Syiah Indonesia berjumlah 2,5 juta jiwa. Ini Potensi Besar Dalam Pileg dan Pilpres ? Walau garang, Wahabi Kalah Jumlah

Syiah Indonesia dalam sebuah peringatan

baca juga : Yayasan Al Bayyinat, MUI SAMPANG dan MUI Jatim yang menuduh syi’ah sesat TELAH BERLUMURAN DARAH NYAWA manusia

Syiah Indonesia berjumlah 2,5 juta jiwa. Ini Potensi Besar Dalam Pileg dan Pilpres ? Walau garang, Wahabi Kalah Jumlah

Jalaluddin Rahmat dan Ustad Husain Ardilla Klaim Syiah Indonesia berjumlah 2,5 Juta, Tapi Taqiyah !

Ketua Dewan Syuro Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaluddin Rahmat mengklaim saat ini jumlah kaum Syiah di Indonesia telah mencapai 2,5 juta orang. Namun umumnya mereka mempraktekkan taqiyah. Taqiyah mempraktikkan kondisi di luar seseorang dengan apa yang ada di dalam batinnya tidak sama.

“Dari data penelitian yang sudah ada itu populasi Syiah berkisar 500.000 saja seluruh Indonesia, itu perkiraan terendah, perkiraan tertinggi Syiah itu sekitar 5 juta-an, kalau saya ambil perkiraan yang menengah sekitar 2,5 juta”, ungkapnya saat acara Miladnya yang ke 63 di sekretariat IJABI, Rabu (29/08/2012) Kantor  Pusat IJABI, Jalan Kemang, Jakarta Selatan.

Lucunya, saat di Tanya wartawan, dari mana jumlah itu, Jalal menjawab datanya itu hanya perkiraan dan itupun data dari kepolisian.

“Kalian cari sendiri lah,” ujarnya.

Menariknya Jalal juga mengungkapkan,  bahwa sebagian orang-orang Syiah di Indonesia tidak tampak sebagai orang Syiah karena mereka mempraktekkan taqiyah. Taqiyah itu supaya untuk menyembunyikan identitas demi memelihara persatuan dan banyak dari mereka (orang Syiah) yang menjadi ustadz di masjid-masjid,  ujarnya. Yang tau tentang Syiah itu hanya orang Syiah sendiri. Mereka bahkan juga ada di legislative.

“Di legislatif juga ada orang Syiah tapi saya tidak akan menyebutkan siapa-siapanya,” terang Pria asal Bandung ini.

Ia juga mengatakan, mayoritas Syiah di Indonesia adalah Syiah Itsna Asyariyyah. “Kalau di Bali ada Syiah Ismailiyah,” tambahnya.

Sebelum ini, dalam sebuah wawancara Dengan Habib Achmad Zein Alkaf dari di Yayasan Albayyinat Indonesia, sebuah lembaga yang intensif mengkaji Syiah di Indonesia, Syiah Itsna Asyariyah atau Imamiyah adalah Syiahdengan pusat ideologi politik di dikendalikan Iran.

*

Organisasi Syiah Minta Tokoh Agama Pertahankan Sikap Tasamuh

Perbedaan Rukun dinilai Jalan tak masalah/Foto: RMOL

Organisasi Syiah di Indonesia, Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI), mengatakan meminta tokoh agama bisa mempertahankan dan melestarikan sikap tasamuh (toleransi) dalam menghadapi perbedaan agama dan eyakinan. Pernyataan ini disampaikan Pimpinan Pusat IJABI, Dr Jalaluddin Rahmat dalam sebuah pernyataan pers di Kantor  Pusat IJABI, Jalan Kemang, Jakarta Selatan.

“Dahulukan akhlak di atas fikih dalam menghadapi perbedaan faham di dalam internal umat Islam tidak menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk kepentingan politik dan ekonomi demi memelihara NKRI,” ujar Kang Jalal, demikian ia kerap dipanggil kepada pers, Rabu (29/08/2012) malam.

Lebih jauh, pria yang menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro IJABI ini meminta pihak pers tidak memuat atau membentujopini yang tidak menyejukkan.

Beda Rukun Dinilai Tak Masalah

Dalam konferensi pers tersebuu, IJABI juga mengeluarkan kronologi konflik Sunni-Syiah di Sampang versi Syiah.

Menurutnya, Tajul Muluk di serang pertama kali tahun 2004 saat peringatan maulid. Dua tahun kemudian pesantren IJABI di Bondowoso diserang. Pelakunya berhasil diadili. Tahun 2006, ustadz Tajul Muluk bersama adiknya Raisul Hukama dilantik menjadi pimpinan IJABI daerah Sampang. Tahun 2007, komunitas Syiah diteror berulang kali. Termasuk di antara orang yang membela komunitas Syiah adalah Rois.

Versi IJABI, karena masalah konflik keluarga, Rois bergabung dengan para penyerang Syiah dan akhir 2011, ia menyatakan bertaubat dari Syiah dan ikut memimpin penyerangan terhadap madrasah dan masjid kakaknya, Tajul.

Saat ada yang bertanya masalah Rukun Iman dan Rukun Islam antara Sunni dan Syiah, Kang Jalal hanya mengatakan, seperti perbedaan perumusan Pancasila sebelum ditetapkan dan disepakati. Menurut Jalal, perbedaan rukun itu bukan sebuah masalah.

Dalam acara itu, Jalal juga mengungkap jumlah kaum Syiah di Indonesia yang sudah mencapai 2,5 juta lebih dan melakukan taqiyah untuk menyembunyikan identitasnya

.

 Jalal: Apakah Harus Memindahkan Konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia?
Jalal dan Istrinya, Emilia Renita

Kamis, 30 Agustus 2012

Ketua Dewan Syura Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahkmat di acara “Milad ke 63 kang Jalal: Napak Tilas Perjalaanan Syiah Kang Jalal” di Kemang VI no 9, Kemang Raya, Jakarta, Rabu malam (29/08/2012) mengatakan pada hakekatnya dalam ajaran Syiah dibenarkan melakukan balas dendam jika terlebih dulu diperangi dan dizalimi

.

Bahkan menurutnya, kaum Syiah pemberani dan merasa bangga jika bisa mengalirkan darah bersama Imam Husein

.

“Saya kira kelompok Syiah tidak sebagus dalam tanda kutip kelompok Ahmadiyah, kita adalah sebuah kelompok keagamaan yang mendunia, jadi berbeda dengan kelompok Ahmadiyah yang menyambut pukulan yang mematikan itu dengan senyuman. Orang-orang Syiah pada suatu saat tidak akan membiarkan tindakan kekerasan itu terus menerus terjadi. Karena buat mereka, mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah satu mimpi yang diinginkan oleh orang Syiah. Saya tidak bermaksud mengancam ya tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia? Semua itu berpulang pada pemerintah,” ucapnya

.

Bela Tajul Muluk

Lebih jauh, ia juga mengatakan, pihak Syiah akan berusaha bersatu guna membela Tajul Muluk yang kini meringkuk di ruang tahanan di Sampang

.

“Saya kira sekarang seluruh komunitas Syiah sekarang bersatu untuk membela seluruh komunitas Syiah bukan saja Tajul Muluk seorang. Begitu naik banding, kita akan berusaha membebaskan Tajul Muluk, “ tambahnya.

.
Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) sekaligus pembina pesantren Syiah, Jalaludin Rakhmat menceritakan, peringatan Maulid Nabi di Sampang yang digelar  Tajul Muluk pada 9 April 2007 silam, dihadang oleh 5.000 orang. Mereka meminta polisi membubarkan acara tersebut. Satu bulan kemudian, Tajul Muluk dilantik sebagai Ketua Umum IJABI Kabupaten Sampang periode 2007-2010, sedangkan kakaknya Roisul Hukama sebagai Dewan Penasehat IJABI
.
“Namun karena adanya konflik keluarga akibat persoalan cinta, Rois kemudian pindah ke Sunni. Dia pindah ke pihak lawan Tajul Muluk untuk membangun kekuatan buat mengalahkan adiknya. Jadi dia meluaskan konflik keluarga dengan memanfaatkan potensi konflik agama,” kata Jalaludin
.
Akibat konflik keluarga itulah, Kamis 29 Desember 2011, pesantren milik warga Syiah di Nangkernang, Sampang, Madura, dibakar massa. Tajul Muluk, pemilik pesantren Syiah yang dibakar massa itu, terusir dari kampungnya. Belum cukup deritanya, ia juga divonis dua tahun penjara atas tuduhan penistaan agama oleh Pengadilan Negeri Sampang.Kini, konflik serupa kembali berulang. Minggu 26 Agustus 2012, saat 20 anak dari pemukiman Syiah di Desa Karang Gayam Madura yang bersekolah di Bangil Pasuruan, hendak kembali ke pesantren mereka di Pasuruan usai merayakan Idul Fitri di Sampang
.
Murid-murid dan orang tua yang mengantarkan mereka, tiba-tiba dihadang oleh kelompok massa yang menggunakan 30 sepeda motor.Siswa Syiah yang sudah naik angkutan umum itu disuruh turun, sedangkan yang mengendarai kendaraan dipaksa pulang ke rumah mereka masing-masing

.

Massa bahkan mengancam akan membakar angkot yang ditumpangi para siswa itu. Kelompok Syiah yang kemudian melawan, membuat massa makin beringas sehingga bentrokan tidak terhindarkan.

Personel Brimob mengawal pengungsi warga Syiah, ketika berlangsungnya evakuasi dari tempat persembunyian mereka, di Desa Karanggayam dan Desa Bluuran, Sampang, Madura, Jawa Timur. FOTO:  EPA/FULLY HANDOKO

Jalaluddin Rahmat
.
TUMBUH di lingkungan keluarga Nahdiyyin, tak ada yang menyangka bahwa pakar komunikasi dari Universitas Padjajaran Bandung, Jalaluddin Rahmat akan menjadi seorang Syiah. Pria yang biasa disapa Kang Jalal ini bahkan menjadi Ketua Dewan Syuro di Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), satu-satunya ormas Syiah yang diakui oleh negara.Sebagai penganut aliran Islam Syiah yang menjadi minoritas di negeri ini, Jalal dan kelompoknya harus sembunyi-sembunyi supaya bisa bertahan
.
Penulis buku “Psikologi Komunikasi”, kitab kuningnya mahasiswa fakultas komunikasi, mengaku heran mengapa kelompoknya harus dipandang sebagai ancaman. Bahkan ada beberapa pihak yang menyebut bahwa darah kelompok Syiah adalah halal.Menurut Jalal, aksi penyerangan terhadap kelompok Syiah di Sampang, Madura adalah bukti nyata adanya konflik agama. Bukan sekedar konflik antar keluarga. Pendiri Islamic Cultural Center (ICC) ini menilai bahwa upaya untuk menutupi diskriminasi terhadap penganut Syiah memang nyata
.

“Yang terjadi itu bukan konflik keluarga yang mengatasnamakan agama, tapi konflik agama yang menggunakan konflik keluarga,” kata Jalal kepada wartawan JPNN, Mohammad Adil.

Jalal menegaskan, selama ini orang-orang Syiah selalu berupaya menjaga persatuan umat Islam dan kerukunan umat beragama di Tanah Air. Demi persatuan tersebut, para pengikut Syiah rela menutupi jati dirinya. Berikut petikan wawancara JPNN dengan Kang Jalal saat ditemui di kediaman pribadinya di kawasan Kemang, Jakarta, Kamis (30/8) siang lalu.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Syiah?
Syiah secara bahasa artinya golongan, pada awalnya. Artinya pengikut secara istilah. Syiah adalah orang yang mengikuti nabi melalui keluarganya. Alhul sunnah mengikuti nabi melalui para sahabat. Syiah mengikuti nabi melalui keluarganya, pada awal itu bedanya.

Sejauh apa perbedaannya dengan Sunni?
Hampir tidak ada bedanya. Misalkan ada orang kafir melihat Sunni dan Syiah shalat, pasti tidak akan tahu bedanya. Terlalu banyak yang sama. Tapi kalo diperhatikan lebih rinci baru kelihatan. Seperti tangannya lurus ketika shalat dan orang Syiah tidak membaca amin. Tapi perbedaan seperti itu tidak membuat salah satunya jadi sesat.

Lalu mengapa bisa ada konflik antara Sunni dan Syiah?
Itu kepentingan-kepentingan kelompok lah dan biasanya bukan kepentingan agama, tapi kepentingan duniawi. Dan orang-orang yang perlu dengan kepentingan itu membesar-besarkan dan mencari-cari perbedaan itu. Jangankan dengan Syiah, dalam Sunni sendiri pun seperti NU dan Muhammadiyah saja kalau kita besarkan perbedaan ya ketemu juga, perbedaan qunut dan tidak qunut, tahlil dan tidak tahlil.

Dari sejarahnya, Syiah sendiri sejak kapan berkembang di indonesia?
Syiah itu sudah ada sejak penyebar Islam pertama masuk ke Indonesia. Terutama dibawa oleh orang-orang Arab yang datang dari Hadramaut (Yaman), Islam yang mereka bawa adalah Syiah. Penyebarannya, pusat yang paling besar itu Bandung, Jakarta, Makassar dan Palembang juga. Sejak awal masuk Syiah sudah ditolak, tapi untuk penyerangan yang terbesar sampai sekarang, ya di Sampang itu.

Seberapa besar jumlah penganut aliran Islam Syiah di Indonesia?
Ada 3 perhitungan. Yang pertama perhitungan minimal yang dilakukan oleh lembaga negara. Mereka melakukan penelitian dan hanya ada 500 ribu orang di seluruh Indonesia, jadi minoritas terkecil. Dalam perkiraan yang lain, Syiah di Indonesia 3 sampai 5 juta orang. Perkiraan saya sendiri sekitar 2,5 juta orang di seluruh Indonesia.

Tidak banyak orang tahu tentang Syiah di Indonesia, kenapa?
Karena orang Syiah melebur ikut dengan Ahlul Sunnah, mereka sengaja memelihara persatuan dan tidak menampakan kesyiahan. Bahkan sampai sekarang nggak ada masjid Syiah kecuali yang di Sampang itu, itu kan dibakar. Kita di IJABI juga melarang mereka untuk mendirikan masjid. Dan itu membuat orang Syiah lebih sulit diserang dibanding dengan Ahmadiyah yang punya mesjid sendiri.

Seperti apa contoh peleburan Syiah di antara masyarakat?
Banyak orang Syiah yang menjadi khatib di masjid-masjid Ahlul Sunnah. Saya sendiri jadi khatib tetap di Masjid Paramadina dan Masjid Al Munnawarah, itu masjid Ahlul Sunnah.  Syiah di Indonesia sebenarnya nggak jelas, orang-orangnya siapa juga nggak jelas karena berada bersama Ahlul Sunnah. Kecuali mungkin orang  seperti saya yang sudah menampakkan diri, sudah pasang badan, ada organisasinya. Tapi Syiah secara keseluruhan tidak, dan kebanyakan orang Syiah berada di luar organisasi (IJABI), bahkan ada yang kita titipkan di berbagai tempat. Sekarang ada orang Syiah yang jadi ketua ormas, ada yang jadi anggota legislatif, dan di partai politik. Ada orang Syiah jadi aparat negara sehingga dalam urusan kemarin ini di Sampang, saya berhubungan dengan aparat-aparat yang saya ketahui kalau mereka Syiah. Dan hanya orang Syiah yang tahu siapa Syiah itu.

Lalu kenapa harus bersembunyi? Apakah ada ketakutan?
Tidak ada mahzab yang lebih bersedia menumpahkan darahnya dari Syiah. Ini bukan masalah berani tidak berani, ini masalah kesetiaan kita pada persatuan umat Islam, pada kerukunan umat beragama. Kenapa kita harus dirikan masjid sendiri kalau kita masih bisa shalat di masjid yang lain? Apakah kita ingin pecah umat ini? Dan kita lebih memilih persatuan. Kita mencoba untuk menjadi inklusif, tidak eksklusif.

Ada keputusan untuk bersembunyi, artinya penolakan terhadap Syiah itu nyata dan besar?
Ya, itu nyata. Dan kenapa orang Syiah banyak bersembunyi, karena dia tahu kalau dia menampakkan diri, orang akan menolak dan orang-orang mendengarkan ilmunya. Seperti misalnya, seorang dokter ketahuan dia Syiah maka akan langsung ditolak dan tidak ada alasan penolakan itu hanya karena dia Syiah. Kelompok-kelompok radikal ini (yang menolak).

Sampai kapan akan terus bersembunyi?
Mungkin nanti kalau orang-orang Syiah ini sudah kuat. Tapi dalam keadaan lemah, lebih baik kita memilih memelihara persatuan daripada menyebabkan perpecahan. Itu saya sebut dahulukan akhlak di atas fiqih.

Apakah dengan bersembunyi bisa menjadi kuat?
Justru dengan bersembunyi kita jadi kuat. Sepanjang sejarah, orang Syiah itu selama ini dieksekusi, dibunuhin, ditangkap, disiksa. Tapi setelah mereka ngumpet maka bertahanlah Syiah ini. Ada satu kelompok yang terus melawan namanya Khawarij, dia melawan terus tapi sekarang sudah nggak ada lagi di dunia. Kita ini enggak, dengan bersembunyi Syiah dapat bertahan dan menyebarkan ajaran ini pada keturunannya, bahkan bisa jadi lebih kuat.

Syiah di Indonesia tidak signifikan jumlahnya tapi penolakannya cukup besar. Menurut Anda kenapa?
Saya juga tidak mengerti, kita ini padahal kecil sekali. Saya pernah bertanya hal yang sama pada seorang kyai. Jawabannya, “Sekarang Syiah memang kecil tapi kalau dibiarkan jumlah mereka sampai 20 persen saja, kita (Sunni) akan dihabisi.” Padahal di wilayah manapun yang jumlah Syiah nya lebih dari 20 persen, tidak pernah terjadi seperti itu. Jadi menurut saya alasannya ketakutan, dan ketakutan itu hanya ada di kepala mereka. Ada juga yang merasa jamaahnya direbut atau ketakutan akan direbut. Hal  seperti ini sangat penting buat kyai-kyai di daerah. Kehilangan 1 atau 2 orang saja bisa jadi masalah besar. Seperti yang terjadi di Jawa Timur, kebencian terhadap Syiah mulanya karena tokoh Syiah itu dari orang-orang NU. Otomatis jamaahnya juga dulunya jamaah NU.

Jadi konflik Sampang itu berlatar agama atau keluarga?
Konflik agama itu sudah ada sebelum konflik keluarga. Tadjul Muluk dan Rois itu mula-mula Syiah. Itu satu keluarga Syiah dan pada waktu mereka bergabung, itu diserang oleh Sunni. Lalu pada tahun 2007 ada pertengkaran antara Tadjul dengan Rois, itu urusan keluarga, pertengkaran keluarga. Kemudian Rois bergabung dengan orang-orang Sunni yang menyerangnya untuk menyerang adiknya (Tadjul). Jadi sebenarnya ini awalnya konflik agama, tapi dimanfaatkan oleh Rois untuk menyerang adiknya. Yang terjadi itu bukan konflik keluarga yang mengatasnamakan agama, tapi konflik agama yang menggunakan konflik keluarga.

Tapi kenapa penyebab konflik yang dimunculkan justru sebalikya?
Ya, memang ada usaha untuk mereduksi ini supaya  tidak meluas. Karena sebenarnya masalah Sunni-Syiah itu bukan cuma masalah lokal tapi bisa jadi konflik internasional. Jadi kalau dilokalisir jadi konflik keluarga, maksud  pemerintah jadi “Ya sudah kalian (Syiah) nggak usah ikut-ikutan, ini masalah keluarga aja kok.” Kami sangat menyesali sikap yang mereduksi ini.

Lalu mengapa konflik di Sampang menjadi begitu berdarah?
Karena mereka (Syiah) lemah, sudah kecil lemah pula. Belum lagi pengaruh dari luar, tambah lagi ada fatwa MUI itu. Fatwa itu berpengaruh sekali karena di Madura kyai itu didengar, preman aja hormat sama kyai. Kalau sudah dianggap sesat maka otomatis darahnya halal.

Adakah usaha untuk mendamaikan Sunni-Syiah?
Banyak, ada beberapa perjanjian internasional. Ada yang namanya Deklarasi Mekkah, Deklarasi Oman dan yang terakhir untuk memperkuat perjanjian internasional, Deklarasi Bogor di Istana Bogor. Di situ dibuat kesepakatan untuk rekonsiliasi Sunnah dan Syiah di bawah pimpinan SBY. Secara nasional juga banyak yang berusaha mendekatkan, seperti Said Aqil dari NU, Buya Syafie Maarif dari Muhammadiyah berusaha mendekatkan Sunni dan Syiah. Beberapa orang majelis ulama juga, seperti Doktor Qurais Syihab, Prof Doktor Umar Syihabdan almarhum Gus Dur juga mendekatkan Sunni dan Syiah. Tapi di bawah itu tidak ada.

Masyarakat kita kan aneh, walaupun mereka tokoh-tokoh sudah berbicara ataupun bahkan, misalnya saja Mahkamah Agung sudah mengeluarkan keputusan untuk membenarkan Gereja Yasmin bisa beroperasi kembali, eh bisa dibatalin sama RW setempat. Itu hebatnya negara kita

.

IJABI: Banyak Ceramah Radio yang Memojokkan Syiah

Kang Jalal meminta masyarakat yang belum memahami soal Syiah untuk berdialog dan tidak menggunakan cara kekerasan untuk memaksakan pendapat.

Konflik antara Sunni dan Syiah sudah terjadi sejak lama. Pada 2007 telah terjadi banyak penyerangan kepada Syiah seperti yang terjadi di Bondowoso, Bangil dan Sampang. Konflik ini terjadi karena rasa fanatisme yang berlebihan dan ada kelompok yang sengaja melontarkan fitnah. Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia atau IJABI sudah berulang kali meminta adanya dialog untuk menyelesaikan kasus ini. Berikut penjelasan Anggota Dewan Syuro IJABI, Muhammad Bagir dan peneliti Human Right Watch, Andreas Harsono

Penyebabnya awalnya?

Muhammad Bagir: Saya melihatnya, bahwa penyebab konflik Sunni-Syiah di Indonesia adalah pertama karena fanatisme yang berlebihan dan kedua karena kurang informasi yang sempurna yang diterima oleh masyarakat. Ketiga, ada kelompok-kelompok tertentu yang memang sengaja melontarkan fitnah-fitnah terhadap kelompok-kelompok tertentu dan menggunakan massa yang banyak, sehingga terjadilah konflik horisontal di bawah.

Yang Anda maksudkan bahwa kelompok tertentu dan pengesampingan fakta apa yang sebetulnya disesatkan sehingga Syiah terus terpojok di Indonesia?

Saya melihat misalnya di Bangil, di Bangil itu setiap malam Rabu selalu ada ceramah-ceramah yang melontarkan fitnah, dan ceramah itu di-relay di setiap radio.

Fitnahnya seperti apa?

Mengatakan Syiah punya Qur’an sendiri, Syiah akan membangun negara sendiri, bahkan Syiah itu misalnya omongan-omongan kotor disampaikan, provokasi untuk diserang, halal darahnya, dan sebagainya. Seperti kasus di Sampang misalnya harus ditutup sekolahannya, Syiah itu seperti fatwa yang disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Sampang dia mengatakan orang Syiah mengharamkan solat Jumat, orang Syiah mewajibkan solat tiga waktu, dan sebagainya. Situasi sudah terus seperti ini, masih saja disampaikan statement-statement yang tidak berdasar sama sekali.

Tadi anda sebutkan juga masyarakat ini sebenarnya tidak mendapat informasi yang sempurna soal Syiah ini, apa yang perlu diluruskan?

Seharusnya banyak sabda Imam Ali, beliau berkata bahwa kalau sekiranya orang yang tidak mengetahui sesuatu itu diam, pasti umat ini tidak akan ber-ikhtilaf. Kenyataannya seperti Ketua Majelis Ulama Sampang yang seharusnya dia seorang ulama dia memahami agama ini, dia menyampaikan bahwa Syiah di Sampang itu mengharamkan solat jumat. Padahal dia sendiri melihat, seluruh masyarakat Sampang bahwa setiap hari jumat melaksanakan solat jumat di mesjidnya, lalu dari mana dia mengatakan orang Syiah mengharamkan solat jumat.

Jadi ada kepentingan lain?

Barangkali seperti itu.

Kemarin sempat meminta sejak 2005 pecah untuk dialog, mediasi, dan sebagainya. Tapi sampai sekarang belum terwujud, apa yang sebenarnya terjadi?

Kita selalu minta ada sebuah dialog yang legal, dialog bukan berarti kita mencari siapa yang menang siapa yang salah. Tetapi seharusnya dialog yang intens dilakukan itu adalah untuk mengetahui agar kita sama-sama memahami bahwa anda mempunyai dalil kitapun punya dalil, sehingga kita sama-sama saling menghormati. Tapi ternyata dialog itu dikesampingkan, misalnya di setiap ceramah seperti kejadian di Bondowoso, setiap mereka ceramah selalu mengatakan jangan dialog dengan orang Syiah karena orang Syiah punya kekuatan sihir dan sebagainya. Sehingga umat yang awam ini tetap awam, sehingga ada sebuah istilah bahwa orang Syiah itu selalu memandang ahli sunnah dari tempat yang terang, sementara orang ahli sunnah selalu melihat orang Syiah dari tempat yang gelap. Artinya seharusnya di saat kita meyakini sebuah keyakinan, peganglah keyakinan itu sebaik-baiknya tapi hormatilah orang yang punya keyakinan lain, insyaallah tidak akan terjadi konflik.

Sunni dan Syiah perbedaan mencoloknya apa sampai begitu kontras konfliknya?

Sebenarnya perbedaan Sunni dengan Syiah hanya perbedaan di sebuah pemikiran saja, Allah-nya sama, nabinya sama, Qur’an-nya sama, semuanya sama. Hanya berbeda dalam memahami objek-objek itu, hanya sebuah pemikiran saja perbedaannya.

Lalu apakah anda melihat bahwa kalau Kementerian Agama bilang bahwa Syiah itu memang ada di Indonesia dan memang bebas untuk melakukan kegiatannya. Tapi apakah upaya pemerintah selama ini sudah mendukung keberadaan Syiah sendiri?

Saya melihat belum sampai ke situ. Pemerintah belum maksimal memberikan porsi yang proporsional terhadap hak-hak minoritas, contohnya di Sampang ini belum ada tersangka, seharusnya ada penegakan hukum yang tegas.

Komitmen pemerintah yang sampai saat ini belum terlihat juga dengan belum diadakan dialog ini?

Sampai saat ini masih belum ada dialog. Seharusnya pemerintah mendorong Departemen Agama, Majelis Ulama Indonesia, tokoh-tokoh masyarakat, seharusnya mendorong adanya dialog atau biarkan perbedaan itu di tingkat ulama, jangan ditularkan ke bawah sehingga tidak mengganggu ketertiban umum.

Kalau dari hubungan Syiah dengan organisasi-organisasi keagamaan lainnya sampai saat ini seperti apa?

Sangat baik, organisasi IJABI, dengan NU mempunyai hubungan yang sangat baik, dengan Muhammadiyah sangat baik. Ada satu kelompok-kelompok tertentu yang kadang-kadang dia hanya menempel kepada kelompok besar.

Untuk menghindari supaya ini tidak meluas, apa yang bisa dilakukan?

Pertama saya pikir tindak kriminal yang sudah terjadi harus ditindak dengan tegas, sehingga supremasi hukum di Indonesia bisa berjalan, ada penjeraan terhadap orang yang melakukan tindak kriminal. Kedua, pemerintah harus mendorong untuk diadakan dialog yang intensif antara berbagai kelompok. Ketiga, para ulama harus meletakkan posisinya di tempat yang benar sehingga umat tidak bingung.

Kalau doktrin-doktrin yang anda bilang seperti lewat ceramah di radio, apakah sudah dilakukan dialog agar itu tidak terjadi?

Mereka menghindari dialog, bahkan kami memberikan laporan yang tiap hari kepada berbagai pihak pemangku kekuasaan Indonesia ini. Kita memberikan laporan, ktia menyampaikan protes, dan sebagainya tapi tetap sampai detik ini ceramah-ceramah masih dilakukan.

Berarti sudah usaha dari kelompok Syiah, hanya saja mereka tidak merespon begitu ya?

Sama sekali tidak ada respon.

Lalu terkait dengan Sampang sendiri bagaimana jadinya kalau sampai saat ini belum ada yang dikejar pelakunya?

Saya melihat kalau Sampang ini dibiarkan begitu saja, tanpa ada proses hukum yang benar, tanpa ada tindakan tegas dari aparat pemerintahan, peristiwa Sampang ini akan menyebar kemana-mana. Boleh jadi akan terjadi di berbagai tempat peristiwa yang sama dengan peristiwa Sampang.

Ada yang bilang juga bahwa tidak hanya penyebaran fitnah-fitnah terkait dengan buruknya kelompok atau ajaran Syiah di Jawa Timur. Tapi di sisi lain juga ada beberapa ulama syiah juga melakukan hal yang sama, bagaimana anda melihatnya?

Andreas Harsono: Kalau bicara soal ideologi, itu tidak pernah ada habisnya. Jadi repot sekali, membicarakan Syiah-Sunni ini sudah dilakukan orang banyak sekali selama berabad-abad sejak zaman sahabat nabi dan sampai sekarang belum ada selesai. Jadi yang Syiah mengatakan begini yang Sunni mengatakan begitu, itu urusan ideologi. Yang jadi urusan kita hari ini bukan perbedaan ideologi, tetapi bagaimana menjamin bahwa orang yang berbeda dengan pendapat kita itu juga bisa menjadi sesama warga negara, dalam kasus ini Indonesia. Jadi ini bukan soal ideologi, kalau perbedaan ideologi tidak selesai-selesai soal Ali, soal Husein, soal Hasan, dan seterusnya. Tetapi membunuh ya membunuh, membakar ya membakar, merusak ya merusak, itulah yang harus ditegakan hukumnya di Pulau Madura. Saya tahu bahwa polisi sudah menentukan tiga tersangka di Sampang, pertanyaan saya adalah jangan-jangan ini seperti Cikeusik, Ahmadiyah, dimana yang dijadikan tersangka hanya beberapa orang padahal pelakunya banyak dan polisi tahu ada pelaku-pelaku yang penting di Cikeusik, namun tidak diperiksa. Di Cikeusik itu ada seorang pengurus MUI juga terlibat, kepala desa juga terlibat, ada lagi seorang guru sekolah itu terlibat didalam menentukan tanggal penyerangan orang Ahmadiyah di Cikeusik, namun semua itu tidak diperiksa oleh polisi. Jangan-jangan, saya curiga tiga orang ini dijadikan tumbal saja oleh polisi, agar terkesan sudah ada penegakan hukum, padahal pelakunya tadi anda katakan 500 orang, jauh daripada tiga orang tersebut.

Bagaimana kalau menurut anda soal pencegahan ini? Karena kalau dibandingkan juga dengan tragedi di Cikeusik itu kita lihat polisi juga sudah tahu sebelumnya.

Saya bicara dengan beberapa jenderal polisi di Mabes Polri, mereka mengatakan hal-hal yang menurut saya benar misalnya ada seorang Kapolda di Sumatera Utara itu mengatakan tembak. Waktu itu ada tujuh orang Nias beribadah, orang Kristen yang hendak diganggu, yang mengganggu lebih banyak tapi ketika diancam mau ditembak ya takut juga. Sebenarnya ada juga polisi orang muslim, dia bilang kalau kita pergi keluar dari rumah kita harus lihat seragam kita, seragam kita seragam polisi, jangan memperhatikan agama kita yang Kristen dan seterusnya. Jadi omongan-omongan jenderal polisi ini benar, pertanyaan saya adalah kenapa omongan-omongan jenderal ini tidak sampai ke bawah.

Persoalannya adalah satu menurut mereka banyak polisi itu bias, tidak bisa membedakan kapan dia menjadi polisi kapan dia menjadi seorang yang beriman. Kedua, menurut jenderal-jenderal polisi ini mereka sering direpotkan oleh para politisi, jadi seperti kasus GKI Yasmin polisinya tahu bahwa ini sudah diputuskan oleh Mahkamah Agung, diperiksa semua, tetapi Walikota Bogor tidak mau taat, serba repot polisinya. Jadi jangan-jangan juga begitu, polisinya dibikin repot oleh Pemda Sampang. Ketiga, ada organisasi-organisasi agama yang juga membuat masalah, kalau di Sampang tentu MUI yang mengatakan Syiah sesat dan sebaiknya keluar dari Madura, di Jawa Timur juga bahwa Syiah harus keluar dari Madura. Kalau keluar dari Madura berapa ratus orang itu, apakah MUI mau mengganti tanahnya, menyediakan tanah. Tetapi saya tetapkan juga salah satu gereja Masehi injili di timur itu juga bikin repot dengan menunda pembangunan Mesjid Nur Musafir, Kupang. Jadi organisasi-organisasi agama ini juga membuat repot karena mereka tidak mau melakukan verifikasi di lapangan, tidak mau tahu persis kejadian, mereka percaya pada rumor, ditambah oleh media-media yang berbau agama yang tidak melakukan verifikasi. Jadi masalahnya jauh lebih complicated, ketimbang sekedar polisinya tidak profesional, jadi ada masalah.

Soal Syiah ini, apakah sudah ada aturan atau Undang-undang misalnya SKB atau peraturan pemerintah yang mengatur Syiah sendiri?

Tidak ada. Sejak negara Indonesia ini menggantikan Hindia-Belanda, tidak ada satupun aturan negara Indonesia yang mendiskriminasikan Syiah

.

Organisasi Syiah Indonesia Bantah jamaahnya diperbolehkan untuk tidak salat Jumat

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia, membantah jamaahnya diperbolehkan untuk tidak salat Jumat .Ketua Dewan Syura IJABI Jalaludin Rakhmat saat jumpa pers di Kantor Pusat IJABI di Jakarta Selatan, Sabtu (31/12/2011).

Pria yang akrab dipanggil Kang Jalal ini bahkan menegaskan, banyak pengurus IJABI yang menjadi khatib salat Jumat di masjid-masjid besar. Sehingga fakta tersebut dengan jelas membatalkan anggapan bahwa Syiah dibolehkan tidak melaksanakan salat Jumat

.

Bukti Nyata Voa-Islam Lakukan Kedustaan Keji ! Membongkar Kedok Voa-Islam Kelabui Umat

Membendung Fitnah Keji Wahabi:
 Membongkar Kedustaan Voa-Islam Mengenai Fatwa Ayatullah Sistani

Kembali Voa-Islam dan media-media Wahabi perusak dan pemecah belah umat Islam yang menyebut negeri Indonesia ini sebagai negara thagut menyebar fitnah terhadap Ulama Syiah. Dalam postingan berita yang diterjemahkan secara tidak jujur dan mengambil kesimpulan secara serampangan Ayatullah Sistani mendapat fitnah keji. 

Membongkar Kedustaan Voa-Islam Mengenai Fatwa Ayatullah Sistani

 

Menurut Kantor Berita ABNA, Voa-Islam sebuah media berita yang mulai beroperasi pada tanggal 1 Juni 2009 dengan salah satu misinya, “Menjadi media terpercaya yang mengedepankan kebenaran dan keadilan secara professional”, kembali menyebar fitnah terhadap ulama marja taklid Syiah. Dengan mengambil kesimpulan secara sembrono redaksi Voa-Islam menulis berita, “Mut’ah dengan Putri Ulama Syiah menyebabkan Kekal di Neraka Bersama Iblis”.

Berikut nukilan postingan berita yang dimuat di page Voa-Islam:

Mut’ah dengan Putri Ulama Syiah menyebabkan Kekal di Neraka Bersama Iblis

Sebuah Fatwa yang hanya menguntungkan ulama Syiah, dan merugikan awam Syiah dikeluarkan oleh kantor Samahah As-Sayyid Ayatullah Al-Uzhma Sistani bertanggal 3/9/1421 H bernomor 333, berikut ini,

Penanya: Bagaimana hukumnya jika saya memut’ah anak Anda dan Anda memut’ah anak saya? Perlu diketahui anak saya telah berusia 6 (enam) tahun.

Jawaban: Mut’ah halal bagiku terhadap siapa saja yang saya mau. Karena saya termasuk Ahlul Bait. Saya punya hak untuk itu. Meskipun anak itu masih kecil, kami akan berikan dia wawasan tentang nikah mut’ah.

Adapun Anda memut’ah anak saya, maka itu tidak boleh! Bahkan ini termasuk dosa besar! Anda kekal di neraka bersama Iblis di Neraka. Dan Anda wajib hilangkan pemikiran setan ini dari kepala Anda.

Fatwa oleh Sistani

Tanggapan ABNA:

Pertama, dari pertanyaan yang diajukan dapat dipastikan penanya bukanlah dari kalangan mazhab Syiah, sebab seorang Syiah meskipun awam sekalipun tidak akan mengajukan pertanyaan yang menunjukkan ketidak pahaman mengenai nikah Mut’ah. Syiah awam sekalipun, akan paham nikah Mut’ah sama halnya dengan nikah da’im yang meniscayakan haramnya seorang mertua menikahi anak menantunya. Maka pertanyaan tersebut pada hakikatnya sama sebagaimana dengan pertanyaan yang diajukan kepada seorang muslimah yang telah bersuami, “Kalau memang Islam menerima poligami, bolehkah saya menikahimu dan menjadikanmu sebagai istri yang kedua?”. Maka pertanyaan yang seperti ini bisa dipastikan tidak akan pernah diajukan oleh seorang muslim meski paling awam sekalipun, sebab telah sangat diketahui bahwa seorang perempuan yang masih sedang bersuami tidak boleh dilamar apalagi dinikahi. Jadi bisa dipastikan penanya bukan dari kalangan Islam. Jawaban yang diberikan muslimah tentu saja penolakan, “Tidak boleh, pertama, karena kamu bukan muslim (kalaupun muslim kamu terlalu bodoh mengenai agamamu sendiri), kedua karena saya sedang memiliki suami.” Dan karena muslimah tersebut memberikan jawaban tidak boleh atas pertanyaan yang diajukan maka kesalahan fatal, jika penanya lantas menyimpulkan, muslimah tersebut menolak hukum bolehnya poligami.

Demikian pula yang dimaksudkan, Ayatullah Sistani. Bahwa karena beliau bermazhab Ahlul Bait yang menghalalkan nikah mut’ah sebagaimana dihalalkannya oleh Rasulullah Saw dengan syarat-syarat yang telah diatur dalam fiqh, maka beliau punya hak untuk melakukannya. Sementara penanya yang bukan dari kalangan mazhab Ahlul Bait yang mengharamkan nikah mut’ah bahkan menganggapnya sama dengan zina bahkan lebih jahat dari itu, maka tentu sesuai akidahnya yang menyebut itu dosa besar maka dia akan masuk neraka dan kekal bersama Iblis. Karena itu beliau menyarankan, untuk menghilangkan pikiran dan niat untuk melakukan mut’ah sebagaimana penanya yakini sebagai dosa besar sejak awal dari kepalanya.

Redaksi Voa-Islam tidak jujur dalam menerjemahkan kalimat, لكن با لنسبت اليك فلا يجوز  dengan menulis “Adapun Anda memut’ah anak saya, maka itu tidak boleh!” Terjemahan yang benar, “Akan tetapi terhadap dirimu maka tidak boleh..!” Kekeliruan yang tentu disengaja tersebut  untuk menyembunyikan hakikat mazhab dan keyakinan si penanya, yang dalam aqidahnya nikah mut’ah itu haram, karenanya Ayatullah Sistani memberikan jawaban dengan maksud, “Sementara anda (sipenanya) tentu tidak boleh bermut’ah (dengan siapapun bukan hanya dengan puteri ulama Syiah) karena dalam keyakinan anda nikah mut’ah itu haram dan termasuk dosa besar, sehingga jika anda melakukannya maka anda akan masuk neraka bersama Iblis sebagaimana keyakinan anda itu.”

Jadi ketika Ayatullah Sistani menyatakan nikah mut’ah tidak boleh dilakukan oleh penanya, bukan ulama Syiah tersebut yang egois dan mementingkan dirinya sendiri melainkan penanya sendiri yang mempersulit dirinya, meyakini nikah Mut’ah haram, namun justru berpikir dan berencana buat melakukannya.

Kedua, surat tersebut sangat besar kemungkinannya adalah rekayasa yang sengaja dibuat untuk menyebar stigma negatif terhadap ulama Syiah. Ayatullah Sistani atas pertanyaan-pertanyaan masalah syar’i yang diajukan kepada beliau senantiasa memberikan jawaban dengan tulisan tangan, bukan dengan ketikan. Hal yang ganjil lainnya, tercantum dibawah surat tulisan Iran-Qom yang menunjukkan surat tersebut beralamatkan di kota Qom Iran sementara Ayatullah Sistani bukan bermukim di kota Qom Iran melainkan di kota Najaf Irak.

Kesimpulan: Kalaupun surat itu benar berisi fatwa dan jawaban dari Ayatullah Sistani sebagaimana yang telah dijelaskan hal tersebut tidak membenarkan fitnah Voa-Islam yang menyebut fatwa tersebut hanya menguntungkan ulama Syiah, dan merugikan awam Syiah. Dan kalau memang pada kenyataannya jawaban tersebut bukan dari Ayatullah Sistani melainkan rekayasa dari pihak-pihak anti Syiah maka dikatakan perbuatan tersebut adalah fitnah yang termasuk dosa besar. Sayang, isu ini sangat digemari mereka yang anti pati terhadap Syiah dan disebarkan secara progresif melalui media-media dan jaringan sosial tanpa ada upaya tabayyun terlebih dahulu sebagaimana  yang diperintahkan dalam agama.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. Al Hujurat: 6)

Ayatullah Sistani telah berkali-kali mendapatkan fitnah dari pihak yang aktif menyebarkan permusuhan dan kebencian terhadap Syiah dan mazhab Ahlul Bait. Mulai fitnah yang menyebutkan beliau tidak tahu bahasa Arab (padahal beliau mengajar di Hauzah Ilmiyah di Najaf Irak yang berbahasa Arab dan telah menulis banyak kitab-kitab agama berbahasa Arab) sampai menyebarnya fatwa yang dinisbatkan kepada beliau yang menyebutkan Ayatullah Sayyid Sistani hf telah memfatwakan bolehnya menggauli hewan.

Berikut pernyataan Kantor Resmi Ayatullah al-Udzma as- Sayyid Ali as-Sistani di Najaf-Irakmengenai fatwa-fatwa palsu yang mengatasnamakan Ayatullah Sayyid Sistani hf yang bertanggal 22 Dzulqa’dah 1426 H:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Seperti yang telah anda ketahui bahwa sembilan persepuluh dari agama wahabi adalah kebohongan, betapa banyak kebohongan dan pemalsuan dari mereka yang berkelanjutan dan salah satunya mereka membawakan fatwa palsu yang dinisbatkan kepada kantor yang terhormat Marja dini A’la Ayatullah al’udzma Sayyid Ali Sistani Dâma ‘Izzuhu, dan kenyataannya mereka wahabi menyebarkan fatwa (palsu) ini di kelompok mereka sendiri dengan maksud untuk penghinaan terhadap fiqih syiah dan kepribadian marja kami Al Adzim Dâma ‘Izzuhu…

***

Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai ulama besar Syiah yang senantiasa aktif menyerukan persatuan Islam dan pendekatan mazhab-mazhab antar Islam ini bisa mengunjungi situs resmi beliau di www.sistani.org yang tersedia dengan 6 pilihan bahasa: Urdu, Turki, Perancis, Inggris, Persia dan Arab. Pengikut dan muqallid beliau tersebar dibanyak Negara.

Petunjuk dan hidayah bagi yang mereka menghendaki keselamatan dan menghindari fitnah dan kedustaan.

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.  (Qs. An Nuur: 15)

*keterangan foto: Surat pernyataan bantahan atas merebaknya fatwa-fatwa palsu yang mengatasnamakan Ayatullah Sistani. Dikeluarkan Kantor Resmi Ayatullah al-Udzma as- Sayyid Ali as-Sistani di Najaf-Irak bertanggal 22 Dzulqa’dah 1426 H.

Iran Masuk dalam Daftar 5 Besar Negara Pusat Pelacuran ?? LPPI Makasar Agen Yahudi Zionis Yang Dibayar Wahabi

Ketua LPPI Makasar KH. Muhammad Said Abdus Shamad, Lc

Beberapa website seperti LPPI Makasar, Arrahmah.com, Eramuslim.com., voa islam adalah segelintir website yg paling lihai menyebarkan propaganda anti republik islam iran atau mazhab syiah.LPPI Makasar Agen Yahudi Zionis Yang Dibayar Wahabi

Kembali LPPI Makassar Menebar Fitnah tentang Iran

LPPI Makassar Kembali Berulah:
 LPPI Masukkan Iran dalam Daftar 5 Negara Besar Pusat Pelacuran
Harian Merdeka sengaja memasukkan Iran, dalam daftar lima negara Islam yang menjadi pusat pelacuran di dunia (jadi Iran termasuk Negara Islam) untuk menjadi pelajaran bagi Negara-negara Islam lainnya, bahwa Iran pernah termasuk diantara Negara yang menjadi pusat pelacuran di dunia pada tahun 70-an namun akhirnya praktik maksiat tersebut mampu ditanggulangi dengan baik dan mendapatkan solusi yang bijak. Sementara di negara-negara Islam lainnya masih termasuk praktik yang legal dan sah di depan hukum.
 
 

Menurut Kantor Berita ABNA, Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam wilayah Indonesia Timur (baca: LPPI Makassar) kembali berulah. Dengan memosting ulang berita dari Harian Merdeka, Iran disebut sebagai diantara 5 besar Negara pusat pelacuran. Reportermerdeka.comArdini Maharani, pada tanggal 12 Oktober 2012 melaporkan lima daftar negara Islam yang menjadi pusat pelacuran di dunia ini.Yaitu, Turki, Malaysia, Uni Emirat Arab, Lebanon dan Iran.

LPPI dalam postingan artikel tersebut, tidak memberi catatan dan komentar apa-apa mengenai keempat Negara lainnya, sementara mengenai Iran LPPI memberi sedikit komentar.

Mengenai praktik pelacuran di Iran, reporter Harian Merdeka menulis (yang dibumbuhi komentar dari LPPI):

“Prostitusi di negara Islam paling konservatif ini ternyata pernah sah di mata hukum. Berpusat di Ibu Kota Teheran, Iran, pelacuran berkembang pesat pada tahun 70-an. Wilayah merah itu dikenal dengan nama Shahre. Namun 1979 saat pecah revolusi Iran, kegiatan itu langsung ditiadakan, tempat mereka dirusak, dan dibangun sarana ibadah. Mau tak mau, para pekerja seks komersial menyebar di jalan, melakukan pelacuran ilegal.

Dalam menghadapi praktik ini, para pemimpin Negeri Mullah itu tidak memejamkan mata. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Iran membuat program penanganan bagi pekerja seks komersial, dimulai dua bulan lalu. Pemerintah bakal menempatkan mereka di wilayah Jajrud, arah timur Teheran. Di sana mereka akan mendapatkan bimbingan spiritual dan moral. (baca: mungkin akan diajarkan Nikah Mut’ah sehingga mereka menganggap zina itu halal -red lppimakassar.com)

Pemerintah Indonesia nampaknya harus belajar dari Iran untuk bisa menanggulangi prostitusi dengan bijak. Bukan dengan kekerasan atas nama penegakan agama. (tentunya bukan dengan diajarkan nikah mut’ah, karena itu sudah diharamkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam -red lppimakassar.com)

Kami menampilkan ini bukan karena kebencian kami kepada Negara Iran, tapi kami ingin masyarakat Indonesia tahu kehidupan asli masyarakat Iran yang mayoritas Syiah tersebut.”

Berikut beberapa tanggapan redaksi ABNA mengenai postingan berita tersebut dan komentar LPPI:

  1. “Ternyata pernah sah di mata hukum.” Pernah, artinya sekarang sudah tidak lagi. Karenanya para PSK menyebar di jalan, melakukan pelacuran illegal.
  1. “Pelacuran berkembang pesat tahun 70-an..” sekarang sudah tahun berapa?, apa data tahun 70-an masih bisa dijadikan parameter menilai sebuah Negara untuk saat ini?. Berita tersebut juga tidak menyebutkan bahwa perkembangan pesat ini masih berlangsung sampai saat ini, bahkan menulis hal sebaliknya dibeberapa kalimat setelahnya.
  1. “Namun 1979 saat pecah revolusi Iran, kegiatan itu langsung ditiadakan, tempat mereka dirusak, dan dibangun sarana ibadah.” Jadi langsung terasa kan efek dari berdirinya Republik Islam Iran? Tempat pelacuran diubah jadi sarana ibadah, mana komentar positif LPPI mengenai ini?
  1. “Pemerintah bakal menempatkan mereka di wilayah Jajrud, arah timur Teheran. Di sana mereka akan mendapatkan bimbingan spiritual dan moral.” Jadi mereka dibimbing untuk tidak terlibat dalam praktik pelacuran lagi. catatan dalam kurung LPPI menggunakan frase “mungkin”, sangat disayangkan, sebuah lembaga penelitian menggunakan kemungkinan dalam memberikan pengklaiman, mengapa tidak membicarakan yang dapat dipastikan kebenarannya, atau mengapa tidak melakukan penelitian dulu sebelumnya sebagaimana mestinya sebuah lembaga penelitian, sehingga data apapun yang dilaporkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
  1. “Pemerintah Indonesia nampaknya harus belajar dari Iran untuk bisa menanggulangi prostitusi dengan bijak. Bukan dengan kekerasan atas nama penegakan agama.”

Pesan penulis berita ini semestinya menunjukkan bahwa dalam berita Iran Masuk dalam Daftar 5 Besar Negara Pusat Pelacuran, Iran mestinya sudah tidak dimasukkan lagi. Karena selain datanya tahun 70an juga karena Iran ternyata mampu menanggulangi prostusi dengan bijak, sehingga disarankan pemerintah Indonesia bisa melakukan hal-hal sebagaimana yang ditempuh pemerintah Iran dalam menanggulangi masalah prostitusi.

Kesimpulannya, Harian Merdeka sengaja memasukkan Iran, dalam daftar lima negara Islam yang menjadi pusat pelacuran di dunia (jadi Iran termasuk Negara Islam) untuk menjadi pelajaran bagi Negara-negara Islam lainnya, bahwa Iran pernah termasuk diantara Negara yang menjadi pusat pelacuran di dunia pada tahun 70-an namun akhirnya praktik maksiat tersebut mampu ditanggulangi dengan baik dan mendapatkan solusi yang bijak. Sementara di negara-negara Islam lainnya masih termasuk praktik yang legal dan sah di depan hukum.

Sementara LPPI memosting kembali berita tersebut hanya untuk mendiskreditkan Iran yang menyebut diri sebagai Republik Islam. Harian Merdeka memasukkan Iran dalam daftar tersebut tetapi dengan penilaian positif bahwa Iran pernah menjadi Negara yang menjadikan praktik pelacuran sebagai hal yang legal di hadapan hukum namun sekarang tidak lagi. LPPI tidak memberi komentar apapun terhadap 4 negara lainnya yang mayoritas muslim Sunni dan praktik prostitusi tersebut masih berjalan sampai saat ini tanpa tindakan berarti dari pihak ulama dan agamawan di negeri tersebut, sebab tetap menjadi hal yang legal dan disahkan oleh Negara, termasuk di Negara Indonesia sendiri. Sementara terhadap Iran, LPPI memberikan catatan seakan-akan Iran lebih buruk dari keempat Negara yang disebut dalam daftar tersebut.

LPPI menulis di akhir postingannya, “Kami menampilkan ini bukan karena kebencian kami kepada Negara Iran, tapi kami ingin masyarakat Indonesia tahu kehidupan asli masyarakat Iran yang mayoritas Syiah tersebut.”

Ini adalah sebuah fitnah yang terkesan sangat dipaksakan dengan menyebutkan mazhab mayoritas penduduk Iran. Postingan ini menambah rekor buruk LPPI Indonesia Timur dalam hal penyebaran fitnah terhadap Iran dan Syiah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

********

Keterangan Foto:  Ketua LPPI Makassar menyampaikan aspirasinya pada Ketua DPRD Sulsel, untuk menghentikan penyebaran Syiah di Sulsel tetapi dicampur dengan fitnah dan kebohongan.

Strategi Politis Dakwah LPPI Makasar dengan Menebar Fitnah tentang Iran

Ketua LPPI Makasar KH. Muhammad Said Abdus Shamad, Lc

Kembali LPPI Makassar Menebar Fitnah tentang Iran

Tanggapan ABNA atas Postingan LPPI Makassar:
 Kembali LPPI Makassar Menebar Fitnah tentang Iran
LPPI selanjutnya menulis, “Digantikan oleh kota-kota ‘suci’ di Iran seperti Qom, Najaf dan Teheran. Setiap kali mereka ingat kepada ‘kota-kota suci’ itu, mereka niatkan untuk berangkat kesana.” Disini LPPI melakukan kesalahan fatal. Kota Najaf bukan di Iran, melainkan di Irak. Muslim Syiahpun tidak pernah menyebut Teheran sebagai kota suci. 
 

Strategi politis dakwah Syi'ah

Beberapa waktu lalu diadakan seminar Nasional dengan mengangkat tema persatuan umat oleh pengkut Syiah di Universitas Muslimin Indonesia (UMI) Makassar pada 5 November 2012. Isu ukhwah, bukan isu baru yang dikampanyekan Syiah, tapi sudah gencar pasca revolusi Iran.

Sebelumnya, di IAIN Surabaya, pada 22 Oktober ormas Syiah, ABI (Ahlul Bait Indonesia) menyelenggarakan dialog Publik dengan tema “Haruskah Syiah Ditolak?”, dengan Cak Nun, sebagai salah satu nara sumbernya. Cak Nun juga mengangkat tema persamaan Sunnah-Syiah.

LPPI Makassar beraliran wahabi, namun BERLINDUNG DIBALiK nama Ahlusunnah wal jama’ah sambil menyerang syi’ah, merupakan di antara strategi dakwah wahabinisasi.

Menurut Kantor Berita ABNA, setelah sebelumnya menyebar video rekayasa untuk memperolok-olok ulama Iran, LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) Wilayah Indonesia Timur yang bermarkas di Makassar kembali menyebar fitnah baru. Dalam salah satu postingannya, LPPI Makassar yang diketuai H. Said Abdusshamad, Lc tersebut mengaitkan logo dalam bendera nasional Republik Islam Iran dengan simbol agama Sikh. Sekilas kedua gambar tersebut memang tampak sama namun ketika diperhatikan lebih seksama akan Nampak dengan jelas perbedaan keduanya.

Dalam postingannya yang diberi tajuk, “Sejarah Desain Bendera Republik Syiah Iran”, LPPI menulis beberapa pernyataan yang perlu diberi tanggapan oleh tim redaksi ABNA.

Pertama, LPPI menulis, “Tak bisa dipungkiri, Syiah dengan negara Iran-nya telah memalingkan hati sebagian kaum Muslimin. Dulu, mereka mencintai dua kota suci Islam, Makkah dan Madinah, sehingga tiap kali mereka mengingatnya, mereka rindu untuk menziarahinya dengan tujuan umrah atau haji.”

Tanggapan ABNA:

Siapa sebagian kaum muslimin yang dimaksud LPPI telah terpalingkan hatinya dari mencintai dua kota suci Islam Makah dan Madinah? Bagaimana LPPI bisa memastikan bahwa hati sebagian kaum muslimin itu telah berpaling? Apakah setiap mereka yang melakukan perjalanan ziarah ke kota-kota di Iran dan Irak telah berarti berpaling hatinya dari Makah dan Madinah?.

Kedua, LPPI menulis, “Namun dengan adanya Syiah dan juga dengan Republik Iran telah membuat sebagian dari mereka tersilaukan, kesatuan mereka terpecah. Kecintaan mereka terhadap dua kota suci Islam sedikit demi sedikit menjadi pudar. Digantikan oleh kota-kota ‘suci’ di Iran seperti Qom, Najaf dan Teheran. Setiap kali mereka ingat kepada ‘kota-kota suci’ itu, mereka niatkan untuk berangkat kesana.”

Iran menjadi segalanya dalam hati mereka.

Tanggapan ABNA:

Pernyataan LPPI, “Kecintaan mereka terhadap dua kota suci Islam sedikit demi sedikit menjadi pudar” adalah pernyataan yang sarat dengan fitnah. Apakah jumlah Jemaah haji dan mereka yang umrah ke Haramain setiap tahunnya berkurang karena lebih memilih berziarah ke kota-kota yang dianggap suci di Iran?. Dilansir dari www.jurnalhaji.com, disebutkan jumlah peminat haji khusus terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan disebutkan, sejak beberapa tahun terakhir calon jamaah yang ingin berangkat dengan menggunakan jasa layanan haji plus juga harus masuk daftar waiting list sebagaimana pada layanan haji reguler. Pengguna jasa layanan haji plus harus menunggu antrian rata-rata 2-3 tahun sementara pengguna haji reguler sendiri masa tunggunya berkisar 4-12 tahun. Masa tunggu tersebut terpaksa diperlakukan karena pihak Arab Saudi hanya memberikan kuota satu persen saja dari total jumlah penduduknya di setiap Negara. Mengenai peminat umrah, situs tersebut menuliskan, Pada 2010, jumlah jamaah yang pergi umrah hanya ada 160 ribu orang. Tahun berikutnya, versi data Himpuh (Himpunan Penyelenggara Umroh dan Haji Indonesia ) ada 260 ribu orang. Sedangkan data dari kedutaan besar Indonesia ada 300 ribu. Dan tahun berikutnya tentu diperkirakan jumlah peminat akan menembus angka diatas 300 ribu.

Menyikapi fenomena tersebut http://suarapengusaha.com menurunkan berita, “Jumlah jamaah naik pesat pengusaha perjalanan haji umrah menjamur”. Sementara muslimdaily.net melansir berita adanya peningkatan jamaah haji Cina yang meningkat pesat. Untuk tahun 2012, 3 juta muslim Cina berkeinginan menunaikan ibadah haji, namun yang bisa diberi izin oleh pemerintah Cina hanya 13.800 orang menyusul permintaan dari pihak Arab Saudi yang membatasi jumlah calon jamaah haji.

Disitus http://haji.kemenag.go.id, berdasarkan laporan kementerian Haji Arab Saudi untuk tahun 2012 ada 5,5 juta orang yang melakukan umrah, sementara pada tahun 2005 hanya 2,5 juta peziarah. Jadi, dari mana LPPI bisa menyimpulkan bahwa hati sebagian umat Islam telah berpaling dari dua kota suci Makah dan Madinah dengan keberadaaan Syiah dan Iran sementara data-data yang ada menyebutkan jumlah kaum muslimin yang berminat untuk menziarahi dua kota suci itu setiap tahunnya semakin meningkat?. Kalau yang dimaksud LPPI sebagian kaum muslimin itu adalah umat Syiah, tentu LPPI harus menjilat ludahnya sendiri yang dalam beberapa tulisannya menyebutkan Syiah itu kafir dan bukan bagian dari umat Islam.

LPPI selanjutnya menulis, “Digantikan oleh kota-kota ‘suci’ di Iran seperti Qom, Najaf dan Teheran. Setiap kali mereka ingat kepada ‘kota-kota suci’ itu, mereka niatkan untuk berangkat kesana.”  Disini LPPI melakukan kesalahan besar. Kota Najaf bukan di Iran, melainkan di Irak. Muslim Syiahpun tidak pernah menyebut Teheran sebagai kota suci. Yang disebut kota suci di Iran hanyalah Masyhad dan Qom. Masyhad disebut suci karena keberadaan makam Imam Ridha as (Imam kedelapan Syiah) dan Qom disebabkan karena di kota itu terdapat makam Sayyidah Fatimah Maksumah (Adik perempuan Imam Ridha as). Sangat disayangkan sebuah lembaga yang mengklaim diri sebagai lembaga penelitian dan pengkajian namun menuliskan artikel tanpa data dan fakta bahkan melakukan kesalahan yang sangat fatal. Apakah dasar LPPI menuliskan artikel-artikelnya adalah kebencian dan sikap permusuhan sehingga tidak lagi bisa berlaku adil? Semoga firman Allah SWT berikut bisa menjadi pengingat, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Maidah: 8).

Selanjutnya LPPI memosting beberapa gambar yang dicopy paste dari situs www.fnoor.com yang banyak memuat materi-materi yang menjelek-jelekkan Syiah dan Iran. LPPI hendak menyamakan logo Bendera Nasional Iran dengan simbol agama Sikh padahal tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Tentu saja yang lebih mengetahui sejarah dan makna logo bendera Iran adalah orang Iran sendiri.

Berikut kami nukil dari IRIB Indonesia yang pernah menurunkan artikel, “Sejarah Disain Bendera dan Lambang Republik Islam Iran”. Artikel ini juga adalah bantahan atas postingan LPPI yang tidak memiliki unsur keilmiahan sama sekali.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini ra mengeluarkan perintah untuk menghapus segala bentuk simbol rezim taghut dan menggantikannya dengan lambang dan simbol Islam-syiah. Salah satu perubahan penting adalah lambang dan bendera Republik Islam Iran.

Pada 10 Isfand 1357 Hs, Imam Khomeini ra meminta agar dilakukan perubahan pada lambang negara, yakni singa dan matahari. Beliau mengumumkan, “Kita telah mendirikan sebuah negara Muhammadi. Bendera Iran tidak boleh sama dengan bendera Shahanshahi. Lambang Iran harus berbeda dari lambang Shahanshahi dan lambang ini harus menunjukkan keislaman. Semua kementerian dan kantor harus mencabut simbol singa dan matahari lalu menggantinya dengan bendera Islam. Bekas-bekas taghut harus dilenyapkan. Semua ini merupakan peninggalan taghut. Yang ada harus karya-karya Islam. (Sahifeh Imam, jilid 6, hal 275).

Setelah itu pemerintah sementara membuka sayembara disain baru lambang Iran. Banyak disain yang dikirim ke kantor perdana menteri dan yang diterima adalah lambang Republik Islam Iran saat ini yang didisain oleh Hamid Nadimi.

Setelah mendengarkan ucapan Imam Khomeini ra, Hamid Nadimi dengan penuh semangat mulai menggoreskan disainnya. Setelah menyelesaikan desain lambang Iran, Nadimi membawanya ke kantor Imam Khomeini ra di Qom. Sekalipun pada awalnya desain lambang Iran dilombakan, tapi ada desain lainnya yang juga disetujui dan akhirnya dicetak di uang kertas masa itu. Tapi tidak berapa lama, suatu malam Hujjatul Islam Hashemi Rafsanjani menelpon Nadimi dan mengabarkan Imam Khomeini ra menyetujui desainnya pada 19 Ordibehesht 1359 Hs dan meminta Nadimi untuk menyempurnakan disainnya.

Lambang ini memiliki banyak makna di benaknya. Ada kesederhanaan dan kelebihan khusus dalam desainnya yang memiliki banyak makna. Hamid Nadimi ketika memberikan penjelasan makna karyanya kepada majalan Pasdar Islam pada tahun 1362 mengatakan:

“Saya punya keinginan untuk membuat lambang bagi dunia Islam. Ketika Imam Khomeini ra mengatakan bahwa simbol singa dan matahari harus diganti dan negara membutuhkan lambang baru, saya mulai kembali memikirkan ide yang selama ini ada dalam pikiranku. Saya mulai menerawang kembali sketsa yang pernah saya buat. Dalam disain ini ada tiga prinsip penting pemerintahan Islam dalam al-Quran; kitab, timbangan dan besi yang menjadi simbol dari al-Quranmizan dan hadid. Bagian yang berdiri di tengah dalam disain ini dalam bahasa Persia dan Arab menunjukkan kekuatan dan pedang. Simbol ini berdiri tegak yang berarti kekuatan dan kekokohan. Ini merupakan penafsiran dari kata hadid (besi) dalam al-Quran (… Anzalna al-Hadid Fiihi Ba’sun Syadidun).

Komposisi yang sangat ideal antara garis dan lengkungan yang ada berada dalam kondisi seimbang dan ini memberikan makna timbangan, seperti kata mizan dalam al-Quran (Wassamaa’ Rafa’aha wa Wadha’al Mizan). Lima bagian yang menjadi bentuk asli disain ini, sekalipun bermakna lima prinsip agama dan prinsip tauhid berada di tengah dan tegak di antara lengkungan yang ada. Selain itu, secara keseluruhan, komposisi yang ada ini menjadi simbol dari kata Allah dan menjadi inti dan tersembunyi dari kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah.

Garis-garis lengkung yang membentuk lingkaran adalah setengah dari bola bumi dan merepresentasikan universalnya dakwah Islam. Kata Allah didisain berbentuk bola guna menunjukkan pesan universalitas Islam. Garis-garis lengkung seperti bulan sabit dalam disain ini diambil dari gambar dari Nabi Muhammad Saw yang berkali-kali dilakukannya dengan pedang beliau sebagai paraf di atas pasir.”

Setelah itu Nadimi juga mendesain bendera. Saat menjelaskan disainnya ini, Nadimi menjelaskan, “Bendera ini memberikan harapan akan pemerintahan Imam Mahdi af. Warna hijau, putih dan merah merupakan tanda khusus Republik Islam Iran dan slogan Allahu Akbar semuanya berasal dari prinsip yang telah ditetapkan dalam UUD.”

Doktor Nadimi mencontoh slogan Allahu Akbar dan mengulanginya. Slogan ini sebelas kali dalam warna merah dan sebelas kali dalam warga hijau, yakni kedua warna ini diulanginya sebanyak 22 kali dan ini merupakan simbol dari tanggal 22 Bahman 1357 Hs, Hari Kemenangan Revolusi Islam Iran. Bentuk di sudut sebelah kanan ada tulisan Allahu Akbar mengingatkan slogan penuh pengaruh ini dan ini merupakan huruf yang dipakai di kubah, menara dan masjid-masjid, dan kini tertulis di bendera Iran. Kata Allah yang berwarna merah di bendera Iran menunjukkan asal penciptaan dan semua akan kembali kepada Allah. Hal ini menunjukkan tujuan akhir pemerintahan Islam.

Doktor Hamid Nadimi adalah dosen arsitektur Universitas Shahid Beheshti dan memberikan mata kulian teori dan metode disain. Ia mendapat gelar doktor arsiteknya dari Inggris. Sekalipun karyanya akan senantiasa diingat oleh bangsa Iran, tapi tidak pernah punya keinginan untuk terkenal. Menurutnya, “Manusia yang fana jangan sampai menyambungkan dirinya dengan hal-hal yang abadi. Saya tidak ingin melekatkan diri dengan masalah-masalah seperti ini. Masyarakat tidak mengetahui wajah saya akan lebih baik buat saya. Karena bendera ini suci. Apa yang terjadi bila suatu hari saya berubah menjadi anti Revolusi? Oleh karenanya, sudah biarkan saja semua berlalu begitu saja.”

Doktor Nadimi dalam hidupnya pernah sekali bertemu dengan Imam Khomeini ra dan menjelaskan pertemuan itu sebagai berikut, “Saya tidak bertemu dengan Imam dengan motivasi sebagai pembuat disain bendera Iran. Beberapa tahun saya pergi ke Huseiniyah Jamaran dan meminta beliau membacakan akad nikahku.”

***

Berikut link postingan situs resmi LPPI Makassar: http://www.lppimakassar.com/2013/01/sejarah-desain-bendera-republik-syiah.html

Gila ! Lagi, Dengan Entengnya LPPI Makassar Menyebarkan Kebohongan Atas Ulama Syi’ah

Analisa ABNA atas Postingan LPPI Makassar:
 Ulama Syiah Berjoget dan Berdangdut, Benarkah?
Situs resmi LPPI Makassar memosting video yang penuh rekayasa dan kebohongan dengan maksud memperolok-olok ulama Syiah. Hal yang sangat tidak layak dilakukan sebuah lembaga penelitian. 

Ketua LPPI Makasar KH. Muhammad Said Abdus Shamad, Lc,

Ulama Syiah Berjoget dan Berdangdut, Benarkah?

 

Menurut Kantor Berita ABNA, Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Wilayah Indonesia Timur dalam situs resminya,www.lppimakassar.com memosting sebuah artikel dengan judul, “Ulama Syiah Berjoged dan Berdangdut, Terlalu!”. Postingan yang memuat video sebuah program dakwah Islam “Shamt_e Khoda” (Menuju Tuhan) yang disiarkan Shabeke 3 Republik Islam Iran tersebut menampilkan seseorang yang disebut redaksi LPPI sebagai ulama Syiah yang tampak berjoget dan bergoyang mengikuti irama musik yang diperdengarkan

“Shamt_e Khoda” adalah program dakwah harian yang disiarkan secara langsung stasiun Shabeke 3 Iran setiap hari Sabtu sampai Rabu setiap pukul. 13.30 yang berlangsung selama 60 menit. Program tersebut menampilkan seorang muballigh Syiah setiap harinya dengan bahasan tema yang berbeda.

LPPI Masukkan Iran dalam Daftar 5 Negara Besar Pusat Pelacuran

Setiap hari Sabtu, Hujjatul Islam wa Muslimin DR. Rafi’i tampil membahas tema “Tadabbur dalam al-Qur’an”.

Setiap hari Ahad, Hujjatul Islam wa Muslimin Mas’ud Ali, tampil membahas tema “Mengingat Kematian”.

Setiap hari Senin, Hujjatul Islam wa Muslimin Furhuzad, tampil membahas tema “Kecintaan dan Rahmat Allah dalam Do’a-do’a Ahlul Bait.”

Setiap hari Selasa, Hujjatul Islam wa Muslimin Muhsin Qira’ati, tampil membahas tema “Ayat-ayat Kehidupan.”

Setiap hari Rabu, Hujjatul Islam wa Muslimin Haidari Khashani, tampil membahas tema “Mahdawiyat”.

Ulama-ulama lain yang kadang tampil adalah Hujjatul Islam wa Muslimin Panahian, Hujjatul Islam wa Muslimin Husaini Qomi dan Hujjatul Islam wa Muslimin Mandegari.

Gambar ketujuh muballigh masyhur Iran yang menjadi pemateri resmi dalam program “Shamt_e Khuda” tersebut bisa dilihat di link berikut:

http://ch3.ir/samtekhoda/index.php?option=com_content&view=article&id=906&Itemid=330

Sementara ulama yang tampil dalam video postingan redaksi LPPI Makassar tidak dikenal sama sekali dan belum pernah tampil dalam program “Shamt_e Khoda” yang sebenarnya.  Video tanpa keterangan yang diambil dari youtube oleh redaksi LPPI tersebut juga menampilkan beberapa keganjilan:

Pertama, pada detik ke 11 ketika seorang pemirsa mengajukan pertanyaannya, tampil dalam layar simbol telepon tanpa menampilkan nama dan lokasi si penelepon. Artinya video tersebut mengalami pengeditan.

Kedua, ada gambar lain di bawah logo Shabeke 3, yang tampak pada bagian atas kiri layar. Sementara pada tayangan-tayangan lain program tersebut gambar logo itu tidak terlihat.

Ketiga, tampilan gelas yang berada di depan pemateri tampak ganjil.

Keempat, mulai dari detik 45, tubuh atas pemateri dan tubuh bawahnya tampak sangat ganjil, sangat jelas bahwa ada kerja editan tampak dalam video tersebut.

Kelima, ketika kamera pada detik 58  tampak hendak menshoot pembawa acara dan pemateri dari depan, namun shotingan kamera tiba-tiba terpotong ketika akan menshoot pemateri, dan kembali menampilkan pembawa acara dari sudut yang membelakangi kamera.

Keenam, siaran tersebut siaran langsung, namun ketika sipemateri menjawab pertanyaan si penelepon seakan-akan telah mengetahui pertanyaan tersebut sebelumnya, dengan telah mempersiapkan musik yang diperdengarkan sembari memberikan jawaban dengan turut bergoyang mengiri musik.

Ketujuh, video postingan LPPI tersebut resolusinya jauh lebih rendah dari video “Shamt_e Khoda” lainnya yang terupload di youtube.

Dari beberapa keganjilan tersebut, dapat dikatakan, video postingan LPPI Makassar tersebut adalah rekayasa. Pertanyaan yang perlu diajukan kepada redaksi LPPI, siapa nama pemateri yang disebut ulama Syiah oleh LPPI dalam video tersebut? Dan kapan acara tersebut pertamakali disiarkan?. Jika LPPI tidak bisa menjawab kedua pertanyaan sederhana tersebut, maka sangat disayangkan, LPPI yang menyebut diri sebagai lembaga penelitian namun memuat materi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah didalam situs resminya. Apakah LPPI sengaja memosting video tersebut dengan maksud untuk mengolok-olok dan menjelek-jelekkan ulama Syiah tanpa peduli dengan validitas postingannya?. Sungguh terlalu!. Wallahu ‘alam.

Berikut link situs resmi “Shamt_e Khoda”: http://ch3.ir/samtekhoda/

Berikut link salah satu acara “Shamt_e Khoda” lainnya di Youtube:

http://www.youtube.com/watch?v=Zri2NEHPDOo

Berikut link situs resmi LPPI Makassar yang sudah dihapus: http://www.lppimakassar.com/2012/12/ulama-syiah-berjoged-dan-berdangdut.html

 

Tujuan tertinggi LPPI Makassar adalah mewahabikan SulSel. Mereka menyerang Syi’ah Agar LPPI Diterima Umat

Fitnah LPPI Makassar

LPPI Makassar Penebar Fitnah dan Perusak Pluralitas

Ketua LPPI Makasar KH. Muhammad Said Abdus Shamad, Lc,

Yang terhormat LPPI makassar,

Anda menganggap kekafiran telah terjadi dimana mana. Aliran anda membuat  indonesia menjadi terpecah belah, pembunuhan terjadi dimana-mana akibat issu sunni dan syiah yang belakangan ini merebak di tanah air. Demi Allah saya tidak ridha. Bukannya masih banyak permasalahan umat islam saat ini selain yang menyangkut perbedaan antara sunni dan syiah. Kemiskinan, perpecahan, fitnah berdalih terorisme. bukannya itu yang sering kita baca setiap kita sholat saat tahiat terakhir. Kami berlindung dari fitnah dajjal wahabi

.
Demi  Allah setiap rangkaian kata yang saudara tulis dan publikasikan kelak akan saudara pertanggung jawabkan jika menyebabkan terjadinya pembunuhan. Setiap nyawa yang hilang, keluarga yang terbuang dan keamanan yang terenggut dari bumi pertiwi ini akan menjadi saksi atas tulisan-tulisan saudara yang mengandung provokasi. Semoga tuhan memberi petunjuk kepada kita. amin yarobbal alaamiin. Anda bukan Sunni tapi Wahabi. Anda  golongan baru yang mengaku Sunni, tapi sebenarnya  adalah Wahabi, yg selalu mengkafirkan sesama umat islam.

LPPI Makassar Penebar Fitnah dan Perusak Pluralitas. Tujuan tertinggi LPPI Makassar adalah mewahabikan Sul-Sel. Tentu mereka akan menggunakan segala macam cara untuk mewujudkan niatnya itu

Dalam postingannya yang diberi tajuk, “Sejarah Desain Bendera Republik Syiah Iran”, LPPI menulis beberapa pertanyaan yang perlu diberi tanggapan oleh tim redaksi ABNA

Menurut Kantor Berita ABNA, setelah sebelumnya menyebar video rekayasa untuk memperolok-olok ulama Iran, LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) Wilayah Indonesia Timur yang bermarkas di Makassar kembali menyebar fitnah baru. Dalam salah satu postingannya, LPPI Makassar yang diketuai H. Said Abdusshamad, Lc tersebut mengaitkan logo dalam bendera nasional Republik Islam Iran dengan simbol agama Sikh. Sekilas kedua gambar tersebut memang tampak sama namun ketika diperhatikan lebih seksama akan Nampak dengan jelas perbedaan keduanya.

Dalam postingannya yang diberi tajuk, “Sejarah Desain Bendera Republik Syiah Iran”, LPPI menulis beberapa pertanyaan yang perlu diberi tanggapan oleh tim redaksi ABNA.

Pertama, LPPI menulis, “Tak bisa dipungkiri, Syiah dengan negara Iran-nya telah memalingkan hati sebagian kaum Muslimin. Dulu, mereka mencintai dua kota suci Islam, Makkah dan Madinah, sehingga tiap kali mereka mengingatnya, mereka rindu untuk menziarahinya dengan tujuan umrah atau haji.”

Tanggapan ABNA:

Siapa sebagian kaum muslimin yang dimaksud LPPI telah terpalingkan hatinya dari mencintai dua kota suci Islam Makah dan Madinah? Bagaimana LPPI bisa memastikan bahwa hati sebagian kaum muslimin itu telah berpaling? Apakah setiap mereka yang melakukan perjalanan ziarah ke kota-kota di Iran dan Irak telah berarti berpaling hatinya dari Makah dan Madinah?.

Kedua, LPPI menulis, “Namun dengan adanya Syiah dan juga dengan Republik Iran telah membuat sebagian dari mereka tersilaukan, kesatuan mereka terpecah. Kecintaan mereka terhadap dua kota suci Islam sedikit demi sedikit menjadi pudar. Digantikan oleh kota-kota ‘suci’ di Iran seperti Qom, Najaf dan Teheran. Setiap kali mereka ingat kepada ‘kota-kota suci’ itu, mereka niatkan untuk berangkat kesana.”

Iran menjadi segalanya dalam hati mereka.

Tanggapan ABNA:

Pernyataan LPPI, “Kecintaan mereka terhadap dua kota suci Islam sedikit demi sedikit menjadi pudar” adalah pernyataan yang sarat dengan fitnah. Apakah jumlah Jemaah haji dan mereka yang umrah ke Haramain setiap tahunnya berkurang karena lebih memilih berziarah ke kota-kota yang dianggap suci di Iran?. Dilansir dari http://www.jurnalhaji.com, disebutkan jumlah peminat haji khusus terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan disebutkan, sejak beberapa tahun terakhir calon jamaah yang ingin berangkat dengan menggunakan jasa layanan haji plus juga harus masuk daftar waiting list sebagaimana pada layanan haji reguler. Pengguna jasa layanan haji plus harus menunggu antrian rata-rata 2-3 tahun sementara pengguna haji reguler sendiri masa tunggunya berkisar 4-12 tahun. Masa tunggu tersebut terpaksa diperlakukan karena pihak Arab Saudi hanya memberikan kuota satu persen saja dari total jumlah penduduknya di setiap Negara. Mengenai peminat umrah, situs tersebut menuliskan, Pada 2010, jumlah jamaah yang pergi umrah hanya ada 160 ribu orang. Tahun berikutnya, versi data Himpuh (Himpunan Penyelenggara Umroh dan Haji Indonesia ) ada 260 ribu orang. Sedangkan data dari kedutaan besar Indonesia ada 300 ribu. Dan tahun berikutnya tentu diperkirakan jumlah peminat akan menembus angka diatas 300 ribu.

Menyikapi fenomena tersebut http://suarapengusaha.com/ menurunkan berita, “Jumlah jamaah naik pesat pengusaha perjalanan haji umrah menjamur”. Sementara muslimdaily.net melansir berita adanya peningkatan jamaah haji Cina yang meningkat pesat. Untuk tahun 2012, 3 juta muslim Cina berkeinginan menunaikan ibadah haji, namun yang bisa diberi izin oleh pemerintah Cina hanya 13.800 orang menyusul permintaan dari pihak Arab Saudi yang membatasi jumlah calon jamaah haji.

Disitus http://haji.kemenag.go.id/, berdasarkan laporan kementerian Haji Arab Saudi untuk tahun 2012 ada 5,5 juta orang yang melakukan umrah, sementara pada tahun 2005 hanya 2,5 juta peziarah. Jadi, dari mana LPPI bisa menyimpulkan bahwa hati sebagian umat Islam telah berpaling dari dua kota suci Makah dan Madinah dengan keberadaaan Syiah dan Iran sementara data-data yang ada menyebutkan jumlah kaum muslimin yang berminat untuk menziarahi dua kota suci itu setiap tahunnya semakin meningkat?. Kalau yang dimaksud LPPI sebagian kaum muslimin itu adalah umat Syiah, tentu LPPI harus menjilat ludahnya sendiri yang dalam beberapa tulisannya menyebutkan Syiah itu kafir dan bukan bagian dari umat Islam.

LPPI selanjutnya menulis, “Digantikan oleh kota-kota ‘suci’ di Iran seperti Qom, Najaf dan Teheran. Setiap kali mereka ingat kepada ‘kota-kota suci’ itu, mereka niatkan untuk berangkat kesana.” Disini LPPI melakukan kesalahan fatal. Kota Najaf bukan di Iran, melainkan di Irak. Muslim Syiahpun tidak pernah menyebut Teheran sebagai kota suci. Yang disebut kota suci di Iran hanyalah Masyhad dan Qom. Masyhad disebut suci karena keberadaan makam Imam Ridha as (Imam kedelapan Syiah) dan Qom disebabkan karena di kota itu terdapat makam Sayyidah Fatimah Maksumah (Adik perempuan Imam Ridha as). Sangat disayangkan sebuah lembaga yang mengklaim diri sebagai lembaga penelitian dan pengkajian namun menuliskan artikel tanpa data dan fakta bahkan melakukan kesalahan yang sangat fatal. Apakah dasar LPPI menuliskan artikel-artikelnya adalah kebencian dan sikap permusuhan sehingga tidak lagi bisa berlaku adil? Semoga firman Allah SWT berikut bisa menjadi pengingat, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Maidah: 8).

Selanjutnya LPPI memosting beberapa gambar yang dicopy paste dari situs http://www.fnoor.com yang banyak memuat materi-materi yang menjelek-jelekkan Syiah dan Iran. LPPI hendak menyamakan logo Bendera Nasional Iran dengan simbol agama Sikh padahal tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Tentu saja yang lebih mengetahui sejarah dan makna logo bendera Iran adalah orang Iran sendiri.

Berikut kami nukil dari IRIB Indonesia yang pernah menurunkan artikel, “Sejarah Disain Bendera dan Lambang Republik Islam Iran”. Artikel ini juga adalah bantahan atas postingan LPPI yang tidak memiliki unsur keilmiahan sama sekali.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini ra mengeluarkan perintah untuk menghapus segala bentuk simbol rezim taghut dan menggantikannya dengan lambang dan simbol Islam-syiah. Salah satu perubahan penting adalah lambang dan bendera Republik Islam Iran.

Pada 10 Isfand 1357 Hs, Imam Khomeini ra meminta agar dilakukan perubahan pada lambang negara, yakni singa dan matahari. Beliau mengumumkan, “Kita telah mendirikan sebuah negara Muhammadi. Bendera Iran tidak boleh sama dengan bendera Shahanshahi. Lambang Iran harus berbeda dari lambang Shahanshahi dan lambang ini harus menunjukkan keislaman. Semua kementerian dan kantor harus mencabut simbol singa dan matahari lalu menggantinya dengan bendera Islam. Bekas-bekas taghut harus dilenyapkan. Semua ini merupakan peninggalan taghut. Yang ada harus karya-karya Islam. (Sahifeh Imam, jilid 6, hal 275).

Setelah itu pemerintah sementara membuka sayembara disain baru lambang Iran. Banyak disain yang dikirim ke kantor perdana menteri dan yang diterima adalah lambang Republik Islam Iran saat ini yang didisain oleh Hamid Nadimi.

Setelah mendengarkan ucapan Imam Khomeini ra, Hamid Nadimi dengan penuh semangat mulai menggoreskan disainnya. Setelah menyelesaikan desain lambang Iran, Nadimi membawanya ke kantor Imam Khomeini ra di Qom. Sekalipun pada awalnya desain lambang Iran dilombakan, tapi ada desain lainnya yang juga disetujui dan akhirnya dicetak di uang kertas masa itu. Tapi tidak berapa lama, suatu malam Hujjatul Islam Hashemi Rafsanjani menelpon Nadimi dan mengabarkan Imam Khomeini ra menyetujui desainnya pada 19 Ordibehesht 1359 Hs dan meminta Nadimi untuk menyempurnakan disainnya.

Lambang ini memiliki banyak makna di benaknya. Ada kesederhanaan dan kelebihan khusus dalam desainnya yang memiliki banyak makna. Hamid Nadimi ketika memberikan penjelasan makna karyanya kepada majalan Pasdar Islam pada tahun 1362 mengatakan:

“Saya punya keinginan untuk membuat lambang bagi dunia Islam. Ketika Imam Khomeini ra mengatakan bahwa simbol singa dan matahari harus diganti dan negara membutuhkan lambang baru, saya mulai kembali memikirkan ide yang selama ini ada dalam pikiranku. Saya mulai menerawang kembali sketsa yang pernah saya buat. Dalam disain ini ada tiga prinsip penting pemerintahan Islam dalam al-Quran; kitab, timbangan dan besi yang menjadi simbol dari al-Quran, mizan dan hadid. Bagian yang berdiri di tengah dalam disain ini dalam bahasa Persia dan Arab menunjukkan kekuatan dan pedang. Simbol ini berdiri tegak yang berarti kekuatan dan kekokohan. Ini merupakan penafsiran dari kata hadid (besi) dalam al-Quran (… Anzalna al-Hadid Fiihi Ba’sun Syadidun).

Komposisi yang sangat ideal antara garis dan lengkungan yang ada berada dalam kondisi seimbang dan ini memberikan makna timbangan, seperti kata mizan dalam al-Quran (Wassamaa’ Rafa’aha wa Wadha’al Mizan). Lima bagian yang menjadi bentuk asli disain ini, sekalipun bermakna lima prinsip agama dan prinsip tauhid berada di tengah dan tegak di antara lengkungan yang ada. Selain itu, secara keseluruhan, komposisi yang ada ini menjadi simbol dari kata Allah dan menjadi inti dan tersembunyi dari kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah.

Garis-garis lengkung yang membentuk lingkaran adalah setengah dari bola bumi dan merepresentasikan universalnya dakwah Islam. Kata Allah didisain berbentuk bola guna menunjukkan pesan universalitas Islam. Garis-garis lengkung seperti bulan sabit dalam disain ini diambil dari gambar dari Nabi Muhammad Saw yang berkali-kali dilakukannya dengan pedang beliau sebagai paraf di atas pasir.”

Setelah itu Nadimi juga mendesain bendera. Saat menjelaskan disainnya ini, Nadimi menjelaskan, “Bendera ini memberikan harapan akan pemerintahan Imam Mahdi af. Warna hijau, putih dan merah merupakan tanda khusus Republik Islam Iran dan slogan Allahu Akbar semuanya berasal dari prinsip yang telah ditetapkan dalam UUD.”

Doktor Nadimi mencontoh slogan Allahu Akbar dan mengulanginya. Slogan ini sebelas kali dalam warna merah dan sebelas kali dalam warga hijau, yakni kedua warna ini diulanginya sebanyak 22 kali dan ini merupakan simbol dari tanggal 22 Bahman 1357 Hs, Hari Kemenangan Revolusi Islam Iran. Bentuk di sudut sebelah kanan ada tulisan Allahu Akbar mengingatkan slogan penuh pengaruh ini dan ini merupakan huruf yang dipakai di kubah, menara dan masjid-masjid, dan kini tertulis di bendera Iran. Kata Allah yang berwarna merah di bendera Iran menunjukkan asal penciptaan dan semua akan kembali kepada Allah. Hal ini menunjukkan tujuan akhir pemerintahan Islam.

Doktor Hamid Nadimi adalah dosen arsitektur Universitas Shahid Beheshti dan memberikan mata kulian teori dan metode disain. Ia mendapat gelar doktor arsiteknya dari Inggris. Sekalipun karyanya akan senantiasa diingat oleh bangsa Iran, tapi tidak pernah punya keinginan untuk terkenal. Menurutnya, “Manusia yang fana jangan sampai menyambungkan dirinya dengan hal-hal yang abadi. Saya tidak ingin melekatkan diri dengan masalah-masalah seperti ini. Masyarakat tidak mengetahui wajah saya akan lebih baik buat saya. Karena bendera ini suci. Apa yang terjadi bila suatu hari saya berubah menjadi anti Revolusi? Oleh karenanya, sudah biarkan saja semua berlalu begitu saja.”

Doktor Nadimi dalam hidupnya pernah sekali bertemu dengan Imam Khomeini ra dan menjelaskan pertemuan itu sebagai berikut, “Saya tidak bertemu dengan Imam dengan motivasi sebagai pembuat disain bendera Iran. Beberapa tahun saya pergi ke Huseiniyah Jamaran dan meminta beliau membacakan akad nikahku.”

**

Berikut link postingan LPPI yang sarat dengan kebencian dan permusuhan terhadap Republik Islam Iran: http://www.lppimakassar.com/2013/01/sejarah-desain-bendera-republik-syiah.html

Sumber: Abna.ir
http://www.islamtimes.org/images/docs/000224/n00224315-t.jpg

kode topik : 227658

wahabi Mencela, Melaknat dan Mencaci Maki NU ! Presiden SBY kaget Abu Bakar Baasyir bikin buku di penjara

DAKWAH KAUM SALAFI  menuduh Syiah dan NU sama-sama sesat karena melakukan sholawat bid’ah.

Aliran Syiah di Indonesia dianggap ahli bid’ah. Ketua Umum PBNU dilaknat dan dicaci maki oleh wahabi..

…Warga wahabi  jangan sembrono memvonis kelompok-kelompok lainnya

Kamis, 23 May 2013

Celaan, laknat dan caci maki wahabi untuk Said Aqil: Jangan Jadi Ulama Syaithani!

Ustadz Ba’asyir Tantang Said Aqil dan Ansyaad Mbai Mubahalah

Abu Bakar Ba’asyir Tuding Syaikh KH Said Aqil sebagai Ulama Setan

Presiden SBY kaget Abu Bakar Baasyir bikin buku di penjara

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku kaget setelah mendengar laporan bahwa Pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba’asyir membuat buku di dalam penjara. Buku Tadziroh II yang berisi paham radikal itu disebar di dalam penjara.

“Bapak presiden terkejut buku ini keluar, kok bisa katanya, bisa ditulis di penjara. Ditulis ditandatangani sendiri. Menurut dia di buku ini (Tadziroh) DPR, MPR togut. Menurut buku dia juga enggak boleh ada hukum lain selain hukum Allah,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyaad Mbai dalam dialog ormas di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Sabtu (11/5).

Setelah membaca buku bersampul hijau tersebut, tercermin ada ideologi dan paham yang keliru dari Baasyir. Selain itu, ada beberapa kepentingan politik yang diingini Baasyir.

“Radikalisme itu paham yang menganggap yang lain salah dan merasa paling memahami ayat dan hadis kemudian menghabisi lawan dengan itu,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan dengan oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj. Dia menganggap, pemahaman Baasyir dangkal.

“Hafal Alquran enggak sampai substansinya. Hal-hal lain kurang cuma bibir saja,” katanya.

Baasyir kini mendekam di Penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA) atas tuduhan tindak pidana terorisme.

Kalau dilihat keilmuan antara Syaikh Said dengan Abu Bakar Ba’asyir sangat jauh. Abu Bakar hanya lulusan pesantren gontor sedangkan Syaikh Said lulusan doktor Universitas Ummul Quro Mekah Saudi Arabia.

Syaikh Said yang sudah lama mukin di Saudi tentunya sudah paham betul berbagai macam aliran keagaamaan termasuk yang suka mengkafirkan.

Semoga saja, Abu Bakar Ba’asyir sadar tak mudah menganggap kafir atau setan pihak lain.

Saya bisa mengerut kepala melihat pernyataan pernyataan Abu Bakar Ba’asyir yang asal menuduh orang dengan kalimat yang kasar.

Seorang ulama yang sangat dihormati di kalangan NU Syaikh KH Said Aqil Siradj disebut Abu Bakar Ba’asyir sebagai ulama setan.

Nasehat Ustadz Ba’asyir untuk Said Aqil: Jangan Jadi Ulama Syaithani!

wahabi Mencela NU

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, di antara aqidah Ahlus Sunnah adalah kita mencintai para Ahlul Bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Kita juga tidak boleh berlepas diri (antipati) terhadap seorang pun dari mereka. Kita membenci orang yang membenci dan menjelek-jelekkan mereka. Kita pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, begian dari iman, dan salah satu bentuk ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan sikap melampaui batas.

Umat Islam di seantero dunia beberapa dekade belakangan ini begitu gencar digelinding oleh gerakan dakwah yang cenderung bersifat ekstrem bahkan sangat meresahkan, tidak terkecuali di Indonesia. ‘Aksi’ takfir (pengkafiran), Tasyrik (pemusyrikan) maupun tabdi’ (pembid’ahan) boleh dikatakan paham yang lagi ‘ngetren’ dewasa ini.

Fenomena ini nyatanya tidak hanya mengeroposi bingkai-bingkai ukhuwwah Islamiyah, namun telah sampai pada tataran merusak pondasi-pondasi agama yang telah menjadi konsensus bersama. dan, kemajuan teknologi informasi makin mendorong meluasnya ‘fatwa-fatwa’ mereka laksana air terlepas dari salurannya. Kekacauan fatwa (faudha al fatawa) pun tidak bisa terelakkan. Umat Islam pun kebingungan.

JAT melaknat/mencela/mencaci maki Said Aqil Siradj sebagai “Al-Kadzab (Sang Pendusta)”

Amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Wilayah Jakarta, ustadz Nanang Ainur Rofiq dengan tegas membantah tuduhan Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj yang menyatakan ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai Khawarij. Bahkan ustadz Ainur Rofiq balik menuding Said Aqil sebagai Al-Kadzab (sang pendusta).

Ketua PBNU Said Aqil tuding Ustadz Ba’asyir ngebom gereja.

Said Aqil menuduh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Ustadz Abdullah Sungkar sebagai pengebom gereja

Tuduhan  pun jauh lebih dahsyat: pengebom gereja untuk mendirikan Negara Islam.

“Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar juga mendirikan NII, lalu dikejar-kejar oleh tentara waktu zaman Orde Baru lari ke Malaysia bikin pesantren di Johor. Kalau Abdullah Sungkar pokoknya gereja harus dibom, tapi kalau Abu Bakar Ba’asyir agak mending dikit, gereja yang legal jangan, gereja yang tidak legal itu yang harus dibom,” ujar Said Aqil berapi-api dalam workshop “Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren” yang digelar Muslimat NU di Park Hotel Jakarta, Sabtu (3/12/2011). Tak sendirian, dalam acara tersebut Said Aqil tampil bersama Ketua Umum Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai

.

Untuk memuluskan aksi terorisme, jelas Said Aqil, Ustadz Abdullah Sungkar dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir membuka pesantren di Malaysia untuk mengkader generasi teror yang disiapkan untuk beraksi di Indonesia

.

“Bikin pesantren di Johor merekrut semua santri-santri yang dari Indonesia dan didoktrin menjadi pelaku-pelaku teror atau minimal atau kelompok-kelompok radikal,” jelas Said Aqil di hadapan puluhan kiyai dan nyai Nahdliyin

.

“Begitu reformasi, di sini terbuka, tentara sudah tidak berfungsi, mereka kembali ke Indonesia, kebebasan ini dimanfaatkan oleh mereka semaksimal mungkin, jadi kebebasan ini dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan radikal,” imbuh kiyai pernah menjabat sebagai Penasihat organisasi Salibis PMKRI  (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) dan Anggota Kehormatan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) itu.

Apakah Said Aqil Siradj Tak Pernah Shalat Malam, Puasa & Hafal Qur’an? http://www.voa-islam.com melaknat pimpinan NU !

wahabi , Musuh Umat Islam

Namun sayangnya, telah muncul suatu kelompok (agama) yang menamakan dirinya dengan wahabi. Mereka mengaku muslim, akan tetapi mereka sangat membenci NU.

Mereka mengkritik, mengecam, dan akhirnya berani mencela beberapa tokoh NU, serta merendahkan martabat mereka. Apabila mereka menyebutkan salah seorang ketua PBNU bukannya mengatakan radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah meridhainya) untuk mendoakan mereka, tetapi justru mengatakan la’natullah ‘alaihi (Semoga Allah melaknatnya).

Bahkan yang lebih parah lagi, mereka sampai mengkafirkan GUSDUR..

NU banyak menjawab berbagai permasalahan terkait dengan pemahan kaum yang menamakan diri “Salafi” itu. Muali dari soal sunnah dan bid’ah, taklid, maulid Nabi, ziarah ke makam Rasulullah, tawasul, tabarruk hingga mengklaim kedua orangtua Rasulullah saw. sebagai ahli neraka.

KH Said Aqil Siradj, Sampeyan Muslim? gugat http://www.akhirzaman.info/islam/syiah/2185-47-jurus-mabok-ketua-umum-pbnu-said-aqil-siradj.html

KH Said Aqil Siradj<br /><br /><br<br /><br /><br /><br /><br /><br />
/><br<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
/><br /><br /><br /><br /><br<br /><br /><br /><br /><br /><br />
/><br<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
/><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
tentang Khawarij” src=”http://kabarislam.files.wordpress.com/2013/05/kh-said-aqil-siradj-tentang-khawarij.jpg?w=468″ /></a></p>
<p>hati-hati kebanyakan paham wahabi mengincar kaum muda yg depresi supaya dengan mudah dicuci otaknya, paham ini disebarkan dengan sangat rapi dan sembunyi-sembunyi, dan biasanya sudah mengetahui target untuk dijadikan pengikut jadi tidak asal menyebarkan ajaran.</p>
<p>Ya, betul apalagi dengan uang real saudi para kawula muda yg lemah imannya tentu terpikat dgn hal ini. Otak mereka sudah benar2 dicuci dan dimasukin doktrin sesat se-sesat2nya hingga akhlak (perkataan) mereka jauh lebih rendah dari binatang. Pasti tadinya mereka belum pernah mengenal ajaran (aqidah) islam yang benar alias masih kosong akal pikirannya dari ajaran islam (yg benar), sehingga ketika ajaran wahabi masuk, ya sudah otak mereka tercuci dan terpenuhi doktrin yang penuh kebencian terhadap islam yg sebenarnya. Sungguh mengerikan dan menyeramkan…</p>
<p>Apa yg disampaikan KH Said Aqil Siradj memang benar. Khawarij itu menurut Nabi memang rajin membaca Al Qur’an dan Hadits, mengajak manusia mengikuti Al Qur’an dan Hadits. Namun tak keluar dari kerongkongannya. Artinya tidak diamalkan. Ibadah mereka lebih bagus dari kita.</p>
<p><strong>Kesalahan mereka adalah TAKFIR. Mereka MENGKAFIRKAN DAN MEMBUNUH SESAMA MUSLIM. ALIAS JADI TERORIS.</strong> Kalau kita mempelajari Hadits2 Nabi tentang Khawarij, niscaya yg disampaikan KH Said Aqil Siradj itu benar.<br />
Media Arrahmah dan Voa-Islam.com saya lihat cenderung Khawarij. Memfitnah KH Said Aqil Siradj lewat pemberitaannya. Padahal kalau tak jelas, tabayyun thd Said Aqil. Bukan memfitnah macam Khawarij. Pemberitaannya seolah2 KH Said Aqil Siradj melarang ummat Islam rajin sholat malam dan puasa. Padahal bukan begitu. Yang dimaksudkan adalah jangan cuma rajin sholat malam dan puasa, TAPI MENGKAFIRKAN DAN MEMBUNUH SESAMA MUSLIM!</p>
<p>Silahkan baca hadits2 Nabi ttg Khawarij. Apa yg disampaikan KH Said Aqil sudah benar. Arrahmah saja yg tidak paham hadits2 Nabi.</p>
<p><strong>“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.” (HR. Abu Dawud)</strong></p>
<p><strong>“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201).</strong></p>
<p><strong>Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)</strong></p>
<p><strong>Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:</strong><br />
<strong>Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)</strong><br />
<img alt=

Ucapan KH. Said Aqil Dipelintir Oleh Arrahmah dan Voa-Islam  (Syi’ah Bela Kiai Said)

Hingga saat ini, penyebaran virus wahabi berkembang sangat pesat. Arab Saudi memiliki dana yang besar dalam mendiasporakan ideology wahabi. Seperti melalui beasiswa untuk belajar di sana, media, percetakan dan lembaga pendidikan

.
Mahasiswa yang telah selesai mengenyam Ilmu di sana, pulang dengan membawa ajaran wahabi. Melalui dakwah mereka mulai mempermasalahkan yang mestinya tidak perlu dipermasalahkan, menebarkan kebencian dan permusuhan pada kelompok yang berbeda dengan ajaran mereka, gemar menuduh umat Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bidah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan dakwah mereka

.
Merembaknya virus wahabi di Indonesia, sangat berdampak negative terhadap stabilitas Negara. Di Indonesia mereka tidak memakai nama wahabi, akan tetapi salafi.  Kita pun dapat menyaksiakan menjamurnya kelompok-kelompok radikal-ekstrem. Keberadaan mareka mencabik-cabik kebhinekaan kita. Di sini saya tidak mengatakan wahabi satu-satunya sebagai subversif, tapi salah satu diantaranya.

Seperti biasanya, penggembosan terhadap tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dilakukan oleh media-media radikal untuk melancarkan serangannya. Tokoh yang sering digembosi lalu diblow up media mereka adalah KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU. Tujuannya tentu untuk melemahkan ormas terbesar di Indonesia tersebut karena ormas NU gencar menghadang faham radikal beragama yang diusung oleh media-medianya seperti Arrahmah.Com, Voa-Islam.Com, Nahimunkar.com, dan lain-lain

.

Minggu, 12 Mei 2013 situs media islam online Arrahmah.Com menurunkan judul berita yang sangat tendensius, provokatif dan tidak sesuai dengan kenyataan: Ketua PBNU Said Aqil Siradj: Cikal bakal teroris itu rajin shalat malam, puasa dan hafal Qur’an

.

Di lain pihak media saudara kandungnya, Voa-Islam.Com menulis judul yang tak jauh beda: “PBNU: Cikal Bakal Teroris itu Rajin Shalat Malam, Puasa & Hafal Quran”.

Beberapa saat kemudian tulisan artikel tersebut di copy oleh beberapa media islam yang lain, terutama oleh media-media yang membenci terhadap Nahdlatul Ulama seperti Nahimunkar.Com dan lain-lain.

Apa yang orang fikirkan ketika membaca judul tersebut? tentu saja orang (orang awam -red.) akan menyimpulkan bahwa KH. Said Aqil Siradj itu terlalu tendensius terhadap islam, tidak menghargai agama Islam, tidak menghargai orang yang rajin shalat malam, puasa, dan hafal al-qur’an. Bahkan ada yang menyebutnya, “Apakah Said Aqil ini tidak pernah shalat malam, tidak pernah puasa, tidak hafal Al-Qur’an?”. Tentu saja ini misi penyesatan terhadap umat yang dilakukan oleh media yang sangat hasud terhadap Nahdlatul Ulama, terutama ketua umumnya KH. Said Aqil Siradj.

Apa yang sebenarnya terjadi? 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A., mengungkapkan bahwa cikal bakal pemahaman radikalisme dan terorisme sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat. Ia pun menceritakan sosok Dzulkhuwaisir, yang begitu sombong menyuruh Rasulullah berbuat adil.

“Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya. Artinya tidak paham secara substansif. Mereka itu sejelek-jelek manusia bahkan lebih jelek daripada binatang. Saya tidak termasuk mereka, mereka tidak termasuk kami,” kata Said Aqil Siradj saat menjadi narasumber Dialog Ormas-ormas Islam dalam Mempertahankan NKRI, di Sahid Hotel, Jakarta Pusat, pada Sabtu (11/5/2013).

Coba kita perhatian baik-baik pernyataan Ketua PBNU Said Aqil Siradj:

“Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya. Artinya tidak paham secara substansif. Mereka itu sejelek-jelek manusia bahkan lebih jelek daripada binatang. Saya tidak termasuk mereka, mereka tidak termasuk kami…. Prediksi Rasulullah ini terbukti tahun 40 H, Sayyidina Ali keluar dari rumahnya mengimami shalat Shubuh dibunuh, bukan oleh orang Kristen, bukan oleh orang Katholik, bukan oleh orang Hindu, bukan oleh orang nonmuslim. Yang membunuh Abdurrahman bin Muljam, qaimul lail, shaimun nahar, hafizhul Qur’an. Yang membunuh Sayyidina Ali ini tiap hari puasa, tiap malam Tahajjud, dan hafal Qur’an.”

Apa yang dikatakan Ketua PBNU Said Aqil Siradj itu tidak tendensius bagi kaum muslimin.

Bahwa sering mendirikan shalat malam, berpuasa di siang hari, dan hafal Al-Qur’an, adalah di antara gambaran seorang muslim yang taat, itu memang benar. Namun, tidak demikian dengan Khawarij. Mereka juga sering mendirikan shalat malam, berpuasa di siang hari, dan hafal Al-Qur’an, tapi tidak memahami ajaran Al-Qur’an secara substansif. Sebagaimana dikatakan Ketua PBNU Said Aqil Siradj, mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Nanti dari umatku akan muncul seperti orang ini, hafal Qur’an, dalilnya Qur’an tapi tidak melewati tenggorokannya (tidak memahami ajaran Al-Qur’an secara substansif).” Akibatnya, ya itu tadi, bahkan Sayyidina Ali, yang nota bene seorang khalifah Islam, pun dibunuh oleh Khawarij.

Apa yg dikatakan KH. Said Aqil Siradj sebagaimana dijelaskan di dalam Kitab Majma’ Az-Zawaid wa Manba’ Al-Fawaid karya Al-Hafizh Nuruddin Ali bin Abu Bakar bin Sulaiman Al-Haitsami Al-Mishri pentahqiq Muhammad Abdul Qadir Ahmad ‘Atho penerbit Darr Al-Kutub Al-Ilmiah Beirut Libanon cetakan pertama 2001/1422 H juz 6 hal. 241-242

.

Jadi, justru Ketua PBNU Said Aqil Siradj mengingatkan agar kita, kaum muslimin, memahami ajaran Al-Qur’an secara benar, sehingga tidak picik seperti Khawarij, yang akibat kepicikannya itu mereka main bunuh saja. Bahkan, seorang khalifah, yang nota bene pemimpin umat Islam, pun mereka bunuh karena kepicikan itu. Itulah yang seharusnya dimuat dan dipaparkan oleh media-media radikal yang hanya bisa memecah belah ummat islam seperti Arrahmah.Com, Voa-Islam.Com, dan Nahimunkar.Com!

DALAM perjalanan untuk menuju mengenal Allah SWT, perkara yang perlu ada terhadap individu tersebut adalah penguasaan ilmu yang mantap terhadap persoalan tauhid kepada Ilahi. Maka dengan itu, para ulama terdahulu berusaha mengajak masyarakat mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara pendidikan.

Didikan itu, sama ada melalui pengajaran atau penulisan, para ulama berusaha meneruskan kesinambungan tanggungjawab para rasul terdahulu dalam menanam keimanan tauhid ilahiyat, nubuwwat dan samiyyat kepada umat Islam.

wahabi tidak berakhlak !

Malah Imam Ghazali pernah berkata bahawa mempelajari ilmu antara Tauhid dan Tasawuf itu hukumnya fardu ain kerana hati manusia tiada sunyi dari penyakit hati kecuali hanya para nabi.

Kaidah Yang Meruntuhkan Akidah Syiah ? Ayat Al Quran yang muhkam mengenai akidah Imamah ??

Mestinya artikel semacam ini dilakukan di semua Perguruan Tinggi dan sesering mungkin sebagai salah satu upaya membendung pergerakan  wahabi yang semakin aktif merekrut “korban” baru. Apalagi PT dan dunia pendidikan menjadi salah satu target utamanya.

Semua pokok-pokok agama (ushuluddin) dibangun di atas ayat-ayat Al Quran yang muhkam, yaitu ayat yang jelas, tegas dan mudah dipahami. Ayat Muhkam dapat langsung dipahami dengan jelas maknanya, tidak butuh interpretasi (tafsir, hadis, riwayat atau penjelasan ulama) untuk memahaminya. Sebaliknya, kelompok ayat-ayat yang mutasyabihat, untuk memahaminya dengan benar harus disertai dengan interpretasi tadi. Allah berfirman mengenai ayat muhkam dan ayat mutasyabihat.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali-Imran: 7)

.

Menurut ayat di atas, yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah, hatinya akan condong kepada kesesatan.
Di antara contoh keyakinan yang dibangun di atas ayat-ayat yang muhkam adalah dalam hal menetapkan kerasulan Nabi Muhammad. Muhammadun rasulullah walladzina ma’ahu….. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya…. (QS. Al-Fath: 29). Siapa saja yang membaca ayat ini dengan mudah ia pahami bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Untuk menetapkan kewajiban shalat dan zakat misalnya, Wa aqiimushshalata wa aatuz zakah. Dan tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat (QS. Al-Baqarah: 43)

.

Untuk menetapkan kewajiban puasa misalnya pada ayat 183 surat Al-Baqarah, Kutiba ‘alaikumushshiyam. Diwajibkan atas kamu puasa

.

Dan seterusnya, semua pokok-pokok dalam agama Islam sangat mudah kita pahami dari ayat-ayat Al-Qur’an tanpa harus membuka tafsir, hadis atau menelusuri penjelasan para ulama. Sementara itu, Sunnah atau Hadis Nabi saw. Merupakan penjelasan terhadap Al Quran. Ayat-ayat Muhkam dalam Al Quran maknanya jelas, hanya satu, tidak menimbulkan multi tafsir/ pemahaman.
Al Quran terjamin dan terjaga keasliannya, sementara as sunnah atau hadis Nabi saw dapat dipalsukan. Sejarah pun membuktikan betapa para ulama bekerja keras dalam menyaring hadis dan mengkategorikannya dalam hadis shahih, palsu ataupun lemah.

Al Quran inilah yang menjadi rujukan utama dalam memahami agama Islam. Seluruh pokok-pokok agama telah termuat dengan jelas dalam Al Quran

.

Sebuah pemisalan untuk memahaminya ialah seperti KTP dan Pusat data kementerian dalam negeri. Seluruh data KTP ada dalam pusat informasi tersebut. Jika seseorang memperlihatkan KTP, maka keabsahannya dapat kita ketahui dengan merujuk kepada pusat data tadi. Jika data KTP itu tidak ada dalam data base, maka dapat disimpulkan, KTP orang tersebut adalah palsu. Demikian halnya, jika terdapat ajaran yang dinilai berasal dari Islam namun tidak sesuai dengan Al Quran (sebagai data base) maka ajaran tersebut adalah ‘Palsu’

.

Imamah merupakan pokok terpenting dari akidah Syiah yang diyakini oleh penganutnya. Mereka berdalil dengan ayat Al-Qur’an untuk menetapkan Imamah ini, yaitu firman Allah yang berbunyi,
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله و كونوا مع الصادقين,

Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur/ benar. (QS. At-Taubah: 119) menurut tafsiran ulama Syiah yang dimaksud dengan Ash-Shadiqin di sini adalah Ali dan imam-imam sesudahnya


Dalil Lain tentang Imamah
Dalil lain tentang Imamah adalah ayat ke 55 dalam surat Al-Maidah,
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).
Syiah menafsirkan bahwa waliy/pemimpin yang dimaksud dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib. Karena menurut dalam salah satu riwayat, Ali mengeluarkan zakat berupa cincin kepada fakir miskin dalam keadaan rukuk.

Datangkan Ayat Al Quran yang muhkam mengenai akidah Imamah ??

Karena sekarang yang kami bahas adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar dari argumen-argumen Syiah mengenai imamah, maka kami kutipkan dua atau tiga ayat saja untuk menjelaskan arah umum argumen-argumen Syiah. Salah satunya adalah sebuah ayat dalam Surah al-Mâ`idah ayat 67, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu sampaikan, berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya,” Perlu ada pengantar, karena akan membantu memahami ayat ini dan ayat sebelumnya.

Posisi Khusus Ayat-ayat tentang Keturunan Nabi saw

Satu hal yang benar-benar cukup misterius adalah bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan keturunan Nabi saw, khususnya ayat-ayat yang, dari sudut pandang Syiah, berkenaan dengan Imam Ali as, gaya pengungkapannya khas. Meskipun ayat-ayat ini memiliki bukti internal yang memadai untuk menunjukkan arti pentingnya, namun ayat-ayat ini disisipkan di antara beberapa ayat lain yang membicarakan beberapa masalah lain. Itulah sebabnya perlu ada upaya untuk memahami arti pentingnya. Kekhasan ini telah dibahas oleh Muhammad Taqi Syari’ati dalam bukunya, “Imâmah dan Khilâfah”. Meski bukan dia saja yang membahas hal ini, namun barangkali dialah orang pertama yang membahasnya dalam bahasa Persia. Kekhasan ini juga merupakan jawaban untuk mereka yang bertanya kenapa nama Imam Ali as tidak secara khusus disebut dalam Al-Qur’an.

Ayat Thathhîr (Penyucian)

Misal, ada sebuah ayat yang dikenal dengan nama ayat Thathhîr (penyucian):

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahtulbait, dan menyucikan kamu sesuci-sucinya. (QS. al-Ahzâb: 33)

Di sini arti penyucian adalah penyucian tertentu yang disebutkan oleh Allah SWT. Artinya bukan pembersihan medis atau pembersihan biasa. Bukan begitu artinya. Sesungguhnya artinya adalah menghilangkan semua yang dianggap oleh Al-Qur’an rijs atau rujz, yaitu semua jenis dosa dogmatis, moral dan praktis. Itulah sebabnya dikatakan bahwa ayat ini menunjukkan kemaksuman para anggota rumah tangga Nabi saw dan menunjukkan bahwa mereka bebas dari segala kotoran, ketidakmurnian, dan najis.

Misal saja kita ini bukan Syiah dan juga bukan Sunni, melainkan orientalis Kristiani yang ingin mengetahui apa yang dikatakan oleh Kitab Suci kaum Muslim. Kita melihat ayat ini dan kemudian kita melihat ke sejarah Islam dan riwayat-riwayat kaum Muslim, kita mendapati bahwa bukan saja pengikut keturunan Nabi saw, yang dikenal sebagai Syiah, namun juga golongan yang bukan pendukung khusus keturunan Nabi saw seraya menyebutkan peristiwa turunnya ayat di atas mereka mengatakan dalam kitab-kitab autentik mereka bahwa ayat itu berkenaan dengan Imam Ali as, Fatimah az-Zahra as, Imam Hasan as, Imam Husain as dan Nabi saw sendiri. Ada sebuah riwayat Sunni yang mengatakan ketika ayat ini turun, Ummu Salamah,[1] salah seorang istri Nabi saw, mendatangi Nabi saw dan bertanya apakah ayat ini berlaku juga untuk dirinya. Nabi saw menjawab bahwa Ummu Salamah, meski diberkahi, namun tidak termasuk di antara orang-orang yang dimaksud oleh ayat itu. Yang meriwayatkan hadis ini lebih dari satu atau dua orang. Banyak riwayat yang isi umumnya seperti ini terdapat dalam kitab-kitab Sunni.

Kita melihat bahwa sebelum dan sesudah ayat terkutip di atas ada ayat-ayat yang berkenaan dengan istri-istri Nabi saw, “Wahai Istri-istri Nabi, kalian beda dengan wanita-wanita lain.” (Tentu saja ayat ini tidak bermaksud mengatakan bahwa istri-istri Nabi saw lebih unggul dibanding wanita-wanita lain). “Wahai Istri-istri Nabi, barangsiapa di antara kalian berbuat dosa, maka hukuman baginya akan diduakalikan. Hukumannya akan diduakalikan, karena dia bukan saja melakukan dosa tertentu itu, namun juga melanggar kesucian suaminya dan bersalah melanggar hal-hal yang dianggap suci.” Juga, “Barangsiapa di antara kalian patuh kepada Allah dan Rasul-Nya dan berbuat baik, maka pahala baginya akan Kami duakalikan.” Dia akan mendapat pahala dua kali karena perbuatan bajiknya sesungguhnya terdiri atas dua perbuatan. Kasus ini sama dengan kasus para sayid yang disebut-sebut akan mendapat dua kali pahala untuk kebaikan yang mereka lakukan, dan dua kali hukuman untuk dosa yang rnereka lakukan. Itu bukan karena dosa yang dilakukan mereka beda dengan dosa yang dilakukan orang lain, namun karena fakta bahwa dosa mereka lipat dua. Misal, seorang sayid, na’udzubillah min dzalik, minum minuman keras, maka dia selain telah berbuat dosa, juga bersalah karena melanggar hal-hal yang dianggap suci, karena dia adalah keturunan Nabi saw, dan siapa pun yang melihatnya terang-terangan menentang ajaran Nabi saw, akan memperoleh kesan yang salah tentang Islam.

Dalam ayat-ayat ini semua kata gantinya adalah feminim. “Wahai Istri-istri Nabi, kalian beda dengan wanita lain, jika kalian takut kepada Allah.” Jelaslah di sini yang dituju adalah istri-istri Nabi saw. Setelah dua atau tiga ayat, kata gantinya tiba-tiba berubah menjadi maskulin, dan kita sampai pada ayat ini: “Wahai ahlulbait, Allah hendak meniadakan semua jenis kekotoran darimu dan hendak menyucikanmu sesuci-sucinya” Kemudian, lagi kata ganti feminim digunakan dua kali. Al-Qur’an tidak mungkin sembrono. Dalam ayat ini kita catat dua perubahan. Pertama, di sini digunakan kata-kata “ahlulbait”, padahal sebelumnya yang disebut adalah “Istri-istri Nabi”. Kedua, kata ganti feminim digantikan kata ganti maskulin. Pergantian ini bukan tanpa alasan. Ayat ini sesungguhnya membicarakan per soalan lain bukan persoalan yang dibicarakan ayat-ayat sebelumnya. Ayat-ayat sebelum dan sesudahnya menetapkan kewajiban tertentu bagi istri-istri Nabi saw dan di antaranya menunjukkan ancaman, ketakutan, harapan dan perintah. Kepada istri-isri Nabi saw, Al-Qur’an mengatakan:

Dan tetaplah di rumah-rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah. (QS. al-Ahzâb: 33)

Dalam ayat ini ada perintah dan ada ancaman. Istri-istri Nabi saw dikatakan bahwa kalau mereka berperilaku baik, maka akibatnya akan begini, namun jika mereka berperilaku lain, maka akibatnya juga akan lain. Dalam ayat ini ada ketakutan dan ada harapan.

Ayat ini, yaitu ayat Thathhîr (penyucian), lebih dari sekadar ungkapan pujian. Ayat ini menunjukkan bahwa ahlulbait Nabi saw maksum, hebas dari segala dosa dan kesalahan. Ayat ini independen, tak ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Ayat-ayat sebelum dan sesudahnya ditujukan kepada istri-istri Nabi saw, sedangkan ayat ini ditujukan kepada ahlulbait Nabi saw. Dalam ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, digunakan kata ganti feminim, namun dalam ayat ini digunakan kata ganti maskulin. Namun ayat ini, yang tak ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, disisipkan di tengah. Ini dapat disebut kalimat sisipan. Kita semua tahu bahwa terkadang pembicara yang tengah berbicara ten tang suatu masalah tiba-tiba menyimpang dari masalah yang tengah dibicarakan namun kemudian kembali lagi ke masalah yang tengah dibicarakannya. Itulah sebabnya para imam kami menyatakan bahwa bisa saja beberapa ayat Al-Qur’an membicarakan satu masalah pada awalnya, masalah lain di tengahnya dan masalah lain lagi di akhirnya. Berkaitan dengan penafsiran Al-Qur’an, poin ini banyak ditegaskan.

Bukan saja hadis-hadis dan para imam kami mengatakan bahwa ayat ini tidak berkaitan dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, semua sumber Sunni juga meriwayatkan fakta ini.

Contoh lain ayat sisipan adalah:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu. (QS. al-Mâ`idah: 3)

Di sini juga kita lihat kasus yang sama, yang sedikit lebih mengherankan. Ayat-ayat sebelum ayat ini membicarakan norma hukum yang sangat sederhana dan biasa:

Dihalalkan bagimu bmatangternak,…. Diharamkan bagimu (makan) bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih bukan atas nama Allah, daging hewan yang dicekik, yang dipukuli, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas. (QS. al-Mâ`idah: 1, 3)

Lalu tiba-tiba topiknya berubah, dan kita mendapati ayat ini:

Pada hart ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itujanganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itujadi agama bagimu. (QS. al-Mâ`idah: 3)

Lalu tema yang dibicarakan sebelumnya, kembali dibicarakan lagi. Pada dasarnya dua ayat ini tidak sesuai dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Jelaslah ayat-ayat ini disisipkan di tengah ayat-ayat yang membicarakan satu masalah yang lain sekali. Begitu pula dengan ayat yang baru saja kami bicarakan. Ternyata ayat ini disisipkan di antara ayat-ayat lain sedemikian rupa sehingga kalau ayat ini dihilangkan, maka ayat-ayat lain tersebut tetap nyambung. Juga, jika ayat “Pada hari ini telah Kusempurnakan.” Dihilangkan, aliran harmonis ayat-ayat sebelum dan sesudahnya tidak akan terganggu. Ayat ini disisipkan di tengah ayat-ayat lain sedemikian rupa sehingga ayat ini bukan bagian belakang dari ayat sebelumnya, juga bukan pembuka ayat sesudahnya. Ayat ini membicarakan satu masalah yang beda sekali. Indikasi internal ayat ini sendiri maupun riwayat-riwayat dari sumber Syiah dan Sunni, semuanya mendukung pandangan bahwa ayat ini independen. Namun kenapa ayat ini disisipkan di antara ayat-ayat yang tak ada kaitannya? Tentu saja ada alasannya, dan alasan itu tentu tepat.

Alasan

Alasan yang juga disebutkan oleh para imam dapat disimpulkan dari Al-Qur’an. Karena itu, dari semua ajaran Islam, perintah Allah SWT, yang berkaitan dengan posisi istimewa keturunan Nabi saw dan imamah Imam Ali as, adalah yang paling kecil kemungkinannya untuk diimplementasikan. Karena sudah berurat berakar prasangkanya, orang-orang Arab tampaknya yang paling tidak siap untuk menerima konsepsi-konsepsi ini. Meskipun Nabi saw telah menerima perintah Allah SWT berkenaan dengan Imam Ali as, namun Nabi saw tahu bahwa jika Nabi saw menyampaikan konsepsi-konsepsi ini, tentu Nabi saw akan dituduh nepotisme oleh kaum munafik yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an, sekalipun fakta menunjukkan bahwa Nabi saw tak pemah mengistimewakan dirinya di atas orang lain. Sesuai dengan ajaran Islam, Nabi saw tak pernah melakukan diskriminasi, dan kualitas Nabi saw seperti ini merupa kan faktor yang sangat penting dalam kesuksesan Nabi saw. Memproklamasikan Imam Ali as sebagai penerus Nabi saw merupakan perintah Allah SWT, namun Nabi saw tahu bahwa orang-orang yang lemah imannya tentu akan mengatakan bahwa Nabi hendak mengistimewakan dirinya. Kita tahu bahwa dalam ayat di atas kata-kata “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu,” didahului dengan kata-kata “‘Pada hari ini kaum hafir telah kehilangan harapan untuk mengalahkan agamamu, maka janganlah takut kepada mereka, namun takutlah kepada-Ku.” Yang dimaksud adalah bahwa orang-orang kafir telah kehilangan setiap harapan untuk berhasil menghancurkan Islam, maka dari itu janganlah takut kepada mereka, namun takutlah kepada-Ku. Seperti dijelaskan sebelumnya, mencabut karunia dan nikmat-Nya dari orang-orang yang kondisi jiwanya buruk, merupakan cara ilahiah Allah. Orang-orang seperti itu bahkan akan kehilangan Islam yang juga merupakan nikmat Allah SWT. Mengatakan “Takutlah kepada-Ku” merupakan cara mengatakan “Takudah kepada dirimu sendiri.” Dengan kata lain, kaum Muslim tak lagi menghadapi bahaya dari luar, namun yang mereka hadapi adalah ancaman dari dalam.

Dapat dicatat bahwa ayat ini merupakan satu bagian dari Surah al-Mâ`idah, Surah terakhir yang turun kepada Nabi saw, dan turunnya pada dua atau tiga bulan terakhir masa hidup Nabi saw. Pada saat itu Islam sudah kuat.

Keyakinan bahwa kaum Muslim menghadapi bahaya dari dalam saja, bukan dari luar, juga disampaikan oleh ayat lain yang sudah kami kutipkan sebelumnya. Ayat itu mengatakan:

Wahai Rasul, sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, karena jika kamu tidak melakukannya, berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Ku. Allah akan melindungimu dari (gangguan) manusia. (QS. al-Mâ`idah: 67)

Dapat disebutkan bahwa dalam Al-Qur’an tak ada ayat lain yang mendesak Nabi saw untuk melaksanakan tugas khusus. Dari nada ayat ini kesannya seakan-akan seseorang dipaksa untuk melakukan sesuatu, namun dia ragu-ragu. Dalam ayat ini Nabi saw diminta untuk menyampaikan apa yang telah diwahyukan kepadanya. Nabi sawjuga diancam, jika tidak menyampaikan, maka Nabi saw dianggap gagal sebagai Rasul. Pada saat yang sama Nabi saw mendapat jaminan akan dilindungi dan karena itu Nabi saw tak perlu merasa takut. Dalam ayat sebelumnya, kaum Muslim diminta untuk tidak takut kepada kaum kafir. Dengan begitu Nabi saw diantisipasi tidak akan takut kepada kaum kafir. Namun ayat ini menunjukkan bahwa Nabi saw masih takut dan cemas tentang sesuatu. Tentu saja Nabi saw tidak mungkin takut kepada kaum kafir. Nabi saw sadar akan bahaya bergolaknya orang-orang yang tak mau menerima suksesi Imam Ali as. Tak dapat saya katakan apakah orang-orang ini juga kafir hatinya sehingga mereka tak dapat menerima konsepsi imamah Imam Ali as.

Bukti Sejarah

Peristiwa-peristiwa sejarah juga menuturkan kisah yang sama. Dengan kata lain, sosiologi kaum Muslim menunjukkan hal yang sama. Kita tahu Umar mengatakan, “Kami tidak memilih Ali, sebagai langkah jaga-jaga untuk kepentingan Islam.” Kaum Quraisy tak mau menerima Imam Ali as, karena mereka tidak dapat mentoleransi Imam Ali as.

Kaum Quraisy menganggap tidak benar kalau kenabian dan imamah keduanya ada dalam satu keluarga. Yang ingin dikatakan Umar adalah bahwa Bani Hasyim telah mendapat kemuliaan berkat kenabian. Apakah kekhalifahan juga akan ada di keluarga itu, sehingga semua kemuliaan ada di satu rumah. Itulah alasan kenapa kaum Quraisy tidak menyukai imamah Imam Ali as. Ibn Abbas memberikan jawaban yang sangat meyakinkan terhadap perkataan Umar dan mengutip banyak ayat Al-Qur’an untuk mendukung argumennya.

Kelihatannya situasi serupa yang ada di masyarakat Muslim diungkapkan dengan cara yang berbeda, oleh Al-Qur’an begini dan oleh Umar begitu. Misal, sebuah riwayat menyebutkan bahwa Imam Ali as dianggap tidak tepat untuk menjadi Khalifah karena Imam Ali as telah membunuh begitu banyak tokoh Arab di berbagai pertempuran Islam. Orang-orang Arab, anak-cucu tokoh-tokoh Arab yang telah dibunuh oleh Imam Ali as menaruh dendam kepada Imam Ali as, sekalipun setelah mereka masuk Islam. Sebagian orang Sunni juga mengemukakan argumen ini. Mereka mengatakan bahwa sekalipun Imam Ali as lebih unggul dibanding sahabat lain dan lebih memenuhi syarat, namun Imam Ali as tidak dipilih karena musuhnya banyak.

Jadi, di zaman Nabi saw atmosfernya diwarnai perasaan cemas. Dan pengumuman tentang suksesi Imam Ali as akan menyulut pemberontakan. Barangkali itulah sebabnya Al-Qur’an menyebut masalah imamah dalam ayat-ayat ini sedemikian rupa sehingga arti penting ayat-ayat ini dapat dimengerti oleh setiap orang yang objektif atau tak berprasangka. Al-Qur’an tidak mengemukakan masalah ini dengan cara yang kalau masalah ini ditolak oleh orang-orang yang cenderung menolaknya, maka penolakan itu akan menimbulkan penolakan terhadap Islam dan Al-Qur’an. Dengan kata lain, Al-Qur’an masih memberikan kesempatan kepada para penentang untuk menyembunyikan penolakan mereka di balik tirai tipis. Seperti itu pula alasan kenapa ayat Thathhîr juga disisipkan di antara ayat-ayat lain. Namun setiap orang yang jujur dan berakal sehat dapat menangkap makna sejatinya dan dapat melihat independensi ayat ini. Begitu pula dengan ayat “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu,” dan ayat “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dan Tuhanmu.”

Ayat “Walimu hanyalah Allah “

Ada beberapa ayat lain berkenaan dengan persoalan ini yang menarik untuk dipikirkan dengan seksama. Ayat-ayat ini rasanya memiliki makna khusus. Makna khusus ini dapat dipahami dengan bantuan riwayat-riwayat mutawatir saja. Salah satu ayat ini mengatakan sebagai berikut:

Sesungguhnya walimu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang mendirikan salat dan menunaikan zakat sementara mereka rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)

Menunaikan zakat sembari rukuk bukanlah prosedur biasa atau normal. Maka tak dapat dikatakan bahwa hal ini disebutkan sebagai norma umum. Karena itu ayat ini pasti berkenaan dengan peristiwa tertentu. Ayat ini mengisyaratkan ke arah peristiwa ini sedemikian rupa sehingga kalau ditolak tidak dapat dianggap melawan Al-Qur’an. Namun setiap orang yang tak berprasangka akan mudah berkesimpulan bahwa ayat ini berkenaan dengan peristiwa tertentu yang tidak biasa. Orang-orang yang menunaikan zakat sembari rukuk tidak merujuk ke praktik yang lazim. Ayat ini mengindikasikan suatu peristiwa yang luar biasa. Peristiwa apa itu? Kita tahu bahwa baik kaum Syiah maupun kaum Sunni sepakat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali as.

Apa Kata Ahli Irfan

Ada beberapa ayat lain yang artinya baru dapat diketahui setelah melalui pemikiran yang mendalam. Itulah sebabnya ahli-ahli irfan* mengatakan bahwa masalah imamah dan wilayah merupakan sisi dalam dari hukum Islam. Itulah juga yang dipercaya kaum Syiah. Karena itu ahli-ahli irfan sangat bagus pengungkapannya mengenai konsepsi ini. Untuk memahami masalah Imamah, perlu masuk ke intinya, karena pada dasarnya masalah imamah membutuhkan pemikiran yang mendalam. Hanya orang-orang yang memiliki kualitas ini sajalah yang dapat memahami dengan baik masalah ini. Mereka mengajak orang untuk juga masuk ke inti masalah ini. Ada yang menanggapi, dan ada pula yang tidak. Sekarang kita lihat ayat lain, agar logika argumen kaum Syiah bisa dipahami sepenuhnya.

Konsep Imamah

Dalam Al-Qur’an ada sebuah ayat yang termasuk dalam rangkaian ayat yang tengah kita bahas. Ayat luar biasa ini tidak berkaitan dengan pribadi Imam Ali as, namun membicarakan doktrin imamah dalam arti yang sudah kami jelaskan, dan sekarang akan kami jelaskan dengan singkat.

Seperti sudah kami katakan, kekeliruan lama teolog-teolog ilmiah Muslim adalah membahas masalah imamah dengan cara seakan-akan konsepsi imamah kaum Syiah maupun kaum Sunni sama namun hanya saja perbedaan kedua kaum ini soal kondisinya saja. Kaum Syiah mengatakan bahwa imam haruslah maksum dan diangkat melalui keputusan Allah SWT, sedangkan kaum Sunni tidak mengakui sudut pandang itu. Fakta aktualnya adalah bahwa kaum Sunni sama sekali tidak mempercayai konsepsi imamah yang diyakini kaum Syiah. Imamah yang diyakini kaum Sunni hanyalah aspek duniawi dan salah satu fungsi dari imamah yang sesungguhnya. Mengenai kenabian, kita juga melihat bahwa Nabi saw adalah pemimpin umat Muslim, namun kepemimpinan ini atau kedudukannya sebagai pemimpin negara hanyalah salah satu fungsinya sebagai seorang Nabi. Kepemimpinannya tidak berarti bahwa kenabian dan kepemimpinan sinonim. Kenabian adalah sebuah realitas yang begitu banyak sisinya. Salah satu sifat khas seorang nabi adalah kalau ada nabi maka siapa pun selain nabi tak dapat menjadi penguasa atau pemimpin umat Muslim. Kaum Sunni mengatakan bahwa imamah berarti tak lebih dari administrasi pemerintahan dan bahwa imam adalah kepala administrasi ini atau penguasa kaum Muslim. Dia dipilih oleh kaum Muslim dari kalangan mereka sendiri. Konsep Sunni tentang imam tak lebih dari status kepala negara Muslim. Namun menurut Syiah, imamah adalah sebuah posisi yang sama dengan kenabian, dan dalam beberapa hal bahkan lebih tiriggi daripada Kenabian. Para nabi papan atas, mereka itu juga imam. Banyak nabi yang sama sekali bukan imam. Bahkan para nabi papan atas mendapat tugas imamah jauh setelah mereka jadi nabi.

Pendek kata, kalau kita mengakui bahwa imamah adalah seperti kenabian, maka kita juga harus akui bahwa karena adanya seorang nabi yang memiliki aspek manusia super maka tak ada masalah siapa yang jadi penguasa, adanya seorang imam maka tak ada masalah siapa yang jadi penguasa. Masalah ini baru muncul ketika tak ada imam, entah karena imam sama sekali tak ada atau karena imam tengah gaib seperti yang tengah terjadi di zaman kita ini. Kita tak boleh mencampuradukkan masalah imamah dengan masalah pemerintahan dan kemudian bertanya apa kata kaum Sunni dalam hal ini dan bagaimana pandangan Syiah. Sesungguhnya masalah pemerintahan beda dengan masalah imamah. Menurut kaum Syiah, imamah merupakan sebuah fenomena yang persis seperti fenomena kenabian, dan itu juga seperti derajat tertingginya. Maka dari itu kaum Syiah mempercayai imamah, sedangkan kaum Sunni tidak. Menurut kaum Sunni, syarat yang diperlukan bagi seorang imam beda.

Imam dalam Keturunan Nabi Ibrahim as

Ayat yang sekarang ingin kami kutip dengan jelas menunjukkan konsep imamah yang diyakini kaum Syiah. Kaum Syiah berpendapat ayat ini menunjukkan bahwa ada sebuah kebenaran yang disebut imamah, dan bahwa adanya bukan saja selama periode setelah wafatnya Nabi saw namun juga sejak datangnya para nabi dan akan terus eksis dalam keturunan Nabi Ibrahim as sampai akhir zaman. Al-Qur’an mengatakan:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan aku mohonjuga) dari keturunanku. “Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orangyang zalim.” (QS. al-Baqarah: 124)

Ujian Nabi Ibrahim as—Perintah untuk Hijrah ke Hijaz

Al-Qur’an sendiri menyebutkan sejumlah ujian yang harus dihadapi Nabi Ibrahim as. Ujian itu antara lain berupa perjuangan Nabi Ibrahim as melawan Namrud beserta pengikut-pengikutnya, sehingga Ibrahim as sampai dibakar dan mengalami beberapa peristiwa lainnya. Salah satu peristiwa ini adalah Ibrahim as menerima perintah yang tak dapat dilaksanakan oleh siapa pun yang belum sepenuhnya menaati Allah SWT. Ibrahim as belum memiliki anak. Untuk pertarna kalinya istrinya, Hajar, melahirkan seorang anak pada usia tujuh puluh delapan tahun. Nabi Ibrahim as menerima perintah Allah SWT untuk pergi dari Syria ke Hijaz, membawa istri dan anaknya ke tempat yang sekarang menjadi lokasi Masjidil Haram. Perintah ini tidak sesuai dengan logika apa pun kecuali logika kepatuhan diri yang total. Karena yakin bahwa itu adalah perintah Allah SWT yang diterimanya melalui wahyu, Ibrahim as menjalankan perintah itu. Ibrahim as berkata:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau (Baituttah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka menegakkan salat. (QS. Ibrahim: 37)

Perintah Menyembelih Putranya

Yang lebih mengherankan daripada peristiwa-peristiwa ini adalah kisah tentang Nabi Ibrahim as menyembelih putranya di Mina. Untuk selalu mengenang kepatuhan diri yang luar biasa ini, maka kita sekarang berkorban kambing (karena kita melaksanakan perintah Allah SWT, maka dalam hubungan ini tak ada pertanyaan kenapa dan untuk apa). Setelah dua atau tiga kali bermimpi seakan-akan sedang mengorbankan putranya, Ibrahim as yakin bahwa itu adalah perintah Allah SWT kepadanya untuk melakukan yang demikian. Ibrahim as menuturkan hal ini kepada putranya. Putranya setuju dan mengatakan, “Ayah, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah akan engkau dapati aku setia dan tabah.” Al-Qur’an menggambarkan peristiwa yang luar biasa ini. Keduanya sudah pasrah taat (kepada Allah SWT) dan dia sudah siap menyembelih putranya (pada akhirnya ketika Ibrahim as mutlak yakin mau menyembelih putranya, dan sang putra, Ismail, sudah tak ragu lagi bahwa kepalanya akan disembelih):

Dan Kami panggillah dia: “Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah melaksanakan mimpi itu.” (QS. ash-Shâffât: 104-105)

Yang dikatakan Allah SWT adalah bahwa Allah SWT sesungguh nya tidak menghendaki kepala Ismail as dipotong. Allah SWT hanya ingin melihat kepatuhan total Ibrahim dan Ismail kepada kehendak-Nya, dan ternyata keduanya memang sangat patuh.

Al-Qur’an dengan jelas mengatakan bahwa Allah SWT mengaruniakan seorang putra kepada Nabi Ibrahim as ketika usianya sudah lanjut. Dikatakan ketika para malaikat mendatanginya dan mengatakan bahwa dia akan dianugerahi seorang putra oleh Allah SWT, istrinya berkata:

Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku seorang perempuan tua dan suamiku pun sudah tua pula? Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan berkah-Nya dicurahkan atas kamu, wahai Ahlutbait. ” (QS. Hûd: 72-73)

Menurut ayat ini, Allah SWT menganugerahkan seorang putra kepada Ibrahim as ketika Ibrahim as sudah tua. Ketika masih muda, Ibrahim as belum dikaruniai anak. Ketika mendapat anak, Ibrahim as sudah jadi Nabi. Dalam Al-Qur’an banyak ayat tentang Ibrahim as. Ayat-ayat itu menunjukkan bahwa Ibrahim as mendapat anak ketika berusia tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Ishaq as dan Ismail as tumbuh besar. Ismail as menjadi dewasa dan membantu ayahnya membangun Ka’bah. Al-Qur’an mengatakan:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa perintah, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berftrman: “Sesungguh nya Aku akan menjadikanmu seorang Imam bagi umat manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan aku mohon juga) dari keturunanku. ” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (QS. al-Baqarah: 124)

Apakah ayat-ayat ini berkenaan dengan masa muda Ibrahim as? Tak dapat dipungkiri, ayat-ayat ini berbicara tentang ketika Ibrahim as sudah menjadi Nabi, karena ayat-ayat ini berbicara tentang wahyu. Ayat-ayat ini berkenaan dengan masa tua Ibrahim as, karena ayat-ayat ini berbicara mengenai ujian demi ujian yang dilalui Nabi Ibrahim as. Ujian demi ujian ini terjadi di sepanjang hayat Ibrahim as. Ujian yang paling penting terjadi ketika Ibrahim as sudah lanjut usia. Dalam ayat-ayat ini disebut-sebut keturunan Ibrahim as. Itu menunjukkan bahwa ketika percakapan ini berlangsung, Ibrahim as setidak-tidaknya sudah memiliki seorang anak.

Sesungguhnya, menurut ayat ini, Ibrahim as diangkat menjadi Imam menjelang akhir hayatnya. Ayat ini mengatakan bahwa Aku telah menjadikan engkau Imam bagi umat manusia. Jadi Ibrahim as diberi tugas baru. Itu menunjukkan bahwa Ibrahim as sudah menjadi Nabi dan Rasul Allah. Namun masih ada satu tahap yang sampai saat itu belum dicapainya. Tahap itu baru dicapainya setelah sukses melewati semua ujian. Bukankah itu menunjukkan bahwa, menurut Al-Qur’an, ada satu lagi realitas yang namanya adalah imamah? Sekarang apa artinya?

Imamah Adalah Perjanjian Dahi

Arti imamah adalah tahap menjadi manusia sempurna dan pemimpin sempurna. Ketika Ibrahim as diangkat menjadi Imam, dia lantas memikirkan keturunannya. Ibrahim as berkata, “Bagai-mana dengan keturunanku?” Allah SWT menjawab, “Perjanjian-Ku tidak mengenai orang yang zalim.” Di sini imamah digambarkan sebagai perjanjian Allah SWT. Itulah sebabnya kaum Syiah mengata kan bahwa imamah yang diyakini kaum Syiah adalah ilahiah sifatnya. Al-Qur’an juga menggambarkan imamah sebagai “Perjanjian-Ku.” Imamah adalah perjanjian Allah SWT, bukan perjanjian manusia. Kalau kita mempertimbangkan fakta bahwa imamah beda dengan perwalian komunitas Muslim, maka kita tak akan heran bahwa imamah adalah tugas atau misi ilahiah. Orang bertanya siapa yang membentuk pemerintahan, Allah SWT atau manusia? Kami katakan bahwa soal pemerintahan beda dengan soal imamah. Allah SWT berfirman kepada Ibrahim as, “Imamah adalah perjanjian-Ku, dan imamah tidak akan mengenai orang yang zalim di antara keturunanmu. Menjawab pertanyaan Ibrahim as, Allah SWT tidak mengatakan “Tidak” dan juga tidak mengatakan “Ya” kepadanya. Allah tidak memasukkan orang yang zalim dalam ruang lingkup imamah. Karena itu, yang masuk dalam ruang lingkup imamah adalah keturunan Ibrahim as yang tidak zalim. Ayat ini menunjukkan bahwa imamah akan selalu ada di antara mereka. Dalam hal ini ada satu ayat lagi:

Dan (Ibrahim) membuat sebuah kalimat jadi kekal pada keturunannya. (QS. az-Zukhruf: 28)

Siapakah Orang yang Zalim?

Sekarang pertanyaannya adalah apa yang dimaksud dengan orang yang zalim. Para imam mendasarkan argumen-argumen mereka pada digunakannya istilah ini dalam ayat ini. Dari sudut pandang Al-Qur’an, setiap orang yang tidak adil kepada dirinya sendiri atau orang lain, maka dia itu orang yang zalim. Dalam bahasa biasa, orang yang zalim adalah orang yang melanggar hak orang lain. Namun menurut terminologi Al-Qur’an, orang yang tidak adil terhadap dirinya sendiri juga adalah orang yang zalim. Banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa orang yang melakukan pelanggaran atas dirinya sendiri disebut orang yang zalim.

Dalam kaitannya dengan pertanyaan Nabi Ibrahim as tentang keturunannya, ‘Allamah Thabathaba’i mengutip salah seorang gurunya yang mengatakan bahwa keturunan Nabi Ibrahim as, dari sudut pandang baik atau buruk, dapat dibagi menjadi empat golongan: (1) yang sepanjang hayatnya zalim; (2) yang pada awal-nya zalim, namun kemudian saleh; (3) yang pada awalnya saleh namun kemudian jadi zalim; (4) yang tidak pernah zalim.

Nabi Ibrahim as sepenuhnya menyadari pentingnya jabatan tinggi imamah yang dikaruniakan kepadanya setelah dia lama menjadi Nabi. Dengan demikian mustahil kalau Ibrahim as meminta posisi ini bagi keturunannya yang sepanjang hayatnya zalim atau yang pada awalnya baik namun kemudian jadi zalim. Nabi Ibrahim as tentu minta posisi ini hanya bagi keturunannya yang baik. Karena itu keturunannya yang baik adalah yang sepanjang hayatnya baik dan yang tidak baik pada awalnya namun di kemudian hari jadi baik. Tentu saja Ibrahim as tak akan minta posisi ini bagi keturunannya yang tidak termasuk dalam dua golongan ini. Sekarang kita lihat apa kata Al-Qur’an, “Perjanjian-Ku tidak mengenai orang-orang yang zalim,” Jelaslah pertanyaan Ibrahim as tidak mencakup keturunannya yang zalim sepanjang hayatnya atau yang baik pada awalnya namun di kemudian hari jadi zalim. Karena itu apa yang dikatakan Al-Qur’an- sama saja dengan perkataan bahwa keturunan Ibrahim as yang pernah tercela tidak akan mengemban imamah. Berdasarkan inilah kaum Syiah berargumen bahwa keturunan Ibrahim as yang pernah jadi orang musyrik pada waktu kapan pun, tidak tepat untuk mengemban imamah.

Pertanyaan dan Jawaban

Tanya: Apa arti maksum? Apakah konsepsi maksum merupakan produk sampingan dari logika Syiah, ataukah ada dasarnya yang selanjutnya kita kembangkan? Siapakah orang yang maksum itu, apakah dia adalah orang yang tidak berbuat dosa atau apakah dia yang selain tidak berbuat dosa juga tidak berbuat keliru? Sekitar dua puluh tahun silam saya mengikuti kuliah almarhum Mirza Abdul Hasan Faroghi. Almarhum pernah melakukan studi khusus mengenai masalah kemaksuman dan memberikan pandangannya mengenai hal ini. Kuliahnya terperinci dan bagus. Namun delapan puluh persen kuliahnya itu tak dapat saya mengerti. Dari dua puluh persen yang saya pahami saya berkesimpulan bahwa almarhum menjelaskan kemaksuman dengan cara yang luar biasa. Almarhum mengatakan bahwa orang yang maksum bukanlah orang yang tidak berbuat dosa, karena banyak sekali orang yang tak pernah berbuat dosa di sepanjang hayatnya.

Namun orang-orang seperti ini tidak disebut maksum. Sekarang saya tak ada kaitannya dengan pembicaraan itu. Saya ingin tahu siapakah orang yang maksum itu. Kalau orang yang maksum adalah orang yang tidak berbuat keliru, saya melihat bahwa dari dua belas imam hanya dua saja, yaitu Imam Ali as dan untuk periode yang pendek Imam Hasan as, yang mengemban khilafah, dan bahkan keduanya ini telah melakukan kekeliruan dalam memerintah negara. Hal ini, dari sudut pandang sejarah, tak dapat diperselisihkan. Posisi ini tidak sesuai dengan definisi maksum. Misal, kita tahu bahwa Imam Hasan as memberi kan tugas khusus kepada Ubaidullah bin Abbas untuk menghadapi Muawiyah. Imam Ali as sendiri mengangkat Abdullah bin Abbas menjadi Gubernur Basrah. Tentu saja Imam Ali as tak akan mengangkatnya kalau saja beliau tahu aib yang akan ditimbulkannya dan betapa kotor perilakunya. Ini artinya bahwa Imam Ali as sebelumnya tidak tahu konsekuensi tindakannya. Imam Ali as mengira telah memilih orang terbaik untuk tugas khusus itu, namun Ibn Abbas ternyata tak seperti yang diharapkan Imam Ali as. Kalau kita telaah lebih lanjut periode pemerintahan Imam Ali as, maka akan kita temukan banyak contoh lagi yang seperti ini.

Dari sudut pandang sejarah, kekeliruan seperti itu tidak mengapa, meski tidak sesuai dengan definisi kemaksuman ini. Seperti telah saya katakan, tidak ada gunanya diskusi sepihak yang partisipannya hanya menerima ideologi tertentu saja. Alasannya adalah bila seseorang memiliki keyakinan tertentu, maka dia mulai menyukainya dan tak mau mendengarkan keyakinan lain yang bertentangan dengan keyakinannya. Prinsip ini khususnya berlaku pada kita, kaum Syiah, yang di hatinya telah ditanamkan kecintaan kepada Syiah dan keluarga Imam Ali as sejak kecil dan yang tak pernah mendengar kritik terhadap mereka. Mungkin saja kita pernah mendengar kritik terhadap agama kita, prinsip-prinsipnya dan bahkan terhadap tauhid.dan kereligiusan, namun tak pernah mendengar orang mengkritik Syiah, para imam atau tindakan para imam. Itulah sebabnya kita merasa sangat gelisah kalau ada orang melontarkan penentangan terhadap, rriisalnya, Imam Hasan as. Mau mendengarkan apa pun penentangan terhadap Imam Husain as, merupakan sesuatu yang jauh lebih sulit.

Anda telah menekankan ayat yang mengatakan, “Mereka yang menegakkan salat dan membayar zakat sementara mereka tengah rukuk.” Anda telah berargumen bahwa ayat ini berkenaan dengan Imam Ali as, dan turun berkaitan dengan Imam Ali as yang memberikan cincinnya ketika Imam Ali as tengah rukuk. Menurut hemat saya, argumen ini tidak begitu sahih dan logis, karena kita mendengar dan membaca dalam riwayat hidup Imam Ali as bahwa ketika salat Imam Ali as begitu khusyuk kepada Allah SWT sehingga Imam Ali as tidak dapat tahu siapa pun. Juga disebutkan bahwa ketika berwudu Imam Ali as tidak tahu siapa yang lewat di depannya. Lantas mana mungkin orang seperti ini sedemikian waspada ketika tengah salat, buktinya dia memberikan cincinnya kepada seorang peminta-minta yang muncul di depannya, padahal orang lain tak mau memberikan apa pun kepada peminta-minta ini. Lagi pula, tidak baik memberikan uang kepada peminta-minta. Paling tidak, memberikan uang kepada peminta-minta tidak begitu penting sehingga sampai harus merusak salat. Padahal cincin tidak dikenai zakat. Menurut para faqih Syiah, cincin bukan termasuk yang dikenai zakat. Selain itu, sebagian orang yang sempit pikirannya, dengan maksud membesar-besarkan peristiwa ini, mengatakan bahwa cincin sangatlah mahal, padahal kita tahu bahwa Imam Ali as tak pernah mengenakan cincin yang mahal.

Jawab: Mengenai masalah kemaksuman, tidak banyak orang yang berpandangan lain. Namun memang baik kalau bertanya. Apa arti maksum? Terkadang orang cenderung mengira bahwa Allah SWT selalu mengawasi orang-orang pilihan tertentu dan tidak mau kalau orang-orang pilihan ini berbuat dosa. Kalau mereka ini bermaksud melakukan dosa, Allah SWT mencegah mereka agar tidak melaksanakan niat mereka. Tentu saja, itu bukanlah maksum. Bahkan seandainya begitu, kemaksuman tidak memberikan sesuatu yang andal. Jika seseorang selalu mengawasi anaknya, dan tak mau anaknya berbuat salah, maka hal itu tak dapat dianggap bahwa anak itu memiliki keunggulan. Namun ada makna lain kemaksuman yang dapat disimpulkan dari Al-Qur’an. Dalam kisah tentang Nabi Yusuf as yang digoda oleh seorang wanita, Al-Qur’an mengatakan:

Sesungguhnya wanita telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat argumen Tuhannya. (QS, Yusuf: 24)

Bagaimanapun juga Nabi Yusuf as adalah seorang manusia. Dia muda dan memiliki dorongan naluriah. Wanita itu ada hasrat dengannya, namun Yusuf as tidak. Kalau saja Yusuf as tidak tahu bahwa dirinya diawasi oleh Allah SWT, tentu dia akan melakukan perbuatan itu. Iman yang sempurna yang dimiliki Yusuf as membuat Yusuf as tidak melakukan perbuatan dosa dan membuat Yusuf as menyadari konsekuensi buruknya.

Tanpa campur tangan kekuatan dari luar, masing-masing kita tidak melakukan banyak dosa dan kesalahan karena kita semua sepenuhnya yakin akan konsekuensi berbahayanya. Misal, dosa kalau kita menjatuhkan diri dari lantai empat sebuah gedung atau terjun ke dalam kobaran api. Kita tak pernah melakukan dosa seperti itu, karena kita sadar betul bahayanya. Kita tahu, kalau memegang kawat beraliran listrik maka kita akan langsung mati. Kita baru melakukan perbuatan dosa ini kalau kita tidak tahu bahayanya. Tanpa ragu-ragu seorang anak kecil menyentuh api, karena dia tidak tahu bahayanya. Takwa merupakan karakter orang saleh, karena itu dia tak melakukan banyak dosa. Karakternya ini membuat dirinya maksum pada tingkat tertentu. Karena itu kemaksuman tergantung pada iman dan keyakinan. Kita yakin bahwa perbuatan tertentu berdosa karena perbuatan itu dilarang oleh agama kita. Kita katakan bahwa karena Islam melarang minum minuman keras, maka kita tidak minum minuman keras, dan karena Islam melarang judi, maka kita tidak berjudi. Kita kurang lebih tahu bahwa hal-hal ini buruk. Namun risikonya perbuatan-perbuatan dosa seperti ini bagi kita tidak sejelas risikonya menjatuhkan diri ke dalam kobaran api. Kalau kita yakin akan akibat dosa-dosa ini, seperti yakinnya kita akan akibat menjatuhkan diri ke dalam kobaran api, tentu kita akan maksum sejauh menyangkut dosa-dosa ini. Karena itu, maksum berarti iman dan keyakinan yang sempurna. Barangsiapa mengatakan, “Meskipun tabir disingkapkan maka keyakinanku tak akan bertambah,”[2] maka tentu dia itu maksum, karena dia sudah dapat melihat dengan jelas apa yang ada di balik tabir. Dia dapat merasakan jika dia berkata kasar kepada orang maka dia seakan-akan digigit kalajengking, dan karena itulah dia tak akan berkata sembarangan. Al-Qur’an sendiri menyebutkan beberapa contoh iman yang tingkatannya seperti ini. Itulah sebabnya disebutkan bahwa kemaksuman adalah istilah relatif, dan kemaksuman ada beberapa derajat dan tahapnya.

Orang yang maksum tak akan pernah melakukan perbuatan dosa yang terkadang kita lakukan dan terkadang kita jauhi. Orang seperti ini tanpa cela. Meskipun demikian, orang maksum ada derajat dan tahapannya, sehingga mereka tidak sama. Dalam tahap-tahap tertentu, mereka seperti kita. Kalau kita tidak kebal dari melakukan perbuatan dosa, maka mereka tidak kebal dari melakukan kekeliruan tertentu. Mereka tidak melakukan apa pun yang kita anggap dosa, namun mereka bisa saja melakukan hal-hal tertentu yang mereka sendiri menganggapnya dosa meskipun kita tidak menganggapnya dosa, karena kita belum sampai pada tahap yang sudah mereka capai. Kalau seorang siswa kelas 5 dapat menjawab soal kelas 6, maka siswa itu patut dipuji dan diberi hadiah. Namun jika siswa kelas 9 dapat menjawab soal kelas 6, maka dia tak patut dipuji. Bisa saja baik bagi kita namun dosa bagi or ang maksum. Seperti kata pepatah, “Bagi kita makanan, namun bagi orang lain racun.”

Itulah sebabnya kita melihat Al-Qur’an mengatakan bahwa beberapa nabi tidak taat.

Dan Adam tidak menaati Tuhannya, dan sesatlah dia. (QS. Thâhâ: 121)

Kepada Nabi Muhammad saw Allah SWT berfirman yang artinya sebagai berikut:

Supaya Allah memberi ampunan kepadamu atas dosamu yang telah lalu dan akan datang. (QS. al-Fath: 2)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kemaksuman merupakan istilah yang relatif. Para nabi dan para Imam adalah maksum menurut kapasitas mereka dan kita menurut kapasitas kita. Karakter esensial kemaksuman melindungi dari dosa. Ruang lingkup perlindungan ini tergantung pada tingkat kesempurnaan iman. Kalau orang berada pada tahap “kalau bukan karena dia tahu argumen Tuhannya” maka imannya sempurna. Maksum sifatnya otomatis. Orang yang maksum tidaklah seperti kita yang memiliki keinginan untuk berbuat dosa, namun karena Allah SWT mengutus seseorang untuk mencegahnya berbuat dosa maka dia pun tidak berbuat dosa. Kalau maksum itu seperti ini, maka tak ada bedanya antara kita dan Imam Ali as, dan Imam Ali as berarti seperti kita, yaitu ada keinginan untuk berbuat dosa. Imam Ali as tidak berbuat dosa karena Allah SWT mengutus seseorang untuk mencegahnya berbuat dosa, sedangkan untuk kita, Allah SWT tidak mengutus siapa-siapa untuk mencegah kita berbuat dosa. Kalau ada yang mencegah seseorang berbuat dosa, maka orang itu tak patut dipuji. Misal seseorang mencuri, namun saya tidak mencuri karena saya selalu diawasi oleh pengawas. Kalau begini, saya tak ubahnya seperti dia, cuma bedanya dia tak ada yang mencegahnya melakukan pencurian, sedangkan saya ada yang mencegahnya. Karena itu saya tak patut dipuji.

Unsur utama kemaksuman adalah ketidakmampuan berbuat dosa. Ketidakmampuan berbuat salah sungguh beda sekali. Kita tak dapat mengatakan bahwa Nabi Saw bisa saja salah dalam menyampaikan risalah atau bisa saja menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diwahyukan kepadanya, seperti yang sering terjadi pada utusan-utusan biasa yang terkadang menyampai kan pesan yang salah. Mengenai Nabi saw, mustahil untuk mengata kan bahwa dalam menyampaikan risalah Nabi saw bisa saja keliru.

Mengenai pertanyaan lain, si penanya terburu-buru dalam berkesimpulan. Dia bahkan telah berbuat zalim terhadap Imam Ali as. Kalau saja dia berada di posisi Imam Ali as, betulkah dia tidak akan memilih Ubaidullah bin Abbas? Tidak mengapa kalau membuat kesimpulan spekulatif dalam masalah-masalah sejarah seperti itu. Siapa pun akan mudah mengatakan bahwa dia merasa sebaiknya si polan tidak berbuat begitu lima ratus tahun silam, namun semestinya berbuat begini. Jika seseorang bertanya kepadanya apakah benar begitu, maka dia akan mengatakan bahwa itu hanyalah perkiraan pribadinya saja. Namun berbahaya kalau membuat kesimpulan pasti dalam masalah-masalah seperti itu, bukan saja mengenai Imam Ali as namun juga mengenai individu lain juga. Imam Ali as tahu situasi yahg berkembang. Dia lebih tahu Abdullah bin Abbas dan sahabat-sahabat lainnya ketimbang kita. Namun kita tetap saja mengatakan kalau saja Imam Ali as memilih orang lain, bukan memilih Abdullah bin Abbas, tentu akan lebih baik. Ini merupakan kesimpulan terburu-buru. Anda sendiri selalu mengatakan bahwa Imam Ali as memiliki kebijakan khususnya sendiri dan Imam Ali as tak mau bergeser sedikit pun. Namun tak ada yang mendukung kebijakan Imam Ali as.

Imam Ali as selalu mengatakan bahwa tak ada yang mendukungnya. Abdullah bin Abbas ini dan lainnya sering menasihati Imam Ali as agar fleksibel. Mereka mendesak Imam Ali as untuk melakukan apa yang sekarang disebut diplomas!. Saya minta Anda membuktikan bahwa cukup banyak orang untuk dipilih oleh Imam Ali as namun Imam Ali as salah pilih. Saya misalnya tak dapat membuktikan hal itu. Yang saya tahu hanyalah bahwa Nabi saw telah mengangkat Imam Ali as sebagai penerusnya. Imam Ali as sendiri mengeluh kenapa kekhalifahan dirampas dari tangannya. Ketika sepeninggal Utsman bin Affan, orang-orang mendatangi Imam Ali as untuk berbaiat kepada Imam Ali as, Imam Ali as mengatakan, “Carilah orang lain saja, karena aku tengah menghadapi suatu situasi yang multi-dimensi. Situasinya sudah gelap, dan tanpa disadari rutenya sudah menyimpang.” Maksud Imam Ali as adalah bahwa kondisinya sangat buruk, dan Imam Ali as tak ada pendukungnya yang dapat membantunya untuk memperbaiki kondisi dan untuk mereformasi masyarakat. Kemudian Imam Ali as mengatakan apa yang sama dengan perkataan: “Namun aku tak punya alasan untuk dimaafkan. Kalau aku beralasan, maka sejarah tak akan menerimanya. Orang akan mengatakan bahwa karena ceroboh maka Ali kehilangan kesempatan. Meskipun sesungguhnya itu bukan kesempatan. Aku terima usulan Anda agar sejarah tidak menyalahkanku.” Dengan demikian Imam Ali as sendiri mengakui bahwa dirinya tidak memiliki cukup pendukung, dan belum tepat waktunya baginya untuk menjadi Khalifah.

Orang mungkin meragukan sesuatu, namun sejarah pun tidak ragu bahwa Imam Ali as percaya klaimnya atas kekhalifahan lebih kuat ketimbang klaim siapa pun. Kaum Sunni mengakui bahwa Imam Ali as memandang dirinya sebagai kandidat yang lebih tepat dan absah untuk mengemban kekhalifahan ketimbang Abu Bakar dan Umar. Namun ketika sepeninggal Utsman orang pada men-datanginya dan memintanya menerima kekhalifahan, Imam All as menolak dan mengatakan lebih memilih untuk tetap jadi penasihat dan pembimbing ketimbang jadi penguasa. Dari sini jelas bahwa Imam Ali as tak memiliki cukup pendukung yang kompeten. Kenapa demikian? Itu lain soal.

Mengenai ayat “Mereka menegakkan salat dan membayar zakat sembari rukuk.” Anda katakan bahwa cincin tidak dikenai zakat. Sesungguhnya yang dizakati antara lain adalah segala yang diberikan untuk tujuan kebaikan. Penggunaannya di zaman sekarang ini sebagai sebuah istilah teknis untuk zakat yang wajib itu, itu merupakan istilah para faqih. Dalam Al-Qur’an kata ini digunakan dalam pengertian ini. Zakat artinya adalah penyucian harta dan uang. Kata ini juga digunakan dalam kaitannya dengan penyucian rohani. Di berbagai tempat Al-Qur’an menggambarkan mengeluarkan sesuatu demi Allah sebagai zakat harta, zakat jiwa, dan zakat diri. Begitu pula dengan kata “shadaqah” (derma, sedekah). Dewasa ini kata ini memiliki arti khusus. Misal, kita mengatakan “bersedekah secara diam-diam,” namun menurut Al-Qur’an setiap perbuatan baik itu disebut shadaqah. Jika Anda membangun sebuah rumah sakit atau menulis sebuah buku bermanfaat, berarti Anda melakukan, dalam kata-kata Al-Qur’an, sedekah jariyah. Itulah sebabnya mengapa kaum Sunni yang tidak menerima konsepsi yang disimpulkan dari ayat ini bahkan tidak keberatan dengan kata ini. Orang yang akrab dengan literatur Arab pasti tahu bahwa zakat tidak selalu berarti zakat wajib saja.

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa Imam Ali as memberikan cincinnya ketika tengah rukuk. Ini merupakan keberatan yang juga dilontarkan oleh sebagian tokoh awal seperti Fakhruddin Razi. Mereka mengatakan bahwa Ali as selalu sedemikian khusyuk ketika salat sehingga dia tak pernah tahu apa yang tengah terjadi di sekitarnya. Lantas bagaimana semua ini bisa terjadi ketika dia tengah salat? Untuk menjawabnya, dapat dikatakan bahwa memang Imam Ali as selalu sedemikian khusyuk bila sedang salat, namun ada fakta lain bahwa keadaan orang-orang suci tidak selalu sama. Menurut riwayat, Nabi saw terkadang sedemikian dikuasai oleh hasrat untuk menunaikan salat sehingga Nabi saw tak bisa menunggu selesainya azan yang dikumandangkan Bilal, sehingga Nabi saw minta supaya Bilal cepat-cepat menyelesaikan azannya. Terkadang ketika Nabi saw tengah sujud, si kecil Imam Hasan as, Imam Husain as atau cucu lainnya sering mendatangi Nabi saw dan naik di atas bahu Nabi saw, dan Nabi saw menunggu dengan tenang sampai anak itu turun. Pernah ketika tengah berdiri dalam salat, ada air ludah di depan Nabi saw. Nabi saw lalu melangkah ke depan, menutupnya dengan debu dengan menggunakan kakinya dan kemudian kembali ke tempat semula. Dari kejadian ini para faqih menyimpulkan sejumlah aturan berkenaan dengan salat.

Bahrul Ulum mengatakan, “Orang paling mulia ini berjalan ketika tengah salat. Kejadian ini menjawab banyak pertanyaan.” Berdasarkan kejadian tersebut, para faqih, misalnya, menetapkan sejumlah tindakan yang tidak relevan dengan salat namun dibolehkan dalam salat. Juga dibuat sejumlah aturan lainnya. Semua ini menunjukkan bahwa orang-orang suci ini keadaan spiritualnya berbeda-beda, dan sikap mereka, sesuai dengan keadaan masing-masing, berbeda-beda pada kesempatan yang berbeda-beda pula.

Ada satu poin lain. Para ahli irfan, sesuai dengan keadaan masing-masing, mengatakan bahwa bila orang mencapai keadaan spiritual yang sempurna, yaitu dia hanya cenderung kepada Allah SWT, maka dia akan kembali ke dunia ini. Dengan kata lain, dalam keadaan ini, yang jadi perhatiannya hanyalah Allah SWT dan ciptaan-Nya. Itulah yang dikatakan kaum ahli irfan, dan saya setuju dengan pandangan mereka, meskipun banyak orang tidak dapat menerimanya.

Keadaan spiritual lainnya adalah keadaan melepaskan raga. Orang-orang yang mencapai tahap ini, pada awalnya melepaskan raga mereka selama satu atau dua detik atau paling banter sekitar satu jam. Namun sebagian orang pada akhirnya sampai di suatu tahap ketika mereka selalu dalam keadaan seperti ini. (Saya percaya itu dan secara pribadi melihatnya.) Terkadang Anda melihat beberapa orang duduk-duduk bersama Anda seperti orang biasa, namun sesungguhnya mereka tengah berada dalam keadaan seperti ini. Menurut orang-orang ini, keadaan ketika anak panah dicabut dari tubuh Imam Ali as ketika Imam Ali as tengah salat tanpa beliau menyadarinya, merupakan keadaan yang lebih rendah dibanding keadaan ketika Imam Ali as memberikan cincinnya kepada peminta-minta dengan Imam Ali as tetap khusyuk kepada Allah SWT. Meski Imam Ali as sedemikian khusyuk kepada Allah SWT, Imam Ali as tetap melihat seluruh dunia. Dengan adanya semua bukti ini, maka kejadian seperti ini tak dapat dipungkiri.


[1] Dia sangat dihormati oleh kaum Syiah dan dianggap sebagai istri Nabi yang sangat terkenal setelah Khadijah. Dia juga sangat dihormati oleh kaum Sunni. Menurut mereka, kedudukannya nomor tiga setelah Khadijah dan Aisyah.

* Irfan adalah istilah yang digunakan dalam konteks kultur Islam Iran, untuk menggambarkan sintesis fllsafat, teologi spekulatif dan pemikiran mistis yang muncul pada periode akhir Abad Pertengahan yang bertahan hingga kini—pen. (Middle East Journal, Jil. 46, No. 4, Musim Gugur 1992, hal. 632).

[2] Imam Ali as, menurut riwayat, berkata demikian. (Safinah al-Bihâr, Jil. 2)

Imamah atau ke-imaman dari segi bahasa adalah kepemimpinan dan setiap orang yang memiliki kedudukan sebagai seorang pemimpin disebut dengan imam (yang mana kata jamaknya adalah aimmah), baik memimpin di jalan yang benar maupun di jalan yang batil.
.
Allah Swt. berfirman:
Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (QS. Al-Qashash [28] : 41)
.
Adapun dalam istilah ilmu Kalam, adalah kepemimpinan umum atas seluruh masyarakat Muslim di seluruh perkara baik perkara agama maupun dunia yang mana dari sudut pandang syi’ah keabsahaman kepemimpinan ini bergantung pada penobatan Tuhan dan nabi-Nya. Oleh karena itu, penentuan imam setelah kenabian adalah hal yang dituntut oleh hikmah Ilahi.
.
Pentingnya Keberadaan Imam
Dalam pembahasan sebab-sebab kenabian terakhir Rasulullah Saw. kita telah jelaskan bahwa ada tiga perkara yang dapat menjadi sebab perlunya diutus seorang nabi baru dan diturunkannya syariat baru di sepanjang sejarah manusia dan tiga perkara tersebut tidak ada dalam diri Islam.
.
Pertama, ketidak-cukupan syari’at-syari’at sebelumnya mengingat kebutuhan-kebutuhan masyarakat mendatang telah dicukupkan oleh Allah Swt. dengan diutusnya nabi Muhammad Saw.
.
Kedua, ajaran nabi-nabi sebelumnya selalu mengalami penyelewengan dan perubahan (tahrif) atau ajarannya dilupakan. Namun Islam, Allah swt. sendiri yang menjaga Al-Qur’an dari tahrif.
.
Ketiga, kitab-kitab langit menjelaskan permasalahan-permasalahan secara global dan para nabi-lah yang bertugas untuk menjelaskannya secara rinci.
.
Dengan meninggalnya nabi, berarti tidak ada orang yang menjelaskan kitab suci tersebut dan juga banyak permasalahan-permasalahan baru bermunculan dan hukumnya tidak dapat dijelaskan. Oleh karenanya, hikmah Ilahi menuntut diutusnya seorang nabi baru yang dapat menyempurnakan kekurangan ini. Adapun bagaimana dengan Islam? Jawabannya begini: dalam faham mazhab syi’ah pemenuhkan kekurangan tersebut telah diperhitungkan pula sebelumnya dan Allah Swt. dengan cara menentukan imam-imamm maksum yang memiliki kriteria-kriteria yang sama seperti nabi Muhammad Saw., hanya saja mereka tidak memiliki kedudukan sebagai seorang nabi atau rasul, menjaga Islam dari penyelewengan dan tahrif. Para imam selalu diilhami sehingga dapat menjelaskan permasalahan apa saja yang akan datang nanti. Dengan pemenuhan kebutuhan seperti inilah Islam menjadi agama sempurna yang tidak perlu ada agama lain setelahnya untuk diturunkan.[1]
.
Poin terakhir, yakni ketergantungan Islam sebagai agama sempurna dan global terhadap ditentukannya imam maksum dan tidak benarnya penentuan imam selain dengan cara penobatan, dapat kita fahami dari beberapa ayat dan riwayat yang mana penafsirannya pun juga telah dijelaskan.
.
Di surah Al-Ma’idah Allah Swt. berfirman:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maa’idah [5] : 3)
.
Secara sekilas dari melihat nada ayat di atas kita memahami bahwa pasti ada peristiwa yang terjadi sebelum diturunkannya ayat tersebut. Kejadian itu adalah batu bata terakhir bangunan Islam yang telah diletakkan dan karenanya Islam menjadi sempurna lalu menjadi agama yang diridhai Allah Swt. untuk dipeluk umat manusia. Hari itu juga adalah hari yang dimana kaum kafir telah berputus asa atas usahanya meruntuhkan pilar Islam. Penafsiran ayat ini dengan jelas tercatat dalam buku-buku tafsir ternama. Hari itu adalah hari ke-18 Dzulhijjah, ketika Rasulullah Saw. sedang kembali dari haji Wada’, saat beliau tiba di suatu tempat bernama Ghadir Khum. Di hari itu Rasulullah Saw. berbicara di depan umum tentang diangkatnya Imam Ali As. sebagai imam dan pengganti setelahnya dengan berkata “Siapakah yang memiliki wewenang di antara kalian atas diri kalian dan juga lebih mulia daripada kalian?” Para haji menjawab “Allah Swt. dan engkau, wahai Rasulullah.” Lalu beliau mengangkat tangan Imam Ali As. hingga terlihat ketiak mereka lalu dengan tegas berkata “Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka jadikanlah Ali sebagai pemimpinnya.”[2]
.
Berdasarkan kandungan hadis di atas, ditentukannya Imam Ali As. sebagai seorang imam setelah Rasulullah Saw. adalah penyempurna agama Islam. Dan, Islam sebagai agama yang sempurna, di dalam teks nya harus ada yang namanya penobatan imam maksum untuk semua periode setelah nabi. Karena tiadanya hal itu di dalam Islam bertentangan dengan kesempurnaan agama tersebut; karena sebagaimana yang kita tahu pengutusan Rasulullah Saw. kelazimannya adalah penobatan seorang imam. Karena tanpa ditentukannya seorang imam maka apa yang telah dilakukan dan disampaikan oleh nabi Muhammad Saw. adalah sia-sia belaka.
.
Oleh karenanya Allah Swt. berfirman:
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS, Al-Maa’idah [5] : 67)
.
Berdasarkan berbagai riwayat baik dari kalangan Suni maupun Syi’ah, perkara yang harus disampaikan oleh Rasulullah Saw. sebelum kepergiannya adalah perkara kepemimpinan Imam Ali As.[3]
.
Kriteria Seorang Imam
Saat kita mengamati dengan detil dalil-dalil aqli pentingnya keberadaan imam, kita dapat menyimpulkan bahwa imam sebagai seorang pengganti nabi harus memiliki tiga kriteria pokok: dinobatkan oleh Allah Swt., memiliki ilmu yang diilhamkan dari-Nya, dan maksum. Karena, dari satu sisi, jika seorang imam tidak memiliki ilmu yang diilhamkan oleh Allah Swt. dan tidak maksum, maka ia tidak mungkin bisa menjaga ajaran Islam dari penyelewengan dan tahrif; mereka juga tidak bisa menjelaskan hukum-hukum dengan benar. Dan dari sisi lain, hanya Tuhan yang mengetahui siapa yang memiliki kriteria-kriteria tersebut sehingga dapat Ia jadikan imam. Ketiga kriteria tersebut dapat kita temukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
.
1. Dinobatkan Oleh Tuhan
Kita meyakini bahwa Imam Ali As. dinobatkan oleh Allah Swt. melalui rasul-Nya untuk menjadi imam setelah nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, sempurnalah agama Islam. Ayat yang memerintahkan beliau untuk menyampaikan deklarasi penobatan Imam Ali As. sebagai imam dan hadis-hadis yang menunjukkan kepemimpinannya adalah bukti penobatan imam dari sisi Tuhan. Ditambah lagi ketika nabi ditanya siapakah Wali Amr yang harus ditaati? Apakah setiap pemimpin negara harus ditaati? Atau orang-orang tertentu saja? Rasulullah Saw. menjawab dengan menyebutkan nama-nama imam setelahnya. Dan dengan demikian beliau telah menentukan siapa saja imam yang akan memimpin kelak.
.
2. Ilmu yang Diilhamkan
Di ayat suci yang berbunyi: Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.” Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab” (QS. Ar-Ra’d [13] : 43) Di ayat tersebut diterangkan mengenai kesaksian Tuhan dan sebagian orang di hari kiamat atas kebenaran ajaran agama Islam yang mana mereka memiliki “ilmu Al Kitab”.
.
Para ahli tafsir dalam menjelaskan ayat tersebut berkata bahwa maksud dari ilmu Al Kitab adalah pengetahuan terhadap apa yang tercatat pada lauhul mahfudz. Maksudnya adalah, seseorang dapat menjadi saksi kebenaran risalah nabi Muhammad Saw. ketika ia memiliki ilmu yang diilhamkan oleh Allah Swt. tentang lauhul mahfudz. Juga banyak riwayat yang menjelaskan bahwa orang-orang yang memiliki ilmu Al Kitab adalah Imam Ali As. dan anak-anaknya yang maksum. Dengan demikian ayat tersebut menyinggung ilmu ghaib para imam yang diilhamkan oleh Allah Swt. kepada mereka. ayat lain yang serupa adalah: Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al-Baqarah [2] : 143)
.
Karena memberikan kesaksian amal perbuatan manusia di hari kiamat adalah bagian dari pengetahuan akan semua perbuatan umat manusia dengan niat-niat mereka dan kesaksian ini tidak mungkin diberikan kecuali saksinya memiliki ilmu ghaib yang diilhamkan.
.
Untuk menjelaskan maksud ayat ini, meskipun ada beberapa pendapat yang telah diutarakan, namun pandangan-pandangan yang lebih sesuai dengan kandungan ayat tersebut dan juga pernah dijelaskan dalam berbagai riwayat adalah bahwa yang dimaksud dengan ummatan wasatha dalam surah Al-Hajj ayat 77 adalah para imam dan washi Rasulullah Saw. Dalam sebuah riwayat yang ditukil dari Imam Shadiq As. disebutkan bahwa beliau berkata “Apakah kalian pikir yang dimaksud denganummat wasath yang bersaksi atas semua umat manusia adalah seluruh Muslimin?” Sesungguhnya bukan begitu, maksud dari istilah tersebut adalah Ahlul Bait As.
.
3. Kemaksuman
Syi’ah berkeyakinan bahwa para imam Syi’ah, begitu pula dengan Fathimah Azzahra As., meskipun mereka bukan nabi tapi mereka memiliki derajat kemaksuman. Oleh karena itu, kemaksuman bukanlah kriteria khusus yang hanya dimiliki para nabi saja, namun selain nabi juga ada orang-orang yang maksum.
.
Kemaksuman yang dimiliki oleh 13 manusia suci tersebut sama persis dengan kemaksuman yang dimiliki para nabi. Yakni mereka terjaga dari segala dosa, baik sengaja atau tidak, dan juga dari kelalaian dan kelupaan. Ini bukan berarti selain 13 manusia suci tidak ada manusia maksum, karena mungkin saja ada orang lain yang juga maksum karena kebiasaannya untuk tidak berbuat dosa. Karena siapapun yang telah memiliki sifat taqwa yang melekat, meskipun dia berada dalam situasi yang benar-benar mendorongnya untuk berdosa namun ia tidak melakukannya, ia adalah maksum, alias terjaga dari dosa tersebut. Misalnya orang-orang seperti Salman Al-Farisi. Hanya saja, kita tidak bisa memastikan kemaksuman selain 13 manusia suci dan para nabi; kita hanya bisa memberikan kemungkinan saja. Rasulullah Saw. pernah bersabda “Salman adalah termasuk dari kami, Ahlul Bait.” Mungkin kata itu menunjukkan bahwa Salman memiliki beberapa kriteria yang juga dimiliki oleh Ahlul Bait As. Tidak hanya salman, orang lain siapapun itu, jika ia memiliki sifat taqwa yang benar-benar melekat dan tak melakukan dosa, dapat dikata bahwa ia telah mencapai derajat kemaksuman.
.
Berdasarkan apa yang telah lalu, jelas apa bedanya kemaksuman yang dimiliki oleh nabi dan 13 manusia suci dengan kemaksuman selain mereka. Kemaksuman manusia-manusia suci dapat dibuktikan dengan berbagai dalil baik ayat maupun riwayat. Di sini kita akan membawakan dalil-dalil kemaksuman para imam:
.
Dalil Qur’ani Kemaksuman Para Imam
Untuk membuktikan kemaksuman para imam, Syi’ah menjadikan beberapa ayat sebagai dalilnya. Misalnya:
.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisaa’ [4] : 59)
.
Ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah, Rasul-Nya, dan Wali Amr. Ketaatan itu pun adalah ketaatan total, yakni lebih dari ketaatan dalam lingkup keagamaan, namun juga sosial dan politik juga. Istilahnya, kita harus mentaati perintah-perintah mereka baik yangmaulawiyyah maupun yang wilayah. Sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya, Rasulullah Saw. memiliki beberapa kedudukan, yang mana kita harus mentaatinya di semua kedudukannya.
.
Lalu bagaimana ayat tersebut membuktikan kemaksuman para imam? Kata “taatilah” di ayat tersebut diulang sebanyak dua kali: pertama hanya untuk Allah Swt., dan kedua untuk Rasulullah Saw. dan Wali Amr. Dengan melihat kesejajaran Rasul dan Wali Amr di ayat tersebut dari segi harusnya mereka ditaati, menunjukkan bahwa mereka memiliki kedudukan yang sama untuk ditaati.
.
Ayat tersebut mengharuskan ketaatan terhadap mereka secara mutlak tanpa alasan apapun. Sebagaimana Allah Swt. harus ditaati tanpa alasan, Rasul dan Wali Amr juga harus ditaati seperti itu. Karena dalam sastra Arab, kata “taatilah” di sini adalah mutlaq dan ketaatan terhadap Rasulullah Saw. dan para imam merupakan kelaziman dari ketaatan terhadap Tuhan.
.
Jika mereka adalah orang-orang yang tidak terjaga dari dosa, maka ada kemungkinan kita bisa tidak mentaati mereka, dan itu bertentangan dengan kandungan ayat; ada dua perintah yang bertentangan: mentaati Tuhan yang tidak mungkin salah, dan mentaati Rasulullah Saw. yang mungkin salah. Jadi, dapat dikatakan bahwa karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mentaati mereka, artinya Ia telah menjamin bahwa segala yang mereka perintahkan adalah benar, yakni mereka maksum.
 
Di sisi lain, ayat tersebut diturunkan dalam rangka mengagungkan Rasulullah dan Wali Amr. Bagaimana mungkin orang yang tidak maksum disejajarkan dengan Rasulullah saw. dan mereka diagungkan di hadapan Tuhan?
.
Dan juga, ketaatan yang sampai ditekankan seperti ini adalah ketaatan khusus, bukan ketaatan biasa seperti kita mentaati orang biasa karena ia memerintahkan apa yang diperintahkan Tuhan dan melarang apa yang dilarang-Nya dalam rangka Amar Makruf Nahi Munkar. Karena jika tidak, apa gunanya ketaatan tersebut dijelaskan dan ditekankan dalam Al-Qur’an?
.
Selain apa yang telah dijelaskan tadi, jika seandainya ayat di atas ada pengecualiannya, yakni kita harus mentaati Rasulullah Saw. dan Wali Amr, kecuali begini dan begitu, pasti Allah Swt. telah mengatakannya sejak awal. Artinya ketatan terhadap mereka tidak ada pengecualiannya. Adapun ketaatan terhadap selain mereka, ada pengecualiannya, seperti ketaatan terhadap kedua orang tua.
.
Allah Swt. berfirman:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Israa’ [17] : 23)
.
Ayat tersebut menekankan ketaatan terhadap orang tua. Namun karena orang tua bukanlah manusia suci yang terlepas dari dosa, Allah Swt. memberikan pengecualiannya dengan berfirman:
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabut [29] : 8)
.

Jadi, perintah Allah Swt. dan penekanan-Nya untuk mentaati Rasulullah Saw. dan para imam, dengan mengingat apa yang telah kita bahas di atas, mengisyarahkan kemaksuman mereka. Karena jika tidak maksum bagaimana mungkin Allah Swt. memerintahkan kita untuk taat tanpa terkecuali?

.

Salah satu syubhat yang sering didengar adalah, jika memang 12 imam adalah Wali Amr yang dinobatkan oleh Tuhan, lalu mengapa nama mereka tidak disebutkan dalam Al-Qur’an? Syubhat ini telah tersebar sejak zaman para imam hidup hingga sekarang. Namun untuk menjawabnya, para imam sendiri telah mengajari kita untuk menjawab begini: di dalam Al-Qur’an ada perintah shalat, namun apakah kalian melihat detil berapa rakaat kita harus shalat? Lalu kita harus bertanya kepada siapa tentang berapa rakaat kita musti shalat? Kita harus bertanya kepada Rasulullah Saw.
.
Allah Swt. berfirman:
keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan, (QS. An-Nahl [16] : 44)
.
Oleh karena itu, Rasulullah Saw. harus menjelaskan detil hukum-hukum syar’i. Begitu juga perintah zakat. Apakah Al-Qur’an menjelaskan bahwa dari 40 Dirham kita harus membayarkan satu Dirham? Tidak semuanya disebutkan dalam Al-Qur’an, kita yang harus mencari detilnya dalam ucapan-ucapan dan penjelassan Rasulullah Saw.
.
Untuk mengenal siapa Wali Amr, kita harus merujuk pada penafsirannya. Rasulullah Saw. sendiri yang menjelaskan tafsiran ayat tersebut. Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah Anshari bahwa Rasulullah Saw. dalam rangka menjelaskan ayat tersebut menyebutkan nama para imam 12 dan mengenalkan mereka kepada para sahabatnya.[4]
.
Ayat lain yang dapat dijadikan bukti kemaksuman para imam adalah:
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzaab [33] : 33)
.
Pada ayat tersebut Allah Swt. menyebutkan ada sekelompok orang yang dikenal dengan Ahlul Bait, dan Ia hendak mensucikan mereka dari dosa. Kehendak ini pasti kehendak yang khusus berkenaan dengan mereka. Kehendak Tuhan ada dua, tasyri’i dan takwini. Kehendak tasyri’i adalah kehendak yang berkaitan dengan perintah Tuhan kepada manusia yang mana jika perintah tersebut dijalankan, kehendak Tuhan akan tercapai. Misalnya, Allah Swt. memerintahkan mandi dan wudhu karena Ia hendak mensucikan kalian (dari hadas baik kecil maupun besar). Kehendak tersebut akan terwujud dengan dijalankan perintah mandi dan wudhu. Namun kehendak takwini adalah kehendak yang pasti akan tercapai tanpa  syarat apapun. Sebagai contoh, saat Allah Swt. berkehendak untuk menciptakan manusia, Ia berkata “Jadilah! Maka ia jadi.”
.
Ahlul Bait As.
Sebagian ulama Ahli Sunah, menganggap Ahlul Bait sebagai istri-istri nabi, karena permulaan ayat berbicara tentang mereka. Dengan demikian mereka menganggap kehendak Allah Swt. dalam ayat itu sebagai kehendak tasyri’i, karena mereka tidak meyakini kemaksuman istri-istri nabi. Dengan demikian, bagi mereka ayat tersebut tidak dapat dijadikan bukti kemaksuman para imam.
.
Namun apa yang mereka fahami salah. Karena beberapa alasan, misalnya, dhamir dalam bagian terakhir ayat semuanya untuk lelaki, bukan untuk perempuan. Dengan demikian tidak mungkin yang dimaksud adalah istri-istri nabi. Tidak hanya itu, lebih dari 70 riwayat baik dari Syi’ah maupun Suni yang merupakan riwayat sahih menjelaskan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait dalam ayat tersebut adalah lima manusia suci: Rasulullah Saw., imam Ali As., Sayidah Fathimah Azzahra As., imam Hasan As. dan imam Husain As.[5]
.
Kehendak takwini Tuhan tidak berarti jabr, namun artinya adalah kehendak itu pasti akan terjadi dan bahkan sudah terjadi. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya kehendak takwini Tuhan mencakup segala ciptaan-Nya, baik melalui perantara pelaku yang berkehendak, maupun pelaku-pelaku alami yang tidak berkehendak. Kehendak takwini di ayat ini adalah kehendak yang terwujud melalui perantara pelaku yang berkehendak, yakni Ahlul Bait dengan kehendaknya sendiri mencapai kedudukan suci kemaksuman.
.
Kedudukan Para Imam
Syi’ah berkeyakinan bahwa semua kedudukan yang dimiliki Rasulullah Saw., selain kedudukan sebagai seorang nabi dan rasul, juga dimiliki oleh para imam. Keyakinan ini adalah salah satu keyakinan pokok dalam ajaran Syi’ah. Ayat Al-Qur’an yang membuktikan hal ini adalah ayat yang telah kita baca tadi, ayat 59 surah An-Nisaa’.
.
Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan, kedudukan para imam sebagai para pemimpin umat Islam secara umum dapat ditetapkan dengan ayat tersebut.
Adapun kedudukan sebagai hakim, sesungguhnya masalah kehakiman adalah bagian dari pemerintahan. Rasulullah Saw. dengan kedudukannya sebagai wali Muslimin dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang hakim; begitu juga dengan para imam.
.

Dengan kedua kedudukan agung tersebut, kita pasti juga sampai pada pemahaman dimana mereka juga memiliki kedudukan berikutnya, yakni terpercayanya ucapan-ucapan mereka dalam menjelaskan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Karena seseorang yang telah dipilih Tuhan untuk duduk sebagai hakim pasti benar-benar memahami penafsiran ayat-ayat kitab suci-Nya; karena jika tidak ia tak mungkin bisa menghakimi dengan benar

.

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa Wali Amr adalah orang-orang pilihan Tuhan yang memiliki kedudukan sebagai pemerintah, hakim, dan juga penafsir ayat-ayat suci Allah Swt.
.
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, telah terbukti bahwa Wali Amr adalah imam-imam suci. Apakah ada juga selain mereka? Jawabnya, ya. Para imam suci juga pernah memerintahkan kita untuk merujuk kepada seorang yang adil dan faham betul akan agama di masa keghaiban Imam Mahdi Aj., istilahnya faqih, dengan beberapa kriteria yang telah mereka sebutkan. Mereka berkata bahwa menolak pendapat seorang yang faqih sama dengan menolak kami, dan itu artinya syirik. Inilah dasar Wilayatul Faqih.(Dari buku Jalan Kebenaran dan Penuntunnya)
==============================================================================================

[1] Mengenai Rasulullah Saw., dengan melihat bahwa beliau beberapa tahun pertama dakwahnya dimulai di Syu’b Abi Thalib di dalam kepungan kaum musyrikin, selama 10 tahun sering berperang melawan musuh-musuh Islam, dan kondisi-kondisi susah seperti itu tidak membiarkan beliau untuk dapat menjelaskan hukum-hukum syar’i dan pengetahuan-pengetahuan Islam secara sempurna kepada umatnya

.

[2] Syaikh Kulaini, Al-Kafi, jil. 1, hlm. 289.
[3] Al-Ghadir, jil. 1, halaman 52, 214-216, 219, 220, 222; Ushul Al-Kafi, jil. 1, hlm. 289 dan 295; Ahmad Tabrasi, Al-Ihtijaj, jil. 1, hlm. 69; Ali ibn Muhammad Amadi, Ghayatul Maram, hlm. 336.
[4] Ghayatul Maram, hlm. 263-267.
[5] Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad, jil. 4, hlm. 107; Al-Kafi, jil. 1, hlm. 286-287.

Darimana Kita Ambil Agama Kalau Bukan Dari Sahabat dan Ahlul Bait ? Syi’ah Mencintai Sahabat Yang Setia Pada Ali

Ahlussunnah Menolak Hadits Dari Ahlul Bait?

Pertanyaan:

Saya tertarik dengan ajaran Syiah. Saya banyak membaca buku tentang Syiah, Syiah mencintai ahlul bait, ahlul bait itu adalah keluarga rasul. Semua hadis-hadisnya berasal dari ahlul bait. Yang saya tanyakan mengapa Ahlussunah menolak semua hadis-hadis Syiah yang berasal dari keluarga rasul atau ahlul bait tanpa dikaji sedikit pun? Kenapa Syiah menerima sebagian hadis sunni, tetapi menolak sebagian lainnya? Syi’ah ambivalen dan mencari hadis yang menguntungkan saja ?

Dari: Thaherem

Jawaban:

Bismillah

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, dan ahlul baitnya, serta semua orang yang mengikuti beliau.

Darimana Kita Ambil Agama Kalau Bukan Dari Sahabat dan Ahlul Bait ? Syi’ah Mencintai Sahabat Yang Setia Pada Ali

Terkait masalah ini, kami perlu menegaskan bahwa tidak ada satu pun Syiah, baik ulamanya maupun orang awamnya yang membenci semua sahabat. Bahkan syiah   sangat mencintai mayoritas sahabat yang wafat semasa Nabi SAW hidup + minoritas SAHABAT yang hidup pasca Nabi SAW wafat. Justru kami meragukan klaim wahabi  yang mencintai ahlul bait

penyebab pemalsuan hadits adalah adanya permusuhan antara ulama  Umawiyyun dengan Ahlul Bait sebagai “rival” Umawiyyun

Zuhri diperalat Umawiyyun karena dekatnya hubungan Zuhri dengan khalifah itu.Imam Zuhri sebagai orang yang dimanfaatkan oleh Umawiyyun untuk memalsukan hadits sesuai dengan keinginan mereka. Sebagai misal ialah beberapa dokumen berita yang tersimpan pada Al-Khatib Al-Baghdadi.

Berita-berita itu diriwayatkan dari beberapa jalur (thariq) yang berbeda, dari Abdurrazaq (211 H) dari Ma’mar bin Rashid (154 H) –salah seorang yang mendengar hadits dari Zuhri- menyebutkan bahwa al-Walid bin Ibrahim pernah datang kepada Zuhri membawa lembaran hadits yang dipalsukannya.

Dia meminta kepada Zuhri agar memberikan lisensi (ijazah) kepadanya untuk meriwayatkan hadits yang ada dalam lembaran yang dibawanya itu. Lalu Zuhri membenarkannya tanpa ragu, sambil mengatakan, “Siapa yang dapat memberitakan isi lembaran itu kepadamu, selain dariku”.

Rezim Muawiyah dapat memperalat Imam Zuhri untuk memenuhi tuntutan penguasa dengan “baju” agama. Terkadang ketakwaannya muncul sehingga membuat Zuhri ragu dalam memenuhi permintaan rezim. Tapi dia selamanya tidak mampu menghindar dari lingkaran pemerintah. Dalam suatu riwayat, Ma’mar dari Imam Zuhri menyebutkan ungkapannya, “Kapi dipaksa oleh para raja (umara) agar menulis hadits”.

Berita itu,  mengesankan kesediaannya memenuhi permintaan pemerintah dengan menggunakan namanya yang telah diakui di kalangan umat Islam. Zuhri bukanlah termasuk figur-figur yang sukar dirangkul oleh rezim. Bahkan, ia berpandangan harus bekerjasama dengan pemerintah. Dia tidak berupaua menghindari kepergiannya ke istana raja. Bahkan, Zuhri seringkali bergerak diekor raja. Misalnya, dia dijumpai di belakang rombongan Hajjaj ketika pergi haji. Zuhri juga diangkat oleh Hisham sebagai guru bagi putra mahkotanya. Di periode Yazid kedua dia juga menerima jabatan sebagai “hakim’.

Selama dalam jabatan ini, dia memejamkan dua matanya dari melihat kebobrokan yang ada. Dia bukanlah tergolong roang-orang yang berani menghadapi khalifah-khalifah bejat dan dhalim (maksudnya khalifah Muawiyyin). Padahal kalangan hadits menganggap orang yang menerima jabatan “peradilan” sebagai “tidak tsiqah dipercaya”

“Maka untuk memerangi kebejatan dan kebobrokan yang merajalela, para ulama yang loyalis kerajaan itu membuat-buat hadits jaminan surga yang memuja-muja musuh musuh Ahlulbait”.

Imam Zuhri yang nama lengkapnya Abu Bakar, Muhammad bin Harits bin Zahroh Al-Quraisyi Az-Zuhri, sejak muda sudah ditinggal ayahnya. Zuhri hidup sebagai anak yatim, tiada harta dan tiada pembimbing. Sejak awal kesungguhannya dia curahkan untuk menghafalkan Al-Quran. Sehingga dalam waktu delapan puluh malam, kitab suci tamat dihafalnya. Kemudian dia pun mulai belajar fiqih dan hadits. Dia berkeliling belajar kepada Sahabat. Ada sepuluh orang sahabat Nabi saw yang pernah mejadi gurunya, di antaranya Anas, Ibnu Umar, Jabir, Sahal bin Sa’ad dan lainnya. Kemudian dari kalangan pembesar Tabi’in ialah Sayid bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah dan lainnya.

Jika tidak dijebak rezim, pada dasarnya Zuhri dikenal sebagai orang yang amat pemurah. Tak seorang pun yang datang meminta kepadanya, pulang dengan tangan kosong. Jika tidak punya, diusahakannya meminjam dan berhutang kepada sahabatnya. Ia juga suka memberi makan orang dengan sop daging dan madu. Di antara sifat keilmuannya yang menonjol, ialah perhatiannya ayng luar biasa dalam menuntut ilmu. Zuhri sangat antusias menemui ulama dan mencatat apa  yang didengarnya. Seringkali dia tidak tidur malam karena menghafal dan mematangkan apa yang dia dengar. Untuk itu berkata Abduzzanadi, “Kami dulu menulis apa yang halal dan apa yang haram, Zuhri mencatat segala yang didengarnya. Ketika dia dibutuhkan, tahulah aku bahwa dia orang yang paling alim”.

Dari segi ingatan dan hafalan, Zuhri tergolong yang paling kuat dan menakjubkan. Katanya “Tak ada ayng kulupakan dari ilmu yang kuhafal. Tak satu hadits pun yang kuulangi. Dan tiada yang kuragukan kecuali satu hadits. Lalu kutanyakan kepada sahabatku, ternyata sama seperti yang kuingat”.

Saking kuatnya ingatan Zuhri, pernah Hisyam bin Abdul Malik ingin mengujinya. Ia meminta Zuhri untuk mendiktekan hadits kepada putranya dan ditulis seorang juru tulis. Jumlahnya sebanyak empat ratus hadits. Kira-kira sebulan setekah itu. Hisyam mengatakan, “Kitab itu telah hilang, tolong diktekan sekali lagi”. Maka, dipanggilnya juru tulis. Setelah dibandingkan dengan kitab yang pertama, tak satu huruf pun yang berbeda.

Islam yang asli pada zaman Umayyah Abbasiyah telah dirusak, Syi’ah yang memurnikan islam justru dituduh sesat“Nabi Muhammad saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelahnya

Nabi Muhammad saw datang membawakan ajaran mulia, Islam.

Sepanjang dakwahnya ia selalu mengenalkan Ali bin Abi Thalib kepada umatnya, bahkan menyatakan bahwa ia adalah pemimipin setelahnya.

Rasulullah saw meninggal dunia. Namun semua orang sibuk di Saqifah membahas siapakah yang layak menjadi pengganti nabi.

Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dikucilkan.

Imam demi Imam silih berganti, sampai imam terakhir, Al Mahdi ghaib.

Kini kita tidak bisa merasakan kehadiran pimpinan di tengah-tengah kita. Ikhtilaf, perpecahan, perbedaan pendapat, permusuhan antar umat Islam… semuanya berakar di sejarah yang terlupakan.

Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan. Syi’ah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pertama, lalu Hasan dan Husain putranya, lalu Ali Zainal Abidin, dan seterusnya.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.
saya  tidak menerima hadits yang menjadi salah satu dasar pengangkatan salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar sebagai Khalifah karena syiah  tidak mengakui kekhalifahan tiga sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman
.

Hadits yang tertulis dalam Shahih Bukhari tersebut, menjelaskan tentang ditunjuknya Abu Bakar oleh Nabi Muhammad Saw sebagai imam shalat, saat Nabi sedang sakit. Ini menjadi isyarat, bahwa Nabi menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah. Syi’ah menganggap hadits tersebut meragukan, meskipun diriwayatkan oleh imam Bukhari, dan hadits tersebut termasuk sahih (kuat)

.

Dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu’tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun. Bagaimana menjelaskan ini?

.

Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab

.

Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits. Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakar terjadi larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu

.

Pada mulanya perpecahan Islam  itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pada mulanya perpecahan itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarahsyura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).Agama Muhammad SAW  terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pada setiap khotib jum’at harus ada kata-kata mencela Ali & keluarga .

o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam”

Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan kontra.    Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.

Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah.

hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi. Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam

Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap pembantai pengikut ahlulbait

Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Bersamaan dengan itu, kaum Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali, dan mengajak Husain bin Ali melakukan perlawanan.


perbedaan mazhab NU – Syi’ah – Muhammadiyah Justru membawa berkah bagi umat !!
.
perbedaan mazhab NU – Syi’ah – Muhammadiyah mengakibatkan hadis hadis Nabi SAW yang otentik tidak ada yang hilang karena umat Muhammad mustahil bersatu diatas kesesatan ! Justru memperkaya referensi umat !
.

Tinggal saja bagaimana kita memilih hadis otentik diantara hadis yang ada ! Darimana Kita Ambil Agama Kalau Bukan Dari Sahabat dan Ahlul Bait ? Syi’ah Mencintai Sahabat Yang Setia Pada Ali

Al Husain bin Muhammad meriyatkan dari Ahmad bin Ishaq dari Sa’dan bin Muslim dari Muawiyah bin Umar yang berkata,”Saya bertanya kepada Imam Shadiq as mana yang lebih utama, seseorang yang mendengarkan perkataan anda dan menyampaikan kepada manusia atau ahli ibadah yang tidak melakukan itu?. Imam Shadiq as menjawab, “Seseorang yang menyampaikan perkataan kami sehingga membekas di dalam hati umat Syiah jauh lebih utama dari seribu ahli ibadah.” (Al Kafi, jilid 1, hal. 33)

.

Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah Hanya NU ?? Ushul NU dan Syi’ah dibidang  sahabat ternyata ada kesamaan :

1. Syi’ah mempedomani sahabat yang setia pada Ali hingga akhir hayatnya. Artinya Syi’ah juga berpedoman pada sahabat

2. Sahabat yang berkhianat pada Ali ketika meriwayatkan hadis maka hadisnya diseleksi dulu, misal : Syi’ah menerima hadis tentang keutamaan Persia + hadis haudh riwayat Abu Hurairah, Syi’ah menerima hadis ahlulkisa + hadis Fatimah marah pada Abubakar dari Ummul Mukminin Aisyah. Jadi tidak benar Syi’ah mengkafirkan sahabat

3. Jika sahabat yang berkhianat pada Ali juga diterima sebagian hadisnya oleh Syi’ah, maka ADiL atau TiDAK ADiL nya sahabat kelompok tersebut tidaklah menjadi masalah, karena NU dan Syi’ah sama sama mencari hadis otentik melalui jalur sahabat !

Inilah ushul yang indah, jalannya beda tetapi tujuan sama yakni mencari hadis otentik dari Nabi SAW

Sunnah -yang  di sisi muslim Syiah bermakna perkataan, perbuatan dan penetapan Maksumin as- adalah sumber rujukan kedua untuk mengenal dan mempelajari agama Islam setelah al-Qur’an.

Sunnah (sering juga disebut hadits) perannya sebagai penjelas dan pendamping al-Qur’an, sehingga menjadi sumber rujukan para fukaha dan ulama untuk menetapkan ahkam syar’i dan masalah-masalah fikih.

Nabi Saw dan para Aimmah as sangat menekankan dan menganjurkan kepada kaum muslimin untuk mempelajari dan menghafal hadits-hadits yang dengan itu sunnah dapat terjaga dan tersampaikan kepada setiap generasi.

Berikut diantara hadits-hadits Maksumin as yang menekankan kepada kaum muslimin untuk mempelajari sunnah.

Mempelajari Hadits:

Jabir meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as yang bersabda, “Wahai Jabir, demi Allah satu hadits yang engkau pelajari dari seseorang yang terpercaya mengenai halal dan haram adalah lebih besar nilainya dari tempat dimana matahari terbit dan terbenam.” (Bihar al Anwar, jilid 2, hal. 146).

Menghafal Hadits:

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa dari ummatku yang menghafal 40 hadits yang bermanfaat baginya dalam urusan agama, Allah Azza wa Jalla akan membangkitkannya pada hari kiamat sebagai faqih dan alim.” (Bihar al Anwar, jilid 2, hal. 153).

Menyampaikan Hadits:

Al Husain bin Muhammad meriyatkan dari Ahmad bin Ishaq dari Sa’dan bin Muslim dari Muawiyah bin Umar yang berkata,”Saya bertanya kepada Imam Shadiq as mana yang lebih utama, seseorang yang mendengarkan perkataan anda dan menyampaikan kepada manusia atau ahli ibadah yang tidak melakukan itu?. Imam Shadiq as menjawab, “Seseorang yang menyampaikan perkataan kami sehingga membekas di dalam hati umat Syiah jauh lebih utama dari seribu ahli ibadah.” (Al Kafi, jilid 1, hal. 33)

Membahas Hadits:

Rasulullah Saw bersabda, “Saling mengunjungilah, dan bahaslah hadits bersama-sama, sebab hadits itu membersihkan hati. Hati seperti pedang yang bisa berkarat, dan batu asahnya adalah hadits.” (Al Kafi, jilid 1, hal. 41)

Seiring dengan terpisahnya jarak dengan para Maksumin as, maka untuk mengenal keshahihan dan kebenaran sebuah hadits, maka lahirlah ilmu hadits. Ilmu hadits adalah ilmu yang mempelajari mengenai keadaan hadits dan para perawi dari segi diterima tidaknya. Mengajarkan tentang solusi permasalahan yang didapatkan dalam memahami sebuah hadits dan cara menetapkan validitas hadits. Namun karena banyaknya cabang-cabang ilmu yang harus dipelajari dalam ilmu hadits maka ilmu hadits sering disebut juga Ulumul Hadits.

Menyoal Validitas Hadits Syi’ah

Di beberapa media, Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, menyatakan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairah, sedang hadits Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW).

.

Ringkasan Pertanyaan
Kenapa Syiah menerima sebagian hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang nota bene tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan menolak sebagian lainnya?
.
Pertanyaan
Kenapa Syiah menerima beberapa hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari tetapi menolak sebagian lainnya? Sekiranya benar Syiah mnolak keIslaman Bukhari sebagai perawi Adakah Syiah sekadar mengambil sesuatu Ilmu Islam yang bersesuaian dengan ajaran Syiah saja dan menolak sebagian yang lain walau pun diriwayatkan oleh perawi yang sama?
.
Jawaban Global
Salah satu kumpulan hadis kaum Muslimin adalah al-Jâmi’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillâh Shallallahu ‘alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi yang lebih dikenal sebagai “Shahih Bukhâri” yang berasal dari mazhab Ahlusunnah
.
Meski ada pembelaan Bukhari terkait dengan keabsahan riwayat-riwayat dalam kitabnya dan juga penegasan banyak ulama Ahlusunnah yang memandang Shahih Bukhari sebagai kitab paling shahih Bukhari setelah al-Quran, terdapat kritikan yang patut mendapat perhatian dari sebagian ulama Sunni dan ulama Syiah atas kitab hadis ini; seperti kritikan banyaknya nukilan secara makna dalam kitab ini, di samping itu kelemahan rijalinya dan kandungannya
.
Orang-orang Syiah memilliki satu prinsip dan kriteria rasional dalam menerima atau menolak satu riwayat dan bagi Syiah dalam prinsip dan kriteria-kriteria ini; tidak bersandar pada status mazhab “Syiah” atau Sunni seorang perawi dalam menerima atau menolak sebuah riwayat
.
Karena itu, ulama Rijal dan hadis Syiah; seluruh kitab – bahkan kitab-kitab empat (kutub al-Arba’ah) – tetap dikaji dan dianalisa serta tidak memberikan label sahih pada empat kitab induk ini.  Kitab Bukhari juga tidak terkecualikan dalam hal ini. Di samping itu, terdapat banyak riwayat dari kitab ini yang dinukil dan diterima dalam karya-karya ulama terdahulu dan terkemudian Syiah
.
Jawaban Detil
Mengenal dan memperkenalkan kumpulan-kumpulan hadis (jawâmi’ hadis)[1] Syiah dan Sunni sebagai cabang dari sejarah hadis, secara umum kitab-kitab dan karya-karya yang merekonstruksi studi-studi tentang hadis, sebagai satu kepentingan mendesak y ang tidak dapat dihindari
.
Salah satu dari kumpulan hadis kaum Muslimin dari kalangan Ahlusunnah adalah al- al-Jâmi’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillâh Shallallahu ‘alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi yang lebih dikenal sebagai “Shahih Bukhâri.” Pada kesempatan ini, kita akan meninjau secara ringkas terhadap biografi penulisnya yaitu Bukhari dan kitab hadisnya sehingga menjadi jelas dimana dan mengapa ulama Syiah terkadang tidak menerima sebuah riwayat dari kitab Shahih Bukhari. Hanya bersandar pada dalil-dalil hadis  dan semata-mata status sebagai Muslim tidak akan menjadi dalil bagi kita untuk menerima seluruh pemikiran dan tulisannya
.
Memperkenalkan Muhammad bin Ismail Bukhari
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Bukhari lahir pada tahun 194 H di kota Bukhara.[2]
.
Ia melewati sebagian dari usianya dengan belajar di kotanya sendiri dan untuk melanjutkan pelajarannya dan belajar dari guru-guru (masyaikh) hadis ia melakukan perjalanan ke beberapa kota terkenal seperti Khurasan (Iran), Irak (Bashrah), Hijaz (Mekah dan Madinah) dan Syam (Suriah).[3]
.
Ia juga sering pergi ke kota Baghdad dan disebabkan ia banyak memiliki hadis dan mahir dalam bidang ilmu hadis, ia mendapatkan penghormatan ulama semasanya.[4] Bukhari belajar hadis dari ulama masyhur seperti Makki bin Ibrahim Balkhi, Ali bin Al Madini, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Abu Ashim al-Syaibani,[5] Ishaq bin Rahwahi,[6] dan Ahmad bin Hanbal.[7]
.
Bukhari wafat pada tahun 256 H[8] di desa Khartand salah satu desa di Samarkand.[9]
.
Motivasi Bukhari dalam menulis kitab Shahih
Bukhari sendiri ketika berbicara tentang alasannya menulis Shahih berkata, “Suatu hari saya berada di sisi guru saya Ishak bin Rahwahi yang berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kita menyediakan kitab ringkasan tentang sunnah Nabi!”  Hal ini menarik hatiku dan mulai menghimpun kumpulan riwayat sahih dan kitab sahih saya kumpulkan dari enam ratus riwayat.”[10]
.
Ia berkata, “Saya menghapal seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis non-sahih.”[11] dan hal ini menunjukkan banyaknya riwayat dan juga lemah dan palsunya kebanyakan hadis lainnya dari riwayat-riwayat pada masa Bukhari.[12]
.
Bukhari memilih riwayat-riwayat berdasarkan syarat-syarat periwayatannya yang antara lain, “Bersambungnya sanad hingga level sahabat, keadilan (‘adâlah), kredibilitas para perawi (baca:dhabit).[13]  Meski Bukhari tidak menyatakan metode periwayatannya ini secara lugas, namun syarat-syarat ini sebagai metode periwayatannya dapat disimpulkan dari kitabnya.[14]
.
Kedudukan Shahih Bukhari di kalangan Ahlusunnah
Shahih Bukhâri memiliki kedudukan sangat istimewa di kalangan ulama Ahlusunnah, sedemikian sehingga Shahih Bukhâri dipandang laksana al-Quran dan kitab paling sahih setelah Kitabullah
.
Syafi’i berkata, “Kitab hadis pertama adalah Shahih Bukhâri dan setelah itu adalah Shahih Muslim dan kedua kitab ini merupakan kitab paling sahih setelah a-Quran.”[15]
.
Nawawi berkata, “Ulama dengan suara bulat meyakini bahwa kitab paling sahih setelah al-Quran adalah Shahih Bukhâri dan Shahih Muslim. Umat seluruhnya menerima dua kitab ini. Kitab Bukhari dibandingkan dengan Shahih Muslim lebih sahih dan lebih banyak manfaatnya.”[16]
.
Dua pernyataan yang disampaikan oleh ulama dan ahli hadis paling terkenal Ahlusunnah sehingga dapat disimpulkan bahwa semuanya memandang Shahih Bukhâri merupakan kitab paling standar setelah al-Quran dan menyebut Shahih Muslim pada level ketiga.”[17]
.
Akan tetapi terdapat beberapa faktor yang membuat Shahih Bukhâri menyandang kedudukan tinggi di kalangan ulama Ahlusunah; faktor-faktor seperti kepribadian penyusun, sebagai kitab senior, ketelitian dan kehati-hatian dalam penulisan kitab ini.[18]
.
Shahih Bukhâri dan beberapa kritikan
Meski ada pembelaan Bukhari terkait dengan keabsahan riwayat-riwayat dalam kitabnya dan juga penegasan banyak ulama Ahlusunnah yang memandang Shahih Bukhâri sebagai kitab paling sahih setelah al-Quran, namun terdapat kritikan yang patut mendapat perhatian dari sebagian ulama Sunni dan ulama Syiah atas kitab hadis ini.
Berikut ini kami akan sampaikan beberapa kritikan yang dilontarkan oleh sebagian ulama Sunni dan Syiah sebagai contoh:
  1. Tidak sempurnanya kitab ini ditulis pada masa hidup Bukhari: Abu al-Walid Baji dalam mukadimmah kitabnya “Fi Asma Rijâl al-Bukhâri” menulis, “Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Mustamili berkata, “Saya mengopi kitab Bukhari dari naskah asli yang berada di tangan Muhammad bin Yusuf Faryabi dan menjumpai beberapa hal yang belum tuntas, masih belum memiliki halaman, sebagian nama perawi yang tidak memiliki riwayat hidup atau hadis-hadis yang kondisinya tidak jelas.”[19]
  2. Banyaknya nukilan secara makna dalam kitab ini: Meski menukil secara makna dengan menjaga seluruh pakem dipandang boleh oleh para pemimpin agama namun hal ini tidak bermakna keungulan riwayat-riwayat yang mengandung nukilan secara makna atas riwayat-riwayat yang didalamnya menyebutkan nash redaksi-redaksi maksum;  karena boleh jadi dalam nukilan secara makna telah menghilangkan pelbagai indikasi-indikasi lafzi atau secara dasar disebabkan kesalahapahaman periwayat menukil riwayat secara keliru. Karena itulah mengapa nukilan secara makna dinilai sebagai sebuah kekurangan dan memiliki cela.[20] Apa yang dikatakan tentang Bukhari menunjukkan klaim ini bahwa ia menulis riwayat-riwayat tanpa bersandar pada tulisan-tulisan dan semata-mata bersandar pada hafalannya serta mengandalkan metode nukilan secara makna.[21]

.

Khatib Baghdad dalam hal ini mengutip sendiri dari Bukhari, “Boleh jadi saya mendengar sebuah riwayat di Bashrah dan saya menulisnya di Syam. Dan boleh jadi saya mendengar sebuah riwayat di Syam kemudian menulisnya di Bashrah! Dikatakan kepadanya, “Apakah engkau menulisnya secara utuh? Ia tidak menjawab dan hanya diam.”[22]
.
Muhammad bin Azhar Sajistani berkata, “Saya hadir di majelis pelajaran Sulaiman bin Harb dan Bukhari bersama kami mendengarkan pelajarannya namun ia tidak menulis (pelajaran itu). Sebagian hadirin bertanya, “Mengapa Bukhari tidak menulis?” “Tatkala saya pulang ke Bukhara saya akan menulisnya berdasarkan hafalanku.”[23] Jawab Bukhari
.
Diamnya Bukhari bermakna ia sendiri menerima bahwa meski ia memiliki hafalan kuat namun tidak mampu merefleksikan seluruh lafaz riwayat yang ia dengarkan dan terkadang sebagian besar riwayat itu ia tulis berdasarkan nukilan secara makna. Metode seperti ini tentu saja akan mengurangi bobot pekerjaan, bahkan hal ini tidak dapat diterima bagi orang-orang yang menyertai Bukhari.
  1. Riwayat-riwayat yang bersanad lemah: Meski terkait dengan riwayat yang yang dikumpulkan Bukhari dalam Shahih disebutkan, “Kullu man ruwiya ‘anhu al-Bukhari faqad jawaza al-qanthara;[24] (Siapa saja yang dinukil oleh Bukhari maka ia telah melewati jembatan (jarh dan ta’dil ahli Rijal).”[25] Namun fakta menunjukkan bahwa ia banyak meriwayatkan hadis-hadis dari orang-orang fasik, fajir, khawârij dan nashibi, dan dari orang-orang yang menjual agama untuk dunianya; orang-orang seperti Amru bin Ash, Marwan bin Hakam, Abu Sufyan, Muawiyah, Mughirah bin Syu’bah dan lain sebagainya. Namun Bukhari sama sekali tidak menukil hadis dari orang-orang lurus dan merupakan sumber mata air pengetahuan Islam serta guru-guru budaya Islam dan hadis, atau apabila ia menukilnya maka hadis-hadis tersebut berjumlah sangat minim dibanding dengan yang lain.[26]
Salah satu kritikan utama Syiah terhadap Shahih Bukhâri adalah bahwa nukilan riwayat melalui jalur para Imam Syiah dan anak-anak mereka sangat kurang. Meski Bukhari semasa dengan minimal dua orang dari Imam Syiah yaitu Imam Hadi As dan Imam Askari As namun ia hanya meriwayatkan beberapa gelintir hadis dari Amirul Mukminin Ali As, Imam Hasan Mujtaba As dan Imam Baqir As. Sebagai bandingannya, riwayat-riwayat dari orang-orang Khawarij dan Nashibi seperti Ikrimah dan Imran bin Hatthan yang bahkan kebanyakan ahli hadis Sunni melemahkan mereka, disebutkan dalam sanad-sanad hadis-hadis Bukhari
.
Terlepas dari ulama Syiah, Shahih Bukhâri juga mendapatkan kritikan dari pembesar Ahlusunnah karena lemah dalam menyebutkan perawi-perawi. Dalam hal ini kami hanya akan mencukupkan diri dengan menyebutkan dua contoh sebagai berikut
:
Ibnu Hajar Askalani berkata, “Para penghafal meragukan 110 hadis Bukhari dan memandangnya tidak sahih serta delapan puluh orang dari empat ratus periwayat yang secara eksklusif disebutkan dalam Bukhari telah dilemahkan.”[27]
.
Ibnu Shalah berkata, “Bukhari berargumentasi dengan bersandar pada orang-orang seperti Ikrimah, Musa bin Abbas, Ismail bin Abi Uwais, Ashim bin Ali, Amru bin Marzuq dan lainnya dimana orang lain sebelum Bukhari telah mencela (jarh) mereka.”[28]
.
3.Lemahnya kandungan riwayat Bukhari: Terlepas dari beberapa kritikan yang telah disebutkan di atas kritikan terpenting yang dapat dilontarkan atas Shahih Bukhari adalah nukilan riwayat-riwayat yang dari sisi mana pun bertentangan dengan budaya dan ajaran al-Quran, Rasulullah Saw dan Ahlulbait As bahkan pandangan sebagian ulama besar Ahlusunnah. Tanpa ragu apabila kita mengklaim bahwa Shahih Bukhâri sangat memainkan peran penting dalam proses pembentukan pemikiran-pemikiran keliru teologis, fikih dan menjauhkan umat Islam dari budaya murni Islam dan al-Quran sebagai literatur riwayat terpenting maka klaim ini bukanlah pepesan kosong.[29] Sebagai contoh, Shahih Bukhâri pada sisi tauhid, menyebut sosok Tuhan yang memiliki jasad, anggota badan, dapat dilihat dan seperti makhluk-makhluk biasa, memiliki tempat dan mempunyai sifat-sifat yang dapat binasa.”[30]
.
Kriteria Syiah dalam menerima dan menolak riwayat
Orang-orang Syiah memilliki satu prinsip dan kriteria rasional (aqli) dan referensial (naqli)[31] dalam menerima atau menolak satu riwayat dan bagi Syiah dalam prinsip dan kriteria-kriteria ini; tidak bersandar hanya pada status mazhab “Syiah” atau Sunni seorang perawi dalam menerima atau menolak sebuah riwayat
.
Setiap orang harus bersikap fair, jujur dan harus diketahui bahwa dari pandangan ahli Rijal Sunni, kecendrungan kepada Syiah dan wilayah Ahlulbait As sebagai penghalang serius periwayat untuk dikutip riwayatnya dan riwayat perawi seperti ini tidak dapat dijadikan sandaran; namun dalam Syiah tidaklah demikian. Pakar Rijal Syiah memandang riwayat Sunni apabila memiliki witsâqat (dapat diandalkan dan dipercaya), pada derajat setelah shahih, hasan, sebagai hadis muattsaq dan dapat dijadikan sebagai sandaran.[32]
.
Karena itu, ulama Rijal dan hadis Syiah; seluruh kitab – bahkan kitab-kitab empat (Kutub al-Arba’ah)[33] – tetap dikaji dan dianalisa serta tidak memberikan label sahih pada empat kitab induk ini.  Kitab Bukhari juga tidak terkecualikan dalam hal ini. Di samping itu, terdapat banyak riwayat dari kitab ini dinukil dan diterima dalam karya-karya ulama terdahulu dan terkemudian Syiah
.
Namun demikian, sudah merupakan suatu hal yang natural dalam tataran pembahasan dan dialog, manusia harus bersandar pada sumber-sumber yang boleh jadi bukan merupakan hujjah bagi dirinya namun menjadi hujjah bagi pihak lainnya dan demikianlah salah satu contoh jadâl ahsan. Karena itu, pihak Syiah semenjak dulu hingga kini sama sekali tidak bermaksud mencari keuntungan dalam masalah keyakinan. Apabila Syiah tidak menerima sebuah riwayat maka hal itu berdasarkan dalil-dalil rasional dan referensial tidak menerima riwayat tersebut.

[1]Jawâmi’ Hadits adalah kumpulan kitab hadis yang tidak terbatas pada satu bidang dan domain riwayat tertentu serta mencakup seluruh atau bagian pokok bab-bab hadis. Ali Nashiri, Âsynâi bâ Jawâmi’ Haditsi Syi’ah wa Ahlusunnah, hal. 17, Intisyarat Jami’at al-Mustafa Saw al-’Alamiyah, Qum, Cetakan Kedua, 1388 S.
[2]. Abu al-Fida Islami bin Umar Ibnu Katsir Dimasyqi, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, jil. 11, hal.25, Dar al-Fikr, Beirut, 1407 H; Ibnu Jauzi, Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali, al-Muntazham fi Târikh al-Umam wa al-Mulûk, Riset oleh Muhammmad Abdul Qadir ‘Atha, Mustafa Abdul Qadir, jil. 12, ha. 113, Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, Beirut, Cetakan Pertama, 1412 H.
[3]. Abdul Hayyi bin Ahmad Ibnu Imad Hanbali, Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, Riset oleh al-Arnauut, jil. 1, hal. 24, Dar Ibnu Katsir, Damaskus, Beirut, Cetakan Pertama, 1406 H; Ibnu Asakir Abu al-Qasim bin Hasan, Târikh Madinat Dimasyq, jil. 52, hal. 54, Dar al-Fikr, Beirut, 1415 H.
[4]Al-Muntazham fi Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 12, ha. 117; , Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, jil. 1, hal. 24.
[5]. , Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, jil. 1, hal. 24.
[6]Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, jil. 11, hal. 26.
[7]Al-Muntazham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 12, hal. 113.
[8].  Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, jil. 1, hal. 25.
[9]Al-Muntazham fi Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 12, ha. 119.
[10]. Syamsuddin Dzahabi Dimasyqi, Siyar A’lâm al-Nubalâ, jil. 12, hal. 401-402, Muassasah al-Risalah, Beirut, Cetakan Kesembilan, 1413 H.
[11]. Syamsuddin Dzahabi Dimasyqi, Tadzkirat al-Huffâzh, jil. 2, hal. 556, Dar Ihya al-Turats al-’Arabi, Beirut, Tanpa Tahun.
[12]. Ali Nashiri, Hadits Syinâsi, jil. 1, hal 137, Intisyarat Sanabil, Qum, Cetakan Pertama, 1383 S.
[13]Dhabit adalah mempunyai kesempurnaan berpikir, tidak pelupa dan cerdas serta tangkas. Hafalannya kuat dan mudah mengerti apa yang diterima.
[14]Ibid.
[15]. Sesuai nukilan dari Abu Abdillah Hakim Naisaburi, Ma’rifat ‘Ulûm al-Hadits, hal. 20, Dar al-Afaq al-Jadidah, Beirut, 1400 H.
[16]. Sesuai nukilan dari Siyar A’lâm al-Nubalâ, jil. 12, hal. 567.
[17]Hadits Syinâsi, jil. 1, ha. 138.
[18]. Silahkan lihat, ibid, hal. 138 dan 139.
[19]. Sesuai nukilan dari Siyar A’lâm al-Nubalâ, jil. 14, hal. 488, Catatan Kaki
[20]. Silahkan lihat, Muhammad Ridha Husaini Jalali, Tadwin al-Sunnah al-Syarifah, hal. 508-516, Maktab al-I’lam al-Islami, Qum, 1413 H.
[21]Hadits Syinâsi, jil. 1, hal. 140.
[22]. Sesuai nukilan dari Mahmud Abu Rayyah, Adhwâ ‘ala Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 315, Ansariyan, Qum, 1416 H.
[23]Ibid.
[24]. Burhanuddin Halabi, al-Kasy al-Hatsits, hal. 112, Maktabat al-Nahdha al-’Arabiyah, Cetakan Pertama, 1407 H.
[25].  Jarh wa al-ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang cacat dan adilnya rawi dengan lafaz-lafaz khusus dan tingkatan-tingkatan  lafaz tertentu. Ilmu ini termasuk bagian cabang ilmu rijalil hadis.
[26]. Silahkan lihat Hadits Syinâsi, jil. 1, hal. 141-143.
[27]. Sesuai nukilan dari Adhwâ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 318; sesuai nukilan dari Fath al-Bâri, jil. 1, hal. 81.
[28]. Untuk keterangan lebih jauh silahkan lihat, Adhwâ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 324-326.
[29]Hadits Syinâsi, jil. 1, hal. 144.
[30]. Dalam hal ini silahkan lihat Kitab al-Tauhid Shahih Bukhâri.
[31]. Silahkan lihat, Identifikasi dan Seleksi Hadis-hadis Shahih, Pertanyan 1937.
[32]Âsynâi bâ Jawâmi’ Haditsi Syiah wa Sunni, hal. 239.
[33]. Silahkan lihat, Indeks: Hadis-hadis Standar dalam Pandangan Kulaini, Pertanyaan 1933; Hadis-hadis Kitab al-Kafi, Pertanyaan 1528
 

Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui.

Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih. Mereka yang mengkritik Syiah atau lebih tepatnya menghakimi Syiah itu adalah Dr Abdul Mun’im Al Nimr dalam karyanya(terjemahan Ali Mustafa Yaqub) Syiah, Imam Mahdi dan Duruz Sejarah dan Fakta, Ihsan Illahi Zahir dalam karyanya Baina Al Sunnah Wal Syiah, Mamduh Farhan Al Buhairi dalam karyanyaGen Syiah dan lain-lain.

Tidak diragukan lagi bahwa karya-karya mereka memuat riwayat-riwayat dalam kitab rujukan Syiah sendiri seperti Al Kafi tanpa penjelasan pada para pembacanya apakah riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi Ulama Syiah. Karya-karya mereka ini jelas menjadi rujukan oleh orang-orang(termasuk oleh mereka yang menamakan dirinya salafi) untuk mengkafirkan atau menyatakan bahwa Syiah sesat.

Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda denganShahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

.

.

Kedudukan Shahih Bukhari
Shahih Bukhari adalah kitab hadis Sunni yang ditulis oleh Bukhari yang memuat 7275 hadis. Jumlah ini telah diseleksi sendiri oleh Bukhari dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari 90.000 guru. Kitab ini ditulis dalam waktu 16 tahun yang terdiri dari 100 kitab dan 3450 bab. Hasil seleksi Bukhari dalam Shahih Bukhari ini telah Beliau nyatakan sendiri sebagai hadis yang shahih.

Bukhari berkata

“Saya tidak memasukkan ke kitab Jami’ ini kecuali yang shahih dan saya telah meninggalkan hadis-hadis shahih lain karena takut panjang” (Tahdzib Al Kamal 24/442).

Bukhari hidup pada abad ke-3 H, karya Beliau Shahih Bukhari pada awalnya mendapat kritikan oleh Abu Ali Al Ghassani dan Ad Daruquthni, bahkan Ad Daruquthni menulis kitab khusus Al Istidrakat Wa Al Tatabbu’ yang mengkritik 200 hadis shahih yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Tetapi karya Ad Daruquthni ini telah dijawab oleh An Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Hady Al Sari Fath Al Bari.

An Nawawi dan Ibnu Shalah yang hidup pada abad ke-7 adalah ulama yang pertama kali memproklamirkan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab yang paling otentik sesudah Al Quran. Tidak ada satupun ulama ahli hadis saat itu yang membantah pernyataan ini. Bahkan 2 abad kemudian pernyataan ini justru dilegalisir oleh Ibnu Hajar Al Asqallani dalam kitabnya Hady Al Sari dan sekali lagi tidak ada yang membantah pernyataan ini. Oleh karenanya adalah wajar kalau dinyatakan bahwa ulama-ulama sunni telah sepakat bahwa semua hadis Bukhari adalah shahih. (lihat Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis oleh Ali Mustafa Yaqub hal 41-45).

.

.

Kedudukan Al Kafi
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30).

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalamAl Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

.

.

Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

Berikut adalah antara Syiah yang dijadikan sebagai perawi oleh Imam-Imam besar, muhaddithin Sunni.

1. Ubayd Allah b. Musa al-’Absi

Beliau merupakan perawi bagi kitab-kitab tersebut:

  • Sahih Bukhari [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab al-salat]
  • Sunan al-Nasa’i [kitab al-sahw]
  • Sunan Abu Dawud [kitab al-taharah]
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-muqaddamah]

Pendapat tentang beliau:

  • “Abu Daud berkata:  Beliau ialah seorang Syi’i yang kuat, hadis beliau adalah dibenarkan….Ibn Mandah berkata: Ahmad ibn Hanbal selalu menunjukkan ‘Ubaydullah kepada masyarakat, dan beliau terkenal sebagai Rafid (Syiah Ali yang ekstrim),dan beliau tidak akan membenarkan orang yang bernama Muawiyah memasuki rumahnya.’[Mazhab Imam Hadis, Bukhari dan para perawinya(Percetakan Salafi, UK, 1997), ms. 89 ;Al-Dhahabi, Siyar A'lam al-Nubala, jilid. 9, ms .553-557]
  • Seorang yang soleh, salah seorang sarjana Syiah yang penting … dianggap tsiqah oleh Yahya b. Ma’in, Abu Hatim beliau seorang yang tsiqah dan boleh dipercayai … al-’Ijli berkata: Beliau merupakan seorang pakar Quran…”[Al-Dhahabi, Tadhkirat al-Huffaz di bawah tajuk "'Ubayd Allah b. Musa al-'Absi"]

2. Abbad b. Ya’qub al-Rawajini

Beliau merupakan perawi bagi kitab berikut:

  • Sahih Bukhari  [kitab al-tawhid]
  • Sahih al-Tirmidhi  [kitab al-manaqib]
  • Sunan Ibn Majah  [kitab ma ja' fi al-jana'iz]

Pendapat tentang beliau:

  • Beliau seorang Rafidi yang boleh dipercayai dan hadisnya ada di dalam (Sahih) al-Bukhari.[Ibn Hajar al-'Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abbad b. Ya'qub al-Rawajani"]
  • Abu Hatim berkata: Beliau ialah seorang Syeikh yang terpercaya.  Ibn ‘Adi berkata: Beliau kerap menolak para Salaf. Beliau ialah seorang Syiah ekstrim.  Salih b. Muhammad berkata: Beliau pernah mengkritik Usman, Ibn Hibban berkata: beliau ialah seorang Rafidi yang mengajak (orang lain ke aqidahnya).  beliau meriwayatkan hadis ini …, “Jika kamu melihat Muawiyah di mimbar ku, maka bunuhlah dia!”[Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abbad b. Ya'qub al-Rawajani"]

3. ‘Abd al-Malik b. A’yan al-Kufi

  • Sahih al-Bukhari [kitab al-tawhid]
  • Sahih Muslim [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab tafsir al-Qur'an]
  • Sunan al-Nasa’i [kitab al-'iman wa al-nudhur]
  • Sunan Abu Dawud [kitab al-buyu']
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-zakah]

Pendapat tentang beliau:

  • Beliau ialah seorang Syiah Rafidi seorang yang bijak berpendapat.[Abu Ja'far al-'Uqayli, Du'afa al-'Uqayli, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]
  • Beliau seorang Rafidi, dipercayai (saduq).[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]
  • Al-’Ijli berkata: Beliau berasal dari Kufah, seorang Tabi’i , dipercayai.Sufyan berkata: ‘Abd al-Malik b. ‘A’yan yang Shi’i meriwayatkan, beliau ialah seorang Rafidi pada kami, seorang yang bijak berpendapat. Hamid berkata: ketiga-tiga beradik itu, ‘Abd al-Malik, Zurarah, and Hamran semua mereka ialah Rawafid. Abu Hatim berkata:  Beliau adalah antara Syiah yang awal, beliau seorang yang benar, mempunyai hadis yang bagus dan hadis beliau tertulis.[Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]

4. Abd al-Razzaq al-San’ani

  • Sahih Bukhari  [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim  [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi  [kitab al-taharah]
  • Sunan Nasa’i  [kitab al-taharah]
  • Sunan Abi Dawud  [kitab al-taharah]
  • Sunan Ibn Majah  [kitab al-muqaddamah fi al-'iman]

Pendapat tentang beliau:

  • Ibn ‘Adi berkata:  mereka (para ulama) tidak nampak sebarang masalah pada hadis beliau kecuali beliau dikenali sebagai Syiah… seorang yang bermaruah … merawikan hadis kemuliaan Ahlulbait dan keburukan yang lain. Mukhlid al-Shu’ayri berkata:Aku bersama ‘Abd al-Razzaq apabila seseorang menyebut Mu’awiyah.  ‘Abd al-Razzaq berkata: ‘Jangan mencemarkan perhimpuanan ini dengan menyebut keturunan Abu Sufyan!’.[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, "'Abd al-Razzaq al-San'ani"]
  • Ibn ‘Adi merawikan dari ‘Abd al-Razzaq…, “Jika kamu melihat Muawiyah di mimbar ku, maka bunuhlah dia!”.[Al-Dhahabi, Mizan al-'I'tidal, "'Abd al-Razzaq al-San'ani"]

5. Awf b. Abi Jamilah al-’A’rabi

  • Sahih Bukhari  [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim [kitab al-masajid wa mawadi' al-salat]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab al-salat]
  • Sunan Nasa’i [kitab al-taharah]
  • Sunan Abi Dawud [kitab al-salat]
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-salat]
  • Beliau seorang Rafidi tetapi dipercayai… Dianggap tsiqah oleh ramai ulama, dan beliau seorang Syiah

[Al-Dhahabi, Siyar A'lam al-Nubala, "'Awf b. Abi Jamilah"]

  • ‘Awf ialah seorang Qadari, Syi’i, dan Shaytan!

[Abu Ja'far al-'Uqayli, Du'afa al-'Uqayli, "'Awf b. Abi Jamilah"]

  • Al-Nasa’i berkata: Sangat dipercayai.

[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, "'Awf b. Abi Jamilah"]

Cukup lah sekadar saya memuatkan 5 nama contoh, dari ratusan perawi Syiah lain yang diterima oleh ulama Muhaddithin Sunni, dan mereka bersaksi atas kebenaran mereka, kerana jika tidak, masakan mereka akan dijadikan sumber perawi? Ternyata kesimpulannya di sini, jika hadis mereka di tolak, maka sebahagian besar hadis Sunni akan hilang dari kitab-kitab mereka, oleh itu selepas ini, jangan menolak sesuatu riwayat hanya kerana perawinya Syiah. Wallahualam

Wahabi Penyebab Kebencian Terhadap NU, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir melalui tuduhan tuduhan sesat dan ahlulbid’ah

kalau anda membaca artikel atau makalah-makalah yang ada di situs hakekat.com maka saya yakin, jika anda belum pernah membaca Kitab-Kitab Syiah yang asli (bukan terbitan palsu) anda akan berpandangan bahwa betapa bejatnya, sungguh kapirnya kaum Syiah. Bukan hanya artikel dan makalah namun galery photo yang disajikan juga akan membuat anda merasa ngeri terhadap Syiah.

 hakekat.com melaung laung seperti anjing

Kepada para pembaca yang budiman, kalau anda membaca artikel atau makalah-makalah yang ada di situs hakekat.com maka saya yakin, jika anda belum pernah membaca Kitab-Kitab Syiah yang asli (bukan terbitan palsu) anda akan berpandangan bahwa betapa bejatnya, sungguh kapirnya kaum Syiah. Bukan hanya artikel dan makalah namun galery photo yang disajikan juga akan membuat anda merasa ngeri terhadap Syiah.

Saya tidak mengerti, kenapa ada situs yang isinya hampir seluruhnya penjelekan tentang ajaran Syiah. Syiah dimata hakekat.com sama sekali tidak memilik kebaikan. Syiah adalah keburukan seluruhnya tanpa ada kebaikan sedikitpun di dalamnya.

Namun bagi kami yang mencintai ajaran Ahlul Bait  memahami bahwa apa dituliskan  hakekat.com tentang Syiah dalam puluhan artikel dan makalah tersebut tidak lebih dari ocehan yang menurut kami tidak ada nilainya. Penulisnya yang sangat sok tau, sok paling benar, sok-sok-an malah memperlihatkan dirinya bahwa penulis di hakekat.com tidak paham dan sama sekali tidak mengetahui tentang pokok-pokok ajaran Syiah yang keseluruhannya bersumber dari Muhammad SAWW dan Ahlul Baitnya.

Plus galery yang ditampilkan dan disajikan dengan keterangan-keterangan seadanya. Sangat menggelikan, poto-poto tersebut di pampang dan disertai tulisan-tulisan kebohongan yang tak lebih seperti berita infotainment di tv-tv yang tidak bernilai. Ahlul Bait  dalam salah satu dasar pokok ajarannya mewajibkan untuk selalu menggunakan akal dan meneliti setiap berita yang datang kepadamu.

wahabi secara terang terangan mencari musuh dengan kalangan NU, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir melalui tuduhan tuduhan sesat dan ahlulbid’ah kepada kelompok lain ! Kaum wahabi kini mulai menyuap sejumlah intelektual Indonesia untuk mempromosikan akidah sesat mereka !

Wahabi Movement, Indian Freedom Movement

 

Syi’ah menghendaki ukhuwah dan persatuan Islam ! Tapi wahabi melaknat firqah firqah selain mereka !

Quantcastimage

selama ini yang paling tegas menyuarakan kebenaran/kemurnian Islam mungkin ‘kelompok’ yang sering disebut “syiah atau mazhab ahlulbait” sehingga banyak pihak merasa terganggu, terutama wahabi yang sedang cari muka, pura-pura baik menjalin “ukhuwah” dengan umat Islam Indonesia (contoh : MIUMI dan Al Bayyinat) .

Saudaraku, hati-hatilah dengan makar kelompok wahabi yang sangat keji!

yang jelas kenapa kita mau diadu domba oleh wahabi , padahal adu domba itu adalah alat yang paling ampuh untuk menjajah, makanya bersatulah hai yang benar benar serta bermoral

Sayang sekali wahabi memusuhi kalangan syi’ah  tetapi wahabi  juga secara terang terangan mencari musuh dengan kalangan NU, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir 

Maka wahabi  sebenarnya mencari musuh

Jadi sekali lagi kami minta agar wahabi jangan kibarkan bendera perusakan islam dengan menganggap golongan NU dan syi’ah  keliru dll seperti itu. Saya khawatir ini akan jadi biang permusuhan dibelakang hari. Apalagi seakaan wahabi  mesra dengan Nahdiyin KUBU GENERASI  KUNO (MUI Jatim dan Al bayyinat)

saat menghadapi syi’ah  sebenarnya wahabi  mulai menusuk Nahdiyin dari belakang karena syi’ah di Indonesia punya ritual, budaya dan sejarah kedekatan dengan syi’ah !

wahabi membuat artikel menghina mazhab ahlulbait, NU, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir..Apa Begitukah karakter wahabi dalam berdakwah ? Hati hati  ente ketemu syi’ah, NU, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir.

Dasar wahabi sesat !

Muhammadiyah dan NU, sebagai  organisasi Islam yang besar di Indonesia jangan menganggap ringan kejahatan kaum wahabi, yang sudah menjadi watak asli mereka!

Ukhuwah dengan sesama muslimin di Indonesia saja masih carut marut, kenapa menjalin ukhuwah dengan wahabi?

Nantinya akan tambah parah! Karena mereka wahabi  memanfaatkan kondisi kita ini (yang lemah) untuk menyebarkan faham-faham mereka yang sesat ke tengah umat Islam!

Said Agil: NU Tegas Terhadap Wahabi

  • Senin, 06 Februari 2012
 Gerakan Ansor Provinsi Kepulauan Riau dan Politeknik Negeri Batam menggelar bedah buku sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Minggu kemarin (5/2/2012). Acara ini menghadirkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj
.
Said mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi
.
“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata dia
.
Ia mengatakan, Wahabi memang bukan teroris, namun ajaran-ajaran yang disampaikan menganggap ajaran lain tidak benar sehingga harus ditentang dan mereka mengatasnamakan Islam
.
Menurut Said, Wahabi selalu mengatasnamakan Islam dalam doktrin atau ajaran yang dilakukan, namun tindakannya kadang tidak islami
.
“Mereka sering menganggap umat lain menjalankan tradisi bid’ah yang tak diajarkan agama seperti ziarah kubur, baca tahlil, sehingga ajaran itu harus diperangi,” kata dia
.
Ia mengatakan, segala kegiatan yang dilakukan umat Islam terutama kaum Nahdiyin (NU) semua berdasarkan ajaran dan tuntunan serta tidak ada yang mengada-ngada
.
Said mengatakan, satu alasan mengapa NU menyatakan memerangi Wahabi karena ajaran yang disampaikan malah membuat perpecahan dalam tubuh Islam. “NU tegas terhadap Wahabi, kami justru menghargai agama lain yang jelas-jelas tidak mebawa nama Islam,” kata dia
.
Hal tersebut, tambah Said, karena dalam Al-Quran juga diajarkan untuk saling menghargai antarumat beragama.
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj (nu.or.id)

Senin, 11 Juni 2012

.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, mensyukuri kondisi NU yang saat ini menjadi kekuatan civil society terbesar di Indonesia. Nahdliyin -sebutan warga NU- diminta bisa memanfaatkannya, dengan menjadi pelopor terbentuknya Ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Insaniyah.
.
“Dengan Pemerintah dan non Pemerintah, NU menjalin hubungan baik. Dengan agama lain, bahkan dengan luar negeri kita juga berhubungan baik. NU sekarang dalam kondisi baik, besar, dan diharapkan perannya oleh semua pihak,” tegas Kiai Said di hadapan seratusan Nahdliyin di Kantor PWNU Jawa Tengah, Ahad (10/6).
.
Acara di PWNU Jawa Tengah adalah rangkaian Turba PBNU ke kepengurusan di daerah, yang di bingkai dalam ‘Dialog Keorganisasian NU’. Hadir juga dalam acara tersebut pengurus PCNU se-Jawa Tengah, beserta lembaga, lajnah, dan badan otonomnya.
.
Sesuai dengan cita-cita pendirian NU, Nahdliyin harus bisa mempelopori terbentuknya Ukhuwah Islamiyah di antara umat Islam. Adanya perbedaan pemahaman diminta tidak menjadi penyebab munculnya permusuhan.
.
“Perbedaan pasti ada, itu sudah nash dan tidak bisa dipungkiri. Tapi jangan sampai perbedaan itu menjadikan kita saling bermusuhan,” ujar Kang Said, demikian Kiai Said disapa dalam kesehariannya.
Meski demikian Kang Said juga berpesan, dalam menjalankan Ukhuwah Islamiyah harus dibarengi dengan Ukhuwah Wathaniyah. Mengutamakan Ukhuwah Islamiyah saja dikhawatirkan akan menjadikan umat Islam jadi eksklusif yang berujung ekstremisme, sementara lebih mementingkan Ukhuwah Wathaniyah akan mengantarkan pada suburnya sekulerisme.
.
Ukhuwah Islamiyah dan Wathaniyah harus sejalan. Jika itu selesai kita akan persembahkan ke dunia Ukhuwah Insaniyah, kita pelopori perdamaian dunia tanpa adanya peperangan,” tuntas Kang Said.
.

Said Aqil: Umat Islam Indonesia Tidak Boleh Radikal, Tapi Jangan Lemah!

  • Selasa, 15 Mei 2012
 Ketua Umum Pengurus Besar Nahdaltul Ulama (PBNU), K.H. Said Aqil Siradj menegaskan, umat Islam tidak boleh terlibat dalam aksi anarkistis dan radikalisme untuk mengawal kebijakan pemerintah pusat ataupun daerah. Sebab, aksi tersebut tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik dan malah mencoreng citra umat Islam.
.
“Umat Islam Indonesia tidak boleh radikal, tetapi juga jangan lemah,” katanya di sela kunjungan kerja PBNU ke Pondok Pesantren Darul Falah, Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Senin (14/5).
.
Kegiatan itu juga dihadiri Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, H. Eman Suryaman dan ratusan nahdiyin dari berbagai daerah di Jawa Barat.
.
Sesuai dengan visinya dalam membangun karakter bangsa, kata Aqil, nahdiyin tidak mengambil jalur kekerasan dalam mengawal kebijakan pemerintah. Meski memiliki massa yang besar, yakni sekitar 70 juta nahdiyin di seluruh Indonesia, menurut dia, NU tetap mengedapankan jalur perdamaian dan diplomasi baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.
.
Metode tersebut, lanjut Aqil, sesuai dengan fitrah umat Islam yang senantiasa menebar cinta dan kasih sayang sesama makhluk (rahmatan lil alamin). Dengan demikian, dia tidak menganjurkan para nahdiyin untuk terlibat dalam berbagai unjuk rasa yang menimbulkan anrkisme.
.
“Unjuk rasa hanya membuat kemacetan dan mengganggu masyarakat lainnya. Coba kalau massa NU demo semua, bisa repot nanti,” ujarnya.
.
Salah satu upaya yang terus didorong untuk mencegah timbulnya karakter anarkistis, kata Aqil, di antaranya dengan terus mengembangkan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. Saat ini, NU telah mendirikan 400.000 madrasah, 21.600 pesantren, 211 sekolah tinggi, dan 850.000 sebagai sarana pendidikan umat.
.
“Para nahdiyin juga terus memberikan kontribusinya melalui lembaga legislatif dan eksekutif, seperti di kementerian, DPR, hingga Mahkamah Konstitusi. Kami bertekad untuk menjadi pelopor bagi ormas-ormas lainnya,” katanya.
.

Wamenag: Perbedaan Keyakinan Tak Boleh Jadi Alasan Memperuncing Konflik

  • Sabtu, 10 Maret 2012
erbedaan agama dan kepercayaan tak boleh menjadi alasan untuk memperuncing konflik. Sebaliknya, lantaran perbedaan itu pula harus saling menghormati untuk kemajuan bangsa.
.
“Bhinneka Tunggal Ika patut kita junjung tinggi, karena terbentuknya Bangsa Indonesia dari adanya pluralisme tersebut,” kata Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar di Denpasar, Bali, Kamis 8 Maret 2012 malam.
.
Nasaruddin menekankan pentingnya saling hormat menghormati antarumat maupun agama yang dianut oleh individu.
.
“Sesungguhnya kita adalah bersaudara dan satu di hadapan Tuhan. Namun cara melakukan sembahyang dan keyakinan yang berbeda,” katanya.
.
Negara, sambungnya, menjamin pemeluk agama di Indonesia sekali pun penganutnya minoritas. Tidak ada intimidasi atau tekanan dalam menjalankan ibadahnya.
.
“Sebab kebebasan untuk memeluk agama dan kepercayaan telah dituangkan dalam pembukaan UUD 1945. Karena itu, umat Islam sebagai mayoritas berkewajiban memberikan perlindungan kepada umat lain,” ujarnya.Ia mengulas, Islam di Indonesia mempunyai budaya dan tradisi tersendiri dibanding Islam di negara lain. Karena itu patut dilestarikan sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.”Dengan keberagaman agama di Indonesia menjadikan kekuatan untuk bersatu membangun bangsa dan mewujudkan cita-cita bangsa itu sendiri, yakni masyarakat adil dan sejahtera,” katanya.
.
Nasaruddin menyayangkan jika belakangan ini merebak tindak anarkisme di berbagai daerah dengan dalih agama.
.
“Padahal tindakan yang dilakukan oleh sekolompok atau organisasi masyarakat yang mengatasnamakan agama itu jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam,” ujarnya.
.
Sebenarnya, kata dia, kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama adalah bertentangan dengan agama itu sendiri. Sebabnya, semua ajaran agama di dunia mengajarkan umatnya berbuat baik, saling menghormati dan menjunjung tinggi toleransi tersebut.
.
“Siapa pun berani melanggar ajaran agama dan berbuat kejahatan dengan sesama umat adalah perbuatan dosa,” kata Nasaruddin.
.
Sementara Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Provinsi Bali, H Mulyono Setiawan mengajak semua umat belajar melakukan toleransi beragama di Pulau Dewata.
.
“Kami mengajak semua umat belajar membina dan menjaga tolerasi beragama di Bali. Walau di Bali mayoritas memeluk agama Hindu, namun mereka tak ada mengabaikan umat yang minoritas. Karena itu sangat tepat untuk berkacamata soal toleransi umat beragama disini,” katanya.
.
Karena toleransi beragama yang begitu kental, kata dia, wisatawan mancanegara merasa aman dan sangat senang berlibur di Pulau Dewata.
.
“Toleransi beragama serta didukung seni budaya yang adiluhung, maka Bali semakin pesat dalam pengembangan sektor pariwisata. Kami mengajak semua umat menghargai perbedaan kepercayaan, karena perbedaan itulah menjadikan bangsa ini akan kuat dan maju,” katanya.