Salahkan Syi’ah marah pada Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah (aktor peristiwa Saqifah) yang karena ulah mereka telah menyeret perjalanan sejarah Islam ke arah lain

siapakah sahabat Nabi saw ?  adakah perselisihan di antara para sahabat semenjak wafatnya Nabi ??

Membaca pikiran-pikiran Ali Syari’ati menghentak nurani keagamaan kita sebagaimana teman Syari’ati. Pesannya yang kuat secara ideologis (Islam) pada saat yang sama menunjukkan keluasan pandangannya di luar tradisi Islam seperti Marxisme dan eksistensialisme membawa kita pada Syariati yang gelisah, cerdas, dan otentik sekaligus ingin taat kepada agama “syiah merahnya”.

Syariati menolak pemikiran Marxis dan eksistensialis tapi menggunakannya untuk mengkaji Islam lewat analisis atas penantian yang aktif terhadap Imam Mahdi as yang diyakininya.

Jiwanya dididik dalam tradisi Islam, tapi pengetahuannya berkemang melalui tradisi Marxis dan eksistensialis. Kedua tradisi yang jelas memiliki struktur toritis yang bertentangan  (seperti kajian Muthahhari rekan Syariati di Huseiniyah Irsyad Iran), Tapi Syariati tetaplah Syariati yang mencintai Agama dan ekspresi perlawanan Imam Husein di Karbala dalam rangka menegakkan Agama Rasul SAW. Karya Syariati adalah bahan untuk menunjukkan kembali tingginya tradisi intelektual dan spiritual Islam pada saat yang sama memliki progresifitas sosial-historis yang kuat.

Buku ini baik sebagai bahan untuk memulai membangun orientasi Islam, selanjutnya kajian Muthahhari bisa menjadi bahan menstrukturkan orientasi Islam Syari’ati.

Diantara 20 buku judul buku Ali Syari’ati yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buku ini merupakan buku dengan terjemahan terbaik dan mudah dipahami bahkan bagi pembaca awam yang belum mengenal sosok Ali Syari’ati.

Secara garis besar, Ummah dan Imamah adalah prinsip akidah Islamiyah yang paling penting dan terkenal, khususnya dikalangan mazhab Syi’ah. Pokok permasalahan terbesar adalah makin jauhnya Islam dari nilai-nilai intelektual, perubahan, dan kehadiran Imam teladan diantara Ummah.

Dengan cerdas beliau menulis “Sejak masa Sayyid Jamaluddin Al-Afghani, kita lihat Islam sudah tidak lagi seperti apa yang tampil di permukaan. Kita ketahui bahwa di dalamnya terdapat banyak sekali sendi-sendi yang meragukan—seperti yang kita saksikan dewasa ini—atau akidah tersebut bercampur aduk dengan unsur-unsur budaya asing”.

Kritik tajam Ali Syari’ati dalam membandingkan gerakan kaum Protestan yang disebut sebagai pembaharu dunia dengan keadaan kaum Muslim yang jauh tertinggal, membuka mata pembaca terhadap kesalahan-kesalahan berpikir yang selama ini mengganggu jalannya perkembangan ilmu di kalangan Muslim.

Konsep Imam sendiri dalam mempersiapkan revolusi Islam menurut Syari’ati memiliki posisi sentral: “Imam mempunyai peranan penting dalam kehidupan, dan beriman kepada Imam memiliki makna yang besar dalam kehidupan para pemikir dan cendekiawan, khususnya para pengkaji masalah-masalah sosial…Imam juga dapat diartikan sebagai Nabi bersenjata yang baru.”

.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi aktivis mahasiswa yang konsern dalam gerakan sosial. Ali Syari’ati pantas disebut sebagai pemikir Iran abad ini, karena penjelasan tentang konsep-konsep dasar Ummah dan Imamah-nya sangat terperinci dan detail, dari cara memilih seorang Imam, kepatuhan terhadap Imam, dan strategi taktis lainnya untuk menggerakan Ummah menuju revolusi.

UMMAH DAN IMAMAH; SEBUAH TINJAUAN SOSIOLOGIS; DR. ALI SYARI’ATI

A. BIOGRAFI ALI SYARI’ATI
1. Latar Belakang Kehidupan
Ali Syari’ati adalah anak pertama Muhammad Taqi dan Zahra, lahir pada 24 November 1933. Bertepatan dengan periode ketika ayahnya menyelesaikan studi keagamaan dasarnya dan mulai mengajar di sebuah sekolah dasar, Syerafat. ‘Ali lahir dalam keluarga terhormat. Dalam keluarga ini ritual dan ritus keagamaan ditunaikan dengan seksama
.
Pada masa kanak-kanak ketika teman-temannya asyik bermain, Syari’ati asyik membaca buku-buku sastra seperti Les Miserable karya Victor Hugo. Kegemaran ini terus berlanjut hingga masa remajanya. Sejak tahun pertamannya di sekolah menengah atas, ia asyik membaca buku-buku filsafat, sastra, syair, ilmu sosial dan studi keagamaan di perpustakaan ayahnya yang berjumlah 2000 buku. Kegemarannya inilah yang membuat ia jarang bermain dengan teman-teman sebayanya
.
Pada 1955, Syari’ati masuk Fakultas Sastra Universitas Masyhad yang baru saja diresmikan. Selama di universitas, sekalipun menghadapi persoalan administratif akibat pekerjaan resminya sebagai guru full-time, Syari’ati paling tinggi rangkingnya di kelas. Bakat, pengetahuan dan kesukaannya kepada sastra menjadikannya popular di kalangan mahasiswa. Di universitas, Syari’ati bertemu Puran-e Syari’at Razavi, yang kemudian menjadi istrinya. Karena prestasi akademisnya di Universitas ini, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi keluar negeri
.
Pada April 1959, Syari’ati pergi ke Paris sendirian. Istri dan putranya yang baru lahir, bernama Ehsan bergabung dengannya setahun kemudian
.
Selama di Paris, Syari’ati berkenalan dengan karya-karya dan gagasan-gagasan baru yang mencerahkan, yang mempengaruhi pandangan hidup dan wawasannya mengenai dunia. Dia mengikuti kuliah-kuliah para akademisi, filosof, penyair, militan, dan membaca karya-karya mereka, terkadang bertukar pikiran dengan mereka, serta mengamati karya-karya seniman dan pemahat. Dari masing-masing mereka Syari’ati mendapat sesuatu, dan kemudian mengaku berutang budi kepada mereka. Di sinilah Syari’ati berkenalan dengan banyak tokoh intelektual barat antara lain Louis Massignon yang begitu dihormatinya, Frantz Fanon, Jacques Berque dan lain-lain
.
Namun pribadi Syari’ati yang penuh dengan semangat perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, walaupun tidak berada di Iran, ia tetap berjuang menentang rezim Iran. Antara 1962 dan 1963, waktu Syari’ati tampaknya habis tersita untuk aktivitas politik dan jurnalistiknya. Keberanian ini dia ungkapkan sebagai berikut
:
Dengan bimbingan dan pertolongan Allah-lah saya berani menerjunkan diri menghadapi berbagai fenomena, dan dengan cinta dan dukungan mukjizatlah saya bisa mengatasi hal-hal yang menyakitkan hati saya. Rahmat Allah telah menyebabkan saya memperoleh tenaga baru sesudah saya mengalami kejenuhan. Tanpa bekal keahlian apapun saya menempuh jalan yang situ saya tak akan menyia-nyiakan hidup saya barang sekejappun untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang. Semoga Allah menolong saya, sehingga saya bisa mengatasi berbagai kekurangan yang dapat saya tangkap, dan semoga pula semuanya itu tidak larut oleh kesenangan-kesenangan hidup kala umur yang pendek ini dipergunakan dalam bentuk seperti ini
.
Setelah meraih gelar doktornya pada 1963, setahun kemudian Syari’ati dan keluarganya kembali ke Masyhad, Iran. Di sini ia mengajar di sekolah menengah atas. Pada 1965, dia bekerja di Pusat Penelitian Kementerian Pendidikan di Teheran. Kemudian pada 1967 Ali Syari’ati mulai mengajar di universitas Masyhad. Inilah awal kontaknya Ali Syari’ati dengan mahasiswa-mahasiswa Iran. Universitas Masyhad yang relatif tenang dan teduh, segera saja semarak. Kelas Syari’ati tak lama kemudian menjadi kelas favorit. Gaya orator Syari’ati yang memukau memikat audiens, memperkuat isi kuliahnya yang membangkitkan orang untuk berpikir
.
Sejak Juni 1971, Syari’ati meninggalkan jabatan mengajarnya di Universitas Masyhad, lalu dikirim ke Teheran. Ia bekerja keras untuk menjadikan Hosseiniyeh Ershad menjadi sebuah ‘Universitas Islam’ radikal yang modernis. Berbagai peristiwa politik di Iran pada 1971 memainkan peranan penting dalam membentuk dan mengarahkan orientasi serta aktivitas Hosseiniyeh Ersyad yang semakin militan dan akibatnya semakin terkenal di kalangan kaum muda. Namun pada tanggal 19 November 1972 Hosseiniyeh Ersyad ditutup dan Syari’ati di penjara karena berbagai aktivitas politiknya, yang mengecam rezim Syah
.
Pada 16 Mei 1977, Syari’ati meninggalkan Iran. Ia mengganti namanya menjadi ‘Ali Syari’ati. Tentara Syah, Savak akhirnya mengetahui kepergian Ali Syari’ati mereka mengontak agen mereka di luar negeri. Di London Inggeris, pada 19 Juni 1977 jenasah Ali Syari’ati terbujur di lantai tempat ia menginap
.
Kematian yang tragis seorang pejuang Islam yang teguh memperjuangkan keyakinannya. Ia syahid dalam memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Ali Syari’ati telah mengkuti jejak sahabat Nabi dan Imam Ali yang begitu dikagumi dan dijadikan simbol perjuangannya, Abu Dzar Al-Ghifari. 19 Juni tahun 1977, Doktor Ali Syari’ati, seorang cendekiawan Iran kontemporer, gugur di London akibat dibunuh oleh agen rahasia rezim Shah Pahlevi
.
Al-Ummah wa Al-Imamah (Ummah dan Imamah) adalah karya karya lengkap Ali Syari’ati tentang kepemimpinan dalam Islam. Didalamnya dijelaskan secara lengkap konsep imamah sekaligus hubungannya engan ummah. Perspketif yang digunakan adalah perspektif dari ideology Syiah. Walaupun begitu Ali Syari’ati membahasnya sesuai dengan sejarah-sejarah kepemimpinan Islam sejak Rasulullah sampai dengan sahabat
.
B. Pemikiran Ali Syari’ati dalam buku Al-Ummah wa Al-Imamah (Ummah dan Imamah)
1. Tujuan Pemerintahan Islam
Konsep pemerintahan Islam banyak dibahas oleh Ali Syari’ati dalam bukunya ummah dan imamah. Menurutnya tujuan pemerintahan ini ditentukan oleh konsep negara itu sendiri. Ali Syari’ati membedakan konsep siyasah dalam istilah Islam dan konsep politique dalam bahasa Yunani. Berbedaan ini berimplikasi kepada berbedanya pula tujuan yang ingin dicapai oleh negara
.
Siyasah menurutnya adalah suatu filsafat yang mendobrak dan dinamis, dan tujuan negara dalam filsafat politik adalah merombak bangunan, pranata-pranata, dan hubungan–hubungan sosial, bahkan juga akidah, akhlaq, peradaban, tradisi sosial; dan secara umum menegakkan nilai-nilai sosial diatas landasan pesan revolusi dan ideologi revolusioner, serta bertujuan merealisasikan cita-cita dan harapan-harapan yang lebih sempurna, membimbing masyarakat mencapai kemajuan, menciptakan kesempurnaan dan bukan kebahagiaan, yang baik dan bukan pelayanan, pertumbuhan dan bukan kenyamanan, kebaikan dan bukan kekuatan yang hakiki dan superficial, yang kesemua itu bisa dirumuskan dalam satu kalimat pendek “pembangunan masyarakat” dan bukan “administrasi dan pemeliharaan masyarakat
.
Berbeda dengan siyasah, politque yang didasarkan kepada filsafat pemerintahan barat. Politik menurut Ali Syari’ati sama sekali tidak bermaksud membangun melainkan bertopang pada apa yang mungkin dikerjakan dan politik bertujuan untuk mengatur negara tidak atas dasar ideologi revolusioner, tetapi berdasarkan pandangan popular dan mencari perkenan bukan membimbing menuju keutamaan. Politik hanya bertujuan agar masyarakat hidup nyaman dan bukan melakukan perbaikan terhadap masyarakat agar mereka bisa hidup dengan baik
.
Dari dua pengertian ini, lanjut Syari’ati, konsep siyasah lebih unggul daripada konsep politik. Siyasah membangun masyarakat sedangkan politik mengatur negara yang berimplikasi kepada pemasungan aspirasi rakyat, pengendalian kebijaksanaan pemerintah, penindasan alam pikiran dan penyingkapan taqiyyah
.
Untuk itulah tujuan dari pemerintahan Islam adalah sama halnya dengan konsep imamah dalam pengertian Ali Syari’ati. Berkenaan dengan hal ini, ia berkata:
Imamah bukanlah semacam kantor dan pemelihara masyarakat dalam bentuknya yang beku dan kaku. Tanggung jawab paling utama dan penting dari imamah-yakni filsafat politik untuk membentuk imamah dan seperti yang tercakup dalam pengertiannya-adalah perwujudan dari penegakan asas pemerintahan pada kaidah kemajuan, perubahan dan transformasi dalam bentuknya yang paling cepat, dan akan melakukan selerasi dan menggiring ummat menuju kesempurnaan sampai pada lenyapnya ambisi sebagian individu terhadap ketenangan dan kenyamanan
.
Tampaknya yang digaris bawahi oleh Ali Syari’ati adalah adanya perubahan dalam masyarakat yang berwujud kemajuan. Perubahan inilah yang tonggak dari pemerintahan Islam. Ali Syari’ati menghendaki seluruh dari rakyat sebagai individu yang merupakan bagian dari negara tidak sekedar eksis melainkan membetuk diri kepada keadaan yang lebih baik: “…tujuan manusia bukan sekedar eksis, melainkan pembentukan diri. Umat, dengan demikian, tidaklah bebas dari keenakan berdiam ditempatnya, tetapi ia harus lestari dan senantias bergerak cepat”
.
Sebab pada dasarnya manusia memiliki dua karakteristik yaitu suatu transformasi terus menerus menuju tercapainya kesempurnaan-kesempurnaan yang mutlak dan perjalanan tanpa henti untuk menciptakan nilai-nilai yang tertinggi. Dua prinsip diatas, mengandung makna revolosioner yang amat dalam yang membukakan ufuk yang amat luas
.
Sebagai aplikasi dari keinginan-keinginan dari Ali Syari’ati untuk mewujudkan perubahan revolusioner dalam masyarakat Islam. Ia banyak menulis buku yang menggugah semangat juang para kaum muda. Selain itu ia juga mendirikan Husayniyah Irsyad yang kerap melakukan riset diberbagai bidang
.
2. Dasar-Dasar Pemerintahan Islam
a. Keadilan
Dalam pandangan Ali Syari’ati keadilan merupakan fundamen yang sangat penting dalam masyarakat Islam. Hal ini diungkapkan oleh Ali Syari’ati dengan melihat bahwa keadilan termasuk dari infra struktur dari sistem dunia Islam
.
Berkenaan dengan hal ini ia berkata sebagai berikut
:
Keadilan dalam mazhab Syi’ah ialah suatu keyakinan kepada konsep bahwa keadilan adalah sifat intrinsic Allah. Dengan demikian, setiap tindakan manusia-entah benar atau salah-haruslah dinilai oleh-Nya. Karena itu, ‘adl adalah infrastruktur sistem dunia dan pandangan kaum muslimin didasarkan atasnya
.
Konsekwensinya, jika suatu masyarakat tidak dibangun atas landasan ini, maka ia adalah masyarakat yang sakit dan menyimpang, yang dipastikan bakal hancur lantaran, seperti telah disebutkan, Allah bersifat adil dan penciptaan bertumpu diatas keadilan. Oleh sebab itu, sistem-sistem kehidupan haruslah juga didasarkan atasnya dan karena kenyataan ini, maka kediktatoran dan ketidakadilan dalam pemerintahan adalah system-sistem anti-Tuhan yang tidak alamiah, yang mesti ditumbangkan dan dihancurkan
.
Pernyataan ini menilik begitu pentingnya keadilan dalam tatanan sebuah pemerintahan Islam. Keadilan pula ialah suatu tujuan dari gerakan-gerakan revolusi Islam, khususnya revolusi Iran
.
b. Imamah
Imamah dalam pandangan Ali Syari’ati memiliki arti penting sebagai dasar dari pemerintahan Islam. Dalam banyak tulisannya ia menekankan bahwa tegak berdirinya sebuah pemerintah tergantung kepada imam. Sebab dalam ajaran syi’ah ada suatu keyakinan akan adanya imam al-Ashr atau imam sepanjang zaman (imam of the Age) yang akan melakukan revolusi pemikiran dan gerakan
.
Imamah menurutnya adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik guna membimbing manusia serta membangun masyarakat diatas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan dan kemandirian dalam mengambil keputusan
.
3. Kepemimpinan dalam Pemerintahan Islam
     a. Konsep Imamah
Ali Syari’ati memulai konsep imamah dengan terlebih dahulu menerangkan makna ummah. Ia membandingkan istilah Nation, Qaum, Qabilah dan Sya’b dengan ummah. Baginya, keempat istilah itu – dengan pengecualian pada istilah qabilah – sama sekali tidak mengandung arti kemanusiaan yang dinamis. Hanya saja, kelebihan istilah qabilah ditemukan pula pada istilah ummah. Istilah yang terakhir ini masih memiliki kelebihan lain dibandingkan istilah qabilah, yakni ia mempunyai gerakan yang mengarah pada tujuan yang sama. Dalam istilah ummah, gerak yang mengarah ke tujuan bersama itu justru merupakan landasan ideologis
.
Istilah ummah secara terperinci mengandung tiga konsep: kebersamaan dalam arah dan tujuan; gerakan menuju arah dan tujuah tersebut; dan keharusan adanya pimpinan dan petunjuk kolektif. Dari kajian filologi ini, Syari’ati memandang bahwa sesungguhnya tidak mungkin ada ummah tanpa imamah. Apa karakteristik imamah itu? Sebagaimana istilah ummah, istilah imamah menampakkan diri dalam bentuk sikap sempurna, di mana seseorang dipilih sebagai kekuatan penstabilan dan pendinamisan massa. Yang pertama berarti menguasai massa sehingga berada dalam stabilitas dan ketenangan, dan kemudian melindungi mereka dari ancaman, penyakit, dan bahaya. Yang terakhir berkenaan dengan asas kemajuan dan perubahan ideologis, sosial dan keyakinan, serta menggiring massa dan pemikiran mereka menuju bentuk ideal
.
Syari’ati memandang umat dan imam dalam kondisi yang dinamis, yang selalu bergerak ke arah perubahan demi tujuan bersama. Ia memandang bahwa tanggung jawab paling utama dan penting dari Imamah adalah perwujuan dari penegakan asas pemerintahan pada kaidah kemajuan, perubahan dan transformasi dalam bentuknya yang paling cepat, lalu melakukan akselerasi, dan menggiring umat menuju kesempurnaan sampai pada lenyapnya ambisi sebagian individu terhadap ketenangan dan kenyamanan
.
Dalam kalimat lain namun senada ia menulis:
Imamah dalam mazhab pemikiran Syi’ah adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan kemandirian dalam mengambil keputusan
.
Tugas imam, di mata Syari’ati, tidak hanya terbatas memimpin manusia dalam salah satu aspek politik, kemasyarakatan, dan perekonomian, juga tidak terbatas pada masa-masa tertentu dalam kedudukannya sebagai panglima, amir atau khalifah, tetapi tugasnya adalah menyampaikan kepada umat manusia dalam semua aspek kemanusiaan yang bermacam-macam. Seorang Imam dalam arti seperti ini, tidak terbatas hanya pada masa hidupnya, tetapi selalu hadir di setiap saat dan hidup selamanya. Walaupun demikian, Syari’ati mengingatkan bahwa imam bukanlah supra-manusia tetapi manusia bisa yang memiliki banyak kelebihan di atas manusia lain atau manusia super
.
Selain itu, Syari’ati mulai menyinggung peristiwa Saqifah. Menurutnya, dengan mengabaikan polemik nass-wasiyyat, di satu sisi, dan bay’at al-syura, di sisi lain, dalam peristiwa Saqifah hanya ada lima suara: dua suara dari kabilah Aus dan Khazraj, tiga suara dari Muhajirin, yakni Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Itu pun dengan catatan apabila pemimpin kabilah Aus, Sa’id bin Mu’adz, sudah tidak ada lagi, maka otomatis Sa’ad bin Ubaidah, pemimpin Khazraj, menjadi pemimpin tunggal orang Madinah menghadapi kelompok Mekah – yang terakhir ini disebut Syari’ati telah memiliki kesadaran politik tinggi, sebagamana terbukti pada akhirnya, di mana mereka (kelompok Mekah) tahu betul apa yang sedang mereka hadapi, dan bagaimana pula seharusnya bertindak.Syari’ati bermaksud mengatakan bahwa aspirasi dan kebutuhan penduduk Madinah hanya ditemukan oleh lima suara, yang berarti mengabaikan ratusan suara lainnya, dalam peristiwa Saqifah
.
Bagi Syari’ati, sesungguhnya prinsip bay’at al-syura dan nass-wasiyyat tidaklah bertentangan sama sekali dan tidak pula ada di antara keduanya yang merupakan bid’ah dan tidak Islami. Baik bay’a, musyawarah, maupun ijma’ (demokrasi) adalah salah satu kaidah Islamiyah yang diajarkan oleh Al-Quran. Ali Syari’ati menegaskan sebagai berikut: tidak ada seorang pun yang dapat mengingkari adanya wasiat Rasulullah kepada Ali  Umat harus melaksanakan wasiat ini dan menyerahkan persoalan mereka kepada washi (orang yang diberi wasiat), dan kalau itu tidak mereka lakukan, mereka akan tersesat
.
Dalam pandangan Syari’ati, wasiyyat itu berfungsi sepanjang beberapa generasi, hingga kelak tiba pada masanya masyarakat dapat berdiri sendiri di atas kaki mereka, lalu memulai- setelah berakhirnya imamah atau tahap wasiat – tahapan pembinaan revolusioner tertentu, suatu tahap bay’a, musyawarah, dan ijma’ atau apa yang disebut Syi’ah atau para wasiyyat Al-Rasulullah berjumlah dua belas imam, tidak lebih. Sementara jumlah pemimpin masyarakat (politik) sesudah wafat Nabi hingga akhir sejarah, jumlahnya tidak terbatas
.
Pada masa-masa awal wasiyyat digunakan dalam proses suksesi. Selanjutnya, menurut Syari’ati, setelah pada tahun 250 H (tahun gaibnya Imam ke-dua belas) baru berlaku prinsip syura. Kalau ini berjalan mulus maka pada 250 H kita telah mempunyai masyarakat yang sempurna bentuknya, dan memiliki kelayakan yang membuatnya patut memilih pemimpin mereka yang paling baik melalui asas musyawarah, yang kemudian menduduki kursi kepemimpinan, dan menggerakkan sejarah sesuai dengan jalur yang telah digariskan oleh risalah Muhammad Saw
.
Masa sepeninggal Nabi sampai 250 H adalah masa revolusi yang tidak membutuhkan demokrasi. Sayangnya, menurut Syari’ati, sesuatu yang tidak terduga telah muncul di Saqifah, bani Sa’idah dan menyeret perjalanan sejarah Islam ke arah lain. Syari’ati pun berandai-andai, kalau seandainya peristiwa Saqifah itu terjadi pada 250 H dan tidak pada tahun 11 H, niscaya sejarah akan lain bentuknya. Sebab, meminjam istilah Chandle, demokrasi – bagi masyarakat belum maju – merupakan musuh demokrasi itu sendiri.’
.
b. Pemilihan Pemimpin
Akar awal Ali Syari’ati dalam tulisannya menggambarkan beberapa sistem pemilihan pemimpin yang dikenal pada masa sekarang hingga akhirnya ia menawarkan satu konsep tentang pemilihan imam. Diantara mekanisme pemilihan tersebu adalah
:
Pertama, kudeta (Coup d’Etat), istilah Coup berarti pukulan atau serangan dan etat adalah pemerintah. Dengan demikian coup etat berarti gerakan yang secara mendadak dilakukan dalam bentuk pemberontakan guna menumbangkan pemerintahan yang berkuasa. Kemudian pemberontak itu menjadi penguasa baru yang menggantikan penguasa lama yang ditumbangkannya
.
Kedua, intervensi dan hegemoni. Istilah ini dalam pandangan Syari’ati adalah dominasi atas nasib bangsa melalui serangan yang dilancarkan oleh kekuatan asing yang kemudian menaklukkan negeri tersebut.Ketiga, pewarisan, bentuk ini paling banyak digunakan dalam sejarah pemilihan. Bagi kaidah pewarisan terdapat kebenaran yang bersifat sosio filosofis. Keempat, revolusi, yang dimaksud disini adalah revolusi dalam pengertian politik bukan dalam pengertian sosial, perhatian ditujukan untuk terciptanya perubahan struktur sosial, yang secara politis dimaksudkan sebagai perubahan insitusi politik dan sistem pemerintahan, dan gerakan ini dilakukan oleh mayoritas rakyat
.
Selain hal tersebut Syari’ati menyajikan pula bentuk pemilihan pencalonan akan tetapi Syari’ati mempertanyakan apakah pencalonan ini atau pemilihan dengan system lain adalah cara yang paling baik
.
Sekarang kita bertanya, ”mungkinkah unsur-unsur yang lahir , tumbuh, dan memberi petunjuk dalam bentuk seperti ini-dapat direalisasikan melalui pemberian jabatan, pemilihan umum, pewarisan atau pencalonan? Pertanyaan lain yang muncul, ’apakah imam dipilih melalui pengangkatan atau pemilihan ataukah berdasarkan penunjukan Nabi Muhammad SAW, atau imam sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab oleh Syari’ati dengan negatif. Menurutnya dalam ajaran syiah, imam dipilih tidak dengan cara diatas melainkan dengan membuktikan kapabelitas seseorang sebagai pemimpin. Imam bukan dipilih oleh orang diluar dirinya akan tetapi ia muncul dari dalam dirinya sendiri. Ia berkata:
Imam adalah suatu hak yang bersifat esensial yang muncul dari diri seseorang
.
Sumbernya adalah diri imam itu sendiri, dan bukan dari faktor eksternal, semisal pengangkatan atau pemilihan. Pertama-tama ia adalah imam sebagai posisi puncak dan manusia paling terpilih lantaran ia memiliki aspek-aspek dan kelebihan-kelebihan seperti yang disebutkan terdahulu. Dia adalah seorang imam, tak perduli apakah ia muncul dari penjara Al-Mutawakkil maupun dari mimbar Rasul, baik didukung oleh seluruh umat atau hanya diketahui keaguangnnya oleh tujuh atau delapan kelompok saja
.
Dalam alinea lain, ia menjelaskan bahwa imam adalah suatu hak yang bersifat esensial yang muncul dari diri seseorang. Sumbernya adalah dari diri imam itu sendiri, dan bukan dari faktor eksternal, semisal pengangkatan atau pemilihan. Syari’ati menyimpulkan
:
Imamah tidak diperoleh melalui pemilihan, melainkan melalui pembuktian kemampuan seseorang. Artinya, masyarakat – yang merupakan sumber kedaulatan dalam sistem demokrasi – tidak terikat dengan imam melalui ikatan pemerintahan, tetapi berdasarkan ikatan orang banyak dengan kenyataan yang ada (pada imam tadi). Mereka bukan menunjuknya sebagai imam, tetapi mengakui kelayakannya (sebagai seorang imam)
.
Jika logika Syari’ati di atas diteruskan, maka persoalannya apakah ada pemisahan lapangan kerja antara imam (yang diakui) dengan khalifah (yang dipilih)?
Syari’ati menolak pandangan ini karena akan bermuara kepada pemisahan antara agama dan negara. Kendati demikian, itu selalu identik dengan imamah. Baginya, Imamah terbatas hanya kepada pribadi-pribadi tertentu sebagaimana halnya dengann nubuwah, sedangkan pemerintahan tidak terbatas pada masa, sistem dan orang-orang tertentu. Satu-satunya garis pemisah yang ditegaskan Syari’ati adalah
:
Pemerintahan (khilafah) itu merupakan tanggung jawab yang tidak terbatas dalam sejarah, sedangkan imamah terbatas, baik dalam masa maupun orangnya. Dengan mengabaian perbedaan tadi, imamah dan khilafah sebenarnya merupakan tanggung jawab yang satu, untuk mencapai satu tujua dengan satu keterbatasan, seperti telah dikemukakan di atas, di mana seorang penguasa tidak selamanya seorang imam
.
Dalam hubungannya dengan peristiwa Saqifah, ada dua persoalan besar dari alur logika Syari’ati di atas. Pertama, bagaimana hubungan imam dengan khalifah yang ada pada masa yang sama? Kedua, apakah imam tersebut harus dipilih oleh Allah atau Nabi sebagai pilihan yang harus pula diterima oleh umat manusia, kemudian diangkat sebagai imam untuk memimpin mereka dalam bidang politik, ataukah ia dipilih oleh manusia sendiri melalui musyawarah dan pemilihan umum?
.
Dalam pandangan Syari’ati hubungan khalifah dengan imam yang ada pada satu masa merupakan bentuk hubungan seorang pemimpin spiritual, politik dan sosial dengan penguasa, sebagaimana halnya yang ada pada hubungan antara Gandhi dengan Nehru. Bentuk seperti ini, di mata Syari’ati, adalah bentuk yang wajar, dan pemisahan antara kedua tugas tersebut dapat memberi jaminan bagi tetap terpeliharanya keagungan dan kehormatan imam
.
Sepintas memang jawaban Syari’ati bertentangan dengan tidak setujunya ia pada pemisahan kerja khilafah dan imamah, yang menurutnya akan bermuara pada pemisahan antara politik dan agama. Dapat dijelaskan bahwa bagi Syari’ati, pemisahan antara urusan politik atau negara dan agama bukan produk Islam, tetapi produk sejarah Islam yang terpengaruh nilai-nilai nasrani. Pada mulanya, seorang pemimpin mengurusi masalah politik dan agama sekaligus. Ia bagaikan Nabi Muhammad yang memimpin perang tetapi juga menjadi imam sholat
.
Sejarah Islam kemudian mencatat terjadinya pergeseran yang memisahkan antara khilafah dan imamah dalam bentuk aplikatif. Dan ini tidak disetujui oleh Syari’ati.Ini dipersulit dengan terjadinya pemisahan keduanya dalam ruang dan waktu yang berbeda. Terjadi pula pereduksian peranan imamah dan khilafah dalam sejarah Islam, lalu masing-masing ditempatkan dalam medan yang sempit
.
Adapun yang dimaksud Syari’ati dengan pemisahan khilafah dan Imamah (atribut/sifat) di atas adalah pada tataran realitas. Ada imam yang diakui oleh sekelompok orang, lalu kelompok yang lain memilih orang lain untuk menjadi khilafah. Di sini perlu diingatkan bahwa, bagi Syari’ati, imamah bukanlah jabatan tetapi atribut (sifat). Penunjukan atas orang lain sebagai khilafah di saat adanya imam, dapat disejajarkan dengan penerimaan terhadap seorang Nabi sebagai seorang Rasul – seperti yang diberlakukan pada Yesus – dan menunjuk orang lain pada jabatan pemerintahan bagi bangsa Arab atau kaum muslim Emperor Islam, sebagaimana halnya dengan Kaisar
.
Bagi Syari’ati, dalam ajaran Islam tidak dikenal pemisahan urusan negara atau politik dengan agama. Jika terjadi pada satu masa adanya imam dan adanya Khalifah maka hubungan yang terjadi adalah bagaikan hubungan Nehru dan Gandhi. Imam meski diam di rumah tidak berarti ke-imam-annya hilang, karena imam adalah atribut (sifat); tanpa melewati pemilihan. Dengan demikian, tanggung jawab dan tugas seorang imam – meski tidak dipilih sebagai khalifah – tetaplah ada
.
Berbeda dengan konsep sekular yang betul-betul menghendaki pemisahan antara negara dan agama; dalam konsep Syari’ati, kalau pun harus terjadi – adanya imam dan khalifah dalam satu masa – maka yang ada adalah adanya pemimpin politik dan pemimpin spiritual. Apabila kemudian imam terpilih sebagai khalifah (melalui pemilihan), seperti yang terjadi pada Imam Ali dan Imam Hasan, maka bukanlah hal yang tabu bersatunya pemimpin politik dan pemimpin spiritual dalam diri satu pemimpin. Ini yang tidak mungkin terjadi dalam konsep sekular karena pemimpin spiritual bukanlah sebuah sifat tetapi sebuah jabatan tersendiri
.
Berangkat dari tesis bahwa imam adalah sifat (atribut), ketika yang bukan imam menjadi khalifah maka bukannya hak imam yang terampas; tetapi yang terampas adalah hak umat manusia. Seorang imam tetap menjadi imam meskipun ia tidak menjalankan kekuasaan duniawi. Yang terampas haknya (dari memperoleh manfaat atas kehadiran imam) adalah makmum. Adalah hak umat untuk mendapat bimbingan dari imam dan bila ada “rekayasa” maka yang paling merugi adalah umat; karena umatlah yang terampas haknya
.
Persoalan kedua sesungguhnya bermuara pada dua prinsip; pengangkatan dari Tuhan dan ijma’ umat Islam. Sejarah telah menjelaskan bahwa Syi’ah cenderung pada prinsip pertama dan Sunni cenderung pada prinsip kedua. Syari’ati menyerang prinsip kedua yang oleh Sunni dianggap telah menjadi unsur penting pada peristiwa Saqifah. Syari’ati sempat “terbang” ke Konferensi Asia Afrika di Bandung, menyebut Jenderal De Gaul dari Maroko, mengutip Profesor Chandle yang mengatakan, “musuh demokrasi dan kebebasan yang paling besar adalah demokrasi, liberalisme, dan kebebasan individu itu sendiri”, menyerang dunia Barat atas kecurangan mereka dalam memperkenalkan demokrasi, menyerang Robert Kennedy, revolusi kebudayaan di Cina dan revolusi Perancis. Syari’ati menyebut semua itu untuk menyerang demokrasi dan pemilihan pemimpin dengan suara terbanyak
.
c. Hubungan Imamah dengan Ummah
Ali Syari’ati tidak secara jelas menyiratkan hubungan antara ima>mah dengan ummah. Ia hanya menyatakan bahwa ummat membutuhkan sebuah teladan yang menjadi uswah, karena dalam pandangannya panutan itu akan mendidik manusia menuju jalan perubahan. Ia berkata sebagai berikut
:
Jadi, teladan yang ideal dan sempurna bagi manusia, jelas merupakan sesuatu yang amat penting, agar manusia dapat menempuh perjalanan menuju kesempurnaan dan mencapai tingkat tertinggi, serta mewarnai kepribadian mereka dengan kesempurnaan itu. Hal semacam ini adalah sesuatu yang wajar-wajar saja, seperti yang dikatakan ayah saya, bahwa para panutan kita, yang berkewajiban mendidik dan mewarnai moral kita melalui petunjuk berupa prilaku dan kelebihan-kelebihan mereka, tak bias tidak adalah manusia seperti kita juga
.
Dan yang menjadi uswah tak lain adalah para imam, berhubungan dengan ini ia juga berkata:
Pada saat yang sama, ketika pengaruh imam yang spritual dan padagogik terhadap kalbu dan peranan spritualnya dalam membimbing umat manusia dapat disamakan dengan peran yang dimainkan oleh para hero dalam sejarah dan mitologi serta personifikasi keagungan nilai-nilai kemanusian, maka perwujudan dan hakikat imam tidak mungkin dapat dimasukkan dalam kategori para hero. Sebab imam bukanlah tokoh mitologi dan bukan pula pahlawan dalam sejarah, tetapi merupakan ungkapan seorang manusia yang wajar sebagaimana manusia yang lain. Bedanya, dalam diri imam tersebut terdapat perwujudan-perwujudan dan teladan-teladan dalam karakter semua jenis manusia yang dianggap paling sempurna
.
Dari penjelasan tersebut, imam dalam pandangan Ali Syari’ati adalah manusia yang hebat dan patut untuk diteladani. Bahkan Ali Syari’ati menyamakannya dengan pahlawan.
Pandangan ini merupakan karakteristik dari pemikiran-pemikiran Ali Syari’ati sekaligus khas pemikiran syiah. Sebagaiman dijelaskan di awal bahwa Ali Syari’ati sangat mengistimewakan kedudukan imam. Imam bukanlah posisi yang dipilih oleh rakyat akan tetapi ditentukan oleh kemampuan dirinya sendiri. Dengan demikian hubungan antara imam dengan ummah dalam pemikiran Ali Syari’ati adalah bahwa ummah seharusnya meneladani imam dan seorang imam harus bisa membawa ummah kepada perubahan yang lebih baik.

Aliran Sesat termasuk Aliran yang memisahkan agama dan politik

Khatib Jum’at Teheran:
Sanksi dan Tekanan Musuh Gagal Lumpuhkan Iran
“Pihak musuh berusaha keras untuk memisahkan antara agama dan politik dan antara agama dengan kehidupan realitas rakyat. Jika rakyat terpisah dari agama, maka pada saat itu juga, adalah hari kekalahan revolusi dan rakyat.”
 

 
 Sanksi dan Tekanan Musuh Gagal Lumpuhkan IranHujjatul Islam wa Muslimin Kazem Seddiqi, dalam khutbah Jum’atnya (29/3) di Teheran Ibu Kota Republik Islam Iran menyampaikan belasungkawanya menyambut masuknya hari peringatan kesyahidan Sayyidah Fatimah as dan menyampaikan beberapa hal yang telah menjadi keutamaan agung putri kesayangan Rasulullah Saw tersebut diawal-awal khutbahnya. Beliau mengatakan, “Kita mengawali tahun baru ini dengan shalawat kepada Sayyidah Fatimah as, dan pada dasarnya kita semua telah menjadi tamu beliau.”

Ulama yang didaulat menjadi khatib Jum’at tersebut kemudian menyebutkan harapan besarnya bahwa tahun baru Persia kali ini menjadi tahun keberhasilan, kemudahan, kemenangan dan tahun yang penuh dengan cahaya keimanan. Menukil pernyataan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamanei yang menamakan tahun 1392 HS sebagai tahun epik politik  dan ekonomi, khatib Jum’at Teheran tersebut berkata, “Musuh pada tahun 1391 HS dan sepanjang 34 tahun semenjak kemenangan Revolusi Islam Iran telah menggencarkan berbagai tekanan dan konspirasi terhadap bangsa Iran, bahkan termasuk dengan agresi militer. Tujuan utamanya adalah menghancurkan sistem politik Iran.”

“Kemenangan revolusi rakyat Iran bukan diraih melalui kudeta ataupun campur tangan dan bantuan pihak asing. Namun melalui petunjuk dan bimbingan seorang ulama marja taklid yang kemudian rakyat memberikan dukungan dan ketaatan sepenuhnya padanya. Negara ini adalah Negara fukaha, Negara yang rakyatnya taat dan patuh pada hukum dan syariat, dan rakyat yang bertekad menyatukan diri di bawah satu bendera revolusi agamis. Karenanya rakyat agamis Iran akan selalu memberikan pembelaan dan dukungannya terhadap sistem wilayatul faqih dan nilai-nilai revolusi dan tegar bersama dengan sistem wilayah tersebut.” Lanjutnya.

Hujjatul Islam wa Muslimin Kazem Shadiqi  dalam lanjutan khutbahnya menegaskan, “Pihak musuh berusaha keras untuk memisahkan antara agama dan politik dan antara agama dengan kehidupan realitas rakyat. Jika rakyat terpisah dari agama, maka pada saat itu juga, adalah hari kekalahan revolusi dan rakyat.”

Beliau kemudian menyebutkan diantara upaya pihak musuh untuk menekan dan mengalahkan Iran adalah dengan memberlakukan embargo ekonomi. Beliau berkata, “Beberapa tahun belakangan ini, pihak musuh menetapkan embargo ekonomi terhadap Iran, namun pada kenyataannya, embargo tersebut gagal dan tidak sesuai dengan hasil yang mereka harapkan. Mereka berkhayal bahwa dengan adanya embargo tersebut rakyat akan mengalami kesulitan hidup dan akhirnya melepaskan kesetiaan terhadap revolusi, sementara rakyat Iran pada 22 Bahman 1391 HS (hari peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran 11 Februari), begitu juga pada kunjungan Rahbar ke kota Masyhad, menunjukkan kesetiaannya kepada Wilayatul Faqih dan revolusi Islam. Rakyat Iran memperlihatkan kepada pihak musuh, bahwa semakin besar tekanan dan permusuhan yang mereka dapatkan, maka iman rakyat Iran semakin besar dan kuat pula.”

Karenanya dengan kenyataan tersebut, Khatib shalat Jumat Tehran, Hujjatul Islam Kazem Seddiqi menilai sanksi sepihak Barat terhadap Iran yang bertujuan untuk membenturkan antara rakyat dan pemerintah,  telah gagal dan menyebutnya akan selalu gagal. Beliau kemudian menyebutkan tujuan lain dari adanya sanksi berupa embargo ekonomi tersebut adalah mencegah kemajuan Iran.

“Mereka telah menyaksikan sendiri, Iran dalam berbagai bidang ilmu dan tekhnologi telah mengalami kemajuan pesat, dibidang tekhnologi nano, medis, nuklir dan bidang lainnya. Mereka berpikir dengan segala sanksi dan tekanan yang mereka berlakukan atas Iran mampu mencegah segala kemajuan itu. Namun apa yang mereka harapkan itu tidak kesampaian, bahkan pada tahun 1391 HS kita telah menjadi saksi atas kemajuan yang dicapai Iran dalam berbagai bidang ilmu dan tekhnologi. Bahkan Iran telah berhasil melakukan peluncuran roket dan satelit ke luar angkasa, mengirim makhluk hidup ke luar angkasa, memproduksi jet tempur canggih, yang semua itu membuktikan bahwa sanksi tidak akan melumpuhkan bangsa Iran.”

Hujjatul Islam Seddiqi kemudian menambahkan, sanksi juga menargetkan pemilu presiden mendatang Iran, namun rakyat Iran akan menjawab konspirasi itu dengan partisipasi luas mereka dalam pemilu.

Di bagian lain khutbahnya, Hujjatul Islam Seddiqi menyinggung tentang kondisi keamanan di dalam negeri dan mengatakan, pemilu presiden akan digelar dalam kondisi yang tenang dan bebas dari gangguan. Beliau menyerukan dan mengharapkan partisipasi luas rakyat Iran dalam pemilu presiden mendatang dan menyebut partisipasi dalam pemilu adalah bukti dari kesetiaan terhadap Rahbar, para syuhada dan menunjukkan perlawanan terhadap musuh untuk menggagalkan segala bentuk konspirasi mereka.

Khatib Jum’at Teheran tersebut turut menyinggung mengenai para kandidat yang akan maju mencalonkan diri sebagai presiden periode mendatang. “Kita berharap niat para kandidat yang akan maju dalam pencalonan presiden adalah mendapatkan keridhaan Allah SWT. Kita bisa menilai, apakah keinginannya menjadi presiden karena haus kekuasaan atau karena cinta pada perkhidmatan. Jika kandidat yang maju cinta pada perkhidmatan dan pelayanan maka kita menyambutnya dengan suka cita, namun jika niatnya karena haus pada kekuasaan, semoga Allah menggagalkan ambisinya.”

Pada bagian akhir khutbahnya, Hujjatul Islam Seddiqi memesankan kepada masyarakat muslim Iran untuk tetap senantiasa menghidupkan masjid. “Imam masjid hubungannya dengan jama’ahnya disebuah masjid ibarat hubungan seorang ayah terhadap anak disebuah keluarga. Imam masjid harus mampu menarik hati para kaum muda untuk mempertautkan jiwanya pada masjid. Dimana di masjid itu Al-Qur’an dibaca dan dikaji, Nahjul Balaghah disampaikan, dan pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan kaum muda diselesaikan dan dicarikan solusinya. Baik dalam hal akhlak, aqidah maupun masalah ahkam atau fiqh. Masjid harus mampu menjawab semua kebutuhan maknawi dan spritual jama’ahnya. Dan yang memikul tanggungjawab besar ini adalah para pelajar agama, ulama dan para pengurus masjid.”

“Hidupkanlah masjid itu. Karena masjid adalah benteng penjaga kemurnian aturan-aturan agama. Masjid adalah tempat untuk meraih segala kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tidak ada hari libur bagi masjid, sebab masjid adalah darussyifa’, darul qur’an dan darul tafsir.” tegasnya.

Fenomena pertama politik dan insani Islam adalah terbentuknya umat Islam yang lahir di Madinatun Nabi

Fenomena pertama politik dan insani Islam adalah terbentuknya umat Islam yang lahir di Madinatun Nabi (Kota Nabi Saw), dan secara mencengangkan dan bak legenda umat ini maju dan berkembang dengan cepat dari sisi kuantitas dan kwalitas.

Komunitas Islam ini memiliki kebudayaan yang kaya dengan khazanah warisannya yang cemerlang dan kemajuan yang jarang ada padanannya. Meski nampak beragam namun warisan budaya ini menyiratkan sebuah kesatuan dan keserasian yang mengagumkan. Semua itu berkat pengaruh Islam serta tauhid khas dan murni yang ada di seluruh bagiannya. Komunitas ini secara geografis menempati salah satu kawasan dunia yang terkaya -jika tidak kita katakan kawasan paling kaya- akan sumber alam.

Kini para elit politik dan pemikiran di dunia Islam mengemban tugas yang berat. Para cendekiawan Muslim harus menyampaikan pesan kebebasan Islam selantang dan sejelas mungkin kepada semua orang. Jatidiri keIslaman bangsa-bangsa Muslim harus dijelaskan dengan baik. Dalam hal ini ada dua unsur penting yang harus diperhatikan;

Pertama, dijelaskan bahwa pemikiran dan identitas keIslaman di dunia telah semakin kuat, terhormat dan aktif. Dan Islam telah menjelma sebagai salah satu fenomena paling menonjol di dunia.

Kedua, kekuatan adidaya dunia telah semakin terbuka dan frontal dalam memusuhi Islam dan kepentingan Islam. Secara pasti, salah satu fase utama bagi musuh-musuh saat ini adalah fase permusuhan terhadap Islam dan aksi melawan perkembangan pergerakan Islam yang kian marak.

Musuh yang licik, adalah pemegang kendali utama pusat-pusat imperialisme. Mereka menganggap kebangkitan Islam sebagai ancaman bagi kepentingan ilegal dan agenda hegemoninya yang zalim atas dunia Islam. Seluruh bangsa Muslim, khususnya kalangan politikus, ulama, cendekiawan dan pemimpin bangsa di negara-negara Islam harus memperkuat barisan persatuan Islam dalam menghadapi musuh agresor. Hendaknya mereka mengerahkan segenap daya untuk menjadikan umat ini kuat.

Tentunya, sebuah komunitas manusia selalu rawan menghadapi serangan dari dua arah; pertama dari dalam diri sendiri akibat dari kelemahan manusia dan keragu-raguan, menyukai hal-hal yang asing, lupa kepada Allah, terkekang di tengah godaan duniawi, tidak jeli dalam menghadapi gerak langkah musuh yang berusaha memukul Islam dan muslimin, perselisihan internal yang berbau partisan dan mazhab yang biasanya melibatkan ulama-ulama bejat (suu’) dan lantas disebarluaskan dan diperkuat oleh penulis-penulis bayaran, dan masih banyak lagi penyakit mematikan yang sepanjang sejarah Islam selalu mengancam umat Islam akibat berkuasanya orang-orang yang tak layak dan tidak mengenal Allah atas kehidupan politik dan nasib umat. Dalam beberapa abad terakhir, kondisi ini semakin mengkhawatirkan setelah masuknya kekuatan imperialis ke tengah kawasan yang dilanjutkan dengan jatuhnya kekuasaan negara-negara di kawasan ke tangan boneka-boneka imperialis yang bejat dan mabuk oleh gemerlap dunia.

Kedua, serangan dari musuh luar yang terjadi dalam bentuk agresi, permusuhan, penyebaran kebejatan oleh mereka di negara-negara Islam, serangan budaya Barat ke dalam lingkungan kehidupan masyarakat Muslim, intimidasi militer, politik dan ekonomi terhadap bangsa-bangsa Muslim, pembantaian yang mereka lakukan di Lebanon, Palestina, Irak, Afganistan dan negara-negara Muslim lainnya. Semua itu menunjukkan adanya ancaman serius terhadap dunia Islam. Lingkungan Islam, baik dalam bentuk individu maupun sebagai bangsa, selalu berada dalam ancaman yang datang dari dua arah ini. Dan kini ancaman itu semakin besar.

Akan tetapi masalah paling krusial saat ini adalah masalah Palestina, yang sejak lebih dari setengah abad lalu selalu menjadi masalah terpenting di dunia Islam, bahkan masalah terpenting bagi umat manusia. Di sini, pembahasannya dalah tentang petaka dan ketertindasan sebuah bangsa dan perampasan sebuah negeri. Dengan demikian, saat ini rezim zionis yang perampas, adalah bahaya terbesar yang mengancam masa kini dan masa depan dunia Islam. Tentunya kita tidak ragu bahwa dalam waktu dekat, kemenangan besar bakal diraih bangsa Palestina berkat perjuangan dan pengorbanannya serta kesadaran dunia Islam. Mereka akan mendapatkan kembali hak-hak yang terampas. Akan tetapi tekad dan kehendak bangsa-bangsa dan negara-negara Islam akan mempercepat proses ini dan mengurangi derita bangsa Palestina.

khalifah Quraisy itu ada 12 menurut riwayat yang mutawatir yang mencapai 20 jalan !

Para Pengikut  Syi’ah  Imamiyah  Meyakini Bahwa Imam  Ali  Yang Berhak Menggantikan Kedudukan Rasulullah SAW Setelah Ia Wafat. Keyakinan Ini Menjadi Semakin Mantap Setelah Peristiwa “Kertas Dan Pena” Yang Terjadi Beberapa Hari Sebelum Nabi Meninggal Dunia.

Akan Tetapi, Kenyataan Bericara Lain.. Ketika Ahlul Bayt A.S. Dan Para Pengikut Setia Mereka Sedang Sibuk Mengurusi Jenazah Rasulullah SAW Untuk Dikebumikan

Dengan Cara Dan Metode Keji, Para Dalang “Permainan” Ini Menentukan Abu Bakar Sebagai Khalifah Pertama Muslimin ( bid’ah dhalalah ).. Mereka hanya berkata: “Kemaslahatan muslimin menuntut demikian”

Protes minoritas inilah yang menyebabkan mereka memisahkan diri dari mayoritas masyarakat yang mendominasi arena politik kala itu.

Kesulitan Ahlus Sunnah Tidak Akan Terpecahkan Dengan Kedua Hadis Ini

Jika seandainya kita membiarkan semua itu dan menerima kesahihan hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin ..” dan hadis “.. Kitab Allah dan sunahku.. ” dengan tanpa membantah, maka yang demikian itu tidak akan bisa menyelamatkan Ahlus Sunnah dan tidak akan bisa memecahkan masalah berat yang dihadapinya.

Bahkan justru segenap jalan dan kecendrungan akan mendukung dan memperkuat mazhab Ahlul Bait as (Syi’ah). Yang demikian itu dikarenakan hadis pertama yang ber-bunyi, “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin al-mahdiyyin sepeninggal.

Para Khalifah Itu Adalah Para Imam Ahlul Bait

Sesungguhnya kata “khulafa” di dalam hadis ini tidaklah dikhususkan untuk satu golongan tertentu, dan penafskan kalangan Ahlus Sunnah bahwa para khalifah itu adalah para khalifah yang empat adalah sebuah pentakwilan yang tanpa dalil.

Karena pernyataan (proposisi) yang dikemukakan lebih luas dari klaim, dan bahkan bukti-bukti mengatakan sebaliknya. Yaitu bahwa yang dimaksud dengan para khalifah rasyidin ialah para Imam dua belas dari Ahlul Bait as. Disebabkan dalil-dalil dan riwayat-riwayat yang pasti yang menetapkan bahwa para khalifah rasyidin sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah.

Al-Qanduzi al-Hanafi telah meriwayatkan di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah, “Yahya bin Hasan telah menyebutkan di dalam kitab al-‘Umdah melalui dua puluh jalan bahwa para khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah, dan seluruhnya dari bangsa Quraisy. Dan begitu juga di dalam Sahih Bukhari melalui tiga jalan, di dalam Sahih Muslim melalui sembilan jalan, di dalam Sunan Abu Dawud melalui tigajalan, di dalam Sunan Turmudzi melalui satu jalan, dan di dalam al-Hamidi melalui tiga jalan.

Di dalam Sahih Bukhari berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku dua belas orang amir’, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang saya tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakannya kepada ayah saya, ‘Apa yang telah dikatakannya?’ Ayah saya men-jawab, ‘Semuanya dari bangsa Quraisy.'”

Adapun di dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samrah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang telah Anda dengar dari Rasulullah saw.’ Lalu Ibnu Samrah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jumat sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya dua belas orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Quraisy.”

Setelah ini tidak ada lagi orang yang bisa berhujjah dengan hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin..” dengan menerapkannya kepada para khalifah yang empat. Dikarenakan riwayat-riwayat yang mutawatir yang mencapai dua puluh jalan, yang kesemuanya dengan jelas mengatakan khalifah itu ada dua belas orang; dan kita tidak akan menemukan penafsiran bagi riwayat-riwayat ini pada dunia nyata kecuali pada para Imam mazhab Ahlul Bait yang dua belas.

Dengan demikian, Syi’ah adalah satu-satunya kelompok yang merupakan personifikasi dari makna hadis-hadis ini, dikarenakan penerimaan mereka kepada kepemimpinan Imam Ali as, kemudian Imam Hasan dan Imam Husain, dan setelah itu sembilan orang Imam dari keturunan Imam Husain, sehingga jumlah mereka seluruhnya berjumlah dua belas orang Imam.

Meskipun kata “Quraisy” yang terdapat di dalam riwayat-riwayat ini bersifat mutlak dan tidak dibatasi, namun dengan riwayat-riwayat dan petunjuk-petunjuk yang lain menjadi jelas bahwa yang dimaksud adalah Ahlul Bait. Dan itu disebabkan adanya banyak riwayat yang menunjukkan kepada kepemimpinan Ahlul Bait. Insya Allah, kita akan memaparkan sebagiannya pada pembahasan-pembahasan yang akan datang.

Pada kesempatan ini saya cukupkan Anda dengan riwayat yang berbunyi, “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku.”

Agama ini akan tetap tegak berdiri dengan kepemimpinan dua belas orang khalifah, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh riwayat-riwayat sebelumnya. Pada saat yang sama terdapat riwayat-riwayat yang menekankan keseiringan Ahlul Bait dengan Kitab Allah. Ini merupakan sebaik-baiknya dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “dua belas orang khalifah” itu adalah para Imam dari kalangan Ahlul Bait.

Adapun ungkapan “semuanya berasal dari Quraisy” itu tidak lain merupakan pemalsuan di dalam hadis. Ungkapan ini mereka letakkan supaya petunjuk yang jelas akan wajibnya mengikuti Ahlul Bait menjadi kabur. Karena sesungguhnya ungkapan yang benar ialah “semuanya berasal dari Bani Hasyim”, namun tangan-tangan jahat senantiasa mencari keutamaan-keutamaan Ahlul Bait, untuk kemudian mereka sembunyikan semampu mereka, atau mengganti dan merubah sesuatu dari mereka yang dapat diselewengkan

Riwayat ini merupakan salah satu korban daripada pengubahan. Namun, Allah SWT menampakkan cahaya-Nya. Al-Qanduzi al-Hanafi sendiri telah menukilnya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Pada mawaddah kesepuluh dari kitab Mawaddah al-Qurba, bagi Sayyid Ali al-Hamadani —semoga Allah SWT mensucikan jalannya dan mencurahkan keberkahannya kepada kita— disebut-kan, “Dari Abdul Malik bin ‘Umair, dari Jabir bin Samrah yang ber-kata, ‘Saya pernah bersama ayah saya berada di sisi Rasulullah saw, dan ketika itu Rasulullah saw bersabda, ‘Sepeninggalku akan ada dua belas orang khalifah.’ Kemudian Rasulullah saw menyamarkan suar-anya. Lalu saya bertanya kepada ayah saya, ‘Perkataan apa yang disamarkan olehnya?’ Ayah saya menjawab, ‘Rasulullah saw berkata, ‘Semua berasal dari Bani Hasyim.”

Bahkan Al-Qanduzi meriwayatkan banyak hadis lain yang lebih jelas dari hadis-hadis di atas. Al-Qanduzi telah meriwayat dari ‘Abayah bin Rab’i, dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Saya adalah penghulu para nabi dan Ali adalah penghulu para washi, dan sesungguhnya para washi sepeninggalku berjumlah dua belas orang. Yang pertama dari mereka adalah Ali, dan yang terakhir dari mereka adalah al-Qa’im al-Mahdi.”

Setelah menyebutkan hadis-hadis ini, Al-Qanduzi al-Hanafi tidak menemukan apa-apa selain harus mengakui dan mengatakan, “Sesungguhnya hadis-hadis yang menunjukkan bahwa para khalifah sesudah Rasulullah saw sebanyak dua belas orang khalifah, telah banyak dikenal dari banyak jalan, dan dengan penjelasan jaman dan pengenalan alam dan tempat dapat diketahui bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah saw dari hadis ini ialah para Imam dua belas dari Ahlul Bait Rasulullah saw.

Karena tidak mungkin kita dapat menerap-kannya pada raja-raja Bani Umayyah, dikarenakan jumlah mereka yang lebih dari dua belas orang dan dikarenakan kezaliman mereka yang amat keji, kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan dikarenakan mereka bukan dari Bani Hasyim.

Karena Rasulullah saw telah bersabda, ‘Seluruhnya dari Bani Hasyim’, di dalam riwayat Abdul Malik, dari Jabir. Dan begitu juga penyamaran suara yang dilakukan oleh Rasulullah saw di dalam perkataan ini, memperkuat riwayat ini. Dikarenakan mereka tidak menyambut baik kekhilafahan Bani Hasyim. Kita juga tidak bisa menerapkannya kepada raja-raja Bani ‘Abbas, disebabkan jumlah mereka yang lebih banyak dibandingkan jumlah yang disebutkan, dan juga dikarenakan mereka kurang menjaga ayat “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah apapun kepadamu atas risalah yang aku sampaikan kecuali kecintaan kepada keluargaku'” dan hadis Kisa`.

Maka mau tidak mau hadis ini harus diterapkan kepada para Imam dua belas dari Ahlul Bait Rasulullah saw. Karena mereka adalah manusia yang paling berilmu pada jamannya, paling mulia, paling warak, paling bertakwa, paling tinggi dari sisi nasab, paling utama dari sisi kedudukan dan paling mulia di sisi Allah SWT. Ilmu mereka berasal dari bapak-bapak mereka, dan terus bersambung kepada datuk mereka Rasulullah saw.

Maka penerapan hadis “Kamu harus berpegang teguh pada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku” kepada para Imam Ahlul Bait jauh lebih dekat dibandingkan menerapkannya kepada para khalifah yang empat. Karena sudah jelas bahwa para khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah, yang kesemuanya berasal dari Bani Hasyim

Ahlulbait dalam Al-Quran

Al-Quran adalah sumber pemikiran, sumber hukum dan sumber segala kebajikan yang esensinya adalah kalam ilahi yang suci. Al-Quran adalah pola bagi hidup dan kehidupan seluruh umat manusia. Maka setiap muslim atau muslimah wajib mengetahui dan memahami bahwa Kitabullah itu adalah syari’ah dan risalah-Nya yang umat manusia harus merealisasikannya dalam hidup dan kehidupannya serta berjalan di atas petunjuk-Nya.
Banyak ayat Al-Quran yang menceritakan Ahlulbait atau keluarga Nabi yang disucikan yang antara lain seperti di bawah ini:

1.Surah Al-Ahzab: 33

Dalam ayat ini Allah menyebut mereka Ahlulbait. Dia berfirman: “Innamâ yuridu l`llâhu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhirâ”. Yang artinya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan al-rijs dari kamu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (QS 33/33).

Imam Ja’far Al-Shadiq ditanya mengenai makna al-rijs yang terdapat pada ayat diatas. Beliau menjawab:
“Al-Rijsu itu adalah al-syakk (keraguan)”. (Ma’ani l`Akhbar).

Jika kita tidak taat kepada Allah dalam satu perkara, maka hal itu telah menunjukan kepada keraguan kita terhadap-Nya, semakin banyak ketidaktaatan kita kepadanya, maka semakin besar pula keraguan kita kepada-Nya. Ahlulbait yang disucikan itu sedikit pun tidak pernah ragu kepada-Nya, oleh karena itu tidak ada satu pun keburukan atau kemaksiatan yang mereka lakukan. Dan tidak adanya keraguan dari mereka, dikuatkan dengan pensucian sesuci-sucinya, yang demikian itu menunjukan bahwa mereka memiliki sifat ‘ishmah yang sangat kuat, mereka adalah orang-orang ma’shum (tidak melakukan dosa dan kesalahan).

Sebagian kaum muslim beranggapan bahwa tafsir ahlul`bayt yang terdapat pada ayat di atas adalah istri-istri Rasulullah saw, mereka menafsirkan demikian barangkali dikarenakan awal ayat tersebut ditujukan kepada istri-istri Nabi yaitu : “Dan hendaklah kamu (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kamu, dan janganlah kamu bersolek seperti kaum jahiliah yang pertama, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah serta Rasul-Nya…”.

Tafsir seperti itu rasanya tidak benar karena kata ganti (personal pronoun, dhamir) bagi istri-istri Nabi dan untuk ahlulbait berbeda; untuk istri-istri Nabi dhamirnya mu`annats (feminine) sedangkan untuk Ahlulbait dhamirnya mudzakkar (masculine). Kedua mereka tidak memakai tafsir atau penjelasan dari Rasulullah dan para sahabatnya, padahal orang yang paling mengetahui tafsirnya adalah Nabi saw, dan Al-Quran telah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini (yang artinya): “Dan telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir”. (Al-Nahl 44).

“Dan tidak Kami turunkan Al-Kitab melainkan agar kamu jelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al-Nahl 64).

“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakan dan apa-apa yang dia larang maka tinggalkanlah, dan ber-taqwa-lah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya”. (QS 59/7).

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Uli l`amri (para khalifah Rasulullah yang dua belas) dari kamu…”. (QS 4/59).

Kemudian siapakah Ahlulbait yang disebutkan dalam Al-Ahzab 33 menurut Nabi dan sebagian sahabatnya itu? Marilah kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini :

Ummu l`mu`minin Aisyah mengatakan : “Pada suatu pagi Rasulullah saw keluar dari rumah) dengan membawa kain berbulu yang berwarna hitam. Kemudian datang (kepada beliau) Hasan putra Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain); lalu datang Husayn lantas dia masuk bersamanya; kemudian datang Fathimah,lantas beliau memasukannya; kemudian datang Ali, lalu beliau memasukannya. Kemudian beliau membaca ayat : ‘Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan dari kalian wahai Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya’”. (Lihat Shahih Muslim bab fadha`il Ahli bayti l`Nabiyy; Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/147; Sunan Al-Bayhaqi 2/149 dan Tafsir Ibnu Jarir Al-Thabari 22/5).

Amer putra Abu Salamah – anak tiri Rasulullah – mengatakan : “Ketika ayat ini (innama yuridu l`llahu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhira) diturunkan di rumah Ummu Salamah, beliau memanggil Fathimah, Hasan dan Husayn sedangkan Ali as. berada di belakang beliau. Kemudian beliu mengerudungi mereka dengan kain seraya beliau berdoa : ‘Ya Allah mereka ini ahlulbaitku maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya’. Ummu Salamah berkata: ‘Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?’ Beliau bersabda : 

‘Engkau tetap di tempatmu, engkau dalam kebaikan’”. (Al-Turmudzi 2:209, 308 ; Musykilu l`Atsar 1:335;
Usudu l`Ghabah 2:12; Tafsir Ibni Jarir Al-Thabari 22: 6-7).

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw. telah mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husayn, Ali, Fatimah lalu beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku dan orang-orang terdekatku, hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya,”. Kemudian Ummu Salamah berkata: “Aku ini bersama mereka wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan”. (HR Al-Turmudzi 2:319).

Anas bin Malik telah berkata : “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah ‘alayha l`salam selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya’”. (HR Al-Turmudzi 2 : 29).

Itulah beberapa kesaksian dari beberapa kitab rujukan bahwa Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab itu bukan istri-istri Nabi saw melainkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn sekalipun ayat tersebut digabungkan penulisannya dengan ayat yang menceriterakan istri-istri Nabi saw sebab di dalam Al-Quran mushhaf ‘utsmani ini terkadang dalam surah makkiyyah terselip di dalamnya beberapa ayat madaniyyah atau sebaliknya atau satu ayat mengandung dua cerita seperti pada ayat diatas dan tentu para ulama telah maklum adanya.

2. Surah Al-Syura:23

Ketika orang-orang musyrik berkumpul di satu tempat pertemuan mereka, tiba-tiba berkatalah sebagian dari mereka kepada yang lainnya : Apakan kalian melihat Muhammad meminta upah atas apa yang dia berikan ? Kemudian turunlah ayat : “Katakanlah aku tidak meminta upah dari kalian selain kecintaan (mawaddah) kepada al-qurba”. (Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf).

Kemudian beliau berkata: Telah diriwayatkan ketika ayat tersebut turun bahawa ada orang yang bertanya:
Wahai Rasulullah, siapakah kerabatmu yang telah diwajibkan atas kami mencintai mereka? Beliau menjawab: “Mereka itu adalah Ali, Fathimah dan kedua putranya (Hasan dan Husayn)”.

Ayat tersebut di atas telah mewajibkan seluruh manusia untuk mencintai (mengikuti) keluarga Nabi atau Ahlulbait dan mencintai mereka merupakan dasar di dalam ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda (yang artinya): “Segala sesuatu ada asasnya dan asas Islam adalah mencintai Ahlulbaitku”. (Hadits yang mulia). Dan jika kita membenci mereka maka amal baik kita akan menjadi sia-sia dan kita masuk neraka. Sabdanya :
“Maka seandainya seseorang berdiri (beribadah) lalu dia salat dan saum kemudian dia berjumpa dengan Allah (mati) sedangkan dia benci kepada Ahlulbait Muhammad, niscaya dia masuk neraka.” Al-Hakim memberikan komentar terhadap sabda Nabi ini sebagai berikut: “Ini hadits yang baik lagi sah atas syarat Muslim”. ( Kitab Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/148).

3. Surah Ali ‘Imran:61

Ayat ini disebut sebagai ayat mubahalah karena di dalamnya ada ajakan untuk ber-mubahalah dengan para pendeta nasrani. Adapun terjemahannya: “Siapa yang menbantahmu tentang dia (Al-Masih) setelah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah (kepada mereka): Marilah, kami memanggil anak-anak lelaki kami dan (kamu memanggil) anak-anak lelaki kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu
dan diri-diri kami serta diri-diri kamu, kita bermubahalah dan kita tetapkan laknat Allah atas mereka yang berdusta”.

Saksi sejarah yang hidup dan kekal yang diriwayatkan ahli-ahli tarikh dan tafsir telah memberikan kejelasan kepada khalayak akan kesucian keluarga Nabi saw yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ayat tersebut menunjukan betapa agungnya kadar dan kedudukan mereka di sisi Allah ‘azza wa jalla.

Diantara kasus yang disampaikan para muarrikh, mufassir dan muhaddits ialah peristiwa mubahalah, yaitu ketika datang utusan dari masyarakat keristen Najran untuk membantah Rasulullah—shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam—kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas agar beliau memanggil Ali, Fathimah. Hasan dan Husain. Beliau keluar membawa mereka ke lembah yang telah ditentukan dan para pemimpin keristen pun membawa anak-anak dan perempuan-perempuan mereka.

Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf berkata : “Sesungguhnya ketika mereka diseru untuk bermubahalah mereka mengataakan : ‘Nanti akan kami pertimbangkan terlebih dahulu’. Tatkala mereka berpaling (dari mubahalah) berkatalah mereka kepada Al-Aqib—yang menjadi juru bicara mereka : ‘Wahai hamba Al-Masih, bagaimanakah menurutmu?’ Dia berkata: Demi Allah, kalian juga tentu mengetahui wahai umat nasrani bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul. Dia datang kepadamu membawa penjelasan mengenai Isa (Yesus). Demi Allah tidak ada satu kaum pun yang mengadakan mubahalah dengan seorang Nabi lalu mereka hidup. Dan jika kalian melakukan mubahalah dengannya niscaya kalian semua pasti binasa, dan apabila kalian ingin tetap berpegang kepada ajaran kalian maka tinggalkan orang tersebut dan pulanglah ke kampung halaman kalian”.

Keesokan harinya Nabi saw datang dengan menggendong Husayn dan menuntun Hasan dan Fathimah berjalah di belakang beliau sedang Ali berjalan di belakang Fathimah. Nabi bersabda : “Bila aku menyeru kalian maka berimanlah !”. Melihat Nabi dan Ahlulbaitnya, berkatalah uskup Najran : “Wahai umat keristen, sungguh aku melihat wajah-wajah yang sendainya mereka berdoa kepada Allah agar Dia (Allah) menghilangkan sebuah gunung dari tempatnya pasti doa mereka akan dikabulkan, oleh karena itu tinggalkan mubahalah sebab kalian akan celaka yang nantinya tidak akan tersisa seorang keristen pun sampai hari kiamat”.

Akhirnya mereka berkata : “Wahai Abul Qasim, kami telah mengambil keputusan bahwa kami tidak jadi bermubahalah, namun kami ingin tetap memeluk agama kami.” Rasul bersabda : “Jika kalian enggan mubahalah maka terimalah Islam bagi kalian dan akan berlaku hukum atas kalian sebagai mana berlaku atas mereka (muslimin yang lain).”

Kemudian Al-Zamakhsyari–rahimahu l`llah–menjelaskan kedudukan Ahlulbait ketika menafsirkan ayat mubahalah, setelah dia menjelaskan keutamaan mereka melalui riwayat dari Aisyah dengan mengatakan : “Diantara mereka ada yang diungkapkan dengan anfusana (diri-diri kami); ini adalah untuk mengingatkan akan tingginya kedudukan mereka dan ayat ini adalah dalil yang sangat kuat dari-Nya atas keutamaan ashhabu l`kisa` (Ahlulbait)—‘alayhimu l`salam”. Pertunjukan mubahalah yang tidak terjadi itu telah menampilkan dua kekuatan yaitu iman versus syirik, dan manusia-manusia mukmin yang tampil waktu itu (Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn) adalah para tokoh petunjuk, umat terkemuka dan orang-orang suci. Seruan mereka tidak boleh dibantah dan kalimat mereka tidak boleh didustakan. Dari sini kita dapat memahami bahwa apa-apa yang datang dari mereka baik pemikiran, syari’ah, tafsiran, petunjuk maupun pengarahan adalah berlaku; mereka adalah orang-orang yang benar dalam ucapannya, perjalanan hidupnya dan tingkah lakunya.

Al-Quran telah menganggap setiap yang berlawanan dengan mereka adalah musuh-musuh, dan menjadikan musu-musuh mereka sebagai orang-orang yang berdusta serta berpaling dari kebenaran yang sepantasnya mendapat laknat dan azab. “…maka kami jadikan laknat Allah atas mereka yang berdusta.”

Dan juga dari segi bahasa yang sangat dalam pada ayat tersebut yang harus kita perhatikan, yakni ketika mereka disandarkan kepada Nabi. Hasan dan Husayn disebut sebagai “anak-aknak kami”, Fathimah sebagai perempuan-perempuan kami” dan Ali sebagai “diri-diri kami”. Di sini Imam Ali disandarkan kepada diri Nabi yang suci.

Sesungguhnya Rasulullah -shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam-hanya mengeluarkan empat orang ke arena mubahalah, ini berarti memberikan penjelasan kepada kita bahwa Fathimah Al-Zahra` -‘alayha l`salam- perempuan pilihan yang harus diteladani umat manusia; Imam Hasan dan Imam Husayn -‘alayhima l`salam- adalah anak-anak umat yang wajib kita taati sedangkan Imam Ali -‘alayhi l`salam- adalah dianggap diri Nabi sendiri. 

Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw

Orang yang membaca sunnah-sunnah Nabi saw, perjalanan hidupnya dan memperhatikan hubungannya dengan Ahlulbaitnya yang telah ditegaskan di dalam Al-Quran yakni Ali, Fathimah adan kedua putranya, pasti dia mengetahui bahwa Ahlulbait Nabi mempunyai tanggung jawab risalah dengan umat ini. Rasulullah saw telah menggariskannya untuk umat agar mereka menerimanya sebagai perinyah dari Allah ‘azza wa jalla.

Langkah pertama yang ditempuh Nabi saw ialah melaksanakan perintah Allah, yaitu menikahkan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau menanam pohon yang diberkati agar cabang-cabangnya menjangkau segala ufuk umat ini di sepanjang sejaarahnya.

Tentang pernikahan itu Nabi bersabda kepada Imam Ali—salam atasnya : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar aku menikahkanmu kepada Fathimah dengan mahar empat mitsqal perak jika engkau rela dengan yang demikian.” Dia berkata: “Aku rela dengan yang demikian.”

Dari pernikahan yang diberkati itu lahir Imam Hasan dan Imam Husayn. Dan dari sulbi Imam Husayn lahir sembilan Ahlulbait Nabi yang suci. Dzurriyyah (keturunan) Nabi melalui sulbi Imam Ali as sebagaimana yang beliau katakan : “Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan setiap nabi dari sulbinya, tetapi dzurriyyahku dari sulbi orang ini yakni Ali.”

Cerita Ahlulbait Nabi saw dalam sunnahnya lebih banyak lagi, baik tentang Fathimah sebagai sayyidatu nisa` l`’alamin, pengangkatan Ali sebagai khalifah Nabi yang pertama, Ahllulbait sebagai padanan Al-Quran, kedudukan mereka, dua belas imam maupun yang lainnya. Di sini kita ceritakan dua hal saja, yaitu yang paling mengikat: Ahlulbait sebagai bahtera keselamatan dan Ahlulbait padanan Al-Quran.

Bahtera Keselamatan

Abu Nuaym telah meriwayatkan hadits yang sanadnya dari Sa’id bin Jubayr dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa Rasulullah saw telah mengatakan : “Perumpamaan Ahlulbaitku pada kamu adalah semisal bahtera Nuh—‘alayhi l`salam—barangsiapa yang mengikutinya pasti selamat dan yang berpaling darinya pasti dia tenggelam.” Hadits Nabi ini diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 2/343. Dia berkata : Hadits ini sah berdasarkan persyaratan Muslim. Pesan dari sunnah Nabi ini ialah bahwa kita hanya akan
selamat jika mengikuti Ahlulbait Nabi yang disucikan.

Padanan Al-Quran

Ahlulbait telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan takhayyul.

Supaya umat tidak tersesat, maka Rasulullah saw berpesan kepada manusia agar tida tersesat jalan, sabdanya : “Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kamu yang apabila kamu berpegang dengannya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah dan ‘itrahku Ahlulbaitku.” (HSR Al-Turmudzi 2/308).

Ahlulbait Dikenal Umat Terdahulu

Ahlulbait telah dikenal oleh umat-umat terdahulu, antara lain oleh Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa—salam atas mereka. Nabi Adam –salam atasnya–telah bermohon kepada Allah dengan hak mereka. Ibn Abbas telah berkata : “Saya telah bertanya kepada Rasulullah saw tentang kalimat-kalimat yang telah diterima Adam dari Rabb-nya hingga Dia menerima taubatnya. Nabi saw bersabda : “Dia telah bermohon (kepada Allah) : Dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn terimalah taubatku, lalu Dia menerima taubatnya”. (Al-Durr al-Mantsur ketika menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla : “fatalaqqa ‘Adamu min Rabbihi kalimat,” (QS. Al-Baqarah 37), baca juga kitab Kanzu l`‘Ummal 1:234.

Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya. Mohammad, Ali, Hassan, Hossain, Fatema.

Pada bulan Juli tahun 1951, sebuah team riset Rusia di sekitar gunung Judi di perbatasan Uni Soviet dan Turki secara tidak sengaja, mereka menemukan beberapa kuburan tumpukan kayu-kayu yang telah bobrok yang terssusun secara luar biasa. Di antara tumpukan kayu tersebut ditemukan satu plat kayu yang berukuran sekitar 10 x 14 inci. Pada palat kayu tersebut terukir beberapa kalimat dalam bahasa kuno yang sudah tidak dikenal. Pada tahun 1953 pemerintah Uni Soviet menunjuk sebuah komisi peneliti yang terdiri dari tujuh orang ahli (untuk meneliti penemuan tersebut), mereka menyimpulkan bahwa tumpukan kayu itu adalah bagian bahtera Nabi Nuh—‘alayhi l`salam–yang terkenal itu. Dan kata-kata yang terukir pada plat kayu adalah kata-kata dari bahasa Samani, yaitu suatu bahasa yang sudah sangat tua. Kata-kata tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Inggris oleh Prof. N.F. Thomas, seorang ahli bahasa-bahasa kuno dari Manchester, Inggris.

Pada plat kayu itu terdapat ukiran telapak tangan dengan lima jari. Pada kelima jari tersebut terdapat tulisan masing-masing: Muhammad, Ali, Hasan (syabar), Husayn (Syubayr), dan Fathimah. (Di bawahnya terdapat doa tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mereka): “Wahai Tuhanku, wahai penolongku, aku berdoa dengan kemurahan-Mu melalui tubuh-tubuh suci yang Engkau ciptakan, mereka terbesar dan termulia, tolonglah aku melalui nama mereka, engkaulah yang mendatangkan cahaya”.

Logiskah semua sahabat adil sementara Isteri, Anak dan paman para Nabi saja ada yang ingkar pada Tuhan ?

Anak dan isteri Nabi Nuh ada yang ingkar, Paman Muhammad SAW ada yang ingkar. Logiskah semua sahabat adil sementara Isteri, Anak dan paman para Nabi saja ada yang ingkar pada Tuhan ?

humor indonesia / sufi / umum / sms lucu / gambar lucu:

sunni dengan memperalat penguasa politik berhasil menjauhkan sebagian besar umat Islam dari para Imam Ahlulbait As yang merupakan hidayah shirat al-mustaqim (petunjuk jalan lurus)

Kenapa ajaran Ahlul bait tersingkir ?

1.ketidakpedulian sekelompok umat Islam terhadap wasiat-wasiat dan ucapan Rasulullah Saw sehubungan dengan masalah khilafah dan keimamahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As

2. menyusupnya para pemeluk agama lain di kalangan umat Islam

3. percampuran dan pertukaran budaya dengan mereka

4. adanya jarak masa yang jauh antara umat Islam dengan ajaran Islam yang orisinil dan pengetahuan Ahlubait As

5. adanya pelarangan atas penulisan hadis-hadis Nabi Saw hingga berlangsung satu abad lamanya

6. campur tangan tangan-tangan jahil para khalifah Bani Umayyah dalam membuat hadis-hadis palsu dalam memuji sebagian sahabat yang munafik

7. campur tangan para khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah dengan menciptakan perselisihan mazhab di antara kaum muslimin dengan tujuan menangkap ikan di air keruh untuk tujuan agar tetap dapat mempertahankan kekuasaan mereka, kebodohan umat dan terpengaruhnya mereka dengan berbagai propaganda busuk.

TIDAK ADA jaminan bahwa setiap sahabat dari pada manusia didunia ini pasti semunya baik.


Isteri dan Anak para Nabi aja ada yang baik, ada juga yg jelek….Paman nabi Rasulullah aja ada yang baik ada yang jelek…Jadi wajar juga lah kalau diantara sahabat Rasulullah Muhammad SAW ada juga yang jelek

Yang jelas, kalau semua sahabat nabi itu baik dan semua kalifah setelah wafat nya rasulullah Muhammad itu baik dan patuh kepada perintah Alquran dan Rasul maka Islam tidak terpecah seperti sekarang ini..Ini akibat ulah sebagian sahabat / kalifah yang penghianat setelah wafat nya Rasulullah.

Yang bikin Islam terpecah pecah itu adalah faktor  faktor  politis…mazhab yg menjadi alat para penguasa zalim utk melanggengkan kekuasaannya dan ada juga mazhab yg mrngambil agamanya dr hadis   hadis  palsu (seperti yg pernah rasul sabdakan)

perbedaan penafsiran yg membuat berbagai aliran itu terjadi di antar para sahabat sendiri yg kononnya terjaga dr penyimpangan, sehingga para pembela merekapun terpecah pecah, andai sejarah tdk dipelintir & mereka tahu bahwa tali Allah yg harus diikuti itu adalah Itrah Ahlulbayt RasulNya sepeninggal beliau Saw

Yah itulah para Salafiyyun ; Buat si Muawiyah & Yazid sang pezina & pemabok & pembantai cucunda Rasul mereka selalu mengagungkan & tdk lupa menyertakan kata “RA” dibelakang nama mereka….

air akan mengalir dan mengairi para pembaca sesuai dg sumber air, kalo sumbernya bersih dan murni akan diterima oleh tanah dan menjadikan subur semua tanaman diatasnya, dan bila asal sumbernya aja sudah keruh alias tidak bersih maka tanah yg dialiripun akan tidak berubah dan bahkan mematikan tanaman diatasnya. begitulah perumpamaan ilmu yang bersumber dari pintunya ( imam ali as) akan menghijaukan/ mencerahkan pembaca dari pada ilmu yg bersumber dari para pencaci-maki pintu ilmu nabi as. yg pasti menyesatkan para pengikutnya.

Saudaraku berikan Ancaman penggal kalian bagi para Raja Saudi kalian yg sangat berhubungan mesra thdp para pemimpin barat & zionis itu (padahal disaat bersamaan anak2 & wanita muslimah saudara kalian di palestin sedang dibantai….) !!!

Para pengikut Syekh2 badui sedang kebakaran jenggot….

salfy oh salafy,,
apa yg kalian pikirkan??
apa kalian suka melihat keluarga nabi teraniaya??
agama apa yang kalian anut??
jGn2 kalian suka dengan agama kekerasan??
agama suku BarBar??

Ada Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Siti Khadijah

Tanggal: 2013/07/20 – 11:47 print
Wawancara dengan Syaikh Najmuddin Tabasi:
 Ada Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Siti Khadijah
Yang kita dapati dalam kitab Shahih Bukhari misalnya, Aisyah meriwayatkan lebih dari 2000 hadits dari Nabi. Namun bandingkan dengan siti Khadijah yang hidup bersama Nabi, satu-satunya istri Nabi selama 25 tahun dan ada 10 tahun disaat Muhammad telah diangkat menjadi Nabi, dalam shahih Bukhari hadits yang beliau riwayatkan tidak lebih dari 25 buah hadits. Menurut kamu ada apa ini? Mengapa periwayatan dari siti Khadijah disensor sedemikian rupa?. 

Ada Manipulasi Sejarah Berkenaan dengan Usia Siti Khadijah malam kesepuluh Ramadhan ditahun kesepuluh bi’tsat adalah malam penuh duka cita bagi Rasulullah Saw. Malam telah berpulangnya istri terkasih beliau yang telah menemani kehidupannya selama 25 tahun, Hadhrat Khadijah Kubra (sa). Perempuan yang dalam catatan sejarah disebut sebagai perempuan pertama yang memeluk agama yang dibawa Nabi dan mengorbankan banyak hartanya dalam upaya penyebaran Islam.

Hari wafat Siti Khadijah hanya berselang beberapa hari dengan wafatnya Abu Thalib paman dan pelindung Nabi Saw. Karena kepergian dua orang yang begitu dikasihinya, Nabi menyebut tahun kesepuluh bi’tsat sebagai tahun kesedihan.

Namun berlepas dari musibah yang menimpa Rasulullah dengan kepergian istri terkasihnya dan paman yang sangat dicintainya, musibah turut pula menimpa kaum muslimin dengan adanya penyelewengan sejarah berkenaan dengan kehidupan dua kekasih Rasulullah tersebut dan perannya dalam penyebaran Islam. Abu Thalib oleh rekayasa sejarah disebut mati dalam keadaan kafir, sementara siti Khadijah dikecilkan keberadaannya.

Berikut adalah wawancara wartawan ABNA dengan Hujjatul Islam wa Muslimin Ustad Najmuddin Tabasi, pakar sejarah Islam yang bermukim di Qom Iran yang akan membeberkan fakta-fakta sejarah yang sengaja disembunyikan berkenaan dengan keutamaan Hadhrat Khadijah yang hari kesepuluh Ramadhan ini kita peringati syahadahnya.

ABNA: Malam Ini, malam kesepuluh Ramadhan dan malam yang dikenal dalam tarikh Islam sebagai malam wafatnya Ummul Mukminin Hadhrat Khadijah Kubra (sa). Bolehkan anda menyampaikan, apa yang dirasakan dan dilakukan Nabi dan putrinya Az Zahra pada malam itu?

-Bismilllahirrahmanirrahim. Almarhum Syaikh Haji Abbas Qomi meriwayatkan dalam kitabnya Hadhrat Khadijah dimalam ia hendak berpulang, ia berkata kepada Rasulullah Saw suaminya tercinta, “Ya Rasulullah, saya hendak menyampaikan beberapa hal kepadamu. Pertama, maafkan saya karena keterbatasan pengetahuanku tentangmu sehingga saya sering memperlakukanmu tidak selayaknya, pengabdianku padamu banyak cela dan cacatnya.” Nabi menanggapi, “Tidaklah demikian istriku. Kamu telah melakukan semua yang semestinya kamu lakukan.”

Siti Khadijah melanjutkan, “Yang kedua, dengan kepergianku putri kita akan mejadi yatim. Saya amanahkan putri 3 tahun ini untuk anda jaga baik-baik.”

“Yang ketiga, saya malu menyampaikan langsung kepadamu. Dengan penuh rasa hormat, saya meminta kepadamu ya Rasulullah, bawa putriku kesini dan biarkan kami berdua, aku hendak menyampaikan satu hal padanya yang kemudian disampaikannya kepadamu.” Nabi memenuhi permintaan istrinya tersebut. Dibawanya Fatimah disisi istrinya itu. Lalu meninggalkan mereka berdua. Fatimah mendekatkan telinganya ke bibir bunda tercintanya. Dengan kekuatan yang tersisa siti Khadijah berkata, “Anakku, sampaikan kepada ayahmu. Saya telah menyerahkan semua yang saya miliki untuk perjuangan di jalan Islam, sampai saya tidak lagi memiliki uang yang tersisa untuk membeli kain kafan. Saya takut dengan azab kubur, saya ingin pakaian yang ayahmu kenakan digunakan sebagai pengganti kain kafan untuk membungkus jasadku sehingga saya bisa aman dari siksa kubur.”

Siti Fatimah menyampaikan permintan ibunya tersebut kepada Nabi. Dengan penuh rasa sedih, Nabi Saw menyanggupinya. Namun tiba-tiba Malaikat Jibril as datang dan berkata, “Allah Azza wa Jalla berfirman, karena Khadijah telah mengorbankan dan mempersembahkan semua harta yang dimilikinya di jalan-Ku, maka sudah selayaknya Kami berikan padanya kain kafan.” Demikianlah, sesaat setelah wafatnya, jasad mulia Siti Khadijah dibungkus dengan kain kafan yang berasal dari surga. Nabi Saw tetap memenuhi permintaan istrinya. Beliau mendirikan shalat malam dan menghadiahkan pahala-pahala ibadahnya untuk istrinya. Dengan demikian, siti Khadijah dibungkus dengan dua kain, kain dari surga dan kain dari pakaian Rasulullah, kemudian dimakamkan dengan penuh pemuliaan.

ABNA: Dengan adanya persembahan Ilahi itu, apa hal itu menunjukkan ketinggian derajat Siti Khadijah?

-Iya. Hadhrat Khadijah adalah seseorang yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Jika seseorang meninggal dunia, maka Nabi mengenang kematiannya di hari pertamanya, di hari ketujuhnya, dihari keempat puluhnya, namun ketika siti Khadijah meninggal dunia, Nabi menyatakan kesedihannya sepanjang tahun sampai menyebut tahun wafat siti Khadijah sebagai tahun kesedihan.

Siti Khadijah adalah perempuan pertama yang menyatakan keimanan terhadap aqidah yang dibawa Nabi. Beliaupun telah mengorbankan semua hartanya di jalan Islam sampai kemudian tidak ada yang lagi tersisa hatta untuk membeli kain kafan sekalipun. Dan kami katakan, perempuan teragung setelah siti Fatimah as adalah siti Khadijah sa.

ABNA: Mungkin karena besarnya keutamaan yang dimiliki siti Khadijah itulah yang kemudian dijadikan kebanggaan oleh Maksumin as dalam berhadapan dengan para musuh-musuhnya, bahwa mereka adalah putera-putera Khadijah?

-Iya. Mereka setelah memperkenalkan diri sebagai putera Fatimah mereka as juga menyebut diri sebagai putera-putera Khadijah sa. Para Aimmah maksum diri mereka sendiri sebenarnya adalah cahaya yang memiliki maqam yang sangat agung dan tinggi dan tidak ada orang biasa yang menyamai maqam mereka namun untuk mereka, mereka tetap menjadikan siti Khadijah sebagai kebanggaan dan sebuah keutamaan menjadi keturunannya.

ABNA: Banyak syubhat yang berkenaan dengan berapa usia Siti Khadijah saat menikah dengan Nabi. Dari penelitian dan pengkajian anda, diusia berapa siti Khadijah menikah dengan Nabi?

-Mengenai usia beliau tidaklah penting. Yang penting adalah peran beliau dalam penyebaran Islam. Namun karena anda mempertanyakan, maka saya katakan, selama ini ada manipulas sejarah yang terus dipelihara dan disebarkan. Siti Khadijah diperkenalkan sebagai perempuan tua yang menikah dengan Muhammad muda. Meninggalnya pun disebutkan karena termakan usia. Namun bukan itu yang sebenarnya.

ABNA: Yang benar seperti apa?

-Yang benar menurut saya dan itu yang terkuat adalah usia beliau ketika menikah dengan Nabi dibawah 30 tahun, bukan 40 tahun. Azd Dzahabi, salah seorang ahli hadits Ahlus Sunnah menyatakan, usia siti Khadijah ketika menikah dengan Nabi berusia 28 tahun. Tidak berbeda dengan hasil tahkik yang saya temukan, diriwayatkan dari Ibnu Abbas usia beliau dibawah 30 tahun. Sebagian lagi mengatakan usianya masih 25 tahun. Namun rekayasa sejarah usia beliau disebut 40 tahun, dikenal sebagai janda tua yang tidak menarik lagi.

ABNA: Apa keuntungannya jika disebut Siti Khadijah usianya 40 tahun kala itu?

-Inilah yang disayangkan, sepanjang sejarah musuh-musuh Islam dengan gigih menyebarkan kedustaan tersebut. Sampai pada tingkat, hadits-hadits keutamaan Ahlul Bait disingkirkan dan tidak diperkenalkan secara massif sebagaimana hadits-hadits keutamaan sahabat dikaji dan disampaikan. Kaum muslimin diperhadapkan oleh perbandingan siti Khadijah yang tua dengan Aisyah yang masih muda dan cerdas. Nabi dikatakan menikah dengan Khadijah janda tua, dan bocah perempuan yang masih berusia dibawah 9 tahun –pendapat masyhur 7 tahun- yang saat dinikahi Nabi masih gemar bermain dengan bonekanya. Bukankah kesenjangan itu akan menjadi lelucon bagi musuh-musuh Islam?.

ABNA: Masyarakat Barat sampai saat ini menyebut pernikahan Nabi dengan Aisyah diusianya yang masih sangat muda sebagai titik kelemahan Islam. Benar begitu?

-Iya. Jika kita memperhatikan dan menganalisa catatan sejarah secara seksama usia Aisyah tidak semuda itu. Kembali Adz Dzahabi menyatakan, Asma saudara perempuan Aisyah pada malam hijrah berusia 27 tahun. Selisih umur Asma dan adiknya Aisyah 10 tahun. Jadi usia Aisyah pada malam hijrah 17 tahun. Dan pada saat hijrah itu, Nabi belum menikahi Aisyah, melainkan beberapa tahun setelah hijrah. Yaitu usia pernikahannya dengan Nabi sekurang-kurangnya 19 tahun. Namun sebagian pihak secara gigih mengatakan usianya jauh lebih muda dari itu sementara usia siti Khadijah ditambahkan sehingga tampak terhitung perempuan tua.

ABNA: Mengapa sampai rekayasa itu terjadi?

-Banyak alasan yang bisa dikemukakan. Diantaranya adalah rekayasa Bani Umayyah. Kita tahu Bani Umayyah diawal penyebaran Islam berada dalam posisi sebagai musuh. Mereka berperang melawan Nabi dan kaum muslimin sampai akhirnya takluk dan menyerah saat fathul Makah. Pasca Fathul Makahpun tidak sedikit dari mereka yang termasuk golongan munafikin yang hendak merusak Islam dari dalam. Karenanya sesuatu yang bisa diduga ada upaya dari mereka yang tidak henti-hentinya untuk menciderai Islam. Ada dua jenis Islam yang hidup saat Bani Umayah yang berkuasa atas kaum muslimin. Islam Muhammadi sebagaimana Islam yang diusung siti Khadijah dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang menjadi penyokong dan pendukung setia dakwah Nabi dan Islam Umawi yang disponsori Muawiyah dan Marwan.  Dimasa kekuasaan Bani Umayyah urusan kaum muslimin ditangan mereka. Mereka punya kuasa penuh atas versi sejarah Islam yang harus beredar ditengah masyarakat. Mereka banyak melakukan manipulasi terhadap sejarah generasi awal, bukan hanya berkenaan dengan siti Khadijah melainkan juga istri-istri Nabi yang lain termasuk Ummu Salamah. Menurut kami, Ummu Salamah berada pada posisi kedua sebagai istri terbaik Nabi setelah Siti Khadijah. Namun diceritakan semua kecintaan dan perhatian Nabi seakan tertumpu dan terfokus hanya pada Aisyah, semua keutamaan ada pada Aisyah, keilmuan, kecerdasan, kecantikan, usia yang muda dan seterusnya. Bahkan secara ekstrim mereka memposisikan Nabi tidak berlaku adil terhadap istri-istrinya yang lain, karena lebih mengutamakan Aisyah. Apakah –nauzubillah- seseorang yang tidak bisa menegakkan keadilan dalam rumah tangganya mampu menegakkan keadilan dalam masyarakat?.

Oleh karena itu, kelompok Islam Umawi dan para pendukung mereka, mengecilkan peran dan posisi siti Khadijah, Imam Ali dan Sayyidah Fatimah dengan menyebarkan riwayat-riwayat palsu yang dengan itu akan mengokohkan kepentingan mereka.

ABNA: Argumentasi lain yang bisa diberikan?

-Satu hal lain yang patut ditekankan adanya pernyataan kerinduan Nabi kepada Khadijah yang disampaikan berkali-kali dan terbuka. Diantara sabdanya, “Khadijah mempercayaiku disaat yang lain menolak dakwahku, disaat Khadijah mengimani apa yang kubawa, kamu dan ayahmu justru memerangiku.” Menurut Ibnu Abi al Hadid dan ulama besar Ahlus Sunnah lainnya menyatakan bahwa perkataan Nabi tersebutlah yang menimbulkan kedengkian dihati Muawiyah.

Keistimewaan lainnya siti Khadijah adalah beliau satu-satunya istri yang memberikan Nabi keturunan yang mampu hidup lebih lama sampai mempunyai keturunan, yaitu Siti Fatimah az Zahrah. Asbabun Nuzul turunnya surah al Kautsar berkenaan dengan lahirnya Sayyidah Fatimah tersebut. Siti Khadijah juga dikaruniai cucu, imam Hasan dan Husain yang keduanya adalah penghulu pemuda di surga. Keutamaan itulah yang tidak dimiliki yang lain.

ABNA: Apakah dengan lebih banyaknya riwayat dari Aisyah dalam literatur Ahlus Sunnah juga menunjukkan adanya tujuan tersebut?

-Bayangkan, Siti Khadijah bersama Nabi selama kurang lebih 25 tahun. 15 tahun sebelum bi’tsat dan 10 tahun pasca bi’tsat. Sementara Aisyah hidup bersama Nabi ada berapa tahun?. Nabi menikahi Aisyah tahun kedua Hijriyah dan wafat awal tahun 11 H, jadi hidup bersama Nabi sekitar 8 tahun. Dan juga Nabi saat itu tidak setiap hari bersama Aisyah, sebab juga memiliki istri-istri yang lain, yang bahkan bila dikumpulkan, bisa jadi untuk satu tahun penuhpun Nabi tidak selalu bersama Aisyah. Jika satu tahun itu, dalam satu hari Aisyah meriwayatkan satu hadits dari Nabi, maka akan ada 365 hadits dari periwayatan Aisyah, jika dua hadits perharinya ada 730 hadits dan jika 3 hadits perhari ada 1095 hadits. Namun yang kita dapati dalam kitab Shahih Bukhari misalnya, Aisyah meriwayatkan lebih dari 2000 hadits dari Nabi. Namun bandingkan dengan siti Khadijah yang hidup bersama Nabi, satu-satunya istri Nabi selama 25 tahun dan ada 10 tahun disaat Muhammad telah diangkat menjadi Nabi, dalam shahih Bukhari hadits yang beliau riwayatkan tidak lebih dari 25 buah hadits. Menurut kamu ada apa ini? Mengapa periwayatan dari siti Khadijah disensor sedemikian rupa?. Tentu kita tidak mengatakan yang melakukan semua rekayasa ini adalah siti Aisyah, melainkan orang-orang setelah beliau. Yaitu dimasa kekuasaan Bani Umayyah.

ABNA: Dalam kitab-kitab hadits Syiah sendiri bagaimana? Apa periwayatan dari Siti Khadijah ada?

-Dalam kitab-kitab Syiahpun demikian, dalilnya, jika ulama-ulama hadits kita bersikeras untuk tetap meriwayatkan hadits melalui periwayatan Ahlul Bait khususnya siti Khadijah dan Sayyidah Fatimah maka kitab-kitab mereka akan dibakarnya, ulama dibunuhi dan sebagainya. Mengapa itu bisa terjadi? Pemerintahan dalam penguasaan mereka, dan itu sangat memungkinkan terjadi.

ABNA: Bisa jadi dalihnya seperti ini, siti Khadijah ketika bersama Nabi hidupnya di Mekah disaat kaum muslimin berada dibawah tekanan dan saat itu kondisi umat Islam masih lemah, sementara tidak demikian dengan masa Aisyah, bersama Nabi di Madinah dan dalam kondisi aman dan Islam memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk tersebar, sehingga masyarakat Islam saat itu bisa dengan mudah mendapatkan periwayatan hadits melalui Aisyah. Bagaimana menurut anda?

-Jika mereka berargumentasi seperti itu, maka kami tanyakan kepada saudara kami Ahlus Sunnah, lantas dimana periwayatan dari Sayyidah Fatimah as?. Beberapa pendapat sejarahwan Ahlus Sunnah menyebutkan sayyidah Fatimah wafat diusia 28 tahun, 6 bulan kemudan setelah wafatnya Nabi. Jadi beliau tinggal bersama Nabi 27 tahun 6 bulan. Sebut saja jika dalam 1 tahun Sayyidah Fatimah hanya meriwayatkan 1 hadits dari Nabi, maka tentunya setidaknya ada 28 hadits dalam kitab mereka. Namun bisakah anda menemukan ke 28 hadits itu?. Atau sebut saja 1 hadits dalam 2 tahun, maka ada setidaknya 14 hadits. Dalam kitab paling mu’tabar mereka, tunjukkan saya ke 14 hadits itu.

Anda tidak akan bisa menemukan 14 hadits ataupun separuhnya dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan oleh Sayyidah Fatimah az Zahrah. Dalam shahih Bukhari hanya 1 hadits dari Sayyidah Fatimah. Apakah mungkin putri Nabi sepanjang usianya hanya meriwayatkan satu hadits dari ayahnya?. Dalam kitab mu’tabar Ahlus Sunnah, hanya dalam Musnad Ahmad yang meriwayatkan 8 hadits, yang lima riwayat diantaranya berkenaan dengan Fatimah bukan dari Fatimah. Berarti dalam Musnad Ahmad pun riwayat dari Fatimah hanya ada 3 hadits.

Bayangkan dari istri paling utama Nabi dan dari putrinya, hadits yang dinukilkan dari keduanya bisa dihitung jari, sementara dari yang lain sampai ribuan hadits. Inilah yang membuat tugas kita menjadi sangat berat.

ABNA: Atas penyampaian dan kesempatan yang anda berikan, kami ucapkan terimakasih.

Syi’ah pengikut khilafah Allah dan khilafah Rasulullah s.a.w dituduh SESAT. Lalu pengikut Asy’ari, Syafi’i dan Ghazali YANG BENAR ?

Syi’ah merupakan mazhab yang paling KERAS menghantam gerakan wahabi, namun kerja keras itu tak ada harga bagi ulama MALAYSiA, hendak pula para ulama MALAYSiA membumi hanguskan Syi’ah ..

AWAS ! baca link ini ! Ingkar Sunnah Jika Anda Menolak Kebenaran Syi’ah dan Hadits Ahlul Bait

Kata Ibnu Mas’ud,“Al-Jamaah ialah orang yang menyesuaikan diri dengan kebenaran walaupun engkau seorang diri”

Siapakah yang mengangkat Asy’ari, Maturidy, Syafi’i dan Ghazali sebagai imam kaum muslimin ? Imam Az Zabidi lah yang mula mula menyatakan Asy’ari Maturidy adalah akidah ahlusunnah

Apakah beliau beliau itu semua maksum sehingga ajaran mereka dianggap persis sama dengan ajaran Nabi SAW ?

Bukankah Nabi SAW menyuruh anda mengikuti 12 khalifah Quraisy Ahlul Bait ?

sejak diberikan kemerdekaan oleh Inggris, maka Inggris meminta syarat bahwa kemerdekaan bisa kami berikan kepada Malaysia  jika TiGA ETNiS berkedudukan sama yakni : etnis melayu, etnis india dan etnis china ! Pendiri Malaysia pun setuju

Nah, Kerajaan Malaysia bukan Republik Islam, di Penang saya melihat langsung gadis dan wanita China berpakaian mini

Kalau betul ulama Malaysia merasa diri paling benar maka mengapa Kerajaan Malaysia gagal menjadi  Republik Islam ? Bukankah ulama yang benar tidak mungkin gagal syari’at ?

Kalau betul ulama Malaysia merasa diri paling benar maka mengapa banyak artis dan maksiat di Kerajaan Malaysia  ? Bukankah ulama yang benar tidak mungkin gagal syari’at ?

Syiah adalah mazhab yang wujud hasil dari warisan sejarah Islam lampau. Mereka mazhab yang lahir dari isu politik, maka mereka sangat mahir berpolitik.Ulama  Sunni  Indonesia dan  Malaysia  Tidak  Usah  Repot  Repot  Memfatwakan  Syi’ah  Imamiyah  SESAT  !!!!  Sebagai bahan renungan, Bila ada isme isme yang gagal dalam menerapkan ajarannya sendiri, itu cukup menjadi bukti bahwa isme isme itu keliru..

Maaf bila saya katakan Mazhab Anda keliru karena GAGAL TOTAL dalam menerapkan Syariat Islam dari dulu hingga kini.. Hukum Islam  yang konsisten dan kaffah  sudah tidak lagi ditegakkan di seluruh negara yang bermazhab sunni

Iran yang bermazhab Syiah ditakuti Dajjal tetapi  yang bermazhab wahabi menjadi kawan Dajal (Amerika/Zionis).. Biarkan akal-akal busuk berkubang dengan kebusukan keyakinan..Kaum wahabi, sekarang bekerja demi melicinkan jalan keluarnya Dajjal yang disponsori Amerika dan Zionis Israel yang sedang dirangkul erat-erat oleh Emir-emir dan ulama istana kerajaan Saudi…

Sudah jelas kenyataan yang ada sekarang, Duniapu tahu, Wahabi dengan kerajaan Saudinya adalah Pelicin Bagi Kaum Yahudi di Timur Tengah buat menghimpun Pasukan Dajjal melawan Imama Mahdi.. Yang bermesraan dengan Kaum Yahudi sekarang adalah Kerajaan Arab Saudi Wahabi pengkhianat…

Pemahaman kalian bahwa dajjal adalah makhluk  bermata satu secara sadar maupun tidak sadar adalah warisan Muawiyah dengan pemahaman Aswajanya dan tidak dikenal sama sekali pada zaman Rasulullah saw.

Saya sangat berterima kasih dengan adanya Mazhab Syiah, yang telah menjaga Risalah Muhammad.saw dari penyelewengan  musuh musuh  Islam yang berkedok Islam seperti Salafiyyun

Bila Syiah tidak ada maka agama Islam hari ini hanya menjadi kenangan sejarah saja, sebab Mazhab Ahlusunnah telah gagal memelihara agama ini dari olok olok  musuh Islam dan mereka hari ini menjadi antek antek Kafir dan Zionis (Masa sih, kalau mazhab yang paling benar tapi tunduk pada kekuatan kafir, sementara Allah mengatakan Islam lebih tinggi kedudukan dari orang orang  kafir)

Hukum Islam  yang konsisten dan kaffah  sudah tidak lagi ditegakkan di seluruh negara yang bermazhab sunni, bahkan mereka berijtihad dengan menentang nash nash  yang sudah jelas dari Kitabullah dan Sunnah Nabi, lebih lebih Saudi Arabia, itu menjadi satu bukti bahwa mazhab sunni sudah tidak layak untuk diikuti.. Berbagai hukum syara’ dalam al-Quran yang bersifat publik tidak mau diterapkan di Negara  aswaja ….

Seluruh Negara bermazhab Ahlusunnah jaman ini kalah segala bidang dengan Negara Negara  orang kafir padahal agama islam adalah agama yang paling sesuai dengan segala jaman, tapi lihatlah negara Ahlusunnah, ketinggalan teknologi dan bergantung 100% pada Negara Negara  kafir… Dengan ribuan fakta buruk lain masihkah mazhab Ahlusunnah itu dapat dianggap sebagai wakil Islam??????? Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dan Islam dari segala kekurangan mazhab sunni

Gagal menerapkan Hukum Syariat …Itu artinyaaaaaaaa ??? ……. silahkan baca lagi QS. al-Maaidah: 44… Bukankah Allah mengatakan dalam al-Quran QS 5: 44 bahwa barangsiapa yang tidak menegakkan hukum Allah (Syariat Islam) mereka adalah KAFIR???

Mazhab Anda telah ratusan tahun memfitnah dan menuduh Syiah kafir/sesat  karena waktu itu “sejarah itu dibuat oleh pemenang”… Pemenang politik, membuat sejarah versi kepentingan politiknya…Pemenang kekuasaan, membuat sejarah versi kepentingan kekuasaannya… Tapi sayang sekali, itu tidak terbukti.. Maka kami  yang tertuduh (Syi’ah) akan selamat

http://syiahali.files.wordpress.com/2013/07/caead-aswaja1.jpg?w=620

Hadis-Hadis Yang Luar Bisa Tentang Kelebihan Imam Dan Sifat-SifatNya (nadir jami‘ fi fadhl al-Imam wa sifaati-hi)

       (93)-1. Abu Muhammad al-Qasim bin al-‘Alaa’-rahimahu llah- secara marfu‘, daripada Abd al-‘Aziz bin Muslim berkata: Kami telah berada bersama al-Ridha a.s di Marw. Kami telah berkumpul di masjid pada hari Jumaat apabila kami baru sahaja tiba. Mereka telah berbincang mengenai imamah dan mereka menyebutkan perselisihan manusia mengenainya. Lantas aku berjumpa dengan sayyidi a.s, maka aku telah memberitahunya tentang pendapat orang ramai mengenainya.
       Lalu beliau a.s tersenyum sambil berkata: Wahai Abd al-‘Aziz, orang ramai telah jahil dan mereka tertipu dengan pendapat-pendapat mereka. Sesungguhnya Allah tidak mengambil nyawa nabi-Nya s.a.w sehingga Dia menyempurnakan baginya agama-Nya, menurunkan ke atasnya al-Qur’an yang menerangkan setiap perkara, menerangkan padanya halal dan haram, batasan dan hukum serta semua yang dihajati oleh manusia secara umumnya. Allah a.w telah berfirman: “Tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-Kitab”[1] Dia telah menurunkannya pada haji Perpisahan (al-Widaa’) iaitu pada akhir umurnya s.a.w firman-Nya “Pada hari ini Aku telah sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku redai Islam itu jadi agama bagimu”[2]
       Urusan imamah adalah daripada kesempurnaan agama (amr al-Imamah min tamam al-Din). Rasulullah s.a.w tidak mati sehingga beliau s.a.w menerangkan kepada umatnya prisip-prinsip agama mereka, menjelaskan kepada mereka jalan mereka, meninggalkan mereka ke jalan yang benar. Beliau s.a.w telah menjadikan Ali untuk mereka sebagai mercu tanda dan Imam. Beliau s.a.w tidak meninggalkan sesuatu yang diperlukan oleh umat melainkan beliau s.a.w telah menerangkannya kepada mereka. Sesiapa yang menyangka bahawa Allah a.w tidak menyempurnakan agama-Nya, maka sesungguhnya beliau telah menolak Kitab Allah. Dan sesiapa yang menolak Kitab Allah, maka beliau adalah seorang kafir dengannya.
       Apakah mereka mengetahui nilai imamah dan kedudukannya pada umat sehingga pemilihan diharuskan untuk mereka? Sesungguhnya imamah adalah lebih bernilai, lebih besar kedudukannya, dan lebih tinggi tempatnya (Inna al-Imamah ajallu qadaran wa a‘zam sya’nan wa a‘la makaanan), tidak boleh dimasuki di setiap penjuru (amna‘ jaaniban), lebih sukar bagi  orang ramai untuk mencapainya menerusi akal mereka atau mendapatinya melalui pandangan mereka atau mereka melantik seorang imam dengan pilihan mereka sendiri. Sesungguhnya imamah telah dikhususkan oleh Allah kepada Ibrahim al-Khalil a.s selepas kenabian (al-Nubuwwah) dan teman (al-Khullah)  adalah pada martabat yang ketiga. Satu kelebihan yang mana Dia memuliakannya dan memperkuatkan sebutan-Nya, lalu Dia telah berfirman “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Kemudian Ibrahim al-Khalil a.s telah berkata dengan gembira: Dari keturunanku?
       Allah telah berfirman: “Janjiku tidak mengenai orang yang zalim” Lantaran itu, ayat ini telah membatalkanimamah setiap orang yang zalim sehingga hari Kiamat. Oleh itu, ia adalah untuk orang yang terpilih sahaja. Kemudian Allah telah memuliakannya (Ibrahim a.s) dengan menjadikan imamah pada zuriatnya yang terpilih dan disucikan olehNya, maka Dia telah berfirman: “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya‘qub sebagai satu anugerah. Dan masing-masingnya Kami jadikan mereka yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan hanya kepada Kamilah mereka menyembah”[3]
       Imamah sentiasa pada zuriatnya diwarisinya oleh sebahagian daripada sebahagian yang lain sepanjang abad sehingga Allah telah mewariskannya kepada nabi s.a.w, maka Allah telah berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah mereka yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) dan mereka yang beriman (kepada Muhammad) dan Allah adalah Pelindung semua orang yang beriman”[4]Justeru, imamah adalah untuknya s.a.w secara khusus, kemudian beliau s.a.w telah melantik Ali a.s dengan perintah Allah menurut apa yang telah difardukan oleh Allah.
       Lalu ia berada pada zuriatnya mereka yang terpilih yang mana Allah kurniakan mereka ilmu dan keimanan dengan firman-Nya: “Dan berkata mereka yang diberi ilmu dan keimanan: Sesungguhnya kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit” Lantaran itu, imamah adalah pada zuriat Ali a.s secara khusus sehingga hari Kiamat kerana tiada nabi selepas Nabi Muhammad s.a.w. Justeru, dari manakah mereka yang jahil itu akan memilih?
       Sesungguhnya Imamah adalah kedudukan para nabi (inna al-A’immah hiya manzilah al-Anbiyaa’) dan warisan para wasi (wa irth al-Ausiyaa’). Sesungguhnya imamahadalah khilafat Allah dan khilafah Rasulullah s.a.w,maqam Amir al-Mukminin a.s, warisan al-Hasan dan al-Husain a.s. Sesungguhnya imamah adalah pengawal agama (inna al-A’immah zimaam al-Din), sistem pemerintahan muslimin (nizam al-Muslimin), kebaikan dunia dan kekuatan mukminin (salah al-Dunya wa ‘izz al-Mu’minin).
       Sesungguhnya imamah adalah asas Islam yang membangun (inna al-Imamah uss al-Islam al-Nami), cabangnya yang tinggi (far’u-hu al-Sami). Dengan imamlah  sempurnanya sembahyang, zakat, puasa, haji, jihad, al-Fa’i, sedekah, pelaksanaan hudud dan hukum, pos-pos kawalan sempadan dan perbatasan (bi al-Imam tamam al-Salat wa al-Zakat wa al-Siyam wa al-Hajj wa al-Jihad, wa taufir al-Fa’I wa al-Sadaqaat, wa imdha’, al-Hudud wa al-Ahkam wa ma ‘ al-Thughur wa al-Atraf). Imam menghalalkan halal Allah, mengharamkan haram Allah, melaksanakan hudud Allah, mempertahankan agama Allah. Beliau menyeru kepada jalan Tuhannya dengan hikmah dan nasihat yang baik serta hujah yang sampai [kepada mereka]. Imam adalah seperti matahari yang terang dengan cahayanya kepada alam, ia berada di ufuk yang mana tangan dan mata tidak dapat mencapainya.
       Imam adalah seperti bulan yang bercahaya, lampu yang bersinar, cahaya yang terserlah, bintang petunjuk pada kegelapan malam di seluruh negara, padang pasir dan lautan. Imam adalah air yang manis bagi orang yang dahaga (al-Imam al-Maa’ al-‘Adhb ‘ala al-Zamaa’), penunjuk ke atas pertunjuk, penyelamat daripada kemusnahan. Imam adalah api di puncak, memanaskan orang yang mencari kepanasan, petanda kepada kemusnahan. Sesiapa yang menjauhinya akan binasa. Imam adalah awan yang menurunkan hujan dan hujan yang meliputi segenap penjuru, matahari yang bercahaya, langit yang ada bayang, bumi yang terbentang, kawasan dataran rumput yang luas, kolam dan taman. Imam adalah teman yang rapat (al-Anis al-Rafiq).
       Bapa yang penuh kasih sayang, saudara kandung, ibu yang penyayang kepada anak kecil, tempat perlindungan kepada manusia daripada bencana yang merbahaya. Imam adalah penjaga ke atas makhluk-Nya dan Hujjah-Nya ke atas hamba-hamba-Nya, khalifah-Nya  di bumi-Nya, penyeru kepada Allah dan penjaga kehormatan Allah. Imam adalah suci daripada segala dosa, bebas daripada segala keaiban, dikhususkan dengan ilmu dan kesabaran. Kemuliaan agama, kekuatan muslimin, kemarahan munafiqin dan kehancuran mereka yang kafir.
       Imam tiada taranya pada zamannya, tiada seorang yang dapat mencapai kedudukannya, tiada seorang yang alim dapat menandinginya, tiada seorang yang akan dapat mengambil tempatnya[5], tiada seorang yang seumpamanya atau serupa dengannya. Imam dikhususkan dengan segala kelebihan tanpa tuntutan daripadanya dan tanpa usaha, malah ia adalah daripada keistimewaan yang dikurniakan oleh Yang Maha Pemberi. Justeru siapakah di sana yang sampai ke tahap ilmu seorang imam atau yang mempunyai kelebihan untuk memilihnya?
       Alangkah jauhnya daripada kebenaran! Akal dan khayalan tersesat, hati di dalam kebingungan, mata tidak dapat melihatnya, perkara yang besar menjadi kecil, bijak-pandai di dalam kebingungan, ahli fakir tidak dapat mencapainya, pemidato-pemidato tidak dapat menerangkannya, mereka yang cerdik menjadi jahil, pujangga-pujangga tidak dapat menjelaskannya, penyair-penyair dan sasterawan-sasterawan tidak terdaya dan orang yang fasih lidah menjadi kaku untuk menceritakan satu daripada aspek-aspeknya atau satu daripada kelebihan-kelebihannya.
       Semua mereka telah mengakui kelemahan dan kekurangan mereka. Justeru bagaimana Imam diceritakan secara keseluruhannya, bagaimana dalamannya boleh ditentukan secara terperinci? Atau bagaimana urusannya difahami? Siapakah yang akan mengambil tempatnya dan memberi apa yang beliau (imam) memberikannya? Tidak! Bagaimana dan di mana? Imam kedudukannya sepertilah bintang kepada tangan yang mahu menyentuhinya, seperti cerita yang diceritakan oleh mereka yang menceritakannya. Lantaran itu, apakah peranan pemilihan (al-Ikhtiyar) di dalam perkara ini? Apakah peranan akal di dalam perkara ini? Di manakah orang seperti ini boleh didapati?
       Apakah kamu menyangka bahawa ini boleh didapati selain daripada keluarga Muhammad s.a.w. Demi Allah, mereka telah membohongi diri mereka sendiri, mereka telah menjanjikan kepada mereka sendiri perkara yang mustahil. Mereka telah menaiki tempat yang susah dan bahaya, kaki mereka akan tergelincir ke bawah. Mereka mahu melantik seorang imam dengan akal yang tercengang dan kekurangan serta pendapat-pendapat yang menyesatkan. Malah mereka bertambah jauh, [bagaimana mereka sampai berpaling!][6] Mereka telah mencari kesusahan, mereka telah berbohong (ifkan), mereka telah tersasar jauh, mereka berada di dalam kebingungan kerana mereka telah meninggalkan imam a.s di dalam keadaan mengetahuinya “Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan Allah sedangkan mereka berpandangan tajam”[7]
       Mereka telah mengetepikan pilihan Allah dan pilihan Rasulullah s.a.w dan keluarganya kepada pilihan mereka sendiri sedangkan al-Qur’an menyeru mereka “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”[8] Dan firman Allah “Dan tidaklah patut bagi mukmin dan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka”[9] dan firman-Nya “Mengapa kamu (berbuat sedemikian): Bagaimana kamu mengambil keputusan?
       Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan) yang kamu membacanya? Bahawa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu. Atau apakah kamu memperoleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari Kiamat; sesugguhnya kamubenar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyalah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung-jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka  benar”[10] Dan Allah telah berfirman “Maka apakah mereka tidak memerhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”[11].
       Ataukah “hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui?”[12] Atau “Mereka telah berkata: Kami telah mendengar sedangkan mereka tidak mendengarkan (nya). Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah mereka yang pekak dan tuli, yang tidak mengerti apa-apapun. Jikalau Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, nescaya Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan Jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, nescaya mereka pasti berpaling juga sedang mereka memalingkan diri”[13] ataukah “Mereka telah berkata: Kami telah mendengar dan kami menderhakainya”[14] Malah ia adalah “Kurnia Allah, Dia kurniakannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah mempunyai kurnia yang besar”[15]
       Bagaimana mereka berhak memilih seorang imam? Sedangkan imam adalah seorang alim yang tidak jahil, seorang pengembala yang tidak cuai, galian yang suci dan bersih, warak dan zuhud, keilmuan dan ibadah, secara khusus disebut di dalam doa Rasulullah s.a.w, keturunan yang disucikan, tiada kecurigaan pada keturunannya, tiada seorangpun yang dapat menandinginya pada kemuliaannya, beliau adalah daripada Quraisy dan kemuncak Bani Hasyim, daripada keturunan Rasulullah s.a.w, diredai oleh Allah a.w. beliau adalah di kemuncak yang mulia, cabang daripada ‘Abd al-Manaf, ilmu yang bertambah, kesabaran yang sempurna, yang mengetahui dengan Imamah, alim dengan politik, mentaatinya adalah wajib, melaksanakan urusan Allah (Qaim bi-amri llahi), penasihat kepada hamba-hamba Allah, penjaga kepada agama Allah.
       Sesungguhnya para nabi dan para imam a.s diberi taufik oleh Allah dari simpanan ilmu-Nya dan hikmah-Nya yang mana Dia tidak memberikannya selain daripada mereka. Justeru, ilmu mereka mengatasi keilmuan ahli zaman mereka sebagaimana firman Allah “Maka apakah mereka yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat sedemikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?”[16] Dan firman-Nya “Dan siapa yang diberikan hikmah, maka dia telah diberikan kebaikan yang banyak”[17]. Dan firman-Nya kepada Talut “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”[18]
       Dan Dia telah berfirman kepada nabi-Nya “Dan Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah kurnia Allah sangat besar atasmu”[19] Dan Dia telah berfirman tentang para imam Ahlu l-Bait nabi-Nya dan zuriatnya a.s “Ataukah mereka dengki kepada manusia, lantaran kurnia yang Allah telah berikan kepada manusia itu? Sungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikannya kerajaan yang besar. Maka di antara mereka ada yang beriman kepadanya dan di antara mereka ada yang menghalangi (manusia) dari beriaman kepadanya. Dan cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang menyala-nyala apinya”[20]
       Sesungguhnya apabila Allah memilih seorang hamba untuk pengurusan hamba-hamba-Nya, Dia melampangkan dadanya untuknya; Dia menyimpan di hatinya pancaran hikmah dan memberi ilham kepadanya dengan ilmu. Selepas itu beliau tidak menggagap dengan jawapan dan beliau tidak akan menyeleweng daripada kebenaran. Lantaran itu, beliau adalah maksum, disokong, diberi taufik dan petunjuk (fa-huwa ma‘sum muayyad, muwaffaq musaddad). Beliau akan terselamat dari kesalahan, kegelinciran dan kesilapan (qad amina min al-Khataya wa al-Zulal wa al-‘Ithar). Allah mengkhususkan untuknya dengan sifat-sifat sedemikian supaya beliau menjadi Hujjah-Nya ke atas hamba-hamba-Nya, saksi-Nya ke atas makhluk-Nya “Itu adalah kurnia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah mempunyai kurnia  yang besar”[21]
       Adakah mereka mempunyai kuasa untuk melakukan seperti ini, lantaran itu, mereka boleh memilihnya? Atau bolehkah seorang yang mereka pilih itu mempunyai sifat-sifat ini sehingga mereka mengutamakannya? Dengan nama Baitullah, mereka telah melampaui kebenaran dan meninggalkan Kitab Allah di belakang mereka seolah-olah mereka tidak mengetahuinya dan di dalam Kitab Allah terdapat petunjuk dan penawar, tetapi mereka telah menolaknya dan mengikuti hawa nafsu mereka.
       Justeru, Allah telah mencela mereka, memarahi mereka dan menghina mereka, maka Dia telah berfirman “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk daripada Allah, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada mereka yang zalim”[22] Dan Dia telah berfirman “Maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka”[23] Dan Dia telah berfirman “Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi mereka yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”[24]
       (94)-2. Muhammad bin Yahya, daripada Ahmad bin Muhammad bin Isa, daripada al-Hasan bin Mahbub, daripada Ishaq bin Ghalib, daripada Abu Abdillah a.s di dalam khutbahnya menyebut tentang keadaan para imam a.s dan sifat-sifat mereka: Sesungguhnya Allah a.w telah menerangkan agama-Nya melalui para imam yang mendapat petunjuk daripada keluarga nabi kami, Dia telah menjelaskan melalui mereka jalan-Nya, membuka batin pancaran ilmu-Nya melalui mereka. Lantaran itu, sesiapa yang mengetahui di kalangan umat Muhammad tentang hak para imam a.s yang wajib ke atasnya, nescaya beliau merasai kemanisan imannya dan mengetahui kebaikan Islamnya. Ini kerana Allah telah melantik seorang imam sebagai tanda ke atas makhluk-Nya dan menjadikannya sebagai Hujjah ke atas pencinta-pencinta-Nya.
       Allah telah memakaikannya dengan mahkota ketenangan dan menutupinya dengan cahaya Yang Maha Perkasa, Dia telah menjadikannya sebagai tali yang memanjang ke syurga dengan kasih-sayang-Nya tidak pernah terputus daripadanya. Tidak ada satu perkara pun yang dapat dicapai di sisi Allah kecuali melalui tali-talinya[25] (la yunalu ma ‘inda llahi illa bi-jihati asbabi-hi) dan Allah tidak  menerima amalan baik hamba-hamba-Nya melainkan dengan mengetahuinya (bi-ma‘rifati-hi)[26]. Lantaran itu, beliau mengetahui kesamaran kegelapan yang mendatanginya, jalan-jalan yang kabur dan kesamaran-kesamaran fitnah.
       Allah sentiasa memilih mereka untuk makhluk-Nya daripada anak-anak lelaki al-Husain a.s selepas setiap imam. Dia telah mengutamakan mereka untuk itu, memilih mereka dan meredai mereka untuk makhluk-Nya. Apabila seorang imam daripada mereka mati, maka Dia melantik seorang imam untuk makhluk-Nya selepasnya sebagai satu tanda yang terang, petunjuk yang bersinar, imam yang bertanggungjawab, Hujjah yang alim, para imam daripada Allah sebagaimana firman-Nya “Mereka memberi petunjuk dengan hak dan dengan hak itulah mereka menjalankan keadilan”[27]
       Merekalah Hujjah-Hujjah Allah, pendakwah-pendakwah-Nya dan pengembala-pengembala kepada makhluk-Nya yang mana hamba-hamba-Nya mengambil petunjuk daripada mereka, semua tempat disinari cahaya mereka, keberkatan bertambah menerusi keberkatan mereka. Allah telah menjadikan mereka penghidupan kepada umat manusia, lampu kepada kegelapan, kunci kepada percakapan, tiang kepada Islam. Ketetapan Allah kepada mereka telah berlaku dengan kepastian. Justeru, imam a.s adalah dilantik dan diredai, petunjuk yang dipercayai (olehNya), pengganti yang diharap-harapkan (al-Qaim al-Murtaja). Allah telah mengutamakannya untuk itu, Dia telah membentuknya di dalam “penglihatan-Nya” di alam atom (dhar) ketika ia bertaburan dan di alam daratan ketika ia membebaskannya, di alam bayangan (al-Zillah) sebelum penciptaan makhluk[28], berada di kanan Arasy-Nya, dikurniakan hikmah yang tersembunyi bersamanya. Dia telah memilihnya menerusi ilmu-Nya dan memilihnya kerana kesuciannya.
       Imam adalah peninggalan Adam a.s dan sebaik-baik zuriat Nuh a.s, terpilih daripada keluarga Ibrahim a.s, keturunan daripada Ismail a.s dan pilihan daripada keluarga Muhammad s.a.w yang sentiasa dijaga dengan “mata Allah”, menjaganya dengan penutupan-Nya, jauh daripada jaringan Iblis dan tentera-tenteranya, [jauh daripada] hembusan malam dan hembusan penjahat. Beliau adalah bebas daripada kecacatan badan, terlindung daripada mala-petaka, terpelihara daripada kesalahan (ma‘suman min al-Zillaat), terkawal daripada segala kejahatan, dikenali dengan kesabaran dan kebaikannya terserlah. Dikenali dengan keluhuran akhlak, ilmu dan kelebihan pada akhir kehidupan bapanya. Urusan bapanya diberikan kepadanya. Beliau berdiam diri dari bercakap [29]ketika ayahnya masih hidup. Apabila tempoh bapanya berakhir dan ketetapan Allah mengenainya berakhir kepada kehendak-Nya dan iradat datang daripada Allah untuk mencintainya dan apabila tempoh bapanya berakhir dan beliau mati, maka urusan Allah bertukar kepadanya selepasnya. Kemudian Dia memberi amanah-Nya kepadanya dan menjadikannya pemimpin di bumi-Nya.
       Dan Dia menguatkannya dengan roh-Nya, mengurniakan kepadanya ilmu-Nya dan menjelaskannya dengan terperinci, menyimpan rahsia-Nya, melantiknya untuk urusan-Nya yang besar, memberitahunya tentang kelebihan ilmu-Nya dan melantik-nya sebagai tanda kepada makhluk-Nya dan menjadikannya Hujjah ke atas semua makhluk-Nya, sebagai cahaya untuk agama-Nya dan pengembala ke atas hamba-hamba-Nya. Allah meredainya sebagai imam untuk mereka.
        Dia telah menyimpan di sisinya ilmu-Nya dan memintanya supaya menjaganya, memperkuatkan hikmat-Nya untuknya, membuatnya penjaga kepada agama-Nya, melantiknya untuk urusan-Nya yang besar, menghidupkan jalan-Nya, fardu-Nya dan batasan-Nya. Lantaran itu, beliau melaksanakan keadilan, ketika mereka yang jahil dan pendebat-pendebat agama di dalam kebingungan, dengan cahaya yang terang dan penawar yang mujarab; kebenaran yang jelas, keterangan yang nyata di setiap perkara menurut jalan yang dilalui oleh bapa-bapanya yang benar.
       Tiada seorang yang tidak mengetahui hak alim ini[30] kecuali seorang yang celaka (fa-laisa yajhalu haqqa hadha al-‘Alim illa syaqiyyun), tiada seorang yang mengingkarinya kecuali orang yang sesat (wa-la yajhadu-hu illa ghawiyyun) dan tiada seorang yang  menentangnya kecuali orang yang berani menentang Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi (wa-la yasuddu ‘an-hu illa jariyyun ‘ala llahi jalla wa ‘alaa).
                            
                               
[1] Surah al-An‘aam (6): 38
[2] Surah al-Ma’idah (5): 3
[3] Surah al-Anbiyaa’ (21): 72-73
[4] Surah Ali Imraan (3): 68
[5] Melainkan beliau seorang Imam
[6] Surah al-Taubah (9): 30
[7] Surah al-‘Ankabuut (29): 38
[8] Surah al-Qasas (28): 68
[9] Surah al-Ahzab (33): 36
[10] Surah al-Qalam (68): 36-41
[11] Surah Muhammad (47): 24
[12] Surah al-Taubah (9):87
[13] Surah al-Anfaal (8):21-23
[14] Surah al-Baqarah (2): 93
[15] Surah al-Hadiid (57: 21, Surah al-Jumu‘ah (62): 4
[16] Surah Yunus (10): 35
[17] Surah al-Baqarah (2): 269
[18] Surah al-Baqarah (2): 247
[19] Surah al-Nisaa’ (4):113
[20] Surah al-Nisaa’ (4): 54-55
[21] Surah al-Hadiid (57): 21 dan Surah al-Qasas (28): 50
[22] Surah al-Qasas (28): 50
[23] Surah Muhammad (47): 8
[24] Surah al-Mu’min (40): 35
[25] Para imam a.s
[26] Imam a.s
[27] Surah al-A‘raaf (7): 159
[28] Penciptaan para imam a.s adalah lebih awal daripada penciptaan makhluk-Nya yang lain.
[29] Tentang imamah.
[30] Imam a.s

Kelemahan Ahlusunnah (Sunni) Dalam Menilai Hadis ! Kelemahan Hadis Ahlusunnah (Sunni)

Aswaja Aswaja Aswaja

aswaja tidak bebas salah, tidak bebas polusi pemikiran

http://syiahali.files.wordpress.com/2013/07/caead-aswaja1.jpg?w=620

Sebuah manhaj dari sebuah kelompok mayoritas di bumi pertiwi yang paling banter meneriakkan pentingnya ikut ulama, menghargai dan menjunjung tinggi ulama. Tunduk dan kepatuhan yang dikemas dengan atribut Aswaja, adalah suatu ciri khas kelompok itu. Kendati antara nama dan sikap dan sifatnya tidak sama alias paradok.

Kelemahan Ahlusunnah (Sunni) Dalam Menilai Hadis :

1.Hadis  Sunni  Di Pengaruhi  Rezim  Politik… Mu’awiyah  telah mengumumkan dengan tegas bahwa barangsiapa menukil sebuah hadis tentang manâqib Ahlulbait as, maka jiwa, harta, dan harga dirinya tidak akan mendapatkan jaminan keselamatan dan ia juga memerintahkan.. Barangsiapa mendapatkan sebuah hadis tentang pujian dan manâqib para sahabat dan khalifah, maka ia berhak mendapatkan hadiah yang memuaskan.. Akhirnya, banyak hadis yang dibuat dan dipalsukan berkenaan dengan keutamaan para sahabat…Mu’awiyah  juga memerintahkan supaya Ali as dicaci-maki di atas mimbar-mimbar pidato di seluruh penjuru pemerintahan Islam.

2. Dinasti Bani Umayyah dan Dinasti  Bani  Abbasiyah  adalah  pendukung utama dari kelompok Sunni, bahkan mayoritas  khalifah kedua rezim tersebut  adalah termasuk kelompok Islam Sunni  yang  menzalimi  12  Imam  Ahlul Bait.. Kelompok Islam Sunni terlahir karena perkembangan masalah keagamaan dan juga masalah sosial dan politik dalam Islam yang dimulai sejak wafat Nabi Muhammad saw.

http://syiahali.files.wordpress.com/2013/07/caead-aswaja1.jpg?w=620

Fenomena Aswaja itu tersendiri dalam bingkai pemahaman ajaran Islam, terlahir dari sebuah rahim pemikiran merasa superior, terutama dari kisah kisah mitos dan kultus sebuah peradaban RAJA yang ada sebelumnya. Karena itulah Umayyah Abbasiyah bisa disebut sebagai perancang model agama (bid’ah), yang sulit tersentuh perasaan bersalah ketika ajarannya campur aduk dengan ajaran ajaran lain.

Setelah syahadah Amirul Mukminin Ali as, berdasarkan wasiatnya dan bai’at masyarakat, Imam Hasan bin Ali as yang dalam pandangan Syi‘ah adalah imam kedua menjadi khalifah. Akan tetapi, Mu‘awiyah tidak tinggal diam. Ia mengerahkan bala tentaranya ke Irak yang pada waktu itu adalah ibu kota pemerintahan dan memerangi Hasan bin Ali as.

Dengan berbagai propaganda dan iming-iming urang yang melimpah, sedikit demi sedikit ia berhasil merusak jiwa (perang) para sahabat dan komandan tentara Hasan bin Ali as. Akhirnya, ia memaksa Hasan bin Ali—dengan dalih perdamaian—untuk menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada dirinya. Dan Hasan bin Ali pun—dengan syarat kekhalifahan harus kembali ke tangannya setelah Mu‘awiyah meninggal dunia dan para pengikut Syi‘ah tidak dianiaya—menyerahkan tampuk kekhilafahan kepadanya.[1]

Pada tahun 40 H., Mua’wiyah berhasil menguasai tampuk kekhalifahan Islam. Langsung ia berangkat ke Irak. Dalam sebuah ceramahnya di hadapan khalayak, ia menegaskan, “Aku tidak memerangi kamu sekalian karena ingin (menegakkan) puasa dan shalat. Tetapi, aku hanya ingin berkuasa atas kamu sekalian. Dan sekarang aku telah sampai kepada tujuan itu.”[2]

Ia juga menegaskan, “Perjanjian dengan Hasan yang telah kutandatangani telah kubatalkan dan berada di bawah kakiku.”[3] Dengan ucapannya ini, Mu‘awiyah ingin menegaskan bahwa ia ingin memisahkan politik dari agama dan tidak akan menjamin (pelaksanaan) undang-undang dan hukum Islam, serta selalu berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya demi menjaga kekekalan pemerintahannya. Jelas bahwa pemerintahan semacam ini adalah sistem kerajaan, bukan kekhalifahan Rasulullah saw. Atas dasar ini, sebagian orang yang pernah bertamu kepadanya, mereka mengucapkan salam kepadanya atas nama seorang raja.[4] Ia sendiri pun dalam sebagian pertemuan khususnya menegaskan bahwa pemerintahannya adalah sebuah pemerintahan kerajaan,[5] meskipun di hadapan khalayak ramai ia menyebut dirinya sebagai khalifah Rasulullah saw.

Akhirnya, Mu‘awiyah yang memang kekuasaannya dibangun di atas pondasi paksaan dan ingin membangun sebuah kerajaan dengan sistem warisan mangaktuaslisaikan niatnya tersebut. Ia mengangkat anaknya, Yazid yang arogan dan tidak memiliki jiwa keagamaan sedikit pun sebagai putra mahkota dan memilihnya sebagai penggantinya.[6] Dan Yazid telah menyulut api peristiwa-peristiwa yang sangat memalukan itu.

Dengan ucapannya itu, Mu‘awiyah ingin menegaskan bahwa ia tidak akan mengizinkan Hasan as memegang kembali kekhalifahan. Yaitu, berkenaan dengan kekhalifahan setelah dirinya, ia mempunyai pogram lain. Program tersebut adalah membunuh Hasan as dengan menggunakan racun,[7] dan dengan itu, ia ingin melapangkan jalan bagi anaknya sendiri. Dengan menginjak-injak pernjanjian damai itu, Mu‘awiyah ingin memahamkan kepada masyarakat luas bahwa ia tidak akan memberikan kesempatan kepada para pengikut Syi‘ah untuk hidup aman dan tenang, dan untuk—seperti masa-masa sebelumnya—meneruskan kegiatan-kegiatan mereka. Ia pun telah merealisasikan niat buruknya itu.[8]

Mu’awiyah  telah mengumumkan (dengan tegas) bahwa barangsiapa menukil sebuah hadis tentang manâqib Ahlulbait as, maka jiwa, harta, dan harga dirinya tidak akan mendapatkan jaminan keselamatan[9] dan ia juga memerintahkan, barangsiapa mendapatkan sebuah hadis tentang pujian dan manâqib para sahabat dan khalifah, maka ia berhak mendapatkan hadiah yang memuaskan.

Akhirnya, banyak hadis yang dibuat dan dipalsukan berkenaan dengan keutamaan para sahabat [10]

Ia juga memerintahkan supaya Ali as dicaci-maki di atas mimbar-mimbar pidato di seluruh penjuru pemerintahan Islam. (Perintah ini masih terus berlaku hingga masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah dari dinasti Bani Umaiyah, pada tahun 99-101 H.). Ia dengan bantuan para antek dan sutradara politiknya yang sebagian mereka adalah sahabat telah membunuh para pengikut Ali as dan menancapkan kepala sebagian dari mereka di atas tombak, lalu mengelilingkannya di kota-kota. Ia memaksa para pengikut Syi‘ah di mana pun mereka berada untuk mencaci-maki Ali, dan jika mereka enggan melakukannya, maka mereka akan dibunuh.[11]

Masa Terpahit Bagi Syi‘ah

Masa terpahit bagi Syi‘ah sepanjang sejarah perkembangannya adalah masa dua puluh tahun pemerintahan Mu‘awiyah. Mereka tidak memiliki jaminan keselamatan sama sekali, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang dikenal dan dapat ditemukan dengan mudah.

Dua imam mazhab Syi‘ah, imam kedua dan ketiga, yang hidup sezaman dengan Mu‘awiyah tidak memiliki sarana dan prasarana paling minimal sekalipun untuk memperbaiki situasi dan kondisi yang sangat menyakitkan itu. Imam ketiga pun yang bangkit menentang Yazid di enam bulan pertama kekhalifahannya dan syahid bersama seluruh sahabat dan putra-putranya, tidak memiliki kesempatan untuk mengadakan perombakan itu selama sepuluh tahun ia hidup pada masa kekhalifahan Mu‘awiyah.

Mayoritas pengikut mazhab Ahlusunah dalam menjustifikasi seluruh pembantaian yang tidak berdasar dan arogansi yang dilakukan oleh para sahabat, khususnya Mu‘awiyah dan para sutradara politiknya itu hanya berkomentar, “Mereka adalah para sahabat dan berdasarkan hadis-hadis yang dinukil dari Rasulullah saw, mereka adalah mujtahid dan memiliki alasan (ma’dzûr), serta Allah SWT telah meridhai mereka. Setiap kriminalitas dan kejahatan yang mereka lakukan akan dimaafkan.” Akan tetapi, Syi‘ah tidak menerima justifikasi semacam ini, karena:

Pertama, tidak masuk akal seorang pemimpin masyarakat, seperti Rasulullah saw, yang telah bangkit untuk menghidupkan kebenaran, keadilan, dan kebebasan, telah menarik orang lain untuk meyakini keyakinannya, telah mengorbankan seluruh wujudnya di atas jalan tujuan yang suci itu, telah merealisasikan dan mencapai seluruh tujuannya, memberikan kebebasan mutlak kepada para pengikutnya atas masyarakat dan hukum-hukumnya yang suci, dan memaafkan segala jenis pembasmian atas kebenaran, kejahatan, dan arogansi. Menurut sebuah pepatah, ia membangun sebuah rumah dengan sebuah tangan dan peralatan, lalu ia menghancurkannya dengan tangan dan peralatan itu sendiri.

Kedua, hadis-hadis yang menyucikan sahabat, membenarkan seluruh tindakannya yang tidak benar, dan memperkenalkannya sebagai orang yang terampuni dosanya dan terjaga (dari segala kesalahan) telah sampai kepada kita melalui jalur sahabat dan dinisbahkan kepada hadis-hadisnya. Para sahabat sendiri—sesuai dengan kesaksian sejarah yang pasti—tidak pernah memperlakukan sahabat yang lain sebagai orang yang terjaga (dari kesalahan) dan terampuni dosanya. Para sahabat jugalah yang melakukan pembunuhan, pencaci-makian, laknat, dan pelecehan harga diri terhadap sahabat yang lain, dan mereka tidak pernah melakukan toleransi sedikitpun dalam hal ini.

Berdasarkan penjelasan di atas—dengan kesaksian para sahabat sendiri—hadis-hadis itu tidaklah sahih, dan seandainya pun hadis-hadis itu adalah sahih, maka maksudnya adalah arti lain selain keterjagaan dan penyucian secara hukum. Seandainya pada suatu hari Allah SWT dalam firman-Nya meridhai para sahabat[12] dikarenakan khidmat yang telah mereka laksanakan dalam menjalankan perintah-Nya, hal itu adalah sebuah penghargaan atas ketaatan mereka di masa lalu, bukan berarti bahwa di masa mendatang mereka dapat melakukan segala pembangkangan sesuai dengan kehendak hati mereka.

Sumber :

[1] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 191. Begitu juga buku-buku sejarah yang lain.

[2] Syarah Ibn Abil Hadid, jilid 4, hal. 160; Târîkh ath-Thabari, jilid 4, hal. 124; Târîkh Ibn Atsir, jilid 3, hal. 203.

[3] Ibid.

[4] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 193.

[5] Ibid., hal. 202.

[6] Yazid adalah seorang pembual nafsu dan peminum khamar. Ia selalu mengenakan pakaian sutra yang menawan. Ia memiliki seekor anjing dan kera sebagai teman bermainnya. Malam-malamnya selalu ditemani oleh musik, nyanyian pembangkit nafsu, dan khamar. Nama keranya adalah Abu Qais. Ia selalu mengenakan pakaian yang indah kepadanya dan menghadirkannya di majelis perjudiannya. Kadang-kadang ia juga menunggangkannya di atas kuda dan mengirimnya untuk melakukan perlombaan. Silakan rujuk Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 196 dan Murûj adz-Dzahab, jilid 3, hal. 77.

[7] Murûj adz-Dzahab, jilid 3, hal. 5; Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 183.

[8] An-Nashâ’ih al-Kâfiyah, hal. 72, menukil dari buku-buku yang menjelaskan peristiwa-peristiwa sejarah.

[9] Abul Hasan al-Mada’ini dalam buku Al-Ahdâts berkata, “Setelah pembentukan tahun “Jamaah”, Mua’wiyah menulis sepucuk surat kepada seluruh pegawainya, ‘Pundakku bebas dari orang yang menukil sebuah hadis tentang keutamaan Abu Turab dan keluarganya.’” (Muhammad bin ‘Aqil, an-Nashâ’ih al-Kâfiyah, cetakan Najaf 1386 H., hal. 87 dan 194)

[10] An-Nashâ’ih al-Kâfiyah, hal. 72-73.

[11] Ibid. hal. 58, 64, 77, dan 78.

[12] “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama [masuk Islam] di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah [9]: 100)

Benarkah Syi’ah mencaci habis habisan Sahabat yang dikasihi Nabi ?? Syi’ah pengkafir/mengkafir sahabat ?

Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat (Mursyidul Am PAS) menerima zakat dari syarikat KoWahida, Penganut Syiah, Mohammad Faisol Abdul Rahman (Pengerusi PKR Perlis)

Pertanyaan wahabi :

kenapa anda membela “syi’ah” yg mengkultuskan Ali bin Abi Thalib dan mencaci habis habisan Sahabat yang dikasihi Nabi (Abu Bakar Siddiq,Umar bin Khathab) ? Karena jasa para sahabat itulah Agama Islam ini “Tegak”dan berkembang keluar Arab hingga keseluruh dunia termasuk Indonesia ini.

jawaban :  

Bismillah

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, dan ahlul baitnya, serta semua orang yang mengikuti beliau.

Darimana Kita Ambil Agama Kalau Bukan Dari Sahabat dan Ahlul Bait ?

Syi’ah Mencintai Sahabat Yang Setia Pada Ali

Terkait masalah ini, kami perlu menegaskan bahwa tidak ada satu pun Syiah, baik ulamanya maupun orang awamnya yang membenci semua sahabat. Bahkan syiah   sangat mencintai mayoritas sahabat yang wafat semasa Nabi SAW hidup + minoritas SAHABAT yang hidup pasca Nabi SAW wafat. Justru kami meragukan klaim wahabi  yang mencintai ahlul bait

Al Quran membantah Total Teori Semua Sahabat  Adil

Tidak dapat dinafikan, para sahabat Rasulullah(keredhaan Allah swt ke atas mereka yang kekal setia kepada baginda) memainkan peranan penting dalam membantu Rasulullah(sawa) menegakkan syiar Islam, dan di dalam Al Quran, di banyak tempat, Allah swt memuji mereka. Tetapi harus diingat, tidak semua para sahabat itu adil, dan ada segelintir dari mereka mendapat kecaman dari Allah swt.

Ramai dari kita keliru dan mengambil sikap sambil lewa apabila membaca ayat-ayat ini seolah-olah Allah swt menujukan ayat-ayat ini kepada sekalian manusia, tetapi pengecualian diberikan kepada para sahabat. Tetapi harus diingat, wahyu Allah swt ini dibacakan melalui mulut Rasulullah(sawa), bermakna ketika baginda membacakan wahyu ini, para sahabat turut tidak terkecuali dari ayat-ayat ini. Para sahabat juga liable dan tertuju secara langsung apabila Rasulullah(s) menyampaikan wahyu ini.

Berikut ialah apa yang dikatakan oleh Allah swt melalui Al Quran al Majid mengenai para sahabat.

  1. “Hai orang-orang beriman, barangsiapa yang murtad di antara kamu dari pada agamanya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mengasihi mereka dan mereka mengasihi Allah, mereka lemah lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka berjuang pada jalan Allah, dan tidak takut akan cerca orang yang mencerca. Demikian itu kurnia Allah, diberikan kepada sesiapa yang dikehendakinya, Allah luas kurnianya lagi maha mengetahui.” (5:54)   Komen: Jika semua para sahabat itu adil dan taat secara total kepada Rasulullah(s) dan Tuhannya, maka tidak perlu turun ayat ancaman seperti ini, sehingga Allah swt memberi amaran akan menggantikan mereka dengan kaum lain yang lebih taat.
  2. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu khianat pada Allah dan Rasul, dan jangan pula khianat terhadap barang-barang yang diamanatkan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Ketahuilah bahwa  harta dan anak2mu menjadi cubaan dan sesungguhnya disisi Allah pahala yang besar.”(8:27-28) Komen: Ingatan Allah kepada para sahabat yang adil agar jangan mengkhianat.
  3. “Hai orang2 yang beriman, sahutlah seruan Allah dan Rasul, bila ia menyeru kamu, untuk menghidupkan kamu, dan ketahuilah, bahawa Allah membatas antara manusia dengan hatinya, dan sesungguhnya kamu akan dihimpunkan kepadanya. Takutlah oleh mu akan fitnah yang tiada akan menimpa orang2 yang aniaya sahaja diantara kamu, dan ketahuilah, bahawa Allah amat keras siksaannya.” (8:24-25): Fitnah akan menimpa masyarakat yang adil secara total?
  4. “Hai orang2 yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika tentera musuh menyerang kamu, lalu kami kirim kepada mereka angin badai dan tentera yang tidak kamu lihat. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Ketika mereka menyerang kamu dari sebelah atas kamu dan dari sebelah bawah kamu, dan ketika miring pandangan dan naik jantung ke kerongkong kamu(kerana ketakutan) dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berbagai-bagai sangkaan. Di sana lah di cubai(keimanan) orang-orang yang beriman, dan mereka gementar dengan gementaran yang keras. Ketika berkata orang-orang munafiq dan orang2 yang di dalam hatinya ada penyakit(ragu-ragu): Tidak adalah janji Allah dan Rasulnya melainkan tipuan semat-mata.” (33:9-12)Komen: Para sahabat yang adil secara total menyangka terhadap Allah dengan berbagai sangkaan?
  5. “Hai orang2 yang beriman, mengapa kau  mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah, karena kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat.(61:24) Komen: Para sahabat yang adil secara total mengatakan sesuatu yang mereka tidak buat?
  6. “Apa belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingati Allah dan kebenaran yang diturunkannya. (57:16) Komen: Para sahabat yang adil secara total ada di kalangan mereka yang masih tidak tunduk hati mereka?
  7. Mereka menyebut-nyebut kurnianya kepada engkau, kerana mereka masuk Islam. Katakanlah: janganlah engkau menyebut-nyebut kurniamu kepada ku, kerana keislaman kamu itu, bahkan Allah yang memberikan kurnia kepada mu, kerana dia menunjuki kamu kearah keimanan, jika kamu orang2 yang benar.” (49:17) Komen: Para sahabat yang adil secara total bersifat begini?
  8. Orang-orang yang tiada beriman kepada Allah dan hari kemudian itu, meminta izin kepada mu serta syak wasangka di dalam hatinya, sedang mereka dalam keraguan serta bimbang.
  9. Kalaulah mereka keluar bersama kamu, tidaklah mereka menambahkan kamu melainkan kerosakan, dan tentulah mereka segera menjalankan hasutan di antara kamu, (dengan tujuan) hendak menimbulkan fitnah (kekacauan) dalam kalangan kamu; sedang di antara kamu ada orang yang suka mendengar hasutan mereka. Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.(9:47) Komen: Para sahabat yang adil secara total suka mendengar hasutan, dan suka menghasut. Sebuah masyarakat yang adil secara total wujud golongan yang munafik dalam hatinya, namun kita tidak mengenali mereka, Rasul juga ada tidak menceritakan siapa. Bagaimana mahu mengenali mereka? Sudah tentu dengan melihat tindakan mereka, sebelum dan sesudah kewafatan Rasul(s).
  10. Orang-orang  yang ditinggalkan (tidak turut berperang) itu, bersukacita disebabkan mereka tinggal di belakang Rasulullah (di Madinah); dan mereka (sememangnya) tidak suka berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah (dengan sebab kufurnya), dan mereka pula (menghasut dengan) berkata: “Janganlah kamu keluar beramai-ramai (untuk berperang) pada musim panas ini”. Katakanlah (wahai Muhammad): “Api neraka Jahannam lebih panas membakar”, kalaulah mereka itu orang-orang yang memahami.(9:81) Komen: Para sahabat yang adil secara total tidak suka keluar berperang dengan Nabi(s), malah diancam pula oleh Rasul(s). Inikah contoh para sahabat yang adil?
  11. Dan sekiranya Kami kehendaki, tentulah Kami akan memperkenalkan mereka kepadamu (wahai Muhammad), lalu engkau tetap mengenalinya dengan tanda-tanda (yang menjadi sifat) mereka; dan demi sesungguhnya, engkau akan mengenali mereka dari gaya dan tutur katanya. Dan (ingatlah kamu masing-masing), Allah mengetahui segala yang kamu lakukan.(47:30) Komen: Para sahabat yang adil secara total juga wujud golongan munafik di dalamnya, kenalilah mereka melalui perbuatan mereka.
  12. Mereka membantahmu tentang kebenaran (berjihad) setelah nyata (kepada mereka kemenangan yang engkau janjikan), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebabnya).(8:6) Komen: Para sahabat yang adil secara total membantah Nabi(s) dalam berjihad walaupun telah dijanjikan kemenangan?
  13. (Ingatlah), kamu ini adalah orang-orang yang bertabiat demikian – kamu diseru supaya menderma dan membelanjakan sedikit dari harta benda kamu pada jalan Allah, maka ada di antara kamu yang berlaku bakhil, padahal sesiapa yang berlaku bakhil maka sesungguhnya ia hanyalah berlaku bakhil kepada dirinya sendiri. Dan (ingatlah) Allah Maha kaya (tidak berhajat kepada sesuatupun), sedang kamu semua orang-orang miskin (yang sentiasa berhajat kepadaNya dalam segala hal). Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertaqwa dan berderma) Ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain; setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu.(47:38) Komen Ibnu Azmi: Para sahabat yang adil secara total mempunyai sifat bakhil?
  14. Dan di antara mereka ada yang mencelamu (wahai Muhammad) mengenai (pembahagian) sedekah-sedekah (zakat); oleh itu jika mereka diberikan sebahagian daripadanya (menurut kehendak mereka), mereka suka (dan memandangnya adil); dan jika mereka tidak diberikan dari zakat itu (menurut kehendaknya), (maka) dengan serta merta mereka marah.(9:58) Komen : Para sahabat yang adil secara total mencela Nabi(s) kerana tidak puas hati pembahagian zakat?
  15. Dan di antara mereka yang mendengar ajaranmu (dengan sambil lewa), sehingga apabila mereka keluar dari sisimu berkatalah mereka (secara mengejek-ejek) kepada orang-orang yang diberi ilmu : “Apa yang dikatakan oleh Muhammad tadi?” Mereka itu ialah orang-orang yang telah dimeteraikan Allah atas hati mereka, dan ialah orang-orang yang menurut hawa nafsunya.(47:16) Komen: Para sahabat yang adil secara total mengambil sambil lewa ajaran Nabi dan mengejek-ejek orang yang diberi ilmu.
  16. Dan di antara mereka ada orang-orang yang menyakiti Nabi sambil mereka berkata: “Bahawa dia (Nabi Muhammad) orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya)”. Katakanlah: “Dia mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan percaya kepada orang mukmin, dan ia pula menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya.(9:61)

Ayat-ayat di atas sepatutnya sudah memuaskan hati para pencari kebenaran yang berfikiran terbuka dan rasional,serta para pemikir yang sentiasa berusaha keluar dari kepompong propaganda yang telah diserap masuk sejak dari mula.

Dari ayat Quran di atas, dapat kita ceraikan para sahabat kepada 2 iaitu:

  1. Minoriti- Mempercayai Allah dan Rasulnya, menyerahkan urusan mereka dan kepimpinan kepada Allah dan Rasulnya, berdedikasi dengan sepenuh hati dalam perjuangan di jalan Allah, dan bersedia mengorbankan segalanya. Al Quran memanggil mereka dengan gelaran “orang-orang yang bersyukur”
  2. Majoriti- Pada luarnya mempercayai Allah dan Rasulnya, tetapi ada penyakit di dalam hatinya. Tidak berserah diri dalam  hal urusannya melainkan untuk kepentingan sendiri dan duniawi. Mereka menentang perintah Allah dan Rasulnya, serta mementingkan kemahuan diri sendiri lebih dari perintah nabi. Kumpulan ini adalah golongan yang rugi dan mewakili majorit dri para sahabat. Allah swt berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Kami telah mendatangkan kebenaran kepada kamu, tetapi kebanyakan kamu benci kebenaran itu.” (43:78)

Para pengkaji akan mendapati kumpulan majoriti ini tinggal bersama Nabi, bersolat bersama baginda dan menemani baginda dalam bermusafir.  Mereka berusaha mendekati baginda, agar perwatakan di sebalik tabir mereka tidak diketahui oleh para Muslimin yang ikhlas(ra). Mereka berusaha keras untuk melakonkan sifat-sifat mulia, membuatkan kaum muslimin lain kagum dengan kekhusyukan mereka dalam beribadah.

Jika kita mengkaji ayat-ayat Quran di atas, dan bandingkan dengan ayat-ayat Quran yang memuji para sahabat, maka kita dapat simpulkan beberapa perkara berikut:

  1. Para sahabat tidak keseluruhannya adil
  2. Mereka berkemampuan untuk berdosa
  3. Para munafik juga dikenali sebagai sebahagian dari para sahabat, tetapi tidak dikenali umum
  4. Keadilan sahabat harus dikenal melalui perwatakan, percakapan dan tindak tanduknya samada melanggar larangan Allah swt atau tidak.
  5. Ayat-ayat Quran yang menunjukkan redha Allah kepada para sahabat hanya berlangsung selama mana mereka dalam kebenaran dan tidak mencanggahi kebenaran. Jika mereka mencanggahi kebenaran, masakan mereka diredhai Allah.
Mohon mereka yang masih berpegang teguh kepada keadilan para sahabat keseluruhan mereka, secara total, tolong menjawab soalan ini:

  • Adakah para sahabat yang membantah perintah Rasul(s) di ridhai Allah?
  • Adakah para sahabat  yang mencaci antara satu sama lain diridhai Allah?
  • Adakah para sahabat yang menfitnah antara satu sama lain diridhai Allah?
  • Adakah para sahabat yang membunuh sesama mereka diridhai Allah?
  • Adakah para sahabat yang mengkhianati bai’ah diredhai Allah?
Jelas, dapat disimpulkan, walaupun untuk seorang Sunni, kalian harus memilih dengan betul, para sahabat mana yang layak untuk anda ikut, kerana bukan semua mereka adil. Adapun jika kalian telah memilih, ambillah yang jernih dan buang yang keruh kerana bukan semua tindakan mereka selari dengan Al Quran.

 

Sahabat dari Pandangan Syiah

Pusat Syiah di Perlis

Salah satu yang menjadi topik perdebatan dan juga benih permusuhan antara saudara Sunni dan Syiah adalah masalah berkaitan para sahabat. Perkara ini diburukkan lagi apabila berlakunya salah faham dan fitnah yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu membantu memburukkan lagi keadaan.

Mereka menuduh Syiah membenci para sahabat, mencaci maki mereka serta mengatakan bahawa Syiah menjatuhkan hukum kafir kepada para sahabat. Tidak hairanlah perselisihan dan pergaduhan sangat mudah terjadi kerana di sebelah pihak, Sunni menganggap semua para sahabat adalah adil dan saksama serta soleh, tanpa sebarang pertimbangan atas kelakuan mereka. Gelaran sahabat diberikan tanpa kompromi kepada sesiapa sahaja dari mereka yang mendampingi Rasulullah sehingga lah kepada mereka yang pernah sekalipun melihat baginda. Manakala Syiah memilih sikap berhati-hati dalam mendefinasikan perkataan “sahabat” serta kepada siapa gelaran ini diberikan. Kami menilai sikap dan perbuatan para sahabat dengan Al-Quran dan Sunnah, untuk mengetahui kedudukan dan integriti sahabat di sisi Islam.

Jadi atas dasar kesatuan Ummah, maka perlu rasanya saya membuat beberapa siri artikel mengenai para sahabat, objektifnya untuk memberi penjelasan tentang pandangan Syiah tentang para sahabat secara umumnya, dan secara terperinci mengenai beberapa sahabat yang sangat-sangat menjadi kontroversi antara kedua puak.

Secara ringkasnya Syiah mengkategorikan para sahabat kepada 3 kumpulan dan kategori mengikut kelakuan dan sikap mereka yang dinilai berdasarkan undang-undang Islam dari Al Quran dan Al Hadis. Syiah juga menilai para sahabat berdasarkan fakta sejarah berkaitan kelakuan sahabat  sebelum Islam, semasa Rasulullah masih hidup dan selepas baginda wafat.

Kategori pertama

Kategori pertama para sahabat ialah para sahabat yang mempercayai Allah, Rasulnya dan telah memberi apa yang termampu untuk Islam. Kumpulam ini mempunyai kedudukan paling tinggi dalam Islam. Mereka sentiasa menyokong Nabi, bersamanya susah dan senang, mempercayai baginda, tidak pernah meragui baginda, sentiasa melaksanakan arahan nabi, tidak pernah mengengkari arahan nabi dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti baginda contohnya mengatakan Nabi bercakap karut, berhalusinasi dan sebagainya.

Kumpulan ini lah yang disebutkan di dalam Quran (48:29)

“Muhammad itu adalah Rasulullah. Orang-orang yang bersama dengannya(mukminin) sangat keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keredhaannya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, kerana bekas sujud. Itulah contoh mereka di dalam taurat. Dan contoh mereka dalam injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya, lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang yang menanamnya.  Begitu juga orang islam , pada mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat, supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal soleh diantara mereka itu.

Sahabat kategori ini ialah para sahabat yang tiada percanggahan antara kedua-dua pihak. Tidak kira Sunni dan Syiah,bersetuju dengan kemuliaan para sahabat kategori ini, oleh itu, sahabat kategori ini tidak akan dibincangkan di dalam siri artikel ini.

Perhatikan frasa yang telah di bold di atas, “di antara mereka itu”. Jelas sekali penggunaan frasa ini menunjukkan bahawa bukan semua para sahabat nabi tergolong dalam kategori ini seperti yang di war-warkan oleh saudara Ahlul Sunnah. Inilah yang kami cuba untuk nyatakan selama ini, bahawa di antara semua para sahbt nabi, hanya sebahagian sahaja yang mencapai standard yang telah di tetapkan di dalam ayat ini. Antaranya besikap keras terhadap orang kafir dan berkasih sayang antara mereka. Jadi para sahabat yng tidak bersikap keras terhadap orang kafir dan berlemah lembut sesama kaum muslimin tidak jatuh dalam kategori ini. Sekaligus membatalkan kenyataan sesetengah saudara Ahlul Sunnah bahawa ayat ini diturunkan untuk semua sahabat tanpa kecuali.

Contoh para sahabat yang jatuh dalam kategori ini ialah- Ammar Ibn Yassir, Miqdad, Malik Al Asytar, Abu Dzar Al Ghiffari dan Salman Al Farisi.

Kategori kedua

Kategori kedua ialah para sahabat yang memeluk Islam dan mengikuti Rasulullah samada kerana pilihan sendiri atau kerana ketakutan, dan mereka sentiasa menghargai dan berterima kasih kepada Rasulullah atas keislaman mereka. Bagaimanapun, mereka menyakiti Rasulullah di beberapa peristiwa, dan tidak selalunya mengikuti perintah baginda, malah kerap mencabar perintah baginda, sehingga Allah swt, melalui Quran, harus masuk campur dengan memberi amaran dan mengancam mereka. Allah membuka pekung mereka dalam banyak ayat-ayat Quran, Rasulullah juga banyak menegur mereka dalam banyak hadis. Syiah hanya menyebut kumpulan sahabat ini dengan menyebut perbuatan mereka tanpa sebarang kekaguman.

Para sahabat kategori kedua di terangkan oleh Al Quran dalam banyak ayat, walau bagaimanapun saya akan menulis artikel yang berasingan bagi tajuk ini agar tidak terlampau memanjangkan artikel. Berikut ialah beberapa potong ayat dari kitab suci Al Quran yang menyebut tentang mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu bila dikatkan padamu: Berperanglah kamu di jaln Allah, lalu kamu berlambat-lambat duduk di tanah? Adakah kamu lebih suka kepada kehidupan dunia lebih dari akhirat? Maka tidak adalah kesukaan hidup di dunia, di perbandingkan dengan akhirat melainkan sikit sekali. Jika kamu tiada mahu berperang, niscaya Allah akan menyiksamu dengan azab yang pedih dan dia akan menukarkan kamu dengan orang lain” (9:38-39)

Ayat di atas menceritakan mengenai ada sesetengah sahabat yang berasa malas untuk berjihad sehingga Allah swt mengancam mereka dengan azab seksa di akhirat. Ini bukanlah satu-satunya peristiwa mereka di tegur.

“Jika kamu berpaling, maka Allah akan menukar kamu dengan kaum yang lain dri mu.” (47:38)

Bolehkah anda terangkan siapakah yang dimaksudkan dengan kamu di dalam ayat di atas? Allah juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara mu lebih dari suara nabi..kerana takut akan menghapuskan amalan sedang kamu tiada sedar”(49:2)

Walaupun perintah Allah seperti diatas, kita dapati masih terdapat kes-kes dimana para sahabat menentang perintah nabi yang dapat kita lihat dalam sejarah seperti:

  1. Kes tawanan perang badar, apabila Rasulullah mengarahkan pembebasan mereka dengan dibayar fidyah.
  2. Perang Tabuk dimana ketika Rasulullah mengarahkan unta di sembelih untuk menyelamatkan nyawa mereka.
  3. Ketika Perjanjian Hudaibiyah, para sahabat ragu kepada kenabian
  4. Perang Hunain, di mana para sahabat menuduh Nabi tidak adil dalam pengagihan rampasan perang.
  5. Ketidakpuasan hati dalam isu perlantikan Usamah Ibnu Zaid sebagai komander tentera sejurus sebelum kewafatan baginda.
  6. Peristiwa Hari Khamis di mana para sahabat menghalang Rasulullah menulis wasiat terakhir baginda dan menuduh baginda meracau.(Na uzubillah)

Dan banyak lagi laporan-laporan dari buku-buku hadis tentang kelakuan para sahabat, yang akan saya pautkan di dalam artikel-artikel saya yang seterusnya. Contoh-contoh para sahabat yang jatuh dalam kategori ini tidak dapat  saya sertakan kerana ia bergantung kepada penilaian individu berdasarkan kelakuan setiap sahabat itu. InsyaAllah, saya juga akan menulis lebih banyak artikel dalam menganalisis keperibadian sahabat Rasulullah secara spesifik, semoga para pembaca boleh membuat pemerhatian sendiri.

Kategori ketiga

Kategori ketiga ialah para munafik yang tidak pernah mempercayai Allah dan Rasulnya, juga golongan yang menjadi murtad selepas nabi. Walaupun begitu kumpulan ini berjaya memasuki dan berada bersama kelompok kaum muslimin, dan melakukan kerosakan dari dalam. Antaranya ialah Abu Sufyan, Muawiyah dan Yazid.

Yazid berkata: “Bani Hashim bermain dengan kerajaan, tetapi tiada wahyu yang di turunkan, malah tiada langsung risalah yang benar.”- Tarikh Al Tabari dan Tadhkirat al Khawas

Abu Sufyan pernah berkata apabila Usman mengambil alih jabatan khalifah:

“Wahai anak-anak Umaiyah! Oleh kerana kerajaan ini telah jatuh ke tangan kita, maka bermainlah dengannya seperti kanak-kanak bermain bola, dan berilah ia di antara satu sama lain di dalam puak kita. Kita tidak dapat memastikan wujudnya syurga atau neraka, tetapi kerajaan ini ialah realiti.- Al Isti’ab, Ibn Abd Al Barr dan Sharh Ibn Abil Hadid.

Muawiyah berkata:

“Aku tidak memerangi kamu agar kamu bersolat, berpuasa atau membayar zakat, tetapi untuk menjadi raja kamu dan menguasai kamu.”- Tadhkirat al Khawas

Ini adalah sebahagian dari contoh yang saya berikan tentang bagaimana ketiga-tiga orang ini meragui beberapa doktrin paling penting dalam Islam. Seperti yang saya sebutkan sebelum ini, saya akan membincangkan dengan lebih detail berkenaan individu-individu ini dalam artikel saya yang lain.

Di dalam Quran, Allah swt banyak memberi amaran dan menceritakan tentang golongan ketiga ini malah memperuntukkan satu surah khas untuk mereka, iaitu surah Al Munafiqun. Berikut adalah contoh ayat mengenai kumpulan ini.

“Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul, seperti Rasul-rasul sebelumnya. Jika Rasul itu mati atau terbunuh, adakah kamu akan kembali menjadi kafir? …..Tetapi Allah akan memberi ganjaran kepada mereka yang berterima kasih.(3:144)

Ayat ini diturunkan ketika perang Uhud, apabila para sahabat melarikan diri apabila mendengar berita kematian Rasulullah saaw. Hanya beberapa orang sahaja yang masih setia bersama nabi ketika itu kebanyakannya golongan Ansar di antaranya Imam Ali, Abu Bakr, Abd Rahman Ibn Auf,Abu Dujana, Saad ibn Abi Waqas, Assim Ibn Thabit, Saad Ibn Muadh. Bagaimanapun dari sumber-sumber hadis lain antaranya Al-Mustadrak karangan Imam Al Hakim, kita dapat mengetahui bahawa hanya Imam Ali sahaja yang bersama Rasul selama pertempuran berlaku,manakala para sahabat lain yang sama baginda adalah antara yang pertama sampai semula kepada baginda selepas mereka berundur.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, nanti Allah akan mendatangkan satu kaum, Allah mengasihi mereka, dan mereka mengasihi Allah, mereka berlemah lembut kepada orang-orang beriman dank eras terhadap orang kafir, mereka berjuang di jalan Allah, tidak taku orang yang mencerca. Demikian itu kurnia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Allah luas kurnianya lagi maha mengetahui. (5:54)

Ayat ini menunjukkan adanya kemungkinan para sahabat akan murtad dari agama Islam. Panggilan “Hai orang-orang beriman!”,jelas sekali merujuk kepada kaum muslimin, yaitu para sahabat di zaman Nabi. Jelas sekali gelaran sahabat, sama sekali tidak menjamin seseorang itu dari:

  • Imuniti dari dosa
  • Tahap keimanan yang sama sehingga mati.
  • Akan sentiasa berada dalam Islam sehingga mati.
  • Imuniti dari kemahuan kepada duniawi dan tuntutan hawa nafsu.

Kami Syiah, apa yang kami mahu ungkapkan kepada saudara Sunni hanyalah bahawa, para sahabat juga manusia biasa, terdedah kepada:

  • Dosa
  • Kesilapan
  • Godaan syaitan
  • Godaan nafsu.

Yang menjadikan seorang sahabat itu sahabat ialah apabila dia setia kepada perintah Rasul selama baginda masih hidup dan setelah baginda wafat,  selama nyawa ditanggung badan. Itulah erti sahabat kepada Syiah.

Begitu juga halnya dalam kehidupan harian kita, kita hanya boleh menganggap seseorang itu sebagai sahabat apabila dia bersama kita dalam susah dan senang, setia, sentiasa menjaga hubungannya dengan kita, rahsia kita. Tetapi adakah definasi itu masih boleh dipakai jika tiba-tiba pada suatu hari, sahabat kita berubah, mengaibkan kita, tikam belakang, mengkhianati kita, membocorkan rahsia kita dan meninggalkan kita keseorangan bila kita memerlukan mereka?

Mari kita perhatikan apa kata Rasulullah saaw dalam hal ini secara ringkas melalui hadis-hadis dalam Sahih Al Bukhari.

Rasulullah bersabda:  “Pada hari kebangkitan kamu akan di sambar dari sebelah kiri, dan aku akan berkata: “Kemana mereka di bawa pergi?” Kemudian akan dijawab: “Ke neraka, demi tuhan”. Aku berkata: “Tuhanku! Mereka adalah sahabatku.” Allah menjawab: Kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan selepas kamu. Dari waktu kamu pergi meninggalkan mereka, mereka tidak berhenti-henti berubah. Aku menjawab: “Pergilah dengan dia, pergilah dengan dia, celakalah barangsiapa yang mengubah perkara-perkara selepas ku. Dan aku tidak melihat satu pun dari mereka terselamat melainkan dia menjadi seolah-olah kambing yang ditinggalkan.(minoriti)

Diriwayatkan dari Abdullah: “Aku adalah pendahulu mu di telaga kausar, dan sesetengah dari kamu akan dibawa kehadapanku hingga aku dapat melihat mereka, dan mereka akan di bawa pergi dari ku dan aku akan berkata: “Ya Tuhan mereka adalah sahabatku!” Kemudian akan di balas: “Kamu tidak mengetahui apa yang mereka telah lakukan selepas pemergianmu.”

Lihat bagaimana dalam hadis ini Nabi saaw menceritakan apa yang bakal terjadi kepada para sahabatnya,  yang mana berubah dan mengubah selepas wafatnya Rahmatal Lil Alamin. Malangnya mereka tidak akan mendapat keselamatan di Akhirat.

Nabi berkata kepada puak Ansar: “Kamu akan mendapati selepasku sifat kepentingan diri yang tinggi. Oleh itu bersabarlah sehingga kamu bertemu Allah dan Rasulnya di Kautsar.” Anas menambah, “Tetapi kami tidak bersabar.”

Lihat sahaja apa yang dihadapi kaum Ansar selepas wafat nabi dan kaum muhajirun menyingkirkan mereka.

Diriwayatkan dari Al Musayyab: Aku bertemu al Bara Ibnu ‘Azib dan berkata padanya: “Semoga kamu hidup dalam kemakmuran. Kamu menikmati persabatan dengan nabi, dan memberi Nabi perjanjian taat setia di bawah pokok.” Selepas itu Al Bara berkata: “Wahai anak saudaraku, kamu tidak mengetahui apa yang telah kami lakukan selepas baginda.” Fikirkan!!!

Begitulah secara ringkasnya, pandangan Syiah tentang para sahabat. Kami mempunyai definasi yang berbeza mengenai perkataan ‘sahabat’.  Kami tidak mengkaji kelakuan dan sejarah para sahabat untuk memalukan mereka atau mengaibkan mereka. Kami mengkaji adalah demi untuk mencari kebenaran, memastikan pihak yang benar dan pihak yang salah.

Kami mengkaji adalah kerana telah menjadi suruhan Allah swt agar kita mengkaji sejarah, supaya kita dapat mengmbil kebaikan darinya, serta mengelakkan keburukan sebagaimana Allah menyarankan kita mengambil iktibar dari peristiwa sejarah Firaun, Namrud, dan kaum-kaum lain yang diceritakan di dalam Quran, kerana sejarah mereka akan berulang kepada kaum Muslimin, dan telah terjadi di zaman para sahabat, sebagaimana sabda Rasulullah saaw: Kamu akan mengikuti jalan umat terdahulu sebelum kamu, sedikit demi sedikit, walaupun jika mereka memasuki lubang biawak sekalipun, pasti kamu akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, adakah kamu maksudkan Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah saaw menjawab, “Siapa lagi?”

Kami juga mengkaji para sahabat  atas dasar kecintaan kami kepada Ahlul Bait Rasulullah saaw, agar kami tidak mencintai mereka dan dalam masa yang sama redha kepada musuh-musuh mereka. “Tidak wujud di dalam hati kaum Muslimin rasa sayang serta cinta kepada sahabat dan musuh Allah swt.” Imam Ali bersabda: “Seseorang yang menyamakan kami dengan musuh kami bukanlah dari kalangan kami”

Kebanyakan para sahabat yang kalian letakkan di kedudukan tertinggi, semua mereka menyakiti, memerangi, mencaci maki serta membunuh Imam Ali serta Ahlul Bait Nabi yang lainnya. Sedangkan Rasulullah dengan terang bersabda:

“Barangsiapa yang mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang telah dijanjikan padaku, hendaklah dia mengiktiraf Ali sebagai walinya selepas ku, dan selepas Ali, hendaklah mengiktiraf anak-anak Ali, kerana mereka tidak akan membiarkan kamu di luar pintu petunjuk dan tidak pula membiarkan kamu memasuki pintu kesesatan.” Kanz Al Ummal

“Barangsiapa yang aku ini adalah mawla, maka Ali juga ialah mawla mereka. Ya tuhan, cintailah orang yang mencintai beliau dan musuhilah orang yang memusuhi beliau.”

  • Sahih Tarmizi
  • Sunan Ibnu Majah
  • Khsa’is, an Nisai
  • Al Mustadrak
  • Musnad Inbu Hanbal

“Aku menasihatkan kamu untuk berbuat baik kepada Ahlul Baitku, kerana sesungguhnya aku akan membuat tuntutan dari kamu mengenai mereka di hari perhitungan, dan barangsiapa yang aku berbalah dengannya akan merasa Api. Barangsiapa yang mengenangku dengan mengenang Ahlul Bait ku telah mengambil janji Allah(untuk memasuki syurga)

  • Al Tabaqat
  • Al Sawaiq al Muhriqah

“Barangsiapa yang menghina Ali menghina ku, barangsiapa menghinaku, menghinaku dia menghina Allah, dan barangsiapa menghina Allah, akan dihumban ke dalam neraka.”

  • Mustadrak
  • Khasais
  • Musnad Ibnu Hanbal
  • Tarikh at Tabari.

Didalam Majma’ al Zawa’id, dan Tafsir Suyuti, telah diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri, berbunyi:

Selama 40 hari Rasulullah pergi ke rumah Fatimah pada waktu pagi lalu berkata “Assalamu’alaika ya Ahlul Bayt, sudah tiba masa solat. Dan selepas itu beliau akan membaca ayat “Allah hanya mengkehendaki…(33:33)” Aku akan berada dalam keadaan berperang dengan sesiapa yang memerangi kamu. Dan aku akan berada dalam keadaan berdamai dengan sesiapa yang mengikuti kamu.”

Hadis-hadis seperti ini terlampau banyak dan diriwayatkan secara mutawattur dari sumber-sumber Ahlul Sunnah juga Syiah. Akhir kata sebagai renungan mari kita amati hadis di bawah:

Fatimah berkata kepada Abu Bakr dan Umar: “Aku bertanya pada kamu dengan nama Allah, bukankah kamu mendengar Rasulullah bersabda, “Kepuasan Fatimah ialah kepuasanku, kemarahan Fatimah ialah kemarahanku, barangsiapa menyayangi Fatimah menyayangi ku, yang memuaskan hati Fatimah memuaskan hati ku, dan barangsiapa yang membuatkan Fatimah marah, membuatku marah.” Mereka menjawab “ya”. Fatimah meneruskan: “Jadi aku memberi kesaksian di hadapan Allah dan para Malaikat yang kamu telah membuat ku marah, dan apabila aku berjumpa Nabi, pasti aku akan mengadukan tentang kamu berdua pada Nabi.”

  • Al Imamah wal Siyasah, Ibnu Qutaybah

Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad

Ashra Mubashra- Kebenarannya

Majalah Islam Malaysia Yang Sesat

Mungkin banyak dari saudara-saudara Ahlusunnah yang sering mendengar akan adanya hadis yang menyatakan jaminan Rasulullah terhadap 10 sahabat beliau untuk masuk syurga. Anehnya, hadis yang terkenal itu selain tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, juga tidak pernah dijadikan hujah khalifah pertama dan kedua dalam pemilihan mereka sebagai khalifah. Padahal jika hadis Rasul itu memang benar adanya maka itu juga dapat dijadikan penguat akan sahnya kekhalifahan mereka. Sebelum kita mengkaji dengan lebih dalam tentang hadis ini, adalah lebih elok jika kita mengkaji hujah saudara Sunni kita tentang jaminan syurga oleh Allah kepada para sahabat.

Saudara Sunni membaca ayat Quran berikut bagi menyokong hujah mereka atas adanya khabar gembira dari Allah ke atas para sahabat.

“Tiadalah sama di antara kamu orang yang menafkahkan(hartanya) dan berperang sebelum penaklukan kota(Makkah dengan orang yang lainnya. Mereka itu lebih besar darjatnya dari orang yang menafkahkan hartanya dan berperang setelah penaklukan. Tetapi masing-masingnya itu Allah telah menjanjikan pahala yang baik baginya. Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.” Al Quran(57:10)

Mereka mengatakan melalui ayat ini, Allah telah, secara umumnya, menjanjikan syurga kepada para sahabat. Walaubagaimanapun, terdapat satu lagi kumpulan para sahabat yang lebih istimewa, kerana diberikan berita gembira ini dari mulut Rasulullah saaw sendiri. Mereka inilah yang digelar Ashara Mubashara bil Jannah. 10 yang dijamin syurga.

(http://www.lastprophet.info/en/the-ashara-mubashara-the-ten-companions-promised-/companions-given-the-good-tidings-of-paradise-ashara-mubashara.html)

Walaubagaimanapun, membuat kesimpulan dengan hanya mendasarkan kepada ayat yang umum, jelas hanya boleh dilakukan oleh orang yang tidak pernah membaca atau merenungi ayat-ayat quran yang ditujukan oleh Allah kepada para sahabat dalam artikel saya sebelum ini. Contohnya : “Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul, seperti Rasul-rasul sebelumnya. Jika Rasul itu mati atau terbunuh, adakah kamu akan kembali menjadi kafir? …..Tetapi Allah akan memberi ganjaran kepada mereka yang berterima kasih.(3:144)

Ayat ini menyebut, Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur, yang juga membawa maksud orang-orang yang mematuhi segala suruhan Rasulullah saaw, taat dan dedikasi pada ajaran dan suruhan baginda. Mereka yang menafkahkan harta serta berperang di jalan Allah sudah semestinya adalah dari kumpulan orang-orang yang berterima kasih ini. Oleh itu, selama mana seseorang sahabat itu hidup dalam keadaan ini dan mati dalam keadaan yang serupa, maka sudah pasti, berita gembira Allah untuknya. Walaubagaimanapun, jika dia kemudiannya memusnahkan segala kebaikan yang pernah di buatnya, maka, perkara yang serupa tidak boleh dikatakan padanya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara mu lebih dari suara nabi..kerana takut akan menghapuskan amalan sedang kamu tiada sedar”Al Quran(49:2)

Barangsiapa yang kebaikannya masih berada di dalam diri mereka, maka dia akan selamat. Allah swt akan menghakimi dan mengadili semua mengikut amal yang baik atau buruk yang telah dilakukan semasa di dunia, oleh itu dengan mengatakan semua para sahabat dijanjikan syurga telah melakukan satu ketidakadilan pada Al Quran sendiri.

Saudara dari Ahlul Sunnah mengatakan bahawa Allah telah menjanjikan syurga kepada sahabat-sahabat ini, dan mengkritik sahabat ini adalah satu dosa. Manakala Syiah pula mengatakan semua orang, termasuk para sahabat akan dihakimi dan diadili oleh Allah swt di hari pembalasan dan mendapat balasan yang setimpal dengan amal perbuatan mereka di dunia, serta Rasulullah tidak menjanjikan syurga kepada mana-mana sahabat. Mana-mana mereka yang mengingkari suruhan Allah, Rasul dan Ahlul Bait baginda, haruslah kita mengasingkan diri dari mereka.

Mari kita kembali semula kepada kes kita iaitu Ashra Mubashra, bukan sahaja hadis yang sangat-sangat mencurigakan ini tidak langsung diriwayatkan dari 2 buku utama Sunni iaitu Bukhari dan Muslim, malah ia diriwayatkan di dalam Tarmizi, Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan beberapa percanggahan.

  1. Said bin Zaid berkata: Aku bersaksi, aku mendengar Rasulullah bersabda: 10 orang berada di dalam syurga: Nabi di dalam syurga, Abu Bakr di dalam syurga, Thalhah di dalam syurga, Umar berada di dalam syurga, Uthman berada di dalam syurga, Saad bin Malik berada di dalam syurga, dan Abdul Rahman berada di dalam syurga. Kalau kamu mahu aku akan khabarkan yang ke sepuluh? Mereka menjawab: “Siapakah dia?”. Baginda menjawab: “Said bin Zaid.”

Sunan Abu Dawud

  1. Abdul Rahman Bin Auf berkata: Nabi bersabda: Abu Bakr di dalam syurga, Umar di dalam syurga, Uthman di dalam syurga, Ali di dalam syurga, Thalhah di dalam syurga, Zubair di dalam syurga, Abdul Rahman di dalam syurga, Saad bin Abi Waqas di dalam syurga, Said bin Zaid di dalam syurga dan Abu Ubaidah di dalam syurga. Al Tarmizi, Hadis 3747
  1. Said Bin Zaid berkata, 10 orang berada di dalam syurga, Abu Bakr, Umar, Uthman, Ali, Al Zubair, Thalhah, Abu Ubaidah, AbdulRahman dan Saad Abi Waqas. Mereka bertanya, siapa yang ke sepuluh? Dia menjawab: Kamu bersumpah atas nama Allah, Abu Al Anwar berada di dalam syurga.” Tarmizi memberi komentar bahawa Abu Al Anwar ialah Said bin Zaid.

Dari pada hadis-hadis di atas dapatlah disimpulkan bahawa para sahabat yang dijanjikan syurga oleh Rasulullah(sawa) itu ialah:

  1. Nabi Muhammad (SAW)
  2. Abu Bakr
  3. Umar
  4. Uthman
  5. Ali ibn Abu Talib(as)
  6. Talha
  7. Zubair bin al-Awwam
  8. Saad bin Abi Waqas
  9. Saeed bin Zaid
  10. Abdul Rahman ibn Awf
  11. Saad bin Malik
  12. Abu `Ubaida bin al-Jarrah

Selain dari apa yang saya kata bahawa hadis ini tidak di jumpai di dalam buku hadis utama Sunni, iaitu Bukhari dan Muslim, hadis-hadis ini juga mencabar para pemilik akal yang berfikir:

  • Mereka bersusah payah untuk menghadkan bilangan hanya kepada sepuluh orang, kadang kala mereka meletakkan Saad ibn Abi Waqas, dan kadangkala mereka meletakkan Saad ibn Malik.
  • Versi hadis yang pertama tidak meletakkan Ali dan juga Abu Ubaidah, tidak lupa juga pada Rasulullah yang tidak tersenarai di dalamnya.
  • Hadis yang pertama dan ketiga jelas ialah hadis yang serupa, dari orang yang sama, tetapi seorang disingkirkan dan seorang lagi di tambah dan hanya 7 orang sahaja yang diriwayatkan di dalam Abu Daud.
  • Menyenaraikan Nabi di dalam kumpulan ini membuktikan pemalsuan hadis ini, adakah logik apabila sahabat-sahabat baginda masuk syurga tetapi dirinya ditinggalkan? Baginda tidak perlu menjelaskan hal ini kerana ia sudah termaktub.
  • Kedua-dua perawi ini menceritakan hadis tentang diri mereka sendiri. Keduanya menyenaraikan diri mereka sebagai antara yang di janjikan syurga. Mengikut Islam, apabila seseorang itu memuji orang lain dengan memuji diri sendiri, maka ia tidak akan di endahkan. Juga apabila seseorang itu memberi kesaksian untuk orang lain walhal dalam masa yang sama, mendapat faedah darinya, kesaksiannya akan ditolak.
  • Sejarah menunjukkan kebanyakan dari 10 orang yang dijamin syurga ini, tidak layak mendapat ganjaran sebesar ini, sementara dalam masa yang sama, menyingkirkan ramai lagi para sahabat yang alim, dan tetap pada pendirian mereka sehingga mereka meninggal dunia. Bukhari sendiri langsung tidak meletakkan ruangan khas untuk kemuliaan Abdul Rahman Ibn Awf dan Saad ibn Zaid, sedangkan dia meletakkan kemuliaan untuk Muawiyah, dan 1 hadis untuk Khalid ibn Al Walid.
  • Secara faktanya, Saad bin Malik langsung tidak di kategorikan sebagai 10 sahabat yang paling di hormati Sunni.

InsyaAllah, dalam post saya yang seterusnya, akan saya isukan tajuk tentang hadis, agar kita dapat menilai hadis mana yang patut kita terima dan hadis mana yang kita patut tolak. Bagaimanapun secara ringkasnya, hadis yang bercanggah dengan Quran, sejarah dan logik, adalah hadis yang selayakknya di di tolak mentah-mentah.

Sebelum saya meneruskan, saya ingin bertanya kepada saudara-saudara Sunni saya tentang apa yang mereka dapat fahami dari hadis ini.

  • Orang-orang ini akan masuk syurga setelah dihisab amal mereka, atau secara ringkas, segala amal mereka sehingga mereka mati mendapat keredhaan Illahi.
  • Orang-orang ini akan masuk syurga tanpa dihisab segala amal mereka, atau secara ringkasnya, tidak kira apa amalan dan pengkhiatan yang telah mereka lakukan, Allah swt akan membenarkan mereka ke dalam syurga.
  • Orang-orang ini akan masuk ke syurga setelah menjalani hukuman atas dosa mereka di dunia(jika ada).

Masuk syurga tanpa hisab

Jikalau kamu mempercayai bahawa mereka akan masuk ke syurga tanpa hisab, ini bermakna kamu mengecualikan mereka dari keadilan Allah, dan memberikan sifat maksum kepada mereka.

“Kami letakkan neraca yang adil pada hari kiamat, maka tiadalah teraniaya seseorang sedikit pun. Jika usahanya seberat biji sawi, niscaya kami hadirkan juga. Cukuplah Kami memperhitungkannya.” Al Quran(21:47)

“Allah menciptkan langit dan bumi dengan kebenaran dan supaya dibalas tiap-tiap orang menurut usahanya masing-masing, sedang mereka itu tidak teraniaya.” Al Quran(45:22)

Masuk syurga selepas hisab

Jikalau kamu mempercayai mereka semua akan masuk ke dalam syurga selepas hisab, maka kamu harus mengandaikan bahawa di dalam amalan mereka, tiada langsung amalan buruk, kerana Rasulullah telah menjanjikan syurga kepada mereka. Sekali lagi kamu memberi sifat maksum kepada mereka. Beban kini beralih kepada kamu untuk membuktikan kepada kami bahawa orang-orang ini memang maksum dan tidak melakukan sebarang dosa kepada Allah, Rasulullah(sawa) dan Ahlul Baitnya(as).

Masuk syurga setelah balasan

Jika kamu mempercayai bahawa mereka akan masuk syurga setelah di hukum berdasarkan amalan mereka, maka hadis ini menjadi sia-sia, kerana semua orang lain juga akan di adili dengan cara serupa.

Terdapat beberapa perkara yang menyebabkan hadis-hadis ini diragui. Kami mempercayai bahawa hadis ini direka dan dipalsukan bagi mengangkat kedudukan para musuh Imam Ali as, dan juga keluarga Rasulullah saaw.

Seseorang yang berfikiran waras dan rasional akan mendapati,- tanpa syarat-, adalah sangat tidak logik untuk seseorang yang tidak maksum, dan terdedah kepada kebarangkalian untuk membuat dosa dijanjikan syurga, dan mendapat immuniti dari api neraka. Seseorang yang terdedah kepada dosa adalah sangat tidak boleh di jangka. Jika seseorang yang tidak maksum dijanjikan syurga, maka dia akan mempunyai satu sifat kemahuan untuk melakukan dosa kerana dia menganggap semua dosa beliau tidak akan dihisab di hadapan Allah swt. Jadi adalah tidak logik bagi Rasulullah untuk menjanjikan perkara sedemikian kepada para sahabatnya.

Jika hadis ini benar, mengapa Uthman tidak menggunakan hujah ini keatas orang-orang yang menganggap halal untuk membunuh beliau? Tidak juga mana-mana para sahabat memprotes tindakan membunuh seseorang yang telah dijanjikan syurga walau sebanyak mana kejahatan dan ketidakadilan yang telah beliau lakukan. Malah, adalah haram bagi mereka untuk mendiamkan diri mereka dalam hal ini. Jelaslah bahawa hadis ini telah dipalsukan pada kemudian hari.

Selain itu, apakah yang membuatkan kamu, wahai saudaraku dari Ahlul Sunnah, yakin bahawa 10 orang ini dijanjikan syurga? Thalhah dan Zubair menentang Imam Ali dalam perang Jamal yang mengakibatkan kematian ribuan Muslim, dan ketiga mereka akan berada di dalam syurga? Sejarah telah menunjukkan bahawa sesiapa sahaja yang menentang Imam Ali semuanya berada di jalan yang salah, tidak kira sama kaum musyrikin Mekah, Yahudi Khaibar, isteri Rasulullah atau Muawiyah. Malah Rasulullah sendiri telah bersabda secara berulang-ulang, bahawa sesiapa yang menentang Imam Ali adalah munafik, atau sesiapa yang menentang Ali bererti menentang Rasulullah, yang juga bererti menentang Allah swt!!

Adakah kamu mempercayai bahawa pembunuh dan yang dibunuh keduanya akan berada di dalam syurga, walaupun mereka semasa hidupnya, melancarkan perang antara satu sama lain, yang turut mengorbankan diri mereka bersama ribuan lagi Muslim lain?

Jika hadis ini benar, maka ia adalah wahyu untuk Rasulullah, kerana setiap perkataan yang keluar dari mulut Rasulullah adalah wahyu(53:3-4), dan sekaligus bermakna bahawa Allah swt telah mengetahui apa yang bakal dilakukan oleh mereka, dan redha dengan tindakan mereka. Tetapi akal kami yang sentiasa mendasarkan kepada pemikiran logika, gagal untuk memahami bagaimana Allah swt redha dengan tindakan mereka yang memanggil Rasulullah nyanyuk, yang menafikan hak anak baginda, membuat bid’ah di dalam agama dll.

Namun, ternyata hadis itu memiliki ‘tanda tanya besar’ yang mengakibatkan kita meragukan kebenarannya. Hadis itu memiliki dua sandaran (sanad) yang kedua-duanya tidak dapat dipercaya.

Sanad pertama hadis itu kembali kepada peribadi yang bernama Humaid bin Abdurrahman bin Auf, di mana kononnya Umaid menukilkan hadis tersebut dari ayahnya sendiri, Abdurrahman. Padahal sewaktu ayahnya meninggal, Humaid masih berusia kanak-kanak, 10 tahun. (Tahdzib at-Tahdzib 3/40)

Sanad kedua kembali kepada peribadi Abdullah bin Dzalim dimana keperibadiannya sangat ditentang oleh para ulama ilmu hadis Ahlusunnah sendiri, seperti: Bukhari, Ibnu ‘Adi, Aqili dan selainnya. (Tahdzib at-Tahdzib 5/236, adz-Dzu’afaa’ al-Kabir 2/267, al-Kamil fi adz-Dzu’afaa’ 4/223)

Jika hadis itu tidak dapat di sahihkan maka masihkah kita akan menggembar-gemburkan keutamaan 10 sahabat itu sebagai “yang mendapat jaminan masuk syurrga” (‘asyrah mubassyariin bil jannah) oleh Allah melalui lisan suci Rasulullah? Pada zaman siapakah dan atas perintah siapakah hadis itu dibuat? Silahkan teliti kembali untuk membuka hakikat pemalsuan hadis atas nama Rasulullah itu…!

Sunni mengatakan di antara ciri-ciri ashra mubashra ialah:

  1. Menjadi antara muslim yang terawal
  2. Berjasa besar kepada Rasulullah dan perjuangan Islam
  3. Berhijrah
  4. Menyertai Perang Badar
  5. Baiyah pada Nabi di Hudaibiyah

Jika apa yang dikatakan adalah benar, maka bolehkah terangkan apakah sumbangan yang telah mereka lakukan? Jika mereka adalah orang-orang yang berhijrah, senarai nama mereka juga dapat dilihat di dalam senarai nama yang meninggalkan Rasulullah di medan perang.

Jika mereka menyertai perang Badar, mereka juga menyertai perang sesama diri mereka.

Jika mereka member perjanjian taat setia kepada Nabi, mereka juga meragui kenabian baginda, semasa mereka mengatakan beginda nyanyuk.

Jika terdapat banyak hadis tentang kemuliaan mereka, maka juga Allah swt mengutamakan mengenai kemuliaan Ahlul Bait, jadi bagaimana boleh kita mengatakan bahawa orang-orang yang menentang Ahlul Bait ini diberikan taraf yang serupa oleh Allah?

Allah swt tidak menjanjikan 10 orang ini syurga, Dia menjanjikan kepada semuanya seperti di dalam ayat ini:

“Sesiapa yang mengerjakan sesuatu perbuatan jahat maka ia tidak dibalas melainkan dengan kejahatan yang sebanding dengannya; dan sesiapa yang mengerjakan amal soleh – dari lelaki atau perempuan – sedang ia beriman, maka mereka itu akan masuk Syurga; mereka beroleh rezeki di dalam Syurga itu dengan tidak dihitung.(40:40)

Jikalau kita mengikuti syarat seperti di dalam ayat ini, Allah swt pasti mengabulkan janjinya. Wallahu’alam

Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.

Mitos Tentang Para Sahabat

Manusia sememangnya telah diketahui suka membuat keputusan, atau menghakimi sesuatu walaupun di dalam keadaan diri mereka belum mengetahui sepenuhnya sesuatu isu itu kerana mereka selalu tersilap. Sebelum kamu menghakimi artikel ini, dan mengumumkan bahawa artikel ini ialah kempen anti sahabat, suka saya mengingatkan sekali lagi, seperti artikel-artikel saya sebelumnya, nama  saya ialah Ammar, di namakan dari seorang sahabat terkemuka Nabi, Ammar ibn Yassir. Rasa benci terhadap sahabat bukanlah sebahagian dari Pegangan Syiah(Islam). Kami menyayangi para sahabat Rasulullah saaw, yang berbuat kebaikan kepada diri mereka dan kepada orang lain.

“Muhammad itu adalah Rasulullah. Orang-orang yang bersama dengannya(mukminin) sangat keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keredhaannya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, kerana bekas sujud. Itulah contoh mereka di dalam taurat. Dan contoh mereka dalam injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya, lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang yang menanamnya.  Begitu juga orang Islam , pada mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat, supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal soleh diantara mereka itu.
Quran [48:29]

Para sahabat ialah manusia normal yang tidak maksum. Mereka itu tidaklah suci dan bukan pula dihantar oleh Allah swt.  Para sahabat Nabi yang setia bersama Nabi Saaw dan misi baginda, yang kuat berjihad(sughra dan kubra) di jalan Islam, yang melakukan kebaikan kepada diri mereka dan orang lain, sebelum dan selepas kewafatan Rasulullah, akan layak memasuki syurga melalui proses hisab. Dan kepada sahabat-sahabat ini kami memberi penghargaan dan penghormatan kepada mereka.

Walaubagaimanapun, menghormati semua sahabat dan menyayangi mereka semua, serta mendakwa kesemua mereka -tanpa kompromi- benar dan soleh, adalah salah dari segi prinsip asas Quran dan sejarah.Sedangkan Allah sendiri tidak menjanjikan keampunan kepada semua para sahabat, kecuali mereka yang beriman dan melakukan kebaikan, jadi siapalah kita untuk memberikan sifat zuhud kepada semua para sahabat?

Jika semua para sahabat nabi maksum dan tidak dapat melakukan kesilapan, jadi untuk siapakah ayat Quran yang mengutuk kekikiran mereka untuk berjihad ditujukan?

Kamu Hai orang-orang yang diseru, supaya kamu menafkahkan(hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang bakhil. Barangsiapa yang bakhil, maka bahaya kebakhilan itu hanya atas dirinya.
Quran [47:38]

Begitu juga jika semua sahabat suci, maka bolehkah kamu buktikan dari sejarah bahawa tiada hukuman syariah pernah dikenakan semasa zaman nabi dan 4 khalifah awal, iaitu sebuah era di mana semua yang wujud ialah para sahabat?

Nabi saaw ialah seorang yang hebat. Baginda ialah Nabi Allah yang maksum. Baginda ialah asas Islam. Untuk menjadi seorang Muslim, kita perlu memberi kesaksian tentang kenabian baginda..  Manakala orang-orang lain di sekeliling beliau(kecuali orang-orang yang disebut khas oleh Allah) ialah orang-orang biasa. Selagi mana mereka berpegang kepada prinsip Islam dan mematuhi perintah Muhammad saaw,  akan dibalasi mereka dengan kebaikan oleh Allah swt. Tetapi jika mereka mengingkari baginda dan Islam, maka mereka akan dipertanggungjawabkan atas tindakan mereka. Kamu boleh memuji Musharaf atas kebaikan yang dilakukan oleh beliau, dan mengkritik Musharaf kerana perkara buruk yang beliau lakukan, kerana beliau bukanlah seorang personaliti di pilih Allah, beliau ialah seorang bukan maksum yang dipilih oleh rakyatnya atau pemimpin yang diangkat oleh dirinya sendiri.

Islam bukan tentang orang yang kamu pilih. Mereka tidak menjadi sebahagian dari kepercayaan/agama kamu. Islam ialah mengenai manusia yang dipilih Allah, dan orang-orang yang manusia pilihan Allah swt tetapkan.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim dan keluarga Imran keatas orang-orang seluruh alam.
Quran [3:33]

Muhammad wa aali Muhammad ialah keturunan Ibrahim as. Allah swt memilih mereka. Mereka inilah orang-orang ditujukan solawat oleh kita. Ahlul Bait Nabi ialah orang-orang yang diarahkan kepada kita untuk disayangi dan dicintai, mereka disucikan dari segala jenis kekotoran dan di bawa di dalam insiden mubahila

Tidakkah engkau perhatikan (dan merasa pelik wahai Muhammad) kepada orang-orang yang menyucikan (memuji) diri sendiri? (Padahal perkara itu bukan hak manusia) bahkan Allah jualah yang berhak menyucikan (memuji) sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan SyariatNya); dan mereka pula tidak akan dianiaya (atau dikurangkan balasan mereka) sedikit pun.
Quran [4:49]

Sesetengah orang menyucikan(kata diri sendiri suci)  diri mereka sendiri atau orang lain. Mereka ialah orang-orang yang tidak perlu kita pentingkan. Bagaimanapun, terdapat satu golongan yang Allah sendiri memilih mereka, ini ialah orang-orang yang perlu kita pentingkan.

Sesungguhnya Allah hanyalah kerana hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu – wahai “AhlulBait” dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji). Quran [33:33]

Manakala orang-orang lain, mereka layak mendapat cinta dan penghormatan kami selagi mereka melakukan kebaikan dan mematuhi arahan Nabi saaw.

Secara peribadi, saya tidak mempunyai masalah dan tidak akan menimbulkan apa-apa isu dalam menyayangi dan menghormati semua para sahabat, jika semua mereka sendiri tiada masalah dalam menyayangi dan menghormati sesama diri mereka sendiri. Bagaimana kami boleh mempercayai semua para sahabat itu adil, soleh dan hidup seperti saudara, sebelum dan selepas kewafatan Nabi, sedangkan sejarah membuktikan perkara yang bertentangan dengan menceritakan begitu banyak perbalahan antara para sahabat Nabi juga isteri-isteri Nabi serta antara para sahabat dan Ahlul Bait Nabi saaw.

Akan saya utarakan isu-isu yang terdapat di dalam sejarah yang diketahui Sunni, tetapi dipandang sebelah mata untuk bertahun lamanya

INSIDEN IFK

Mari kita mulakan dengan insiden IFK, di mana Aisya telah di tuduh melakukan penzinaan. Perlu rasanya bagi saya untuk menyatakan, Syiah tidak menyukai Aisya kerana kebencian beliau kepada Mawla Ali. Tiada Syiah yang mendakwa Aisyah melakukan penzinaan, kerana penghakiman dari Quran mengalahkan segala dakwaan. InsyaAllah akan saya tulis artikel mengenai Aisyah dan peranan beliau dalam Islam, jika ada peluang nanti.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita yang amat dusta itu ialah segolongan dari kalangan kamu; janganlah kamu menyangka (berita yang dusta) itu buruk bagi kamu, bahkan ia baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang di antara mereka akan beroleh hukuman sepadan dengan kesalahan yang dilakukannya itu, dan orang yang mengambil bahagian besar dalam menyiarkannya di antara mereka, akan beroleh seksa yang besar (di dunia dan di akhirat). Sepatutnya semasa kamu mendengar tuduhan itu, orang-orang yang beriman – lelaki dan perempuan, menaruh baik sangka kepada diri (orang-orang) mereka sendiri. dan berkata: “Ini ialah tuduhan dusta yang nyata”. Sepatutnya mereka (yang menuduh) membawa empat orang saksi membuktikan tuduhan itu. Oleh kerana mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka mereka itu pada sisi hukum Allah, adalah orang-orang yang dusta. Dan kalaulah tidak kerana adanya limpah kurnia Allah dan rahmatNya kepada kamu di dunia dan di akhirat, tentulah kamu dikenakan azab seksa yang besar disebabkan kamu turut campur dalam berita palsu itu; -Iaitu semasa kamu bertanya atau menceritakan berita dusta itu dengan lidah kamu, dan memperkatakan dengan mulut kamu akan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan yang sah mengenainya; dan kamu pula menyangkanya perkara kecil, pada hal ia pada sisi hukum Allah adalah perkara yang besar dosanya. Dan sepatutnya semasa kamu mendengarnya, kamu segera berkata: “Tidaklah layak bagi kami memperkatakan hal ini! Maha Suci Engkau! Ini adalah satu dusta besar yang mengejutkan”. Allah memberi pengajaran kepada kamu, supaya kamu tidak mengulangi perbuatan yang sedemikian ini selama-lamanya, jika betul kamu orang-orang yang beriman.
Quran [24:11-17]

(Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita yang amat dusta itu ialah segolongan dari kalangan kamu) bererti mereka mempunyai 2 kumpulan.  Yang paling menyerlah di dalam kumpulan ini ialah Abdullah bin Ubayy bin Salul, ketua kaum munafik, yang mencipta fitnah ini dan menyebarkannya ke orang lain, hinggakan sesetengah kaum Muslimin mulai mempercayai berita itu, sementara yang lain berprasangka bahawa berita itu mungkin benar dan mula bercerita mengenainya. Perkara ini berterusan selama hampir sebulan sehingga ayat Quran mengenainya diturunkan.
Tafseer Ibn Kathir, Tafseer  Surah 24, ayat 11

Fitnah terhadap Aisyah mungkin dimulakan oleh kaum Munafik, tetapi pertuduhan ini turut di sokong oleh sekumpulan sahabat Rasul saaw, yang dikutuk kuat oleh Allah swt dan diberi amaran untuk menjaga sikap mereka di masa hadapan. Ini membuktikan para sahabat adalah manusia yang boleh melakukan kesilapan, yang mampu melakukan dosa, dan akan menerima hukuman yang berat jika mereka mengulangi kesilapan mereka.

Pergaduhan dan perselisihan kecil serta kebencian antara para sahabat nabi, telah pun muncul sebelum kewafatan baginda..

Di dalam buku-buku sahih Sunni, telah menyebutkan tentang perselisihan antara Abu Bakr dan Umar, yang hampir membawa kepada kemusnahan ke atas diri mereka sendiri dan merosakkan amal mereka, tetapi mereka di maafkan atas perbuatan mereka.

(Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu tinggikan suara kamu dari suara nabi!) Ayat ini mengdanungi satu lagi sikap yang bagus. Allah swt mengajar orang-orang beriman agar tidak meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi saaw. Telah dinyatakan bahawa ayat ini diturunkan tentang Abu Bakr dan Umar. Al-Bukhari melaporkan bahawa Ibn Abi Mulaykah meriwayatkan, “2 orang yang benar, Abu Bakr dan Umar, hampir memperoleh kebinasaan kerana meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi, sebelum baginda menerima wakil delegasi Bani Tamim. Salah seorang dari mereka( Abu Bakr dan Umar) mencadangkan Al-Aqra bin Habis, seorang ahli Bani Mujashi, manakala seorang lagi mencadangkan orang lain. Nafi’(salah seorang perawi) berkata: “Aku lupa namanya.”  Abu Bakr berkata kepada Umar, “Kamu hanya mahu menyanggah pendapat ku.” Sementara Umar berkata, “Aku tidak berniat untuk menyanggah kamu”. Suara mereka menjadi kuat, dan oleh kerana itu, Allah swt menurunkan ayat di atas.`Abdullah bin Az-Zubayr said” Abdullah bin Az Zubair berkata, “Selepas kejadian itu, suara Umar menjadi begitu rendah sehingga Rasulullah terpaksa meminta Umar mengulangi apa yang beliau katakan untuk memahaminya.
Tafseer Ibn Kathir, Tafseer of Surah 49, Ayat 2

Sahih Sunni juga meriwayatkan bahawa seorang sahabat Rasulullah, Urwa, mencaci maki seorang lagi sahabat Nabi, Hassan Bin Thabit

Diriwayatkan dari Al-Bara: Nabi bersabda kepada Hassan, “Cacilah mereka(dengan sajak mu), dan Jibril bersama kamu(menyokong kamu).” (Melalui sebuah lagi kumpulan perawi) Al-Bara bin Azib berkata, “Di hari Quraiza, Rasulullah bersabda kepada Hassan bin Thabit, “Cacilah mereka(dengan sajakmju), dan Jibril bersama dengan mu. ”
Sahih Bukhari, Jilid 5, Kitab 59, Nombor 449

Diriwayatkan dari Urwa: Aku mula mencaci Hassan di hadapan Aishah, di mana beliau(aishah) berkata: “Janganlah kamu mencaci Hassan, kerana beliau pernah mempertahankan Rasulullah(dengan sajaknya)”
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 56, Nombor 731

Sebelum kewafatan Nabi saaw, baginda mengarahkan ekspidisi ketenteraan ke Syria di hantar di bawh pimpinan Usama bin Zayd. Tetapi para sahabat Nabi saaw, bukan sahaja menentang perintah Rasul pada permulaannya, malah mereka mengkritik kepimpinan Usama, sama seperti mereka mengkritik kepimpinan ayah beliau, Zayd.

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar: Rasulullah menghantar tentera dengan Usama bin Zayd sebagai panglimanya. Orang ramai mengkriktik kepimpinan beliau. Rasulullah bangun dan bersabda: “Jika kalian mengkritik kepimpinan beliau, maka kalian mengkritik kepimpinan bapanya. Demi Allah, Zayd memang layak mendapat kepimpinan tersebut, dan beliau pernah menjadi antara orang yang paling aku sayangi, dan sekarang Usama ialah antara yang paling aku sayangi selepas bapanya.”
Sahih Bukhari, Jilid 5, Kitab 59, Hadith 745

Tidak dilupakan, harus juga kita menyebut pergaduhan dan perselisihan antara para sahabat di kamar kematian baginda, juga dikenali sebagai Insiden pen dan kertas atau Tragedi Hari Khamis.

Ibnu Abbas melaporkan:….Rasulullah saaw bersabda: Mari, aku tuliskan kepada kalian sesuatu, yang mana kalian tidak akan tersesat di kemudian hari. Kemudian Umar berkata: Sesungguhnya Nabi Allah sedang berada dalam kesakitan yang teramat sangat. Quran bersama dengan kamu. Kitab Allah cukup untuk kita. Mereka yang berada di dalam rumah berbeza pendapat.Sebahagian dari  mereka berkata: Bawakan baginda(bahan menulis) agar baginda dapat menuliskan wasiat yang tidak akan menyelamatkan kita dari kesesatan selepas baginda manakala sebahagian lagi berkata apa yang Umar katakan. Apabila mereka mula bergaduh di dalam keberadaan Rasulullah saaw, baginda berkata: Bangunlah dan pergi. Ubaidillah berkata: Ibn Abbas selalu berkata: Ini adalah kerugian yang besar, memang adalah kerugian yang besar, oleh kerana hingar bingar pergaduhan mereka, Rasulullah tidak dapat menuliskan dokumen untuk mereka.”
Sahih Muslim, Kitab 13, Hadith 4016

Sebelum kita beralih kepada isu yang lebih besar, yang boleh menganggu pemikiran serta iman kita, molek juga kiranya kita lihat bahawa sesetengah isteri-isteri Rasulullah cemburu antara satu sama lain, mensabotaj dan bergaduh antara satu sama lain.

…Ibn Awn berkata: Adalah dipercayai beliau selalu pergi kepada Ummul Mukminin Aishah. Dia berkata: Ummul Mukminin berkata: “ Rasulullah saaw datang kepada ku ketika Zainab binti Jahsh sedang bersama kami. Baginda mula melakukan sesuatu dengan tangan baginda. Aku memberi isyarat kepada baginda sehingga baginda memahami tentang beliau(Zainab). Jadi baginda berhenti. Zainab datang dan mula memaki Aishah. Aishah cuba menghalang tetapi Zainab tidak mahu berhenti. Jadi Nabi berkata kepada Aishah: Makilah dia, jadi Aishah mencaci Zainab dan memenangi….
Sunan Abu Dawud, Kitab 41, Nombor 4880

Bukan itu sahaja, mereka kerap merancang sesuatu terhadap Nabi saaw sendiri.

Diriwayatkan dari ‘Ubaid bin Umar: Aku mendengar Aishah berkata, “Nabi selalu tinggal untuk jangka masa yang lama bersama Zainab binti Jahsh dan minum madu di rumahnya. Jadi Hafsah dan aku membuat keputusan jika Nabi datang salah seorang dari kami, kami akan berkata kepada baginda, “Aku tercium bau Maghafir(gula-gula berbau busuk) pada mu. Adakah kamu makan Maghafir?” Jadi Rasulullah melawat salah seorang dari mereka dan mereka berkata yang serupa kepada baginda Nabi saaw. Nabi saaw bersabda: “Tidak mengapa, aku telah mengambil sedikit madu dari rumah Zainab Binti Jash, tetapi aku tidak akan meminumnya lagi.” Kemudian diturunkan ayat :

(1)“Wahai Nabi! Mengapa engkau haramkan (dengan bersumpah menyekat dirimu daripada menikmati) apa yang dihalalkan oleh Allah bagimu, (kerana) engkau hendak mencari keredaan isteri-isterimu? (Dalam pada itu, Allah ampunkan kesilapanmu itu) dan Allah sememangnya Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi kamu (wahai Nabi dan umatmu, untuk) melepaskan diri dari sumpah kamu; dan Allah ialah Pelindung yang mentadbirkan keadaan kamu, dan Ia Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
Dan (ingatlah), ketika Nabi memberitahu suatu perkara secara rahsia kepada salah seorang dari isteri-isterinya. Kemudian apabila isterinya itu menceritakan rahsia yang tersebut (kepada seorang madunya), dan Allah menyatakan pembukaan rahsia itu kepada Nabi, (maka Nabi pun menegur isterinya itu) lalu menerangkan kepadanya sebahagian (dari rahsia yang telah dibukanya) dan tidak menerangkan yang sebahagian lagi (supaya isterinya itu tidak banyak malunya). Setelah Nabi menyatakan hal itu kepada isterinya, isterinya bertanya: “Siapakah yang memberi tahu hal ini kepada tuan? ” Nabi menjawab: “Aku diberitahu oleh Allah Yang Maha Mengetahui, lagi Amat Mendalam PengetahuanNya (tentang segala perkara yang nyata dan yang tersembunyi) “.
Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah (wahai isteri-isteri Nabi, maka itulah yang sewajibnya), kerana sesungguhnya hati kamu berdua telah cenderung (kepada perkara yang menyusahkan Nabi); dan jika kamu berdua saling membantu untuk (melakukan sesuatu yang) menyusahkannya, (maka yang demikian itu tidak akan berjaya) kerana sesungguhnya Allah adalah Pembelanya; dan selain dari itu Jibril serta orang-orang yang soleh dari kalangan orang-orang yang beriman dan malaikat-malaikat – juga menjadi penolongnya.”(4) Menegur Aishah dan Hafsah
Sahih Bukhari Jilid 7, Kitab 63, Nombor 192
Sahih Bukhari Jilid 7, Kitab 63, Nombor 193
Sahih Muslim Kitab 009, Nombor 3496

Akan saya postkan artikel tentang peranan Aishah di dalam sejarah di masa hadapan, InsyaAllah.

Sekarang, untuk perselisihan antara sahabat “yang mendebarkan”.

Khalid bin Al Walid, pedang Allah, selepas memimpin Quraysh dalam penentangan mereka terhadap Nabi di Uhud, menerima Islam selepas Hudaibiyah.

Selepas Khalid memimpin ekspidisi keatas Bani Jadhimah, beliau memujuk mereka untuk meletak senjata dengan mengakui mereka semua telah memeluk Islam, kemudian beliau membunuh sebahagian mereka. Apabila Muhammad mendengar perkara ini, baginda mengumumkan kepada Tuhan bahawa baginda tidak bersalah diatas apa yang Khalid telah lakukan, dan menghantar Ali untuk membayar ganti rugi kepada yang terselamat.
al-Tabari, Victory of Islam, translated by Michael Fishbein, Albany 1997, pp. 188 ff.

Sebelum kita meneruskan dengan tindakan Khalid ini, serta perselisihan beliau dengan Umar al Khattab, sewajarnya juga kita menyebut tentang Saqifa.

Kewafatan Nabi menimbulkan isu tentang khilafah, atau pengganti politik. Ansar mahukan khalifah dari mereka manakala Muhajir menentang dengan mengatakan Nabi adalah dari mereka, dan khalifah perlu dari Quraish. Ansar mencadangkan 2 khalifah iaitu dari Ansar dan Muhajirun, tetapi ditolak oleh Muhajir.

Selepas Abu Bakr menyudahi ucapan beliau, al Hubab ibn Al Mundhir bangun, menghadap kaum Ansar dan berkata: “Wahai kaum Ansar, janganlah kamu memberikan pemerintahan kepada orang lain. Penduduk semua berada di bawah jagaan kamu. Kamu adalah orang-orang yang bermaruah, berharta. Jikalau kaum Muhajirun mempunyai kelebihan di dalam hal tertentu, maka kamu juga mempunyai kelebihan dalam hal tertentu. Kamu memberi mereka perlindungan di dalam rumah kita. Kamu ialah tangan Islam yang berperang. Dengan bantuan kamu Islam berjaya berdiri. Di bandar kamu ibadah kepada Allah dilakukan dengan bebasnya. Selamatkan diri kamu dari perpecahan dan peganglah hak kamu. Jikalau Muhajirun tidak mahu mengalah, maka beritahu mereka, akan ada satu ketua dari mereka dan satu dari kita.

Sejurus selepas Al Hubab duduk, Umar bangun dan berkata: “Tidak boleh wujud 2 pemerintah dalam satu masa yang sama. Demi Allah, bangsa Arab tidak akan bersetuju untuk kalian menjadi ketua negara, kerana Nabi bukan dari kalian. Kaum Arab mahukan pemimpin dari rumah yang sama dengan Nabi. Kepada sesiapa yang mempunyai hujjah yang jelas, boleh lah bentangkan. Sesiapa yang bercanggah dalam isu khalifah dengan kami, sedang menuju kearah yang salah, ialah seorang pendosa dan sedang menuju kehancuran.”

Selepas Umar, Al Hubab bangun sekali lagi dan berkata kepada kaum Ansar, “ Tetapkan pendirian kalian dan jangan endahkan pandangan orang ini atau penyokongnya. Mereka mahu memijak-mijak hak kamu, dan jika mereka tidak bersetuju, maka, halaulah mereka dari bandar kamu, dan ambil alih khilafah. Siapa lagi yang lebih layak dari kalian.

Selepas al Hubab selesai, Umar memarahinya. Terdapat  beberapa penggunaan perkataan yang kotor, dan situasi semakin buruk. Melihat perkara ini, Abu Ubaidah bersuara dengan niat menenangkan keadaan dan memenangi hati kaum Ansar. Beliau berkata: Wahai kaum Ansar, kamu adalah kaum yang menyokong kami dan membantu kami dari segala segi. Janganlah menukar jalan kamu dan sikap kamu.”

Malangnya, kaum Ansar tidak mahu menukar pendirian mereka.Mereka bersedia untuk memberi perjanjian taat setia kepada Sa’ad, sehinggalah seorang dari Bani Sa’ad, Bashir ibn `Amr al-Khazraji berdiri dan berkata: “Tidak dapat diragukan lagi, kita berjihad dan memberi bantuan kepada agama, bagaimanapun, tujuan kita adalah keredhaan Allah dan mentaati  Rasulullah. Tidaklah sepadan dengan kita untuk mengungkit kelebihan dan meriuhkan keadaan untuk khilafah. Muhammad (sawa) berasal dari Quraish dan mereka mempunyai hak yang lebih keatasnya dan lebih sesuai.” Sebaik sahaja beliau habis mengucapkan kata-kata beliau, perbezaan pendapat terjadi di kalangan Ansar, dan ini ialah matlamat beliau, kerana beliau tidak mahu melihat seseorang dari puaknya berada di kedudukan yang sangat tinggi. Kaum Muhajirun mengambil sepenuhnya kesempatan ke atas perkara ini, dan Umar serta Abu Ubaidah membuat keputusan untuk membai’ah Abu Bakr. Mereka mempunyai peluang untuk berbuat demikian apabila Bashir meletakkan tangannya ke atas Abu Bakr dan seterusnya Umar dan Abu Ubaidah. The Kemudian orang dari suku Bashir datang dan memberi baiah, dan memijak Sa’d ibn Ubadah di bawah kaki mereka.
al-Tabari, Ta’rikh, VI, 263
Nahjul Balaghah, Footnotes of Khutbah 67, Berita di Saqifah

Perselisihan di Saqifah diantara Muhajirun dan Ansar, telah diselesaikan di Saqifah, dengan kecederaan serius kepada Saad Ibnu Ubadah, seorang sahabat.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: ……dan salah seorang dari Ansar berkata, ‘Aku ialah satu tonggak dimana unta yang menghidapi penyakit kulit menggaru gatalnya( Aku seorang bansawan), dan aku ialah pohon palma berkualiti tinggi! Wahai kaum Quraish, adakan satu pemimpin dari kamu dan satu dari kami.” Kemudian terdapat kekecohan yang besar diantara mereka, jadi aku(Umar) risau akan terjadinya perselisihan pendapat yang besar, jadi aku berkata, “Wahai Abu Bakr, keluarkan tangan kamu.” Beliau mengeluarkan tangannya, dan aku memberi baiah padanya, dan kemudiannya para muhajirin memberi baiah dan kemudiannya Ansar.‘ Dan akhirnya kami mendapat kemenangan ke atas Saad Ibn Ubadah. Salah seorang dari Ansar berkata: “Kamu telah membunuh Saad Ibn Ubadah.” Aku(Umar) menjawab, “Allah telah membunuh Saad.”
Sahih Muslim, Jilid 8, Kitab 82, Nombor 817

Perlantikan Abu Bakr masih mendapat tentangan dari ahli keluarga dan para sahabat besar Nabi, yang dikenali sebagai Syiah Ali, seperti Ammar, Salman, Miqdad, Abu Dzarr, Thalhah dan Zubair.

Dari Ibn Abbass: ….. Dan tiada ragu selepas kewafatan Nabi, kami diberitahu yang Ansar tidak bersetuju dengan kami dan berkumpul di Bani Sa’da. Ali dan Zubair sert sesiapa lagi yang bersama mereka menentang kami, sementara Muhajirun bersama Abu Bakr.
Sahih Bukhari, Jilid 8, Kitab 82, Hadith 817

Dengan berkurangnya pengaruh politik Imam Ali, isu Fadak antara Fatimah dan Abu Bakr muncul. Fatimah mendakwa Fadak ialah hak beliau, serta mendapat sokongan Imam Ali, tetapi ditolak oleh Abu Bakr. Oleh itu Fatimah memboikot kepimpinan Abu Bakr.

Dari ‘Aisha:  Selepas kewafatan Rasulullah, Fatimah binti Rasulillah meminta Abu Bakr untuk memberi semula hak beliau dari peninggalan Rasulullah selepas Fai, yang mana Allah berikan pada baginda. Abu Bakr berkata pada Fatimah, “Rasulullah bersabda: Harta kami tidak akan diwarisi, segala yang ditinggalkan oleh Nabi ialah sedekah.” Fatimah, anak kepada Rasulullah berasa marah dan berhenti dari bercakap dengan Abu Bakr sehingga beliau wafat. Fatimah hidup selama 6 bulan selepas peninggalan baginda (saaw)
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 53, Hadith 325

Imam Ali menyangka Khilafah ialah hak beliau. Hujah yang digunakan oleh Umar di Saqifa lebih sesuai di gunakan untuk Ali( kerana beliau ialah saudara terdekat Rasulullah) lebih dari kedua sheikh( Abu Bakr dan Umar). Ini juga ialah sebab kenapa Imam Ali, singa Allah di Badr, Uhud, Khaibar dan Khandaq, tidak menyertai mana-mana pertempuran(yang di dakwa sebagai jihad) di bawah khalifah Abu Bakr dan Umar serta Usman.

Berjagalah! Demi Allah anak Abu Quhafah (Abu Bakr) memakai pakaian khalifah dan beliau semestinya mengetahui kedudukan ku kepada khilafah ibarat paksi kepada pengisar. Air banjir melalui ku, dan burung-burung tidak boleh terbang kepada ku. Aku meletakkan hijab kepada khilafah dan menjauhkan diriku darinya. Kemudiannya aku mula berfikir samada aku sepatutnya menyerang atau bertahan dengan tenang dalam kegelapan bencana yang membutakan……..Aku mendapati bertahan adalah lebih bijak. Jadi aku mangamalkan sikap bersabar, walupun sakit dimataku dan kelemasan di kerongkong ku. Aku melihat hak warisan ku dirompak, sehinggalah yang pertama pergi dan memberikan Khilafah kepada Ibnu Al Khattab sendiri.
Nahjul Balaghah, Khutbah 3, Khutbah ash-Shiqshiqiyyah

Adalah di laporkan dari Zuhri, riwayat ini diriwayatkan oleh Malik Ibn Aus yang berkata: Abu Bakr berkata:”Rasulullah(saw) bersabda: “Kami tidak mempunyai pewaris, dan apa yang kami tinggalkan ialah sadaqah.” Jadi kamu berdua( Ali dan Abbas) mendakwa dia ialah penipu, pendosa, pengkhianat dan tidak jujur. Dan Allah maha mengetahui bahawa dia seorang yang benar, mulia, terpimpin dan pengikut kebenaran. Setelah Abu Bakr meninggal, aku(umar) telah menjadi pengganti Rasulullah saw dan Abu Bakr, kamu(Ali) mendakwa aku ialah seorang penipu, pendosa, pengkhianat dan tidak jujur. Dan Allah lebih mengetahui yang aku ialah orang yang benar, mulia dan pengikut kebenaran.”
Sahih Muslim , Kitab 19, Nombor 4349

Walaupun Imam Ali memilih untuk senyap dan tidak aktif dalam politik demi survival Islam, beliau selalu memberi nasihat kepada Umar bila-bila sahaja Umar memintanya. Ini bukan bermakna Mawla Ali menerima Khilafah Umar,menyayangi atau menerimanya, nasihat politik Imam Ali ialah untuk kebaikan Islam.

Sebagai contoh, Raja Mesir bukanlah seorang Muslim, bagaimanapun, baginda selalu meminta nasihat dari Nabi Yusuf, dan Nabi Yusuf bersetuju menolong baginda, demi rakyatnya. Saya tidak memaksudkan bahawa Umar bukan Muslim. Allah ialah hakim yang menghakimi dengan seadil-adilnya. Apa yng saya maksudkan ialah nasiha Imam Ali kepada Umar adalah demi kebaikan Empayar Muslim, dan bukanlah kerana Umar ialah orang yang jujur.

…. raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, aku hendak menjadikan dia orang yang khas untuk aku bermesyuarat dengannya. Setelah (Yusuf dibawa mengadap, dan raja) berkata-kata dengannya (serta mengetahui kebijaksanaannya) berkatalah raja kepadanya: “Sesungguhnya engkau pada hari ini (wahai Yusuf), seorang yang berpangkat tinggi, lagi dipercayai di kalangan kami “.
Quran [12:54]

Raja, para menteri, putera, pegawai dan orang-orang berpangkat pada ketika itu  telah mengetahui dan mengakui nilai Yusuf, dan merasai kehebatan moral baginda selama beberapa tahun yang lepas. Yusuf telah membuktikan tiada setandingnya dalam kejujuran, kemuliaan, kesabaran, displin, kemurahan, kebijaksanaan dan pemahaman. Mereka mengetahui dan mempercayai bahaw hanya Yusuf sahaja yang mengetahui bagaimana untuk menjaga dan menguruskan sumber tanah. Oleh kerana itu, sebaik sahaja Yusuf menunjukkan keinginannya, mereka dengan sepenuh hati member kepercayaan pada Nabi Yusuf

Tafheem ul Quran, dari Abul Ala Maududi, Tafseer of Surah 12, ayat 55

Kejujuran, kemuliaan, kesabaran, disiplin, kemurahan, kebijaksanaan dan pemahaman yang dimiliki oleh Imam Ali, melebihi yang lainnya. Kesanggupan beliau membantu pentadbiran Umar dan beberapa isu politik yang lain adalah kerana kualiti yang dipunyai oleh Imam Ali.

Sekali lagi kita kembali semula tentang keperibadian Khalid Ibn Al Walid. Malik Ibnu Nuwairah telah dilantik sebagai pengutip zakat oleh Rasulullah saw. Sunni dan Syiah berbeza pendapat samada Malik menjadi murtad selepas kewafatan baginda atau tidak. Semasa pemerintahan Abu Bakr, Khalid ibn Walid telah dihantar untuk berurusan dengan Malik. Mari kita perhatikan dari pendapat Sunni:

Setelah ditahan, Malik bertanya kepada Khalid tentang kesalahan yang dilakukan oleh beliau(malik). Khalid membalas dengan berkata: ‘Tuan kamu berkata itu dan ini.’ Khalid mengetahui ini adalah satu percubaan Malik untuk melepaskan diri. Setelah mempunyai bukti yang kukuh yang Malik mengagihkan duit zakat setelah mendengar kewafatan Muhammad, dan pakatan beliau dengan Sajjah, Khalid mendakwa Malik telah kufur dan mengarahkan pembunuhan beliau.
al-Balazuri, kitab no 1, m/s 107

Malik mempunyai seorang isteri, Layla bint al Minhal. Beliau ialah sahabat wanita Rasulullah saw, dan dikatakan seorang wanita tercantik di seluruh Tanah Arab. Syiah mendakwa Khalid merogol Layla pada malam Khalid membunuh Malik. Sunni pula mendakwa, Layla dikahwini Khalid pada malam yang sama Malik dibunuh.

Pada malam yang sama, Khalid menikahi Layla, bekas isteri Malik, yang dikatakan sebagai perempuan Arab tercantik
Tabari: Vol. 2, M/s 5

Katakan saya menerima pandangan Sunni, iaitu Malik menikahi Layla pada malam yang sama Malik dibunuh, dan ia bukan satu kes rogol, maka saya mempunyai 2 isu. Saya bukanlah Ulama, tetapi di dalam Quran ada menyebutkan:

Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu, sedang mereka meninggalkan isteri-isteri hendaklah isteri-isteri itu menahan diri mereka (beridah) selama empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa idahnya itu maka tidak ada salahnya bagi kamu mengenai apa yang dilakukan mereka pada dirinya menurut cara yang baik (yang diluluskan oleh Syarak). Dan (ingatlah), Allah sentiasa mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukan.
Quran [2:234]

1.      Seorang isteri yang melihat suami nya terbunuh, atau mendengar suaminya meninggal dunia, tidak akan berkahwin semula pada hari yang sama dengan sukarela, kerana perkahwinan adalah berdasarkan cinta dan kasih sayang. Saya ingin menyatakan di sini, tiada isteri yang akan mengahwini lelaki lain dalam masa yang terdekat setelah kematian suaminya.

2.      Iddah seorang balu ialah selama 4 bulan 10 hari, atau lebih kurang 130 hari. Berdasarkan prinsip Islam, dia tidak boleh berkahwin semula, walaupun jika beliau mahukannya.

Oleh itu, berdasarkan point pertama, sudah semestinya keinginan Khalid sendiri untuk mengahwini Layla, dan bukannya kemahuan Layla, yang juga seorang balu yang sedang berkabung. Berdasarkan point kedua, perkahwinan itu tidak sah, dan ia merupakan penzinaan(jika Layla mahukannya) atau kes rogol(jika dipaksakan keatas Layla). Saya mempunyai sebab untuk mempercayai ia adalah rogol dari mempercayai mitos perkahwinan.

Para sahabat Nabi yang lain juga melihat perkara yang serupa, termasuk Umar Al Khattab yang memprotes tindakan itu. Perkahwinan antara Layla dan Khalid akhirnya menjadi satu isu kontroversi kerana terdapat kumpulan yang menyangka Khalid membunuh Malik untuk mendapatkan Layla, termasuk dalam kumpulan ini ialah saudara Khalid, Umar. Khalid kemudiannya di panggil oleh Khalifah Abu Bakr untuk menerangkan keadaan, Selepas memikirkan perkara ini, Khalifah membuat keputusan bahawa Khalid tidak bersalah. Khalifah bagaimanapun mencaci Khalid atas tindakan beliau menikahi Layla serta membuka peluang kepada orang lain mengkritik beliau, dan kerana terdapat kemungkinan kesilapan, kerana bagi sesetengah orang menganggap Malik ialah Muslim. Abu Bakr mengarahkan agar membayar ganti rugi kepada pewaris Malik.

Di Madinah, Umar berasa sangat memalukan sehingga beliau menuntut agar Abu Bakr memecat Khalid. Umar berkata Khalid patut didakwa atas 2 kesalahan iaitu membunuh dan berzina. Bagaimanapun, Abu Bakr mempertahankan Khalid dengan mengatakan beliau telah melakukan “perhitungan yang salah”
A Restatement of the History of Islam dan Muslims, Ali Razwy, Chapter 55

Ini mungkin salah satu sebab Umar memecat Khalid dari pimpinan tertinggi tentera apabila beliau diangkat menjadi khalifah oleh Abu Bakr, dan menggantikan Abu Ubaidah di tempatnya. Kemudiannya Umar memecat sepenuhnya Khalid dari pasukan tentera. Syiah dan Sunni  berbeza pendapat tentang mengapa beliau dipecat, bagaimanapun ia tidak akan dibincangkan disini.

Selepas kematian Umar, Usman telah mengambil tampuk pemerintahan. Masalah ekonomi dan pengagihan kekayaan yang tidak seimbang telah menyebabkan kekecohan di kalangan kaum Muslim, dan mereka menyuarakan rasa tidak puas hati mereka kepada Khalifah Usman. Para sahabat seperti Ammar, Abu Dzarr dan Abdullah Ibn Masud telah dipukul, diseksa serta dibuang negeri oleh pentadbiran Usman.

Wahai Abu Dzarr! Kamu menunjukkan kemarahan kamu atas nama Allah, kerana kamu mempunyai harapan keatasNya. Masyarakat takut kepada mu dalam hal kesenangan duniawi mereka manakala kamu risaukan mereka kerana iman kamu. Maka tinggalkanlah apa yang mereka takutkan dari kamu dan lepaskanlah kerisauan kamu keatas mereka. Betapa mereka memerlukan perkara yang kamu minta mereka jauhkan dan betapa tulinya kamu keatas perkara yang mereka nafikan kepada kamui. Tidak lama lagi kamu akan mengetahui siapa yang mendapat keuntungan di akhirat dan siapa yang akan dicemburui di sana. Walaupun langit dan bumi ini tertutup untuk individu tertentu dan beliau takut kepada Allah, maka Allah akan membuka langit dan bumi untuk beliau. Hanya kebenaran dapat menarik kamu sementara kabatilan menjauhi kamu. JIka kamu menerima tarikan duniawi mereka, pasti mereka menyayangi kamu, dan pasti mereka akan melindungi kamu jika kamu berkongsi dengan mereka
Nahjul Balaga, Khutbah130, Diberi semasa Abu Dharr di buang negeri ke ar-Rabadhah

Oleh kerana Abu Dzar dibuang negeri dan kehormatannya di jatuhkan, oleh kerana Abdullah ibn Mas’ud dipukul tanpa belas, oleh kerana patahnya rusuk Ammar ibn Yassir, dan oleh kerana rancangan untuk membunuh Muhammad Ibn Abu Bakr, Bani Ghiffar, Bani Hudhayl, Bani Makhzum dan Bani Taym semuanya menyimpan dendam dan kemarahan(terhadap pentadbiran Usman)Muslim dari bandar-bdanar lain juga penuh dengan aduan terhadap pegawai-pegawai Usman yang terlampau mabuk dengan kekayaan dan kemewahan, yang melakukan sesuka hati mereka dan memusnahkan sesiapa yang mereka mahu.
Al-Baladhuri, Ansab, V, 98, 101

Amr Ibn Al ‘as, Thalhah, Zubair dan Aisyah telah memainkan peranan yang besar dalam mengapikan masyarakat terhadap Usman, yang kemudiannya terbunuh. Siapakah pembunuh beliau? Mereka ialah kaum Muslimin sendiri, yang secara teknikalnya ialah para sahabat sendiri.

Di manakah Muawiyah, Thalhah, Zubair dan Aisyah, apabila rumah Usman di kepung selama berhari-hari atau berminggu? Mengapa mereka tidak datang membantu Usman ketika itu? Orang-orang yang mempertahankan mereka mendakwa perang Jamal dan Siffin tercetus akibat mereka ingin membalas dendam terhadap pembunuh Usman. Jika mereka ialah sekutu kepada Usman seperti yang di dakwa oleh Sunni, jadi mengapa mereka yang mempunyai kekayaan dan kuasa suku atau puak mereka, tidak datang untuk membantu Usman yang dikepung selama berminggu-minggu? Jawablah soalan ini dan kamu mungkin akan mendapat pemahaman yang lebih mendalam tentang pembunuh Usman.

Apabila masyarakat melihat apa yang di lakukan oleh Usman, para sahabat Nabi di Madinah menulis surat kepada para sahabat yang berada di kawasan lain: “Kamu telah berjuang di jalan Allah swt, demi agama Muhammad. Semasa ketiadaan kalian, agama Muhammad telah dirosakkan dan ditinggalkan. Jadi kembalilah untuk membangunkan agama Muhammad.” Kemudian, mereka datang dari segala penjuru sehingga mereka membunuh khalifah Usman.
Sejarah al-Tabari, English version, v15, p184

Masyarakat melantik Imam Ali sebagai khalifah. Imam Ali mengambil jawatan itu dengan berat hati dan menghadapi pemberontakan dari Thalhah, Zubair dan Aisyah di Jamal. Saya akan membincangkan tentang perang Jamal di dalam artikel yang lain. Bagaimanapun, secara hakikatnya dapat kita ketahui bahawa perang Jamal ialah perang yang di sertai oleh para sahabat di kedua-dua belah pihak lawan.

Mawla Ali memberi komen tentang  Thalhah dan Zubair;

Demi Allah, mereka tidak menjumpai sesuatu yang tidak mereka setujui pada ku, tidak juga mereka berlaku adil di antara mereka dan aku. Sudah pasti, sekarang mereka menuntut hak yang mereka sendiri tinggalkan dan menuntut darah yang mereka sendiri tumpahkan(dalam kes Usman). Jika aku menyertai mereka di dalamnya, maka mereka juga mempunyai bahagian di dalam perkara itu, tetapi jika mereka melakukan tindakan itu, maka tuntutan itu sepatutnya ke atas mereka. Langkah pertama dalam keadilan mereka ialah mereka mengeluarkan keputusan kehakiman ke atas diri mereka sendiri. Aku mempunyai kecerdikan ku. Aku tidak pernah mencampurkan keadaan atau keadaan itu nampak tercampur padaku. Sesungguhnya, ini ialah kumpulan pemberontak yang terdiri dari orang terdekat(az Zubair), bisa kala jengking( Aisyah) dan keraguan yang mencipta hijab( terhadap kebenaran). Tetapi hal ini sangat jelas, dan kebatilan telah digoncang dari asasnya. Lidahnya telah berhenti dari mengucapkan suatu kebatilan. Demi Allah, aku akan menyediakan untuk mereka tangki air, yang hanya aku seorang sahaja boleh mengambilnya. Mereka tidak akan boleh meminum darinya atau dari tempat lain.
Nahjul Balagah, Khutbah 137,Tentang Thalhah dan Zubair

). Saya  tidak akan berhujah mengenai sebab-sebab tercetusnya perang Jamal, tetapi hakikatnya tetap sama, Thalhah, Zubair dan Aisyah memberontak terhadap Mawla Ali.

Imam Ali memberi komen tentang Muawiyah

Demi Allah, Muawiyah tidak lebih bijak dari ku, tetapi beliau menipu dan melakukan perbuatan yang jahat. Jika tidak kerana aku membenci kejahatan(dalam menggunakan taktik kotor), maka akulah orang yang paling bijak antara mereka. Bagaimanapun, setiap penipuan ialah dosa dan setiap dosa ialah penderhakaan kepada Allah. Setiap orang yang menipu akan ada panji yang menyebabkan dia akan dikenali di Hari Pembalasan. Demi Allah aku tidak akan dapat melupakan strategi atau tidak pula aku boleh dikalahkan oleh kesusahan.
Nahjul Balagah, Khutbah 200, Pengkhianatan Muawiyah dan nasib pengkhianat di Akhirat kelak.

Dan tentang Amr Ibn Al ‘As, seorang sahabat Nabi, juga merupakan seorang panglima Muawiyah yang cerdik tipu daya nya.

Aku berasa terkejut dengan anak an Naghibah yang mengatakan tentangku kepada penduduk asy Syams, sebagai seorang pelawak yang suka bermain-main dan menyeronokkan. Dia telah silap bercakap sesuatu yang berdosa. Beringatlah, ucapan yang paling buruk ialah yang tidak benar. Dia bercakap dan menipu. Dia memberi janji dan memungkirinya. Dia merayu dan meminta, tetapi bila seseorang merayu padanya, beliau melayannya dengan teruk. Dia mengkhianati perjanjian dan tidak mengendahkan hubungan persaudaraan. Di dalam pertempuran, beliau memberi arahan dan menasihati, tetapi hanya sehingga tidak melibatkan pedang. Apabila sampai masa itu, teknik terhebat beliau ialah lari membelakangkan lawan beliau. Demi Allah, mengingati mati telah menjauhkan aku dari keseronokan dan bermain-main, sementara kelupaan terhadapa dunia akhirat telah menghalang beliau dari bercakap benar. Beliau tidak memberi baiah kepada Muawiyah tanpa sebab: melainkan sebelumnya telah menetapkan harga yang harus dibayar, dan member penghargaan padanya kerana meninggalkan agama.
Nahjul Balagah, Khutbah 84, tentang Amr ibn al-aas

Oleh itu Imam Ali menganggap Muawiyah dan Amr sebagai manusia yang jahat. Mengambil kira peristiwa Perang Siffin, di mana Imam Ali menghadapi sahabat seperti Muawiyah dan Amr, Rasulullah (saw) memberi ramalan bahawa Ammar(ra) akan di syahidkan oleh pemberontak.

…Semasa pembinaan masjid Nabi, kami membawa bata masjid itu satu demi stu, sementara Ammar membawa 2 dalam masa yang sama. Nabi terserempak dengan Ammar dan membuang debu dari kepala beliau dan berkata: “Semoga Allah merahmati Ammar. Beliau akan dibunuh oleh kumpulan pemberontak yang agresif. Ammar akan menjemput mereka untuk taat kepada Allah manakala mereka menjemput Ammar ke neraka.”…
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 52, Hadith 67

Ammar disyahidkan pada hari ketiga Perang Siffin oleh pasukan Syria, iaitu pasuka Muawiyah. Ramalan Rasulullah (saw) menjelaskan dengan sendirinya.

Muawiyah bukan sahaja membenci Imam Ali, tetapi memulakan aktiviti mencaci maki beliau dari mimbar setiap kali khutbah, seperti yang diramalkan oleh Imam Ali.

Selepas pemergianku, akan diletakkan kepada mu seorang lelaki dengan mulut yang luas dan perut yang besar. Beliau akan menelan apa sahaja yang beliau dapat dan mengidam perkara yang  tidak beliau dapat. Kamu patut membunuh beliau tetapi aku tahu, kamu tidak akan membunuhnya. Beliau akan memerintahkan kamu untuk mencaci diriku dan menafikan diriku. Berkenaan mencaciku, kamu ccilah aku kerana ia membawa kepada penyucian untuk diriku dan keselamatan untuk diri mu. Berkenaan menafikan ku, janganlah kamu menafikan aku kerana aku dilahirkan pada agama lumrah(Islam) dan merupakan yang terawal dalam menerimanya, dan juga berhijrah.
Nahjul Balagah, Khutbah 57, Amir al-mu’minin berkata kepada para sahabatnya tentang Muawiyah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Shu’ba dengan rangkaian perawi yang sama. Amir ibn Saad ibn Abi Waqas melaporkan dari bapanya: “Muawiyah ibn Abu Sufyan melantik Saad sebagai gabenor dan berkata: Apa yang menghalang kamu dari mencaci Abu Turab(Imam Ali), di mana beliau menjawab: “Ia kerana 3 perkara yang aku ingati Rasulullah(sawa) sebutkan mengenai beliau, yang membuatkan aku tidak akan mencaci beliau dan jika satu dari sift itu aku miliki, maka ia adalah lebih berharga bagi ku dari unta merah. Aku mendengar Rasulullah (sawa)  berkata kepada Ali semasa baginda meninggalkan beliau untuk perang Tabuk. Ali berkata kepada baginda: “Ya Rasulullah, kamu meninggalkan aku bersama wanita dan kanak-kanak.” Rasulullah(sawa) bersabda: “Tidakkah kamu berpuas hati dengan kedudukan mu pada ku ialah seperti kedudukan Harun kepada Musa dengan pengecualian tiada lagi Nabi selepas ku.” Dan aku juga mendengar baginda bersabda di Hari Khaibar: Aku akan memberi panji ini kepada seorang yang menyintai Allah dan RasulNya serta Allah dan RasulNya turut menyayangi beliau. Dia(perawi) berkata: Kami menunggu dengan penuh debaran, sehingga Rasulullah bersabda: “Panggilkan Ali.” Beliau di panggil, sedangkan ketika itu beliau mengidap sakit mata. Baginda menyapukan air liur baginda pada mata beliau, dan member panji itu pada beliau, dan Allah memberi beliau kejayaan. Yang ketiga ialah ketika ayat ini diturunkan “Marilah kita menyeru anak-anak kami serta anak-anak kamu”(Ayat Mubahalah [3:61]), baginda memanggil Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain dan berkata : Ya Allah, mereka ialah keluarga ku.”

Sahih Muslim, Kitab 31, Hadith 5915

Mari kita andaikan kamu tidak mencaci Imam Ali, dan saya tidak pernah menyuruh kamu mencaci Imam Ali(nauzubillah), jadi adakah sebarang sebab untuk saya bertanya kepada kamu sebab kamu tidak mencaci Imam Ali? Tidak! Sebab mengapa Muawiyah bertanya kepada Saad ialah kerana Muawiyah memperkenalkan amalan itu sendiri.

Seerat ul Nabi, Jilid 1, m/s 66 to 67 menyatakan; Shibli Numani mengatakan perkara yang serupa iaitu para Khalifah Bani Umayyah mencaci keturunan Fatimah di seluruh Empayar Islam, di setiap masjid, selama 90 tahun dan mencaci Al dari setiap mimbar semasa solat Jumaat.

… Shah Shaheed bertanya kepada Subhan Khan, “Adakah Tabarra kepada Muawiyah di lakukan oleh Imam Ali?” Beliau memberi jawapan negatif. Shah bertanya lagi: “Adakah Tabarra kepada Imam Ali di lakukan oleh Muawiyah?” beliau menjawab: “Tanpa ragu ia berlaku.” Mendengar perkara ini Mawlana Shah Shaheed memuji Allah dan berkata Ahlul Sunnah mengikuti amalan Ali manakala Rafidi mengikut amalan Muawiyah.

…. Mawlana Shah Moinuddin Ahmad Nadvi menyatakan dalam Tareekh e Islam, Jilid 1, M/s 13 dan 14. Semasa pemerintahan Muawiyah, beliau telah memulakan amalan mencaci maki Imam Ali dari mimbar, serta semua tindakan beliau dan masyarakat mencapat tujuan ini. Mughaira ibn Shuibah ialah seorang penuh dengan kualiti mulia, tetapi kerana beliau mengikuti Muawiyah, beliau juga tidak dapat melindungi diri dari Bid’ah ini.

Click below for scanned m/s:
Khilafat O Malukiyat aur Ulema e AhleSunnat, Abu Khalid Muhammad Aslam, m/s 120-122

Selepas kewafatan Maula Ali, permusuhan antara maula Hassan dan Muawiyah berterusan. Imam Hassan mehu perjanjian damai ditandatangani dari melancarkan satu lagi peperangan dengan Muawiyah, yang telah menyebabkan tertumpahnya banyak darah kaum Muslimin dan para sahabat Nabi (sawa)

Perjanjian damai itu tidak bermakna Imam Hassan menjadi sahabat kepada Muawiyah atau mencintai Muawiyah, kerana perjanjian itu ditandatngani oleh 2 paksi berperang. Nabi Muhammad (sawa) menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan pihak yang sama memerangi baginda selama bertahun-tahun.

Kalau tidak ada angin masakan dahan bergoyang. Sumber Sunni yang kuat mencadangkan yang Muawiyah turut bertanggungjawab dalam pembunuhan Aisyah.

Kita bercakap mengenai isteri yang paling disayangi Rasulullah (sawa) yang telah diceritakan sebagai contoh segala wanita di dalam Quran, dan kerana inilah darah beliau menjadi sangat bernilai pada umur 64.

Muawiyah menjemput Aisyah untuk makan malam. Beliau mengarahkan satu lubang dikorek, dan dipenuhkan ia dengan lembing dan pedang mencacak keatas. Mengikut sejarah Allama Ibn Khldun, Muawiyah menyorokkan lubang ini dengan papan yang lembik dan karpet. Beliau meletakkan kerusi kayu di atasnya sebagai tanda menghormati Aisyah. Sebaik sahaja aisyah duduk di atas kerusi itu, beliau jatuh ke dalam lubang itu dan cedera parah. Untuk menyembunyikan jenayahnya, Muawiyah mengarahkan lubang itu di tutup dan Aisyah turut di tanam di dalamnya. Oleh itu Muawiyah bertanggungjawab atas kematian baginda. Aisyah berumur 64 ketika itu, dan tindakan ini membuktikan kebencian beliau terhadap Nabi Muhammad (sawa)

Klik Di Bawah:
Musharaf al Mehboobeen, By Sheikh ul Tareeqat Hazrat Khwaja Mehboob Qasim Chishti Muhsarafee Qadiri, M/s 616

Ini ialah salah satu dari dakwaan yang di ambil dari sumber Sunni yang sahih. Kamu boleh memberi hujah balas berkenaan perkara ini, tetapi sebelum itu, saya sangat-sangat teringin untuk membaca berkenaan dengan majlis pengebumian Aisyah mengikut rujukan kamu.

Selepas syahidnya Imam Hassan, giliran Imam Hussain pula untuk syahid di bumi Karbala oleh Yazid Ibn Muawiyah.

Saya tidak boleh mempercayai semua sahabat secara TOTAL Rasulullah (sawa) membuat kebaikan samada kepada diri mereka atau antara satu sama lain. Sebagai kesimpulan, biar saya tunjukkan senarai keraguan saya;

  • Para sahabat Rasulullah (sawa) menyebarkan berita yang salah tentang Aisyah berzina.
  • Pergaduhan kecil antara Umar dan Abu Bakr yang meninggikan suara lebih dari Rasulullah (sawa) dan hampir menghapuskan segala amalan mereka.
  • Urwah(seorang sahabat) mencaci Hassan(seorang lagi sahabat)
  • Para sahabat enggan mengakui kepimpinan Usamah yang dilantik sendiri oleh Rasulullah. Ada juga sesetengah sahabat mengkritik kepimpinan beliau.
  • Tragedi Hari Khamis; Pertengkaran antara dua kumpulan sahabat di hadapan Rasulullah yang sedang tenat, di satu pihak mahu mengikut permintaan Rasulullah untuk menulis wasiat manakala di satu pihak lagi mengikuti pendapat mereka sendiri dengan menolak permintaan Rasulullah.
  • Pertengkaran dan pergaduhan  antara isteri-isteri nabi akibat dari cemburu sesama mereka. Ada juga di antara mereka yang merancang keatas Rasulullah (sawa) sendiri.
  • Kekejaman Khalid Ibn Walid kepada Bani Jadhima, sehingga Rasulullah sendiri berlepas tangan darinya.
  • Pertengkaran panas antara Muhajirun dan Ansar di Saqifah yang berakhir dengan Saad Ibn Ubaidah di pijak-pijak
  • Imam Ali dan penyokong beliau tidak bersetuju dalam konteks hak khilafah Abu Bakr.
  • Boikot dari Fatimah kepada Abu Bakr dalam konteks rampasan Fadak
  • Pendapat Imam Ali tentang Abu Bakr dan Umar yang dianggap oleh Imam Ali sebagi penipu dan tidak jujur dalam isu Fadak dan isu khilafah
  • Khalid Ibn Walid(sahabat) membunuh Malik Ibn Nuwara(juga seorang sahabat) dan merogol isteri beliau, Layla(juga seorang sahabat)
  • Kemarahan Umar dan protes beliau terhadap Khalid di zaman Abu Bakr.
  • Pemecatan Khalid dari semua jawatan angkatan tentera,
  • Abu Dzar dibuang negeri oleh Usman dan pentadbirannya.
  • Ammar Yasir dan Abdullah Ibn Masud di pukul atas arahan Usman
  • Menyalakan api pemberontakan rakyat terhadap Usman oleh Thalhah, Zubair dan Aisyah.
  • Pendapat Imam Ali terhadap Thalhah, Zubair dan Aisyah serta perang Jamal
  • Pendapat Imam Ali terhadap Muawiyah dan Amr ibn Al As serta perang Siffin
  • Muawiyah memulakan amalan mencaci Imam Ali
  • Ramalan Rasulullah (sawa) terhadap pembunuhan Ammar ibn Yassir oleh puak pemberontak(Muawiyah)
  • Perjanjian damai Imam Hassan dan Muawiyah
  • Pertuduhan Muawiyah membunuh Aisyah

Jika kamu ingin saya mempercayai bahawa semua sahabat dan isteri Nabi tidak mempunyai masalah dan kebencian antara satu sama lain, dan mereka hidup aman dan damai seperti saudara, jadi saya perlu menghiraukan sebahagian besar dari sejarah dan logik untuk hidup dalam dunia mitos dan mimpi. Bagaimanapun jika kamu bertanya mengenai fakta, maka fakta itu amat menggentarkan bagi orang yang mempercayai Imam Ali menyayangi Muawiyah, atau Aisyah menghormati Usman. Khalid ibn al Walid dan Amr ibn Al As secara faktanya, tidak dapat dinafikan ialah panglima perng yang bagus, tetapi itu tidak menjadikan mereka Muslim yang baik. Jika kamu mencintai dan menghormati semua orang, maka ia seperti menghormati Musa dan Firaun dalam masa yang sama. Ini kerana 2 puak yang melancarkan perang antra satu sama lain , secara logiknya tidak menyayangi satu sama lain, tetapi berniat untuk membunuh pihak lawannya.

Keadaan di mana Rasulullah (saw) meninggalkan dunia ini sangat sensitif sehingga tidak sampai 50 tahun peninggalan baginda, cucu baginda di bunuh oleh seorang Muslim, khalifah dan anak kepada sahabat.

Jika kamu mendakwa kamu menyayangi semua pihak, maka kamu secara logiknya tidak mampu membuat keputusan dan keliru secara moral.

Satu-satunya pilihan untuk kamu, ialah memilih. Pilihlah antara orang yang dipilih masyarakat atau yang di pilih Allah swt. Ini kerana jika kamu memilih seseorang yang menyakiti Allah, rasul dan Ahlul Bait baginda, maka kamu akan bertanggungjawab dengn pilihan kamu.

Jika kamu bertanya kepada saya, maka saya memilih Ahlul Bait yang di rahmati dari para sahabat Rasulullah(sawa). Kamu mungkin akan bertanya mengapa, saya akan membiarkan Imam Ali menjawab soalan ini.

Imam Ali(as) dalam suratnya menukilkan:

Sekumpulan Muhajirin berjaya mendapatkan syahid. Mereka terbunuh dalam perjuangan Islam dan Allah. Semuanya dirahmati Allah dengan kedudukan dan pangkat(di akhirat).Mereka yang terdiri daripada keluarga ku dan suku ku, Bani Hashim, di berikan status yang tinggi oleh Allah swt. Hamzah menerima gelaran Sayyidus Syuhada. Rasulullah (sawa) sendiri memanggil nama ini selepas kesyahidan beliau dan ketika pengebumian beliau. Rasulullah mengucapkan takbir 70 kali sebagai pengiktirafan kepada beliau, sesuatu yang tidak dilakukan kepada Muslim lain. Terdapat Muhajirin yang kehilangan tangannya di medan perang, tetapi apabila salah seorang dari kami kehilangan (Ja’far, saudara Nabi)  kedua tangannya dan syahid di medan perang, Allah memberikan beliau sayap, dan Rasulullah memberitahu kami beliau diberikan gelaran At Tayyar.

Jika tidak kerana Allah swt tidak menyukai perbuatan meninggi dan memuji diri sendiri, aku akan memberikan beberapa peristiwa yang menceritakan prestij ku dan statusku di hadapan Allah swt, peristiwa di mana ia boleh diterima dan diberi kesaksian oleh Muslim yang beriman kerana ia tidak boleh diragui lagi. Janganlah kamu menjadi seperti seorang yang syaitan telah sesatkan. Terimalah kebenaran apabila ia berada di hadapan mu.

Dengar wahai Muawiyah! Kami Ahlul Bait ialah satu contoh yang unik dari semua ciptaan Allah swt. Untuk status itu, kami tidak mempunyai tanggungjawab terhadap mana-mana orang atau suku kecuali Allah swt. Manusia telah dan akan mencapai kesempurnaan melalui kami. Ketinggian darjat kami tidak menghalang kami dari berurusan dengan kamu atau suku kamu, kami telah mengahwini sesama kamu dan membina hubungan kekeluargaan dengan suku kamu, walaupun kamu tidak termasuk di dalam kumpulan kami.

Bagaimana kamu boleh menjadi setaraf dengan kami sedangkan Rasulullah sebahagian dari kami dan Abu Jahal, musuh terburuk Islam adalah sebahagian dari kamu. Asadullah(Imam Ali) adalah dari kami dan Asadul Ahlaaf(Singa pihak lawan) adalah dari kamu. Dua orang pemuda ketua pemuda syurga adalah dari kami dan anak-anak neraka adalah dari kamu. Wanita terbaik di dunia(Fatimah) adalah dari kami, sedangkan wanita terburuk yang sentiasa mahu menyakiti Nabi ialah ibu saudara mu.

Terlalu banyak perkara yang membezakan kita. Kami ialah pengikut setia arahan Allah swt, manakala kamu dan suku kamu sentiasa menentang Islam dan menerimanya hanya untuk menyelamatkan diri kamu dari penghinaan. Keikhlasan kami dalam Islam dan bakti kami keatasnya adalah fakta sejarah manakala sejarah tidak dapat menidakkan kebencian kamu terhadap Islam dan Rasulullah (sawa).

Nama baik kami, yang mana kamu cuba merampasnya dari kami, dan kehormatan yang ingin kamu rendahkannya ialah sesuatu yang dijaga sendiri oleh Al Quran. Diceritakan di dalam Quran: “ Dan orang-orang yang mempunyai pertalian kerabat, setengahnya lebih berhak dari setengahnya yang lain – menurut (hukum) Kitab Allah [ Qur'an, 33:6 ] dan di tempat lain dalam kitab yang sama, Allah memberitahu manusia: “Sesungguhnya orang-orang yang hampir sekali kepada Nabi Ibrahim (dan berhak mewarisi ugamanya) ialah orang-orang yang mengikutinya dan juga Nabi (Muhammad) ini serta orang-orang yang beriman (umatnya – umat Islam). Dan (ingatlah), Allah ialah Pelindung dan Penolong sekalian orang-orang yang beriman.” [ Qur'an, 3:68 ]. Oleh itu kami mempunyai 2 kelebihan, hubungan yang rapat dengan Rasulullah (sawa) dan kesetiaan dalam menerima ajaran baginda.

Tahukah kamu di hari Saqifah, Muhajirin memberitahu kepada Ansar, yang mereka mempunyai kelebihan lebih dari Ansar kerana mereka mempunyai pertalian dengan Rasulullah(sawa), dan oleh kerana itu, mereka lebih layak ke atas khilafah, dan oleh kerana hujah ini juga mereka berjaya memenangi perebutan kuasa pada hari itu. Jika kejayaan boleh dicapai dengan bantuan hujah ini dan jika hujah ini mempunyai walau sedikit sahaja kebenaran di dalamnya, maka KAMI dan BUKAN KAMU lebih layak ke atas khilafah. Jika tidak, maka kaum Ansar juga masih mempunyai hak ke atas khilafah.

Nahjul Balaga, Surat 28, Surat balasan Imam Ali terhadap surat Muawiyah

Sunni mendakwa mengikuti dan menyayangi para sahabat akan membawa kamu ke jalan yang benar. Mereka mengungkapkan hadis yang dhaif ini:

Rasulullah (sawa) bersabda : Para sahabat ku ialah seperti bintang, sesiapa sahaja yang kamu ikuti, akan terpimpin(ke jalan yang benar)
Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, p. 160.

Jadi siapakah yang harus saya pilih, kerana jika saya memilih Ali, kamu memanggil saya kafir, kerana jika saya memilih Ali, maka saya perlu memisahkan diri dari musuh-musuh beliau, orang-orang yang beliau perangi serta orang-orang yang beliau kenali sebagai penipu. . Ini di panggil Tabarra, yang mana akan saya bincangkan dalam artikel lain selepas ini.

Zirr melaporkan: ‘Ali berkata: Demi Dia yang membelah benih dan mencipta Sesuatu yang hidup, Rasulullah (sawa) memberi ku janji yang hanya seorang Muslim akan menyayangi aku dan hanya seorang munafiq yang akan membenci ku.’
Sahih Muslim Kitab 001, Nombor 0141

Cinta kami ialah untuk Ali ibn Abi Thalib dan cinta kami juga untuk Ahlul Bait Nabi(as). Penghormatan kami ialah untuk para sahabat dan isteri baginda yang kekal setia kepada Islam, Nabi dan Ahlul Bait baginda sebelum dan selepas kewafatan baginda. Saya bertanya kepada kamu semua, siapa yang kamu pilih, semua para sahabat atau para sahabat yang bertaqwa kepada Allah dan melakukan kebaikan

Iaitu orang-orang yang menjunjung perintah Allah dan RasulNya (supaya keluar menentang musuh yang menceroboh), sesudah mereka mendapat luka (tercedera di medan perang Uhud).Untuk orang-orang yang telah berbuat baik di antara mereka dan yang bertaqwa, ada balasan yang amat besar.
Quran [3:172]

Ingatlah, ganjaran Allah bukan untuk semua orang.

Rahmat Allah ke atas Nabi Muhammad (sawa) dan Ahlul Bait baginda yang di rahmati. Redha Allah ke atas mereka yang menyokong perjuangn Islam serta membantu Rasulullah dan Ahlul Bait Baginda dengan ikhlas seumur hidup mereka. Dan laknat Allah telah mencukupi bagi mereka yang bertindak bertentangan dengan Islam, arahan Nabi serta menyakiti Ahlul Bait baginda, kerana Allah swt tidak akan bersama penipu.

Bidasan Berkenaan Makna Mawla

Sejak Aidil Ghadir, macam-macam reaksi diterima oleh pihak penentang Syiah. Macam-macam jawapan balas mereka berikan tentang peristiwa ini. Berkenaan dengan jawapan balas mereka ini, sebenarnya hujah lama, dan telah saya lalui dalam tempoh kajian saya terhadap Syiah dahulu. Oleh itu, saya tahu dan sudah menjangka mereka akan melatah. Ini adalah beberapa point utama hujah balas geng-geng pembenci Syiah terhadap Ghadir Khum.

  1. Percubaan menakwilkan maksud perkataan Mawla dalam peristiwa al Ghadir
  2. Menetapkan hujah bahawa Imam Ali tidak menuntut jabatan Khalifah sejurus selepas kewafatan Nabi(sawa)
  3. Dan beberapa lagi hujah lemah, antaranya berkenaan Imam Ali memohon kesaksian Al Ghadir di zaman pemerintahan beliau, bagi mengenal pasti siapa yang benar-benar menyokong beliau, dan siapa pula yang tergolong dalam golongan penentang. (Yang bestnya, antara yang tidak memberikan kesaksian ialah para sahabat besar juga, aduss)

Seperti yang saya pernah sebutkan sebelum ini, sumber perpecahan utama Sunni dan Syi’i, berpusat dan bermula dari satu perkara sahaja yang paling utama, iaitu Imamah. Sudah tentu jika Sunni mengakui hal-hal berkaitan wilayah Ahlulbait(as) dan perlantikan Imam Ali(as), maka sudah tentu tidak akan wujud lagi Sunni sampai ke hari ini. Oleh kerana setelah hampir lebih kurang 1200 tahun, masih lagi wujud Sunni dan Syiah, maka ini menunjukkan di pihak Sunni ada penakwilan mereka, dan di pihak Syiah juga ada penakwilan mereka tersendiri. Sunni dengan sumber mereka, manakala Syiah dengan sumber mereka dan sumber Sunni pun boleh pakai jugak.

Yang sepatutnya dijadikan garis sempadan ialah menghormati pendapat masing-masing, bukan berusaha mencari hujah balas untuk mengkafirkan pihak lawan. Perdebatan berkenaan hal ini dah 1000 tahun lebih pun, maka tidak perlu la nak jadikan ia isu lagi. Kalian mengatakan peristiwa Ghadir Khum bukan perlantikan Ali, tetapi hanya menunjukkan kemuliaan dan kelebihan beliau(biar betul?), fine! Ada tak kami kafirkan kalian? Ada tak kami membenci kalian? Ada tak kami memburuk-burukkan kalian, jawapannya semua tidak!

Itu pendapat kalian, so kami hormati, manakala kami Syiah pula, berpendapat berdasarkan Nas dari Quran, hadis dan dalil aqli, bahawa peristiwa ini, hanyalah salah satu dari berlambak peristiwa yang menunjukkan pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah. Ia sentiasa berkait dengan hadis 12 Imam, Ahlulbait dan Imam Ali. Dengan kami mempercayai perkara ini, bahagian mana dari kepercayaan ini yang membuatkan kami keluar dari Islam? Kenapa perlu kafir dan membenci kami hanya kerana kami mempercayai sesuatu berdasarkan sumber yang dipercayai semua? Bukankah Rasulullah(sawa) dalam kitab hadis kalian pernah sebut:

“Perbezaan pendapat dalam umat ku ialah satu rahmat.”?

Semua ini kerana Syiahfobia yang dihadapi kalian. Penyakit ini menyebabkan kalian cenderung untuk menafikan apa sahaja yang keluar dari mulut Syiah, walaupun ia adalah sesuatu yang kukuh dan logik. Kasihan sekali.

Anyway, kita akan mulakan dengan point nombor 1 bagi artikel ini, iaitu berkenaan maksud mawla, kerana ia adalah point paling utama mereka. Sekali lagi telah saya nukilkan bahawa kenyataan bahawa Rasulullah(sawa) telah menegaskan Imam Ali(as) sebagai mawla bukan di satu tempat sahaja, malah di banyak peristiwa dan waktu, ini dapat dilihat jika kalian membaca kesemua siri Imamah.

Mengikut pendapat saudara kita dari Ahlulsunnah atau lawan kita dari para wahabi, perkataan maula atau wali bererti pencinta, penolong dan kawan, bukan bermaksud pemimpin. Ini kerana Nabi(sawa) mengetahui bahawa Ali mempunyai banyak musuh, maka dengan itu baginda menerangkan kepada ratusan ribu para sahabat bahawa sesiapa yang menganggap baginda sebagai orang yang dicintai, maka Ali juga merupakan orang yang patut dicintai.

Ironiknya pendapat mereka ini membatalkan hujah mereka tentang sifat berkasih sayang antara para sahabat, yang mengatakan para sahabat sentiasa menyayangi antara satu sama lain(hoho!). Ada banyak jalan bagi saya untuk menjawab hujah bidasan mereka. Pendapat mereka bathil antaranya atas sebab-sebab berikut:

1. Telah jelas bahawa peristiwa Ghadir Khum ialah susulan dari turunnya ayat Al Balagh yang memerintahkan Rasulullah menyampaikan perlantikan ini. Ini menunjukkan, tanpa risalah ini, Islam akan menjadi tidak lengkap. Maka cubalah kalian fikirkan, kalaulah peristiwa ini terjadi hanya semata-mata untuk menyatakan bahawa Imam Ali adalah sahabat baginda dan orang yang harus dicintai, apakah perlu sehingga tahap ayat Quran diturunkan? Lagipun, bukankah Imam Ali sebagai sahabat Nabi ialah satu pengetahuan umum dan telah diketahui ramai?

Mereka mengatakan bahawa Rasulullah berbuat begitu setelah terjadi perselisihan faham antara Imam Ali dan seorang sahabat berkenaan hal-hal rampasan perang(again?), maka Rasulullah terpaksa mengisytiharkan di hadapan ratusan ribu para sahabat tentang kedudukan Ali. Setahu saya, kedudukan Imam Ali telah banyak diterangkan dari permulaan dakwah hingga ke akhirnya di banyak tempat, maka saya tidak nampak sebab Rasulullah(sawa) perlu untuk menerangkan sekali lagi perkara ini hanya semata-mata terdapat perselisihan faham. Tidakkah jika benar, tindakan Rasulullah ini nampak redundant(sia-sia)?(Nauzubillah)

Firman Allah swt dalam ayat al Balagh:

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan(apa yang diperintahkan itu bererti) kamu tidak menyampaikan dengan sempurna risalahNya. Dan Allah akan sentiasa memelihara kamu dari ganguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang yang kafir(menentang). Al Quran(5:67)

Maka secara logiknya, apakah perkara yang terlalu serius, sehingga jika Rasul(sawa) tidak menyampaikan “persahabatan baginda dengan Ali” maka ia bererti Rasul tidak menyampaikan langsung risalah Allah?

Bagi menguatkan lagi dalil Imamah Imam Ali, setelah Rasulullah(sawa) selesai menyampaikan amanah perlantikan itu, ayat Ikmal pula diturunkan bagi menyatakan kesempurnaan agama setelah perlantikan Imam Ali. Apakah yang menyebabkan agama menjadi sempurna, hanya dengan pengisytiharan Imam Ali sebagai sahabat baginda di hadapan ratusan ribu para sahabat? Fikirkanlah..

2. Point seterusnya ialah konteks kata-kata Rasulullah sendiri yang menunjukkan kata mawla itu sebagai pemimpin. Seperti yang dapat kita lihat dalam riwayat Ghadir Khum, Rasul memulakan ucapannya dengan bertanya kepada orang ramai:

“Bukankah aku ini lebih utama dari diri-diri orang mukmin sendiri?”

Ungkapan ini dikuatkan lagi dengan firman Allah swt:

“Nabi itu lebih utama dari diri-diri orang mukmin itu sendiri.” Al Quran(33:6)

Lantas ratusan ribu para sahabat mengakuinya. Seterusnya Nabi bersabda:

“Maka ini juga(Ali) adalah yang paling utama bagi sesiapa yang aku ini lebih utama darinya.”

Menerusi konteks ucapan ini, jelas bahawa apa yang dimaksudkan oleh baginda Rasul adalah “berkuasa” atau “ketua ke atas orang lain” apabila beliau menggunakan perkataan mawla.

Seterusnya kita kaji pula rangkap ini yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah ialah mawla ku dan aku adalah wali bagi setiap mukmin.”

Setelah ini, barulah Rasulullah(sawa) mengucapkan:

“Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai wali, maka ini(Ali) sebagai walinya.”

Jika kita menggunapakai hujah Sunni bahawa perkataan wali itu bermaksud kawan, pencinta dan pembantu, maka apakah logiknya Rasulullah cuba mengatakan “Allah itu hanyalah kawan dan pembantu Nabi, manakala Nabi pula hanyalah kawan dan pembantu kaum Muslimin. Dengan ini Ali hanyalah kawan dan pembantu yang perlu dicintai.” Logikkah pengertian begini? Sungguh tidak sama sekali.

Mustahil bagi seorang Rasul hanya mahu menyampaikan ucapan yang tidak bermakna begini di hadapan ratusan ribu para sahabat sebagai penyempurna risalah. Oleh itu maksud yang paling tepat ialah Allah swt ialah pemimpin bagi Nabi dalam berdakwah. Setelah itu, Nabi pula merupakan pemimpin bagi umat Islam, manakala Ali akan menggantikan posisi itu selepas pemergian baginda.

Ini dikuatkan lagi dengan Ayat al Wilayah yang telah saya bincangkan dalam Imamah Bahagian 5, yang berbunyi:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمۡ رَٲكِعُونَ

Sesungguhnya wali(pemimpin-pemimpin) kamu ialah Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman iaitu yang mendirikan solat dan menunaikan zakat ketika mereka sedang ruku’.Dan barangsiapa yang menjadikan Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itu yang menang.”Al Quran(5:55-56)

3. Berdasarkan bandingan seluruh teks Ghadir Khum, menyatakan bahawa suasana persekitaran pada hari itu sangat panas. Setelah turun ayat al Balagh, Rasulullah(sawa) telah memerintahkan agar kumpulan yang telah pergi agar pulang semula, manakala bagi kumpulan yang belum sampai agar ditunggu mereka kerana ada wahyu yang wajib untuk di sampaikan. Oleh itu, terkumpullah 120,000 orang para sahabat di al Ghadir. Maka dengan keadaan ini, adakah logik bahawa semua ini hanya semata-mata untuk menyatakan bahawa Ali ialah sahabat baginda? Satu perkara yang telah menjadi pengetahuan umum?  Sudah pasti tidak ada seorang pun yang tidak tahu hubungan rapat antara Rasulullah(sawa) dan Imam Ali(as).

4. Sibt Ibnu Jauzi, iaitu salah seorang ulama Sunni yang bermazhab Hanafi yang masyhur melalui kitabnya Tazkiratul al Khawas, di dalam bab 2 halaman 20 telah memberikan 10 maksud perkataan wali atau mawla. Setelah itu beliau menyimpulkan bahawa tidak ada satupun perkataan yang sesuai dengan maksud yang dikatakan oleh Nabi(sawa) di Ghadir Khum, melainkan maksud ke 10. Beliau berkata: “Hadis tersebut khusus bermaksud ketaatan.” Oleh itu, makna ke 10 adalah yang paling tepat, ianya bererti “ketua di atas yang lain”. Oleh itu, hadis tersebut bermaksud, “sesiapa yang menjadikan aku sebagai ketuanya, maka Ali juga ketuanya.”

Beliau meneruskan lagi: Kata-kata Nabi bahawa Imam Ali mempunyai kuasa atau merupakan ketua di atas diri semua yang beriman dengan jelas membuktikan kepimpinan(Imamah) atau wazir adalah untuk Ali dan kepatuhan kepada beliau adalah wajib.

Seterusnya Allamah Abu Salim Kamaluddin menerusi kitabnya Mathalibus Suul, fasal ke 5 dari bab pertama, memberi komentar setelah mengeluarkan hadis Ghadir Khum seperti berikut:

Sesungguhnya perkataan mawla mempunyai banyak maksud. Sebagai contoh: ketua,penolong,pengganti dan pemimpin. Sementara di dalam hadis ini menunjukkan bahawa apa sahaja yang ada pada diri Rasul, ada pada Imam Ali.

Sebagaimana Nabi adalah ketua bagi umat Islam dalam semua perkara, samada penolong, ketua ata pemimpin, maka semuanya ada pada Ali. Inilah kedudukan paling tinggi yang diperuntukkan kepada Ali. Kerana itulah 18 Zulhijjah merupakan perayaan dan hari bersuka ria bagi pencinta dan penyokong Ahlulbait(as).”

5. Berdasarkan asas ilmu Usul, satu perkataan yang mempunya banyak maksud sebenarnya akan kembali kepada satu kata asas(hakiki). Menerusi kata asas inilah maksud yang lain diambil sebagai kata pinjam(majazi). Pengertian asas bagi maksud mawla ialah ketua. Sebagai contoh:

  • Wali nikah bererti seorang yang bertindak sebagai pesuruhjawa(berkuasa wakil) atau yang diamanahkan.
  • Wali wanita adalah suaminya.
  • Wali kanak-kanak adalah bapanya
  • Wali ahd bermaksud seseorang yang memiliki kuasa penuh memerintah selepas kemangkatan raja atau ketiadaannya.

Banyak penggunaan bagi kalimat wali atau mawla yang membawa makna sedemikian rupa di dalam bahasa Arab dan penulisan teks-teks ucapan.

6. Kita telahpun mengetahui bahawa makna bagi perkataan wali itu banyak, tetapi anehnya, mengapa Sunni hanya menumpukan maknanya hanya disekitar sahabat, kawan atau penolong sahaja? Kalaupun betul, apakah hujah bandingan yang boleh mereka gunakan bagi membuktikan dakwaan mereka itu? Menentukan maksud itu tanpa bandingan khusus jelas akan menjadikan hujah itu lemah dan tertolak.

Seperti yang dapat kita lihat, hujah yang digunakan oleh Syiah pula jelas bukan hujah kosong tanpa sokongan sebarang bandingan. Bandingan yang dijadikan hujah, kami ambil daripada ayat-ayat al Quran, hadis-hadis Sahih dan pendapat para ulama sendiri. Kesemuanya bersepakat membuktikan maksud yang sama. Bahkan hujah yang paling kukuh ialah keterangan Imam Shaukani yang membawa riwayat dari Ibnu Mardawaih dari Ibnu Mas’ud yang berkata: “Pada masa hidup Nabi, kami membaca ayat al Balagh begini:

“Wahai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu, iaitu Ali sebagai ketua bagi orang beriman, jika tidak kamu tidak dianggap menyempurnakan risalahNya.”

Inilah pengakuan seorang sahabat agung yang jelas membuktikan ayat al Balagh merupakan penyampaian mesej Ali adalah ketua umat sesudah kewafatan baginda(sawa).

Kesimpulannya, perkataan mawla disini jelas menunjukkan kekuasaan ke atas orang lain, atau bermaksud sebagai pemimpin, seperti yang dapat dibuktikan oleh hujah-hujah di atas. Tidak mengapa jikalau kalian tidak dapat menerimanya, tetapi tidak perlu sampai menjatuhkan hukum takfir semata-mata jika kami mempercayai sesuatu yang kuat sokongannya.

Cukup setakat ini dahulu, insyaAllah saya akan menyambung membincangkan isu ini di lain waktu.

Wilayah Imam Ali(as) Dalam Quran


saya membahaskan tentang Ahlulbait sebagai khalifah umat Islam. Dalam bahagian keempat, telah diterangkan pula siapa Khalifah Rasyidin dan 12 Imam. Setelah mengikuti turutan ini, maka kini menjadi lebih mudah kepada saya untuk membahaskan tentang ke khalifahan Imam Ali(as), berdasarkan bukti-bukti dari Al Quran dan Hadis.

Bertepatan pula dengan bulan ini, yang merupakan bulan yang terdapat di dalamnya eidul Ghadir, maka eloklah juga saya menerangkan tentang ke khalifahan Imam Ali. Rasulullah(sawa) bersabda:

Aku adalah penghulu bagi para Nabi dan Ali ibn Abi Talib adalah penghulu bagi penggantiku, dan selepas daripada aku, penggantiku adalah 12, yang pertama merupakan Ali ibn Abi Talib dan yang terakhir merupakan Al Mahdi.

Kita mengetahui bahawa Rasulullah(sawa) telah pun menyebutkan Ali sebagai khalifah beliau yang pertama, dan sebagai pemegang jawatan yang sangat penting ini, mestilah turun hint atau wahyu dari Allah swt, berkenaan dengannya. Oleh itu, saya akan membahaskan perkara ini dengan membawa dalil dan Nas dari Al Quran serta kata-kata Rasulullah(sawa) berkenaan perkara ini, semoga boleh membuka pandangan kita, InsyaAllah.

Bukti Imamah Imam Ali dari Al Quran.

Ayat al Inzar

Allah swt berfirman:

“Dan berilah peringatan(wahai Muhammad) kepada keluarmu yang terdekat.”(Al Syura:124)

Setelah turunnya ayat Inzar ini, baginda menjemput lebih kurang 40 orang keluarganya untuk berkumpul di rumah Abu Thalib. Di antara yang hadir ialah bapa saudaranya, iaitu Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. Setelah selesai menjamu mereka dengan jamuan yang besar, baginda terus bersabda:

“Wahai Bani Abdul Muthalib. Sesungguhnya aku-demi Allah- tidak mengetahui wujudnya pemuda Arab yang membawa kepada kaumnya, sesuatu yang lebih baik dari apa yang aku bawakan kepada kalian. Aku membawakan suatu kebaikan di dunia dan akhirat. Dan Allah memerintahkan kepada ku untuk menyeru kalian kepadanya. Dengan ini siapakah di antara kalian yang mahu membantuku dalam perkara(penyebaran Islam) ini agar ia menjadi saudaraku, wasiat penggantiku dan khalifahku di antara kalian?”

Mendengar ucapan beliau, orang ramai terus mendiamkan diri lalu Ali bangun dan berkata:

“Aku wahai Nabi Allah yang akan menjadi pembantu mu”. Perkara ini berulang sebanyak 3 kali dan akhirnya Nabi memegang lutut Ali sambil bersabda:

“Sesungguhnya inilah saudaraku, wasiku dan khalifah di antara kamu. Dari itu dengar dan taatlah kepadanya.”

Setelah itu orang ramai bangun beredar sambil ketaw dan berkata kepada Abu Thalib: “Muhammad memerintahkan kamu mentaati anak kamu.”

Ini adalah perlantikan pertama oleh Rasulullah(sawa) di hadapan ahli keluarga rapat baginda. Antara yang meriwayatkan riwayat ini ialah:

  • Tafsir Thabari
  • Ad Dhurr al Mansur
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Tafsir al Khazin
  • Tafsir Munir
  • Syahidul Tanzil
  • Tarikh Thabari
  • Musnad Ahmad
  • Kifayatuth Thalib
  • Tazkiratul Khawas
  • Yanabi al Mawaddah
  • Kanz al Ummal

Suka untuk saya menyertakan disini nota kaki berkenaan ayat ini dari buku tulisan Khair Izzah, yang menyatakan bahawa terdapat sedikit penyelewengan oleh sesetengah ulama dalam meriwayatkan riwayat ini. Perhatikan kata-kata beliau, seteleh beliau membuat kajian tentang riwayat ini.:

“Jika anda membuat perbandingan yang teliti tentang riwayat ini, maka anda akan mendapati bahawa Thabari telah membuang teks akhir riwayat ini dalam kitab tafsirnya: Jilid 11 hal 122 ketika mentafsirkan ayat tersebut, meskipun beliau sendiri meriwawatkan teks yang lengkap di dalam tarikhnya Jilid 2 hal 319-321. Cetakan Darul Turasi Arabi. Teks yang dibuang ialah sabda baginda..”Siapakah di antara kamu yang mahu membantuku dalam perkara ini(menyebarkan Islam) agar ia menjadi saudaraku, begitu dan begini….”

“Teks ini sengaja dibuang kerana mungkin konteksnya yang tidak seiringan dengan fahaman peribadinya tentang isu pengganti. Inilah sebabnya mereka banyak menolak teks-teks yang sahih kerana dikhuatiri golongan Syiah akan menggunakannya sebagai hujah. Dari itu mereka menyembunyikan kebenaran dalam keadaan mereka mengetahuinya. Bahkan adat penyelewengan ini terus diikuti oleh Ibnu Katsir menerusi kitab Tarikhnya, Al Bidayah wal Nihayah: Jilid 3 hal 50-53, cetakan darul kutub ilmiyah, begitu juga di dalam tafsirnya: Jilid 3/350-353. Sila rujuk kembali sebagai kepastian anda. Apakah yang mereka cuba sembunyikan? Kepastian atau kebatilan?”(Meniti Titian Kebenaran, ms 123)

Malangnya, bagaimana mereka dapat menandingi kehendak Allah? Kebenaran pasti tidak akan dapat ditutupi, dan syukur, hujah kami sentiasa boleh dicari dari buku-buku AhlusSunnah.

Ayat al Wilayah

Mari kita membuka minda kita untuk ayat wilayah Imam Ali(as) yang seterusnya, yang sangat terkenal, dengan nama ayat Al Wilayah.

Sesungguhnya pemimpin-pemimpin kamu ialah Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman iaitu yang mendirikan solat dan menunaikan zakat ketika mereka sedang ruku’.Dan barangsiapa yang menjadikan Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itu yang menang.”Al Quran(5:55-56)

Allah swt dalam firmannya telah menyebutkan bahawa pemimpin-pemimpin kita ialah Allah swt, Rasulnya(sawa) dan orang-orang  beriman yang memberikan zakat ketika sedang rukuk. Maka siapakan orang beriman yang membayar zakat ketika rukuk ini? Kita mendapati ada beberapa riwayat yang menjelaskan peristiwa ini.

Ibnu Katsir mengeluarkan riwayat dari Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah(sawa) menuju ke masjid dan ketika itu orang ramai sedang solat(solat sunat). Ada yang sedang rukuk, sujud, berdiri dan duduk. Tiba-tiba masuk seorang miskin meminta-minta, maka baginda bertanya kepadanya: “Ada sesiapa memberi kamu apa-apa?” Dia menjawab: “Ada.” Baginda bertanya lagi:” Siapa gerangannya?” Beliau menjawab: “Lelaki yang sedang berdiri itu.” Baginda bertanya kembali: “Dalam keadaan bagaimana beliau memberi kepada mu?” Lantas beliau menjawab: “Dalam keadaan rukuk.” Baginda menjawab: “Itu adalah Ali Ibn Abi Thalib.”

Ibnu Abbas berkata: “Maka bertakbirlah Rasulullah(sawa) lantas membaca “Dan barangsiapa yang menjadikan Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itu yang menang.”

Ibnu Katsir mengatakan bahawa sanad ini tiada sebarang celaan.

Selain Ibnu Katsir, Abu Ishaq At Thalabi menerusi tafsirnya al Kabir dan al Huskani al Hanafi dalam Syawahidul Tanzil. Keduanya telah menyebut dari sanad yang sama iaitu Abu Dzar al Ghifari berkata:

Aku telah mendengar Rasulullah(sawa) bersabda dengan kedua telinga ku ini. Jika tidak benar, maka biarlah keduanya menjadi tuli. Dan aku juga melihatnya dengan kedua mataku. Jika tidak benar maka biarlah keduanya menjadi buta. Sesungguhnya Rasulullah(sawa) bersabda: “Ali ialah pemimpin orang-orang yang baik dan pembunuh orang-orang yang kafir. Sesiapa yang membantunya pasti akan dibantu, dan sesiapa yang mensia-siakannya pasti akan terabai.”

Sesungguhnya pada suatu hari aku pergi bersolat bersama baginda(sawa). Tiba-tiba datang seorang pengemis meminta-minta di dalam masjid dan tiada seorang pun yang memberikannya sesuatu. Sementara Ali sedang rukuk ketika itu menghulurkan tangannya yang  tersarung cincin di jari manisnya kepada si pengemis itu lalu ia datang dan mengambil cincin tersebut dari jari beliau. Setelah itu baginda Rasul(sawa) yang bermaksud:

Ya Allah, sesungguhnya saudaraku Musa bermohon kepada Mu: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusan ku dan lepaskanlah kekeluan lidahku agar mereka faham perkataan ku. Jadikanlah untuk ku seorang pembantu dari keluargaku iaitu Harun saudaraku. Dengannya teguhkanlah kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Mu dan banyak berzikir kepada Mu. Sesungguhnya Engkau maha Melihat keadaan kami.” Lalu engkau wahyukan kepadanya, ” Sesungguhnya telah diperkenankan permintaan mu itu wahai Musa.”(Dirakam di dalam Quran surah Thaha:29)

Setelah itu baginda bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku ini hambaMu dan Nabi Mu. Lapangkanlah dadaku, dan permudahkanlah urusan ku, dan jadikanlah untuk ku pembantu dari keluarga ku iaitu Ali saudaraku. Teguhkanlah aku dengannya.”

Abu Dzar berkata: “Demi Allah, belumpun sempat baginda menghabiskan doanya, tiba-tiba Jibril turun membawa ayat…(Wilayah).

At Thabrani meriwayatkan dari Ammar Bin Yassir(ra) berkata: Seorang peminta sedekah berdiri di sisi Imam Ali yang ketika itu sedang rukuk. Maka beliau menanggalkan cincin dari jarinya dan diberikan kepada pengemis itu. Setelah Rasulullah(sawa) tiba, aku mengkhabarkan hal tersebut kepada baginda, lalu turunlah ayat…(wilayah). Setelah Rasulullah(sawa) habis membacanya, baginda bersabda:

Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali juga ialah pemimpinnya. Ya Allah, kasihilah sesiapa yang mengasihinya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya.”

Rujukan: Majma’ uz Zawaid

Ulama Sunni yang menyatakan bahawa ayat ini turun akibat Imam Ali(as) berzakat ketika rukuk:

  1. Tafsir al Kasysyaf
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Tafsir Ath Thabari
  4. Tafsir al Qurthubi
  5. Ad Dhurr al Mantsur
  6. Tafsir Fakhrul Razi
  7. Tafsir an Nasafi
  8. Tafsir Ibnu Jauzi

Begitulah ayat wilayah, asbanul nuzul dan hadis yang berkaitan dengan penurunan ayat ini. Jelas dari ayat ini, Allah swt menyebutkan, wali bagi kaum Muslimin ialah Allah, Rasulnya(sawa) dan orang yang berzakat ketika sedang rukuk, yakni Imam Ali ibn Abi Thalib(as).

Ayat al Balagh

Mari kita perhatikan ayat seterusnya. Firman Allah swt:

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan(apa yang diperintahkan itu bererti) kamu tidak menyampaikan dengan sempurna risalahNya. Dan Allah akan sentiasa memelihara kamu dari ganguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang yang kafir(menentang). Al Quran(5:67)

Para ulama tafsir telah bersepakat mengatakan bahawa ayat di atas diturunkan ketika peristiwa Ghadir Khum, yang mana salah satu dari peristiwa penting perlantikan Imam Ali sebagai khalifah. Peristiwa ini akan saya akan nukilkan nanti. Antara para ulama yang berpendapat sedemikian ialah:

  1. Ad Dhurr al Mantsur, Suyuthi
  2. Fathul Qadir, Syawkani
  3. Tafsir Mafatihul Ghaib, Fakhrur Razi
  4. Asbabun Nuzul, Al Wahidi
  5. Yanabi al Mawaddah, Qanduzi al Hanafi
  6. Al Milal wan Nihal, Syahrastani
  7. Faraidus Simthain, Hamwini
  8. Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir
  9. Syawahidut Tanzil, Huskani

Disebabkan perbahasan berkenaan Ghadir Khum perlukan artikel yang khas, maka cukuplah sekadar saya menerangkan bahawa ayat ini turun di Ghadir Khum, yamg memerintahkan Nabi(sawa) menyampaikan tentang perlantikan Ali(as) sebagai khalifah umat Islam, setelah pemergian baginda. Betapa pentingnya perlantikan ini, sehingga Allah swt menyebut, jika Nabi(sawa) tidak menyampaikannya, seolah-olah, tidak akan lengkap risalah yang dibawa oleh Nabi(sawa).

Dari Ayat di atas juga memberi sedikit gambaran bahawa Nabi(sawa) risau akan penentangan umatnya terhadap calon pilihan Allah swt ini, lalu Allah swt menenangkan baginda dengan memberi jaminan keselamatan dari gangguan manusia. Sekali lagi menunjukkan, adanya para “sahabat” yang selalu menentang perintah Nabi dan menyakiti baginda.

Ayat al Ikmal

Ayat ini juga turun berkaitan dengan peristiwa Ghadir Khum, yang diturunkan Allah swt sejurus selepas Nabi(sawa) berjaya menyampaikan perlantikan Imam Ali sebagai khalifah. Allah swt berfirman:

“Pada hari ini, Aku telah sempurnakan untuk kamu agama mu, dan telah aku sempurnakan untuk kamu nikmat Ku, dan telah Aku redha Islam itu menjadi agama bagi kamu.”

Nas yang menyatakan ayat ini diturunkan selepas perlantikan Imam Ali sangatlah kuat. Di antaranya ialah yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dan Ibnu Asakir bersumber dari Abu Said Al Khudri yang berkata: Ayat…(al Ikmal) diturunkan kepada Rasulullah(sawa) pada suatu hari di Ghadir Khum setelah baginda bersabda:

“Sesiapa yang menjadikan aku ini pemimpinnya maka Ali(as) adalah pemimpinnya.”

Di riwayatkan juga oleh Al Khatib al Baghdadi dari Abu Hurairah berkata: Bukankah aku ini pemimpin orang-orang mukmin? Orang ramai menjawab : “Benar wahai Rasulullah”. Lantas baginda meneruskan: “Sesiapa yang menjadikan aku ini pemimpinnya maka Ali(as) adalah pemimpinnya.” Lalu berkatalah Umar: “Tahniah wahai anak Abu Thalib. Kamu menjadi pemimpinku dan pemimpin seluruh Muslim.” Setelah itu, turunlah ayat al Ikmal.

Untuk petikan di atas sila rujuk:

  1. Tarikh Dimashyq
  2. Manaqib Ali
  3. Tarikh Bagdadi
  4. Syawahidul Tanzil
  5. Faraidus Simthain

Para ulama tafsir dan hadis yang meriwayatkan bahawa Ayatul Ikmal ini diturunkan selepas turunnya Ayatul Balagh dan perlantikan Imam Ali adalah seperti berikut:

  1. Ad Dhurr al Mansur, Tafsir Ibnu Katsir, Ruhul Ma’ani:tafsiran ayat berkenaan.
  2. Al Itqan: Suyuthi:1/31
  3. Tarikh Dimasyq: Ibnu Asakir asy Syafie
  4. Manaqib Ali: Ibnu al Maghazil
  5. Tarikh Baghdad: Khatib al Baghdadi
  6. al Manaqib: Khawarizmi al Hanafi
  7. Tazkiratul Khawas: Sibt Ibnu Jauzi
  8. Al Bidayah wal Nihayah: Ibnu Katsir
  9. Yanabi al Mawaddah; Qaduzi al Hanafi

Bagi setiap dalil dan Nas yang saya kemukakan, masih wujud juga bidasan dan bantahan yang dikemukakan oleh pihak nasibi, walau bagaimana rapuh sekalipun hujah mereka, tetap mereka akan cuba membangkangnya dengan segala kudrat yang ada. Seolah-olahnya, apa sahaja yang keluar dari mulut seorang Syiah, walau benar dan logik sekalipun, adalah wajib bagi mereka untuk menentangnya dan ini menyebabkan mereka tergolong dalam kelompok orang-orang yang jahil. Semoga Allah swt mengampun mereka.

Jika bukan kerana saya mahukan artikel ini pendek, saya akan letakkan bersama hujah balas mereka berkaitan hal ini, dan jawapan bagi hujah balas mereka itu. Oleh itu InsyaAllah, saya akan postkan jika ada geng-geng nasibi yang mengemukakan hujah balas itu pada saya.

Wilayah Imam Ali(as) dari Hadis


InsyaAllah, dalam bahagian ini, akan saya bahaskan tentang dalil-dalil wilayah Imam Ali(as) bersumberkan hadis dari pihak Ahlul Sunnah wal jamaah.

Hadis Ghadir Khum

1. An Nasai meriwayatkan dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam berkata: Ketika Nabi pulang dari Haji wada’ dan singgah di Ghadir Khum, baginda menyuruh para sahabatnya bernaung di bawah pohon-pohon. Setelah itu baginda berkhutbah:

“Sudah hampir masanya aku dipanggil Allah dan aku mesti pulang menghadapnya. Sesungguhnya aku tinggalkan buat kamu 2 perkara yang amat berharga(Tsaqalain) yang satu lebih berat dari yang lainnya, iaitu Kitab Allah dan keluarga ku iaitu Ahlulbaitku. Oleh itu perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhadap keduanya, kerana sesungguhnya keduanya tidak akan terpisah sehingga menemui ku di Al Haudh.”

Kemudian baginda bersabda lagi:

“Sesungguhnya Allah ialah maulaku, dan aku ialah maula setiap mukmin.”

Lalu baginda mengangkat tangan Ali lalu bersabda:

Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin, dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Abu Thufail bertanya kepada Zaid: Apakah kamu benar mendengarnya dari Rasulullah(sawa)? Zaid menjawab: Sesungguhnya tidak ada seorang pun di bawah pohon-pohon itu yang tidak melihat dengan kedua matanya dan mendengar dengan kedua telinga mereka.

Sumber: Khasaish Imam Ali, An Nasai, bil 79

2. Ibnu Majah meriwayatkan dari Al Bara’ bin Azib berkata: Kami pergi Haji bersama Rasulullah(sawa) dan kami singgah di persimpangan jalan. Setelah baginda bersolat bersama, lantas baginda mengangkat tangan Ali dan bersabda:

Bukankah aku ini lebih utama dari diri orang-orang mukmin itu sendiri? Mereka menjawab: Benar Ya Rasulullah(sawa)! Rasulullah bersabda: Maka ini Ali adalah pemimpin bagi mereka yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya. Ya Allah pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.”

Sumber: Sunan Ibnu Majah, Hadis 116

3. Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Zaid bin Arqam berkata: Kami singgah di suatu lembah yang bernama Khum. Baginda memerintahkan supaya mendirikan solat dan kami melaksanakannya di bawah sinaran terik matahari. Setelah itu baginda berkhutbah sementara Samurah memayungi baginda dengan sehelai baju yang digantung di atas dahan dari sinaran matahari. Lalu baginda bersabda:

“Bukankah kalian tahu/bersaksi bahawa aku ini lebih utama dari setiap diri orang mukmin itu sendiri? Mereka menjawab: Benar! Baginda bersabda lagi: Dari itu siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali ialah pemimpinnya. Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Sumber: Musnad Ahmad 4/327 dan Majma uz Zawaid 9/107

4. Ahmad bin Hanbal meriwayatkan lagi dari al Bara’ bin Azib, menerusi 2 rantaian sanad berkata; Kami bersama Rasulullah lalu singgah di Ghadir Khum. Kemudian seorang sahabat membersihkan kawasan agar Nabi boleh menunaikan solat Zohor di bawah antara 2 pokok. Setelah itu baginda mengangkat tangan Ali dan bersabda:

“Bukankah kamu mengetahui bahawa aku ini lebih utama dari setiap diri mukmin itu sendiri? Mereka menjawab: Benar! Baginda bertanya lagi: Soalan yang sama, lalu di jawab juga sama. Lalu baginda mengambil tangan Ali  dan bersabda: Dari itu siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin, dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Setelah itu Umar datang menemui Ali dan berkata: “Tahniah wahai putera Abu Thalib. Anda telah menjadi pemimpin setiap mukmin dan mukminah.”

Sumber: Musnad Ahmad 4/281, Kanzul Ummal, 15/117 dan Fadhail al Khamsah 1/350

5. Ath Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Zaid bin Arqam dan Huzaifah bin Usaid al Ghifarri berkata: Rasulullah telah berkhutbah di Ghadir Khum di bawah pohon-pohon dengan sabdanya:

“Wahai sekalian manusia! Aku hampir di panggil Allah dan aku akan menyahutnya. Sesungguhnya aku dan kalian akan ditanya, maka apakah yang akan kalian jawab?

Mereka berkata: Kami bersaksi bahawa kamu telah berjuang dan kamu telah memberi nasihat, semoga Allah membalas mu dengan kebaikan.

Rasul meneruskan sabdanya: “Tidak kalian bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah dan bahawa Muhammad ini ialah hamba dan Rasulnya, bahawa syurga itu benar, neraka itu benar, kematian itu benar, hari kebangkitan sesudah mati itu benar, kiamat itu pasti terjadi tanpa ragu-ragu, dan bahawa Allah akan membangkitkan orang-orang di dalam kubur?

Semua menjawab: Benar! Kami bersaksi dengan semua itu. Lalu baginda berdoa: Ya Allah, saksikanlah.

Kemudian baginda menyambung lagi:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah adalah pemimpin ku, dan aku ialah pemimpin kaum mukmin dan lebih utama dari diri mereka sendiri. Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya maka ini Ali juga ialah pemimpinnya. Ya Allah, pimpinlah orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Seterusnya baginda bersabda lagi:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku akan mendahului kalian dan kalian akan dibawakan kepada ku di al Haudh, al Haudh luasnya terbentang dari Basrah ke Sanaa, padanya bilangan bintang-bintang indah dan perak. Sesungguhnya aku akan bertanya kepada kalian tentang 2 perkara berharga(Tsaqalain) ketika kalian dibawakan kepada ku di al Haudh, bagaimana kalian melayani keduanya sepeninggalanku.

Perkara yang paling berharga ialah Kitab Allah yang hujungnya ada di tangan Allah, dan hujungnya lagi ada di tangan-tangan kalian. Maka berpeganglah kepadanya maka kalian tidak akan sesat dan menyeleweng. Dan keluargaku iaitu ahlulbaitku. Sesungguhnya Allah telah memberitahu kepada ku bahawa keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya kembali kepadaku di al Haudh.

Sumber: Al Sawaiqul Muhriqah: Hal 25

Ada beberapa lagi hadis yang berkaitan, tetapi saya tidak bercadang untuk memuatkan semuanya dalam artikel ini. Walaubagaimanapun, hadis al Ghadir yang telah saya tunjukkan disini telah mencapai status Sahih lagi mutawattir yang tidak dapat di sangkal lagi kedudukannya. Malah semuanya yang saya tunjukkan di sini adalah bersumber dari kitab-kitab Sunni, yang mana untuk kesahihannya, kalian boleh semak sendiri dengan merujuk kepada kitab-kitab yang berkaitan. Jadi bagaimana pula ada sesetengah orang jahil yang boleh membuat tuduhan bahawa peristiwa Ghadir Khum ini ialah satu rekaan orang-orang Syiah? Maha Suci Allah yang akan sentiasa membuatkan kebenaran itu Nampak walaupun orang-orang zalim sentiasa cuba menutupinya.

Sungguh menyedihkan apabila ramai umat Islam(Sunni) sendiri tidak mengetahui akan peristiwa ini, kerana usaha terus menerus orang-orang zalim ini untuk tidak membincangkan peristiwa ini. Sudah tentu ini kerana mereka tahu bahawa hujah mereka adalah sangat lemah jika ingin dibandingkan dengan hujah kami Syiah kepada Ahlulbait(as).

Antara usaha sia-sia mereka untuk mendhaifkan hadis ini sebagai hadis perlantikan Imam Ali(as) ialah dengan percubaan mereka untuk menakwilkan perkataan “maula” atau perkataan “wali”. Sudah tentu saya akan membahaskannya di artikel lain, kerana saya hanya ingin memuatkan segala dalil berkaitan Imamh Imam Ali di sini. Itu sahaja pun dah cukup panjang.

Hadis Manzilah

Hadis ini adalah salah satu lagu hadis yang menunjukkan dalil Imamah Ali(as). Manzilah bermaksud kedudukan di dalam bahasa melayu. Sabda Rasulullah(sawa):

“Kedudukan Ali di sisiku umpama kedudukan Harun di sisi Musa(as) melainkan tiada lagi Nabi sesudahku.”

Hadis Sahih ini diriwayatkan oleh ramai para ulama silam Sunni, antaranya:

  1. Sahih Bukhari
  2. Sahih Muslim
  3. Sahih Tarmizi
  4. Sunan Ibnu Majah
  5. Khasais Ali: Nasai
  6. Sunan Ibnu Hibban
  7. Mustadrak al Hakim
  8. Musnad Abu Ya’la
  9. Tarikh al Khulafa’
  10. Hilayatul Awliya’
  11. Sunan al Bazzar
  12. Musnad Humaidi
  13. Tarikh Thabari
  14. Mu’jam as Saghir
  15. Tazkiratul Huffaz
  16. Musnad Ahmad
  17. Kanz al Ummal

Dengan kata lain, Nabi Muhammad(sawa) mengatakan bahawa, kedudukan Imam Ali di sisi baginda, ialah sebagai mana kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa. Maka segala yang dimiliki Harun juga dimiliki oleh Imam Ali(as). Seperti yang diceritakan kepada kita dari Al Quran tentang kisah Nabi Musa dan Nabi Harun, adalah diketahui bahawa Nabi Harun memiliki kuasa dan dilantik sebagai wazir dan pembantu Nabi Musa, begitulah juga halnya dengan Imam Ali(as), kecuali kenabian.

Dalam artikel lepas, ketika membincangkan ayat al Wilayah, saya ada bawakan hadis berikut:

Abu Ishaq At Thalabi menerusi tafsirnya al Kabir dan al Huskani al Hanafi dalam Syawahidul Tanzil. Keduanya telah menyebut dari sanad yang sama iaitu Abu Dzar al Ghifari berkata:

Aku telah mendengar Rasulullah(sawa) bersabda dengan kedua telinga ku ini. Jika tidak benar, maka biarlah keduanya menjadi tuli. Dan aku juga melihatnya dengan kedua mataku. Jika tidak benar maka biarlah keduanya menjadi buta. Sesungguhnya Rasulullah(sawa) bersabda: “Ali ialah pemimpin orang-orang yang baik dan pembunuh orang-orang yang kafir. Sesiapa yang membantunya pasti akan dibantu, dan sesiapa yang mensia-siakannya pasti akan terabai.”

Sesungguhnya pada suatu hari aku pergi bersolat bersama baginda(sawa). Tiba-tiba datang seorang pengemis meminta-minta di dalam masjid dan tiada seorang pun yang memberikannya sesuatu. Sementara Ali sedang rukuk ketika itu menghulurkan tangannya yang  tersarung cincin di jari manisnya kepada si pengemis itu lalu ia datang dan mengambil cincin tersebut dari jari beliau. Setelah itu baginda Rasul(sawa) yang bermaksud:

Ya Allah, sesungguhnya saudaraku Musa bermohon kepada Mu: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusan ku dan lepaskanlah kekeluan lidahku agar mereka faham perkataan ku. Jadikanlah untuk ku seorang pembantu dari keluargaku iaitu Harun saudaraku. Dengannya teguhkanlah kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Mu dan banyak berzikir kepada Mu. Sesungguhnya Engkau maha Melihat keadaan kami.” Lalu engkau wahyukan kepadanya, ” Sesungguhnya telah diperkenankan permintaan mu itu wahai Musa.”(Dirakam di dalam Quran surah Thaha:29)

Setelah itu baginda bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku ini hambaMu dan Nabi Mu. Lapangkanlah dadaku, dan permudahkanlah urusan ku, dan jadikanlah untuk ku pembantu dari keluarga ku iaitu Ali saudaraku. Teguhkanlah aku dengannya.”

Abu Dzar berkata: “Demi Allah, belumpun sempat baginda menghabiskan doanya, tiba-tiba Jibril turun membawa ayat…(Wilayah).

Di ceritakan di dalam Quran, Nabi Musa memohon kepada Allah akan dikurniakan pembantu dalam segala urusan beliau, dan memohon agar Harun ialah orangnya. Sebagaimana Nabi Musa, Rasulullah juga memohon agar dikurniakan perkara yang sama, dengan Imam Ali(as) menjadi pembantu baginda, sama seperti kes Nabi Musa(as). Dan permohonan mereka dikabulkan. Firman Allah:

“Sesungguhnya telah kami berikan kitab taurat kepada Musa dan kami adakan Harun sebagai wazirnya.” Al Quran (25:35)

Sebagaimana Nabi Harun menjadi pengganti Nabi Musa sepeninggalan beliau ke Bukit Thursina, maka seperti itu jugalah kedudukan Ali sebagai pengganti baginda dalam segala hal kepimpinan umat kecuali kenabian. Semasa ketiadaannya, Nabi Musa tidak meninggalkan umatnya terkapai-kapai tanpa petunjuk dan pemimpin, maka kita dapat melihat perkara yang serupa iaitu Rasulullah juga melantik Imam Ali sebagai khalifah agar umatnya tidak tersesat arah.

“Dan berkata Musa kepada saudaranya Harun: engkau menggantikan tempatku menjaga kaumku…” Al Quran(7:142)

Kalau kita perhatikan ayat di atas, perkataan “ukhlufi”(menggantikan) digunakan, dan perkataan ini mempunyai kata dasar yang sama dengan “khalifah”(pengganti). Menarik. Jika kita mahu melihat gambaran sebenar, gantikan sahaja ayat-ayat Al Quran yang mengandungi nama Musa dan Harun kepada Muhammad dan Ali. Dengan itu kita mengetahui bahawa dengan jelas, Imam Ali ialah khalifah sepeninggalan baginda.

Perlu juga diungkapkan di sini, bahawa hadis al Manzilah diucapkan secara berulang oleh Rasulullah(sawa) lebih dari satu kali. Ini kerana terdapat beberapa golongan Nasibi yang mengeluarkan hujah bahawa hadis ini hanya terpakai dalam konteks keberangkatan baginda(sawa) ke Perang Tabuk, maka ia bersifat sementara. InsyaAllah saya akan kemukakan nanti.

Hadis Kelayakan Menyampaikan Mesej Islam

Rasulullah telah bersabda:

“Ali adalah sebahagian dari diriku, dan aku ialah sebahagian dari dirinya. Tidak sepatutnya menyampaikan dari ku(mesej dakwah) melainkan aku atau Ali.”

Sila rujuk:

  • Sahih Tarmizi
  • Khasais Ali:Nasai
  • Sunan Ibnu Majah
  • Tuhfatul Asyraf
  • Sawaiqul Muhriqah
  • Sunan Ad Darimi

Menerusi hadis ini jelas membuktikan bahawa tiada yang selayaknya menyampaikan mesej dakwah Islam melainkan dari Rasulullah(sawa) sendiri atau Imam Ali(as). Ini juga menunjukkan kedudukan Imam Ali sebagai penerus mesej dakwah setelah ketiadaan baginda. Hadis ini juga sealiran dengan Ayat al Mubahalah, yang menunjukkan bahawa Rasulullah dan Imam Ali dianggap satu.

Hadis-hadis lain:

1. Rasulullah(sawa) bersabda: “Sesungguhnya Ali ialah sebahagian dari ku, dan aku sebahagian darinya. Dan dia ialah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalan ku.”

  • Khasais Ali: Nasai
  • Sahih Tarmizi
  • Sunan Ibnu Hibban
  • Mustadrak Al Hakim
  • Musnad Imam Ahmad
  • Kanz Al Ummal
  • Yanabi al Mawaddah

2. Muttaqi al Hindi mengeluarkan riwayat dari dari Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Jarir serta mensahihkannya dari Ibnu Abbas dari Rasulullah(sawa) bersabda kepada Imam Ali(as): “Kamu adalah pemimpin seluruh mukmin sepeninggalanku.”

  • Kanz al Ummal
  • Musnad Imam Ahmad
  • Tarikh Dimasyq

3. Diriwayatkan dari Buraidah dari Rasulullah sawa bersabda: “Jangan sesekali kamu berkomplot menentang Ali kerana sesungguhnya dia adalah sebahagian dari diriku dan aku sebahagian dari dirinya. Dia adalah pemimpin kamu setelah pemergianku.” Baginda mengulangnya sebanyak 3 kali.

  • Majma uz Zawaid
  • Tarikh Dimasyq
  • Syarh Nahjul Balaghah

4. Dikeluarkan oleh Abu Nuaim al Hafiz di dalam Hilayatul Auliya’ dari Anas bin Malik. Rasulullah(sawa) bersabda: “Wahai Anas, orang pertama yang akan melalui pintu ini(pintu rumah Rasulullah) adalah penghulu orang-orang bertaqwa, ketua Muslimin dan pemimpin agama dan penutup para wasi dan ketua orang-orang yang akan dihiasi di syurga kelak.”

Anas berkata: “Tiba-tiba Ali datang, lantas baginda bangun dengan gembira menuju kepada beliau lalu memeluknya dan bersabda:

“Kamu akan melaksanakan tanggungjawab menyambung risalahku, dan mendengarkan kepada mereka suaraku, juga menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan selepasku.”

  • Hilayatul Awliya
  • al Manaqib
  • Tarikh Dimasyq

Alhamdulillah, akhirnya, selesai juga saya menulis sedikit sebanyak dalil perlantikan Amirul Mukminin Ali Ibn Abi Thalib sebagai khalifah sepeninggalan Nabi(sawa). Bagi para pemikir sekalian, tentu kini anda sepatutnya boleh mencantumkan sedikit sebanyak ”puzzle”, dari cebisan-cebisan kecil kini menjadi gambar yang sempurna.

Seperti biasa, setiap hujah yang saya kemukakan di sini pasti ada bangkangan dari pihak penentang. InsyaAllah saya akan bahaskan satu per satu tentang isu-isu berkaitan, di waktu lain. Biarlah saya tutup siri Imamah ini dengan beberapa kesimpulan dari bahagian pertama sehinggalah bahagian keenam ini.

  1. Imam ialah satu kedudukan lantikan Allah swt sebagai pemimpin untuk sesuatu umat.
  2. Seorang Nabi dan Rasul juga boleh diangkat menjadi seorang Imam, tetapi seorang Imam tidak semestinya dari kalangan Nabi dan Rasul.
  3. Imam memikul segala tugas yang dipikul Rasulullah(sawa) kecuali kenabian, kerana kenabian itu berakhir dengan Nabi Muhammad(sawa)
  4. Tugas Imam meliputi segala hal antaranya ialah politik,sosial,ekonomi,keilmuan, dan agama, sudah tentunya.
  5. Imam selepas Nabi adalah dari Ahlulbait(as).
  6. Imam selepas Nabi berjumlah 12 orang, bermula dari Imam Ali hingga ke Imam Mahdi.
  7. Pernyataan Ali(as) sebagai khalifah telah dinyatakan berkali-kali oleh Rasul dari awal perjuangan dakwah baginda hinggalah ke akhir hayat baginda, jadi ia bukankah satu “berita panas.”

Semoga Allah swt memberi rahmat kepada kita semua untuk bernaung di bawah wilayah Ahlulbait(as), yang menjamin keselamat bagi pengikutnya

.

Di sini dilampirkan ayat-ayat al-Quran untuk renungan bersama.

 

  • Al-Taubah (9): 101:  Terjemahan: “Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu ada orang-orang munafiq, dan (juga) ada di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafiqannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”
  • Al-Taubah (9):61: Di kalangan sahabat ada yang menyakiti hati Rasulullah SAW. FirmanNya:61. Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.
  • Al-Mujadalah(58):16: Kepada Allah kita melepaskan diri kita daripada mereka dan daripada orang yang di dalam firmanNya: Terjemahan:”Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah kerana itu mereka mendapat azab yang menghinakan.”
  • An-Nisa’(4):142-3: Dan orang yang menipu sebagaimana firmanNya; Terjemahan:”Sesungguhnya orang-orang “munafiq” itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bersolat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan solat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka di dalam keadaaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk keadaan golongan ini (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”
  • Muhammad (47):16: Al-Qur’an menerangkan dengan jelas tentang wujudnya golongan yang mendengar dakwah Rasulullah SAW tetapi Allah mengunci hati mereka kerana mereka menurut hawa nafsu mereka. Dia berfirman: Terjemahan:”Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan:Apakah yang dikatakan tadi? Mereka itulah orangorang yang dikunci hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.”
  • Muhammad (47):23-4: Sebagaimana juga Allah melaknati golongan yang terdapat di hati mereka “penyakit”, dan mereka merosak di bumi dan memutuskan silatur-rahim. FirmanNya: Terjemahan:”Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dituliskanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?

Sunni berpendapat bahawa di dalam Islam ada unsur demokrasi dalam berpolitik, berdasarkan peristiwa perlantikan Abu Bakar yang mendapat sokongan padu para sahabat, atau sekurang-kurangnya itulah yang disuapkan kepada kita dari kecil hingga dewasa. Hujah ini jugs mereeka gunakan bagi mengenepikan hujah Syiah bahawa Rssululla sawa melantik pengganti, artikel ini adalah demi membuktikan bahawa perlantikan Abu Bakar tidak ada ijmak dan penuh dengan kontroversi.

Segalanya berlaku sejurus selepas kewafatan baginda Rasul(sawa). Bahkan ketika itu jasad suci Rasulullah masih belum dimandikan lagi. Ketika ini kaum Ansar telah pun berkumpul di Saqifah Bani Saadah untuk mengangkat Saad bin Ubadah sebagai khalifah. Mendengar berita itu, golongan muhajirin bergegas ke sana dengan meninggalkan Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait berserta sedikit para sahabat setia berseorangan memandikan jasad Rasulullah(sawa).

Setelah golongan Muhajirin tiba, maka berlakulah perdebatan sengit antara kedua golongan. Qais bin Saad selaku juru cakap bagi pihak ayah beliau menegaskan bahawa bapanya lebih layak dengan jawatan khalifah. Malangnya beliau tidak berjaya mendapatkan pungutan suara, lalu Saad mengambil keputusan untuk tidak membaiat sesiapa pun sehingga beliau meninggal dunia. Sementara Umar yang menyokong kuat perlantikan Abu Bakar pula berasa marah dan berkata kepadanya:

Bunuhlah Saad, semoga Allah swt membunuh Saad.”

Umar juga berkata kepada pengikutnya agar tidak membiarkan Saad selagi beliau belum memberi baiat kepada Abu Bakar. Sebaliknya, Basyir bin Saad pula berpendapat agar Saad dibiarkan sahaja kerana bimbang tuntut bela oleh kaumnya.

Rujukan:

Al Imamah was Siyasah: Ibnu Qutaibah, hal 20 dan Tarikh al Yaakubi, juz 2 hal. 84
Rujuk keengganan Saad untuk memberi baiat kepada Abu Bakar menerusi: al Kamil fit Tarikh:Ibnu Atsir, 2/194, Tarikh Thabari:3/222

Setelah itu al Hubbab bin Munzir bin al Jamuh pula berlawan cakap dan berhujah dengan Umar hingga beliau mengatakan kepada kaumnya dari golongan Ansar agar jangan sesekali menyerahkan jabatan Khalifah kepada golongan Muhajirin, kerana golongan Ansar lebih layak untuknya. Sekiranya mereka berkeras, halau mereka dari Madinah meskipun perlu berperang.(al Imamah was Siyasah, hal 18, al Kamil fit Tarikh 2/192-193)

Begitu juga dengan Abu Ubaidah yang tetap berkeras mahukan jabatan khalifah dipegang oleh golongan Ansar. Tetapi hujahnya dijawab oleh Abdul Rahman Bin Auf, Basyir bin Saad dan Abu Nu’man bin Basyir yang lebih bersetuju Abu Bakar lebih layak sebagai khalifah.(Tarikh Yaaakubi:2/83 dan al Kamil fit Tarikh 2/193)

Sementara sebahagian dari golongan Ansar bersama Zubair bin Al Awwam dan Al Abbas yang bersungguh-sungguh menjelaskan bahawa Ali bin Abi Thalib lebih layak sebagai khalifah. Sebaliknya, setelah perlantikan Abu Bakar, mereka semua pulang tanpa memberi baiat kepadanya, sehingga menyebabkan Umar menjadi marah, alalu membawa beberapa orang seperti Usaid bin Khudair dan Slimah bin Aslam untuk menyerang mereka. Melihatkan keadaan itu, Zubair lantas menghunuskan pedangnya, tetapi dengan segera beliau diserbu, pedangnnya dirampas dan beliau dihantukkan ke dinding atas arahan Umar al Khattab. (Al Imamah wa Siyasah hal. 21)

Setelah Abu bakar ditabalkan sebagai khalifah, sebahagian dari golongan Muhajirin dan Ansar berkumpul di rumah Imam Ali(as). Mereka tidak mahu memberi baiat kepada Abu Bakar hinggalah beberapa orang penyokong kuat Abu Bakar, yang antaranya Umar Al Khattab datang menyerang rumah Imam Ali(as) dan memaksa mereka berbaiat. Bahkan Umar mengancam untuk membakar rumah itu berserta dengan isinya hidup-hidup jika mereka berkeras tidak mahu membaiat.

Peristiwa cubaan membakar rumah Imam Ali(as) telah dicatat oleh Ibnu Katstir dan At Thabari dalam kitab-kitab tarikh mereka. Umar telah berkata: ” Aku akan membakar kamu mua sehingga kamu keluar untuk memberi baiah kepada Abu Bakar.”(sila rujuk ancaman ini menerusi: Al Imamah wa Siyasah, hal 24; Tarikh Ibnu Katsir,7/203); Tarikh Thabari, 3/198; Tarikh Abu Fida 4/259; Syarah Nahjul Balaghah)

Kenyataan sejarah telah membuktikan bahawa bukan Ali dan Ahlulbait sahaja yang enggan berbaiat kepada Abu Bakar, malah sebilangan besar para sahabat dari Muhajirin dan Ansar turut menentang beliau. Di antaranya:

  • Qais bin Saad
  • Abbas bin Abdul Muthalib
  • Al Fadhl bin Abbas
  • Zubair bin Awwam
  • Khalid bin Said
  • Miqdad bin Amr
  • Salman al Farisi
  • Abu Dzar Al Ghiffari
  • Ammar bin Yassir
  • Al Bara’ bin azib
  • Ubay bin Kaab
  • Saad bin Abi Waqqas
  • Thalhah bin Ubaidillah
  • Khuzaimhn bin Tsabit
  • Saad bin Ubadah
  • Farwah bin Amru al Ansari

Rujukan:

  • Tarikh Yaakubi
  • Al Kamil fit Tarikh
  • Al Imamah wa Siyasah
  • Iqdul Farid
  • Tarikh Thabari
  • Sirah Halabiyah

Berdasarkan peristiwa peerbalahan di balai raya Bani Saidah, maka kita dapt menyimpulkan beberapa perkara, seperti berikut:

  • Ali dan para sahabat besar enggan berbaiat
  • Umar dan kuncu-kuncunya mengugut untuk membakar jika enggan berbaiat
  • Golongan Ansar mengugut untuk menghalau golongan Muhajirin, walaupun terpaksa berperang jika Muhajirin berkeeras mahukan jawatan khalifah
  • Umar mengancam membunuh Saad
  • Zubair bin Awwam diserang atas arahan Umar hingga memaksanya menghunuskan pedang

Inilah secara ringkas perbalahan dan peretelingkahan yang berlaku sewaktu perlantikan Abu Bakar, dalam tempoh yang begitu singkat selepas kewafatan Nabi(sawa). Golongan Muhajirin dan Ansar masing-masing membela diri dengan sekerasnya demi jawatan yang bukan menjadi hak mereka untuk menuntutnya.

Ekoran peristiwa huru hara tersebut telah menghantui salah sesorang isteri Rasul Akram hingga memaksa beliau meminta Umar untuk melantik penggantinya di ambang maut dengan katanya: “Tentukanlah penggantimu sebagai pemimpin umat Muhammad, dan janganlah kamu meninggalkan mereka begitu sahaja sesudah pemergianmu. Sesungguhnya aku takut fitnah akan menimpa ke atas mereka.” (al Imamah wa Siyasah)

Diikuti pula Ibnu Umar yang beria-ia meminta ayahnya Umar agar berwasiat bagi menentukan pengganti sesudahnya dengan berkata: “Aku telah mendengar dari orang ramai yang berkata anda tidak akan melantik pengganti mu. Seandainya anda mempunyai pengembala kambing, kemudian ia datang kepada mu, dan anda meninggalkan unta dan kambing tersebut teerbiar, bukankah ia telah mensia-siakannya? Ketahuilah soal memimpin manusia itu lebih berat.”

Rujukan:

  • Sahih Muslim
  • Sunan Abu Daud
  • Sahih Tarmizi
  • Tuhftul Asyraf

Hairan juga para sahabat sendiri risau akan berlaku fitnah jika tidak dilantik pemimpin, tetapi Sunni mempercayai bahawa Rasulullah sendiri berbuat demikian. Jikalau diikut dari kata-kata Ibnu Umar, maka adakah Rasulullah adalah pengembala yang mensia-siakan gembalaannya?

Inilah juga yang diingatkan oleh Rasulullah dengan sabdanya:
“Sesungguhnya kamu semua akan tamak tentang jawatan pemerintahan. Dan oleh kerana itu kamu akan menyesal pada hari kiamat. Stu nikmat bagi yang menyusukan dan kesengsaraan bagi yang disusukan.”

Rujukan:

  • Sahih Bukhari, bil 7147
  • At Targhib wa Tarhib

Dengan semua penjelasan di atas, jelaslah di sini bahawa perlantikan Abu Bakar bukanlah satu ijmak di kalangan kaum Muslimin. Apatah lagi apabila kita mendapati, orang yang menentang beliau ialah para sahabat besar lagi masyhur. Jika ijmak sudah tiada, apa mungkin baiat itu boleh berlaku?

.

Pada hari al-Ghadir lebih 100 ribu orang berada di samping Rasulullah dan kelangsungan peristiwa al-Ghadir telah mereka saksikan. Apa yang menyebabkan dikalangan mereka tiada yang mempertahankan Imam Ali?Jawapan: Adapun tiada yang mempertahankan Imam Ali di kalangan orang ramai amnya ada banyak perbahasan. Namun tidak benar mengatakan tiada langsung sesiapa yang mempertahankan beliau.
Umar Ibnu al-Khattab berkata sebaik sahaja wafatnya Nabi (s), golongan Ansar berselisihan dengan kami dan berhimpun di Saqifah Bani Sa’adah. Maka Ali dan Zubair serta sesiapa yang bersama mereka menentang kami.
Sahih Bukhari: 26/7

Ibnu Abil Hadid al-Muktazili dalam kitab Syarah Nahjul Balaghah mencatatkan bahawa kebayakan Muhajirin dan Majoriti Ansar tidak mengesyaki sesungguhnya Ali yang empunya Amir setelah Rasulullah.
Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid: 6/21;

Abbas bapa saudara Nabi mengatakan perilaku orang Islam ini adalah jelek; yang menyebabkan mereka berpisah dengan Ali dan mengikuti jejak Abu bakar.Adapun dalam riwayat dalam catatan Ibnu Abil Hadid:
“Umar bertanya pada Zubair: Pedang ini untuk apa? Jawabnya: Ku siap sediakan ia untuk pembai’atan Ali”
Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid, 6/48, Saqifah Wa Fadak, Juhari 73Juga Riwayat yang tersedia:
Sebahagian kaum Muhajirin dan Ansar berselisihan dan mereka yang bersama Ali ialah Abbas bin Abdul Mutalib, Abu Fadl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad, Salman, Abu Zar, Ammar, Bara’ bin ‘Arib, Ubai Ka’ab, ‘Aduh bin Abi Lahab, Talhah bin Ubaidullah, Khuzaimah bin Thabit, Taruh bin Muhammad, Khalid bin Sa’id bin ‘As dan kumpulan Bani Hasyim.
Dalam sebahagian riwayat pula telah disebut hampir 30 ribu orang mengikuti Ali (as). Ibnu Abil Hadid bertanya kepada gurunya: Kenapa Ali bersama kekuatan 30 ribu orang tidak berjaya? Jawapan yang didengarinya: Apakah kekuatan 30 ribu orang terdaya untuk bangun berjuang menghadapi kekuatan 70 ribu atau 100 ribu yang dihimpun mereka?.Dari arah lain, pada zaman itu raja Rom menyerang, sehingga Islam dari akar umbi ingin mereka cabutkan dan umat Islam ingin mereka hapuskan habis-habisan. Dari satu arah lagi orang Yahudi sudah bersiap sedia menyerang Islam, golongan Munafik juga sibuk merencana konspirasi. Dalam suasana begini Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib berkata: Jikalau aku bangun demi kebangkitan dan hak-hak, peperangan dari dalam meletus dan musuh memanfaatkan peluang ini dan Islam yang sebenar akan jatuh dalam mara bahaya.
Nahjul Balaghah, surat 62; As-Syafi 3/243.Oleh itu tidaklah benar Ali bin Abi Talib tidak mengambil perhatian subjek ini
.

Masalah lain yang berkaitan dengan ini juga perlu diambil kira, iaitu ketika sebelum perancangan beberapa orang membina satu suasana, sehingga pemerintahan daripada Ali dirampas dan diberi pada Abu Bakar. Mukadimah-mukadimah ini juga telah disiap sediakan sejak di zaman nabi (s)

.

Ibnu Abil Hadid al-Muktazili dalam syarah peristiwa Saqifah telah mencatatkan: Beberapa orang daripada kabilah Aslam mendiami khemah di sekitar Madinah. Beberapa berita telah sampai; mereka telah mengikat janji dengan khalifah ke-dua bahawa selepas kewafatan Nabi (s), mereka akan masuk ke kota Madinah dan mengambil Bai’at orang ramai secara paksa. Umar bin al-Khattab sendiri berkata bahawa setelah kewafatan Nabi, beliau pernah melihat khabilah Aslam di kota Madinah, saya dijamin oleh bantuan mereka (Tarikh Tabari, 2/459). Had bilangan individu-individu kabilah ini sangatlah ramai hingga tiada tempat lagi di lorong-lorong Madinah untuk mereka lalu lalang
.
Tarikh Tabari, 2/458Bara bin ‘Azib menukilkan beberapa individu daripada kabilah ini memakai persalinan tentera dan memaksa orang ramai membai’at Abu Bakar samada orang ramai mahu atau tidak mahu. Dengan arahan Umar jikalau barangsiapa yang membantah akan dipukul dan dicerca.
Syarah Nahjul Balaghah; Ibnu Abil Hadid; 1/219

Mengapa Hadith Syiah Banyak Yang Dhaif ? Apakah perawi hadis syi’ah pendusta, pemalsu dan penipu ?

Himpunan Hadis Dhaif dan Maudhu Jilid 1 & Jilid 2 (HC)
Pertanyaan : Mengapa Hadith Syiah Banyak Yang Dhaif ? Apakah perawi hadis syi’ah pendusta ?
.
Jawaban :
1. Hadis yang dikumpulkan berasal dari semua sekte syi’ah yang mengaku ngaku syi’ah, termasuk syi’ah ghulat dll dan Syaikh Kulaini belum mengklasifikasikan shahih tidak nya hadis tersebut
.
2. Sanad hadis banyak lemah karena kondisi keamanan dalam pengumpulan hadis tidak kondusif
.
3. Bercampur antara riwayat taqiyah dan yang bukan taqiyah
.
4. Penguasa dan musuh musuh syiah banyak menyembelih pengikut syiah, memalsukan teks teks kitab lalu dinisbahkan kepada syiah dan membakar perpustakaan syiah
.
5. Masuknya musuh musuh islam ke jalur periwayatan hadis untuk merusak Syi’ah, sehingga muncul hadis hadis ghuluw dll

Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi Syi’ah dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah. Renungkan !      

Hadis-hadis yang termuat dalam kitab hadis syi’ah yakni al-Kafi karya Syaikh Kulaini berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis                        

Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa dalam Al Kafi ada 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq (hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat)   dan 9.480 hadis dhaif                                                                                                            

Menurut Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi. Bahkan ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H) telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya  Mir’at al-‘Uqul.

Dengan hilangnya kekhalifahan dari tangan Imam Hasan maka mulailah masa pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya, yang dilancarkan oleh Daulat Bani Umayyah. Untuk mempertahankan kekuasaan Daulat Bani Umayyah, Mu’awiyah mengerahkan segala dana dan tenaga untuk mengobarkan semangat kebencian, terhadap Imam ‘Ali ra khususnya dan anak cucu ke turunannya.

Semua orang dari ahlul-bait Rasulallah saw direnggut hak-hak asasinya, direndahkan martabatnya, dilumpuhkan perniagaannya dan di ancam keselamatannya jika mereka berani menyanjung atau memuji Imam ‘Ali ra. dan tidak bersedia tunduk kepada kekuasaan Bani Umayyah.

Perintah dari para penguasa untuk mencaci maki, melaknat Imam ‘Ali ra itu sudah suatu perbuatan yang biasa-biasa saja, misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Turmudzi dari Sa’ad Ibnu Waqqash yang mengatakan:

“Ketika Mu’awiyah menyuruh aku untuk mencaci maki Abu Thurab (julukan untuk Imam ‘Ali ra), maka aku katakan kepadanya (kepada Mu’awiyah); Ada pun jika aku sebutkan padamu tiga perkara yang pernah diucapkan oleh Rasulallah saw. untuknya (untuk Imam ‘Ali ra), maka sekali-kali aku tidak akan mencacinya. Jika salah satu dari tiga perkara itu aku miliki, maka hal itu lebih aku senangi dari pada unta yang bagus. Ketika Rasulallah saw. meninggalkannya (meninggalkan ‘Ali ra) didalam salah satu peperangannya, maka ia (‘Ali ra) berkata; ‘Wahai Rasulallah, mengapa engkau tinggalkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak kecil ?

cikal-bakal keturunan beliau saw. banyak yang telah syahid dimedan perang Karbala.

adanya putera Al-Husain ra, bernama ‘Ali Zainal ‘Abidin, yang luput dari pembantaian pasukan Bani Umayyah di Karbala, berkat ketabahan dan kegigihan bibinya Zainab ra. dalam menentang kebengisan penguasa Kufah, ‘Ubaidillah bin Ziyad. Ketika itu ‘Ali Zainal ‘Abidin masih kanak-kanak berusia kurang dari 13 tahun. ‘Ali Zainal-‘Abidin bin Al-Husain cikal bakal keturunan Rasulallah saw.  itulah yang mereka sembunyikan riwayat hidupnya, dengan maksud hendak  memenggal tunas-tunas keturunan beliau saw.

Dalam kitab yang sama pada halaman 708 dikemukakan sebuah hadits di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahal Ibnu Sa’ad ra yang mengatakan:

“Ketika kota Madinah dipimpin oleh seorang dari keluarga Marwan (baca:  Marwan Ibnu Hakam), maka sang penguasa memanggil Sahal Ibnu Sa’ad dan menyuruhnya untuk mencaci maki ‘Ali.  Ketika Sahal tidak mau melakukannya, maka sang penguasa berkata kepadanya; ‘Jika engkau tidak mau mencaci-maki ‘Ali, maka katakan semoga Allah swt mengutuk Abu Thurab’. Kata Sahal; ‘Bagi ‘Ali tidak ada suatu nama yang disenangi lebih dari pada nama Abu Thurab (panggilan Rasulallah saw. kepada Imam ‘Ali ra—pen.), dan ia amat bergembira jika dipanggil dengan nama itu’…sampai akhir hadits’ “. Dan masih banyak lagi riwayat  tentang pelaknatan, pencacian terhadap Imam ‘Ali ra dan penyiksaan kepada para pendukung dan pencinta ahlul-Bait yang tidak kami cantumkan disini.

Keadaan seperti itu berlangsung selama masa kekuasaan Daulat Bani Umay yah, kurang lebih satu abad, kecuali beberapa tahun saja selama kekuasaan berada ditangan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ra. Kehancuran daulat Bani Umayyah diujung pedang kekuatan orang-orang Bani ‘Abbas, ternyata tidak menghentikan gerakan kampanye ‘anti Ali dan anak-cucu keturunannya’. Demikianlah yang terjadi hampir selama kejayaan Daulat ‘Abassiyyah, lebih dari empat abad !

Dengan adanya perpecahan politik, peperangan-peperangan diantara sesama kaum muslimin yang tersebut diatas hingga runtuhnya daulat ‘Abbasiyyah, tidak hanya memporak-porandakan kesatuan dan persatuan ummat Islam, tetapi juga tidak sedikit merusak ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. Berbagai macam pandangan, pemikiran dan aliran serta faham bermunculan. Hampir semuanya tak ada yang bebas dari pengaruh politik yang menguasai penciptanya. Yang satu menciptakan ajaran-ajaran tambahan dalam agama untuk lebih memantapkan tekad para pengikutnya dalam menghadapi lawan. Yang lain pun demikian pula, menafsirkan dan menta’wil kan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sampai sesuai dengan prinsip pandangan mereka untuk membakar semangat para pengikutnya dalam menghadapi pihak lain yang dipandang sebagai musuh.

Selama kurun waktu kekuasaan daulat Bani Umayyah dan daulat Bani ‘Abasiyyah khususnya selama kekuasaan daulat bani Umayyah sukar sekali dibayangkan adanya kebebasaan dan keleluasaan menuturkan hadits-hadits Rasulallah saw. tentang ahlul-bait beliau saw, apalagi berbicara tentang kebijakan adil yang dilakukan oleh Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib ra. dimasa lalu. Itu merupa- kan hal yang tabu.

Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang pada masa itu sengaja menyembunyikan hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan ahlul-bait beliau saw., atau tidak meriwayatkan hadits-hadits dari ahlul-bait beliau saw. (yakni Imam ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain [ra] dan anak cucu keturunan mereka). Ada sebagian dari mereka yang sengaja melakukan dengan maksud politik untuk ‘mengubur’ nama-nama keturunan Rasulallah saw., tetapi banyak juga yang menyembunyikan hadits-hadits demikian itu hanya dengan maksud membatasi pembicaraannya secara diam-diam, demi keselamatan dirinya masing-masing.

Sadar atau tidak sadar masing-masing terpengaruh oleh suasana persilangan sikap dan pendapat akibat pertikaian politik masa lalu dan per-musuhan antar golongan diantara sesama ummat Islam. Kenyataan yang memprihatinkan itu mudah dimengerti, karena menurut riwayat pencatatan atau pengkodikasian hadits-hadits baru dimulai orang kurang lebih pada tahun 160 Hijriah, yakni setelah keruntuhan kekuasaan daulat Bani Umayyah dan pada masa pertumbuhan kekuasaan daulat ‘Abbasiyyah.

Masalah hadits merupakan masalah yang sangat pelik dan rumit. Kepelikan dan kerumitannya bukan pada hadits itu sendiri, melainkan pada penelitian tentang kebenarannya. Identitas para perawi sangat menentukan, apakah hadits yang diberitakan itu dapat dipandang benar atau tidak. Untuk meyakini kebenaran hadits-hadits Rasulallah saw., ada sebagian orang-orang dari keturunan ahlul-bait Nabi saw., dan para pengikutnya menempuh jalan yang dipandang termudah yaitu menerima dan meyakini kebenaran hadits-hadits yang diberitakan oleh orang-orang dari kalangan ahlul-bait sendiri.

Cara demikian ini dapat dimengerti, karena bagaimana pun juga orang-orang dari kalangan ahlul-bait pasti lebih mengetahui peri kehidupan Rasulallah saw..

wahabi menyerang Syi’ah dengan Riwayat yang kedudukannya dhaif di sisi keilmuan mazhab Syiah ! Alien Menceritakan Hadis Dalam Kitab Syiah?

Memang seseorang tatkala hendak mencela Syi’ah terkadang harus mencampakkan “kewarasan” nya demi mencapai tujuannya yaitu mencela sekaligus membuat stigma buruk terhadap Syi’ah.Dimanapun tulisan banyak sekali ditemukan tulisan dengan kwalitas seperti itu . . . .

Betapa sikap orang tersebut setali tiga uang dengan sikap orientalis Barat dalam memahami ajaran Islam. Pemahaman sikap orientalis Barat yang tidak jujur akan ajaran Islam hanyalah dilandasi oleh persepsi semata bukan bukti konkrit. Mereka sepertinya enggan untuk menelaah dan mengkaji Islam secara detil dan hanya berkutat pada persepsi dan asumsi belaka.

Akan tetapi lihatlah apa yang orientalis Barat itu lakukan ketika mereka melakukan kajian teologis atas kitab2 mereka. Mereka melakukannya secara kritis dan dengan sungguh2 didasarkan atas timbangan bukti2. Bagi mereka yang pernah duduk dalam kajian teologi Kristen tentulah tidaklah asing lagi

Tapi mengapa ketika mereka menulis dan mengkaji Islam, sikap dan prinsip akademis tersebut mereka campakan begitu saja seolah mereka cukup berpuas diri dengan hanya berbekal asumsi dan persepsi semata?

Demikian halnya timbangan yang sama dilakukan kepada Syiah. Ketika ada teman Sunni yang berbicara tentang Syiah, beberapa dari mereka hanya berpuas diri dengan hanya mengutip dan kemudian berasumsi.

Himpunan Hadis Dhaif dan Maudhu Jilid 1 & Jilid 2 (HC)

 

Walaupun para ulama dari sejak awal-awal lagi telah bangkit menentang fitnah dan gerakan pemalsuan hadis, namun penyebaran hadis-hadis palsu terus juga bergerak, sama ada oleh musuh-musuh Islam yang menyantar sebagai orang Islam atahupun orang-orang Islam yang jahil atau oleh prang-orang yang mempunyai kepentingan peribadi. Schingga kini, hadis-hadis Maudhu’ dan yang sebangsanya masih, tersebar meluas dikalangan masyarakat banyak dijadikan sandaran dalam urusan amal ibadat, kepercayaan dan lain-lain. Menjadi satu kesalahan besar menyebar dan mengamalkan hadis-hadis Maudhu’ dalam urusan apa jua, bahkan kesesatan umat Islam berpunca dari sini.

Alien Menceritakan Hadis Dalam Kitab Syiah?

Sebagian orang pembenci syiah [baca : Nashibi] menyebarkan tulisan aneh yang tujuannya tidak lain untuk mencela mazhab Syiah. Mereka membawakan keterangan dalam salah satu kitab Rijal Syiah bahwa ada orang turun dari langit dan menceritakan hadis. Seperti biasa para orang bodoh dari pengikut mereka tertawa-tawa dan ikut-ikutan mencela Syiah. Aneh, tidak ada satupun diantara mereka yang berusaha sedikit menggunakan akal warasnya untuk memahami permasalahan secara objektif dengan metode ilmiah.

Para pembaca yang terhormat, jika anda melihat dengan baik karakter sang penulis dari tulisan-tulisannya [selain tulisan tentang Syiah]. Anda akan melihat sosok yang katanya berpegang pada kaidah ilmiah [atau lebih tepatnya bergaya sok ilmiah], membahas suatu permasalahan dengan mentakhrij hadis-hadisnya kemudian melakukan analisis perawi dengan kitab-kitab Rijal. Intinya bisa dikatakan jika tidak sedang menulis tentang Syiah, penulis tersebut masih menunjukkan kewarasannya tetapi jika sedang menulis tentang Syiah, tiba-tiba nampak ketidakwarasan yang muncul dari kebenciannya terhadap Syiah. Orang yang biasanya berlagak pintar tiba-tiba menjadi berlagak bodoh. Kami melihat bahwa sebenarnya dalam perkara Syiah, penulis memang tidak sedang mencari kebenaran secara objektif melainkan hanya ingin membuat kabar miring tentang Syiah dan berusaha menggiring para pembacanya yang bodoh agar ikut-ikutan mentertawakan dan mencela Syiah.

Mari kita lihat riwayat yang menyebutkan “Alien” menjadi perawi hadis dalam kitab Syiah

عمارة بن زيد أبو زيد الخيواني الهمداني لا يعرف من أمره غير هذا ذكر الحسين بن عبيد الله أنه سمع بعض أصحابنا يقول: سئل عبد الله بن محمد البلوي: من عمارة بن زيد هذا الذي حدثك؟ قال: رجل نزل من السماء حدثني ثم عرج

Umaraah bin Zaid, Abu Zaid Al Khaiwaaniy Al Hamdaaniy, tidak diketahui tentangnya selain ini, Al Husain bin ‘Abdullah menyebutkan bahwa ia mendengar sebagian sahabat kami mengatakan Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy pernah ditanya “siapakah Umaarah bin Zaid yang menceritakan hadis kepadamu?”. Ia berkata “seorang laki-laki yang turun dari langit menceritakan kepadaku kemudian naik” [Rijal An Najasyiy hal 303 no 827].

Riwayat ini kedudukannya dhaif di sisi keilmuan mazhab Syiah dengan alasan sebagai berikut. Dalam sanadnya terdapat perawi majhul yaitu pada lafaz “sebagian sahabat kami”. Tidak disebutkan nama para sahabat Husain bin ‘Abdullah yang dimaksud maka sanadnya dhaif. Selain itu ‘Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy juga seorang yang dhaif di sisi Syiah. Ibnu Dawuud berkata dalam Juz Kedua Rijal Ibnu Dawuud, biografi Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy

كذاب وضاع للحديث سئل من عمارة الذي يروي عنه فقال رجل من السماء نزل فحدثني ثم عرج

Pendusta, pemalsu hadis, ia pernah ditanya siapa Umaarah yang ia telah meriwayatkan darinya, ia berkata “orang yang turun dari langit menceritakan kepadaku kemudian naik” [Juz Kedua Rijal Ibnu Dawuud no 277]

An Najasyiy dalam biografi Muhammad bin Hasan bin ‘Abdullah Al Ja’fariy, ia berkata “telah meriwayatkan darinya Al Balaawiy dan Al Balaawiy seorang yang dhaif dan tercela atasnya” [Rijal An Najasyiy hal 324 no 884]

Dengan keterangan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hikayat Umaarah bin Zaid turun dari langit dan menceritakan hadis kepada Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy adalah dusta bahkan bisa jadi ini adalah kedustaan Al Balaawiy. Tidak hanya di sisi Syiah, Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy ini ternyata juga perawi kitab hadis Ahlus Sunnah, Ibnu Hajar dalam Lisan Al Mizan telah menulis biografi tentangnya

عبد الله بن محمد البلوى عن عمارة بن زيد قال الدارقطني يضع الحديث قلت روى عنه أبو عوانة في صحيحه في الاستسقاء خبرا موضوعا

Abdullah bin Muhammad Al Balaawiy meriwayatkan dari ‘Umaarah bin Zaid, Daruquthniy berkata “pemalsu hadis”. Aku katakan telah meriwayatkan darinya Abu Awanah dalam kitab Shahihnya tentang Al Istisqaa’ kabar maudhu’ [Lisan Al Mizan juz 3 no 1392]

Kesimpulannya, kisah alien ini adalah kedustaan dari seorang perawi yang memang dicela oleh mazhab Syiah dan Sunni. Maka mengapa ada sebagian orang mau-maunya berpikir dengan keras untuk memahami suatu riwayat dusta dan menjadikannya sebagai bahan ejekan bagi mazhab lain, sepertinya orang tersebut memang agak sedikit kurang waras atau menyimpan kenifaqan di hatinya. Yah mana ada kan orang waras mau berpikir keras memahami riwayat dusta dan menjadikan riwayat dusta tersebut untuk mencela mazhab lain.

Hadis Dari Sumber Syiah Juga Perlu Diterima

Syiah telah lama wujud, Sunni pun telah lama wujud. Banyak mazhab-mazhab lain telah wujud dan pupus, namun Sunni dan Syiah tetap wujud, menunjukkan dominannya kedua mazhab ini dalam Islam. Sudah sekian lama kedua mazhab ini menghabiskan masa dalam dialog, debat dan muzakarah, dan ia masih terus berlangsung sehingga ke hari ini.

Bagi mereka yang cenderung dengan hujah Syiah akan Wilayah Ahlulbait, mereka akan bertukar mazhabnya ke Syiah, dan begitu juga sebaliknya. Setelah lama terlibat dalam dialog, hari ini saya mahu menyentuh satu isu yang menghairankan saya, iaitu pandangan Sunni terhadap hadis-hadis Syiah yang sangat negatif.

Sumber-sumber yang digunakan dalam dialog Sunni Syiah, kebanyakannya didominasi oleh sumber Sunni, yang mana kami Syiah harus dan wajib berdalil dengannya. Di satu sudut, segala puji bagi Allah yang meletakkan hujah-hujah kami begitu kuat dan banyak di dalam sumber Sunni, sedangkan doktrin-doktrin Sunni tiada satupun dapat dihujahkan secara jelas dengan hadis Syiah. Contohnya dalam hal Imamah, Syiah boleh sahaja membuktikan kekhalifahan Imam Ali dan Ahlulbait dari sumber Syiah mahupun Sunni. Manakala, Sunni tidak akan dapat berbuat demikian dalam konteks membuktikan sahnya khalifah mereka dari sisi kami.

Selain itu, keadaan ini turut menunjukkan betapa “versatile” nya para pendebat Syiah, yang mana, selain perlu mahir dengan warisan keilmuan Syiah, mereka juga perlu mengetahui penghujahan yang sama, dari sisi Sunni. Sementara pendebat Sunni pula, hanya mahu “memahirkan” diri mereka dalam hadis Syiah yang dhaif dan gharib, yang mahu digunakan untuk menjatuhkan mazhab ini. Itupun, cara mereka berdalil dengan hadis-hadis itu, takhrijnya, sering luar dari konteks, belum lagi sampai kepada status hadis, sanad dan matannya, serta kaedah menilai hadis dalam kaedah keilmuan Syiah. Ternyata, mereka tidak berkemampuan seperti pendebat Syiah, dalam memahami warisan keilmuan mazhab yang lain.

Saya mahu share video yang berkaitan dengan tajuk ini:

Mengapa mereka menolak hadis Syiah? Selalunya atas alasan yang sangat tidak logik. Contohnya dalam dialog tajuk Imamah, selain membawa hadis sumber Sunni tentang Ghadir Khum, serta kata-kata Imam Ali tentangnya, sebagai penguat, ana sering juga membawa hadis dari jalur pengriwayatan Syiah dalam tajuk yang sama.

Selalunya, hadis Syiah lebih jelas dalam sesuatu tajuk yang mana hadis Sunni agak kabur atau kurang jelas. Hadis dua belas orang Imam dari sisi Sunni sangat mutawattir dan sahih. Namun hadis yang menjelaskan siapa mereka, kebanyakannya berasal dari sumber yang tidak diterima dan ditolak oleh Sunni. Perkara yang sama tidak di dalam hadis Syiah, kerana begitu banyak sekali kata-kata Rasulullah dan para Imam Ahlulbait yang menjelaskan siapakah dua belas orang Imam ini.

Namun, apabila disodorkan sahaja kepada pendebat Sunni, lantas, mereka bertindak seolah-olah disodorkan objek yang menjijikkan. “Ini hadis Syiah, kami tak terima” adalah ayat yang sudah lama menjadi ibarat muzik di telinga saya. Lantas saya tanyakan kepada mereka:

“Bukankah kalian Ahlul Sunnah juga mengaku diri kalian pengikut Ahlulbait?” (Padahal dalam kitab-kitab hadis mereka sedikit sekali sumber hadis itu dari Ahlulbait. Walaupun jika kita menganggap Ummul Mukminin sebagai Ahlulbait, maka Abu Hurairah dan para sahabat lain masih lagi pendahulu dalam majoriti kitab mereka)

Mereka akan menjawab: “Ya”

“Bukankah kalian juga mengangungkan Imam Jaafar al Sadiq(as) sebagai seorang ulama yang agung?” (Dalam konteks jika hadis yang diperbincangkan itu diriwayatkan oleh Imam al Sadiq(as))

Mereka kebanyakannya akan menjawab: “Ya”

“Maka mengapa kalian menolak hadis-hadis yang diriwayatkan mereka?”

Maka kesemua mereka akan menjawab dengan jawaban yang bermotif sama: “Ini adalah hadis yang dipalsukan atas nama mereka.”

Ini adalah jawaban yang sangat mendungukan kita. Membuatkan kita terkesima, bukan kerana kuatnya nilai hujah itu, tetapi kerana dasyatnya nilai kelucuan di dalamnya. Bila ditanya bukti yang mengatakan Syiah memalsukan hadis atas nama Ahlulbait, maka tiada jawaban konkrit yang dapat diberikan. Jika begitu, dengan menggunakan standard yang sama, maka saya juga BOLEH MENGATAKAN, KESELURUHAN HADIS KALIAN ITU PALSU DAN MENGATASNAMAKAN RASULULLAH(S)!! Apa jawaban yang boleh kalian berikan atas tuduhan ini?

Jangan salah sangka, saya bukan menyatakan Syiah bebas dari hadis palsu, tidak sama sekali. Syiah, sama juga dengan Sunni, turut dibelenggu masalah kepalsuan hadis. Atas sebab inilah, kami juga mempunyai kaedah atau ilmu Mustolah al Hadis juga, seperti juga Sunni, agar dapat menyaring hadis-hadis mana yang sahih, hasan, muwatsaq atau maudhu’. Maklumat lanjut tentang Syiah dan sejarah ilmu hadisnya, boleh baca di sini.

Hadis-hadis Syiah menepati ideologi kami, yakni mengikuti Ahlulbait, apabila sumber hadis kami semuanya dari mereka. Ia juga begitu sesuai dengan kajian Sunni-Syiah sebagai sumber “counterpart” Sunni, maka adalah sangat dirugikan jika ia ditolak mentah-mentah atas dasar prejudis.

Jika kalian mengaku ikut Ahlulbait, maka majoriti hadis-hadis mereka hanya akan diperolehi dari sumber Syiah. Kalian tidak akan menjumpainya di sisi kalian sebanyak yang boleh dijumpai di pihak kami. Ia meliputi berbagai bidang seperti akidah, akhlaq, fiqh, kesihatan, sains dan lain-lain, yang membolehkan kami beramal dengannya. Sedangkan hadis-hadis riwayat Ahlulbait di sisi kalian tidak cukup pun untuk diamalkan sepenuhnya jika semata-mata bergantung kepada hadis riwayat mereka tanpa penguat dari hadis para sahabat yang lain.

Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar
.
Menurut ajaran sunni :
- Imam Ali berijtihad
– Mu’awiyah berijtihad
– Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

saudaraku….

Tanggapan syi’ah tentang bai’at Imam Ali :

Imam Ali r.a dan Syiah membai’at Abubakar sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I…

Saudaraku..

- Imam Ali terpaksa membai’at Abubakar karena ingin memelihara umat agar tidak mati sia sia dalam perang saudara melawan Pasukan Abubakar dibawah pimpinan Khalid Bin Walid yang haus darah

- Dengan mengalah Imam Ali telah menyelamatkan umat Islam dari kehancuran..Kalau perang saudara terjadi dan imam Ali tidak membai’at Abubakar maka tidak ada lagi Islam seperti yang sekarang ini

Akan tetapi…..

syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..

Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

===============================================================================================================================================================
CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

(9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

(10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

(11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

(12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

Beda utama Syi’ah – Sunni :
Sunni :
1. Nabi SAW tidak menunjuk siapa pengganti nya
2. Fokus pedoman : Sahabat
3. Semua sahabat adil

Mu’awiyah di dalam khutbahnya dishalat Jum’at telah mengutuk ’Ali, Hasan dan Hussein. Mu’awiyah juga mengintruksikan didalam semua forum jamaah ketika dia berkuasa supaya mengutuk manusia yang suci itu (baca keluarga Rasul) Justru itu siapapun yang bersatupadu dengan manusia yang terkutuk itu (baca Mu’awiyah) dan merasa senang dengan tindakan mereka (baca komunitas Mu’awiyah) tidak pantaskah untuk dikutuk? Dan ketika dia sedang bersekutu dengan manusia seperti itu, jika dia membantu mereka dalam memalsukan Hadist dari Ahlulbayt (keluarga/keturunan Rasul) dan memaksakan manusia untuk melakukan kutukannya kepada manusia suci ini (baca ’Ali, Fatimah, Hasan dan Husen),

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

====================================================

MASALAH   KHALiFAH

Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah  itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku

Hanya karna dukungan politik dari ulama ulama Bani Umayyah dan  ulama ulama  Bani Abbasiah keempat mazhab aswaja sunni   dapat berkembang ditengah masyarakat ( Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq )

 saudaraku….

banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Perpecahan internal dalam Islam yang meruncing dari waktu ke waktu

.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.
saya  tidak menerima hadits yang menjadi salah satu dasar pengangkatan salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar sebagai Khalifah karena syiah  tidak mengakui kekhalifahan tiga sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman
.

Hadits yang tertulis dalam Shahih Bukhari tersebut, menjelaskan tentang ditunjuknya Abu Bakar oleh Nabi Muhammad Saw sebagai imam shalat, saat Nabi sedang sakit. Ini menjadi isyarat, bahwa Nabi menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah. Syi’ah menganggap hadits tersebut meragukan, meskipun diriwayatkan oleh imam Bukhari, dan hadits tersebut termasuk sahih (kuat)

.

Dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu’tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun. Bagaimana menjelaskan ini?

.

Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab

.

Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits. Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakar terjadi larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu

.

Pada mulanya perpecahan Islam  itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pada mulanya perpecahan itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarahsyura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).Agama Muhammad SAW  terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pada setiap khotib jum’at harus ada kata-kata mencela Ali & keluarga .

o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam”

Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan kontra.    Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.

Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah.

hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi. Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam

Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap pembantai pengikut ahlulbait

   Murji`ah versus Syiah.

Pertentangan orang-orang Murji`ah dengan orang-orang Syiah terjadi oleh karena Murji`ah menyerahkan persoalan khalifah atau pengganti Nabi kepada Tuhan. Mereka tidak mendukung gagasan Syiah tentang negara teokratis Ali, yang didasarkan atas keadilan agama dan juga tidak meyakini klaim Ahli Bait sebagai pewaris kepemimpinan Nabi atas umat Islam.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.

Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Bersamaan dengan itu, kaum Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali, dan mengajak Husain bin Ali melakukan perlawanan.

Husain bin Ali sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah,

Pada tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia. Dalam sebuah perjalanan  terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan Pertempuran Karbala, Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala sebuah daerah di dekat Kufah.

Kelompok Syi’ah sendiri bahkan terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan diantaranya adalah yang dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar (yang pada akhirnya mengaku sebagai nabi) mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari PersiaArmenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah secara keseluruhan.

Abdullah bin Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepung Madinah dan Mekkah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus.

Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Setelah itu gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi’ah juga dapat diredakan.

pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyimyang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.

Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus

.

Sistem Pemerintahan Thaghut Umayyah :

1. Sistem Suksesi (penggantian khalifah)

Permintaan Hasan Bin Ali kepada Mu’awiyah untuk tidak menunjuk pengganti khalifah dan menyerahkan penggantinya kepada umat Islam melalui pemilihan tidak dilaksanakan oleh Mu’awiyah. Ia menunjuk anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Penunjukan ini dilaksanakan oleh Mu’awiyah atas saran Al Mughirah bin Syu’bah. Ia berpendapat bahwa penunjukan putra Mahkota dapat menghindarkan konflik politik intern umat Islam, seperti yang terjadi pada masa sebelumnya. Cara ini terus berlanjut untuk semua khalifah, mereka selalu menunjuk putra mahkota. Dan untuk mendapatkan pengesahannya para khalifah memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan bai’at di hadapan khalifah.Selain Bani Umaiyah tidak mempunyai kesempatan menjadi pejabat kerajaan.

2. Lembaga Syura

Dewan Penasihat khalifah tidak berfungsi secara baik, mereka diangkat hanya dari kerabat khalifah sendiri sehingga lebih banyak mendukung kebijakan khalifah, dan tidak lagi memperhatikan usulan, pendapat dan kepentingan rakyat. Hal ini terjadi karena penguasa bani Umaiyah benar-benar menganggap dirinya sebagai raja yang tidak dipilih dan diangkat oleh rakyat. Mereka menjadi penguasa karena berjuang untuk merebutnya, sehinga negara adalah miliknya
.
pada masa Bani Umaiyah para khalifah dan keluarganya hidup dalam kemewahan dan selalu mendapatkan penjagaan yang ketat dari para pengawalnya. Mereka berdalih, bahwa khalifah adalah pemimpin umat yang harus dijaga kewibawaannya, dan juga keamanannya, wibawa khalifah adalah wibawa umat, dan keselamatan khalifah adalah keselamatan negara.

3. Sistem Organisasi Pemerintahan

Organisasi pemerintahan yang dikembangkan oleh Daulah Bani Umaiyah lebih modern dan lebih rapi. Dauah bani Umaiyah menetapkan Damaskus sebagai ibu kota pemerintahan. Dan urusan pemerintahan pusat dijalankan oleh lima dewan (departemen), yaitu :

  • Diwanul Jundi yang menangani urusan kemiliteran.
  • Diwanur Rasail yang menngani urusan admnistrasi pemerintah dan surat-menyurat
  • Diwanul Barid yang menangani urusan pos
  • Diwanul Kharraj yang menangani urusan keuangan.
  • Diwanul Khatam yang menangani urusan dokumentasi.

Sedangkan secara administatif wilayah kekuasaan dibagi menjadi lima kelompok wilayah propinsi, yaitu :

  • Kelompok wilayah propinsi Hijaz dan Yaman.
  • Kelompok wilayah Mesir bagian utara dan selatan.
  • Kelompok wilayah propinsi Irak Arab meliputi wilayah Babilonia dan Kaldea, dan Irak Ajam meliputi Yaman dan Persia.
  • Kelompok wilayah Armenia, Mesopotamia, dan Azerbaijan.
  • Kelompok wilayah propinsi Afrika Utara, meliputi Spanyol, Perancis bagian Selatan, serta Sicilia.

4. Angkatan Perang

Angkatan Perang yang diubangun oleh Daulah Bani Umaiyah lebih banyak mencontoh model Romawi dan Persia. Yaitu membangun tentara khusus yang dibayar oleh negara. Selain itu mereka juga mengembangkan angkatan laut. Dalam rekrutmen tentara Daulah Bani Umaiayah lebih mengutamakan orang-orang Arab dari pada orang-orang Mawali atau Non Arab. Kesemuanya ini sangat mendukung kebijakan Bani Umaiaya yang mengutamakan perluasan wilayah.

Muawiyah bin Abu Sufyan

Muawiyah I
Memerintah 661 – 680
Dinobatkan 661
Dilantik 661
Nama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan
Lahir 602
Meninggal 6 Mei 680
Pendahulu Ali
Pewaris Yazid I
Pengganti Yazid I
Anak Yazid I
Wangsa Bani Abdus Syams
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Abu Sufyan
Ibu Hindun binti Utbah

Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, dipaksa berbai’at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy’ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan biadab

.

Kekhalifahan Utama di Damaskus

  1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
  2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
  3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
  4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M
  5. Abdullah bin Zubair bin Awwam, (peralihan pemerintahan, bukan Bani Umayyah).
  6. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
  7. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
  8. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
  9. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
  10. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
  11. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
  12. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
  13. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
  14. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
  15. Marwan II bin Muhammad (memerintah di HarranJazira), 127-133 H / 744-750 M

Ahlusunnah (Sunni) tidak mencintai Ahlul Bait, buktinya membela ORANG YANG MELAKUKAN pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya

Kekhalifahan Imam Ali  diteruskan oleh puteranya, Al-Hasan ra., tetapi sisa-sisa kekuatan pendukung mendiang Imam  Ali  sudah banyak mengalami kemerosotan mental dan patah semangat.. Bahkan terjadi penyeberangan ke pihak Mu’wiyah untuk mengejar kepentingan-kepentingan materi, termasuk ‘Ubaidillah bin Al-‘Abbas (saudara misan Imam ‘Ali ra.) yang oleh Al-Hasan ra, diangkat sebagai panglima perangnya !

Hilanglah sudah imbangan kekuatan antara pasukan Al-Hasan ra dan pasukan Mu’awiyah, dan pada akhirnya diadakanlah perundingan secara damai antara kedua belah pihak. Dalam perundingan itu Al-Hasan ra. menyerahkan kekhalifan kepada Mu’awiyah atas dasar syarat-syarat tertentu, berakhirlah sudah kekhalifahan Ahlu-Bait Rasulallah saw. Seluruh kekuasaan atas dunia Islam jatuh ketangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Dengan hilangnya kekhalifahan dari tangan Imam Hasan maka mulailah masa pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya, yang dilancarkan oleh Daulat Bani Umayyah. Untuk mempertahankan kekuasaan Daulat Bani Umayyah, Mu’awiyah mengerahkan segala dana dan tenaga untuk mengobarkan semangat kebencian, terhadap Imam ‘Ali ra khususnya dan anak cucu ke turunannya. Semua orang dari ahlul-bait Rasulallah saw direnggut hak-hak asasinya, direndahkan martabatnya, dilumpuhkan perniagaannya dan di ancam keselamatannya jika mereka berani menyanjung atau memuji Imam ‘Ali ra. dan tidak bersedia tunduk kepada kekuasaan Bani Umayyah.

Perintah dari para penguasa untuk mencaci maki, melaknat Imam ‘Ali ra itu sudah suatu perbuatan yang biasa-biasa saja, misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Turmudzi dari Sa’ad Ibnu Waqqash yang mengatakan:

“Ketika Mu’awiyah menyuruh aku untuk mencaci maki Abu Thurab (julukan untuk Imam ‘Ali ra), maka aku katakan kepadanya (kepada Mu’awiyah); Ada pun jika aku sebutkan padamu tiga perkara yang pernah diucapkan oleh Rasulallah saw. untuknya (untuk Imam ‘Ali ra), maka sekali-kali aku tidak akan mencacinya. Jika salah satu dari tiga perkara itu aku miliki, maka hal itu lebih aku senangi dari pada unta yang bagus. Ketika Rasulallah saw. meninggalkannya (meninggalkan ‘Ali ra) didalam salah satu peperangannya, maka ia (‘Ali ra) berkata; ‘Wahai Rasulallah, mengapa engkau tinggalkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak kecil ?

cikal-bakal keturunan beliau saw. banyak yang telah syahid dimedan perang Karbala.

adanya putera Al-Husain ra, bernama ‘Ali Zainal ‘Abidin, yang luput dari pembantaian pasukan Bani Umayyah di Karbala, berkat ketabahan dan kegigihan bibinya Zainab ra. dalam menentang kebengisan penguasa Kufah, ‘Ubaidillah bin Ziyad. Ketika itu ‘Ali Zainal ‘Abidin masih kanak-kanak berusia kurang dari 13 tahun. ‘Ali Zainal-‘Abidin bin Al-Husain cikal bakal keturunan Rasulallah saw.  itulah yang mereka sembunyikan riwayat hidupnya, dengan maksud hendak  memenggal tunas-tunas keturunan beliau saw.

Dalam kitab yang sama pada halaman 708 dikemukakan sebuah hadits di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Sahal Ibnu Sa’ad ra yang mengatakan:

“Ketika kota Madinah dipimpin oleh seorang dari keluarga Marwan (baca:  Marwan Ibnu Hakam), maka sang penguasa memanggil Sahal Ibnu Sa’ad dan menyuruhnya untuk mencaci maki ‘Ali.  Ketika Sahal tidak mau melakukannya, maka sang penguasa berkata kepadanya; ‘Jika engkau tidak mau mencaci-maki ‘Ali, maka katakan semoga Allah swt mengutuk Abu Thurab’. Kata Sahal; ‘Bagi ‘Ali tidak ada suatu nama yang disenangi lebih dari pada nama Abu Thurab (panggilan Rasulallah saw. kepada Imam ‘Ali ra—pen.), dan ia amat bergembira jika dipanggil dengan nama itu’…sampai akhir hadits’ “. Dan masih banyak lagi riwayat  tentang pelaknatan, pencacian terhadap Imam ‘Ali ra dan penyiksaan kepada para pendukung dan pencinta ahlul-Bait yang tidak kami cantumkan disini.

Keadaan seperti itu berlangsung selama masa kekuasaan Daulat Bani Umay yah, kurang lebih satu abad, kecuali beberapa tahun saja selama kekuasaan berada ditangan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ra. Kehancuran daulat Bani Umayyah diujung pedang kekuatan orang-orang Bani ‘Abbas, ternyata tidak menghentikan gerakan kampanye ‘anti Ali dan anak-cucu keturunannya’. Demikianlah yang terjadi hampir selama kejayaan Daulat ‘Abassiyyah, lebih dari empat abad !

Dengan adanya perpecahan politik, peperangan-peperangan diantara sesama kaum muslimin yang tersebut diatas hingga runtuhnya daulat ‘Abbasiyyah, tidak hanya memporak-porandakan kesatuan dan persatuan ummat Islam, tetapi juga tidak sedikit merusak ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. Berbagai macam pandangan, pemikiran dan aliran serta faham bermunculan. Hampir semuanya tak ada yang bebas dari pengaruh politik yang menguasai penciptanya. Yang satu menciptakan ajaran-ajaran tambahan dalam agama untuk lebih memantapkan tekad para pengikutnya dalam menghadapi lawan. Yang lain pun demikian pula, menafsirkan dan menta’wil kan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sampai sesuai dengan prinsip pandangan mereka untuk membakar semangat para pengikutnya dalam menghadapi pihak lain yang dipandang sebagai musuh.

Selama kurun waktu kekuasaan daulat Bani Umayyah dan daulat Bani ‘Abasiyyah khususnya selama kekuasaan daulat bani Umayyah sukar sekali dibayangkan adanya kebebasaan dan keleluasaan menuturkan hadits-hadits Rasulallah saw. tentang ahlul-bait beliau saw, apalagi berbicara tentang kebijakan adil yang dilakukan oleh Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib ra. dimasa lalu. Itu merupa- kan hal yang tabu.

Banyak tokoh-tokoh masyarakat yang pada masa itu sengaja menyembunyikan hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan ahlul-bait beliau saw., atau tidak meriwayatkan hadits-hadits dari ahlul-bait beliau saw. (yakni Imam ‘Ali, Al-Hasan, Al-Husain [ra] dan anak cucu keturunan mereka). Ada sebagian dari mereka yang sengaja melakukan dengan maksud politik untuk ‘mengubur’ nama-nama keturunan Rasulallah saw., tetapi banyak juga yang menyembunyikan hadits-hadits demikian itu hanya dengan maksud membatasi pembicaraannya secara diam-diam, demi keselamatan dirinya masing-masing.

Sadar atau tidak sadar masing-masing terpengaruh oleh suasana persilangan sikap dan pendapat akibat pertikaian politik masa lalu dan per-musuhan antar golongan diantara sesama ummat Islam. Kenyataan yang memprihatinkan itu mudah dimengerti, karena menurut riwayat pencatatan atau pengkodikasian hadits-hadits baru dimulai orang kurang lebih pada tahun 160 Hijriah, yakni setelah keruntuhan kekuasaan daulat Bani Umayyah dan pada masa pertumbuhan kekuasaan daulat ‘Abbasiyyah.

Masalah hadits merupakan masalah yang sangat pelik dan rumit. Kepelikan dan kerumitannya bukan pada hadits itu sendiri, melainkan pada penelitian tentang kebenarannya. Identitas para perawi sangat menentukan, apakah hadits yang diberitakan itu dapat dipandang benar atau tidak. Untuk meyakini kebenaran hadits-hadits Rasulallah saw., ada sebagian orang-orang dari keturunan ahlul-bait Nabi saw., dan para pengikutnya menempuh jalan yang dipandang termudah yaitu menerima dan meyakini kebenaran hadits-hadits yang diberitakan oleh orang-orang dari kalangan ahlul-bait sendiri.

Cara demikian ini dapat dimengerti, karena bagaimana pun juga orang-orang dari kalangan ahlul-bait pasti lebih mengetahui peri kehidupan Rasulallah saw..

Yazid bin Muawiyyah dilahirkan pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu dan tidak pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah  SAW  bersabda:Al-Hasan dan Al-Husein adalah sayyid (penghulu) para pemuda ahlul jannah.(HR. Tirmidzi, Hakim, Thabrani, Ahmad dan lain-lain dari Abi Sa’id al-Khudri; dishahihkan oleh Syaikh AlAlbani dalam Silsilah Hadits Shahih, hal 423, hadits no. 796 dan beliau berkata hadits ini diriwayatkan pula dari 10 shahabat)

Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku katakan kepada ayahku: “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka cinta kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Wahai anakku, apakah akan mencintai Yazid seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” Aku bertanya: “Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab: “Wahai anakku, kapan engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?” Diriwayatkan pula bahwa ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau menulis hadits dari Yazid bin Mu’awiyyah?” Dia berkata: “Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”

Padahal jauh-jauh hari Hasan al-Bashri telah mengatakan hal ini, sebagaimana yang disampaikan oleh Abul A’la al-Maududi, bahwa Mu’awiyah telah melakukan empat hal yang apabila satu saja ada pada dirinya telah cukup menjadikannya celaka. Salah satunya adalah melantik puteranya, Yazid, sebagai pemimpin setelahnya. Padahal Yazid adalah seorang pemabuk dan pemakai baju sutera.” [Lihat: Al-Maududi, “Al-Khilafah wa al-Mulk”, hal. 106].

Suyuthi meriwayatkan dari al-Dzahabi yang berkata: “Ketika Yazid melakukan apa yang ia lakukan pada penduduk Madinah, sembari tetap bersama minuman khamr-nya dan perbuatan mungkarnya….” [Lihat: Suyuthi, “Tarikh al-Khulafa”, hal. 209].

Ibn Katsir mengatakan: “Yazid bin Mu’awiyah telah terlalu banyak mengundang siksa atas dirinya melalui kebiasaan minum khamrnya” [Lihat:Ibn Katsir,“al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

Ibn Katsir juga mengatakan: “Diriwayatkan bahwa Yazid telah masyhur dengan kegemarannya dalam bermusik, minum khamr, bernyanyi, dan berburu. Dan setiap hari ia selalu mabuk (makhmur).” [Lihat: Ibn Katsir, “al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 259].

YAZiD  MEMUKUL  POTONGAN  KEPALA  HUSAiN

Mengenai pemukul-mukulan yang dilakukan oleh Yazid, ada sederet ulama ahlusunnah yang mengakui kejadian tersebut di atas, seperti al-Jahidz dan Ibn Atsir. Khusus Ibn Atsir, tentunya anda tahu bahwa ia juga seorang ulama ahli rijal, yang terkenal dengan kitab rijal-nya “Usud al-Ghabah”. Sementara, ia mengatakan: “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya, sementara kepala (al-Husein) berada di sisinya. Ia lalu memukuli mulut dari kepala tersebut, sembari mengucapkan syair.” [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85]. Dengan demikian, secara tidak langsung ia membantah ucapan Ibn Taimiyah bahwa riwayat tersebut munqathi’.

Untuk melengkapi riwayat tersebut, saya bawakan riwayat-riwayat lainnya sebagai berikut:

1. Al-Qasim bin Abdurahman (salah seorang budak Yazid bin Mu’awiyah) berkata: “Tatkala kepala-kepala diletakkan di hadapan Yazid bin Mu’awiyah, yaitu kepala al-Husein, keluarga, dan para sahabat beliau. Ia (Yazid) berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 391].

2. Uwanah bin al-Hakam al-Kalbi berkata: “Ubaidillah lalu memanggil Muhaffiz bin Tsa’labah dan Syimr bin Dzil Jausyan dan berkata: “Berangkatlah dengan membawa perbekalan dan kepala untuk menghadap amirul mukminin Yazid bin Mu’awiyah.” Mereka lalu berangkat. Dan ketika sampai di istana Yazid, Muhaffiz berteriak dengan suara lantang: “Kami datang dengan membawa kepala manusia paling dungu dan keji.” Yazid pun berkata: “Ibu Muhaffiz tidak melahirkan seorang yang lebih keji dan lebih dungu darinya (al-Husein). Sedangkan ia (al-Husein) adalah seorang pemutus hubungan yang zalim.” Dan tatkala Yazid melihat kepala al-Husein, ia berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 394-396; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 84].

3. Para penulis sejarah ahlusunnah terkenal meriwayatkan: “Setelah diarak keliling kota, Ibn Ziyad (gubernur Kufah) mengirim kepala al-Husein as kepada Yazid bin Mu’awiyah di Syam (Damaskus). Saat itu bersama Yazid terdapat Abu Barzah al-Aslami. Lalu Yazid meletakkan kepala tersebut di hadapannya dan memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair. Abu Barzah lalu berkata: “Angkat tongkatmu! Demi Allah, aku kerap melihat Rasulullah mencium bibir itu.” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 7, hal. 190; Al-Mas’udi, “Muruj al-Dzihab”, jilid 2, hal. 90-91; “Tarikh Thabari”, jilid 2, hal. 371; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85].

4. Ibn Katsir juga mengutip dari Abu ‘Ubaidah Mua’mar bin al-Matsna, yang berkata: “Ketika Ibn Ziyad telah membunuh al-Husein dan orang-orang yang bersama beliau, ia lalu mengirim kepala-kepala mereka tersebut kepada Yazid” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].

5. Al-Qasim bin Bukhait berkata: “Yazid lalu memberi izin orang-orang untuk masuk, sementara kepala (al-Husein) berada di hadapannya. Ia lalu memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 396-397].

Kenyataannya, kepala al-Husein as tersebut dibawa menuju Madinah bersama para wanita keluarga Nabi saww, setelah sebelumnya dibawa terlebih dahulu ke hadapan Yazid. [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 84-88].

tahun 63 H/683 M, pasukan Yazid yang dipimpin Muslim bin ‘Uqbah menyerbu kota Madinah dengan 12.000 anggota pasukan, yang terkenal dengan perang Harrah. Yazid menyerbu dari arah Timur Madinah, yang disebut Harrah Syarqiyah, agar orang Madinah silau oleh sinar matahari. Ia lalu membunuh 7.000 tokoh dan 10.000 rakyat jelata, di antaranya 80 sahabat pengikut Perang Badr, 1.000 orang Anshar dan 800 kaum Quraisy. Ia membolehkan pasukannya menjarah dan merampok kota Madinah selama 3 hari dan  menurut Ibnu Katsir ada seribu gadis yang hamil akibat perkosaan pada masa itu.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah berhati mulia, yang memerintah dua setengah tahun dari 92 tahun pemerintahan dinasti Umayyah, mengatakan: ‘Bila ada pertandingan kekejaman pemimpin, maka kita kaum Muslimin pasti akan jadi juara bila kita kirim Hajjaj bin Yusuf ‘.

Seperti dicatat oleh Tirmidzi, Ibnu ‘Asakir, dalam 20 tahun sebagai gubernur ‘khalifah’ Abdul Malik bin Marwan di Iraq ia telah membunuh 120.000 Muslim dengan berdarah dingin; shabran (Shahih Tirmidzi, jilid 9, hlm. 64; Ibnu ‘Asakir, Tarikh, jilid 4, hlm. 80; Tafsir alWushul, jilid 4, hlm. 36.)

, dan ditemukan dalam penjaranya 80.000 orang dan di antaranya 30.000 wanita yang dihukum tanpa diadili dan banyak yang sudah membusuk. Ia menembaki ka’bah dengan katapel (alat pelempar batu, manjaniq) pada musim haji dalam memerangi Ibnu Zubair. Ia melakukan tindakan kejam yang sukar dilukiskan, terutama terhadap pengikut pengikut Imam Ali dan memerlukan buku tersendiri untuk menulis riwayat Hajjaj bin Yusuf. Ketika ‘Abdul Malik akan meninggal ia berpesan agar berlaku baik terhadap Hajjaj bin Yusuf, ‘karena dia telah mengalahkan musuhmusuhmu’. (Ibnu Atsir, Tarikh, jilid 3, hlm. 103, Ibnu Khaldun, Tarikh, jilid 3, hlm. 58.)

Ia tidak segan menghina sahabat yang sudah meninggal sekalipun: ‘A’masy mencerita kan: ‘Demi Allah, aku mendengar Hajaj bin Yusuf berkata: ‘Mengherankan Abu Hudzail (maksudnya Abdullah bin Mas’ud). Ia mengatakan ia membaca AlQur’an,

demi Allah ia hanya kotoran dari kotoran kotoran orang Badwi. Demi Allah bila aku bisa menemuinya, akan aku tebas lehernya’. (AlHakim, Mustadrak, jilid 2, hlm. 556; Ibnu ‘Asakir, Tarikh, jilid 4, hlm. 69.)

Di bagian lain, ia berkhotbah: ‘Demi Allah, bertakwalah kepada Allah sesanggupmu, tidak ada itu hari Pembalasan. Dengar dan patuhlah kepada Amiru’lmu’minin

‘Abdul Malik karena ia dapat membalas. Demi Allah bila aku suruh kamu keluar melalui pintu itu dan kamu keluar dari pintu lain, aku akan ambil darah dan hartamu.           ( Ibnu Asakir, Tarikh, jilid 4, hlm. 69 )

Hafizh Ibnu ‘Asakir berkata: ‘Hajjaj berkhotbah di Kufah dan setelah menyebut orang orang  yang berziarah ke kubur Nabi saw di Madinah, ia berkata: ‘mengapa mereka tidak mengunjungi dan bertawaf di istana Amiru’l mu’minin’ ‘Abdul Malik, apakah mereka tidak tahu bahwa khalifah ‘Abdul Malik adalah orang yang lebih baik dari Rasulnya”. (Ibnu Aqil, anNashayih, hlm. 81.)

AlHafizh Ibnu ‘Asakir mengatakan: ‘Suatu ketika ada dua orang berbeda pendapat tentang Hajjaj. Seorang mengatakan Hajjaj kafir, dan yang lain mengatakan ia mu’min yang tersesat. Mereka lalu menanyakan pada asySyu’bah yang berkata kepada keduanya: ‘Sesungguhnya ia Mu’min di jubahnya tetapi ia sebenarnya adalah thaghut dan kafir sekafir kafirnya’.

Tatkala Washil bin ‘Abdul A’la bertanya kepadanya tentang Hajjaj bin Yusuf ia menjawab: ‘Anda menanyaiku tentang si kafir itu?’ Di zaman itu, memenggal kepala seorang muslim oleh penguasa dianggap sebaga permainan anak anak. Menyayat dan menginjak injak  jenazah Muslim adalah perbuatan sehari hari.

Rata rata Hajjaj bin Yusuf selama 20 tahun jadi gubernur Iraq membunuh 7 orang sehari secara berdarah dingin.

Di zaman itu, lebih baik orang mengaku zindiq atau kafir daripada mengaku Syi’ah. Dan orang orang Syi’ah yang terancam nyawanya melakukan taqiyah. Di zaman Banu Abbas kekejaman terhadap Syi’ah lebih parah.

Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar
.
Menurut ajaran sunni :
- Imam Ali berijtihad
– Mu’awiyah berijtihad
– Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

saudaraku….

Tanggapan syi’ah tentang bai’at Imam Ali :

Imam Ali r.a dan Syiah membai’at Abubakar sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I…

Saudaraku..

- Imam Ali terpaksa membai’at Abubakar karena ingin memelihara umat agar tidak mati sia sia dalam perang saudara melawan Pasukan Abubakar dibawah pimpinan Khalid Bin Walid yang haus darah

- Dengan mengalah Imam Ali telah menyelamatkan umat Islam dari kehancuran..Kalau perang saudara terjadi dan imam Ali tidak membai’at Abubakar maka tidak ada lagi Islam seperti yang sekarang ini

Akan tetapi…..

syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..

Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

===============================================================================================================================================================
CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

(9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

(10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

(11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

(12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

Beda utama Syi’ah – Sunni :
Sunni :
1. Nabi SAW tidak menunjuk siapa pengganti nya
2. Fokus pedoman : Sahabat
3. Semua sahabat adil

Mu’awiyah di dalam khutbahnya dishalat Jum’at telah mengutuk ’Ali, Hasan dan Hussein. Mu’awiyah juga mengintruksikan didalam semua forum jamaah ketika dia berkuasa supaya mengutuk manusia yang suci itu (baca keluarga Rasul) Justru itu siapapun yang bersatupadu dengan manusia yang terkutuk itu (baca Mu’awiyah) dan merasa senang dengan tindakan mereka (baca komunitas Mu’awiyah) tidak pantaskah untuk dikutuk? Dan ketika dia sedang bersekutu dengan manusia seperti itu, jika dia membantu mereka dalam memalsukan Hadist dari Ahlulbayt (keluarga/keturunan Rasul) dan memaksakan manusia untuk melakukan kutukannya kepada manusia suci ini (baca ’Ali, Fatimah, Hasan dan Husen),

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

====================================================

MASALAH   KHALiFAH

Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah  itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku

Hanya karna dukungan politik dari ulama ulama Bani Umayyah dan  ulama ulama  Bani Abbasiah keempat mazhab aswaja sunni   dapat berkembang ditengah masyarakat ( Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq )

 saudaraku….

banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Perpecahan internal dalam Islam yang meruncing dari waktu ke waktu

.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.
saya  tidak menerima hadits yang menjadi salah satu dasar pengangkatan salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar sebagai Khalifah karena syiah  tidak mengakui kekhalifahan tiga sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman
.

Hadits yang tertulis dalam Shahih Bukhari tersebut, menjelaskan tentang ditunjuknya Abu Bakar oleh Nabi Muhammad Saw sebagai imam shalat, saat Nabi sedang sakit. Ini menjadi isyarat, bahwa Nabi menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah. Syi’ah menganggap hadits tersebut meragukan, meskipun diriwayatkan oleh imam Bukhari, dan hadits tersebut termasuk sahih (kuat)

.

Dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu’tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun. Bagaimana menjelaskan ini?

.

Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab

.

Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits. Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakar terjadi larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu

.

Pada mulanya perpecahan Islam  itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pada mulanya perpecahan itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarahsyura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).Agama Muhammad SAW  terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pada setiap khotib jum’at harus ada kata-kata mencela Ali & keluarga .

o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam”

Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan kontra.    Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.

Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah.

hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi. Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam

Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap pembantai pengikut ahlulbait

   Murji`ah versus Syiah.

Pertentangan orang-orang Murji`ah dengan orang-orang Syiah terjadi oleh karena Murji`ah menyerahkan persoalan khalifah atau pengganti Nabi kepada Tuhan. Mereka tidak mendukung gagasan Syiah tentang negara teokratis Ali, yang didasarkan atas keadilan agama dan juga tidak meyakini klaim Ahli Bait sebagai pewaris kepemimpinan Nabi atas umat Islam.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.

Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Bersamaan dengan itu, kaum Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali, dan mengajak Husain bin Ali melakukan perlawanan.

Husain bin Ali sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah,

Pada tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia. Dalam sebuah perjalanan  terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan Pertempuran Karbala, Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala sebuah daerah di dekat Kufah.

Kelompok Syi’ah sendiri bahkan terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan diantaranya adalah yang dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar (yang pada akhirnya mengaku sebagai nabi) mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari PersiaArmenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah secara keseluruhan.

Abdullah bin Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepung Madinah dan Mekkah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus.

Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Setelah itu gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi’ah juga dapat diredakan.

pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyimyang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.

Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus

.

Sistem Pemerintahan Thaghut Umayyah :

1. Sistem Suksesi (penggantian khalifah)

Permintaan Hasan Bin Ali kepada Mu’awiyah untuk tidak menunjuk pengganti khalifah dan menyerahkan penggantinya kepada umat Islam melalui pemilihan tidak dilaksanakan oleh Mu’awiyah. Ia menunjuk anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Penunjukan ini dilaksanakan oleh Mu’awiyah atas saran Al Mughirah bin Syu’bah. Ia berpendapat bahwa penunjukan putra Mahkota dapat menghindarkan konflik politik intern umat Islam, seperti yang terjadi pada masa sebelumnya. Cara ini terus berlanjut untuk semua khalifah, mereka selalu menunjuk putra mahkota. Dan untuk mendapatkan pengesahannya para khalifah memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan bai’at di hadapan khalifah.Selain Bani Umaiyah tidak mempunyai kesempatan menjadi pejabat kerajaan.

2. Lembaga Syura

Dewan Penasihat khalifah tidak berfungsi secara baik, mereka diangkat hanya dari kerabat khalifah sendiri sehingga lebih banyak mendukung kebijakan khalifah, dan tidak lagi memperhatikan usulan, pendapat dan kepentingan rakyat. Hal ini terjadi karena penguasa bani Umaiyah benar-benar menganggap dirinya sebagai raja yang tidak dipilih dan diangkat oleh rakyat. Mereka menjadi penguasa karena berjuang untuk merebutnya, sehinga negara adalah miliknya
.
pada masa Bani Umaiyah para khalifah dan keluarganya hidup dalam kemewahan dan selalu mendapatkan penjagaan yang ketat dari para pengawalnya. Mereka berdalih, bahwa khalifah adalah pemimpin umat yang harus dijaga kewibawaannya, dan juga keamanannya, wibawa khalifah adalah wibawa umat, dan keselamatan khalifah adalah keselamatan negara.

3. Sistem Organisasi Pemerintahan

Organisasi pemerintahan yang dikembangkan oleh Daulah Bani Umaiyah lebih modern dan lebih rapi. Dauah bani Umaiyah menetapkan Damaskus sebagai ibu kota pemerintahan. Dan urusan pemerintahan pusat dijalankan oleh lima dewan (departemen), yaitu :

  • Diwanul Jundi yang menangani urusan kemiliteran.
  • Diwanur Rasail yang menngani urusan admnistrasi pemerintah dan surat-menyurat
  • Diwanul Barid yang menangani urusan pos
  • Diwanul Kharraj yang menangani urusan keuangan.
  • Diwanul Khatam yang menangani urusan dokumentasi.

Sedangkan secara administatif wilayah kekuasaan dibagi menjadi lima kelompok wilayah propinsi, yaitu :

  • Kelompok wilayah propinsi Hijaz dan Yaman.
  • Kelompok wilayah Mesir bagian utara dan selatan.
  • Kelompok wilayah propinsi Irak Arab meliputi wilayah Babilonia dan Kaldea, dan Irak Ajam meliputi Yaman dan Persia.
  • Kelompok wilayah Armenia, Mesopotamia, dan Azerbaijan.
  • Kelompok wilayah propinsi Afrika Utara, meliputi Spanyol, Perancis bagian Selatan, serta Sicilia.

4. Angkatan Perang

Angkatan Perang yang diubangun oleh Daulah Bani Umaiyah lebih banyak mencontoh model Romawi dan Persia. Yaitu membangun tentara khusus yang dibayar oleh negara. Selain itu mereka juga mengembangkan angkatan laut. Dalam rekrutmen tentara Daulah Bani Umaiayah lebih mengutamakan orang-orang Arab dari pada orang-orang Mawali atau Non Arab. Kesemuanya ini sangat mendukung kebijakan Bani Umaiaya yang mengutamakan perluasan wilayah.

Muawiyah bin Abu Sufyan

Muawiyah I
Memerintah 661 – 680
Dinobatkan 661
Dilantik 661
Nama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan
Lahir 602
Meninggal 6 Mei 680
Pendahulu Ali
Pewaris Yazid I
Pengganti Yazid I
Anak Yazid I
Wangsa Bani Abdus Syams
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Abu Sufyan
Ibu Hindun binti Utbah

Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, dipaksa berbai’at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy’ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan biadab

.

Kekhalifahan Utama di Damaskus

  1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
  2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
  3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
  4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M
  5. Abdullah bin Zubair bin Awwam, (peralihan pemerintahan, bukan Bani Umayyah).
  6. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
  7. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
  8. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
  9. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
  10. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
  11. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
  12. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
  13. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
  14. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
  15. Marwan II bin Muhammad (memerintah di HarranJazira), 127-133 H / 744-750 M