siapa nama-nama kaum munafik yang hidup di madinah di zaman Nabi saw seperti yang disebutkan oleh ayat Qs. At taubah 101 biar sunni tidak terkena hadis-hadis palsu yang mereka susupkan, yang terlanjur tercantum dikitab-kitab hadis/shahih sunni


Salafy nashibi memang lemah akalnya golongan dia tdk mampu untuk memberdayakan akalnya dg baik karena sekte wahabi sudah mengkebirikan peran akal. Makannya untuk menganalisis matan suatu hadis atau sejarah hasilnya sekte wahabi banyak yg r ancu dan kontradiksi”
.

Perawi-perawi dan para ulama telah memberitakan bahwa terdapat sahabat Nabi saw yang munafik serta macam2 prilaku buruk. Ayat2 Alquran sdh memastikan adanya orang2 di sekitar Nabi saw yang munafik. Hanya salafiyyun yang bersikeras dan ngotot bahwa sahabat Nabi saw tidak ada yang munafik, bahwa semua sahabat ‘adil. Bagi mereka yang mau membaca dan menggunakan akal sehatnya akan mampu melihat secara terang benderang mana pemahaman yang benar mana yang keliru.

Semoga Allah swt memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.

ALLAH dan Rasulullah menggunakan kosa kata SAHABAT untuk orang2 yang masuk surga (Jannah) dan orang2 yang masuk api neraka

SHOHIB = kawan, teman, penghuni, pemilik dll

ASHABU = kawan2, teman2, penghuni2, pemilik2 dll

ALQURAN 7:50
Ahabu Nar (sahabat2 di api neraka) berkata kepada Ashabu Jannah (sahabat2 di dalam surga): “Berikanlah kami sedikit air atau makanan yang telah diberikan oleh ALLAH kepada kamu!”

ALQURAN 5:10
Orang2 Kafir yang mendustakan ayat ayat kami (AlQuran); sesungguhnya mereka Ashabu Al Jahim (sahabat2 di dalam neraka Jahim)

Jika kita membaca semua kosa kata ASHABU (sahabat2, kawan2, teman2) di dalam AlQuran dengan teliti; maka kita bisa melihat bahwa ALLAH menggunakan kosa kata SAHABAT untuk mereka yang masuk api neraka dan juga untuk mereka yang masuk surga.

Ulama Sunni sengaja memutar-balikan ayat ayat AlQuran untuk membodohi ummat Islam.

SYIRIK (dosa terbesar yang tidak akan diampuni oleh ALLAH); adalah aqidah (kepercayaan & keyakinan) kaum Sunni; karena Kaum Sunni rajin memuji para sahabat; sehingga Kaum Sunni tidak bisa melihat dan tidak bisa mempelajari kesalahan2 yang dilakukan oleh para sahabat; padahal semua pujian hanya dimiliki oleh ALLAH.

Kaum Syiah sengaja mempelajari kesalahan2 yang dilakukan oleh para sahabat setelah Rasulullah wafat; supaya kamu Syiah tidak mengulangi kesalahan2 yang sama; karena Kaum Syiah tidak mau dihukum oleh ALLAH di dunia ini dan di akhirat nanti.

ASHABI (kawan-kawanku, teman-temanku, sahabat-sahabatku)

SHOHIH BUKHARI, Kitab 60 no 149
Ibn Abbas melaporkan bahwa Rasulullah berkata (di depan para sahabatnya): “Ya manusia, kamu akan dikumpulkan pada hari Qiyammah di depan ALLAH dalam keadaan telanjang, tidak ada alas kaki dan tidak disunat. Rasulullah mengucapkan ayat ayat ALLAH

ALQURAN 21:104
Pada hari kami gulung langit seperti kami gulung lembaran lembaran kertas; sebagaimana kami telah menciptaan ciptaan kami yang pertama; kami akan mengulanginya; karena itu adalah janji kami; sesungguhnya akan terjadi karena kami akan melaksanakannya

Rasulullah melanjutkan dan berkata: “Orang pertama yang akan diberikan pakaian adalah Nabi Ibrahim pada hari kebangkitan. Banyak orang yang mengikuti saya akan dibawa kepada saya; kemudian mereka dimasukan ke dalam api neraka!”

Rasulullah akan berkata (kepada ALLAH): “Mereka adalah ASHABI (sahabat-sahabatku, kawan-kawnku, teman-temanku)!”

ALLAH akan berkata (kepada Nabi Muhammad): “Kamu tidak mengetahui perbuatan mereka setelah kepergianmu (setelah Muhammad wafat); mereka telah MURTAD setelah kepergian kamu!”

Rasulullah akan mengutip ayat AlQuran yang diucapkan oleh Nabi Isa Al Masih

ALQURAN 5:118
Jika anda menyiksa mereka; sesungguhnya mereka adalah hamba-hambamu; jika anda mengampuni mereka; sesungguhnya anda maha perkasa dan maha bijaksana.

KESIMPULAN

Perhatikan kosa kata ASHABI (sahabat-sahabatku, kawan-kawanku, teman-temanku) dipergunakan oleh Rasulullah untuk para sahabat yang akan dimasukan ke dalam api neraka.

Ulama Sunni sengaja menyembunyikan atau rajin menutup-nutupi Hadith ini; supaya SYIRIK (dosa terbesar) tersebar di dalam kalangan Kaum Ahlul Sunnah Wal Jamaah.

Ulama Sunnah sengaja menyembunyika Hadith tersebut; supaya semua sahabat bisa dipuji oleh ummat Islam; ini adalah kesalahan besar yang dilakukan oleh Ulama Sunnah; karena semua pujian hanya dimiliki oleh ALLAH; bukan dimiliki oleh para sahabat.

Tidakkah mereka membaca Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Ali : “Tidaklah seseorang yang mencintaimu kecuali dia adalah seorang mukmin dan tidak membencimu kecuali dia adalah seorang munafik”?

Anehnya hadits ini selalu terpampang di salah blog nashibi.
Definisi keadilan cuma satu yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Mengenai masalah munafik ini adalah masalah hati, makanya Nabi tidak menghukum Abdullah bin Ubay padahal nabi mengetahui tentang kemunafikannya. Terus saya koreksi sedikit bahwa memang sahabat itu manusia biasa dan tidak maksum. Jadi sahabat bisa melakukan kesalahan dan dosa.

siapa nama-nama kaum munafik yang hidup di madinah di zaman Nabi saw seperti yang disebutkan oleh ayat Qs. At taubah 101   biar sunni tidak terkena hadis-hadis palsu yang mereka susupkan, yang terlanjur tercantum dikitab-kitab hadis/shahih sunni

Saya juga minta tolong kepada syekh-syekh salafiyun barangkali tau atau dapat wangsit tentang siapa nama-nama kaum munafik yang hidup di madinah di zaman Nabi saw… seperti yang disebutkan oleh ayat ini (biar kami tidak terkena hadis-hadis palsu yg mereka susupkan, yg terlanjur tercantum dikitab-kitab hadis/shahih sunni :

وَمِمَّنْ حَوْلَكُم مِّنَ الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُواْ عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar (Al Qur’an, S. At Taubah[9]: 101)

bacalah ALQURAN 25:30-31

30. Rasulullah berkata: “Ya Tuhanku, KAUMKU telah meninggalkan AlQuran!”

31. ALLAH berkata: “dan seperti itulah (yang terjadi); telah kami adakan untuk semua nabi; musuh dari orang orang yang berdosa; dan cukuplah ALLAH menjadi penolong dan pemberi petunjuk

Perhatikanlah kosa kata KAUMKU di dalam ayat ayat AlQuran tersebut. Para sahabat juga termasuk KAUM MUHAMMAD. Sebagian dari para sahabat melanggar AlQuran setelah kepergian Rasulullah (setelah Nabi Muhammad wafat)

Mereka yang melanggar AlQuran akan dijadikan musuh2 Nabi Muhammad pada hari Qiyammah nanti. Berapa banyak sahabat yang melanggar AlQuran; sehingga mereka saling membunuh di dalam perang Riddah, perang Siffin, perang Jamal dan perang perang yang lain.

Mayoritas Ulama Sunni adalah orang2 yang pintar dan yang mengagumkan; tetapi minoritas Ulama Sunni adalah orang2 yang sombong.

Minoritas Ulama Sunni inggin ummat Islam memuji para sahabat; dengan alasan semua sahabat adalah manusia yang sempurna; padahal semua pujian hanya dimiliki oleh ALLAH; sehingga tidak mungkin para sahabat melakukan kesalahan2.

Jika Kaum Syiah mempelajari kesalahan2 yang dilakukan oleh para sahabat setelah Rasulullah wafat; supaya Kaum Syiah tidak mengulangi kesalahan2 yang sama;

maka Ulama Sunni tersebut akan marah dan akan tersinggung; kemudian Ulama Sunni tersebut menuduh Kaum Syiah sebagai orang2 yang suka menghamun (mencela, menghina) para sahabat; padahal SYIRIK (dosa terbesar) adalah keyakinan Kaum Sunni

Apa yang dimaksud “wafat dalam keadaan islam”?. Apakah setiap orang yang dinyatakan sahabat oleh Ibnu Hajar [dalam Al Ishabah] memiliki data riwayat bahwa mereka wafat dalam keadaan islam.

ucapan anda dipertanggungjawabkan di hadapan Allah lho…jangan asal ucap, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar!”(QS. AlBaqarah: 111)

Di dalam Bab II, “Sawaiq al-Muhriqah”, Ibn Hajar mencatatkan Hafiz Jamaluddin Mohammad bin Yusuf Zarandi Madani (seorang faqih dan ulama di kalangan mazhab Sunni) yang mengatakan, “… tatkala engkau dan pengikut-pengikut (Syi’ah) engkau akan datang pada Hari Pembalasan kelak di dalam keadaan diridhai Allah dan Allah ridha terhadap kamu semua. Musuh-musuh engkau akan berasa cemburu dan tangan mereka akan dibelenggu ke leher mereka.” Kemudian Ali as bertanya siapakah musuhnya. Rasulullah saww menjawab, “Orang-orang yang memusuhi engkau dan yang menghina engkau.” Allamah Samhudi di dalam “Jawahirul”, dengan pengesahan Hafiz Jamaluddin Zarandi Madani dan Nuruddin Ali bin Mohammad bin Ahmad Maliki Makki yang terkenal sebagai Ibn Sabbagh, yang dianggap sebagai ulama yang berwibawa dari kalangan ulama Sunni dan juga seorang ahli ilmu kalam, di dalam bukunya “Fusul al-Muhimmah”, pada halaman 122, memetik dari Abdullah bin Abbas bahwa, ketika ayat tersebut diwahyukan Rasulullah saww bersabda kepada Ali as, “Engkau dan Syi’ahmu. Engkau dan merekalah yang akan datang di Hari Pembalasan kelak dengan penuh keridhaan dan kepuasan, manakala musuh-musuh engkau akan datang dengan kesedihan dan terbelenggu tangan-tangan mereka.”

Mir Syed Ali Hamdani Syafie, salah seorang daripada ulama Sunni yang terpercaya, menyebut di dalam bukunya “Mawaddatul Qurba.” Juga Ibn Hajar, seorang yang terkenal sebagai anti-Syi’ah di dalam bukunya “Sawaiq al-Muhriqah” meriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah, isteri Nabi saww, bahwa Rasulullah saww bersabda, “Hai Ali, engkau dan Syi’ahmu akan kekal di dalam Syurga, engkau dan Syi’ahmu akan kekal di dalam Syurga.”

Seorang ulama yang terkemuka, Khawarazim Muaffaq bin Ahmad di dalam “Manqib”nya, Bab 19, meriwayatkan dari Rasulullah saww di atas pengesahan yang tidak dapat diragukan, bahwa Baginda Nabi bersabda kepada Ali as, “Di kalangan umatku, engkau adalah seumpama Isa al-Masih Ibn Mariam as, yakni sebagaimana pengikut Nabi Isa as yang telah berpecah kepada tiga kelompok, yaitu yang benar-benar beriman yang dikenali sebagai Hawariyyin, penentangnya yaitu orang-orang Yahudi dan satu lagi golongan yang melampaui batas, yang menyamakan beliau dengan sifat-sifat ketuhanan. Seperti itu juga umat Muslim, yang akan berpecah kepada tiga kelompok terhadap engkau. Salah satu dari mereka adalah Syi’ahmu, dan mereka inilah golongan yang benar-benar beriman. Yang lainnya adalah musuh-musuh engkau dan mereka itulah yang memungkiri janji-janji untuk taat setia kepadamu, dan yang ketiganya adalah golongan yang melampaui batas mengenai kedudukan engkau dan mereka adalah orang-orang yang menolak kebenaran serta tersesat. Jadi, engkau, hai Ali, dan juga Syi’ahmu akan berada di dalam Syurga, dan juga orang-orang yang mencintaimu akan berada di dalam Syurga sedangkan musuh-musuhmu dan mereka yang berlebih-lebihan terhadapmu akan berada di dalam Neraka.”

Biarin aja mas. Konsekuensi dari kalimat tsb adalah;

(1) Bahwa tidak selalu orang2 yang beserta Nabi saw akan mati dalam keadaan Islam.

Bagaimana kalau nashibi maksa semuanya harus atau pasti mati dalam keadaan Islam? Wah kalau udah gitu sy nyerah deh. :roll:

(2) Bahwa sebelum mereka mati, mereka belum bisa disebut sahabat. Jadi nanti saat mati baru ketahuan mana sahabat mana yang bukan.

(3) Bahkan yang mati pun belum bisa disebut sahabat kalau ga ketahuan matinya kapan, dimana dan bagaimana.

Nah, tinggal nanya ke nashibi: “berapa banyak data yang mereka punyai mengenai orang2 di sekitar Nabi saw yang matinya ketahuan dalam keadaan Islam?” :)

Malah bagus kan? :mrgreen:

Perawi-perawi dan para ulama telah memberitakan bahwa terdapat sahabat Nabi saw yang munafik serta macam2 prilaku buruk. Ayat2 Alquran sdh memastikan adanya orang2 di sekitar Nabi saw yang munafik. Hanya salafiyyun yang bersikeras dan ngotot bahwa sahabat Nabi saw tidak ada yang munafik, bahwa semua sahabat ‘adil. Bagi mereka yang mau membaca dan menggunakan akal sehatnya akan mampu melihat secara terang benderang mana pemahaman yang benar mana yang keliru.

Semoga Allah swt memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.

Mazhab Hambali tersebar karena dukungan politik khalifah Al-Mutawakkil

Pada masa Khalifah Al Mutawakkil Mazhab Sunni mulai merumuskan ajaran ajaran nya seperti :

1. keadilan semua sahabat

2. penobatan Ali menjadi khulafaurrasyidin ke empat, padahal sebelumnya dicaci dan dikutuk di mimbar

3. pengingkaran wasiat imamah ghadir kum

4. dan kriteria jarah ta’dil ilmu hadis

5. dll

Bila Imam Ali(as) Diiktiraf Sebagai Khalifah Rashid Oleh Sunni?

Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala

Agak mengejutkan juga apabila saya menemui satu riwayat, yang menunjukkan pada asalnya, Ahlul Sunnah wal Jamaah tidak mengiktiraf Sayyidina Ali sebagai khalifah ar Rashidin. Nama Imam Ali(as) hanya dimasukkan sebagai khalifah yang adil di zaman Imam Ahmad bin Hanbal.

Di dalam kitab Tabaqat, yang dianggap oleh ulama’ bermazhab Hanbali sebagai rujukan utama mereka, Ibn Abu Ya’li menyatakan bahawa Wadeezah al-Himsi berkata:

‘Saya menziarahi Ahmad ibn Hanbal, setelah penambahan nama Ali [ke dalam urutan nama Khalifah yang tiga [Khalifah yang adil]. Saya berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdullah! Apa yang telah kamu lakukan adalah memburukkan kedua mereka Talhah dan al-Zubayr!
Ahmad berkata: ‘Janganlah membuat kenyataan yang jahil! Apa yang ada kena mengena dengan kita mengenai peperangan mereka, dan kenapa kamu menyebutnya sekarang?’
Saya berkata: ‘Semoga Allah memandu kamu kepada kebenaran, kami menyatakannya setelah kamu menambah nama Ali dan memberi mandat kepadanya [dengan sanjungan] sebagai Khalifah sebagaimana yang telah dimandatkan kepada Imam-imam sebelumnya!’ 
Ahmad berkata: ‘Dan apa yang akan menahan saya dari melakukannya?’
Saya berkata: ‘Satu hadits yang disampaikan oleh Ibn Umar.’ 
Dia berkata kepada saya: ‘Umar ibn al-Khattab adalah terlebih baik dari anaknya, kerana dia menerima [i.e mengesyor] Ali sebagai Khalifah ke atas Muslim dan menyenaraikan beliau di antara mereka-mereka ahli syura, dan Ali merujuk dirinya sebagai Amirul Mukminin; adakah saya yang akan mengatakan bahawa mereka yang beriman tidak mempunyai pemimpin?!’ Maka saya pun pergi.[Tabaqat al-Hanabila, jilid 1 ms 292]

Dari riwayat ini, dapat kita lihat bahawa dari zaman tabiin, nama Imam Ali(as) pada asalnya bukanlah tersenarai sebagai para khalifah yang benar. Pegangan mereka ini, berkemungkinan besar disebabkan oleh suasana politik yang tidak menyebelahi Ahlulbait(as). Lihat sahaja hadis Ibnu Umar(ra):

Abdullah ibn Umar berkata: ‘Semasa hidup rasul Allah, kami menganggap Abu Bakr paling utama, kemudian Umar ibn al-Khattab, kemudian Uthman ibn Affan, semoga Allah merasa senang dengan mereka’.[Al-Bukhari, sahih jilid 4 ms 191, jilid 4 didalam buku pada mula kejadian didalam bab mengenai kemuliaan Abu Bakr yang hampir sama dengan kemuliaan para rasul]

Persoalannya, di mana Imam Ali di sisi mereka? Mengapa Ibnu Umar meninggalkan Imam Ali(as)? Mungkin pihak Sunni boleh tolong menerangkan hadis ini. Riwayat seperti ini kerap dijumpai di dalam kitab Sunni.

كنا نفاضل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم نسكت

“Kami mengutamakan di zaman Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian kami diam” [Diriwayatkan dalam Shahih Ibnu Hibban no. 7251, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/9, Musnad Ahmad 2/14 no 4626, As Sunnah Ibnu Abi ‘Aashim no. 1195, dan Mu’jam Al Kabir Ath-Thabaraniy 12/345 no. 13301: shahih]

Ternyata di sini, dari awal lagi, Imam Ali(as) tidak mendapat kemuliaan yang sepatutnya di sisi sesetengah para sahabat dan perkara ini menjadi asas kepada generasi para tabiin untuk tidak memasukkan nama Ali sebagai sebahagian para khalifah yang adil. Tambahan pula, ketika itu, wujudnya pemerintahan yang sangat membenci Ahlulbait dan para pengikut mereka. Sesiapa yang meriwayatkan keutamaan Ahlulbait(as) boleh dituduh sebagai Syiah.

Oleh kerana Imam Ali tidak dianggap sebagai seorang sahabat yang utama, tidak hairanlah nama beliau boleh dilaknat dari mimbar selama 80 tahun. Nauzubillah.

Oleh itu, saya menanti penjelasan berkaitan riwayat-riwayat ini, walaupun saya tahu, jawabannya hanyalah berbentuk basa basi, dan penakwilan makna, agar dapat menyedapkan telinga sahaja, tanpa sebarang nilai ilmiah. Aqidah Ahlul Sunnah yang asal berittikad bahawa Imam Ali(as) hanyalah seorang sahabat yang biasa tanpa keutamaan yang besar. Riwayat di atas adalah hujahnya

.

Mazhab Hambali / Imam Ahmad bin Hanbal dicetuskan oleh Ahmad bin Muhammad Hanbal bin Hilal. Dasar-dasarnya yang pokok ialah berpegang pada :

  1. al-Qur-an
  2. Hadits marfu’
  3. Fatwa sahabat dan mereka yang lebih dekat pada al-Qur-an dan hadits, di antara fatwa yang berlawanan
  4. Hadits mursal
  5. Qiyas

Mazhab ini dianut kebanyakan penduduk Hejaz, di pedalaman Oman dan beberapa tempat sepanjang Teluk Persia dan di beberapa kota Asia Tengah

.

Al-Mutawakkil (821-861) adalah khalifah ke-10 Bani Abbasiyah (847-861).

Ja’far al-Mutawakkil adalah putra al-Mu’tasim Billah (833-842) dan seorang wanita Persia. Ia menggantikan saudaranya al-Watsiq (842-847) dan dikenal menyelenggarakan “mihnah“, percobaan seperti inkuisisi untuk menegakkan satu versi murni Islam. Selama masa pemerintahan, pengaruh Mu’tazilah berkurang dan masalah kemakhlukan al-Qur’an berakhir. Selama tahun-tahun pertama pemerintahannya, al-Mutawakkil menunjukkan rasa toleran terhadap Imam Syi’ah yang mengajar dan berdoa di Madinah. Setelah meninggalnya al-Mutawakkil, Syi’ah mengalami penindasan; makam Husain bin Ali di Karbala dihancurkan.

Al-Mutawakkil terus mengandalkan negarawan Turki dan pasukan budak untuk meredam pemberontakan dan memimpin pasukan menghadapi kekuasaan asing, seperti Bizantium yang wilayahnya di Sisilia berhasil direbut. Wazirnya al-Fath bin Khaqan, seorang Turki, adalah tokoh terkenal di masa pemerintahannya. Namun, kepercayaannya pada orang Turki berbalik menghantuinya. Ia menitahkan pembunuhan terhadap panglima tertingginya yang notabene orang Turki. Hal ini menyebabkan pengaruhnya melorot drastis.

Al-Mutawakkil dibunuh oleh seorang prajurit Turki pada tanggal 11 Desember 861. Konon, pembunuhan ini merupakan bagian dari plot yang direncanakan oleh putranya al-Muntashir, yang menjadi jauh dari ayahandanya.

Pemerintahan al-Mutawakkil diingat akan reformasi-reformasinya dan dipandang sebagai masa keemasan Bani Abbasiyah. Ia adalah khalifah terbesar terakhir Abbasiyah; setelah kematiannya khilafah mulai mundur.

Dengan demikian, nama empat imam mazhab sunni  menjadi harum dan terkenal karena perantaraan raja dan sultan. Jika tidak, maka tentu mazhabnya akan menjadi mazhab yang terlupakan.

Mazhab Syafi’i tersebar karena dukungan politik Sultan Salahuddin Al Ayyubi Mesir

Mazhab Syafi’i (bahasa Arab: شافعية , Syaf’iyah) adalah mazhab fiqih yang dicetuskan oleh Muhammad bin Idris asy-Syafi’i atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafi’i.[1][2] Mazhab ini kebanyakan dianut para penduduk Mesir bawah, Arab Saudi bagian barat, Suriah, Indonesia, Malaysia, Brunei, pantai Koromandel, Malabar, Hadramaut, dan Bahrain.

Sejarah

Pemikiran fiqh mazhab ini diawali oleh Imam Syafi’i, yang hidup di zaman pertentangan antara aliran Ahlul Hadits (cenderung berpegang pada teks hadist) dan Ahlur Ra’yi (cenderung berpegang pada akal pikiran atau ijtihad). Imam Syafi’i belajar kepada Imam Malik sebagai tokoh Ahlul Hadits, dan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani sebagai tokoh Ahlur Ra’yi yang juga murid Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i kemudian merumuskan aliran atau mazhabnya sendiri, yang dapat dikatakan berada di antara kedua kelompok tersebut. Imam Syafi’i menolak Istihsan dari Imam Abu Hanifah maupun Mashalih Mursalah dari Imam Malik. Namun demikian Mazhab Syafi’i menerima penggunaan qiyas secara lebih luas ketimbang Imam Malik. Meskipun berbeda dari kedua aliran utama tersebut, keunggulan Imam Syafi’i sebagai ulama fiqh, ushul fiqh, dan hadits di zamannya membuat mazhabnya memperoleh banyak pengikut; dan kealimannya diakui oleh berbagai ulama yang hidup sezaman dengannya.

Dasar-dasar

Dasar-dasar Mazhab Syafi’i dapat dilihat dalam kitab ushul fiqh Ar-Risalah dan kitab fiqh al-Umm. Di dalam buku-buku tersebut Imam Syafi’i menjelaskan kerangka dan prinsip mazhabnya serta beberapa contoh merumuskan hukum far’iyyah (yang bersifat cabang). Dasar-dasar mazhab yang pokok ialah berpegang pada hal-hal berikut.

  1. Al-Quran, tafsir secara lahiriah, selama tidak ada yang menegaskan bahwa yang dimaksud bukan arti lahiriahnya. Imam Syafi’i pertama sekali selalu mencari alasannya dari Al-Qur’an dalam menetapkan hukum Islam.
  2. Sunnah dari Rasulullah SAW kemudian digunakan jika tidak ditemukan rujukan dari Al-Quran. Imam Syafi’i sangat kuat pembelaannya terhadap sunnah sehingga dijuluki Nashir As-Sunnah (pembela Sunnah Nabi).
  3. Ijma’ atau kesepakatan para Sahabat Nabi, yang tidak terdapat perbedaan pendapat dalam suatu masalah. Ijma’ yang diterima Imam Syafi’i sebagai landasan hukum adalah ijma’ para sahabat, bukan kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum; karena menurutnya hal seperti ini tidak mungkin terjadi.
  4. Qiyas yang dalam Ar-Risalah disebut sebagai ijtihad, apabila dalam ijma’ tidak juga ditemukan hukumnya. Akan tetapi Imam Syafi’i menolak dasar istihsan dan istislah sebagai salah satu cara menetapkan hukum Islam.

Qaul Qadim dan Qaul Jadid

Imam Syafi’i pada awalnya pernah tinggal menetap di Baghdad. Selama tinggal di sana ia mengeluarkan ijtihad-ijtihadnya, yang biasa disebut dengan istilah Qaul Qadim (“pendapat yang lama”).

Ketika kemudian pindah ke Mesir karena munculnya aliran Mu’tazilah yang telah berhasil memengaruhi kekhalifahan, ia melihat kenyataan dan masalah yang berbeda dengan yang sebelumnya ditemui di Baghdad. Ia kemudian mengeluarkan ijtihad-ijtihad baru yang berbeda, yang biasa disebut dengan istilah Qaul Jadid (“pendapat yang baru”).

Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak semua qaul jadid menghapus qaul qadim. Jika tidak ditegaskan penggantiannya dan terdapat kondisi yang cocok, baik dengan qaul qadim ataupun dengan qaul jadid, maka dapat digunakan salah satunya. Dengan demikian terdapat beberapa keadaan yang memungkinkan kedua qaul tersebut dapat digunakan, dan keduanya tetap dianggap berlaku oleh para pemegang Mazhab Syafi’i.

Penyebaran

Mazhab Syafi’i (warna Biru tua) dominan di Afrika Timur, dan di sebagian Jazirah Arab dan Asia Tenggara.

Penyebar-luasan pemikiran Mazhab Syafi’i berbeda dengan Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki[3], yang banyak dipengaruhi oleh kekuasaan kekhalifahan. Pokok pikiran dan prinsip dasar Mazhab Syafi’i terutama disebar-luaskan dan dikembangkan oleh para muridnya. Murid-murid utama Imam Syafi’i di Mesir, yang menyebar-luaskan dan mengembangkan Mazhab Syafi’i pada awalnya adalah:

  • Yusuf bin Yahya al-Buwaiti (w. 846)
  • Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 878)
  • Ar-Rabi bin Sulaiman al-Marawi (w. 884)

Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal sebagai ulama hadits terkemuka dan pendiri fiqh Mazhab Hambali, juga pernah belajar kepada Imam Syafi’i[4]. Selain itu, masih banyak ulama-ulama yang terkemudian yang mengikuti dan turut menyebarkan Mazhab Syafi’i, antara lain:

Peninggalan

Imam Syafi’i terkenal sebagai perumus pertama metodologi hukum Islam. Ushul fiqh (atau metodologi hukum Islam), yang tidak dikenal pada masa Nabi dan sahabat, baru lahir setelah Imam Syafi’i menulis Ar-Risalah. Mazhab Syafi’i umumnya dianggap sebagai mazhab yang paling konservatif di antara mazhab-mazhab fiqh Sunni lainnya. Dari mazhab ini berbagai ilmu keislaman telah bersemi berkat dorongan metodologi hukum Islam yang dikembangkan para pendukungnya.

Karena metodologinya yang sistematis dan tingginya tingkat ketelitian yang dituntut oleh Mazhab Syafi’i, terdapat banyak sekali ulama dan penguasa di dunia Islam yang menjadi pendukung setia mazhab ini. Di antara mereka bahkan ada pula yang menjadi pakar terhadap keseluruhan mazhab-mazhab Sunni di bidang mereka masing-masing. Saat ini, Mazhab Syafi’i diperkirakan diikuti oleh 28% umat Islam sedunia, dan merupakan mazhab terbesar kedua dalam hal jumlah pengikut setelah Mazhab Hanafi.

Catatan kaki

  1. ^ Hamid, Mohd. Liki, (2006), Pengajian Tamadun Islam, ed. ke-2, Malaysia: PTS Professional, ISBN 978-983-3585-65-6
  2. ^ Yilmaz, Ihsan, (2005), Muslim laws, politics and society in modern nation states: dynamic legal pluralisms in England, Turkey, and Pakistan, Ashgate Publishing Ltd.,ISBN 0-7546-4389-1.
  3. ^ Bearman, Peri J., Bearman, Peri, Peters, Rudolph, Vogel, Frank E., (2005), The Islamic school of law: evolution, devolution, and progress, Islamic Legal Studies Program, Harvard Law School, ISBN 978-0-674-01784-9.
  4. ^ Al-Salam, Ibn ‘Abd, Kabbani, Shaykh Muhammad Hisham, Haddad, Gibril Fouad, (1999), The Belief of the People of Truth, ISCA, ISBN 1-930409-02-8.

Referensi

  1. Abu Zahrah, Muhammad, Imam Syafi’i: Biografi dan Pemikirannya dalam Masalah Akidah, Politik & Fiqih, Penerjamah: Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman, Penyunting: Ahmad Hamid Alatas, Cet.2 (Jakarta: Lentera, 2005).
  2. Al-Qaththan, Syaikh Manna’, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, Penerjemah: H. Aunur Rafiq El-Mazni, Lc., MA., Penyunting: Abduh Zulfidar Akaha, Lc., Cet.1 (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006).
  3. Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Ed.1, Cet.12 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001).
  4. Imam Muslim, Terjemah Hadits Shahih Muslim, Penerjemah: Ahmad Sunarto (Bandung: Penerbit “Husaini” Bandung, 2002).
  5. Al Imam Al Bukhari, Terjemah Hadits Shahih Bukhari, Penerjemah: Umairul Ahbab Baiquni dan Ahmad Sunarto (Bandung: Penerbit “Husaini” Bandung, tanpa tahun)
  6. .

.

IMAM SYAFI’I

Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’. Dia dilahirkan pada tahun 150 Hijrah, dan ada yang mengatakan dia dilahirkan pada hari wafatnya Abu Hanifah. Orang-orang berbeda pendapat mengenai tempat kelahirannya, antara Ghazzah, ‘Asqalan dan Yaman, dan pendapat lemah mengatakan bahwa dia dilahirkan di Mekkah. Dia meninggal dunia di Mesir pada tahun 204 Hijrah.

Ketika kecil dia hijrah bersama ibunya ke kota Mekkah. Di Mekkah dia belajar Al-Qur’an, sehingga hafal Al-Qur’an. Kemudian dia belajar menulis, dan setelah itu pergi ke pedalaman padang pasir, dan menetap dengan suku Hudzail selama 20 tahun, sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, atau tujuh belas tahun sebagaimana yang diceritakannya sendiri di dalam kitab Mu’jam al-Buldan. Maka dia pun memperoleh kefasihan suku Hudzail. Sepanjang waktu tersebut Syafi’i tidak mempunyai perhatian kepada bidang keilmuan dan fikih. Dia baru mempunyai perhatian kepada bidang keilmuan dan fikih pada dekade ketiga dari umurnya. Jika dia tinggal selama 20 tahun di pedalaman padang pasir, maka dia baru mulai belajar fikih pada dekade keempat dari umurnya. Artinya, setelah melewati umur tiga puluh tahun.

Syafi’i berguru kepada guru-guru yang ada di Mekkah, Madinah, Yaman dan Baghdad, dan orang yang pertama menjadi gurunya ialah Muslim bin Khalid al-Makhzumi, yang dikenal dengan sebutan az-Zanji. Dia termasuk orang yang tidak bisa dipercaya ucapannya. Banyak dari kalangan para huffazh yang mendhaifkan dan mengecamnya, seperti Abu dawud, Abi Hatim dan an-Nasa’i.[200]

Kemudian Syafi’i belajar kepada Sa’id bin Salim al-Qaddah. Sa’id bin Salim al-Qaddah telah dituduh sebagai orang murji’ah. Syafi’i juga belajar kepada Sufyan bin Uyaynah, salah seorang murid Imam Ja’far ash-Shadiq as. Dia adalah salah seorang pemilik mazhab yang musnah. Syafi’i juga belajar kepada Malik bin Anas di Madinah, dan juga guru-guru lainnya. Ibnu Hajar menyebutkan Syafi’i telah belajar dari delapan puluh orang guru. Sebuah angka yang berlebihan. Ar-Razi menolak perkataan Ibnu Hajar tersebut. Syafi’i juga telah mengambil ilmu dari Muhammad bin Hasan asy-Syaibani, seorang qadhi yang merupakan salah seorang murid dari Abu Hanifah. Tidak ada tempat bagi kefanatikan di sini, karena Syafi’i sendiri telah mengakui bahwa dirinya telah mengambil ilmu darinya.

Adapun murid-murid Syafi’i sebagiannya orang-orang Irak dan sebagiannya lagi orang-orang Mesir. Mereka menjadi faktor penting di dalam penyebaran mazhabnya. Adapun murid-murid Syafi’i yang berasal dari Irak ialah Khalid al-Yamani al-Kalbi, Abu Tsaur al-Baghdadi, yang terhitung sebagai pemilik mazhab tersendiri dan mempunyai muqallid (pengikut) hingga abad kedua hijrah, dan dia wafat pada tahun 240 Hijrah. Kemudian, Hasan bin Muhammad bin ash-Shabbah az-Za’farani, Hasan bin Ali al-Karabisi, Ahmad bin Abdul Aziz al-Baghdadi, dan Abu Abdurrahman Ahmad bin Muhammad al-Asy’ari. Ahmad bin Muhammad al-Asy’ari diidentikkan dengan Syafi’i, karena dia memperkuat mazhabnya dan membela para pengikutnya, disebabkan kedudukan tinggi yang dimilikinya di mata sultan. Juga teimasuk salah seorang dari murid Syafi’i adalah Ahmad bin Hanbal, meskipun orang-orang Hanbali mengatakan bahwa Syafi’i pernah mengambil hadis dari Ahmad dan belajar kepadanya, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah.

Adapun murid-muridnya di Mesir, mereka amat berperan di dalam penyebaran mazhabnya dan penulisan buku-buku. Yang paling terkenal dari mereka ialah Yusuf bin Ya’qub al-Buwaithi, yang merupakan pengganti Syafi’i di dalam memberikan pelajaran, dan termasuk penyeru terbesar kepada mazhabnya.

Dia mendekati orang-orang asing dan memperkenalkan kepada mereka keutamaan Syafi’i, hingga banyak pengikutnya dan tersebar mazhabnya. Ibnu Abi Laits al-Hanafi merasa hasud kepadanya dan kemudian mengeluarkannya dari Mesir, sehingga akhirnya Yusuf bin Ya’qub al-Buwaithi meninggal dunia di dalam penjara di kota Baghdad.

Di antara murid-murid Yusuf bin Ya’qub al-Buwaithi ialah Ismail bin Yahya al-Mazni dan Abu Ibrahim al-Mishri, yang memiliki ber-bagai tulisan di dalam mazhab Syafi’i yang membantu penyebaran mazhab tersebut, seperti kitab al-Jami’ al-Kabir, al-Jami’ ash-Shaghir, al-Mantsur, dan yang lainnya.

Seseorang yang mempelajari sejarah mazhab Syafi’i akan menemukan bahwa murid-murid dan sahabat-sahabatnyalah yang telah membantunya dan menyebarkan mazhabnya.

Terdapat perbedaan antara madrasah Syafi’i di Irak dengan madrasah Syafi’i di Mesir. Suatu hal yang perlu kita cermati. Sebagaimana diketahui bahwa Syafi’i telah berpaling dari fatwa-fatwa yang dikeluarkannya ketika berada di Irak, yang kemudian dikenal dengan mazhab qadim, yang dipegang oleh murid-muridnya di Irak. Di antara kitab-kitab yang berasal dari mazhab qadim ialah kitab al-Amali dan kitab Majma’ al-Kafi. Ketika pindah ke Mesir dia mengharamkan berpegang kepada mazhab qadim, setelah mazhab itu tersebar dan dipraktekkan oleh masyarakat umum. Apakah Syafi’i menarik diri darinya karena mazhab qadim itu batil?! Atau, apakah ijtihadnya ketika di Baghdad tidak sempurna, dan kemudian menjadi sempuma di Mesir?!

Kemudian, apa yang menjadi jaminan kebenaran mazhabnya yang baru di Mesir?!

Apakah kalau sekiranya umurnya panjang dia pun akan berpaling dari mazhab barunya itu?! Oleh karena itu, Anda menemukan dua pendapat dalam satu masalah di dalam mazhab Syafi’i. Sebagaimana yang terdapat di dalam kitab al-Umm. Ada orang yang menganggap bahwa perbedaan ini sebagai akibat tidak adanya ketetapan hati dari Syafi’i, dan ini merupakan sebuah kekurangan di dalam ijtihad dan ilmu.

Al-Bazzaz menyokong makna ini dengan mengatakan, “Ketika di Irak Syafi’i menulis beberapa kitab, namun para sahabat Muhammad asy-Syaibani mendhaifkan perkataannya dan mempersulitnya, sementara para ahlul hadis tidak memperhatikan perkataannya, dan bahkan menuduhnya sebagai mu’tazilah. Ketika di Irak pasar sudah tertutup baginya, maka Oleh karena itu, dia pun pindah ke Mesir, yang ketika itu belum ada seorang fakih yang dikenal di sana, dan pasar pun berpihak kepadanya.”[201]

Keadaan berubah ketika dia pindah ke Mesir. Karena Syafi’i dikenal sebagai murid Malik dan sekaligus penolong dan pembela mazhabnya. Inilah faktor yang membentangkan jalan kesuksesan Syafi’i di Mesir. Karena watak umum masyarakat Mesir bermazhab Maliki. Di samping itu, kedatangan Syafi’i ke Mesir berdasarkan rekomendasi khalifah saat itu kepada gubernur Mesir, maka Oleh karena itu, Syafi’i memperoleh perhatian yang cukup di Mesir, terutama dari kalangan para pengikut Malik.

Namun itu tidak berlangsung lama sehingga akhirnya Syafi’i menulis kitab-kitab yang menolak Malik dan menentang perkataan-perkataannya. Ar-Rabi’ berkata, “Saya mendengar Syafi’i mengatakan,

‘Saya datang ke Mesir dalam keadaan tidak tahu bahwa Malik berlawanan dengan ucapan-ucapannya kecuali hanya enam belas ucapan. Saya perhatikan, dan kemudian saya mendapati dia mengatakan yang pokok dan meninggalkan cabang atau mengatakan cabang dan meninggalkan pokok.’ Abu Umar berkata, ‘Abdul Aziz bin Abi Salma dan Abdurrahman bin Zaid juga telah berkata tentang Malik, sebagaimana yang disebutkan oleh as-Saji di dalam kitab al-‘llal, mereka menjelek-jelekkan beberapa hal tentang mazhab Malik.’ Hingga Abu Umar berkata, ‘Syafi’i telah berbuat zalim kepada Malik, dan begitu juga sebagian pengikut Abu Hanifah, berkenaan dengan sesuatu dari pendapatnya, karena merasa hasud akan kedudukan keimamahannya.'”[202]

Orang-orang Maliki telah habis kesabarannya terhadap Syafi’i, dan mereka menunggu saat yang tepat hingga akhirnya mereka membunuhnya. Ibnu Hajar mengatakan, mereka memukul Syafi’i dengan kunci besi hingga meninggal dunia.[203] Abi Hayyan menyebutkan peristiwa ini di dalam kasidah pujiannya terhadap Syafi’i,

“Tatkala datang ke Mesir dia menentang berbagai hal

menyakitkan yang ditujukan kepadanya.

Sementara orang-orang menyembunyikan kebencian kepadanya.

Dia datang mengkritik apa yang telah mereka peroleh

dan menghancurkan apa yang telah mereka tegakkan karena memang bangunan mereka lemah.

Maka mereka pun memperdayanya tatkala mereka berduaan

dengannya di tempat yang sepi.

Kecelakaan bagi mereka yang Allah telah lumpuhkan

kedua tangan mereka terhadapnya.

Mereka merobek keningnya dengan kunci besi

hingga pergilah dia tanpa dibentahukan kematiannya.”

Maka Syafi’i pun meninggal dunia sebagai korban dari kefanatikan mazhab pengikut Malik.

Meski pun demikian, Mesir merupakan benih pertama, yang darinya tersebar luas mazhab Syafi’i, sebagai hasil dari upaya dan jerih payah para sahabat dan murid-muridnya. Apabila tidak ada mereka, mungkin nasib yang dialami mazhab Syafi’i tidak berbeda dengan nasib mazhab-mazab lain yang musnah.

Mazhab Syafi’i berhasil menyebar luas di Syam dan mampu mengalahkan mazhab mazhab al-Awza’i, setelah jabatan kehakiman dipegang oleh Muhammad bin Usman ad-Dimasyqi asy-Syafi’i. Dengan gigih dia berusaha menyebarkan mazhab Syafi’i di Syam, dan Oleh karena itu,lah mazhab al-Awza’i menjadi musnah. Kemenangan mazhab Syafi’i menjadi sempurna pada masa Dinasti Ayubiyyah, yang mana para rajanya merupakan para pemeluk mazhab Syafi’i yang setia. Hal ini merupakan faktor yang amat membantu sekali di dalam memperkokoh mazhab Syafi’i. Ketika datang Dinasti Mamalik di Mesir, langkah mereka tidak bergeser dari mazhab Syafi’i. Seluruh raja-raja mereka bermazhab Syafi’i kecuali Saifuddin yang bermazhab Hanafi, namun dia tidak mampu memberikan pengaruh terhadap penyebaran mazhab Syafi’i.

Dengan demikian, nama empat imam mazhab sunni  menjadi harum dan terkenal karena perantaraan raja dan sultan. Jika tidak, maka tentu mazhabnya akan menjadi mazhab yang terlupakan.

Mazhab maliki tersebar karena kedekatan dan kemesraan Imam Malik dengan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur

Sejarah Singkat Imam Malik

Mazhab Maliki (Arab: مالكية) adalah satu dari empat mazhab fiqih atau hukum Islam dalam Sunni. Dianut oleh sekitar 15% umat Muslim, kebanyakan di Afrika Utara dan Afrika Barat. Mazhab ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas atau bernama lengkap Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amirul Ashbani.

Mazhab ini berpegang pada :

  1. Al-Qur’an
  2. Hadits Rasulullah yang dipandang sah
  3. Ijma’ ahlul Madinah. Terkadang menolak hadits yang berlawanan atau yang tak diamalkan ulama Madinah
  4. Qiyas
  5. Istilah

Mazhab ini kebanyakan dianut oleh penduduk Tunisia, Maroko, al-Jazair, Mesir Atas dan beberapa daerah taslim Afrika.

Mazhab ini menjadi dasar hukum Arab Saudi.

 Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta’ (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ”Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.”

Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ”Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.” Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Imam Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 712 M dan wafat tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ilmu yang sangat terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya.

Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi’ bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi’in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma’mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ”Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.”

Dia adalah Abu Abdullah, Malik bin Anas bin Malik, dilahirkan pada tahun 93 Hijrah, menurut sebagian pendapat, dan meninggal dunia pada tahun 179 Hijrah, menurut sebagian pendapat. Masa Malik bersinar dengan cahaya ilmu, dan kota Madinah menjadi kota yang didatangi oleh para penuntut ilmu yang berasal dari berbagai pelosok penjuru negeri Islam. Madrasah Madinah mempunyai kelebihan di dalam berpegang kepada hadis, dan memerangi madrasah ra’yu yang terletak di kota Kufah, di bawah kepemimpinan Abu Hanifah. Inilah salah satu yang menjadi penyebab timbulnya perselisihan dan pertengkaran di antara keduanya, hingga telah keluar dari batas-batas keilmuan dan objektifitas.

Di samping kedua madrasah ini terdapat juga madrasah lain, yaitu madrasah Imam Ja’far ash-Shadiq as. Sebuah madrasah yang dipenuhi oleh para para ulama dan utusan dari berbagai penjuru dunia Islam, yang menanti-nanti kesempatan untuk bisa berjumpa dengan para Imam Ahlul Bait as. Imam Ja’far ash-Shadiq as adalah orang yang paling sedikit mendapat tekanan dari pihak penguasa. Malik telah turut bergabung dengan Madrasah Imam ja’far ash-Shadiq as untuk beberapa waktu, dan Oleh karena itu, Imam Ja’far ash-Shadiq as dianggap guru terbesar Malik. Kemudian Malik berguru kepada beberapa orang guru, seperti Amir bin Abdullah bin Zubair bin al-Awwam, Zaid bin Aslam, Sa’id al-Maqbari, Abu Hazim Shafwan bin Aslam dan yang lainnya. Namun Malik lebih mengutamakan untuk mengambil dari Wahab bin Hurmuz, Nafi’ (bekas budak Ibnu Umar), Ibnu Syihab az-Zuhri, Rabi’ah ar-Ra’yu dan Abu Zanad. Malik mengalami kemajuan, sehingga madrasah ahlul hadis berkembang pesat. Namun, dengan segera politik ikut campur untuk membantu madrasah ra’yu dan memusuhi madrasah ahlul hadis. Oleh karena itu, Malik menghadapi berbagai tekanan dari pemerintah. Dia dilarang untuk berbicara, dan bahkan dia pernah dicambuk dikarenakan fatwa yang dikeluarkannya tidak sejalan dengan keinginan pemerintah. Itu terjadi pada masa kekuasaan Ja’far bin Sulaiman, tahun 146 Hijrah. Dia digunduli, dibentangkan dan dipukul dengan cambuk hingga terlepas tulang bahunya.

Ibrahim bin Jamad berkata, “Saya pernah melihat Malik, apabila dia dibangungkan dari tempat duduknya dia membawa tangan kanannya dengan tangan kirinya atau tangan kirinya dengan tangan kanannya.”

Namun, sangat mengherankan sekali, hanya dalam jangka waktu yang singkat Malik berubah menjadi orang yang sangat diutamakan dan dihormati di dalam pemerintahan, sehingga para gubernur sampai segan dan takut kepadanya. Yang menjadi pertanyaan ialah, apa yang terjadi pada diri Malik sehingga pemerintah menyukainya dan meninggikan kedudukannya sampai ke tingkat ini?

Apakah dahulu pemerintah membencinya karena Malik mempunyai pandangan tertentu, dan sekarang Malik menarik diri dari pandangannya itu?

Atau Malik tetap pada pendapatnya, namun sekarang pemerintah bersikap toleran terhadapnya?

Atau, apakah ada sesuatu yang lain?

Ini merupakan pertanyaan besar yang mengganggu benak orang-orang yang mempelajari sejarah Imam Malik, di mana mereka menyaksikan perubahan hubungan di antara Malik dengan pemerintah. Yaitu dari keadaan tegang dan bermusuhan kepada keadaan di mana al-Manshur dan Malik saling memberikan perhatian dan sanjungan kepada satu sama lain.

Al-Manshur berkata kepada Malik, “Demi Allah, kamu adalah manusia yang paling berilmu. Jika kamu menghendaki, niscaya aku akan tulis perkataanmu tidak ubahnya sebagaimana mushaf-mushaf kitab suci ditulis, dan aku akan kirimkan ke seluruh pelosok negeri, serta aku akan paksa mereka untuk menerimanya.”

Dari sini tampak jelas, bahwa kemajuan mazhab Imam Malik terjadi manakala mendapat rida dari sultan. Oleh karena itu, sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah masalah paling berilmu dan bukan paling berilmu, melainkan masalah Malik, Sultan dan propaganda. Rakyat digiring untuk bertaklid kepada mazhab Malik, baik dengan suka rela maupun terpaksa. Inilah yang dikatakan oleh Rabi’ah ar-Ra’yu —guru Malik dan orang yang lebih berilmu darinya— tatkala dia mengatakan, “Tidakkah kamu tahu, bahwa bantuan sedikit saja dari pemerintah merupakan sebaik-baiknya pembawa ilmu.”[183]

Ketika Malik memperoleh keridaan ini dari Sultan Malik berka-ta, “Saya mendapati al-Manshur sebagai orang yang paling mengetahui Kitab Allah, Rasul-Nya dan peninggalan-peninggalannya yang telah lalu.”

Subhanallah\\ Ilmu apa yang dimiliki oleh al-Manshur, sehingga dia menjadi orang yang paling tahu tentang Kitab Allah SWT dan sunah Rasul-Nya saw?!

Perkataannya itu tidak lebih dari perbuatan menjilat, dan untuk mendekatkan diri kepada raja dan sultan.

Adapun yang menjadi alasan kenapa sebelumnya Malik dikucilkan, sejarah tidak pernah menceritakan kepada kita bahwa itu dikarenakan Malik berani menentang al-Manshur atau mengkritik kebijaksanaannya. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Abdullah bin Marzuq, tatakala dia berjumpa dengan Abu Ja’far al-Manshur dalam ibadah thawaf. Ketika itu manusia menyingkir darinya, namun Abdullah bin Marzuq berkata kepadanya, “Siapa yang menjadikanmu lebih berhak atas Baitullah ini dibandingkan manusia yang lain, sehingga kamu menghalangi dan menyingkirkan mereka dari-Nya.?”

Abu Ja’far al-Manshur melihat ke arah orang yang berkata demikian, dan dia pun mengenalnya. Kemudian Abu Ja’far berkata, “Wahai Abdullah bin Marzuq, siapa yang menjadikanmu berani berkata demikian, dan siapa yang mendatangkanmu ke sini?”

Abdullah bin Marzuq berkata, “Apa yan hendak kamu perbuat? Apakah di tanganmu ada bahaya dan manfaat? Demi Allah, saya tidak takut akan bahayamu dan tidak mengharapkan manfaatmu, sehingga Allah SWT mengizinkan yang demikian itu terjadi padaku.”

Abu Ja’far al-Manshur berkata, “Kamu telah menghalalkan nyawamu sendiri dan telah mencelakakannya.”

Abdullah bin Marzuq berkata, “Ya Allah, jika di tangan Abu Ja’far terdapat bahaya, maka janganlah Engkau tahan bahaya itu sedikit pun kecuali Engkau timpakan kepadaku; dan jika di tangannya terdapat manfaatku, maka putuslah seluruh manfaatnya dariku. Di tangan-Mulah ya Allah, segala sesuatu; dan Engkau adalah pemilik segala sesuatu.”

Maka Abu Ja’far memerintahkan supaya Abdullah bin Marzuq ditangkap, lalu dia di bawa ke Baghdad, dipenjarakan, dan kemudian dilepaskan.[184]

Oleh karena itu, kita mendapati Malik menjauh dari Imam Ja’far ash-Shadiq as, dikarenakan Imam Ja’far ash-Shadiq as tidak setuju dengan pandangan-pandangannya yang berusaha mendekati sultan.

Dalam pandangan saya sendiri, bahwa yang menjadi penyebab utama marahnya penguasa terhadap Malik pada masa-masa permulaan adalah karena penguasa melihat Malik bersahabat dengan Imam Ja’far ash-Shadiq as, dan issu yang beredar pada waktu itu bahwa orang-orang Arab hendak menuntut balas bagi Ahlul Bait, maka Oleh karena itu, kita mendapati pemerintah lebih mendekati mawali (bekas-bekas budak yang telah dibebaskan) dan membantu Abu Hanifah yang ada di Kufah. Ketika masalah ini telah sirna, maka penguasa tidak melihat jalan lain kecuali meninggikan nama Malik dan memunculkannya sebagai pemegang otoritas agama bagi negara, sehingga Malik mem-benarkan penamaan negara pada saat itu dengan nama “negara Islam”. Oleh karena itu, kita mendapati kebijaksanaan para raja dengan tegas menyatakan kemampuan dan kompetensi Malik, yang mana hal itu belum pernah dialamatkan kepada alim-alim sebelumnya. Abu Ja’far al-Manshur berkata kepada Malik, “Jika Anda ragu terhadap petugas Madinah, petugas Mekkah, atau salah seorang dari para petugas Hijaz, yang berkenaan dengan diri Anda atau yang lain, atau yang berkaitan dengan buruknya perlakuan mereka terhadap rakyat, maka laporkanlah hal itu kepadaku, supaya aku berikan kepada mereka apa yang seharusnya mereka terima.”

Dengan begitu maka kedudukan Malik menjadi sedemikian tinggi, dan para gubernur takut kepadanya dikarenakan takut kepada al-Manshur. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh asy-Syafi’i tatkala dia datang ke Mekkah dengan membawa surat dari gubernur Mekkah untuk gubernur Madinah, supaya disampaikan kepada Malik. Maka gubernur Madinah berkata, “Hai pemuda, berjalan kaki dari kota Mekkah ke kota Madinah dengan bertelanjang kaki, itu lebih ringan bagiku dibandingkan aku harus berdiri di depan pintu rumah Malik. Saya tidak melihat kehinaan sehingga saya berdiri di depan pintu Rumah Malik.”[185]

Ketika datang era al-Mahdi, setelah era al-Manshur, kedudukan Malik semakin bertambah tinggi dan dia semakin dekat dengan penguasa. Al-Mahdi amat meninggikan dan menghormatinya serta mengirimkan berbagai hadiah kepadanya. Kedudukan Malik semakin bertambah cemerlang di mata masyarakat tatkala datang era Harun al-Rasyid. Harus ar-Rasyid tetap mempertahankan kedudukan Malik dan amat mengagungkannya, sehingga dengan begitu kewibawaan Malik terpatri pada diri masyarakat.

Demikianlah politik. Dia meninggikan siapa yang ingin ditinggikannya, dan melupakan orang yang ingin dilupakannya. Setelah semua ini, apa lagi yang akan menghalangi mazhab Malik untuk bisa tersebar, sementara dia telah mendapat keridaan dari penguasa?

Allah bagimu, wahai tuanku, Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as.

Mereka mengetahui bahwa kebenaran milikmu dan ada padamu, serta tidak ada yang berhak atas keimamahan selainmu.

Bukankah Malik telah berkata, “Belum pernah mata terlihat oleh melihat, terdengar oleh telinga dan terlintas di dalam hati, ada orang yang lebih utama dari Ja’far ash-Shadiq, baik dari segi keutamaan, keilmuan, ibadah dan kewarakan.”[186]

Sedemikian jelasnya keutamaan beliau, namun beliau dan para Syiahnya tidak pernah menerima apa-apa kecuali tekanan, ancaman, pembunuhan dan pengusiran, sebagaimana yang disaksikan oleh sejarah Syi’ah, mulai dari wafatnya Rasulullah saw hingga terus se-panjang sejarahnya.

Namun saya bertanya-tanya sebagaimana yang ditanyakan oleh penulis kitab al-Imam ash-Shadiq Mu ‘allim al-Insan manakala dia berkata, “Saya tidak bertanya kenapa kaum Muslimin terpecah menjadi Sunah dan Syi’ah. Tidak, saya tidak bertanya tentang hal itu. Namun saya bertanya dengan penuh keheranan, bagaimana Syi’ah dapat tetap kokoh hingga sekarang, meski pun begitu kerasnya sikap ta’assub (fanatik) yang ditujukan kepadanya, yang berwujud dalam bentuk ancaman pemikiran dan fisik, meski pun dengan segala usaha yang dikerahkan pihak lawan untuk menghapus ajaran-ajaran kebenaran dan mencabik-cabik Islam?!”[187]

Bukankah merupakan sebuah kezaliman mendahulukan mazhab-mazhab lain atas mazhab Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as?! Bukan hanya itu, bahkan Syi’ah tidak dikenal hingga sekarang, meski pun di kalangan lapisan masyarakat yang terpelajar.

Saya ingat, suatu hari dosen kami di kampus mengajarkan fikih Maliki. Sekelompok mahasiswa memprotesnya, “Kenapa Anda tidak mengajarkan kami fikih empat mazhab?” Dosen kami itu menjawab, “Saya seorang bermazhab Maliki, dan seluruh penduduk Sudan bermazhab Maliki, maka barangsiapa di antara kamu yang bukan bermazhab Maliki, saya siap mengajarkan mazhabnya secara khusus.” Saya berkata kepadanya, “Saya bukan Maliki, apakah Anda akan mengajarkan mazahab saya?” Dosen kami itu menjawab, “Tentu. Apa mazhab kamu? Apakah kamu bermazhab Syafi’i?”

Saya jawab, “Bukan.”

“Apakah Hanafi?”, tanya dia.

Saya jawab, “Bukan.”

Dia bertanya lagi, “Oh, kalau begitu Hanbali?”

Saya jawab, “Bukan.”

Tampak keheranan tergambar di wajahnya. Dia berkata, “Jadi, siapa yang kamu ikuti?”

Saya menjawab, “Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as.”

Dia bertanya, “Siapa Ja’far itu?”

Saya jawab, “Guru Malik dan Abu Hanifah, dan termasuk dari keturunan Ahlul Bait. Mazhabnya terkenal dengan nama mazhab Ja’fari.”

Dosen kami itu berkata, “Saya belum pernah mendengar nama ini sebelumnya.”

Saya katakan, “Kami ini Syi’ah.”

Dia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari Syi’ah”, dan kemudian dia keluar.

Barangsiapa yang memiliki kemudahan dan propaganda sultan, maka dia akan sampai kepada bintang kartika. Malik sendiri tidak tamak kepada kedudukan ini, karena dia tahu masih banyak orang yang lebih layak darinya untuk menduduki kedudukan ini. Akan tetapi, penguasa menginginkannya menjadi marji’ umum (pemegang otoritas tunggal) di dalam fatwa. Al-Mansur telah memerintahkannya untuk menulis sebuah kitab yang akan dipaksakan kepada masyarakat secara paksa. Malik tidak bersedia, namun al-Mansur berkata kepadanya, “Tulis kitab itu, sejak saat ini tidak ada seorang pun yang lebih pandai dari kamu.”[188] Maka Malik pun menulis kitab al-Muwaththa, dan kemudian para propagandis sultan mengumumkan pada hari ibadah haji, “Sejak sekarang tidak boleh ada yang memberi fatwa selain Malik.”

Tersebarnya Mazhab Maliki

Mazhab Maliki tersebar dengan perantaraan para hakim dan para raja. Di Andalus, raja memaksa rakyatnya untuk mengikuti mazhab Maliki, manakala sampai berita kepadanya bahwa Malik memujinya tatkala ditanya tentang perilaku raja Andalus. Malik mengatakan sesuatu yang menyenangkan raja Andalus, “Kita memohon kepada Allah supaya Dia menghiasi negeri kita dengan rajamu.” Ketika ucapan Malik itu sampai kepada raja, maka raja pun memaksa rakyatnya untuk mengikuti mazhabnya. Raja meninggalkan mazhab al-Awza’i, dan kemudian masyarakat pun berbondong-bondong mengikuti rajanya.

Demikian juga mazhab Maliki tersebar di Afrika dengan perantaraan hakim Sahnun. Al-Muqrizi berkata, “Manakala al-Mu’iz bin Badis memerintah, dia memaksa seluruh rakyat Afrika untuk berpegang kepada mazhab Malik dan meninggalkan mazhab yang lainnya. Maka seluruh penduduk Afrika dan Andalus merujuk kepada mazhabnya, karena mengharapkan apa yang ada pada sultan dan gemar terhadap dunia. Oleh karena jabatan kehakiman dan jabatan mufti yang ada diseluruh kota tidak dapat diduduki kecuali oleh orang yang bermazhab Maliki, maka masyarakat umum mau tidak mau harus merujuk kepada hukum-hukum dan fatwa-fatwa mereka. Sehingga dengan begitu mazhab ini pun menjadi tersebar dan mendapat penerimaan. Namun ini bukan karena kualifikasi yang dimilikinya, melainkan semata-mata karena kehendak penguasa yang memaksa masyarakat untuk menerimanya.”[189]

Demikian juga mazhab Maliki tersebar di Maroko pada saat Ali bin Yusuf bin Tasyifin memerintah di kerajaan Bani Tasyifin. Ali bin Yusuf bin Tasyifin memuliakan para fukaha dan mendekati mereka. Namun dia tidak mendekati kecuali orang yang bermazhab Maliki. Maka orang-orang pun berlomba-lomba di dalam mempelajari mazhab Maliki. Ketika itu buku-buku mazhab Maliki menjadi laris, mereka mengamalkannya, dan meninggalkan yang lainnya. Bahkan, sedikit sekali perhatian orang kepada Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya pada saat itu.

Demikianlah politik mempermainkan agama kaum Muslimin, sehingga dialah sesungguhnya yang berkuasa atas keyakinan dan ibadah mereka. Masyarakat saling mewariskan mazhab-mazhab yang dipaksakan di antara mereka, dan mereka menerimanya dengan tanpa perdebatan atau pembahasan. Padahal yang layak ialah masing-masing generasi bersikap merdeka di dalam mengenal suatu mazhab, dan tidak mengikutinya secara membuta.

Ibnu Hazm berkata, “Ada dua mazhab yang pada awal mulanya tersebar dengan perantaraan raja dan sultan:

Yang pertama, mazhab Abu Hanifah. Karena, pada saat Abu Yusuf menduduki posisi kehakiman dia tidak mengangkat seorang hakim kecuali dari kalangan sahabatnya yang semazhab dengannya.

Yang kedua, mazhab Malik yang ada di negeri kita Andalus. Yahya bin Yahya adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang kuat di sisi raja, dan mendapat pengakuan di dalam jabatan kehakiman. Raja tidak akan mengangkat seorang hakim diseluruh pelosok negeri Andalus kecuali berdasarkan musyawarah dan pilihannya, dan jabatan kehakiman tidak akan diserahkan kecuali kepada para sahabatnya.”[190]

Tikaman Terhadap Malik.

Dalam hal ini kita akan mengabaikan perkataan orang-orang yang fanatik kepadanya, dan begitu juga kita akan meninggalkan keutamaan-keutamaan yang diberikan sultan kepadanya. Karena yang demikian ini tidak bisa menjadi ukuran yang nyata untuk mengenal pribadi Malik. Berikut ini saya kemukakan satu contoh darinya, “Sesungguhnya Qais melihat Rasulullah saw berjalan di sebuah jalan, sementara Abu Bakar berada di belakangnya, lalu Umar di belakang Abu Bakar, dan Malik di belakang Umar, serta Sahnun[191] di belakang Malik.”[192]

Dan beberapa ratus contoh lainnya, yang kesemuanya merupakan hal-hal yang sepele dan keutamaan-keutamaan buatan yang tidak layak untuk didiskusikan.

Di sini, saya mencukupkan diri dengan ucapan-ucapan para ulama dan sebagian orang yang hidup sezaman dengan Malik, yang merupakan pandangan yang indefenden yang tidak melewati batas-batas kritik ilmiah.

Syafi’i berkata, “Singa lebih fakih dari Malik, hanya saja para sahabatnya tidak menguasainya.” Sa’id bin Ayub berkata, “Jika seandainya Singa dan Malik berkumpul, maka Malik akan lebih bisu dari singa, dan singa akan menjual Malik kepada siapa saja yang diinginkannya.”[193]

Ali bin al-Madini bertanya kepada Yahya bin Sa’id, “Pendapat siapakah yang lebih kamu sukai, pendapat Malik atau pendapat Sufyan?”

Yahya bin Sa’id menjawab, “Tentu tidak diragukan pendapat Sufyan yang lebih aku sukai.” Yahya melanjutkan, “Sufyan berada di atas Malik dalam segala hal.”

Yahya bin Mu’in berkata, “Saya mendengar Yahya bin Sa’id berkata, “Sufyan lebih aku sukai dibandingkan Malik dalam segala hal.”[194]

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Dia —yakni Malik— tidak mempunyai hapalan.”

Ibnu Abdul Barr berkata, “Ibnu Dzubaib telah mengatakan sesuatu yang kasar dan keras tentang Malik, yang saya enggan untuk menyebutkannya.”[195]

Ibrahim bin Sa’ad telah berkata tentang Malik sambil mengutuknya. Demikian juga Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, Ibnu Ubay Yahya, Muhammad bin Ishaq al-Waqidi dan Ibnu Abi Zanad telah menjelek-jelekkan beberapa hal dari mazhabnya.

Salmah bin Sulaiman berkata kepada Ibnu Mubaraak, “Kamu pernah menulis sesuatu tentang pendapat Abu Hanifah, namun kamu belum pernah menulis sesuatu tentang pendapat Malik?”

Ibnu Mubarak menjawab, “Saya tidak melihatnya sebagai seorang yang berilmu.”[196]

Ibnu Abdul Barr berkata tentang Malik, “Mereka menjelek-jelekkan beberapa hal dari mazhabnya.” Abdullah bin Idris berkata, “Muhammad bin Ishaq datang kepada kami, lalu kami menyebutkan sesuatu tentang Malik, maka kemudian dia berkata, ‘Kemarikan ilmunya.'” Yahya bin Salih berkata, “Ibnu Aktsam telah berkata kepada saya, ‘Kamu telah melihat Malik dan mendengar darinya, dan kamu juga telah menyertai Muhammad bin Hasan. Lalu, mana yang lebih fakih dari keduanya?’ Saya jawab, ‘Muhammad bin Hasan, pada apa yang dia ambil untuk dirinya, lebih fakih dari Malik.'”[197]

Demikian juga Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Dari Zar’ah, dari Yahya bin Bakir yang berkata, ‘Singa lebih fakih dari Malik, hanya saja Malik mempunyai langkah.”[198]

Ahmad bin Hanbal berkata, “Abu Dzu’aib serupa dengan Sa’id bin Musib. Dia lebih utama dari Malik. Hanya saja Malik amat dibersihkan dan dipuji-puji oleh orang-orangnya.”[199]

Dari semua perkataan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa tidak ada kelebih-utamaan Malik atas ulama yang lain, dan dia tidak memiliki kelebihan yang menjadikannya layak untuk menduduki posisi marji’iyyah (tempat rujukan) di dalam fikih. Namun, politik tidak memandang kepada keahlian, dia mempunyai cara penilaian khusus yang didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan politis dan kepentingan. Seorang fakih yang tidak bertentangan dengan kebijakan-kebijaksannya maka dialah yang wajib diikuti oleh kaum Muslimin, dan di tangannyalah hak otoritas pemberian fatwa.

.

Abu Jafar Abdullah bin Muhammad Al Mansur (712775; Arab: ابو جعفر عبدالله ابن محمد المنصور) merupakan Khalifah kedua Bani Abbasiyah. Ia dilahirkan di al-Humaymah, kampung halaman keluarga Abbasiyah setelah migrasi dari Hejaz pada tahun 687-688. Ayahnya adalah, Muhammad, cicit dari Abbas; ibunya bernama Salamah al-Barbariyah, adalah wanita dari suku Barbar.[1] Ia dibaiat sebagai khalifah karena penobatannya sebagai putera mahkota oleh kakaknya, As-Saffah pada tahun 754, dan berkuasa sampai 775. Pada tahun 762 ia mendirikan ibukota baru dengan istananya Madinat as-Salam, yang kemudian menjadi Baghdad.

al-Mansur tersangkut dengan kerasnya masa pemerintahannya setelah kematian saudaranya al-‘Abbas. Pada 755, ia menyusun pembunuhan Abu Muslim, jenderal yang telah memimpin pasukan al-‘Abbas menang terhadap keluarga Umayyah dalam perang saudara ke-3. Ia berusaha memastikan bahwa keluarga Abbasiyah ialah yang tertinggi dalam urusan negara, dan kedaulatannya atas Khilafah akan tak diragukan lagi.

Ia menyatakan, sebagaimana yang telah ditempuh Khilafah Bani Umayyah, menyelenggarakan otoritas keagamaan dan keduniawian. Secara lebih lanjut mengasingkan Muslim Syi’ah yang telah terjadi, selama masa pemerintahan al-‘Abbas, menginginkan Imam Syi’ah mengangkat khalifah.

Selama masanya, karya sastra dan ilmiah di Dunia Islam mulai muncul dalam kekuatan penuh, didukung toleransi terhadap orang-orang Persia dan kelompok lain. Walau Khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abd al-Malik telah mengambil praktik peradilan Persia, itu tak sampai masa al-Mansur jika sastra dan ilmu pengetahuan Persia sampai mendapat penghargaan yang sebenarnya di Dunia Islam. Munculnya Shu’ubiya di antara sarjana Persia terjadi selama masa pemerintahan al-Mansur sebagai akibat hilangnya sensor atas Persia. Shu’ubiya merupakan gerakan sastra antara orang Persia yang menunjukkan kepercayaan mereka bahwa seni dan budaya Persian lebih tinggi daripada Arab; gerakan, membantu mempercepat munculnya dialog Arab-Persia di abad ke-8.

Barangkali yang lebih penting daripada munculnya ilmu pengetahuan Persia ialah masuknya banyak orang non-Arab ke dalam Islam. Secara aktif Bani Umayyah mencoba mengecilkan jumlah masuknya agar melanjutkan pungutan jizyah, atau pajak terhadap non-Muslim. Keinklusifan Bani Abbasiyah, dan bahwa al-Mansur, memandang ekspansi Islam di antara daerahnya; pada 750, sekitar 8% penduduk Negara Khilafah itu Muslim. Ini menjadi 2 kali lipat 15% dari akhir masa al-Mansur.

Al-Mansur meninggal pada 775 dalam perjalanannya ke Makkah untuk berhaji. Ia dimakamkan entah di mana di sepanjang jalan dalam salah satu ratusan nisan yang telah digali untuk menyembunyikan badannya dari orang-orang Umayyah. Ia digantikan putranya al-Mahdi.

Didahului oleh:
As-Saffah
Khalifah Bani Abbasiyah
(754775)
Digantikan oleh:
Al-Mahdi

Referensi

Dengan demikian, nama empat imam mazhab sunni  menjadi harum dan terkenal karena perantaraan raja dan sultan. Jika tidak, maka tentu mazhabnya akan menjadi mazhab yang terlupakan.

Mazhab Hanafi tersebar karena kedekatan hubungan murid Imam Hanafi yaitu Abu Yusuf dan Syaibani dengan Khalifah Harun Al Rasyid

Mazhab Hanafi ialah salah satu mazhab fiqh dalam Islam Sunni. Mazhab ini didirikan oleh Imam Abu Hanifah yang bernama lengkap Abu Hanifah bin Nu’man bin Tsabit Al-Taimi Al-Kufi, dan terkenal sebagai mazhab yang paling terbuka kepada ide modern. Mazhab ini diamalkan terutama sekali di kalangan orang Islam Sunni Mesir, Turki, anak-benua India, Tiongkok dan sebagian Afrika Barat, walaupun pelajar Islam seluruh dunia belajar dan melihat pendapatnya mengenai amalan Islam. Mazhab Hanafi merupakan mazhab terbesar dengan 30% pengikut.

Metodologi Fiqh Abu Hanifah

Dasar-dasar Abu Hanifah dalam Menetapkan suatu hukum fiqh bisa dilihat dari urutan berikut:

  1. Al-Qur’an
  2. Sunnah, dimana beliau selalu mengambil sunnah yang mutawatir/masyhur. Beliau mengambil sunnah yang diriwayatkan secara ahad hanya bila rawi darinya tsiqah.
  3. Pendapat para Sahabat Nabi (Atsar)
  4. Qiyas
  5. Istihsan
  6. Ijma’ para ulama
  7. Urf masyarakat muslim

 Murid-Murid Abu Hanifah

Abu Hanifah mempunyai murid-murid yang meneruskan mazhab beliau. Di antara murid-murid tersebut adalah:

  1. Abu Yusuf (Ya’kub bin Ibrahim Al-Anshari)
  2. Muhammad bin Al-Hasan As-Shaybani
  3. Zufar bin Hudhayl bin Qays Al-Kufi
  4. Al-Hasan bin Ziyad Al-Lu’lu’i Al-Kufi

Begitu pun fuqaha’-fuqaha’ (Ulama ahli Fiqh) yang mengikuti mazhab Imam Hanafi. Di antara mereka adalah:

  1. Yahya bin Akhtam bin Muhammad bin Qatn At-Tamimi Al-Marwazi
  2. Hilal bin Yahya bin Muslim Al-Basri
  3. Abu Abdullah Muhammad bin Shuja’ Al-Tsalji
  4. Ahmad bin Al-Hasan Abu Sa’id Al-Barda’i
  5. Muhammad bin Musa bin Muhammad Abu Bakr Al-Khawarizmi
  6. ‘Ala’ Ad-Din Muhammad bin Ahmad bin Abi Ahmad As-Samarqandi
  7. ‘Ala’ Ad-Din Abu Bakr bin Mas’ud bin Ahmad Al-Kasani
  8. Muhammad Amin bin Umar bin Abdul Aziz Ad-Dimasyqi (Ibn Abidin)

.

Harun Ar-Rasyid

Harun ar-Rasyid
Khalifah Baghdad
Persian miniature depicting Hārūn ar-Rashīd.
Memerintah 14 September 78624 March 809
15 Rabi’ al-awwal 170AH3 Jumada al-thani 193AH
Lahir 17 Maret 763
Rayy
Meninggal 24 Maret 809
Pendahulu Abu Abdullah Musa bin Mahdi al-Hadi
Pengganti Muhammad bin Harun al-Amin
Dinasti Bani Abbasiyah
Ayah Muhammad bin Mansur al-Mahdi
Ibu Al-Khayzuran

Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 dan wafat pada tanggal 24 Maret 809, di Thus, Khurasan.

Harun Ar-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khalifah yang ketiga dan kakaknya, Musa Al-Hadi adalah kalifah yang keempat.Ibunya Jurasyiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman.

Meski berasal dari dinasti Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmaki dari Persia (Iran). Di masa mudanya, Harun banyak belajar dari Yahya ibn Khalid Al-Barmak.

Era pemerintahan Harun, yang dilanjutkan oleh Ma’mun Ar-Rasyid, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam), di mana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.

Di masa pemerintahannya beliau :

  • Mewujudkan keamanan, kedamaian serta kesejahteraan rakyat.
  • Membangun kota Baghdad yang terletak diantara sungai eufrat dan tigris dengan bangunan-bangunan megah.
  • Membangun tempat-tempat peribadatan.
  • Membangun sarana pendidikan, kesenian, kesehatan, dan perdagangan.
  • Mendirikan Baitul Hikmah, sebagai lembaga penerjemah yang berfungsi sebagai perguruan tinggi, perpustakaan, dan penelitian.
  • Membangun majelis Al-Muzakarah, yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, mesjid-mesjid, dan istana.

Hubungan dengan penguasa :

Mazhab Hanafi tersebar karena kedekatan hubungan murid Imam Hanafi yaitu Abu Yusuf dan Syaibani dengan Khalifah Harun Al Rasyid

Dengan demikian, nama empat imam mazhab sunni  menjadi harum dan terkenal karena perantaraan raja dan sultan. Jika tidak, maka tentu mazhabnya akan menjadi mazhab yang terlupakan.

Pangeran Terkaya di Saudi memperkosa Model Spanyol

pangeran-alwaleed-bin-talal-alsaudPangeran Al-Waleed bin Talal Al-Saud … itu cewek yg pake hijab openkap di belakang si donjuan ini siapa ya :p … :lol: Rupanya Fatwa ulama Saudi tidak berlaku umum antara rakyatnya dan keluarga Al-Saud!

Kasus tudingan perkosaan kembali menampar keluarga kerajaan Arab Saudi. Pangeran Al Waleed bin Talal, pemilik Kingdom Holding Company dituduh memperkosa seorang model di atas kapal mewahnya di Pulau Ibiza, Spanyol.

Tuduhan perkosaan ini sebenarnya perkara lama. Peristiwanya sempat heboh pada Agustus 2008. Kasusnya pun masuk ke pengadilan tapi berhenti di tengah jalan. Namun baru-baru ini, hakim pengadilan Spanyol berniat membuka kembali kasus ini dan memanggil Pangeran Al Waleed  untuk bersaksi.

Terhadap tudingan itu, kubu Al Waleed langsung membantah. Juru bicara Al Waleed, Heba Fatani, mengatakan, “Tuduhan itu tak beralasan. Tidak pernah terjadi. Pangeran Al Waleed saat itu (Agustus 2008) tidak berada di Ibiza. Malahan, dia tak pernah ke Ibiza selama sepuluh tahun terakhir ini.”

Ia menambahkan, keterangan pelabuhan dan data satelit kapal Al Waleed, Kingdom 5KR pun memperlihatkan posisinya tak berada di lepas pantai Spanyol maupun Ibiza. Ataupun Pangeran menyewa sebuah perahu mewah di sana.

Tudingan ini muncul kembali setelah berita New York Times yang mengatakan seorang hakim Spanyol berniat membuka kembali kasus lama tersebut. Kasusnya sudah ditutup Juli tahun lalu. Hakim di Ibiza, saat itu, mengatakan kasus dugaan perkosaan ini kurang bukti. Tapi dalam bandingnya di Pengadilan Provinsi Kepulauan Balearic, ada keputusan untuk investigasi ulang kasus ini. Termasuk mendatangkan Al Waleed ke depan meja hijau.

Siapakah Pangeran Al Waleed? Dia sosok yang terkenal di dunia bisnis. Dia juga masuk jajaran orang terkaya di Arab Saudi. Dia satu-satunya individu yang punya saham terbesar di Citigroup. Selain itu dia juga punya saham terbesar kedua di News Corp milik Rupert Murdoch. Majalah bergengsi Forbes menaksir kekayaan Al Waleed 2011 mencapai 19,4 miliar dolar AS. (Sumber)

Rahasia Pesta Miras dan Narkoba Para Pangeran Saud Di Saudi Arabia!

Para diplomat AS, dalam kawat diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks, menggambarkan dunia seks, narkoba dan rock’n’roll di balik kasalehan formal kerajaan Arab Saudi.

Para pejabat Konsulat AS di Jeddah menggambarkan sebuah pesta Halloween bawah tanah, yang digelar tahun lalu oleh seorang anggota keluarga kerajaan, yang menabrak semua tabu di negara Islam itu. Minuman keras dan para pelacur hadir dalam jumlah berlimpah, demikian menurut bocoran itu, di balik pintu gerbang vila yang dijaga ketat.

Pesta tersebut digelar oleh seorang pangeran kaya dari keluarga besar Al-Thunayan. Para diplomat itu mengatakan identitasnya harus dirahasiakan.

“Alkohol, meskipun sangat dilarang oleh hukum dan pabean Saudi, sangat berlimpah di bar pesta itu dengan koleksi yang lengkap. Bartender Filipina yang disewa menyajikan koktail sadiqi, sebuah minuman keras buatan lokal,” kata kawat itu sebagaimana dilasir The Guardian. “Juga diketahui dari mulut ke mulut bahwa sejumlah tamu (pada pesta itu) pada kenyataan adalah ‘gadis panggilan’, sesuatu yang tidak biasa untuk pesta semacam itu.

Kiriman informasi dari para diplomat AS itu, ditandatangani oleh konsul AS di Jeddah, Martin Quinn, yang menambahkan, “Meski tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut, kokain dan hashishsh (ganja) digunakan secara umum dalam lingkungan sosial semacam itu.”

Pesta bawah tanah sedang “berkembang dan berdenyut” di Arab Saudi berkat perlindungan dari kerajaan Saudi, kata kawat itu. Namun pesta semacam itu hanya tersedia di balik pintu tertutup dan untuk orang yang sangat kaya. Terdapat sedikitnya 10.000 pangeran di kerajaan itu. Beberapa masih merupakan keturunan langsung Raja Abdul Aziz, sementara yang lain berasal dari cabang keluarga yang tidak langsung.

Para diplomat yang hadir dalam pesta itu melaporkan, lebih dari 150 pria dan perempuan Saudi, sebagian besar berusia 20-an dan 30-an tahun, hadir dalam pesta tersebut. Perlindungan dari kerajaan berarti kecemasan akan diserga polisi agama menjadi tidak mungkin. Orang-orang yang masuk dikontrol melalui daftar tamu yang ketat. “Adegannya mirip sebuah klub malam di manapun di luar kerajaan itu: banyak alkohol, pasangan muda yang menari-nari, seorang DJ di turntable dan semua orang berdandan.”

Bocoran itu mengatakan, rak di bar tempat pesta itu menampilkan jenis-jenis minuman keras terkenal.

Para diplomat itu juga mencoba menjelaskan mengapa sang tuan rumah  begitu lengket dengan pengawal Nigeria, beberapa di antaranya berjaga-jaga di pintu. “Sebagian besar pasukan keamanan sang pangeran adalah laki-laki muda Nigeria. Merupakan praktek yang umum di kalangan para pangeran Saudi untuk tumbuh bersama para pengawal yang disewa dari Nigeria atau negara-negara Afrika lainnya yang berusia muda, (seusia dengan para pangeran itu) dan akan tetap bersama dengan pangeran tersebut hingga dewasa. Waktu bersama yang lama menciptakan ikatan kesetiaan yang intens”

Seorang pemuda Saudi mengatakan kepada diplomat itu bahwa pesta  besar merupakan tren baru. Hingga beberapa tahun lalu, katanya, kegiatan akhir pekan hanya berupa “kencan” dalam kelompok-kelompok kecil yang bertemu di dalam rumah orang kaya. Menurut bocaran itu, beberapa rumah mewah di Jeddah memiliki basement bar, diskotik dan klub. (Sumber)

Membantah Hujjah Salafy : Hadis Pembakaran Kaum Zindiq Dalam Sunan Tirmidzi

Membantah Hujjah Salafy : Hadis Pembakaran Kaum Zindiq Dalam Sunan Tirmidzi

Mungkin sudah berkali-kali kami menulis bantahan untuk tema ini, silakan pembaca lihat di daftar artikel beberapa tulisan kami yang membahas soal hadis pembakaran kaum zindiq. Tulisan kali ini khusus membahas hadis Ikrimah dari Ibnu Abbas dalam Sunan Tirmidzi yang dijadikan hujjah oleh Salafy nashibi

حدثنا أحمد بن عبدة الضبي البصري حدثنا عبد الوهاب الثقفي حدثنا أيوب عن عكرمة أن عليا حرق قوما ارتدوا عن الإسلام فبلغ ذلك ابن عباس فقال لو كنت أنا لقتلتهم لقول رسول الله صلى الله عليه و سلم من بدل دينه فاقتلوه ولم أكن لأحرقهم لقول رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تعذبوا بعذاب الله فبلغ ذلك عليا فقال صدق ابن عباس

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdah Adh Dhabiiy Al Bashri yang menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahaab Ats Tsaqafiiy yang menceritakan kepada kami Ayub dari Ikrimah bahwa Ali membakar kaum yang murtad dari islam maka sampailah itu kepada Ibnu Abbas. Ia berkata “Jika itu adalah aku maka aku akan membunuh mereka sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “barang siapa yang meninggalkan agamanya maka bunuhlah ia” dan aku tidak akan membakar mereka sebagaimana perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “janganlah menyiksa dengan siksaan Allah SWT” maka sampailah hal itu kepada Ali dan ia berkata “benarlah Ibnu Abbas” [Sunan Tirmidzi 4/59 no 1458]

Sebelumnya kami katakan bahwa perkataan Imam Ali dalam riwayat Ikrimah ini adalah dhaif karena Ikrimah tidak bertemu Imam Ali dan riwayat Ikrimah dari Imam Ali adalah mursal sebagaimana yang dikatakan Abu Zur’ah [Jami’ At Tahshil Fi Ahkam Al Maraasil Abu Sa’id Al Alaaiy no 532]

Aneh bin ajaib salafy nashibi diikuti para Troll pengikut mereka membantah hujjah kami dengan bantahan yang tidak nyambung. Bantahan yang menunjukkan betapa lemahnya akal mereka dalam berhujjah. Mereka mengutip riwayat Ibnu Abi Syaibah untuk membatalkan hujjah kami “riwayat Ikrimah dari Ali mursal”

حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنْ أَيُّوبَ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ؛ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ عَلِيًّا أَخَذَ زَنَادِقَةً فَأَحْرَقَهُمْ ، قَالَ : فَقَالَ : أَمَّا أَنَا فَلَوْ كُنْتُ لَمْ أُعَذِّبْهُمْ بِعَذَابِ اللهِ ، وَلَوْ كُنْتُ أَنَا لَقَتَلْتهمْ ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Ayub dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia mengabarkan kepadanya bahwa Ali menangkap kaum zindiq kemudian membakar mereka. [ikrimah] berkata maka [Ibnu Abbas] berkata seandainya itu aku maka aku tidak akan mengazab dengan azab Allah, seandainya itu aku maka aku akan membunuh mereka seperti yang dikatakan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] “barang siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah ia” [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 10/143 no 29614]

Lihatlah wahai pembaca budiman, hujjah atau bantahan mereka ini tidak nyambung dengan apa yang kami katakan. Pada lafaz mana dari riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas yang membantah hujjah “riwayat Ikrimah dari Ali mursal”. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abbas menyampaikan Ali membakar kaum zindiq kepada Ikrimah tetapi tidak ada Ibnu Abbas menyampaikan perkataan Imam Ali “benarlah Ibnu Abbas”. Berulang kali kami katakan salafy nashibi dengan akal mereka yang terbatas tidak memahami illat yang kami sebutkan. Mari kita analisis pelan-pelan matan riwayat Tirmidzi di atas agar teman kita yang salafy itu bisa memahami illat [cacat] yang kami maksud baru kita persilakan mereka membuat bantahan.

عن عكرمة أن عليا حرق قوما ارتدوا عن الإسلام فبلغ ذلك ابن عباس

Dari Ikrimah bahwa Ali membakar kaum yang murtad dari islam maka sampailah itu kepada Ibnu Abbas

Ini sudah jelas perkataan Ikrimah, kami katakan sebelumnya Ikrimah tidak menyaksikan sendiri kisah pembakaran tersebut, ada yang menyampaikan kabar tersebut kepadanya. Dengan melihat riwayat Ibnu Abi Syaibah terlihat Ibnu Abbas yang mengabarkan hal ini kepada Ikrimah. Tetapi hal ini tidak mengubah apapun karena Ibnu Abbas juga tidak menyaksikan sendiri kabar tersebut, itu adalah kabar yang sampai kepadanya. Lafaz riwayat di atas berbunyi “maka sampailah hal itu kepada Ibnu Abbas” artinya Ibnu Abbas hanya mendengar kabar yang sampai kepadanya

Kalau Ibnu Abbas menyaksikan sendiri maka apa yang mencegahnya untuk menyampaikan hadis tersebut kepada Imam Ali. Kalau Ibnu Abbas mendiamkannya maka ia pun juga terjatuh dalam kesalahan [menurut salafy nashibi itu]. Kalau sudah disampaikan kepada Imam Ali lantas mengapa Imam Ali tetap membakar mereka. Apa Imam Ali sengaja menolak hadis yang disampaikan Ibnu Abbas. Sudah jelas Ibnu Abbas tidak menyaksikan peristiwa tersebut.

فقال لو كنت أنا لقتلتهم لقول رسول الله صلى الله عليه و سلم من بدل دينه فاقتلوه ولم أكن لأحرقهم لقول رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تعذبوا بعذاب الله

Ia [Ibnu Abbas] berkata “Jika itu adalah aku maka aku akan membunuh mereka sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “barang siapa yang meninggalkan agamanya maka bunuhlah ia” dan aku tidak akan membakar mereka sebagaimana perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “janganlah menyiksa dengan siksaan Allah SWT”

Lafaz ini adalah perkataan Ibnu Abbas yang didengar Ikrimah atau disampaikan kepada Ikrimah. Kami tidak pernah mendhaifkan bagian ini, sebelumnya kami katakan lafaz ini shahih sesuai standar umum ilmu hadis. Ini adalah riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas

فبلغ ذلك عليا فقال صدق ابن عباس

Maka sampailah hal itu kepada Ali dan ia berkata “benarlah Ibnu Abbas”

Lafaz inilah yang kami katakan “dhaif”. Kita bertanya pada salafy nashibi itu, perkataan siapakah ini atau milik siapakah lafaz ini. Apakah ini perkataan Ikrimah atau ini perkataan Ibnu Abbas?. Ini adalah perkataan Ikrimah bukan perkataan Ibnu Abbas dan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah yang dikutip nashibi itu tidak terdapat lafaz ini. Jadi tidak ada gunanya riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam menjelaskan lafaz ini. Dalam salah satu riwayat Ahmad disebutkan dengan lafaz berikut

فبلغ عليا ما قال بن عباس فقال ويح بن أم بن عباس

Maka sampailah kepada Ali apa yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, dan ia berkata “waiha putra Ibu Ibnu Abbas” [Musnad Ahmad 1/282 no 2552]

Lafaz “sampai kepada Ali apa yang dikatakan Ibnu Abbas” menunjukkan bahwa Ikrimah yang mengatakan hal ini. Ikrimah membawakan riwayat bahwa perkataan Ibnu Abbas itu sampai kepada Imam Ali dan Imam Ali berkata “benar Ibnu Abbas” [dalam riwayat Tirmidzi]. Jadi sekali lagi wahai nashibi, Lafaz ini adalah riwayat Ikrimah dari Imam Ali bukannya riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Imam Ali. Abu Zur’ah berkata “riwayat Ikrimah dari Ali adalah mursal” [Jami’ At Tahshil Fi Ahkam Al Maraasil Abu Sa’id Al Alaaiy no 532]. Jadi Lafaz perkataan Imam Ali “benarlah Ibnu Abbas” adalah lafaz yang dhaif.

Jadi kalau salafy ingin membantah hujjah kami, maka mereka harus menunjukkan bahwa lafaz perkataan Imam Ali itu didengar oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas. Dan maaf tidak ada riwayat yang menyebutkan hal yang demikian. Riwayat Ibnu Abi Syaibah yang mereka kutip dimana Ibnu Abbas menyampaikan kepada ikrimah dengan sighat langsung justru tidak menyebutkan lafaz perkataan Imam Ali. Dari semua riwayat Ikrimah yang kami teliti menunjukkan kalau lafaz perkataan Imam Ali itu berasal dari Ikrimah bukan dari Ibnu Abbas. Ingat wahai salafy, yang kami maksud adalah lafaz perkataan Imam Ali.

.

.

Mengenai riwayat pembakaran kaum zindiq oleh Imam Ali maka kami sudah membahasnya secara tuntas dalam dua tulisan dan silakan merujuk kesana [lihat di daftar artikel]. Kesimpulan kami sampai saat ini adalah Imam Ali tidak menyiksa dengan azab Allah karena Beliau membunuh kaum zindiq itu terlebih dahulu baru kemudian membakarnya.

Kami sebelumnya juga pernah membahas secara detail soal lafaz “benarlah Ibnu Abbas” karena lafaz ini hanya ada dalam riwayat Tirmidzi sedangkan dalam riwayat lain [riwayat jama’ah dari Ayub] lafaz yang ada adalah “waiha Ibnu Abbas”. Dan lafaz “waiha” kami artikan sebagai penolakan Imam Ali terhadap pengingkaran Ibnu Abbas. Kemudian kami menemukan lafaz lain yang menguatkan hujjah kami

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْغَنِيِّ بْنُ أَبِي عَقِيلٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنْ أَيُّوبَ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، قَالَ : ذُكِرَ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ قَوْمٌ أَحْرَقَهُمْ عَلِيٌّ فَقَالَ لَوْ كُنْت لَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ }  وَلَمْ أَكُنْ لِأُحَرِّقَهُمْ بِالنَّارِ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { لَا يُعَذِّبْ بِعَذَابِ اللَّهِ أَحَدٌ } فَبَلَغَ ذَلِكَ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَكَأَنَّهُ لَمْ يَشْتَهِهِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Ghaniy bin Abi ‘Aqil yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Ayub dari Ikrimah yang berkata disebutkan disisi Ibnu Abbas kaum yang dibakar oleh Ali, maka Ibnu Abbas berkata “seandainya itu aku maka aku akan membunuh mereka seperti yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ‘barang siapa mengganti agamanya maka bunuhlah ia” dan aku tidak akan membakar mereka dengan api seperti yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “jangan mengazab dengan azab Allah” maka sampailah hal itu kepada Ali radiallahu ‘anhu maka seakan-akan ia tidak menyukainya [Musykil Al Atsar Ath Thahawiy 4/198-199]

Riwayat Ath Thahawiy sama sanadnya dengan sanad riwayat Ibnu Abi Syaibah yang dijadikan hujjah oleh salafy yaitu dari Ibnu Uyainah dari Ayub dari Ikrimah. ‘Abdul Ghaniy bin Abi ‘Aqiil adalah ‘Abdul Ghaniy bin Rifa’ah bin Abdul Malik yang dikenal dengan Abu Ja’far bin Abi Aqiil Al Mishriy ia dinyatakan faqih dan tsiqat oleh Ibnu Yunus [At Tahdzib juz 6 no 701] dan Ibnu Hajar berkata “tsiqat faqih” [At Taqrib 1/609]

Riwayat ini menjadi penjelas lafaz “waiha Ibnu Abbas” yang berarti ketidaksukaan atau pengingkaran Imam Ali terhadap Ibnu Abbas. Sekilas memang terlihat bertentangan dengan lafaz “benarlah Ibnu Abbas” tetapi telah kami berikan alternatif pemahaman yang menggabungkan semua lafaz tersebut.

Imam Ali membenarkan hadis-hadis yang disampaikan Ibnu Abbas yaitu hadis “jangan mengazab dengan azab Allah” dan hadis “siapa mengganti agamanya maka bunuhlah ia” inilah maksud lafaz “benarlah Ibnu Abbas”. Artinya Imam Ali mengetahui kedua hadis tersebut tetapi dalam perkara ini Ibnu Abbas keliru menjadikan hadis itu untuk menyalahkan Imam Ali, Imam Ali tidaklah menyiksa kaum zindiq itu dengan api tetapi Imam Ali membunuh mereka terlebih dahulu [sesuai dengan hadis Nabi] kemudian baru membakar jasad mereka. Tentu saja membakar jasad mereka tidak termasuk “mengazab atau menyiksa dengan api”. Bagaimana dikatakan “menyiksa” atau “mengazab” kalau orangnya sudah mati. Inilah maksud lafaz ketidaksukaan dan pengingkaran Imam Ali terhadap Ibnu Abbas.

Walaupun begitu terlepas dari apapun lafaz perkataan Imam Ali. Lafaz itu hanya diriwayatkan dari perkataan Ikrimah dan seperti yang telah kami bahas berulang-ulang riwayat Ikrimah dari Ali adalah dhaif karena mursal. Dan kepada salafy nashibi kami doakan semoga kalian bisa memahami apa yang kami sampaikan.

.

.

Catatan Bagi Kaum Nashibi

Mengapa Imam Ali membakar jasad mereka?menurut kami itu tidak lain adalah petunjuk dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagaimana yang tampak dalam riwayat Suwaid ketika membakar jasad mereka, Imam Ali berkata “benarlah Allah dan Rasul-Nya”. Perkataan ini mengisyaratkan bahwa Imam Ali telah mendapat petunjuk dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan munculnya kaum ini dan apa yang akan dilakukan terhadap mereka.

Kalau nashibi tetap saja mencela Imam Ali dalam perkara ini maka itu urusannya sendiri. Telah kami tunjukkan bahwa Imam Ali berada dalam kebenaran. Sudah jadi tabiat kaum nashibi untuk mencari celah mencela Ahlul Bait. Ia katakan perbuatan Imam Ali bertentangan dengan fitrah manusia. Memangnya wahai nashibi apa anda mau mengatakan Imam Ali itu tidak memiliki fitrah sebagai manusia?. Dimana akal sehat anda, uups maaf kami bertanya pada orang yang salah bukankah sejak dulu penganut agama nashibi dipenuhi kebencian pada ahlul bait yang menutupi akal sehatnya. Ada baiknya ia memperhatikan riwayat berikut

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَاقُوا النَّعَمَ فَجَاءَ الْخَبَرُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فَبَعَثَ فِي آثَارِهِمْ فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ جِيءَ بِهِمْ فَأَمَرَ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسُمِرَتْ أَعْيُنُهُمْ وَأُلْقُوا فِي الْحَرَّةِ يَسْتَسْقُونَ فَلَا يُسْقَوْنَ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ فَهَؤُلَاءِ سَرَقُوا وَقَتَلُوا وَكَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَحَارَبُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayuub dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik yang berkata “sekelompok orang dari ‘Ukl atau Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan udara Madinah hingga mereka sakit. Beliau memerintahkan untuk mendatangi unta dan meminum air seni dan susunya. Maka merekapun berangkat menuju kandang unta, ketika mereka sembuh mereka membunuh pengembala unta Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan mengambil unta-untanya. Kemudian sampai berita itu kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam di waktu siang]. Maka Beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi utusan Beliau datang membawa mereka. Beliau memerintahkan agar mereka dihukum, tangan dan kaki dipotong dan mata mereka dicungkil lalu mereka dibuang ke pasir yang panas. Mereka minta minum namun tidak diberi. Abu Qilabah berkata “mereka telah mencuri, membunuh, kafir setelah beriman dan memerangi Allah SWT dan Rasul-Nya [Shahih Bukhari no 233]

Hadis ini termasuk hadis yang pernah dijadikan hujjah oleh nashibi itu. Dan tidak ada suara dari sisinya yang mengatakan tindakan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bertentangan dengan fitrah manusia. Kalau ia mau mengatakan itu adalah kekhususan bagi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan berlaku untuk saat itu saja dan tidak untuk selanjutnya maka apa yang mencegah dirinya untuk mengatakan hal yang sama terhadap perbuatan Imam Ali. Tidak susah untuk memahami bahwa tindakan Imam Ali itu berasal dari petunjuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena kaum zindiq yang dimaksud telah menipu kaum muslimin dan memakan harta kaum muslimin sambil diam-diam tetap menyembah berhala. Hukuman dibunuh kemudian jasad mereka dibakar adalah hukuman khusus bagi mereka yang dilakukan Imam Ali atas petunjuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Nashibi itu juga mengatakan jika mau menjamak riwayat yang menyebutkan “membakar” dan riwayat yang menyebutkan “membunuh lalu membakar” maka berarti kejadian tersebut terjadi berulang-ulang. Barusan nashibi ini menganggap perbuatan Imam Ali itu bertentangan dengan fitrah manusia dan dengan perkataan ini, ia mau mengatakan kalau Imam Ali berulang-ulang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan fitrah manusia. Betapa rendahnya pandangan nashibi terhadap ahlul bait. Penjamakan yang benar adalah Imam Ali membunuh kaum zindiq itu terlebih dahulu baru kemudian membakarnya.

Ada lagi ocehan salafy yang aneh bin ajaib bahwa yang dibakar oleh Imam Ali adalah kaum syiah. Ini lucu sekali, bahkan dalam berbagai riwayat shahih [menurutnya] yang ia kutip jelas bahwa orang yang dimaksud adalah kaum zindiq bahkan ada riwayat yang menyatakan penyembah berhala. Syiah mana yang menyembah berhala?. Sudah jelas bagian ini hanya kedustaan yang lahir dari kebenciannya terhadap Syiah. Kalau tidak mau dikatakan dusta maka mana hujjah perkataannya. Ia menuduh orang lain Syiah kemudian menisbatkan pada Syiah hal-hal dusta agar dengan itu ia leluasa mencela orang yang ia tuduh Syiah.

Kemudian ia berdalih dengan kitab-kitab sejarah, setelah terpojok sekarang ia mengais-ngais riwayat dhaif dalam sejarah. Kami tidak keberatan asalkan ia bersikap konsisten. Kalau dari dulu nashibi itu mau berpegang pada riwayat sejarah maka sebelum Imam Ali sudah ada orang yang membakar manusia yaitu khalifah Abu Bakar radiallahu ‘anhu dalam kasus Fuja’ah. Apa ia mau mengakui hal ini, pasti akan muncul seribu satu dalih untuk menolak.  Kalau dari dulu ia mengandalkan kitab-kitab sejarah mungkin tidak ada lagi doktrin salafy yang bisa dianut. Doktrin keadilan sahabat tidak akan bisa berdiri di hadapan riwayat-riwayat sirah [sejarah], tidak jarang terkait dengan peristiwa sahabat banyak riwayat sejarah yang ditolak dengan alasan dhaif sanadnya. Kalau untuk menyudutkan syiah maka riwayat Saif bin Umar tentang Abdullah bin Saba’ [dalam kitab sirah] jadi shahih tetapi jika riwayat Saif menceritakan keburukan sahabat maka riwayatnya jadi dhaif, sungguh inkonsistensi. Silakan wahai anda yang tidak mau dikatakan dusta tunjukkan riwayat shahih kalau yang dibakar Imam Ali itu adalah kaum Syiah. Dan jangan pura-pura tidak paham apa artinya “riwayat shahih”. Salam Damai

Studi Kritis Hadis Larangan Menyiksa Dengan Azab Allah SWT : Dilema Salafy Nashibi

Studi Kritis Hadis Larangan Menyiksa Dengan Azab Allah SWT : Dilema Salafy Nashibi

Salafy nashibi menjadikan hadis larangan menyiksa dengan azab Allah SWT untuk merendahkan Imam Ali. Mereka dengan senang hati menyalahkan Imam Ali dan mengatakan perbuatan Imam Ali itu bertentangan dengan fitrah manusia. Kami pernah membantah hal ini dengan menyatakan Imam Ali tidaklah menyiksa kaum tersebut dengan api tetapi membunuh mereka terlebih dahulu baru kemudian membakar jasad mereka. Perbuatan Imam Ali ini jelas tidak masuk dalam kategori “menyiksa dengan azab Allah”.

Nashibi yang lemah akalnya tetap saja menyatakan bahwa hal itu tidak ada bedanya dan ia bersikeras perbuatan Imam Ali menyalahi fitrah manusia. Tulisan ini kami buat untuk menunjukkan kelemahan akal nashibi dalam berhujjah. Jika perbuatan “membunuh baru kemudian membakar jasad” termasuk dalam “menyiksa dengan azab Allah” maka nashibi akan menghadapi konsekuensi yang kami yakin mereka sendiri tidak akan menerimanya. Silakan ikuti pembahasan ini dengan hati-hati.

Hadis larangan menyiksa dengan azab Allah SWT atau dengan api ternyata bersifat umum, berlaku untuk semua jenis makhluk bahkan binatang sekalipun. Hal ini nampak dalam hadis shahih berikut

حدثنا أبو صالح محبوب بن موسى أخبرنا أبو إسحاق الفزاري عن أبي إسحاق الشيباني عن ابن سعد قال أبو داود وهو الحسن بن سعد عن عبد الرحمن بن عبد الله عن أبيه قال كنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم في سفر فانطلق لحاجته فرأينا حمرة ( طائر صغير ) معها فرخان فأخذنا فرخيها فجاءت الحمرة فجعلت تعرش فجاء النبي صلى الله عليه و سلم فقال ” من فجع هذه بولدها ؟ ردوا إليها ولدها ” ورأى قرية نمل قد حرقناها فقال ” من حرق هذه ؟ ” قلنا نحن قال ” إنه لا ينبغي أن يعذب بالنار إلا رب النار “

Telah menceritakan kepada kami Abu Shalih Mahbuub bin Muusa yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaq Al Fazaari dari Abi Ishaq Asy Syaibani dari Ibnu Sa’d, Abu Dawud berkata Ia adalah Hasan bin Sa’d dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah dari ayahnya yang berkata kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam perjalanan, kemudian beliau pergi menunaikan hajatnya. Kami melihat hummarah [burung kecil] bersama kedua anaknya. Kami menangkap kedua anak burung itu maka hummarah [burung kecil] tersebut membentangkan sayapnya. Kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang dan berkata “siapa yang mengganggunya dengan menangkap anak-anaknya? Kembalikanlah anak-anaknya kepadanya. Kemudian Beliau melihat sarang semut yang kami bakar dan berkata “siapa yang telah membakarnya?”. Kami berkata “kami”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Rabb yang menciptakan api” [Shahih Sunan Abu Dawud 2/789 no 5268, Syaikh Al Albani berkata “shahih”]

Dari hadis di atas dapat diambil faedah bahwa hadis larangan menyiksa dengan api juga berlaku terhadap binatang. Jika membunuh binatang dan membakar jasad mereka dinyatakan termasuk dalam larangan “menyiksa dengan api” maka hal ini menjadi sangat musykil.

Dimana letak kemusykilannya?. Jika anda menyembelih ayam, kambing, sapi atau unta kemudian anda membakar jasad binatang-binatang itu maka anda termasuk menyiksa dengan api atau azab Allah SWT dan itu dilarang [sesuai hadis di atas]. Faktanya hal ini sudah menjadi kebiasaan umum bagi umat islam. Pernahkah anda memakan ayam bakar atau kambing bakar?. Kami yakin anda pasti pernah memakannya. Nah menurut keyakinan salafy nashibi, hal itu termasuk dalam menyiksa dengan api yang diharamkan.

Jadi maksud sebenarnya hadis larangan “menyiksa dengan api” adalah membakar hidup-hidup sedangkan membakar jasad mereka [yang sudah mati] tidak termasuk kedalamnya. Disini kami tidak sedang menyatakan kalau membakar jasad manusia itu hukumnya sama dengan membakar jasad binatang. Kami hanya menunjukkan makna sebenarnya dari hadis “larangan menyiksa dengan api”.

Apa yang dilakukan Imam Ali terhadap suatu kaum dengan membakar jasad mereka [setelah membunuh mereka] adalah kekhususan yang diberikan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], hal ini tampak dalam suatu riwayat dimana ketika Imam Ali membakar mereka, Beliau berkata “benarlah Allah dan Rasul-Nya”. Perkataan ini menunjukkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan kabar kepada Imam Ali mengenai kaum tersebut dan apa yang harus dilakukan terhadap mereka.

Kalau ada orang yang menyalahkan perbuatan Imam Ali dengan hadis “larangan menyiksa dengan api atau azab Allah” maka ia telah keliru dalam menempatkan hadis tersebut. Seperti yang kami jelaskan, hadis larangan menyiksa dengan api bermakna larangan membakar hidup-hidup, karena pada dasarnya yang dinamakan “menyiksa” itu diperuntukkan bagi “orang yang masih hidup sehingga masih bisa merasakan siksaan” bukan untuk orang mati atau jasad yang sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Salafy nashibi yang berulang-ulang menyalahkan Imam Ali dalam perkara ini hanya menunjukkan kemunafikan yang ada pada diri mereka. Sikap keras hati mereka dalam perkara ini karena mereka membenci syiah yang meyakini kema’shuman Imam Ali. Mereka menjadikan hal ini untuk membuktikan kalau Imam Ali tidak ma’shum. Salafy nashibi menentang keyakinan ma’shumnya ahlul bait karena menurut mereka yang ma’shum hanyalah Nabi dan Rasul. Sayang sekali sebenarnya nashibi itu telah mangalami tanaqudh [kontradiksi].

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا المغيرة ( يعني ابن عبدالرحمن الحزامي ) عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة
أن النبي صلى الله عليه و سلم قال نزل نبي من الأنبياء تحت شجرة فلدغته نملة فأمر بجهازه فأخرج من تحتها ثم أمر بها فأحرقت فأوحى الله إليه فهلا نملة واحدة

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Mughirah [yaitu Ibnu ‘Abdurrahman Al Hizaamiy dari Abi Az Zanaad dari Al ‘A’raaj dari Abu Hurairah bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “seorang Nabi dari kalangan para Nabi berhenti di bawah pohon lalu dia digigit seekor semut, kemudian Ia memerintahkan untuk mengeluarkan makanan dan mengeluarkan semua semut dari sarangnya kemudian ia memerintahkan untuk membakar semua semut itu. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya “bukankah seekor semut saja” [Shahih Muslim 4/1759 no 2241]

Bukankah dari hadis shahih diketahui bahwa hanya Allah SWT yang boleh membakar dengan api?. Apakah perbuatan salah seorang Nabi di atas termasuk “menyiksa dengan api”?. Bukankah Nabi itu ma’shum?. Bukankah hal ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh salafy nashibi terkait kema’shuman Nabi dan Rasul. Mereka sibuk mencela apa yang dilakukan Imam Ali tetapi apa yang akan mereka katakan tentang hadis di atas, apakah mereka akan mencela Nabi di atas atau mencari-cari pembelaan atas apa yang diperbuat oleh Nabi tersebut. Kami tidak menyalahkan Imam Ali ataupun Nabi tersebut, kami sekali lagi hanya ingin menunjukkan kontradiksi salafy nashibi dan kelemahan akal mereka dalam berhujjah. Jika mereka sibuk mempermasalahkan kema’shuman para Imam di sisi Syiah [dengan hadis ini] maka mengapa mereka tidak sibuk mempermasalahkan kema’shuman Nabi dan Rasul dalam keyakinan mereka. Salam Damai

Soeharto Bingung Soal Tahlilan

Soeharto dan Tien Menolak Pencalonan Presiden

“Aku sudah tidak mau lagi. Aku mau pergi, aku lungo [pergi], pokoke aku lungo.”

Soeharto memeluk Ibu Tien (Koleksi Hj. Siti Hardiyanti Rukmana/ Buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’)
.

Presiden RI kedua, Soeharto, merupakan presiden yang paling lama menjabat, hingga 32 tahun. Soeharto terus dipilih menjadi presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, walaupun Pemilihan Umum berlangsung selama 6 kali, pada tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.

Namun, mantan ajudan Soeharto di periode terakhirnya, Sumardjono, mengatakan Soeharto sebetulnya tidak ingin dicalonkan kembali menjadi presiden. Bahkan, menurut Sumardjono, pada tahun 1995 Soeharto hingga berkali-kali mengatakan tidak ingin dicalonkan lagi menjadi Presiden.

Semula, pernyataan Soeharto dianggap hanya untuk memancing reaksi masyarakat. Tapi, “Kenyataannya Pak Harto mengatakan dirinya sudah TOP (tua, ompong, dan peot). Keinginan untuk tidak lagi dicalonkan sebagai presiden sungguh-sungguh keluar dari sanubari beliau,” kata Sumardjono, seperti yang dituturkannya dalam buku “Pak Harto, The Untold Stories”.

Sumardjono melanjutkan, pernyataan Soeharto memang ditanggapi serius. “Tapi partai-partai politik dan Mabes TNI rupanya masih menginginkan Pak Harto. Ketua Umum Golkar Harmoko yang juga terus mendorong dan meyakinkan Pak Harto bahwa rakyat masih menghendaki kepemimpinan beliau,” ucap Sumardjono.

Lalu kenapa Soeharto tetap bersedia dicalonkan menjadi presiden pada tahun 1997?

“Prajurit sejati pasti akan tergetar hatinya apabila sudah mendengar bahwa permintaan itu adalah keinginan rakyat, amanah rakyat. Pak Harto tidak bisa menolak permintaan jika dikatakan untuk negara dan rakyat. Itu yang saya lihat,” jawab Sumardjono.

Sedangkan mantan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Mien Sugandhi, mengungkapkan, Tien Soeharto juga tidak ingin suaminya menjabat sebagai presiden. Keinginan Ibu Tien ini diungkapkan berkali-kali pada tahun 1996.

Bahkan, Mien mengisahkan, dalam sebuah acara Golkar, Ibu Tien meminta Mien Sugandhi untuk menyampaikan kepada petinggi Golkar agar tidak lagi mencalonkan Soeharto menjadi presiden.

“Tiba-tiba Ibu Tien berkata kepada saya, ‘Tolong katakan kepada ….. (Ibu Tien menyebut seorang petinggi Golkar), agar Pak Harto jangan menjadi presiden lagi. Sudah cukup, sudah cukup, beliau sudah tua’,” kata Mien Sugandhi, menirukan ucapan Ibu Tien.

Saat itu, Mien Sugandhi mengaku terkejut, lalu bertanya kepada Ibu Tien, siapa yang layak menggantikan. Saat itu jawaban mengejutkan keluar dari lisan Ibu Tien.

“Biarlah itu diserahkan dan ditentukan oleh pemilu saja. Aku sudah tidak mau lagi. Aku mau pergi, aku lungo (pergi), pokoke aku lungo,” ujar Ibu Tien.

Soeharto ditetapkan sebagai presiden pada 12 Maret 1967 setelah pertanggungjawaban presiden pertama RI, Soekarno, ditolak MPRS. Saat itu, Soeharto merupakan sosok yang melesat setelah mengatasi Gerakan 30 September, yang dituduhkan dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia. Kewenangan Soeharto berdasarkan Surat Perintah Sebelas Maret yang masih kontroversial hingga sekarang.

Setelah itu, Soeharto terus menjabat menjadi presiden, hingga enam kali pemilihan umum berlangsung. Sebenarnya, sejak periode 1967 hingga 1998, sudah banyak perlawanan terhadap kepemimpinan Soeharto. Namun, Soeharto berhasil meredam setiap ‘ancaman’ yang merongrong kekuasaannya.

Gerakan mahasiswa pun berkali-kali memprotes kepemimpinan Soeharto, Soeharto lalu mengatasinya dengan membekukan kegiatan mahasiswa dan mengaktifkan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).

Pada tahun 1993, putri Soekarno, Megawati Soekarnoputri terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia. Kemudian, PDI pun mempersiapkan Megawati sebagai calon presiden. Namun, Mega didongkel dalam Musyawarah Nasional PDI tahun 1996 oleh Surjadi. Dualisme kepemimpinan PDI inilah yang kemudian berujung peristiwa 27 Juli 1996, yang sarat dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Peristiwa 27 Juli 1996 pun kemudian menjadi momen bagi Pemerintahan Orde Baru untuk membungkam ‘gerilya’ aktifis demokrasi, yang diantaranya tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik. Gerakan pro-demokrasi yang mengkritisi kepemimpinan Soeharto kemudian diredam, aktivisnya pun diculik satu-persatu.

Walau belum pernah dibawa ke pengadilan, Soeharto dituding bertanggung jawab terhadap sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia. Ini pula yang menyebabkan munculnya gerakan reformasi pada tahun 1998, dan menjatuhkan kekuasaannya.

Saat ini, kontroversi Soeharto kembali muncul ke publik setelah survei Indobarometer memperlihatkan adanya kerinduan kepada era Orde Baru. Meski banyak yang mempertanyakan metode dan pertanyaan yang diajukan dalam survei, hasil survei dinilai akibat kekecewaan terhadap era reformasi yang belum membawa perbaikan di Indonesia, jadi bukan karena kerinduan akan masa kepemimpinan Soeharto.

Duar! Ada Ledakan Saat Makam Soeharto Digali

Kejadian yang membuat merinding bulu kuduk terjadi saat linggis mengoyak tanah.

Kamis, 9 Juni 2011, 00:45 WIB

Foto yang menjadi sampul buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’ (Buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’).
Soeharto dan keluarga
.
Minggu Wage, 27 Januari 2008. Jarum jam menunjuk ke angka 15.30. Azan Asar terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Suasana Astana Giribangun redup kala itu, Matahari entah ke mana. Tak ada awan, juga tiada tanda gerimis bakal jatuh.Sejumlah orang berkumpul, mengelilingi sebidang petak tanah makam yang siap digali. Mereka melakukan upacara Bedah Bumi, tujuannya agar penggalian berjalan lancar dan selamat. Yang memimpin Begug Purnomosidi.Lalu, linggis dihujamkan ke  tanah. Tak ada apapun yang terjadi. Begitu pula yang ke dua. Namun, kejadian yang membuat merinding bulu kuduk terjadi saat linggis mengoyak tanah  untuk kali ketiganya.

“Tiba-tiba, duar! Terdengar suara  ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami,” kata  Sukirno, juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana  Giribangun, menceritakan pengalamannya menggali makam  Soeharto dalam buku “Pak Harto The Untold Stories”.

Para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya sontak kaget. Mereka berpandangan. Bingung. Mencoba mereka-reka dari mana asal suara menggelegar itu. “Bukan bunyi petir, lebih  mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun,” kata Sukirno.

Namun, anehnya, tak ada yang porak poranda, tak ada yang benda yang  bergeser karena suara ledakan itu. Terbesit di pikiran, mungkin itu suara gaib. Semua yang ada di tempat itu terdiam, terpaku. Lalu, suara Begug memecah keheningan. “Bumi  mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau,” tutur  Sukirno, menirukan kalimat Bupati Wonogiri itu.

Isyarat kah itu? Terngiang di benak Sukirno, beberapa bulan sebelum kematian Soeharto, terjadi longsor mendadak di bawah Perbukitan Bangun. Apakah itu juga pertanda?

Selain pengalaman menggali makam Soeharto, pria kelahiran Karanganyar tahun 1953 itu juga masih ingat ketegangan yang terjadi di Astanagiribangun, tahun 1998, saat kekuasaan Soeharto berakhir. Ada kabar, makam keluarga Soeharto itu bakal diserang.

“Bersama warga saya memasang drum-drum di tengah jalan. Di depan pertigaan di depan SD Ibu Tien yang terletak di tanjakan menjelang Astana. Kami memalang puluhan batang bambu ori berduri. Siapa yang melintas dengan berjalan kaki sekalipun, tak bakal gampang menembusnya,” cerita dia.

Malam-malam pun terasa panjang. Orang-orang berjaga di sekitar makam. Dari HT terdengar sandi, misalnya 1.000 “kuda lumping” yang artinya ada seribu pengedara sepeda motor mengarah ke Astana. Atau lima ratus “gerobak”. Gerobak adalah sandi untuk mobil. “Anehnya tak pernah sekalipun merena yang kabarnya hendak melempari Astana  benar-benar tiba,” kata Sukirno.

Sukirno adalah satu dari 113 orang yang menceritakan kisahnya di “Pak Harto The Untold Stories” — buku yang diluncurkan tepat di peringatan kelahiran Soeharto ke-90.

Soeharto dan kepemimpinannya selama 32 tahun penuh dengan polemik. Juga kontradiksi. Ia dirindukan sekaligus dibenci. Dipahlawankan tapi juga dicaci maki.

Begitu banyak kontroversi yang merubungnya. Dari pengambialihan kekuasan tahun 65, kontroversi soal keterlibataannya dalam G30S PKI. Bahkan jargon KKN (Kolusi Korupsi dan Nepotisme) selalu dilekatkan untuk masa pemerintahannya, di mana anak, kerabat, dan para kroninya mencecap sedemikian banyak keuntungan.

Meski banyak tudingan mengarah padanya, Soeharto tak pernah tersentuh hukum. Ia tak pernah diadili. Kejaksaan Agung mempetieskan perkaranya, hingga penguasa Orde Baru itu meninggal.

Wacana mempahlawankan Soeharto yang mengemuka akhir-akhir ini terus menuai pro dan kontra. Ais Ananta Said adalah anak sulung Ali Said, SH, Jaksa Agung di masa Soeharto berkuasa mendukung penuh Soeharto menjadi pahlawan. Jasa mantan presiden itu, katanya, terlalu banyak untuk diabaikan dari  gelar pahlawan.

Sejumlah anak tokoh Partai Komunis Indonesia dan korban pelanggaran HAM menolak keras.  “Dijatuhkan rakyat, kok jadi pahlawan,” tanya Ilham Aidit, anak Dipa Nusantara Aidit. (baca selengkapnya wawancara VIVAnews.com dengan Ilham di sini).

.

Soeharto Bingung Soal Tahlilan

“Apa benar kita tidak boleh membaca tahlil untuk jenazah?”

Selasa, 14 Juni 2011, 06:05 WIB

 

Soeharto
Di kalangan umat Islam, terdapat perbedaan pandangan mengenai tahlilan untuk orang yang baru meninggal. Ada yang menganggap tahlilan bukan sebagai tradisi Islam bahkan cenderung dianggap sebagai bid’ah atau penyimpangan ajaran Islam. Banyak pula yang menganggap tahlilan tidak menyimpang dari ajaran
.
Kebingungan akibat perbedaan pandangan soal tahlilan ini juga dialami oleh mantan presiden Soeharto. Seperti dituturkan Muhammad Maftuh Basyuni dalam buku Pak Harto, The Untold Stories, di malam pertama setelah tahlilan dan doa untuk almarhumah Ibu Tien Soeharto di Dalem Kalitan, Solo,  Soeharto menanyakan soal tahlilan.”Apa benar kita tidak boleh membaca tahlil untuk jenazah?” tanya Soeharto kepada Maftuh Basyuni, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.Maftuh saat itu menjawab, ada pendapat yang mengatakan membaca tahlil atau Al Quran kepada orang yang telah meninggal tak ada gunanya
.
“Mereka berpedoman kepada hadits nabi yang menyatakan bahwa seseorang yang telah meninggal telah putus amalnya, kecuali tiga hal, yaitu amal jariah, ilmu bermanfaat yang ditinggalkan, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya,” jelas Maftuh.Maftuh kemudian melanjutkan, ada yang menganggap membaca doa dan ayat Al Quran kepada orang yang meninggal sesuai sunnah Nabi. Karena Nabi dalam doanya juga menyebutkan. “Ya Allah ampunilah kaum muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah mati”.

Mendengar penjelasan Maftuh, Soeharto seakan tidak puas, dan kemudian kembali bertanya. “Kalau memberi makan kepada yang mendoakan?” tanya Soeharto.

Maftuh kemudian menjelaskan alasan tentang anggapan tidak boleh. “Orang yang kesripahan (sedang berkabung) itu sudahlah susah dan sedih, kok masih dibebani lagi,” jelas Maftuh.

Kemudian, Maftuh menjelaskan alasan yang membolehkan, yaitu ada hadits yang mewajibkan umat Islam untuk menghormati tamu. “Penghormatan kepada tamu biasanya dalam bentuk minum dan makan,” jelas Menteri Agama di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Masih belum puas dengan jawaban Maftuh, Soeharto kemudian bertanya, pendapat apa yang dipilih Maftuh. Maftuh menjawab memilih yang membolehkan tahlilan dan memberi makan.

“Soal pahala itu hak prerogatif Tuhan. Kita membaca Tahlil dengan tentunya berharap ada pahala buat yang sudah meninggal, kalau tidak ada pahala pun, ya tidak apa. Adapun memberi makan, tentu sebatas kemampuan yang bersangkutan. Apalagi kalau yang kesripahan (berkabung) itu Presiden, tentu makanan datang sendiri,” jawab Maftuh.

Mendengar jawaban itu, Soeharto pun tertawa lirih. Sembari mendorong dahi Maftuh dengan lembut seperti orang tua kepada anak, Soeharto pun berkata. “(Dasar) kamu.”

Seperti apapun keislaman Soeharto, hubungan Soeharto dengan umat Islam cenderung naik-turun. Bagi kalangan fundamentalis Islam, Soeharto dianggap musuh karena ‘memaksakan’ Pancasila sebagai asas tunggal. Oleh kalangan fundamentalis, ini dianggap sikap syirik atau penyembahan sesuatu selain Tuhan.

Penolakan dan perlawanan terhadap asas tunggal Pancasila pun terus dilakukan terhadap Soeharto. Sejumlah tokoh yang menentang keras pun bahkan sampai melarikan diri ke Malaysia karena ‘diburu’ oleh pemerintahan Soeharto, antara lain Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar.

Bahkan, penolakan asas tunggal berujung pada pelanggaran Hak Asasi Manusia, yang terkenal dengan sebutan Peristiwa Tanjung Priok Berdarah 1984. Dikabarkan ratusan orang tewas saat militer menangani peristiwa Tanjung Priok, 12 September 1984. Namun, versi pemerintah yang dibacakan Panglima ABRI LB Moerdani menyebutkan korban tewas hanya 18 orang dan luka-luka sebanyak 53 orang.

Akibat peristiwa ini, keluarga korban Tanjung Priok pun masih belum bisa memaafkan Presiden Soeharto. Tak heran, korban Tanjung Priok pula yang menentang saat Soeharto diusulkan menjadi pahlawan nasional.

.

Soeharto: Rachmat, Tahu Apa Anda Soal Politik

Rachmat Witoelar mengisahkan dirinya pernah ‘disemprot’ Pak Harto.

Soeharto dan keluarga
Soeharto menaiki kuda pemberian Presiden Kazakhstan (Koleksi Siti Hediati Hariyadi Soeharto/ Buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’)
.
 Presiden RI kedua Soeharto dikenal sebagai sosok anti kritik. Banyak orang-orang dekatnya yang memiliki berbeda pandangan,  akhirnya harus ‘menyerah’ juga dengan perintah penguasa Orde Baru itu.Mantan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Rachmat Witoelar mengisahkan dirinya pernah ‘disemprot’ Pak Harto. Pasalnya, dia memiliki pandangan berbeda terkait kebijakan politik Golkar. Saat itu ia masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar.Rachmat menceritakan, peristiwa itu terjadi pada 1990. Saat itu, dia mengusulkan perubahan AD/ART Golkar. Rachmat, ingin menganulir keberadaan Dewan Pembina di tubuh Golkar. “Padahal ketika itu Dewan Pembina sangat disakralkan. Selama 15 tahun, yang berlaku di Golkar adalah konsep bottom up,” kata Rachmat Witoelar seperti disampaikan dalam buku ‘Pak Harto, The Untold Stories‘.Waktu itu, lanjut dia, dirinya bersama Jacob Tobing selalu mengadakan pembinaan kader ke daerah-derah. Dia menyuruh kader-kader Golkar di daerah untuk melakukan pembaruan dan berani mengemukakan pendapatnya demi kemajuan Golkar. “Cukup banyak teman-teman di daerah yang sependapat,” kata dia.

Dalam rapat-rapat di daerah itulah Rachmat mengusulkan adanya perubahan AD/ART Golkar. Hingga akhirnya Soeharto memangggilnya menghadap. “Di saat sibuk-sibuk itulah saya dipanggil Pak Harto,” kata dia.

Saat menghadap itu, Soeharto bertanya, “Saudara dilaporkan hendak mengubah AD/ART. Kenapa begitu?” Rachmat menirukan pertanyaan Soeharto.

Lalu, Sekjen Golkar periode 1988 hingga 1993 itu menjawab bahwa pola kebijakan Golkar sudah tidak sesuai dengan perkembangan politik yang ada saat itu.

Soeharto, tampaknya tak senang dengan jawaban Rachmat itu. “Lho Mat, itu sudah sesuai dengan zaman. Saudara Rachmat tahu zaman itu bagaimana?” tanya Soeharto kepada Rachmat.

Pertanyaan Soeharto itu tak menyurutkan nyali Rachmat Witoelar. Dia mengatakan kebijakan Golkar saat itu memang cocok diterapkan di masa lalu. Namun, masyarakat kini sudah mulai melek politik dan ingin didengarkan pendapatnya. Dengan kata lain, dia meminta pendapat orang daerah tidak terus dimentahkan oleh Pusat dan Dewan Pembina Golkar.

Mendengar jawaban itu, seperti disadari Rachmat, Soeharto menjadi marah. Dia berkata, “Saudara salah. Saudara Rachmat tahu apa soal politik,” kata Rachmat menirukan Soeharto.

Rachmat menyadari kenapa Soeharto bersikap seperti itu. Tak lain untuk menjaga keutuhan organisasi dan pemerintahan.

Kemudiaan Soeharto memberi nasehat kepadanaya. “Negeri ini harus stabil. Golkar harus tampil sebagai single majority, tidak boleh berkoalisi dengan kekuatan lain. Kalau itu terjadi, maka akan terjadi pengorbanan-pengorbanan politik yang tidak perlu,” kata Rachmat menirukan nasehat Soeharto waktu itu.

Karena dianggap penganggu, Rachmat pun disiapkan menjadi duta besar di sejumlah negara. Anehnya, setiap tiga bulan sekali ia pasti dipanggil ke Jakarta, padahal duta besar lain paling-paling satu tahun sekali. Rupanya Pak Harto ingin diskusi soal dinamika politik dengannya.

kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan Sunahku” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih tetapi kenapa tidak dipedomani sunni ??

ANALISIS HADIS “KITAB ALLAH DAN SUNAHKU”
.
Al Quranul Karim dan Sunnah Rasulullah SAW adalah landasan dan sumber syariat Islam. Hal ini merupakan kebenaran yang sifatnya pasti dan diyakini oleh umat Islam. Banyak ayat Al Quran yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah SAW, diantaranya
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah .Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (QS ; Al Hasyr 7).
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS ; Al Ahzab 21).
Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah .Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS ; An Nisa 80).
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS ; An Nur 51-52).
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu Ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS ; Al Ahzab 36).
Jadi Sunnah Rasulullah SAW merupakan salah satu pedoman bagi umat islam di seluruh dunia. Berdasarkan ayat-ayat Al Quran di atas sudah cukup rasanya untuk membuktikan kebenaran hal ini. Tulisan ini akan membahas hadis “Kitabullah wa Sunnaty” yang sering dijadikan dasar bahwa kita harus berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yaitu
Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.”.
Hadis “Kitabullah Wa Sunnaty” ini adalah hadis masyhur yang sering sekali didengar oleh umat Islam sehingga tidak jarang banyak yang beranggapan bahwa hadis ini adalah benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dasarnya kita umat Islam harus berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang merupakan dua landasan utama dalam agama Islam. Banyak dalil dalil shahih yang menganjurkan kita agar berpegang kepada As Sunnah baik dari Al Quran (seperti yang sudah disebutkan) ataupun dari hadis-hadis yang shahih. Sayangnya hadis”Kitabullah Wa Sunnaty” yang seringkali dijadikan dasar dalam masalah ini adalah hadis yang tidak shahih atau dhaif. Berikut adalah analisis terhadap sanad hadis ini.
.
.
Analisis Sumber Hadis “Kitab Allah dan SunahKu”
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini tidak terdapat dalam kitab hadis Kutub As Sittah(Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Tirmidzi). Sumber dari Hadis ini adalah Al Muwatta Imam Malik,Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim, At Tamhid Syarh Al Muwatta Ibnu Abdil Barr,Sunan Baihaqi, Sunan Daruquthni, dan Jami’ As Saghir As Suyuthi. Selain itu hadis ini juga ditemukan dalam kitab-kitab karya Ulama seperti , Al Khatib dalam Al Faqih Al MutafaqqihShawaiq Al Muhriqah Ibnu HajarSirah Ibnu Hisyam, Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh, Al Ihkam Ibnu Hazm danTarikh At Thabari. Dari semua sumber itu ternyata hadis ini diriwayatkan dengan 4 jalur sanad yaitu dari Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Amr bin Awf ra, dan Abu Said Al Khudri ra. Terdapat juga beberapa hadis yang diriwayatkan secara mursal (terputus sanadnya), mengenai hadis mursal ini sudah jelas kedhaifannya.
Hadis ini terbagi menjadi dua yaitu
  1. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang mursal
  2. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang muttasil atau bersambung
.
.
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Secara Mursal
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang diriwayatkan secara mursal ini terdapat dalam kitab Al Muwatta, Sirah Ibnu Hisyam, Sunan Baihaqi, Shawaiq Al Muhriqah, danTarikh At Thabari. Berikut adalah contoh hadisnya
Dalam Al Muwatta jilid I hal 899 no 3
Bahwa Rasulullah SAW bersabda” Wahai Sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunah RasulNya”.
Dalam Al Muwatta hadis ini diriwayatkan Imam Malik tanpa sanad. Malik bin Anas adalah generasi tabiit tabiin yang lahir antara tahun 91H-97H. Jadi paling tidak ada dua perawi yang tidak disebutkan di antara Malik bin Anas dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal ini maka dapat dinyatakan bahwa hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.
Dalam Sunan Baihaqi terdapat beberapa hadis mursal mengenai hal ini, diantaranya
Al Baihaqi dengan sanad dari Urwah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada haji wada “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan sesuatu bagimu yang apabila berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selamanya yaitu dua perkara Kitab Allah dan Sunnah NabiMu, Wahai umat manusia dengarkanlah olehmu apa yang aku sampaikan kepadamu, maka hiduplah kamu dengan berpegang kepadanya”.
Selain pada Sunan Baihaqi, hadis Urwah ini juga terdapat dalam Miftah Al Jannah hal 29 karya As Suyuthi. Urwah bin Zubair adalah dari generasi tabiin yang lahir tahun 22H, jadi Urwah belum lahir saat Nabi SAW melakukan haji wada oleh karena itu hadis di atas terputus, dan ada satu orang perawi yang tidak disebutkan, bisa dari golongan sahabat dan bisa juga dari golongan tabiin. Singkatnya hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.
Al Baihaqi dengan sanad dari Ibnu Wahb yang berkata “Aku telah mendengar Malik bin Anas mengatakan berpegang teguhlah pada sabda Rasulullah SAW pada waktu haji wada yang berbunyi ‘Dua hal Aku tinggalkan bagimu dimana kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunah NabiNya”.
Hadis ini tidak berbeda dengan hadis Al Muwatta, karena Malik bin Anas tidak bertemu Rasulullah SAW jadi hadis ini juga dhaif.
Dalam Sirah Ibnu Hisyam jilid 4 hal 185 hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda pada haji wada…..,Disini Ibnu Ishaq tidak menyebutkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW oleh karena itu hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam Tarikh At Thabari jilid 2 hal 205 hadis ini juga diriwayatkan secara mursal melalui Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Najih. Jadi kedua hadis ini dhaif. Mungkin ada yang beranggapan karena Sirah Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq sudah menjadi kitab Sirah yang jadi pegangan oleh jumhur ulama maka adanya hadis itu dalam Sirah Ibnu Hisyam sudah cukup menjadi bukti kebenarannya. Jawaban kami adalah benar bahwa Sirah Ibnu Hisyam menjadi pegangan oleh jumhur ulama, tetapi dalam kitab ini hadis tersebut terputus sanadnya jadi tentu saja dalam hal ini hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.
.
.
Sebuah Pembelaan dan Kritik
Hafiz Firdaus dalam bukunya Kaidah Memahami Hadis-hadis yang Bercanggah telah membahas hadis dalam Al Muwatta dan menanggapi pernyataan Syaikh Hasan As Saqqaf dalam karyanya Shahih Sifat shalat An Nabiy (dalam kitab ini As Saqqaf telah menyatakan hadis Kitab Allah dan SunahKu ini sebagai hadis yang dhaif ). Sebelumnya berikut akan dituliskan pendapat Hafiz Firdaus tersebut.
Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya”
Hadis ini sahih: Dikeluarkan oleh Malik bin Anas dalam al-Muwattha’ – no: 1619 (Kitab al-Jami’, Bab Larangan memastikan Takdir). Berkata Malik apabila mengemukakan riwayat ini: Balghni………bererti “disampaikan kepada aku” (atau dari sudut catatan anak murid beliau sendiri: Dari Malik, disampaikan kepadanya………). Perkataan seperti ini memang khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahawa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Lebih lanjut lihat Qadi ‘Iyadh Tartib al-Madarik, jld 1, ms 136; Ibn ‘Abd al-Barr al Tamhid, jld 1, ms 34; al-Zarqani Syarh al Muwattha’, jld 4, ms 307 dan Hassath binti ‘Abd al-’Aziz Sagheir Hadis Mursal baina Maqbul wa Mardud, jld 2, ms 456-470.
Hasan ‘Ali al-Saqqaf dalam bukunya Shalat Bersama Nabi SAW (edisi terj. dari Sahih Sifat Solat Nabi), ms 269-275 berkata bahwa hadis ini sebenarnya adalah maudhu’. Isnadnya memiliki perawi yang dituduh pendusta manakala maksudnya tidak disokongi oleh mana-mana dalil lain. Beliau menulis: Sebenarnya hadis yang tsabit dan sahih adalah hadis yang berakhir dengan “wa ahli baiti” (sepertimana Khutbah C – penulis). Sedangkan yang berakhir dengan kata-kata “wa sunnati” (sepertimana Khutbah B) adalah batil dari sisi matan dan sanadnya.
Nampaknya al-Saqqaf telah terburu-buru dalam penilaian ini kerana beliau hanya menyimak beberapa jalan periwayatan dan meninggalkan yang selainnya, terutamanya apa yang terkandung dalam kitab-kitab Musannaf, Mu’jam dan Tarikh (Sejarah). Yang lebih berat adalah beliau telah menepikan begitu sahaja riwayat yang dibawa oleh Malik di dalam kitab al-Muwattha’nya atas alasan ianya adalah tanpa sanad padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.
Kritik kami adalah sebagai berikut, tentang kata-kata hadis riwayat Al Muwatta adalah shahih karena pernyataan Balghni atau “disampaikan kepada aku” dalam hadis riwayat Imam Malik ini adalah khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahwa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Maka Kami katakan, Kaidah periwayatan hadis dengan pernyataan Balghni atau “disampaikan kepadaku” memang terdapat di zaman Imam Malik. Hal ini juga dapat dilihat dalam Kutub As Sunnah Dirasah Watsiqiyyah oleh Rif’at Fauzi Abdul Muthallib hal 20, terdapat kata kata Hasan Al Bashri
“Jika empat shahabat berkumpul untuk periwayatan sebuah hadis maka saya tidak menyebut lagi nama shahabat”.Ia juga pernah berkata”Jika aku berkata hadatsana maka hadis itu saya terima dari fulan seorang tetapi bila aku berkata qala Rasulullah SAW maka hadis itu saya dengar dari 70 orang shahabat atau lebih”.
Tetapi adalah tidak benar mendakwa suatu hadis sebagai shahih hanya dengan pernyataan “balghni”. Hal ini jelas bertentangan dengan kaidah jumhur ulama tentang persyaratan hadis shahih seperti yang tercantum dalam Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis yaitu
Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.
Dengan kaidah Inilah as Saqqaf telah menepikan hadis al Muwatta tersebut karena memang hadis tersebut tidak ada sanadnya. Yang aneh justru pernyataan Hafiz yang menyalahkan As Saqqaf dengan kata-kata padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.
.
Pernyataan Hafiz di atas menunjukan bahwa Malik bin Anas dan tokoh hadis zamannya (sekitar 93H-179H) jika meriwayatkan hadis dengan pernyataan telah disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah SAW atau Qala Rasulullah SAW tanpa menyebutkan sanadnya maka hadis tersebut adalah shahih. Pernyataan ini jelas aneh dan bertentangan dengan kaidah jumhur ulama hadis. Sekali lagi hadis itu mursal atau terputus dan hadis mursal tidak bisa dijadikan hujjah karena kemungkinan dhaifnya. Karena bisa jadi perawi yang terputus itu adalah seorang tabiin yang bisa jadi dhaif atau tsiqat, jika tabiin itu tsiqatpun dia kemungkinan mendengar dari tabiin lain yang bisa jadi dhaif atau tsiqat dan seterusnya kemungkinan seperti itu tidak akan habis-habis. Sungguh sangat tidak mungkin mendakwa hadis mursal sebagai shahih “Hanya karena terdapat dalam Al Muwatta Imam Malik”.
.
Hal yang kami jelaskan itu juga terdapat dalam Ilmu Mushthalah Hadis oleh A Qadir Hassan hal 109 yang mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah, Ibnu Hajar berkata
”Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat itu dari seorang shahabat, tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain”.
Lihat baik-baik walaupun yang meriwayatkan hadis mursal itu adalah tabiin tetap saja dinyatakan dhaif apalagi Malik bin Anas yang seorang tabiit tabiin maka akan jauh lebih banyak kemungkinan dhaifnya. Pernyataan yang benar tentang hadis mursal Al Muwatta adalah hadis tersebut shahih jika terdapat hadis lain yang bersambung dan shahih sanadnya yang menguatkan hadis mursal tersebut di kitab-kitab lain. Jadi adalah kekeliruan menjadikan hadis mursal shahih hanya karena terdapat dalam Al Muwatta.
.
.
.
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Dengan Sanad Yang Bersambung.
Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dari sumber-sumber yang ada ternyata ada 4 jalan sanad hadis “Kitab Allah dan SunahKu”. 4 jalan sanad itu adalah
1. Jalur Ibnu Abbas ra
2. Jalur Abu Hurairah ra
3. Jalur Amr bin Awf ra
4. Jalur Abu Said Al Khudri ra
.
.
Jalan Sanad Ibnu Abbas
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas dapat ditemukan dalam Kitab Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93 dan Sunan Baihaqi juz 10 hal 4 yang pada dasarnya juga mengutip dari Al Mustadrak. Dalam kitab-kitab ini sanad hadis itu dari jalan Ibnu Abi Uwais dari Ayahnya dari Tsaur bin Zaid Al Daily dari Ikrimah dari Ibnu Abbas
bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya”.
Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena terdapat kelemahan pada dua orang perawinya yaitu Ibnu Abi Uwais dan Ayahnya.
1. Ibnu Abi Uwais
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 mengenai biografi Ibnu Abi Uwais terdapat perkataan orang yang mencelanya, diantaranya Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong. Menurut Abu Hatim Ibnu Abi Uwais itu mahalluhu ash shidq atau tempat kejujuran tetapi dia terbukti lengah. An Nasa’i menilai Ibnu Abi Uwais dhaif dan tidak tsiqah. Menurut Abu Al Qasim Al Alkaiy “An Nasa’i sangat jelek menilainya (Ibnu Abi Uwais) sampai ke derajat matruk(ditinggalkan hadisnya)”. Ahmad bin Ady berkata “Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya Malik beberapa hadis gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun.”
  • Dalam Muqaddimah Al Fath Al Bary halaman 391 terbitan Dar Al Ma’rifah, Al Hafiz Ibnu Hajar mengenai Ibnu Abi Uwais berkata ”Atas dasar itu hadis dia (Ibnu Abi Uwais) tidak dapat dijadikan hujjah selain yang terdapat dalam As Shahih karena celaan yang dilakukan Imam Nasa’i dan lain-lain”.
  • Dalam Fath Al Mulk Al Aly halaman 15, Al Hafiz Sayyid Ahmad bin Shiddiq mengatakan “berkata Salamah bin Syabib Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan “mungkin aku membuat hadis untuk penduduk madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu di antara mereka”.
Jadi Ibnu Abi Uwais adalah perawi yang tertuduh dhaif, tidak tsiqat, pembohong, matruk dan dituduh suka membuat hadis. Ada sebagian orang yang membela Ibnu Abi Uwais dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu Rijal atau perawiShahih Bukhari oleh karena itu hadisnya bisa dijadikan hujjah. Pernyataan ini jelas tertolak karena Bukhari memang berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais tetapi telah dipastikan bahwa Ibnu Abi Uwais adalah perawi Bukhari yang diperselisihkan oleh para ulama hadis. Seperti penjelasan di atas terdapat jarh atau celaan yang jelas oleh ulama hadis seperti Yahya bin Mu’in, An Nasa’i dan lain-lain. Dalam prinsip Ilmu Jarh wat Ta’dil celaan yang jelas didahulukan dari pujian(ta’dil). Oleh karenanya hadis Ibnu Abi Uwais tidak bisa dijadikan hujjah. Mengenai hadis Bukhari dari Ibnu Abi Uwais, hadis-hadis tersebut memiliki mutaba’ah atau pendukung dari riwayat-riwayat lain sehingga hadis tersebut tetap dinyatakan shahih. Lihat penjelasan Al Hafiz Ibnu Hajar dalam Al Fath Al Bary Syarh Shahih Bukhari, Beliau mengatakan bahwa hadis Ibnu Abi Uwais selain dalam As Shahih(Bukhari dan Muslim) tidak bisa dijadikan hujjah. Dan hadis yang dibicarakan ini tidak terdapat dalam kedua kitab Shahih tersebut, hadis ini terdapat dalam Mustadrak dan Sunan Baihaqi.
2. Abu Uwais
  • Dalam kitab Al Jarh Wa At Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim jilid V hal 92, Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya Abu Hatim Ar Razy yang berkata mengenai Abu Uwais “Ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah dan dia tidak kuat”.Ibnu Abi Hatim menukil dari Yahya bin Mu’in yang berkata “Abu Uwais tidak tsiqah”.
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya(Abu Uwais) suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong.
Dalam Al Mustadrak jilid I hal 93, Al Hakim tidak menshahihkan hadis ini. Beliau mendiamkannya dan mencari syahid atau penguat bagi hadis tersebut, Beliau berkata ”Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah ra”. Mengenai hadis Abu Hurairah ra ini akan dibahas nanti, yang penting dari pernyataan itu secara tidak langsung Al Hakim mengakui kedhaifan hadis Ibnu Abbas tersebut oleh karena itu beliau mencari syahid penguat untuk hadis tersebut .Setelah melihat kedudukan kedua perawi hadis Ibnu Abbas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hadis ”Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas adalah dhaif.
.
.
Jalan Sanad Abu Hurairah ra
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad Abu Hurairah ra terdapat dalam Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93, Sunan Al Kubra Baihaqi juz 10, Sunan Daruquthni IV hal 245, Jami’ As Saghir As Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94, At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan Al Ihkam VI hal 243 Ibnu Hazm.
Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin Musa At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi’dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra
bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh”.
Hadis di atas adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.
  • Dalam Kitab Tahdzib Al Kamal ( XIII hal 96) berkata Yahya bin Muin bahwa riwayat hadis Shalih bin Musa bukan apa-apa. Abu Hatim Ar Razy berkatahadis Shalih bin Musa dhaif. Imam Nasa’i berkata hadis Shalih bin Musa tidak perlu ditulis dan dia itu matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).
  • Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Tahdzib At Tahdzib IV hal 355 menyebutkan Ibnu Hibban berkata bahwa Shalih bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadis itsbat(yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tersebut ma’mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk berhujjah. Abu Nu’aim berkata Shalih bin Musa itu matruk Al Hadis sering meriwayatkan hadis mungkar.
  • Dalam At Taqrib (Tarjamah :2891) Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallany menyatakan bahwa Shalih bin Musa adalah perawi yang matruk(harus ditinggalkan).
  • Al Dzahaby dalam Al Kasyif (2412) menyebutkan bahwa Shalih bin Musa itu wahin (lemah).
  • Dalam Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 306 Sayyid Alwi bin Thahir ketika mengomentari Shalih bin Musa, beliau menyatakan bahwa Imam Bukhari berkata”Shalih bin Musa adalah perawi yang membawa hadis-hadis mungkar”.
Kalau melihat jarh atau celaan para ulama terhadap Shalih bin Musa tersebut maka dapat dinyatakan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan sanad dari Abu Hurairah ra di atas adalah hadis yang dhaif. Adalah hal yang aneh ternyata As Suyuthi dalam Jami’ As Saghir menyatakan hadis tersebut hasan, Al Hafiz Al Manawi menshahihkannya dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir dan Al Albani juga telah memasukkan hadis ini dalam Shahih Jami’ As Saghir. Begitu pula yang dinyatakan oleh Al Khatib dan Ibnu Hazm. Menurut kami penshahihan hadis tersebut tidak benar karena dalam sanad hadis tersebut terdapat cacat yang jelas pada perawinya, Bagaimana mungkin hadis tersebut shahih jika dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, mungkar al hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nyata sekali bahwa ulama-ulama yang menshahihkan hadis ini telah bertindak longgar(tasahul) dalam masalah ini.
Mengapa para ulama itu bersikap tasahul dalam penetapan kedudukan hadis ini?. Hal ini mungkin karena matan hadis tersebut adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi menurut kami matan hadis tersebut yang benar dan shahih adalah dengan matan hadis yang sama redaksinya hanya perbedaan pada“Kitab Allah dan SunahKu” menjadi “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu”. Hadis dengan matan seperti ini salah satunya terdapat dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 & 3788 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Kalau dibandingkan antara hadis ini dengan hadis Abu Hurairah ra di atas dapat dipastikan bahwa hadis Shahih Sunan Tirmidzi ini jauh lebih shahih kedudukannya karena semua perawinya tsiqat. Sedangkan hadis Abu Hurairah ra di atas terdapat cacat pada salah satu perawinya yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.
Adz Dzahabi dalam Al Mizan Al I’tidal jilid II hal 302 berkata bahwa hadis Shalih bin Musa tersebut termasuk dari kemunkaran yang dilakukannya. Selain itu hadis riwayat Abu Hurairah ini dinyatakan dhaif oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy setelah beliau mengkritik Shalih bin Musa salah satu perawi hadis tersebut. Jadi pendapat yang benar dalam masalah ini adalah hadis riwayat Abu Hurairah tersebut adalah dhaif sedangkan pernyataan As Suyuthi, Al Manawi, Al Albani dan yang lain bahwa hadis tersebut shahih adalah keliru karena dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang sangat jelas cacatnya sehingga tidak mungkin bisa dikatakan shahih.
.
.
Jalan Sanad Amr bin Awf ra
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Amr bin Awf terdapat dalam kitab At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr. Telah menghadiskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ahmad bin Sa’id, dia berkata telahmenghadiskan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Daibaly, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ali bin Zaid Al Faridhy, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Al Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Awf dari ayahnya dari kakeknya
Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat cacat pada perawinya yaitu Katsir bin Abdullah .
  • Dalam Mizan Al Itidal (biografi Katsir bin Abdullah no 6943) karya Adz Dzahabi terdapat celaan pada Katsir bin Abdullah. Menurut Daruquthni Katsir bin Abdullah adalah matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya). Abu Hatim menilaiKatsir bin Abdullah tidak kuat. An Nasa’i menilai Katsir bin Abdullah tidak tsiqah.
  • Dalam At Taqrib at Tahdzib, Ibnu Hajar menyatakan Katsir bin Abdullah dhaif.
  • Dalam Al Kasyf Adz Dzahaby menilai Katsir bin Abdullah wahin(lemah).
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Ibnu Hibban berkata tentang Katsir bin Abdullah “Hadisnya sangat mungkar” dan “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari ayahnya dari kakeknya yang tidak pantas disebutkan dalam kitab-kitab maupun periwayatan”
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Yahya bin Main berkata “Katsir lemah hadisnya”
  • Dalam Kitab Al Jarh Wat Ta’dil biografi no 858, Abu Zur’ah berkata “Hadisnya tidak ada apa-apanya, dia tidak kuat hafalannya”.
  • Dalam Adh Dhu’afa Al Kabir Al Uqaili (no 1555), Mutharrif bin Abdillah berkata tentang Katsir “Dia orang yang banyak permusuhannya dan tidak seorangpun sahabat kami yang mengambil hadis darinya”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63Ibnu Adi berkata perihal Katsir “Dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan pegangan”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Abu Khaitsamah berkata “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku : jangan sedikitpun engkau meriwayatkan hadis dari Katsir bin Abdullah”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Wal Matrukin Ibnu Jauzi juz III hal 24 terdapat perkataan Imam Syafii perihal Katsir bin Abdullah “Katsir bin Abdullah Al Muzanni adalah satu pilar dari berbagai pilar kedustaan”
Jadi hadis Amr bin Awf ini sangat jelas kedhaifannya karena dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, dhaif atau tidak tsiqah dan pendusta.
.
.
Jalur Abu Said Al Khudri ra
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Abu Said Al Khudri ra terdapat dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94 karya Al Khatib Baghdadi dan Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh dengan sanad dari Saif bin Umar dari Ibnu Ishaq Al Asadi dari Shabbat bin Muhammad dari Abu Hazm dari Abu Said Al Khudri ra.
Dalam rangkaian perawi ini terdapat perawi yang benar-benar dhaif yaitu Saif bin Umar At Tamimi.
  • Dalam Mizan Al I’tidal no 3637 Yahya bin Mu’in berkata “Saif daif dan riwayatnya tidak kuat”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Al Matrukin no 256, An Nasa’i mengatakan kalau Saif bin Umar adalah dhaif.
  • Dalam Al Majruhin no 443 Ibnu Hibban mengatakan Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi yang tsabit, ia seorang yang tertuduh zindiq dan seorang pemalsu hadis.
  • Dalam Ad Dhu’afa Abu Nu’aim no 95, Abu Nu’aim mengatakan kalau Saif bin Umar adalah orang yang tertuduh zindiq, riwayatnya jatuh dan bukan apa-apanya.
  • Dalam Tahzib At Tahzib juz 4 no 517 Abu Dawud berkata kalau Saif bukan apa-apa, Abu Hatim berkata “ia matruk”, Ad Daruquthni menyatakannya dhaif dan matruk. Al Hakim mengatakan kalau Saif tertuduh zindiq dan riwayatnya jatuh. Ibnu Adi mengatakan kalau hadisnya dikenal munkar dan tidak diikuti seorangpun.

Jadi jelas sekali kalau hadis Abu Said Al Khudri ra ini adalah hadis yang dhaif karena kedudukan Saif bin Umar yang dhaif di mata para ulama.
.
.
Hadis Tersebut Dhaif
Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini adalah hadis yang dhaif. Sebelum mengakhiri tulisan ini akan dibahas terlebih dahulu pernyataan Ali As Salus dalam Al Imamah wal Khilafah yang menyatakan shahihnya hadis “Kitab Allah Dan SunahKu”.
Ali As Salus menyatakan bahwa hadis riwayat Imam Malik adalah shahih Walaupun dalam Al Muwatta hadis ini mursal. Beliau menyatakan bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh As Suyuthi,Al Manawi dan Al Albani. Selain itu hadis mursal dalam Al Muwatta adalah shahih menurutnya dengan mengutip pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.
.
.
.
Tanggapan Terhadap Ali As Salus
Pernyataan pertama bahwa hadis Malik bin Anas dalam Al Muwatta adalah shahih walaupun mursal adalah tidak benar. Hal ini telah dijelaskan dalam tanggapan kami terhadap Hafiz Firdaus bahwa hadis mursal tidak bisa langsung dinyatakan shahih kecuali terdapat hadis shahih(bersambung sanadnya) lain yang menguatkannya. Dan kenyataannya hadis yang jadi penguat hadis mursal Al Muwatta ini adalah tidak shahih. Pernyataan Selanjutnya Ali As Salus bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah ra adalah tidak tepat karena seperti yang sudah dijelaskan, dalam sanad hadis Abu Hurairah ra ada Shalih bin Musa yang tidak dapat dijadikan hujjah.
Ali As Salus menyatakan bahwa hadis mursal Al Muwatta shahih berdasarkan
  • Pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan
  • Pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.
Mengenai pernyataan Ibnu Abdil Barr tersebut, jelas itu adalah pendapatnya sendiri dan mengenai hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang mursal dalam Al Muwatta Ibnu Abdil Barr telah mencari sanad hadis ini dan memuatnya dalam kitabnya At Tamhiddan Beliau menshahihkannya. Setelah dilihat ternyata hadis dalam At Tamhidtersebut tidaklah shahih karena cacat yang jelas pada perawinya.
.
Begitu pula pernyataan As Suyuthi yang dikutip Ali As Salus di atas itu adalah pendapat Beliau sendiri dan As Suyuthi telah menjadikan hadis Abu Hurairah ra sebagai syahid atau pendukung hadis mursal Al Muwatta seperti yang Beliau nyatakan dalam Jami’ As Saghir dan Beliau menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah ditelaah ternyata hadis Abu Hurairah ra itu adalah dhaif. Jadi Kesimpulannya tetap saja hadis “Kitab Allah dan SunahKu” adalah hadis yang dhaif.
.
Salah satu bukti bahwa tidak semua hadis mursal Al Muwatta shahih adalah apa yang dikemukakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silisilatul Al Hadits Adh Dhaifah Wal Maudhuah hadis no 908
Nabi Isa pernah bersabda”Janganlah kalian banyak bicara tanpa menyebut Allah karena hati kalian akan mengeras.Hati yang keras jauh dari Allah namun kalian tidak mengetahuinya.Dan janganlah kalian mengamati dosa-dosa orang lain seolah-olah kalian Tuhan,akan tetapi amatilah dosa-dosa kalian seolah kalian itu hamba.Sesungguhnya Setiap manusia itu diuji dan selamat maka kasihanilah orang-orang yang tengah tertimpa malapetaka dan bertahmidlah kepada Allah atas keselamatan kalian”.
Riwayat ini dikemukakan Imam Malik dalam Al Muwatta jilid II hal 986 tanpa sanad yang pasti tetapi Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil(bersambung) atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.
Syaikh Al Albani berkata tentang hadis ini
”sekali lagi saya tegaskan memarfu’kan riwayat ini sampai kepada Nabi adalah kesalahan yang menyesatkan dan tidak ayal lagi merupakan kedustaan yang nyata-nyata dinisbatkan kepada Beliau padahal Beliau terbebas darinya”.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Al Albani tidaklah langsung menyatakan bahwa hadis ini shahih hanya karena Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW. Justru Syaikh Al Albani menyatakan bahwa memarfu’kan hadis ini adalah kedustaan atau kesalahan yang menyesatkan karena berdasarkan penelitian beliau tidak ada sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW mengenai hadis ini.
.
Yang Aneh adalah pernyataan Ali As Salus dalam Imamah Wal Khilafah yang menyatakan bahwa hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah dhaif dan yang shahih adalah hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”. Hal ini jelas sangat tidak benar karena hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”sanad-sanadnya tidak shahih seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan di atas. Sedangkan hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah hadis yang diriwayatkan banyak shahabat dan sanadnya jauh lebih kuat dari hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”.
.
Jadi kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih. Ali As Salus dalam Imamah wal Khilafah telah membandingkan kedua hadis tersebut dengan metode yang tidak berimbang. Untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” beliau mengkritik habis-habisan bahkan dengan kritik yang tidak benar sedangkan untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” beliau bertindak longgar(tasahul) dan berhujjah dengan pernyataan ulama lain yang juga telah memudahkan dalam penshahihan hadis tersebut. 
Wallahu’alam.