Soeharto Bingung Soal Tahlilan

Soeharto dan Tien Menolak Pencalonan Presiden

“Aku sudah tidak mau lagi. Aku mau pergi, aku lungo [pergi], pokoke aku lungo.”

Soeharto memeluk Ibu Tien (Koleksi Hj. Siti Hardiyanti Rukmana/ Buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’)
.

Presiden RI kedua, Soeharto, merupakan presiden yang paling lama menjabat, hingga 32 tahun. Soeharto terus dipilih menjadi presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, walaupun Pemilihan Umum berlangsung selama 6 kali, pada tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.

Namun, mantan ajudan Soeharto di periode terakhirnya, Sumardjono, mengatakan Soeharto sebetulnya tidak ingin dicalonkan kembali menjadi presiden. Bahkan, menurut Sumardjono, pada tahun 1995 Soeharto hingga berkali-kali mengatakan tidak ingin dicalonkan lagi menjadi Presiden.

Semula, pernyataan Soeharto dianggap hanya untuk memancing reaksi masyarakat. Tapi, “Kenyataannya Pak Harto mengatakan dirinya sudah TOP (tua, ompong, dan peot). Keinginan untuk tidak lagi dicalonkan sebagai presiden sungguh-sungguh keluar dari sanubari beliau,” kata Sumardjono, seperti yang dituturkannya dalam buku “Pak Harto, The Untold Stories”.

Sumardjono melanjutkan, pernyataan Soeharto memang ditanggapi serius. “Tapi partai-partai politik dan Mabes TNI rupanya masih menginginkan Pak Harto. Ketua Umum Golkar Harmoko yang juga terus mendorong dan meyakinkan Pak Harto bahwa rakyat masih menghendaki kepemimpinan beliau,” ucap Sumardjono.

Lalu kenapa Soeharto tetap bersedia dicalonkan menjadi presiden pada tahun 1997?

“Prajurit sejati pasti akan tergetar hatinya apabila sudah mendengar bahwa permintaan itu adalah keinginan rakyat, amanah rakyat. Pak Harto tidak bisa menolak permintaan jika dikatakan untuk negara dan rakyat. Itu yang saya lihat,” jawab Sumardjono.

Sedangkan mantan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Mien Sugandhi, mengungkapkan, Tien Soeharto juga tidak ingin suaminya menjabat sebagai presiden. Keinginan Ibu Tien ini diungkapkan berkali-kali pada tahun 1996.

Bahkan, Mien mengisahkan, dalam sebuah acara Golkar, Ibu Tien meminta Mien Sugandhi untuk menyampaikan kepada petinggi Golkar agar tidak lagi mencalonkan Soeharto menjadi presiden.

“Tiba-tiba Ibu Tien berkata kepada saya, ‘Tolong katakan kepada ….. (Ibu Tien menyebut seorang petinggi Golkar), agar Pak Harto jangan menjadi presiden lagi. Sudah cukup, sudah cukup, beliau sudah tua’,” kata Mien Sugandhi, menirukan ucapan Ibu Tien.

Saat itu, Mien Sugandhi mengaku terkejut, lalu bertanya kepada Ibu Tien, siapa yang layak menggantikan. Saat itu jawaban mengejutkan keluar dari lisan Ibu Tien.

“Biarlah itu diserahkan dan ditentukan oleh pemilu saja. Aku sudah tidak mau lagi. Aku mau pergi, aku lungo (pergi), pokoke aku lungo,” ujar Ibu Tien.

Soeharto ditetapkan sebagai presiden pada 12 Maret 1967 setelah pertanggungjawaban presiden pertama RI, Soekarno, ditolak MPRS. Saat itu, Soeharto merupakan sosok yang melesat setelah mengatasi Gerakan 30 September, yang dituduhkan dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia. Kewenangan Soeharto berdasarkan Surat Perintah Sebelas Maret yang masih kontroversial hingga sekarang.

Setelah itu, Soeharto terus menjabat menjadi presiden, hingga enam kali pemilihan umum berlangsung. Sebenarnya, sejak periode 1967 hingga 1998, sudah banyak perlawanan terhadap kepemimpinan Soeharto. Namun, Soeharto berhasil meredam setiap ‘ancaman’ yang merongrong kekuasaannya.

Gerakan mahasiswa pun berkali-kali memprotes kepemimpinan Soeharto, Soeharto lalu mengatasinya dengan membekukan kegiatan mahasiswa dan mengaktifkan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).

Pada tahun 1993, putri Soekarno, Megawati Soekarnoputri terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia. Kemudian, PDI pun mempersiapkan Megawati sebagai calon presiden. Namun, Mega didongkel dalam Musyawarah Nasional PDI tahun 1996 oleh Surjadi. Dualisme kepemimpinan PDI inilah yang kemudian berujung peristiwa 27 Juli 1996, yang sarat dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Peristiwa 27 Juli 1996 pun kemudian menjadi momen bagi Pemerintahan Orde Baru untuk membungkam ‘gerilya’ aktifis demokrasi, yang diantaranya tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik. Gerakan pro-demokrasi yang mengkritisi kepemimpinan Soeharto kemudian diredam, aktivisnya pun diculik satu-persatu.

Walau belum pernah dibawa ke pengadilan, Soeharto dituding bertanggung jawab terhadap sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia. Ini pula yang menyebabkan munculnya gerakan reformasi pada tahun 1998, dan menjatuhkan kekuasaannya.

Saat ini, kontroversi Soeharto kembali muncul ke publik setelah survei Indobarometer memperlihatkan adanya kerinduan kepada era Orde Baru. Meski banyak yang mempertanyakan metode dan pertanyaan yang diajukan dalam survei, hasil survei dinilai akibat kekecewaan terhadap era reformasi yang belum membawa perbaikan di Indonesia, jadi bukan karena kerinduan akan masa kepemimpinan Soeharto.

Duar! Ada Ledakan Saat Makam Soeharto Digali

Kejadian yang membuat merinding bulu kuduk terjadi saat linggis mengoyak tanah.

Kamis, 9 Juni 2011, 00:45 WIB

Foto yang menjadi sampul buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’ (Buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’).
Soeharto dan keluarga
.
Minggu Wage, 27 Januari 2008. Jarum jam menunjuk ke angka 15.30. Azan Asar terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Suasana Astana Giribangun redup kala itu, Matahari entah ke mana. Tak ada awan, juga tiada tanda gerimis bakal jatuh.Sejumlah orang berkumpul, mengelilingi sebidang petak tanah makam yang siap digali. Mereka melakukan upacara Bedah Bumi, tujuannya agar penggalian berjalan lancar dan selamat. Yang memimpin Begug Purnomosidi.Lalu, linggis dihujamkan ke  tanah. Tak ada apapun yang terjadi. Begitu pula yang ke dua. Namun, kejadian yang membuat merinding bulu kuduk terjadi saat linggis mengoyak tanah  untuk kali ketiganya.

“Tiba-tiba, duar! Terdengar suara  ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami,” kata  Sukirno, juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana  Giribangun, menceritakan pengalamannya menggali makam  Soeharto dalam buku “Pak Harto The Untold Stories”.

Para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya sontak kaget. Mereka berpandangan. Bingung. Mencoba mereka-reka dari mana asal suara menggelegar itu. “Bukan bunyi petir, lebih  mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun,” kata Sukirno.

Namun, anehnya, tak ada yang porak poranda, tak ada yang benda yang  bergeser karena suara ledakan itu. Terbesit di pikiran, mungkin itu suara gaib. Semua yang ada di tempat itu terdiam, terpaku. Lalu, suara Begug memecah keheningan. “Bumi  mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau,” tutur  Sukirno, menirukan kalimat Bupati Wonogiri itu.

Isyarat kah itu? Terngiang di benak Sukirno, beberapa bulan sebelum kematian Soeharto, terjadi longsor mendadak di bawah Perbukitan Bangun. Apakah itu juga pertanda?

Selain pengalaman menggali makam Soeharto, pria kelahiran Karanganyar tahun 1953 itu juga masih ingat ketegangan yang terjadi di Astanagiribangun, tahun 1998, saat kekuasaan Soeharto berakhir. Ada kabar, makam keluarga Soeharto itu bakal diserang.

“Bersama warga saya memasang drum-drum di tengah jalan. Di depan pertigaan di depan SD Ibu Tien yang terletak di tanjakan menjelang Astana. Kami memalang puluhan batang bambu ori berduri. Siapa yang melintas dengan berjalan kaki sekalipun, tak bakal gampang menembusnya,” cerita dia.

Malam-malam pun terasa panjang. Orang-orang berjaga di sekitar makam. Dari HT terdengar sandi, misalnya 1.000 “kuda lumping” yang artinya ada seribu pengedara sepeda motor mengarah ke Astana. Atau lima ratus “gerobak”. Gerobak adalah sandi untuk mobil. “Anehnya tak pernah sekalipun merena yang kabarnya hendak melempari Astana  benar-benar tiba,” kata Sukirno.

Sukirno adalah satu dari 113 orang yang menceritakan kisahnya di “Pak Harto The Untold Stories” — buku yang diluncurkan tepat di peringatan kelahiran Soeharto ke-90.

Soeharto dan kepemimpinannya selama 32 tahun penuh dengan polemik. Juga kontradiksi. Ia dirindukan sekaligus dibenci. Dipahlawankan tapi juga dicaci maki.

Begitu banyak kontroversi yang merubungnya. Dari pengambialihan kekuasan tahun 65, kontroversi soal keterlibataannya dalam G30S PKI. Bahkan jargon KKN (Kolusi Korupsi dan Nepotisme) selalu dilekatkan untuk masa pemerintahannya, di mana anak, kerabat, dan para kroninya mencecap sedemikian banyak keuntungan.

Meski banyak tudingan mengarah padanya, Soeharto tak pernah tersentuh hukum. Ia tak pernah diadili. Kejaksaan Agung mempetieskan perkaranya, hingga penguasa Orde Baru itu meninggal.

Wacana mempahlawankan Soeharto yang mengemuka akhir-akhir ini terus menuai pro dan kontra. Ais Ananta Said adalah anak sulung Ali Said, SH, Jaksa Agung di masa Soeharto berkuasa mendukung penuh Soeharto menjadi pahlawan. Jasa mantan presiden itu, katanya, terlalu banyak untuk diabaikan dari  gelar pahlawan.

Sejumlah anak tokoh Partai Komunis Indonesia dan korban pelanggaran HAM menolak keras.  “Dijatuhkan rakyat, kok jadi pahlawan,” tanya Ilham Aidit, anak Dipa Nusantara Aidit. (baca selengkapnya wawancara VIVAnews.com dengan Ilham di sini).

.

Soeharto Bingung Soal Tahlilan

“Apa benar kita tidak boleh membaca tahlil untuk jenazah?”

Selasa, 14 Juni 2011, 06:05 WIB

 

Soeharto
Di kalangan umat Islam, terdapat perbedaan pandangan mengenai tahlilan untuk orang yang baru meninggal. Ada yang menganggap tahlilan bukan sebagai tradisi Islam bahkan cenderung dianggap sebagai bid’ah atau penyimpangan ajaran Islam. Banyak pula yang menganggap tahlilan tidak menyimpang dari ajaran
.
Kebingungan akibat perbedaan pandangan soal tahlilan ini juga dialami oleh mantan presiden Soeharto. Seperti dituturkan Muhammad Maftuh Basyuni dalam buku Pak Harto, The Untold Stories, di malam pertama setelah tahlilan dan doa untuk almarhumah Ibu Tien Soeharto di Dalem Kalitan, Solo,  Soeharto menanyakan soal tahlilan.”Apa benar kita tidak boleh membaca tahlil untuk jenazah?” tanya Soeharto kepada Maftuh Basyuni, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.Maftuh saat itu menjawab, ada pendapat yang mengatakan membaca tahlil atau Al Quran kepada orang yang telah meninggal tak ada gunanya
.
“Mereka berpedoman kepada hadits nabi yang menyatakan bahwa seseorang yang telah meninggal telah putus amalnya, kecuali tiga hal, yaitu amal jariah, ilmu bermanfaat yang ditinggalkan, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya,” jelas Maftuh.Maftuh kemudian melanjutkan, ada yang menganggap membaca doa dan ayat Al Quran kepada orang yang meninggal sesuai sunnah Nabi. Karena Nabi dalam doanya juga menyebutkan. “Ya Allah ampunilah kaum muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah mati”.

Mendengar penjelasan Maftuh, Soeharto seakan tidak puas, dan kemudian kembali bertanya. “Kalau memberi makan kepada yang mendoakan?” tanya Soeharto.

Maftuh kemudian menjelaskan alasan tentang anggapan tidak boleh. “Orang yang kesripahan (sedang berkabung) itu sudahlah susah dan sedih, kok masih dibebani lagi,” jelas Maftuh.

Kemudian, Maftuh menjelaskan alasan yang membolehkan, yaitu ada hadits yang mewajibkan umat Islam untuk menghormati tamu. “Penghormatan kepada tamu biasanya dalam bentuk minum dan makan,” jelas Menteri Agama di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Masih belum puas dengan jawaban Maftuh, Soeharto kemudian bertanya, pendapat apa yang dipilih Maftuh. Maftuh menjawab memilih yang membolehkan tahlilan dan memberi makan.

“Soal pahala itu hak prerogatif Tuhan. Kita membaca Tahlil dengan tentunya berharap ada pahala buat yang sudah meninggal, kalau tidak ada pahala pun, ya tidak apa. Adapun memberi makan, tentu sebatas kemampuan yang bersangkutan. Apalagi kalau yang kesripahan (berkabung) itu Presiden, tentu makanan datang sendiri,” jawab Maftuh.

Mendengar jawaban itu, Soeharto pun tertawa lirih. Sembari mendorong dahi Maftuh dengan lembut seperti orang tua kepada anak, Soeharto pun berkata. “(Dasar) kamu.”

Seperti apapun keislaman Soeharto, hubungan Soeharto dengan umat Islam cenderung naik-turun. Bagi kalangan fundamentalis Islam, Soeharto dianggap musuh karena ‘memaksakan’ Pancasila sebagai asas tunggal. Oleh kalangan fundamentalis, ini dianggap sikap syirik atau penyembahan sesuatu selain Tuhan.

Penolakan dan perlawanan terhadap asas tunggal Pancasila pun terus dilakukan terhadap Soeharto. Sejumlah tokoh yang menentang keras pun bahkan sampai melarikan diri ke Malaysia karena ‘diburu’ oleh pemerintahan Soeharto, antara lain Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar.

Bahkan, penolakan asas tunggal berujung pada pelanggaran Hak Asasi Manusia, yang terkenal dengan sebutan Peristiwa Tanjung Priok Berdarah 1984. Dikabarkan ratusan orang tewas saat militer menangani peristiwa Tanjung Priok, 12 September 1984. Namun, versi pemerintah yang dibacakan Panglima ABRI LB Moerdani menyebutkan korban tewas hanya 18 orang dan luka-luka sebanyak 53 orang.

Akibat peristiwa ini, keluarga korban Tanjung Priok pun masih belum bisa memaafkan Presiden Soeharto. Tak heran, korban Tanjung Priok pula yang menentang saat Soeharto diusulkan menjadi pahlawan nasional.

.

Soeharto: Rachmat, Tahu Apa Anda Soal Politik

Rachmat Witoelar mengisahkan dirinya pernah ‘disemprot’ Pak Harto.

Soeharto dan keluarga
Soeharto menaiki kuda pemberian Presiden Kazakhstan (Koleksi Siti Hediati Hariyadi Soeharto/ Buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’)
.
 Presiden RI kedua Soeharto dikenal sebagai sosok anti kritik. Banyak orang-orang dekatnya yang memiliki berbeda pandangan,  akhirnya harus ‘menyerah’ juga dengan perintah penguasa Orde Baru itu.Mantan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Rachmat Witoelar mengisahkan dirinya pernah ‘disemprot’ Pak Harto. Pasalnya, dia memiliki pandangan berbeda terkait kebijakan politik Golkar. Saat itu ia masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar.Rachmat menceritakan, peristiwa itu terjadi pada 1990. Saat itu, dia mengusulkan perubahan AD/ART Golkar. Rachmat, ingin menganulir keberadaan Dewan Pembina di tubuh Golkar. “Padahal ketika itu Dewan Pembina sangat disakralkan. Selama 15 tahun, yang berlaku di Golkar adalah konsep bottom up,” kata Rachmat Witoelar seperti disampaikan dalam buku ‘Pak Harto, The Untold Stories‘.Waktu itu, lanjut dia, dirinya bersama Jacob Tobing selalu mengadakan pembinaan kader ke daerah-derah. Dia menyuruh kader-kader Golkar di daerah untuk melakukan pembaruan dan berani mengemukakan pendapatnya demi kemajuan Golkar. “Cukup banyak teman-teman di daerah yang sependapat,” kata dia.

Dalam rapat-rapat di daerah itulah Rachmat mengusulkan adanya perubahan AD/ART Golkar. Hingga akhirnya Soeharto memangggilnya menghadap. “Di saat sibuk-sibuk itulah saya dipanggil Pak Harto,” kata dia.

Saat menghadap itu, Soeharto bertanya, “Saudara dilaporkan hendak mengubah AD/ART. Kenapa begitu?” Rachmat menirukan pertanyaan Soeharto.

Lalu, Sekjen Golkar periode 1988 hingga 1993 itu menjawab bahwa pola kebijakan Golkar sudah tidak sesuai dengan perkembangan politik yang ada saat itu.

Soeharto, tampaknya tak senang dengan jawaban Rachmat itu. “Lho Mat, itu sudah sesuai dengan zaman. Saudara Rachmat tahu zaman itu bagaimana?” tanya Soeharto kepada Rachmat.

Pertanyaan Soeharto itu tak menyurutkan nyali Rachmat Witoelar. Dia mengatakan kebijakan Golkar saat itu memang cocok diterapkan di masa lalu. Namun, masyarakat kini sudah mulai melek politik dan ingin didengarkan pendapatnya. Dengan kata lain, dia meminta pendapat orang daerah tidak terus dimentahkan oleh Pusat dan Dewan Pembina Golkar.

Mendengar jawaban itu, seperti disadari Rachmat, Soeharto menjadi marah. Dia berkata, “Saudara salah. Saudara Rachmat tahu apa soal politik,” kata Rachmat menirukan Soeharto.

Rachmat menyadari kenapa Soeharto bersikap seperti itu. Tak lain untuk menjaga keutuhan organisasi dan pemerintahan.

Kemudiaan Soeharto memberi nasehat kepadanaya. “Negeri ini harus stabil. Golkar harus tampil sebagai single majority, tidak boleh berkoalisi dengan kekuatan lain. Kalau itu terjadi, maka akan terjadi pengorbanan-pengorbanan politik yang tidak perlu,” kata Rachmat menirukan nasehat Soeharto waktu itu.

Karena dianggap penganggu, Rachmat pun disiapkan menjadi duta besar di sejumlah negara. Anehnya, setiap tiga bulan sekali ia pasti dipanggil ke Jakarta, padahal duta besar lain paling-paling satu tahun sekali. Rupanya Pak Harto ingin diskusi soal dinamika politik dengannya.

kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan Sunahku” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih tetapi kenapa tidak dipedomani sunni ??

ANALISIS HADIS “KITAB ALLAH DAN SUNAHKU”
.
Al Quranul Karim dan Sunnah Rasulullah SAW adalah landasan dan sumber syariat Islam. Hal ini merupakan kebenaran yang sifatnya pasti dan diyakini oleh umat Islam. Banyak ayat Al Quran yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah SAW, diantaranya
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah .Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (QS ; Al Hasyr 7).
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS ; Al Ahzab 21).
Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah .Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS ; An Nisa 80).
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS ; An Nur 51-52).
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu Ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS ; Al Ahzab 36).
Jadi Sunnah Rasulullah SAW merupakan salah satu pedoman bagi umat islam di seluruh dunia. Berdasarkan ayat-ayat Al Quran di atas sudah cukup rasanya untuk membuktikan kebenaran hal ini. Tulisan ini akan membahas hadis “Kitabullah wa Sunnaty” yang sering dijadikan dasar bahwa kita harus berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yaitu
Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.”.
Hadis “Kitabullah Wa Sunnaty” ini adalah hadis masyhur yang sering sekali didengar oleh umat Islam sehingga tidak jarang banyak yang beranggapan bahwa hadis ini adalah benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dasarnya kita umat Islam harus berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang merupakan dua landasan utama dalam agama Islam. Banyak dalil dalil shahih yang menganjurkan kita agar berpegang kepada As Sunnah baik dari Al Quran (seperti yang sudah disebutkan) ataupun dari hadis-hadis yang shahih. Sayangnya hadis”Kitabullah Wa Sunnaty” yang seringkali dijadikan dasar dalam masalah ini adalah hadis yang tidak shahih atau dhaif. Berikut adalah analisis terhadap sanad hadis ini.
.
.
Analisis Sumber Hadis “Kitab Allah dan SunahKu”
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini tidak terdapat dalam kitab hadis Kutub As Sittah(Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Tirmidzi). Sumber dari Hadis ini adalah Al Muwatta Imam Malik,Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim, At Tamhid Syarh Al Muwatta Ibnu Abdil Barr,Sunan Baihaqi, Sunan Daruquthni, dan Jami’ As Saghir As Suyuthi. Selain itu hadis ini juga ditemukan dalam kitab-kitab karya Ulama seperti , Al Khatib dalam Al Faqih Al MutafaqqihShawaiq Al Muhriqah Ibnu HajarSirah Ibnu Hisyam, Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh, Al Ihkam Ibnu Hazm danTarikh At Thabari. Dari semua sumber itu ternyata hadis ini diriwayatkan dengan 4 jalur sanad yaitu dari Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Amr bin Awf ra, dan Abu Said Al Khudri ra. Terdapat juga beberapa hadis yang diriwayatkan secara mursal (terputus sanadnya), mengenai hadis mursal ini sudah jelas kedhaifannya.
Hadis ini terbagi menjadi dua yaitu
  1. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang mursal
  2. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang muttasil atau bersambung
.
.
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Secara Mursal
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang diriwayatkan secara mursal ini terdapat dalam kitab Al Muwatta, Sirah Ibnu Hisyam, Sunan Baihaqi, Shawaiq Al Muhriqah, danTarikh At Thabari. Berikut adalah contoh hadisnya
Dalam Al Muwatta jilid I hal 899 no 3
Bahwa Rasulullah SAW bersabda” Wahai Sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunah RasulNya”.
Dalam Al Muwatta hadis ini diriwayatkan Imam Malik tanpa sanad. Malik bin Anas adalah generasi tabiit tabiin yang lahir antara tahun 91H-97H. Jadi paling tidak ada dua perawi yang tidak disebutkan di antara Malik bin Anas dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal ini maka dapat dinyatakan bahwa hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.
Dalam Sunan Baihaqi terdapat beberapa hadis mursal mengenai hal ini, diantaranya
Al Baihaqi dengan sanad dari Urwah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada haji wada “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan sesuatu bagimu yang apabila berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selamanya yaitu dua perkara Kitab Allah dan Sunnah NabiMu, Wahai umat manusia dengarkanlah olehmu apa yang aku sampaikan kepadamu, maka hiduplah kamu dengan berpegang kepadanya”.
Selain pada Sunan Baihaqi, hadis Urwah ini juga terdapat dalam Miftah Al Jannah hal 29 karya As Suyuthi. Urwah bin Zubair adalah dari generasi tabiin yang lahir tahun 22H, jadi Urwah belum lahir saat Nabi SAW melakukan haji wada oleh karena itu hadis di atas terputus, dan ada satu orang perawi yang tidak disebutkan, bisa dari golongan sahabat dan bisa juga dari golongan tabiin. Singkatnya hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.
Al Baihaqi dengan sanad dari Ibnu Wahb yang berkata “Aku telah mendengar Malik bin Anas mengatakan berpegang teguhlah pada sabda Rasulullah SAW pada waktu haji wada yang berbunyi ‘Dua hal Aku tinggalkan bagimu dimana kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunah NabiNya”.
Hadis ini tidak berbeda dengan hadis Al Muwatta, karena Malik bin Anas tidak bertemu Rasulullah SAW jadi hadis ini juga dhaif.
Dalam Sirah Ibnu Hisyam jilid 4 hal 185 hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda pada haji wada…..,Disini Ibnu Ishaq tidak menyebutkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW oleh karena itu hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam Tarikh At Thabari jilid 2 hal 205 hadis ini juga diriwayatkan secara mursal melalui Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Najih. Jadi kedua hadis ini dhaif. Mungkin ada yang beranggapan karena Sirah Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq sudah menjadi kitab Sirah yang jadi pegangan oleh jumhur ulama maka adanya hadis itu dalam Sirah Ibnu Hisyam sudah cukup menjadi bukti kebenarannya. Jawaban kami adalah benar bahwa Sirah Ibnu Hisyam menjadi pegangan oleh jumhur ulama, tetapi dalam kitab ini hadis tersebut terputus sanadnya jadi tentu saja dalam hal ini hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.
.
.
Sebuah Pembelaan dan Kritik
Hafiz Firdaus dalam bukunya Kaidah Memahami Hadis-hadis yang Bercanggah telah membahas hadis dalam Al Muwatta dan menanggapi pernyataan Syaikh Hasan As Saqqaf dalam karyanya Shahih Sifat shalat An Nabiy (dalam kitab ini As Saqqaf telah menyatakan hadis Kitab Allah dan SunahKu ini sebagai hadis yang dhaif ). Sebelumnya berikut akan dituliskan pendapat Hafiz Firdaus tersebut.
Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya”
Hadis ini sahih: Dikeluarkan oleh Malik bin Anas dalam al-Muwattha’ – no: 1619 (Kitab al-Jami’, Bab Larangan memastikan Takdir). Berkata Malik apabila mengemukakan riwayat ini: Balghni………bererti “disampaikan kepada aku” (atau dari sudut catatan anak murid beliau sendiri: Dari Malik, disampaikan kepadanya………). Perkataan seperti ini memang khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahawa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Lebih lanjut lihat Qadi ‘Iyadh Tartib al-Madarik, jld 1, ms 136; Ibn ‘Abd al-Barr al Tamhid, jld 1, ms 34; al-Zarqani Syarh al Muwattha’, jld 4, ms 307 dan Hassath binti ‘Abd al-’Aziz Sagheir Hadis Mursal baina Maqbul wa Mardud, jld 2, ms 456-470.
Hasan ‘Ali al-Saqqaf dalam bukunya Shalat Bersama Nabi SAW (edisi terj. dari Sahih Sifat Solat Nabi), ms 269-275 berkata bahwa hadis ini sebenarnya adalah maudhu’. Isnadnya memiliki perawi yang dituduh pendusta manakala maksudnya tidak disokongi oleh mana-mana dalil lain. Beliau menulis: Sebenarnya hadis yang tsabit dan sahih adalah hadis yang berakhir dengan “wa ahli baiti” (sepertimana Khutbah C – penulis). Sedangkan yang berakhir dengan kata-kata “wa sunnati” (sepertimana Khutbah B) adalah batil dari sisi matan dan sanadnya.
Nampaknya al-Saqqaf telah terburu-buru dalam penilaian ini kerana beliau hanya menyimak beberapa jalan periwayatan dan meninggalkan yang selainnya, terutamanya apa yang terkandung dalam kitab-kitab Musannaf, Mu’jam dan Tarikh (Sejarah). Yang lebih berat adalah beliau telah menepikan begitu sahaja riwayat yang dibawa oleh Malik di dalam kitab al-Muwattha’nya atas alasan ianya adalah tanpa sanad padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.
Kritik kami adalah sebagai berikut, tentang kata-kata hadis riwayat Al Muwatta adalah shahih karena pernyataan Balghni atau “disampaikan kepada aku” dalam hadis riwayat Imam Malik ini adalah khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahwa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Maka Kami katakan, Kaidah periwayatan hadis dengan pernyataan Balghni atau “disampaikan kepadaku” memang terdapat di zaman Imam Malik. Hal ini juga dapat dilihat dalam Kutub As Sunnah Dirasah Watsiqiyyah oleh Rif’at Fauzi Abdul Muthallib hal 20, terdapat kata kata Hasan Al Bashri
“Jika empat shahabat berkumpul untuk periwayatan sebuah hadis maka saya tidak menyebut lagi nama shahabat”.Ia juga pernah berkata”Jika aku berkata hadatsana maka hadis itu saya terima dari fulan seorang tetapi bila aku berkata qala Rasulullah SAW maka hadis itu saya dengar dari 70 orang shahabat atau lebih”.
Tetapi adalah tidak benar mendakwa suatu hadis sebagai shahih hanya dengan pernyataan “balghni”. Hal ini jelas bertentangan dengan kaidah jumhur ulama tentang persyaratan hadis shahih seperti yang tercantum dalam Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis yaitu
Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.
Dengan kaidah Inilah as Saqqaf telah menepikan hadis al Muwatta tersebut karena memang hadis tersebut tidak ada sanadnya. Yang aneh justru pernyataan Hafiz yang menyalahkan As Saqqaf dengan kata-kata padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.
.
Pernyataan Hafiz di atas menunjukan bahwa Malik bin Anas dan tokoh hadis zamannya (sekitar 93H-179H) jika meriwayatkan hadis dengan pernyataan telah disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah SAW atau Qala Rasulullah SAW tanpa menyebutkan sanadnya maka hadis tersebut adalah shahih. Pernyataan ini jelas aneh dan bertentangan dengan kaidah jumhur ulama hadis. Sekali lagi hadis itu mursal atau terputus dan hadis mursal tidak bisa dijadikan hujjah karena kemungkinan dhaifnya. Karena bisa jadi perawi yang terputus itu adalah seorang tabiin yang bisa jadi dhaif atau tsiqat, jika tabiin itu tsiqatpun dia kemungkinan mendengar dari tabiin lain yang bisa jadi dhaif atau tsiqat dan seterusnya kemungkinan seperti itu tidak akan habis-habis. Sungguh sangat tidak mungkin mendakwa hadis mursal sebagai shahih “Hanya karena terdapat dalam Al Muwatta Imam Malik”.
.
Hal yang kami jelaskan itu juga terdapat dalam Ilmu Mushthalah Hadis oleh A Qadir Hassan hal 109 yang mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah, Ibnu Hajar berkata
”Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat itu dari seorang shahabat, tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain”.
Lihat baik-baik walaupun yang meriwayatkan hadis mursal itu adalah tabiin tetap saja dinyatakan dhaif apalagi Malik bin Anas yang seorang tabiit tabiin maka akan jauh lebih banyak kemungkinan dhaifnya. Pernyataan yang benar tentang hadis mursal Al Muwatta adalah hadis tersebut shahih jika terdapat hadis lain yang bersambung dan shahih sanadnya yang menguatkan hadis mursal tersebut di kitab-kitab lain. Jadi adalah kekeliruan menjadikan hadis mursal shahih hanya karena terdapat dalam Al Muwatta.
.
.
.
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Dengan Sanad Yang Bersambung.
Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dari sumber-sumber yang ada ternyata ada 4 jalan sanad hadis “Kitab Allah dan SunahKu”. 4 jalan sanad itu adalah
1. Jalur Ibnu Abbas ra
2. Jalur Abu Hurairah ra
3. Jalur Amr bin Awf ra
4. Jalur Abu Said Al Khudri ra
.
.
Jalan Sanad Ibnu Abbas
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas dapat ditemukan dalam Kitab Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93 dan Sunan Baihaqi juz 10 hal 4 yang pada dasarnya juga mengutip dari Al Mustadrak. Dalam kitab-kitab ini sanad hadis itu dari jalan Ibnu Abi Uwais dari Ayahnya dari Tsaur bin Zaid Al Daily dari Ikrimah dari Ibnu Abbas
bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya”.
Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena terdapat kelemahan pada dua orang perawinya yaitu Ibnu Abi Uwais dan Ayahnya.
1. Ibnu Abi Uwais
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 mengenai biografi Ibnu Abi Uwais terdapat perkataan orang yang mencelanya, diantaranya Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong. Menurut Abu Hatim Ibnu Abi Uwais itu mahalluhu ash shidq atau tempat kejujuran tetapi dia terbukti lengah. An Nasa’i menilai Ibnu Abi Uwais dhaif dan tidak tsiqah. Menurut Abu Al Qasim Al Alkaiy “An Nasa’i sangat jelek menilainya (Ibnu Abi Uwais) sampai ke derajat matruk(ditinggalkan hadisnya)”. Ahmad bin Ady berkata “Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya Malik beberapa hadis gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun.”
  • Dalam Muqaddimah Al Fath Al Bary halaman 391 terbitan Dar Al Ma’rifah, Al Hafiz Ibnu Hajar mengenai Ibnu Abi Uwais berkata ”Atas dasar itu hadis dia (Ibnu Abi Uwais) tidak dapat dijadikan hujjah selain yang terdapat dalam As Shahih karena celaan yang dilakukan Imam Nasa’i dan lain-lain”.
  • Dalam Fath Al Mulk Al Aly halaman 15, Al Hafiz Sayyid Ahmad bin Shiddiq mengatakan “berkata Salamah bin Syabib Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan “mungkin aku membuat hadis untuk penduduk madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu di antara mereka”.
Jadi Ibnu Abi Uwais adalah perawi yang tertuduh dhaif, tidak tsiqat, pembohong, matruk dan dituduh suka membuat hadis. Ada sebagian orang yang membela Ibnu Abi Uwais dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu Rijal atau perawiShahih Bukhari oleh karena itu hadisnya bisa dijadikan hujjah. Pernyataan ini jelas tertolak karena Bukhari memang berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais tetapi telah dipastikan bahwa Ibnu Abi Uwais adalah perawi Bukhari yang diperselisihkan oleh para ulama hadis. Seperti penjelasan di atas terdapat jarh atau celaan yang jelas oleh ulama hadis seperti Yahya bin Mu’in, An Nasa’i dan lain-lain. Dalam prinsip Ilmu Jarh wat Ta’dil celaan yang jelas didahulukan dari pujian(ta’dil). Oleh karenanya hadis Ibnu Abi Uwais tidak bisa dijadikan hujjah. Mengenai hadis Bukhari dari Ibnu Abi Uwais, hadis-hadis tersebut memiliki mutaba’ah atau pendukung dari riwayat-riwayat lain sehingga hadis tersebut tetap dinyatakan shahih. Lihat penjelasan Al Hafiz Ibnu Hajar dalam Al Fath Al Bary Syarh Shahih Bukhari, Beliau mengatakan bahwa hadis Ibnu Abi Uwais selain dalam As Shahih(Bukhari dan Muslim) tidak bisa dijadikan hujjah. Dan hadis yang dibicarakan ini tidak terdapat dalam kedua kitab Shahih tersebut, hadis ini terdapat dalam Mustadrak dan Sunan Baihaqi.
2. Abu Uwais
  • Dalam kitab Al Jarh Wa At Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim jilid V hal 92, Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya Abu Hatim Ar Razy yang berkata mengenai Abu Uwais “Ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah dan dia tidak kuat”.Ibnu Abi Hatim menukil dari Yahya bin Mu’in yang berkata “Abu Uwais tidak tsiqah”.
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya(Abu Uwais) suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong.
Dalam Al Mustadrak jilid I hal 93, Al Hakim tidak menshahihkan hadis ini. Beliau mendiamkannya dan mencari syahid atau penguat bagi hadis tersebut, Beliau berkata ”Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah ra”. Mengenai hadis Abu Hurairah ra ini akan dibahas nanti, yang penting dari pernyataan itu secara tidak langsung Al Hakim mengakui kedhaifan hadis Ibnu Abbas tersebut oleh karena itu beliau mencari syahid penguat untuk hadis tersebut .Setelah melihat kedudukan kedua perawi hadis Ibnu Abbas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hadis ”Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas adalah dhaif.
.
.
Jalan Sanad Abu Hurairah ra
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad Abu Hurairah ra terdapat dalam Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93, Sunan Al Kubra Baihaqi juz 10, Sunan Daruquthni IV hal 245, Jami’ As Saghir As Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94, At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan Al Ihkam VI hal 243 Ibnu Hazm.
Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin Musa At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi’dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra
bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh”.
Hadis di atas adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.
  • Dalam Kitab Tahdzib Al Kamal ( XIII hal 96) berkata Yahya bin Muin bahwa riwayat hadis Shalih bin Musa bukan apa-apa. Abu Hatim Ar Razy berkatahadis Shalih bin Musa dhaif. Imam Nasa’i berkata hadis Shalih bin Musa tidak perlu ditulis dan dia itu matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).
  • Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Tahdzib At Tahdzib IV hal 355 menyebutkan Ibnu Hibban berkata bahwa Shalih bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadis itsbat(yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tersebut ma’mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk berhujjah. Abu Nu’aim berkata Shalih bin Musa itu matruk Al Hadis sering meriwayatkan hadis mungkar.
  • Dalam At Taqrib (Tarjamah :2891) Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallany menyatakan bahwa Shalih bin Musa adalah perawi yang matruk(harus ditinggalkan).
  • Al Dzahaby dalam Al Kasyif (2412) menyebutkan bahwa Shalih bin Musa itu wahin (lemah).
  • Dalam Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 306 Sayyid Alwi bin Thahir ketika mengomentari Shalih bin Musa, beliau menyatakan bahwa Imam Bukhari berkata”Shalih bin Musa adalah perawi yang membawa hadis-hadis mungkar”.
Kalau melihat jarh atau celaan para ulama terhadap Shalih bin Musa tersebut maka dapat dinyatakan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan sanad dari Abu Hurairah ra di atas adalah hadis yang dhaif. Adalah hal yang aneh ternyata As Suyuthi dalam Jami’ As Saghir menyatakan hadis tersebut hasan, Al Hafiz Al Manawi menshahihkannya dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir dan Al Albani juga telah memasukkan hadis ini dalam Shahih Jami’ As Saghir. Begitu pula yang dinyatakan oleh Al Khatib dan Ibnu Hazm. Menurut kami penshahihan hadis tersebut tidak benar karena dalam sanad hadis tersebut terdapat cacat yang jelas pada perawinya, Bagaimana mungkin hadis tersebut shahih jika dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, mungkar al hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nyata sekali bahwa ulama-ulama yang menshahihkan hadis ini telah bertindak longgar(tasahul) dalam masalah ini.
Mengapa para ulama itu bersikap tasahul dalam penetapan kedudukan hadis ini?. Hal ini mungkin karena matan hadis tersebut adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi menurut kami matan hadis tersebut yang benar dan shahih adalah dengan matan hadis yang sama redaksinya hanya perbedaan pada“Kitab Allah dan SunahKu” menjadi “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu”. Hadis dengan matan seperti ini salah satunya terdapat dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 & 3788 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Kalau dibandingkan antara hadis ini dengan hadis Abu Hurairah ra di atas dapat dipastikan bahwa hadis Shahih Sunan Tirmidzi ini jauh lebih shahih kedudukannya karena semua perawinya tsiqat. Sedangkan hadis Abu Hurairah ra di atas terdapat cacat pada salah satu perawinya yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.
Adz Dzahabi dalam Al Mizan Al I’tidal jilid II hal 302 berkata bahwa hadis Shalih bin Musa tersebut termasuk dari kemunkaran yang dilakukannya. Selain itu hadis riwayat Abu Hurairah ini dinyatakan dhaif oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy setelah beliau mengkritik Shalih bin Musa salah satu perawi hadis tersebut. Jadi pendapat yang benar dalam masalah ini adalah hadis riwayat Abu Hurairah tersebut adalah dhaif sedangkan pernyataan As Suyuthi, Al Manawi, Al Albani dan yang lain bahwa hadis tersebut shahih adalah keliru karena dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang sangat jelas cacatnya sehingga tidak mungkin bisa dikatakan shahih.
.
.
Jalan Sanad Amr bin Awf ra
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Amr bin Awf terdapat dalam kitab At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr. Telah menghadiskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ahmad bin Sa’id, dia berkata telahmenghadiskan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Daibaly, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ali bin Zaid Al Faridhy, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Al Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Awf dari ayahnya dari kakeknya
Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat cacat pada perawinya yaitu Katsir bin Abdullah .
  • Dalam Mizan Al Itidal (biografi Katsir bin Abdullah no 6943) karya Adz Dzahabi terdapat celaan pada Katsir bin Abdullah. Menurut Daruquthni Katsir bin Abdullah adalah matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya). Abu Hatim menilaiKatsir bin Abdullah tidak kuat. An Nasa’i menilai Katsir bin Abdullah tidak tsiqah.
  • Dalam At Taqrib at Tahdzib, Ibnu Hajar menyatakan Katsir bin Abdullah dhaif.
  • Dalam Al Kasyf Adz Dzahaby menilai Katsir bin Abdullah wahin(lemah).
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Ibnu Hibban berkata tentang Katsir bin Abdullah “Hadisnya sangat mungkar” dan “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari ayahnya dari kakeknya yang tidak pantas disebutkan dalam kitab-kitab maupun periwayatan”
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Yahya bin Main berkata “Katsir lemah hadisnya”
  • Dalam Kitab Al Jarh Wat Ta’dil biografi no 858, Abu Zur’ah berkata “Hadisnya tidak ada apa-apanya, dia tidak kuat hafalannya”.
  • Dalam Adh Dhu’afa Al Kabir Al Uqaili (no 1555), Mutharrif bin Abdillah berkata tentang Katsir “Dia orang yang banyak permusuhannya dan tidak seorangpun sahabat kami yang mengambil hadis darinya”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63Ibnu Adi berkata perihal Katsir “Dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan pegangan”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Abu Khaitsamah berkata “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku : jangan sedikitpun engkau meriwayatkan hadis dari Katsir bin Abdullah”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Wal Matrukin Ibnu Jauzi juz III hal 24 terdapat perkataan Imam Syafii perihal Katsir bin Abdullah “Katsir bin Abdullah Al Muzanni adalah satu pilar dari berbagai pilar kedustaan”
Jadi hadis Amr bin Awf ini sangat jelas kedhaifannya karena dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, dhaif atau tidak tsiqah dan pendusta.
.
.
Jalur Abu Said Al Khudri ra
Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Abu Said Al Khudri ra terdapat dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94 karya Al Khatib Baghdadi dan Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh dengan sanad dari Saif bin Umar dari Ibnu Ishaq Al Asadi dari Shabbat bin Muhammad dari Abu Hazm dari Abu Said Al Khudri ra.
Dalam rangkaian perawi ini terdapat perawi yang benar-benar dhaif yaitu Saif bin Umar At Tamimi.
  • Dalam Mizan Al I’tidal no 3637 Yahya bin Mu’in berkata “Saif daif dan riwayatnya tidak kuat”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Al Matrukin no 256, An Nasa’i mengatakan kalau Saif bin Umar adalah dhaif.
  • Dalam Al Majruhin no 443 Ibnu Hibban mengatakan Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi yang tsabit, ia seorang yang tertuduh zindiq dan seorang pemalsu hadis.
  • Dalam Ad Dhu’afa Abu Nu’aim no 95, Abu Nu’aim mengatakan kalau Saif bin Umar adalah orang yang tertuduh zindiq, riwayatnya jatuh dan bukan apa-apanya.
  • Dalam Tahzib At Tahzib juz 4 no 517 Abu Dawud berkata kalau Saif bukan apa-apa, Abu Hatim berkata “ia matruk”, Ad Daruquthni menyatakannya dhaif dan matruk. Al Hakim mengatakan kalau Saif tertuduh zindiq dan riwayatnya jatuh. Ibnu Adi mengatakan kalau hadisnya dikenal munkar dan tidak diikuti seorangpun.

Jadi jelas sekali kalau hadis Abu Said Al Khudri ra ini adalah hadis yang dhaif karena kedudukan Saif bin Umar yang dhaif di mata para ulama.
.
.
Hadis Tersebut Dhaif
Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini adalah hadis yang dhaif. Sebelum mengakhiri tulisan ini akan dibahas terlebih dahulu pernyataan Ali As Salus dalam Al Imamah wal Khilafah yang menyatakan shahihnya hadis “Kitab Allah Dan SunahKu”.
Ali As Salus menyatakan bahwa hadis riwayat Imam Malik adalah shahih Walaupun dalam Al Muwatta hadis ini mursal. Beliau menyatakan bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh As Suyuthi,Al Manawi dan Al Albani. Selain itu hadis mursal dalam Al Muwatta adalah shahih menurutnya dengan mengutip pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.
.
.
.
Tanggapan Terhadap Ali As Salus
Pernyataan pertama bahwa hadis Malik bin Anas dalam Al Muwatta adalah shahih walaupun mursal adalah tidak benar. Hal ini telah dijelaskan dalam tanggapan kami terhadap Hafiz Firdaus bahwa hadis mursal tidak bisa langsung dinyatakan shahih kecuali terdapat hadis shahih(bersambung sanadnya) lain yang menguatkannya. Dan kenyataannya hadis yang jadi penguat hadis mursal Al Muwatta ini adalah tidak shahih. Pernyataan Selanjutnya Ali As Salus bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah ra adalah tidak tepat karena seperti yang sudah dijelaskan, dalam sanad hadis Abu Hurairah ra ada Shalih bin Musa yang tidak dapat dijadikan hujjah.
Ali As Salus menyatakan bahwa hadis mursal Al Muwatta shahih berdasarkan
  • Pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan
  • Pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.
Mengenai pernyataan Ibnu Abdil Barr tersebut, jelas itu adalah pendapatnya sendiri dan mengenai hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang mursal dalam Al Muwatta Ibnu Abdil Barr telah mencari sanad hadis ini dan memuatnya dalam kitabnya At Tamhiddan Beliau menshahihkannya. Setelah dilihat ternyata hadis dalam At Tamhidtersebut tidaklah shahih karena cacat yang jelas pada perawinya.
.
Begitu pula pernyataan As Suyuthi yang dikutip Ali As Salus di atas itu adalah pendapat Beliau sendiri dan As Suyuthi telah menjadikan hadis Abu Hurairah ra sebagai syahid atau pendukung hadis mursal Al Muwatta seperti yang Beliau nyatakan dalam Jami’ As Saghir dan Beliau menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah ditelaah ternyata hadis Abu Hurairah ra itu adalah dhaif. Jadi Kesimpulannya tetap saja hadis “Kitab Allah dan SunahKu” adalah hadis yang dhaif.
.
Salah satu bukti bahwa tidak semua hadis mursal Al Muwatta shahih adalah apa yang dikemukakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silisilatul Al Hadits Adh Dhaifah Wal Maudhuah hadis no 908
Nabi Isa pernah bersabda”Janganlah kalian banyak bicara tanpa menyebut Allah karena hati kalian akan mengeras.Hati yang keras jauh dari Allah namun kalian tidak mengetahuinya.Dan janganlah kalian mengamati dosa-dosa orang lain seolah-olah kalian Tuhan,akan tetapi amatilah dosa-dosa kalian seolah kalian itu hamba.Sesungguhnya Setiap manusia itu diuji dan selamat maka kasihanilah orang-orang yang tengah tertimpa malapetaka dan bertahmidlah kepada Allah atas keselamatan kalian”.
Riwayat ini dikemukakan Imam Malik dalam Al Muwatta jilid II hal 986 tanpa sanad yang pasti tetapi Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil(bersambung) atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.
Syaikh Al Albani berkata tentang hadis ini
”sekali lagi saya tegaskan memarfu’kan riwayat ini sampai kepada Nabi adalah kesalahan yang menyesatkan dan tidak ayal lagi merupakan kedustaan yang nyata-nyata dinisbatkan kepada Beliau padahal Beliau terbebas darinya”.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Al Albani tidaklah langsung menyatakan bahwa hadis ini shahih hanya karena Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW. Justru Syaikh Al Albani menyatakan bahwa memarfu’kan hadis ini adalah kedustaan atau kesalahan yang menyesatkan karena berdasarkan penelitian beliau tidak ada sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW mengenai hadis ini.
.
Yang Aneh adalah pernyataan Ali As Salus dalam Imamah Wal Khilafah yang menyatakan bahwa hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah dhaif dan yang shahih adalah hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”. Hal ini jelas sangat tidak benar karena hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”sanad-sanadnya tidak shahih seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan di atas. Sedangkan hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah hadis yang diriwayatkan banyak shahabat dan sanadnya jauh lebih kuat dari hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”.
.
Jadi kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih. Ali As Salus dalam Imamah wal Khilafah telah membandingkan kedua hadis tersebut dengan metode yang tidak berimbang. Untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” beliau mengkritik habis-habisan bahkan dengan kritik yang tidak benar sedangkan untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” beliau bertindak longgar(tasahul) dan berhujjah dengan pernyataan ulama lain yang juga telah memudahkan dalam penshahihan hadis tersebut. 
Wallahu’alam.

Khalifah Akhir Zaman Siapakah Dia ??

Al Mahdi Khalifah Allah SWT
.
Imam Mahdi adalah sosok yang sangat dimuliakan dan sangat dinanti-nanti oleh umat Islam. Terdapat berbagai kontroversi seputar Imam Mahdi dari yang menolak keberadaannya sampai klaim mengenai siapakah sebenarnya Imam Mahdi. Tulisan ini sayangnya bukan mau membahas mengenai kontroversi tersebut. Bagi kamikeberadaan dan datangnya Imam Mahdi adalah perkara hak yang telah dikabarkan melalui kabar-kabar shahih dan mutawatir. Tulisan ini akan membahas sebuah hadis tentang Al Mahdi yang menjadi korban kesinisan kaum salafiyun yaitu Hadis Al Mahdi Khalifah Allah. Salafiyun berkeras menyatakan dhaif hadis tersebut padahal kenyataannya hadis tersebut bersanad shahih
.
Hadis tersebut salah satunya diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah2/1367 no 4084

حدثنا محمد بن يحيى وأحمد بن يوسف قالا حدثنا عبد الرزاق عن سفيان الثوري عن خالد الحذاء عن أبي قلابة عن أبي أسماء الرحبي عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( يقتيل عند كنزكم ثلاثة كلهم ابن خليفة . ثم لا يصير إلى واحد منهم . ثم نطلع الرايات السود من قبل المشرق . فيقتلونكم قتلا لم يقتله قوم ) ثم ذكر شيئا لا أحفظه . فقال ( فإذا رأيتموه فبايعوه ولو حبوا على الثلج . فإنه خليفة الله المهدي )

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya dan Ahmad bin Yusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Sufyan Ats Tsawri dari Khalid Al Hidza’ dari Abi Qilabah dari Abi Asma’ Ar Rahabi dari Tsawban yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaan kalian, mereka bertiga adalah putera Khalifah. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian bendera-bendera hitam akan muncul dari arah Timur, maka mereka memerangi kalian dengan perang yang belum pernah dialami oleh kaum sebelum kalian. Kemudian Rasulullah SAW mengucapkan sesuatu yang aku tidak hafal. Beliau SAW kemudian bersabda “Maka siapa diantara kamu yang melihatnya, berikanlah baiat kepadanya walaupun dengan merangkak diatas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifah Allah Al Mahdi”
.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain 4/510 no 8432, Dalail An Nubuwah Baihaqi hal 516, Bahr Az Zakhar Musnad Al Bazzar 10/100 no 4163
Hadis di atas adalah hadis yang shahih dan para perawinya tsiqat. Al Bushairi berkata dalam Az Zawaid 2/297 no 1450

هذا إسناد صحيح رجاله ثقات رواه الحاكم في المستدرك من طريق الحسين بن حفص عن سفيان به وقال هذا حديث صحيح على شرط الشيخين

Hadis ini sanadnya shahih dan para perawinya terpercaya. Diriwayatkan Al Hakim dalam Al Mustadrak dengan jalan Al Husain bin Hafsh dari Sufyan-dengan sanad seperti di atas- dan ia berkata “hadis shahih dengan syarat Bukhari Muslim”.
Selain Al Hafiz Al Bushairi hadis ini telah dishahihkan oleh banyak ulama di antaranya
  • Al Hakim dalam Al Mustadrak 4/510 no 8432 berkata “hadis shahih sesuai syarat Bukhari Muslim”. Hal ini disepakati oleh Adz Dzahabi dalam At Talkhis.
  • Al Bazzar dalam Bahru Az Zakhar Musnad Al Bazzar 10/100 no 4163 berkata“hadis ini sanadnya shahih”.
  • Ibnu Katsir dalam An Nihayah Fi Fitan Wal Malahim 1/26 berkata “hadis ini kuat dan shahih”.
  • Al Qurtubi dalam kitabnya At Tadzkirah Fi Ahwal Al Mawta 1/699 menyatakan bahwa hadis ini shahih.
  • Syaikh Abdul Alim Abdul Azhim Al Bustawi dalam kitabnya Al Hadits Al Waridah Fil Mahdi Fi Mizanil Jarh Wat Ta’dil 1/184 menyatakan bahwa hadis ini shahih.
  • Syaikh Mustafha Al Adawy dalam As Shahihul Musnad Min Ahadits Al Fitan Wal Malahim no 337 menyatakan hadis ini shahih.
Sungguh hal yang aneh sekali, Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam Dhaif Sunan Ibnu Majah no 4084 dan Silsilah Ahadits Ad Dhaifah no 85 seraya berkata

و هذه الزيادة خليفة الله ليس لها طريق ثابت , و لا ما يصلح أن يكون شاهدا لها , فهي منكرة

Dan tambahan “Khalifah Allah” tidaklah memiliki jalan yang tsabit dan shahih serta tidak memiliki syahid sehingga lafal tersebut munkar.
Tentu saja perkataan ini keliru. Hadis riwayat Tsauban di atas sangat jelas keshahihannya. Justru pencacatan Syaikh terkesan dicari-cari dan tidak berdasar. Syaikh mengatakan bahwa cacat hadis ini karena Abu Qilabah seorang mudallis dan riwayatnya di atas dengan ‘an ‘an ah. Pencacatan syaikh sangat jelas kekeliruannya bagi mereka yang paham dengan ilmu hadis.
  • Mudallis memiliki banyak tingkatan dan tidak setiap mudallis dinyatakan dhaif hadisnya dengan lafal ‘an ‘an ah. Ibnu Hajar memasukkan Abu Qilabah dalamThabaqat Al Mudallisin no 15 artinya Abu Qilabah adalah mudallis tingkatan pertamaMudallis tingkatan pertama adalah mudallis yang dijadikan hujjah hadisnya walaupun dengan lafal ‘an‘anah. Termasuk dalam kelompok pertama ini adalah Malik bin Anas, Yahya bin Said, Muhammad bin Ismail Al Bukhari dan Muslim bin Hajjaj. Mereka semua dijadikan hujjah ‘an ‘an ahnya.
  • Syaikh Al Albani sendiri telah menyatakan shahih hadis ‘an ‘an ah Abu Qilabah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no 1672 dan Irwa’ Al Ghalil 7/100 no 2035. Dalam Al Irwa’ syaikh menyebutkan takhrij hadis (tentang thalaq) dan semuanya berakhir pada ‘an ‘an ah Abu Qilabah. Di sini beliau tidak mendhaifkan hadis tersebut bahkan menyatakan hadis tersebut shahih.
Syaikh Al Albani juga menyatakan bahwa hadis tersebut munkar karena kata-kata Khalifah Allah menurut beliau bertentangan dengan syariat. Syaikh mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa Al Qubra 2/416

و قد ظن بعض القائلين الغالطين كابن عربي , أن الخليفة هو الخليفة عن الله , مثل نائب الله , و الله تعالى لا يجوز له خليفة , و لهذا قالوا لأبي بكر : يا خليفة الله ! فقال : لست بخليفة الله , و لكن خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم

Sungguh banyak orang mengira dengan salah seperti Ibnu Arabi bahwa yang dimaksud Khalifah adalah Khalifah Tuhan sebagai wakil Tuhan. Allah tidak memiliki wakil. Oleh karena itu ketika ada yang berkata kepada Abu Bakar “wahai Khalifah Allah” Ia berkata “Aku bukanlah Khalifah Allah
Pernyataan Ibnu Taimiyyah itu patut diberikan catatan. Tidak ada masalah jika dikatakan Allah SWT mempunyai wakil, tentu wakil dalam arti orang yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk melaksanakan tugas seperti para Nabi atau orang yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai Imam bagi manusia. Aneh sekali kalau Ibnu Taimiyyah atau Syaikh beranggapan bahwa satu-satunya arti Khalifah adalah Pengganti (Pengganti bagi mereka yang sudah tidak ada). Sehingga jika dikatakan khalifah Allah maka sama saja mengatakan Allah SWT telah digantikan dan ini batil. Pernyataan Khalifah Allah tidaklah semata-mata memiliki arti seperti itu. Perhatikanlah dengan baik, Orang yang mengucapkan kata-kata “Khalifah Allah”adalah Rasulullah SAW jadi sangat tidak mungkin kalau yang dimaksud Rasulullah SAW adalah tafsiran batil versi Ibnu Taimiyyah. Pengingkaran Ibnu Taimiyyah benar-benar sangat berlebihan sampai akhirnya ia berkata “Barang siapa yang menjadikan-Nya mempunyai Khalifah, orang itu berarti telah menyekutukanNya yakni musyrik”. Sungguh kami tidak mengerti bagaimana mungkin jika terbukti dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah SAW berkata “Al Mahdi Khalifah Allah”maka akan datang seorang ulama yang mengatakan perkataan itu sebagai suatu kesyirikan, naudzubillah.
Khalifah Allah yang dimaksud dalam hadis di atas adalah Khalifah yang ditunjuk, diangkat atau ditetapkan oleh Allah SWT dan jelas sekali Allah SWT berkuasa untuk itu. Al Mahdi adalah Khalifah bagi umat manusia yang diangkat dan ditetapkan oleh Allah  SWT oleh karena itulah Imam Mahdi dikatakan sebagai Khalifah Allah. Bisa dimaklumi kalau seandainya Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Al Albani tidak pernah terpikirkan adanya tafsir seperti ini karena mungkin saja bagi mereka seorang Khalifah itu dipilih oleh manusia bukan diangkat oleh Allah SWT.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, kami akan menampilkan hadis lain tentang Al Mahdi Khalifah Allah yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak As Shahihain4/547 no 8351 dan Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwah hal 517 dengan sanad yang shahih, berikut riwayat Al Hakim

عن ثوبان رضى الله تعالى عنه قال إذا رأيتم الرايات السود خرجت من قبل خراسان فأتوها ولو حبوا فإن فيها خليفة الله المهدي هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه

Dari Tsauban RA yang berkata “Jika kalian melihat bendera hitam berkibar datang dari arah Khurasan maka datangilah walau dengan merangkak karena disana ada Khalifah Allah Al Mahdi”. Hadis ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim tetapi mereka tidak meriwayatkannya.

Sikap keras Fatimah Terhadap Abubakar Adalah BENAR ADANYA

Ancaman Pembakaran Rumah Ahlul Bait
.
Judul di atas tentu saja akan cukup mengejutkan bagi siapa saja yang belum mengetahui tentang riwayat ini. Hal ini termasuk salah satu hal yang dipermasalahkan dalam perdebatan yang biasa terjadi oleh kelompok Islam Sunni dan Syiah. Permasalahan ini jelas merupakan masalah yang pelik dan musykil dan tidak jarang ulama sunni yang menyatakan bahwa peristiwa ini tidak pernah terjadi dan riwayat ini tidak ada dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Sebaliknya untuk menjawab anggapan ini Syiah menyatakan bahwa peristiwa ini benar terjadi dan terdapat riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa tersebut dalam referensi Ahlus Sunnah..
.
Tulisan kali ini hanya ingin melihat dengan jelas apakah benar peristiwa ini benar-benar tercatat dalam sejarah atau hanyalah berita bohong belaka. Perlu dinyatakan sebelumnya bahwa tulisan ini tidak dibuat dengan tujuan untuk medeskriditkan pribadi atau kelompok tertentu melainkan hanya menyampaikan sesuatu apa adanya.
.
Riwayat-riwayat tentang Ancaman Pembakaran Rumah Sayyidah Fathimah Az Zahra as ternyata memang benar ada dalam kitab-kitab yang menjadi pegangan Ahlus Sunnah yaitu dalam Tarikh Al Umm Wa al Mulk karya Ibnu Jarir At Thabari, Al Mushannaf Ibnu Abi SyaibahAnsab Al Asyraf karya Al Baladzuri, Al Isti’ab karya Ibnu Abdil Barr dan Muruj Adz Dzahab karya Al Mas’udi. Berikut adalah riwayat yang terdapat dalam Kitab Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan peristiwa itu dengan sanad
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Aslam Ayahnya yang berkata ”Ketika Bai’ah telah diberikan kepada Abu Bakar setelah kewafatan Rasulullah SAW. Ali dan Zubair sedang berada di dalam rumah Fatimah bermusyawarah dengannya mengenai urusan mereka. Sehingga ketika Umar menerima kabar ini Ia bergegas ke rumah Fatimah dan berkata ”Wahai Putri Rasulullah SAW setelah Ayahmu tidak ada yang lebih aku cintai dibanding dirimu tetapi aku bersumpah jika orang-orang ini berkumpul di rumahmu maka tidak ada yang dapat mencegahku untuk memerintahkan membakar rumah ini bersama mereka yang ada di dalamnya”. Ketika Umar pergi, mereka datang dan Fatimah berbicara  kepada mereka “tahukah kalian kalau Umar datang kemari dan bersumpah akan membakar rumah ini jika kalian kemari. Aku bersumpah demi Allah ia akan melakukannya jadi pergilah dan jangan berkumpul disini”. Oleh karena itu mereka pergi dan tidak berkumpul disana sampai mereka membaiat Abu Bakar. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah jilid 7 hal 432 riwayat no 37045).
Riwayat ini memiliki sanad yang shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim.
Sanad Riwayat Dalam Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah
.
.
Ibnu Abi Syaibah
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Utsman Al Absi Al Kufi. Ia adalah seorang imam penghulu para hafidz, penulis banyak kitab sepertiMusnad,al Mushannaf dan Tafsir. Para ulama telah sepakat akan keagungan ilmu kejujuran dan hafalannya. Dalam Mizan Al I’tidal jilid 2 hal 490 Adz Dzahabi berkata”Ia termasuk yang sudah lewat jembatan pemeriksaan dan sangat terpercaya”. Ahmad bin Hanbal berkata ”Abu Bakar sangat jujur, ia lebih saya sukai disbanding Utsman saudaranya”. Al Khathib berkata “Abu Bakar rapi hafalannya dan hafidz”.
.
.
Muhammad bin Bisyr
Muhammad bin Bisyr adalah salah seorang dari perawi hadis dalam Kutub Al Sittah. Dalam Tahdzib At Tahdzib jilid 9 hal 64, Thabaqat Ibnu Saad jilid 6 hal 394, Tarikh al Kabir jilid I hal 45, Al Jarh Wat Ta’dil jilid 7 hal 210, Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 322 dan Al Kasyf jilid 3 hal 22 terdapat keterangan tentang Muhammad bin Bisyr.
  • Ibnu Hajar berkata “Ia tsiqah”.
  • Yahya bin Main telah mentsiqahkannya
  • Al Ajuri berkata ”Ia paling kuat hafalannya diantara perawi kufah”
  • Utsman Ibnu Abi Syaibah berkata “Ia tsiqah dan kokoh”
  • Adz Dzahabi berkata ”Ia adalah Al Hafidz Al Imam dan kokoh”
  • An Nasai berkata “Ia tsiqah”.
.
.
Ubaidillah bin Umar
Keterangan tentang beliau disebutkan dalam Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 160-161, Siyar A’lam An Nubala jilid 6 hal 304, Tahdzib At Tahdzib jilid 7 hal 37, Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 637, Ats Tsiqat jilid 3 hal 143,dan Al Jarh Wa At Ta’dil jilid 5 hal 326.
  • Ibnu Hajar berkata ”Ia tsiqah dan tsabit”
  • Yahya bin Ma’in berkata ”Ia tsiqah, hafidz yang disepakati”
  • Abu Hatim berkata ”Ia tsiqah”
  • Adz Dzahabi berkata ”Ia Imam yang merdu bacaan Al Qurannya”
  • An Nasai berkata ”Ia tsiqah dan kokoh”
  • Ibnu Manjawaih berkata ”Ia termasuk salah satu tuan penduduk Madinah dan suku Quraisy dalam keutamaan Ilmu,ibadah hafalan dan ketelitian”.
  • Abu Zar’ah berkata “Ia tsiqah”.
  • Abdullah bin Ahmad berkata ”Ubaidillah bin Umar termasuk orang yang terpercaya”.
.
.
Zaid bin Aslam 
Zaid bin Aslam adalah salah seorang perawi Kutub As Sittah. Keterangan tentang beliau terdapat dalam Al Jarh Wa At Ta’dil jilid 3 hal 554, Tahdzib at Tahdzib jilid 3 hal 341, Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 326, Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 132-133, dan Siyar A’lam An Nubala jilid 5 hal 316.
  • Abu Hatim menyatakan Zaid tsiqah
  • Ya’qub bin Abi Syaibah berkata ”Ia tsiqah,ahli fiqh dan alim dalam tafsir Al Quran”
  • Imam Ahmad menyatakan beliau tsiqah
  • Ibnu Saad menyatakan “Ia tsiqah”
  • Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Al Imam, Al Hujjah dan Al Qudwah(teladan)
  • Abu Zara’ah menyatakan Ia tsiqah
  • Ibnu Kharrasy menyatakan beliau tsiqah
  • Ibnu Hajar berkata “Ia tsiqah” .
.
.
Aslam Al Adwi Al Umari
Aslam dikenal sebagai tabiin senior dan merupakan perawi Kutub As Sittah. Beliau termasuk yang telah disepakati ketsiqahannya. Keterangan tentang Beliau dapat dilihat di Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 88 dan Siyar A’lam An Nubala jilid 4 hal 98
  • Adz Dzahabi berkata “Ia seorang Faqih dan Imam”
  • Al Madani berkata “Ia seorang penduduk Madinah terpercaya dan Kibar At Tabi’in”
  • Ya’qub bin Abi Syaibah berkata ”Ia tsiqah”
  • Ibnu Hajar berkata ”Ia tsiqah”
  • Abu Zara’ah berkata ”Ia tsiqah”
  • An Nawawi berkata ”Huffadz bersepakat menyatakan Aslam tsiqah”
.
.
Jadi riwayat di atas yang menyatakan adanya Ancaman Pembakaran Rumah Ahlul Bait Sayyidah Fatimah Az Zahra AS telah diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah dan tidak berlebihan kalau ada yang menyatakan riwayat tersebut shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim. Oleh karena itu sebenarnya keliru sekali kalau ada yang beranggapan bahwa Riwayat ini tidak ada dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah apalagi kalau menyatakan ini adalah riwayat yang dibuat-buat oleh golongan Syiah
.

Sayyidatina Fatimah Az-Zahra A.S

Siapakah Fatimah Az Zahra AS?.
Beliau AS adalah Putri tercinta Rasulullah SAW. Beliau AS lahir dari Keluarga yang paling mulia dan dididik dalam lingkungan Kenabian. Beliau AS adalah sosok yang mulia dan panutan bagi umat muslim setelah Rasulullah SAW. Beliau AS adalah semulia-mulia teladan bagi wanita yang mukmin.. Beliau AS adalah pribadi yang selalu berada dalam kebenaran. Beliau AS adalah Pribadi yang disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa.
Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Wanita penghuni surga yang paling utama
Rasulullah SAW bersabda” Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim istri Firaun.(Hadis shahih riwayat Ahmad,Thabrani,Hakim,Thahawi dalam Shahih Al Jami’As Saghir no 1135 dan Silsilah Al Hadits Al Shahihah no1508).
Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Pemimpin atau penghulu seluruh wanita di surga
Bahwa ada malaikat yang datang menemui Rasulullah SAW dan berkata “sesungguhnya Fathimah adalah penghulu seluruh wanita di dalam surga”.(Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak dengan sanad yang baik).
Rasululah SAW bersabda kepada Fathimah“Tidakkah Engkau senang jika Engkau menjadi penghulu bagi wanita seluruh alam” (Hadis riwayat Al Bukhari dalam kitab Al Maghazi) .
Beliau AS adalah semulia-mulia wanita dan Sayyidah wanita sedunia.
Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Fathimah, tidakkah anda puas menjadi sayyidah dari wanita sedunia (atau) menjadi wanita tertinggi dari semua wanita dari ummat ini atau wanita mukmin”(Hadis dalam Sahih Bukhari jilid VIII, Sahih Muslim jilid VII, Sunan Ibnu Majah jilid I hlm 518 ,Musnad Ahmad bin Hanbal jilid VI hlm 282,Mustadrak Al Hakim jilid III hlm156).
Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah bagian dari diri Rasulullah SAW. Siapapun yang meragukan Beliau AS berarti meragukan Rasulullah SAW. Kemarahan Beliau AS adalah Kemarahan Rasulullah SAW. Tentu kemarahan ini selalu berada dalam kebenaran dan tidak hanya berlandaskan emosi semata.
Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Fathimah adalah bahagian dariku, barangsiapa yang membuatnya marah, membuatku marah!”(Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari Bab Fadhail Fathimah no 61).
Rasulullah SAW bersabda “Fathimah adalah sebahagian daripadaku; barangsiapa ragu terhadapnya, berarti ragu terhadapku, dan membohonginya adalah membohongiku”(Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari kitab nikah bab Dzabb ar-Rajuli).
Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang disucikan sesuci-sucinya oleh Allah SWT dari segala dosa. Oleh karena itu Beliau AS terhindar dari kesalahan dan perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah SWT.
Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “ Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bekehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Fathimah,Hasan dan Husain, lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871 dishahihkan oleh Syaikh Nashirudin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi ).
Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang disucikan dan oleh karenanya Beliau jelas sekali adalah Ahlul Bait yang dimaksud dalam hadis Tsaqalain bahwa Mereka selalu bersama Al Quran dan selalu bersama kebenaran.
Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh. (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).
Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait tempat berpegang umat Islam agar terhindar dari kesesatan.
Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).
Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait pemberi petunjuk keselamatan bagi umat Islam
Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan.Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.(Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim).
Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait laksana Bahtera Nabi Nuh AS yang barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam
Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh,barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.(Hadis riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih).
Semua keutamaan di atas jelas sekali menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah AS tidak sama dengan sahabat-sahabat Nabi ra. Beliau AS memiliki keutamaan jauh di atas mereka. Mereka para sahabat Nabi lebih layak merujuk dan berpedoman kepada Beliau Sayyidah Fatimah AS yang merupakan Ahlul Bait Rasulullah SAW
.
Bukankah mereka para sahabat Nabi ra telah mendengarkan wasiat Rasulullah SAW dalam hadis Tsaqalain bahwa mereka harus berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait. Jadi sungguh aneh sekali kalau ada yang berkata bahwa Sayyidah Fatimah AS layaknya sahabat Nabi yang lain yang juga bisa salah atau dipengaruhi kecenderungan pribadi, atau pendapat Beliau AS hanyalah penafsiran yang juga bisa salah, pendapat ini jelas bertentangan dengan dalil yang shahih. Oleh karena itu Seandainya ada perselisihan antara Sayyidah Fatimah AS dan sahabat Nabi ra maka sudah pasti kebenaran ada pada Sayyidah Fatimah AS karena Beliau AS adalah pribadi yang disucikan oleh Allah SWT dan senantiasa berada dalam kebenaran
.
Sudut Pandang dan Hujjah
Muqaddimah
Hadis Tentang Fadak
Analisis Riwayat Fadak
Bagaimana Menyikapi Riwayat Fadak
Apakah masalah ini tidak penting dan membuka aib keluarga Nabi SAW?
Pembahasan
Analisis Terhadap Kedudukan Sayyidah Fatimah AS
  • Kedudukan Sayyidah Fatimah AS sebagai Ahlul Bait
  • Kedudukan Sayyidah Fatimah AS Sebagai Ahli Waris Nabi SAW
Analisis Terhadap Hadis Yang Disampaikan Abu Bakar RA.
  • Bertentangan Dengan Hadis Lain
  • Perbedaan Pendapat Abu Bakar dan Umar bin Khattab Serta Pendirian Ali dan Abbas
  • Bertentangan Dengan Al Quranul Karim
  • Al Kitab Juga Menyatakan Nabi Mewariskan Harta
Kesimpulan Analisis
…………………..Mari Kita Mulai……………………
Muqaddimah
Selepas kematian Junjungan yang mulia Rasulullah SAW terjadi suatu perselisihan antara Ahlul Bait yang dalam hal ini Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dengan sahabat Nabi yaitu Abu Bakar ra. Perselisihan ini berkaitan dengan tanah Fadak. Fadak adalah tanah harta milik Rasulullah SAW. Sayyidah Fatimah Az Zahra AS menuntut bagiannya dari tanah Fadak karena itu adalah haknya sebagai Ahli Waris Rasulullah SAW. Abu Bakar ra dalam hal ini menolak permintaan Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dengan membawakan hadis “Kami para Nabi tidaklah mewarisi dan apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah”. Berdasarkan hadis ini Abu Bakar ra menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS karena harta milik Nabi Muhammad SAW tidak menjadi milik Ahli Waris Beliau SAW tetapi menjadi sedekah bagi kaum muslimin.
Tulisan ini akan membahas lebih lanjut masalah ini. Sebelumnya akan dijelaskan bahwa masalah ini memang sensitif dan tidak jarang menimbulkan rasa tidak senang di kalangan tertentu. Masalah ini sudah menjadi isu yang seringkali dipermasalahkan oleh dua kelompok besar Islam yaitu Sunni dan Syiah. Sunni dalam hal ini cenderung tidak menganggap penting masalah ini. Kebanyakan dari Sunni berpendapat bahwa perselisihan itu adalah ijtihad dari masing-masing pihak sedangkan Syiah cenderung membela Ahlul Bait atau Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dan dalam hal ini mereka tidak segan-segan menyalahkan Abu Bakar ra. Pendapat Syiah ini ditolak oleh Sunni karena Abu Bakar ra dalam hal ini hanya berpegang pada hadis Rasulullah SAW.
Perselisihan antara Islam Sunni dan Syiah memang sudah sangat lama dan masing-masing pihak memiliki dasar dan dalil sendiri. Sayangnya perselisihan ini justru menimbulkan persepsi yang aneh di kalangan tertentu.
  • Ada sebagian orang yang memiliki persepi yang buruk tentang Syiah tidak segan-segan menolak riwayat Fadak dan menuduh itu Cuma cerita buatan Syiah.
  • Sebagian lagi suka menuduh siapa saja yang mengungkit kisah Fadak ini maka dia adalah Syiah.
  • Siapa saja yang berpendapat kalau Abu Bakar ra salah dalam hal ini maka dia adalah Syiah.
Persepsi aneh tersebut muncul karena pengaruh propaganda pihak-pihak tertentu yang suka menyudutkan dan mengkafirkan Syiah. Sehingga nama Syiah selalu menimbulkan persepsi yang buruk dan mempengaruhi jalan pikiran orang-orang tertentu. Orang-orang seperti ini yang menjadikan prasangka sebagai keyakinan dan yah bisa ditebak kalau mereka ini sukar sekali memahami pembicaraan dan dalil orang lain. Karena semua hujjah dan dalil orang lain dinilai dengan prasangka yang belum tentu benar.
Singkatnya semua persepsi aneh ini tidak terlepas dari kerangka kemahzaban. Seolah-olah pendapat yang benar dalam masalah ini adalah apa yang bertentangan dengan pendapat Syiah. Seolah-olah siapa saja yang berpendapat seperti yang Syiah katakan maka dia jelas salah. Yang seperti ini tidak lain hanya fanatisme belaka. Kebenaran tidak diukur dari golongan tetapi sebaliknya golongan itulah yang mesti diukur dengan kebenaran.
Dalam pembahasan masalah Fadak ini penulis akan berlepas diri dari semua fanatisme mahzab dan berusaha menganalisisnya secara objektif. Walaupun pada akhirnya tetap ada saja yang suka menuduh macam-macam :D
Hadis Tentang Fadak
Hadis ini terdapat dalam Shahih Bukhari Kitab Fardh Al Khumus Bab Khumus no 1345. Berikut adalah hadis tentang Fadak yang dimaksud yang penulis ambil dariKitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta.
Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain :kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain :Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW, saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Harta Kami tidaklah diwaris ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.
Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian Ia menshalatinya.
Di kitab yang sama Mukhtasar Shahih Bukhari hal 609, disebutkan
Aisyah berkata “Fatimah meminta bagiannya kepada Abu Bakar dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW berupa tanah di Khaibar dan Fadak dan sedekah Beliau624 di Madinah. Abu Bakar menolak yang demikian kepadanya dan Abu Bakar berkata “Aku tidak meninggalkan sesuatu yang dulu diperbuat oleh Rasulullah SAW kecuali akan melaksanakannya, Sesungguhnya aku khawatir menyimpang dari kebenaran bila aku meninggalkan sesuatu dari urusan Beliau”. Adapun sedekah Beliau di Madinah, oleh Umar diserahkan kepada Ali dan Abbas. Adapun tanah Khaibar dan Fadak maka Umarlah yang menanganinya, Ia berkata “Keduanya adalah sedekah Rasulullah keduanya untuk hak-hak Beliau yang biasa dibebankan kepada Beliau dan untuk kebutuhan-kebutuhan Beliau. Sedangkan urusan itu diserahkan kepada orang yang memegang kekuasaan.
Di catatan kaki no 624 disebutkan bahwa sedekah Beliau SAW di Madinah yang dimaksud adalah Kurma Bani Nadhir yang jaraknya dekat dengan Madinah.
Analisis Riwayat Fadak
Riwayat pertama dan kedua dengan jelas menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah meminta bagian warisnya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW salah satunya adalah tanah Fadak. Hal ini menunjukkan Sayyidah Fatimah AS tidak tahu bahwa harta yang ditinggalkan Nabi SAW adalah sedekah(berdasarkan hadis yang dikatakan Abu Bakar). Sebenarnya tidak hanya Sayyidah Fatimah yang meminta bagian waris dari Harta Nabi SAW, Paman Nabi Abbas RA dan Istri-istri Nabi SAW selain Aisyah juga meminta bagian waris mereka. Jadi kebanyakan keluarga Nabi SAW yang adalah Ahli waris Nabi tidak mengetahui kalau harta yang ditinggalkan Nabi SAW adalah sedekah(berdasarkan hadis yang dikatakan Abu Bakar).
Abu Bakar RA dalam hal ini menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS dengan membawakan hadis bahwa Para Nabi tidak mewarisi, apa yang ditinggalkan menjadi sedekah. Setelah mendengar pernyataan Abu Bakar, Sayyidah Fatimah AS marah dan mendiamkan atau tidak mau berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat yaitu selama 6 bulan. Semua penjelasan ini sudah cukup untuk menyatakan memang terjadi perselisihan paham antara Abu Bakar RA dan Sayyidah Fatimah AS.
Bagaimana Menyikapi Riwayat Fadak
Banyak hal yang akan mempengaruhi orang dalam mempersepsi riwayat ini.
  1. Ada yang beranggapan kalau masalah ini adalah perbedaan penafsiran atau ijtihad masing-masing dan dalam hal ini keduanya benar
  2. Ada yang beranggapan bahwa masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan karena menganggap permasalahan ini tidak penting dan hanya membuka aib keluarga Nabi SAW.
  3. Ada yang beranggapan dalam masalah ini yang benar adalah Abu Bakar RA
  4. Ada yang beranggapan bahwa yang benar dalam masalah ini adalah Sayyidah Fatimah AS.
Riwayat di atas memang menunjukkan perbedaan pandangan Abu Bakar RA dan Sayyidah Fatimah AS. Sayangnya pernyataan keduanya benar adalah tidak tepat.Alasannya sangat jelas keduanya memiliki pandangan yang benar-benar bertolak belakang. Artinya jika yang satu benar maka yang lain salah begitu juga sebaliknya. Mari kita lihat
Sayyidah Fatimah AS tidak menganggap bahwa harta peninggalan Rasulullah SAW adalah sedekah. Beliau berpandangan bahwa harta peninggalan Rasulullah SAW menjadi milik ahli waris Beliau SAW oleh karena itu Beliau meminta bagian warisan tanah Fadak.
Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS dengan membawakan hadisbahwa para Nabi tidak mewarisi apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah.
Sayyidah Fatimah AS setelah mendengar perkataan Abu Bakar menjadi marah dan tidak berbicara dengan Abu Bakar sampai Beliau wafat. Artinya Sayyidah Fatimah tidak sependapat dengan Abu Bakar oleh karena itu Beliau marah.
Jadi tidak bisa dinyatakan bahwa keduanya benar. Yang benar dalam masalah ini terletak pada salah satunya.
Apakah masalah ini tidak penting dan membuka aib keluarga Nabi SAW?
Jawabannya ini hanya sekedar persepsi. Dari awal orang yang berpikiran kalau masalah ini adalah aib pasti memiliki prakonsepsi bahwa memang terjadi perselisihan antara Abu Bakar dan Sayyidah Fatimah AS. Masalahnya kalau memang tidak ada apa-apa atau hanya sekedar beda penafsiran jelas tidak perlu dianggap aib. Kemungkinan besar dari awal orang yang berpikiran seperti ini menyatakan bahwa Abu Bakar RA benar dalam hal ini. Sehingga dia beranggapan ketidaktahuan Sayyidah Fatimah dengan hadis Abu Bakar dan sikap marah serta mendiamkan oleh Sayyidah Fatimah sebagai aib yang tidak perlu diungkit-ungkit. Menurutnya tidak mungkin Sayyidah Fatimah pemarah dan pendendam. Orang seperti ini jelas tidak memahami dengan baik. Maaf ya :)
Sebenarnya hadis diatas tidak menyatakan bahwa Sayyidah Fatimah seorang pemarah, yang benar bahwa Sayyidah Fatimah marah kepada Abu Bakar:( Marah dan pemarah adalah dua hal yang berbeda karena Pemarah menunjukkan sikap atau pribadi yang mudah marah sedangkan Marah adalah suatu keadaan tertentu bukan sikap atau kepibadian. Mengkaitkan kata pendendam pada riwayat ini juga tidak relevan. Sikap marah dan mendiamkan Abu Bakar RA yang dilakukan Sayyidah Fatimah berkaitan dengan pandangan Beliau bahwa Beliau jelas dalam posisi yang benar sehingga sikap tersebut justru menunjukkan keteguhan Sayyidah Fatimah pada apa yang Beliau anggap benar. Sayyidah Fatimah tidaklah sama dengan manusia lain, yang bisa sembarangan marah dan hanya meluapkan emosi semata. Kemarahan Beliau selalu terkait dengan kebenaran oleh karenanya Rasulullah SAW bersabda
“Fathimah adalah bahagian dariku, barangsiapa yang membuatnya marah, membuatku marah!”(Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari jilid 5 Bab Fadhail Fathimah no 61).
Jelas sekali kalau kemarahan Sayyidah Fatimah AS adalah kemarahan Rasulullah SAW. Apa yang membuat Sayyidah Fatimah marah maka hal itu juga membuat Rasulullah SAW marah. Oleh karena itu berkenaan dengan perselisihan pandangan Sayyidah Fatimah dan Abu Bakar RA saya beranggapan bahwa kebenaran terletak pada salah satunya dan tidak keduanya. Dalam hal ini saya beranggapan bahwa kebenaran ada pada Sayyidah Fatimah Az Zahra AS. Berikut pembahasannya
Analisis Terhadap Kedudukan Sayyidah Fatimah AS
Analisis pertama dimulai dari kedudukan Sayyidah Fatimah Az Zahra AS, Dalam tulisan saya sebelumnya saya telah membahas masalah Siapa Sebenarnya Sayyidah Fatimah Az Zahra AS?. Kesimpulan tulisan itu bahwa Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang senantiasa bersama kebenaran.
Sebelumnya akan ditanggapi terlebih dahulu pernyataan sebagian orang “Kenapa dalam masalah Fadak yang dibahas hanya Sayyidah Fatimah AS saja, bukankah ada juga yang lain yang menuntut waris?”. Sebenarnya pernyataan Ada yang lainjustru memperkuat kebenaran Sayyidah Fatimah AS, apa sebenarnya masalah orang yang berkata seperti ini?. Padahal kalau saja mereka tahu kedudukan Sayyidah Fatimah AS yang sebenarnya maka mereka tidak perlu bertanya yang aneh seperti ini. Sayyidah Fatimah berbeda dengan yang lain karena Beliau AS adalah Ahlul Bait yang disucikan oleh Allah SWT dan salah satu Tsaqalain yang menjadi pegangan umat Islam. Sayyidah Fatimah AS berbeda dengan yang lain karena kemarahan Beliau AS adalah kemarahan Rasulullah SAW dan menjadi hujjah akan benar atau tidaknya sesuatu.
Kedudukan Sayyidah Fatimah AS sebagai Ahlul Bait
Mari kita lihat kembali hadis Tsaqalain. Hadis itu disampaikan oleh Rasulullah SAW sebelum Beliau SAW wafat, Beliau SAW berpesan kepada sahabat-sahabatnya untuk berpegang teguh pada Al Quran dan Ahlul Bait agar tidak sesat. Sabda Rasulullah SAW ini adalah bukti jelas bahwa sahabat diperintahkan untuk berpedoman kepada Ahlul Bait dan bukan sebaliknya. Ahlul Bait yang dimaksud juga sudah saya jelaskan dalam tulisan saya Al Quran dan Ahlul Bait selalu dalam kebenaran. Sudah jelas sekali kalau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW.
Mari kita lihat hadis Fadak, dari hadis itu didapati bahwa Sayyidah Fatimah tidak mengetahui kalau Para Nabi tidak mewariskan atau harta peninggalan para Nabi menjadi sedekah. Hal ini menimbulkan kemusykilan karena Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang menjadi pedoman bagi sahabat, Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang selalu bersama Al Quran dan kebenaran sehingga tidak mungkin tidak mengetahui perkara seperti ini.
  • Menerima kalau Sayyidah Fatimah AS tidak tahu itu berarti menerima kalau Beliau pada awalnya menuntut sesuatu yang bukan haknya.
  • Menerima kalau Sayyidah Fatimah AS tidak tahu itu berarti menerima bahwa Beliau pada awalnya adalah keliru.
Mungkinkah Ahlul Bait yang menjadi tempat pedoman para sahabat agar tidak sesatbisa tidak mengetahui hadis ini?, Mungkinkah Ahlul Bait yang selalu bersama Al Quran dan selalu bersama kebenaran bisa keliru?, Mungkinkah Ahlul Bait yang disucikan oleh Allah SWT menuntut sesuatu yang bukan haknya?. Jawabannya jelas tidak.
Kemudian mari kita lihat lagi, ternyata setelah mendengar pernyataan Abu Bakar RA yang membawakan hadis Para Nabi tidak mewariskan atau harta peninggalan para Nabi menjadi sedekah, Sayyidah Fatimah menjadi marah dan mendiamkan Abu Bakar selama 6 bulan. Mungkinkah Sayyidah Fatimah AS atau Ahlul Bait akan menjadi marah mendengar hadis Rasulullah SAW? Jawabannya juga tidak, seandainya hadis itu memang benar maka Sayyidah Fatimah dengan kedudukan Beliau AS yang mulia pasti akan menerima hadis Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin Pribadi yang merupakan salah satu dari Tsaqalain dan selalu bersama Al Quran akan menolak hadis Rasulullah SAW.
Lihat kembali hadis Rasulullah SAW yang menyatakan apa saja yang membuat Sayyidah Fatimah AS marah maka itu juga membuat Rasulullah SAW marah. Dalam hadis fadak, Sayyidah Fatimah marah setelah mendengar hadis Rasulullah SAW yang disampaikan Abu Bakar. Hal ini berarti jika Rasulullah SAW ada disitu saat itu maka Rasulullah SAW pun akan marah juga berdasarkan hadis di atas. Jadimungkinkah Rasulullah SAW marah dengan apa yang Beliau katakan sendiri?, atau justru sebenarnya hadis yang disampaikan Abu Bakar RA itu tidak benar. Lihat banyak sekali kemusykilan yang ditimbulkan hadis yang disampaikan Abu Bakar RA.
Kedudukan Sayyidah Fatimah AS Sebagai Ahli Waris Nabi SAW
Sayyidah Fatimah AS adalah Putri tercinta Rasulullah SAW yang dalam hal ini jelas merupakan Ahli waris Beliau SAW. Oleh karena itu tentu sebagai Ahli waris, Beliau lebih layak untuk mengetahui apapun perihal hak warisnya termasuk hadis yang disampaikan Abu Bakar RA. Mari kita lihat hadis Fadak, dari hadis itu didapati Ahli waris Nabi SAW ternyata tidak mengetahui hadis ini. Padahal Ahli waris Nabi SAW tentu lebih layak mengetahui hadis ini karena masalah ini adalah urusannya. Mari kita lihat kemungkinannya
  1. Ahli waris Nabi SAW dalam hal ini Sayyidah Fatimah AS pura-pura tidak tahu dengan hadis ini. Kemungkinan ini jelas tidak benar, mempercayai kemungkinan ini berarti Sayyidah Fatimah AS telah mengabaikan perintah Rasulullah SAW. Hal ini jelas tidak mungkin bagi Ahlul Bait yang disucikan dan selalu bersama Al Quran.
  2. Ahli waris Nabi SAW dalam hal ini Sayyidah Fatimah AS lupa dengan hadis ini. Pernyataan ini juga tidak tepat, kalau memang lupa kenapa pula menjadi marah setelah diingatkan dengan hadis yang disampaikan Abu Bakar RA. Kemarahan Sayyidah Fatimah AS menunjukkan ketidaksukaan dan penolakan Beliau terhadap hadis yang disampaikan Abu Bakar RA.
  3. Rasulullah SAW tidak memberitahu Sayyidah Fatimah AS tentang hadis ini.Mungkinkah yang seperti ini terjadi, Bagaimana mungkin Rasulullah SAW tidak memberitahu kepada Ahli waris Beliau SAW?. Sedangkan Beliau SAW justru memberitahu hadis ini kepada Abu Bakar RA yang justru bukanlah Ahli Waris Beliau SAW. Apakah Rasulullah SAW lupa? Atau Apakah Rasulullah SAW sengaja tidak memberitahu hal ini yang ternyata menimbulkan perselisihan?. Jawabannya tidak karena kesucian Rasulullah SAW jelas tidak memungkinkan hal ini terjadi. Kemungkinan ini ternyata juga sama tidak benarnya dengan yang lain.
Analisis Terhadap Hadis Yang Disampaikan Abu Bakar RA.
Hadis yang disampaikan oleh Abu Bakar RA bahwa Para Nabi tidak mewariskan atau harta peninggalan para Nabi menjadi sedekah ternyata bertentangan dengan hadis lain dan Al Quranul Karim.
Bertentangan Dengan Hadis Lain
Dari Ali bin Husain bahwa ketika mereka mendatangi Madinah dari sisi Yazid bin Muawiyah di masa pembunuhan Husain bin Ali RA, Al Miswar bin Makhramah menjumpainya, lalu ia berkata kepadanya ” Adakah sesuatu hajat kepadaku yang dapat kau perintahkan kepadaku”. Aku berkata kepadanya “tidak”. Dia berkata kepadanya “Maka apakah engkau memberikan kepadaku pedang Rasulullah SAW karena aku khawatir terhadap kaum akan mengalahkanmu sementara pedang itu berada di tangan mereka. Demi Allah sungguh bila engkau memberikannya kepadaku maka tidaklah pedang itu lepas kepada mereka selama-lamanya sehingga nyawaku direnggut (Mukhtasar Shahih Bukhari Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hadis no 1351 hal 619 cetakan pertama Pustaka Azzam 2007, penerjemah M Faisal & Thahirin Suparta).
Hadis di atas menyatakan bahwa Ali bin Husain RA (Keturunan Ahlul bait) memiliki pedang Rasulullah SAW. Bukankah pedang Rasulullah SAW adalah harta milik Beliau SAW. Tentu berdasarkan hadis Abu Bakar RA maka harta Rasulullah SAW menjadi sedekah dan milik kaum Muslimin. Jadi mengapa pedang Rasulullah SAW ada pada Ahlul Bait Beliau SAW. Bukankah itu berarti Pedang tersebut diwariskan kepada Ahlul Bait Rasulullah SAW.
Nah sudah mulai pusing belum :mrgreen:
Perbedaan Pendapat Abu Bakar dan Umar bin Khattab Serta Pendirian Ali dan Abbas
Abu Bakar dan Umar bin Khattab memiliki sedikit pandangan yang berbeda soal hadis yang dibawa Abu Bakar tersebut. Lihat riwayat Fadak yang kedua, mula-mula Abu Bakar menolak semua permintaan sayyidah Fatimah
Aisyah berkata “Fatimah meminta bagiannya kepada Abu Bakar dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW berupa tanah di Khaibar dan Fadak dan sedekah Beliau(kurma bani Nadhir) di Madinah. Abu Bakar menolak yang demikian kepadanya dan Abu Bakar berkata “Aku tidak meninggalkan sesuatu yang dulu diperbuat oleh Rasulullah SAW kecuali akan melaksanakannya, Sesungguhnya aku khawatir menyimpang dari kebenaran bila aku meninggalkan sesuatu dari urusan Beliau”.
Sedangkan pada masa pemerintahan Umar sedekah Nabi SAW di Madinah justru diserahkan kepada Ali dan Abbas. Setidaknya ada beberapa hal yang ditangkap dari hal ini. Kemungkinan Ali dan Abbas kembali meminta seperti apa yang diminta Sayyidah Fatimah pada masa pemerintahan Umar, ini berarti mereka tetap menolak pernyataan hadis yang dibawa Abu Bakar. Kemudian Umar bin Khattab RA menolak memberikan tanah Khaibar dan Fadak tetapi memberikan sedekah Nabi SAW(kurma bani Nadhir) di Madinah, lihat lanjutan hadisnya
Adapun sedekah Beliau di Madinah, oleh Umar diserahkan kepada Ali dan Abbas. Adapun tanah Khaibar dan Fadak maka Umarlah yang menanganinya, Ia berkata “Keduanya adalah sedekah Rasulullah keduanya untuk hak-hak Beliau yang biasa dibebankan kepada Beliau dan untuk kebutuhan-kebutuhan Beliau. Sedangkan urusan itu diserahkan kepada orang yang memegang kekuasaan.
Sebenarnya baik tanah Khaibar, Fadak dan sedekah Nabi SAW di madinah adalah sama-sama sedekah kalau menurut apa yang dikatakan Abu Bakar RA dan Umar RA tetapi anehnya Umar RA justru memberikan sedekah Nabi SAW di Madinah kepada Ahlul Bait yaitu Ali dan Abbas. Padahal berdasarkan hadis Shahih sedekah diharamkan bagi Ahlul Bait. Jadi jika hadis yang dinyatakan Abu Bakar itu benar maka pendapat Umar yang menyerahkan sedekah Nabi SAW di Madinah adalah keliru karena bertentangan dengan hadis shahih bahwa sedekah diharamkan bagi Ahlul Bait.
Mari kita lihat dari sisi yang lain, Ali RA dan Abbas RA ternyata tetap menerima sedekah Nabi SAW di Madinah(kurma bani Nadhir) itu bisa berarti
  • Mereka keliru karena menerima sedekah
  • Mereka menganggap kurma bani Nadhir bukanlah sedekah tapi harta milik Rasulullah SAW.
Imam Ali dalam hal ini adalah Ahlul Bait yang disucikan Allah SWT dan telah jelas sabda Rasulullah SAW bahwa Beliau Imam Ali selalu bersama Al Quran dan Al Quran bersama Imam Ali berdasarkan hadis
bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ali bersama Al Quran dan Al Quran bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya menemuiku di telaga Haudh”.(Hadis riwayat Al Hafidz Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain juz 3 hal 124. Hadis ini dishahihkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain yang berkata “ini hadis yang shahih tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya”. Dalam Talkhis Mustadrak Adz Dzahabi juga mengakui keshahihan hadis ini).
Dan juga hadis berikut menunjukkan Imam Ali selalu bersama Allah dan RasulNya
bahwa Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa taat kepadaKu, berarti ia taat kepada Allah dan siapa yang menentangKu berarti ia menentang Allah dan siapa yang taat kepada Ali berarti ia taat kepadaKu dan siapa yang menentang Ali berarti ia menentangKu.” (Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 hal 121. Al Hakim dalam Al Mustadrak berkata hadis ini shahih sanadnya akan tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi juga mengakui kalau hadis ini shahih dalam Talkhis Al Mustadrak).
Jadi adalah tidak mungkin Imam Ali keliru dalam hal ini sehingga yang benar adalah pernyataan bahwa Ali RA dan Abbas RA menganggap kurma bani Nadhir bukanlah sedekah tapi harta milik Rasulullah SAW.
Jika benar seperti ini maka Ali RA dan Abbas RA telah mewarisi harta Rasulullah SAW dan hal ini jelas bertentangan dengan hadis Abu Bakar RA.
Bagaimana sedikit rumitkah? :)
Bertentangan Dengan Al Quranul Karim
Al Quranul Karim telah menjelaskan banyak hukum tentang waris, salah satunya
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu(seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis didalam Kitab (Allah).(QS :Al Ahzab ayat 6).
Al Quran jelas-jelas menyatakan bahwa Yang mempunyai hubungan darah itu berhak untuk saling waris- mewarisi berdasarkan ketentuan Allah SWT. Dalam hal ini Sayyidah Fatimah AS berhak mewarisi Rasulullah SAW yang adalah ayah Beliau . Sebagian orang membela hadis Abu Bakar RA dengan mengatakan Ayat Al Quran di atas telah ditakhsis oleh hadis tersebut. Jadi ayat ini tidak berlaku untuk para Nabi. Sayangnya pendapat ini juga keliru karena Al Quran juga menjelaskan bahwa para Nabi juga mewarisi.
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata”.(QS: An Naml ayat 16).
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhan-Nya dengan suara yang lembut. Ia berkata”Ya Tuhan-ku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepadaku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhan-ku. Dan sesungguhnya aku khawtir tentang mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkauseorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhan-ku seorang yang diridhai.(QS:Maryam ayat 2-6).
Al Quran pun dengan jelas menyatakan bahwa para Nabi juga mewariskan. Sebagian orang tetap berkeras dengan mengatakan bahwa yang dimaksud mewariskan di atas adalah mewariskan kenabian, hikmah atau ilmu bukan masalah harta. Pendapat ini pun keliru karena Kenabian tidaklah diwariskan tapi diangkat atau dipilih langsung oleh Allah SWT begitu juga hikmah dan ilmu para Nabi adalah langsung pemberian Allah SWT. Cukuplah bagi mereka Al Quran sendiri yang mengatakan
Berkata Isa “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab(Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi“.(QS :Maryam 30).
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.(QS :Al Baqarah 130)
Allah berfirman “hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu dari manusia yang lain untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.(QS :Al A’raf 144).
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariyya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab(katanya) “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya yang membenarkan Kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh“.(QS Ali Imran 39)
Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia, Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS :Al Hajj 75).
Hikmah dan Ilmu para Nabi adalah pemberian langsung dari Allah SWT, dalilnya adalah sebagai berikut
Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. DanKami berikan kepadanya Hikmah selagi ia masih kanak-kanak(QS Maryam 12)
Dan Kepada Luth Kami berikan Hikmah dan Ilmu dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.(QS Al Anbiya’ 74)
Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan Ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kami-lah yang melakukannya.(QS Al Anbiya’ 79)
Dan Sesungguhnya Kami telah memberikan Ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya mengucapkan “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman”.(QS An Naml 301).
Al Kitab Juga Menyatakan Nabi Mewariskan Harta 
Dalam Al Kitab Taurat dijelaskan ternyata Nabi itu juga mewariskan, Nabi Ibrahim misalnya mewariskan harta untuk keturunannya.
Kemudian datanglah Firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan “Janganlah takut Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar”. Abram menjawab “Ya Tuhan Allah, apakah yang Engkau akan berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku adalah Elizer orang Damsyik itu“. Lagi kata Abram “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku”. Tetapi datnglah firman Tuhan kepadanya, demikian “Orang ini tidakakan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu”. Lalu Tuhan membawa Abram ke luar serta berfirman “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya”. Maka firman-Nya kepadanya “demikianlah nanti banyaknya keturunanmu”. Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Kejadian 15, 1-6 Perjanjian Allah dengan Abram ; Janji tentang keturunannya).
Kesimpulan Analisis
Semua pembahasan diatas menunjukkan bahwa dalam masalah Fadak kebenaran berada pada Sayyidah Fatimah Az Zahra AS. Walaupun begitu tidak ada niat sedikitpun bagi saya untuk mengatakan bahwa Abu Bakar RA adalah pembuat hadis palsu. Dalam masalah ini saya mengambil pandangan bahwa Abu Bakar RA telah keliru dalam memahami hadis tersebut. Mungkin saja beliau memang mendengar sendiri hadis tersebut tetapi berbeda pemahamannya dengan pemahaman Ahlul Bait oleh karena itu Sayyidah Fatimah Ahlul Bait Nabi menolak hadis Abu Bakar dengan menunjukkan sikap marah dan mendiamkan Abu Bakar RA
.

Penyimpangan Kisah Fadak Oleh Situs Hakekat.Com

Penyimpangan Kisah Fadak Oleh Situs Hakekat.Com
Kali ini tulisan saya adalah tanggapan terhadap tulisan dari situs www.hakekat.comtentang Fadak yang berjudul Apakah Abu Bakar membuat Fatimah Murka?Dan Apakah Fatimah Berhak Mendapat Warisan?. Dalam tulisan tersebut terdapat banyak hal yang patut disayangkan. Situs hakekat.com membuat tulisan tersebut sebagai bantahan terhadap Syiah Rafidhah(begitu situs tersebut menyebutnya). Tentu saja hal ini adalah hak mereka sepenuhnya, tapi yang patut disayangkan itu adalah keinginan Situs tersebut untuk membantah telah membuat begitu banyak kekeliruan yang saya nilai masuk dalam kategori Syiahphobia. :(
Tulisan saya kali ini berusaha untuk menilai kebenaran tulisan situs hakekat.com tersebut. Tulisan saya ini adalah suatu analisis terhadap tulisan hakekat.com yang saya nilai penuh dengan distorsi dari sudut pandang keilmuan Ahlussunnah. Mempertahankan keyakinan suatu mahzab dengan membantah pandangan mahzab lain tentu adalah hal yang biasa dalam dunia permahzaban. Tetapi alangkah baiknya kalau bantahan tersebut bersandar pada dalil-dalil yang kuat dan penarikan kesimpulan yang benar. Sekali lagi patut disayangkan ternyata tulisan hakekat.com itu tidak memiliki kedua hal tersebut. Situs hakekat.com dipengaruhi oleh kebenciannya yang mendalam terhadap Syiah sehingga membuat tulisan yang penuh distorsi dari sudut pandang keilmuan Ahlus Sunnah sendiri. Oleh karena itu saya nilai tulisan tersebut tidak patut dijadikan perwakilan Ahlus Sunnah dalam membantah Syiah. :mrgreen:
Situs hakekat.com awalnya menulis
Syi’ah Rofidhah banyak membuat alasan bahwa Abu Bakar membenci Fatimah dan barang siapa membencinya berarti membenci Rasul SAW.
Dalam hal ini saya tidak akan membela apa pandangan Syiah yang menurut situs hakekat.com menyatakan bahwa Abu Bakar RA membenci Fatimah. Dalam pandangan saya Abu Bakar RA tidak membenci Sayyidah Fatimah AS walaupun begitu sikap Abu Bakar RA terhadap Sayyidah Fatimah AS dalam masalah Fadak adalah keliru. Kemarahan Sayyidah Fatimah dalam hal ini sangat memberatkan pembelaan apapun terhadap Abu Bakar RA karena kemarahan Sayyidah Fatimah AS adalah hujjah akan kebenaran sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW.
“Fathimah adalah bagian dariku, barangsiapa yang membuatnya marah, membuatku marah!”(Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari jilid 5 Bab Fadhail Fathimah no 61).
Situs Hakekat.com kemudian menuliskan hadis yang dalam pandangannya menjadi pembelaan terhadap Abu Bakar RA
Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari hadist Al Miswar bin Makhromah berkata: Sesungguhnya Ali telah melamar putri Abu Jahal, Fatimah mendengarnya lantas ia menemui Rasul Saw berkatalah Fatimah: “Kaummu menyangka bahwa engkau tidak pernah marah membela anak putrimu dan sekarang Ali akan menikahi putri Abu Jahal,” maka berdirilah Rasulullah Saw mendengar kesaksian dan berkata: “Setelah selesai menikahkan beritahu saya, sesunggunhya Fatimah itu bagian dari saya, dan saya sangat membenci orang yang menyakitinya. Demi Allah, putri Rasulullah dan putri musuh Allah tidak pernah akan berkumpul dalam pangkuan seorang laki-laki.” Maka kemudian Ali tidak jadi melamar putri Abu Jahal (khitbah itu) (diriwayatkan Bukhori dalam kitab Fadhailu Shahabat)
Dengan hadis ini situs hekekat.com menyatakan
Maka tampak jelas bahwa yang pantas dipahami dari hadis tersebut adalah Ali melamar putri Abu Jahal dan membuat Fatimah marah. Dengan ini bila hadis diterapkan pada setiap orang yang membenci Fatimah maka Ali adalah orang pertama yang termasuk. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata saat membantah keyakinan Rafidhah dalam permasalahan ini. Hadist ini disebabkan lamaran Ali terhadap putri Abu Jahal, penyebab yang masuk dalam sebuah lafadh itu menjadi pasti, dimana setiap lafadh yang berlaku pada suatu sebab tidak boleh dikeluarkan penyebabnya bahkan penyebab yang harus masuk. Disebutkan dalam sebuah hadist (apa yang meragukannya menjadikanku ragu dan yang menyakitkannya menyakitkanku) Dan yang telah dapat dipahami dengan pasti adalah bahwa lamaran terhadap putri Abu Jahal adalah meragukan dan menyakitkan. Nabi Saw dalam hal ini merasa ragu dan menyakitkan. Apabila ini merupakan sebuah ancaman yang harus ditimpakan pada Ali bin Abi Thalib dan bila bukan ancaman yang harus ditimpakan pada pelakunya maka Abu Bakar lebih jauh dari ancaman daripada Ali.
Tanggapan saya : Dalam hal ini situs tersebut keliru dalam mengambil kesimpulan.
  • Sudah jelas dalam hadis di atas disebutkan bahwa Imam Ali AS mengurungkan niatnya oleh karena itu ancaman yang dimaksud jelas tidak bisa ditujukan kepada Beliau AS Sedangkan dalam kasus Fadak Sayyidah Fatimah AS marah kepada Abu Bakar RA selama 6 bulan sampai Beliau AS wafat.
  • Hadis Shahih Bukhari tentang lamaran terhadap putri Abu Jahal jelas menunjukkan bahwa kemarahan Sayyidah Fatimah AS adalah kemarahan Rasulullah SAW dan menjadi hujjah sehingga menyebabkan Imam Ali RA mengurungkan niatnya. Oleh karena itu dengan dalil ini maka seyogianya Abu Bakar RA memberikan Fadak kepada Sayyidah Fatimah AS karena telah membuat Rasulullah SAW marah. Sayangnya Abu Bakar RA tidak mempedulikan kemarahan Sayyidah Fatimah AS dan beliau bersikeras menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS. Hal ini jelas bertolak belakang dengan Imam Ali AS yang justru membatalkan niat lamarannya terhadap putri Abu Jahal.
Kemudian situs hakekat.com membawakan riwayat lain yang menunjukkan pembelaan terhadap Abu Bakar RA
Diriwayatkan dari Fatimah Ra. sesungguhnya ia setelah peristiwa itu rela terhadap Abu Bakar. Berdasarkan riwayat Baihaqi dengan sanad dari Sya’bi ia berkata: Tatkala Fatimah sakit, Abu Bakar menengok dan meminta izin kepadanya, Ali berkata: “Wahai Fatimah ini Abu Bakar minta izin.” Fatimah berkata: “Apakah kau setuju aku mengijinkan ?”, Ali berkata: “Ya.” Maka Fatimah mengijinkan, maka Abu Bakar masuk dan Fatimah memaafkan Abu Bakar. Abu Bakar berkata: “Demi Allah saya tidak pernah meninggalkan harta, rumah, keluarga, kerabat kecuali semata-mata karena mencari ridha Allah, Rasulnya dan kalian keluargaku semuanya.” (Assunah Al Kubro Lilbaihaqi 6/301)
Satu lagi kekeliruan hakekat.com adalah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa riwayat ini berstatus mursal yang berarti sanadnya terputus. Hadis dengan sanad terputus adalah dhaif menurut jumhur Ulama hadis. Hal ini sudah saya bahas dalam tulisan Menolak Keraguan Seputar Riwayat Fadak
Situs hakekat.com berhujjah dengan pendapat Ibnu Katsir yang jelas-jelas keliru
Ibnu Katsir berkata: Ini suatu isnad yang kuat dan baik yang jelas Amir mendengarnya dari Ali atau seseorang yang mendengarnya dari Ali. (Al Bidayah Wannihaayah 5/252).
Kekeliruan dalam hal ini cukup jelas karena
  • Pernyataan Amir Asy Sya’bi mendengar dari Ali dan
  • Pernyataan Amir Asy Sya’bi mendengar dari seseorang yang mendengarnya dari Ali
Adalah dua pernyataan yang berbeda. Lantas yang manakah yang benar? Jawaban sebenarnya adalah kedua pernyataan tersebut keliru. Riwayat tersebut hanya berhenti pada Asy Sya’bi sebagaimana yang disebutkan dalam Sunan Baihaqi. Usaha Ibnu Katsir menyambung riwayat tersebut adalah usaha yang mandul dan hanyalah berdasarkan asumsi belaka. Pernyataan Ibnu Katsir sendiri mengandung keraguan apakah Asy Sya’bi mendengar dari Ali atau dari orang lain yang mendengar dari Ali. Kalau memang Asy Sya’bi mendengar dari Ali maka mengapa pula disebutkan atau Asy Sya’bi mendengarnya dari seseorang yang mendengar dari Ali. Hal ini hanya menunjukkan kebingungan Ibnu katsir. Ibnu Katsir jelas berandai-andai dalam hal ini.
.
Seandainya kita ikuti perandaian Ibnu Katsir tersebut maka tetap saja sanad riwayat tersebut tidak menjadi kuat atau shahih. Perandaian pertama Asy Sya’bi mendengar dari Ali adalah bermasalah. Riwayat Asy Sya’bi dari Ali menjadi perselisihan Ulama ahli hadis. Hadis Asy Sya’bi dari Ali tergolong hadis yang Mursal Khafi. Mursal Khafi berarti putus yang tersembunyi atau putus yang tidak terang. Hadis mursal khafi adalah hadis yang diriwayatkan seorang perawi dari seorang perawi lain yang semasa dan bertemu dengannya tetapi ia tidak menerima hadis itu daripadanya. Asy Sya’bi hanya mendengar satu hadis yang lain dari Ali (Subulus Salam jilid 2 hal 80).Hadis Mursal Khafi adalah hadis yang dhaif menurut metode keilmuan hadis. Hal ini dapat anda lihat dalam Ilmu Mushthalah Hadis A Qadir Hassan Bab Ad Dhaif Mursal Al Khafi hal 112.
Perandaian kedua Asy Sya’bi mendengarnya dari seseorang yang mendengar dari Ali menunjukkan bahwa siapa seseorang yang dimaksud adalah tidak jelas. Ketidakjelasan siapa orang yang Asy Sya’bi dengar menimbulkan keraguan karena bisa saja seseorang yang dimaksud ini adalah perawi yang dhaif atau malah pemalsu hadis. Oleh karena itu perandaian ini malah menunjukkan bahwa riwayat tersebut adalah dhaif dan tidak layak dijadikan hujjah.
Sungguh aneh sekali apa yang ditulis situs hekekat.com setelah membawakan riwayat ini
Dengan demikian terbantah sudah cacian Rafidhah terhadap Abu Bakar yang dikaitkan dengan marahnya Fatimah terhadapnya dan bila memang Fatimah marah pada awalnya namun kemudian sadar dan meninggal dalam keadaan memaafkan Abu Bakar.
Situs hakekat.com hanya mau membantah tetapi tidak kritis dalam berhujjah. Saya tidak akan memusingkan siapa yang mencaci dalam masalah ini tetapi yang patut diperhatikan adalah menarik kesimpulan dari riwayat yang tidak shahih jelas-jelas merupakan kekeliruan. :)
Mari kita teruskan kekeliruan situs tersebut
Hal ini tidak berlawanan dengan apa yang tersebut dalam hadist Aisyah yang lalu. “Sesungguhnya ia marah pada Abu Bakar lalu didiamkan sampai akhir hayatnya” hal ini sebatas pengetahuan Aisyah ra saja.
Mari lihat kembali hadis Aisyah dalam Shahih Bukhari yang pernah saya tulis dalamAnalisis Riwayat Fadak.
Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain :kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain :Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW, saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Harta Kami tidaklah diwaris ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW. Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian Ia menshalatinya. (Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta.)
Hadis Aisyah jelas-jelas menunjukkan Sayyidah Fatimah AS marah dan mendiamkan Abu Bakar RA hingga wafat yaitu selama 6 bulan. Dengan dasar ini maka riwayat Baihaqi bahwa Sayyidah Fatimah AS berdamai dengan Abu Bakar adalah bertolak belakang dengan hadis Aisyah dalam Shahih Bukhari.
Situs hakekat.com beralasan bahwa hal itu hanya sebatas pengetahuan Aisyah saja ,situs tersebut kemudian menuliskan
Sedang hadist riwayat Sya’bi menambah pengertian kita. Abu Bakar menjenguk Fatimah dan berbicara dengan Abu Bakar serta memaafkan Abu Bakar: Aisyah dalam hal ini menafikan dan Asya’bi menetapkan. Para ulama memahami bahwa ucapan yang menetapkan lebih didahulukan dari pada yang menafikan, karena kemungkinan suatu ketetapan sudah bisa didapatkan tanpa memahami penafian terutama dalam masalah ini, yaitu kunjungan Abu Bakar terhadap Fatimah bukan suatu peristiwa yang besar dan didengar di masyarakat.
Cara penarikan kesimpulan seperti ini keliru karena kedua hadis atau riwayat yang dimaksud berbeda kedudukannya. Hadis Aisyah dalam Shahih Bukhari jelas shahih sedangkan riwayat Baihaqi adalah mursal yang berarti dhaif jadi bagaimana mungkin keduanya mau dibandingkan. Menetapkan lebih dahulu dibanding menafikan bisa saja berlaku kalau memang kedua riwayat itu sama kuat atau shahih. Kalau seandainya yang satu shahih dan yang lain dhaif maka yang shahih jelas harus diutamakan. Yang justru lebih aneh adalah kata-kata terutama dalam masalah ini, yaitu kunjungan Abu Bakar terhadap Fatimah bukan suatu peristiwa yang besar dan didengar di masyarakat. Bagaimana mungkin hal ini luput dari pengetahuan Aisyah padahal beliau benar-benar semasa dengan Sayyidah Fatimah AS dan Abu Bakar RA tetapi justru tampak jelas oleh Asy Sya’bi yang bahkan belum lahir ketika peristiwa tersebut terjadi. Sungguh cara penarikan kesimpulan yang keliru. ;)
Situs hakekat.com kemudian melanjutkan tulisannya
Apa yang telah para ulama ungkapkan tentang Fatimah adalah bahwa ia sama sekali tidak memboikot Abu Bakar. Rasul pun telah melarang kita memboikot seseorang lebih dari tiga hari. Sedang Fatimah tidak berbicara dengannya karena memang sedang tidak ada yang harus dibicarakan.
Sudah jelas untuk mengetahui hal ini tidak perlu jauh-jauh memakai kata Ulama segala. Dengan melihat zahir hadis maka akan tampak sekali bahwa Sayyidah Fatimah AS memang marah dan mendiamkan Abu Bakar selama 6 bulan atau sampai Beliau AS wafat. Dalam hal ini berpegang pada zahir hadis adalah lebih utama sampai ada dasar kuat yang memalingkannya ke makna lain.
Mari kita lihat apa yang dikatakan Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah, Ibnu Katsir menuliskan
Adapun kemarahan Fatimah terhadap Abu Bakar, aku tidak tahu kenapa?Jika dikatakan ia marah karena Abu Bakar telah menahan harta warisan yang ditinggalkan ayahnya, maka bukankah Abu Bakar memiliki alasan yang tepat atas tindakannya itu yang langsung diriwayatkan dari ayahnya “Kami tidak mewariskan dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah”.
Kemudian Ibnu Katsir menulis
Jika kemarahan Fatimah disebabkan tuntutannya agar Abu Bakar Ash Shiddiq RA menyerahkan pengelolaan tanah yang dianggap sedekah dan bukan warisannya itu kepada Ali, maka Abu Bakar juga memiliki alasan tersendiri bahwa sebagai pengganti Rasulullah SAW maka wajib baginya untuk mengurus apa-apa yang diurus oleh Rasulullah SAW sebelumnya dan menangani seluruh yang ditangani Rasulullah SAW. Oleh karena itulah ia berkata “Demi Allah aku tidak akan meninggalkan suatu perkara yang dilakukan oleh Rasulullah SAW semasa hidup Beliau kecuali akan aku lakukan pula”. Oleh karena itulah Fatimah memboikotnya dan tidak berbicara dengannya hingga ia wafat.

Ibnu Katsir menunjukkan kebingungannya dengan sikap Sayyidah Fatimah AS dan jelas-jelas Ibnu Katsir sendiri menuliskan bahwa Sayyidah Fatimah memang memboikot dan tidak berbicara dengan Abu Bakar hingga Beliau AS wafat. Walaupun sudah jelas Ibnu Katsir dalam hal ini membela apa yang dilakukan Abu Bakar RA. Silakan saja, yang penting zahir hadis bahwa Sayyidah Fatimah AS marah dan mendiamkan Abu Bakar hingga ia wafat adalah benar dan itulah yang ditangkap oleh seorang Ibnu Katsir. Kutipan tulisan Ibnu Katsir diatas diambil dari terjemahanTartib Wa Tahdzib Kitab Al Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin,Cetakan Keempat, penerjemah : Abu Ihsan Al Atsari ,penerbit Darul Haq Jakarta hal 67
Situs hakekat.com berhujjah dengan pendapat Al Qurtubi
Qurtubi berkata seputar penjelasan hadist Aisyah: Sesungguhnya tidak bertemunya Fatimah dengan Abu Bakar karena kesibukannya dalam menerima cobaan yang menimpanya dan kala keberadaannya selalu di rumah, rawi menggambarkan sebagai memutuskan hubungan. Padahal Rasul sudah bersabda bahwa tidak diperbolehkan bagi orang Islam untuk memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Padahal Fatimah orang yang paling tahu apa yang dihalalkan dan diharamkan. Juga orang yang paling jauh dari perselisihan dengan Rasul (Hadist AlBukhari. Riwayat Abu Ayyub Al Anshari Ra, lihat Fathul Bari 10-492)
Lihat baik-baik, pernyataan Qurtubi hanyalah suatu perandaian untuk menutupi hal yang sebenarnya. Tanpa merendahkan kedudukan beliau, saya hanya mau menyatakan bahwa apa yang dikatakan Qurtubi hanyalah asumsi belaka. Cobaan apakah yang dialami Sayyidah Fatimah AS yang membuat Beliau begitu sibuknya hingga tidak mau berbicara kepada orang lain? Bukankah sang perawi hadis jelas lebih mengetahui peristiwa sebenarnya dibanding Al Qurtubi karena sang perawi jelas-jelas mendengar langsung apa yang disampaikan kepada mereka.
Masalah Rasulullah SAW tidak membolehkan memutuskan hubungan silaturahmi lebih dari 3 hari maka saya katakan Sayyidah Fatimah AS jauh lebih tahu dalam masalah ini dibanding siapapun. Sikap Beliau Sayyidah Fatimah AS seperti yang saya jelaskan terkait dengan mempertahankan kebenaran. Sikap marah Beliau menunjukkan bahwa Beliau tidak setuju dengan apa yang dinyatakan Abu Bakar. Oleh karena itu perdamaian atau perjalinan hubungan silaturahmi akan kembali jika Abu Bakar RA menyadari kekeliruannya dan menyatakan kebenaran Sayyidah Fatimah AS. Mengapa Sayyidah Fatimah AS mesti dituntut untuk berdamai dengan apa yang Beliau anggap keliru.
Keanehan yang saya tangkap dalam hal ini adalah situs hakekat.com begitu mudahnya membenturkan secara keliru suatu hadis kepada sikap Sayyidah Fatimah AS padahal di lain waktu mereka malah bersikap apatis terhadap hadis yang menunjukkan bahwa kemarahan Sayyidah Fatimah AS adalah kemarahan Rasulullah SAW.
Mengenai pernyataan situs hakekat.com tentang Warisan dalam ajaran Syiah maka hal itu tidak akan saya tanggapi lebih lanjut karena menurut saya, saudara kita yang Syiah lebih layak dan kompeten untuk menanggapi masalah ini. Saya tidak yakin dengan apa yang situs itu nisbatkan kepada Syiah. Kalau situs tersebut saja tidak benar dalam memahami hadis dan dalil berdasarkan metode keilmuan Ahlus Sunnah maka bagaimana mungkin layak berbicara soal mahzab lain.
 :mrgreen:
Tulisan ini hanya sekedar koreksi terhadap kekeliruan yang penulis lihat. Walaupun begitu tidak menutup kemungkinan bahwa penulis sendiri keliru. Oleh karena itu penulis selalu terbuka untuk setiap kritik dan diskusi lebih lanjut mengenai tulisan ini.
.

Tanggapan Tulisan “Makna Hadis Tanah Fadak”

Tanggapan Makna Hadis Tanah Fadak
Tulisan ini dikhususkan untuk menanggapi tulisan salah seorang yang secara tidak langsung menanggapi tulisan saya soal Fadak. Kalau tidak salah tulisannya itu dikutip dari Majelis Rasulullah.
Langsung saja,
Ada orang yang mempermasalahkan hadis yang saya kutip dari Mukhtasar Shahih Bukhari, dia bertanya kepada seseorang yang ia kenal sebagai Ulama “duh bahasanya” :mrgreen:
Setelah mengutip hadis yang saya tulis, dia berkata
pertanyaan saya bib :
1. apa benar riwayat diatas, saya kawatir itu riwayat yang sengaja dibuat- buat, atau dalam penterjemahannya terdapat kesalahan Bib, karena Habib pernah menerangkan tidak ada satu keterangan mengenai marahnya Bunda Suci Fatimah, mohon penjelasan
Tanggapan saya;
Kalau melihat pertanyaan di atas, Pada awalnya orang yang bertanya ini pernah mendengar penjelasan dari Habib(Ulama tempatnya bertanya) bahwa tidak ada satu keterangan mengenai marahnya Sayyidah Fatimah dalam Shahih Bukhari. Oleh karena itu setelah melihat tulisan saya dia berkata “saya kawatir itu riwayat yang sengaja dibuat- buat, atau dalam penterjemahannya terdapat kesalahan Bib”.
Kemudian pertanyaan dia yang kedua
2. kalau memang ada unsur kesengajaan untuk menyelewengkan makna yang sebenarnya, jadi makna yang tepat unutk hadist di atas itu bunyinya bagaimana Bib.
Tanggapan: Perkataan di atas menunjukkan keraguan atau dugaan saudara itu bahwa ada unsur-unsur sengaja menyelewengkan makna hadis yang sebenarnya di dalam tulisan saya. Menurut saya, hal ini cukup menarik untuk dibahas. Maksud saya pada bagian “menyelewengkan makna”. Berikutnya akan dibahas lebih lanjut Siapa yang sebenarnya lebih cenderung menyelewengkan makna?
Pertanyaan terakhir saudara itu
3. siapakah Syaikh Nashiruddin Al Albani, apakah termasuk dari jajaran ulama’ yang bisa dirujuk golonga kita Bib , mohon penjelasan
Tanggapan: Sekarang saudara itu mempermasalahkan Syaikh Al Albani ulama hadis yang saya kutip. Sama seperti sebelumnya, ini juga tak kalah menariknya. Perhatikan pada kata-kata yang bisa dirujuk golongan kita :mrgreen:
Ok, sekarang mari kita lihat jawaban Sang Habib. Sebelumnya tanpa berniat merendahkan siapapun, perlu dijelaskan bahwa saya hanya ingin menanggapi jawaban dari Habib tersebut. Tidak ada maksud bagi saya untuk menyinggung Sang Habib (Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau) atau saudara-saudara yang sangat memuliakan beliau.
Jawaban Pertanyaan Pertama dan Kedua (sepertinya Sang Habib langsung menjawab sekaligus dua pertanyaan tersebut)
Jawaban Habib, saya cetak miring
Saudaraku yg kumuliakan,
1. kalau benar riwayat yg anda tulis itu adalah dari Al Albani, maka jelaslah sudah kebodohannya.
Sang Habib mengawali tulisannya dengan menyatakan kebodohan entah kepada siapa, Syaikh Al Albani atau saya. Argumentum Ad Hominem :mrgreen:
hadits itu adalah riwayat Aisyah ra sbgbr :
ُ
أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام ابْنَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ
Bahwa Fathimah alaihassalam (Imam Bukhari salah satu imam yg mengucapkan alaihissalam pada Fathimah ra dan Ali bin Abi Thalib kw), putri Rasulullah saw menanyakan pada Abubakar Shiddiq ra setelah wafatnya Rasulullah saw agar membagikan padanya hak warisnya dari apa apa yg diberikan Allah swt pada beliau saw, maka berkatalah padanya Abubakar shiddiq ra : Sungguh Rasul saw bersabda : “Kami tidak mewarisi, apa yg kami tinggalkan adalah sedekah”. maka marahlah Fathimah putri Rasul saw dan menghindar dari Abubakar shiddiq ra dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, dan beliau hidup hingga 6 bulan setwlah wafatnya Rasul saw. (Shahih Bukhari bab fardhulkhumus).
Tanggapan saya: sebelumnya perhatikan kata-kata Habib (Imam Bukhari salah satu imam yg mengucapkan alaihissalam pada Fathimah ra dan Ali bin Abi Thalib kw).Nah saya tujukan buat pengidap Syiahphobia “hendaknya jangan terburu-buru menuduh orang Syiah hanya karena orang tersebut mengucapkan Alaihis Salam pada Ahlul Bait” . Karena sudah jelas bahkan Imam Bukhari juga mengucapkan AS pada Ahlul bait (lihat sendiri di Kitab Shahih Bukhari). Intermezo :mrgreen:
Nah dari jawaban di atas, maka dapat disimpulkan hadis marahnya Sayyidah Fatimah itu memang ada dalam Shahih Bukhari. Dalam hal ini terbuktilah kekeliruan Sang Habib sebelumnya seperti yang diungkapkan saudara penanya
karena Habib pernah menerangkan tidak ada satu keterangan mengenai marahnya Bunda Suci Fatimah.
Hadis tersebut ternyata ada (sekarang dikutip oleh Habib sendiri) dan mari bandingkan hadis yang saya kutip dan yang Habib kutip
Hadis yang saya kutip redaksi terjemahannya adalah
Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.
Sedangkan hadis yang Habib kutip dari Fath Al Bari redaksi terjemahannya
maka marahlah Fathimah putri Rasul saw dan menghindar dari Abubakar shiddiq ra dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, dan beliau hidup hingga 6 bulan setwlah wafatnya Rasul saw.
Dua redaksi terjemahan di atas secara umum sama hanya pada terjemahan yang saya kutip diterjemahkan sebagai Pendiaman atau tidak berbicara, sedangkan pada redaksi terjemahan yang Habib kutip diterjemahkan sebagai Menghindar.
Soal yang mana yang lebih tepat, bagi saya tidak masalah karena pengertiannya tetap sama saja. Tapi perlu ditekankan dalam masalah ini saya telah bertindak objektif dengan menampilkan referensi yang lengkap termasuk siapa penerjemahnya. Sedangkan Habib, maaf tidak mencantumkan siapa yang menerjemahkan hadisnya (saya mengira itu terjemahan Beliau sendiri).
Habib kemudian melanjutkan
kita lihat syarh tentang hadits ini, Berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar didalam kitabnya Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari : 
Bahwa Fathimah ra marah bukan karena ditolak, namun karena Abubakar shiddiq ra mendengarnya bukan dari Rasul saw namun dari orang lain, dan berkata Imam Ibn Hajar pada halaman yg sama : diriwayatkan oleh Al Baihaqiy dari Assya’biyy bahwa kemudian Abubakar shiddiq ra menjenguk Fathimah ra, dan berkata Ali bin Abi Thalib kw kepada Fathimah ra : Ini Abubakar mohon izin padamu.., maka berkata Fathimah ra : apakah kau menginginkan aku mengizinkannya?, Ali kw berkata : betul, maka Fathimah ra mengizinkan Abubakar shiddiq ra, lalu Abubakar shiddiq ra meminta maaf dan ridho pada Fathimah ra, hingga Fathimah ra ridho padanya
Habib merujuk pada penjelasan hadis tersebut berdasarkan syarh Ibnu Hajar dalamFath Al Bari. Berikut analisis saya,
Ibnu Hajar berkata
Bahwa Fathimah ra marah bukan karena ditolak, namun karena Abubakar shiddiq ra mendengarnya bukan dari Rasul saw namun dari orang lain,
Maka tanggapan saya, apa dasar atau dalil Ibnu Hajar berkenaan kata-kata ini, jelas sekali kata-kata ini tidak ada keterangannya dalam hadis Shahih Bukhari yang dimaksud,
Maka Ada dua kemungkinan
  1. Ibnu Hajar berdalil dengan riwayat atau sumber lain
  2. Ibnu Hajar sekedar berpendapat
Kemungkinan pertama, maka saya katakan kenapa tidak ditunjukkan riwayat yang dimaksud atau sumber yang mengatakan Bahwa Fathimah ra marah bukan karena ditolak, namun karena Abubakar shiddiq ra mendengarnya bukan dari Rasul saw namun dari orang lain, ini jelas kemusykilan pertama
Kemudian siapakah orang lain dimana Abu Bakar mendengar hadis tersebut?kenapa tidak disebutkan. Ini kemusykilan kedua
Mengapa Sayyidah Fatimah AS marah jika Abu Bakar menyampaikan hadis Rasulullah SAW yang Abu Bakar dengar dari orang lain? Apakah Abu Bakar menyampaikan hadis tersebut dengan berkata “Saya mendengar dari seseorang atau fulan bahwa Rasulullah SAW bersabda”. Hal ini kok beda sekali dengan redaksi hadis yang dikutip Habib sendiri maka berkatalah padanya Abubakar shiddiq ra : Sungguh Rasul saw bersabda seolah-olah menunjukkan Abu Bakar mendengar hadis langsung dari Rasulullah SAW.
Kemusykilan ketiga adalah bagaimana bisa Ibnu Hajar menyimpulkan Abu Bakar tidak mendengar hadis itu langsung dari Rasulullah SAW.
Kalau kita melihat hadis Shahih Bukhari itu jelas sekali kemarahan Sayyidah Fatimah berkaitan dengan isi perkataan Abu Bakar. Lihat lagi selepas Abu Bakar berkataSungguh Rasul saw bersabda : “Kami tidak mewarisi, apa yg kami tinggalkan adalah sedekah”. maka marahlah Fathimah putri Rasul saw dan menghindar dari Abubakar shiddiq ra dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, dan beliau hidup hingga 6 bulan setwlah wafatnya Rasul saw. Sangat jelas bahwa Sayyidah Fatimah marah setelah mendengar apa yang dikatakan Abu Bakar. Jadi Zhahir hadis menunjukkan sikap Sayyidah Fatimah yaitu marah dan menghindar disebabkan setelah beliau mendengar perkataan Abu Bakar. Sudah selayaknya untuk berpegang kepada zhahir hadis sampai ada dalil shahih yang bisa memalingkan maknanya ke makna lain.
Dan sepertinya Ibnu Hajar menunjukkan dalil berikut
dan berkata Imam Ibn Hajar pada halaman yg sama : diriwayatkan oleh Al Baihaqiy dari Assya’biyy bahwa kemudian Abubakar shiddiq ra menjenguk Fathimah ra, dan berkata Ali bin Abi Thalib kw kepada Fathimah ra : Ini Abubakar mohon izin padamu.., maka berkata Fathimah ra : apakah kau menginginkan aku mengizinkannya?, Ali kw berkata : betul, maka Fathimah ra mengizinkan Abubakar shiddiq ra, lalu Abubakar shiddiq ra meminta maaf dan ridho pada Fathimah ra, hingga Fathimah ra ridho padanya.
Berkenaan riwayat ini Ibnu Hajar berkata
jikapun riwayat ini mursal, namun sanadnya kepada Assya’biyyu shahih.
dan riwayat ini menyelesaikan permasalahan dan anggapan permusuhan Abubakar ra dengan Fathimah ra.
Aneh sekali padahal jelas sekali bahwa Ibnu Hajar sendiri mengakui bahwa hadis tersebut mursal lantas mengapa menjadikannya sebagai dalil. Saya tidak menafikan bahwa ada ulama yang berhujjah dengan hadis mursal tetapi sudah jelas bahwa jumhur ulama hadis berkata hadis mursal adalah dhaif. Sepertinya kali ini Ibnu Hajar bersikap tasahul dengan berhujjah menggunakan riwayat mursal.
Saya katakan riwayat Baihaqi tersebut jelas sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk memalingkan makna zahir hadis riwayat Aisyah dalam Shahih Bukhari. Riwayat Aisyah sanadnya muttashil dan shahih kemudian matannya menunjukkan maka marahlah Fathimah putri Rasul saw dan menghindar dari Abubakar shiddiq ra dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, dan beliau hidup hingga 6 bulan setwlah wafatnya Rasul saw.
Sedangkan riwayat Baihaqi adalah mursal dan matannya menunjukkan hal yang bertentangan dengan riwayat Aisyah, karena jelas-jelas kesaksian Aisyah bahwa Sayyidah Fatimah AS selalu menghindar untuk bertemu Abu Bakarsampai Beliau AS wafat. Bagimana mungkin Aisyah RA yang hidup semasa Sayyidah Fatimah AS dan Abu Bakar RA bisa tidak menyaksikan apa yang disaksikan oleh Asy Sya’bi yang anehnya jelas belum lahir ketika peristiwa itu terjadi.
Oleh karena itu seharusnya riwayat Baihaqi itu mesti ditolak berdasarkan riwayatShahih Bukhari, bukan malah riwayat Shahih Bukhari dipalingkan maknanya berdasarkan riwayat Baihaqi.
Kemudian Ibnu Hajar berkata
dan berkata para Muhadditsin, bahwa menghindarnya fathimah ra dari Abubakar adalah menghindari berkumpul bersamanya, dan hal itu bukan hal yg diharamkan, dan Fathimah ra saat selepas kejadian itu sibuk dengan kesedihannya atas wafat Rasul saw dan sakit yg dideritanya hingga wafat. (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Bab Fardhul Khumus)
Mari kita andaikan apa yang dikatakan Ibnu Hajar bahwa menghindarnya fathimah ra dari Abubakar adalah menghindari berkumpul bersamanya adalah sesuatu yang benar. Maka itu justru menjadi dalil tertolaknya riwayat Baihaqi, lihat hadis Shahih Bukhari
dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, jika menurut apa yang dikatakan Ibnu Hajar maka kata-kata itu bisa diartikan dan ia terus menghindari berkumpul bersamanya hingga wafat artinya Sayyidah Fatimah AS menghindari berkumpul bersama Abu Bakar RA sampai Beliau AS wafat. Tapi coba lihat riwayat Baihaqi disitu dijelaskan bahwa Sayyidah Fatimah AS malah berkumpul bersama Abu Bakar RA.Sedikit Antagonis memang.
Kemudian Habib mengutip Syarh An Nawawi
dijelaskan pula oleh Imam Nawawi bahwa
hal itu diteruskan hingga dimasa Khalifah Ali bin Abi Thalib kw pun demikian, tidak dirubah, maka jika Abubakar ra salah dalam hal ini atau Umar ra, mestilah Utsman ra mengubahnya, atau mestilah Ali bin Abi Thalib kw mengubahnya, dan berkata Imam Nawawi pada halaman yg sama, mengenai dikuburkannya Fathimah ra dimalam hari maka hal itu merupakan hal yg diperbolehkan. (Syarah Nawawi Ala shahih Muslim Bab Jihad wassayr).
Tanggapan saya : Abu Bakar RA, Umar RA dan Usman RA menetapkan keputusan yang berbeda soal ini. Abu Bakar menolak memberikan tanah Khaibar, Fadak dan kurma bani Nadhir kepada Sayyidah Fatimah AS ketika Beliau memintanya. Sedangkan Umar menetapkan keputusan untuk memberikan kurma bani Nadhir kepada Ali dan Abbas ketika mereka mengajukan permintaan yang sama seperti yang dilakukan Sayyidah Fatimah AS. Kemudian Khalifah Usman bin Affan telah menyerahkan Fadak kepada Marwan bin Hakam.
Mengenai Imam Ali, pada saat beliau menjadi Khalifah, tanah Fadak tidak berada pada Beliau meliankan berada pada Marwan. Jika ada yang mengeluhkan mengapa Imam Ali tidak merebut saja tanah Fadak dari Marwan. Maka jawaban saya sebatas ini adalah dugaan bahwa pada masa pemerintahan Imam Ali beliau mendahulukan hal yang lebih penting yaitu mengatasi pihak-pihak yang berselisih dengannya baik Aisyah, Thalhah dan Zubair dalam Perang Jamal atau Muawiyah dalam Perang Shiffin. Hal ini yang menurut saya membuat Imam Ali menangguhkan penyelesaian masalah Fadak sampai situasi benar-benar memungkinkan. Wallahu A’lam
Sebenarnya soal keputusan yang mana yang benar sudah cukup dilihat dari pendirian Sayyidah Fatimah AS sendiri ketika Beliau marah mendengar hadis yang dibawakan Abu Bakar. Itu menunjukkan bahwa Beliau berpendirian berbeda dengan Abu Bakar. Soal ini sudah saya bahas khusus dalam tulisan saya panjang lebar soalAnalisis Fadak, sepenuhnya saya mengatakan Sayyidah Fatimah AS adalah dalam posisi yang benar.
Habib berkata
bahkan Abubakar shiddiq ra pun dikuburkan di malam hari.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan ini, sudah jelas berdasarkan hadis tersebut Sayyyidah Fatimah AS dikuburkan tanpa sepengetahuan Abu Bakar .
Habib melanjutkan
marah” kategori mereka ini bukan berarti benci dan rakus harta, masya Allah..,
Tulisan saya tidak menyatakan bahwa Sayyidah Fatimah AS rakus harta, apalagi soal benci-membenci. Bagi saya pribadi sikap Sayyidah Fatimah AS menunjukkan pendirian Beliau terhadap masalah Fadak bahwa itu adalah haknya. Disini tidak ada masalah rakus harta, Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait dimana seharusnya para sahabat berpegang teguh dan Beliau adalah yang paling paham tentang Sunnah Rasulullah SAW. Jadi sikap Beliau AS jelas menjadi hujjah akan kebenaran Beliau AS.
betapa buruknya anggapan orang syiah tentang Sayyidah Fathimah Azzahra ra
Ini juga tidak ada hubungannya, Apakah setiap orang yang membahas masalah Fadak dikatakan Syiah? Apakah setiap yang berpihak kepada Sayyidah Fatimah AS mesti dikatakan Syiah? Apakah Ahlul Bait sebagai Tsaqalain itu hanya untuk Syiah?. Lagipula anggapan buruk Habib soal rakus harta itu adalah persepsinya sendiri. Coba lihat saja tulisan saya sendiri atau tulisan orang Syiah yang membahas masalah Fadak. Tidak ada satupun yang mengatakan Sayyidah Fatimah AS rakus harta. Naudzubillah
marah tentunya sering terjadi bahkan Rasul saw sering pula marah, pernah marah pada Umar bin Khattab ra ketika Umar ra berbuat salah pada Abubakar ra, dan Abubakar ra meminta maaf padanya namun Umar ra belum mau memaafkan,
Tentu Rasulullah SAW bisa marah tetapi sudah jelas marahnya Rasulullah SAW selalu berada dalam kebenaran dan begitu juga berdasarkan dalil yang shahihmarahnya Sayyidah Fatimah AS adalah marahnya Rasulullah SAW yang juga selalu berada dalam kebenaran.
Dan banyak riwayat riwayat lainnya, namun sungguh hati mereka suci
Saya setuju bahwa Rasulullah SAW dan Ahlul Bait AS adalah orang-orang yang disucikan oleh Allah SWT.
bukan seperti permusuhan kita dimasa kini yg penuh kebencian dan keinginan untuk saling mencelakakan,
Entahlah ini ditujukan buat siapa, yang jelas kalau dalam tulisan saya tidak ada sedikitpun niat memusuhi orang lain.
dan mustahil pula seorang putri Rasul saw tamak berebut harta waris duniawi, masya Allah dari buruknya sangka orang syiah ini.
Sekali lagi Habib cuma bermain-main dengan kata-katanya sendiri. Saya heran kepada siapa ditujukan perkataan itu. Apakah pada saya? Jika benar untuk saya, maka belum apa-apa saja Beliau sudah menuduh Syiah dan menuduh berburuk sangka. Saya tidak akan membahas lebih lanjut tuduhan seperti ini.
Nah sekarang lihatlah sendiri Siapa sebenarnya yang menyelewengkan Makna hadis Shahih Bukhari riwayat Aisyah tersebut? Saya tetap berpegang pada Zhahir hadis bahwa Sayyidah Fatimah marah dan mendiamkan atau menghindar dari Abu Bakar sampai Beliau AS wafat.
Adakah penyelewengan makna dalam tulisan saya.
Jawaban Pertanyaan Ketiga
3. mengenai syeikh Al Bani beliau tak diakui sebagai Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg bertemu dengan periwayat hadits, dan Al Bani tak bertemu dengan seorang rawi pun, ia hanya berjumpa dengan buku buku mereka lalu berfatwa, maka fatwanya batil, terbukti penjelasannya tentang hadits diatas jauh bertentangan dg syarah Imam Ibn Hajar pada kitabnya Fathul Baari yg sudah menjadi rujukan seluruh Madzhab dan para Huffadh sesudah beliau.
Sebenarnya apa buktinya Syaikh Al Albani tidak bertemu satu rawi pun? Jika yang dimaksud perwai dalam kitab hadis maka saya jawab benar Beliau Syaikh Al Albani jelas tidak bertemu dengan perawi dalam kitab hadis. Tetapi bukankah ada juga beberapa ulama yang mempunyai sanad sendiri seperti sanad mereka Ulama Alawiyy (termasuk mungkin habib sendiri). Saya sendiri tidak tahu apakah syaikh Al Albani punya sanad sendiri atau tidak. Kalau memang Habib tahu adalah penting untuk menunjukkan bukti bahwa Syaikh Al Albani benar tidak memiliki sanad sendiri.
Lagipula mempelajari hadis tidak hanya dengan metode Sima’ tetapi bisa juga dengan Al Wijadah
.
Menurut saya Syaikh Al Albani adalah ulama hadis dimana beliau mempelajari Kitab-kitab hadis dan kitab-kitab Rijal hadis. Soal fatwanya itu tergantung dari dalil-dalilnya, silakan saja bagi yang berilmu untuk menelaah dalil-dalil fatwa syaikh Al Albani. Menyatakan bathil fatwa Syaikh Al Albani hanya dengan alasan Syaikh Al Albani tidak bertemu perawi hadis atau hanya belajar dari kitab adalah sesuatu yang bathil. Setiap ulama layak untuk dipelajari dan ditelaah dalil-dalilnya (termasuk juga Habib sendiri)
Kemudian Habib berkata
Saya tambahkan sedikit, dalam ilmu hadits, ada gelar Al Hafidh, yaitu orang yg telah hafal lebih dari 100 ribu hadits berikut sanad dan hukum matannya, adalagi derajat Alhujjah, yaitu yg hafal lebih dari 300 ribu hadits berikut sanad dan hukum matannya,
Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1 juta hadits dg sanad dan hukum matannya, namun Imam Ahmad hanya sempat menulis sekitar 20 ribu hadits saja pada musnadnya, maka kira kira 980.000 hadits yg ada padanya tak sempat tertuliskan, dan Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid dari Imam Syafii
.
Imam Bukhari hafal 600 ribu hadits berikut sanad dan hukum matannya dan ia digelari Raja para Ahli Hadits, namun beliau hanya mampu menulis sekitar 7.000 hadits dalam shahihnya bersama beberapa kitab hadits kecil lainnya, lalu kira kira 593.000 hadits sirna dan tak tertuliskan,
Benar sekali apa yang dikatakan Habib, tapi perlu ditambahkan bisa saja hadis yang dihafalkan Imam Ahmad juga dimiliki Imam Bukhari, terus hadis-hadis yang banyak itu bisa saja ada yang matannya juga sama walau sanadnya berbeda. Selain itu hadis-hadis yang sirna dan tak tertuliskan menurut Habib itu bisa saja
  1. Hadis-hadis itu dhaif atau tidak shahih
  2. Hadis-hadis itu tercatat dalam kitab hadis lain, sampai sekarang sudah ada banyak sekali kitab hadis. Sebagai contoh hadis-hadis yang tidak termuat dalam Shahih Bukhari dan Muslim tetapi memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim dapat ditemukan dalam Al Mustadrak Ash Shahihain.
Jadi menurut saya tidak ada masalah dengan rujukan kitab-kitab hadis sekarang. Bukan maksud saya menafikan sanad hadis yang dimiliki oleh Ulama Alawiyy. Yang jelas darimanapun hadis itu baik melalui kitab hadis atau sanad dari Ulama layak diterima jika hadis tersebut shahih.
Lalu apa pendapat anda dengan seorang muncul masa kini, membaca dari buku buku sisa sisa yg masih ada ini, yg mungkin tak mencapai 5% hadits yg ada dimasa lalu, ia hanya baca buku buku lalu menilai hadits hadits semaunya?, mengatakan muhaddits itu salah, imam syafii dhoif, imam ini dhoif, imam itu mungkar hadits..
Angka 5 % itu menurut saya juga belum tentu valid dan maaf terkesan seolah-olah umat Islam kehilangan banyak sekali hadis karena tidak tercatat dalam kitab-kitab hadis. Sepertinya syaikh Al Albani juga tidak menilai hadis semaunya, beliau telah mempelajari cukup banyak Kitab Rijal hadis atau Jarh wat Ta’dil. Menurut saya menilai suatu hadis dengan metode Jarh wat Ta’dil adalah langkah yang tepat. Walaupun bukan berarti saya menerima sepenuhnya setiap apa yang dikatakan syaikh Al Albani. Bagi saya beliau bukan satu-satunya Ulama yang mempelajari hadis. Soal masalah pernyataan muhadis lain salah itu adalah hal yang biasa dalam perbedaan pendapat. Yang penting adalah melihat sejauh apa dalil yang dikemukakan, kan pendapat Ulama bisa benar tapi bisa juga tidak.
Lagipula dalam Jarh wat Ta’dil banyak sekali ditemukan hal yang seperti ini. Terus kata-kata imam syafii dhoif, saya ingin tahu dimana syaikh Al Albani berpendapat seperti itu, saya sih justru pernah membaca kalau Yahya bin Main berpendapat Imam Syafii dhaif dan pernyataan Ibnu Main dikecam oleh banyak Ulama hadis tetapi kecaman ini tidak menafikan bahwa Ibnu Main tetap menjadi rujukan bagi para Ulama hadis. Intinya setiap pernyataan Ulama selalu bisa dinilai
.
Saya cukup heran dengan orang yang hanya mau menerima hadis dari golongannya saja. Memang ada orang-orang yang terikat dengan golongan tertentu, sehingga hanya mau menerima apa saja yang berasal dari golongannya dan menafikan semua yang ada pada golongan lain. Sikap seperti ini baik sadar maupun tidak sadar hanyalah bentuk fanatisme dan taklid semata. Kebenaran tidak diukur lewat orang atau golongan saja tetapi lebih pada dasar atau landasan dalil yang digunakan
.

Imam Ali Berselisih Dengan Abu Bakar Dalam Masalah Fadak

membaca tulisan dari situs hakekat.com yang berujudul Imam Ali Bertaqlid Buta Kepada Abu Bakar As Shiddiq.Tulisan yang dengan terpaksa saya katakan keliru besar. Bukannya mau membela siapa-siapa, baik Syiah ataupun Sunni sebenarnya saya cuma mau melakukan koreksi terhadap tulisan yang mendistorsi sejarah karena terlalu nyata kebencian pada Syiah. Kalau menurut saya sih distorsi Ini adalah Sejarah Versi Salafy Wahabi.
Awalnya sih berkesan mau membantah Syiah dan membela Sunni tetapi sangat disayangkan sang penulis di situs itu tidak mendasarkan penulisannya pada Metode yang valid. jadi bahkan beliau malah membantah kabar shahih di sisi Sunni sendiri dengan dalih membantah Syiah. Salah kaprah dong Mas, dan untuk Mas Penulis saya katakan
Maaf tidak pantas anda mewakili nama Ahlus Sunnah jika anda tidak menghiraukan kabar yang Shahih dalam kitab hadis yang shahih. Jangan mengklaim sesuatu hanya berdasar pada prasangka dan dugaan semata. Ah yang terakhir maafkan jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan.
Langsung saja ya, Mas penulis anda menuliskan
Bukannya ikut membela Fatimah -putri baginda Nabi SAW- Ali malah membela keputusan Abubakar yang dituduh syi’ah menzhalimi Fatimah, sebenarnya siapa yang zhalim? Abubakar yang melaksanakan wasiat Nabi SAW atau syi’ah yang menggugat imamnya yang maksum?
Masalah siapa yang zalim itu bukan urusan saya, tetapi pernyataan anda bahwa Imam Ali membela keputusan Abu Bakar jelas sekali tidak benar. Karena hadis yang shahih telah menjelaskan sebaliknya. nanti saya tuliskan hadisnya Mas……..yang sabar ya :mrgreen:
Kemudian Mas berkata
Sebuah pertanyaan penting, jika memang tanah Fadak itu adalah benar milik Fatimah, apakah kepemilikan itu gugur setelah Fatimah wafat? Tentunya tidak, artinya ahli waris dari Fatimah yaitu Ali, Hasan, Husein dan Ummi Kultsum tetap berhak mewarisi harta Fatimah. Begitu juga ahli waris Nabi bukan hanya Fatimah, melainkan juga Abbas pamannya.
Nah Mas saya acungkan jempol dengan anda, siiiip benar sekali Mas. Seandainya saja Mas tidak melanjutkan dengan kata-kata
Sejarah tidak pernah mencatat adanya upaya dari Abbas paman Nabi utnuk menuntut harta warisan seperti yang dilakukan oleh Fatimah. Selama ini syi’ah selalu melakukan black campaign terhadap Abubakar yang dituduh menghalangi Fatimah untuk mendapatkan warisannya.
Ah Mas sayang sekali, anda salah besar. Sayyidina Abbas telah menuntut hal yang sama seperti yang dilakukan Sayyidah Fatimah AS dalam masalah Fadak. Hal ini tercatat dengan jelas dalam kitab Shahih Bukhari, berikut saya kutip hadis tersebut dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta. Nah ini kitab Ringkasan Syaikh kita yang Mulia Syaikh Al Albani
Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain :kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain :Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW, saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Harta Kami tidaklah diwarisi ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian Ia menshalatinya.
Subhanallah sungguh anda telah membuat kekeliruan yang besar dengan berkataSejarah tidak pernah mencatat adanya upaya dari Abbas paman Nabi utnuk menuntut harta warisan seperti yang dilakukan oleh Fatimah. Shahih Bukhari ternyata luput dari pengamatan anda. Sangat disayangkan :(
Mari kita teruskan perkataan Mas
Tetapi alangkah terkejutnya ketika kita membaca riwayat-riwayat dari kitab Syi’ah sendiri yang memuat pernyataan para imam syi’ah -yang tidak pernah keliru- yang setuju dengan keputusan Abubakar. Seakan-akan para imam syi’ah begitu saja bertaklid buta pada Abubakar As Shiddiq.
Ah Mungkin Mas memang pintar kalau bicara soal Syiah. Dalam hal ini saya cuma bilang abstain aja deh. Saya gak yakin deh kalau Mas yang bilang. Masalahnya soal hadis Sunni sendiri Mas bisa keliru apalagi soal hadis mahzab lain. Maaf Mas kalau saya terpaksa meragukan anda. Afwan, afwan :) btw saya nggak terkejut lho
Ah Mas alangkah beraninya Mas berkata
Sampai hari ini syi’ah masih terus menangisi tragedi Fatimah yang dihalangi oleh Abubakar dari mengambil harta warisan, tapi ternyata Ali setuju dengan keputusan Abubakar. Apakah Ali setuju dengan keputusan Abubakar yang menyakiti Fatimah? Ataukah keputusan Abubakar adalah tepat karena didukung oleh pernyataan dari imam maksum? Karena Imam maksum tidak pernah salah.
Aduh Mas, lagi-lagi Mas keliru besar. imam Ali justru berselisih dengan Abu Bakar dalam masalah ini. Apakah ini juga bisa luput dari pandangan Mas. Ok lah saya kasih tahu, hal ini saya dapatkan dari kitab Shahih Bukhari, berikut saya kutip hadis tersebut yang merupakan lanjutan dari hadis sebelumnya yaitu dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta. Seperti yang saya katakan ini kitab Ringkasan Syaikh kita yang Mulia Syaikh Al Albani
Dan Ali masih terkenang dengan kehidupan Fatimah daripada kebanyakan manusia. Dia tidak terlalu memperhatikan orang-orang hingga ia tidak langsung berdamai dengan Abu Bakar dan lantas berbaiat. Ia tidak berbaiat pada bulan itu. Kemudian Ali mengirim utusannya kepada Abu Bakar dan mengatakan “hendaklah engkau datang kemari tanpa seorangpun yang menyertaimu”. Hal ini karena ia tidak suka Umar ikut hadir. Umar berkata “Tidak Demi Allah Aku tidak akan menyertaimu”. Lalu Abu Bakar menemui mereka. Kemudian Ali berkata “Aku telah mengetahui keutamaan dan apa yang telah Allah berikan kepadamu dan aku tidak hasut terhadap anugerah yang Allah berikan kepadamu. Namun kamu mempunyai pemikiran tersendiri terhadap suatu masalah padahal kami melihat ada bagian bagi kami karena kekerabatan kami dengan Rasulullah SAW. Hal ini membuat air mata Abu Bakar berlinang dan ketika Abu Bakar berkata “Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman tanganNya, Kerabat Rasulullah SAW lebih aku sukai untuk terjalin dibanding kerabatku sendiri. Adapun pertentangan yang terjadi antara aku dan kalian karena harta ini tidak ada tujuan lain kecuali kebaikan, bagiku sungguh aku tidak akan melihat sesuatu yang Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku melakukannya. Lalu Ali berkata “Setelah matahari condong adalah waktumu utnuk dibaiat”.
Sungguh jelas bagi saya tetapi entah bagi anda wahai Mas Penulis, hadis diatas adalah bukti nyata bahwa sampai sayyidah Fatimah AS wafat Imam Ali tetap berpendirian berbeda dengan Abu Bakar RA. Pandangan Abu Bakar dinilai oleh Imam Ali sebagai pemikiran tersendiri yang berbeda dengan pandangan yang diyakini oleh Imam Ali, Sayyidah Fatimah AS, Sayyidina Abbas(kerabat Rasulullah SAW).
Sayang sekali saya justru tidak peduli dengan kata-kata anda
Salah seorang ulama syi’ah bernama Al Murtadho Alamul Huda –saudara kandung As Syarif Ar Radhiy, penyusun kitab Nahjul Balaghah- menyatakan: saat Ali menjabat khalifah, ada orang mengusulkan agar Ali mengambil kembali tanah fadak, lalu dia berkata: saya malu pada Allah untuk merubah apa yang diputuskan oleh Abubakar dan diteruskan oleh Umar. Bisa dilihat dalam kitab As Syafi hal 213.
Kitab As Syafi? ah apa pula itu saya tidak pernah baca. Apakah anda membacanya wahai Mas Penulis. Kalau iya tolong katakan pada saya apakah riwayat itu shahih. Anda tidakmencantumkan sanadnya dan dengan sangat menyesal riwayat itu belum bisa dipercaya jika belum ada sanadnya
Atau kata-kata anda yang cukup mengherankan saya
Ketika Abu Ja’far Muhammad bin Ali yang juga dijuluki Al Baqir -Imam Syi’ah yang kelima- saat ditanya oleh Katsir An Nawwal yang bertanya: semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu, apakah Abubakar dan Umar mengambil hak kalian? Tidak, demi Allah yang menurunkan Al Qur’an pada hambanya untuk menjadi peringatan bagi penjuru alam, mereka berdua tidak menzhalimi kami meskipun seberat biji sawi, Katsir bertanya lagi: semoga aku dijadikan tebusanmu, apakah aku harus mencintai mereka? Imam Al Baqir menjawab: iya, celakalah kamu, cintailah mereka di dunia dan akherat, dan apa yang terjadi padamu karena itu aalah menjadi tanggunganku.
Bisa dilihat di Syarah Nahjul Balaghah jilid 4 hal 84.
Ah lagi-lagi anda tidakmencantumkan sanadnya Mas. Sangat disayangkan Mas, lagipula bukankah Kitab Nahjul Balaghah berisi perkataan Imam Ali. Lalu mengapa anda bisa menukil perkataan Imam Baqir dalam kitab yang memuat perkataan Imam Ali. Sungguh saya yang bodoh ini tidak mengerti. Dan saya akan menghaturkan terimakasih jika Mas mau sedikit meluangkan waktunya untuk memberi wejangan kepada saya.
Kemudian Mas terus membuang-buang waktu dengan menulis
Begitu juga Majlisi yang biasanya bersikap keras terhadap sahabat Nabi terpaksa mengatakan: ketika Abubakar melihat kemarahan Fatimah dia mengatakan: aku tidak mengingkari keutamaanmu dan kedekatanmu pada Rasulullah SAW, aku melarangmu mengambil tanah fadak hanya karena melaksanakan perintah Rasulullah, sungguh Allah menjadi saksi bahwa aku mendengar Rasulullah bersabda: kami para Nabi tidak mewarisi, kami hanya meninggalkan Al Qur’an, hikmah dan ilmu, aku memutuskan ini dengan kesepakatan kaum muslimin dan bukan keputusanku sendiri, jika kamu menginginkan harta maka ambillah hartaku sesukamu karena kamu adalah kesayangan ayahmu dan ibu yang baik bagi anak-anakmu, tidak ada yang bisa mengingkari keutamaanmu. Bisa dilihat dalam kitab Haqqul Yaqin, hal 201-202.
Wah saya yang polos ini baru tahu ada kitab Haqqul Yaqin, ya iyalah bagaimana saya bisa tahu kalau kitab itu adalah kitab Syiah. Tetapi lagi-lagi Mas tidak mencantumkan sanad riwayat tersebut dan Mas juga tidak menyebutkan apakah riwayat itu benar diakui shahih oleh Majlisi. Bukannya Mas sendiri yang bilang kalau kitab Syiah itu banyak hadis dhaifnya. Nah saya jadi ragu Mas jangan-jangan riwayat ini dhaifastaghfirullah saya berprasangka :mrgreen:
Mari kita lanjutkan, dan saya juga mulai capek
Abubakar mengatakan pada Fatimah: kamu akan mendapat bagian seperti ayahmu, Rasulullah SAW mengambil dari Fadak untuk kehidupan sehari-hari, dan membagikan lainnya serta mengambil untuk bekal berjihad, aku akan berbuat seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, Fatimah pun rela akan hal itu dan berjanji akan menerimanya.
Syarah Nahjul Balaghah, Ibnul Maitsam Al Bahrani jilid 5 hal 107, Cet. Teheran
Oooh rupanya Syarh Nahjul Balaghah Ibnul Maitsam, ah tumben yang ini disebutkan cetakannya. baca sendiri kan. Nah tolong kasih tahu saya riwayat itu shahih tidak. Masalahnya lagi-lagi Mas tidak mencantumkan sanadnya :(
Sama seperti yang diriwayatkan oleh Ibnul Maitsam, Al Danbali dan Ibnu Abil Hadid:
Bahwa Abubakar mengambil hasil Fadak dan menyerahkannya pada ahlul bait secukup kehidupan mereka, begitu juga Umar, Utsman dan Ali
.
Bisa dilihat di kitab Syarah Nahjul Balaghah karangan Ibnu Maitsam dan Ibnu Abil Hadid, juga Durah An Najafiyah hal 332.
Iden aja deh, males saya mengulang-ngulang kata-kata yang sama :mrgreen:
Oh iya Mas kesimpulan Mas yang ini
Ternyata imam maksum mengakui keputusan Abubakar dalam amsalah fadak, walaupun demikian syi’ah tetap saja menangisi Fatimah yang konon dizhalimi oleh Abubakar. Tetapi yang aneh, imam Ali -yang konon maksum- bukannya ikut membantu Fatimah merebut harta miliknya tetapi malah menyetujui keputusan Abubakar.
Sudah jelas salah besar Mas. Justru dalam kitab Shahih Bukhari yang saya baca telah membuktikan kekeliruan Mas. Dan semua riwayat Syiah yang Mas katakan tidak ada artinya memangnya saya Syiah karena tidak ada sanadnya dan tidak jelas kedudukan hadisnya. Jadi terima yang shahih aja deh Mas :mrgreen:
Begitu juga dengan kata-kata Mas
Keputusan Abubakar yang dianggap syi’ah sebagai keputusan yang keliru dan kezhaliman malah didukung oleh imam maksum. Berarti imam maksum ikut berperan serta menzhalimi Fatimah. Tetapi syi’ah tidak pernah marah pada imam maksum, yang dijadikan objek kemarahan hanyalah Abubakar.
Abubakar benar dalam keputusannya, dengan bukti dukungan imam maksum atas keputusannya itu. Jika imam maksum melakukan kesalahan maka dia tidak maksum lagi.
Semuanya cuma asumsi semata dan yah asumsi tidak bisa mengalahkan hadis yang shahih, benar tidak Mas? Begitu yang telah diajarkan Syaikh-syaikh Kita Ahlul Hadis yang mulia :mrgreen:
Akhir kata Mas Penulis
Tetapi -seperti biasanya- kenyataan ini ditutup rapat-rapat oleh syi’ah, sehingga barangkali anda hanya bisa menemukannya di situs ini. Syi’ah selalu menuduh Bani Umayah memalsukan sejarah, padahal syi’ah selalu mengikuti jejak mereka yang dituduh memalsu sejarah.
Saya tidak tahu apa bani Umayyah atau Syiah yang memalsukan sejarah. Yang saya tahu Mas penulis sendiri telah memalsukan sejarah dengan kata-kata Sejarah tidak pernah mencatat adanya upaya dari Abbas paman Nabi utnuk menuntut harta warisan seperti yang dilakukan oleh Fatimah. Bukankah nyata sekali pemalsuan sejarah yang Mas lakukan
.

Menolak Keraguan Seputar Riwayat Fadak


Menolak Keraguan Seputar Riwayat Fadak

Berkaitan dengan tulisan saya yang berjudul Analisis Riwayat Fadak Antara Sayyidah Fatimah Az Zahra AS Dan Abu Bakar RA., telah muncul beberapa komentar yang menanggapi tulisan tersebut. Walaupun sedikit mengecewakan(sayangnya tanggapan itu malah mengabaikan sepenuhnya panjang lebar tulisan saya) tetap saja komentar tersebut layak untuk ditanggapi lebih lanjut.
Di antara komentar-komentar itu ada juga yang berlebihan dengan mengatakan bahwa yang saya tuliskan itu adalah salah kaprah alias mentah. Anehnya justru sebenarnya dialah yang mengemukakan argumen yang mentah. Sejauh ini saya berusaha menulis dengan menggunakan dalil-dalil yang shahih dan argumen yang logis :mrgreen: , makanya saya heran dengan kata salah kaprah itu, Kira-kira dimana letak salah kaprahnya ya? Mari kita bahas
Ada beberapa orang yang menolak riwayat Fadak bahwa Sayyidah Fatimah AS marah dan mendiamkan Abu bakar selama 6 bulan dengan alasan tidak mungkin seorang putri Rasul SAW bersikap seperti itu kepada sahabat Rasulullah SAW. Padahal telah jelas sekali berdasarkan dalil yang shahih seperti yang saya kemukakan yaitu dalam Shahih Bukhari dinyatakan Sayyidah Fatimah marah dan mendiamkan Abu Bakar selama 6 bulan
Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain :kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain :Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW, saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Harta Kami tidaklah diwaris ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.
Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian Ia menshalatinya (Mukhtasar Shahih Bukhari Kitab Fardh Al Khumus Bab Khumus oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta.)
Ada juga orang yang mempermasalahkan hadis itu atas dasar penolakannya terhadap Syaikh Al Albani, padahal jelas sekali bahwa saya hanya mengutip hadis dalam Shahih Bukhari. Kitab Shahih Bukhari Syarh siapa saja baik Fath Al Bari Ibnu Hajar, Irsyad Al Sari Al Qastallani atau Umdah Al Qari Badrudin Al Hanafi pasti memuat hadis itu. Jadi tidak ada masalah dengan referensi hadis yang saya kemukakan.
Sebagian orang lain menolak bahwa Sayyidah Fatimah marah dan mendiamkan Abu Bakar sampai beliau meninggal berdasarkan riwayat Baihaqi dalam Sunan Baihaqi atau Dalail An Nubuwwah berikut
Diriwayatkan oleh Al Hafidz Al Baihaqi dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya, “Wahai Fatimah, Abu Bakr datang dan meminta izin agar diizinkan masuk.” Fatimah bertanya, “Apakah engkau ingin agarku memberikan izin baginya?” Ali berkata, “Ya!” Maka Abu Bakr masuk dan berusaha meminta maaf kepadanya sambil berkata, “Demi Allah tidaklah aku tinggalkan seluruh rumahku, hartaku, keluarga dan kerabatku kecuali hanya mencari redha Allah, redha RasulNya dan Redha kalian wahai Ahlul Bayt.” Dan Abu Bakr terus memujuk sehingga akhirnya Fatimah rela dan akhirnya memaafkannya. (Dala’il An Nubuwwah, Jil. 7 Hal. 281)
Seseorang yang dikenal sebagai Ustad dari Malay(Asri) menyatakan berkaitan dengan riwayat ini
Riwayat tersebut datang dengan sanad yang baik dan kuat. Maka jelas sekali di situ bahawa Fatimah meninggal akibat sakit, dan bukanlah disebabkan oleh penyeksaan dari Abu Bakr. Malahan di situ turut dijelaskan bahwa Fatimah telah memilih untuk memaafkan Abu Bakr di akhir hayatnya.
Sayang sekali bahwa apa yang dikatakan sang Ustad itu tidak benar, sama seperti halnya dengan tuduhan aneh beliau terhadap Ibnu Ishaq(saya sudah menanggapi tuduhan beliau itu lihat Pembelaan Terhadap Ibnu Ishaq), apa yang beliau kemukakan itu adalah Apologia semata. Beliau telah dipengaruhi dengan kebenciannya terhadap syiah alias Syiahphobia dan juga dipengaruhi kemahzaban Sunninya yang terlalu kental hingga berusaha meragukan dalil yang shahih dalam hal ini Shahih Bukhari dengan dalil yang tidak shahih dalam hal ini adalah riwayat Baihaqi. Tujuannya sederhana hanya untuk membantah orang Syiah. Tidak ada masalah soal bantah-membantah, yang penting adalah berpegang pada dalil yang shahih.
Saya sependapat dengan Beliau bahwa Sayyidah Fatimah meninggal bukan disebabkan penyiksaan dari Abu Bakar tetapi saya tidak sependapat dengan dakwaan beliau bahwa riwayat Baihaqi itu memiliki sanad yang kuat.
Dhaifnya Riwayat Baihaqi
Riwayat Baihaqi yang dikemukakan Ustad Malay itu memiliki cacat pada sanad maupun matannya. Berikut analisis terhadap sanad dan matan riwayat tersebut.
Analisis Sanad Riwayat
Sebelumnya Mari kita bahas terlebih dulu apa syarat hadis atau riwayat yang shahih
Ibnu Shalah merumuskan bahwa hadis shahih adalah hadis yang musnad, yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang yang berwatak adil dan dhabith dari orang yang berwatak seperti itu juga sampai ke puncak sanadnya, hadis itu tidak syadz dan tidak mengandung illat.(Hadis Nabi Sejarah Dan Metodologinya hal 88 Dr Muh Zuhri , cetakan I Tiara Wacana :Yogyakarta, 1997). Atau bisa juga dilihat dalam Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis.
Mari kita lihat Riwayat Baihaqi, baik dalam Sunan Baihaqi atau Dalail An Nubuwwah Baihaqi meriwayatkan dengan sanad sampai ke Asy Sya’bi yang berkata (riwayat hadis tersebut).
Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari berkata bahwa sanad riwayat ini shahih sampai ke Asy Sya’bi.
Walaupun sanad riwayat ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hajar sampai ke Asy Sya’bi tetapi riwayat ini adalah riwayat mursal artinya terputus sanadnya. Asy Sya’bi meriwayatkan seolah beliau sendiri menyaksikan peristiwa itu, lihat riwayat tersebut
Diriwayatkan oleh Al Hafidz Al Baihaqi dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya,
Padahal pada saat Sayyidah Fatimah AS dan Abu Bakar RA masih hidup Asy Sya’bi jelas belum lahir.
Amir bin Syurahbil Asy Sya’bi adalah seorang tabiin dan beliau lahir 6 tahun setelah masa khalifah Umar RA (Shuwaru Min Hayati At Tabiin, Dr Abdurrahman Ra’fat Basya, terjemah : Jejak Para Tabiin penerjemah Abu Umar Abdillah hal 153).
Hal ini menimbulkan dua kemungkinan
  1. Asy Sya’bi mendengar riwayat tersebut dari orang lain tetapi beliau tidak menyebutkan siapa orang tersebut, atau.
  2. Asy Sya’bi membuat-buat riwayat tersebut.
Singkatnya kemungkinan manapun yang benar tetap membuat riwayat tersebut tidak layak untuk dijadikan hujjah . Dalam hal ini saya lebih cenderung dengan kemungkinan pertama yaitu Asy Sya’bi mendengar dari orang lain, dan tidak diketahui siapa orang tersebut. Hal ini jelas menunjukkan mursalnya sanad riwayat ini. Riwayat mursal sudah jelas tidak bisa dijadikan hujjah.
Dalam Ilmu Mushthalah Hadis oleh A Qadir Hassan hal 109 cetakan III CV Diponegoro Bandung 1987. Beliau mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah,
Ibnu Hajar berkata”Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat itu dari seorang shahabat,tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain. Demikianlah selanjutnya memungkinkan sampai 6 atau 7 tabiin, karena terdapat dalam satu sanad ,ada 6 tabiin yang seorang meriwayatkan dari yang lain”. Pendeknya gelaplah siapa yang digugurkan itu, sahabatkah atau tabiin?. Oleh karena itu sepatutnya hadis mursal dianggap lemah.
Analisis Matan Riwayat 
Perhatikan Riwayat Baihaqi itu
dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya, “Wahai Fatimah, Abu Bakr datang dan meminta izin agar diizinkan masuk.” Fatimah bertanya, “Apakah engkau ingin agarku memberikan izin baginya?” Ali berkata, “Ya!” Maka Abu Bakr masuk dan berusaha meminta maaf kepadanya sambil berkata, “Demi Allah tidaklah aku tinggalkan seluruh rumahku, hartaku, keluarga dan kerabatku kecuali hanya mencari redha Allah, redha RasulNya dan Redha kalian wahai Ahlul Bayt.” Dan Abu Bakr terus memujuk sehingga akhirnya Fatimah rela dan akhirnya memaafkannya. (Dala’il An Nubuwwah, Jil. 7 Hal. 281).
Matan riwayat ini menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah AS berbicara kepada Abu Bakar RA, padahal berdasarkan riwayat Aisyah Shahih Bukhari dinyatakan Sayyidah Fatimah marah dan mendiamkan Abu Bakar RA sampai Beliau AS meninggal. Lihat kembali hadis Shahih Bukhari
Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.
Dalam hal ini kesaksian Aisyah bahwa Sayyidah Fatimah AS marah dan mendiamkan Abu Bakar RA hingga beliau wafat lebih layak untuk dijadikan hujjah karena Aisyah RA melihat sendiri sikap Sayyidah Fatimah AS tersebut sampai akhir hayat Sayyidah Fatimah AS. Seandainya apa yang dikatakan Asy Sya’bi itu benar maka sudah tentu Aisyah RA akan menceritakannya.
Salah Satu Kekeliruan Asy Sya’bi Berkaitan Dengan Tasyayyu
Asy Sya’bi pernah menyatakan dusta terhadap Al Harits Al Hamdani Al A’war hanya karena Al Harits mencintai Imam Ali dan mengutamakannya di atas sahabat Nabi yang lain. Pernyataan Asy Sya’bi telah ditolak oleh ulama, salah satunya adalah Syaikh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy yang menyatakan tsiqah pada Al Harits Al Hamdani dan menolak tuduhan terhadap Al Harits . Selain itu,
Al Qurthubi mengatakan “Al Harits Al A’war yang meriwayatkan hadis dari Ali dituduh dusta oleh Asy Sya’bi padahal ia tidak terbukti berdusta, hanya saja cacatnya karena ia mencintai Ali secara berlebihan dan menganggapnya lebih tinggi daripada yang lainnya, dari sini Wallahu a’lam ia dianggap dusta oleh Asy Sya’bi . Ibnu Abdil Barr berkata “Menurutku Asy Sya’bi pantas dihukum untuk tuduhannya terhadap Al Harits Al Hamdani. (Jami Li Ahkam Al Quran Al Qurthubi 1 hal 4&5 Terbitan Darul Qalam Cetakan Darul Kutub Al Mashriyah).
Pernyataan di atas hanya menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Asy Sya’bi tidak selalu benar. Bukan berarti saya menolak kredibilitas beliau sebagai perawi hadis, yang saya maksudkan jika beliau menyampaikan riwayat dengan cara mursal atau tanpa sanad yang jelas atau tidak menyebutkan dari siapa beliau mendengar maka riwayat itu tidak layak dijadikan hujjah karena dalam hal ini beliau Asy Sya’bi juga bisa saja keliru seperti tuduhan yang beliau kemukakan terhadap Al Harits. Kekeliruan itu sepertinya didasari rasa tidak senang dengan orang-orang yang mencintai Imam Ali di atas sahabat Nabi yang lain. Kekeliruan seperti itu jelas dipengaruhi oleh unsur kemahzaban semata.
Sudah jelas sekali kesimpulan saya adalah hadis riwayat Baihaqi yang dikemukan Ustad Asri itu adalah mursal atau dhaif.

Ayat bai’at ridwan tidaklah meliputi seluruh sahabat, hanya untuksahabat istiqamah yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.

Keadilan semua sahabat dalam Qs.Al Fath ayat 10 dan Qs. Al Fath ayat 18 ?? Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai !

.

Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai   dan tidak  masuk  neraka  jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai ! Faktanya ada diantara mereka yang  melanggar janji !

Allah berfirman
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (Qs Al Hadid:10)
.
Yang dimaksud dengan Penaklukan adalah penaklukan Hudaibiyah, yaitu ketika Rasulullah membai’at shahabat-shahbatnya dibawah sebuah pohon, ketika yang berbaiat dengan Beliau sejumlah 1500 orang, merekalah yang telah menaklukkan khaibar
.

 SHAHIH BUKHARI NO. 3852
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ
طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِي…َّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al 'Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara' bin 'Azib radliallahu 'anhuma] seraya berkata; “Beruntunglah kamu karena mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbai’at kepadanya di bawah pohon pada bai’atur ridlwan.” Al Bara’ berkata; “Wahai anak saudaraku, kamu tidak tahu apa yang kami perbuat setelah itu.”
.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernah
bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak
yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui
Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(1)
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan
Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena
dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon
(bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku,
engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah

membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu

apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apakah

mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi sahabat-sahabat

ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan

“sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal Nabi, pengakuan mereka ini

adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari

sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Rasululah SAW juga telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah

mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan

siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api

neraka.”(3)

.

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS. Lalu apa hukuman

bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah

mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70

tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok

dalam 3 Perang Besar.

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24;

Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

.

Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (Hadis no.488 )

.

Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

.

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

.

Pengakuan Sahabat Nabi SAW bernama Al-Barra’ bin ‘Azib (r.a) membuktikan bahwa Ayat bai’at ridwan  tidaklah meliputi seluruh sahabat,  hanya untuk sahabat istiqamah  yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.

Salam dan Solawat. Baru-bari ini ada seorang saudara dari Sunni membangkitkan satu persoalan menarik. Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut:

Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Jawapan kami ialah pertamanya ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Iaitu ayat itu menyatakan pada ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Dengan ini tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan tertakluk dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga kemakmuran ini.

Kami membacakannya mereka kisah orang yang telah kami berikannya ayat maka dia menuruti Syaitan dan termasuk di kalangan mereka yang sesat”
al-A’raf 175

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Sebagai contoh Abdullah bin Abi Sara sahabat Rasulullah (s) penulis wahyu pertama, akan tetapi selepas beberapa ketika ia murtad dan menghina Rasulullah (s). Hingga sampai ke satu tahap, Rasulullah berkata pada waktu Fath Makkah, beberapa orang daripada mereka, walaupun mereka bergantung pada kain Kaabah, penggallah kepala mereka, salah seorang daripada mereka ialah Abdullah bin Abi Sara’.

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, Wahabi ingin mempermasalahkan Syiah iaitu engkau mengatakan sesudah Nabi semua orang selain empat orang telah murtad, iaitu selama masa 23 tahun usaha keras Rasulullah mendidik hanya empat orang yang tidak murtad? Jawaban kami ialah, kalau kami mengatakan hanya empat orang yang tidak murtad,tetapi Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Pada zaman khalifah ke dua, ketika salah seorang sahabat meninggal, saat Huzaifah tidak menerima bahawa sahabat ini bukan daripada kalangan munafik, hinggalah khalifah tidak hadir untuk menyolatinya kerana ia takut orang tersebut daripada golongan munafik. Ini kerana Syiah dan Sunni menerima bahawasanya Huzaifah sahabat penyimpan rahsia dan Rasulullah pernah mengatakan nama-nama orang munafik kepadanya

.

Menjawab : Ayat Bai’ah Ridwan

Salah satu ayat yang sering digunakan golongan Ahlusunnah untuk membuktikan keadilan para sahabat ialah ayat surah Al-Fath ayat 18. Mereka mendakwa seluruh sahabat yang hadir di dalam peristiwa tersebut mendapat keredhaan Ilahi. Allah (s.w.t) berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا . الفتح / 18 .

Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya- Surah Al-Fatḥ ayat 18.

Jawapan pertama: Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:

4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .
صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .

Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.

Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus dua puluh ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.

Jawapan ke-dua: Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.

Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.

Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:

Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.

Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:

… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .
تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .

Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf.
-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371
- Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224
- Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340
- Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14
- Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60
- Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77
- At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…

Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).

Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ » tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.

Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:

. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .

Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.

Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:

... والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .
كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني

Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. - Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: http://www.alwarraq.com

Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.

Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.

Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.

Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.

Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ‏ نَفْسِهِ وَ مَنْ أَوْفىَ‏ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.

Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.

Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman " فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ "? Apakah firman ini sia-sia belaka?

Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:

عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى ... .

Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh... - Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.

Jawapan ke-empat: Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:

1) Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .
صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.- Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170

Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.

2) Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:

عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .
الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و ... .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.

3) ʽAisyah:

Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:

عن قيس ، قال : قالت عائشة... إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها
سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و ...

Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.

Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .
المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .

Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.

Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?

Jawapan ke-lima: Sifat Allah teridir daripada Dhātī dan Fiʽlī. Sifat Dhātī adalah sifat Azālī dan Abadī, namun sifat Fiʽlī tidak seperti ini, bahkan tertakluk pada suatu zaman seperti yang dikatakan oleh Fakhrul Rāzī:

والفرق بين هذين النوعين من الصفات وجوه . أحدها : أن صفات الذات أزلية ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثانيها : أن صفات الذات لا يمكن أن تصدق نقائضها في شيء من الأوقات ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثالثها : أن صفات الفعل أمور نسبية يعتبر في تحققها صدور الآثار عن الفاعل ، وصفات الذات ليست كذلك .
تفسير الرازي ، الرازي ، ج 4 ، ص 75 .

Dan beza di antara kedua sifat Allah (Dhāt dan Fiʽl) ialah beberapa perkara: 1. Sifat Dhāt Azalī dan abadi, dan sifat Al-Fiʽl tidak seperti itu. 2. Sesungguhnya sifat Al-Dhāt tidak mungkin menepati pertentangannya terhadap sesuatu dalam waktu-waktu (contohnya jahil bertentnagan dengan ‘ālim); dan sifat Fiʽl tidak seperti itu. 3. Sesungguhnya sifat Fiʽl adalah perkara yang berhubung dengan kadangkala terjadi dengan kemunculan dalam suatu kesan daripada Fiʽl, namun sifat Dhāt tidak seperti ini (iaitu kekal abadi).

Oleh itu ketika Allah menyatakan keredhaan atau kemurkaan-Nya, ini bermakna pengurniaan pahala dan balasan. Oleh itu keredhaan dan kemurkaan Allah adalah sifat Fiʽl, bukan sifat Dhatī. Jikalau ianya dari sifat Fiʽl maka ia tidak akan berkekalan. Mengenai perkara ini Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:

ومعنى قوله ولا يرضى أي لا يشكره لهم ولا يثيبهم عليه فعلى هذا فهي صفة فعل .
فتح الباري ، ابن حجر ، ج 11 ، ص 350 .

Makna kata-kata « ولا يرضي » ialah tidak menghargai perbuatan yang dilakukan sekarang dan tidak diberi ganjaran. Inilah dia sifat Fiʽl – Fathul Bārī, ibnu Ḥajar, jilid 11 halaman 350

.

ALLAH dan Rasulullah menggunakan kosa kata SAHABAT untuk orang2 yang masuk surga (Jannah) dan orang2 yang masuk api neraka

SHOHIB = kawan, teman, penghuni, pemilik dll

ASHABU = kawan2, teman2, penghuni2, pemilik2 dll

ALQURAN 7:50
Ahabu Nar (sahabat2 di api neraka) berkata kepada Ashabu Jannah (sahabat2 di dalam surga): “Berikanlah kami sedikit air atau makanan yang telah diberikan oleh ALLAH kepada kamu!”

ALQURAN 5:10
Orang2 Kafir yang mendustakan ayat ayat kami (AlQuran); sesungguhnya mereka Ashabu Al Jahim (sahabat2 di dalam neraka Jahim)

Jika kita membaca semua kosa kata ASHABU (sahabat2, kawan2, teman2) di dalam AlQuran dengan teliti; maka kita bisa melihat bahwa ALLAH menggunakan kosa kata SAHABAT untuk mereka yang masuk api neraka dan juga untuk mereka yang masuk surga.

Ulama Sunni sengaja memutar-balikan ayat ayat AlQuran untuk membodohi ummat Islam.

SYIRIK (dosa terbesar yang tidak akan diampuni oleh ALLAH); adalah aqidah (kepercayaan & keyakinan) kaum Sunni; karena Kaum Sunni rajin memuji para sahabat; sehingga Kaum Sunni tidak bisa melihat dan tidak bisa mempelajari kesalahan2 yang dilakukan oleh para sahabat; padahal semua pujian hanya dimiliki oleh ALLAH.

Kaum Syiah sengaja mempelajari kesalahan2 yang dilakukan oleh para sahabat setelah Rasulullah wafat; supaya kamu Syiah tidak mengulangi kesalahan2 yang sama; karena Kaum Syiah tidak mau dihukum oleh ALLAH di dunia ini dan di akhirat nanti.

ASHABI (kawan-kawanku, teman-temanku, sahabat-sahabatku)

SHOHIH BUKHARI, Kitab 60 no 149
Ibn Abbas melaporkan bahwa Rasulullah berkata (di depan para sahabatnya): “Ya manusia, kamu akan dikumpulkan pada hari Qiyammah di depan ALLAH dalam keadaan telanjang, tidak ada alas kaki dan tidak disunat. Rasulullah mengucapkan ayat ayat ALLAH

ALQURAN 21:104
Pada hari kami gulung langit seperti kami gulung lembaran lembaran kertas; sebagaimana kami telah menciptaan ciptaan kami yang pertama; kami akan mengulanginya; karena itu adalah janji kami; sesungguhnya akan terjadi karena kami akan melaksanakannya

Rasulullah melanjutkan dan berkata: “Orang pertama yang akan diberikan pakaian adalah Nabi Ibrahim pada hari kebangkitan. Banyak orang yang mengikuti saya akan dibawa kepada saya; kemudian mereka dimasukan ke dalam api neraka!”

Rasulullah akan berkata (kepada ALLAH): “Mereka adalah ASHABI (sahabat-sahabatku, kawan-kawnku, teman-temanku)!”

ALLAH akan berkata (kepada Nabi Muhammad): “Kamu tidak mengetahui perbuatan mereka setelah kepergianmu (setelah Muhammad wafat); mereka telah MURTAD setelah kepergian kamu!”

Rasulullah akan mengutip ayat AlQuran yang diucapkan oleh Nabi Isa Al Masih

ALQURAN 5:118
Jika anda menyiksa mereka; sesungguhnya mereka adalah hamba-hambamu; jika anda mengampuni mereka; sesungguhnya anda maha perkasa dan maha bijaksana.

KESIMPULAN

Perhatikan kosa kata ASHABI (sahabat-sahabatku, kawan-kawanku, teman-temanku) dipergunakan oleh Rasulullah untuk para sahabat yang akan dimasukan ke dalam api neraka.

Ulama Sunni sengaja menyembunyikan atau rajin menutup-nutupi Hadith ini; supaya SYIRIK (dosa terbesar) tersebar di dalam kalangan Kaum Ahlul Sunnah Wal Jamaah.

Ulama Sunnah sengaja menyembunyika Hadith tersebut; supaya semua sahabat bisa dipuji oleh ummat Islam; ini adalah kesalahan besar yang dilakukan oleh Ulama Sunnah; karena semua pujian hanya dimiliki oleh ALLAH; bukan dimiliki oleh para sahabat.

Tidakkah mereka membaca Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Ali : “Tidaklah seseorang yang mencintaimu kecuali dia adalah seorang mukmin dan tidak membencimu kecuali dia adalah seorang munafik”?

Anehnya hadits ini selalu terpampang di salah blog nashibi.
Definisi keadilan cuma satu yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Mengenai masalah munafik ini adalah masalah hati, makanya Nabi tidak menghukum Abdullah bin Ubay padahal nabi mengetahui tentang kemunafikannya. Terus saya koreksi sedikit bahwa memang sahabat itu manusia biasa dan tidak maksum. Jadi sahabat bisa melakukan kesalahan dan dosa.

siapa nama-nama kaum munafik yang hidup di madinah di zaman Nabi saw seperti yang disebutkan oleh ayat Qs. At taubah 101   biar sunni tidak terkena hadis-hadis palsu yang mereka susupkan, yang terlanjur tercantum dikitab-kitab hadis/shahih sunni

Saya juga minta tolong kepada syekh-syekh salafiyun barangkali tau atau dapat wangsit tentang siapa nama-nama kaum munafik yang hidup di madinah di zaman Nabi saw… seperti yang disebutkan oleh ayat ini (biar kami tidak terkena hadis-hadis palsu yg mereka susupkan, yg terlanjur tercantum dikitab-kitab hadis/shahih sunni :

وَمِمَّنْ حَوْلَكُم مِّنَ الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُواْ عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar (Al Qur’an, S. At Taubah[9]: 101)

bacalah ALQURAN 25:30-31

30. Rasulullah berkata: “Ya Tuhanku, KAUMKU telah meninggalkan AlQuran!”

31. ALLAH berkata: “dan seperti itulah (yang terjadi); telah kami adakan untuk semua nabi; musuh dari orang orang yang berdosa; dan cukuplah ALLAH menjadi penolong dan pemberi petunjuk

Perhatikanlah kosa kata KAUMKU di dalam ayat ayat AlQuran tersebut. Para sahabat juga termasuk KAUM MUHAMMAD. Sebagian dari para sahabat melanggar AlQuran setelah kepergian Rasulullah (setelah Nabi Muhammad wafat)

Mereka yang melanggar AlQuran akan dijadikan musuh2 Nabi Muhammad pada hari Qiyammah nanti. Berapa banyak sahabat yang melanggar AlQuran; sehingga mereka saling membunuh di dalam perang Riddah, perang Siffin, perang Jamal dan perang perang yang lain.

Mayoritas Ulama Sunni adalah orang2 yang pintar dan yang mengagumkan; tetapi minoritas Ulama Sunni adalah orang2 yang sombong.

Minoritas Ulama Sunni inggin ummat Islam memuji para sahabat; dengan alasan semua sahabat adalah manusia yang sempurna; padahal semua pujian hanya dimiliki oleh ALLAH; sehingga tidak mungkin para sahabat melakukan kesalahan2.

Jika Kaum Syiah mempelajari kesalahan2 yang dilakukan oleh para sahabat setelah Rasulullah wafat; supaya Kaum Syiah tidak mengulangi kesalahan2 yang sama;

maka Ulama Sunni tersebut akan marah dan akan tersinggung; kemudian Ulama Sunni tersebut menuduh Kaum Syiah sebagai orang2 yang suka menghamun (mencela, menghina) para sahabat; padahal SYIRIK (dosa terbesar) adalah keyakinan Kaum Sunni

Apa yang dimaksud “wafat dalam keadaan islam”?. Apakah setiap orang yang dinyatakan sahabat oleh Ibnu Hajar [dalam Al Ishabah] memiliki data riwayat bahwa mereka wafat dalam keadaan islam.

ucapan anda dipertanggungjawabkan di hadapan Allah lho…jangan asal ucap, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar!”(QS. AlBaqarah: 111)

Di dalam Bab II, “Sawaiq al-Muhriqah”, Ibn Hajar mencatatkan Hafiz Jamaluddin Mohammad bin Yusuf Zarandi Madani (seorang faqih dan ulama di kalangan mazhab Sunni) yang mengatakan, “… tatkala engkau dan pengikut-pengikut (Syi’ah) engkau akan datang pada Hari Pembalasan kelak di dalam keadaan diridhai Allah dan Allah ridha terhadap kamu semua. Musuh-musuh engkau akan berasa cemburu dan tangan mereka akan dibelenggu ke leher mereka.” Kemudian Ali as bertanya siapakah musuhnya. Rasulullah saww menjawab, “Orang-orang yang memusuhi engkau dan yang menghina engkau.” Allamah Samhudi di dalam “Jawahirul”, dengan pengesahan Hafiz Jamaluddin Zarandi Madani dan Nuruddin Ali bin Mohammad bin Ahmad Maliki Makki yang terkenal sebagai Ibn Sabbagh, yang dianggap sebagai ulama yang berwibawa dari kalangan ulama Sunni dan juga seorang ahli ilmu kalam, di dalam bukunya “Fusul al-Muhimmah”, pada halaman 122, memetik dari Abdullah bin Abbas bahwa, ketika ayat tersebut diwahyukan Rasulullah saww bersabda kepada Ali as, “Engkau dan Syi’ahmu. Engkau dan merekalah yang akan datang di Hari Pembalasan kelak dengan penuh keridhaan dan kepuasan, manakala musuh-musuh engkau akan datang dengan kesedihan dan terbelenggu tangan-tangan mereka.”

Mir Syed Ali Hamdani Syafie, salah seorang daripada ulama Sunni yang terpercaya, menyebut di dalam bukunya “Mawaddatul Qurba.” Juga Ibn Hajar, seorang yang terkenal sebagai anti-Syi’ah di dalam bukunya “Sawaiq al-Muhriqah” meriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah, isteri Nabi saww, bahwa Rasulullah saww bersabda, “Hai Ali, engkau dan Syi’ahmu akan kekal di dalam Syurga, engkau dan Syi’ahmu akan kekal di dalam Syurga.”

Seorang ulama yang terkemuka, Khawarazim Muaffaq bin Ahmad di dalam “Manqib”nya, Bab 19, meriwayatkan dari Rasulullah saww di atas pengesahan yang tidak dapat diragukan, bahwa Baginda Nabi bersabda kepada Ali as, “Di kalangan umatku, engkau adalah seumpama Isa al-Masih Ibn Mariam as, yakni sebagaimana pengikut Nabi Isa as yang telah berpecah kepada tiga kelompok, yaitu yang benar-benar beriman yang dikenali sebagai Hawariyyin, penentangnya yaitu orang-orang Yahudi dan satu lagi golongan yang melampaui batas, yang menyamakan beliau dengan sifat-sifat ketuhanan. Seperti itu juga umat Muslim, yang akan berpecah kepada tiga kelompok terhadap engkau. Salah satu dari mereka adalah Syi’ahmu, dan mereka inilah golongan yang benar-benar beriman. Yang lainnya adalah musuh-musuh engkau dan mereka itulah yang memungkiri janji-janji untuk taat setia kepadamu, dan yang ketiganya adalah golongan yang melampaui batas mengenai kedudukan engkau dan mereka adalah orang-orang yang menolak kebenaran serta tersesat. Jadi, engkau, hai Ali, dan juga Syi’ahmu akan berada di dalam Syurga, dan juga orang-orang yang mencintaimu akan berada di dalam Syurga sedangkan musuh-musuhmu dan mereka yang berlebih-lebihan terhadapmu akan berada di dalam Neraka.”

:):mrgreen:

Perawi-perawi dan para ulama telah memberitakan bahwa terdapat sahabat Nabi saw yang munafik serta macam2 prilaku buruk. Ayat2 Alquran sdh memastikan adanya orang2 di sekitar Nabi saw yang munafik. Hanya salafiyyun yang bersikeras dan ngotot bahwa sahabat Nabi saw tidak ada yang munafik, bahwa semua sahabat ‘adil. Bagi mereka yang mau membaca dan menggunakan akal sehatnya akan mampu melihat secara terang benderang mana pemahaman yang benar mana yang keliru.

Ayat bai’at ridwan  tidaklah meliputi seluruh sahabat,  hanya untuk sahabat istiqamah  yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya

.

Qs. 48. Qs. Al Fath ayat 18  Ayat ini untuk orang orang yang berjanji setia dengan sungguh sungguh pada Bai’atur Ridhwan, bukan yang pura pura setia seperti Abubakar dan Umar yang tidak peduli pada jenazah Nabi karena berebut kekuasaan di Saqifah Bani Sa’idah

Qs. 48. Qs. Al Fath ayat 18. “”Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)””

Memang ada ayat yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW

Ini bermakna pengampunan hanya berlaku untuk kesalahan mereka sampai peristiwa Bai’atur Ridhwan saja, tidak berlaku untuk kesalahan sesudah itu… Bukan berarti ampunan berlaku untuk selamanya

Satu kata atau satu huruf saja berbeda baik fi’il madhi maupun fi’il mudhari’ maka akan merubah maksud tafsir

Bandingkan dengan :

Qs. Al Ahzab ayat 33 : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sesuci sucinya ”

Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankum adalah fi’il mudhari’ ( kata kerja yang berlaku dari masa pengucapan, masa kini dan masa yang akan datang )… Artinya ayat tathir menyatakan Ahlul Bait disucikan sejak SAAT iTU SAMPAi MEREKA WAFAT ( jaminan syurga )

Kalau kalimat itu di jadikan fi’il madhi akan berbentuk innama aradallahu lidzahaba ‘ankum… Ternyata ayat tathir bukan fi’il madhi… Artinya ahlul kisa diampuni untuk selama selamanya
Potensi OKNUM SAHABAT berbalik arah pasca wafat Nabi SAW diakui Al Quran dan Hadis ( misal : hadis haudh riwayat Bukhari Muslim ) … Ada kemungkinan mereka berbalik arah bila Nabi SAW wafat

Qs. Ali ‘Imran ayat 144 : “” Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[x]. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur””

x]. Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. Di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh

Coba anda perhatikan ayat ayat pujian dan ridha Allah untuk PARA SAHABAT, tidak ada satupun ayat yang menyatakan pujian dan ridha Allah untuk semua sahabat… Tapi semua ayatnya menyatakan hanya sebahagian sahabat saja….

Itupun ada syarat nya yaitu mereka harus ihsan (baik) dan mereka harus ridha terhadap ketetapan Allah.. Bila ada sahabat yang tidak memenuhi syarat ini maka ia dikecualikan

Jaminan SURGA hanya diberikan jika seseorang memenuhi syarat syarat seperti tidak mendurhakai Rasulullah setelah wafatnya

Perhatikan Qs. 56. Qs. Al Waaqi’ah

77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. pada kitab yang terpelihara ( Lauhul Mahfuzh ),
79. tidak menyentuhnya kecuali orang – orang yang disucikan.

Jadi jelaslah yang disucikan adalah ahlul kisa dan para Imam Ahlul Bait
Hanya syi’ah Imamiah lah yang menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin dalam hal Imamah pasca wafat Nabi SAW !!!!!!!!!

Perhatikan Qs. 5. Qs. Al Maa’idah

55. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat ketika mereka berada dalam keadaan ruku’

56. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

Yang shalat sambil berzakat hanya khusus untuk Imam Ali, haram orang lain melakukan hal tersebut… Adapun lafaz jamak ( orang orang ) untuk menyebut pelaku tunggal merupakan hal biasa dalam Al Quran, contoh

a. Qs. 63. Qs. Al Munaafiquun ayat 8.
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

FAKTANYA : Yang mengucapkan kalimat tersebut hanya satu orang yakni Abdullah Bin Ubay Bin Salul

b. Allah berfirman : “ Dan orang orang Yahudi berkata : ‘Tangan Allah terbelenggu’ “
FAKTANYA : Yang berkata Cuma 1 yahudi ( tunggal ) yang berkata bahwa Allah kikir / pelit

Jadi jelaslah Syi’ah Imamiah adalah ahlusunnah yang sesungguhnya !!!

ORANG YANG PALING MULIA DI SISI ALLAH

Sesungguhnya orang yang paling Mulia disisi Allah adalah yang paling bertaqwa .. (Bahan untuk Renungan)

[Saudara kita Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menetapkan bahwa seorang Muslim Fasik dijaman Rasulullah SAWW adalah lebih Mulia daripada seorang Muslim Bertaqwa diakhir zaman].

Kenapa bisa seperti itu ?, karena mereka telah menetapkan untuk mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahlus Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309) bahkan lebih jauh mereka mengatakan bahwa Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid, hlm.304).

Ketika mereka ditanya siapa Sahabat maka mereka membuta beberapa definisi diantaranya dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana dia mengatakan; “Yang benar menurut mayoritas (jumhur) adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau”(Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Atau dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang;“Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi). (Sahih Bukhari 3/1335)

 

 

Dan apa kata Rasulullah saww tentang Sahabatnya :

  1. Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)
  2. Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda : Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan berkata : wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Shahih Bukhori Hadis no.578.)
  3. Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab:Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). (Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12)adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWWtelah menentang pahaman kalian saudaraku.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Renungkanlah bukankah “merenung” sesaat itu lebih baik daripada beribadah bertahun-tahun ? , Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya , hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

FAKTA  SEJARAH :

  1. Jumlah kaum muhajirin dan anshar pada saat ayat ayat tentang pujian kepada muhajirin dan anshar turun berjumlah paling banter 313 orang muslimin  saja !
  2. Peserta perang  BADAR berjumlah 313 orang muslimin
  3. Peserta perang  UHUD berjumlah 700 orang muslimin
  4. Peserta perang  KHANDAQ berjumlah 3.000 orang muslimin
  5. Peserta ba’at dibawah pohon saat Qs. Al Fath ayat 18 turun  berjumlah 1.500 orang muslimin
  6. Peserta perang  KHAiBAR berjumlah 1.525 orang muslimin
  7. Peserta FATHUL  MAKKAH  berjumlah 10.000 orang muslimin
  8. Peserta perang  HUNAiN berjumlah 12.000 orang muslimin
  9.  Peserta perang  TABUK 30.000 berjumlah  orang muslimin
  10. Peserta  haji wada’ berjumlah 100.000 orang lebih muslimin

setelah  diusir dari Tha’if, Nabi kembali ke Makkah dalam keadaan bersedih. Pada suatu hari Nabi berdakwah diantara para peziarah dan pedagang, secara tidak terduga  beliau bertemu dengan 6 orang yang berasal dari Yastrib yang kemudian memeluk Islam (pada tahun 620 M)

Sumber  : Ibn  Hashim hal. 286 – 287

Tabari (terjemahan Zotenberg), jilid II, hal. 438

………………………………………………………………….

Permusuhan Quraisy terhadap Muhammad SAW dan kaum Muslimin semakin keras. Rasanya tak ada lagi harapan bagi Rasulullah untuk mendapat dukungan kabilah-kabilah sesudah mereka menolaknya dengan cara yang tidak baik. Rasulullah  merasa bahwa tiada seorang pun dari Quraisy yang dapat diharapkan diajak kepada kebenaran.

Meskipun beliau merasa berbesar hati karena adanya Hamzah dan Umar, dan meskipun yakin, bahwa Quraisy tidak akan terlalu membahayakan mengingat adanya pertahanan pihak keluarganya dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, tapi beliau melihat bahwa risalah Allah itu akan terhenti hanya pada suatu lingkaran pengikutnya saja. Mereka yang terdiri dari orang-orang yang masih lemah dan sedikit sekali jumlahnya, hampir-hampir saja punah atau tergoda meninggalkan agamanya kalau tidak segera datang kemenangan dan  pertolongan Allah. Hal ini berjalan cukup lama.

Apabila musim ziarah tiba, orang-orang dari segenap jazirah Arab berkumpul lagi di  Makkah, Rasululah mulai menemui kabilah-kabilah itu. Diajaknya mereka memahami kebenaran agama yang dibawanya. Tidak peduli apakah kabilah-kabilah tidak mau  menerima ajakannya atau akan mengusirnya secara kasar.

………………………………………………………………………..

Pada tahun berikutnya  6 orang ini kembali berziarah ke Makkah dengan mengajak 6 kawan yang lain sebagai utusan dari dua suku utama ( Aus dan Khazraj) .. Nah, 12 orang ini mengikrarkan Bai’at Aqabah I

duabelas orang penduduk Yatsrib Mereka bertemu dengan Nabi SAW di Aqabah. Di tempat inilah mereka menyatakan baiat atau ikrar kepada Rasulullah, yang kemudian dikenal dengan sebutan Baiat Aqabah Pertama. Mereka berikrar kepada Rasulullah untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah, baik di depan atau di belakang. Dan tidak menolak berbuat kebaikan.

Rasulullah kemudian menugaskan Mush’ab bin Umair supaya membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengajarkan Islam serta seluk-beluk hukum agama. Setelah adanya  baiat ini Islam makin tersebar di Yatsrib. Mush’ab bertugas memberikan pelajaran agama di kalangan Muslimin Aus dan Khazraj.

Utusan penduduk Madinah itu dipersilakan kembali ke negerinya. Rasulullah menyertakan seorang sahabat, Mush’ab bin Umair, untuk menyaksikan pertumbuhan Islam di Madinah, serta mengajarkan Alquran dan hukum agama kepada penduduk setempat. Dalam waktu singkat Baiat Aqabah menjadi gerakan moral untuk membersihkan penyakit masyarakat. Baiat Aqabah menjadi tonggak penting bagi pengembangan risalah Islam sebagai rahmatan lil alamin. Allah SWT berfirman, ”Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan (Alquran itu) tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82).

Dalam ayat di atas Allah mendahulukan menyebut fungsi Alquran sebagai syifa (obat) bagi penyakit rohani dan penyakit masyarakat, baru kemudian dijelaskan fungsi Alquran sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Prof Dr Mutawalli Sya’rawi, mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar, Mesir, memberi kupasan yang menarik seputar makna ayat tadi. Menurutnya, kata syifa lebih dahulu disebutkan, karena rahmat tidak akan diberikan Tuhan kalau penyakit masyarakat tidak dibereskan lebih dulu. Setelah perbuatan tercela dan kesewenang-wenangan ditinggalkan, maka Alquran dapat menjadi rahmat bagi kehidupan umat manusia.

Bai’at ‘Aqabah I (621 SM) adalah perjanjian Muhammad dengan 12 orang dari Yatsrib yang kemudian mereka memeluk Islam. Bai’at ‘Aqabah ini terjadi pada tahun kedua belas kenabiannya. Kemudian mereka berbaiat (bersumpah setia) kepada Muhammad. Isi baiat itu ada tiga perkara:

  • Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.
  • Melaksanakan apa yang Allah perintahkan.
  • Meninggalkan apa yang Allah larang.

Muhammad mengirim Mush’ab bin ‘Umair dan ‘Amr bin Ummi Maktum ke Yatsrib bersama mereka untuk mengajarkan kepada manusia perkara-perkara Agama Islam, membaca Al Qur’ansalat dan sebagainya.

Bai’at berarti perjanjian atau ikrar bagi penerima dan sanggup memikul atau melaksanakan sesuatu yang dibai’atkan. Biasanya istilah bai’at digunakan di dalam penerimaan seorang murid olehSyeikhnya untuk menerima wirid-wirid tertentu dan berpedoman terhadap bai’at sebagai suatu amanah. Akan tetapi bai’at juga digunakan di dalam cakupan yang lebih luas dan lebih jauh dalam menegakkan ajaran Islam, yang bukan hanya untuk mengamalkan wirid-wirid tertentu kepada syeikh, namun yaitu untuk menegakkan perlaksanaan syariat Islam itu sendiri .

Di dalam Risalatul Taa’lim karangan Hassan Al Banna, dikemukakann beberapa pemahaman dan pengertian tentang bai’at di dalam gerakan dakwah Islamiah. Antaranya ialah:

  • Bai’at untuk memahami Islam dengan kefahaman yang sebenar. Andai tiada kefahaman terhadap Islam maka sesuatu pekerjaan itu bukanlah merupakan ‘amal’ untuk Islam atau amal menurut cara Islam. Sebagaimana ia juga bukan merupakan suatu perjalanan yang selari dengan Islam.
  • Bai’at merupakan keikhlasan. Tanpa keikhlasan amal itu tidak akan diterima oleh Allah dan perjalanannya juga pasti sahaja tidak betul di samping terkandung pelbagai penipuan di dalam suatu perkara yang diambil.
  • Merupakan bai’at untuk beramal yang ditentukan permulaannya dan jelas kesudahannya. Iaitu yang dimulakan dengan diri dan berkesudahan dengan dominasi Islam ke atas alam. Hal ini adalah kewajipan yang sering tidak disedari orang Islam masa kini.
  • Merupakan bai’at untuk berjihad. Jihad itu menurut kefahaman Islam adalah berupa penimbang kepada keimanan.
  • Merupakan perjanjian pengorbanan bagi memperolehi sesuatu (iaitu balasan syurga).
  • Merupakan ikrar untuk taat atau patuh mengikut peringkat dan keupayaan persediaan yang dimiliki.
  • Merupakan bai’at untuk cekal dan setia pada setiap masa dan keadaan.
  • Merupakan bai’at untuk tumpuan mutlak kepada dakwah ini dan mencurahkan keikhlasan terhadapnya sahaja.
  • Merupakan bai’at untuk mengikat persaudaraan (sebagai titik untuk bergerak).
  • Merupakan bai’at untuk mempercayai (thiqah) kepimpinan dan gerakan atau jemaah.

Bai’at ‘Aqabah I (621 SM) adalah perjanjian Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam dengan 12 orang dari Yatsrib yang kemudian mereka memeluk Islam. Bai’at ‘Aqabah ini terjadi pada tahun kedua belas kenabiannya shallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian mereka berbaiat (bersumpah setia) kepada Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam. Isi baiat itu ada enam perkara:

  1. Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.
  2. Jangan mencuri.
  3. Jangan berzina.
  4. Jangan membunuh anak-anak kalian.
  5. Jangan berbohong.
  6. Jangan bermaksiat kepada-Nya.

Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam mengirim Mush’ab bin ‘Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum ke Yatsrib bersama mereka untuk mengajarkan kepada manusia perkara-perkara Agama Islam, membaca Al Qur’an, salat dan sebagainya.

Bai’at berarti perjanjian atau ikrar bagi penerima dan sanggup memikul atau melaksanakan sesuatu yang dibai’atkan. Istilah Bai’at sekarang biasanya digunakan dalam penerimaan seorang murid oleh Syeikhnya untuk menerima wirid-wirid tertentu dan berpedoman terhadap bai’at sebagai suatu amanah (digukanan oleh kelompok sempalan Islam), kata bai’at itu mengandung arti mendatangkan sesuatu yang baru dan harus dilaksanakan.

Di dalam Risalatul Taa’lim karangan Hassan Al Banna, dikemukakann beberapa pemahaman dan pengertian tentang bai’at di dalam gerakan dakwah Islamiah. Antaranya ialah:

  • Bai’at untuk memahami Islam dengan kefahaman yang sebenar. Andai tiada kefahaman terhadap Islam maka sesuatu pekerjaan itu bukanlah merupakan ‘amal’ untuk Islam atau amal menurut cara Islam. Sebagaimana ia juga bukan merupakan suatu perjalanan yang selari dengan Islam.
  • Bai’at merupakan keikhlasan. Tanpa keikhlasan amal itu tidak akan diterima oleh Allah dan perjalanannya juga pasti sahaja tidak betul di samping terkandung pelbagai penipuan di dalam suatu perkara yang diambil.
  • Merupakan bai’at untuk beramal yang ditentukan permulaannya dan jelas kesudahannya. Iaitu yang dimulakan dengan diri dan berkesudahan dengan dominasi Islam ke atas alam. Hal ini adalah kewajipan yang sering tidak disedari orang Islam masa kini.
  • Merupakan bai’at untuk berjihad. Jihad itu menurut kefahaman Islam adalah berupa penimbang kepada keimanan.
  • Merupakan perjanjian pengorbanan bagi memperolehi sesuatu (iaitu balasan syurga).
  • Merupakan ikrar untuk taat atau patuh mengikut peringkat dan keupayaan persediaan yang dimiliki.
  • Merupakan bai’at untuk cekal dan setia pada setiap masa dan keadaan.
  • Merupakan bai’at untuk tumpuan mutlak kepada dakwah ini dan mencurahkan keikhlasan terhadapnya sahaja.
  • Merupakan bai’at untuk mengikat persaudaraan (sebagai titik untuk bergerak).
  • Merupakan bai’at untuk mempercayai (thiqah) kepimpinan dan gerakan atau jemaah.
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Mumtahanah(60):12).“ Berbaitlah kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak berdusta untuk menutupi-nutupi apa yang ada di depan atau di belakangmu dan tidak akan membantah perintahku dalam hal kebaikan. Jika kamu memenuhi, pahalanya terserah kepada Allah. Jika kamu melanggar sesesuatu dari janji itu lalu dihukumdi dunia maka hukuman itu merupakan kafarat baginya.  Jika kamu melanggar sesuatu dari janji itu kemudian Allah menutupinya maka urusannya kepada Allah. Bila menghendaki, Allah akan menyiksanya atau memberi ampunan menurut kehendak-Nya”. Ubaidah bin Shamit, sebagai satu diantara 12 lelaki Anshar, mengatakan :“Kami kemudian berbait kepada Rasulullah untuk menepatinya”.Usia berbaiat ke 12 orang lelaki tersebut kembali ke Madinah dengan didampingi Mushab bin Umair yang diutus Rasulullah agar mengajarkan Al-Quran kepada penduduk Madinah. Itu sebabnya dikemudian hari Mushab dikenal dengan nama Muqri’ul ( nara sumber ) Madinah. Mushab adalah salah seorang sahabat yang memiliki dedikasi tinggi terhadap Islam. Ia rela meninggalkan kehidupan remajanya yang serba ‘wah’ demi Islam.

………………………………………………………………..

Pada tahun berikutnya  (622 M) orang orang Yastrib kembali ke Makkah membawa rombongan yang lebih banyak

untuk mengikrarkan Bai’at Aqabah  II

Mush’ab kembali ke Mekkah dengan membawa 70 orang lelaki dan 2 orang perempuan, yaitu Nasibah binti Ka’ab dan Asma binti Amr bin Addi. Mereka masuk ke Mekkah dengan menyusup di tengah-tengah rombongan kaum musyrik Madinah yang pergi haji. Pada tengah malam di  hari tasyrik, secara sembunyi-sembunyi mereka menuju ke lembah di Aqabah, lembah dimana tahun sebelumnya terjadi Baiat Aqabah I. Mereka datang untuk menemui Rasulullah dan berbaiat. Baiat ini disebut Baiat Aqabah II.

“ Aku baiat kalian untuk membelaku sebagaimana kalian membela istri-istri dan anak-anakmu: demikian Rasulullah bersabda. Kemudian Barra’ bin Ma’rur menjabat tangan Rasulullah sambil berucap : “ Ya, demi Allah yang mengutusmu sebagai nabi dengan membawa kebenaran, kami berjanji akan membelamu sebagaimana kami  membela diri kami sendiri. Baiatlah kami, wahai Rasulullah ! Demi Allah, kami adalah orang-orang yang ahli perang dan ahli senjata secara turun temurun”.

Begitulah mereka berbaiat. Bila pada Baiat I dulu sekelompok orang-orang Madinah berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka dan tidak berdusta maka pada Baiat kedua ini mereka berjanji setia untuk membela dan melindungi Rasulullah.

Tampak bahwa selama 1 tahun di Madinah itu, dengan izin Allah swt, Mushab telah berhasil mengajak penduduk kota tersebut untuk mengenal Tuhan-Nya dengan sangat baik. Begitu besar rasa cinta  mereka pada-Nya hingga dengan secara sadar mereka mau berbaiat; membela dan mencintai  Rasulullah  sebagaimana mereka membela diri dan anak istri mereka. Bahkan merekapun langsung menyatakan kesediaan mereka untuk mengangkat senjata dan menyerang Mina saat itu juga bila Rasulullah menghendaki ! Namun Rasulullah menjawab bahwa Allah belum memerintahkan untuk itu.

Hasan berkata, “ Suatu saat, pada masa Rasulullah, sekelompok orang berkata, “ Wahai Rasulullah, Demi Allah, sesungguhnya kami amat mencintai Tuhan kami”. Atas hal itu, Allah lalu menurunkan ayat 31-32 surat Ali Imran, sebagai tuntunan bagi orang yang ingin mencintai Allah, yaitu dengan mencintai utusan-Nya dan berpaling dari kekafiran”. ( HR. Ibnu Mundzir).

“ Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta`atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imran(3):31-32).

Keesokan harinya, beberapa orang Quraisy mendatangi kemah mereka. Dengan penuh kemarahan orang-orang Quraisy itu menyatakan bahwa mereka mendengar orang-orang Khahraj telah berbaiat kepada Muhammad dan berniat membawa Muhammad pergi meninggalkan Mekkah. Beruntung, tiba-tiba sejumlah orang musyrik Madinah datang dan bersumpah bahwa berita tersebut sama sekali tidak benar.

Orang-orang Quraisy baru menyadari bahwa berita tersebut benar setelah rombongan haji dari Madinah tersebut telah pergi meninggalkan lokasi. Merekapun segera mengejar dan mencari orang-orang Khahraj tadi. Mereka  akhirnya berhasil menangkap dua diantara orang Khahraj. Namun salah satunya berhasil melarikan diri hingga tinggal satu yang berhasil ditangkap dan disandera kaum Quraisy. Kemudian dengan kedua tangan diikat ke leher, ia diseret ke Mekah kembali. Beruntung ia mempunyai kenalan yang dapat memberinya hak perlindungan, sebuah kebiasaan yang telah berlaku di tanah Arab, hingga akhirnya iapun dibebaskan.

Namun di lain pihak, dengan adanya berita tersebut, orang-orang Quraisy makin gencar meningkatkan penyiksaan dan tekanan mereka terhadap kaum Muslim Mekkah. Penyiksaan demi penyiksaan, cemoohan, cacian dan hinaan terjadi setiap hari. Akibatnya banyak diantara pemeluk Islam generasi awal tersebut yang akhirnya terpaksa menyembunyikan keislaman mereka.

Dapat dibayangkan betapa sulitnya dakwah Islam berkembang. Bila pada tahap dakwah secara diam-diam yang berlangsung selama 3 tahun pengikut Islam terhitung sekitar 40 orang maka 9 tahun berikutnya, setelah dakwah terang-terangan pengikut Islam hanya mencapai 70 orang-an saja. Berarti selama 9 tahun, mati-matian  Rasulullah berdakwah, hanya bertambah 30 orang saja !

Akhirnya karena tidak tahan terhadap perlakuan orang Quraisy para sahabatpun mulai mengeluh, memohon kepada Rasulullah agar diperbolehkan berhijrah. Kemana saja, yang penting tidak di kota Mekah yang suasananya sama sekali tidak mendukung mereka untuk menjalankan ajaran dengan baik. Permintaan mereka terjawab karena tidak lama kemudian turunlah ayat yang memerintahkan agar umat Islam yang hanya segelintir itu untuk segera berhijrah.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS.Ali Imran(3):195).

“ Sesungguhnya akupun telah diberi tahu bahwa tempat kalian adalah Yatsrib. Barangsiapa ingin keluar maka hendaklah keluar ke Yatsrib”, demikian Rasulullah menanggapi permohonan para sahabat.

Para sahabatpun kemudian segera berkemas. Tidak sedikitpun barang dan harta benda yang dapat dibawa karena mereka harus meninggalkan Mekah, kota kelahiran dimana seluruh anggota berkumpul, dimana seluruh harta dan pekerjaan berada, secara sembunyi-sembunyi. Karena ketika keberangkatan mereka tercium oleh orang-orang Quraisy, mereka akan segera mengejarnya dan mengembalikan ke Mekah dengan paksa. Ini adalah yang dialami salah satunya oleh Ummu Salamah ra

Bai’at ‘Aqabah II (622 M) adalah perjanjian yang dilakukan oleh Muhammad terhadap 73 orang pria dan 2 orang wanita dari Yatsrib. Wanita itu adalah Nusaibah bintu Ka’ab dan Asma’ bintu ‘Amr bin ‘Adiy. Perjanjian ini terjadi pada tahun ketiga belas kenabian. Mush’ab bin ‘Umair kembali ikut bersamanya beserta dengan penduduk Yatsrib yang sudah terlebih dahulu masuk Islam.

Mereka menjumpai Muhammad di ‘Aqabah pada suatu malam. Muhammad datang bersama pamannya Al ‘Abbas bin ‘Abdil Muthallib. Ketika itu Al ‘Abbas masih musyrik, hanya saja ia ingin meminta jaminan keamanan bagi keponakannya Muhammad, kepada orang-orang Yatsrib itu. Ketika itu Al ‘Abbas adalah orang pertama yang angkat bicara kemudian disusul oleh Muhammad yang membacakan beberapa ayat Al Qur’an dan menyerukan tentang Islam.

Kemudian Muhammad rosululloh membaiat orang-orang Yatsrib itu . Isi baiatnya adalah:

  • Untuk mendengar dan taat, baik dalam perkara yang mereka sukai maupun yang mereka benci.
  • Untuk berinfak baik dalam keadaan sempit maupun lapang.
  • Untuk beramar ma’ruf nahi munkar.
  • Agar mereka tidak terpengaruh celaan orang-orang yang mencela di jalan Allah.
  • Agar mereka melindungi Muhammad sebagaimana mereka melindungi wanita­-wanita dan anak-anak mereka sendiri.
terdiri dari 75 orang,  73 pria dan dua wanita. Mengetahui kedatangan mereka ini, Rasulullah berniat akan mengadakan baiat lagi, tidak terbatas hanya pada seruan kepada Islam seperti selama ini, melainkan lebih jauh dari itu. Baiat ini hendaknya menjadi suatu pakta persekutuan. Dengan demikian kaum Muslimin dapat mempertahankan diri; pukulan dibalas dengan pukulan, serangan dengan serangan. Rasulullah lalu mengadakan  pertemuan rahasia dengan pemimpin-pemimpin mereka.Setelah ada kesediaan mereka, dijanjikannya pertemuan itu akan diadakan di Aqabah pada tengah malam. Peristiwa ini oleh kaum Muslimin Yatsrib tetap dirahasiakan dari kaum musyrik yang datang bersama-sama mereka. Sesampai di gunung Aqabah, mereka semua mendaki lereng-lereng gunung tersebut, kemudian menunggu kedatangan Rasul SAW.Rasulullah pun datang bersama pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, yang pada waktu itu belum memeluk Islam. Setelah masing-masing pihak menyatakan kesediaan berbaiat, mereka kemudian mengulurkan tangan dan menyatakan baiat kepada Rasulullah. Selesai baiat, Rasulullah berkata kepada mereka, “Pilihlah dua belas orang  pemimpin dari kalangan tuan-tuan yang akan menjadi penanggung jawab masyarakatnya!”Mereka lalu memilih sembilan orang dari Khazraj dan tiga orang dari Aus. Kemudian kepada pemimpin-pemimpin itu Nabi berkata, “Tuan-tuan adalah penanggung jawab   masyarakat tuan-tuan seperti pertanggung jawaban pengikut-pengikut Isa bin Maryam. Terhadap masyarakat saya, sayalah yang bertanggungjawab.”Dalam ikrar kedua ini mereka berkata, “Kami berikrar, mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di waktu bahagia dan sengsara. Kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada. Dan kami tidak takut kritik siapa pun atas jalan Allah ini.”Peristiwa  ini  selesai  pada  tengah  malam  di  celah gunung Aqabah, jauh dari masyarakat ramai,  atas  dasar  kepercayaan bahwa hanya Allah yang mengetahui keadaan mereka.Dengan adanya Baiat Aqabah ini, pintu harapan akan menang jadi terbuka di depan  Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya. Setidak-tidaknya harapan kebebasan menyebarkan agama, serta menyerang berhala-berhala dan penyembah-penyembahnya. Rasulullah meminta para sahabatnya supaya menyusul kaum Anshar  ke Yatsrib. Hanya saja, ketika meninggalkan Makkah hendaknya mereka
berpencar agar tidak menimbulkan kepanikan.Mulailah kaum Muslimin melakukan hijrah secara sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok kecil. Akan tetapi hal itu rupanya sudah diketahui oleh pihak Quraisy. Mereka segera bertindak, berusaha mengembalikan kaum Muslimin ke Makkah untuk kemudian dibujuk supaya kembali kepada kepercayaan mereka. Kalau mereka menolak, akan disiksa dan dianiaya.Berturut-turut kaum Muslimin hijrah ke Yatsrib, sedang Rasulullah tetap berada di tempatnya. Tak ada yang tahu, apakah beliau akan tetap tinggal di tempatnya atau akan hijrah juga. Apabila Rasulullah masih tinggal di Makkah dan berusaha meninggalkan tempat itu, maka pihak Quraisy masih merasa terancam oleh adanya tindakan pihak Yatsrib dalam membela Nabi SAW.Jadi tak ada jalan keluar bagi Quraisy selain membunuhya. Dengan begitu mereka lepas dari malapetaka yang terus-menerus itu. Tetapi kalau mereka membunuhnya, tentu keluarga Hasyim dan keluarga Muthalib akan menuntut balas. Maka pecahlah perang saudara di Makkah, dan suatu bencana yang sangat mereka takuti juga akan datang dari pihak Yatsrib

Setelah baiat itu, Muhammad kembali ke Makkah untuk meneruskan dakwah. Kemudian ia mendapatkan gangguan dari kaum musyrikin kepada kaum muslimin yang dirasa semakin keras. Maka Muhammad memberikan perintah kepada kaum muslimin untuk berhijrah ke Yatsrib. Baik secara sendiri-sendiri, maupun berkelompok. Mereka berhijrah dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kaum musyrikin tidak mengetahui kepindahan mereka.

Pada waktu itu, orang pertama yang berhijrah adalah Abu Salamah bin ‘Abdil Asad dan Mush’ab bin ‘Umair, serta ‘Amr bin Ummi Maktum. Kemudian disusul oleh Bilal bin Rabah Sa’ad bin Abi WaqqashAmmar bin Yasir, dan Umar bin Khatthab berhijrah. Mereka berhijrah di dalam rombongan dua puluh orang sahabat. Tersisa Muhammad, Abu Bakr‘Ali bin Abi Thalib dan sebagian sahabat.

Hijrah atau pindah dari satu kota ke kota yang lain, dengan meninggalkan sanak saudara, handaitaulan, harta benda dan pekerjaan tetap bukanlah hal mudah. Namun inilah yang dilakukan para sahabat. Karena bagi mereka kecintaan, ketaatan dan ketakwaan kepada Allah swt, Sang Khalik adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar. Karena bagi mereka Allah adalah diatas segalanya. Untuk itu dibutuhkan pengorbanan dan keberanian luar biasa.

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):207).

Sa’id bin Musayyab berkata, “ Suatu hari, Shuhaib berhijrah ke Madinah. Di perjalanan ia dikejar orang-orang kafir Quraisy. Ia kemudian turun dari tunggangannya. Dengan anak panah di tangan ia berseru, ” Wahai musyrik Mekah, Demi Allah kalian tentu mengetahui bahwa aku adalah seorang pemanah ulung. Kalian tidak akan bisa menyerangku. Maka pilihlah, kalian semua mati terbunuh atau kalian dapat memiliki semua hartaku di Mekah dengan syarat kalian tidak mengganggu hijrahku ke Madinah”. Orang-orang kafir itu memilih harta Shuhaib dan membiarkannya pergi. Setibanya di Madinah, Shuhaib menceritakan peristiwa yang menimpanya itu kepada Rasulullah. Rasul kemudian bersabda : “ Engkau telah beruntung, wahai Abi Yahya”. Tak lama kemudian turun ayat di atas. ( HR Harits bin Abi Usamah).

Namun bagi mereka yang kurang begitu kokoh keimanannya hal ini tentu saja terasa amat memberatkan. Itu sebabnya ada sebagian orang yang telah menyatakan ke-Islam-annya tapi tidak berani berhijrah. Mereka khawatir bila mereka meninggalkan tanah kelahirannya maka akan susah hidupnya. Karena bagi mereka harta dan sanak saudara adalah segalanya meski mereka sulit menjalankan ibadah. Tampaknya bisikan syaitan begitu kuat hingga mereka lupa bahwa balasan bagi mereka kelak adalah neraka. Allah swt hanya mau memaafkan orang yang tidak berhijrah karena memang mereka lemah. Seperti anak-anak, perempuan, budak dan orang yang benar-benar tidak tahu jalan menuju Madinah.

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun”. (QS.An-Nisa’(4):97-99).

Jadi hijrah sebenarnya selain pertolongan juga adalah cobaan. Dengan hijrah dapat dibedakan mana orang yang benar-benar takwa mana yang hanya bermain-main. Mana yang lebih menyukai dan mencintai Tuhannya mana yang lebih mencintai harta benda. Mana yang lebih menyukai kehidupan akhirat mana yang lebih memilih kehidupan dunia.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut(29):2).

Para sahabat adalah orang-orang yang mencintai Tuhannya, Allah swt, lebih dari apapun. Mereka yang hijrah dari Mekah karena sulit menjalankan ajaran Islam ke Madinah dinamakan kaum Muhajirin. Mereka siap berani mengambil resiko tak mempunyai sedikitpun harta dan kehilangan orang-orang yang mereka cintai asalkan Allah swt ridho terhadap mereka.

Sementara penduduk Madinah yang telah memeluk Islam dan siap menerima saudara-saudara mereka seiman yang hijrah demi mencari ridho-Nya disebut kaum Anshar.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi … …” (QS.Al-Anfal(8):72)

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain.” (HR. Muslim).

Itulah ikatan yang terjadi antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar di Madinah Mereka saling menyayangi karena Allah swt. Para sahabat sebagai pemeluk Islam tahap awal dari Mekah yang selama 12 tahun hidup tertindas dan tertekan akhirnya dapat merasakan buah ketakwaan mereka. Walaupun bukan di kota kelahiran mereka melainkan di Madinah.

Padahal penduduk Madinah sendiri belum genap 2 tahun mengenal ajaran Islam. Ini adalah skenario Allah swt. Dimulai dengan kunjungan sekelompok orang Khahraj pada tahun ke 11 kenabian kemudian disusul dengan adanya Baiat Aqabah I dan II, Allah swt berkehendak bahwa Islam bakal berkembang pesat dari Madinah. Dalam waktu relatif singkat masyarakat Madinah tiba-tiba telah siap menerima kehadiran Rasulullah Muhammad saw dan ajarannya beserta para sahabat yang telah lebih dahulu memeluk Islam. Dan dibalut dengan ikatan semangat persaudaraan yang sungguh mengejutkan pula !

Di kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai pengertian Muhajirin dan anshar. Dua istilah kata ini adalah kata yang selalu bersanding dan terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadits Rosululloh  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Asal kata dari Muhajirin adalah Haajaro – Yuhaajiru yang berarti berhijrah, maka Muhajirin mengandung makna orang-orang yang berhijrah, yaitu orang-orang yang dengan suka rela meninggalkan semua yang mereka miliki beserta tanah air tempat tinggal mereka demi menyambut seruan Alloh dan Rosul-Nya. Mereka telah berhijrah dari Makkah menuju Madinah, dan di Madinah mereka disambut oleh orang-orang yang berada di disana.

Sedangkan Anshor berasal dari kata Nashoro – Yanshuru yang berarti menolong atau pertolongan, maka kata Anshor mengandung makna orang yang menolong, yaitu mereka yang siap menerima, membela, memberi perlindungan dan bantuan kepada orang-orang yang berhijrah dengan tanpa mengharapkan imbalan selain balasan pahala dari Alloh Subhanahau wa Ta’ala.  Mereka adalah orang-orang Madinah yang telah masuk ke dalam islam dan menerima kedatangan kaum Muhajirin yang berhijrah ke tempat mereka.

Kedua kata ini bukanlah istilah yang dinamakan oleh mereka sendiri, akan tetapi keduanya adalah istilah atau penamaan yang diberikan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Kedua kelompok ini diabadikan oleh Alloh dalam Al-Qur’an dengan penghargaan dan jaminan yang tertinggi, serta ridho Alloh dan surga-Nya yang abadi. Hal ini dapat kita lihat dalam firman Alloh di surat At-Taubah ayat ke 100: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.

Ciri-ciri dari kedua golongan ini dijelaskan didalam Al-Qur’an. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman perihal kaum Muhajirin didalam Surat Al-Hasyr Ayat 8 :

“(Dan ada juga bagian dari harta ini) untuk para fakir dari golongan Muhajirin yang terusir dari kampung halaman dan harta-benda mereka, demi mencari karunia Alloh serta Ridha-Nya, dan demi menolong (agama) Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (perkataannya).”

Kaum Muhajirin ini telah mengalami siksaan yang tiada henti-hentinya dari orang-orang kafir Makkah, sehingga tak tertahankan lagi untuk terus menetap di sana. Keadaan inilah yang memaksa mereka untuk berhijrah ke Madinah. Orang-orang kafir Makkah menguasai tempat tinggal dan harta benda yang mereka tinggalkan. Maka dari itu Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyebut mereka didalam Al-Qur’an sebagai Fakir, atau dengan kata lain amat sangat miskin. Seringkali, sebagian besar dari mereka tidak memiliki apapun untuk sekedar makan sehingga biasanya mereka mengikatkan batu-batu untuk menekan perut, menahankan lapar. Banyak pula diantara mereka yang menggali tanah, membuat liang untuk duduk melindungi diri mereka sendiri dari terpaan udara dingin.

Ciri-ciri kedua dari para Muhajirin ini adalah alasan yang melatar-belakangi kepergian mereka meninggalkan kampung-halaman mereka. Mereka berhijrah bukan demi keuntungan duniawi berupa apapun. Dapat dipastikan bahwa mereka melakukannya demi mencari ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan di dunia ini, dan untuk mencari karunia-Nya di Hari Pembalasan kelak.

Ciri-ciri yang ketiga, mereka berhijrah untuk menolong Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maksud dari menolong Alloh Subhanahu wa Ta’ala disini adalah menolong dalam hal mendakwahkan Al-Islam. Mereka telah memberikan pengorbanan yang luar biasa demi mencapai dua macam tujuan tersebut.

Ciri-ciri keempat dari para Muhajirin ini adalah, mereka adalah orang yang benar dalam kata dan perbuatan. Mereka berdiri tegak diatas ikrar yang mereka ucapkan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengucapkan dua kalimat syahadat di awal mula mereka masuk Islam.

Kemudian pada ayat ke sembilan dari surat Al-Hasyr Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ciri-ciri dari kaum Anshor. Alloh Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

ciri-ciri pertama dari kaum Anshor adalah, mereka dibesarkan di kota yang dimuliakan, karena dipersiapkan sebagai tempat bernaung bagi Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya.

Ciri-ciri yang kedua, kaum Anshor tidak memandang para Muhajirin yang tak berdaya itu sebagai aral atas diri mereka. Mereka menerima para Muhajirin dengan tangan terbuka dan mencintai mereka secara tulus. Karena cinta inilah, kaum Anshor rela berbagi rata seluruh kepemilikan mereka dengan kaum Muhajirin, bahkan sampai pada perlengkapan rumah-tangga pun mereka bagikan. Lebih dari itu, orang-orang Anshor yang beristri lebih dari satu, secara sukarela segera menceraikan satu diantaranya agar dapat dinikahi oleh para muhajirin.

Ciri-ciri yang ketiga dari kaum Anshor adalah, mereka menerima dengan sepenuh-hati apapun yang diberikan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum Muhajirin. Sebagai contoh, ketika kaum Muslimin berhasil mengambil alih kendali atas harta kekayaan dari Bani Nadhir dan Bani Qainuqa’ tanpa menempuh jalan pertempuran, harta benda itu harus dibagikan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada lima kategori penerima Fa’i sebagaimana tersebut didalam Al-Qur’an. Maka beliau meminta Tsabit bin Qais untuk mengumpulkan kaum Anshor. Beliau kemudian berkhutbah di hadapan mereka dan memuji perilaku keteladanan mereka terhadap para Muhajirin. Selanjutnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dua pilihan berkaitan dengan pembagian kepemilikan harta kekayaan yang baru saja diperoleh itu, “Jika kubagikan perolehan ini kepada semua orang Anshor dan Muhajirin, maka para Muhajirin masih akan terus tinggal di rumah para Anshor. Pilihan lainnya, kubagikan perolehan ini hanya kepada para Muhajirin dan dengan demikian mereka bisa meninggalkan rumah para Anshor dan memulai hidup mandiri.” Pemimpin kaum Anshor, Sa’ad bin Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz menanggapi, “Silahkan, bagikanlah diantara kaum Muhajirin saja, dan hendaklah merekapun tetap tinggal di rumah kami.”

Ciri-ciri keempat dari kaum Anshor adalah, mereka lebih cenderung mencukupi kebutuhan kaum Muhajirin, walaupun mereka juga mempunyai kebutuhan yang sama.

Demikianlah dari pengertian mengenai istilah Muhajirin dan Anshor. Wallohu ‘alam…..

========================
Kualitas Shahabat menurut Syiah
========================
Alquran merekam kualitas keimanan kaum muslimin di sekitar nabi (red : baca sebagai shahabat), diantaranya dicantumkan dalam surat Attaubah.

Pada beberapa puluh ayat pertama, menerangkan tentang perintah untuk memutuskan perjanjian dengan kaum musyrikin quraish. Sedang ayat-ayat berikutnya menceritakan kualitas orang orang yang mengaku islam di sekitar nabi (= shahabat). Ayat 100 yang dijadikan landasan ‘udul’ nya semua shahabat oleh  ulama sunni misalnya, langsung disambung dengan ayat 101 yang menceritakan bahwa sebagian lainnya adalah munafik, serta sebelumnya ayat 97-98 menjelaskan bahwa sebagian muslim di sekitar nabi itu adalah badui yang ‘lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasulnya’, ‘amat sangat kekafirannya’, ‘merasa rugi menafkahkan zakat’ dll. Sebagian lagi diterangkan dalam ayat 102 adalah “mereka mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk”.

.

.Bahkan dalam memahami QS Attaubah:100 (dan 117) di atas dimana Allah mengatakan Ridho terhadap mereka. Maka ayat tersebut menunjuk pada SEBAGIAN (bukan SELURUHNYA) diantara Muhajirin dan Anshar yang pada peristiwa hijrah (“DI ANTARA orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”) + orang-orang muslim lainnya yang mengikuti mereka dengan baik. Orang yang tersangkut dalam peristiwa hijrah paling hanya ratusan orang (paling paling 313 orang ) dan bukan 100.000 orang  lebih seperti saat  haji wada’
.
Sebagian besar dari 100.000 masyarakat muslim yang hidup pada zaman nabi adalah muslim yang mentah dalam memahami diin-nya. Beberapa muslim bahkan mungkin berubah murtad kembali setelah meninggalnya Rasulullah SAAW seperti disinyalir dalam QS 3:144 dan 5:54.Kebanyakan dari 100.000 orang tersebut masuk islam karena menyerah dalam perang Khaibar, ataupun Fatah Mekkah serta perang-perang lain yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjelang wafatnya Rasulullah
.
Sebagian diantara orang yang menyerah (dan mengaku sebagai muslim) ini bahkan memiliki kedengkian yang besar terhadap Rasulullah dan orang orang terdekatnya karena kekalahan dalam peperangan dengan Rasulullah SAAW, karena terbunuhnya anggota keluarga mereka oleh Rasulullah dan orang-orang terdekatnya.Sebagian lagi bahkan cuman manusia badui yang memiliki kapasitas terbatas untuk mampu mengembangkan diri (seperti Islamnya sebagian besar kaum ‘sangat awam’ di Indonesia)
.
Hanya sedikit diantara 100.000 orang tersebut yang benar-benar memiliki kesempatan untuk selalu berkumpul dengan Rasulullah, sehingga Rasulullah mampu menanamkan benih keimanan di dalam hati mereka. Hanya sebagian kecil diantara yang berkumpul dengan Rasulullah ini yang mencintai Rasulullah SAAW lebih daripada mencintai dirinya sendiri. Hanya sebagian kecil lagi yang mencintai Rasulullah ini mampu mengembangkan jiwanya hingga ke tingkatan jiwa yang cukup tinggi apalagi hingga ‘bertemu diri’ sehingga menjadi ahlulbait seperti yang dijamin dalam QS 33:33, serta dalam hadist al-kisa yang menerangkan ayat di atas
.
Dan apa kata Rasulullah saww tentang Sahabatnya :

  1. Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)
  2. Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda : Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan berkata : wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Shahih Bukhori Hadis no.578.)
  3. Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab:Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). (Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12)adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWWtelah menentang pahaman kalian saudaraku.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Renungkanlah bukankah “merenung” sesaat itu lebih baik daripada beribadah bertahun-tahun ? , Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya , hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Seiring dengan permulaan penulisan dan pembukuan hadits Nabi saw., segala informasi yang berhubungan dengan para sahabat Nabi saw. menjadi salah satu materi yang sangat penting. Bahkan, para penulis dan kompilator hadits mengkhususkan bab tertentu yang memuat seluk beluk mereka, terutama para sahabat yang tergolong al-sabiqun al-awwalun, yang mereka namakan Bab Fadha’il al-Shahabah, Manaqib al-Shahabah atau redaksi sejenisnya.

Penulisan tentang para sahabat terus berkembang, tidak hanya kesaksian Rasulullah saw. kepada mereka sebagai orang-orang terbaik umat ini atau status mereka sebagai sumber berita seputar peristiwa yang meliputi kehidupan Nabi saw., tapi pandangan-pandangan mereka pun mendapat sorotan tersendiri. Penjelasan-penjelasan mereka terhadap sekian banyak nash dan terobosan-terobosan ijitihad yang mereka lakukan, terutama setelah kepergian Nabi saw, dalam berbagai bidang kehidupan, menjadi sebuah model yang terus memberi inspirasi kepada generasi-generasi berikutnya.

Karya-karya seperti Muwaththa’ Malik dan Musnad Ahmad banyak memuat pandangan dan praktik para sahabat yang lebih dikenal dalam istilah Ilmu Hadits sebagai riwayat dengan sanad al-Mauquf. Lebih jauh lagi, Ibn Jarir al-Thabari berusaha menghimpun dan mengulas dengan menonjolkan aspek-aspek fiqih yang cukup kompleks dalam riwayat-riwayat mauquf tersebut. Upaya al-Thabari dalam kitab Tahdzib al-Atsar ini sebenarnya mendapat apresiasi luar biasa dari ulama-ulama besar sekaliber al-Khathib al-Baghdadi dan al-Dzahabi, namun semuanya menyayangkan al-Thabari tidak sempat merampungkannya.

Prolog di atas hanya sekelumit dari persoalan kesejarahan yang terkait dengan periode sahabat Nabi saw, yang menegaskan sebenarnya masih banyak aspek yang tidak ditonjolkan dalam penulisan dan pengkajian sejarah periode emas ini. Buku-buku sejarah kontemporer yang mengulas para sahabat masih lebih menonjolkan aspek individual (biografi) dan perpolitikan. Padahal, konstruksi peradaban Islam yang mereka menjadi fondasi utamanya membutuhkan elaborasi lebih banyak materi yang sangat kompleks ketimbang dua aspek tersebut.

 ADIL ITU TIDAK ZALIM , KATANYA “SAHABAT ITU SEMUA ADIL” TAPI KOQ ADA YANG MASUK NERAKA?

ADIL ITU TIDAK ZALIM , TAPI “SAHABAT ADIL” ADA YANG MASUK NERAKA?


Perhatikan Hadits dibawah ini :
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ كَانَ عَلَى ثَقَلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ كِرْكِرَةُ فَمَاتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ فِي النَّارِ فَذَهَبُوايَنْظُرُونَ إِلَيْهِ فَوَجَدُوا عَبَاءَةً قَدْ غَلَّهَا
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amr dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Amr yang berkata “Pernah ada seseorang yang biasa menjaga perbekalan Nabi SAW, orang tersebut bernama Kirkirah.
Kemudian dia pun meninggal dunia, ketika itu Rasulullah SAW bersabda “Dia berada di Neraka”. Maka para sahabat pergi melihatnya dan mereka mendapatkan sebuah mantel yang diambilnya dari harta rampasan perang sebelum dibagikan [Shahih Bukhari 4/74 no 3074]
Sahabat semua adil, masuk neraka “bersama keadilannya” ….
Apakah kalian merasa lebih tau dari pada Allah dan Rasul-Nya?

Fakta ini mendesak kita semua untuk berpikir ulang dan merenung lebih dalam, bahwa masih terlalu banyak aspek kesejarahan periode para sahabat Nabi saw. yang belum tergali. Bahkan, masih banyak hikmah dan ibrah yang masih terpendam, yang jika ditemukan, akan sangat berguna sebagai penunjuk umat menuju jalan kebangkitan dan kejayaannya kembali.

Urgensi Historiografi Periode Sahabat

AKTA  SEJARAH :

  1. Jumlah kaum muhajirin dan anshar pada saat ayat ayat tentang pujian kepada muhajirin dan anshar turun berjumlah paling banter 313 orang muslimin  saja !
  2. Peserta perang  BADAR berjumlah 313 orang muslimin
  3. Peserta perang  UHUD berjumlah 700 orang muslimin
  4. Peserta perang  KHANDAQ berjumlah 3.000 orang muslimin
  5. Peserta ba’at dibawah pohon saat Qs. Al Fath ayat 18 turun  berjumlah 1.500 orang muslimin
  6. Peserta perang  KHAiBAR berjumlah 1.525 orang muslimin
  7. Peserta FATHUL  MAKKAH  berjumlah 10.000 orang muslimin
  8. Peserta perang  HUNAiN berjumlah 12.000 orang muslimin
  9.  Peserta perang  TABUK 30.000 berjumlah  orang muslimin
  10. Peserta  haji wada’ berjumlah 100.000 orang lebih muslimin

.

Salah satu ayat yang sering digunakan golongan Ahlusunnah untuk membuktikan keadilan para sahabat ialah ayat surah Al-Fath ayat 18. Mereka mendakwa seluruh sahabat yang hadir di dalam peristiwa tersebut mendapat keredhaan Ilahi. Allah (s.w.t) berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا . الفتح / 18 .

Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya- Surah Al-Fatḥ ayat 18.

Jawapan pertama: Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:

4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .

صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .

Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.

Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus  ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.

Jawapan ke-dua: Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.

Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.

Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:

Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.

Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:

… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .

تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .

Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf.

-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371

- Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224

- Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340

- Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14

- Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60

- Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77

- At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…

Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).

Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ »  tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.

Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:

. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .

Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.

Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:

… والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .

كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني

Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. – Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: www.alwarraq.com

Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.

Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.

Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.

Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.

Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ  فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ نَفْسِهِ  وَ مَنْ أَوْفىَ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.

Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.

Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman ” فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ “? Apakah firman ini sia-sia belaka?

Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:

عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى … .

Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh… – Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.

Jawapan ke-empat: Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:

1)    Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .

صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.- Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170

Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.

2)    Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:

عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .

الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و … .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.

3)    ʽAisyah:

Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:

عن قيس ، قال : قالت عائشة… إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها

سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و …

Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.

Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .

المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .

Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.

Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?

Jawapan ke-lima: Sifat Allah teridir daripada Dhātī dan Fiʽlī. Sifat Dhātī adalah sifat Azālī dan Abadī, namun sifat Fiʽlī tidak seperti ini, bahkan tertakluk pada suatu zaman seperti yang dikatakan oleh Fakhrul Rāzī:

والفرق بين هذين النوعين من الصفات وجوه . أحدها : أن صفات الذات أزلية ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثانيها : أن صفات الذات لا يمكن أن تصدق نقائضها في شيء من الأوقات ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثالثها : أن صفات الفعل أمور نسبية يعتبر في تحققها صدور الآثار عن الفاعل ، وصفات الذات ليست كذلك .

تفسير الرازي ، الرازي ، ج 4 ، ص 75 .

Dan beza di antara kedua sifat Allah (Dhāt dan Fiʽl) ialah beberapa perkara: 1. Sifat Dhāt Azalī dan abadi, dan sifat Al-Fiʽl tidak seperti itu. 2. Sesungguhnya sifat Al-Dhāt tidak mungkin menepati pertentangannya terhadap sesuatu dalam waktu-waktu (contohnya jahil bertentnagan dengan ‘ālim); dan sifat Fiʽl tidak seperti itu. 3. Sesungguhnya sifat Fiʽl adalah perkara yang berhubung dengan kadangkala terjadi dengan kemunculan dalam suatu kesan daripada Fiʽl, namun sifat Dhāt tidak seperti ini (iaitu kekal abadi).

Oleh itu ketika Allah menyatakan keredhaan atau kemurkaan-Nya, ini bermakna pengurniaan pahala dan balasan. Oleh itu keredhaan dan kemurkaan Allah adalah sifat Fiʽl, bukan sifat Dhatī. Jikalau ianya dari sifat Fiʽl maka ia tidak akan berkekalan. Mengenai perkara ini Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:

ومعنى قوله ولا يرضى أي لا يشكره لهم ولا يثيبهم عليه فعلى هذا فهي صفة فعل .

فتح الباري ، ابن حجر ، ج 11 ، ص 350 .

Makna kata-kata « ولا يرضي »  ialah tidak menghargai perbuatan yang dilakukan sekarang dan tidak diberi ganjaran. Inilah dia sifat Fiʽl – Fathul Bārī, ibnu Ḥajar, jilid 11 halaman 350

Kesimpulan:

Ayat ini tidaklah meliputi seluruh sahabat, bahkan ia hanya untuk orang beriman yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.

.....................................................................................................................

Tentang  Surah At-Taubah : 119 (Orang-orang yang Benar)


بسم الله الرحمن الرحيم

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar”

Yang dimaksud dengan “orang-orang yang benar” dalam ayat di atas adalah Imam Ali as dan para pengikut beliau. Silahkan rujuk:

1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 259, hadis ke : 350, 351, 352, 353, 355, dan 356.

2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-syafi’i, hal. 236, cetakan Al-Haidariyah; hal. 111, cetakan Al-Ghira.

3.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 421, hadis ke 923.

4.Al-Manāqib,karya Al-Kharazmi, hal. 198.

5.Nizhām Duraris Simthain, hal. 91.

6.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 414.

7.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal. 150, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 90, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.

8.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 136 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 116 dan 119, cetakan Islambul.

9.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-suyuthi, juz 3, hal. 390.

10.Al-Ghadīr,karya Al-Amini, juz 2, hal. 305.

11.Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi juz 11, hal. 41.

12.Ghāyatul Marām, bab 42, hal. 248, cetakan Iran.

13.Farā`idus Simthain, karya Al-Hamwini, juz 1, hal. 314, hadis ke 250; hal.

Firman Allah :

مُحَمَّدٌ رسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِى الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْئَهُ فَئَازَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزَّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَاللهُ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَ عَمِلُواْ الصَّ’لِحَ’تِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمَا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang besama diaadalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenagkan hati penanam-penanamnya karena allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.’”(. Al-Fath:29)

Keadilan semua sahabat dalam Qs. AL Fath ayat 29 ?? Ayat itu bercerita bahwa diantara sahabat sahabat Nabi diampuni. Perhatikan kalimat “diantara mereka”, jadi bukan semua sahabat  Nabi !

“Artinya : Sesungghnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepada mu (Muhammad) di bawah pohon”. [Al-Fath : 18]
.
Keadilan semua sahabat dalam Qs.Al Fath ayat 10 dan Qs. Al Fath ayat 18 ?? Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai !

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekali pun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr:9)

Keadilan semua sahabat dalam Qs.At Taubah ayat 117, Qs. Al Hasyr ayat 9, Qs. Al Anfal ayat 74 ??? Kaum muhajirin dan anshar pada saat ayat itu turun  yang berjumlah paling banter 313 orang diampuni dan diterima taubatnya pada saat itu, jadi taubat pada masa depan belum tentu diterima !

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenengan yang besar.” (At-Taubah:100)

Keadilan semua sahabat dalam Qs.At Taubah ayat 100 ??? Surga disediakan kepada orang orang terdahulu lagi yang pertama tama masuk islam diantara sahabat muhajirin dan anshar yang pada saat ayat itu turun berjumlah paling banter 313 orang. Jadi ada diantara jumlah tersebut masuk surga, bukan semua ke surga !!

“Artinya : Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan kalian beriman kepada Allah”. [Ali-Imran : 110].

“Artinya : Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan”. [Al-Baqarah : 143]

Keadilan semua sahabat dalam Qs.Al Baqarah ayat 143  dan Qs. Ali Imran ayat 110 ?? Umat islam adalah umat terbaik dan umat pertengahan, diantara mereka ada yang mengikuti RASUL dan ada yang berbalik ke belakang, diantara mereka ada yang beriman namun kebanyakan FASiK !!!!!!!!!!!

Firman Allah : ” Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa] dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” ( qs.al fath ayat 26 )
 Kalimat takwa ialah kalimat tauhid dan memurnikan ketaatan kepada Allah.

Firman  Allah : “orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” ( qs. at taubah ayat 20 )

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekefiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”
(QS. Al-Hujurat (49) : 7)

Keadilan semua sahabat dalam Qs. Al Hujurat ayat 7, Qs. Al Fath ayat 26, Qs At taubah ayat 20  dan Qs. Al Anfal ayat 75 ?? Sahabat yang beriman, berhijrah dan berjihad termasuk golongan Nabi pada saat itu, tetapi tidak menyiratkan makna bahwa mereka juga berlaku baik dimasa yang akan datang (bukan imunitas permanen)

Qs.8. Qs. Al Anfaal ayat 74. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.

Jawaban nya ada pada kata “wa al ladzina aawaw wa nasharu” yaitu orang orang yang benar – benar beriman dan melindungi Nabi dan memberi pertolongan kepada nya, BUKAN SELAURUH SAHABAT

Memang ada ayat yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW

Ini bermakna pengampunan hanya berlaku untuk kesalahan mereka sampai peristiwa itu saja, tidak berlaku untuk kesalahan sesudah itu… Bukan berarti ampunan berlaku untuk selamanya

Satu kata atau satu huruf saja berbeda baik fi’il madhi maupun fi’il mudhari’ maka akan merubah maksud tafsir

——————————————————————
Bandingkan dengan :

Qs. Al Ahzab ayat 33 : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sesuci sucinya ”

Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankum adalah fi’il mudhari’ ( kata kerja yang berlaku dari masa pengucapan, masa kini dan masa yang akan datang )… Artinya ayat tathir menyatakan Ahlul Bait disucikan sejak SAAT iTU SAMPAi MEREKA WAFAT ( jaminan syurga )

Kalau kalimat itu di jadikan fi’il madhi akan berbentuk innama aradallahu lidzahaba ‘ankum… Ternyata ayat tathir bukan fi’il madhi… Artinya ahlul kisa diampuni untuk selama selamanya

——————————————————————
Potensi OKNUM SAHABAT berbalik arah pasca wafat Nabi SAW diakui Al Quran dan Hadis ( misal : hadis haudh riwayat Bukhari Muslim ) … Ada kemungkinan mereka berbalik arah bila Nabi SAW wafat

Qs. Ali ‘Imran ayat 144 : “” Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[x]. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur””

x]. Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. Di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh

——————————————————————

Coba anda perhatikan ayat ayat pujian dan ridha Allah untuk PARA SAHABAT, tidak ada satupun ayat yang menyatakan pujian dan ridha Allah untuk semua sahabat… Tapi semua ayatnya menyatakan hanya sebahagian sahabat saja….

Itupun ada syarat nya yaitu mereka harus ihsan (baik) dan mereka harus ridha terhadap ketetapan Allah.. Bila ada sahabat yang tidak memenuhi syarat ini maka ia dikecualikan

Jaminan SURGA hanya diberikan jika seseorang memenuhi syarat syarat seperti tidak mendurhakai Rasulullah setelah wafatnya

——————————————————————

Perhatikan Qs. 56. Qs. Al Waaqi’ah

77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. pada kitab yang terpelihara ( Lauhul Mahfuzh ),
79. tidak menyentuhnya kecuali orang – orang yang disucikan.

Jadi jelaslah yang disucikan adalah ahlul kisa dan para Imam Ahlul Bait

——————————————————————
Hanya syi’ah Imamiah lah yang menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin dalam hal Imamah pasca wafat Nabi SAW !!!!!!!!!

Perhatikan Qs. 5. Qs. Al Maa’idah

55. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat ketika mereka berada dalam keadaan ruku’

56. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

Yang shalat sambil berzakat hanya khusus untuk Imam Ali, haram orang lain melakukan hal tersebut… Adapun lafaz jamak ( orang orang ) untuk menyebut pelaku tunggal merupakan hal biasa dalam Al Quran, contoh

a. Qs. 63. Qs. Al Munaafiquun ayat 8.
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

FAKTANYA : Yang mengucapkan kalimat tersebut hanya satu orang yakni Abdullah Bin Ubay Bin Salul

b. Allah berfirman : “ Dan orang orang Yahudi berkata : ‘Tangan Allah terbelenggu’ “
FAKTANYA : Yang berkata Cuma 1 yahudi ( tunggal ) yang berkata bahwa Allah kikir / pelit

Jadi jelaslah Syi’ah Imamiah adalah ahlusunnah yang sesungguhnya !!!

Qs. Al Anfaal  ayat  74. : “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia”

jawabannya ada di kata “wa al ladzina aawaw wa nasharu” yaitu orang orang yang benar benar beriman dan melindungi Nabi dan memberi pertolongan padanya, bukan untuk seluruh sahabat !!

Kita lihat bagaimana al-Quran membagi sahabat menjadi tiga golongan yang berbeda-beda:

“Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (Qs-Fathir: 32).

.

Jumlah Sahabat

Disebutkan bahwa para Sahabat berjumlah 124 ribu orang. Dan Sahabat yang paling terakhir meninggal dunia adalah Abu at-Thufail Amir bin Waatsilah al-Laitsi. Sebagaimana yang ditegaskan oleh imam Muslim, beliau meninggal pada tahun 100H, dan ada yang mengatakan pada tahun 110 H.

(dikutip dari Keutamaan dan Hak-Hak Para Sahabat, Abdullah bin Sholeh Al-Qushair, Cetakan Islamic Da’wah, hal 8-9)

Mukaddimah

Tak syak lagi kalau para sahabat Nabi saw memiliki posisi dan kedudukan khusus. Mereka mendengar langsung wahyu ilahi dari mulut mulia Nabi saw, menyaksikan dengan mata kepala mukjizat-mukjizat Beliau saw, mereka senantiasa memperoleh wejangan-wejangan yang mendidik serta menyimak langsung praktek dan figur agung baginda Nabi saw.

Dengan alasan inilah ditengah-tengah mereka muncul pribadi-pribadi serta figur handal yang mendapat didikan langsung tersebut yang mana dunia Islam sangat bangga dengan kehadiran mereka, namun hal yang penting dan banyak dipertanyakan serta dibincangkan bahwa apakah seluruh sahabat –tanpa terkecuali– itu sejatinya adalah orang-orang mukmin, saleh, benar, adil ataukah diantara mereka terdapat pribadi-pribadi yang tidak saleh? Jawaban atas pertanyaan ini akan kita coba analisis dalam artikel sederhana ini.

Istilah Sahabat

Sahabat berasal dari kata shahbah yang artinya pertemanan. Shahib yakni teman. Raghib mengatakan: menurut tradisi kata shahib itu digunakan untuk seseorang yang memiliki hubungan sekian banyak. (Yaa Shahibayis sijnu a arbabun mutafarriquna khairun amillahul wahidul qahhar).[1] (Mattakhadza shahibatan walaa waladan)[2] maksud dari shahibatan adalah istri. (Maa dhalla shahibukum wamaa ghawa).[3] Maksud dari shahibadalah Rasulullah saw. (Laa yastathi’una nashra anfusihim walaa hum minnaa yushhabun)[4]; Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka mendapat pertolongan dari Kami.

Ash-hab bentuk plural dari shahib yang artinya para rekan; (Ulaaika ash haabul jannah)[5]. (Faulaaika ash habunnar)[6]. Jumlah kata ini dalam Al Qur’an sekitar 77 kata dan satu kali dengan kata Ash habihim[7] dan lebih sering digandengkan dengan kata jannah (surga) dan naar, jahim (api neraka) dan terkadang juga digandengkan dengan kata seperti: ash habussabti, ash habu madyan, ash habul kahfi, ash habul yamin, ash habul qubur, ash habul fiil, dan lain-lain.[8]

Raghib Ishfahani mengatakan: shahib secara bahasa adalah hubungan yang konsisten baik dengan manusia, binatang, tempat atau pun waktu dan tidak ada perbedaan apakah hubungan bersifat fisik ataukah berupa perhatian dan inayah dan dalam kacamata tradisi dikatakan bahwa seseorang yang selalu bersama sekian lama.[9]

Dalam kamus Abjadi ditemukan: shahaba: teman. Shaahabamushaahabatan dan Shahaaban: berteman dengannya. Al Shaahib bentuk pluralnya adalah shahbunash haabshuhbatun, shahaab, shuhbaan, shihaabatun, ashaahiib adalah bentuk plural dari ash haab: teman, rekan. Al Shaahibatubentuk pluralnya adalah shaahibaatu dan shawaahib merupakan bentuk yang digunakan untuk perempuan dan juga mengandung makna istriAl Mushaahib artinya bersama dan sedarah.[10]

Definisi Sahabat Menurut Ulama Sunni

Kalangan ulama sunni terlalu berlebihan dalam mendefinisikan sahabat , misalnya saja: ‘semuanya adil, barangsiapa yang menghina sahabatku maka sama seperti orang yang menghina Rasulullah saw’. Ibnu Hajar berkata: sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi saw dalam kondisi mukmin kepada beliau dan mati dalam keadaan Islam. Dengan demikian, siapa saja yang pernah bertemu dan duduk bersama dengan Nabi saw walaupun sejenak saja, dan orang yang meriwayatkan dari Nabi saw atau pun tidak, baik yang ikut berperang bersama Nabi saw atau pun yang tidak, dan seseorang yang bertemu sekali saja dan itu pun tidak sempat duduk bersama Nabi saw atau bahkan seseorang yang tidak pernah melihat Nabi saw dikarenakan buta, maka mereka ini tetap diklasifikasikan sebagai sahabat Nabi saw.[11]

Terkait dengan maksud dari sahabat itu siapa saja, terjadi perbedaan yang cukup signifikan di kalangan ulama ahlusunnah.

Sebagian ada yang mendefinisikannya terlalu umum, dimana mereka mengatakan: siapa saja yang pernah melihat dan menyaksikan Nabi saw, ia itu termasuk sahabat Nabi saw! Ta’bir ini diungkapkan oleh Bukhari.

Demikian halnya Ahmad bin Hanbal ulama populer ahlusunnah mengatakan bahwa: “yang termasuk kelompok sahabat Nabi saw adalah seseorang yang pernah bersama dengan Nabi saw atau pernah melihat beliau saw, baik itu sebulan, sehari atau bahkan sejam!.”

Sebagiannya lagi lebih memilih definisi yang cukup terbatas dan sederhana, misalnya seperti yang dilontarkan oleh Abu Bakar Muhammad bin Thayyib:“kendati makna sahabat secara bahasa memiliki makna umum, namun sesuai realitas tradisi kata sahabat itu hanya digunakan kepada seseorang yang pernah bersama dengan Nabi saw dalam jangka waktu tertentu; bukan seseorang yang hanya sejam bersama beliau atau pernah jalan beberapa langka bersama Nabi saw, atau pernah mendengar langsung sebuah hadits dari Beliau saw”.

Sebagiannya lagi, seperti Sa’id bin al Musayyab, lebih mempersempit lagi makna dari yang disebutkan diatas, ia mengatakan: “sahabat Nabi saw hanya orang-orang yang minimalnya pernah bersama Nabi saw selama satu atau dua tahun dan pernah berperang bersama Nabi saw sekali atau dua kali”.[12]

Penulis buku Ghawali mengatakan: seseorang yang pernah bersama Nabi saw meskipun hanya sejam bisa dianggap sahabat namun menurut realita tradisi, sahabat itu adalah seseorang yang sering bersama Nabi saw”.[13]

Ibnu Abdul Barr, mengatakan:”kami menganggap bahwa seluruh sahabat itu adil”.[14]

Pada umumnya ahlusunnah mengaggap bahwa siapa saja yang pernah menukil langsung riwayat dari Nabi saw diklasifikasikan sebagai sahabat dan bahkan siapa saja yang pernah menyaksikan Nabi saw kendati sejenak, dianggap sebagai sahabat Beliau saw.[15]

Definisi Sahabat Menurut Syi’ah

Menurut keyakinan Syi’ah tentang sahabat bahwa kendati diantara mereka itu terdapat pribadi-pribadi saleh, rela berkorban, suci lagi bertakwa namun hal ini tidak menafikan adanya orang-orang munafik dan tidak benar yang mana Al Qur’an sangat jijik terhadap mereka.

Terlalu banyak bukti-bukti , baik itu dari Al Qur’an dan sejarah hidup para sahabat Nabi saw , yang ada kaitannya dengan hal ini dimana hal tersebut tak bisa dipungkiri.

Pandangan Syi’ah terhadap sahabat cukup dan bahkan sangat positif namun tidak seperti halnya yang dipahami oleh ahlusunnah. Ahmad Amin al Misri, berkata: “terkait dengan masalah sikap terhadap sahabat, ahlusunnah lebih mengandalkan perasaannya sementara syi’ah justru lebih bersikap ilmiah dan logis”.

Sahabat, sesuai dengan tuntunan bahasa dan bukti-bukti yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadits, adalah seseorang yang pernah berinteraksi langsung dengan Nabi saw, baik itu muslim, kafir, orang takwa, mukmin, fasik atau pun munafik.[16]

Kalau seseorang semasa dan pernah bersama Rasulullah saw, kendati ia bisa disebut sebagai sahabat namun tidak bisa dianggap kalau ia itu adalah orang yang beriman, takwa. Kalau sekedar pernah bersama merupakan sebuah keutamaan, lalu kenapa nasib istri Nabi Nuh as dan Nabi Luth as yang tentunya pernah bersama seorang nabi bisa me-neraka? Dimana dinyatakan dalam Al Qur’an: “lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. Kedua suami mereka itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah. (Kepada mereka) dikatakan, “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”[17]

Bukankah ayat-ayat ini dengan sangat transparan mengatakan: parameter baik dan buruknya seseorang adalah iman dan amal mereka dan bahkan posisi sebagai istri atau anak nabi, ketika memiliki amal perbuatan yang buruk, tidak akan pernah menghalanginya untuk menikmati siksaan api neraka?

Perlu kita analisis bahwa sejauh mana sikap, ketaatan, kesetiaan dan tanggungjawab sahabat dan juga seperti apa ketakwaan dan kesucian mereka itu.


[1]. Qs. Yusuf: 39.

[2]. QS. Jin: 3.

[3]. Qs. An Najm: 2.

[4]. Qs. Al Anbiya: 43.

[5]. Qs. Al Baqarah: 82

[6]. Qs. Al Baqarah: 81

[7]. Qs. Al Zariyat: 59.

[8]. Qursyi Sayid Ali Akbar, Qomus al Qur’an, jilid 4, hal. 109, Daarul Kutub Islamiyah, Tehran, 1381 Syamsi.

[9]. Abul Qasim al Husain Muhammad Raghib Ishfahani, al mufradaat fii gharibil qur’an¸ (kantor publikasi buku, kedua, 1404 H), hal. 275.

[10]. Farhangg-e Abjadi Arabi – Farsi, hal. 59.

[11]. al Ishabah 1/10.

[12]. tafsir qurthubi, jilid 8, hal. 237. Ustad Ja’far Subhani, buhuts fil milal wan nihal, jilid 1, hal. 201 yang dinukil dari maqaalatul islamiyyin, jilid 1, hal. 323.

[13]. ibid, hal. 202.

[14]. ibid, jilid 1, hal. 203, dinukil dari isti’ab fii asmail ash haab, jilid 1, hal. 2.

[15]. terkait dengan hal ini anda dapat merujuk kepada buku-buku berikut ini: 1) Muhammad wa shahabahu, karya Khalil Abdul Karim. 2). Tamizus Shahabah. 3). Al Ishabah. 4). Asadul Ghabah fi ma’rifatis shahabah.

[16]. Sultanul wa’izhin syirazi, Syabhay-e pesyavar, (Daarul kutub Islamiyyin), hal. 784.

[17]. Qs. At Tahrim: 10.

……………………

Apakah Seluruh Sahabat Nabi saw itu Adil?

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:
بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى.

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:
لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:
اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

RUJUKAN:
[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.
[2]Shahih Bukhari, 8/150.
[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.
[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455
.
wahai para pembaca….

Qs. At Taubah ayat  100. : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara  golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”

Tafsir Qs. At taubah 100: Assabiqul awwaluna min al muhajiriina wa al anshar : kata min pada ayat ini bermakna : “diantara / sebagian dari “ … BUKAN SEMUA MUHAJiRiN DAN ANSHAR dijamin !! Contoh penggunaan kata Min ini ada di ayat lain yaitu Qs. 2 ayat 8 ( Wa min an Naasi man yaquuluu aamannaa..” artinya sebagian diantara manusia ada yang berkata “

Kita lihat bagaimana al-Quran membagi sahabat menjadi tiga golongan yang berbeda-beda:

“Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (Qs-Fathir: 32).

Jika kita cermati surat At-taubah ayat 100 itu, sebenarnya terkait dengan assabiquuna al awwaluun dan itu bukan lah semua kaum muhajirin dan anshar tetapi sebagian kaum muhajirin karena kalimat “min” (litab’idz) menunjukkan ba’dzi bukanlah kulli.

Orang-orang yang Allah Ridha kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah itu adalah orang-orang yang diterangkan secara khusus bukan secara umum, yakni sebagian (min) kaum muhajirin dan kaum anshar dan juga yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga tidak bisa diterima jikalau ayat tersebut mengandung arti seluruh kaum muhajirin dan anshar (seluruh shahabat)…

Dalam ayat ini, Allah SWT tidak hanya mengatakan tentang keridhoannya dengan golongan dari orang–orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam diantara orang Muhajirin dan Anshor tetapi Allah juga mengatakan akan keridhoannya dengan orang–orang yang mengikuti jalan mereka baik dalam keimanan mereka, perbuatan mereka dan metode mereka sebagai konsekuensi atas amal sholeh mereka maka Allah menjanjikan kepada 2 golongan tersebut (Golongan shahabat dan orang–orang yang mengikutinya) yaitu mereka akan mewarisi surga..

mengenai sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah.Al-Mughirah bin Syu’bah tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah seorang shahabat Nabi

Tolong mas jelaskan kontradiksi ini berdasarkan hadits berikut; Dari Ziyad bin Alaqah dari Pamannya bahwa Mughirah bin Syu’bah telah menghina Ali bin Abi Thalib kemudian Zaid bin Arqam berdiri dan berkata ”Hai Mughirah bukankah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW melarang untuk menghina orang yang sudah mati jadi mengapa kamu menghina Ali setelah kematiannya”.(Hadis Riwayat Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain juz 1 hal 541 hadis no 1419 )

Syi’ah  Tidak  Mengkafirkan  Para  Sahabat  Nabi…. Murtad  artinya  berbalik  kebelakang  tidak  mematuhi  wasiat  imamah Ali,  jadi bukan  keluar  dari  Islam….

Al-Qur’an juga menyematkan atribut dan sifat-sifat negatif terhadap sebagian kaum muslimin yang sezaman dengan Nabiullah Muhammad saww. Al-Qur’an menginformasikan kepada kita ada dari mereka yang sezaman dengan Nabi sebagai orang-orang munafik, yang keterlaluan dalam kemunafikannya (Qs. At-Taubah: 101), berpenyakit dalam hatinya, tidak memiliki keteguhan iman, dan berprsangka jahiliyah terhadap Allah swt (Qs. Ali-Imran: 154), sangat enggan berjihad (Qs. An-Nisa’: 71-72 dan At-Taubah ayat 38), melakukan kekacauan dalam barisan (Qs. At-Taubah: 47), lari tunggang langgang ketika berhadapan dengan musuh (Qs. Ali-Imran: 153 dan At-Taubah : 25), bahkan sebagian mereka lebih memilih perdagangan dan permainan daripada mendengarkan Nabiullah Muhammad saww berkhutbah, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (Qs. Al-Jumu’ah: 11).

Kritik Terhadap Keadilan Semua Sahabat

Al Quran dan Keadilan Para Sahabat

Kritik pertama terhadap anggapan bahwa semua sahabat adalah adil berdasarkan ayat ayat AlQur’an  seperti yang digambarkan dalam surat At Taubah berikut:

“Orang orang Arab paling keras Dalam kekafiran dan kemunafikan, Dan paling cenderung mengabaikan Aturan aturan yang Allah turunkan atas RasulNya, Padahal Allah Mahatahu, Mahabijaksana.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 97). atau:

“Sungguh mereka telah mengusahakan keonaran sebelumnya, Dan memutar balik persoalan bagimu, Sampai datang kemenangan, Dan terbukti kebenaran agama Allah, Meskipun mereka tiada suka.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.) atau:

Dan di antara orang Arab, sekitarmu, Ada orang munafik, Demikian pula di antara orang

Madinah, Mereka berkeras dalam kemunafikan, Kau tidak mengetahui mereka, (Tapi) Kami mengenalnya… ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.)

Mengenai istilah munafik Bukhari meriwayat dari Sulaiman Abu Rabi dari Ismail bin Jafar dari Nafi bin Malik dari ayahnya dari Abu Hurairah yang mendengar dari Rasul yang bersabda: “Tanda tanda  dari munafik adalah: Bila berbicara, ia berbohong. Bila berjanji, tidak ia tepati. Bila memegang amanat ia akan khianati.”

Pepatah lama ‘Arab menggambarkan munafik sebagai orang yang mencium tangan yang tidak dapat ia gigit. Dan karena para istri Rasul termasuk dalam kategori Sahabat, maka dapat dimasukkan ayat ayat  dalam surat Tahrim yang turun berhubungan dengan ummul muminin ‘A’isyah dan Hafshah, dan meminta agar mereka bertobat.

Hadis dan Keadilan Para Sahabat

Bukhari

Bukhari ( Bukhari, Shahih, jilid 4, Bab alHaudh [alHaudh, nama Telaga di Surga], akhir Bab arRuqab, hlm. 94. )  meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda: Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: “Kemana?” Ia menjawab ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab: “Mereka berbalik  setelah engkau wafat.”

“Halumma”, logat orang Hijaz, kata panggil untuk lelaki atau perempuan, tunggal, dua orang maupun jamak. Dalam kalimat ini yang dipanggil adalah serombongan orang, ‘zumrah’… irtaddu (   lihat  Al Qur’an 12:96; 2:217.)

Di bagian lain: Kemudian muncullah serombongan orang yang kukenal dan seorang lelaki muncul pula antara diriku dan mereka. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: ‘Kemana? “Ia menjawab: ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka? “Lelaki itu menjawab: ‘Mereka telah berbalik setelah engkau wafat”. Dan aku tidak melihat keikhlasan pada wajah mereka, seperti gerombolan unta tanpa gembala.

Dan yang berasal dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda:

“Tatkala berada di Al Haudh, aku tiba tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku ( yaruddu ‘alayya.) ,

yang mengikuti selain diriku. Aku berkata: “Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?” Dan terdengar suara seseorang: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu ( Ma barihu yarji’una ‘ala a’ qabihim )

Dan tatakala membicarakan hadis ini Ibnu Abi Mulaikah berkata:

“Allahumma, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan ingkar dan merusak agama kami”.

Dari bab yang sama yang berasal dari Said bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda: Di AlHaudh’ sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi! Mereka adalah sahabatku!”.

Dan mendapat jawaban: “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!”

Dan di bagian lain bab tersebut, dari Sahl bin Sa’d yang berkata, Nabi bersabda: Saya mendahului kamu di ‘AlHaudh’, barangsiapa meliwatiku akan minum dan setelah itu tidak akan pernah haus selamanya, dan beberapa kaum yang kukenal dan mereka juga mengenalku, berbalik dariku, kemudian aku dan mereka terpisah.

Abu Hazm berkata: “Nu’man bin Abi’ Iyasy memperdengarkannya kepadaku dan menanyakan apakah aku mendengar demikian dari Sahl?’ Aku membenarkan. Ia melanjutkan: ‘Aku bersaksi bahwa menurut Abi Said Al Khudri kata kata tersebut punya kelanjutan:

Dan aku (Nabi) berkata: ‘Mereka itu adalah dari diriku’. Dan kedengaran jawaban: ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu?’ Dan aku berkata: ‘Binasalah mereka yang berobah sesudahku.’

Lagi dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasul Allah saw yang bersabda:

Telah berbalik di hari kiamat serombongan sahabatku yang memisahkan diri di AlHaudh

dan aku bertanya: “Ya Rabbi, sahabatku,’ “Dan Allah menjawab: ‘Tiada engkau tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik dan menjadi ingkar.’

Lagi, yang berasal dari ‘Abdullah dari Nabi masih di bab yang sama: Kemudian mereka dipisahkan dariku, dan aku berseru: “Ya Rabbi, sahabatku!” Dan dijawab: “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu!”. Bukhari melanjutkan: “Kata kata serupa juga diriwayatkan ‘Ashim yang berasal dari Abi Wa’il. Dan Hushain juga meriwayatkan serupa yang berasal dari Abi Wa’il dari Hudzaifah dari Nabi.

Di bab lain, tatkala membicarakan Perang Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al’

Ala’ bin Musayyib dari ayahnya ( Bukhari, Shahih,jilid 3, hlm. 30 dalam bab Ghaswah Hudaibiyah.) yang berkata: Aku bertemu alBarra’ bin ‘Azib dan aku berseru: ‘Selamat bagi Anda, Anda beruntung jadi sahabat Nabi dan Anda telah membaiat Rasul di bawah pohon, ‘bai’ah tahta syajarah!’. Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat.!” Dan dalam bab lain Bukhari meriwayatkan yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw: (Bukhari,Shahih, jilid 2, hlm. 154, bab yang menerangkan ayat “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayanganNya” (QS 4:125) dalam Kitab Bad’ul Khalq )

‘Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri (Golongan kiri, lihat QS 56:41.) dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban dengan kata kata: ‘Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.”

Muslim

“Sebagian orang yang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga AlHaudh, yaitu tatkala dengan tiba tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar benar  akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar jawaban: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lalukan sesudahmu.” (Muslim, Shahih, Kitab Fadhail, hadits 40. Lihat juga Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 453, jilid 2, hlm. 28 jilid 5, hlm. 48. )

Pandangan bahwa seluruh sahabat adil adalah tak sesuai dengan petunjuk AlQuran, bertentangan dengan ayat AlQuran…. Secara faktual dan kalau yang dimaksud dengan  pengertian sahabat adalah setiap orang yang bertemu/bergaul dengan  Nabi saw baik sesaat maupun lama, maka Abu Bakar, Umar dan Usman adalah sahabat Nabi saw. Tapi apabila mengacu kepada pengelompokan Al-Quran spt yang sudah saya kemukakan diatas maka pertanyaannya kedalam kelompok mana Abu Bakar, Umar dan Usman harus dimasukkan ? Kelompok I atau II ?

AlQuran sendiri mengelompokkan para sahabat sesuai tingkat keimanannya sbb :

Kelompok 1 itulah yang kami maksud sahabat :

1. As-Sabiqun Al-Awwalun, yaitu  sebagian  diantara orang  orang  yang paling awal masuk Islam dari Muhajirin dan Anshar. (QS At-Taubah 100)… yang dipuji bersyarat, tidak       berlaku umum

2. Al-Mubayi’un Tahta Asy-Syajarah, yaitu   sebagian  diantara  orang orang  yang berbaiat di bawah pohon (QS Al-Fath 18)…. yang dipuji bersyarat, tidak  berlaku umum

3. sebagian  diantara  Ash- Habul Fath (QS Al-Fath 29), QS. al-Mujadilah (58) : 22,  Qs. Al-     Muhajirin (QS Al-Hasyr  9-10 ), QS 53:2  yang  dipuji  bersyarat.. Tidak  berlaku umum       karena mana mungkin ’sahabat  sahabat ′ saling berbunuhan atau bermusuhan, kan mereka      sedang ’saling berkasih sayang’ seperti firman Allah dlm surah al fath:29′

Jika saya membenci sebagian para sahabat, karena tingkah lakunya memang pantas di benci.. Saya pun mencintai sahabat yang setia kepada nabinya seperti Abu dzar, Salman, Ammar bin Yasir, Miqdad, Muhamamad bin Abu Bakar karena memang mereka pantas dicintai. Mereka lah syiah Ali yang telah dijanjikan surga… sahabat besar inilah yang paling setia membela Imam Ali hingga wafatnya.

Kelompok II dibagi menjadi :

1. Al-Muwallun ammal Kuffar, yaitu kelompok sahabat yang lari/mundur dari peperangan      (tawalli ‘anil-jihad). Ini termasuk dosa besar. (QS Al-Anfal 15-16)

2.  Orang Orang Munafik Yang Makruf (QS Al-Munafiqun 1)
3. Orang Orang Munafik Yang Tersembunyi (QS At-Taubah 101). . Orang orang  munafik dimadinah (yang pastinya ini  ada  tercakup  orang  anshar  )
4. Muradhal Qulub, yaitu kelompok sahabat yang mengikuti jejak orang Orang munafik dalam hal spiritual dan sifat sifat  lemahnya iman kpd Allah SWT dan Rasul-Nya (QS Al-Ahzab 12) 5.

As_Samma’un , yaitu kelompok sahabat yang hatinya bagaikan bulu yang tertiup angin.(QS      At-         Taubah 45-47)
6. Mencampur-baurkan Amal Saleh dengan Selainnya (QS At-Taubah 102)

7. Orang Orang Yang Nyaris Murtad (QS Ali Imran 154)
8. Al Fasiq (QS Al-Hujurat 6)

9. Al-Muslimun Bukan Al-Mukminun, yaitu kelompok sahabat yang iman mereka belum masuk dalam hatinya. (QS Al-Hujurat 14).

10.  Al-Muallafatu Qulubuhum (QS At-Taubah 60)

11. Thalhah  mengancam  mau  menikahi   isteri  isteri  Nabi  SAW  lalu  turunlah  ayat  “….Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. al Ahzâb[33];53)

12. Qs. Az-Zukhruf: 78-80

Al-Baqarah: 159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati

Setelah mengelompokkan para sahabat tsb. Al-Quran menutup dengan pernyataan yang tegas :”Maka apakah orang yang beriman sama seperti orang fasik ? MEREKA TIDAK SAMA.” (QS As-Sajadah 18)… ketidakpantasan menganggap semua sahabat adil.. Tolong di jawab, apakah Nabi SAW. pernah melaknat sebagian sahabatnya ?… Sejarah juga telah membukti bahwa Ali bin Abi Thalib terlaknat disetiap mimbar jum’at selama 80 tahun (-/+)atas perintahnya. padahal baginda nabi begitu banyak menyampaikan utamaan Ali bin Abi Thalib..Apakah perintah pelaknatan ini bermaksud memuliakan Ali bin Abi Thalib …? Siapa yg memerintahkan ‘pelaknatan’ terhadap Amirul Mukminin Ali as?

‘Kutukan’  terhadap Imam Ali dalam khotbah khotbah Jum’at selama lebih dari delapan puluh tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikutnya, hampir menghilangkan sama sekali buah pikiran ‘Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian dikenal sebagai Ahlus Sunnah.

Harapan kita pada kaum Sunni, jangan lagi menutup-nutupi kenyataaan sejarah demi mempercantik wajah mazhabnya dan berbohong untuk memperjelek wajah mazhab lain. Zaman sekarang informasi sudah sangat mudah didapat, jadi makin banyak kalian menulis dusta tentang Syiah maka makin membuat orang lari dari mazhab Sunni lalu bergabung dengan Syiah. Ini adalah Fakta…. Amalkan kitab Sahih Muslim dengan konsisten, didalamnya tetulis bahwa umat tidak akan tersesat bila berpedoman pada Kitabullah dan Ahlulbait.
Dan saya temukan hampir semua argumen yang dibangun oleh Syiah ada dan sahih menurut hadis riwayat Muslim juga riwayat Bukhari.. lihat berapa banyak SUNI MENGAMBIL RIWAYAT DARI AHLUL BAIT

Konon begitu tulus cinta sebagian Ahlusunnah pada Ahlulbait sampai sampai membunuh Cucu cucu Nabi yang suci pun dianggap Ijtihad dan dapat pahala. Bahkan pembunuhnya pun dianggap sebagai orang yang mendapat petunjuk, dan merampas kekhalifahan dari Imam Hasan pun dianggap sah-sah saja.

IMAM HASAN DAN IMAM HUSAIN SAJA YANG SUDAH TERJAMIN KESUCIANNYA OLEH AL-QUR’AN BISA DIBUNUH DENGAN KEJI TANPA PERASAAN. YANG BUNUH NGAKU PULA SEBAGAI KHALIFAH ISLAM (koq bisa, ya??)

Yang paling bisa kita lakukan khanyalah setiap saat bersalawat kepada mereka (Ahlulbait) dalam shalat dengan konsisten dan mengambil ajaran dari mereka walaupun banyak ajaran mereka telah dimusnahkan oleh “konon” Khalifah Islam.

Yang pasti Ahlusunnah telah meninggalakan ajaran mereka, buktinya coba periksa sendiri (sebelum anda menyuruh orang lain belajar) dalam kitab standar Ahlusunnah, ajaran agama dan riwayat hadis yang bersumber dari orang orang suci (Imam Hasan dan Husain) tidak ada, tapi ajaran agama dari musuh mereka yaitu kaum munafikun justru kalian anggap sunnah Nabi.

Yang bilang membunuh cucu Nabi adalah ijtihad adalah Ulama anda IBNU TAIMIYYAH dan IBNU HAJAR AL-HAITSAMI dalam Kitab Syarah Tuhfatul Muhtaj.. Ibnu Hajar al-Haitsami juga mengatakan demikian, silahkan anda baca sendiri di kitab Syarah Tuhfatul Muhtaj ilaa Adillatil Minhaj.

IMAM HASAN AS. TERBUNUH OLEH RACUN JA’DAH BINTI AL-ASY’AT KARENA PERINTAH KHALIFAH MUAWIYYAH BIN ABI SUFYAN DENGAN IMING2 100.000 DINAR DAN AKAN DIKAWINKAN DENGAN ANAKNYA (YAZID BIN MUAWIYAH). Kemudian wanita itu mendatangi Muawiyah menagih janjinya, Muawiyah hanya membayar 100.000 Dinar tapi menolak untuk menikahkannya. Dan  IMAM HUSAIN TERBUNUH DI KARBALA OLEH BALA TENTARA YAZID BIN MUAWIYAH YANG DIPIMPIN OLEH IBNU ZIYAD. (Begitulah kesaksian kitab Ulama anda seperti; Tarikh Al-Balazzuri, Tabaqat Ibnu Sa’at, Tarikh Ibnu Atsir, dan beberapa kitab lainnya)

Berapakah jumlah kaum Muhajirin dan Anshar saat  Qs.9. Qs. At Taubah ayat 117 dan Qs. 9. Qs. At Taubah ayat 100  turun  ???

membuka  misteri yang hilang !

versi sunni :

Ukhuwah Imaniyyah Muhajirin dan Anshar

Secara umum, Islam menyatakan seluruh kaum muslimin adalah  bersaudara sebagaimana disebutkan dalam. ftrman Allah surat al Hujurat/49 ayat 10, yang artinya: Sesungguhnya orang- orang mu’min adalah bersaudara. Konsekwensi dari persaudaraan itu, maka islam mewajibkan kepada umatnya untuk saling tolong-menolong dalam al-haq. Namun yang menjadi fokus pembicaraan kita kali ini bukan persaudaraan yang bersifat umum ini, tetapi persaudaraan yang bersifat khusus antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar.

Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang dideklarasikan Rasulullah saw memiliki konsekwensi lebih khusus bila dibandingkan dengan persaudaraan yang bersifat umum. Sebagaimana diketahui, saat kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah tidak membawa seluruh harta. Sebagian besar harta mereka ditinggal di Makkah, padahal mereka akan menetap di Madinah. Ini jelas menjadi problem bagi mereka di tempat yang baru. Terlebih lagi, kondisi Madinah yang subur sangat berbeda dengan kondisi Makkah yang gersang.

Keahlian mereka berdagang di Makkah berbeda dengan mayoritas penduduk Madinah yang bertani. Tak pelak, perbedaan kebiasaan ini menimbulkan permasalahan baru bagi kaum Muhajirin, baik menyangkut ekonomi, sosial kemasyarakatan, dan juga kesehatan.Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sementara itu, pada saat yang sama mencari penghidupan, padahal kaum Muhajirin tidak memiliki modal.

Demikian problem yang dihadapi kaum Muhajirin di daerah baru.
Melihat kondisi kaum Muhajirin, dengan landasan kekuatan persaudaraan, maka kaum Anshar tak membiarkan saudaranya dalam kesusahan. Kaum Anshar dengan pengorbanannya secara total dan sepenuhhatimembantu mengentaskan kesusahan yang dihadapi kaum muhajirin.

Pengorbanan kaum Anshar yang mengagumkan ini diabadikan di dalam Al-Qur’an, surat al-Hasyr/ 59 ayat 9, yang artinya: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa-vang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin);danmereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). 

Berkaitan dengan ayat di atas, terdapat sebuah kisah sangat masyhur yang melatarbelakangi turunnya ayat 9 surat al-Hasyr. Abu Hurairah ra menceritakan: Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah saw (dalam keadaan lapar), lalu beliau mengirim utusan ke para istri beliau .Para istri Rasulullah saw menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah saw bersabda:”Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru: “Saya,” lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah!” istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”.

Orang Anshar itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah saw, Beliau bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’ajjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah Ta’alaa menurunkan ayat Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung .Qs. Al-Hasyr/59 ayat 9. (HR Imam Bukhari).

Bagaimanapun pengorbanan dan keikhlasan kaum Anshar mambantu saudaranya, namun permasalahan kaum Muhajirin ini tetap harus mendapatkan penyelesaian, agar mereka tidak merasa sebagai benalu bagi kaum Anshar. Disinilah tampak nyata pandangan Rasulullah saw yang cerdas dan bijaksana. Beliau kemudian mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Peristiwa ini, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat terjadi pada tahun pertama hijriyah: Tempat deklarasi persudaraan ini – sebagian ulama mengatakan- di rumah Anas bin Malik,’ dan sebagian yang lain mengatakan di masjid.Rasulullahr mempersaudarakan mereka dua dua, satu dari Anshar dan satu dari Muhajirin.

Ibnu Sa’ad dengan sanad dari syaikhnya, al-Waqidi menyebutkan, ketika Rasulullah saw tiba di Madinah,beliau mempersaudarakan antara sebagian kaum Muhajirin dengan sebagian lainnya, dan mempersaudarakan antara kaum Anshar dengan kaum Muhajirin.Rasulullah saw mempersaudarakan mereka dalam al-haq, agar saling menolong, saling mewarisi setelah (saudaranya) wafat.

Saat deklarasi itu, jumlah mereka 90 orang, terdiri dari 45 kaum Anshar dan 45 kaum Muhajirin. Ada juga yang mengatakan 100, masing-masing 50 orang.

=================================================

versi  syi’ah :

sejarah mencatat hanya sekitar 85 orang warga setempat (anshar),  dan 54 muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah pada saat ayat tersebut turun …

Sebagian lain belum hijrah ke Madinah  karena  dikirim  ke  Habasyah oleh  Nabi SAW, mereka tiba di Madinah 7 tahun kemudian  !

Diperkirakan jumlah Muhajirin dan Anshar  sekitar 139 orang sampai 313  orang !

Ingat PESERTA  PERANG  BADAR  cuma  313  orang  saja !

Qs. 9. Qs. At Taubah ayat 100 : “”Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara / sebagian dari kaum muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar””

“”Assaabiqunal Awwaluna min Al muhaajiriina wa al anshar”” artinya Orang orang yang terdahulu ( masuk Islam ) diantara / sebagian dari kaum muhajirin dan Anshar

Kata ‘min’ pada ayat tersebut bermakna “diantara / sebagian dari “”, JELAS BUKAN SEMUA !!!

Ayat itu sangat jelas menyatakan “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara / sebagian dari kaum muhajirin dan anshar … JADi BUKAN UNTUK SEMUA DARi MEREKA

Satu kata atau satu huruf saja maka akan merubah maksud tafsir.. Memang ada ayat yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW

——————————————————————
Bandingkan dengan :

Qs. Al Ahzab ayat 33 : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sesuci sucinya ”

Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankum adalah fi’il mudhari’ ( kata kerja yang berlaku dari masa pengucapan, masa kini dan masa yang akan datang )… Artinya ayat tathir menyatakan Ahlul Bait disucikan sejak SAAT iTU SAMPAi MEREKA WAFAT ( jaminan syurga )

Kalau kalimat itu di jadikan fi’il madhi akan berbentuk innama aradallahu lidzahaba ‘ankum… Ternyata ayat tathir bukan fi’il madhi… Artinya ahlul kisa diampuni untuk selama selamanya

——————————————————————
Potensi OKNUM SAHABAT berbalik arah pasca wafat Nabi SAW diakui Al Quran dan Hadis ( misal : hadis haudh riwayat Bukhari Muslim ) … Ada kemungkinan mereka berbalik arah bila Nabi SAW wafat

Qs. Ali ‘Imran ayat 144 : “” Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[x]. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur””

x]. Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. Di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh

——————————————————————
Coba anda perhatikan ayat ayat pujian dan ridha Allah untuk PARA SAHABAT, tidak ada satupun ayat yang menyatakan pujian dan ridha Allah untuk semua sahabat… Tapi semua ayatnya menyatakan hanya sebahagian sahabat saja….

Itupun ada syarat nya yaitu mereka harus ihsan (baik) dan mereka harus ridha terhadap ketetapan Allah.. Bila ada sahabat yang tidak memenuhi syarat ini maka ia dikecualikan

Jaminan SURGA hanya diberikan jika seseorang memenuhi syarat syarat seperti tidak mendurhakai Rasulullah setelah wafatnya

——————————————————————

Perhatikan Qs. 56. Qs. Al Waaqi’ah

77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. pada kitab yang terpelihara ( Lauhul Mahfuzh ),
79. tidak menyentuhnya kecuali orang – orang yang disucikan.

Jadi jelaslah yang disucikan adalah ahlul kisa dan para Imam Ahlul Bait

——————————————————————
Hanya syi’ah Imamiah lah yang menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin dalam hal Imamah pasca wafat Nabi SAW !!!!!!!!!

Perhatikan Qs. 5. Qs. Al Maa’idah

55. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat ketika mereka berada dalam keadaan ruku’

56. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

Yang shalat sambil berzakat hanya khusus untuk Imam Ali, haram orang lain melakukan hal tersebut… Adapun lafaz jamak ( orang orang ) untuk menyebut pelaku tunggal merupakan hal biasa dalam Al Quran, contoh

a. Qs. 63. Qs. Al Munaafiquun ayat 8.
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

FAKTANYA : Yang mengucapkan kalimat tersebut hanya satu orang yakni Abdullah Bin Ubay Bin Salul

b. Allah berfirman : “ Dan orang orang Yahudi berkata : ‘Tangan Allah terbelenggu’ “
FAKTANYA : Yang berkata Cuma 1 yahudi ( tunggal ) yang berkata bahwa Allah kikir / pelit

Jadi jelaslah Syi’ah Imamiah adalah ahlusunnah yang sesungguhnya !!!

Qs.9. Qs. At Taubah ayat 117.: “” Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka””

Memang ada ayat yang menyatakan keutamaan sahabat secara umum tetapi bukan berarti itu berlaku untuk seluruh sahabat, melainkan untuk sahabat yang tidak berbalik arah setelah wafat Nabi SAW

Allah menerima taubat orang orang muhajirin dan Anshar yang hampir berpaling tetapi belum berpaling… Allah belum tentu menerima taubat orang orang yang berpaling setelah wafat Nabi SAW dan orang yang menentang Nabi diakhir hayat beliau

Ini bermakna pengampunan hanya berlaku untuk kesalahan mereka dalam masa kesulitan saja, tidak berlaku untuk kesalahan sesudah itu

Bukan berarti ampunan berlaku untuk selamanya

Satu kata atau satu huruf saja berbeda baik fi’il madhi maupun fi’il mudhari’ maka akan merubah maksud tafsir

——————————————————————
Bandingkan dengan :

Qs. Al Ahzab ayat 33 : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sesuci sucinya ”

Innama yuridullahu li yudzhiba ‘ankum adalah fi’il mudhari’ ( kata kerja yang berlaku dari masa pengucapan, masa kini dan masa yang akan datang )… Artinya ayat tathir menyatakan Ahlul Bait disucikan sejak SAAT iTU SAMPAi MEREKA WAFAT ( jaminan syurga )

Kalau kalimat itu di jadikan fi’il madhi akan berbentuk innama aradallahu lidzahaba ‘ankum… Ternyata ayat tathir bukan fi’il madhi… Artinya ahlul kisa diampuni untuk selama selamanya

——————————————————————
Potensi OKNUM SAHABAT berbalik arah pasca wafat Nabi SAW diakui Al Quran dan Hadis ( misal : hadis haudh riwayat Bukhari Muslim ) … Ada kemungkinan mereka berbalik arah bila Nabi SAW wafat

Qs. Ali ‘Imran ayat 144 : “” Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[x]. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur””

x]. Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. Di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh

——————————————————————
Coba anda perhatikan ayat ayat pujian dan ridha Allah untuk PARA SAHABAT, tidak ada satupun ayat yang menyatakan pujian dan ridha Allah untuk semua sahabat… Tapi semua ayatnya menyatakan hanya sebahagian sahabat saja….

Itupun ada syarat nya yaitu mereka harus ihsan (baik) dan mereka harus ridha terhadap ketetapan Allah.. Bila ada sahabat yang tidak memenuhi syarat ini maka ia dikecualikan

Jaminan SURGA hanya diberikan jika seseorang memenuhi syarat syarat seperti tidak mendurhakai Rasulullah setelah wafatnya

——————————————————————

Perhatikan Qs. 56. Qs. Al Waaqi’ah

77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. pada kitab yang terpelihara ( Lauhul Mahfuzh ),
79. tidak menyentuhnya kecuali orang – orang yang disucikan.

Jadi jelaslah yang disucikan adalah ahlul kisa dan para Imam Ahlul Bait

——————————————————————
Hanya syi’ah Imamiah lah yang menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin dalam hal Imamah pasca wafat Nabi SAW !!!!!!!!!

Perhatikan Qs. 5. Qs. Al Maa’idah

55. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat ketika mereka berada dalam keadaan ruku’

56. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.

Yang shalat sambil berzakat hanya khusus untuk Imam Ali, haram orang lain melakukan hal tersebut… Adapun lafaz jamak ( orang orang ) untuk menyebut pelaku tunggal merupakan hal biasa dalam Al Quran, contoh

a. Qs. 63. Qs. Al Munaafiquun ayat 8.
Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

FAKTANYA : Yang mengucapkan kalimat tersebut hanya satu orang yakni Abdullah Bin Ubay Bin Salul

b. Allah berfirman : “ Dan orang orang Yahudi berkata : ‘Tangan Allah terbelenggu’ “
FAKTANYA : Yang berkata Cuma 1 yahudi ( tunggal ) yang berkata bahwa Allah kikir / pelit

Jadi jelaslah Syi’ah Imamiah adalah ahlusunnah yang sesungguhnya !!!

Arti kata jahiliyah’  setelah  RAsul  wafat tidak ada sangkut pautnya denga kata ‘zaman’ atau ‘periode’.

Kalau kedatangan Islam itu memberantas kebiasaan jahiliah, itu tidak lantas berarti bahwa babakan sejarah menjadi ‘Zaman Jahiliah’ dan ‘Zaman Islam’, sehingga implikasinya adalah bahwa jahiliyah adalah periode yang telah lewat, sudah kadaluwarsa, sudah mati dikubur ajaran Islam. Pengertian yang menyamakan zaman jahiliah sebagai ‘Zaman Kebodohan’ (Ignorance) mungkin suatu usaha untuk ikut memboncen pengertian agama Kristen bahwa jahiliah itu adalah ‘zaman sebelum datangnya Nabi’, seperti tercantum dalam Kitib Injil (Kisah Rasul Rasul 17:30), korban pengaruh Kristen seperti kata teolog Mikaelis. Memang banyak pengaruh itu yang disadari, misalnya dibuangnya bagian awal dari Sirah Ibnu Ishaq.

Tetap ini hanya satu dari sekian aspirasi Kristen yang telah merasuk ke dalam karya literer Islam dan kalau tidak dicabut, duri ini akan tetap menyakiti daging.

Jahiliah itu benar benar lepas dari pengertian zaman atau periode. Ini jela terlihat dari kutipan ayat AlQur’an:

“Ketika orang kafir membangkitkan dalam dirinya kesombongankesombongan

jahiliah, maka Allah menurunkan ketenangan atas Rasul dan mereka yang beriman, dan mewajibkan mereka menahan diri. Dan mereka memang berhak dan patut memilikinya. Dan Allah sadar akan segalanya”. (AlFath: 26)

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. dan Allah menyukai orangorang yang berbuat kebaikan”. (Ali Imran: 148)

“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. mereka Menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar ke tempat mereka terbunuh”. dan Allah untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati”. (AliImran: 154)

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orangorang

yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka rukuk”. (AlMa’idah: 55)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orangorang yang yakin?” (AlMa’idah: 50)

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersihbersihnya”. (Al Ahzab: 33)

Ayat ayat ini jelas mempertentangkan jahiliah dengan ketenangan (sakinah), sifat menahan diri dan takwa…arti kata pokok jahil (jhl) bukanlah lawan dari ‘ilm (kepintaran) melainkan hilm yang artinya sifat menahan diri sebagaimana yang termaktub di dalam AlQur’an. Maka perwujudan sifat jahiliah itu adalah antara lain rasa kecongkakan suku semangat balas dendam yang tak berkesudahan, semangat kasar dan kejam yang keluar dari sikap nafsu tak terkendali dan perbuatan yang bertentangan dengan takwa. Ini bisa saja terjadi dalam zaman setelah kedatangan Islam dan keluar dari pribadi seorang Muslim.

Keislaman Aus dan Khazraj

Setelah kembali ke kota Mekah, Nabi memfokuskan dakwahnya kepada suku-suku Arab lainnya yang berdatangan ke kota itu untuk melaksanakan ibadah haji. Dari situlah, beliau berkenalan dengan orang-orang Aus dan Khazraj, penduduk kota Yatsrib yang kemudian berubah nama menjadi Madinah. Di Yatsrib, suku Aus dan Khazraj merupakan musuh bebuyutan yang sejak lama terlibat perang saudara. Di kota itu, hidup pula suku-suku beragama Yahudi yang sering mengabarkan kepada mereka akan kedatangan Nabi di akhir zaman.

Setelah berkenalan dengan Nabi Muhammad SAW dan ajara yang dibawanya, orang-orang dari Aus dan Khazraj menyatakan ikrar keimanan kepada beliau. Mereka bahkan mengingat janji dan baiat dengan Nabi. Orang-orang Aus dan Khazraj yang telah menemukan seorang pemimpin yang dapat mengakhiri permusuhan di antara mereka, menawarkan kepada Rasulullah SAW agar beliau bersedia berhijrah ke kota mereka.

Sesuai dengan tawaran itu, dan dengan perintah Allah swt, Rasul SAW memerintahkan kaum muslimin Mekah untuk berhijrah ke Madinah. Rombongan demi rombongan kaum muslimin Mekah bergerak ke arah Yastrib. Gelombang hijrah ini terus berlanjut dan berpuncak pada hijrah Nabi ke kota itu.

Jika kita cermati surat At-taubah ayat 100 itu, sebenarnya terkait dengan assabiquuna al awwaluun dan itu bukan lah semua kaum muhajirin dan anshar tetapi sebagian kaum muhajirin karena kalimat “min” (litab’idz) menunjukkan ba’dzi bukanlah kulli.

Orang-orang yang Allah Ridha kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah itu adalah orang-orang yang diterangkan secara khusus bukan secara umum, yakni sebagian (min) kaum muhajirin dan kaum anshar dan juga yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga tidak bisa diterima jikalau ayat tersebut mengandung arti seluruh kaum muhajirin dan anshar (seluruh shahabat)…

Dalam ayat ini, Allah SWT tidak hanya mengatakan tentang keridhoannya dengan golongan dari orang–orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam diantara orang Muhajirin dan Anshor tetapi Allah juga mengatakan akan keridhoannya dengan orang–orang yang mengikuti jalan mereka baik dalam keimanan mereka, perbuatan mereka dan metode mereka sebagai konsekuensi atas amal sholeh mereka maka Allah menjanjikan kepada 2 golongan tersebut (Golongan shahabat dan orang–orang yang mengikutinya) yaitu mereka akan mewarisi surga..

mengenai sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah.Al-Mughirah bin Syu’bah tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah seorang shahabat Nabi

Tolong mas jelaskan kontradiksi ini berdasarkan hadits berikut; Dari Ziyad bin Alaqah dari Pamannya bahwa Mughirah bin Syu’bah telah menghina Ali bin Abi Thalib kemudian Zaid bin Arqam berdiri dan berkata ”Hai Mughirah bukankah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW melarang untuk menghina orang yang sudah mati jadi mengapa kamu menghina Ali setelah kematiannya”.(Hadis Riwayat Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain juz 1 hal 541 hadis no 1419 )

Syi’ah  Tidak  Mengkafirkan  Para  Sahabat  Nabi…. Murtad  artinya  berbalik  kebelakang  tidak  mematuhi  wasiat  imamah Ali,  jadi bukan  keluar  dari  Islam….

Al-Qur’an juga menyematkan atribut dan sifat-sifat negatif terhadap sebagian kaum muslimin yang sezaman dengan Nabiullah Muhammad saww. Al-Qur’an menginformasikan kepada kita ada dari mereka yang sezaman dengan Nabi sebagai orang-orang munafik, yang keterlaluan dalam kemunafikannya (Qs. At-Taubah: 101), berpenyakit dalam hatinya, tidak memiliki keteguhan iman, dan berprsangka jahiliyah terhadap Allah swt (Qs. Ali-Imran: 154), sangat enggan berjihad (Qs. An-Nisa’: 71-72 dan At-Taubah ayat 38), melakukan kekacauan dalam barisan (Qs. At-Taubah: 47), lari tunggang langgang ketika berhadapan dengan musuh (Qs. Ali-Imran: 153 dan At-Taubah : 25), bahkan sebagian mereka lebih memilih perdagangan dan permainan daripada mendengarkan Nabiullah Muhammad saww berkhutbah, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (Qs. Al-Jumu’ah: 11).

Kritik Terhadap Keadilan Semua Sahabat

Al Quran dan Keadilan Para Sahabat

Kritik pertama terhadap anggapan bahwa semua sahabat adalah adil berdasarkan ayat ayat AlQur’an  seperti yang digambarkan dalam surat At Taubah berikut:

“Orang orang Arab paling keras Dalam kekafiran dan kemunafikan, Dan paling cenderung mengabaikan Aturan aturan yang Allah turunkan atas RasulNya, Padahal Allah Mahatahu, Mahabijaksana.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 97). atau:

“Sungguh mereka telah mengusahakan keonaran sebelumnya, Dan memutar balik persoalan bagimu, Sampai datang kemenangan, Dan terbukti kebenaran agama Allah, Meskipun mereka tiada suka.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.) atau:

Dan di antara orang Arab, sekitarmu, Ada orang munafik, Demikian pula di antara orang

Madinah, Mereka berkeras dalam kemunafikan, Kau tidak mengetahui mereka, (Tapi) Kami mengenalnya… ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.)

Mengenai istilah munafik Bukhari meriwayat dari Sulaiman Abu Rabi dari Ismail bin Jafar dari Nafi bin Malik dari ayahnya dari Abu Hurairah yang mendengar dari Rasul yang bersabda: “Tanda tanda  dari munafik adalah: Bila berbicara, ia berbohong. Bila berjanji, tidak ia tepati. Bila memegang amanat ia akan khianati.”

Pepatah lama ‘Arab menggambarkan munafik sebagai orang yang mencium tangan yang tidak dapat ia gigit. Dan karena para istri Rasul termasuk dalam kategori Sahabat, maka dapat dimasukkan ayat ayat  dalam surat Tahrim yang turun berhubungan dengan ummul muminin ‘A’isyah dan Hafshah, dan meminta agar mereka bertobat.

Hadis dan Keadilan Para Sahabat

Bukhari

Bukhari ( Bukhari, Shahih, jilid 4, Bab alHaudh [alHaudh, nama Telaga di Surga], akhir Bab arRuqab, hlm. 94. )  meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda: Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: “Kemana?” Ia menjawab ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab: “Mereka berbalik  setelah engkau wafat.”

“Halumma”, logat orang Hijaz, kata panggil untuk lelaki atau perempuan, tunggal, dua orang maupun jamak. Dalam kalimat ini yang dipanggil adalah serombongan orang, ‘zumrah’… irtaddu (   lihat  Al Qur’an 12:96; 2:217.)

Di bagian lain: Kemudian muncullah serombongan orang yang kukenal dan seorang lelaki muncul pula antara diriku dan mereka. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: ‘Kemana? “Ia menjawab: ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka? “Lelaki itu menjawab: ‘Mereka telah berbalik setelah engkau wafat”. Dan aku tidak melihat keikhlasan pada wajah mereka, seperti gerombolan unta tanpa gembala.

Dan yang berasal dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda:

“Tatkala berada di Al Haudh, aku tiba tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku ( yaruddu ‘alayya.) ,

yang mengikuti selain diriku. Aku berkata: “Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?” Dan terdengar suara seseorang: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu ( Ma barihu yarji’una ‘ala a’ qabihim )

Dan tatakala membicarakan hadis ini Ibnu Abi Mulaikah berkata:

“Allahumma, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan ingkar dan merusak agama kami”.

Dari bab yang sama yang berasal dari Said bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda: Di AlHaudh’ sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi! Mereka adalah sahabatku!”.

Dan mendapat jawaban: “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!”

Dan di bagian lain bab tersebut, dari Sahl bin Sa’d yang berkata, Nabi bersabda: Saya mendahului kamu di ‘AlHaudh’, barangsiapa meliwatiku akan minum dan setelah itu tidak akan pernah haus selamanya, dan beberapa kaum yang kukenal dan mereka juga mengenalku, berbalik dariku, kemudian aku dan mereka terpisah.

Abu Hazm berkata: “Nu’man bin Abi’ Iyasy memperdengarkannya kepadaku dan menanyakan apakah aku mendengar demikian dari Sahl?’ Aku membenarkan. Ia melanjutkan: ‘Aku bersaksi bahwa menurut Abi Said Al Khudri kata kata tersebut punya kelanjutan:

Dan aku (Nabi) berkata: ‘Mereka itu adalah dari diriku’. Dan kedengaran jawaban: ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu?’ Dan aku berkata: ‘Binasalah mereka yang berobah sesudahku.’

Lagi dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasul Allah saw yang bersabda:

Telah berbalik di hari kiamat serombongan sahabatku yang memisahkan diri di AlHaudh

dan aku bertanya: “Ya Rabbi, sahabatku,’ “Dan Allah menjawab: ‘Tiada engkau tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik dan menjadi ingkar.’

Lagi, yang berasal dari ‘Abdullah dari Nabi masih di bab yang sama: Kemudian mereka dipisahkan dariku, dan aku berseru: “Ya Rabbi, sahabatku!” Dan dijawab: “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu!”. Bukhari melanjutkan: “Kata kata serupa juga diriwayatkan ‘Ashim yang berasal dari Abi Wa’il. Dan Hushain juga meriwayatkan serupa yang berasal dari Abi Wa’il dari Hudzaifah dari Nabi.

Di bab lain, tatkala membicarakan Perang Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al’

Ala’ bin Musayyib dari ayahnya ( Bukhari, Shahih,jilid 3, hlm. 30 dalam bab Ghaswah Hudaibiyah.) yang berkata: Aku bertemu alBarra’ bin ‘Azib dan aku berseru: ‘Selamat bagi Anda, Anda beruntung jadi sahabat Nabi dan Anda telah membaiat Rasul di bawah pohon, ‘bai’ah tahta syajarah!’. Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat.!” Dan dalam bab lain Bukhari meriwayatkan yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw: (Bukhari,Shahih, jilid 2, hlm. 154, bab yang menerangkan ayat “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayanganNya” (QS 4:125) dalam Kitab Bad’ul Khalq )

‘Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri (Golongan kiri, lihat QS 56:41.) dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban dengan kata kata: ‘Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.”

Muslim

“Sebagian orang yang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga AlHaudh, yaitu tatkala dengan tiba tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar benar  akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar jawaban: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lalukan sesudahmu.” (Muslim, Shahih, Kitab Fadhail, hadits 40. Lihat juga Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 453, jilid 2, hlm. 28 jilid 5, hlm. 48. )

Pandangan bahwa seluruh sahabat adil adalah tak sesuai dengan petunjuk AlQuran, bertentangan dengan ayat AlQuran…. Secara faktual dan kalau yang dimaksud dengan  pengertian sahabat adalah setiap orang yang bertemu/bergaul dengan  Nabi saw baik sesaat maupun lama, maka Abu Bakar, Umar dan Usman adalah sahabat Nabi saw. Tapi apabila mengacu kepada pengelompokan Al-Quran spt yang sudah saya kemukakan diatas maka pertanyaannya kedalam kelompok mana Abu Bakar, Umar dan Usman harus dimasukkan ? Kelompok I atau II ?

AlQuran sendiri mengelompokkan para sahabat sesuai tingkat keimanannya sbb :

Kelompok 1 itulah yang kami maksud sahabat :

1. As-Sabiqun Al-Awwalun, yaitu  sebagian  diantara orang  orang  yang paling awal masuk Islam dari Muhajirin dan Anshar. (QS At-Taubah 100)… yang dipuji bersyarat, tidak       berlaku umum

2. Al-Mubayi’un Tahta Asy-Syajarah, yaitu   sebagian  diantara  orang orang  yang berbaiat di bawah pohon (QS Al-Fath 18)…. yang dipuji bersyarat, tidak  berlaku umum

3. sebagian  diantara  Ash- Habul Fath (QS Al-Fath 29), QS. al-Mujadilah (58) : 22,  Qs. Al-     Muhajirin (QS Al-Hasyr  9-10 ), QS 53:2  yang  dipuji  bersyarat.. Tidak  berlaku umum       karena mana mungkin ’sahabat  sahabat ′ saling berbunuhan atau bermusuhan, kan mereka      sedang ’saling berkasih sayang’ seperti firman Allah dlm surah al fath:29′

Jika saya membenci sebagian para sahabat, karena tingkah lakunya memang pantas di benci.. Saya pun mencintai sahabat yang setia kepada nabinya seperti Abu dzar, Salman, Ammar bin Yasir, Miqdad, Muhamamad bin Abu Bakar karena memang mereka pantas dicintai. Mereka lah syiah Ali yang telah dijanjikan surga… sahabat besar inilah yang paling setia membela Imam Ali hingga wafatnya.

Kelompok II dibagi menjadi :

1. Al-Muwallun ammal Kuffar, yaitu kelompok sahabat yang lari/mundur dari peperangan      (tawalli ‘anil-jihad). Ini termasuk dosa besar. (QS Al-Anfal 15-16)

2.  Orang Orang Munafik Yang Makruf (QS Al-Munafiqun 1)
3. Orang Orang Munafik Yang Tersembunyi (QS At-Taubah 101). . Orang orang  munafik dimadinah (yang pastinya ini  ada  tercakup  orang  anshar  )
4. Muradhal Qulub, yaitu kelompok sahabat yang mengikuti jejak orang Orang munafik dalam hal spiritual dan sifat sifat  lemahnya iman kpd Allah SWT dan Rasul-Nya (QS Al-Ahzab 12) 5.

As_Samma’un , yaitu kelompok sahabat yang hatinya bagaikan bulu yang tertiup angin.(QS      At-         Taubah 45-47)
6. Mencampur-baurkan Amal Saleh dengan Selainnya (QS At-Taubah 102)

7. Orang Orang Yang Nyaris Murtad (QS Ali Imran 154)
8. Al Fasiq (QS Al-Hujurat 6)

9. Al-Muslimun Bukan Al-Mukminun, yaitu kelompok sahabat yang iman mereka belum masuk dalam hatinya. (QS Al-Hujurat 14).

10.  Al-Muallafatu Qulubuhum (QS At-Taubah 60)

11. Thalhah  mengancam  mau  menikahi   isteri  isteri  Nabi  SAW  lalu  turunlah  ayat  “….Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. al Ahzâb[33];53)

12. Qs. Az-Zukhruf: 78-80

Al-Baqarah: 159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati

Setelah mengelompokkan para sahabat tsb. Al-Quran menutup dengan pernyataan yang tegas :”Maka apakah orang yang beriman sama seperti orang fasik ? MEREKA TIDAK SAMA.” (QS As-Sajadah 18)… ketidakpantasan menganggap semua sahabat adil.. Tolong di jawab, apakah Nabi SAW. pernah melaknat sebagian sahabatnya ?… Sejarah juga telah membukti bahwa Ali bin Abi Thalib terlaknat disetiap mimbar jum’at selama 80 tahun (-/+)atas perintahnya. padahal baginda nabi begitu banyak menyampaikan utamaan Ali bin Abi Thalib..Apakah perintah pelaknatan ini bermaksud memuliakan Ali bin Abi Thalib …? Siapa yg memerintahkan ‘pelaknatan’ terhadap Amirul Mukminin Ali as?

‘Kutukan’  terhadap Imam Ali dalam khotbah khotbah Jum’at selama lebih dari delapan puluh tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikutnya, hampir menghilangkan sama sekali buah pikiran ‘Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian dikenal sebagai Ahlus Sunnah.

Harapan kita pada kaum Sunni, jangan lagi menutup-nutupi kenyataaan sejarah demi mempercantik wajah mazhabnya dan berbohong untuk memperjelek wajah mazhab lain. Zaman sekarang informasi sudah sangat mudah didapat, jadi makin banyak kalian menulis dusta tentang Syiah maka makin membuat orang lari dari mazhab Sunni lalu bergabung dengan Syiah. Ini adalah Fakta…. Amalkan kitab Sahih Muslim dengan konsisten, didalamnya tetulis bahwa umat tidak akan tersesat bila berpedoman pada Kitabullah dan Ahlulbait.
Dan saya temukan hampir semua argumen yang dibangun oleh Syiah ada dan sahih menurut hadis riwayat Muslim juga riwayat Bukhari.. lihat berapa banyak SUNI MENGAMBIL RIWAYAT DARI AHLUL BAIT

Konon begitu tulus cinta sebagian Ahlusunnah pada Ahlulbait sampai sampai membunuh Cucu cucu Nabi yang suci pun dianggap Ijtihad dan dapat pahala. Bahkan pembunuhnya pun dianggap sebagai orang yang mendapat petunjuk, dan merampas kekhalifahan dari Imam Hasan pun dianggap sah-sah saja.

IMAM HASAN DAN IMAM HUSAIN SAJA YANG SUDAH TERJAMIN KESUCIANNYA OLEH AL-QUR’AN BISA DIBUNUH DENGAN KEJI TANPA PERASAAN. YANG BUNUH NGAKU PULA SEBAGAI KHALIFAH ISLAM (koq bisa, ya??)

Yang paling bisa kita lakukan khanyalah setiap saat bersalawat kepada mereka (Ahlulbait) dalam shalat dengan konsisten dan mengambil ajaran dari mereka walaupun banyak ajaran mereka telah dimusnahkan oleh “konon” Khalifah Islam.

Yang pasti Ahlusunnah telah meninggalakan ajaran mereka, buktinya coba periksa sendiri (sebelum anda menyuruh orang lain belajar) dalam kitab standar Ahlusunnah, ajaran agama dan riwayat hadis yang bersumber dari orang orang suci (Imam Hasan dan Husain) tidak ada, tapi ajaran agama dari musuh mereka yaitu kaum munafikun justru kalian anggap sunnah Nabi.

Yang bilang membunuh cucu Nabi adalah ijtihad adalah Ulama anda IBNU TAIMIYYAH dan IBNU HAJAR AL-HAITSAMI dalam Kitab Syarah Tuhfatul Muhtaj.. Ibnu Hajar al-Haitsami juga mengatakan demikian, silahkan anda baca sendiri di kitab Syarah Tuhfatul Muhtaj ilaa Adillatil Minhaj.

IMAM HASAN AS. TERBUNUH OLEH RACUN JA’DAH BINTI AL-ASY’AT KARENA PERINTAH KHALIFAH MUAWIYYAH BIN ABI SUFYAN DENGAN IMING2 100.000 DINAR DAN AKAN DIKAWINKAN DENGAN ANAKNYA (YAZID BIN MUAWIYAH). Kemudian wanita itu mendatangi Muawiyah menagih janjinya, Muawiyah hanya membayar 100.000 Dinar tapi menolak untuk menikahkannya. Dan  IMAM HUSAIN TERBUNUH DI KARBALA OLEH BALA TENTARA YAZID BIN MUAWIYAH YANG DIPIMPIN OLEH IBNU ZIYAD. (Begitulah kesaksian kitab Ulama anda seperti; Tarikh Al-Balazzuri, Tabaqat Ibnu Sa’at, Tarikh Ibnu Atsir, dan beberapa kitab lainnya)

Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.” [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Pandangan Sunni Terhadap Hadis 12 Khalifah

BAGIAN I

Hadis 12 Pemimpin

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan, “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris), Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam; Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

Ibn Arabi

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202; Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

Ibn al-Jawzi

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s). Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

Al-Bayhaqi

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan. Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta'rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa“

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i :

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.”

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.” Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.” [Al-Juwaini, Fara'id al-Simthain, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

Meneladani Para Sahabat yang Dijamin Surga

Artikel  ini  mengoreksi  buku ini :

Judul                           : 10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga..
Penulis                       : Abdus Sattar As-Syaikh

Cetakan pertama     : April 2011

Penerbit                     : Darus Sunnah Press

Tebal                          : 964 Halaman

Buku  ini  keliru  menyebut  Abubakar-Umar dan usman dijamin SURGA !!!

Para  pembaca…

Syi’ah Yang Sezaman dengan Nabi SAW dikaitkan dengan QS. Al-Bayyinah:7-8: (1) Abu Dzar Al Ghifari, (2) Salman al Farisi, (3) AlMiqdad bin al Aswad al Kindi (4) ‘Ammar bin Yasir

.

Mengutip dari hadis yang diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Na’im, yangmeriwayatkan dengan sanad dari IbnuAbbas, ketika turun ayat yang mulia :” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu sebaik-baik makhluk” (QS. Al-Bayyinah:7-8), kemudian Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin AbiThalib, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syi’ahmu…”
.
“Manifestasi pengejawantahan syi’ah awal ini muncul usai wafatnya Rasulullah SAWW, sebagai bentuk loyalitas dan kepatuhan para sahabat kepadaRasulullah SAW yang telah menetapkan Ali Bin Abi Talib (Ahlul Ba’it Rasulullah SAW dan Ittrah Rasulullah SAW ) – di Ghadir Kum – sebagai yangharus di patuhi pasca beliau SAW tiada
.
Seorang ulama ahlu sunnah bernama Abu Hatim ar Razi dalam kitabnya al-Zinah, menuliskan, nama pertama yang diberikan dalam Islam sebagai julukan bagi sekelompok orang pada masa Rasulullah SAW masih hidup sebagi Syi’ah adalah (1) Abu Dzar Al Ghifari, (2) Salman al Farisi, (3) AlMiqdad bin al Aswad al Kindi (4) ‘Ammar bin Yasir
.
Ayatullah Sayyid Muhammad al Musawi mengomentari hal tersebut sebagai berikut, “…mereka adalah sahabat yang ikhlas, mereka mendengar Nabi SAW bersabda, “Syiah Ali adalah makhluk terbaik dan mereka adalah orang-orangyang beroleh kemenangan “, oleh karena itu mereka bangga menjadi bagian darimakhluk terbaik itu, dan mereka dikenal di kalangan sahabat dengan julukan syi’ah
.
Di berbagai kesempatan Rasulullah SAW banyak memuji ke empatsahabat –syi’ah awal- tersebut, diantaranya :
  1. Sunan Tirmidzi 5/636 no 3718 menuliskanDiriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengatakan kalau Allah SWT memerintahkan Beliau untuk mencintai empat orang sahabat dan Rasulullah SAW juga diberitahubahwa Allah SWT mencintai keempat sahabat tersebut. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW siapakah keempat sahabat yang mendapatkeistimewaan seperti itu. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mereka adalah Ali RA, Abu Dzar RA, Miqdad bin Aswad RA, dan Salman Al Farisi RA. Hadis ini diriwayatkan dalam,. Berikut hadis riwayat Tirmidzi :حدثنا إسماعيل بن موسىالفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسولالله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسولالله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرنيبحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail binMusa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kamiSyarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  2. Sunan Ibnu Majah 1/53 no 149 (Dengan redaksi samadengan di atas) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبيربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرنيبحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثاو أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  3. Musnad Ahmad 5/351 no 23018 (Dengan redaksi samadengan no 1) ) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عنأبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسو الله صلى الله عليه و سلم إن اللهأمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقولذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai. Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  4. Mustadrak Al Hakim 3/130 no 4649 (Dengan redaksi sama dengan no 1) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عنأبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن اللهأمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقولذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telahmenceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  5. Al Kuna Al Bukhari 1/31 no 271 Dengan redaksi samadengan no 1) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عنأبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن اللهأمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقولذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  6. Tarikh Ibnu Asakir 21/409. ) حدثنا إسماعيل بن موسىالفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسولالله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسولالله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهموأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al-Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarikdari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empatorang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkanitu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  7. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya حدثنا عبد اللهحدثني أبي ثنا بن نمير عن شريك ثنا أبو ربيعة عن بن بريدة عن أبيه قال قال رسولالله صلى الله عليه و سلم ان الله عز و جل يحب من أصحابي أربعة أخبرني انه يحبهموأمرني ان أحبهم قالوا من هم يا رسول الله قال ان عليا منهم وأبو ذر الغفاريوسلمان الفارسي والمقداد بن الأسود الكندي Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Syarik yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata Rasulullah SAW bersabda “sesungguhnya Allah Azza wajalla mencintai empat orang dari sahabatKu. Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia mencintai Mereka dan memerintahkanKu untuk mencintai Mereka. Para sahabat berkata “siapa mereka wahai Rasulullah?”. Rasulullah SAW berkata”Ali diantaranya, Abu Dzar Al Ghiffari, Salman Al Farisi dan Miqdad bin Aswad Al Kindi.
  8. Al Hafizh Abu Na’im, dalam Hilayah al Awliyajilid I hlm 172 meriwayatkan dari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mencintai empat orang. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka, lalu ditanyakan, “Siapa mereka itu ?” Rasulullah saw menjawab, “Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, AbuDzar, al Miqdad dan Salman.
  9. Ibnu Hajar al Makki dalam kitabnya al Shawa’iq alMuhriqah, dalam hadis ke lima dari empat puluh hadis yang menukil tentangkeutamaan Ali bin Abi Thalib meriwayatkan hadis dari Turmudizi dan al Hakimdari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda, ” Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mencintai empat orang. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka, lalu ditanyakan, “Siapa mereka itu ?” Rasulullah saw menjawab, “Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar, al Miqdad dan Salman.
  10. Ibnu Hajar al Makki dalam kitabnya al Shawa’iq alMuhriqah dalam hadis nomor 29 menukil dari Turmudzi dan al Hakim dari Anas binMalik, bahwa Rasulullah saw bersabda :”Surga merindukan tiga orang, mereka adalah Ali, Ammar dan Salman”.
  11. Ibn Maghazali al Syafi’i dalam Manaqib ‘Ali bin Abi Thalib hadis no 331, meriwayatkan hadis dengan sanadnya dari Buraidah: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai empat orang dari sahabatku. Allah mengabarkan bahwa Dia mencintai mereka dan Dia memerintahkan kepadaku untuk mencintai mereka,” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah saw?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ali, Abu Dzar, Salman dan al Miqdad bin al Aswad al-Kindi” Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan dalam Musnad 5/351dengan sanad dari Muhammad bin al Thufail dari syarik. Al Hakim meriwayatkan dalam al Mustadrak 3/30 melalui Imam Ahmad bin Hanbal darial Aswad bin ‘Amir dan Abdullah bin Numair yang disahihkan oleh al-Dzahabi dalam Talkhis. Al Hafizh al Qazwini meriwayatkan pula dalam Sunan alMushthafa 1/52 .
Jadi hati-hati mengatakan Syi’ah itu sesat, karena akan kembali kepada dirimu sendiri …
.
Tidak seperti yang 10, Inilah 4 orang yang dijanjikan Surga dan tidak ada seorang Ulama pun yang berselisih paham
.
Ada banyak hadits yang memberitakan tentang adanya 4 sahabat Rasulillah SAWW yang dijamin Surga dan terbukti hingga akhir hayat mereka kisah perjalanan hidup mereka telah membuktikan ke shahihan hadits ini, beda dengan hadits 10 orang dijamin masuk surga, perilaku hidup sebagian dari mereka tidak mecerminkan perilaku orang yang dijamin sesungguhnya.
Adapun beberapa hadits yang bisa dirujuk adalah :
  1. Musnad Ahmad 5/351 no 23018 (Dengan redaksi sama dengan no 1) ) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسو الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  2. Sunan Tirmidzi 5/636 no 3718 menuliskan Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengatakan kalau Allah SWT memerintahkan Beliau untuk mencintai empat orang sahabat dan Rasulullah SAW juga diberitahu bahwa Allah SWT mencintai keempat sahabat tersebut. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW siapakah keempat sahabat yang mendapat keistimewaan seperti itu. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mereka adalah Ali RA, Abu Dzar RA, Miqdad bin Aswad RA, dan Salman Al Farisi RA. Hadis ini diriwayatkan dalam,. Berikut hadis riwayat Tirmidzi :حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  3. Mustadrak Al Hakim 3/130 no 4649 (Dengan redaksi sama dengan no 1) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
Mereka yang dijanjikan yaitu : Ali (as) , Abu Dzar , Miqdad dan Salman, yang disebut terkhir adalah yang dikenal sebagai Syi’ah Ali yabna Abi Thalib AS. mereka ini tidak pernah :
  1. Lari dari pertempuran baik di Uhud , Khaibar maupun Hunain.
  2. Tidak membatalkan Baiat Ridwan.
  3. Mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya dengan mengikuti Imam Ali KW sebagai Pemimpin mereka.
.

Penderitaan Abu Dzar ( Sahabat Rasulullah Saw), Dibuang  Ustman Karena Perjuangannya Mempertahankan Kebenaran Dan Keadilan Ummat

Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling tidak disukai oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman r.a., seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam terkenal amat liar, kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka men­jadi sasaran penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin terkemuka di kalangan mereka.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendiriannya.

Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan da’wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys. Sekembalinya ke daerah pemukimannya dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di Islamkan.

Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani Aslam, Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: “Ghifar…, Allah telah mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!”

Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan ke­benaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai “cahaya terang ben­derang.”

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain.

Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yang akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengang­kangi harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: “Demi Allah, yang mengutusmu mem­bawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!”

Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: “Kutunjukkan cara yang lebih baik dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!” Rasul Allah s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar r.a. gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., berkat ketegasan dan keketatannya dalam ber­tindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerin­tahan Khalifah Utsman bin Affan r.a., penyakit yang membahaya­kan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim hujan. Khalifah Utsman bin Affan r.a. sendiri tidak ber­daya menanggulanginya. Nampaknya karena usia Khalifah Utsman r.a. sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan, hanya karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa potong roti. Padahal para pengua­sa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin ber­tambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum muslimin banyak disalah-gunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan menghunus pedang. Ber­juang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngi­ang terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesa­rungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang mem­peringatkan para penguasa dan orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka kem­bali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di Syam, ia selalu memperingatkan orang: “Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan tidak meng­infaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang Pedih. Pada hari kiamat

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umum­nya terdiri dari fakir miskin dan orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegak­kannya kembali prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, sesuai de­ngan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam, memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk memben­dung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: “Aku sungguh heran melihat orang yang di rumahnya tidak mem­punyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar menghunus pedang!”

Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajar­an-ajaran kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: “Semua manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…,” “Tak ada manusia yang lebih afdhal selain yang lebih besar taqwanya…”, “Penguasa adalah abdi masyarakat,” “Tiap orang dari kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas kegembalaannya….” dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang ber­gelimang dalam kehidupan mewah sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar, tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nura­ni. Abu Dzar dimusuhi dan kepadanya dilancarkan berbagai tuduh­an. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di Mak­kah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa ra­sa takut sedikit pun ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiy­yah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar berkata: “Bu­kankah kalian itu yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai penumpuk emas dan perak, dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!”

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muaw iyah bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat berbuat apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera ditulis sepucuk surat kepada Khalifah Utsman r.a. di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan tentang Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil salah satu tindakan. Berikan ke­kayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pem­buangan.

Khalifah Utsman r.a. melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada Abu Dzar diajukan dua pili­han: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu, Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: “Aku tidak membu­tuhkan duniamu!”

Khalifah Utsman r.a. masih terus menghimbau Abu Dzar. Di­kemukakannya: “Tinggal sajalah di sampingku!”

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar ber­juang semata-mata untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya meng­hendaki supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. Memang justru itulah yang sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman r.a., sebab ia ha­rus memotong urat nadi para pembantu dan para penguasa bawah­annya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. A­khirnya, atas desakan dan tekanan para pembantu dan para pe­nguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman r.a. mengambil keputu­san: Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau mengantar­kannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah s.w.t. selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman r.a. ia berkata: “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalib­ku di kayu salib yang tinggi atau di atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus ber­jalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan se­andainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupan­dang hal itu lebih baik bagiku.”

Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yang penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan melanda ummat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sa­ngat mengejutkan kaum muslimin, khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya. Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam kepada Abu Dzar.

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam buku­nya As Saqifah, berdasarkan riwayat yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan Khalifah Utsman r.a. di atas:

Khalifah Utsman r.a. memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali r.a., yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: “Hai Hasan, apakah engkau tidak me­ngerti bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti, ketahuilah sekarang!”

Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya. Sambil membentak ia mencam­buk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: “Pergilah engkau dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka.”

Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-­ronta kesakitan. Marwan sangat marah, tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota keluarganya.

Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata men­dorong orang lain berani mendekati Abu Dzar guna mengucap­kan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib.

Dzakwan di kemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Hai Abu Dzar engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan mem­buangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup ra­pat bagi hamba Allah, tetapi hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang menjengkelkan hatimu selain kebatilan!”

Atas dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: “Hai Abu Dzar, apa lagi yang hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sa­jalah sepenuhnya kepada Allah, sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati. Ke­tahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharap­kan maaf dari orang lain sama artinya dengan putus asa. Oleh ka­rena itu buanglah rasa takut dan putus asa.”

Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: “Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu. Buang saja­lah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar ridho kepadamu.”

Setelah Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: “Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan kekua­saan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mem­percepat datangnya rizki dan kebatilan tidak akan menunda da­tangnya ajal!”

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: “Allah tidak akan membuat senang orang yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu. Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang mencegah orang supaya tidak mengata­kan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang yang merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh karena itu ba­nyak orang “menghadiahkan” agamanya masing-masing kepada mereka, dan sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan du­niawi kepada orang-orang itu. Dengan berbuat seperti itu, se­benarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukan­kah itu suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!”

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: “Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudara-saudaraku di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang ke satu daerah, di mana aku tidak akan mem­punyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t. Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut menghadapi kesulitan…”

Tutur Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang me­ngantarkan pulang, Imam Ali r.a. segera datang menghadap Kha­lifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah ber­tanya dengan hati gusar: “Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku –yakni Marwan– dan meremehkan perintahku?”

“Tentang petugasmu,” jawab Imam Ali r.a. dengan tenang “ia mencoba menghalang-halangi niatku. Oleh karena itu ia ku­balas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya.”

“Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu Dzar?” ujar Khalifah dengan marah.

“Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang ber­sifat kedurhakaan harus kuturut?” tanggap Imam Ali r.a. ter­hadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

“Kendalikan dirimu terhadap Marwan!” ujar Khalifah mem­peringatkan Imam Ali r.a.

“Mengapa?” tanya Imam Ali r.a.

“Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang di­kendarainya” jawab Khalifah.

“Mengenai untanya yang kucambuk,” Imam Ali menjelas­kan sebagai tanggapan atas keterangan Khalifah Utsman r.a., “bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampai memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!”

“Mengapa dia tidak boleh memakimu?” tanya Khalifah Utsman r.a. dengan mencemooh. “Apakah engkau lebih baik dari dia?!”

“Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!” sahut Imam Ali r.a. dengan tandas. Habis mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman r.a. memanggil tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia menyata­kan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.

Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan r.a., para pemuka yang beliau ajak berbicara menasehatkan: “Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik.”

“Aku memang menghendaki itu,” jawab Khalifah Utsman r.a. Sesudah ini beberapa orang dari pemuka muslimin itu me­ngambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali r.a. dan Khalifah Utsman r.a. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali r.a. mereka bertanya: “Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk meminta maaf?”

“Tidak,” jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. “Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau datang kepadanya.”

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman r.a. Imam Ali r.a. datang bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah s.w.t., Imam Ali r.a. berkata: “Yang kauketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang keputus­anmu. Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalang-halangi Marwan, sama seperti dia mengha­lang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluar­lah marahku, yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya.”

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman r.a. berkata dengan nada lemah lembut: “Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah kuikhlaskan. Dan apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaaf­kan perbuatanmu. Adapun mengenai apa yang tadi engkau sam­pai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguh-sungguh dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu….!”

Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman r.a. dan dilekatkan pada dadanya.[4]

Bagaimanakah keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembu­angannya? Tidak lain..Ia mati kelaparan bersama isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun bisa turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraan­nya di tempat pembuangan, dituturkan sebagai berikut:

Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri hidup sangat sengsara. Berhari-hari sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia me­ngajak isterinya pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetum­buhan. Keberangkatan mereka berdua diiringi tiupan angin ken­cang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak me­nemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik. Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak menangis,” jawab isterinya yang setia itu, “kalau menyaksikan engkau mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus pemakamanmu!”

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia berkata: “Cobalah lihat ke jalan di ­gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin yang lewat!”

“Bagaimana mungkin?” jawab isterinya. “Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang sudah lenyap!”

“Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat,” kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. “Jika engkau melihat ada orang lewat, berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak melihat seorang pun, tutup sajalah muka­ku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia sudah hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!”

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sana-ke mari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang kafilah lewat, tampak benda-­benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari ke­jauhan rombongan kafilah itu melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya, kemudian bertanya: “Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?”

“Apakah kalian orang muslimin?” isteri Abu Dzar balik ber­tanya. “Bisakah kalian menolong kami dengan kain kafan?”

“Siapa dia?” mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

“Abu Dzar Al-Ghifari!” jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mula­nya mereka tidak percaya, bahwa seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. “Sahabat Rasul Allah?” tanya mereka untuk memperoleh kepastian.

“Ya, benar!” sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: “Ya Allah…! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada kita!”

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar. Orangtua yang sudah dalam ke­adaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata:

“Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain de­ngan bajuku sendiri atau baju isteriku…..Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari kalian yang memberi kain kafan ke­padaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai.”

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: “Hai paman, akulah yang akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerih-payahku. Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk kupergunakan sebagai pakaian ihram…”

“Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!” Sahut Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam ke­adaan tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan.

Selesai di makamkan, orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: “Ya Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah sujud kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyri­kin, tidak pernah merusak atau mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan di hinakan sekarang ia mati dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang membuang­nya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!”

Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucap­kan “Aamiin” dengan khusyu’.

Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat, semasa hidupnya ia pernah berkata: “Kebenaran tidak meninggal­kan pembela bagiku…”

.

KISAH ANTARA ALI, ABU DZAR DAN UTSMAN

Ali bin Abi Thalib tengah galau memikirkan kondisi negara dan umat Islam yang dilanda kekacauan akhir-akhir ini yang disebabkan kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan. Gaya kepemimpinannya yang sangat nepotis itulah yang menjadi penyebabnya. Cara hidup yang mementingkan kesenangan duniawi di kalangan keluarga penguasa, dan sistem kekuasaan yang berdasarkan kerabat dan keluarga, telah membangkitkan rasa tidak puas yang semakin merata di kalangan ummat Islam.

Beberapa waktu setelah terbai’at sebagai Khalifah, Utsman bin Affan mengangkat orang-orang dari kalangan keluaganya (Bani Umayyah) dan di tempatkan pada kedudukankedudukan penting atau lebih penting dibanding dengan orang-orang dari qabilah lain. Posisi-posisi penting dalam kekuasaan negara dibagi-bagikan kepada mereka. Kalau tidak sebagai kepala daerah atau gubernur, mereka diangkat sebagai panglima-panglima pasukan, atau diserahi tanah-tanah yang sangat luas.

Salah satu prestasi besar selama kakhalifahan Utsman, ummat lslam berhasil membebaskan Afrika Utara dari kekuasaan Byzantium. Sayangnya, seperlima dari hasil harta jarahan (ghanimah) yang didapat oleh kaum muslimin dari daerah-daerah Afrika Utara, banyak yang dihadiahkan oleh Khalifah Utsman kepada para pembantunya, terutama Marwan bin Al Hakam. Marwan ini adalah kerabatnya dan kemudian dipungut sebagai menantu. Pembagian ini jelas-jelas bertentangan dengan nash Al Qur’an.

Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-152 telah mengungkapkan kebijaksanaan Khalifah Utsman yang dikendalikan oleh kerabat dekatnya, Marwan bin Hakam dan kawan-kawannya, yang sangat meresahkan kaum muslimin.

Di antara tindakan-tindakan itu disebut pemberian uang sebanyak 400.000 dirham kepada Abdullah bin Khalid bin Asid. Khalifah Utsman juga merehabilitasi dan membolehkan Al-Hakam bin Al-Ash kembali bermukim di Madinah. Padahal Al-Hakam ini dahulu telah diusir oleh Rasul Allah s.a.w. dari kota suci itu, karena penghianatannya terhadap kaum muslimin. Bahkan oleh Khalifah ia diberi modal hidup berupa uang sebesar 100.000 dirham. Sedangkan Khalifah-khalifah yang terdahulu tidak ada yang berani melanggar keputusan yang telah diambil oleh Rasul Allah s.a.w. mengenai pengusiran Al-Hakam.

Masih ada lagi serentetan tindakan atau kebijaksanaan yang dilakukan oleh Khalifah Utsman atas desakan para penasehat dan pembantunya. Yaitu tindakan atau kebijaksanaan yang menyuburkan benih-benih ke-tidak-puasan di kalangan kaum muslimin. Sebuah tempat pusat perdagangan di kota Madinah, yang waktu itu terkenal dengan nama “Mazhur”, oleh Khalifah Utsman dikuasakan kepada Al-Harits bin Al-Hakam, saudara Marwan bin Al-Hakam. Padahal tempat itu dahulunya oleh Rasul Allah s.a.w. telah diserahkan kepada kaum muslimin sebagai milik umum.

Namun yang sangat menyakitkan Ali adalah pengambil-alihan tanah Fadak oleh khalifah dan kemudian diserahkannya kepada kepada pembantu dekatnya. Padahal tanah Fadak ini memiliki arti yang sangat khusus di mata Ali dan mengingatnya selalu membuat hatinya sedih sekaligus marah.

Tanah fadak adalah tanah pampasan perang yang oleh Rosulullah telah diberikan kepada putri tercintanya, Fathimah az-Zahra sang bunga surga, yang juga istri tercinta Ali bin Abi Thalib. Tindakan Rosulullah memberikan tanah Fadak kepada Fathimah adalah mengikuti perintah Allah yang diturunkan dalam Al Qur’an: “Dan kepada kerabatmu, berikanlah akan haknya.” Tanah ini sangat subur dan luas dan selama bertahun-tahun dalam masa pemerintahan Rosulullah telah memberikan banyak keuntungan bagi keluarga Ali dan Fathimah.

Saat Abu Bakar berkuasa sebagai khalifah, ia mengambil tindakan yang sangat menyakitkan Fathimah dan Ali, yaitu merampas tanah itu dengan dalih sebuah hadits yang sangat kontroversial. Abu Bakar berdalih bahwa Rosulullah pernah bersabda bahwa sebagai seorang rosulullah beliau tidak meninggalkan warisan. Atas dasar hadits itu maka Abu Bakar mengambil alih tanah fadak dan menyerahkannya sebagai harta kekayaan negara (baithul mal).

Fathimah dan Ali tidak pernah mendengar hadits tersebut tentu saja menolak klaim Abu Bakar. Bagaimana mungkin sebagai ahli waris, Fathimah tidak diberitahu oleh Rosulullah langsung kalau memang beliau pernah mengatahan hal itu. Selain itu hadits tersebut juga bertentangan dengan Al Qur’an yang menyebutkan para rosul juga meninggalkan warisan sebagaimana Nabi Daud memberi warisan kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Zakaria memberi warisan kepada Nabi Yahya. Bahkan ketika Fathimah berdalih tanah tersebut bukan warisan karena telah diberikan Rosulullah beberapa tahun sebelum meninggal, Abu Bakar tidak bergeming. Dengan dalih sebagai amirul umat ia tetap mengambil alih tanah fadak sehingga membuat Fathimah marah dan membawa kemarahannya hingga ke liang kubur.

Abu Bakar telah membuat Ali marah karena merampas tanah fadak untuk kepentingan umat. Apalagi Usman yang telah merampasnya untuk diserahkannya kepada kerabatnya sendiri.

Khalifah Utsman juga mengeluarkan sebuah peraturan yang menggelisahkan penduduk Madinah. Di dalam peraturan itu ditetapkan, bahwa padang ilalang sekitar kota, yang secara tradisional sudah menjadi padang penggembalaan umum, dinyatakan tertutup kecuali bagi ternak milik orang-orang Bani Umayyah.

Lebih dari itu, daerah Afrika Barat bagian utara, yang sekarang dikenal dengan wilayah-wilayah Marokko, Aljazair, Tunisia, Libya dan terus ke timur sampai Mesir, dikuasakan seluruhnya kepada Abdullah bin Abi Sarah dengan wewenang penuh. Dengan kekuasaan penuh itu Abdullah mempunyai posisi penguasa mutlak di daerah itu, seolah-olah seorang penguasa negara di dalam negara.

Abdullah adalah saudara sesusuan Khalifah yang pernah dijatuhi hukuman mati oleh Rosulullah sewaktu Penaklukan Mekkah, karena kejahatannya yang luar biasa kepada Islam. Ia selamat setelah Utsman menghalang-halangi niat nabi untuk mengeksekusinya. Sebenarnya Nabi tidak pernah mengampuninya. Beliau hanya menghindari perselisihan dengan Utsman yang ngotot membela saudara sesusuannya meski Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk memenuhi perintah Rosulnya, tanpa reserve karena perintah Allah memang tidak untuk diperdebatkan.

Kepada Abu Sufyan, dedengkot Quraisy yang dulunya terkenal peranannya sebagai salah seorang tokoh paling getol memerangi Rasul Allah s.a.w., dan baru masuk Islam setelah jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum muslimin, oleh Khalifah Utsman diberi hadiah sebesar 200.000 dirham. Uang itu diambil dari Baitul Mal. Sedangkan ketika Marwan bin Al-Hakam dipungut sebagai menantu untuk dinikahkan dengan puterinya yang bernama Aban, Khalifah Utsman membekalinya lagi dengan uang sebesar 100.000 dirham, juga diambil dari Baitul Mal.

Sebuah riwayat mengisahkan, ketika Khalifah Utsman mengambil uang 100.000 dirham dari Baitul Mal untuk diserahkan kepada menantunya, Marwan bin Al Hakam, datanglah pengurus Baitul Mal, Zaid bin Arqam (salah satu sahabat utama yang paling awal masuk Islam dan rumahnya dijadikan sebagai tempat dakwah awal Rosulullah), menghadap Khalifah. Ia datang sambil menangis untuk menyerahkan kunci Baitul Mal.

Dengan keheran-heranan. Khalifah bertanya kepada Zaid bin Arqam: “Mengapa engkau menangis? Apakah karena aku hendak memungut Marwan bin Al-Hakam jadi menantu?”

“Tidak!”, jawab Zaid sambil menundukkan kepala dan mengusap air mata. “Aku menangis karena aku menduga anda mengambil harta Baitul Mal itu sebagai pengganti kekayaan anda yang dahulu anda infakkan di jalan Allah, yaitu pada masa Rasul Allah s.a.w. masih hidup. Demi Allah, uang 100.000 dirham yang anda berikan kepada Marwan itu sungguh terlampau banyak.”

“Hai Ibnu Arqam, letakkan kunci itu!” hardik Khalifah dengan wajah merah padam. “Kami bisa mendapatkan orang lain yang tidak seperti engkau.”

Pada masa itu kaum muslimin benar-benar merasakan adanya perbedaan yang sangat menyolok antara kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah-khalifah terdahulu dengan penerusnya yang sekarang ini. Aparatur pemerintahan Khalifah tidak mau menanggulangi, sehingga keamanan dan ketertiban sangat terganggu. Ini menambah keresahan dan kecemasan penduduk.

Ali dan banyak para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang heran menyaksikan tindakan-tindakan Khalifah Utsman. Sebab mereka tahu, ia terkenal sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad. Seorang mukmin yang taqwa dan shaleh, tidak pernah mementingkan diri sendiri atau golongannya. Dermawan besar yang tak pernah menghitung-hitung untung-rugi dan resiko dalam berjuang untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Namun Ali kemudian ingat hadits Rosulullah, bahwa sebagian dari para sahabat yang dahulu iklhas berjuang menegakkan Islam, setelah kematian Rosulullah akan saling bertikai karena memperebutkan dunia. Ali juga ingat dengan peringatan Allah kepada Rosulullah mengenai “melencengnya” para sahabat dari jalan Allah sepeninggal beliau. Hingga di akhirat kelak Rosul akan bersaksi sebagaimana kesaksian Nabi Isa atas pengikut-pengikutnya: “Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Kemudian setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka.” (QS Al Maidah 117)

Betapa klalifah telah menyimpang dari ajaran Rosul. Ia bahkan berani menentang nash-nash yang telah jelas dalam Al Qur’an dan hadits, misalnya dalam hal pembagian ghanimah dan merehabilitasi musuh Rosulullah. Ali masih mengingat dengan jelas apa yang telah disumpahkan oleh Uthsman sebelum dilantik sebagai khalifah.

Saat itu, sidang majelis syoru yang dibentuk untuk memilih khalifah pengganti Umar bin Khattab sampai pada satu titik di mana kandidat khalifah telah mengerucut menjadi dua orang: Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan. Abdurrahman bin Auf kemudian mengambil inisiatif. Ia mendatangi Ali dan manyatakan bahwa ia dan anggota-anggota majelis lainnya akan membai’at Ali jika mau bersumpah akan menjalankan pemerintahan berdasar Al Qur’an, sunnah Rosul dan sunnah Abu Bakar dan Umar.

Ali dengan tegas menolak permintaan tersebut dan hanya mau bersumpah menjalankan pemerintahan berdasar Al Qur’an dan hadits Rosul.

Kemudian Abdurrahman mendatangi Uthsman dan mengajukan permintaan yang sama. Dengan tegas Uthsman menyetujuinya. Maka terpilihlah Uthsman sebagai khalifah. Namun kebijakan pemerintahan pertama yang dilakukannya justru melanggar sumpahnya, yaitu mengganti para pejabat yang telah diangkat Abu Bakar dan Umar dengan pejabat dari kerabatnya sendiri.

Abu Dzar dibuang

Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling tidak disukai oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam terkenal amat liar, kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka menjadi sasaran penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin terkemuka di kalangan mereka.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendiriannya. Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan da’wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys hingga ia nyaris meninggal karena dikeroyok orang-orang Qureiys yang marah. Sekembalinya ke daerah pemukimannya dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di Islamkan.

Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani Aslam, Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: “Ghifar…, Allah telah mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!”

Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan kebenaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai “cahaya terang benderang.”

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain.

Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yang akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengangkangi harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: “Demi Allah, yang mengutusmu membawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!”

Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: “Kutunjukkan cara yang lebih baik dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!” Rasul Allah s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar, gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab, berkat ketegasan dan keketatannya dalam bertindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, penyakit yang membahayakan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim hujan. Khalifah Utsman bin Affan sendiri tidak berdaya menanggulanginya. Nampaknya karena usia Khalifah Utsman sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan, hanya karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa potong roti. Padahal para penguasa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin bertambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum muslimin banyak disalah-gunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan menghunus pedang. Berjuang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngiang terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesarungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang memperingatkan para penguasa dan orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka kembali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di Syam, ia selalu memperingatkan orang dengan ayat-ayat Al Qur’an: “Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih pada hari kiamat.”

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umumnya terdiri dari fakir miskin dan orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegakkannya kembali prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam, memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk membendung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: “Aku sungguh heran melihat orang yang di rurnahnya tidak mempunyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar menghunus pedang!”

Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajaran-ajaran kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: “Semua manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…,” “Tak ada manusia yang lebih afdhal selain yang lebih besar taqwanya…”, “Penguasa adalah abdi masyarakat,” “Tiap orang dari kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas kegembalaannya….” dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang bergelimang dalam kehidupan mewah sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar, tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nurani. Abu Dzar dimusuhi dan kepadanya dilancarkan berbagai tuduhan. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di Makkah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa rasa takut sedikit pun ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiyyah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar berkata: “Bukankah kalian itu yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai penumpuk emas dan perak, dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!”

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muawiyah bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat berbuat apa saja. Namun meski membahayakan kekuasaan, Abu Dzar adalah sahabat Rosul yang mulia. Muawiyah tidak berani bertindak keras terhadapnya. Ia hanya harus disingkirkan dari daerah kekuasaannya.

Segera Muawiyah menulis sepucuk surat kepada Khalifah Utsman di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan tentang Abu Dzar yang menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil salah satu tindakan. Berikan kekayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pembuangan.

Khalifah Utsman melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada Abu Dzar diajukan dua pilihan: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu, Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Khalifah Utsman masih terus menghimbau Abu Dzar. Dikemukakannya: “Tinggal sajalah di sampingku!”

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar berjuang semata-mata untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya menghendaki supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar. Memang justru itulah yang sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman, sebab ia harus memotong urat nadi para pembantu dan para penguasa bawahannya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. Akhirnya, atas desakan dan tekanan para pembantu dan para penguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman mengambil keputusan: Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah, satu daerah di tengah padang pasir yang tidak berpenghuni dan tandus. Tak boleh ada seorang pun mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau mengantarkannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah s.w.t. selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman. Ia berkata: “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib yang tinggi atau di atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan seandainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku.”

Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yang penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan melanda ummat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sangat mengejutkan kaum muslimin, khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya. Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam kepada Abu Dzar.

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam bukunya As Saqifah, berdasarkan riwayat yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan Khalifah Utsman di atas: Khalifah Utsman memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali r.a., yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: “Hai Hasan, apakah engkau tidak mengerti bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti, ketahuilah sekarang!”

Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya. Sambil membentak ia mencambuk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: “Pergilah engkau dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka.”

Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-ronta kesakitan. Marwan sangat marah, tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota keluarganya.

Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata mendorong orang lain berani mendekati Abu Dzar guna mengucapkan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib.

Dzakwan di kemudian hari menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Hai Abu Dzar engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan membuangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup rapat bagi hamba Allah, tetapi hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang menjengkelkan hatimu selain kebatilan!”

Atas dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: “Hai Abu Dzar, apa lagi yang hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sajalah sepenuhnya kepada Allah, sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati. Ketahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharapkan maaf dari orang lain sama artinya dengan putus asa. Oleh karena itu buanglah rasa takut dan putus asa.”

Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: “Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu. Buang sajalah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar ridho kepadamu.”

Setelah Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: “Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan kekuasaan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mempercepat datangnya rizki dan kebatilan tidak akan menunda datangnya ajal!”

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: “Allah tidak akan membuat senang orang yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu. Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang mencegah orang supaya tidak mengatakan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang yang merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh karena itu banyak orang “menghadiahkan” agamanya masing-masing kepada mereka, dan sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan duniawi kepada orang-orang itu. Dengan berbuat seperti itu, sebenarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukankah itu suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!”

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: “Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudara-saudaraku di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang ke satu daerah, di mana aku tidak akan mempunyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t. Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut menghadapi kesulitan…”

Tutur Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang mengantarkan pulang, Imam Ali r.a. segera datang menghadap Khalifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah bertanya dengan hati gusar: “Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku, yakni Marwan dan meremehkan perintahku?”

“Tentang petugasmu,” jawab Imam Ali r.a. dengan tenang “ia mencoba menghalang-halangi niatku. Oleh karena itu ia kubalas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya.”

“Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu Dzar?” ujar Khalifah dengan marah.

“Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang bersifat kedurhakaan harus kuturut?” tanggap Imam Ali r.a. terhadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

“Kendalikan dirimu terhadap Marwan!” ujar Khalifah memperingatkan Imam Ali r.a.

“Mengapa?” tanya Imam Ali r.a.

“Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang dikendarainya” jawab Khalifah.

“Mengenai untanya yang kucambuk,” Imam Ali menjelaskan sebagai tanggapan atas keterangan Khalifah Utsman, “bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampal memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!”

“Mengapa dia tidak boleh memakimu?” tanya Khalifah Utsman dengan mencemooh. “Apakah engkau lebih baik dari dia?!”

“Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!” sahut Imam Ali r.a. dengan tandas. Habis mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Sikap Ali bukanlah cerminan kesombongan, melainkan cerminan integritas diri. Ali menyadari sepenuhnya keutamaannya dibandingkan Uthsman: Ali lebih dahulu masuk Islam, Ali lebih banyak jasanya dalam menegakkan perjuangan Islam, Ali kerabat dekat Rosul sekaligus suami dari anak kesayangan Rosul. Ia orang yang oleh Rosul dinyatakan sebagai “saudara Rosul sebagaimana Nabi Harun bagi Nabi Musa”, “kunci kota ilmu”, “orang yang diridhoi Allah dan Rosulnya” serta julukan-julukan bernada pujian lainnya yang tidak disandang orang lain. Dan lebih dari itu Ali adalah seorangahlul bait yang oleh Allah telah dinyatakan suci.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman memanggil tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia menyatakan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.

Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan, para pemuka yang beliau ajak berbicara menasehatkan: “Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik.”

“Aku memang menghendaki itu,” jawab Khalifah Utsman. Sesudah ini beberapa orang dari pemuka muslimin itu mengambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali r.a. dan Khalifah Utsman. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali r.a. mereka bertanya: “Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk meminta maaf?”

“Tidak,” jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. “Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau datang kepadanya.”

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman. Imam Ali r.a. datang bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah s.w.t., Imam Ali r.a. berkata: “Yang kau ketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang keputusanmu. Yang ku maksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalang-halangi Marwan, sama seperti dia menghalang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluarlah marahku, yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya.”

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman berkata dengan nada lemah lembut: “Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah ku ikhlaskan. Dan apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaafkan perbuatanmu. Adapun mengenai apa yang tadi engkau sampai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguh-sungguh dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu….!”

Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman dan dilekatkan pada dadanya.

Bagaimana keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembuangannya? Ia mati kelaparan bersama isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraannya di tempat pembuangan, dituturkan sebagai berikut: Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri bertahan hidup dengan sangat sengsara. Berhari-hari sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia mengajak isterinya pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetumbuhan.

Keberangkatan mereka berdua diiringi tiupan angin kencang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak menemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik.

Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak menangis,” jawab isterinya yang setia itu, “kalau menyaksikan engkau mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus pemakamanmu!”

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia berkata: “Cobalah lihat ke jalan di gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin yang lewat!”

“Bagaimana mungkin?” jawab isterinya. “Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang sudah lenyap!”

“Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat,” kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. “Jika engkau melihat ada orang lewat, berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak melihat seorang pun, tutup sajalah mukaku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia sudah hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!”

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sana-kemari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang kafilah lewat, tampak benda-benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari kejauhan rombongan kafilah itu melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya, kemudian bertanya: “Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?”

“Apakah kalian orang muslimin?” isteri Abu Dzar balik bertanya. “Bisakah kalian menolong kami dengan kain kafan?”

“Siapa dia?” mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

“Abu Dzar Al-Ghifari!” jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mulanya mereka tidak percaya, bahwa seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. “Sahabat Rasul Allah?” tanya mereka untuk memperoleh kepastian.

“Ya, benar!” sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: “Ya Allah…! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada kita!”

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar. Orangtua yang sudah dalam keadaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata: “Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain dengan bajuku sendiri atau baju isteriku…..Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari kalian yang memberi kain kafan kepadaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai.”

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: “Hai paman, akulah yang akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerih payahku.

Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk kupergunakan sebagai pakaian ihram…”

“Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!” Sahut Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan.

Selesai dimakamkan, orang Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: “Ya Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah sujud kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyrikin, tidak pernah merusak atau mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan dihinakan. Sekarang ia mati dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang membuangnya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!”

Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucapkan “Aamiin” dengan khusyu’. Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat. Semasa hidupnya Rosulullah pernah berkata kepadanya: “Engkau datang sendirin. Engkau pun akan maninggal dalam kesendirian.” Sementara Abu Dzar pernah berpesan: “Kebenaran tidak meninggalkan pembela bagiku…”

Namun tragisnya, para musuh Abu Dzar masih terus berusaha mendeskreditkan manusia “mulia” ini. Misal adanya sebuah cerita bahwa Abu Dzar pernah meminta suatu jabatan pemerintahan kepada khalifah. Permintaan tersebut ditolak karena Abu Dzar dianggap sebagai orang yang lemah dan itu menjadi penyebab ia menentang khalifah.

Yah begitulah. Bahkan kepada para ahlul bait yang oleh Allah telah disucikan sesuci-sucinya pun, mereka masih berusaha mendeskreditkannya, sampai sekarang

.

ALLAH dan Rasulullah menggunakan kosa kata SAHABAT untuk orang2 yang masuk surga (Jannah) dan orang2 yang masuk api neraka

SHOHIB = kawan, teman, penghuni, pemilik dll

ASHABU = kawan2, teman2, penghuni2, pemilik2 dll

ALQURAN 7:50
Ahabu Nar (sahabat2 di api neraka) berkata kepada Ashabu Jannah (sahabat2 di dalam surga): “Berikanlah kami sedikit air atau makanan yang telah diberikan oleh ALLAH kepada kamu!”

ALQURAN 5:10
Orang2 Kafir yang mendustakan ayat ayat kami (AlQuran); sesungguhnya mereka Ashabu Al Jahim (sahabat2 di dalam neraka Jahim)

Jika kita membaca semua kosa kata ASHABU (sahabat2, kawan2, teman2) di dalam AlQuran dengan teliti; maka kita bisa melihat bahwa ALLAH menggunakan kosa kata SAHABAT untuk mereka yang masuk api neraka dan juga untuk mereka yang masuk surga.

Ulama Sunni sengaja memutar-balikan ayat ayat AlQuran untuk membodohi ummat Islam.

SYIRIK (dosa terbesar yang tidak akan diampuni oleh ALLAH); adalah aqidah (kepercayaan & keyakinan) kaum Sunni; karena Kaum Sunni rajin memuji para sahabat; sehingga Kaum Sunni tidak bisa melihat dan tidak bisa mempelajari kesalahan2 yang dilakukan oleh para sahabat; padahal semua pujian hanya dimiliki oleh ALLAH.

Kaum Syiah sengaja mempelajari kesalahan2 yang dilakukan oleh para sahabat setelah Rasulullah wafat; supaya kamu Syiah tidak mengulangi kesalahan2 yang sama; karena Kaum Syiah tidak mau dihukum oleh ALLAH di dunia ini dan di akhirat nanti.

ASHABI (kawan-kawanku, teman-temanku, sahabat-sahabatku)

SHOHIH BUKHARI, Kitab 60 no 149
Ibn Abbas melaporkan bahwa Rasulullah berkata (di depan para sahabatnya): “Ya manusia, kamu akan dikumpulkan pada hari Qiyammah di depan ALLAH dalam keadaan telanjang, tidak ada alas kaki dan tidak disunat. Rasulullah mengucapkan ayat ayat ALLAH

ALQURAN 21:104
Pada hari kami gulung langit seperti kami gulung lembaran lembaran kertas; sebagaimana kami telah menciptaan ciptaan kami yang pertama; kami akan mengulanginya; karena itu adalah janji kami; sesungguhnya akan terjadi karena kami akan melaksanakannya

Rasulullah melanjutkan dan berkata: “Orang pertama yang akan diberikan pakaian adalah Nabi Ibrahim pada hari kebangkitan. Banyak orang yang mengikuti saya akan dibawa kepada saya; kemudian mereka dimasukan ke dalam api neraka!”

Rasulullah akan berkata (kepada ALLAH): “Mereka adalah ASHABI (sahabat-sahabatku, kawan-kawnku, teman-temanku)!”

ALLAH akan berkata (kepada Nabi Muhammad): “Kamu tidak mengetahui perbuatan mereka setelah kepergianmu (setelah Muhammad wafat); mereka telah MURTAD setelah kepergian kamu!”

Rasulullah akan mengutip ayat AlQuran yang diucapkan oleh Nabi Isa Al Masih

ALQURAN 5:118
Jika anda menyiksa mereka; sesungguhnya mereka adalah hamba-hambamu; jika anda mengampuni mereka; sesungguhnya anda maha perkasa dan maha bijaksana.

KESIMPULAN

Perhatikan kosa kata ASHABI (sahabat-sahabatku, kawan-kawanku, teman-temanku) dipergunakan oleh Rasulullah untuk para sahabat yang akan dimasukan ke dalam api neraka.

Ulama Sunni sengaja menyembunyikan atau rajin menutup-nutupi Hadith ini; supaya SYIRIK (dosa terbesar) tersebar di dalam kalangan Kaum Ahlul Sunnah Wal Jamaah.

Ulama Sunnah sengaja menyembunyika Hadith tersebut; supaya semua sahabat bisa dipuji oleh ummat Islam; ini adalah kesalahan besar yang dilakukan oleh Ulama Sunnah; karena semua pujian hanya dimiliki oleh ALLAH; bukan dimiliki oleh para sahabat.

Tidakkah mereka membaca Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Ali : “Tidaklah seseorang yang mencintaimu kecuali dia adalah seorang mukmin dan tidak membencimu kecuali dia adalah seorang munafik”?

Anehnya hadits ini selalu terpampang di salah blog nashibi.
Definisi keadilan cuma satu yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Mengenai masalah munafik ini adalah masalah hati, makanya Nabi tidak menghukum Abdullah bin Ubay padahal nabi mengetahui tentang kemunafikannya. Terus saya koreksi sedikit bahwa memang sahabat itu manusia biasa dan tidak maksum. Jadi sahabat bisa melakukan kesalahan dan dosa.

siapa nama-nama kaum munafik yang hidup di madinah di zaman Nabi saw seperti yang disebutkan oleh ayat Qs. At taubah 101   biar sunni tidak terkena hadis-hadis palsu yang mereka susupkan, yang terlanjur tercantum dikitab-kitab hadis/shahih sunni

Saya juga minta tolong kepada syekh-syekh salafiyun barangkali tau atau dapat wangsit tentang siapa nama-nama kaum munafik yang hidup di madinah di zaman Nabi saw… seperti yang disebutkan oleh ayat ini (biar kami tidak terkena hadis-hadis palsu yg mereka susupkan, yg terlanjur tercantum dikitab-kitab hadis/shahih sunni :

وَمِمَّنْ حَوْلَكُم مِّنَ الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُواْ عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar (Al Qur’an, S. At Taubah[9]: 101)

bacalah ALQURAN 25:30-31

30. Rasulullah berkata: “Ya Tuhanku, KAUMKU telah meninggalkan AlQuran!”

31. ALLAH berkata: “dan seperti itulah (yang terjadi); telah kami adakan untuk semua nabi; musuh dari orang orang yang berdosa; dan cukuplah ALLAH menjadi penolong dan pemberi petunjuk

Perhatikanlah kosa kata KAUMKU di dalam ayat ayat AlQuran tersebut. Para sahabat juga termasuk KAUM MUHAMMAD. Sebagian dari para sahabat melanggar AlQuran setelah kepergian Rasulullah (setelah Nabi Muhammad wafat)

Mereka yang melanggar AlQuran akan dijadikan musuh2 Nabi Muhammad pada hari Qiyammah nanti. Berapa banyak sahabat yang melanggar AlQuran; sehingga mereka saling membunuh di dalam perang Riddah, perang Siffin, perang Jamal dan perang perang yang lain.

Mayoritas Ulama Sunni adalah orang2 yang pintar dan yang mengagumkan; tetapi minoritas Ulama Sunni adalah orang2 yang sombong.

Minoritas Ulama Sunni inggin ummat Islam memuji para sahabat; dengan alasan semua sahabat adalah manusia yang sempurna; padahal semua pujian hanya dimiliki oleh ALLAH; sehingga tidak mungkin para sahabat melakukan kesalahan2.

Jika Kaum Syiah mempelajari kesalahan2 yang dilakukan oleh para sahabat setelah Rasulullah wafat; supaya Kaum Syiah tidak mengulangi kesalahan2 yang sama;

maka Ulama Sunni tersebut akan marah dan akan tersinggung; kemudian Ulama Sunni tersebut menuduh Kaum Syiah sebagai orang2 yang suka menghamun (mencela, menghina) para sahabat; padahal SYIRIK (dosa terbesar) adalah keyakinan Kaum Sunni

Apa yang dimaksud “wafat dalam keadaan islam”?. Apakah setiap orang yang dinyatakan sahabat oleh Ibnu Hajar [dalam Al Ishabah] memiliki data riwayat bahwa mereka wafat dalam keadaan islam.

ucapan anda dipertanggungjawabkan di hadapan Allah lho…jangan asal ucap, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar!”(QS. AlBaqarah: 111)

 

Di dalam Bab II, “Sawaiq al-Muhriqah”, Ibn Hajar mencatatkan Hafiz Jamaluddin Mohammad bin Yusuf Zarandi Madani (seorang faqih dan ulama di kalangan mazhab Sunni) yang mengatakan, “… tatkala engkau dan pengikut-pengikut (Syi’ah) engkau akan datang pada Hari Pembalasan kelak di dalam keadaan diridhai Allah dan Allah ridha terhadap kamu semua. Musuh-musuh engkau akan berasa cemburu dan tangan mereka akan dibelenggu ke leher mereka.” Kemudian Ali as bertanya siapakah musuhnya. Rasulullah saww menjawab, “Orang-orang yang memusuhi engkau dan yang menghina engkau.” Allamah Samhudi di dalam “Jawahirul”, dengan pengesahan Hafiz Jamaluddin Zarandi Madani dan Nuruddin Ali bin Mohammad bin Ahmad Maliki Makki yang terkenal sebagai Ibn Sabbagh, yang dianggap sebagai ulama yang berwibawa dari kalangan ulama Sunni dan juga seorang ahli ilmu kalam, di dalam bukunya “Fusul al-Muhimmah”, pada halaman 122, memetik dari Abdullah bin Abbas bahwa, ketika ayat tersebut diwahyukan Rasulullah saww bersabda kepada Ali as, “Engkau dan Syi’ahmu. Engkau dan merekalah yang akan datang di Hari Pembalasan kelak dengan penuh keridhaan dan kepuasan, manakala musuh-musuh engkau akan datang dengan kesedihan dan terbelenggu tangan-tangan mereka.”

Mir Syed Ali Hamdani Syafie, salah seorang daripada ulama Sunni yang terpercaya, menyebut di dalam bukunya “Mawaddatul Qurba.” Juga Ibn Hajar, seorang yang terkenal sebagai anti-Syi’ah di dalam bukunya “Sawaiq al-Muhriqah” meriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah, isteri Nabi saww, bahwa Rasulullah saww bersabda, “Hai Ali, engkau dan Syi’ahmu akan kekal di dalam Syurga, engkau dan Syi’ahmu akan kekal di dalam Syurga.”

Seorang ulama yang terkemuka, Khawarazim Muaffaq bin Ahmad di dalam “Manqib”nya, Bab 19, meriwayatkan dari Rasulullah saww di atas pengesahan yang tidak dapat diragukan, bahwa Baginda Nabi bersabda kepada Ali as, “Di kalangan umatku, engkau adalah seumpama Isa al-Masih Ibn Mariam as, yakni sebagaimana pengikut Nabi Isa as yang telah berpecah kepada tiga kelompok, yaitu yang benar-benar beriman yang dikenali sebagai Hawariyyin, penentangnya yaitu orang-orang Yahudi dan satu lagi golongan yang melampaui batas, yang menyamakan beliau dengan sifat-sifat ketuhanan. Seperti itu juga umat Muslim, yang akan berpecah kepada tiga kelompok terhadap engkau. Salah satu dari mereka adalah Syi’ahmu, dan mereka inilah golongan yang benar-benar beriman. Yang lainnya adalah musuh-musuh engkau dan mereka itulah yang memungkiri janji-janji untuk taat setia kepadamu, dan yang ketiganya adalah golongan yang melampaui batas mengenai kedudukan engkau dan mereka adalah orang-orang yang menolak kebenaran serta tersesat. Jadi, engkau, hai Ali, dan juga Syi’ahmu akan berada di dalam Syurga, dan juga orang-orang yang mencintaimu akan berada di dalam Syurga sedangkan musuh-musuhmu dan mereka yang berlebih-lebihan terhadapmu akan berada di dalam Neraka.”

Biarin aja mas. Konsekuensi dari kalimat tsb adalah;

(1) Bahwa tidak selalu orang2 yang beserta Nabi saw akan mati dalam keadaan Islam.

Bagaimana kalau nashibi maksa semuanya harus atau pasti mati dalam keadaan Islam? Wah kalau udah gitu sy nyerah deh. :roll:

(2) Bahwa sebelum mereka mati, mereka belum bisa disebut sahabat. Jadi nanti saat mati baru ketahuan mana sahabat mana yang bukan.

(3) Bahkan yang mati pun belum bisa disebut sahabat kalau ga ketahuan matinya kapan, dimana dan bagaimana.

Nah, tinggal nanya ke nashibi: “berapa banyak data yang mereka punyai mengenai orang2 di sekitar Nabi saw yang matinya ketahuan dalam keadaan Islam?” :)

Malah bagus kan? :mrgreen:

Perawi-perawi dan para ulama telah memberitakan bahwa terdapat sahabat Nabi saw yang munafik serta macam2 prilaku buruk. Ayat2 Alquran sdh memastikan adanya orang2 di sekitar Nabi saw yang munafik. Hanya salafiyyun yang bersikeras dan ngotot bahwa sahabat Nabi saw tidak ada yang munafik, bahwa semua sahabat ‘adil. Bagi mereka yang mau membaca dan menggunakan akal sehatnya akan mampu melihat secara terang benderang mana pemahaman yang benar mana yang keliru.

Semoga Allah swt memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.

Abu Dzar Al Ghifari dibuang Usman bin Affan ke Gurun Pasir Sehingga Kelaparan dan Menderita Lalu WAFAT !!!

Penderitaan Abu Dzar ( Sahabat Rasulullah Saw), Dibuang  Ustman Karena Perjuangannya Mempertahankan Kebenaran Dan Keadilan Ummat

Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling tidak disukai oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman r.a., seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam terkenal amat liar, kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka men­jadi sasaran penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin terkemuka di kalangan mereka.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendiriannya.

Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan da’wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys. Sekembalinya ke daerah pemukimannya dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di Islamkan.

Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani Aslam, Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: “Ghifar…, Allah telah mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!”

Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan ke­benaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai “cahaya terang ben­derang.”

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain.

Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yang akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengang­kangi harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: “Demi Allah, yang mengutusmu mem­bawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!”

Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: “Kutunjukkan cara yang lebih baik dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!” Rasul Allah s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar r.a. gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., berkat ketegasan dan keketatannya dalam ber­tindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerin­tahan Khalifah Utsman bin Affan r.a., penyakit yang membahaya­kan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim hujan. Khalifah Utsman bin Affan r.a. sendiri tidak ber­daya menanggulanginya. Nampaknya karena usia Khalifah Utsman r.a. sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan, hanya karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa potong roti. Padahal para pengua­sa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin ber­tambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum muslimin banyak disalah-gunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan menghunus pedang. Ber­juang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngi­ang terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesa­rungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang mem­peringatkan para penguasa dan orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka kem­bali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di Syam, ia selalu memperingatkan orang: “Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan tidak meng­infaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang Pedih. Pada hari kiamat

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umum­nya terdiri dari fakir miskin dan orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegak­kannya kembali prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, sesuai de­ngan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam, memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk memben­dung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: “Aku sungguh heran melihat orang yang di rumahnya tidak mem­punyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar menghunus pedang!”

Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajar­an-ajaran kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: “Semua manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…,” “Tak ada manusia yang lebih afdhal selain yang lebih besar taqwanya…”, “Penguasa adalah abdi masyarakat,” “Tiap orang dari kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas kegembalaannya….” dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang ber­gelimang dalam kehidupan mewah sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar, tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nura­ni. Abu Dzar dimusuhi dan kepadanya dilancarkan berbagai tuduh­an. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di Mak­kah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa ra­sa takut sedikit pun ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiy­yah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar berkata: “Bu­kankah kalian itu yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai penumpuk emas dan perak, dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!”

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muaw iyah bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat berbuat apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera ditulis sepucuk surat kepada Khalifah Utsman r.a. di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan tentang Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil salah satu tindakan. Berikan ke­kayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pem­buangan.

Khalifah Utsman r.a. melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada Abu Dzar diajukan dua pili­han: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu, Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: “Aku tidak membu­tuhkan duniamu!”

Khalifah Utsman r.a. masih terus menghimbau Abu Dzar. Di­kemukakannya: “Tinggal sajalah di sampingku!”

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar ber­juang semata-mata untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya meng­hendaki supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. Memang justru itulah yang sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman r.a., sebab ia ha­rus memotong urat nadi para pembantu dan para penguasa bawah­annya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. A­khirnya, atas desakan dan tekanan para pembantu dan para pe­nguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman r.a. mengambil keputu­san: Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau mengantar­kannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah s.w.t. selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman r.a. ia berkata: “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalib­ku di kayu salib yang tinggi atau di atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus ber­jalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan se­andainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupan­dang hal itu lebih baik bagiku.”

Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yang penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan melanda ummat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sa­ngat mengejutkan kaum muslimin, khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya. Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam kepada Abu Dzar.

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam buku­nya As Saqifah, berdasarkan riwayat yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan Khalifah Utsman r.a. di atas:

Khalifah Utsman r.a. memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali r.a., yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: “Hai Hasan, apakah engkau tidak me­ngerti bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti, ketahuilah sekarang!”

Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya. Sambil membentak ia mencam­buk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: “Pergilah engkau dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka.”

Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-­ronta kesakitan. Marwan sangat marah, tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota keluarganya.

Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata men­dorong orang lain berani mendekati Abu Dzar guna mengucap­kan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib.

Dzakwan di kemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Hai Abu Dzar engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan mem­buangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup ra­pat bagi hamba Allah, tetapi hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang menjengkelkan hatimu selain kebatilan!”

Atas dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: “Hai Abu Dzar, apa lagi yang hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sa­jalah sepenuhnya kepada Allah, sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati. Ke­tahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharap­kan maaf dari orang lain sama artinya dengan putus asa. Oleh ka­rena itu buanglah rasa takut dan putus asa.”

Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: “Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu. Buang saja­lah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar ridho kepadamu.”

Setelah Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: “Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan kekua­saan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mem­percepat datangnya rizki dan kebatilan tidak akan menunda da­tangnya ajal!”

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: “Allah tidak akan membuat senang orang yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu. Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang mencegah orang supaya tidak mengata­kan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang yang merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh karena itu ba­nyak orang “menghadiahkan” agamanya masing-masing kepada mereka, dan sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan du­niawi kepada orang-orang itu. Dengan berbuat seperti itu, se­benarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukan­kah itu suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!”

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: “Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudara-saudaraku di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang ke satu daerah, di mana aku tidak akan mem­punyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t. Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut menghadapi kesulitan…”

Tutur Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang me­ngantarkan pulang, Imam Ali r.a. segera datang menghadap Kha­lifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah ber­tanya dengan hati gusar: “Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku –yakni Marwan– dan meremehkan perintahku?”

“Tentang petugasmu,” jawab Imam Ali r.a. dengan tenang “ia mencoba menghalang-halangi niatku. Oleh karena itu ia ku­balas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya.”

“Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu Dzar?” ujar Khalifah dengan marah.

“Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang ber­sifat kedurhakaan harus kuturut?” tanggap Imam Ali r.a. ter­hadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

“Kendalikan dirimu terhadap Marwan!” ujar Khalifah mem­peringatkan Imam Ali r.a.

“Mengapa?” tanya Imam Ali r.a.

“Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang di­kendarainya” jawab Khalifah.

“Mengenai untanya yang kucambuk,” Imam Ali menjelas­kan sebagai tanggapan atas keterangan Khalifah Utsman r.a., “bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampai memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!”

“Mengapa dia tidak boleh memakimu?” tanya Khalifah Utsman r.a. dengan mencemooh. “Apakah engkau lebih baik dari dia?!”

“Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!” sahut Imam Ali r.a. dengan tandas. Habis mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman r.a. memanggil tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia menyata­kan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.

Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan r.a., para pemuka yang beliau ajak berbicara menasehatkan: “Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik.”

“Aku memang menghendaki itu,” jawab Khalifah Utsman r.a. Sesudah ini beberapa orang dari pemuka muslimin itu me­ngambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali r.a. dan Khalifah Utsman r.a. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali r.a. mereka bertanya: “Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk meminta maaf?”

“Tidak,” jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. “Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau datang kepadanya.”

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman r.a. Imam Ali r.a. datang bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah s.w.t., Imam Ali r.a. berkata: “Yang kauketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang keputus­anmu. Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalang-halangi Marwan, sama seperti dia mengha­lang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluar­lah marahku, yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya.”

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman r.a. berkata dengan nada lemah lembut: “Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah kuikhlaskan. Dan apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaaf­kan perbuatanmu. Adapun mengenai apa yang tadi engkau sam­pai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguh-sungguh dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu….!”

Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman r.a. dan dilekatkan pada dadanya.[4]

Bagaimanakah keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembu­angannya? Tidak lain..Ia mati kelaparan bersama isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun bisa turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraan­nya di tempat pembuangan, dituturkan sebagai berikut:

Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri hidup sangat sengsara. Berhari-hari sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia me­ngajak isterinya pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetum­buhan. Keberangkatan mereka berdua diiringi tiupan angin ken­cang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak me­nemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik. Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak menangis,” jawab isterinya yang setia itu, “kalau menyaksikan engkau mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus pemakamanmu!”

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia berkata: “Cobalah lihat ke jalan di ­gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin yang lewat!”

“Bagaimana mungkin?” jawab isterinya. “Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang sudah lenyap!”

“Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat,” kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. “Jika engkau melihat ada orang lewat, berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak melihat seorang pun, tutup sajalah muka­ku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia sudah hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!”

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sana-ke mari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang kafilah lewat, tampak benda-­benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari ke­jauhan rombongan kafilah itu melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya, kemudian bertanya: “Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?”

“Apakah kalian orang muslimin?” isteri Abu Dzar balik ber­tanya. “Bisakah kalian menolong kami dengan kain kafan?”

“Siapa dia?” mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

“Abu Dzar Al-Ghifari!” jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mula­nya mereka tidak percaya, bahwa seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. “Sahabat Rasul Allah?” tanya mereka untuk memperoleh kepastian.

“Ya, benar!” sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: “Ya Allah…! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada kita!”

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar. Orangtua yang sudah dalam ke­adaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata:

“Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain de­ngan bajuku sendiri atau baju isteriku…..Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari kalian yang memberi kain kafan ke­padaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai.”

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: “Hai paman, akulah yang akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerih-payahku. Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk kupergunakan sebagai pakaian ihram…”

“Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!” Sahut Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam ke­adaan tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan.

Selesai di makamkan, orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: “Ya Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah sujud kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyri­kin, tidak pernah merusak atau mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan di hinakan sekarang ia mati dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang membuang­nya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!”

Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucap­kan “Aamiin” dengan khusyu’.

Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat, semasa hidupnya ia pernah berkata: “Kebenaran tidak meninggal­kan pembela bagiku…”

.

KISAH ANTARA ALI, ABU DZAR DAN UTSMAN

Ali bin Abi Thalib tengah galau memikirkan kondisi negara dan umat Islam yang dilanda kekacauan akhir-akhir ini yang disebabkan kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan. Gaya kepemimpinannya yang sangat nepotis itulah yang menjadi penyebabnya. Cara hidup yang mementingkan kesenangan duniawi di kalangan keluarga penguasa, dan sistem kekuasaan yang berdasarkan kerabat dan keluarga, telah membangkitkan rasa tidak puas yang semakin merata di kalangan ummat Islam.

Beberapa waktu setelah terbai’at sebagai Khalifah, Utsman bin Affan mengangkat orang-orang dari kalangan keluaganya (Bani Umayyah) dan di tempatkan pada kedudukankedudukan penting atau lebih penting dibanding dengan orang-orang dari qabilah lain. Posisi-posisi penting dalam kekuasaan negara dibagi-bagikan kepada mereka. Kalau tidak sebagai kepala daerah atau gubernur, mereka diangkat sebagai panglima-panglima pasukan, atau diserahi tanah-tanah yang sangat luas.

Salah satu prestasi besar selama kakhalifahan Utsman, ummat lslam berhasil membebaskan Afrika Utara dari kekuasaan Byzantium. Sayangnya, seperlima dari hasil harta jarahan (ghanimah) yang didapat oleh kaum muslimin dari daerah-daerah Afrika Utara, banyak yang dihadiahkan oleh Khalifah Utsman kepada para pembantunya, terutama Marwan bin Al Hakam. Marwan ini adalah kerabatnya dan kemudian dipungut sebagai menantu. Pembagian ini jelas-jelas bertentangan dengan nash Al Qur’an.

Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-152 telah mengungkapkan kebijaksanaan Khalifah Utsman yang dikendalikan oleh kerabat dekatnya, Marwan bin Hakam dan kawan-kawannya, yang sangat meresahkan kaum muslimin.

Di antara tindakan-tindakan itu disebut pemberian uang sebanyak 400.000 dirham kepada Abdullah bin Khalid bin Asid. Khalifah Utsman juga merehabilitasi dan membolehkan Al-Hakam bin Al-Ash kembali bermukim di Madinah. Padahal Al-Hakam ini dahulu telah diusir oleh Rasul Allah s.a.w. dari kota suci itu, karena penghianatannya terhadap kaum muslimin. Bahkan oleh Khalifah ia diberi modal hidup berupa uang sebesar 100.000 dirham. Sedangkan Khalifah-khalifah yang terdahulu tidak ada yang berani melanggar keputusan yang telah diambil oleh Rasul Allah s.a.w. mengenai pengusiran Al-Hakam.

Masih ada lagi serentetan tindakan atau kebijaksanaan yang dilakukan oleh Khalifah Utsman atas desakan para penasehat dan pembantunya. Yaitu tindakan atau kebijaksanaan yang menyuburkan benih-benih ke-tidak-puasan di kalangan kaum muslimin. Sebuah tempat pusat perdagangan di kota Madinah, yang waktu itu terkenal dengan nama “Mazhur”, oleh Khalifah Utsman dikuasakan kepada Al-Harits bin Al-Hakam, saudara Marwan bin Al-Hakam. Padahal tempat itu dahulunya oleh Rasul Allah s.a.w. telah diserahkan kepada kaum muslimin sebagai milik umum.

Namun yang sangat menyakitkan Ali adalah pengambil-alihan tanah Fadak oleh khalifah dan kemudian diserahkannya kepada kepada pembantu dekatnya. Padahal tanah Fadak ini memiliki arti yang sangat khusus di mata Ali dan mengingatnya selalu membuat hatinya sedih sekaligus marah.

Tanah fadak adalah tanah pampasan perang yang oleh Rosulullah telah diberikan kepada putri tercintanya, Fathimah az-Zahra sang bunga surga, yang juga istri tercinta Ali bin Abi Thalib. Tindakan Rosulullah memberikan tanah Fadak kepada Fathimah adalah mengikuti perintah Allah yang diturunkan dalam Al Qur’an: “Dan kepada kerabatmu, berikanlah akan haknya.” Tanah ini sangat subur dan luas dan selama bertahun-tahun dalam masa pemerintahan Rosulullah telah memberikan banyak keuntungan bagi keluarga Ali dan Fathimah.

Saat Abu Bakar berkuasa sebagai khalifah, ia mengambil tindakan yang sangat menyakitkan Fathimah dan Ali, yaitu merampas tanah itu dengan dalih sebuah hadits yang sangat kontroversial. Abu Bakar berdalih bahwa Rosulullah pernah bersabda bahwa sebagai seorang rosulullah beliau tidak meninggalkan warisan. Atas dasar hadits itu maka Abu Bakar mengambil alih tanah fadak dan menyerahkannya sebagai harta kekayaan negara (baithul mal).

Fathimah dan Ali tidak pernah mendengar hadits tersebut tentu saja menolak klaim Abu Bakar. Bagaimana mungkin sebagai ahli waris, Fathimah tidak diberitahu oleh Rosulullah langsung kalau memang beliau pernah mengatahan hal itu. Selain itu hadits tersebut juga bertentangan dengan Al Qur’an yang menyebutkan para rosul juga meninggalkan warisan sebagaimana Nabi Daud memberi warisan kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Zakaria memberi warisan kepada Nabi Yahya. Bahkan ketika Fathimah berdalih tanah tersebut bukan warisan karena telah diberikan Rosulullah beberapa tahun sebelum meninggal, Abu Bakar tidak bergeming. Dengan dalih sebagai amirul umat ia tetap mengambil alih tanah fadak sehingga membuat Fathimah marah dan membawa kemarahannya hingga ke liang kubur.

Abu Bakar telah membuat Ali marah karena merampas tanah fadak untuk kepentingan umat. Apalagi Usman yang telah merampasnya untuk diserahkannya kepada kerabatnya sendiri.

Khalifah Utsman juga mengeluarkan sebuah peraturan yang menggelisahkan penduduk Madinah. Di dalam peraturan itu ditetapkan, bahwa padang ilalang sekitar kota, yang secara tradisional sudah menjadi padang penggembalaan umum, dinyatakan tertutup kecuali bagi ternak milik orang-orang Bani Umayyah.

Lebih dari itu, daerah Afrika Barat bagian utara, yang sekarang dikenal dengan wilayah-wilayah Marokko, Aljazair, Tunisia, Libya dan terus ke timur sampai Mesir, dikuasakan seluruhnya kepada Abdullah bin Abi Sarah dengan wewenang penuh. Dengan kekuasaan penuh itu Abdullah mempunyai posisi penguasa mutlak di daerah itu, seolah-olah seorang penguasa negara di dalam negara.

Abdullah adalah saudara sesusuan Khalifah yang pernah dijatuhi hukuman mati oleh Rosulullah sewaktu Penaklukan Mekkah, karena kejahatannya yang luar biasa kepada Islam. Ia selamat setelah Utsman menghalang-halangi niat nabi untuk mengeksekusinya. Sebenarnya Nabi tidak pernah mengampuninya. Beliau hanya menghindari perselisihan dengan Utsman yang ngotot membela saudara sesusuannya meski Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk memenuhi perintah Rosulnya, tanpa reserve karena perintah Allah memang tidak untuk diperdebatkan.

Kepada Abu Sufyan, dedengkot Quraisy yang dulunya terkenal peranannya sebagai salah seorang tokoh paling getol memerangi Rasul Allah s.a.w., dan baru masuk Islam setelah jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum muslimin, oleh Khalifah Utsman diberi hadiah sebesar 200.000 dirham. Uang itu diambil dari Baitul Mal. Sedangkan ketika Marwan bin Al-Hakam dipungut sebagai menantu untuk dinikahkan dengan puterinya yang bernama Aban, Khalifah Utsman membekalinya lagi dengan uang sebesar 100.000 dirham, juga diambil dari Baitul Mal.

Sebuah riwayat mengisahkan, ketika Khalifah Utsman mengambil uang 100.000 dirham dari Baitul Mal untuk diserahkan kepada menantunya, Marwan bin Al Hakam, datanglah pengurus Baitul Mal, Zaid bin Arqam (salah satu sahabat utama yang paling awal masuk Islam dan rumahnya dijadikan sebagai tempat dakwah awal Rosulullah), menghadap Khalifah. Ia datang sambil menangis untuk menyerahkan kunci Baitul Mal.

Dengan keheran-heranan. Khalifah bertanya kepada Zaid bin Arqam: “Mengapa engkau menangis? Apakah karena aku hendak memungut Marwan bin Al-Hakam jadi menantu?”

“Tidak!”, jawab Zaid sambil menundukkan kepala dan mengusap air mata. “Aku menangis karena aku menduga anda mengambil harta Baitul Mal itu sebagai pengganti kekayaan anda yang dahulu anda infakkan di jalan Allah, yaitu pada masa Rasul Allah s.a.w. masih hidup. Demi Allah, uang 100.000 dirham yang anda berikan kepada Marwan itu sungguh terlampau banyak.”

“Hai Ibnu Arqam, letakkan kunci itu!” hardik Khalifah dengan wajah merah padam. “Kami bisa mendapatkan orang lain yang tidak seperti engkau.”

Pada masa itu kaum muslimin benar-benar merasakan adanya perbedaan yang sangat menyolok antara kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah-khalifah terdahulu dengan penerusnya yang sekarang ini. Aparatur pemerintahan Khalifah tidak mau menanggulangi, sehingga keamanan dan ketertiban sangat terganggu. Ini menambah keresahan dan kecemasan penduduk.

Ali dan banyak para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang heran menyaksikan tindakan-tindakan Khalifah Utsman. Sebab mereka tahu, ia terkenal sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad. Seorang mukmin yang taqwa dan shaleh, tidak pernah mementingkan diri sendiri atau golongannya. Dermawan besar yang tak pernah menghitung-hitung untung-rugi dan resiko dalam berjuang untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Namun Ali kemudian ingat hadits Rosulullah, bahwa sebagian dari para sahabat yang dahulu iklhas berjuang menegakkan Islam, setelah kematian Rosulullah akan saling bertikai karena memperebutkan dunia. Ali juga ingat dengan peringatan Allah kepada Rosulullah mengenai “melencengnya” para sahabat dari jalan Allah sepeninggal beliau. Hingga di akhirat kelak Rosul akan bersaksi sebagaimana kesaksian Nabi Isa atas pengikut-pengikutnya: “Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Kemudian setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka.” (QS Al Maidah 117)

Betapa klalifah telah menyimpang dari ajaran Rosul. Ia bahkan berani menentang nash-nash yang telah jelas dalam Al Qur’an dan hadits, misalnya dalam hal pembagian ghanimah dan merehabilitasi musuh Rosulullah. Ali masih mengingat dengan jelas apa yang telah disumpahkan oleh Uthsman sebelum dilantik sebagai khalifah.

Saat itu, sidang majelis syoru yang dibentuk untuk memilih khalifah pengganti Umar bin Khattab sampai pada satu titik di mana kandidat khalifah telah mengerucut menjadi dua orang: Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan. Abdurrahman bin Auf kemudian mengambil inisiatif. Ia mendatangi Ali dan manyatakan bahwa ia dan anggota-anggota majelis lainnya akan membai’at Ali jika mau bersumpah akan menjalankan pemerintahan berdasar Al Qur’an, sunnah Rosul dan sunnah Abu Bakar dan Umar.

Ali dengan tegas menolak permintaan tersebut dan hanya mau bersumpah menjalankan pemerintahan berdasar Al Qur’an dan hadits Rosul.

Kemudian Abdurrahman mendatangi Uthsman dan mengajukan permintaan yang sama. Dengan tegas Uthsman menyetujuinya. Maka terpilihlah Uthsman sebagai khalifah. Namun kebijakan pemerintahan pertama yang dilakukannya justru melanggar sumpahnya, yaitu mengganti para pejabat yang telah diangkat Abu Bakar dan Umar dengan pejabat dari kerabatnya sendiri.

Abu Dzar dibuang

Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling tidak disukai oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam terkenal amat liar, kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka menjadi sasaran penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin terkemuka di kalangan mereka.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yang menjadi pemikiran dan pendiriannya. Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan da’wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys hingga ia nyaris meninggal karena dikeroyok orang-orang Qureiys yang marah. Sekembalinya ke daerah pemukimannya dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di Islamkan.

Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani Aslam, Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: “Ghifar…, Allah telah mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!”

Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan kebenaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai “cahaya terang benderang.”

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain.

Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yang akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengangkangi harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: “Demi Allah, yang mengutusmu membawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!”

Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: “Kutunjukkan cara yang lebih baik dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!” Rasul Allah s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar, gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab, berkat ketegasan dan keketatannya dalam bertindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, penyakit yang membahayakan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim hujan. Khalifah Utsman bin Affan sendiri tidak berdaya menanggulanginya. Nampaknya karena usia Khalifah Utsman sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan, hanya karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa potong roti. Padahal para penguasa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin bertambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum muslimin banyak disalah-gunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan menghunus pedang. Berjuang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngiang terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesarungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang memperingatkan para penguasa dan orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka kembali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di Syam, ia selalu memperingatkan orang dengan ayat-ayat Al Qur’an: “Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih pada hari kiamat.”

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umumnya terdiri dari fakir miskin dan orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegakkannya kembali prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam, memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk membendung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: “Aku sungguh heran melihat orang yang di rurnahnya tidak mempunyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar menghunus pedang!”

Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajaran-ajaran kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: “Semua manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…,” “Tak ada manusia yang lebih afdhal selain yang lebih besar taqwanya…”, “Penguasa adalah abdi masyarakat,” “Tiap orang dari kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas kegembalaannya….” dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang bergelimang dalam kehidupan mewah sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar, tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nurani. Abu Dzar dimusuhi dan kepadanya dilancarkan berbagai tuduhan. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di Makkah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa rasa takut sedikit pun ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiyyah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar berkata: “Bukankah kalian itu yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai penumpuk emas dan perak, dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!”

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muawiyah bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat berbuat apa saja. Namun meski membahayakan kekuasaan, Abu Dzar adalah sahabat Rosul yang mulia. Muawiyah tidak berani bertindak keras terhadapnya. Ia hanya harus disingkirkan dari daerah kekuasaannya.

Segera Muawiyah menulis sepucuk surat kepada Khalifah Utsman di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan tentang Abu Dzar yang menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil salah satu tindakan. Berikan kekayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pembuangan.

Khalifah Utsman melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada Abu Dzar diajukan dua pilihan: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu, Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Khalifah Utsman masih terus menghimbau Abu Dzar. Dikemukakannya: “Tinggal sajalah di sampingku!”

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar berjuang semata-mata untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya menghendaki supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar. Memang justru itulah yang sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman, sebab ia harus memotong urat nadi para pembantu dan para penguasa bawahannya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. Akhirnya, atas desakan dan tekanan para pembantu dan para penguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman mengambil keputusan: Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah, satu daerah di tengah padang pasir yang tidak berpenghuni dan tandus. Tak boleh ada seorang pun mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau mengantarkannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah s.w.t. selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman. Ia berkata: “Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib yang tinggi atau di atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan seandainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku.”

Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yang penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan melanda ummat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sangat mengejutkan kaum muslimin, khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya. Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam kepada Abu Dzar.

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam bukunya As Saqifah, berdasarkan riwayat yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan Khalifah Utsman di atas: Khalifah Utsman memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali r.a., yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: “Hai Hasan, apakah engkau tidak mengerti bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti, ketahuilah sekarang!”

Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya. Sambil membentak ia mencambuk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: “Pergilah engkau dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka.”

Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-ronta kesakitan. Marwan sangat marah, tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota keluarganya.

Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata mendorong orang lain berani mendekati Abu Dzar guna mengucapkan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib.

Dzakwan di kemudian hari menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Hai Abu Dzar engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan membuangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup rapat bagi hamba Allah, tetapi hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang menjengkelkan hatimu selain kebatilan!”

Atas dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: “Hai Abu Dzar, apa lagi yang hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sajalah sepenuhnya kepada Allah, sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati. Ketahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharapkan maaf dari orang lain sama artinya dengan putus asa. Oleh karena itu buanglah rasa takut dan putus asa.”

Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: “Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu. Buang sajalah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar ridho kepadamu.”

Setelah Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: “Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan kekuasaan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mempercepat datangnya rizki dan kebatilan tidak akan menunda datangnya ajal!”

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: “Allah tidak akan membuat senang orang yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu. Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang mencegah orang supaya tidak mengatakan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang yang merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh karena itu banyak orang “menghadiahkan” agamanya masing-masing kepada mereka, dan sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan duniawi kepada orang-orang itu. Dengan berbuat seperti itu, sebenarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukankah itu suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!”

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: “Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudara-saudaraku di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang ke satu daerah, di mana aku tidak akan mempunyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t. Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut menghadapi kesulitan…”

Tutur Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang mengantarkan pulang, Imam Ali r.a. segera datang menghadap Khalifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah bertanya dengan hati gusar: “Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku, yakni Marwan dan meremehkan perintahku?”

“Tentang petugasmu,” jawab Imam Ali r.a. dengan tenang “ia mencoba menghalang-halangi niatku. Oleh karena itu ia kubalas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya.”

“Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu Dzar?” ujar Khalifah dengan marah.

“Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang bersifat kedurhakaan harus kuturut?” tanggap Imam Ali r.a. terhadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

“Kendalikan dirimu terhadap Marwan!” ujar Khalifah memperingatkan Imam Ali r.a.

“Mengapa?” tanya Imam Ali r.a.

“Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang dikendarainya” jawab Khalifah.

“Mengenai untanya yang kucambuk,” Imam Ali menjelaskan sebagai tanggapan atas keterangan Khalifah Utsman, “bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampal memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!”

“Mengapa dia tidak boleh memakimu?” tanya Khalifah Utsman dengan mencemooh. “Apakah engkau lebih baik dari dia?!”

“Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!” sahut Imam Ali r.a. dengan tandas. Habis mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Sikap Ali bukanlah cerminan kesombongan, melainkan cerminan integritas diri. Ali menyadari sepenuhnya keutamaannya dibandingkan Uthsman: Ali lebih dahulu masuk Islam, Ali lebih banyak jasanya dalam menegakkan perjuangan Islam, Ali kerabat dekat Rosul sekaligus suami dari anak kesayangan Rosul. Ia orang yang oleh Rosul dinyatakan sebagai “saudara Rosul sebagaimana Nabi Harun bagi Nabi Musa”, “kunci kota ilmu”, “orang yang diridhoi Allah dan Rosulnya” serta julukan-julukan bernada pujian lainnya yang tidak disandang orang lain. Dan lebih dari itu Ali adalah seorangahlul bait yang oleh Allah telah dinyatakan suci.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman memanggil tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia menyatakan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.

Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan, para pemuka yang beliau ajak berbicara menasehatkan: “Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik.”

“Aku memang menghendaki itu,” jawab Khalifah Utsman. Sesudah ini beberapa orang dari pemuka muslimin itu mengambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali r.a. dan Khalifah Utsman. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali r.a. mereka bertanya: “Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk meminta maaf?”

“Tidak,” jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. “Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau datang kepadanya.”

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman. Imam Ali r.a. datang bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah s.w.t., Imam Ali r.a. berkata: “Yang kau ketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang keputusanmu. Yang ku maksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalang-halangi Marwan, sama seperti dia menghalang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluarlah marahku, yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya.”

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman berkata dengan nada lemah lembut: “Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah ku ikhlaskan. Dan apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaafkan perbuatanmu. Adapun mengenai apa yang tadi engkau sampai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguh-sungguh dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu….!”

Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman dan dilekatkan pada dadanya.

Bagaimana keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembuangannya? Ia mati kelaparan bersama isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraannya di tempat pembuangan, dituturkan sebagai berikut: Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri bertahan hidup dengan sangat sengsara. Berhari-hari sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia mengajak isterinya pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetumbuhan.

Keberangkatan mereka berdua diiringi tiupan angin kencang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak menemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik.

Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak menangis,” jawab isterinya yang setia itu, “kalau menyaksikan engkau mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus pemakamanmu!”

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia berkata: “Cobalah lihat ke jalan di gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin yang lewat!”

“Bagaimana mungkin?” jawab isterinya. “Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang sudah lenyap!”

“Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat,” kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. “Jika engkau melihat ada orang lewat, berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak melihat seorang pun, tutup sajalah mukaku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia sudah hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!”

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sana-kemari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang kafilah lewat, tampak benda-benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari kejauhan rombongan kafilah itu melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya, kemudian bertanya: “Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?”

“Apakah kalian orang muslimin?” isteri Abu Dzar balik bertanya. “Bisakah kalian menolong kami dengan kain kafan?”

“Siapa dia?” mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

“Abu Dzar Al-Ghifari!” jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mulanya mereka tidak percaya, bahwa seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. “Sahabat Rasul Allah?” tanya mereka untuk memperoleh kepastian.

“Ya, benar!” sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: “Ya Allah…! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada kita!”

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar. Orangtua yang sudah dalam keadaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata: “Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain dengan bajuku sendiri atau baju isteriku…..Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari kalian yang memberi kain kafan kepadaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai.”

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: “Hai paman, akulah yang akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerih payahku.

Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk kupergunakan sebagai pakaian ihram…”

“Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!” Sahut Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan.

Selesai dimakamkan, orang Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: “Ya Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah sujud kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyrikin, tidak pernah merusak atau mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan dihinakan. Sekarang ia mati dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang membuangnya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!”

Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucapkan “Aamiin” dengan khusyu’. Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat. Semasa hidupnya Rosulullah pernah berkata kepadanya: “Engkau datang sendirin. Engkau pun akan maninggal dalam kesendirian.” Sementara Abu Dzar pernah berpesan: “Kebenaran tidak meninggalkan pembela bagiku…”

Namun tragisnya, para musuh Abu Dzar masih terus berusaha mendeskreditkan manusia “mulia” ini. Misal adanya sebuah cerita bahwa Abu Dzar pernah meminta suatu jabatan pemerintahan kepada khalifah. Permintaan tersebut ditolak karena Abu Dzar dianggap sebagai orang yang lemah dan itu menjadi penyebab ia menentang khalifah.

Yah begitulah. Bahkan kepada para ahlul bait yang oleh Allah telah disucikan sesuci-sucinya pun, mereka masih berusaha mendeskreditkannya, sampai sekarang

.

Syi’ah Yang Sezaman dengan Nabi SAW dikaitkan dengan QS. Al-Bayyinah:7-8: (1) Abu Dzar Al Ghifari, (2) Salman al Farisi, (3) AlMiqdad bin al Aswad al Kindi (4) ‘Ammar bin Yasir

.

Mengutip dari hadis yang diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Na’im, yangmeriwayatkan dengan sanad dari IbnuAbbas, ketika turun ayat yang mulia :” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu sebaik-baik makhluk” (QS. Al-Bayyinah:7-8), kemudian Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin AbiThalib, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syi’ahmu…”
.
“Manifestasi pengejawantahan syi’ah awal ini muncul usai wafatnya Rasulullah SAWW, sebagai bentuk loyalitas dan kepatuhan para sahabat kepadaRasulullah SAW yang telah menetapkan Ali Bin Abi Talib (Ahlul Ba’it Rasulullah SAW dan Ittrah Rasulullah SAW ) – di Ghadir Kum – sebagai yangharus di patuhi pasca beliau SAW tiada
.
Seorang ulama ahlu sunnah bernama Abu Hatim ar Razi dalam kitabnya al-Zinah, menuliskan, nama pertama yang diberikan dalam Islam sebagai julukan bagi sekelompok orang pada masa Rasulullah SAW masih hidup sebagi Syi’ah adalah (1) Abu Dzar Al Ghifari, (2) Salman al Farisi, (3) AlMiqdad bin al Aswad al Kindi (4) ‘Ammar bin Yasir
.
Ayatullah Sayyid Muhammad al Musawi mengomentari hal tersebut sebagai berikut, “…mereka adalah sahabat yang ikhlas, mereka mendengar Nabi SAW bersabda, “Syiah Ali adalah makhluk terbaik dan mereka adalah orang-orangyang beroleh kemenangan “, oleh karena itu mereka bangga menjadi bagian darimakhluk terbaik itu, dan mereka dikenal di kalangan sahabat dengan julukan syi’ah
.
Di berbagai kesempatan Rasulullah SAW banyak memuji ke empatsahabat –syi’ah awal- tersebut, diantaranya :
  1. Sunan Tirmidzi 5/636 no 3718 menuliskanDiriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengatakan kalau Allah SWT memerintahkan Beliau untuk mencintai empat orang sahabat dan Rasulullah SAW juga diberitahubahwa Allah SWT mencintai keempat sahabat tersebut. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW siapakah keempat sahabat yang mendapatkeistimewaan seperti itu. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mereka adalah Ali RA, Abu Dzar RA, Miqdad bin Aswad RA, dan Salman Al Farisi RA. Hadis ini diriwayatkan dalam,. Berikut hadis riwayat Tirmidzi :حدثنا إسماعيل بن موسىالفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسولالله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسولالله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرنيبحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail binMusa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kamiSyarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  2. Sunan Ibnu Majah 1/53 no 149 (Dengan redaksi samadengan di atas) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبيربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرنيبحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثاو أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  3. Musnad Ahmad 5/351 no 23018 (Dengan redaksi samadengan no 1) ) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عنأبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسو الله صلى الله عليه و سلم إن اللهأمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقولذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai. Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  4. Mustadrak Al Hakim 3/130 no 4649 (Dengan redaksi sama dengan no 1) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عنأبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن اللهأمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقولذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telahmenceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  5. Al Kuna Al Bukhari 1/31 no 271 Dengan redaksi samadengan no 1) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عنأبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن اللهأمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقولذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  6. Tarikh Ibnu Asakir 21/409. ) حدثنا إسماعيل بن موسىالفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسولالله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسولالله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهموأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al-Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarikdari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empatorang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkanitu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  7. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya حدثنا عبد اللهحدثني أبي ثنا بن نمير عن شريك ثنا أبو ربيعة عن بن بريدة عن أبيه قال قال رسولالله صلى الله عليه و سلم ان الله عز و جل يحب من أصحابي أربعة أخبرني انه يحبهموأمرني ان أحبهم قالوا من هم يا رسول الله قال ان عليا منهم وأبو ذر الغفاريوسلمان الفارسي والمقداد بن الأسود الكندي Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Syarik yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata Rasulullah SAW bersabda “sesungguhnya Allah Azza wajalla mencintai empat orang dari sahabatKu. Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia mencintai Mereka dan memerintahkanKu untuk mencintai Mereka. Para sahabat berkata “siapa mereka wahai Rasulullah?”. Rasulullah SAW berkata”Ali diantaranya, Abu Dzar Al Ghiffari, Salman Al Farisi dan Miqdad bin Aswad Al Kindi.
  8. Al Hafizh Abu Na’im, dalam Hilayah al Awliyajilid I hlm 172 meriwayatkan dari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mencintai empat orang. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka, lalu ditanyakan, “Siapa mereka itu ?” Rasulullah saw menjawab, “Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, AbuDzar, al Miqdad dan Salman.
  9. Ibnu Hajar al Makki dalam kitabnya al Shawa’iq alMuhriqah, dalam hadis ke lima dari empat puluh hadis yang menukil tentangkeutamaan Ali bin Abi Thalib meriwayatkan hadis dari Turmudizi dan al Hakimdari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda, ” Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mencintai empat orang. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka, lalu ditanyakan, “Siapa mereka itu ?” Rasulullah saw menjawab, “Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar, al Miqdad dan Salman.
  10. Ibnu Hajar al Makki dalam kitabnya al Shawa’iq alMuhriqah dalam hadis nomor 29 menukil dari Turmudzi dan al Hakim dari Anas binMalik, bahwa Rasulullah saw bersabda :”Surga merindukan tiga orang, mereka adalah Ali, Ammar dan Salman”.
  11. Ibn Maghazali al Syafi’i dalam Manaqib ‘Ali bin Abi Thalib hadis no 331, meriwayatkan hadis dengan sanadnya dari Buraidah: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai empat orang dari sahabatku. Allah mengabarkan bahwa Dia mencintai mereka dan Dia memerintahkan kepadaku untuk mencintai mereka,” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah saw?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ali, Abu Dzar, Salman dan al Miqdad bin al Aswad al-Kindi” Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan dalam Musnad 5/351dengan sanad dari Muhammad bin al Thufail dari syarik. Al Hakim meriwayatkan dalam al Mustadrak 3/30 melalui Imam Ahmad bin Hanbal darial Aswad bin ‘Amir dan Abdullah bin Numair yang disahihkan oleh al-Dzahabi dalam Talkhis. Al Hafizh al Qazwini meriwayatkan pula dalam Sunan alMushthafa 1/52 .
Jadi hati-hati mengatakan Syi’ah itu sesat, karena akan kembali kepada dirimu sendiri …
.
Tidak seperti yang 10, Inilah 4 orang yang dijanjikan Surga dan tidak ada seorang Ulama pun yang berselisih paham
.
Ada banyak hadits yang memberitakan tentang adanya 4 sahabat Rasulillah SAWW yang dijamin Surga dan terbukti hingga akhir hayat mereka kisah perjalanan hidup mereka telah membuktikan ke shahihan hadits ini, beda dengan hadits 10 orang dijamin masuk surga, perilaku hidup sebagian dari mereka tidak mecerminkan perilaku orang yang dijamin sesungguhnya.
Adapun beberapa hadits yang bisa dirujuk adalah :
  1. Musnad Ahmad 5/351 no 23018 (Dengan redaksi sama dengan no 1) ) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسو الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  2. Sunan Tirmidzi 5/636 no 3718 menuliskan Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengatakan kalau Allah SWT memerintahkan Beliau untuk mencintai empat orang sahabat dan Rasulullah SAW juga diberitahu bahwa Allah SWT mencintai keempat sahabat tersebut. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW siapakah keempat sahabat yang mendapat keistimewaan seperti itu. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mereka adalah Ali RA, Abu Dzar RA, Miqdad bin Aswad RA, dan Salman Al Farisi RA. Hadis ini diriwayatkan dalam,. Berikut hadis riwayat Tirmidzi :حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  3. Mustadrak Al Hakim 3/130 no 4649 (Dengan redaksi sama dengan no 1) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
Mereka yang dijanjikan yaitu : Ali (as) , Abu Dzar , Miqdad dan Salman, yang disebut terkhir adalah yang dikenal sebagai Syi’ah Ali yabna Abi Thalib AS. mereka ini tidak pernah :
  1. Lari dari pertempuran baik di Uhud , Khaibar maupun Hunain.
  2. Tidak membatalkan Baiat Ridwan.
  3. Mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya dengan mengikuti Imam Ali KW sebagai Pemimpin mereka.

Syi’ah rangkul Sunni yang berwasatiyyah dan berfikiran rasional, bukan Sunni fanatik totok)

Kemesraan Ulama Sunni Dan Syiah


                                                                  Wahdah Sunni Syiah

Sayyid Ali Khamenei, adalah pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, juga merupakan seorang ulama dan mujtahid besar dalam dunia Syiah. Dengan status kedudukan beliau ini, tidak hairan, beliau merupakan seorang individu yang sangat dihormati dan dicintai dikalangan masyarakat Syiah.

Tetapi bagaimana pula kedudukan beliau di dunia Sunni(of course, kepada Sunni yang berwasatiyyah dan berfikiran rasional, bukan Sunni fanatik totok)

“Boleh tak autograf buku ni?”

Peluk jangan tak peluk. Bukan selalu boleh peluk orang beriman ni.

wah, indahnya kemesraan Sunni dan Syiah ini

.

JAWABAN  KAMi :

Setiap muslim pasti menginginkan umat Islam bersatu, menginginkan segala perbedaan yang ada tidak menimbulkan masalah atau pertikaian. Ini jelas keinginan setiap muslim. jika anda tidak percaya, silahkan anda buat kuisioner dan bagikan ke siapa saja yang ada di sekitar anda. Orang yang tidak menginginkan persatuan madzhab adalah diragukan kesehatan hati dan akalnya.

Niat baik persatuan madzhab harus diikuti dengan konsekwensi yang tidak ringan, yaitu melakukan usaha untuk mengarah kepada realisasi persatuan madzhab dan harus diikuti dengan langkah-langkah nyata. Tanpa itu semua slogan persatuan madzhab dengan berbagai jargonnya seperti “laa syarqiyyah laa gharbiyyah, Islamiyyah Islamiyyah” tidak timur dan tidak barat, tetapi murni Islam, atau “mari kita lupakan perbedaan dan mari kita tegakkan ukhuwwah islamiah, akan tidak berarti apa-apa.

Tanpa ada usaha nyata, kita patut curiga bahwa persatuan madzhab digunakan untuk menetralisir gejolak kebencian yang ada terhadap kelompoknya. Atau ada agenda tersembunyi lain yang hendak dijalankan dengan mendengungkan slogan seperti itu. Persatuan madzhab adalah jargon yang selalu kita dengar dari pihak kami  penganut syi’ah, baik yang ada di tempat kita maupun yang ada di luar sana

Dari mana mengenal madzhab syi’ah?

Mengenal kedua madzhab adalah modal utama bagi upaya komparasi yang dilakukan dalam rangka pendekatan. Untuk mengenal sebuah madzhab tentunya dengan melihat ajaran madzhab itu dari literatur aslinya. Karena setiap madzhab -bahkan setiap agama- memiliki kitab atau literatur yang menjelaskan keyakinan madzhab atau agama itu. Setiap yang ingin mengenal ajaran itu hendaknya merujuk pada kitab literatur yang ada. Selain literatur, sumber lain yang ada adalah keterangan dari penganut madzhab itu. Ini untuk mengenal ajaran madzhab pada umumnya.

Praktek persatuan madzhab dimulai dengan studi komparasi antara ajaran kedua madzhab yang ada, baru bisa disimpulkan apakah kedua madzhab bisa dipersatukan atau tidak.

PERSATUAN SUNNI-SYIAH,KEKUATAN ISLAM
kita harus selalu mengutamakan isLam diatas mazhab.sudah bukan zaman nya kita berselisih antara mazhab satu sama Laen. jadikanLah isLam ini isLam yang satu. bagi kami yang sesat ialah yang tidak mengerti apa itu isLam dan ukhuwah.Waspada tipu daya yahudi dan wahabi. janganLah terpancing atau terpengaruh oLeh permainan mereka. jangan membuat yahudi dan wahabi bangga,dgn menghina mazdhab satu sama Laen.

Ketua Umum Muhammadiyah : Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam

On May 5, 2008 ·

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.

“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di

muka bumi,” katanya.

Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.

“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)

.

KETUA UMUM PP. MUHAMMADIYAH :

PERSATUAN SUNNI – SYI’AH UNTUK KEJAYAAN ISLAM

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan bahwa Persatuan Umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syi’ah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama ini. Karena kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut.

Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4 – 6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syi’ah dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syi’ah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu kata beliau, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan “kalimat sawa” dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi. Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. Dua hal ini kalimatun sawa’ (kalimat sama) dan aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat, lanjut Din. Musuh bersama itu, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan.

Kamis, 10 Februari 2011

SERUAN ULAMA-ULAMA MENGENAI PERSATUAN SUNNI-SYIAH

Agresi militer Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak, tak hanya berhasil menggulingkan Presiden Saddam Hussein dari tampuk kepemimpinannya. Mereka juga menanam bom waktu: pertikaian antarkelompok. Lebih tepatnya, antara kubu Syiah dan Suni.
Ulama terkemuka asal Damaskus, Suriah, Syekh Abdullah An-Nidzam mengungkapkan konflik Syiah-Suni yang terjadi belakangan ini di Irak, bukanlah murni konflik ideologi antarmereka. “Konflik diciptakan oleh agresor militer Amerika Serikat dan sekutunya,” ujarnya, di sela-sela Konferensi Ulama dan Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak di Bogor Rabu 4/4/2007)

.
Sejak awal invasi militer Amerika Serikat ke Irak tahun 2003, sambung An-Nidzam, pihaknya mengaku sudah sangat khawatir hal ini bakal terjadi. Dekan Fakultas Dirasah Islamiyah pada Universitas Islam Damaskus ini menyatakan perlunya perhatian umat Islam dari seluruh dunia untuk segera mengakhiri konflik dan penderitaan rakyat Irak

.
Sejak dulu, kata Syeikh Az-Nidzam, dalam Islam tidak dikenal istilah pengkotak-kotakan. Kita sekarang ini justru sangat menyayangkan sikap Amerika Serikat maupun Israel yang terus mendorong terciptanya upaya pengkotak-kotakan antar kelompok Islam di Irak.
Dalam sejarah Irak, sejak berabad-abad lamanya antara Suni dan Syiah di Irakdapat hidup berdampingan dan rukun, tanpa ada gejolak apalagi peperangan seperti yang terjadi sekarang ini. ”Ini memang siasat mereka, ketika ingin menghancurkan satu negara, maka mereka ciptakan kelompok-kelompok,” tegasnya

.
Syekh AEM Hussein dari Universitas Al Azhar menyuarakan hal yang sama. Antara Suni dan Syiah, kata dia, sama-sama Islam. ”Mereka menyembah Tuhan yang satu, mereka shalat menghadap kiblat yang sama. Mereka sama-sama Muslim.”
Sedang menurut Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan Muslim, kekerasan di Irak dipicu oleh kepentingan politik. Ada provokator yang merancang konflik sosial yang kini terjadi di Irak. “Tak disebabkan oleh perbedaan teologis antara Suni-Syiah. Selama ini perbedaan itu ada namun tak menjadi masalah yang melahirkan sebuah konflik

.
Politik adu domba
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi yang bersama-sama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Prof Dr Din Syamsuddin menjadi penggagas Konferensi Internasional Ulama dan Pimpinan Islam Dunia untuk Rekonsiliasi Irak mengungkapkan, apa yang dilakukan AS di Irak adalah bentuk politik adu domba. ”Dendam sejarah dibangkitkan kembali, tempat-tempat suci dirusak melalui gerakan intelijen untuk menciptakan peperangan antara kelompok Suni dan Syiah, sehingga dengan demikian pertentangan ini sebenarnya didesain untuk kemenangan penjajah secara gratis.”
Pandangan sama diungkapkan Din Syamsuddin. “Peperangan yang terjadi di Irak tahun 2003, tak hanya menimbulkan korban dari orang-orang yang tidak berdosa, tapi juga telah menimbulkan kedengkian, iri dan permusuhan di tengah masyarakat Irak. Kemudian timbul peperangan antar kelompok dan etnis serta fitnah yang besar di Irak,” ujarnya

.
Sarat konflik?
Benarkah sejarah Syiah-Suni selalu kelam dan penuh permusuhan? Salah seorang ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon. ”Bahkan di Libanon Selatan Hizbullah yang dari kelompok Syiah yang sangat berperan dalam mengusir penjajah Israel didukung juga oleh kelompok Suni

.”
Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengakui sepanjang sejarah sebenarnya perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah pada soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah.
Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj

.
Ia lalu menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam

.
Ketua Umum Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Prof Dr Ahmad Satori menyatakan potren kehidupan yang rukun antara kelompok Suni dan Syiah juga dapat dilihat di Mesir, Saudi Arabia, Niger, dan negara Islam lainnya.”Bahkan di Iran, terdapat juga kelompok Suni dan ternyata mereka dapat hidup rukun dengan kelompok Syiah yang mayoritas,” ujar Satori.
Satori memandang perlunya sosialisasi fiqh i’tilaf (Fiqh Penyatuan) dan bukan fiqh ikhtilaf (fiqh perbedaan). ”Yang kita perlukan sekarang ini adalah fiqh i’tilaf supaya umat Islam menjadi kuat dan tidak gampang diadudomba seperti yang terjadi di Irak,” tegasnya.

(Dikutip dari majalah Republika,Bukan Konflik Sunni-Syiah)

.

Persatuan Sunni-Syiah Wujudkan Kemerdekaan Palestina

Selasa, 15 September 2009 11:21 | PDF | Cetak | E-mail

kubah emasSeorang Mufti Suriah, Syekh Mahmoud Akam mengatakan: “Kemerdekaan tanah suci Al-Quds hanya dapat diraih dengan persatuan umat Islam.” Menurut laporan wartawan Taqrib (Forum Pendekatan Mazhab Islam), Mufti propinsi Halb, Suriah ini—sehubungan dengan datangnya peringatan hari Al-Quds sedunia—menambahkan: “Hari yang dicanangkan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran ini merupakan kesempatan besar untuk mempersatukan umat Islam dunia demi kemerdekaan Al-Quds

Dosen Fakultas Hak Asasi Manusia Universitas Halb ini juga mengingatkan: “Langkah awal yang paling fundamental untuk meraih kemerdekaan Baitul Maqdis adalah mewujudkan persatuan di bawah naungan agama Islam.”

Ustad Akam menambahkan: “Yang dimaksud dengan persatuan umat Islam adalah walaupun mereka berasal dari berbagai mazhab fikih yang berbeda-beda, namun hendaknya mereka kiranya mau berkumpul dan duduk bersama serta mengesampingkan perbedaan yang ada.”

Mufti Suriah ini mengatakan: “Jika kita duduk dan berkumpul bersama, kita akan dapat membicarakan kemerdekaan dan kemenangan untuk Palestina.”

Lebih jauh lagi beliau mengemukakan, ancaman pembakaran Baitul Maqdis yang diduduki kaum Zionis kini jauh lebih membahayakan ketimbang masa sebelumnya. Penjajah Zionis saat ini terus melanjutkan aksi kejahatan mereka dalam rangka merusak dan merobohkan Baitul Maqdis. Karena itu, kaum Muslimin harus berusaha untuk memperbaiki tempat suci ini, serta membangun kembali perumahan rakyat Palestina yang rusak dan menyerahkannya kepada pemiliknya yang sah.

Ulama Suriah ini mengingatkan, kaum Muslimin dalam setiap ibadah baik puasa, shalat, haji maupun ibadah-ibadah lainnya harus selalu berdoa untuk kemerdekaan tempat suci ini dari tangan penjajah Zionis.

Menurut laporan kantor berita IRNA, beliau mengharapkan agar negara-negara Islam segera merealisasikan pernyataan mereka mengenai kemerdekaan Al-Quds demi solidaritas terhadap rakyat Palestina

.

Studi Kritis Hadis Dua Belas Orang Munafik

Studi Kritis Hadis Dua Belas Orang Munafik

Di zaman sekarang virus salafy nashibi telah menyebar kemana-mana bahkan menjangkiti mereka yang tidak mengaku salafy. Hal ini disebabkan mereka sering membaca tulisan-tulisan salafy yang tampak ilmiah dipenuhi hadis-hadis yang ditafsirkan secara bathil. Terdapat hadis yang menjadi salah satu korban kebatilan kaum salafy dan pengikutnya yaitu hadis dua belas orang munafik diantara sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim maka tak ada jalan lain bagi nashibi melemahkannya selain membuat tafsir-tafsir bathil demi membela doktrin yang mereka anut yaitu “keadilan sahabat ala nashibi”.

Yang kami maksud dengan “keadilan sahabat ala nashibi” adalah mereka menampakkan dalam perkataan mereka kalau semua sahabat itu adil tidak maksum tetapi dalam hati mereka, sahabat adalah maksum, tidak boleh dikritik, disalahkan dan dicela apapun maksiat yang mereka perbuat. Setiap maksiat dan kesalahan harus dinyatakan ijtihad yang mendapatkan pahala.

.

Hadis Nabi SAW tentang 12 SAHABAT MUNAFiK bersifat situasional yaitu ketika KETiKA DALAM PERJALANAN  PULANG DARi TABUK 12  SAHABAT  berkomplot untuk  membunuh  Nabi SAW..

7  diantara  mereka dari Quraisy.. Nama nama mereka disimpan Hudzaifah Al Yamani

.

Ini tidak bermakna SAHABAT  MUNAFiK  cuma 12 orang saja

.

At Taubah  9 : 100

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara  golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar
.
Al-Hasyr  59 : 8
لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar
.
Al-Fath  48 : 18
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon , maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)
.
Al-Fath  48 : 29
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً </span>
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar
.
Al-Munafikun   63 : 1 (Sahabat yang Ketahuan Munafiknya)
إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta
.
At Taubah 9 : 101 (sahabat munafik yang tidak diketahui)
وَمِمَّنْ حَوْلَكُم مِّنَ الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُواْ عَلَى النِّفَاقِ لاَ تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ
Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar
.
Al-Ahzab 33 : 12 (berita tentang sahabat munafik)
وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُوراً
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”
.
At Taubah 9 : 102 (ada yang mencampur adukan yang hak dengan yang bathil)
وَآخَرُونَ اعْتَرَفُواْ بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُواْ عَمَلاً صَالِحاً وَآخَرَ سَيِّئاً عَسَى اللّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang
.
Lalu atas dasar apa kalian mengatakan Semua Sahabat itu Adil ? ,
Apakah :
1.  Atas dasar keberanian kalian melawan kepada Allah dan Rasul-Nya kah ?,
2.  Atau atas dasar kalian hendak menyakiti Allah dan Rasul-Nya ?
.

Sahabat Nabi Yang Murtad Di Zaman Umar

Judul yang menyesatkan?. Bukan menyesatkan tetapi Faktanya memang begitu. Sejarah menyebutkan ada Sahabat Nabi yang masuk islam pada peristiwa Fath Al Makkah, mengikuti Haji wada tetapi pada akhirnya di masa khalifah Umar ia menjadi Nasrani alias murtad. Sahabat yang dimaksud adalah Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf. Banyak para ulama yang menyebutnya sebagai Sahabat Nabi

  • Al Baghawi menyebutkan Rabiah bin Umayyah bin Khalaf Al Qurasy sebagai seorang Sahabat dalam Mu’jam As Shahabah 2/389 riwayat no 757.
  • Adz Dzahabi menyebutkan nama Rabi’ah bin Umayyah dalam Tajrid Asma As Shahabah no 1845.
  • Abu Nu’aim juga menyebutkan Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf dalamMa’rifat As Shahabah no 2432, Abu Nu’aim menuliskan riwayat dari Ibnu Ishaq bahwa Rabi’ah adalah orang yang mengulangi dengan keras khutbah Rasulullah SAW pada saat haji wada agar terdengar oleh seluruh sahabat.
  • Ibnu Atsir memasukkan nama Rabiah bin Umayyah dalam Asad Al Ghabah Fi Ma’rifat As Shahabah 2/248 dan mengatakan bahwa hadis Rabiah diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Yunus bin Bakir
  • Ibnu Abdil Barr memasukkan nama Rabi’ah bin Umayyah dalam Al Isti’ab Fi Ma’rifat As Shahabah 2/721 dan mengatakan bahwa ia memeluk islam pada Fath Makkah.

Tidak diragukan kalau dari masa Fathul Makkah sampai masa pemerintahan Umar, Rabi’ah dikenal sebagai sahabat Nabi. Ibnu Hajar dalam Al Ishabah Fi Tamyiz As Shahabah 2/520 no 2754 berkata

ربيعة بن أمية بن خلف بن وهب بن حذافة بن جمح القرشي الجمحي أخو صفوان أسلم يوم الفتح وكان شهد حجة الوداع

Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf bin Wahab bin Hudzafah bin Jumah Al Qurasy Al Jumahi saudara Shafwan memeluk islam pada hari Fath Al Makkah dan ia menyaksikan haji wada.

Ibnu Hajar juga menyebutkan

لكان عده في الصحابة صوابا لكن ورد أنه ارتد في زمن عمر

Walaupun tidak diragukan kalau ia seorang sahabat telah dikabarkan bahwa ia murtad di zaman Umar.

Pada masa Umar dikabarkan bahwa Rabi’ah bin Umayyah pernah melakukan penyimpangan dalam agama yaitu meminum Khamar

عن عبد الرحمن بن عوف أنه حرس ليلة مع عمر بن الخطاب فبينا هم يمشون شب لهم سراج في بيت فانطلقوا يؤمونه حتى إذا دنوا منه إذا باب مجاف على قوم لهم فيه أصوات مرتفعة ولغط فقال عمر وأخذ بيد عبد الرحمن أتدري بيت من هذا قال قلت لا قال هو ربيعة بن أمية بن خلف وهم الآن شرب فما ترى قال عبد الرحمن أرى قد أتينا ما نهانا الله عنه نهانا الله فقال ولا تجسسوا فقد تجسسنا فانصرف عنهم عمر وتركهم

Dari Abdurrahman bin ‘Auf  bahwa ia pernah jaga malam bersama Umar bin Khattab. Ketika mereka sedang berjalan, mereka melihat lampu menyala dari sebuah rumah, maka mereka mendatangi rumah tersebut. Ketika mereka sampai ke rumah tersebut, pintunya terbuka tanpa seorang pun di sana, sedangkan dari dalam rumah terdengar suara yang sangat keras. Umar memegang tangan Abdurrahman dan berkata “tahukah kamu ini rumah siapa?” Abdurrahman menjawab “tidak.” Umar berkata “Ini adalah rumah Rabi‘ah bin Umayyah bin Khalaf, saat ini mereka sedang meminum khamr, bagaimana pendapat mu?”. Abdurrahman berkata: “Menurutku, kita sekarang ini telah melakukan sesuatu yang dilarang Allah. Bukankah Allah telah berfirman “Dan janganlah kamu memata-matai” dan kita telah memata-matai mereka. Setelah mendengar perkataannya, Umar pergi dan meninggalkan mereka.

Riwayat di atas diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Al Mushannaf 10/231 no 18943, Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 4 no 8136 dan Baihaqi dalam Sunan Baihaqi 8/333 no 17403. Riwayat ini telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Al Hakim telah menshahihkan riwayat tersebut dan Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak 6/419 no 8136 juga menshahihkannya. Al Hakim berkata

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه

Hadis ini sanadnya shahih tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya

Apa yang menyebabkan Rabi’ah bin Umayyah murtad? mungkin dikarenakan pada masa Umar ia pernah meminum khamar, dan ketika akan dihukum ia tidak suka dan pergi ke Rum dan menjadi Nasrani di sana.

Ada suatu kaidah yang cukup dikenal bahwa seseorang disebut sebagai sahabat jikaorang tersebut bertemu dengan Rasulullah SAW  beriman kepada Beliau dan meninggal dalam keadaan Islam. Dengan dasar ini maka dengan mudah ada yang mengatakan Rabi’ah bin Umayyah jelas bukan sahabat Nabi karena ia telah murtad di zaman Umar. Tetapi anehnya kenapa banyak sekali ulama yang tetap menyebutkan Rabi’ah bin Umayyah dalam kitab mereka tentang para Sahabat Nabi. Bahkan Ibnu Hajar mengakui kalau Rabi’ah seorang Sahabat Nabi.

Ada yang musykil dari pernyataan “meninggal dalam keadaan islam”. Coba pikirkan dengan baik, bukankah jika ada tabi’in yang mau mengambil hadis dari para Sahabat Nabi maka mereka harus mengenal terlebih dahulu siapa itu para Sahabat. Nah jika seseorang Sahabat itu diketahui dengan syarat “meninggal dalam keadaan islam” maka hal ini menjadi musykil, dengan terpaksa tabiin itu harus menunggu terlebih dahulu sampai seseorang yang diduga Sahabat itu meninggal dan lihat apakah ia meninggal dalam keadaan islam atau tidak, jika ia meninggal dalam keadaan islam maka orang tersebut sah sebagai Sahabat. Tetapi jika sahabat itu sudah meninggal bagaimana mau diambil hadisnya?.

Ataukah para tabiin itu langsung saja mengambil hadis dari mereka yang diduga Sahabat, kemudian dilihat apakah sahabat itu mati dalam keadaan islam atau tidak, jika meninggal dalam keadaan islam maka hadisnya diambil, jika tidak maka hadis yang sudah dipelajari tersebut harus ditolak. Inipun musykil juga, misalnya tabiin A mengambil hadis katakanlah 50 hadis dari Sahabat B (belum bisa dipastikan sahabat karena belum tahu akan meninggal dalam keadaan apa). Tabiin A harus memastikan terlebih dahulu kalau sahabat B tadi memang benar Sahabat dengan cara menunggu sampai Sahabat B wafat dan dilihat Sahabat B tersebut meninggal dalam keadaan islam atau tidak. Selama menunggu bagaimanakah status 50 hadis yang tabiin A ambil?. Bukankah ketika sahabat B masih hidup tidak bisa dipastikan ia meninggal dalam keadaan apa, mungkinkah 50 hadis tadi masih meragukan dan belum bisa diamalkan?. Seandainya sahabat B ternyata murtad, bagaimanakah status 50 hadis tadi? langsung ditolak atau diterima dengan alasan hadis itu diambil sebelum Sahabat B murtad, kalau begitu apa gunanya syarat “meninggal dalam keadaan islam”. Pernahkah anda terpikir, seseorang yang menyia-nyiakan keislamannya dengan menjadi murtad, artinya ia  terbukti tidak bisa dipercaya dalam menjaga agamanya. Apakah orang seperti itu bisa dianggap terpercaya?. Saya jadi bingung :mrgreen:

Rabi’ah bin Umayyah bertemu Rasulullah SAW, pada saat Fathul Makkah dia beriman kepada Rasul SAW. Rabi’ah dikabarkan pernah murtad di zaman Umar dan menjadi Nasrani, sayangnya saya belum menemukan riwayat dalam agama apa Rabi’ah meninggal. Apakah ini yang menyebabkan para ulama tetap menyebutkannya sebagai Sahabat Nabi?. Entahlah, hanya saja kesimpulan yang valid adalah dari masa Fath Al Makkah hingga masa pemerintahan Umar, Rabiah bin Umayyah tidak diragukan adalah seorang Sahabat Nabi. Rabi’ah bin Umayyah seorang Sahabat Nabi yang kemudian murtad dari agama Islam

.

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?

Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasacara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orang terkadang mengundang tanda tanya bagi orang  yang mau menggunakan akalnya. Mereka beranggapan bahwa sahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi.

Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinyaanda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa diantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.
.

Dalam kitab Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.

Matan hadis Shahih Muslim di atas menyatakan bahwa Rasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik. Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolak ada sahabat Nabi munafik mengatakan bahwa hadis Shahih Muslim di atas menceritakan bahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalamShahih Muslim 4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi

حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “Diantara umatKu ada dua belas orang munafik yang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada.

Kedua hadis Shahih Muslim diatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orangbahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabi tidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya

  • Hadis yang satu menyatakan Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik
  • Hadis yang lain menyatakan Diantara UmatKu ada dua belas orang munafik

Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakan bahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi. Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kata SahabatKu adalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kata UmatKu. Sehingga makna hadis tersebut adalah diantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik. Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilanbahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafaz SahabatKu. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan

Terkait dengan hadis dua belas orang munafik terdapat salafy nashibi yang membuat tulisan khusus dengan tujuan membela doktrin mereka dan mencela orang yang ia tuduh Syiah. Kami ingatkan wahai pembaca budiman, hadis ini tidak ada kaitannya dengan Syiah. Kami akan membahas tulisan mereka secara objektif dan menunjukkan apapun tafsiran yang mereka perbuat mereka tidak akan bisa mempertahankan doktrin “keadilan sahabat ala nashibi”.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di kalangan SahabatKu ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka. [Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basyaar [dan lafaz ini adalah lafaz Ibnu Mutsanna] keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abu Nadhrah dari Qais bin ‘Abbad yang berkata saya pernah bertanya kepada ‘Ammar, bagaimana pendapatmu tentang peperperanganmu? Sesungguhnya pendapat itu bisa salah dan bisa pula benar atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepadamu?. ‘Ammar berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan kepada orang-orang. ‘Ammar berkata sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “sesungguhnya di kalangan umatku. [Syu’bah berkata menurut saya] ‘Ammar berkata “Huzaifah telah menceritakan kepadaku” dan [Ghundar berkata] aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “di kalangan umatku ada dua belas orang munafik yang tidak akan masuk surga, bahkan mereka tidak akan dapat mencium harumnya surga sampai unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka pasti akan tertimpa Dubailah yaitu pijaran api yang menyengat bagian belakang pundak sehingga tembus ke dada mereka [Shahih Muslim 4/2143 no 2779-(10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

Kedua hadis ini adalah hadis yang sama, perbedaan lafaz yang ada tidaklah bertentangan melainkan saling melengkapi. Lafaz “ada dua belas orang munafik di kalangan sahabat” dan lafaz “ada dua belas orang munafik di kalangan umatku” tidak bertentangan karena sahabat adalah umat Nabi juga.

  1. Pada hadis pertama riwayat ‘Aswad bin ‘Aamir dari Syu’bah disebutkan bahwa dari dua belas orang munafik delapan diantaranya tidak akan masuk surga dan akan terkena dubailah
  2. Pada hadis kedua riwayat Ghundar dari Syu’bah disebutkan bahwa dari dua belas orang munafik semuanya tidak akan masuk surga dan delapan terkena dubailah.

Perbedaan lafaz ini pun tidak bertentangan melainkan saling melengkapi riwayat Ghundar juga menyebutkan bahwa empat orang yang tidak disebutkan dalam riwayat ‘Aswad juga tidak akan masuk surga. Riwayat Ghundar melengkapi riwayat ‘Aswad karena pada hadis ‘Aswad ia berkata “tidak hafal apa yang dikatakan Syu’bah tentang empat lainnya”. Yang hafal menjadi hujjah bagi yang tidak hafal.

Maka sangat salah sekali pernyataan salafy nashibi yang berkata “maka mafhum mukhalafah-nya adalah empat orang sisanya masuk surga-dimana hal ini menunjukkan taubat”. Empat orang sisanya berdasarkan riwayat shahih juga tidak akan masuk surga. Sangat jelas penarikan kesimpulan nashibi itu ngawur, ‘Aswad sendiri mengatakan ia tidak hafal apa yang dikatakan Syu’bah tentang empat orang lainnya sedangkan riwayat Ghundar menyebutkan bahwa empat sisanya juga tidak akan masuk surga. Pendalilan nashibi itu yang menyatakan empat orang munafik itu akan masuk surga adalah dalil kosong tanpa faedah yang berasal dari orang yang patut diduga punya penyakit kronis kenifakan dalam hatinya.

Tidak hanya itu, salafy nashibi juga menunjukkan kelemahan akalnya dalam menarik kesimpulan. Ia membawakan hadis Hudzaifah kemudian menafsirkan sekehendak hatinya yaitu hadis berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى ، حَدَّثَنَا يَحْيَى ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ ، قَالَ : كُنَّا عِنْدَ حُذَيْفَةَ ، فَقَالَ : ” مَا بَقِيَ مِنْ أَصْحَابِ هَذِهِ الْآيَةِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ ، وَلَا مِنَ الْمُنَافِقِينَ إِلَّا أَرْبَعَةٌ ، فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ : إِنَّكُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُخْبِرُونَا فَلَا نَدْرِي ، فَمَا بَالُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَبْقُرُونَ بُيُوتَنَا ، وَيَسْرِقُونَ أَعْلَاقَنَا ، قَالَ أُولَئِكَ الْفُسَّاقُ ، أَجَلْ لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا أَرْبَعَةٌ ، أَحَدُهُمْ شَيْخٌ كَبِيرٌ ، لَوْ شَرِبَ الْمَاءَ الْبَارِدَ لَمَا وَجَدَ بَرْدَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahyaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Wahb, ia berkata Kami pernah berada di sisi Hudzaifah, lalu ia berkata “Tidaklah tersisa orang yang dimaksud dalam ayat ini [yaitu QS. At-Taubah : 12] kecuali tiga orang, dan tidak pula tersisa orang-orang munafik kecuali hanya empat orang saja”. Seorang A’rabiy berkata “Sesungguhnya kalian adalah shahabat-shahabat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kalian mengkhabarkan kepada kami, lalu kami tidak mengetahuinya. Lantas, bagaimana dengan mereka yang telah merusak rumah-rumah kami dan mencuri perhiasan-perhiasan kami ?”. Hudzaifah menjawab “Mereka itu orang-orang fasik. Ya, tidaklah tersisa dari mereka [kaum munafik] kecuali empat orang, yang salah seorang dari mereka adalah seorang yang telah tua. Seandainya ia meminum air yang dingin, tentu ia tidak akan mendapati rasa dingin air itu” [Shahih Bukhari no 4658]

Setelah membawakan hadis ini, nashibi itu mengatakan Hudzaifah wafat tahun 36 H sedangkan perang Jamal terjadi tahun 36 H dan perang Shiffin terjadi tahun 37 H maka empat orang munafik yang tersisa hidup di zaman Ali radiallahu ‘anhu dan masuk dalam konsekuensi mafhum mukhaalafah yang disebutkan sebelumnya. Maksud perkataan nashibi ini adalah empat orang munafik yang tersisa dan hidup di zaman Ali radiallahu ‘anhu adalah empat orang munafik yang kata nashibi itu telah bertaubat dan akhirnya masuk surga.

Bagi orang yang paham “logika” maka sudah jelas penarikan kesimpulan nashibi itu ngawur atau mengada-ada. Sebelumnya kami telah tunjukkan bahwa dalil “mafhum mukhaalafah” nashibi itu omong kososng. Dua belas orang munafik itu telah disebutkan semuanya masuk neraka dan kedua belas ini adalah orang yang berniat membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Aqabah dimana Nabi [shalallahu ‘alaihi wasallam] berkata bahwa mereka adalah musuh Allah dan Rasul-Nya di dunia dan akhirat. Bagimana bisa musuh Allah dan Rasul-Nya dunia dan akhirat dikatakan masuk surga. Jadi pernyataan empat orang dari mereka bertaubat dan masuk surga hanya waham yang lahir dari orang yang memiliki sifat nifaq di hatinya.

Seandainya pun kami mengikuti waham nashibi soal “empat orang munafik yang bertaubat” maka apa alasan nashibi menyatakan bahwa empat orang tersebut adalah empat orang yang tersisa dalam hadis di atas. Perhatikan, menurut nashibi itu ada dua belas orang munafik

  1. Delapan dari mereka masuk neraka dan terkena dubailah
  2. Empat dari mereka dikatakan nashibi itu bertaubat dan akhirnya masuk surga

Kemudian lihat hadis Hudzaifah [sahih Bukhari di atas], apakah disebutkan disana kalau empat orang yang tersisa adalah empat orang yang katanya bertaubat dan masuk surga. Bukankah sangat mungkin kalau empat orang yang dimaksud termasuk delapan orang yang terkena dubailah?. Apa dalil nashibi itu sekehendak hatinya menyatakan empat orang yang tersisa adalah empat orang yang katanya bertaubat dan masuk surga. Tidak lain hanya waham semata. Nashibi itu berhujjah dengan waham kemudian waham itu ia jadikan hujjah lagi untuk menegakkan waham lainnya. Hasilnya hanya waham di atas waham yang tidak ada nilai kebenarannya. Nashibi itu tidak mengerti cara menarik kesimpulan dengan benar.

.

.

.

Selanjutnya kami akan menunjukkan kebodohan salafy nashibi dalam pembelaan mereka terhadap kata “sahabat”. Jika dikatakan kata “sahabat” memiliki banyak arti bisa secara ashl dalam bahasa bisa juga secara “ishthilahiy” maka itu memang benar. Sayangnya nashibi itu tidak membahas apa yang ia maksud dengan definisi sahabat secara ishthilahiy. Bagi mereka yang mempelajari ilmu hadis terdapat banyak definisi soal sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Diantaranya Imam Nawawi berkata

فأما الصحابي فكل مسلم رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو لحظة هذا هو الصحيح في حده وهو مذهب أحمد بن حنبل وأبي عبد الله البخاري في صحيحه والمحدثين كافة

Sahabat adalah setiap muslim yang melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] walaupun hanya sekilas. Pendapat ini yang shahih mengenai batasan sahabat dan ini adalah mazhab Ahmad bin Hanbal, Abu Abdullah Al Bukhari dalam shahihnya dan seluruh ulama ahli hadis [Syarh Shahih Muslim 1/35]

الصحابي من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم في حال إسلام الرائي, وإن لم تطل صحبته له, وإن لم يروِ عنه شيئاً. هذا قول جمهور العلماء, خلفاً وسلفاً

Sahabat adalah orang yang melihat Rasulullah dalam keadaan islam ketika melihatnya walaupun tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadispun. Ini adalah perkataan jumhur ulama baik khalaf maupun salaf [Al Ba’its Al Hatsits Ibnu Katsir 2/491]

Apa yang dikatakan An Nawawi dan Ibnu Katsir itu bersesuaian dan sepertinya batasan sahabat menurut jumhur adalah “melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam keadaan islam”. Dan dengan definisi ini maaf tidak mengeluarkan kaum munafik dari batasan sahabat karena mereka melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan mereka mengaku islam. Kemudian datanglah Ibnu Hajar yang menyampaikan definisi baru yang menurutnya lebih shahih

أصح ما وقفت عليه من ذلك أن الصحابي من لقي النبي صلى الله عليه وآله وسلم ـ مؤمناً به ومات على الإسلام, فيدخل فيمن لقيه من طالت مجالسته أو قصرت, ومن روى عنه أو لم يروِ, ومن غزا معه أو لم يغزُ, ومن رآه رؤية ولو لم يجالسه, ومن لم يره لعارض كالعمى

Yang paling shahih menurut penelitianku tentang hal ini, sahabat adalah orang yang bertemu Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam keadaan iman kepadanya dan wafat dalam keadaan islam. Termasuk sahabat adalah orang yang bertemu beliau baik sebentar ataupun lama, yang meriwayatkan darinya ataupun yang tidak meriwayatkan darinya, yang berperang bersamanya dan yang tidak berperang, yang melihatnya walaupun belum pernah menemaninya dan orang yang tidak melihat Beliau karena sesuatu hal seperti buta [Al Ishabah 1/7]

Definisi Ibnu Hajar memang lebih detail dan justru mengundang banyak hal musykil, yang anehnya tidak terpikirkan oleh salafy nashibi. Apa yang dimaksud dengan “iman kepadanya” apakah pengakuan mereka kalau mereka beriman atau iman sebenarnya yang ada dalam hati mereka?. Kalau iman yang dimaksud adalah berdasarkan pengakuan mereka maka definisi ini pun tidak mengeluarkan kaum munafik dari lingkup sahabat Nabi. Kalau yang dimaksud iman sebenarnya maka memang benar munafik bukan sahabat Nabi karena mereka tidak beriman, tapi tolong kasih tahu bagaimana menilai “iman sebenarnya” di dalam hati orang yang sudah wafat ratusan tahun.

Apa yang dimaksud “wafat dalam keadaan islam”?. Apakah setiap orang yang dinyatakan sahabat oleh Ibnu Hajar [dalam Al Ishabah] memiliki data riwayat bahwa mereka wafat dalam keadaan islam. Definisi ini seolah mau mengatakan bahwa sahabat hanya bisa ditentukan mereka sahabat atau bukan setelah ia wafat karena setelah wafat baru diketahui kalau ia wafatnya dalam keadaan islam atau bukan. Definisi yang ini hanya bersifat teoretis dan tidak memiliki implementasi praktis.

Ada sejenis orang aneh pernah berkata ketika kami tanya “apa buktinya salah seorang sahabat wafat dalam keadaan islam?”. Ia jawab, saya yakin mereka wafat dalam keadaan islam justru anda yang ragu yang harus membawakan bukti. Ini kan lucu, apa gunanya definisi kalau tidak digunakan sebagai pembatas, apa gunanya definisi kalau ujung-ujungnya cuma “saya yakin”. Sejak kapan perkataan gampangan seperti itu menjadi bukti.

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mengartikan sahabat seperti itu. Sahabat yang tertera dalam hadis-hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menunjukkan orang-orang islam yang mengikuti Beliau terlepas dari kenyataan apakah mereka berpura-pura atau bersungguh-sungguh, ini alasannya mengapa Abdullah bin Ubay dan kaum munafik lainnya tetap masuk dalam lingkup sahabat. Dan terkadang ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menggunakan kata sahabat bukan berarti tertuju untuk semua sahabatnya. Ada contoh hadis yang anehnya tidak dimengerti oleh salafy nashibi, Ia pikir lafaz “sahabat” dalam hadis ini adalah lafaz “sahabat” secara ishthilah

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri RA yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Janganlah Kalian mencela para SahabatKu. Seandainya salah seorang dari Kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud tidak akan menyamai satu mud infaq salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya” [ Shahih Bukhari 5/8 no 3673, Shahih Muslim 4/1067 no 221 (2540), Sunan Tirmidzi 5/695 no 3861, Sunan Abu Dawud 2/626 no 4658, Sunan Ibnu Majah 1/57 no 161 dan Musnad Ahmad 3/11 no 11094]

Kami sudah membahas secara khusus dalam tulisan yang ini bahwa sahabat dalam hadis di atas bukan sahabat secara ishthilah yang masyhur dalam ilmu hadis. Karena jika memang begitu maka semua orang yang diajak bicara oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat itu semuanya adalah sahabat Nabi tetapi mengapa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan jika mereka berinfaq tidak akan menyamai infaq salah seorang sahabat Nabi. Sebab munculnya hadis ini disebutkan bahwa Khalid bin Walid mencaci ‘Abdurrahman bin ‘Auf maka disini terdapat isyarat bahwa Khalid bin Walid tidak termasuk sahabat dalam lafaz di atas dan infaqnya walau sebesar gunung uhud tidak akan menyamai infaq satu mud ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Semua ulama menyatakan Khalid bin Walid adalah sahabat Nabi tetapi Khalid bin Walid tidak termasuk sahabat yang dimaksud dalam hadis di atas karena Khalid justru termasuk orang yang dinyatakan dengan kata “kalian” dimana infaknya sebesar gunung uhud tidak akan menyamai infaq salah seorang dari sahabat Nabi.

Hal ini menguatkan apa yang kami katakan bahwa Ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengucapkan lafaz “sahabat” dalam hadisnya tidak selalu memiliki makna yang sama dengan “sahabat” yang dimaksud dalam ilmu hadis [secara ishthilah]. Disini salafy nashibi menunjukkan sifat kecurangan mereka

  1. Ketika ada hadis dengan lafaz sahabat yang menyebutkan bahwa mereka “munafik” atau “murtad” maka salafy nashibi mengatakan sahabat yang dimaksud bukan secara isthilah
  2. Ketika ada hadis dengan lafaz sahabat yang menyebutkan keutamaan maka salafy nashibi memukul rata bahwa lafaz itu untuk semua sahabat secara ishthilah

Padahal bisa jadi keutamaan itu tidak berlaku untuk semua sahabat secara ishthilah tetapi untuk sahabat-sahabat yang memang setia mengikuti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sahabat yang fasiq dan durhaka walaupun muslim mungkin tidak layak mendapatkan keutamaan tersebut.

.

.

.

Kembali ke hadis dua belas orang munafik di atas, kami tidak pernah menyatakan dengan jelas siapa kedua belas orang tersebut. Yang jelas mereka berasal dari kalangan sahabat Nabi yaitu orang-orang yang mengikuti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apakah maksud hadis di atas adalah orang munafik di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya dua belas orang?. Hal ini dikatakan oleh salafy nashibi yang “suka basa basi”. Tentu saja ini ngawur sejak kapan jumlah orang munafik cuma dua belas orang

Dua belas orang munafik yang dimaksud tidak lain adalah dua belas orang yang ikut bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam perang tabuk yang ketika perjalanan pulang mereka berencana membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di bukit ‘Aqabah. Mereka adalah orang yang mengaku islam dan beriman kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan ikut dalam perang bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi pada hakekatnya mereka adalah munafik. Siapa kedua belas orang itu tidaklah diketahui kecuali oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberitahu kepada Hudzaifah siapa saja mereka dan berkata “mereka musuh Allah dan Rasul-Nya di dunia dan akhirat”. Sangat tidak mungkin kalau jumlah orang munafik hanya mereka berdua belas karena faktanya masih banyak kaum munafik yang tidak ikut saat perang Tabuk dan tinggal di Madinah. Bukankah ada diantara mereka yang menyebarkan syubhat merendahkan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Madinah.

Faktanya tidak ada riwayat shahih dari Hudzaifah yang menyebutkan nama dua belas orang munafik ini. Bahkan sahabat lain tidak mengetahui siapa mereka. Pernah suatu ketika Umar ingin menshalatkan salah seorang sahabat Nabi tetapi ia tidak jadi menshalatkannya karena Hudzaifah tidak menshalatkannya dan ketika Umar bertanya kepada Hudzaifah, ternyata orang itu adalah salah seorang dari kaum munafik. Hal ini membuktikan bahwa bahkan sampai orang munafik itu wafat sahabat lain masih menganggap mereka muslim dan harus dishalatkan jenazahnya. Dalam riwayat tersebut, ketika Hudzaifah menyebutkan kepada Umar maka ia berjanji tidak akan memberitahukan hal itu lagi.

Kalau sahabat di masa itu saja [Umar] tidak mengetahui dua belas orang munafik tersebut maka bagaimana caranya orang-orang setelah masa sahabat bisa mengetahui dua belas orang munafik tersebut. Yang patut kita permasalahkan adalah bagaimana bisa para ulama dengan mengandalkan definisi “sahabat” secara ishthilah bisa sok yakin sudah memisahkan antara sahabat [secara istilah] dan “munafik”. Apa dalilnya? Apa mereka dapat mimpi atau wangsit ketemu Hudzaifah radiallahu ‘anhu dan Hudzaifah memberitahu kepada mereka?.

Salafy nashibi berkata bahwa kaum munafik yang hidup di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah masyhur diketahui siapakah mereka ini. Orang munafik bukan sahabat dan sahabat bukan orang munafik. Mari kita tanyakan pada nashibi itu, jika memang telah masyhur maka adakah anda mampu menyebutkan nama-nama mereka, selain Abdullah bin Ubay tentunya?. Bukankah anda mengaku, siapa mereka itu telah jelas. Orang munafik bukan sahabat, ya jelas kalau sahabat yang dimaksud adalah sahabat yang benar-benar beriman dan setia kepada Allah dan Rasul-Nya maka sudah jelas mereka bukan orang munafik.

Tidak usah jauh-jauh cukup dua belas orang munafik yang disebutkan Hudzaifah, kalau memang menurut nashibi itu telah masyhur diketahui siapa mereka. Maka silakan sebutkan nama-nama mereka?. Kalau memang telah masyhur siapa mereka maka apa artinya Huzaifah dikenal sebagai yang menjaga rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], sesuatu yang masyhur dikenal tidak layak disebut rahasia. Kalau memang telah masyhur diketahui siapa mereka maka mengapa Umar tidak mengenalnya dan berniat menshalatkan jenazahnya sampai akhirnya ia dicegah oleh Huzaifah.

Hal ini tidaklah seperti yang dikatakan nashibi itu, diantara kaum munafik itu ada yang memang masyhur siapa dirinya yaitu Abdullah bin Ubay dan diantara kaum munafik juga ada yang tidak dikenal siapa saja mereka seperti halnya dua belas orang munafik yang diketahui oleh Huzaifah tetapi tidak diketahui oleh sahabat lainnya. Kaum munafik itu adalah orang yang hidup bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mereka mengaku kalau mereka beriman dan memeluk islam maka dari sisi ini mereka termasuk dalam kelompok sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jika mereka dikenal seperti Abdullah bin Ubay maka akan mudah dikatakan kalau pada hakikatnya ia bukan sahabat Nabi yang benar-benar beriman tetapi bagaimana dengan kaum munafik yang tidak dikenal seperti kedua belas munafik [dalam hadis shahih Muslim]. Jika Huzaifah sendiri merahasiakannya maka mengapa ada “ulama” atau “yang ngaku ngaku ulama” mengklaim mengenal siapa mereka dan memastikan bahwa mereka bukan sahabat.

Perdebatan ini memang terlihat hanya karena perbedaan definisi atau batasan yang digunakan soal kata “sahabat” tetapi pada hakikatnya kedudukan nashibi disini kayak orang ngeyel. Kami akan berikan analogi yang cukup memberikan gambaran. Di suatu negara ada pasukan yang telah berjasa besar bagi negara itu. Dalam pasukan tersebut ternyata ada pengkhianat atau mata-mata, tetapi tidak diketahui siapa ia. Kemudian sejarah menyebutkan karena jasa-jasa pasukan tersebut maka semua yang ikut dalam pasukan ini layak disebut pahlawan dan dianugerahkan medali kehormatan. Dengan berlalunya waktu, orang-orang yang hidup di zaman kemudian [di negara tersebut] ribut soal mata-mata dalam pasukan tersebut.

  1. Orang yang kritis akan berkata “diantara semua pasukan yang disebut pahlawan itu ternyata ada pengkhianat atau mata-mata”.
  2. Orang yang bodoh malah ngeyel berkata “tidak ada pengkhianat dalam pasukan tersebut, pahlawan bukan pengkhianat dan pengkhianat bukanlah pahlawan”.

Sebenarnya orang yang kritis juga paham kalau pengkhianat bukanlah pahlawan tetapi kalau telah jelas siapa pengkhianat itu maka orang-orang akan menyingkirkannya dan tidak akan menyebutnya pahlawan tetapi jika tidak jelas siapa pengkhianat atau mata-mata tersebut maka orang-orang hanya melihat bahwa semua yang ikut dalam pasukan tersebut adalah pahlawan [termasuk pengkhianat itu]. Dan si bodoh bin pandir beranggapan karena semuanya telah disebut pahlawan maka tidak ada pengkhianat dalam pasukan tersebut, secara istilah pengkhianat bukan pahlawan dan pahlawan bukan pengkhianat. Si bodoh itu ribut soal definisi istilah tetapi tidak mengerti hakikat permasalahannya. Kami yakin para pembaca akan mengerti maksud dari analogi yang kami sampaikan, uups selain nashibi tentunya karena mereka adalah kaum yang hampir-hampir tidak mengerti pembicaraan

.

Sahabat Nabi Yang Dikatakan Munafik Dalam Shahih Muslim?

Judul yang sensasional, mungkin ya tapi silakan dibaca dulu dengan seksama dan berikan penilaian yang objektif. Pembicaraan seputar sahabat Nabi memang sangat sensitif, setidaknya bagi kalangan tertentu. Kenapa? Karena sahabat Nabi lebih dikenal sebagai orang-orang yang mulia, suri tauladan yang agung dan orang yang berjasa besar bagi umat Islam. Saya tidak menyangkal hal itu, tetapi seperti biasa cara berpikir fallacyus ala generalisasi yang menjangkiti sebagian orang terkadang mengundang tanda tanya bagi orang  yang mau menggunakan akalnya. Mereka beranggapan bahwa sahabat Nabi tidak boleh dikritik, barang siapa yang berani mengkritik sahabat Nabi maka tak peduli kritikannya benar atau tidak, ia akan dianggap telah mencela sahabat Nabi.

Singkat cerita mencela sahabat Nabi akan dianggap zindiq minimal sesat. Apa jadinya jika mereka menemukan dalam kitab-kitab shahih terdapat kritikan terhadap Sahabat Nabi?. Mereka akan menolak, menakwilkan, berdalih atau apapun, intinya anda salah mereka benar dan Sahabat Nabi selalu mulia. Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa diantara Sahabat Nabi terdapat orang-orang munafik?. Oooh sudah pasti orang tersebut pasti akan mendapat cap sesat dhalalah bin dhalalah.
.

Dalam kitab Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka.

Matan hadis Shahih Muslim di atas menyatakan bahwa Rasulullah SAW sendiri yang menyebutkan ada sahabat Beliau yang munafik. Sudah menjadi kenyataan bahwa dalil sejelas apapun selalu bisa dicari-cari penolakannya. Mereka yang menolak ada sahabat Nabi munafik mengatakan bahwa hadis Shahih Muslim di atas menceritakan bahwa ada dua belas orang munafik dari Umat Nabi SAW dan mereka bukanlah sahabat Nabi SAW. Mereka berdalih dengan hadis berikutnya dalam Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (10) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi

حدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن بشار ( واللفظ لابن المثنى ) قالا حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس بن عباد قال قلنا لعمار أرأيت قتالكم أرأيا رأيتموه ؟ فإن الرأي يخطئ ويصيب أو عهدا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة وقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن في أمتي قال شعبة وأحسبه قال حدثني حذيفة وقال غندر أراه قال في أمتي اثنا عشر منافقا لا يدخلون الجنة ولا يجدون ريحها حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة سراج من النار يظهر في أكتافهم حتى ينجم من صدورهم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Bisyr (lafaz ini lafaz Al Mutsanna) yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais bin Abad yang berkata “saya bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang yang kamu lakukan? Karena pendapat itu bisa benar dan bisa salah. Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “ Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami yang tidak Beliau sampaikan pula kepada orang-orang. Ammar berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “bahwa diantara umatku”. Syu’bah berkata Ammar berkata telah diberitahu Huzaifah dan Ghundar berkata “saya melihat Rasulullah SAW bersabda “Diantara umatKu ada dua belas orang munafik yang tidak akan masuk surga bahkan mereka tidak mencium bau surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah yaitu api yang menyengat punggung mereka hingga tembus ke dada.

Kedua hadis Shahih Muslim diatas adalah Shahih, tetapi dalih sebagian orang bahwa dua belas orang munafik itu bukan sahabat Nabi tetapi Umat Nabi tidak bisa diterima begitu saja. Justru jika kita menerima keshahihan kedua hadis ini maka tidak ada pertentangan antara hadis yang satu dengan yang lain hingga kita harus menolak salah satunya

  • Hadis yang satu menyatakan Di antara SahabatKu ada dua belas orang munafik
  • Hadis yang lain menyatakan Diantara UmatKu ada dua belas orang munafik

Coba pikirkan dengan baik, mengapa harus dikatakan bahwa orang munafik itu ada di antara Umat Nabi tetapi bukan Sahabat Nabi. Apakah sahabat Nabi bukan termasuk Umat Nabi?. Kalau bukan lantas umat siapa, kalau iya maka penyelesaiannya mudah. Hadis yang menyebutkan kata SahabatKu adalah penjelasan yang mengkhususkan dari hadis dengan kata UmatKu. Sehingga makna hadis tersebut adalah diantara Umat Nabi SAW yaitu dari kalangan Sahabat Nabi ada dua belas orang munafik. Makna ini sesuai dengan kedua hadis di atas dan tidak menolak atau menyangkal salah satu hadis. Berbeda dengan penakwilan bahwa dua belas orang munafik itu diantara Umat Nabi tetapi bukan sahabat Nabi, karena penakwilan ini dengan terpaksa telah menentang hadis yang shahih dan jelas yaitu hadis dengan lafaz SahabatKu. Begitulah adanya, dan silakan direnungkan

.

Dalam kitab Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم [[في أصحابي]] اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah bin Hajjaj dari Qatadah dari Abi Nadhrah dari Qais yang berkata “saya pernah bertanya kepada Ammar, bagaimana pendapatmu tentang perang terhadap Ali? Atau bagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah SAW kepadamu?. Ammar menjawab “Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan pesan kepada kami suatu pesan yang tidak Beliau sampaikan juga kepada orang-orang”. Saya diberitahu oleh Huzaifah dari Nabi SAW yang bersabda “[[Di antara SahabatKu]] ada dua belas orang munafik. Di antara mereka ada delapan orang yang tidak akan masuk surga sampai unta masuk ke lubang jarum”. Delapan orang diantara mereka akan mendapat Dubailah, sedangkan empat lainnya aku tidak hafal yang dikatakan Syu’bah tentang mereka

Segelintir Munafik Dikenali Sebahagian Dari Sahabat

September 7, 2011

Kontroversi

Rancangan Para Sahabat Untuk Membunuh Nabi(sawa)

Terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Ulama Sunni berkaitan rancangan para sahabat(tentunya yang munafik) untuk membunuh Rasulullah(sawa) dengan menjatuhkan tunggangan yang baginda naiki dari tebing tajam. Rancangan ini ada kaitannya dengan tafsir surah at Taubah ayat 74:

 

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ ما قالُوا وَ لَقَدْ قالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَ كَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا وَ ما نَقَمُوا إِلاَّ أَنْ أَغْناهُمُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْراً لَهُمْ وَ إِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذاباً أَليماً فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ ما لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَ لا نَصيرٍ

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali- kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”

Ketika menerangkan ayat di atas, khususnya di bahagian: ”dan (mereka) mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya“ para ahli tafsir Sunni telah menafsirkan ada sekelompok para sahabat yang nama mereka dirahsiakan, berkomplot untuk membunuh Nabi(sawa)

 

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir berkata:

و قد ورد أن نفرا من المنافقين هموا بالفتك بالنبي صلى اللّه عليه و سلم و هو في غزوة تبوك، في بعض تلك الليالي في حال السير، و كانوا بضعة عشر رجلا، قال الضحاك: ففيهم نزلت هذه الآية  

“Dan telah datang riwayat bahawa ada sekelompok orang munafik berniat untuk membunuh Nabi (sawa). ketika dalam peperangan tabuk pada salah satu malam dalam perjalanan pulang baginda. Mereka berjumlah belasan orang. Adh- Dhahhâk berkata, ‘Untuk mereka lah ayat ini turun.’”

Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan bukti kebenaran pendapat ini dengan mengutip beberapa riwayat para ulama lain berkaitan masalah ini, seperti riwayat al Baihaqi, riwayat Imam Ahmad, Imam Muslim dan lain-lain.

Dalam sebahagian riwayat disebutkan bahawa yang ingin membunuh Nabi (sawa). itu adalah seseorang dari suku Quraisy!

Dalam tafsir al Jalâlain juga menjelaskan ayat tersebut seperti berikut:

وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا من الفتك بالنبي ليلة العقبة عند عوده من تبوك وهم بضعة عشر رجلا فضرب عمار بن ياسر وجوه الرواحل لما غشوه فردوا

“..dan (mereka) mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya iaitu untuk membunuh Nabi  di malam ‘Aqabah (tebing) sewaktu kepulangan baginda dari Tabuk. Mereka berjumlah belasan orang. Ammâr bin Yâsir mengenali wajah-wajah kenderaan mereka dan menghalaunya ketika mereka hendak mengerumuni Nabi (sawa).”

Ibnu Jauzi juga menyebutnya dalam tafsir Zâdul Masîr-nya. Beliau berkata:

و الثاني: أنّها نزلت فيهم حين همّوا بقتل رسول اللّه صلى اللّه عليه و سلم، رواه مجاهد عن ابن عباس، قال: و الذي همّ رجل يقال له: الأسود. و قال مقاتل: هم خمسة عشر رجلا، همّوا بقتله ليلة العقبة.

“Pendapat kedua: Ayat ini turun tentang mereka yang berniat membunuh Rasulullah saw.. demikian diriwayatkan Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Yang berniat membunuh adalah seorang bernama Aswad. Muqatil berkata, ‘Mereka berjumlah lima belas orang. Mereka berniat membunuh Nabi saw. di malam ‘Aqabah.”

Al Alûsi dalam tafsir Rûh al Ma’âni-nya juga menegaskan adanya perserongkolan para sahabat untuk membunuh Nabi (sawa) itu sepulang dari pertempuran Tabûk itu.

Serta masih banyak lagi kutipan para ulama Ahlusunnah yang menuduh para sahabat itu telah berencana membunuh Nabi Muhammad (sawa).

==================================================

Sekilas Pandang Peristiwa Itu

Dalam perjalanan pulang dari Tabuk, baginda(sawa) bersama sahabat kepercayaan baginda, Ammar(ra) dan Huzaifah(ra) mengambil jalan pintas dengan mengambil jalan pintas yang merbahaya, melalui tebing-tebing tinggi yang tajam. Beberapa orang sahabat munafik, bagaimanapun mengikuti baginda(sawa). Mereka menggunakan penutup wajah, bercadang membunuh baginda dengan mendorong kenderaan baginda jatuh  ke dalam jurang. Malangnya, Nabi(sawa) mengetahui perkara ini, dan mengarahkan Huzaifah untuk mengusir mereka. Sekembali Huzaifah, Nabi(sawa) bertanya kepada beliau, samada Huzaifah mengenali wajah-wajah mereka. Huzaifah menjawab bahawa beliau tidak dapat mengecam wajah mereka kerana mereka menggunakan penutup muka, bagaimanapun, beliau mengecam tunggangan milik mereka. Hudziafah berkata, ‘Mengapa tidak anda perintahkan saja agar mereka dibunuh? Nabi (sawa) menjawab: baginda(swa) tidak mahu nanti orang-orang berkata bahawa Muhammad membunuh sabahatnya sendiri!

 

Riwayat Lengkapnya.

 

و أخرج البيهقي في الدلائل عن عروة رضى الله عنه قال رجع رسول الله صلى الله عليه و سلم قافلا من تبوك إلى المدينة حتى إذا كان ببعض الطريق مكر برسول الله صلى الله عليه و سلم ناس من أصحابهفتآمروا أن يطرحوه من عقبة في الطريق فلما بلغوا العقبة أرادوا أن يسلكوها معه فلما غشيهم رسول الله صلى الله عليه و سلم أخبر خبرهم فقال من شاء منكم أن يأخذ بطن الوادي فانه أوسع لكم و اخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم العقبة و اخذ الناس ببطن الوادي الا النفر الذين مكروا برسول الله صلى الله عليه و سلم لما سمعوا ذلك استعدوا و تلثموا و قد هموا بأمر عظيم و أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم حذيفة بن اليمان رضى الله عنه و عمار بن ياسر رضى الله عنه فمشيا معه مشيا فأمر عمارا أن يأخذ بزمام الناقة و أمر حذيفة يسوقها فبينما هم يسيرون إذ سمعوا وكزة القوم من ورائهم قد غشوه فغضب رسول الله صلى الله عليه و سلم و أمر حذيفة أن يردهم و أبصر حذيفة رضى الله عنه غضب رسول الله صلى الله عليه و سلم فرجع و معه محجن فاستقبل وجوه رواحلهم فضربها ضربا بالمحجن و أبصر القوم وهم متلثمون لا يشعروا انما ذلك فعل المسافر فرعبهم الله حين أبصروا حذيفة رضى الله عنه و ظنوا ان مكرهم قد ظهر عليه فاسرعوا حتى خالطوا الناس و أقبل حذيفة رضى الله عنه حتى أدرك رسول الله صلى الله عليه و سلم فلما أدركه قال اضرب الراحلة يا حذيفة و امش أنت يا عمار فاسرعوا حتى استووا بأعلاها فخرجوا من العقبة ينتظرون الناس فقال النبي صلى الله عليه و سلم لحذيفة هل عرفت يا حذيفة من هؤلاء الرهط أحدا قال حذيفة عرفت راحلة فلان و فلان و قال كانت ظلمة الليل و غشيتهم وهم متلثمون فقال النبي صلى الله عليه و سلم هل علمتم ما كان شأنهم و ما أرادوا قالوا لا و الله يا رسول الله قال فإنهم مكروا ليسيروا معى حتى إذا طلعت في العقبة طرحوني منها قال أفلا تامر بهم يا رسول الله فنضرب أعناقهم قال أكره أن يتحدث الناس و يقولوا ان محمدا وضع يده في أصحابه فسماهم لهما و قال اكتماهم

Imam al Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Dalâil-nya dari Urwah yang berkata, “Rasulullah saw. pulang dari Tabuk menuju kota Madinah, sesampainya di sebahagian jalan, sekelompok orang dari sahabat beliau berbuat makar. Mereka berserongkol untuk menjatuhkan baginda saw. dari atas tebing di jalan itu. Sesampainya mereka di ujung tebing itu, mereka bermaksud berjalan di sana bersama-sama Nabi saw. Ketika telah bergabung, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat, ‘Siapa yang ingin menempuh jalan lewat perut lembah silakan, ia lebih lebar untuk kalian!’ Sementara Rasulullah saw. melewati jalan tebing itu. Para sahabat melewati perut lembat kecuali beberapa orang yang berencana berbuat makar terhadap Rasulullah saw. Ketika mereka mendengar pengumuman itu, mereka bersiap-siap dan mengenakan penutup wajah dan berencana melakukan makar besar. Rasulullah saw. memerintahkan Hudzaifah bin al Yamân ra. Dan Ammâr bin Yâsir ra.. Keduanya berjalan bersama beliau, Ammâr diperintah untuk memegang kendali kenderaan baginda, sementra Hudzaifah diminta untuk menuntunnya. Ketika mereka sedang berjalan, mereka mendengar suara suara langkah-langkah mereka (yang bermakar itu). Mereka berusa menerobos rombongan Nabi saw. Baginda(sawa) marah dan memerintahkan Hudzaifah untuk menghalau mereka. Hudzaifah melihat marahnya Rasulullah saw. Hudzaifah kembali ke belakang dengan membawa tongkat kecil untuk menghalau mereka. Hudzaifah menghadap wajah-wajah kendaraan mereka dan memukulnya dengan tongkat itu. Hudzaifah melihat mereka dalam keadaan mengenakan penutup wajah seperti kebiasaan sebahagian orang yang bermusafir. Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka ketika mereka melihat Hudzaifah ra. dan mereka menyangka bahawa Hudzaifah sudah mengetahui rencana jahat mereka terbongkar. Mereka bercepat-cepat lari dan bergabung dengan orang-orang lain. Hudzaifah ra. kembali kepada Rasulullah saw., setelah sampai, beliau memerintah Hudzaifah dan Ammâr agar pantas menuntun kenderaan beliau sehingga sampai di puncak tebing itu dan setelahnya mereka keluar darinya sambil menanti rombongan lain yang menempuh jalan perut lembah.

Nabi (sawa). bersabda kepada Hudzaifah: “Hai Hudzaifah, apakah engkau mengenali sesiapa dari mereka itu?”

Hudzaifah menjawab: “Aku mengenali kenderaan-kenderaan itu milik si fulan dan si fulan. Gelapnya malam menutupi wajah mereka di samping itu mereka mengenakan penutup wajah.”

Nabi saw. bersabda, “Tahukan kamu apa mahu mereka?”

“Tidak. Demi Allah.” Jawab Hudzaifah.

Nabi (sawa) menjelaskan, “Mereka berencana jahat membunuhku. Mereka ikut berjalan bersamaku sehingga ketika sampai di atas tebing mereka akan melemparkanku dari atasnya.”

Hudzaifah berkata, “Mengapakah tidak anda perintahkan saja agar kami penggal leher-leher mereka?!”

Nabi (sawa) “Aku tidak suka nanti orang-orang berkata Muhammad membunuh sahabatnya sendiri.”

Kemudian Nabi (sawa) menyebutkan nama-nama mereka untuk Hudzaifah dan Ammâr dan meminta keduanya merahasiakan

Rujukan: Tafsir ad Durrul Mantsûr,3358

 

Riwayat-riwayat senada juga telah disebutkan oleh para ulama seperti Syeikh Jalaluddin as Suyuthi dalam tafsirnya dan lainnya.

Di bawah ini saya sertakan teks asli riwayat tanpa terjemahan sebagai tambahan.

  • و أخرج البيهقي في الدلائل عن ابن اسحق نحوه و زاد بعد قوله لحذيفة هل عرفت من القوم أحدا فقال لا   فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الله قد أخبرني بأسمائهم و أسماء آبائهم و سأخبرك بهم ان شاء الله عند وجه الصبح فلما أصبح سماهم له عبد الله بن أبى سعد و سعد بن أبى سرح و أبا حاصر الاعرابى و عامر و أبا عامر و الجلاس بن سويد بن الصامت و مجمع بن حارثة و مليحا التيمي و حصين بن نمير و طعمة بن أبيرق و عبد الله بن عيينة و مرة بن ربيع فهم اثنا عشر رجلا حاربوا الله و رسوله و أرادوا قتله فاطلع الله نبيه صلى الله عليه و سلم على ذلك و ذلك قوله عز و جل وَ هَمُّوا بِما لَمْ يَنالُوا و كان أبو عامر رأسهم و له بنوا مسجد الضرار و هو أبو حنظلة غسيل الملائكة
  • و أخرج ابن سعد عن نافع بن جبير بن مطعم قال لم يخبر رسول الله صلى الله عليه و سلم بأسماء المنافقين الذين تحسوه ليلة العقبة بتبوك غير حذيفة رضى الله عنه وهم اثنا عشر رجلا ليس فيهم قريشي و كلهم من الأنصار و من حلفائهم
  • و أخرج البيهقي في الدلائل عن حذيفة بن اليمان رضى الله عنه قال كنت آخذ بخطام ناقة رسول الله صلى الله عليه و سلم أقود به و عمار يسوقه أو أنا أسوقه و عمار يقوده حتى إذا كنا بالعقبة فإذا أنا باثني عشر راكبا قد اعترضوا فيها قال فأنبهت رسول الله صلى الله عليه و سلم فصرخ بهم فولوا مدبرين فقال لنا رسول الله صلى الله عليه و سلم هل عرفتم القوم قلنا لا يا رسول الله كانوا متلثمين و لكنا عرفنا الركاب قال هؤلاء المنافقون إلى يوم القيامة هل تدرون ما أرادوا قلنا لا قال أرادوا ان يزحموا رسول الله صلى الله عليه و سلم في العقبة فيلقوه منها قلنا يا رسول الله الله الا تبعث إلى عشائرهم حتى يبعث إليك كل قوم برأس صاحبهم قال لا انى أكره ان تحدث العرب بينها ان محمدا قاتل بقوم حتى إذا أظهره الله بهم أقبل عليهم يقتلهم ثم قال اللهم ارمهم بالدبيلة قلنا يا رسول الله و ما الدبيلة قال شهاب من نار يوضع على نياط قلب أحدهم فيهلك

 

Kesimpulan

 

Jelas dari riwayat di atas, orang-orang munafik ini adalah termasuk dan DIKENALI sebagai sahabat Nabi(sawa). Ini bertentangan dengan pendapat Ahlul Sunnah yang mengatakan keseluruhan sahabat itu adil dan tidak termasuk golongan munafik. Mereka sentiasa bersama Nabi(sawa), bermusafir bersama, berperang bersama,solat bersama dan sebagainya. TIdak mustahil, orang-orang ini, adalah para sahabat dekat Rasulullah(sawa). .

.

Ulama Tsiqat Menyatakan Ada Sahabat Badar Yang Munafik

Percayakah para pembaca jika ada orang munafik diantara mereka yang ikut dalam perang Badar. Hal ini ternyata diyakini oleh salah seorang ulama ahlus sunnah yang tsiqat. Jadi tidak ada alasan mengkaitkan hal ini sebagai keyakinan syiah atau rafidhah. Perhatikan atsar berikut

أخبرنا أبو محمد السكري ببغداد أنبأ أبو بكر الشافعي ثنا جعفر بن محمد بن الأزهر ثنا المفضل بن غسان الغلابي وهو يذكر من عرف بالنفاق في عهد النبي صلى الله عليه و سلم قال والحارث بن سويد بن صامت من بني عمرو بن عوف شهد بدرا وهو الذي قتل المجذر يوم أحد غيلة فقتله به نبي الله صلى الله عليه و سلم

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Al Askariy di Baghdad yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Asy Syafi’iy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Al Azhar yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Mufadhdhal bin Ghassaan Al Ghalaabiy dan ia menyebutkan diantara orang yang dikenal munafik di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], ia berkata Al Harits bin Suwaid bin Shaamit dari Bani ‘Amru bin ‘Auf orang yang ikut dalam perang Badar dan ia telah membunuh Mijdzar pada perang Uhud dengan tipudaya maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] membunuhnya karena hal itu [Sunan Al Kubra Baihaqi 8/57 no 15841]

Atsar di atas diriwayatkan oleh para perawi tsiqat hingga Mufadhdhal bin Ghassaan Al Ghalabiy dan dia adalah ulama yang tsiqat.

  • Abu Muhammad Al Askariy adalah Abdullah bin Yahya bin ‘Abdul Jabar Al Baghdadiy. Adz Dzahabi menyebutnya syaikh yang tsiqat. Al Khatib berkata “kami menulis darinya dan ia shaduq” [As Siyar Adz Dzahabi 17/387 no 246]
  • Abu Bakar Asy Syafi’i adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin Ibrahim seorang Imam muhaddis mutqin hujjah faqih musnad Irak. Al Khatib berkata “tsiqat tsabit banyak meriwayatkan hadis”. Daruquthni berkata “tsiqat ma’mun” [As Siyar 16/40-42 no 27].
  • Ja’far bin Muhammad bin Al Azhar adalah Abu Ahmad Al Bazzaar Al Bawardiy meriwayatkan dari Mufadhdhal bin Ghassaan, Wahb bin Baqiyah dan Muhammad bin Khalid. Diantara yang meriwayatkan darinya adalah Abu Bakar Asy Syafi’i. Al Khatib berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad 8/97 no 3613]
  • Mufadhdhal bin Ghassaan Al Ghalaabiy adalah Abu ‘Abdurrahman Al Ghalaabiy berasal dari Bashrah dan tinggal di Baghdad. Diantara yang meriwayatkan darinya adalah Ja’far bin Muhammad bin Al Azhar. Al Khatib menyatakan ia tsiqat. [Tarikh Baghdad 15/156 no 7060]. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “ia termasuk sahabat Yahya bin Ma’in” [Ats Tsiqat juz 9 no 15904]

Maksud dari perkataan “membunuh dengan tipu daya” disini adalah Al Harits dan Mijdzar keduanya berada di pihak yang sama dalam perang Uhud tetapi Al Harits membunuh Mijdzar karena Mijdzar telah membunuh ayah Al Harits di masa Jahiliyah dahulu. Atsar di atas membuktikan ada ulama tsiqat yang berkata bahwa ada sahabat Badar yang munafik. Yah mungkin ulama satu ini [Mufadhdhal bin Ghassaan] akan dihujat oleh salafy nashibi

.

Apakah Ada Sahabat Badar Yang Dinyatakan Munafik?

Perhatikan baik-baik, judul di atas adalah pertanyaan dan tulisan kali ini akan menunjukkan berbagai qarinah yang menunjukkan ada salah seorang yang ikut menyaksikan perang Badar ternyata setelah itu ia dinyatakan munafik. Penegasan kemunafikan itu turun dari langit dengan salah satu ayat Al Qur’an yang turun untuknya

حدثنا يوسف بن حماد حدثنا عبد الأعلى بن عبد الأعلى عن سعيد عن قتادة عن أنس أن أبا طلحة قال غشينا ونحن في مصافنا يوم أحد حدث أنه كان فيمن غشيه النعاس يومئذ قال فجعل سيفي يسقط من يدي وآخذه ويسقط من يدي وآخذه والطائفة الأخرى المنافقون ليس لهم هم إلا أنفسهم أجبن قوم وأرغبه وأخذله للحق

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Hamaad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa bin ‘Abdul A’laa dari Sa’id dari Qatadah dari Anas bahwa Abu Thalhah berkata kami diliputi rasa kantuk pada pasukan perang uhud, ia menceritakan terjadi serangan rasa kantuk pada hari itu. Dia berkata “pedangku terjatuh dari tanganku dan aku mengambilnya kembali, kemudian kembali terjatuh lagi dan aku ambil kembali. Sedangkan golongan yang lain yaitu orang-orang munafik tidak ada yang mereka cemaskan selain diri mereka sendiri, mereka adalah orang-orang pengecut dan tidak peduli pada kebenaran [Sunan Tirmidzi 5/229 no 3008]

Imam Tirmidzi berkata “ini hadis hasan shahih”. Hadis riwayat Tirmidzi ini shahih, Sa’id adalah Sa’id bin Abi Arubah, ia dimasukkan oleh Ibnu Hajar dalam mudallis martabat kedua [Thabaqat Al Mudallisin no 50]. Tetapi hal ini tidak membahayakan hadisnya karena mudallis martabat kedua dijadikan hujjah ‘an anahnya dalam kitab shahih apalagi diketahui kalau Sa’id bin Abi Arubah termasuk diantara orang yang paling tsabit riwayatnya dari Qatadah. Sa’id bin Abi Arubah juga dikatakan mengalami ikhtilath, tetapi disini yang meriwayatkan darinya adalah ‘Abdul A’la bin ‘Abdul A’la dimana ia termasuk yang meriwayatkan dari Sa’id sebelum ia mengalamai ikhtilath [Al Mukhtalithin Abu Sa'id Al Ala'iy no 18]. Periwayatan Abdul A’la dari Sa’id telah dimasukkan Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya.

Sa’id bin Abi Arubah memiliki mutaba’ah yaitu dari Syaiban bin ‘Abdurrahman sebagaimana disebutkan Abu Nu’aim dalam Shifatu Nifaq no 133 dan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban 16/145 no 7180 [dimana Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari”]. Kemudian Qatadah dalam periwayatan dari Anas memiliki mutaba’ah dari Rabi’ bin Anas sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ath Thabari 7/318 no 8078.

حَدَّثَنَا مُحَمَّد بْن إسماعيل الصائغ، قَالَ حَدَّثَنَا يوسف بْن البهلول قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ إدريس، عَنْ ابْن إِسْحَاقَ، قَالَ حدثني يحيى بْن عباد بْن عَبْدِ اللهِ بْن الزبير، عَنْ أبيه، عَنْ عَبْد اللهِ بْن الزبير، قَالَ قَالَ الزبير  أرسل الله علينا النوم يعني يوم أحد فوالله إني لأسمع كالحلم قول معتب بْن قشير {لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَهُنَا} فحفظتها منه، وفي ذَلِكَ أنزل الله جَلَّ وَعَزَّ  {ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا} إِلَى قوله  {مَا قُتِلْنَا هَهُنَا} ، لقول معتب بْن قشير

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismail Ash Shaa’igh yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Buhlul yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris dari Ibnu Ishaq yang berkata telah menceritakan kepadaku Yahya bin ‘Abbad bin ‘Abdullah bin Zubair dari ayahnya dari Abdullah bin Zubair yang berkata Zubair berkata Allah SWT mengirimkan rasa kantuk kepada kami yaitu pada perang Uhud maka demi Allah aku mendengar seolah seperti mimpi Mu’attib bin Qusyair berkata “sekiranya ada bagi kita sesuatu dalam urusan ini maka niscaya kita tidak akan dibunuh disini” Aku pun menghafalkan perkataan itu, dan untuk hal itulah turun firman Allah [kemudian setelah kamu berduka cita Allah menurunkan keamanan berupa kantuk] hingga perkataannya [niscaya kita tidak akan dibunuh disini] yaitu perkataan Mu’attib bin Qusyair [Tafsir Al Qur'an Ibnu Mundzir 2/457 no 1091]

Hadis di atas sanadnya hasan telah diriwayatkan oleh perawi tsiqat dan shaduq. Juga disebutkan riwayat ini dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim 3/795 no 4373 dengan sanad yang serupa. Berikut perawi dalam sanad di atas

  • Muhammad bin Isma’il Ash Sha’igh adalah perawi Abu Dawud. Ibnu Abi Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 57]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/55]. Adz Dzahabi berkata “imam muhaddis tsiqat” [As Siyar 13/161 no 95]
  • Yusuf bin Buhlul At Tamimiy mendengar Syarik bin ‘Abdullah, Yahya bin Zakaria bin Abi Za’idah, Abdullah bin Idris dan Abu Khalid Al Ahmar. Telah meriwayatkan darinya Bukhari, Yaqub bin Syaibah dan Abu Zur’ah. Al Khatib berkata “tsiqat”. Muhammad bin Abdullah Al Hadhramiy berkata “tsiqat” [Tarikh Baghdad 16/437 no 7561]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/343]
  • ‘Abdullah bin Idris adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “ahli ibadah yang memiliki keutamaan”. Ibnu ‘Ammaar berkata “termasuk hamba Allah yang shalih dan zuhud”. Abu Hatim menyatakan ia hujjah imam kaum muslimin yang tsiqat. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat ma’mun banyak meriwayatkan hadis, hujjah”. Ibnu Hibban memasukkan dalam Ats Tsiqat. Ibnu Khirasy berkata ‘tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit”. Ali bin Madini menyatakan ia termasuk tsiqat. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaih” [At Tahdzib juz 5 no 248]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat faqih ahli ibadah” [At Taqrib 1/477]
  • Muhammad bin Ishaq bin Yasar adalah penulis kitab sirah yang terkenal. Ibnu Hajar mengatakan ia seorang yang imam dalam sejarah, shaduq melakukan tadlis dan bertasyayyu’ [At Taqrib 2/54]. Tetapi dalam hadis ini Muhammad bin Ishaq menyebutkan lafal “haddatsani” maka hadisnya shahih.
  • Yahya bin ‘Abbad bin ‘Abdullah bin Zubair termasuk perawi Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis” [At Tahdzib juz 11 no 382]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/306]
  • ‘Abbad bin ‘Abdullah bin Zubair adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Nasa’i berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Al Ijli berkata “tabiin madinah yang tsiqat” [At Tahdzib juz 5 no 164]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/467]

Jadi hadis Abdullah bin Zubair dari ayahnya di atas adalah sanadnya jayyid dan menjelaskan tentang turunnya Al Qur’an Ali Imran ayat 154 dimana salah satunya tertuju untuk Mu’attib bin Qusyair seperti yang disebutkan di atas

ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاساً يَغْشَى طَآئِفَةً مِّنكُمْ وَطَآئِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لاَ يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu, mereka berkata “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati [QS Ali Imran : 154]

Ayat di atas menjelaskan bahwa pada saat perang Uhud Allah SWT menurunkan rasa kantuk kepada orang-orang yang beriman sebagai rasa aman bagi mereka sedangkan golongan lain yang dicemaskan oleh dirinya sendiri mereka adalah orang-orang munafik yang ikut dalam barisan kaum mukminin [seperti yang ditegaskan dalam riwayat Abu Thalhah di atas]. Mereka menyangka yang tidak benar kepada Allah seperti sangkaan jahiliyah dan diantara mereka ada yang berkata “sekiranya ada bagi kita sesuatu [hak campur tangan] dalam urusan ini maka kita tidak akan terbunuh”. Disebutkan dalam riwayat shahih di atas kalau yang berucap ini adalah Mu’attib bin Qusyair. Jadi Mu’attib bin Qusyair tergolong ke dalam orang-orang munafik saat perang uhud.

Lantas siapakah Mu’attib bin Qusyair ini?. Sebagian ulama memasukkannya ke dalam daftar sahabat Nabi. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Al Ishabah dan menyatakan ia Ashabul Aqabah, dikatakan ia munafik dan Ibnu Ishaq menyebutkan kalau ia termasuk yang ikut dalam perang Badar [Al Ishabah 6/175 no 8125]. Ibnu Abdil Barr berkata “ia ikut menyaksikan perang Badar dan uhud” [Al Isti’ab 3/1429]. Ibnu Atsir menyebutkan bahwa ia termasuk orang Anshar menyaksikan perang Badar dan perang Uhud [Asad Al Ghabah 5/237]. Ibnu Sa’ad berkata “ia menyaksikan perang Badar dan Uhud” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/463]. Abu Nu’aim Al Ashbahaniy memasukkan Mu’attib bin Qusyair kedalam kitabnya Ma’rifat Ash Shahabah dan berkata ia menyaksikan perang Badar [Ma’rifat Ash Shahabah Abu Nu’aim 18/118]. Ibnu Makula menyebutkan ia menyaksikan perang Badar dan termasuk Ashabul Aqabah [Ikmal Al Kamal 7/280]

Apa yang kita dapat sejauh ini?. Mu’attib bin Qusyair termasuk sahabat yang ikut dalam perang Badar tetapi ketika perang Uhud ia masuk dalam golongan orang munafik walaupun ia ikut di barisan kaum mukminin. Jadi adakah sahabat Nabi yang munafik? Uups atau bahasanya adakah sahabat Nabi yang menjadi munafik?. Apa jawabannya silakan direnungkan.