Sunni dan wahabi tidak paham bahwa dalam pandangan ilmu hadis Syiah terdapat perbedaan antara istilah shahih antara ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin

Sunni dan wahabi tidak paham bahwa dalam pandangan ilmu hadis Syiah terdapat perbedaan antara istilah shahih antara ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin ! sunni dan wahabi cuma mampu Berhujjah dengan riwayat dhaif untuk mencela mazhab Syi’ah

 

Riwayat Syiah : Nabi Adam Dengki Terhadap Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain?

Para pencela Syiah mengutip dari kitab Ayatullah Mulla Zainal Abidin Al Kalbayakaniy yaitu Anwar Al Wilayah bahwa disebutkan kalau Nabi Adam dengki terhadap kedudukan Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain

و إن آدم عليه السّلام لما أكرمه اللّه تعالى ذكره بإسجاد ملائكته و بإدخاله الجنة، قال في نفسه: هل خلق اللّه بشرا أفضل مني؟ فعلم اللّه عز و جل ما وقع في نفسه، فناداه: ارفع رأسك يا آدم فانظر إلى ساق عرشي، فرفع آدم رأسه فنظر إلى ساق العرش، فوجد عليه مكتوبا: لا إله إلا اللّه، محمد رسول اللّه، علي بن أبي طالب أمير المؤمنين، و زوجته فاطمة سيدة نساء العالمين، و الحسن و الحسين سيدا شباب أهل الجنة. فقال آدم عليه السّلام: يا رب، من هؤلاء؟ فقال عز و جل: من ذريتك و هم خير منك، و من جميع خلقي، و لولاهم ما خلقتك و لا خلقت الجنة و النار و لا السماء و الأرض، فإياك أن تنظر إليهم بعين الحسد فأخرجك عن جواري ، فنظر إليهم بعين الحسد ، و تمنى منزلتهم فتسلط عليه الشيطان حتى أكل من الشجرة التي نهي عنها ، و تسلط على حواء لنظرها إلى فاطمة بعين الحسد حتى أكلت من الشجرة كما أكل آدم فأخرجهما الله عن جنته و أهبطهما عن جواره إلى الأرض

Dan sesungguhNya Adam [‘alaihis Salam] pada saat Allah Ta’ala  memuliakanNya dengan sujud dari para Malaikat-Nya kepadanya dan dengan memasukkan dia ke Surga, Adam berkata tentang dirinya “Apakah Allah menciptakan manusia yang lebih utama dari aku? Allah ‘Azza Wajalla mengetahui apa yang tengah terjadi pada diri Adam, maka Allah pun berfirman kepadaNya : “Angkatlah kepalamu wahai Adam dan lihatlah bagian bawah ‘Arsy” Maka Adam pun mengangkat kepalanya dan melihat ke bagian bawah ‘Arsy, maka dia pun mendapatkan bahwasa tertulis di atasnya “Tiada Tuhan Selain Allah, Muhammad [Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam] adalah Rasulullah, ‘Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin, dan IstriNya; Fathimah Sayyidah Nisa` Al-’Alamin, Al-Hasan dan Al-Husain Sayyid Syabab Ahl Al-Jannah. Maka Adam pun bertaNya kepada Allah “Yaa Rabb, siapakah mereka?” Allah ‘Azza Wajalla berfirman kepadanya “Mereka adalah dari keturunanmu dan mereka lebih baik darimu, dan mereka lebih baik dari seluruh ciptaan-Ku, seandainya bukan karena mereka tentu Aku tidak akan menciptakanmu, dan Aku juga tidak akan menciptakan Surga dan Neraka, tidak pula langit dan bumi. Maka berhati-hatilah engkau dari melihat mereka dengan mata kedengkian, maka Aku akan mengeluarkanmu dari kedekatan denganku. Namun Adam memandang mereka dengan mata hasad dan menginginkan kedudukan mereka, maka setan pun menguasainya hingga Adam memakan dari pohon yang dilarang. Dan setan pun turut menguasai Hawa hingga Hawa memandang Fathimah dengan mata hasad hingga dia memakan dari pohon tersebut sebagaimana Adam melakukannya. Maka Allah mengeluarkan keduanya dari Surga-Nya dan menjauhkan keduanya dari Kedekatakan dengan-Nya ke bumi [Anwar Al Wilayah hal 153 Ayatullah Al Kalbayakaniy]

Anwar Al Wilayah

Anwar Al Wilayah hal 153

Ayatullah Al Kalbayakaniy dalam riwayat di atas tidak sedang membawakan perkataannya sendiri tetapi ia membawakan riwayat yang panjang dari Abu Shult yang bertanya pada Imam Ali Ar Ridha. Dalam catatan kaki kitab Anwar Wilayah disebutkan bahwa asal riwayat tersebut adalah dari kitab U’yuun Akhbar Ar Ridha Syaikh Shaduuq. Sanad riwayat Syaikh Shaduq adalah sebagai berikut

U'yun Akhbar Ar Ridha

U'yun Akhbar Ar Ridha hal 274

حدثنا عبد الواحد بن محمد بن عبدوس النيسابوري العطار رضي الله عنه قال: حدثنا علي بن محمد بن قتيبة عن حمدان بن سليمان عن عبد السلام بن صالح الهروي قال: قلت للرضا عليه السلام

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waahid bin Muhammad bin ‘Abduus An Naiasabuuriy Al Aththaar [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad bin Qutaibah dari Hamdaan bin Sulaiman dari ‘Abdus Salaam bin Shaalih Al Harawiy yang berkata aku bertanya kepada Ar Ridha [‘alaihis salaam]. [U’yuun Akhbar Ar Ridha Syaikh Shaduuq 1/274, no 67]

Selain disebutkan dalam U’yuun Akhbar Ar Ridha, riwayat ini juga disebutkan Ash Shaduq dalam Ma’aniy Al Akhbar hal 124. Sanad riwayat Ash Shaduq ini berdasarkan ilmu Rijal di sisi Syiah kedudukannya dhaif karena ‘Abdul Wahid bin Muhammad bin ‘Abduus dan ‘Aliy bin Muhammad bin Qutaibah majhul.

Sayyid Al Khu’iy dalam Mu’jam Rijalul Hadiits berkesimpulan bahwa ‘Abdul Waahid bin Muhammad seorang yang majhul hal [Mu’jam Rijal Al Hadiits 12/41-32 no 7369]

عبد الواحد بن محمد بن عبدوس: العطار النيسابوري، من مشايخ الصدوق، ذكره في المشيخة – روى في التوحيد والعيون – مجهول

‘Abdul Waahid bin Muhammad bin ‘Abduus Al ‘Aththaar An Naisaburiy termasuk guru Syaikh Shaduuq, disebutkannya dalam Masyaikh-nya, meriwayatkan dalam kitab At Tauhiid dan Al U’yuun, seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijalul Hadiits hal 359, Muhammad Al Jawahiriy]

علي بن محمد القتيبي هو علي بن محمد بن قتيبة  المجهول

Aliy bin Muhammad Al Qutaibiy, ia adalah Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijalul Hadiits hal 413, Muhammad Al Jawahiriy]

Sebagian ulama Syiah ada yang menshahihkan hadis yang di dalam sanadnya terdapat ‘Abdul Wahiid bin Muhammad dari Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, dengan alasan sebagai berikut

Syaikh Ash Shaduq pernah menyatakan shahih hadis dengan sanad yang didalamnya ada ‘Abdul Wahid bin Muhammad ‘Abduus dan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah. Tetapi hal ini telah dijawab oleh Sayyid Al Khu’iy bahwa dari tashih tersebut tidak dapat dinyatakan tautsiq terhadap perawinya.

Hal ini bisa dipahami karena dalam pandangan ilmu hadis Syiah terdapat perbedaan antara istilah shahih antara ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin, Syaikh Ja’far Syubhani pernah menukil hal ini dalam Al Kulliyat Fi Ilm Rijal

و ذلک لان مصطلح الصحیح عند القدماء غیره عند المتأخرین، و لا یستتبع صحة حدیث الرجل عند القدماء وثاقته عندهم

Dan itu karena istilah shahih di kalangan mutaqaddimin berbeda dengan muta’akhirin tidak mesti istilah shahih hadis seorang perawi di sisi mutaqaddimin menunjukkan perawinya tsiqat di sisi mereka [Al Kulliyat Fii Ilm Rijal, Syaikh Ja’far As Subhaniy hal 486]

Berkenaan dengan Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, sebagian ulama Syiah menguatkannya karena telah ternukil pujian dari kalangan mutaqaddimin diantaranya An Najasyiy dan Ath Thuusiy

علي بن محمد بن قتيبة النيشابوري (النيسابوري) – عليه اعتمد أبو عمر والكشي في كتاب الرجال

Aliy bin Muhammad bin Qutaibah An Naisaburiy, Abu ‘Amru Al Kissyiy telah berpegang dengannya dalam kitab Rijal [Rijal An Najasyiy hal 259 no 678]

علي بن محمد القتيبي، تلميذ الفضل بن شاذان، نيسابوري، فاضل

Aliy bin Muhammad Al Qutaibiy murid Fadhl bin Syadzaan, orang Nasaibur, memiliki keutamaan [Rijal Ath Thuusiy hal 429]

Adapun apa yang disebutkan An Najasyiy maka lafaz tersebut tidak kuat sebagai tautsiq karena Al Kisyiy sendiri dikatakan oleh An Najasyiy bahwa ia tsiqat dan banyak meriwayatkan dari perawi dhaif [Rijal An Najasyiy hal 372 no 1018]. Artinya An Najasyiy sendiri mengakui bahwa Al Kisyiy juga berpegang pada perawi dhaif maka lafaz “Al Kisyiy telah berpegang dengannya” yang disematkan pada Aliy bin Muhammad bin Qutaibah tidak bernilai tautsiq. Sedangkan lafaz perkataan Ath Thuusiy “fadhl” bukan lafaz tautsiq yang jelas untuk seorang perawi dalam periwayatan hadis sebagaimana yang dikatakan Sayyid Al Khu’iy dalam Mu’jam Rijalul Hadits.

Jika diamati sekilas nampak istilah ilmu hadis dalam Syiah agak mirip dengan ilmu hadis dalam Sunni. Dalam Sunni dikenal juga anggapan bahwa perkataan “hadis shahih” dari seorang ulama tidak mesti diambil sebagai tautsiq terhadap para perawinya karena bisa saja hadis tersebut shahih dengan syawahid [artinya sanadnya sendiri dhaif] atau tashih tersebut tidak mu’tamad karena berasal dari ahli hadis yang dikenal tasahul. Begitu pula lafaz “fadhl” tidak harus bermakna tsiqat atau shaduq karena bisa saja yang dimaksud adalah keutamaan seseorang sebagai faqih atau ahli ibadah dan cukup dikenal bahwa banyak para fuqaha dan ahli ibadah yang dikenal dhaif dalam hadis.

Kedudukan yang rajih mengenai Aliy bin Muhammad bin Qutaibah adalah seorang yang majhul tidak ada lafaz tautsiq yang jelas padanya, Inilah pendapat Sayyid Al Khu’iy, Muhammad bin Aliy Al ‘Ardabiliy dan Muhammad Al Jawahiriy. Sayyid Al Khu’iy menyebutkan dalam biografi Utsman bin Ziyad Al Hamdaaniy

فطريق الصدوق إليه: عبد الواحد بن محمد بن عبدوس العطار النيسابوري، عن علي بن محمد بن قتيبة، عن حمدان بن سليمان، عن محمد بن الحسين، عن عثمان بن عيسى، عن عبد الصمد بن بشير، عن عثمان بن زياد والطريق ضعيف بعبد الواحد، وعلي بن محمد

Maka jalan Ash Shaduq kepadanya : ‘Abdul Waahid bin Muhammad bin ‘Abduus Al ‘Athaar An Naisaburiy dari Aliy bin Muhammad bi Qutaibah dari Hamdaan bin Sulaiman dari Muhammad bin Husain fari ‘Utsman bin ‘Iisa dari ‘Abdush Shamaad bin Basyiir dari Utsman bin Ziyaad, dan jalan ini dhaif karena ‘Abdul Waahid dan ‘Aliy bin Muhammad [Mu’jam Rijal Al Hadist Sayyid Al Khu’iy 12/120 no 7597]

والى الفضل بن شاذان فيه عبد الواحد بن عبدوس النيشابوري العطار رضي الله عنه وهو غير مذكور وعلي بن محمد بن قتيبة ولم يصرح بالتوثيق

Dan jalan kepada Fadhl bin Syadzaan di dalamnya ada ‘Abdul Waahid bin ‘Abduus An Naisaburiy Al ‘Aththaar [radiallahu ‘anhu] dan ia tidak disebutkan tentangnya, Aliy bin Muhammad bin Qutaibah, tidak ada tautsiq yang jelas padanya [Jami’ Ar Ruwaat 2/539, Muhammad bin Aliy Al Ardabiliy].

.

.

.

Berkenaan dengan riwayat Ash Shaduq tentang Nabi Adam di atas, salah seorang ulama Syi’ah yaitu Syaikh Abdullah Ad Dasytiy telah menegaskan kedhaifannya, ia berkomentar dalam salah satu kitabnya

An Nafis

An Nafis hal 223

والخبر ضعيف ، فالسند الأول فيه عبد الواحد بن محمد بن عبدوس النيسابوري العطار لم يذكر له توثيق صريح

Dan Kabar ini dhaif, dalam sanad yang pertama di dalamnya terdapat ‘Abdul Waahid bin Muhammad bin ‘Abduus An Naisaabuuriy Al ‘Aththaar tidak disebutkan tautsiq yang jelas terhadapnya [An Nafiis Fi Bayaan Raziitil Khamiis 2/223]

Sebagian ulama syi’ah seperti Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar menakwilkan bahwa makna hasad disana adalah ghibthah yaitu keinginan untuk mendapatkan kedudukan seperti mereka. [Bihar Al Anwar 11/165]. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Allamah Thabathaba’iy dalam kitab tafsirnya Al Mizan Fii Tafsir Al Qur’an, ia berkata

وقوله عليه السلام: فنظر إليهم بعين الحسد وتمنى منزلتهم فيه بيان أن المراد بالحسد تمنى منزلتهم دون الحسد الذي هو أحد الأخلاق الرذيلة

Dan perkataan [Imam] ‘alaihis salaam “maka ia [Adam] melihat mereka dengan mata hasad dan mengingnkan kedudukan mereka, di dalamnya terdapat penjelasan bahwa maksud hasad tersebut adalah menginginkan kedudukan mereka bukan hasad yang merupakan salah satu akhlak tercela [Al Miizan Fii Tafsir Al Qur’an, Allamah Thabathba’iy 1/144]

Sebagaimana diketahui bahwa ghibthah termasuk hasad yang diperbolehkan bagi seorang muslim, hal ini juga sudah dikenal di sisi Ahlus Sunnah

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang, orang yang dikaruniakan Allah harta kekayaan kemudian ia membelanjakannya di atas kebenaran dan orang yang dikaruniakan hikmah oleh Allah kemudian ia memutuskan dengannya dan mengajarkannya [Shahih Bukhari no 73].

Hasad yang dimaksud dalam hadis Bukhariy di atas tidak lain adalah ghibthah yaitu meginginkan apa yang dimiliki seseorang tetapi tidak berniat untuk menghilangkan hal itu dari orang tersebut.

Kami hanya ingin menunjukkan bagaimana pandangan ulama syiah mengenai riwayat tentang Nabi Adam di atas, yaitu ada yang mendhaifkannya dan ada pula yang menerimanya kemudian menakwilkan makna hasad tersebut sebagai ghibthah dan kami melihat penakwilan tersebut sebagai usaha mereka untuk mensucikan Nabi Adam dari menisbatkan hal yang buruk terhadapnya. Walaupun begitu secara pribadi kami melihat bahwa pendapat yang mendhaifkan riwayat tersebut lebih rajih.

.

.

.

Sungguh mengherankan melihat usaha para pencela yang berusaha merendahkan mazhab Syi’ah dengan riwayat-riwayat yang menurut kacamata awam mereka termasuk merendahkan para Nabi. Sayangnya mereka tidak melihat bahwa di dalam kitab mazhab Ahlus sunnah juga terdapat riwayat yang dinilai menurut kacamata awam seolah-olah merendahkan para Nabi. Apakah dengan begitu mazhab ahlus sunnah akan direndahkan pula. Silakan perhatikan riwayat berikut

حدثنا قتيبة بن سعيد عن مالك بن أنس فيما قرئ عليه عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال تحاج آدم وموسى فحج آدم موسى فقال له موسى أنت آدم الذي أغويت الناس وأخرجتهم من الجنة ؟ فقال آدم أنت الذي أعطاه الله علم كل شئ واصطفاه على الناس برسالته ؟ قال نعم قال فتلومني على أمر قدر علي قبل أن أخلق ؟

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid dari Malik bin ‘Anas dari apa yang telah dibacakan kepadanya dari Abi Az Zanaad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata Adam dan Musa pernah berdebat, maka Musa berkata kepada Adam “engkaukah Adam yang telah menyesatkan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga?”. Maka Adam berkata “engkaukah yang telah diberikan Allah ilmu tentang segala sesuatu dan telah dipilih atas manusia untuk mengemban risalah-Nya?. Musa berkata “benar”. Adam berkata “maka mengapa engkau mencelaku atas perkara yang telah ditetapkan Allah kepadaku sebelum aku diciptakan” [Shahih Muslim 4/2042 no 2652]

Tentu kalau dilihat dari kacamata awam dan kacamata para pencela maka riwayat di atas adalah amunisi yang baik untuk mencela mazhab Ahlus sunnah. Bukankah zhahir riwayat di atas Musa telah mencela Adam bahwa ia telah menyesatkan manusia dan mengeluarkan manusia dari surga dan Adam tidak membantah pernyataan tersebut hanya mengatakan kepada Musa, mengapa ia mencela apa yang telah ditetapkan Allah SWT. Dengan kacamata pencela tersebut maka dapat dikatakan bahwa riwayat ini adalah penghinaan mazhab ahlus sunnah terhadap para Nabi [‘alaihis salaam].

Apakah demikian hakikatnya? Tidak, para ulama ahlus sunnah telah menjelaskan hadis di atas dengan penjelasan yang berusaha mensucikan Nabi Adam dan Nabi Musa dari menisbatkan hal-hal yang buruk terhadap keduanya. Maka apa bedanya disini antara ulama ahlus sunnah dan ulama syiah, bukankah mereka sama-sama mensucikan para Nabi dan memuliakan mereka. Lain halnya dengan pencela dan pendengki mereka akan selalu mencari-cari cara untuk merendahkan mazhab yang mereka kafirkan dengan hawa nafsu mereka.

sunni dan wahabi cuma mampu Berhujjah dengan riwayat dhaif untuk mencela mazhab Syi’ah

sunni dan wahabi cuma mampu Berhujjah dengan riwayat dhaif untuk mencela mazhab Syi’ah

Ghuluw : Ali Sudah Ada Semenjak Nabi Terdahulu, Penolong Dakwah dan Pemilik Kunci-Kunci Ghaib?

Berhujjah dengan riwayat dhaif untuk mencela mazhab lain adalah tindakan yang tidak bijaksana karena orang tersebut pasti tidak suka jika hujjah yang sama ditujukan pada mazhab-nya. Maka dari itu siapapun yang punya akal pikiran waras akan berhati-hati dalam menuduh mazhab lain. Lain hal-nya jika dari awal, seseorang memang berniat mencela atau memfitnah mazhab lain maka ia tidak akan peduli dengan bagaimana caranya berhujjah. Ia akan terus mencela berulang-ulang dengan hujjah yang lemah sampai akhirnya ia akan dikenal dengan sebutan sang pencela. Sang Pencela mengutip riwayat berikut dari kiitab Tafsir Furat Al Kufiy

فرات قال: حدثني جعفر بن محمد الفزاري قال: حدثنا أحمد بن ميثم الميثمي قال: حدثنا أحمد بن محرز الخراساني عن [ر: قال: حدثنا] عبد الواحد بن علي قال قال أمير المؤمنين [علي بن أبي طالب. ر] عليه السلام أنا أؤدي من النبيين إلى الوصيين ومن الوصيين إلى النبيين، وما بعث الله نبيا إلا وأنا أقضي دينه وأنجز عداته، ولقد اصطفاني ربي بالعلم والظفر، ولقد وفدت إلى ربي اثنى عشر وفادة فعرفني نفسه وأعطاني مفاتيح الغيب ثم قال: يا قنبر من على الباب [ب: بالباب]؟ قال: ميثم التمار! ما تقول ان أحدثك فان أخذته كنت مؤمنا وإن تركته كنت كافرا؟ [ثم. أ] قال: أنا الفاروق الذي أفرق بين الحق والباطل، أنا أدخل أوليائي الجنة وأعدائي النار، أنا! قال الله هل ينظرون إلا أن يأتيهم الله في ظلل من الغمام والملائكة وقضي الامر وإلى الله ترجع الأمور

Fuurat berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad Al Fazariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Maitsam Al Maitsamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhriz Al Khuraasaniy dari ‘Abdul Wahid bin ‘Aliy yang berkata Amirul Mukminin [Aliy bin Abi Thalib] berkata aku adalah penyampai dari para Nabi kepada para washi dan dari para washi kepada para Nabi, dan tidaklah Allah mengutus Nabi melainkan aku ikut menegakkan agamanya dan menghancurkan yang memusuhinya, sungguh Allah telah memilihku dengan ilmu dan kemenangan, dan sungguh aku telah menemui Rab-ku dua belas kali dan Ia mengenalkan dirinya, memberikan kepadaku kunci-kunci ghaib. Kemudian Beliau berkata “wahai Qanbar, siapa yang ada di depan pintu?. Ia berkata “Maitsam At Tamaar” apa yang kau katakan jika aku menceritakan kepadamu, maka siapa yang mengambilnya termasuk mukmin dan siapa yang meninggalkannya kafir. Kemudian Beliau berkata “aku adalah Al Faruq yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil, dan aku akan memasukkan para kekasihku ke dalam surga dan para musuhku kedalam neraka, aku yang dikatakan Allah “Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan” [Tafsir Furat bin Ibrahim Al Kufiy hal 67]

Al Majlisiy menukil riwayat ini dalam kitab Bihar Al Anwar dengan sanad berikut

تفسير فرات بن إبراهيم: أحمد بن محرز الخراساني، عن جعفر بن محمد الفزاري، عن أحمد بن ميثم الميثمي، عن عبد الواحد بن علي

Tafsiir Furat bin Ibrahiim : Ahmad bin Muhriz Al Khurasaniy dari Ja’far bin Muhammad Al Fazaariy dari Ahmad bin Maitsam Al Maitsamiy dari ‘Abdul Wahid bin Aliy …[Bihar Al Anwar Al Majlisiy 39/350]

Bihar Al Anwar juz 39

Bihar Al Anwar juz 39 hal 350

Nampak disini seolah terjadi ketidakjelasan dalam sanadnya, kemungkinan terjadi tashif atau kesalahan penukilan dari Al Majlisiy. Pentahqiq kitab Tafsir Furat Al Kufiy menyebutkan bahwa terjadi perbedaan dalam sebagian naskah kitab dan yang tsabit adalah riwayat yang menyebutkan bahwa Syaikh [guru] Al Furat dalam sanad di atas adalah Ja’far bin Muhammad Al Fazaariy dan ia memang dikenal sebagai guru Furat bin Ibrahim Al Kuufiy.

Riwayat ini kedudukannya sangat dhaif di sisi Syiah dengan alasan sebagai berikut. Sebagian perawi-nya tidak dikenal kredibilitasnya di sisi Syi’ah, Ahmad bin Maitsam Al Maitsamiy disebutkan dalam Mustadrak Ilm Ar Rijal tanpa keterangan ta’dil dan tarjih [Mustadrakat Ilm Rijal Hadits 1/397-398, Syaikh Ali Asy Syahruudiy]. Ahmad bin Muhriz Al Khurasaniy disebutkan dalam Al Mamaqaniy tanpa keterangan ta’dil dan tarjih dan nampaknya ia dikenal hanya melalui hadis dalam Tafsir Furat dan Bihar Al Anwar di atas [Tanqiih Maqal Ar Rijal Al Mamaqaniy 7/136 no 880]. Abdul Wahid bin Aliy disebutkan dalam Mustadrak Ilm Ar Rijal tanpa keterangan ta’dil dan tarjih [Mustadrakat Ilm Rijal Hadits 5/152-153, Syaikh Ali Asy Syahruudiy].

Ja’far bin Muhammad Al Fazaariy yang dikenal sebagai salah satu syaikh [guru] Furat bin Ibrahim Al Kuufiy adalah perawi yang dhaif. Najasyiy menyatakan bahwa ia dhaif dalam hadis dan Ahmad bin Husain mengatakan bahwa ia pemalsu hadis [Rijal Najasyiy 1/122 no 313]. Al Hilliy setelah menukil pandangan Najasyiy dan Ahmad bin Husain, ia menukil perkataan Ibnu Ghada’iriy bahwa Ja’far bin Muhammad Al Fazaariy pendusta matruk dan Syaikh Ath Thuusiy menyatakan ia tsiqat, Al Hilliy merajihkan bahwasanya tidak bisa beramal dengan hadisnya [Khulasah Al Aqwal Al Hilliy 1/330-331]. Al Khu’iy menyatakan bahwa taustiq Syaikh Ath Thuusiy tidak bisa dijadikan pegangan karena bertentangan dengan pendhaifan para ulama mutaqaddimin sebelum Ath Thuusiy [Mu’jam Rijal Al Hadits, Sayyid Al Khu’iy 5/89]

Dari segi matan riwayat tersebut mengandung kemungkaran, bagaimana mungkin jika dikatakan Aliy adalah penyampai para Nabi kepada para washiy atau tidaklah Allah mengutus Nabi kecuali Aliy sebagai penolongnya padahal Imam Aliy sendiri baru lahir di masa hidup penutup para Nabi yaitu Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Riwayat di atas dhaif sanadnya dan mungkar matannya maka tidak bisa dijadikan hujjah dari sudut pandang keilmuan Mazhab Syiah.

Dhaif : Riwayat Syiah Para Nabi Diciptakan Untuk Berwilayah Kepada Aliy

Sungguh mengherankan melihat para pencela begitu gemar mencaci Syiah dan pemeluknya karena riwayat dhaif yang ada dalam kitab mereka. Fenomena ini sangatlah tidak layak dalam perdebatan [sepanjang masa] antara Sunni dan Syiah. Sudah saatnya kedua belah pihak [terutama para da’i mereka] belajar berdiskusi dengan hujjah yang objektif tanpa saling merendahkan satu sama lain.

Seorang Syiah tidak layak mencaci Sunni dan pemeluknya karena riwayat dhaif dalam kitab Sunni begitu pula seorang Sunni tidak layak mencaci Syiah dan pemeluknya karena riwayat dhaif dalam kitab Syiah. Jika anda baik sunni atau syiah ingin membuat tuduhan satu sama lain maka silakan buktikan shahih tidaknya tuduhan anda tersebut. Jika anda terburu-buru maka dikhawatirkan anda hanya menunjukkan kejahilan dan kenashibian, terlalu membenci syiah dan pengikutnya adalah ciri khas neonashibi zaman ini sehingga tidak jarang tulisan-tulisan mereka secara langsung maupun tidak langsung merendahkan ahlul bait Nabi hanya dalam rangka membantah Syiah.

ابن سنان، عن المفضل بن عمر قال: قال لي أبو عبد الله عليه السلام: إن الله تبارك و تعالى توحد بملكه فعرف عباده نفسه، ثم فوض إليهم أمره وأباح لهم جنته فمن أراد الله أن يطهر قلبه من الجن والإنس عرفه ولايتنا ومن أراد أن يطمس على قلبه أمسك عنه معرفتنا ثم قال يا مفضل والله ما استوجب آدم أن يخلقه الله بيده وينفخ فيه من روحه إلا بولاية علي عليه السلام، وما كلم الله موسى تكليما ” إلا بولاية علي عليه السلام، ولا أقام الله عيسى ابن مريم آية للعالمين إلا بالخضوع لعلي عليه السلام

Ibnu Sinan dari Mufadhdhal bin ‘Umar yang berkata Abu ‘Abdullah [‘alaihis salam] berkata kepadaku Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta’ala itu adalah Tuhan Yang Maha Esa dan memberikan pada para hamba-Nya pengetahuan akan hal itu, kemudian Allah memasrahkan perkara-Nya pada para hambaNya dan memperbolehkan para hambaNya untuk menikmati Surganya. Maka barangsiapa yang menginginkan hatinya disucikan baik dari jin dan manusia maka Allah mengenalkan orang tersebut akan wilayah kami. Dan barangsiapa ingin dihilangkan hatinya dari kesucian maka Allah akan mengambil ma’rifat akan wilayah kepada kami dari orang tersebut. Kemudian Abu ‘Abdillah ‘alaihis salam bersabda: ”wahai mufadhal, Demi Allah, tidaklah mewajibkan Adam yang dimana Allah menciptakan Adam dengan Tangan-Nya dan meniupkan ruh pada Adam [‘alaihis salam] kecuali dengan wilayah kepada ‘Ali [‘alaihis salam]. Dan tidaklah Allah telah berbicara kepada Musa [‘alaihis salam] secara langsung itu kecuali dengan dengan wilayah kepada ‘Ali [‘alaihis salam]. Dan tidaklah Allah telah menciptakan ‘Isa putra Maryam sebagai bentuk tanda kebesaran Allah bagi alam semesta itu kecuali dengan tujuan agar ‘Isa [‘alaihis salam] merendahkan diri kepada ‘Ali [‘alaihis salam]… [Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 250]

Bihar Al Anwar juz 26

Bihar Al Anwar juz 26 hal 294

Riwayat Syaikh Mufid ini juga dikutip oleh Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar 26/294 sebagaimana nampak di atas. Riwayat yang dibawakan Syaikh Mufid dalam kitab Al Ikhtishaash ini sanadnya dhaif tidak bisa dijadikan hujjah karena Muhammad bin Sinan, ia perawi yang diperselisihkan keadaannya di sisi Syiah dan yang rajih kedudukannya dhaif. An Najasyiy menyebutkan bahwa Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Sa’id menyatakan Muhammad bin Sinan dhaif jiddan. Ia juga mengutip Fadhl bin Syadzan yang mengatakan “aku tidak mengizinkan kalian meriwayatkan hadis Muhammad bin Sinan” [Rijal An Najasyiy hal 328 no 888]. An Najasyiy sendiri mendhaifkan Muhammad bin Sinan, dalam biografi Miyaah Al Mada’iniy [Rijal An Najasyiy hal 424 no 1140]. Syaikh Ath Thuusiy berkata “Muhammad bin Sinan tertuduh atasnya, dhaif jiddan” [Tahdzib Al Ahkam 7/361]. Ibnu Ghada’iriy berkata “dhaif ghuluw” [Rijal Ibnu Dawud hal 174 no 1405].

Adapun Mufadhdhal bin ‘Umar, ia seorang yang diperselisihkan. An Najasyiy berkata “jelek mazhabnya, mudhtharib riwayatnya, tidak dipedulikan dengannya” [Rijal An Najasyiy hal 416 no 1112]. Ibnu Ghada’iriy berkata “dhaif” [Majma’ Ar Rijal Syaikh Qahbaa’iy 6/131]. Sayyid Al Khu’iy dalam biografi Mufadhdhal bin ‘Umar menukil tautsiq syaikh Al Mufid dan berbagai riwayat Imam Ahlul Bait yang memuji dan mencela Mufadhdhal bin ‘Umar, ia merajihkan riwayat yang memuji Mufadhdhal, sehingga ia berkesimpulan bahwa Mufadhdhal seorang yang tsiqat jaliil [Mu’jam Rijalul Hadits 19/318-330, no 12615].

Selain itu riwayat di atas memiliki cacat lain yaitu Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan dalam muqaddimah kitab Tahdzib Al Ahkam bahwa Syaikh Al Mufid lahir pada tahun 336 atau 338 H [Tahdzib Al Ahkam 1/6]. Sedangkan Muhammad bin Sinan disebutkan An Najasyiy wafat pada tahun 220 H [Rijal An Najasiy hal 328 no 888]. Artinya Syaikh Al Mufiid tidak meriwayatkan langsung dari Muhammad bin Sinan maka riwayatnya mursal.

.

.

.

Riwayat yang serupa yaitu dalam matannya terdapat keterangan bahwa para Rasul diutus atas wilayah Aliy, ternyata diriwayatkan juga dalam kitab hadis Ahlus Sunnah yaitu Ma’rifat Ulumul Hadits Al Hakim

Ma'rifat Ulumul Hadits

Ma'rifat Ulumul Hadits no 222

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْحَافِظُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ غَزْوَانَ ، قَالَ : ثنا عَلِيُّ بْنُ جَابِرٍ ، قَالَ : ثنا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : ثنا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ ، قَالَ : ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سُوقَةَ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ , عَنِ الأَسْوَدِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَا عَبْدَ اللَّهِ أَتَانِي مَلَكٌ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، وَسَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا عَلامَ بُعِثُوا ؟ قَالَ : قُلْتُ : عَلامَ بُعِثُوا ؟ قَالَ : عَلَى وِلايَتِكَ وَوِلايَةِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ “

Telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Muhammad bin Mudhaffar Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Ghazwaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Jaabir yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khaalid bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Suuqah dari Ibrahim dari Aswad dari Abdullah yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “wahai Abdullah telah datang Malaikat kepadaku, maka ia berkata “wahai Muhammad tanyakanlah dari Rasul-rasul yang diutus sebelum kamu atas dasar apa mereka diutus”. Aku bertanya “atas dasar apa mereka diutus?”. Ia berkata “atas wilayah-Mu dan wilayah Aliy bin Abi Thalib” [Ma’rifat Ulumul Hadits Al Hakim hal 316 no 222]

Hadis riwayat Al Hakim di atas sanadnya dhaif jiddan karena Aliy bin Jabir tidak dikenal dan Muhammad bin Khalid bin Abdullah termasuk perawi Ibnu Majah, dikatakan Abu Zur’ah dhaif, Ibnu Ma’in menyatakan ia pendusta, Al Khaliliy berkata “dhaif jiddan” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 199].

Intinya riwayat dhaif tentang perkara ini ditemukan baik dalam mazhab Syi’ah maupun mazhab Ahlus sunnah maka atas dasar apa para pencela menjadikan riwayat ini sebagai dasar untuk merendahkan Syi’ah. Jawabannya tidak lain atas dasar kejahilan dan kedengkian. Semoga Allah SWT melindungi kita dari kejahilan dan kedengkian.

NU – Syi’ah hanya mengalami PERPECAHAN politik, sedang akidah mereka tetap satu.

kalo ikut tahlilan termasuk ahlusunnah wal jamaah ga pung? 

Beda Pilihan Politik Jangan Rusak Persatuan NU – Syi’ah

Warga NU diminta untuk tetap menjaga kekompakan dan persatuan meskipun saling berbeda soal pandangan politik. Perpecahan NU – Syi’ah hanya bersifat politik, sedang akidah mereka tetap satu.

Jika NU menganggap Nabi SAW tidak menunjuk siapapun menjadi khalifah pasca beliau wafat, maka Syi’ah justru menganggap Imam Ali sebagai khalifah.Agama tidak boleh dijadikan komoditas maupun jargon-jargon politik. Penggunaan simbol agama merupakan bentuk ketidakdewasaan berpolitik yang bisa memicu konflik umat beragama.

aqil

Prinsip Jalan Hidup dan Dakwah NU – Syi’ah

Maka jagalah amanah Dakwah NU – Syi’ah sebaik-baiknya.
ingat, memilih bukanlah KEWAJIBAN, melainkan cuma HAKJangan ragu-ragu untuk tidak menggunakannya kalau gak yakin dengan pilihan yang ada 
Jika kita mencoba untuk membuka kembali dan mempelajari perkembangan dakwah dari zaman ke zaman, maka kita akan dapat menangkap adanya suatu fenomena yang menarik. Adalah suatu kenyataan yang tidak mungkin untuk dipungkiri bahwa ditengah derasnya arus pemikiran dan kuatnya gejolak-gejolak bid’ah dan khurafat serta takhayul dan kesyirikan yang ditebarkanoleh tokoh-tokoh kesesatan , du-at ala abwaabi jahannam, ditengah itu semua, dengan rahmat Allah panji-panji NU – Syi’ah tetap berkibar dengan gagahnya. Bahkan sebaliknya, dakwah mereka justru semakin kokoh dan kuat.Karena itu, ketika dakwah Ahlus Sunnah wal Jama`ah menguat, atau nama Ahlus Sunnah wal Jama`ah dipandang dapat memberikan keuntungan dan manfaat, maka kita akan menemukan orang-orang wahabi  mencaplok nama tersebut untuk menjadikan dagangan mereka laris. Orang-orang wahabi  sepertinya lupa bahwa Ahlus Sunnah wal Jama`ah bukanlah hanya sekedar pemulas bibir, atau merek dagang yang digunakan sekedar untuk menaikkan oplah dan permintaan, atau stempel cap untuk melegalisir meskipun perkara tersebut adalah suatu kemungkaran.

Jika hal ini telah kita pahami, maka betapa celakanya wahabi  yang mengaku sebagai seorang Sunni, yang kemudian dengan liciknya ia mampu mengelabui pengikut dan pengagum-pengagumnya. Sehngga jadilah ia seorang tokoh yang dielu-elukan dan setiap perkataannya dijadikan ukuran mutlak suatu kebenaran. Meskipun ia sebenarnya -Naudzu billahi min dzalika- amat jauh dan bertentangan dengan sifat yang disebutkan sebagai sifat-sifat Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Kita berkeyakinan bahwa suatu hari nanti semua kebanggaan, kepuasan, dan kesenangannya akan berbalik menjadi kehinaan, siksaan, dan kebinasaan yaitu pada hari akhir. Benarlah perkataan seorang penyair:

Barang siapa mengaku-aku sesuatu yang tidak dilakukannya

Ia akan dipermalukan ketika hari ujian datang menjelang.

Namun demikian, di sana ada segolongan besar dari kaum muslimin yang berusaha mencari kebenaran bahkan bersedia untuk membela dan memperjuangkannya. Hanya saja sebagian diantara mereka telah terjerumus kedalam kubangan kelompok-kelompok yang sesat,atau terjatuh kedalam tangan para penyamun yang mencengkeram mereka dengan kuku talbis (mencampurkan antara hak dan batil) dan syubhat (dalih yang disamarkan sehingga disangka sebuah dalil) atau bahkan mungkin tahdid (ancaman serta teror baik secara mental maupun secara fisik). Terkadang juga hanya karena terlalu berprasangka baik kepada para ustadz dan guru-guru mereka. Padahal mereka sendiri pada hakekatnya sangat mendambakan kebenaran . Mereka amatlah rindu dekapan Sunnah, ingin merasakan teduhnya ittiba, dan mencicipi manisnya iman.

Kami memohon kepada Allah yang Maha Agung dengan Nama-Nama-Nya yang Indah dan Sifat-Sifat-Nya yang Maha Tinggi agar menjadikan kita sebagai pembimbing dan pemberi hidayah bagi umat manusia, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan, dan agar kita menjadi pembuka segala pintu kebajikan dan penutup seluruh pintu-pintu kejelekan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa  atas segala sesuatu dan Maha Kuasa untuk mengabulkannya. Semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para syiah nya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik sampai datangnya hari kiamat.

Teroris Wahabi Takbir dan Tertawa Setelah Mengebom Makam Sahabat Nabi. Omong kosong wahabi pembela sahabat

Teroris Wahabi Berkedok Mujahid berteriak Takbir palsu, dan tertawa terbahak-bahak karena bangga telah mengebom kubah makam salah seorang sahabat Nabi SAW, Ammar bin Yasir. Aliran Wahabi Salafi adalah Neo Khawarij abad ini.

KH Said Aqil: Pesantren Tak Pernah Ajarkan Terorisme

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj kembali menegaskan, pesantren di Indonesia tidak pernah mengajarkan terorisme. Bibit-bibit terorisme itu dikembangkan oleh “agen-agen” dari luar.“Lihat saja (teroris; red), tidak sama dengan budaya kita itu. Itu yang harus ditolak, impor itu,” ujarnya dalam Dialog Nasional Ormas Islam di Hotel Grand Sahid, Jakarta Selatan, Sabtu (11/5).

Ia mengungkapkan bahwa sekolah atau lembaga pendidikan yang memang menyemai bibit-bibit terorisme hanya ada di Afganistan dan Pakistan.  “Pesantren radikal itu ada di Afganistan dan Pakistan,” tambahnya.

Sementara pondok pesantren di Indonesia yang diasuh oleh para kiai bertugas mengembangkan ajaran Islam yang rahmatal lil ‘alamin yang mempertemukan ajaran lokal dengan ajaran Islam.

Menurut Kang Said, terorisme berhasil merembes masuk ke Indonesia disebankan kebodohan, kebelakangan, kemiskinan, pengangguran, dan kesalahpahaman para agen tersebut dalam memahami ajaran Islam.

Ia menegaskan, terorisme tidak diajarkan oleh Islam. Lebih dari itu, menurutnya, agama apa pun, baik Islam, Kristen, Hindu, Budha dan lainnya tidak ada yang mengajarkan terorisme.

Ketika Salafi Wahabi Bergandeng Mesra Dengan Zionis

Beberapa tahun yang lalu ketika usiaku masih belasan tahun dan sedang mengenyam pendidikan di sebuah Pesantren, aku mendapati selebaran yang berisi peringatan terhadap kaum Muslimin untuk mewaspadai misi Zionis, diantara yang aku ingat adalah :
.
1. Pisahkan umat Islam dari ulamanya
2. Pisahkan umat Islam dari Nabinya
3. Pisahkan umat Islam dari kitab sucinya (Al-Quran )
4. Pecah belah dan hancurkan!
.
Beberapa tahun setelah aku kembali ke kampung, aku dapati fenomena Salafi Wahabi. Dan ketika aku mencermati dogma (ajaran) serta cara mereka “berdakwah” (menyampaikan ajarannya), timbul kecurigaan kuat mereka adalah kaki tangan Zionis.
.
Kecurigaanku bukan tanpa alasan, berikut mari bersama kita cermati secara kritis dengan fikiran dan hati yang jernih tentang beberapa fatwa Salafi Wahabi sekaligus efek yang terjadi dalam konteks keselarasan fatwa-fatwa tersebut dengan misi Zionis:
.
Misi 1: Pisahkan umat Islam dari ulamanya
Misi ini bertujuan agar umat Islam kehilangan central command/komando yang terpusat dalam segala hal, baik dalam berpolitik, bersosial, beragama, serta menghilangkan metode yang benar dalam memahami agama. Mereka sadar bahwa kegagalan mereka selama ini diakibatkan oleh kuatnya semangat dan persatuan kaum Muslimin dalam melawan mereka. Dan semangat serta persatuan kaum Muslimin tersebut faktanya berpusat pada para ulama.
.
Fatwa Salafi Wahabi yang disinyalir “mendukung” misi tersebut diantaranya adalah :
.
1. Sesatnya Mazhab Asya’irah/ Asy’ariah dan Maturidiah
Bukti paling dekat atas fatwa tersebut adalah buku yang berjudul “Mulia Dengan Manhaj Salaf” yang ditulis oleh Ust. Yazid Ibn Abdil Qodir. Dalam buku tersebut pada bab terakhir dengan gamblang Ust. Yazid Jawas mengelompokkan Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai kelompok sesat dan menyesatkan. Sebuah buku yang kontradiktif dengan buku yang mereka ciptakan sebelumnya yang merupakan Tahrif (penyimpangan) dari al Ibanah yang berjudul “Buku Putih Imam Al Asy’ari” dengan penerjemah Abu Ihasan Al Atsari, penerbit At Tibyan.
.
2. Propaganda : Para Ulama adalah Manusia yang Tidak Ma’shum (Tidak terjaga dari salah)
.
Propaganda “Para ulama adalah manusia yang tidak ma’shum” adalah “Kalimatu Haqqin Uriida Biha Al Bathil” (pernyataan yang benar yang disertai misi batil). Propaganda ini berperan untuk mendorong umat Islam keluar dari mazhab-mazhab yang mu’tabar (diakui) dan beralih kepada “mazhab” yang mereka bangun (mazhab yang tidak bermetode dalam memahami Al-Quran dan Sunnah). Propaganda ini mengesampingkan pesan Allah: “Maka bertanyalah kalian pada Ahlidz Dzikri jika kalian tidak tahu” (An Nahl : 43 dan Al Anbiya’ : 7)
.
Efek lain dari propaganda ini dapat Anda buktikan dalam sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof enggan menerima pendapat para ulama dengan alasan mereka tidak ma’shum.
3. Tuduhan “Ta’ashub” (Fanatik) kepada Para Penganut Mazhab
4. Tuduhan “Ghuluw” (Berlebihan) Bahkan Musyrik terhadap Umat Islam yang Menghormati Para Ulama denga Cara Mencium Tangan
.
5. Haramnya Tawasul dengan Orang-orang Shaleh yang Sudah Meninggal
Efek lain yang ditimbulkan dari fatwa-fatwa dan propaganda tersebut diantaranya adalah:
a. Hilangnya atau setidaknya berkurangnya trust/kepercayaan umat Islam terhadap para ulama khususnya yang bermazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah semacam Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam An-Nawawi, Imam Al-Haitami, Imam Al-Qurthubi, bahkan sebagian besar Pengarang “Al Kutub As Sittah” serta ratusan ulama yang lain.
b. Membuang semua/sebagian pendapat para ulama Asy’ariyah & Maturidiyah yang tidak sesuai misi mereka.
c. Bebas men-tahrif (mengubah) karya-karya mereka yang tidak sesuai keinginan dan bahkan membakarnya, karena dianggap karya orang-orang sesat.
d. Menggantikan peran/pendapat para ulama sejak abad ke-3 hingga abad ke-19 (Munculnya Muhammad Ibnu Abdil Wahab) dengan para “ulama” yang mereka ciptakan diabad 19 dst.
e. Cukup banyak ulama yang pemikirannya dijauhkan dari umatnya.
f. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa hormat umat Islam terhadap para ulamanya.
g. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi kepatuhan umat Islam terhadap para ulamanya.
h. Menghilangkan metode yang benar dalam mamahami Islam. (hal ini penting untuk misi yang lain)
i. Ibarat hutan yang telah ditinggal “Macan”nya, dan yang tersisa hanyalah “Macan” ompong piaraan dengan fatwa-fatwa aneh.
j. dll
.
Misi 2: Pisahkan Umat Islam dari Nabinya
Misi ini penting, mengingat ikatan emosional umat Islam dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah faktor fital yang mampu membuat  umat Islam rela mengorbankan segalanya.
Adapun fatwa dan tindakan yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut adalah:
.
1. Haramnya Bepergian Menziarahi (Qubbatul Khadra’) Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Anda yang pernah menziarahi Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti tahu efek emosional bagi penziarah baik ketika berziarah maupun sesudahnya. Betapa hati yang normal takkan mampu membendung air mata ketika berada di pusara mulia beliau. Rasa haru, bahagia, malu, rindu, bangga, terimakasih, bercampur dalam sebuah hidangan istimewa berupa “Mahabbah” (rasa cinta) yang tidak dapat diungkapkan dengan kata.
Anehnya menurut teman-teman yang pernah muqim di Saudi, ada ulama kebanggaan Wahabi (maaf tidak disebut nama karena orangnya sudah meninggal) yang bersyukur karena tidak pernah menziarahi makam Nabi selama 25 tahun tinggal di Madinah,� hingga para santri di sana berkata: “Memang Nabi nggak mau ketemu Anda”.
.
2. Haramnya Pelaksanaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
.
Mereka sadar betul akan efek tumbuhnya rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui pujian dan pembacaan sirah Nabi yang ada dalam kitab-kitab maulid yang identik lebih mengangkat sisi Irhash dan Mukjizat Nabi. Fakta telah membuktikan efek Maulid yang terjadi pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, bahkan fakta terbaru adalah betapa dahsyat efek “Shalawat Badar” dalam membakar semangat umat Islam guna menumpas PKI.
.
3. Haramnya Tawasul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Wafat
.
Hal ini jika kita cermati argumentasi mereka kita dapati sebuah fakta: Menghilangkan atau setidaknya mengurangi pemahaman umat Islam terhadap Nabinya dalam aspek Nubuwwah dan lebih menonjolkan aspek Basyariyah Nabi (sisi kemanusiaan). Bukti dari efek tersebut adalah pernyataan ulama kebanggaan mereka yang menyatakan bahwa tongkatnya lebih berguna daripada Rasulullah yang sudah wafat.
.
Dan bukti lain adalah sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof tidak puas ketika diajukan hadits shahih dari Imam Al-Bukhari dengan dalih Nabi Muhammad bisa salah berdasar QS: ‘Abasa.
.
4.� Menghilangkan Situs-Situs Bersejarah yang Berkaitan Dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Para Sahabat
Efek yang ditimbulkan dari tindakan tersebut adalah: Hilangnya bukti fisik perjuangan Rasulullah dan para sahabat yang dapat membangkitkan semangat dan keimanan umat Islam.
.
Jika dalam penghancuran situs-situs bersejarah tersebut Salafi/Wahabi beralasan “Syaddudz Dzari’ah” (mencegah kemungkaran yang mungkin ditimbulkan) yakni sikap “Ghuluw” (berlebihan), maka faktanya mereka mengalihkan sikap “Ghuluw” tersebut kepada Syekh Al ‘Utsimin dengan membangun museum Yayasan Al ‘Utsaimin. Dimana dalam museum tersebut tidak hanya karya sang Syekh yang dihormati, bahkan pena terakhir sang Syekh-pun ditempatkan di tempat khusus dalam etalase mahal. aneh.
.
Misi 3: Pisahkan Umat Islam dari Al-Quran
Kita semua tahu arti dan peran Kitab Suci bagi semua pemeluk agama, maka sangat wajar jika misi ketiga ini menjadi misi penting. Adapun fatwa dan propaganda Salafi/Wahabi yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut diantaranya adalah:
.
1. Haram Mengikuti Mazhab Tertentu
Silahkan Anda baca Fatwa Syekh Albani tentang masalah tersebut, dan silahkan Anda bayangkan ketika kaum awam melepaskan diri dari tuntunan para ulama dalam memahami Al-Quran.
.
Bukti akan adanya efek tersebut adalah propaganda yang didengungkan MTA, yakni : “Ngaji ko’ kitab kuning, Ngaji ya Al-Quran sak maknanya”. Dan akibatnya fatwa-fatwa mereka ngawur dan paling ironis dengan enteng mereka mengafirkan sesama saudara Muslim.
.
2. Jargon Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah
Coba kita cermati akibat yang ditimbulkan dari keberanian orang-orang awam menginterpretasikan Al-Quran tanpa sarana ilmu yang memadahi. Disamping pemahaman yang kontradiktif, mereka telah lepas dari nafas Al-Quran itu sendiri, sehingga begitu mudah mereka mengafirkan sesama umat Islam.
.
Hal inilah yang diwanti-wanti Rasulullah dalam sabda beliau:
يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ .
“Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri khas mereka?” Rasul menjawab “Bercukur gundul”. (Sunan Abu Daud : 4765)
.
سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sebaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Bukhari Muslim)
Selanjutnya misi Zionis:
.
4. Pecah Belah Lalu Hancurkan!!!
Inilah tujuan pokok dari misi-misi penghantar yang kami sebutkan di atas. Sebagaimana di wanti-wantikan Allah dalam Al-Quran :
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka” (QS : Al Baqarah:120)
.
Sedang tindakan kongkrit dalam mendukung misi ini adalah menciptakan kelompok yang menyimpang yang mereka lindungi atas nama HAM semisal “AHMADIYAH” di India, dan disaat bersamaan mereka ciptakan “WAHABI” di Timur Tengah, sebuah kelompok yang berhasil membuat umat Islam saling menghujat, saling mengkafirkan, dst.
.
Lantas adakah korelasinya misi Zionis tersebut dengan fatwa dan atau propaganda diatas? Mari kita cermati bersama:
.
Apakah jadinya ketika umat Islam sudah tidak lagi menghormati figur-figur yang dapat meredam pertikaian dan mempersatukan umat, yakni para ulama? Dan apa jadinya ketika umat Islam memandang dan memahami Nabinya hanya dari aspek Basyariyah? Dan apa jadinya ketika umat Islam yang tidak memiliki sarana ikut-ikutan berijtihad dan mengesampingkan tuntunan para ulama?
.
Fakta yang sudah di depan mata adalah� PERPECAHAN UMAT ISLAM !
Wal ‘Iyaadz Billah…

Mengerikan! ‘Mujahid’ Pemberontak Memakan Jantung Tentara Suriah

Kekejaman kelompok pemberontak Suriah ditunjukkan melalui sebuah video yang beredar di internet. Dalam video tersebut, terlihat seorang anggota pemberontak memotong jantung seorang tentara Suriah dan kemudian menggigitnya.Video mengerikan tersebut diunggah secara online pada Minggu (12/5) lalu. Video tersebut menunjukkan seorang pria mengenakan perlengkapan militer yang sedang memegang pisau dan menyayat bagian dada sesosok jenazah, yang disebut sebagai tentara Suriah.Pria tersebut kemudian menoleh ke kamera dan menunjukkan potongan jantung yang diambil dari jenazah tersebut kemudian menggigitnya.

Teroris Suriah tersebut memakan daging manusia yang diiris dari dada mayat di depan kamera…! Mereka adalah kaum Wahabi yang menyebut dirinya FSA, Alqaeda, Jabhat al-Nusra dan lain-lain, dan mengklaim dirinya sebagai mujahidin. Secara langsung ini berarti mereka telah menghina Islam secara terang-terangan di depan kamera, dengan cara mempertontonkan kejahatan. Menurut Zen Al Jufri, seorang Facebooker yang konsen terhadap perkembangan perang  di Suriah, mereka yang menyebaut dirinya sebagai “mujahidin” tersebut adalah binatang yang berbahasa Arab…! Salah seorang dari mereka memakan daging mayat sambil berteriak takbir “Allahu akbar!!!” Silahkan lihat sendiri vedeonya di bawah ini:

“Saya bersumpah, kami akan memakan jantung dan hati kalian…,” ujar pria tersebut merujuk pada tentara Suriah, seperti dilansir PressTV, Selasa (14/5/2013).

Secara terpisah, Peter Bouckaert dari organisasi HAM, Human Rights Watch memberi keterangan soal video ini. Menurutnya, pria yang ada di dalam video diketahui bernama Abu Sakkar, yang merupakan pendiri kelompok militan Farouq Brigade.

Identitas Abu Sakkar dikonfirmasi oleh seorang anggota militan di Homs yang mengenalnya secara pribadi. Menurut sumber yang enggan disebut namanya tersebut, pria di dalam video mengenakan jaket hitam yang sama dan memakai cincin yang sama dengan Abu Sakkar yang sebenarnya.

“Mutilasi jasad musuh merupakan kejahatan perang. Tapi yang lebih serius lagi adalah hal semacam ini bisa berujung pada kekerasan sektarian,” ucap Bouckaert.

Dalam versi tanpa sensor, terlihat dalam video bahwa Sakkar memerintahkan anak buahnya untuk membunuh tentara Suriah yang mereka temui dan kemudian memakan jantungnya mentah-mentah. Rekaman video ini telah memicu kemarahan baik dalam kubu pendukung presiden Bashar al-Assad maupun dari kelompok oposisi.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Sampai Kapanpun Said Aqil Siradj dan Quraish Shihab akan tetap mesra dengan Syiah

Sampai Kapanpun Said Aqil Siradj dan Quraish Shihab  akan tetap mesra dengan Syiah

Kader NU Dibunuh Syiah, Sampai Kapan Said Aqil Siradj Mesra dengan Syiah?

 aqil

Sampai Kapanpun Said Aqil Siradj dan Quraish Shihab  akan tetap mesra dengan Syiah

Quraish Shihab,

Quraish  Shihab, Syi’ah, dan Jilbab

936641_10200224652841498_1987588782_nSalah satu mata acara saat Sahur, di METRO TV, Jakarta, disajikan tanya jawab keagamaan (Islam) antara sejumlah audiens dengan narasumber kesohor yaitu Quraish Shihab. Dia ini pria kelahiran Rappang (Sulawesi Selatan) pada 16 Februari 1944, pernah menjabat sebagai rector IAIN Jakarta, kemudian menjadi Menteri Agama RI selama 70 hari di akhir masa pemerintahan Soeharto yang lengser Mei 1998.

Di acara Metro TV, salah seorang peserta ketika mengajukan pertanyaan berkenaan dengan latar belakang adanya kebiasaan memperingati atau merayakan hari anak yatim (10 Muharram), Quraish Shihab menjawabnya dengan memasukan doktrin Syi’ah tentang perang Karbala yang menewaskan cucu Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam yakni Husein radhiyallahu ‘anhu. (Metro TV edisi Selasa 02 Ramadhan 1429 H bertepatan dengan 02 September 2008)

Menurut Quraish Shihab, perayaan anak yatim yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram itu adalah untuk mengenang kematian Husein radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya yang tewas pada perang Karbala. Dari peperangan itu menghasilkan banyak anak yatim. Peristiwa Karbala yang menewaskan Husein radhiyallahu ‘anhu  terjadi pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah

Di berbagai kesempatan, bila ada peluang memasukkan doktrin dan ajaran Syi’ah, langsung dimanfaatkannya, apalagi di hadapan audiens

kalo ikut tahlilan termasuk ahlusunnah wal jamaah ga pung? 

Beda Pilihan Politik Jangan Rusak Persatuan NU – Syi’ah

Warga NU diminta untuk tetap menjaga kekompakan dan persatuan meskipun saling berbeda soal pandangan politik. Perpecahan NU – Syi’ah hanya bersifat politik, sedang akidah mereka tetap satu.

Jika NU menganggap Nabi SAW tidak menunjuk siapapun menjadi khalifah pasca beliau wafat, maka Syi’ah justru menganggap Imam Ali sebagai khalifah.Agama tidak boleh dijadikan komoditas maupun jargon-jargon politik. Penggunaan simbol agama merupakan bentuk ketidakdewasaan berpolitik yang bisa memicu konflik umat beragama.

aqil

Prinsip Jalan Hidup dan Dakwah NU – Syi’ah

Maka jagalah amanah Dakwah NU – Syi’ah sebaik-baiknya.
ingat, memilih bukanlah KEWAJIBAN, melainkan cuma HAKJangan ragu-ragu untuk tidak menggunakannya kalau gak yakin dengan pilihan yang ada 
Jika kita mencoba untuk membuka kembali dan mempelajari perkembangan dakwah dari zaman ke zaman, maka kita akan dapat menangkap adanya suatu fenomena yang menarik. Adalah suatu kenyataan yang tidak mungkin untuk dipungkiri bahwa ditengah derasnya arus pemikiran dan kuatnya gejolak-gejolak bid’ah dan khurafat serta takhayul dan kesyirikan yang ditebarkanoleh tokoh-tokoh kesesatan , du-at ala abwaabi jahannam, ditengah itu semua, dengan rahmat Allah panji-panji NU – Syi’ah tetap berkibar dengan gagahnya. Bahkan sebaliknya, dakwah mereka justru semakin kokoh dan kuat.Karena itu, ketika dakwah Ahlus Sunnah wal Jama`ah menguat, atau nama Ahlus Sunnah wal Jama`ah dipandang dapat memberikan keuntungan dan manfaat, maka kita akan menemukan orang-orang wahabi  mencaplok nama tersebut untuk menjadikan dagangan mereka laris. Orang-orang wahabi  sepertinya lupa bahwa Ahlus Sunnah wal Jama`ah bukanlah hanya sekedar pemulas bibir, atau merek dagang yang digunakan sekedar untuk menaikkan oplah dan permintaan, atau stempel cap untuk melegalisir meskipun perkara tersebut adalah suatu kemungkaran.

Jika hal ini telah kita pahami, maka betapa celakanya wahabi  yang mengaku sebagai seorang Sunni, yang kemudian dengan liciknya ia mampu mengelabui pengikut dan pengagum-pengagumnya. Sehngga jadilah ia seorang tokoh yang dielu-elukan dan setiap perkataannya dijadikan ukuran mutlak suatu kebenaran. Meskipun ia sebenarnya -Naudzu billahi min dzalika- amat jauh dan bertentangan dengan sifat yang disebutkan sebagai sifat-sifat Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Kita berkeyakinan bahwa suatu hari nanti semua kebanggaan, kepuasan, dan kesenangannya akan berbalik menjadi kehinaan, siksaan, dan kebinasaan yaitu pada hari akhir. Benarlah perkataan seorang penyair:

Barang siapa mengaku-aku sesuatu yang tidak dilakukannya

Ia akan dipermalukan ketika hari ujian datang menjelang.

Namun demikian, di sana ada segolongan besar dari kaum muslimin yang berusaha mencari kebenaran bahkan bersedia untuk membela dan memperjuangkannya. Hanya saja sebagian diantara mereka telah terjerumus kedalam kubangan kelompok-kelompok yang sesat,atau terjatuh kedalam tangan para penyamun yang mencengkeram mereka dengan kuku talbis (mencampurkan antara hak dan batil) dan syubhat (dalih yang disamarkan sehingga disangka sebuah dalil) atau bahkan mungkin tahdid (ancaman serta teror baik secara mental maupun secara fisik). Terkadang juga hanya karena terlalu berprasangka baik kepada para ustadz dan guru-guru mereka. Padahal mereka sendiri pada hakekatnya sangat mendambakan kebenaran . Mereka amatlah rindu dekapan Sunnah, ingin merasakan teduhnya ittiba, dan mencicipi manisnya iman.

Kami memohon kepada Allah yang Maha Agung dengan Nama-Nama-Nya yang Indah dan Sifat-Sifat-Nya yang Maha Tinggi agar menjadikan kita sebagai pembimbing dan pemberi hidayah bagi umat manusia, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan, dan agar kita menjadi pembuka segala pintu kebajikan dan penutup seluruh pintu-pintu kejelekan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa  atas segala sesuatu dan Maha Kuasa untuk mengabulkannya. Semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para syiah nya dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik sampai datangnya hari kiamat.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Ketimbang wahabi, NU Makin Mantap Usung Syi’ah sebagai kawan koalisi ??

Wallahu A’lamu  Bis-Showab.

Semoga Allah  membukakan pintu-pintu hidayah-Nya kepada kita semuanya  Amiin yaa Rabbal Aalamin.

Imam Hasan as dengan terang dan tegas menuduh Mu’awiyah dengan KEKAFIRAN dan KEMUNAFIKAN!


Kenapa justru HTI makin ngebet utk memilih cara ‘khilafah’ pada sistim pemerintahan klau justru sdh ada pengalaman buruk tentang itu’…

Muawiyah lanatullah e Alaih

Imam Hasan bin Ali ra. Menegaskan Kemunafikan Mu’awiyah bin Abu Sufyân!

Selain Imam Ali, Sayyidina Ammar, Sayyidina Abdullah bin Umar yang menegaskan kemunafikan Mu’awiyah dan bahwa ia adalah sia-sia Ahzâb (kelompok yang memerangi Nabi saw) dan sesungguhnya keimanan tidak pernah menyentuh jiwanya… islamnya hanya pura-pura demi merahasiakan rencana jahatnya memerangi Islam dari dalam… selain itu semua yang telah Anda baca dalam beberapa artikel yang telah lewat saya tulis beberapa waktu lalu… kini Anda saya ajak melanjutkan penelusuran kita untuk mengenali mazhab Salaf Shaleh, generasi panutan umat dari kalangan sahabat dan tabi’în, khususnya mereka yang sangat kenal siapa sejatinya Mu’awiyah dan bani Umayyah yang telah Allah sebut dalam Al Qur’an sebagai POHON TERKUTUK !

Kali ini saya ajak Anda menyimak pernyataan Imam Hasan putra Ali ra.; cucu tercinta Nabi saw. dan buah hati Zahra as.!

Imam Hasan as adalah pribadi agung ketiga dalam mata rantai Ahlulbait Nabi saw. (setelah Nabi Muhammad saw., Imam Ali ra).

Data-data akurat dan riwayat-riwayat terpercaya telah menegaskan pernyataan Imam Hasan as. bahwa Mu’awiyah adalah  SEORANG MUNAFIK!!

Di bawah ini akan saya paparkan riwayat-riwayat tersebut:

v  Riwayat Al Isfahâni dalam kitab Maqâtil ath Thâlibiyyîn:78

Dengan sanad bersambung kepada Habîb bin Abi Tsâbit[1], ia berkata:

حدثني أبو عبيد، قال: حدثنا فضل، قال: حدثني يحيى بن معين قال: حدثنا أبو حفص الأبار، عن إسماعيل بن عبد الرحمن، وشريك بن أبي خالد- وقد روى عنه إسماعيل بن أبي خالد، – عن حبيب بن أبي ثابت قال: لما بويع معاوية خطب فذكر علياً، فنال منه، ونال من الحسن، فقام الحسين ليرد عليه فأخذ الحسن بيده فأجلسه، ثم قام فقال:

“Ketika Mu’awiyah dibai’at, ia berpidato lalu menyebut-nyebut Ali (dengan kejelekan) dan mencacinya dan juga mencaci al Hasan, maka al Husain bangkit untuk membantahnya tetapi al Hasan menarik tangannya dan memintanya duduk kembali. Kemudian al Hasan bangkit dan berkata:

أيها الذاكر علياً، أنا الحسن، وأبي علي، وأنت معاوية، وأبوك صخر،

 وأمي فاطمة، وأمك هند،

 وجدي رسول الله صلى الله عليه وسلم، وجدك حرب،

 وجدتي خديجة، وجدتك قتيلة،

فلعن الله أخملنا ذكراً، وألأمنا حسباً، وشرنا قدماً، وأقدمنا كفراً ونفاقاً.

فقال طوائف من أهل المسجد: آمين.

قال فضل: فقال يحيى بن معين: ونحن نقول: آمين.

 قال أبو عبيد ( شيخ الأصفهاني): ونحن أيضاً نقول: أمين.

 قال أبو الفرج ( الأصفهاني): وأنا أقول: آمين اهـ

قال حسن المالكي: وأنا أقول آمين!

“Hai engkau yang menyebut-nyebut Ali (dengan kejelakan)! Aku adalah Hasan. Ayahku adalah Ali. Dan engkau Mu’awiyah. Ayahmu adalah Abu Sufyân!

Ibuku Fatimah dan ibumu –hai Mu’awiyah- adalah Hindun!

Kakekku adalah Rasulullah saw. dan kakekmu adalah Harb!

Nenekku adalah Khadijah dan nenekmu adalah Qatilah!

Maka semoga Allah melaknat/mengutuk siapa yang paling hina sebutnya di antara kita, yang paling nista kedudukannya, yang paling jelek prilakunya dan yang paling klasik kekafiran dan kemunafikannya!

Maka berkelompok-kelompok dari penghuni masjid saat itu mengucapkan Amîn/semoga Allah kabulkan doa itu!

Fadhl berkata, ‘Yahya bin Ma’în berkata, ‘Dan kami pun mengucapkan Amîn!

Berkata Abu  Ubaid (guru al Isfahâni), “Dan kami pun mengucapkan Amîn.”

Berkata Abul Faraj (al Isfahâni), “Dan aku pun mengucapkan Amîn.

.

Ustad Syiahali berkata:

Dan saya pun mengucapkan Amîn dan seribu kali Amîn!

Dan saya tidak yakin Ustadz Firanda sanggup mengamini doa Imam Hasan as. untuk kehancuran tuan kebanggaan kaum Salafi Wahhâbi Nashibi!

Ustad Syiahali:

Di sini, Imam Hasan as. dengan terang dan tegas menuduh Mu’awiyah dengan KEKAFIRAN kemudian dengan KEMUNAFIKAN! Dan hal itu tentunya setelah Mu’awiyah menampakkan keislaman dzahirnya! Sanad riwayat di atas adalah mursal yang kokoh dan selain itu ia didukung oleh banyak pernyataan Imam Hasan as. yang tegas-tegas menyatakan kemunafikan Mu’awiyah! Di antaranya adalah sebagai berikut:

v  Surat Imam Hasan as. Kepada Mu’awiyah

Imam Hasan menulis sepucuk surat kepada Mu’awiyah di mana di dalamnya beliau as menegur dengan keras kesesatan, kejahatan dan kemunafikan Mu’awiyah. Perhatikan isi surat yang memuat data berharga  tersebut!

فاليوم فليتعجب المتعجب من توثبك يا معاوية ! على أمر لست من أهله ، لا بفضل في الدين معروف ، ولا أثر في الاسلام محمود ، وأنت ابن حزب من الأحزاب ، وابن أعدى قريش لرسول الله صلى الله عليه وسلم ولكتابه ، والله حسيبك فسترد وتعلم لمن عقبى الدار ، وبالله لتلقين عن قليل ربك ثم ليجزينك بما قدمت يداك ، وما الله بظلام للعبيد .

“Hari ini/sekarang hendaknya terheran-heran orang yang hendak terheran-heran karena kerakusanmu hai Mu’awiyah! Terhadap perkara yang engkau bukan pemiliknya. Tidak dikarenakan keutamaan dalam agama yang dikenal, tidak pula karena jasa yang terpuji dalam Islam! Dan engkau adalah putra Partai dari partai-partai (yang memerangi Islam). Putra seorang yang paling memusuhi Rasulullah saw dan Kitab sucinya dari kalangan suku Quraisy![2] Allah akan memperhitungkan perbuatanmu dan engkau akan menghadap-Nya dan saat itu engkau akan mengetahui siapa pemilik rumah kebahagian/surga!

Demi Allah, sebentar lagi engkau akan menjumpai Tuhanmu dan Dia akan membalasmu atas kejahatan yang engkau perbuat. Dan Allah tiada berbuat zalim atas hamba-hamba-Nya.”[3]  

Ustad Syiahali:

Demikianlah begitu tegasnya penyataan Imam Hasan as dalam surat di atas. Mu’awiyah adalah anak si gembong kekafiran dan penyulut api peperangan melawan Allah dan rasul-Nya! Maka tidaklah mengherankan jika jiwa busuk bapaknya dan keluarga besar Bani Umayyah –pohon terkutu dalam Al Qur’an- itu diwarisi putra terbaktinya; Mu’awiyah!

Dan setelah ini semua, masihkan kita menolak kenyataan kemunafikan Mu’awiyah?! Masihkan kita mencari-cari sikap Salaf Shaleh terhadap Mu’awiyah untuk memutihkan wajahnya yang tercoreng gelapnya kemunafikan?! Sampai kapan kita mengabaikan keterangan para Salaf Shaleh seperti Sayyidina Ali, Ammar, Imam Hasan dan para sahabat mulia lainnya yang tegas-tegas menyatakan kemunafikan Mu’awiyah?! Akankah ketegasan pernyataan para sahabat mulia seperti Sayyidina Ali, Ammar, Ibnu Umar, Imam Hasan, Imam Husain (seperti akan kami paparkan dalam artikler khusus nanti) dan para sahabat serta tabi’în mulia lainnya kita campakkan karena pernyataan “para tokoh sektarian” yang tidak lebih mengenal Mu’awiyah di banding para sahabat mulia tersebut?! Yang pengenalan mereka kepada Mu’awiyah hanya lewat pujaan palsu “para penyembahnya”!!

Sungguh aneh sikap sebagian kaum Muslimin yang setelah mengetahui semua kenyataan akan kejahatan, penyimpangan dan kemunafikan Mu’awiyah masih saja membanggakan Mu’awiyah, menjunjung dan memujanya sebagai Sahabat Mulia, Khalifah Agung dan Pemimpin penuh Rahmat bagi Umat Islam!

Saya sangat khawatir bahwa kecintaan mereka kepada Mu’awiyah; gembong kemunafikan ini diakibatkan problem pada jiwa dan hati mereka seperti yang dihambarkan tentang para penyembah patung anak sapi dari kalangan bani Israil.

Allah berfirman menjelaskan hakikat penyebab sesunggunya kecintaan bani Israil kepada ‘ijl/patung anak sapi sebagai berikut:

وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَ رَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَ خُذُوْا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَ اسْمَعُوْا قَالُوْا سَمِعْنَا وَ عَصَيْنَاوَ أُشْرِبُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيْمَانُكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“ Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kalian dan mengangkat bukit (Thursina) di atas (kepala) kalian (seraya berfirman), “Peganglah erat-erat segala perintah yang telah Kami berikan kepada kalian dan dengarkanlah (baik-baik)!” Mereka menjawab, “Kami telah mendengarkan dan (setelah itu) melanggarnya”. Dan karena kekafiran mereka, (kecintaan menyembah) anak sapi telah meresap di dalam hati mereka. Katakanlah, “Jika kalian (memang) beriman, alangkah jeleknya perbuatan yang diperintahkan oleh iman kalian itu!.” (QS. Al Baqarah [2];93)

Imam asy Syaukani menerangkan ayat di atas sebagai berikut: “Pada ayat “Dan karena kekafiran mereka, anak sapi telah meresap di dalam hati mereka” ini terdapat penyerupaan yang sangat indah. Yaitu hati-hati mereka dikarenakan kecintaan kepada anak sapi itu sudah sedemikian kokoh bertempat seakan ia (hati-hati itu) minum kecintaan tersebut/usyribû/ أُشْرِبُوْا.

… dan huruf bâ’ pada kata:بِكُفْرِهِمْ memberi arti sebab. Yaitu semua itu terjadi dikarenakan kekafiran mereka sebagai balasan dan penghinaan Allah atas mereka!”[4]

Jadi kecintaan kepada penyembahan anak sapi itu disebabkan kekafiran kepada kebenaran yang telah gamblang di hadapan pikiran mereka. Maka sebagai balasan Allah atas keberpalingan mereka dari kebenaran maka Allah hinakan mereka dengan mencintai kebatilan dan simbol-simbol kebatilan, yang dalam kasus bani Israil adalah sapi yang mereka jadikan sesembahan dengan menyekutukan Allag SWT. Dan dalam kasus kita ini, simbol kebatilan itu adalah berupa Mu’awiyah dan agenda kefasikan dan kemunafikannya. Karena semua bukti kebenaran tentang kejahatan Mu’awiyah mereka abaikan dan mereka tolak maka Allah membalas mereka dengan mengihinakan mereka seihingga mencintai simbol-simbol kemunafikan. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari kesesatan dan kemunafikan. Amîn.

Ibnun Katsir juga menerangkan ayat di atas sebagai berikut: Abdurrazzâq beerkata dari Qatadah tentang ayat: “Dan karena kekafiran mereka, anak sapi telah meresap di dalam hati mereka” kecintaan kepada anak sapi telah merasuki hati-hati mereka sehingga menembusnya.

Kemudian Ibnu katsir menukil sebuah hadis Nabi saw. dari riwayat Abu Dardâ’: “Kecintaanmu kepada sesuatu itu akan membuatmu buta dan tuli.”[5]

Jadi jelaslah bahwa kecintaan itulah yang telah membutakan dan menulikan banyak kaum sehingga segamblang apapun kenyatan akan kemunafikan Mu’awiyah tidak akan mampu mereka lihat dan dan sejelas apapun suara kebenaran tidak mampu menembus dinding telinga batin mereka!

Semoga kita tidak dijadikan dari manusia-manusia yang tuli dan buta dari menlihat dan mendengar suara kebenaran. Amîn.

 


[1] Habib bin Abi Tsâbit adalah seorang Tabi’în yang terkenal. Beliau termasuk perawi andalan Imam Bukhari dan Imam Muslim, fawat tahun 118 H. ia meriwayatkan hadis dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Abu Thufail. Ia tergolong pembesar ulama penduduk kota Kufah. Data sejarah yang beliau sampaikan di atas adalah mursal, tetapi bahan dasarnya adalah dari sahabat dan ia lebih kuat dari banyak riwayat-riwayat mursal yang diterima oleh para ulama Ahli hadis dan sejarah!

[2] Kaum kafir Quraisy di bawah kepimpinan Abu Sufyân, bapak Mu’awiyah telah berkali-kali memerangi Nabi Muhammad saw.  dan salah satu perang yang dikobarkan apinya oleh Abu Sufyân adalah perang Khandaq/perang parit yang juga dikenal dengan nama parang Ahzâb, karena kaum kafir Quraisy berhasil menggalang kekuatan dengan bantuan kabilah-kabilah Arab kafir lainnya. Mereka di bawah kepempinan Abu Sufyan menyerbu kota suci Madinan. Menghadapi rencana serangan kaum kafir itu Nabi Muhammad saw. menggali parit bersama para sahabat untuk menghalau serbuan pasukan Ahzab yang datang dengan beribu-ribu pasukan …. setelah mereka terkejut dengan adanya parit yang mengelilingi kota Madinan sehingga mereka kesulitan menyerbunya secara serempak, dan hanya beberapa pendekar kaum kafir saja yang berhasil menyeberangi galian parit tersebut dan menantang-nantang kaum Muslimin untuk berduel dengan disertai ejekan akan katakutan kaum Muslimin, karena tidak seorang pun dari sahabat saat itu yang menyahuti dan meladeni tantangan pendekar kaum kafir yang bernama ‘Amr bin Abdi Wudd dan hanya Sayyidina Ali ra seorang yang kemudian bangkit memohon izin untuk berdual dengan ‘Amr. Dalam sekejap Sayyidina Ali ra mengayunkan pedang tajamnya dan ‘Amr pun tersungkur tak bernyawa! Ali takbir dan para sahabat pun menyambutnya dengan ucapan takbir, Allahu Akbar! Allah Akbar!

Setelahnya kaum kafir ketakutan dan segera lari pulang meninggalan kota Madinan dengan kekecawaan berat. Di samping Allah juga mengirim angin kencang yang merobohklan kema-kema mereka dan menjungkir balikkan kuwali dan panci-panci masak mereka!

Jasa agung Sayyidina Ali ra ini diabadikan dalam Al Qur’an dalam surah Al Ahzâb ayat 25:

وَ رَدَّ اللَّهُ الَّذينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنالُوا خَيْراً وَ كَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنينَ الْقِتالَ وَ كانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزيزاً

“Dan Allah menghalau orang- orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, ( lagi ) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Imam Jalaluddîn as Suyûthi dalam tafsirnya ad Durra al Mantsûr,5/368 menukil sebuah atsar dari sahabat Ibnu Mas’ud ra bahwa beliau menerangkan maksud ayat di sebagai berikut: Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangandengan Ali bin Abi Thalib!

Ustad Syiahali : Saya yakin sekali bahwa kaum Salafi Wahhâbi (garda terdepan pasukan pembenci Sayyidina Ali dan Ahlulbait Nabi saw.) akan sangat keberatan dengan kenyataan di atas. Mereka pasti akan meronta-ronta bak onta hendak disembelih menyaksikan keutamaan agung yang diabadikan Allah dalam kitab suci terakhirnya ini menjadi milik Ali bin Abi Thalib! Bukan milik Mu’awiyah bin Abi Sufyân pujaan kaum munafik!

[3] Maqâtil ath Thâlibiyyîn:65.

[4] Tafsir Fathu al Qadîr; asy Syaukani,1/114.

[5] Tasrir Ibnu Katsir,1.126.

Muawiyah Dengan Bid’ah-Bid’ah Besarnya Sabtu, 8 September, 2007

 

satan_muawiyyah.jpg

Siapa Muawiyah bin Abu Sufyan Sebenarnya? 

Di antara BID’AH TERBESAR Muawiyah dan sekaligus menjadi salah satu faktor penyebab hancurnya kejayaan Islam adalah penunjukkannya atas Yazid, putranya yang bergelimang dosa dan maksiat sebagai penggantinya untuk menduduki kekhalifahan (lebih tepatnya kerajaan, sesuai dengan pengakuan Muawiyah sendiri).

Jika Abu Bakar, Umar dan Ali as menyerahkan kekhalifahan lewat ‘musyawarah’, atau paling tidak mereka tidak memaksa umat Islam untuk mengangkat putra mereka sendiri untuk menjadi khalifah, maka Muawiyah dengan cara tangan besi memaksa umat Islam untuk tunduk atas pilihannya dengan mengangkat anaknya, Yazid (semoga laknat Allah ditimpakan kepada keduanya) menjadi penggantinya.

Hampir tak seorang alim pun dari Ahlus Sunnah yang meragukan kebejatan putra Muawiyah yang terkenal suka bermabuk-mabukan khamar, berzina dengan ibu kandungnya, anak perempuannya dan adik perempuannya sendiri dan masih banyak lagi kejahatan nyata lainnya yang dilakukannya.

Sayyid Quthub, penulis kitab Tafsir Fi Zilal al-Quran (Dalam Naungan Al-Quran) yang terkenal itu, mengatakan : “…Adapun ketika keluarga Umayyah bangkit dan kekhalifahan Islam menjadi milik pribadi dalam keluarga Bani Umayyah, maka hal itu bukanlah ilham dari Islam, tapi ilham kejahiliyahan yang mematikan ruh Islam.” 1]

Pada halaman lainnya, Sayyid Quthb melaporkan bahwa pelimpahan kekuasaan yang dilakukan Muawiyah itu berlangsung dengan ancaman pedang dan kematian. Berikut ini kelengkapannya :

“…Untuk mengetahui atas dasar apa kekhalifahan Bani Umayyah itu ditegakkan, cukuplah di sini kita sungguhkan kisah bagaimana baiat diberikan kepada Yazid bin Muawiyah. Muawiyah memanggil utusan-utusan yang akan membicarakan dan membuat kesepakatan tentang pemberian baiat kepada Yazid.

Kemudian muncullah Yazid ibn Muaqqaffa’, yang maju ke depan, lalu berkata : “Amirul Mukminin yang sekarang adalah ini.” Katanya sambil menunjuk ke Muawiyah. Kemudian melanjutkan : “Apabila ia wafat, maka inilah penggantinya.” Sambil menunjuk kepada Yazid. Kemudian, katanya :“Dan barangsiapa yang tidak setuju, ini bagiannya!” lalu dia menghunuskan pedangnya.

Maka berkatalah Muawiyah : “Duduklah, memang kamu rajanya pembicara.” Sesudah pengambilan baiat terhadap Yazid di Syam (Damaskus), Muawiyah lalu menugaskan Said Ibn al-Ash untuk MENIPU dan meyakinkan penduduk Hijaz akan sahnya baiat terhadap Yazid.

Tapi orang ini menyatakan tak sanggup mengerjakan tugas tersebut. Maka berangkatlah Muawiyah ke Makkah dengan membawa tentara dan harta benda. Setiba di sana, dipanggilnya pemimpin-pemimpin kaum Muslimin Makkah, lalu ia berkata kepada mereka : “Anda semua tahu riwayat kehidupan saya di tengah-tengah masyarakat Anda, dan silaturahim saya dengan Anda. Yazid adalah saudara Anda dan anak paman Anda. Saya menghendaki agar semua mengakui Yazid sebagai Khalifah. Anda sekalian tinggal diam, siap diperintah, menerima uang dan harta kekayaan yang saya bawa ini, kemudian bagi-bagilah!!!.”

Maka menjawablah Abdullah bin Zubair, dengan mengajukan pilihan antara apa yang dilakukan Rasuilullah, yang tak menunjuk seorang pun sebagai pengganti beliau, atau seperti yang dilakukan Abu Bakar, yang menunjuk seorang yang bukan ayahnya, atau seperti yang dilakukan Umar yang menjadikan masalah kekhalifahan sebagai bahan musyawarah atas 6 orang yang tak seoarng pun di anatarnya adalah anaknya atau saudaranya.

Maka murkalah Muawiyah. Katanya : “Adakah lagi yang akan kau katakan selain itu?”

Jawab Ibn Zubair : “Tidak.”

Maka Muawiyah berpaling kepada yang lain-lain dan bertanya : “Anda semua bagaimana?”

Mereka menjawab : “Pendapat kami sama denga yang dikemukakan Abdullah bin Zubair.”

Mendengar jawaban itu, Muawiyah lalu mengancam : “Saya maafkan Anda, tapi saya peringatkan: Saya berbicara kepada Anda semua, dan ada yang maju mendustakan saya di depan umum. Saya maafkan dia dengan segenap kelapangan dada. Tapi kalau ada seorang di antara Anda yang MEMBANTAH perkataan saya, maka sebelum ucapannya mendapat balasan, maka terlebih dahulu sebuah PEDANG AKAN MENYAMBAR KEPALANYA! Karena itu, hendaklah setiap orang duduk di tempatnya dan menjaga dirinya sendiri.”

Sesudah itu para pengawal Muawiyah berdiri menjaga pemimpin-pemimpin Makkah tersebut. Tiap 2 orang pengawal menjaga 1 orang, dan kepada pengawalnya, Muawiyah berkata : “Apabila ada yang menyela perkataanku, baik mendustakan atau pun membenarkan, hendaklah kedua orang yang menjaganya itu menebas kepalanya dengan pedang mereka!”

Kemudian Muawiyah berdiri di atas mimbar dan berkata kepada orang banyak : “Orang-orang yang berkumpul di sini adalah kelompok pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka kaum Muslimin. Tak ada satu urusan pun yang tidak dimusyawarahkan dan diputuskan dengan meminta pendapat mereka. Dan mereka telah menerima dan berbaiat kepada Yazid. Karena itu berbaiatlah kalian semua dengan nama Allah!”2]

Maka berbaiatlah orang banyak itu!!!

Sayyid Quthb berkomentar tentang tindakan zalim Muawiyah itu :“Dengan prinsip macam beginilah, prinsip yang sama sekali tidak pernah dikenal Islam, ditegakkan ‘kekhalifahan’ Yazid. Dan siapakah sebenarnya Yazid ini?”

‘Abdullah bin Handhalah mengatakan tentang Yazid bin Muawiyah sebagai berikut : “Demi Allah! Tak sekalipun kami melihat Yazid kecuali kami merasa takut jangan-jangan Allah akan menurunkan hujan batu kepada kami dari langit. Sungguih laki-laki ini (Yazid) TELAH MENGAWINI IBU KANDUNGNYA, ANAK PEREMPUANNYA dan SAUDARA PREEMPUANNYA SENDIRI, MEMINUM KHAMAR dan MENINGGALKAN SHALAT. Demi Allah! Seandainya tidak ada seorang pun yang menyertaiku, pastilah Allah akan menimpakan bala’ kepadaku karenanya!” 3]

Apakah Anda ingin tahu lebih jauh apa lagi dosa-dosa besar yang dilakukan lelaki durjana macam Muawiyah dan Yazid ini?

Apakah Anda justru setuju dengan tindakan-tindakan keji mereka ini?

Tak seorang pun meragukan kebejatan Muawiyah bin Abu Sufyan dan putranya Yazid kecuali orang-orang yang memang juga bejat. Saya katakan demikian karena banyak sekali bukti dan data sejarah tentang bid’ah-bid’ah yang dilakukan kedua lelaki durjana ini. Dan hanya orang-orang yang sama bejat seperti mereka-lah orang-orang yang membela kebejatan lelaki durjana ini.

Inilah di antara bid’ah-bid’ah nyata yang tidak diteriakan bahkan bicarakan oleh Ibn Taymiyah, Bin Baz, dan Utsaimin dan ulama Wahabi lainnya. Mereka takut membicarakan hal seperti ini karena akan berakibat hilangnya harta duniawi yang mereka dapatkan dari Kerajaan Saudi pelanjut kezaliman Daulah Umayyah dan Abbasiyah!

Hal-hal seperti inilah yang membuat mereka, kaum Wahabi menghindar dari membicarakan sejarah Islam, terutama sejarah Daulah Bani Umayyah dan Abbasiyyah. Dan sikap jujur yang dilakukan Sayyid Quthb ini menyebabkan ulama Wahabi murka dan mengeluarkan fatwa seraya mencari-cari kesalahan Sayyid Quthb. Bacalah situs-situs Wahabi tentang fatwa mereka atas Sayyid Quthb yang terkenal jujur dan berani ini! Marilah kita semua bercermin dan bersikap jujur terhadap diri kita sendiri!

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Catatan Kaki :

[1] Sayyid Quthb, Al-‘Adalah al-Ijtima’iyyah fil Islam; Keadilan Sosial Dalam Islam, hal. 260, Penerbit Pustaka Salman, 1984.

[2] Sayyid Quthb mengutip peristiwa sejarah ini dari sejarawan Ibn Atsir yang mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada 56 H.

[3] opcit.

.

Bagaimana Membebaskan Diri Dari Himpitan Kubur

Bagaimana Membebaskan Diri Dari Himpitan Kubur

Sesungguhnya mayat di dalam kubur akan melewati beberapa fase perubahan

Ada beberapa petunjuk bagi umat Islam untuk membebaskan dirinya dari siksa himpitan kubur di malam pertama setelah seseorang dikuburkan:

1. Menjauhi sebagian dosa seperti;

- Mengadu domba, tidak mensucikan diri setelah buang air kecil dan menjauhi istri.

Terkait masalah ini Imam Ali as berkata, “Siksa kubur terjadi karena seseorang suka mengadu domba, tidak mensucikan diri dari buang air kecil dan seorang lelaki yang menjauhi istrinya.” (Ilal as-Syara’i, hal 309)

- Menghambur-hamburkan nikmat.

Rasulullah Saw bersabda, “Tekanan kubur bagi seorang mukmin itu sebagai kaffarah (penebusan dosa) perbuatannya yang menghambur-hamburkan nikmat.” (Ilal as-Syara’i, hal 309)

- Berakhlak buruk terhadap keluarga.

Berdasarkan riwayat yang ada, siksa berupa tekanan kubur yang dialami oleh Saad bin Maadz, seorang sahabat Rasulullah Saw adalah dikarenakan akhlaknya yang buruk terhadap keluarganya. (Al-Kafi, jilid 3, hal 235)

2. Melakukan ruku yang lama dan sempurna saat shalat.

3. Senantiasa membaca surat az-Zukhruf.

4. Membaca surat an-Nisa setiap hari Jumat.

5. Menunaikan shalat tahajud.

6. Membaca surat at-Taktsur ketika mau tidur.

7. Meletakkan dua kayu yang masih basah di sisi mayit di dalam kubur.

8. Puasa selama empat hari di bulan Rajab dan dua belas hari di bulan Syaban. (Artikel “Azab Qabr, Mohammad Reza Kashefi)

Apa perasan kita jika berselubung di dalam selimut tebal di waktu tengahari? Cuba lakukan ia selama sepuluh minit sambil berbaring seperti sekujur tubuh yang telah mati. Tanpa kipas, penghawa dingin dan tingkap dan pintu di tutup rapat.

Siapakah yang mampu bertahan lebih dari 30 minit ?

Sudah tentu minda dan tubuh kita tidak mampu menanggung ketidakselesaan itu walaupun hanya untuk 10 minit. Saya pasti kerana saya pernah mencubanya. Panas dan berhaba.

Setiap kali saya fikirkan semula percubaan saya itu, saya terfikir keadaan di alam barzakh kelak..terutamanya di liang lahad yang sempit, tertutup, tanpa penghawa dingin, tilam, tingkap serta kipas itu.

Bagaimana Bentuk Pusara Kita ?

Sewaktu kita berada di alam barzakh kelak, adakah pancaindera dan penilaian minda kita terhadap alam ini sama seperti sewaktu kehidupan biasa kita di dunia?

Apabila saya utarakan hal ini. Ramai yang menjawab : “Tidak” atau juga “tidak tahu”

Kematian Itu Pasti

 

Bagaimana pula jika terpaksa menunggu di alam kubur ni sepanjang seribu tahun sebagaimana yang dikenakan kepada si Abu Jahal. !

Dalam keadaan status penilaian aqal kita sama seperti di waktu hidup, tetapi status keadaan tubuh dan keselesaannya adalah diletakkan di ruang liang lahad yang kecil, berselimut dek kain kapan dan ditimbus oleh tanah.

Bulan

segeralah kita menyiapkan diri sehabis mungkin untuk selamat dari sebarang azab kubur yang amat mengerikan.

 

Bagi orang yang bertaqwa, inilah peluang terhebat. Bagi individu yang hatinya diselaputi sifat nifaq dan dosa. Ia adalah a ‘piece of cake’ dan ‘need no worries’, hidup untuk ENJOYYYY!! . Nau’zubillah.

Inilah Kesesatan (Agama) Syi’ah ? Inilah Bukti Kesesatan Syi’ah ? Biarkan Syi’ah Bercerita Tentang Kesesatan Agamanya ?Inilah Bukti Kesesatan Syi’ah: Di Antara Kesesatan Ajaran Sekte Syi’ah ?

Di Antara Kesesatan Ajaran Sekte wahabi yakni mereka tidak paham tentang syi’ah

Silahkan Bergabung dengan Kami !

Kunjungi Kami di sini

Meluruskan Sejarah Menguak Tabir Fitnah Wahabi

Sunni dan wahabi tidak memahami bahwa ada perawi syi’ah yang menukil riwayat & khabar melalui Ijazah bukan dengan musyafahah dan munawalah, bukan dengan sima’ langsung.

Subhanallah. Sungguh keddngkian hati busuk itu rasanya sulit dicarikan obatnya.Labaika Ya Husain

Ibnu Thawus Meriwayatkan Langsung Dari Ibnu Khayyath? : Ulah Pencela Yang Menggelikan

Salah satu situs pencela Syi’ah yang gemar memfitnah Syiah membuat tulisan yang berjudul : Menggelikan, Ibnu Thawus meriwayatkan langsung dari Ibnu Khayath?. Tulisan tersebut cukup menarik hanya saja terlalu tendensius dan ujung-ujungnya ia cuma mau bilang “inilah agama syiah dengan segala kontradiksi, keanehan dan kebathilan menjadikannya nampak sebagai agama buatan manusia-manusia hina”.

Kami hanya bisa geleng-geleng melihat perkataan hina seperti ini. Nampaknya manusia satu ini terlalu besar kepala dan tidak akrab dengan kitab-kitab hadis dan rijal Ahlus Sunnah. Kami akan membuat sedikit catatan atas tulisannya dan menunjukkan bahwa dalam kitab hadis kami ahlus sunnah juga terdapat keanehan seperti itu. Jika manusia itu merasa dirinya ahlus sunnah mungkin ada baiknya ia menjaga lisannya yang kotor karena dapat meracuni dirinya sendiri.

Sayyid Ibnu Thawus salah seorang Ulama Syiah meriwayatkan dalam kitabnya Muhaj Ad Da’waat, doa untuk amirul mukminin Aliy bin Abi Thalib yang dikenal dengan doa Al Yamaniy.

و من ذلك دعاء لمولانا أمير المؤمنين علي ع المعروف بدعاء اليماني
أخبرنا أبو عبد الله الحسين بن إبراهيم بن علي القمي المعروف بابن الخياط

Dan dari Doa untuk maula kami Amirul Mukminin Aliy yang dikenal dengan doa Al Yamaniy
Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Aliy Al Qummiy yang dikenal dengan Ibnu Khayyaath…[Muhaj Ad Da’waat hal 137-138]

Sayyid Ibnu Thawus lahir tahun 589 H dan Ibnu Khayyath termasuk guru Syaikh Ath Thuusiy sedangkan Syaikh Ath Thuusiy sendiri wafat tahun 460 H. Jadi Ibnu Thawus jelas tidak mungkin bertemu langsung dengan Ibnu Khayyath karena ketika Ibnu Thawus lahir, Ibnu Khayyath sudah lama wafat.

Oleh karena itulah pencela yang dimaksud menjadikan hal ini sebagai celaan terhadap mazhab Syiah. Dan ia tidak menyadari kalau celaannya jauh lebih berat dari perkara yang dipermasalahkan. Perkara ini tidaklah luput dari pandangan Ulama Syiah. Sudah ada ulama Syiah yang berkomentar mengenai perkara ini, Sayyid Aliy Asy Syahruudiy berkomentar dalam biografi Husain bin Ibrahiim Al Qummiy

ما قاله السيد بن طاووس في المهج ص 105 في نقله دعاء الحرز اليماني: أخبرنا أبو عبد الله الحسين بن إبراهيم بن علي القمي المعروف بابن الخياط قال أخبرنا أبو محمد هارون بن موسى التلعكبري – الخ فان السيد بن طاووس هذا توفي سنة 673 والشيخ توفي سنة 460 وبينهما 213 سنة والتلعكبري توفي سنة 385. إلا أن يحمل كلام السيد على الاخبار بالإجازة لا بالمشافهة والمناولة

Apa yang dikatakan Sayyid Ibnu Thawus dalam Muhaj hal 105 dalam nukilannya tentang doa Al Yamaniy “Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Aliy Al Qummiy yang dikenal Ibnu Khayyath yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Haruun bin Muusa At Tal’akbariy, Sayyid Ibnu Thawus wafat tahun 673 H dan Syaikh [Ath Thuusiy] wafat tahun 460 H  antara keduanya ada 213 tahun, At Tal’akbariy wafat pada tahun 385 H. Maka kemungkinan perkataan Sayyid disini adalah khabar melalui Ijazah bukan dengan musyafahah dan munawalah [Mustadrak Ilm Rijal 3/73 no 4103 Syaikh Ali Asy Syahruudiy]

Ini adalah pembelaan yang dilakukan oleh Ulama Syiah, tidak masalah jika pencela tersebut tidak menerimanya karena tujuan tulisan ini memang bukan untuk membuat pencela itu percaya. Tulisan ini hanya menunjukkan bagaimana pandangan mazhab Syiah terhadap masalah ini.

Apa yang dinukil oleh Syaikh Ali Asy Syahruudiy itu memiliki qarinah yang menguatkan yaitu perkataan Sayyid Muhsin Amin dalam A’yan Asy Syiiah ketika menyebutkan Husain bin Ibrahim Al Qummiy

ويروي عن أبي محمد هارون بن موسى التلعكبري ويروي الشيخ الطوسي عنه. وكثيرا ما يعتمد على كتبه ورواياته السيد ابن طاووس وينقلها في كتاب مهج الدعوات وغيره

Ia meriwayatkan dari Abu Muhammad Haruun bin Muusa At Tal’akbariy dan telah meriwayatkan darinya Syaikh Ath Thuusiy. Sayyid Ibnu Thawus banyak berpegang dengan tulisannya dan riwayatnya dan ia menukilnya dalam kitab Muhaj Ad Da’waat dan yang lainnya. [A’yan Asy Syiah 5/414 Sayyid Muhsin Al ‘Amin]

Maka disini terdapat isyarat yang menyatakan bahwa Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat dari Ibnu Khayyath dalam Kitab Muhaj Ad Da’waat bukan dengan sima’ langsung.

Qarinah lain adalah jika kita melihat metode penulisan Sayyid Ibnu Thawus dalam kitabnya Muhaj Ad Da’waat maka nampak bahwa terkadang Sayyid Ibnu Thawus menukil sanad-sanad doa tersebut dari Kitab bukan dengan sima’ langsung. Contohnya adalah sebagai berikut

و منها دعاء العهد
قال حدثنا محمد بن علي بن رقاق القمي أبو جعفر قال حدثنا أبو الحسن محمد بن علي بن الحسن بن شاذان القمي قال حدثنا أبو جعفر محمد بن علي بن بابويه القمي

Dan dari Doa Al ‘Ahd
Berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy Abu Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin ‘Aliy bin Hasan bin Syadzaan Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Babawaih Al Qummiy…[Muhaj Ad Da’waat hal 398]

Lafaz di atas seolah-olah Sayyid Ibnu Thawus mendengar secara langsung dari Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy padahal kenyataannya tidak demikian. Sebenarnya Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat tersebut dari Kitab. Dalam doa sebelumnya disebutkan

وجدت في كتاب مجموع بخط قديم ذكر ناسخه و هو مصنفه أن اسمه محمد بن محمد بن عبد الله بن فاطر من رواه عن شيوخه فقال ما هذا لفظه حدثنا محمد بن علي بن رقاق القمي قال حدثنا أبو الحسن محمد بن أحمد بن علي بن الحسن بن شاذان القمي عن أبي جعفر محمد بن علي بن الحسين بن بابويه القمي

Terdapat dalam kitab Majmuu’ dengan tulisan tangan, disebutkan dalam naskah penulisnya bernama Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Faathir dari riwayatnya dari para Syaikh-nya, dan ini lafaznya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin Ahmad bin ‘Aliy bin Hasan bin Syadzaan Al Qummiy dari Abu Ja’far Muhammad bin ‘Aliy bin Husain bin Babawaih Al Qummiy…[Muhaj Ad Da’waat hal 397]

Maka disini dapat dipahami bahwa sebenarnya Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat dari Ibnu Khayyaath dari Kitab atau Ijazah walaupun nama kitab tersebut tidak disebutkan dalam kitab Mu’haj Ad Da’waat. Bisa jadi Ibnu Thawus memang tidak menyebutkannya atau terjadi kesalahan [tashif] sehingga bagian yang menyebutkan nama Kitabnya hilang. Wallahu A’lam.

.

Perkara seperti ini bukanlah barang baru dalam kitab Rijal dan kitab Hadis. Mereka yang akrab dengan hadis dan ilmu Rijal [ahlus sunnah] akan menemukan fenomena seperti ini. Yaitu dimana lafaz sima’ langsung antara dua perawi ternyata keliru karena berdasarkan tahun lahir dan wafat keduanya tidak memungkinkan untuk bertemu. Adanya fenomena seperti ini tidaklah membuat Ahlus sunnah dikatakan agama yang mengandung kontradiksi, kebathilan, keanehan yang merupakan buatan manusia-manusia hina. Orang yang berpandangan demikian hanyalah menunjukkan kejahilan atau kebencian yang menutupi akal pikirannya. Berikut contoh perkara yang sama dalam kitab Ahlus Sunnah

Al Kamil Juz 8

Abdullah bin Adiy Abu Ahmad Al Jurjaniy salah seorang ulama ahlus sunnah menyebutkan dalam kitabnya Al Kamil Fii Adh Dhu’afa

أخبرنا علي بن المثنى ثنا الوليد بن القاسم عن مجالد عن أبي الوداك عن أبي سعيد ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال

Telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Waliid bin Qaasim dari Mujalid dari Abul Wadaak dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda…[Al Kamil Ibnu Adiy 8/367 biografi Walid bin Qaasim]

Al Kamil juz 8 hal 368

Ibnu Adiy seorang imam hafizh, Adz Dzahabiy menyebutkan biografinya dalam As Siyaar dan berkata

مولده في سنة سبع وسبعين ومائتين ، وأول سماعه كان في سنة تسعين ، وارتحاله في سنة سبع وتسعين

Ia lahir pada tahun 277 H, pertama mendengar hadis pada tahun 290 H dan memulai perjalanan pada tahun 297 H [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/154]

Mengenai Aliy bin Al Mutsanna, Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Tahdzib At Tahdzib dan menyebutkan

وقال الحضرمي مات سنة ست وخمسين ومائتين

Al Hadhramiy berkata “ia wafat tahun 256 H” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 7 no 611]

Berdasarkan tahun lahir dan tahun wafat didapatkan bahwa Ibnu Adiy baru lahir 21 tahun setelah wafatnya Aliy bin Al Mutsanna Ath Thahawiy, lantas bagaimana bisa dikatakan bahwa ia berkata “telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Mutsanna”

.

.

Ada contoh lain yang menunjukkan bahwa tashrih penyimakan hadis ternyata tidak benar dan hadis tersebut munqathi’. Perhatikan riwayat Ahmad bin Hanbal berikut

حدثنا عبد الله قال حدثني أبى ثنا بهز ثنا همام ثنا قتادة حدثني عزرة عن الشعبي ان الفضل حدثه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Bahz yang berkata telah menceritakan kepada kami Hamaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Azrah dari Asy Sya’biy bahwa Fadhl menceritakan kepadanya…[Musnad Ahmad 1/213 no 1829]

Ahmad bin Hanbal memasukkan hadis ini dalam Musnad Fadhl bin ‘Abbas. Para perawinya tsiqat sampai ke Asy Sya’biy dan Asy Sya’biy sendiri dikenal tsiqat tetapi ia mustahil mendengar hadis dari Fadhl bin ‘Abbas.

الفضل بن العباس بن عبد المطلب الهاشمي صحب النبي صلى الله عليه وسلم مات في عهد أبي بكر

Al Fadhl bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib Al Haasyimiy sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat di masa Abu Bakar [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 7 no 502]

Ibnu Sa’ad menyebutkan dalam biografi Fadhl bin ‘Abbas bahwa ia wafat pada tahun 18 H di masa Umar bin Khaththab. Yang mana pun yang rajih, Asy Sya’bi jelas tidak menemui masa hidup Fadhl bin ‘Abbas. Menurut pendapat yang rajih Asy Sya’bi lahir pada masa Utsman bin ‘Affan

قَالَ الْحَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ , سَمِعْتُ شُعْبَةَ ، يَقُولُ : سَأَلْتُ أَبَا إِسْحَاقَ ، قُلْتُ : ” أَنْتَ أَكْبَرُ أَمِ الشَّعْبِيُّ ؟ قَالَ : الشَّعْبِيُّ أَكْبَرُ مِنِّي بِسَنَةٍ أَوْ سَنَتَيْنِ “

Hajjaj bin Muhammad berkata aku mendengar Syu’bah berkata “aku bertanya pada Abu Ishaq” aku berkata “engkau yang lebih tua atau Asy Sya’biy”. Ia berkata “Asy Sya’biy lebih tua dariku setahun atau dua tahun [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/266]

Abu Ishaq As Sabi’iy lahir dua tahun akhir masa Utsman bin ‘Affan [As Siyar Adz Dzahabiy 5/393] makaAsy Sya’bi lahir kemungkinan lahir tahun 31 atau 32 H. Jadi ketika Asy Sya’biy lahir Fadhl bin ‘Abbas sudah wafat 14 tahun sebelumnya. Bagaimana mungkin Asy Sya’biy mengatakan “telah menceritakan kepadanya Fadhl”.

Kedua contoh di atas cukup sebagai bukti bahwa perkara yang dipermasalahkan pencela tersebut juga ada pada mazhab Ahlus Sunnah. Jika ia bersikeras menjadikan perkara ini sebagai celaan terhadap mazhab Syiah maka pada hakikatnya ia juga mencela mazhab Ahlus Sunnah. Kami memang bukan Syiah tetapi kami sangat tidak suka dengan ulah orang-orang jahil yang gemar memfitnah. Akhir kata silakan para pembaca pikirkan apakah pantas suatu mazhab dikatakan agama hina karena perkara ini?.

See full size image

Sunni dan wahabi tidak memahami bahwa ada nukilan ulama Syi’ah senior yang tidak tsabit karena bersumber dari naskah yang mengandung banyak kesalahan

Kitab Sampah Syiah : Irsyadul Qulub Atau Kitab Sampah Sunni : Tarikh Ibnu Asakir?

Judul ini sifatnya satir, disesuaikan dengan tulisan para pencela. Karena mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa racun maka ada baiknya mereka diobati dengan racun pula. Tulisan ini berusaha menindaklanjuti tulisan salah seorang pencela yang menuduh Syiah sebagai agama yang busuk, dungu dan sarat penipuan. Kami heran dengan orang satu ini, ia berhujjah dengan hujjah yang lemah tetapi bahasanya malah terlalu hina. Alangkah baiknya ia segera sadar diri dan menjaga lisannya.

Banyak para pengkritik Syiah, rata-rata mereka cuma tukang fitnah dan kaum jahil, biasanya bahasa mereka memang hina tetapi ada juga kami temukan pengkritik Syiah dengan hujjah yang layak dengan bahasa yang tidak menyakitkan, yang model begini masuk dalam referensi kami sebagai para pencari kebenaran [secara kami masih meneliti kebenaran dari ahlus sunnah dan juga syiah]. Kami tidak butuh bahasa busuk, kami butuh kebenaran dengan hujjah yang kuat.

.

.

Pencela [dengan lisan hina] yang kami maksud membuat tulisan yang menghina salah satu kitab ulama Syiah yaitu kitab Irsyadul Qulub oleh Hasan bin Abi Hasan Ad Dailamiy, dimana dalam kitabnya disebutkan lafaz

وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز

Dan disebutkan oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’ajiz…[Irsyadul Qulub 2/265 Ad Dailamiy, terbitan Mu’assasah Al A’lami Li Al Mathbu’ah Beirut Libanon]

irsyadulqulub-1irsyadulqulub-2

Pencela itu mengatakan Ad Dailamiy wafat pada tahun 841 H sedangkan Al Majlisi lahir tahun 1037 H dan wafat 1111 H kemudian Sayyid Al Bahraniy wafat tahun 1107 H. Bagaimana bisa Ad Dailamiy menukil dari mereka berdua padahal ketika ia wafat mereka berdua saja belum lahir?. Selanjutnya pencela itu menyatakan itulah agama Syiah penuh kebathilan dan kepalsuan, tidaklah recehannya kecuali kotoran di dalam kotoran.

.

.

.

Kami meneliti perkara ini dan ternyata hasilnya menunjukkan kalau pencela itu memang jahil dan kejahilan ini muncul karena terburu-buru dalam mencela. Perkara ini ternyata telah diteliti oleh salah seorang ulama Syiah yaitu Sayyid Haasyim Al Miilaaniy, ia adalah pentahqiq kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy

Sayyid Haasyim Al Miilaniy dalam muqaddimah tahqiq-nya menyebutkan bahwa nukilan yang menyebutkan Al Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy hanya ada dalam naskah kitab yang dicetak oleh Mansyurat Syarif Radhiy

وأيضاً فقد ذُكر في الجزء الثاني في النسخة المطبوعة في منشورات الرضي بعد ذكر حديث يرفعه إلى الشيخ المفيد وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار ، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز

Dan telah disebutkan dalam juz kedua dalam naskah yang dicetak oleh Mansyuurat Ar Radhiy, setelah menyebutkan hadis yang dirafa’kan oleh Syaikh Mufiid “dan disebutkannya oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’aajiz [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/16 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Kemudian Sayyid Haasyim Al Miilaaniy menyatakan bahwa nukilan ini tidak terdapat dalam naskah yang dijadikan pegangannya dalam tahqiq kitab sehingga ia menyatakan dengan jelas bahwa nukilan ini adalah tambahan dari ushul kitab Irsyadul Qulub [intinya bukanlah perkataan Ad Dailamiy].

وكذلك الحال بالنسبة إلى قوله : ( وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار ، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز . . . ) فنحن نجزم بعدم كون هذه الجملة من أصل الكتاب ؛ لعدم ورودها في النسخ التي اعتمدنا عليها في تحقيق الكتاب

Dan begitu pula keadannya dengan perkataan (dan disebutkannya oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’aajiz…). Maka kami menegaskan bahwa ini adalah penambahan dari ushul kitab karena tidak ada dalam naskah yang kami jadikan pegangan dalam tahqiq kitab [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/16 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Ada beberapa naskah Irsyadul Qulub Ad Dailamiy berdasarkan tahqiq dari Sayyid Haasyim Al Milaaniy yaitu

  1. Naskah yang disimpan dalam perpustakaan Imam Ridha di Masyhad no 14372
  2. Naskah yang disimpan di Madrasah Syahiid Muthahhariy di Teheran no 5286
  3. Naskah yang disimpan dalam perpustakaan Ayatulah Uzhma Sayyid Mar’asyiy An Najafiy no 577
  4. Naskah yang dicetak oleh Mansyuurat Syarif Radhiy

Hanya Naskah yang keempat inilah yang memuat nukilan Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy dan naskah ini dikatakan oleh Sayyid Haasyim Al Milaaniy

وهي نسخة كثيرة الأخطاء والأغلاط

Dan naskah ini memiliki banyak kesalahan dan kekeliruan [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/19 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Irsyadul Qulub

Irsyadul Qulub juz 2 hal 147

Maka kesimpulannya nukilan Al Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy tersebut tidak tsabit oleh karena itu dalam kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy [perhatikan di atas] tidak ada nukilan tersebut karena bersumber dari naskah yang mengandung banyak kesalahan dan tidak ada dalam naskah yang dijadikan pegangan serta bertentangan dengan fakta sejarah.

.

.

.

Fenomena seperti ini ternyata juga ditemukan dalam kitab ulama ahlus sunnah, diantaranya kitab Tarikh Ibnu Asakir. Ibnu Asakir memasukkan dalam kitabnya Tarikh Dimasyiq 58/13 no 7381 biografi Mas’ud bin Muhammad bin Mas’ud Abu Ma’aaliy An Naisabury seorang faqih mazhab syafi’iy yang dikenal sebagai Al Quthb, dimana tertulis

وسمع الحديث بنيسابور من شيخنا أبي محمد هبة الله بن سهل السيدي وغيره

Ia mendengar hadis di Naisabur dari Syaikh [guru] kami Abu Muhammad Hibbatullah bin Sahl As Sayyidiy dan selainnya

Abu Muhammad Hibbatullah bin Sahl memang dikenal sebagai guru Ibnu Asakir sebagaimana disebutkan Adz Dzahabiy [As Siyaar 20/14]. Maka tidak diragukan bahwa lafaz tersebut adalah perkataan Ibnu Asakir dan pada akhir biografi Mas’ud bin Muhammad disebutkan

مات رحمه الله آخر يوم من شهر رمضان سنة ثمان وسبعين وخمسمائة

Ia wafat [rahimahullah] pada akhir bulan Ramadhan tahun 578 H

Tarikh Ibnu Asakir juz 58

Tarikh Ibnu Asakir juz 58 hal 13

Tarikh Ibnu Asakir juz 58 hal 14

Apa masalahnya?. Ibnu Asakir disebutkan oleh Ibnu ‘Imaad Al Hanbaliy bahwa ia wafat pada tahun 571 H [Syadzrat Adz Dzahab 7/395]. Adz Dzahabiy juga menyebutkan demikian dalam biografi Ibnu Asakir

توفي في رجب سنة إحدى وسبعين وخمسمائة ليلة الاثنين حادي عشر الشهر ، وصلى عليه القطب النيسابوري

[Ibnu Asakir] wafat pada bulan Rajab tahun 571 H pada malam senin tanggal 11, dan ia dishalatkan oleh Al Quthb An Naisaburiy [As Siyaar Adz Dzahabiy 20/571]

Bagaimana mungkin orang yang wafat tahun 571 H bisa menulis biografi seseorang dimana ia menyebutkan bahwa orang tersebut wafat tahun 578 H?. Bisa saja dikatakan bahwa hal ini termasuk kesalahan naskah atau tambahan dari ushul kitab, kami tidak ada masalah dengan itu. Sebenarnya yang justru bermasalah adalah pencela jahil yang seenaknya menyatakan kitab ulama mazhab lain sampah padahal kitab ulama mazhab-nya ternyata sama saja dengan kitab yang ia katakan sampah. Manakah yang sampah dalam perkara ini, kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy atau kitab Tarikh Ibnu Asakir?. Jawabannya yang sampah itu ya perkataan pencela tersebut.

.

Note : Kitab Irsyadul Qulub di atas ada dua macam, yang pertama diambil dari situs pencela tersebut dan yang kedua dari salah satu situs syiah yaitu alhassanain.org

File:No understand.jpg
Adanya riwayat-riwayat aneh yang ternukil dalam kitab syi’ah karena kedudukannya dhaif di sisi Syiah ! Itu bukan pegangan kami

Penghinaan Syiah Terhadap Allah : Aah Termasuk Nama Allah?

Adanya riwayat-riwayat aneh yang ternukil dalam kitab suatu mazhab adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah menisbatkan riwayat tersebut seolah-olah itu menjadi keyakinan yang diakui kebenarannya dalam mazhab yang dimaksud. Mereka yang tidak mengerti dan menisbatkan kedustaan dengan berbagai riwayat dhaif dan dusta terhadap suatu mazhab adalah orang-orang jahil. Begitulah yang dilakukan salah seorang pencela berikut terhadap Syiah. Ia menukil riwayat

حدثنا أبو عبد الله الحسين بن أحمد العلوي، قال: حدثنا محمد بن همام، عن علي ابن الحسين، قال: حدثني جعفر بن يحيى الخزاعي، عن أبي إسحاق الخزاعي، عن أبيه، قال: دخلت مع أبي عبد الله عليه السلام على بعض مواليه يعوده فرأيت الرجل يكثر من قول ” آه ” فقلت له: يا أخي أذكر ربك واستغث به فقال أبو عبد الله: إن ” آه ” اسم من أسماء الله عز وجل فمن قال: ” آه ” فقد استغاث بالله تبارك وتعالى

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ahmad Al ‘Alawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hamaam dari Aliy bin Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Yahya Al Khuza’iy dari Abu Ishaq Al Khuza’iy dari Ayahnya yang berkata “aku masuk bersama Abu Abdullah [‘alaihis salam] kepada sebagian mawali-nya dan aku melihat seorang laki-laki seringkali mengatakan aah. Maka aku berkata kepadanya “wahai saudaraku, sebutlah nama Tuhanmu dan mintalah pertolongan-Nya. Maka Abu Abdullah berkata sesungguhnya “aah” adalah nama dari nama-nama Allah maka barang siapa yang mengatakan “aah” maka sungguh ia telah meminta pertolongan Allah tabaraka wata’ala [Ma’aniy Al Akhbar Syaikh Shaduuq hal 354]

Ma'ani Akhbar

Ma'ani Akhbar hal 354

Pencela tersebut mengatakan bahwa riwayat ini adalah salah satu bentuk kekurangajaran Syiah terhadap Allah SWT. Tentu saja ini ucapan yang jahil, riwayat yang dinukil nashibi tersebut kedudukannya dhaif di sisi Syiah karena Abu Ishaq Al Khuza’iy dan Ayahnya tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syiah.

.

.

.

Riwayat yang serupa dengan riwayat Syiah di atas juga ditemukan dalam kitab hadis salah seorang ulama Ahlus Sunah yaitu Abdul Kariim bin Muhammad Ar Rafi’iy dalam kitabnya Tadwiin Fii Akhbar Qazwiin 4/72 biografi Mahmuud Abu Yamiin Al Qazwiiniy

Akhbar Qazwiin

Akhbar Qazwiin juz 4 hal 72

وَسَمِعَ الْقَاضِي أبا عَبْد اللَّه الحسين بْن إبراهيم بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ إبراهيم بْنِ الْحُسَيْنِ الْبُرُوجِرْدِيَّ سَنَةَ خَمْسٍ وخمسين وخمسمائة فِي جُزْءٍ سَمِعَ مِنْهُ بِإِجَازَةِ أبي الفتح عبدوس ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدُوسٍ لَهُ أَنْبَأَ أَبُو القاسم سعد بْن علي الزنجاني بِمَكَّةَ أَنْبَأَ هِبَةُ اللَّهِ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعَافِرِيُّ أَنْبَأَ أَبُو إِسْحَاقَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حِبَّانَ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إبراهيم الْمِصْرِيُّ ثنا أَحْمَد بْنُ عَلِيٍّ الْقَاضِي بِحِمْصَ ثنا يحي بْنُ مَعِينٍ ثنا إِسْمَاعِيل بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ عَنْ بَهِيَّةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وآله وسلم وعندنا عليل يان فَقُلْنَا لَهُ اسْكُتْ فَقَدْ جَاءَ النبي فقال النبي: “دعوه يان فَإِنَّ الأَنِينَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى يَسْتَرِيحُ إِلَيْهِ الْعَلِيلُ.

Telah mendengar dari Al Qaadhiy Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Husain bin Ibrahiim bin Husain Al Burujirdiy pada tahun 555 H dalam juz yang ia dengar darinya dengan ijazah Abu Fath ‘Abduus bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abduus yang telah memberitakan kepadanya Abu Qasim Sa’d bin Aliy Al Zanjaaniy di Makkah yang berkata telah memberitakan kepada kami Hibbatullah bin ‘Aliy Al Ma’aafiriy yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Ishaaq ‘Abdul Malik bin Hibbaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Mishriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Aliy Al Qaadhiy di Himsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in yang berkata telah menceritakan kepada kami Isma’iil bin ‘Ayyaasy dari Laits bin Abi Sulaim dari Bahiyyah dari Aisyah [radiallahu ‘anha] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk menemui kami dan di sisi kami terdapat orang yang sedang sakit dan merintih. Maka kami katakan padanya “diamlah sungguh Nabi telah datang”.Maka Nabi berkata “biarkanlah dia merintih karena suara rintihan termasuk nama dari nama-nama Allah yang dengannya dapat meredakan sakit” [Tadwiin Fii Akhbar Qazwiin, Ar Rafi’iy 4/72]

Abdul Kariim bin Muhammad Ar Rafi’iy Al Qazwiiniy Abul Qasim termasuk ulama mazhab Syafi’i, seorang imam dalam agama. Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad Ash Shafaar berkata “ia syaikh [guru] kami imam dalam agama, penolong sunnah, seorang yang shaduq” [As Siyaar Adz Dzahabiy 22/253-254]

Riwayat ini juga dhaif kedudukannya di sisi Ahlus Sunnah karena sebagian perawi tidak dikenal kredibilitasnya dan sebagian lainnya dhaif seperti Laits bin Abi Sulaim. Walaupun memang ternukil ada ulama yang menguatkan hadis ini yaitu Al Aliy bin Ahmad Al ‘Aziziy menukil dari Syaikhnya [Muhammad Al Hijaziy Asy Sya’raniy] dalam Siraj Al Munir Syarh Jami’ As Shaghiir 2/287, Al ‘Aziziy berkata “Syaikh berkata hadis hasan lighairihi”

.

Menurut pikiran sang pencela adanya riwayat tersebut dalam kitab ulama mazhab Syiah menunjukkan kekurangajaran Syiah terhadap Allah, lantas bagaimana nasibnya dengan adanya riwayat serupa dalam kitab ulama mazhab Sunni, apakah itu berarti kekurangajaran Sunni terhadap Allah?. Sepertinya yang kurang diajar dengan benar adalah lisan dan cara berpikir pencela tersebut.

Adanya riwayat-riwayat aneh yang ternukil dalam kitab syi’ah karena kedudukannya dhaif di sisi Syiah ! Itu bukan pegangan kami

File:No understand.jpg

Penghinaan Syiah Terhadap Allah : Aah Termasuk Nama Allah?

Adanya riwayat-riwayat aneh yang ternukil dalam kitab suatu mazhab adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah menisbatkan riwayat tersebut seolah-olah itu menjadi keyakinan yang diakui kebenarannya dalam mazhab yang dimaksud. Mereka yang tidak mengerti dan menisbatkan kedustaan dengan berbagai riwayat dhaif dan dusta terhadap suatu mazhab adalah orang-orang jahil. Begitulah yang dilakukan salah seorang pencela berikut terhadap Syiah. Ia menukil riwayat

حدثنا أبو عبد الله الحسين بن أحمد العلوي، قال: حدثنا محمد بن همام، عن علي ابن الحسين، قال: حدثني جعفر بن يحيى الخزاعي، عن أبي إسحاق الخزاعي، عن أبيه، قال: دخلت مع أبي عبد الله عليه السلام على بعض مواليه يعوده فرأيت الرجل يكثر من قول ” آه ” فقلت له: يا أخي أذكر ربك واستغث به فقال أبو عبد الله: إن ” آه ” اسم من أسماء الله عز وجل فمن قال: ” آه ” فقد استغاث بالله تبارك وتعالى

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ahmad Al ‘Alawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hamaam dari Aliy bin Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Yahya Al Khuza’iy dari Abu Ishaq Al Khuza’iy dari Ayahnya yang berkata “aku masuk bersama Abu Abdullah [‘alaihis salam] kepada sebagian mawali-nya dan aku melihat seorang laki-laki seringkali mengatakan aah. Maka aku berkata kepadanya “wahai saudaraku, sebutlah nama Tuhanmu dan mintalah pertolongan-Nya. Maka Abu Abdullah berkata sesungguhnya “aah” adalah nama dari nama-nama Allah maka barang siapa yang mengatakan “aah” maka sungguh ia telah meminta pertolongan Allah tabaraka wata’ala [Ma’aniy Al Akhbar Syaikh Shaduuq hal 354]

Ma'ani Akhbar

Ma'ani Akhbar hal 354

Pencela tersebut mengatakan bahwa riwayat ini adalah salah satu bentuk kekurangajaran Syiah terhadap Allah SWT. Tentu saja ini ucapan yang jahil, riwayat yang dinukil nashibi tersebut kedudukannya dhaif di sisi Syiah karena Abu Ishaq Al Khuza’iy dan Ayahnya tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal Syiah.

.

.

.

Riwayat yang serupa dengan riwayat Syiah di atas juga ditemukan dalam kitab hadis salah seorang ulama Ahlus Sunah yaitu Abdul Kariim bin Muhammad Ar Rafi’iy dalam kitabnya Tadwiin Fii Akhbar Qazwiin 4/72 biografi Mahmuud Abu Yamiin Al Qazwiiniy

Akhbar Qazwiin

Akhbar Qazwiin juz 4 hal 72

وَسَمِعَ الْقَاضِي أبا عَبْد اللَّه الحسين بْن إبراهيم بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ إبراهيم بْنِ الْحُسَيْنِ الْبُرُوجِرْدِيَّ سَنَةَ خَمْسٍ وخمسين وخمسمائة فِي جُزْءٍ سَمِعَ مِنْهُ بِإِجَازَةِ أبي الفتح عبدوس ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدُوسٍ لَهُ أَنْبَأَ أَبُو القاسم سعد بْن علي الزنجاني بِمَكَّةَ أَنْبَأَ هِبَةُ اللَّهِ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعَافِرِيُّ أَنْبَأَ أَبُو إِسْحَاقَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حِبَّانَ ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إبراهيم الْمِصْرِيُّ ثنا أَحْمَد بْنُ عَلِيٍّ الْقَاضِي بِحِمْصَ ثنا يحي بْنُ مَعِينٍ ثنا إِسْمَاعِيل بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ عَنْ بَهِيَّةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وآله وسلم وعندنا عليل يان فَقُلْنَا لَهُ اسْكُتْ فَقَدْ جَاءَ النبي فقال النبي: “دعوه يان فَإِنَّ الأَنِينَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى يَسْتَرِيحُ إِلَيْهِ الْعَلِيلُ.

Telah mendengar dari Al Qaadhiy Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Husain bin Ibrahiim bin Husain Al Burujirdiy pada tahun 555 H dalam juz yang ia dengar darinya dengan ijazah Abu Fath ‘Abduus bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abduus yang telah memberitakan kepadanya Abu Qasim Sa’d bin Aliy Al Zanjaaniy di Makkah yang berkata telah memberitakan kepada kami Hibbatullah bin ‘Aliy Al Ma’aafiriy yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Ishaaq ‘Abdul Malik bin Hibbaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Mishriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Aliy Al Qaadhiy di Himsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in yang berkata telah menceritakan kepada kami Isma’iil bin ‘Ayyaasy dari Laits bin Abi Sulaim dari Bahiyyah dari Aisyah [radiallahu ‘anha] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk menemui kami dan di sisi kami terdapat orang yang sedang sakit dan merintih. Maka kami katakan padanya “diamlah sungguh Nabi telah datang”.Maka Nabi berkata “biarkanlah dia merintih karena suara rintihan termasuk nama dari nama-nama Allah yang dengannya dapat meredakan sakit” [Tadwiin Fii Akhbar Qazwiin, Ar Rafi’iy 4/72]

Abdul Kariim bin Muhammad Ar Rafi’iy Al Qazwiiniy Abul Qasim termasuk ulama mazhab Syafi’i, seorang imam dalam agama. Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad Ash Shafaar berkata “ia syaikh [guru] kami imam dalam agama, penolong sunnah, seorang yang shaduq” [As Siyaar Adz Dzahabiy 22/253-254]

Riwayat ini juga dhaif kedudukannya di sisi Ahlus Sunnah karena sebagian perawi tidak dikenal kredibilitasnya dan sebagian lainnya dhaif seperti Laits bin Abi Sulaim. Walaupun memang ternukil ada ulama yang menguatkan hadis ini yaitu Al Aliy bin Ahmad Al ‘Aziziy menukil dari Syaikhnya [Muhammad Al Hijaziy Asy Sya’raniy] dalam Siraj Al Munir Syarh Jami’ As Shaghiir 2/287, Al ‘Aziziy berkata “Syaikh berkata hadis hasan lighairihi”

.

Menurut pikiran sang pencela adanya riwayat tersebut dalam kitab ulama mazhab Syiah menunjukkan kekurangajaran Syiah terhadap Allah, lantas bagaimana nasibnya dengan adanya riwayat serupa dalam kitab ulama mazhab Sunni, apakah itu berarti kekurangajaran Sunni terhadap Allah?. Sepertinya yang kurang diajar dengan benar adalah lisan dan cara berpikir pencela tersebut.

Sunni dan wahabi tidak memahami bahwa ada nukilan ulama Syi’ah senior yang tidak tsabit karena bersumber dari naskah yang mengandung banyak kesalahan

See full size image

Kitab Sampah Syiah : Irsyadul Qulub Atau Kitab Sampah Sunni : Tarikh Ibnu Asakir?

Judul ini sifatnya satir, disesuaikan dengan tulisan para pencela. Karena mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa racun maka ada baiknya mereka diobati dengan racun pula. Tulisan ini berusaha menindaklanjuti tulisan salah seorang pencela yang menuduh Syiah sebagai agama yang busuk, dungu dan sarat penipuan. Kami heran dengan orang satu ini, ia berhujjah dengan hujjah yang lemah tetapi bahasanya malah terlalu hina. Alangkah baiknya ia segera sadar diri dan menjaga lisannya.

Banyak para pengkritik Syiah, rata-rata mereka cuma tukang fitnah dan kaum jahil, biasanya bahasa mereka memang hina tetapi ada juga kami temukan pengkritik Syiah dengan hujjah yang layak dengan bahasa yang tidak menyakitkan, yang model begini masuk dalam referensi kami sebagai para pencari kebenaran [secara kami masih meneliti kebenaran dari ahlus sunnah dan juga syiah]. Kami tidak butuh bahasa busuk, kami butuh kebenaran dengan hujjah yang kuat.

.

.

Pencela [dengan lisan hina] yang kami maksud membuat tulisan yang menghina salah satu kitab ulama Syiah yaitu kitab Irsyadul Qulub oleh Hasan bin Abi Hasan Ad Dailamiy, dimana dalam kitabnya disebutkan lafaz

وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز

Dan disebutkan oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’ajiz…[Irsyadul Qulub 2/265 Ad Dailamiy, terbitan Mu’assasah Al A’lami Li Al Mathbu’ah Beirut Libanon]

irsyadulqulub-1irsyadulqulub-2

Pencela itu mengatakan Ad Dailamiy wafat pada tahun 841 H sedangkan Al Majlisi lahir tahun 1037 H dan wafat 1111 H kemudian Sayyid Al Bahraniy wafat tahun 1107 H. Bagaimana bisa Ad Dailamiy menukil dari mereka berdua padahal ketika ia wafat mereka berdua saja belum lahir?. Selanjutnya pencela itu menyatakan itulah agama Syiah penuh kebathilan dan kepalsuan, tidaklah recehannya kecuali kotoran di dalam kotoran.

.

.

.

Kami meneliti perkara ini dan ternyata hasilnya menunjukkan kalau pencela itu memang jahil dan kejahilan ini muncul karena terburu-buru dalam mencela. Perkara ini ternyata telah diteliti oleh salah seorang ulama Syiah yaitu Sayyid Haasyim Al Miilaaniy, ia adalah pentahqiq kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy

Sayyid Haasyim Al Miilaniy dalam muqaddimah tahqiq-nya menyebutkan bahwa nukilan yang menyebutkan Al Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy hanya ada dalam naskah kitab yang dicetak oleh Mansyurat Syarif Radhiy

وأيضاً فقد ذُكر في الجزء الثاني في النسخة المطبوعة في منشورات الرضي بعد ذكر حديث يرفعه إلى الشيخ المفيد وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار ، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز

Dan telah disebutkan dalam juz kedua dalam naskah yang dicetak oleh Mansyuurat Ar Radhiy, setelah menyebutkan hadis yang dirafa’kan oleh Syaikh Mufiid “dan disebutkannya oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’aajiz [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/16 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Kemudian Sayyid Haasyim Al Miilaaniy menyatakan bahwa nukilan ini tidak terdapat dalam naskah yang dijadikan pegangannya dalam tahqiq kitab sehingga ia menyatakan dengan jelas bahwa nukilan ini adalah tambahan dari ushul kitab Irsyadul Qulub [intinya bukanlah perkataan Ad Dailamiy].

وكذلك الحال بالنسبة إلى قوله : ( وذكره المجلسي رحمه الله في المجلّد التاسع من كتاب بحار الأنوار ، والسيد البحراني في كتاب مدينة المعاجز . . . ) فنحن نجزم بعدم كون هذه الجملة من أصل الكتاب ؛ لعدم ورودها في النسخ التي اعتمدنا عليها في تحقيق الكتاب

Dan begitu pula keadannya dengan perkataan (dan disebutkannya oleh Al Majlisi [rahimahullah] dalam jilid kesembilan kitab Bihar Al Anwar dan Sayyid Al Bahraniy dalam kitab Madiinatul Ma’aajiz…). Maka kami menegaskan bahwa ini adalah penambahan dari ushul kitab karena tidak ada dalam naskah yang kami jadikan pegangan dalam tahqiq kitab [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/16 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Ada beberapa naskah Irsyadul Qulub Ad Dailamiy berdasarkan tahqiq dari Sayyid Haasyim Al Milaaniy yaitu

  1. Naskah yang disimpan dalam perpustakaan Imam Ridha di Masyhad no 14372
  2. Naskah yang disimpan di Madrasah Syahiid Muthahhariy di Teheran no 5286
  3. Naskah yang disimpan dalam perpustakaan Ayatulah Uzhma Sayyid Mar’asyiy An Najafiy no 577
  4. Naskah yang dicetak oleh Mansyuurat Syarif Radhiy

Hanya Naskah yang keempat inilah yang memuat nukilan Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy dan naskah ini dikatakan oleh Sayyid Haasyim Al Milaaniy

وهي نسخة كثيرة الأخطاء والأغلاط

Dan naskah ini memiliki banyak kesalahan dan kekeliruan [Irsyadul Qulub Ad Dailamiy 1/19 tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy]

Irsyadul Qulub

Irsyadul Qulub juz 2 hal 147

Maka kesimpulannya nukilan Al Majlisi dan Sayyid Al Bahraniy tersebut tidak tsabit oleh karena itu dalam kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy tahqiq Sayyid Haasyim Al Milaaniy [perhatikan di atas] tidak ada nukilan tersebut karena bersumber dari naskah yang mengandung banyak kesalahan dan tidak ada dalam naskah yang dijadikan pegangan serta bertentangan dengan fakta sejarah.

.

.

.

Fenomena seperti ini ternyata juga ditemukan dalam kitab ulama ahlus sunnah, diantaranya kitab Tarikh Ibnu Asakir. Ibnu Asakir memasukkan dalam kitabnya Tarikh Dimasyiq 58/13 no 7381 biografi Mas’ud bin Muhammad bin Mas’ud Abu Ma’aaliy An Naisabury seorang faqih mazhab syafi’iy yang dikenal sebagai Al Quthb, dimana tertulis

وسمع الحديث بنيسابور من شيخنا أبي محمد هبة الله بن سهل السيدي وغيره

Ia mendengar hadis di Naisabur dari Syaikh [guru] kami Abu Muhammad Hibbatullah bin Sahl As Sayyidiy dan selainnya

Abu Muhammad Hibbatullah bin Sahl memang dikenal sebagai guru Ibnu Asakir sebagaimana disebutkan Adz Dzahabiy [As Siyaar 20/14]. Maka tidak diragukan bahwa lafaz tersebut adalah perkataan Ibnu Asakir dan pada akhir biografi Mas’ud bin Muhammad disebutkan

مات رحمه الله آخر يوم من شهر رمضان سنة ثمان وسبعين وخمسمائة

Ia wafat [rahimahullah] pada akhir bulan Ramadhan tahun 578 H

Tarikh Ibnu Asakir juz 58

Tarikh Ibnu Asakir juz 58 hal 13

Tarikh Ibnu Asakir juz 58 hal 14

Apa masalahnya?. Ibnu Asakir disebutkan oleh Ibnu ‘Imaad Al Hanbaliy bahwa ia wafat pada tahun 571 H [Syadzrat Adz Dzahab 7/395]. Adz Dzahabiy juga menyebutkan demikian dalam biografi Ibnu Asakir

توفي في رجب سنة إحدى وسبعين وخمسمائة ليلة الاثنين حادي عشر الشهر ، وصلى عليه القطب النيسابوري

[Ibnu Asakir] wafat pada bulan Rajab tahun 571 H pada malam senin tanggal 11, dan ia dishalatkan oleh Al Quthb An Naisaburiy [As Siyaar Adz Dzahabiy 20/571]

Bagaimana mungkin orang yang wafat tahun 571 H bisa menulis biografi seseorang dimana ia menyebutkan bahwa orang tersebut wafat tahun 578 H?. Bisa saja dikatakan bahwa hal ini termasuk kesalahan naskah atau tambahan dari ushul kitab, kami tidak ada masalah dengan itu. Sebenarnya yang justru bermasalah adalah pencela jahil yang seenaknya menyatakan kitab ulama mazhab lain sampah padahal kitab ulama mazhab-nya ternyata sama saja dengan kitab yang ia katakan sampah. Manakah yang sampah dalam perkara ini, kitab Irsyadul Qulub Ad Dailamiy atau kitab Tarikh Ibnu Asakir?. Jawabannya yang sampah itu ya perkataan pencela tersebut.

.

Note : Kitab Irsyadul Qulub di atas ada dua macam, yang pertama diambil dari situs pencela tersebut dan yang kedua dari salah satu situs syiah yaitu alhassanain.org

 

Sunni dan wahabi tidak memahami bahwa ada perawi syi’ah yang menukil riwayat & khabar melalui Ijazah bukan dengan musyafahah dan munawalah, bukan dengan sima’ langsung.

Subhanallah. Sungguh keddngkian hati busuk itu rasanya sulit dicarikan obatnya.Labaika Ya Husain

Ibnu Thawus Meriwayatkan Langsung Dari Ibnu Khayyath? : Ulah Pencela Yang Menggelikan

Salah satu situs pencela Syi’ah yang gemar memfitnah Syiah membuat tulisan yang berjudul : Menggelikan, Ibnu Thawus meriwayatkan langsung dari Ibnu Khayath?. Tulisan tersebut cukup menarik hanya saja terlalu tendensius dan ujung-ujungnya ia cuma mau bilang “inilah agama syiah dengan segala kontradiksi, keanehan dan kebathilan menjadikannya nampak sebagai agama buatan manusia-manusia hina”.

Kami hanya bisa geleng-geleng melihat perkataan hina seperti ini. Nampaknya manusia satu ini terlalu besar kepala dan tidak akrab dengan kitab-kitab hadis dan rijal Ahlus Sunnah. Kami akan membuat sedikit catatan atas tulisannya dan menunjukkan bahwa dalam kitab hadis kami ahlus sunnah juga terdapat keanehan seperti itu. Jika manusia itu merasa dirinya ahlus sunnah mungkin ada baiknya ia menjaga lisannya yang kotor karena dapat meracuni dirinya sendiri.

Sayyid Ibnu Thawus salah seorang Ulama Syiah meriwayatkan dalam kitabnya Muhaj Ad Da’waat, doa untuk amirul mukminin Aliy bin Abi Thalib yang dikenal dengan doa Al Yamaniy.

و من ذلك دعاء لمولانا أمير المؤمنين علي ع المعروف بدعاء اليماني
أخبرنا أبو عبد الله الحسين بن إبراهيم بن علي القمي المعروف بابن الخياط

Dan dari Doa untuk maula kami Amirul Mukminin Aliy yang dikenal dengan doa Al Yamaniy
Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Aliy Al Qummiy yang dikenal dengan Ibnu Khayyaath…[Muhaj Ad Da’waat hal 137-138]

Sayyid Ibnu Thawus lahir tahun 589 H dan Ibnu Khayyath termasuk guru Syaikh Ath Thuusiy sedangkan Syaikh Ath Thuusiy sendiri wafat tahun 460 H. Jadi Ibnu Thawus jelas tidak mungkin bertemu langsung dengan Ibnu Khayyath karena ketika Ibnu Thawus lahir, Ibnu Khayyath sudah lama wafat.

Oleh karena itulah pencela yang dimaksud menjadikan hal ini sebagai celaan terhadap mazhab Syiah. Dan ia tidak menyadari kalau celaannya jauh lebih berat dari perkara yang dipermasalahkan. Perkara ini tidaklah luput dari pandangan Ulama Syiah. Sudah ada ulama Syiah yang berkomentar mengenai perkara ini, Sayyid Aliy Asy Syahruudiy berkomentar dalam biografi Husain bin Ibrahiim Al Qummiy

ما قاله السيد بن طاووس في المهج ص 105 في نقله دعاء الحرز اليماني: أخبرنا أبو عبد الله الحسين بن إبراهيم بن علي القمي المعروف بابن الخياط قال أخبرنا أبو محمد هارون بن موسى التلعكبري – الخ فان السيد بن طاووس هذا توفي سنة 673 والشيخ توفي سنة 460 وبينهما 213 سنة والتلعكبري توفي سنة 385. إلا أن يحمل كلام السيد على الاخبار بالإجازة لا بالمشافهة والمناولة

Apa yang dikatakan Sayyid Ibnu Thawus dalam Muhaj hal 105 dalam nukilannya tentang doa Al Yamaniy “Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Husain bin Ibrahiim bin Aliy Al Qummiy yang dikenal Ibnu Khayyath yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Haruun bin Muusa At Tal’akbariy, Sayyid Ibnu Thawus wafat tahun 673 H dan Syaikh [Ath Thuusiy] wafat tahun 460 H  antara keduanya ada 213 tahun, At Tal’akbariy wafat pada tahun 385 H. Maka kemungkinan perkataan Sayyid disini adalah khabar melalui Ijazah bukan dengan musyafahah dan munawalah [Mustadrak Ilm Rijal 3/73 no 4103 Syaikh Ali Asy Syahruudiy]

Ini adalah pembelaan yang dilakukan oleh Ulama Syiah, tidak masalah jika pencela tersebut tidak menerimanya karena tujuan tulisan ini memang bukan untuk membuat pencela itu percaya. Tulisan ini hanya menunjukkan bagaimana pandangan mazhab Syiah terhadap masalah ini.

Apa yang dinukil oleh Syaikh Ali Asy Syahruudiy itu memiliki qarinah yang menguatkan yaitu perkataan Sayyid Muhsin Amin dalam A’yan Asy Syiiah ketika menyebutkan Husain bin Ibrahim Al Qummiy

ويروي عن أبي محمد هارون بن موسى التلعكبري ويروي الشيخ الطوسي عنه. وكثيرا ما يعتمد على كتبه ورواياته السيد ابن طاووس وينقلها في كتاب مهج الدعوات وغيره

Ia meriwayatkan dari Abu Muhammad Haruun bin Muusa At Tal’akbariy dan telah meriwayatkan darinya Syaikh Ath Thuusiy. Sayyid Ibnu Thawus banyak berpegang dengan tulisannya dan riwayatnya dan ia menukilnya dalam kitab Muhaj Ad Da’waat dan yang lainnya. [A’yan Asy Syiah 5/414 Sayyid Muhsin Al ‘Amin]

Maka disini terdapat isyarat yang menyatakan bahwa Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat dari Ibnu Khayyath dalam Kitab Muhaj Ad Da’waat bukan dengan sima’ langsung.

Qarinah lain adalah jika kita melihat metode penulisan Sayyid Ibnu Thawus dalam kitabnya Muhaj Ad Da’waat maka nampak bahwa terkadang Sayyid Ibnu Thawus menukil sanad-sanad doa tersebut dari Kitab bukan dengan sima’ langsung. Contohnya adalah sebagai berikut

و منها دعاء العهد
قال حدثنا محمد بن علي بن رقاق القمي أبو جعفر قال حدثنا أبو الحسن محمد بن علي بن الحسن بن شاذان القمي قال حدثنا أبو جعفر محمد بن علي بن بابويه القمي

Dan dari Doa Al ‘Ahd
Berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy Abu Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin ‘Aliy bin Hasan bin Syadzaan Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Babawaih Al Qummiy…[Muhaj Ad Da’waat hal 398]

Lafaz di atas seolah-olah Sayyid Ibnu Thawus mendengar secara langsung dari Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy padahal kenyataannya tidak demikian. Sebenarnya Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat tersebut dari Kitab. Dalam doa sebelumnya disebutkan

وجدت في كتاب مجموع بخط قديم ذكر ناسخه و هو مصنفه أن اسمه محمد بن محمد بن عبد الله بن فاطر من رواه عن شيوخه فقال ما هذا لفظه حدثنا محمد بن علي بن رقاق القمي قال حدثنا أبو الحسن محمد بن أحمد بن علي بن الحسن بن شاذان القمي عن أبي جعفر محمد بن علي بن الحسين بن بابويه القمي

Terdapat dalam kitab Majmuu’ dengan tulisan tangan, disebutkan dalam naskah penulisnya bernama Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Faathir dari riwayatnya dari para Syaikh-nya, dan ini lafaznya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Riqaaq Al Qummiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Muhammad bin Ahmad bin ‘Aliy bin Hasan bin Syadzaan Al Qummiy dari Abu Ja’far Muhammad bin ‘Aliy bin Husain bin Babawaih Al Qummiy…[Muhaj Ad Da’waat hal 397]

Maka disini dapat dipahami bahwa sebenarnya Sayyid Ibnu Thawus menukil riwayat dari Ibnu Khayyaath dari Kitab atau Ijazah walaupun nama kitab tersebut tidak disebutkan dalam kitab Mu’haj Ad Da’waat. Bisa jadi Ibnu Thawus memang tidak menyebutkannya atau terjadi kesalahan [tashif] sehingga bagian yang menyebutkan nama Kitabnya hilang. Wallahu A’lam.

.

Perkara seperti ini bukanlah barang baru dalam kitab Rijal dan kitab Hadis. Mereka yang akrab dengan hadis dan ilmu Rijal [ahlus sunnah] akan menemukan fenomena seperti ini. Yaitu dimana lafaz sima’ langsung antara dua perawi ternyata keliru karena berdasarkan tahun lahir dan wafat keduanya tidak memungkinkan untuk bertemu. Adanya fenomena seperti ini tidaklah membuat Ahlus sunnah dikatakan agama yang mengandung kontradiksi, kebathilan, keanehan yang merupakan buatan manusia-manusia hina. Orang yang berpandangan demikian hanyalah menunjukkan kejahilan atau kebencian yang menutupi akal pikirannya. Berikut contoh perkara yang sama dalam kitab Ahlus Sunnah

Al Kamil Juz 8

Abdullah bin Adiy Abu Ahmad Al Jurjaniy salah seorang ulama ahlus sunnah menyebutkan dalam kitabnya Al Kamil Fii Adh Dhu’afa

أخبرنا علي بن المثنى ثنا الوليد بن القاسم عن مجالد عن أبي الوداك عن أبي سعيد ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال

Telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Waliid bin Qaasim dari Mujalid dari Abul Wadaak dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda…[Al Kamil Ibnu Adiy 8/367 biografi Walid bin Qaasim]

Al Kamil juz 8 hal 368

Ibnu Adiy seorang imam hafizh, Adz Dzahabiy menyebutkan biografinya dalam As Siyaar dan berkata

مولده في سنة سبع وسبعين ومائتين ، وأول سماعه كان في سنة تسعين ، وارتحاله في سنة سبع وتسعين

Ia lahir pada tahun 277 H, pertama mendengar hadis pada tahun 290 H dan memulai perjalanan pada tahun 297 H [As Siyaar Adz Dzahabiy 16/154]

Mengenai Aliy bin Al Mutsanna, Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Tahdzib At Tahdzib dan menyebutkan

وقال الحضرمي مات سنة ست وخمسين ومائتين

Al Hadhramiy berkata “ia wafat tahun 256 H” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 7 no 611]

Berdasarkan tahun lahir dan tahun wafat didapatkan bahwa Ibnu Adiy baru lahir 21 tahun setelah wafatnya Aliy bin Al Mutsanna Ath Thahawiy, lantas bagaimana bisa dikatakan bahwa ia berkata “telah mengabarkan kepada kami ‘Aliy bin Mutsanna”

.

.

Ada contoh lain yang menunjukkan bahwa tashrih penyimakan hadis ternyata tidak benar dan hadis tersebut munqathi’. Perhatikan riwayat Ahmad bin Hanbal berikut

حدثنا عبد الله قال حدثني أبى ثنا بهز ثنا همام ثنا قتادة حدثني عزرة عن الشعبي ان الفضل حدثه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Bahz yang berkata telah menceritakan kepada kami Hamaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Azrah dari Asy Sya’biy bahwa Fadhl menceritakan kepadanya…[Musnad Ahmad 1/213 no 1829]

Ahmad bin Hanbal memasukkan hadis ini dalam Musnad Fadhl bin ‘Abbas. Para perawinya tsiqat sampai ke Asy Sya’biy dan Asy Sya’biy sendiri dikenal tsiqat tetapi ia mustahil mendengar hadis dari Fadhl bin ‘Abbas.

الفضل بن العباس بن عبد المطلب الهاشمي صحب النبي صلى الله عليه وسلم مات في عهد أبي بكر

Al Fadhl bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib Al Haasyimiy sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat di masa Abu Bakar [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 7 no 502]

Ibnu Sa’ad menyebutkan dalam biografi Fadhl bin ‘Abbas bahwa ia wafat pada tahun 18 H di masa Umar bin Khaththab. Yang mana pun yang rajih, Asy Sya’bi jelas tidak menemui masa hidup Fadhl bin ‘Abbas. Menurut pendapat yang rajih Asy Sya’bi lahir pada masa Utsman bin ‘Affan

قَالَ الْحَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ , سَمِعْتُ شُعْبَةَ ، يَقُولُ : سَأَلْتُ أَبَا إِسْحَاقَ ، قُلْتُ : ” أَنْتَ أَكْبَرُ أَمِ الشَّعْبِيُّ ؟ قَالَ : الشَّعْبِيُّ أَكْبَرُ مِنِّي بِسَنَةٍ أَوْ سَنَتَيْنِ “

Hajjaj bin Muhammad berkata aku mendengar Syu’bah berkata “aku bertanya pada Abu Ishaq” aku berkata “engkau yang lebih tua atau Asy Sya’biy”. Ia berkata “Asy Sya’biy lebih tua dariku setahun atau dua tahun [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/266]

Abu Ishaq As Sabi’iy lahir dua tahun akhir masa Utsman bin ‘Affan [As Siyar Adz Dzahabiy 5/393] makaAsy Sya’bi lahir kemungkinan lahir tahun 31 atau 32 H. Jadi ketika Asy Sya’biy lahir Fadhl bin ‘Abbas sudah wafat 14 tahun sebelumnya. Bagaimana mungkin Asy Sya’biy mengatakan “telah menceritakan kepadanya Fadhl”.

Kedua contoh di atas cukup sebagai bukti bahwa perkara yang dipermasalahkan pencela tersebut juga ada pada mazhab Ahlus Sunnah. Jika ia bersikeras menjadikan perkara ini sebagai celaan terhadap mazhab Syiah maka pada hakikatnya ia juga mencela mazhab Ahlus Sunnah. Kami memang bukan Syiah tetapi kami sangat tidak suka dengan ulah orang-orang jahil yang gemar memfitnah. Akhir kata silakan para pembaca pikirkan apakah pantas suatu mazhab dikatakan agama hina karena perkara ini?.