Riwayat Palsu Tentang Bai’at Ali Radhiallahu ‘Anhu kepada Utsman Radhiallahu ‘Anhu

Ali Radhiallahu ‘Anhu tidak  membai’at Utsman dan menetapkan kekhalifahannya, berbeda dengan apa yang disuarakan oleh anak cucu wahabi.

Harus dibedakan ini karena ajaran atau karena Individu.

Bagi AhlulSunnah, Mengkritik hatta Nabi Allah SAW pun tidak apa2. Tetapi ketika mengkritik sahabat maka seluruh pelajar Sunny akan berkata Syi’ah telah mencela sahabat. Bukankah haya Sunny yang mengatakan Nabi SAW tidak luput dari kesalahan, sementara Syi’ah menghargai dan menempatkan Nabi sebagai sosok yang Maksum.

Riwayat ini dha’if :

Dalam salah satu khutbahnya Ali Radhiallahu ‘Anhu membantah Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu. Dia berkata: “Sesungguhnya “syura” adalah milik Muhajirin dan Anshar, jika mereka telah bersepakat memilih seseorang dan menyebutnya sebagai imam maka Allah meridhainya. Jika dia keluar dari perkara mereka, keluar dengan karena celaan atau bid’ah maka mereka mengembalikannya dari yang menyebabkan ia keluar. Jika dia menolak maka mereka memeranginya karena telah mengikuti langkah yang bukan langkahnya kaum mukminin, dan Allah menyerahkannya kepada arah yang ia kehendaki”.[1]

Riwayat ini palsu :

Ali Radhiallahu ‘Anhu adalah satu di antara enam orang yang ditunjuk oleh Umar al-Faruq untuk memilih satu di antara enam orang itu sebagai khlifah kaum muslimin. Dan hasil musyawarah menentukan Utsman, maka yang pertama kali membai’at adalah Abdur-Rahman ibn ‘Auf kemudian Ali Radhiallahu ‘Anhu.[2]

Riwayat ini dha’if :

Ali Radhiallahu ‘Anhu mengatakan: “Ketika Umar al-Faruq ditikam ia menunjukku sebagai orang keenam dari enam orang (yang ditunjuknya). Maka aku masuk di tempat yang Umar telah menempatkan aku, dan aku tidak suka jika aku memecah jama’ah kaum muslimin dan memecah kekuatan mereka. Kalian telah membai’at Utsman maka aku (juga harus) membai’atnya”.[3]

Tidak semua kitab syi’ah memiliki riwayat shahih !! Hati hati bro


[1] Al-Amali. Jilid II. Hal 121. Cet Najef.

[2] Thabaqat Ibn Sa’ad. Jilid III. Hal 42.

[3] Al-Amali. Op. Cit.

Tragedi Hari Kamis

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr wb
Ustadz benarkah dalam shohih Bukhori ketika Rosululloh SAW sakit, beliua meminta secarik kertas untuk menuliskan suatu wasiat, naun sahabat ‘Umar R.A tidak mengindahkannya, bahkan melarang sahabat lain untuk mematuhi Beliau. Dan ini dijadikan dail org orang syi’ah untuk mengatakan bahwa sahabat ‘Umar tidak taat kepada Rosul?

Terima kasih atas jawabannya
Wasslamu’alikum wr wb

Jawaban ustad husain ardilla :

Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Harus dibedakan ini karena ajaran atau karena Individu.

Bagi AhlulSunnah, Mengkritik hatta Nabi Allah SAW pun tidak apa2. Tetapi ketika mengkritik sahabat maka seluruh pelajar Sunny akan berkata Syi’ah telah mencela sahabat. Bukankah haya Sunny yang mengatakan Nabi SAW tidak luput dari kesalahan, sementara Syi’ah menghargai dan menempatkan Nabi sebagai sosok yang Maksum.

Hadits tentang itu shahih

Syi’ah tersinggung dengan pernyataan Nabi disebut “mengigau” oleh Umar

Ibnu Abbas keluar dan berkata : “ini sangat disayangkan (kehilangan yang besar) bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan sesuatu untuk mereka karena perselisihan pendapat dan kegaduhan.
(Shahih Bukhari, jilid 1, Buku 3, No. 114)

Ibnu Abbas sendiri berkata :
“Orang-orang (yang hadir di sana) berselisih pendapat dalam kejadian ini, dan hal yang tidak pantas berselisih pendapat di hadapan Nabi”.
(Shahih Bukhari, Jilid 5, Buku 59, No. 716)

Ketika mereka menimbulkan keributan di hadapan Nabi, Rasulullah berkata, “Pergi!” Dikisahkan oleh Ubaidullah: Ibn Abbas pernah berkata, “Sangat disayangkan bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan pernyataan untuk mereka disebabkan pertengkaran dan kegaduhan mereka. “
(Shahih Bukhari, jilid 7, buku 70, no. 573)

Menjelang akhir hidup beliau, Nabi mengalami sakit kepala yang parah, dan kegaduhan dari pertengkaran orang-orang disekeliling beliau menyebabkan sakit pada kepala beliau.

Selama sakit beliau, Nabi Allah meminta tinta dan kertas. Karena beliau kemudian mengalami sakit yang bertambah parah, Umar turun tangan dan mengatakan beliau jangan dibebani oleh apapun dan Al-Qur’an adalah cukup bagi kita sebagaimana beliau telah mengatakannya (mungkin yang dimaksud Umar Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah telah bersabda di haji Wada’ mengenai Al-Qur’an). Tetapi sebagian sahabat mendukung untuk membiarkan beliau mendikte. Nabi tidak menyukai keributan dan meminta orang-orang untuk pergi. Pada saat itu beliau sedang menderita sakit kepala yang hebat dan ini adalah alasan mengapa Umar menyarankan untuk tidak menyulitkan beliau dengan cara apapun. Ketika rasa sakit beliau (Nabi) sudah berkurang, beliau memanggil orang-orang ke dalam dan (meriwayatkan tiga hal).
(Tarikh Islam, Jilid 1, hal 244-245)

Dan itulah yang terjadi, suara-suara keributan memperburuk sakit kepala Nabi, dan inilah yang menyebabkan Nabi menjadi marah

Tetapi para sahabat Nabi berselisih pendapat mengenai hal ini dan menimbulkan suara keributan. Oleh karena itu Nabi berkata kepada mereka, “pergi (dan tinggalkan aku sendiri). Adalah hal yang tidak pantas kalian bertengkar di hadapanku.” Ibnu Abbas keluar dan berkata, “Sangat disayangkan (sebuah musibah yang besar) bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan pernyataan untuk mereka disebabkan pertengkaran dan kegaduhan mereka.”
(Shahih Bukhari, Jilid 1, buku 3, no 114)

Nabi sendiri telah menjelaskan alasan mengapa beliau marah dimana beliau bersabda “pergi (dan tinggalkan aku sendiri). Adalah hal yang tidak pantas kalian bertengkar dihadapanku”

Ketika mereka terlibat pembicaraan yang kacau dan mulai saling berdebat di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “bangun (dan pergi)” Ubaidullah berkata : Ibnu Abbas selalu mengatakan: “itu adalah suatu kehilangan yang besar, sungguh suatu kehilangan yang besar,sehubungan dengan pertengkaran dan kegaduhan mereka.”
(Shahih Muslim, Kitab 013, No. 4016)

Apakah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu sebagai pengganti beliau?

Da’i Syi’ah mengklaim bahwa Nabi meminta tinta dan kertas agar beliau bisa menuliskan wasiat yang mana beliau diduga ingin menunjuk Ali sebagai pengganti beliau. Mereka menuduh Umar mencegah Nabi dari melakukan hal itu.

Pada masa Khalifah Al Mutawakkil Mazhab Sunni mulai merumuskan ajaran keadilan semua sahabat, penobatan Ali menjadi khulafaurrasyidin, pengingkaran wasiat imamah ghadir kum dan kriteria jarah ta’dil ilmu hadis

Pada masa Khalifah Al Mutawakkil Mazhab Sunni mulai merumuskan ajaran ajaran nya seperti :

1. keadilan semua sahabat

2. penobatan Ali menjadi khulafaurrasyidin ke empat, padahal sebelumnya dicaci dan dikutuk di mimbar

3. pengingkaran wasiat imamah ghadir kum

4. dan kriteria jarah ta’dil ilmu hadis

5. dll

Para Penghujat Syi’ah Loyal Pada Rezim :

Kritik Hadis Dalam Perspektif Kesejarahan / Dialektika historis

Pergolakan politik yang terjadi pada masa sahabat yaitu perang jamal dan perang shiffin  telah memecah belah umat islam secara berlarut larut hingga kini

Syi’ah selalu beroposisi terhadap pemerintahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah sehingga pengikut syi’ah selalu ditindas. Ahlulbait Rasulullah mengalami tekanan dari pihak penguasa Abbasiyah. Syi’ah senantiasa berada dibawah tekanan berat secara politik dari penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang khawatir bangkitnya pemikiran oposisi terutama tentang imamah, disinilah konsep taqiyah merebak

Syi’ah menganggap pemerintahan Bani Abbasiyah sebagai dinasti yang tidak sah dan melarang umat islam bekerjasama dengan mereka kecuali pada masalah masalah darurat dan kondisi terpaksa

Periode tabi’in jelas pada masa Dinasti Umayyah. Sunni dan syi’ah merupakan dua kelompok politik yang saling berebut kekuasaan, terutama antara pendukung Mu’awiyah dan pengikut Ali. Ketika Umayyah menang maka mereka mencari legitimasi terhadap tindakan dan pandangan politiknya, ini merupakan cikal bakal awal perkembangan aliran sunni

Ahlusunnah saat rezim Bani Umayyah hingga masa perkembangan awal kekuasaan Bani Abbasiyah  masih dalam keadaan mencari bentuk. Berkembang lah empat mazhab fikih sunni. Perbedaan mazhab bukan pada hal aqidah (pokok keimanan) tapi lebih pada tatacara ibadah. Syafi’i menyusun Ushul fikih yang didalamnya mengandung ajaran ijma’ dan qiyas.

Dinasti Abbasiyah ikut membentuk mazhab Sunni terutama pada masa Khalifah Mutawakkil yang menggantikan 3 khalifah sebelumnya yang pro mu’tazilah. Penguasa Abbasiyah membebaskan Ahmad bin Hambal dari penjara kemudian membatalkan paham mu’tazilah sebagai paham negara dan menggantinya dengan paham sunni. Al-Mutawakkil adalah khalifah ke-10 Bani Abbasiyah (847M-861M/232H-247H) mendukung mazhab hambali. Ulama ulama hadis sunni ikut terpengaruh pada tendensi politik kepentingan kekuasaan umayyah abbasiyah, terpengaruh paradigma propaganda kekuasaan

Pada tahun 850 Khalifah Mutawakkil dari Bani Abbasiyah terang terangan memusuhi kaum syi’ah dengan menghancurkan monumen monumen yang dianggap suci oleh mereka. Penguasa Abbasiyah yang paling tampak permusuhannya terhadap ahlulbait Nabi SAW adalah Mutawakkil yang berkuasa selama 14 tahun

Pada masa Mutawakkil itulah sunni mulai merumuskan ajaran ajarannya seperti menegaskan sikap  terhadap posisi Usman dan Ali dengan mengeluarkan hasil pemikiran (ijtihad) bahwa masyarakat terbaik setelah Nabi SAW adalah Abubakar, Umar, Usman dan Ali. Dalam bidang hadis lahir tokoh Bukhari, Muslim dan Ahmad.

Imam Ali pada awalnya tidak dianggap sebagai seorang sahabat yang utama, malah beliau dilaknat di mimbar selama 80 tahun. Disebabkan oleh suasana politik yang tidak menyebelahi Ahlulbait(as). Ketika itu, wujudnya pemerintahan yang sangat membenci Ahlulbait dan para pengikut mereka.Nama Imam Ali (as) baru dimasukkan sebagai khalifah rasyidin pada  zaman Imam Ahmad bin Hanbal.

Pergolakan politik memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan hadis yakni munculnya hadis hadis rekayasa yang kian hari kian bertambah banyak untuk mendukung kepentingan politik penguasa dan menjatuhkan posisi lawannya. Fanatisme golongan dan terpecah pecahnya umat islam

Adanya dukungan politik melalui institusi akademik, juga dukungan finansial dari otoritas kekuasaan. Menggunakan lembaga negara sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran ajaran yang dirumuskan oleh para tokohnya

Pertikaian antara sunni (ahlulhadis) dengan syi’ah selalu diwarnai dimensi politik. Syi’ah tidak hancur ditelan sejarah, malah tetap eksis dan berkembang. Sebagai respon reaktif terhadap pengaruh pemikiran politik syi’ah maka  pemikiran kelompok sunni menekankan ketaatan absolut terhadap khalifah yang sedang berkuasa. Pengakuan dari penguasa tentu tidak gratis, dibuatlah pemikiran teologi untuk mendukung pemerintahan rezim dan mempertahankan kehidupan kekuasaan, yang menjadi alat legitimasi bagi kekuasaan khalifah yang sedang berkuasa

Diperlukan waktu ratusan tahun untuk membentuk mazhab sunni aswaja seperti model yang sekarang

Pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah masa kekuasaan Bani saljuk berdirilah Madrasah Nizamiyah

 

Bila Imam Ali(as) Diiktiraf Sebagai Khalifah Rashid Oleh Sunni?

Agak mengejutkan juga apabila saya menemui satu riwayat, yang menunjukkan pada asalnya, Ahlul Sunnah wal Jamaah tidak mengiktiraf Sayyidina Ali sebagai khalifah ar Rashidin. Nama Imam Ali(as) hanya dimasukkan sebagai khalifah yang adil di zaman Imam Ahmad bin Hanbal.

Di dalam kitab Tabaqat, yang dianggap oleh ulama’ bermazhab Hanbali sebagai rujukan utama mereka, Ibn Abu Ya’li menyatakan bahawa Wadeezah al-Himsi berkata:

‘Saya menziarahi Ahmad ibn Hanbal, setelah penambahan nama Ali [ke dalam urutan nama Khalifah yang tiga [Khalifah yang adil]. Saya berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdullah! Apa yang telah kamu lakukan adalah memburukkan kedua mereka Talhah dan al-Zubayr!
Ahmad berkata: ‘Janganlah membuat kenyataan yang jahil! Apa yang ada kena mengena dengan kita mengenai peperangan mereka, dan kenapa kamu menyebutnya sekarang?’
.
Saya berkata: ‘Semoga Allah memandu kamu kepada kebenaran, kami menyatakannya setelah kamu menambah nama Ali dan memberi mandat kepadanya [dengan sanjungan] sebagai Khalifah sebagaimana yang telah dimandatkan kepada Imam-imam sebelumnya!’ 
Ahmad berkata: ‘Dan apa yang akan menahan saya dari melakukannya?’
.
Saya berkata: ‘Satu hadits yang disampaikan oleh Ibn Umar.’ 
Dia berkata kepada saya: ‘Umar ibn al-Khattab adalah terlebih baik dari anaknya, kerana dia menerima [i.e mengesyor] Ali sebagai Khalifah ke atas Muslim dan menyenaraikan beliau di antara mereka-mereka ahli syura, dan Ali merujuk dirinya sebagai Amirul Mukminin; adakah saya yang akan mengatakan bahawa mereka yang beriman tidak mempunyai pemimpin?!’ Maka saya pun pergi.[Tabaqat al-Hanabila, jilid 1 ms 292]

Dari riwayat ini, dapat kita lihat bahawa dari zaman tabiin, nama Imam Ali(as) pada asalnya bukanlah tersenarai sebagai para khalifah yang benar. Pegangan mereka ini, berkemungkinan besar disebabkan oleh suasana politik yang tidak menyebelahi Ahlulbait(as). Lihat sahaja hadis Ibnu Umar(ra):

Abdullah ibn Umar berkata: ‘Semasa hidup rasul Allah, kami menganggap Abu Bakr paling utama, kemudian Umar ibn al-Khattab, kemudian Uthman ibn Affan, semoga Allah merasa senang dengan mereka’.[Al-Bukhari, sahih jilid 4 ms 191, jilid 4 didalam buku pada mula kejadian didalam bab mengenai kemuliaan Abu Bakr yang hampir sama dengan kemuliaan para rasul]

Persoalannya, di mana Imam Ali di sisi mereka? Mengapa Ibnu Umar meninggalkan Imam Ali(as)? Mungkin pihak Sunni boleh tolong menerangkan hadis ini. Riwayat seperti ini kerap dijumpai di dalam kitab Sunni.

كنا نفاضل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم نسكت

“Kami mengutamakan di zaman Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian kami diam” [Diriwayatkan dalam Shahih Ibnu Hibban no. 7251, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/9, Musnad Ahmad 2/14 no 4626, As Sunnah Ibnu Abi ‘Aashim no. 1195, dan Mu’jam Al Kabir Ath-Thabaraniy 12/345 no. 13301: shahih]

Ternyata di sini, dari awal lagi, Imam Ali(as) tidak mendapat kemuliaan yang sepatutnya di sisi sesetengah para sahabat dan perkara ini menjadi asas kepada generasi para tabiin untuk tidak memasukkan nama Ali sebagai sebahagian para khalifah yang adil. Tambahan pula, ketika itu, wujudnya pemerintahan yang sangat membenci Ahlulbait dan para pengikut mereka. Sesiapa yang meriwayatkan keutamaan Ahlulbait(as) boleh dituduh sebagai Syiah.

Oleh kerana Imam Ali tidak dianggap sebagai seorang sahabat yang utama, tidak hairanlah nama beliau boleh dilaknat dari mimbar selama 80 tahun. Nauzubillah.

Oleh itu, saya menanti penjelasan berkaitan riwayat-riwayat ini, walaupun saya tahu, jawabannya hanyalah berbentuk basa basi, dan penakwilan makna, agar dapat menyedapkan telinga sahaja, tanpa sebarang nilai ilmiah. Aqidah Ahlul Sunnah yang asal berittikad bahawa Imam Ali(as) hanyalah seorang sahabat yang biasa tanpa keutamaan yang besar. Riwayat di atas adalah hujahnya

.

Mazhab Hambali / Imam Ahmad bin Hanbal dicetuskan oleh Ahmad bin Muhammad Hanbal bin Hilal. Dasar-dasarnya yang pokok ialah berpegang pada :

  1. al-Qur-an
  2. Hadits marfu’
  3. Fatwa sahabat dan mereka yang lebih dekat pada al-Qur-an dan hadits, di antara fatwa yang berlawanan
  4. Hadits mursal
  5. Qiyas

Mazhab ini dianut kebanyakan penduduk Hejaz, di pedalaman Oman dan beberapa tempat sepanjang Teluk Persia dan di beberapa kota Asia Tengah

.

Al-Mutawakkil (821-861) adalah khalifah ke-10 Bani Abbasiyah (847-861).

Ja’far al-Mutawakkil adalah putra al-Mu’tasim Billah (833-842) dan seorang wanita Persia. Ia menggantikan saudaranya al-Watsiq (842-847) dan dikenal menyelenggarakan “mihnah“, percobaan seperti inkuisisi untuk menegakkan satu versi murni Islam. Selama masa pemerintahan, pengaruh Mu’tazilah berkurang dan masalah kemakhlukan al-Qur’an berakhir. Selama tahun-tahun pertama pemerintahannya, al-Mutawakkil menunjukkan rasa toleran terhadap Imam Syi’ah yang mengajar dan berdoa di Madinah. Setelah meninggalnya al-Mutawakkil, Syi’ah mengalami penindasan; makam Husain bin Ali di Karbala dihancurkan.

Al-Mutawakkil terus mengandalkan negarawan Turki dan pasukan budak untuk meredam pemberontakan dan memimpin pasukan menghadapi kekuasaan asing, seperti Bizantium yang wilayahnya di Sisilia berhasil direbut. Wazirnya al-Fath bin Khaqan, seorang Turki, adalah tokoh terkenal di masa pemerintahannya. Namun, kepercayaannya pada orang Turki berbalik menghantuinya. Ia menitahkan pembunuhan terhadap panglima tertingginya yang notabene orang Turki. Hal ini menyebabkan pengaruhnya melorot drastis.

Al-Mutawakkil dibunuh oleh seorang prajurit Turki pada tanggal 11 Desember 861. Konon, pembunuhan ini merupakan bagian dari plot yang direncanakan oleh putranya al-Muntashir, yang menjadi jauh dari ayahandanya.

Pemerintahan al-Mutawakkil diingat akan reformasi-reformasinya dan dipandang sebagai masa keemasan Bani Abbasiyah. Ia adalah khalifah terbesar terakhir Abbasiyah; setelah kematiannya khilafah mulai mundur.

Dengan demikian, nama empat imam mazhab sunni  menjadi harum dan terkenal karena perantaraan raja dan sultan. Jika tidak, maka tentu mazhabnya akan menjadi mazhab yang terlupakan.

Pokok terpecahnya Sunni dan Syi’ah

persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu menafsirkan, bahwa yang dimaksud dengan ‘tali Allah’ di sini adalah al-Jama’ah/persatuan, atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya.

Apa Sebab Perpecahan?

sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama’ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.” (QS. al-An’am: 159).

“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, dan agama ini melarang tindak perpecah-belahan dan persengketaan bagi segenap pemeluk agama (Islam), dalam seluruh persoalan agama; yang pokok maupun yang cabang…”

Seorang muslim -apalagi penuntut ilmu dan da’i- semestinya memperhitungkan dampak dari pendapat atau ucapan yang dilontarkannya di hadapan manusia, apakah hal itu menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka ataukah tidak.

Sebuah pelajaran berharga, bahwa perpecahan tidak akan teratasi dengan perpecahan pula. Perpecahan hanya bisa diatasi dengan persatuan yang sejati.

Barangsiapa mengira bahwa perpecahan bisa diatasi dengan sikap ta’ashub kepada sosok tertentu selain Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh dia telah keliru!

Islam yang asli pada zaman Umayyah Abbasiyah telah dirusak, Syi’ah yang memurnikan islam justru dituduh sesat

“Nabi Muhammad saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelahnya

Nabi Muhammad saw datang membawakan ajaran mulia, Islam.

Sepanjang dakwahnya ia selalu mengenalkan Ali bin Abi Thalib kepada umatnya, bahkan menyatakan bahwa ia adalah pemimipin setelahnya.

Rasulullah saw meninggal dunia. Namun semua orang sibuk di Saqifah membahas siapakah yang layak menjadi pengganti nabi.

Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dikucilkan.

Imam demi Imam silih berganti, sampai imam terakhir, Al Mahdi ghaib.

Kini kita tidak bisa merasakan kehadiran pimpinan di tengah-tengah kita. Ikhtilaf, perpecahan, perbedaan pendapat, permusuhan antar umat Islam… semuanya berakar di sejarah yang terlupakan.

Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan. Syi’ah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pertama, lalu Hasan dan Husain putranya, lalu Ali Zainal Abidin, dan seterusnya.

Pokok terpecahnya Sunni dan Syi’ah

Pusat perdebatan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah berkisar pada masalah Imamah (yaitu Aimmatal Ma’shumin). Pentingnya Imamah adalah begitu besarnya sehingga Ulama Syi’ah menganggap orang-orang yang menolak Imamah dalam bahaya. Ulama Sunni menganggap orang-orang yang menerima doktrin Imamah Syi’ah akan menjadi zindiq

Sebagian besar polemik perdebatan antara Sunni dan Syi’ah berputar di sekitar isu-isu seperti Mut’ah, Matam, Saqifah, Ghadir Khum, Fadak, dan isu-isu selain itu. Namun, masalah mendasar yaitu perdebatan-Imamah-adalah seringkali diabaikan.

Setiap perselisihan lain Syiah dengan Sunni [selain Imamah] berakar pada desakan Syiah pada Imamah sebagai prinsip Islam, baik dalam keyakinan maupun praktek. Dari pandangan dan interpretasi berbeda mengenai sejarah, sistem yang sama sekali berbeda dari koleksi Hadis dan otentikasi, dan perilaku yang berbeda dari mempraktekan Islam, semua ketidaksamaan tersebut dapat ditelusuri kembali mengarah kepada Imamah sebagai doktrin dalam iman Syiah.

Oleh karena adalah sangat beralasan bahwa fokus dari setiap pencarian kebenaran yang serius akan dimulai dan diakhiri dengan prinsip Imamah dalam pikiran dari pencari kebenaran. Mencoba untuk meneliti tentang perbedaan antara Syiah dan Sunni tanpa mempertimbangkan dogma Imamah sebagai titik menempel utama akan menyebabkan argumen buntu dan sia-sia. Saya secara pribadi telah menyaksikan sejumlah diskusi Sunni-Syi’ah yang dengan cepat turun ke dalam kekacauan karena satu sisi atau keinginan lain untuk membahas suatu subjek yang kurang mendasar.

Aman untuk mengatakan bahwa jika Syi’ah tidak percaya pada konsep Imamah, maka mereka tidak akan dianggap sebagai sekte yang terpisah. Masalah-masalah lain pertentangan antara Sunni dan Syi’ah hanyalah konsekuensi dari Imamah. Oleh karena itu, Imamah dan keabsahannya dalam Al-Qur’an adalah isu utama pertentangan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Syi’ah.

Imamah

Sebelum kita melanjutkan, penting untuk menyatakan apa sebenarnya yang dimaksud dengan doktrin Imamah Syi’ah tersebut.

Doktrin Imamah Syi’ah: Selain dari para nabi, ada sekelompok orang yang ditunjuk oleh Allah yang disebut imam. Mereka ini adalah orang yang memiliki Ismah (kemaksuman) dan memiliki akses ke suatu pengetahuan yang tidak dapat diakses oleh orang biasa. Dunia tidak boleh kosong dari seorang Imam, jika tidak maka akan dihancurkan. Dalam konteks Islam, orang-orang ini adalah dua belas orang di antara keturunan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) yang tidak ditunjuk oleh seorang pun kecuali oleh Allah (عز و جل) sendiri untuk memimpin umat Islam. Siapapun yang memilih pemimpin selain dua belas imam ini adalah sesat dan tidak beriman sempurna. Imam ke dua belas (terakhir) dari para imam tersebut adalah al-Mahdi dan, meskipun ia telah di okultasi selama lebih dari seribu tahun, ia akan kembali ketika Allah (عز و جل) menghendaki dan kemudian keadilan akan menang.

Pentingnya Imamah dalam Ajaran Syi’ah

Doktrin Imamah di atas adalah keyakinan inti dari Syi’ah. Kaum Syi’ah mempertimbangkan lima hal keyakinan sebagai dasar agama. Yaitu:

1. Tauhid (Keesaan Allah)

2. Nubuwwah (kenabian)

3. Ma’ad (hari kiamat)

4. Adl (Keadilan Allah)

5. Imamah (doktrin di atas)

Imamah dianggap oleh Syi’ah sebagai salah satu dasar [Ushuluddin] agama.

Dalam Syi’ah, agama dibagi menjadi Ushuluddin dan Furu’uddin. Ushuluddin adalah prinsip-prinsip keyakinan agama, analog dengan Rukun Iman dalam Sunni. Furu’uddin berkaitan dengan praktek dalam agama, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya.

Untuk memperkenalkan pembaca dengan apa yang merupakan Ushuluddin dalam Syi’ah, saya akan mengutip saluran berikut dari buku Allamah Muhammad Husain al-Kashiful Gita “Aslul Syi’ah wa Ushuluha”:

“Hal-hal yang menyangkut pengetahuan atau hikmat, disebut Ushuluddin (dasar-dasar agama) dan itu adalah lima: Tauhid, Nabuwwah, Imamah, ADL, dan Ma’ad.” ["Aslul Syi’ah wa Ushuluha, Bagian II: Dasar-dasar Agama ", p.218]

Dengan pengertian yang sama, sarjana Syi’ah Muhammad Ridha Muzaffar menyatakan: “Kami percaya bahwa Imamah adalah salah satu dasar Islam (Ushuluddin), dan bahwa iman manusia tidak akan pernah lengkap tanpa adanya kepercayaan padanya.”

… Isu yang nyata dari pertentangan [antara Sunni dan Syi’ah] adalah sehubungan dengan [kepercayaan] Imamah. Sebagaimana [sarjana Syi’ah] Allamah Kashiful Gita menyebutkan: “Ini adalah pertanyaan tentang Imamah yang membedakan sekte Syi’ah dari semua sekte lain. Perbedaan lainnya tidak mendasar, itu adalah masalah furu’ (yaitu sekunder) “[ASL-ul-Syi’ah wa Ushuluha, hal.221]

Dengan demikian, pentingnya Imamah dalam Syi’ah lebih dari pentingnya Shalat (doa); Imamah dianggap Ushuluddin [yaitu Mendasar] sedangkan Sholat adalah Furu’uddin [dgn kata lain sekunder]. Akan akurat untuk mengatakan bahwa Furu’uddin adalah konsekuensi langsung dari Ushuluddin. Imamah dianggap sebagai pilar paling penting Islam. Dan Imamah yang kita bahas di sini adalah tidak berarti “kepemimpinan” karena Sunni-pun dan juga setiap kelompok dalam Islam -menganggap kepemimpinan menjadi isu penting. Ketika kita menyebut “Imamah” di sini, kita sedang mengacu kepada doktrin khusus Syi’ah yaitu para pemimpin maksum yang ditunjuk oleh Allah yang harus diikuti.

Paham Imamah ‘ala Syi’ah

Begitu pentingnya soal Imamah bagi para ulama Syi’ah dapat dilihat dari pandangan mereka tentang orang-orang yang menolak Imamah. Mari kita lihat apa yang situs Syi’ah populer, Al-Shia.com, telah mengatakan tentang ini:

Al-Shia.com berkata :

:“فيمن جحد إمامة أمير المؤمنين والائمة من بعده عليهم السلام بمنزلة ( 6 ) من جحد نبوة الانبياء عليهم السلام . واعتقادنا ”
“فيمن أقر بأمير المؤمنين وأنكر واحدا من بعده من الائمة عليهم السلام أنه بمنزلة من آمن بجميع الانبياء ثم أنكر بنبوة محمد صلى الله عليه وآله “

Imam Al-Saduk berkata, “keyakinan kita adalah bahwa orang yang menolak Imamah dari Amirul Mukminin (Ali) dan para Imam sesudah beliau, sama posisinya seperti orang yang menolak kenabian dari Sang Nabi.”

Lebih lanjut, beliau berkata: “dan keyakinan kita adalah orang yang menerima Amirul Mukminin (Ali) tetapi menolak salah seorang Imam sesudahnya, sama posisinya seperti orang yang percaya kepada semua Nabi tetapi menolak kenabian Muhammad (Saw).”

Syaikh Mufid menyatakan:

Imamiyyah bersepakat (Ijma’) bahwa orang yang menolak Imamah dari salah satu Imam dan menolak ketaatan terhadap mereka dimana Allah telah perintahkan adalah sesat.”

Oleh karena itu, kita melihat bahwa masalah Imamah adalah bukan perkara yang bisa dianggap enteng. Di satu sisi, para ulama syi’ah mengatakan bahwa mereka yang menolak Imamah adalah sesata. Di sisi yang lain, Ulama Sunni mengatakan bahwa mereka yang menerima doktrin Imamah ala Syi’ah adalah benar-benar dalam kesalahan total

Mau Tahu Perbedaan Sunni dan Syiah?

28 05 2011

JAKARTA –

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah?. Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.

“Sunni memiliki empat mazhab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Apakah ajaran keempat mazhab itu sama? Tidak ada yang berbeda,” katanya dalam seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5).

Jalaluddin mengatakan perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW). “Jadi bukan berarti ajaran Sunni itu salah, dan Syiah sebaliknya,” ujarnya.

Hal senada diutarakan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh, yang menyebut “Perbedaan Sunni dan Syiah di Iran lebih bermuatan politik.”

Sementara Pandu Iman Sudibyo, salah satu penganut Syiah dari Bengkulu, lalu mengajukan contoh praktik Syiah di daerahnya yang disebut tidak mendiskriminasi penganut Syiah di Bengkulu. “Kami hidup rukun dan kami lebih mengedepankan rasional,” kata ketua IJABI Bengkulu tersebut.

Di Bengkulu, katanya, setiap tahun malah ada perayaan Tabot untuk menghormati kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu nabi, yang bertepatan dengan hari Asyuro (10 Muharram). “Banyak turis asal Iran yang melihat perayaan Tabot di Bengkulu,” katanya.

Sunni-Syiah Indonesia Dideklarasikan

28 05 2011

Untuk pertamakalinya di dunia, aliran Islam Sunni dan Syiah tergabung dalam institusi resmi di Indonesia. Organisasi dengan nama Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia (Muhsin) akan dideklarasikan di Masjid Akbar Kemayoran, Jalan Benyamin Sueb, Jakarta Pusat.

“Ini pertama kalinya di dunia, organisasi gabungan antara Syiah dan Ahlussunah (Sunni),” kata penggagas Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia (Muhsin), Jalaluddin Rahmat dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Jumat 20 Mei 2011.

Menurut Jalaluddin, upaya untuk menyatukan dua organisasi besar ini tidak mudah. Ada banyak hambatan dan pertentangan dari banyak pihak. Buktinya, kata dia, sedianya acara ini digelar di Masjid Istiqlal pada bulan lalu. Tetapi, rencana itu ditolak.

“Sampai saat ini, semua undangan termasuk dari Kementerian Polhukam dipastikan hadir. Hanya dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menolak hadir,” kata Jalaluddin.

Organisasi Sunni-Syiah ini merupakan inisiatif dari Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Pengurus Pusat Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi). Karena di seluruh dunia, dua aliran ini kerap bertentangan.

Sunni atau Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur’an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat Nabi. Sekitar 90 persen umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10 persen menganut aliran Syiah. Pengikut Sunni sebagian besar berada di negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, Bahran, dan Qatar.

Sedangkan Syiah ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya (keluarga). Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Pengikut Syiah sebagian besar berada di negara Iran dan Irak.

“Seorang tokoh di Mesir pernah membentuk institusi gabungan antara Sunni dan Syiah. Dia adalah Hasan Albana. Tetapi, dia tewas dibunuh orang,” kata Jalaluddin. Meski demikian, inisitaif Hasan Albana itu baru dalam tataran inisiatif secara individu.

Rencananya, dalam deklarasi ini akan hadir Staf Ahli Bidang Ideologi dan Konstitusi Kemenko Polhukam, Laksma TNI Christina M Rantetana, dan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Nasaruddin Umar.

Sunni dan Syiah Bersatu di Indonesia

27 05 2011


Jakarta (ANTARA News) –

Untuk pertama kalinya terjadi di dunia, dua aliran besar dalam Islam, Sunni dan Syiah, menyatu dalam satu majelis, dan itu terjadi di Indonesia.

Kumpulan bernama majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) itu dideklarasikan sebelum salat Jumat di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, oleh Pengurus Pusat Dewan Mesjid Indonesia (DMI) yang mewakili Sunni dan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang mewakili Syi’ah.

“Majelis ini adalah yang pertama di dunia,” kata Ketua IJABI Jalaluddin Rahmat dalam seminar bertema “Kerukunan Ummat Beragama Sebagai Modal Dasar Untuk Kelestarian dan Kebangkitan Bangsa” yang juga ajang deklarasi majelis itu di Jakarta, Jumat (20/5).

Jalaluddin mengatakan, umat Islam harus bangga pada majelis ini karena ini sejarah baru bagi kedua mazhab yang sering diliputi perpecahan, untuk menjalin ikatan persaudaraan antarsesama muslim.

Jalaluddin menegaskan majelis itu tidak mencampurkan dua paham atau ajaran kedua mazhab itu, melainkan hanya sebagai tempat untuk berkumpul, berdialog, dan melakukan kegiatan sosial.

“Masalah ajaran itu masing-masing, Lakum Dinukum Waliyadin (Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku) dan menjalin ukhuwah Islamiyah adalah perintah Allah dalam Alquran,” katanya mengutip surat Al-Kafirun dalam Alquran.

Sementara anggota Pengurus Pusat DMI Daud Poliradja menyebut majelis itu didirikan atas latar belakang banyaknya perpecahan yang mengatasnamakan agama di Indonesia, padahal semua agama mengajarkan kebaikan dan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun.

“Umat beragama saling menjelekkan agamanya, sedangkan kita hidup di Indonesia yang berasaskan Pancasila,” sambung Daud.
Selain dihadiri Jalaluddin Rahmat dan Daud Poliradja, deklarasi MUHSIN itu dihadiri pula Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh dan Pembantu Deputi Bidang Politik Nasional Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Brigjen (Pol) Manahan Daulay.

Sementara Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto dan beberapa perwakilan lembaga Islam dan organisasi masyarakat seperti MUI, FPI dan FBR, tidak tampak hadir, padahal mereka sudah diundang.

“Kami tidak tahu mengapa tidak hadir, tapi kami sudah mengirimkan undangannya,”kata Daud. Salah satu dari lima poin deklarasi MUHSIN menyebutklan, “memendam dalam-dalam warisan perpecahan dan permusuhan di antara kaum mukmin.” (*)

Mau Tahu Perbedaan Sunni dan Syiah?

28 05 2011

JAKARTA –

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah?. Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.

“Sunni memiliki empat mazhab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Apakah ajaran keempat mazhab itu sama? Tidak ada yang berbeda,” katanya dalam seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5).

Jalaluddin mengatakan perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW). “Jadi bukan berarti ajaran Sunni itu salah, dan Syiah sebaliknya,” ujarnya.

Hal senada diutarakan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh, yang menyebut “Perbedaan Sunni dan Syiah di Iran lebih bermuatan politik.”

Sementara Pandu Iman Sudibyo, salah satu penganut Syiah dari Bengkulu, lalu mengajukan contoh praktik Syiah di daerahnya yang disebut tidak mendiskriminasi penganut Syiah di Bengkulu. “Kami hidup rukun dan kami lebih mengedepankan rasional,” kata ketua IJABI Bengkulu tersebut.

Di Bengkulu, katanya, setiap tahun malah ada perayaan Tabot untuk menghormati kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu nabi, yang bertepatan dengan hari Asyuro (10 Muharram). “Banyak turis asal Iran yang melihat perayaan Tabot di Bengkulu,” katanya.

Jumlah pengikut Syiah di Indonesia sudah mencapai angka 2,5 juta orang coba dihancurkan oleh WAHABi  yang sekarang juga tumbuh menjamur di beberapa kota

.

.

.

 

Bagaimana perkembangan Wahabi di Jazirah Arab?

Wahabi menguasai Mekah dan Madinah dengan berbagai cara, termasuk kekerasan melalui peperangan. Banyak ulama yang menjadi korban. Di Indonesia, sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama juga dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menyelamatkan Mekah dan Madinah dari penguasaan Wahabi yang ekstrem itu. Sampai-sampai NU mengutus Komite Hijaz ke Mekah untuk memrotes gerakan Wahabi yang hendak menghilangkan makam Nabi Muhammad SAW yang dianggap oleh Wahabi sebagai tempat syirik.

Jadi, sejak awal kemunculannya, gerakan Wahabi sudah radikal dan ekstrem?

Kalau dibaca dari buku-buku sejarah Arab modern, memang para pengikut Wahabi memakai cara-cara yang disebut dengan istilah ‘Badui-Wahabi’, yakni cara-cara barbar, kekerasan, dan agresif. Seperti di Indonesia juga ada penghancuran kuburan dan diratakan dengan tanah. Karena menurut keyakinan mereka, itu sesat, bid’ah, dan syrik.

Apakah hubungan wahabi dengan imperialisme? Semoga buku ini bisa memuaskan pembaca untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut

Gerakan Salafi Wahabi – Dana Arab Saudi Mengalir Deras

Gerakan Wahabi di Indonesia dicurigai membawa misi untuk menghancurkan dan menguasai, baik teritori maupun ekonomi.

Di Indonesia tak hanya tanahnya yang subur, berbagai ideologi juga tumbuh subur, termasuk ideologi Wahabi. Apalagi gerakan Wahabi masuk dengan pola yang terorganisir rapi. Dana mereka juga cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir sangat pesat dari Timur Tengah (Saudi).

“Mereka bekerjasama dengan percetakan, media, dan radio. Itu modal bagi paham apapun untuk bisa masuk dan tumbuh berkembang di sini,”

Kabarnya Wahabi dilahirkan oleh imprealis Inggris untuk memecah-belah kekuatan Islam?

Ya. Indikasinya memang kuat dugaan demikian itu. Seperti dimuat dalam Islam Online berbahasa Arab,   ada laporan sebuah pemyataan dari seorang da’i terkenal di Aljazair yang mengatakan bahwa gerakan Wahabi atau menurut penyebutan mereka Salafi-Wahabi merupakan buatan intelijen asing yang dibuat untuk menghancurkan madzab-madzab yang lain. Mereka menganggap orang yang berbeda dengan mereka sebagai kafir.

Mengapa mereka bisa begitu ekstrem dan radikal?

Mungkin karena Wahabi dilahirkan di tempat yang keras, maka kata-kata dan doktrin-doktrin yang digunakan juga keras. Banyak pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh ulama-ulama mereka itu sangat keras, model pemikiran yang keras, mudah menuduh bid’ah, bahkan mudah mengafirkan, tidak toleran, kaku, dan literalis. Tidak menutup kemungkinan itu dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu, termasuk asing, untuk memojokkan Islam.

Bila awal kemunculan Wahabi diwarnai aksi-aksi perebutan dan penguasaan di Semenanjung Saudi Arabia, berarti lahirnya Wahabi bermotif politis-kekuasaan?

Kalau dibilang sejak awal kemunculan Wahabi bermotif politis-kekuasaan, bisa saja. Namun, kita husnu-zhon (berbaik sangka) saja bahwa lahirnya aliran ini bermotif keagamaan. Hanya saja ada kepentingan-kepentingan yang memanfaatkan gerakan tersebut, termasuk kepentingan asing. Saya rasa, bukan hanya di Arab Saudi, di mana pun juga sama, baik pihak asing maupun dalam negeri pasti akan memanfaatkan setiap kesempatan.

Kabarnya, di balik kemunculan Wahabi juga ada motif adanya motif untuk menguasai minyak?

Dugaan itu tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak benar seratus persen. Artinya, dugaan itu memang ada benarnya. Bahwa kemudian kemunculan Wahabi itu membuat umat Islam terpecah itu dapat kita rasakan

Bagaimana pola aliran Wahabi yang berkembang di Indonesia?

Indonesia adalah negara yang wilayahnya subur. Ditanami apa saja tumbuh. Gerakan apa pun yang masuk ke Indonesia bisa cepat tumbuh, apalagi gerakan tersebut masuk dengan pola yang baik dan rapi. Dana mereka juga cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir dari Timur Tengah (Saudi Arabia) dan mengalir sangat pesat, sehingga itu cukup memudahkan kerja keras mereka. Mereka bekerja sama dengan percetakan, media, dan radio. Itu modal bagi paham apapun untuk bisa masuk dan tumbuh berkembang di sini.

Bagaimana dengan HTI, JI, NII, Ikhwanul Muslimin, dan PKS yang disebut-sebut berideologi Wahabi?

Wahabi berbeda dengan Ikhwanul Muslimin. Bahkan keduanya berpolemik dalam banyak permasalahan. Demikian juga dengan Hizbut Tahrir. Bahkan, HTI dan Ikhwanul Muslimin dikafirkan oleh pengikut Wahabi.

Apakah masuknya gerakan Wahabi ke Indonesia membawa misi untuk penguasaan politik dan ekonomi, sama halnya di Afghanistan dan Arab Saudi?

Menurut Mohammed Arkoun (pemikir Islam kontemporer Maroko), dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia akan menjadi negara Islam terbesar dan terkuat dunia. Nah, tidak menutup kemungkinan, dikirimnya virus-virus paham ekstrem itu ke Indonesia bertujuan untuk menghancurkan negara ini hingga tinggal nama saja. Virus itu memang sengaja disebar dan disuntikkan untuk melumpuhkan kebesaran bangsa ini

.

 

Cara Shalat Syi’ah


Tata Cara Wudhu`



Pertama kali, berniatlah untuk berwudhu` dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Ambillah air wudhu` dengan tangan kanan.

 

Basuhlah wajah Anda dengan air tersebut dimulai dari tempat tumbuhnya rambut di dahi hingga ujung janggut. Membasuh wajah disyaratkan dari atas ke bawah.

 

Lalu ambillah air untuk kedua kalinya dengan tangan kiri dan basuhlah tangan kanan dimulai dari siku-siku hingga ujung jari-jari. Membasuh tangan kanan disyaratkan dari atas ke bawah.

 

Lalu ambillah air untuk ketiga kalinya dengan tangan kanan dan basuhlah tangan kiri dari siku-siku hingga ujung jari-jari. Membasuh tangan kiri juga disyaratkan dari atas ke bawah.

 

Kemudian usaplah kepala bagian atas ke arah depan dengan tangan kanan dan menggunakan sisa air yang tersisa di tangan. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk mengusap kepala.

 

Setelah itu, usaplah kaki kanan Anda dengan sisa air yang ada di tangan kanan dari ujung jari kaki hingga pergelangan kaki. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk mengusap kaki kanan.

 

Selanjutnya, usaplah kaki kiri Anda dengan sisa air yang ada di tangan kiri dari ujung jari kaki hingga pergelangan kaki. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk memngusap kaki kiri. Dengan demikian, Anda tela selesai berwudhu`.

Praktek Wudhu dalam bentuk Video:

Praktek Tayamum dalam bentuk Video:

Adzan

أَللهُ أَكْبَرُ

(Allōhu akbar) 4 kali

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أللهُ

(Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali

أَشْهَدُ أَنَّ عَلِيًّا وَلِيُّ اللهِ

(Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullōh) 2 kali

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

(Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

(Hayya ‘alal falāh) 2 kali

حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ

(Hayya ‘alā khoiril ‘amal) 2 kali

أَللهُ أَكْبَرُ

(Allōhu akbar) 2 kali

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

(Lā ilāha illallōh) 2 kali

Iqamah

أَللهُ أَكْبَرُ

(Allōhu akbar) 2 kali

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أللهُ

(Asyhadu allā ilāha illallōh) 2 kali

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

(Asyhadu anna Muhammadan rōsulullōh) 2 kali

أَشْهَدُ أَنَّ عَلِيًّا وَلِيُّ اللهِ

(Asyhadu anna ‘Aliyyan waliyullōh) 2 kali

حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ

(Hayya ‘alash Sholāh) 2 kali

حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ

(Hayya ‘alal falāh) 2 kali

حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ

(Hayya ‘alā khoiril ‘amal) 2 kali

قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ

(Qod qōmatish sholāh) 2 kali

أَللهُ أَكْبَرُ

(Allōhu akbar) 2 kali

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

(Lā ilāha illallōh) 1 kali

.

Doa-doa Am Sebelum Solat/ Selepas Azan


Adalah menjadi satu amalan yang sangat mustahab untuk melaungkan azan dan iqamah sebelum solat wajib harian. Di antara azan dan iqamah, seseorang itu boleh sujud, duduk dan bacalah doa ini:

“Ya Allah, jadikanlah hatiku lembut, hidupku makmur dan berikanlah aku rezeki yang berterusan, dan tetapkanlah bagi ku tempat di sisi kubur Nabi(sawa) untuk aku tinggal dan berehat dengan rahmat Mu, Wahai Yang Maha Pemurah Lagi Pengasihani”

Kemudian, mintalah apa sahaja hajat, kerana hajat antara Azan dan Iqamah tidak tertolak.

Doa Sebelum Takbiratul Ihram

“Aku hadapkan muka ku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan ku berserah diri,  terhadap Umat Ibrahim dan Muhammad serta petunjuk Amirul Mukminin- dan aku bukanlah dari kalangan musyrikin. Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam. Tiadalah sekutu baginya. dan aku telah diperintahkan, dan aku adalah dari kalangan orang yang berserah diri. Ya Allah, jadikanlah aku dari kalangan orang-orang Muslim.

.
Nabi (s) bersabda “Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan sembahyang (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 1939)”.
.
Waktu-waktu Shalat dalam mazhab Syiah ialah:

1 – Waktu Shalat Subuh, dari terbit fajar hingga terbit matahari
2- Waktu Shalat Zuhur dan Asar, ketika matahari tegak di atas kepala hingga bergerak ke arah maghrib (barat)
3- Waktu Shalat Maghrib dan Isya’, selepas terbenam matahari hingga ke pertengahan malam.

Nabi (s) telah menghimpunkan shalat zuhur dalam waktu asar, asar dalam waktu zuhur (mengerjakan shalat zuhur 4 rakaat kemudian terus shalat asar 4 rakaat), maghrib dalam waktu isya’, dan Isya dalam waktu maghrib (mengerjakan shalat Maghrib 3 rakaat dan terus mengerjakan Isya’ 4 rakaat) bukan kerana ketakutan, bukan kerana peperangan atau bukan kerana perjalanan supaya tidak menyulitkan umatnya. Shalat seperti telah diamalkan oleh orang-orang Syiah sejak zaman Rasulullah (s). (Rujukan Sahih Muslim, cetakan Klang Book Centre, Hadis no 666 – 671.

                                                                                             
Hadis tentang Shalat itu ditemui juga dalam sahih Bukhari (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 307, 310).

Shalat Asar saat matahari belum tergelincir:

Shalat Asar sesudah Shalat Zuhur:
Syiah menjadikan tanah sebagai tempat meletakkan dahi ketika sujud. Dalam bahasa Arab kata kerja ‘Sajada’ di tambah mim dalam perkataan ‘Masjid’ adalah ‘isim makan’ (kata nama tempat) yang membawa maksud tempat sujud. Nabi (s) menjadikan bumi sebagai tempat sujud, dalam Sunan Tirmidzi cetakan Victory Agencie Kuala Lumpur 1993, jil 1 menyatakan nabi (s) ketika sujud, baginda meletakkan hidung dan wajah baginda di bumi:
Nabi juga memerintahkan supaya sujud di atas Turab (tanah):
 

.

Salam’alaikum. Artikel ini hanya menunjukkan cara-cara asas perlaksanaan solat yang diajar oleh Aimmah(as). Untuk permasalahan yang lebih detail, sila rujuk para marja’ masing-masing.

Beberapa peringatan sebelum solat

  • Untuk solat zuhur dan asar, maka semua bacaan hendaklah tidak di ziharkan(dikuatkan), atau semua bacaan hendaklah hanya dengan suara berbisik, sekurang-kurangnya didengari oleh diri sendiri, suara bisikan itu. Bacaan Bismillahirrahmanirrahim, sunat di ziharkan. Sebarang bacaan yang tidak sepatutnya diziharkan, tetapi dikuatkan dengan sengaja, maka ia membatalkan solat.
  • Untuk solat maghrib,isya’ dan subuh, maka segala bacaan perlu diziharkan termasuklah bacaan zikir ketika rukuk dan sujud, kecuali untuk bacaan Tasbih al Arba’ah selepas rakaat kedua, yang akan dibincangkan sebentar lagi. Sebarang bacaan yang wajib diziharkan, tetapi tidak dilakukan akan membatalkan solat.
  • Untuk setiap kali takbir, adalah mustahab untuk mengangkat tangan, seperti takbiratul ihram.

Tata Cara Shalat

1. Pertama sekali, berdirilah dengan tegak, menghadap Qiblat. Niatkan di dalam hati berkenaan dengan solat yang ingin anda lakukan, fardhu atau mustahab, serta nama solat, maghrib,isyaj,subuh,dll, atau jenis solat mustahab yang ingin dilakukan, seperti istigfar,taubat, witir dan lain-lain.

Pertama kali, berdirilah dengan posisi tegak sambil mengadap Kiblat. Berniatlah untuk melaksanakan shalat dan tentukan jenis shalat yang ingin Anda kerjakan (shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` atau Shubuh).

2. Angkatlah tangan sehingga ke telinga, dalam keadaan tapak tangan menghadap qiblat, seraya dengan itu, ucapkan

اللهُ أَكْبَرُ

Allahu Akbar(Allah Maha Besar dari segalanya).

Bacalah takbiratul ihram (Allāhu Akbar) dan bersamaan dengan itu angkatlah kedua tangan Anda seperti terlihat di gambar.

3. Kembalikan semula tangan di sisi kanan dan kiri, rapatkan jari-jari kita. Kemudiannya bacalah surah al Fatihah, seperti berikut:

َوَعَنْ عُبَادَةَ بْنِ اَلصَّامِتِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Ubadah Ibnu al-Shomit bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (al-fatihah).” Muttafaq Alaihi. -bulughul maram, hadits no. 295-

Bacalah surah Al-Fātihah sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasihani

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Segala puji hanya untuk Allah, tuhan sekalian alam

الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasihani

مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

Raja hari pembalasan

إيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Hanya kepadaMu kami sembah dan memohon pertolongan

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.(mengikuti Ahlulbait)

صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

iaitu jalan orang-orang yang Kau beri nikmat(Ahlulbait)

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

bukanlah jalan orang-orang Kau murkai dan orang-orang yang sesat.

4.Kemudian bacalah satu surah sempurna dari sarah-surah Al Quran. Seperti:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(Qul huwallōhu ahad ▪ Allōhush shamad ▪ Lam yalid wa lam yūlad ▪ Wa lam yakul lahū kufuwan ahad)

ingat, baca surah yang lengkap sahaja, pembacaan surah-surah secara  setengah setengah akan membatalkan solat fardhu, bagaimanapun, untuk solat-solat mustahab yang tertentu, adalah dibenarkan.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasihani.

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

Katakanlah(wahai Muhammad) Allah itu Satu

اللهُ الصَّمَدُ

Hanya Allah sahaja yang kita perlukan

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ

Tidak beranak juga tidak diberanakkan

وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tiada apa yang menyerupaiNya

5.

Setelah selesai, ucapkan takbir, dan terus rukuk, iaitu satu posisi di mana badan dibongkokkan sehingga tangan boleh memegang kepala lutut. Setelah berada dalam keadaan ini, ucapkan zikir rukuk:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

Maha Suci Tuhanku, yang maha Agung, dan segala kepujian untukNya.

Cukup sekadar baca sekali sahaja, bagaimanapun, adalah sangat-sangat mustahab bagi kita untuk mengulangi bacaan ini atau dengan apa-apa zikir lain seperti Subhanallah , atau dengan bersolawat ke atas Nabi dan keluarga baginda.

6.

Kemudian bangunlah dari ruku’ . Setelah selesai membaca zikir untuk rukuk, kembali semula ke posisi berdiri tegak. Semasa anda bergerak semula ke posisi berdiri tegak ini, ucapkan::

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Sami’allahu liman hamidah); Didengari oleh Allah siapa yang memujiNya

7.Ucapkan takbir, kemudian terus ke posisi sujud.

waktu sujud baca:

سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih) ; Maha suci Tuhan, yang Maha Tinggi dan pujian ke atasNya.

.

Sila ambil perhatian: Syarat-syarat tempat sujud, yang diriwayatkan oleh para Aimmah(as), ialah seperti berikut.

  1. Tanah dan batu
  2. Benda atau hasil yang keluar dari tanah yang tidak digunakan untuk dibuat makanan dan pakaian.

Cukup sekadar bahagian dahi sahaja yang bersentuhan dengan bahan-bahan sujud ini. Bagaimanapun adalah mustahab jika menyertakan sekali dengan hidung.

Telapak tangan mestilah menyentuh lantai, dirapatkan jari-jari menunjuk ke arah kiblat.

Kaki mesti ditegakkan dengan jari-jarinya terpacak di atas lantai

8.

Kemudian duduklah di antara dua sujud. Duduklah dalam keadaan kaki kanan berada di atas telapak kaki kiri. baca :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ وَ أتُوْبُ إلَيْهِ

(Astaughfirullaha rabbī wa atūbu ilaih) ; Aku memohon keampunan dari Allah dan kepadaNya aku bertaubat.

9.

Setelah selesai membaca, ucapkan takbir, dan Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya, serta ulangi bacaan zikir ketika sujud seperti di (7).

10.

Duduklah sejenak setelah bangun dari sujud dan sebelum berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya (kurang 1 saat) angkat takbir, dan terus berdiri tegak semula.

Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat kedua , Ketika mahu berdiri itu, lafazkan(mustahab) sambil membaca:

بِحَوْلِ اللهِ وَ قُوَّتِهِ أَقُوْمُ وَ أَقْعُدُ

(Bihaulillāhi wa quwatihī aqūmu wa aq’ud) ; Dengan kekuatan Allah aku berdiri dan aku duduk.

11. Apabila telah berdiri, 

Dalam posisi berdiri itu, bacalah surah Al-Fātihah dan satu surah dari surah-surah Al-Quran.

 setelah selesai, angkat tangan untuk berdoa, dengan keadaan tangan berada di depan muka. Bacalah apa sahaja doa di dalam bahasa Arab.

Untuk solat fardhu, adalah diwajibkan untuk membaca qunut dalam bahasa Arab, manakala untuk solat mustahab(melainkan solat sunat tertentu) dibenarkan untuk melakukan pembacaan doa qunut di dalam bahasa masing-masing.

Sebelum Anda melaksanakan ruku’ untuk rakaat kedua, bacalah qunut. Di dalam qunut Anda bebas membaca doa sesuai dengan keinginan Anda. Seperti doa memintakan ampun untuk kedua orang tua:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَ لِوَالِدَيَّ وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

(Rabbighfir lī wa liwālidaiyya war hanhumā kamā rabbayānī shaghīrā)

12.

Lakukanlah ruku’ dan bacalah bacaan ruku’ di atas.

Lalu berdirilah dari ruku’ sambil membaca bacaan di atas.

Kemudian sujudlah dan baca doa sujud di atas.

Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca bacaan di atas.

Lalu sujudlah untuk kedua kalinya dan baca bacaan sujud di atas.

apabila selesai bangun dari sujud kedua, terus ke posisi duduk, dan mulakan bacaan Tasyahud. Bacaannya seperti berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah, yang satu dan tiada sekutunya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu hamba dan RasulNya. Ya Allah, sampaikankah solawat pada Muhammad dan keluarga Muhammad.

(Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

Kemudian berdirilah sambil membaca bacaan ketika berdiri di atas. Untuk rakaat ketiga dan keempat, sebagai ganti dari surah Al-Fatihah, Anda dapat membaca bacaan berikut ini:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

(Subhānallōh wal hamdulillāh wa lā ilāha illallōh wallōhu akbar).

Pada rakaat ketiga dan keempat ini Anda tidak perlu membaca surah apapun.

Setelah Anda selesai melaksanakan ruku’ dan sujud untuk kedua rakaat, Anda harus duduk untuk melaksanakan tasyahhud terakhir seraya membaca bacaan tasyahhud pertama di atas. Setelah itu, bacalah bacaan salam berikut sebagai penutup shalat Anda:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلىَ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Assalāmu‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh ▪ Assalāmu’alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shōlihīn ▪ Assalāmu’alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh).

Catatan!

Untuk shalat wajib yang kurang dari empat rakaat, seperti Maghrib dan Shubuh, hanya rakaat ketiga dan keempat yang dapat dihilangkan. Sementara rakaat kedua dan ketiga harus tetap dilaksanakan.

PERINGATAN BAGI TASYAHUD RAKAAT TERAKHIR

Jika anda sedang solat subuh maka ini merupakan rakaat terakhir anda. Bagi rakaat terakhir, selepas habis membaca tasyahud, maka haruslah terus disambung dengan bacaan salam, seperti berikut:

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَ عَلىَ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

Setelah selesai ucapkanlah takbir 3x.

SAMBUNGAN BAGI SOLAT MAGHRIB, ISYA’, ZUHUR DAN ASAR

Untuk rakaat seterusnya, segala langkah adalah sama kecuali,cumanya untuk rakaat ketiga dan keempat, anda boleh memilih samada untuk membaca Al Fatihah atau Tasbih al Ar Baah, seperti berikut:

سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

ulang sekurang-kurangnya 3 kali.

Sekian sahaja, jika ada soalan,komen atau pembetulan, harap boleh diberitahu. Terima kasih

.

40 Hadis Shalat



بسم الله الرحمن الرحيم

allahumma bihaqi muhammadin wa aali muhammadin alaihi sholli ala muhammad wa aali muhammad warzukna wawalidaina wa azwajana wa auladana wa duryatina mimba’dina hubba muhammad wa aali muhammad Allahuma ahyina ala dzalik wa amitsna ala dzalik wa surna fi zumratim man ahabba muhammada wa ala muhammad ma’a muhammadin wa aalihi ya karim

40 Hadis Shalat

Hadis Pertama: Urgensitas Shalat

أول ما افترض الله على أمتي الصلوات الخمس وأول ما يرفع من أعمالهم الصلوات الخمس وأول ما يسألون عنه الصلوات الخمس

Rasulullah saw bersabda:

“Hal pertama yang diwajibkan oleh Allah swt atas umatku adalah shalat lima waktu, hal pertama yang diangkat dari amalan-amalan mereka adalah shalat lima waktu, dan hal pertama yang dipertanyakan kepada mereka adalah shalat lima waktu.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18859]

Hadis Kedua: Shalat Dan Tiang Agama

عن أبي جعفر عليه السلام قال: بني الاسلام على خمسة أشياء: على الصلاة، والزكاة، والحج، والصوم، والولاية

Dari Abi Ja’far (Imam Baqir) as berkata:

“Islam dibangun di atas lima hal: Shalat, zakat, haji, puasa dan wilayah (kepemimpinan atau imamah).” [Bihar, jilid 79, hal 234]

Hadis Ketiga: Perumpamaan Shalat

عن أبي جعفر عليه السلام قال: الصلاة عمود الدين، مثلها كمثل عمود الفسطاط إذا ثبت العمود ثبتت الاوتاد والاطناب، وإذا مال العمود وانكسر لم يثبت وتد ولا طنب

Dari Abi Ja’far as berkata:

“Shalat adalah tiang agama, perumpamaannya seperti tiang kemah, bila tiangnya kokoh maka paku dan talinya akan kokoh, dan bila tiangnya miring dan patah maka paku dan talinya pun tidak akan tegak.” [Bihar, jilid 82, hal 218]

Hadis Keempat: Shalat Penyebab Kebahagiaan

قال رسول الله صلي الله عليه و اله: خمس صلوات من حافظ عليهن كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu maka ia akan memperoleh cahaya, burhan dan keselamatan pada hari kiamat kelak.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18862]

Hadis Kelima: Shalat dan Cahaya Hati

صلاة الرجل نور في قلبه فمن شاء منكم فلينور قلبه

Rasulullah saw bersabda:

“Shalat seseorang adalah cahaya di hatinya dan barangsiapa di antara kalian yang berkeinginan maka hendaknya ia menyinari hatinya dengan cahaya.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18973]

Hadis Keenam: Shalat Parameter Penerimaan Amal Perbuatan

قال الصادق (عليه السلام): أوّل ما يحاسب به العبد الصلاة، فإن قبلت قبل سائر علمه، وإذا ردّت ردّ عليه سائر عمله

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Hal pertama yang akan dihisab (diperhitungkan) dari seorang hamba adalah shalat, jika shalatnya diterima maka seluruh amalnya akan diterima dan jika shalatnya ditolak maka seluruh amalnya akan ditolak.” [Wasa’il Al-Syi’ah, jilid 3, hal 22]

Hadis Ketujuh: Shalat dan Metode Para Nabi

قال صلى الله عليه واله: الصلاة من شرايع الدين، وفيها مرضاة الرب عزوجل، فهي منهاج الانبياء

Rasulullah saw bersabda:

“Shalat adalah termasuk dalam syareat agama, dan di dalamnya terdapat keridhaan Tuhan swt, dan shalat adalah metode para nabi.” [Bihar, jilid 82, hal 231]

Hadis Kedelapan: Shalat Bendera Islam

قال النبي صلى الله عليه واله: علم الإسلام الصلاة فمن فرغ لها قلبه وحافظ عليها بحدها ووقتها وسننها فهو مؤمن

“Bendera Islam adalah shalat, maka barangsiapa memberikan hatinya untuknya dan menjaganya dengan batasan dan waktunya serta sunah-sunnahnya maka ia adalah seorang mukmin (hakiki).” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18870]

Hadis Kesembilan: Shalat dan Effesiensinya

قال الصادق ( عليه السلام ) ـ في حديث ـ : إنّ ملك الموت يدفع الشيطان عن المحافظ على الصلاة ، ويلقّنه شهادة أن لا إله إلا الله ، وأنّ محمّداً رسول الله ، في تلك الحالة العظيمة

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Sesunguhnya malaikat kematian (pencabut nyawa) menghalau syetan dari orang yang menjaga shalat dan mentalqinkan (mendektekan) kepadanya kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad saw adalah Rasulullah (utusan Allah) dalam kondisi menakutkan tersebut.” [Wasa’il Al-Syi’ah, jilid 3, hal 19]

Hadis Kesepuluh: Shalat dan Anak-anak

قال الباقر عليه السلام: إنّا نأمر صبياننا بالصلاة إذا كانوا بني خمس سنين ، فمروا صبيانكم بالصلاة إذا كانوا بني سبع سنين

Imam Baqir as berkata:

“Sesungguhnya kami memerintahkan anak-anak kami untuk shalat bila mereka mencapai usia lima tahun, maka perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat bila mereka mencapai usia tujuh tahun.” [Wasa’il Al-Syi’ah, jilid 3, hal 12]

Pasal Kedua

Urgensitas dan Keutamaan Shalat

Hadis Kesebelas: Nilai Shalat

قال الصادق عليه السلام: صلاة فريضة خير من عشرين حجة وحجة خير من بيت مملو ذهبا يتصدق منه حتى يفني أو حتى لا يبقي منه شئ

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Shalat wajib lebih baik dari dua puluh haji dan haji satu kali lebih baik dari sebuah rumah berisikan penuh dengan emas yang disedekahkan sehingga habis atau tidak tersisa sedikitpun juga.” [Bihar, jilid 82, hal 227]

Hadis Kedua Belas: Keutamaan Shalat

قال أمير المؤمنين عليهم السلام: اوصيكم بالصلاة وحفظها، فانها خير العمل وهي عمود دينكم

Amirul Mukminin Ali as berkata:

“Aku wasiatkan kepada kalian akan shalat dan menjaganya, karena sesungguhnya shalat adalah sebaik-baik amal dan ia adalah tiang agama kalian.” [Bihar, jilid 82, hal 209]

Hadis Ketiga Belas: Urgensitas Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: ما من صلاة يحضر وقتها إلا نادى ملك بين يدي الناس [أيها الناس] قوموا إلى نيرانكم التي أو قدتموها على ظهوركم فأطفئوها بصلاتكم

Nabi saw bersabda:

“Tidak ada satu shalat pun yang tiba waktunya kecuali satu malaikat menyeru di antara manusia (Wahai manusia) bangkitlah menuju api-api yang kalian nyalakan di hadapan kalian sendiri maka padamkanlah api tersebut dengan shalat kalian.” [Bihar, jilid 82, hal 209]

Hadis Keempat Belas: Berkah Shalat

عن علي عليه السلام قال: إن الانسان إذا كان في الصلاة فان جسده وثيابه وكل شئ حوله يسبح

Imam Ali as berkata:

“Sesungguhnya manusia apabila berada dalam kondisi shalat maka tubuh, pakaian dan segala sesuatu di sekitarnya akan bertasbih.” [Bihar, jilid 82, hal 213]

Hadis Kelima Belas: Kedudukan Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: موضع الصلاة من الدين كموضع الرأس من الجسد

Rasulullah saw bersabda:

“Kedudukan shalat dari agama adalah seperti kedudukan kepala dari badan.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18972]

Hadis Keenam Belas: Shalat dan Kesucian Jiwa

قال النبي صلى الله عليه واله: مثل الصلوات الخمس كمثل نهر جار عذب على باب أحدكم يغتسل فيه كل يوم خمس مرات فما يبقى ذلك من الدنس

Rasulullah saw bersabda:

“Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai tawar yang mengalir di sisi pintu rumah salah seorang di antara kalian yang setiap harinya ia mandi lima kali, maka tidak tertinggal sedikitpun kotoran (di badannya, artinya barangsiapa yang sehari semalam mendirikan shalat lima waktu juga maka ia akan terbebas dari kotoran-kotoran jiwa dan ruh).” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18931]

Hadis Ketujuh Belas: Shalat dan Ikatan Janji dengan Allah swt

روي عن النبي صلى الله عليه واله قال: قال الله تعالى: افترضت على أمتك خمس صلوات وعهدت عندي عهدا أنه من حافظ عليهن لوقتهن أدخلته الجنة ومن لم يحافظ عليهن فلا عهد له عندي

Dari Rasulullah saw:

“Allah swt berfirman: Aku telah mewajibkan shalat lima waktu kepada umatmu dan Aku ikatkan sebuah perjanjian di sisiKu bahwa barangsiapa yang menjaganya pada waktu-waktunya maka Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka tidak ada ikatan perjanjian untuknya di sisiKu.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18872]

Hadis Kedelapan Belas: Shalat dan Mengingat Allah swt

“روي عن الباقر عليه السلام أنه قال: ذكر الله لاهل الصلاة أكبر من ذكرهم إياه، ألا ترى أنه يقول: “اذكروني أذكركم

Dari Imam Baqir as berkata:

“Ingatan Allah swt untuk orang-orang yang mendirikan shalat lebih besar dari ingatan mereka kepada Allah, apakah engkau tidak melihat bahwa Allah swt berfirman:

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

“Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah (2): 152) [Bihar, jilid 82, hal 199]

Hadis Kesembilan Belas: Shalat dan Rahmat Allah swt

قال أمير المؤمنين عليه السلام: إذا قام الرجل إلى الصلاة أقبل إليه إبليس ينظر إليه حسدا لما يرى من رحمة الله التي تغشاه

Imam Ali as berkata:

“Jika seseorang berdiri melaksanakan shalat maka Iblis menghadap kepadanya sambil memandangnya dengan hasud karena melihat rahmat yang menyelimutinya.” [Bihar, jilid 82, hal 207]

Hadis Kedua Puluh: Shalat dan Meninggalkan Dosa

وروي أن فتى من الانصار كان يصلي الصلاة مع رسول الله صلى الله عليه واله ويرتكب الفواحش، فوصف ذلك لرسول الله صلى الله عليه واله فقال: إن صلاته تنهاه يوما ما، فلم يلبث أن تاب

Diriwayatkan bahwa seorang pemuda dari kaum Anshar malaksanakan shalat bersama Rasulullah saw dan tetap melakukan hal-hal buruk, maka hal tersebut dilaporkan kepada Rasulullah saw, maka Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya suatu hari shalatnya akan mencegahnya, maka tidak berselang lama ia bertaubat. [Bihar, jilid 82, hal 198]

Pasal Ketiga

Urgensitas Waktu Shalat

Hadis Kedua Puluh Satu: Bagaimana dan Kapan Kita Mendirikan Shalat?

قال أبو عبد الله عليه السلام إذا صليت صلاة فريضة فصلها لوقتها صلاة مودع يخاف أن لا يعود إليها

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Apabila engkau melaksanakan shalat wajib maka shalatlah pada (awal) waktunya seperti shalat orang yang ingin berpisah, takut tidak akan kembali lagi.” [Mahajjatul Baidha’, jilid 1, hal 350]

Hadis Kedua Puluh Dua: Urgensitas Waktu Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: قال الله عز و جل: إن لعبدي علي عهدا إن أقام الصلاة لوقتها أن لا أعذبه وأن أدخله الجنة بغير حساب

Nabi saw bersabda:

Allah swt berfirman: Sesungguhnya hamba-Ku memiliki sebuah perjanjian atas-Ku jika ia mendirikan shalat pada waktunya maka Aku tidak akan mengazabnya dan Aku akan memasukkannya ke surga dengan tanpa hisab.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 19036]

Hadis Kedua Puluh Tiga: Nabi saw dan Shalat Awal Waktu

عن عائشة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه و اله يحدثنا و نحدثه فاذا حضرت الصلوة فكأنه لم يعرفنا و لم نعرفه اشتغالا بعظمة الله

Dari Aisyah berkata:

Rasulullah saw sedang berbincang-bincang dengan kita maka ketika tiba waktu shalat seakan-akan beliau saw tidak mengenal kita dan kita tidak mengenalnya karena sibuk dengan kebesaran Allah.” [Mahajjatul Baidha’, jilid 1, hal 350]

Hadis Kedua Puluh Empat: Shalat Pada Waktunya

عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إن العبد إذا صلى الصلاة لوقتها وحافظ عليها ارتفعت بيضاء نقية تقول حفظتني حفظك الله، وإذا لم يصلها لوقتها ولم يحافظ عليها رجعت سوداء مظلمة تقول: ضيعتني ضيعك الله

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Sesungguhnya seorang hamba jika shalat pada waktunya dan menjaganya maka (dengan bentuk) seberkas cahaya putih bersih naik ke atas sambil berkata: Engkau telah menjagaku maka semoga Allah swt menjagamu, dan bila tidak melaksanakan shalat pada waktunya dan tidak memperhatikannya maka akan kembali kepadanya (dengan bentuk) kegelapan pekat sambil berkata: Engkau telah menyia-nyiakanku maka semoga Allah swt menyia-nyiakanmu.” [Maajjatul Baidha’, jilid 1, hal 340]

Hadis Kedua Puluh Lima: Keutamaan Shalat Pada Waktunya

قال النبي صلى الله عليه واله: أحب الأعمال إلى الله الصلاة لوقتها ثم بر الوالدين ثم الجهاد في سبيل الله

Rasulullah saw bersabda:

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah swt adalah shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, kemudian jihad di jalan Allah swt.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 18897]

Pasal Keempat

Lalai Dalam Shalat dan Meninggalkannya

Hadis Kedua Puluh Enam: Meremehkan Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: ليس مني من استخف بصلاته، لا يرد على الحوض لا والله

Nabi saw bersabda:

“Bukan dariku orang yang meremehkan shalatnya, ia tidak akan masuk telaga Kautsar kepadaku, tidak demi Allah.” [Bihar, jilid 82, hal 224]

Hadis Kedua Puluh Tujuh: Merendahkan Shalat

قال الصادق عليه السلام: شفاعتنا لا تنال مستخفا بصلاته

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Syafa’at kita tidak akan mengena orang yang meremehkan shalatnya.” [Bihar, jilid 82, hal 227]

Hadis Kedua Puluh Delapan: Menyia-nyiakan Shalat

قال النبي صلى الله عليه واله: لا تضيعوا صلاتكم فان من ضيع صلاته حشره الله مع قارون وفرعون وهامان

Nabi saw bersabda:

“Janganlah kalian menyia-nyiakan shalat kalian, karena sesungguhnya barangsiapa yang menyia-nyiakan shalatnya maka Allah swt akan mengumpulkannya bersama Qarun dan Fir’aun serta Haman (Menteri dan Pembantu).” [Bihar, jilid 82, hal 202]

Hadis Kedua Puluh Sembilan: Shalat Tidak Sempurna dan Nabi saw

عن أبي جعفر (عليه السلام) قال: بينا رسول الله (صلّى الله عليه وآله) جالس في المسجد إذ دخل رجل فقام يصلّي فلم يتمّ ركوعه ولا سجوده، فقال رسول الله (صلّى الله عليه واله): نقر كنقر الغراب لئن مات هذا وهكذا صلاته ليموتنّ على غير ديني

Imam Baqir as berkata:

“Ketika Rasulullah saw sedang duduk di masjid, masuklah seorang laki-laki, lalu ia berdiri dan shalat, tetapi ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka Rasulullah saw bersabda: Ia telah mematuk seperti patukan burung gagak, bila orang ini meninggal dunia sementara shalatnya seperti ini maka ia akan meninggal bukan di atas agamaku.” [Mahajjatul Baidha’, jilid 1, hal 340]

Hadis Ketiga Puluh: Lalai Dalam Shalat

قال رسول الله صلى الله عليه واله: الصلاة عماد الدين، فمن ترك صلاته متعمدا فقد هدم دينه، ومن ترك أوقاتها يدخل الويل، والويل واد في جهنم كما قال الله تعالى: “ويل للمصلين الذين عن صلاتهم ساهون”

Rasulullah saw bersabda:

“Shalat adalah tiang agama, maka barangsiapa yang meninggalkan shalatnya secara sengaja maka ia telah menghancurkan agamanya, dan barangsiapa meninggalkan waktu-waktunya maka ia akan memasuki wail, dan wail adalah sebuah lembah di neraka Jahannam sebagaimana Allah swt berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka wail bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” {QS. Al-Maa’uun (107): 4 dan 5} [Bihar, jilid 82, hal 202]

Hadis Ketiga Puluh Satu: Hasil Meninggalkan Shalat

قال رسول الله صلی الله عليه و اله: لا تتركن الصلاة متعمدا فإنه من ترك الصلاة متعمدا فقد برئت منه ذمة الله ورسوله

Rasulullah saw bersabda:

“Janganlah meninggalkan shalat dengan sengaja karena sesungguhnya barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka ia akan terlepas dari tanggungan (jaminan) Allah swt dan Rasul-Nya saw.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 19096]

Hadis Ketiga Puluh Dua: Meninggalkan Shalat

قال صلى الله عليه واله: من ترك صلاة لا يرجو ثوابها، ولا يخاف عقابها، فلا ابالي أيموت يهوديا أو نصرانيا أو مجوسيا

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa meninggalkan sebuah shalat karena tidak mengharap pahalanya dan tidak takut akan balasannya maka akupun tidak memperdulikan apakah ia akan meniggal dunia dalam keadaan Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” [Bihar, jilid 82, hal 202]

Hadis Ketiga Puluh Tiga: Meninggalkan Shalat dan Kekafiran

قال صلى الله عليه واله: من ترك صلاته حتى تفوته من غير عذر، فقد حبط عمله، ثم قال: بين العبد وبين الكفر ترك الصلاة

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang meninggalakan shalatnya sehingga melewatkan waktunya tanpa alasan maka amalnya terputus, kemudian beliau saw bersabda: Antara seorang hamba dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” [Bihar, jilid 82, hal 202]

Hadis Ketiga Puluh Empat: Balasan Meninggalkan Shalat

قال رسول الله صلی الله علیه و اله: من ترك الصلاة متعمدا كتب اسمه على باب النار ممن يدخلها

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat secara sengaja maka namanya akan ditulis di atas pintu neraka di antara orang yang akan memasukinya.” [Kanzul ‘Ummal, jilid 7, hadis 19090]

Pasal Kelima

Adab dan Syarat-syarat Diterimanya Shalat

Hadis Ketiga Puluh Lima: Shalat dan Syarat-syarat Penerimaannya

عن أبي عبد الله عليه السلام قال: قال الله تبارك وتعالى: إنما أقبل الصلاة لمن تواضع لعظمتي، ويكف نفسه عن الشهوات من أجلي، ويقطع نهاره بذكري، ولا يتعاظم على خلقي، ويطعم الجايع ويكسو العاري، ويرحم المصاب، ويؤوي الغريب

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Allah swt berfirman: Sesungguhnya Aku menerima shalat orang yang merendah diri karena kebesaran-Ku, menahan dirinya dari hawa nafsu kerena-Ku, mengakhiri siangnya dengan mengingat-Ku, tidak membesarkan diri atas makhluk-Ku, memberi makan orang lapar dan memberi pakaian orang yang tidak berpakaian, berbelas kasihan kepada orang yang tertimpa musibah dan memberikan perlindungan kepada orang yang asing.” [Bihar, jilid 66, hal 391]

Hadis Ketiga Puluh Enam: Neraca Penerimaan Shalat

عن أبي عبد الله عليه السلام قال: من أحب أن يعلم أقبلت صلاته أم لم تقبل، فلينظر هل منعته صلاته عن الفحشاء والمنكر؟ فبقدر ما منعته قبلت منه

Dari Abi Abdillah (Imam Ja’far Shadiq) as berkata:

“Barangsiapa ingin mengetahui apakah shalatnya diterima atau tidak maka hendaknya ia melihat apakah shalatnya mencegahnya dari kekejian dan kemungkaran? Maka seukuran yang dapat mencegahnya, shalatnya diterima. [Bihar, jilid 82, hal 198]

Hadis Ketiga Puluh Tujuh: Shalat Dan Wilayah Kepada Ahlul Bait

قال رجل لزين العابدين عليه السلام: ما سبب قبولها؟ قال: ولايتنا والبراءة من أعدائنا

Seseorang berkata kepada Imam Ali Zainal Abidin: Apakah sebab diterimanya shalat? Beliau as menjawab: Wilayah kami dan berlepas diri dari musuh-musuh kami. [Bihar, jilid 84, hal 245]

Hadis Ketiga Puluh Delapan: Shalat Wajib Dan Sunnah

عن أبي جعفر (عليه السلام) قال: إنّ العبد ليرفع له من صلاته نصفها أو ثلثها أو ربعها أو خمسها، فما يرفع له إلاّ ما أقبل عليه منها بقلبه، وإنّما أمرنا بالنافلة ليتمّ لهم بها ما نقصوا من الفريضة

Imam Baqir berkata:

Sesungguhnya shalat seorang hamba akan diangkat (diterima) setengah, sepertiga, seperempat dan seperlimanya maka tidak diangkat shalatnya kecuali apa yang dihadapkan dengan hatinya. Dan diperintahkan untuk mengerjakan shalat-shalat sunnah untuk menyempurnakan apa-apa yang kurang dari shalat wajib. [Al-Haqa’iq, Marhum Faidh Kasyani, hal 219]

Hadis Ketiga Puluh Sembilan: Shalat Dengan Azhan Dan Iqamah

قال أبو عبدالله ( عليه السلام ) : من صلى بإذان وإقامة صلى خلفه صفان من الملائكة، ومن صلى بإقامة بغير أذان صلى خلفه صف واحد من الملائكة، قلت له: وكم مقدار كل صف؟ فقال: أقله ما بين المشرق الى المغرب، وأكثره ما بين السماء والأرض

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata:

Barangsiapa mendirikan shalat dengan azhan dan iqamah maka dua baris malaikat akan shalat di belakangnya, dan barangsiapa shalat dengan iqamah saja tanpa azhan maka satu barisan malaikat akan shalat di belakangnya.

Perawi bertanya: Berapakah jumlah setiap barisan?

Imam as menjawab: Paling sedikitnya antara masyriq (arah timur) dan maghrib (arah barat) dan paling banyaknya antara langit dan bumi. [Wasail Asy-Syiah, jilid 4, hal 620]

Hadis Keempat Puluh: Shalat Dan Doa

قال أبو عبد الله عليه السلام: إن الله عزوجل فرض عليكم الصلواة الخمس في أفضل الساعات، فعليكم بالدعاء في أدبار الصلوات

Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata:

Sesungguhnya Allah swt mewajibkan shalat lima waktu atas kalian pada waktu-waktu paling utama, maka hendaknya kalian berdoa setelah selesai shalat-shalat tersebut. [Al-Khishal, jilid 1, hal 278]

.

Mengapa Sujud di Atas Tanah?



Sujud secara bahasa berarti al-khudû’, yakni tunduk atau merendahkan diri. Sedangkan sujud dalam shalat bermakna meletakkan dahi di atas tanah. Inilah wujud peribadatan dan “penghinaan” seorang makhluk di hadapan Khalik. Sampai-sampai disebutkan dalam riwayat, “Keadaan paling dekat antara seorang hamba kepada Allah adalah ketika sujud.”

Karenanya menurut saya, shalat sejatinya bukanlah bacaan surah pendek yang lama (apalagi dilama-lamakan), tapi justru sujud yang lama. Kepala atau dahi dilambangkan sebagai bagian yang dimuliakan. Padahal hakikatnya manusia hanya diciptakan dari tanah (turâb, ardh) bahkan tanah hitam. Kesombongan manusia itu dihancurkan dengan menaruh lambang kemuliaan (dahi) ke tempat aslinya (tanah) di hadapan Sang Pencipta.

Sujud dalam Fikih dan Sejarah

Dalam fikih Syiah Ahlul Bait, sujud di atas tanah merupakan perintah Rasulullah dan para imam Ahlul Bait as. Dalam Fiqh Al-Imâm Ja’far diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Jakfar tentang tempat yang boleh dijadikan tempat sujud. Lalu dijawab, “Tidak boleh sujud kecuali di atas ardh (tanah, bumi) atau yang tumbuh di bumi, kecuali yang dimakan atau dipakai.”

Orang itu bertanya apa sebabnya, kemudian Imam menjawab, “Sujud merupakan ketundukan kepada Allah, maka tidaklah layak dilakukan di atas apa yang boleh dimakan dan dipakai, karena anak-anak dunia adalah hamba dari apa yang mereka makan dan mereka pakai, sedangkan sujud adalah dalam rangka beribadah kepada Allah…” Hal ini sesuai dengan perintah Nabi Muhammad dalam Shahîh Al-Bukhârî:

جعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً

“Dijadikannya tanah bagiku sebagai tempat sujud dan suci.” Artinya tanah bukan saja mensucikan untuk bertayamum tapi juga sebagai tempat sujud. Dalam segala kondisi Nabi selalu sujud di atas tanah. Pernah ketika terjadi hujan di bulan Ramadan, masjid Nabi yang beratapkan pelepah kurma menjadi becek. Abu Said Al-Khudri dalam riwayat Bukhari berkata, “Aku melihat Rasulullah dikening dan hidungnya terdapat bekas lumpur.”

Dalam kondisi panas, beberapa sahabat seperti Jabir bin Abdullah Al-Anshari biasanya akan menggenggam dan membolak-balikkan kerikil agar dingin sebelum digunakan untuk sujud. Sedangkan beberapa sahabat yang lain mengadu kepada Nabi, tapi tidak ditanggapi.

عن خباب بن الأرت قال شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم شده الرمضاء في جباهنا وأكفنا فلم يشكنا

Khabab bin Al-Arat berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah saw. tentang sangat panasnya dahi kami (saat sujud), tapi beliau tidak menanggapi pengaduan kami.” (HR. Al-Baihaqi) Tapi ada juga sahabat yang mencari-cari kesempatan untuk sujud di atas kain, tapi ketahuan Rasul, sebagaimana juga diriwayatkan dalam Sunan Al-Baihaqî:

عن عياض بن عبد الله القرشي قال رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا يسجد على كور عمامته فأوما بيده ارفع عمامتك وأومأ إلى جبهته

Iyad bin Abdullah Al-Quraisyi berkata, “Rasulullah saw melihat seseorang sujud di atas lilitan serbannya. Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya untuk mengangkat serbannya sambil menunjuk pada dahinya.” Mungkin karena riwayat di atas dan banyak riwayat lainnya sehingga Imam Syafii pun mengatakan bahwa seseorang harus sujud di atas tanah:

وَلَوْ سَجَدَ على رَأْسِهِ ولم يُمِسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ لم يَجْزِهِ السُّجُودُ وَإِنْ سَجَدَ على رَأْسِهِ فَمَاسَّ شيئا من جَبْهَتِهِ الْأَرْضَ أَجْزَأَهُ السُّجُودُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

“Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah (al-ardh), maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allah Taala.” (Al-Umm, 1/114)

Artinya, menurut mazhab Imam Syafii seseorang ketika sujud dahinya harus menyentuh tanah. Tapi apakah orang Syiah protes ketika teman-teman bermazhab Syafii sujud di atas sajadah yang terbuat dari kain bahkan bahan sintetis? Lalu kenapa ada yang protes (bahkan menyebutnya musyrik) ketika orang Syiah sujud di atas tanah padahal itu sesuai dengan fikih mereka yang diajarkan Ahlul Bait?!

Meski demikian Rasulullah saw. memberikan keringanan untuk sujud di atas setiap benda yang tumbuh di atas tanah, jika memang cuaca sangat panas atau sangat dingin. Terkadang Rasul menggunakan khumrah (semacam tikar kecil) dan terkadang karena uzur/darurat beliau mengizinkan sahabat untuk menarik serbannya. Artinya selama bisa sujud di atas tanah, maka Rasul melarang (seperti dalam riwayat Al-Baihaqi).

Turbah Al-Husain

Sebuah blog menyebut Syiah sebagai penyembah berhala. Hal itu karena mereka tidak memahami dengan benar makna “muslim”. Ketika seseorang bersyahadat dan menjadi Muslim, maka yang disembah adalah Allah. Sedangkan syirik adalah menyembah selain Allah. Bagaimana mungkin menjadi musyrik dan menyembah berhala padahal dalam shalatnya ia bertakbir, tahmid, tahlil, salawat dan seterusnya? Tentu kalian tidak ingin disebut sebagai penyembah berhala karena sujud di atas kain sajadah, ‘kan?

Turbah hanyalah sebuah lempengan tanah tempat orang-orang Syiah “sujud di atasnya” (masjûd ‘alaih) bukan “sujud kepadanya” (masjûd lahu). Lalu mengapa tanah Karbala atau turbatul Husain yang dipilih?

Pertama, yang diwajibkan adalah sujud di atas tanah atau yang tumbuh dari bumi kecuali yang dapat dimakan atau dipakai. Jadi menurut saya, tidak ada kewajiban untuk sujud di atas tanah Karbala. Kedua, menjadikan tanah Karbala sebagai turbah tidak berarti tanah Madinah dekat pusara Nabi saw. tidak memiliki keutamaan. Karena masing-masing memiliki keutamaannya sendiri.

Hanya saja tanah Karbala adalah tempat terbunuhnya cucu Nabi dan keluarganya untuk membela Islam sejati yang hampir musnah. Tanah tersebut telah dibanjiri darah suci para syuhada yang berjuang di jalan Allah. Kaum Syiah akan terus mengingat perjuangan Imam Husain as. Bukankah segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah akan memiliki keutamaan? “Kemuliaan suatu tempat terletak pada siapa yang menempatinya,” kata pepatah.

Imam ash-Shadiq as berkata, “Sujud di atas tanah adalah suatu kewajiban.” (Wasail Syiah juz 3 hal.)

فقد قال الأمام جعفر الصادق عليه السلام لا تسجد إلا على الأرض أو ما أنبتت الأرض

Berkata Imam Ja’far ash-Shadiq as, “Janganlab kamu sujud kecuali di atas tanah atau apa-apa yang… tumbuh dari tanah.” (Biharul Anwar juz 85 hal. 149, al-Kafi juz 3 hal. 330).
Seseorang bertanya tentang sujud di atas sorban sedangkan dahinya tidak menyentuh tanah.

فقال الإمام جعفر الصادق عليه السلام لايجزيه ذلك حتى تصل جبهته الأرض

Berkata Imam ash-Shadiq as, “Tidak boleh sehingga sampai mengena dahinya ke tanah.” (Wasail Syiah juz 3 hal. 609).

سأل هشام بن الحكم الإمام الصادق عليه السلام فقال: أخبرني يا بن رسول :الله عما يجوز السجود عليه السلام يجوز السجود على الأرض أوما أنبتت، إلا ما أآِل أو لُبش

“Hisyam bin hakam bertanya kepada Imam ash-Shadiq as, “Beritahu aku wahai putra Rasulullah tentang apa-apa yang boleh sujud di atasnya dan apa-apa yang tidak boleh?” Beliau menjawab,
‘Boleh sujud di atas tanah atau apa-apa yang tumbuh dari tanah, kecuali yang dapat dimakan
atau yang dapat dipakai.” (Wasail Syiah juz 3 hal. 591).

عن أنس بن مالك قال: آنا نصلي مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في شدة الحر فيأخذ أحدنا الحصباء في يده، فإذا بردت وضعها و سجد عليها

Dari Anas bin Malik berkata, “Kami salat bersamaRasulullah saw di musim yang sangat panas, salah satu dari kami mengambil kerikil lalu diletakkan di tangannya, apabila kerikil tadi sudah dingin lalu kerikil tersebut diletakkan dan di pakai untuk sujud di atasnya.”(Sunan Baihaqi juz 2 halo 105, Nailul authar juz 2 hal. 268) ..

عن ابن عباس: إن النبي صلى الله عليه
وآله وسلم آان يصلي على الخُمرة

Dari Abdullah bin Abbas, “Sesungguhnya Nabi saw salat di atas Khumroh (tikar yangterbuat dari daun pohon kurma sebesar wajah).” (Musnad Ahmad bin Hambal juz 1 hal. 269/ 309/29/358; Sahih Tirmizi juz 2 hal. 151).

عن ابن عمر: آان رسول الله صلى الله عليه وآله و سلم يصلي على الخُمرة

Dari Abdullah bin Umar, “Bahwasannya Rasulullah saw salat di atas Khumroh ( tikar yang terbuat dari daun pohon kurma sebesar wajah).” (Musnad Ahmad bin Hambal juz 2 haI. 92; Sunan Tirmizdi juz 2 hal. 151) .

عن وائل قال: رأيت النبي صلى الله عليه واله وسلم إذا سجد و ضع جبهتة وأنفه على الارض

Dari Wail berkata, “Aku melihat Nabi saw apabila beliau sujud, beliau meletakkan dahi danhidungnya di atas tanah.” (Ahkamul Qur ‘an lil Jash Shoh, juz 3 hal. 36 Musnad Ahmad Bin Hanbal, juz 4 hal. 315).
Rasulullah saw melarang para sahabatnya jika bersujud selain di atas tanah.

Doa Selepas Solat


Doa Selepas Fardhu Subuh

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasihani. Dengan nama Allah dan solawat ke atas Muhammad dan keluarga suci baginda, dan ku serahkan urusanku pada Allah, sesungguhnya Allah swt Maha Maha melihat hambanya.

“Tiada Tuhan selain Mu, maha suci kepada Mu, aku berada dalam kegelapan, kemudian “Kami kabulkan doanya(Yunus) dan menyelamatkan beliau dari panik serta dengan keadaan itu Kami mengampunkan Mukminin.” Cukuplah Allah bagiku.

Seperti yang Allah swt mahukan dan tiada daya dan kekuatan selain Allah swt. Seperti yang Allah kehendaki, dan bukannya seperti yang dimahukan oleh manusia. Cukuplah bagiku Rabbku dari marbubin(hambanya). Cukuplah bagiku Khaliq(pencipta) dari makhluqin(yang dicipta). Cukuplah bagiku Raziq(ynag memberi rezeki) dari marzuqin(yang diberi rezeki). Cukuplah bagiku Allah, Tuhan sekalian Alam. Tiada Tuhan Selain ALlah, ku serahkan urusanku padaNya, Tuhan Arsh yang Maha Agung

Doa selepas Fardhu Zuhur

Ya Allah, aku menyeru Mu demi diperkenankan rahmat mu, dan demi keampunanmu, dan manfaat dari sifat mulia, keselamatan dari setiap dosa.Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, Tiada Tuhan selain Allah, yang Maha Agung dan Lembut. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan arash rahmat. Segala puji hanya untuk Allah.

Ya Allah, janganlah tinggalkan aku dengan dosa melainkan Kau mengampunkannya, dengan bala melainkan Kau menolaknya, dengan penyakit melainkan Kau menyembuhkannya,, dengan keaiban melainkan Kau menyembunyikannya, dengan rezeki melainkan Kau menambahnya, dengan ketakutan melainkan Kau melindungku dari nya, dari kejahatan melainkan Kau mengalahkannya, dan dengan hajat ku melainkan Kau mengabulkannya selagi mana ia adalah keredhaan mu dan untuk kebaikan ku, amin, wahai Tuhan sekalian alam.

Doa Selepas Farhu Asar

Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari diri yang tidak dapat dipuaskan, dari hati yang tidak berbelas kasihan, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari solat yang tidak diterima dan dari doa yang tidak dimakbulkan. Ya Allah aku menyeruMu, untuk kesenangan selepas tekanan, kegembiraan selepas kesedihan, keselesaan selepas kesusahan. Ya Allah, segala kelebihanku adalah dari Mu. Tiada Tuhan selain mu. Aku memohon keampunan dan bertaubat kepada mu.

Doa Selepas Fardhu Maghrib

Ya Allah, aku menyeru Mu demi diperkenankan rahmat mu, dan demi keampunanmu, dan manfaat dari sifat mulia, keselamatan dari dosa, keselamatan dari api neraka dan bencana yang lain, tercapainya syurga dan rumahnya yang aman, dan kedekatan kepada Nabi Mu, Muhammad dan keluarganya yang disucikan(solawat ke atas mereka semua). Ya Allah, segala kelebihanku adalah dari Mu. Tiada Tuhan selain mu. Aku memohon keampunan dan bertaubat kepada mu.

Doa Selepas Fardhu Isya’

Ya Allah, sesungguhnya, aku tidak punyai ilmu akan sumber rezeki ku, dan aku mencarinya semata-mata berdasarkan lintasan dalam hati ku, dan aku berkeliaran di dalam kota demi mencarinya. Aku tidak mengetahui samada ia berada di dataran atau pergunungan, di langit atau di bumi, di daratan atau di lautan, di tangan siapa atau dari siapa. Dan sesungguhnya aku mengetahui Kau mempunyai ilmu yang luas, dan sumbernya berada di tangan Mu, dan hanya Engkaulah yang mengagihkannya demi kebaikanMu, serta mencipta peluang demi RahmatMu.

Ya Allah, oleh itu, berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Tuhanku, tambahkanlah rezeki ku, yang dibahagikan oleh Mu, dan jadikanlah ia mudah dicari dan sumbernya dekat, dan janganlah jadikan aku berusaha mendapatkan sesuatu yang tidak Kau takdirkan kepada ku. Demi sesungguhnya Engkau sangat adil dalam menghukumku, dan aku memerlukan rahmatMu. Solawat ke atas Muhammad dan keluarga Muhammad, demi rahmat Mu, bermurah hatilah terhadap hambaMu, sesungguhnya Kau Maha Pemurah.

Taaqibat Umum Selepas Solat Fardhu


Taaqib ialah satu perbuatan di mana kita duduk membaca al Quran atau doa-doa jaran Ahlulbait(as) selepas solat. Hukum membaca Taaqibat selepas solat ialah Sunat Muakkad, iaitu sangat-sangat dituntut.

1. Imam al Baqir(as) telah berkata bahawa selepas setiap kali solat fardhu, tiada amalan yang lebih mulia dari Tasbih Fatimah Zahra, kerana jika ada, sudah tentu Rasulullah(sawa) akan mengajarkannya. Tentang  kelebihannya, insyaAllah saya akan tuliskan nanti. Tasbih Fatimah Zahra adalah seperti berikut.

Allahu Akbar x 34

Alhamdulillah x 33

Subhanallah x 33

Setelah selesai membaca Tasbih ini, akhiri dengan ucapan لاَ إِلٰهَ إِلاَّ ٱللَّهُ

2. Imam al Baqir(as) meriwayatkan bahawa seseorang yang duduk diam selepas solat dan membaca 3 kali  perkara berikut akan diampunkan segala dosa beliau:

Tasbih Fatimah Zahra ini sungguh banyak kebaikannya. Biarlah saya beri satu sahaja pendapat para Imam tentang zikir ini, ,menandakan kehebatannya di sisi Allah swt.

Diriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir(as):”Tiada jenis ibadah yang lebih mulia dari Tasbih az Zahra(sa). Jika ada yang lbih hebat darinya, maka sudah tentu Rasulullah(sawa) akan mengajarkannya kepada Hazrat Fatimah(sa).’(Wasaaelush Shia , Vol 4 ms. 1024)

Selamat beramal.

SOAL 336:
Apa hukum orang yang meninggalkan shalat secara sengaja atau meremehkannya?
JAWAB:
Lima shalat fardhu harian merupakan salah satu kewajiban yang sangat penting dalam syari’ah Islam bahkan merupakan tiang agama. Meninggalkan dan meremehkannya haram secara syar’i dan menyebabkan siksa.

SOAL 337:
Apakah wajib shalat atas orang yang tidak menemukan sarana bersuci (air atau tanah untuk wudhu atau tayammum)?
JAWAB:
Berdasarkan ihtiyâth hendaklah tetap melaksanakan shalat pada waktunya dan meng-qadha’nya dengan wudhu atau tayammum di luar waktu.

SOAL 338:
Dalam kondisi-kondisi apakah ‘udul (berpindah niat) dalam shalat wajib menurut Anda?
JAWAB:
Wajib berpindah niat dalam kondisi-kondisi berikut:
1. Dari shalat Ashar ke shalat Dhuhur ketika sadar saat sedang shalat (Ashar) bahwa ia belum melakukan shalat Dhuhur.
2. Dari shalat Isya’ ke Maghrib ketika sadar saat sedang shalat dan sebelum melewati batas udul bahwa ia belum melakukan shalat maghrib.
3. Apabila mempunyai tanggungan 2 shalat qadha’ secara berurutan dan melakukan shalat (yang) kedua karena lupa sebelum melakukan shalat qadha’ yang pertama.
Dimustahabkan ‘udul dalam kondisi sebagai berikut:
1. Dari shalat ada’ kepada shalat qadha’ wajib, jika waktu keutamaan shalat ada’ belum lewat.
2. Dari shalat wajib ke shalat mustahab demi menyusul shalat jamaah.
3. Dari shalat faridhah ke shalat nafilah pada Dhuhur hari Jum’at bagi orang yang lupa membaca surah al-Jumu’ah namun membaca surah lainnya sampai setengah atau lebih. Dalam kondisi demikian dimustahabkan berpindah niat dari shalat faridhah ke shalat nafilah untuk memulai shalat faridhah lagi dengan membaca surah al-Jumu’ah.

SOAL 339:
Apakah pelaku shalat yang ingin menggabungkan shalat Jum’at dan shalat Dhuhur di hari Jum’at berniat qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) saja tanpa niat wujub (melakukan shalat wajib) dalam kedua shalat tersebut, ataukah berniat qurbah dan wujub dalam salah satu dari keduanya, sedangkan pada shalat lainnya cukup berniat qurbah saja, atau berniat qurbah dan wujub dalam kedua-duanya?
JAWAB:
Cukup meniatkan qurbah dalam kedua shalat tersebut dan tidak wajib meniatkan wujub dalam keduanya.

SOAL 340:
Jika darah dari mulut atau hidung terus mengalir sejak awal waktu faridhah hingga menjelang batas akhir waktunya, apa hukum shalat?
JAWAB:
Jika tidak mampu mensucikan badan dan khawatir waktu shalat faridhah berakhir, hendaknya melakukan shalat dalam keadaan begitu.

SOAL 341:
Apakah badan diwajibkan tenang dan tidak bergerak (istiqrâr) sama sekali ketika membaca zikir-zikir mustahab dalam shalat ataukah tidak?
JAWAB:
Perihal kewajiban istiqrâr dan tenang ketika sedang shalat, tidak ada perbedaan antara zikir-zikir yang wajib dan yang mustahab. Kecuali jika pembacaan dzikir dilakukan dengan niat dzikir muthlaq walaupun dibaca dalam keadaan bergerak tidak bermasalah.

SOAL 342:
Sebagian pasien di rumah sakit menggunakan selang saluran kencing dimana kencing akan keluar dari pasien tanpa kehendak dalam keadaan tidur atau sadar, atau ketika sedang melakukan shalat. Kami mohon jawaban atas pertanyaan sebagai berikut: Apakah melakukan shalat keadaan begitu sudah cukup ataukah wajib mengulanginya?
JAWAB:
Jika ia melakukan shalat dalam kondisi begitu sesuai tugas syar’i-nya yang benar, maka sahlah hukumnya, dan tidak wajib meng-qadha’ atau mengulangnya.

———————-

SOAL 343:
Apa dalil yang dijadikan dasar oleh mazhab Syi’ah tentang waktu-waktu shalat faridhah harian? Sebagaimana Anda ketahui bahwa Ahlussunah menganggap masuknya waktu Isya’ sebagai dalil berakhirnya waktu Maghrib dan bahwa shalat Maghrib yang dilakukan pada waktu itu terhitung qadha’, demikian pula waktu shalat Dhuhur dan Ashar. Karena itulah mereka berkeyakinan, bahwa ketika waktu shalat Isya’ telah tiba dan imam melakukan shalat Isya’, ma’mum tidak diperbolehkan melakukan shalat Maghrib bersamanya sehingga kedua shalat tersebut dilakukan dalam satu waktu?
JAWAB:
Dalilnya ialah keumuman (ithlaq) ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah yang mulia, di samping riwayat-riwayat yang secara khusus menunjukkan bolehnya menggabungkan dua shalat, dan di kalangan Ahlussunnah juga terdapat beberapa riwayat tentang diperbolehkannya dua shalat pada waktu salah satu dari keduanya.

SOAL 344:
Dengan memperhatikan bahwa akhir waktu shalat Ashar adalah Maghrib dan akhir shalat Dhuhur adalah beberapa saat menjelang Maghrib seukuran waktu yang diperlukan untuk shalat Ashar, saya ingin bertanya apakah yang dimaksud dengan Maghrib itu, apakah ia waktu terbenamnya matahari ataukah ketika suara adzan Maghrib dikumandangkan sesuai waktu setempat?
JAWAB:
Akhir waktu shalat Ashar adalah terbenamnya matahari.

SOAL 345:
Berapa menit jarak waktu antara terbenamnya matahari dan adzan Maghrib?
JAWAB:
Nampaknya hal itu berbeda sesuai dengan musim-musim dalam setahun.

SOAL 346:
Saya terlambat dalam bekerja sehingga pulang kerumah pada jam 11 malam dan tidak ada waktu melakukan shalat Maghrib dan Isya’ saat bekerja karena banyaknya klien. Apakah sah shalat maghrib setelah jam 11 malam?
JAWAB:
Boleh selama tidak menyebabkan penundaan sampai tengah malam. Namun berusahalah untuk tidak melakukannya setelah jam 11 malam bahkan melakukannya pada awal waktu.

SOAL 347:
Seukuran apakah dari shalat yang apabila dilakukan pada waktu ada’, maka niat ada’-nya sah? Apa hukumnya jika ragu bahwa ukuran itu dilakukan dalam waktu shalat ataukah di luarnya?
JAWAB:
Cukup terlaksana satu rakaat pada akhir waktu untuk dianggap sebagai shalat ada’. Jika Anda ragu apakah waktu yang tersisa itu cukup untuk sedikitnya satu rakaat ataukah tidak, maka Anda wajib melakukan shalat dengan tujuan malaksanakan tanggungan (dzimmah) dan tidak berniat melakukan ada’ atau qadha’.

SOAL 348:
Kedutaan-kedutaan dan konsulat-konsulat Republik Islam di negara-negara non Islam telah menyediakan jadwal waktu untuk menentukan waktu-waktu syar’i di ibu kota- ibu kota dan kota-kota besar. Pertanyaan pertama ialah, sampai batas apakah bisa mengandalkan jadwal-jadwal tersebut. Kedua, apa yang wajib dilakukan di kota-kota lain di negara-negara non Islam tersebut?
JAWAB:
Yang menjadi tolok ukur ialah kemantapan mukallaf. Jika ia tidak mempercayai bahwa jadwal-jadwal tersebut sesuai dan benar, maka ia wajib ber-ihtiyâth (bertindak berdasarkan kehati-hatian) dan menanti sampai yakin datangnya waktu syar’i.

SOAL 349:
Apa pendapat Anda tentang fajar shadiq dan fajar kadzib, apa taklif pelaku shalat dalam masalah ini?
JAWAB:
Standard syar’i tentang waktu shalat dan puasa adalah fajar shadiq. Penentuannya dikembalikan kepada penilaian mukallaf.

SOAL 350:
Di sebuah SMA full-time, para pengurus melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar secara berjamaah pada jam 2 siang, dan sebelum dimulainya pelajaran sore. Yang menyebabkan keterlambatan ialah bahwa pelajaran-pelajaran pada sesi pagi selesai sebelum waktu syar’i Dhuhur sekitar tiga per empat jam dan mempertahankan murid-murid sampai waktu Dhuhur syar’i sangatlah sulit. Dengan memperhatikan pentingnya shalat pada awal waktu, kami mohon pendapat Anda?
JAWAB:
Tidak ada larangan menunda shalat jamaah agar para mushalli (pelaku shalat) berkumpul, jika mereka tidak hadir pada awal waktu di sekolah.

SOAL 351:
Apakah wajib melakukan shalat dhuhur setelah adzan Dhuhur, dan melakukan shalat ashar setelah tiba waktunya, demikian juga shalat Maghrib dan Isya’?
JAWAB:
Ketika waktunya telah tiba, mukallaf boleh memilih antara menggabungkan atau memisahkan keduanya.

SOAL 352:
Apakah wajib menunggu pada malam-malam terang bulan untuk shalat subuh selama 15-20 menit, padahal jam saat ini tersedia dalam jumlah yang cukup dan bisa mendapatkan kepastian tentang terbitnya fajar?
JAWAB:
Tidak ada perbedaan antara malam-malam terang bulan dan malam-malam lainnya berkenaan dengan terbitnya fajar dan berkenaan dengan waktu fardhu subuh juga waktu wajib imsak untuk puasa, meskipun ihtiyâth dalam masalah ini tetap baik.

SOAL 353:
Apakah ukuran selisih waktu-waktu syar’i antara beberapa daerah dan yang dikarenakan perbedaan ufuk adalah sama dalam tiga waktu shalat harian? misalnya, perbedaan waktu dhuhur antara dua daerah ialah 25 menit, maka apakah hal ini juga berlaku pada waktu-waktu lainnya dan dengan ukuran yang sama, ataukah ia berubah pada waktu subuh dan Isya’?
JAWAB:
Hanya karena sama dalam ukuran selisih antara keduanya mengenai terbitnya fajar atau tergelincirnya matahari atau terbenamnya matahari tidak meniscayakan kesamaan pada waktu-waktu lainnya. Ukuran selisih antara bebagai kota biasanya justru tidak sama dalam tiga waktu shalat.

SOAL 354:
Ahlussunah melakukan shalat Maghrib sebelum Maghrib syar’i (waktu syar’i matahari terbenam). Apakah kami boleh pada hari-hari haji dan hari-hari lainnya berjama’ah dengan mereka dan cukup shalat dalam waktu tersebut?
JAWAB:
Belum diketahui secara pasti apakah mereka shalat sebelum masuk waktunya. Bergabung dalam jamaah dan bermakmum dengan mereka tidak ada masalah dan cukup, namun harus melakukan shalat pada waktunya kecuali jika dalam masalah waktu tersebut juga ber-taqiyyah
.

SOAL 355:
Matahari di Denmark dan Norwegia terbit pada jam 7 pagi terus bersinar hingga waktu Ashar sementara di negara terdekat lainnya pada waktu yang sama menunjukkan jam 12 malam. Apa taklif saya berkenaan dengan shalat dan puasa?
JAWAB:
Wajib mengikuti ufuk tempat tersebut berkenaan dengan waktu-waktu shalat harian, dan jika melakukan puasa menimbulkan kesulitan karena siangnya yang sangat panjang maka gugurlah puasa ada’ dan ia wajib meng-qadha-’nya.

SOAL 356:
Sampainya cahaya matahari ke bumi memerlukan waktu kira-kira 7 menit. Apakah tolok ukur berakhirnya waktu shalat subuh adalah terbitnya matahari ataukah ketika cahayanya telah sampai ke bumi?
JAWAB:
Tolok ukurnya ialah terbit dan terlihatnya matahari di ufuk tempat pelaku shalat.

SOAL 357:
Media masa mengumumkan waktu-waktu syar’i setiap hari pada hari sebelumnya. Apakah boleh berpegangan pada pengumuman tersebut dan menganggap bahwa waktu telah masuk setelah adzan dikumandangkan lewat radio dan televisi?
JAWAB:
Tolok ukurnya ialah kemantapan mukallaf tentang masuknya waktu.


SOAL 358:
Apakah waktu shalat bermula apabila adzan dimulai ataukah wajib menunggu sampai adzan tersebut berakhir baru memulai shalat? Apakah orang yang berpuasa boleh ifthar begitu adzan dimulai ataukah wajib menunggu sampai berakhir?
JAWAB:
Jika telah mantap bahwa adzan tersebut dimulai sejak masuknya waktu maka tidak wajib menunggu sampai berakhir.

SOAL 359:
Apakah sah shalat orang yang mendahulukan yang kedua atas yang pertama, seperti mendahulukan Isya’ sebelum Maghrib?
JAWAB:
Jika mendahulukannya karena keliru atau lupa sampai selesai shalat maka tidak ada masalah bahwa shalatnya sah. Jika melakukannya dengan sengaja maka shalatnya batal.

SOAL 360:
Dengan menghaturkan salam hormat dengan menyongsong datangnya bulan Ramadhan dan dengan memperhatikan perluasan beberapa desa serta sulitnya memastikan dengan tepat terbitnya fajar (masuknya watu Subuh), maka kami mengharap YM menerangkan kapan kita harus mulai berpuasa (imsak) dan melakukan shalat Subuh?
JAWAB:
Seyogyanya para Mukminin -semoga mereka mendapatkan perlindungan dari Allah SWT- memperhatikan ihtiyâth berkenaan dengan imsak puasa dan waktu shalat subuh, dengan melakukan imsak pada saat dimulainya adzan subuh dari media (radio) dan hendaknya melakukan shalat setelah berlalu 5 sampai 6 menit dari adzan.

SOAL 361:
Waktu shalat Ashar sampai adzan Maghrib atau sampai terbenam matahari? Pertengahan malam secara syar’i untuk (akhir) waktu Isya’ dan (kewajiban) baytutah (bermalam) di Mina jam berapa?
JAWAB:
Akhir waktu shalat Ashar adalah terbenamnya matahari. Berdasarkan ihtiyâth untuk shalat Maghrib dan Isya’ dan sejenisnya hendaknya malam itu dihitung dari awal terbenam matahari sampai adzan Subuh, oleh karena itu waktu akhir Maghrib dan Isya’ kira-kira setelah berlalu 11 jam setengah dari adzan Dhuhur, namun untuk baytutah di Mina harus dihitung dari tenggelam matahari sampai terbit matahari.

SOAL 362:
Jika seseorang pada saat melakukan shalat ashar ingat bahwa belum melakukan shalat Dhuhur, apa yang harus dilakukan?
JAWAB:
Jika ia melakukan shalat Ashar karena menduga telah melakukan shalat Dhuhur sebelumnya, dan dia lakukan shalat Ashar tersebut pada waktu musytarak antara Dhuhur dan Ashar, maka dia harus langsung merubah niat Ashar menjadi Dhuhur, kemudian setelah salam dia melakukan shalat Ashar. Jika hal itu terjadi pada waktu khusus Dhuhur, maka berdasarkan ihtiyâth dia wajib merubah niatnya menjadi shalat Dhuhur, kemudian setelah selesai dia bangun lagi untuk melakukan shalat Dhuhur kemudian Ashar. Hal itu juga berlaku pada Maghrib dan Isya’

Kebohongan Ulama wahabi Syaikh Shalih Fawzan Dalam Mengutip Hadis Tsaqalain

Kita tahu bahwa Wahabi Nashibi tidak mau mengikuti Ahlul Bait (as), ucapan mereka tentang kecintaan kepada Ahlul Bait adalah kepalsuan dan omong kosong, sudah jelas mereka adalah pengikut ajaran bani umayyah sebagaimana imam mereka Ibn Taymiyah. Dan itulah sebabnya, mereka sering mencoba untuk menyembunyikan kata-kata yang sebenarnya dari Rasulallah saw mengenai Tsaqalain, yaitu KITABULLAH dan ITRAH AHLUL BAIT.

Sekarang mari kita lihat apa yang dikatakan Ulama Wahabi, Syaikh Shalih Fawzan, dalam kitabnya Muhadharat fi Al-Aqidah wa Al-Da’wah” (4/253) :

“Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, Kitabullah dan Sunnahku

Dalam catatan kaki ia menyebutkan referensi dari Sunan Tirmidzi  no.3788 , padahal dalam Sunan Tirmidzi Hadist no.3788 berbunyi :

حدثنا علي بن المنذر كوفي حدثنا محمد بن فضيل قال حدثنا الأعمش عن عطية عن أبي سعيد و الأعمش عن حبيب بن أبي ثابت عن زيد بن أرقم رضي الله عنهما قالا : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي أحدهما أعظم من الآخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض وعترتي أهل بيتي ولن يتفرقا حتى يردا علي الحوض فانظروا كيف تخلفوني فيهما

Rasulullah saw bersabda : ‘“Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaku dalam keduanya”

Jelas sekali bahwa dalam Sunan Tirmidzi riawayat no 3788 menyebutkan kata KITABULLAH dan ITRATI AHLUL BAITbukan SUNNATI sebagaimana yang di katakan oleh Ulama Wahabi tersebut..!

ini link kitab Sunan Tirmidzi (online) dan capture  :

[ سنن الترمذي ]

الكتاب : الجامع الصحيح سنن الترمذي

المؤلف : محمد بن عيسى أبو عيسى الترمذي السلمي

http://www.islamport.com/w/mtn/Web/2997/6051.htm

dan ini scan Sunan Tirmidzi :

    Cerpen Kisah Benar:Nenek Moyang Enta Syiah?

    Cerpen berikut adalah sebuah kisah benar…

    Baru-baru ni ana bertemu dengan seorang usahawan (dah bertemu banyak kali sebelum tu) di rumah persinggahan beliau. Beliau berasal dari Sarawak tetapi perniagaannya di Kuantan (Rumah isteri kedua). Dalam pertemuan terbaru itu, sambil duduk di atas lantai kami bersembang-sembang hal bisnis. Tiba-tiba beliau bertanyakan hal Syiah dan perbezaaannya dengan ASWJ kerana kebelakangan ini seriang beliau mendengar berita berkaitan Syiah yang kononnya sesat.

    Maka ana menerangkannya dengan mengambil contoh berwudhu’, Solat, Waktu Solat Maghrib dan Subuh, dan Masa Berbuka dan Sahur. .

    Sewaktu membicarakan perbezaan dalam solat maka beliau beberapa kali mencelah dengan mengatakan arwah datuknya dulu juga solat begitu dan sering mengomel-ngomel bahawa orang lain hanya solat 2 rakaat sahaja (sebab telah memberi salam pada tasyahhud awal).

    Selain dari itu datuknya juga masih lagi makan hampir 20 minit selepas azan subuh waktu bersahur dalam bulan Ramadhan, melewatkan solat maghrib, berpesan banyak kali kepadanya agar bersalawat dengan salawat yang penuh (cara syiah, apabila ana bacakannya untuk menerangkan bacaan dalam tasyahhud).

    Sewaktu awal penerangan tentang solat (cara Syiah) iaitu berdiri dengan tgn lurus maka usahawan tersebut juga menyatakan bahawa datuknya juga melakukan yang sedemikian dan ana menyatakan bahawa dalam Mazahab Maliki juga tgn lurus waktu solat.

    Setelah habis penerangan ana kepadanya beliau kelihatan seperti excited dan terpancar kegembiraan di raut mukanya seolah-olah mendapat satu kepuasan. Beliau kelihatan bertenaga walaupun sebelum itu beliau nampak lesu kerana beliau telah tidak kurang dari 5 kali dimasukkan ke hospital akibat sakit jantung. Ana hanya memandang tepat ke wajahnya sambil tersenyum dan membiarkan keadaannya yang sedang excited itu beberapa minit.

    Kemudian ana bertanya kepadanya berapa umur datuknya? Beliau katakan bahawa datuknya telah meningal pada tahun 70an dahulu pada usia 120 tahun! Dalam minda ana telah berlegar sesuatu yang akan ana sebutkan padanya dan ana dapat merasakan bahawa ianya akan menjadi suatu kejutan kepadanya!

    Maka sambil terenyum lebar ana katakan:
    “Ada satu perkara lagi yang saya tidak sebut kan perbezaan antara Syiah dan ASWJ dalam solat iaitu ketika sujud. Walaupun perlakuan sujud adalah sama dan bacaannya juga hampir sama tetapi ada satu perbezaan yang saya tidak sebutkan tadi.”
    Beliau bertanya:
    “apa dia?”
    Ketika ini beliau seoalah merasakan ada sesuatu yang sangat menggemparkannya kerana jika tidak, masakan ana menyimpannya hingga kehujung penerangan ana.

    Senyuman ana semakin melebar dan ana katakan:
    “Perbezaannya sewaktu sujud ialah… orang ASWJ mereka sujud seperti mana lazim yang kita boleh lihat, tetapi orang Syiah, mereka akan sujud di atas seketul tanah.”

    Hampir mahu melompat beliau dengan mulut yang separuh ternganga, lantas menepuk tangannnya ke lantai beliau bersuara:
    “Patutlah bila datuk aku solat, dia selalu berpesan dan cukup marah kalau ada sesiapa yang cuba mengalihkan sehelai kain (seperti sapu tangan) yang diletakkan di tempat sujud dan di atas kain itu ada sekeping tanah yang dah dikeraskan!”
    “Dan, kalau dia ke kebun, datuk aku akan solat di satu tempat khusus untuknya solat (yang telah dibersihkan) dengan tak ada sebarang alas. Solat terus atas tanah!!”

    Hampir minitiskan air mata seraya di dalam hati ana berkata “Subhanallah!!” dan kemudian ana katakan kepadanya:
    “Datuk kamu adalah seorang yang bermazahab Syiah dan pencinta Ahlul Bait!”

    Pokok terpecahnya Sunni dan Syi’ah

    Pusat perdebatan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah berkisar pada masalah Imamah (yaitu Aimmatal Ma’shumin). Pentingnya Imamah adalah begitu besarnya sehingga Ulama Syi’ah menganggap orang-orang yang menolak Imamah dalam bahaya. Ulama Sunni menganggap orang-orang yang menerima doktrin Imamah Syi’ah akan menjadi zindiq

    Sebagian besar polemik perdebatan antara Sunni dan Syi’ah berputar di sekitar isu-isu seperti Mut’ah, Matam, Saqifah, Ghadir Khum, Fadak, dan isu-isu selain itu. Namun, masalah mendasar yaitu perdebatan-Imamah-adalah seringkali diabaikan.

    Setiap perselisihan lain Syiah dengan Sunni [selain Imamah] berakar pada desakan Syiah pada Imamah sebagai prinsip Islam, baik dalam keyakinan maupun praktek. Dari pandangan dan interpretasi berbeda mengenai sejarah, sistem yang sama sekali berbeda dari koleksi Hadis dan otentikasi, dan perilaku yang berbeda dari mempraktekan Islam, semua ketidaksamaan tersebut dapat ditelusuri kembali mengarah kepada Imamah sebagai doktrin dalam iman Syiah.

    Oleh karena adalah sangat beralasan bahwa fokus dari setiap pencarian kebenaran yang serius akan dimulai dan diakhiri dengan prinsip Imamah dalam pikiran dari pencari kebenaran. Mencoba untuk meneliti tentang perbedaan antara Syiah dan Sunni tanpa mempertimbangkan dogma Imamah sebagai titik menempel utama akan menyebabkan argumen buntu dan sia-sia. Saya secara pribadi telah menyaksikan sejumlah diskusi Sunni-Syi’ah yang dengan cepat turun ke dalam kekacauan karena satu sisi atau keinginan lain untuk membahas suatu subjek yang kurang mendasar.

    Aman untuk mengatakan bahwa jika Syi’ah tidak percaya pada konsep Imamah, maka mereka tidak akan dianggap sebagai sekte yang terpisah. Masalah-masalah lain pertentangan antara Sunni dan Syi’ah hanyalah konsekuensi dari Imamah. Oleh karena itu, Imamah dan keabsahannya dalam Al-Qur’an adalah isu utama pertentangan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Syi’ah.

    Imamah

    Sebelum kita melanjutkan, penting untuk menyatakan apa sebenarnya yang dimaksud dengan doktrin Imamah Syi’ah tersebut.

    Doktrin Imamah Syi’ah: Selain dari para nabi, ada sekelompok orang yang ditunjuk oleh Allah yang disebut imam. Mereka ini adalah orang yang memiliki Ismah (kemaksuman) dan memiliki akses ke suatu pengetahuan yang tidak dapat diakses oleh orang biasa. Dunia tidak boleh kosong dari seorang Imam, jika tidak maka akan dihancurkan. Dalam konteks Islam, orang-orang ini adalah dua belas orang di antara keturunan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) yang tidak ditunjuk oleh seorang pun kecuali oleh Allah (عز و جل) sendiri untuk memimpin umat Islam. Siapapun yang memilih pemimpin selain dua belas imam ini adalah sesat dan tidak beriman sempurna. Imam ke dua belas (terakhir) dari para imam tersebut adalah al-Mahdi dan, meskipun ia telah di okultasi selama lebih dari seribu tahun, ia akan kembali ketika Allah (عز و جل) menghendaki dan kemudian keadilan akan menang.

    Pentingnya Imamah dalam Ajaran Syi’ah

    Doktrin Imamah di atas adalah keyakinan inti dari Syi’ah. Kaum Syi’ah mempertimbangkan lima hal keyakinan sebagai dasar agama. Yaitu:

    1. Tauhid (Keesaan Allah)

    2. Nubuwwah (kenabian)

    3. Ma’ad (hari kiamat)

    4. Adl (Keadilan Allah)

    5. Imamah (doktrin di atas)

    Imamah dianggap oleh Syi’ah sebagai salah satu dasar [Ushuluddin] agama.

    Dalam Syi’ah, agama dibagi menjadi Ushuluddin dan Furu’uddin. Ushuluddin adalah prinsip-prinsip keyakinan agama, analog dengan Rukun Iman dalam Sunni. Furu’uddin berkaitan dengan praktek dalam agama, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya.

    Untuk memperkenalkan pembaca dengan apa yang merupakan Ushuluddin dalam Syi’ah, saya akan mengutip saluran berikut dari buku Allamah Muhammad Husain al-Kashiful Gita “Aslul Syi’ah wa Ushuluha”:

    “Hal-hal yang menyangkut pengetahuan atau hikmat, disebut Ushuluddin (dasar-dasar agama) dan itu adalah lima: Tauhid, Nabuwwah, Imamah, ADL, dan Ma’ad.” ["Aslul Syi’ah wa Ushuluha, Bagian II: Dasar-dasar Agama ", p.218]

    Dengan pengertian yang sama, sarjana Syi’ah Muhammad Ridha Muzaffar menyatakan: “Kami percaya bahwa Imamah adalah salah satu dasar Islam (Ushuluddin), dan bahwa iman manusia tidak akan pernah lengkap tanpa adanya kepercayaan padanya.”

    … Isu yang nyata dari pertentangan [antara Sunni dan Syi’ah] adalah sehubungan dengan [kepercayaan] Imamah. Sebagaimana [sarjana Syi’ah] Allamah Kashiful Gita menyebutkan: “Ini adalah pertanyaan tentang Imamah yang membedakan sekte Syi’ah dari semua sekte lain. Perbedaan lainnya tidak mendasar, itu adalah masalah furu’ (yaitu sekunder) “[ASL-ul-Syi’ah wa Ushuluha, hal.221]

    Dengan demikian, pentingnya Imamah dalam Syi’ah lebih dari pentingnya Shalat (doa); Imamah dianggap Ushuluddin [yaitu Mendasar] sedangkan Sholat adalah Furu’uddin [dgn kata lain sekunder]. Akan akurat untuk mengatakan bahwa Furu’uddin adalah konsekuensi langsung dari Ushuluddin. Imamah dianggap sebagai pilar paling penting Islam. Dan Imamah yang kita bahas di sini adalah tidak berarti “kepemimpinan” karena Sunni-pun dan juga setiap kelompok dalam Islam -menganggap kepemimpinan menjadi isu penting. Ketika kita menyebut “Imamah” di sini, kita sedang mengacu kepada doktrin khusus Syi’ah yaitu para pemimpin maksum yang ditunjuk oleh Allah yang harus diikuti.

    Paham Imamah ‘ala Syi’ah

    Begitu pentingnya soal Imamah bagi para ulama Syi’ah dapat dilihat dari pandangan mereka tentang orang-orang yang menolak Imamah. Mari kita lihat apa yang situs Syi’ah populer, Al-Shia.com, telah mengatakan tentang ini:

    Al-Shia.com berkata :

    :“فيمن جحد إمامة أمير المؤمنين والائمة من بعده عليهم السلام بمنزلة ( 6 ) من جحد نبوة الانبياء عليهم السلام . واعتقادنا ”
    “فيمن أقر بأمير المؤمنين وأنكر واحدا من بعده من الائمة عليهم السلام أنه بمنزلة من آمن بجميع الانبياء ثم أنكر بنبوة محمد صلى الله عليه وآله “

    Imam Al-Saduk berkata, “keyakinan kita adalah bahwa orang yang menolak Imamah dari Amirul Mukminin (Ali) dan para Imam sesudah beliau, sama posisinya seperti orang yang menolak kenabian dari Sang Nabi.”

    Lebih lanjut, beliau berkata: “dan keyakinan kita adalah orang yang menerima Amirul Mukminin (Ali) tetapi menolak salah seorang Imam sesudahnya, sama posisinya seperti orang yang percaya kepada semua Nabi tetapi menolak kenabian Muhammad (Saw).”

    Syaikh Mufid menyatakan:

    Imamiyyah bersepakat (Ijma’) bahwa orang yang menolak Imamah dari salah satu Imam dan menolak ketaatan terhadap mereka dimana Allah telah perintahkan adalah sesat.”

    Oleh karena itu, kita melihat bahwa masalah Imamah adalah bukan perkara yang bisa dianggap enteng. Di satu sisi, para ulama syi’ah mengatakan bahwa mereka yang menolak Imamah adalah sesata. Di sisi yang lain, Ulama Sunni mengatakan bahwa mereka yang menerima doktrin Imamah ala Syi’ah adalah benar-benar dalam kesalahan total

    Sebelas imam ahlulbait syahid karena dibunuh !!!!

    Mungkin Anda pernah membaca beberapa tulisan di blog ini mengenai sejarah penghancuran makam sahabat dan keluarga nabi, atau mayat yang dikabarkan ada di kubah hijau, atau perubahan yang dilakukan di pagar makam nabi. Masih dari kota Madinah, ada hal lain yang ingin saya cerita-bagikan: nama dan gelar imam ahlulbait di sekitaran Masjid Nabawi.

    Tidak diragukan lagi, para imam ahlulbait adalah manusia-manusia terhormat bagi seluruh kalangan. Beberapa ilmuwan dan ulama ahlusunah ada yang pernah menimba ilmu dari mereka. Meski mereka bukan semata milik Syiah, tapi tidak dinafikan bahwa pengikut Syiah menaruh perhatian lebih. Jika tidak membaca buku karya ulama Syiah, mungkin kita tidak pernah mendengar nama Musa Al-Kazhim, Ali An-Naqi, atau Muhammad At-Taqi, apatah lagi hadis yang disampaikan oleh mereka.

    Teras Masjid Nabawi

    .

    Old Masjid Nabawi (via theawesomejourney.wordpress.com)

    ..

    Mereka adalah keturunan langsung Rasulullah saw. Menurut sejarah, Musa Al-Kazhim dipenjara dan wafat atas perintah Harun Ar-Rasyid dan dimakamkan di Irak. Putranya, Ali Ar-Ridha, merupakan alim di kota Madinah. Karena dianggap mengganggu kekuasaan Al-Makmun, beliau diasingkan dan diracun serta dimakamkan di Masyhad, Iran.

    Menurut sejarah, Muhammad At-Taqi syahid diracun atas perintah khalifah Al-Muktasim. Makamnya saat ini berada di Baghdad, Irak.

    Sebelas imam ahlulbait syahid karena dibunuh, tidak terkecuali imam kesepuluh Ali An-Naqi, yang menurut Syiah adalah kakek dari Muhammad Al-Mahdi. Menurut ahlusunah, Imam Mahdi yang dijanjikan belumlah lahir walaupun namanya sudah tertulis di tembok Masjid Nabawi.

    Jadi, bukankah sudah saatnya bagi kita untuk lebih mengenal para imam ahlulbait?

    Sejak kita di bangku sekolah lagi, di dalam pendidikan sejarah Islam, nama Khalifah Ar Rasyidin adalah sesuatu yang kerap kita dengar, dan kita telah dididik untuk menyanjung dan mencontohi mereka dalam segala hal. Kita kerap mendengar guru-guru kita memberikan hadis ini kepada kita.

    “Aku wasiatkan kepada kamu agar bertaqwa kepada Allah dengar serta taat, meskipun kamu dipimpin oleh seorang hamba. Sesungguhnya barangsiapa diantara kamu yang masih hidup sesudah pemergianku, ia akan melihat banyak perselisihan yang akan berlaku. Maka ketika itu pastikan kamu berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Ar Rasyidin. Gigitlah ia dengan gerahammu, dan berhatilah dengan perkara-perkara baru dalam agama, kerana setiap bidaah itu ialah kesesatan.”

    Hadis di atas adalah antara sandaran utama AhlulSunnah, dan antara sebab mereka mengagungkan para khalifah ini. Walaubagaimanapun, hadis ini dhaif, dan akan saya bincangkan nanti tentang kedhaifannya. Anyway, saya berpendapat, matan hadis ini boleh di pakai, hanya jika kita menakwilkannya terhadap para Imam dari Ahlulbait(as), seperti yang saya telah bahaskan dalam artikel yang lepas. Sunnah para Aimmah(as) tidak pernah bercanggah dengan Sunnah Nabi(sawa), juga tidak pernah bercanggah sesama mereka. Ini ialah satu fakta dan mengapa saya memilih untuk menggigit sunnah mereka dengan gigi geraham saya.

    Ada beberapa masalah tentang hadis di atas, jika katakan kita mahu mengguna pakai hadis ini:

    1. Rasulullah(sawa) tidak pernah menyebutkan siapa “Khalifah Ar Rasyidin” ini secara jelas(kecuali untuk Imam Ali(as) dan Ahlulbait baginda) di dalam hadisnya, jadi mengapa kalian AhlulSunnah menamakan Abu Bakr, Umar dan Usman sebagai khalifah ar rasyidin?
    2. Jika pun benar mereka ialah para khalifah yang disebutkan oleh Rasul Akram(sawa), apakah hujah kalian untuk hanya menetapkan mereka kepada 4 orang sahaja?

    Inilah antara kemusykilan saya, kerana kita suka-suka hati sahaja menetapkan siapa khulafa ar rasyidin, sedangkan perlantikan ini seharusnya daripada Allah swt melalui mulut Rasul yang suci, bukan oleh kita manusia biasa penuh dosa. Saudara Sunni jelas telah tersilap, kerana sepatutnya hadis ini perlu digandingkan dengan hadis-hadis dalam artikel Imamah bahagian 2 yang lepas, dan juga, dengan hadis ini-:

    1. Di keluarkan dari Bukhari, Ahmad dan Baihaqi, dari Jabir bin Samurah, berkata,

    “Akan wujud 12 orang amir”.

    Jabir berkata: Setelah itu baginda(sawa) mengatakan sesuatu yang tidak dapat aku mendengarnya.    Lantas bapaku berkata bahawa baginda bersabda:

    “Semuanya dari Quraish.”

    2. Di keluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku masuk bersama bapaku ke hadhrat Nabi lalu aku mendengar baginda(sawa) bersabda:

    ‘Urusan agama ini tidak akan selesai hingga sempurna 12 orang Khalifah.”

    Jabir berkata: Kemudian baginda mengatakan sesuatu yang kabur dari pendengaran ku, maka aku bertanya kepada bapaku. Bapaku menjawab:

    Semuanya daripada Quraish”

    3.  Dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad dari Jabir bin Samurah: Aku telah mendengar bahawa Rasulullah bersabda:

    “Urusan agama akan tetap berjalan lancar selagi mereka dipimpin oleh 12 orang lelaki.”

    4. Di keluarkan oleh Muslim, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, al Khatib al Tabrizi, dari Jabir bin Samurah, Rasulullah(sawa) bersabda:

    “Islam akan tetap mulia(selagi mereka dipimpin oleh) dengan 12 orang khalifah”

    5. Dikeluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Nabi bersabda pada petang Jumaat ketika al Aslani di rejam:

    “Agama ini akan tetap teguh berdiri hingga hari kiamat kerana kamu dipimpin oleh 12 orang khalifah.”

    6. Di keluarkan oleh Ahmad, Al Hakim, al Haithami di dalam Majma’ uz Zawaid dinukil dari Thabrani dan al Bazzar, dari Jabir bin Samurah, Nabi bersabda:

    “Urusan umatku akan berada dalam keadaan baik sehinggalah cukup 12 orang khalifah.”

    7. Di keluarkan oleh Ahmad, al Haithami di dalam Majma uz Zawaid, Ibnu Hajar di dalam al Mathalibul ‘Aliyah, al Busairi di dalam Mukhtasar al Ithaf dari Masruq berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata:

    Apakah Nabimu pernah mengkhabarkan bilangan khalifah setelah pemergiannya?

    Ibnu Mas’ud menjawab:

    “Ya, tetapi tiada orang pun selain kamu yang bertanyakan perkara ini. Sesungguhnya kamu masih muda. Bilangan khalidah adalah seperti bilangan majlis Musa(as), iaitu 12 orang.”

    Inilah antara hadis yang menunjukkan bilangan khalifah/amir sepeninggalan Rasululla(sawa), iaitu 12 orang, yang mana selagi di bawah pimpinan mereka:-

    1. Islam akan tetap mulia.
    2. Agama ini akan tetap teguh.
    3. Urusan umat akan tetap dalam keadaan baik.

    Syeikh Sulaiman al Qunduzi al Hanafi menerusi kitabnya Yanabi al Mawaddah telah mengkhususkan satu bab hanya untuk himpunan hadis 12 orang khalifah ini. Beliau menyatakan bahawa Yahya bin Hassan menerusi kitabnya, al Umdah menyenaraikan 20 jalan sanad bahawa khalifah sepeninggalan Nabi(sawa) ialah 12 orang. Manakala Bukhari menyenaraikan 3 jalan, Muslim 9 jalan, Abu Daud 3 jalan, dan Tarmizi 1 jalan.

    Dengan adanya hadis-hadis ini, bagaimanakah saudara-saudara Sunni sekalian boleh menghadkan Khalifah sesudah Nabi hanya 4 orang, dan apakah dalil-dalil atau nas yang mengatakan khalifah-khalifah ini ialah Abu Bakr, Umar, atau Usman(Ali sudah tentu ada, hehe)? Setakat ini dan selama sejarah ini,yang diketahui mengenali dan mengikut 12 orang khalifah secara tepat hanyalah Syiah Imamiah. Mereka menjadikan mereka sebagai sumber kepimpinan mereka.

    Lihat sahaja betapa Rasulullah(sawa) begitu menekankan tentang 12 orang khalifah ini, yang dari semua hadis ini, kita dapat rumuskan mereka sebagai penjaga agama dan urusan umat sepeninggalan baginda. Kalau kita match kan hadis-hadis ini dengan hadis wilayah Ahlulbait(as), tidakkah kita mendapati mereka(Ahlulbaiy) ialah gandingan yang sesuai untuk 12 orang ini? Dan sememangnya, hanya 12 orang sahaja yang dengan sebenar-benarnya layak memimpin umat Islam.

    Siapakah Mereka?

    Sewaktu saya masih dalam tempoh kajian, saya begitu teruja dan ingin tahu tentang 12 orang amir ini. Saya sentiasa membayangkan mereka sebagai pelindung Islam dan pengikutnya. Malangnya saya tidak mengenali mereka yang lain, selain dari empat yang telah diketahui umum. Saya tertanya-tanya, siapakah 8 orang yang selebihnya? Ulama-ulama Sunni, menemui jalan buntu dalam percubaan mereka untuk menakwil dan memahami hadis ini. Apa kata mereka?

    Qadi Abu Bakr Ibn Al Arabi

    Setelah mengira bilangan Amir selepas Rasulullah sebagai 12 kita mendapati mereka terdiri daripada : Abu Bakr, ‘Umar, ‘Uthman, Ali, Hasan, Mu’awiyah, Yazid, Mu’awiyah ibn Yazid, Marwan, ‘Abd al-Malik ibn Marwan, Yazid bin ‘Abd al-Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Selepas dari mereka ini ada 27 orang lagi khalifah dari Bani Abbasiyyah.

    Kalau kita hanya mengambil 12 orang khalifah dari mereka itu kita akan sampai kepada Sulayman.  Kalau kita mengambil maksud hadith ini secara literal, kita hanya boleh mengambil 5 orang daripada mereka dan ditambah dengan 4 orang Khulafa’ ar-Rasyidun dan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz…

    Saya tidak boleh memahami maksud Hadith ini.

    [Qadi Abu Bakr Ibn al-'Arabi, Sharh Sunan Tirmidhi, 9:68-69]

    Qadi ‘Iyad al-Yahsubi:

    Bilangan Khalifah adalah lebih dari itu. Untuk menghadkan bilangan mereka kepada dua belas adalah tidak tepat. Rasulullah (s.a.w.s.) tidak pernah mengatakan bahawa hanya ada dua belas orang dan tidak lebih dari itu. Oleh itu bilangan mungkin ada lebih.

    [Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim, 12:201-202;Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

    Jalal al-Din al-Suyuti:

    Hanya ada duabelas orang khalifah sehingga hari kebangkitan. Dan mereka akan tetap bertindak mengikut haq (kebenaran) walaupun mereka tidak berturutan.

    Daripada 12 itu, empat adalah khulafa ar-Rasyidun, kemudian Hasan, kemudian Mu’awiyah, kemudian Ibn Zubayr, dan diakhiri dengan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz. Bilangan mereka baru lapan. Tinggal lagi empat. Mungkin Mahdi, si-Abbasiyyah boleh dimasukkan kerana beliau dikalangan Bani Abbasiyyah adalah seperti  ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz dikalangan Bani Umayyah. Tahir ‘Abbasi akan juga dimasukkan kedalam bilangan ini kerana beliau merupakan seorang sultan yang adil. Dua lagi akan datang pada masa hadapan. Salah seorang daripada mereka adalahMahdi, kerana beliau adalah dari Ahlul Bayt (a.s.).

    [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Page 12;Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Page 19

    Ibn Hajar al-'Asqalani:

    Tidak ada seorangpun yang mempunyai ilmu yang cukup untuk memahami hadith dari sahih Bukhari ini.Adalah tidak tepat untuk mengatakan bahawa imam-imam ini akan hadir pada satu ketika/masa yang sama.

    [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

    Ibn al-Jawzi:

    Khalifah pertama dari Bani Umayyah adalah Yazid ibn Mu’awiyah dan yang terakhir adalah, Marwan Al-Himar. Bilangan mereka adalah tiga belas. ‘Uthman, Mu’awiyah dan ibn Zubayr tidak dimasukkan didalam bilangan ini kerana mereka adalah dikalangan para sahabat Rasulullah(s).

    Kalau kita mengecualikan Marwan bin al-Hakam kerana kontorversi samada beliau dikira sebagai sahabat ataupun tidak kerana walaupun beliau berkuasa  Abdullah ibn Zubayr mendapat sokongan daripada rakyat. Baharulah kita akan mendapat angka dua belas. … Setelah kekhilafahan Bani Umayyah, suatu kekacauan yang hebat berlaku. Sehingga Bani Abbasiyyah berjaya untuk menstabilkan pemerintahan mereka. Oleh itu suasana asal telah bertukar seluruhnya.

    [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana yang telah dicatatkan dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

    Al Baihaqi:

    Bilangan ini (duabelas) akan dijumpai hingga ke zaman Walid ibn ‘Abd al-Malik. Selepas daripada ini timbul kekacauan dan gangguan. Kemudian datang pula Bani Abbasiyyah. Riwayat ini telah meningkatkan bilangan Imam. Sekiranya kita ketepikan sebahagian daripada perilaku mereka yang datang selepas kekacauan tersebut, bilangan mereka akan meningkat.”

    [Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Page 11]

    Ibnu Katsir:

    Barangsiapa yang mengikut dan bersetuju dengan  pandangan Bayhaqi bahawa Jama’ah bermaksud khalifah-khalifah yang datang turut menurut sehingga pada masa Walid ibn Yazid ibn ‘Abd al-Malik si-pengganas adalah mereka yang dikritik dan dihina oleh kami dengan berhujah kepada beberapa hadith.

    Dan sekiranya kita menerima Kekhalifahan Ibn Zubayr sebelum ‘Abd al-Malik bilangannya akan menjadi enam belas. Padahal bilangannya sepatutnya duabelas sebelum dari ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Dengan kaedah ini Yazid ibn Mu’awiyah akan dimasukkan dan tidak  ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Walaubagaimanapun, adalah telah diterima oleh junhur ulema bahawa ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz adalah seorang khalifah yang benar dan adil.

    [Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249-250]

    Lihat sahaja kekeliruan mereka. Ini mungkin disebabkan oleh kejahilan mereka kerana hanya memberi tumpuan terhadap orang yang memegang kuasa bukan yang di lantik Rasulullah(sawa). Ini juga disebabkan oleh prejudis terhadap Syiah sehingga mereka terlepas pandang terhadap hadis keutamaan Ahlulbait(as).

    Demi membuka kebuntuan ini, biarlah saya meriwayatkan hadis ini sebagai permulaan:-

    Al-Dhahabi yang merupakan seorang ulamak yang terkenal, berkata di dalam Tadhkirat al-Huffaz, Jilid. 4, ms. 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani berkata didalam al-Durar al-Kaminah, Jilid. 1, ms. 67 bahawa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi’i merupakan seorang ulamak hadith yang terkenal. Beliau (Al-Juwayni) melaporkan dari Abdullah ibn Abbas (r) yang melaporkan dari Rasulullah (s) yang bersabda,

    Aku adalah penghulu bagi para Nabi dan Ali ibn Abi Talib adalah penghulu bagi penggantiku, dan selepas daripada aku, penggantiku adalah 12, yang pertama merupakan Ali ibn Abi Talib dan yang terakhir merupakan Al Mahdi.

    Al-Juwayni juga meriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas (r) yang meriwayatkan daripada Rasulullah (s):

    “Sesungguhnya Khalifahku dan pewarisku dan Hujjah Allah keatas makhlukNya selepas dari ku adalah 12. Yang pertama daripada mereka adalah saudaraku dan yang terakhir daripada mereka adalah anakku (cucu).“  Baginda ditanya: “Ya Rasulullah, Siapakah saudaramu?”  Beliau menjawab, “Ali ibn Abi Talib” Kemudian mereka bertanya lagi, “Dan siapakah anakmu?”  Rasulullah (s) menjawab, “Al Mahdi, beliau yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan seperti mana pada ketika itu ia dipenuhi oleh ketidakadilan dan kekejaman. Dengan Dia yang telah mengangkatku sebagai pemberi khabar buruk dan khabar baik, biarpun hanya sehari tinggal untuk kehidupan dunia ini, Allah Maha Kuasa akan memanjangkan hari itu sehingga beliau menghantar anakku Mahdi, kemudian Beliau akan menyuruh Ruhullah ‘Isa ibn Maryam (a) untuk turun dan solat dibelakang beliau (Mahdi). Dan dunia akan disinari oleh cahaya kehebatannya. Dan kekuasaannya akan mencapai timur dan barat.”

    Al-Juwayni juga meriwayatkan bahawa Rasulullah(s) juga memberitahu: “Aku, Ali, Hasan, Husayn dan sembilan orang daripada zuriat Husayn adalah mereka yang disucikan dan yang tidak melakukan kesalahan.

    [Al-Juwayni, Fara'id al-Simtayn, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, p. 160.]

    Pendapat inilah yang selari dengan pendapat kami, Syiah Ahlulbait(as). Jelas sekali di sini, Khalifah ar Rasyidin bukanlah ditujukan kepada Abu Bakr, Umar atau Usman. Gelaran ini juga tidak muncul di zaman pemerintahan mereka. Ia hanya diberikan oleh ulama-ulama dari golongan Tabiin dan seterusnya, yang memandang zaman itu sebagai zaman kegemilangan Islam.

    Untuk lebih detail, inilah mereka.

    Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

    Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai Jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”

    Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
    (Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

    • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
    • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
    • Tafsir Razi:3/375

    Telah diriwayatkan oleh al Hamwini, di dalam Fara’id al-Simtayn dan dinukilkan darinya di dalam Yanabi al Mawaddah, dengan sanad dari Ibnu Abbas berkata:

    Seorang Yahudi yang bergelar Nat’sal datang bertemu Rasulullah(sawa) lalu berkata;

    Wahai Muhammad(sawa) aku berhajat untuk bertanya kepadamu sesuatu yang aku pendamkan di dalam diriku. Jika kamu menjawabnya, maka aku akan mengisytiharkan keislamanku di hadapan mu.” Rasulullah(sawa) menjawab, “Tanyalah wahai Abu Imarah.” Dia lalu menyoal baginda sehingga beliau merasa puas dan mengakui kebenaran baginda(sawa).

    Kemudian dia berkata, “ Beritahu aku tentang pengganti kamu, siapakah mereka? Sesungguhnya tiada Rasul yang tidak mempunyai wasi(pengganti).Rasul kami Musa melantik Yusha bin Nuun sebagai pengganti dirinya. Baginda menjawab: “Wasi ku ialah Ali bin Abi Thalib, diikuti oleh kedua cucuku, Hassan dan Hussain, seterusnya diikuti pula oleh 9 orang keturunan Hussain.

    Dia bertanya lagi: “Sebutkan nama-nama mereka kepada ku waha Muhammad(sawa).” Rasul menjawab, “Apabila Hussain pergi, beliau akan diganti oleh anaknya, Ali, apabila Ali pergi, Muhammad akan menggantikannya. Apabila Muhammad pergi, Ja’afar akan menggantikannya. Apabila Ja’afar pergi, beliau akan digantikan oleh anaknya Musa. Apabila Musa pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Setelah Ali pergi anaknya Muhammad akan menggantikannya. Setelah Muhammad pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Apabila Ali pergi, anaknya Hassan akan menggantikannya. Apabila Hassan pergi, anaknya Muhammad al Mahdi akan menggantikannya. Inilah mereka yang 12 orang.Dengan jawapan tersebut yahudi itu memuji Allah dan menyatakan keislamannya.

    Setakat ini, bolehlah saya simpulkan bahawa nama para Imam/Khalifah/Amir ini ialah:

    1. Imam Ali Ibnu Abi Thalib Al Murtadha
    2. Imam Hassan ibn Ali al Mujtaba
    3. Imam Hussain ibn Ali asy-Syahid
    4. Imam Ali ibn Hussain Zain al Abidin
    5. Imam Muhammad ibn Ali al Baqir
    6. Imam Ja’afar ibn Muhammad as Sadiq
    7. Imam Musa ibn Ja’afar al Kazim
    8. Imam Ali ibn Musa ar Redha
    9. Imam Muhammad ibn Ali al Jawad
    10. Imam Ali Ibn Muhammad al Hadi
    11. Imam Hassan ibn Ali al Askari
    12. Imam Muhammad ibn Hassan al Mahdi

    Demi Allah, para Imam-imam inilah tempat kami, orang-orang Syiah, meletakkan kesetiaan kami, rujukkan ilmu agama kami, dan sebagai hakim kami. Mereka ialah lantikan Allah swt, menerusi lidah suci Imam ar Rahmah, Rasulullah(sawa). Ada sesetengah pihak menuduh kami, sesuka hati meletakkan siapa Imam-imam ini, seolah-olah kami memilih Imam kami. Kalian silap, Allah swt lah yang menetapkan mereka, bukan kami, kami hanya “Sami’na wa atho’na.“(Kami dengar dan kami taat)

    Apa yang boleh saya simpulkan di sini ialah:-

    • Khalifa ar Rasyidin bukan sekadar 4 orang, tetapi 12 orang.
    • Mereka semuanya ialah Ahlulbait(as), bukan Abu Bakr, Umar dan Usman.
    • Rasulullah sendiri telah menyebut mereka, dan bukan ciptaan kami.
    • Di bawah Imamah mereka, Islam itu aman, terurus dan terlindung, begitu jugalah dengan umatnya yang mengikuti mereka.

    Kalau nak diikutkan, perbahasan ini masih boleh dipanjangkan, tetapi saya merasakan cukup setakat ini. Tidak mengapa jika ada yang tidak bersetuju dengan apa yang saya utarakan di sini, tetapi hormatilah pendapat kami, kerana kami mengeluarkan pendapat berdasarkan dalil dan nas, bukan sekadar suka-suka.

    Wallahu’alam. Salam alaikum dan solawat.

    .
    DR. Majdi Wahbe as Syafi’i (Khatib al Azhar) berhasil menetapkan jumlah para imam Ahlul Bait (as) melalui Al Quran
     Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur’an
    Salah seorang pemerhati Agama Mesir dan Khatib Universitas al Azhar berhasil menetapkan jumlah para imam Ahlul Bait (as) melalui Al Quran. Berdasarkan laporan ini disebutkan bahwa beliau mampu membuktikan kebenaran 12 imam yang dimulai dari Imam Ali sampai Imam terakhir, yaitu Imam Mahdi (as).
    Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur

    Kemudian laporan itu melanjukan: Kata yang merupakan derivasi (pecahan) dari “al imamah” (imam/kepemimpinan) juga berulang sebanyak 12 kali dalam Al Qur’an yang bermakna 12 imam dimana berdasarkan riwayat yang dinukil dari Nabi saw urutannya adalah dari Imam Ali (as), Imam Hasan (as) dan Imam Husain serta mencakup 9 Imam dari keturunan Imam Ketiga.

    Dua belas (12) Ayat Al Quran yang mencakup kata “imam dan imamah”, yaitu:

    - سورة البقرة، الآية 124: {وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِين}.

    2- سورة التوبة، الآية 12: {وَإِن نَّكَثُواْ أَيْمَانَهُم مِّن بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُواْ أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لاَ أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنتَهُونَ}.

    3- سورة هود، الآية17: {أَفَمَن كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِّنْهُ وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إَمَاماً وَرَحْمَةً أُوْلَـئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ }.

    4- سورة الاسراء، الآية70: {يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُوْلَـئِكَ يَقْرَؤُونَ كِتَابَهُمْ وَلاَ يُظْلَمُونَ فَتِيلا}.

    5- سورة الانبياء، الآية 72: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِين}.

    6- سورة القصص، الآية 5: {وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِين}.

    7- سورة الحجر، الآية 79: {فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ }.

    8- سورة السجدة، الآية 24: {وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُون}.

    9- سورة يس، الآية 12: {إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ }.

    10- سورة القصص، الآية 41: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لا يُنصَرُون}.

    11- سورة الفرقان، الآية 74: {وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}.

    12- سورة الأحقاف، الآية 12: {وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَاماً وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ مُّصَدِّقٌ لِّسَاناً عَرَبِيّاً لِّيُنذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ}.

    Yang menarik Khatib Masjid al Azhar ini juga membuktikan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait –sebagaimana yang termaktub dalam surah al Ahzab, ayat 33 itu hanya 5 orang (yaitu Rasul saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain) dan sama sekali tidak mencakup istri-istri Nabi saw, sebagaimana diriwayatkan sendiri oleh Ummu Salamah. Hal ini ditegaskan oleh Nabi saw dalam hadisnya yang terkenal dengan “hadis kisa”. (Kisa berarti kain penutup). Beliau menyatakan bahwa kata kisa’ pun lima kali disebutkan dalam al Quran, yaitu:

    1- سورة البقرة، الآية 233: {وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا لاَ تُضَآرَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالاً عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُواْ أَوْلاَدَكُمْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّا آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير}.

    2- سورة البقرة، الآية 259: {أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىَ يُحْيِـي هَـَذِهِ اللّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللّهُ مِئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْماً أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِئَةَ عَامٍ فَانظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِّلنَّاسِ وَانظُرْ إِلَى العِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْماً فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير}.

    3- سورة المائدة، الآية 89: {لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون}.

    4- سورة المؤمنون، الآية 14: {ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِين}.

    5- سورة النساء، الآية 5: {وَلاَ تُؤْتُواْ السُّفَهَاء أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللّهُ لَكُمْ قِيَاماً وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفا}.

    .

    Hadis Tsaqalain Sunni bermakna 12 imam Ahlul bait beserta Fatimah Az Zahra

    Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya [1], “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Bakkar bin at-Tarian, “Telah berkata kepada kami Hisan (yaitu Ibnu Ibrahim), dari Sa’id (yaitu Ibnu Masruq), dari Yazid bin Hayan yang berkata, ‘Kami masuk kepada Zaid bin Arqam dan berkata, ‘Anda telah melihat kebajikan. Anda telah bersahabat dengan Rasulullah saw dan telah salat di belakangnya. Anda telah menjumpai banyak kebaikan, ya Zaid (bin Arqam). Katakanlah kepada kami, ya Zaid (bin Arqam), apa yang Anda telah dengar dari Rasulullah saw.‘ Zaid (bin Arqam) berkata, ‘Wahai anak saudaraku, demi Allah, telah lanjut usiaku, telah berlalu masaku dan aku telah lupa sebagian yang pernah aku ingat ketika bersama Rasulullah. Oleh karena itu, apa yang aku katakan kepadamu terimalah, dan apa yang aku tidak katakan kepadamu janganlah kamu membebaniku dengannya.’

    Kemudian Zaid bin Arqam berkata, ‘Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah saw berkata, ‘Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.’Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, ‘Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

    Kemudian kami bertanya kepadanya (Zaid bin Arqam), ‘Siapakah Ahlul Baitnya, apakah istri-istrinya?’ Zaid bin Arqam menjawab, ‘Demi Allah, seorang wanita akan bersama suaminya untuk suatu masa tertentu. Kemudian jika suaminya menceraikannya maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun Ahlul Bait Rasulullah adalah keturunan Rasulullah saw yang mereka diharamkan menerima sedekah sepeninggal beliau. “

    ———————-

    Penunjukkan makna hadis tsaqalain terhadap keimamahan Ahlul Bait adalah sesuatu yang amat jelas bagi setiap orang yang adil. Karena makna hadis tsaqalain menunjukkan kepada wajibnya mengikuti mereka di dalam masalah-masalah keyakinan, hukum dan pendapat, dan tidak menentang mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

    Karena amal perbuatan apa pun yang melenceng dari kerangka mereka maka dianggap telah keluar dari Al-Qur’an, dan tentunya juga telah keluar dari agama. Dengan demikian, mereka adalah ukuran yang teliti, yang dengannya dapat diketahui jalan yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada petunjuk kecuali melalui jalan mereka dan tidak ada kesesatan kecuali dengan menentang mereka.

    Inilah yang dimaksud dengan ungkapan, “jika kamu berpegang teguh kepada keduanya (tsaqalain)niscaya kamu tidak akan tersesat”. Karena yang dimaksud berpegang teguh kepada Al-Qur’an ialah mengamalkan apa yang ada di dalamnya, yaitu menuruti perintahnya dan menjauhi laranganya.

    Demikian juga halnya dengan berpegang teguh kepada ‘ltrah Ahlul Bait. Karena jawab syarat tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan terlaksananya yang disyaratkan (al-masyruth) terlebih dahulu. Dhamir (kata ganti) “bihima” kembali kepada al-Kitab dan ‘ltrah. Saya kira tidak ada seorang pun dari orang Arab, yang mempunyai pemahaman sedikit tentang bahasa, yang menentang hal ini. Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasulullah saw adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana juga mengikuti Al-Qur’an adalah sesuatu yang wajib, terlepas dari siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu.

    Yang penting di sini ialah kita membuktikan bahwa perintah dan larangan serta ikutan adalah milik Ahlul Bait. Adapun pembahasan mengenai siapa mereka, berada di luar konteks pembahasan hadis ini. Sebagaimana para ulama ilmu ushul mengatakan, “Sesungguhnya proposisi tidak menetapkan maudhu-nya”‘, maka tentu Ahlul Bait adalah para khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Sabda Rasulullah yang berbunyi “Aku tinggalkan padamu….” adalah merupakan nas yang jelas bahwa Rasulullah saw menjadikan mereka sebagai khalifah sepeninggal beliau, dan berpesan kepada umat untuk mengikuti mereka.

    Rasulullah saw menekankan hal ini dengan sabdanya “Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya sepeninggalku”. Kekhilafahan Al-Qur’an sudah jelas, sementara kekhilafahan Ahlul Bait tidak dapat terjadi kecuali dengan keimamahan mereka.

    Oleh karena itu, Kitab Allah dan ‘ltrah Rasulullah saw adalah merupakan sebab yang menyampaikan manusia kepada keridaan Allah. Karena mereka adalah tali Allah yang kita telah telah diperintahkan oleh Allah untuk berpegang teguh kepadanya, “Dan berpegang teguh lah kamu kepada tali Allah.” (QS. Ali ‘lmran: 103)

    Ayat ini bersifat umum di dalam menentukan apa dan siapa tali Allah yang dimaksud. Sesuatu yang dengan jelas dapat disimpulkan dari ayat ini ialah wajibnya berpegang teguh kepada tali Allah; lalu kemudian datang sunah dengan membawa hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya, yang menjelaskan bahwa tali yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya ialah Kitab Allah dan Rasulullah saw.

    Al-Qanduzi menyebutkannya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Dia berkata tentang firman Allah SWT yang berbunyi “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah”, “Tsa’labi telah mengeluarkan dari Aban bin Taghlab, dari Ja’far ash-Shadiq as yang berkata, ‘Kami inilah tali Allah yang telah Allah katakan di dalam firman-Nya ‘Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah danjanganlah berpecah-belah.’”

    Penulis kitab al-Manaqib juga mengeluarkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Kami pernah duduk di sisi Rasulullah saw, lalu datang seorang orang Arab yang berkata, ‘Ya Rasulullah, saya dengar Anda berkata, ‘Berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah’, lalu apa yang dimaksud tali Allah yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya?’ Rasulullah saw memukulkan tangannya ke tangan Ali seraya berkata, ‘Berpegang teguhlah kepada ini, dia lah tali Allah yang kokoh itu.‘”[2]

    Adapun sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemui aku di telaga”, menunjukkan kepada beberapa arti berikut:

    Pertama, menetapkan kemaksuman mereka. Karena keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang sama sekali tidak ada sedikit pun kebatilan di dalamnya, menunjukkan pengetahuan mereka tentang apa yang ada di dalam Kitab Allah dan bahwa mereka tidak akan menyalahinya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Jelas, munculnya penentangan dalam bentuk apa pun dari mereka terhadap Kitab Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja, itu berarti keterpisahan mereka dari Kitab Allah. Padahal, secara tegas hadis mengatakan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga menjumpai Rasulullah saw di telaga. Karena jika tidak demikian, maka itu berarti menuduh Rasulullah saw berbohong. Pemahaman ini juga dikuatkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan sunah. Kita akan tunda pembahasan ini pada tempatnya.

    Kedua, sesungguhnya kata lan menunjukkan arti pelanggengan (ta’bidiyyah). Yaitu berarti bahwa berpegang teguh kepada keduanya akan mencegah manusia dari kesesatan untuk selamanya, dan itu tidak dapat terjadi kecuali dengan berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, tidak hanya kepada salah satunya saja. Sabda Rasulullah saw di dalam riwayat Thabrani yang berbunyi “Janganlah kamu mendahului mereka karena kamu akan celaka, janganlah kamu tertinggal dari mereka karena kamu akan binasa, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui dari kamu” memperkuat makna ini.

    Ketiga, keberadaan ‘ltrah di sisi Kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat, dan tidak ada satu pun masa yang kosong dari mereka. Ibnu Hajar telah mendekatkan makna ini di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, “Di dalam hadis-hadis yang menganjurkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait, terdapat isyarat yang mengatakan tidak akan terputusnya kelayakan untuk berpegang teguh kepada mereka hingga hari kiamat. Demikian juga halnya dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, mereka adalah para pelindung bagi penduduk bumi, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Hadis yang berbunyi ‘Pada setiap generasi dari umatku akan ada orang-orang yang adil dari Ahlul Baitku’, memberikan kesaksian akan hal ini. Kemudian, orang yang paling berhak untuk diikuti dari kalangan mereka, yang merupakan imam mereka ialah Ali bin Abi Thalib —karramallah wajhah, dikarenakan keluasan ilmunya dan ketelitian hasil-hasil istinbathnya.[3]

    Keempat, kata ini juga menunjukkan kelebihan mereka dan pengetahuan mereka terhadap rincian syariat; dan itu dikarenakan keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang tidak mengabaikan hal-hal yang kecil apalagi hal-hal yang besar. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah kamu mengajari mereka karena mereka lebih tahu darimu.”

    Ringkasnya, mau tidak mau harus ada seorang dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman hingga datangnya hari kiamat, yang ucapan dan perbuatannya tidak menyalahi Al-Qur’an, sehingga tidak berpisah darinya. Dan arti dari “tidak berpisah dari Al-Qur’an secara perkataan maupun perbuatan” ialah berarti dia maksum dari segi perkataan dan perbuatan, sehingga wajib diikuti karena merupakan pelindung dari kesesatan.

    Tidak ada yang mengatakan arti yang seperti ini kecuali Syi’ah, di mana mereka mengatakan wajibnya adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman, yang terjaga dari segala kesalahan, yang kita wajib mengenal dan mengikutinya.

    Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal Imam jaman-nya maka dia mati sebagaimana matinya orang jahiliyyah.”

    Makna yang demikian ditunjukkan oleh firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan pada hari di saat Kami memanggil setiap manusia dengan Imam mereka.”

    1.  Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

    2, Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 118, terbitan Muassasah al-A ‘lami Beirut – Lebanon.

    3. Ash-hawa’iq, hal. 151

    Mahdi Syi’ah Melaksanakan Hukuman Had Terhadap Abu Bakar dan Umar ??

    Tidak semua kitab kitab ulama syi’ah zaman dulu shahih..

    .
    Pintu ijtihad syi’ah selalu terbuka agar syi’ah bisa mengoreksi dan memperbaiki kesalahan kesalahan pemikiran ulama kami tempo dulu
    .
    Abubakar dan Umar adalah sahabat Nabi SAW yang tidak patuh, itu saja…
    Syi’ah terkesan keras dan kasar kepada Abubakar Umar dan Usman ??
    ya ngga lah, perbedaan sunni dan syi’ah kan soal imamah, kami bersikeras memegang wasiat imamah Ali yang disampaikan  Nabi SAW, maka terkesan kami memusuhi sunni yang tidak patuh pada imamah
    .
    Syi’ah itu gaul  lho,  cocok buat kaum muda  yang TAKUT  DENGAN BOM BUNUH  Diri  gaya bom solo yang dilakukan salafi jihadi

    Menimbang Ajaran Syi’ah

    Bagaimana ulama Syi’ah memandang penganut Ahlus Sunnah? Sebuah pembahasan yang penting, namun sepertinya jarang kita dengar. Dengan mengetahui pandangan Syi’ah terhadap penganut Ahlus Sunnah, kita bisa mengetahui bagaimana sebenarnya akidah Syi’ah itu. Karena apa yang menjadi keyakinan Syi’ah, akan memiliki dampak dan konsekuensi yang nampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah.

    Tidak bisa dipungkiri, Syi’ah selalu berada di posisi untuk berinteraksi dengan Ahlus Sunnah. Maksudnya bagaimana? Jelas sekali, seluruh penganut Syi’ah di Indonesia adalah mantan Ahlus Sunnah, sampai generasi pertama Syi’ah Indonesia menjadi dewasa dan berkeluarga. Akhirnya mereka melahirkan keturunan, dan saat itulah lahir Syi’ah asli, yang sudah menjadi Syi’ah dari lahir. Sebetulnya anak-anak itu lahir di atas fitrah. Seperti dalam hadits, kedua orang tualah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Begitu pula dengan Syi’ah. Kedua orang tuanya yang pertama mengajarinya untuk menjadi Syi’ah sejak dini.

    Pertanyaannya, mengapa mereka yang dulunya Sunni tergerak untuk menjadi mantan Sunni? Sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah berubah. Mereka menerima masukan-masukan yang kemudian merubah sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah.  Akhirnya, mereka yang tadinya Ahlus Sunnah, berubah menjadi Syi’ah.

    E-mail Cetak PDF

    Kemesraan Ulama Sunni Dan Syiah


                                                                      Wahdah Sunni Syiah

    Sayyid Ali Khamenei, adalah pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, juga merupakan seorang ulama dan mujtahid besar dalam dunia Syiah. Dengan status kedudukan beliau ini, tidak hairan, beliau merupakan seorang individu yang sangat dihormati dan dicintai dikalangan masyarakat Syiah.

    Tetapi bagaimana pula kedudukan beliau di dunia Sunni(of course, kepada Sunni yang berwasatiyyah dan berfikiran rasional, bukan Sunni fanatik totok)

    “Boleh tak autograf buku ni?”

    Peluk jangan tak peluk. Bukan selalu boleh peluk orang beriman ni.

    wah, indahnya kemesraan Sunni dan Syiah ini

    .

    JAWABAN  KAMi :

    Setiap muslim pasti menginginkan umat Islam bersatu, menginginkan segala perbedaan yang ada tidak menimbulkan masalah atau pertikaian. Ini jelas keinginan setiap muslim. jika anda tidak percaya, silahkan anda buat kuisioner dan bagikan ke siapa saja yang ada di sekitar anda. Orang yang tidak menginginkan persatuan madzhab adalah diragukan kesehatan hati dan akalnya.

    Niat baik persatuan madzhab harus diikuti dengan konsekwensi yang tidak ringan, yaitu melakukan usaha untuk mengarah kepada realisasi persatuan madzhab dan harus diikuti dengan langkah-langkah nyata. Tanpa itu semua slogan persatuan madzhab dengan berbagai jargonnya seperti “laa syarqiyyah laa gharbiyyah, Islamiyyah Islamiyyah” tidak timur dan tidak barat, tetapi murni Islam, atau “mari kita lupakan perbedaan dan mari kita tegakkan ukhuwwah islamiah, akan tidak berarti apa-apa.

    Tanpa ada usaha nyata, kita patut curiga bahwa persatuan madzhab digunakan untuk menetralisir gejolak kebencian yang ada terhadap kelompoknya. Atau ada agenda tersembunyi lain yang hendak dijalankan dengan mendengungkan slogan seperti itu. Persatuan madzhab adalah jargon yang selalu kita dengar dari pihak kami  penganut syi’ah, baik yang ada di tempat kita maupun yang ada di luar sana

    Dari mana mengenal madzhab syi’ah?

    Mengenal kedua madzhab adalah modal utama bagi upaya komparasi yang dilakukan dalam rangka pendekatan. Untuk mengenal sebuah madzhab tentunya dengan melihat ajaran madzhab itu dari literatur aslinya. Karena setiap madzhab -bahkan setiap agama- memiliki kitab atau literatur yang menjelaskan keyakinan madzhab atau agama itu. Setiap yang ingin mengenal ajaran itu hendaknya merujuk pada kitab literatur yang ada. Selain literatur, sumber lain yang ada adalah keterangan dari penganut madzhab itu. Ini untuk mengenal ajaran madzhab pada umumnya.

    Praktek persatuan madzhab dimulai dengan studi komparasi antara ajaran kedua madzhab yang ada, baru bisa disimpulkan apakah kedua madzhab bisa dipersatukan atau tidak.

    PERSATUAN SUNNI-SYIAH,KEKUATAN ISLAM
    kita harus selalu mengutamakan isLam diatas mazhab.sudah bukan zaman nya kita berselisih antara mazhab satu sama Laen. jadikanLah isLam ini isLam yang satu. bagi kami yang sesat ialah yang tidak mengerti apa itu isLam dan ukhuwah.Waspada tipu daya yahudi dan wahabi. janganLah terpancing atau terpengaruh oLeh permainan mereka. jangan membuat yahudi dan wahabi bangga,dgn menghina mazdhab satu sama Laen.

    Ketua Umum Muhammadiyah : Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam

    On May 5, 2008 ·

    Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.

    “Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

    Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

    Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

    Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

    “Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di

    muka bumi,” katanya.

    Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.

    “Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)

    .

    KETUA UMUM PP. MUHAMMADIYAH :

    PERSATUAN SUNNI – SYI’AH UNTUK KEJAYAAN ISLAM

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan bahwa Persatuan Umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama ini. Karena kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut.

    Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4 – 6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syi’ah dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syi’ah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu kata beliau, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

    Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan “kalimat sawa” dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi. Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. Dua hal ini kalimatun sawa’ (kalimat sama) dan aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat, lanjut Din. Musuh bersama itu, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan.

    Kamis, 10 Februari 2011

    SERUAN ULAMA-ULAMA MENGENAI PERSATUAN SUNNI-SYIAH

    Agresi militer Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak, tak hanya berhasil menggulingkan Presiden Saddam Hussein dari tampuk kepemimpinannya. Mereka juga menanam bom waktu: pertikaian antarkelompok. Lebih tepatnya, antara kubu Syiah dan Suni.
    Ulama terkemuka asal Damaskus, Suriah, Syekh Abdullah An-Nidzam mengungkapkan konflik Syiah-Suni yang terjadi belakangan ini di Irak, bukanlah murni konflik ideologi antarmereka. “Konflik diciptakan oleh agresor militer Amerika Serikat dan sekutunya,” ujarnya, di sela-sela Konferensi Ulama dan Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak di Bogor Rabu 4/4/2007)

    .
    Sejak awal invasi militer Amerika Serikat ke Irak tahun 2003, sambung An-Nidzam, pihaknya mengaku sudah sangat khawatir hal ini bakal terjadi. Dekan Fakultas Dirasah Islamiyah pada Universitas Islam Damaskus ini menyatakan perlunya perhatian umat Islam dari seluruh dunia untuk segera mengakhiri konflik dan penderitaan rakyat Irak

    .
    Sejak dulu, kata Syeikh Az-Nidzam, dalam Islam tidak dikenal istilah pengkotak-kotakan. Kita sekarang ini justru sangat menyayangkan sikap Amerika Serikat maupun Israel yang terus mendorong terciptanya upaya pengkotak-kotakan antar kelompok Islam di Irak.
    Dalam sejarah Irak, sejak berabad-abad lamanya antara Suni dan Syiah di Irakdapat hidup berdampingan dan rukun, tanpa ada gejolak apalagi peperangan seperti yang terjadi sekarang ini. ”Ini memang siasat mereka, ketika ingin menghancurkan satu negara, maka mereka ciptakan kelompok-kelompok,” tegasnya

    .
    Syekh AEM Hussein dari Universitas Al Azhar menyuarakan hal yang sama. Antara Suni dan Syiah, kata dia, sama-sama Islam. ”Mereka menyembah Tuhan yang satu, mereka shalat menghadap kiblat yang sama. Mereka sama-sama Muslim.”
    Sedang menurut Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan Muslim, kekerasan di Irak dipicu oleh kepentingan politik. Ada provokator yang merancang konflik sosial yang kini terjadi di Irak. “Tak disebabkan oleh perbedaan teologis antara Suni-Syiah. Selama ini perbedaan itu ada namun tak menjadi masalah yang melahirkan sebuah konflik

    .
    Politik adu domba
    Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi yang bersama-sama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Prof Dr Din Syamsuddin menjadi penggagas Konferensi Internasional Ulama dan Pimpinan Islam Dunia untuk Rekonsiliasi Irak mengungkapkan, apa yang dilakukan AS di Irak adalah bentuk politik adu domba. ”Dendam sejarah dibangkitkan kembali, tempat-tempat suci dirusak melalui gerakan intelijen untuk menciptakan peperangan antara kelompok Suni dan Syiah, sehingga dengan demikian pertentangan ini sebenarnya didesain untuk kemenangan penjajah secara gratis.”
    Pandangan sama diungkapkan Din Syamsuddin. “Peperangan yang terjadi di Irak tahun 2003, tak hanya menimbulkan korban dari orang-orang yang tidak berdosa, tapi juga telah menimbulkan kedengkian, iri dan permusuhan di tengah masyarakat Irak. Kemudian timbul peperangan antar kelompok dan etnis serta fitnah yang besar di Irak,” ujarnya

    .
    Sarat konflik?
    Benarkah sejarah Syiah-Suni selalu kelam dan penuh permusuhan? Salah seorang ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon. ”Bahkan di Libanon Selatan Hizbullah yang dari kelompok Syiah yang sangat berperan dalam mengusir penjajah Israel didukung juga oleh kelompok Suni

    .”
    Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengakui sepanjang sejarah sebenarnya perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah pada soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah.
    Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj

    .
    Ia lalu menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam

    .
    Ketua Umum Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Prof Dr Ahmad Satori menyatakan potren kehidupan yang rukun antara kelompok Suni dan Syiah juga dapat dilihat di Mesir, Saudi Arabia, Niger, dan negara Islam lainnya.”Bahkan di Iran, terdapat juga kelompok Suni dan ternyata mereka dapat hidup rukun dengan kelompok Syiah yang mayoritas,” ujar Satori.
    Satori memandang perlunya sosialisasi fiqh i’tilaf (Fiqh Penyatuan) dan bukan fiqh ikhtilaf (fiqh perbedaan). ”Yang kita perlukan sekarang ini adalah fiqh i’tilaf supaya umat Islam menjadi kuat dan tidak gampang diadudomba seperti yang terjadi di Irak,” tegasnya.

    (Dikutip dari majalah Republika,Bukan Konflik Sunni-Syiah)

    .

    Persatuan Sunni-Syiah Wujudkan Kemerdekaan Palestina

    Selasa, 15 September 2009 11:21 | PDF | Cetak | E-mail

    kubah emasSeorang Mufti Suriah, Syekh Mahmoud Akam mengatakan: “Kemerdekaan tanah suci Al-Quds hanya dapat diraih dengan persatuan umat Islam.” Menurut laporan wartawan Taqrib (Forum Pendekatan Mazhab Islam), Mufti propinsi Halb, Suriah ini—sehubungan dengan datangnya peringatan hari Al-Quds sedunia—menambahkan: “Hari yang dicanangkan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran ini merupakan kesempatan besar untuk mempersatukan umat Islam dunia demi kemerdekaan Al-Quds

    Dosen Fakultas Hak Asasi Manusia Universitas Halb ini juga mengingatkan: “Langkah awal yang paling fundamental untuk meraih kemerdekaan Baitul Maqdis adalah mewujudkan persatuan di bawah naungan agama Islam.”

    Ustad Akam menambahkan: “Yang dimaksud dengan persatuan umat Islam adalah walaupun mereka berasal dari berbagai mazhab fikih yang berbeda-beda, namun hendaknya mereka kiranya mau berkumpul dan duduk bersama serta mengesampingkan perbedaan yang ada.”

    Mufti Suriah ini mengatakan: “Jika kita duduk dan berkumpul bersama, kita akan dapat membicarakan kemerdekaan dan kemenangan untuk Palestina.”

    Lebih jauh lagi beliau mengemukakan, ancaman pembakaran Baitul Maqdis yang diduduki kaum Zionis kini jauh lebih membahayakan ketimbang masa sebelumnya. Penjajah Zionis saat ini terus melanjutkan aksi kejahatan mereka dalam rangka merusak dan merobohkan Baitul Maqdis. Karena itu, kaum Muslimin harus berusaha untuk memperbaiki tempat suci ini, serta membangun kembali perumahan rakyat Palestina yang rusak dan menyerahkannya kepada pemiliknya yang sah.

    Ulama Suriah ini mengingatkan, kaum Muslimin dalam setiap ibadah baik puasa, shalat, haji maupun ibadah-ibadah lainnya harus selalu berdoa untuk kemerdekaan tempat suci ini dari tangan penjajah Zionis.

    Menurut laporan kantor berita IRNA, beliau mengharapkan agar negara-negara Islam segera merealisasikan pernyataan mereka mengenai kemerdekaan Al-Quds demi solidaritas terhadap rakyat Palestina

    .

    Ahlus Sunnah Di Mata Syi’ah

    Rabu, 21 September 2011 14:17 Redaksi
    E-mail Cetak PDF

    Pengemis bawa bayi….Fenomena kaum marginal vs Ketidakmampuan pemerintah menyediakan lapangan kerja

    Kami kaum syi’ah memandang saudara saudara sunni yang mengemis, kelaparan dan miskin adalah saudara saudara kami juga, ngga ada dikotomi dalam kasih sayang terhadap wong cilik…

    Sejumlah pengemis yang membawa bayi saat mengemis mengaku tak peduli dengan ancaman pidana. Karti, 25 tahun, misalnya. Pengemis yang biasa mangkal di persimpangan depan Markas Besar Kepolisian RI, Jakarta Selatan itu tak peduli akan ancaman pidana yang mungkin saja menjeratnya.

    “Ya, biarin saja. Kami sudah susah makin susah,” ujar Karti, yang sedang menggendong bocah perempuan yang ia akui sebagai anaknya, Ahad, 7 Agustus 2011.

    Begitu juga halnya dengan Sinta, 30 tahun. Ditemui di perempatan yang sama, Sinta mengaku pasrah jika harus dipidana karena mengemis dengan membawa bayi yang bukan anaknya. “Ya, namanya orang miskin mau bagaiamana. Tangkap, ya tangkap saja,” ujar Sinta seraya memeluk bocah perempuan yang diajaknya mengemis. Sinta menolak berkomentar saat ditanya jati diri bocah tersebut.

    Bagaimana ulama Syi’ah memandang penganut Ahlus Sunnah? Sebuah pembahasan yang penting, namun sepertinya jarang kita dengar. Dengan mengetahui pandangan Syi’ah terhadap penganut Ahlus Sunnah, kita bisa mengetahui bagaimana sebenarnya akidah Syi’ah itu. Karena apa yang menjadi keyakinan Syi’ah, akan memiliki dampak dan konsekuensi yang nampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah.

    Tidak bisa dipungkiri, Syi’ah selalu berada di posisi untuk berinteraksi dengan Ahlus Sunnah. Maksudnya bagaimana? Jelas sekali, seluruh penganut Syi’ah di Indonesia adalah mantan Ahlus Sunnah, sampai generasi pertama Syi’ah Indonesia menjadi dewasa dan berkeluarga. Akhirnya mereka melahirkan keturunan, dan saat itulah lahir Syi’ah asli, yang sudah menjadi Syi’ah dari lahir. Sebetulnya anak-anak itu lahir di atas fitrah. Seperti dalam hadits, kedua orang tualah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Begitu pula dengan Syi’ah. Kedua orang tuanya yang pertama mengajarinya untuk menjadi Syi’ah sejak dini.

    Pertanyaannya, mengapa mereka yang dulunya Sunni tergerak untuk menjadi mantan Sunni? Sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah berubah. Mereka menerima masukan-masukan yang kemudian merubah sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah.  Akhirnya, mereka yang tadinya Ahlus Sunnah, berubah menjadi Syi’ah.

    E-mail Cetak PDF

    Kemesraan Ulama Sunni Dan Syiah


                                                                      Wahdah Sunni Syiah

    Sayyid Ali Khamenei, adalah pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, juga merupakan seorang ulama dan mujtahid besar dalam dunia Syiah. Dengan status kedudukan beliau ini, tidak hairan, beliau merupakan seorang individu yang sangat dihormati dan dicintai dikalangan masyarakat Syiah.

    Tetapi bagaimana pula kedudukan beliau di dunia Sunni(of course, kepada Sunni yang berwasatiyyah dan berfikiran rasional, bukan Sunni fanatik totok)

    “Boleh tak autograf buku ni?”

    Peluk jangan tak peluk. Bukan selalu boleh peluk orang beriman ni.

    wah, indahnya kemesraan Sunni dan Syiah ini

    .

    JAWABAN  KAMi :

    Setiap muslim pasti menginginkan umat Islam bersatu, menginginkan segala perbedaan yang ada tidak menimbulkan masalah atau pertikaian. Ini jelas keinginan setiap muslim. jika anda tidak percaya, silahkan anda buat kuisioner dan bagikan ke siapa saja yang ada di sekitar anda. Orang yang tidak menginginkan persatuan madzhab adalah diragukan kesehatan hati dan akalnya.

    Niat baik persatuan madzhab harus diikuti dengan konsekwensi yang tidak ringan, yaitu melakukan usaha untuk mengarah kepada realisasi persatuan madzhab dan harus diikuti dengan langkah-langkah nyata. Tanpa itu semua slogan persatuan madzhab dengan berbagai jargonnya seperti “laa syarqiyyah laa gharbiyyah, Islamiyyah Islamiyyah” tidak timur dan tidak barat, tetapi murni Islam, atau “mari kita lupakan perbedaan dan mari kita tegakkan ukhuwwah islamiah, akan tidak berarti apa-apa.

    Tanpa ada usaha nyata, kita patut curiga bahwa persatuan madzhab digunakan untuk menetralisir gejolak kebencian yang ada terhadap kelompoknya. Atau ada agenda tersembunyi lain yang hendak dijalankan dengan mendengungkan slogan seperti itu. Persatuan madzhab adalah jargon yang selalu kita dengar dari pihak kami  penganut syi’ah, baik yang ada di tempat kita maupun yang ada di luar sana

    Dari mana mengenal madzhab syi’ah?

    Mengenal kedua madzhab adalah modal utama bagi upaya komparasi yang dilakukan dalam rangka pendekatan. Untuk mengenal sebuah madzhab tentunya dengan melihat ajaran madzhab itu dari literatur aslinya. Karena setiap madzhab -bahkan setiap agama- memiliki kitab atau literatur yang menjelaskan keyakinan madzhab atau agama itu. Setiap yang ingin mengenal ajaran itu hendaknya merujuk pada kitab literatur yang ada. Selain literatur, sumber lain yang ada adalah keterangan dari penganut madzhab itu. Ini untuk mengenal ajaran madzhab pada umumnya.

    Praktek persatuan madzhab dimulai dengan studi komparasi antara ajaran kedua madzhab yang ada, baru bisa disimpulkan apakah kedua madzhab bisa dipersatukan atau tidak.

    PERSATUAN SUNNI-SYIAH,KEKUATAN ISLAM
    kita harus selalu mengutamakan isLam diatas mazhab.sudah bukan zaman nya kita berselisih antara mazhab satu sama Laen. jadikanLah isLam ini isLam yang satu. bagi kami yang sesat ialah yang tidak mengerti apa itu isLam dan ukhuwah.Waspada tipu daya yahudi dan wahabi. janganLah terpancing atau terpengaruh oLeh permainan mereka. jangan membuat yahudi dan wahabi bangga,dgn menghina mazdhab satu sama Laen.

    Ketua Umum Muhammadiyah : Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam

    On May 5, 2008 ·

    Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.

    “Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

    Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

    Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

    Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

    “Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di

    muka bumi,” katanya.

    Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.

    “Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)

    .

    KETUA UMUM PP. MUHAMMADIYAH :

    PERSATUAN SUNNI – SYI’AH UNTUK KEJAYAAN ISLAM

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan bahwa Persatuan Umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama ini. Karena kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut.

    Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4 – 6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syi’ah dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syi’ah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu kata beliau, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

    Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan “kalimat sawa” dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi. Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. Dua hal ini kalimatun sawa’ (kalimat sama) dan aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat, lanjut Din. Musuh bersama itu, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan.

    Kamis, 10 Februari 2011

    SERUAN ULAMA-ULAMA MENGENAI PERSATUAN SUNNI-SYIAH

    Agresi militer Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak, tak hanya berhasil menggulingkan Presiden Saddam Hussein dari tampuk kepemimpinannya. Mereka juga menanam bom waktu: pertikaian antarkelompok. Lebih tepatnya, antara kubu Syiah dan Suni.
    Ulama terkemuka asal Damaskus, Suriah, Syekh Abdullah An-Nidzam mengungkapkan konflik Syiah-Suni yang terjadi belakangan ini di Irak, bukanlah murni konflik ideologi antarmereka. “Konflik diciptakan oleh agresor militer Amerika Serikat dan sekutunya,” ujarnya, di sela-sela Konferensi Ulama dan Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak di Bogor Rabu 4/4/2007)

    .
    Sejak awal invasi militer Amerika Serikat ke Irak tahun 2003, sambung An-Nidzam, pihaknya mengaku sudah sangat khawatir hal ini bakal terjadi. Dekan Fakultas Dirasah Islamiyah pada Universitas Islam Damaskus ini menyatakan perlunya perhatian umat Islam dari seluruh dunia untuk segera mengakhiri konflik dan penderitaan rakyat Irak

    .
    Sejak dulu, kata Syeikh Az-Nidzam, dalam Islam tidak dikenal istilah pengkotak-kotakan. Kita sekarang ini justru sangat menyayangkan sikap Amerika Serikat maupun Israel yang terus mendorong terciptanya upaya pengkotak-kotakan antar kelompok Islam di Irak.
    Dalam sejarah Irak, sejak berabad-abad lamanya antara Suni dan Syiah di Irakdapat hidup berdampingan dan rukun, tanpa ada gejolak apalagi peperangan seperti yang terjadi sekarang ini. ”Ini memang siasat mereka, ketika ingin menghancurkan satu negara, maka mereka ciptakan kelompok-kelompok,” tegasnya

    .
    Syekh AEM Hussein dari Universitas Al Azhar menyuarakan hal yang sama. Antara Suni dan Syiah, kata dia, sama-sama Islam. ”Mereka menyembah Tuhan yang satu, mereka shalat menghadap kiblat yang sama. Mereka sama-sama Muslim.”
    Sedang menurut Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan Muslim, kekerasan di Irak dipicu oleh kepentingan politik. Ada provokator yang merancang konflik sosial yang kini terjadi di Irak. “Tak disebabkan oleh perbedaan teologis antara Suni-Syiah. Selama ini perbedaan itu ada namun tak menjadi masalah yang melahirkan sebuah konflik

    .
    Politik adu domba
    Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi yang bersama-sama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Prof Dr Din Syamsuddin menjadi penggagas Konferensi Internasional Ulama dan Pimpinan Islam Dunia untuk Rekonsiliasi Irak mengungkapkan, apa yang dilakukan AS di Irak adalah bentuk politik adu domba. ”Dendam sejarah dibangkitkan kembali, tempat-tempat suci dirusak melalui gerakan intelijen untuk menciptakan peperangan antara kelompok Suni dan Syiah, sehingga dengan demikian pertentangan ini sebenarnya didesain untuk kemenangan penjajah secara gratis.”
    Pandangan sama diungkapkan Din Syamsuddin. “Peperangan yang terjadi di Irak tahun 2003, tak hanya menimbulkan korban dari orang-orang yang tidak berdosa, tapi juga telah menimbulkan kedengkian, iri dan permusuhan di tengah masyarakat Irak. Kemudian timbul peperangan antar kelompok dan etnis serta fitnah yang besar di Irak,” ujarnya

    .
    Sarat konflik?
    Benarkah sejarah Syiah-Suni selalu kelam dan penuh permusuhan? Salah seorang ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon. ”Bahkan di Libanon Selatan Hizbullah yang dari kelompok Syiah yang sangat berperan dalam mengusir penjajah Israel didukung juga oleh kelompok Suni

    .”
    Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengakui sepanjang sejarah sebenarnya perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah pada soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah.
    Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj

    .
    Ia lalu menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam

    .
    Ketua Umum Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Prof Dr Ahmad Satori menyatakan potren kehidupan yang rukun antara kelompok Suni dan Syiah juga dapat dilihat di Mesir, Saudi Arabia, Niger, dan negara Islam lainnya.”Bahkan di Iran, terdapat juga kelompok Suni dan ternyata mereka dapat hidup rukun dengan kelompok Syiah yang mayoritas,” ujar Satori.
    Satori memandang perlunya sosialisasi fiqh i’tilaf (Fiqh Penyatuan) dan bukan fiqh ikhtilaf (fiqh perbedaan). ”Yang kita perlukan sekarang ini adalah fiqh i’tilaf supaya umat Islam menjadi kuat dan tidak gampang diadudomba seperti yang terjadi di Irak,” tegasnya.

    (Dikutip dari majalah Republika,Bukan Konflik Sunni-Syiah)

    .

    Persatuan Sunni-Syiah Wujudkan Kemerdekaan Palestina

    Selasa, 15 September 2009 11:21 | PDF | Cetak | E-mail

    kubah emasSeorang Mufti Suriah, Syekh Mahmoud Akam mengatakan: “Kemerdekaan tanah suci Al-Quds hanya dapat diraih dengan persatuan umat Islam.” Menurut laporan wartawan Taqrib (Forum Pendekatan Mazhab Islam), Mufti propinsi Halb, Suriah ini—sehubungan dengan datangnya peringatan hari Al-Quds sedunia—menambahkan: “Hari yang dicanangkan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran ini merupakan kesempatan besar untuk mempersatukan umat Islam dunia demi kemerdekaan Al-Quds

    Dosen Fakultas Hak Asasi Manusia Universitas Halb ini juga mengingatkan: “Langkah awal yang paling fundamental untuk meraih kemerdekaan Baitul Maqdis adalah mewujudkan persatuan di bawah naungan agama Islam.”

    Ustad Akam menambahkan: “Yang dimaksud dengan persatuan umat Islam adalah walaupun mereka berasal dari berbagai mazhab fikih yang berbeda-beda, namun hendaknya mereka kiranya mau berkumpul dan duduk bersama serta mengesampingkan perbedaan yang ada.”

    Mufti Suriah ini mengatakan: “Jika kita duduk dan berkumpul bersama, kita akan dapat membicarakan kemerdekaan dan kemenangan untuk Palestina.”

    Lebih jauh lagi beliau mengemukakan, ancaman pembakaran Baitul Maqdis yang diduduki kaum Zionis kini jauh lebih membahayakan ketimbang masa sebelumnya. Penjajah Zionis saat ini terus melanjutkan aksi kejahatan mereka dalam rangka merusak dan merobohkan Baitul Maqdis. Karena itu, kaum Muslimin harus berusaha untuk memperbaiki tempat suci ini, serta membangun kembali perumahan rakyat Palestina yang rusak dan menyerahkannya kepada pemiliknya yang sah.

    Ulama Suriah ini mengingatkan, kaum Muslimin dalam setiap ibadah baik puasa, shalat, haji maupun ibadah-ibadah lainnya harus selalu berdoa untuk kemerdekaan tempat suci ini dari tangan penjajah Zionis.

    Menurut laporan kantor berita IRNA, beliau mengharapkan agar negara-negara Islam segera merealisasikan pernyataan mereka mengenai kemerdekaan Al-Quds demi solidaritas terhadap rakyat Palestina

    .