Ahlus Sunnah Di Mata Syi’ah

Rabu, 21 September 2011 14:17 Redaksi
E-mail Cetak PDF

Pengemis bawa bayi….Fenomena kaum marginal vs Ketidakmampuan pemerintah menyediakan lapangan kerja

Kami kaum syi’ah memandang saudara saudara sunni yang mengemis, kelaparan dan miskin adalah saudara saudara kami juga, ngga ada dikotomi dalam kasih sayang terhadap wong cilik…

Sejumlah pengemis yang membawa bayi saat mengemis mengaku tak peduli dengan ancaman pidana. Karti, 25 tahun, misalnya. Pengemis yang biasa mangkal di persimpangan depan Markas Besar Kepolisian RI, Jakarta Selatan itu tak peduli akan ancaman pidana yang mungkin saja menjeratnya.

“Ya, biarin saja. Kami sudah susah makin susah,” ujar Karti, yang sedang menggendong bocah perempuan yang ia akui sebagai anaknya, Ahad, 7 Agustus 2011.

Begitu juga halnya dengan Sinta, 30 tahun. Ditemui di perempatan yang sama, Sinta mengaku pasrah jika harus dipidana karena mengemis dengan membawa bayi yang bukan anaknya. “Ya, namanya orang miskin mau bagaiamana. Tangkap, ya tangkap saja,” ujar Sinta seraya memeluk bocah perempuan yang diajaknya mengemis. Sinta menolak berkomentar saat ditanya jati diri bocah tersebut.

Bagaimana ulama Syi’ah memandang penganut Ahlus Sunnah? Sebuah pembahasan yang penting, namun sepertinya jarang kita dengar. Dengan mengetahui pandangan Syi’ah terhadap penganut Ahlus Sunnah, kita bisa mengetahui bagaimana sebenarnya akidah Syi’ah itu. Karena apa yang menjadi keyakinan Syi’ah, akan memiliki dampak dan konsekuensi yang nampak pada sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah.

Tidak bisa dipungkiri, Syi’ah selalu berada di posisi untuk berinteraksi dengan Ahlus Sunnah. Maksudnya bagaimana? Jelas sekali, seluruh penganut Syi’ah di Indonesia adalah mantan Ahlus Sunnah, sampai generasi pertama Syi’ah Indonesia menjadi dewasa dan berkeluarga. Akhirnya mereka melahirkan keturunan, dan saat itulah lahir Syi’ah asli, yang sudah menjadi Syi’ah dari lahir. Sebetulnya anak-anak itu lahir di atas fitrah. Seperti dalam hadits, kedua orang tualah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Begitu pula dengan Syi’ah. Kedua orang tuanya yang pertama mengajarinya untuk menjadi Syi’ah sejak dini.

Pertanyaannya, mengapa mereka yang dulunya Sunni tergerak untuk menjadi mantan Sunni? Sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah berubah. Mereka menerima masukan-masukan yang kemudian merubah sikap mereka terhadap Ahlus Sunnah.  Akhirnya, mereka yang tadinya Ahlus Sunnah, berubah menjadi Syi’ah.

E-mail Cetak PDF

Kemesraan Ulama Sunni Dan Syiah


                                                                  Wahdah Sunni Syiah

Sayyid Ali Khamenei, adalah pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, juga merupakan seorang ulama dan mujtahid besar dalam dunia Syiah. Dengan status kedudukan beliau ini, tidak hairan, beliau merupakan seorang individu yang sangat dihormati dan dicintai dikalangan masyarakat Syiah.

Tetapi bagaimana pula kedudukan beliau di dunia Sunni(of course, kepada Sunni yang berwasatiyyah dan berfikiran rasional, bukan Sunni fanatik totok)

“Boleh tak autograf buku ni?”

Peluk jangan tak peluk. Bukan selalu boleh peluk orang beriman ni.

wah, indahnya kemesraan Sunni dan Syiah ini

.

JAWABAN  KAMi :

Setiap muslim pasti menginginkan umat Islam bersatu, menginginkan segala perbedaan yang ada tidak menimbulkan masalah atau pertikaian. Ini jelas keinginan setiap muslim. jika anda tidak percaya, silahkan anda buat kuisioner dan bagikan ke siapa saja yang ada di sekitar anda. Orang yang tidak menginginkan persatuan madzhab adalah diragukan kesehatan hati dan akalnya.

Niat baik persatuan madzhab harus diikuti dengan konsekwensi yang tidak ringan, yaitu melakukan usaha untuk mengarah kepada realisasi persatuan madzhab dan harus diikuti dengan langkah-langkah nyata. Tanpa itu semua slogan persatuan madzhab dengan berbagai jargonnya seperti “laa syarqiyyah laa gharbiyyah, Islamiyyah Islamiyyah” tidak timur dan tidak barat, tetapi murni Islam, atau “mari kita lupakan perbedaan dan mari kita tegakkan ukhuwwah islamiah, akan tidak berarti apa-apa.

Tanpa ada usaha nyata, kita patut curiga bahwa persatuan madzhab digunakan untuk menetralisir gejolak kebencian yang ada terhadap kelompoknya. Atau ada agenda tersembunyi lain yang hendak dijalankan dengan mendengungkan slogan seperti itu. Persatuan madzhab adalah jargon yang selalu kita dengar dari pihak kami  penganut syi’ah, baik yang ada di tempat kita maupun yang ada di luar sana

Dari mana mengenal madzhab syi’ah?

Mengenal kedua madzhab adalah modal utama bagi upaya komparasi yang dilakukan dalam rangka pendekatan. Untuk mengenal sebuah madzhab tentunya dengan melihat ajaran madzhab itu dari literatur aslinya. Karena setiap madzhab -bahkan setiap agama- memiliki kitab atau literatur yang menjelaskan keyakinan madzhab atau agama itu. Setiap yang ingin mengenal ajaran itu hendaknya merujuk pada kitab literatur yang ada. Selain literatur, sumber lain yang ada adalah keterangan dari penganut madzhab itu. Ini untuk mengenal ajaran madzhab pada umumnya.

Praktek persatuan madzhab dimulai dengan studi komparasi antara ajaran kedua madzhab yang ada, baru bisa disimpulkan apakah kedua madzhab bisa dipersatukan atau tidak.

PERSATUAN SUNNI-SYIAH,KEKUATAN ISLAM
kita harus selalu mengutamakan isLam diatas mazhab.sudah bukan zaman nya kita berselisih antara mazhab satu sama Laen. jadikanLah isLam ini isLam yang satu. bagi kami yang sesat ialah yang tidak mengerti apa itu isLam dan ukhuwah.Waspada tipu daya yahudi dan wahabi. janganLah terpancing atau terpengaruh oLeh permainan mereka. jangan membuat yahudi dan wahabi bangga,dgn menghina mazdhab satu sama Laen.

Ketua Umum Muhammadiyah : Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam

On May 5, 2008 ·

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.

“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di

muka bumi,” katanya.

Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.

“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)

.

KETUA UMUM PP. MUHAMMADIYAH :

PERSATUAN SUNNI – SYI’AH UNTUK KEJAYAAN ISLAM

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan bahwa Persatuan Umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama ini. Karena kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut.

Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4 – 6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syi’ah dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syi’ah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu kata beliau, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan “kalimat sawa” dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi. Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. Dua hal ini kalimatun sawa’ (kalimat sama) dan aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat, lanjut Din. Musuh bersama itu, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan.

Kamis, 10 Februari 2011

SERUAN ULAMA-ULAMA MENGENAI PERSATUAN SUNNI-SYIAH

Agresi militer Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak, tak hanya berhasil menggulingkan Presiden Saddam Hussein dari tampuk kepemimpinannya. Mereka juga menanam bom waktu: pertikaian antarkelompok. Lebih tepatnya, antara kubu Syiah dan Suni.
Ulama terkemuka asal Damaskus, Suriah, Syekh Abdullah An-Nidzam mengungkapkan konflik Syiah-Suni yang terjadi belakangan ini di Irak, bukanlah murni konflik ideologi antarmereka. “Konflik diciptakan oleh agresor militer Amerika Serikat dan sekutunya,” ujarnya, di sela-sela Konferensi Ulama dan Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak di Bogor Rabu 4/4/2007)

.
Sejak awal invasi militer Amerika Serikat ke Irak tahun 2003, sambung An-Nidzam, pihaknya mengaku sudah sangat khawatir hal ini bakal terjadi. Dekan Fakultas Dirasah Islamiyah pada Universitas Islam Damaskus ini menyatakan perlunya perhatian umat Islam dari seluruh dunia untuk segera mengakhiri konflik dan penderitaan rakyat Irak

.
Sejak dulu, kata Syeikh Az-Nidzam, dalam Islam tidak dikenal istilah pengkotak-kotakan. Kita sekarang ini justru sangat menyayangkan sikap Amerika Serikat maupun Israel yang terus mendorong terciptanya upaya pengkotak-kotakan antar kelompok Islam di Irak.
Dalam sejarah Irak, sejak berabad-abad lamanya antara Suni dan Syiah di Irakdapat hidup berdampingan dan rukun, tanpa ada gejolak apalagi peperangan seperti yang terjadi sekarang ini. ”Ini memang siasat mereka, ketika ingin menghancurkan satu negara, maka mereka ciptakan kelompok-kelompok,” tegasnya

.
Syekh AEM Hussein dari Universitas Al Azhar menyuarakan hal yang sama. Antara Suni dan Syiah, kata dia, sama-sama Islam. ”Mereka menyembah Tuhan yang satu, mereka shalat menghadap kiblat yang sama. Mereka sama-sama Muslim.”
Sedang menurut Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan Muslim, kekerasan di Irak dipicu oleh kepentingan politik. Ada provokator yang merancang konflik sosial yang kini terjadi di Irak. “Tak disebabkan oleh perbedaan teologis antara Suni-Syiah. Selama ini perbedaan itu ada namun tak menjadi masalah yang melahirkan sebuah konflik

.
Politik adu domba
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi yang bersama-sama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Prof Dr Din Syamsuddin menjadi penggagas Konferensi Internasional Ulama dan Pimpinan Islam Dunia untuk Rekonsiliasi Irak mengungkapkan, apa yang dilakukan AS di Irak adalah bentuk politik adu domba. ”Dendam sejarah dibangkitkan kembali, tempat-tempat suci dirusak melalui gerakan intelijen untuk menciptakan peperangan antara kelompok Suni dan Syiah, sehingga dengan demikian pertentangan ini sebenarnya didesain untuk kemenangan penjajah secara gratis.”
Pandangan sama diungkapkan Din Syamsuddin. “Peperangan yang terjadi di Irak tahun 2003, tak hanya menimbulkan korban dari orang-orang yang tidak berdosa, tapi juga telah menimbulkan kedengkian, iri dan permusuhan di tengah masyarakat Irak. Kemudian timbul peperangan antar kelompok dan etnis serta fitnah yang besar di Irak,” ujarnya

.
Sarat konflik?
Benarkah sejarah Syiah-Suni selalu kelam dan penuh permusuhan? Salah seorang ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon. ”Bahkan di Libanon Selatan Hizbullah yang dari kelompok Syiah yang sangat berperan dalam mengusir penjajah Israel didukung juga oleh kelompok Suni

.”
Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengakui sepanjang sejarah sebenarnya perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah pada soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah.
Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj

.
Ia lalu menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam

.
Ketua Umum Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Prof Dr Ahmad Satori menyatakan potren kehidupan yang rukun antara kelompok Suni dan Syiah juga dapat dilihat di Mesir, Saudi Arabia, Niger, dan negara Islam lainnya.”Bahkan di Iran, terdapat juga kelompok Suni dan ternyata mereka dapat hidup rukun dengan kelompok Syiah yang mayoritas,” ujar Satori.
Satori memandang perlunya sosialisasi fiqh i’tilaf (Fiqh Penyatuan) dan bukan fiqh ikhtilaf (fiqh perbedaan). ”Yang kita perlukan sekarang ini adalah fiqh i’tilaf supaya umat Islam menjadi kuat dan tidak gampang diadudomba seperti yang terjadi di Irak,” tegasnya.

(Dikutip dari majalah Republika,Bukan Konflik Sunni-Syiah)

.

Persatuan Sunni-Syiah Wujudkan Kemerdekaan Palestina

Selasa, 15 September 2009 11:21 | PDF | Cetak | E-mail

kubah emasSeorang Mufti Suriah, Syekh Mahmoud Akam mengatakan: “Kemerdekaan tanah suci Al-Quds hanya dapat diraih dengan persatuan umat Islam.” Menurut laporan wartawan Taqrib (Forum Pendekatan Mazhab Islam), Mufti propinsi Halb, Suriah ini—sehubungan dengan datangnya peringatan hari Al-Quds sedunia—menambahkan: “Hari yang dicanangkan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran ini merupakan kesempatan besar untuk mempersatukan umat Islam dunia demi kemerdekaan Al-Quds

Dosen Fakultas Hak Asasi Manusia Universitas Halb ini juga mengingatkan: “Langkah awal yang paling fundamental untuk meraih kemerdekaan Baitul Maqdis adalah mewujudkan persatuan di bawah naungan agama Islam.”

Ustad Akam menambahkan: “Yang dimaksud dengan persatuan umat Islam adalah walaupun mereka berasal dari berbagai mazhab fikih yang berbeda-beda, namun hendaknya mereka kiranya mau berkumpul dan duduk bersama serta mengesampingkan perbedaan yang ada.”

Mufti Suriah ini mengatakan: “Jika kita duduk dan berkumpul bersama, kita akan dapat membicarakan kemerdekaan dan kemenangan untuk Palestina.”

Lebih jauh lagi beliau mengemukakan, ancaman pembakaran Baitul Maqdis yang diduduki kaum Zionis kini jauh lebih membahayakan ketimbang masa sebelumnya. Penjajah Zionis saat ini terus melanjutkan aksi kejahatan mereka dalam rangka merusak dan merobohkan Baitul Maqdis. Karena itu, kaum Muslimin harus berusaha untuk memperbaiki tempat suci ini, serta membangun kembali perumahan rakyat Palestina yang rusak dan menyerahkannya kepada pemiliknya yang sah.

Ulama Suriah ini mengingatkan, kaum Muslimin dalam setiap ibadah baik puasa, shalat, haji maupun ibadah-ibadah lainnya harus selalu berdoa untuk kemerdekaan tempat suci ini dari tangan penjajah Zionis.

Menurut laporan kantor berita IRNA, beliau mengharapkan agar negara-negara Islam segera merealisasikan pernyataan mereka mengenai kemerdekaan Al-Quds demi solidaritas terhadap rakyat Palestina

.

Salafi jihadi bunuh kaum syi’ah di Pakistan

Lagi Syiah Di Bunuh Di Pakistan

Jangan salah faham, saya bukanlah seorang yang suka untuk sebarkan berita-berita macam ini, seolah-olah pihak yang membunuh itu, dituduh sebagai kejam mazhabnya. Perlakuan seseorang tidak boleh disabitkan dengan pegangannya, kerana tidak semua adalah sebegitu. Bagaimanapun, atas sebab banyak sangat fitnah yang mengatakan Syiah suka membunuh Sunni, maka saya suka meletakkan berita-berita sebegini.

Terbaru, jemaah penziarah yang baru pulang dari Mashad, telah diserang di jalanan, sehingga 20 orang lebih terbunuh. Ini adalah kes, dari banyak lagi kes serangan yang tidak bersebab, maksudnya, bukan kerana tindak balas akibat serangan Syiah ke atau ape ke, tak pasal-pasal punya serangan.

Semoga Allah merahmati para jemaah yang meninggal dan yang diserang. Laknat Allah ke atas para penzalim.

 

Tinjauan Tafsir At Taubah ayat 100 : Sahabat Nabi Yang Berhijrah Bukan Karena Allah

Tinjauan Tafsir At Taubah ayat 100 : Sahabat Nabi Yang Berhijrah Bukan Karena Allah

Ada salah satu ayat Al Qur’an yang sering dicatut kaum nashibi untuk memuliakan para sahabat yaitu At Taubah ayat 100. Ayat tersebut memang membicarakan keutamaan sahabat muhajirin dan anshar serta yang mengikuti mereka dengan baik. Tulisan ini hanya ingin menunjukkan kekeliruan sebagian nashibi yang mengira ayat ini tertuju untuk semua muhajirin dan anshar.

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya itulah kemenangan yang besar [QS At Taubah : 100]

Muhajirin dalam ayat ini adalah mereka yang berhijrah dengan mengharap ridha Allah dan bukan karena hal lain. Anshar dalam ayat ini adalah mereka dari kalangan kaum Anshar yang dengan ridha menyambut Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan sebagian kaum Anshar yang munafik. Sering kaum awam nashibi mengartikan bahwa muhajirin dan anshar dalam ayat ini adalah mutlak untuk semua mereka. Hal ini jelas tidak bisa diterima, para sahabat sendiri mengakui ada orang munafik diantara kaum Anshar maka apakah mereka juga termasuk dalam ayat ini. Sudah jelas tidak.

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا اسود بن عامر قثنا إسرائيل عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي سعيد الخدري قال إنما كنا نعرف منافقي الأنصار ببغضهم عليا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Israil dari Al A’masy dari Abi Shalih dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata “Sesungguhnya kami mengenal orang-orang munafik dari kalangan Anshar melalui kebencian mereka terhadap Ali” [Fadhail Shahabah no 979 dengan sanad shahih]

Begitu juga ternyata ada diantara kaum Muhajirin yang berhijrah bukan karena Allah SWT dan Rasul-Nya melainkan demi kepentingan dunia.

حدثنا محمد بن علي الصائغ ثنا سعيد بن منصور ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن شقيق قال قال عبد الله من هاجر يبتغي شيئا فهو له قال : هاجر رجل ليتزوج امرأة يقال لها أم قيس وكان يسمى مهاجر أم قيس

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy As Shaigh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari A’masy dari Syaqiq yang berkata ‘Abdullah berkata “siapa yang berhijrah demi mendapatkan sesuatu maka itulah yang ada untuknya. Ia berkata “seorang laki-laki hijrah demi menikahi seorang wanita yaitu Ummu Qais maka kami menamakannya Muhajir Ummu Qais” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 9/103 no 8540]

Riwayat Thabrani sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Syaikh Thabrani Muhammad bin ‘Ali Ash Shaaigh adalah seorang imam yang tsiqat

  • Muhammad bin Ali Ash Shaaigh adalah muhaddis imam yang tsiqat sebagaimana disebutkan Adz Dzahabi [As Siyar 13/428 no 212]
  • Sa’id bin Manshur adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad berkata “termasuk orang yang memiliki keutamaan dan shaduq”. Ibnu Khirasy dan Ibnu Numair menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan tsiqat dan termasuk orang yang mutqin dan tsabit. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat tsabit”. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaih” [At Tahdzib juz 4 no 148]
  • Abu Muawiyah Ad Dharir yaitu Muhammad bin Khazim At Tamimi seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/70].
  • Sulaiman bin Mihran Al A’masy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]. Riwayat ‘an anahnya dari para syaikh-nya seperti Ibrahim, Abu Wail dan Abu Shalih dianggap muttashil [bersambung] seperti yang dikatakan Adz Dzahabi [Mizan Al Itidal 2/224 no 3517].
  • Syaqiq bin Salamah Abu Wa’il Al Kufiy adalah Mukhadhramun yang tsiqat perawi kutubus sittah. Ibnu Ma’in, Waki’, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 619]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat” [At Taqrib 1/421]

Ummu Qais termasuk dalam golongan muhajirin awal maka laki-laki yang menyusulnya hijrah dengan berniat menikahi Ummu Qais juga termasuk dalam muhajirin awal.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ أُمَّ قَيْسٍ بِنْتَ مِحْصَنٍ الْأَسَدِيَّةَ أَسَدَ خُزَيْمَةَ وَكَانَتْ مِنْ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلِ اللَّاتِي بَايَعْنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ubaidillah bin ‘Abdullah bahwa Ummu Qais binti Mihshan Al Asadiyyah singa khuzaimah ia termasuk muhajirin awal dan berbaiat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 7/127 no 5715]

Setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, jika niatnya karena Allah SWT dan Rasul-Nya maka ia akan mendapatkan keutamaan tetapi jika niatnya demi menikahi wanita atau dunia maka baginya adalah apa yang ia niatkan sebagaimana sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahab yang berkata aku mendengar Yahya bin Sa’id yang mengatakan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwa ia mendengar ‘Alqamah bin Waqqaash Al Laitsiy yang mengatakan aku mendengar Umar bin Khaththab radiallahu ‘anhu berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Sesungguhnya semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya sekedar mendapatkan apa yang ia niatkan atasnya [Shahih Bukhari 8/140 no 6689]

Riwayat-riwayat shahih di atas menunjukkan betapa lemahnya akal nashibi dalam berhujjah. Mereka sering melakukan bias dalam berhujjah. Terkait tafsir Al Qur’an At Taubah ayat 100 di atas biasnya adalah generalisasi dengan hanya memandang title “muhajirin” dan title “anshar” padahal hakikatnya ayat tersebut tidak untuk semua orang yang bertitel Muhajirin dan Anshar melainkan untuk Muhajirin dan Anshar yang dengan sungguh-sungguh membela Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Orang-orang pertama dan terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar, (yakni yang memasuki Islam), dan mereka yang mengikutinya dengan baik, Allah meridhai mereka, dan mereka pun meridhainya, dan disediakan Allah buat mereka syurga-syurga yang di bawahnya mengalir sungAl-sungai, mereka kekal di dalamnya buat selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

.

ayat ini dijadikan oleh pengikut sekte wahabi yang awam bahwa sahabat Nabi dari kalangan muhajirin dan anshar sudah di stempel oleh Allah dan mendapatkan predikat (Allah ridho kpd mereka dan merekapun ridho kpd Allah). Disinilah salafiun menggeneralisasi makna ridho Allah terhadap kaum muhajirin dan Anshar.Terkait tafsir Al Qur’an At Taubah ayat 100 di atas biasanya adalah generalisasi  sunni dengan hanya memandang title “muhajirin” dan title “anshar”

Padahal…

Orang Orang  terdahulu  bisa bermakna  beberapa orang tertentu yang berada diantara golongan Muhajirin dan Anshar !

padahal hakikatnya ayat tersebut tidak untuk semua orang yang bertitel Muhajirin dan Anshar melainkan untuk Muhajirin dan Anshar yang dengan sungguh-sungguh membela Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kalau kita perhatikan dan pelajari dengan benar frman Allah dlm ayat 100 Surah Attaubah. Maka terlihat bahwa Allah tidak berhenti firmanNya pada mereka terdahulu. Tapi ada kelanjutan yakni dan diikuti orang2 dengan baik. Apakah selain Imam Ali as adakah orang lain yang mengikuti mereka mereka  terdahulu dengan baik? Apakah selain Imam Ali as ada petunjuk petunjuk  yang baik? Yang berguna dalam agama.

Jadi kalau disimpulkan tidak semuanya dari kalangan muhajirin dan anshar mendapatkan titel Ridho Allah hanya sebagiannya saja. Dengan demikian hanya mereka yg teguh keyakinanny, dan istiqamah dalam ketaatan kpd Allah dan Rasuln-Nya saja yg akan mendapat Ridha Allah SWT.

Tafsir Qs. At taubah 100: Assabiqul awwaluna min al muhajiriina wa al anshar : kata min pada ayat ini bermakna : “diantara / sebagian dari “ … BUKAN SEMUA MUHAJiRiN DAN ANSHAR dijamin !! Contoh penggunaan kata Min ini ada di ayat lain yaitu Qs. 2 ayat 8 ( Wa min an Naasi man yaquuluu aamannaa..” artinya sebagian diantara manusia ada yang berkata “

Kita lihat bagaimana al-Quran membagi sahabat menjadi tiga golongan yang berbeda-beda:

“Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (Qs-Fathir: 32).

Jika kita cermati surat At-taubah ayat 100 itu, sebenarnya terkait dengan assabiquuna al awwaluun dan itu bukan lah semua kaum muhajirin dan anshar tetapi sebagian kaum muhajirin karena kalimat “min” (litab’idz) menunjukkan ba’dzi bukanlah kulli.

Orang-orang yang Allah Ridha kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah itu adalah orang-orang yang diterangkan secara khusus bukan secara umum, yakni sebagian (min) kaum muhajirin dan kaum anshar dan juga yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga tidak bisa diterima jikalau ayat tersebut mengandung arti seluruh kaum muhajirin dan anshar (seluruh shahabat)…

Ayat ini sebenarnya hanya berbicara tentang keutamaan kaum imigran (kaum Muhajirin) dari Mekah dan penduduk kota Madinah (kaum Anshar) yang memeluk Islam pada awal perkembangan Islam. Ini tidak termasuk ribuan sahabat yang memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah atau setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. Karena mereka semua bukan yang pertama-tama masuk Islam seperti yang digambarkan ayat tersebut di atas.
Ribuan kaum Muslimin yang tidak termasuk ayat itu ialah mereka yang masuk Islam sekitar 20 tahun setelah Islam disebarkan. Mereka masuk Islam sekitar tahun ke-8 Hijriah.

Apakah Sahabat Nabi Bisa Berdusta? Kritik Atas Keadilan Sahabat

Apakah Sahabat Nabi Bisa Berdusta? Kritik Atas Keadilan Sahabat

Doktrin keadilan sahabat yang berarti “semua sahabat adil” merupakan doktrin andalan dalam mazhab ahlus sunnah. Tetapi doktrin ini tidak bersifat mutlak jika dihadapkan pada berbagai riwayat dan sirah. Mengapa? Karena sahabat adalah manusia biasa seperti umat islam lainnya. Diantara sahabat terdapat mereka yang memiliki keutamaan besar tetapi terdapat sebagian sahabat yang tidak layak diutamakan, fasiq, berbuat maksiat dan berlaku zalim.

Mengapa harus begitu? jika mereka tidak rela Imam Ali as. dicaci dan dilaknat maka mereka harus mengaudit kitab-kitab hadis khususnya Bukhari-Muslim yang penuh dengan perawi Nashibi yang mencaci dan melaknat Imam Ali as. Anehnya Ahlussunnah katanya sepakat “mengkritik sahabat adalah “zindiq” (seperti kata Imam Abu Zur’ah) tapi ternyata perawi-perawi nashibi bahkan yang mencaci Imam Ali as pun tetap mereka terima.. entah dimata mereka Imam Ali as itu sahabat atau bukan atau barangkali sahabat rendahan kali…?

Btw. Sebuah buku berbobot yang khusus membahas perawi-perawi nashibi pembenci Imam Ali as dalam Shahih al Bukhari (Ahlulbait) كشف المتواري في صحيح البخاري محمد جواد خليل. bisa download disini:

http://www.mediafire.com/?mzzknzi2jjj

Di tangan kaum nashibi, doktrin “keadilan sahabat” menjadi begitu suci dan bias, dengan doktrin ini nashibi membela sahabat yang fasiq, zalim dan berbuat maksiat, dengan doktrin ini nashibi menganggap sahabat tidak tercela, dengan doktrin ini nashibi menganggap setiap aib sahabat harus dikatakan ijtihad dan mendapat pahala, dengan doktrin ini nashibi menginginkan apapun yang dilakukan sahabat mereka tetap orang yang paling utama. Intinya sahabat itu ma’shum menurut keyakinan nashibi tetapi untuk menyembunyikan keyakinan mereka, mereka bertaqiyah dengan berkata “kalau sahabat juga bisa salah dan yang ma’shum hanya Nabi dan Rasul”.

Bukti kalau mereka meyakini kema’shuman sahabat adalah jika anda atau siapapun menuliskan tentang kesalahan sahabat maka kaum nashibi akan meradang dan membantah dengan segala macam pembelaan, dalih dan penakwilan. Kalau memang sahabat bisa salah, maka mengapa mereka jadi carut marut sok membantah sana sini, yo wes terima saja. Kaum nashibi tidak terima karena dalam pandangan mereka sahabat itu ma’shum, jadi jika ada yang menyatakan kesalahan sahabat harus dibantah dan dituduh syiah rafidhah.

Ada diantara kaum nashibi ketika membela sahabat, ia berkata “sahabat tidak mungkin berdusta karena mereka semua adalah adil”. Pernyataan ini tidaklah benar, terdapat berbagai riwayat yang menunjukkan bahwa sahabat juga bisa berdusta. Doktrin keadilan sahabat bukan aksioma mutlak yang berdiri sendiri, ia harus disesuaikan dengan berbagai fakta riwayat yang ada. Doktrin keadilan sahabat menyatakan bahwa semua sahabat benar atau jujur dalam perkataan atau kesaksiannya, jika mereka menyampaikan sesuatu maka mereka tidak akan sengaja berdusta. Tetapi apakah benar demikian, apakah ada fakta riwayat yang menunjukkan sebaliknya?. Jawabannya ada, terdapat riwayat bahwa sahabat bisa berdusta dalam kesaksiannya atau perkatannya dan ini terjadi di zaman Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ عَمْرٌو سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ حَدِيثِ الْمُتَلَاعِنَيْنِ فَقَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُتَلَاعِنَيْنِ حِسَابُكُمَا عَلَى اللَّهِ أَحَدُكُمَا كَاذِبٌ لَا سَبِيلَ لَكَ عَلَيْهَا قَالَ مَالِي قَالَ لَا مَالَ لَكَ إِنْ كُنْتَ صَدَقْتَ عَلَيْهَا فَهُوَ بِمَا اسْتَحْلَلْتَ مِنْ فَرْجِهَا وَإِنْ كُنْتَ كَذَبْتَ عَلَيْهَا فَذَاكَ أَبْعَدُ لَكَ قَالَ سُفْيَانُ حَفِظْتُهُ مِنْ عَمْرٍو وَقَالَ أَيُّوبُ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عُمَرَ رَجُلٌ لَاعَنَ امْرَأَتَهُ فَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ وَفَرَّقَ سُفْيَانُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى فَرَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَخَوَيْ بَنِي الْعَجْلَانِ وَقَالَ اللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّ أَحَدَكُمَا كَاذِبٌ فَهَلْ مِنْكُمَا تَائِبٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ سُفْيَانُ حَفِظْتُهُ مِنْ عَمْرٍو وَأَيُّوبَ كَمَا أَخْبَرْتُكَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan yang berkata Amru berkata aku mendengar Sa’id bin Jubair berkata aku bertanya pada Ibnu Umar tentang hadis Al Mutalaa’inain [suami istri yang meli’an] maka ia berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah berkata kepada suami istri yang meli’an “hisab kalian berdua terserah kepada Allah, salah seorang dari kalian berdua telah berdusta, tidak ada jalan bagimu untuk kembali pada istrimu. Laki-laki itu berkata “bagaimana hartaku?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tidak ada harta bagimu, jika kamu benar atasnya maka itu sebagai mahar untuk menghalalkan farjinya tetapi jika kamu berdusta atasnya maka hal itu akan lebih jauh darimu. Sufyan berkata aku menghafalnya dari ‘Amru dan Ayub berkata aku mendengar Sa’id bin Jubair berkata aku berkata kepada Ibnu Umar ada seorang laki-laki meli’an istrinya. Ia berisyarat dengan kedua jarinya, Sufyan memisahkan antara kedua jarinya yaitu jari telunjuk dan jari tengah. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah memisahkan antara dua orang dari bani ‘Ajlan dan berkata Allah mengetahui bahwa salah seorang diantara kamu berdusta maka adakah diantara kamu yang ingin bertaubat? Beliau berkata tiga kali. Sufyan berkata aku menghafalnya dari ‘Amru dan Ayub seperti yang telah kukabarkan padamu [Shahih Bukhari 7/55 no 5312]

Sisi pendalilan dengan hadis ini adalah seorang sahabat Nabi menuduh istrinya berzina dan mengajukan perkara ini kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mereka saling mendustakan satu sama lain sehingga Allah SWT menurunkan syariat atas mereka dan memisahkan mereka berdua. Allah dan Rasul-Nya menyatakan bahwa salah seorang diantara mereka telah berdusta. Suami yang berdusta atau istri yang berdusta. Yang manapun diantara mereka yang berdusta tetap saja mereka berdua adalah sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi hadis shahih ini membuktikan bahwa sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bisa saja berdusta atas apa yang ia ucapkan. Kedua sahabat yang dimaksud dalam hadis ini [suami dan istri] adalah orang dari bani Ajlan, terdapat riwayat yang mengatakan kalau mereka berdua adalah Uwaimir Al ‘Ajlani dan istrinya. Kisah ini juga terjadi pada sahabat yang lain

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ هِلَالَ بْنَ أُمَيَّةَ قَذَفَ امْرَأَتَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَرِيكِ ابْنِ سَحْمَاءَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيِّنَةَ أَوْ حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا رَأَى أَحَدُنَا عَلَى امْرَأَتِهِ رَجُلًا يَنْطَلِقُ يَلْتَمِسُ الْبَيِّنَةَ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْبَيِّنَةَ وَإِلَّا حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ فَقَالَ هِلَالٌ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنِّي لَصَادِقٌ فَلَيُنْزِلَنَّ اللَّهُ مَا يُبَرِّئُ ظَهْرِي مِنْ الْحَدِّ فَنَزَلَ جِبْرِيلُ وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ { وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ فَقَرَأَ حَتَّى بَلَغَ إِنْ كَانَ مِنْ الصَّادِقِينَ } فَانْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَجَاءَ هِلَالٌ فَشَهِدَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ أَنَّ أَحَدَكُمَا كَاذِبٌ فَهَلْ مِنْكُمَا تَائِبٌ ثُمَّ قَامَتْ فَشَهِدَتْ فَلَمَّا كَانَتْ عِنْدَ الْخَامِسَةِ وَقَّفُوهَا وَقَالُوا إِنَّهَا مُوجِبَةٌ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَتَلَكَّأَتْ وَنَكَصَتْ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهَا تَرْجِعُ ثُمَّ قَالَتْ لَا أَفْضَحُ قَوْمِي سَائِرَ الْيَوْمِ فَمَضَتْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْصِرُوهَا فَإِنْ جَاءَتْ بِهِ أَكْحَلَ الْعَيْنَيْنِ سَابِغَ الْأَلْيَتَيْنِ خَدَلَّجَ السَّاقَيْنِ فَهُوَ لِشَرِيكِ ابْنِ سَحْمَاءَ فَجَاءَتْ بِهِ كَذَلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْلَا مَا مَضَى مِنْ كِتَابِ اللَّهِ لَكَانَ لِي وَلَهَا شَأْنٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Adiy dari Hisyaam bin Hassaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Hilal bin Umayyah menuduh istrinya berzina di hadapan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan Syariik bin Sahmaa’. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “buktikanlah atau had akan menimpamu”. Ia berkata “wahai Rasulullah jika salah seorang dari kami melihat istrinya dengan laki-laki lain apakah diharuskan baginya bukti?. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “buktikanlah atau had akan menimpamu”. Hilal berkata “demi Yang mengutusmu dengan haq sesungguhnya aku berkata benar dan semoga Allah SWT menurunkan sesuatu yang membebaskanku dari hadd. Kemudian Jibril turun dan menurunkan firman Allah “dan orang-orang yang menuduh istrinya –ia membacanya sampai- jika dia [suaminya] termasuk orang yang benar”. Akhirnya Nabi pergi dan mengutus seseorang kepada wanita itu, Hilal datang dan bersaksi. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Allah mengetahui bahwa salah seorang dari kalian berdusta, maka apakah ada diantara kalian yang ingin bertaubat?”. Wanita itu berdiri dan bersaksi, ketika sampai pada kesaksian kelima, mereka menghentikannya dengan berkata “sesungguhnya itu [sumpah kelima] akan membawa laknat padamu”. Ibnu Abbas berkata “ia berhenti dan tampak ragu sehingga kami mengira ia akan mengaku, kemudian ia berkata “aku tidak akan mempermalukan kaumku” dan ia mengucapkannya. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “perhatikanlah ia jika ia melahirkan seorang anak yang hitam kedua matanya, besar kedua pantatnya dan besar kedua betisnya maka itu adalah anak Syarik bin Sahmaa’ akhirnya wanita itu melahirkan anak yang seperti itu. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “seandainya tidak berlalu keputusan Kitab Allah maka aku menegakkan hukuman padanya” [Shahih Bukhari 6/100 no 4747]

Sisi pendalilan hadis ini pun sama, diantara Hilal bin Umayah dan istrinya pasti ada yang berdusta. Keduanya termasuk sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan riwayat di atas membuktikan bahwa istri Hilal bin Umayah yang telah berdusta.

Catatan untuk kisah Hilal : Syarik bin Sahmaa’ yang dituduh Hilal berzina dengan istrinya juga termasuk sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ibnu Hajar memasukkannya dalam daftar sahabat Nabi dalam Al Ishabah dan menyebutkan bahwa ia termasuk yang ikut dalam perang uhud [Al Ishabah 3/344 no 3902]. Begitu juga yang dinyatakan As Shafadi bahwa ia dan ayahnya ikut dalam perang uhud [Al Wafi bil Wafayat 5/204]

Bagaimana menempatkan riwayat-riwayat ini kepada doktrin keadilan sahabat?. Jawabannya sederhana, doktrin keadilan sahabat itu harus disesuaikan dan berlaku pengecualian. Jika dikatakan semua sahabat adil maka itu bertentangan dengan riwayat shahih sehingga yang benar adalah tidak semua sahabat adil. Jangan pula diartikan bahwa semua sahabat adalah tidak adil, hal ini jelas keliru. Lebih aman untuk menyatakan sahabat Nabi adalah adil sampai ada bukti yang menyatakan sebaliknya. Hal ini jelas sangat berbeda dengan kaum nashibi yang menyatakan mustahil ada sahabat yang tidak adil.

Salam Damai

Abdullah Bin Saba’ adalah Ammar bin Yasir yang di pelintir Sunni sehingga seolah olah itu Yahudi Munafik ???

بنو أمية
Kekhalifahan Umayyah
 Flag of Afghanistan (1880–1901).svg 660–750 Flag of Afghanistan (1880–1901).svg Kekhalifahan Umayyah Al-Andalus 
Lokasi Umayyad

Wilayah kekuasan terluas Bani Umayyah

Ibu kota Damaskus
Ibu kota dalam pengasingan Kordoba
Bahasa Arab
Agama Islam
Pemerintahan Monarki
Sejarah
 – Didirikan 660
 – Dibubarkan 750

Kekhalifahan Utama di Damaskus

  1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
  2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
  3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
  4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M
  5. Abdullah bin Zubair bin Awwam, (peralihan pemerintahan, bukan Bani Umayyah).
  6. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
  7. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
  8. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
  9. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
  10. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
  11. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
  12. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
  13. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
  14. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
  15. Marwan II bin Muhammad (memerintah di HarranJazira), 127-133 H / 744-750 M

.

الخلافة العباسية
Kekhalifahan Abbasiyah
 Fatimid Flag.png 750–1258 Flag of Afghanistan (1880–1901).svg 
Lokasi Abbasiyah

Wilayah kekuasan terluas Bani Abbasiyah

Ibu kota  BagdadKairo
Bahasa Arab (resmi), AramArmeniaBerberGeorgiaYunaniYahudiPersia TengahTurkik
Agama Islam
Pemerintahan  Monarki
Sejarah 
 – Didirikan 750
 – Dibubarkan 1258.Kekhalifahan Abbasiyah (Arabic: العبّاسيّون‎, al-‘Abbāsīyūn) diperinath oleh dinasti Abbasiyah, yang membangun ibukota mereka di Baghdad setelah menaklukkan Umayyah kecuali wilayah Al Andalus.Didirikan oleh keturunan paman Nabi Muhammad SAW, Abbas ibnu Abdul Muttalib. Didirikan di kota Harran pada tahun 750 dan berpindah ibukota pada 762 dari Harran ke Baghdad. Berkembang cepat selama dua abad, tetapi lambat laun menuju kejatuhan karena bangkitnya kekuatan pasukan Turki yang sebenarnya mereka latih, Mamluk. Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M).Setelah selama 150 tahun memegang kendali diseluruh Persia, Abbasiyah dipaksa menyerahkan kekuasaan pada pemerintah lokal karena melemahnya militer Abbasiyah.Kekuasaan dinasti ini berkahir pada tahun 1258, ketika Hulagu Khan, menghancurkan Baghdad, pusat kekuasaan lalu berpindah ke Mamluk Mesir tahun 1261 sampai tahun 1519 ketika kekhalifahan berpindah ke Ottoman dan ibukotanya pindah ke Istanbul=======================================================Tentang Penulis Kisah fiksi  abdullah bin saba’ :Sayf ibn umar Usayyidi Tamimi (died 796 M/180 H), was an early Islamic historian. He was from Bani Tamim tribe. He belongs to the school of Kufa. In his reports, he represents the Iraqi view of history. His works affected by tribal traditions of Banu Tamim.

Menulis kitab :

  • Kitab al-Jamal wa mansir Aisha wa Ali: This work deals with killing of Uthman ibn Affan, the third Muslim caliph. Saif transmitted his report through Shoayb ibn Ibrahim.
  • Kitab Futuh al-Kabir wa Riddah

[sumber : Ansari, IM (2004). Encyclopaedic historiography of Muslim World. Global Vision Publishing Ho. pp. 1004.]

.

Sayf Ibn Umar al-Dhabbi al-Usayyidi al-Tamimi lived in the second century of the Muslim era (8th century AD) and died after the year 170 AH (750 AD). al-Dhahabi said that Sayf died during the rule of Harun al-Rashid in Baghdad (Iraq). During his life, Sayf wrote the following two books which were available even during the reign of the Umayyads:
– ‘al-Fotooh wa al-Riddah’ which is the history of the period before the death of the Prophet Muhammad until the third Caliph Uthman resumed office as the ruler of Muslim world.
– ‘al-Jamal wa Maseeri Aisha wa Ali’ which is the history from the murder of Uthman to the battle of Jamal (the fight that happened between Ali ibn Abi Talib and some companions).

Ibnu Jarir Ath Thabari (225 H-310 H) banyak mengutip kisah fiksinya 1!1

.

The following leading Sunni scholars confirm that Sayf Ibn Umar was a well-known liar and untrustworthy:

(1) al-Hakim (d. 405 AH) wrote: “Sayf is accused of being a heretic. His
narrations are abandoned.”

(2) al-Nisa’i (d. 303 AH) wrote: “Sayf’s narrations are weak and they
should be disregarded because he was unreliable and untrustworthy.”

(3) Yahya Ibn Mueen (d. 233 AH) wrote: “Sayf’s narrations are weak and
useless.”

(4) Abu Hatam (d. 277 AH) wrote: “Sayf’s Hadith is rejected.”

(5) Ibn Abi Hatam (d. 327 AH) wrote: “Scholars have abandoned Sayf’s
narrations.”

(6) Abu Dawud (d. 316 AH) wrote: “Sayf is nothing. He was a liar. Some of
his Hadiths were conveyed and the majority of them are denied.”

(7) Ibn Habban (d. 354 AH) wrote: “Sayf attributed fabricated traditions
to the good reporters. He was accused of being a heretic and a liar.”

(8) Ibn Abd al-Barr (d. 462 AH) mentined in his writing abut al-Qa’qa:
“Sayf reported that al-Qa’qa Said: I attended the death of the Prophet
Muhammad.” Ibn Adb al-Barr continued: “Ibn Abu Hatam said: Sayf is
weak. Thus, what was conveyed of the presence of al-Qa’qa at the death
of the Prophet is rejected. We mentioned the Sayf’s traditions for
knowledge only.”

(9) al-Darqutini (d. 385 AH) wrote: “Sayf is weak”.

(10) Firoozabadi (d. 817 AH) in “Towalif” mentioned Sayf and some others by
saying: “They are weak.”

(11) Ibn al-Sakan (d. 353 AH) wrote: “Sayf is weak.”

(12) Safi al-Din (d. 923 AH) wrote: “Sayf is considered weak.”

(13) Ibn Udei (d. 365 AH) wrote about Sayf: “He is weak. Some of his
narrations are famous yet the majority of his narrations are
disgraceful and not followed.”

(14) al-Suyuti (d. 900 AH) wrote: “Sayf’s Hadith is weak.”

(15) Ibn Hajar al-Asqalani (d. 852 AH) wrote after mentioning a tradition:
“Many reporters of this tradition are weak, and the weakest among them
is Sayf.”

so whats with the hypocrisy in claiming that shiism arose from this guy?

Tuduhan bahawa madzhab syiah adalah ajaran daripada si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ telah lama diketengahkan kepada masyarakat Islam dan semacam sudah sebati dengan masyarakat bahawa syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah ibn Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.

Ia dikatakan mempunyai madzhab Saba’iyyah mengemukakan teori Ali adalah wasi Muhammad SAW. Abdullah ibn Saba’ juga dikenali dengan nama Ibn al-Sawda’ atau ibn ‘Amat al-Sawda’- anak kepada wanita kulit hitam. Pada hakikatnya cerita Abdullah ibn Saba’ adalah satu dongengan semata-mata.

Allamah Murtadha Askari telah mengesan dan membuktikan bahawa cerita Abdullah ibn Saba’ yang terdapat dalam versi sunni adalah bersumberkan dari Al-Tabari (w.310H/922M), Ibn Asakir (w571H/1175M), Ibn Abi Bakr (w741H/1340M) dan al-Dhahabi (w747H/1346M). Mereka ini sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ dari satu sumber iaitu Sayf ibn Umar dalam bukunya al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba' wa digar afsanehaye tarikhi, Tehran, 1360 H].

Sayf adalah seorang penulis yang tidak dipercayai oleh kebanyakan penulis-penulis rijal seperti Yahya ibn Mu’in (w233/847H), Abu Dawud (w275H/888M), al-Nasai (w303H/915M), Ibn Abi Hatim (w327H/938M), Ibn al-Sukn (w353H/964M), Ibn Hibban (w354H/965M), al-Daraqutni (w385H/995M), al-Hakim (w405H/1014M), al-Firuzabadi (w817H/1414M), Ibn Hajar (w852H/1448M), al-Suyuti (w911H/1505M, dan al-Safi al-Din (w923H/1517M).

Abdullah bin Saba’, kononnya seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Utsman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke satu tempat untuk menghasut orang ramai supaya bangun memberontak menentang khalifah Uthman. Sayf dikatakan sebagai pengasas ajaran Sabaiyyah dan pengasas madzhab ghuluww (sesat). Menurut Allamah Askari watak Abdullah ibn Saba’ ini adalah hasil rekaan Sayf yang juga telah mencipta beberapa watak, tempat, dan kota khayalan. Dari cerita Sayf inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ tersebut seperti Said ibn Abdullah ibn Abi Khalaf al-Ashari al-Qummi (w301H/913M) dalam bukunya al-Maqalat al-Firaq, al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w310H/922M) dalam bukunya Firaq al-Shiah, dan Ali ibn Ismail al-Ashari (w324H/935M) dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin. Allamah al-Askari mengesan cerita Abdullah ibn Saba’ dari riwayat syiah dari Rijal oleh al-Kashshi.

Al-Kashshi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d ibn Abdullah al-Ashari al-Qummi yang menyebut bahawa Abdullah ibn Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya sebagai nabi. Mengikut dua riwayat ini, Ali AS memerintahkannya menyingkirkan fahaman tersebut, dan disebabkan keengganannya itu Abdullah ibn Saba telah dihukum bakar hidup-hidup (walau bagaimanapun menurut Sa’d ibn Abdullah Ali telah menghalau Ibn Saba’ ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali AS menemui kesyahidannya. Pada ketika ini Abdullah ibn Saba’ mengatakan Ali AS tidak wafat sebaliknya akan kembali semula ke dunia). Al-Kashshi, selepas meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah ibn Saba’ menyatakan bahawa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang yang pertama yang mengisytiharkan Imamah Ali AS. Allamah Askari menyatakan bahawa hukuman bakar hidup-hidup adalah satu perkara bida’ah yang bertentangan dengan hukum Islam sama ada dari madzhab Syi’ah atau Sunnah. Kisah tersebut pula tidak pernah disebut oleh tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibn al-Khayyat, al-Yakubi, al-Tabari, al-Masudi, Ibn Al-Athir, ibn Kathir atau Ibn Khaldun. Peranan yang dimainkan oleh Abdullah ibn Sabak’ sebelum berlakunya peristiwa pembunuhan Uthman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali AS telah tidak disebut oleh penulis-penulis yang terawal seperti Ibn Sa’d (w230H/844M0, al-Baladhuri (w279H/892M) atau al-Yaqubi. Hanya al-Baladhuri yang sekali sehaja menyebut namanya dalam buku Ansab al-Ashraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali AS berkata: ” Hujr ibn Adi al-Kindi, Amr ibn al-Hamiq al-Khuzai, Hibah ibn Juwayn al-Bajli al-Arani, dan Abdullah ibn Wahab al-Hamdani – ibn Saba’ datang kepada Imam Ali AS dan bertanya kepada Ali AS tentang Abu Bakr dan Umar…” Ibn Qutaybah (w276H/889M) dalam bukunya al-Imamah wal-Siyasah dan al-Thaqafi (w284H/897M) dalam al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut. Ibn Qutaybah memberikan identiti orang ini sebagai Abdullah ibn Saba’. Sa’d ibn Abdullah al-Ashari dalam bukunya al-Maqalat wal-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah ibn Saba’ pengasas ajaran Saba’iyyah – sebagai Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Ibn Malukah (w474H/1082M) dalam bukunya Al-Ikmal dan al-Dhahabi (w748H/1347M) dalam bukunya al-Mushtabah ketika menerangkan perkataan ‘Sabaiyyah ‘, menyebut Abdullah ibn Wahb al-Saba’i, sebagai pemimpin Khawarij. Ibn Hajar (w852H/1448M) dalam Tansir al-Mutanabbih menerangkan bahawa Saba’iyyah sebagai ‘ satu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah ibn Wahb al-Saba’i’. Al-Maqrizi (w848H/1444M) dalam bukunya al-Khitat menamakan tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’ ini sebagai ‘Abdullah ibn Wahb ibn Saba’, juga dikenali sebagai Ibn al-Sawda’ al-Saba’i.’

Allamah Askari mengemukakan rasa kehairannya bahawa tidak seorang pun daripada para penulis tokoh Abdullah ibn Saba’ ini menyertakan nasabnya – satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peranan yang penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam tetapi dalam kisah Abdullah ibn Saba’ , yang dikatakan berasal dari San’a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya. Allamah Askari yakin bahawa Ibn Saba’ dan golongan Sabai’yyah adalah satu cerita khayalan dari Sayf ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimanapun, nama Abdullah ibn Wahb ibn Rasib ibn Malik ibn Midan ibn Malik ibn Nasr al-Azd ibn Ghawth ibn Nubatah in Malik ibn Zayd ibn Kahlan ibn Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam Peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali AS.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu untuk melukiskan watak khayalan yang menjadi orang pertama mengiystiharkan Imamah Ali AS. Watak ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Uthman, menjadi dalang mencetuskan Perang Jamal, mengisytiharkan kesucian Ali AS, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali AS atau dihalau oleh Ali AS dan tinggal dalam buangan seterusnya selepas kewafatan Imam Ali AS, mengisytiharkan kesucian Ali AS dan Ali akan hidup kembali dan orang yang pertama bercakap dengan lantang tentang musuh-musuh Ali AS.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai satu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab iaitu Bani Qahtan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa’d ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Utsman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini. justeru, Ziyad ibn Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai ‘Saba’iyyah.’ Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri daripada puak-puak yang berasal dari Yaman. Selepas kejatuhan Bani Umayyah. istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu al-Abbas Al-Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyyah, ditujukan kepada golongan Syi’ah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah.

Walau bagaimanapun Ziyad maupun Al-Saffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan yang sesat. Malahan Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Sayf ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’

.

KONTROVERSI ABDULLAH BIN SABA

Musuh-musuh Islam yang memiliki tujuan memecah belah umat Islam, berusaha menggambarkan Syi’ah sebagai sebuah aliran yang berasal dari Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang memeluk Islam selama pemerintahan Utsman bin Affan, khalifah ketiga. Mereka menyatakan lebih jauh bahwa Abdullah bin Saba melakukan perjalanan ke kota-kota dan desa-desa umat Islam, dari Damaskus hingga ke Kufnli lalu ke Mesir, menyebarkan berita di kalangan umat Islam bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus Nabi Muhammad SAW. lamenghasut umat Islam untuk membunuh Utsman karena ia meyakini bahwa Utsman telah menduduki jabatan Ali. la juga menciptakan keonaran di pasukan Ali dan musuhnya pada perang Unta. la juga bertanggung jawab atas semua gagasan-gagasan Syi’ah selanjutnya. Penulis sewaan ini mepkini U.ilmw nbdullnh bin Saba adalah pendiri mazhab Syi’ah, dan karena ia sendiria adalah orang munafik dan menulis berita bohong, maka semua ilmu dan keyakinan Syi’ah juga tidak benar. Sebenarnya, Abdullah bin Saba adalah kambing hitam yang tepat untuk semua klaim orang – orang Sunni.

Ketika Keberadaan sesorang bernama Abdullah bin Saba di awal sejarah sejarah Islam sangat dipertanyakan, hal yang jelas setelah dilakukan penelitian mengenai hal ini adalah bahwa meskipun seorang Ielaki miskin dengan nama seperti itu mungkin pernah ada pada zaman itu, cerita yang disebarkan tentang orang ini merupakan legenda, cerita bohong, dibuat-buat, dan fiksi, dan tidak ada bukti tentang kebenaran kisah-kisah tentangnya. Atas izin Allah, kami akan membahas poin ini di pembahasan berikut ini.

Cerita-cerita bohong seputar tokoh Abdullah bin Saba merupakan hasil karya keji seseorang bernama Saif bin Umar Tamimi. la adalah pengarang, yang hidup di abad kedua setelah Hijrah. lamengarang cerita ini berdasarkan beberapa fakta utama yang ia temukan dalam sejarah Islam yang ada saat itu. Saif menulis sebuah novel yang tidak berbeda dengan novel Satanic Verses karangan Salman Rushdi dengan motif yang serupa, tetapi dengan perbedaan bahwa peranan setan dalam bukunya diberikan kepada Abdullah bin Saba.

Saif bin Umar mengubah biografi beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW untuk menyenangkan pemerintah yang berkuasa saat itu, dan menyimpangkan sejarah Syi’ah serta mengolok-olok Islam. Saif adalah seorang pengikut setia Bani Umayah, salah satu musuh besar Ahlulbait di sepanjang sejarah, dan niat utamanya mengarang cerita-cerita seperti itu adalah untuk merendahkan Syi’ah. Dalam cerita karangannya, ia mengejar banyak tujuan lain, yang salah satunya adalah mengangkat kedudukan sukunya atas suku lain dengan menciptakan sahabat-sahabat imajiner dari sukunya. Tetapi banyak ulama Sunni menemukan banyak bid’ah dalam riwayatnya yang tidak hanya terbatas pada persoalan Abdullah bin Saba, dan karena itu mereka mengabaikan riwayatnya, dan menuduhnya-sebagai seorang pendusta dan pemfitnah. Tetapi, hasil karya Saif mendapat dukungan sebagian kelompok Sunni hingga saat ini. Di bagian selanjutnya, kami akan mengetengahkan ucapan-ucapan ulama-­ulama Sunni terkemuka, yang membenarkan bahwa Saif bin Umar adalah orang yang tidak dapat dipercaya dan ceritanya dusta.

Telaah ideologi menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang membenci mahzab pemikiran Syi’ah (banyak dari mereka adalah musuh – musuh Islam) mendasarkan rasa kebencian mereka pada bid’ah ini yang mereka ekspoitir untuk mendukung serangan mereka kepada Syi’ah. Pendekatan ini sama seperti yang dilakukan Saif bin Umar sendiri.

Asal Muasal Cerita Abdullah bin Saba

Cerita Abdullah bin Saba berusia lebih dari dua belas abad lamanya. Parasejarahwan dan penulis mencatatnya, dan memberi tambahan kepada cerita tersebut.

Sekilas melihat rangkaian perawi dari cerita ini, anda akan temukan nama Saif berada di situ. Beberapa sejarahwan berikut ini mencatat cerita tersebut dari Saif secara langsung:

- Thabari.

- Dzahabi, ia juga menyebutkan dari Thabari (1).

- Ibmi Abu Bakir, ia juga mencatatnya dari Ibnu Atsir (15), yang mencatat dari Thabari (1).

- Ibnu Asakir.

Berikut ini sejarahwan yang tidak secara langsung mencatat dari Saif:

- Nicholson dari Thabari (1).

- Ensiklopedi Islam karya Thabari (1)

- Van Floton dari Thabari (1)

- Wellhauzen dari T’habari (1).

- Mirkhand dari Thabari (1).

- Ahmad Amin dari Thabari (1), dan dari Wellhauzen (8).

- Farid Wajdi dari Thabari (1).

- Hasan Ibrahim dari Thabari (1).

- Said Afghani dari Thabari (1), dan dari ibnu Abu Rakir (3),

- Ibnu Asakir (4), dan Ibnu Bardan (21).

- Ibnu Khaldun dari Thabari (1).

- Ibnu Atsir dari Thabari (1).

- Ibnu Katsir dari Thabari (1).

- Danaldson dari Nicholson (5), dan dari ensiklopedia (6).

- Ghiathuddin dari Mirkhand (9).

- Abu Fida dari Ibnu Atsir (15).

- Rasyid Ridha dari Ibnu Atsir (15).

- Ibnu Bardan dari Ibnu Asakir (4).

- Bustani dari Ibnu Katsir (16).

Daftar di atas menunjukkan bukti bahwa cerita-cerita bohong seputar sifat Abdullah bin Saba dimulai dari Saif dan dikutip oleh Thabari secara langsung dari buku Saif sebagaimana yang diungkapkan Thabari sendiri.’ Olah karena itu, tokoh Saif dan sejarahnya harus ditelaah dan dianalisis dengan sangat teliti.

Siapakah Saif ?

Saif bin Umar Dzabbi Usaidi Tamimi hidup pada abad II/VIII dan meninggal setelah tahun 170/750. Dzahabi berkata bahwa Saif meninggal ketika Harun Rasyid memerintah di Baghdad (Iraq). Selama hidupnya, Saif menulis dua buku berikut ini pada masa pemerintahan Umayah; 1) Al-Futuh wa ar-Riddah, yang merupakan sejarah periode sebelum wafatnya Nabi Muhammad SAW hingga khalifah ketiga, Utsman, menjadi pemimpin dunia Islam; 2) Al-Jamal wa Masiri Aisyah wa Ali, yang merupakan sejarah dari pembunuhan Utsman hingga perang Jamal (perang antara Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW). Buku-buku tersebut sekarang sudah tidak ada namun sempat bertahan beberapa abad setelah masa hidupnya Saif. Berdasarkan temuan ini, orang terakhir yang menyatakan bahwa ia memiliki buku Saif adalah Ibnu Hajar Asqalani (852 H).

Kedua buku ini lebih banyak berisi cerita fiksi, bukan kebenaran, cerita-cerita yang dibuat-buat, dan beberapa peristiwa yang benar, yang secara sengaja dicatat dengan cara yang mengolok-olok.

Karena Saif berbicara tentang beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW dan juga menciptakan sahabat-aahabat Nabi dengan nama yang aneh, ceritanya telah mempengaruhi sejarah Islam masa awal. Beberapa ahli biografi seperti penulis Ushul Ghabah, Isti’ab dan Ishabah dan ahli geografi seperti penulis buku Mu jam al-Buldare dan ar-Rawz al-Mi’tar teloh menulis beberapa kisah hidup beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW, dan menyebutkan tempat-tempat yang hanya terdapat di buku karangan Saif. Karena itu, kehidupan dan tokoh Saif serta kredibilitasnya harus ditelaah secara teliti.

Pendapat Kaum Sunni Mengenai Saif

Beberapa ulama terkemuka Sunni berikut ini membenarkan bahwa Saif bin Umar terkenal sebagai seorang pendusta dan orang yang tidak dapat dipercaya:

Hakim (405 H) menulis, “Saif adalah seorang ahli bid’ah. Riwayatnya harus diabaikan.”

Nasa’i (303 H) menulis, “Riwayat yang disampaikan Saif lemah dan riwayat tersebut harus diabaikan karena tidak dapat dipercaya dan tidak berdasar.”

Yahya bin Muin (233 H) menulis, “Riwayat Saif lemah dan tidak berdasar.”

Abu Hatam (277 H) menulis, “Hadis yang diriwayatkan Saif harus ditolak.”

Ibnu Abu Hatam (327) menulis, “Para ulama telah mengabaikan riwayat yang disampaikan Saif .”

Abu Daud (316 H) menulis, “Saif bukan seorang yang dapatdipercaya. la adalah seorang pembohong. Beberapa hadis yang ia sampaikan sebagian besarnya tertolak.”

Ibnu Habban (354 H) menulis, “Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi-perawi yang sahih. la dianggap sebagai seorang pebid’ah dan pembohong.”

Ibnu Abdul Barr (462 H) menyebutkan dalam tulisannya tentang Qa’fa ; “ Saif meriwayatkan bahwa Qa`qa berkata, ‘Aku menghadiri kematian Nabi Muhammad.”‘ Ibnu Abdul Barr melanjutkan “ Ibnu Abu Hatam berkata, ‘Riwayat Saif lemah. Oleh karenanya, apa yang disampnikam tentang keberadaan Qa’qa pada wafatnya Nabi Muhammad ditolak. Kami menyebutkan hadis-hadis Saif hanya untuk diketahui saja.”‘

Darqufii (385 H) menulis, “Riwayat yang disampaikan Saif lemah.” Firuzabadi (817 H) menulis dalam buku Tawalif tentang Saif dan beberapa orang lainnya bahwa riwayat yang mereka sampaikan lemah. Ibnu Sakan (353 H) menulis, “Riwayat Saif lemah.”

Safuddin (923 H) menulis, “Riwayat yang disampaikan Saif dianggap lemah.”

Ibnu Udai (365 H) menulis tentang Saif, “Riwayat yang ia sampaikan lemah. Beberapa riwayatnya terkenal tetapi sebagian besar dari riwayat itu lemah dan tidak digunakan.”

Suyuthi (900 H) menulis, “Hadis yang disampaikan Saif lemah.” Ibnu Hajar Asqalani (852 H) menulis setelah ia menyebut sebuah hadis, “Banyak perawi hadis ini lemah dan yang paling lemah di antara mereka adalah Saif.”

Menarik untuk kita perhatikan bahwa meskipun Dzahabi (748 H) telah mengutip dari Saif dalam buku sejarahnya, ia menyebutkan di bukunya yang lain bahwa Saif adalah perawi yang lemah. Dalam buku al-Mughni fi al-Dhu’afa, Dzahabi menulis, “Saif memiliki dua buku yang berdasarkan kesepakatan telah diabaikan oleh para ulama.”‘

Hasil dari penyelidikan tentang kehidupan Saif menunjukkan bahwa Saif adalah seorang yang tidak beragama dan pengarang yang tidak dapat dipercaya. Cerita yang dikisahkan olehnya diragukan dan secara keseluruhan atau sebagiannya palsu. Dalam cerita-ceritanya, in menggunakan nama-nama kota yang tidak pernah ada di dunia ini. Abdullah bin Saba adalah kebohongan utama dari cerita-ceritanya. Ia juga mengenalkan 150 sahabat nabi imajiner untuk meluaskan tokoh-tokvh ciptaannya, dengan memberi nama-nama yang aneh pada mereka yang tidak ditemukan di dokumen manapun. Selain itu, waktu kejadian yang diberikan pada riwayat Saif bertolak belakang dengan dokumen Hadis Sunni yang sahih. Saif juga menggunakan rangkaian perawi palsudan meriwayatkan banyak peristiwa-peristiwa ajaib (seperti sapi yangberbicara denganmanusia dan lain-lain).

Beberapa pendukung Saif berpendapat bahwa meskipun Sail Hi­anggap sebagai seorang perawi hadis yang lemah dan banyak udama hadis tidak mempercayai riwayatnya, hal tersebut hanya terdapat di wacano syariat, dan bukan di wacana sejarah.

Dengan pendapat tersebut, mereka ingin mendasarkan cerita ‘sejarah’ tentang seseorang yang dianggap pembohong dan zindiq. Apabila permasalahan tentang Saif hanyalah kurangnya ilmu syariat, kita dapat katakan bahwa ia dapat dipercaya dalam hal lainnya. Tetapi, persoalannya adalah Saif adalah seorang pembohong dan membuat banyak kepalsuan dengan mengarang kejadian dan merujuk hadis palsu pada perawi yang sahih. Oleh karenanya, orang seperti itu patut dipertanyakan untuk semua hal. Mengenai catatan sejarahnya, kita akan lihat pada bagian ke lima bahwa bahkan para sejarahwan Nasrani telah membenarkan ketidakkonsistenan antara riwayat sejarahnya dengan perawi-perawi yang benar lainnya. Di sini tidak perlu disebutkan pendapat Sunni dan Syi’ah tentang Saif yang ahli bid’ah.

Cerita Tentang Abdullah bin Saba Yang Tidak Memiliki Sanad Dari Perawi Manapun

Ada beberapa riwayat dari ulama Syi’ah dan Sunni yang mengambil beberapa bait tentang Abdullah bin Saba dari sejarahwan dan penulis budaya kuno, tetapi hal itu tidak memberi bukti apapun untuk pernyataan mereka. Mereka juga tidak memberikan isnad yang mendukung unhik riwayat mereka untuk diperiksa.

Contohnya, riwayat mereka dimulai dengan kalimat, “Beberapa cara, berkata demikian dan demikian…”, atau “beberapa ulama berkata ini dan itu..” tanpa menyebutkan nama ulama tersebut, dan dari mana mereka mendapatkan riwayat tersebut. Riwayat tersebut berdasarkanpada rumor yang dipropagandakan oleh Umayah yang dipropagandakan oleh Umayah (meniru karya Saif) yang sampai pada mereka, dan beberapa riwayat lain yang didasarkan pada kreativitas pengarang cerita. Hal ini disimpulkan ketika kami melihat penulis-penulis ini meriwayatkan beberapa legenda yang jelas-jelas palsu dan tidak masuk akal. Riwayat-riwayat ini diberikan oleh orang-orang yang menulis buku tentang al-Milal wa an-Nihal (cerita tentang peradaban dan kebudayaan) atau buku al-Firaq (perpecahan/aliran-aliran).

Di antara kaum Sunni yang menyebutkan nama Abdullah bin Saba dalam cerita mereka tanpa memberikan sumber klaim mereka adalah: Ali bin Isma’il Asyari (330) dalam bukunya yang berjudulMaqalat al-Islamiyyin (esai mengenai masyarakat Islam).

Abdul Qahir bin Thahir Baghdadi (429) dalam bukunya yang berjudul al-Farq Bain al-Firaq (perbedaan di antara aliran-aliran).

Muhammad bin Abdul Karim Syahrastani (548) dalam bukunya yang berjudul al-Milal wa an-Nihal (Negara dan Kebudayaan).

Perawi-perawi Sunni di atas, tidak memberi sumber atau sanadcerita mereka mengenai Abdullah bin Saba. Mereka saling berlomba untuk menambahjumlah aliran dalam Islam dengan nama-nama yang aneh seperti al-Kawusiyyah, at-Tayyarah, al-Mamturah, al-Gharabiyyah, al-Ma’lumiyyah, al-Majhuliyyah dan banyak lagi tanpa memberi sumber manapun atau referensi bagi klaim mereka. Karena hidup di abad pertengahan, para penulis ini beranggapan bahwa menulis kisah-kisah aneh dan merujukkan peristiwa yang tidak realistis kepada negara-negara Islam akan membuat mereka semakin terkenal daripada para pesaing lain dalam hal ini. Dan dengan demikian, mereka menyebabkan penyimpangan yang besar pada sejarah Islam dan telah berbuat kejahatan keji terhadap apa yang telah mereka rujukkan secara salah kepada negara-negara Islam.

Beberapa dari mereka menceritakan legenda yang tak masuk akal dan cerita fiksi yang kesalahannya mudah untuk dikenali saat ini, meskipun bagi mereka tidak mustahil untuk menyalahartikan cerita-cerita tersebut sebagai sejarah di masa itu. Contohnya, Syahrastani dalam bukunya al-Milal wa an­Nihal menyebutkan bahwa ada sekelompok makhluk setengah manusia bernama an-Nas dengan wajah separuh, satu mata, satu tangan, dan satu kaki. Umat Islam dapat berbicara kepada makhluk-makhluk ini dan bahkan bertukar puisi. Beberapa orang Islam bahkan sering memburu mereka dan memakannya. Makhluk-makhluk ini dapat melompat lebih cepat dari pada seekor kuda dan mereka adalah pemakan rumput. Syahrastani lebih jauh menyebutkan bahwa Mutawakil, Khalifah Abbasiah, memerintahkan para ilmuwan zaman itu untuk menyelidiki makhluk-makhluk ini.

Masyarakat pada zaman itu tidak memiliki peralatan modern yang dapat memudahkan mereka menemukan kesalahan cerita-cerita dan dongeng bohong ini, dan mungkin mereka lebih suka cerita yang lebih panjang dan aneh yang nampak menunjukkan kebenaran cerita tersebut, meskipun cerita tersebut tidak memiliki referensi.

Selain itu, berdasarkan telaah kronologis zaman ketika para penulis itu hidup, kita dapat menyimpulkan bahwa semua penulis itu hidup lama setelah zaman Saif bin Umar, dan bahkan setelah Thabari. Dengan demikian, sangat memungkinkan bahwa mereka semua mendapatkan cerita tentang Abdullah bin Saba dari Saif. Klaim ini menjadi lebih kuat ketika diteliti bahwa tidak ada satu orang pun dari mereka menyebutkan sumber riwayat mereka yang mungkin karena skandal Saif bin Umar dikenal oleh setiap orang saat itu dan mereka tidak ingin mendiskreditkan buku mereka dengan menyebutkan sumbernya. Selain itu, tidak ada dokumen manapun yang menuliskan tentang Abdullah bin Saba sebelum Saif. Para ulama atau sejarahwan yang hidup sebelum Saif bin Umar tidak pernah menyebut nama Abdullah bin Saba di buku-buku mereka. Hal ini menunjukkan bahwa apabila Ibnu Saba pernah ada, maka ia bukanlah seorang yang penting bagi mereka sebelum Saif membuatnya menjadi penting. Hal ini juga merupakan alasan lain untuk meyakini bahwa apa yang disebarluaskan seputar tokoh Abdullah bin Saba diawali oleh propaganda besar Saif bin Umar Tamimi.

Di antara perawi Syi’ah yang menyebutkan nama Abdullah bin Saba tanpa memberi keterangan mengenai sumbernya adalah dua sejarahwan berikut ini:

Sa’d bin Abdullah Asy’ari Qummi (301) dalam bukunya al-Mmlalul wal-Firaq menyebut sebuah riwayat di mana terdapat nama Abdullah bin Saba. Tetapi ia tidak menyebut sanadnya dan juga tidak menyebut dari siapa (atau dari buku mana) ia mendapat cerita tersebut dan apa sumbernya. Selain itu Asy’ari Qummi telah meriwayatkan banyak hadis dari sumber Sunni. Najasyi (450) dalam bukunya ar-Rijal berkata bahwa Asy’ari Qummi mengembara ke banyak tempat dan terkenal dengan hubungannya dengan sejarahwan Sunni dan banyak mendengar cerita dari mereka. la menulis banyak riwayat lemah dari apa yang ia dengar, salah satunya adalah cerita tentang Abdullah bin Saba, tanpa memberi referensi.

Hasan bin Musa Naubakhti (310), seorang sejarahwan Syi’ah yang menuliskan sebuah riwayat dalam bukunya al-Firaq tentang nama Abdullah bin Saba. Tetapi ia tidak pernah menyebut dari mana ia mendapat riwayat tersebut serta sumbernya.

Kedua orang ini merupakan orang Syi’ah yang memberi beberapa keterangan tentang keberadaan seorang lelaki terkutuk bernama Abdullah bin Saba pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Perhatikanlah bahwa semuanya meriwayatkan keterangan ini lama setelah zaman Saif bin Umar dan bahkan setelah Thabari menulis sejarahnya. Dengan demikian mereka mungkin mendapat informasi dari Saif atau orang yang mengutip darinya seperti Thabari. Hal ini menjadi lebih mungkin ketika kita lihat bahwa mereka menulis kalimat “Beberapa Qrang berkata demikian dan demikian…” tanpa memberi isnad atau nama ‘orang-orang’ tersebut.

Riwayat Mengenai Abdullah bin Saba yang Tidak Diriwayatkan Melalui Saif bin Umar

Kami harus menunjukkan bahwa meskipun ada kurang dari empat belas riwayat yang terdapat dalam koleksi hadis Syi’ah dan Sunni yang menyebut nama Abdullah bin Saba, dan disokong oleh rangkaian sanad, tetapi dalam sanad mereka nama Saif tidak muncul.

Di Syi`ah, Khusyi atau al-Kusysyi, juga disingkat dengan nama Kosli (369), menulis dalam bukunya berjudul Rijal pada tahun 340 mengenai Abdullah bin Saba. Dalam buku tersebut ia menyebut beberapa hadis yang dalamnya muncul nama Abdullah bin Saba dari Imam Ahlulbait yang dikutip di bawah ini. Sebagaimana yang akan kita lihat, hadis ini memberi gambaran yang sangat berbeda daripada hadis Yang disebutkan oleh Saif. Tetapi, telah terbukti bagi ulama Syi’ah bahwa buku Kusysyi (Kash) memiliki banyak kesalahan, terutama dalam namn dnn juga beberapa kesalahan pada kutipan-kutipan. labanyak meriwayatkan hadis dalam bukunya ar-Rijal, dan oleh karena itu, bukunya tidak dianggap sebagai sumber Syi’ah yang dapat dipercaya. Apalagi bahwa riwayat­riwayat Kusysyi (Kash) tidak ditemukan dalam empat kitab hadis utama Syi`ah. (untuk melihat penilaian kritis terhadap kesalahannya, lihatlah buku ar-Rijal karya Tustari dan Askari)

Ulama Syi`ah lain yang menyebut nama Abdullah bin Saba, Mali mengutip Kusysyi atau dua sejarahwan yang telah disebut di atas (Asy’ari Qummi dan Naubakhti yang tidak memberi sanad perawiatau sumbur untuk riwayat mereka). Di antara mereka yang mengutip Kusysyi adalah Syekh Thusi (460), Ahmad bin Thawus (673), Allamah Hilli (726), dan lain-lain.

Di Sunni, selain mereka yang mengutip dari Saif bin Umar yang namanya telah disebutkan sebelumnya, ada beberapa riwayat dari Ibnv Hajar Asqalani yang memberi informasi yang sangat sama dengan aha yang telah Kusysyi berikan.

Mengenai beberapa riwayat Sunni dan Syi’ ah, kami akan menyebutkan beberapa poin’berikut.

Cerita yang diberikan oleh hadis-hadis Sunni dan Syi’ah, sanga berbeda dengan riwayat yang disebarluaskan oleh Saif bin Umar. Hadis ini menyatakan bahwa ada seorang lelaki bernama Abdullah bin Saba yang muncul pada saat pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Lelaki ini menyatakan bahwa ia adalah seorang rasul dan Ali adalah tuhan, dan segera Ali memenjarakannya setelah mendengar berita tersebut dan memintanya untuk bertobat . la tidak melakukan apa yang diperintahkan “Ali sehingga Ali memerintahkan agar ia dibakar. Hadis – hadis ini membenarkan bahwa Ali dan para keturunannya mengutuk iorang ini dan menajauhkan diri mereka dari pernyataan ketuhanan tentang Ali bin Abi Thalib. Inilah cerita tersebut, dengan kondisi bahwa hadis-hadis ini pada awalnya sahih.

Beberapa hadis ini (kurang dari 14 hadis) tidak ada dalam kitab-kitab shahih manapun. Sebenarnya, tidak disebutkan nama Abdullah bin Saba dalam kumpulan (sihah) hadis shahih Sunni. Terlebih lagi, riwayat-riwayat ini tidak pernah dinyatakan sebagai riwayat yang shczhih baik oleh ulama Sunni atau Syi’ah, dan ada kemungkinan besar bahwa orang bernama Abdullah bin Saba tidak pernah ada, dan dia hanyalah karangan Saif Ibnu Umar, serupa dengan 150 saha’bat Nabi imajiner karan ;annya yang tidak pernah terdapat di riwayat yang shahih. Sekiranya Abdullah bin Saba pernah ada, Saif menggunakan tokoh ini dan merujukkan banyak peristiwa kepadanya karena tidak ada riwayat yang sama yang diriwayatkan oleh perawi Sunni lain. Tidak hanya itu, riwayat Saif sangat bertolak belakang dengan riwayat Sunni sebagaimana yang akan kami tunjukkan di bagian ini dan bagian selanjutnya. Karangan-karangan keji tentang peristiwa tersebut mudah untuk dikenali bahkan oleh ulama-ulama Sunni.

Sekarang, kami akan memberikan beberapa hadis ini yang tidak diriwayatkan oleh Saif. Riwayat ini dianggap berasal dari Abu Ja’far. la berkata, “Abdullah bin Saba sering menyatakan dirinya sebagai seorang rasul dan bahwa Amirul Mukminin, Ali, adalah Tuhan. Maha Tinggi Allah dari pernyataan seperti itu.”

Berita ini sampai pada Ali, lalu ia memanggilnya dan menanyainya. Tetapi Abdullah mengulang pernyataannya dan berkata, “Engkau adalah Dia (Tuhan), dan berita ini telah diturunkan kepadaku bahwa engkau adalah ‘Tuhan dan aku adalah seorang rasul.”

Kemudian Amirul Mukminin berkata, “Beraninya engkau berkata demikian. Setan telah mengolok-olokmu. Bertobatlah atas apa yang engkau katakan! Semoga ibumu menangisi kematianmu. Hentikanloh semua ini (pernyataanya)!” Tetapi Abdullah menolak, oleh karenanya Ali bin Abi Thalib memenjarakannya dan memintanya untuk bertobat, ia menolak. Kemudian ia dibakar dan berkata “Setan telah membawanya ke dalam khayalannya, ia sering datang kepadanya dan memasukkan pikiran seperti itu kepadanya ?”

Selain itu diriwayatkan bahwa Ali bin Husain berkata, “Semoga Allah mengutuk orang-orang yang telah berkata kebohongan tentang kami. Setiap kali aku menyebut Abdullah bin Saba , setiap kali pula rambut di tubuhku berdiri, Allah mengutuknya. Ali, atas izin Allah, adalah hamba-Nya, saudara Rasulullah SAW. la tidak mendapat kehormatan dari Allah kecuali karena ketundukannya kepada Allah dan ketaatannya kepada Rasul-Nya. Dan (hal yang sama) Rasulullah SAW tidak mendapat kehormatan dari Allah kecuali karena ketundukannya kepada-Nya.”3

Diriwayatkan bahwa Abu Abdillah berkata, “Kami adalah keluarga yang benar. Tetapi kami tidak terhindar dari seorang pendusta yang berkata kebohongan tentang kami untuk merendahkan kebenaran kami dengan kebohongannya di mata umat. Rasulullah SAW adalah orang yang paling benar di antara orang-orang dari semua yang ia katakan dan orang yang paling benar di antara umat; dan Musailamah sering berbohong tentangnya. Pemimpin orang-orang beriman adalah orang yang paling benar di antara ciptaan Allah setelah Rasulullah SAW, dan orang yang sering berkata kebohongan tentangnya, dan berusaha untuk merendahkan kebenarannya dan menyatakan kebohongan tentang Allah, adalah Abdullah bin Saba.”4

Selain itu, “Dia (Aba Abdullah, Ja’far Shadiq) mengatakan kepada sahabatnya tentang Abdullah bin Saba bahwa Abdullah bin Saha menyatakan bahwa, pemimpin orang-orang beriman, Ali bin Abi ‘I’lialih, adalah Tuhan. la berkata, “Ketika ia menyatakan demikian kepada Ali, Ali memintanya untuk bertobat tetapi ia menolak, oleh karrnanya Ali membakarnya.”5

Mengenai riwayat Sunni, beberapa riwayat dari Ibnu Hajar Asqalani memberi informasi yang sama dengan apa yang diberikan Kusysyi. Ibnu Hajar menyebutkan “Abdullah bin Saba adalah salah satu orang ekstrim (al-Ghulat), zindiq, dan orang sesat, yang membuat dirinya dibakar karena apa yang ia katakan tentang Ali.”6

Kemudian Ibnu Hajar melanjutkan, “Ibnu Asakir menyebut dalam sejarahnya bahwa Abdullah bin Saba berasal dari Yaman. laadalah orang Yahudi yang masuk Islam dan mengembara di kota-kota Islam dan mengajarkan mereka untuk tidak menaati pemimpin mereka, dan memasukkan pikiran-pikiran jahat kepada mereka. Kemudian ia masuk wilayah Damaskus untuk tujuan itu. Kemudian Ibnu Asakir menyebutkan sebuah cerita yang panjang dari buku al-Futuh karya Saif Ibnu Umar, yang tidak memiliki isnad yang benar.”7

Kemudian Ibnu Hajar memberikan sebuah hadis yang duasanadnya tidak ada. Pada catatan kaki ia mengatakan bahwa hadis ini telah digugurkan. Berikut ini hadisnya; Ali menaiki mimbar dan berkata, “Ada apa dengannya?” Orang-orang berkata, “la menyangkal Allah dan Rasul-Nya.”8

Pada hadis yang lain, Ibnu Hajar meriwayatkan, “Ali berkata kepada Abdullah bin Saba; ‘Aku telah diberi tahu bahwa akan ada tiga puluh pendusta (yang mengaku sebagai Nabi) dan engkau adalah salah satunya.”9

la juga menulis, “Abdullah bin Saba dan pengikutnya mengakui Ali sebagai Tuhan, dan tentu saja Ali membakar mereka ketika ia menjadi khalifah.”lo

Hadis-hadis Sunni berikut ini tidak dinyatakan sebagai hadis yang shahih juga. Semua hadis-hadis ini yang diriwayatkan oleh Syi’ah dan Sunni (selain Saif ), tidak melebihi empat belas hadis. Jumlah hadis-hadis ini bahkan berkurang jika dihilangkan pengulangannya. Beberapa hadis­-hadis Syi’ah berikut menyatakan bahwa:

Abdullah bin Saba muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, dan bukan pada masa pemerintahan Utsman sebagairnana yang diakui Saif.

Abdullah bin Saba tidak menyatakan bahwa Ali adalah penerus Nabi Muhammad SAW subagainiana yang dinyatakan Sail. lanuvnyalak.rir bahwa Ali adalah Tuhan.

Ali bin Abi Thalib membakarnya beserta para ekstrimis lainnya(al Ghulat). Di sini Saif tidak menyatakan hal seperti itu.

Tidak disebutkan tentang keberadaannya atau peranamya pada masa kekhalifahan Utsman. Tidak disebutkan tentang agitasinya terhadap Utsman yang berakhir pada pembunuhan Utsman sebagaimana yang Saif rujukkan kepada Abdullah bin Saba;

Tidak disebutkan tentang peranan Abdullah bin Saba di Perang Unta;

Hadis-hadis ini tidak menunjukkan bahwa sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang saleh mengikuti Abdullah bin Saba. Sedangkan Saif menyatakan bahwa pionir-pionir Islam yang setia seperti Abu Darr dan Ammar bin Yasir adalah murid dari Abdullah bin Saba ketika Utsman memerintah.

Sabaiah dan Beragam Tokoh Ibnu Saba

Sejak zaman pra-Islam, istilah Sabaiyah digunakan untuk menunjukkan orang-orang yang berhubungan dengan Saba putra Yashjub, putra Ya’rub, putra Qahtan, sama dengan Qahtaniyah, juga dikenal sebagai Yamaniyah menujukkan tempat asal mereka, Yaman.

Kelompok ini (Sabaiyah/Qahtaniyah/Yamaniyah) berbeda dengan AdaniyahNazariyah dan Mudhariyah, yang digunakan untuk menunjukkan orang yang berhubungan dengan Mudhar putra Nazar, putra Adnan, Hari putra-putra Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Ada beberapa sekutu untuk setiap suku yang berada di bawah lindungan suku tersebut, Hon kadang-kadang mereka disebut-sebut dengan nama suku tersebut.

Secara umum, akar bangsa Arab berasal dari salah satu dua suku utama ini. Ketika dua suku bergabung di Madinah untuk menciptakan sebuah masyarakat Islam pertama yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, orang – orang yang berhubungan dengan Qahtan dinamakan Anshar (para penolong) yang merupakan pendudukMadinah di saat itu, dan orang-orang dari Adnan beserta sekutu mereka yang berhijrah ke Mad inah, yang disebut Muhajirin.

Tokoh Abdullah bin Wahab Saba’i, pemimpin utama Khawarij (kelompok yang menentang Ali bin Abi Thalib ketika Ali menjadi khalifah, berasal dari suku pertama, Sabaiyah atau Qahtan. Karena pergesekan antara dua suku Adnan dan Qahtan semakin memanas di Madinah dan Kufah, para Adhani sering memanggil orang-orang dari suku Qahtan dengan sebutan Sabaiyah. Tetapi sebutan ini sangat bersifat sukuistis dan etnis hingga munculnya karya Saif bin Umar (dari suku Adnan) pada awal abad kedua, ketika Umayah memerintah, di Kufah. Saif memanfaatkan pergesekan suku ini dan menciptakanentitas agama mistis Sabaiyah berpemimpinkan Abdullah bin Saba.

Untuk memunculkan nama pendiri mazhab ini, Saif bin Umar mengubah nama Abdullah bin Wahab Saba menjadi Abdullah bin Saba seperti yang muncul di riwayat-riwayat Asyari, Sama’ani, dan Maqrizi, atau menciptakan cerita tersebut sekaligus namanya. Tetapi, tidak ada bukti kuat tentang keberadaan Abdullah bin Saba selama masa kekhalifahan Utsman dan Ali, kecuali Abdullah bin Wahab Saba’i yang merupakan pemimpin suku Khawarij.

Kita juga melihat bahwa istilah Saba’i dalam nama orang, yang berasal dari suku Qahtan, berakhir di Iraq, tempat asal mula cerita tersebut setelah masa itu. Penamaan tersebut berlanjut di sepanjang abad kedua dan ketiga di Yaman, Mesir, Spanyol, di mana sejumlah perawi hadis Sunni (termasuk beberapa perawi hadis dalam enam koleksi hadis Sunni) diberi nama Saba’i karena mereka memiliki keterkaitan dengan Saba bin Yashjub dan bukan dengan Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang menciptakan kekacauan menurut pernyataan Saif.

Setelah kitab sejarah Thabari dan kitab sejarah lainnya menyebarkon cerita ini di wilayah lain, nama Saba’i ada di mana-mana. Kemudian, sebutan dalam kitab-kitab sejarah tersebut digunakan untuk Menunjukkmn kelanjutan Abdullah bin Saba, meskipun mereka tidak pernah mellihat orangnya selain dari buku. Cerita tersebut berputar bertahun – tahun lamanya untuk memberikan cerita tentang tokoh ini dan keyakinannya. Pada saat yang sama, ketika Abdullah bin Saba merupakan Ibnu Sauda menurut pengarangnya (Saif). Kita melihat bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda yang hidup sekitar abad ke lima, beserta beragam versi cerita lainnya.” Kita dapat membatasi versi cerita tentang tokoh abad ke lima ini menjadi tiga tokoh berikut.

Abdullah bin Wahab Saba’i, pemimpin suku Khawarij yang menentang Ali.

Abdullah bin Saba yang mendirikan suku Saba’iyah yang meyakini bahwa Ali adalah tuhan. la dan pengikutnya dibakar tak lama setelah itu. Abdullah bin Saba, yang juga terkenal dengan nama Ibnu Sauda bagi mereka yang meriwayatkan dari Saif. la adalah pendiri kelompok yang meyakini kepemimpinan Ali, dan menghasut pengikut Utsman kemudian memulai perang Jamal.

Orang pertama, secara realitas memang ada, dan beberapa ahli hadis menghubungkan Abdullah bin Saba terhadap orang ini yang merupakan pemimpin suku Khawarij. Mengenai orang kedua, ada beberapa hadis yang disebut sebelumnya tetapi hadis-hadis tersebut dianggap tidak shahih oleh semua mazhab. Orang ketiga, adalah karangan Saif yang mungkin ia ciptakan berdasarkan cerita yang ia dengar tentang orang pertama dan orang kedua, lalu melekatkan ceritanya sendiri kepada mereka.

Ibnu Saba dan Syi’ah

Kita perlu membedakan antara ulama-ulama Sunni yang meriwayatkan cerita Abdullah bin Saba (baik dari Saif seperti Thabari atau yang lain seperti Ibnu Hajar) dan ulama-ulama Sunni gadungan yang tidak hanya meriwayatkannya tetapi juga menyatakan bahwa Syi’ah adalah pengiku tokoh fiksi ini. Telah terbukti bahwa ulama – ulama gadungan yang menyebutkan bahwa pendiri Syi’ah adalah Abdullah bin Saba bukanlah orang-orang Sunni. Mereka adalah pengikut sunnah keluarga Abu Sufyan dan Marwan.

Ketika ulama-ulama gadungan ini ingin membahas tentang Syi’ah,, mereka menggunakan istilah Saba’iyah untuk merendahkan ketaatan pengikut keluarga Nabi, terhadap Islam, dengan cara yang sama bahwa mereka merendahkan ketaatan sekelompok umat Islam yang terbunuh pada masa kekhalifahan Abu Bakar karena mereka mengikuti apa yang diperintahkan Rasulullah kepada mereka dalam menyebarkan zakat di kalangan orang miskin dan tidak memberikannya kepada Abu Bakar.

Para ulama gadungan ini, ketika berbicara tentang orang-orang ini, mereka mencampuradukkannya dengan masalah Musailamah yang menyatakan dirinya sebagai Nabi dan mengatasnamakan para syuhada ini padanya untuk membenarkan perbuatan mereka menumpahkan darah, menjarah kekayaan mereka dan merampas para wanita mereka. Tetapi Allah SWT akan memberi keputusan di antara mereka karena Dia­lah pemberi keputusan yang paling baik.

Pencampuradukkan antara kebohongan dan kebenaran seperti itu bukanlah suatu hal. yang baru bagi kita. Dalam mempersiapkan agenda mereka, mereka memanfaatkan orang-orang bodoh yang secara kebetulan beridentitaskan Islam dan yang melakukan kekezaman karena keangkaraan mereka. Selain itu, apabila mereka tidak dapat menemukan perbuatan bodoh dari umat Islam untuk menghiasi media di suatu periode, mereka membayar untuk menciptakan suatu peristiwa dan menghubungkannya kepada umat Islam, seperti halnya Saif bin Umar yang menciptakan sosok Abdullah bin Saba (dan mengarang sosok ini dengan mengambil namanya di tengah malam). Mereka melakukan hal ini untuk mencari alasan atas tuduhan palsu dan serangan mereka kepada seluruh umat Islam di dunia, sebagaimana halnya Saif dan pengikutnya melakukan hal yang sama pada keluarga Nabi Muhamrnad SAW.

Menurut para ulama Syi’ah dan Sunni, Saif bin Umar adalah salah satu orang yang memanipulasi kebenaran dan menciptakan hadis-hadis palsu berdasarkan kebenaran yang parsial. Meyakini bahwa Ibnu Sabo ada, bukan berarti meyakini cerita-cerita Saif yang berusaha mengkaitkan hal tersebut kepada Syi’ah. Faktanya adalah bahwa orang seperti Abdullah tidak bermanfaat tanpa adanya kisah yang menyebutkan namanya. Kisah-kisah palsu seputar tokoh-tokoh itu mungkin berbeda dengan keberadaan mereka yang sebenarnya. Orang seperti itu mungkin ada sedangkan kisah-kisah mengenainya mungkin tidak.

Sebuah Pandangan Mengenai Upara-upaya Saif

Artikel berikut serta artikel selanjutnya merupakan sebuah artikeI yang membicarakan tentang perbandingan antara cerita-cerita karangan Saif dan yang lain. Berikut ini sebuah pandangan mengenai cerita karp Saif bin Umar.

Saif dibayar untuk menuliskan beberapa cerita sebagai gambaran untuk pertentangan dan perseteruan yang terjadi pada awal sejarah Islam, dimulai ketika Rasulullah wafat pada 11-40 H. Cerita Saif hanya terpusal pada periode ini dan tidak pada periode selanjutnya.

Perseteruan pertama yang ia bicarakan berkaitan dengan pengutusan pasukan Usamah dan wafatnya Rasulullah. Empat hari sebelum wafatnya, Rasulullah memerintahkan seluruh kaum Anshar dan Muhajirin kecuali Ali untuk meninggalkan Madinah dan pergi menuju Suriah untuk berperang melawan pasukan Romawi. Tetapi para sahabat Nabi tidak patuh dan keberatan dengan kepemimpinan Usamah12 dan menun(H untuk bergabung dengan pasukan lalu akhirnya kembali ke Madinah, untuk melakukan perembukan tentang kepemimpinan setelah Rasul wafat. Saif menyatakan bahwa setelah Rasul wafat, ketika Abu Bakar mengutus pasukan Usamah, ia berkata kepada mereka, “Pergilah! Semoga Allah menghancurkanmu dengan membinasakanmu dan karena serangan musuh.”‘13

Padahal, perawi lain tidak pernah menyebutkan bahwa Abu Bakar mengeluarkan pernyataan seperti itu. Saif yang pendusta ingin emperolok-olok Islam dan menyenangkan penguasa saat itu.

Berikut ini mengenai Balairung Saqifah. Saif meriwayatkan bahwa Ali tengah berada di rumahnya tatkala ia diberitahu bahwa Abu Bakar telah menerima sumpah setia. Kemudian ia segera keluar sambil mengenakan pakaian tidurnya karena khawatir datag terlambat. Kemudian Ia memberi sumpah setia dan duduk bersama Abu Bakar lalu meminta agar seseorang membawa pakaiannya. Ketika (pakaian itu) sampai kepadanya, Ali mengenakannya dan duduk di kelompok Abu Bakar.14

Cerita yang menggelikan ini sangat bertentangan dengan riwayatShahih al-Bukhari di mana diriwayatkan bahwa Ali tidak memberikan sumpah setianya kepada Abu Bakar selama enam bulan pertama kepemimpinannya.15

Saif telah mengisahkan tujuh cerita tentang Saqifah, dan memasukkan tiga tokoh imajiner sebagai sahabat Nabi yang memainkan peranannya di Saqifah, yang nama-namanya tidak disebutkan di hadis manapun kecuali hadis-hadis yang diriwayatkan dari Saif sendiri. Mereka adalah Qa’qa, Mubasyir, dan Sakhr.

Legenda utamanya adalah cerita tentang Abdullah bin Saba, yang dengannya ia berusaha memecahkan pertanyaan-pertanyaan berikut; asal mula Syi’ah, persoalan pengasingan Abu Dzar, pembunuhan Utsman, dan Perang Jamal (Unta). .

Secara licik, Saif juga berusaha mengkait-kaitkan kisah Abdullah bin Saba dengan Syi’ah Ali yang menunjukkan bahwa ia tidak tahu banyak tentang Syi’ah. Apabila tidak, ia tidak akan mengarang keyakinan­keyakinan yang tidak dipegang oleh pengikut keluarga Rasulullah.

Pada bagian selanjutnya, kami akan menganalisa kisah bohong Abdullah bin Saba dibandingkan dengan riwayat Sunni lainnya.16

Analisa atas Kisah Fiktif Abdullah bin Saba

Setelah pembahasan di atas, kami akan menganalisa cerita fiksi Abdullah bin Saba yang diriwayatkan Saif, dibandingkan dengan riwayat Sunni lainnya. Pertama-tama, kami akan menjelaskan secara singkat karangan-karangan Saif bin Umar mengenai Abdullah bin Saba.

Saif menyatakan bahwa seorang Yahudi dari Yaman, bernama Abdullah bin Saba (juga bernama Ibnu Amutus Sauda, putra seorang budak kulit hitam), menyatakan keislamannya pada masa kekhalifahan Utsman. Ia secara sukarela bergabung dengan kaum Muslimin dan melakukan perjalanan di kota – kota dan desa mereka dari Damaskus, Kufah hingga Mesir, menyebarluaskan bahwa Muhammad akan dibangkitkan seperti Nabi Isa kepada umat Muslim. la juga menyatakan bahwa Ali adalah pengganti Nabi Muhammad dan kedudukan mulianya direbut oleh Utsman. la menghasut Abu Dzar dan Ammar bin Yasir untuk melakukan serangan kepada Utsman dan Muawiyah. lamemprovokasi kaum Muslim untuk membunuh Utsman karena ia telah merampas hak Ali. Saif juga menyatakan bahwa Ibnu Saba adalah kunci utama terjadinya perang unta. Mari kita bahas setiap peristiwa di atas satu per satu.

Bangkitnya Kembali Nabi Muhammad SAW

Saif menyatakan bahwa Abdullah bin Saba adalah orang yang mengarang gagasan bahwa Nabi Muhammad akan kembali lagi ke muka bumi sebelum Hari Perhitungan. Saif menuliskan bahwa Ibnu Saba berdasarkan karangannya berkenaan dengan kembalinya Nabi Isa berkata, “Apabila Nabi Isa akan kembali, Nabi Muhammad berarti juga akan kembali karena ia lebih utama dari pada Nabi Isa.” la menyatakan bahwa Ibnu Daba juga mengutip ayat berikut ini untuk mendukung pernyataanya, Sesungguhnya orang yang memberikan Quran kepada kalian, akan kembali. (QS. al-Qashash : 85)

Pernyataan Ibnu Saba yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad akan kembali merupakan pernyataan yang tidak masuk akal. Hal ini menunjukkan kebodohan Saif dan pengikutnya di sepanjang sejarah yang menyatakan hal demikian berulang-ulang. Mereka menyalahartikan sejarah Islam. Sekiranya orang-orang bayaran ini mempelajari sejarah Islam secara teliti, mereka pasti akan mengetahui bahwa orang pertama yang menyatakan gagasan tentang kembalinya Nabi Muhammad adalah Umar bin Khattab. Para sejarahwan Islam sepakat bahwa:

Umar berdiri di mesjid Nabi ketika Nabi wafat. la berkata, “Ada orang-orang munafik yang menyatakan bahwa Rasulullah telah wafat. Tentu Rasulullah tidak wafat, tetapi ia pergi menemui Tuhannya sebagaimana Musa, putra Imran, yang pergi menemui Tuhannya (untuk menerima perintah Ilahi). Demi Allah, Muhammad akan kembali scbagaimann halnya Musa.”17

Kita tidak dapat menyatakan bahwa Umar mendapatkan gagasan ini dari Abdullah bin Saba atau orang lain. Ibnu Saba tidak pernah ada pada masa itu bahkan dalam imajinasi Saif bin Umar Tamimi, yang mengarang cerita ini. Saif menulis bahwa Ibnu Saba datang ke Madinah dan masuk Islam pada periode Utsman, yang jarak waktunya sangat jauh dengan waktu ketika Rasul wafat. Dengan demikian, apabiIa umat Islam yang meyakini hal ini, lebih logis bila dikatakan bahwa sumber gagasan tersebut adalah ucapan khalifah kedua ketika Rasulullah wafat, dan bukan gagasan Ibnu Saba. Sejarah Sunni tidak mencatat pernyataan tersebut sebelum ucapan Umar ketika Rasul wafat.

Gagasan Mengenai Ali sebagai Pengganti Rasulullah

Saif lebih jauh menyatakan bahwa Ibnu Saba adalah orang yang menyebarkan gagasan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pengganti dan penerus Rasulullah. la mengatakan bahwa ada seribu rasul sebelum Muhammad, setiap rasul memiliki penerus, dan Ali adalah penerus Nabi Muhammad. Selain itu, Saif menyatakan bahwa Ibnu Saba berkata bahwa tiga khalifah yang akan berkuasa setelah Nabi adalah perampas kekuasaan Islam.

Saif dan pengikutnya lupa bahwa mereka menyebutkan dalam karya fiksi mereka bahwa Abdullah bin Saba datang ke Madinah dan memeluk Islam selama pemerintahan Utsman. Hal ini terjadi lama setelah Rasulullah wafat. Di sisi lain, sejarah Sunni membenarkan bahwa Rasulullah sendiri adalah orang yang menyatakan bahwa Ali adalah penerusnya sejak saat ‘misi pertamanya’ dimulai. Berikut ini hadis mengenai khutbah pertama Rasul.

Ali meriwayatkan, ketika ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat dekatmu’ diturunkan Rasulullah memanggilku dan berkata “ Ali sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku agarmemberi peringatan kepada keluarga terdekatku dan aku merasa kesulitan dengan tugas ini. Aku tahu bahwa ketika aku berhadapan dengan mereka membawa peringatan ini, aku tidak akan menyukai jawaban mereka.” Kemudian Rasulullah mengundang keluarga dari kaumnya untuk makan malam bersamanya dengan sedikit hidangan dan susu. Di sarta ada empat puluh orang. Setelah mereka makan, Rasulullah bersabda kepada mereka, “Wahai Bani Abdul Muththalib! Demi Allah, aku tidak tahu apakah ada seseorang dari bangsa Arab yang membawa sesuatu kepada umatnya lebih baik dari yang aku bawa untuk kalian. Aku membawa kebaikan dunia ini dan dunia akhirat. Allah memerintahkan kepadaku untuk mengajak kalian. Barangsiapa yang akan membantuku dalam misi ini ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, dan penerusku.”

Tidak seorangpun menerima ajakan Rasul, dan aku (Ali) berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan menjadi pembantumu.” Rasul memegang tengkukku dan berkata kepada mereka, “Ini adalah saudaraku, pewaris (washi), dan penerus (pemimpin) di antara kalian. Oleh karena itu, dengarkanlah dia dan taatilah dia!” Mereka tertawa sambil berkata kepada Abu Thalib, “Ia (Muhammad) memerintahkanmu untuk mendengar anakmu dan menaatinya.”18

Berikut ini kami ingin mengemukakan pertanyaan. Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah adalah orang yang memberinya kedudukan sebagai penggantinya, keluarganya, dan kepemimpinan. Saif bin Umar meriwayatkan bahwa gagasan tersebut berasal dari orang Yahudi bernama Abdullah bin Saba. Riwayat siapakah yang perlu dipercaya? Riwayat Ali ataukah Saif bin Umar? Riwayat Saif dianggap oleh para ulama Sunni terkemuka sebagai riwayat yang lemah, dusta, dan fitnah.

Tentu saja, kita tidak berharap ada orang Islam sejati manapun untuk memilih riwayat seorang pendusta seperti Saif bin Umar dan menyangkal riwayat Ali bin Abi Thalib, pemimpin orang-orang beriman, “saudara” Rasulullah. Rasulullah sering berkata kepada Ali, “Kedudukanmu bagiku seperti Harun bagi Musa, kecuali bahwa tidak ada Nabi setelahku”19

Dengan demikian, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW adalah sebagaimana Musa mengangkat Harun untuk mengurusi umatnya sebagai khalifah ketika ia pergi untuk menerima perintah dari Tuhannya, Nabi Muhammad juga mengangkat Ali untuk mengurusi semua persoalan Islam setelah ia wafat. Allah berfirman, …dan Musa berkata kepada saudaranya, Harun, “Ambillah tempatku di antara umatku!” (QS. al-A’raf : 142)

Perhatikanlah bahwa kata ukhlufni dan khalifah berasal dari akar kata yang sama.

Apakah para penulis bayaran yang berusaha menyebarkan kebencian di tengah umat Islam lupa bahwa ketika kembali dari haji perpisahan, dan di hadapan lebih dari seratus ribu jamaah haji di Ghadir Khum, Nabi Muhammad SAW mengumumkan, “Bukankah aku memiliki hak yang lebih besar atas orang-orang beriman daripada hak mereka sendiri?” Mereka berseru, “Benar, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah mengangkat lengan Ali dan berkata, “Barangsiapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya, Ali adalah pemimpinnya juga. Ya Allah, cintailah mereka yang mencintainya, bencilah mereka yang membencinya!”20

Tidak ada umat Islam manapun yang ragu bahwa Rasulullah adalah pemimpin semua umat Islam di dunia sepanjang masa. Dalam perkataannya, Rasulullah memberi kedudukan yang sama kepada Ali dengan kedudukannya, ketika ia berkata bahwa Ali adalah pemimpin setiap orang yang mengikuti Rasulullah.

Pernyataan yang diriwayatkan lebih dari seratus perawi dan sepuluh sahabat, lalu dianggap shahih dan mutawatir oleh para ulama Sunni terkemuka, tidak hanya menunjukkan bahwa Ali adalah pewaris Rasulullah, tetapi juga menunjukkan bahwa Ali menjadi pengganti kepemimpinan seluruh umat Islam setelah Rasulullah. Tetapi, orang-orang gadungan ini masih mengatakan bahwa keyakinan bahwa Ali adalah pewaris Rasulullah berasal dari seorang Yahudi yang masuk Islam ketika Utsman menjadi khalifah.

Abdullah bin Saba tidak memiliki peranan pada perseteruan yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah berkaitan dengan penerusnya dan semua pernyataan Syi’ah yang benar terbukti terjadi ketika Rasulwafat atau bahkan sebelum wafatnya Rasul, tetapi bukan terjadi selama Utsman memerintah, yang artinya terjadi lama setelah Rasul wafat. Baru saja Rasul wafat dan tak lama setelah itu, Syi’ah Ali, meliputi para sahabat yang setia seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar Ghifari, Miqdad, Salman Farisi, Ibnu Abbas, dan lain-lain, yang berkumpul di rumah Fathimah. Bahkan Thalhah dan Zubair yang setia kepada Ali pada awalnya juga bergabung dengan para sahabat lain di rumah Fathimah. Bukhari meriwayatkan bahwa Umar berkata, “Dan tidak diragukan bahwa setelah Rasul wafat, kami diberitahu bahwa kaum Anshar tidak setuju dertgan kami dan berkumpul di Balairung Bani Sa’da. Ali dan Zubair dan mereka yang bersamanya, menentang kami, sedangkan kaum muhajirin berkumpul bersama Abu Bakar.”21

Perawi hadis lairmya meriwayatkan bahwa pada hari Saqifah Umar berkata, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam beserta orang-orang yang bersama mereka memisahkan diri dari kami (dan berkumpul) di rumah Fathimah, putri Rasulullah.”22

Selain itu, mereka meminta sumpah setia, tetapi Ali dan Zubair pergi. Zubair menghunus pedang (dari sarungnya) sambil berkata, “Aku tidak akan menyarungkan pedang ini hingga sumpah setia diberikan kepada Ali.” Ketika berita ini sampai kepada Abu Bakar dan Umar, Umar berkat;), “Lempar ia dengan batu dan rampas pedangnya!” Diriwayatkan bahwa Umar bergegas (ke pintu rumah Fathimah) dan memaksa mereka keluar sambil berkata kepada mereka bahwa mereka harus memberikan sumpah setianya secara sukarela atau secara paksa.23

Tentu saja, di sini orang Yahudi tidak memiliki peran dalam perpecahan sahabat ke dalam dua kelompok tak lama setelah Rasul wafat, sejak ia tidak ada pada saat itu.

Penyerangan Terhadap Dua Orang Sahabat Setia Rasulullah dan Pengikut Mereka

Saif menyatakan bahwa Ibnu Saba adalah salah satu penyulut perpecahan sahabat Rasulullah, Abu Dzar dan Ammar bin Yasir, melawan Utsman. Ia berkata bahwa orang Yahudi ini menemui Abu Dzar di Damaskus dan bahwa ia mengenalkan ide pelarangan menyimpan emas dan perak. Saif menyebut juga sahabat-sahabat terkemuka lain dan pengikut mereka, di antara mereka yang disebutkan Ibnu Saba; Abu Dzar, Ammar bin Yasir, Muhammad bin Abu Bakar, Malik Asytar, dan banyak 1agi.

Untuk lebih memahami fitnah yang dibuat Saif beserta pernyataannya, mari kita melihat kembali biografi pemuka-pemuka Islam ini.

Abu Dzar Ghifari

Dia merupakan orang ketiga yang tertulis dalam empat pemuka Islam yang pertama memeluk Islam. la telah menjadi orang yang meyakini Allah sebelum masuk Islam. Secara terus terang ia menyatakan keimanannya kepada Islam di Mekkah di sisi Rumah Allah. Orang-orang kafir Mekkah memukulinya hingga hampir meninggal tetapi ia bertahan hidup, dan atas perintah Rasulullah, ia kembali ke sukunya. Setelah perang Badar dan Uhud, ia datang ke Madinah dan berada di sisi Rasulullah hingga wafatnya Rasul. Pada masa pemerintahan Khalifah pertama, Abu Dzar dikirim ke Damaskus. Di sana ia tidak setuju dengan Muawiyah. Kemudian Muawiyah mengeluh tentang Abu Dzar kepada Utsman, dan khalifah ketiga tersebut mengasingkan Abu Dzar ke Rabadhah, tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya. Rabadhah terkenal dengan iklimnya yang ganas.

Ammar bin Yasir

Ia dikenal juga dengan nama Abu Yaqzan. Ibunya adalah Sumayah. Dia beserta orangtuanya adalah pelopor yang memeluk Islam, dan ia adalah orang ke tujuh yang menyatakan keislamannya. Orangtuanya dibunuh setelah disiksa oleh orang-orang kafir Mekkah karena memeluk Islam. Tetapi Ammar berhasil melarikan diri ke Madinah. Ammar berperang di barisan pasukan Ali di perang Jamal dan kemudian di perang ShiHin di mana ia terbunuh oleh pasukan Muawiyah pada usianya yang ke 93 tahun.

Muhammad Ibnu Abu Bakar

Dia diangkat oleh Ali sebagai anaknya setelah ayahnya, Abu Bakar, wafat. Muhammad adalah salah satu pemimpin pasukan Ali di Perang Unta. la juga pemimpin pasukan di perang Shiffin. Ali mengangkatnya sebagai gubernur Mesir, dan ia menerima jabatan itu pada 15/9/37 11. Kemudian, Muawiyah mengirim pasukan di bawah Amru bin Ash kr Mesir pada tahun 38 H, yang menyerang dan menangkap Muhammad, kemudian membunuhnya. Tubuhnya dimasukkan ke perut keledai dan membakarnya dengan kejam.24

Malik Asytar Nakha’i

la bertemu Rasulullah dan merupakan salah satu murid sahabat yang setia. la adalah pemimpin di sukunya dan setelah salah satu matanya buta di Perang Yarmuk, ia dikenaI sebagai Asytar. Dia adalah jendral pasukan Ali di perang Shiffin dan terkenal oleh keberaniannya dan menyerang musuh Islam. Pada usia 38 tahun, ia diangkat Ali sebagai gubernur Mesir. Tetapi dalam perjalanannya ke Mesir, di dekat Laut Merah, ia wafat setelah meminum madu beracun yang telah direncanakan Muawiyah.

Biografi di atas hanyalah riwayat singkat beberapa pelopor umat Islam terkemuka. Disayangkan bahwa beberapa sejarahwan yang meriwayatkan hadis dari Saif, menyatakan bahwa mereka pengikut seorang Yahudi yang misterius. Orang-orang bayaran tidak segan-segan menyerang sahabat-sahabat Rasul yang terkenal itu. Mereka berkata bahwa Abu Dzar dan Ammar bin Yasir bertemu Ibnu Saba. Mereka terpengaruh oleh propagandanya, kemudian berbalik menentang Utsman. Tetapi, kita tidak boleh lupa bahwa fitnah yang mereka lancarkan kepada dua sahabat terkemuka tersebut secara tak langsung juga menyerang Rasulullah yang membuktikan kesucian dan keimanan mereka.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, Allah memerintahkanku untuk mencintai empat orang dan memberitahuku bahwa la mencintai mereka “ Para sahabat Rasul berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah mereka ?” Rasulullah menjawab,”Ali (Rasul menyebut namanya sebanyak tiga kali). Abu Dzar, Salman Farisi dan Miqdad. 25

Rasulullah juga berkata, “Setiap Rasul diberi Allah tujuh orang sahabat. Aku dianugerahi empat belas orang sahabat setia.” Rasulullah menyebutkan bahwa mereka adalah Ali, Hasan, Husain, Hamzah, Ja’far, Ammar bin Yasir, Abu Dzar, Miqdad, dan Salman.26

Selain itu, Tirmidzi, Ahmad, Hakim danbanyak lainnya meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Langit tidak akan memayungi dengan awannya, dan bumi tidak akan menopang dengan tanahnya seseorang yang lebih tegas dari pada Abu Dzar. la berjalan di muka bumi ini dengan sifat akhirati Nabi Isa, putra Maryam.27

Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-nya yang shahih meriwayatkan bahwa Ali berkata, “Aku tengah duduk di rumah Rasulullah dan Ammar ingin bertemu dengannya. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Selamat datang wahai orang yang saleh dan yang disucikan.”‘ Ibnu Majah juga meriwayatkan bahwa Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ketika Ammar diberi dua pilihan, ia selalu memilih satu yang paling baik.”

Masih banyak riwayat shahih lainnya yang dinyatakan Rasulullah mengenai Ammar, seperti bahwa Ammar dipenuhi oleh keimanan. Rasulullah juga berkata, “Sekelompok pemberontak akan membunuh Ammar.”28

Berikut ini, mari kita lihat siapa para pemberontak itu. Mari kita lihat Musnad Ahmad dan Tabaqat ibn Sa’d yang meriwayatkan bahwa di perang Shiffin, ketika kepala Ammar Yasir dipenggal dan dibawa ke hadapan Muawiyah, dua orang saling berdebat, saling menuduh bahwa dia lah yang telah membunuh Ammar.29 Selain itu, diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Surga sangat merindukan tiga orang; Ali, Ammar, dan Salman.”30

Tirmidzi meriwayatkan juga, bahwa ketika Rasulullah mendengar bahwa Ammar dan keluarganya disiksa di Mekkah, beliau berkata, “Wahai keluarga Yasir, bersabarlah! Tempat kembali kalian adalah surga.31

Dengan demikian, Ammar dan orangtuanya adalah orang-orang pertama yang disebut Rasulullah sebagai penghuni surga. Kita dapat mengatakan bahwa ketika seorang Muslim mengetahui bahwa Rasul telah mengangkat kedudukan dua orang sahabat besar (Abu Dzar dan Ammar bin Yasir) dengan begitu tinggi, dan apabila ia adalah seorang yang ; beriman kepada Nabi Muhammad, ia tidak akan menghina kedua sahabt ini. Penghinaan ini tentunya juga menghina Nabi Muhammad. Superti yang baru saja kita lihat, hadis-hadis shahih dalam koleksi Hadis Sunni menyatakan bahwa Nabi Muhammad berkata bahwa ia hanya memiliki empat atau empat belas sahabat setia, dari 1400 sahabatnya. Menariknya, Abu Dzar dan Ammar bin Yasir disebutkan di antara sahabat-sahabat yang jumlahnya sangat sedikit itu.

Kita mengetahui bahwa kebencian Saif bin Umar Tamimi, yang hidup pada abad kedua setelah Rasulullah wafat, dan kebencian para pengikutnya kepada Syi’ah, mendorong mereka menyebarkan propaganda seperti itu. Saif mengetahui bahwa menyebutkan pemberontakan terhadap Utsman adalah karya Ibnu Saba, bertolak belakang dengan fakta sejarah yang menunjukkan bahwa dua sahabat Rasul, yakni Abu Dzar dan Ammar, menentang kepemimpinan Utsman. Karena Saif mengetahui ketidaksetujuan mereka kepada Utsman, ia berusaha menjatuhkan nama baik mereka dengan menambahkan nama dua sahabat terkemuka Nabi itu ke dalam pengikut orang Yahudi yang tidak pernah ada.

Apabila Ibnu Saba ada, ia telah menyatakan keislamannya setelah Utsman terbunuh. Sekarang, andaikan kita menerima pernyataan Saif bahwa Abdullah bin Saba menyatakan keislamannya setelah Utsman memerintah, Abu Dzar dan Ammar bin Yasir, di pihak lain, telah menentn ng kekhalifahan Utsman sebelum ia menjadi khalifah. Dua sahabat tersebut adalah pengikut Ali bin Abi Thalib dan meyakini bahwa Ali diangkat Rasulullah menjadi penerusnya. Karena ini adalah keyakinan mereka sebelum Ibnu Saba muncul, kisah Saif bahwa mereka dipengaruhi oleh Ibnu Saba, tidak berdasar dan dusta.

Lalu, untuk membersihkan khalifah ketiga dari semua tuduhan berkenaan dengan ketidakmampuannya mengatur kas negara, Saif menuduh para pemberontak itu sebagai pengikut Ibnu Saba. Kemudian ia melengkapi kisahnya dengan menambahkan dua sahabat ke dalam daftar pengikut Ibnu Saba, secara sengaja mengabaikan fakta bahwa dua sahabat tersebut adalah murid-murid pertama Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah beberapa dari sahabat-sahabat terkemuka yang dihormati oleh Rasulullah SAW. Sebenarnya, Saif didorong oleh kisah-kisah bohong untuk menolak kesaksian Nabi Muhammad. Dengan ini, Saif telah menyangkal seluruh cerita.

Penyerangan terhadap Utsman

Saif menyatakan bahwa penyebab utama di balik penyerangan terhadap Utsman adalah Abdullah bin Saba. la menghasut umat Muslim dari berbagai kota dan propinsi seperti Bashrah, Kufah, Suriah, dan Mesir, untuk bergegas ke Madinah dan membunuh Utsman karena ia percaya bahwa Utsman telah merampas hak Ali. Saif juga menyatakan bahwa para sahabat seperti Thalhah dan Zubair yang ada di Madinah tidak menentang Utsman.

Sama halnya dengan pernyataan ini, pernyataan Saif bin Umar mengenai Abdullah bin Saba tidak pernah diriwayatkan oleh perawi manapun. Tidak ada catatan mengenai Ibnu Saba yang dapat dilacak mengenai penyerangan terhadap Utsman, kecuali melalui Saif. Sedangkan, sanad-sanad lain memiliki riwayat yang sangat bertolak belakang dengannya.

Sekiranya para pembaca sejarah Islam terbebas dari emosinya terhadap khalifah ketiga, para pembaca dapat mengetahui bahwa seruan untuk melakukan pemberontakan terhadap Utsman tidak dimulai di Bashrah, Kufah, Suriah, atau Mesir. Kelemahan Utsman menangani urusan negara menyebabkan banyak sahabat menentangnya. Hal ini tentu saja menyebabkan pergolakan kekuatan di kalangan para sahabat yang berpengaruh di Madinah. Beberapa sejarahwan Sunni seperti Thabari, Ibnu Atsir, dan Baladzuri serta banyak sahabat lainnya meriwayatkan hadis-hadis (yang diriwayatkan oleh selain Saif ) yang menegaskan bahwa penyerangan terhadap khalifah dimulai dari dalam Madinah oleh beberapa. sahabat penting. Mereka adalah orang yang pertama kali meminta para sahabat lainnya yang bermukim di kota – kota lain untuk bergabung menyerang Utsman bersama mereka. Ibnu Jarir Thabari meriwayatkan. :

Ketika orang – orang melihat apa yang dilakukan Utsman, para sahabat Nabi di Madinah menulis surah kepadasahabat lainnya yang terpencar di propinsi – propinsi lain, “Kalian telah berjuang di jalan Allah, demi agama Muhammad. Setelah kalian tiada, agama Muhammad telah dirusak dan ditinggalkan oleh akrena itu kembalilah tegakkan kembali agama Muhammad “ Lalu mereka berdatangan daris etiap pelosok hingga mereka membunuhKhalifah (Utsman).32

Sebenarnya Thabari mengutip paragraf di atas dari Muhammad bin Ishaq bin Yasar Madani yang merupakan sejarahwan Sunni terkemuka dan penulis buku Sirah Rasulullah. Sejarah (yang ditulis oleh selain Saif ) membuktikan bahwa orang-orang yang memiliki pengaruh ini merupakan kunci utama penyerangan terhadap Utsman, di antaranya; Thalhah, Zubair, Aisyah (ibu kaum mukminin), Abdurrahman bin Auf, dan Amru bin Ash.

ThalhahThalhah bin Ubaidillah adalah salah satu penghasut utama penyerangan terhadap Utsman dan yang merancang pembunuhan terhadapnya. Kemudian ia memanfaatkan kejadian tersebut untuk membalas dendam kepada Ali dengan memulai perang saudara yang pertama kali di sejarah Islam (Perang Unta). Berikut ini beberapa paragraf yang diambil dari Thabari dan Ibnu Atsir mengenai peristiwa tersebut. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (dalam beberapa naskah disebutkan berasal dari Ibnu Ayash):

Aku memasuki kediaman Utsman (ketika terjadi serangan terhadapnya) dan bercakap-cakap selama satu jam. la berkata, “Masuklah Ibnu Abbas/Ayash!” Kemudian ia menggandeng tanganku dan akti mendengar orang-orang berteriak-teriak di depan pintunya. Kami mendengar beberapa mereka berkata, “Apa yang kalian tunggu?” Sedang yang lain berkata, “Tunggu, mungkin ia akan bertobat!” Kami berdua berdiri dibelakang pintu sambil mendengarkan mereka. Thalhah bin Ubaidillah melintas dan berkata, “ Dimana Ibnu Udais ?” Seseorang menjawab, “ Ia ada disana.”” Ibnu Udais mendekati Thalhah dan membisikkan sesuatu kepadanya, kemudian kembali kepada kelompoknya dan berkata, “Jangan biarkan seorang pun masuk (ke rumah Utsman) untuk menemuinya atau meninggalkan rumahnya!” Utsman berkata kepadaku, “Itu adalah perintah Thalhah!” la melanjutkan, “Ya Allah, lindungilah aku dari Thalhah karena ia telah menghasut agar semua orang memerangiku! Demi Allah, aku berharap tidak akan terjadi sesuatu dan darahnya akan bersimbah. Thalhah telah menyiksaku tanpa hak. Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Darah seorang Muslim itu halal untuk tiga perkara; kekafiran, perzinahan, dan orang yang membunuh orang lain tanpa hak.’ Lalu apa alasannya sehingga aku harus dibunuh?”

Ibnu Abbas/Ayash melanjutkan, ‘Aku ingin pergi (dari rumah itu), tetapi mereka menghalangi jalanku hingga Muhammad bin Abi Bakar yang melintas meminta mereka untuk melepaskan aku. Dan mereka pun melepaskan aku.”33

Pernyataan Saif tidak berguna dibandingkan dengan riwayat lain yang sama dengan riwayat di atas. Riwayat di atas membuktikan bahwa Utsman sendiri mengetahui sahabat seperti Thalhah melakukan semua itu kepadanya, dan bukan Abdullah bin Saba. Apakah penulis bayaran ini menyatakan bahwa mereka lebih memahami situasi saat itu daripada khalifah Utsman, sedang mereka dilahirkan pada tahun-tahun setelah peristiwa tersebut? Riwayat berikut ini juga mendukung bahwa pembunuhan Utsman dipimpin oleh Thalhah, dan para pembunuhnya keluar untuk memberi tahu pemimpin mereka bahwa mereka telah membereskan Utsman.

Abzay menyatakan, ‘Aku menyaksikan saat-saat mereka masuk menyerang Utsman. Mereka masuk melalui sebuah pintu di kediaman Amar bin Hazm. Terdengar pertempuran kecil dan mereka masuk. Demi Allah, aku tidak lupa ketika Sudan bin Humran keluar dan ia berkata, ‘Di mana Thalhah Ibnu Ubaidillah? Kami telah membunuh Ibnu Affan!”‘34

Utsman dikepung di Madinah ketika Ali bin Abi Thalib berada di Khaibar. Ali tiba di Madinah dan melihat orang -orang berkerumun di rumah Thalhah.Kemudian Ali pergi menemui Utsman. Ibnu Atsir menulis :

Utsman berkata kepada Ali, “Engkau berhutang hak keislamanku dan hak persaudaraan serta kekerabatan. Sekiranya aku tidak memiliki Itak ini dan apabila aku berada di zaman jahiliyah, tidaklah pantas bagi keturunan Abdul Manaf (nenek moyang Ali dan Utsman) untuk membiarkan seorang lelaki dari bani Tyme merampas hak kita.” Ali berkata kepada Utsman, “Akan kuberitahu apa yang akan aku lakukan.” Kemudian Ali pergi ke rumah Thalhah. Di sana sudah berkumpul banyak orang. Ali berkata kepada Thalhah, “Thalhah, apa yang membuatmu melakukan hal ini?” Thalhah menjawab, “Wahai Abu Hasan! Semuanya sudah terlambat!”35

Thabari juga meriwayatkan percakapan berikut antara Ali dan Thalhah ketika terjadi pengepungan terhadap Utsman, Ali berkata kepada Thalhah: “Aku memintamu atas nama Allah untuk menghentikan orang-orang menyerang Utsman.” Thalhah menjawab, “Tidak, demi Allah, tidak hingga Bani Umayah itu secara sukarela menyerahkan diri.” (Utsman adalah pemimpin Bani Umayah)36

Thalhah bahkan menghentikan pasokan air kepada Utsman. Abdurrahman bin Aswad berkata, ‘ Aku melihat Ali menghindari (Utsman ) dan tidak berbuat seperti yang telah ia lakukan sebelumnya. Tetapi, aku tahu bahwa ia berbicara dengan Thalhah ketika Utsman dikepung, sehingga persediaan air tidak diberikan kepadanya. Ali sangat kecewo terhadap Thalhah mengenai hal itu hingga akhirnya air diberikan kepada Utsman.”37

Untuk mengetahui mengapa Ali bin Abi Thalib meninggalkan Utsman, perhatikan hadis pada akhir artikel ini.

Selain itu, para sejarahwan menegaskan bahwa mereka yangmerencanakan pembunuhan Utsman tidak mengizinkan jenazahnya dikubur di pemakaman muslim. Akhirnya ia dikubur di pekuburan orang Yahudi bernama Hasysy Kawkab, tanpa memandikannya dan tanpa mengkafaninya.38 Apabila orang – orang Yahudi itu tahu, mereka tidak akan mengizinkan Utsman dikubur di wilayah mereka. Setelah Muawiyah berkuasa, ia menggabungkan daerah perkuburan Yahudi hingga Baqi juga wilayah di antara keduanya.39

Aisyah

Thalhah bukan satu-satunya orang yang bergabung memerangi Utsman. Sejarah Sunni menyatakan bahwa sepupunya, Aisyah (ibu kaum mukminin) juga bekerja sama dan berkampanye memerangi Utsman. Paragraf berikut ini juga berasal dari sejarah Thabari menunjukkan kerja sama antara Aisyah dan Thalhah dalam menggulingkan Utsman.

Ketika Ibnu Abbas akan pergi ke Mekkah, ia melihat Aisyah di Sulsul (tujuh mil di selatan Madinah). Aisyah berkata, “Wahai Ibnu Abbas, aku mengajakmu karena Allah, untuk menyingkirkan orang ini (Utsman) dan sebarkanlah keraguan tentang orang ini kepada umat, karena engkau telah dikaruniai lidah yang fasih. (Dengan pengepungan terhadap Utsman) umat mengerti dan cahaya akan membimbing mereka. Aku melihat Thalhah telah memegang kunci harta Baitul Mal. Apabila ia menjadi Khalifah (setelah Utsman) ia akan mengikuti jalan yang ditempuh nenek moyang dari sepupu ayahnya, Abu Bakar.” Ibnu Abbas berkata, “Wahai Ibu (kaum mukminin), apabila sesuatu terjadi dengannya (Utsman), orang-orang akan mencari perlindungan hanya kepada sahabat kami (Ali).” Aisyah menjawab, “Diamlah! Aku tidak ingin berdebat denganmu.”40

Banyak sejarahwan Sunni meriwayatkan bahwa Aisyah pernah pergi menemui Utsman dan meminta bagian warisan dari Rasulullah (setelah bertahun-tahun berlalu sejak kematian Rasul). Utsman tidak memberi Aisyah uang sepeserpun sambil mengingatkannya bahwa ia adalah salah satu orang yang memberi kesaksian dan mendorong Abu Bakar untuk tidak memberi bagian warisan Fathimah. Lalu, apabila Fathimah tidak mendapat warisan, mengapa ia dapat? Aisyah menjadi sangat marah kepada Utsman, ia keluar sambil berkata, “Bunuh orang tua bodoh ini (Na’thal), karena ia telah kafir.”41

Seperti yang kita lihat, tokah-tokoh utama yang merancang penyerangan terhadap Utsman adalah orang-orang yang sangat berpengaruh, seperti Thalhah dan Aisyah. Riwayat-riwayat Sunni ini bertentangan dengan riwayat yang berasal dari Abdullah bin Saba, yang dibuat untuk menutupi orang-orang ini berabad-abad lamanya setelah peristiwa itu. Sejarahwan Sunni lainnya, Baladzuri, dalam kitab sejarahnya (Ansab al-Asyraf) berkata bahwa ketika situasi semakin genting, Utsman memerintahkan Marwan bin Hakam dan Abdurrahman bin Attab bin Usaid untuk mencoba membujuk Aisyah agar berhenti berkampanye menentangnya. Mereka menemui Aisyah ketika ia sedang bersiap-siap berangkat untuk menunaikan haji. Mereka berkata kepadanya:

“Kami berdoa agar engkau tinggal di Madinah, dan agar Allah menyelamatkan orang ini (Utsman) melalui engkau.” Aisyah berkata, “Aku telah bersiap-siap pergi dan berjanji akan berhaji. Demi Allah, aku tidak akan mengabulkan permintaanmu…Aku berharap Utsman ada dalam salah satu tasku sehingga aku dapat membawanya. Kemudian, aku akan melemparkannya ke laut!”42

Tentu saja, revolusi melawan Utsman ‘dimulai’ di Madinah, dan bukan di Bashrah, Kufah, atau Mesir. Orang-orang penting di Madinah adalah mereka yang pertama kali menulis surah kepada orang-orang yang berada di luar Madinah dan menghasut mereka untuk memerangi Utsman. Apabila kita mengatakan bahwa seorang Yahudi, bernama Ibnu Saba, adalah orang yang menghasut orang-orang untuk memberontak, hal ini tidak logis kecuali jika kita menerima bahwa ia adalah orang yang menghasut Aisyah, Thalhah, dan Zubair untuk memberontak. Tetapi orang-orang yang menyebutkan tentang Ibnu Saba dan, keterlibatannya, tidak memasukkan Aisyah dan orang-orang yang sederajat dengannya sebagai pengikut Ibnu Saba.

Peran Ibnu Saba, dalam revolusi menentang Utsman, juga dapat diterima apabila kita mengatakan bahwa Ibnu Saba adalah oranl; yong dapot membujuk khalifah Utsman untuk mengikuti jalan yangbertolak belakang dengan jalan dua khalifah pertama, dan bahwa dia adalah orang yang menasehati Utsman untuk memberikan harta Islam kepada kerabatnya dan menunjuk mereka menjadi gubernur-gubernur di wilayah-­wilayah Islam.

Cara Utsman menyelesaikan urusan negara Islam memberi Aisyah, Thalhah, dan Zubair serta yang lainnya alasan untuk memprovokasi umat Islam memerangi Utsman. Tetapi, mereka yang menyatakan bahwa revolusi terhadap Utsman dilakukan oleh Ibnu Saba, tidak menerima bahwa Ibnu Saba adalah orang yang menasehati Utsman untuk mengikuti jalan yang salah. Mereka benar, karena orang Yahudi tersebut tidak pernah ada kecuali dalam pikiran Saif bin Umar Tamimi dan orang-orang yang mengutip hadis darinya. Beberapa hadis (kurang dari 15 hadis, yang bahkan tidak ada di kitab shahih $unni ataupun kitab Syi’ah yang benar) berkaitan dengan Abdullah bin Saba diriwayatkan oleh orang-orang selain Saif, memberikan kisah yang sangat berbeda dengan dokumentasi Saif yang palsu yang disebarkan ke mana-mana. Hadis-hadis ini tidak menyebutkan adanya peran Ibnu Saba dalam revolusi memerangi Utsman.

Amru bin Ash

Mengherankan sekali bahwa keterlibatan revolusi terhadap Utsman dinyatakan berasal dari seorang Yahudi yang keberadaannya tidak terbukti kuat baik di Syi’ah ataupun Sunni. Tetapi para sejarahwan lupa peran penting yang dimainkan oleh orang terkemuka di sejarah Islam, Amru bin Ash. Ia lebih pintar dan lebih cerdas daripada orang Yahudi manapun yang pernah hidup di masa itu. Amru bin Ash memiliki semua alasan untuk berkonspirasi menentang Khalifah, dan ia memiliki semua kemampuan untuk mengajak sebagian besar masyarakat Madinah untuk menentangnya.

Amru bin Ash adalah salah satu penggerak paling berbahaya yang menentang Utsman. la adalah gubernur Mesir selama pemerintahan khalifah kedua. Tetapi, khalifah ketiga mencabut jabatannya dan menggantikannya dengan saudara angkatnya, Abdullah bin Sa’d bin Abu Syarh. Akibatnya, Amru menjadi sangat membenciUtsman. Ia kembali ke Madinah dan memulai kampanye menetang Utsman dengan menuduhnya banyak melakukan perbuatan menyimpang. Utsman menyalahkan Amru dan berkata kasarkepadanya. Hal ini membuat Amru semakin berang. la sering bertemu dengan Zubair dan Thalhah dan melakukan konspirasi menentangnya. lajuga sering menemui para jamaah haji dan memberitahukan kepada mereka tentang penyimpangan-­penyimpangan yang dilakukan Utsman. Menurut Thabari, ketika Utsman dikepung, Amru tinggal di kediaman Ajlan dan sering bertanya kepada orang-orang tentang keadaan Utsman.

Amru tidak beranjak dari tempat duduknya sebelum penunggang kuda yang kedua lewat. Amru memanggilnya, “Bagaimana keadaan Utsman?” “Lelaki itu berkata, “Ia telah terbunuh!” Amru kemudian berkata, “Aku adalah Abu Abdillah. Apabila aku menggaruk sebuail luka, aku akan merobeknya (artinya apabila aku menginginkan sesuatu, aku akan mendapatkannya). Aku telah memancing orang-orang agar menentangnya, bahkan para gembala di puncak pegunungan beserta kambing-kambingnya.” Kemudian Salamah bin Rauh berkata kepadanya, “Engkau, orang Quraisy, telah memutuskan ikatan yang kuat antara dirimu sendiri dan bangsa Arab. Mengapa engkau melakukan itu?” Amru menjawab, “Kami ingin mengambil kebenaran dari tempat kesalahan, dan menjadikan orang-orang memiliki kesamaan dalam kebenaran.”43

Para pemecah belah kaum Muslimin mengabaikan apa yang dikenal dalam sejarah Islam yang diriwayatkan oleh perawi-perawi Sunni terkemuka. Pemberontakan terhadap Utsman adalah akibat dari usaha­-usaha orang-orang terkenal di Madinah seperti Aisyah, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Amru bin Ash. Alih-alih menyebutkan pemberontakan tersebut dilakukan orang-orang yang menentang Utsman, para pemecah kaum Muslimin ini tidak mau menerima kebenaran ini atau menyebutkannya. Mereka menyebutkan bahwa pemberontakkan ini dilakukan oleh seorang Yahudi yang dibuat berdasarkan pada riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi, seorang laki – laki yang dianggap ulama Sunni terkemuka sebagai seorang pendustadan pembuat kebohongan. Mereka memilih untuk menerima riwayat Saif untuk menutupi khalifah, Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Bahkan yang mengejutkannya lagi, Aisyah, Thalhah, dan Zubair, serta Muawiyah bin Abu Sufyan memerangi Ali bin Abi Thalib dalam dua peperangan, yang belum pernah terjadi sebelumnya di sejarah Islam, tetapi tak seorangpun dari mereka menuduh para pengikut Ali bin Abi Thalib sebagai murid-­murid Ibnu Saba. Kitab sejarah Sunni dan hadis-hadis koleksi Sunni menyatakan dengan jelas bahwa Muawiyah memerintahkan seluruh Imam mesjid di segala penjuru Islam untuk mengutuk Ali bin Abi Thalib di setiap shalat Jum’at. Apabila sosok fiksi Ibnu Saba memiliki peran kecil dalam pemberontakan terhadap Utsman, Muawiyah pasti menjadikan hal ini sebagai topik utamanya dalam kampanye pemfitnahan terhadap Ali dan para pengikutnya. lapasti telah menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia bahwa orang-orang yang membunuh Utsman adalah murid-murid Abdullah bin Saba, dan bahwa mereka adalah orang-orang yang membuat Ali mendapatkan kekuasaan. Tetapi Muawiyah ataupun Aisyah tidak melakukan hal ini karena cerita-cerita buatan Saif bin Umar tentang Ibnu Saba muncul pada abad kedua setelah hijrah, lama setelah mereka meninggal.

Pembunuhan terhadap Utsman memberikan kambing hitam yang tepat bagi orang-orang yang berlomba-lomba ingin mendapat kekuasaan, sambil mengabdi di bawah pemerintahan Utsman. Mereka di antaranya adalah keluarganya, Bani Umayah seperti Muawiyah dan Marwan yang benar-benar mencari keuntungan dari keberadaan Utsman dan juga kematiannya. Kisah Ibnu Saba dalam hal ini berfungsi sebagai topeng bagi wajah-wajah yang haus kekuasaan, yang juga merupakan cara lain untuk menyerang Ali bin Abi Thalib dan pengikut-pengikut setianya.

Alasan di Balik Pemberontakan Terhadap Utsman

Khalifah ketiga, Utsman, diangkat umat sebagai pemimpin dengan syarat bahwa ia akan mengatur urusan negara Islam berdasarkan Kitab Allah dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ia harus mengikuti apa yang dilakukan Abu Bakar dan Umar, apabila tidak ada perintah dari Quran atau Rasul.

Telah diketahui secara luas bahwa dua khalifah pertama hidup dengan sederhana. Mereka tidak memberi keutamaan kepada anggota suku me reka atau menunjuk keluarga mereka untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Utsman, di pihak lain, memiliki pendapatsendiri. Ia hidup dalam kemewahan. la menunjuk anggota dari sukunya (Umayah) untuk menduduki posisi yang penting dan kuat dalam pemerintahan, dengan memberi keutamaan kepada mereka daripada umat Islam lainnya, tanpa melihat kepentingan mereka. Padahal, keluarganya ini tidak beriman. Mungkin Utsman mengira bahwa keutamaan yang ia berikan kepada keluarganya adalah mengikuti anjuran Kitab Allah untuk berbuat baik kepada sanak saudara. Cara Utsman menangani urusan pemerintahan ini membuat banyak para sahabat kecewa. Mereka melihatnya sebagai hal yang royal dan sangat berlebihan.

Para sahabat mengkritik khalifah karena isu-isu berikut ini.

Pengistimewaan keluarga dengan memakai uang negara; ia membawa pamannya, Hakam bin Abi As (putra Umayah, putra Abdussyams), ke Madinah setelah Nabi Muhammad mengasingkannya dari Madinah. Diriwayatkan bahwa Hakam sering bersembunyi dan mendengarkan percakapan Nabi Muhammad ketika ia berbicara secara rahasia kepada sahabat-sahabat utamanya, lalu menyebarkan apa yang ia dengar. Ia sering mengikuti dan memperolok-olok cara berjalan Nabi. Suatu waktu Nabi melihatnya ketika ia sedang meniru-niru jalannya dan berkata, “Selamanya ia akan seperti itu.” Segera Hakam menjadi seperti itu hingga ia meninggal. Diriwayatkan juga bahwa, suatu hari, ketika sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, Nabi Muhammad berkata, “Seorang lelaki yang telah dikutuk akan memasuki ruangan ini.” Tak lama setelah itu masuklah Hakam.44

Setelah membawanya ke Madinah, Utsman memberi pamannya uang sebanyak 300 ribu dirham.

la menjadikan Marwan bin Hakam, sebagai pembantu utamanya, dan penasehat tertingginya, dengan memberi kekuasaan yang sama dengan dirinya. Marwan menerima seperlima pendapatan dari Afrika Utara sebesar 500 ribu dinar. Tetapi ia tidak menyerahkan uang ini. Khalifah mengizinkannya untuk menyimpan uang ini. Jumlahnya sama dengan 10 juta dollar.

Ali bin Abi Thalib sering memperingatkan Utsman mengenai berbahayanya Marwan, tetapi hal itu sia-sia saja. Percakapan berikut antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman membuktikan kenyataan ini. Kejadian ini terjadi ketika Utsman diserang, lalu ia meminta bantuan Ali bin Abi Thalib. Utsman berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Engkau lihat kesulitan yang disebabkan oleh sekelompok orang yang tidak sepakat ketika mereka mendatangiku hari ini. Aku tahu engkau dihormati oleh umat dan mereka akan mendengarkanmu. Aku ingin agar engkau menemui mereka dan menyuruh mereka pergi agar tidak menggangguku. Aku tidak ingin mereka datang ke hadapanku karena hal itu akan menjadi tindakan yang hina bagiku. Biarlah yang lain mendengar hal ini juga.” Ali berkata, “Atas dasar apa aku harus mengusir mereka?” Utsman menjawab, “Atas dasar bahwa aku melaksanakan apa yang telah engkau anjurkan untuk aku lakukan dan yang menurutmu benar, dan aku tidak akan menyimpang dari anjuranmu.” Kemudian Ali bin Abi Thalib berkata, “Sesungguhnya telah sering aku memberitahumu, dan kita membahasnya secara panjang lebar. Semua ini adalah usaha Marwan bin Hakam, Sa’d bin Ash, Ibnu Amir, dan Muawiyah. Engkau lebih mendengarkan mereka dan mengabaikan aku.” Utsman berkata, “Kalau begitu aku akan mengabaikan mereka dan mendengarkanmu.;45

Kemudian Ali bin Abi Thalib berkata kepada mereka dan memintanya untuk pergi. Lalu banyak dari mereka pergi. Ali bin Abi Thalib kembali kepada Utsman dan menyatakan bahwa mereka telah pergi dan berkata, “Buatlah pernyataan sehingga orang-orang akan menyaksikan bahwa mereka telah mendengar darimu, dan Allah adalah saksi. Apakah engkau ingin bertobat kepada-Nya atau tidak?”

Kemudian Utsman keluar dan menyampaikan Khutbah dihadapan umat tentang keinginannya bertobat, ia berkata “Demi Allah, wahai umat! Apabila ada di antara kalian yang menyalahkan aku, ia tidak melakukan apapun yang tidak aku ketahui. Aku tidak melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui. Tetapi jiwaku telah menghidupkan harapan sia-sia dalam diriku dan berdusta padaku dan kebaikanku telah pergi dariku. …Aku memohon ampunan Allah atas apa yang telah aku lakukan dan aku kembali kepada-Nya. Lelaki sepertiku ingin sekali memohon ampunan-Nya.”

Kemudian mereka mengasihaninya, dan beberapa di antaranya menangis. Said bin Zaid berdiri di hadapannya dan berkata, “Wahai pemimpin kaum Muslimin, (sejak saat ini) tidak ada seorang pun yang datang kepadamu tanpa mendukungmu. Bertakwalah kepada Allah dalam jiwamu dan penuhilah janjimu!”

Ketika Utsman turun dari mimbar, ia melihat Marwan bin Hakam dan Sa’d bin Ash serta beberapa keluarga Umayah lainnya di rumahnya. Marwan berkata, “Haruskah aku berbicara kepada umat atau diam?” Istri Utsman berkata, “Diamlah engkau! Karena mereka akan membunuhnya karena dosa. Ia telah membuat pernyataan yang tidak dapat ia tarik kembali.” Kemudian Marwan berkata, “Apa urusannya denganmu?”

Marwan lalu berkata kepada Utsman, “Tetap dalam kesalahan sehingga engkau harus meminta ampunan Allah adalah lebih baik daripada bertobat karena engkau takut. Apabila engkau demikian, engkau bertobat tanpa mengakui kesalahan.” Utsman berkata, “Pergi dan bicaralah kepada mereka karena aku malu melakukan hal itu!”

Kemudian Marwan pergi menemui orang-orang dan berkata, “Mengapa kalian berkumpul di sini seperti perampok?…Kalian telah datang untuk merampas kekuasaan (kerajaan) kami. Pergilah! Demi Allah, apabila kalian berniat menyakiti kami, kalian akan menghadapi susuatu yang tidak kalian sukai dari kami, dan kalian tidak akan memuji akibat dari gagasan kalian. Kembalilah ke rumah-rumah kalian, karena demi Allah kami bukanlah orang yang harus kalian rampas hartanya!”

Orang-orang menyampaikan hal ini kepada Ali. Kemudian Ali mendatangi Utsman dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah membuuat puas Marwan (sekali lagi), tetapi ia hanya akan puas jika engkau menyimpang dari agamamu dan akalmu, seperti seekor unta membawa tandu yang dituntun semaunya. Demi Allah, Marwan tidak mengetahui apapun tentang agama dan jiwanya. Aku bersumpah demi Allah, menurutku, ia akan membawamu masuk dan tidak akan mengeluarkanmu kembali. Setelah pertemuan ini, aku tidak akan datang untuk mencacimu lagi. Engkau telah menghancurkan kehormatanmu sendiri dan merampas kekuasaanmu.”

Ketika Ali pergi, istri Utsman berkata kepadanya, “Aku mendengar apa yang Ali katakan kepadamu bahwa ia tidak akan kembali lagi kepadamu, dan engkau telah mengikuti kemauan Marwan lagi yang memandumu ke manapun ia kehendaki.” Utsman berkata, ‘Apa yang harus aku lakukan?” la menjawab, “Engkau harus takut kepada Allah, yang tidak memiliki sekutu, dan engkau harus taat mengikuti apa yang dilakukan dua pendahulumu (Abu Bakar dan Umar). Karena apabila engkau mengikuti Marwan, ia akan membunuhmu. Marwan memiliki martabat di kalangan umat, dan ia tidak membangkitkan wibawa atau rasa cinta. Umat telah meninggalkanmu karena keberadaan Marwan (di pemerintahanmu). Pergilah kepada Ali, percayalah kepada kejujuran dan keteguhannya. Ia memiliki hubungan saudara denganmu dan ia orang yang ditaati umat.” Kemudian Utsman mengirim seseorang untuk memanggil Ali tetapi Ali menolak datang dan berkata, “Aku katakan aku tidak akan kembali.”46

Ketika Utsman wafat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Demi Allah! Aku telah berusaha membelanya (Utsman) hingga aku dipenuhi rasa malu. Tetapi Marwan, Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As telah melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau saksikan. Ketika aku memberi nasehat yang sungguh-sungguh dan menganjurkan ia untuk mengusir mereka, ia menjadi curiga, sehingga terjadilah apa yang terjadi saat ini.”47

Marwan beserta keturunannya merupakan dasar dari beberapa tuduhan korupsi dan nepotisme yang paling serius yang dilakukan Utsman. Marwan, tentu saja, merampas kekhalifahan dan menaiki tahta pada tahun 64/684 dan merupakan nenek moyang raja-raja Umayah selanjutnya di Damaskus juga pemimpin Cordova hingga setelah tahun 756.

Khalifah Utsman mengangkat saudara angkatnya, Abdullah bin Sa’d, sebagai gubernur Mesir. Pada saat itu, Mesir merupakan propinsi terbesar di negara Islam. Ibnu Sa’d telah masuk Islam dan pindah dari Mekkah ke Madinah. Nabi Muhammad SAW memasukkannya sebagai pencatat wahyu. Tetapi, Ibnu Sa’d meninggalkan agamanya dan kembali ke Mekkah. la sering berkata, “Aku akan menurunkan ayat yang sama yang Allah turunkan kepada Muhammad.”

Ketika Mekkah ditaklukkan, Nabi Muhammad SAW menyuruh kaum Muslimin untuk membunuh Ibnu Sa’d. Ia harus dibunuh meskipun ia menalikan kain Kabah ke tubuhnya. Ibnu Sa’d bersembunyi di rumah Utsman. Ketika situasinya mereda, Utsman membawa Ibnu Sa’d ke hadapan Nabi Muhammad SAW dan memberitahunya bahwa ia memberikan perlindungan kepada Ibnu Sa’d. Nabi Muhammad tetap diam begitu lama, berharap ada salah satu orang yang hadir akan membunuh Ibnu Sa’d sebelum ia mengabulkan permintaan Utsman. Para sahabat tidak mengerti apa yang dimaksud dengan diamnya Nabi. Karena tidak ada seorangpun yang bergerak untuk membunuh Ibnu Sa’d, Nabi Muhammad mengabulkan permintaan Utsman.

Memberikan jabatan publik kepada keluarga; khalifah Utsman mengangkat Walid bin Aqabah (salah satu keluarga Umayah) sebagai gubernur Kufah setelah menurunkan gubernur sebelumnya, yaitu sahabat utama Rasulullah, Sa’d bin Abi Waqash. Sa’d adalah ahli memanah terkemuka yang memerangi musuh Islam di perang Uhud. ­Di sisi lain, tingkah laku Walid ketika Nabi masih hidup buruk. Quran merendahkannya dan menyebutnya sebagai orang yang menyimpang. Contohnya Nabi Muhammad SAW mengirim dia kepada Bani Mustalaq untuk mengumpulkan zakat mereka.walid melihat dari jauh Bani Mustalaq ini mendekat ke arahnya dengan mengendarai kuda, Ia menjadi takut karena ketegangan antara dia dan kaum ini sebelumnya. Ia kembali kepada Nabi Muhammad SAW dan memberitahu bahwa mereka ingin membunuhnya. Hal. ini tidak benar. Tetapi keterangan Walid ini membuat murka kaum Muslimin Madinah dan mereka ingin menyerang Bani Mustalaq. Pada saat itu turunlah ayat berikut, Hai orang-orang yang beriman, jika seorang yang menyimpang datang kepadamu membawa berita, buktikanlah kebenaran berita itu! Jika tidak engkau akan menghancurkan suatu umat tanpa kalian sengaja, kemudian kalian akan menyesal dengan perbuatan kalian yang tergesa-gesa itu.Walid masih terus menjalankan praktik hidup jahiliyahnya selama hidupnya. la selalu meminum arak dan banyak saksi menyatakan kepada khalifah bahwa mereka menyaksikan Walid sedang mabuk ketika memimpin shalat berjamaah. Berdasarkan kesaksian yang kuat, Walid dicambuk delapan puluh kali dan diturunkan dari jabatannya oleh khalifah Utsman. Khalifah diharapkan menggantikan orang ini dengan sahabat Rasulullah yang baik, tetapi ia malah menggantikan Walid dengan Said bin As, anggota keluarga Umayah yang lain.

Dialog berikut ini adalah dialog antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman, yang juga ditulis dalam kitab Tarikh ath-Thabari yang memberi pandangan yang lebih jelas tentang keadaan Utsman lama sebelum kematiannya.

Orang-orang berkumpul dan berbicara kepada Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ali pergi menemui Utsman dan berkata, “Orang-orang datang kepadaku dan mereka berbicara kepadaku tentangmu…Ingatlah Allah! Engkau tidak akan diberi penglihatan setelah engkau buta atau diberi ilmu setelah engkau berada dalam kebodohan. Sesungguhnya, jalan itu jelas dan nyata, dan.tanda-tanda agama yang benar sangat kokoh.”

“Ketahuilah, Utsman, bahwa hamba yang paling baik di mata Allah adalah pemimpin yang adil, orang yang telah diberi petunjuk, Han memberi petunjuk kepada umat, karena ia menjunjung tinggi sunnah yang benar dan menghancurkan sunnah-sunnah yang palsu. Demi Allah, segala sesuatunya itu jelas. Sunnah yang benar dan dipercaya berdiri dengan jelas begitu juga yang palsu. Pemimpin yang paling buruk dimata Allah adalah pemimpin yang Kejam, orang yang menyesatkan dirinya sendiri dan menyesatkan orang lain karena ia telah menghancurkan Sunnah yang benar dan membangkitkan sunnah palsu.

“Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Pada Hari Kebangkitan, pemimpin yang kejam akan digiring tanpa penolong dan tanpa pendamping, kemudian dilemparkan ke neraka dan ia akan mengelilingi neraka sebagaimana kincir berputar, lalu ia akan masuk ke neraka yang paling dalam.”‘

“Aku katakan kepadamu (Utsman), ingatlah kepada Allah! Ancaman dan pembalasan dari-Nya karena hukuman dari-Nya sangat pedih dan keras. Aku katakan kepadamu untuk berhati-hati jika tidak engkau akan menjadi pemimpin yang terbunuh dari umat ini. Sebenarnya dikatakan bahwa seorang pemimpin akan terbunuh dalam umatnya, perselisihan berdarah ini akan dibiarkan hingga hari kebangkitan (Imam Mahdi), dan persoalan ini tidak dapat diselesaikan. Perselisihan ini akan menjadikan umat terkotak-kotak, dan mereka tidak dapat melihat kebenaran karena begitu besarnya kesalahan. Mereka akan terlempar ke dalamnya seperti ombak dan mengembara dalam kebingungan.”

Kemudian Utsman menjawab, “Demi Allah! Aku mengetahui bahwa (orang-orang) akan mengatakan apa yang engkau katakan. Tetapi, apabila engkau berada di posisiku, aku tidak akan menyalahkanmu atau meninggalkanmu dalam kebingungan atau kehinaan atau juga bertindak tidak adil. Apabila aku memberikan kemewahan kepada keluargaku, dan mengangkat mereka sebagai gubernur, beberapa dari mereka adalah orang-orang yang telah Umar angkat sebagai gubernur. Aku bertanya kepadamu atas nama Allah, wahai Ali, apakah engkau tahu bahwa Mughirah bin Syu’bah tidak ada di sana?” Ali berkata, “Benar!” Kemudian Utsman melanjutkan, “Lalu mengapa engkau menyalahkanku karena mengangkatnya sebagai pemimpin semata – mata karena ia adalah keluargaku?” Kemudian Ali menjawab, “ Aku katakan kepadamu bahwa setiap orang yang diangkat oleh Umar, berada di bawah pengawasannya yang ketat dan Umar akan menginjak – injak. Apabila Umar mendengar satu kata tentangnya, ia akan mencambuknya dan menghukumnya dengan hukuman yang berat. Tetapi, engkau tidak melakukan hal itu. Engkau lemah dan lembek tehadap keluargamu!” Utsman berkata, “Mereka adalah keluargamu juga.” Ali menjawab, “Mereka memang sangat dekat denganku tetapi kebaikan berada di orang lain.” Utsman berkata lagi, “Tahukah engkau bahwa Umar adalah orang yang menempatkan Muawiyah di pemerintahannya selama ia berkuasa dan aku hanya melakukan hal yang sama.”

Kemudian Ali berkata, “Aku bertanya atas nama Allah, benarkah bahwa Muawiyah lebih takut kepada Umar daripada budak Umar, Yarfa, kepadanya?” Utsman menjawab, “Benar.” Ali melanjutkan, “Sekarang ini Muawiyah berani memutuskan banyak persoalan tanpa berkonsultasi kepadamu dan engkau mengetahuinya. Muawiyah menyatakan bahwa ini adalah perintah Utsman. Engkau sering mendengar hal ini, tetapi engkau tidak memarahinya.”

Kemudian Ali meninggalkan Utsman.

Utsman beranjak lalu menaiki mimbar dan berkata, “Demi Allah, kalian telah menyalahkanku atas hal-hal yang juga dilakukan Umar. Tetapi ia menginjakmu, memukul dan menaklukanmu dengan lidahnya, lalu kalian tunduk kepadanya baik kalian sukai atau tidak. Tetapi aku bersikap lunak terhadap kalian. Aku membiarkanmu menginjak pundakku sedang aku menahan tangan dan lidahku. Karenanya, kalian begitu kasar terhadapku. Demi Allah, aku memiliki jumlah kerabat yang lebih banyak, sekutu yang dekat, dan memiliki banyak pendukung. Aku telah mengangkat pengawas bagi kalian. Tetapi kalian telah menuduhkan sesuatu yang tidak sepantasnya. Tahanlah lidahmu dari memfitnah pemimpin-pemimpin kalian!…Demi Allah, aku telah mendapatkan tidak kurang dari pada pendahuluku atas semua yang tidak kalian sukai. Keuntungan dari kekayaan begitu banyak, laku mengapa aku tidak boleh melakukan sesuatu terhadap kelebihan itu sekehendak hatiku? Jika tidak, mengapa aku menjadi pemimpin?”48

Abdullah bin Saba : Orang yang Memulai Perang Unta?

Perang Unta (Jamal) melawan Ali bin Abi Thalib dinyatakan di Bashrah pada tahun 36/656 setelah umat mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin kaum Muslimin. Perang tersebut disebut Perang Unta karena salah satu pemimpin kelompok oposisi, Aisyah, mengendarai Unta. Para pemimpin lain di kalangan oposisi adalah Thalhah dan Zubair yang merupakan sahabat Rasulullah yang terkenal. Perang ini juga dikenal dalam sejarah sebagai perang Bashrah. Akibatnya adalah tertumpahnya darah lebih dari sepuluh ribu kaum Muslimin.

Para penyebar fitnah terhadap pengikut-pengikut keluarga Nabi mengutip hadis Saif yang menyatakan bahwa para pengikut Ibnu Saba memulai perang Bashrah pada malam hari sebelum perundingan antara Ali bin Abi Thalib dan ketiga penentangnya (Aisyah, Thalhah, dan Zubair) selesai. Mereka memulai perang pada malam hari dengan menyerang dua pasukan secara terus menerus agar kedua kelompok itu terjun ke dalam medan perang. Ibnu Saba ingin menjadikan kedua pasukan itu saling menuduh masing-masing pasukan sebagai pemulai perang. Hal ini akan menggagalkan usaha perdamaian yang ketentuannya adalah hukumam bagi para pembunuh Utsman.

Tuduhan ini bertentangan dengan banyak fakta sejarah seperti peristiwa berikut ini yang dicatat oleh sejarahwan dan ahli hadis Sunni.

Sha’bi (Amir bin Syarahil Sya’bi) meriwayatkan peristiwa berikut. Sayap kanan pasukan pemimpin kaum Muslimin (Ali bin Abi Thalib) menyerang sayap kiri pasukan Bashrah. Mereka saling menyerang dan orang – orang berlari ke Aisyah dan sebagian dari mereka adalah suku Dhubbah dan Azd. Perang dimulai setelah matahari terbit dan beranjut hingga siang hari. Suku Bashrah mengalahkan seorang lelaki itu berkata “ Bani Adz melarikan diri “. Ketika Bani Adz dikuasai oleh pasukan Ali mereka berseru “ Kami berasal dari agama Ali bin Abi Thalib.”49

Riwayat di atas ini memberi bukti bahwa peperangan tidak dimulai pada malam hari sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Saba. Riwayat ini menggugurkan semua konspirasi penyerangan kepada kedua pasukan pada malam hari.

Qatadah meriwayatkan peristiwa berikut. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, Zubair menyeruak ke muka mengendarai kudanya dengan persenjataan lengkap. Orang-orang berkata kepada Ali, “Dia Zubair!” Karena itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Zubair diharapkan dari dua orang itu lebih mengingat Allah, sekiranya ia diberi peringatkan.” Thalhah juga maju ke hadapan Ali. Ketika Ali berhadapan dengan mereka, ia berkata, “Sesungguhnya kalian telah menyiapkan persenjataan, kendaraan, dan pasukan. Apakah kalian telah menyiapkan alasan di Hari Perhitungan ketika kalian menemui Tuhan kalian? Bertakwalah kepada Allah dan janganlah menjadi seperti seorang wanita yang menguraikan hasil tenunannya setelah selesai menenunnya! Bukankah aku adalah saudara kalian dan kalian meyakini kesucian darahku? Apakah ada yang menjadikannya halal sehingga kalian berani menumpahkan darahku?” Thalhah berkata, “Kalian telah memfitnah umat untuk memerangi Utsman.”

Ali bin Abi Thalib menjawab dengan mengutip ayat Quran, Pada hari itu (Hari Pembalasan), Allah akan membalas mereka dengan balasan yang adil, dan mereka akan mengetahui hal itu, sesungguhnya Allah adalah saksi yang nyata. (QS. 24:25) Lalu Ali melanjutkan, “Thalhah, apakah engkau berperang untuk menuntut darah Utsman? Semoga Allah mengutuk mereka yang telah membunuh Utsman. Zubair, ingatkah ketika engkau sedang bersama Rasulullah dan melewati Bani Ghunam dan ia melihat kepadaku dan tersenyum? Aku tersenyum kepadanya dan engkau berkata kepadanya, Ali bin Abi Thalib selalu sombong.” Rasulullah bersabda kepadamu, “la tidak sombong, engkaulah yang akan memeranginya dengan tidak adil!”

Zubair berkata, “Demi Allah, hal ini benar. Sekiranya aku ingat akan peristiwa itu, aku tidak akan melakukan perjalanan ini.Demi Allah, aku tidak akan memerangimu.” Kemudian Zubair meninggalkan pasukan dan memberi tahu Aisyah dan putranya Abdullah bahwa ia bersumpah bahwa ia tidak akan pernah memerangi Ali. Putranyamenyarankan agar ia memerangi Ali dan membayar kifarah untuk sumpah yang telah ia langgar. Zubair setuju dan membayar kifarat dengan membebaskan budaknya Mak’hul.50

Peristiwa ini dengan jelas mengungkapkan kepada kita bahwa, Thalhah dan Zubair berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib sebelum perang dimulai, dan konfrontasi ini terjadi di siang hari, bukan di malam hari. Jika tidak, orang-orang tidak dapat melihat mereka atau mendengar percakapan di antara Ali dan penentangnya serta mengenal satu sama lain dari penutup kepala mereka.

Karena percakapan dan konfrontasi tersebut terjadi sebelum perang dimulai, jelaslah bahwa riwayat Saif mengenai perang yang dimulai pada malam hari dan tanpa diramalkan, merupakan sebuah kebohongan.

Dzahabi meriwayatkan, “Kami berada di tenda Ali bin Abi Thalib ketika terjadi Perang Unta. Saat itu Ali mengutus seseorang untuk menemui Thalhah agar ia berunding dengannya (sebelum perang dimulai). Thalhah maju ke depan dan Ali berkata kepadanya, “Aku ingatkan engkau atas nama Allah! Tidakkah engkau mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapn yang menganggap aku sebagai maulanya, Ali adalah juga maulanya. Ya Allah, cintailah orang-orang yang mencintainya, dan bencilah orang-orang yang membencinya!”‘ Thalhah menjawab, “Ya, aku mendengarnya.” Ali berkata, “Lalu mengapa engkau memerangiku?”51

Yahya bin Sa’id meriwayatkan, “Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang). Karena Marwan dan semua keluarga Uamayah mengenal Thalhah dan Zubair sebagai pembunuh Utsman, ia melepaskan panah kepadanya dan menyebabkannya terluka parah. Kemudian ia berkata kepada Aban, putra Utsman, “ Aku telah menyelamatkamu dari salah satui pembunuh ayahmu.” Thalhah dibawa ke sebuah rumah yang telah menjadi reruntuhan di Bashrah dan tewas di sana.52

Zuhri, seorang perawi Sunni penting lainnya yang terkenal karena kebenciannya kepada Ahlulbait, meriwayatkan percakapan Ali bin Abi Thalib dengan Zubair dan Thalhah sebelum perang.

Ali berkata, “Zubair, apakah engkau memerangiku untuk menuntut balas atas darah Utsman setelah engkau membunuhnya? Semoga Allah menimpakan akibat yang pedih yang tidak disukai setiap orang karena perbuatan orang-orang di antara kita kepada Utsman.” la melanjutkan, “Thalhah, engkau telah membawa istri Rasulullah (Aisyah) untuk memperalatnya demi perang dan menyembunyikan istrimu di rumahmu (di Madinah). Mengapa engkau tidak memberi sumpah setiamu kepadaku?” Thalhah berkata, “Aku memberimu sumpah setia sedang pedang ini masih di leherku.”

(Hingga saat itu, Ali berusaha mengajak mereka berdamai, dengan tidak memberi alasan kepada mereka). Ali berkata kepada pasukanya, “Siapa di antara kalian yang akan membawa Quran ini kepada mereka dan apabila ia kehilangan satu tangannya ia akan memegang Quran ini dengan tangannya yang lain…?” Seorang pemuda dari Kufah berseru, “Aku akan melakukannya.” Sekali lagi, Ali bin Abi Thalib masuk ke dalam pasukannya dan menawarkan misi tersebut kepada pasukannya. Hanya pemuda itu yang menjawab. Kemudian Ali berkata kepadanya, “Perlihatkan Quran ini kepada mereka dan katakan, inilah perantara kami dan kalian dari awal hingga akhir. Ingatlah Allah, selamatkan darah kami dan darah kalian!”

Ketika pemuda itu menyeru kepada mereka untuk kembali kepada Quran dan berserah diri kepada keputusannya, pasukan Bashrah menyerang dan membunuhnya. Saat itu, Ali bin Abi Thalib berkata kepada pas,ukannya, “Sekarang saatnya perang dibolehkan!” Perang Unta pun dimulai.53

Semua riwayat ini dan riwayat-riwayat lain yang serupa dengan jelas menunjukkan bahwa perang dimulai di siang hari, dan bukan di malam hari sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Umar. Perang tidak langsung berkobar karena kedua pasukan bertemu dan saling berunding sebelum perang dimulai. Jika konfrontasi antara Ali bin Abi Thalib dan Thalhah serta Zubair terjadi di malam hari, seruan terakhir Ali bin Abi Thalib tidak berguna karena kedua pasukan tidak dapat menyaksikan ataupun mendengarkan percakapan mereka. Selain itu konfrontasi antara pembawa Quran dan pasukan Bashrah tidak berguna. Pasukan-­pasukan yang saling berhadapan itu tidak dapat melihat Quran di tangan pemuda itu di malam hari.

Selain itu, pernyataan antara Ali dan tiga pemimpin pembangkang, menghukum orang-orang yang membunuh Utsman hanya akan logis jika ketiga pemimpin tersebut serius mencari hukuman bagi pembunuh tersebut. Tetapi ketiga pemimpin itu (Aisyah, Thalhah, dan Zubair) adalah pelopor yang menghasut orang-orang untuk membunuh Khalifah ketiga. Sebagaimana yang kita lihat pada hadis di atas, Ali bin Abi Thalib dengan jelas menyatakan bahwa Zubair adalah salah seorang yang membunuh Utsman.

Jika para pemberontak mengangkat Thalhah atau Zubair, dan bukan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, mereka akan memberi para pembunuh Utsman itu hadiah yang paling besar. Tentunya pemimpin-pemimpin ini tidak menuntut balas atas darah Utsman, karena mereka sendiri yang berada di balik semua itu. Mereka berpura-pura melakukan hal itu sebagai alat untuk menghancurkan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib berkata di Perang Unta, “Kebenaran dan kesalahan tidak akan dapat dikenali dengan kebaikan orang. Pahamilah dulu kebenaran itu, lalu kalian akan mengetahui siapa yang benar!”

Ringkasan Singkat Perbandingan Riwayat Tokoh Abdullah bin Saba

Kisah Abdullah bin Saba berdasarkan riwayat-riwayat yang diberikan Saif bin Umar dan mereka yang mengutip darinya.

Saif memberikan banyak sekali informasi dan sejumlah besar riwayat yang panjang dan bertele-tele serta berbeda.

Riwayat-riwayat ini dan riwayat lainnya ditolak karena ia dianggap sebagai penyebar kebohongan, pemfitnah, pendusta, danzindiq oleh ulama-ulama terkemuka:

- Abdullah bin Saba muncul ketika Khalifah Utsman memerintah;

- Ibnu Saba menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW akan kembali seperti halnya Nabi .Isa as, sebelum Hari Kiamat. la menyatakan bahwa Nabi Muhammad belum wafat;

- Abdullah bin Saba menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus Nabi Muhammad SAW;

- Ibnu Saba menyatakan bahwa Utsman harus digulingkan karena ia telah mengambil hak Ali. Ibnu Saba adalah penghasut utama dalam revolusi melawan Utsman. Hasutan ini tidak dimulai dari Madinah, dan Thalhah serta Zubair tidak menentang Utsman;

- Ibnu Saba memicu Perang Unta di malam hari agar kedua pasukan bertempur di medan perang;

- Beberapa pelopor Islam di antara nabi Muhammad seperti Abu Dzar dan Ammar bin Yasir adalah murid orang Yahudi ini.

Kisah Abdullah bin Saba berdasarkan riwayat-riwayat yangsanadnya bukan berasal dari Saif:

- Jumlah riwayat-riwayat ini memiliki rangkaian perawi kurang dari empat belas. Dan riwayat-riwayat ini sangat singkat menurut para ahli hadis yang bijaksana;

- Beberapa hadis ini tidak dinyatakan sebagai hadis yang shahih oleh ulama-ulama Sunni atau Syi’ah. Dengan demikian, keberadaan orang bernama Abdullah bin Saba masih dipertanyakan;

- Abdullah bin Saba muncul ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah;

- Tidak ada riwayat bin Saba tentang kembalinya Nabi Muhammad. Riwayat-riwayat Sunni lainnya menyatakan bahwa Umar lah yang pertama kali menyatakan tentang kembalinya Nabi Muhammad dan bahwa ia belum wafat; Abdullah bin Saba menyatakan bahwa ia adalah seorang nabi dan Ali adalah Tuhan;

- Tidak ada riwayat Ibnu Saba dalam hal ini. Riwayat-riwayat Sunni lainnya menyatakan bahwa Thalhah, Zubair, Aisyah, dan Amrn bin Ash adalah orang-orang yang memfitnah agar orang menentang Utsman. Mereka memulai kampanye di Madinah dan mengajak yang lainnya untuk bergabung dengan mereka.

- Tidak ada riwayat Ibnu Saba dalam hal ini. Teiapi beberapn riw,iy,a Sunni lainnya menyatakan bahwa perang dimulai setelah natali,rri terbit dan setelah percakapan antara Ali bin Abi Thalib dan pihak pemberontak selesai ketika dua pasukan saling berhadapan;

- Tidak ada riwayat tentang keterkaitan para sahabat Rasulullah ini dengan Abdullah bin Saba. Para ahli hadis Sunni lain menunjukkan bahwa Abu Dzar dan Ammar adalah dua di antara sahabat-sahabai utama Rasulullah dan yang paling dicintai Rasul.

Pendapat Para Ahli Sejarah

Kami telah memberikan pendapat dari lima belas ulama Sunni terkemuka tentang lemahnya riwayat Saif Ibnu Umar pada bagian pertama. Selain mereka, banyak sejarahwan Sunni juga menolak keberadaan Abdullah bin Saba dan/atau cerita-cerita bohongnya. Di antara mereka adalah Dr. Thaha Husain, yang telah menganalisis kisah ini dan menolaknya. la menulis dalam al-Fitnah al-Kubra bahwa:

Menurut saya, orang-orang yang berusaha membenarkan cerita Abdullah bin Saba telah melakukan kejahatan dalam sejarah dan merugikan diri mereka sendiri. Hal pertama yang diteliti adalah bahwa dalam koleksi hadis Sunni, nama Ibnu Saba tidak muncul ketika mereka membahas tentang pemberontakan terhadap Utsman. Ibnu Sa’d tidak menyebutkan nama Abdullah bin Saba ketika ia membicarakan tentang Khalifah Utsman dan pemberontakan terhadapnya. Juga, kitab Baladzuri, berjudul Ansab al-Asyraf, yang menurut saya merupakan buku paling penting dan paling lengkap membahas pemberontakan terhadap Utsman, nama Abdullah bin Saba tidak pernah disebutkan. Nampaknya, Thabari adalah orang pertama yang meriwayatkan cerita lbnu Saba dari Saif, lalu sejarahwan lain mengutip darinya.

Dalam buku lainnya berjudul Ali wa Banuh ia juga menyebutkan :

Cerita tentang Abbdullah bin Saba tidak lain adalah dongeng semata dan merupakan ciptaan beberapa sejarahwan karena cerita ini bertentangan dengan catatan sejarah lain. Kenyataanvyo adalahbahwa pergesekan antara Syi’ah dan Sunni memiliki banyak bentuk, dan masing-masing kelompok saling mengagungkan diri sendiri dan mencela dengan cara apapun yang mungkin dilakukan. Hal ini menjadikan seorang sejarahwan harus ekstra hati-hati ketika menganalisis riwayat kontroversial yang berkaitan dengan fitnah dan pemberontakan.

Pada bagian pertama, secara panjang lebar kami telah menyebutkan karya besar Allamah Askari yang diterbitkan tahun 1955. Sebelumnya, tidak ada penelitian analitis dilakukan terhadap tokoh Abdullah bin Saba untuk meneliti apakah secara fisik ia ada atau apakah cerita-cerita sekitarnya ini benar. Meskipun kebohongan Saif terkenal berabad-abad lamanya, tidak ada penelitian dilakukan mengenai asal mula cerita Abdullah bin Saba ini. Dalam penelitiannya, Askari membuktikan bahwa pernyataan Saif mengenai Abdullah bin Saba dan banyak hal lainnya adalah kebohongan semata karena semua itu bertentangan dengan isi dokumen-dokumen Sunni, terjadinya peristiwa, nama kota dan para sahabat, rangkaian perawi palsu, dan cerita-cerita tentang peristiwa menakjubkan (seperti sapi yang dapat berbicara dengan manusia dan lain-lain.). Apabila saat itu memang terdapat orang yang bernama Abdullah bin Saba, ceritanya pasti sangat berbeda dengan apa yang dibuat-buat Saif.

Berikut ini sebagian tanggapan seorang cendekiawan Sunni, Dr. Hamid Dawud, Profesor Universitas Kairo, setelah ia membaca buku Askari.

Ulang tahun Islam yang ke 1300 tahun telah dirayakan. Pada saat ini, beberapa penulis terpelajar kami menuduh Syi’ah sebagai paham yang memiliki pandangan yang tidak Ialami. Para penulis ini mempengaruhi pendapat masyarakat terhadap Syi’ah dan menciptakan jurang pemisah yang lebar di antara kaum Muslimin. Meskipun bijaksana dan terpelajar, musuh-musuh Syi’ah meng­ikuti keyakinan yang mereka pilih sendiri, dan secara sepihak menutupi kebenaran, serta menuduh Syi’ah sebagai agama khayal. Ilmu pengetahuan Islam banyak dirugikan, karena pandangan­pandangan Syi’ah ditindas.

Akibat tuduhan ini,kerugian yang diderita ilmu pengetahuan Islam lebih besar daripada yang diderita oleh Syi’ah sendiri, karena sumber fiqih ini, meskipun sangat kaya dan berlimpah, cenderung diabaikan, mengakibatkan terbatasnya ilmu pengetahuan. Selain itu, di masa lalu para cendekiawan dicurigai. Jika tidak, kita akan mendapat banyak manfaat dari pandangan-pandangan Syi’ah itti. Siapa saja yang berniat melakukan penelitian dalam fiqih Islam, ia harus menganggap Syi’ah sebagai sumber ilmu sebagaimana halnya Sunni. Bukankah pemimpin Syi’ah, Imam Jafar Shadiq (148 H), adalah guru dua orang Imam besar Sunni? Mereka adalah Abu Hanifah Nu’man (150 H), dan Malik bin Anas (179 H). Imam Abu Hanifah berkata, “Selain dua tahun, Nu’man akan kelaparan.” Artinya selama dua tahun ia mendapat keuntungan dari ilmu Imam Jafar Shadiq. Imam Malik juga mengakui secara terus terang bahwa ia belum pernah mendapati orang yang lebih terpelajar dalam fiqih Islam selain Imam Jafar Shadiq.

Sayangnya, beberapa orang yang menyebut dirinya terpelajar, tidak menghargai aturan penelitian ini untuk memuaskan tujuan mereka. Bagaimanapun, ilmu tidak sepenuhnya tertutup bagi mereka sehingga mereka menciptakan jurang pemisah di antara kaum Muslimin. Ahmad Amin adalah salah satu orang yang meninggalkan cahaya ilmu, dan tetap berada dalam kegelapan. Sejarah mencatat noda ini pada Ahmad Amin dan teman-temannya, yang secara membuta mengikuti hanya satu mazhab khusus. Banyak kesalahan dibuat olehnya, salah satu yang paling besar diceritakan dalam kisah Abdullah bin Saba. Ini adalah salah satu cerita yang dikisahkan untuk menuduh Syi’ah sebagai pemfitnah dan cerita-cerita lama.

Askari, peneliti besar kontemporer dalam bukunya telah membuktikan dengan memberikan buti-bukti yang kokoh, bahwa Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif, dan merupakan kebohongan besar bahwa ia adalah pendiri mazhab Syi’ah.

Allah telah menetapkan bahwa beberapa cendekiawnn telah menghijab kebenaran tanpa menghiraukan kesalahan yang mungkin ditimpakan kepada mereka. Pelopor dalam masalah ini adalah lelaki ini yang telah menjadi peneliti terpelajar Sunni merevisi kitab sejarah Thabari (Sejarah Bangsa dan Raja-raja), dan menyaring kisah-kisah yang benar dari yang salah. Kisah-kisah yang dilindungi sebagai wahyu Allah.

Para penulis yang mulia, dengan mengetengahkan banyak bukti, telah menyingkapkan tirai atau ambiguitas dari peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut dan mengungkapkan kebenaran, sedemikian rupa sehingga beberapa fakta nampak mengejutkan. Tetapi kita harus mengikuti kebenaran betapapun sulitnya kebenaran itu. Kebenaran adalah hal terbaik yang harus kita ikuti.54

Kita baru saja mendengar pernyataan dari seorang Muslim Sunni. Sekarang kita lihat apa yang dinyatakan kelompok ketiga mengenai Saif dan tokoh rekaannya, Abdullah bin Saba. Berikut ini adalah kutipan komentar Dr. R. Stephen Humpherys, dari Universitas Wisconsin, Madison, penerjemah bahasa Inggris jilid ke-15 KitabTarikh at-Thabari dalam kata pengantar jilid 15 kitab tersebut.

Mengenai peristiwa di Iraq dan di Arab (kunci utama krisis yang terjadi pada kekhalifahan Utsman), Thabari sepenuhnya mengambil sumber dari Muhammad bin Umar Waqidi (tahun 823) dan Saif bin Umar yang misterius. Kedua sumber ini menyebabkan masalah besar. Sebenarnya, sumber dari Saif bin Umar lah yang menimbulkan masalah besar.

Thabari memperlihatkan rasa suka yang unik kepadanya, dalam dua makna. Pertama, Saif adalah sumber terbesar yang digunakan Thabari sepanjang periode dari Perang Riddah hingga Perang Shiffin (11-37 H). Kedua, tidak ada ulama lain yang menggunakan sumber dari Saif. Tidak ada cara yang gamblang untuk menjelaskan rasa suka Thabari kepada Saif. Tentunya tidak dijelaskan dengan ciri­-ciri pernyataan Saif secara formal, karena ia bergantung pada para informan yang biasanya tidak jelas dan acapkali sangat baru. Hal yang sama, ia menggunakan riwayat kolektif, yang bercampur aduk dengan cara yang tidak spesifik sumber-sumber banyak perawinya. Saya beranggapan bahwa Saif menjadikan Thabari tertarik karena dua alasan. Pertama, Saif mengetengahkan penafsiran ‘Sekolah Minggu’ kekhalifahan Utsman. Dalam pernyataannya, seseorang dapat melihat kesatuan dan keselarasan yang besar dalam masyarakat Islam, sebuah kesatuan dan keselarasan yang ditegakkan dengan kesetiaan penuh kepada kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak mungkin orang-orang seperti yang digambarkan Saif tergoda oleh ambisi dan keserakahan dunia. Sebaliknya, dalam pernyataan Saif, sebagian besar konflik-konflik tersebut dibuat-buat, cerminan penyalahartian yang keji oleh penafsir-penafsir selanjutnya. Ketika benar-benar ada konflik di antara umat Islam yang beriman, mereka dihasut oleh orang luar seperti Abdullah bin Saba, seorang Yahudi dari Yaman yang memeluk Islam.

Di sini, sedikitnya, versi peristiwa yang ditulis Saif jelas-jelas sangat sederhana, dan tidak diragukan lagi jika Thabari menerimanya sejelas yang kita terima. Meskipun demikian, kisah tersebut sangat berguna bagi Thabari, yakni bahwa dengan membuat riwayat Saif sebagai kerangka pernyataannya yang jelas, ia dapat memasukkan sedikit banyak penafsiran yang berlebihan dari sejarah Islam awal yang diberikan sumber-sumber Thabari lainnya. Pembaca yang baik akan menolak kesaksian orang-orang yang tidak sependapat ini sebagai hal yang tidak relevan, dan hanya sedikit pembaca yang kritis yang akan mengenali hal ini dan mencari isu-isu yang diangkat oleh sumber yang tidak penting seperti itu. Dengan cara ini, Thabari menyatakan apa yang harus disampaikan ketika menghindari tuduhan sektarianisme. Tuduhan jenis ini tentunya bukan hal kecil memandang ketegangan agama dan sosial yang besar di Baghdad selama akhir abad ke-9 dan awal abad ke-10.55

Selain itu, dalam kata pengantar jilid 11 versi bahasa Inggris Tarikh at-Thabari, penerjemahnya menuliskan bahwa,

Meskipun, Thabari mengutip sumbernya dengan teliti dan dapat dilihat seringnya mengutip mereka hampir secara harfiah, sumber­-sumber itu sendiri dapat dilacak hingga ke zaman awal dalam koleksi sejarah Islam, yang diberikan oleh penulis Ibnu Ishaq (151/ 767), Ibnu Kalbi (204/819), Waqidi (207/822), dan Saif bin Umar (170/786). Dari ketiga orang pertama yang disebutkan ini, yang semuanya disebutkan dalam jilid ini, ada karya-karya yang masih tersisa yang membuat kita dapat menilai kecendrungan mereka hingga hal – hal tertentu, juga membuktikan digunakannya sumber – sumber mereka sendiri. Untuk mengukur nilai transmisi hadis mereka, pembaca dianjurkan membaca artikel dalam Ensiklopedia Islam atau literatur-literatur lainnya.

Penulis ke empat inilah yang banyak dicuplik oleh Thabari, Saif bin Umar, yang banyak dibahas di sini. Karena karyanya hanya ada dalam transmisi Thabari dan orang-orang yang mencuplik darinya serta tidak ditemukan di hadis manapun yang independen, sayangnya ia terabaikan dalam kritik modern. Namun demikian, riwayat-riwayat Saif yang panjanglah yang mengisi sebagian besar halaman ini dan jilid-jilid lainnya. Penilaian sejarah terhadap jilid ini bergantung pada sejauh mana penilaian kita terhadap riwayat­riwayat asli Saif dan riwayat-riwayat yang digunakan Thabari, dan kepada persoalan inilah kita harus mengalihkan perhatian kita.

Abu Abdillah Saif bin Umar Usaidi Tamimi adalah seorang ahli hadis dari Kufah yang wafat pada masa pemerintahan Harun Rasyid (170-193/786-809). Selain kemungkinan bahwa ia dituduh zindik dalam inkuisisi yang dimulai di bawah kepemimpinan Mahdi pada tahun 166/783 dan berlanjut hingga kepemimpinan Rasyid, tidak banyak diketahui tentang kehidupannya, kecuali apa yang diputuskan dari hadisnya.56

Karena ia dinyatakan telah meriwayatkan hadis dari sedikitnya sembilan ahli hadis yang meninggal pada tahun 140-146/757­763, dan bahkan dari dua orang ahli hadis yang meninggal pada tahun 126-128/744-746, ia lebih tua ketika ia meninggal. Hal ini kemungkinan bahwa Abu Mikhnaf, yang meninggal lebih awal dari pada Saif pada tahun 157/774, mengutip darinya. Karya Saif sebenarnya dicatat di dua buku yang sekarang sudah tidak ada tetapi masih ada selama beberapa abad setelah hidup Saif. Mereka melakukan pengaruh yang sangat besar terhadap tradisi sejarah Islam terutama karena Thabari memilih untuk mendasarkan sebagian besar hadisnya pada buku-buku itu untuk peristiwa pada tahun 11-36/632-656, masa yang meliputi pemerintahan tiga khalifah pertama dan awal ditaklukannya Iraq, Suriah, Mesir, dan Iran. Meskipun Thabari juga mengutip sumber-sumber lain dalam jilid ini, yang paling banyak adalah berasal dari Saif. Sebenarnya, mungkin juga, walaupun tidak pastibahwa ia telah mereproduksi sebagian besar karya saif. Saif jarang dikutip oleh penulis – penulis lain selain Thabari.

Umumnya, penjelasan Saif mengenai penaklukan-penaklukan yang diriwayatkan dalam jilid ini dan jilid-jilid Thabari lainnya, menitikberatkan pada heroisme pejuang-pejuang Islam, kesulitan yang mereka hadapi, dan kekuatan musuh-musuh mereka, gambaran yang nampaknya menakjubkan dan juga ditemukan di kisah-kisah penaklukan lainnya selain dari Saif. Tetapi pernyataan Saif berbeda sedemikian rupa sehingga ia memasukkan hadis-hadis yang tidak ada di hadis manapun, seringkali juga meriwayatkannya dari perawi-perawi yang tidak dikenal.

Pernyataan yang unik ini seringkali mengandung motif-motif yang luar biasa dan dongeng yang ceritanya lebih lebar daripada yang ditemukan dalam versi-versi sejarahwan lainnya. Meskipun ciri riwayat Saif yang berlebihan dan tendensius sering dikutip, contohnya oleh Julius Wellhausen,s’ nilai tulisan-tulisannya yang asli sebagai sumber utama tidak pernah diteliti secara terperinci.

…meskipun ia berasal dari Kufah, cobaan ajaran Syi’ah awal, Saif berasal dari aliran anti Syi’ah, wakil kubu Kufah yang sebelumnya telah menentang Husain bin Ali dan Zaid bin AIi…58

Pernyataan Saif yang tendensius lebih muncul sering dalam jilid­-jilid Thabari lainnya, seperti pada episode Saqifah Bani Sa’idah,59 pemakaman Utsman,60 dan cerita tentang Abdullah bin Saba.61 Di setiap contoh ini, versi lain yang tidak membenarkan pernyataan Saif tersedia untuk dijadikan perbandingan dan mengungkapkan kelancangannya.

…selain melebih-lebihkan peranan beberapa sahabat Nabi pada awal-awal penaklukan, Saif juga membubuhi karyanya dengan mengagungkan yang lainnya, sahabat-sahabat imajiner dan pahlawan-pahlawan yang ia buat-buat,terutamayang menampilkan kelompok dari sukunya. Yang paling terkenal dari ciptaannya ini adalah Qa’qa bin Amri, seorang pahlawan dan dikatakan sebagai sahabat Nabi, yang tidak diherankan lagi adalah anggota suku Saif, Usaidi.” la yang berasal dari suku Llasayidi menyatakan bahwa ciptaannya itu karena Saif sendiri dan bukan kepada sumber-sumber Saif, tidak ada yang dikenali sebagai Usaidi. Selain itu, banyak orang yang dinyatakan berasal dari suku Tamim nampaknya direka-reka, beberapa di antaranya memiliki nama stereotipe yang aneh seperti; ‘membungkus, putra kain, rumput musim semi, putra Hujan, putra salju, dan laut, putra Eufrat.’ Pembaca akan menemukan banyak nama yang hanya ditemukan dalam hadis-hadis Saif yang dicatat dalam jilid ini…

Selain menciptakan banyak tokoh yang muncul dalam transmisi hadisnya, nampaknya Saif juga menciptakan banyak nama sanad hadisnya. Sepertinya, ‘sanad-sanad’ karangannya ini berfungsi sebagai hubungan langsung antara Saif dan ahli-ahli hadis sebenar­nya yang sanadnya digunakan Saif untuk mendukung hadis-hadis ciptaannya.

Penilaian Saif ini tentunya meruntuhkan sanad penulis-penulis Muslim terdahulu yang karyanya mungkin memiliki tokoh yang sangat berbeda, sebagaimana sejarahwan Romawi akhir, Ammianus Marcellinus dipengaruhi oleh Historia Agusta gadungan. Sebaliknya, besar penghargaan diberikan kepada umat Muslim masa pertengahan yang menilai kualitas hadis dalam kitab Rijal di mana mereka secara sepakat menolak sanad Saif sepenuhnya. Mereka melakukan hal tersebut karena hadis­hadisnya mungkin telah digunakan untuk mendukung ijma kaum Sunni yang muncul pada sejarah awal Islam. Hal ini menyiratkan bahwa penolakan mereka terhadap hadis-hadis Saif dimotivasi oleh kepedulian terhadap kebenaran, dan bukan oleh keinginan untuk memperoleh keuntungan dalam kancah waktu itu. Mereka menyadari bahwa transmisi hadisnya sangat berlebihan dan curang, dan mereka berkata demikian. Sebenarnya, pencelaan terhadap hadis Saif oleh ulama-ulama Muslim masa pertengahan seharusnya berfungsi sebagai pengingat bagi ulama-ulama modern bahwa teks-teks pertengahan dan kuno tidak selalu digaungkan oleh iklim agama dan politik yang tengah berkuasa dan bahwa pencarian kebenaran sudah ada sejak masa-masa awal dan masa sekarang.

Dalam menjabarkan penaklukan – penaklukan, Pada umumnya Thabari jarang menyimpang dari riwayat Saif. Hal ini memperlihatkan kepada kita tentang daya tarik Saif bagi Thabari; detil. Hadis-hadis Saif hampir semuanya sangat bertele-tele dibandingkan riwayat-riwayat yang sama dari ahli hadis-ahli hadis yang sebenarnya. Ciri-ciri ini mungkin tidak hanya membuat mereka lebih menyukai Thabari tetapi nampaknya menjadi jaminan keakuratan. Karena Thabari hidup di zaman pertengahan, dalam mayoritas contoh-contoh, tidak ada baginya peralatan modern yang akan membuatnya menemukan kecenderungan Saif. Bagaimanapun, riwayat-riwayat Saif masih terus diterima oleh sekelompok kecil ulama, bahkan hingga saat ini.63

Profesor James Robinson, (D.Litt., D.D. Glasgow, Amerika) menulis:

Saya ingin memberi komentar tentang Thabari yang tidak memiliki keraguan untuk mengutip hadis dari Saif: Sejarahnya bukanlah karya sejarah dalam cara penulisan modern, karena tujuan utamanya nampaknya mencatat semua informasi yang ia miliki tanpa mengungkapkan pendapat tentang nilainya. Seseorang, oleh karena itu, disiapkan untuk mencari bahwa beberapa materinya tidak dapat diandalkan dibandingkan materi yang lain. Dengan demikian, kita dapat memaafkannya karena menggunakan metode yang tidak diakui di zaman sekarang. Sekurang-kurangnya ia telah memberikan informasi yang sangat banyak. Materi tersebut masih ada bagi para ulama-ulama yang harus membedakan yang asli dan yang palsu.

Nampaknnya Saif sering mengutip dari lelaki yang tidak dikenal. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa tidak ada seorang pun dari mereka dikutip oleh perawi-perawi hadis lainnya, dan hal ini membuat kita berpikir bahwa Saif telah membuat-buat hadis tersebut. Tuduhan serius ini merupakan asumsi yang masuk akal dengan membandingkan hadis-hadis Saif dengan hadis yang lain.

Diceritakan bahwa Saif memiliki kisah-kisah ajaib yang sulit untuk dipercayai, seperti gurun pasir berubah menjadi air hagi pasukan Islam, laut menjadi pasir, hewan ternak yang berbicara dan memberi tahu kepada pasukan Islam di mana mereka bersembunyi, dan lain-lain. Di zaman Saif, mungkin baginya menggunakan kisah-kisah tersebut sebagai sejarah, letapi hada zaman sekarang, pelajar-pelajar yang kritis langsung mengetahui bahwa cerita-cerita tersebut tidak masuk akal. Argumen yang efektif juga digunakan untuk menunjukkan bagaimana informasi Saif tentang Ibnu Saba dan kaum Sabaiyyah sangat tidak dapat diandalkan.

Saif yang hidup pada perempat awal abad kedua, berasal dari suku Tamin, salah satu suku Mudar yang hidup di Kufah. Hal ini dapat membuat kita mempelajari kecenderungan serta pengaruh-­pengaruhnya terhadap legenda ini. Dalam ceritanya, ada diskusi tentang zindiq. Dinyatakan bahwa semangat kesukuan berlangsung dari zaman Rasulullah, hingga zaman Abbasiah. Saif mengagung­agungkan suku dari bagian utara, menciptakan pahlawan-pahlawan, puisi-puisi yang memuji pahlawan suku tersebut, para sahabat Nabi yang berasal dari Tamim, perang dan pertempuran yang tidak pernah ada, jutaan orang terbunuh dan banyak tawanan dengan tujuan untuk memuji pahlawan-pahlawan yang ia buat-buat, puisi­-puisi ditujukan kepada pahlawan-pahlawan imajiner memuji-muji suku Mudar, lalu Tamim, kemudian Ibnu Amar, suku di mana Saif berasal. Saif menyebutkan bahwa kaum lelaki dari Mudar adalah pemimpin pertempuran yang dipimpin oleh lelaki dari suku lain, pemimpin-pemimpin khayalan yang kadang-kadang adalah nama orang sebenarnya atau nama buatan. Dinyatakan bahwa kesalahan informasinya ini adalah untuk menggugurkan keimanan banyak umat dan memberikan konsep yang salah kepada non-Muslim. Ia sangat ahli dalam pemalsuannya sehingga cerita-cerita itu diterima sebagai sejarah yang asli.

Ada perbedaan yang besar antara karya sebuah hadis, seperti Shahih al-Bukhari, dan karya sejarah seperti sejarah Thabari. Bukhari sangat selektif terhadap hadis dan mungkin mencatat satu atau sepuluh hadis yang disampaikan kepadanya, karena ia tidak mengambil hadis-hadis yang menurut pendapatnya lemah. Tetapi Thabari, meskipun juga selektif dalam karya lainnya, tetapi sejarahnya mencatat sembilan atau sepuluh dari apa yang ia dengan dan ini dikarenakan sifat dokumentasisejarah yang pada intinya tidak seakurat koleksi hadis.

Akibatnya, Bukhari tidak meriwayatkan bahkan satu hadis pun tentang Abdullah bin Saba dalam sembilan jilid kitab hadis sahihnya. Tetapi para sejarahwan yang menerima lebih banyak dokumentasi dibandingkan keotentikan perawi, banyak mencatat tentang Abdullah bin Saba melalui Saif.

Sejarahwan Syi’ah tidak lepas dari pemikiran di atas. Mereka juga mencatat banyak hal yang mereka miliki. Di antaranya riwayat yang mereka ragukan. Penelitian akhir oleh Syi’ah mengenai Abdullah bin Saba dikeluarkan hanya pada tahun 1955, dan hal itu tidak sejelas sebelum masa itu sehingga kisah-kisah Ibnu Saba merupakan manipulasi Saif dengan motif-motif politik. Dua orang sejarahwan Syi’ah yang menyebutkan nama Abdullah bin Saba, hidup sepuluh abad sebelum diterbitkannya penelitian ekstensif tentang Abdullah bin Saba. Seseorang disebut ahli dalam sejarah Islam apabila telah membaca semua buku-buku sejarah awal Islam. Sebenarnya, banyak buku-buku sejarah awal ditulis oleh penulis-penulis Sunni atas sokongan Umayah dan kemudian penguasa Abbasiah. Seorang sejarahwan Syi’ah tidak melarang sumber-sumber Sunni, sehingga karyanya terpengaruhi oleh karya sebelumnya. Jelas bagi kita jika dua sejarahwan Syi’ah yang menyebutkan nama Abdullah bin Saba tidak menyebutkan nama perawi untuk riwayat mereka, artinya mereka mendapatkannya dari kabar angin orang-orang akibat propaganda besar-besaran.

Sedangkan beberapa hadis yang perawinya (bukan dari Saif), memiliki cerita berbeda yang tidak mendukung satupun pernyataan Syaf. Hadis-hadis ini menceritakan tentang seorang lelaki terkutuk yang telah Ahlulbait jelaskan tentang ketidak bersalahan mereka dari apa yang ia kait-kaitkan kepada Ali bin Abi Thalib (menyatakan bahwa Ali adalah Tuhan). Syi’ah, Imam-imam mereka dan ulama-ulamanya menyatakan murka Allah SWT kepada orang itu (jika pernah ada) bahwa ia sesat, menyimpang dan dikutuk. Tidak ada kesamaan antara Syi’ah dan namanya kecuali Syi’ah mengutuknya dan semua orang-orang ekstrim yang mempercayai bahwa Ahlulbait adalah Tuhan.

Pengikut Ahlulbait tidak pernah menyatakan bahwa Ali adalah Tuhan, atau menyatakan bahwa duabelas Imam adalah Tuhan. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa orang-orang yang menghidupkan cerita Abdullah bin Saba adalah pembenci Syi’ah dan berusaha menyalahartikan pengikut keluarga Nabi. Apabila Syi’ah adalah peng­ikut Yahudi yang misterius itu, mereka pasti telah meyakini ketuhanan Ali bin Abi Thalib dan tentunya menghormati guru mereka, Abdullah bin Saba, bukannya mengutuknya.

Apabila Abdullah bin Saba adalah orang yang sangat berpengaruh dan penting bagi Syi’ah, mengapa Syi’ah tidak pernah mengutip darinya sebagaimana mereka mengutip dari para Imam Ahlulbait. Apabila Abdullah bin Saba adalah pemimpin mereka, mereka pasti mengutip darinya dan bangga melakukan hal itu. Seorang murid yang taat selalu mengutip gurunya, tetapi mengapa Syi’ah tidak demikian? Mengapa mereka malah mengutuknya? Apabila kita menjawab bahwa alasan Syi’ah tidak mengutip darinya adalah ia seorang Yahudi yang masuk Islam, pertanyaan yang muncul adalah agama apa yang dianut para sahabat sebelum mereka masuk Islam? Bukankah Abu Hurairah adalah seorang Yahudi yang membunuh orang Islam sebelum masuk Islam? Bukankah ia masuk Islam dua tahun sebelum Rasulullah SAW wafat? Lalu mengapa banyak hadis dalam koleksi hadis Sunni berasal darinya? Sedangkan hadis-hadis yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib (yang merupakan laki­laki pertama yang memeluk Islam) dalam koleksi hadis Sunni, kurang dari satu persen dari apa yang diriwayatkan Abu Hurairah?

Selain itu, bagi Syi’ah, merayakan kelahiran Nabi dan duabelas Imam serta Fathimah adalah suatu kebiasaan. Mereka juga berkabung ketika mengingat kesyahidan mereka. Mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama kepada Abdullah bin Saba apabila ia memang pemimpin mereka?

Lagipula, apakah orang-orang Syi’ah begitu bodoh dan dungu sehingga setelah 1400 tahun, mereka tidak pernah mengetahui jika keyakinan dan agama mereka didasarkan pada hadis-hadis palsu dan cerita-cerita Abdullah bin Saba? Kami ragu, jika Syi’ah memang bodoh dalam meyakini seorang munafik dalam agama, filsafat, fiqih, sejarah, dan tafsir Qur’an, bagaimana Syi’ah tetap eksis hingga kini? Tentunya jika pengetahuan Syi’ah didasarkan pada dasar yang tidak kuat seperti Abdullah bin Saba itu, mereka sudah tidak ada sejak dahulu. Menarik sekali jika kita lihat bahwa para Imam Syi’ah (Imam Muhammad Baqir dan Imam Ja’far Shadiq). Tentu kita dapat mengatakan bahwa mazhab Sunni mendasarkan fiqih mereka dari Syi’ah yang berarti Sunni dan Syi’ah adalah pengikut orang yang sama, Abdullah bin Saba.

Selain itu, apabila Abdullah bin Saba memang ada dengan kisah-kisahnya yang diceritakan saif, berarti ada jarak 150 tahun antara kelahirannya dan penyebarluasan kisah Saif dan Umar Tamimi. Selama kurun waktu 150 tahun itu, banyak ulama, penulis wahyu, sejarahwan, dan filsuf yang menyumbangkan banyak buku. Mengapa mereka tidak pernah menyebutkan Abdullah bin Saba? Tentunya jika ia adalah tokoh penting bagi Syi’ah, tentunya Sunni mengenalnya sebelum Saif bin Umar Tamimi. Kenyataannya adalah bahwa ia tidak pernah disebutkan di kitab manapun sebelum kitab Saif bin Umar Tamimi menciptakan keraguan pada seluruh cerita yang ditujukan kepadanya dan bahkan keberadaannya. Percayalah bahwa tahun 150 yahun atau antara kurun waktu itu kelahiran Abdullah bin Saba dan terbitnya Saif bin Umar Tamimi, tidak ada buku yang menyebutkan Ibnu Saba? Tetapi beberapa orang masih mengatakan bahwa cerita itu ada.

Hal aneh lainnya adalah bahwa bahkan setelah 150 tahun penerbitan Saif bin Umar Tamimi, tidak banyak orang mengetahui cerita Abdullah bin Saba. Cerita tersebut tidak tersebar hingga cerita Ibnu Saba secara luas muncul dalam Tarikh at-Thabari (160 tahun setelah diterbitkannya karya Saif) dan pada saat itulah fitnah mulai mengemuka sebagai cara untuk melawan Syi’ah.

Para Sahabat Nabi dan Pengaruh Yahudi

Kita kesampingkan dahulu pembahasan Ibnu Saba. Ada banyak Yahudi yang memang telah mempengaruhi para sahabat Nabi. Ali bin Abi Thalib bersikap sangat hati-hati demi kesucian ajaran Islam terhadap mualaf Islam dari Ahlul Kitab. Mereka tidak mendengar pernyataan dari orang-orang yang memeluk Islam dan menyatakn diri memiliki ilmu agama melalui Kitab Perjanjian lama dan ingin menyebarkannya kepada Islam.

Sikap Ali bin Abi Thalib sangat bijaksana, sedangkan para sahabat utama (menurut pandangan Sunni), terpedaya oleh ulama-ulama Ahlul Kitab ini. Berikut ini penjelasan tentang mereka.

Ka’b Ahbar

Ia adalah seorang lelaki dari Yaman bernama Ka’b bin mati Humyari, dikenal juga sebagai Abu Ishaq, yang berasal dari suku Thi Rain (atau Thi al-Killa). Ia datang ke Madinah ketika Umar menjabat sebagai Khalifah. Ia adalah seorang ulama Yahudi yang terkenal dan datang dengan nama Ka’b Ahbar. Ia menyatakan ke Islamannya dan tinggal di Madinah hingga Utsman menjadi Khalifah. Inilah bagian pertama yang akan membahas beberapa pernyataan yang ia buat, penipuannya yang dilakukan kepada khalifiah Umar, dan keterlibatnya dalam pembunuhan khalifah, dan sikap Ali bin Abi Thalib terhadapnya.

Mualaf muslim ini bukanlah tokoh fiktif sebagaimana Abdullah bin Saba. Ia ada karena ia tinggal di Madinah dan dihormati oleh khalifah kedua dan ketiga. Ia banyak meriwayatkan cerita-cerita yang menyatakan bahwa kisah tersebut berasal dari Kitab Perjanjian Lama. Banyak sahabat yang terkenal seperti Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amru bin Ash, dan Muawiyah bin Abu Sufyan meriwayatkan cerita darinya. Ulama Yahudi ini telah banyak meriwayatkan cerita aneh, yang isinya menunjikan banyak ketidakotentikan. Salah satu ceritanya adalah sebagai berikut :

Seorang sahabat Nabi bernama Qais bin Kharsyah Qaisi meriwayatkan bahwa Ka’b Ahbar berkata,”setiap peristiwa yang terjadi atau akan terjadi di muka bumi manapun, telah tertulis dalam kitab Taurat (Kitab Perjanjian Lama), di mana Allah menurunkannya kepada Musa.”64

Riwayat itu pasti menarik perhatian pembaca karena menyatakan sesuatu hal yang tidak masuk akal. Bumi terdiri dari milyaran mil luasnya, setiap mil terdiri dari milyaran kaki, dan setiap bagian bumi ini menjadi tempat ribuan peristiwa zaman Nabi Musa hingga Hari Kiamat. Tetapi Ka’b menyatakan bahwa semua peristiwa dicatat dalam Kitab Perjanjian Lama.

Banyak Kitab Perjanjian Lama yang didiktekan atau ditulis oleh Nabi Musa, tidak lebih dari 400 halaman. Mencatat semua peristiwa di dunia dari zaman Musa hingga hari Kiamat, membutuhkan milyaran halaman. Selain itu, halaman-halaman dalam Kitab Perjanjian Lama tidak mencatat peristiwa-peristiwa yang akan datang. Semua isinya terdiri dari peristiwa lama yang terjadi sebelum pembawa Kitab Injil datang. Dengan mempertimbangkan hal ini, menyatakan yang dibuat Ka’b gugur dengan sendirinya.

Ka’b Ahbar Menghitung Waktu Hidup Khalifah Umar

Ulama Yahudi ini telah memperdaya banyak sahabat melalui tipu dayanya. Bahkan sahabat utama seperti Umar bin Khattab tidak dapat terlewat dari tipuanya. Pengaruh Ka’b telah berkembang selama zaman kekhalifahan Umar hingga ia berani berkata kepada Umar, “Amirul Mukminin, engkau harus menuliskan wasiatmu karena engkau akan wafat dalam tiga hari ini!”

Umar bertanya,”Bagaimana engkau tahu?”

Ka’b menjawab,” Aku menemukannya dalam kitab Allah, Taurat.”

“Demi Allah, engkau menemukan Umar bin Khattab dalam Kitab Taurat?”

“Tidak, tetapi aku menemukan gambaran tentang dirimu dalam Kitab dan waktumu sudah semakin dekat.”

“Tetapi aku tidak merasa sakit,” balas Umar.

Hari berikutnya Ka’b datang menemui Umar lagi dan berkata “Amirul Mukmin, satu hari telah berlalu dan engkau hanya memiliki waktu tersisa dua hari lagi.”

Hari berikutnya Ka’b datang menemui Umar dan berkata “Amirul Mukmin, dua hari telah lewat dan engkau hanya memiliki satu hari dan satu malam.”

Hari berikutnya, Umar keluar untuk memimpin shalat di mesjid. Ia biasa mempersiapkan orang-orang untuk mengatur barisan yang akan shalat. Ketika barisan itu telah lurus, ia mulai shalat. Abu Lulu memasuki masjid sambil membawa belati dengan dua mata dan satu pegangan ditengahnya. Ia menusuk Umar sebanyak enam kali, salah satunya menusuk perut khalifah sehingga membuat wafat.65

Dengan melihat Kitab Perjanjian Lama, kita tidak menemukan adanya nama atau ramalan tentang Umar. Tidak ada ulama Yahudi manapun selain Ka’b, menyatakan bahwa Kitab tersebut meramalkan hidup Umar, pembunuhannya, atau menjelaskan waktu kematiannya. Apabila informasi seperti ini terkandung dalam Taurat, orang-orang Yahudi pasti bangga dengannya dan akan menggunakannya untuk membuktikan bahwa agama Yahudi adalah agama yang benar.

Bagian dari Konspirasi

Nampak jelas bahwa pembunuhan Umar adalah sebuah konspirasi, dan Ka’b terlibat didalamnya. Pembunuhan Umar akan melemahkan umat Islam karena ledakan kekerasan terhadap khalifah akan menggoyahkan keyakinan negara Islam dan menciptakan kekacauan. Meramalkan peristiwa tersebut sebelum terjadi, membuat para sahabat percaya apa yang diramalkan Ka’b dan apa yang ia nyatakan dicatat dalam Kitab Taurat, sehingga membuatnya menjadi sumber yang dipercaya untuk informasi di masa datang. Keyakinan seperti itu membuatnya mampu terlibat dalam peristiwa besar dan menyarankan nama khalifah selanjutnya. Sejumlah sahabat Nabi percaya bahwa informasi yang dibuat-buat Ka’b berkenaan dengan masa lalu dan masa datang.

Ka’b tidak hanya berbicara tentang peristiwa yang terjadi pada bumi, tetapi ia juga memberikan informasi tentang langit dan singgasana Ilahi. Qurthubi dalam tafsir Qur’annya pada Surah Ghafir meriwayatkan bahwa Ka’b berkata, “Ketika Allah menciptakan singgasananya, singgasana tersebut berkata,’Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih besar daripada aku.’Singgasana tersebut kemudian mengguncangkan dirinya untuk menunjikan kesabarannya. Allah mengikat singgasana itu dengan seekor ular yang memiliki tujuh puluh sayap. Setiap sayap memiliki tujuh puluh bulu. Setiap bulu memiliki tujuh puluh wajah. Setiap wajah memiliki tujuh puluh mulut, dan setiap mulut memiliki tujuh puluh ribu lidah. Dari mulut-mulut ini, keluar pujian bagi Allah yang jumlahnya sama dengan tetesan air hujan yang turun, daun-daun yang gugur, bebatuan dan tanah, jumlah hari di dunia, dan jumlah malaikat. Ular tersebut membelit singgasana karena singgasana tersebut lebih kecil daripada ular. Singgasana tersebut tertutupi oleh sebagian tubuh ular.

Sikap Ali bin Abi Thalib Terhadap Ka’b

Umar dan sejumlah sahabat utama memiliki sikap yang positif terhadap Ka’b. Tetapi sahabat yang berilmu dan berwawasan luas, yakni Ali bin Abi Thalib, tidak menghormatinya. Ka’b tidak berani mendekat kepada Abi bin Abi Thalib, meskipun Ali di Madinah ketika Ka’b tinggal di sana. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib berkata mengenai Ka’b, “ Sesungguhnya, ia adalah seorang penipu yang handal.”

Sikap Ibnu Abbas Terhadap Ka’b

Thabari menuliskan dalam sejarahnya bahwa Ibnu Abbas mendengar cerita bahwa Ka’b berkata bahwa pada hari Perhitungan, matahari dan bulan akan dibawa bersama sama seperti banteng yang dibius dan dilemparkan ke dalam neraka. Mendengar hal itu, Ibnu Abbas berseru marah tiga kali,”Ka’b pendusta!”

Ini adalah gagasan orang Yahudi, dan Ka’b ingin memasukkannya kedalam ajaran Islam. Allah Maha Suci dari segala sesuatu yang dikait-kaitkan kepada-Nya. Ia tidak pernah menghukum orang-orang yang taat. Tidakkah Allah berkata dalam Quran, Dan ia telah menjadikan matahari dan bulan untuk tunduk kepadamu, keduanya berjalan sesuai jalanya.(QS. Ibrahim : 33).

Ibnu Abas menyatakan bahwa kata ‘daibain’ yang di gunakan dalam ayat tersebut menunjikan kertaat yang terus menerus kepada Allah. Lalu ia melanjutkan, “Bagaimana mungkin Ia hukum dua bintang yang dengannya Ia sendiri memuji ketaatan. Allah mengutuk ulama Yahudi dan ajarannya. Betapa lancang membuat kebohongan terhadap Allah, dan menyalahkan dua mahkluk yang taat.”

Setelah berkata demikian, Ibnu Abas,”Kepada Allah lah dan hanya kepada-Nya kita kembali.” (sebanyak tiga kali)

Kemudian Ibnu Abas meriwayatkan apa yang telah dinyatakan Rasulullah tentang matahari dan bulan:

Allah menciptakan dua sumber cahaya. Sumber cahaya yang bernama matahari, sama dengan bumi, di antara dua titik dan terbenam. Dan sumber cahaya yang telah Ia perintahkan untuk kadang-kadang tak bercahaya, Ia sebut bulan dan Ia menjadikannya lebih kecil daripada matahari. Keduanya nampak kecil karena tingginya mereka di langit dan jauhnya sumber-sumber itu dari bumi.66

Ka’b Turut Campur dalam Kekhalifahan

Ka’b mengambil keuntungan dari kebaikan hati Umar dan menggunakan semua kelihaiannya untuk membuat Ali bin Abi Thalib jauh dari kekhalifahan. Ka’b terpicu kebenciannya terhadap Islam dan Ali bin Abi Thalib. Sesungguhnya, Ali bin Abi Thalib lah yang memadamkan pengaruh Yahudi di Hijaz dalam Perang Khaibar.

Menarik sekali bahwa khalifah percaya kepada Ka’b, ia bahkan meminta nasehatnya tentang masa depan kekhalifahan. Ibnu Abas meriwayatkan bahwa Umar berkata Ka’b, ketika Ibnu Abas hadir di sana:

Umar berkata,”Aku ingin menyebutkan penerus kekhalifahanku karena kematianku semakin dekat. Apa pendapatmu tentang Ali? Berikan pendapatmu dan beritahu aku apa yang kau temukan dalam ‘Kitabmu’ karena engkau telah menyatakan bahwa kami disebutkan dalam ‘Kitab’ itu?”

Ka’b menjawab,”Mengenai kebijaksanaan pendapat anda, tidaklah ‘bijaksana’ menunjuk Ali sebagai pengganti karena ia ‘sangat taat’. Ia mengetahui setiap penyimpangan dan tidak memberikan kelonggaran pada setiap ketidakjujuran. Ia mengikuti hanya pendapatnya dalam aturan Islam, dan ini adalah bukan kebijakan yang baik. Sejauh yang diberitakan ‘kitab kami’, kami menemukan bahwa ia dan keluarganya tidak akan berkuasa. Karena apabila demikian, akan terjadi kekacauan.”

Umar bertanya lagi,”Mengapa ia akan tidak berkuasa?”

Ka’b menjawab,”Karena ia telah menumpahkan darah dan Allah telah mengambil haknya. Ketika Daud ingin mendirikan bangunan di Yerusalem, Allah berkata kepadanya,’engkau tidak akan membangunnya karena engkau telah menumpahkan darah. Hanya Sulaiman lah yang akan mendirikannya.”

Umar bertanya,”Bukankah Ali menumpahkan darah secara benar dan demi kebenaran?”

Ka’b menjawab,”Amirul Mukminin, Daud juga menumpahkan darah demi kebenaran.”

Umar bertanya,”Siapa yang akan berkuasa menurut ‘kitabmu’?”

Ka’b menjawab,”Kami melihat bahwa setiap Nabi Muhammad dan dua sahabat (Abu Bakar dan Umar), kekuasaan akan berpindah tangan kepada musuhnya, dan mereka akan berjuang demi agama.”

Ketika Umar mendengar hal ini, ia berkata,”Kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kita kembali.” Kemudian ia berkata kepada Ibnu Abas,”Ibnu Abas, apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Ka’b? Demi Allah aku mendengar Rasulullah menyatakan hal yang sangat sama. Aku mendengarnya berkata,”Bani Umayah akan menaiki mimbarku. Aku melihat mereka dalam mimpiku berlompatan di mimbarku seperti kera.”Kemudian, Rasulullah menyatakan ayat berikut tentang Umayah, Dan kami jadikan mimpi itu nyata, yang telah Kami tunjukkan kepadamu, hanya sebagai cobaan bagi orang-orang dan pohon terkutuk dalam al-Qur’an67

Dialog tersebut harus membuat kita waspada terhadap usaha tipu daya setan melalui Ka’b untuk mempengaruhi kejadian di masa datang. Dialog tersebut mengandung banyak penyimpangan yang menyebabkan banyak merugikan bagi Islam dan umat Islam.

Pertama, Ka’b sangat benci kepada Ali bin Abi Thalib karena ia adalah orang yang meruntuhkan pertahanan kuat bangsa Yahudi di Semenanjung Arab. Ka’b berpikir, Ali akan membumihanguskan pengaruh Yahudi dari masyarakat Arab. Oleh karena itu, Ka’b sangat ingin agar kepemimpinan berada ditangan Umayah yang tidak peduli terhadap masa depan Islam. Mereka hanya peduli pada diri sendiri dengan aspek materialistis dunia ini. Selain itu, mereka juga sangat membenci Ali bin Abi Thalib seperti halnya Ka’b. Bani Umayah dan Ka’b menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai musuh bebuyutan mereka. Ia membinasakan pemimpin-pemimpin mereka dalam perjuangan menegakkan Islam.

Kedua, Ka’b berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang sangat taat dan ia tidak menutupi matanya pada setiap ketidakjujuran ataupun setiap penyimpangan dari jalan Islam. Penelitian selanjutnya memperlihatkan bahwa Ka’b lupa dan juga secara sengaja menghilangkan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang paling taat dan pemimpin yang paling sempurna di panggung sejarah dunia.

Ketiga, Ka’b juga menemukan dalam ‘kitabnya’ bahwa Ali bin Abi Thalib atau pun keluarganya tidak akan berkuasa karena ia telah menumpahkan darah. Selain itu, Ka’b berkata bahwa kitabnya Daud tidak mendirikan Mesjid Yerusalem karena ia telah menumpahkan darah putranya, dan Sulaiman ditetapkan sebagai orang yang mendirikan bangunan itu. Ka’b tidak menyebutkan dan ia membuat Khalifah lupa bahwa Daud, meskipun menumpahkan darah dan dicegah untuk mendirikan bangunan, ia berkuasa dan menjadi Raja. Quran menyatakan bahwa Allah berkata Daud, Wahai Daud sesungguhnya kami telah menjadikanmu sebagai pemimpin. Engkau harus memberi keputusan di antara umat dengan adil…(QS. Al-Qashash : 26). Ka’b juga lupa bahwa Rasulullah SAW juga menumpahkan darah musuh demi kebenaran. Sebenarnya ia memimpin banyak peperangan dan hal ini tidak membuatnya tidak berkuasa dan mengatur urusan umat Islam, ataupun dicegah untuk mendirikan negara Islam.

Ke empat, lebih jauh lagi, dengan menyatakan bahwa menumpahkan darah tidak dapat menjadikan seorang berkuasa, hal ini menjadikan orang yang berjuang di jalan Allah tidak berharga dibandingkan orang-orang yang berjuang. Hal ini bertentangan dengan ayat Quran;

Orang-orang beriman yang duduk tenang, dengan orang-orang yang memiliki penyakit, tidak sama dengan orang-orang yang berjuang di jalan Allah dengan kekayaan dan ‘jiwa’ mereka. Allah telah menganugerahkan kemuliaan kepada mereka yang berjuang demi agama dengan nyawa dan kekayaan dibandingkan dengan orang-orang yang duduk di rumah-rumah mereka. Dan bagi setiap orang yang berjuang, Allah telah menetapkan balasan yang besar, kemuliaan dari-Nya, ampunan, dan karunia. Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih.(QS. An-Nisa : 95).

Tidaklah logis jika kita berpikir bahwa Allah memerintahkan orang-orang untuk berjuang di jalan-Nya kemudian menghukum usaha mereka dengan mencegah mereka untuk tidak berkuasa.

Kelima, tentu saja aneh ketika Ka’b menyatakan bahwa kitab Yahudi menyebutkan bahwa kepemimpinan Islam akan beralih dari Rasulullah dan kedua sahabatnya lalu kemusuhnya. Tidak disebutkan hal ini dalam Kitab Perjanjian Lama meskipun Ka’b telah berkata kepada Qais Ibnu Kharysah,”Tidak ada tempat di dunia ini yang tidak disebutkan dalam Kitab, beserta peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di tempat itu hingga Hari Perhitungan.”

Ka’b sebenarnya tidak menemukan peristiwa apapun dalam kitab Perjanjian lama yang ia buat-buat itu. Ia hanya mencurinya dari apa yang ia dengar dari sahabat-sahabat Nabi. Mereka, termasuk Umar, meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad berkata,”Bani Umayah akan menaiki mimbarku dan aku melihat mereka dalam mimpiku berlompat seperti kera.”68

Mengherankan bahwa khalifah tersebut mendengar perkataan nabi Muhammad tetapi masih tidak menyangka bahwa Ka’b telah mengambilnya dari Kitab Yahudi. Selain itu, Ka’b berkata bahwa ia menemukan dalam kitab Yahudi bahwa kekuasaan akan diserahkan kepada Nabi Muhammad dan dua sahabatnya kepada musuh Rasulullah. Hal ini, bagaimanapun juga tidak terjadi. Kekhalifahan berpindah ke tangan Utsman setelah Umar, dan Utsman bukanlah musuh Rasulullah SAW. Ia adalah sahabat utama Nabi. Selain itu, anehnya pernyataan yang dibuat Ka’b tidak berarti lagi ketika Ali bin Abi Thalib menerima tampuk kekhalifahan.

Lebih aneh lagi, khalifah mendengar semua pernyatan palsu yang telah Ka’b sebutkan berasal dari Kitab Perjanjian Lama dan bahkan tidak memerintahkan Ka’b untuk menunjikan kitab Yahudi yang darinya ia mendapatkan informasi.

Khalifah kedua, dengan segala keutamaanya, keimanan serta kecerdasannya, menganggap ucapan Ka’b berasal dari langit. Ia lupa bahwa persoalan kepemimpinan berada ditangannya. Semuanya berpulang kepadanya untuk memilih Ali bin Abi Thalib atau orang lain. Diharapkan, khalifah kedua ini akan membuat ridha Rasulullah SAW dengan mencegah Bani Umayah agar tidak berkuasa setelah Rasulullah terganggu melihat dalam mimpinya di mana Umayah berlompatan di mimbarnya seperti kera. Satu kata dari Umar akan mengubah jalan sejarah.

Khalifah kedua mungkin dapat memilih Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya dan mencegah Umayah berkuasa. Sayangnya, ia menjauhkan Ali dari kekhalifahan dengan membentuk enam orang panitia, yang sebagian besarnya sangat tidak suka kepada Ali bin Abi Thalib dan lebih menyukai kepada Utsman, Bani Umayah yang setia yang sangat dekat dengan sukunya. Bertentangan dengan apa yang diharapkan, khalifah kedua melakukan apa yang disukai Ka’b dan tidak disukai Nabi Muhammad SAW.69

Dengan demikian, mualaf Islam yang menyatakan bahwa ia memiliki pengetahuan tentang segala hal yang terjadi di masa lalu dan di masa depan, telah mengubah jalan sejarah Islam melalui pengaruhnya terhadap khalifah terkenal, Umar bin Khatab.

Ka’b Selama Masa Kekhalifahan Utsman

Pengaruh Ka’b terus berlanjut hingga setelah Umar wafat. Selama pemerintahan khalifah ke tiga, Ka’b dapat memberikan ketetapan pada urusan-urusan umat Islam. Khalifah ‘sering’ setuju dengannya, dan tidak ada di antara peserta pertemuan yang menentangnya, kecuali Abu Dzar yang menjadi sangat kesal ketika mendengar keputusan Ka’b dalam Islam hingga ia memukulnya dengan tongkatnya sambil berkata,”Hai putra wanita Yahudi! Apakah engkau akan mengajari agamamu?”

Untuk memperluas pengaruhnya dan masa depan yang lebih baik setelah kematian Utsman, Ka’b berusaha menyenangkan hati Muawiyah dengan meramalkan kedatangannya dimasa depan dengan mahkota kekuasaan Islam. Khalifah Utsman kembali dari hajinya ditemani Muawiyah dan pemimpin kafilah menyanyikan lagu yang isinya meramalkan Ali sebagai pengganti Utsman. Ka’b menyangkal penyanyi itu,”Demi Allah, engkau berdusta! Penngganti setelah Utsman adalah penunggang kedelai berbulu kuning.”

Di sini Ka’b merujuk kepada Muawiyah, dan dengan salah ia menyebutkan bahwa hal ini berasal dari Kitab Perjanjian Lama. Muawiyah juga ‘memerintahkan’ Ka’b untuk membuat pernyataan kepada masyarakat Damaskus apa saja yang membuat Damaskus dan masyarakatnya ada di pengawasan propinsi lain.70

Peristiwa-peristiwa Lain

Ahmad meriwayatkan bahwa Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa Umar datang menemui Rasulullah dengan sebuah kitab yang ia dapat dari pengikut Ahlul Kitab. Ia membacanya di hadapan Nabi. Nabi menjadi sangat marah dan berkata,”Putra Khattab, demi Dia yang jiwaku berada ditangan-Nya, apabila Musa masih hidup, ia akan mengikutiku.”

Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Abas berkata,”Mengapa engkau bertanya kepada Ahlul Kitab tentang segala sesuatu, sedangkan Kitabmu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya adalah Kitab yang paling baru? Engkau membacanya tanpa penambahan kalimat yang bukan ayat-ayat Quran. Quran telah memberitahukan bahwa Ahlul Kitab merusak dan mengubah kitab mereka.”

Sebaliknya, sahabat yang lain seperti Abu Hurairah dan Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,”Ambillah dari Bani Israil itu, dan engkau tidak akan melakukan suatu dosa!”

Selain itu Bukhari menyebutkan dalam Shahih-nya bahwa Abdullah bin Amru Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,”Sampaikanlah kepada umat meskipun hanya satu ayat, dan ceritakanlah kepada yang lain tentang kisah Bani Israil, karena hal itu bukan perbuatan dosa!”71

Patut diperhatikan bahwa Abu Hurairah dan Abdullah adalah ‘murid-murid’ Ka’b. diriwayatkan juga bahwa Abdullah bin Amru bin Ash memperoleh dua unta penuh dengan kitab para Ahlul Kitab, dan sering memberi informasi kepada umat dari kitab-kitab ini.

Ibnu Hajar Asqalani, yang merupakan ‘sumber’ utama hadis-hadis Bukhari berkata,”Karena hal ini (yang disebutkan di atas), banyak ulama terkemuka di kalangan murid-murid Rasulullah ‘menghindar’ untuk mengambil informasi dari Abdullah bin Amru bin Ash.72[]

Catatan Kaki :

1. Al-Mugni fi al-Dhua’afa’,Dzahabi, hal. 292.

2. Rijal, Kusysyi

3. Rijal, Kusysyi

4. Rijal, Kusysyi

5. Rijal, Kusysyi

6. Lisan al-Mizan, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 3, hal. 289

7. Lisan al-Mizan, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 3, hal. 289

8. Lisan al-Mizan, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 3, hal. 289

9. Lisan al-Mizan, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 3, hal. 290

10. Lisan al-Mizan, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 3, hal. 290

11. Al-Farq, Abdul Qahir Ibnu Tharir Baghdadi.

12. Shahih al-Bukhari, versi Arab-Inggris, hadis 5552, 5744, dan 5745

13. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari dan Tarikh, Ibnu Asakir, diriwayatkan oleh Saif, peristiwa tahun 11 H.

14. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari dan Tarikh, versi bahasa Inggris, jilid 9, hal. 195-196, riwayat dari Saif dan Umar.

15. Shahih al-Bukhari, versi Arab-Inggris, hadis 5546

16. Perlu disebutkan bahwa Askari memiliki hadis yang sangat terkenal dan tidak diragukan dalam bukunya ‘Abdullah bin Saba dan Mitos Lainnya’, ia menyatakan bahwa Ibnu Saba tidak pernah ada, dan bahwa tokoh ini dikarang oleh Saif bin Umar. Apabila ada orang bernama Abdullah bin Saba pada masa itu, ceritanya sangat bertentangan dengan cerita yang dimanipulasi Saif. Bagi anda yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai Abdullah bin Saba beserta cerita fiksinya, anda dapat membaca buku berjudul Abdullah bin Saba and Other Myths karya Askari S.M, beserta The Shi’ites Under Attack karya Chirri M.J.

17. Refensi hadis Sunni : as-Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, jilid 2, hal. 655.

18. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 6, hal. 88-92 (dua hadis); Tarikh, Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62;Tarikh, Ibnu Asakir, jilid 1, hsal. 85; Durr al-Mantsur, Suyuthi, jilid 5, hal.97; as-Sirah al-Halabiyah, jilid 1, hal. 311; Syawahid at-Tanzil, hasakani, jilid 1, hal. 371; Kanz al-Ummal, Muttaqin Hindi, jilid 15, hal. 15, hal. 100-177; Tafsir al-Khazin, auladin Sayafi’I, jilid 3, hal. 371; Dala’il Nabawiyah, Baihaqi, jilid 1, hal. 4328-430; al-Mukhtasar, Abu Fida, jilid 1, hal.116-117, Nabi Muhammad, Hasan Haikal, jilid 104 (hanya edisi pertama, pada edisi kedua, kalimat terakhir yang diucapkan Rasulullah dihilangkan); Tahdzib al-Atsar, jilid 4, hal. 62-63. Hadis di atas juga diriwayatkan oleh tokoh-tokoh Sunni terkemuka seperti Muhammad Ibnu Ishaq (sejarahwan Sunni yang paling terkenal), Ibnu Hatim, dan Ibnu Mardawih. Hadis ini juga dicatat oleh paraorientalis seperti T. Carlyle, E.Gibbon, J. Davenport, dan W. Irving.

19. Referensi hadis : Shahih al-Bukhari, versi bahasa Arab-Inggris, hadis 556 dan 5700; Shahih Muslim, bahasa Arab, jilid 4, hal. 1870-1871; Sunan ibn Majah, hal. 12; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 1, hal. 174; al-Khas’is, Nasa’I, hal. 15-16; Musykil al-Atsar, Tahawi, jilid 2, hal. 309.

20. Referensi hadis Sunni: Shahih, Tirmidzi, jilid 2, hal. 298, jilid 5, hal. 63; Sunan ibn Majah, jilid 1, hal. 12, 43; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 1, hal. 84,118,119,152, 330; jilid 4, hal. 281, 368, 370, 372, 378; jilid 5, hal. 35, 347, 358, 361, 366, 419 (berasal dari 40 rangkaian perawi); Fada’il ash-Shnhabah, Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 563, 572; al-Mustadrak, Hakim, jilid 2, hal. 129, jilid 3, hal. 109-110, 116, 371; Kasa’is, Nasa’i, hal. 4, 21;Majma’ az-Zawaid, Haitsami, jilid 9, hal. 103 (dari banyak perawi); Tafsir al-Kabir, Fakhrurrazi, jilid 12, hal. 49 -50; al-Durr al­-Mantsur, Hafizh Jalaluddin Suyuthi, jilid 3, hal. 19; Tarikh al-Khulafa, Suyuthi, hal. 169, 173; al-Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 213, jilid 5, hal. 208; Musykii al-Atsar, Tahawi, jilid 2, hal. 307-308; Habib as-Siyar, Mir Khand, jilid 3, bag. 3, ha1.144; Shawaiq al-Muhriqah, Ibnu Hajar Haitsami, hal. 26; al-Ishabah, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 2, hal. 509; jilid 1, bag. l, hal. 319; jilid 2, bag. 1, hal. 57; jilid 3, bag. 1, hal. 29; jilid 4, bag. l, hal. 14, 16, 143; Tabarani, yang meriwayatkan dari para sahabat seperti Ibnu Umar, Malik bin Hawirath, Habasyi bin Junadah, Jari, Sa’d bin Abi Waqash, Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Amarah, Buraidah, …; Tarikh, Khatib Baghdadi, jilid 8, hal. 250; Hilyat al-Awliya’, Abu Nu’aim, jilid 4, hal. 23; jilid 5, hal. 26-27; al-Istiab,Ibnu Abdul Barr, bab mengenai kata ‘ayn’ (Ali), jilid 2, hal. 462;Kanz al-Ummal, Muttaqi Hindi, jilid 6, hal. 154, 397; al-Mirqat,jilid 5, hal. 568; ar-Riyadh an-Nadhirah, Muhib Thabari, jilid 2, hal. 172; Dhaka’ir al-Uqbah, Muhib Thabari, hal. 68; Fayd al-Qadir, ManaaTi, jilid 6, hal. 217; Usd al-Ghabah, Ibnu Atsir, jilid 4, hal. 114; Yanabi’ al-Niawaddah, Qunduzi Hanafi, hal. 297 dan banyak lagi.

21. Referensi hadis Sunni: Shahih al-Bukhari, versi bahasa Arab-Inggris, jilid 8, hadis 817.

22. Referensi hadis Sunni: Ahmad bin Hanbal, jilid l, hal. 55; Sirah Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, jilid 4, hal. 309; Tarikh at-Thabari,jilid 1, hal. 1822; Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 9, hal. 192.

23. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 9, hal. 188-189.

24. Lihat al-Istiab, jilid 1, hal. 235; Tarikh at-Thabari, jilid 4, hal. 79; Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 180; Ibnu Khaldun, jilid 2, hal. 182.

25. Referensi hadis Sunni: Sunan Ibnu Majah, jilid l, hal. 52-53, hadis 149; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 130; Musnad Ahntad ibn Hanbal, jilid 5, hal. 356; Fada’il ash-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 648, Hadis 1130; Hilyat al-Awliya’, Abu Nu’aim, jilid 1, hal. 172.

26. Referensi hadis Sunni: Fada’il ash-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hadis 109, 277; Shahih at-Turmudzi, jilid 5, hal. 329, 662;Musnad Ahmad bir2 Hanbal, jilid 1, hal. 88, 148, 149 dari banyak rangkaian perawi; al Kabir, Tabarani, jilid 6, hal. 264, 265;Hilyat al-Aaoliya’, Abu Nu’aim, jilid l, hal. 128.

27. Referensi hadis Sunni: Shahih at-Turmudzi, jilid 5, hal. 334, hadis 3889; Tahdzib al-Atsar, jilid 4, hal. 158-161; Musnad, Ahmad bin Hanbal, 6519, 6630, 7078; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 342;at-Tabaqat, Ibnu Sa’ad, jilid 4, bag. 1, hal. 167-168; Majma’ az-Zazon’id, Haitsami, jilid 9, hal. 329-330.

28. Referensi hadis Sunni: Shahih Muslim, versi bahasa Inggris, bab 1205, hal. 1508-1509, hadis 6966-6970 (lima hadis); al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 383.

29. Referensi hadis Sunni: Musnad, Ahmad (diterbitkan di Darul Ma’arif, Mesir, 1952), hadis 6538, 6929; Tab-aqat, Ibnu Sa’ad, jilid 3, hal. 253.

30. Referensi hadis Sunni: Shahih at-Turmudzi, jilid 5, hal. 332, hadis 3884.

31. Referensi hadis Sunni: Shahih at-Turmudzi, jilid 5, hal. 233.

32. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 184.

33. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 199-200.

34. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 200.

35. Referensi hadis Sunni: al-Kamil, Ibnu Atsir, jilid 3, hal. 84.

36. Referensi hadis: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 235.

37. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15,hal. 180-181.

38. Lihat Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 246-250

39. Lihat Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 246-250.

40. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 238-239.

41. Referensi hadis Sunni: Tarikh, Ibnu Atsir, jilid 3, hal. 206; Lisan al-Arab, jilid 14, hal. 141; al-Iqd al-Farid, jilid 4, hal. 290; Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abul Hadid, jilid 16, hal. 220-223.

42. Referensi hadis Sunni: Ansab al-Asyraf, Baladzuri; bag. l, jilid 4, hal. 75.

43. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, ha1. 171-172.

44. Referensi hadis Sunni: al-Isti’aab, Yusuf bin Abdul Barr, jilid l, hal. 359-360.

45. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 173.

46. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 176-179.

47. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 198.

48. Referensi hadis Sunni: Tarikh, Thabari, versi bahasa Inggris, jilid 15, hal. 141-144.

49. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Arab, peristiwa tahun 36 H, jilid 4, hal. 312. (versi bahasa Inggris bagian ini belum diterbitkan ketika artikel ini ditulis).

50. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thahari, versi bahasa Arab, peristiwa 36 H, jilid 4, hal. 501-502; Tarikh, Ibnu Atsir, jilid 3, hal. 240; al-Isti’ab, Ibnu Abdul Barr, jilid 2, hal. 515; Usd al-Ghabah; jilid 2, hal. 252; al-Ishabah, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 2, hal. 557.

51. Referensi hadis Sunni; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 169, dan 371; Musnad Ahmad ibn Hanbal, berdasarkan Ilyas Szabbi;Muruj adz-Dzahab, Mas’udi jilid 4 hal. 321; Majma’ az-Zawa’id, Haitsami, jilid 9, hal. 107.

52. Referensi hadis Sunni; Tabaqat, Ibnu Sa’d, jilid 3, bag. 1, hal. 159;al-Ishabah, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 3, hal. 532-533; Tarikh Ibnu Atsir, jilid 3, hal. 244; Usd al-Ghabah, jilid 3, hal. 87-88; al-Isti’ad, Ibnu Abdul Barr, jilid 2, hal. 766; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, hal. 248; Riwayat yang sama diceritakan dalam al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 169, 371.

53. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, versi bahasa Arab, peristiwa di tahun 36 H, jilid 4, hal. 905

54. Dr. Hafni Daud, 12 Oktober 1961, Kairo Mesir.

55. Referensi: Tarikh at-Thabaari, jilid 15, hal. 15-17.

56. Mengenai Mihnah itu sendiri, lihat Traikh at-Thabari, jilid 3, hal. 517,522,548-511,604,605; dan kitab berjudul Zindiqs ditulis Vajjda, hal. 173-229. mengenai tuduhan terhadap Saif. LihatMajruhin, Ibnu Hibban, jilid 1, hal. 345-346; Mizan, Dzahabi, jilid 2, hal. 255-256, Tahdzib, Ibnu Hajar, jilid 4, hal. 296

57. Lihat Skizzen, hal. 3-7.

58. Hal ini juga ditunjukkan di kutipannya dari sumber yang terlibat dalam pembunuhan Husain. Lihat contohnya pada jilid 11, hal. 204, 206, 216, 222.

59. Tarikh at-Thabari, jilid 1, hal. 1844-1850.

60. Tarikh at-Thabari, jilid l, hal. 3049-3050.

61. Tarikh at-Thabari, jilid l, hal. 2858-2859, 2922, 2928, 2942-2944, 2954, 3027, 3163-3165, 3180.

62. Dalam jilid ini, hal. 8, 24, 36, 40, 42-43, 45, 48, 60-63, 65, 90, 95, 166, 168.

63. Referensi: Tarikh at-Thabari, jilid 11, hal. 15-29.

64. Referensi hadis Sunni: Ibnu Abdul Bar, Istiab, jilid 3, hal. 1287, dicetak di Kairo, 1380.

65. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, jilid 4, hal. 191, dicetak oleh Darul Ma’arif, Kairo.

66. Referensi hadis Sunni: Tarikh at-Thabari, jilid 1, hal. 62-63, Edisi Eropa.

67. Referensi hasi Sunni: Ibnu Abil Hadid, dalam syarahnya, jilid 3, hal. 81, dicetak oleh Muhammad Ali Subaih di Mesir; Fakhurddin Razi dalam tafsir Quran surah 17, jilid 5, hal. 413-414, dicetak oleh Matbaah Sarafiyah, 1304 h.

68. Referensi hadis Sunni: Tarikh al-Khulafa, Jalaluddin Suyuti, diterjemahkan oleh Major H.S. Barret, hal. 12, diterbitkan oleh J.W. Thomas, Baptists Mission Press, Calcutta; Fakhruddin Razi dalam tafsir Qurannya, surah 17, jilid 5, hal. 413-414, dicetak kedua kalinya oleh Matbah Sarafiyah, 1304 H.

69. Referensi hadis Sunni: Ibnu Atsir, al-Kamil, jilid 3, hal. 35, diterbitkan oleh Darul Kitab Lubnanai, 1973.

70. Referensi hadis Sunni: Ibnu Atsir, al-Kamil, jilid 3, hal. 76, dikenal sebagai Ali bin Sahibani, cetakan kedua (mengenai keledai); Tarikh at-Thabari, jilid 4, hal. 343, dicetak oleh Darul Ma’arif, Kairo (mengenai keledai); al-Ishabah, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 5, hal. 323 (Muawiyah yang memberi perintah).

71. Shahih-nya Bukhari, hadis 4667.

72. Referensi hadis Sunni: Fath al-Bari, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 1, hal. 167.

.

Abdullah Bin Saba’ adalah Ammar bin Yasir yang di pelintir Sunni sehingga seolah olah itu Yahudi Munafik ???

Mazhab sunni mencaci dan mengutuk Ammar bin Yasir yang mereka sebut Abdullah bin Saba’ atau Ibnu Sauda’

.

Dr. Aly Al Wardy dalam kitabnya Wu’adzus Salatin dan Dr, Kamil Mustafa As Syaibi dalam kitabnya As Shilah Baina Tashawuf wa al Tasyyu’ mengalamatkan inisial Ibnu Saba pada Amar bin Yasir dengan beberapa faktor :

1.  Ibu Amar bin Yasir, Sumayah adalah seorang budak hingga ia pun dijuluki Ibnu Sauda·

2. Amar bin Yasir berasal dari kabilah Ansy pecahan dari klan Saba’

3.    Fanatisme  Ammar terhadap Aly, diriwayatkan bahwa ia memandang Aly lebih berhak menjadi Khalifah dibanding Utsman· Ammar menyerukan pengangkatan Ali sebagai khalifah

4. Amar bin Yasir mengkampanyekan pemikirannya di Madinah dan Mesir·

Mereka memaparkan sejumlah bukti bahwa Abdullah bin Saba’ yang dimaksudkan mazhab sunni adalah ‘Ammar bin Yasir.

Golongan Sabaiyah yang ditengarai bentukan milisi ekstrim Ibnu Saba tidak lain adalah kelompok muslimin yang berasal dari klan Saba yang memang setia mendukung Aly, dan seringkali bertindak oposisi di masa pemerintahan Utsman, kelompok ini diwakili Amar bin Yasir, Abu Dzar Al Ghifari dan kaum Anshar yang memang berasal dari klan Saba.

KESIMPULAN

Demikianlah cacian dan kutukan mazhab sunni terhadap Ammar bin Yasir yang mereka sebut Abdullah bin Saba’ atau Ibnu Sauda’  

Pada dasarnya Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif..

Siapakah Saif bin Umar?

Menurut Thabari, namanya yang lengkap adalah Saif bin umar Tamimi Al-Usaidi. Menurut Al-Lubab Jamharat Al-Ansab dan Al-Isytiqaq, namanya Amr bin Tamimi. Karena ia keturunan Amr maka ia telah mengkontribusikan lebih banyak lagi tentang perbuatan-perbuatan heroik Bani Amr ketimbang yang lain-lainnya.

Namanya disebut sebagai usady, sebagai ganti Osayyad, dalam Al-Fihrist oleh Ibn Nadim. Dalam Tahdzib Al-Tahdzib, ia juga disebut Burjumi, Sa’adi atau Dhabi.Disebutkan pula bahwa Saif berasal dari Kufah dan tinggal di Baghdad, meninggal pada tahun 170 H pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid ( 170-193 H).

Saif bin Umar Tamimi menulis dua buah buku yang berjudul:

1.  Al-Futuh Al-Kabir wa Al-Riddah, isinya menjelaskan tentang sejarah dari sebelum wafatnya Nabi Muhammad Saw hingga pada masa Utsman menjadi khalifah.

2. Al-Jamal wa Al-Masiri ‘Aisyah wa Ali, mengenai sejarah sejak terbunuhnya Utsman sampai peristiwa peperangan jamal.

Kedua buku ini lebih banyak menceritakan tentang fiksi ketimbang kebenaran. Sebagian dari cerita-ceritanya adalah cerita palsu yang dibuat olehnya. Kemudian kedua buku ini pun menjadi sumber rujukan para sejarawan seperti Ibnu Abdil Bar, Ibnu Atsir, Dzahabi dan Ibnu Hajar ketika mereka hendak menulis dan menjelaskan perihal para sahabat Nabi Saw.

Allamah Askari menjelaskan dalam bukunya bahwa setelah diadakan penelitian terhadap buku-buku yang dikarang oleh keempat sejarahwan di atas ditemukan bahwa ada sekitar 150 sahabat nabi buatan yang dibuat oleh Saif bin Umar.7

Ahli Geografi seperti Al-Hamawi dalam bukunya Mu’jam Al-Buldan dan Al-Himyaridalam Al-Raudh yang menulis kota-kota islam juga menggunakan riwayat dari Saif dan menyebutkan nama-nama tempat yang diada-adakan oleh Saif8Dengan demikian Saif tidak hanya membuat tokoh fiktif Abdullah bin Saba tetapi juga dia telah membuat ratusan tokoh fiktif lainnya dan juga tempat-tempat fiktif yang dalam realitasnya tidak ada. Berikut ini adalah pandangan dan penilaian para penulis biografi tentang nilai-nilai tulisan Saif :

1. Yahya bin Mu’in (w. 233 H); “Riwayat-riwayatnya lemah dan tidak berguna”.

2. Nasa’i (w. 303 H) dalam kitab Shahih-nya mengatakan : “Riwayat-riwayatnya lemah, riwayat-riwayat itu harus diabaikan karena ia adalah orang yang tidak dapat diandalkan dan tidak patut dipercaya.”

3. Abu Daud (w. 275H) mengatakan: “Tidak ada harganya, ia seorang pembohong (Al-Kadzdzab).”

4. Ibnu Abi Hatim (w. 327 H) mengatakan bahwa : “Dia telah merusak hadist-hadits shahih, oleh karena itu janganlah percaya terhadap riwayat-riwayatnya dan tinggalkanlah hadists-hadistnya.”

5. Ibnu Sakan (w. 353 H)_mengatakan : “Riwayatnya lemah.”

6. Ibnu Hiban (w. 354 H) dia mengatakan bahwa :” Hadists-hadits yang dibuat olehnya kemudian disandarkan pada orang yang terpercaya” juga dia berkata “Saif dicurigai sebagai Zindiq; dan dikatakan dia telah membuat hadits-hadits yang kemudia hadis tersebut dia sandarkan pada orang yang terpercaya.”

7. Daruqutni (w. 385 H) berkata :” Riwayatnya lemah. Tinggalkanlah hadits-haditsnya.”

8. Hakim (w. 405 H) mengatakan : “Tinggalkanlah hadits-haditsnya, dia dicurigai sebagai seorang zindiq.”

9. Ibnu ‘Adi (w. 365 H) mengatakan : “Lemah, sebagian dari riwayat-riwayatnya terkenal namun sebagian besar dari riwayat-riwayatnya mungkar dan tidak diikuti.”

10. Firuz Abadi (w. 817 H) penulis kamus mengatakan:” Riwayatnya lemah.”

11. Muhammad bin Ahmad Dzahabi (w. 748 H) mengenainya dia mengatakan :”Para ilmuwan dan ulama semuanya sepakat bahwa riwayatnya lemah dan ditinggalkan.”

12. Ibnu Hajar (w. 852 H) mengatakan :”hadisnya lemah” dan dalam buku lain mengatakan :Walaupun banyak riwayat yang dinukil olehnya  mengenai sejarah dan penting, tapi karena dia lemah, hadits-haditsnya ditinggalkan.”

13. Sayuti (w. 911 H) mengatakan :”Sangat lemah.”

14. Shafiuddin (w. 923 H) mengatakan :”Menganggapnya lemah.”

Dari beberapa pendapat di atas (baik dari kalangan syi’ah maupun ahlu sunnah) menunjukan bahwa Saif bin Umar sebagai satu-satunya sumber yang meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba adalah sesorang yang pembohong dan oleh sebagian dianggap zindik, juga riwayat-riwayatnya dianggap lemah. Dengan demikian, jelaslah bahwa Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif dalam sejarah Islam. Hal ini didasarkan bukan hanya karena adanya Saif bin Umar dalam jalur sanadnya, tetapi juga karenaSaif bin Umar adalah seseorang yag terkenal zindiq dan fasik.

Wallahu ‘alam bishshawwab. []

.

Syi’ah

Tuduhan bahawa madzhab syiah adalah ajaran daripada si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ telah lama diketengahkan kepada masyarakat Islam dan semacam sudah sebati dengan masyarakat bahawa syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah ibn Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.

Ia dikatakan mempunyai madzhab Saba’iyyah mengemukakan teori Ali adalah wasi Muhammad SAW. Abdullah ibn Saba’ juga dikenali dengan nama Ibn al-Sawda’ atau ibn ‘Amat al-Sawda’- anak kepada wanita kulit hitam. Pada hakikatnya cerita Abdullah ibn Saba’ adalah satu dongengan semata-mata.

Allamah Murtadha Askari telah mengesan dan membuktikan bahawa cerita Abdullah ibn Saba’ yang terdapat dalam versi sunni adalah bersumberkan dari Al-Tabari (w.310H/922M), Ibn Asakir (w571H/1175M), Ibn Abi Bakr (w741H/1340M) dan al-Dhahabi (w747H/1346M). Mereka ini sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ dari satu sumber iaitu Sayf ibn Umar dalam bukunya al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba' wa digar afsanehaye tarikhi, Tehran, 1360 H].

Sayf adalah seorang penulis yang tidak dipercayai oleh kebanyakan penulis-penulis rijal seperti Yahya ibn Mu’in (w233/847H), Abu Dawud (w275H/888M), al-Nasai (w303H/915M), Ibn Abi Hatim (w327H/938M), Ibn al-Sukn (w353H/964M), Ibn Hibban (w354H/965M), al-Daraqutni (w385H/995M), al-Hakim (w405H/1014M), al-Firuzabadi (w817H/1414M), Ibn Hajar (w852H/1448M), al-Suyuti (w911H/1505M, dan al-Safi al-Din (w923H/1517M).

Abdullah bin Saba’, kononnya seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Utsman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke satu tempat untuk menghasut orang ramai supaya bangun memberontak menentang khalifah Uthman. Sayf dikatakan sebagai pengasas ajaran Sabaiyyah dan pengasas madzhab ghuluww (sesat). Menurut Allamah Askari watak Abdullah ibn Saba’ ini adalah hasil rekaan Sayf yang juga telah mencipta beberapa watak, tempat, dan kota khayalan.

Dari cerita Sayf inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ tersebut seperti Said ibn Abdullah ibn Abi Khalaf al-Ashari al-Qummi (w301H/913M) dalam bukunya al-Maqalat al-Firaq, al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w310H/922M) dalam bukunya Firaq al-Shiah, dan Ali ibn Ismail al-Ashari (w324H/935M) dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin. Allamah al-Askari mengesan cerita Abdullah ibn Saba’ dari riwayat syiah dari Rijal oleh al-Kashshi.

Al-Kashshi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d ibn Abdullah al-Ashari al-Qummi yang menyebut bahawa Abdullah ibn Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya sebagai nabi. Mengikut dua riwayat ini, Ali AS memerintahkannya menyingkirkan fahaman tersebut, dan disebabkan keengganannya itu Abdullah ibn Saba telah dihukum bakar hidup-hidup (walau bagaimanapun menurut Sa’d ibn Abdullah Ali telah menghalau Ibn Saba’ ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali AS menemui kesyahidannya. Pada ketika ini Abdullah ibn Saba’ mengatakan Ali AS tidak wafat sebaliknya akan kembali semula ke dunia). Al-Kashshi, selepas meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah ibn Saba’ menyatakan bahawa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang yang pertama yang mengisytiharkan Imamah Ali AS. Allamah Askari menyatakan bahawa hukuman bakar hidup-hidup adalah satu perkara bida’ah yang bertentangan dengan hukum Islam sama ada dari madzhab Syi’ah atau Sunnah. Kisah tersebut pula tidak pernah disebut oleh tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibn al-Khayyat, al-Yakubi, al-Tabari, al-Masudi, Ibn Al-Athir, ibn Kathir atau Ibn Khaldun.

Peranan yang dimainkan oleh Abdullah ibn Sabak’ sebelum berlakunya peristiwa pembunuhan Uthman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali AS telah tidak disebut oleh penulis-penulis yang terawal seperti Ibn Sa’d (w230H/844M0, al-Baladhuri (w279H/892M) atau al-Yaqubi. Hanya al-Baladhuri yang sekali sehaja menyebut namanya dalam buku Ansab al-Ashraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali AS berkata: ” Hujr ibn Adi al-Kindi, Amr ibn al-Hamiq al-Khuzai, Hibah ibn Juwayn al-Bajli al-Arani, dan Abdullah ibn Wahab al-Hamdani – ibn Saba’ datang kepada Imam Ali AS dan bertanya kepada Ali AS tentang Abu Bakr dan Umar…” Ibn Qutaybah (w276H/889M) dalam bukunya al-Imamah wal-Siyasah dan al-Thaqafi (w284H/897M) dalam al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut.

Ibn Qutaybah memberikan identiti orang ini sebagai Abdullah ibn Saba’. Sa’d ibn Abdullah al-Ashari dalam bukunya al-Maqalat wal-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah ibn Saba’ pengasas ajaran Saba’iyyah – sebagai Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Ibn Malukah (w474H/1082M) dalam bukunya Al-Ikmal dan al-Dhahabi (w748H/1347M) dalam bukunya al-Mushtabah ketika menerangkan perkataan ‘Sabaiyyah ‘, menyebut Abdullah ibn Wahb al-Saba’i, sebagai pemimpin Khawarij. Ibn Hajar (w852H/1448M) dalam Tansir al-Mutanabbih menerangkan bahawa Saba’iyyah sebagai ‘ satu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah ibn Wahb al-Saba’i’. Al-Maqrizi (w848H/1444M) dalam bukunya al-Khitat menamakan tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’ ini sebagai ‘Abdullah ibn Wahb ibn Saba’, juga dikenali sebagai Ibn al-Sawda’ al-Saba’i.’

Allamah Askari mengemukakan rasa kehairannya bahawa tidak seorang pun daripada para penulis tokoh Abdullah ibn Saba’ ini menyertakan nasabnya – satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peranan yang penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam tetapi dalam kisah Abdullah ibn Saba’ , yang dikatakan berasal dari San’a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya. Allamah Askari yakin bahawa Ibn Saba’ dan golongan Sabai’yyah adalah satu cerita khayalan dari Sayf ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimanapun, nama Abdullah ibn Wahb ibn Rasib ibn Malik ibn Midan ibn Malik ibn Nasr al-Azd ibn Ghawth ibn Nubatah in Malik ibn Zayd ibn Kahlan ibn Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam Peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali AS.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu untuk melukiskan watak khayalan yang menjadi orang pertama mengiystiharkan Imamah Ali AS. Watak ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Uthman, menjadi dalang mencetuskan Perang Jamal, mengisytiharkan kesucian Ali AS, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali AS atau dihalau oleh Ali AS dan tinggal dalam buangan seterusnya selepas kewafatan Imam Ali AS, mengisytiharkan kesucian Ali AS dan Ali akan hidup kembali dan orang yang pertama bercakap dengan lantang tentang musuh-musuh Ali AS.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai satu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab iaitu Bani Qahtan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa’d ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Utsman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini. justeru, Ziyad ibn Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai ‘Saba’iyyah.’

Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri daripada puak-puak yang berasal dari Yaman. Selepas kejatuhan Bani Umayyah. istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu al-Abbas Al-Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyyah, ditujukan kepada golongan Syi’ah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah.

Walau bagaimanapun Ziyad maupun Al-Saffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan yang sesat. Malahan Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Sayf ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’

Jika anda menganalisa riwayat dongeng Abdullah bin Saba, maka anda akan melihat bahwa satu nama menjadi pusat riwayat tersebut yaitu Saif bin Umar. Sementara dalam beberapa riwayat lainnya tidak memiliki rantai riwayat. Ada juga beberapa riwayat tentang Abdullah bin Saba yang tidak melalui jalur Sayf bin Umar tapi anehnya riwayat tersebut tidak berkaitan atau tidak menyatakan keterlibatan “Sabais atau pengikut si Ibn Saba” dalam pembunuhan Ustman melainkan hanya menyebutkan namanya dan ini benar-benar berbeda dengan dongeng yang dibuat oleh Saif bin Umar
.
Sementara itu, menurut Ijma’ Ahlu SunahSayf bin Umar adalah Pembohong dan tidak diakui riwayatnya, lalu bagaimana mereka bisa menggunakan riwayat Saif bin Umar yang oleh mereka sendiri dikatakan pembohog.?
.
Pandangan Ulama tentang Saif bin Umar :
  1. Ulama andalan Salafi Wahabi, Albani menyatakan Sayf bin Umar :“Pembohong” (Silsila Sahiha, j.3 h.184)
  2. Mahmud Abu Rayah juga menyatkan Sayf sebagai pembohong. (Adhwa ala Al Sunnah, h139)
  3. Ibn Abi Hatim menyatkan : Matruk[1] (Al-Jarh wa Al Ta’dil, j.4 h.278).
  4. Al-Haythami menyatakan : Matruk (Majma al-Zawaid, j8, h.98)
  5. Syaikh Syu’aib al-Arnaut menyatkan Saif bin Umar :  Matruk (cttn. pinggir Siyar Alam An Nubala, j.3 h.27)
  6. Yahya Mukhtar al Ghazawi berkata : “Merupakan kesepakatan bahwa ia (Sayf bin Umar) Matruk” (Cttn. Kaki “Al Kamil” oleh Abdullah bin Uday  j.3 h.435).
Sebagian Ulama menyatakan Sayf bin Umar dan riwayatnya Dhaif adalah:
  1. Ibn Hajar (Taqrib al-Tahdib, j.1 h.408)
  2. Yahya ibn Ma’in (Tarikh Ibn Ma’in, j.1 h.336),
  3. Al-Nasai (Al-Du’afa, h.187)
  4. Al-Aqili (Al-Du’afa oleh Aqili, j.2 h.175), sementara dia sendiri juga menyatakan bahwa Al-Salihi al-Syami menyatakan “Sangat Lemah” (Subul al-Huda wa al-Rasyad, j.11 h.143).
Ulama lainnya, antara lain  :
  1. Ibn Hiban : “Dia (Sayf) meriwayatkan riwayat-riwayat palsu” (Al-Majruhin, j.1 h.345).
  2. Allamah Abu Naim al Asbahani : “Dia (Sayf) tidak ada artinya/bukan apa-apa” (Al Du’afa, oleh Abu Naim, h.91)
  3. Imam Abu Daud sependapat dengan Abu Naim bahwa Sayf tidak ada artinya(Su’alat al-ajiri, j.1 h.214).
  4. Ibn al-Jawzi : ‘Dia (Sayf) dituduh memalsukan hadis” (Al-Maudu’at, oleh ibn al-Jawzi, j.1 h.222).
  5. Abdullah bin Uday : “Riwayat darinya munkar” (Mizan al-I’tidal, j.2 h.255).
  6. Al-Hakim :“Sayf dituduh sesat. Riwayat darinya ditinggalkan” (Tarikh Islam, j.11, h.161)
  7. Hasan bin Farhan al-Maliki berkata : “Pemalsu” (Nahu Inqad al-Tarikh, h.34).
Bahkan Adz-Dzahabi berkata dalam al-Mughni fi al-Dhu’afa, h.292  :

“Sayf mempunyai dua Kitab, yg mana (keduanya) secara bulat (sepakat) ditolak oleh para Ulama”[2]

Yang menarik adalah, meskipun Ulama Ahlu Sunnah menolak riwayat dari Saif bin Umar dan dua Kitab yang berisi segala macam dongeng Abdullah bin Saba, mereka tetap mengambil beberapa cerita darinya dan telah memasukkan dalam buku-buku mereka, salah satunya Dzahabi sendiri. (tanya kenapa..??)
Dan yang lebih lucu lagi Kaum Wahaby Nashibi yang paling doyan memakai riwayat-riwayat dhaif yang ujungnya semua dari Sayf bin Umar karena semua sumber dari dongeng tersebut berujung di Kitab Sayf itu sendiri yaitu “Al Jamal wa Masir Aisyah wa Ali”
Bagi anda yang ingin melihat bagaimana skema jalannya dongeng Abdullah bin Saba dari Sayf sampai ke kitab-kitab Ulama Ahlu Sunah, dan juga riwayat yang dikatakan dari Syiah, maka silahkan klik disini berserta keterangan lainnya dariAntologi Islam.
Cttn :
[1] Hadits Matruk adalah  hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta. Jadi riwayat dari Sayf bin Umar ditinggalkan/tidak dipakai.
[2] Al-Futuh wa al-Riddah dan Al-Jamal wa Masir Aisyah wa Ali
.

BEDAH BUKU  :MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH?

TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

KESALAHAN KESIMPULAN TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

Salah satu sebab terjadinya kesalahan berpikir adalah terlalu cepat mengambil kesimpulan saat belum memahami sebuah persoalan secara utuh. Banyak orang bisa membaca berita, tetapi sedikit yang bisa menafsirkan dan menganalisis berita.

Pembahasan tentang Abdullah bin saba’ bisa dinilai dari dua hal yaitu keberadaan Abdullah bin Saba’ dan pendapat para ulama syiah tentang sosok Abdullah bin Saba’.

1. Keberadaan Abdullah bin Saba’

Para ulama dan ilmuwan muslim baik dari sunni maupun syiah berbeda pendapat tentang keberadaan sosok Abdullah bin Saba’. Sebagian menganggapnya ada dan sebagian lagi menganggapnya sosok dongeng dan fiktif.

Keberadaan Abdullah bin Saba’ disebutkan baik oleh buku2 syiah maupun buku2 sunni. Jika ditelusuri sumber buku2 syiah ttg Abdulah bin Saba’ terdapat pada karya An-Naubakhti, Firaq al-Syiah dan al-Asyari al-Qumi, al-Maqqalat wal Firaq. Dan setelah kita periksa maka ternyata karya an-Naubakhti dan al-Qummi ini tidak menyebutkan sanadnya dan sumber pengambilannya…shg dianggap bahwa mereka hanya menuliskan cerita populer tersebut yg beredar dikalangan sunni.

Adapun yg pertama melakukan studi ilmiah dan istematis ttg Abdullah bin Saba’ adalah Sayid Murtadha al-Askari. Dan dari hasil penelususrannya tersebut, ia menganggap bahwa cerita ttg Abdullah bin Saba’ adalah fiktif. Sehingga, ia menolak keberadaan Abdullah bin saba’.

Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng adalah Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami, Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabi dlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami.

2. Pendapat para ulama Syiah tentang Abdullah bin Saba’

Para ulama syiah dari dulu hingga sekarang tidak menganggap Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali dan Imam-imam lainnya. Bahkan seluruh ulama syiah mengecam dan melaknat serta berlepas diri (tabarri) dari pendapat dan diri Abdullah bin Saba’. Bahkan buku-buku dan pendapat-pendapat yang dikutip oleh Husain al-Musawi dalam bukunya ini sudah cukup memnunjukkan sikap para Imam syiah dan ulama syiah tentang Abdullah bin saba’.

Dengan dua catatan di atas, maka jelaslah persoalan Ibnu Saba’ yang tidak kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah org ditolak keberadaanya atau yang dihina dan dikafirkan oleh seluruh imam2 syiah dan ulama-ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah..??? sungguh kesimpulan yang gegabah dan tentu saja salah kaprah. …

Pada halaman 12, Husain al-Musawi menulis :
> “Abdullah bin Saba’adalah salah satu sebab, bahkan sebab yang paling utama kebencian sebagian besar orang syiah kepada ahlus sunnah.

# Darimana sumber kesimpulan Husain al-Musawi ini muncul..??? Sumber satu2nya adalah imajinasinya yang tak pernah kering. Coba perhatikan, Husain al-Musawi berusaha mempropokasi pembacanya. Pertanyaan kita apa hubungan antara Abdullah bin Saba’ dan kebencian kepada ahlu sunnah. Padahal kalau kita perhatikan seluruh buku2 syiah dan juga buku2 sunni dari yang besar sampai yang kecil tidak ada satupun yang memuji Abdulah bin Saba’. Semua buku itu mencela dan menyatakan kesesatan dan kekafiran Abdulah bin Saba’. Jadi sunni dan syiah sepakat akan kekafiran Abdulah bin Saba’. Seharusnya kesimpulan yang rasional dari hal itu adalah bahwa ahlussunnah dan syiah sama2 membenci Abdullah bin Saba’. Coba perhatikan enam kutipan kitab syiah yang ditulisnya dari mulai halaman 12 sampai halaman 15, bukankah semua isinya menghujat Abdullah bin Saba’..???

Seharusnya, jika dia menyatakan bahwa syiah adalah pengikut Ibnu Saba’, maka dia harus menyebutkan hadits2 syiah yg memuji Ibnu Saba’..??? tapi sayang dia takkan menemukannya….wallahu a’lam

bersambung…

Bedah buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH” Karya Husain al-Musawi..yg diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar
.
.

Kisah dongeng Abdullah bin Saba (2)

Yasini:
Sebelum memulakan perbahasan, silakan tuan sampaikan sedikit ucapan.

Ayatullah Qazwini:
Dalam beberapa minggu kebelakangan ini, salah satu siaran televisyen yang berkait rapat dengan Wahabi telah meluaskan propaganda menentang Syiah dengan serangan yang sangat dahsyat. Mereka berkhayal bahawa ia dapat mempertikaikan cahaya nurani Ahlul Bait yang ma’sum dan suci di peringkat antarabangsa
Saluran Al-Mustaqillah yang mempunyai hubungan dengan Wahabi, sejak hari pertama siarannya, ia berusaha mencetuskan fitnah terhadap Syiah. Dua bulan baru-baru ini fitnah telah sampai ke kemuncaknya. Saya sendiri telah diundang untuk berdebat. Kami pun menolaknya sambil menyatakan kami tidak sudi berdebat dalam sebuah saluran televisyen yang mencetuskan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kami sudah berdebat dengan tokoh-tokoh terkenal Wahabi seperti mufti besar, para pensyarah universiti dan hawzah-hawzah ilmiyah mereka. Namun itu bukanlah perdebatan dengan seorang Ahlusunnah, tetapi perdebatan dengan orang gila yang kerjanya tidak ada yang lain kecuali mencaci, seolah-olah tidak pernah mendapat didikan ayah dan ibunya. Menurut pandangan kami, individu seperti ini bukan menghina Syiah, namun ia menghina Islam.

Kadang-kadang apabila diceritakan sedikit sahaja perihal sahabat nabi dalam saluran TV Salam, sebahagian tok guru Ahlusunnah akan membangkitkan perkara ini dalam khutbah-khutbah Jumaat, mereka lantang menentang saluran TV Salam dan Syiah. Namun saya tidak tahu mereka ini berdiam diri apabila beberapa saluran TV meluahkan penghinaan paling buruk terhadap para Imam (a.s), Ahlul Bait (a.s) dan Imam Mahdi (a.j) serta melaknat para marji’ taqlid Syiah dalam beberapa saluran TV?. mengapa mereka tidak mengeluarkan pernyataan masing-masing? Mengapakah mereka tidak bertindak apa-apa? apakah mereka takut dengan orang gila? Kami suka melihat kalau para alim ulama Sunni seperti Abdul Hamidi yang lantang memprotes saluran TV Salam agar berdepan dengan semua penghinaan orang gila ini. Hendaklah mereka tunjukkan slogan yang dilaungkan mereka selama ini, iaitu kita menuntut perpaduan sesama Islam dan menjauhi sebarang bentuk perpecahan dan perselisihan. Ramai saudara kita dari dalam dan luar negara menelefon kami dan mengirim emel agar mengatur acara untuk berdepan dengan serangan Wahabi dan menyusun rancangan untuk para mahasiswa, pensyarah universiti dan pelajar agama menjawab keraguan Wahabi yang besikap kebudak-budakan terhadap Syiah.

Ada kabar gembira buat semua penonton, mahasiswa, pensyarah universiti, pelajar agama, ustaz-ustaz Hawzah Ilmiyah dari dalam dan luar negara, bahawa dalam waktu terdekat ini akan diumumkan kemunculan beberapa rancangan mengenal kebudayaan Syiah dan menjawab keraguan Wahabi melalui laman web dan secara online untuk para pemuda kita. Setelah beberapa ketika rancangan ini berjalan, kami akan mengadakan program khusus untuk mereka yang mengikuti acara tersebut. Barangsiapa yang berjaya dalam ujian, mereka akan meraih hadiah yang lumayan seperti pakej menunaikan ibadah haji dan menziarahi Masyhad untuk peserta dari dalam dan luar negara.

Dalam pertemuan kita yang pertama, salah satu keraguan penting yang ditimbulkan oleh Wahabi untuk memerangi Syiah pada hari ini ialah pembikinan kisah dongeng Abdullah bin Saba. Beberapa perkara telah kami kemukakan kepada penonton bahawa Abdullah bin Saba tidak lebih dari dongengan dan khayalan. Mereka mencipta hikayat ini semata-mata untuk melonggokkan peristiwa perbalahan di kalangan sahabat ke atas seorang yang bernama Abdullah bin Saba iaitu seorang Yahudi yang baru memeluk Islam. Mereka pun saling berselisih tentang zaman keIslaman Abdullah bin Saba, di mana ia menerima Islam dan apa kerjanya.

Yasini:
Ulama Syiah enggan menerima kewujudan Abdullah bin Saba. Tolong terangkan perkara ini.

Ayatullah Qazwini:
Ramai ilmuan Syiah yang terbilang memungkiri Abdullah bin Saba dan percaya Dinasti Bani Umayyah yang telah mewujudkan kisah dongeng ini. Marhum Kasyif Al-Ghita secara langsung menyebut:

أحاديث خرافة وضعها القصاصون و أرباب السمر و المجون.

Hadis-hadis yang berkaitan dengan Abdullah bin Saba adalah khurafat, hanya para penglipur lara yang gila sahaja menerimanya.

احاديث مربوط به عبد الله بن سبأ، خرافي است و قصه*گويان و کساني که به شب*نشيني مي*روند و بذله*گو هستند، اين داستان را بافته*اند.
أصل الشيعة و أصولها للشيخ كاشف الغطاء، ص181
‘Allamah ‘Askari mempunyai kitab yang khusus tentang topik ini dan dicetak dalam dua jilid. Beliau menerangkan dalil-dalil, kesaksian dan ayat al-Quran yang membuktikan kisah Abdullah bin Saba ini sengaja dicipta. Marhum Ayatullah al-Uzma al-Khu’I yang menjadi kebanggaan fuqaha Syiah kerana berguru dengan beliau, di dalam Mu’jam Rijal al-Hadis berkata:

إن أسطورة عبد الله بن سبأ و قصص مشاغباته الهائلة موضوعة مختلقة اختلقها سيف بن عمر الوضاع الكذاب.
معجم رجال الحديث للسيد الخوئي، ج11، ص207
Dongeng Abdullah bin Saba dicipta oleh seorang yang mencipta hadis bernama Saif bin Umar. – Mu’jam Rijal al-Hadis Li Sayyid al-Khu’i.

Beliau merujuk kepada penelitian ‘Allamah ‘Askari tentang perkara ini. Barangsiapa yang ingin melihat penelitian khusus perkara ini, silakan merujuk kepada kitab beliau. ‘Allamah Tabataba’i di dalam kitab al-Mizan berkata ‘kisah Abdullah bin Saba merupakan cerita rekaan semata-mata, dan ia daripada khurafat sejarah’, Tafsir al-Mizan Li Sayyid Tabataba’i, jilid 9 halaman 260.

‘Allamah Muhammad Jawad al-Mughniyah, antara tokoh yang terkenal di Lubnan, saya sendiri bangga menjadi anak murid beliau dalam beberapa kuliah pagi, di dalam kitab ‘Abdullah bin Saba wa Asatir Ukhra, jilid 1 halaman 12 telah membahaskan topik ini.

Dr. Ali al-Wardi di dalam kitab Wi’az al-Salatin, halaman 90 hingga 112 telah menerangkan topik ‘Abdullah bin Saba secara terperinci dengan membedah manuskrip sejarah di zaman Bani Umayyah.
Salah sorang ulama Syiah bernama ‘Abdullah Fayyadh menerangkan topik ini di dalam kitab Tarikh al-Imamiyyah sebagai: Perkara ini lebih dekat dengan khayalan sehingga ia terkeluar dari hakikat.
Cukuplah kami sebutkan tadi beberapa orang ulama Syiah yang memungkiri kewujudan ‘Abdullah bin Saba.

Yasini:
Apakah Ulama Ahlusunnah juga memungkiri kewujudan ‘Abdullah bin Saba?

Ayatullah Qazwini:
Ada beberapa orang ulama di kalangan ulama Ahlusunnah turut memungkiri perkara ini. Dr. Taha Husain, salah seorang tokoh Sunni yang terkenal secara langsung mengatakan musuh-musuh Syiah yang mencipta ‘Abdullah bin Saba untuk mempertikaikan kebudayaan Syiah:

أراد خصوم الشيعة أن يدخلوا في أصول هذا المذهب عنصرا يهوديا إمعانا في الكيد لهم و النيل منهم.
الفتنة الكبرى للدكتر طه حسين، ج2، ص98، طبعة دار المعارف بمصر، عام 1953 ميلادي
Mereka ingin memerangi Syiah dengan memasukkan elemen Yahudi ke dalam usul mazhab ini. – al-Fitnatul Kubra Li- Dr. Taha Husain, jilid 2 halamabn 98.

Dr. Ali Nasysyar, salah seorang pemikit Islam dan professor falsafah berkata di dalam kitab Nasyatul Fikr Fi al-Islam, jilid 2 halaman 39 sebagai: ‘Abdullah bin Saba di dalam teks sejarah adalah hasil rekaan. Sejarah menyebut nama beliau untuk menuduhnya sebagai pencetus fitnah pembunuhan Uhtman dan peperangan Jamal. ‘Ammar bin Yasir lah yang dianggap Abdullah bin Saba.

Dr. Hamid Dawud Hanafi, iaitu salah seorang tokoh Mesir yang mendapat gelaran Doktor di Universiti Sastera Kaherah mengakui pembikinan kisah ini di dalam mukadimah kitab ‘Allamah ‘Askari, jilid 1 halaman 17.
Muhammad Kamil Husain, seorang doktor, ulama dan ahli falsafah Mesir menyebut kisah ‘Abdullah bin Saba sebagai khayalan di dalam kitab Adab Misr al-Fatimiyyah, halaman 7.

Pensyarah universiti Malik Sa’ud di Riyadh, Dr. Abdul Aziz al-Halabi berkata: kesimpulannya Abdullah bin Saba ialah:

شخصية وهمية لم يكن لها وجود.
دراسة للرواياة التاريخية عن دوره في الفتنة، ص73
Personaliti khayalan, tidak mungkin ia wujud. (Dirasah lil-Riwayah al-Tarikhiyyah ‘An Dawrihi fil Fitnah, halaman 73).

Jikalau ia wujud sekalipun, adalah satu pembohongan jika perkara ini dikaitkan dengannya.
Peneliti buku al-Muntazam Ibnu Jawzi, Dr. Sahil menyebut tentang pembikinan Abdullah bin Saba dalam kitab tersebut.
Mereka ini adalah tokoh tersohor Ahlusunnah yang percaya bahawa pembikinan kisah dongeng Abdullah bin Saba.

Walau bagaimana pun saya akan terangkan lagi, di mana saya sendiri telah mengkaji selama lebih dari 500 jam dalam jurusan ini.
Menurut riwayat Syiah, Abdullah bin Saba telah diceritakan sebagai ghuluw terhadap Amirul Mukminin, dan ia tidak diterima oleh Ali (a.s). Namun Tabari, pembesar Wahabi seperti Ibnu Taimiyyah dan lain-lain lagi telah mengaitkannya sebagai pengasas mazhab Syiah. Kami menganggap ungkapan tidak berasas ini tidak ada yang lain lagi kecuali mengarut. Mereka telah mengaitkan Abdullah bin Saba dalam peristiwa pembunuhan Uthman, fitnah perang Jamal dan lain-lain lagi. Kami dapati, salah satu pembohongan sejarah ialah, tidak ada bukti sama sekali mengenai perkara ini meskipun hadis dhaif dalam kitab Ahlusunnah dan Syiah.

Yasini:
Siapakah orang yang mula-mula mereka cipta kisah dongeng Abdullah bin Saba?

Ayatullah Qazwini:
Soalan ini sering ditanya kepada kami oleh kebanyakan pemuda, ahli akademik Hawzawi. Pertanyaan “Dari mana ia masuk ke dalam sejarah?”, “Dari mana datangnya kisah Abdullah bin Saba ini?”, “Apakah ia benar-benar wujud atau tidak?” adalah satu perbahasan. Kisah dongeng yang dikaitkan dengan beliau adalah satu perbahasan yang lain. Dengan merujuk kepada sumber-sumber kita, Ahlusunnah dan Wahabi mempertikai, mereka sering berbicara. Iya, memang ada riwayat di dalam kitab Rijal Kasyi dan Khishal Syaikh Saduq. Namun apakah dengan adanya riwayat ini menunjukkan ia pengasas mazhab Syiah, pembunuhan Uthman dan jenayah-jenayah lain yang dikaitkan dengan Abdullah bin Saba? Dalam menjawab pertanyaan ini, saya berterus terang, silakan semua penonton, cendiakawan Ahlusunnah dan Wahabi berikan sekecil-kecil bukti yang menyangkal kata-kata saya, bahawa orang yang mula-mula mencipta kisah Abdullah bin Saba ialah Saif bin Umar yang meninggal dalam tahun 170 Hijrah.
Setelah Tabari, orang yang menukilkannya akan mengambil dari Tabari.
تاريخ الطبري، ج3، ص378

Ibnu Athir, penulis al-Kamil Fi al-tarikh, wafat dalam tahun 630 Hijrah telah menukilkan kisah ini daripada Tabari dan di permulaannya mengatakan:
فابتدأت بالتاريخ الكبير الذي صنّفه الإمام أبو جعفر الطبري إذ هو الكتاب المعول عند الكافة عليه.
الكامل في التاريخ لإبن الأثير، ج1، ص3
Saya mulakan dengan Tarikh al-Kabir yang dikarang oleh al-Imam Abu Ja’far al-Tabari, kerana kitabnya menjadi kepercayaan semua orang (seluruh Ahlusunah). (al-Kamil Fi Tarikh Li Ibnu Athir, jilid 1 halaman 3). Ibnu Kathir Dimasqi, wafat dalam tahun 774 Hijrah, dalam al-Bidayah wan Nihayah menukilkan kisah tersebut dan akhirnya mengatakan:

هذا ملخص ما ذكره أبو جعفر بن جرير.
البداية و النهاية لإبن كثير، ج7، ص275

Inilah petikan dari apa yang disebut oleh Abu Ja’far bin Jarir. Ibnu Khaldun, wafat dalam tahun 808
Hijrah menukilkan kisah ini daripada Tabari dan mengatakan:

هذا أمر الحمل، ملخص من کتاب أبي جعفر الطبري.
تاريخ ابن خلدون لإبن خلدون، ج2، بخش2، ص166
Penulis di zaman ini seperti Rashid Ridha di dalam kitab Al-Sunnah Wa Syiah menukilkannya daripada
Tabari (Al-Sunnah Wa Syiah, halaman 4, 6, 45, 49 dan 103) Ahmad Amin Misri di dalam kitab Fajrul Islam turut mengambil perkara ini daripada Tabari. Farid Wajdi, penulis kitab Dairatul Mu’arif, wafat dalam tahun 1370 Hijrah menukilkannya daripada Tabari. Hasan Ibrahim Hasan di dalam Tarikh al-Islam al-Siyasi, halaman 347 meriwayatkannya daripada Tabari. Semua orang yang menukilkan kisah dongeng dan khayalan Abdullah bin Saba sebagai pengasas mazhab Syiah, stimulasi pembunuhan Uthman dan pencetus fitnah perang Jamal akan kembali kepada Tarikh Tabari, namun Tabari hanya menukilkannya daripada Saif bin Umar, bukan daripada orang lain. Selain itu ada perkara yang lain lagi, perkara ini akan dibicarakan lagi dalam pertemuan akan datang.

Yasini:
Tolong terangkan permasalahan utama Abdullah bin Saba untuk para penonton.

Ayatullah Qazwini:
Menurut pandangan saya ada tiga masalah utama tentang kisah dongeng ini. Mereka yang mereka cipta kisah Abdullah bin Saba ini mengatakan kisah pembunuhan Uthman dan lain-lain lagi berkait rapat dengan Abdullah bin Saba. Saya minta, sila beri perhatian permasalahan yang saya bawakan ini. Jikalau ada khilaf atau pertentangan dengan bukti kami, sila kemukakan, dan saya yakin tidak ada siapa pun yang mampu menyangkal.

Persoalan pertama:
Seluruh cerita ini merujuk kepada Tabari, dan Tabari menukilkan daripada seorang yang bernama Saif bin Umar. Saif bin Umar menurut pandangan Ahlusunnah adalah seorang yang Dhaif dan mereka cipta hadis, serta dituduh Zindiq dan tidak beragama. Yahya bin Mu’in di dalam Tarikhnya berkata:
سيف بن عمر ضعيف.
تاريخ ابن معين ليحيى بن معين، ج1، ص336

Nasai di dalam kitab al-Dhu’afa berkata:
آقاي نسائي در کتاب الضعفاء مي*گويد:
ضعيف.
كتاب الضعفاء و المتروكين للنسائي، ص187
‘Uqayli, al-Razi dan Ibnu Habban berterus terang:

أتهم بالزندقة، کان يضع الحديث.
كتاب المجروحين لإبن حبان، ج1، ص345 ـ تاريخ الإسلام للذهبي، ج11، ص162
Beliau dituduh Zindiq serta telah mereka cipta Hadis.

Abu Na’im Isfahani berkata:

متهم في دينه، مرمي بالزندقة، ساقط الحديث لا شئ.
كتاب الضعفاء لأبو نعيم الأصبهاني، ص91
Beliau dituduh zindiq, riwayatnya gugur (tidak boleh dipakai) Al-Mazzi di dalam Tahdhibul Kamal jilid 12 halaman 326 telah menceritakan hal yang sama.

Al-Dhahabi Mizan al-I’tidal turut menukilkannya di dalam (Mizan al-I’tidal Li Dhahabi, jilid 2 halaman 255). Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata di dalam kitab Tahdhib al-Tahdhib:

و قال الحاکم اتهم بالزندقه و هو في الرواية ساقط.
تهذيب التهذيب لإبن حجر، ج4، ص260

Saif bin Umar dituduh Zindiq dan jatuh kemuktabarannya.

Persoalan kedua:
Mereka membetulkan kening sambil merosakkan mata. Mereka tidak sedar pembikinan diskusi Abdullah bin Saba hakikatnya apabila sahabat menjadikan rujukan sumber pemikiran Ahlusunnah, ia telah meninggalkan persoalan, seperti Tabari menukilkan riwayat ini daripada Saif bin Umar yang membawa pergi ke rantau Syam, Mesir dan beberapa tempat dengan menyebarkan kabar angin menentang Uthman sambil membahaskan kekhalifahan dan kewasiyan Ali (a.s). Sebahagian Sahabat seperti Abu Zar, Ammar dan beberapa orang yang lain telah menjadi mangsa fitnah Saif bin Umar. Kami ingin bertanya kepada Ahlusunnah:

Sahabat ini seluruh usianya, menjadi dewasa di kaki minbar Nabi (s.a.w), seperti ‘Ammar bin Yasir di mana Rasulullah berkata tentang beliau:
عمار ياسر ملئ ايمانا إلي مشاشه.
سنن ابن ماجة، ج1، ص52 ـ سنن النسائي، ج8، ص111 ـ فضائل الصحابة للنسائي، ص50 ـ المستدرك الصحيحين للحاكم النيشابوري، ج3، ص392 ـ مجمع الزوائد للهيثمي، ج9، ص295
Seluruh kewujudan ‘Ammar bin Yasir sarat dengan keimanan. Rasulullah telah bersabda tentang peribadi seperti Abu Zar, tidak ada orang yang lebih tulus daripada Abu Zar:
ما أظلت الخضراء و لا أقلت الغبراء أصدق من أبي ذر.

مسند احمد، ج2، ص163 ـ سنن الترمذي، ج5، ص334 ـ المستدرك الصحيحين للحاكم النيشابوري، ج3، ص342
Tabari di dalam Tarikhnya mengatakan, kedua sahabat besar ini, telah menjadi mangsa propaganda Saif bin Umar, ia membicarakan kewasiyan Ali dan mencetuskan propaganda memerangi Uthman serta beberapa peristiwa yang lain (Tarikh Tabari, jilid 3 halaman 379).

Menarik perhatian di sini, Ahmad bin Amin Misri di dalam kitab Fajrul Islam mengatakan:
أن أبا ذر تلقى فكرة الاشتراكية من ذلك اليهودي و هو تلقى هذه الفكرة من مزدكيي العراق أو اليمن.
Sesungguhnya Abu Zar menerima pemikiran sosialis daripada Yahudi itu, yang mengambil pemikiran dari Mazdiki Iraq atau Yaman.
Saya ingin bertanya kepada Ahlusunnah. Jikalau seorang ulama Syiah membuat penghinaan begini kurang hajar kepada salah seorang sahabat, apa yang anda lakukan? Tidakkah perkataan itu juga menghina Abu Zar dan ‘Ammar?

Jikalau riwayat Saif bin Umar diterima mereka sebagai pengasas kebudayaan Syiah, Saif bin Umar ini juga telah mempersoalkan keadilan Sahabat. Apakah tanggapan mereka terhadap sahabat yang lain setelah meletakkan Abu Zar dan ‘Ammar di bawah pengaruh pemikiran Abdullah bin Saba seorang yang sosialis, tidak beragama, menentang al-Quran dan Islam? Apakah sahabat seperti ini tidak boleh dirujuk sebagai sumber ilmu untuk umat Islam?

Tabari berkata daripada kata-kata Saif bin ‘Umar, bahawa pembunuhan ‘Uthman berkaitan dengan beberapa orang seperti Abu Zar, ‘Ammar ‘Abdul Rahman bin ‘Udais, Kananah bin Busr dan ‘Amru bin Hamiq al-Khuza’i (Tarikh al-Tabari, jilid 3 halaman 376; Tabaqat al-Kubra Li-Ibnu Sa’ad, jilid 3 halaman 71; Asad al-Ghabah Li- Ibnu al-Athir al-Jazri, jilid 3 halaman 309).

Saya ada pertanyaan untuk Ahlusunnah dan Wahabi yang menukilkan perkara ini dengan terperinci: Apakah ‘Amru bin Hamiq al-Khuza’i daripada sahabat terkemuka atau tidak? Mereka telah menukilkan bahawa ‘Amru bin Hamiq al-Khuza?i adalah orang yang masuk Islam dalam Hujjatul Wida’, beliau termasuk daripada sahabat yang besar sahabat Nabi (Asad al-Ghabah Li- Ibnu al-Athir al-Jazri, jilid 4, halaman 100, al-Isti’ab Li-Ibn ‘Abd al-Bar, jilid 3 halaman 1173). ‘Abdul Rahman bin ‘Udays dikatakan:
ممن بايع تحت الشجرة و شهد بيعة الرضوان.
Ahlusunnah Wal Jama’ah berdalil dengan ayat Shajarah untuk membuktikan keadilan seluruh sahabat. Nampaknya Ibnu ‘Udais adalah salah seorang yang menyertai Bai’atul Ridwan. Beliau juga salah seorang yang berkata:
أعان علي قتل عثمان.
Apakah jawapan anda? Ibnu Hajar berkata bahawa Kinanah bin Busr adalah salah seorang sahabat Nabi (Al-Ishabah Li-Ibnu Hajar ‘Asqalani, jilid 5 halaman 486)

Meskipun begitu, Tabari masih meriwayatkan kisah-kisah yang menentang Syiah. Kisah ini diletakkan di bawah pengaruh Abdullah bin Saba yang melibatkan mereka ini dalam pembunuhan ‘Uthman.
Pihak Ibnu Taimiyah berkata, pengasas mazhab Syiah adalah Abdullah bin Saba’. Pihak mereka berkata juga, orang yang membunuh ‘Uthman adalah mereka yang termasuk di kalangan pemusnah di muka bumi dan daripada kabilah yang celaka.

Apakah ini bukan satu penghinaan terhadap sahabat? Tidakkah ini bukan penghinaan terhadap ‘Abdul Rahman bin ‘Udais, ‘Amru bin Hamiq al-Khuza?i dan Kinanah bin Busr? Tabari yang mengaitkan ‘Abdullah bin Saba dengan pengasasan mazhab Syiah, dari satu sudut yang lain beliau juga menyabitkan peristiwa pembunuhan ‘Uthman dengan sahabat.

Saudara Ahlusunnah dan Wahabi! Jikalau kami menerima kata-kata Tabari dan Saif bin ‘Umar tentang ‘Abdullah bin Saba, bukan daripada Tabari kisah yang mengaitkan gabungan seluruh sahabat di dalam Madinah untuk membunuh ‘Uthman, serta mengirim surat ke luar kota Madinah iaitu datanglah ke Madinah, Khalifah Muslimin telah menghancurkan Islam, jikalau anda ingin berjihad, kembalilah ke Madinah dan menentang khalifah. Tabari menukilkan bahawa ‘Uthman menulis surat kepada Muawiyah dan berkata:

فإن أهل المدينة قد كفروا و أخلفوا الطاعة و نكثوا البيعة.
تاريخ الطبري، ج3، ص402

Sesungguhnya warga Madinah telah kafir, menderhaka dan memutuskan bai’at mereka (Tarikh Tabari jilid 3 halaman 402).
Bagaimana anda ingin menerima kisah Abdullah bin Saba disamping tidak menerima kata-kata ‘Utman yang menganggap penduduk Madinah sebagai kafir! Tidakkah ini berat sebelah?

Persoalan ke-dua.

Mereka berkata di zaman, Abdullah bin Saba’ telah pergi ke Mesir, Sham dan berbagai kota sambil membahaskan kawashiyan Amirul Mukminin (a.s) dan mengobarkan pemberontakan menentang ‘Uthman yang membawa pembunuhannya. Kami bertanya kepada Ahlusunnah:
‘Uthman ada perselisihan sengit dengan beberapa tokoh besar, dan ia mengarahkan Abu Zar dibuang negeri. Akibatnya beliau mati di sahara Zabdah dalam keadaan dahaga dan lapar. Ia mengarahkan kaki dan gigi ‘Abdullah bin Mas?ud dipatahkan. Ia hendak memukul ‘Ammar bin Yasir ketika berlaku perselisihan sengit antara keduanya. Namun kenapa ia duduk diam-diam apabila berhadapan dengan propaganda Abdullah bin Saba? Tidakkah ini menunjukkan kelemahan ‘Uthman? Mengapa pula apabila Abu Zar melancarkan penentangan pemerintahan pusat, dengan segera mata-mata kerajaan Uthman memberikan informasi kepadanya dan Abu Zar langsung dibawa ke Madinah? Tetapi dalam menghadapi komplot Abdullah bin Saba, mata-mata ini tidak memberikan maklumat sehingga menyebabkan pembunuhan ‘Uthman terjadi.
Perkara ini kami perlu bicarakan secara panjang lebar terutamanya kebangkitan menentang ‘Uthman dan stimulasi pembunuhannya dari sumber-sumber Ahlusunnah. Di sinilah antara salah satu tempat perselisihan asasi antara Sunni dan Syiah.

Pertanyaan penonton
Pertanyaan:
Saya telah membaca sebuah kitab yang menyatakan bahawa setelah Rasulullah menerima perjanjian Hudaibiyah, khalifah kedua memprotes Nabi (s.a.w) dan berkata kepada khalifah pertama bahawa saya mengesyaki kerasulan Nabi (s.a.w). Apakah perkara ini ada di dalam sumber Ahlusunnah?
Jawapan:
Jikalau anda mempunyai Sahih Bukhari, peristiwa ini telah dinukilkan di dalam jilid 4 halaman 70 hadis 3182, dan Sahih Muslim jilid 5 halaman 175 hadis 4525 di mana di dalam perjanjian Hudaibiyah, khalifah kedua telah memprotes Nabi (s.a.w) dan berkata: Tidakkah kebenaran bersama kita dan kebatilan bersama mereka? Nabi menjawab: iya. Kata khalifah ke-dua: maka kenapa kita menerima penghinaan dalam perkara ini?. Nabi (s.a.w) bersabda: Saya utusan Allah, dan Allah tidak meninggalkan saya bersendirian, dan Dia membantu saya. ‘Umar tidak berpuas hati dengan jawapan Nabi (s.a.w) dan pergi kepada Abu Bakar seraya berkata: Tidakkah kita bersama kebenaran? Tidakkah korban kita di dalam Syurga manakala korban mereka di dalam neraka? Abu Bakar menjawab: Iya. ‘Umar pun berkata: Mengapakah kita menerima penghinaan terhadap agama kita? Abu Bakar berkata sebagaimana sabda Nabi (s.a.w). Sehingga terdapat di dalam Sahih Bukhari jilid 6 halaman 45 hadis 4844:

فرجع متغيظا، فلم يصبر حتى جاء أبا بكر.
‘Umar tidak berpuas hati terhadap jawapan Nabi dan pulang dalam keadaan marah. Beliau tidak bersabar dan pergi kepada Abu Bakar .

Begitu juga yang terdapat di dalam kitab muktabar Ahlusunnah:
و الله! ما شککت منذ أسلمت إلا يومئذ.
تاريخ الإسلام للذهبي، ج2، ص371 ـ تاريخ مدينه دمشق لإبن عساکر، ج57، ص229 ـ الدر المنثور للسيوطي، ج6، ص77 ـ المصنف لعبد الرزاق الصنعاني، ج5، ص339 ـ صحيح ابن حبان، ج11، ص224 ـ المعجم الكبير للطبراني، ج20،
ص14 ـ جامع البيان لإبن جرير الطبري، ج26، ص129

Demi Allah! Aku tidak syak (terhadap kenabian baginda) sejak masuk Islam melainkan pada hari ini (Tarikh al-Islam Li-Zahabi jilid 2 halaman 371, Tarikh Madinah Dimasyq Li-Ibnu ‘Asakir jilid 57 halaman 229, al-Dur al-Manthur Li-Suyuthi jilid 6 halaman 77, Mushannaf Li-Ibnu Razzaq al-Shan’ati jilid 5 halaman 339, Sahih Ibnu Habban jilid 11 halaman 224, al-Mu’jam al-Kabir Li-Tabrani jilid 20 halaman 14, Jami’ al-Bayan Li-Ibnu Jarir al-Tabari).
Sehingga terdapat di dalam sumber-sumber Ahlusunnah menyatakan dikeranakan saya telah memprotes dan mengesyaki kerasulan baginda, saya telah banyak berpuasa di jalan Allah dan beramal supaya dosaku diampunkan (Sahih Ibnu Habban, jilid 11 halaman 224).

Pertanyaan:
Salah satu propaganda Wahabi ialah, kita hendaklah tidak menukilkan ikhtilaf di antara para sahabat kerana perselisihan yang parah itu bakal menimbulkan kemusykilan terhadap kesahihan al-Quran, kerana mereka adalah perawi dan penghafal al-Quran yang menyampaikannya kepada kita secara berperingkat. Mohon terangkan perkara ini.
Jawapan:
Perkara ini telah diajukan pada hari pertama. Umumnya kami tidak terima perkara ini kerana Rasulullah telah memperkenalkan Al-Quran dan Ahlul Bait sebagai pegangan untuk manusia. Baginda bersabda:
إني تارک فيکم الثقلين کتاب الله و عترتي، إن تمسکتم بهما لن تضلوا بعدي.

Sesungguhnya saya tinggalkan kepada kamu dua perkara berharga iaitu Kitab Allah dan ‘Itrahku, jika kalian berpegang dengan keduanya, kalian tidak akan sesat sepeninggalanku. Baginda tidak bersabda “kitab Allah dan para sahabatku”. Al-Quran dan Ahlul Bait saling menerangkan antara satu sama lain sampai hari kiamat. Kami telah membahaskan tentang hadis Thaqalayn secara berasingan di mana adalah satu kesilapan jikalau kita ingin mengambil pelajaran al-Quran daripada para sahabat. Ia tidak selaras dengan hakikat sejarah.

Sebelum ini kami telah bahaskan bahawa sahabat tidak memperdulikan hadis dan Abu Hurairah berkata, Muhajirin dan Ansar tidak menghiraukan ucapan Nabi kerana asyik berdagang dan bercucuk tanam (Sahih al-Bukhari jilid 1 halaman 38 dan jilid 3 halaman 74; Sahih Muslim jilid 7 halaman 167; Mustadrak al-Hakim jilid 3 halaman 509).

Pertanyaan.
Wahabi ada cara tersendiri berpegang dengan al-Quran dan menggunakan ayat-ayat yang tidak berkaitan untuk menjawab keraguan. Adakah kitab yang dapat saya baca untuk memahami helah Wahabi ini.
Jawapan:
Kitab ‘Ayin Wahhabi’ dan kitab ‘Wahabi, Mabani Fikri wa Karnameh ‘Ilmi’ karangan Hadrat Ayatullah al-Uzma Subhani, dan kitab saya sendiri ‘Wahhabi az Manzare ‘Aql Wa Sar’.

Pertanyaan:
Dalam saluran al-Mustaqillah ada satu soalan mengenai seorang tokoh Syiah yang mengatakan masalah Tajsim dan perbahasan Mukmin al-??q dan Hisham bin Hakam. Benarkah perkara ini dan apakah kita sudah menjawabnya?
Jawapan:
Insyallah kami akan membicarakannya nanti. Dalam jawapan terhadap kitab Qaffari, kami telah menulis hampir 250 halaman dan Insyallah, dalam waktu terdekat nanti, akan kami cetak dan dimasukkan ke dalam web site kami. Yang memasukkan tajsim ke dalam budaya Islam ialah golongan Ahlusunnah seperti Abu Hurairah dan Ka’b bin al-Ahbar. Sebelum Hisham bin Hakam yang meninggal pada tahun 199 Hijrah, Ahmad bin Hanbal sendiri adalah penyebar pemikiran Tajsim. Ibnu Qatadah dan beberapa orang yang lain turut menyebarkan sebelum beliau. Salah satu keraguan yang perlu dijawab ialah apakah Mukmin al-??q atau Hisham bin Hakam menyebarkan pemikiran Tajsim atau ulama Ahlusunnah? Apa saja yang mereka nukilkan daripada Hisham bin Hakam adalah sama sekali pembohongan. dan riwayatnya Dhaif. Terdapat beberapa hadis daripada Hisham bin Hakam dan Mukmin bin al-??q dalam menyangkal dan menafikan Tajsim

.

Alasan di Balik Pemberontakan Terhadap Utsman

Khalifah ketiga, Utsman, diangkat umat sebagai pemimpin dengan syarat bahwa ia akan mengatur urusan negara Islam berdasarkan Kitab Allah dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ia harus mengikuti apa yang dilakukan Abu Bakar dan Umar, apabila tidak ada perintah dari Quran atau Rasul.

Telah diketahui secara luas bahwa dua khalifah pertama hidup dengan sederhana. Mereka tidak memberi keutamaan kepada anggota suku me reka atau menunjuk keluarga mereka untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Utsman, di pihak lain, memiliki pendapat sendiri. Ia hidup dalam kemewahan. la menunjuk anggota dari sukunya (Umayah) untuk menduduki posisi yang penting dan kuat dalam pemerintahan, dengan memberi keutamaan kepada mereka daripada umat Islam lainnya, tanpa melihat kepentingan mereka. Padahal, keluarganya ini tidak beriman. Mungkin Utsman mengira bahwa keutamaan yang ia berikan kepada keluarganya adalah mengikuti anjuran Kitab Allah untuk berbuat baik kepada sanak saudara. Cara Utsman menangani urusan pemerintahan ini membuat banyak para sahabat kecewa. Mereka melihatnya sebagai hal yang royal dan sangat berlebihan.

Para sahabat mengkritik khalifah karena isu-isu berikut ini.

Pengistimewaan keluarga dengan memakai uang negara; ia membawa pamannya, Hakam bin Abi As (putra Umayah, putra Abdussyams), ke Madinah setelah Nabi Muhammad mengasingkannya dari Madinah. Diriwayatkan bahwa Hakam sering bersembunyi dan mendengarkan percakapan Nabi Muhammad ketika ia berbicara secara rahasia kepada sahabat-sahabat utamanya, lalu menyebarkan apa yang ia dengar. Ia sering mengikuti dan memperolok-olok cara berjalan Nabi. Suatu waktu Nabi melihatnya ketika ia sedang meniru-niru jalannya dan berkata, “Selamanya ia akan seperti itu.” Segera Hakam menjadi seperti itu hingga ia meninggal. Diriwayatkan juga bahwa, suatu hari, ketika sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, Nabi Muhammad berkata, “Seorang lelaki yang telah dikutuk akan memasuki ruangan ini.” Tak lama setelah itu masuklah Hakam.44

Setelah membawanya ke Madinah, Utsman memberi pamannya uang sebanyak 300 ribu dirham.

la menjadikan Marwan bin Hakam, sebagai pembantu utamanya, dan penasehat tertingginya, dengan memberi kekuasaan yang sama dengan dirinya. Marwan menerima seperlima pendapatan dari Afrika Utara sebesar 500 ribu dinar. Tetapi ia tidak menyerahkan uang ini. Khalifah mengizinkannya untuk menyimpan uang ini. Jumlahnya sama dengan 10 juta dollar.

Ali bin Abi Thalib sering memperingatkan Utsman mengenai berbahayanya Marwan, tetapi hal itu sia-sia saja. Percakapan berikut antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman membuktikan kenyataan ini. Kejadian ini terjadi ketika Utsman diserang, lalu ia meminta bantuan Ali bin Abi Thalib. Utsman berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Engkau lihat kesulitan yang disebabkan oleh sekelompok orang yang tidak sepakat ketika mereka mendatangiku hari ini. Aku tahu engkau dihormati oleh umat dan mereka akan mendengarkanmu. Aku ingin agar engkau menemui mereka dan menyuruh mereka pergi agar tidak menggangguku. Aku tidak ingin mereka datang ke hadapanku karena hal itu akan menjadi tindakan yang hina bagiku. Biarlah yang lain mendengar hal ini juga.” Ali berkata, “Atas dasar apa aku harus mengusir mereka?” Utsman menjawab, “Atas dasar bahwa aku melaksanakan apa yang telah engkau anjurkan untuk aku lakukan dan yang menurutmu benar, dan aku tidak akan menyimpang dari anjuranmu.” Kemudian Ali bin Abi Thalib berkata, “Sesungguhnya telah sering aku memberitahumu, dan kita membahasnya secara panjang lebar. Semua ini adalah usaha Marwan bin Hakam, Sa’d bin Ash, Ibnu Amir, dan Muawiyah. Engkau lebih mendengarkan mereka dan mengabaikan aku.” Utsman berkata, “Kalau begitu aku akan mengabaikan mereka dan mendengarkanmu.;45

Kemudian Ali bin Abi Thalib berkata kepada mereka dan memintanya untuk pergi. Lalu banyak dari mereka pergi. Ali bin Abi Thalib kembali kepada Utsman dan menyatakan bahwa mereka telah pergi dan berkata, “Buatlah pernyataan sehingga orang-orang akan menyaksikan bahwa mereka telah mendengar darimu, dan Allah adalah saksi. Apakah engkau ingin bertobat kepada-Nya atau tidak?”

Kemudian Utsman keluar dan menyampaikan Khutbah dihadapan umat tentang keinginannya bertobat, ia berkata “Demi Allah, wahai umat! Apabila ada di antara kalian yang menyalahkan aku, ia tidak melakukan apapun yang tidak aku ketahui. Aku tidak melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui. Tetapi jiwaku telah menghidupkan harapan sia-sia dalam diriku dan berdusta padaku dan kebaikanku telah pergi dariku. …Aku memohon ampunan Allah atas apa yang telah aku lakukan dan aku kembali kepada-Nya. Lelaki sepertiku ingin sekali memohon ampunan-Nya.”

Kemudian mereka mengasihaninya, dan beberapa di antaranya menangis. Said bin Zaid berdiri di hadapannya dan berkata, “Wahai pemimpin kaum Muslimin, (sejak saat ini) tidak ada seorang pun yang datang kepadamu tanpa mendukungmu. Bertakwalah kepada Allah dalam jiwamu dan penuhilah janjimu!”

Ketika Utsman turun dari mimbar, ia melihat Marwan bin Hakam dan Sa’d bin Ash serta beberapa keluarga Umayah lainnya di rumahnya. Marwan berkata,

“Haruskah aku berbicara kepada umat atau diam?” Istri Utsman berkata, “Diamlah engkau! Karena mereka akan membunuhnya karena dosa. Ia telah membuat pernyataan yang tidak dapat ia tarik kembali.” Kemudian Marwan berkata, “Apa urusannya denganmu?”

Marwan lalu berkata kepada Utsman, “Tetap dalam kesalahan sehingga engkau harus meminta ampunan Allah adalah lebih baik daripada bertobat karena engkau takut. Apabila engkau demikian, engkau bertobat tanpa mengakui kesalahan.” Utsman berkata, “Pergi dan bicaralah kepada mereka karena aku malu melakukan hal itu!”

Kemudian Marwan pergi menemui orang-orang dan berkata, “Mengapa kalian berkumpul di sini seperti perampok?…Kalian telah datang untuk merampas kekuasaan (kerajaan) kami. Pergilah! Demi Allah, apabila kalian berniat menyakiti kami, kalian akan menghadapi susuatu yang tidak kalian sukai dari kami, dan kalian tidak akan memuji akibat dari gagasan kalian. Kembalilah ke rumah-rumah kalian, karena demi Allah kami bukanlah orang yang harus kalian rampas hartanya!”

Orang-orang menyampaikan hal ini kepada Ali. Kemudian Ali mendatangi Utsman dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah membuuat puas Marwan (sekali lagi), tetapi ia hanya akan puas jika engkau menyimpang dari agamamu dan akalmu, seperti seekor unta membawa tandu yang dituntun semaunya. Demi Allah, Marwan tidak mengetahui apapun tentang agama dan jiwanya. Aku bersumpah demi Allah, menurutku, ia akan membawamu masuk dan tidak akan mengeluarkanmu kembali. Setelah pertemuan ini, aku tidak akan datang untuk mencacimu lagi. Engkau telah menghancurkan kehormatanmu sendiri dan merampas kekuasaanmu.”

Ketika Ali pergi, istri Utsman berkata kepadanya, “Aku mendengar apa yang Ali katakan kepadamu bahwa ia tidak akan kembali lagi kepadamu, dan engkau telah mengikuti kemauan Marwan lagi yang memandumu ke manapun ia kehendaki.” Utsman berkata, ‘Apa yang harus aku lakukan?” la menjawab, “Engkau harus takut kepada Allah, yang tidak memiliki sekutu, dan engkau harus taat mengikuti apa yang dilakukan dua pendahulumu (Abu Bakar dan Umar). Karena apabila engkau mengikuti Marwan, ia akan membunuhmu. Marwan memiliki martabat di kalangan umat, dan ia tidak membangkitkan wibawa atau rasa cinta.

Umat telah meninggalkanmu karena keberadaan Marwan (di pemerintahanmu). Pergilah kepada Ali, percayalah kepada kejujuran dan keteguhannya. Ia memiliki hubungan saudara denganmu dan ia orang yang ditaati umat.” Kemudian Utsman mengirim seseorang untuk memanggil Ali tetapi Ali menolak datang dan berkata, “Aku katakan aku tidak akan kembali.”46

Ketika Utsman wafat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Demi Allah! Aku telah berusaha membelanya (Utsman) hingga aku dipenuhi rasa malu. Tetapi Marwan, Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As telah melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau saksikan. Ketika aku memberi nasehat yang sungguh-sungguh dan menganjurkan ia untuk mengusir mereka, ia menjadi curiga, sehingga terjadilah apa yang terjadi saat ini.”47

Marwan beserta keturunannya merupakan dasar dari beberapa tuduhan korupsi dan nepotisme yang paling serius yang dilakukan Utsman. Marwan, tentu saja, merampas kekhalifahan dan menaiki tahta pada tahun 64/684 dan merupakan nenek moyang raja-raja Umayah selanjutnya di Damaskus juga pemimpin Cordova hingga setelah tahun 756.

Khalifah Utsman mengangkat saudara angkatnya, Abdullah bin Sa’d, sebagai gubernur Mesir. Pada saat itu, Mesir merupakan propinsi terbesar di negara Islam. Ibnu Sa’d telah masuk Islam dan pindah dari Mekkah ke Madinah. Nabi Muhammad SAW memasukkannya sebagai pencatat wahyu. Tetapi, Ibnu Sa’d meninggalkan agamanya dan kembali ke Mekkah. la sering berkata, “Aku akan menurunkan ayat yang sama yang Allah turunkan kepada Muhammad.”

Ketika Mekkah ditaklukkan, Nabi Muhammad SAW menyuruh kaum Muslimin untuk membunuh Ibnu Sa’d. Ia harus dibunuh meskipun ia menalikan kain Kabah ke tubuhnya. Ibnu Sa’d bersembunyi di rumah Utsman. Ketika situasinya mereda, Utsman membawa Ibnu Sa’d ke hadapan Nabi Muhammad SAW dan memberitahunya bahwa ia memberikan perlindungan kepada Ibnu Sa’d. Nabi Muhammad tetap diam begitu lama, berharap ada salah satu orang yang hadir akan membunuh Ibnu Sa’d sebelum ia mengabulkan permintaan Utsman. Para sahabat tidak mengerti apa yang dimaksud dengan diamnya Nabi. Karena tidak ada seorangpun yang bergerak untuk membunuh Ibnu Sa’d, Nabi Muhammad mengabulkan permintaan Utsman.

Memberikan jabatan publik kepada keluarga; khalifah Utsman mengangkat Walid bin Aqabah (salah satu keluarga Umayah) sebagai gubernur Kufah setelah menurunkan gubernur sebelumnya, yaitu sahabat utama Rasulullah, Sa’d bin Abi Waqash. Sa’d adalah ahli memanah terkemuka yang memerangi musuh Islam di perang Uhud. Di sisi lain, tingkah laku Walid ketika Nabi masih hidup buruk. Quran merendahkannya dan menyebutnya sebagai orang yang menyimpang.

Contohnya Nabi Muhammad SAW mengirim dia kepada Bani Mustalaq untuk mengumpulkan zakat mereka.walid melihat dari jauh Bani Mustalaq ini mendekat ke arahnya dengan mengendarai kuda, Ia menjadi takut karena ketegangan antara dia dan kaum ini sebelumnya. Ia kembali kepada Nabi Muhammad SAW dan memberitahu bahwa mereka ingin membunuhnya. Hal. ini tidak benar. Tetapi keterangan Walid ini membuat murka kaum Muslimin Madinah dan mereka ingin menyerang Bani Mustalaq. Pada saat itu turunlah ayat berikut, Hai orang-orang yang beriman, jika seorang yang menyimpang datang kepadamu membawa berita, buktikanlah kebenaran berita itu! Jika tidak engkau akan menghancurkan suatu umat tanpa kalian sengaja, kemudian kalian akan menyesal dengan perbuatan kalian yang tergesa-gesa itu.Walid masih terus menjalankan praktik hidup jahiliyahnya selama hidupnya. la selalu meminum arak dan banyak saksi menyatakan kepada khalifah bahwa mereka menyaksikan Walid sedang mabuk ketika memimpin shalat berjamaah. Berdasarkan kesaksian yang kuat,
Walid dicambuk delapan puluh kali dan diturunkan dari jabatannya oleh khalifah Utsman. Khalifah diharapkan menggantikan orang ini dengan sahabat Rasulullah yang baik, tetapi ia malah menggantikan Walid dengan Said bin As, anggota keluarga Umayah yang lain.

Dialog berikut ini adalah dialog antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman, yang juga ditulis dalam kitab Tarikh ath-Thabari yang memberi pandangan yang lebih jelas tentang keadaan Utsman lama sebelum kematiannya.

Orang-orang berkumpul dan berbicara kepada Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ali pergi menemui Utsman dan berkata, “Orang-orang datang kepadaku dan mereka berbicara kepadaku tentangmu…Ingatlah Allah! Engkau tidak akan diberi penglihatan setelah engkau buta atau diberi ilmu setelah engkau berada dalam kebodohan. Sesungguhnya, jalan itu jelas dan nyata, dan.tanda-tanda agama yang benar sangat kokoh.”

“Ketahuilah, Utsman, bahwa hamba yang paling baik di mata Allah adalah pemimpin yang adil, orang yang telah diberi petunjuk, Han memberi petunjuk kepada umat, karena ia menjunjung tinggi sunnah yang benar dan menghancurkan sunnah-sunnah yang palsu. Demi Allah, segala sesuatunya itu jelas. Sunnah yang benar dan dipercaya berdiri dengan jelas begitu juga yang palsu. Pemimpin yang paling buruk dimata Allah adalah pemimpin yang Kejam, orang yang menyesatkan dirinya sendiri dan menyesatkan orang lain karena ia telah menghancurkan Sunnah yang benar dan membangkitkan sunnah palsu.

“Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Pada Hari Kebangkitan, pemimpin yang kejam akan digiring tanpa penolong dan tanpa pendamping, kemudian dilemparkan ke neraka dan ia akan mengelilingi neraka sebagaimana kincir berputar, lalu ia akan masuk ke neraka yang paling dalam.”‘

“Aku katakan kepadamu (Utsman), ingatlah kepada Allah! Ancaman dan pembalasan dari-Nya karena hukuman dari-Nya sangat pedih dan keras. Aku katakan kepadamu untuk berhati-hati jika tidak engkau akan menjadi pemimpin yang terbunuh dari umat ini. Sebenarnya dikatakan bahwa seorang pemimpin akan terbunuh dalam umatnya, perselisihan berdarah ini akan dibiarkan hingga hari kebangkitan (Imam Mahdi), dan persoalan ini tidak dapat diselesaikan.

Perselisihan ini akan menjadikan umat terkotak-kotak, dan mereka tidak dapat melihat kebenaran karena begitu besarnya kesalahan. Mereka akan terlempar ke dalamnya seperti ombak dan mengembara dalam kebingungan.”

Kemudian Utsman menjawab, “Demi Allah! Aku mengetahui bahwa (orang-orang) akan mengatakan apa yang engkau katakan. Tetapi, apabila engkau berada di posisiku, aku tidak akan menyalahkanmu atau meninggalkanmu dalam kebingungan atau kehinaan atau juga bertindak tidak adil. Apabila aku memberikan kemewahan kepada keluargaku, dan mengangkat mereka sebagai gubernur, beberapa dari mereka adalah orang-orang yang telah Umar angkat sebagai gubernur. Aku bertanya kepadamu atas nama Allah, wahai Ali, apakah engkau tahu bahwa Mughirah bin Syu’bah tidak ada di sana?” Ali berkata, “Benar!”

Kemudian Utsman melanjutkan, “Lalu mengapa engkau menyalahkanku karena mengangkatnya sebagai pemimpin semata – mata karena ia adalah keluargaku?”

Kemudian Ali menjawab, ” Aku katakan kepadamu bahwa setiap orang yang diangkat oleh Umar, berada di bawah pengawasannya yang ketat dan Umar akan menginjak – injak. Apabila Umar mendengar satu kata tentangnya, ia akan mencambuknya dan menghukumnya dengan hukuman yang berat. Tetapi, engkau tidak melakukan hal itu. Engkau lemah dan lembek tehadap keluargamu!” Utsman berkata, “Mereka adalah keluargamu juga.” Ali menjawab, “Mereka memang sangat dekat denganku tetapi kebaikan berada di orang lain.” Utsman berkata lagi, “Tahukah engkau bahwa Umar adalah orang yang menempatkan Muawiyah di pemerintahannya selama ia berkuasa dan aku hanya melakukan hal yang sama.”

Kemudian Ali berkata, “Aku bertanya atas nama Allah, benarkah bahwa Muawiyah lebih takut kepada Umar daripada budak Umar, Yarfa, kepadanya?” Utsman menjawab, “Benar.” Ali melanjutkan, “Sekarang ini Muawiyah berani memutuskan banyak persoalan tanpa berkonsultasi kepadamu dan engkau mengetahuinya.

Muawiyah menyatakan bahwa ini adalah perintah Utsman. Engkau sering mendengar hal ini, tetapi engkau tidak memarahinya.”

Kemudian Ali meninggalkan Utsman.

Utsman beranjak lalu menaiki mimbar dan berkata, “Demi Allah, kalian telah menyalahkanku atas hal-hal yang juga dilakukan Umar. Tetapi ia menginjakmu, memukul dan menaklukanmu dengan lidahnya, lalu kalian tunduk kepadanya baik kalian sukai atau tidak. Tetapi aku bersikap lunak terhadap kalian. Aku membiarkanmu menginjak pundakku sedang aku menahan tangan dan lidahku. Karenanya, kalian begitu kasar terhadapku. Demi Allah, aku memiliki jumlah kerabat yang lebih banyak, sekutu yang dekat, dan memiliki banyak pendukung. Aku telah mengangkat pengawas bagi kalian. Tetapi kalian telah menuduhkan sesuatu yang tidak sepantasnya. Tahanlah lidahmu dari memfitnah pemimpin-pemimpin kalian!…Demi Allah, aku telah mendapatkan tidak kurang dari pada pendahuluku atas semua yang tidak kalian sukai. Keuntungan dari kekayaan begitu banyak, laku mengapa aku tidak boleh melakukan sesuatu terhadap kelebihan itu sekehendak hatiku? Jika tidak, mengapa aku menjadi pemimpin?”48

Abdullah bin Saba : Orang yang Memulai Perang Unta?

Perang Unta (Jamal) melawan Ali bin Abi Thalib dinyatakan di Bashrah pada tahun 36/656 setelah umat mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin kaum Muslimin. Perang tersebut disebut Perang Unta karena salah satu pemimpin kelompok oposisi, Aisyah, mengendarai Unta. Para pemimpin lain di kalangan oposisi adalah Thalhah dan Zubair yang merupakan sahabat Rasulullah yang terkenal. Perang ini juga dikenal dalam sejarah sebagai perang Bashrah.

Akibatnya adalah tertumpahnya darah lebih dari sepuluh ribu kaum Muslimin.

Para penyebar fitnah terhadap pengikut-pengikut keluarga Nabi mengutip hadis Saif yang menyatakan bahwa para pengikut Ibnu Saba memulai perang Bashrah pada malam hari sebelum perundingan antara Ali bin Abi Thalib dan ketiga penentangnya (Aisyah, Thalhah, dan Zubair) selesai. Mereka memulai perang pada malam hari dengan menyerang dua pasukan secara terus menerus agar kedua kelompok itu terjun ke dalam medan perang. Ibnu Saba ingin menjadikan kedua pasukan itu saling menuduh masing-masing pasukan sebagai pemulai perang. Hal ini akan menggagalkan usaha perdamaian yang ketentuannya adalah hukumam bagi para pembunuh Utsman.

Tuduhan ini bertentangan dengan banyak fakta sejarah seperti peristiwa berikut ini yang dicatat oleh sejarahwan dan ahli hadis Sunni.

Sha’bi (Amir bin Syarahil Sya’bi) meriwayatkan peristiwa berikut. Sayap kanan pasukan pemimpin kaum Muslimin (Ali bin Abi Thalib) menyerang sayap kiri pasukan Bashrah. Mereka saling menyerang dan orang – orang berlari ke Aisyah dan sebagian dari mereka adalah suku Dhubbah dan Azd. Perang dimulai setelah matahari terbit dan beranjut hingga siang hari. Suku Bashrah mengalahkan seorang lelaki itu berkata ” Bani Adz melarikan diri “. Ketika Bani Adz dikuasai oleh pasukan Ali mereka berseru ” Kami berasal dari agama Ali bin Abi Thalib.”49

Riwayat di atas ini memberi bukti bahwa peperangan tidak dimulai pada malam hari sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Saba. Riwayat ini menggugurkan semua konspirasi penyerangan kepada kedua pasukan pada malam hari.

Qatadah meriwayatkan peristiwa berikut. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, Zubair menyeruak ke muka mengendarai kudanya dengan persenjataan lengkap. Orang-orang berkata kepada Ali, “Dia Zubair!” Karena itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Zubair diharapkan dari dua orang itu lebih mengingat Allah, sekiranya ia diberi peringatkan.” Thalhah juga maju ke hadapan Ali. Ketika Ali berhadapan dengan mereka, ia berkata, “Sesungguhnya kalian telah menyiapkan persenjataan, kendaraan, dan pasukan. Apakah kalian telah menyiapkan alasan di Hari Perhitungan ketika kalian menemui Tuhan kalian? Bertakwalah kepada Allah dan janganlah menjadi seperti seorang wanita yang menguraikan hasil tenunannya setelah selesai menenunnya! Bukankah aku adalah saudara kalian dan kalian meyakini kesucian darahku? Apakah ada yang menjadikannya halal sehingga kalian berani menumpahkan darahku?” Thalhah berkata, “Kalian telah memfitnah umat untuk memerangi Utsman.”

Ali bin Abi Thalib menjawab dengan mengutip ayat Quran, Pada hari itu (Hari Pembalasan), Allah akan membalas mereka dengan balasan yang adil, dan mereka akan mengetahui hal itu, sesungguhnya Allah adalah saksi yang nyata. (QS. 24:25) Lalu Ali melanjutkan, “Thalhah, apakah engkau berperang untuk menuntut darah Utsman? Semoga Allah mengutuk mereka yang telah membunuh Utsman. Zubair, ingatkah ketika engkau sedang bersama Rasulullah dan melewati Bani Ghunam dan ia melihat kepadaku dan tersenyum? Aku tersenyum kepadanya dan engkau berkata kepadanya, Ali bin Abi Thalib selalu sombong.”

Rasulullah bersabda kepadamu, “la tidak sombong, engkaulah yang akan memeranginya dengan tidak adil!”

Zubair berkata, “Demi Allah, hal ini benar. Sekiranya aku ingat akan peristiwa itu, aku tidak akan melakukan perjalanan ini.Demi Allah, aku tidak akan memerangimu.” Kemudian Zubair meninggalkan pasukan dan memberi tahu Aisyah dan putranya Abdullah bahwa ia bersumpah bahwa ia tidak akan pernah memerangi Ali. Putranya menyarankan agar ia memerangi Ali dan membayar kifarah untuk sumpah yang telah ia langgar. Zubair setuju dan membayar kifarat dengan membebaskan budaknya Mak’hul.50

Peristiwa ini dengan jelas mengungkapkan kepada kita bahwa, Thalhah dan Zubair berhadapan dengan Ali bin Abi Thalib sebelum perang dimulai, dan konfrontasi ini terjadi di siang hari, bukan di malam hari. Jika tidak, orang-orang tidak dapat melihat mereka atau mendengar percakapan di antara Ali dan penentangnya serta mengenal satu sama lain dari penutup kepala mereka.

Karena percakapan dan konfrontasi tersebut terjadi sebelum perang dimulai, jelaslah bahwa riwayat Saif mengenai perang yang dimulai pada malam hari dan tanpa diramalkan, merupakan sebuah kebohongan.

Dzahabi meriwayatkan, “Kami berada di tenda Ali bin Abi Thalib ketika terjadi Perang Unta. Saat itu Ali mengutus seseorang untuk menemui Thalhah agar ia berunding dengannya (sebelum perang dimulai). Thalhah maju ke depan dan Ali berkata kepadanya, “Aku ingatkan engkau atas nama Allah! Tidakkah engkau mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapn yang menganggap aku sebagai maulanya, Ali adalah juga maulanya. Ya Allah, cintailah orang-orang yang mencintainya, dan bencilah orang-orang yang membencinya!”‘ Thalhah menjawab, “Ya, aku mendengarnya.” Ali berkata, “Lalu mengapa engkau memerangiku?”51

Yahya bin Sa’id meriwayatkan, “Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang). Karena Marwan dan semua keluarga Uamayah mengenal Thalhah dan Zubair sebagai pembunuh Utsman, ia melepaskan panah kepadanya dan menyebabkannya terluka parah. Kemudian ia berkata kepada Aban, putra Utsman, ” Aku telah menyelamatkamu dari salah satui pembunuh ayahmu.” Thalhah dibawa ke sebuah rumah yang telah menjadi reruntuhan di Bashrah dan tewas di sana.52

Zuhri, seorang perawi Sunni penting lainnya yang terkenal karena kebenciannya kepada Ahlulbait, meriwayatkan percakapan Ali bin Abi Thalib dengan Zubair dan Thalhah sebelum perang.

Ali berkata, “Zubair, apakah engkau memerangiku untuk menuntut balas atas darah Utsman setelah engkau membunuhnya? Semoga Allah menimpakan akibat yang pedih yang tidak disukai setiap orang karena perbuatan orang-orang di antara kita kepada Utsman.” la melanjutkan, “Thalhah, engkau telah membawa istri Rasulullah (Aisyah) untuk memperalatnya demi perang dan menyembunyikan istrimu di rumahmu (di Madinah). Mengapa engkau tidak memberi sumpah setiamu kepadaku?” Thalhah berkata, “Aku memberimu sumpah setia sedang pedang ini masih di leherku.”

(Hingga saat itu, Ali berusaha mengajak mereka berdamai, dengan tidak memberi alasan kepada mereka). Ali berkata kepada pasukanya, “Siapa di antara kalian yang akan membawa Quran ini kepada mereka dan apabila ia kehilangan satu tangannya ia akan memegang Quran ini dengan tangannya yang lain…?”

Seorang pemuda dari Kufah berseru, “Aku akan melakukannya.” Sekali lagi, Ali bin Abi Thalib masuk ke dalam pasukannya dan menawarkan misi tersebut kepada pasukannya. Hanya pemuda itu yang menjawab. Kemudian Ali berkata kepadanya, “Perlihatkan Quran ini kepada mereka dan katakan, inilah perantara kami dan kalian dari awal hingga akhir. Ingatlah Allah, selamatkan darah kami dan darah kalian!”

Ketika pemuda itu menyeru kepada mereka untuk kembali kepada Quran dan berserah diri kepada keputusannya, pasukan Bashrah menyerang dan membunuhnya. Saat itu, Ali bin Abi Thalib berkata kepada pas,ukannya, “Sekarang saatnya perang dibolehkan!” Perang Unta pun dimulai.53

Semua riwayat ini dan riwayat-riwayat lain yang serupa dengan jelas menunjukkan bahwa perang dimulai di siang hari, dan bukan di malam hari sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Umar. Perang tidak langsung berkobar karena kedua pasukan bertemu dan saling berunding sebelum perang dimulai. Jika konfrontasi antara Ali bin Abi Thalib dan Thalhah serta Zubair terjadi di malam hari, seruan terakhir Ali bin Abi Thalib tidak berguna karena kedua pasukan tidak dapat menyaksikan ataupun mendengarkan percakapan mereka. Selain itu konfrontasi antara pembawa Quran dan pasukan Bashrah tidak berguna. Pasukan-pasukan yang saling berhadapan itu tidak dapat melihat Quran di tangan pemuda itu di malam hari.

Selain itu, pernyataan antara Ali dan tiga pemimpin pembangkang, menghukum orang-orang yang membunuh Utsman hanya akan logis jika ketiga pemimpin tersebut serius mencari hukuman bagi pembunuh tersebut. Tetapi ketiga pemimpin itu (Aisyah, Thalhah, dan Zubair) adalah pelopor yang menghasut orang-orang untuk membunuh Khalifah ketiga. Sebagaimana yang kita lihat pada hadis di atas, Ali bin Abi Thalib dengan jelas menyatakan bahwa Zubair adalah salah seorang yang membunuh Utsman.

Jika para pemberontak mengangkat Thalhah atau Zubair, dan bukan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, mereka akan memberi para pembunuh Utsman itu hadiah yang paling besar. Tentunya pemimpin-pemimpin ini tidak menuntut balas atas darah Utsman, karena mereka sendiri yang berada di balik semua itu.

Mereka berpura-pura melakukan hal itu sebagai alat untuk menghancurkan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib berkata di Perang Unta, “Kebenaran dan kesalahan tidak akan dapat dikenali dengan kebaikan orang. Pahamilah dulu kebenaran itu, lalu kalian akan mengetahui siapa yang benar!”

Ringkasan Singkat Perbandingan Riwayat Tokoh Abdullah bin Saba

Kisah Abdullah bin Saba berdasarkan riwayat-riwayat yang diberikan Saif bin Umar dan mereka yang mengutip darinya.

Saif memberikan banyak sekali informasi dan sejumlah besar riwayat yang panjang dan bertele-tele serta berbeda.

Riwayat-riwayat ini dan riwayat lainnya ditolak karena ia dianggap sebagai penyebar kebohongan, pemfitnah, pendusta, dan zindiq oleh ulama-ulama terkemuka:

- Abdullah bin Saba muncul ketika Khalifah Utsman memerintah;

- Ibnu Saba menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW akan kembali seperti halnya Nabi .Isa as, sebelum Hari Kiamat. la menyatakan bahwa Nabi Muhammad belum wafat;

- Abdullah bin Saba menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus Nabi Muhammad SAW;

- Ibnu Saba menyatakan bahwa Utsman harus digulingkan karena ia telah mengambil hak Ali. Ibnu Saba adalah penghasut utama dalam revolusi melawan
Utsman. Hasutan ini tidak dimulai dari Madinah, dan Thalhah serta Zubair tidak menentang Utsman;

- Ibnu Saba memicu Perang Unta di malam hari agar kedua pasukan bertempur di medan perang;

- Beberapa pelopor Islam di antara nabi Muhammad seperti Abu Dzar dan Ammar bin Yasir adalah murid orang Yahudi ini.
Kisah Abdullah bin Saba berdasarkan riwayat-riwayat yang sanadnya bukan berasal dari Saif:

- Jumlah riwayat-riwayat ini memiliki rangkaian perawi kurang dari empat belas. Dan riwayat-riwayat ini sangat singkat menurut para ahli hadis yang bijaksana;

- Beberapa hadis ini tidak dinyatakan sebagai hadis yang shahih oleh ulama-ulama Sunni atau Syi’ah. Dengan demikian, keberadaan orang bernama Abdullah bin Saba masih dipertanyakan;

- Abdullah bin Saba muncul ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah;

- Tidak ada riwayat bin Saba tentang kembalinya Nabi Muhammad. Riwayat-riwayat Sunni lainnya menyatakan bahwa Umar lah yang pertama kali menyatakan tentang kembalinya Nabi Muhammad dan bahwa ia belum wafat; Abdullah bin Saba menyatakan bahwa ia adalah seorang nabi dan Ali adalah Tuhan;

- Tidak ada riwayat Ibnu Saba dalam hal ini. Riwayat-riwayat Sunni lainnya menyatakan bahwa Thalhah, Zubair, Aisyah, dan Amrn bin Ash adalah orang-orang yang memfitnah agar orang menentang Utsman. Mereka memulai kampanye di Madinah dan mengajak yang lainnya untuk bergabung dengan mereka.

- Tidak ada riwayat Ibnu Saba dalam hal ini. Teiapi beberapn riw,iy,a Sunni lainnya menyatakan bahwa perang dimulai setelah natali,rri terbit dan setelah percakapan antara Ali bin Abi Thalib dan pihak pemberontak selesai ketika dua pasukan saling berhadapan;

- Tidak ada riwayat tentang keterkaitan para sahabat Rasulullah ini dengan Abdullah bin Saba. Para ahli hadis Sunni lain menunjukkan bahwa Abu Dzar dan Ammar adalah dua di antara sahabat-sahabai utama Rasulullah dan yang paling dicintai Rasul.

Pendapat Para Ahli Sejarah

Kami telah memberikan pendapat dari lima belas ulama Sunni terkemuka tentang lemahnya riwayat Saif Ibnu Umar pada bagian pertama. Selain mereka, banyak sejarahwan Sunni juga menolak keberadaan Abdullah bin Saba dan/atau cerita-cerita bohongnya. Di antara mereka adalah Dr. Thaha Husain, yang telah menganalisis kisah ini dan menolaknya. la menulis dalam al-Fitnah al-Kubra bahwa:

Menurut saya, orang-orang yang berusaha membenarkan cerita Abdullah bin Saba telah melakukan kejahatan dalam sejarah dan merugikan diri mereka sendiri. Hal pertama yang diteliti adalah bahwa dalam koleksi hadis Sunni, nama Ibnu Saba tidak muncul ketika mereka membahas tentang pemberontakan terhadap Utsman. Ibnu Sa’d tidak menyebutkan nama Abdullah bin Saba ketika ia membicarakan tentang Khalifah Utsman dan pemberontakan terhadapnya. Juga, kitab Baladzuri, berjudul Ansab al-Asyraf, yang menurut saya merupakan buku paling penting dan paling lengkap membahas pemberontakan terhadap Utsman, nama Abdullah bin Saba tidak pernah disebutkan. Nampaknya, Thabari adalah orang pertama yang meriwayatkan cerita lbnu Saba dari Saif, lalu sejarahwan lain mengutip darinya.

Dalam buku lainnya berjudul Ali wa Banuh ia juga menyebutkan :

Cerita tentang Abbdullah bin Saba tidak lain adalah dongeng semata dan merupakan ciptaan beberapa sejarahwan karena cerita ini bertentangan dengan catatan sejarah lain. Kenyataanvyo adalahbahwa pergesekan antara Syi’ah dan Sunni memiliki banyak bentuk, dan masing-masing kelompok saling mengagungkan diri sendiri dan mencela dengan cara apapun yang mungkin dilakukan. Hal ini menjadikan seorang sejarahwan harus ekstra hati-hati ketika menganalisis riwayat kontroversial yang berkaitan dengan fitnah dan pemberontakan.

Pada bagian pertama, secara panjang lebar kami telah menyebutkan karya besar Allamah Askari yang diterbitkan tahun 1955. Sebelumnya, tidak ada penelitian analitis dilakukan terhadap tokoh Abdullah bin Saba untuk meneliti apakah secara fisik ia ada atau apakah cerita-cerita sekitarnya ini benar. Meskipun kebohongan Saif terkenal berabad-abad lamanya, tidak ada penelitian dilakukan mengenai asal mula cerita Abdullah bin Saba ini. Dalam penelitiannya, Askari membuktikan bahwa pernyataan Saif mengenai Abdullah bin Saba dan banyak hal lainnya adalah kebohongan semata karena semua itu bertentangan dengan isi dokumen-dokumen Sunni, terjadinya peristiwa, nama kota dan para sahabat, rangkaian perawi palsu, dan cerita-cerita tentang peristiwa menakjubkan (seperti sapi yang dapat berbicara dengan manusia dan lain-lain.). Apabila saat itu memang terdapat orang yang bernama Abdullah bin Saba, ceritanya pasti sangat berbeda dengan apa yang dibuat-buat Saif.

Berikut ini sebagian tanggapan seorang cendekiawan Sunni, Dr. Hamid Dawud, Profesor Universitas Kairo, setelah ia membaca buku Askari.
Ulang tahun Islam yang ke 1300 tahun telah dirayakan. Pada saat ini, beberapa penulis terpelajar kami menuduh Syi’ah sebagai paham yang memiliki pandangan yang tidak Ialami. Para penulis ini mempengaruhi pendapat masyarakat terhadap Syi’ah dan menciptakan jurang pemisah yang lebar di antara kaum Muslimin. Meskipun bijaksana dan terpelajar, musuh-musuh Syi’ah mengikuti keyakinan yang mereka pilih sendiri, dan secara sepihak menutupi kebenaran, serta menuduh Syi’ah sebagai agama khayal. Ilmu pengetahuan Islam banyak dirugikan, karena pandanganpandangan Syi’ah ditindas.

Akibat tuduhan ini,kerugian yang diderita ilmu pengetahuan Islam lebih besar daripada yang diderita oleh Syi’ah sendiri, karena sumber fiqih ini, meskipun sangat kaya dan berlimpah, cenderung diabaikan, mengakibatkan terbatasnya ilmu pengetahuan. Selain itu, di masa lalu para cendekiawan dicurigai. Jika tidak, kita akan mendapat banyak manfaat dari pandangan-pandangan Syi’ah itti. Siapa saja yang berniat melakukan penelitian dalam fiqih Islam, ia harus menganggap Syi’ah sebagai sumber ilmu sebagaimana halnya Sunni. Bukankah pemimpin Syi’ah, Imam Jafar Shadiq (148 H), adalah guru dua orang Imam besar Sunni? Mereka adalah Abu Hanifah Nu’man (150 H), dan Malik bin Anas (179 H). Imam Abu Hanifah berkata, “Selain dua tahun, Nu’man akan kelaparan.”

Artinya selama dua tahun ia mendapat keuntungan dari ilmu Imam Jafar Shadiq. Imam Malik juga mengakui secara terus terang bahwa ia belum pernah mendapati orang yang lebih terpelajar dalam fiqih Islam selain Imam Jafar Shadiq.

Sayangnya, beberapa orang yang menyebut dirinya terpelajar, tidak menghargai aturan penelitian ini untuk memuaskan tujuan mereka. Bagaimanapun, ilmu tidak sepenuhnya tertutup bagi mereka sehingga mereka menciptakan jurang pemisah di antara kaum Muslimin. Ahmad Amin adalah salah satu orang yang meninggalkan cahaya ilmu, dan tetap berada dalam kegelapan. Sejarah mencatat noda ini pada Ahmad Amin dan teman-temannya, yang secara membuta mengikuti hanya satu mazhab khusus. Banyak kesalahan dibuat olehnya, salah satu yang paling besar diceritakan dalam kisah Abdullah bin Saba. Ini adalah salah satu cerita yang dikisahkan untuk menuduh Syi’ah sebagai pemfitnah dan cerita-cerita lama.

Askari, peneliti besar kontemporer dalam bukunya telah membuktikan dengan memberikan buti-bukti yang kokoh, bahwa Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif, dan merupakan kebohongan besar bahwa ia adalah pendiri mazhab Syi’ah.

Allah telah menetapkan bahwa beberapa cendekiawnn telah menghijab kebenaran tanpa menghiraukan kesalahan yang mungkin ditimpakan kepada mereka.

Pelopor dalam masalah ini adalah lelaki ini yang telah menjadi peneliti terpelajar Sunni merevisi kitab sejarah Thabari (Sejarah Bangsa dan Raja-raja), dan menyaring kisah-kisah yang benar dari yang salah. Kisah-kisah yang dilindungi sebagai wahyu Allah.

Para penulis yang mulia, dengan mengetengahkan banyak bukti, telah menyingkapkan tirai atau ambiguitas dari peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut dan mengungkapkan kebenaran, sedemikian rupa sehingga beberapa fakta nampak mengejutkan. Tetapi kita harus mengikuti kebenaran betapapun sulitnya kebenaran itu. Kebenaran adalah hal terbaik yang harus kita ikuti.54

Kita baru saja mendengar pernyataan dari seorang Muslim Sunni. Sekarang kita lihat apa yang dinyatakan kelompok ketiga mengenai Saif dan tokoh rekaannya, Abdullah bin Saba. Berikut ini adalah kutipan komentar Dr. R. Stephen Humpherys, dari Universitas Wisconsin, Madison, penerjemah bahasa Inggris jilid ke-15 Kitab Tarikh at-Thabari dalam kata pengantar jilid 15 kitab tersebut.

Mengenai peristiwa di Iraq dan di Arab (kunci utama krisis yang terjadi pada kekhalifahan Utsman), Thabari sepenuhnya mengambil sumber dari Muhammad bin Umar Waqidi (tahun 823) dan Saif bin Umar yang misterius. Kedua sumber ini menyebabkan masalah besar. Sebenarnya, sumber dari Saif bin Umar lah yang menimbulkan masalah besar.

Thabari memperlihatkan rasa suka yang unik kepadanya, dalam dua makna. Pertama, Saif adalah sumber terbesar yang digunakan Thabari sepanjang periode dari Perang Riddah hingga Perang Shiffin (11-37 H). Kedua, tidak ada ulama lain yang menggunakan sumber dari Saif. Tidak ada cara yang gamblang untuk menjelaskan rasa suka Thabari kepada Saif. Tentunya tidak dijelaskan dengan ciri-ciri pernyataan Saif secara formal, karena ia bergantung pada para informan yang biasanya tidak jelas dan acapkali sangat baru. Hal yang sama, ia menggunakan riwayat kolektif, yang bercampur aduk dengan cara yang tidak spesifik sumber-sumber banyak perawinya. Saya beranggapan bahwa Saif menjadikan Thabari tertarik karena dua alasan. Pertama, Saif mengetengahkan penafsiran ‘Sekolah Minggu’ kekhalifahan Utsman. Dalam pernyataannya, seseorang dapat melihat kesatuan dan keselarasan yang besar dalam masyarakat Islam, sebuah kesatuan dan keselarasan yang ditegakkan dengan kesetiaan penuh kepada kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak mungkin orang-orang seperti yang digambarkan Saif tergoda oleh ambisi dan keserakahan dunia. Sebaliknya, dalam pernyataan Saif, sebagian besar konflik-konflik tersebut dibuat-buat, cerminan penyalahartian yang keji oleh penafsir-penafsir selanjutnya. Ketika benar-benar ada konflik di antara umat Islam yang beriman, mereka dihasut oleh orang luar seperti Abdullah bin Saba, seorang Yahudi dari Yaman yang memeluk Islam.

Di sini, sedikitnya, versi peristiwa yang ditulis Saif jelas-jelas sangat sederhana, dan tidak diragukan lagi jika Thabari menerimanya sejelas yang kita terima. Meskipun demikian, kisah tersebut sangat berguna bagi Thabari, yakni bahwa dengan membuat riwayat Saif sebagai kerangka pernyataannya yang jelas, ia dapat memasukkan sedikit banyak penafsiran yang berlebihan dari sejarah Islam awal yang diberikan sumber-sumber Thabari lainnya. Pembaca yang baik akan menolak kesaksian orang-orang yang tidak sependapat ini sebagai hal yang tidak relevan, dan hanya sedikit pembaca yang kritis yang akan mengenali hal ini dan mencari isu-isu yang diangkat oleh sumber yang tidak penting seperti itu. Dengan cara ini, Thabari menyatakan apa yang harus disampaikan ketika menghindari tuduhan sektarianisme. Tuduhan jenis ini tentunya bukan hal kecil memandang ketegangan agama dan sosial yang besar di Baghdad selama akhir abad ke-9 dan awal abad ke-10.55

Selain itu, dalam kata pengantar jilid 11 versi bahasa Inggris Tarikh at-Thabari, penerjemahnya menuliskan bahwa,

Meskipun, Thabari mengutip sumbernya dengan teliti dan dapat dilihat seringnya mengutip mereka hampir secara harfiah, sumber-sumber itu sendiri dapat dilacak hingga ke zaman awal dalam koleksi sejarah Islam, yang diberikan oleh penulis Ibnu Ishaq (151/ 767), Ibnu Kalbi (204/819), Waqidi (207/822), dan Saif bin Umar (170/786). Dari ketiga orang pertama yang disebutkan ini, yang semuanya disebutkan dalam jilid ini, ada karya-karya yang masih tersisa yang membuat kita dapat menilai kecendrungan mereka hingga hal – hal tertentu, juga membuktikan digunakannya sumber – sumber mereka sendiri. Untuk mengukur nilai transmisi hadis mereka, pembaca dianjurkan membaca artikel dalam Ensiklopedia Islam atau literatur-literatur lainnya.

Penulis ke empat inilah yang banyak dicuplik oleh Thabari, Saif bin Umar, yang banyak dibahas di sini. Karena karyanya hanya ada dalam transmisi Thabari dan orang-orang yang mencuplik darinya serta tidak ditemukan di hadis manapun yang independen, sayangnya ia terabaikan dalam kritik modern. Namun demikian, riwayat-riwayat Saif yang panjanglah yang mengisi sebagian besar halaman ini dan jilid-jilid lainnya. Penilaian sejarah terhadap jilid ini bergantung pada sejauh mana penilaian kita terhadap riwayatriwayat asli Saif dan riwayat-riwayat yang digunakan Thabari, dan kepada persoalan inilah kita harus mengalihkan perhatian kita.

Abu Abdillah Saif bin Umar Usaidi Tamimi adalah seorang ahli hadis dari Kufah yang wafat pada masa pemerintahan Harun Rasyid (170-193/786-809). Selain kemungkinan bahwa ia dituduh zindik dalam inkuisisi yang dimulai di bawah kepemimpinan Mahdi pada tahun 166/783 dan berlanjut hingga kepemimpinan Rasyid, tidak banyak diketahui tentang kehidupannya, kecuali apa yang diputuskan dari hadisnya.56

Karena ia dinyatakan telah meriwayatkan hadis dari sedikitnya sembilan ahli hadis yang meninggal pada tahun 140-146/757763, dan bahkan dari dua orang ahli hadis yang meninggal pada tahun 126-128/744-746, ia lebih tua ketika ia meninggal. Hal ini kemungkinan bahwa Abu Mikhnaf, yang meninggal lebih awal dari pada Saif pada tahun 157/774, mengutip darinya. Karya Saif sebenarnya dicatat di dua buku yang sekarang sudah tidak ada tetapi masih ada selama beberapa abad setelah hidup Saif. Mereka melakukan pengaruh yang sangat besar terhadap tradisi sejarah Islam terutama karena Thabari memilih untuk mendasarkan sebagian besar hadisnya pada buku-buku itu untuk peristiwa pada tahun 11-36/632-656, masa yang meliputi pemerintahan tiga khalifah pertama dan awal ditaklukannya Iraq, Suriah, Mesir, dan Iran. Meskipun Thabari juga mengutip sumber-sumber lain dalam jilid ini, yang paling banyak adalah berasal dari Saif. Sebenarnya, mungkin juga, walaupun tidak pasti bahwa ia telah mereproduksi sebagian besar karya saif. Saif jarang dikutip oleh penulis – penulis lain selain Thabari.

Umumnya, penjelasan Saif mengenai penaklukan-penaklukan yang diriwayatkan dalam jilid ini dan jilid-jilid Thabari lainnya, menitikberatkan pada heroisme pejuang-pejuang Islam, kesulitan yang mereka hadapi, dan kekuatan musuh-musuh mereka, gambaran yang nampaknya menakjubkan dan juga ditemukan di kisah-kisah penaklukan lainnya selain dari Saif. Tetapi pernyataan Saif berbeda sedemikian rupa sehingga ia memasukkan hadis-hadis yang tidak ada di hadis manapun, seringkali juga meriwayatkannya dari perawi-perawi yang tidak dikenal.

Pernyataan yang unik ini seringkali mengandung motif-motif yang luar biasa dan dongeng yang ceritanya lebih lebar daripada yang ditemukan dalam versi-versi sejarahwan lainnya. Meskipun ciri riwayat Saif yang berlebihan dan tendensius sering dikutip, contohnya oleh Julius Wellhausen,s’ nilai tulisan-tulisannya yang asli sebagai sumber utama tidak pernah diteliti secara terperinci.

…meskipun ia berasal dari Kufah, cobaan ajaran Syi’ah awal, Saif berasal dari aliran anti Syi’ah, wakil kubu Kufah yang sebelumnya telah menentang Husain bin Ali dan Zaid bin AIi…58

Pernyataan Saif yang tendensius lebih muncul sering dalam jilid-jilid Thabari lainnya, seperti pada episode Saqifah Bani Sa’idah,59 pemakaman Utsman,60 dan cerita tentang Abdullah bin Saba.61 Di setiap contoh ini, versi lain yang tidak membenarkan pernyataan Saif tersedia untuk dijadikan perbandingan dan mengungkapkan kelancangannya.

…selain melebih-lebihkan peranan beberapa sahabat Nabi pada awal-awal penaklukan, Saif juga membubuhi karyanya dengan mengagungkan yang lainnya, sahabat-sahabat imajiner dan pahlawan-pahlawan yang ia buat-buat,terutamayang menampilkan kelompok dari sukunya. Yang paling terkenal dari ciptaannya ini adalah Qa’qa bin Amri, seorang pahlawan dan dikatakan sebagai sahabat Nabi, yang tidak diherankan lagi adalah anggota suku Saif, Usaidi.” la yang berasal dari suku Llasayidi menyatakan bahwa ciptaannya itu karena Saif sendiri dan bukan kepada sumber-sumber Saif, tidak ada yang dikenali sebagai Usaidi. Selain itu, banyak orang yang dinyatakan berasal dari suku Tamim nampaknya direka-reka, beberapa di antaranya memiliki nama stereotipe yang aneh seperti; ‘membungkus, putra kain, rumput musim semi, putra Hujan, putra salju, dan laut, putra Eufrat.’ Pembaca akan menemukan banyak nama yang hanya ditemukan dalam hadis-hadis Saif yang dicatat dalam jilid ini…

Selain menciptakan banyak tokoh yang muncul dalam transmisi hadisnya, nampaknya Saif juga menciptakan banyak nama sanad hadisnya. Sepertinya, ‘sanad-sanad’ karangannya ini berfungsi sebagai hubungan langsung antara Saif dan ahli-ahli hadis sebenarnya yang sanadnya digunakan Saif untuk mendukung hadis-hadis ciptaannya.

Penilaian Saif ini tentunya meruntuhkan sanad penulis-penulis Muslim terdahulu yang karyanya mungkin memiliki tokoh yang sangat berbeda, sebagaimana sejarahwan Romawi akhir, Ammianus Marcellinus dipengaruhi oleh Historia Agusta gadungan. Sebaliknya, besar penghargaan diberikan kepada umat Muslim masa pertengahan yang menilai kualitas hadis dalam kitab Rijal di mana mereka secara sepakat menolak sanad Saif sepenuhnya. Mereka melakukan hal tersebut karena hadishadisnya mungkin telah digunakan untuk mendukung ijma kaum Sunni yang muncul pada sejarah awal Islam. Hal ini menyiratkan bahwa penolakan mereka terhadap hadis-hadis Saif dimotivasi oleh kepedulian terhadap kebenaran, dan bukan oleh keinginan untuk memperoleh keuntungan dalam kancah waktu itu. Mereka menyadari bahwa transmisi hadisnya sangat berlebihan dan curang, dan mereka berkata demikian. Sebenarnya, pencelaan terhadap hadis Saif oleh ulama-ulama Muslim masa pertengahan seharusnya berfungsi sebagai pengingat bagi ulama-ulama modern bahwa teks-teks pertengahan dan kuno tidak selalu digaungkan oleh iklim agama dan politik yang tengah berkuasa dan bahwa pencarian kebenaran sudah ada sejak masa-masa awal dan masa sekarang.

Dalam menjabarkan penaklukan – penaklukan, Pada umumnya Thabari jarang menyimpang dari riwayat Saif. Hal ini memperlihatkan kepada kita tentang daya tarik Saif bagi Thabari; detil. Hadis-hadis Saif hampir semuanya sangat bertele-tele dibandingkan riwayat-riwayat yang sama dari ahli hadis-ahli hadis yang sebenarnya. Ciri-ciri ini mungkin tidak hanya membuat mereka lebih menyukai Thabari tetapi nampaknya menjadi jaminan keakuratan. Karena Thabari hidup di zaman pertengahan, dalam mayoritas contoh-contoh, tidak ada baginya peralatan modern yang akan membuatnya menemukan kecenderungan Saif. Bagaimanapun, riwayat-riwayat Saif masih terus diterima oleh sekelompok kecil ulama, bahkan hingga saat ini

.

KONTROVERSI ABDULLAH BIN SABA

Musuh-musuh Islam yang memiliki tujuan memecah belah umat Islam, berusaha menggambarkan Syi’ah sebagai sebuah aliran yang berasal dari Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang memeluk Islam selama pemerintahan Utsman bin Affan, khalifah ketiga. Mereka menyatakan lebih jauh bahwa Abdullah bin Saba melakukan perjalanan ke kota-kota dan desa-desa umat Islam, dari Damaskus hingga ke Kufnli lalu ke Mesir, menyebarkan berita di kalangan umat Islam bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus Nabi Muhammad SAW. la menghasut umat Islam untuk membunuh Utsman karena ia meyakini bahwa Utsman telah menduduki jabatan Ali. la juga menciptakan keonaran di pasukan Ali dan musuhnya pada perang Unta. la juga bertanggung jawab atas semua gagasan-gagasan Syi’ah selanjutnya. Penulis sewaan ini mepkini U.ilmw nbdullnh bin Saba adalah pendiri mazhab Syi’ah, dan karena ia sendiria adalah orang munafik dan menulis berita bohong, maka semua ilmu dan keyakinan Syi’ah juga tidak benar. Sebenarnya, Abdullah bin Saba adalah kambing hitam yang tepat untuk semua klaim orang – orang Sunni.

Ketika Keberadaan sesorang bernama Abdullah bin Saba di awal sejarah sejarah Islam sangat dipertanyakan, hal yang jelas setelah dilakukan penelitian mengenai hal ini adalah bahwa meskipun seorang Ielaki miskin dengan nama seperti itu mungkin pernah ada pada zaman itu, cerita yang disebarkan tentang orang ini merupakan legenda, cerita bohong, dibuat-buat, dan fiksi, dan tidak ada bukti tentang kebenaran kisah-kisah tentangnya. Atas izin Allah, kami akan membahas poin ini di pembahasan berikut ini.

Cerita-cerita bohong seputar tokoh Abdullah bin Saba merupakan hasil karya keji seseorang bernama Saif bin Umar Tamimi. la adalah pengarang, yang hidup di abad kedua setelah Hijrah. la mengarang cerita ini berdasarkan beberapa fakta utama yang ia temukan dalam sejarah Islam yang ada saat itu. Saif menulis sebuah novel yang tidak berbeda dengan novel Satanic Verses karangan Salman Rushdi dengan motif yang serupa, tetapi dengan perbedaan bahwa peranan setan dalam bukunya diberikan kepada Abdullah bin Saba.

Saif bin Umar mengubah biografi beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW untuk menyenangkan pemerintah yang berkuasa saat itu, dan menyimpangkan sejarah Syi’ah serta mengolok-olok Islam. Saif adalah seorang pengikut setia Bani Umayah, salah satu musuh besar Ahlulbait di sepanjang sejarah, dan niat utamanya mengarang cerita-cerita seperti itu adalah untuk merendahkan Syi’ah. Dalam cerita karangannya, ia mengejar banyak tujuan lain, yang salah satunya adalah mengangkat kedudukan sukunya atas suku lain dengan menciptakan sahabat-sahabat imajiner dari sukunya. Tetapi banyak ulama Sunni menemukan banyak bid’ah dalam riwayatnya yang tidak hanya terbatas pada persoalan Abdullah bin Saba, dan karena itu mereka mengabaikan riwayatnya, dan menuduhnya-sebagai seorang pendusta dan pemfitnah. Tetapi, hasil karya Saif mendapat dukungan sebagian kelompok Sunni hingga saat ini. Di bagian selanjutnya, kami akan mengetengahkan ucapan-ucapan ulama-ulama Sunni terkemuka, yang membenarkan bahwa Saif bin Umar adalah orang yang tidak dapat dipercaya dan ceritanya dusta.

Telaah ideologi menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang membenci mahzab pemikiran Syi’ah (banyak dari mereka adalah musuh – musuh Islam) mendasarkan rasa kebencian mereka pada bid’ah ini yang mereka ekspoitir untuk mendukung serangan mereka kepada Syi’ah. Pendekatan ini sama seperti yang dilakukan Saif bin Umar sendiri.

Asal Muasal Cerita Abdullah bin Saba

Cerita Abdullah bin Saba berusia lebih dari dua belas abad lamanya. Parasejarahwan dan penulis mencatatnya, dan memberi tambahan kepada cerita tersebut.
Sekilas melihat rangkaian perawi dari cerita ini, anda akan temukan nama Saif berada di situ. Beberapa sejarahwan berikut ini mencatat cerita tersebut dari Saif secara langsung:

- Thabari.
– Dzahabi, ia juga menyebutkan dari Thabari (1).
– Ibmi Abu Bakir, ia juga mencatatnya dari Ibnu Atsir (15), yang mencatat dari Thabari (1).
– Ibnu Asakir.

Berikut ini sejarahwan yang tidak secara langsung mencatat dari Saif:

- Nicholson dari Thabari (1).
– Ensiklopedi Islam karya Thabari (1)
– Van Floton dari Thabari (1)
– Wellhauzen dari T’habari (1).
– Mirkhand dari Thabari (1).
– Ahmad Amin dari Thabari (1), dan dari Wellhauzen (8).
– Farid Wajdi dari Thabari (1).
– Hasan Ibrahim dari Thabari (1).
– Said Afghani dari Thabari (1), dan dari ibnu Abu Rakir (3),
– Ibnu Asakir (4), dan Ibnu Bardan (21).
– Ibnu Khaldun dari Thabari (1).
– Ibnu Atsir dari Thabari (1).
– Ibnu Katsir dari Thabari (1).
– Danaldson dari Nicholson (5), dan dari ensiklopedia (6).
– Ghiathuddin dari Mirkhand (9).
– Abu Fida dari Ibnu Atsir (15).
– Rasyid Ridha dari Ibnu Atsir (15).
– Ibnu Bardan dari Ibnu Asakir (4).
– Bustani dari Ibnu Katsir (16).

Daftar di atas menunjukkan bukti bahwa cerita-cerita bohong seputar sifat Abdullah bin Saba dimulai dari Saif dan dikutip oleh Thabari secara langsung dari buku Saif sebagaimana yang diungkapkan Thabari sendiri.’ Olah karena itu, tokoh Saif dan sejarahnya harus ditelaah dan dianalisis dengan sangat teliti.

Siapakah Saif ?

Saif bin Umar Dzabbi Usaidi Tamimi hidup pada abad II/VIII dan meninggal setelah tahun 170/750. Dzahabi berkata bahwa Saif meninggal ketika Harun Rasyid memerintah di Baghdad (Iraq). Selama hidupnya, Saif menulis dua buku berikut ini pada masa pemerintahan Umayah; 1) Al-Futuh wa ar-Riddah, yang merupakan sejarah periode sebelum wafatnya Nabi Muhammad SAW hingga khalifah ketiga, Utsman, menjadi pemimpin dunia Islam; 2) Al-Jamal wa Masiri Aisyah wa Ali, yang merupakan sejarah dari pembunuhan Utsman hingga perang Jamal (perang antara Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW). Buku-buku tersebut sekarang sudah tidak ada namun sempat bertahan beberapa abad setelah masa hidupnya Saif. Berdasarkan temuan ini, orang terakhir yang menyatakan bahwa ia memiliki buku Saif adalah Ibnu Hajar Asqalani (852 H).

Kedua buku ini lebih banyak berisi cerita fiksi, bukan kebenaran, cerita-cerita yang dibuat-buat, dan beberapa peristiwa yang benar, yang secara sengaja dicatat dengan cara yang mengolok-olok.

Karena Saif berbicara tentang beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW dan juga menciptakan sahabat-aahabat Nabi dengan nama yang aneh, ceritanya telah mempengaruhi sejarah Islam masa awal. Beberapa ahli biografi seperti penulis Ushul Ghabah, Isti’ab dan Ishabah dan ahli geografi seperti penulis buku Mu jam al-Buldare dan ar-Rawz al-Mi’tar teloh menulis beberapa kisah hidup beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW, dan menyebutkan tempat-tempat yang hanya terdapat di buku karangan Saif. Karena itu, kehidupan dan tokoh Saif serta kredibilitasnya harus ditelaah secara teliti.

Pendapat Kaum Sunni Mengenai Saif

Beberapa ulama terkemuka Sunni berikut ini membenarkan bahwa Saif bin Umar terkenal sebagai seorang pendusta dan orang yang tidak dapat dipercaya:
Hakim (405 H) menulis, “Saif adalah seorang ahli bid’ah. Riwayatnya harus diabaikan.”

Nasa’i (303 H) menulis, “Riwayat yang disampaikan Saif lemah dan riwayat tersebut harus diabaikan karena tidak dapat dipercaya dan tidak berdasar.”

Yahya bin Muin (233 H) menulis, “Riwayat Saif lemah dan tidak berdasar.”

Abu Hatam (277 H) menulis, “Hadis yang diriwayatkan Saif harus ditolak.”

Ibnu Abu Hatam (327) menulis, “Para ulama telah mengabaikan riwayat yang disampaikan Saif .”

Abu Daud (316 H) menulis, “Saif bukan seorang yang dapat dipercaya. la adalah seorang pembohong. Beberapa hadis yang ia sampaikan sebagian besarnya tertolak.”

Ibnu Habban (354 H) menulis, “Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi-perawi yang sahih. la dianggap sebagai seorang pebid’ah dan pembohong.”

Ibnu Abdul Barr (462 H) menyebutkan dalam tulisannya tentang Qa’fa ; ” Saif meriwayatkan bahwa Qa`qa berkata, ‘Aku menghadiri kematian Nabi Muhammad.”‘ Ibnu Abdul Barr melanjutkan ” Ibnu Abu Hatam berkata, ‘Riwayat Saif lemah. Oleh karenanya, apa yang disampnikam tentang keberadaan Qa’qa pada wafatnya Nabi Muhammad ditolak. Kami menyebutkan hadis-hadis Saif hanya untuk diketahui saja.”‘

Darqufii (385 H) menulis, “Riwayat yang disampaikan Saif lemah.” Firuzabadi (817 H) menulis dalam buku Tawalif tentang Saif dan beberapa orang lainnya bahwa riwayat yang mereka sampaikan lemah. Ibnu Sakan (353 H) menulis, “Riwayat Saif lemah.”

Safuddin (923 H) menulis, “Riwayat yang disampaikan Saif dianggap lemah.”

Ibnu Udai (365 H) menulis tentang Saif, “Riwayat yang ia sampaikan lemah. Beberapa riwayatnya terkenal tetapi sebagian besar dari riwayat itu lemah dan tidak digunakan.”

Suyuthi (900 H) menulis, “Hadis yang disampaikan Saif lemah.” Ibnu Hajar Asqalani (852 H) menulis setelah ia menyebut sebuah hadis, “Banyak perawi hadis ini lemah dan yang paling lemah di antara mereka adalah Saif.”

Menarik untuk kita perhatikan bahwa meskipun Dzahabi (748 H) telah mengutip dari Saif dalam buku sejarahnya, ia menyebutkan di bukunya yang lain bahwa Saif adalah perawi yang lemah. Dalam buku al-Mughni fi al-Dhu’afa, Dzahabi menulis, “Saif memiliki dua buku yang berdasarkan kesepakatan telah diabaikan oleh para ulama.”‘

Hasil dari penyelidikan tentang kehidupan Saif menunjukkan bahwa Saif adalah seorang yang tidak beragama dan pengarang yang tidak dapat dipercaya.

Cerita yang dikisahkan olehnya diragukan dan secara keseluruhan atau sebagiannya palsu. Dalam cerita-ceritanya, in menggunakan nama-nama kota yang tidak pernah ada di dunia ini. Abdullah bin Saba adalah kebohongan utama dari cerita-ceritanya. Ia juga mengenalkan 150 sahabat nabi imajiner untuk meluaskan tokoh-tokvh ciptaannya, dengan memberi nama-nama yang aneh pada mereka yang tidak ditemukan di dokumen manapun. Selain itu, waktu kejadian yang diberikan pada riwayat Saif bertolak belakang dengan dokumen Hadis Sunni yang sahih. Saif juga menggunakan rangkaian perawi palsu dan meriwayatkan banyak peristiwa-peristiwa ajaib (seperti sapi yang berbicara denganmanusia dan lain-lain).

Beberapa pendukung Saif berpendapat bahwa meskipun Sail Hianggap sebagai seorang perawi hadis yang lemah dan banyak udama hadis tidak mempercayai riwayatnya, hal tersebut hanya terdapat di wacano syariat, dan bukan di wacana sejarah.

Dengan pendapat tersebut, mereka ingin mendasarkan cerita ‘sejarah’ tentang seseorang yang dianggap pembohong dan zindiq. Apabila permasalahan tentang Saif hanyalah kurangnya ilmu syariat, kita dapat katakan bahwa ia dapat dipercaya dalam hal lainnya. Tetapi, persoalannya adalah Saif adalah seorang pembohong dan membuat banyak kepalsuan dengan mengarang kejadian dan merujuk hadis palsu pada perawi yang sahih. Oleh karenanya, orang seperti itu patut dipertanyakan untuk semua hal. Mengenai catatan sejarahnya, kita akan lihat pada bagian ke lima bahwa bahkan para sejarahwan Nasrani telah membenarkan ketidakkonsistenan antara riwayat sejarahnya dengan perawi-perawi yang benar lainnya. Di sini tidak perlu disebutkan pendapat Sunni dan Syi’ah tentang Saif yang ahli bid’ah.

Cerita Tentang Abdullah bin Saba Yang Tidak Memiliki Sanad Dari Perawi Manapun

Ada beberapa riwayat dari ulama Syi’ah dan Sunni yang mengambil beberapa bait tentang Abdullah bin Saba dari sejarahwan dan penulis budaya kuno, tetapi hal itu tidak memberi bukti apapun untuk pernyataan mereka. Mereka juga tidak memberikan isnad yang mendukung unhik riwayat mereka untuk diperiksa.

Contohnya, riwayat mereka dimulai dengan kalimat, “Beberapa cara, berkata demikian dan demikian…”, atau “beberapa ulama berkata ini dan itu..” tanpa menyebutkan nama ulama tersebut, dan dari mana mereka mendapatkan riwayat tersebut. Riwayat tersebut berdasarkan pada rumor yang dipropagandakan oleh Umayah yang dipropagandakan oleh Umayah (meniru karya Saif) yang sampai pada mereka, dan beberapa riwayat lain yang didasarkan pada kreativitas pengarang cerita. Hal ini disimpulkan ketika kami melihat penulis-penulis ini meriwayatkan beberapa legenda yang jelas-jelas palsu dan tidak masuk akal.

Riwayat-riwayat ini diberikan oleh orang-orang yang menulis buku tentang al-Milal wa an-Nihal (cerita tentang peradaban dan kebudayaan) atau buku al-Firaq (perpecahan/aliran-aliran).

Di antara kaum Sunni yang menyebutkan nama Abdullah bin Saba dalam cerita mereka tanpa memberikan sumber klaim mereka adalah: Ali bin Isma’il Asyari (330) dalam bukunya yang berjudul Maqalat al-Islamiyyin (esai mengenai masyarakat Islam).

Abdul Qahir bin Thahir Baghdadi (429) dalam bukunya yang berjudul al-Farq Bain al-Firaq (perbedaan di antara aliran-aliran).

Muhammad bin Abdul Karim Syahrastani (548) dalam bukunya yang berjudul al-Milal wa an-Nihal (Negara dan Kebudayaan).

Perawi-perawi Sunni di atas, tidak memberi sumber atau sanad cerita mereka mengenai Abdullah bin Saba. Mereka saling berlomba untuk menambahjumlah aliran dalam Islam dengan nama-nama yang aneh seperti al-Kawusiyyah, at-Tayyarah, al-Mamturah, al-Gharabiyyah, al-Ma’lumiyyah, al-Majhuliyyah dan banyak lagi tanpa memberi sumber manapun atau referensi bagi klaim mereka. Karena hidup di abad pertengahan, para penulis ini beranggapan bahwa menulis kisah-kisah aneh dan merujukkan peristiwa yang tidak realistis kepada negara-negara Islam akan membuat mereka semakin terkenal daripada para pesaing lain dalam hal ini. Dan dengan demikian, mereka menyebabkan penyimpangan yang besar pada sejarah Islam dan telah berbuat kejahatan keji terhadap apa yang telah mereka rujukkan secara salah kepada negara-negara Islam.

Beberapa dari mereka menceritakan legenda yang tak masuk akal dan cerita fiksi yang kesalahannya mudah untuk dikenali saat ini, meskipun bagi mereka tidak mustahil untuk menyalahartikan cerita-cerita tersebut sebagai sejarah di masa itu. Contohnya, Syahrastani dalam bukunya al-Milal wa anNihal menyebutkan bahwa ada sekelompok makhluk setengah manusia bernama an-Nas dengan wajah separuh, satu mata, satu tangan, dan satu kaki. Umat Islam dapat berbicara kepada makhluk-makhluk ini dan bahkan bertukar puisi. Beberapa orang Islam bahkan sering memburu mereka dan memakannya.

Makhluk-makhluk ini dapat melompat lebih cepat dari pada seekor kuda dan mereka adalah pemakan rumput. Syahrastani lebih jauh menyebutkan bahwa Mutawakil, Khalifah Abbasiah, memerintahkan para ilmuwan zaman itu untuk menyelidiki makhluk-makhluk ini.

Masyarakat pada zaman itu tidak memiliki peralatan modern yang dapat memudahkan mereka menemukan kesalahan cerita-cerita dan dongeng bohong ini, dan mungkin mereka lebih suka cerita yang lebih panjang dan aneh yang nampak menunjukkan kebenaran cerita tersebut, meskipun cerita tersebut tidak memiliki referensi.

Selain itu, berdasarkan telaah kronologis zaman ketika para penulis itu hidup, kita dapat menyimpulkan bahwa semua penulis itu hidup lama setelah zaman Saif bin Umar, dan bahkan setelah Thabari. Dengan demikian, sangat memungkinkan bahwa mereka semua mendapatkan cerita tentang Abdullah bin Saba dari Saif. Klaim ini menjadi lebih kuat ketika diteliti bahwa tidak ada satu orang pun dari mereka menyebutkan sumber riwayat mereka yang mungkin karena skandal Saif bin Umar dikenal oleh setiap orang saat itu dan mereka tidak ingin mendiskreditkan buku mereka dengan menyebutkan sumbernya. Selain itu, tidak ada dokumen manapun yang menuliskan tentang Abdullah bin Saba sebelum Saif. Para ulama atau sejarahwan yang hidup sebelum Saif bin Umar tidak pernah menyebut nama Abdullah bin Saba di buku-buku mereka. Hal ini menunjukkan bahwa apabila Ibnu Saba pernah ada, maka ia bukanlah seorang yang penting bagi mereka sebelum Saif membuatnya menjadi penting. Hal ini juga merupakan alasan lain untuk meyakini bahwa apa yang disebarluaskan seputar tokoh Abdullah bin Saba diawali oleh propaganda besar Saif bin Umar Tamimi.

Di antara perawi Syi’ah yang menyebutkan nama Abdullah bin Saba tanpa memberi keterangan mengenai sumbernya adalah dua sejarahwan berikut ini:

Sa’d bin Abdullah Asy’ari Qummi (301) dalam bukunya al-Mmlalul wal-Firaq menyebut sebuah riwayat di mana terdapat nama Abdullah bin Saba. Tetapi ia tidak menyebut sanadnya dan juga tidak menyebut dari siapa (atau dari buku mana) ia mendapat cerita tersebut dan apa sumbernya. Selain itu Asy’ari Qummi telah meriwayatkan banyak hadis dari sumber Sunni. Najasyi (450) dalam bukunya ar-Rijal berkata bahwa Asy’ari Qummi mengembara ke banyak tempat dan terkenal dengan hubungannya dengan sejarahwan Sunni dan banyak mendengar cerita dari mereka. la menulis banyak riwayat lemah dari apa yang ia dengar, salah satunya adalah cerita tentang Abdullah bin Saba, tanpa memberi referensi.

Hasan bin Musa Naubakhti (310), seorang sejarahwan Syi’ah yang menuliskan sebuah riwayat dalam bukunya al-Firaq tentang nama Abdullah bin Saba. Tetapi ia tidak pernah menyebut dari mana ia mendapat riwayat tersebut serta sumbernya.

Kedua orang ini merupakan orang Syi’ah yang memberi beberapa keterangan tentang keberadaan seorang lelaki terkutuk bernama Abdullah bin Saba pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Perhatikanlah bahwa semuanya meriwayatkan keterangan ini lama setelah zaman Saif bin Umar dan bahkan setelah Thabari menulis sejarahnya. Dengan demikian mereka mungkin mendapat informasi dari Saif atau orang yang mengutip darinya seperti Thabari. Hal ini menjadi lebih mungkin ketika kita lihat bahwa mereka menulis kalimat “Beberapa Qrang berkata demikian dan demikian…” tanpa memberi isnad atau nama ‘orang-orang’ tersebut.

Riwayat Mengenai Abdullah bin Saba yang Tidak Diriwayatkan Melalui Saif bin Umar

Kami harus menunjukkan bahwa meskipun ada kurang dari empat belas riwayat yang terdapat dalam koleksi hadis Syi’ah dan Sunni yang menyebut nama Abdullah bin Saba, dan disokong oleh rangkaian sanad, tetapi dalam sanad mereka nama Saif tidak muncul.

Di Syi`ah, Khusyi atau al-Kusysyi, juga disingkat dengan nama Kosli (369), menulis dalam bukunya berjudul Rijal pada tahun 340 mengenai Abdullah bin Saba.

Dalam buku tersebut ia menyebut beberapa hadis yang dalamnya muncul nama Abdullah bin Saba dari Imam Ahlulbait yang dikutip di bawah ini. Sebagaimana yang akan kita lihat, hadis ini memberi gambaran yang sangat berbeda daripada hadis Yang disebutkan oleh Saif. Tetapi, telah terbukti bagi ulama Syi’ah bahwa buku Kusysyi (Kash) memiliki banyak kesalahan, terutama dalam namn dnn juga beberapa kesalahan pada kutipan-kutipan. la banyak meriwayatkan hadis dalam bukunya ar-Rijal, dan oleh karena itu, bukunya tidak dianggap sebagai sumber Syi’ah yang dapat dipercaya. Apalagi bahwa riwayatriwayat Kusysyi (Kash) tidak ditemukan dalam empat kitab hadis utama Syi`ah. (untuk melihat penilaian kritis terhadap kesalahannya, lihatlah buku ar-Rijal karya Tustari dan Askari)

Ulama Syi`ah lain yang menyebut nama Abdullah bin Saba, Mali mengutip Kusysyi atau dua sejarahwan yang telah disebut di atas (Asy’ari Qummi dan Naubakhti yang tidak memberi sanad perawi atau sumbur untuk riwayat mereka). Di antara mereka yang mengutip Kusysyi adalah Syekh Thusi (460), Ahmad bin Thawus (673), Allamah Hilli (726), dan lain-lain.

Di Sunni, selain mereka yang mengutip dari Saif bin Umar yang namanya telah disebutkan sebelumnya, ada beberapa riwayat dari Ibnv Hajar Asqalani yang memberi informasi yang sangat sama dengan aha yang telah Kusysyi berikan.

Mengenai beberapa riwayat Sunni dan Syi’ ah, kami akan menyebutkan beberapa poin’berikut.

Cerita yang diberikan oleh hadis-hadis Sunni dan Syi’ah, sanga berbeda dengan riwayat yang disebarluaskan oleh Saif bin Umar. Hadis ini menyatakan bahwa ada seorang lelaki bernama Abdullah bin Saba yang muncul pada saat pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Lelaki ini menyatakan bahwa ia adalah seorang rasul dan Ali adalah tuhan, dan segera Ali memenjarakannya setelah mendengar berita tersebut dan memintanya untuk bertobat . la tidak melakukan apa yang diperintahkan “Ali sehingga Ali memerintahkan agar ia dibakar. Hadis – hadis ini membenarkan bahwa Ali dan para keturunannya mengutuk iorang ini dan menajauhkan diri mereka dari pernyataan ketuhanan tentang Ali bin Abi Thalib. Inilah cerita tersebut, dengan kondisi bahwa hadis-hadis ini pada awalnya sahih.

Beberapa hadis ini (kurang dari 14 hadis) tidak ada dalam kitab-kitab shahih manapun. Sebenarnya, tidak disebutkan nama Abdullah bin Saba dalam kumpulan (sihah) hadis shahih Sunni. Terlebih lagi, riwayat-riwayat ini tidak pernah dinyatakan sebagai riwayat yang shczhih baik oleh ulama Sunni atau Syi’ah, dan ada kemungkinan besar bahwa orang bernama Abdullah bin Saba tidak pernah ada, dan dia hanyalah karangan Saif Ibnu Umar, serupa dengan 150 saha’bat Nabi imajiner karan ;annya yang tidak pernah terdapat di riwayat yang shahih. Sekiranya Abdullah bin Saba pernah ada, Saif menggunakan tokoh ini dan merujukkan banyak peristiwa kepadanya karena tidak ada riwayat yang sama yang diriwayatkan oleh perawi Sunni lain. Tidak hanya itu, riwayat Saif sangat bertolak belakang dengan riwayat Sunni sebagaimana yang akan kami tunjukkan di bagian ini dan bagian selanjutnya. Karangan-karangan keji tentang peristiwa tersebut mudah untuk dikenali bahkan oleh ulama-ulama Sunni.

Sekarang, kami akan memberikan beberapa hadis ini yang tidak diriwayatkan oleh Saif. Riwayat ini dianggap berasal dari Abu Ja’far. la berkata, “Abdullah bin Saba sering menyatakan dirinya sebagai seorang rasul dan bahwa Amirul Mukminin, Ali, adalah Tuhan. Maha Tinggi Allah dari pernyataan seperti itu.”

Berita ini sampai pada Ali, lalu ia memanggilnya dan menanyainya. Tetapi Abdullah mengulang pernyataannya dan berkata, “Engkau adalah Dia (Tuhan), dan berita ini telah diturunkan kepadaku bahwa engkau adalah ‘Tuhan dan aku adalah seorang rasul.”

Kemudian Amirul Mukminin berkata, “Beraninya engkau berkata demikian. Setan telah mengolok-olokmu. Bertobatlah atas apa yang engkau katakan! Semoga ibumu menangisi kematianmu. Hentikanloh semua ini (pernyataanya)!” Tetapi Abdullah menolak, oleh karenanya Ali bin Abi Thalib memenjarakannya dan memintanya untuk bertobat, ia menolak. Kemudian ia dibakar dan berkata “Setan telah membawanya ke dalam khayalannya, ia sering datang kepadanya dan memasukkan pikiran seperti itu kepadanya ?”

Selain itu diriwayatkan bahwa Ali bin Husain berkata, “Semoga Allah mengutuk orang-orang yang telah berkata kebohongan tentang kami. Setiap kali aku menyebut Abdullah bin Saba , setiap kali pula rambut di tubuhku berdiri, Allah mengutuknya. Ali, atas izin Allah, adalah hamba-Nya, saudara Rasulullah SAW. la tidak mendapat kehormatan dari Allah kecuali karena ketundukannya kepada Allah dan ketaatannya kepada Rasul-Nya. Dan (hal yang sama) Rasulullah SAW tidak mendapat kehormatan dari Allah kecuali karena ketundukannya kepada-Nya.”3

Diriwayatkan bahwa Abu Abdillah berkata, “Kami adalah keluarga yang benar. Tetapi kami tidak terhindar dari seorang pendusta yang berkata kebohongan tentang kami untuk merendahkan kebenaran kami dengan kebohongannya di mata umat. Rasulullah SAW adalah orang yang paling benar di antara orang-orang dari semua yang ia katakan dan orang yang paling benar di antara umat; dan Musailamah sering berbohong tentangnya. Pemimpin orang-orang beriman adalah orang yang paling benar di antara ciptaan Allah setelah Rasulullah SAW, dan orang yang sering berkata kebohongan tentangnya, dan berusaha untuk merendahkan kebenarannya dan menyatakan kebohongan tentang Allah, adalah Abdullah bin Saba.”4

Selain itu, “Dia (Aba Abdullah, Ja’far Shadiq) mengatakan kepada sahabatnya tentang Abdullah bin Saba bahwa Abdullah bin Saha menyatakan bahwa, pemimpin orang-orang beriman, Ali bin Abi ‘I’lialih, adalah Tuhan. la berkata, “Ketika ia menyatakan demikian kepada Ali, Ali memintanya untuk bertobat tetapi ia menolak, oleh karrnanya Ali membakarnya.”5

Mengenai riwayat Sunni, beberapa riwayat dari Ibnu Hajar Asqalani memberi informasi yang sama dengan apa yang diberikan Kusysyi. Ibnu Hajar menyebutkan “Abdullah bin Saba adalah salah satu orang ekstrim (al-Ghulat), zindiq, dan orang sesat, yang membuat dirinya dibakar karena apa yang ia katakan tentang Ali.”6

Kemudian Ibnu Hajar melanjutkan, “Ibnu Asakir menyebut dalam sejarahnya bahwa Abdullah bin Saba berasal dari Yaman. la adalah orang Yahudi yang masuk Islam dan mengembara di kota-kota Islam dan mengajarkan mereka untuk tidak menaati pemimpin mereka, dan memasukkan pikiran-pikiran jahat kepada mereka. Kemudian ia masuk wilayah Damaskus untuk tujuan itu. Kemudian Ibnu Asakir menyebutkan sebuah cerita yang panjang dari buku al-Futuh karya Saif Ibnu Umar, yang tidak memiliki isnad yang benar.”7

Kemudian Ibnu Hajar memberikan sebuah hadis yang dua sanadnya tidak ada. Pada catatan kaki ia mengatakan bahwa hadis ini telah digugurkan. Berikut ini hadisnya; Ali menaiki mimbar dan berkata, “Ada apa dengannya?” Orang-orang berkata, “la menyangkal Allah dan Rasul-Nya.”8

Pada hadis yang lain, Ibnu Hajar meriwayatkan, “Ali berkata kepada Abdullah bin Saba; ‘Aku telah diberi tahu bahwa akan ada tiga puluh pendusta (yang mengaku sebagai Nabi) dan engkau adalah salah satunya.”9
la juga menulis, “Abdullah bin Saba dan pengikutnya mengakui Ali sebagai Tuhan, dan tentu saja Ali membakar mereka ketika ia menjadi khalifah.”lo

Hadis-hadis Sunni berikut ini tidak dinyatakan sebagai hadis yang shahih juga. Semua hadis-hadis ini yang diriwayatkan oleh Syi’ah dan Sunni (selain Saif ), tidak melebihi empat belas hadis. Jumlah hadis-hadis ini bahkan berkurang jika dihilangkan pengulangannya. Beberapa hadis-hadis Syi’ah berikut menyatakan bahwa:

Abdullah bin Saba muncul pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, dan bukan pada masa pemerintahan Utsman sebagairnana yang diakui Saif.
Abdullah bin Saba tidak menyatakan bahwa Ali adalah penerus Nabi Muhammad SAW subagainiana yang dinyatakan Sail. la nuvnyalak.rir bahwa Ali adalah Tuhan.

Ali bin Abi Thalib membakarnya beserta para ekstrimis lainnya (al Ghulat). Di sini Saif tidak menyatakan hal seperti itu.

Tidak disebutkan tentang keberadaannya atau peranamya pada masa kekhalifahan Utsman. Tidak disebutkan tentang agitasinya terhadap Utsman yang berakhir pada pembunuhan Utsman sebagaimana yang Saif rujukkan kepada Abdullah bin Saba;

Tidak disebutkan tentang peranan Abdullah bin Saba di Perang Unta;

Hadis-hadis ini tidak menunjukkan bahwa sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang saleh mengikuti Abdullah bin Saba. Sedangkan Saif menyatakan bahwa pionir-pionir Islam yang setia seperti Abu Darr dan Ammar bin Yasir adalah murid dari Abdullah bin Saba ketika Utsman memerintah.

Sabaiah dan Beragam Tokoh Ibnu Saba

Sejak zaman pra-Islam, istilah Sabaiyah digunakan untuk menunjukkan orang-orang yang berhubungan dengan Saba putra Yashjub, putra Ya’rub, putra Qahtan, sama dengan Qahtaniyah, juga dikenal sebagai Yamaniyah menujukkan tempat asal mereka, Yaman.

Kelompok ini (Sabaiyah/Qahtaniyah/Yamaniyah) berbeda dengan Adaniyah, Nazariyah dan Mudhariyah, yang digunakan untuk menunjukkan orang yang berhubungan dengan Mudhar putra Nazar, putra Adnan, Hari putra-putra Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Ada beberapa sekutu untuk setiap suku yang berada di bawah lindungan suku tersebut, Hon kadang-kadang mereka disebut-sebut dengan nama suku tersebut.

Secara umum, akar bangsa Arab berasal dari salah satu dua suku utama ini. Ketika dua suku bergabung di Madinah untuk menciptakan sebuah masyarakat Islam pertama yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, orang – orang yang berhubungan dengan Qahtan dinamakan Anshar (para penolong) yang merupakan penduduk Madinah di saat itu, dan orang-orang dari Adnan beserta sekutu mereka yang berhijrah ke Mad inah, yang disebut Muhajirin.

Tokoh Abdullah bin Wahab Saba’i, pemimpin utama Khawarij (kelompok yang menentang Ali bin Abi Thalib ketika Ali menjadi khalifah, berasal dari suku pertama, Sabaiyah atau Qahtan. Karena pergesekan antara dua suku Adnan dan Qahtan semakin memanas di Madinah dan Kufah, para Adhani sering memanggil orang-orang dari suku Qahtan dengan sebutan Sabaiyah. Tetapi sebutan ini sangat bersifat sukuistis dan etnis hingga munculnya karya Saif bin Umar (dari suku Adnan) pada awal abad kedua, ketika Umayah memerintah, di Kufah. Saif memanfaatkan pergesekan suku ini dan menciptakan entitas agama mistis Sabaiyah berpemimpinkan Abdullah bin Saba.

Untuk memunculkan nama pendiri mazhab ini, Saif bin Umar mengubah nama Abdullah bin Wahab Saba menjadi Abdullah bin Saba seperti yang muncul di riwayat-riwayat Asyari, Sama’ani, dan Maqrizi, atau menciptakan cerita tersebut sekaligus namanya. Tetapi, tidak ada bukti kuat tentang keberadaan Abdullah bin Saba selama masa kekhalifahan Utsman dan Ali, kecuali Abdullah bin Wahab Saba’i yang merupakan pemimpin suku Khawarij.

Kita juga melihat bahwa istilah Saba’i dalam nama orang, yang berasal dari suku Qahtan, berakhir di Iraq, tempat asal mula cerita tersebut setelah masa itu.

Penamaan tersebut berlanjut di sepanjang abad kedua dan ketiga di Yaman, Mesir, Spanyol, di mana sejumlah perawi hadis Sunni (termasuk beberapa perawi hadis dalam enam koleksi hadis Sunni) diberi nama Saba’i karena mereka memiliki keterkaitan dengan Saba bin Yashjub dan bukan dengan Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang menciptakan kekacauan menurut pernyataan Saif.

Setelah kitab sejarah Thabari dan kitab sejarah lainnya menyebarkon cerita ini di wilayah lain, nama Saba’i ada di mana-mana. Kemudian, sebutan dalam kitab-kitab sejarah tersebut digunakan untuk Menunjukkmn kelanjutan Abdullah bin Saba, meskipun mereka tidak pernah mellihat orangnya selain dari buku.

Cerita tersebut berputar bertahun – tahun lamanya untuk memberikan cerita tentang tokoh ini dan keyakinannya. Pada saat yang sama, ketika Abdullah bin Saba merupakan Ibnu Sauda menurut pengarangnya (Saif). Kita melihat bahwa mereka adalah dua orang yang berbeda yang hidup sekitar abad ke lima, beserta beragam versi cerita lainnya.” Kita dapat membatasi versi cerita tentang tokoh abad ke lima ini menjadi tiga tokoh berikut.

Abdullah bin Wahab Saba’i, pemimpin suku Khawarij yang menentang Ali.

Abdullah bin Saba yang mendirikan suku Saba’iyah yang meyakini bahwa Ali adalah tuhan. la dan pengikutnya dibakar tak lama setelah itu. Abdullah bin Saba, yang juga terkenal dengan nama Ibnu Sauda bagi mereka yang meriwayatkan dari Saif. la adalah pendiri kelompok yang meyakini kepemimpinan Ali, dan menghasut pengikut Utsman kemudian memulai perang Jamal.

Orang pertama, secara realitas memang ada, dan beberapa ahli hadis menghubungkan Abdullah bin Saba terhadap orang ini yang merupakan pemimpin suku Khawarij. Mengenai orang kedua, ada beberapa hadis yang disebut sebelumnya tetapi hadis-hadis tersebut dianggap tidak shahih oleh semua mazhab. Orang ketiga, adalah karangan Saif yang mungkin ia ciptakan berdasarkan cerita yang ia dengar tentang orang pertama dan orang kedua, lalu melekatkan ceritanya sendiri kepada mereka.

Ibnu Saba dan Syi’ah

Kita perlu membedakan antara ulama-ulama Sunni yang meriwayatkan cerita Abdullah bin Saba (baik dari Saif seperti Thabari atau yang lain seperti Ibnu Hajar) dan ulama-ulama Sunni gadungan yang tidak hanya meriwayatkannya tetapi juga menyatakan bahwa Syi’ah adalah pengiku tokoh fiksi ini. Telah terbukti bahwa ulama – ulama gadungan yang menyebutkan bahwa pendiri Syi’ah adalah Abdullah bin Saba bukanlah orang-orang Sunni. Mereka adalah pengikut sunnah keluarga Abu Sufyan dan Marwan.

Ketika ulama-ulama gadungan ini ingin membahas tentang Syi’ah,, mereka menggunakan istilah Saba’iyah untuk merendahkan ketaatan pengikut keluarga Nabi, terhadap Islam, dengan cara yang sama bahwa mereka merendahkan ketaatan sekelompok umat Islam yang terbunuh pada masa kekhalifahan Abu Bakar karena mereka mengikuti apa yang diperintahkan Rasulullah kepada mereka dalam menyebarkan zakat di kalangan orang miskin dan tidak memberikannya kepada Abu Bakar.

Para ulama gadungan ini, ketika berbicara tentang orang-orang ini, mereka mencampuradukkannya dengan masalah Musailamah yang menyatakan dirinya sebagai Nabi dan mengatasnamakan para syuhada ini padanya untuk membenarkan perbuatan mereka menumpahkan darah, menjarah kekayaan mereka dan merampas para wanita mereka. Tetapi Allah SWT akan memberi keputusan di antara mereka karena Dialah pemberi keputusan yang paling baik.

Pencampuradukkan antara kebohongan dan kebenaran seperti itu bukanlah suatu hal. yang baru bagi kita. Dalam mempersiapkan agenda mereka, mereka memanfaatkan orang-orang bodoh yang secara kebetulan beridentitaskan Islam dan yang melakukan kekezaman karena keangkaraan mereka. Selain itu, apabila mereka tidak dapat menemukan perbuatan bodoh dari umat Islam untuk menghiasi media di suatu periode, mereka membayar untuk menciptakan suatu peristiwa dan menghubungkannya kepada umat Islam, seperti halnya Saif bin Umar yang menciptakan sosok Abdullah bin Saba (dan mengarang sosok ini dengan mengambil namanya di tengah malam). Mereka melakukan hal ini untuk mencari alasan atas tuduhan palsu dan serangan mereka kepada seluruh umat Islam di dunia, sebagaimana halnya Saif dan pengikutnya melakukan hal yang sama pada keluarga Nabi Muhamrnad SAW.

Menurut para ulama Syi’ah dan Sunni, Saif bin Umar adalah salah satu orang yang memanipulasi kebenaran dan menciptakan hadis-hadis palsu berdasarkan kebenaran yang parsial. Meyakini bahwa Ibnu Sabo ada, bukan berarti meyakini cerita-cerita Saif yang berusaha mengkaitkan hal tersebut kepada Syi’ah. Faktanya adalah bahwa orang seperti Abdullah tidak bermanfaat tanpa adanya kisah yang menyebutkan namanya. Kisah-kisah palsu seputar tokoh-tokoh itu mungkin berbeda dengan keberadaan mereka yang sebenarnya. Orang seperti itu mungkin ada sedangkan kisah-kisah mengenainya mungkin tidak.

Mazhab sunni membenci memusuhi ahlulbait yang dilakukan dengan cara mengangkat dan memuliakan kedudukan musuh musuh ahlulbait dan menciptakan keutamaan keutamaan palsu yang disandarkan untuk sahabat anti Ali

baca juga : Bukhari dan Muslim dan perawi sunni banyak mengedit dan menghapus hadis-hadis yang mereka rasakan menjelekkan para sahabat

perawi sunni kerap menghapus/menyembunyikan hadist-hadist yang berbicara tentang kejelekan sahabat dan menganggap [penyebutan-penyebutan hadist tersebut] adalah merupakan penyimpangan agama

Mazhab sunni membenci memusuhi ahlulbait yang dilakukan dengan cara mengangkat dan memuliakan kedudukan musuh musuh ahlulbait dan menciptakan keutamaan keutamaan palsu yang disandarkan untuk sahabat anti Ali

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata :

“saya menjaga dari Rasulullah dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini ( Mu’awiyah)” (HR. Bukhari Juz 1 halaman 38)

.

Dari pengakuan ini jelaslah bahwa Abu Hurairah mempunyai dua wadah (kantong). Satu kantong dibuka dan satu kantong yang ditutup. Kantong yang dibuka adalah kantong yang berisi hadis hadis shahih yang sesuai dengan keinginan penguasa !! Ini artinya PENGUASA mempengaruhi  pembukuan hadis sunni !!!!!!!!!

Abu Hurairah menjadi rujukan utama hadis sunni padahal dia dan Amru bin Ash merupakan mufti bayaran Mu’awiyah bin Abu Sofyan !!

Mu’awiyah yang memerangi, mengutuk dan mencaci maki imam Ali serta membanai pengikutnya lalu merubah rubah sunnah NAbi dianggap oleh ahlusunnah wal jama’ah sebagai SAHABAT YANG  ADiL !!!!

Abdullah binUmar sangat membenci Imam Ali tetapi malah mau berbai’at kepada Al Hajjaj bin Yusuf Al Tsaqafi…

Jika anak anak Nabi Ya’qub tega membuang Nabi Yusuf As kedalam sumur tua lalu menipu ayahnya .. Lalu mengapa mustahil sahabat sahabat Nabi berlomba lomba memilih khalifah di Tsaqifah ??

Sahabat sahabat anti Imam Ali banyak mengembangkan ijtihad dari hasil pemikirannya sendiri, walaupun itu harus merubah hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul sebelumnya !!

Duhai  politik !! Duhai kekuasaan !! Agama Muhammad telah diutak atik..

photo

Tsaqifah Bani Saidah

the Tsaqifah Bani Saidah Garden nearby the Prophet’s Mosque. It was recorded that here was where Abu Bakr was bai’ah

.

Sebagian hadis dan sejarah sunni yang dianggap shahih ternyata merupakan rekayasa palsu sesuai kepentingan politik masa itu.

.

Apa motif penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mensucikan Abubakar Umar Usman dan sahabat sahabat anti Ali. Bahkan tega mengarang ngarang hadis, sejarah, keutamaan dan bukti palsu sahnya kekhalifahan ???

.

Mazhab sunni merupakan lawan politik ahlulbait !!! Sunni menyingkirkan secara licik kursi kekhalifahan ahlulbait sejak pertemuan Tsaqifah Bani Sa’idah.

.

Mazhab sunni membenci memusuhi ahlulbait yang dilakukan dengan cara mengangkat dan memuliakan kedudukan musuh musuh ahlulbait dan menciptakan keutamaan keutamaan palsu yang disandarkan untuk sahabat anti Ali

.

Penguasa Bani Umayyah dan juga Bani Abbaisyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar Umar Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka bertiga

Penguasa mempropagandakan bahwa semua sahabat sahabat adalah orang orang suci yang adil dan tidak boleh dikritik sedikitpun.

.

Motifnya apa ??

1. Untuk menarik simpati umat agar berpaling dari kaum oposisi syi’ah pengikut ahlulbait

2. Penguasa paham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan Abubakar Umar Usman yang menduhakai Nabi dan Ali

.

Saqifah Bani Saidah Saksi Bisu Pangkal Perpecahan Umat
Sedikit waktu kita melihat sejarah islam yang telah silam. untuk melangkah maju ke depan.

Saqifah Bani Saidah adalah nama sebuah tempat bersejarah di Madinah. Bagi kebanyakan jamaah haji, nama saqifah ini tak sekondang tempat bersejarah lainnya, seperti Gunung Uhud (berikut areal makam para syuhada perang Uhud), Masjid Quba, Masjid Qiblatain, kawasan bekas perang Khandaq, atau pemakaman Baqi

.
Rombongan jamaah haji selalu mengagendakan ziarah ke tempat-tempat itu. Bahkan ada tempat favorit yang tak terkait sejarah Islam, yang justru jadi tujuan ekstra ziarah, yakni Medan Magnet (orang Saudi menyebutnya, Mantiqah Baydha). Medan Magnet ini memikat, kerena mampu mendorong mobil jalan sendiri sampai kecepatan 120 KM per jam. Saqifah Bani Saidah kalah populer dibanding tempat-tempat itu

.
Tapi bagi mereka yang perhatian pada sejarah awal politik Islam, Saqifah itu memiliki nilai sejarah tersendiri. Di sinilah, Abu Bakar Al-Shiddiq, pertama dibaiat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah. Di Saqifah inilah, kalangan sahabat Anshar dan Muhajirin berkumpul, membicarakan siapa pengganti Nabi Muhammad SAW, pada saat jenazah Nabi masih belum dimakamkan. Sehingga bagi sebagian kalangan, perbincangan politik di Saqifah itu mengundang cibiran, ”Urusan jenazah Nabi belum dituntasan, kok sudah bicara kekuasaan.”
Peristiwa Saqifah itu, bagaimanapun, juga menjadi cikal bakal, tumbuhnya benih perpecahan politik-teologis umat Islam, dalam dua faksi besar: Sunni dan Syiah. Bagi kalangan Syiah, kesepakatan politik di Saqifah itu merupakan penyerobotan atas hak Ali bin Abi Thalib, yang dipandang sebagai pewaris dan lebih berhak atas kepemimpinan Islam (imamah) pasca Rasulullah. Bagi kalangan Sunni, peristiwa di saqifah itu jadi obyek kajian menarik untuk mendiskusikan mekanisme pengangkatan pemimpin dalam Islam

.
Saqifah itu dulunya berupa tempat mirip aula, ada pula yang kerap dipakai duduk-duduk, berteduh, sambil berbincang. Rasulullah pernah salat di tempat ini, lalu duduk dan minum air. Di Utara Saqifah itu ada sumur milik Bani Saidah. Keluarga Saidah adalah sahabat Nabi yang kerap menemani Nabi duduk-duduk di Saqifah

.
Tempat itu kini masih dipertahankan, dikelola, dilestarikan dalam bentuk taman. Posisinya di sisi Barat Daya Masjid Nabawi, berjarak sekitar 200-an meter. Berseberangan jalan dengan Perpustakaan Raja Abdul Aziz. Itulah satu-satunya taman di kawasan tersebut. Bentuknya empat persegi, sekitar 30 x 30 meter.

.
Beragam tanaman, pot-pot bunga, rumput, pohon kurma, tanaman lidah buaya, dan masih jenis tumbuhan lain, menghijaukan kawasan tersebut. Memberikan kesegaran di tengah kegersangan. Kicauan burung aneka jenis makin menambah riang suasana taman. Suasana demikian ini sulit dijumpai di sudut Madinah lain, yang lebih banyak dipenuhi ‘taman beton’, gunung batu, atau padang gersang.

.
Bila dulu, Nabi dan para sahabat sering duduk-duduk di sana, usai salat Jumat lalu, MCH menjumpai belasan jamaah Indonesia duduk-duduk di sisi utara taman. Tempatnya memang teduh akibat rimbunan pohon. Ada yang duduk di kursi, menggelar karpet, tikar, juga sajadah. Ada yang makan nasi, syawirwa (roti berisi rajangan daging, atau minum teh susu (Shay halib), kopi, atau sekadar ngobrol-ngobrol. ”Sekalian sambil menunggu waktu Ashar Mas,” kata Jamran, 69 tahun, jamaah asal Sampit, Kalimantan, sambil menyedot rokok kretek.

.
Namun meski mereka ‘menapaktilasi’ Nabi, dengan cara ikut duduk-duduk di tempat itu, para jamaah tersebut tak tahu bahwa taman ini dulunya Saqifah bani Saidah. ”Saya memilih duduk di sini karena tempatnya teduh aja, kan jarang ada taman sekitar sini,” kata Jamran lagi.

.
Jangankan jamaah Indonesia, sejumlah orang Saudi, mulai penjaga taman, tukang kebun, sampai petugas hotel yang ada di sekitar taman pun, tak tahu bawah itu bekas Saqifah. ”Saqifah itu nama hotel atau apa?” tanya balik petugas hotel di sisi Barat taman, saat MCH masih mencari-cari, mana letak Saqifah Bani Saidah

.
Sementara penjaga taman hanya bilang, ”Ini taman umum saja, setahuku tak punya nama khusus.” Ahmad Ghozali, mahasiswa Indonesia yang pernah kuliah di Universitas Islam Madinah, akhirnya memandu MCH menunjukkan posisinya. Ternyata, taman di belakang si penjaga itulah bekas Saqifah bersejarah tersebut. Sedikit yang paham makna kesejarahannya.

.

Saat kewafatan Rasulullah SAW, umat Islam pernah berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Di sana Saad bin Ubadah selaku wakil golongan Ansar dan juga Abu Bakar selaku wakil golongan Muhajirin telah mengemukakan pendapat masing-masing mengenai siapakah yang paling layak untuk menjadi pemimpin umat Islam sesudah Rasulullah SAW. Dialog di antara kedua-dua sahabat Nabi ini telah dirakamkan secara terperinci di dalam magnum opus al-Tabari yang dinamakan sebagai Tarikh al-Tabari. Malah bukan hanya mereka berdua yang terlibat di dalam dialog terbuka tersebut, Umar, Abu Udaidah ibn al-Jarrah dan Basyir bin Saad dari golongan Ansar juga turut terlibat. Perhimpunan dan perdebatan tersebut berakhir dengan pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah kaum Muslimin menggantikan Rasulullah SAW (al-Tabari, j. 3, hal. 42).


Saqifah Bani Saidah di Madinah sekarang

 

Adz Dzahabi: Agar Mazhab Sunni Dapat Dipertahankan, Rahasiakan Kebenaran!!

Adz Dzahabi membongkar kejahatan ulama Sunni dalam sejarah di mana ia berkata dalam kitab Siyar A’lâm an Nubalâ’, 10/92:

.

قلت كلام الأقران إذا تبرهن لنا أنه بهوى وعصبية لا يلتفت إليه بل يطوى ولا يروى كما تقرر عن الكف عن كثير مما شجر بين الصحابة وقتالهم رضي الله عنهم أجمعين

وما زال يمر بنا ذلك في الدواوين والكتب والأجزاء ولكن أكثر ذلك منقطع وضعيف وبعضه كذب وهذا فيما بأيدينا وبين علمائنا فنبغي طيه وإخفاؤه بل إعدامه لتصفو القلوب وتتوفر على حب الصحابة والترضي عنهم وكتمان ذلك متعين عن العامة وآحاد العلماء وقد يرخص في مطالعة ذلك خلوة للعالم المنصف العري من الهوى بشرط أن يستغفر لهم كما علمنا الله تعالى “.

.

“Aku berkata, “Omongan sesama teman jika terbukti dilontarkan dengan dorongan hawa nafsu  atau fanatisme maka ia tidak perlu dihiraukan. Ia harus ditutup dan tidak diriwayatkan, sebagaimana telah ditetapkan bahwa harus menutup-nutupi persengketaan yang tejadi antara para sahabat ra. Dan kita senantiasa melewati hal itu dalam kitab-kitan induk dan juz-juz akan tetapi kebanyakan darinya adalah terputus sanadnya dan dha’if dan sebagian lainnya palsu. Dan ia yang ada di tangan kita dan di tangan para ulama kita. Semua itu harus dilipat dan disembunyikan bahkan harus dimusnahkan!

Dan harus diramaikan kecintaan kepada para sahabat dan mendo’akan agar mereka diridhai (Allah), dan merahasiakan hal itu (bukti-bukti persengketaan mereka itu) dari kaum awam dan individu ulama adalah sebuah kewajiban. Dan mungkin diizinkan bagi sebagaian orang ulama yang obyektif  dan jauh dari hawa nafsu untuk mempelajarinya secara rahasia dengan syarat ia memintakan ampunan bagi mereka (para sahabat) seperti diajarkan Allah.”

ustad husain ardilla  berkata:

Jadi, sepertinya kelanggengan mazhab Sunni dalam “Doktrin Keadilan” para sahabat tanpa terkecuali, termasuk yang munafik dan yang memerangi Khalifah yang sah dan mereka yang saling berbunuh-bunuhan hanya dapat dipertahankan dengan merahasiakan kebenaran/haq dan bukti-bukti sejarah otentik akan kafasikan sebagian mereka. Dan jangan-jangan apa yang sampai kepada kita sekarang ini hanyalah sedikit dari yang tidak sempat dimusnahkan oleh adz Dzahabi dan para pendahulu dan pelanjutnya?

Lalu bagaimana bayangan kita jika data-data kejahatan, penyimpangan dan kefasikan sebagian sahabat itu sampai dengan apa adanya kepada kita? Mungkinkah doktrin keadilan sahabat yang merupakan pilar utama Mazhab Sunni dapat dipertahankan??

Akankah semua itu terjadi di dunia multi media dan keterbukaan seperti sekarang?

Mazhab sunni merupakan lawan politik ahlulbait !!! Sunni menyingkirkan secara licik kursi kekhalifahan ahlulbait sejak pertemuan Tsaqifah Bani Sa’idah.

Firman Allah : “Dan Kami jadikan mereka imam imam dengan bimbingan perintah Kami dan Kami perintahkan kepada mereka untuk mengerjakan kebaikan, menegakkan shalat dan membayar zakat. Mereka adalah hamba hamba Kami yang sebenarnya” (Qs. Al Anbiya ayat 73)

BAGIAN I

Hadis 12 Pemimpin

 روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi  

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata :

“saya menjaga dari Rasulullah dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini ( Mu’awiyah)” (HR. Bukhari Juz 1 halaman 38)

.

Dari pengakuan ini jelaslah bahwa Abu Hurairah mempunyai dua wadah (kantong). Satu kantong dibuka dan satu kantong yang ditutup. Kantong yang dibuka adalah kantong yang berisi hadis hadis shahih yang sesuai dengan keinginan penguasa !! Ini artinya PENGUASA mempengaruhi  pembukuan hadis sunni !!!!!!!!!

Abu Hurairah menjadi rujukan utama hadis sunni padahal dia dan Amru bin Ash merupakan mufti bayaran Mu’awiyah bin Abu Sofyan !!

Mu’awiyah yang memerangi, mengutuk dan mencaci maki imam Ali serta membanai pengikutnya lalu merubah rubah sunnah NAbi dianggap oleh ahlusunnah wal jama’ah sebagai SAHABAT YANG  ADiL !!!!

Abdullah binUmar sangat membenci Imam Ali tetapi malah mau berbai’at kepada Al Hajjaj bin Yusuf Al Tsaqafi…

Jika anak anak Nabi Ya’qub tega membuang Nabi Yusuf As kedalam sumur tua lalu menipu ayahnya .. Lalu mengapa mustahil sahabat sahabat Nabi berlomba lomba memilih khalifah di Tsaqifah ??

Sahabat sahabat anti Imam Ali banyak mengembangkan ijtihad dari hasil pemikirannya sendiri, walaupun itu harus merubah hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul sebelumnya !!

Duhai  politik !! Duhai kekuasaan !! Agama Muhammad telah diutak atik..

photo

Tsaqifah Bani Saidah

the Tsaqifah Bani Saidah Garden nearby the Prophet’s Mosque. It was recorded that here was where Abu Bakr was bai’ah

.

Sebagian hadis dan sejarah sunni yang dianggap shahih ternyata merupakan rekayasa palsu sesuai kepentingan politik masa itu.

.

Apa motif penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mensucikan Abubakar Umar Usman dan sahabat sahabat anti Ali. Bahkan tega mengarang ngarang hadis, sejarah, keutamaan dan bukti palsu sahnya kekhalifahan ???

.

Mazhab sunni merupakan lawan politik ahlulbait !!! Sunni menyingkirkan secara licik kursi kekhalifahan ahlulbait sejak pertemuan Tsaqifah Bani Sa’idah.

.

Mazhab sunni membenci memusuhi ahlulbait yang dilakukan dengan cara mengangkat dan memuliakan kedudukan musuh musuh ahlulbait dan menciptakan keutamaan keutamaan palsu yang disandarkan untuk sahabat anti Ali

.

Penguasa Bani Umayyah dan juga Bani Abbaisyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar Umar Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka bertiga

Penguasa mempropagandakan bahwa semua sahabat sahabat adalah orang orang suci yang adil dan tidak boleh dikritik sedikitpun.

.

Motifnya apa ??

1. Untuk menarik simpati umat agar berpaling dari kaum oposisi syi’ah pengikut ahlulbait

2. Penguasa paham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan Abubakar Umar Usman yang menduhakai Nabi dan Ali

.

Saqifah Bani Saidah Saksi Bisu Pangkal Perpecahan Umat
Sedikit waktu kita melihat sejarah islam yang telah silam. untuk melangkah maju ke depan.

Saqifah Bani Saidah adalah nama sebuah tempat bersejarah di Madinah. Bagi kebanyakan jamaah haji, nama saqifah ini tak sekondang tempat bersejarah lainnya, seperti Gunung Uhud (berikut areal makam para syuhada perang Uhud), Masjid Quba, Masjid Qiblatain, kawasan bekas perang Khandaq, atau pemakaman Baqi

.
Rombongan jamaah haji selalu mengagendakan ziarah ke tempat-tempat itu. Bahkan ada tempat favorit yang tak terkait sejarah Islam, yang justru jadi tujuan ekstra ziarah, yakni Medan Magnet (orang Saudi menyebutnya, Mantiqah Baydha). Medan Magnet ini memikat, kerena mampu mendorong mobil jalan sendiri sampai kecepatan 120 KM per jam. Saqifah Bani Saidah kalah populer dibanding tempat-tempat itu

.
Tapi bagi mereka yang perhatian pada sejarah awal politik Islam, Saqifah itu memiliki nilai sejarah tersendiri. Di sinilah, Abu Bakar Al-Shiddiq, pertama dibaiat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah. Di Saqifah inilah, kalangan sahabat Anshar dan Muhajirin berkumpul, membicarakan siapa pengganti Nabi Muhammad SAW, pada saat jenazah Nabi masih belum dimakamkan. Sehingga bagi sebagian kalangan, perbincangan politik di Saqifah itu mengundang cibiran, ”Urusan jenazah Nabi belum dituntasan, kok sudah bicara kekuasaan.”
Peristiwa Saqifah itu, bagaimanapun, juga menjadi cikal bakal, tumbuhnya benih perpecahan politik-teologis umat Islam, dalam dua faksi besar: Sunni dan Syiah. Bagi kalangan Syiah, kesepakatan politik di Saqifah itu merupakan penyerobotan atas hak Ali bin Abi Thalib, yang dipandang sebagai pewaris dan lebih berhak atas kepemimpinan Islam (imamah) pasca Rasulullah. Bagi kalangan Sunni, peristiwa di saqifah itu jadi obyek kajian menarik untuk mendiskusikan mekanisme pengangkatan pemimpin dalam Islam

.
Saqifah itu dulunya berupa tempat mirip aula, ada pula yang kerap dipakai duduk-duduk, berteduh, sambil berbincang. Rasulullah pernah salat di tempat ini, lalu duduk dan minum air. Di Utara Saqifah itu ada sumur milik Bani Saidah. Keluarga Saidah adalah sahabat Nabi yang kerap menemani Nabi duduk-duduk di Saqifah

.
Tempat itu kini masih dipertahankan, dikelola, dilestarikan dalam bentuk taman. Posisinya di sisi Barat Daya Masjid Nabawi, berjarak sekitar 200-an meter. Berseberangan jalan dengan Perpustakaan Raja Abdul Aziz. Itulah satu-satunya taman di kawasan tersebut. Bentuknya empat persegi, sekitar 30 x 30 meter.
Beragam tanaman, pot-pot bunga, rumput, pohon kurma, tanaman lidah buaya, dan masih jenis tumbuhan lain, menghijaukan kawasan tersebut. Memberikan kesegaran di tengah kegersangan. Kicauan burung aneka jenis makin menambah riang suasana taman. Suasana demikian ini sulit dijumpai di sudut Madinah lain, yang lebih banyak dipenuhi ‘taman beton’, gunung batu, atau padang gersang.
Bila dulu, Nabi dan para sahabat sering duduk-duduk di sana, usai salat Jumat lalu, MCH menjumpai belasan jamaah Indonesia duduk-duduk di sisi utara taman. Tempatnya memang teduh akibat rimbunan pohon. Ada yang duduk di kursi, menggelar karpet, tikar, juga sajadah. Ada yang makan nasi, syawirwa (roti berisi rajangan daging, atau minum teh susu (Shay halib), kopi, atau sekadar ngobrol-ngobrol. ”Sekalian sambil menunggu waktu Ashar Mas,” kata Jamran, 69 tahun, jamaah asal Sampit, Kalimantan, sambil menyedot rokok kretek.
Namun meski mereka ‘menapaktilasi’ Nabi, dengan cara ikut duduk-duduk di tempat itu, para jamaah tersebut tak tahu bahwa taman ini dulunya Saqifah bani Saidah. ”Saya memilih duduk di sini karena tempatnya teduh aja, kan jarang ada taman sekitar sini,” kata Jamran lagi.
Jangankan jamaah Indonesia, sejumlah orang Saudi, mulai penjaga taman, tukang kebun, sampai petugas hotel yang ada di sekitar taman pun, tak tahu bawah itu bekas Saqifah. ”Saqifah itu nama hotel atau apa?” tanya balik petugas hotel di sisi Barat taman, saat MCH masih mencari-cari, mana letak Saqifah Bani Saidah

.
Sementara penjaga taman hanya bilang, ”Ini taman umum saja, setahuku tak punya nama khusus.” Ahmad Ghozali, mahasiswa Indonesia yang pernah kuliah di Universitas Islam Madinah, akhirnya memandu MCH menunjukkan posisinya. Ternyata, taman di belakang si penjaga itulah bekas Saqifah bersejarah tersebut. Sedikit yang paham makna kesejarahannya.

.

Saat kewafatan Rasulullah SAW, umat Islam pernah berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Di sana Saad bin Ubadah selaku wakil golongan Ansar dan juga Abu Bakar selaku wakil golongan Muhajirin telah mengemukakan pendapat masing-masing mengenai siapakah yang paling layak untuk menjadi pemimpin umat Islam sesudah Rasulullah SAW. Dialog di antara kedua-dua sahabat Nabi ini telah dirakamkan secara terperinci di dalam magnum opus al-Tabari yang dinamakan sebagai Tarikh al-Tabari. Malah bukan hanya mereka berdua yang terlibat di dalam dialog terbuka tersebut, Umar, Abu Udaidah ibn al-Jarrah dan Basyir bin Saad dari golongan Ansar juga turut terlibat. Perhimpunan dan perdebatan tersebut berakhir dengan pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah kaum Muslimin menggantikan Rasulullah SAW (al-Tabari, j. 3, hal. 42).


Saqifah Bani Saidah di Madinah sekarang

Apa motif penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mensucikan Abubakar Umar Usman dan sahabat sahabat anti Ali. Bahkan tega mengarang ngarang hadis, sejarah, keutamaan dan bukti palsu sahnya kekhalifahan ???

Firman Allah : “Dan Kami jadikan mereka imam imam dengan bimbingan perintah Kami dan Kami perintahkan kepada mereka untuk mengerjakan kebaikan, menegakkan shalat dan membayar zakat. Mereka adalah hamba hamba Kami yang sebenarnya” (Qs. Al Anbiya ayat 73)

BAGIAN I

Hadis 12 Pemimpin

 روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

 

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi  

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata :

“saya menjaga dari Rasulullah dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini ( Mu’awiyah)” (HR. Bukhari Juz 1 halaman 38)

.

Dari pengakuan ini jelaslah bahwa Abu Hurairah mempunyai dua wadah (kantong). Satu kantong dibuka dan satu kantong yang ditutup. Kantong yang dibuka adalah kantong yang berisi hadis hadis shahih yang sesuai dengan keinginan penguasa !! Ini artinya PENGUASA mempengaruhi  pembukuan hadis sunni !!!!!!!!!

Abu Hurairah menjadi rujukan utama hadis sunni padahal dia dan Amru bin Ash merupakan mufti bayaran Mu’awiyah bin Abu Sofyan !!

Mu’awiyah yang memerangi, mengutuk dan mencaci maki imam Ali serta membanai pengikutnya lalu merubah rubah sunnah NAbi dianggap oleh ahlusunnah wal jama’ah sebagai SAHABAT YANG  ADiL !!!!

Abdullah binUmar sangat membenci Imam Ali tetapi malah mau berbai’at kepada Al Hajjaj bin Yusuf Al Tsaqafi…

Jika anak anak Nabi Ya’qub tega membuang Nabi Yusuf As kedalam sumur tua lalu menipu ayahnya .. Lalu mengapa mustahil sahabat sahabat Nabi berlomba lomba memilih khalifah di Tsaqifah ??

Sahabat sahabat anti Imam Ali banyak mengembangkan ijtihad dari hasil pemikirannya sendiri, walaupun itu harus merubah hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul sebelumnya !!

Duhai  politik !! Duhai kekuasaan !! Agama Muhammad telah diutak atik..

photo

Tsaqifah Bani Saidah

the Tsaqifah Bani Saidah Garden nearby the Prophet’s Mosque. It was recorded that here was where Abu Bakr was bai’ah

.

Sebagian hadis dan sejarah sunni yang dianggap shahih ternyata merupakan rekayasa palsu sesuai kepentingan politik masa itu.

.

Apa motif penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mensucikan Abubakar Umar Usman dan sahabat sahabat anti Ali. Bahkan tega mengarang ngarang hadis, sejarah, keutamaan dan bukti palsu sahnya kekhalifahan ???

.

Mazhab sunni merupakan lawan politik ahlulbait !!! Sunni menyingkirkan secara licik kursi kekhalifahan ahlulbait sejak pertemuan Tsaqifah Bani Sa’idah.

.

Mazhab sunni membenci memusuhi ahlulbait yang dilakukan dengan cara mengangkat dan memuliakan kedudukan musuh musuh ahlulbait dan menciptakan keutamaan keutamaan palsu yang disandarkan untuk sahabat anti Ali

.

Penguasa Bani Umayyah dan juga Bani Abbaisyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar Umar Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka bertiga

Penguasa mempropagandakan bahwa semua sahabat sahabat adalah orang orang suci yang adil dan tidak boleh dikritik sedikitpun.

.

Motifnya apa ??

1. Untuk menarik simpati umat agar berpaling dari kaum oposisi syi’ah pengikut ahlulbait

2. Penguasa paham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan Abubakar Umar Usman yang menduhakai Nabi dan Ali

.

Saqifah Bani Saidah Saksi Bisu Pangkal Perpecahan Umat
Sedikit waktu kita melihat sejarah islam yang telah silam. untuk melangkah maju ke depan.

Saqifah Bani Saidah adalah nama sebuah tempat bersejarah di Madinah. Bagi kebanyakan jamaah haji, nama saqifah ini tak sekondang tempat bersejarah lainnya, seperti Gunung Uhud (berikut areal makam para syuhada perang Uhud), Masjid Quba, Masjid Qiblatain, kawasan bekas perang Khandaq, atau pemakaman Baqi

.
Rombongan jamaah haji selalu mengagendakan ziarah ke tempat-tempat itu. Bahkan ada tempat favorit yang tak terkait sejarah Islam, yang justru jadi tujuan ekstra ziarah, yakni Medan Magnet (orang Saudi menyebutnya, Mantiqah Baydha). Medan Magnet ini memikat, kerena mampu mendorong mobil jalan sendiri sampai kecepatan 120 KM per jam. Saqifah Bani Saidah kalah populer dibanding tempat-tempat itu

.
Tapi bagi mereka yang perhatian pada sejarah awal politik Islam, Saqifah itu memiliki nilai sejarah tersendiri. Di sinilah, Abu Bakar Al-Shiddiq, pertama dibaiat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah. Di Saqifah inilah, kalangan sahabat Anshar dan Muhajirin berkumpul, membicarakan siapa pengganti Nabi Muhammad SAW, pada saat jenazah Nabi masih belum dimakamkan. Sehingga bagi sebagian kalangan, perbincangan politik di Saqifah itu mengundang cibiran, ”Urusan jenazah Nabi belum dituntasan, kok sudah bicara kekuasaan.”
Peristiwa Saqifah itu, bagaimanapun, juga menjadi cikal bakal, tumbuhnya benih perpecahan politik-teologis umat Islam, dalam dua faksi besar: Sunni dan Syiah. Bagi kalangan Syiah, kesepakatan politik di Saqifah itu merupakan penyerobotan atas hak Ali bin Abi Thalib, yang dipandang sebagai pewaris dan lebih berhak atas kepemimpinan Islam (imamah) pasca Rasulullah. Bagi kalangan Sunni, peristiwa di saqifah itu jadi obyek kajian menarik untuk mendiskusikan mekanisme pengangkatan pemimpin dalam Islam

.
Saqifah itu dulunya berupa tempat mirip aula, ada pula yang kerap dipakai duduk-duduk, berteduh, sambil berbincang. Rasulullah pernah salat di tempat ini, lalu duduk dan minum air. Di Utara Saqifah itu ada sumur milik Bani Saidah. Keluarga Saidah adalah sahabat Nabi yang kerap menemani Nabi duduk-duduk di Saqifah

.
Tempat itu kini masih dipertahankan, dikelola, dilestarikan dalam bentuk taman. Posisinya di sisi Barat Daya Masjid Nabawi, berjarak sekitar 200-an meter. Berseberangan jalan dengan Perpustakaan Raja Abdul Aziz. Itulah satu-satunya taman di kawasan tersebut. Bentuknya empat persegi, sekitar 30 x 30 meter.
Beragam tanaman, pot-pot bunga, rumput, pohon kurma, tanaman lidah buaya, dan masih jenis tumbuhan lain, menghijaukan kawasan tersebut. Memberikan kesegaran di tengah kegersangan. Kicauan burung aneka jenis makin menambah riang suasana taman. Suasana demikian ini sulit dijumpai di sudut Madinah lain, yang lebih banyak dipenuhi ‘taman beton’, gunung batu, atau padang gersang.
Bila dulu, Nabi dan para sahabat sering duduk-duduk di sana, usai salat Jumat lalu, MCH menjumpai belasan jamaah Indonesia duduk-duduk di sisi utara taman. Tempatnya memang teduh akibat rimbunan pohon. Ada yang duduk di kursi, menggelar karpet, tikar, juga sajadah. Ada yang makan nasi, syawirwa (roti berisi rajangan daging, atau minum teh susu (Shay halib), kopi, atau sekadar ngobrol-ngobrol. ”Sekalian sambil menunggu waktu Ashar Mas,” kata Jamran, 69 tahun, jamaah asal Sampit, Kalimantan, sambil menyedot rokok kretek.
Namun meski mereka ‘menapaktilasi’ Nabi, dengan cara ikut duduk-duduk di tempat itu, para jamaah tersebut tak tahu bahwa taman ini dulunya Saqifah bani Saidah. ”Saya memilih duduk di sini karena tempatnya teduh aja, kan jarang ada taman sekitar sini,” kata Jamran lagi.
Jangankan jamaah Indonesia, sejumlah orang Saudi, mulai penjaga taman, tukang kebun, sampai petugas hotel yang ada di sekitar taman pun, tak tahu bawah itu bekas Saqifah. ”Saqifah itu nama hotel atau apa?” tanya balik petugas hotel di sisi Barat taman, saat MCH masih mencari-cari, mana letak Saqifah Bani Saidah

.
Sementara penjaga taman hanya bilang, ”Ini taman umum saja, setahuku tak punya nama khusus.” Ahmad Ghozali, mahasiswa Indonesia yang pernah kuliah di Universitas Islam Madinah, akhirnya memandu MCH menunjukkan posisinya. Ternyata, taman di belakang si penjaga itulah bekas Saqifah bersejarah tersebut. Sedikit yang paham makna kesejarahannya.

.

Saat kewafatan Rasulullah SAW, umat Islam pernah berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Di sana Saad bin Ubadah selaku wakil golongan Ansar dan juga Abu Bakar selaku wakil golongan Muhajirin telah mengemukakan pendapat masing-masing mengenai siapakah yang paling layak untuk menjadi pemimpin umat Islam sesudah Rasulullah SAW. Dialog di antara kedua-dua sahabat Nabi ini telah dirakamkan secara terperinci di dalam magnum opus al-Tabari yang dinamakan sebagai Tarikh al-Tabari. Malah bukan hanya mereka berdua yang terlibat di dalam dialog terbuka tersebut, Umar, Abu Udaidah ibn al-Jarrah dan Basyir bin Saad dari golongan Ansar juga turut terlibat. Perhimpunan dan perdebatan tersebut berakhir dengan pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah kaum Muslimin menggantikan Rasulullah SAW (al-Tabari, j. 3, hal. 42).


Saqifah Bani Saidah di Madinah sekarang

Sebagian hadis dan sejarah sunni yang dianggap shahih ternyata merupakan rekayasa palsu sesuai kepentingan politik masa itu.

Firman Allah : “Dan Kami jadikan mereka imam imam dengan bimbingan perintah Kami dan Kami perintahkan kepada mereka untuk mengerjakan kebaikan, menegakkan shalat dan membayar zakat. Mereka adalah hamba hamba Kami yang sebenarnya” (Qs. Al Anbiya ayat 73)

BAGIAN I

Hadis 12 Pemimpin

 روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

 

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi  

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata :

“saya menjaga dari Rasulullah dua kantong, satu kantong saya sebarkan dan satu kantong lagi saya simpan. Kalau kantong yang saya tutupi ini saya buka juga, niscaya saya akan dihabisi oleh orang kejam ini ( Mu’awiyah)” (HR. Bukhari Juz 1 halaman 38)

.

Dari pengakuan ini jelaslah bahwa Abu Hurairah mempunyai dua wadah (kantong). Satu kantong dibuka dan satu kantong yang ditutup. Kantong yang dibuka adalah kantong yang berisi hadis hadis shahih yang sesuai dengan keinginan penguasa !! Ini artinya PENGUASA mempengaruhi  pembukuan hadis sunni !!!!!!!!!

Abu Hurairah menjadi rujukan utama hadis sunni padahal dia dan Amru bin Ash merupakan mufti bayaran Mu’awiyah bin Abu Sofyan !!

Mu’awiyah yang memerangi, mengutuk dan mencaci maki imam Ali serta membanai pengikutnya lalu merubah rubah sunnah NAbi dianggap oleh ahlusunnah wal jama’ah sebagai SAHABAT YANG  ADiL !!!!

Abdullah binUmar sangat membenci Imam Ali tetapi malah mau berbai’at kepada Al Hajjaj bin Yusuf Al Tsaqafi…

Jika anak anak Nabi Ya’qub tega membuang Nabi Yusuf As kedalam sumur tua lalu menipu ayahnya .. Lalu mengapa mustahil sahabat sahabat Nabi berlomba lomba memilih khalifah di Tsaqifah ??

Sahabat sahabat anti Imam Ali banyak mengembangkan ijtihad dari hasil pemikirannya sendiri, walaupun itu harus merubah hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul sebelumnya !!

Duhai  politik !! Duhai kekuasaan !! Agama Muhammad telah diutak atik..

photo

Tsaqifah Bani Saidah

the Tsaqifah Bani Saidah Garden nearby the Prophet’s Mosque. It was recorded that here was where Abu Bakr was bai’ah

.

Sebagian hadis dan sejarah sunni yang dianggap shahih ternyata merupakan rekayasa palsu sesuai kepentingan politik masa itu.

.

Apa motif penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mensucikan Abubakar Umar Usman dan sahabat sahabat anti Ali. Bahkan tega mengarang ngarang hadis, sejarah, keutamaan dan bukti palsu sahnya kekhalifahan ???

.

Mazhab sunni merupakan lawan politik ahlulbait !!! Sunni menyingkirkan secara licik kursi kekhalifahan ahlulbait sejak pertemuan Tsaqifah Bani Sa’idah.

.

Mazhab sunni membenci memusuhi ahlulbait yang dilakukan dengan cara mengangkat dan memuliakan kedudukan musuh musuh ahlulbait dan menciptakan keutamaan keutamaan palsu yang disandarkan untuk sahabat anti Ali

.

Penguasa Bani Umayyah dan juga Bani Abbaisyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar Umar Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka bertiga

Penguasa mempropagandakan bahwa semua sahabat sahabat adalah orang orang suci yang adil dan tidak boleh dikritik sedikitpun.

.

Motifnya apa ??

1. Untuk menarik simpati umat agar berpaling dari kaum oposisi syi’ah pengikut ahlulbait

2. Penguasa paham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan Abubakar Umar Usman yang menduhakai Nabi dan Ali

.

Saqifah Bani Saidah Saksi Bisu Pangkal Perpecahan Umat
Sedikit waktu kita melihat sejarah islam yang telah silam. untuk melangkah maju ke depan.

Saqifah Bani Saidah adalah nama sebuah tempat bersejarah di Madinah. Bagi kebanyakan jamaah haji, nama saqifah ini tak sekondang tempat bersejarah lainnya, seperti Gunung Uhud (berikut areal makam para syuhada perang Uhud), Masjid Quba, Masjid Qiblatain, kawasan bekas perang Khandaq, atau pemakaman Baqi

.
Rombongan jamaah haji selalu mengagendakan ziarah ke tempat-tempat itu. Bahkan ada tempat favorit yang tak terkait sejarah Islam, yang justru jadi tujuan ekstra ziarah, yakni Medan Magnet (orang Saudi menyebutnya, Mantiqah Baydha). Medan Magnet ini memikat, kerena mampu mendorong mobil jalan sendiri sampai kecepatan 120 KM per jam. Saqifah Bani Saidah kalah populer dibanding tempat-tempat itu

.
Tapi bagi mereka yang perhatian pada sejarah awal politik Islam, Saqifah itu memiliki nilai sejarah tersendiri. Di sinilah, Abu Bakar Al-Shiddiq, pertama dibaiat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah. Di Saqifah inilah, kalangan sahabat Anshar dan Muhajirin berkumpul, membicarakan siapa pengganti Nabi Muhammad SAW, pada saat jenazah Nabi masih belum dimakamkan. Sehingga bagi sebagian kalangan, perbincangan politik di Saqifah itu mengundang cibiran, ”Urusan jenazah Nabi belum dituntasan, kok sudah bicara kekuasaan.”
Peristiwa Saqifah itu, bagaimanapun, juga menjadi cikal bakal, tumbuhnya benih perpecahan politik-teologis umat Islam, dalam dua faksi besar: Sunni dan Syiah. Bagi kalangan Syiah, kesepakatan politik di Saqifah itu merupakan penyerobotan atas hak Ali bin Abi Thalib, yang dipandang sebagai pewaris dan lebih berhak atas kepemimpinan Islam (imamah) pasca Rasulullah. Bagi kalangan Sunni, peristiwa di saqifah itu jadi obyek kajian menarik untuk mendiskusikan mekanisme pengangkatan pemimpin dalam Islam

.
Saqifah itu dulunya berupa tempat mirip aula, ada pula yang kerap dipakai duduk-duduk, berteduh, sambil berbincang. Rasulullah pernah salat di tempat ini, lalu duduk dan minum air. Di Utara Saqifah itu ada sumur milik Bani Saidah. Keluarga Saidah adalah sahabat Nabi yang kerap menemani Nabi duduk-duduk di Saqifah

.
Tempat itu kini masih dipertahankan, dikelola, dilestarikan dalam bentuk taman. Posisinya di sisi Barat Daya Masjid Nabawi, berjarak sekitar 200-an meter. Berseberangan jalan dengan Perpustakaan Raja Abdul Aziz. Itulah satu-satunya taman di kawasan tersebut. Bentuknya empat persegi, sekitar 30 x 30 meter.
Beragam tanaman, pot-pot bunga, rumput, pohon kurma, tanaman lidah buaya, dan masih jenis tumbuhan lain, menghijaukan kawasan tersebut. Memberikan kesegaran di tengah kegersangan. Kicauan burung aneka jenis makin menambah riang suasana taman. Suasana demikian ini sulit dijumpai di sudut Madinah lain, yang lebih banyak dipenuhi ‘taman beton’, gunung batu, atau padang gersang.
Bila dulu, Nabi dan para sahabat sering duduk-duduk di sana, usai salat Jumat lalu, MCH menjumpai belasan jamaah Indonesia duduk-duduk di sisi utara taman. Tempatnya memang teduh akibat rimbunan pohon. Ada yang duduk di kursi, menggelar karpet, tikar, juga sajadah. Ada yang makan nasi, syawirwa (roti berisi rajangan daging, atau minum teh susu (Shay halib), kopi, atau sekadar ngobrol-ngobrol. ”Sekalian sambil menunggu waktu Ashar Mas,” kata Jamran, 69 tahun, jamaah asal Sampit, Kalimantan, sambil menyedot rokok kretek.
Namun meski mereka ‘menapaktilasi’ Nabi, dengan cara ikut duduk-duduk di tempat itu, para jamaah tersebut tak tahu bahwa taman ini dulunya Saqifah bani Saidah. ”Saya memilih duduk di sini karena tempatnya teduh aja, kan jarang ada taman sekitar sini,” kata Jamran lagi.
Jangankan jamaah Indonesia, sejumlah orang Saudi, mulai penjaga taman, tukang kebun, sampai petugas hotel yang ada di sekitar taman pun, tak tahu bawah itu bekas Saqifah. ”Saqifah itu nama hotel atau apa?” tanya balik petugas hotel di sisi Barat taman, saat MCH masih mencari-cari, mana letak Saqifah Bani Saidah

.
Sementara penjaga taman hanya bilang, ”Ini taman umum saja, setahuku tak punya nama khusus.” Ahmad Ghozali, mahasiswa Indonesia yang pernah kuliah di Universitas Islam Madinah, akhirnya memandu MCH menunjukkan posisinya. Ternyata, taman di belakang si penjaga itulah bekas Saqifah bersejarah tersebut. Sedikit yang paham makna kesejarahannya.

.

Saat kewafatan Rasulullah SAW, umat Islam pernah berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Di sana Saad bin Ubadah selaku wakil golongan Ansar dan juga Abu Bakar selaku wakil golongan Muhajirin telah mengemukakan pendapat masing-masing mengenai siapakah yang paling layak untuk menjadi pemimpin umat Islam sesudah Rasulullah SAW. Dialog di antara kedua-dua sahabat Nabi ini telah dirakamkan secara terperinci di dalam magnum opus al-Tabari yang dinamakan sebagai Tarikh al-Tabari. Malah bukan hanya mereka berdua yang terlibat di dalam dialog terbuka tersebut, Umar, Abu Udaidah ibn al-Jarrah dan Basyir bin Saad dari golongan Ansar juga turut terlibat. Perhimpunan dan perdebatan tersebut berakhir dengan pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah kaum Muslimin menggantikan Rasulullah SAW (al-Tabari, j. 3, hal. 42).


Saqifah Bani Saidah di Madinah sekarang

Percayakah anda jika ada sahabat Badar dikatakan munafik atau dikatakan tidak sempurna imannya?.

Sahabat Badar Yang Munafik Atau Yang Tidak Sempurna Imannya?

Percayakah anda jika ada sahabat Badar dikatakan munafik atau dikatakan tidak sempurna imannya?. Jika orang syiah yang mengatakannya maka orang syiah tersebut pasti akan dikatakan telah menghina sahabat tetapi bagaimana kalau kitab shahih yang mengatakannya. Sudah jelas nashibi akan bersilat lidah untuk melindungi aib sahabat. Sebelumnya silakan lihat riwayat berikut

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ الزُّبَيْرَ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّهُ خَاصَمَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِرَاجٍ مِنْ الْحَرَّةِ كَانَا يَسْقِيَانِ بِهِ كِلَاهُمَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْزُّبَيْرِ اسْقِ يَا زُبَيْرُ ثُمَّ أَرْسِلْ إِلَى جَارِكَ فَغَضِبَ الْأَنْصَارِيُّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ آنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ اسْقِ ثُمَّ احْبِسْ حَتَّى يَبْلُغَ الْجَدْرَ فَاسْتَوْعَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَئِذٍ حَقَّهُ لِلْزُّبَيْرِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ ذَلِكَ أَشَارَ عَلَى الزُّبَيْرِ بِرَأْيٍ سَعَةٍ لَهُ وَلِلْأَنْصَارِيِّ فَلَمَّا أَحْفَظَ الْأَنْصَارِيُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَوْعَى لِلْزُّبَيْرِ حَقَّهُ فِي صَرِيحِ الْحُكْمِ قَالَ عُرْوَةُ قَالَ الزُّبَيْرُ وَاللَّهِ مَا أَحْسِبُ هَذِهِ الْآيَةَ نَزَلَتْ إِلَّا فِي ذَلِكَ {فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ} الْآيَةَ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy yang berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bin Zubair bahwa Zubair menceritakan bahwa ia pernah berselisih dengan salah seorang dari kaum Anshar yang pernah ikut perang Badar kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang saluran air dari Al Harrah dimana keduanya sama-sama menyiram kebun mereka dengannya. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Zubair “siramlah wahai Zubair kemudian alirkan kepada tetanggamu”. Maka orang Anshar itu marah dan berkata “wahai Rasulullah ia putra bibimu”. Maka wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berubah kemudian berkata kepada Zubair “siramlah kemudian tahanlah air hingga memenuhi kebun”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memutuskan untuk memenuhi hak Zubair padahal sebelumnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi keluasan ketika orang Anshar itu tidak menerima maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memutuskan hak Zubair sesuai dengan hukum yang semestinya. Urwah berkata Zubair berkata demi Allah tidaklah aku mengira ayat ini turun melainkan untuk perkara ini “maka demi Tuhanmu mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan” [Shahih Bukhari 3/187 no 2708]

Hadis shahih Bukhari di atas menyebutkan bahwa salah seorang sahabat Badar berselisih dengan Zubair atas suatu perkara. Ketika perkara ini dihadapkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Beliau memutuskan dengan keputusan yang baik untuk kedua belah pihak tetapi sahabat Badar tersebut marah dengan keputusan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahkan menuduh Beliau bersikap tidak adil karena Zubair adalah sepupu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sikap sahabat Badar ini membuat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] marah dan menetapkan keputusan sesuai hukum yang memang merupakan hak Zubair. Kemudian turunlah ayat berikut [An Nisa’ ayat 65]

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya [QS An Nisaa : 65]

Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari ketika menjelaskan hadis ini, ia menukil bahwa sebagian orang berkata bahwa yang berselisih dengan Zubair adalah orang munafik, sebagian yang lain berkata orang tersebut adalah sahabat Nabi. Ibnu Hajar merajihkan bahwa ia adalah sahabat Nabi dari kalangan Anshar yang ikut dalam perang Badar. Sehingga ketika menafsirkan lafaz “laa yu’minun” atau tidak beriman, Ibnu Hajar mengutip Ibnu At Tiin yang berkata “jika benar orang tersebut adalah sahabat Badar maka makna perkataan “tidak beriman” adalah tidak sempurna imannya” wallahu ‘alam” [Fath Al Bari 5/36]

Sebenarnya Apa susahnya dikatakan bahwa orang yang berselisih dengan Zubair adalah sahabat Badar yang munafik. Sepertinya Ibnu Hajar beranggapan bahwa sahabat Badar tidak mungkin ada yang munafik sehingga ia berusaha menolak pendapat ini. Bahkan dengan pengingkaran ini mereka menyimpangkan lafaz “tidak beriman” menjadi “tidak sempurna imannya” karena lafaz “tidak beriman” biasanya tertuju pada orang kafir atau munafik. Sahabat dalam hadis di atas telah menunjukkan kesalahan yang fatal. Penolakannya terhadap keputusan Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] dengan menampakkan kemarahan dan menuduh Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] tidak adil adalah bentuk kemunafikan. Padahal apa yang ditetapkan oleh Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] termasuk kebaikan dan kelapangan yang diberikan Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] untuknya.

.

.

Terdapat bukti yang menguatkan hal ini yaitu jika diperhatikan ternyata An Nisaa’ ayat 65 ini termasuk dalam deretan ayat yang ditujukan pada kaum munafik. Silakan lihat ayat-ayat berikut

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيل
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيداً
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنكَ صُدُوداً
فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَآؤُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلاَّ إِحْسَاناً وَتَوْفِيقاً
أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُل لَّهُمْ فِي أَنفُسِهِمْ قَوْلاً بَلِيغاً
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُواْ مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلٌ مِّنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka “Marilah kamu [tunduk] kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi dengan sekuat-kuatnya dari kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan [QS An Nisaa’ : 59-66]

Pada An Nisaa’ ayat 59 Allah SWT menyeru kepada orang-orang yang beriman agar taat kepada Allah SWT, Rasul-Nya dan Ulil Amri, disini orang-orang beriman dinyatakan dengan kata ganti “kamu”. Kemudian pada An Nisaa’ ayat 60 Allah menyebutkan Orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu. Untuk selanjutnya orang-orang inilah yang diseru dengan kata ganti “mereka”. Pada ayat 61 tampak jelas kalau mereka adalah orang-orang munafik. Pada ayat 63 Allah menyatakan bahwa “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka” dan memerintahkan agar berpaling dari mereka. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa mereka adalah orang-orang munafik. Sampai pada ayat yang terakhir 66 dimana berbunyi Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”. Lafaz seperti ini jelas ditujukan pada orang-orang munafik dan bukan untuk orang-orang beriman

Jadi Al Qur’an dengan jelas menyebutkan kalau “mereka” yang disebutkan dalam An Nisaa’ ayat 60-66 adalah orang-orang munafik maka lafaz “tidak beriman” pada An Nisaa’ ayat 65 jelas berarti memang tidak beriman dan mereka disana adalah orang munafik. Hadis shahih menyebutkan kalau An Nisaa’ ayat 65 turun berkaitan dengan sahabat Badar yang berselisih dengan Zubair padahal zahir ayat Al Qur’an menunjukkan kalau ayat tersebut tertuju pada orang-orang munafik maka bukankah ini menjadi bukti kalau terdapat sahabat Badar yang munafik.

.

.

Terdapat petunjuk lain yang menguatkan kalau orang yang berselisih dengan Zubair adalah munafik. Dalam Tafsir Ath Thabari 8/521-522 no 9913 kisah tersebut diriwayatkan dengan sanad dari Ya’qub dari Ismail bin Ibrahim dari ‘Abdurrahman bin Ishaq dari Az Zuhriy dari Urwah kemudian menyebutkan kisah tersebut dimana orang Anshar itu berkata

اعْدِلْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ ، وَإِنْ كَانَ ابْنُ عَمَّتِكَ

Wahai Nabi Allah berlaku adillah, apa karena ia putra bibimu

Perkataan seperti ini memang seperti perkataan orang-orang munafik. Sukar dibayangkan kalau orang-orang yang beriman menuduh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak berlaku adil.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحِ بْنِ الْمُهَاجِرِ ، أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجِعْرَانَةِ مُنْصَرَفَهُ مِنْ حُنَيْنٍ ، وَفِي ثَوْبِ بِلَالٍ فِضَّةٌ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبِضُ مِنْهَا يُعْطِي النَّاسَ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ اعْدِلْ ، قَالَ : ” وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ ، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : دَعْنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَقْتُلَ هَذَا الْمُنَافِقَ ، فَقَالَ : مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي ، إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ “

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin ‘Abdullah yang berkata “seseorang datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Ji’ranah setelah pulang dari perang Hunain. Ketika itu dalam pakaian Bilal terdapat perak maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membagikannya kepada manusia. Orang tersebut berkata “wahai Muhammad berlaku adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil? Sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berbuat adil. Umar berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] izinkanlah aku membunuh munafik ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya suka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Shahih Muslim 2/740 no 1063]

Perkataan orang yang dikatakan “munafik” oleh Umar di atas adalah sama persis dengan apa yang dikatakan oleh sahabat Badar. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengingkari ucapan Umar yang menyatakan ia munafik tetapi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mencegah Umar membunuhnya agar tidak timbul fitnah dari orang-orang bahwa Nabi membunuh sahabatnya sendiri.

Bukan berarti kami mengatakan kalau orang dalam hadis shahih Muslim itu adalah orang yang sama dengan sahabat Badar yang berselisih dengan Zubair. Qarinah yang kami maksudkan adalah dari perkataan keduanya yang sama dan mengandung tuduhan tidak adil kepada Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam]. Perkataan ini dan respon Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] yang marah membuat Umar yakin kalau orang tersebut munafik dan Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] tidak mengingkari perkataan Umar.

Dapat dimengerti mengapa banyak yang menolak ada sahabat Badar yang munafik, disebabkan karena begitu besarnya keutamaan orang-orang yang ikut dalam perang Badar [sebagaimana yang tertera dalam hadis shahih]. Tetapi fakta riwayat memang menunjukkan ada orang munafik yang juga ikut perang Badar maka sudah jelas maksud keutamaan tersebut hanya tertuju pada ahli Badar yang memang berniat membela Allah SWT dan Rasul-Nya bukan untuk orang munafik. Kami pernah menunjukkan bahwa salah seorang sahabat yaitu Mu’attib bin Qusyair yang ikut dalam perang Badar adalah seorang munafik.

Seandainya kita memperhatikan kitab-kitab hadis maka perkara seperti ini tidaklah musykil. Banyak hadis shahih yang menyatakan keutamaan kaum anshar seolah-olah itu berlaku untuk seluruh kaum Anshar tanpa terkecuali tetapi fakta riwayat menunjukkan hal yang berbeda. Terdapat sebagian riwayat menyatakan ada sebagian sahabat Anshar yang munafik maka ini menjadi penjelas bahwa keutamaan kaum Anshar tidak bersifat mutlak keseluruhan tanpa pengecualian. Orang anshar yang munafik dikecualikan dari keutamaan kaum Anshar yang disebutkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].