Sunnah-sunnah Nabi pun banyak yang diubah-ubah melalui hadits-hadits yang rekayasa dan buatan

Sekjen Majma Jahani Ahlul Bait as:
 Kedengkian terhadap Ahlul Bait Masih Berlangsung Sampai Kini
“Beberapa khalifah, selepas wafatnya Nabi Saw telah melakukan pelarangan penulisan dan penukilan hadits. Tidak bisa dipungkiri, pelarangan tersebut adalah upaya pencegahan tersebarnya hadits-hadits yang menceritakan mengenai keutamaan Ahlul Bait, sehingga yang terjadi, hadits-hadits mengenai keutamaan Ahlul Bait sangat sedikit yang kita dapatkan, tergantikan oleh banyaknya hadits-hadits palsu dan rekayasa.”
 
 Kedengkian terhadap Ahlul Bait Masih Berlangsung Sampai Kini

 memperingati hari kesyahidan Imam Ja’far Shadiq as, Majma Jahani Ahlul Bait mengadakan majelis duka di kantor secretariat  Majma di Teheran Republik Islam Iran, ahad (1/9). Sekretaris Jenderal Majma Jahani Ahlul Bait as Hujjatul Islam Dr. Akhtari dalam ceramahnya pada acara tersebut menyatakan bahwa kesyahidan Imam Ja’far Shadiq as adalah salah satu kesedihan terbesar bagi pengikut Ahlul Bait,

“Dengan memperhatikan posisi dan kedudukan Imam Ja’far Shadiq as yang istimewa dalam mazhab Syiah, maka sudah seharusnya sebagai Syiah Ahlul Bait, kita memberikan perhatian yang khusus pula akan hari peringatan syahadah beliau, sebagaimana ketika memperingati kesyahidan penghulu para syuhada, Imam Husain as.”

Hujjatul Islam wa Muslimin Muhammad Hasan Akhtari berkenaan dengan kondisi sosial dan politik yang dihadapi Imam ke enam Syiah tersebut, mengatakan, “Bani Abbas hendak menjauhkan masyarakat dari Ahlul Bait, padahal naiknya mereka kepuncak kekuasaan dengan mengatasnamakan Ahlul Bait yang mereka katakan hendak dikembalikan haknya yang telah terampas dari Bani Umayyah. Namun setelah mereka mendapat kekuasaan itu, tidak ubahnya perlakuan Bani Ummayyah, pengikut Ahlul Bait pun tetap mereka siksa dan mendapat perlakuan yang zalim.”

Dalam lanjutan ceramahnya, Dr. Hasan Akhtari mengatakan, “Beberapa khalifah, selepas wafatnya Nabi Saw telah melakukan pelarangan penulisan dan penukilan hadits. Tidak bisa dipungkiri, pelarangan tersebut adalah upaya pencegahan tersebarnya hadits-hadits yang menceritakan mengenai keutamaan Ahlul Bait, sehingga yang terjadi, hadits-hadits mengenai keutamaan Ahlul Bait sangat sedikit yang kita dapatkan, tergantikan oleh banyaknya hadits-hadits palsu dan rekayasa.”

“Yang terjadi kemudianpun adalah jauhnya umat Islam dari pemikiran ma’arif Islam dari keluarga Nabi Saw. Yang lebih banyak tersebar pada masyarakat muslim adalah hadits-hadits yang rekayasa dan buatan, hatta pada masalah aqidah sekalipun. Hadits-hadits palsu itulah yang membuat umat Islam terpecah-pecah dalam banyak firqah, sampai ada yang mengatakan bahwa Allah memiliki bentuk dan bagian-bagian tubuh sebagaimana materi pada umumnya.” Tambahnya.

“Sunnah-sunnah Nabi pun banyak yang terabaikan bahkan diubah-ubah. Sampai diriwayatkan, Ummu Humaidah, istri Imam Ja’far Shadiq as yang sementara dalam keadaan tawaf di sisi Ka’bah tampak kelihatan asing bagi masyarakat muslim yang melihatnya. Siapapun yang melihat caranya tawafnya menegurnya, bahwa cara tawafnya keliru. Ummu Humaidah menjawab, “Kami tidak membutuhkan ilmu kalian. Tunjukkan pada saya, siapa dari kalian yang memiliki keutamaan, keilmuan dan pengenalannya terhadap Islam, Al Qur’an dan Sunnah melebihi suami saya.” Dan memang benar, imam-imam mazhab dalam Ahlus Sunnah baik langsung ataupun tidak langsung menimba ilmu dari Imam Ja’far, keturunan Nabi Saw.”

“Bahkan musuh Imam Ja’far as sekalipun yang menjadi penyebab kesyahidannya mengakui keilmuan dan keutamaan imam Ja’far. Hal itulah yang semakin menambah kedengkian para musuhnya, sehingga tidak ada cara lain lagi selain membunuhnya. Dan kebencian terhadap Ahlul Bait masih berlangsung sampai saat ini.” Lanjutnya lagi.

Mengangkiri ceramahnya, sekjen Majma Jahani Ahlul Bait as tersebut menukil salah satu riwayat dari imam Ja’far Shadiq as bahwa diantara syarat untuk menjadi pribadi yang dicintai adalah, baik dalam berinteraksi, baik dalam mendengar dan baik dalam menjawab

Default Imam Madzhab Sunni Saja Dianiaya Oleh Khalifah Abbasiyyah, apalagi imam Syi’ah

Bismillah

Ketika Imam Syafie di Yaman, beliau diangkat menjadi Penasihat dan penulis istimewa Gubernur di Yaman, sekaligus menjadi guru besar di sana. Karena beliau termasuk orang pendatang, secara tiba-tiba memangku jabatan yang tinggi, maka banyak orang yang memfitnah beliau.

Ahli sejarah telah menceritakan bahawa waktu sultan Harun Ar-Rasyid sedang marah terhadap kaum Syiah, sebab golongan tersebut berusaha untuk meruntuhkan kekuasaan Abbasiyah, mereka berhasrat mendirikan sebuah kerajaan Alawiyah iaitu keturunan Saidina Ali bin Abi Talib. Karena itu di mana kaum Syiah berada mereka diburu dan dibunuh.

Suatu kali datang surat baginda Sultan dari Baghdad. Dalam surat yang ditujukan kepada Wali negeri itu diberitahukan supaya semua kaum Syiah ditangkap. Untuk pertama kali yang paling penting adalah para pemimpinnya, jika pekerjaan penangkapan telah selesai semua mereka akan dikirimkan ke Baghdad. Semuanya harus dibelenggu dan dirantai. Imam Syafie juga ditangkap, sebab di dalam surat tersebut bahwa Imam Syafie termasuk dalam urutan para pemimpin Syiah.

Ketika peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, Imam Syafie dibawa ke Baghdad dengan dirantai kedua belah tangannya. Dalam keadaan dibelenggu itu para tahanan disuruh berjalan kaki mulai dari Arab Selatan (Yaman) sampai ke Arab Utara (Baghdad), yang menempuh perjalanan selama dua bulan. Sampai di Baghdad belenggu belum dibuka, yang menyebabkan darah-darah hitam melekat pada rantai-rantai yang mengikat tangan mereka.

Pada suatu malam pengadilan pun dimulai. Para tahanan satu persatu masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Setelah mereka ditanya dengan beberapa kalimat, mereka dibunuh dengan memenggal leher tahanan tersebut. Supaya darah yang keluar dari leher yang dipotong itu tidak berserak ia dialas dengan kulit binatang yang diberi nama dengan natha’.

Imam Syafie dalam keadaan tenang menunggu giliran, dengan memohon keadilan kepada Allah SWT. Kemudian beliau dipanggil ke hadapan baginda Sultan. Imam Syafie menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT. Dengan keadaan merangkak karena kedua belah kaki beliau diikat dengan rantai, Imam Syafie mengadap Sultan. Semua para pembesar memperhatikan beliau.

“Assalamualaika, ya Amirul Mukminin wabarakatuh.”
Demikian ucapan salam beliau kepada baginda dengan tidak disempurnakan iaitu “Warahmatullah.”

“Wa alaikassalam warahmatullah wabarakatuh.” Jawab baginda. Kemudian baginda bertanya: “Mengapa engkau mengucap salam dengan ucapan yang tidak diperintahkan oleh sunnah, dan mengapa engkau berani berkata-kata dalam majlis ini sebelum mendapat izin dari saya?”

Imam Syafie menjawab: “Tidak saya ucapkan kata “Warahmatullah” karena rahmat Allah itu terletak dalam hati baginda sendiri.” Mendengar kata-kata itu hati baginda jadi lembut. Kemudian Imam Syafie membaca surah An-Nur ayat 55 yang bermaksud:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”

Setelah membaca ayat di atas kemudian Imam Syafie berkata: “Demikianlah Allah telah menepati janjiNya, kerana sekarang baginda telah menjadi khalifah, jawapan salam baginda tadi membuat hati saya menjadi aman.” Hati baginda menjadi bertambah lembut. Baginda Harun ar Rashid bertanya kembali: “Kenapa engkau menyebarkan faham Syiah, dan apa alasanmu untuk menolak tuduhan atas dirimu.”

“Saya tidak dapat menjawab pertanyaan baginda dengan baik bila saya masih dirantai begini, jika belenggu ini dibuka Insya-Allah saya akan menjawab dengan sempurna. Lalu baginda memerintahkan kepada pengawal untuk membukakan belenggu yang mengikat lmam Syafie itu.

Setelah rantai yang membelenggu kedua kaki dan tangannya itu dibuka, maka Imam Syafie duduk dengan baik kemudian membaca surah Hujarat ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

“Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya berita yang sampai kepada baginda itu adalah dusta belaka. Sesungguhnya saya ini menjaga kehormatan Islam. Dan bagindalah yang berhak memegang adab kitab Allah karena baginda adalah putera bapa saudara Rasulullah SAW yaitu Abbas. Kita sama-sama menghormati keluarga Rasulullah. Maka kalau saya dituduh Syiah karena saya sayang dan cinta kepada Rasulullah dan keluarganya, maka demi Allah, biarlah umat Islam sedunia ini menyaksikan bahawa saya adalah Syiah. Dan tuan-tuan sendiri tentunya sayang dan cinta kepada keluarga Rasulullah.” Demikian jawab Imam Syafie.

Baginda Harun ar Rasyid pun menekurkan kepalanya kemudian ia berkata kepada Imam Syafie: “Mulai hari ini bergembiralah engkau agar lenyaplah perselisihan antara kami dengan kamu, kerana kami harus memelihara dan menghormati pengetahuanmu wahai Imam Syafie.”

Demikianlah kehidupan Imam Syafie sebagai ulama besar, yang tidak lepas dari berbagai cubaan serta seksaan dari pihak yang tak mengerti akan hakikat kebenaran yang sesungguhnya.

Hanya ketabahan dan keimanan serta pengetahuanlah yang dapat menghadapi setiap cubaan itu sebagai suatu ujian dari Allah SWT yang harus kita hadapi.

Apa sebabnya Imam Abu Hanifah dipenjara?
Apa sebabnya Imam Malik dipukuli sampai cacat tangannya?
Apa sebabnya Imam Syafii diseret ke hadapan majelis khalifah?
Apa sebabnya Imam Ahmad dipenjara? Apa sebabnya Imam Sufyan Ats Tsawri harus lari bersembunyi dari penguasa sampai akhir hayatnya?

Dapatkan jawabannya di buku “EVOLUSI FIQIH”.
Bagaimana madzhab fiqih yang semula hanya satu, berkembang menjadi banyak, dan akhirnya tinggal “empat besar” madzhab?
Dr. Abu Ameenah Bilal Philips menjelaskan topik besar perkembangan madzhab-madzhab fiqih ini dengan cukup ringkas, padat, dan insya Alloh relatif mudah dipahami. Edisi asli berbahasa Inggris buku ini cukup laris beredar di pasar internasional. Para pembacanya berinisiatif menerjemahkannya ke dalam bahasa Urdu, Tamil, Turki, Ukraina, dan Indonesia.

Keterangan lebih lanjut hubungi: maryoto0@lycos.com (JAPRI).

Judul buku: Evolusi Fiqih
Judul asli: The Evolution of Fiqh (Islamic Law The Madh-habs)
Pengarang: Dr. Abu Ameenah Bilal Philips
Pengantar: Dr. Miftah Faridl Daud Rasyid, MA, PhD
Tebal buku: 168 halaman
Tahun terbit: Cetakan 1, 2007
Penerbit: PT Anjana Pustaka

Dr. ABU AMEENAH BILAL PHILIPS dilahirkan di Jamaika, West Indies, dan besar di Kanada, di mana ia masuk Islam pada tahun 1972. Ia menyelesaikan BA dari Fakultas Ilmu-ilmu Keislaman (Ushuul ad-Diin) di Universitas Islam Madinah pada tahun 1979, dan MA dalam Teologi Islam di Fakultas Pendidikan, Universitas Riyadh pada tahun 1985. Pada tahun 1994 ia menyelesaikan studi PhD dalam Teologi Islam di Departemen Studi Islam, University of Wales.

Sejak tahun 1994 hingga tahun 2001, Dr. Bilal mendirikan dan memimpin Islamic Information Center (yang sekarang dikenal sebagai lembaga Discover Islam) di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) dan Departemen Sastra Asing pada Dar al-Fatah Islamic Press di Sharjah, UEA. Pada tahun 2001, Dr. Bilal mendirikan Islamic Online University, yang merupakan universitas Islam di internet pertama yang terakreditasi (www.islamiconlineuniversity.com).

Ia pernah pula menjadi Profesor Studi Islam dan Arab di American University di Dubai, dan Universitas Ajman; serta menjadi pendiri dan Dekan pada Departemen Studi Islam pada Preston University Ajman (www.islamicstudiespu.com).

Imam Al-Syafi’i Difitnah


Setelah Imam Malik meninggal dunia pada tahun 179 H, maka Imam al-Syafi’i pulang ke Makkah . Nama Imam al-Syafi’i demikian harumnya sehingga menarik perhatian seorang penguasa Yaman yang bersetuju melantik Imam al-Syafi’i sebagai wali ataupun pegawai yang bertanggung jawab di daerah Najran. Disitu Imam al-Syafi’i telah menjalankan tugasnya dengan penuh keadilan sehingga menjadi tumpuan orang ramai mengharapkan keadilan.


Sudah tentu sikap benar dan adil itu bukan semua manusia menyukainya, terutama sekali manusia yang suka menindas dan zalim. Maka mereka mecari jalan untuk menyinkirkan Imam al-Syafi’i dari daerah tersebut dengan demikian, segala rencana jahat mereka tidak ada yang menghalanginya.


Oleh itu mereka mencari-cari jalan untuk menjatuhkan Imam al-Syafi’i, lalu Imam al-Syafi’I difitnah dengan aduan palsu kepada khalifah al-Rasyid, dengan menuduh Imam al-Syafi menjadi ketua kepada sembilan Alawi yang hendak menggulingkan kerajaan Abbasiyah.


Imam al-Syafi’i adalah diantara para Imam yang sangat mencintai Ahlul Bait (keluarga terdekat Rasulallah s.a.w.). Banyak sya’ir beliau yang menunjukkkan kecintaan beliau kepada Ahlul Bait, antaranya Imam al-Syafi’i bersyair.


Wahai Ahlul-Bait Rasulallah, mencintai kalian
adalah Kewajiban dari Allah diturunkan dalam al-Quran
cukuplah bukti betapa tinggi martabat kalian
tiada sholat tanpa shalawat bagi kalian.”


Dalam sya’ir lainnya al-Imam Syafi’i menyampaikan kandungan isi hatinya, antara lain al-imam mengatakan:


“Jika sekiranya disebabkan kecintaan kepada keluarga Rasulallah s.a.w. maka aku dituduh Rafidhi (Syi’ah). Maka saksikanlah jin dan manusia, bahwa sesungguhnya aku adalah Rafidhi.”


Kecintaaan Imam al-Syafi’i kepada Ahlul Bait menjadi bahan fitnah bagi manusia dengki, kaki ampu, untuk menjatuhkan imam al-Syafi’i dari kedudukannya. Lalu surat fitnah dikirmkan kepada Harun al-Rasyid yang bunyinya demikian :


” ………Diantara mereka terdapat seorang lelaki bernama Muhammad bin Idris, ia bekerja dengan lidahnya ………Jika tuanku ingin Hijaz kekal di bawah takluk pemerintahan tuanku, mereka itu hendaklah dibawa kepada tuanku.” (Usul al-Fiqh,h.65)


Al-Rayid merasa ketakutan Kerajaannya tumbang, sebab kerajaannya dibina dengan banyak mengorbankan jiwa mereka yang tak bersalah, lalu dia memerintahkan kumpulan sembilan dan al-Syafi’i supaya dibawa menghadapnya di Iraq. Kesemua mereka digari dibawa dengan baghal. Di Iraq, semuanya dibunuh kecuali al-Syafi’i yang mendapat pembelaaan dari Imam Muhammad Syaibani (murid imam Abu Hanifah) pada tahun 184 Hijrah.

  

Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang kemudian terkenal dengan nama Imam asy-Syafi’i adalah pendiri dan pemimpin Mazhab Syafi’i dan Imam ketiga dalam mazhab Ahlusunnah. Nasab beliau sampai kepada Hasyim bin Abdul Muthalib kemenakan dari Hasyim bin ‘Abdu Manaf yang dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin Saib yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw.

Kebanyakan ahli sejarah mencatat bahwa Imam Syafi’i dilahirkan di kota Gaza, Palestina, namun ada juga yang berpendapat bahwa beliau lahir di Asqalan. Ada juga yang mengatakan Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H di Yaman dimana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Ahlusunnah yang bernama Imam Abu Hanifah.

Sejak kecil Syafi’i telah kehilangan ayahnya. Kala itu beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan serba kekurangan. Imam Syafi’i mempelajari fikih dan hadis ketika di Mekkah dan untuk beberapa waktu beliau juga belajar syair, sastra bahasa (lughat) dan nahwu di Yaman. Sampai pada suatu waktu atas saran Mus’ab bin Abdullah bin Zubair, beliau pergi ke Madinah untuk menekuni ilmu hadis dan fikih. Diusianya yang relatif muda (sekitar 20 tahunan), beliau telah belajar kepada Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki.

Imam Syafi’i menuturkan masa lalunya seperti ini: Sewaktu saya belajar, guru saya mengajarkan kepada saya tentang Al-Qur’an dan saya pun menghafalnya. Saya ingat waktu itu guru saya pernah berkata: ‘Tidak halal bagi saya sekiranya mengambil imbalan dari kamu.” Dengan alasan tersebut, akhirnya saya meninggalkan guru tersebut. Sejak itu saya mengumpulkan potongan tembikar, kulit dan pelepah kurma yang agak besar sebagai sarana yang saya pakai untuk menuliskan hadis. Akhirnya, saya pergi ke Mekkah. Aku tinggal bersama kabilah Hudail yang terkenal dengan kefasihannya selama 17 tahun. Setiap kali mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, aku pun mengikuti jejak mereka. Saat aku pulang ke Mekkah, aku telah menguasai banyak sekali disiplin ilmu. Waktu itu aku bertemu dengan salah seorang pengikut Zubair lalu salah seorang dari mereka berkata kepadaku: “Sangat berat bagiku melihat Anda yang begitu jenius dan fasih namun Anda tidak mempelajari fikih.” Tak lama setelah itu, mereka membawaku ke tempat Imam Malik.

Saya telah memiliki buku “Al-Muwatho’” Imam Malik dan cuma dalam waktu sembilan hari aku telah mempelajarinya. Kemudian saya pergi ke Madinah untuk belajar dan menghadiri majlis taklim Imam Malik.”

Imam Syafi’i tetap tinggal di kota Madinah sampai saat wafatnya Malik bin Anas. Kemudian beliau pergi ke Yaman dan beliau menghabiskan aktivitasnya di sana. Penguasa Yaman pada waktu itu seorang yang zalim dan bekerja sama dengan pemerintahan Harun ar-Rasyid, Khalifah Abassiyah. Dalam kondisi seperti itu, penguasa menangkap Imam Syafi’i dengan alasan dikhawatirkan beliau akan memberontak bersama Alawiyyin (keturunan Ali bin Abi Thalib) lalu beliau dibawa kepada Harun ar-Rasyid, tetapi Harun ar-Rasyid membebaskannya.

Muhammad bin Idris untuk beberapa waktu pergi ke Mesir dan kemudian pada tahun 195 H beliau mendatangi Bagdad dan mengajar disana. Setelah dua tahun tinggal di Bagdad, beliau kembali ke Mekkah. Tak lama setelah itu, beliau pergi lagi ke kota Bagdad dan dalam waktu yang cukup singkat tinggal di Bagdad. Pada tahun 200 H di penghujung bulan Rajab di usia 54 tahun beliau meninggal dunia di Mesir. Tempat pemakamannya di Bani Abdul Hakam berdekatan dengan makamnya para syuhada dan menjadi tempat ziarah kaum Muslimin, khususnya kalangan Ahlusunnah.

Salah satu murid Imam Syafi’i yang terkenal adalah Ahmad bin Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali.

Karya-karya Imam Syafi’i

Imam Syafi’i memiliki banyak sekali karya berharga, di antaranya adalah:

1. Al-Umm

2. Musnad as-Syafi’i

3. As-Sunnan

4. Kitab Thaharah

5. Kitab Istiqbal Qiblah

6. Kitab Ijab al-jum’ah

7. Sholatul ‘Idain

8. Sholatul Khusuf

9. Manasik al Kabir

10. Kitab Risalah Jadid

11. Kitab Ikhtilaf Hadist

12. Kitab Syahadat

13. Kitab Dhahaya

14. Kitab Kasril Ard

Berhubung pusat pengajaran beliau berada di kota Bagdad dan Kairo, maka melalui dua kota tersebut secara perlahan Mazhab Syafi’i disebarkan oleh murid-muridnya ke negeri-negeri Islam lainnya, seperti Syam, Khurasan dan Mawara’u Nahr. Tetapi pada abad ke-5 dan ke-6 terjadi konflik keras antara para pengikut Syafi’i dan pengikut Hanafi di Bagdad dan juga pengikut Syafi’i dan Hanafi di Isfahan. Begitu juga para pengikut Syafi’i sempat bentrok dengan dengan para pengikut Syiah dan Hanafi pada zaman Yaqut dimana setelah itu mereka menguasai kota Rei.

Mazhab Syafi’i lebih dikenal dengan perpanduan antara ahli qiyas dan ahli hadis. Mazhab Syafi’i sekarang tersebar di Mesir, Afrika Timur, Afrika Selatan, Arab Saudi bagian Barat dan Selatan, Indonesia, sebagian dari Palestina dan sebagian dari Asia Tengah, khususnya kawasan Kurdistan.

Di antara ulama-ulama pengikut Mazhab Syafi’i yang terkenal adalah: Nasai’, Abu Hasan Asy’ari, Abu Ishaq Shirazi, Imamul Haramain, Abu Hamid Ghazali, dan Imam Rafi’i.

kesamaan antara para Nabi Bani Israel dengan Nabi Muhammad SAW dengan imam-imam Syiah ! Syi’ah pedomani Al Quran ayat 59 surat Al-Nisa

Pelita Pemikiran Imam Ja’far As-Shadiq as Tentang Al-Quran
Imam Shadiq as berkata: “Aku mengetahui kitab Allah Swt. Di dalamnya telah disebutkan apa saja mulai dari awal penciptaan hingga kiamat kelak. Di dalamnya ada kabar tentang langit, bumi, sorga, neraka dan kabar tentang masa lalu dan sekarang dan aku mengetahuinya sedemikian rupa seperti melihatnya di telapak tanganku.” (Ushul Al-Kaafi jilid 1, halaman 61, bab 20) 
 Pelita Pemikiran Imam Ja’far As-Shadiq as Tentang Al-Quran

Imam As-Shadiq as dilahirkan pada tanggal 17 Rabiul Awwal tahun 83 Hijriah di kota Madinah. Ayah beliau adalah Imam Muhammad Baqir as. Era Imam As-Shadiq as, merupakan penggalan sejarah Islam yang paling banyak mencatat peristiwa, menyusul transisi kekuasaan dari Bani Umayah menuju Bani Abbas dan dampak-dampaknya. Di sisi lain, era tersebut merupakan era interaksi berbagai pemikiran dan ideologi serta era pertukaran pendapat pemikiran filsafat dan teologi.

Dibandingkan era sebelumnya, umat Muslim di era ini lebih menunjukkan antusias sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Dengan bekal ilmu yang mendalam dan besarnya tekad untuk menghidupkan dan menyebarkan agama Islam,  Imam Ja’far As-Shadiq as membentuk sebuah markas ilmiah besar dan mencetak murid-murid ternama di berbagai bidang.

Selain aktivitas ilmiah, Imam Shadiq as jua memperhatikan masalah pemerintahan dan mengecam para penguasa zalim. Terkait kerjasama dengan orang-orang zalim beliau berkata, “Orang yang memuji penguasa zalim dan merendahkan diri di hadapannya, dengan harapan mendapatkan harta dari penguasa, maka orang seperti ini akan bersama dengan penguasa zalim itu di neraka jahannam.” (Ushul Al-Kaafi jilid 12, hal 133).

Terkait kepemimpin umat (al-wilayah), beliau mengatakan, “Wilayah lebih utama dari shalat, puasa, zakat dan haji, karena wilayah (kepemimpinan) adalah kunci itu semua, penguasa dan pemimpin adalah pembimbing masyarakat menuju itu semua, (Ushul Al-Kaafi jilid 2, hal 242)

Revivalisasi kembali mutiara ajaran Islam oleh Imam As-Shadiq as membuka ufuk-ufuk baru di hadapan umat Islam dan menciptakan gelombang semangat ke arah ilmu pengetahuan dalam dunia Islam.

Salah satu pertanyaan ghalib tentang Al-Quran adalah, apakah Al-Quran mencakup seluruh ilmu pengetahuan umat manusia? Lahiriyah ayat-ayat Al-Quran menunjukkan bahwa kitab langit ini menjelaskan “segala sesuatu.” Allamah Thabathabai, seorang ahli tafsir Al-Quran dalam hal ini menyatakan, “Maksud dari segala sesuatu itu adalah urusan-urusan yang berkaitan dengan hidayah (petunjuk) bagi umat manusia, yakni maarif hakiki yang berkaitan dengan dunia, penciptaan dan kiamat, akhlak mulia, syariat Allah, kisah dan nasehat-nasehat.”

Imam As-Shadiq as berkata, “Allah Swt telah menjelaskan segala sesuatu. Demi Allah, tidak ada yang kurang dalam sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat, sehingga tidak ada orang yang akan berkata hal ini benar dan seharusnya disebutkan dalam Al-Quran. Sesungguhnya dalam Al-Quran telah disebutkan.”

Dinukil dari Imam As-Shadiq as, “Tidak ada satu masalah pun yang diperselisihkan oleh dua orang, kecuali telah ditetapkan sebuah pokok untuk menyelesaikannya dalam Al-Quran, akan tetapi akal manusia tidak menalarnya.” (Ushul Al-Kaafi jilid 1, halaman 60, hadis 6)

Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa segala sesuatu telah dijelaskan dalam Al-Quran, hanya saja semua masalah itu tidak dapat dinalar manusia yang tidak maksum.

Imam Shadiq as berkata: “Aku mengetahui kitab Allah Swt. Di dalamnya telah disebutkan apa saja mulai dari awal penciptaan hingga kiamat kelak. Di dalamnya ada kabar tentang langit, bumi, sorga, neraka dan kabar tentang masa lalu dan sekarang dan aku mengetahuinya sedemikian rupa seperti melihatnya di telapak tanganku.” (Ushul Al-Kaafi jilid 1, halaman 61, bab 20)

Imam Shadiq as ditanya bagaimana mungkin setelah sekian lama tersebar dan dengan berlalunya masa, Al-Quran selalu baru akan tetapi tidak ada yang ditambahkan di dalamnya? Beliau menjawab, “Karena Allah Swt tidak menetapkannya (Al-Quran) untuk masa dan masyarakat tertentu. Sebab itu, Al-Quran hingga hari kiamat selalu baru di setiap masa dan selalu baru bagi sebuah kaum baru.”

Yang dimaksud Imam As-Shadiq as adalah bahwa Allah Swt menurunkan Al-Quran sedemikian rupa sehingga cocok untuk setiap masa dan menjawab seluruh tuntutan umat manusia. Karena Al-Quran dengan penjelasan hukum dan ketentuan universalnya serta kehadiran imam dan berlanjutnya ijtihad, memiliki potensi untuk menjadi sumber proses esktrasi jawaban bagi berbagai permasalahan baru di setiap masa.

Mengenal Al-Quran sebagai kitab Allah Swt yang terlengkap sangat penting dan menjadi keharusan. Dalam hal ini Imam Ja’far As-Shadiq as berkata, “Sebaiknya jangan sampai seorang mukmin meninggal dunia sebelum dia mempelajari Al-Quran atau ketika sedang belajar Al-Quran.”

Yang dimaksud dalam hadis Imam As-Shadiq as tentu bukan membaca atau qiraah saja, melainkan pemahaman kandungan, arti dan perintah dalam Al-Quran serta pada akhirnya mengamalkannya. Karena Imam Shadiq as dalam hadis lain menyinggung orang-orang yang telah benar-benar melaksanakan tugasnya dalam membaca Al-Quran dan berkata, “Mereka membaca ayat-ayat Al-Quran, memahami maknanya, mengamalkan hukum dalam Al-Quran, berharap akan janji-janjinya serta takut akan azab, mencontohkan kisah-kisahnya, mengambil pelajaran dari kisah-kisahnya, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Demi Allah bahwa tilawah Al-Quran bukan hanya menghapal ayat-ayatnya, menjelaskan huruf dan membaca surat-suratnya saja… masyarakat telah menghapal huruf Al-Quran dan membacanya dengan indah akan tetapi melanggar batasan-batasannya, melainkan perenungan ayat-ayat Al-Quran yang di dalamnya Allah Swt berfirman: telah Kami turunkan kitab penuh berkah ini kepadamu agar kau merenunginya.” (Muntakahab Mizan Al-Hikmah halaman 418, hadis 5192)

Seseorang bertanya kepada Imam Shadiq as, “Apa maksud dari ayat 59 surat Al-Nisa bahwa Allah berfirman patuhilah Allah Swt, Rasulullah Saw, dan Ulil Amr? Siapa sebenarnya itu Ulil Amr?” Imam Shadiq as menjawab, “Yang dimaksud Allah Swt adalah hanya kami Ahlul Bait dan Allah mewajibkan kaum mukmin untuk mematuhi kami hingga hari kiamat.’

Beliau juga ditanya, “Mengapa nama Ali as dan Ahlul Bait tidak disebutkan dalam Al-Quran?” Imam Ja’far As-Shadiq as menjawab, “Allah Swt telah memerintahkan shalat dalam Al-Quran, akan tetapi tidak menyebutkan tiga atau empat rakaatnya. Sampai akhirnya Rasulullah Saw  menafsirkannya (dan menjelaskan jumlah rakaat shalat), diturunkan pula ayat tentang zakat, sampai akhirnya Rasulullah menafsirkannya, dan diturunkan pula ayat tentang haji dan tidak disebutkan tujuh kali kalian bertawaf mengelilingi Ka’bah, sampai akhirnya Rasulullah Saw menafsirkannya, dan juga diturunkan ayat:

اطیعوا الله و اطیعوا الرسول و اولی الامر منکم

Tentang Ali, Hasan dan Husein as (akan tetapi nama mereka tidak disebutkan), kemudian Rasulullah Saw bersabda kepada Ali: Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya. Kemudian beliau bersabda: Aku menasehati kalian untuk berpegang teguh pada Al-Quran dan Ahlul Baitku, karena aku telah memohon kepada Allah Swt agar keduanya tidak terpisahkan sampai bertemu denganku di telaga Kautsar (di sorga). Allah pun memberikannya kepadaku. Dan Rasulullah Saw bersabda: jangan kalian mengajari sesuatu kepada Ahlul Baitku, karena mereka lebih tahu dari kalian dan mereka tidak akan menyimpangkan kalian dari jalur hidayah dan tidak akan menjerumuskan kalian.”

Jika Rasulullah Saw diam dan tidak menjelaskan siapa Ahlul Baitnya, niscaya semua orang akan mengaku sebagai Ahlul Bait Rasulullah. Akan tetapi Rasulullah Saw telah menjelaskannya dan Al-Quran membenarkannya, “Sesungguhnya Allah Swt berkehendak membersihkan kalian Ahlul Bait dari keburukan dan menyucikan kalian. (Surat Al-Ahzab ayat 33)

Sebelum pembahasan berakhir, berikut ini satu kisah hikmah yang dinukil oleh seorang lelaki yang bertanya kepada Imam Ja’far As-Shadiq as. Lelaki itu bertanya, “Wahai putra Rasulullah! Kenalkan aku dengan Allah. Apa itu Allah? Orang-orang yang berdiskusi memandangku sinis dan membuatku kebingungan. Imam Shadiq as menyatakan, “Wahai hamba Allah! Pernahkah kau naik kapal? Lelaki itu menjawab: iya. Imam berkata, Bayangkan kapal itu pecah dan tidak ada kapal lain yang akan menolongmu dan kamu tidak bisa menyelamatkan dirimu dengan berenang? Lelaki itu berkata: maka ketika itu aku akan berada di kondisi yang sangat mengerikan. Imam berkata, “Apakah dalam kondisi seperti ini kau merasa ada sesuatu yang kau harapkan dapat menyelematkanmu? Lelaki itu menjawab, tidak diragukan lagi dalam batinku aku ingin terselamatkan. Aku merasa ada kekuatan yang dapat membantuku. Imam Shadiq as berkata, apa yang kau harapkan itu adalah Allah Swt yang mampu menyelamatkan ketika tidak ada penyelamat lain…”

Peran dan Kedudukan Imam Ja

Peran dan Kedudukan Imam Ja’far Shadiq dalam Sejarah Islam
Dalam majelis-majelisnya Imam Ja’far memberikan pencerahan keilmuan kepada masyarakat, sehingga yang hak kembali tampak kebenarannya, dan yang batil jadi tampak kebatilannya. Posisi dan kedudukan Imam Ja’far dalam agama Islam tidak ubahnya posisi Nabi Isa as dalam agama Yahudi. 
 

 apa keutamaan dan keistimewaan Imam Ja’far Shadiq as serta bagaimana peran dan kedudukannya dalam penyebaran dakwah Islam?. Kami akan memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan mengkaitkannya dengan kisah-kisah dalam agama-agama Ibrahimi.

Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah SWT yang menjadi perantara sampainya firman-firman Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an kepada umat manusia. Beliau jugalah yang menjelaskan dan mensyarah ayat-ayat Al-Qur’an agar dapat dipahami dengan mudah oleh umat manusia. Tugas tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 44, و أنْزَلنا إلَيكَ الذِّكرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ ما نُزِّلَ إلَيهم و لَعَلَّهُم يَتَفَكَّرون (نحل/ 44) yang artinya: Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.

Tidak sedikit dari ayat Al-Qur’an yang mengundang berbagai pertanyaan dan butuh pengkajian dan perenungan yang lebih mendalam untuk bisa memahaminya. Hal tersebut merupakan bentuk dari hikmah Ilahi, agar para penguasa dzalim sepeninggal Nabi tidak melakukan perubahan dan tahrif terhadap Al-Qur’an. Misalnya, nama Imam Ali dan hak kekhalifaan dan wilayah beliau dalam Al-Qur’an tidak dijelaskan secara khusus dan detail. Melainkan melalui berbagai ayat yang tidak langsung namun pada hakikatnya merupakan penjelasan dan penetapan Imam Ali sebagai wali kaum muslimin sepeninggal Nabi Saw. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surah al Maidah ayat 55, إنَّما وَلِيُّكُمُ اللهُ و رَسولُهُ و الَّذين آمنوا الَّذين يُقيمونَ الصَّلاةَ و يُؤْتونَ الزَّكاةَ و هُم راكِعون (مائده/ 55) yang artinya,Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam keadaan rukuk.

Allah SWT dalam ayat tersebut menyebutkan wali umat Islam ada tiga, yaitu, Allah SWT, Rasulullah Saw dan yang disaat rukuknya sedang bersedekah. Ketika Nabi Saw menyampaikan ayat tersebut dihadapan kaum muslimin, sebagian dari mereka bertanya siapa yang dimaksud Allah, yang bersedekah dalam keadaan rukuk itu? Nabi bersabda, “Masuklah ke dalam masjid, dan tanyakan pada orang-orang didalamnya. Mereka semua menyaksikan seorang fakir yang diminta Ali untuk mendekat dan mengambil cincin dari jarinya sementara Ali masih dalam keadaan rukuk dalam shalatnya.” Karenanya umat Islam saat itu mengetahui bahwa misdaq dari ayat tersebut adalah Imam Ali as.

Pada ayat tersebut Allah tidak menyebut nama Ali as secara langsung, melainkan menggunakan salah satu dari ciri dan keutamaannya, yaitu barangsiapa yang dalam rukuknya pada saat shalat juga sembari bersedekah adalah wali umat Islam. Pada hakikatnya hal tersebut tidak terbatas pada satu orang atau satu zaman tertentu. Namun karena kejadiannya sepanjang sejarah hanya sekali terjadi dan yang melakukannya hanya Imam Ali as, maka hal tersebut menunjukkan bahwa wali kaum muslimin selepas Rasul adalah Imam Ali as.

Sewaktu sebagian kaum muslimin menuliskan mengenai ayat tersebut, mereka juga menuliskan asbabun nuzul ayat tersebut disertai dengan hadits Nabi yang berkaitan dengannya. Disaat-saat terakhir Nabi menjelang wafatnya, beliau meminta kertas dan pena untuk menuliskan wasiat kepada kaum muslimin agar dengan wasiat tersebut kaum muslimin tidak bercerai berai dan berpecah belah sepeninggalnya. Sayangnya, permintaan Nabi tersebut tidak dikabulkan, dengan dalih, “Cukuplah Kitab Allah bagi kami!.” Peristiwa tersebut diceritakan dalam kitab Sahih  Bukhari dan Muslim. Upaya lainnya adalah melakukan pelarangan penulisan dan penukilan hadits Nabi dengan alasan khawatir bercampur dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga sahabat-sahabat yang terlanjur menulis dalam mushaf-mushaf mereka hadits-hadits nabi yang berkaitan dengan turunnya suatu ayat terpaksa menghapusnya dan tidak tersisa kecuali sedikit.

Muawiyah yang  baru masuk Islam setelah Fathul Makahpun mendapat keistimewaan dengan diangkat menjadi hakim di Syam oleh Khalifah kedua. Kedengkian Muawiyah kepada keluarga Nabi tidak berakhir dengan masuknya dia dalam Islam. Meskipun tahu sejarah awal Islam, tentu Muawiyah tidak akan mau menceritakan sebagaimana mestinya mengingat Muawiyah bersama ayah dan ibunya sebelumnya adalah orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap Nabi. Oleh karena itu wajar jika Muawiyah sebagai yang paling berkuasa di negeri Syam memberikan penjelasan yang berbeda mengenai Islam kepada warga Syam yang baru memeluk Islam, khususnya mengenai imam Ali dan keluarganya. Oleh karena itu ketika orang-orang Syam bertemu dengan Imam Syiah baik di Madinah maupun Makah, maka mereka memandang Imam dengan pandangan yang menghina dan merendahkan. 

Memanfaatkan pengaruh dan kekuasaannya di negeri Syam, Muawiyah mengubah-ubah ajaran Islam. Sedikit demi sedikit ajaran-ajaran Nabi tersingkirkan dan tergantikan ajaran yang dibuat-buat yang berdasar pada hadits-hadits palsu, sampai pada tingkat, pemabuk seperti Yazidpun diakui sebagai pewaris hukumah Islam. Sementara Imam Husain as yang lebih berhak, selain karena lebih alim juga adalah cucu Nabi terzalimi dan terbunuh dengan cara yang keji tanpa pembelaan.

Kedudukan Imam Ja’far Shadiq as

Namun Allah SWT tidak meninggalkan dan melupakan hamba-hambaNya begitu saja. Untuk kesekian kalinya, kaum muslimin diperbaharui keimanan dan komitmen keislamannya melalui Imam Baqir as dan Imam Ja’far Shadiq as yang melanjutkan tugas Nabi dan Amirul Mukminin dalam menjaga dan menyampaikan risalah Nabi. Imam-imam Ahlul Bait melalui pendidikan dan pengajaran kepada masyarakat muslim berupaya menghidupkan kembali Islam dan menyampaikan Islam yang hak. Dalam majelis-majelisnya Imam Ja’far memberikan pencerahan keilmuan kepada masyarakat, sehingga yang hak kembali tampak kebenarannya, dan yang batil jadi tampak kebatilannya. Posisi dan kedudukan Imam Ja’far dalam agama Islam tidak ubahnya posisi Nabi Isa as dalam agama Yahudi. 1400 tahun sebelum nabi Isa, nabi Musa as telah menyampaikan kitab Taurat sebagai kitab fiqh dan kitab syariat Ilahi yang diwariskannya kepada ulama-ulama Yahudi untuk dijaga dan diajarkan.

Namun sangat disayangkan, ulama-ulama Yahudi sendiri mengubah-ubah ajaran Taurat sehingga sulit dikenali mana yang hak dan mana yang batil. Karena itu, Nabi Isa as diutus oleh Allah SWT untuk membersihkan kembali ajaran Nabi Musa as dari penyimpangan dan penyelewengan dan mengajak umat untuk kembali pada ajaran tauhid yang murni dan bersih sebagaimana dulu yang diajarkan oleh Nabi Musa as. Nabi Isa as bukan datang untuk membatalkan kitab Taurat yang dulu dibawa oleh Nabi Musa as melainkan untuk melengkapi dan membersihkannya dari ajaran-ajaran yang penuh rekayasa dan campur tangan manusia.

Hal yang sama juga terjadi pada agama Islam. Oleh karena itu bukan sesuatu yang kebetulan Allah menceritakan kisah mengenai Bani Israil dalam Al-Qur’an sampai lebih dari 500 ayat. Itu dimaksudkan agar umat Islam mengambil banyak pelajaran dari kisah-kisah terdahulu terutama dari kaum Bani Israel mengingat sejarah senantiasa berulang. Hal tersebut juga dinubuatkan nabi bahwa apa-apa yang pernah terjadi pada Bani Israel akan dilakukan juga oleh umat Islam, selangkah demi selangkah bahkan meskipun itu langkah menuju ke sarang biawak. Karenanya, bukan sesuatu yang dipaksakan, jika kemudian kita menemukan banyak kesamaan antara peran Nabi Isa as dengan imam Ja’far Shadiq as misalnya dalam upayanya memurnikan kembali ajaran tauhid dan mengembalikan umat pada ajaran Nabi yang hakiki.

Perhatikan setidaknya adanya kesamaan berikut ini antara para Nabi Bani Israel dengan Nabi Muhammad SAW  dengan keluarganya khususnya imam-imam Syiah:

-       Nabi Muhammad Saw sama dengan Nabi Musa as dalam menghadapi penguasa zalim dimasanya.

-       Imam Ali as sama posisinya dengan Nabi Harun as yang menjadi pendamping nabi Musa dalam dakwah dan perjuangannya. Hal inipun pernah diisyaratkan Nabi dalam hadits Manzilah.

-       Imam Ali as pun sama posisinya dengan Yus’a bin Nun yang telah menjadi washi dari Nabi Musa, sebagaimana Imam Ali adalah washi Nabi Muhammad Saw.

-       Sayyidah Fatimah as sama dengan Sayyidah Maryam baik dari sisi keutamaan dan perannya.

-       Imam Husain dan Imam Hasan dan keturunan mereka sama halnya dengan dua putra Harun dan keturunan mereka.

-       Imam Sajjad as, dari sisi munajat, zikir, do’a dan kesalihannya sama dengan nabi Daud as.

-       Imam Baqir dan Imam Ja’far dari sisi keilmuan dan perannya dalam mendakwahkan Islam sama posisinya dengan nabi Isa as yang berhasil mencetak banyak murid yang kemudian menyebarkan ajarannya keseluruh dunia.

-       Imam Kadzim yang hidup lama dalam penjara sama halnya dengan kisah Nabi Yusuf as.

-       Imam Ridha as yang hidup dalam istana dan diangkat sebagai putra mahkota sama halnya pula dengan nabi Yusuf as yang mendapat posisi penting dalam kerajaan.

-       Dan Imam Mahdi afs memiliki kemiripan kisah dengan nabi Yusuf dalam masa kegaiban, dan dengan nabi Daud as dimasa perang, dan dengan nabi Sulaeman ketika memiliki kekuasaan dan kerajaan. Dan Imam Mahdi dari sisi nama dan laqabnya, maka beliau sama dengan nabi Muhammad Saw.

Beberapa Ucapan Imam Ja’far Shadiq as

Pada kesempatan ini kami haturkan kepada para pembaca budiman hadis-hadis suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Shadiq a.s. selama ia hidup.

1. Mengecek diri setiap hari

“Seyogianya setiap muslim yang mengenal kami (Ahlul Bayt) untuk mengecek setiap amalannya setiap hari dan malam. Dengan demikian ia telah mengontrol dirinya. Jika ia merasa berbuat kebaikan, maka berusahalah untuk menambahnya, dan jika ia merasa mengerjakan  keburukan, maka beristigfarlah supaya ia tidak hina di hari kiamat”.

2.Istiqamah

“Jika Syi’ah kami mau beristiqamah, niscaya malaikat akan bersalaman dengan mereka, awan akan menjadi pelindung mereka (dari terik panas matahari), bercahaya di siang hari, rezekinya akan dijamin dan mereka tidak akan meminta apa pun kepada Allah kecuali Ia akan mengabulkannya”.

3.Akibat menipu dan dengki

“Barang siapa yang menipu, menghina dan memusuhi  saudaranya (seiman), maka Allah akan menjadikan neraka sebagai tempat kembalinya. Dan barang siapa merasa dengki terhadap saudaranya, maka imannya akan meleleh sebagaimana garam meleleh (di dalam air)”.

4.Wara’, usaha dan menolong mukminin

“Janganlah kalian terbawa arus mazhab dan aliran! Demi Allah, berwilayah kepada kami tidak akan dapat digapai kecuali dengan wara`, usaha yang keras di dunia, dan menolong saudara-saudara seiman. Dan tidak termasuk Syi’ah kami orang yang menzalimi orang lain”.

5.Hasil percaya kepada Allah

“Barang siapa yang percaya kepada Allah, maka Ia akan menjamin segala yang diinginkannya, baik yang berkenaan dengan urusan dunia maupun akhiratnya, dan akan menjaga baginya apa yang sekarang tidak ada di tangannya. Sungguh lemah orang yang enggan membekali diri dengan kesabaran untuk menghadapi sebuah bala`, tidak mensyukuri nikmat dan tidak mengharapkan kelapangan di balik sebuah kesulitan”.

6.Praktek akhlak

“Bersilaturahmilah kepada orang yang memutus tali hubungan denganmu, berikanlah orang yang enggan memberimu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, ucapkanlah salam kepada orang yang mencelamu, berbuat adillah kepada orang yang memusuhimu, maafkanlah orang yang menzalimimu sebagaimana engkau juga ingin diperbuat demikian. Ambillah pelajaran dari pengampunan Allah yang telah mengampunimu. Apakah engkau tidak melihat matahari-Nya menyinari orang yang baik dan orang yang jahat dan air hujan-Nya turun kepada orang-orang yang saleh dan bersalah?”.

7.Pelan-pelan!

“Pelankanlah suaramu, karena Allah yang mengetahui segala yang kau simpan dan tampakkan. Ia telah mengetahui segala yang engkau inginkan sebelum kalian meminta kepada-Nya”.

8.Surga dan neraka adalah kebaikan dan keburukan sejati

“Segala kebaikan ada di depan matamu dan segala keburukan juga ada di depan matamu. Engkau tidak akan melihat kebaikan dan keburukan (sejati) kecuali di akhirat. Karena Allah azza wa jalla telah menempatkan semua kebaikan di surga dan semua keburukan di neraka. Hal itu dikarenakan surga dan nerakalah yang akan kekal”.

9.Wajah Islam

Islam itu telanjang. Bajunya adalah rasa malu, hiasannya adalah kewibawaan, harga dirinya adalah amal saleh dan tonggaknya adalah wara`. Segala sesuatu memiliki asas, dan asas Islam adalah kecintaan kepada kami Ahlul Bayt”.

10.Beramal untuk akhirat

“Beramallah sekarang di dunia demi kebahagiaan yang kau  harapkan di akhirat”.

11.Pahala membantu para pengikut Ahlul Bayt a.s.

“Tidak ada seorang pun yang membantu salah seorang pengikut kami walaupun dengan satu kalimat kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab”.

12.Jauhilah riya`, berdebat dan permusuhan

“Jauhilah riya`, karena sifat riya` akan memusnahkan amalanmu, jauhilah berdebat, karena berdebat itu akan menjerumuskanmu ke dalam jurang kehancuran dan jauhilah permusuhan, karena permusuhan itu akan menjauhkanmu dari Allah”.

13.Kebersihan jiwa adalah tolak ukur penentu seorang mukmin

“Jika Allah menghendaki kebaikan atas seorang hamba, maka Ia akan membersihkan jiwanya. Dengan itu, ia tidak akan mendengar kebaikan kecuali ia akan mengenalnya dan tidak melihat kemungkaran kecuali ia akan mengingkarinya. Kemudian Ia akan mengilhamkan di hatinya sebuah kalimat yang akan mempermudah segala urusannya”.

14.Meminta afiat kepada Allah

“Mintalah afiat kepada Tuhan kalian. Bersikaplah wibawa, tenang dan milikilah rasa malu”.

15.Jiwa doa adalah amal

“Perbanyaklah doa, karena Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Ia telah menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan (doa-doa mereka). Pada hari kiamat Ia akan menghitung doa-doa mereka sebagai sebuah amalan yang pahalanya adalah surga”.

16.Cinta orang-orang miskin

“Cintailah orang-orang miskin yang muslim, karena orang yang menghina dan bertindak sombong terhadap mereka, ia telah menyimpang dari agama Allah dan Ia akan menghinakannya dan murka atasnya. Kakek kami SAWW pernah bersabda: “Tuhanku telah memerintahkanku untuk mencintai orang-orang miskin yang muslim”.

17.Akar kekufuran

“Jangan menghasut orang lain, karena akar kekufuran adalah hasud dan iri dengki”.

18.Amalan penumbuh benih kecintaan

“Tiga amalan dapat menumbuhkan benih kecintaan: memberi hutang, rendah diri dan berinfak”.

19.Amalan penumbuh benih permusuhan

“Tiga amalan penimbul benih permusuhan: kemunafikan, kezaliman dan kesombongan”.

20.Tiga tanda untuk tiga orang

“Tiga hal tidak dapat diketahui kecuali dalam tiga kondisi: penyabar tidak akan dikenal kecuali dalam kondisi marah, pemberani tidak akan diketahui kecuali ketika perang dan saudara tidak akan diketahui kecuali ketika (kita) membutuhkan”

Sunni dan Wahabi menuduh Syi’ah sesat berdasarkan Riwayat yang kedudukannya dhaif di sisi Syiah, yang mana semua para perawinya tidak dikenal kredibilitasnya di sisi Syiah.

Sunni dan Wahabi menuduh Syi’ah sesat berdasarkan Riwayat yang kedudukannya dhaif di sisi Syiah, yang mana semua para perawinya tidak dikenal kredibilitasnya di sisi Syiah.

Khurafat : Imam Baqir Membuat Gajah Terbang Dari Tanah Kemudian Terbang Ke Makkah

Berikut salah satu riwayat yang dijadikan bahan tertawaan para nashibi di jagat maya untuk mencela Syiah

أبو جعفر محمد بن جرير الطبري قال حدثنا أحمد ابن منصور الزيادي قال حدثنا شاذان بن عمر قال حدثنا مرة بن قبيصة بن عبد الحميد قال قال لي جابر بن يزيد الجعفي رأيت مولاي الباقر ع (و) قد صنع فيلا من طين فركبه وطار في الهواء حتى ذهب إلى مكة ورجع عليه فلم أصدق ذلك منه حتى رأيت الباقر ع فقلت له: أخبرني جابر عنك بكذا وكذا؟ (فصنع مثله) فركب وحملني معه إلى مكة وردني

Abu Ja’far Muhammad bin Jariir Ath Thabariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshuur Az Zayaadiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syadzaan bin ‘Umar yang berkata telah menceritakan kepada kami Murrah bin Qabiishah bin ‘Abdul Hamiid yang berkata Jabir bin Yazid Al Ju’fiy berkata kepadaku aku melihat Maulaku Al Baqir membuat gajah dari tanah lalu menungganginya kemudian terbang di udara sampai menuju Makkah dan kembali, aku tidak mempercayainya sampai aku menemui Al Baqir, maka aku berkata kepadanya Jabir mengabarkan kepadaku darimu begini begitu. Maka ia membuat yang seperti itu menungganginya membawaku ikut bersamanya ke Makkah dan mengembalikanku [Madiinah Al Ma’aajiz Al Bahraaniy 5/10]

Asal riwayat ini disebutkan oleh Muhammad bin Jarir bin Rustam Ath Thabariy dalam kitabnya Dala’il Imamah hal 96.

Dalail ImamahDalail Imamah hal 96

 

Riwayat ini kedudukannya dhaif di sisi Syiah, selain Ibnu Jarir semua para perawinya tidak dikenal kredibilitasnya di sisi Syiah. Ahmad bin Manshuur Az Zayaadiy tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syiah, pentahqiq kitab Madinatul Ma’ajiz menyebutkan dalam naskah yang lain tertulis Ar Ramaaniy, kemudian ia melanjutkan nampak bahwa terjadi tashif, yang benar adalah Ar Ramaadiy. Ahmad bin Manshuur Ar Ramaadiy adalah perawi sunni ahli hadis yang dikenal tsiqat, ia wafat pada tahun 265 H [As Siyaar Adz Dzahabiy 12/391]. Biografi Ar Ramaadiy juga tidak ada dalam kitab Rijal syiah

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thabariy yang dimaksud adalah Muhammad bin Jarir bin Rustam Ath Thabariy seorang ulama Syiah yang dikatakan An Najasiy “mulia termasuk sahabat kami, memiliki ilmu yang banyak, baik perkataannya dan tsiqat dalam hadis” [Rijal An Najasyiy hal 376 no 1024]

Syadzan bin Umar tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syiah, sedangkan Murrah bin Qabiishah bin ‘Abdul Hamid disebutkan dalam Mustadrakat Ilm Rijal Syaikh Ali Asy Syaruudiy tanpa keterangan ta’dil atau pun tarjih, dan nampak ia hanya dikenal dalam riwayat ini [Mustadrakat Ilm Rijal 7/399].

Matan riwayat memang sangat aneh tetapi sayang sekali sanadnya tidak shahih maka tidak ada alasan menjadikan riwayat ini sebagai celaan bagi mazhab Syiah. Jika dikatakan khurafat lebay maka memang benar khurafat karena tidak tsabit di sisi Syiah. Silakan bandingkan dengan riwayat shahih di mazhab Ahlus Sunnah

حدثنا إسحق بن نصر قال حدثنا عبد الرزاق عن معمر عن همام بن منبه عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال كانت بنو إسرائيل يغتسلون عراة ينظر بعضهم إلى بعض وكان موسى يغتسل وحده فقالوا والله ما يمنع موسى أن يغتسل معنا إلا أنه آدر فذهب مرة يغتسل فوضع ثوبه على حجر ففر الحجر بثوبه فخرج موسى في إثره يقول ثوبي يا حجر حتى نظرت بنو إسرائيل إلى موسى فقالوا والله ما بموسى من بأس وأخذ ثوبه فطفق بالحجر ضربا . فقال أبو هريرة والله إنه لندب بالحجر ستة أو سبعة ضربا بالحجر

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Nashr yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq dari Ma’mar dari Hammam bin Munabih dari Abu Hurairah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Orang-orang bani Israil jika mandi maka mereka mandi dengan telanjang, hingga sebagian melihat sebagian yang lainnya. Sedangkan Nabi Musa ‘Alaihis Salam lebih suka mandi sendirian. Maka mereka pun berkata, Demi Allah, tidak ada menghalangi Musa untuk mandi bersama kita kecuali karena ia memiliki kelainan pada kemaluannya. Lalu pada suatu saat Musa pergi mandi dan meletakkan pakaiannya pada sebuah batu, lalu batu tersebut lari dengan membawa pakaiannya. Maka Musa lari mengejar batu tersebut sambil berkata ‘Wahai batu, kembalikan pakaianku! sehingga orang-orang bani Israil melihat Musa. Mereka lalu berkata, ‘Demi Allah, pada diri Musa tidak ada yang ganjil. Musa kemudian mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut dengan pukulan. Abu Hurairah berkata, Demi Allah, sungguh pada batu tersebut terdapat bekas pukulan enam atau tujuh akibat pukulannya. [Shahih Bukhari no 274]

Apakah kisah batu berlari membawa pakaian sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih bisa dikatakan khurafat lebay?.

Ahlus sunnah akan menjawab tidak, mengapa? Karena kisah tersebut shahih dan atas izin Allah SWT hal itu bisa saja terjadi, tidak ada yang musykil. Benar sekali atas izin Allah, kalau begitu [dengan asumsi sanadnya shahih] apakah menjadikan Gajah dari tanah yang dibuat Imam Baqir terbang ke Makkah adalah perkara musykil bagi Allah SWT?.

PBNU Serahkan Data 12 Yayasan Wahabi Berpaham Radikal ke Pemerintah

PBNU serahkan data 12 yayasan berpaham radikal

Jumat, 2013 Agustus 23 05:10

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj

Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja,”

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menyerahkan data terkait dengan keberadaan 12 yayasan berpaham radikal kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti.

“Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj setelah melantik kepengurusan PWNU Jatim 2013–2018 di Surabaya, Kamis.

Dalam pelantikan pengurus baru yang dirangkai dengan halalbihalal bersama pengurus NU se-Jatim itu, dia menjelaskan bahwa ke-12 yayasan itu tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

“Ada di Surabaya, Cirebon, Bondowoso, Bogor, Makassar, Bandar Lampung, Mataram, Jakarta, dan Sukabumi,” katanya.

Menurut dia, ke-12 yayasan tersebut mengajarkan aliran Wahabi yang sebenarnya bukan radikal. Akan tetapi, bila diartikan secara salah, justru bisa mengarah kepada teroris.

“Wahabinya bukan teroris, tetapi ajarannya yang radikal itu jika dipoles sedikit bisa mengarah ke teroris. Buktinya, pentolan teroris di Indonesia bersumber dari situ semua,” katanya.

Selain menyerahkan data-data itu kepada Pemerintah, PBNU juga telah menginstruksikan kepada semua pengurus NU dari ranting, cabang, hingga wilayah untuk mewaspadai aliran itu.

“Kita hanya bisa menjaga agar warga NU, terutama anak-anak muda agar tidak tertarik kepada mereka. Itu yang akan kita jaga dengan memberi pemahaman yang benar,” katanya.

Ditanya validitas data ajaran ke-12 yayasan yang bisa mengarah kepada teroris, dia menjamin data yang dimiliki PBNU adalah valid. “Masak, saya asal ngomong, ya, tentu ada datanya,” katanya.

Dalam acara yang tidak dihadiri satu pun dari Cagub Jatim itu, dia mengatakan bahwa PBNU akan selalu mendukung langkah Pemerintah untuk memerangi aksi teroris di Indonesia.

“Teroris itu harus kita lawan, teroris itu musuh kita bersama, bahkan kita sudah berpesan kepada Presiden agar tidak takut membubarkan ormas radikal. Kita (PBNU) selalu di belakang Pemerintah untuk urusan ini,” katanya.

“Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj setelah melantik kepengurusan PWNU Jatim 2013-2018 di Surabaya, Kamis (22/8/2013).

Namun, Said tidak mebeberkan ke-12 yayasan yang dicurigai menyebarkan paham radikal tersebut. Yang jelas, ke-12 yayasan itu tersebar di beberapa daerah di Indonesia. “Ada di Surabaya, Cirebon, Bondowoso, Bogor, Makassar, Bandar Lampung, Mataram, Jakarta, dan Sukabumi,” katanya.

Sebenarnya, kata Said, ke-12 yayasan tersebut mengajarkan aliran Wahabi. Bila diartikan secara salah, justru bisa mengarah kepada teroris. “Wahabinya bukan teroris, tetapi ajarannya yang radikal itu jika dipoles sedikit bisa mengarah ke teroris. Buktinya, pentolan teroris di Indonesia bersumber dari situ semua,” tutur Said.

Selain menyerahkan data-data itu kepada pemerintah, PBNU juga telah menginstruksikan kepada semua pengurus NU dari ranting, cabang, hingga wilayah untuk mewaspadai aliran tersebut.

“Kita hanya bisa menjaga agar warga NU, terutama anak-anak muda agar tidak tertarik kepada mereka. Itu yang akan kita jaga dengan memberi pemahaman yang benar,” ujarnya.

Ditanya validitas data ajaran ke-12 yayasan yang bisa mengarah kepada teroris, Said menjamin data yang dimiliki PBNU adalah valid. “Masak, saya asal ngomong, ya tentu ada datanya,” katanya.

Said mengatakan, PBNU akan selalu mendukung langkah Pemerintah untuk memerangi aksi teroris di Indonesia. “Teroris itu harus kita lawan, teroris itu musuh kita bersama, bahkan kita sudah berpesan kepada Presiden agar tidak takut membubarkan ormas radikal. Kita (PBNU) selalu di belakang Pemerintah untuk urusan ini,” ujar Said.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menyerahkan data terkait dengan keberadaan 12 yayasan berpaham radikal kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti.

“Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj setelah melantik kepengurusan PWNU Jatim 2013–2018 di Surabaya, Kamis.

Dalam pelantikan pengurus baru yang dirangkai dengan halalbihalal bersama pengurus NU se-Jatim itu, dia menjelaskan bahwa ke-12 yayasan itu tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

“Ada di Surabaya, Cirebon, Bondowoso, Bogor, Makassar, Bandar Lampung, Mataram, Jakarta, dan Sukabumi,” katanya.

Menurut dia, ke-12 yayasan tersebut mengajarkan aliran Wahabi yang sebenarnya bukan radikal. Akan tetapi, bila diartikan secara salah, justru bisa mengarah kepada teroris.

“Wahabinya bukan teroris, tetapi ajarannya yang radikal itu jika dipoles sedikit bisa mengarah ke teroris. Buktinya, pentolan teroris di Indonesia bersumber dari situ semua,” katanya.

Selain menyerahkan data-data itu kepada Pemerintah, PBNU juga telah menginstruksikan kepada semua pengurus NU dari ranting, cabang, hingga wilayah untuk mewaspadai aliran itu.

“Kita hanya bisa menjaga agar warga NU, terutama anak-anak muda agar tidak tertarik kepada mereka. Itu yang akan kita jaga dengan memberi pemahaman yang benar,” katanya.

Ditanya validitas data ajaran ke-12 yayasan yang bisa mengarah kepada teroris, dia menjamin data yang dimiliki PBNU adalah valid. “Masak, saya asal ngomong, ya, tentu ada datanya,” katanya.

Dalam acara yang tidak dihadiri satu pun dari Cagub Jatim itu, dia mengatakan bahwa PBNU akan selalu mendukung langkah Pemerintah untuk memerangi aksi teroris di Indonesia.

“Teroris itu harus kita lawan, teroris itu musuh kita bersama, bahkan kita sudah berpesan kepada Presiden agar tidak takut membubarkan ormas radikal. Kita (PBNU) selalu di belakang Pemerintah untuk urusan ini,” katanya.

Ical ke PBNU

Rabu, 7 Agustus 2013 17:03 WIB |

Presiden Partai Islam se Malaysia, Datuk Seri Abdul Hadi puji Iran yang Kian Mengukuhkan Diri Sebagai Negara dengan Kemajuan Ilmu Yang Pesat

Sayyid Ali Khamanei:
 Iran Kian Mengukuhkan Diri Sebagai Negara dengan Kemajuan Ilmu Yang Pesat
“Yang hendak diwujudkan oleh pemerintahan Islam adalah kemajuan berdasarkan model yang Islami dan Irani, yakni model kemajuan yang didasari oleh bimbingan Islam dan sesuai dengan kebutuhan dan tradisi bangsa Iran.”
 

 

   Ahmadinejad diangkat Jadi Anggota Dewan Penentu Kebijakan Negara

 Rahbar atau Pemimpin besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Selasa (6/8) sore dalam pertemuan dengan para dosen dan peneliti dari berbagai lembaga perguruan tinggi menekankan keharusan untuk mempercepat laju perkembangan keilmuan di Iran seraya menegaskan, “Kemajuan ilmu pengetahuan akan menghasilkan kekuatan ekonomi dan politik bagi Iran serta akan membuat rakyat Iran semakin dihormati di kancah internasional. Untuk mencapai tujuan itu perlu menjaga dan memperkuat wacana keilmuan, kemajuan ilmu, dan kemajuan umum dalam skala nasional.”


Dalam pertemuan yang diwarnai dengan tukar pendapat dan diskusi seputar berbagai permasalahan negara khususnya yang berhubungan dengan perguruan tinggi itu, Rahbar menyebut keberagaman pandangan di antara para aktivis perguruan tinggi dan kalangan intelektual sebagai hal yang mendidik dan fenomena yang menarik. Seraya menyinggung kemajuan ilmu di Iran saat ini, beliau mengatakan, “Sejak 12 tahun lalu sudah ada gerakan terkait kemajuan keilmuan dan persepsi yang memandang usaha keras di bidang keilmuan sebagai jihad. Gerakan ini bukan hanya tak berhenti bahkan terus meningkat dengan pesat.”


Menyebut gerakan dan jihad ini sebagai hal yang sangat penting dan sangat diperlukan oleh negara dan Republik Islam, Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, “Meski punya pandangan negatif terhadap Republik Islam Iran, pusat-pusat keilmuan dunia tetap mengakui kemajuan keilmuan di negara ini.”


Beliau menambahkan, “Sebagian pusat sains dunia menyebut tingkat kemajuan sains di Iran 16 kali lipat dibanding kondisi 12 tahun silam dan kemajuan sains Iran 13 kali lipat dibanding rata-rata kemajuan yang dicapai di dunia.”


Dikatakan oleh beliau, “Menurut pusat-pusat sains dunia, jika volume kemajuan sains Iran terus bertahan seperti ini, maka lima tahun mendatang Iran akan mencapai peringkat keempat dunia.”

Seraya menyebut peningkatan jumlah makalah ilmiah yang dihasilkan oleh para ilmuan Iran, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, “Jangan biarkan roda kemajuan sains ini terhenti dan jangan sampai ada yang menghalangi kemajuan keilmuan dan perguruan tinggi di negara ini.”


Beliau menyinggung pandangan Islam yang mengagungkan kedudukan ilmu dan mengatakan, “Penekanan berulang kali tentang kemajuan ilmu bukan hanya karena Islam mengagungkan ilmu, tapi karena ilmu adalah modal untuk menjadi kuat.”


Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, “Kemajuan ilmu akan mendatangkan kekuatan ekonomi dan politik serta wibawa bagi negeri dan bangsa ini di pentas dunia. Karena itu, jangan sampai laju gerakan ini terhambat dan menjadi lambat.”


Menanggapi pernyataan salah seorang dosen yang hadir dalam pertemuan itu, beliau menandaskan, “Kubu arogansi yang terdiri dari segelintir negara ambisius Barat kini berhadap-hadapan dengan Republik Islam dan bangsa Iran. Mereka tak segan melakukan tindakan apa saja untuk mengganjal gerak laju keilmuan Iran.”


Mengenai sanksi dan embargo yang dijatuhkan oleh musuh terhadap Republik Islam Iran, Rahbar menyebutnya sebagai tindakan yang sengaja dilakukan untuk menghambat laju kemajuan ilmu dan mencegah kuatnya Iran dari dalam. Karena itu, kemajuan ilmu harus terus dipacu.

Beliau menekankan kembali soal inovasi yang harus terus dikembangkan dalam kegiatan keilmuan di Iran seraya menambahkan, “Tentunya ada keterbatasan kapasitas dan fasilitas. Karena itu, dalam menyusun program dan langkah-langkah atau kinerja keilmuan kebutuhan utama negara harus diperhatikan dan menjadi parameter.”


Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut mengimbau supaya masalah-masalah yang tidak krusial jangan sampai memalingkan kalangan kampus dan perguruan tinggi dari hal-hal yang utama dan penting.


“Ada sementara kalangan dari kubu musuh yang bekerja keras untuk menyeret para aktivis kampus ke masalah-masalah politik yang panas. Karena itu, semua pihak harus berusaha untuk tidak terjebak dalam isu-isu politik,” kata beliau.


Ayatollah al-Udzma Khamenei mengungkapkan bahwa Islam dan revolusi Islam adalah faktor utama yang telah mengkikis hambatan kemajuan ilmu di negara ini. “Jika tidak ada kemenangan revolusi ini, pastilah musuh tak pernah mengizinkan negara seperti Iran yang sangat mengundang selera mereka ini maju di bidang keilmuan dan punya kepercayaan diri yang tinggi untuk meraih ilmu,” imbuh beliau.


Untuk itu, kata beliau lagi, semua pihak harus berusaha mempertahankan dan menjaga nilai dan cita-cita luhur revolusi Islam.


Dalam kesempatan itu, Rahbar menekankan untuk memperkuat bahasa Farsi. Kepada para dosen dan kalangan kampus beliau mengimbau supaya memanfaatkan kemajuan ilmu di Iran untuk memperluas dan menguatkan bahasa Farsi.


Menciptakan istilah-istilah keilmuan dalam bahasa Farsi menurut beliau adalah langkah yang sangat berkesan dalam hal ini. Beliau menambahkan, “Kalian harus berusaha supaya kelak, setiap orang yang hendak memanfaatkan kemajuan keilmuan Iran harus belajar bahasa Farsi.”


Seraya mengkritik penggunakan istilah-istilah asing di tengah masyarakat, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, “Banyak tradisi keliru yang ada sebelum kemenangan revolusi Islam sudah berhasil dikikis. Tapi sayangnya, tradisi menggunakan istilah-istilah asing masih tetap ada.”


Di bagian akhir pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan makna yang dimaksud dari kemajuan ilmu. Kemajuan ilmu ini, kata beliau adalah kemajuan yang didasari oleh pemikiran Islam. Sebab, kemajuan ilmu yang dikembangkan oleh Barat dilandasi oleh pemikiran eksploitasi dan imperialisme yang tentunya tidak mendatangkan keadilan bagi umat manusia. Kemajuan seperti ini tidak mampu menjauhkan masyarakat dari kemiskinan, diskriminasi dan kebejatan moral.


Rahbar menambahkan, “Yang hendak diwujudkan oleh pemerintahan Islam adalah kemajuan berdasarkan model yang Islami dan Irani, yakni model kemajuan yang didasari oleh bimbingan Islam dan sesuai dengan kebutuhan dan tradisi bangsa Iran.”


Di awal pertemuan, sembilan dosen dan intelektual menyampaikan pandangan mereka terkait berbagai persoalan negara khususnya yang berhubungan dengan perguruan tinggi dan kegiatan keilmuan

 

 

 Tanggal2013/08/22 – 10:47  

 

Presiden Partai Islam se Malaysia:
 Pemikiran Syiah Besar Pengaruhnya bagi Kemajuan Islam di Malaysia
Menurut ulama Malaysia dan juga Presiden Partai Islam se Malaysia, Datuk Seri Abdul Hadi tersebut sumbangsih pemikiran Syiah bagi kemajuan dan perkembangan Islam di Malaysia tidak bisa dinafikan. Menurutnya itu adalah fakta sejarah dari kurun-kurun sebelumnya yang tidak bisa dibantah. 

 

 

Datuk Seri Abdul Hadi Presiden Partai Islam se Malaysia dalam sebuah pertemuan di Terangganu Malaysia rabu  menyatakan,  “Musuh-musuh Islam bertekad untuk menjebak muslim Sunni dan Syiah untuk terus berpecah belah dan saling berselisih untuk mencegah terwujudnya persatuan dikalangan dua mazhab besar Islam ini.”

“Hal ini harus menjadi perhatian besar para cendekiawan dan ulama Islam untuk bisa menyelesaikannya.” Tambahnya.

Menurut ulama Malaysia dan juga Ahli Parlemen Marang tersebut sumbangsih pemikiran Syiah bagi kemajuan dan perkembangan Islam di Malaysia tidak bisa dinafikan. Menurutnya itu adalah fakta sejarah dari kurun-kurun sebelumnya yang tidak bisa dibantah.

Menurutnya lagi, adanya isu ikhtilaf dan perpecahan antara Sunni dan Syiah adalah isu yang sengaja dihembuskan untuk membuat sibuk umat Islam sehingga lupa dengan rezim Israel yang masih terus menebar kejahatan di bumi Palestina. “Blok Barat dan rezim Israel yang sedang melakukan konspirasi untuk menghalangi kebangkitan Islam di negara-negara kawasan, itulah musuh bersama kita. Bukan saudara sendiri yang berbeda mazhab.”

“Kami mencita-citakan kebangkitan Islam dan sedang berada di jalan itu. Umat Islam diseluruh dunia akan mencapai kemenangan.” Tambahnya optimis.

“Untuk melalaikan kaum muslimin dari poros kebangkitan Islamlah, dihembuskanlah perbedaan dan perselisihan antar mazhab.” Lanjutnya lagi.

Presiden Partai Islam Semalaysia tersebut lebih jauh mengingatkan umat Islam agar tidak terperangkap dalam agenda yang melemahkan umat Islam dengan memanfaatkan isu Sunni – Syiah. Menurut beliau isu perbedaan mazhab tersebut hanya menjauhkan umat dari kebangkitan Islam di seluruh dunia hari ini di samping melupakan musuh yang sebenarnya yaitu rezim Zionis dan negara adi kuasa

.

Menurutnya isu-isu ikhtilaf antar mazhab hanyalah wewenang para ahli agama dan sarjana Islam untuk membahas dan mendiskusikannya bukan oleh orang-orang jahil dan bodoh, sebab hanya akan semakin memperkeruh suasana

.

“Dalam hal ini kita kena sadar dalam masalah mazhab ini sepatutnya hanya dibincangkan oleh ahli-ahli ilmu, jangan yang bodoh. Dalam Sunni ada yang bodoh, dalam Syiah pun ada yang bodoh dan ini ‘penyakit’ yang kita sedang hadapi hari ini,” tambahnya lagi

.

Selain itu beliau menjelaskan mazhab Syiah dalam masyarakat Melayu bukan sesuatu yang baru, melainkan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu

.

Mazhab Syiah Semakin Diminati, Pemerintah Dituntut MencegahPemerintah Malaysia dikabarkan tengah melakukan upaya menghambat perkembangan mazhab Syiah di negara itu seiring dengan perkembangan jumlah pengikut Syiah di negeri tersebut yang semakin pesat.

keterlaluan, pemerintah malaysia sudah melanggar HAM, hak meyakini suatu keyakinan,mudah2an warga syiah di malaysia semakin bertambah banyak

Mungkinkah orang benar gagal syari’at ? Ulama Malaysia mengklaim diri paling benar, namun faktanya gadis gadis China berpakaian mini berjalan jalan bebas di Penang ! Jika ulama Malaysia merasa benar mengapa Malaysia gagal jadi negara Islam ?

Abdul Rahim Mohamad Radzi, Deputi Sekretaris Kementerian Dalam Negeri Malaysia mengatakan, pendukung mazhab Syiah 10 tahun lalu merupakan minoritas kecil di negara itu, namun sekarang jumlah mereka mencapai 250 ribu orang yang tersebar di seluruh penjuru Malaysia. Sebagaimana dilaporkan Press TV (6/8).

Ia menganggap perkembangan teknologi informasi sebagai salah satu faktor penyebab bertambahnya jumlah pengikut mazhab Syiah di Malaysia dan meminta agar mazhab ini diberantas sampai ke akarnya.

Menurutnya Kemendagri, kepolisian, penerapan aturan untuk mengontrol penerbitan, pengawasan produksi film serta CD dan pusat pengawasan departemen imigrasi, berperan besar dalam mencegah perkembangan mazhab Syiah di Malaysia.

Mohamad Radzi menegaskan, diharapkan kebijakan pemerintah dalam berperang dengan penyebaran mazhab Syiah di empat negara bagian Malaysia seperti Pahang, Kelantan, Sabah dan Sarawak dapat diterapkan dengan akurat.

Beberapa pekan terakhir, peraturan pemerintah Malaysia terkait perang melawan penyebaran mazhab Syiah diterapkan secara serius dengan maksud untuk memberantas para pengikut Syiah di negara itu.

PBNU Dukung Penutupan Website mazhab Wahabi, Karena,isinya memprovokasi, menghasut, meresahkan, dan membakar umat

Krisis Indonesia akibat terorisme dan Bangkitnya wahabi Militan di Indonesia yang menyerang NU membuat http://syiahali.wordpress.com hadir untuk anda !

syiahali.wordpress.com screenshot

web syiahali.wordpress.com  membantu NU & Muhammadiyah & Pemerintah Indonesia & Pemerintah Malaysia melawan web web wahabi yang memicu terorisme (mempengaruhi kuat kerusakan perilaku pengunjungnya),  website wahabi provokatif memecah belah, web web wahabi menciptakan permusuhan di tengah masyarakat.
web syiahali.wordpress.com membawa misi Islam Rahmatan Lil Alamin sebagaimana tercantum dalam Al-Quran

web syiahali.wordpress.com  membantu NU & Muhammadiyah & Pemerintah Indonesia & Pemerintah Malaysia melawan radikalisme situs jejaring sosial wahabi yang bersifat provokatif,, isi website wahabi itu cenderung berisi caci maki

web syiahali.wordpress.com berisi dakwah dan penyiaran syiar Islam.. Jika ada serangan terhadap mazhab sunni dalam web syiahali.wordpress.com maka itu semata mata untuk membantah wahabi, bukan niat kami menyerang NU dan Muhammadiyah

Black parade: Members of the Indonesian Ahlul Bait Asssociation (IJABI) attend the commemoration of Asyura Day in Bandung on Saturday. Shia Muslims across the globe observe Asyura on the 10th day of the first month of the Islamic lunar calendar. (JP/Arya Dipa)

Black parade: Members of the Indonesian Ahlul Bait Asssociation (IJABI) attend the commemoration of Asyura Day in Bandung.

NU Setuju Penutupan Situs-situs wahabi

August 6, 2013 9:15 am | Nasional
“Nahdliyin sendiri harus mewaspadai website Islam seperti arrahmah, voa islam, hidayatullah, nahi munkar, dan sejumlah website Islam lain yang tidak membawa misi Islam Rahmatan Lil Alamin sebagaimana tercantum dalam Al-Quran,” tegas Pemred Situs Resmi PBNU NU Online Syafi Alielha beberapa hari lalu. [NU Online]
NU Setuju Penutupan Situs-situs Islami

PBNU Dukung Penutupan Website Provokatif !

inilah… Daftar Situs Website Salafi Wahabi & Ustadznya

Bisa jadi selama ini anda merasa bukan seorang Wahabi tetapi termasuk pengunjung setia website yang dikelola Wahabi / Salafy. Bagi anda yang masih awam agama, tentunya sulit mengenali apakah website yang jadi langganan anda bermuatan faham Wahabi atau Ahlussunnah Wal Jamaah? Dan anda sedikit atau banyak mungkin sudah tertular ajaran-ajaran Wahabi tanpa sadar. Jika tidak mengenalinya akan sulit membedakan apakah itu ajaran Wahabi atau bukan sebab mereka pandai menyamar dengan memakai baju Ahlussunnah Wal Jama’ah.
.
Padahal mereka adalah Wahabi tulen, tidak kurang sedikit pun ciri khas Wahabinya. Dan yang bisa melihatnya dengan jelas tentunya mereka yang sudah berpengalaman secara empiris dan aktual bergelut dengan Wahabisme sebagai salah satu aliran / sekte Islam.
.
Tapi bagi anda yang bukan pengikut Salafi Wahabi, kami beritahu bahwa daftar lengkap website berikut ini adalah website milik Wahabi or Salafy (Salafy Wahabi) dan berisisi ajaran Wahabismenya. Hati-hati dan waspadalah, jika anda tertular virus Wahabi akan susah dicarikan obatnya alias sulit untuk bertaubat karena sudah merasa paling benar, anda akan merasa orang-orang yang menggenggam kebenaran satu-satunya
Website Wahabi (Salafi Wahabi):
http://www.alsofwah.or.id/

http://muslim.or.id/

http://www.abuayaz.co.cc/

http://abuzuhriy.com/

http://alqiyamah.wordpress.com/

http://pengusahamuslim.com/

http://almanhaj.or.id/

http://ahlulhadiits.wordpress.com/

http://assunnah-qatar.com/

http://salafiyunpad.wordpress.com/

http://www.salafy.or.id/

http://www.darussalaf.or.id/

http://darussunnah.or.id/

http://almakassari.com/

http://kaahil.wordpress.com/

http://www.mufiidah.net/

http://ekonomisyariat.com/

http://ainuamri.wordpress.com/

http://ahlussunnah.info/

http://www.raudhatulmuhibbin.org/

http://www.daarussunnah.co.nr/

http://salafyitb.wordpress.com/

http://assunnah.web.id/

http://annaufal.co.cc/

http://quranicaudio.com/

http://ulamasunnah.wordpress.com/

http://perpustakaan-islam.com/

http://samuderailmu.wordpress.com/

http://www.desasalaf.co.cc/

http://ngaji-online.com/

http://haditsarbain.wordpress.com/

http://badaronline.com/

http://arabindo.co.nr/

http://moslemsunnah.wordpress.com/WEBSITE / BLOG PARA USTADZ SALFY WAHABI
http://www.kajianislam.net/————> Ust Abdullah Hadrami
http://rumaysho.com/—————–> Ust Muhammad Abduh
http://abusalma.net/——————> Ust Abu Salma Al Atsary
http://abusalma.wordpress.com/——-> Ust Abu Salma Al Atsary
http://nasihatonline.wordpress.com/—-> Ust Sofyan Chalid Ruray
http://al-atsariyyah.com/————–> Ust Hammad Abu Muawwiyah
http://abul-jauzaa.blogspot.com/——-> Ust Abu al Jauzaa
http://firanda.com/—-> Ust. Firanda Andirja —-> Ust Badrusalam, Lc —–> Ust Kholid Syamhudi, Lc
http://ustadzaris.com/ —————-> Ust Aris Munandar, SS
http://media-ilmu.com/ ————–> Ust Zainal Abidin, Lc
http://abuhaidar.web.id/ ————–> Ust Abu Haidar
http://ahmadsabiq.com/ ————–> Ust Ahmad Sabiq
http://abuzubair.net/ —————–> Ust Abu Zubair Al Hawary
http://abumushlih.com/—————-> Ust Abu Mushlih
http://ustadzfaiz.com/—————–> Ust Ahmas Faiz Asifuddin.
http://ustadzmuslim.com/——-> Ust Abu Isma’il Muslim Al Atsari
http://noorakhmad.blogspot.com/——> Ust Abu Ali
http://abu0dihyah.wordpress.com/—– Ust Marwan
http://abuthalib.blogspot.com/—— Ust Andy Abu Thalib al Atsary
http://basweidan.wordpress.com/— Ust Abu Hudzaifah al Atsary, Lc.
http://alhujjah.wordpress.com/——– Ust Abdul Mu’thi
http://adniku.wordpress.com/——— Ust Adni Kurniawan, Lc.
http://sabilulilmi.wordpress.com/—— Ust Resa Gunarsa, Lc.
http://www.zainalabidin.org/———–>Ust Zainal Abidin, Lc.
http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/… Ustadz Abdullah Roy, Lc.
http://www.ustadzabuihsan.blogspot.com/… Ust Abu Ihsan Al Atsari
http://www.alisamanhasan.blogspot.com/… Ust Ali Saman Hasan, Lc.
http://fariqgasimanuz.wordpress.com/… Ust Fariq Gazim An-Nuz
http://abumushlih.com/ ———-> Ust Abu Mushlih Ari Wahyudi
http://muhammad-assewed.blogspot.com/… Ust Muhammad As Sewed
http://albamalanjy.wordpress.com/–> Ust Abu Ubaidillah Al Bamalanjiy
http://abiubaidah.com/ ———-> Ust Abu Ubaidah As Sidawi
http://www.serambimadinah.com/> Mahasiswa Univ. Islam Madinah KSA
http://abuabdurrahman.com/ —> Mahasiswa Univ. Al-Azhar Mesir
http://addariny.wordpress.com/-> Ust Musyaffa ad Dariniy, Lc.
http://abuabdurrahman.com/—-> Ust Abu Abdirrahman (Al Azhar)
http://rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com/…(Ust Abu Khaulah)WEBSITE AKHWAT, MUSLIMAH DAN REMAJA SALAFY WAHABI

http://muslimah.or.id/

http://remajaislam.com/

http://akhwat.web.id/

http://jilbab.or.id/

http://sobat-muda.com/

http://menikahsunnah.wordpress.com/

http://ummusalma.wordpress.com/

http://ummushofiyya.wordpress.com/SITUS MEDIA TV DAN RADIO STREAMING YANG DIKELOLA SALAFY WAHABI
1. DAKWAH TV : http://www.dakwahtv.com
2. SARANA SUNNAH TV : http://sss-tv.com/
3. AHSAN TV INDONESIA {channel 11VHF} : http://ahsan.tv/
4. RODJA TV : http://www.rodjatv.com/RADIO ONLINE SALAFI WAHABI atau WAHABI SALAFI
1. RADIO RODJA ~ 756 AM
2. RADIO HANG FM ~ 106 FM
3. RADIO ASSUNNAH
4. RADIO MUSLIM
5. RADIO SUARA QUR’AN ~ 94,4 FM
6. RADIO AL IMAN
7. RADIO ARROYYAN
8. RADIO AL BAYAN
9. RADIO NGAJI ONLINE
10. RADIO TELAGA HATI
11. ANNASH RADIO – Jakarta
12. RADIO MU’ADZ – Kendari
13. RADIO SYIAR SUNNAH 981 KHz – Yogyakarta
14. RADIO HIDAYAH 103.4 FM – Pekanbaru

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang kerap disapa Kang Said mendukung sepenuhnya usulan seorang anggota DPR RI kepada Menkominfo beberapa hari lalu untuk menutup situs jejaring sosial Islam yang bersifat provokatif.

Namun Kang Said memberikan catatan bahwa penutupan website itu harus hati-hati. Website Islam yang berisi dakwah dan penyiaran syiar Islam, tidak masuk dalam daftar penutupan.

“Artinya website itu, saya kira, harus dipilah-pilah. Kalau isi website itu merusak akidah, merusak perilaku yang cenderung kepada kekerasan, saya setuju website itu ditutup,” kata Kang Said kepada NU Online di Kantor PBNU, jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Senin (29/7) sore.

Terlebih lagi kalau isi website Islam itu cenderung berisi caci maki seperti mazhab Wahabi, lanjut Kang Said, saya sangat setuju penutupan website demikian. Karena,isinya memprovokasi, menghasut, meresahkan, dan membakar umat Islam.

Selain website yang bersifat provokasi, Kang Said juga mendukung penutupan website yang mempengaruhi kuat kerusakan perilaku pengunjungnya seperti website porno.

Sementara Rais Syuriyah PBNU KH Mashdar F Masudi menginginkan penutupan semua website yang bersifat provokatif.

“Seharusnya pemerintah tidak hanya menutup website Islam yang provokatif, tetapi semua website provokatif, yang memecah belah, menciptakan permusuhan di tengah masyarakat. Apapun yang provokatif itu tidak boleh,” tegas KH Mashdar kepada NU Online usai diskusi ‘Menggugat Empat Pilar’ di Kantor PBNU, Jumat (2/8) sore.

“Nahdliyin sendiri harus mewaspadai website Islam seperti arrahmah, voa islam, hidayatullah, nahi munkar, dan sejumlah website Islam lain yang tidak membawa misi Islam Rahmatan Lil Alamin sebagaimana tercantum dalam Al-Quran,” tegas Pemred Situs Resmi PBNU NU Online Syafi Alielha beberapa hari lalu.

Kang Said: Satu Digit Lagi, Wahabi Jadi Teroris
Ahad, 21/07/2013 01:01

Satu digit lagi, kader-kader wahabi menjadi teroris. Nilai-nilai wahabi memberikan udara segar bagi tumbuhnya bibit terorisme. Nilai itu memberikan ruang lebar bagi perpecahan sesama muslim dan sesama manusia.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang akrab disapa Kang Said dalam sambutan pembukaan Pelatihan Aswaja dan Empat Pilar di Kantor PBNU, jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jum‘at (19/20) sore.

“Wahabi memang bukan teroris. Namun, ajarannya sangat dekat dengan kekerasan,” kata Kang Said di hadapan sedikitnya seratus peserta pelatihan.

Ajaran wahabi, menurut Kang Said, tidak ramah manusia. Hal ini dapat dibuktikan dengan membawa masalah perbedaan sikap beragama pada masalah teologis. Mereka mengklaim kebenaran hanya milik kelompok sendiri dalam segala hal.

Mereka, lanjut Kang Said, memaksakan kebenaran kepada kelompok lain. Mereka mewujudkan paksaan tergantung pada kesempatan dan kenekatan.

Kalau ada kesempatan, kenekatan, dan fasilitas lain seperti senjata, maka mereka akan bergerak memaksakan kehendak, tutup Kang Said.

Pelatihan diikuti oleh kader lima cabang Muslimat NU di Jakarta yang terhimpun dalam Himpunan Daiyah Muslimat NU (Hidmat NU) dan kader Lembaga Dakwah NU (LDNU) se-Jabodetabek.

menukil pendapat salah satu Ulama Syiah, maka hal ini tidaklah mutlak mewakili mazhab Syiah (tidak menjadi kesepakatan dalam mazhab Syiah), karena seorang ulama bisa saja keliru akan pendapatnya atau ia tidak memiliki dalil yang kuat untuk mendukung pendapatnya.

menukil pendapat salah satu Ulama Syiah, maka hal ini tidaklah mutlak mewakili mazhab Syiah (tidak menjadi kesepakatan dalam mazhab Syiah), karena seorang ulama bisa saja keliru akan pendapatnya atau ia tidak memiliki dalil yang kuat untuk mendukung pendapatnya.

Kenapa Syiah menerima sebagian hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang nota bene tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan menolak sebagian lainnya?

Kata Nashibi : Syiah Menyucikan Kotoran Imam, Lantas Bagaimanakah Ahlus Sunnah?

Ada banyak situs nashibi yang gemar mencela mazhab syiah dengan mencatut hal-hal aneh dalam kitab ulama syiah. Tujuan mereka tidak lain hanya untuk merendahkan mazhab syiah dan menyebarkan syubhat di kalangan orang awam. Yang patut disayangkan perilaku ini tampak sekali dungunya karena apa yang mereka tertawakan pada mazhab Syiah tersebut juga ada pada mazhab Sunni yang katanya mereka wakili. Sungguh ironis sekali, perhatikanlah kutipan berikut yang katanya dari kitab Syiah

ليس في بول الأئمة وغائطهم استخباث ولا نتن ولا قذارة بل هما كالمسك الأذفر، بل من شرب بولهم وغائطهم ودمهم يحرم الله عليه النار واستوجب دخول الجنة

Kencing dan tinja para imam bukanlah sesuatu yg menjijikkan, tidak berbau busuk, tidak pula termasuk kotoran. Bahkan keduanya bagaikan misik yang sangat harum. Barangsiapa yang meminum kencing mereka, tinja mereka, dan darah mereka, Allah akan haramkan padanya api neraka dan wajib baginya masuk surga [Anwaarul Wilaayah Ayatullah Al Aakhunid Mullaa Zainal Aabidiin Al Kalbaayakaaniy, hal 440].

.

.

Perkataan ulama Syiah ini memang aneh dan sulit dipercaya tetapi kami pribadi tidak akan menjadikan perkataan ulama syiah ini sebagai bahan tertawaan untuk merendahkan mazhab Syiah dengan alasan sebagai berikut

Pertama : Hal ini tidak menjadi kesepakatan dalam mazhab Syiah, terdapat Ulama Syiah yang justru mendustakan hal tersebut. Ayatullah Sayyid As Sistaniy pernah ditanya mengenai hal ini sebagaimana yang tertulis dalam Al Istifta’tu Ayatullah Sayyid As Sistaniy hal 554 persoalan no 2196

 السؤال : 1 – قرأت من صفحة وهابية بأننا نجيز شرب بول الأئمة الأطهار وأن ذلك من موجبات الجنة ؟

Persoalan : 1. Aku pernah membaca dari tulisan Wahabi bahwa kita membolehkan meminum kencing para Imam yang suci dan hal itu akan memasukkan kita ke dalam surga?.

الجواب : 1 – هذا كذب وافتراء نعوذ باللهمنه

Ayatullah As Sistaniy menjawab : 1. Hal itu dusta dan mengada-ada, kita berlindung kepada Allah darinya

Kedua : Salafy nashibi hanya menukil pendapat salah satu Ulama Syiah, dan hal ini tidaklah mutlak mewakili mazhab Syiah karena seorang ulama bisa saja keliru akan pendapatnya atau ia tidak memiliki dalil yang kuat untuk mendukung pendapatnya. Dalam hal ini salafy nashibi tidak membawakan satu pun hadis yang shahih di sisi Syiah bahwa meminum kencing dan kotoran Imam mewajibkan masuk surga. Apalagi ternukil pula Ulama Syiah yang mendustakan hal tersebut maka bisa jadi hal tersebut adalah bagian dari ikhtilaf para ulama sebagaimana hal ini juga terjadi dalam mazhab Ahlus Sunnah.

Ketiga : Hal ini tidak bisa dijadikan celaan atas mazhab Syiah karena sebenarnya sudah ada pula Ulama Sunni yang menyatakan hal serupa.

( سُئِلَ ) هَلْ الْمُعْتَمَدُ نَجَاسَةُ فَضَلَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَغَيْرِهِ كَمَا عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ وَصَحَّحَهُ الشَّيْخَانِ أَمْ لَا ؟ ( فَأَجَابَ  بِأَنَّ الْمُعْتَمَدَ طَهَارَتُهَا كَمَا جَزَمَ بِهِ الْبَغَوِيّ وَغَيْرُهُ وَصَحَّحَهُ الْقَاضِي حُسَيْنٌ وَغَيْرُهُ وَنَقَلَهُ الْعُمْرَانِيُّ عَنْ الْخُرَاسَانِيِّينَ وَصَحَّحَهُ الْبَارِزِيُّ وَالسُّبْكِيُّ وَالشَّيْخُ نَجْمُ الدِّينِ الْإسْفَرايِينِيّ وَغَيْرُهُمْ ثُمَّ قَالَ الْبُلْقِينِيُّ : وَبِهِ الْفَتْوَى ، وَقَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ : إنَّهُ الَّذِي أَعْتَقِدُهُ وَأَلْقَى اللَّهَ بِهِ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ : وَكَذَا أَقُولُ وَيَنْبَغِي طَرْدُهُ فِي سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ

Ditanya : Apakah kotoran Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dinyatakan najis seperti yang lainnya sebagaimana dinyatakan jumhur dan dishahihkan oleh syaikhan ataukah tidak?. Jawab : Bahwa yang mu’tamad adalah kesuciannya [kotoran Nabi] seperti yang dinyatakan oleh Al Baghawiy dan yang lainnya dan dishahihkan Al Qaaadiy Husain dan yang lainnya. Dan telah dinukil Al Umraaniy dari Al Khurasaniyyin dishahihkan oleh Al Baariziy, As Subkiy, Syaikh Najmuddin Al Isfaaraayiiniy dan selain mereka, kemudian telah berkata Al Bulqiiniy “dan berfatwa dengannya”dan Ibnu Raf’ah berkata bahwa ia meyakininya dan berjumpa dengan Allah dalam keadaan meyakininya. Az Zarkasyiy berkata “demikianlah dikatakan dan seyogianya itu juga berlaku untuk seluruh para Nabi” [Fatawa Ar Ramliy 1/169]

Di atas adalah fatwa dari salah seorang ulama ahlus sunnah bermazhab Syafi’i yaitu Ahmad bin Hamzah Ar Ramliy mengenai kesucian kotoran Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

.

Jika para pembaca ingat dulu pernah hangat-hangatnya pembicaraan di Mesir mengenai fatwa salah seorang ulama yaitu Syaikh Ali Jum’ah yang membolehkan minum air kencing Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Pernyataan Beliau ini mendapat kecaman keras dari berbagai kalangan padahal jika ditelaah secara objektif, apa yang dikemukakan Syaikh Ali Jum’ah memang memiliki dasar dalam kitab hadis.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ ، ثنا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ ، ثنا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ ، عَنْ حُكَيْمَةَ بِنْتِ أُمَيْمَةَ ، عَنْ أُمِّهَا أُمَيْمَةَ ، قَالَتْ : كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدَحٌ مِنْ عِيدَانٍ يَبُولُ فِيهِ ، وَيَضَعُهُ تَحْتَ سَرِيرِهِ ، فَقَامَ فَطَلَبَ ، فَلَمْ يَجِدُهُ فَسَأَلَ ، فَقَالَ : ” أَيْنَ الْقَدَحُ ؟ ” ، قَالُوا : شَرِبَتْهُ بَرَّةُ خَادِمُ أُمِّ سَلَمَةَ الَّتِي قَدِمَتْ مَعَهَا مِنْ أَرْضِ الْحَبَشَةِ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَقَدِ احْتَظَرَتْ مِنَ النَّارِ بِحِظَارٍ “

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’iin yang berkata telah menceritakan kepada kami Hajjaaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Hukaimah binti Umaimah dari ibunya Umaimah yang berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki bejana dari pelepah kurma yang beliau gunakan untuk buang air kecil pada waktu malam hari di bawah ranjangnya, suatu hari Nabi meminta bejana itu dan tidak menemuinya lalu bertanya, “di manakah bejana itu?” Dia menjawab, “Ia diminum oleh Barrah, pembantu Ummu Salamah yang datang bersama dengannya dari tanah Habsyah” Maka bekata Nabi shallallahu alaihi wasallam “Dia telah diharamkan dari jilatan api neraka” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 24/205 no 527]

Al Baihaqiy juga membawakan hadis di atas dalam Sunan Al Kubra 7/67 no 13184 dengan jalan sanad Yahya bin Ma’in di atas dimana Ibnu Juraij menyebutkan sima’-nya dari Hukaimah. Terdapat sedikit perbedaan pada matannya dengan riwayat Thabraniy dimana dalam riwayat Thabraniy orang yang dimaksud adalah Barrah pembantu Ummu Salamah sedangkan dalam riwayat Baihaqiy orang yang dimaksud adalah Barakah pembantu Ummu Habiibah. Al Haitsamiy berkata mengenai hadis Ath Thabraniy di atas

رواه الطبراني ورجاله رجال الصحيح غير عبد الله بن أحمد بن حنبل وحكيمة وكلاهما ثقة

Riwayat Thabraniy dan para perawinya perawi shahih selain Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan Hukaimah keduanya tsiqat [Majma’ Az Zawaaid Al Haitsamiy 8/220 no 14014]

Sebagian ulama ahlus sunnah menyatakan shahih atau hasan hadis di atas, diantaranya adalah Jalaludin As Suyuthiy

وأخرج الطبراني والبيهقي بسند صحيح عن حكيمة بنت أميمة عن أمها قالت كان للنبي {صلى الله عليه وسلم} قدح من عيدان يبول فيه ويضعه تحت سريره فقام فطلبه فلم يجده فسأل عنه فقال أين القدح قالوا شربته برة خادم أم سلمة التي قدمت معها من أرض الحبشة فقال النبي {صلى الله عليه وسلم} لقد احتظرت من النار بحظار

Dan telah dikeluarkan Ath Thabraniy dan Baihaqiy dengan sanad shahih dari Hukaimah binti Umaimah dari Ibunya yang berkata Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] memiliki bejana dari pelepah kurma yang beliau gunakan untuk buang air kecil pada waktu malam hari di bawah ranjangnya, suatu hari Nabi meminta bekas itu dan tidak menemuinya lalu bertanya, “di manakah bejana itu?” Dia menjawab, “Ia diminum oleh Barrah, pembantu Ummu Salamah yang datang bersama dengannya dari tanah Habsyah” Maka bekata Nabi [shallallahu alaihi wasallam] “Dia telah diharamkan dari api neraka” [Khasa’is Al Kubra As Suyuthiy 2/377]

As Suyuthiy telah berhujjjah dengan hadis di atas dan menshahihkannya, ia memasukkan hadis tersebut dalam bab yang ia tulis dengan judul

باب اختصاصه {صلى الله عليه وسلم} بطهارة دمه وبوله وغائطه

Bab Kekhususan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan kesucian darah-nya, air kencing-nya dan tinja-nya

Selain As Suyuthiy, hadis tersebut juga dishahihkan dan dijadikan hujjah oleh Qadhi ‘Iyadh dalam kitabnya Asy Syifaa bi Ta’rif Huquq Al Musthafa [Asy Syifaa 1/55]

An Nawawiy juga menshahihkan hadis tersebut dan mengutip penshahihan Daruquthniy terhadap hadis wanita yang meminum kencing Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam]. Ia berkata

واستدل من قال بطهارتها بالحديثين المعروفين أن أبا طيبة الحاجم حجمه صلى الله عليه وسلم وشرب دمه ولم ينكر عليه وان امرأة شربت بوله صلى الله عليه وسلم فلم ينكر عليها وحديث أبي طيبة ضعيف وحديث شرب المرأة البول صحيح رواه الدار قطني وقال هو حديث صحيح

Dan telah berdalil mereka yang menyatakan kesuciannya [air kencing dan darah Nabi] dengan dua hadis yang sudah dikenal yaitu hadis Abu Thaibah yang membekam Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] dan meminum darahnya, tidak ada pengingkaran Beliau atasnya dan hadis seorang wanita meminum kencing Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam], tidak ada pengingkaran Beliau atasnya. Hadis Abu Thaibah dhaif dan hadis wanita meminum kencing tersebut shahih, diriwayatkan Daruquthniy dan ia berkata “itu hadis shahih” [Al Majmu' Syarh Al Muhadzdzab 1/234]

Kami tidak menemukan asal penukilan tashih Daruquthniy tersebut [sepertinya bukan berasal dari kitab Sunan-nya] tetapi tashih Daruquthniy tersebut juga dinukil oleh Ibnu Mulaqqin dalam Badr Al Muniir 1/485.

.

.

.

Kami tidak menafikan bahwa sebagian ulama telah melemahkan hadis Ath Thabraniy di atas dengan alasan Hukaimah binti Umaimah tidak dikenal. Ibnu Hibban telah memasukkannya dalam Ats Tsiqat

حكيمة بنت أُمَيْمَة تروى عَن أمهَا أُمَيْمَة بنت رقيقَة وَلها صُحْبَة روى عَنْهَا بن جريج

Hukaimah binti Umaimah meriwayatkan dari Ibu-nya Umaimah binti Ruqaiqah salah seorang sahabat Nabi. Telah meriwayatkan dari-nya Ibnu Juraij [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 4/195 no 2460]

Sebagian kalangan menilai tautsiq Ibnu Hibban tidak mu’tamad karena ia dikenal sering memasukkan perawi majhul dalam kitabnya Ats Tsiqat. Tetapi terdapat qarinah yang menguatkan bahwa Hukaimah binti Umaimah tidaklah majhul di sisi Ibnu Hibban karena Ibnu Hibban sendiri telah berhujjah dan menshahihkan hadis Hukaimah binti Umaimah dalam kitab-nya Shahih Ibnu Hibban [Shahih Ibnu Hibban 4/274 no 1426] dimana Ibnu Hibban dalam muqaddimah kitab Shahih-nya menyatakan bahwa salah satu syarat perawi yang ia gunakan dalam kitab-nya tersebut adalah shaduq dalam hadis.

Selain itu hadis Hukaimah binti Umaimah juga dikeluarkan oleh An Nasa’iy dalam kitab-nya Al Mujtaba dimana An Nasa’i menyatakan bahwa semua hadis dalam Al Mujtaba adalah shahih

قال النسائي كتاب السنن كله صحيح وبعضه معلول إلا أنه لم يبين علته والمنتخب منه المسمى بالمجتبى صحيح كله

An-Nasaa’iy berkata Kitab As-Sunan semua haditsnya shahih, dan sebagiannya ma’luul. Hanya saja ‘illat-nya itu tidak nampak. Adapun hadits-hadits yang dipilih dari kitab tersebut, yang dinamakan Al-Mujtabaa, semuanya shahih [An Nukaat Ibnu Hajar 1/84]

Al Hakim juga meriwayatkan hadis Hukaimah binti Umaimah dalam kitabnya Al Mustadrak 1/167 dan ia mengatakan bahwa sanad hadis tersebut shahih. Sebagaimana maklum dikenal dalam Ulumul hadis bahwa penshahihan terhadap hadis berarti tautsiq terhadap para perawi-nya, maka disini terdapat faedah bahwa Hukaimah binti Umaimah mendapat predikat ta’dil di sisi An Nasa’iy dan Al Hakim.

Terlepas dari apa sebenarnya kedudukan hadis tersebut, kami hanya ingin menunjukkan bahwa terdapat sebagian ulama ahlu sunnah yang menguatkan dan berhujjah dengannya. Sehingga kalau kita melihat secara objektif maka apa yang dikatakan salah seorang ulama syiah tersebut tentang Imam mereka sama halnya dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama ahlu sunnah tentang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

.

.

.

Lampiran : Berikut adalah scan Kitab Khasa’is Al Kubra oleh Jalaludin As Suyuthiy dimana Beliau telah berhujjah dan menshahihkan hadis riwayat Thabraniy di atas

Khasa'is Al Kubra As Suyuthiy Khasa'is Al Kubra As Suyuthiy1 Khasa'is Al Kubra As Suyuthiy2

Akhir kata kami mengingatkan kepada saudara kami baik yang Syiah maupun yang Ahlus Sunnah agar sama-sama bersikap dewasa dan tidak perlu saling merendahkan dan jangan terpengaruh dengan syubhat para Nashibi. Seperti biasa, salam damai.

hadis dan riwayat syi’ah yang dhaif dan tidak bernilai hujjah dijadikan ALASAN UNTUK MENUDUH SYi’AH SESAT

Syiah dan Ilmu HadisPada masa khalifah Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu…Tatkala al-Mutawakil (847-864) berkuasa, ia melihat bahwa posisinya sebagai khalifah perlu mendapatkan dukungan mayoritas. Sementara, setelah peristiwa mihnah terjadi mayoritas masyarakat adalah pendukung dan simpatisan Ibn Hanbal.

Oleh karenanya al-Mutawakil membatalkan paham Mu’tazilah sebagai paham negara dan menggantinya dengan paham Sunni. Pada saat itulah Sunni mulai merumuskan ajaran-ajarannya.

 

Kenapa Syiah menerima sebagian hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang nota bene tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan menolak sebagian lainnya?

Secara umum, pemikiran kelompok Sunni menekankan pada ketaatan absolut terhadap khalifah yang sedang berkuasa

secara singkat dapat dikatakan bahwa pemikiran politik Sunni pertama kali muncul sebagai respon reaktif terhadap pemikiran-pemikiran Shi’ah dan Khawarij pada masa khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib.

Dalam proses pembentukannya, ideologi Sunni ternyata tidak dapat dilepaskan dari pemikiran keagamaan mereka dan adanya ketegangan-ketegangan dengan golongan lain untuk memperoleh pengakuan dari penguasa. Dalam masa formal ideologi Sunni tersebut, misalnya telah terjadi polemik intelektual antara al-Syafi’I dengan ulama-ulama Khawarij dan Mu’tazilah, dan perebutan mencari pengaruh politik dari para khalifah yang sedang berkuasa.

Diperlukan waktu hampir beberapa abad untuk sampai pada proses terbentuknya pemikiran politik Ahl al-Sunnah ini, terhitung sejak mulai diperkenalkannya pada masa awal Islam, sahabat, tabi’in sampai pada pengukuhannya dalam Risalah al-Qadiriyyah.

Istilah ini (ahl al-Sunnah wa-Jama’ah) awalnya merupakan nama bagi aliran Asy’ariyah dan Maturidiah yang timbul karena reaksi terhadap paham Mu’tazilah yang pertama kali disebarkan oleh Wasil bin Ato’ pada tahun 100 H/ 718 M dan mencapai puncaknya pada masa khalifah ‘Abbasiyah, yaitu al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tasim (833-842 M) dan al-Wasiq (842-847 M). Pengaruh ini semakin kuat ketika paham Mu’tazilah dijadikan sebagai madzab resmi yang di anut negara pada masa al-Ma’mun

Pada masa khalifah Mutawakkil negara berakidah ahlul hadis. Paham ini didukung negara sehingga hadis hadis sunni menjadi mudah di intervensi dengan penambahan penambahan yang di lakukan ULAMA ULAMA BUDAK kerajaan

Ahlul hadis hanya memakai hadis tanpa rasio, padahal hadis hadis yang ada tidak ada jaminan 100% akurat  dari Nabi SAW

Karena fanatisme mazhab, orang orang pada masa tersebut mengarang ngarang hadis agar mazhab nya tetap tegak

Dulu kita tidak tahu, tetapi kini di era informasi semakin mudah didapat bukti bukti…

Kenapa syi’ah imamiyah hanya mau menerima sebagian hadis hadis sunni ???

Jawab :

1. Hadis sunni terkadang satu sama lain saling bertentangan padahal masih dalam satu kitab hadis yang sama

2. Hadis hadis sunni diriwayatkan dengan makna, bukan dengan lafaz

3. Hadis hadis sunni diriwayatkan dengan daya ingat perawi, jadi kata perkata nya belum tentu 100% asli dari Nabi SAW

4. Tidak ada jaminan hadis hadis sunni tidak mengalami perubahan dan pemalsuan, kitab kitab selain Al Quran pasti ada benar dan ada salahnya tanpa kecuali, gawatnya Shahih Bukhari Muslim diklaim benar semua !! wah wah

Aliy bin Abi Thalib Pernah Shalat Tanpa Berwudlu’ : Dusta Nashibi

Ada satu riwayat menarik dari kitab tetangga [baca : Syiah] yang dijadikan hujjah para Nashibi untuk merendahkan mazhab Syiah. Setelah kami teliti [tentu dengan merujuk pada kitab-kitab Syiah] maka kami dapati ternyata para Nashibi tersebut tergolong orang yang berkualitas rendah tapi bergaya sok alim dan sok ilmiah. Tidak usah banyak cerita, silakan lihat riwayat yang mereka jadikan hujjah

فأما ما رواه علي بن الحكم ، عن عبد الرحمن العرزمي ، عن أبي عبد الله (ع) قال : صلى علي (ع) بالناس على غير طهر ، وكانت الظهر فخرج مناديه أن أمير المؤمنين (ع) صلى على غير طهر ، فأعيدوا وليبلغ الشاهد الغائب

Dan diriwayatkan Aliy bin Al Hakam dari ‘Abdurrahman Al Arzamiy dari Abu ‘Abdullah yang berkata “Aliy pernah mengimami orang-orang shalat zhuhur dalam keadaan tidak suci [berwudlu’], maka penyerunya keluar dan menyerukan “Amirul mukminin shalat dalam keadaan tidak suci, ulangi shalat kalian dan hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 1/433].

Riwayat ini dilihat dari sudut pandang keilmuan Syiah para perawinya tsiqat, secara zhahir shahih tetapi mengandung illat [cacat]. Abdurrahman Al Arzamiy dalam periwayatan hadis ini ternyata meriwayatkan melalui perantara Ayahnya, hal ini disebutkan oleh Syaikh Ath Thuusiy sendiri dalam kitabnya yang lain yaitu Tahdzib Al Ahkaam

فأما ما رواه علي بن الحكم عن عبد الرحمن بن العرزمي عن أبيه عن أبي عبد الله عليه السلام قال صلى علي عليه السلام بالناس على غير طهر وكانت الظهر ثم دخل فخرج مناديه ان أمير المؤمنين عليه السلام صلى على غير طهر فأعيدوا وليبلغ الشاهد الغائب

Dan diriwayatkan Aliy bin Al Hakam dari ‘Abdurrahman Al Arzamiy dari Ayahnya dari Abu ‘Abdullah yang berkata “Aliy pernah mengimami orang-orang shalat zhuhur dalam keadaan tidak suci [berwudlu’] kemudian Beliau masuk, maka penyerunya keluar dan menyerukan “Amirul mukminin shalat dalam keadaan tidak suci, ulangi shalat kalian dan hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir [Tahdzib Al Ahkaam Syaikh Ath Thuusiy 3/40]

Riwayat yang menyebutkan sanad “dari ayahnya” inilah yang mahfudz sebagaimana dikuatkan oleh ulama lain selain Syaikh Ath Thuusiy yaitu Al Hurr Al Amiliy dalam Wasa’il Syiah.

وبإسناده عن علي بن الحكم ، عن عبد الرحمن العرزمي عن أبيه عن أبي عبدالله  عليه السلام  قال : صلى علي  عليه السلام  بالناس على غير طهر وكانت الظهر ثم دخل ، فخرج مناديه ، أن أمير المؤمنين عليه السلام صلى على غير طهر فأعيدوا فليبلغ الشاهد الغائب

Dan dengan sanadnya dari Aliy bin Al Hakam dari ‘Abdurrahman Al Arzamiy dari Ayahnya dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam] yang berkata “Aliy [‘alaihis salama] pernah mengimami orang-orang shalat zhuhur dalam keadaan tidak suci [berwudlu’] kemudian Beliau masuk, maka penyerunya keluar dan menyerukan “Amirul mukminin [‘alaihis salam] shalat dalam keadaan tidak suci, ulangi shalat kalian dan hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir [Wasa’il Syiah Syaikh Hurr Al Aamily 8/373]

.

.

Para ulama Syiah ketika menukil riwayat dari Syaikh Ath Thuusiy mereka menyebutkan sanad “Abdurrahman Al Arzamiy dari Ayahnya” sebagaimana riwayat Syaikh dalam Tahdzib Al Ahkam.

وأما ما رواه الشيخ ، عن عبد الرحمن العزرمي ، عن أبيه عن أبي عبد الله قال : صلى علي بالناس على غير طهر وكانت الظهر ثم دخل فخرج مناديه أن أمير المؤمنين صلى على غير طهر فأعيدوا ، وليبلغ الشاهد الغايب

Dan diriwayatkan Syaikh dari ‘Abdurrahman Al Arzamiy dari Ayahnya dari Abu ‘Abdullah yang berkata “Aliy pernah mengimami orang-orang shalat zhuhur dalam keadaan tidak suci [berwudlu’] kemudian Beliau masuk, maka penyerunya keluar dan menyerukan Amirul mukminin shalat dalam keadaan tidak suci, ulangi shalat kalian dan hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir [Dzakhiirah Al Ma’ad Fii Syarh Al Irsyaad 1/393, Muhaqqiq Sabzawariy]

وأما رواية عبد الرحمن العرزمي ، عن أبيه ، عن الصادق قال : صلى علي بالناس على غير طهر وكأن في الظهر ، ثم دخل فخرج مناديه أن أمير المؤمنين صلى على غير طهر ، فأعيدوا وليبلغ الشاهد الغائب

Dan diriwayatkan ‘Abdurrahman Al Arzamiy dari Ayahnya dari Ash Shaadiq yang berkata “Aliy pernah mengimami orang-orang shalat zhuhur dalam keadaan tidak suci [berwudlu’] kemudian Beliau masuk, maka penyerunya keluar dan menyerukan Amirul mukminin shalat dalam keadaan tidak suci, ulangi shalat kalian dan hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir [Manaahij Al Ahkaam hal 524, Mirza Al Qummiy]

ومنها : رواية العزرمي ، عن أبيه ، عن أبي عبد الله قال : صلى علي بالناس على غير طهر ، وكانت الظهر ثم دخل فخرج مناديه أن أمير المؤمنين صلى على غير طهر فأعيدوا ، وليبلغ الشاهد الغائب

Dan darinya Riwayat Al Arzamiy dari Ayahnya dari Abu ‘Abdullah yang berkata “Aliy pernah mengimami orang-orang shalat zhuhur dalam keadaan tidak suci [berwudlu’] kemudian Beliau masuk, maka penyerunya keluar dan menyerukan Amirul mukminin shalat dalam keadaan tidak suci, ulangi shalat kalian dan hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir [Kitab Ash Shalah 5/361, Sayyid Al Khu’iy]

Berdasarkan pembahasan di atas nampak bahwa sanad yang dibawakan Syaikh Ath Thuusiy dalam Al Istibshaar itu keliru atau kurang lengkap [hal ini kemungkinan karena tashif]. Riwayat yang rajih adalah yang dibawakan oleh Syaikh Ath Thuusiy dalam kitabnya Tahdzib Al Ahkaam sebagaimana dikuatkan oleh Al Hurr Al Amiliy dan dinukil oleh para ulama Syiah seperti Muhaqqiq Sabzawariy, Mirza Al Qummiy dan Sayyid Al Khu’iy.

Riwayat ini sanadnya dhaif karena kelemahan ayahnya ‘Abdurrahman Al ‘Arzamiy yaitu Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Sulaiman Al Arzamiy, ia tidak dikenal kredibilitasnya alias majhul sebagaimana ditegaskan oleh Sayyid Al Khu’iy [Kitab Ash Shalah 5/361, Sayyid Al Khu’iy]. Riwayat ini juga dilemahkan oleh Muhaqqiq Sabzawariy dan Mirza Al Qummiy.

محمد بن عبيد الله بن أبي سليمان: العرزمي الكوفي – من أصحاب الصادق مجهول

Muhammad bin ‘Ubaidillah bin Abi Sulaiman Al Arzamiy Al Kuufiy, termasuk sahabat Ash Shadiq, majhul [Al Mufid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 548, Muhammad Al Jawahiriy]

.

.

.

Ada Nashibi yang sok bergaya ilmiah mengatakan bahwa riwayat di atas shahih dan sanad yang benar adalah sanad dalam riwayat Al Istibshaar dimana Abdurrahman Al Arzamiy meriwayatkan langsung dari Abu ‘Abdullah [tanpa menyebutkan ayahnya]. Alasannya karena dalam kitab Rijal dan kitab hadis Syiah, Abdurrahman Al Arzamiy dikenal meriwayatkan langsung dari Abu ‘Abdullah.

Abdurrahman Al ‘Arzamiy memang dikenal meriwayatkan langsung dari Abu ‘Abdullah tetapi dalam kitab Syiah, ia juga pernah meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah melalui perantara Ayahnya. Hal ini disebutkan dalam hadis lain selain hadis di atas yaitu dalam kitab Al Kafi

  مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْعَرْزَمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Aliy bin Al Hakam dari Abdurrahman Al ‘Arzamiy dari Ayahnya dari Abu ‘Abdullah [Ushul Al Kafi 3/98]

Tidak dipungkiri bahwa riwayat Abdurrahman Al ‘Arzamiy dari Abu Abdullah secara langsung lebih banyak dibanding riwayatnya melalui perantara Ayahnya. Tetapi perkara ini adalah hal yang lumrah dalam periwayatan, sama hal-nya dengan riwayat Ibnu Umar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam mazhab Ahlus sunnah lebih banyak dibanding riwayat Ibnu Umar dari Ayahnya Umar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Periwayatan Abdurrahman Al Arzamiy dari ayahnya juga dikenal dalam kitab Rijal Syiah. Sayyid Al Khu’iy dalam kitabnya Mu’jam Rijal Al Hadits 10/368 biografi no 6419 menuliskan nama Abdurrahman bin Al ‘Arzamiy atau Abdurrahman bin Muhammad bin Ubaidillah atau ‘Abdurrahman bin Muhammad Al ‘Arzamiy atau ‘Abdurrahman Al ‘Arzamiy, ia meriwayatkan dari ‘Abu ‘Abdullah dan telah meriwayatkan darinya Aliy bin Hakam, kemudian Al Khu’iy menyatakan

وروى عن أبيه، عن أبي عبد الله (عليه السلام)، وروى عنه علي بن الحكم

Telah meriwayatkan dari ayahnya dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam] dan telah meriwayatkan darinya Aliy bin Al Hakam [Mu’jam Rijal Al Hadits 10/368 biografi no 6419]

Syaikh Aliy An Namaziy Asy Syahruudiy menyebutkan dalam kitabnya Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits 4/419 no 7775

عبد الرحمن بن محمد بن عبيد الله العردي
لم يذكروه. روى عن أبيه، وعنه أبو المفضل. أمالي الشيخ ج 2 / 171

‘Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Ubaidillah Al ‘Ardiy, mereka tidak menyebutkannya. Ia meriwayatkan dari ayahnya dan telah meriwayatkan darinya Abu Mufadhdhal, dalam Amaliy Syaikh Ath Thuusiy 2/171

Dan jika kita merujuk pada kitab Amaliy Syaikh Ath Thusiy maka sanad yang dimaksud adalah sebagai berikut

قال أخبرنا جماعة، عن أبي المفضل، قال حدثنا عبد الرحمن بن محمد بن عبيد الله العرزمي، عن أبيه، عن عثمان أبي اليقظان، عن أبي عمر زاذان

Ttelah mengabarkan kepada kami Jama’ah dari Abu Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Ubaidillah Al Arzamiy dari Ayahnya dari ‘Utsman Abi Yaqzhaan dari Abi Umar Zaadzaan [Amaliy Syaikh Ath Thuusiy 2/139]

Maka ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Ubaidillah yang disebutkan oleh Syaikh Ali An Namaziy itu adalah Al ‘Arzamiy dan ia meriwayatkan dari Ayahnya sebagaimana yang nampak dalam Amaliy Syaikh Ath Thuusiy.

.

.

.

Selain itu dilihat dari segi matan-nya riwayat di atas mengandung kemungkaran dari sisi bertentangan dengan riwayat yang menyatakan bahwa orang yang berimam dengan imam yang ternyata tidak berwudhu’ maka tidak perlu mengulang shalat. Sedangkan zhahir riwayat di atas nampak bahwa mereka diharuskan mengulang shalat mereka.

علي بن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، ومحمد بن إسماعيل، عن الفضل بن شاذان جميعا، عن حماد بن عيسى، عن حريز، عن محمد بن مسلم قال: سألت أبا عبد الله (عليه السلام) عن الرجل أم قوما وهو على غير طهر فأعلمهم بعد ما صلوا، فقال: يعيد هو ولا يعيدون

Aliy bin Ibrahim bin Haasyim dari Ayahnya dan Muhammad bin Ismail dari Fadhl bin Syadzaan, keduanya dari Hammad bin Iisa dari Hariiz dari Muhammad bin Muslim yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang seseorang yang menjadi imam dan ia ternyata tidak suci [berwudhu’], ia memberitahu mereka setelah shalat. [Abu ‘Abdullah] berkata “ia mengulang shalat sedangkan mereka tidak perlu mengulang” [Al Kafi  Al Kulaini 3/378]

Kesimpulan : Tidak diragukan lagi bahwa riwayat Imam Ali pernah shalat tanpa berwudlu’ adalah dusta yang diada-adakan atas nama Ima Aliy. Dari sudut pandang keilmuan Syiah riwayat tersebut dhaif dan tidak bernilai hujjah.

Tulisan ini bisa dibilang merupakan pembelaan terhadap Syiah atas ulah sekelompok orang jahil berhati nifaq yang tidak henti-hentinya mencari cara untuk merendahkan mazhab Syiah.

Kita berdoa kepada Allah SWT semoga kejahilan mereka tidak membawa mudharat bagi siapapun kecuali diri mereka sendiri.

kontradiksi hadis syi’ah ?? dua versi yang bertolak belakang membatalkan teori kema’shuman para Imam Syiah ?

saudaraku… Mustahil  Rasulullah  SAW  plin plan… Mustahil  Imam Ali  plin plan…. Kalau kitab baca kitab hadis sunni  kerap kita temukan kontradiksi  sehingga  muncul beraneka  versi… Kenapa hal ini  terjadi  ???

1a

Karena fanatisme mazhab, orang orang pada masa tersebut mengarang ngarang hadis agar mazhab nya tetap tegak. Dulu kita tidak tahu, tetapi kini di era informasi semakin mudah didapat bukti bukti… Adanya pertentangan dan kontradiksi diinternal hadis sunni  MEMBUKTiKAN  bahwa sebagian hadis  sunni yang  ditolak  (syi’ah imamiyah)  adalah hadis  BUATAN  rezim penjahat…

 

Abu Zahrah menyatakan : “Pemerintah Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam” (Sumber : Abu Zahrah, Al Imam Al Shadiq, halaman 161)

 

Hadits-hadits palsu pada masa bani Umayyah untuk bisa melegitimasi kekuasaan bani Umayyah pada saat itu. Kebencian keluarga Umayyah  kepada Bani Hasyim sangat terkenal, misalnya Cucu Abu Sofyan membantai Imam Husain di Karballa.Bukhari Menjadikan Salah Satu Sumber Utama Hadisnya dari ZUHRi Sang Pemalsu Hadis Dan Sejarah demi membenarkan tindakan Zalim Tiran Bani Umayyah

Mu’awiyah adalah orang pertama yang tertarik ingin menulis sejarah dan membuat buat hadis hadis atau sunnah palsu. Ia mendapatkan sebuah sejarah  masa lalu yang ditulis oleh seorang bernama Ubaid yang ia panggil dari Yaman.Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam, dan Abu Rayyah dalam bukunya Adhwa’ Ala Sunnah Al Muhammadiyah telah menggugat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, bahwa dia (Abu Hurairah) sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, padahal dia tidak pernah menulis. Ia hanya menceritakan hadits dari ingatannya.

Bukhari Menjadikan Salah Satu Sumber Utama Hadisnya dari ZUHRi Sang Pemalsu Hadis. Zuhri-ulama’ rezim tiran Bani Umayyah demi membenarkan tindakan penguasa. Asy-Sya’bi- seorang ulama yang bergelimang dalam kubangan kebjatan istama rezim Umayyah, atau al-Laits.

Zuhri adalah sejarawan pertama yang menulis sejarah Islam atas perintah dan pembiayaan langsung dari penguasa. Ia juga menulis kumpulan hadis. Karya Zuhri adalah salah satu sumber utama hadis hadis Bukhari. Zuhri sangat dekat dengan keluarga bangsawan, dan guru bagi putera putera nya

Dua orang murid Zuhri yang bernama Musa bin Uqbah dan Muhammad bin Ishaq menjadi sejarahwan terkenal. Musa dulunya adalah seorang budak dirumah Zubair. Karyanya merupakan karya yang terkenal untuk waktu yang lama. Anda akan menemukan referensi referensi nya di banyak buku buku sejarah

Murid kedua, Muhammad bin ishaq  adalah sejarahwan terkemuka bagi kaum sunni. Biografi Nabi karyanya  berjudul “Sirah Rasulullah” masih menjadi sumber sejarah yang diakui dalam bentuk yang diberikan oleh Ibnu Hisyam, dan dikenal sebagaisirah Ibnu Hiysam

Zuhri adalah orang pertama yang menyusun hadis seluruh sejarah  dan kitab sunni setelah nya oleh orang orang yang berpengaruh dalam karya karya ini (Sumber : As Sirah An Nabawiyah, Syilbi, Sejarahwan Sunni Terkemuka, bagian 1 halaman 13-17)

Penjelasan diatas memberikan bukti dan fakta fakta berikut :

  1. Kitab sejarah kaum sunni pertama kali disusun atas perintah langsung dari Dinasti Umayyah
  2. Penulis pertama adalah Zuhri, lalu dilanjutkan oleh kedua muridnya, Musa bin Uqbah dan Muhammad bin Ishaq
  3. Para penulis ini sangat dekat dengan keluarga Dinasti Umayyah

Penjahat penjahat inilah yang pertama kali menuliskan kitab kitab sejarah dan hadis. Mereka memalsukan hadis untuk membenarkan tindakan mereka dan menyatakan bahwa Nabi SAW telah memerintahkan untuk menaati mereka walaupun zalim.  Sebuah hadis berlabel shahih yang menggelikan !!!!

Mayoritas Umat Merupakan Jama’ah pengikut  Syi’ah Mu’awiyah (sunni sekarang) yang MERAMPAS  kekuasaan , menindas dan melakukan diskriminasi terhadap Syi’ah Ali.. Mustahil Nabi SAW menyuruh anda mengikuti kaum mayoritas !!!

Banyak Hadis Hadis dan Kitab Sejarah Mazhab Sunni Telah Dipalsukan Oleh Penulis dari Dinasti Umayyah !!!  Sehingga Syi’ah Hanya Menerima Sebagian Hadis dan Sirah Sunni Dan Mengingkari Keotentikan Sebagian Lagi

Bukhari Menjadikan Salah Satu Sumber Utama Hadisnya dari ZUHRi Sang Pemalsu Hadis Dan Sejarah demi membenarkan tindakan Zalim Tiran Bani Umayyah. Al-zuhri telah membuat hadits palsu. Hal ini dilakukannya karena ada “order special” dari khalifah bani umayyah di damaskus. Kendati hadits tersebut termaktub dalam kitab sahih al-bukhari, sebagian diantaranya  bikinan Al-zuhri, dan bukanlah sabda Nabi saw. Saya meragukan  kredibilitas imam Al-Zuhri. Para pejabat itu telah memaksanya untuk menuliskan hadits agar terhimpun dalam suatu buku.

Sebagian  omongan Zuhri dianggap sebagai hadits Nabi SAW. Itu kecerobohan Bukhari.

Terdapat dalam kitab Ibn Sa’ad dan Ibn ‘Asakir  : Al Zuhri mengatakan, “Inna haulai al umara akrahuna ‘ala kitabah alhadits” (sesungguhnya para pejabat itu telah memaksa kami untuk menulis Hadits). Artinya para pejabat itu telah memaksanya untuk menuliskan Hadits-hadits nabawi yang pada saat itu sudah ada tetapi belum terhimpun dalam suatu buku. JAdi Zuhri  ada  hubungan dengan Bani Umayyah dan pemanfaatan dirinya dalam pemalsuan hadits demi mengikuti hawa nafsu mereka

Motif pemalsuan hadis oleh penguasa :

 

1. Syi’ah menolak kekhalifahan Umayyah Abbasiyah  ataupun tidak ikut membai’atnya.

2. Upaya penyingkiran kekhalifahan yang sah yakni “ Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW”.

3. Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat, karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN..

 

Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung  bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

 

Akibatnya ??  hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan

 

mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya, pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) dicap sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH.

 Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH. Harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.

Syaikh Abul A’la Maududi menyatakan bahwa : “Tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa seluruh hadis Bukhari adalah shahih”.

 

Pihak sunni tidak banyak memperhatikan faktor faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadis. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadis, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulat Amawiyah dan Daulat Abasiyah. Pihak Sunni tidak mampu membedakan mana hadis yang orisinil dengan hadis yang batil

Pihak sunni tidak banyak melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sosial yang melingkupi para periwayat atau keadaan pribadinya ataupun hal hal yang mendorongnya melakukan pemalsuan hadis.

 

Seandainya pihak sunni banyak melakukan studi kritik matan dan tidak semata terpaku pada kritik sanad maka pasti Sunni akan menemukan banyak hadis yang sebenarnya palsu

Sunni tidak melakukan studi komprehensif terhadap situasi sosial politik masa itu. Hadis hadis sunni yang saling bertolak belakang membuktikan adanya pemalsuan terorganisir dengan menisbatkan kepada Nabi SAW apa apa yang sebenarnya tidak layak dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu atau realitas sejarah yang terkadang bertolak belakang.

 

Isi satu persatu hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan sabda sabda yang saling berlawanan. Kenapa ada hadis hadis sunni yang keorisinilan nya tidak disepakati syi’ah ???

 

Para peneliti hadis pasti akan menemukan banyak hadis hadis yang disandarkan pada Nabi tetapi pada hakekatnya tidak lain adalah bid’ah yang dibuat oleh sebagian sahabat setelah meninggalnya Rasul disertai upaya pemaksaan pada umat untuk melaksanakannya sehingga ulama sunni kemudian meyakini bahwa itu semua dilakukan oleh Nabi SAW

 

Tidak heran kalau kemudian hadis hadis bid’ah tersebut bertentangan dengan AL QURAN, apakah Sunnah PALSU dapat menghapus Al Quran ??..

 

Terlebih lagi Abubakar dan Umar secara terang terangan membakar semua catatan hadis yang ada, akibatnya malapetaka lah yang terjadi kini….

 

Ketika perbedaan perbedaan itu terjadi dalam empat mazhab fikih sunni maka mereka malah diam saja dan menganggapnya sebagai rahmat karena BEDA PADA FURU’ dan  bukan pada USHUL. Sebaliknya pihak Sunni mencaci maki syi’ah jika mereka berbeda pendapat dalam suatu permasalahan sehingga perbedaan menjadi laknat untuk syi’ah.

 

Lucunya mereka pun hanya mengakui pendapat pendapat Imam mereka saja, walaupun Imam Imam tersebut tidak akan pernah menyamai Imam imam yang suci dalam ilmu, amal dan keutamaan. Tidak heran kalau pihak Sunni kemudian juga menolak hadis hadis yang diriwayatkan para imam Ahlulbait walaupun hadis hadis tersebut shahih… Sekarang renungkanlah pembaca, sikap fanatik buta dari pihak Sunni yang menuduh para perawi hadis dari Imam Imam Ahlulbait sebagai orang orang zindiq.

 

Mazhab Sunni meyakini bahwa PERKATAAN DAN PERBUATAN SAHABAT merupakan sunnah yang dapat diamalkan dan tidak mungkin bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW walaupun adakalanya perbuatan mereka tersebut tidak lain hanyalah  hasil ijtihad yang disandarkan pada Rasul SAW.

 

Tampaknya pihak sunni tidak mencocokkan hadis hadis para Sahabat dengan AL QURAN, mereka khawatir terbongkar nya pemalsuan pemalsuan hadis yang selama ini mereka lakukan. Mereka sadar bahwa kalau hadis hadis tersebut jika dicocokkan dengan Al Quran  maka banyak yang akan bertentangan, sementara yang sesuai dengan AL QURAN tafsirkan berdasarkan pemahaman mereka sendiri, misal: 12 khalifah Quraisy yang Nabi SAW maksudkan adalah para imam ahlulbait yang suci setelah Nabi SAW wafat, bukan orang orang zalim seperti Mu’awiyah

Imam Ali AS  merupakan satu satunya sahabat yang ketika menjadi khalifah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan manusia pada sunnah Nabi SAW. Sayangnya usaha tersebut menemui kegagalan karena MUSUH selalu mengobar kan peperangan untuk mencegah usaha tersebut mulai dari PERANG JAMAL, ShiFFiN, NAHRAWAN hingga pembunuhan terhadap Imam Ali AS.

 

Tidak heran kalau para pengikut Ali yang berada dalam kebenaran menjadi pihak yang salah dan sesat, sementara pihak yang sesat malah menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan. Jadilah pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH.

 

Pemerintahan Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali AS. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam.

 

Setelah terbunuhnya Imam Ali  maka Mu’awiyah kemudian memegang tampuk pemerintahan. Dan satu satunya tekad yang ia canangkan sejak dulu adalah memadamkan cahaya agama Islam orisinil dengan segala cara dan upaya serta menghapus SUNNAH NABi yang telah dihidupkan kembali oleh Imam Ali AS dan mengembalikan manusia kepada bid’ah-bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

 

Dan jika kita meneliti buku-buku sejarah secara seksama, kita akan menemukan bahwa PENGUASA Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN

 

Dari sinilah kemudian muncul upaya upaya untuk mensucikan khalifah sebelumnya dengan mempropagandakan bahwa semuanya adalah orang orang suci dan adil yang tidak boleh dikritik sedikitpun. Itulah mengapa mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya ataupun tidak ikut membai’atnya serta malah mendukung Ali dan ahli bait sebagai sebagai khalifah yang sah.

 

Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung upaya penyingkiran terhadap Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW

.

sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.

.

Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.

.

Hadis sunni terkadang satu sama lain saling bertentangan padahal masih dalam satu kitab hadis yang sama. Dalam metode sanad sunni, perawi hanya mengungkapkan apa yang ia dengar/ lihat  sehingga like-dislike.

Bagaimanapun, penilaian seseorang sudah tentu mengandung unsur-unsur subyektif. Dan ingatan manusia, seberapapun sempurnanya, tentu mengandung kemungkinan meleset.

 

Letakkan sebuah kursi di tengah ruangan. Panggil 10 orang duduk mengitari kursi itu. Suruh mereka menulis tentang kursi satu itu. Maka akan muncul 10 cerita yang berbeda. Tidak seorangpun boleh mengatakan ceritanya yang paling benar dan yang lain salah. Orang lain yang akan memilih, cerita mana yang paling masuk akal. Kita tidak perlu saling memaki karena semua orang punya hak untuk berpendapat dan untuk memilih.

 

hadits dibukukan jauh setelah sumber aslinya wafat. jelas saja menyisakan ruang untuk berbagai kemungkinan dan kepentingan. disinilah kemudian terletak sumber kontroversi yang juga dipicu penggolongan derajat hadits dan munculnya kelompok-kelompok dengan pendekatan berbeda terhadap kekuatan hukum sebuah hadits.

 

  • Imam Syafii dinyatakan dhaif oleh Ibnu Main dan tsiqah oleh banyak ulama lain (bisa bayangkan kalau Imam Syafii dhaif, waduh bisa hancur itu mahzab Syafii)
  • Imam Tirmidzi dinyatakan majhul oleh Ibnu Hazm tetapi sangat terpercaya oleh ulama lain(apalagi ini nih masa’ Sunan Tirmidzi kitab majhul/tidak dikenal)
  • Ibnu Ishaq dinyatakan dajjal oleh Imam Malik tetapi beliau juga dipercaya oleh Imam Syafii dan Ali bin Madini serta yang lainnya. Dan sampai sekarang kitab Sirah Ibnu ishaq tetap menjadi referensi umat islam.
  • Katsir Al Muzanni adalah perawi yang sangat dhaif dan ini dinyatakan oleh banyak ulama sampai2 Imam Syafii menyebutnya “Tiang Kebohongan” (ini celaan paling jelek dalam Jarh wat Ta’dil). Anehnya Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir.
  • Imam Ahmad ibn Hanbal menggugurkan keadilan Ubaidullah ibn Musa al Absi hanya karena ia mendengarnya menyebut-nyebut kejelakan Mu’awiyah ibn Abu Sufyân. Tidak cukup itu, ia (Ahmad) memaksa Yahya ibn Ma’in agar menggugurkan keadilannya dan menghentikan meriwayatkan hadis darinya.

Pihak Sunni menerima hadis hadis yang diriwayatkan oleh Khawarij dan golongan Nawasib . Mereka tidak segan segan untuk menshahihkan hadis hadis palsu yang disusun secara sengaja  untuk memuliakan dan menguatamakan Abubakar Umar Usman dan loyalisnya. Padahal PERAWi  TERSEBUT dikenal  sebagai nawasib

 

contoh : Ibnu Hajar menyatakan Abdullah bin Azdy sebagai “pembela sunnah Rasul”

 

Ibnu Hajar juga menyatakan Abdullah bin Aun Al Bisry sebagai “Ahli ibadah pembela sunnah dan penentang bid’ah”

 

Padahal faktanya mereka berdua membenci Imam Ali dan para pendukungnya

 

Sebab, kalau kita telaah proses verifikasi sanad, akan kelihatan sekali bahwa fondasinya cenderung subyektif, hal yg sangat wajar jika kita rajin menelaah hadist2 suni bahkan yg muktabar sekalipun, dimana akan banyak kontradiksi di dalam masalah penghukumannnya (ta’dil wa jarh ). Sebab, dasar pokok dari metode sanad adalah penilaian seseorang atas “kualitas” orang lain yang menjadi rawi.

contoh saja: salah seorang perawi sahih Buhori, Haritz bin Uthman jelas dia adalah pendukung bani Umayah, ia melaknat Imam Ali 70x di pagi hari dan 70x di sorenya secara rutin…namun apa juga yg dikatakan Ahmad bin Hambal:”haritz bin uthman adalah Tsiqot!”.

 

kemudian dalam soheh Muslim pun diceritakan bahwa Muawiyah La. memerintahkan Sa’ad bin Abi waqos untuk menghina dan mencerca Imam Ali a.

 

Hadis  Aswaja sunni  kacau balau  karena menempatkan para perawi atas dasar memihak atau tidaknya kepada ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertikaiannya dengan Mu’awiyah.. Untuk itu, ulama aswaja sunni menyebut seseorang itu Syi’ah manakala ia berpihak kepada ‘Ali…Yang  pro  Ali  mayoritas  hadis nya ditolak  sedangkan  yang  MENCELA  ALi  hadisnya  dianggap tsiqat/shahih… standar  ganda.

 

Anda berhak bertanya akan keseriusan para ulama Sunni dalam menyikapi para pembenci dan pencaci maki sahabat, yang dalam rancangan konsep mereka siapa pun yang membenci dan apalagi juga dilengkapi dengan mencaci-maki sahabat Nabi saw. mereka kecam sebagai zindiq, fasik, pembohong yang tidak halal didengar hadisnya!! Lalu bagaimana dengan perawi yang membenci dan mencai-maki Imam Ali as.? Apakah mereka akan berkonsekuen dalam mengetrapkannya? Atau mereka akan melakukan praktik “Tebang Pilih”!

 

Jika seoraang perawi mencaci maki Mu’awiyah, ‘Amr ibn al ‘Âsh, Abu Hurairah, Utsman ibn ‘Affân, Umar ibn al Khathtab, atau Abu Bakar misalnya, hukuman itu ditegakkan!

 

Jika yang dicaci dan dibenci saudara Rasulullah saw. dan menantu tercintanya; Ali ibn Abi Thalib as. maka seakan tidak terjadi apa-apa! Seakan yang sedang dicaci-maki hanya seorang Muslim biasa atau bisa jadi lebih rendah dari itu…. Pujian dan sanjungan tetap dilayangkan… kepercayaan terhadapnya tetap terpelihara… keimanannya tetap utuh… bahkan jangan-jangan bertambah karena mendapat pahala besar di sisi Allah kerenanya, sebab semua itu dilakukan di bawah bendera ijtihad dan keteguhan dalam berpegang dengan as Sunnah!!

 

Mengapa kegarangan sikap dan ketegasan vonis itu hanyaa mereka tampakkan dan jatuhkan ketika yang dicaci-maki dan dibenci adalah sahabat selain Imam Ali as., betapapun ia seorang fasik berdasarkan nash Al Qur’an, seperti al Walîd ibn ‘Uqbah! Sementara jika Ali as. atau sahabat dekatnya seperti Ammar ibn Yasir, Salman al FarisiAbu Darr ra. dkk. yang dicaci-maki dan dibenci serta dilecehkan semua seakan tuli dan bisu….

 

Cuma asumsi sayakah ini? Ooh tidak ini bisa dibuktikan. Pernahkah anda membaca riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram. Padahal ada riwayat lain bahwa Nabi SAW melarang menikah di waktu ihram. Nabi SAW melanggar perkataan Beliau sendiri, nggak mungkin banget kan dan puncaknya ada riwayat lain bahwa Pernikahan Nabi SAW dengan Maimunah RA tidak terjadi waktu ihram. Semua riwayat tersebut Shahih.(sesuai dengan Metode penyaringan). Tidak mungkin 2 hal yang kontradiktif bisa benar

 

 

 Pemerintahan para penjahat melancarkan propaganda hingga ajaran itrah ahlul bait menjadi asing ditengah tengah umat dan muncul Keanekaragaman Inkonsistensi.

 

Penilaian ulama yang berbeda soal hadis akan membuat perbedaan pula terhadap apa itu yang namanya Sunnah. Ulama A berkata hadis ini shahih sehingga dengan dasar ini maka hadis itu adalah Sunnah tetapi Ulama B berkata hadis tersebut dhaif atau bisa saja maudhu’ sehingga dengan dasar ini hadis itu tidak layak disebut Sunnah. Pernah dengar hadis2 yang kontradiktif misalnya nih hadis yang melarang menangisi mayat dan hadis yang membolehkan menangisi mayat. Atau hadis-hadis musykil yang begitu anehnya

  • Nabi Musa telanjang mengejar pakaiannya yang dibawa lari sebongkah batu
  • Nabi Musa menampar malaikat maut sehingga bola mata malaikat itu keluar dan akhirnya Allah SWT mengembalikan bola matanya
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW berhubungan dengan 9 istrinya dalam satu malam
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW menikahi anak berumur 9 tahun

Yang anehnya Rekayasa Sunnah ini bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sendiri dimana ada sebagian sahabat yang melarang apa yang sudah ditetapkan dan dibolehkan oleh Nabi SAW salah satunya yaitu Haji tamattu’ (dan bagi Syiah termasuk Nikah Mut’ah).

 

Hadis hadis TENTANG  SEMUA  SAHABAT  ADiL, hadis hadis jaminan surga kepada 3 khalifah, hadis hadis pujian kepada  Mu’awiyah  dan sejenisnya hanyalah  hadis hadis  politik REKAYASA  PENGUASA  dan ulama penjilatnya..

 

Yang menarik, hadis-hadis politik itu muncul dan beredar di masyarakat jauh setelah khalifah empat (al-khulafa’ al-rashidun) berlalu. Hadis-hadis ini muncul setelah sarjana Islam mulai menulis literatur yang sering disebut sebagai “fiqh al-Siyasah” atau fikih politik.

 

masalah hadis-hadis politik, tinggal bagaimana kearifan kita dalam memahaminya. iya to!  alias tak seluruhnya dr turats klasik kita itu BAIK. jangan hanya “taken for granted”.

 

Selamanya kaum munafik tidak akan pernah mencintai Imam Ali as…. semua upaya mereka hanya akan tercurah pada bagaimana mereka dapat melampiaskan kedengkian dan kebencian mereka kepada Imam Ali as. dengan berbagai cara:

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menndingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Dll.

 

Situasi politik dan keamanan pada saat pengumpulan hadis hadis sunni tidak kondusif  bagi suasana ilmiah yang netral, buktinya antara lain :

- Imam Al Nasa’i, pengarang sunan Al Nasa’i dipukul dan dianiaya hingga sekarat didalam Masjid karena menyatakan : “saya tidak mengetahui keutamaan apapun dari Mu’awiyah kecuali Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”

- Pemakaman Ibnu Jarir Al Thabary dipekuburan Islam dihalangi dan dicegah karena beliau menshahihkan hadis hadis Ghadir Kum dan menghimpun riwayat riwayat nya hingga mencapai tingkat mutawatir.. Beliau akhirnya dikubur dipekuburan Kristen dan hartanya dirampas

- Al ‘Amary yang meriwayatkan hadis burung panggang (yang menunjukkan keutamaan Imam Ali) di usir dari tempat duduk nya dicuci karena dianggap najis

- Imam Syafi’i dianiya karena mengucapkan syair syair yang memuji ahlulbait, bahkan beliau nyaris dihukum mati.

 

Sebagian hadis hadis sunni  berlabel shahih ternyata PALSU  dan PENUH  REKAYASA POLiTiK, fakta sejarah :

 

1. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) selalu menghina dan mengutuk Ali dan keturunannya.. Bahkan Yazid  membantai  Imam Husain  beserta pendukungnya… Tetapi  mereka memuliakan Abubakar, Umar, Usman dan sahabat sahabat lainnya melalui pembuatan hadis hadis politik jaminan surga dll

 

2. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) sangat membenci Imam Ali dan menuduh nya sebagai pendukung pembunuh USMAN

 

3. Imam Ahmad bin Hambal pada masa kerajaan Abbasiyah yang pertama kali mengusulkan Ali sebagai bagian dari Khulafaurrasyidin

 

4.Imam Ahmad bin Hambal mendha’ifkan hadis hadis shahih karena perawinya yang pro ahlulbait mengkritik Abubakar Umar USman dan loyalisnya, mereka diberi label “rafidhah”… Ulama ulama hadis  sunni yang lain jauh lebih radikal dari Ahmad bin Hambal

 

5. Sepeninggal Nabi SAW pihak penguasa bersikap keras dan kejam kepada Imam Ahlulbait dan para pengikutnya, misalnya : Al Mutawakkil yang digelari “Khalifah Pembela Sunnah Nabi” melakukan :

- Membongkar kuburan imam Husain

- Melarang ziarah kubur ke makam Imam Ali dan Husain

- Memberikan hadiah kepada setiap orang yang mencaci maki Imam Ali

- Membunuh setiap bayi yang diberi nama Ali

- Berupaya membela kelompok Nawasib

 

Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah, politikus penipu yang ulung itu, telah memerintahkan untuk mengumpul ‘para Sahabat’, agar menyampaikan hadis hadis yang mengutamakan para Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman untuk mengimbangi keutamaan Abu Turab (Ali bin Abi Thalib). Untuk itu, Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedudukan kepada mereka.

 

Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif alMada’ini, dalam bukunya, alAhdats, Mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kepada bawahannya: ‘Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orang orang, agar menyediakan hadis hadis tentang para Sahabat dan khalifah; perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamu pun harus menyediakan hadis yang sama tentang Sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya, dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan Syi’ahnya’.

 

Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar (fi kulli kuratin wa’ala kulli minbarin). Keutamaan para Sahabat ini menjadi topik terpenting di kalangan para Sahabat, beberapa jam setelah Rasul wafat, sebelum lagi beliau dimakamkan. Keutamaan ini juga menjadi alat untuk menuntut kekuasaan dan setelah peristiwa Saqifah topik ini masih terus berkelanjutan. Para penguasa dan para pendukungnya membawa hadis hadis  tentang keutamaan sahabat untuk ‘membungkam’ kaum oposisi, dan demikian pula sebaliknya.

 

Dalam menulis buku sejarah, seperti tentang peristiwa Saqifah, yang hanya berlangsung beberapa jam setelah wafatnya Rasul Allah saw, harus pula diadakan penelitian terhadap para pelapor, prasangka prasangkanya, keterlibatannya dalam kemelut politik, derajat intelektualitas, latar belakang kebudayaannya, sifat sifat pribadinya, dengan melihat bahan bahan sejarah tradisional yang telah dicatat para penulis Muslim sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi. Tulisan sejarah menjadi tidak bermutu apabila penulisnya terseret pada satu pihak, dan memilih laporan laporan tertentu untuk membenarkan keyakinannya.

 

Imam Bukhari takut pada tekanan, sehingga sedikit bergaul dengan alawiyyin pada masa Abbasiyah…Bergaul dengan alawiyyin akan membahayakan keselamatannya, masa itu mengaku sebagai orang kafir jauh lebih selamat nyawa daripada mengaku sebagai syi’ah…

 

Penguasa Bani Umayyah ( kecuali Umar bin Abdul Aziz ) dan Separuh Penguasa Bani Abbasiyah KEKEJAMAN NYA melebihi Firaun, mereka dengan mudah membunuh orang orang yang tidak bersalah hanya karena ia syi’ah…Inilah yang membuat Bukhari menjauhi syi’ah…

 

Jumlah hadis-hadis yang bersumber dari Imam Kelima dan Keenam lebih banyak dibandingkan dengan hadis-hadis yang bersumber dari Nabi Saw dan para Imam yang lain.Akan tetapi, pada akhir hayatnya, Imam Ja’far Shadiq ( Imam Keenam) dikenai pencekalan secara ketat oleh Khalifah Abbasiyah, Mansur, yang memerintahkan seperti penyiksaan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap keturunan Nabi Saw yang merupakan penganut Syiah sehingga perbuatannya melebihi kekejaman dan kebiadaban Bani Umayyah.

 

Atas perintah Mansur, mereka ditangkap secara berkelompok, beberapa dilemparkan ke penjara gelap dan pengap kemudian disiksa hingga mati, sementara yang lainnya dipancung atau dikubur hidup-hidup di bawah tanah atau di antara dinding-dinding bangunan, dan dinding dibangun di atas mereka.Hisyam, Khalifah Umayyah, memerintahkan agar Ja’far Shadiq Imam Keenam ditangkap dan dibawa ke Damaskus. Kemudian, Imam Ja’far Shadiq ditangkap oleh Saffah, Khalifah Abbasiyah, dan dibawa ke Irak. Akhirnya, Mansur menangkap Imam Ja’far Shadiq dan membawanya ke Samarra di mana Imam disekap, diperlakukan secara kasar dan beberapa kali berusaha untuk membunuh Imam.

 

Kemudian, Imam Ja’far Shadiq diperbolehkan untuk kembali ke Madinah di mana Imam Ja’far Shadiq menghabiskan sisa-sisa umurnya dalam persembunyian, hingga ia diracun dan syahid melalui intrik licik Mansur.

 

Bisakah anda menulis sesuatu dengan sempurna jika nyawa anda taruhannya ?? Kodifikasi hadis seperti kitab Bukhari Muslim dll terjadi pada masa Abbasiyah bukan ???Wajarlah ilmu itrah ahlul bait dalam kitab hadis Aswaja Sangat sedikit …Menangislah … menangislah…

Para pembaca…

 

Pada masa khalifah Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu…

 

Pada masa khalifah Mutawakkil negara berakidah ahlul hadis. Paham ini didukung negara sehingga hadis hadis sunni menjadi mudah di intervensi dengan penambahan penambahan yang di lakukan ULAMA ULAMA BUDAK kerajaan

 

Menghujat sahabat adalah kafir  rafidhah ???  bagai mana dengan muawiyah yang memerintahkan  untuk  menghujat  Imam Ali Di mimbar masjid yang diikuti mayoritas  khalifah  bani umayyah ? Apa muawiah kafir???

Syi’ah Caci Maki Sahabat Dan Istri Nabi ??? tidak ada tuh anjuran mencaci sahabat, yg ada mengkoreksi “kemaksuman” sahabat ! para sahabat tidak hanya saling menghina tetapi juga saling membunuh

Apakah mungkin Al Quran menyuruh kita mempedomani orang yang yang menghunus pedang perang melawan Ali ??

tidak ada tuh anjuran mencaci sahabat, yg ada mengkoreksi “kemaksuman” sahabat

karena di syiah tidak ada doktrin keadilan sahabat (salah dapet 1 bener dapet 2 pahala) …

Sunni memaksumkan PARA SAHABAT !!! Dengan teori “salah ijtihad dapat 1 pahala, benar ijtihad dapat 2 pahala”, walaupun perang jamal Ali vs Aisyah dan perang shifin Ali vs muawiyah menghasilkan puluhan ribu muslim mati saling serang lho …

maka sahabat2 versi syiah ada yg bener ada yg salah

yg bener yah diteladani sementara yg salah yah gak boleh diikuti – simple

karenanya mereka bisa tegas menunjukkan siapa yg salah dalam perang jamal & shiffin tanpa sungkan sama sahabat

sunni  mengkafirkan orangtua & paman Rasulullah = menyakiti hati syiah

salah satu lagi beda syiah adalah imamah – ada hubungannya dgn kekalifahan juga
kalo syiah bilang imam2nya maksum kenapa juga sunni ribut … wong sunni  gak mengakui imamah versi mereka
toh di sunni juga sahabat2 utama juga terbebas dari dosa (bisa dikatakan maksum juga) dgn doktrin ijtihad salah dapet 1 pahala bener dapet 2 pahala

.
– perang jamal Ali vs Aisyah = sama2 gak dosa (yg salah tetep dapet 1 pahala)
– perang shifin Ali vs muawiyah = sama2 gak dosa (yg salah tetep dapet 1 pahala)

.
tuh kejadian menghasilkan puluhan ribu muslim mati saling serang lho …

toh nyatanya sahabat2 utama tetep gak dosa khan? (gada beda sama maksum)

karena gada doktrin keadilan sahabat maka syiah sah2 saja menyalahkan pihak2 yg berseberangan dgn panutannya (amirul mukminin / khalifah Ali bin abu thalib)

Janganlah Kalian Kembali Kafir Setelahku, Kalian Saling Membunuh Sebagian Dengan Sebagian yang Lain

Sunni menyatakan : Aisyah cs dan Mu’awiyah cs yang membantai pasukan Imam Ali dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin tidak bersalah, kalaupun salah itu cuma salah ijtihad yang berpahala

Apakah komentar Nabi SAW tentang doktrin sunni ???

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda : “Janganlah kamu kembali kafir saling membunuh sepeninggalku”. (HR., Bukhari (6166, 6868, 7077) dan Muslim (66) dari Ibnu Umar )

Hadits ibnumajah 3932

لا ترجعوا بعدي كفارا يضرب بعضكم رقاب بعض

Janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalku dgn saling memerangi antara sesama kalian.

Hadits ibnumajah 3933

ويحكم أو ويلكم لا ترجعوا بعدي كفارا يضرب بعضكم رقاب

Celakalah kalian -atau binasalah kalian-, janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, yaitu dgn saling berperang di antara kalian.

 Baca Al Quran

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknati serta menyediakan azab yang besar baginya (qs.AniNisa : 93.)

 

Nubuwwat Rasul dalam hadis : “Kalian (para sahabat) akan mengikuti jalan jalan orang yang datang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani)  sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal, seinci demi seinci…”. Mengapa Nabi menyamakan sahabat sahabat nya dengan kaum Yahudi dan Nasrani ?? karena sebagian besar sahabat nya akan berpaling kecuali sedikit seperti umat Musa AS dan Isa AS

Sudah merupakan sunnatullah bahwa di sahabat Nabi SAW  ada yang terjerumus ke dalam kesesatan, dengan cara mengikuti langkah-langkah orang-orang sebelum mereka dari kalangan ahli kitab dan musyrikin. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :

“Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang dhabb, kalian pun memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri  ).

Kafir versi syi’ah mengikuti kafir versi Nabi…

Jadi syi’ah bukan mengkafirkan sahabat dalam arti sahabat keluar dari Islam…

Kafir / murtad versi syi’ah adalah banyak sahabat Nabi SAW tidak patuh pada wasiat Nabi SAW !

.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata,  Rasulullah saw. bersabda, “Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah perbuatan kufur,” (HR Bukhori [48] dan Muslim [64]).
.
Diriwayatkan dari Jarir r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah kalian kembali menjadi kafir setelahku nanti sehingga kalian saling bunuh membunuh’,” (HR Bukhori [121] dan Muslim [65]).Diriwayatkan dari Abu Bakrah r.a, bahwasanya Nabi saw. pernah bersabda, “Apabila dua kelompok kaum muslimin saling berhadapan dan saing mengacungkan pedang maka pembunuh dan yang dibunuh tempatnya di Neraka.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah kalau si pembunuh tempatnya di neraka, tetapi mengap orang yang dibunuh juga?” Beliau menjawab, “Karena ia juga berusaha membunuh lawannya,” (HR Bukhori [31] dan Muslim [2888]).

.

Murtad atau kafir  bermakna : “mengkhianati janji setia atau meninggalkan wasiat atau membelot dari kesetiaan” dan tidak di artikan keluar dari agama islam (bukan kafir tulen, bukan murtad tulen).  Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad. Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.hadis tentang murtadnya para sahabat kecuali 3, 4 atau 7 hanyalah hadis yang bersifat situasional saja, bukan bersifat menyeluruh (fi’il madhi) . Penyebutan nama sahabat yang tidak murtad berjumlah 3, 4 atau 7 tidaklah dimaksudkan bahwa yang selain nama nama tersebut bukanlah Syi’ah Ali. Buktinya Nabi SAW memuji Hujr bin Adi, Zaid bin Arqam  dan Jabir bin Abdullah Al Ansari . Jadi membaca hadis syi’ah jangan sepotong sepotong. Syi’ah bukan golongan pen takfir seperti Khawarij. Syi’ah Ali memang hanya segelintir orang namun nama namanya  TiDAK TERBATAS UNTUK Di SEBUTKAN, bukan 3 – 4 atau 7. Jika ada orang yang beranggapan bahwa syi’ah Ali hanya berjumlah 7 orang maka orang tersebut SESAT MENYESATKAN karena menentang hadis hadis Nabi SAW

Para sahabat adalah manusia biasa; mereka juga bisa digoda oleh Iblis dan Setan dan mereka juga bisa mengikuti hawa nafsu mereka sendiri;

sehingga para sahabat tidak hanya saling menghina tetapi juga saling membunuh di dalam perang Riddah, perang Siffin, perang Jamal dan perang perang yang lain

SUNAN IBN MAJAH Kitab Muqoddimah no 145
Abu Hurairoh melaporkan bahwa Rasulullah berkata: “Barangsiapa yang memerangi Ali, Fatimah, Hasan dan Husian; maka saya akan memerangi mereka. Barangsiapa yang berdamai dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husain; saya akan berdamai dengan mereka!”

Kaum Ahlul Sunnah Wal Jamaah adalah penghianat Rasulullah yang nyata; sehingga Kaum Sunni rajin membela para sahabat yang memerangi Ali, Fatimah, Hasan dan Husain

SHOHIH MUSLIM, Kitab Iman
Abu Hurairoh melaporkan bahwa Rasulullah berkata: “Baransiapa yang memerangi kami (Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain); seungguhnya mereka bukan dari kami (bukan beragama Islam karena Munafiq)!”

ASSOHAABATU ROSULILLAH (perkawanan utusan Tuhan)

SHOHIB = sahabat, kawan, pemilik, penghuni dll

ASHABU = sahabat2, kawan2, pemiliki2, penghuni2 dll

ALLAH dan Rasululllah menggunakan kosa kata SAHABAT untuk mereka yang masuk api neraka (Nar) dan juga untuk mereka yang masuk surga (Jannah)

ALQURAN 7:50
ASHABU NAR (sahabat2 di api neraka) berkata kepada ASHABU JANNAH (sahabat2 di dalam surga): “Berikanlah sedikit air dan makanan yang telah diberikan oleh ALLAH kepada kamu!”

ALQURAN 5:10
Orang2 Kafir yang mendustakan ayat ayat kami (AlQuran) sesungguhnya mereka ASHABU AL JAHIM (sahabat2 di dalam neraka Jahim)

Jika kita membaca semua ayat di dalam AlQuran tentang SAHABAT; maka kita akan bisa melihat dengan jelas dan dengan mudah; bahwa kosa kata SAHABAT dipergunakan untuk mereka yang masuk api neraka dan dipergunakan untuk mereka yang masuk surga.

Kaum Sunni adalah para penghianat Rasulullah; sehigga Ulama Sunnah hanya menggunakan kosa kata sahabat untuk mereka yang masuk surga; padahal kosa kata sahabat dipergunakan oleh ALLAH dan Rasulullah untuk mereka yang masuk surga dan juga untuk mereka yang masuk api neraka

.
Perbuatan yang yang sangat buruk yg dilakukan oleh sebagian dari sahabat yang tidak pernah n tidak mungkin terjadi di ummat setelah mereka. Perbuatan buruk dan sangat tercela itu adalah
1.menyakiti hati nabi
2.menyakiti hati ahlulbait(alkisa)
3.membunuh sahabat mulia rosul

.
Adakah lg yg bisa melakukannya dizaman ini?
Tentu tdk ada,Tp kenapa masih ada saja yg mengatakan bahwa sahabat pd waktu itu adalah ummat terbaik

.
Padahal perbuatan mulia ummat sekarang ini tdk akan pernah dapat dibuat oleh sahabat adalah:
1.mengimani rosul sedang ummat skrg ini tdk pernah melihat rosul
2.mengimani keutamaan ahlulbait rosul sedang ummat ini tdk pernah melihatnya
Jadi kenapa mesti dikatakan sesat ketika kita mengkritisi sahabat yg berbuat salah..?

bukankah ada hal2 yg kita jg lebih baik dari mereka n ada juga hal2 mereka lebih buruk perbuatannya dr kita?

Wahabi berkepentingan dengan konsep semua sahabat adil. Karena nenek moyang ibnu wahhab adalah muawiyah dan puak bani umayyah.

Wahhabi dengan berbagai Cara menurunkan derajat ahlul bait dan meninggikan keluarga laknat, umayyah. Wahabi biadab.

Wahabi mengatakan ayahanda nabi muhhamad sebagai kafir tetapi mengatakan tauhid rububiyah kepada nenek moyang muawiyah. Wahabi biadab.

Wahabi berkata rasulullah tidak meninggalkan warisan kecuali ilmu Dan kenabian. Ketika dikatakan bahwa berarti fatimah Dan keturunan pewaris nabi Dan keilmuan. Tetapi wahabi menjawab tidak sebab ulama-lah pewaris para rasulullah. Dengan ini wahhabi hendak mengambil semia keutamaan Ahlul bait Dan memberikannya kepada ulama jahat macam Bin Baz, utsaimin, abdul wahhab, dll. Wahabi biadab.

Wahabi menghancurkan rumah Rasul Dan semua peninggalan Rasullah dg alasan syirik tapi membangun monumen Utsaimin untuk mengingat Utsaimin. Wahabi biadab.

Maulid nabi diharamkan, haul para wali disyirikkan tetapi haul Utsaimin diteggakkan. Wahabi biadab.

Amerika dibuatkan pangkalan militer, orang amerika dan inggris disambut bak raja tetapi saudara sendiri, para TKW dari Indonesia diperkosa bak binatang oleh Arab Saudi wahabi. Tahun 2010 saja menurut data buruh migrant, setiap hari terjadi 2 kasus perkosaan di Arab Saudi. Hitung saja berapa kasus perkosaan selama setahun. Wahabi biadab

Dan apa kata Rasulullah saww tentang Sahabatnya :Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12) adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWW telah menentang pahaman kalian.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul? Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya , hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Sebenarnya masalah yang masih mengganjal dan memicu pertentangan antara Sunni dan Syiah adalah pandangan terhadap para sahabat ini.

Saya tidak habis pikir kenapa Ahlu Sunnah begitu mati-matian tidak mau melihat kenyataan dalam riwayat2 yang sahih bahwa tidak semua para sahabat itu soleh. Kenapa harus men”dogma”kan pandangan bahwa semua sahabat adil ?

Saya rasa kunci untuk menghilangkan pertentangan antara Sunni dan Syiah adalah kesadaran pengikut Ahlu Sunnah untuk meninggalkan dogma tsb dan secara gradual mau melihat petunjuk2 baik dalam AlQuran maupun hadis bahwa diantara para sahabat ada yang soleh ada pula yang tidak soleh atau ada sahabat sejati ada juga sahabat yg khianat. Dan ini fakta yang wajar berlaku di mana-mana dan kapan saja. Dan di pihak lain Syiah juga harus menahan diri untuk tidak terlalu “memojokkan” citra sebagian para sahabat yg memang sudah terpojok itu.

Kalau kita menyadari bahwa pandangan terhdp para sahabat itu bukan bagian dari keimanan dan keislaman kita, maka buat apa sih kita secara mati2an membela sebagian para sahabat yg dalam hadis dikatakan saling mencela bahkan saling berperang dan tidak setia kpd Nabi saw ?

Adakah dalil yg mengatakan bahwa mengagungkan seluruh sahabat akan membuat kita masuk sorga ?
…diantara para sahabat ada yang soleh ada pula yang tidak soleh atau ada sahabat sejati ada juga sahabat yg khianat.

Ini adalah salah satu (saja) tahapan transformasi seorang muslim untuk menjadi mu’min sejati. Ketika Alloh memberikan furqon kepada urusan haq dan bathil, maka kita harus faham bahwa dahulu kala ada sahabat nabi yang berada di posisi haq dan ada yang diposisi bathil. Jika kita salah menempatkan posisi seseorang pada maqom haq atau maqom bathil, maka kita akan disebut oleh Al-Quran sebagai ORANG YANG BERIMAN KEPADA BATHIL.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Kitab Ibnu Qutaibah dan Kutukan Imam Ali kepada Anas bin Malik

Diakhir Kitâb Al-Ma’ârif karya Ibnu Qutaibah, ada bagian tentang “Al-Barash” di mana ia mendaftar orang-orang terkenal yang terkena penyakit leprosy [lepra/kusta] atau leukoderma selama masa hidupnya. Daftar pertama adalah Anas bin Malik, sahabat Nabi saw., dan penulis mencatat sebuah peristiwa yang menunjukkan bahwa penyebab penyakit ini adalah kutukan Imam Ali as.Menurut terbitan edisi Mesir, ada sebuah kalimat di akhir kisah itu di mana Ibnu Qutaibah menyatakan keraguan tentang keasilan peristiwa ini. Tapi keraguan ini tidak dapat ditemukan dalam manuskrip tua kitab itu yang berusia 700 tahun di Perpustakaan Inggris!

.

Sumber PernyataanAl-Ghadir fî al-Kitâb wa as-Sunnah wa al-Adab, Allamah al-Amini, edisi Beirut, jilid 1, hlm. 235
Analisis dan Bukti

Ibnu Qutaibah Ad-Dinawari hidup antara tahun 213 dan 276 Hijriah. Ia merupakan ulama Suni awal yang terkenal dengan banyak karya penting dalam ilmu Quran dan hadis. Karyanya, Kitâb Al-Ma’ârif mendaftar kisah dan informasi biografi tentang berbagai muslim dari abad sebelumnya.Peristiwa dapat dilihat di bawah ini, sebagaimana diterbitkan oleh edisi Mesir:Kitâb Al-Ma’ârif, Ibnu Qutaibah Ad-Dinawari (w. 276 H), hlm. 251
Kairo: Matba’at Al-Islâmiah, 1353 H/1935 M.

Al-Barash (Lepra atau Leukoderma)

Anas bin Malik memiliki (penyakit) al-barash di wajahnya. Orang-orang menyebutkan bahwa Ali radhiallâh ‘anhu bertanya padanya tentang ucapan Rasulullah saw., “Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya pemimpin dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Dia (Anas) berkata, “Saya sudah tua dan telah lupa.” Maka Ali berkata, “Kalau Anda berbohong, maka Allah menyerangmu dengan (warna) keputihan yang bahkan tidak bisa ditutupi dengan serban.”

Abu Muhammad berkata: Tidak ada dasar untuk ini.

Perlu dicatat bahwa Abu Muhammad adalah patronim atau kuniah Ibnu Qutaibah sendiri. Oleh karena itu akan terlihat bahwa Ibnu Qutaibah memasukkan sebuah kisah tapi kemudian ia berkomentar bahwa ia tidak benar-benar berpikir tentang kebenaran di dalamnya.

Lalu apa masalah dengan pernyataan ini?

Pertama, Allamah Al-Amini dalam Al-Ghadir jilid 1 halaman 236, menunjukkan bahwa dari awal sampai akhir Kitâb Al-Ma’ârif, tidak ada tempat lain di mana Ibnu Qutaibah menyebutkan sesuatu kemudian menyebutkan keraguan! Gaya kitab itu dengan jelas menunjukkan bahwa penulis hanya mencantumkan apa yang ia percaya adalah benar.

Kedua, ulama terkenal Suni Muktazilah, Ibnu Abil Hadid (w. 656 H), menulis:

Syarh Nahj Al-Balâghah, Ibnu Abil Hadid Al-Mu’tazili (w. 656 H), jil. 3, hlm. 338

… Ibnu Qutaibah telah menyebutkan riwayat tentang lepra/leukoderma (hadis al-barash) dan kutukan Amirul Mukminin Ali kepada Anas bin Malik, dalam Kitâb Al-Ma’ârif bab “Al-Barash min A’yan Ar-Rijâl”, dan Ibnu Qutaibah tidak bisa dituduh karena memihak pada Ali as., karena ia terkenal menjauh darinya.

Hal ini terlihat bahwa salinan Kitâb Al-Ma’ârif yang Ibnu Abil Hadid lihat tidak berisi kalimat terakhir yang muncul pada edisi Mesir di atas.

Akhirnya, terdapat sebuah versi kuno Kitâb Al-Ma’ârif dalam bentuk naskah berusia 700 tahun yang membenarkan kecurigaan kami.

Kitâb Al-Ma’ârif, Ibnu Qutaibah Ad-Dinawari (w. 276 H), folio 118r
Manuskrip: Referensi katalog Perpustakaan Inggris, 1491
Tertanggal hari akhir Syakban, 710 H (1310 M)

Anas bin Malik memiliki (penyakit) al-barash di wajahnya. Orang-orang menyebutkan bahwa Ali shalawâtullâh ‘alaih bertanya padanya tentang ucapan Rasulullah saw., “Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya pemimpin dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Dia (Anas) berkata, “Saya sudah tua dan telah lupa.” Maka Ali berkata, “Kalau Anda berbohong, maka Allah menyerangmu dengan (warna) keputihan yang bahkan tidak bisa ditutupi dengan serban.”

Bandingkan keluaran teks ini baik-baik dengan keluaran teks Mesir di awal. Meskipun halaman dari manuskrip ini memiliki peristiwa lengkap kutukan Imam Ali as terhadap Anas bin Malik dan penyakitnya, tidak ada tanda-tanda tuduhan komentar: “Abu Muhammad: Tidak ada dasar untuk ini.”!

Juga perhatikan penghormatan shalawâtullâh ‘alaih yang digunakan untuk Imam Ali yang tidak ditemukan dalam edisi Mesir!

Tapi tanpa rantai riwayat lengkap (isnad) bagaimana kita bisa percaya?

Kitâb Al-Ma’ârif bukanlah kitab yang mengutip rantai riwayat lengkap untuk isinya. Fakta bahwa Ibnu Qutaibah, seseorang yang terkenal karena kekecewaannya terhadap Imam Ali as., tetap mengutip kisah tersebut menyiratkan bahwa ia merasa pasti akan kebenarannya.

Apakah ada sumber lain tentang peristiwa ini?

Ada beberapa tempat di mana kita bisa menemukan peristiwa kutukan Imam Ali dengan rantai riwayat lengkap dan terpercaya. Hal ini telah diteliti dengan lengkap oleh Allamah Al-Amini dan bisa dilihat di Al-Ghadir, edisi Beirut, jil. 1, hlm. 207-238

Kapan Nabi saw. mengatakan untuk Ali, “Ya Allah, jadilah wali bagi yang mewalikannya…”?

Kalimat ini adalah bagian dari peristiwa Ghadir Khum ketika Imam Ali as. dengan jelas ditunjuk sebagai pelanjut Nabi dihadapan umat muslim. (Lihat sumber terpercaya lain untuk sejarah tersebut).

Kesimpulannya, terlihat bahwa seseorang di manapun ia berada berusaha untuk mencampuri kebenaran dengan memasukkan pernyataan bohongan dan dihubungkan kepada kitab Ibnu Qutaibah

Omongan siapa yang harus kita dengar ??

Omongan Nabi SAW ataupun omongan kaum sunni ??

Di awal pemerintahan, sejumlah orang yang masih belum mengenal Islam secara benar dan memiliki gaya berpikir layaknya politikus dan diplomat Internasional, menemui Imam Ali. Mereka menyatakan, “Pemerintahan baru baru saja berdiri, dan Anda amat memerlukan kekuatan untuk memperkokoh sendi-sendi pemerintahan. Menurut hemat kami, usaha terbaik Anda adalah membagi-bagikan harta baitul mal kepada para pemimpin, pembesar dan sanak keluarga. Dengan begitu, niscaya mereka tidak akan menentang Anda.”

.

Imam Ali As menjawab, “Apakah kalian berharap orang yang seperti aku ini akan memperkokoh sendi-sendi pemerintahan dengan kezaliman dan penindasan??? Apakah dengan kaki syirik, kita dapat melangkah menuju tauhid?. Aku menerima kepemimpinan ini justru kumaksudkan untuk menyapu bersih ketidak adilan !”. Kisah ini dinukil oleh Prof. Muhsin Qiraati dalam salah satu bukunya

.

Kita mengamati masyarakat Indonesia telah dan sedang disibukkan oleh pemilihan kepala daerah untuk memegang tampuk kepemimpinan di daerah masing-masing beberapa tahun kedepan. Yang jelas, siapa pun yang terpilih, tugas dan tanggungjawab besar telah menanti. Harapan kita, pemimpin terpilih melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya demi meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Dalam upaya mengangkat harkat, martabat, serta ekonomi masyarakat, tiada ada jalan lain kecuali memihak pada kepentingan rakyat. Masyarakat di daerah manapun, tuntutannya sederhana, bisa hidup layak

.

Mereka tak banyak menuntut yang berat-berat, bila kehidupan ekonominya memadai. Sebaliknya, jika kesenjangan ekonomi semakin lebar, bukan tidak mungkin tuntutan demi tuntutan bakal bermunculan. Jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin yang makin lebar merupakan masalah krusial yang sering menjadi pemicu berbagai persoalan lain. Artinya, fokus kerja pemerintah ke depan setidaknya memperkecil jurang itu.Ada baiknya, kita belajar dari orang-orang besar terdahulu, bagaimana mereka menjalankan amanah kepemimpinannya. Izinkan saya, menyodorkan sosok Imam Ali as, sebagai panutan. Manusia suci yang memiliki banyak keutamaan, sepupu sekaligus menantu Rasulullah, yang ayahnya banyak memberikan pembelaan dan mendukung sepenuhnya perjuangan Rasulullah di awal-awal penyebaran Islam. Yang menyerahkan diri sepenuhnya terhadap perjuangan dan penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan memulainya di usia yang teramat muda, usia yang seharusnya ia bermain-main sebagaimana anak-anak kebanyakan.
.
Thomas Carlyle menggambarkan, “Ketika Nabi Islam itu pertama-tama menyampaikan risalahnya kepada kaum kerabatnya, maka semuanya menolaknya. Kecuali Ali, waktu itu masih berusia 10 tahun, yang bangkit memenuhi dakwah nabi dan berikrar setia kepadanya.”

.

Ia menambahkan, “Tangan kecil itu bergabung dengan tangan yang besar, dan mengubah jalan sejarah”. Keluasan ilmu Imam Ali Ra tidak diragukan oleh siapapun, lewat sabdanya Rasul memuji, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya.” Sabda Nabi ini dibenarkan oleh para sahabat yang menyaksikan sendiri betapa Ali adalah satu-satunya orang sepeninggal Nabi yang menjadi rujukan dalam berbagai hal. Bahkan para khalifah, khususnya khalifah Umar bin Khattab sering meminta pendapat Ali dalam memghambil keputusan. Lebih jauh Umar mengatakan, “Jika tidak ada Ali maka celakalah Umar”. Tentang Imam Ali, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya posisi Ali disisiku sebagaimana posisi Harun di sisi Musa, hanya saja tidak nabi sesudahku”.Saya ingin mencoretkan kembali dalam kanvas sejarah tentang perjuangan, kepahlawanan dan keteguhan Imam Ali ra memegang prinsip keadilan yang diyakininya, yang karena rekayasa sosial menjadi banyak terlupakan. Lewat kolom yang terbatas ini, saya mengajak siapapun untuk melirik gaya kepemimpinan beliau. Sebagaimana kisah di atas, Imam Ali Ra menerima kepemimpinan dengan maksud untuk menyapu bersih ketidak adilan. Kebijakan pertama yang dilakukan diawal pemerintahannya adalah mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan orang-orang yang cakap dan adil

.

Imam Ali yang dikenal dengan keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan kepada orang-orang Quraisy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan baitul mal. Sikap inilah yang mendapat penentangan sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan beliau

.

Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mengumpulkan pasukan yang cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi Thalib. Perang tak terhindarkan. Ribuan nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali As. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta, karenanya perang ini dikenal dengan nama perang Jamal

.

Aisyah alah dalam peperangan. Sebagai pemimpin yang bijak, Imam Ali As memaafkan mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga dikirim kembali ke Madinah dengan penuh penghormatan. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali As berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah Saw disebut sebagai poros kebenaran. Imam Ali As harus menghadapi pembangkangan Muawiyah dalam Perang Shiffin (Thabari : 5:27, Usduh al-Ghabah: 2:114).

Sedangkan perang Nahrawan antara pasukan Imam Ali as dengan kaum Khawarij. Namun Imam Ali As mampu mengatasi semuanya dengan baik

.
Menu makanan Imam Ali setiap harinya hanya sekerat roti kering dengan garam atau cuka. Beliau tidak pernah membiarkan perutnya dipenuhi makanan atau minuman. Pakaian yang beliau kenakan terbuat dari kain kasar. Meski duduk sebagai khalifah dan memegang seluruh kekayaan negara atau baitul mal beliau tidak pernah tergoda oleh gemerlap dinar yang ada di dalamnya. Diceritakan bahwa ketika menghitung uang baitul mal untuk dibagikan kepada rakyat, beliau bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur karena tidak tergoda oleh harta yang ada di hadapannya. Kepada para bawahannya beliau menulis pesan, “Engkau tidak boleh membeda-bedakan walau sekecil apapun antara Muslimin dan sanak keluargamu “(Najhul Balaghah)

.

Imam Ali sadar betul, penyebab kebinasaan umat-umat terdahulu karena orang-orang kaya dan yang terpandang memiliki keistimewaan dalam pandangan penguasa dibanding orang-orang miskin dan tidak populer. Suatu kali, Imam Ali sedang menjahit sepatunya. Setelah selesai, sambil menunjuk ke arah sepatu itu, beliau bertanya kepada Ibnu Abbas, berapa harga sepasang sepatu ini? Ibnu Abbas menjawab harga sepatu yang sudah kumal seperti ini tidak lebih dari setengah Dirham. Imam Ali As mengatakan, “Demi Allah, sepatu ini jauh lebih berharga bagiku dibanding jabatan khilafah, kecuali jika dengan khilafah ini aku dapat menegakkan keadilan dan menumpas kebatilan”.

Imam Ali adalah seorang pemimpin yang dalam dirinya tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda kepuasan atau kerakusan atas jabatannya itu. Imam Ali As adalah seorang imam yang tidak pernah bisa tidur dalam keadaan kekenyangan karena ia tahu, masih banyak ummatnya yang kelaparan

.

Sebagai seorang pemimpin, Imam Ali As juga tidak pernah terlihat memakai pakaian indah karena ia sangat faham, betapa banyak ummatnya yang tidak mampu memakai pakaian yang pantas. Seorang penulis Kristen berkebangsaan Libanon, George Jordac, dalam bukunya yang berjudul “Ali, Suara Keadilan”, menulis, “Pernahkah Anda temukan dalam sejarah seorang pemimpin besar yang saat memimpin ia juga bekerja kasar menggiling gandum untuk keperluan hidupnya? Adakah di dunia ini seorang pemimpin yang menjahit sendiri sepatunya? Pernahkah Anda temukan dalam sejarah seorang pemimpin yang sama sekali tidak memiliki sedikitpun simpanan uang buat dirinya?”
.
Teori Keadilan Imam Ali
Imam Ali as seringkali berbicara mengenai keadilan, dan lebih memilih keadilan dibanding kedermawanan. Kebanyakan dari kita memilih pemimpin karena kedermawanannya dibanding sejauh mana ia bisa menegakkan keadilan. Karena keadilan disini tidak lain adalah menghargai hak orang lain dan tidak melanggarnya, sementara kedermawanan adalah membagikan hak yang dimilikinya kepada orang lain. Namun Imam Ali as menjawab sebaliknya. Beliau lebih mengutamakan keadilan daripada kedermawanan dengan dua alasan: Pertama, karena definisi keadilan adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, sementara murah tangan tidak demikian. Dengan kata lain, keadilan adalah memperhatikan hak-hak yang ada secara kongkrit, baru kemudian memberikan hak sesuai kapasitas penerima

.

Dengan pendekatan ini, orang akan bisa mengetahui tempatnya dalam bermasyarakat, dan selanjutnya masyarakat akan menjadi mekanisme yang teratur. Adapun kedermawanan, walaupun ia berarti memberikan hak yang dimilikinya kepada orang lain, perbuatan ini menjadi cacat dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena perbuatan ini tidak akan terjadi kecuali, jika masyarakat pada saat itu menjadi ibarat sebuah tubuh yang bagian anggotanya terdapat cacat atau sakit yang akibatnya akan memerlukan bantuan seluruh anggota tubuh yang lain untuk melakukan sesuatu, padahal idealnya dalam sebuah masyarakat hendaknya tidak ada anggota yang cacat, sehingga yang lain harus turut membantu tugasnya. Alasan kedua, keadilan adalah sebuah kendali yang bersifat umum, sementara kedermawanan bersifat spesifik. Yakni keadilan bisa dijadikan undang-undang umum yang mengatur seluruh urusan masyarakat dimana seseorang harus komitmen kepadanya, sementara kedermawanan adalah kondisi yang bersifat eksklusif dan tidak bisa dijadikan undang-undang umum. Imam Ali ibn Abi Thalib menganggap keadilan sebagai kewajiban dari Allah Swt, karena itu beliau tidak membenarkan seorang Muslim berpangku tangan menyaksikan norma-norma keadilan ditinggalkan masyarakat, sehingga terbentuk pengkotakan dan kelas-kelas dalam masyarakat

.

“Wahai orang-orang beriman, jadilah kau penegak keadilan, menjadi saksi Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (Qs. An-Nisa [5] : 135). Bangsa ini telah cukup banyak memiliki stok pemimpin yang dermawan, namun sulit menemukan diantara mereka yang bisa berlaku adil. Dengan keadilan yang diterapkan Imam Ali As dalam menjalankan roda pemerintahan ia menjadi sosok yang dicintai rakyatnya, namun juga dibenci oleh musuh-musuhnya. Pada hari ke 21 Ramadhan sebagaimana pernah diisyaratkan oleh Rasulullah Saw, Imam Ali menemukan kesyahidannya di Masjid Kufah oleh konspirasi musuh-musuhnya yang tidak pernah senang keadilan tegak di muka bumi.
.
Selama masa singkat lima tahun pemerintahannya, Imam Ali As berhasil mempraktekkan sebuah konsep keadilan yang saat ini menjadi harapan dan dambaan ummat manusia. Para penulis kontemporer sampai mengatakan bahwa adalah keliru jika mengatakan bahwa Ali dan keadilan adalah dua kata yang berbeda, karena fakta sosial saat Imam Ali As memerintah menunjukkan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Mengenal dan mengagumi orang-orang besar semacam Imam Ali, bukan kultus individu, melainkan sebagai luapan kecintaan pada nilai-nilai yang beliau bawa dan peragakan

.


Sebuah hadis diriwayatkan oleh al-Baghwi, Ibn Sakn, al-Bawardi, Ibn Mandah, dan Ibn Asakir. Bahkan Ibn Taimiyah pun mengutip hadis ini dalam kitabnya Fadhlu Ahlil Bait wa Huququhum.

Anas bin Harits meriwayatkan bahwa Rasulullah saaw bersabda, “Sesungguhnya putraku ini (Al-Husain) kelak akan terbunuh di suatu daerah di Irak, bernama Karbala. Karena itu, barangsiapa di antara mereka (Muslimin) yang menyaksikan (kejadian itu), hendaklah ia menolongnya. “

Di kemudian hari, di tengah tubuh-tubuh para pengikutnya yang berserakan, Al-Husain mencoba mengingatkan kembali perintah kakeknya itu. Dengan suara parau karena kehausan, ia memekik, “Oh, adakah yang membela kami. Masih adakah secuil hati nurani yang menyahuti kami?”

Lalu jawaban apa yang akan mereka berikan kepada Rasulullah, bila menepuk dada dan menangisi Al-Husain saja dibilang bid`ah. Bahkan untuk sekadar memperingati syahadah Al-Husain pun diganggu dan dipersulit.

Al-Husain mengakhiri seruannya dengan sebuah syair indah:

Akulah putra Ali dari Bani Hasyim yang suci

Cukuplah itu sebagai citra kebanggaan abadi

Fatimah ibundaku, dan kakekku adalah Nabi

Ja’far, sang merpati bebas, adalah paman kami

Kamilah lentera kebenaran di atas muka bumi

Kamilah pemberi minum Telaga Kautsar nanti

manusia-manusia terbaik adalah pencinta Ali

dan yang paling celaka adalah yang membenci

Beruntunglah orang yang mempunyai sanubari

untuk datang berziarah setelah kami mati

Balasan mereka adalah Firdaus dan bidadari

yang berenang di sungai jernih dan menari

Wa Husaina…Wa Ghariba…Wa Syahida…