnya”. Aku [Ibnu Hajar] berkata “riwayat ini tidak menyelisihi riwayat Abi ‘Awaanah, karena dikaitkan dengan kemutlakan pembolehannya” Dan diriwayatkan juga oleh Sa’id bin Manshuur dari Muhammad bin Abaan dari Hammaad bin Abi Sulaiman ia berkata “aku bertanya kepada Ibrahim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?”maka ia berkata “dimakruhkan hal tersebut”. [Ibnu Hajar berkata] Sanad yang pertama [yaitu riwayat Manshuur] lebih shahih. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

وروى بن المنذر عن على قال بئس البيت الحمام ينزع فيه الحياء ولا يقرأ فيه آية من كتاب الله وهذا لا يدل على كراهة القراءة وإنما هو أخبار بما هو الواقع بان شأن من يكون في الحمام أن يلتهي عن القراءة

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Aliy [radhiallahu ‘anhu] yang berkata “sejelek-jeleknya bagian rumah adalah kamar mandi, di dalamnya dilepaskan rasa malu dan tidak dibacakan di dalamnya ayat dari Kitabullah”. [Ibnu Hajar berkata] Perkataan ini tidak menjadi dalil makruhnya membaca Al Qur’an di dalam kamar mandi karena riwayat itu hanyalah merupakan kabar kenyataan yang terjadi, bahwa kamar mandi pada umumnya memang tempat yang tidak dibaca Al Qur’an di dalamnya. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

وحكيت الكراهة عن أبي حنيفة وخالفه صاحبه محمد بن الحسن ومالك فقالا لا تكره لأنه ليس فيه دليل خاص وبه صرح صاحبا العدة والبيان من الشافعية وقال النووي في التبيان عن الأصحاب لا تكره فاطلق لكن في شرح الكفايه للصيمري لا ينبغي أن يقرأ وسوى الحليمي بينه وبين القراءة حال قضاء الحاجة ورجح السبكي الكبير عدم الكراهة واحتج بان القراءة مطلوبه والاستكثار منها مطلوب والحدث يكثر فلو كرهت لفات خير كثير ثم قال حكم القراءة في الحمام أن كان القارئ في مكان نظيف وليس فيه كشف عورة لم يكره وإلا كره

Dinukil pendapat makruh dari Abu Hanifah, namun diselisihi oleh sahabatnya Muhammad bin Hasan dan Malik keduanya berkata “tidak makruh karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya” demikian juga ditegaskan penulis kitab Al ‘Uddah dan Al Bayaan keduanya dari kalangan ulama Syafi’iyyah. An Nawawi berkata dalam At Tibyaan dari para sahabatnya yang mengatakan tidak makruh, lalu memutlakkan kebolehannya. Namun dalam Syarah Al Kifaayah Lis Shaimariy, ia berkata ”tidak selayaknya membaca Al Qur’an di kamar mandi”. Al Hulaimiy menyamakan antara membaca Al Qur’an di kamar mandi dengan membaca Al Qur’an pada saat buang hajat. As Subkiy Al Kabiir merajihkan tidak dimakruhkannya hal tersebut dan berhujjah bahwa membaca Al Qur’an telah diperintahkan, begitu juga memperbanyak membacanya juga sesuatu yang diperintahkan, sedangkan hadas itu sering terjadi, seandainya hal itu dimakruhkankan maka akan terluput kebaikan yang sangat banyak. Kemudian ia berkata “hukum membaca Al Qur’an di kamar mandi, jika membaca di tempat yang bersih dan tidak terbuka auratnya, maka tidak dimakruhkan, kalau tidak seperti itu, maka dimakruhkan. [Fath Al Bariy Syarh Shahih Bukhariy 1/344]

Berdasarkan penjelasan Ibnu Hajar di atas maka ternukil pendapat yang memakruhkan membaca Al Qur’an di kamar mandi dan ternukil pula pendapat yang membolehkan membaca Al Qur’an di kamar mandi yaitu Ibrahim An Nakha’iy, Malik, Muhammad bin Hasan, An Nawawiy, As Subkiy dan ulama mazhab Syafi’iy lainnya.

.

.

Penutup

Dalam tulisan ini saya tidak merajihkan pendapat yang mana. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada sebagian ulama ahlus sunnah yang mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan Imam ahlul bait mazhab Syi’ah. Tentu saja perkataan imam ahlul bait menjadi hujjah di sisi mazhab Syi’ah dan tidak menjadi hujjah di sisi ahlus sunnah begitu pula perkataan sebagian ulama ahlus sunnah tersebut menjadi hujjah bagi sebagian pengikut ahlus sunnah dan tidak menjadi hujjah bagi Syi’ah.

Perbedaannya, dalam mazhab Syi’ah perkara ini telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Imam ahlul bait, oleh karena itu saya tidak perlu repot-repot menukil pendapat para ulama Syi’ah. Sedangkan dalam mazhab Sunni, perkara ini tidak ditemukan adanya dalil yang membolehkan dan melarangnya dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihiwasallam] oleh karena itu para ulama ahlus sunnah berselisih pendapat sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Kesimpulannya adalah mencela, mentertawakan atau merendahkan mazhab Syi’ah karena perkara ini sama saja seperti mencela, mentertawakan atau merendahkan sebagian ulama ahlus sunnah.

Syi’ah dan Imam Shadiq as menentang kejahatan pemerintah taghut dinasti zalim !

Mengenal Ahlul Bait as:
Peran Imam Shadiq as dalam Memerangi Penyimpangan

 

Imam Shadiq as di setiap kesempatan selalu menentang pemerintahan-pemerintahan taghut. Beliau tidak pernah menyerah terhadap tekanan dinasti-dinasti zalim di masa itu. Beliau bahkan selalu memerangi kejahatan pemerintah taghut dan akhirnya meneguk cawan kesyahidan pada tahun 148 Hijriah.

 

 Peran Imam Shadiq as dalam Memerangi Penyimpangan

Hari ini adalah tanggal 17 Rabiul Awal, dan menurut sebagian besar sejarawan Islam, 17 Rabiul Awal merupakan hari lahirnya Nabi Muhammad Saw, manusia yang paling sempurna dan paling dekat dengan Allah SWT. Hari ini juga hari lahirnya cucu Rasulullah Saw generasi kelima, Imam  Jakfar Shadiq as yang akan menghidupkan dan membangkitkan kembali ajaran-ajaran murni kakeknya.

 

Tanggal 17 Rabiul Awal tahun 83 Hijriah, Imam Shadiq as terlahir ke dunia di kota Madinah. Sampai usia 12 tahun, beliau diasuh oleh kakek beliau, Imam Sajjad as, dan 19 tahun kemudian, beliau di bawah bimbingan ayah beliau, Imam Muhammad Baqir as. Imam Shadiq  as hidup di masa ketika Dinasti Bani Umayah sedang mengalami kemunduran dan Dinasti Bani Abbasiah mulai merebut kekuasaan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh beliau untuk menyebarkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan Islam yang murni dan hakiki.   

Selain menguasai ilmu dan makrifat Islam, Imam Shadiq as juga menguasai ilmu kedokteran, kimia, matematika, dan bidang-bidang ilmu lainnya. Pada masa hidupnya, beliau adalah sumber rujukan ilmu dan dikunjungi banyak orang dari berbagai penjuru dunia untuk meminta jawaban atas berbagai persoalan ilmiah. Tercatat ada 4.000 murid yang belajar kepada Imam Shadiq as, di antaranya adalah Jabir bin Hayyan, seorang kimiawan muslim terkenal.  

 

Periode Imam Shadiq as adalah kesempatan emas untuk menghidupkan dan membangkitkan kembali ajaran-ajaran suci Islam. Setelah wafatnya Rasulullah Saw, banyak terjadi penyimpangan terhadap ajaran-ajaran murni Islam, bahkan masyarakat lupa tentang bagaimana menunaikan shalat dan haji dengan benar. Hal itu disebabkan kesibukan mereka dengan berbagai urusan dunia seperti penaklukan wilayah atau negara, masalah keuangan dan berbagai persoalan lainnya.

Penyimpangan-penyimpangan itu terjadi sebagai dampak dari pelarangan penulisan hadis dan munculnya hadis-hadis palsu di tengah masyarakat Islam sejak masa kekuasaan Muawiyah. Agama Islam di masa itu dalam bahaya dan di ambang kehancuran. Sementara ilmu pengetahuan ditinggalkan dan terisolasi dan para ulama tidak memiliki sumber shahih untuk mengenalkan agama Islam. Selain itu, terjadi berbagai bentrokan dan konflik di antara kelompok-kelompok politik dan sosial. Perselisihan yang menyebabkan lemahnya pemerintahan Bani Umayah dan berdirinya pemerintahan Abbasiyah.

 

Situasi politik yang terbuka akibat lemahnya badan-badan pemerintahan di masa itu, dimanfaatkan oleh Imam Shadiq as untuk menyebarkan ajaran-ajaran murni Islam. Beliau melanjutkan gerakan ilmiah dan budaya yang sebelumnya dilakukan oleh ayahnya dengan membuka Hauzah Ilmiah di berbagai bidang ilmu dan mendidik ribuan murid. Murid-murid beliau yang menguasai ribuan hadis di berbagai cabang ilmu seperti tafsir, fikih, sejarah, akhlak, kalam, kedokteran, kimia dan lain sebagainya, sangat berpengaruh dalam menyebarkan hadis-hadis shahih Nabi Muhammad Saw dan mengajarkan ilmu-ilmu agama. Hal itu juga menjadi penghalang munculnya berbagai penyimpangan di tengah-tengah masyarakat Islam.

Murid-murid Imam Shadiq as yang mencapai 4.000 orang paling tidak telah mampu menghapus banyak penyimpangan dan syubhat, dan mengakhiri kemandekan budaya islami akibat pelarangan menukil hadis. Beliau mendorong dan mendidik setiap muridnya sesuai dengan bidang, bakat dan kapasitas murid tersebut. Hasilnya, setiap murid beliau mampu menguasai satu atau dua bidang ilmu seperti hadis, tafsir, ilmu kalam, dan cabang-cabang ilmu lainnya.

 

Menariknya, Imam Shadiq as meminta setiap muridnya untuk berbicara tentang cabang ilmu tertentu dan kemudian mendiskusikan hal itu dengan mereka. Metode ini bertujuan agar semua mengetahui keahlian apa saja yang harus dimiliki oleh seorang mubaligh. Hisham ibn Salim, salah satu murid beliau mengatakan, “Ketika kami bersama Imam Shadiq as, seorang laki-laki dari Syam datang. Imam Shadiq as bertanya: apa yang Anda inginkan? Laki-laki itu menjawab: mereka mengatakan kepadaku bahwa Anda adalah orang yang paling pandai di antara masyarakat. Aku akan bertanya beberapa persoalan kepada Anda. Imam Shadiq as bertanya: mengenai apa? Orang itu menjawab: tentang al-Quran, huruf muqaththa`ah, sukun, rafa`, nasab dan jar.

Imam Shadiq as kemudian berkata, “Wahai Hamran ibn A`yun! kamu yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan orang itu.” Lelaki dari Syam tersebut berkata: “Aku ingin Anda yang menjawabnya.” Beliau berkata, “Jika Anda menang atas dia maka Anda telah mengalahkanku.” Lelaki itu kemudian melontarkan berbagai pertanyaan kepada Hamran, tetapi ia mampu menjawab semua pertanyaannya hingga lelaki itu lelah dan kepada Imam Shadiq as ia berkata: “Ia lelaki yang pandai. Ia menjawab setiap pertanyaanku.”

 

Atas nasihat Imam Shadiq as, Hamran bertanya balik kepada lelaki dari Syam tersebut, namun lelaki itu tidak mampu menjawabnya. Warga Syam itu kemudian kepada Imam as berkata: “Aku ingin berbicara dengan Anda tentang ilmu Nahwu dan sastra.” Kemudian Imam Shadiq as memanggil Aban ibn Taglib untuk berdiskusi dengan lelaki tersebut mengenai Nahwu dan sastra. Kali ini, lelaki dari Syam tersebut juga kalah dalam berdebat dengan Aban. Namun ia tidak menyerah. Ia meminta kepada Imam Shadiq as untuk berdiskusi tentang fikih. Beliau kemudian meminta Zararah ibn A`yun untuk meladeni lelaki itu. Ketika lelaki itu meminta berdiskusi masalah ilmu Kalam, Imam Shadiq as menunjuk Mukmin al-Thaq. Di bidang ilmu tauhid, beliau menunjuk Hisham ibn Salim, dan di bidang Imamah, beliau menunjuk Hisham ibn al-Hakam untuk berdiskusi dengan lelaki dari Syam itu. Pada akhirnya, lelaki itu kalah dan semua pertanyaan dan persoalannya dijawab oleh murid-murid Imam Shadiq as.

 

Melalui perluasan budaya islami, Imam Shadiq as berusaha menghapus kebodohan umat Islam. Dari satu sisi, beliau berusaha memerangi kerusakan politik di Bani Umayah dan Abasiyah dan dari sisi lainnya, cucu Rasulullah Saw itu berusaha memerangi berbagai penyimpangan akidah, persepsi dan interpretasi keliru tentang agama.

Salah satu penafsiran keliru yang terjadi di masa itu adalah melakukan qiyas dalam hukum. Diriwayatkan bahwa suatu hari Imam Shadiq as melihat seorang laki-laki yang dikenal di masyarakat dengan ketakwaannya. Lelaki mencuri dua potong roti dan dengan cepat menyembunyikan roti-roti itu di balik bajunya. Ia kemudian mencuri dua buah delima dari seorang penjual buah dan melangkah menuju ke seseorang fakir yang sedang sakit. Ia memberikan dua potong roti dan dua buah delima itu kepada orang fakir tersebut.

 

Melihat perbuatan lelaki itu, Imam Shadiq as heran dan kepadanya ia bertanya; “Apa yang Anda lakukan.” Ia menjawab, “Aku mengambil dua potong roti dan dua buah delima, dengan demikian aku telah melakukan empat kesalahan. Tetapi dalam al-Quran disebutkan bahwa setiap orang yang melakukan perbuatan buruk maka ia tidak akan dibalas kecuali sesuai dengan perbuatannya itu. Oleh karena itu, dalam hal ini aku telah melakukan empat dosa. Sementara di sisi lain, Allah Swt berfirman, “Barang siapa melakukan satu perbuatan baik, maka akan dilipatgandakan 10 kali lipat.” Karena aku telah memberikan dua potong roti dan dua buah delima kepada orang fakir itu, maka aku mendapatkan 40 kebaikan, dan jika dikurangi empat dosaku maka masih tersisa 36 kebaikan bagiku.”

 

Untuk meluruskan penafsiran keliru yang diakibatkan oleh ketidakpahaman terhadap dasar-dasar pemahaman ayat itu,  Imam Shadiq as membacakan Surat al-Maidah Ayat 27 yang artinya: “… Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban (perbuatan baik)  dari orang-orang yang bertakwa.” Jadi, jika perbuatan tersebut tidak sah maka tidak akan mendatangkan pahala apapun. Pada dasarnya, menjauhi sumber wahyu akan menyebabkan munculnya orang-orang yang mengklaim memiliki ilmu tetapi sebenarnya  tidak memahami dasar-dasar al-Quran dan agama.

 

 

 

Imam Shadiq as adalah sosok yang memiliki kesabaran dan toleransi yang tinggi. Beliau tidak hanya sopan dan ramah kepada umat Islam saja tetapi juga kepada pemeluk agama lain bahkan kepada orang-orang musrik dan kafir. Meski demikian, beliau sangat keras dan tegas terhadap kelompok ghulat yang membesar-besarkan Ahlul Bait as dan mensifati mereka dengan sifat-sifat yang Ahlul Bait as sendiri tidak menerimanya.

 

Keyakinan kelompok-kelompok ghulat adalah ancaman besar bagi dunia Islam. Imam Shadiq as yang memahami ancaman itu segera mengambil langkah-langkah untuk memerangi pemikiran keliru dan ekstim tersebut. Sebab, kecintaan yang bercampur dengan kebodohan akan melemahkan setiap akar keyakinan dan agama. Situasi itu juga akan membuka peluang bagi musuh untuk menghantam Islam. Salah satu langkah Imam Shadiq as dalam memerangi kelompok ghulat adalah memberikan petunjuk kepada masyarakat ke jalan yang benar, menjelaskan akidah murni Islam  dan mengungkap keyakinan keliru kelompok-kelompok tersebut.

 

Dengan demikian, Imam Shadiq as telah memisahkan antara yang haq dan yang batil. Beliau melarang keras masyarakat untuk duduk bersama dengan orang-orang ghulat dan memperingatkan kaum muda tentang bahaya akidah kelompok sesat itu. Imam Shadiq as berkata, “Hendaklah pemuda-pemuda kalian waspada terhadap orang-orang ghulat supaya mereka tidak dirusak oleh kelompok tersebut. Sebab, orang-orang ghulat adalah seburuk-buruknya ciptaan Tuhan. Mereka meremehkan kebesaran Tuhan dan mengklaim hamba Tuhan sebagai Tuhan. Aku bersumpah bahwa orang-orang ghulat lebih buruk dari pada Yahudi, Nasrani, Majusi dan orang-orang musrik.” 

 

Imam Shadiq as di setiap kesempatan selalu menentang pemerintahan-pemerintahan taghut. Beliau tidak pernah menyerah terhadap tekanan dinasti-dinasti zalim di masa itu. Beliau bahkan selalu memerangi kejahatan pemerintah taghut dan akhirnya meneguk cawan kesyahidan pada tahun 148 Hijriah.

 

Syiah sebagai pengikut Ali sudah muncul sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup

Artikel Islam:
Sejarah Syiah: Sejak Zaman Rasulullah SAW sampai Abad 14 H

 

Di tiga abad terakhir ini, mazhab Syi’ah berkembang dengan sangat pesat, khususnya setelah ia menjadi mazhab resmi Iran setelah kemenangan Revolusi Islam. Begitu juga di Yaman dan Irak, mayoritas penduduknya memeluk mazhab Syi’ah. Dapat dikatakan bahwa di setiap negara yang penduduknya muslim, akan ditemukan para pemeluk Syi’ah. Di masa sekarang, diperkirakan bahwa pengikut Syi’ah di seluruh dunia berjumlah 300.000.000 lebih. 

 Sejarah Syiah: Sejak Zaman Rasulullah SAW sampai Abad 14 H

Kapan Syiah Muncul?

Syiah sebagai pengikut Ali bin Abi Thalib a.s. (imam pertama Mazhab Syiah) sudah muncul sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan realita-realita berikut ini:

Pertama, ketika Nabi Muhammad SAW mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengajak keluarga terdekatnya masuk Islam, ia berkata kepada mereka: “Barang siapa di antara kalian yang siap untuk mengikutiku, maka ia akan menjadi pengganti dan washiku setelah aku meninggal dunia”. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersedia untuk mengikutinya kecuali Sayyidina Ali bin abi thalib a.s. Sangat tidak masuk akal jika seorang pemimpin pergerakan –di hari pertama ia memulai langkah-langkahnya– memperkenalkan penggantinya setelah ia wafat kepada orang lain dan tidak memperkenalkanya kepada para pengikutnya yang setia. Atau ia mengangkat seseorang untuk menjadi penggantinya, akan tetapi, di sepanjang masa aktifnya pergerakan tersebut ia tidak memberikan tugas sedikit pun kepada penggantinya dan memperlakukannya sebagaimana orang biasa. Keberatan-keberatan di atas adalah bukti kuat bahwa Imam Ali bin abi thalib as setelah diperkenalkan sebagai pengganti dan washi Nabi Muhammad SAW di hari pertama dakwah, memiliki misi yang tidak berbeda dengan missi Nabi Muhammad SAW dan orang yang mengikutinya berarti ia juga mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Kedua, berdasarkan riwayat-riwayat mutawatir yang dinukil oleh Ahlussunnah dan Syiah, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa Imam Ali bin abi thalib as terjaga dari setiap dosa dan kesalahan, baik dalam ucapan maupun perilaku. Semua tindakan dan perilakunya sesuai dengan agama Islam dan ia adalah orang yang paling tahu tentang Islam.

Ketiga, Imam Ali bin abi thalib as adalah sosok figur yang telah berhasil menghidupkan Islam dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah lakukannya. Seperti, ia pernah tidur di atas ranjang Nabi Muhammad SAW di malam peristiwa lailatul mabit ketika Nabi Muhammad SAW hendak berhijrah ke Madinah dan kepahlawannya di medan perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Seandainya pengorbanan-pengorbanan tersebut tidak pernah dilakukannya, niscaya Islam akan sirna di telan gelombang kebatilan.

Keempat, peristiwa Ghadir Khum adalah puncak keistimewaan yang dimiliki oleh Imam Ali bin abi thalib as Sebuah peristiwa –yang seandainya dapat direalisasikan sesuai dengan kehendak Nabi Muhammad SAW– akan memberikan warna lain terhadap Islam.

Semua keistimewaan dan keistimewaan-keistimewaan lain yang diakui oleh Ahlussunnah bahwa semua itu hanya dimiliki oleh Imam Ali bin abi thalib as secara otomatis akan menjadikan sebagian pengikut Nabi Muhammad SAW yang memang mencintai kesempurnaan dan hakikat, akan mencintai Imam Ali bin abi thalib as dan lebih dari itu, akan menjadi pengikutnya. Dan tidak menutup kemungkinan bagi sebagian pengikutnya yang memang memendam rasa dengki di hati kepada Imam Ali bin abi thalib as, untuk membencinya meskipun mereka melihat ia telah berjasa dalam mengembangkan dan menjaga Islam dari kesirnaan.

Mengapa Minoritas Syi’ah berpisah dari mayoritas Ahlussunnah?

Dengan melihat keistimewaan dan kedudukan yang dimiliki oleh Imam Ali bin abi thalib as, para pengikutnya meyakini bahwa ia adalah satu-satunya sahabat yang berhak untuk menggantikan kedudukan Nabi Muhammad SAW setelah ia wafat. Keyakinan ini menjadi semakin mantap setelah peristiwa “kertas dan pena” yang terjadi beberapa hari sebelum ia meninggal dunia. Akan tetapi, kenyataan bericara lain. Ketika Ahlul Bayt a.s. dan para pengikut setia mereka sedang sibuk mengurusi jenazah Nabi Muhammad SAW untuk dikebumikan, mayoritas sahabat yang didalangi oleh sekelompok sahabat yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi dengan Islam, berkumpul di sebuah balai pertemuan yang bernama Saqifah Bani Saidah guna menentukan khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW. Dan dengan cara dan metode keji, para dalang “permainan” ini menentukan Abu Bakar sebagai khalifah pertama muslimin.

Setelah para pengikut Imam Ali bin abi thalib as yang hanya segelintir selesai mengebumikan jenazah Nabi Muhammad SAW, mereka mendapat berita bahwa khalifah muslimin telah dipilih. Banyak pengikut Imam Ali bin abi thalib as seperti Abbas, Zubair, Salman, Abu Dzar, Ammar Yasir dan lain-lain yang protes atas pemilihan tersebut dan menganggapnya tidak absah. Yang mereka dengar hanyalah alasan yang biasa dilontarkan oleh orang ingin membela diri. Mereka hanya berkata: “Kemaslahatan muslimin menuntut demikian”.

Protes minoritas inilah yang menyebabkan mereka memisahkan diri dari mayoritas masyarakat yang mendominasi arena politik kala itu. Dengan demikian, terwujudlah dua golongan di dalam tubuh masyarakat muslim yang baru ditinggal oleh pemimpinnya. Akan tetapi, pihak mayoritas yang tidak ingin realita itu diketahui oleh para musuh luar Islam, mereka mengeksposkan sebuah berita kepada masyarakat bahwa pihak minoritas itu adalah penentang pemerintahan yang resmi. Akibatnya, mereka dianggap sebagai musuh Islam.

Meskipun adanya tekanan-tekanan dari kelompok mayoritas, kelompok minoritas ini masih tetap teguh memegang keyakinannya bahwa kepemimpinan adalah hak Imam Ali bin abi thalib as setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Bukan hanya itu, dalam menghadapi segala problema kehidupan, mereka hanya merujuk kepada Imam Ali bin abi thalib as untuk memecahkannya, bukan kepada pemerintah. Meskipun demikian, berkenaan dengan problema-problema yang menyangkut kepentingan umum, mereka tetap bersedia untuk ikut andil memecahkannya. Banyak problema telah terjadi yang tidak dapat dipecahkan oleh para khalifah, dan Imam Ali bin abi thalib as tampil aktif dalam memecahkannya.

Penyelewengan pada Masa Tiga Khalifah

Pada masa kepemimpinan tiga khalifah pertama muslimin, banyak terjadi penyelewengan-penyelewengan dilakukan oleh mereka dalam menjalankan pemerintahan yang tidak sesuai dengan rel Islam dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Diamnya pemerintah atas pembunuhan yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid terhadap Malik bin Nuwairah yang berlanjut dengan pemerkosaan terhadap istrinya, pembagian harta baitul mal yang tidak merata sehingga menimbulkan perbedaan strata masyarakat kaya dan miskin, penghapusan dua jenis mut’ah yang sebelumnya pernah berlaku pada masa Nabi Muhammad SAW, penghapusan khumus dari orang-orang yang berhak menerimanya, pelarangan penulisan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, pelarangan mengucapkan hayya ‘alaa khairil ‘amal dalam azan, pemberian harta dan dukungan istimewa kepada Mu’awiyah sehingga ia dapat berkuasa di Syam dengan leluasa, dan lain sebagainya, semua itu adalah bukti jelas penyelewengan dan kepincangan yang terjadi pada masa tiga khalifah pertama. Semua itu jelas terjadi sehingga orang yang berpikiran jernih dan tidak dipengaruhi oleh fanatisme mazhab akan dapat menerimanya dengan menelaah buku-buku sejarah yang otentik.

Setelah Utsman bin Affan, Khalifat ketiga muslimin dibunuh oleh para “pemberontak” yang tidak rela dengan kinerjanya selama ia memegang tampuk khilafah, masyarakat dengan serta merta memilih Imam Ali bin abi thalib as secara aklamasi untuk memegang tampuk khilafah. Di antara Muhajirin yang pertama kali berbai’at dengannya adalah Thalhah dan Zubair. Hal ini terjadi pada tahun 5 H. Sangat disayangkan kekhilafahannya hanya berjalan sekitar 4 tahun 5 bulan, masa yang sangat sedikit untuk mengadakan sebuah perombakan dan reformasi mendasar.

Begitu ia menjadi khalifah, khotbah pertama yang dilontarkannya adalah sebagai berikut: “Ketahuilah bahwa segala kesulitan yang pernah kalian alami di masa-masa pertama Nabi Muhammad SAW diutus menjadi nabi, sekarang akan kembali menimpa kalian. Sekarang orang-orang yang memiliki keahlian dan selama ini disingkirkan harus memiliki kedudukan yang layak dan orang-orang yang tidak becus harus disingkirkan dari kedudukan yang telah diberikan kepada mereka dengan tidak benar”.

Ia mengadakan perombakan-perombakan secara besar-besaran, baik di bidang birokrasi maupun bidang pembagian harta baitul mal. Ia mengganti semua gubernur daerah yang telah ditunjuk oleh para khalifah sebelumnya dengan orang-orang yang layak untuk memegang tampuk tersebut dan membagikan harta baitul mal dengan sama rata di antara masyarakat. Hal ini menyebabkan sebagian sahabat sakit hati. Tentunya mereka yang merasa dirugikan oleh metode Imam Ali bin abi thalib as tersebut. Hal itu dapat kita pahami dalam peristiwa-peristiwa berdarah berikut:

Faktor utama perang Jamal adalah rasa sakit hati Thalhah dan Zubair karena hak mereka –sebagai sahabat senior– dari harta baitul mal merasa dikurangi dan disamaratakan dengan masyarakat umum. Dengan alasan ingin menziarahi Ka’bah, mereka masuk ke kota Makkah dan menemui A’isyah yang memiliki hubungan tidak baik dengan Imam Ali bin abi thalib as demi mengajaknya memberontak atas pemerintahan yang sah. Slogan yang mereka gembar-gemborkan untuk menarik perhatian opini umum adalah membalas dendam atas kematian Utsman. Padahal, ketika Utsman dikepung oleh para “pemberontak” yang ingin membunuhnya, mereka ada di Madinah dan tidak sedikit pun usaha yang tampak dari mereka untuk membelanya. A’isyah sendiri adalah orang pertama dan paling bersemangat mensupport masyarakat untuk membunuhnya. Ketika ia mendengar Utsman telah terbunuh, ia mencelanya dan merasa bahagia karena itu.

Faktor utama perang Shiffin adalah rasa tamak Mu’awiyah atas khilafah, karena ia telah disingkirkan oleh Imam Ali bin abi thalib as dari kursi kegubernuran Syam. Perang ini berlangsung selama 1,5 tahun yang telah memakan banyak korban tidak bersalah. Slogan Mu’awiyah di perang adalah membalas dendam atas kematian Utsman juga. Padahal, selama Utsman dalam kepungan para “pemberontak”, ia meminta bantuan dari Mua’wiyah yang bercokol di Syam demi membasmi mereka. Dengan satu pleton pasukan lengkap, Mu’awiyah berangkat dari Syam ke arah Madinah. Akan tetapi, di tengah perjalanan mereka sengaja memperlambat jalannya pasukan sehingga Utsman terbunuh. Setelah mendengar Utsman terbunuh, mereka kembali ke Syam dan kemudian bergerak kembali menuju ke Madinah dengan slogan “membalas dendam atas kematian Utsman”. Akhirnya pecahlah Shiffin.

Anehnya, ketika Imam Ali bin abi thalib as syahid dan Mu’awiyah berhasil memegang tampuk khilafah, mengapa ia tidak mendengung-dengungkan kembali slogan “membalas dendam atas kematian Utsman”?

Setelah perang Shiffin berhasil dipadamkan, perang Nahrawan berkecamuk. Faktornya adalah ketidakpuasan sebagian sahabat yang disulut oleh Mu’awiyah atas pemerintahan Imam Ali bin abi thalib as dan atas hasil perdamaian yang dipaksakan oleh mereka sendiri terhadap Imam Ali bin abi thalib as yang menghasilkan pencabutannya dari kursi khilafah dan penetapan Mu’awiyah sebagai khalifah muslimin. Tapi akhirnya, Imam Ali bin abi thalib as juga berhasil memadamkan api perang tersebut.

Tidak lama berselang dari peristiwa Nahrawan, Imam Ali bin abi thalib as syahid dengan kepala yang mengucurkan darah akibat tebasan pedang Abdurrahman bin Muljam di mihrab masjid Kufah.

Keberhasilan-keberhasilan Pemerintahan Imam Ali bin abi thalib as

Meskipun Imam Ali bin abi thalib as tidak berhasil memapankan kembali situasi masyarakat Islam yang sudah bobrok itu secara sempurna, akan tetapi, dalam tiga segi ia dapat dikatakan berhasil:

Pertama, dengan kehidupan sederhana yang dimilikinya, ia berhasil menunjukkan kepada masyarakat luas, khususnya para generasi baru, metode hidup Nabi Muhammad SAW yang sangat menarik dan pantas untuk diteladani. Hal ini berlainan sekali dengan kehidupan Mu’awiyah yang serba mewah. Ia a.s. tidak pernah mendahulukan kepentingan keluarganya atas kepentingan umum.

Kedua, dengan segala kesibukan dan problema sosial yang dihadapinya, ia masih sempat meninggalkan warisan segala jenis ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan masyarakat dan dapat dijadikan sebagai penunjuk jalan untuk mencapai tujuan hidup insani yang sebenarnya. Ia mewariskan sebelas ribu ungkapan-ungkapan pendek dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan rasional, sosial dan keagamaan. Ia adalah pencetus tata bahasa Arab dan orang pertama yang mengutarakan pembahasan-pembahasan filosofis yang belum pernah dikenal oleh para filosof kaliber kala itu. Dan ia juga orang pertama dalam Islam yang menggunakan argumentasi-argumentasi rasional dalam menetapkan sebuah pembahasan filosofis.

Ketiga, ia berhasil mendidik para pakar agama Islam yang dijadikan sumber rujukan dalam bidang ilmu ‘irfan oleh para ‘arif di masa sekarang, seperti Uwais Al-Qarani, Kumail bin Ziyad, Maitsam At-Tammar dan Rusyaid Al-Hajari.

Masa Sulit bagi Mazhab Syiah

Setelah Imam Ali bin abi thalib as syahid di mihrab shalatnya, masyarakat waktu itu membai’at Imam Hasan a.s. untuk memegang tampuk khilafah. Setelah ia dibai’at, Mu’awiyah tidak tinggal diam. Ia malah mengirim pasukan yang berjumlah cukup besar ke Irak sebagai pusat pemerintahan Islam waktu itu untuk mengadakan peperangan dengan pemerintahan yang sah. Dengan segala tipu muslihat dan iming-iming harta yang melimpah, Mu’wiyah berhasil menipu para anggota pasukan Imam Hasan a.s. dan dengan teganya mereka meninggalkannya sendirian. Melihat kondisi yang tidak berpihak kepadanya dan dengan meneruskan perang Islam akan hancur, dengan terpaksa ia harus mengadakan perdamaian dengan Mu’awiyah. (Butir-butir perjanjian ini dapat dilihat di sejarah 14 ma’shum a.s.)

Setelah Mu’awiyah berhasil merebut khilafah dari tangan Imam Hasan a.s. pada tahun 40 H., –sebagaimana layaknya para pemeran politik kotor– ia langsung menginjak-injak surat perdamaian yang telah ditandatanganinya. Dalam sebuah kesempatan ia pernah berkata: “Aku tidak berperang dengan kalian karena aku ingin menegakkan shalat dan puasa. Sesungguhnya aku hanya ingin berkuasa atas kalian, dan aku sekarang telah sampai kepada tujuanku”.

Dengan demikian, Mu’awiyah ingin menghidupkan kembali sistem kerajaan sebagai ganti dari sistem khilafah sebagai penerus kenabian. Hal ini diperkuat dengan diangkatnya Yazid, putranya sebagai putra mahkota dan penggantinya setelah ia mati.

Mua’wiyah tidak pernah memberikan kesempatan kepada para pengikut Syi’ah untuk bernafas dengan tenang. Setiap ada orang yang diketahui sebagai pengikut Syi’ah, ia akan langsung dibunuh di tempat. Bukan hanya itu, setiap orang yang melantunkan syair yang berisi pujian terhadap keluarga Ali a.s., ia akan dibunuh meskipun ia bukan pengikut Syi’ah. Tidak cukup sampai di sini saja, ia juga memerintahkan kepada para khotib shalat Jumat untuk melaknat dan mencerca Imam Ali bin abi thalib as Kebiasaan ini berlangsung hingga masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz pada tahun 99-101 H.

Masa pemerintahan Mu’awiyah (selama 20 tahun) adalah masa tersulit bagi Mazhab Syiah di mana mereka tidak pernah memiliki sedikit pun kesempatan untuk bernafas.

Mayoritas pengikut Ahlussunnah menakwilkan semua pembunuhan yang telah dilakukan oleh para sahabat, khususnya Mu’awiyah itu dengan berasumsi bahwa mereka adalah sahabat Nabi SAWW dan semua perilaku mereka adalah ijtihad yang dilandasi oleh hadis-hadis yang telah mereka terima darinya. Oleh karena itu, semua perilkau mereka adalah benar dan diridhai oleh Allah SWT. Seandainya pun mereka salah dalam menentukan sikap dan perilaku, mereka akan tetap mendapatkan pahala berdasarkan ijtihad tang telah mereka lakukan.

Akan tetapi, Syi’ah tidak menerima asumsi di atas dengan alasan sebagai berikut:

Pertama, tidak masuk akal jika seorang pemimpin yang ingin menegakkan kebenaran, keadilan dan kebebasan dan mengajak orang-orang yang ada si sekitarnya untuk merealisasikan hal itu, setelah tujuan yang diinginkannya itu terwujudkan, ia merusak sendiri cita-citanya dengan cara memberikan kebebasan mutlak kepada para pengikutnya, dan segala kesalahan, perampasan hak orang lain dengan segala cara, serta tindakaan-tindakan kriminal yang mereka lakukan dimaafkan.

Kedua, hadis-hadis yang “menyucikan” para sahabat dan membenarkan semua perilaku non-manusiwi mereka berasal dari para sahabat sendiri. Dan sejarah membuktikan bahwa mereka tidak pernah memperhatikan hadis-hadis di atas. Mereka saling menuduh, membunuh, mencela dan melaknat. Dengan bukti di atas, keabsahan hadis-hadis di atas perlu diragukan.

Mu’awiyah menemui ajalnya pada tahun 60 H. dan Yazid, putranya menduduki kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam. Sejarah membuktikan bahwa Yazid adalah sosok manusia yang tidak memiliki kepribadian luhur sedikit pun. Kesenangannya adalah melampiaskan hawa nafsu dan segala keinginannya. Dengan latar belakangnya yang demikian “cemerlang”, tidak aneh jika di tahun pertama memerintah, ia tega membunuh Imam Husein a.s., para keluarga dan sahabatnya dengan dalih karena mereka enggan berbai’at dengannya. Setelah itu, ia menancapkan kepala para syahid tersebut di ujung tombak dan mengelilingkannya di kota-kota besar; Di tahun kedua memerintah, ia mengadakan pembunuhan besar-besaran di kota Madinah dan menghalalkan darah, harta dan harga diri penduduk Madinah selama tiga hari kepada para pasukannya; Di tahun ketiga memerintah, ia membakar Ka’bah, kiblat muslimin.

Setelah masa Yazid dengan segala kebrutalannya berlalu, Bani Marwan yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Bani Umaiyah menggantikan kedudukannya. Mereka pun tidak kalah kejam dan keji dari Yazid. Mereka berhasil berkuasa selama 70 tahun dan jumlah khalifah dari dinasti mereka adalah sebelas orang. Salah seorang dari mereka pernah ingin membuat sebuah kamar di atas Ka’bah dengan tujuan untuk melampiaskan hawa nafsunya di dalamnya ketika musim haji tiba.

Dengan melihat kelaliman yang dilakukan oleh para khalifah waktu itu, para pengikut Syi’ah makin kokoh dalam memegang keyakinan mereka. Di akhir-akhir masa kekuasaan Bani Umaiyah, mereka dapat menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa mereka masih memilliki eksistensi dan mampu untuk melawan para penguasa lalim. Di masa keimamahan Imam Muhammad Baqir a.s. dan belum 40 tahun berlalu dari terbunuhnya Imam Husein a.s., para pengikut Syi’ah yang berdomisili di berbagai negara dengan memanfaatkan kelemahan pemerintahan Bani Umaiyah karena tekanan-tekanan dari para pemberontak yang tidak puas dengan perilaku mereka, datang ke Madinah untuk belajar dari Imam Baqir a.s. Sebelum abad ke-1 H. usai, beberapa pembesar kabilah di Iran membangun kota Qom dan meresmikannya sebagai kota pemeluk Syi’ah. Beberapa kali para keturunan Imam Ali bin abi thalib as karena tekanan yang dilakukan oleh Bani Umaiyah atas mereka, mengadakan pemberontakan-pemberontakan melawan penguasa dan perlawanan mereka –meskipun mengalami kekalahan– sempat mengancam keamanan pemerintah. Realita ini menunjukkan bahwa eksistensi Syi’ah belum sirna.

Dikarenakan kelaliman dinasti Bani Umaiyah yang sudah melampui batas, opini umum sangat membenci dan murka terhadap mereka. Setelah dinasti mereka runtuh dan penguasa terkahir mereka (Marwan ke-2 yang juga dikenal dengan sebutan Al-Himar, berkuasa dari tahun 127-132 H.) dibunuh, dua orang putranya melarikan diri bersama keluarganya. Mereka meminta suaka politik kepada berbagai negara, dan mereka enggan memberikan suaka politik kepada para pembunuh keluarga Nabi Muhammad SAW tersebut. Setelah mereka terlontang-lantung di gurun pasir yang panas, mayoritas mereka binasa karena kehausan dan kelaparan. Sebagian yang masih hidup pergi ke Yaman, dan kemudian dengan berpakaian compang-camping ala pengangkat barang di pasar-pasar mereka berhasil memasuki kota Makkah. Di Makkah pun mereka tidak berani menampakkan batang hidung, mungkin karena malu atau karena sebab yang lain.

Sejarah Syiah pada Abad Ke-2 H.

Di akhir-akhir sepertiga pertama abad ke-2 H., karena kelaliman dinasti Bani Umaiyah, muncul sebuah pemberontakan dari arah Khurasan, Iran dengan mengatasnamakan Ahlu Bayt a.s. Pemberontakan ini dipelopori oleh seorang militer berkebangsaan Iran yang bernama Abu Muslim Al-Marwazi. Dengan syiar ingin membalas dendam atas darah Ahlu Bayt a.s., ia memulai perlawanannya terhadap dinasti Bani Umaiyah. Banyak masyarakat yang tergiur dengan syiar tersebut sehingga mereka mendukung pemberontakannya. Akan tetapi, pemberontakan ini tidak mendapat dukungan dari Imam Shadiq a.s. Ketika Abu Muslim menawarkan kepadanya untuk dibai’at sebagai pemimpin umat, ia menolak seraya berkata: “Engkau bukanlah orangku dan sekarang bukan masaku untuk memberontak”.

Setelah mereka berhasil merebut kekuasaan dari tangan Bani Umaiyah, di hari-hari pertama berkuasa mereka memperlakukan para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dengan baik, dan demi membalas dendam atas darah mereka yang telah dikucurkan, mereka membunuh semua keturunan Bani Umaiyah. Bahkan, mereka menggali kuburan-kuburan para penguasa Bani Umaiyah untuk dibakar jenazah mereka. Tidak lama berlalu, mereka mulai mengadakan penekanan-penekanan serius terhadap para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dan para pengikut mereka serta orang-orang yang simpatik kepada mereka. Abu Hanifah pernah dipenjara dan disiksa oleh Manshur Dawaniqi dan Ahmad bin Hanbal juga pernah dicambuk olehnya. Imam Shadiq a.s. setelah disiksa dengan keji, dibunuh dengan racun dan para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dibunuh atau dikubur hidup-hidup.

Kesimpulannya, kondisi para pengikut Syi’ah pada masa berkuasanya dinasti Bani Abasiah tidak jauh berbeda dengan kondisi mereka pada masa dinasti Bani Umaiyah.

Sejarah Syiah pada Abad Ke-3 H.

Dengan masuknya abad ke-3 H., para pengikut Syi’ah Imamiah mendapatkan kesempatan baru untuk mengembangkan missi mereka. Mereka dapat menikmati sedikit keleluasaan untuk mengembangkan dakwah di berbagai penjuru. Faktornya adalah dua hal berikut:

Pertama, banyaknya buku-buku berbahasa Yunani dan Suryani dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan masyarakat bersemangat untuk memperlajari ilmu-ilmu rasional dengan antusias. Di samping itu, peran Ma`mun Al-Abasi (195-218 H.) juga tidak patut dilupakan. Ia menganut mazhab Mu’tazilah yang sangat mendorong para pengikutnya untuk mengembangkan dan mempelajari argumentasi-argumentasi rasional. Oleh karena itu, ia memberikan kebebasan penuh kepada para pemikir dan teolog setiap agama untuk menyebarkan teologi dan keyakinan mereka masing-masing. Para pengikut Syi’ah tidak menyia-siakan kesempatan ini. Mereka mengembangkan jangkauan mazhab Syi’ah ke berbagai penjuru kota dan mengadakan dialog dengan para pemimpin agama lain demi mengenalkan keyakinan mazhab Syi’ah kepada khalayak ramai.

Kedua, Ma`mun Al-Abasi mengangkat Imam Ridha a.s. sebagai putra mahkota. Dengan ini, para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dan sahabat mereka terjaga dari jamahan tangan para penguasa, dan menemukan ruang gerak yang relatif bebas.

Akan tetapi, kondisi ini tidak berlangsung lama. Karena setelah semua itu berlalu, politik kotor dinasti Bani Abasiyah mulai merongrong para keturunan Imam Ali bin abi thalib as dan pengikut mereka kembali. Khususnya pada masa Mutawakil Al-Abasi (232-247 H.). Atas perintahnya, kuburan Imam Husein a.s. di Karbala` diratakan dengan tanah.


Sejarah Syiah pada Abad ke-4 H.

Pada abad ke-4 H., dengan melemahnya kekuatan dinasti Bani Abasiyah dan kuatnya pengaruh para raja dinasti Alu Buyeh yang menganut mazhab Syi’ah di Baghdad (pusat khilafah Bani Abasiyah kala itu), terwujudlah sebuah kesempatan emas bagi para penganut Syi’ah untuk mengembangkan mazhab mereka dengan leluasa. Dengan demikian, –menurut pendapat para sejarawan–mayoritas penduduk jazirah Arab, seperti Hajar, Oman, dan Sha’dah, kota Tharablus, Nablus, Thabariah, Halab dan Harat menganut mazhab Syi’ah kecuali mereka yang berdomisili di kota-kota besar. Antara kota Bashrah sebagai pusat mazhab Ahlussunnah dan kota Kufah sebagai pusat mazhab Syi’ah selalu terjadi gesekan-gesekan antar mazhab. Tidak sampai di situ, penduduk kota Ahvaz dan Teluk Persia di Iran juga memeluk mazhab Syi’ah.

Di awal abad ini, seorang mubaligh yang bernama Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Hasan bin Ali bin Umar bin Ali bin Imam Husein a.s. yang dikenal dengan sebutan Nashir Uthrush (250-320 H.) melakukan aktifitas dakwahnya di Iran Utara dan berhasil menguasai Thabaristan. Lalu ia membentuk sebuah kerajaan di sana. Sebelumnya, Hasan bin Yazid Al-Alawi juga pernah berkuasa di daerah itu.

Pada abad ini juga tepatnya tahun 296-527 H., dinasti Fathimiyah yang menganut mazhab Syi’ah Isma’iliyah berhasil menguasai Mesir dan mendirikan kerajaan besar di sana.

Sangat sering terjadi gesekan-gesekan antar mazhab di kota-kota seperti Bahgdad, Bashrah dan Nisyabur antara mazhab Ahlusunnah dan Syi’ah, dan di mayoritas gesekan antar mazhab tersebut, Syi’ah berhasil menang dengan gemilang.

Sejarah Syiah pada Abad ke-5 hingga Abad ke-9 H.

Dari abad ke-5 hingga abad ke-9 H., sistematika perkembangan mazhab Syi’ah tidak jauh berbeda dengan sistematika perkembangannya pada abad ke-4. Perkembangannya selalu didukung oleh kekuatan pemerintah yang memang menganut mazhab Syi’ah. Di akhir abad ke-5 H., mazhab Syi’ah Isma’iliyah berkuasa di Iran selama kurang lebih satu setengah abad dan ia dapat menyebarkan ajaran-ajaran Syi’ah dengan leluasa. Dinasti Al-Mar’asyi bertahun-tahun berkuasa di Mazandaran, Iran. Setelah masa mereka berlalu, dinasti Syah Khudabandeh, silsilah kerajaan Mongol memeluk dan menyebarkan mazhab Syi’ah. Dan kemudian, raja-raja dari dinasti Aaq Quyunlu dan Qareh Quyunlu yang berkuasa di Tabriz dan kekuasaan mereka terbentang hingga ke daerah Kerman serta dinasti Fathimiyah di Mesir berhasil menyebarkan mazhab Syi’ah ke seluruh masyarakat ramai.

Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah dinasti Fathimiyah mengalami kehancuran dan dinati Alu Ayyub berkuasa, para pengikut Syi’ah mulai terikat kembali dan mereka tidak bebas menyebarkan mazhab mereka. Banyak para tokoh Syi’ah yang dipenggal kepalanya pada masa itu. Seperti Syahid Awal dan seorang faqih kenamaan Syi’ah, Muhammad bin Muhammad Al-Makki dipenggal kepalanya pada tahun 786 H. di Damaskus karena tuduhan menganut mazhab Syi’ah, dan Syeikh Isyraq, Syihabuddin Sahruwardi dipenggal kepalanya di Halab karena tuduhan mengajarkan filsafat.

Sejarah Syiah pada Abad ke-10 hingga ke-11 H.

Pada tahun 906 H., Syah Isma’il Shafawi yang masih berusia 13 tahun, salah seorang keturunan Syeikh Shafi Al-Ardabili (seorang syeikh thariqah di mazhab Syi’ah dan meninggal pada tahun 153 H.), ingin mendirikan sebuah negara Syi’ah yang mandiri. Akhirnya, ia mengumpulkan para Darwisy pengikut kakeknya dan mengadakan pemberontakan dimulai dari daerah Ardabil dengan cara memberantas sistem kepemimpinan kabilah yang dominan kala itu dan membebaskan seluruh daerah Iran dari cengkraman dinasti Utsmaniyah dengan tujuan supaya Iran menjadi negara yang tunggal. Dan ia berhasil mewujudkan cita-citanya tersebut sehingga sebuah kerajaan Syi’ah Imamiah terbentuk dan berdaulat kala itu. Setelah ia meninggal dunia, kerajaannya diteruskan oleh putra-putranya. Mazhab Syi’ah kala itu memiliki legistimasi hukum yang sangat kuat sehingga semua organ pemerintah menganut mazhab Syi’ah. Pada masa kecemerlangan dinasti Shafawiyah di bawah pimpinan Syah Abbas yang Agung, kuantitas pengikut Syi’ah mencapai dua kali lipat penduduk Iran pada tahun 1384 H.

Sejarah Syiah Pada Abad ke-12 hingga ke-14 H.

Di tiga abad terakhir ini, mazhab Syi’ah berkembang dengan sangat pesat, khususnya setelah ia menjadi mazhab resmi Iran setelah kemenangan Revolusi Islam. Begitu juga di Yaman dan Irak, mayoritas penduduknya memeluk mazhab Syi’ah. Dapat dikatakan bahwa di setiap negara yang penduduknya muslim, akan ditemukan para pemeluk Syi’ah. Di masa sekarang, diperkirakan bahwa pengikut Syi’ah di seluruh dunia berjumlah 300.000.000 lebih.

terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali

Imam Ali dalam Kaca-mata Al-Quran

Banyak sekali buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali a.s. Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam mana pun [setelah Nabi Muhammad Saw] 

Syiah berpendapat, tidak sedikit ayat-ayat Al-Quran yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin Ali a.s. dan memperkenalkannya sebagai pribadi islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah Saw. Ini menunjukkan bahwa ia mendapat perhatian yang tinggi disisi Allah Swt. Banyak sekali buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali a.s.[16] Perlu ditegaskan di sini bahwa jumlah ayat yang sangat banyak seperti itu tidak pernah turun berkenaan dengan seorang tokoh Islam mana pun. Ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa kateg ori berikut ini:

1. Kategori pertama: ayat yang turun khusus berkenaan dengan Imam Ali secara pribadi.

2. Kategori kedua: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali a.s. dan keluarganya.

3. Kategori ketiga: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali dan para sahabat pilihan Rasulullah Saw.

4. Kategori keempat: ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali a.s. dan mengecam orang-orang yang memusuhinya.

Berikut ini adalah sebagian dari ayat-ayat ter-sebut.

Kategori Ayat Pertama Ayat-ayat yang turun menjelaskan keutamaan, ketinggian, dan keagungan pribadi Imam Ali a.s. adalah sebagai berikut:

1.      Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Al-Ra‘d [13]: 7)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Ibn Abbâs. Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, Nabi Saw. meletakkan tangannya di atas dadanya seraya bersabda, ‘Aku adalah pemberi peringatan. Dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.’ Lalu dia memegang pundak Ali a.s. sembari bersabda, ‘Engkau adalah pemberi petunjuk itu. Dengan perantara tanganmu, banyak orang yang akan mendapat petunjuk setelahku nanti.’”[17]

2.      Allah Swt. berfirman:

“… dan (peringatan itu) diperhatikan oleh telinga yang mendengar.” (QS. Al-Hâqqah [69]: 12)

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ali a.s. berkata: “Rasulullah Saw. berkata kepadaku, ‘Hai Ali, aku memohon kepada Tuhanku agar menjadikan telingamu yang menerima peringatan.’ Lantaran itu, aku tidak pernah lupa apa saja yang pernah kudengar dari Ras ulullah Saw.”[18]

3.      Allah Swt. berfirman: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS. Al- Baqarah [2]: 274)

Pada saat itu, Imam Ali a.s. hanya memiliki empat dirham. Satu dirham ia infakkan di malam hari, satu dirham ia infakkan di siang hari, satu dirham ia infakkan secara rahasia, dan satu dirham sisanya ia infakkan secara terang-terangan. Rasulullah Saw. bertanya kepadanya: “Apakah yang menyebabkan kamu berbuat demikian?” Ali a.s. menjawab: “Aku ingin memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepadaku.” Kemudian, ayat tersebut turun.[19]

4.      Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, mereka itu adalah sebaik-sebaik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 7)

Ibn ‘Asâkir meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir ibn Abdillah. Jâbir ibn Abdillah berkata: “Ketika kami bersama Nabi Saw., tiba-tiba Ali a.s. datang. Seketika itu, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Ali a.s. dan Syiah (para pengikut)-nya adalah orang-orang yang beruntung pada Hari Kiamat.’ Kemudian, turunlah ayat itu. Sejak saat itu, setiap kali Ali a.s. datang, para sahabat Nabi Saw. mengatakan: ‘Telah datang sebaik-baik makhluk.’”[20]

5.      Allah Swt. berfirman: “… maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan (Ahl Adz- Dzikr) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al- Nahl [16]: 43)

Ath-Thabarî meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Jâbir Al-Ju‘fî. Jâbir Al-Ju‘fî berkata: “Ketika ayat ini turun, Ali a.s. berkata: ‘Kami adalah Ahl Adz-Dzikr.’”[21]

6.      Allah Swt. berfirman: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka berarti engkau tidak menyampaikan risalahmu. Se- sungguhnya Allah menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 67)

Ayat ini turun kepada Nabi Saw. ketika sampai di Ghadir Khum dalam perjalanan pulang dari haji Wadâ’. Nabi Saw. diperintahkan oleh Allah untuk menga ngkat Ali a.s. sebagai khalifah sepeninggalnya. Beliau melaksanakan perintah tersebut. Beliau melantik Ali a.s. sebagai khalifah dan pemimpin bagi umat sepeninggalnya. Di hadapan khalayak banyak, Nabi Saw. mengumandangkan sabdanya yang masyhur, “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali a.s. adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya, dan hinak anlah orang yang menghinakannya.” Setelah itu, Umar bangkit dan berkata kepada Ali a.s.: “Selamat, hai Putra Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”[22]

7.      Allah Swt. berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atasmu dan Aku pun rela Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3)

Ayat yang mulia ini turun pada tanggal 18 Dzul- hijjah setelah Nabi Saw. mengangkat Ali a.s. sebagai khal ifah sepeninggalnya.[23] Setelah ayat tersebut turun, Nabi Saw. bersabda, “Allah Mahabesar lantaran pe- nyempurnaan agama, pelengkapan nikmat, dan keridhaan Tuhan dengan risalahku dan wilâyah Ali ibn Abu Thalib a.s.”[24]

8.      Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat, seraya tunduk kepada Allah.” (QS. Al- Mâ’idah [5]: 55)

Seorang sahabat Nabi terkemuka, Abu Dzar berkata: “Aku mengerjakan shalat Zuhur bersama Rasu- lullah Saw. Tiba-tiba datang seorang pengemis ke masjid, dan tak seorang pun yang memberikan sedekah kepadanya. Pengemis tersebut mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Ya Allah, saksikanlah bahwa aku meminta di masjid Rasul Saw., tetapi tak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu, Ali a.s. sedang mengerjakan rukuk. Kemudian, dia memberikan isyarat kepadanya dengan kelingking kanan yang sedang memakai cincin. Pengemis itu datang menghampirinya dan segera mengambil cincin tersebut di hadapan Nabi Saw. Lalu Nabi Saw. berdoa: ‘Ya Allah, sesungguhnya saudaraku, Musa a.s. memohon kepadamu sembari berkata: ‘Wahai Tuhanku, lapangkanlah untukku hatiku, mudahkan lah urusanku, dan bukalah ikatan lisanku agar me reka dapat memfahami ucapanku. Dan jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku; yaitu saudaraku, Harun. Kukuhkanlah aku dengannya dan sertakanlah dia dalam urusanku.’” (QS. Thâ’ Hâ’ [20]: 25- 32)  “Ketika itu engkau turunkan ayat: ‘Kami akan kukuhkan kekuatanmu dengan saudaramu dan Kami jadikan engkau berdua sebagai pemimpin,’ (QS. Al- Qas hash [28]: 35). ‘Ya Allah, aku ini adalah Muhammad Nabi dan pilihan-Mu. Maka lapangkanlah hatiku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah unt ukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu Ali. Dan kukuhkanlah punggungku dengannya.’” Abu Dzar melanjutkan: “Demi Allah, Jibril turun kepadanya sebelum sempat menyelesaikan doanya itu. Jibril berkata, ‘Hai Muhammad, bacalah:

Sesungguhnya walimu adalah Allah, Rasul-Nya dan ….’”[25] Seorang penyair tersohor, Hassân ibn Tsâbit, telah menyusun sebuah bait syair sehubungan dengan turunnya ayat tersebut. Ia berkata: “Siapakah gerangan yang ketika rukuk menyedekahkan cincin, sementara ia merahasiakannya untuk dirinya sendiri.”[26]

Arti kata “wali”

Kata-kata Wali, Wilayat, Wala, Maula, dan  Awla, berasal dari akar kata yang sama, yaitu Wala. Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam ben- tuk kata kerja. Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradat Al-Quran, karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqâyis Al-Lughah karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua benda sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada benda ketiga. Ketika kita katakan Waliya Zaid Amr, maka itu berarti Zaid dekat di sisi Amr. Kata ini juga bermakna teman, penolong, dan penanggung jawab. Dengan kata lain, pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan, hubungan, atau interaksi. Dan untuk menentukan arti yang dimaksud, dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memahami konteks kalimatnya. Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memfahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah bahwa Allah, Rasulullah, dan Ali a.s. sajalah—perhatikan kata innama yang berarti “hanyalah”—yang memiliki kedekatan istimewa dengan kaum Muslim. Telah jelas arti dekat di sini berkonotasi spiritual/ metafi sik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula ‘alaih (yang dipimpin). Dengan pengertian semacam ini wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik upaya (ikhtiar).[27]

Dari satu sisi telah jelas bahwa Tuhan adalah wali sel uruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat me- reka. Dan Dia adalah wali kaum mukmin dalam urusan agama dan pencapaian kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin Tuhan merupakan wali bagi kaum mukmin. Sejalan dengan itu, wilayah Imam Ali a.s. yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu dan berhak mengelola masalah dan urusan kaum Muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan, dan agama.[28]

Ayat ini menempatkan wilâyah “kepemimpinan” universal (Al-Wilâyah Al-‘Âmmah) hanya untuk Allah Swt., Rasul-Nya yang mulia, dan Imam Ali a.s. Ayat ini menggunakan bentuk jamak dalam rangka meng agungkan kemuliaan Imam Ali a.s. dan menghormati kedudukannya. Di samping itu, ayat ini berbentuk ka- limat afi rmatif dan menggunakan kata pembatas (hashr) ‘innamâ’ (yang berarti hanya). Dengan demi kian, ayat ini telah mengukuhkan wilâyah tersebut untuk Imam Ali a.s. Sedangkan jika wali diartikan se bagai teman, akan muncul konsekuensi pelarangan pers ahabatan dan pertemanan dengan selain Allah, Ras ul, dan Ali a.s. bagi kaum Muslim. Padahal, kenyataannya kaum Muslim dianjurkan untuk menjalin persahabatan dengan yang lain.

Kategori Ayat Kedua

Al-Quran Al-Karim dihiasi dengan banyak ayat yang turun berkenaan dengan Ahlul Bait a.s. Ayat-ayat ini secara otomatis juga ditujukan kepada junjungan mereka, Amirul Mukminin Ali a.s. Berikut ini sebagian dari ayat-ayat tersebut: Allah Swt. berfirman: “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu upah apa pun atas dakwahku itu selain mencintai Al-Qurbâ. Dan barang siapa mengerjakan kebajikan akan Kami tambahkan kepadanya kebajikan itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.’” (QS. Al-Syûrâ [42]: 23) Mayoritas ahli tafsir dan perawi hadis berpendapat bahwa maksud dari “Al-Qurbâ” yang telah diwajibkan oleh Allah Swt. kepada segenap hambaNya untuk mencintai mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain a.s. Sedangkan maksud dari “iqtirâf al-hasa- nah” (mengerjakan kebaikan) dalam ayat ini ialah mencintai dan menjadikan mereka sebagai pemimpin. Berikut ini beberapa riwayat yang menegaskan hal ini. Dalam sebuah riwayat, Ibn Abbâs berkata: “Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, siapakah sanak kerabatmu yang kami telah diwajibkan untuk mencintai mereka?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Mereka adalah Ali, Fathimah, dan kedua putranya.’”[29]

Dalam sebuah hadis, Jâbir ibn Abdillah berkata: “Seorang Arab Badui pernah datang menjumpai Nabi Saw. seraya berkata: ‘Jelaskan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad itu adalah hamba dan Rasul-Nya.’ Arab Badui itu segera men impali, ‘Apakah engkau meminta upah dariku?’ Rasul menjawab, “Tidak, selain mencintai Al-Qurbâ’.

Orang Arab Badui itu bertanya lagi, ‘Keluargaku ataukah keluargamu?’ Nabi Saw. menjawab: ‘Tentu keluargaku.’ Kemudian, orang Arab Badui itu berkata lagi: “Jika begitu, aku membaiatmu: barang siapa yang tidak mencintaimu dan tidak juga mencintai keluargamu, maka Allah akan mengutuknya.’ Nabi segera menimpali: ‘Amîn.’”[30]

Allah Swt. berfirman: “Barang siapa menghujatmu tentang hal itu setelah jelas datang kepa danya pengetahuan, maka katakanlah, ‘Mari kami panggil putra-putra kami dan putra-putra kamu, putri-putri kami dan putri-putri kamu, dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubâhalah agar kita jadi- kan kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.’” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 61) Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan Ahlu Bait Nabi Saw. Ayat tersebut menggunakan kata abnâ’ (anak-anak) yang maksudnya adalah Hasan dan Husain a.s.; kedua cucu Nabi yang dirahmati dan kedua imam pemberi hidayah. Dan maksud kata an- nisâ’ (wanita), yaitu Sayidah Az-Zahrâ’ a.s., penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Adapun pemuka dan junjungan Ahlul Bait, Amirul Mukminin Ali ibn Abu Thalib a.s., diungkapkan dengan kata anfusanâ (diri-diri kami).[31]

Allah Swt. berfirman: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum menjadi sesuatu yang dapat disebut ….” (QS. Al-Dahr [76]: 1) Mayoritas ahli tafsir dan para perawi hadis ber- pendapat bahwa surat ini diturunkan untuk Ahlu Bait Nabi Saw.32 Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya  lah bermaksud menghilangkan segala noda dari  kalian, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 33) Para ahli tafsir dan perawi hadis sepakat bahwa ayat yang penuh berkah ini turun berkenaan dengan lima orang ahlul-Kisâ’.33 Mereka adalah Rasulullah Saw.; Ali a.s.; Sayyidah Fathimah, buah hatinya yang suci dan penghulu para wanita di dunia dan akhirat yang Allah ridha dengan keridhaannya dan murka dengan kemurkaannya; dan Hasan dan Husain a.s., ke- dua permata hatinya dan penghulu para pemuda ahli surga. Tak seorang pun dari keluarga Rasulullah Saw. yang lain dan tidak pula para pemuka sahabatnya yang ikut serta dalam keutamaan ini. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hadis berikut ini: Pertama, Ummul Mukminin Ummu Salamah berkata: “Ayat ini turun di rumahku. Pada saat itu ada Fathim ah, Hasan, Husain, dan Ali a.s. di rumahku.

Kemudian, Rasulullah Saw. menutupi mereka dengan kisâ’ (kain panjang dan lebar), seraya berdoa: ‘Ya Allah, mereka adalah Ahlu Baitku. Hilangkanlah dari mer eka segala noda dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’” Ia mengulang-ulang doa tersebut dan Ummu  Salamah mendengar dan melihatnya. Lantas dia berkata: “Apakah aku masuk bersama Anda, ya Rasulullah?” Lalu dia mengangkat kisâ’ tersebut untuk aku masuk bersama mereka. Tetapi, beliau kembali menarik kisâ’ itu sembari bersabda, “Sesungguhnya eng- kau berada dalam kebaikan.”[34] Kedua, dalam sebuah riwayat Ibn Abbâs berkata: “Aku menyaksikan Rasulullah Saw. setiap hari mendatangi pintu rumah Ali ibn Abu Thalib a.s. setiap kali masuk waktu shalat selama tujuh bulan berturut-turut. Dia mendatangi pintu rumah itu sebanyak lima kali dalam sehari sembari berkata: ‘Assalamu‘alaikum Warahmatullah Wabarakatuh, hai Ahlul Bait! Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala kotoran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya. Mari kita melakukan shalat, semoga Allah merahmati kalian!’”[35] Ketiga, dalam sebuah riwayat Abu Barazah ber- kata: “Aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah Saw. selama tujuh bulan. Setiap kali keluar dari rumah, dia mendatangi pintu rumah Fathimah a.s. seraya bersabda, ‘Salam sejahtera atas kalian. Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud menghilangkan segala ko- toran dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sesuci-sucinya.’”36 Sesungguhnya tindakan-tindakan Rasulullah Saw. ini merupakan sebuah pemberitahuan kepada umat dan seruan kepada mereka untuk mengikuti Ahlul Bait a.s. lantaran Ahlul Bait a.s. adalah pembimbing bagi mereka untuk meniti jalan kemajuan di kehidupan du- niawi maupun ukhrawi.

Kategori Ayat Ketiga Terdapat beberapa ayat yang turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali a.s. dan juga berkenaan dengan para sahabat Nabi pilihan dan terkemuka. Berikut ini ayat-ayat tersebut: Allah Swt. berfirman: “Dan diatas Al-A‘râf tersebut ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.” (QS. Al-A‘râf [7]: 46) Ibn Abbâs berkata: “Al-A‘râf adalah sebuah tempat yang tinggi di atas Shirât. Di atas tempat itu terdapat Abbâs, Hamzah, Ali ibn Abu Thalib a.s., dan Ja‘far pemilik dua sayap. Mereka mengenal para pencinta mer eka dengan wajah mereka yang bersinar dan juga mengenal para musuh mereka dengan wajah mereka yang hitam pekat.”[37] Allah Swt. berfirman: “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 23) Ali a.s. pernah ditanya tentang ayat ini, sementara dia sedang berada di atas mimbar. Dia berkata: “Ya Allah, aku mohon ampunanmu. Ayat ini turun berkenaan denganku, pamanku Hamzah, dan pamanku ‘Ubaidah ibn Hârist. Adapun ‘Ubaidah, dia telah gugur sebagai syahid di medan Badar, dan Hamzah juga telah gugur di medan Perang Uhud. Sementara aku ma- sih menunggu orang paling celaka yang akan mengucurkan darahku dari sini sampai ke sini (sembari dia men unjuk jenggot dan kepalanya).”[38]

Kategori Ayat Keempat

Berikut ini kami paparkan beberapa ayat yang turun memuji Imam Ali a.s. dan mengecam para mu- suhnya yang senantiasa berusaha untuk menghapus segala keutamaannya.

Allah Swt. berfirman: “Apakah kamu menyama-kan pekerjaan memberi minuman kepada orang- orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masji dil Haram dengan (amal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di ja lan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Taubah [9]: 19) Ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali a.s., Abbâs, dan Thalhah ibn Syaibah ketika mereka saling men unjukkan keutamaan masing-masing. Thalhah ber- kata: “Aku adalah pengurus Ka‘bah. Kunci dan urusa n tab irnya berada di tanganku.” Abbâs berkata: “Aku adalah pemberi minum orang-orang yang beri badah haji.” Ali a.s. berkata: “Aku tidak tahu kalian ini berkata apa? Sungguh aku telah mengerjakan shalat menghadap ke arah Kiblat selama enam bulan sebelum ada seorang pun yang mengerjakan shalat, dan akulah orang yang selalu berjihad.” Kemudian, turunlah ayat tersebut.[39] Allah Swt. berfirman: “Maka apakah orang yang telah beriman seperti orang yang fasik? Tentu tidak- lah sama.” (QS. Al-Sajdah [32]: 18) Ayat ini turun memuji Imam Ali a.s. dan mengecam Walîd ibn ‘Uqbah ibn Abi Mu‘îth. Walîd berbangga diri di hadapan Ali a.s. seraya berkata: “Lisanku lebih fasih daripada lisanmu, gigiku lebih tajam daripada gigimu, dan aku juga lebih pandai menulis.” Ali a.s. berkata: “Diamlah. Sesungguhnya engkau adalah orang fasik.” Kemudian turunlah ayat tersebut.[40] []

 

Catatan kaki:

16. Târîkh Baghdad, jil. 6/221; Ash-Shawâ‘iq Al- Muhriqah, hal. 76; Nûr Al-Abshâr, hal. 76.

17. Tafsir At-Thabarî, jil. 13/72; Kanz Al-‘Ummâl, jil. 6,/157; Tafsir Al-Haqâ’iq, hal. 42; Musadrak Al- Hâkim, jil. 3/129.

18. Kanz Al-‘Ummâl, jil. 6/108; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 329; Tafsir At-Thabarî, jil. 4/600; Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 8/267.

19. Usud Al-Ghâbah, jil. 4/25; Ash-Shawâ‘iq Al- Muhriqah, hal. 78; Asbâb An-Nuzûl, karya Al- Wâhidî, hal. 64.

20. Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 8/589; Tafsir At-Thabarî, jil. 30/17; Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 96.

21. Tafsir At-Thabarî, jil. 8/145.

22. Asbâb An-Nuzûl, hal. 150.

23. Târîkh Baghdad, jil. 8/19; Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 6/19.

24. Dalâ’il Ash-Shidq, jil. 2/152.

25. Tafsir Ar-Râzî, jil. 12/26; Nûr Al-Abshâr, hal. 170; Tafsir Ath-Thabarî, jil. 6/186.

26. Ad-Durr Al-Mantsûr, jil. 3/106; Tafsir Al- Kasysyâf, jil. 1/692; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 102; Majma‘ Az-Zawâ’id, jil. 7/17; Kanz Al-‘Ummâl, jil. 7/305.

27. Ragib Al-Isfahani dalam Mufradat Al-Quran, ha- laman 570 mengatakan, “Wilayah berarti keme- nangan, penanggung jawab dan pemilik ikhtiar sebuah perbuatan.” Sebagian berpendapat wilayat dan walayat memiliki satu arti, yaitu penanggung jawab dan pemilik ikhtiar. Wali dan maula juga berarti demikian, hanya terkadang berkonotasi subjek (ism fa’il) dan terkadang objek (ism maf’uli). Thabarsi dalam Majma’ al-Bayân setelah ayat 157, Surat Al-Baqarah mengatakan, “Wali dari kata walâ berarti berdekatan tanpa ada penghalang,

wali adalah orang yang lebih berhak dan layak untuk melakukan perbuatan orang lain. Pemimpin sebuah kaum dapat dipanggil dengan wali, karena kedekatan, dan secara langsung, mengurusi, me- nyuruh, dan melarang berkenaan dengan semua urusan. Dan kepada majikan dikatakan maula karena secara langsung mengurusi masalah ham- ba.” Ibnu Faris juga mengatakan, “Barang siapa bert anggung jawab atas urusan seseorang, maka ia akan menjadi wali baginya.” (Maqâyis al-Lughah, jilid 6, hal. 141).

28. Allamah Sayyid Husain Tehrani, Imam Syenasi (Mengenal Imam), jilid 5, hal. 199-265; Allamah Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, Al-Murajaat, Dialog 38, Ustad Muthahhari, Majmue-ye Atsar, jilid 3, halaman 268-289.

29. Majma‘ Az-Zawâ’id, jil. 7/103; Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 25; Nûr Al-Abshâr, hal. 101; Ad-Durr Al- Mantsûr, jil. 7/348.

30. Hilyah Al-Awliyâ’, jil. 3/102.

31. Tafsir Ar-Râzî, jil. 2/699; Tafsir Al-Baidhâwî, hal. 76; Tafsir Al-Kasysyâf, jil. 1/49; Tafsir Rûh Al-Bayân, jil. 1/457; Tafsir Al-Jalâlain, jil. 1/35; Shahîh Muslim, jil. 2/47; Shahîh At-Turmuzî, jil. 2/166; Sunan Al-Baihaqî, jil. 7/63; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jil. 1/185; Mashâbîh As-Sunnah, karya Al-Baghawî, jil. 2/201; Siyar A‘lâm An-Nubalâ’, jil. 3/193.

32. Tafsir Ar-Râzî, jil. 10/243; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 133, Rûh Al-Bayân, jil. 6/546; Yanâbî’ Al-Mawaddah, jil. 1/93; Ar-Riyâdh An- Nâdhirah, jil. 2/227; Imtâ‘ Al-Asmâ‘, hal. 502.

33. Tafsir Ar-Râzî, jil. 6/783; Shahîh Muslim, jil. 2/331; Al-Khashâ’ish Al-Kubrâ, jil. 2/264; Ar- Riyâdh An-Nâdhirah, jil. 2/188; Tafsir Ibn Jarîr, jil. 22/5; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jil. 4/107; Sunan Al-Baihaqî, jil. 2/150; Musykil Al-Atsar, jil. 1/334; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 33.

34. Mustadrak Al-Hâkim, jil. 2/416; Usud Al-Ghâbah, jil. 5/521.

35. Ad-Durr Al-Mantsur, jil. 5/199.

36. Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ, hal. 24.

37. Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 101.

38. Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 80; Nûr Al- Abshar, hal. 80.

39. Tafsir Ath-Thabarî, jil. 10/68; Tafsir Ar-Râzî, jil. 16/11; Ad-Durrul Mantsur, jil. 4/146; Asbâb An- Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 182.

40. Tafsir Ath-Thabarî, jil. 21/68; Asbâb An-Nuzûl, hal. 263; Târîkh Bagdad, jil. 13/321; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, jil. 2/206.