Mengapa Hadith Syiah Banyak Yang Dhaif ? Apakah perawi hadis syi’ah pendusta, pemalsu dan penipu ?

Himpunan Hadis Dhaif dan Maudhu Jilid 1 & Jilid 2 (HC)
Pertanyaan : Mengapa Hadith Syiah Banyak Yang Dhaif ? Apakah perawi hadis syi’ah pendusta ?
.
Jawaban :
1. Hadis yang dikumpulkan berasal dari semua sekte syi’ah yang mengaku ngaku syi’ah, termasuk syi’ah ghulat dll dan Syaikh Kulaini belum mengklasifikasikan shahih tidak nya hadis tersebut
.
2. Sanad hadis banyak lemah karena kondisi keamanan dalam pengumpulan hadis tidak kondusif
.
3. Bercampur antara riwayat taqiyah dan yang bukan taqiyah
.
4. Penguasa dan musuh musuh syiah banyak menyembelih pengikut syiah, memalsukan teks teks kitab lalu dinisbahkan kepada syiah dan membakar perpustakaan syiah
.
5. Masuknya musuh musuh islam ke jalur periwayatan hadis untuk merusak Syi’ah, sehingga muncul hadis hadis ghuluw dll

Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi Syi’ah dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah. Renungkan !      

Hadis-hadis yang termuat dalam kitab hadis syi’ah yakni al-Kafi karya Syaikh Kulaini berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis                        

Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa dalam Al Kafi ada 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq (hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat)   dan 9.480 hadis dhaif                                                                                                            

Menurut Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi. Bahkan ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H) telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya  Mir’at al-‘Uqul.

Dengan hilangnya kekhalifahan dari tangan Imam Hasan maka mulailah masa pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya, yang dilancarkan oleh Daulat Bani Umayyah. Untuk mempertahankan kekuasaan Daulat Bani Umayyah, Mu’awiyah mengerahkan segala dana dan tenaga untuk mengobarkan semangat kebencian, terhadap Imam ‘Ali ra khususnya dan anak cucu ke turunannya.

Semua orang dari ahlul-bait Rasulallah saw direnggut hak-hak asasinya, direndahkan martabatnya, dilumpuhkan perniagaannya dan di ancam keselamatannya jika mereka berani menyanjung atau memuji Imam ‘Ali ra. dan tidak bersedia tunduk kepada kekuasaan Bani Umayyah.

Perintah dari para penguasa untuk mencaci maki, melaknat Imam ‘Ali ra itu sudah suatu perbuatan yang biasa-biasa saja, misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Turmudzi dari Sa’ad Ibnu Waqqash yang mengatakan:

“Ketika Mu’awiyah menyuruh aku untuk mencaci maki Abu Thurab (julukan untuk Imam ‘Ali ra), maka aku katakan kepadanya (kepada Mu’awiyah); Ada pun jika aku sebutkan padamu tiga perkara yang pernah diucapkan oleh Rasulallah saw. untuknya (untuk Imam ‘Ali ra), maka sekali-kali aku tidak akan mencacinya. Jika salah satu dari tiga perkara itu aku miliki, maka hal itu lebih aku senangi dari pada unta yang bagus. Ketika Rasulallah saw. meninggalkannya (meninggalkan ‘Ali ra) didalam salah satu peperangannya, maka ia (‘Ali ra) berkata; ‘Wahai Rasulallah, mengapa engkau tinggalkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak kecil ?

cikal-bakal keturunan beliau saw. banyak yang telah syahid dimedan perang Karbala.

adanya putera Al-Husain ra, bernama ‘Ali Zainal ‘Abidin, yang luput dari pembantaian pasukan Bani Umayyah di Karbala, berkat ketabahan dan kegigihan bibinya Zainab ra. dalam menentang kebengisan penguasa Kufah, ‘Ubaidillah bin Ziyad. Ketika itu ‘Ali Zainal ‘Abidin masih kanak-kanak berusia kurang dari 13 tahun. ‘Ali Zainal-‘Abidin bin Al-Husain cikal bakal keturunan Rasulallah saw.  itulah yang mereka sembunyikan riwayat hidupnya, dengan maksud hendak  memenggal tunas-tunas keturunan beliau saw.

Dalam kitab yang sama pada halaman 708 dikemukakan sebuah hadits di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahal Ibnu Sa’ad ra yang mengatakan:

“Ketika kota Madinah dipimpin oleh seorang dari keluarga Marwan (baca:  Marwan Ibnu Hakam), maka sang penguasa memanggil Sahal Ibnu Sa’ad dan menyuruhnya untuk mencaci maki ‘Ali.  Ketika Sahal tidak mau melakukannya, maka sang penguasa berkata kepadanya; ‘Jika engkau tidak mau mencaci-maki ‘Ali, maka katakan semoga Allah swt mengutuk Abu Thurab’. Kata Sahal; ‘Bagi ‘Ali tidak ada suatu nama yang disenangi lebih dari pada nama Abu Thurab (panggilan Rasulallah saw. kepada Imam ‘Ali ra—pen.), dan ia amat bergembira jika dipanggil dengan nama itu’…sampai akhir hadits’ “. Dan masih banyak lagi riwayat  tentang pelaknatan, pencacian terhadap Imam ‘Ali ra dan penyiksaan kepada para pendukung dan pencinta ahlul-Bait yang tidak kami cantumkan disini.

Keadaan seperti itu berlangsung selama masa kekuasaan Daulat Bani Umay yah, kurang lebih satu abad, kecuali beberapa tahun saja selama kekuasaan berada ditangan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ra. Kehancuran daulat Bani Umayyah diujung pedang kekuatan orang-orang Bani ‘Abbas, ternyata tidak menghentikan gerakan kampanye ‘anti Ali dan anak-cucu keturunannya’. Demikianlah yang terjadi hampir selama kejayaan Daulat ‘Abassiyyah, lebih dari empat abad !

Dengan adanya perpecahan politik, peperangan-peperangan diantara sesama kaum muslimin yang tersebut diatas hingga runtuhnya daulat ‘Abbasiyyah, tidak hanya memporak-porandakan kesatuan dan persatuan ummat Islam, tetapi juga tidak sedikit merusak ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. Berbagai macam pandangan, pemikiran dan aliran serta faham bermunculan. Hampir semuanya tak ada yang bebas dari pengaruh politik yang menguasai penciptanya. Yang satu menciptakan ajaran-ajaran tambahan dalam agama untuk lebih memantapkan tekad para pengikutnya dalam menghadapi lawan. Yang lain pun demikian pula, menafsirkan dan menta’wil kan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sampai sesuai dengan prinsip pandangan mereka untuk membakar semangat para pengikutnya dalam menghadapi pihak lain yang dipandang sebagai musuh.

Selama kurun waktu kekuasaan daulat Bani Umayyah dan daulat Bani ‘Abasiyyah khususnya selama kekuasaan daulat bani Umayyah sukar sekali dibayangkan adanya kebebasaan dan keleluasaan menuturkan hadits-hadits Rasulallah saw. tentang ahlul-bait beliau saw, apalagi berbicara tentang kebijakan adil yang dilakukan oleh Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib ra. dimasa lalu. Itu merupa- kan hal yang tabu.

Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang pada masa itu sengaja menyembunyikan hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan ahlul-bait beliau saw., atau tidak meriwayatkan hadits-hadits dari ahlul-bait beliau saw. (yakni Imam ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain [ra] dan anak cucu keturunan mereka). Ada sebagian dari mereka yang sengaja melakukan dengan maksud politik untuk ‘mengubur’ nama-nama keturunan Rasulallah saw., tetapi banyak juga yang menyembunyikan hadits-hadits demikian itu hanya dengan maksud membatasi pembicaraannya secara diam-diam, demi keselamatan dirinya masing-masing.

Sadar atau tidak sadar masing-masing terpengaruh oleh suasana persilangan sikap dan pendapat akibat pertikaian politik masa lalu dan per-musuhan antar golongan diantara sesama ummat Islam. Kenyataan yang memprihatinkan itu mudah dimengerti, karena menurut riwayat pencatatan atau pengkodikasian hadits-hadits baru dimulai orang kurang lebih pada tahun 160 Hijriah, yakni setelah keruntuhan kekuasaan daulat Bani Umayyah dan pada masa pertumbuhan kekuasaan daulat ‘Abbasiyyah.

Masalah hadits merupakan masalah yang sangat pelik dan rumit. Kepelikan dan kerumitannya bukan pada hadits itu sendiri, melainkan pada penelitian tentang kebenarannya. Identitas para perawi sangat menentukan, apakah hadits yang diberitakan itu dapat dipandang benar atau tidak. Untuk meyakini kebenaran hadits-hadits Rasulallah saw., ada sebagian orang-orang dari keturunan ahlul-bait Nabi saw., dan para pengikutnya menempuh jalan yang dipandang termudah yaitu menerima dan meyakini kebenaran hadits-hadits yang diberitakan oleh orang-orang dari kalangan ahlul-bait sendiri.

Cara demikian ini dapat dimengerti, karena bagaimana pun juga orang-orang dari kalangan ahlul-bait pasti lebih mengetahui peri kehidupan Rasulallah saw..

wahabi menyerang Syi’ah dengan Riwayat yang kedudukannya dhaif di sisi keilmuan mazhab Syiah ! Alien Menceritakan Hadis Dalam Kitab Syiah?

Memang seseorang tatkala hendak mencela Syi’ah terkadang harus mencampakkan “kewarasan” nya demi mencapai tujuannya yaitu mencela sekaligus membuat stigma buruk terhadap Syi’ah.Dimanapun tulisan banyak sekali ditemukan tulisan dengan kwalitas seperti itu . . . .

Betapa sikap orang tersebut setali tiga uang dengan sikap orientalis Barat dalam memahami ajaran Islam. Pemahaman sikap orientalis Barat yang tidak jujur akan ajaran Islam hanyalah dilandasi oleh persepsi semata bukan bukti konkrit. Mereka sepertinya enggan untuk menelaah dan mengkaji Islam secara detil dan hanya berkutat pada persepsi dan asumsi belaka.

Akan tetapi lihatlah apa yang orientalis Barat itu lakukan ketika mereka melakukan kajian teologis atas kitab2 mereka. Mereka melakukannya secara kritis dan dengan sungguh2 didasarkan atas timbangan bukti2. Bagi mereka yang pernah duduk dalam kajian teologi Kristen tentulah tidaklah asing lagi

Tapi mengapa ketika mereka menulis dan mengkaji Islam, sikap dan prinsip akademis tersebut mereka campakan begitu saja seolah mereka cukup berpuas diri dengan hanya berbekal asumsi dan persepsi semata?

Demikian halnya timbangan yang sama dilakukan kepada Syiah. Ketika ada teman Sunni yang berbicara tentang Syiah, beberapa dari mereka hanya berpuas diri dengan hanya mengutip dan kemudian berasumsi.

Himpunan Hadis Dhaif dan Maudhu Jilid 1 & Jilid 2 (HC)

 

Walaupun para ulama dari sejak awal-awal lagi telah bangkit menentang fitnah dan gerakan pemalsuan hadis, namun penyebaran hadis-hadis palsu terus juga bergerak, sama ada oleh musuh-musuh Islam yang menyantar sebagai orang Islam atahupun orang-orang Islam yang jahil atau oleh prang-orang yang mempunyai kepentingan peribadi. Schingga kini, hadis-hadis Maudhu’ dan yang sebangsanya masih, tersebar meluas dikalangan masyarakat banyak dijadikan sandaran dalam urusan amal ibadat, kepercayaan dan lain-lain. Menjadi satu kesalahan besar menyebar dan mengamalkan hadis-hadis Maudhu’ dalam urusan apa jua, bahkan kesesatan umat Islam berpunca dari sini.

Alien Menceritakan Hadis Dalam Kitab Syiah?

Sebagian orang pembenci syiah [baca : Nashibi] menyebarkan tulisan aneh yang tujuannya tidak lain untuk mencela mazhab Syiah. Mereka membawakan keterangan dalam salah satu kitab Rijal Syiah bahwa ada orang turun dari langit dan menceritakan hadis. Seperti biasa para orang bodoh dari pengikut mereka tertawa-tawa dan ikut-ikutan mencela Syiah. Aneh, tidak ada satupun diantara mereka yang berusaha sedikit menggunakan akal warasnya untuk memahami permasalahan secara objektif dengan metode ilmiah.

Para pembaca yang terhormat, jika anda melihat dengan baik karakter sang penulis dari tulisan-tulisannya [selain tulisan tentang Syiah]. Anda akan melihat sosok yang katanya berpegang pada kaidah ilmiah [atau lebih tepatnya bergaya sok ilmiah], membahas suatu permasalahan dengan mentakhrij hadis-hadisnya kemudian melakukan analisis perawi dengan kitab-kitab Rijal. Intinya bisa dikatakan jika tidak sedang menulis tentang Syiah, penulis tersebut masih menunjukkan kewarasannya tetapi jika sedang menulis tentang Syiah, tiba-tiba nampak ketidakwarasan yang muncul dari kebenciannya terhadap Syiah. Orang yang biasanya berlagak pintar tiba-tiba menjadi berlagak bodoh. Kami melihat bahwa sebenarnya dalam perkara Syiah, penulis memang tidak sedang mencari kebenaran secara objektif melainkan hanya ingin membuat kabar miring tentang Syiah dan berusaha menggiring para pembacanya yang bodoh agar ikut-ikutan mentertawakan dan mencela Syiah.

Mari kita lihat riwayat yang menyebutkan “Alien” menjadi perawi hadis dalam kitab Syiah

عمارة بن زيد أبو زيد الخيواني الهمداني لا يعرف من أمره غير هذا ذكر الحسين بن عبيد الله أنه سمع بعض أصحابنا يقول: سئل عبد الله بن محمد البلوي: من عمارة بن زيد هذا الذي حدثك؟ قال: رجل نزل من السماء حدثني ثم عرج

Umaraah bin Zaid, Abu Zaid Al Khaiwaaniy Al Hamdaaniy, tidak diketahui tentangnya selain ini, Al Husain bin ‘Abdullah menyebutkan bahwa ia mendengar sebagian sahabat kami mengatakan Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy pernah ditanya “siapakah Umaarah bin Zaid yang menceritakan hadis kepadamu?”. Ia berkata “seorang laki-laki yang turun dari langit menceritakan kepadaku kemudian naik” [Rijal An Najasyiy hal 303 no 827].

Riwayat ini kedudukannya dhaif di sisi keilmuan mazhab Syiah dengan alasan sebagai berikut. Dalam sanadnya terdapat perawi majhul yaitu pada lafaz “sebagian sahabat kami”. Tidak disebutkan nama para sahabat Husain bin ‘Abdullah yang dimaksud maka sanadnya dhaif. Selain itu ‘Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy juga seorang yang dhaif di sisi Syiah. Ibnu Dawuud berkata dalam Juz Kedua Rijal Ibnu Dawuud, biografi Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy

كذاب وضاع للحديث سئل من عمارة الذي يروي عنه فقال رجل من السماء نزل فحدثني ثم عرج

Pendusta, pemalsu hadis, ia pernah ditanya siapa Umaarah yang ia telah meriwayatkan darinya, ia berkata “orang yang turun dari langit menceritakan kepadaku kemudian naik” [Juz Kedua Rijal Ibnu Dawuud no 277]

An Najasyiy dalam biografi Muhammad bin Hasan bin ‘Abdullah Al Ja’fariy, ia berkata “telah meriwayatkan darinya Al Balaawiy dan Al Balaawiy seorang yang dhaif dan tercela atasnya” [Rijal An Najasyiy hal 324 no 884]

Dengan keterangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hikayat Umaarah bin Zaid turun dari langit dan menceritakan hadis kepada Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy adalah dusta bahkan bisa jadi ini adalah kedustaan Al Balaawiy. Tidak hanya di sisi Syiah, Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy ini ternyata juga perawi kitab hadis Ahlus Sunnah, Ibnu Hajar dalam Lisan Al Mizan telah menulis biografi tentangnya

عبد الله بن محمد البلوى عن عمارة بن زيد قال الدارقطني يضع الحديث قلت روى عنه أبو عوانة في صحيحه في الاستسقاء خبرا موضوعا

Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy meriwayatkan dari ‘Umaarah bin Zaid, Daruquthniy berkata “pemalsu hadis”. Aku katakan telah meriwayatkan darinya Abu Awanah dalam kitab Shahihnya tentang Al Istisqaa’ kabar maudhu’ [Lisan Al Mizan juz 3 no 1392]

Kesimpulannya, kisah alien ini adalah kedustaan dari seorang perawi yang memang dicela oleh mazhab Syiah dan Sunni. Maka mengapa ada sebagian orang mau-maunya berpikir dengan keras untuk memahami suatu riwayat dusta dan menjadikannya sebagai bahan ejekan bagi mazhab lain, sepertinya orang tersebut memang agak sedikit kurang waras atau menyimpan kenifaqan di hatinya. Yah mana ada kan orang waras mau berpikir keras memahami riwayat dusta dan menjadikan riwayat dusta tersebut untuk mencela mazhab lain.

Hadis Dari Sumber Syiah Juga Perlu Diterima

Syiah telah lama wujud, Sunni pun telah lama wujud. Banyak mazhab-mazhab lain telah wujud dan pupus, namun Sunni dan Syiah tetap wujud, menunjukkan dominannya kedua mazhab ini dalam Islam. Sudah sekian lama kedua mazhab ini menghabiskan masa dalam dialog, debat dan muzakarah, dan ia masih terus berlangsung sehingga ke hari ini.

Bagi mereka yang cenderung dengan hujah Syiah akan Wilayah Ahlulbait, mereka akan bertukar mazhabnya ke Syiah, dan begitu juga sebaliknya. Setelah lama terlibat dalam dialog, hari ini saya mahu menyentuh satu isu yang menghairankan saya, iaitu pandangan Sunni terhadap hadis-hadis Syiah yang sangat negatif.

Sumber-sumber yang digunakan dalam dialog Sunni Syiah, kebanyakannya didominasi oleh sumber Sunni, yang mana kami Syiah harus dan wajib berdalil dengannya. Di satu sudut, segala puji bagi Allah yang meletakkan hujah-hujah kami begitu kuat dan banyak di dalam sumber Sunni, sedangkan doktrin-doktrin Sunni tiada satupun dapat dihujahkan secara jelas dengan hadis Syiah. Contohnya dalam hal Imamah, Syiah boleh sahaja membuktikan kekhalifahan Imam Ali dan Ahlulbait dari sumber Syiah mahupun Sunni. Manakala, Sunni tidak akan dapat berbuat demikian dalam konteks membuktikan sahnya khalifah mereka dari sisi kami.

Selain itu, keadaan ini turut menunjukkan betapa “versatile” nya para pendebat Syiah, yang mana, selain perlu mahir dengan warisan keilmuan Syiah, mereka juga perlu mengetahui penghujahan yang sama, dari sisi Sunni. Sementara pendebat Sunni pula, hanya mahu “memahirkan” diri mereka dalam hadis Syiah yang dhaif dan gharib, yang mahu digunakan untuk menjatuhkan mazhab ini. Itupun, cara mereka berdalil dengan hadis-hadis itu, takhrijnya, sering luar dari konteks, belum lagi sampai kepada status hadis, sanad dan matannya, serta kaedah menilai hadis dalam kaedah keilmuan Syiah. Ternyata, mereka tidak berkemampuan seperti pendebat Syiah, dalam memahami warisan keilmuan mazhab yang lain.

Saya mahu share video yang berkaitan dengan tajuk ini:

Mengapa mereka menolak hadis Syiah? Selalunya atas alasan yang sangat tidak logik. Contohnya dalam dialog tajuk Imamah, selain membawa hadis sumber Sunni tentang Ghadir Khum, serta kata-kata Imam Ali tentangnya, sebagai penguat, ana sering juga membawa hadis dari jalur pengriwayatan Syiah dalam tajuk yang sama.

Selalunya, hadis Syiah lebih jelas dalam sesuatu tajuk yang mana hadis Sunni agak kabur atau kurang jelas. Hadis dua belas orang Imam dari sisi Sunni sangat mutawattir dan sahih. Namun hadis yang menjelaskan siapa mereka, kebanyakannya berasal dari sumber yang tidak diterima dan ditolak oleh Sunni. Perkara yang sama tidak di dalam hadis Syiah, kerana begitu banyak sekali kata-kata Rasulullah dan para Imam Ahlulbait yang menjelaskan siapakah dua belas orang Imam ini.

Namun, apabila disodorkan sahaja kepada pendebat Sunni, lantas, mereka bertindak seolah-olah disodorkan objek yang menjijikkan. “Ini hadis Syiah, kami tak terima” adalah ayat yang sudah lama menjadi ibarat muzik di telinga saya. Lantas saya tanyakan kepada mereka:

“Bukankah kalian Ahlul Sunnah juga mengaku diri kalian pengikut Ahlulbait?” (Padahal dalam kitab-kitab hadis mereka sedikit sekali sumber hadis itu dari Ahlulbait. Walaupun jika kita menganggap Ummul Mukminin sebagai Ahlulbait, maka Abu Hurairah dan para sahabat lain masih lagi pendahulu dalam majoriti kitab mereka)

Mereka akan menjawab: “Ya”

“Bukankah kalian juga mengangungkan Imam Jaafar al Sadiq(as) sebagai seorang ulama yang agung?” (Dalam konteks jika hadis yang diperbincangkan itu diriwayatkan oleh Imam al Sadiq(as))

Mereka kebanyakannya akan menjawab: “Ya”

“Maka mengapa kalian menolak hadis-hadis yang diriwayatkan mereka?”

Maka kesemua mereka akan menjawab dengan jawaban yang bermotif sama: “Ini adalah hadis yang dipalsukan atas nama mereka.”

Ini adalah jawaban yang sangat mendungukan kita. Membuatkan kita terkesima, bukan kerana kuatnya nilai hujah itu, tetapi kerana dasyatnya nilai kelucuan di dalamnya. Bila ditanya bukti yang mengatakan Syiah memalsukan hadis atas nama Ahlulbait, maka tiada jawaban konkrit yang dapat diberikan. Jika begitu, dengan menggunakan standard yang sama, maka saya juga BOLEH MENGATAKAN, KESELURUHAN HADIS KALIAN ITU PALSU DAN MENGATASNAMAKAN RASULULLAH(S)!! Apa jawaban yang boleh kalian berikan atas tuduhan ini?

Jangan salah sangka, saya bukan menyatakan Syiah bebas dari hadis palsu, tidak sama sekali. Syiah, sama juga dengan Sunni, turut dibelenggu masalah kepalsuan hadis. Atas sebab inilah, kami juga mempunyai kaedah atau ilmu Mustolah al Hadis juga, seperti juga Sunni, agar dapat menyaring hadis-hadis mana yang sahih, hasan, muwatsaq atau maudhu’. Maklumat lanjut tentang Syiah dan sejarah ilmu hadisnya, boleh baca di sini.

Hadis-hadis Syiah menepati ideologi kami, yakni mengikuti Ahlulbait, apabila sumber hadis kami semuanya dari mereka. Ia juga begitu sesuai dengan kajian Sunni-Syiah sebagai sumber “counterpart” Sunni, maka adalah sangat dirugikan jika ia ditolak mentah-mentah atas dasar prejudis.

Jika kalian mengaku ikut Ahlulbait, maka majoriti hadis-hadis mereka hanya akan diperolehi dari sumber Syiah. Kalian tidak akan menjumpainya di sisi kalian sebanyak yang boleh dijumpai di pihak kami. Ia meliputi berbagai bidang seperti akidah, akhlaq, fiqh, kesihatan, sains dan lain-lain, yang membolehkan kami beramal dengannya. Sedangkan hadis-hadis riwayat Ahlulbait di sisi kalian tidak cukup pun untuk diamalkan sepenuhnya jika semata-mata bergantung kepada hadis riwayat mereka tanpa penguat dari hadis para sahabat yang lain.

Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar
.
Menurut ajaran sunni :
- Imam Ali berijtihad
– Mu’awiyah berijtihad
– Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

saudaraku….

Tanggapan syi’ah tentang bai’at Imam Ali :

Imam Ali r.a dan Syiah membai’at Abubakar sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I…

Saudaraku..

- Imam Ali terpaksa membai’at Abubakar karena ingin memelihara umat agar tidak mati sia sia dalam perang saudara melawan Pasukan Abubakar dibawah pimpinan Khalid Bin Walid yang haus darah

- Dengan mengalah Imam Ali telah menyelamatkan umat Islam dari kehancuran..Kalau perang saudara terjadi dan imam Ali tidak membai’at Abubakar maka tidak ada lagi Islam seperti yang sekarang ini

Akan tetapi…..

syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..

Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

===============================================================================================================================================================
CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

(9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

(10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

(11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

(12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

Beda utama Syi’ah – Sunni :
Sunni :
1. Nabi SAW tidak menunjuk siapa pengganti nya
2. Fokus pedoman : Sahabat
3. Semua sahabat adil

Mu’awiyah di dalam khutbahnya dishalat Jum’at telah mengutuk ’Ali, Hasan dan Hussein. Mu’awiyah juga mengintruksikan didalam semua forum jamaah ketika dia berkuasa supaya mengutuk manusia yang suci itu (baca keluarga Rasul) Justru itu siapapun yang bersatupadu dengan manusia yang terkutuk itu (baca Mu’awiyah) dan merasa senang dengan tindakan mereka (baca komunitas Mu’awiyah) tidak pantaskah untuk dikutuk? Dan ketika dia sedang bersekutu dengan manusia seperti itu, jika dia membantu mereka dalam memalsukan Hadist dari Ahlulbayt (keluarga/keturunan Rasul) dan memaksakan manusia untuk melakukan kutukannya kepada manusia suci ini (baca ’Ali, Fatimah, Hasan dan Husen),

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

====================================================

MASALAH   KHALiFAH

Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah  itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku

Hanya karna dukungan politik dari ulama ulama Bani Umayyah dan  ulama ulama  Bani Abbasiah keempat mazhab aswaja sunni   dapat berkembang ditengah masyarakat ( Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq )

 saudaraku….

banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Perpecahan internal dalam Islam yang meruncing dari waktu ke waktu

.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.
saya  tidak menerima hadits yang menjadi salah satu dasar pengangkatan salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar sebagai Khalifah karena syiah  tidak mengakui kekhalifahan tiga sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman
.

Hadits yang tertulis dalam Shahih Bukhari tersebut, menjelaskan tentang ditunjuknya Abu Bakar oleh Nabi Muhammad Saw sebagai imam shalat, saat Nabi sedang sakit. Ini menjadi isyarat, bahwa Nabi menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah. Syi’ah menganggap hadits tersebut meragukan, meskipun diriwayatkan oleh imam Bukhari, dan hadits tersebut termasuk sahih (kuat)

.

Dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu’tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun. Bagaimana menjelaskan ini?

.

Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab

.

Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits. Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakar terjadi larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu

.

Pada mulanya perpecahan Islam  itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pada mulanya perpecahan itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarahsyura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).Agama Muhammad SAW  terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pada setiap khotib jum’at harus ada kata-kata mencela Ali & keluarga .

o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam”

Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan kontra.    Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.

Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah.

hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi. Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam

Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap pembantai pengikut ahlulbait

   Murji`ah versus Syiah.

Pertentangan orang-orang Murji`ah dengan orang-orang Syiah terjadi oleh karena Murji`ah menyerahkan persoalan khalifah atau pengganti Nabi kepada Tuhan. Mereka tidak mendukung gagasan Syiah tentang negara teokratis Ali, yang didasarkan atas keadilan agama dan juga tidak meyakini klaim Ahli Bait sebagai pewaris kepemimpinan Nabi atas umat Islam.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.

Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Bersamaan dengan itu, kaum Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali, dan mengajak Husain bin Ali melakukan perlawanan.

Husain bin Ali sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah,

Pada tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia. Dalam sebuah perjalanan  terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan Pertempuran Karbala, Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala sebuah daerah di dekat Kufah.

Kelompok Syi’ah sendiri bahkan terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan diantaranya adalah yang dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar (yang pada akhirnya mengaku sebagai nabi) mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari PersiaArmenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah secara keseluruhan.

Abdullah bin Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepung Madinah dan Mekkah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus.

Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Setelah itu gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi’ah juga dapat diredakan.

pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyimyang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.

Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus

.

Sistem Pemerintahan Thaghut Umayyah :

1. Sistem Suksesi (penggantian khalifah)

Permintaan Hasan Bin Ali kepada Mu’awiyah untuk tidak menunjuk pengganti khalifah dan menyerahkan penggantinya kepada umat Islam melalui pemilihan tidak dilaksanakan oleh Mu’awiyah. Ia menunjuk anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Penunjukan ini dilaksanakan oleh Mu’awiyah atas saran Al Mughirah bin Syu’bah. Ia berpendapat bahwa penunjukan putra Mahkota dapat menghindarkan konflik politik intern umat Islam, seperti yang terjadi pada masa sebelumnya. Cara ini terus berlanjut untuk semua khalifah, mereka selalu menunjuk putra mahkota. Dan untuk mendapatkan pengesahannya para khalifah memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan bai’at di hadapan khalifah.Selain Bani Umaiyah tidak mempunyai kesempatan menjadi pejabat kerajaan.

2. Lembaga Syura

Dewan Penasihat khalifah tidak berfungsi secara baik, mereka diangkat hanya dari kerabat khalifah sendiri sehingga lebih banyak mendukung kebijakan khalifah, dan tidak lagi memperhatikan usulan, pendapat dan kepentingan rakyat. Hal ini terjadi karena penguasa bani Umaiyah benar-benar menganggap dirinya sebagai raja yang tidak dipilih dan diangkat oleh rakyat. Mereka menjadi penguasa karena berjuang untuk merebutnya, sehinga negara adalah miliknya
.
pada masa Bani Umaiyah para khalifah dan keluarganya hidup dalam kemewahan dan selalu mendapatkan penjagaan yang ketat dari para pengawalnya. Mereka berdalih, bahwa khalifah adalah pemimpin umat yang harus dijaga kewibawaannya, dan juga keamanannya, wibawa khalifah adalah wibawa umat, dan keselamatan khalifah adalah keselamatan negara.

3. Sistem Organisasi Pemerintahan

Organisasi pemerintahan yang dikembangkan oleh Daulah Bani Umaiyah lebih modern dan lebih rapi. Dauah bani Umaiyah menetapkan Damaskus sebagai ibu kota pemerintahan. Dan urusan pemerintahan pusat dijalankan oleh lima dewan (departemen), yaitu :

  • Diwanul Jundi yang menangani urusan kemiliteran.
  • Diwanur Rasail yang menngani urusan admnistrasi pemerintah dan surat-menyurat
  • Diwanul Barid yang menangani urusan pos
  • Diwanul Kharraj yang menangani urusan keuangan.
  • Diwanul Khatam yang menangani urusan dokumentasi.

Sedangkan secara administatif wilayah kekuasaan dibagi menjadi lima kelompok wilayah propinsi, yaitu :

  • Kelompok wilayah propinsi Hijaz dan Yaman.
  • Kelompok wilayah Mesir bagian utara dan selatan.
  • Kelompok wilayah propinsi Irak Arab meliputi wilayah Babilonia dan Kaldea, dan Irak Ajam meliputi Yaman dan Persia.
  • Kelompok wilayah Armenia, Mesopotamia, dan Azerbaijan.
  • Kelompok wilayah propinsi Afrika Utara, meliputi Spanyol, Perancis bagian Selatan, serta Sicilia.

4. Angkatan Perang

Angkatan Perang yang diubangun oleh Daulah Bani Umaiyah lebih banyak mencontoh model Romawi dan Persia. Yaitu membangun tentara khusus yang dibayar oleh negara. Selain itu mereka juga mengembangkan angkatan laut. Dalam rekrutmen tentara Daulah Bani Umaiayah lebih mengutamakan orang-orang Arab dari pada orang-orang Mawali atau Non Arab. Kesemuanya ini sangat mendukung kebijakan Bani Umaiaya yang mengutamakan perluasan wilayah.

Muawiyah bin Abu Sufyan

Muawiyah I
Memerintah 661 – 680
Dinobatkan 661
Dilantik 661
Nama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan
Lahir 602
Meninggal 6 Mei 680
Pendahulu Ali
Pewaris Yazid I
Pengganti Yazid I
Anak Yazid I
Wangsa Bani Abdus Syams
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Abu Sufyan
Ibu Hindun binti Utbah

Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, dipaksa berbai’at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy’ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan biadab

.

Kekhalifahan Utama di Damaskus

  1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
  2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
  3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
  4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M
  5. Abdullah bin Zubair bin Awwam, (peralihan pemerintahan, bukan Bani Umayyah).
  6. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
  7. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
  8. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
  9. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
  10. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
  11. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
  12. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
  13. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
  14. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
  15. Marwan II bin Muhammad (memerintah di HarranJazira), 127-133 H / 744-750 M

Ahlusunnah (Sunni) tidak mencintai Ahlul Bait, buktinya membela ORANG YANG MELAKUKAN pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya

Kekhalifahan Imam Ali  diteruskan oleh puteranya, Al-Hasan ra., tetapi sisa-sisa kekuatan pendukung mendiang Imam  Ali  sudah banyak mengalami kemerosotan mental dan patah semangat.. Bahkan terjadi penyeberangan ke pihak Mu’wiyah untuk mengejar kepentingan-kepentingan materi, termasuk ‘Ubaidillah bin Al-‘Abbas (saudara misan Imam ‘Ali ra.) yang oleh Al-Hasan ra, diangkat sebagai panglima perangnya !

Hilanglah sudah imbangan kekuatan antara pasukan Al-Hasan ra dan pasukan Mu’awiyah, dan pada akhirnya diadakanlah perundingan secara damai antara kedua belah pihak. Dalam perundingan itu Al-Hasan ra. menyerahkan kekhalifan kepada Mu’awiyah atas dasar syarat-syarat tertentu, berakhirlah sudah kekhalifahan Ahlu-Bait Rasulallah saw. Seluruh kekuasaan atas dunia Islam jatuh ketangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Dengan hilangnya kekhalifahan dari tangan Imam Hasan maka mulailah masa pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya, yang dilancarkan oleh Daulat Bani Umayyah. Untuk mempertahankan kekuasaan Daulat Bani Umayyah, Mu’awiyah mengerahkan segala dana dan tenaga untuk mengobarkan semangat kebencian, terhadap Imam ‘Ali ra khususnya dan anak cucu ke turunannya. Semua orang dari ahlul-bait Rasulallah saw direnggut hak-hak asasinya, direndahkan martabatnya, dilumpuhkan perniagaannya dan di ancam keselamatannya jika mereka berani menyanjung atau memuji Imam ‘Ali ra. dan tidak bersedia tunduk kepada kekuasaan Bani Umayyah.

Perintah dari para penguasa untuk mencaci maki, melaknat Imam ‘Ali ra itu sudah suatu perbuatan yang biasa-biasa saja, misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Turmudzi dari Sa’ad Ibnu Waqqash yang mengatakan:

“Ketika Mu’awiyah menyuruh aku untuk mencaci maki Abu Thurab (julukan untuk Imam ‘Ali ra), maka aku katakan kepadanya (kepada Mu’awiyah); Ada pun jika aku sebutkan padamu tiga perkara yang pernah diucapkan oleh Rasulallah saw. untuknya (untuk Imam ‘Ali ra), maka sekali-kali aku tidak akan mencacinya. Jika salah satu dari tiga perkara itu aku miliki, maka hal itu lebih aku senangi dari pada unta yang bagus. Ketika Rasulallah saw. meninggalkannya (meninggalkan ‘Ali ra) didalam salah satu peperangannya, maka ia (‘Ali ra) berkata; ‘Wahai Rasulallah, mengapa engkau tinggalkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak kecil ?

cikal-bakal keturunan beliau saw. banyak yang telah syahid dimedan perang Karbala.

adanya putera Al-Husain ra, bernama ‘Ali Zainal ‘Abidin, yang luput dari pembantaian pasukan Bani Umayyah di Karbala, berkat ketabahan dan kegigihan bibinya Zainab ra. dalam menentang kebengisan penguasa Kufah, ‘Ubaidillah bin Ziyad. Ketika itu ‘Ali Zainal ‘Abidin masih kanak-kanak berusia kurang dari 13 tahun. ‘Ali Zainal-‘Abidin bin Al-Husain cikal bakal keturunan Rasulallah saw.  itulah yang mereka sembunyikan riwayat hidupnya, dengan maksud hendak  memenggal tunas-tunas keturunan beliau saw.

Dalam kitab yang sama pada halaman 708 dikemukakan sebuah hadits di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahal Ibnu Sa’ad ra yang mengatakan:

“Ketika kota Madinah dipimpin oleh seorang dari keluarga Marwan (baca:  Marwan Ibnu Hakam), maka sang penguasa memanggil Sahal Ibnu Sa’ad dan menyuruhnya untuk mencaci maki ‘Ali.  Ketika Sahal tidak mau melakukannya, maka sang penguasa berkata kepadanya; ‘Jika engkau tidak mau mencaci-maki ‘Ali, maka katakan semoga Allah swt mengutuk Abu Thurab’. Kata Sahal; ‘Bagi ‘Ali tidak ada suatu nama yang disenangi lebih dari pada nama Abu Thurab (panggilan Rasulallah saw. kepada Imam ‘Ali ra—pen.), dan ia amat bergembira jika dipanggil dengan nama itu’…sampai akhir hadits’ “. Dan masih banyak lagi riwayat  tentang pelaknatan, pencacian terhadap Imam ‘Ali ra dan penyiksaan kepada para pendukung dan pencinta ahlul-Bait yang tidak kami cantumkan disini.

Keadaan seperti itu berlangsung selama masa kekuasaan Daulat Bani Umay yah, kurang lebih satu abad, kecuali beberapa tahun saja selama kekuasaan berada ditangan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ra. Kehancuran daulat Bani Umayyah diujung pedang kekuatan orang-orang Bani ‘Abbas, ternyata tidak menghentikan gerakan kampanye ‘anti Ali dan anak-cucu keturunannya’. Demikianlah yang terjadi hampir selama kejayaan Daulat ‘Abassiyyah, lebih dari empat abad !

Dengan adanya perpecahan politik, peperangan-peperangan diantara sesama kaum muslimin yang tersebut diatas hingga runtuhnya daulat ‘Abbasiyyah, tidak hanya memporak-porandakan kesatuan dan persatuan ummat Islam, tetapi juga tidak sedikit merusak ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. Berbagai macam pandangan, pemikiran dan aliran serta faham bermunculan. Hampir semuanya tak ada yang bebas dari pengaruh politik yang menguasai penciptanya. Yang satu menciptakan ajaran-ajaran tambahan dalam agama untuk lebih memantapkan tekad para pengikutnya dalam menghadapi lawan. Yang lain pun demikian pula, menafsirkan dan menta’wil kan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sampai sesuai dengan prinsip pandangan mereka untuk membakar semangat para pengikutnya dalam menghadapi pihak lain yang dipandang sebagai musuh.

Selama kurun waktu kekuasaan daulat Bani Umayyah dan daulat Bani ‘Abasiyyah khususnya selama kekuasaan daulat bani Umayyah sukar sekali dibayangkan adanya kebebasaan dan keleluasaan menuturkan hadits-hadits Rasulallah saw. tentang ahlul-bait beliau saw, apalagi berbicara tentang kebijakan adil yang dilakukan oleh Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib ra. dimasa lalu. Itu merupa- kan hal yang tabu.

Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang pada masa itu sengaja menyembunyikan hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan ahlul-bait beliau saw., atau tidak meriwayatkan hadits-hadits dari ahlul-bait beliau saw. (yakni Imam ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain [ra] dan anak cucu keturunan mereka). Ada sebagian dari mereka yang sengaja melakukan dengan maksud politik untuk ‘mengubur’ nama-nama keturunan Rasulallah saw., tetapi banyak juga yang menyembunyikan hadits-hadits demikian itu hanya dengan maksud membatasi pembicaraannya secara diam-diam, demi keselamatan dirinya masing-masing.

Sadar atau tidak sadar masing-masing terpengaruh oleh suasana persilangan sikap dan pendapat akibat pertikaian politik masa lalu dan per-musuhan antar golongan diantara sesama ummat Islam. Kenyataan yang memprihatinkan itu mudah dimengerti, karena menurut riwayat pencatatan atau pengkodikasian hadits-hadits baru dimulai orang kurang lebih pada tahun 160 Hijriah, yakni setelah keruntuhan kekuasaan daulat Bani Umayyah dan pada masa pertumbuhan kekuasaan daulat ‘Abbasiyyah.

Masalah hadits merupakan masalah yang sangat pelik dan rumit. Kepelikan dan kerumitannya bukan pada hadits itu sendiri, melainkan pada penelitian tentang kebenarannya. Identitas para perawi sangat menentukan, apakah hadits yang diberitakan itu dapat dipandang benar atau tidak. Untuk meyakini kebenaran hadits-hadits Rasulallah saw., ada sebagian orang-orang dari keturunan ahlul-bait Nabi saw., dan para pengikutnya menempuh jalan yang dipandang termudah yaitu menerima dan meyakini kebenaran hadits-hadits yang diberitakan oleh orang-orang dari kalangan ahlul-bait sendiri.

Cara demikian ini dapat dimengerti, karena bagaimana pun juga orang-orang dari kalangan ahlul-bait pasti lebih mengetahui peri kehidupan Rasulallah saw..

Yazid bin Muawiyyah dilahirkan pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu dan tidak pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah  SAW  bersabda:Al-Hasan dan Al-Husein adalah sayyid (penghulu) para pemuda ahlul jannah.(HR. Tirmidzi, Hakim, Thabrani, Ahmad dan lain-lain dari Abi Sa’id al-Khudri; dishahihkan oleh Syaikh AlAlbani dalam Silsilah Hadits Shahih, hal 423, hadits no. 796 dan beliau berkata hadits ini diriwayatkan pula dari 10 shahabat)

Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku katakan kepada ayahku: “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka cinta kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Wahai anakku, apakah akan mencintai Yazid seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” Aku bertanya: “Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab: “Wahai anakku, kapan engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?” Diriwayatkan pula bahwa ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau menulis hadits dari Yazid bin Mu’awiyyah?” Dia berkata: “Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”

Padahal jauh-jauh hari Hasan al-Bashri telah mengatakan hal ini, sebagaimana yang disampaikan oleh Abul A’la al-Maududi, bahwa Mu’awiyah telah melakukan empat hal yang apabila satu saja ada pada dirinya telah cukup menjadikannya celaka. Salah satunya adalah melantik puteranya, Yazid, sebagai pemimpin setelahnya. Padahal Yazid adalah seorang pemabuk dan pemakai baju sutera.” [Lihat: Al-Maududi, “Al-Khilafah wa al-Mulk”, hal. 106].

Suyuthi meriwayatkan dari al-Dzahabi yang berkata: “Ketika Yazid melakukan apa yang ia lakukan pada penduduk Madinah, sembari tetap bersama minuman khamr-nya dan perbuatan mungkarnya….” [Lihat: Suyuthi, “Tarikh al-Khulafa”, hal. 209].

Ibn Katsir mengatakan: “Yazid bin Mu’awiyah telah terlalu banyak mengundang siksa atas dirinya melalui kebiasaan minum khamrnya” [Lihat:Ibn Katsir,“al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

Ibn Katsir juga mengatakan: “Diriwayatkan bahwa Yazid telah masyhur dengan kegemarannya dalam bermusik, minum khamr, bernyanyi, dan berburu. Dan setiap hari ia selalu mabuk (makhmur).” [Lihat: Ibn Katsir, “al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 259].

YAZiD  MEMUKUL  POTONGAN  KEPALA  HUSAiN

Mengenai pemukul-mukulan yang dilakukan oleh Yazid, ada sederet ulama ahlusunnah yang mengakui kejadian tersebut di atas, seperti al-Jahidz dan Ibn Atsir. Khusus Ibn Atsir, tentunya anda tahu bahwa ia juga seorang ulama ahli rijal, yang terkenal dengan kitab rijal-nya “Usud al-Ghabah”. Sementara, ia mengatakan: “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya, sementara kepala (al-Husein) berada di sisinya. Ia lalu memukuli mulut dari kepala tersebut, sembari mengucapkan syair.” [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85]. Dengan demikian, secara tidak langsung ia membantah ucapan Ibn Taimiyah bahwa riwayat tersebut munqathi’.

Untuk melengkapi riwayat tersebut, saya bawakan riwayat-riwayat lainnya sebagai berikut:

1. Al-Qasim bin Abdurahman (salah seorang budak Yazid bin Mu’awiyah) berkata: “Tatkala kepala-kepala diletakkan di hadapan Yazid bin Mu’awiyah, yaitu kepala al-Husein, keluarga, dan para sahabat beliau. Ia (Yazid) berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 391].

2. Uwanah bin al-Hakam al-Kalbi berkata: “Ubaidillah lalu memanggil Muhaffiz bin Tsa’labah dan Syimr bin Dzil Jausyan dan berkata: “Berangkatlah dengan membawa perbekalan dan kepala untuk menghadap amirul mukminin Yazid bin Mu’awiyah.” Mereka lalu berangkat. Dan ketika sampai di istana Yazid, Muhaffiz berteriak dengan suara lantang: “Kami datang dengan membawa kepala manusia paling dungu dan keji.” Yazid pun berkata: “Ibu Muhaffiz tidak melahirkan seorang yang lebih keji dan lebih dungu darinya (al-Husein). Sedangkan ia (al-Husein) adalah seorang pemutus hubungan yang zalim.” Dan tatkala Yazid melihat kepala al-Husein, ia berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 394-396; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 84].

3. Para penulis sejarah ahlusunnah terkenal meriwayatkan: “Setelah diarak keliling kota, Ibn Ziyad (gubernur Kufah) mengirim kepala al-Husein as kepada Yazid bin Mu’awiyah di Syam (Damaskus). Saat itu bersama Yazid terdapat Abu Barzah al-Aslami. Lalu Yazid meletakkan kepala tersebut di hadapannya dan memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair. Abu Barzah lalu berkata: “Angkat tongkatmu! Demi Allah, aku kerap melihat Rasulullah mencium bibir itu.” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 7, hal. 190; Al-Mas’udi, “Muruj al-Dzihab”, jilid 2, hal. 90-91; “Tarikh Thabari”, jilid 2, hal. 371; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85].

4. Ibn Katsir juga mengutip dari Abu ‘Ubaidah Mua’mar bin al-Matsna, yang berkata: “Ketika Ibn Ziyad telah membunuh al-Husein dan orang-orang yang bersama beliau, ia lalu mengirim kepala-kepala mereka tersebut kepada Yazid” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

5. Al-Qasim bin Bukhait berkata: “Yazid lalu memberi izin orang-orang untuk masuk, sementara kepala (al-Husein) berada di hadapannya. Ia lalu memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 396-397].

Kenyataannya, kepala al-Husein as tersebut dibawa menuju Madinah bersama para wanita keluarga Nabi saww, setelah sebelumnya dibawa terlebih dahulu ke hadapan Yazid. [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 84-88].

tahun 63 H/683 M, pasukan Yazid yang dipimpin Muslim bin ‘Uqbah menyerbu kota Madinah dengan 12.000 anggota pasukan, yang terkenal dengan perang Harrah. Yazid menyerbu dari arah Timur Madinah, yang disebut Harrah Syarqiyah, agar orang Madinah silau oleh sinar matahari. Ia lalu membunuh 7.000 tokoh dan 10.000 rakyat jelata, di antaranya 80 sahabat pengikut Perang Badr, 1.000 orang Anshar dan 800 kaum Quraisy. Ia membolehkan pasukannya menjarah dan merampok kota Madinah selama 3 hari dan  menurut Ibnu Katsir ada seribu gadis yang hamil akibat perkosaan pada masa itu.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah berhati mulia, yang memerintah dua setengah tahun dari 92 tahun pemerintahan dinasti Umayyah, mengatakan: ‘Bila ada pertandingan kekejaman pemimpin, maka kita kaum Muslimin pasti akan jadi juara bila kita kirim Hajjaj bin Yusuf ‘.

Seperti dicatat oleh Tirmidzi, Ibnu ‘Asakir, dalam 20 tahun sebagai gubernur ‘khalifah’ Abdul Malik bin Marwan di Iraq ia telah membunuh 120.000 Muslim dengan berdarah dingin; shabran (Shahih Tirmidzi, jilid 9, hlm. 64; Ibnu ‘Asakir, Tarikh, jilid 4, hlm. 80; Tafsir alWushul, jilid 4, hlm. 36.)

, dan ditemukan dalam penjaranya 80.000 orang dan di antaranya 30.000 wanita yang dihukum tanpa diadili dan banyak yang sudah membusuk. Ia menembaki ka’bah dengan katapel (alat pelempar batu, manjaniq) pada musim haji dalam memerangi Ibnu Zubair. Ia melakukan tindakan kejam yang sukar dilukiskan, terutama terhadap pengikut pengikut Imam Ali dan memerlukan buku tersendiri untuk menulis riwayat Hajjaj bin Yusuf. Ketika ‘Abdul Malik akan meninggal ia berpesan agar berlaku baik terhadap Hajjaj bin Yusuf, ‘karena dia telah mengalahkan musuhmusuhmu’. (Ibnu Atsir, Tarikh, jilid 3, hlm. 103, Ibnu Khaldun, Tarikh, jilid 3, hlm. 58.)

Ia tidak segan menghina sahabat yang sudah meninggal sekalipun: ‘A’masy mencerita kan: ‘Demi Allah, aku mendengar Hajaj bin Yusuf berkata: ‘Mengherankan Abu Hudzail (maksudnya Abdullah bin Mas’ud). Ia mengatakan ia membaca AlQur’an,

demi Allah ia hanya kotoran dari kotoran kotoran orang Badwi. Demi Allah bila aku bisa menemuinya, akan aku tebas lehernya’. (AlHakim, Mustadrak, jilid 2, hlm. 556; Ibnu ‘Asakir, Tarikh, jilid 4, hlm. 69.)

Di bagian lain, ia berkhotbah: ‘Demi Allah, bertakwalah kepada Allah sesanggupmu, tidak ada itu hari Pembalasan. Dengar dan patuhlah kepada Amiru’lmu’minin

‘Abdul Malik karena ia dapat membalas. Demi Allah bila aku suruh kamu keluar melalui pintu itu dan kamu keluar dari pintu lain, aku akan ambil darah dan hartamu.           ( Ibnu Asakir, Tarikh, jilid 4, hlm. 69 )

Hafizh Ibnu ‘Asakir berkata: ‘Hajjaj berkhotbah di Kufah dan setelah menyebut orang orang  yang berziarah ke kubur Nabi saw di Madinah, ia berkata: ‘mengapa mereka tidak mengunjungi dan bertawaf di istana Amiru’l mu’minin’ ‘Abdul Malik, apakah mereka tidak tahu bahwa khalifah ‘Abdul Malik adalah orang yang lebih baik dari Rasulnya”. (Ibnu Aqil, anNashayih, hlm. 81.)

AlHafizh Ibnu ‘Asakir mengatakan: ‘Suatu ketika ada dua orang berbeda pendapat tentang Hajjaj. Seorang mengatakan Hajjaj kafir, dan yang lain mengatakan ia mu’min yang tersesat. Mereka lalu menanyakan pada asySyu’bah yang berkata kepada keduanya: ‘Sesungguhnya ia Mu’min di jubahnya tetapi ia sebenarnya adalah thaghut dan kafir sekafir kafirnya’.

Tatkala Washil bin ‘Abdul A’la bertanya kepadanya tentang Hajjaj bin Yusuf ia menjawab: ‘Anda menanyaiku tentang si kafir itu?’ Di zaman itu, memenggal kepala seorang muslim oleh penguasa dianggap sebaga permainan anak anak. Menyayat dan menginjak injak  jenazah Muslim adalah perbuatan sehari hari.

Rata rata Hajjaj bin Yusuf selama 20 tahun jadi gubernur Iraq membunuh 7 orang sehari secara berdarah dingin.

Di zaman itu, lebih baik orang mengaku zindiq atau kafir daripada mengaku Syi’ah. Dan orang orang Syi’ah yang terancam nyawanya melakukan taqiyah. Di zaman Banu Abbas kekejaman terhadap Syi’ah lebih parah.

Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar
.
Menurut ajaran sunni :
- Imam Ali berijtihad
– Mu’awiyah berijtihad
– Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

saudaraku….

Tanggapan syi’ah tentang bai’at Imam Ali :

Imam Ali r.a dan Syiah membai’at Abubakar sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I…

Saudaraku..

- Imam Ali terpaksa membai’at Abubakar karena ingin memelihara umat agar tidak mati sia sia dalam perang saudara melawan Pasukan Abubakar dibawah pimpinan Khalid Bin Walid yang haus darah

- Dengan mengalah Imam Ali telah menyelamatkan umat Islam dari kehancuran..Kalau perang saudara terjadi dan imam Ali tidak membai’at Abubakar maka tidak ada lagi Islam seperti yang sekarang ini

Akan tetapi…..

syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..

Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

===============================================================================================================================================================
CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

(9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

(10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

(11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

(12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

Beda utama Syi’ah – Sunni :
Sunni :
1. Nabi SAW tidak menunjuk siapa pengganti nya
2. Fokus pedoman : Sahabat
3. Semua sahabat adil

Mu’awiyah di dalam khutbahnya dishalat Jum’at telah mengutuk ’Ali, Hasan dan Hussein. Mu’awiyah juga mengintruksikan didalam semua forum jamaah ketika dia berkuasa supaya mengutuk manusia yang suci itu (baca keluarga Rasul) Justru itu siapapun yang bersatupadu dengan manusia yang terkutuk itu (baca Mu’awiyah) dan merasa senang dengan tindakan mereka (baca komunitas Mu’awiyah) tidak pantaskah untuk dikutuk? Dan ketika dia sedang bersekutu dengan manusia seperti itu, jika dia membantu mereka dalam memalsukan Hadist dari Ahlulbayt (keluarga/keturunan Rasul) dan memaksakan manusia untuk melakukan kutukannya kepada manusia suci ini (baca ’Ali, Fatimah, Hasan dan Husen),

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

====================================================

MASALAH   KHALiFAH

Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah  itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku

Hanya karna dukungan politik dari ulama ulama Bani Umayyah dan  ulama ulama  Bani Abbasiah keempat mazhab aswaja sunni   dapat berkembang ditengah masyarakat ( Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq )

 saudaraku….

banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Perpecahan internal dalam Islam yang meruncing dari waktu ke waktu

.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.
saya  tidak menerima hadits yang menjadi salah satu dasar pengangkatan salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar sebagai Khalifah karena syiah  tidak mengakui kekhalifahan tiga sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman
.

Hadits yang tertulis dalam Shahih Bukhari tersebut, menjelaskan tentang ditunjuknya Abu Bakar oleh Nabi Muhammad Saw sebagai imam shalat, saat Nabi sedang sakit. Ini menjadi isyarat, bahwa Nabi menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah. Syi’ah menganggap hadits tersebut meragukan, meskipun diriwayatkan oleh imam Bukhari, dan hadits tersebut termasuk sahih (kuat)

.

Dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu’tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun. Bagaimana menjelaskan ini?

.

Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab

.

Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits. Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakar terjadi larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu

.

Pada mulanya perpecahan Islam  itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pada mulanya perpecahan itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarahsyura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).Agama Muhammad SAW  terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pada setiap khotib jum’at harus ada kata-kata mencela Ali & keluarga .

o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam”

Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan kontra.    Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.

Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah.

hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi. Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam

Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap pembantai pengikut ahlulbait

   Murji`ah versus Syiah.

Pertentangan orang-orang Murji`ah dengan orang-orang Syiah terjadi oleh karena Murji`ah menyerahkan persoalan khalifah atau pengganti Nabi kepada Tuhan. Mereka tidak mendukung gagasan Syiah tentang negara teokratis Ali, yang didasarkan atas keadilan agama dan juga tidak meyakini klaim Ahli Bait sebagai pewaris kepemimpinan Nabi atas umat Islam.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.

Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Bersamaan dengan itu, kaum Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali, dan mengajak Husain bin Ali melakukan perlawanan.

Husain bin Ali sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah,

Pada tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia. Dalam sebuah perjalanan  terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan Pertempuran Karbala, Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala sebuah daerah di dekat Kufah.

Kelompok Syi’ah sendiri bahkan terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan diantaranya adalah yang dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar (yang pada akhirnya mengaku sebagai nabi) mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari PersiaArmenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah secara keseluruhan.

Abdullah bin Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepung Madinah dan Mekkah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus.

Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Setelah itu gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi’ah juga dapat diredakan.

pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyimyang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.

Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus

.

Sistem Pemerintahan Thaghut Umayyah :

1. Sistem Suksesi (penggantian khalifah)

Permintaan Hasan Bin Ali kepada Mu’awiyah untuk tidak menunjuk pengganti khalifah dan menyerahkan penggantinya kepada umat Islam melalui pemilihan tidak dilaksanakan oleh Mu’awiyah. Ia menunjuk anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Penunjukan ini dilaksanakan oleh Mu’awiyah atas saran Al Mughirah bin Syu’bah. Ia berpendapat bahwa penunjukan putra Mahkota dapat menghindarkan konflik politik intern umat Islam, seperti yang terjadi pada masa sebelumnya. Cara ini terus berlanjut untuk semua khalifah, mereka selalu menunjuk putra mahkota. Dan untuk mendapatkan pengesahannya para khalifah memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan bai’at di hadapan khalifah.Selain Bani Umaiyah tidak mempunyai kesempatan menjadi pejabat kerajaan.

2. Lembaga Syura

Dewan Penasihat khalifah tidak berfungsi secara baik, mereka diangkat hanya dari kerabat khalifah sendiri sehingga lebih banyak mendukung kebijakan khalifah, dan tidak lagi memperhatikan usulan, pendapat dan kepentingan rakyat. Hal ini terjadi karena penguasa bani Umaiyah benar-benar menganggap dirinya sebagai raja yang tidak dipilih dan diangkat oleh rakyat. Mereka menjadi penguasa karena berjuang untuk merebutnya, sehinga negara adalah miliknya
.
pada masa Bani Umaiyah para khalifah dan keluarganya hidup dalam kemewahan dan selalu mendapatkan penjagaan yang ketat dari para pengawalnya. Mereka berdalih, bahwa khalifah adalah pemimpin umat yang harus dijaga kewibawaannya, dan juga keamanannya, wibawa khalifah adalah wibawa umat, dan keselamatan khalifah adalah keselamatan negara.

3. Sistem Organisasi Pemerintahan

Organisasi pemerintahan yang dikembangkan oleh Daulah Bani Umaiyah lebih modern dan lebih rapi. Dauah bani Umaiyah menetapkan Damaskus sebagai ibu kota pemerintahan. Dan urusan pemerintahan pusat dijalankan oleh lima dewan (departemen), yaitu :

  • Diwanul Jundi yang menangani urusan kemiliteran.
  • Diwanur Rasail yang menngani urusan admnistrasi pemerintah dan surat-menyurat
  • Diwanul Barid yang menangani urusan pos
  • Diwanul Kharraj yang menangani urusan keuangan.
  • Diwanul Khatam yang menangani urusan dokumentasi.

Sedangkan secara administatif wilayah kekuasaan dibagi menjadi lima kelompok wilayah propinsi, yaitu :

  • Kelompok wilayah propinsi Hijaz dan Yaman.
  • Kelompok wilayah Mesir bagian utara dan selatan.
  • Kelompok wilayah propinsi Irak Arab meliputi wilayah Babilonia dan Kaldea, dan Irak Ajam meliputi Yaman dan Persia.
  • Kelompok wilayah Armenia, Mesopotamia, dan Azerbaijan.
  • Kelompok wilayah propinsi Afrika Utara, meliputi Spanyol, Perancis bagian Selatan, serta Sicilia.

4. Angkatan Perang

Angkatan Perang yang diubangun oleh Daulah Bani Umaiyah lebih banyak mencontoh model Romawi dan Persia. Yaitu membangun tentara khusus yang dibayar oleh negara. Selain itu mereka juga mengembangkan angkatan laut. Dalam rekrutmen tentara Daulah Bani Umaiayah lebih mengutamakan orang-orang Arab dari pada orang-orang Mawali atau Non Arab. Kesemuanya ini sangat mendukung kebijakan Bani Umaiaya yang mengutamakan perluasan wilayah.

Muawiyah bin Abu Sufyan

Muawiyah I
Memerintah 661 – 680
Dinobatkan 661
Dilantik 661
Nama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan
Lahir 602
Meninggal 6 Mei 680
Pendahulu Ali
Pewaris Yazid I
Pengganti Yazid I
Anak Yazid I
Wangsa Bani Abdus Syams
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Abu Sufyan
Ibu Hindun binti Utbah

Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, dipaksa berbai’at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy’ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan biadab

.

Kekhalifahan Utama di Damaskus

  1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
  2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
  3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
  4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M
  5. Abdullah bin Zubair bin Awwam, (peralihan pemerintahan, bukan Bani Umayyah).
  6. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
  7. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
  8. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
  9. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
  10. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
  11. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
  12. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
  13. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
  14. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
  15. Marwan II bin Muhammad (memerintah di HarranJazira), 127-133 H / 744-750 M

Ahlussunnah Menolak Hadits Dari Ahlul Bait tanpa dikaji sedikit pun. Kenapa Syiah menerima sebagian hadis sunni ?

Ahlussunnah Menolak Hadits Dari Ahlul Bait?

Pertanyaan:

Saya tertarik dengan ajaran Syiah. Saya banyak membaca buku tentang Syiah, Syiah mencintai ahlul bait, ahlul bait itu adalah keluarga rasul. Semua hadis-hadisnya berasal dari ahlul bait. Yang saya tanyakan mengapa Ahlussunah menolak semua hadis-hadis Syiah yang berasal dari keluarga rasul atau ahlul bait tanpa dikaji sedikit pun? Kenapa Syiah menerima sebagian hadis sunni, tetapi menolak sebagian lainnya? Syi’ah ambivalen dan mencari hadis yang menguntungkan saja ?

Dari: Thaherem

Jawaban:

Bismillah

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, dan ahlul baitnya, serta semua orang yang mengikuti beliau.

Darimana Kita Ambil Agama Kalau Bukan Dari Sahabat dan Ahlul Bait ? Syi’ah Mencintai Sahabat Yang Setia Pada Ali

Terkait masalah ini, kami perlu menegaskan bahwa tidak ada satu pun Syiah, baik ulamanya maupun orang awamnya yang membenci semua sahabat. Bahkan syiah   sangat mencintai mayoritas sahabat yang wafat semasa Nabi SAW hidup + minoritas SAHABAT yang hidup pasca Nabi SAW wafat. Justru kami meragukan klaim wahabi  yang mencintai ahlul bait

penyebab pemalsuan hadits adalah adanya permusuhan antara ulama  Umawiyyun dengan Ahlul Bait sebagai “rival” Umawiyyun

Zuhri diperalat Umawiyyun karena dekatnya hubungan Zuhri dengan khalifah itu.Imam Zuhri sebagai orang yang dimanfaatkan oleh Umawiyyun untuk memalsukan hadits sesuai dengan keinginan mereka. Sebagai misal ialah beberapa dokumen berita yang tersimpan pada Al-Khatib Al-Baghdadi.

Berita-berita itu diriwayatkan dari beberapa jalur (thariq) yang berbeda, dari Abdurrazaq (211 H) dari Ma’mar bin Rashid (154 H) –salah seorang yang mendengar hadits dari Zuhri- menyebutkan bahwa al-Walid bin Ibrahim pernah datang kepada Zuhri membawa lembaran hadits yang dipalsukannya.

Dia meminta kepada Zuhri agar memberikan lisensi (ijazah) kepadanya untuk meriwayatkan hadits yang ada dalam lembaran yang dibawanya itu. Lalu Zuhri membenarkannya tanpa ragu, sambil mengatakan, “Siapa yang dapat memberitakan isi lembaran itu kepadamu, selain dariku”.

Rezim Muawiyah dapat memperalat Imam Zuhri untuk memenuhi tuntutan penguasa dengan “baju” agama. Terkadang ketakwaannya muncul sehingga membuat Zuhri ragu dalam memenuhi permintaan rezim. Tapi dia selamanya tidak mampu menghindar dari lingkaran pemerintah. Dalam suatu riwayat, Ma’mar dari Imam Zuhri menyebutkan ungkapannya, “Kapi dipaksa oleh para raja (umara) agar menulis hadits”.

Berita itu,  mengesankan kesediaannya memenuhi permintaan pemerintah dengan menggunakan namanya yang telah diakui di kalangan umat Islam. Zuhri bukanlah termasuk figur-figur yang sukar dirangkul oleh rezim. Bahkan, ia berpandangan harus bekerjasama dengan pemerintah. Dia tidak berupaua menghindari kepergiannya ke istana raja. Bahkan, Zuhri seringkali bergerak diekor raja. Misalnya, dia dijumpai di belakang rombongan Hajjaj ketika pergi haji. Zuhri juga diangkat oleh Hisham sebagai guru bagi putra mahkotanya. Di periode Yazid kedua dia juga menerima jabatan sebagai “hakim’.

Selama dalam jabatan ini, dia memejamkan dua matanya dari melihat kebobrokan yang ada. Dia bukanlah tergolong roang-orang yang berani menghadapi khalifah-khalifah bejat dan dhalim (maksudnya khalifah Muawiyyin). Padahal kalangan hadits menganggap orang yang menerima jabatan “peradilan” sebagai “tidak tsiqah dipercaya”

“Maka untuk memerangi kebejatan dan kebobrokan yang merajalela, para ulama yang loyalis kerajaan itu membuat-buat hadits jaminan surga yang memuja-muja musuh musuh Ahlulbait”.

Imam Zuhri yang nama lengkapnya Abu Bakar, Muhammad bin Harits bin Zahroh Al-Quraisyi Az-Zuhri, sejak muda sudah ditinggal ayahnya. Zuhri hidup sebagai anak yatim, tiada harta dan tiada pembimbing. Sejak awal kesungguhannya dia curahkan untuk menghafalkan Al-Quran. Sehingga dalam waktu delapan puluh malam, kitab suci tamat dihafalnya. Kemudian dia pun mulai belajar fiqih dan hadits. Dia berkeliling belajar kepada Sahabat. Ada sepuluh orang sahabat Nabi saw yang pernah mejadi gurunya, di antaranya Anas, Ibnu Umar, Jabir, Sahal bin Sa’ad dan lainnya. Kemudian dari kalangan pembesar Tabi’in ialah Sayid bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah dan lainnya.

Jika tidak dijebak rezim, pada dasarnya Zuhri dikenal sebagai orang yang amat pemurah. Tak seorang pun yang datang meminta kepadanya, pulang dengan tangan kosong. Jika tidak punya, diusahakannya meminjam dan berhutang kepada sahabatnya. Ia juga suka memberi makan orang dengan sop daging dan madu. Di antara sifat keilmuannya yang menonjol, ialah perhatiannya ayng luar biasa dalam menuntut ilmu. Zuhri sangat antusias menemui ulama dan mencatat apa  yang didengarnya. Seringkali dia tidak tidur malam karena menghafal dan mematangkan apa yang dia dengar. Untuk itu berkata Abduzzanadi, “Kami dulu menulis apa yang halal dan apa yang haram, Zuhri mencatat segala yang didengarnya. Ketika dia dibutuhkan, tahulah aku bahwa dia orang yang paling alim”.

Dari segi ingatan dan hafalan, Zuhri tergolong yang paling kuat dan menakjubkan. Katanya “Tak ada ayng kulupakan dari ilmu yang kuhafal. Tak satu hadits pun yang kuulangi. Dan tiada yang kuragukan kecuali satu hadits. Lalu kutanyakan kepada sahabatku, ternyata sama seperti yang kuingat”.

Saking kuatnya ingatan Zuhri, pernah Hisyam bin Abdul Malik ingin mengujinya. Ia meminta Zuhri untuk mendiktekan hadits kepada putranya dan ditulis seorang juru tulis. Jumlahnya sebanyak empat ratus hadits. Kira-kira sebulan setekah itu. Hisyam mengatakan, “Kitab itu telah hilang, tolong diktekan sekali lagi”. Maka, dipanggilnya juru tulis. Setelah dibandingkan dengan kitab yang pertama, tak satu huruf pun yang berbeda.

Islam yang asli pada zaman Umayyah Abbasiyah telah dirusak, Syi’ah yang memurnikan islam justru dituduh sesat“Nabi Muhammad saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelahnya

Nabi Muhammad saw datang membawakan ajaran mulia, Islam.

Sepanjang dakwahnya ia selalu mengenalkan Ali bin Abi Thalib kepada umatnya, bahkan menyatakan bahwa ia adalah pemimipin setelahnya.

Rasulullah saw meninggal dunia. Namun semua orang sibuk di Saqifah membahas siapakah yang layak menjadi pengganti nabi.

Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dikucilkan.

Imam demi Imam silih berganti, sampai imam terakhir, Al Mahdi ghaib.

Kini kita tidak bisa merasakan kehadiran pimpinan di tengah-tengah kita. Ikhtilaf, perpecahan, perbedaan pendapat, permusuhan antar umat Islam… semuanya berakar di sejarah yang terlupakan.

Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan. Syi’ah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pertama, lalu Hasan dan Husain putranya, lalu Ali Zainal Abidin, dan seterusnya.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.
saya  tidak menerima hadits yang menjadi salah satu dasar pengangkatan salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar sebagai Khalifah karena syiah  tidak mengakui kekhalifahan tiga sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman
.

Hadits yang tertulis dalam Shahih Bukhari tersebut, menjelaskan tentang ditunjuknya Abu Bakar oleh Nabi Muhammad Saw sebagai imam shalat, saat Nabi sedang sakit. Ini menjadi isyarat, bahwa Nabi menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah. Syi’ah menganggap hadits tersebut meragukan, meskipun diriwayatkan oleh imam Bukhari, dan hadits tersebut termasuk sahih (kuat)

.

Dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu’tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun. Bagaimana menjelaskan ini?

.

Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab

.

Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits. Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakar terjadi larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu

.

Pada mulanya perpecahan Islam  itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pada mulanya perpecahan itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarahsyura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).Agama Muhammad SAW  terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pada setiap khotib jum’at harus ada kata-kata mencela Ali & keluarga .

o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam”

Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan kontra.    Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.

Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah.

hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi. Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam

Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap pembantai pengikut ahlulbait

Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Bersamaan dengan itu, kaum Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali, dan mengajak Husain bin Ali melakukan perlawanan.


perbedaan mazhab NU – Syi’ah – Muhammadiyah Justru membawa berkah bagi umat !!
.
perbedaan mazhab NU – Syi’ah – Muhammadiyah mengakibatkan hadis hadis Nabi SAW yang otentik tidak ada yang hilang karena umat Muhammad mustahil bersatu diatas kesesatan ! Justru memperkaya referensi umat !
.

Tinggal saja bagaimana kita memilih hadis otentik diantara hadis yang ada ! Darimana Kita Ambil Agama Kalau Bukan Dari Sahabat dan Ahlul Bait ? Syi’ah Mencintai Sahabat Yang Setia Pada Ali

Al Husain bin Muhammad meriyatkan dari Ahmad bin Ishaq dari Sa’dan bin Muslim dari Muawiyah bin Umar yang berkata,”Saya bertanya kepada Imam Shadiq as mana yang lebih utama, seseorang yang mendengarkan perkataan anda dan menyampaikan kepada manusia atau ahli ibadah yang tidak melakukan itu?. Imam Shadiq as menjawab, “Seseorang yang menyampaikan perkataan kami sehingga membekas di dalam hati umat Syiah jauh lebih utama dari seribu ahli ibadah.” (Al Kafi, jilid 1, hal. 33)

.

Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah Hanya NU ?? Ushul NU dan Syi’ah dibidang  sahabat ternyata ada kesamaan :

1. Syi’ah mempedomani sahabat yang setia pada Ali hingga akhir hayatnya. Artinya Syi’ah juga berpedoman pada sahabat

2. Sahabat yang berkhianat pada Ali ketika meriwayatkan hadis maka hadisnya diseleksi dulu, misal : Syi’ah menerima hadis tentang keutamaan Persia + hadis haudh riwayat Abu Hurairah, Syi’ah menerima hadis ahlulkisa + hadis Fatimah marah pada Abubakar dari Ummul Mukminin Aisyah. Jadi tidak benar Syi’ah mengkafirkan sahabat

3. Jika sahabat yang berkhianat pada Ali juga diterima sebagian hadisnya oleh Syi’ah, maka ADiL atau TiDAK ADiL nya sahabat kelompok tersebut tidaklah menjadi masalah, karena NU dan Syi’ah sama sama mencari hadis otentik melalui jalur sahabat !

Inilah ushul yang indah, jalannya beda tetapi tujuan sama yakni mencari hadis otentik dari Nabi SAW

Sunnah -yang  di sisi muslim Syiah bermakna perkataan, perbuatan dan penetapan Maksumin as- adalah sumber rujukan kedua untuk mengenal dan mempelajari agama Islam setelah al-Qur’an.

Sunnah (sering juga disebut hadits) perannya sebagai penjelas dan pendamping al-Qur’an, sehingga menjadi sumber rujukan para fukaha dan ulama untuk menetapkan ahkam syar’i dan masalah-masalah fikih.

Nabi Saw dan para Aimmah as sangat menekankan dan menganjurkan kepada kaum muslimin untuk mempelajari dan menghafal hadits-hadits yang dengan itu sunnah dapat terjaga dan tersampaikan kepada setiap generasi.

Berikut diantara hadits-hadits Maksumin as yang menekankan kepada kaum muslimin untuk mempelajari sunnah.

Mempelajari Hadits:

Jabir meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as yang bersabda, “Wahai Jabir, demi Allah satu hadits yang engkau pelajari dari seseorang yang terpercaya mengenai halal dan haram adalah lebih besar nilainya dari tempat dimana matahari terbit dan terbenam.” (Bihar al Anwar, jilid 2, hal. 146).

Menghafal Hadits:

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa dari ummatku yang menghafal 40 hadits yang bermanfaat baginya dalam urusan agama, Allah Azza wa Jalla akan membangkitkannya pada hari kiamat sebagai faqih dan alim.” (Bihar al Anwar, jilid 2, hal. 153).

Menyampaikan Hadits:

Al Husain bin Muhammad meriyatkan dari Ahmad bin Ishaq dari Sa’dan bin Muslim dari Muawiyah bin Umar yang berkata,”Saya bertanya kepada Imam Shadiq as mana yang lebih utama, seseorang yang mendengarkan perkataan anda dan menyampaikan kepada manusia atau ahli ibadah yang tidak melakukan itu?. Imam Shadiq as menjawab, “Seseorang yang menyampaikan perkataan kami sehingga membekas di dalam hati umat Syiah jauh lebih utama dari seribu ahli ibadah.” (Al Kafi, jilid 1, hal. 33)

Membahas Hadits:

Rasulullah Saw bersabda, “Saling mengunjungilah, dan bahaslah hadits bersama-sama, sebab hadits itu membersihkan hati. Hati seperti pedang yang bisa berkarat, dan batu asahnya adalah hadits.” (Al Kafi, jilid 1, hal. 41)

Seiring dengan terpisahnya jarak dengan para Maksumin as, maka untuk mengenal keshahihan dan kebenaran sebuah hadits, maka lahirlah ilmu hadits. Ilmu hadits adalah ilmu yang mempelajari mengenai keadaan hadits dan para perawi dari segi diterima tidaknya. Mengajarkan tentang solusi permasalahan yang didapatkan dalam memahami sebuah hadits dan cara menetapkan validitas hadits. Namun karena banyaknya cabang-cabang ilmu yang harus dipelajari dalam ilmu hadits maka ilmu hadits sering disebut juga Ulumul Hadits.

Menyoal Validitas Hadits Syi’ah

Di beberapa media, Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, menyatakan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairah, sedang hadits Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW).

.

Ringkasan Pertanyaan
Kenapa Syiah menerima sebagian hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang nota bene tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan menolak sebagian lainnya?
.
Pertanyaan
Kenapa Syiah menerima beberapa hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari tetapi menolak sebagian lainnya? Sekiranya benar Syiah mnolak keIslaman Bukhari sebagai perawi Adakah Syiah sekadar mengambil sesuatu Ilmu Islam yang bersesuaian dengan ajaran Syiah saja dan menolak sebagian yang lain walau pun diriwayatkan oleh perawi yang sama?
.
Jawaban Global
Salah satu kumpulan hadis kaum Muslimin adalah al-Jâmi’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillâh Shallallahu ‘alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi yang lebih dikenal sebagai “Shahih Bukhâri” yang berasal dari mazhab Ahlusunnah
.
Meski ada pembelaan Bukhari terkait dengan keabsahan riwayat-riwayat dalam kitabnya dan juga penegasan banyak ulama Ahlusunnah yang memandang Shahih Bukhari sebagai kitab paling shahih Bukhari setelah al-Quran, terdapat kritikan yang patut mendapat perhatian dari sebagian ulama Sunni dan ulama Syiah atas kitab hadis ini; seperti kritikan banyaknya nukilan secara makna dalam kitab ini, di samping itu kelemahan rijalinya dan kandungannya
.
Orang-orang Syiah memilliki satu prinsip dan kriteria rasional dalam menerima atau menolak satu riwayat dan bagi Syiah dalam prinsip dan kriteria-kriteria ini; tidak bersandar pada status mazhab “Syiah” atau Sunni seorang perawi dalam menerima atau menolak sebuah riwayat
.
Karena itu, ulama Rijal dan hadis Syiah; seluruh kitab – bahkan kitab-kitab empat (kutub al-Arba’ah) – tetap dikaji dan dianalisa serta tidak memberikan label sahih pada empat kitab induk ini.  Kitab Bukhari juga tidak terkecualikan dalam hal ini. Di samping itu, terdapat banyak riwayat dari kitab ini yang dinukil dan diterima dalam karya-karya ulama terdahulu dan terkemudian Syiah
.
Jawaban Detil
Mengenal dan memperkenalkan kumpulan-kumpulan hadis (jawâmi’ hadis)[1] Syiah dan Sunni sebagai cabang dari sejarah hadis, secara umum kitab-kitab dan karya-karya yang merekonstruksi studi-studi tentang hadis, sebagai satu kepentingan mendesak y ang tidak dapat dihindari
.
Salah satu dari kumpulan hadis kaum Muslimin dari kalangan Ahlusunnah adalah al- al-Jâmi’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillâh Shallallahu ‘alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi yang lebih dikenal sebagai “Shahih Bukhâri.” Pada kesempatan ini, kita akan meninjau secara ringkas terhadap biografi penulisnya yaitu Bukhari dan kitab hadisnya sehingga menjadi jelas dimana dan mengapa ulama Syiah terkadang tidak menerima sebuah riwayat dari kitab Shahih Bukhari. Hanya bersandar pada dalil-dalil hadis  dan semata-mata status sebagai Muslim tidak akan menjadi dalil bagi kita untuk menerima seluruh pemikiran dan tulisannya
.
Memperkenalkan Muhammad bin Ismail Bukhari
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Bukhari lahir pada tahun 194 H di kota Bukhara.[2]
.
Ia melewati sebagian dari usianya dengan belajar di kotanya sendiri dan untuk melanjutkan pelajarannya dan belajar dari guru-guru (masyaikh) hadis ia melakukan perjalanan ke beberapa kota terkenal seperti Khurasan (Iran), Irak (Bashrah), Hijaz (Mekah dan Madinah) dan Syam (Suriah).[3]
.
Ia juga sering pergi ke kota Baghdad dan disebabkan ia banyak memiliki hadis dan mahir dalam bidang ilmu hadis, ia mendapatkan penghormatan ulama semasanya.[4] Bukhari belajar hadis dari ulama masyhur seperti Makki bin Ibrahim Balkhi, Ali bin Al Madini, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Abu Ashim al-Syaibani,[5] Ishaq bin Rahwahi,[6] dan Ahmad bin Hanbal.[7]
.
Bukhari wafat pada tahun 256 H[8] di desa Khartand salah satu desa di Samarkand.[9]
.
Motivasi Bukhari dalam menulis kitab Shahih
Bukhari sendiri ketika berbicara tentang alasannya menulis Shahih berkata, “Suatu hari saya berada di sisi guru saya Ishak bin Rahwahi yang berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kita menyediakan kitab ringkasan tentang sunnah Nabi!”  Hal ini menarik hatiku dan mulai menghimpun kumpulan riwayat sahih dan kitab sahih saya kumpulkan dari enam ratus riwayat.”[10]
.
Ia berkata, “Saya menghapal seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis non-sahih.”[11] dan hal ini menunjukkan banyaknya riwayat dan juga lemah dan palsunya kebanyakan hadis lainnya dari riwayat-riwayat pada masa Bukhari.[12]
.
Bukhari memilih riwayat-riwayat berdasarkan syarat-syarat periwayatannya yang antara lain, “Bersambungnya sanad hingga level sahabat, keadilan (‘adâlah), kredibilitas para perawi (baca:dhabit).[13]  Meski Bukhari tidak menyatakan metode periwayatannya ini secara lugas, namun syarat-syarat ini sebagai metode periwayatannya dapat disimpulkan dari kitabnya.[14]
.
Kedudukan Shahih Bukhari di kalangan Ahlusunnah
Shahih Bukhâri memiliki kedudukan sangat istimewa di kalangan ulama Ahlusunnah, sedemikian sehingga Shahih Bukhâri dipandang laksana al-Quran dan kitab paling sahih setelah Kitabullah
.
Syafi’i berkata, “Kitab hadis pertama adalah Shahih Bukhâri dan setelah itu adalah Shahih Muslim dan kedua kitab ini merupakan kitab paling sahih setelah a-Quran.”[15]
.
Nawawi berkata, “Ulama dengan suara bulat meyakini bahwa kitab paling sahih setelah al-Quran adalah Shahih Bukhâri dan Shahih Muslim. Umat seluruhnya menerima dua kitab ini. Kitab Bukhari dibandingkan dengan Shahih Muslim lebih sahih dan lebih banyak manfaatnya.”[16]
.
Dua pernyataan yang disampaikan oleh ulama dan ahli hadis paling terkenal Ahlusunnah sehingga dapat disimpulkan bahwa semuanya memandang Shahih Bukhâri merupakan kitab paling standar setelah al-Quran dan menyebut Shahih Muslim pada level ketiga.”[17]
.
Akan tetapi terdapat beberapa faktor yang membuat Shahih Bukhâri menyandang kedudukan tinggi di kalangan ulama Ahlusunah; faktor-faktor seperti kepribadian penyusun, sebagai kitab senior, ketelitian dan kehati-hatian dalam penulisan kitab ini.[18]
.
Shahih Bukhâri dan beberapa kritikan
Meski ada pembelaan Bukhari terkait dengan keabsahan riwayat-riwayat dalam kitabnya dan juga penegasan banyak ulama Ahlusunnah yang memandang Shahih Bukhâri sebagai kitab paling sahih setelah al-Quran, namun terdapat kritikan yang patut mendapat perhatian dari sebagian ulama Sunni dan ulama Syiah atas kitab hadis ini.
Berikut ini kami akan sampaikan beberapa kritikan yang dilontarkan oleh sebagian ulama Sunni dan Syiah sebagai contoh:
  1. Tidak sempurnanya kitab ini ditulis pada masa hidup Bukhari: Abu al-Walid Baji dalam mukadimmah kitabnya “Fi Asma Rijâl al-Bukhâri” menulis, “Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Mustamili berkata, “Saya mengopi kitab Bukhari dari naskah asli yang berada di tangan Muhammad bin Yusuf Faryabi dan menjumpai beberapa hal yang belum tuntas, masih belum memiliki halaman, sebagian nama perawi yang tidak memiliki riwayat hidup atau hadis-hadis yang kondisinya tidak jelas.”[19]
  2. Banyaknya nukilan secara makna dalam kitab ini: Meski menukil secara makna dengan menjaga seluruh pakem dipandang boleh oleh para pemimpin agama namun hal ini tidak bermakna keungulan riwayat-riwayat yang mengandung nukilan secara makna atas riwayat-riwayat yang didalamnya menyebutkan nash redaksi-redaksi maksum;  karena boleh jadi dalam nukilan secara makna telah menghilangkan pelbagai indikasi-indikasi lafzi atau secara dasar disebabkan kesalahapahaman periwayat menukil riwayat secara keliru. Karena itulah mengapa nukilan secara makna dinilai sebagai sebuah kekurangan dan memiliki cela.[20] Apa yang dikatakan tentang Bukhari menunjukkan klaim ini bahwa ia menulis riwayat-riwayat tanpa bersandar pada tulisan-tulisan dan semata-mata bersandar pada hafalannya serta mengandalkan metode nukilan secara makna.[21]

.

Khatib Baghdad dalam hal ini mengutip sendiri dari Bukhari, “Boleh jadi saya mendengar sebuah riwayat di Bashrah dan saya menulisnya di Syam. Dan boleh jadi saya mendengar sebuah riwayat di Syam kemudian menulisnya di Bashrah! Dikatakan kepadanya, “Apakah engkau menulisnya secara utuh? Ia tidak menjawab dan hanya diam.”[22]
.
Muhammad bin Azhar Sajistani berkata, “Saya hadir di majelis pelajaran Sulaiman bin Harb dan Bukhari bersama kami mendengarkan pelajarannya namun ia tidak menulis (pelajaran itu). Sebagian hadirin bertanya, “Mengapa Bukhari tidak menulis?” “Tatkala saya pulang ke Bukhara saya akan menulisnya berdasarkan hafalanku.”[23] Jawab Bukhari
.
Diamnya Bukhari bermakna ia sendiri menerima bahwa meski ia memiliki hafalan kuat namun tidak mampu merefleksikan seluruh lafaz riwayat yang ia dengarkan dan terkadang sebagian besar riwayat itu ia tulis berdasarkan nukilan secara makna. Metode seperti ini tentu saja akan mengurangi bobot pekerjaan, bahkan hal ini tidak dapat diterima bagi orang-orang yang menyertai Bukhari.
  1. Riwayat-riwayat yang bersanad lemah: Meski terkait dengan riwayat yang yang dikumpulkan Bukhari dalam Shahih disebutkan, “Kullu man ruwiya ‘anhu al-Bukhari faqad jawaza al-qanthara;[24] (Siapa saja yang dinukil oleh Bukhari maka ia telah melewati jembatan (jarh dan ta’dil ahli Rijal).”[25] Namun fakta menunjukkan bahwa ia banyak meriwayatkan hadis-hadis dari orang-orang fasik, fajir, khawârij dan nashibi, dan dari orang-orang yang menjual agama untuk dunianya; orang-orang seperti Amru bin Ash, Marwan bin Hakam, Abu Sufyan, Muawiyah, Mughirah bin Syu’bah dan lain sebagainya. Namun Bukhari sama sekali tidak menukil hadis dari orang-orang lurus dan merupakan sumber mata air pengetahuan Islam serta guru-guru budaya Islam dan hadis, atau apabila ia menukilnya maka hadis-hadis tersebut berjumlah sangat minim dibanding dengan yang lain.[26]
Salah satu kritikan utama Syiah terhadap Shahih Bukhâri adalah bahwa nukilan riwayat melalui jalur para Imam Syiah dan anak-anak mereka sangat kurang. Meski Bukhari semasa dengan minimal dua orang dari Imam Syiah yaitu Imam Hadi As dan Imam Askari As namun ia hanya meriwayatkan beberapa gelintir hadis dari Amirul Mukminin Ali As, Imam Hasan Mujtaba As dan Imam Baqir As. Sebagai bandingannya, riwayat-riwayat dari orang-orang Khawarij dan Nashibi seperti Ikrimah dan Imran bin Hatthan yang bahkan kebanyakan ahli hadis Sunni melemahkan mereka, disebutkan dalam sanad-sanad hadis-hadis Bukhari
.
Terlepas dari ulama Syiah, Shahih Bukhâri juga mendapatkan kritikan dari pembesar Ahlusunnah karena lemah dalam menyebutkan perawi-perawi. Dalam hal ini kami hanya akan mencukupkan diri dengan menyebutkan dua contoh sebagai berikut
:
Ibnu Hajar Askalani berkata, “Para penghafal meragukan 110 hadis Bukhari dan memandangnya tidak sahih serta delapan puluh orang dari empat ratus periwayat yang secara eksklusif disebutkan dalam Bukhari telah dilemahkan.”[27]
.
Ibnu Shalah berkata, “Bukhari berargumentasi dengan bersandar pada orang-orang seperti Ikrimah, Musa bin Abbas, Ismail bin Abi Uwais, Ashim bin Ali, Amru bin Marzuq dan lainnya dimana orang lain sebelum Bukhari telah mencela (jarh) mereka.”[28]
.
3.Lemahnya kandungan riwayat Bukhari: Terlepas dari beberapa kritikan yang telah disebutkan di atas kritikan terpenting yang dapat dilontarkan atas Shahih Bukhari adalah nukilan riwayat-riwayat yang dari sisi mana pun bertentangan dengan budaya dan ajaran al-Quran, Rasulullah Saw dan Ahlulbait As bahkan pandangan sebagian ulama besar Ahlusunnah. Tanpa ragu apabila kita mengklaim bahwa Shahih Bukhâri sangat memainkan peran penting dalam proses pembentukan pemikiran-pemikiran keliru teologis, fikih dan menjauhkan umat Islam dari budaya murni Islam dan al-Quran sebagai literatur riwayat terpenting maka klaim ini bukanlah pepesan kosong.[29] Sebagai contoh, Shahih Bukhâri pada sisi tauhid, menyebut sosok Tuhan yang memiliki jasad, anggota badan, dapat dilihat dan seperti makhluk-makhluk biasa, memiliki tempat dan mempunyai sifat-sifat yang dapat binasa.”[30]
.
Kriteria Syiah dalam menerima dan menolak riwayat
Orang-orang Syiah memilliki satu prinsip dan kriteria rasional (aqli) dan referensial (naqli)[31] dalam menerima atau menolak satu riwayat dan bagi Syiah dalam prinsip dan kriteria-kriteria ini; tidak bersandar hanya pada status mazhab “Syiah” atau Sunni seorang perawi dalam menerima atau menolak sebuah riwayat
.
Setiap orang harus bersikap fair, jujur dan harus diketahui bahwa dari pandangan ahli Rijal Sunni, kecendrungan kepada Syiah dan wilayah Ahlulbait As sebagai penghalang serius periwayat untuk dikutip riwayatnya dan riwayat perawi seperti ini tidak dapat dijadikan sandaran; namun dalam Syiah tidaklah demikian. Pakar Rijal Syiah memandang riwayat Sunni apabila memiliki witsâqat (dapat diandalkan dan dipercaya), pada derajat setelah shahih, hasan, sebagai hadis muattsaq dan dapat dijadikan sebagai sandaran.[32]
.
Karena itu, ulama Rijal dan hadis Syiah; seluruh kitab – bahkan kitab-kitab empat (Kutub al-Arba’ah)[33] – tetap dikaji dan dianalisa serta tidak memberikan label sahih pada empat kitab induk ini.  Kitab Bukhari juga tidak terkecualikan dalam hal ini. Di samping itu, terdapat banyak riwayat dari kitab ini dinukil dan diterima dalam karya-karya ulama terdahulu dan terkemudian Syiah
.
Namun demikian, sudah merupakan suatu hal yang natural dalam tataran pembahasan dan dialog, manusia harus bersandar pada sumber-sumber yang boleh jadi bukan merupakan hujjah bagi dirinya namun menjadi hujjah bagi pihak lainnya dan demikianlah salah satu contoh jadâl ahsan. Karena itu, pihak Syiah semenjak dulu hingga kini sama sekali tidak bermaksud mencari keuntungan dalam masalah keyakinan. Apabila Syiah tidak menerima sebuah riwayat maka hal itu berdasarkan dalil-dalil rasional dan referensial tidak menerima riwayat tersebut.

[1]Jawâmi’ Hadits adalah kumpulan kitab hadis yang tidak terbatas pada satu bidang dan domain riwayat tertentu serta mencakup seluruh atau bagian pokok bab-bab hadis. Ali Nashiri, Âsynâi bâ Jawâmi’ Haditsi Syi’ah wa Ahlusunnah, hal. 17, Intisyarat Jami’at al-Mustafa Saw al-‘Alamiyah, Qum, Cetakan Kedua, 1388 S.
[2]. Abu al-Fida Islami bin Umar Ibnu Katsir Dimasyqi, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, jil. 11, hal.25, Dar al-Fikr, Beirut, 1407 H; Ibnu Jauzi, Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali, al-Muntazham fi Târikh al-Umam wa al-Mulûk, Riset oleh Muhammmad Abdul Qadir ‘Atha, Mustafa Abdul Qadir, jil. 12, ha. 113, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cetakan Pertama, 1412 H.
[3]. Abdul Hayyi bin Ahmad Ibnu Imad Hanbali, Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, Riset oleh al-Arnauut, jil. 1, hal. 24, Dar Ibnu Katsir, Damaskus, Beirut, Cetakan Pertama, 1406 H; Ibnu Asakir Abu al-Qasim bin Hasan, Târikh Madinat Dimasyq, jil. 52, hal. 54, Dar al-Fikr, Beirut, 1415 H.
[4]Al-Muntazham fi Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 12, ha. 117; , Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, jil. 1, hal. 24.
[5]. , Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, jil. 1, hal. 24.
[6]Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, jil. 11, hal. 26.
[7]Al-Muntazham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 12, hal. 113.
[8].  Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, jil. 1, hal. 25.
[9]Al-Muntazham fi Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 12, ha. 119.
[10]. Syamsuddin Dzahabi Dimasyqi, Siyar A’lâm al-Nubalâ, jil. 12, hal. 401-402, Muassasah al-Risalah, Beirut, Cetakan Kesembilan, 1413 H.
[11]. Syamsuddin Dzahabi Dimasyqi, Tadzkirat al-Huffâzh, jil. 2, hal. 556, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Tanpa Tahun.
[12]. Ali Nashiri, Hadits Syinâsi, jil. 1, hal 137, Intisyarat Sanabil, Qum, Cetakan Pertama, 1383 S.
[13]Dhabit adalah mempunyai kesempurnaan berpikir, tidak pelupa dan cerdas serta tangkas. Hafalannya kuat dan mudah mengerti apa yang diterima.
[14]Ibid.
[15]. Sesuai nukilan dari Abu Abdillah Hakim Naisaburi, Ma’rifat ‘Ulûm al-Hadits, hal. 20, Dar al-Afaq al-Jadidah, Beirut, 1400 H.
[16]. Sesuai nukilan dari Siyar A’lâm al-Nubalâ, jil. 12, hal. 567.
[17]Hadits Syinâsi, jil. 1, ha. 138.
[18]. Silahkan lihat, ibid, hal. 138 dan 139.
[19]. Sesuai nukilan dari Siyar A’lâm al-Nubalâ, jil. 14, hal. 488, Catatan Kaki
[20]. Silahkan lihat, Muhammad Ridha Husaini Jalali, Tadwin al-Sunnah al-Syarifah, hal. 508-516, Maktab al-I’lam al-Islami, Qum, 1413 H.
[21]Hadits Syinâsi, jil. 1, hal. 140.
[22]. Sesuai nukilan dari Mahmud Abu Rayyah, Adhwâ ‘ala Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 315, Ansariyan, Qum, 1416 H.
[23]Ibid.
[24]. Burhanuddin Halabi, al-Kasy al-Hatsits, hal. 112, Maktabat al-Nahdha al-‘Arabiyah, Cetakan Pertama, 1407 H.
[25].  Jarh wa al-ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang cacat dan adilnya rawi dengan lafaz-lafaz khusus dan tingkatan-tingkatan  lafaz tertentu. Ilmu ini termasuk bagian cabang ilmu rijalil hadis.
[26]. Silahkan lihat Hadits Syinâsi, jil. 1, hal. 141-143.
[27]. Sesuai nukilan dari Adhwâ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 318; sesuai nukilan dari Fath al-Bâri, jil. 1, hal. 81.
[28]. Untuk keterangan lebih jauh silahkan lihat, Adhwâ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 324-326.
[29]Hadits Syinâsi, jil. 1, hal. 144.
[30]. Dalam hal ini silahkan lihat Kitab al-Tauhid Shahih Bukhâri.
[31]. Silahkan lihat, Identifikasi dan Seleksi Hadis-hadis Shahih, Pertanyan 1937.
[32]Âsynâi bâ Jawâmi’ Haditsi Syiah wa Sunni, hal. 239.
[33]. Silahkan lihat, Indeks: Hadis-hadis Standar dalam Pandangan Kulaini, Pertanyaan 1933; Hadis-hadis Kitab al-Kafi, Pertanyaan 1528
 

Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui.

Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih. Mereka yang mengkritik Syiah atau lebih tepatnya menghakimi Syiah itu adalah Dr Abdul Mun’im Al Nimr dalam karyanya(terjemahan Ali Mustafa Yaqub) Syiah, Imam Mahdi dan Duruz Sejarah dan Fakta, Ihsan Illahi Zahir dalam karyanya Baina Al Sunnah Wal Syiah, Mamduh Farhan Al Buhairi dalam karyanyaGen Syiah dan lain-lain.

Tidak diragukan lagi bahwa karya-karya mereka memuat riwayat-riwayat dalam kitab rujukan Syiah sendiri seperti Al Kafi tanpa penjelasan pada para pembacanya apakah riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi Ulama Syiah. Karya-karya mereka ini jelas menjadi rujukan oleh orang-orang(termasuk oleh mereka yang menamakan dirinya salafi) untuk mengkafirkan atau menyatakan bahwa Syiah sesat.

Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda denganShahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

.

.

Kedudukan Shahih Bukhari
Shahih Bukhari adalah kitab hadis Sunni yang ditulis oleh Bukhari yang memuat 7275 hadis. Jumlah ini telah diseleksi sendiri oleh Bukhari dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari 90.000 guru. Kitab ini ditulis dalam waktu 16 tahun yang terdiri dari 100 kitab dan 3450 bab. Hasil seleksi Bukhari dalam Shahih Bukhari ini telah Beliau nyatakan sendiri sebagai hadis yang shahih.

Bukhari berkata

“Saya tidak memasukkan ke kitab Jami’ ini kecuali yang shahih dan saya telah meninggalkan hadis-hadis shahih lain karena takut panjang” (Tahdzib Al Kamal 24/442).

Bukhari hidup pada abad ke-3 H, karya Beliau Shahih Bukhari pada awalnya mendapat kritikan oleh Abu Ali Al Ghassani dan Ad Daruquthni, bahkan Ad Daruquthni menulis kitab khusus Al Istidrakat Wa Al Tatabbu’ yang mengkritik 200 hadis shahih yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Tetapi karya Ad Daruquthni ini telah dijawab oleh An Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Hady Al Sari Fath Al Bari.

An Nawawi dan Ibnu Shalah yang hidup pada abad ke-7 adalah ulama yang pertama kali memproklamirkan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab yang paling otentik sesudah Al Quran. Tidak ada satupun ulama ahli hadis saat itu yang membantah pernyataan ini. Bahkan 2 abad kemudian pernyataan ini justru dilegalisir oleh Ibnu Hajar Al Asqallani dalam kitabnya Hady Al Sari dan sekali lagi tidak ada yang membantah pernyataan ini. Oleh karenanya adalah wajar kalau dinyatakan bahwa ulama-ulama sunni telah sepakat bahwa semua hadis Bukhari adalah shahih. (lihat Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis oleh Ali Mustafa Yaqub hal 41-45).

.

.

Kedudukan Al Kafi
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30).

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalamAl Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

.

.

Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

Berikut adalah antara Syiah yang dijadikan sebagai perawi oleh Imam-Imam besar, muhaddithin Sunni.

1. Ubayd Allah b. Musa al-’Absi

Beliau merupakan perawi bagi kitab-kitab tersebut:

  • Sahih Bukhari [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab al-salat]
  • Sunan al-Nasa’i [kitab al-sahw]
  • Sunan Abu Dawud [kitab al-taharah]
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-muqaddamah]

Pendapat tentang beliau:

  • “Abu Daud berkata:  Beliau ialah seorang Syi’i yang kuat, hadis beliau adalah dibenarkan….Ibn Mandah berkata: Ahmad ibn Hanbal selalu menunjukkan ‘Ubaydullah kepada masyarakat, dan beliau terkenal sebagai Rafid (Syiah Ali yang ekstrim),dan beliau tidak akan membenarkan orang yang bernama Muawiyah memasuki rumahnya.’[Mazhab Imam Hadis, Bukhari dan para perawinya(Percetakan Salafi, UK, 1997), ms. 89 ;Al-Dhahabi, Siyar A'lam al-Nubala, jilid. 9, ms .553-557]
  • Seorang yang soleh, salah seorang sarjana Syiah yang penting … dianggap tsiqah oleh Yahya b. Ma’in, Abu Hatim beliau seorang yang tsiqah dan boleh dipercayai … al-’Ijli berkata: Beliau merupakan seorang pakar Quran…”[Al-Dhahabi, Tadhkirat al-Huffaz di bawah tajuk "'Ubayd Allah b. Musa al-'Absi"]

2. Abbad b. Ya’qub al-Rawajini

Beliau merupakan perawi bagi kitab berikut:

  • Sahih Bukhari  [kitab al-tawhid]
  • Sahih al-Tirmidhi  [kitab al-manaqib]
  • Sunan Ibn Majah  [kitab ma ja' fi al-jana'iz]

Pendapat tentang beliau:

  • Beliau seorang Rafidi yang boleh dipercayai dan hadisnya ada di dalam (Sahih) al-Bukhari.[Ibn Hajar al-'Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abbad b. Ya'qub al-Rawajani"]
  • Abu Hatim berkata: Beliau ialah seorang Syeikh yang terpercaya.  Ibn ‘Adi berkata: Beliau kerap menolak para Salaf. Beliau ialah seorang Syiah ekstrim.  Salih b. Muhammad berkata: Beliau pernah mengkritik Usman, Ibn Hibban berkata: beliau ialah seorang Rafidi yang mengajak (orang lain ke aqidahnya).  beliau meriwayatkan hadis ini …, “Jika kamu melihat Muawiyah di mimbar ku, maka bunuhlah dia!”[Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abbad b. Ya'qub al-Rawajani"]

3. ‘Abd al-Malik b. A’yan al-Kufi

  • Sahih al-Bukhari [kitab al-tawhid]
  • Sahih Muslim [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab tafsir al-Qur'an]
  • Sunan al-Nasa’i [kitab al-'iman wa al-nudhur]
  • Sunan Abu Dawud [kitab al-buyu']
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-zakah]

Pendapat tentang beliau:

  • Beliau ialah seorang Syiah Rafidi seorang yang bijak berpendapat.[Abu Ja'far al-'Uqayli, Du'afa al-'Uqayli, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]
  • Beliau seorang Rafidi, dipercayai (saduq).[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]
  • Al-’Ijli berkata: Beliau berasal dari Kufah, seorang Tabi’i , dipercayai.Sufyan berkata: ‘Abd al-Malik b. ‘A’yan yang Shi’i meriwayatkan, beliau ialah seorang Rafidi pada kami, seorang yang bijak berpendapat. Hamid berkata: ketiga-tiga beradik itu, ‘Abd al-Malik, Zurarah, and Hamran semua mereka ialah Rawafid. Abu Hatim berkata:  Beliau adalah antara Syiah yang awal, beliau seorang yang benar, mempunyai hadis yang bagus dan hadis beliau tertulis.[Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]

4. Abd al-Razzaq al-San’ani

  • Sahih Bukhari  [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim  [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi  [kitab al-taharah]
  • Sunan Nasa’i  [kitab al-taharah]
  • Sunan Abi Dawud  [kitab al-taharah]
  • Sunan Ibn Majah  [kitab al-muqaddamah fi al-'iman]

Pendapat tentang beliau:

  • Ibn ‘Adi berkata:  mereka (para ulama) tidak nampak sebarang masalah pada hadis beliau kecuali beliau dikenali sebagai Syiah… seorang yang bermaruah … merawikan hadis kemuliaan Ahlulbait dan keburukan yang lain. Mukhlid al-Shu’ayri berkata:Aku bersama ‘Abd al-Razzaq apabila seseorang menyebut Mu’awiyah.  ‘Abd al-Razzaq berkata: ‘Jangan mencemarkan perhimpuanan ini dengan menyebut keturunan Abu Sufyan!’.[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, "'Abd al-Razzaq al-San'ani"]
  • Ibn ‘Adi merawikan dari ‘Abd al-Razzaq…, “Jika kamu melihat Muawiyah di mimbar ku, maka bunuhlah dia!”.[Al-Dhahabi, Mizan al-'I'tidal, "'Abd al-Razzaq al-San'ani"]

5. Awf b. Abi Jamilah al-’A’rabi

  • Sahih Bukhari  [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim [kitab al-masajid wa mawadi' al-salat]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab al-salat]
  • Sunan Nasa’i [kitab al-taharah]
  • Sunan Abi Dawud [kitab al-salat]
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-salat]
  • Beliau seorang Rafidi tetapi dipercayai… Dianggap tsiqah oleh ramai ulama, dan beliau seorang Syiah

[Al-Dhahabi, Siyar A'lam al-Nubala, "'Awf b. Abi Jamilah"]

  • ‘Awf ialah seorang Qadari, Syi’i, dan Shaytan!

[Abu Ja'far al-'Uqayli, Du'afa al-'Uqayli, "'Awf b. Abi Jamilah"]

  • Al-Nasa’i berkata: Sangat dipercayai.

[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, "'Awf b. Abi Jamilah"]

Cukup lah sekadar saya memuatkan 5 nama contoh, dari ratusan perawi Syiah lain yang diterima oleh ulama Muhaddithin Sunni, dan mereka bersaksi atas kebenaran mereka, kerana jika tidak, masakan mereka akan dijadikan sumber perawi? Ternyata kesimpulannya di sini, jika hadis mereka di tolak, maka sebahagian besar hadis Sunni akan hilang dari kitab-kitab mereka, oleh itu selepas ini, jangan menolak sesuatu riwayat hanya kerana perawinya Syiah. Wallahualam

Ingkar Sunnah Jika Anda Menolak Kebenaran Syi’ah dan Hadits Ahlul Bait

Ingkar Sunnah Jika Anda Menolak Kebenaran Syi’ah dan Hadits Ahlul Bait

bedah ingkar sunnah

Salah satu metode meruntuhkan ajaran Islam yang paling kuno dan sudah jadi langganan orang sesat adalah menghembuskan keragu-raguan kepada keshahihan hadits-hadits Ahlul Bait. Tasykik (menyusupkan keragu-raguan) model ini sebenarnya metode klasik yang sering dilancarkan para orientalis zaman dulu. Triknya pun sebenarnya terbilang ketinggalan zaman alias sudah out of date. Meski demikian, bila ditembakkan kepada kalangan awam yang gagap dengan esensi ajaran Islam, ternyata jurus ini terkadang masih ampuh juga.

Yang jelas bukan karena keampuhan jurusnya, tetapi memang dasarnya pertahanan fikrah umat Islam ini terlalu lemah dan rentan terhadap berbagai serangan, bahkan yang paling lemah sekalipun. Sehingga hanya sekali gebrak saja sudah jatuh betekuk lutut.

Padahal bila kita sedikit saja punya latar belakang pemahaman ilmu hadits, pastilah kita dengan mudah akan merontokkan semua tuduhan miring tentang keabsahan hadits Ahlul Bait.

Jika hadis Syi’ah semua palsu maka tidaklah mungkin banyak kesamaan antara sunni dan Syi’ah. Maka amat mustahil perawi sunni dan perawi syi’ah yang domisilinya terpencar-pencar di beragam ujung dunia itu pernah berkumpul bersama pada suatu saat untuk membuat hadits  bersama yang redaksinya sama. Atau mustahil pula mereka masing-masing di rumahnya membuat hadits lalu kebetulan semua bisa sama sampai pada tingkat redaksinya.misal : hadis 12 khalifah, hadis tragedi hari kamis, hadis khalifah umat islam adalah ahlulbait dll
Padahal hadis yang sama tsb baru dari jalur Sunni saja. Apabila jumlah rawi itu ditambah dengan yang dari syi’ah, maka jumlahnya akan menjadi lebih banyak.Tuduhan ini pun seringkali mengecoh orang awam untuk membenarkan tasykik.

Mari kita mengulangi kembali salah satu subbab pelajaran dasar logika: generalisasi. Karena mungkin saja kita pernah mengucapkan atau mendengar seseorang mengatakan untuk tidak melakukan generalisasi. Kita akan mengulang sedikit saja agar saya dan Anda tidak salah lagi dalam melakukan penilaian terhadap kelompok atau orang lain.

Sebagai salah satu proses penalaran induksi (khusus-umum), generalisasi merupakan penyimpulan yang berawal dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum. Fenomena yang dialami kita setarakan dengan seluruh fenomena sejenis. Jadi, kesimpulan dari satu peristiwa yang terjadi kita berlakukan juga kepada peristiwa lain yang belum terjadi. Karena itulah, proses seperti ini sebenarnya tidak sampai pada kebenaran absolut, tetapi hanya sebuah kemungkinan.

Ketika berbicara mengenai generalisasi, maka yang dimaksud adalah generalisasi tidak sempurna, yaitu generalisasi yang didasarkan beberapa fenomena untuk menyimpulkan fenomena sejenis yang belum diselidiki. Untuk menguji apakah sebuah generalisasi yang dihasilkan cukup kuat, kita harus mengevaluasi bukti-bukti yang ada, di antaranya:

  1. Meski tidak ada ukuran yang pasti, tapi apakah benar jumlah sampel yang dimiliki cukup untuk membuktikan kebenaran? Karena untuk menentukan faktor dominan, apalagi sebuah keyakinan, tidak cukup didasarkan kepada beberapa orang saja.
  2. Meski tidak menjamin kebenaran absolut, apakah sampel yang digunakan cukup bervariasi? Sampel yang semakin bervariasi akan semakin memperkuat kemungkinan kebenarannya; misalkan variasi pengaruh kehidupan dan lingkungan, latar belakang pendidikan, kultur, usia, negara, dan sebagainya.

Bualan “Syi’ah SESAT” oleh ulama kaki tangan Thaghut Dinasti Umayyah

Apakah anda kaum sunni melakukan kritik historis terhadap hadis hadis anda ??? Jangankan kritik sejarah, kritik matan saja tidak..

Kemewahan dan kerusakan para pemimpin Umayyah sangat parah. Dimana beberapa pemimpin khilfah Umayyah yang cendrung kepada kemewahan dan hura-hura. Sehingga urusan negara dan pemerintahan tidak tangani secara serius.

sebagai contoh kasus, apa yang terjadi pada Khalifah Yazid bin Malik ( 101-105- H. ) yang terkenal dengan sikap hura-huranya dan cinta terhadap perempuan, dalam suatu riwayat dikatakan bahwa dia memiliki dua orang perempan yang selalu mendampingi hidupnya setiap detik. Satu namanya Salamah dan satu lagi bernama Hababah, Hababh disebalah kananya dan Salamah disebelah kirinya sepanjang waktu yang menyebabkan kelengahan terhadap urusan pemeritahan. Dan diriwayatkan juga, ketika habah meninggal dunia ia menyimpan bersamanya selama berhari-hari sebelum dikuburkan, dan merasa sedih yang berlarut-larut yang menyebabkan dirinya tertimpa sakit dan meninggal setelah beberapa hari Hababah dikuburkan.

Hal yang serupa terjadi pada khalifah Alwalid bin Yazid bin Abdul Malik (125-126 H ) yang masyhur dengan sikap hura-huranya, hanya memeprhatikan Syair-syair dan gemar terhadap minuman kahmar.

Kepemimpinanya tidak disenagi oleh masyarkat karena Akhlaknya yang sangat buruk, suka terhadap hal-hal yang haram. sehingga iapun terbunuh oleh anak saudara bapaknya sendiri.

Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik.

Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah (tidak jelas sanadnya) yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.

Jika pecinta keluarga Muhammad saww disebut Rafidhah Maka, saksikanlah wahai Tsaqolan (jin dan manusia) bahwa diriku adalah Rafidhi. (Diwan imam Syafi’i ra Hal:55)

Lagi-lagi sebuah julukan yang masih juga diidentikan dengan Syiah. Istilah ini baru dikenal semenjak abad kedua Hijriyah. Itupun dipakai untuk para penentang kekuasaan tertentu yang berkuasa pada zaman itu. Para penguasa kala itu ingin menjadikan para penentangnya memiliki kesan buruk di hadapan publik, oleh karenanya melalui beragam propaganda mereka mencari julukan negatif bagi mereka yang tidak sejalan dengan pikirannya. Julukan rafidhah adalah salah satu predikat negatif yang diberikan oleh penguasa kala itu untuk para penentangnya. Mungkin pada masa itu, Rafidhah memiliki kemiripan dengan julukan ekstrimis atau teroris pada zaman sekarang ini. Julukan-julukan miring semacam itu sengaja dibikin oleh yang kuat terhadap yang lemah, yang mayoritas untuk yang minoritas, yang zalim untuk yang teraniaya (mazlum)…dsb.

Beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab ingin memberikan julukan miring tersebut untuk rival pemikirannya. Akhirnya, julukan Rafidhah diperluas pemakaiannya terhadap aliran pemikiran yang dianggap lemah, minoritas, teraniaya… untuk dijadikan sarana pengelabuhan kesadaran publik. Yang lebih fatal dari itu, sang pemakai istilah tersebut justru menyandarkan pemakaian julukan tersebut dengan landasan hadis-hadis dha’if yang dinisbatkan kepada Rasulullah saww. Lantas, siapakah gerangan yang dapat menjadi obyek empuk untuk gelar tersebut? Ya…! Siapa lagi kalau bukan Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mazhab al-Ja’fariyah, adalah sasaran empuk untuk mendapat predikat negatif itu.

Kenapa mesti Syiah al-Ja’fariyah? Salah satu penyebabnya adalah karena hanya Syiah Ja’fariyah satu-satunya mazhab yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak berpangku-tangan atas setiap perbuatan zalim yang dilakukan oleh individu manapun, termasuk para penguasa. Itu terbukti, baik jika dilihat dari teks ajaran mazhabnya, maupun pemaraktekkannya dalam kehidupan mereka.

Dalam sejarah didapatkan bagaimana usaha mereka untuk menegakkan keadilan yang dipelopori oleh para imam suci mereka. Para Syiah Ahlul Bait selalui berusaha mengkritisi sepak terjang para penguasa yang selalu cenderung bertentangan dengan ajaran Rasulullah saww, sementara di sisi lain mereka (imam-imam suci) juga menamakan dirinya sebagai khalifah (pengganti) Rasul. Hal inilah yang tidak disukai oleh para penguasa zalim –Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah– kala itu.

Oleh karenanya, tekanan demi tekanan mereka lakukan untuk membendung tersebarnya ajaran Syiah. Mereka tak segan-segan melakukan pembantaian masal demi tercapainya tujuan mereka, dan kelangsungan dinasti mereka. Dari situlah terjawab sudah pertanyaan, kenapa Syiah selalu teraniaya dan minoritas? Namun, karena kehendak Ilahi, walau tekanan demi tekanan dari pihak musuh-musuh Islam beserta kaki-tangannya dengan gencar terus menghadangnya, mazhab ini makin eksis di tengah-tengah umat.

Terminologi Rafidhah:

Dalam terminologi istilah Rafidhah, kata itu berasal dari kata ra-fa-dha yang berarti menolak dan meninggalkan sesuatu. Istilah ini sering diidentikkan dengan kaum Syiah Imamiah yang menolak akan kepemimpinan tiga khalifah pra-kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as, dan hanya mengakui kepemimpinan Ali as pasca wafat Rasulullah saww.[1]

Abul-Hasan al-Asy’ary dalam kitab “Maqolat al-Islamiyin” menyatakan, julukan ini pertama kali dilontarkan oleh Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib atas para Syiah di kota Kufah. Masih menurut al-Asy’ary, pada mulanya, para Syiah di Kufah memberikan baiatnya kepada Zaid, namun mereka tidak konsekwen terhadap baiatnya. Mereka tidak mau mengindahkan perintah Zaid untuk tetap menghormati dan memuliakan Abu Bakar dan Umar.

Oleh karena itu, Zaid menjuluki mereka dengan sebutan Rafidhah.[2] Akan tetapi, pendapat ini memiliki banyak celah untuk dibatalkan, mengingat bahwa banyak pakar sejarah yang menyebutkan secara detail sejarah hidup terkhusus kesyahidan Zaid bin Ali, namun tidak satupun dari mereka yang menyebutkan akan hal pengungkapan Zaid di atas tadi. Selain dari itu, para ahli sejarah hanya menyebutkan bahwa para penghuni kota Kufah tidak mengindahkan kebangkitan Zaid bin Ali, dan membiarkannya bergerak sendiri tanpa bantuan penduduk Kufah.[3]

Hal itu sama persis sebagaimana yang terjadi pada kakek Zaid, Husein bin Ali as, cucu Rasulullaha saww. Husein bin Ali pada tragedi Karbala, tak dapat dukungan dari penduduk kota Kufah. Dengan demikian, penisbatan istilah itu yang bermula dari Zaid bin Ali sama sekali tidak berasas pada bukti sejarah yang kuat.

Di sisi lain, telah terbukti bahwa istilah Rafidhah digunakan untuk pribadi-pribadi yang meragukan legalitas kekuasaan suatu rezim dan pemerintahan tertentu. Jadi, istilah ini lebih bermuatan politis ketimbang teologis. Nasr bin Muzahim (Wafat tahun 212 H) dalam salah satu karyanya yang berjudul Waqoatu Shiffin menyatakan bahwa Muawiyah dalam suratnya yang ditujukan kepada Amr bin ‘Ash –yang saat itu tinggal di Palestina– menyebutkan: “Perkara tentang Ali, Thalhah dan Zubair telah kamu ketahui, namun (ketahuilah bahwa) Marwan bin Hakam telah bergabung dengan para Rafidhah (penentang) dari penduduk kota Bashrah, dan Jabir bin Abdullah telah melawan kita…”[4]

Dari sini ada beberapa poin yang dapat diambil pelajaran; Pertama, awal kemunculan istilah rafidhah sangat bermuatan politis, bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ihwal teologis. Muawiyah menyebut Marwan bin Hakam beserta para pendukungnya sebagai Rafidhah, karena ia telah bergabung dengan para penduduk kota Bashrah yang kala itu mayoritas tidak mengakui legalitas pemerintahan Ali as yang berpusat di kota Kufah. Kedua, istilah itu telah ada sebelum kelahiran Zaid bin Ali, bukan sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abul Hasan al-Asy’ary di atas.

Pribadi-pribadi yang Dinyatakan Rafidhi pada Kitab-kitab Ahlussunnah

Julukan Rafidhah mempunyai konotasi miring. Orang akan enggan untuk dijuluki dengan sebutan itu. Pihak ketiga pun akan menghindar di saat bertemu orang yang dianggap memiliki gelar tadi. Itulah salah satu dampak negatif propaganda yang dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Walau mereka terbukti Syiah namun tetap saja hadis yang mereka bawakan tercantum dalam enam kitab induk Ahlussunnah. Sebagai contoh:

1- Kendati Ibn Hajar menyatakan bahwa Ismail bin Musa al-fazazi sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Abi Dawud[5] juga Ibn Majah[6] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis yang ia bawakan.

2- Meskipun Ibn Hajar menyatakan bahwa Bakir bin Abdullah at-Tha’i sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Muslim dalam kitab Shohih-nya[7] dan Ibn Majah dalam Sunan-nya[8] menukil hadis-hadis yang ia riwayatkan.

3- Begitu juga dengan Talid bin Sulaiman al-Muharibi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah) oleh Abu Dawud, dimana ia berkata: “Ia adalah Rafidhi yang keji dan jelek, dan yang memusuhi Abu Bakar serta Umar”[9] Namun, at-Turmuzi dalam kitab Sunan-nya[10] tetap menukil hadis darinya.

4- Ibn Hajar menyatakan bahwa Jabir bin Yazid al-Ju’fi adalah pengikut Syiah (Rafidhah)[11], namun Abu Dawud[12], Ibn Majah[13] dan at-Turmuzi[14] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis darinya.

5- Dan masih banyak lagi pribadi-pribadi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah), namun hadis-hadisnya tetap tercantum dalam kitab-kitab standart Ahlussunnah. Seperti; Jumai’ bin Umair, Haris bin Abdullah al-Hamdani, Hamran bin A’yun, Dinar bin Umar al-Asadi…dsb.[15]

Hadis-hadis yang tidak jelas sanadnya tentang Rafidhah:

Setelah kita mengetahui bahwa istilah Rafidhah dipakai untuk para rival politik sebuah kekuasaan tertentu. Istilah itu mempunyai konotasi negatif bagi khalayak umum, berkat adanya propaganda para penguasa zalim pada abad-abad permulaan awal kemunculan Islam. Namun, lama-kelamaan istilah itu dipakai oleh para musuh Syiah untuk mengganyang Syiah, bahkan tak jarang mereka pun (para musuh Syiah) menyandarkannya pada hadis-hadis yang bermasalah dari sisi sanad hadis, yang berakhir pada peraguan dari sisi kesahihannya. Sebagai contoh, ada empat hadis yang bersumber dari Ibn Abi ‘Ashim tentang pencelaan terhadap Syiah.[16] Doktor Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qoffary dalam kitab Ushul Mazhab Syi’ah menyatakan bahwa Nashiruddin al-Bani[17] sendiri mengemukakan bahwa hadis-hadis yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim tadi jika dilihat dari sanad hadisnya amat lemah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah[18] yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.[19]

Salah satu riwayat yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah adalah hadis: “Aku beri kabar gembira engkau wahai Ali, engkau beserta para sahabatmu adalah (calon) penghuni Surga. Namun, ada sekelompok orang yang mengaku sebagai pecinta-mu padahal mereka adalah penentang (penolak) Islam. Mereka disebut ar-Rafidhah. Jika engkau bertemu dengan kelompok tersebut maka perangilah mereka, karena mereka telah musyrik. Aku (Ali) berkata: Wahai Rasulullah, apakah gerangan ciri-ciri mereka? Beliau menjawab: “Mereka tidak menghadiri (shalat) Jum’at dan jama’ah, dan mencela para pendahulu (salaf)” [20] oleh as-Syaukani, hadis ini dikategorikan sebagai hadis Maudhu’ (buatan).[21]

Contoh lain dari hadis tentang Rafidhah adalah hadis yang dinukil oleh at-Tabrani bahwa Rasul bersabda: “Wahai Ali, akan datang pada umat-ku suatu kelompok yang mengaku sebagai pecinta Ahlul-Bait, bagi mereka …., mereka disebut Rafidhah. Bunuhlah mereka, karena mereka telah kafir”. Akan tetapi, dikarenakan sanad hadis ini diriwayatkan oleh orang-orang seperti Hajjaj bin Tamim yang sama sekali tidak dapat dipercaya, maka hadis ini masuk kategori hadis Dza’if (lemah).[22]

Dalam kitab ad-Dala’il disebutkan bahwa Al-Baihaqi setelah menukil hadis Marfu’ yang bersumber dari Ibn Abbas tentang celaan terhadap Rafidhah, menyatakan: “Banyak sekali hadis-hadis serupa tentang hal yang sama dari sumber-sumber yang berbeda, namun kesemua sanad-nya tergolong lemah”[23]

Dan masih banyak lagi beberapa ulama hadis dari Ahlussunnah yang menyatakan kelemahan hadis-hadis berkaitan dengan Rafidhah yang kebohongan itu disandarkan kepada Rasulullah. Bisa dilihat kembali karya-karya ulama Ahlussunnah seperti karya kepunyaan al-‘Aqili yang berjudul ad-Dhu’afa’, Ibn Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyyah ataupun al-Maudhu’aat.

Dari sini jelaslah, bahwa istilah Rafidhah adalah istilah murni politis dan tidak ada kaitannya dengan pembahasan teologis, termasuk masalah kekhilafahan pasca Rasul. Namun istilah itu dinisbatkan untuk para pecinta Ahlul-Bait (Syiah) oleh para pembenci Syiah. Mereka dalam kasus pemaksaan gelar Rafidhah untuk kelompok Syiah, tidak segan-segan menggunakan kebohongan atas nama Rasulullah saww. Bukankah kebohongan atas diri Rasul merupakan bagian dari menyakiti Rasul? Dan menyakiti Rasul termasuk dosa besar, yang pantas dilaknat oleh Allah?[24] Bukankah kebohongan atas Rasul juga berakibat kebohongan atas segenap kaum muslimin? Mengingat kaum muslimin sampai akhir zaman akan selalu mengikuti hadis-hadis Rasulullah[25] Membenarkan, memegang erat dan mengajarkan hadis palsu –atas dasar pengetahuannya– adalah termasuk sesat dan menyesatkan. Oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk menghindarinya seoptimal mungkin agar tidak termasuk orang yang sesat dan menyesatkan.

Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (al-Hujuraat :11)

Mengenai perkara-perkara yang berkenaan dengan akidah, kita perlu memperhatikan beberapa masalah di bawah ini:

Pertama, kita perlu meniru al-Quran yang mengajarkan kita cara berdiskusi dan membahas sesuatu. Metode diskusi dan perbincangan yang diajarkan al-Quran akan mengantarkan kita keluar dari lingkaran egoisme dan kesempitan berpikir menuju sikap inklusif dan keterbukaan. Metode inilah yang disebut metode terbaik dalam berkomunikasi, dimana kedua belah pihak benar-benar mendapatkan penghormatan oleh lawan bicaranya.

Kedua, kita harus menjadikan Islam sebagai parameter tertinggi dalam berinteraksi. Seharusnya dua syahadat (bersaksi bahwa Allah Swt sebagai Pencipta alam semesta dan Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya) dijadikan sebagai syarat terjaganya setiap Muslim dari kekufuran dan kebebasannya dalam berpendapat sesuai dengan mazhab yang diyakininya, sekaligus menjadi syarat perlindungan terhadap harta dan kekayaan yang dimilikinya.

Ketiga, seharusnya kata “kafir” dihapus dari kamus percakapan dan komunikasi antar Muslim. Seseorang tidak akan pernah keluar dari bingkai keimanan dan masuk dalam jurang kekufuran selama ia tidak bertentangan dengan prinsip dua syahadat tersebut.

Keempat, perbedaan mazhab seharusnya dianggap sebagai variasi dalam kesatuan. Ijtihad setiap mazhab tidak boleh dengan mudah dinilai melenceng dari garis Islam. Mazhab lain tidak boleh dianggap bodoh, bahkan musuh, hanya karena perbedaan cara berpikir dan sumbernya saja. Oleh karenanya, sudah merupakan tugas para pemikir Islam untuk menjadikan budaya komunikasi dan diskusi yang sehat sebagai budaya resmi mereka dimana tak seorang pun yang meragukan dampak positif hal ini.

Kelima, jiwa persahabatan, perdamaian, cinta dan kebebasan harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim. Ini adalah tugas utama yang harus diemban oleh setiap cendekiawan dan ulama.

Keenam, pada situasi tertentu, perlu adanya sikap tegas terhadap pihak-pihak garis keras dan yang fanatik agar mereka sadar dan mengikuti aturan yang seharusnya. Sering kali terjadi, misalnya saat diadakan sebuah seminar pendekatan antar-mazhab, kita tidak leluasa mengutarakan pelbagai pendapat kita karena masih tetap ada saja rasa fanatik dalam diri kita, atau mungkin kita tidak menjelaskan kenyataan yang sebenarnya tentang suatu mazhab atau pihak lain karena kita tidak sejalan dengan mereka sehingga lawan bicara kita tidak mengetahui yang sebenarnya.

Ketujuh, menjalankan ajaran al-Quran, yakni saling menghormati dalam berdiskusi dan bertukar pendapat. Meskipun lawan bicara kita non-Muslim sekalipun, tentu ada titik-titik kesamaan yang dapat ditelusuri dalam pemikirannya dan ditanggapi dengan positif.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan kondisi politik adalah:

Pertama, harus ada pemisah antara permasalahan primer dan permasalahan sekunder dalam masyarakat-Muslim. Sebagian dari permasalahan yang berkaitan dengan keseluruhan umat Islam tidak dapat dilakukan oleh seseorang atau tokoh tertentu yang mewakili beberapa kalangan atau juga sebuah partai yang semuanya mengatasnamakan umat Islam, karena kesalahan bertindak dalam hal ini akan membawa bahaya dan kerugian yang dampaknya akan menimpa umat Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, permasalahan yang mengyangkut kepentingan seluruh umat Islam hanya diselesaikan secara bersama dengan melalui pertimbangan yang matang. Adapun sebagian permasalah yang lainnya, yang bersifat terbatas pada dataran geografis, seperti permasalahan satu negara, adalah masalah yang tidak pokok. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan kondisi masyarakat Muslim setempat dan dengan memperhatikan mazhab-mazhab yang ada.

Kedua, negara-negara adidaya secara umum, dan Amerika secara khusus, adalah pihak-pihak yang menjadikan Islam dan penganutnya sebagai sasaran utama mereka. Umat Islam harus mengerti tindakan dan usaha kolektif apa yang harus dilakukan guna menghadapi mereka.

Ketiga, kita harus waspada dengan maraknya istilah-istilah seperti teroris, kekerasan, kejahatan dan lain sebagainya, yang mana semua kata-kata itu ditujukan kepada kita, umat Islam.

Keempat, kita harus memiliki sikap bersama dalam hal bagaimana seharusnya kita menghadapi upaya-upaya musuh yang berlawanan dengan persatuan umat Islam, juga dalam menyikapi istilah-istilah baru yang tersebar di tengah-tengah komunitas dunia, agar kesatuan umat Islam tetap terjaga.

Persatuan antar umat Islam bukan sekedar formalitas dan slogan belaka, bahkan berkaitan langsung dengan keberadaan Islam dan kaum Muslimin di panggung dunia yang keadaan mereka saat ini sedang terpuruk. Poin terakhir yang perlu kami ingatkan adalah, jika kita memang benar-benar tidak mampu mencapai persatuan, maka paling tidak kita harus bisa mengatur dan memahami perbedaan-perbedaan antara sesama kita, agar keutuhan kita sesama sebagai ummatan wahidah (umat yang satu) selalu terjaga.

Jalan terjal dan berliku yang kita sedang kita lewati begitu banyak. Kita sedang berada di situasi yang genting. sepanjang sejarah kita belum pernah menemukan keadaan umat Islam seperti saat ini. Karena itu, kita harus waspada dan bersikap bijaksana. Jika kita masih sibuk mengungkit perbedaan dan isu ikhtilaf mazhab, maka kita harus bersiap-siap untuk terus terpuruk dan kemudian mengalami kebinasaan.

———————————

Catatan Kaki:

[1] Al-Asy’ary, Abul-Hasan, Maqolat al-Islamiyin, Jil:1 Hal:88-89

[2] Ibid, Hal:138

[3] Amin, Muhsin, A’yan as-Syi’ah, Jil:1 Hal:21

[4] Al-Manqory, Nasr bin Muzahim, Waqoatu Shiffin, Hal:29

[5] Sunan Abi Dawud, Jil:4 Hal:165 Hadis ke-4486

[6] Sunan Ibn Majah, Jil:1 Hal:13 Hadis ke-31

[7] Shohih Muslim, Jil:1 Hal:529, Kitab Sholat Musafirin wa Qoshruha

[8] Sunan Ibn Majah, Jil: 1 Hal:170, Kitab at-Thoharoh

[9] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:322

[10] Sunan at-Tirmizi, Jil:5 Hal:616, Kitab al-Manaqib hadis ke-3680

[11] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:468 No:879

[12] Sunan Abu Dawud, Jil:1 Hal: 272, Kitab as-Sholat Hadis ke-1036

[13] Sunan Ibnu Majah, Jil:1 Hal:381 Hadis ke-1208

[14] Sunan at-Turmuzi, Jil:2 Hal:200, Bab: “Maa Jaa’a fi al-Imam yanhadhu fi ar-Rak’atain naasiyan”

[15] Untuk lebih detailnya, lihat kitab “al-Muraaja’aat” karya Syarafuddin al-Musawi.

[16] Lihat: Ibn Abi ‘Ashim, as-Sunnah, Jil:2 Hal:475

[17] Seorang ahli hadis terkemuka dari kalangan salafi (wahabi).

[18] Hadis marfu’ adalah hadis yang tidak jelas sanadnya.

[19] Ushul Mazhab as-Syiah, bagian Sejarah Syiah (Tarikh as-Syiah)

[20] Ibid: Jil: 2 Hal: 475

[21] Al-Ahadist al-Maudhu’ah, Hal:380

[22] Taqrib at-Tazhib, Jil:1 Hal:152

[23] ad-Dala’il, Jil:6 Hal:548

[24] Lihat Q S al-Ahzab :57

[25] Lihat Q S ali-Imran :61

bedah ingkar sunnah

Sayangnya kebanyakan mereka justru terlalu awam dengan ajaran Islam, ditambah terlalu mudah terpesona dengan apa yang lahir dari mulut musuh-musuh Syiah. Seolah-olah Sunni itu sumber kebenaran satu-satunya.

Kebanyakan generalisasi yang muncul adalah generalisasi empiris, yakni generalisasi yang tidak disertai penjelasan. Diperparah lagi dengan orang yang menerimanya tidak berusaha mencari penjelasan mengapanya. Generalisasi mengenai Syiah sebagai kelompok sesat yang berakidahkan caci maki terhadap sahabat akan terus berjalan bertahun dan berabad lamanya. Tanpa ada penjelasan dan mencari penjelasan, sehingga menghasilkan stereotip.

Stereotip adalah konsepsi yang ada di benak mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Stereotip ini membuat seseorang malas berpikir, mempertanyakan, atau menganalisa. Anda melihat seseorang memakai kemeja putih-celana hitam-membawa map, maka kita simpulkan (melalui stereotip) bahwa dia sedang mencari kerja. Melihat orang memakai jubah dan peci maka disimpulkan bahwa dia bagian dari kelompok garis keras. Jika berkaitan dengan Syiah, tanpa perlu pikir panjang maka segera muncul konsepsi dalam benak orang-orang sebagai kelompok “sesat! kafir!”

Sampai di situ orang akan enggan untuk mencari tahu apakah konsepsinya benar atau tidak. Dia sudah merasa puas dengan apa yang pernah diterimanya dari seseorang yang—melalui stereotip—terlihat seperti pakar agama. Sebagai contoh, seorang syekh salafi mengatakan bahwa lebih baik merokok dan minum khamar daripada berdebat dengan orang Syiah.[4] Semua itu muncul karena stereotip bahwa Syiah kafir, sesat, dan pembicaraannya adalah kebohongan. Padahal untuk membuktikannya diperlukan dialog, bukan menutup mata

Selepas pulang kerja beberapa malam yang lalu, bersama rekan kami melihat keramaian orang yang menyaksikan aksi kejahatan pencurian kaca spion mobil mewah. Tanpa malu berbuat kejahatan di muka publik, peristiwa ini terjadi di tengah rutinitas kemacetan. Masih di malam yang sama, bus kota yang saya tumpangi kehadiran penodong mabuk berkedok pengamen. Tanpa bernyanyi meski membawa gitar, penodong meminta uang kepada penumpang sambil mengeluarkan kata-kata kotor.

Saya sedih. Sambil berpikir benarkah kondisi bumi semakin hari semakin memburuk? Dulu, nabi saw. pernah berkata bahwa menjelang akhir zaman nanti, keburukan dan kejahatan akan benar-benar meliputi seluruh muka bumi, sebelum seseorang dari keturunannya akan menegakkan keadilan.

yang merampas hak orang lain dicela ATAU Imam Ali dan Imam Hasan yang menuntut haknya ?

Imam Ali seorang yang lemah dan penakut? Ga.. mungkin deh!!

Apakah Imam Ali bin Abi Thalib takut??

Apakah beliau lemah??

Apakah beliau seorang pengecut???

Tidak… demi Allah tidak… !!!

Beliau kan yang mampu menjebol dan mengangkat pintu gerbang Khaibar sendirian.
Kalau begitu gimana nih ceritanya…???

Ceritanya bohong atau Imam Ali seorang pengecut, penakut dan lemah…???

Benarkah Imam Ali telah mendapat wasiat dan perintah dari Rasulullah agar beliau menjadi penggantinya sebagai Khalifah?

Faham yang mengatakan bahwa Sayyidina Ali telah mendapat wasiat dan perintah Rasulullah agar beliau menjadi penggantinya sebagai Khalifah memang benar !!

.

Imam Ali tidak memerangi Abubakar, Umar dan Usman BUKAN TANDA KELEMAHAN beliau…

Dari Ummu Salamah radliallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).” Maka para sahabat berkata : “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

ANDA TIDAK PERLUH MEMPERLEBAR MASALAH, ANDA JAWAB PERTANYAAN SAYA SESUAI DENGAN YG DITANYA…. DAN DEMI KEADILAN UTK MENDAPATKAN KEBENARAN MAKA TOLONG JAWABANNYA DENGAN DALIL NAS DAN HADIS YG DISHAHIHKAN OLEH PARA ULAMA SYIAH DAN ULAMA SUNNI.

ANDA JANGAN SEKALI-KALI MENJAWAB SESUAI HADIS YG DI SHAHIHKAN OLEH SALAH SATU PIHAK SAJA – SUNNI ATAU SYIAH SAJA, HARUS DARI KEDUA-DUANYA, DAN RIWAYAT HADIS HARUS DARI RIWAYAT KEDUABELAH PIHAK – ULAMA SUNNI DAN ULAMA SYIAH… KARENA BANYAK HADIS YG DISEPAKATI KESHAHIHANNYA OLEH PAKAR HADIS KEDUABELAH PIHAK MENGENAI HAL DIATAS…..

Imam Ali diam bukan karena tunduk kepada Umar… Tetapi Imam Ali itu mengetahui situasi pada saat itu, dan Rasul sudah memberikan pesan terakhir di Ghadir Khum mengenai pengangkatan Imam Ali, dan Imam Ali mendampingi Rasul dalam keadaan sakit…

Apakah Imam Ali Lemah Tidak Menuntut Tiga Khalifah ???

Jawab :

1. Kenapa Nabi Harun diam terhadap Samiri ????

2. Kenapa Allah hanya diam saja kepada Iblis yang tidak mau tunduk terhadap perintah Allah??? Bukankah Allah mempunyai kemampuan utk menghabisi iblis saat itu juga….

3.Kenapa Allah berikan kesempatan kepada Iblis yang jelas jelas tidak taat untuk menggoda umat mencari temannya sampai akhir kiamat?

Mohon sharing dari teman2, mengenai hadist menjelang wafatnya dibawah ini,

Hadis di Kitab Bukhari Bab I No. 83

Ibnu Abbas berkata : “ Ketika Nabi bertambah keras sakitnya, beliau berkata, “Bawalah kemari kertas supaya kamu dapat menuliskan sesuatu agar kamu tidak lupa nanti.”

Kata Umar bin Khaththab, “ Sakit Nabi bertambah keras. Kita mempunyai Kitabbullah (Qur’an); cukuplah itu !”

Para sahabat (yang hadir ketika itu berselisih pendapat, dan menyebabkan terjadinya suara gaduh. Berkata Nabi, “ Saya harap anda semua pergi! Tidak pantas anda bertengkar didekatku.”

Ibnu Abbas lalu keluar dan berkata, “Alangkah malangnya, terhalang mencatat sesuatu dari Rasulullah.”

Bisakah saya menyimpulkan bahwa :
1. Ada Sahabat Nabi SAW tidak taat sama perintahnya sehubungan permohonan beliau yang akan meninggalkan wasiat…. padahal kita semua dianjurkan untuk berwasiat?

2. Ada sahabat Nabi SAW yang ingkar Sunnah… karena mengatakan cukuplah Kitabullah…..

3. Bagaimana makna pengusiran Nabi  terutama bagi yg berbuat gaduh dan bersuara keras…. karena kita dilarang untuk meninggikan suara dihadapan Nabi SAW

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Dahulu Bani Israil itu dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi mangkat, maka akan digantikan dengan nabi lain. Dan sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun setelahku dan akan muncul para khalifah yang banyak. Mereka bertanya: Lalu apakah yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi saw. menjawab: Setialah dengan baiat khalifah pertama dan seterusnya serta berikanlah kepada mereka hak mereka, sesungguhnya Allah akan menuntut tanggung jawab mereka terhadap kepemimpinan mereka. (Shahih Muslim No.3429)

Siapakah khalifah pertama yg ditunjuk oleh Rasulullah? Abubakar bukan ditunjuk oleh Rasul, tetapi dia di pilih oleh umat di Saqifah….dan pemilihannya pun penuh dengan pemaksaan… Hadis diatas bukan penunjukan Abubakar… namun sebagai penegasan kesetiaan kepada khalifah… Siapa khalifah yg telah ditunjuk Rasul???

Dia adalah Imam Ali telah diangakat oleh Rasul Saww di Ghadir Khum, dan Abubakar dan umar memberi salam kepada Imam Ali…

Kuatnya hadis Ghadîr Khumm ini tidak dapat disangkal. Di antara para ahli yang menguatkan hadis ini ialah Imâm Ahmad bin Hanbal, Tirmidzî, Nasâ’î, Ibnu Mâjah, Abû Dâwud, dan penulis-penulis Sunnî lain, seperti Ibnu Atsîr dalam Usdu’l-Ghâbah, Ibnu ‘Abdil Barr dalam Istî’âb, Ibnu ‘Abdu Rabbih dalam al-’Iqd al-Farîd, dan Jahizh dalam ‘Utsmâniyyah. Lebih dari seratus saluran isnâd yang berbeda-beda dan paling sedikit 110 Sahabat yang telah menyampaikan kesak¬siannya, dan tercatat dalam buku-buku sejarah Sunnî membuktikan kuatnya hadis ini. Ibnu Katsîr, seorang Sunnî yang fanatik, menulis tujuh setengah halaman tentang peristiwa ini.

Isinya Khotbah nabi Saww di Ghadir Khum tentang pengangkatan imam Ali sbg Khalifah pertama, sbb:

Tidakkah kalian mengetahui atau menyaksikan bahwa aku adalah paling utama menjadi wali bagi setiap kaum mu’minîn lebih dari diri mereka sendiri?

Rasûl Allâh saw. lalu memegang dan mengangkat tangan ‘Alî bin Abî Thâlib dengan kedua tangannya sehingga hadirin dapat melihat kedua ketiaknya yang putih .

Kemudian Rasûl Allâh saw. bersabda:
Wahai manusia sekalian! Allâh adalah maulâku dan aku adalah maulâ kalian , maka barang siapa menganggap aku sebagai maulânya, maka ‘Alî ini (juga) adalah maulânya!

Akhirnya Rasûl Allâh bersabda:
Allâh sungguh Maha Besar dengan menyempurnakan agama-Nya dan mencukupkan nikmat-Nya serta meridai risalahku dan menetapkan wilayah bagi ‘Alî!

Umar dan Abû Bakar beri Selamat pada ‘Alî
Sesudah itu ‘Umar bin Khaththâb datang bersama jemaah menemui ‘Alî dan ‘Umar berkata:
‘Alangkah bahagianya Anda (hani’an laka) wahai Ibnu Abî Thâlib, Anda menjadi maulâ setiap mu’min dan mu’minat!’ Dan di riwayat lain: ‘Beruntung Anda (bakhin bakhin laka) wahai Ibnu Abî Thâlib!’. Dan dalam riwayat lain: ‘Beruntung ya ‘Alî!(bakhin ya ‘Alî) engkau menjadi maulâ kaum mu’minîn dan mu’minât!

JADI JELAS INIADALAH PENGANGKATAN IMAM ALI SEBAGAI KHALIFAH PENGGANTI NABI UTK MENERUSKAN RISALAH ISLAM ATAS PERINTAH ALLAH YG DISAMPAIKAN NABI MUHAMMAD DI GHADIR KHUM…

BUKAN ABUBAKAR…

Imam Ali dan Imam Hasan tidaklah dicela

karena menuntut haknya,

tetapi OKNUM SAHABAT

NAbi menjadi tercela

karena merampas hak orang lain.


Ilmu pengetahuan memberikan kepada kita cahaya dan kekuatan.
Agama memberi kita CINTA, harapan dan kehangatan.
Ilmu pengetahuan membantu menciptakan peralatan dan
mempercepat laju kemajuan. Agama menetapkan maksud upaya manusia dan sekaligus mengarahkan upaya tersebut. Ilmu pengetahuan membawa revolusi lahiriah (material). Agama membawa revolusi batiniah (ruhani). Ilmu pengetahuan menjadikan dunia ini dunia manusia

.
Agama menjadikan kehidupan sebagai kehidupan MANUSIA.
Ilmu pengetahuan melatih temperamen (watak) manusia.
Agama membuat manusia mengalami pembaruan.
Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama memberikan
kekuatan kepada manusia.

Namun, kekuatan yang diberikan oleh agama

adalah berkesinambungan, sedangkan kekuatan yang diberikan
oleh ilmu pengetahuan terputus-putus. Ilmu pengetahuan itu INDAH,
begitu pula agama. Ilmu pengetahuan memperindah akal dan pikiran.
Agama MEMPERINDAH JIWA & PERASAAN. Ilmu pengetahuan dan
agama sama-sama membuat manusia merasa nyaman

.
Ilmu pengetahuan melindungi manusia terhadap penyakit, banjir,
gempa bumi dan badai. Agama melindungi manusia terhadap keresahan,
kesepian, rasa tidak aman dan PIKIRAN PICIK. Ilmu pengetahuan
mengharmoniskan dunia dengan manusia, agama menyelaraskan
manusia dengan dirinya. Kebutuhan manusia akan ilmu pengetahuan
maupun agama telah menarik perhatian kaum pemikir religius maupun
pemikir sekular. ~ Syahid Murtadha Muthahhari

Jauhi Orang Zalim!


Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya pengkhianatan seseorg di antara kalian di dlm ilmunya adalah jauh lbh jahat d/p pengkhianatannya di dlm hartanya.” (Al-Bihar 2:68)

Imam Ali as berkata, “Manusia yg paling hebat penyesalannya pd saat sakratul maut adalah org2 alim yg tidak mengamalkan ilmunya!” (Mizan al-Hikmah 6:513, hadis no. 13746)

Imam Ali as berkata, “Allah telah mengambil perjanjian atas orang-orang alim agar mereka tidak “mengenyangkan” orang zalim dan tidak “melaparkan” orang yang dizalimi!” (Nahjul Balaghah, hlm. 52)

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang berpaling dari memusuhi orang zalim atau malah menolongnya, maka Allah turunkan malaikat maut (ketika sakratul maut) sambil berujar : “Kabar gembira bagimu dg laknat Allah dan neraka Jahannam, yang merupakan seburuk-buruk tempat kembali!” lalu ujarnya lagi “Barangsiapa yang mendorong orang zalim utk berbuat zalim lagi maka kelak temannya adalah Haman di neraka Jahannam!”
(Al-Bihar 104:293; Al-Hayah 2:309, hadis no. 1)


Rasulullah Saw bersabda, “Dusta itu menggiring pelakunya ke perbuatan keji, perbuatan keji menggiring pelakunya ke Neraka!” (Mizan al-Hikmah, hadis no. 17412)

Imam Ali as berkata, “Alasan untuk berdusta adalah seburuk2 alasan!” (Mizan al-Hikmah, hadis no. 17428)

Rasulullah Saw bersabda, “Dusta itu dapat mengurangi rezeki.” (Mizan al-Hikmah, hadis no. 17463)

Imam Ali as berkata, “Dusta itu menggiring (pelakunya) ke nifaq (sifat munafik).” (Mizan al-Hikmah, hadis no. 17449)

Inilah sejarah Islam yg dibengkokan oleh kebanyakan manusia yakni sunni dan wahabi…

Ini Juga jelas, bahwa Umarlah yg menghabat penulisan wasiat Rasul, dgn mengatakan Nabi mengigau… Pantaskah Nabi dikatakan demikian??? Hanya kaum mayoritas umat yg berani mengatakan demikian Sunni dan Wahabi… Dan kalau pernyataan Umar itu benar, Mengapa Nabi mengusirnya keluar dari rumahnya beserta sahabat2 lainnya???

Yang hanya bisa berada dalam Rumah itu hanya Imam Ali beserta keluarganya saja…

Ini menandakan bahwa UMARLAH BIANG  PERPECAHAN…

Dosa, membantu para penindas juga diklasifikasikan sebagai dosa besar.

Fadhl Ibnu Shazān memiliki riwayat dari Imam Ridha (as) mengenai dosa besar: “Dan membantu para penindas (dhalim-dhalimin) dan condong ke arah mereka”. Dalam riwayat dari Imam Sadiq (as) disebutkan, “Tidak membantu orang yang tertindas adalah dosa besar.” Dengan kata lain membantu penindas juga termasuk dosa besar. Imam Musa bin Ja’far (as) mengatakan: “Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan para penindas, berusaha untuk mencapai tujuan jahat mereka dan membantu mereka adalah sama dengan kufur dan juga bersandar kepada mereka adalah dosa lebih besar dan pantas masuk neraka. “(Wasa’il ul-Syiah).

.

Nabi Muhammad(sawa) juga bersabda: “Pada malam Miraj, ketika saya melihat prasasti di pintu neraka,(bertuliskan) ‘Jangan lah menjadi pembantu kaum penindas.” (Wasa’il ul-Shia). Ini berarti bahwa jika tidak ingin masuk neraka maka harus menahan diri dari bekerjasama dengan para penindas. Selain itu, ini adalah dosa yang dijanjikan oleh hukum suci sang Maha Kuasa dalam Al Quran: “Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang tidak adil, supaya jangan disentuh api (neraka), dan jangan kamu memiliki wali selain Allah, maka kamu tidak akan diberi pertolongan“. (Surah Hud 11:113).

.
Menurut tafsir-Minhaj Shādiqīn: ‘tidak condong’ berarti kita tidak memiliki sedikitpun inklinasi (kecendrungan hati, keinginan) terhadap para penindas. Oleh karena itu kita harus memperlakukan mereka dengan tidak hormat dan tidak berkumpul dengan mereka dan tidak bebas mengekspresikan isi hati kita kepada mereka. Kita tidak boleh serakah akan hadiah mereka, atau kita harus tidak mentaati dan menuruti perintah mereka. Ketika adanya hukum larangan terhadap penindas yang seperti itu, maka jelaslah bahwa akan dapat dihalal membantu mereka dan bekerja sama dengan mereka dalam penindasan.

.
Rasul Allah (sawa) menyatakan, “Barang siapa yang mendoakan panjang umur para penindas sama dengan dia memusuhi Allah di bumi.” (Minhaj ash-Shādiqīn).

.

Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang tidak berkata bahwa Ali adalah sebaik-baik manusia maka telah kafir” {Tarikh al-Khatib al-Baghdadi jilid 3 halaman 192 , Kanz al-Ummal jilid 11 halaman 625}

Rasulullah saw bersabda:”jika kalian menjadikan Ali sebagai pemimpin kalian-(dan aku melihat kalian tidak melaksanakannya)-maka kalian akan menemukan bahwa dia(Ali) adalah pemberi petunjuk yang akan menunjukkan kepada kalian jalan yang lurus dan benar.” {musnad ahmad jilid 1 halaman 108}

Jenis Para Penindas (Dhalim)

‘Dhulm’ di bahasa Arab bermakna penindasan dan ketidakadilan berarti: mengabaikan perintah suci dan juga bagi mereka yang melawan apa yang sesuai dengan akal dan logika. Ada dua jenis penindasan seperti:

.
(1) Melampaui batasan hukum agama seperti politeisme (penyembah berhala). Sebagaimana difirmankan Allah, “… sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar –benar kezaliman yang besar.” (Surah Luqman:13)

.
(2) Menentang ketetapan hukum suci juga merupakan tanda-tanda penindas seperti yang dinyatakan dalam Kitab Suci, … Orang orang kafir itulah orang yang dhalim “(Surah Al-Baqarah :254)

.
Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa semua hukum agama seharusnya kita ikuti sesuai dengan alasan agama atau perintah agama yang harus ditaati dengan seksama. Tidak menerima atau tidak percaya adalah jenis kedhaliman. Selain itu, tidak menerima perintah suci Ilahi atau tidak bertindak atas dasar itu atau tidak menghormati batas yang ditentukan oleh Yang Mahakuasa, seperti melalaikan hal yang Wajib atau melakukan perbuatan yang Haram, semuanya ini merupakan ketidakadilan atau kedhaliman.

.
Dengan demikian, Tuhan Yang Maha Kuasa berkata, “… dan barang siapa melamggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang –orang yang dhalim.” (Al-Baqarah:229).

.
Hal ini juga berlaku ke atas ketidakadilan pada diri sendiri. Sebagai Allah (SWT) berfirman: “Barangsiapa kafir, maka kekafiran itu akanmenimpa dirinya sendiri“. (Surah Fāt’ir 35:39)

.
Beberapa jenis para penindas: termasuk melecehkan, memaksa, atau merendahkan, memenjarakan orang; juga merajam atau menuduh seseorang dengan tuduhan palsu atau menyakiti fisik seseorang. Bentuk penindasan yang lain adalah merebut harta-benda seseorang, atau mengambil tanpa izin dari pemilik atau tidak mengembalikan hak sang pemilik lain sebagainya cara mengusai hak orang lain dengan paksa. Contoh dari ketidakadilan yang besar adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah Bani Umayyah dan Bani Abbas ketika mereka menyalahgunakan kekuasaan Wilāyah (supremasi) Suci Ahl ul-Bayt (as). Contoh lain dari kedhaliman adalah mendudukkan dirinya sebagai Qadhi.(berfatwa sebelum menduduki posisi mujtahid, red).

.
Penindasan termasuk dalam dua kategori.
Penguasa tiran yang ganas dan para raja, yang melakukan penindasan sebagai amalan biasa.
Individu yang mungkin melakukan ketidakadilan/kedhaliman pada orang lain sekali-sekali

.
Membantu dalam penindasan penindas

Membantu suatu penindasan dalam bentuk apapun dan bagaimanapun adalah haram. Misalnya memberikan sebatang rotan tangan seseorang sehingga ia dapat memukul orang yang bersalah, atau untuk membantu dengan cara apapun untuk menyekap atau membunuhnya

.
Shaykh Ansari menulis di Makasib yang terkenal telah mengkonfirmasikan larangan kerjasama dengan penindas (dhalim) dengan empat pembuktian melalui dasar hukum yang diperlukan dalam hukum Islam. i.e. Al Quran, Sunnah, Akal dan Ijma.

.
Logika: Menyatakan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara yang penindas dan orang yang membantunya. Keduanya sama-sama bertanggung jawab atas tindakan yang dhalim. Mungkin saja jika tidak ada satu untuk membantu penindas, mungkin tidak terjadi penindasan. Oleh karena itu logika berkesimpulan bahwa membantu penindas hukumnya haram.

.
Ijma: Merujuk kepada buku-buku fikih (hukum Islam), semua mengkonfirmasikan bahwa semua (ulama) sepakat terhadap pendapat bahwa membantu penindis adalah haram.

.
Al Quran: The Qur’anic ayat “Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang tidak adil (dhalim),”, sudah cukup untuk membuktikan ketidak-absahan membantu orang yang tidak adil. Sekalipun memberikan bantuan yang sedikit juga tidak dibenarkan, maka bagaimana dapat dibenarkan memberikan membantu mereka (kepada kedhalimanan). sebagaimana membantu mereka akan menjadikan dukungan paling bentuk terhadap mereka

.
Selain itu, Maha Kuasa mengatakan: “… dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksanya.” (Surah Al-Mā’ida: 2)

.
Hadits dari Ahl ul-Bayt (as) terhadap membantu penindas

Berbagai hadits telah sampai kepada kita yang datang dari Syaikh Ansari yang mencatat hadits hadits dari Nabi Suci (S) dalam bukunya Warām: “Jika seseorang membantu seorang penindas dengan sadar, ia telah digolongkan sebagai orang yang ingkar dari Islam.” (Majmual Warām)

.
Sangat alami, perbuatan yang membuat orang keluar dari iman kepada Islam harus mendapatkan dosa yang dihasilkan kehancuran yang dibuatnya.

.
Imam Ja’far as-Sadiq (as) mengatakan: “Ketika hari kiamat nanti ketika panggilan diserukanl:” Di manakah ketidak adilan, penolong ketidak adilan (dhalim) dan orang-orang menyukai ketidak adilan? Begitu banyak, karena walaupun seseorang yang telah menuliskan pena dan tinta untuk (mendukung) penindas maka dia digolongkan sebagai penindas; semua orang-orang ini akan digabungkan dalam satu kandang besi dan dilemparkan ke dalam neraka. “(Wasa’il ul-Syiah)

.
Rasul Islam (sawa) mengatakan: “Jika seseorang memberikan sebatang kayu untuk raja yang lalim sehingga ia dapat memukul seorang yang tertindas, maka Allah akan mengubah kayu tersebut menjadi ular, tujuh puluh ribu hasta panjangnya dan akan membawanya kedalam api Neraka (untuk mengazabnya). “(Wasa’il ul-Syiah)

.
“Orang-orang yang mengambil hubungan oppressors di tangan mereka dan membantunya dalam penindasan akan, pada saat kematian, yang akan menyampaikan berita Divine kutukan dan api neraka oleh malaikat maut. Dan Neraka adalah sebuah resor jahat. Satu panduan yang penindih yang akan dipertimbangkan di menyetarafkan Haman (menteri dari Fir’on). Dan hukuman yang membantu orang-orang yang tidak adil dan oppressors sendiri akan lebih pedih dari hukuman lainnya dari narapidana neraka. Dan jika orang backbites tentang saudara-Nya percaya kepada penguasa, dan meskipun Muslim mungkin tidak harus menderita cedera apapun darinya, yang akan memiliki lagipencela segala perbuatan baik nullified. Namun, jika Muslim harus menderita penindasan di tangan penguasa, bagian belakang-penggigit akan dipelihara oleh Allah dalam neraka yang seksi di mana Haman akan dibatasi. “(Wasa’il ul-Syiah)

.

Memuji penindas: Haram
Memuji seorang penindas sehingga kekuasaannya dan otoritas dapat bertambah, atau mungkin mendorong dia menjadi lebih berani, hukumnya juga Haram. Hal ini dikonfirmasi oleh argumen yang telah disebutkan, dan juga dibuktikan dengan adanya pencegahan kemungkaran (Nahy ‘anil Munkar).

.
Shaykh Ansari telah secara khusus menukil hadits dari Nabi Muhammad (sawa): “Seseorang yang menunjukkan rasa hormat kepada orang kaya dan tunduk karena rakus terhadap harta seseorang, maka Allah akan marah menempatakkan dia dalam kandang api di bagian terendah neraka dimana Qarun dikurung. “(Wasa’il ul-Syiah)

.
Hadits ini berlaku untuk semua orang, maka jika memuji seorang yang tidak adil (dhalim), orang yang memuji itu akan memenuhi syarat untuk menerima dosanya. Nabi Allah (sawa) telah bersabda, “Jika seseorang memuji raja tiran (dhalim) atau menunjukkan kerendahan hati karena kerakusan (pada hartanya) maka dia akan berada di neraka dengan dia (Raja).” (Wasa’il ul-Syiah)

.
dalam hadits nabawi yang lain, “Apabila seorang yang berdosa (dhalim) dipuji, langit bergetar ketakutan dan kemarahan Allah akan membalut orang yang telah memuji itu.” (Safinat’ul-Bihar).

 

Buat apa mengikuti kaum  Wahabi

 

Muawiyah mencaci maki, melaknat Imam Ali dan menyembelih pengikut Sang Imam ! Syi’ah dituduh melaknat dan mencaci maki sahabat

Kenapa Mu’awiyah hadisnya diterima lalu dianggap tsiqah dan adil padahal  dia memerintahkan pemuka agama untuk melaknat  Imam Ali – Fatimah – Hasan dan  Husain ??

muawiyah.jpgmuawiyah.jpgmuawiyah.jpg

Kenapa Mu’awiyah  tidak  menjadi kafir  zindiq padahal dia memerintahkan pemuka agama untuk melaknat  Imam Ali – Fatimah – Hasan dan  Husain ??

Kenapa Mu’awiyah hadisnya diterima lalu dianggap tsiqah dan adil padahal  dia memerintahkan pemuka agama untuk melaknat  Imam Ali – Fatimah – Hasan dan  Husain ??

Banyak kitab sejarah  mencatat bahwa  “Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pemuka agama untuk melaknat   Imam Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Pemerintah Bani Umayyah menyuruh khatib khatib untuk melaknat keluarga Ali”, contoh :

  1. Kitab Al Ahdats karya Ali Al Madini (gurunya Bukhari)
  2. Tarikh Ibnu Asakir jilid 4 halaman 69
  3. Tarikh Ibnu Ishaq
  4. Tarikh Ibnu Khaldun  3/55-58
  5. Musnad Ahmad jilid 1 halaman 188
  6. Mustadrak Al Hakim  jilid 1 halaman 358

.

Abi Sa’id al-Khudri berkata: “Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAWW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di saf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasehat dan perintah.”

.

Abu Sa’id melanjutkan: “Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya. Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khotbah Id-nya sebelum shalat. Kukatakan padanya: “Demi Allah kalian telah rubah.” “Wahai Aba Sa’id” Tukas Marwan, “Telah sirna apa yang kau ketahui” Kukatakan padanya: “Demi Allah, apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui.” Kemudian Marwan berkata lagi: “Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khotbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khotbah sebelumnya.”[1]
.
Coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani merubah Sunnah Nabi. Itu dikarenakan Bani Umaiyah (yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi) terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai Penulis Wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar- mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib
.
Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-seganmemerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U’dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. “Kesalahan” mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah
.
Abul A’la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya:
  1. Dia berkuasa tanpa melakukan sebarang musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.
  2. Dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.
  3. Dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW bersabda: “Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam.
  4. Dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya.[2]
Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah merubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khotbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya
.
Nah, sahabat jenis apa yang berani merubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bersalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya.
Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAWW bersabda: “Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak.“[3]
.
Namun sahabat-sahabat seperti ini telah merubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bersalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah
.
Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAWW telah membunuh “Harun-nya” (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi’ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka
.
Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agungpun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa. Demi Allah, sangat mengherankan ketika membaca buku-buku referensi kitab ahl-Sunnah yang memuat berbagai Hadits yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah Hadits-Hadits lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain.
.
Sehingga Nabi SAWW bersabda:
“Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku.”[4]
Atau sabdanya:
“Engkau dariku dan aku darimu”.[5]
Dan sabdanya lagi:
“Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak”.[6]
Sabdanya:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya”.[7]
Dan sabdanya:
“Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku.“[8]
.
Dan sabdanya:
“Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila’nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya.“[9]
.
Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAWW dan yang diriwayatkan oleh para ulama ahl-Sunnah dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan Hadits ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?
.
Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A’mr bin A’sh dan sebagainya.
.
Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir.
Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan “Radhiallahu Anhum”, bahkan mengucapkan salawat untuk mereka tanpa kecuali.
.
Sehingga ada yang berkata, “Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan“. Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya.
Rasululah SAWW telah bersabda:
.
“Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.“[10]
Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat?
.
Anas bin Malik berkata:
“Tiada sesuatu yang kuketahui di zaman nabi lebih baik dari (hukum) shalat.” Kemudian dia bertanya: “Tidakkah kalian kehilangan sesuatu di dalam shalat?”
.
Az-Zuhri pernah bercerita:
“Suatu hari aku berjumpa dengan Anas bin Malik di Damsyik. Saat itu beliau sedang menangis. “Apa yang menyebabkan Anda menangis?”, tanyaku. “Aku telah lupa segala yang kuketahui melainkan shalat ini. Itupun telah kusia-siakan.” Jawab Anas.[11]
.
Agar jangan sampai terkeliru dengan mengatakan bahwa para Tabi’inlah yang merubah segala sesuatu setelah terjadinya sejumlah fitnah, perselisihan dan serta peperangan, ingin kunyatakan di sini bahwa orang pertama yang merubah Sunnah Rasul dalam hal shalat adalah khalifah muslimin yang ketiga, yakni Utsman bin Affan. Begitu juga Ummul Mukminin Aisyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Rasulullah SAWW menunaikan shalat di Mina dua rakaat (qashar). Begitu juga Abu Bakar, Umar dan periode awal dari kekhalifahan Utsman. Setelah itu Utsman Shalat di sana (Mina) sebanyak empat rakaat.”[12]
.
Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa Zuhri berkata: “Suatu hari aku bertanya pada Urwah kenapa Aisyah shalat empat rakaat dalam perjalanan musafirnya?”
.
“Aisyah telah melakukan takwil sebagaimana Utsman”[13] jawabnya. Umar bin Khattab juga tidak jarang berijtihad dan bertakwil di hadapan nas-nas Nabi yang sangat jelas, bahkan dihadapan nas-nas Al-Qur’an, lalu kemudian menjatuhkan hukuman mengikut pendapatnya.
.
Beliau pernah berkata: “Dua mut’ah yang dahulunya (halal) dan dilakukan di zaman Nabi, kini aku melarangnya dan mengenakan hukuman bagi orang yang melaksanakannya[14], (bertamattu’ dalam haji dan nikah mut’ah pent.) Beliau juga pernah berkata kepada orang yang junub tetapi tidak memperoleh air untuk mandi, “Jangan sembahyang”
.
Walaupun ada firman Allah di dalam surah al-Maidah ayat 6: “… Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih”.
Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Idza Khofa al-Junub A’la Nafsihi (Apabila Orang Junub Takut Akan Dirinya) berikut: “Kudengar Syaqiq bin Salmah berkata, suatu hari aku hadir dalam majlis Abdillah dan Abu Musa. Abu Musa bertanya pada Abdillah bagaimana pendapatmu tentang orang yang junub kemudian tidak memperoleh air untuk mandi?” Abdillah menjawab, “dia tidak perlu shalat sampai ia temukan air.” Abu Musa bertanya lagi, “bagaimana pendapatmu tentang jawaban Nabi kepada Ammar dalam masalah yang sama ini?” Abdullah menjawab, “Umar tidak begitu yakin dengan itu.” Abu Musa melanjutkan, “lalu bagaimana dengan ayat ini, (al-Maidah: 6)?” Abdullah diam tidak menjawab. Kemudian dia berkata, “apabila kita izinkan mereka (melakukan tayammum), niscaya mereka akan bertayammum saja dan tidak akan menggunakan air apabila udaranya dirasakan dingin. ” Kukatakan pada Syaqiqbahwa Abdillah sebenarnya tidak suka lantaran ini semata-mata; dan Syaqiq pun mengiakan”
.
Kesaksian Sahabat atas Diri Mereka
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.“[15]
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”[16]
.
Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apabila sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu” sepeninggal Nabi, bukankah pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAWW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya
.
Apakah seseorang yang berpikir rasional akan tetap mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil seperti yang diklaim oleh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Mereka yang mengklaim seperti itu jelas telah menyalahi nas dan akal. Karena dengan demikian hilanglah segala kriteria intelektual yang sepatutnya dijadikan pegangan sebuah penelitian dan kajian.
—————————————
  1. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 122.
  2. Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.
  3. Shahih Muslim jil. 2 hal. 61
  4. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109.
  5. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majahjil. 1 hal. 44
  6. Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306.
  7. Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126.
  8. Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. 25; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134.
  9. Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281.
  10. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi hal. 81; ar-Riyadh an Nadhirah oleh Thabari jil. 2 hal. 219; Tarikh as-Suyuti hal. 73.
  11. Shahih Bukhari jil.l hal.74
  12. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 154; Shahih Muslim jil. 1 hal. 260
  13. Shahih Muslim jil. 2 hal.134.
  14. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 54
  15. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135
  16. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

Muawiyah Melaknat Imam Ali di Mimbar-mimbar Masjid, jadi Syi’ah Adalah Ahlussunnah Yang Sesungguhnya Karena Kami Berpedoman Pada Ahlul Bait dan SAHABAT YANG SALEH saja

 Bid’ah Terbesar Sepanjang Sejarah Islam

muawiyah.jpgmuawiyah.jpgmuawiyah.jpg

MUAWIYAH TELAH MENGUTUK SAYYIDINA ALI PADA SETIAP KHOTBAH JUMAT DAN HAL INI MENJADI BID’AH YANG TERUS MENTRADISI SELAMA 90 TAHUN SAMPAI BERKUASANYA UMAR BIN ABDUL AZIZ YANG BIJAK

 1. Ibn Abi al Hadid di dalam syarah atau komentarnya atas kitab Nahjul Balaghah Jil. 1 hlm. 464 menyatakan : Pada akhir khotbah Jumat, Muawiyah mengatakan : “Ya Allah, laknatlah Abu Turab, dia yang telah menentang agama-Mu dan jalan-Mu, laknat dia dan hukum dia di neraka!” Muawiyah inilah yang memperkenalkan bid’ah terbesar dan terburuk ini kepada khalayak umat Islam pada masa kekuasaannya hingga masa Umar bin Abdul Aziz.”

 2. Di dalam kitab Mu’jam al-Buldan Jil. 1, hlm 191, ‘Allamah Yaquut Hamawi menyatakan : Atas perintah Mu’awiyyah, ‘Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Masyrik (Timur) hingga Maghrib (Barat) dari mimbar-mimbar Masjid.

 3. Masih di dalam kitab yang sama, Mu’jam al-Buldan Jil. 5, hlm. 35, Hamawi mengatakan : “Salah satu perubahan (bid’ah) terburuk yang telah dimulai sejak awal mula pemerintahan Muawiyah adalah bahwa Muawiyah sendiri dan dengan perintah kepada gubernurnya, membiasakan menghina Imam Ali saat berkhotbah di Masjid. Hal ini bahkan dilakukan di mimbar masjid Nabi di hadapan makam Nabi Muhammad Saw, sampai sahabat-sahabat terdekat Nabi, keluarga dan kerabat terdekat Imam Ali mendengar sumpah serapah ini.”

4. Di dalam kitab Al-Aqd al-Farid Jil. 1 hlm. 246, Anda bisa membaca : Setelah kematian ‘Ali dan Hasan, Muawiyah memerintahkan sebuah titah ke seluruh masjid termasuk masjid Nabawi agar semua orang turut melaknat ‘Ali!”

5. Di dalam kitab yang sama, Al-Aqd al-Farid Jil. 2 hlm. 300 anda bisa membaca isi surat Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw, yang menulis kepada Muawiyah : “…Engkau sedang mengutuk Allah dan Rasul-Nya di mimbarmu karena engkau mengutuk Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa yang mencintai Ali, aku bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Tetapi tak seorang pun memperhatikan ucapannya.

6. Di dalam kitab al-Nasa’ih al-Kafiyah hlm. 77, Anda juga bisa membaca : Praktek (pelaknatan) yang berlangsung sekian lama ini memunculkan sebuah asumsi bahwa apabila seseorang tidak melakukan pelaknatan tersebut maka shalat Jumat-nya tidaklah dianggap sah!”

7. Seorang alim dari Pakistan yang bermazhab Hanafi, Maulana Raghib Rahmani, di dalam kitabnya tentang “Hazrat Umar bin Abdul Aziz”, Khalifatul Zahid, hlm. 246 menyampaikan komentarnya dengan tajam : “(Praktek pelaknatan) ini tentu saja tidak menguntungkan, karena ini adalah bid’ah yang telah diperkenalkan ke masyarakat yang telah “memotong hidung” (memalukan) kota-kota, di mana bid’ah ini bahkan dilakukan di mimbar-mibar masjid, bahkan tanpa malu sampai juga ke “telinga” masjid Nabawi. Inilah bid’ah yang diperkenalkan oleh Amir Muawiyah!

8. Di dalam bukunya Al-Khilafah wal Mulk yang sempat menggemparkan dunia Islam, Abul A’la al-Maududi, seorang alim Pakistan bermazhab Hanafi, menulis :

Ketika pada zaman Muawiyah dimulai kebiasaan mengutuk Sayyidina Ali dari atas mimbar-mimbar dan pencaci-makian serta pencercaan terhadap pribadinya secara terang-terangan, di siang hari maupun di malam hari, kaum muslimin di mana-mana merasa sedih dan sakit hati sungguh pun mereka terpaksa harus berdiam diri menekan perasaannya itu. Kecuali Hujur bin Adi, yang tidak dapat menyabarkan dirinya…” (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209-210, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Dan akhirnya, Muawiyah menyuruh Ziyad untuk membunuh Hujur bin ‘Adi, salah seorang sahabat besar Nabi yang zahid, abid, dan termasuk di antara tokoh-tokoh umat terbaik. Di dalam surat perintahnya, Muawiyah menulis : “Bunuhlah orang ini (Hujur) dengan cara yang seburuk-buruknya.” Maka Ziyad mengubur Hujur dalam keadaan hidup-hidup. (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 211, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Kisah terperinci mengenai cobaan berat yang dialami oleh Hujur bin ‘Adi itu banyak terdapat di dalam buku-buku yang ditulis oleh para ahli hadis maupun para ahli sejarah, baik yang sudah tersebar luas maupun yang tidak disebarkan,” Begitu tulis Thaha Husain di dalam bukunya yang terkenal al-Fitnah al-Kubra yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Malapetaka Terbesar Dalam Sejarah Islam pada hlm. 624, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Cet. I, Tahun 1985.

Inilah sebagian bukti-bukti tertulis di dalam kitab-kitab sejarah yang bisa anda temui hingga saat ini. Apakah masih terbetik keraguan di dalam hati anda tentang bejatnya Muawiyah, si setan berwujud manusia ini?

Dan ketika Hasan bin Ali mengundurkan diri sebagai khalifah, Muawiyah pun akhirnya berdiri sebagai seorang penguasa tunggal, lalu dia menyampaikan pidatonya di kota Madinah :

Amma ba’du! Sesungguhnya aku, demi Allah ketika menjadi penguasa atas kamu sekalian, bukannya aku tidak mengetahui bahwa kalian tidak menyenangi kekuasaanku ini, tetapi sesungguhnya aku benar-benar tahu apa yang ada dalam hati kalian tentang hal ini, namun aku telah merampasnya dari kalian dengan pedangku ini. Dan sekiranya kalian tidak menadpati diriku telah memenuhi hak-hak kamu seluruhnya, hendaknya kalian memuaskan diri dengan sebagiannya saja dariku!” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Jil. 8, hlm. 132)

Pada masa kekuasaan Muawiyah, rakyat dibungkam dari menyampaikan kebenaran, mereka hanya boleh memuji-muji atau jika enggan sebaiknya diam. Karena jika rakyat berani memprotes pemerintah pada masa itu maka bersiap-siaplah untuk dijebloskan ke dalam penjara, dibunuh, disiksa atau paling tidak dibuang! (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Apakah orang seperti ini yang ingin anda bela mati-matian? Hanya orang-orang yang serupa dengan Muawiyah saja dan pengikutnya yang super dungu yang ngotot membela manusia keji semacam ini! Mereka itulah kaum Wahabi para pemuja kaum durjana seperti Muawiyah bin Abi Sufyan dan Yazid bin Muawiyah. Mereka menjadikan keduanya sebagai pemimpin-pemimpin mereka!

Jika anda membenci kekejaman, kezaliman, dan kebengisan yang dilakukan para diktator dunia seperti Adolf Hitler, Pol Pot, Slobodan Milosevich, Saddam Husein, George W Bush, Ehud Olmert, maka anda juga mesti membenci makhluk durjana seperti Muawiiyah ini. Tapi itu pun jika hati nurani anda masih sehat wal afiat…

 Di dalam Musnad Ahmad bin Hanbal Jil. 6, hlm. 33, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw yang kita cintai telah bersabda, “Barangsiapa yang mengutuk Ali sesungguhnya ia telah mengutukku. Barangsiapa yang berani mengutukku berarti ia telah mengutuk Allah. Barangsiapa yang telah mengutuk Allah, maka Allah akan melemparkannya ke neraka Jahannam!

Rasulullah Saw telah menubuwatkan bahwa peristiwa pelaknatan atau pengutukan atas sahabat Nabi yang mulia, Ali bin Abi Thalib, yang juga salah seorang anggota Ahlul Bayt akan terjadi. Melalui mata batinnya, Rasulullah Saw telah melihat beberapa sahabatnya yang sangat dengki terhadap Sayyidina Ali as. Allah Swt pun menyingkapkan kedengkian mereka terhadap Nabi Saw dan Ahlul Baytnya :

Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun kepada manusia. Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
(Al-Quran Surah Al-Nisaa [4] ayat 54)

Ingatkah anda, bagaimana anda melafadzkan shalawat kepada Nabi Saw di dalam shalat anda?

Inilah mengapa dengan teramat keras Nabi Saw memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan tindakan bodoh tersebut. Dan anda perhatikan, bahwa Ummu Salamah, isteri Nabi telah memperingatkan Muawiyah tentang hal ini, namun lelaki durjana ini tiada mempedulikan peringatan tersebut.

Saya berdoa kepada Allah Swt semoga orang-orang yang tulus namun masih meragukan kebenaran ini menjadi tersadarkan dan semakin mendapatkan keyakinan yang sahih…

================================

INILAH MUAWIYAH

Maulana Sayid lal Shah Bukhari dalam Isthakhlaaf ai Yazid halaman 216 menyebutkan “Imam” Nashibi :

“Penemu ideologi Nashibi adalah Muawiyah”

Muawiyah putra pasangan Abu Sufyan dan Hindun (si perobek perut dan pengunyah jantung Hamzah pamanda Nabi saww.) setelah menancapkan kekuasaannya mengeluarkan beberapa titah kepada seluruh aparatnya, di antaranya :

Muawiyah menulis surat keputusan yang dikirimkan kepada para gubenur dan kepala daerah segera setelah ia berkuasa:

أن برِئَت الذمة مِمن روى شيئا فِي فَضْلِ أبِي تُراب و أهْلِ بَيْتِهِ

“Lepas kekebalan bagi yang meriwayatkan sesuatu apapun tentang keutamaan Abu Thurab (Imam Ali as.) dan Ahlulbaitnya.”

Maka setelah itu (kata al Madaini, seorang sejarawan kondang Ahlusunnah) para penceramah di setiap desa dan di atas setiap mimbar berlomba-lomba melaknati Ali dan berlepas tangan darinya serta mencaci makinya dan juga Ahlulbaitnya. Masyarakat paling sengsara saat itu adalah penduduk kota Kufah sebab banyak dari mereka adalah Syi’ah Ali as. Dan untuk lebih menekan mereka, Mu’awiyah mengangkat Ziyad ibn Sumayyah sebagai gubernur kota tersebut dengan menggabungkan propinsi Basrah dan Kufah. Ziyad menyisir kaum Syiah –dan ia sangat mengenali mereka, sebab dahulu ia pernah bergabung dengan mereka di masa Khilafah Ali as.. Ziyad membantai mereka di manapun mereka ditemukan, mengintimidasi mereka, memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka, menusuk mata-mata mereka dengan besi mengangah dan menyalib mereka di atas batang-batang pohon kurma. Mereka juga diusir dari Irak, sehingga tidak ada lagi dari mereka yang terkenal. (Syarah Nahjul Balaghah,jl.3/juz 11, hal.14-17.)

Setelah menyusulnya dengan beberapa surat perintah yang menganjurkan pembuatan hadis-hadis keutamaan yang bertujuan menandingi keutamaan Ali as., Muawiyah menyusulnya dengan surat kelima sebagai di bawah ini:

انْظُرُوْا إِلَى مَن قَامَتْ عليهِ الْبَيِّنَةُ أنَّهُ يُحِبُّ عَلِيًّا وَ أهْلَ بَيْتِهِ فَامْحُوْهُ مِنَ الدِّيوَانِ وَ أسْقِطُوا عَطَاءَهُ وَ رِزْقَهُ.

“Perhatikan siapa yang terbukti mencintai Ali dan Ahlulbaitnya maka hapuslah namanya dari catatan sipil negara, gugurkan uang pemberian untuknya!”

Tidak puas dengan itu, Muawiyah malayangkan surat keenam:

مَنْ اتَّهَمْتُمُوْهُ بِمُوَالاَةِ هَؤُلاَءِ القَوْمِ فَنَكِّلُوْا بِهِ وَ اهْدِمُوْا دَارَهُ.

“Barang siapa yang kamu curigai mencintai Ali dari mereka maka jatuhkan sangsi berat atasnya! Hancurkan rumahnya!”

Muhaddith Shah Abdul Aziz telah membuat dua komentar menarik dalam Haddiya al Mujidiiya hal. 813 :

“Seorang yang memerangi Ali (ra) dengan kebencian adalah kafir menurut ijma Ahlu Sunah”

“Barang siapa menganggap Ali (ra) kafir atau menentang kekahlifahannya maka ia menjadi kafir, ciri seperti ini ada pada Khawarij saat (perang) Nahrawan”

Dalam Tadhrib al Radhi hal. 311 Allamah Jalaudin Suyuti, mencatat :

“Ideologi Nashibi berarti membenci Ali dan lebih menyukai Muawiyah”

Dalam Fatwa Azizi, oleh Shah Abdul Aziz Dehlavi pada hal.123, dikatakan olehnya :

“Muawiyah melaknat Hadrath Ali”

Sejarah Muawiyah melaknat dan mengutuk serta memerintahkan seluruh pengikutnya melakukan hal yang sama (mengutuk Imam Ali as) di imbar-minar shalat jum’at bukanlah berita asing, tealh banyak dipaparkan oleh ulama-ulama ahlu sunah sndiri.

Maka cukup bagi kita sabda Orang YANG PALING MULIA yaitu Rasulullah Muhammad (saww) :

“Barang siapa yang menyakiti Ali, berarti ia menyakiti aku!”

(Musnad Ahmad ibn Hanbal, jld. 3, hal. 483; Fadha’il ash-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jl. 2, hal. 580, hadis 981; -Sawaiq al-Muhriqah, Ibnu Hajar Haitsami, bab II, bag I, hal. 263)

“Barang siapa mengutuk Ali, berarti ia mengutuk aku.”

(Misykat al-Masabih, versi bhsa. Inggris, hadis 6092; al-Mustadrak, Hakim jld 3, hal. 121. Hakim menyebutkan bahwa hadis ini shahih; Musnad Ahmad ibn Hanbal, jld 6, hal. 323; Fadha’il ash-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jl 2, hal. 594, hadis 1011; Majma az-Zawa’id, Haitsami, jilid 9, hal. 130; Tarikh al-Khulafa, Jalaluddin Suyuthi, hal. 173)

Orang yang mengutuk Imam Ali (as) sama saja menutuk Rasulullah (saww), mana mungkin hati kita bisa mencintai orang yang mengutuk Rasulullah (saww)..??

Barangsiapa yang mengutuk (menganiaya melalui ucapan) Ali, sesungguhnya ia telah mengutukku. Barang siapa yang berani mengutukku berarti ia telah mengutuk Allah. Barang siapa yang telah mengutuk Allah, Allah akan melemparnya ke neraka Jahanam

(Musnad Ahmad bin Hanbal, jld. 6, hl. 33)

Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang menyimpan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannyakepada manusia dalam Al-Kitab, MEREKA ITU DILAKNAT OLEH ALLAH DAN DILAKNAT OLEH SEMUA MAKHLUK YANG DAPAT MELAKNAT. Kecuali mereka yang telah bertaubat dan melakukan perbaikan dan menerangkan kebenaran, mereka itu Akulah Yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.”

(Al-Baqarah: 159-160)

Kalamullah telah menegaskan dan Rasulullah saww telah menerangkan..!
Bagaimana dengan sabda Rasulullah (saww) mengenai perintah mengikuti para Imam dari Ahlul Bait (as) dibawah ini, apakah termasuk didalamnya mencakup perintah dari Rasulullah (saww) atau bukan..? marilah kita baca dan kita renungi bersama-sama sabda Rasulullah saww dibawah ini :

Rasulullah saww :

“Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah (berpemimpin) kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan.“

(Shahih Bukhari, jld 5, hl. 65, cetkn. Darul Fikr)

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadits melalui Jabir i yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata :

“Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda : (perhatikan baik-baik nama-nam penerus Rasulullah saww yang diperintahkan untuk diikuti)

“Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Pribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan pribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”

Jabir berkata :

“Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”

(Ikmal al-Din, jld 1, hal 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al Mawaddah, hal.117)

==============================================

Masa Sulit bagi Kaum Syi’ah

Setelah Imam Ali a.s. syahid di mihrab shalatnya, masyarakat waktu itu membai’at Imam Hasan a.s. untuk memegang tampuk khilafah. Setelah ia dibai’at, Mu’awiyah tidak tinggal diam. Ia malah mengirim pasukan yang berjumlah cukup besar ke Irak sebagai pusat pemerintahan Islam waktu itu untuk mengadakan peperangan dengan pemerintahan yang sah. Dengan segala tipu muslihat dan iming-iming harta yang melimpah, Mu’wiyah berhasil menipu para anggota pasukan Imam Hasan a.s. dan dengan teganya mereka meninggalkannya sendirian. Melihat kondisi yang tidak berpihak kepadanya dan dengan meneruskan perang Islam akan hancur, dengan terpaksa ia harus mengadakan perdamaian dengan Mu’awiyah. (Butir-butir perjanjian ini dapat dilihat di sejarah 14 ma’shum a.s.)

Setelah Mu’awiyah berhasil merebut khilafah dari tangan Imam Hasan a.s. pada tahun 40 H., –sebagaimana layaknya para pemeran politik kotor– ia langsung menginjak-injak surat perdamaian yang telah ditandatanganinya. Dalam sebuah kesempatan ia pernah berkata: “Aku tidak berperang dengan kalian karena aku ingin menegakkan shalat dan puasa. Sesungguhnya aku hanya ingin berkuasa atas kalian, dan aku sekarang telah sampai kepada tujuanku”.

Dengan demikian, Mu’awiyah ingin menghidupkan kembali sistem kerajaan sebagai ganti dari sistem khilafah sebagai penerus kenabian. Hal ini diperkuat dengan diangkatnya Yazid, putranya sebagai putra mahkota dan penggantinya setelah ia mati.

Mua’wiyah tidak pernah memberikan kesempatan kepada para pengikut Syi’ah untuk bernafas dengan tenang. Setiap ada orang yang diketahui sebagai pengikut Syi’ah, ia akan langsung dibunuh di tempat. Bukan hanya itu, setiap orang yang melantunkan syair yang berisi pujian terhadap keluarga Ali a.s., ia akan dibunuh meskipun ia bukan pengikut Syi’ah. Tidak cukup sampai di sini saja, ia juga memerintahkan kepada para khotib shalat Jumat untuk melaknat dan mencerca Imam Ali a.s. Kebiasaan ini berlangsung hingga masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz pada tahun 99-101 H.

Masa pemerintahan Mu’awiyah (selama 20 tahun) adalah masa tersulit bagi kaum Syi’ah di mana mereka tidak pernah memiliki sedikit pun kesempatan untuk bernafas.

Mayoritas pengikut Ahlussunnah menakwilkan semua pembunuhan yang telah dilakukan oleh para sahabat, khususnya Mu’awiyah itu dengan berasumsi bahwa mereka adalah sahabat Nabi SAWW dan semua perilaku mereka adalah ijtihad yang dilandasi oleh hadis-hadis yang telah mereka terima darinya. Oleh karena itu, semua perilkau mereka adalah benar dan diridhai oleh Allah SWT. Seandainya pun mereka salah dalam menentukan sikap dan perilaku, mereka akan tetap mendapatkan pahala berdasarkan ijtihad tang telah mereka lakukan.

Akan tetapi, Syi’ah tidak menerima asumsi di atas dengan alasan sebagai berikut:

Pertama, tidak masuk akal jika seorang pemimpin yang ingin menegakkan kebenaran, keadilan dan kebebasan dan mengajak orang-orang yang ada si sekitarnya untuk merealisasikan hal itu, setelah tujuan yang diinginkannya itu terwujudkan, ia merusak sendiri cita-citanya dengan cara memberikan kebebasan mutlak kepada para pengikutnya, dan segala kesalahan, perampasan hak orang lain dengan segala cara, serta tindakaan-tindakan kriminal yang mereka lakukan dimaafkan.

Kedua, hadis-hadis yang “menyucikan” para sahabat dan membenarkan semua perilaku non-manusiwi mereka berasal dari para sahabat sendiri. Dan sejarah membuktikan bahwa mereka tidak pernah memperhatikan hadis-hadis di atas. Mereka saling menuduh, membunuh, mencela dan melaknat. Dengan bukti di atas, keabsahan hadis-hadis di atas perlu diragukan.

Mu’awiyah menemui ajalnya pada tahun 60 H. dan Yazid, putranya menduduki kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam. Sejarah membuktikan bahwa Yazid adalah sosok manusia yang tidak memiliki kepribadian luhur sedikit pun. Kesenangannya adalah melampiaskan hawa nafsu dan segala keinginannya. Dengan latar belakangnya yang demikian “cemerlang”, tidak aneh jika di tahun pertama memerintah, ia tega membunuh Imam Husein a.s., para keluarga dan sahabatnya dengan dalih karena mereka enggan berbai’at dengannya. Setelah itu, ia menancapkan kepala para syahid tersebut di ujung tombak dan mengelilingkannya di kota-kota besar; Di tahun kedua memerintah, ia mengadakan pembunuhan besar-besaran di kota Madinah dan menghalalkan darah, harta dan harga diri penduduk Madinah selama tiga hari kepada para pasukannya; Di tahun ketiga memerintah, ia membakar Ka’bah, kiblat muslimin.

Setelah masa Yazid dengan segala kebrutalannya berlalu, Bani Marwan yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Bani Umaiyah menggantikan kedudukannya. Mereka pun tidak kalah kejam dan keji dari Yazid. Mereka berhasil berkuasa selama 70 tahun dan jumlah khalifah dari dinasti mereka adalah sebelas orang. Salah seorang dari mereka pernah ingin membuat sebuah kamar di atas Ka’bah dengan tujuan untuk melampiaskan hawa nafsunya di dalamnya ketika musim haji tiba.

Dengan melihat kelaliman yang dilakukan oleh para khalifah waktu itu, para pengikut Syi’ah makin kokoh dalam memegang keyakinan mereka. Di akhir-akhir masa kekuasaan Bani Umaiyah, mereka dapat menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa mereka masih memilliki eksistensi dan mampu untuk melawan para penguasa lalim. Di masa keimamahan Imam Muhammad Baqir a.s. dan belum 40 tahun berlalu dari terbunuhnya Imam Husein a.s., para pengikut Syi’ah yang berdomisili di berbagai negara dengan memanfaatkan kelemahan pemerintahan Bani Umaiyah karena tekanan-tekanan dari para pemberontak yang tidak puas dengan perilaku mereka, datang ke Madinah untuk belajar dari Imam Baqir a.s. Sebelum abad ke-1 H. usai, beberapa pembesar kabilah di Iran membangun kota Qom dan meresmikannya sebagai kota pemeluk Syi’ah. Beberapa kali para keturunan Imam Ali a.s. karena tekanan yang dilakukan oleh Bani Umaiyah atas mereka, mengadakan pemberontakan-pemberontakan melawan penguasa dan perlawanan mereka –meskipun mengalami kekalahan– sempat mengancam keamanan pemerintah. Realita ini menunjukkan bahwa eksistensi Syi’ah belum sirna.

Dikarenakan kelaliman dinasti Bani Umaiyah yang sudah melampui batas, opini umum sangat membenci dan murka terhadap mereka. Setelah dinasti mereka runtuh dan penguasa terkahir mereka (Marwan ke-2 yang juga dikenal dengan sebutan Al-Himar, berkuasa dari tahun 127-132 H.) dibunuh, dua orang putranya melarikan diri bersama keluarganya. Mereka meminta suaka politik kepada berbagai negara, dan mereka enggan memberikan suaka politik kepada para pembunuh keluarga Rasulullah SAWW tersebut. Setelah mereka terlontang-lantung di gurun pasir yang panas, mayoritas mereka binasa karena kehausan dan kelaparan. Sebagian yang masih hidup pergi ke Yaman, dan kemudian dengan berpakaian compang-camping ala pengangkat barang di pasar-pasar mereka berhasil memasuki kota Makkah. Di Makkah pun mereka tidak berani menampakkan batang hidung, mungkin karena malu atau karena sebab yang lain.

 Syi’ah Pada Abad Ke-2 H.

Di akhir-akhir sepertiga pertama abad ke-2 H., karena kelaliman dinasti Bani Umaiyah, muncul sebuah pemberontakan dari arah Khurasan, Iran dengan mengatasnamakan Ahlu Bayt a.s. Pemberontakan ini dipelopori oleh seorang militer berkebangsaan Iran yang bernama Abu Muslim Al-Marwazi. Dengan syiar ingin membalas dendam atas darah Ahlu Bayt a.s., ia memulai perlawanannya terhadap dinasti Bani Umaiyah. Banyak masyarakat yang tergiur dengan syiar tersebut sehingga mereka mendukung pemberontakannya. Akan tetapi, pemberontakan ini tidak mendapat dukungan dari Imam Shadiq a.s. Ketika Abu Muslim menawarkan kepadanya untuk dibai’at sebagai pemimpin umat, ia menolak seraya berkata: “Engkau bukanlah orangku dan sekarang bukan masaku untuk memberontak”.

Setelah mereka berhasil merebut kekuasaan dari tangan Bani Umaiyah, di hari-hari pertama berkuasa mereka memperlakukan para keturunan Imam Ali a.s. dengan baik, dan demi membalas dendam atas darah mereka yang telah dikucurkan, mereka membunuh semua keturunan Bani Umaiyah. Bahkan, mereka menggali kuburan-kuburan para penguasa Bani Umaiyah untuk dibakar jenazah mereka. Tidak lama berlalu, mereka mulai mengadakan penekanan-penekanan serius terhadap para keturunan Imam Ali a.s. dan para pengikut mereka serta orang-orang yang simpatik kepada mereka. Abu Hanifah pernah dipenjara dan disiksa oleh Manshur Dawaniqi dan Ahmad bin Hanbal juga pernah dicambuk olehnya. Imam Shadiq a.s. setelah disiksa dengan keji, dibunuh dengan racun dan para keturunan Imam Ali a.s. dibunuh atau dikubur hidup-hidup.

Kesimpulannya, kondisi para pengikut Syi’ah pada masa berkuasanya dinasti Bani Abasiah tidak jauh berbeda dengan kondisi mereka pada masa dinasti Bani Umaiyah.

============================================

Mereka yang menamakan dirinya Salafi tidak henti-hentinya berkata syiah itu kafir dan sesat. Tentu saja mereka mengikuti syaikh mereka atau ulama salafi yang telah mengeluarkan fatwa bahwa Syiah kafir dan sesat. Salah satu dari ulama tersebut adalah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin.

Tulisan ini merupakan tanggapan dan peringatan kepada mereka yang bisanya sekedar mengikut saja. Sekedar ikut-ikutan berteriak bahwa syiah kafir dan syiah sesat tanpa mengetahui apapun selain apa yang dikatakan syaikh mereka. Jika ditanya, mereka akan mengembalikan semua permasalahan kepada ulama mereka, Syaikh kami telah berfatwa begitu. Padahal setiap orang akan mempertanggungjawabkan perkataannya sendiri dan bukan syaikh-syaikhnya. Apalagi jika perkataan yang dimaksud adalah tuduhan kafir terhadap seorang muslim. Bukankah Rasulullah SAW bersabda “Apabila salah seorang berkata pada saudaranya “hai kafir”, maka tetaplah hal itu bagi salah seorangnya. (Shahih Bukhari Juz 4 hal 47). Artinya jika yang dikatakan kafir itu adalah seorang muslim maka perkataan kafir akan berbalik ke dirinya sendiri. Singkatnya Mengkafirkan Muslim adalah Kafir.

Yang seperti ini sebenarnya sudah cukup untuk membuat orang berhati-hati dalam mengeluarkan kata “kafir”. Jelas sekali adalah kewajiban mereka untuk menelaah apa yang dikatakan oleh syaikh-syaikh mereka. Apakah benar atau Cuma pernyataan sepihak saja?. Sayangnya mereka yang berteriak itu tidak pernah mau beranjak dari pelukan syaikh mereka. Sepertinya dunia ini terbatas dalam perkataan syaikh mereka saja. Heran sekali kenapa mereka tidak pernah menghiraukan apa yang dikatakan oleh ulama sunni yang lain seperti Syaikh-syaikh Al Azhar yaitu Syaikh Mahmud Saltut, Syaikh Muhammad Al Ghazali dan Syaikh Yusuf Al Qardhawi yang jelas-jelas menyatakan bahwa Syiah itu Islam dan saudara kita.

 
Tentu jika mereka saja tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh ulama sunni yang lain selain syaikh mereka, maka tidak heran kalau mereka tidak pernah mendengarkan apa yang dikatakan Ulama Syiah tentang Bagaimana Syiah sebenarnya. Padahal mereka Ulama Syiah jelas lebih tahu tentang mahzab Syiah ketimbang orang lain. Kaidah tidak percaya adalah sah-sah saja tetapi hal itu harus dibuktikan. Ketidakpercayaan yang tak berdasar jelas sebuah kesalahan. Apa salahnya jika mereka mau merendah hati sejenak mendengarkan apa yang dikatakan ulama syiah tentang syiah dan jawaban ulama syiah terhadap pernyataan syaikh mereka, Insya Allah mereka tidak akan gegabah ikut-ikutan berteriak kafir kepada saudara mereka yang Syiah. Sayangnya sekali lagi mereka tidak mau tapi dengan mudahnya berteriak kafir.

Jadi wajar sekali kalau mereka yang berteriak itu tidak mengetahui bahwa setiap dalil dari syaikh mereka sudah dijawab oleh Ulama Syiah. Dan tidak sedikit dari dalil syaikh mereka itu yang merupakan kesalahpahaman dan sekedar tuduhan tak berdasar. Mereka yang berteriak itu akan berkata “syaikh kami telah berfatwa berdasarkan kitab-kitab syiah sendiri”. Ho ho ho benar sekali dan ulama syiah bahkan telah menjawab syaikh mereka berdasarkan kitab syiah dan kitab yang menjadi pegangan kaum sunni. Tetapi sayang mereka tidak tahu, karena mereka bisanya cuma teriak saja. Tong Kosong Nyaring Bunyinya.

Baiklah anggap saja kita tidak usah memusingkan segala tekstualitas antara ulama sunni dan syiah itu, maka cukup kiranya mereka yang berteriak Syiah kafir itu menjawab pertanyaan ini
Apakah kafir orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah?
Apakah kafir orang yang menunaikan shalat?
Apakah kafir orang yang berpuasa di bulan Ramadhan?
Apakah kafir orang yang menunaikan zakat?
Apakah kafir orang yang berhaji ke Baitullah?

Saya yakin mereka bisa menjawab, dan jawabannya tidak, mana ada orang kafir yang seperti itu. Orang yang seperti itu jelas-jelas Muslim. Dan sudah menjadi hal yang umum kalau Syiah jelas mengucapkan syahadat, menunaikan shalat, puasa di bulan ramadhan, membayar zakat dan haji ke Baitullah. Jadi jelas sekali Syiah itu Muslim.
Betapa mudahnya mulut mereka berbicara, sungguh aneh sekali ketika pikiran terperangkap dalam kurungan ashabiyah.

Tulisan ini juga ditujukan kepada mereka yang belum tahu tentang Syiah, cukuplah penjelasan bahwa Syiah adalah Islam sama seperti Sunni, perbedaannya mereka Syiah berpedoman pada Ahlul Bait Nabi SAW. Semoga saja siapapun yang belum mengenal Syiah tidak termakan dengan Fatwa-fatwa yang mengkafirkan syiah. Jika tidak tahu cukuplah diam dan lebih baik berprasangka baik. Jangan ikutan berteriak, biarkan saja mereka yang berteriak Syiah kafir. Dan Sekali lagi bagi mereka yang berteriak, Baca, baca lagi dan pikirkan baik-baik. Maaf, Jangan mau membodohi diri dan tampak seperti orang bodoh. Dengarkan ulama sunni yang lain, dan dengarkan pembelaan mereka Ulama Syiah. Jangan maunya sekedar berteriak. Ingatlah Semua orang bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya. 

Untuk mengharumkan nama Mu’awiyah yang aroma busuknya telah menyengat setiap hidung kaum beriman dan mereka yang jujur, para Salafi Wahhâbi melakukan segala cara, yang walaupun pada akhirnya hanya akan membongkar kedok sebenarnya siapa mereka dan akan membawa malu di dunia sebelum nanti di akhirat!

Di antara cara yang mereka lakukan adalah mendustkan berbagai fakta sejarah yang terang benderang bak matahari di siang bolong yang membuktikan kemunafikan dan kejahatan Mu’awiyah dan banu Umayyah pada umumnya…

Dan di antara yang mereka hendak sembunyikan adalah fakta sejarah bahwa Mu’awiyah telah melancarkan pencaci-makian dan pelaknatan atas Imam Ali (karramallahu wajhahu wa radhiyallahu ‘ahnu)…. bahkan lebih dari itu, Mu’awiyah telah memerintahkan umat Islam untuk memcaci-maki dan melaknati Khalifah Ali ra. serta menjadikannya program dinasti tiran yang dipimpinannya!

Terlampau banyak bukti yang menegeskan kenyataan ini… hanya saja dalam kesempatan ini saya akan menyajikan satu dari ratusan butki yang memastikan fakta sejarah itu. Sementara bukti-bukti lain insya Allah akan saya sajikan dalam kesempatan lain.

Di antara bukti itu adalah riwayat shahih yang dikeluarkan Imam Ibnu Mâjah,1/26 hadis no.121 (hadis terakhir dalam Bab Keutamaan Ali bin Ali Thalib ra.) di bawah ini:

Teks Hadis:

حدثنا علي بن محمد حدثنا أبو معاوية حدثنا موسى بن مسلم عن ابن سابط وهو عبد الرحمن عن سعد بن أبي وقاص قال قدم معاوية في بعض حجاته فدخل عليه سعد فذكروا عليا فنال منه فغضب سعد وقال تقول هذا لرجل سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من كنت مولاه فعلي مولاه وسمعته يقول أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي وسمعته يقول لأعطين الراية اليوم رجلا يحب الله ورسوله

…. dari Sa’ad bin Abi Waqqâsh, ia berkata, “Mu’awiyah datang dalam salah satu kesempatan ketika ia menunaikan ibadah haji, lalu Sa’ad menemuinya, ketika itu mereka (yang duduk-duduk bersama Mu’awiyah) menyebut-nyebut Ali, dan Mu’awiyah pun mencaci-makinya. Sa’ad marah dan berkata, ‘Hai Mu’awiyah  apakah engkau berkata demikian terhadap seorang yang aku telah mendengar Rasulullah saw., ‘Sesiapa yang aku Maulâ-nya maka Ali adalah Maulâ-nya’. Dan aku mendengar beliau bersabda, ‘Kedudukanmu (hai Ali) di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku’. Dan aku mendengar beliau bersabda, ‘Aku akan serahkan bendera kepanglimaan perang ini kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.’”

[ http://islamicweb.com/arabic/books/albani.asp?id=2095 ]

.

Ustad Syiahali:

Hadis riwayat di atas telah masyhur dinukil para ulama hadis kita dari sahabat Sa’ad ra. dan bukan sesuatu yang samar bagi para santri apalagi para kyia Ahlusunnah. Hanya saja yang penting dicatat di sini adalah bahwa riwayat di atas -yang tegas-tegas menyebutkan dan membuktikan bahwa Mu’awiyah mencaci-maki Imam Ali ra. itu- telah dishahihkan oleh Syeikh Nâshiruddîn al Albâni; Gembong Ahli Hadis Kebanggaan Wahhâbi Sallafi, walaupu kami Ahlusunnah sama sekali tidak pernah membanggakannya sebab ia sering linglung dalam mentakhrij hadis/riwayat/atsar. Baca keterangannya dalam Silsilah al Ahâdîts ash Shahîhah, 4/335. Baca juga dalam Shahîh Sunan Ibnu Mâjah; juga oleh al Albâni (terbitan Maktabah at tarbiyah al Arabi. Cet III. Tahun 1408 H/1988M.) atau lihat di tahrij hadis aleh Al Bani online DISINI

Jika Wahhâbi Salafi Mengelak!

Mungkin kaum awam Salafi Wahhâbi (yang sering menjadi korban pembodohan para ustdaz dan masyâikh mereka) berusaha mengelak dengan mengatakan bahwa tidak ada kejelasan dalam riwayat di atas bahwa Mu’awiyah mencaci-maki Ali! Yang ada hanya kata nâla yang artinya menyentuh atau menyebut-nyebut? Jadi mungkin saja Mu’awiyah sedang memuji Ali! Jika ada yang berkata demikian maka, pertama-tama saya ucapkan bela sungkawa atas kematian ilmu dan nurani.

Sebab kecintaan kepada pemimpin pohon terkutuk rupanya telah membutakan akal pikirannya! Kedua, tidak ada ulama Ahlusunnah yang memahami demikian. Justeru semua menegskan bahwa dalam kesempatan itu Mu’awiyah mencaci-maki dan mencela-cela Sayyidina Ali ra. sehingga Sa’ad terpaksa membuktikan kedok kemunafikan Mu’awiyah dengan menyebut tiga hadis penting keutamaan Khalifah Ali ra. sebagai balasan atas kejahatan Mu’awiyah tersebut, sebab prbadi yang sedang mereka makan daging sucinya itu adalah pribadi yang sangat mulia dan agung kedudukannya di sisi Allah dan rasul-Nya…. dan apa yang dilakukan Mu’awiyah atasnya adalah bukti dendam kusumatnya atas Allah dan Rasul-Nya…

Tiga hadis itu adalah hadis Muwâlah, hadis Manzilah dan hadis Râyah. Ketiga hadis ini telah diriwayatkan para ahli hadis kita dengan banyak jalur yang shahih…. kendati sebagian kaum Wahhâbi Salafi berusaha mendha’ifkannya karena dianggapnya ia menguntungkan Syi’ah dalam menegakkan akidah mereka tentang imamah!

Hadis Di atas Tegas Mengatakan Bahwa Mu’awiyah Mencaci dan Mencela Sayyidina Ali ra.!

Sekali lagi saya katakan di sini bahwa teks hadis tersebut di atas sudah jelas dan gamblang! Mu’awiyah mencela dan mencaci maki Sayyidina Ali ra. perhatikan apa yang ditegaskan oleh Syeikh Fuâd Abdul Bâqi (pentahqiq kitab Sunan Ibnu Mâjah) ketika  beliau menerangkan kata-kata: فنال منه: Maksudnya Mu’awiyah mencela dan mencaci-maki Ali.” (Selanjutnya baca Sunan Ibnu Mâjah,1/45. Diterbitkan oleh Maktabah Dahlân-Indonesia)

Akhirnya!

Dan sebelum saya akhiri ulasan saya ini saya ingin katakan bahwa riwayat di atas adalah satu dari ratusan riwayat dan data sejarah akurat yang menegaskan kejahatan Mu’awiyah atas Islam dan atas Ali bin Abi Thalib ra. dan tidak cukup demikian ia memaksakan kejahatan itu agar dilakukan oleh kaum Muslimin… dan akhirnya kaum Muslimin pun terjatuh dalam kubangan kejahatan Mu’awiyah… mereka mena’ati Mu’awiyah dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq dengan mencela dan mencaci Sayyidina Ali ra. jadi pantaslah jika Nabi Muhammad saw. (yang tidak pernah akan berkata-kata melainkan dari wahyu suci) menyebut Mu’awiyah sebagai PEMIMPIN KELOMPOK PENGANJUR KE DALAM API NERAKA!

Umat Islam di masa kekuasaan zalim Mu’awiyah ikut-ikutan berlomba-lomba mencaci dan melaknati Ali, Khalifah Nabi saw. sementara Nabi telah bersabda bahwa mencaci Ali sama dengan mencaci Nabi saw.! Lalu apakah bayangan kita hukum orang yang mencaci Nabi saw.?! Pasti neraka tempatnya, karena ia adalah bukti kakafiran!

Jadi kaum Muslimin di zaman kekuasaan Mu’awiyah yang tiran itu yang ikut serta mencaci dan melaknati Ali ada dua kemungkinan:

Pertama: Mereka memang sudah menjadi munafik dengan membenci dan memerangi Ali serta mencaci dan melaknati beliau ra.

Atau kedua, mereka dalam melakukan semua kekufuran itu karena takut kekejaman Mu’awiyah atas siapapun yang menolak melaksanakan perintahnya untuk melaknati dan mencela-cela Ali ra.

Jika kemungkinan pertama yang terjadi itu artinya bahwa kaum Muslimin benar-benar telah disesatkan oleh Mu’awiyah dan digiring ke dalam api nereka Jahannam (atau dalam istilah kaum Wahhâbi Salafi seperti Ustadz Firanda: kaum Muslimin sedang diberi hidayah oleh Mu’awiyah sebab Mu’awiyah adalah Hâdiyan Mahdiyan/yang memberi petunjuk dan diberi petunujuk oleh Allah, seperti dalam hadis palsu yang sering dibanggakan Salafi Wahhâbi para pendukung kemunafikan dann kaum munafikin).

Dan jika kemungkinan kedua yang terjadi, dan bahwa mereka hanya karena terpaksa untuk menyelamatkan diri dalam melakukan kehendak Mu’awiyah… maka itu artinya kaum Muslimin sedang tertaqiyyah! Lalu mengapaka kaum Salafi Wahhâbi sering mengejek-ngejek kaum Syi’ah sebagai bermunafik karena mereka bertaqiyyah??!! Bukankah kenyataan ini akan membuat malu kita di hadapan kaum Syi’ah? Karena itulah saya sejak awal telah mengatakan bahwa kaum Wahhâbi Salafi termasuk gembong kaum Nashibi seperti Ibnu Taimiyah jika mereka masih kita akui sebagai bagian dari Ahlusunnah hanya akan membuat malu kita di hadapan kaum Syi’ah!!

Karena itu waspadai kelicikan dan kelicinan kejahatan mereka!

Sahabat Mencaci Sahabat Yang Lain

Salamalaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala.

Sejarah telah mencatatkan bahawa di kalangan para sahabat Nabi ternyata ada yang menghina dan mencaci Ahlul Bait Rasul, Ali bin Abi Thalib(a). Ada yang mengatakan bahwa hal ini sudah menjadi tradisi dan berawal pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Bahkan sebahagian orang menyatakan bahwa tradisi ini merupakan perintah atau anjuran Muawiyah sendiri. Tanpa membicarakan untuk apa tujuan tradisi tersebut, namun ia tetap  telah menyalahi ajaran Islam. Bukankah Rasulullah SAW telah mengatakan bahawa siapa saja yang mencaci-maki Al(a) bererti sama sahaja dengan mencaci-maki baginda(s).

Salah seorang sahabat Nabi SAW yang mencaci-maki Imam Ali AS adalah Mughirah bin Syu’bah.

عن زياد بن علاقة عن عمه أن المغيرة بن شعبة سب علي بن أبي طالب فقام إليه زيد بن أرقم فقال يا مغيرة ألم تعلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن سب الأموات فلم تسب عليا وقد مات

Dari Ziyad bin Alaqah dari Pamannya bahwa Mughirah bin Syu’bah telah menghina Ali bin Abi Thalib kemudian Zaid bin Arqam berdiri dan berkata ”Hai Mughirah bukankah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW melarang untuk menghina orang yang sudah mati jadi mengapa kamu menghina Ali setelah kematiannya”.

Hadis Riwayat Al Hakim dalam Mustadrak As Shahihain juz 1 hal 541 hadis no 1419, di mana beliau berkata

هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه

Hadis ini shahih sesuai persyaratan Imam Muslim tapi beliau tidak meriwayatkannya.

Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid juz 8 hal 145 hadis no 13028 juga telah meriwayatkan hadis ini dan berkata

رواه الطبراني بإسنادين ورجال أحد أسانيد الطبراني ثقات

Riwayat Thabrani dengan sanad-sanadnya dan salah satu sanadnya para Perawinya tsiqat.

Catatan Hadis

Thabrani meriwayatkan hadis ini dalam Mu’jam Al Kabir juz 5 hal 168 iaitu hadis no 4973, 4974 dan 4975. Hadis no 4973 dan 4975 di dalam sanadnya terdapat Abu Ayub Maula Bani Tsa’labah sebagaimana disebutkan dalam At Ta’jil Al Manfa’ah Ibnu Hajar juz 2 hal 411 no 1232 bahawa beliau adalah majhul.

Sedangkan hadis riwayat Thabrani no 4974 dan hadis riwayat Al Hakim dalam sanadnya tidak ada Abu Ayub tersebut. Hadis ini lah yang dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan seperti yang dikatakan Al Haitsami para perawinya tsiqat.

Hadis yang di dalam sanadnya ada Abu Ayub iaitu perawi yang majhul hal ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 369 hadis no 19307 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Hadis ini sanadnya dhaif karena perawinya Abu Ayub adalah majhul tetapi hadis ini dikuatkan oleh riwayat Al Hakim dan Thabrani. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib berkata mengenai hadis Abu Ayub ini

صحيح وهذا إسناد ضعيف

Shahih tetapi sanad hadis ini dhaif

Kesimpulan

1. Telah nyata dari riwayat ini, wujud para sahabat yang saling mencaci antara satu sama lain. Dengan mengambil konsep keadilan para sahabat secara total dan keredhaan Allah swt atas mereka semua, adakah tindakan sahabi ini mendapat keredhaan Allah swt dan menunjukkan sifat keadilan beliau?

2. Dengan mengambil prinsip bahawa menghina sahabat bererti menghina Rasul(s), dan boleh menyebabkan kekafiran/kesesatan seseorang, maka adakah Mughirah, seorang sahabat Rasul(s) ini telah menjadi murtad dengan perbuatannya ini?

Jangan Sampai NU Teracuni Pemahaman Tasybih, Tajsim, TERORIS serta pesta pora ! Pangeran Saudi Habiskan Rp 194 Milyar di Disneyland

 Jangan Sampai NU Teracuni Pemahaman Tasybih, Tajsim, TERORIS serta pesta pora !
Pangeran Saudi Habiskan Rp 194 Milyar di Disneyland

Sering kali terdengar oleh kita perdebatan seputar hal bid’ah dan sunnah. bahkan perdebatan ini menjurus pada Pembusukan OLEH WAHABI terhadap NU.

.
“emange masalah buat Loe?. Kalo berdzikir sambil melempari orang, sampeyan baru boleh mempermasalahkan.”
.
Benarkah Wahabi Salafi adalah ahli tauhid ???
.

Wow! Pangeran Saudi Habiskan Rp 194 Milyar di Disneyland Untuk Rayakan Kelulusan

Paris – Seorang pangeran Arab mengeluarkan 15 juta euro (US$ 19,5 juta) atau sekitar Rp 185 miliar untuk mem-booking Disneyland di Paris selama 3 hari, demi merayakan gelar sarjananya.
.
Pangeran bernama Fahd al-Saud itu mem-bookingseluruh area Disneyland dari 22-24 Mei 2013 lalu dengan mengundang 60 tamunya.
.
Menurut pengumuman Disneyland dikutip dari AFP, Selasa (4/6/2013), perayaan itu sekaligus memesan kostum-kostum karakter Disney yang langsung dibuat.
.
Pengamanan khusus ditempatkan di lokasi tempat pangeran ini menghabiskan waktunya.
.
Disneyland di seluruh dunia berhasil mendatangkan 16 juta pengunjung tahun lalu, tapi Euro Disney tidak menghasilkan keuntungan sama sekali sejak dibangun 20 tahun lalu. Sementara dalam 6 bulan terakhir hingga Maret 2013, Disneyland merugi 89,1 juta euro, jumlah ini naik tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya dengan rugi 11,8 juta euro.

Jangan Sampai Teracuni Pemahaman Tasybih dan Tajsim

.
Peristiwa Naik dan Turun ketika Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

.
Mereka masih saja bersikeras bahwa Allah Azza wa Jalla berada atau bertempat di atas ‘Arsy atau di atas langit. Mereka berkeyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla berbatas atau dibatasi dengan ‘Arsy atau dengan langit.Mereka katakan dengan peristiwa Mi’raj membuktikan bahwa Rasulullah mi’raj ketempat Allah Azza wa Jalla berada dan mereka mempertanyakan kami, apakah kami mengingkari mi’raj Rasulullah dengan tubuhnya
.
Tentulah tubuh Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sampai kepada tempat Beliau bermunajat kepada Allah ta’ala ketika peristiwa Mi’raj namun bukan berarti Allah Azza wa Jalla berada atau bertempat pada tempat Beliau bermunajat.
.
Begitupula memaknai hadits Rasulullah berikut
Rasulullah bersabda yang artinya, “Saat yang paling dekat antara seorang hamba dan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)
.
Janganlah dimaknai bahwa Allah Azza wa Jalla berada atau bertempat di tempat sujud kita
.
Jadi dalam kisah mi’raj yang kita dengar terdapat keterangan mengenai naik-turunnya Rasulullah, seorang muslim tidak boleh menyangka bahwa antara hamba dan Tuhannya terdapat jarak tertentu, karena hal itu termasuk perbuatan kufur. Na’udzu billah min dzalik.
.
Naik dan turun itu hanya dinisbahkan kepada hamba, bukan kepada Tuhan. Meskipun Nabi shallallahu alaihi wasallam pada malam Isra’ sampai pada jarak dua busur atau lebih pendek lagi dari itu, tetapi Beliau tidak melewati maqam ubudiyah (kedudukan sebagai seorang hamba).
.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan Nabi Yunus bin Matta alaihissalam, ketika ditelan hiu dan dibawa ke samudera lepas ke dasar laut adalah sama hal ketiadaan jarak Allah ta’ala dengan ciptaan-Nya, ketiadaan arahNya, ketiadaan menempati ruang, ketidakterbatasannya dan ketidaktertangkapnya
.
Menurut suatu pendapat ikan hiu itu membawa Nabi Yunus alaihissalam sejauh perjalanan enam ribu tahun.
Hal ini disebutkan oleh al Baghawi dan yang lainnya.

.

Apabila kita telah mengetahui hal itu, maka yang dimaksud bahwa Nabi Shallallahu walaihi wasallam naik dan menempuh jarak sejauh ini adalah untuk menunjukkan kedudukan Beliau di hadapan penduduk langit dan Beliau adalah makhluk Allah yang paling utama
.
Pengertian ini dikuatkan dengan dinaikkannya Beliau diatas Buraq oleh Allah ta’ala dan dijadikan sebagai penghulu para Nabi dan Malaikat, walaupun Allah Mahakuasa untuk mengangkat Beliau tanpa menggunakan buraq.
.
Ketahuilah bahwa bolak-baliknya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam antara Nabi Musa alaihissalam dengan Allah subhanahu wa ta’ala pada malam yang diberkahi itu tidak berarti adanya arah bagi Allah subhanahu wa ta’ala. Mahasuci Allah dari hal itu dengan sesuci-sucinya.
.
Ucapan Nabi Musa alaihissalam kepada Beliau, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Maka kembalinya Beliau adalah dari tempat Beliau berjumpa dengan Nabi Musa alaihissalam ke tempat Beliau bermunajat dan bermohon kepada Tuhannya.
.
Tempat memohon tidak berarti bahwa yang diminta ada di tempat itu atau menempati tempat itu karena Allah Subhanahu wa ta’ala suci dari arah dan tempat. Maka kembalinya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kepadaNya adalah kembali Beliau meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu dibandingkan dengan yang lain. Sebagaimana lembah Thursina adalah tempat permohonan Nabi Musa alaihissalam di bumi. Kita pun mengenal tempat yang mulia untuk bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla seperti Makkah Al Mukarohmah, Masjid Nabawi, multazam, raudhoh, maqam Ibrahim, hijr Ismal, rukun Yamani, hajar aswad , dll
.
Walaupun Beliau pada malam ketika mi’rajkan sampai menempati suatu tempat di mana Beliau mendengar gerak qalam, tetapi Beliau shallallahu alaihi wasallam dan Nabi Yunus alaihissalam ketika ditelan oleh ikan dan dibawa keliling laut hingga samapai ke dasarnya adalah sama dalam kedekatan dengan Allah ta’ala, karena Allah Azza wa Jalla suci dari arah, suci dari tempat, dan suci dari menempati ruang.
.
Al Qurthubi di dalam kitab at-Tadzkirah, mengutip bahwa Al Qadhi Abu Bakar bin al-’Arabi al Maliki mengatakan, ‘Telah mengabarkan kepadaku banyak dari sahabat-sahabat kami dari Imam al-Haramain Abu al Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf al Juwaini bahwa ia ditanya, “Apakah Allah berada di suatu arah?” Ia menjawab, “Tidak, Dia Mahasuci dari hal itu”
.
Ia ditanya lagi, “Apa yang ditunjukkan oelh hadits ini?” Ia menjawab, “Sesungguhnya Yunus bin Matta alaihissalam menghempaskan dirinya kedalam lautan lalu ia ditelan oleh ikan dan menjadi berada di dasar laut dalam kegelapan yang tiga. Dan ia menyeru, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim,” sebagaimana Allah ta’ala memberitakan tentang dia. Dan ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam duduk di atas rak-rak yang hijau dan naik hingga sampai ke suatu tempat di mana Beliau dapat mendengar gerak Qalam dan bermunajat kepada Tuhannya lalu Tuhan mewahyukan apa yang Ia wahyukan kepadanya, tidaklah Beliau shallallahu alaihi wasallam lebih dekat kepada Allah dibandingkan Nabi Yunus alaihissalam yang berada dikegelapan lautan. Karena Allah Subhanahu wa t a’ala dekat dengan para hambaNya, Ia mendengar doa mereka, dan tak ada yang tersembunyi atasNya, keadaan mereka bagaimanapun mereka bertindak, tanpa ada jarak antara Dia dengan mereka.
.
Jadi, Ia mendengar dan melihat merangkaknya semut hitam di atas batu yang hitam pada malam yang gelap di bumi yang paling rendah sebagaimana Ia mendengar dan melihat tasbih para pengemban ‘Arsy di atas langit yang tujuh. Tidak ada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Ia mengetahui segala sesuatu dan dapat membilang segala sesuatu.
Kami (penulis) mengingatkan kembali bahwa Allah Azza wa Jalla adalah dekat, Dia ada sebagaimana sebelum diciptakan ‘Arsy, sebagaimana sebelum diciptakan langit, sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya. Dia tidak berubah dan tidak berpindah. Dia sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya. Dia dekat tidak bersentuh dan jauh tidak berjarak. Tidak ada atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang bagiNya karena tidak ada satupun yang sanggup membatasiNya. Dia ada tanpa batas. Yang berubah maupun berpindah adalah ciptaanNya. Setiap yang berpindah mempunyai bentuk dan batas.
.
Oleh karenanya kita sebaiknya mengingat peringatan yang disampaikan oleh Rasulullah yang artinya, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah”
.

Lagi, Arrahmah dan Voa-Islam Pelintir Ucapan Said Aqil

Minggu, 12 Mei 2013, situs media online, arrahmah.com, menurunkan berita dengan judul yang sangat tendensius dan terkesan provokatif, yakni “Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj: Cikal Bakal Teroris itu Rajin shalat Malam, Puasa, dan Hafal Alquran”.
.
Mengapa tendensius dan terkesan provokatif? Karena, jika kita telusuri konteks pembicaraan KH Said Aqil Siradj, maka niscaya ditemukan bahwa bukan teroris itu adalah muslim yang rajin shalat malam, puasa dan hafal Alquran, melainkan ciri-ciri dari kelompok Khawarij, yang menurut KH Aqil, sebagai cikal bakal dari radikalisme dalam Islam.
.
Namun, situs arrahma.com justru mengabaikan konteks pembicaraan KH Said Aqil perihal soal Khawarij. Sebaliknya, situs tersebut justru memelintir ucapan Ketua Umum PBNU itu dengan judul yang sangat provokatif seperti yang telah ditulis di atas, yang pada akhirnya publik akan tergiring opininya bahwa KH Said Aqil menggolongkan muslim yang patuh terhadap ritual shaleh sebagai teroris.
.
Sejatinya, jika terkait dengan Khawarij, maka tak ada yang salah dengan ucapan Kang Said, melainkan benar. Sebab, dari beberapa hadis Nabi Muhammad Saww justru makin memperkuat pernyataan Kang Said terhadap kelompok ini.
.
Taruhlah semisal hadis riwayat Abu Dawud, di mana Nabi bersabda: “Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Alquran, bacaan kamu dibandingkan dengan bacaan mereka tidak ada apa-apanya, demikian pula shalat dan puasa kamu dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka tidak ada apa-apanya. Mereka membaca Alquran dan mengiranya sebagai pembela mereka, padahal ia adalah hujjah yang menghancurkan alasan mereka. Shalat mereka tidak sampai ke tenggorokan, mereka lepas dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari buruannya.”
Atau dalam Musnad Ahmad, misalnya, terselip riwayat tentang seorang laki-laki yang terkenal khusyu dalam ibadah, tetapi Nabi menyuruh sahabat-sahabatnya untuk membunuhnya bila menemukannya. Nabi menubuwatkan bahwa orang itu akan menjadi sumber perpecahan di kalangan muslim. Para ulama ahli hadis menyebutkan bahwa orang itu -kelak- akan menjadi penghulu kaum Khawarij.
.
Ada dua ciri utama dari kelompok yang sering disebut-sebut sebagai cikal bakal dari radikalisme dalam Islam, yaitu:
1. Pemahaman yang formalistis.
Mereka terkenal sangat patuh kepada teks-teks formal Alquran dan hadis. Mereka hampir tidak dapat menangkap yang tersirat. Mereka mengambil hanya apa yang tersurat.
Orang Khawarij mewajibkan wanita yang haid untuk berpuasa, karena menurut Alquran mereka tidak termasuk yang dibebaskan dari kewajiban berpuasa. Wanita haid tidak termasuk yang sakit, ataupun berpergian, atau yang tidak mampu berpuasa.
.
2. Patuh ritual, tetapi kurang ukhuwwah.
Orang Khawarij sangat patuh menjalankan ibadah ritual, tetapi sangat kaku dalam hubungan sosial, terutama sesama kaum muslim.
Mereka rajib bangun tengah malam. Bila ayat-ayat mengenai neraka sampai di telinga mereka, berguncang tubuh mereka; seakan-akan mereka berada di pinggir api neraka. Dahi mereka menghitam karena bekas sujud. Tidak jarang mereka terisak-isak dalam shalat mereka.
.
Namun kepatuhan mereka terhadap ritual menjadi tak berbekas ketika bertemu dengan saudaranya yang muslim namun berbeda pendapat. Konon, seorang tabi’in bernama Abdullah bin Habab harus menerima kenyataan dengan mati secara mengenaskan hanya karena berbeda pendapat dengan kelompok ini.
.
Walhasil jika pernyataan KH Said Aqil tidak dipelintir sedemikian rupa oleh situs arrahmah dan sejenisnya, niscaya kita akan menemukan gambaran utuh tentang konteks pembicaraannya.
Sekali lagi, KH Said Aqil menerangkan ciri-ciri dari kelompok Khawarij, yang dinyatakan oleh Beliau sebagai cikal-bakal dari paham radikal dalam Islam, yang belakangan dianut oleh para pengusung teologi horor di Indonesia. Dan bukan menyatakan bahwa ciri-ciri teroris itu haruslah muslim yang rajin shalat malam, puasa dan hafal Alquran.
.
Adakah yang salah dengan pernyataan Kang Said, bila kita secara utuh menyimak konteks pembicaraan Ketum PBNU tersebut? Saya serahkan kepada pembaca sekalian.
.
Semoga artikel ini menjadi penyeimbang di tengah-tengah rumor yang tak pasti terkait ucapan KH Said Aqil Siradj. Dan ingatlah pesan Alquran mengenai pentingnya ber-tabayyun jika ada kabar yang menghampiri kita.

Ketika Salafi Wahabi Bergandeng Mesra Dengan Zionis ! Setan Nejed Yang Diramal Nabi SAW kepung Indonesia

Teroris Wahabi Takbir dan Tertawa Setelah Mengebom Makam Sahabat Nabi. Omong kosong wahabi pembela sahabat

Teroris Wahabi Berkedok Mujahid berteriak Takbir palsu, dan tertawa terbahak-bahak karena bangga telah mengebom kubah makam salah seorang sahabat Nabi SAW, Ammar bin Yasir. Aliran Wahabi Salafi adalah Neo Khawarij abad ini.

KH Said Aqil: Pesantren Tak Pernah Ajarkan Terorisme

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj kembali menegaskan, pesantren di Indonesia tidak pernah mengajarkan terorisme. Bibit-bibit terorisme itu dikembangkan oleh “agen-agen” dari luar.

“Lihat saja (teroris; red), tidak sama dengan budaya kita itu. Itu yang harus ditolak, impor itu,” ujarnya dalam Dialog Nasional Ormas Islam di Hotel Grand Sahid, Jakarta Selatan, Sabtu (11/5).

Ia mengungkapkan bahwa sekolah atau lembaga pendidikan yang memang menyemai bibit-bibit terorisme hanya ada di Afganistan dan Pakistan.  “Pesantren radikal itu ada di Afganistan dan Pakistan,” tambahnya.

Sementara pondok pesantren di Indonesia yang diasuh oleh para kiai bertugas mengembangkan ajaran Islam yang rahmatal lil ‘alamin yang mempertemukan ajaran lokal dengan ajaran Islam.

Menurut Kang Said, terorisme berhasil merembes masuk ke Indonesia disebankan kebodohan, kebelakangan, kemiskinan, pengangguran, dan kesalahpahaman para agen tersebut dalam memahami ajaran Islam.

Ia menegaskan, terorisme tidak diajarkan oleh Islam. Lebih dari itu, menurutnya, agama apa pun, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha dan lainnya tidak ada yang mengajarkan terorisme.

Ketika Salafi Wahabi Bergandeng Mesra Dengan Zionis

Beberapa tahun yang lalu ketika usiaku masih belasan tahun dan sedang mengenyam pendidikan di sebuah Pesantren, aku mendapati selebaran yang berisi peringatan terhadap kaum Muslimin untuk mewaspadai misi Zionis, diantara yang aku ingat adalah :
.
1. Pisahkan umat Islam dari ulamanya
2. Pisahkan umat Islam dari Nabinya
3. Pisahkan umat Islam dari kitab sucinya (Al-Quran )
4. Pecah belah dan hancurkan!
.
Beberapa tahun setelah aku kembali ke kampung, aku dapati fenomena Salafi Wahabi. Dan ketika aku mencermati dogma (ajaran) serta cara mereka “berdakwah” (menyampaikan ajarannya), timbul kecurigaan kuat mereka adalah kaki tangan Zionis.
.
Kecurigaanku bukan tanpa alasan, berikut mari bersama kita cermati secara kritis dengan fikiran dan hati yang jernih tentang beberapa fatwa Salafi Wahabi sekaligus efek yang terjadi dalam konteks keselarasan fatwa-fatwa tersebut dengan misi Zionis:
.
Misi 1: Pisahkan umat Islam dari ulamanya
Misi ini bertujuan agar umat Islam kehilangan central command/komando yang terpusat dalam segala hal, baik dalam berpolitik, bersosial, beragama, serta menghilangkan metode yang benar dalam memahami agama. Mereka sadar bahwa kegagalan mereka selama ini diakibatkan oleh kuatnya semangat dan persatuan kaum Muslimin dalam melawan mereka. Dan semangat serta persatuan kaum Muslimin tersebut faktanya berpusat pada para ulama.
.
Fatwa Salafi Wahabi yang disinyalir “mendukung” misi tersebut diantaranya adalah :
.
1. Sesatnya Mazhab Asya’irah/ Asy’ariah dan Maturidiah
Bukti paling dekat atas fatwa tersebut adalah buku yang berjudul “Mulia Dengan Manhaj Salaf” yang ditulis oleh Ust. Yazid Ibn Abdil Qodir. Dalam buku tersebut pada bab terakhir dengan gamblang Ust. Yazid Jawas mengelompokkan Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai kelompok sesat dan menyesatkan. Sebuah buku yang kontradiktif dengan buku yang mereka ciptakan sebelumnya yang merupakan Tahrif (penyimpangan) dari al Ibanah yang berjudul “Buku Putih Imam Al Asy’ari” dengan penerjemah Abu Ihasan Al Atsari, penerbit At Tibyan.
.
2. Propaganda : Para Ulama adalah Manusia yang Tidak Ma’shum (Tidak terjaga dari salah)
.
Propaganda “Para ulama adalah manusia yang tidak ma’shum” adalah “Kalimatu Haqqin Uriida Biha Al Bathil” (pernyataan yang benar yang disertai misi batil). Propaganda ini berperan untuk mendorong umat Islam keluar dari mazhab-mazhab yang mu’tabar (diakui) dan beralih kepada “mazhab” yang mereka bangun (mazhab yang tidak bermetode dalam memahami Al-Quran dan Sunnah). Propaganda ini mengesampingkan pesan Allah: “Maka bertanyalah kalian pada Ahlidz Dzikri jika kalian tidak tahu” (An Nahl : 43 dan Al Anbiya’ : 7)
.
Efek lain dari propaganda ini dapat Anda buktikan dalam sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof enggan menerima pendapat para ulama dengan alasan mereka tidak ma’shum.
3. Tuduhan “Ta’ashub” (Fanatik) kepada Para Penganut Mazhab
4. Tuduhan “Ghuluw” (Berlebihan) Bahkan Musyrik terhadap Umat Islam yang Menghormati Para Ulama denga Cara Mencium Tangan
.
5. Haramnya Tawasul dengan Orang-orang Shaleh yang Sudah Meninggal
Efek lain yang ditimbulkan dari fatwa-fatwa dan propaganda tersebut diantaranya adalah:
a. Hilangnya atau setidaknya berkurangnya trust/kepercayaan umat Islam terhadap para ulama khususnya yang bermazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah semacam Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam An-Nawawi, Imam Al-Haitami, Imam Al-Qurthubi, bahkan sebagian besar Pengarang “Al Kutub As Sittah” serta ratusan ulama yang lain.
b. Membuang semua/sebagian pendapat para ulama Asy’ariyah & Maturidiyah yang tidak sesuai misi mereka.
c. Bebas men-tahrif (mengubah) karya-karya mereka yang tidak sesuai keinginan dan bahkan membakarnya, karena dianggap karya orang-orang sesat.
d. Menggantikan peran/pendapat para ulama sejak abad ke-3 hingga abad ke-19 (Munculnya Muhammad Ibnu Abdil Wahab) dengan para “ulama” yang mereka ciptakan diabad 19 dst.
e. Cukup banyak ulama yang pemikirannya dijauhkan dari umatnya.
f. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa hormat umat Islam terhadap para ulamanya.
g. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi kepatuhan umat Islam terhadap para ulamanya.
h. Menghilangkan metode yang benar dalam mamahami Islam. (hal ini penting untuk misi yang lain)
i. Ibarat hutan yang telah ditinggal “Macan”nya, dan yang tersisa hanyalah “Macan” ompong piaraan dengan fatwa-fatwa aneh.
j. dll
.
Misi 2: Pisahkan Umat Islam dari Nabinya
Misi ini penting, mengingat ikatan emosional umat Islam dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah faktor fital yang mampu membuat  umat Islam rela mengorbankan segalanya.
Adapun fatwa dan tindakan yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut adalah:
.
1. Haramnya Bepergian Menziarahi (Qubbatul Khadra’) Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Anda yang pernah menziarahi Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti tahu efek emosional bagi penziarah baik ketika berziarah maupun sesudahnya. Betapa hati yang normal takkan mampu membendung air mata ketika berada di pusara mulia beliau. Rasa haru, bahagia, malu, rindu, bangga, terimakasih, bercampur dalam sebuah hidangan istimewa berupa “Mahabbah” (rasa cinta) yang tidak dapat diungkapkan dengan kata.
Anehnya menurut teman-teman yang pernah muqim di Saudi, ada ulama kebanggaan Wahabi (maaf tidak disebut nama karena orangnya sudah meninggal) yang bersyukur karena tidak pernah menziarahi makam Nabi selama 25 tahun tinggal di Madinah,� hingga para santri di sana berkata: “Memang Nabi nggak mau ketemu Anda”.
.
2. Haramnya Pelaksanaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
.
Mereka sadar betul akan efek tumbuhnya rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui pujian dan pembacaan sirah Nabi yang ada dalam kitab-kitab maulid yang identik lebih mengangkat sisi Irhash dan Mukjizat Nabi. Fakta telah membuktikan efek Maulid yang terjadi pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, bahkan fakta terbaru adalah betapa dahsyat efek “Shalawat Badar” dalam membakar semangat umat Islam guna menumpas PKI.
.
3. Haramnya Tawasul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Wafat
.
Hal ini jika kita cermati argumentasi mereka kita dapati sebuah fakta: Menghilangkan atau setidaknya mengurangi pemahaman umat Islam terhadap Nabinya dalam aspek Nubuwwah dan lebih menonjolkan aspek Basyariyah Nabi (sisi kemanusiaan). Bukti dari efek tersebut adalah pernyataan ulama kebanggaan mereka yang menyatakan bahwa tongkatnya lebih berguna daripada Rasulullah yang sudah wafat.
.
Dan bukti lain adalah sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof tidak puas ketika diajukan hadits shahih dari Imam Al-Bukhari dengan dalih Nabi Muhammad bisa salah berdasar QS: ‘Abasa.
.
4.� Menghilangkan Situs-Situs Bersejarah yang Berkaitan Dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Para Sahabat
Efek yang ditimbulkan dari tindakan tersebut adalah: Hilangnya bukti fisik perjuangan Rasulullah dan para sahabat yang dapat membangkitkan semangat dan keimanan umat Islam.
.
Jika dalam penghancuran situs-situs bersejarah tersebut Salafi/Wahabi beralasan “Syaddudz Dzari’ah” (mencegah kemungkaran yang mungkin ditimbulkan) yakni sikap “Ghuluw” (berlebihan), maka faktanya mereka mengalihkan sikap “Ghuluw” tersebut kepada Syekh Al ‘Utsimin dengan membangun museum Yayasan Al ‘Utsaimin. Dimana dalam museum tersebut tidak hanya karya sang Syekh yang dihormati, bahkan pena terakhir sang Syekh-pun ditempatkan di tempat khusus dalam etalase mahal. aneh.
.
Misi 3: Pisahkan Umat Islam dari Al-Quran
Kita semua tahu arti dan peran Kitab Suci bagi semua pemeluk agama, maka sangat wajar jika misi ketiga ini menjadi misi penting. Adapun fatwa dan propaganda Salafi/Wahabi yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut diantaranya adalah:
.
1. Haram Mengikuti Mazhab Tertentu
Silahkan Anda baca Fatwa Syekh Albani tentang masalah tersebut, dan silahkan Anda bayangkan ketika kaum awam melepaskan diri dari tuntunan para ulama dalam memahami Al-Quran.
.
Bukti akan adanya efek tersebut adalah propaganda yang didengungkan MTA, yakni : “Ngaji ko’ kitab kuning, Ngaji ya Al-Quran sak maknanya”. Dan akibatnya fatwa-fatwa mereka ngawur dan paling ironis dengan enteng mereka mengafirkan sesama saudara Muslim.
.
2. Jargon Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah
Coba kita cermati akibat yang ditimbulkan dari keberanian orang-orang awam menginterpretasikan Al-Quran tanpa sarana ilmu yang memadahi. Disamping pemahaman yang kontradiktif, mereka telah lepas dari nafas Al-Quran itu sendiri, sehingga begitu mudah mereka mengafirkan sesama umat Islam.
.
Hal inilah yang diwanti-wanti Rasulullah dalam sabda beliau:
يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ .
“Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri khas mereka?” Rasul menjawab “Bercukur gundul”. (Sunan Abu Daud : 4765)
.
سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sebaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Bukhari Muslim)
Selanjutnya misi Zionis:
.
4. Pecah Belah Lalu Hancurkan!!!
Inilah tujuan pokok dari misi-misi penghantar yang kami sebutkan di atas. Sebagaimana di wanti-wantikan Allah dalam Al-Quran :
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka” (QS : Al Baqarah:120)
.
Sedang tindakan kongkrit dalam mendukung misi ini adalah menciptakan kelompok yang menyimpang yang mereka lindungi atas nama HAM semisal “AHMADIYAH” di India, dan disaat bersamaan mereka ciptakan “WAHABI” di Timur Tengah, sebuah kelompok yang berhasil membuat umat Islam saling menghujat, saling mengkafirkan, dst.
.
Lantas adakah korelasinya misi Zionis tersebut dengan fatwa dan atau propaganda diatas? Mari kita cermati bersama:
.
Apakah jadinya ketika umat Islam sudah tidak lagi menghormati figur-figur yang dapat meredam pertikaian dan mempersatukan umat, yakni para ulama? Dan apa jadinya ketika umat Islam memandang dan memahami Nabinya hanya dari aspek Basyariyah? Dan apa jadinya ketika umat Islam yang tidak memiliki sarana ikut-ikutan berijtihad dan mengesampingkan tuntunan para ulama?
.
Fakta yang sudah di depan mata adalah� PERPECAHAN UMAT ISLAM !
Wal ‘Iyaadz Billah…

Mengerikan! ‘Mujahid’ Pemberontak Memakan Jantung Tentara Suriah

Kekejaman kelompok pemberontak Suriah ditunjukkan melalui sebuah video yang beredar di internet. Dalam video tersebut, terlihat seorang anggota pemberontak memotong jantung seorang tentara Suriah dan kemudian menggigitnya.Video mengerikan tersebut diunggah secara online pada Minggu (12/5) lalu. Video tersebut menunjukkan seorang pria mengenakan perlengkapan militer yang sedang memegang pisau dan menyayat bagian dada sesosok jenazah, yang disebut sebagai tentara Suriah.Pria tersebut kemudian menoleh ke kamera dan menunjukkan potongan jantung yang diambil dari jenazah tersebut kemudian menggigitnya.

Teroris Suriah tersebut memakan daging manusia yang diiris dari dada mayat di depan kamera…! Mereka adalah kaum Wahabi yang menyebut dirinya FSA, Alqaeda, Jabhat al-Nusra dan lain-lain, dan mengklaim dirinya sebagai mujahidin. Secara langsung ini berarti mereka telah menghina Islam secara terang-terangan di depan kamera, dengan cara mempertontonkan kejahatan. Menurut Zen Al Jufri, seorang Facebooker yang konsen terhadap perkembangan perang  di Suriah, mereka yang menyebaut dirinya sebagai “mujahidin” tersebut adalah binatang yang berbahasa Arab…! Salah seorang dari mereka memakan daging mayat sambil berteriak takbir “Allahu akbar!!!” Silahkan lihat sendiri vedeonya di bawah ini:

“Saya bersumpah, kami akan memakan jantung dan hati kalian…,” ujar pria tersebut merujuk pada tentara Suriah, seperti dilansir PressTV, Selasa (14/5/2013).

Secara terpisah, Peter Bouckaert dari organisasi HAM, Human Rights Watch memberi keterangan soal video ini. Menurutnya, pria yang ada di dalam video diketahui bernama Abu Sakkar, yang merupakan pendiri kelompok militan Farouq Brigade.

Identitas Abu Sakkar dikonfirmasi oleh seorang anggota militan di Homs yang mengenalnya secara pribadi. Menurut sumber yang enggan disebut namanya tersebut, pria di dalam video mengenakan jaket hitam yang sama dan memakai cincin yang sama dengan Abu Sakkar yang sebenarnya.

“Mutilasi jasad musuh merupakan kejahatan perang. Tapi yang lebih serius lagi adalah hal semacam ini bisa berujung pada kekerasan sektarian,” ucap Bouckaert.

Dalam versi tanpa sensor, terlihat dalam video bahwa Sakkar memerintahkan anak buahnya untuk membunuh tentara Suriah yang mereka temui dan kemudian memakan jantungnya mentah-mentah. Rekaman video ini telah memicu kemarahan baik dalam kubu pendukung presiden Bashar al-Assad maupun dari kelompok oposisi.

wahabi salafi membajak Islam, radikalisme wahabi sang benalu Indonesia ! Bom bunuh diri jangan terulang

Wamenag: Teroris Membajak Islam

Maraknya aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam di berbagai daerah dinilai sebagai bentuk pembajakan. Karena Islam tidak mengajarkan kekerasan atas nama apapun.

Hal itu dikatakan Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar di sela-sela dialog nasional Ormas Islam di Grand Syahid Jaya, Jakarta (11/5), yang salah satunya mengangkat tema tentang terorisme di tanah air.

“Kita tidak boleh mengatasnamakan ayat untuk melakukan kekerasan atas nama apapun dan kekerasan untuk siapa pun. Jadi kita jangan membajak atas nama islam untuk melakukan kekerasan (terorisme), tidak bisa,” kata Nasaruddin.

Ditegaskannya, Islam anti kekerasan. Bahkan Nabi Muhammad SAW tidak pernah mencontohkan sebuah kekerasan. Justru Rasulullah memilih hijrah dari Mekah ke Madinah salah satunya untuk menghindari kekerasan.

“Nabi itu tidak pernah mencontohkan sebuah kekerasan, makanya dia hijrah dari mekah ke madinah. Jadi betapa pentingnya nyawa dan jiwa dalam islam, makanya tidak boleh atas nama agama membahyakan nyawa orang apalagi yang tidak berdosa,” ujarnya.

 Konyol, Seseorang Nekat Aksi Bom Bunuh Diri di Mapolres Poso
Seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya di halaman Mapolres Poso, Sulawesi Tengah, Senin (3/6) sekitar pukul 08.25 WITA. Dilaporkan jenazah pelaku hancur berkeping-keping.
Seorang pria yang mengendarai sepeda motor Supra masuk ke Mapolres Poso, Sulawesi Tengah dan memberhentikan laju sepeda motornya di depan Masjid At-Taqwa, kompleks halaman Mapolres Poso. Setelah itu, tiba-tiba terjadi ledakan karena pria tersebut melakukan aksi bom bunuh diri. Saat itu para polisi di Mapolres Poso sedang melakukan apel pagi. Namun demikian, tidak ada korban jiwa dalam ledakan ini, kecuali pelaku.
Bom yang akhirnya menghancurkan tubuh pelaku disimpan di balik rompi yang ia kenakan.

Diketahui saat itu di lapangan ada 12 anggota polisi baru beres melakukan apel pagi. Tiba-tiba pelaku meledakkan diri di depan Masjid At Taqwa Mapolres. Ledakan keras terjadi. Tubuh pelaku hancur lebur.

Antisipasi Radikalisme, Kemenag Roadshow ke Kampus

Potensi radikalisme dan kekerasan di kampus disinyalir akan meningkat di tahun-tahun mendatang. Setidaknya inilah kesimpulan dari hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI baru-baru ini.

Penelitian yang diadakan di beberapa titik Perguruan Tinggi Agama (PTA) di Indonesia ini, menunjukkan adanya benih radikalisme yang berpotensi pada gerakan terorisme yang dapat menciderai nilai kebhinekaan.

Mengantisipasi hal tersebut, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan sedang menghelat program roadshow Seminar dan Focused Group Discussion (FGD) bertema ‘Membangun Budaya Damai dan Toleran di Kampus’ bertempat di tiga titik kampus agama, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Agama (STIA) Alma Ata Yogyakarta, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara dan Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudin Makassar.

Tiga minggu sebelumnya, acara telah usai dihelat di STIA Alma Ata Yogyakarta dan IAIN Sumatera Utara. Kini giliran acara digelar di UIN Makassar selama dua hari, pada Selasa (04/6) dan Rabu (05/6). Hadir sebagai keynote speaker dan pembuka dalam acara di Makassar, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Prof H Abdurrahman Mas’ud PhD.

Abdurrahman memaparkan radikalisme agama tidak lepas dari ketidaktepatan dalam memahami substansi agama.

“Radikalisme agama dapat pula bersumber dari pembacaan yang salah terhadap sejarah agama yang dikombinasikan dengan idealisasi berlebihan terhadap doktrin agama pada masa tertentu,” jelas Abdurrahman.

Pendidikan, lanjut dia, berperan penting untuk menyosialisasikan nilai agama yang membawa misi damai dan menolak segala jenis kekerasan. Ia sendiri cukup optimistis bahwa pendidikan sejatinya dapat membawa angin segar kedamaian dan perubahan.

“Pendidikan di perguruan tinggi, selain terbukti menjadi ruang nyaman tumbuhnya benih ideologi radikal, ia juga mampu menjadi ruang penempaan diri yang sangat potensial bagi lahirnya pribadi-pribadi unggul yang bermoral, beradab, cinta damai, dan religius berbasis nilai kemanusiaan yang holistik-komprehensif,” tegas Abdurrahman.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan Seminar dan FGD yang menghadirkan tiga narasumber, masing-masing Prof Dr Irfan Idris MA, direktur deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Prof Hamdan Juhannis PhD selaku guru besar UIN Alaudin Makassar, dan Nur Yamin mewakili tim peneliti Puslitbang. Hasil dari Makassar akan diakumulasi dengan hasil di Yogyakarta dan Sumatera Utara untuk ditindaklanjuti menjadi model aksi pembangunan budaya damai dan toleran di kampus.

Seperti di dua kota sebelumnya, peserta undangan di Makassar didatangkan dari berbagai elemen mahasiswa lintas agama dan lintas perguruan tinggi yang tidak hanya mewakili organisasi intra kampus, juga dari kalangan ekstra kampus.

“Peserta didatangkan dari berbagai elemen lintas agama dan varian organisasi intra dan ekstra kampus dilakukan sebagai upaya mengakomodasi masukan dan gagasan konstruktif yang lebih beragam dan holistik. Kami bersyukur, respons para mahasiswa dan civitas akademika di tiga kampus, terutama di kampus Makassar ini sangat apresiatif. Sehingga ide dan gagasan mereka nantinya akan kami jadikan masukan yang sangat berharga untuk tindak lanjut pada model aksi,” Kata Wahid Khozin, Kepala Bidang Penelitian Pendidikan Formal.

Menurut dia, model aksi akan digodok oleh tim peneliti Puslitbang dalam berbagai bentuk program lanjutan, antara lain: pengembangan kurikulum pendidikan berwawasan inklusif, aksi seni budaya damai dan toleran, intensifikasi acara dialog bertema toleransi dan olah rasa lintas iman, forum-forum lintas agama, maupun buku-buku bacaan tentang pentingnya budaya anti kekerasan.

“Kita semua berharap ikhtiar programatik dari Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan ini dapat bermanfaat membumikan budaya damai dan toleran yang berarti pula meminimalisir budaya kekerasan dan potensi teror, tidak hanya di lingkungan kampus. Melainkan juga berefek ke seluruh lapisan masyarakat nantinya,” pungkas Wahid.

 

“Islam Nusantara” = Islam yang Paripurna

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Urgensi Kajian Islam Nusantara” dalam acara peluncuran Pascasarjana Program Magister studi Islam Nusantara, STAINU Jakarta, Rabu (3/7) tadi malam di aula PBNU, Jakarta Pusat.
.
Menurut Kang Said, saat ini Nusantara memang menjadi kajian penting yang diminati banyak kalangan, sejalan dengan semakin strategisnya kawasan in idalam percaturan geopolitik internasional
.
“Di tengah dinamika itu, sangat tepat kalau saat ini STAINU Jakarta membuka program studi kajian Islam Nusantara. Langkah ini penting untuk memahami bahwa Islam telah lahir dan bergumul serta berakar pada perpektif Nusantara sendiri, bukan persektif Barat atau Arab,” kata Kang Said yang baru merayakan ulang tahunnya yang ke-60.”
.
Islam Nusantara adalah Islam yang sudah paripurna, karena terbentuk dari dialog antarbudaya di berbagai peradaban besar dunia seperti Persia, Turki, India, Cina Siam dan sebagainya,” tambahnya.Walaupun Islam yang masuk ke Nusantara telah berdialog dan bergumul dengan berbagai budaya besar di dunia, tetapi otentisitas kemurniannya tetap terjaga. Apalagi dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang berkembang di Nusantara, yang menekankan pentingnya sanad atau ketersambungan mata rantai keilmuan sampai kepada Nabi Muhammad SAW
.
Ditambahkan, “Nusantara” yang menjadi satu kajian penting bukan sekedar konsep geografis melainkan sebuah konsep filosofis dan menjadi perspektif, pola pikir tata nilai, dan cara pandang dalam menghadapi berbagai budaya yang datang.

Inilah 4 Aksi Bom Bunuh Diri di Indonesia, Jangan Terulang Lagi!

MUI dan sejumlah ormas Islam sudah mengharamkan aksi bom bunuh diri. Selain menimbulkan korban, apa yang dilakukan para teroris juga menimbulkan kerugian pada citra Indonesia di mata internasional.Karena itu, aksi bom bunuh diri jangan terulang lagi. Aparat harus menangkap aktor intelektual di balik insiden ini.Berikut empat aksi bom bunuh diri di Indonesia yang terjadi selama 5 tahun terakhir:
1. Hotel Marriott dan Ritz-Carlton
Bom di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott meledak pada 17 Juli 2009. 9 Orang tewas dan tak kurang dari 50 orang mengalami luka-luka.Pelaku bom bunuh dirinya adalah dua pemuda bernama Dani Dwi Permana dan Nana Ichwan Maulana. Mereka direkrut oleh Syaifuddin Zuhri yang memiliki jaringan dengan sejumlah pentolan teroris, seperti Noordin M Top dan lainnya.Sebelum melakukan pengeboman, Nana dan Dani sempat survei ke lokasi tiga minggu sebelumnya.
Mereka memantau aktivitas di dua hotel bintang lima tersebut.Setelah ledakan ini, perburuan besar-besaran terhadap teroris pun digelar. Ada yang berhasil ditangkap hidup, sebagian lagi tewas di tangan Densus 88.
2. Bom Bunuh Diri di Mapolresta Cirebon
Bom bunuh diri di Masjid Az-Dzikro, Mapolresta Cirebon, terjadi pada bulan Mei 2011 lalu. Ada puluhan orang terluka, termasuk Kapolres Cirebon AKBP Herukoco.Insiden ini terjadi saat salat Jumat digelar di masjid tersebut. Pelaku yang belakangan diketahui bernama
.
Muhammad Syarif Astanagarif (32) itu masuk dalam saf ketika hendak salat. Tiba-tiba ledakan pun terjadi. Jamaah salat Jumat berhamburan sambil bercucuran darah. Sementara pelaku tewas di lokasi.Muhammad Syarif Astanagarif disebut polisi aktif dalam keanggotaan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Syarif pernah dibai’at oleh Abu Bakar Ba’asyir
.
Namun, Ba’asyir telah menyangkal mengenal Syarif maupun jaringan bom Cirebon.
3. Bom di Gereja Solo
Bom meledak di luar Gereja Bethel Indonesia Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, berselang empat bulan setelah bom Cirebon. Pelaku tewas dan belasan orang cedera akibat insiden ini.Pelaku diidentifikasi bernama Achmad Yosepa alias Haya. Polisi menduga, dia adalah bagian dari jaringan bom Cirebon.Haya tewas seketika dengan luka parah di bagian perut. Sedangkan belasan jemaat gereja menjadi korban luka-luka.
4. Bom di Mapolresta Poso
Aksi bom bunuh diri paling terbaru baru saja terjadi pagi tadi. Lokasi berada di halaman Polres Poso.Bom meledak setelah pelaku menerobos pintu penjagaan Polres yang dijaga petugas Sabhara Polres Poso. Tak lama kemudian, bom pun meledak 50 meter dari pos penjagaan.Tidak ada korban jiwa dari pihak kepolisian. Seorang tukang bangunan yang merenovasi bangunan di Polres Poso terluka akibat serpihan bom tersebut.Kini, identitas pelaku yang tubuhnya hancur itu sedang diidentifikasi.

Tangkal Radikalisme Agama Jadi Tanggung Jawab Bersama

Menangkal gerakan radikalisme agama yang kian berkembang saat ini merupakan tanggung jawab bersama. Ungkapan tersebut mengemuka dalam dialog publik Nation & Character Building di Gedung MWC NU Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (27/4)
.
Dialog yang digelar GP Ansor dan Fatayat NU Kudus tersebut bertema “Peran Pemuda Islam moderat dalam mengikis Radikalisasi Agama“. Didaulat sebagai narasumber Freddy H. Tulung (Dirjen IKP Kementerian Kominfo),  KH. Yahya Tsaquf (Katib PBNU), dan H. Nusron Wahid (Ketua Umum PP GP Ansor).Ketua PC GP Ansor Suwindi, dalam sambutannya mengatakan, radikalisasi agama yang semakin berkembang menjadi tanggung jawab bersama komponen bangsa untuk menangkalnya, “Melalui dialog ini, kader Ansor dan Nahdliyin diharap memiliki pemahaman tentang gerakan radikalisme yang merugikan Islam dan NKRI,” katanya
.
Nusron Wahid menyampaian fakta-fakta adanya radikalisme yang berkembang di negara ini. Dia menekankan, GP Ansor ataupun NU lemah, maka disitu radikalisme menguat. Sedangkan Katib PBNU KH. Yahya C Tsaquf memberikan pemahaman akan pentingnya penangkalan terhadap radikalisme agama.Sementara itu, Freddy H Tulung membidik radikelisme dengan memaparkan revolusi teknologi informasi. Menurutnya, media teknologi informasi memiliki pengaruh yang bisa melahirkan sikap radikalisme, hedonisme, kekerasan dan pornografi
.
Freddy mengingatkan generasi muda perlu mendapatkan pengetahuan bahwa mesin teknologi informasi adalah alat yang baik bila digunakan dengan baik dan benar, “Tapi jika salah dalam penggunaaan, akan dapat membunuh keberlangsungan aktivitas masyarakat,” terangnya.Untuk menangkal pengaruh negatif, kata Fredi, remaja harus memiliki ketermpilan dalam menyeleksi informasi. Begitu pula, peranan keluarga, peranan para ulama dan guru sangat penting dalam membina anak-anak supaya menjadi generasi yang baik.Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Dirjen IKP Kementrian Kominfo Freddy H Tulung memaparkan revolusi teknologi informasi. Menurutnya, media tehnologi informasi memiliki pengaruh yang bisa melahirkan sikap radikalisme, hedonisme, kekerasan dan pornografi .

Freddy mengingatkan generasi muda perlu mendapatkan pengetahuan bahwa mesin teknologi informasi adalah alat yang baik bila digunakan dengan baik dan benar.

“Tapi jika salah dalam penggunaaan akan dapat membunuh keberlangsungan aktivitas masyarakat,” terangnya.

Untuk menangkal pengaruh negatif, kata Fredi, remaja harus memiliki ketermpilan dalam menyeleksii informasi. Begitu pula, peranan keluarga, peranan ara ulama dan guru sangat penting dalam membina anak-anak supaya menjadi generasi yang baik.

Dialog ini terselenggara atas kerja sama Ditjen IKP Kementrian Kominfo, GP Ansor dan Fatayat NU. Hadir pada kesempatan itu ratusan kader NU dari jajaran Ansor, Fatayat NU, badan otonom NU, dan pelajar se-kabupaten Kudus.

ADA APA DENGAN RADIO RODJA & RODJA TV ? Bid’ahnya Rodja TV, TV INSAN, SUNNAH TV, AHSAN TV, TV WESAL

Akhir-akhir ini semakin marak dan tersebar dakwah wahabi  di basis basis NU. Memang wahabi penuh gelontoran uang, namun NU kini yang dalam bahaya !

Skandal Illuminati Radio Rodja

Konspirasi :

Dalam situs mereka mengatakan radio Rodja sebagai akronim : Radio Dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Salah satu misi Rodja adalah pemurnian syariat Islam dari segala bentuk syirik, bid’ah dan pemikiran menyimpang.
Dengan semboyan menebar cahaya sunnah, seolah memberikan pencerahan kepada kaum muslim untuk kembali kepada Quran dan Hadits. Namun dalam materi yang disampaikan justru dipelintirkan dari ajaran Islam sesungguhnya. Radio Rodja merupakan corong informasi untuk menyebarluaskan­ paham Wahabi di Indonesia
.
Ajaran ini selalu berslogan pemurnian syariat Islam. Namun apa yang terjadi, justru banyak fitnah terhadap ajaran Islam yang sebenarnya, yang terpelihara sejak zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, melalui “ulama” pewaris Nabi. Berikut adalah beberapa fakta penyamaran Radio Rodja yang belum pernah terungkap :
1. Kata RODJA : berasal dari suku gothic [Bavaria], yang memiliki arti “SEE” atau MELIHAT.
2. Logo radio RODJA : setelah diputar 115° derajat ke kiri, lalu menutup huruf “ r “ warna putih dengan warna merah dan memutihkan warna merah dibagian tengah, maka mucul gambar kelopak mata. Simbol mata dihilangkan, tapi tersisa tetes air mata [air mata Horus] di ujung kelopak mata. Kesimpulannya logo Rodja berbentuk mata satu disamarkan, dengan tetes air mata Horus.
3. Tag-line radio RODJA : ‘menebar cahaya sunnah’. Mengapa memilih kata “cahaya”, karena ini bagian dari ILLUMINATI, yaitu kelompok cahaya. ILLUMINATI berasal dari bahasa latin illuminatus yang berarti tercerahkan.
4. Frekuensi radio RODJA 756 am: memiliki makna yang mengejutkan antara lain: “ IDEOLOGI RASA BENCI “ [an ideology of hate] “ KHOTBAH KEBENCIAN MURNI ” [preaching pure hatred] Bagaimana mungkin suatu angka dapat memiliki arti. Hal ini bisa terjadi, karena sebenarnya dalam setiap huruf terdapat persamaan angkanya, dalam hal ini yang dipakai persamaan huruf-huruf Jewish [Yahudi]. Ilmu tentang masalah ini adalah teknik kalkulasi persamaan angka-huruf yang diterjemahkan ke angka, ataupun huruf. Sehingga susunan angka tersebut memiliki makna dalam bentuk kata atau kalimat. Berdasarkan fakta yang terungkap, radio RODJA [Rodja network] yang menyebarluaskan­ paham Wahabi adalah bagian dari ILLUMINATI [kelompok cahaya] dengan kedok agama Islam.
.
Radio RODJA memakai kata cahaya, di tag-line nya namun sesungguhnya sumber cahaya tersebut berasal dari bara api menyala-nyala yang sangat panas. Melalui fakta ini, segala hal terkait paham Wahabi berupa para ustadz, link website, pelatihan Wahabi, kelompok paham turunan Wahabi dan seluruh aparatnya adalah alat, tunggangan atau disokong oleh Yahudi, yang digunakan untuk memecah belah umat manusia di muka bumi melalui trinitas tauhid dan masalah “bid’ah” versi Wahabi
.
Sehingga “umat Islam digiring bersikap anti” terhadap dzikir, tahlil, maulid, ziarah kubur, tawassul, tasawuf, ber-mahzab dan banyak hal yang Wahabi lakukan untuk menjauhkan umat Islam beribadah kepada ALLAH.
Sejarah kelahiran perkumpulan rahasia [secret societies] yang melambangkan dirinya dengan “Mata satu” bermula sejak awal zaman pemerintahan raja-raja Mesir purba [Firaun] yang berkuasa sejak ribuan tahun lalu. Ini bermula dengan sejarah pemerintahan Firaun Horus atau yang lebih dikenal dalam catatan hieroglif Mesir purba sebagai Tuhan Matahari atau Sun God. Adam Weishaupt membentuk sebuah ”Secret Society” yang disebut Ordo Illuminati pada tanggal 1 Mei 1776. Seorang keturunan Yahudi dan berlatar belakang pendidikan sebagai Jesuit. Weishaupt adalah Guru Besar Hukum Canon di Universitas Ingolstadt di Bavaria, bagian dari Jerman. Illuminati berusaha untuk membentuk New World Order [Tatanan Dunia Baru]
.
Adam Weishaupt hanyalah kelanjutan tangan ordo Kabala putih, yaitu salah satu ordo Kabala [ordo rahasia Yahudi tertua yang telah berusia lebih kurang 4.000 tahun] yang lebih menekankan misi politik, di samping mengembangkan ajaran Kabala dalam menyembah Lucifer
.
Mereka merumuskan, misi Kabala adalah menentukan arah peradaban manusia guna membentuk “Tatanan Dunia Baru” [Novus Ordo Seclorum] dan “Pemerintahan Satu Dunia” [E Pluribus Unum] di bawah kepemimpinan kaum Yahudi. Adam Weishaupt inilah perumus The Protocols of the Elders of Zion [protokol tokoh-tokoh zionisme] yang berisi agenda besar dengan tujuan utama untuk penguasaan dunia oleh kaum Zionis. Mengapa mereka selalu menampakkan simbol mata satu, meskipun disamarkan
.
Karena simbol ini secara gaib [magis] mereka percayai sebagai suatu “kekuatan supranatural” yang memberikan proteksi [perlindungan].­ Melalui simbol ini juga merupakan identitas dan pesan akan cita-cita NEW WORLD ORDER.
.
Tidak ada sesuatu tercipta dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakan. Tidak juga sebuah simbol mata satu diciptakan sekedar coretan belaka, melainkan bermakna dan bertujuan. Lalu mengapa tujuan mereka disembunyikan terselubung simbol. Karena api laksana air dan air laksana api.
.
Jika manusia mau berpikir, merenung, dan merasa dengan segenap hati, tentu dapat memahami pesan tersembunyi yang mereka sampaikan.

SENYUMAN UNTUK RODJA TV YANG ANTi SYiAH

Bid’ahnya Rodja TV

Kepedulian akan bahaya kesesatan wahabi terus bergulir. Tuntutlah ilmunya, cari tahu bagaimana sesungguhnya wahabi dan Zionis melakukan persekongkolan jahat untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin. Ketika itu terjadi alangkah sadisnya mereka itu !
.
TV RODJA, BID`AH-NYA KAUM WAHHABI

buku “Zionis & Syiah bersatu hantam Islam”, fitnah murahan wahabi yang merupakan loyalis zionis dan antek antek USA

Hadirilah bedah buku "Zionis & Syiah bersatu hantam Islam", Selamatkan diri dan keluarga dari Syiah dan Zionis
Melihat TV adalah tergolong amalan bid`ah,dalam pengertian karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW dan para salaf.Namun, kali ini kaum Wahhabi yang selalu mempromosikan diri sebagai kelompok anti bid`ah, justru terjebak oleh perbuatan bid`ah menurut definisi mereka sendiri, karena banyaknya keterlibatan tokoh-tokoh Wahhabi Indonesia dalam memunculkan amalan bid`ah dengan mengudaranya TV Rodja
.
Acara-acara yang ditayangkan oleh TV Rodja, memang tampaknya menyerupai pengajian dan majelis ta`lim mencari ilmu agama, namun hakikatnya jika diteliti, adalah upaya kaum Wahhabi dalam menyesatkan aqidah umat Islam Indonesia
.
Bagaimana tidak, warga mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut Ahlussunnah wal Jamaah bermadzhab Syafi`i, sedangkan isi acara yang ditayangkan TV Rodja adalah murni ajaran Wahhabi penganut Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi
.
Padahal, kauml Wahhabi itu termasuk sektesesat Mujassimah. Coba tengok salah satu keyakinan tokoh Wahhabi, yaitu Addarimi Alwahhabi (ini bukan nama Imam Addarimi ulama Sunni Ahli hadits)
.
Addarimi Alwahhabi menulis buku tentang sifat Allah dengan menyebutkan:
ALLAH TURUN DARI ARSY MENUJU KE KURSI-NYA.
(kitab Annaqdl, halaman 73, terbitan Darul Kutub Al-ilmiyah yang dita`liq oleh Muhammad Hamid Alfaqiy). Pernyataan Addarimi Alwahhabi ini jelas-jelas menisbatkan kepemilikan jasmani yang dilakukan oleh pentolan Wahhabi terhadap Dzat Allah.
.
Addarimi Alwahhabi menggambarkan, bahwa Arys-nya Allah itu berada di satu tempat, sedangkan kursi-nya Allah itu berada di tempat yang letaknya lebih rendah daripada Arsy. Lantas Allah yang di dalam firman-Nya menyatakan Arrahmaanu `alal `arsyis tawaa, diterjemahkan oleh kaum Wahhabi sbb: Allah itu duduk di atas Asry
.
Kemudian digambarkan oleh Addarimi Alwahhabi, bahwa terkadang Allah itu turun dari Arsy-Nya menuju Kursi-Nya yang berada dilangit lebih rendah. Karena sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan langit itu berlapis hingga tujuh tingkat.Inti dari ajaran Aqidah Wahhabi adalah, mereka meyakini bahwa Allah versi Wahhabi itu memiliki bentuk tubuh, dan saatini Allah sedang berada di langit. TerkadangAllah duduk-duduk di-Arsy-Nya, namun tak jarang Allah ingin jalan-jalan turun menuju ke langit yang tingkatnya lebih rendah, karena Allah akan menikmati suasana istirahat duduk-duduk di kursi-Nya
.
Lantas apa bedanya aqidah Wahhabiyah ini dengan keyakinan para penyembah berhala-berhala. Tuhan-tuhan berhala itu sengaja dibuat oleh tangan mereka dalam bentuk patung yang memiliki bentuk jasmani. Mereka berasumsi bahwa dengan tampaknya bentuk tuhan di depan mata, maka lebih memudahkan mereka untuk menyembah dan mengingtnya, lantaran sudah ketemu bentuk tubuh tuhannya itu
.
Demikianlah gambaran aqidah asli pengelola TV Rodja yang diperkenalkan kaum Wahhabi untuk diikuti oleh kaum awam, dengan tujuan agar kaum awam dapat mengenal tuhan-nya kaum Wahhabi yang mempunyai bentuk tubuh seperti berhala
.
Hal yang tak kalah penting untuk diwaspadai oleh umat Islam juga, adalah TV INSAN, SUNNAH TV, AHSAN TV, TV WESAL, serta tayangan Trans 7 yang ikut-ikutan menyiarkan dakwah sesat ala Wahhabiyah ini lewat tayangan KHAZANAH, maka hendaklah umat Islam membaikot TV Trans 7 dengan tidak menontonnya
.

Saat Barat dan wahabi setan nejed berjualan “Syiah”

- wahabi terus menghantam Syiah dengan target dana Arab Saudi terus mengalir kekantong mereka, karena serakah maka pengikut wahabi cuma disuruh jualan madu dan buku ! Ustad wahabi kaya tapi pengikut tertipu.

- Wahabi jualan kecap dengan menuduh Syiah dan NU sesat. Batilnya wahabi disatu sisi bermuka manis didepan kaum NU seolah olah mereka pembela Islam, padahal dibelakang mereka mewahabinisasi NU

- Barat yang anti Iran terus mempropagandakan bahwa syiah sesat. Padahal Barat sangat senang mendukung ide wahabinisasi dikalangan NU.

rodja tv

RADIO RODJA

Radio RODJA Menebar Cahaya Fulus?

Ada sesuatu yang menarik dan mengagetkan ketika saya membuka sebuah situs Salafy bernama www.isnad.net. Bagi anda yang merupakan pengikut aliran Salafy tentu sudah mengenalnya dan sering membaca situs ini, bukan?

.
Sekarang coba anda buka halaman di situs tersebut http://isnad.net/fatwa-syaikh-fauzan-tentang-tv-televisi lalu geser turun sampai ke bawah, maka anda akan melihat sebuah gambar seperti ini:
Radio Rodja Menebar Cahaya Fulus. Logo telah berubah menjadi (maaf) celana dalam
.
Bagaimana tanggapan anda? menarik bukan? :)
rodja tv
Menguak Kesamaan Aqidah Salafi Wahabi dengan Yahudi

.
Anda jangan terperanjat jika kami katakan akidah Salafi Wahabi itu sangat mirip dengan akidah Yahudi dan Nasrani. Benarkah demikian? Mari kita buktikan bersama!
.
Akidah tajsim dan tasybih telah menggelincirkan Salafi Wahabi hingga pada suatu keyakinan bahwa Allah seperti sosok seorang pemuda , berambut ikal , bergelombang dan mengenakan baju berwarna merah. Klaim ini dikatakan oleh Ibnu Abu Ya’la dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah. Abu Ya’la mendasarkan pernyataan itu kepada hadits berikut :
عن عكرمة اَن الرسول صلى الله عليه وسلّم قال: راَيت ربي عزّ وجلّ شَابا امرد جعد قطط عليه حلة حمراء
.
“Dari Ikrimah: bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melihat Tuhanku SWT berupa seorang pemuda berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah.” (Ibnu Abu Ya’la: Thabaqat al-Hanabilah, jilid 2, halaman 39)
.
Sungguh keji pengaruh riwayat palsu di atas. Riwayat-riwayat palsu produk pikiran Yahudi itu kini berhasil membodohi akal pikiran para pengikut Salafi Wahabi, sehingga mereka menerima keyakinan seperti itu. Tidak diragukan lagi, hadits semacam ini adalah kisah-kisah Israiliyat yang bersumber dari orang-orang Bani Israil.
.
Salafi Wahabi memperjelas hadits di atas dengan hadits lain yang bercerita tentang Allah duduk di atas kursi emas, beralaskan permadani yang juga terbuat dari emas, dalam sebuah taman hijau. Singgasana (Arsy) Allah dipikul oleh empat malaikat dalam rupa yang berbeda-beda, yaitu seorang lelaki, singa, banteng dan burung elang. Keyakinan aneh semacam ini dipaparkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rab.

Siapakah Ibnu Khuzaimah? Dia adalah salah seorang ulama ahli hadits yang banyak dipakai oleh Salafi Wahabi untuk dijadikan referensi. Namun setelah semakin matang dalam pengembaraan intelektualnya, Ibnu Khuzaimah menyesali diri telah menulis kitab tersebut, seperti dikisahkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat hal. 267
.
Walaupun begitu, soko guru Salafi Wahabi, yaitu Ibnu Taimiyah tetap mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah adalah ”Imamnya Para Imam” karena menurutnya telah banyak meriwayatkan hadits-hadits ’shahih’ tetang hakikah Dzat Tuhan (padahal yang sebenarnya hadits-hadits itu kenal dengan nuansa tasybih dan hikayat Israiliyat). Oleh karena itu, ketika mengomentari sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyah berkata :
”Hadits ini telah diriwayatkah oleh ’Imamnya Para Imam’ yaitu Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid yang telah ia syaratkan untuk tidak berhujjah di dalamnya melainkan dengan hadits-hadits yang dinukil oleh perawi adil dari perawi adil lainnya, sehingga bersambung kepada Nabi SAW”  (Ibnu Taimiyah: Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, Jilid 3, hal. 192)
.
Maka tak heran jika Ibnu Taimiyah pun berkeyakinan sama buruknya, seperti dalam Majmu’ Fatawa j. 4, h. 374,  Ibn Taimiyah berkata “Para ulama yang diridlai oleh Allah dan para wali-Nya telah menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya”.
.
Awalnya Ibnu Khuzaimah sangat meyakini bahwa seluruh hadits yang ia muat di dalam kitabnya adalah shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab menurut pengakuannya ia telah meriwayatkanya dengan sanad bersambung melalui para periwayat yang adil dan terpercaya. Demikian sebagaimana ia tegaskan di awal kitab tersebut dan juga tertulis di cover depan kitab at-Tauhid tersebut.
.
Gambar dibawah ini adalah scan teks tentang keyakinan tasybih dari Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983, halaman 198.

Untuk lebih jelasnya kami tuliskan ulang hadits Israiliyat yang sudah menjadi bagian dari keyakinan kaum Salafi Wahabi itu sebagai berikut :
عن عبد الله عمر بن الخطاب بعث الى عبد الله بن العبّاس يساله: هل راى محمّد صلى الله عليه وسلم ربّه؟ فارسل اِليه عبد الله بن العبّاس: ان نعم. فردّ عليه عبدالله بن عمر رسوله: ان كيف راه؟ قال: فارسل انّه راه في روضة خضراء دونه فِراش من ذهب على كرسي من ذهب يحمله اربعة من الملاىكة، ملك في صورة رجل، و ملك في صورة ثور وملك في صورة نسر، وملك في صورة اسد
….. Abdullah ibnu Umar ibnu al-Khaththab mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Abbas menanyainya, ”Apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?” Maka Abdullah ibnu Abbas mengutus seseorang kepadanya untuk menjawab, ”Ya, benar. Ia melihatnya.” Abdullah ibnu Umar meminta pesuruhnya kembali kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya, ”Bagaimana ia melihat-Nya?”.  Ibnu Abbas menjawab melalui utusannya itu, ’Da melihat-Nya berada di sebuah taman hijau, dibawah-Nya terdapat hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat; malaikat berupa seorang laki-laki, malaikat berupa banteng, malaikat berupa burung elang, dan malaikat berupa singa.”
(Ibnu Khuzaimah: Kitab at-Tauhid, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983 M, hal. 198)
.
Pembaca yang budiman, Ketika kami menggabungkan hadits Abu Ya’la yang telah lalu dan hadits Ibnu Khuzaimah ini (dimana keduanya telah menjadi dogma Salafi Wahabi), kami sungguh sangat terperanjat!. Kami menjumpai adanya kesamaan antara dogma Salafi Wahabi itu dengan dogma Nashrani, dalam hal ini gambar Tuhan milik mereka. Sebuah gambar yang mengilustrasikan tentang hakikat Tuhan mereka, Yesus Kristus.
.
Lukisan itu sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Salafi Wahabi, yaitu: seorang pemuda , berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah, sedang duduk di atas kursi emas di taman hijau dibawah-Nya hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat berupa seorang laki-laki, banteng (sapi hutan), burung elang, dan singa.
.
Dibawah ini gambaran milik umat Kristiani tentang Yesus Kristus, silahkan Anda bandingkan dengan hadits Ya’la dan Ibnu Khuzaimah yang direkomendasikan oleh Salafi Wahabi untuk diyakini oleh setiap pengikutnya:

Perhatikanlah gambar milik kaum Nashrani di atas, tidak ada bedanya sama sekali dengan apa yang diajarkan oleh Salafi Wahabi tentang jati diri Tuhan. Apakah ajaran Salafi Wahabi tadi (yang mereka klaim berasal dari hadits shahih) adalah hasil copy paste dari ajaran orang-orang Yahudi dan Nashrani ini? Kenapa ini bisa terjadi? Karena akidah Salafi Wahabi berasal dari hadits-hadits palsu Israiliyat, yakni karangan orang-orang Bani Israil yang telah Allah sesatkan

.

Oleh karenanya, sudah selayaknya kita meragukan dogma tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi, sebag tajsim dan tasybih itu sangat diwanti-wanti dan dilarang dalam Islam. Terkadang, kaum Salafi Wahabi masih saja mengelak dan memutar kata dari tuduhan tajsim ini. Namun, jika yang demikian bukan tajsim, lalu yang bagaimana lagi yang dinamakan tajsim? Berhati-hatilah wahai umat Islam dari mengikuti faham mereka ini agar kita tidak terperosok dalam kemusyrikan dan kekafiran

.

Namun sayangnya, semakin mereka dikritik, maka akan semakin keras menentang (mungkin karena memang seperti itulah watak asli mereka). Mereka merasa paling benar. Nyata-nyata mereka yang keliru, tetapi malah mereka yang bersikap lebih keras kepada umat Islam yang coba meluruskan, lalu menudingkan tuduhan kafir. Dalam buku mereka, Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad dinyatakan:
من فسّر اِستوى باستولى فهو كافر
”Barang siapa yang menafsirkan kata istawa dengan istawla (menguasai), maka dia kafir.”

.

Dari pemaparan ringkas di atas, Anda dapat mengerti bagaimana kualitas akal pikiran sebagian ulama Mujassimah yang menjadi rujukan Salafi Wahabi. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu al-Jauzi mensifati mereka sebagai para ahli hadits dungu. Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan kaum yang sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi yang dipikul oleh empat malaikat dalam rupa berbeda-beda, sesekali meyakini bahwa Allah SWT bersemayam di atas Arasy-Nya yang ditegakkan di atas punggung delapan ekor banteng yang mengapung di atas air di sebuah rumah di atas langit ketujuh, dan sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk berselonjor sambil meletakkan salah satu kaki-Nyadi atas kaki-Nya yang lain? Itu semua adalah hadits-hadits palsu buatan Bani Israil yang dikenal riwayat-riwayat Israiliyat. Masihkah Salafi Wahabi tidak menyadarinya, melainkan malah menganggap dirinya yang paling benar?.

.
La haula wa la quwwata ill billah. Semoga Allah mengilhamkan kepada kita kemurnian akidah dan kesucian keyakinan tentang sifat-sifat-Nya yang Maha Suci serta kematangan logika
.

Stop, mulai sekarang dan seterusnya, hendaklah umat Islam tidak menonton TV Rodja, TV Insan, TV Wesal, SUNNAH TV, AHSAN TV, dan Trans 7 … !!

Jika itu anda lakukan maka wahabi akan mati angin !