Nasiruddin Al-Tusi tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan kota metropolis intelektual dunia, Baghdad, pada tahun 1258 M.

Ilmuwan serba bisa. Julukan itu rasanya amat pantas disandang Nasiruddin Al-Tusi. Sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern sungguh tak ternilai besarnya.

Selama hidupnya, ilmuwan Muslim dari Persia itu mendedikasikan diri untuk mengembangkan beragam ilmu seperti, astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam.

Sarjana Muslim yang kemasyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja, Thomas Aquinas, itu memiliki nama lengkap Abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Hasan Nasiruddin Al-Tusi.

Ia lahir pada 18 Februari 1201 M di Kota Tus yang terletak di dekat Meshed, sebelah timur laut Iran. Sebagai seorang ilmuwan yang amat kondang di zamannya, Nasiruddin memiliki banyak nama. Antara lain Muhaqqiq Al-Tusi, Khuwaja Tusi, dan Khuwaja Nasir.

Nasiruddin lahir di awal abad ke-13 M, ketika dunia Islam tengah mengalami masa-masa sulit. Pada era itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis tentara Mongol dengan sangat kejam.

Menurut JJ O’Connor dan EF Robertson, pada masa itu dunia diliputi kecemasan. Hilangnya rasa aman dan ketenangan itu membuat banyak ilmuwan sulit untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Nasiruddin pun tak dapat mengelak dari konflik yang melanda negerinya. Sejak kecil, Nasiruddin digembleng ilmu agama oleh ayahnya yang berprofesi sebagai seorang ahli hukum di Sekolah Imam Keduabelas.

Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, Nasiruddin juga mempelajari beragam topik ilmu pengetahuan lainnya dari sang paman. Menurut O’Connor dan Robertson, pengetahuan tambahan yang diperoleh dari pamannya itu begitu berpengaruh pada perkembangan intelektual Nasiruddin.

Pengetahuan pertama yang diperolehnya dari sang paman antara lain logika, fisika, dan metafisika. Selain itu, Nasiruddin juga mempelajari matematika pada guru lainnya. Ia begitu tertarik pada aljabar dan geometri.

Ketika menginjak usia 13 tahun, kondisi keamanan kian tak menentu. Pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan yang berutal dan sadis mulai bergerak cepat dari Cina ke wilayah barat. Sebelum tentara Mongol menghancurkan kota kelahirannya, dia sudah mempelajari dan menguasai beragam ilmu pengetahuan.

Untuk menimba ilmu lebih banyak lagi, Nasiruddin hijrah dari kota kelahirannya ke Nishapur—sebuah kota yang berjarak 75 kilometer di sebelah barat Tus.

Di kota itulah, Nasiruddin menyelesaikan pendidikan filsafat, kedokteran, dan matematika. Dia sungguh beruntung, karena bisa belajar matematika dari Kamaluddin ibn Yunus. Kariernya mulai melejit di Nishapur. Nasiruddin pun mulai dikenal sebagai seorang sarjana yang hebat.

Pada tahun 1220 M, invasi militer Mongol telah mencapai Tus dan kota kelahiran Nasiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Ismailiyah Nasiruddin ‘Abdurrahim mengajak sang ilmuwan itu untuk bergabung.

Tawaran itu tak disia-siakannya. Nasiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat di Istana Ismailiyah. Selama mengabdi di istana itu, Nasiruddin mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika, serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlag-i Nasiri yang ditulisnya pada 1232 M.

Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan—cucu Jengis Khan—pada tahun 1251 M akhirnya menguasai Istana Alamut dan meluluh-lantakannya. Nyawa Nasiruddin selamat, karena Hulagu ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan.

Hulagu yang dikenal bengis dan kejam memperlakukan Nasiruddin dengan penuh hormat. Dia pun diangkat Hulagu menjadi penasihat di bidang ilmu pengetahuan.

Meski telah menjadi penasihat pasukan Mongol, sayangnya Nasiruddin tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan kota metropolis intelektual dunia, Baghdad, pada tahun 1258 M.

Terlebih, saat itu Dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Khalifah Al-Musta’sim yang lemah. Terbukti, militer Abbasiyah tak mampu membendung gempuran pasukan Mongol.

Meski tak mampu mencegah terjadinya serangan bangsa Mongol, paling tidak Nasiruddin bisa menyelamatkan dirinya dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

“Hulagu sangat bangga karena berhasil menaklukkan Baghdad dan lebih bangga lagi karena ilmuwan terkemuka seperti Al-Tusi bisa bergabung bersamanya,” papar O’Connor dan Robertson dalam tulisannya tentang sejarah Nasiruddin.

Hulagu juga amat senang, ketika Nasirrudin mengungkapan rencananya untuk membangun Observatorium di Maragha.

Saat itu, Hulagu telah menjadikan Maragha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya.

Pada tahun 1259 M, Nasiruddin pun mulai membangun observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada hingga sekarang.

Observatorium Maragha mulai beroperasi pada tahun 1262 M. Pembangunan dan operasional observatorium itu melibatkan sarjana dari Persia dibantu astronom dari Cina.

Teknologi yang digunakan di observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan Nasiruddin, salah satunya adalah ‘kuadran azimuth’.

Selain itu, dia juga membangun perpustakaan di observatorium itu. Koleksi bukunya tebilang lengkap, terdiri dari beragam ilmu pengetahuan. Di tempat itu, Nasiruddin tak cuma mengembangkan bidang astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan matematika dan filsafat.

Di observatorium yang dipimpinnya itu, Nasiruddin Al-Tusi berhasil membuat tabel pergerakan planet yang sangat akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab Zij-i Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin Observatorium Maragha.

Selain itu, Nasiruddin juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya berjudul Al-Tadhkira fi’ilm Al-Hay’a (Memoar Astronomi). Nasiruddin mampu memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit.

Nasiruddin meninggal dunia pada 26 Juni 1274 M di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan masih tetap dikenang. Namanya, dibadikan mejadi salah satu nama kawah di bulan

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Agil Siraj menegaskan bahwa PB NU tidak akan pernah menyatakan Syiah sesat.

Foto foto  Ormas Ahlulbait Indonesia (ABI)  Silaturahmi Ke PB NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Agil Siraj menegaskan bahwa PB NU tidak akan pernah menyatakan Syiah sesat.
Category List
ed_img_4743
Image Detail Image Download
ed_img_4690
Image Detail Image Download
ed_img_4696
Image Detail Image Download
ed_img_4706
Image Detail Image Download
ed_img_4710
Image Detail Image Download
ed_img_4716
Image Detail Image Download
ed_img_4723
Image Detail Image Download
ed_img_4736
Image Detail Image Download
ed_img_4737
Image Detail Image Download
Kamis, 10 Mei 2012 11:53 administrator
Email Cetak PDF

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Agil Sirad menegaskan bahwa PB NU tidak akan pernah menyatakan Syiah sesat. Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima rombongan DPP Ahlulbait Indonesia yang bersilaturahmi ke kantor PB NU rabu (9/5).

“PB NU tidak akan pernah mengatakan bahwa syiah sesat, jika syiah sesat sebagian peta dunia Islam ada yang hilang dong, wah itu sayang sekali, “katanya.

Tidak hanya itu lanjutnya,memang ada upaya yang nya untuk mengganggu keharmonisan antara Syiah dan NU, mereka iri akan keharmonisan tersebut. Karena memang keharmonisan ini adalah kedekatan tradisi yang dimiliki antara warga Nahdliyin dan Syiah.

“Kaum-kaum wahabi jelas tidak suka keharmonisan antara Syiah dan Nahdliyin. Mereka memang berusaha mengganggu agar dapat memecah belah persatuan dan keharmonisan ini, “ sambungnya.

Mungkin targetnya, setelah berhasil memecah belah umat Islam Indonesia, mereka ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ini, ia melanjutkan.

Dalam silaturahmi ini rombongan Ahlulbait Indonesia dipimpin langsung oleh ketua umumnya, Ustadz Hasan Dalil Alaydrus, anggota Dewan Syuro Utadz Husein Shahab, didampingi juga oleh Sekjend Ustadz Ahmad Hidayat, wasekjend Ustadz Syafinnudin, dan beberapa pengurus DPP Ahlulbait lainnya.

Kunjungan ini juga menegaskan bahwa Ahlulbait Indonesia dan Nahdlatul Ulama tidak dalam posisi yang berseberangan, bahkan kehangatan dan keharmonisan tergambar jelas selama pembicaraan berlangsung.

Dalam silaturahmi ini berkembang wacana untuk menjalin kerjasama dan meningkatkan hubungan antar kedua ormas.

Ustad Hasan Dalil mengungkapkan bahwa demi memperkuat dan menjaga umat Islam Indonesia juga NKRI, perlu dijalin kerjasama yang lebih erat antar kedua ormas.

“Kedepan kedua ormas mesti meningkatkan kerjasama, saling memperkuat, dan mengingatkan. Ini penting karena ormas lah yang menjadi tulang punggung kedaulatan bangsa Indonesia ini,”pungkasnya

kenapa shalawat sunni tidak pernah menyebut wa Ash-hâbih/dan para sahabatnya, dan apalagi dengan pelengkap kata Ajmaîn/dan seluruh sahabatnya!!

Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah tua, kemudian Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka.

Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Imam Ali sedang tergesa-gesa berjalan menuju masjid untuk melakukan jamaah shubuh. Akan tetapi dalam perjalanan – di depan beliau – ada seorang kakek tua yang berjalan dengan tenang. Kemudian Imam Ali memperlambat langkah kaki tidak mendahuluinya karena memuliakan dan menghormati kakek tua tersebut. Hingga hampir mendekati waktu terbit matahari barulah beliau sampai dekat pintu masjid. Dan ternyata kakek tua tersebut berjalan terus tidak masuk ke dalam masjid, yang kemudian Imam Ali akhirnya mengetahui bahwa kakek tua tersebut adalah seorang Nasrani.

Pada saat Imam Ali masuk ke dalam masjid beliau melihat Rasulullah SAW beserta jamaah sedang dalam keadaan ruku’. (Sebagaimana diketahui bahwa ikut serta ruku’ bersama dengan imam berarti masih mendapatkan satu rakaat). Rasulullah SAW waktu itu memanjangkan waktu ruku’nya hingga kira-kira dua ruku’. Kemudian Imam Ali ber-takbiratul ihram dan langsung ikut serta ruku’.

Setelah selesai shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah tidak biasanya engkau ruku’ selama ini, ada apakah gerangan? Beliau menjawab: Pada waktu aku telah selesai ruku’ dan hendak bangkit dari ruku’ tiba-tiba datang malaikat Jibril AS meletakkan sayapnya di atas punggungku, sehingga aku tidak bisa bangkit dari ruku’. Para sahabatpun bertanya: Mengapa terjadi demikian? Beliau menjawab: Aku sendiri pun tidak tahu.

Kemudian datanglah malaikat Jibril AS dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu sedang bergegas menuju masjid untuk jama’ah shubuh, dan di perjalanan ada seorang kakek tua Nasrani berjalan di depannya, Ali pun tidak mengetahui kakek tua itu beragama Nasrani. Ali tidak mau mendahuluinya karena dia sangat menghormati dan memuliakan kakek tua tersebut. Kemudian aku diperintah oleh Allah SWT untuk menahanmu saat ruku’ sampai Ali datang dan tidak terlambat mengikuti jama’ah shubuh. Selain itu Allah SWT juga memerintah malaikat Mikail untuk menahan matahari menggunakan sayapnya hingga matahari tidak bersinar sampai jama’ah selesai.

Demikianlah hikmah kisah teladan Imam Ali yang sangat menghormati dan memuliakan orang yang tua walaupun beragama Nasrani. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Berebut Merek Lupa Esensi

Dua istilah yang sejak lama telah dimonopoli kelompok tertentu untuk mempropagandakan viliditasnya dalam mewakili Sunnah dan ajaran musrin Islam! Kelompok tertentu itu mengklaim bahwa kelompoknya lah satu-satunya yang mewakili ajaran/Sunnah Nabi saw. secara utuh dan kâffah! Sedangkan kelompok lain adalah Ahli Bid’ah yang menyimpang dari kemurnian ajaran dan Sunnah Nabi Islam!

Dahulu penamaan ini dimonopoli oleh kelompok Ahli hadis yang barisan terdepannya adalah kaum Hanâbilah (kelompok yang dalam akidahnya mengadopsi pemikiran yang dirancang Ahmad bin Hanbal, khususnya dalam masalah ketuhanan dan terlebih lagi dalam masalah sifat Allah)…. kaum Syi’ah, Mu’tazailah dan kelompok-kelompok lain digolongkan dalam Ahli Bid’ah!

Dengan kemunculan Abul Hasan Al Asy’ari yang merancang akidah barunya (di mana sebelumnya, selama kurang lebih empat puluh tahun ia bermazhab Mu’tazilah bahkan seorang tokoh pemberlanya, dan kemudian mendadak berbalik arah menentang mazhab Mu’tazilah dan membela Ahli Hadis dan merancang akidah baru yang tidak sepenuhnya persis dengan akidah Ahli hadis)… dengan kemunculannya, nama Ahlu Sunnah menjadi monopoli kaum Asy’ariyah! Maka siapapun selain yang berakidah Asyi’ari adalah Ahli Bid’ah!

Dengan kebangkitan kaum Wahhâbi yang sering kerkedok dengan nama Salafi yang dimotori oleh para ulama AS dan dengan dukungan penuh real AS… mereka merebut kembali monopoli nama Ahlu Sunnah hanya untuk mereka.. kini giliran kaum Asy’ariyah dikeluarkan dari Ahlu Sunnah… dalam keyakinan mereka kaum Asy’ariyah adalah Ahli Bid’ah!

Setelah keterangan singkat di atas, saya mengajak Anda merenungkan sejauh mana monopoli penamaan itu berguna?

Apakah dengan merebut nama dan hak paten merek Ahlu Sunnah seorang denagn otomatis benar-benar di atas Sunnah dan Ajaran Nabi saw.? Atau kepatuhan dan konsistensi dalam menjalankan Sunnah Nabi saw. secara utuh yang akan menentukan apakah dia/kelompok itu termausl Ahlu Sunnah atau Ahli Bid’ah!

Dalam Al Qur’an Allah Swt mengecam kaum Yahudi, Nashrani dan Shabi’in yang hanya sibuk memperebutkan kursi istimewa di sisi Allah dengan hanya mengandalkan nama dan gelar keanggotaan! Hal mana mestinya cukup menkadi pelajaran berharga bagi kaum Muslimin agar tidak terjebak dalam lembah kesesatan seperti umat-umat terdahulu!

Shalawat Kepada Nabi Saw. Adalah Bukti Kecil!

Di sini saya tidak ingin membebani pembaca dengan ratusan contoh kasus untuk mmebuktikan siapa yang Ahlu Sunnah dan siapa yang terjatuh dalam lembah penyimpangan sehingga berhak disebut sebagai Ahlu Bid’ah! Kasus praktik bershalawat atas Nabi saw. semestinya sudah cukup menjadi bukti di sampinh ratusan bukti lain.

Kendati para ulama dan para muhaddis Ahlusunnah telah meriwayatkan dan menshahihkan hadis yang mengatakan bahwa Nabi saw. dalam mengajarkan ibadah shalawat selalu menyertakan menyebutkan Ahlulbitnya as.; Allâhumma Shalli ‘Alâ Muhammad wa Âli Muhammad. Tidak ada satupun hadis shahih yang mengajarkan shalawat tanpa menyebut wa Âli Muhammad… sebagaimana tidak ada satu hadis pun baik yang maudhû’/palsu dan dh’aif/lemah apalagi yang shahih yang menyebutkan bahwa Nabi saw. menyertakan menyebut wa Ash-hâbih/dan para sahabatnya…  dan apalagi dengan pelengkap kata Ajmaîn/dan seluruh sahabatnya!!

Lalu mengapakan dan atas dasar apakah umat Islam Ahlusunnah menjalankan praktik menyimpang dengan menggurukan kata wa Âli Muhammad ? Siapakah yang mengajarkan bahwa ibdaha shalawat itu harus dengan mengurangi kata wa Âli Muhammad? Siapakah yang mengajarkan mereka menambah kata wa Ash-hâbih atau wa shahbih? Bukankan menambah dalam ibadah sesuatu yang tidak diajarkan sebagaimana juga menguranginya adalah itu Bid’ah? Bukankan pelaksana praktik bid’ah lebih pantas menyabdang gelar Ahlu Bid’ah bukan Ahlu Sunnah?!

Sementara kaum Syi’ah baik kaum awamnya apalagi ulamanya konsisten menjalan praktik ibadah shalawat sesuai yang diajarkan Nabi saw. jadi merekalah yang Ahlu Sunnah!

Dalam kesempatan singkat ini saya mengharap kapada seluruh ulama Ahlusunnah untuk mengajukan satu bukti dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi yang shahihah bahwa ibadah shalawat yang diajarkan Nabi Muhammad saw. itu tanpa menyebutkan wa Âlihi? Sebagimana saya menanti mereka mampu menyebutkan satu nash saja (kalau menghadirkan nash shahih mereka kerepotan maka saya akan tolerir walaupun hanya nash tidak shahih yang mereka hadirkan) bahwa Nabi mengajarkan kita agar juga menyebut para sahabatnya dalam shalawat!

Tantangan saya tidak dibatasi waktu… Saya akan sabar menanti walau sampai menjelang kiamat tiba!!

Bukankah ini bukti bahwa mereka Anti Sunnah Nabi saw. dalam ibadah Shalawat? Kalau bukan itu alasannya… kira-kira apa yang menjadikan mereka turun temurun menggugurkan sebuah kata kunci dalam sebuah amal ibadah shalawat?! Dan jika mereka menyebut kata wa Âlihi (yang memang diperintahkan Nabi saw.) mereka segera menyusulnya dengan kata wa Ash-hâbihi! Bukankah demikian yang kita saksikan dari kalian wahai kalian yang mengaku Ahlusunnah?!

Inilah contoh bid’ah yang kalian warisi dari Salaf kalian… yang telah terpengaruh oleh kesesatan Bani Umayyah yang siang malam memerangi Ahlulbait Nabi as…. kini kesesatan dan penyimpangan itu benar-benar telah berubah dan diyakini sebagai Sunah!

“Tujuan dari para Anbiyah diutus ke muka bumi adalah untuk mengajarkan ilmu dan mendidik umat manusia. Mengapa harus dibarengkan mengajar ilmu dan mendidik? Karena ilmu tanpa pendidikan tidak ada faidahnya, orang berilmu yang tidak terdidik justru akan menjadi orang yang paling berbahaya dan paling banyak menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al Uzhma Luthfullah Shafi Ghulpagani dalam pertemuannya dengan sejumlah budayawan di kota Busyhahr Republik Islam Iran menyatakan bahwa tidak ada satupun ilmu dan ma’rifat yang lebih mulia dan lebih agung dari ma’rifat dan hidayah Ahlul Bait As. Beliau berkata, “Manusia jika menginginkan budaya yang sebenarnya, maka ia harus mencarinya dalam petunjuk Al-Qur’an lalu setelah itu petunjuk dari Ahlul Bait, misalnya dalam Nahjul Balaghah, Shahifah Sajjadiyah dan perkataan-perkataan Ahlul Bait lainnya.”

Lebih lanjut beliau menjelaskdisi dan kebiasaan Aimmah as adalah petunjuk dan hidayah bagi manusia, tidak terlepas dari dua unsur, ilmu dan akhlak.”

Ulama Syiah yang dikenal juga sebagai ulama marja taklid tersebut dalam penjelasan selanjutnya menyebutkan, “Jika kita menghendaki ma’rifat dan pengenalan lebih dalam mengenai Tuhan, Kenabian, Ma’ad (hari akhirat), akhlak, keadilan dan sebagainya maka kita dapat menemukan dari mutiara-mutiara hikmah yang pernah disampaikan oleh para Aimmah as. Madrasah Ahlul Bait adalah madrasah teragung dan termulia untuk mendapatkan semua ilmu, pendidikan, akhlak serta keteladanan.”

“Alhamdulillah, kita bersyukur mengenal agama yang telah mendapat pengakuan dari ribuan ilmuan dan peneliti yang menyatakan tidak ada agama yang lebih sempurna dan lebih lengkap berbicara mengenai kemanusiaan selain Islam. Dan tidak ada manhaj yang lebih memperjuangkan kemanusiaan selain manhaj Nabi Muhammad Saww beserta keluarganya As.” Ungkap beliau lebih lanjut.

Ayatullah Shafi Ghulpaghani pada bagian lain dari ceramahnya yang ditujukan kepada sejumlah budayawan yang hadir menyatakan, “Kalian sebagai budayawan harus mengetahui, fakultas ilmu dan pendidikan lebih tinggi dari semua fakultas yang ada. Tujuan dari para Anbiyah diutus ke muka bumi adalah untuk mengajarkan ilmu dan mendidik umat manusia. Mengapa harus dibarengkan mengajar ilmu dan mendidik? Karena ilmu tanpa pendidikan tidak ada faidahnya, orang berilmu yang tidak terdidik justru akan menjadi orang yang paling berbahaya dan paling banyak menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Beliau melanjutkan, “Kita melihat buktinya dalam dunia sekarang, tidak sedikit yang menjadi penguasa dan pemimpin justru berlaku zalim. Mereka bukan orang-orang bodoh yang tidak berlimu. Mereka berilmu hanya saja tidak terdidik karena itu tidak memiliki akhlak yang baik. Kita lihat Eropa dan AS zalim kepada bangsa-bangsa yang lain padahal mereka dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi jauh lebih maju, namun mereka tidak mendapatkan pendidikan akhlak.”

“Anbiyah as diutus selainkan mengajarkan ilmu dan pengetahuan, mereka juga menyempurnakan akhlak manusia. Mereka meluruskan penyimpangan-penyimpangan akhlak yang terjadi di masyarakat yang mereka temui. Sebagaimana pernah diucapkan oleh seorang tokoh besar, kita membutuhkan ilmu dan mendukung kemajuan ilmu dan pengetahuan namun lebih dari itu kita lebih membutuhkan akhlak.”ujarnya lebih lanjut.

Guru besar Hauzah Ilmiyah Qom tersebut kemudian menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh tertinggal dalam mengejar ilmu dan pengetahuan, bahkan umat Islam harus berada dalam barisan terdepan dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Beliau berkata, “Mengejar ilmu setinggi-tingginya adalah perintah Nabi Muhammad saww, agar umat Islam tidak membutuhkan bantuan dan peranan umat lain. Umat Islam harus mandiri dan mampu membangun peradaban dengan kemampuan sendiri, sehingga tidak dipandang remeh oleh umat-umat yang lain.”

Ayatullah Shafi Ghulpaghani dengan tegas menyatakan seorang muslim harus memiliki akhlak yang baik yang dengan akhlak baik itu ia melakukan interaksi dan komunikasi dengan yang lainnya, sehingga diharapkan dengan akhlak yang baik itu seorang muslim menjadi panutan dan teladan dalam masyarakatnya. “Kita harus mempersaksikan diri bahwa kita adalah seorang muslim, kitab kita Al-Qur’anul Karim, Nabi kita Muhammad saww dan manhaj kita manhaj Ahlul Bait as. Pemuda muslim hari ini harus tahu bahwa nasib Islam dimasa datang ada di tangan mereka. Dan lebih dari semua itu, apapun yang dilakukan seorang muslim dalam mendidik diri dan menuntut ilmu harus diniatkan karena mengharapkan keridhaan Allah Swt.”

Dipenghujung ceramahnya, Ayatullah Shafi Ghulpaghani menegaskan, “Dengan semua anugerah dan nikmat yang telah diberikan namun tidak mampu mencapai kemajuan maka sesungguhnya kita telah berlaku zalim, bukan hanya kepada diri sendiri namun juga kepada Allah Swt. Segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah Swt.”

Syi’ah di Banjarmasin maju dahsyat ! Syi’ah di Indonesia mustahil dibendung

Syi’ah di Banjarmasin maju dahsyat ! Syi’ah di Indonesia mustahil dibendung

Bertepatan dengan Undangan Forum Kajian KeIslaman (FK2) Banjarmasin di Hari kelahiran Putri agung Nabi Muhammad SAW yang di adakan di malam Minggu tanggal 12 Mei 2012 di Gedung Yayasan Kanker Indonesia Jalan A.Yani KM.5 Komplek Dharma Praja Raya No.55 samping Lapangan tenis dekat dengan SMU Negeri 7 Banjarmasin, team berkesempatan untuk meliput acara tersebut

.
Dimana acara tersebut berformat undangan seperti dibawah ini :

  HADIRILAH !!!!! GRATIS…
Acara Milad Sayedah Fathimah Azzahro as
 diselenggarakan oleh Forum Kajian Keislaman (FK2) 
malam Minggu tanggal 12 Mei 2012 
pukul 20.00 Wita s.d selesai 
bertempat di gedung Yayasan Kangker Indonesia 
Jln.A.Yani KM 5 Kompl.Dharma Praja 
samping lapangan tenis dekat SMA 7 Banjarmasin. 
Pembicara Ust. Habib Abdullah al-Hinduan, MA dari Jakarta
Ajaklah keluarga anda anak, isteri, suami, atau siapa pun 
Terbuka untuk Umum
PANLAK: 
Ketua Muliadi, S.Pdi 
Sekretaris: Muhammad Syaifi, S.Pd 
Mengetahui; Ketua FK2 :H.Badaruddin
Turut Mengundang; 
1. Ust. H. Busyairi Ali, S.HI, M.HI 
2. Habib Ahmad al-Habsyi, S.H 
3. Habib Al-wi bin Yahya 
4. Seluruh keluarga besar pecinta Ahlulbait as Banjarmasin
.
Acara ini diliput oleh berbagai media massa di Banjarmasin, termasuk team , TV B, Buletin Majelis Pecinta Rasul, Media Online dan media cetak lainnya
.
Dipimpin Master of Ceremony / MC Ayaturrahman, S.Sy, acara ini di awali dengan  pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang di bawakan oleh Qori Muhammad Subhan. Selanjutnya diteruskan dengan sepatah kata dari Panitia Pelaksana yang di Ketuai oleh Muliadi, S.Pdi dan dilanjutkan oleh Ketua Forum Kajian KeIslaman (FK2) Banjarmasin Haji Badaruddin
.
Kemudian acara yang ditunggu-tunggu adalah penyampaian ceramah agama yang disampaikan oleh Al Habib Al Muqarrom Al Ustadz Abdullah Al-Hinduan, MA dari Jakarta, dimana beliau memberikan pencerahan tentang “sosok agung” Sayidah Fatimah Az Zahra. Turut ambil bagian memberikan tausyiah Pimpinan Majelis Taklim al Mukhlisin K.H. Busyairi Ali F. Hurian Fahmi, SHI, MHI
.
Acara ditutup oleh pembacaan Doa Ziarah oleh Habib Husein, kemudian diteruskan dengan Doa penutup oleh Habib Abdullah Al Hamid (Pal 1 Banjarmasin) dan Habib Husain Assegaf dari Kota Rantau Kalimantan Selatan
.
Menurut pantauan team banjarkuumaibungasnya.blogspot.com acara ini dihadiri oleh perwakilan-perwakilan    organisasi masyarakat di Banjarmasin baik dari Islam Sunni (yang memegang aliran NU, Muhammadiyah,dll) dan Islam Syi’ah (Yayasan Amanah Syahadah Banjarmasin, dll) serta perwakilan mahasiswa berbasis Islam di Banjarmasin seperti dari IAIN Antasari dan UNISKA Banjarmasin dan tentunya dihadiri pula oleh Para Habaib (Zuriat Nabi Muhammad) dan Jaba ( Non Zuriat Nabi Muhammad) Pecinta Rasulullah yang Terpilih.
Berbincang langsung dengan Ketua Forum Kajian KeIslaman (FK2) Banjarmasin Haji Badaruddin, beliau menjelaskan kepada team bahwa FK2 lahir atas mirisnya perkembangan Islam saat ini yang “mudah diadu domba” dan berkesan “Anarkis” namun tidak mempunyai titik temu antara mazhab satu dengan mazhab lainnya, sehingga hampir terjadi “Perpecahan antara Intern Ummat Islam itu sendiri”, menurut beliau pula FK2  akan terus aktif menggelar Seminar, Bedah Buku yang bersifat kajian tentang KeIslaman khususnya di kota Banjarmasin.
.
FK2 juga akan melakukan syiar ke Islaman baik itu Maulid Nabi, Isra Mi’raj  dan acara keagamaan Islam lainnya untuk mempererat tali silaturahmi dan mengokohkan Persatuan Islam.Yang jelas menurut beliau lagi FK2 dibentuk dari berbagai elemen masyarakat baik dari Kaum Muda maupun Kaum Tua, Baik Kaum Terpelajar maupun tidak. Dan terakhir menurut beliau lagi apabila ingin bergabung dalam Kajian KeIslaman ini bisa mengontact beliau langsung atau kepada para pengurus FK2 lainnya.(KNY/MFF/AR/R/Senin/14/05/2012/01:40 AM)
Inilah foto-foto exclusive Milad Sayidah Fatimah Az Zahra as di Banjarmasin 1433 H :
Direktur Madrasah Ilmiah Sayidah Fatimah sa, Taher Jannesari menyatakan bahwa sikap Sayidah Fatimah sa dalam mendidik anak sangat ilmiah dan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi, seraya menilai bahwa memiliki tujuan mulia dan perjuangan di jalan Allah Swt sebagai faktor terpenting dalam memposisikan Sayidah Fatimah sa sebagai teladan.
.
Fars News (12/5) melaporkan, Jannesari dalam menjelaskan sebab mengapa Sayidah Fatimah sa patut dijadikan teladan dan mengatakan, “Karena seorang yang dijadikan teladan harus memiliki beberapa faktor penting, pertama sebagai teladan harus memiliki unsur untuk kekal dalam sejarah, dan faktor kedua adalah bahwa dia harus konsisten dalam perjalanan dan perjuangannya.”
.
Menyinggung sejumlah tokoh historis sepeti Galilei yang berjuang dan berupaya keras dalam mewujudkan tujuannya, Jannezari menegaskan, “Oleh karena itu jika kita memperhatikan kriteria dalam diri Sayidah Fatimah sa, maka kita akan menyaksikan bahwa beliau berada di jalan Allah dan dalam hal ini beliau berjuang keras, dengan demikian beliau merupakan teladan bagi kaum Muslimah.”
.
Sayidah Fatimah sa menggunakan metode psikologis dalam mendidik anak
Mengenai karakter komprehensif ummu abiha, Jannesari mengatakan, “Fokus pada sisi kepribadian, penghambaan di hadapan Allah Swt, ketulusan ibadah, dan perhatian besar beliau dalam mendidik anak, merupakan di antara bukti kepribadian mulia Sayidah Fatimah sa.”
.
“Ketika kita memperhatikan cara beliau dalam mendidik anak, maka kita akan mengetahui bahwa metode yang digunakan beliau sama dengan metode ilmu-ilmu psikologis moderen. Misalnya ketika ingin menentukan siapa pemenang di antara kedua putranya–Imam Hasan dan Imam Husein as–beliau tidak memutuskan sendiri melainkan dengan menyerakannya kepada kedua putranya.”
.
Sayidah Fatimah sa adalah sebab penciptaan nabi dan walinya
.
Direktur Madrasah Ilmiah Sayidah Fatimah sa menilai wasiat Sayidah Fatimah sa untuk dimakamkan pada malam hari mengandung pesan-pesan politik dan mengatakan dalam riwayat disebutkan Rasulullah Saw bersabda bahwa cahaya pertama yang diciptakan oleh Allah Swt adalah cahaya lima manusia.
.
Dalam hadis Qudsi, Allah Swt berfirman kepada Rasulullah Saw:
«یا أحْمَد ! لَولاکَ لَما خَلَقْتُ الاَفْلاکَ وَلَوْلا عَلیٌّ لَما خَلَقتُکَ، وَلَوْلافاطِمةُ لَما خَلَقتکُما»
Yang artinya adalah bahwa jika bukan karena Rasulullah Saw maka Allah tidak akan menciptakan alam semesta ini, dan jika bukan karena Ali bin Abi Thalib as, maka Allah Swt tidak akan menciptakan Rasulullah Saw. Akan tetapi jika bukan karena Sayidah Fatimah sa, maka Allah Swt tidak akan menciptakan keduanya (Rasulullah dan Imam Ali).
.
“Mungkin salah satu penafsiran dari hadis Qudsi ini adalah bahwa pembelaan Sayidah Fatimah sa terhadap wilayah (kepemimpinan) merupakan salah satu faktor keunggulan beliau terkait dengan sebab-sebab penciptaan,” tuturnya.   (IRIB Indonesia/MZ)
.

Rahbar: Jalan Kesempurnaan Spiritual yang Ditentukan Ahlul Bait Harus Ditempuh

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei atau Rahbar menyinggung upaya musuh untuk memanfaatkan titik kelemahan negara dan mengatakan, “Manusia berpotensi melakukan kekeliruan dan semua orang harus memperhatikan perilakunya dan kita harus tahu bahwa sebagian manifestasi kesombongan, ketidaktakawaan, tidak menjaga jilbab dan kesucian, mengakibatkan dampak buruk yang permanen terhadap akhlak dan politik.
.
Fars News (12/5) mengutip laporan dari situs resmi Kantor Rahbar menyebutkan, pada peringatan hari kelahiran Sayidah Fatimah sa, digelar sebuah acara di huseiniyah Imam Khomeini.
.
Dalam acara tersebut, sejumlah penyair melantunkan bait-bait syair mereka di hari kelahiran Sayidah Fatimah sa.
.
Seraya mengucapkan selamat atas hari bersejarah dan penuh rahmat kelahiran Sayidah Fatimah sa, Rahbar menilai setiap dimensi dalam kehidupan Sayidah Fatimah sa sebagai teladan dalam masyarakat.
.
Menurut beliau, “Penamaan hari kelahiran Sayidah Fatimah sa sebagai Hari Ibu [di Iran] mengandung pesan abadi untuk semua khususnya para ibu dan kaum Muslimah agar mereka menghiasi diri dengan ketakwaan, kesucian, ilmu, keberanian, perjuangan, pendidikan anak yang sahih, dan menjunjung tinggi keluarga, serta berjalan di jalur yang ditempuh oleh Sayidah Fatimah sa.”
.
Beliau menegaskan, “Ucapan serta hidup Sayidah Fatimah sa dan para imam suci, bukan di luar jangkauan manusia. Bahkan berbeda dengan gaya hidup dunia materi, para imam telah menunjukkan kepada manusia jalur dan arah yang sahih, mereka [para imam] berada di puncak jalan kesempurnaan tersebut serta menyeru manusia untuk menempuh jalan yang sama.”
.
Rahbar juga mengajak semua pihak dalam masyarakat khususnya kaum perempuan untuk menempuh jalan kemuliaan spiritual para imam suci seraya menyinggung peran sejarah kaum perempuan di berbagai bidang perjuangan sejak Revolusi Konstitusional sampai kemenangan Revolusi Islam dan Perang Pertahanan Suci dan mengatakan, “Peran aktif mereka menunjukkan bahwa kaum perempuan dengan tetap menjaga jilbab, mereka dapat berpartisipasi aktif dan beraktivitas dengan penuh keberanian dan tanggung jawab, yang salah satu buktinya adalah ibu para syuhada.”
.
Rahbar menilai jilbab sebagai faktor berpengaruh dalam membentuk kepribadian perempuan yang berwibawa dan mengatakan, “Kesucian kaum perempuan sangat membanggakan dan akan meningkatkan bobot, nilai, dan kehormatan kaum perempuan dalam masyarakat, dan oleh karena itu kita harus berterima kasih kepada Islam atas perhatiannya terhadap jilbab.”

Sayidah Fathimah as, Penghulu Wanita Dunia

Alam semesta adalah manifestasi keberadaan Allah Swt. Dengan kekuasaan-Nya, Allah menciptakan alam semesta ini. Namun, adakalanya karunia Tuhan dikhususkan kepada salah seorang makhluk. Salah satunya adalah keberadaan Fathimah sebagai manifestasi Tuhan di muka bumi dan ufuk ketauhidan.
.
Rasulullah Saw bersabda, “Fathimah adalah bagian dari darah dagingku. Ia adalah cahaya mataku, buah hatiku, ruh dan jiwaku. Fathimah adalah malaikat berbentuk manusia yang senantiasa beribadah. Allah Swt berfirman kepada para malaikat, “Lihatlah hamba terbaik-Ku, Fathimah. Ia berdiri dihadapanku dengan penuh ketakutan, seluruh tubuhnya gemetar dan ia beribadah dengan ketulusan hati.”
.
Siti Khadijah sibuk dengan belahan jiwanya. Dengan izin Allah, janin suci tumbuh dirahimnya. Ia adalah teman paling akrab bagi Khadijah. Di setiap detak jantungnya, Khadijah senantiasa berbicara dengan anaknya mengenai Rasulullah dan kesulitan yang dihadapi manusia agung ini dalam menjalankan risalah ilahi. Khadijah berkata, “Apakah bayi ini bisa menentramkan hati Rasulullah yang terkoyak, dan mendukungnya menghadapi musuh?
.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Di saat-saat sulit itu, tidak ada seorangpun yang membantu Khadijah. Ia seorang diri menahan sakit. Tiba-tiba, ia merasakan dirinya menjadi orang yang paling menentukan bagi nasib seorang perempuan terbesar dalam sejarah keimanan dan ketauhidan di dunia.
.
Di tengah kesendiriannya, Khadijah didatangani tiga wanita agung, yaitu Siti Hajar, Siti Asiah dan Siti Maryam. Siti Khadijah merasakan kehadiran mereka di sekitarnya. Menakjubkan!. Para wanita mulia ini datang untuk membantunya. Beberapa saat kemudian, bayi putri ini lahir di tengah budaya patriarki yang menilai segala sesuatu di dunia dari kacamata laki-laki. Bayi ini lahir di tengah rendahnya budaya jahiliyah Arab yang menilai wanita sebagai makhluk pembawa sial dan memalukan.
.
Ketika Khadijah tersadar dari pingsannya, tidak ada seorang pun di kamar itu, selain dirinya dan seorang bayi perempuan yang lembut, cerah dan bercahaya. Khadijah sadar, Allah Swt menganugerahkan seorang bayi perempuan bagi keluarga Muhammad Saw.
.
Kelahiran Fathimah bagi Rasulullah bak hembusan angin sepoi-sepoi di tengah terik panasnya udara Hijaz. Beliau seringkali mencium Fathimah, sebagai bukti kecintaannya. Rasulullah hendak menyatakan kepada dunia bahwa perempuan bukan sumber malapetaka. Lebih dari itu, kedudukan agung Fathimah di sisinya merupakan sebuah manifestasi seorang manusia sempurna.
.
Khadijah merasakan Fathimah menyertainya dalam mengarungi hidup, melebihi sosoknya sebagai anak. Di buaian Khadijah, Fathimah mengenal ketauhidan lebih dalam, dan merasakan bahwa seorang anak bisa menyerahkan segalanya di sisi Tuhan. Harapan besar seorang wanita, nampak kecil di mata Fathimah.
.
Bagi Fathimah, peran Khadijah adalah lembaran sejarah Islam. Pengorbanan Khadijah tiada bandingannya dalam sejarah. Fathimah adalah cerita indah tentang perjuangan seorang ibu di jalan Tuhan. Setiap kali kita melihat sosok ibu, kita membuka lembaran baru kehidupan Muhammad dan Khadijah.
.
Di sisi lain, detak jantung Fathimah memberikan pesan, sekaligus menebarkan harum kehidupan dalam diri sang ayah. Sejak kecil, Rasulullah mengajarkan perjuangan menyelamatkan dunia ini kepada putrinya. Fathimah terbiasa dengan berbagai masalah besar. Ia mengarungi bukit terjal kehidupan dan mencapai puncak kesempurnaan yang tidak bisa dicapai oleh perempuan lainnya.
.
Sayidah Fathimah terlahir di saat ujian besar melanda. Kehidupannya yang kaya makna dipenuhi pelajaran berharga. Para psikolog menilai makna kehidupan sebagai faktor utama dalam melanjutkan kehidupan dengan bahagia. Bisa dikatakan, kira-kira seluruh manusia meyakini adanya sesuatu atau seseorang yang paling berharga dalam kehidupannya. Sebuah survei yang dilakukan di Perancis menyebutkan bahwa 89 persen responden menyakini bahwa manusia memerlukan sesuatu yang membuatnya bertahan hidup. 61 persen lainnya menilai adanya sesuatu atau seseorang dapat memberikan makna bagi kehidupannya.
.
Viktor Frankl dalam bukunya, ‘Manusia Mencari Makna’ mengungkapkan kehidupannya di sebuah kamp konsentrasi di Jerman di saat perang Dunia II meletus. Setelah menjelaskan kesulitan yang dihadapi para tahanan yang nyaris menghantarkan mereka diambang kematian, ia menyimpulkan bahwa orang yang selamat jiwanya dari penderitaan tersebut adalah orang yang menyelami makna hidup.
.
Bagi setiap orang, makna hidup ini memiliki beragam bentuk. Bisa berbentuk wanita, anak, tanah bahkan uang. Namun di luar itu, faktor paling bermakna dalam kehidupan manusia adalah keimanan kepada Allah Swt. Dengan kesadaran ini, kita memberikan makna terhadap seluruh peristiwa dalam kehidupan ini. Pohon keimanan menghasilkan buah ketentraman dan ketenangan hati. Kehidupan Siti Fathimah dipenuhi keimanan kepada Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda: “Allah menganugerahkan hati dan anggota badan Fathimah dengan keimanan.” Dengan demikian, ia layak menyandang gelar sebagai penghulu para wanita di dunia dari awal hingga akhir.
.
Suatu hari, Salman, salah seorang sahabat Rasulullah Saw mengantar Fathimah hingga rumahnya. Di tengah perjalanan, Salman berkata, “Aneh, ketika para putri raja mengenakan sutra mahal dan lembut, Fathimah putri manusia paling agung sedunia hanya mengenakan kain kasar. Sesampainya di rumah Rasulullah, Fathimah berkata kepada ayahnya, “Ayahanda, Salman heran melihat baju yang aku kenakan. Rasulullah menjawab, wahai Salman, putriku orang yang paling dulu menuju Allah.”
.
Suatu hari, Siti Fathimah bersama Ali as menghadap Rasulullah Saw dan memohon diberikan pembantu untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Rasulullah bertanya, “Apakah engkau tidak menghendaki sesuatu yang lebih baik dari seorang pembantu?” Kemudian, Rasulullah mengajarkan tasbih setelah shalat yang terkenal dengan nama tasbih az-Zahra. Pengaruhnya begitu dalam terbenam di hati Fathimah, sehingga kesulitan yang dihadapinya terasa mudah. Sejatinya, ketawakalan Siti Fathimah terhadap Allah Swt merupakan modal terbaik menjalani hidup. Kehidupan Fathimah dipenuhi pelajaran berharga bagi umat manusia.
.
Suatu hari, Imam Ali as menyaksikan istrinya, Sayidah Fathimah memberikan makanannya kepada anak-anak yang kelaparan, dan membiarkan dirinya kelaparan. Imam Ali bertanya mengapa tidak mengatakan padaku untuk menyediakan makananmu? Fathimah menjawab: “Aku menyerahkan segalanya pada Allah Swt, aku tidak bisa mengharapkan sesuatu yang berada di luar kemampuanmu.”
.
Dr. Farahmandpour, dosen Universitas Tehran mengatakan, “Manusia dilihat secara mekanis dalam literatur sosiologi modern. Dengan kacamata ini, tokoh agama hanya dilihat agama sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian, hubungan mereka dengan agama akan berubah, jika kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Padahal dalam budaya Islam, ada manusia-manusia besar yang bisa menjalankan agama dalam kehidupannya. Mereka pun menjadi suri tauladan dalam menjalani hidup ini. Kehidupan mereka merupakan contoh menuju puncak kesempurnaan. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara wanita dan pria. Untuk itu, keliru besar jika melihat kesempurnaan dengan membedakan antara pria dan wanita. Dengan demikian, kesempurnaan Sayidah Fathimah menjadi contoh bagi umat manusia, baik wanita maupun pria.”
.
Dalam peristiwa Mubahalah antara Rasulullah dengan Rahib Kristen, Nabi Muhammad Saw membawa Siti Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein sebagai orang yang paling mulia di hadapan Rasulullah.
.
Dr. Farahmandpour mengungkapkan, Sayidah Fathimah as memiliki dua dimensi besar yaitu dimensi transenden (malakuti) dan dimensi bumi (mulki). Pada dimensi transenden, keagungan Fathimah tidak nampak jelas dalam pandangan kita. Namun, pada dimensi bumi, Fathimah adalah manusia ideal. Ia mengerahkan segenap kekuatan dirinya untuk mewujudkan masyarakat yang bersih dan adil. Wanita agung ini berupaya menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan individu dan sosial masyarakat. Fathimah bangkit demi menegakan pemerintahan yang saleh. Di mata Fathimah, manusia bisa menjalani kehidupan adil dalam pemerintahan yang saleh.
.
Fathimah hidup zuhud dan takwa, meski dipenuhi fasilitas dan potensi yang besar.
Ia rela menderita lapar demi membantu orang miskin. Benar, Sayidah Fathimah adalah contoh bagi seluruh umat manusia.
.
Menyambut hari Kelahiran wanita mulia Islam Sayidah Fathimah, kami segenap kru radio Melayu suara Republik Islam Iran mengucapkan selamat hari ibu bagi anda.(IRIB Indonesia)

Hak-Hak Perempuan dalam Islam

Perempuan sepanjang sejarah menjadi salah satu pilar paling penting bagi berdirinya tonggak keluarga dan juga masyarakat. Namun lembaran sejarah menunjukkan kepada kita bahwa perempuan acapkali menjadi korban, mereka mengalami berbagai tekanan dan penderitaan bertubi-tubi. Hingga kini, kita menemukan realitas pahit yang menyesakkan dada tentang kondisi perempuan di era modern. Kini, perempuan menjadi komoditas industri, di saat kaum feminis dengan lantang menyuarakan kesetaraan gender.
.
Seiring perkembangan sains dan teknologi yang begitu pesat, perempuan masih belum mendapatkan hak-hak perempuan di berbagai bidang. Tampaknya banyak faktor yang menyebabkan demikian. Secara umum terdapat dua faktor yaitu faktor natural dan faktor sosial. Namun ada juga yang meyakini faktor budaya sebagai pemicunya.
.
Dewasa ini kondisi budaya dan sosial merupakan faktor penting yang mempengaruhi masalah perempuan. Bila dikaji lebih jauh, terdapat berbagai teori mengenai hak-hak perempuan yang terkadang saling bertentangan. Misalnya, Feminisme memiliki pandangan ekstrim tentang hak-hak perempuan. Kaum Feminis menyuarakan isu kesetaraan gender. Untuk mewujudkannya itu, mereka menuntut perubahan struktur masyarakat. Perubahan struktural tersebut melabrak seluruh ketentuan agama, dan norma-norma budaya dan sosial masyarakat. Tanpa mengindahkan karakteristik khusus yang dimiliki perempuan dan laki-laki, Feminisme menyerukan persamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan.
.
Tampaknya, terdapat perbedaan pendapat di antara para ilmuwan. Sebagian pemikir Feminis berpendapat bahwa tidak ada perbedaan apapun antara lelaki dan perempuan selain perbedaan biologis. Menurut mereka, kejiwaan dan perilaku lelaki dan perempuan terbentuk berdasarkan lingkungan dan tak ada kaitannya dengan masalah biologis.
.
Sebaliknya, kebanyakan psikolog menyatakan adanya perbedaan mendasar dalam kejiwaan lelaki dan perempuan. Profesor Rick, seorang psikolog Amerika berkata: “Dunia lelaki dan dunia perempuan secara total benar-benar berbeda. Lelaki dengan karakteristik fisik dan psikologisnya berbeda dengan perempuan dalam merespon dan menyikapi berbagai peristiwa dalam kehidupan. Lelaki dan perempuan berdasarkan tuntutan gendernya tidak berprilaku sama. Tepatnya mereka seperti dua bintang yang berputar di dua jalur yang berbeda. Ya, mereka dapat saling mengerti dan memahami satu sama lain. Namun mereka jelas tidak sama.
.
Al-Quran memiliki prinsip tersendiri mengenai struktur sosial masyarakat. Secara natural, laki-laki dan perempuan memiliki persamaan dan juga perbedaan. Secara substansial, dari sisi tujuan penciptaan pada dasarnya perempuan dan laki-laki itu sama yaitu untuk beribadah kepada Allah swt. Dalam Islam diakui bahwa lelaki dan perempuan memiliki satu hakikat yang sama dan tidak ada berbedaan antara keduanya.
.
Perbedaan fisik dan lainnya pada lelaki dan perempuan bukan perbedaan esensial. Al-Qur’an menyatakan bahwa tujuan diciptakannya manusia baik lelaki maupun perempuan adalah beribadah kepada-Nya. Ia berfirman: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Al-Dzaariyaat [51]:56)
.
Dalam pandangan al-Quran, peran perempuan di ranah sosial dan ekonomi harus sesuai dengan fitrah penciptaanya. Islam memandang perempuan sebagaimana laki-laki memiliki kedudukan istimewa di tengah masyarakat. Agama ilahi ini tidak pernah melarang perempuan menjalankan aktivitas sosial.
.
Al-Quran menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama sebagaimana dijelaskan dalam surat at-taubah ayat 71, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
.
Ayat ini menjelaskan bahwa perempuan juga memiliki tanggung jawab sosial yang besar. Dengan demikian, perempuan pun memiliki tanggung jawab di bidang amr maruf dan nahi munkar.
.
Sejarah menunjukkan bahwa Rasulullah Saw juga menerima baiat dari perempuan. Fakta ini menunjukkan bahwa kaum muslimah sejak dahulu kala memainkan peran penting di tengah masyarakat. Pada hari Ghadir, ketika Rasulullah Saw menjadikan Imam Ali sebagai walinya, para sahabat termasuk kaum perempuan juga berbaiat kepada Imam Ali.
.
Lembaran sejarah juga menunjukkan peran signifikan perempuan di ranah sosial politik sejak hijrah dari Mekah ke Madinah. Bersama Rasulullah Saw mereka berjuang membela agama Islam. Dalam sejarah ada tokoh-tokoh Muslimah sahabat Rasulullah yang rela mengorbankan nyawanya demi tegaknya agama Islam seperti Summayah.
.
Sejarah Islam juga dengan terang benderang menjelaskan kehidupan wanita paling mulia di dunia, yaitu Sayidah Fatimah as. Kehidupannya merupakan model terbaik bagi kaum wanita. Selain menjalankan peran terbaiknya dalam keluarga, pendidikan anak-anaknya dan ibadah, Sayidah Fatimah juga menyampaikan kebenaran secara berani dalam khutbahnya yang sangat terkenal.(IRIB Indonesia)

Khotbah Fadak; Pendahuluan Khotbah Sayidah Fathimah Az-Zahra

Pembahasan khotbah Sayidah Fathimah az-Zahra as terkait masalah Fadak di Masjid Nabawi terjadi pasca meninggalnya ayah beliau, Nabi Muhammad Saw. Mensyarahi khotbah ini secara sempurna membutuhkan kesempatan yang lebih luas lagi, tapi saya berusaha menyampaikan pembahasan terkait masalah khotbah ini di antara terjemah dan syarah. Tentunya semua itu dengan pertolongan Allah Swt.
.
Sanad Khotbah Fadak
Dari sisi sanad periwayatan khotbah ini harus saya katakan bahwa ulama Syiah dan Sunni telah menukil khotbah ini dan periwayatan khotbah ini tidak khusus dinukil oleh Syiah. Karena ulama Ahli Sunnah menukil khotbah ini lewat jalur yang berbeda-beda. Salah seorang yang menukil khotbah ini adalah Ibnu Abil Hadid. Dalam bukunya Syarah Nahjul Balaghah di akhir surat yang ditujukan Imam Ali as kepada Utsman bin Hanif, Ibnu Abil Hadid menyinggung masalah Fadak dan ia mengutip khotbah ini yang diriwayatkan dari sanad yang berbeda-beda dari Ahli Sunnah
.

Dari sejumlah periwayatan yang ada, Abdullah bin Hasan al-Mutsanna dikenal sebagai orang yang menukil khotbah ini. Hasan al-Mutsanna adalah keturunan dari Imam Ali as yang juga dikenal dengan sebutan Abdullah al-Mahdh (murni, -pen). Penyebutan itu dikarenakan ia dari silsilah ayahnya ia merupakan cucu Imam Hasan as dan begitu juga dari sisi ibu. Oleh karenanya mereka menyebutnya al-Madhdh yang berarti murni berasal dari Imam Hasan, baik dari sisi ayah maupun ibu

.

Kembali pada masalah penukilan khotbah ini, Ibnu Abil Hadid menyebut dirinya menukil khotbah ini dari sanad Ahli Sunnah dan tidak ada hubungannya dengan periwayatan dari Syiah. Ibarat Ibnu Abil Hadid demikian:

وَاعْلَمْ اِنَّمَا نَذْكُرُ فِي هذَا الْفَصْلِ مَا رَوَاهُ الرِّجَالُ الْحَدِيْثِ وَ ثِقَاتُهُمْ وَ مَا اَوْدَعَهُ اَحْمَدُ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ الْجَوْهَرِى فِي كِتَابِهِ …

Wa’lam Innamaa Nadzkuru Hadza al-Fashl Maa Rawaahu ar-Rijaal al-Hadits wa Tsiqaatuhum wa Maa auda’ahu Ahmad ibnu Abdil Aziz al-Jauhari fi Kitaabihi…

.

(Ketahuilah bahwa sesungguhnya kami hanya menyebut pasal ini sesuai dengan yang diriwayatkan oleh para perawi hadis dan mereka yang dapat dipercaya dan apa yang ditinggalkan oleh Ahmad Ibnu Abdil Aziz al-Jauhari di bukunya…)

.

Nama buku al-Jauhari adalah Saqifah wa Fadak (Saqifah dan Fadak). Buku yang cukup terkenal. Al-Jauhari sendiri dipercaya dalam meriwayatkan hadis dan termasuk ulama besar yang dipuji oleh ulama yag lain. Sementara khotbah ini banyak diriwayatkan dalam buku-buku hadis syiah seperti Bihar al-Anwar, al-Ihtijaj, Balaghaat an-Nisaa, As-Syaafi, Dalail al-Imamah, al-Tharaif, Kasyf al-Ghammah dan lain-lainnya.

.

Pergi Ke Masjid

Mukaddimah khotbah Sayidah Fathimah az-Zahra tentang Fadak memberikan gambaran tentang kondisi waktu,ruang dan banyak masalah lainnya yang terjadi waktu itu.

رَوَى عَبْدُاللهِ  بْنِ الحَسَنْ بِاِسْنَادِهِ عَنْ آبَائِهِ

Rawa Abdullah Ibnu al-Hasan bi Isnaadihi ‘an Aabaaihi

(Abdullah Ibnu al-Hasan meriwayatkan dari ayah-ayahnya)

لَمَّا اَجْمَعَ اَبُو بَكْرٍ وَ عُمَرٍ عَلَي مَنْعِ فَاطِمَةَ فَدَكًا وَ بَلَغَهَا ذلِكَ

Lamma Ajma’a Abu Bakrin wa Umaru ‘ala Man’i Fathimata Fadakan wa Balaghaha Dzalika

(Ketika Abu Bakar dan Umar memutuskan –kata Ajma’a maknanya adalah memutuskan dan menghendaki- untuk mencegah tanah Fadak sampai ke tangan Sayidah Fathimah as, berita ini kemudian sampai kepada beliau)

لَاثَتْ خِمَارَهَا عَلَي رَأْسِهَا

Laatsat Khimaraha ‘ala Ra’siha

(Fathimah melilitkan kerudungnya di atas kepalanya)

.

Kata Laatsa berarti melilitkan. Misalnya kita mengatakan “Laatsa al-‘Ammamatu ‘ala Ra’sihi artinya Syaddaha wa Rabathaha yang berarti ia melilitkan ammamah atau sorban di kepalanya. Sementara kata Khimar merupakan kain penutup kepala yang lebih besar dari kerudung perempuan saat ini, sehingga dapat menutup kepala, leher dan dada. Kata ini juga disebutkan dalam al-Quran surat Nur ayat 31 yang artinya, “… Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya …”.

.

Kata khumur merupakan bentuk jamak dari khimar. Maksudnya, ketika berita ini sampai kepada Sayidah Fathimah az-Zahra as, beliau bangkit dan memakai khimarnya (kain kerudung panjangnya). Sementara kata Laatsa berarti melilitkan. Dari kata khimar jelas sudah bahwa Sayidah Fathimah as memakai kain kerudung hingga menutupi leher dan sampai ke dada.

وَاشْتَمَلَتْ بِجِلْبَابِهَا

Wa Isytamalat bi Jilbaabihaa

(Kemudian beliau memakai jilbabnya)

.

Jilbab merupakan jenis pakaian yang menutup seluruh badan dan dipakai menutupi baju. Mungkin dapat disamakan dengan abaya saat ini, pakaian panjang Arab. Beliau memakai jilbab, pakaian yang menutup seluruh badannya.

وَ اَقْبَلَتْ فِي لُمَّةٍ (لَمَةٍ) مِنْ حَفَدَتِهَا وَ نِسَاءِ قَوْمِهَا

Wa Aqbalat fi Lummatin (Lamatin) min Hafadatihaa wa Nisaa’i Qaumihaa

(Dan beliau bergerak bersama orang-orang yang seusia, seiring, teman, penolong dan keluarga beliau (dari kata lumatin, sementara bila dari kata lamatin, berarti sepikiran).

Maksudnya, Sayidah Fathimah az-Zahra berjalan bersama sekelompok orang yang seusia, seiring, atau dari teman-teman, penolong dan dari keluarganya. Sampai pada potongan khotbah Fadak ini, yang ditekankan adalah bagaimana Sayidah Fathimah as berpakaian. Ketika beliau akan pergi ke masjid, dimana ada banyak pria di sana, bagaimana beliau mempersiapkan dirinya dari sisi berpakaian.

.

Poin penting lainnya adalah mereka yang bersama beliau bergerak menuju ke masjid. Sangat mungkin sekali bahwa mereka yang bersamanya bermaksud untuk menolong beliau. Kira-kira seperti yang terjadi saat ini, bila seseorang ingin tampil di sebuah pertemuan untuk menyampaikan pembelaan, maka ada sekelompok orang yang seide dengannya menyertainya. Tapi ada dua kemungkinan dari fenomena ini; pertama, pribadi lahiriah Sayidah Fathimah az-Zahra as tetap terjaga dan kedua, tubuh lahiriah beliau tidak tampak bagi para pria yang hadir di sana, berada bersama orang-orang yang menyertainya.

تَطَاُ ذُيُوْلَهَا

Tathau Dzuyulaha

(Beliau berjalan dengan menginjak bagian bawah pakaiannya)

.

Kata ini bisa berarti Sayidah Fathimah as ketika berjalan beliau menginjak bagian bawah pakaiannya, atau beliau berjalan dengan cepat karena kesal. Di sini dapat dipahami bahwa pakaian beliau begitu panjang, sehingga terkadang terinjak kakinya. Tapi mungkin juga dari ibarat ini dapat dipahami beliau jalan dengan cepat. Sebagai kelanjutannya,

مَا تَخْرِمُ مِشْيَتُهَا مِشْيَةَ رَسُوْلِ اللهِ

Maa Takhrimu Misyatuhaa Misyata Rasulillah

(Beliau berjalan seperti Rasulullah Saw berjalan)

Artinya, gaya jalan Sayidah Fathimah az-Zahra as tidak berbeda dengan cara Rasulullah Saw berjalan. Kata Misyah yang dalam kaidah sharaf sesuai dengan bentuk fi’lah memberikan arti bentuk dan cara. Yakni, cara berjalan Sayidah Fathimah az-Zahra as tidak kurang dari gaya jalan ayahnya. Gaya jalan Sayidah Fathimah as sama berwibawanya ketika Rasulullah Saw melangkahkan kakinya. Ringkasnya, selain gaya jalan beliau sama dengan ayahnya, Sayidah Fathimah as telah menampilkan gaya jalan yang sesuai dengan kepribadian seorang muslimah.

.

Dalam ibarat ini ada dua poin penting yang memberikan penjelasan tentang mengapa Sayidah Fathimah az-Zahra as berjalan ke masjid dengan cepat. Pertama, gaya jalan beliau sama seperti ayahnya yang penuh dengan kewibaan. Kedua, dikarenakan baju beliau yang panjang dan terkadang terinjak kaki beliau.

.

Memasuki Masjid

حَتَّى دَخَلَتْ عَلَي اَبِي بَكْرٍ وَ هُوَ فِي حَشْدٍ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَ الْاَنْصَارِ وَ غَيْرِهِمْ

Hattaa Dakhalat ‘ala Abi Bakrin wa Huwa fi Hasydin min al-Muhajirin , al-Anshar wa Ghairihim

.

(Sehingga beliau memasuki masjid, sementara Abu Bakar dikelilingi oleh orang-orang Muhajirin, Anshar dan yang lain-lain)

.

Kata Hasyd berarti kelompok atau sekumpulan. Artinya, ketika Sayidah Fathimah az-Zahra as memasuki masjid, di dalamnya telah ada Abu Bakar yang dikelilingi oleh banyak orang dari golongan Muhajirin, Anshar dan dari kelompok lainnya.

فَنِيْطَتْ دُوْنَهَا مُلَاءَةٌ

Faniithat Duunahaa Mulaatun

(Kemudian dibentangkan tabir yang memisahkan Sayidah Fathimah as dengan masyarakat yang ada di masjid)

.

Setelah masuk ke dalam masjid dibentangkan kain yang memisahkan beliau dengan masyarakat yang ada di sana. Mulaah berarti kain atau tabir. Artinya ada tabir yang memisahkan beliau dengan para pria yang hadir di masjid. Bahkan pada naskah yang lain ada tambahan “Mulaatun Qibthiyyatun“, yang menjelaskan bahwa jenis kain atau tabir yang dipakai berasal dari Mesir.

.

Namun poin penting dari bagian ibarat ini adalah ketika Sayidah Fathimah az-Zahra as memasuki masjid, secara otomatis ada yang memasang tabir antara beliau dengan para pria yang hadir. Dari kata “Fajalasat” yang ada dalam khotbah ini dapat dipahami bahwa sebelum beliau duduk, dengan cepat tabir sudah terpasang. Artinya, ketika mereka mendapat kabar bahwa bahwa putri Rasulullah Saw akan memasuki masjid, dengan cepat mereka mempersiapkan tempat dan membentangkan tabir. Apa yang mereka lakukan ini juga demi melindungi beliau dari pandangan para pria dan sebuah bentuk penghormatan yang tidak hanya ajaran agama, tapi telah menjadi tradisi. Hal ini dapat ditemui dalam acara-acara keagamaan saat ini.

.

Jeritan Masyarakat

ثُمَّ اَنَّتْ اَنَّةً  اَجْهَشَ الْقَوْمُ لَهَا بِالْبُكَاءِ

Tsumma Annat Annatan Ajhasya al-Qaumu Lahaa bil Bukaa’i

(Kemudian beliau duduk dan menjerit pilu dan masyarakat mengikutinya dengan tangisan)

Ketika Sayidah Fathimah az-Zahra as duduk dan menarik napas panjang yang terdengar jelas memuat kesedihan yang mendalam, seluruh Muhajirin, Anshar dan siapa saja yang hadir di masjid mulai menangis. Tangisan mereka tidak biasanya. Karena ungkapan “Ajhasya al-Qaumu” berarti seseorang yang menangis tersedu-sedu akibat menahan masalah yang berat, sehingga badannya dihempaskan ke kanan dan kiri. Sama seperti anak kecil yang menjatuhkan dirinya ke ibunya karena kesal yang luar biasa. Jeritan pilu Sayidah Zahra as membuat ruangan masjid dipenuhi tangisan.

فَارْتَجَّ الْمَجْلِسُ

Fartajja al-Majlisu

(Majelis pertemuan menjadi tidak terkendali)

ثُمَّ اَمْهَلَتْ هُنَيَّةً حَتَّى اِذَا سَكَنَ نَشِيْجُ الْقَوْمِ وَ هَدَأَتْ فَوْرَتُهُمْ

Tsumma Amhalat Hunayyatan Hattaa Idzaa Sakana Nasyiiju al-Qaumi wa Hadat Fauratuhum

(Kemudian beliau memberi kesempatan, sehingga masyarakat yang hadir tenang)

.

Sayidah Fathimah az-Zahra as kemudian memberikan kesempatan kepada mereka yang hadir untuk menenangkan dirinya. Ungkapan ini dengan jelas menunjukkan bagaimana masyarakat yang hadir untuk beberapa saat menangis, tanpa mampu menahan dirinya. Karena itulah, Sayidah Fathimah az-Zahra as memberikan kesempatan kepada mereka agar dapat menenangkan dirinya dan majelis yang ada juga menjadi tenang.

Tasbih Az-Zahra

Secara umum, doa-doa, zikir-zikir dan amal ibadah kita, sekalipun memiliki landasan rasional dan argumentatif, namun bentuk dan caranya berlandaskan teks-teks. Untuk itu masalah tasbih az-Zahra yang diucapkan setelah selesai shalat akan dikaji dalam bingkai ini
.
Sejarah Tasbih az-Zahra
Sekaitan dengan masalah tasbih az-Zahra banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Sayidah Fathimah Zahra as menemui ayahnya Rasulullah Saw. Tujuan kedatangannya menemui Rasulullah untuk meminta seorang pembantu yang dapat meringankan kerjanya. Rasulullah Saw bersabda,”Wahai anakku! Apakah engkau mau menerima yang lebih baik dari itu?”
.

Dalam riwayat disebutkan Ali dan Fathimah as serempak berkata, Iya, wahai Rasulullah! Berikan yang lebih baik dari seorang pembantu.”

.

Rasulullah Saw bersabda, “Setiap hari bacalah 33 kali Subhanallah, 33 kali Alhamdulillah dan 34 kali Allah Akbar. 100 kali ucapan tasbih ini memberikan ribuan pahala yang dapat memberatkan timbangan amal perbuatan manusia. (Bait al-Ahzan, hal 63) Wahai Fathimah! Bila tasbih ini engkau ucapkan setiap hari pada waktu pagi, niscaya Allah akan mencukupkan keinginan duniawi dan ukhrawimu.

.

Keutamaan dan pahala tasbih az-Zahra
Muhaddis Qummi ahli hadis menyebutkan sejumlah riwayat dalam masalah ini. Pada kesempatan kali ini hadis-hadis paling penting akan dimuat sebagaimana berikut:

.

Imam Muhammad Baqir as berkata,”Setelah selesai melaksanakan shalat wajib, tidak ada yang lebih baik selain membaca tasbih az-Zahra.” (Rayyahin, jilid 1, hal 196)

.

Imam Shadiq as berkata, “Tasbih az-Zahra lebih kusukai dari mengerjakan shalat sebanyak seribu rakaat dalam setiap hari.” (Mahajjah al-Baidha’ jilid 2, hal 348)

.

Di tempat lain Imam Shadiq as berkata, “Ajarkan kepada anak-anak kita untuk tidak meninggalkan mengucapkan tasbih az-Zahra sebagaimana kita mengajarkan kepada mereka untuk tidak meninggalkan shalat. Siapa saja yang membacanya secara kontinyu tidak akan bernasib buruk.”

.

Dalam riwayat lain disebutkan, maksud dari Zikir Katsir dalam ayat al-Quran adalah tasbih az-Zahra. Barang siapa yang mengucapkan tasbih az-Zahra secara kontinyu setelah selesai shalat, maka ia telah mengamalkan ayat al-Quran yang menyebutkan,”Dan ingatlah Allah dengan Zikir yang banyak.”

.

Imam Muhammad Baqir as berkata,”Bila ada yang lebih baik dari tasbih az-Zahra, niscaya Rasulullah Saw akan mengajarkannya kepada Fathimah as.”

.

Bentuk tasbih az-Zahra
Dalam penjelasan bentuk pembacaan tasbih az-Zahra ada beberapa riwayat yang menyebutkan caranya dalam bentuk yang berbeda-beda. Namun, yang paling masyhur adalah 34 kali Allah Akbar, 33 kali Alhamdulillah dan 33 kali Subhanallah. Jumlah keseluruhannya menjadi 100. Dalam riwayat disebutkan, bila seseorang selesai shalat mengucapkan tasbih az-Zahra secara lengkap dan menutup bacaannya dengan Laa Ilaaha Illallah, niscaya Allah akan mengampuni dosanya.

Surat Cinta Khomeini Muda Kepada Istri Terkasih

Dear kasihku…Kupersembahkan jiwaku untukmu…Saat ini, ketika aku diuji berpisah dari anak-anakku tersayang dan penguat hatiku, aku kemudian teringat padamu dan keindahan wajahmu yang terlukis di dalam cermin hatiku.Kasihku….Aku berharap semoga Allah senantiasa menjagamu dan memberikan kesehatan dan kebahagiaan dalam lindungan-Nya. Sementara untukku, segala kesulitan yang ada telah berlalu. Alhamdulillah apa yang terjadi sampai saat ini adalah kebaikan dan sekarang aku tengah berada di kota Beirut yang asri.(1)

.

Sejujurnya, ketiadaanmu di sisiku membuat perjalanan ini menjadi sepi. Dengan hanya melihat kota dan laut yang ada merupakan pemandangan yang sedap dipandang mata. Aku tak dapat menghitung betapa besar keharuanku ketika mengingat kekasihku tidak di sisiku menemaniku menatap pemandangan indah yang meresap di kalbu.

.

Dar har hal, malam ini adalah malam kedua aku menanti kapal yang akan membawa kami. Sesuai dengan ketentuan yang ada, keesokan hari akan ada kapal yang bertolak dari sini ke Jeddah. Sayangnya, karena kami agak terlambat sampai di sini harus menanti kapal yang lain. Untuk saat ini apa yang harus dilakukan belum jelas. Aku berharap semoga Allah dengan belas kasih-Nya kepada kakek-kakekku yang suci, sebagaimana Ia mensukseskan perjalanan seluruh hamba-Nya untuk melaksanakan haji, memberikan kesempatan yang sama pula kepada kami.

.

Dari sisi ini aku agak sedikit sedih dan gelisah, namun Alhamdulillah kondisiku sehat bahkan semakin baik dan lebih meyakinkan. Sebuah perjalanan yang indah, sayangnya dan sekali lagi sayangnya, engkau tidak bersamaku di sisiku. Hatiku merindukan putramu (Sayid Musthafa). Aku sangat berharap bahwa mereka berdua(2) senantiasa selamat dan bahagia di bawah lindungan dan bimbingan Allah Swt.

.

Bila engkau menulis surat kepada ayahmu dan ibu serta nenekmu sampaikan salamku juga kepada mereka. Aku telah menyiapkan diriku menjadi pengganti ziarah kalian semua.Sampaikan juga salamku kepada adikmu Khanum Shams Afagh. Dan lewat adikmu sampaikan salamku kepada Agha Alavi. Sampaikan salamku kepada Khavar Sultan dan Rubabeh Sultan. Katakanlah kepada mereka tentang lembaran lain dari surat ini untuk disampaikan kepada Agha Syaikh Abdul Husein.

.

Semoga hari-hari kalian dilalui dengan panjang umur dan kemuliaan.

Duhai kasihku…

Belahan jiwaku…

Ruhullah saat ini bak gambar kosong yang sedang menanti keberangkatan yang tak kunjung datang.(3)

* Surat ini ditulis pada bulan Farvardin tahun 1312 Hs. (sekitar 73 tahun yang lalu, sekarang menjadi 79 tahun lalu) sambil menanti kelahiran putra keduanya.

———————————————-
1. Keberadaan beliau di sana untuk menanti kapal yang akan membawa beliau dan rombongan ke Arab Saudi guna melakukan ibadah haji.
2. Kata berdua maksudnya kepada Sayyid Musthafa dan anak laki beliau yang lain yang sampai saat surat ini ditulis belum lahir ke dunia. Beberapa hari setelah Imam menulis surat ini anak kedua beliau lahir dan diberi nama Ali. Anak kedua Imam ini karena terserang penyakit semasa kecilnya meninggal dunia.
3. Menjelaskan akan ketiadaan kapal yang akan membawa beliau dan rombongan ke Jeddah.

kondisi beragama, budaya, sosial, ekonomi dan intelektual masyarakat tidak akan teratur kecuali memiliki pemerintah yang saleh dan memiliki kebijakan yang benar,

Sayyid Ali Khamanei:
Bangsa Iran Semakin Optimis Menyongsong Masa Depan
Panglima Tinggi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyatakan, bangsa Iran dalam dekade kemajuan dan keadilan melanjutkan perjalanannya dengan gerak lebih cepat menuju perkembangan lebih besar dan dan realisasi keadilan, sementara front zalim dan adidaya dunia bertentangan dengan penampilan lahiriyah, mereka semakin lemah dan menuju kehancurannya.
Bangsa Iran Semakin Optimis Menyongsong Masa Depan.
dalam menyambut bulan Rajab dan peringatan hari kelahiran Imam Muhammad Baqir as yang tahun ini bertepatan dengan peringatan pembebasan kota Khorramshahr, yang berlangsung di Universitas Imam Husein as, Panglima Tinggi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyatakan, bangsa Iran dalam dekade kemajuan dan keadilan melanjutkan perjalanannya dengan gerak lebih cepat menuju perkembangan lebih besar dan dan realisasi keadilan, sementara front zalim dan adidaya dunia bertentangan dengan penampilan lahiriyah, mereka semakin lemah dan menuju kehancurannya
.
Di depan para mahasiswa fakultas militer dan calon perwira di universitas tersebut, Rahbar menegaskan, “Kemuliaan dan kekokohan yang terus meningkat bangsa Iran merupakan hasil dari ketabahan dan perjuangan di jalan baiat ilahi
.
Ditegaskan beliau bahwa bangsa Iran semakin optimis menyongsong masa depan sementara ufuk-ufuk masa depan juga tersenyum kepada bangsa ini.
Rahbar dalam pidatonya juga menyebut harga diri dan kekuatan bangsa Iran yang semakin besar sebagai buah dari kegigihan dan keteguhan dalam memegang janji setia dan baiat Ilahi. Beliau mengatakan, “Pada dekade kemajuan dan keadilan, bangsa Iran akan terus melanjutkan gerak langkahnya yang cepat untuk meraih kemajuan dan mewujudkan keadilan yang lebih besar. Sementara, tidak seperti yang digembar-gemborkan di luar sana, kubu kezaliman, istikbar dan arogansi justeru semakin melemah.”
.
Seraya menekankan bahwa bangsa Iran sangat optimis menatap masa depan dan tersenyum memandang cakrawala hari esok, Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, “Sebagai pemilik negeri ini, para pemuda mesti meneruskan langkah bangsa Iran sampai kebesaran umat Islam benar-benar terwujud.”.
Jalan menuju puncak kesejahteraan, menurut beliau, sudah tersedia berkat perjuangan generasi yang lalu. “Tapi tersedianya jalan bukan berarti tak ada lagi kesulitan dan keharusan untuk bekerja keras. Kelanjutan langkah ini tetap memerlukan kegigihan dan keteguhan,” kata beliau mengingatkan.
Rahbar yang juga Panglima Tertinggi Seluruh Korps Angkatan Bersenjata memuji keteguhan seluruh angkatan bersenjata termasuk Pasdaran, Tentara dan Relawan Basij dalam memegang baiat Ilahi

.
“Seluruh korps angkatan bersenjata sudah membukukan banyak pengalaman berharga sepanjang masa Perang Pertahanan Suci yang harus selalu dimanfaatkan dan dijadikan pelita penerang jalan menuju masa depan,” tegas beliau
.
Dalam kesempatan itu, Panglima Pasukan Garda Revolusi Islam (Sepah-e Pasdaran) Mayor Jenderal Ja’fari dalam laporannya menjelaskan kesiapan seluruh pasukan Pasdaran dan Basij. Laporan itu juga menyinggung tentang program pelatihan dan peningkatan kemampuan pertahanan sesuai dengan doktrin pertahanan Islami
.
Sementara itu, Laksamana Muda Morteza Saffari, Kepala Akademi Keperwiraan dan Pelatihan Kepengawalan Akademi Imam Husain (as) membawakan laporan tentang program pendidikan dan pelatihan di akademi ini
.
Di akhir acara, sejumlah keluarga syuhada, veteran perang, taruna, perwira tinggi dan pelatih teladan mendapat penghargaan dari tangan Rahbar. Selain itu, beliau juga menyematkan tanda kenaikan pangkat di pundak para taruna pilihan. Acara ditutup dengan peragaan keahlian para taruna dan parade militer
.

Agama dan Kebangkitan Kontemporer

Para pemimpin agama dari 14 negara dunia berkumpul di Ibukota Iran, Tehran pada 30 April hingga 1 Mei 2012 untuk mendiskusikan peran tokoh agama dalam kebangkitan kontemporer. Konferensi internasional ini mengusung tema “Agama dan Kebangkitan Kontemporer” dan menghadirkan sejumlah tokoh, pemikir, dan cendekiawan dari Syiah, Sunni, Kristen, Yahudi, Hindu dan Budha. .

Sekretaris konferensi, Mohammadreza Dehshiri mengatakan, konferensi itu bertujuan mendorong para pemimpin agama untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran masyarakat. Dehshiri menuturkan bahwa fokus utama pertemuan itu adalah peran pemimpin agama dalam kebangkitan kontemporer bangsa dan menyerukan peningkatan peran mereka di tengah masyarakat. Dia menambahkan, gerakan kontemporer memerlukan pemimpin agama dan agama dapat memainkan peran cukup konstruktif dalam mencerahkan masyarakat dan menyelesaikan krisis dunia saat ini.

.

Sejumlah profesor, filusuf, dan tokoh dari Albania, Yunani, Jerman, Vatikan, Kanada, dan Amerika Serikat berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Selain mereka, pertemuan itu juga menghadirkan kepala studi Budha dari Thailand dan pemimpin agama dari Ethiopia, Sudan, Lebanon, dan Pakistan. Topik utama yang dibahas dalam konferensi ini antara lain, “Peran Pendidikan dan Ajaran Agama; Melampaui Kebangkitan Pikiran dan Hati Nurani Manusia”, “Peran Pengikut Agama dalam Pembangunan dan Kebangkitan di Dunia”, “Identitas dan Kualitas Gerakan Kepemimpinan” dan juga tema-tema seputar tantangan masa depan dan isu-isu kekinian.

.

Kata kebangkitan memiliki konsep yang sangat luas. Dari segi etimologi, kebangkitan berarti mulai sadar dan tercerahkan. Akan tetapi, konsep universal kebangkitan adalah kebangkitan akal, kesadaran manusia, upaya untuk menyadarkan seluruh masyarakat, dan membebaskan umat manusia dari kekangan para tiran.

 

Ketika Nabi Muhammad Saw diutus dengan membawa pesan iqra (bacalah), sejak hari itu Rasul Saw menjadikan kebangkitan pikiran dan hati sebagai landasan dakwahnya. Beliau membebaskan umat manusia dari kebodohan, kelalaian, dan penghambaan kepada berhala. Tak lama setelah itu, obor dakwah Rasul Saw berhasil menerangi belahan timur dan barat bumi.

.

Gerakan kebangkitan dan pencerahan mengalami pasang surat di tengah berbagai komunitas. Kemuliaan dan kehormatan akan diperoleh oleh manusia setiap kali mereka mampu menjaga identitas, independensi, dan kesadarannya. Namun, setiap kali masyarakat terjebak dalam dekadensi pemikiran dan kelalaian dari nilai-nilai kemanusiaan, maka mereka akan merasa asing dan tidak mandiri.

 

Sekjen Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam (FIPMI), Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri dalam konferensi tersebut, mengatakan, “Jika manusia telah jauh dari cahaya iman dan menganggap nilai-nilai semu sebagai hal yang mutlak, maka ia seperti telah tertidur pulas dan tak sadarkan diri. Begitu juga, ketika seseorang meyakini nilai-nilai relatif, maka ia telah kehilangan kesadaran dan stagnan dan bahkan menganggap nilai-nilai relatif itu lebih tinggi kedudukannya dari nilai-nilai mutlak.”

.

Ayatullah Taskhiri menilai kondisi itu semacam penyakit dan mengatakan bahwa setiap tindakan kriminal yang terjadi sepanjang sejarah terkait erat dengan hawa nafsu dan kelalaian. Manusia dalam kondisi seperti itu dapat disebut mati. Allah Swt mengutus para Nabi as untuk menyelematkan manusia dari kelalaian dan menyadarkan mereka. Para pemimpin agama juga bertugas untuk menyelamatkan manusia dari faktor-faktor yang mendorong terjadinya kejahatan dan kriminalitas.

.

Parapemimpin agama dan orang-orang bijak memiliki peran sifnifikan dalam menghidupkan pemikiran dan nilai-nilai religius serta kebangkitan akal. Dapat dikatakan bahwa usaha dan perjuangan para pemikir telah menciptakan peluang bagi lahirnya Kebangkitan Islam pada masa sekarang. Salah satu hasil gemilang perjuangan itu adalah kemenangan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979. Kemenangan ini telah meningkatkan kepecayaan Muslim terhadap kekuatan kepemimpinan dalam Islam. Mereka percaya bahwa jika pemikiran dan tindakan didasari pada ajaran-ajaran Islam, maka era keterpurukan akan berakhir dan kemenangan akan diraih.

.

Kebanyakan pengamat politik meyakini bahwa kemenangan Revolusi Islam telah melahirkan kembali Kebangkitan Islam. Agama suci ini lahir dengan semangat baru dan jauh dari kerangka kepartaian dan gerakan-gerakan politik yang sempit. Republik Islam Iran selain memainkan peran penting dalam mengarahkan kebangkitan dan menghidupkan pemikiran Islam, juga aktif melawan gerakan-gerakan menyimpang dan mengambil langkah-langkah efektif. Sejauh ini, Iran telah menggelar berbagai konferensi dan seminar untuk mengkaji pemikiran para ilmuwan dunia guna memperkaya pandangan-pandangannya.

.

Ketua Lembaga Budaya dan Hubungan Islam Iran, Doktor Mohammad Khurram Shad mengumumkan bahwa konferensi itu bertujuan untuk mendekatkan pemikiran dan dialog dalam nuansa Kebangkitan Islam dan kebangkitan dunia dengan berpijak pada unsur-unsur agama. Menurutnya, tema konferensi tersebut menekankan pada kebangkitan universal. Dari segi geografi, gerakan-gerakan global tentu saja lebih luas dari wilayah Kebangkitan Islam dan dapat berperan efektif untuk meredam radikalisme agama serta menciptakan kesepahaman nyata dan berkelanjutan di antara para pemeluk agama.

.

Khurram Shad seraya menilai kebangkitan global adalah kembali kepada agama, mengatakan agama adalah sebuah realita yang melampaui sejarah, budaya, zaman, dan tempat. Isu utama yang menjadi fokus kebangkitan kontemporer adalah kembali kepada Tuhan dan nilai-nilai Ilahi. Ini adalah sesuatu yang diperintahkan oleh ayat-ayat al-Quran kepada manusia yaitu, menghambakan diri kepada Tuhan, menjauhi penghambaan kepada selain-Nya, mensucikan diri, dan mematahkan rantai-rantai perbudakan yang membelenggu umat manusia. Risalah seluruh Nabi as adalah menyeru untuk menyembah Tuhan dan tidak tunduk pada tiran.

.

Sementara itu, peserta dari Amerika Serikat dalam pidatonya, menilai rasa saling percaya dan sikap menghormati sebagai kebutuhan dialog antar-agama agar berjalan sukses. Charles Randall Paulus, Presiden Yayasan Diplomasi Antar Agama, yang berbasis di AS menggarisbawahi keterbukaan pikiran untuk menerima kritik yang jujur sebagai bagianpenting dari dialog antar-agama. Ditambahkannya, “Visi kami adalah untuk menciptakan persahabatan antara pengikut agama yang berbeda dan untuk mewujudkan kepercayaan antara kelompok yang berseberangan.”

 

Randall Paulus berkata, “Setiap interaksi manusia memiliki unsur keinginan bahwa orang lain menanggapi Anda dengan cara yang baru. Persuasi ini mungkin berpusat pada kebenaran pandangan keagamaan seseorang.” Ketika berbicara tentang dakwah, Randall Paulus menuturkan, dakwah adalah deskripsi yang jujur dari keyakinan terdalam Anda, yang Anda sampaikan kepada orang lain.

.

Deklarasi konferensi itu menyebutkan bahwa kebangkitan sosial yang terjadi hari ini di berbagai negara mengindikasikan perubahan mendasar dalam kecenderungan dan tuntutan manusia modern di bidang politik, sosial, dan ekonomi. Peserta konferensi juga menilai adanya keselarasan antara gerakan-gerakan kebangkitan kontemporer dan tujuan-tujuan ajaran agama seperti, keadilan, kemuliaan manusia, dan perang melawan penindasan. Pertemuan tersebut menyeru para pemimpin agama, pemikir, dan pemeluk agama untuk melaksanakan tanggung jawabnya dan mengadopsi nilai-nilai spiritual untuk diterapkan dalam kehidupan sosial dan individual.

Islam yang didasarkan pada al-Quran dan Sunnah memandang penyebaran budaya adalah upaya untuk mengajak masyarakat kepada nilai-nilai tinggi dan menumbuhkan tanggung jawab dalam diri mereka. Salah satu jalan efektif untuk menyebarkan budaya Islam adalah koordinasi antara pemerintah dan ajaran agama.

Maksud dari penyebaran budaya telah dijelaskan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) pada awal dekade 1980. Penyebaran budaya diartikan sebagai proses peningkatan kehidupan kultural di masyarakat dan meraih nilai-nilai transenden. Dalam proses itu, semua aspek materi dan spiritual dalam kehidupan individu dan sosial akan mengalami perbaikan dan peningkatan. Pengembangan budaya akan menumbuhkan kemampuan potensi masyarakat dan meningkatkan kreativitas mereka.

Terkait hal itu, budaya Islam memberikan berbagai petunjuk. Jika manusia menjalani kehidupanya sejalan dengan budaya ini, maka manusia akan melangkah dengan benar demi meraih tujuannya dan sekaligus selaras dengan pandangan Islam. Iman kepada Allah Swt adalah prinsip paling mendasar bagi gerak dan kemajuan Islam. Jika antara takwa dan pengendalian diri dipadukan, maka kehidupan manusia di dunia dan akhirat akan terjamin. Dalam surat al-Araf ayat 96, Allah Swt berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk di berbagai negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Islam yang didasarkan pada al-Quran dan Sunnah memandang penyebaran budaya adalah upaya mengajak masyarakat kepada nilai-nilai tinggi dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri mereka. Salah satu jalan efektif untuk menyebarkan budaya Islam adalah koordinasi antara pemerintah dan ajaran agama. Dalam pandangan ini, pemerintah harus menciptakan suasana yang mendukung supaya terjadi pertukaran pandangan dalam konteks ketentuan dan aturan Islam. Pemerintah berkewajiban untuk memperluas kapasitas budaya masyarakat di semua aspek kehidupan baik individu maupun sosial, dengan kata lain harus berupaya memperluas budaya.

Nabi Muhammad Saw sejak awal masuk ke kota Madinah telah membentuk pemerintah Islam kemudian memperluas pemerintahannya itu. Beliau menyebarkan ajaran Ilahi ke seluruh dunia melalui jalan tersebut. Terdapat poin penting yang harus diperhatikan dalam metode dan sirah Nabi Saw bahwa tujuan terpenting dari pendirian pemerintahan adalah untuk menciptakan perubahan akhlak individu dan sosial berdasarkan iman kepada Allah Swt dan pahala di hari akhir (kiamat).

Terkait hal itu, Allah Swt berfirman, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-i-Imran ayat 163)

Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as telah memberikan platform yang sesuai guna menumbuhkan budaya manusia. Mereka mengenalkan manusia kepada Tuhan sehingga tercipta kondisi yang mendukung bagi manusia untuk menyerap perilaku yang baik dan menjahui sifat-sifat buruk dan tercela. Mengingat pembenahan manusia adalah awal bagi perbaikan masyarakat, Nabi Saw memandang bahwa perubahan jiwa dan ruh manusia berpengaruh pada perbaikan masyarakat dan dapat menjauhkan mereka dari sifat tercela serta menciptakan kondisi yang sehat. Imam Jafar Shadiq as sebagai tauladan ilmu dan takwa, berkata, “Perilaku baik dan akhlak terpuji dapat memakmurkan kota dan memperpanjang umur manusia.”

Poin penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengubah karakter dan menyebarkan akhlak mulia ke dalam masyarakat.

Menurut pandangan para ahli psikologi, mengenal baik dan buruk memiliki peran efektif dalam  penyebaran akhlak mulia dan memperbaiki perilaku masyarakat. Sebagian perilaku buruk dan tercela muncul akibat kebodohan. Namun perlu kita ketahui bahwa pengetahuan tersebut dapat memperbaiki perilaku masyarakat dan memperluas akhlak yang mulia dengan catatan para cendekiawan, ulama dan pemimpin masyarakat teliti terhadap kebijakan-kebijakannya dan melangkah berdasarkan ilmu dan akhlak yang terpuji, tentunya juga dibarengi dengan praktek terhadap pengetahuan mereka. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka perilaku mereka sama dengan orang-orang yang bodoh.

Imam Ali as berkata, “Seorang ulama yang perilakunya berlawanan dengan ilmunya, maka ia bagaikan seorang bodoh yang mengembara. Ia tidak mengetahui benar dan salah serta tidak akan keluar dari kebodohannya.”

Pembenahan diri adalah cara lain untuk mengubah akhlak. Jiwa manusia dari berbagai sisi mengalami perubahan sebagaimana fisiknya. Terkadang banyak perilaku karena sering dikerjakan sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Manusia dapat mengubah kebiasaan tersebut dan melangkah sesuai keinginan fitrah sucinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw saat menyambut sahabatnya pulang dari medan perang melawan kaum kafir dengan kemenangan, menyebut perang tersebut sebagai “Jihad Ashghar” dan beliau menyerukan kepada sahabatnya untuk melakukan “Jihad Akbar”, yaitu memerangi hawa nafsu. Rasulullah Saw menjelaskan bahwa Jihad Akbar adalah jihad yang paling tinggi derajatnya.

Tauladan yang baik adalah faktor lain yang mendukung untuk mengubah sifat buruk dan memperluas budaya di masyarakat. Sebab karavan manusia membutuhkan pemimpin dalam meniti jalan kesempurnaan, khususnya jalan menuju kebahagiaan, di mana tauladan tersebut merupakan perwujudan dari semua kabajikan, sehingga masyarakat mencontohnya dan menjadi landasan dalam melangkah menuju tujuan mulia.

Terkait hal itu, kita akan menyinggung surat Imam Ali as kepada salah satu gubernurnya di Basrah. Dalam Nahjul Balaghah disebutkan bahwa Imam Ali as mengkritik Utsman Ibn Hunaif, Gubernur Basrah karena telah menghadiri jamuan orang-orang kaya di kota tersebut, sementara orang miskin tidak mungkin hadir di dalamnya. Imam Ali as menulis, “Ketahuilah bahwa setiap petugas memiliki pemimpin, dan setiap pengikut mengikuti pemimpinnya serta memanfaatkan cahaya ilmunya. Ketahuilah bahwa pemimpinmu telah merasa cukup hanya dengan dua pakain tuanya dan makan hanya dengan dua potong roti  jelei.”

Dari riwayat tersebut dapat diambil kesimpulan umum bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan setiap kelompok masyarakat banyak tergantung pada tauladan yang diberikan pemerintah yang berkuasa. Oleh sebab itu, hal ini dapat menjadi faktor terpenting dalam menyebarkan akhlak dan budaya masyakarat.

Melaksanakan perintah Allah Swt adalah faktor lain bagi kemajuan dan pengembangan budaya Islam baik di masa Nabi Muhammad Saw maupun sesudah masa beliau. Menariknya, di zaman Rasulullah Saw hal itu dilakukan dengan penuh cinta, sebab alat terpenting untuk menyebarkan budaya Islam adalah menciptakan kasih sayang dan kebenaran.

Al-Quran melarang pemaksaan terhadap masyakarat untuk beragama sebagaimana tertera dalam surat Yunus ayat 99, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” Di bagian ayat yang lain, al-Quran dengan jelas menerangkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

Terdapat poin penting yang harus diperhatikan bahwa kontribusi masyarakat dalam mengawasi semua aktivitas pemerintah dalam kerangka Islam adalah hal yang sangat ditegaskan. Hubungan timbal balik dan saling mengawasi dapat menciptakan kondisi yang tepat untuk mengembangkan budaya. Berdasarkan prinsip tersebut, kebijakan pemerintah Islam harus didasarkan pada al-Quran dan Sunnah, sehingga masyarakat dapat hidup bersama dengan tenang meski terdapat perbedaan pendapat.

Imam Ali as berkata, kondisi beragama, budaya, sosial, ekonomi dan intelektual masyarakat tidak akan teratur kecuali memiliki pemerintah yang saleh dan memiliki kebijakan yang benar, dan pemerintah seperti itu tidak terwujud kecuali rakyatnya jujur dan memberikan konstribusinya serta komitmen dan membarengi aturan dan agenda pemerintah.

29-30 April 2012, Tehran menjadi tuan rumah Konferensi Seni dan Peradaban Syiah. Di konferensi tersebut, para peneliti dan cendikiawan menyerahkan karya mereka ke panitia. Peneliti dan ilmuwan Iran terkenal seperti Muhamad Ali Rajabi, Iraj Naimai, Mahnaz Shayestefar, Ismail Bani Ardalan, Hasan Bolkhari dan Zohreh Roh Far menyerahkan penelitian mereka terkait seni dan peradaban Syiah. Sejumah cendikiawan ini di konferensi tersebut berhasil meraih penghargaan.

Di Konferensi Seni dan Peradaban Syiah dibahas ideologi Syiah dan pengaruhnya terhadap budaya serta karya seni dalam beberapa abad ini. Selain itu, terbentuknya pemerintahan Islam di Iran dan pengaruh peradaban Syiah terhadap seni serta puisi khususnya arsitek. Isu-isu ini menjadi agenda pembicaraan di konferensi Tehran. Kini kami akan mengupas berbagai contoh dari ideologi Syiah di Seni Islam.

Ketika Islam berkembang, sejatinya sebuah peradaban yang kaya tengah tersebar. Dasar-dasar agama Islam bersumber dari ideologi dan keyakinan serta peradaban. Meski Islam tersebar di berbagai wilayah dunia, namun peradaban ini tetap murni bersumber pada ajaran Islam. Seni Islam yang muncul di bawah ajaran suci agama ini mulai dari India, Spanyol dan Andalusia meski di luarnya beragam, namun memiliki esensi satu.

Proses terbentuknya pemerintahan independen di abad-abad pertama Hijriah, membuka kesempatan bagi berkembangnya sebuah ideologi mazhab tertentu termasuk Syiah serta mendapat dukungan dari pemerintah. Pembahasan seperti peristiwa Asyura menyebabkan munculnya seni serta membantu tersebarnya tragedi yang menimpa Imam Husein as, cucu Rasulullah Saw. Oleh karena itu, seni Islam yang dipengaruhi oleh budaya Syiah terkadang juga berpengaruh pada seluruh budaya serta peradaban Islam dan terkadang memunculkan seni tersendiri.

Saat merunut sejarah munculnya seni ini, pertama-tama kita harus membahas pemerintahan di Iran setelah masuknya Islam ke negara ini. Meski setelah Bani Safavi berkuasa, mazhab resmi di Iran bukan Syiah, namun saat itu populasi pengikut Syiah di negara ini semakin meningkat. Ketika Dinasti Timurian di abad 15 Hijriah berkuasa, komunitas Syiah banyak memberi warna di pemerintahan meski dinasti ini menganut mazhab Sunni. Hal ini dapat ditemukan di berbagai karya seni saat itu seperti karya lukis, kaligrafi dan prasasti yang memiliki unsur ideologi Syiah.

Proses pergantian mazhab berlangsung hingga dinasti Safaviah berkuasa di permulaan abad ke 16 Hijriah, selanjutnya mazhab resmi di Iran adalah Syiah. Dengan demikian saat itu, karya budaya dan seni di Iran sangat kental dengan ideologi Syiah.

Manuskrip kuno, bangunan bersejarah dan industri kesenian termasuk karya terpenting seni dan mendapat perhatian besar para seniman. Karya-karya ini juga menampilkan keyakinan para seniman tersebut. Sejak era Timurian dan Safavi banyak ditemukan manuskrip yang menjelaskan kepribadian Nabi Muhamad, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein. Pusat-pusat seni saat itu ramai memproduksi buku-buku yang menggambarkan sosok Rasulullah beserta Ahlul Kisa. Selain itu, ditemukan juga manuskrip yang ditulis abad ke 11 Hijriah yang memuat gambar khayalan tentang para Imam Syiah di samping teks-teks keagamaan seperti hadis atau buku sastra.

Salah satu karya penting dalam hal ini adalah buku terjemah kitab Tarikh Tabari yang dicetak di akhir abad ke tujuh Hijriah (13 Masehi) yang menggambarkan kehidupan Nabi Muhammad dengan sangat indah. Poin penting di buku ini adalah peran Imam Ali as di berbagai peristiwa, jihad dan resistensi melawan kaum musyrik.

Menyimak perkembangan kwalitas seni Iran khususnya terkait interaksi antara mazhab dan seni, arsitek dalam hal ini sangat menonjol. Dinasti Timurian dan Safavi merupakan penguasa yang melestarikan kebudayaan Iran setelah Islam masuk ke negara ini. Selama kedua dinasti ini memerintah, seni arsitek mengalami puncak kejayaan. Terlepas dari pembangunan berbagai bangunan dengan beragam fungsinya, ornamen di dalam bangunan menunjukkan ideologi para seniman saat itu condong ke Syiah serta kecintaannya terhadap Ahlul Bait.

Di Dunia Islam, seni kaligrafi memiliki posisi sangat penting, khususnya berkaitan dengan al-Quran. Hampir di seluruh bangunan Islam selalu dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat al-Quran, hadis atau doa. Kaligrafi ini banyak ditemukan di pintu masuk bangunan, menara, kubah, mihrab atau pojok-pojok bangunan. Kaligrafi ini kebanyakan menggunakan keramik yang beraneka ragam warnanya serta menggunakan khat Kufi.

Selain ayat-ayat al-Quran, hadis dari nabi dan para Imam Maksum juga banyak digunakan para seniman untuk menghiasai karya mereka. Dalil kepemimpinan Imam Ali as setelah wafatnya Rasulullah juga banyak ditemukan di seni kaligrafi mereka. Di antaranya adalah kalimat علیا و لی الله yang marak di era pemerintahan Safavi. Masjid-masjid di kota Isfahan, Yazd dan Herat yang hingga kini masih tersisa menjadi saksi atas hal ini. Sepertinya seniman yang meninggalkan karya ini berusaha menjelaskan kedudukan Imam Ali as sebagai hamba terkasih Allah dan berulang kali mendapat pujian-Nya.

Ayat dan riwayat ini menunjukkan realita bahwa ketinggian ilmu dan pengetahuan Imam Ali tentang Islam merupakan sumber ilmu dan menjadi perhatian para seniman. Rasulullah Saw dalam sebuah hadisnya bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.” Selain itu, masih terdapat karya seni lainnya yang banyak ditemukan di bangunan-bangunan Iran. Nama Allah yang disebutkan bersama-sama nama Ahlul Kisa, menjadi perhatian besar para seniman kala itu. Sehingga sampai saat ini kita masih menemukan peninggalan besar mereka. Kaligrafi yang bertuliskan nama Allah, Muhamad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein banyak menghiasi bangunan di era Safavi.

Masjid Sheikh Lutfullah di Isfahan merupakan salah satu contoh kejayaan seni Islam Syiah. Di sekitar mihrab masjid ini nama dua belas Imam Syiah dari keturunan Rasulullah ditulis dengan indah. Selain itu, masjid ini masih menyimpan berbagai seni kaligrafi lainnya. Berbagai kaligrafi ayat, hadis dan doa dari para Imam maksum di era Safavi ditulis oleh seniman terkenal, Ali Reza Abbasi. Prasasti dan kaligrafi yang ditulis tahun 1025 H (1616 M) ini bukan hanya menambah relijius masjid ini, namun juga menampilkan asas ketuhanan di Islam dan posisi penting para pemimpin agama. Prasasti ini sekali lagi menekankan bahwa para Imam Syiah merupakan pengganti Rasulullah dan mereka memiliki ilmu yang tinggi.

Karya seni lainnya yang menunjukkan ideologi Syiah di Iran adalah karya kerajinan tangan keramik dan ukiran dari logam serta kayu. Para pengrajin logam Iran di abad sembilan Hijriah (15 Masehi) sejatinya merefleksikan keyakinan atas ketuhanan. Ayat, hadis dan doa menjadi bahan utama ukiran para pengrajin ini. Bukti utama hal ini adalah ukiran di bagian atas mangkuk yang berisi doa dan shalawat kepada para Imam serta zikir یا محمد یا علی. Ayat al-Quran diukir dengan indah di bibir mangkuk dan sejumlah kalimat lain yang memuji Imam Ali as. Mangkuk seperti ini merupakan idaman rakyat Iran, Turki dan India saat itu. Masyarakat memiliki keyakinan bahwa air yang mereka minum dari mangkuk seperti ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Dengan demikian, karya seni bersejarah yang masih dapat ditemukan membuktikan babak baru dari sejarah Islam yang dimulai dari pemerintahan Safavi. Perubahan budaya di Iran dimulai ketika Dinasti Safavi memimpin dan menetapkan Syiah sebagai mazhab resmi. Oleh karena itu, penelitian terhadap seni Iran sejak era Safavi hingga kini tak lengkap tanpa memperhatikan peristiwa bersejarah ini.

Imam Al-Baqir as syahid diracun Hisyam bin Abdul Malik

Mengenal Imam Ahlul Bait:
Imam Muhammad Al Baqir, Penyingkap Khazanah Ilmu

 

Riwayat Singkat Imam Al-Baqir as
Nama : Muhammad.
Gelar : Al-Baqir.
Panggilan : Abu Ja’far.
Ayah : Ali Zainal Abidin.
Ibu : Fatimah.
Kelahiran : Madinah, 1 Rajab 57 H.
Kesyahidan : 7 Dzulhijjah 114 H.
Makam : Pemakaman Baqi‘, Madinah.

 

Imam Muhammad Al Baqir, Penyingkap Khazanah Ilmu

Hari Lahir

Imam Muhammad Al-Baqir as dilahirkan pada awal bulan Rajab tahun 57 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kelima Ahlulbait as. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin as, dan ibunya adalah seorang wanita dari keturunan Imam Hasan as yang bernama Fatimah.

Dengan demikian, Imam Muhammad Baqir as adalah imam pertama yang memiliki nasab keturunan Rasulullah saw dari pihak ayah dan ibu, sekaligus.

Imam Al-Baqir as mengalami hidup bersama kakeknya, Imam Husain as pada saat tragedi Karbala, yang ketika itu beliau masih berusia empat tahun.

Beliau hidup bersama ayahnya selama 18 tahun dan masa itu adalah masa keimamahan (kepemimpinan)-nya. Beliau mengkhidmatkan masa-masa hidupnya demi menyebarkan ilmu pengetahuan Islam.

Orang-orang memberi beliau gelar Al-Baqir (Sang Jenius), karena beliau telah membongkar ilmu pengetahuan dari khazanah-khazanahnya. Imam as juga memiliki gelar-gelar lain yang menunjukkan sifat dan akhlak agung beliau, seperti Asy-Syakir (yang banyak bersyukur) dan Al-Hadi (pemberi petunjuk).

Sewaktu masih berusia belia, Imam Muhammad Al-Baqir as bertemu dengan sebagian besar sahabat utama Nabi, seperti Jabir bin Abdillah Al-Anshari. Kepada beliau Jabir mengatakan, “Rasulullah mengirimkan salam untukmu.” Salam ini membuat orang-orang yang hadir saat itu menjadi heran.

Jabir melanjutkan, “Suatu hari aku sedang duduk bersama Rasulullah, sedangkan Husain as berada di haribaannya. Beliau berkata padaku, ‘Hai Jabir, putraku ini kelak mempunyai seorang anak yang bernama Ali. Dan pada Hari Kiamat, seseorang akan memanggilnya ‘Sayyidul Abidin’. Kemudian melalui Ali, seorang anak yang bernama Muhammad Al-Baqir—yang memiliki keluasan ilmu—akan lahir. Bila engkau berjumpa dengannya, sampaikan salamku kepadanya.’”

Imam Al-Baqir as memiliki dua kebun yang dikelola oleh beliau sendiri. Beliau melibatkan para petani untuk menuai hasil kebunnya, serta menginfakkan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Pada zaman itu, beliau dikenal sebagai orang yang paling dermawan.

Dinukil dalam kitab-kitab sejarah, bahwa seorang sufi bernama Muhammad bin Al-Munkadir berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang seperti Ali bin Husain as yang meninggalkan keturunan yang begitu utama, sampai aku melihat putranya Muhammad as. Aku hendak menasihatinya, ia malah lebih dulu menasihatiku. Pada suatu hari, saat matahari terik menyinari bumi, aku keluar menuju sebuah daerah di luar kota Madinah. Aku bertemu dengan Muhammad bin Ali as yang sedang bersandar pada dua orang budaknya. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Orang tua Quraisy di saat seperti ini masih sibuk mencari dunia? Demi Allah, aku akan menasihatinya.’

“Aku mendekatinya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku. Aku melihat dia penuh dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Aku berkata padanya, ‘Semoga Allah memberikan hidayah-Nya padamu, wahai orang tua Quraisy. Di saat seperti ini kau masih sibuk mencari dunia? Bagaimana kalau sekiranya maut datang menjemputmu sedang kau dalam keadaan seperti ini?’

“Ia melepaskan kedua tangannya dari sandaran kedua budaknya dan berkata, ‘Demi Allah, jika sekiranya maut datang kepadaku dalam keadaan seperti ini, sungguh ia datang kepadaku sedang aku dalam ketaatan kepada Allah, yang dengannya jiwaku bisa terhindar darimu dan manusia lainnya. Sesungguhnya yang aku takutkan adalah bila kematian itu datang sedang aku dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.’

“Mendengar jawabannya, aku membalas kagum, ‘Semoga Allah mengasihimu. Aku sebenarnya ingin menasihatimu, malah kaulah yang menasihatiku.’”

Dalam kisah ini, Imam Muhammad Al-Baqir as menunjukkan sikap tegas beliau sehingga orang dapat memahami, bahwa mencari rezeki itu adalah ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT, bukan malah meninggalkan pekerjaan dan menghabiskan waktunya untuk salat sementara hidupnya menjadi tanggungan orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi, seperti Ibn Al-Munkadir dan yang lainnya.

Keilmuan Imam

Seorang warga Syam, yang sebelumnya enggan hadir di majlis Imam Muhammad Al-Baqir as, berkata kepada beliau, “Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih aku benci daripadamu. Kebencian padamu sungguh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Meski begitu, aku melihatmu begitu sopan, beradab serta bertutur-kata yang santun. Maka ketahuilah, kehadiranku di majlismu ini karena kebaikan budi dan bahasamu.”

Dalam setiap kesempatan, Imam Al-Baqir as selalu mengatakan yang baik. Kepada orang Syam itu Imam as mengatakan, “Tiada sesuatu pun yang tersembunyi di sisi Allah SWT.”

Selang beberapa hari, orang tersebut tidak pernah kelihatan lagi. Imam as merasa kehilangan. Beliau bertanya kepada orang-orang yang mengenalnya. Kata mereka, orang itu sedang sakit.

Imam as bergegas menjenguknya. Beliau duduk di sisinya sambil bercakap-cakap dan bertanya tentang penyebab sakitnya. Lalu, Imam menganjurkan agar memakan makanan yang dingin dan segar. Setelah itu, Imam as pun meninggalkan orang tersebut.

Beberapa hari kemudian, orang itu pulih dari sakitnya. Pertama kali yang dia lakukan ialah pergi ke majelis Imam as. Di sana, dia memohon maaf kepada Imam, dan akhirnya menjadi salah satu sahabat beliau.

Dikisahkan, seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang sebuah masalah. Abdullah kebingungan menjawabnya. Ia berkata kepada si penanya, “Pergilah kepada anak itu, dan tanyalah padanya, kemudian beritahukan jawabannya kepadaku.” Anak yang dimaksudkannya itu ialah Imam Muhammad Al-Baqir as.

Maka orang tersebut datang kepada Imam as. dan bertanya padanya. Selekas itu, ia kembali kepada Abdullah dengan membawa jawaban yang didapatkannya dari beliau. Abdullah berkata, “Sesungguhnya mereka adalah Ahlul Bait Nabi yang telah diberikan pemahaman tentang segala sesuatu.”

Dialog dengan Pendeta

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menceritakan, bahwa suatu ketika beliau berada di Syam bersama ayahnya (Imam Muhammad Al-Baqir as). Keberadaan mereka di Syam karena Khalifah Hisyam bin Abdul Malik meminta mereka untuk datang ke sana.

Pada suatu hari, Imam Al-Baqir as melihat kerumunan orang-orang di sebuah tempat. Semua sedang menantikan seseorang. Beliau menanyakan perihal mereka itu. Dijawab, “Mereka itu sedang menunggu salah seorang pendeta, karena ia hanya muncul setahun sekali. Mereka bertanya dan meminta fatwa darinya.”

Imam as ikut menunggu bersama mereka sampai pendeta tersebut datang. Tatkala pendeta itu melihat Imam, ia menyapa beliau, “Apakah Anda dari golongan kami atau dari umat yang perlu dikasihani ini?”

Imam as menjawab, “Aku dari umat ini.”

Pendeta bertanya lagi, “Dari orang awam umat ini atau dari ulamanya?”

Imam menjawab, “Aku bukan dari orang awamnya.”

Pendeta berkata lebih serius, “Aku punya beberapa pertanyaan untuk Anda; dari mana Anda percaya bahwa penghuni surga makan dan minum tapi mereka tidak buang air?”

Imam as menjawab, “Bukti kami adalah janin yang ada dalam rahim ibunya. Ia makan tapi tidak buang kotoran.”

Pendeta itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang setenggat waktu yang tidak terhitung malam juga tidak terhitung siang.”

Imam as menjawab, “Waktu di antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari.”

Mendengar jawaban-jawaban Imam as, sang pendeta terkejut. Ia ingin sekali membungkam Imam dengan pertanyaan lain. Ia berkata, “Kabarkan kepadaku tentang dua bayi yang keduanya dilahirkan pada hari yang sama dan meninggal pada hari yang sama juga. Umur bayi yang pertama 50 tahun dan yang kedua 150 tahun.”

Imam as menjawab, “Uzair dan saudaranya, saat itu usia Uzair 25 tahun. Tatkala melewati suatu desa di Antakia yang ditinggal mati oleh penduduknya, ia merenung, ‘Bagaimana Allah akan menghidupkan penduduk ini setelah kematian mereka?’

“Kemudian Allah SWT mematikan Uzair selama 100 tahun, lalu membangkitkannya lagi dan ia kembali ke rumahnya dalam keadaan muda, sementara saudaranya sudah tua-renta. Uzair hidup bersama saudaranya selama 25 tahun, dan kedua bersaudara itu pun meninggal pada hari yang sama.”

Melihat keluasan dan ketinggian ilmu Imam Al-Baqir as ini, pendeta itu lagi-lagi takjub. Tak ayal lagi, ia pun menyatakan keislamannya di depan khalayak, dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya.

Di Majelis Hisyam

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mengundang Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq. Karena itu, keduanya meninggalkan Madinah, bergerak menuju Syam. Tujuan undangan Hisyam sebenarnya hendak menunjukkan kebesaran kerajaannya.

Setibanya di Syam, Imam Al-Baqir as memasuki istana, yang ketika itu Hisyam duduk di atas singgasana dengan dikelilingi oleh pengawal bersenjata dan di depannya ada golongan elite yang siap berlomba memanah. Hisyam berkata, “Ya Muhammad! Coba kau bertanding melawan orang-orang ini dan bidikkan panah ke sasaran!”

Imam as berkata, “Sesungguhnya aku sudah lama meninggalkan permainan memanah. Maafkan aku.”

Hisyam menolak alasan Imam, dan memaksanya untuk melakukannya. Ia pun menyuruh seorang tokoh dari Bani Umayyah untuk mengambilkan panah dan busurnya. Akhirnya, Imam as menerimanya dan meletakkan anak panah itu pada busurnya, kemudian ia lesatkan ke sasaran dan tepat mengenai titik pusatnya. Untuk kedua kalinya, beliau membidikkan anak panah, hingga yang kesembilan kali. Semua anak panah itu menancap tepat pada sasaran.

Hisyam pun tercengang melihat kepandaian Imam as dan memujinya sambil berkata, “Alangkah pandainya kau wahai Abu Ja’far. Kau adalah orang yang paling pandai memanah dari kalangan Arab dan Ajam. Beginikah kau katakan, ‘Aku sudah lama meninggalkan permainan memanah?”

Kemudian, Hisyam menuntun Imam Al-Baqir as dan mendudukkannya di sampingnya. Ia berkata, “Wahai Muhammad! Bangsa Arab dan Ajam akan senantiasa mengikuti orang-orang Quraisy selagi di tengah-tengah mereka ada orang sepertimu. Demi Allah, siapa yang mengajarimu memanah? Dan pada usia berapakah kau mempelajarinya?”

Imam as menjawab, “Aku belajar di masa aku masih kecil, kemudian aku tinggalkan.”

Hisyam berkata, “Aku tidak pernah menyangka bahwa di atas bumi ini masih ada orang yang memanah seperti ini. Apakah Ja’far (putra Imam as) juga dapat memanah seperti ini? Apakah dia juga dapat memanah sebagaimana engkau memanah?”

Imam as menjawab, “Kami Ahlulbait Nabi mewarisi kesempurnaan dan kelengkapan yang keduanya telah Allah SWT turunkan kepada Nabinya saw dalam firmannya, ‘Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah aku lengkapkan nikmatku untukmu serta aku rela Islam sebagai agamamu.’

Mendengar jawaban itu, muka Hisyam memerah lantaran marah dan berkata, “Dari mana kau mewarisi ilmu ini, padahal tidak ada nabi setelah Muhammad dan kau sendiri juga bukanlah seorang nabi?”

Imam as menjawab, “Kami mewarisinya dari datuk kami Ali bin Abi Thalib as. Beliau pernah berkata, ‘Rasulullah saw telah mengajariku seribu pintu ilmu … Dari setiap pintunya terbuka seribu ilmu lagi ….”

Hisyam pun diam tertunduk sambil berpikir. Lalu ia memerintahkan pengawalnya untuk mengembalikan Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq as ke Madinah secepat mungkin, karena ia takut kehadiran dua Imam ini di Syam akan mengundang simpati warga kota kepada mereka.

Mata Uang Islam

Perebutan batas-batas wilayah yang sangat keras sekali telah terjadi antara negara Islam dan Romawi. Imperium Romawi mengancam Abdul Malik bin Marwan akan memutus mata uang negara Islam bila tidak menyerahkan wilayah-wilayah yang dipersengketakan. Abdul Malik merasa ketakutan dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ia kumpulkan pemuka-pemuka dan tokoh-tokoh umat Islam untuk dimintai pendapatnya, tapi mereka tidak bisa memberikan keputusan apa-apa. Akhirnya, sebagian mereka mengusulkan agar merujuk kepada Imam Muhammad Al-Baqir as.

Lalu, Abdul Malik mengutus utusan untuk memanggil Imam as ke Syam. Beliau pun memenuhi panggilan tersebut. Setelah mengetahui duduk persoalan, beliau mengatakan kepada Abdul Malik, “Tidak ada yang perlu ditakutkan. Cepat kirim utusan ke Kaisar Romawi dan mintalah jangka waktu darinya. Di sela-sela itu, kirimlah surat ke gubernur-gubernur daerah, dan perintahkan mereka untuk mengumpulkan emas dan perak, sehingga bila telah sampai jumlah yang cukup, segeralah engkau mencetak mata uang Islam!”

Kemudian, Imam as menentukan timbangan dan bentuknya. Beliau memerintahkan Abdul Malik untuk menuliskan di atas salah satu sisi uang tersebut kalimat “Muhammad Rasulullah.” Bila pekerjaan ini telah selesai, tidak akan terjadi transaksi dengan mata uang Romawi. Ketika itulah Imperium Romawi tidak akan punya kekuatan lagi di hadapan pemerintahan Islam.

Setelah pekerjaan itu selesai dan mata uang Islam sudah tersebar, Abdul Malik mengeluarkan keputusannya yang terakhir mengenai persengketaan batas-batas wilayah.

Dan ternyata, Imperium Romawi tidak mendapatkan cara apapun untuk melancarkan tekanan terhadap ekonomi negara Islam. Maka, dipilihlah jalan militer. Akan tetapi, mereka pun gagal, setelah laskar-laskar muslimin menyerang pasukan mereka.

Demikianlah Imam kita, Imam Muhammad Al-Baqir as. Dengan pikiran dan arahannya yang cemerlang, beliau telah menyelamatkan pemerintahan Islam dari ancaman musuh-musuh, sehingga kaum muslimin memiliki mata uang sendiri yang menjadi lambang kebesaran Islam.

Sahabat-Sahabat Imam

Tatkala orang-orang Bani Umayyah sibuk meredam kekacauan dan kerusuhan massa di sana-sini, Imam Muhammad Al-Baqir as mendapatkan kesempatan yang baik untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, membina kader-kader, dan mengokohkan ajaran-ajaran Ahlulbait as.

Pada zaman Imam as, telah muncul sebagian murid-murid utama beliau yang memiliki peranan besar dalam penyebaran ajaran-ajaran tersebut. Di antara mereka yang paling menonjol ialah:

1. Aban bin Taghlib

Ia pernah hidup sezaman dengan tiga imam Ahlulbait. Ia juga pernah menghadiri majelis Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Muhammad Al-Baqir as, dan Imam Ja’far Ash-Shadiq as. Namun begitu, ia lebih banyak belajar pada Imam Al-Baqir as.

Aban menonjol di bidang ilmu Fiqh, Hadis, Sastra Arab, Tafsir, dan Nahwu. Imam Al-Baqir as pernah berkata kepadanya, “Duduklah di masjid Madinah dan ajarilah masyarakat, karena sesungguhnya aku lebih suka melihat orang sepertimu di antara pengikutku.”

2. Zurarah bin A’yun

Tentang Zurarah, Imam Ja’far as mengatakan, “Sekiranya tidak ada Zurarah, niscaya hadis-hadis ayahku akan hilang.”

Dalam kesempatan yang lain, Imam as menyatakan, “Semoga Allah mengasihi dan merahmati Zurarah bin A’yun. Seandainya tidak ada Zurarah dan orang-orang sepertinya, tidak akan ada yang tersisa lagi hadis-hadis ayahku.”

3. Muhammad bin Muslim Ats-Tsaqafi

Imam Ja’far Ash-Shadiq as sangat menghormati dan mencintai Muhammad. Dia adalah salah seorang sahabat utama dari empat orang sahabat Imam Ja’far as. Beliau berkata, “Empat orang manusia yang sangat aku cintai, baik mereka masih hidup maupun sesudah meninggal dunia.”

Imam Ja’far as memerintahkan sebagian sahabat-sahabatnya untuk merujuk kepada Muhammad dengan perkataannya, “Ia telah mendengarkan hadis-hadis ayahku, dan dia orang terpandang di sisi ayahku.”

Muhammad bin Muslim sendiri pernah menyatakan, “Aku bertanya kepada Imam Muhammad Al-Baqir as tentang tiga puluh ribu hadis.”

Imam Ja’far as seringkali memuji sahabat-sahabat ayahnya. Beliau mengatakan, “Sekiranya sahabat-sahabatku mendengarkan dan taat kepadaku, niscaya akan aku titipkan kepada mereka apa yang ayahku titipkan pada sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya semua sahabat ayahku menjadi penghias bagi kami, di masa hidupnya maupun matinya.”

Di antara sahabat Imam Muhammad Al-Baqir as yang lain adalah Al-Kumait Al-Asady, seorang pujangga ternama. Setiap kali berjumpa dengannya, Imam Al-Baqir as memanjatkan doa, “Ya Allah! Curahkanlah ampunan-Mu kepada Al-Kumait!”

Hari Kesyahidan

Meskipun usaha Imam Muhammad Al-Baqir as hanya tercurahkan di bidang-bidang ilmu pengetahuan dan penyebaran agama, akan tetapi para penguasa Bani Umayyah tidak bisa tenang melihat keberadaannya, khususnya setelah orang-orang mengetahui keutamaan, keluhuran, dan keluasan ilmu beliau. Kepribadian, akhlak, dan rasa kemanusiannnya menyinari mereka. Sebagaimana dari silsilah nasab beliau yang bersambung langsung ke Rasulullah saw, semua itu mengangkat kedudukannya di hati umat Islam menjadi begitu tinggi nan agung.

Begitu pula bagi Hisyam bin Abdul Malik. Dia senantiasa berpikir untuk membunuh Imam Al-Baqir as. Akhirnya, dia gunakan racun untuk membunuh beliau. Di tangannyalah Imam as syahid pada 7 Dzulhijjah 114 H.

Imam Muhammad Al-Baqir as telah menjalani masa hidupnya selama 57 tahun untuk mengabdi sepenuhnya kepada Islam dan kaum muslimin serta menyebarkan ilmu pengetahuan dan ajaran Ahlulbait as.[]

Mutiara Hadis Imam Al-Baqir as

• “Kesombongan tidak akan masuk ke dalam hati seseorang kecuali akalnya kurang.”

• “Seorang alim yang mengamalkan ilmunya adalah lebih utama dari seribu orang ‘abid (yang tekun ibadah). Demi Allah, kematian seorang alim lebih disukai oleh iblis daripada kematian tujuh puluh orang ‘abid.”

• Kepada salah seorang anaknya, beliau mengatakan, “Wahai anakku, jauhilah kemalasan dan kebosanan, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Sesungguhnya bila kamu malas, niscaya engkau tidak akan pernah menunaikan tanggung jawabmu, dan bila kamu bosan niscaya engkau tidak akan bersabar dalam melaksanakan tugasmu.”

• “Cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memandang aib orang lain sementara aibnya sendiri tidak pernah ia lihat. Dan cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memerintahkan orang lain akan suatu yang ia sendiri tidak mampu mengembannya.”

• Dalam nasihat untuk salah seorang sahabatnya, Imam as mengatakan, “Aku wasiatkan kepadamu lima perkara: bila engkau dianiaya, maka janganlah kau membalasnya, bila engkau dikhianati, maka janganlah kau balas dengan khianat pula, bila kau didustai, maka janganlah kau balas dengan dusta pula, bila engkau dipuji, maka janganlah kau merasa puas, dan bila kau dicela, maka janganlah kau bersedih.”

pada masa Imam Al Hadi as kebencian Al-Mutawakkil terhadap Ahlulbait Nabi as dan Syi’ahnya begitu besar

Khatib solat jumaat;
Pihak yang menghina status Imam Al-Hadi akan segera terima akibatnya
Khatib solat Jumaat mengutuk penghinaan terhadap para imam maksum dan mengingatkan bahawa ajal mereka yang mencerca Imam Hadi (a.s) telah hampir tiba walau di mana pun mereka berada.
Pihak yang menghina status Imam Al-Hadi akan segera terima akibatnya.
Ayatullah Sayid Ahmad Khatami dalam khutbah Jumaat di Universiti Tehran mengecam pihak yang menghina kesucian Imam Hadi (a.s) sambil menyatakan mereka telah tersilap meskipun mendapat bantuan terbuka daripada Barat dan kuasa angkuh dunia.“Sekarang tidak ada lagi jaminan keselamatan mereka walau di mana pun. Saya berharap ini akan menjadi pengajaran buat sesiapa yang sedar tentang status imam maksum (a.s) di kalangan Syiah.”Ayatollah Khatami melanjutkan khutbahnya dengan mengucapkan tahniah di atas kelahiran Imam Muhammad Baqir (a.s) sambil menyatakan bahawa dunia Islam terhutang budi dengan jasa-jasa yang telah disumbangkan oleh beliau dan anaknya, Imam Jaafar Sodiq yang telah mengembangkan Islam sejati.

Mengenai plan menyatukan Bahrain dan Saudi, beliau menganggap rancangan itu sebagai satu penganiayaan dan tekanan terhadap keberanian rakyat Bahrain yang tidak mengizinkan pemerintah mereka membolot kekayaan negara secara tidak adil.

Selain itu beliau turut membari amaran kepada pemimpin Azerbaijan agar tidak menentang Islam dengan menjalinkan hubungan bilateral bersama regim Zionis.

.

Metode Imam Ali Al-Hadi as Mengokohkan Pemikiran Ahlul Bait

Hari ketiga dari bulan Rajab merupakan hari syahadahnya Imam Hadi as. Pada zamannya, beliau adalah pribadi agung yang berusaha kuat menjaga budaya dan pemikiran Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw dari pengaruh perubahan. Sebelumnya kami mengucapkan belasungkawa di hari ini dan untuk memperingati keagungan posisi Imam Hadi as, dalam beberapa saat bersama anda kami akan membahas tentang strategi politik dan budaya beliau dalam menghadapi pelbagai konspirasi yang mengancam Islam dan ajaran pemikiran Ahlul Bait Rasulullah Saw.

Imam Hadi as lahir pada tanggal 15 Dzulhijjah 212 Hq di Madinah. Ketika ayahnya Imam Jawad as mencapai syahadah pada tahun 220 Hq, Imam Hadi yang memegang tanggung jawab kepemimpinan. Beliau memberikan petunjuk dan penerangan kepada masyarakat selama 33 tahun. Kepemimpinan Imam Hadi as bersamaan semasa dengan enam orang khalifah Abbasiah. Di masa kepemimpinan beliau inilah Ahlul Bait Rasulullah Saw banyak mengalami tekanan dari pihak penguasa Abbasiah. Dan salah satu dari enam khalifah yang sezaman dengan beliau dan paling tampak permusuhannya terhadap Ahlul Bait adalah Mutawakkil. Ia berkuasa sekitar 15 tahun lamanya dan yang paling lama di antara enam orang khalifah waktu itu.

Imam Hadi as memulai perjuangannya melawan para penguasa Abbasiah secara tidak langsung dengan menggunakan metode dakwah, budaya dan pendidikan. Metode Imam Hadi as dalam menghadapi para penguasa Abbasiah pada hakikatnya bukan dengan cara memegang senjata atau berhadap-hadapan secara militer. Akan tetapi beliau menggunakan metode yang justru mampu mengalahkan musuh. Dengan kata lain, metode yang digunakan Imam Hadi as dalam menghadapi para penguasa zalim adalah metode sejenis perang lunak. Dalam kondisi zaman itu Imam Hadi as telah menggunakan beragam metode perjuangan yang membuat musuh kelabakan.

Dengan cara dan usaha inilah Ahlul Bait Rasulullah Saw berada di atas pondasi pemikiran dan keyakinan yang kokoh dan logis dan menyebarkannya dengan beragam cara meski mereka senantiasa berada di bawah tekanan politik Bani Umayyah dan Bani Abbasiah. Kapan saja Islam dihadapkan dengan masalah dan pertanyaan, satu-satunya jawaban yang paling memuaskan berasal dari ajaran Ahlul Bait. Para Imam as merancang prinsip-prinsip pemikiran Islam untuk membangun masyarakat Islam

Tekanan berat dari sisi politik dan menyebarnya kerancuan pemikiran dan keyakinan merupakan dua fenomena yang muncul di zaman Imam Hadi as. Tanpa Imam Hadi as, dasar keyakinan dan pemikiran Islam bakal terancam. Sebelum Imam Hadi as dipindahkan ke Samara oleh tentara Abbasiah, beliau tinggal di Madinah yang menjadi pusat keilmuan dan fikih dunia Islam. Aktifitas Imam Hadi as di Madinah membangkitkan kekhawatiran para penguasa zalim Abbasiah. Oleh karena itulah mereka memaksa Imam Hadi as untuk meninggalkan Madinah dan selama 10 tahun beliau hidup dalam tekanan berat di masa kekuasaan Bani Abbasiah. Tekanan berat politik para penguasa Abbasiah terhadap Imam Hadi as menyulitkan masyarakat untuk bisa menemui beliau.

Hal ini dilakukan mereka dengan harapan bahwa ketidakhadiran Imam Hadi as di tengah-tengah masyarakat bakal memunculkan masalah keyakinan. Ketidakhadiran beliau secara perlahan-lahan memunculkan aliran-aliran sesat baik dari sisi fiqih maupun keyakinan. Hal ini membuat agama Islam betul-betul berada dalam bahaya. Untuk menghadapi kondisi sulit ini, Imam Hadi as memperkuat “Lembaga Perwakilan” dan menyebarkannya ke daerah-daerah guna menciptakan koordinasi antara sesama pengikut Ahlul Bait yang tersebar di daerah-daerah.

Sebenarnya sebelum Imam Hadi as, telah ada lembaga perwakilan yang dibentuk oleh para Imam sebelumnya. Tapi kelebihan Imam Hadi as adalah menjadilan badan ini resmi perwakilan dirinya, sehingga masyarakat tetap dapat berkomunikasi dengan beliau lewat wakil-wakilnya. Dengan demikian, tuntunan beliau juga dapat sampai ke masyarakat, tanpa kehadirannya. Metode ini mampu melanggengkan sistem Imamah di tengah tekanan kuat penguasa.

Manajemen Imam Hadi di masa itu sangat berpengaruh dan efektik untuk bisa keluar dari krisis-krisis selanjutnya yang lebih sulit. Karena kondisi politik saat itu berkembang sedemikian rupa sehingga Ahlul Bait pasca Imam Hadi as yakni di masa Imam Hasan Askari as, semakin tertekan. Badan perwakilan sangat penting pengaruhnya dalam mengkoordinasi dan mengatur keilmuan, sosial dan keamanan para pengikut Ahlul Bait as. Dalam lembaga ini, pesan Imam akan sampai kepada para pengikutnya dengan cepat dan sistematik melalui satu kanal yang terpercaya dan resmi. Sehingga dari sisi keamanan tidak sampai menyulitkan para pengikut Ahlul Bait dan tempatnya tidak sampai diketahui oleh orang lain.

Jaringan penting ini dari sisi keilmuan dan fikih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dari sumber aslinya dan hasil pertamanya secara nyata adalah menjawab shubhah-shubhah keyakinan dan pemikiran. Mengambil jawaban  atas masalah-masalah fikih dan teologi dari kanal yang bisa dipercaya bak payung perlindungan yang besar bagi para pengikut Ahlul Bait yang bisa juga dipakai untuk menghadapi pelbagai serangan budaya. Jaringan perwakilan pada hakikatnya berposisi sebagai sebuah jaringan besar universitas yang menghubungkan para pengikut Ahlul Bait dengan pusat penyebaran pemikiran-pemikiran Ahlul Bait, yakni Imam dengan cara halus dan cepat baik dari sisi pemikiran maupun kebutuhan keilmuan sehari-hari.

Satu lagi tindakan Imam Hadi as dalam mengokohkan pemikiran Ahlul Bait adalah mengenalkan posisi Imamah.  Bukti yang paling nyata dan baik dari Imam Hadi as dalam mengenalkan imamah adalah ziarah Jamiah Kabirah yang merupakan sumber yang paling resmi tentang pengenalan Imam. Di mukadimah ziarah, Imam Hadi as menganggap perlu menyebutkan 100 kali takbir yang merupakan bukti keesaan Allah dan tauhid. Selanjutnya beliau menjelaskan tentang kedudukan hakiki Ahlul Bait dengan bahasa doa dan ziarah guna menggugurkan klaim orang-orang yang mengaku dirinya sebagai imam. Mengenalkan Ahlul Bait sebagai tambang dan sumber ilmu. Menolak keyakinan-keyakinan pelbagai kelompok yang meyakini kepemimpinan dan kekuasaan para penguasa Bani Umayah dan Abbasiah dan selainnya.

Ziarah Jamiah Kabirah merupakan sanad yang terbaik untuk mengkoordinasi pemikiran masyarakat Islam di masa itu dan kini menjadi sebab kokohnya pemikiran dan mencegah para pengikut Ahlul Bait agar jangan sampai menyimpang dari sekitar lentera imamah. Dengan ziarah ini ada dua target yang dibidik oleh Imam Hadi as; pertama membela posisi sosial dan peran pembimbing para Imam dan menetapkan kesinambungan hubungan umat dengan imam. Kedua, menolak dan menafikan pemikiran mereka yang mengkultuskan imamah dan Ahlul Bait.

Dengan menggunakan kesempatan yang tepat, Imam Hadi as mengenalkan Bani Abbasiah sebagai penguasa yang tidak sah dan melarang umat Islam untuk bekerjasama dengan mereka kecuali pada masalah-masalah darurat. Dengan usaha ini kedok mereka semakin jelas bagi masyarakat. Dengan menggunakan politik perlawanan negatif terhadap para penguasa zalim, Imam Hadi as menyadarkan masyarakat bahwa jangan sampai mereka mengorbankan ideologinya hanya karena kelezatan dunia yang sementara. Menyadarkan mereka bahwa berdamai dengan kezaliman adalah mengobarkan api yang akan membakar diri mereka sendiri.

Suatu hari seorang laki-laki bernama Ali bin Isa, seorang pegawai pemerintahan Abbasiah. Ia menulis surat kepada Imam Hadi as. Dalam suratnya ia menanyakan pendapat Imam tentang bekerja dengan Bani Abbasiah dan mengambil upah dari mereka. Imam menjawab, “Kerjasama yang dilakukan karena terpaksa tidak masalah dan Allah Maha Pengampun. Namun selain itu tidak baik dan tidak boleh. Kalau kamu tidak mendapatkan kerjaan kecuali hanya di Bani Abbasiah, maka sedikitnya lebih baik dari banyaknya.”

Ali bin Isa kembali menulis surat kepada Imam untuk menjelaskannya lebih jauh bahwa tujuan dia bekerjasama dengan mereka hanya untuk melakukan mencari jalan agar bisa menyerang mereka. Imam menjawab, “Dalam kondisi seperti ini, bekerjasama dengan mereka bukan hanya tidak haram bahkan ada pahalanya.” Dalam penjelasan ini Imam Hadi telah menjelaskan cara berjuang dan menjelaskannya dengan baik bahwa pemerintahan Abbasiah tidak memiliki keabsahan sedikitpun.

Akhirnya para penguasa zalim itu berusaha menyingkirkan Imam Hadi as karena mereka tidak tahan melihat ada pribadi agung seperti beliau ini. Akibatnya pada tanggal 3 Rajab tahun 254 Hq, Imam Hadi as dibunuh atas perintah Mu’taz melalui sebuah konspirasi.  Berita syahadah beliau ini membuat masyarakat memahami sebab syahid beliau karena sebuah konspirasi yang diperintahkan oleh Mu’taz. Reaksi berita syahadahnya Imam Hadi as ini telah membuat sedih masyarakat. di hari syahadahnya Imam Hadi as masyarakat berkumpul di rumah beliau dan semua orang di kota itu tenggelam dalam kesedihan dan tangisan.

Sekali lagi kami ucapkan belasungkawa di hari syahadahnya Imam Hadi as dan mengakhiri pembahasan ini dengan nasihat beliau yang berbunyi:

“Kemampuan dan kekayaan adalah kurangilah angan-anganmu dan ridhalah dengan apa yang mencukupimu.” (Bihar al-Anwar jilid 87, hal 863)(IRIB Indonesia)

.
Mengenal Imam Ahlul Bait as:
Imam Al Hadi as, Teguh di Atas Kebenaran
Riwayat Singkat Imam Ali Al-Hadi
Nama : Ali.
Gelar : Al-Hadi.
Panggilan : Abul Hasan.
Ayah : Imam Muhammad Al-Jawad.
Ibu : Samanah.
Kelahiran : Madinah, 212 H.
Kesyahidan : 254 H.
Makam : Samara, Irak.

Imam Al Hadi as, Teguh di Atas KebenaranHari Lahir

Imam Ali Al-Hadi as dilahirkan pada 15 Dzulhijjah 212 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kesepuluh dari silsilah imam Ahlulbait as.

Ayah beliau ialah Imam Muhammad Al-Jawad as, dan ibu beliau berasal dari Maroko bernama Samanah; seorang wanita yang mulia dan bertakwa.

Ketika sang ayah syahid akibat diracun, Imam Al-Hadi as baru berusia 8 tahun. Pada usia yang masih sangat dini itu pula beliau memegang amanat Imamah (kepemimpinan Ilahi atas umat manusia).

Orang-orang memanggil Imam as dengan berbagai julukan, antara lain Al-Murtadha, Al-Hadi, An-Naqi, Al-’Alim, Al-Faqih, Al-Mu’taman, At-Thayyib. Yang paling masyhur di antara semua julukan itu adalah Al-Hadi dan An-Naqi.

Akhlak Luhur Imam

Imam Ali Al-Hadi as senantiasa menjalani kehidupannya dengan zuhud dan ibadah kepada Allah SWT. Di dalam sebuah kamar yang hanya dihiasai oleh selembar tikar kecil, beliau menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya.

Beliau menyambut orang-orang begitu ramah, berbelas kasih kepada orang-orang fakir, dan membantu orang-orang yang membutuhkannya.
Suatu hari, Khalifah Al-Mutawakkil mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar kepada beliau. Beliau membagi-bagikan uang tersebut kepada fakir miskin.

Pada kesempatan lain, Al-Mutawakil jatuh sakit sehingga para dokter pribadi khalifah kebingungan bagaimana mengobatinya. Lalu, ibu Al-mutawakil mengutus menterinya ,Al-Fath bin Khaqan untuk menemui Imam Ali as. Beliau segera memberinya obat yang reaksinya sangat cepat sekali, sehingga para dokter khalifah itu tercengang melihatnya.

Atas kesembuhan putranya, ibu khalifah mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar sebagai hadiah kepada Imam as, dan beliau pun membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Kisah Batu Cincin

Yunus An-Naqasi masuk datang ke rumah Imam Ali Al-Hadi as. Dalam keadaan gemetar ketakutan, ia berkata kepada beliau, “Wahai tuanku, seseorang dari istana telah datang kepadaku dengan membawa sepotong batu Firuz yang sangat berharga sekali. Ia memintaku untuk mengukirnya. Namun, ketika aku sedang melakukannya, batu tersebut terbelah jadi dua, padahal besok siang aku harus mengembalikannya. Bila dia tahu akan hal itu, pasti dia akan marah padaku.”

Imam as menenangkannya dan berkata, “Jangan kuatir! Tidak akan ada keburukan yang akan menimpamu. Bahkan, dengan izin Allah SWT engkau akan mendapatkan kebaikan darinya.”

Pada hari berikutnya, ajudan Khalifah datang dan berkata, “Sungguh aku telah mengubah pandanganku. Kalau sekiranya kamu bisa memotongnya menjadi dua, aku akan menambah upahmu!”

Pengukir tersebut berpura-pura berpikir padahal hatinya sangat bergembira. Kemudian berkata, “Baiklah, akan aku coba pesananmu itu!”

Akhirnya, pengawal Khalifah berterima kasih pada pengukir tersebut. Dari sana, pengukir itu bergegas menemui Imam Ali as untuk menumpahkan rasa terima kasih kepadanya. Dalam keadaan itu, Imam as berkata kepadanya, “Sungguh aku telah berdoa kepada Allah, semoga Dia memperlihatkan kebaikan khalifah kepadamu dan melindungimu dari kejahatannya.”

Al-Mutawakkil

Setelah Khalifah Al-Mu’tashim meninggal, kedudukannya digantikan oleh khalifah Al-Watsiq yang masa pemerintahannya berlangsung selama 5 tahun 6 bulan. Setelah itu, pemerintahan jatuh ke tangan Al-Mutawakkil.

Pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil, kerusakan dan kezaliman telah mewabah di mana-mana. Pengaruh orang-orang Turki dalam kekhalifahan sangat kuat dan luas sekali, sehingga mereka menjadi pengendali jalannya roda pemerintahan dan khalifah Al-Mutawakkil pun menjadi alat permainan mereka.

Saat itu, kebencian Al-Mutawakkil terhadap Ahlulbait Nabi as dan Syi’ahnya begitu besar. Ia memerintahkan agar membuat sungai di atas makam Imam Husain as dan melarang kaum muslimin untuk menziarahi makamnya. Bahkan, ia telah membunuh banyak peziarah, sampai digambarkan dalam sebuah syair:

Demi Allah, bila Bani Umayyah telah melakukan pembunuhan
terhadap putra dan putri Nabinya secara teraniaya,
kini keluarga saudara ayahnya (Bani Abbas) melakukan hal yang sama.
Maka esok lusa demi Allah ia akan menghancurkan kuburnya.
Mereka menyesal bila seandainya saja tidak ikut serta membunuhnya.

Tak segan lagi, Al-Mutawakkil melakukan pengawasan yang ketat terhadap Imam Ali Al-Hadi as di Madinah. Mata-mata khalifah senantiasa mengintai setiap langkah Imam as, lalu melaporkan padanya setiap gerak dan pembicaraanya.

Al-Mutawakkil merasa kuatir sekali setelah tahu kepribadian dan kedudukan Imam as di tengah-tengah masyarakat. Mereka begitu menghormati dan mencintainya, karena beliau berbuat baik kepada mereka dan menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid.
Al-Mutawakkil mengirim Yahya bin Harsamah sebagai utusan khusus untuk menghadirkan Imam Ali as. Segera ia memasuki kota Madinah. Sementara itu, berita tentang rencana jahat Al-Mutawakkil telah tersebar di tengah-tengah masyarakat, hingga orang-orang berkumpul di seputar tempat tinggal utusan khusus itu, sebagai bentuk kepedulian dan kekuatiran mereka atas apa yang akan terjadi pada diri Imam as.

Dalam pengkuannya, Yahya bin Harsamah mengatakan, “Aku sudah berupaya menenangkan mereka, dan bersumpah di hadapan mereka bahwa aku tidak diperintah untuk menyakitinya.”

Al-Mutawakkil senantiasa berpikir bagaimana cara menurunkan kedudukan tinggi Imam as di tengah masyarakat. Maka, sebagian penasehatnya mengusulkan untuk menebarkan berita-berita bohong yang dapat menjatuhkan kehormatan beliau, melalui saudaranya, Musa yang terkenal dengan perilakunya yang buruk.

Usulan tersebut disambut senang oleh Al-Mutawakkil. Segera ia memanggil Musa. Imam Ali as sendiri pernah memperingatkan saudaranya itu dengan ucapan, “Sesungguhnya khalifah menghadirkanmu untuk menghancurkan nama baikmu dan menyodorkan uang yang dapat menguasaimu. Maka, takutlah kepada Allah, wahai saudaraku dan jannganlah melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya!”
Musa tidak mau menghiraukan nasehat Imam as. Ia bertekad bulat untuk melakukannya, dan ternyata Al-mutawakkil justru merendahkannya. Sejak saat itu pula Khalifah itu tidak menyambut Musa lagi.

Kalimat Hak di Hadapan Orang Zalim

Ibnu Sikkit adalah salah seorang ulama besar. Abul Abbas Al-Mubarrad pernah memberikan kesaksian, “Aku tidak pernah melihat buku karya tulis orang-orang Baghdad yang lebih baik dari buku Ibnu Sikkit tentang Logika.”

Al-Mutawakkil meminta kepada Ibnu Sikkit untuk mengajar kedua anaknya; Al-Mu’taz dan Al-Mu’ayyad.
Suatu hari, Al-Mutawakkil bertanya kepada Ibnu Sikkit, “Mana yang paling kau cintai, kedua anakku ini ataukah Hasan dan Husain?”
Ibnu Sikkit menjawab dengan penuh kebencian, “Demi Allah, sesungguhnya pembantu Imam Ali bin Abi Thalib lebih baik dari pada kamu dan kedua anakmu itu!”

Mendengar jawaban Ibnu Sikkit tersebut, Al-Mutawakkil terperanjat dan begitu berang. Segera ia memerintahkan algojo Turki untuk mencabut lidahnya sampai mati. Demikianlah, Ibnu Sikkit pun pergi ke hadapan Allah SWT dan menemui kesyahidan.
Rasulullah saw telah bersabda, “Penghulu para syahid adalah Hamzah dan seorang yang mengatakan kalimat hak di depan penguasa yang zalim.”

Politik Al-Mutawakkil

Al-Mutawakkil telah menghambur-hamburkan kekayaan umat Islam. Hidupnya dipenuhi dengan foya-foya, serbamewah, dan sombong. Umurnya ia habiskan untuk bermabuk-mabukan dan berpesta pora dengan menghamburkan milyaran uang.
Sementara itu, betapa banyak orang yang hidup dalam kesusahan dan kefakiran, apalagi golongan Alawi (keluarga dan pengikut Imam Ali bin Abi Thalib as) yang senantiasa menjalani hidup mereka dalam kefakiran yang mencekam. Belum lagi hak-hak mereka dirampas, sampai hal-hal yang sangat tidak bernilai dalam kehidupan mereka.

Imam Ali Al-Hadi as bersama putranya dipanggil ke kota Samara. Kemudian mereka diturunkan di sebuah kemah yang di sana sudah berbaris pasukan Al-Mutawakkil. Itu dilakukan supaya beliau berada di bawah pengawalan tentara-tentara yang sangat bengis dan dungu terhadap kedudukan Ahlulbait as.

Rupanya, tentara Al-Mutawakkil itu terdiri atas orang-orang Turki yang telah berbuat kejam, dengan membentuk kondisi dan menciptakan pribadi-pribadi yang tidak lagi mengerti kecuali ketaatan kepada raja-raja dan penguasa.

Beberapa Kisah Menarik

• Seseorang di antara tentara itu mempunyai anak yang tertimpa penyakit batu ginjal, kemudian seorang dokter menasehati agar anaknya menjalani operasi.

Pada saat operasi sedang berjalan, tiba-tiba anak tersebut mati. Lalu orang-orang mencelanya, “Kau telah membunuh anakmu sendiri, maka engkau pun harus bertanggung jawab atas kematiannya.”

Kemudian ia mengadu kepada Imam Al-Hadi as. Beliau mengatakan, “Bagi kamu tidak ada tanggung jawab apapun atas apa yang kamu perbuat. Ia meninggal hanya karena pengaruh obat, dan ajal anak tersebut memang sampai di situ.”

• Suatu hari, seorang anak menyodorkan bunga kepada Imam Ali Al-Hadi as. Lalu Imam as mengambil bnunga itu seraya menciumnya dan meletakkan di atas kedua pelupuk matanya. Kemudian beliau memberikan kepada salah seorang sahabatnya sembari berkata, “Barang siapa mengambil bunga mawar atau selasih kemudian mencium dan meletakkannya di atas kedua pelupuk matanya, lalu membaca shalawat atas Muhammad dan keluarga sucinya, maka Allah akan menulis untuknya kebaikan sejumlah kerikil-kerikil di padang sahara, dan akan menghapuskan kejelekan-kejelekannya sebanyak itu pula.”

Yahya bin Hartsamah yang menyertai perjalanan Imam Ali as dari Madinah ke Samara mengatakan, “Kami berjalan sedang langit dalam keadaan cerah. Tiba-tiba Imam as meminta sahabat-sahabatnya untuk mempersiapkan sesuatu yang bisa melindungi mereka dari hujan.
Sebagian dari kami merasa heran. Malah sebagian yang lain tertawa meledek. selang beberapa saat, tiba-tiba langit mendung dan hujan pun turun begitu derasnya. Imam as menoleh kepadaku dan berkata, “Sungguh engkau telah mengingkari hal itu, lalu kau kira bahwa aku mengetahui alam gaib dan hal itu terjadi bukanlah sebagaimana yang kau kira. Akan tetapi, aku hidup di daerah pedalaman. Aku mengetahui angin yang mengiringi hujan dan angin telah berhembus. Aku mencium bau hujan itu, maka aku pun bersiap-siap.”

• Suatu hari, Al-Mutawakkil menderita sakit. Ia bernazar untuk menyedekahkan uang yang banyak tanpa menentukan berapa jumlahnya. Dan ketika ia hendak menunaikan nazarnya, para fuqaha (ahli hukum) berselisih pendapat tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan oleh Al-Mutawakkil. Mereka pun tidak mendapatkan suatu kesepakatan.

Sebagian mereka mengusulkan untuk menanyakan masalah kepada Imam as. Tatkala ditanya tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan, Imam as menjawab, “Banyak itu adalah delapan puluh.”

Meresa belum puas. Mereka meminta dalil dari Imam as. Beliau mengatakan, “Allah berfirman, ‘Allah telah menolong kalian dalam berbagai kesempatan. Maka, Kami hitung medan-medan peperangan dalam Islam’. Dan jumlahnya medan peperangan itu adalah delapan puluh.”

Penggeledahan Rumah

Meskipun Imam Ali Al-Hadi as dalam tahanan rumah yang ketat, beliau tidak luput dari berbagai fitnah dan tuduhan kosong. Salah seorang di antara mereka melaporkan kepada Al-Mutawakkil, bahwa Imam as mengumpulkan senjata dan uang untuk mengadakan pemberontakan. Maka, Al-Mutawakkil memerintahkan Sa’id, penjaganya untuk memeriksa rumah beliau pada waktu malam, dan mengecek tentang kebenaran berita tersebut.

Tatkala ia memeriksa rumah Imam, ia dapati Imam as dalam sebuah kamar dan tidak ada sesuatu apapun di dalamnya kecuali sehelai tikar. Di dalamnya beliau sedang melakukan shalat dengan khusyuk.

Ia telah memeriksa rumah Imam as dengan awas dan jeli. Akan tetapi, ia tidak menemukan suatu apa pun. Kemudian ia berkata pada Imam, “Maafkan aku tuanku. Aku hanya diperintahkan.”

Imam as menjawab dengan sedih, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui akibat perbuatan mereka sendiri.”

Kandang Binatang Buas

Seorang perempuan mengaku, bahwa dirinya adalah Zainab putri Ali bin Abi Thalib as. Ia berkata, bahwa masa mudanya terus berganti setiap 50 tahun.

Segera Al-Mutawakkil mengirimkan utusan dan bertanya kepada Bani Thalib. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Zainab as telah meninggal pada tanggal sekian dan telah dikuburkan. Akan tetapi, perempuan ini tetap saja bersikukuh pada pengakuannya.
Menteri Al-Mutawakkil yang bernama Al-Fath bin Khaqan jengkel melihat itu. Ia berkata, “Tidak ada yang bisa mengetahui tentang hal ini kecuali putra Imam Ridha as.”

Maka, Al-Mutawakkil mengutus utusan kepada Imam Ali Al-Hadi as dan menanyakan perihal perempuan tersebut padanya. Kemudian Imam as. menjawab, “Sesungguhnya terdapat tanda pada keturunan Ali as. Tanda itu adalah binatang buas tidak akan mengganggu dan menyakitinya. Maka, cobalah kumpulkan perempuan itu bersama binatang buas, dan bila dia tidak diterkam, maka dia benar.”

Tak tahan lagi, Al-Mutawakkil ingin sekali menguji kebenaran ucapan Imam as di atas. Beliau pun masuk ke dalam sangkar binatang buas dengan penuh keyakinan. Tiba-tiba binatang buas di dalamnya mengikuti beliau sambil mengebas-kebaskan ekor di telapak kaki beliau.
Saat itu Al-Mutawakkil memerintahkan untuk melemparkan wanita tersebut ke dalam sangkar itu. Tatkala binatang buas itu muncul, ia pun menjerit dan segera menarik balik pengakuannya.

Di Majelis Al-Mutawakkil

Di saat sedang mabuk, Al-Mutawakkil memerintahkan para pengawalnnya agar segera mendatangkan Imam Ali Al-Hadi as. Dengan cepat mereka bergegas menuju kediaman beliau. Sesampainya di sana, mereka memasuki rumah Imam as dengan keras dan menyeret beliau sampai di istana khilafah.

Ketika Imam as berdiri di hadapan Al-Mutawakkil, khalifah yang zalim itu mengambil kendi khamer dan meminumnya sampai mabuk, lalu ia mendekati Imam as dan menyodorkan segelas minuman haram tersebut kepada beliau.

Imam as menolak dan berkata, “Demi Allah, darah dagingku tidak bercampur sedikit pun dengan minuman ini.”
Hari Kesyahidan

Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan pada Allah SWT, Imam Ali Al-Hadi as menjalani kehidupan dunia yang fana ini. Cobaan demi cobaan telah beliau lewati dengan segenap ketabahan. Hingga akhirnya, pada tahun 254 Hijrih beliau menjumpai Tuhannya dalam keadaan syahid akibat racun yang merusak tubuhnya.

Ketika itu usia Imam as menginjak usia 42 tahun. Beliau dimakamkan di kota Samara yang kini ramai dikunjungi kaum msulimin dari berbagai belahan dunia.

Murid-Murid Imam Ali

Meskipun Imam as senantiasa hidup di bawah pengawasan yang begitu ketat, namun beliau memiliki murid-murid yang tetap setia kepadanya. Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berjumpa dan bertatap muka dengan Imam as. Salah seorang dari mereka adalah Abdul ‘Azhim Al-Hasani.

Abdul ‘Azhim termasuk ulama besar dan seorang yang amat bertakwa. Dalam berbagai kesempatan, Imam Ali as seringkali memujinya. Ia senantiasa menunjukkan penentangannya terhadap penguasa. Kemudian ia bersembunyi di kota Rey dan meninggal di sana. Hingga sekarang ini, makam beliau masih selalu dipadati oleh para peziarah.

Murid beliau yang lain adalah Hasan bin Sa’id Al-Ahwazi. Ia juga termasuk sahabat Imam Ali Ar-Ridha as dan Imam Muhammad Al-Jawad as. Ia hidup di Kufah dan Ahwaz, kemudian pindah ke Qom dan meninggal dunia di sana. Hasan menyusun tiga puluh karya tulis di bidang Fiqih dan Akhlak. Di antara jajaran perawi, ia termasuk orang yang tsiqah (terdipercaya) dalam meriwatkan hadis-hadis.

Selain Abdul ‘Azhim dan Hasan, sahabat setia Imam Ali Al-Hadi as ialah Fadhl bin Syadzan An-Naisyaburi. Ia terkenal sebagai seorang ahli Fiqih besar dan ahli ilmu Kalam terkemuka.

Fadhl banyak meriwayatkan hadis dari Imam Ali as. Bahkan, anaknya pun ikut menjadi salah seorang sahabat Imam Hasan Askari as. Imam Ali as sering memujinya. Ia menasehati orang-orang Khurasan untuk merujuk kepada Fadhl dalam berbagai masalah yang mereka hadapi.[]
Mutiara Hadis Imam Ali Al-Hadi

• “Barang siapa taat kepada Allah, maka ia tidak akan kuatir terhadap kekecewaan makhluk.”
• “Barang siapa tunduk pada hawa nafsunya, maka ia tidak akan selamat dari kejelekannya.”
• “Barang siapa rela tunduk terhadap hawa nafsunya, maka akan banyak orang-orang yang tidak suka padanya.”
• “Kemarahan itu terdapat pada orang-orang yang memiliki kehinaan.”
• “Pelaku kebaikan itu lebih baik daripada kebaikan itu sendiri. Sedang pelaku keburukan itu lebih buruk daripada keburukan itu sendiri.”
• “Cercaan itu lebih baik dari pada kedengkian.”
• Beliau berkata kepada Al-Mutawakkil, “Janganlah engkau menuntut janji kepada orang yang telah engkau khianati.”

Hukum Menjadi PNS bagi penganut mazhab Syi’ah Imamiyah di Indonesia

PENGAMBILAN SUMPAH/JANJI PNS

Sumpah Pegawai Negeri Sipil RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 1975 pasal 6 yang berbunyi: “Demi Allah, Saya Bersumpah: Bahwa saya untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah; Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab; Bahwa saya akan senantiasa menjungjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan martabat Pegawai Negeri serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan; Bahwa saya akan memegang rahasia sesuatu menurut sifatnya atau menurut perintah saya haruus merahasiakan; Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara.”

473fc  sumpah pns Asyik! Tahun Ini PNS Dapat Jatah Perjalanan Dinas Rp 24 Triliun

Hukum Menjadi PNS di Pemerintahan Kufur bagi penganut mazhab  Syi’ah Imamiyah di Indonesia

Sebagaimana Rasulullah sebelum Futuh Mekkah !

Hal ini perlu dirinci lebih lanjut. Pasalnya, tidak semua jabatan PNS memiliki hukum yang sama, saat sekarang ini dimana kaum muslimin tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki dominasi, . Ada PNS yang lingkup kerjanya membuat kebijakan-kebijakan, ada pula yang bertugas melaksanakan suatu kebijakan; ada pula yang hanya melakukan tugas-tugas administratif. Fakta pekerjaannya akan menentukan pula status hukum atas PNS tersebut.

Pada masalah ini, ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya merupakan kekufuran, dan ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya dosa besar, dan ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya tidak masuk ke dalam dua kategori ini. Kita akan merincinya dan menyebutkan contoh-contohnya.

1.     Pekerjaan yang bersifat kekufuran

Di antara pekerjaan atau dinas yang merupakan kekufuran adalah dinas yang mengandung salah salah satu di antara hal-hal berikut ini:

a)     Dinas yang mengandung pembuatan hukum.

Seperti orang-orang yang ada di lembaga legislatif dari kalangan anggota-anggota parlemen, karena di antara tugas parlemen itu adalah membuat hukum, maka pekerjaan ini adalah merupakan pekerjaan kekufuran.Maka dia kufur jika menghalalkan hukum jahiliyah


b)    
Pekerjaan yang tugasnya bersifat pemutusan dengan selain hukum Allah. 

Orang yang bekerja dimana pekerjaannya adalah memvonis dan menuntut dengan selain hukum Allah, seperti para jaksa dan hakim. Mereka menuntut dan memutuskan di persidangan, si jaksa yang memuntut dan si hakim yang memutuskan, sedangkan kedua-duanya adalah memutuskan dengan selain hukum Allah. Pekerjaan semacam ini, pemutusan dengan selain hukum Allah. Maka dia kufur jika menghalalkan hukum jahiliyah


c)    
Pekerjaan yang bersifat nushrah (pembelaan/perlindungan) bagi sistem thaghut ini. 

 Anshar Thaghut, seperti; tentara, polisi, atau badan-badan intelejen.Maka dia kufur jika menghalalkan hukum jahiliyah

d)    Setiap pekerjaan yang bersifat tawalliy kepada hukum thaghut. 

Orang yang dzat pekerjaannya tawalliy (loyalitas) kepada sistem thaghut, dia melaksanakan hukum-hukum thaghut secara langsung, seperti aparat thaghut yang bekerja di departemen kehakiman, dinas mereka langsung tawalliy kepada hukum thaghut. Maka dia kufur jika menghalalkan hukum jahiliyah

e)    Orang yang bersumpah untuk loyal kepada thaghut (sistem/hukum/undang-undang) 

Setiap orang yang bersumpah untuk loyal kepada undang-undang lalu menghalalkan hukum jahiliyah, apapun dinasnya, walaupun dia kerja di dinas pendidikan umpamanya, atau dinas pertanian, atau dinas perhutanan, akan tetapi jika dia bersumpah untuk loyal kepada undang-undang atau kepada sistem thaghut, maka apapun bentuk pekerjaannya jika dia melakukan sumpah, maka dia kufur dengan sebab sumpahnya, bukan dengan sebab pekerjaannya


2.      
Pekerjaan yang bersifat keharaman 

Jika pekerjaan selainnya yang tidak ada kelima unsur tadi; tidak ada pembuatan hukum, tidak ada pemutusan dengan selain hukum Allah, tidak ada pembelaan atau tidak ada tawalliy, tidak ada janji setia kepada hukum thaghut, maka dinas-dinas yang tidak ada kelima unsur tadi harus dilihat apakah dinas tersebut dinas kedzaliman yang merupakan keharaman ataukah bukan (dinas yang mubah). 

Apabila dinas tersebut adalah dinas keharaman lalu tidak ada lima hal tadi, seperti di perpajakan atau bea cukai atau keimigrasian yang merupakan kedzaliman, atau di bank-bank riba, maka ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang haram.  Orang yang bekerja sebagai PNS di bea cukai, dzat pekerjaannya adalah haram karena kedzaliman, dan jika ada sumpah maka dia kufur dari sisi sumpahnya, jika tidak ada sumpah, maka pekerjaannya itu adalah pekerjaannya saja yang haram.

Apabila pekerjaan tersebut berhubungan dengan perkara-perkara haram seperti pajak, pariwisata haram, bank ribawi dan sejenisnya, maka hukum kerjanya juga haram, karena itu termasuk tolong-menolong dalam kejelekan yang jelas diharamkan dalam Islam.

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Dan bertaqawalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Qs. Al-Maidah: 2)

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ : هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir berkata: “Rasulullah melaknat pemakan riba, pemberinya, sekretarisnya dan dua saksinya.” Dan beliau bersabda: ‘Semuanya sama.’” (HR. Muslim: 1598)

3.      Pekerjaan yang mubah zatnya, tetapi fasik dari sisi sumpah

Kefasikan golongan ini disebabkan oleh sumpahnya jika sumpah tsb tidak dihalalkan dalam hati, bukan karena dinasnya. Seandainya tidak ada kelima hal tadi, terus pekerjaannya juga bukan pekerjaan yang haram, maka itu adalah pekerjaan yang mubah (yang boleh-boleh saja) seperti di kesehatan, di pertanian, di kelautan, atau dinas-dinas yang bukan merupakan kekufuran dan bukan merupakan keharaman.

Para ulama mengatakan bahwa jika dinas tersebut milik thaghut maka minimal hukumnya makruh, tidak dikatakan mubah karena minimal dia dekat dengan thaghut. Hukumnya makruh tapi dengan syarat dia tetap menampakkan keyakinannya 

Pada dasarnya, PNS (pegawai negeri sipil) termasuk dalam lingkup pembahasan ijarah (bekerja). Islam membolehkan seorang Muslim mengontrak seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan; maupun dikontrak untuk melakukan suatu pekerjaan selama pekerjaan tersebut tidak melanggar syari’at. Seseorang sah mendapatkan kompensasi atas pekerjaan yang ia lakukan, jika ia telah menunaikan dan menyelesaikan pekerjaannya. Sebab, ijarah (bekerja) adalah ‘aqd ‘ala manfa’at baina al-âjir wa al-musta’jir bi ‘iwadl (aqad atas suatu manfaat antara pekerja dan orang yang mempekerjakannya dengan disertai sejumlah kompensasi). Seorang Muslim yang menjadi PNS, sesungguhnya ia sedang dikontrak oleh pemerintah untuk melakukan sejumlah pekerjaan. Dosen, misalnya, ia dikontrak oleh pemerintah untuk mengajar mahasiswa di perguruan tinggi, sesuai dengan bidang dan kompetensinya

.

Di dalam sistem pemerintahan demokrasi, bupati dan camat, adalah pegawai yang dipilih rakyat untuk memimpin kabupaten dan kecamatan, dan memerintah kecamatan dan kabupatennya berdasarnya hukum-hukum kufur. Seorang hakim, adalah pegawai yang dikontrak oleh pemerintah untuk menyelesaikan persengketaan di tengah-tengah masyarakat berdasarkan hukum-hukum kufur. Polisi dan tentara dikontrak untuk menjaga negara, aparat negara, maupun sistem kufur yang diberlakukan di negara ini. Fakta-fakta semacam ini tentunya memiliki hukum yang berbeda, alias tidak sama

.

Seorang Muslim yang dikontrak oleh pemerintah untuk bekerja pada hal-hal yang mubah, semacam mengajar mahasiswa di perguruan tinggi negeri tidaklah berdosa jika ia menerima kontrak tersebut dan mendapatkan imbalannya. Sebab, aqad ijarah antara dirinya dengan pemerintah telah sah, dan pekerjaannya termasuk pekerjaan halal –selama ia mengajarkan mata kuliah yang tidak bertentangan dengan aqidah dan syari’at Islam. Jika ia dikontrak untuk mengajar mata kuliah yang bertentangan dengan aqidah dan syari’at Islam, maka ia tidak boleh menandatangani kontrak tersebut. Pasalnya, kontrak tersebut bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam

.

Namun, jika sejak awal ia berani menyampaikan kepada team screaning pegawai negeri, bahwa jika ia akan mengkritisi mata kuliah yang tidak Islami itu dengan Islam, kemudian team screaning tidak mempersoalkan masalah tersebut, maka ia sah menjadi PNS untuk mata kuliah tersebut. Namun, ketika ia menyampaikan perkuliahan, wajib mengkritisi dan mengungkap kesalahan mata kuliah tersebut dengan Islam

.

Adapun jika pemerintah memberikan sejumlah syarat kepada seseorang sebelum ia masuk menjadi PNS, misalnya, syarat pemberian loyalitas kepada sistem kufur maupun syarat-syarat lain yang bertentangan dengan syari’at, maka sejak awal ia harus berani menyampaikan bahwa ia tidak menerima syarat itu, atau mengusulkan agar syarat-syarat itu diubah. Jika, usulnya diterima, maka sahlah aqad ijarah dia dengan pemerintah. Namun, jika pemerintah sebagai pihak yang mengontrak bersikukuh dengan syarat itu, dan dia tidak mau mengubah syarat-syarat tersebut, maka, seorang Muslim dilarang menandatangani aqad kerja tersebut. Sama seperti jika anda hendak bekerja di dalam sebuah perusahaan, kemudian, perusahaan itu mensyaratkan anda untuk berbohong kepada publik, maka anda tidak boleh bekerja di perusahaan tersebut, hingga perusahaan tersebut mengubah syarat-syaratnya

.

Namun, jika seorang Muslim dikontrak untuk membuat policy atau melaksanakan kebijakan yang bertentangan dengan syari’at Islam, maka ia tidak boleh menerima pekerjaan tersebut, atau menduduki jabatan tersebut. Misalnya, menjadi mentri, presiden, gubernur, bupati, atau pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan urusan kekuasaan maupun pembuatan keputusan-keputusan yang bertentangan dengan aqidah dan syari’at Islam. Demikianlah, anda sudah kami jelaskan secara jernih dan mendalam hukum menjalin aqad ijarah dengan pemerintahan kufur

.

sumpah jabatan telah mengalami degradasi ganti saja dengan

Ringkasan Pertanyaan dari wahabi ke web ini :
.
Salman Parsi dan Ammar bin Yasir pada masa pemerintahan Umar menerima posisi sebagai gubernur, mengapa keduanya menerima posisi gubernur ini?Salman Parsi pada masa khilafah Umar adalah Gubernur Madain. Dan Ammar bin Yasir menjabat sebagai Gubernur Kufah. Keduanya merupakan sahabat dan Syiah Ali bin Abi Thalib As , mengapa mereka menerima jabatan tersebut? Tentu mereka sekali-kali tidak akan membantu orang-orang jahat dan orang-orang murtad. Karena Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (Qs. Al-Hud [11]:113)
.
Jawaban Global Syi’ah :

Menyimak beberapa poin berikut ini mungkin akan dapat membantuk kita untuk menemukan jawaban dan hakikat persoalan ini:

1.     Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad. Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.

2.     “Ru-ku-n” derivatnya dari klausa ru-k-n yang bermakna tiang dan dinding-dinding yang menjaga bangunan atau segala sesuatu yang lain tetap berdiri. Kemudian dimaknai bersandar dan mengandalkan sesuatu. Harap diperhatikan bahwa rukun tidak semata-mata bermakna penyandaran melainkan penyandaran yang senantiasa disertai dengan kecendrungan.

Yang dimaksud dengan “zhalamu” adalah seluruh orang yang melakukan kezaliman di antara para hamba Tuhan dan menjadikan mereka sebagai budak dan hambanya.

3.     Syiah meyakini bahwa meski manusia tidak boleh berpartisipasi dalam kezaliman dan kejahatan para zalim dan meminta pertolongan dari mereka serta memiliki kecendrungan terhadap mereka namun boleh jadi mereka berpartisipasi pada pemerintahan-pemerintahan tiran karena motivasi-motivasi positif dalam beberapa kondisi tertentu dan mereka tidak menjadi mitra dalam kezaliman mereka. Keberadaan mereka berada pada tataran ingin mengerjakan pekerjaan-pekerjaan positif dan memenuhi hajat-hajat masyarakat. Penjelasan masalah ini akan dibeberkan pada jawaban detil pada site ini.

4.     Kita ketahui bahwa situasi dan kondisi yang berkembang pada masa-masa kemunculan Islam adalah situasi dan kondisi khusus. Islam baru saja berdiri dan berada dalam kepungan musuh dalam dan luar negeri. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, dengan motivasi ingin menjaga Islam dan membantu supaya Islam mengalami kemajuan dan kesempurnaan, maka tidak ada halangan bahwa Imam Ali As bekerja sama dengan para khalifah sebagai konsultan maksum yang memberikan musyawarah dan panduan kepada para khalifah. Demikian juga Salman dan Ammar menerima jabatan Gubernur Madain dan Kufah atas restu dan izin Imam Ali As

.

Jawaban Detil Syi’ah :

Untuk sampai pada sebuah kesimpulan kokoh dan final kita harus mengkaji beberapa masalah krusial sebagaimana berikut:

Apakah Syiah meyakini kemurtadan para khalifah?

Apa makna rukun dan zhulm pada ayat yang dimaksud?

Apakah penerimaan tanggung jawab pada pemerintahan-pemerintahan tiran sama sekali tidak dibenarkan?

Apakah penerimaan tanggung jawab pada pemerintahan bermakna sokongan dan dukungan terhadap pemerintahan dan penguasanya?

.

1. Apakah Syiah meyakini kemurtadan para khalifah?

Meski Syiah memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad. Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.

.

Kriteria dan pakem Syiah dalam berhadapan dengan para khalifah adalah interaksi para Imam Maksum As khususnya Imam Ali As dengan mereka bukan ucapan-ucapan orang awam karena Syiah sejati berpandangan bahwa mereka adalah pengikut dan pecinta para Imam Maksum As.

.

Apa yang paling penting bagi Imam Ali As dan para Imam Maksum lainnya sedemikian sehingga seluruh wujudnya dikorbankan adalah menjaga asas dan pilar Islam. Atas dasar ini, Imam Ali As tidak pernah urung dan menolak untuk bekerjasama dengan para khalifah sepanjang pokok dan inti ajaran Islam tetap terjaga. Tatkala beliau diminta untuk memberikan bimbingan dan musyawarah maka beliau memberikan sebaik-baik bimbingan dan musyawarah kepada mereka. Dalam banyak hal, Imam Ali As mengutus putra-putranya untuk ke medan perang di bawah komando para khalifah. Karena Imam Ali As tidak menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Segala yang diinginkannya adalah Islam.  Mengingat bahwa Abu Bakar dan Umar, bagaimanapun, berada pada di pucuk kepemimpinan umat Islam sehingga apabila Imam Ali menentang mereka, itu pun pada masa-masa sensitif seperti itu Islam tengah mengalami perkembangan, pelbagai penaklukan dan memiliki banyak musuh, maka akan menyebabkan penyalahgunaan musuh-musuh Islam khususnya dua emperium besar Persia dan Roma. Imam Ali dengan kejelian danmengambil sikap yang benar sepert ini telah membuat para musuh putus harapan.[3]

2. Apa makna rukun dan zhulm pada ayat terkait?[4]

Ru-kun derivatnya dari kata ru-k-n yang bermakna pilar dan dinding-dinding yang menopang bangunan atau segala sesuatu yang lain. Kemudian bermakna bersandar dan bertopang kepada sesuatu.[5]

Alladzina zhalamu (orang-orang yang zhalim) juga mencakup seluruh orang yang berbuat zalim dan jahat di antara para hamba Tuhan dan menjadikan mereka sebagai budaknya dan memanfaatkan tenaga-tenaga mereka untuk memperoleh manfaat.[6]

Namun kiranya kita perlu mengingat poin ini bahwa rukun (pada redaksi ayat la tarkun) tidak semata-mata bermakna bersandar melainkan bersandar yang disertai dengan kecendrungan. Atas dasar itu, kata tersebut menjadi intransitif dengan huruf “ila” bukan dengan “’ala.” Penafsiran yang dilakukan oleh para ahli bahasa adalah penafsiran umum yang merupakan tradisi dan kebiasaan para ahli bahasa.[7]

Karena itu, rukun (cenderung) kepada para penjahat merupakan sejenis penyandaran yang bersumber dari kecendrungan dan gairah kepada mereka. Terlepas apakah kecondongan ini berkaitan dengan pokok agama misalnya mereka berkata-kata ihwal sebagian hakikat agama yang menguntungkan mereka dan mendiamkan apa yang mendatangkan kerugian bagi mereka, atau pada kehidupan beragama misalnya memberikan izin para penjahat untuk berbuat seenaknya dalam mengatur urusan masyarakat agama dan mengambil wewenang urusan-urusan umum masyarakat, atau ia menyukai mereka dan kesukaannya berujung pada meleburnya ia dengan mereka dan ujung-ujungnya menyisakan pengaruh buruk pada konteks kehidupan masyarakat atau seseorang di tengah masyarakat.

Dengan demikian, mempercayai para penjahat dalam interaksi dan transaksi jual-beli dan demikian juga mengandalkan mereka dan pada sebagian urusan memandang mereka sebagai orang terpercaya tidak tercakup dalam ayat di atas. Kita sendiri menyaksikan Rasulullah Saw pada malam Hijrah, tatkala beliau bergerak dari Mekah ke goa Tsur beliau menjadikan seorang Quraisy sebagai orang kepercayaannya (amin) dan menyewa kendaraan darinya untuk perjalanan ke Madinah. Demikian juga, Rasulullah Saw memandangnya sebagai amin dan dapat dipercayabahkan hingga setelah tiga hari. Kaum Muslimin sendiri dalam mengikut jejak Rasulullah Saw melakukan transaksi dengan orang-orang kafir dan musyrik.[8]

Atas dasar ini, Syiah meyakini bahwa pada tingkatan pertama kita tidak boleh ikut serta dalam setiap kezaliman dan kejahatan dan mengambil pertolongan darinya. Pada tingkatan-tingkatan berikutnya, mempercayai mereka pada hal-hal yang dapat menyebabkan lemahnya masyarakat Islam dan hilangnya kemerdekaan, kemandirian dan menjadikan mereka bergantung harus dihindari karena kecendrungan (rukn) seperti ini hanya membuahkan kekalahan, kelemahan dan kejatuhan kaum Muslimin.[9]

Namun dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah disebutkan bahwa kaum Muslimin harus tunduk di bawah penguasa zamannya yang dikenal sebagai Ulul Amri, terlepas siapa pun dia. Misalnya dinukil dari sebuah hadis Rasulullah Saw yang menegaskan bahwa kalian harus menaati penguasa meski ia merampas hartamu dan mencambukmu! Demikian juga riwayat-riwayat lainnya yang menegaskan keharusan taat kepada penguasa dalam arti yang luas.[10]

3. Apakah penerimaan tanggung jawab pada pemerintahan-pemerintahan tiran sama sekali tidak dibenarkan?

Dari makna ayat yang telah diuraikan menjadi jelas bahwa rukn ke arah zalim bermakna bersandar dan percaya kepadanya disertai dengan adanya kecendrungan.

Adapun penerimaan tanggung jawab dari pemerintahan-pemerintahan tiran, senantiasa tidak disertai dengan pendekatan seperti ini. Karena itu penerimaan tanggung jawab pada pemerintahan-pemerintahan seperti ini tidak dapat dihukum sebagai terlarang.

Kehadiran pada pemerintahan-pemerintahan tiran ini boleh jadi memiliki ragam motivasi di antaranya:

1.     Untuk mengokohkan pemerintahan tiran

2.     Untuk menyebarluaskan kejahatan.

3.     Untuk memenuhi ambisi duniawi.

Apabila sesorang memikul jabatan pemerintahan tiran dengan motivasi-motivasi seperti ini maka hukumnya adalah tercela, buruk dan haram.

Meski kehadiran seseorang pada pemerintahan adalah sejenis sokongan terhadap pemerintahan tersebut atau minimal hal tersebut dapat disimpulkan seperti ini. Demikian juga dapat menyebabkan penguatan dan pengokohan pemerintahan tersebut.

Namun dalam sebagian urusan terdapat orang-orang dengan motivasi-motivasi positif berpartisipasi dalam pemerintahan tiran.  Tentu saja nilai mereka berbeda dengan kelompok pertama.

Atas dasar itu, terdapat perbedaan hukum atas orang-orang dengan motivasi positif dan yang memiliki motivasi negatif di atas. Hal ini bergantung pada signifikansi kehadiran orang tersebut pada lingkungan seperti itu boleh jadi hukumnya adalah mubah (boleh), mustahab (dianjurkan) bahkan wajib.

Dalam kitab Wasâil al-Syiah terdapat sebuah pembahasan dengan judul pembahasan, “Bab Kebolehan Menerima Tanggung Jawab dari Penguasa Tiran untuk Membantu Orang-orang Beriman dan Mengenyahkan Keburukan yang Akan Menimpa Mereka serta Menunaikan Kebenaran Apabila Memungkinkan.”[11]

Dalam bab ini, terdapat banyak riwayat yang menunjukkan kebolehan penerimaan tanggung jawab dari pihak penguasa tiran. Sebagai contoh, kami akan menyebutkan beberapa riwayat tersebut sebagai contoh adalah sebagaimana berikut ini:

1.     Dari Ali bin Yaqtin (menteri Harun al-Rasyid Khalifah Abbasiyah) dinukil bahwa ia berkata, “Imam Musa Kazhim As bersabda kepadaku, “Terdapat beberapa sahabat yang bekerja di samping para penguasa semata-mata untuk Tuhan dengan maksud untuk menguburkan keburukan-keburukan mereka terhadap para wali Allah Swt.”[12]

2.     Demikian juga bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan Allah Swt dari api neraka.”[13]

3.     Imam Shadiq As bersabda, “Kompensasi pelayanan kepada penguasa (sultan) adalah berbuat baik kepada saudara-saudara.”[14]

Qurb al-Asnâd dengan sanadnya hingga Ali bin Yaqtin yang menulis surat kepada Imam Musa Kazhim, bekerja sebagai pelayan (menteri) sultan sangat mengganggu perasaanku. Apabila Tuan mengizinkan saya mengundurkan diri dari jabatanku. Imam menjawab bahwa saya tidak menginzinkan engkau mundur dari pekerjaanmu. Bertakwalah kepada Allah.”[15]

Dalam banyak riwayat juga kita kita membaca bahwa para Imam Ahlulbait As juga memberikan izin seperti ini kepada selain Ali bin Yaqtin.[16]

Bagaimanapun menerima atau menolak jabatan-jabatan seperti ini mengikut pada aturan penting (muhim) dan lebih penting (aham). Untung dan rugi agama dan masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan.

Karena itu, menerima jabatan dalam pemerintahan tiran boleh jadi memiliki motivasi positif dan memberikan efek yang banyak.

Sebagian motivasi positif, sebagai bandingan motivasi negatif di atas, adalah sebagai berikut:

Pada sebagian urusan terdapat preferensi bagi sebagian orang yang berseberangan dengan kecendrungan batin atau pelbagai intimidasi yang mengancamnya siap untuk menerima jabatan pada pemerintahan-pemerintahan tiran. Sebagian preferensi tersebut adalah sebagai berikut:

1.     Berbuat baik kepada saudara-saudara seagama

Bandar bin Ashim berkata, Imam Musa bin Ja’far bersabda kepada Ali bin Yaqtin salah seorang pejabat Harun al-Rasyid, “Wahai Ali! Jaminkan sesuatu bagiku maka aku akan menjaminkan tiga sifat kepadamu. Berjanjilah bahwa setiap kali engkau melihat salah seorang sahabat kami maka hormatilah ia maka aku akan menjaminkan tiga hal untukmu. “Tajamnya pedang, derita penjara, kehinaan miskin tidak akan datang kepadamu.” Kemudian setelah itu, terkadang Ali bin Yaqtin tatkala melihat salah seorang pecinta Ahlulbait Nabi Saw maka ia akan menundukkan kepalanya di hadapan orang itu.”[17]

2.     Melayani masyarakat

Dalam sebuah riwayat dari Imam Ridha As disebutkan, “Yusuf pada tujuh tahun pertama, mengumpulkan dan menghimpun gandum. Pada tujuh tahun kedua, ketika musim kemarau mulai, gandum itu secara perlahan diserahkan ke masyarakat untuk memenuhi kebutuhan keseharian masyarakat dan dengan penuh amanah Yusuf mampu menyelamatkan negeri Mesir dari kesengsaraan. Yusuf pada tujuh tahun musim kemarau, sekali-kali tidak pernah hidup dengan kenyang supaya jangan sampai ia lupa kalau-kalau ada orang yang kelaparan.[18]

3.     Mengurangi Kezaliman Orang-orang Zalim dan Memberikan Petunjuk kepada Para Penguasa Tiran

Dalam kitab tafsir Majma’ al-Bayân dan al-Mizân, disebutkan ihwal model kinerja Yusuf sedemikian, “Tatkala musim kemarau mulai Nabi Yusuf pada masa-masa musim kemarau melakukan transaksi dengan masyarakat langsung dengan menukar gandum dengan emas dan perak, permata, hewan piaraan, budak-budak, rumah-rumah, sawah-sawah. Tatkala musim kemarau berakhir, Yusuf berkata kepada Raja Mesir, “Seluruh orang dan modal mereka berada dalam kekuasaan saya. Namun saya menjadikan Tuhan sebagai saksi dan Anda juga menjadi saksi bahwa seluruh orang aku bebaskan dan seluruh harta mereka aku akan kembalikan. Istana dan singgasanamu juga aku akan serahkan. Pemerintahan bagiku hanyalah sebuah alat untuk menyelamatkan rakyat. Bukan untuk hal lain. Berlaku adillah dengan mereka.”[19]

Beberapa Kegunaan Menerima Jabatan pada Pemerintahan Tiran

1.     Boleh jadi orang yang menerima jabatan seperti ini pada akhirnya akan melucuti kekuasaan pemerintah tiran (sebagaimana sebagian riwayat dalam kisah Nabi Yusuf).

2.     Terkadang menjadi sumber untuk revolusi-revolusi dan kebangkitan-kebangkitan selanjutnya, karena ia telah menyiapkan persiapan revolusi dari dalam pemerintahan. (Boleh jadi Mukmin Keluarga Fir’aun dapat dijadikan contoh dalam kasus ini).

3.     Terkadang minimal orang-orang seperti ini menjadi penopang dan tempat berlindung bagi orang-orang tertindas dan mengurangi tekanan pemerintah tiran lewat cara seperti ini.

Ketiga hal di atas masing-masing dengan sendirinya dapat menjadi pembenar untuk menerima pos-pos seperti ini.[20]

Poin yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa pertanyaan semacam ini memiliki latar belakang yang panjang hingga sebagian orang tanpa pengetahuan yang cukup atau dengan maksud-maksud tertentu mengajukan pertanyaan seperti ini kepada Imam Ridha As.

Dalam beberapa riwayat dari Imam Ridha As kita membaca:

Sebagian orang memprotes Imam Ridha As mengapa dengan segala kezuhudan dan ketidapedulian terhadap dunia mau menerima maqam wilayah ahd Makmun? Imam menjawab, “Apakah Rasulullah Saw lebih tinggi dari washi Rasulullah? Mereka menjawab, “Rasulullah lebih tinggi.” Imam Ridha As bersabda, “Kaum Muslimin lebih unggul atau orang-orang Musyrik?” Orang-orang menjawab, “Kaum Muslimin.” “Azis Mesir adalah orang musyrik, Yusuf adalah Rasul dan Makmun adalah orang Muslim dan aku adalah washi Rasulullah Saw.  Yusuf meminta kepada Azis Mesir untuk menyerahkan khazanah Mesir kepadanya dan berkata aku adalah penjaga yang baik lagi berilmu sementara saya terpaksa harus menerima maqam ini.”[21]

4.     Apakah Menerima Tanggung Jawab pada Pemerintahan Bermakna Sokongan Terhadap Pemerintahan atau Penguasa?

Dari apa yang telah diuraikan menjadi jelas bahwa kondisi seperti ini tidak selamanya berlaku bahwa kehadiran seseorang pada sebuah pemerintahan bermakna sokongan dan dukungan terhadap pemerintahan dan penguasanya.

Dengan mencermati kondisi-kondisi istimewa pada masa awal-awal kemunculannya, Islam berada dalam kepungan dan marabahaya musuh-musuh dalam dan luar negeri. Islam dapat mendekatkan kita pada jawaban ihwal kehadiran Salman, Ammar pada pemerintahan dan lebih tinggi dari itu kerjasama Imam Ali dengan para khalifah. Dengan kata lain, dalam kondisi istimewa seperti ini, dengan motivasi ingin menjaga Islam dan membantu mengembangkan dan mematangkan Islam, maka tiada halangan Ali berkedudukan sebagai konsultan maksum dan bekerja sama dengan para khalifah.[22] Demikian juga terkait dengan Salman dan Ammar. Dapat dipastikan bahwa keduanya menerima tugas sebagai gubernur di Madain dan Kufah dengan izindan restu Imam Ali.[23]

.


sumber :

[3]. Diadaptasi dari Indeks No. 1348 (Site: 2982)

[4]. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Qs. Al-Hud [11]:113)

[5]. Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 260, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1374 S, Cetakan Pertama.

[6]. Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 263.

[7]. Mufradat Raghib, klausa “ru-k-n

[8]. Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, edisi Persia terjemahan Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, jil. 11, hal. 68 – 75, Daftar Intisyarat-e Islami Jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qum, 1374 S, Cetakan Kelima.

[9]. Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 261.

[10]. Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 264.

[11]. Hurr Amuli, Wasâil al-Syiah, jil. 17, hal. 192, Muassasah Ali al-Bait, Qum, 1409 H.

[12]. Wasâil al-Syiah, jil. 17, Hadis 22326.

[13]. Ibid, jil. 17, Hadis 22327.

[14]. Behzad Ja’fari, hal. 387, Nasyir Islamiyah, Teheran, 1380 S, Cetakan Pertama.

[15]. Allamah Majlisi, Bihar al-AnwarÂdâb Mu’asyirât, terjemahan Persia jilid 16 Bihâr al-Anwâr, jil. 2, hal. 234, Muhammad Baqir Kumrei, Nasyir Islamiyah, Teheran, 1364 S, Cetakan Pertama.

[16]. Tafsir Nemune, jil. 10, hal. 7 dan 8.

[17]. Al-Âdab al-Diniyah al-Mu’iniyah, terjemahan Abidi, hal. 365.

[18]. Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur, jil. 6, hal. 105, Markaz Farhanggi Dars-ha-ye az Qur’an, Teheran, 1383 S, Cetakan Kesebelas.

[19]. Ibid, jil. 6, hal. 105 dan 106.

[20]. Tafsir Nemune, jil. 10, hal. 7 dan 8.

[21]. Wasâil al-Syiah, jil. 12, hal. 146.

[22]. Karena itu Imam Ali As bersabda, “Demi Allah, selama urusan kaum Muslim tetap utuh dan tak ada kelaliman di dalamnya kecuali atas diri saya, saya akan berdiam diri sambil mencari ganjaran untuk itu (dari Allah) dan sambil menjauh dari tarikan-tarikan dan godaan-godaan yang Anda perebutkan.” Nahj al-Balâghah, terjemahan Dasyti, Khutbah 74, hal. 122 dan 123. Ibnu Abi al-Hadid, jil. 6, hal. 166. Subhi Shaleh, hal. 102.

[23]. Mengingat penghormatan kedua orang besar ini kepada Imam dan Pemimpin Maksumnya sangat jauh kemungkinan keduanya menerima tanggung jawab gubernur tanpa izin Imam Ali As.

Syi’ah tidak mungkin SESAT karena Setelah Nabi wafat maka islam dipimpin 12 khalifah Quraisy Ahlulbait, Nabi SAW menunjuk bukan cuma Ali tetapi ada 11 lain

Oknum Sat Pol PP Indramayu Otaki Perampokan Bank
Orang-orang yang mengaku sebagai pecinta Ahlul Bait ini mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi khalifah dibanding Abu Bakr Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang Syi’ah. Uraian berikut mencoba membongkar berbagai kebenaran yang menjadi pijakan sikap mereka.

Pertanyaan dari  http://asysyariah.com  ke web ini :

Imam Ali membai’at Abubakar, Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah, makaitu artinya Nabi tidak mewasiatkan kekhalifahan kepada mereka !

Jawaban kami :

Rasulullah n menyatakan bahwa  khalifah itu seluruhnya dari kaum Quraisy, sebagaimana dalam hadits: “Dari Jabir bin Samurah z, ia berkata: Aku masuk bersama ayahku menemui Rasulullah n, maka aku mendengar beliau berkata: “Sesungguhnya urusan ini tidak akan lenyap hingga berakhir di antara mereka dua belas khalifah”. Kemudian beliau berbicara dengan ucapan yang tersamar atasku. Maka aku bertanya kepada ayahku: “Apa yang dikatakan oleh beliau?” Ia menjawab: “Seluruhnya dari kalangan Quraisy.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

sunni sangat mengagungkan Muawiyah yang Bani Umayah yang notabene membenci bani Hasyim (lucu juga ya).

Andaikan ada seorang perampok masuk ke rumah mas. Kemudian ia mengancam akan menyakiti keluarga mas jika mas tidak bersedia menyerahkan harta-harta mas

.
Maka, apa tindakan yang akan mas ambil?

.
Saya percaya, karena ingin melindungi keluarga mas, maka mas dengan terpaksa mengikuti permintaan si perampok untuk menyerahkan harta kekayaan mas. Begitu kan?

.
Pertanyaannya:
(1) Benarkah tindakan mas melindungi keluarga mas dengan menyerahkan harta kekayaan mas?
(2) Hak milik siapakah sesungguhnya harta yang sekarang di tangan si Perampok yang telah dirampas dengan zalim? Punya mas kah atau si perampok kah?
(3) Dipebolehkankah orang-orang yang cinta kepada mas untuk membela mas dan menyalahkan si perampok serta mengatakan bahwa harta kekayaan itu sesungguhnya adalah milik mas?

Oknum Sat Pol PP Indramayu Otaki Perampokan Bank

Ada ayat2 Alqur’an dan Hadis dimana Allah menunjuk pemimpin utk melanjutkan misi Rasul. Dibawa ini saya tunjukkan 2 ayat saja dimana Allah menunjuk pimpinan utk melanjukan misi Rasul :

.
1.

AL ANBIYAA’ ayat 73 tentang kepemimpinan

[21:73] Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,

i (A

2.

surah / surat : As-Sajdah Ayat : 24
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar [1196]. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.

[1196] yang dimaksud dengan “sabar” ialah sabar dalam menegakkan kebenaran.

Imam atau Khalifah adalah berdasarkan penunjukan atau nash dari Nabi SAW, jadi walaupun Imam Ali secara terpaksa membai’at Abubakar dan Imam Hasan terpaksa berdamai dengan Mu’awiyah, maka hal tsb tidak menggugurkan nash !

“Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw”

.

Ashabiyah atau fanatisme kesukuan muncul kembali menjelang dan pasca Nabi wafat !
.
khalifah yang 12 artinya wakil (pengganti) Nabi Muhammad saw  setelah Nabi wafat (dl urusan negara dan agama) yg melaksanakan syariat (hukum) Islam dl kehidupan negara;
 

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awalKitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhahdan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:
.
Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. “
.
Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s

Argumen wahabi :

Pihak majalah asysyariah melontarkan dalil dalil palsu sbb:

a. Aisyah berkata dalam riwayat Muslim: “Rasulullah n  tidak meninggalkan dirham; tidak pula dinar, tidak seekor kambing, tidak pula seekor unta dan tidak mewasiatkan dengan apa pun.” (HR. Muslim, dalam Kitabul Washiyyah, juz 3, hal. 256, hadits ke 18)

.

b. dari Aswad bin Yazid, dia berkata: “Mereka menyebutkan di sisi ‘Aisyah bahwa Ali adalah seorang yang mendapatkan wasiat. Maka beliau (Aisyah) berkata: “Kapan Rasulullah n berwasiat kepadanya, padahal aku adalah sandaran beliau ketika beliau bersandar di dadaku -atau ia berkata:  pangkuanku- kemudian beliau meminta segelas air, tiba-tiba beliau terkulai di pangkuanku, dan aku tidak merasa ternyata beliau sudah meninggal, maka kapan dia berwasiat kepadanya?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

.

c. “Dari ‘Aisyah x, ia berkata; Rasulullah n berkata kepadaku: “Panggillah Abu Bakr, ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Sungguh aku khawatir akan ada seseorang yang menginginkan (kepemimpinan, -pent.), kemudian seseorang berkata: “Aku lebih utama.” Kemudian beliau bersabda: “Allah dan orang-orang beriman tidak meridhai kecuali Abu Bakr.” (HR. Muslim 7/110 dan Ahmad (6/144); Lihat Ash-Shahihah, juz 2, hal. 304, hadits no. 690)

jawaban kami :

dalil dali diatas hanyalah dalil dalil yang diakui pihak Sunni namun ditolak pihak Syi’ah !

Hadis yang disepakati sunni – syi’ah MUTLAK BENAR, namun hadis yang hanya diakui pihak sunni sendirian maka MUTLAK SALAH !

Diriwayatkan  bahwa di antara keluarga Rasulullah n yaitu Ibnu Abbas c menyatakan pula kekecewaannya, karena Rasulullah n tidak sempat berwasiat disebabkan ulah keji Umar, hingga datanglah ajal beliau dalam keadaan belum sempat memberikan wasiat.

Maka Ibnu Abbas c berkata: “Sesungguhnya kerugian dari segala kerugian adalah terhalangnya Rasulullah n untuk menulis wasiat kepada mereka, karena perselisihan dan silang pendapat mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Maghazi, bab Maradhun Nabi; Fathul Bari, juz 8, hal. 132 no. hadits 4432; Muslim dalam Kitabul Washiyyah, bab Tarkul Wasiat Liman Laisa Lahu Syai`un Yuushi bihi, juz 3 hal. 1259, no. 22)

 

 

:mrgreen:

WAFATNYA Rasulullah saw membuat sebagian umat Islam goyah iman dan pudar ketaatan. Meskipun sudah disebutkan di Ghadir Khum bahwa yang berhak menjadi pemimpin Islam setelah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, tetap menyelenggarakan pemilihan khalifah di Saqifah.

Mereka lupa bahwa Rasulullah saw sendiri dalam hadis-hadis telah menyebutkan dua belas khalifah yang berhak memimpin dan membimbing umat Islam. Misalnya riwayat Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah sawbersabda,“Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhluk-Nya selepasku ialah dua belas orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku Al-Mahdi; maka itulah Isa putra Maryam shalat di belakang Al-Mahdi.”

Bahkan, dalam hadis yang dikeluarkan Abu Al-Mu’ayyid Ibn Ahmad Al-Khawarizmi dengan sanad dari Abu Sulaiman secara rinci disebutkan nama-namanya: Ali, Fathimah, Hasan, Husain, Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali, dan Muhammad Al-Mahdi bin Hasan.

Muslim dalam kitab Shahih Muslimmeriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa, “Aku bersama bapakku berjumpa Nabi Muhammad saw. Maka aku mendengar Nabi saw bersabda, “Urusan ini tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: kemudian beliau berbicara dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya kepada ayahku, apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab, “Semuanya dari Quraisy.”

Dalam bagian kitab fadhl ahlulbait, Muslim menyebut dua belas orang dari kalangan Bani Hasyim. Juga Bukhari dalam Shahih Bukhari bagian kitab al-ahkam meriwayatkandari Jabir bin Samurah bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Selepasku adalah dua belas amir (pemimpin).”Bukhari menyebutkannya dengan tiga riwayat dan Muslim sembilan riwayat serta Abu Daud tiga riwayat. Sedangkan Al-Turmudzi satu riwayat dan Al-Humaidi tiga riwayat.

Al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95meriwayatkan bahwa Jabir bin ‘Abdullah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali Al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya Anda mendapatinya; maka sampailah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian Al-Qa’im, namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan ‘membuka’ seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah Swt.” Kemudian Jabir berkata,“Wahai Rasulullah.apakah orang-orang bisa mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya?” Beliau menjawab,“Ya! Demi yang mengutuskan aku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya daripada wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil faedah dari matahari sekalipun ianya ditutupi awan.”

Para muhadis dan perawi yang disebutkan tersebut orang-orang ternama dan banyak dirujuk oleh ulama-ulama. Karena itu, kebenarannya layak untuk dipegang sebelum benar-benar dipastikan terdapat kekeliruan. Sudah banyak kajian hadis dan sejarah yang membuktikan kebenaran dari riwayat-riwayat tentang adanya khalifah-khalifah Islam setelah Rasulullah saw. Namun, untuk umat Islam Indonesia kajian berkaitan dengan hadis atau riwayat tersebut belum banyak diketahui sehingga tidak jarang ada orang yang berani menolaknya.

Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:
  1. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)
  2. ….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)
  3. ….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
  4. Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)
  5. ….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
    kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)
  6. ….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)
  7. (Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)
  8. ….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
  9. Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
  10. …… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
  11. Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
  12. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)
    Ayat Keduabelas
    Saya berpendapat bahwa jumlah para Imam itu sama dengan jumlah para Nuqaba Bani Israil, yaitu sebanyak 12 orangnaqib. Di antara yang menarik perhatian ialah ketika Nuqaba itu ber­jumlah 12, ia pun disebutkan pada ayat keduabelas dari surat Al-Maidah, yaitu ketika Allah berfirman:
    Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani lsrail dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin (naqib) ….. (AI-Maidah: 12)
     
    Duabelas Khalifah Rasul saw.
    Kata khalifah dan turunan kata isim-nya, yang digunakan untuk memuji, disebutkan sebanyak 12 kali. Di dalamnya dijelas­kan mengenai khilafah dari Allah SWT, yaitu pada ayat-ayat berikut ini:
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi ….. “ (Al-Baqarah: 30)
  1. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu ….. (Shad: 26)
  2. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalaif) di bumi ….. (Al-An’am: 165)
  3. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti mereka (khalaif) sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat ….. (Yunus: 73).
  4. ….. Dan Kami jadikan mereka pemegang kekuasaan (khalaif) dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat­ayat kami ….. (Yunus: 73)
  5. Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri ….. (Fathir: 39)
  6. Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa) yan,q berkuasa setelah lenyapnya Nuh ….. (Al-A’raf: 69)
  7. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa) setelah lenyapnya kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi ….. (AI­A’raf; 74)
  8. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah-khalifah (khulafa) di muka burni …..” (Al-Nur: 55)
  9. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa (layastakhlifannahum) di muka bumi ….. (Al-Nur: 55)
  10. ….. Sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa (istakhlafa) orang-orang sebelum mereka ….. (Al-Nur: 55)
  11. ….. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi  ….. ” (AI­A’raf: 129)
    Duabelas Washi
    Termasuk yang ditegaskan oleh jumlah ini (12) ialah wasiat Rasulullah saw. bahwasanya Imam sesudah beliau itu berjumlah 12 Imam, sama dengan jumlah wasiat Allah kepada para makhluk, yaitu sebanyak kata wasiat dan bentuk turunannya dari Allah kepada makhluknya sebagaimana terdapat pada ayat-ayat berikut:
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan yang telah diwahyukan kepadamu ….. (Al-Syura: 13)
  1. …..  Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan (washsha) ini bagimu  …… (Al-An’am: 144)
  2. ….. Demikian itu yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu (washshakum) supaya kamu memahami(nya) ….. (Al-An’am: 151)
  3. …. Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu supaya kamu ingat ….. (AI-An’am: 152)
  4. Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu agar kamu bertakwa ….. (Al-An’am: 153)
  5. ….. Dan sesungguhnya      Kami telah memerintahkan         (wash­shaina) kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan (juga) kepadamu: “Bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa: 131)
  6. Dan Kami wajibkan (washshaina) manusia untuk (berbuat) kebaikan kepada kedua ibu-bapaknya … (Al-Ankabut: 8)
  7. Dan Kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah ….. (Luqman: 14)
  8. …..  Dan apa yang telah Kami wasiatkan (washshaina) kepada Ibrahim, Musa dan lsa, yaitu: “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya …..  (Al-Syura: 13)
  9. Kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua ibu-bapaknya …..  (Al-Ahqaf: 15)
  10. …… Dan Dia memerintahkan (ausha) kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup ….. (Maryam: 31)
  11. ….. Syariat (washiyyatan) dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. (An-Nisa: 12)

 

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

  • Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
  • Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Ancaman Pembakaran Rumah Ahlul Bait

Judul di atas tentu saja akan cukup mengejutkan bagi siapa saja yang belum mengetahui tentang riwayat ini. Hal ini termasuk salah satu hal yang dipermasalahkan dalam perdebatan yang biasa terjadi oleh kelompok Islam Sunni dan Syiah. Permasalahan ini jelas merupakan masalah yang pelik dan musykil dan tidak jarang ulama sunni yang menyatakan bahwa peristiwa ini tidak pernah terjadi dan riwayat ini tidak ada dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Sebaliknya untuk menjawab anggapan ini Syiah menyatakan bahwa peristiwa ini benar terjadi dan terdapat riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa tersebut dalam referensi Ahlus Sunnah..

.

Tulisan kali ini hanya ingin melihat dengan jelas apakah benar peristiwa ini benar-benar tercatat dalam sejarah atau hanyalah berita bohong belaka. Perlu dinyatakan sebelumnya bahwa tulisan ini tidak dibuat dengan tujuan untuk medeskriditkan pribadi atau kelompok tertentu melainkan hanya menyampaikan sesuatu apa adanya.

.

Riwayat-riwayat tentang Ancaman Pembakaran Rumah Sayyidah Fathimah Az Zahra as ternyata memang benar ada dalam kitab-kitab yang menjadi pegangan Ahlus Sunnah yaitu dalam Tarikh Al Umm Wa al Mulk karya Ibnu Jarir At Thabari, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Ansab Al Asyraf karya Al Baladzuri, Al Isti’ab karya Ibnu Abdil Barr dan Muruj Adz Dzahab karya Al Mas’udi. Berikut adalah riwayat yang terdapat dalam Kitab Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan peristiwa itu dengan sanad

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Aslam Ayahnya yang berkata ”Ketika Bai’ah telah diberikan kepada Abu Bakar setelah kewafatan Rasulullah SAW. Ali dan Zubair sedang berada di dalam rumah Fatimah bermusyawarah dengannya mengenai urusan mereka. Sehingga ketika Umar menerima kabar ini Ia bergegas ke rumah Fatimah dan berkata ”Wahai Putri Rasulullah SAW setelah Ayahmu tidak ada yang lebih aku cintai dibanding dirimu tetapi aku bersumpah jika orang-orang ini berkumpul di rumahmu maka tidak ada yang dapat mencegahku untuk memerintahkan membakar rumah ini bersama mereka yang ada di dalamnya”. Ketika Umar pergi, mereka datang dan Fatimah berbicara  kepada mereka “tahukah kalian kalau Umar datang kemari dan bersumpah akan membakar rumah ini jika kalian kemari. Aku bersumpah demi Allah ia akan melakukannya jadi pergilah dan jangan berkumpul disini”. Oleh karena itu mereka pergi dan tidak berkumpul disana sampai mereka membaiat Abu Bakar. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah jilid 7 hal 432 riwayat no 37045).

Riwayat ini memiliki sanad yang shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim.
Sanad Riwayat Dalam Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah

.

.

Ibnu Abi Syaibah
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Utsman Al Absi Al Kufi. Ia adalah seorang imam penghulu para hafidz, penulis banyak kitab seperti Musnad,al Mushannaf dan Tafsir. Para ulama telah sepakat akan keagungan ilmu kejujuran dan hafalannya. Dalam Mizan Al I’tidal jilid 2 hal 490 Adz Dzahabi berkata ”Ia termasuk yang sudah lewat jembatan pemeriksaan dan sangat terpercaya”. Ahmad bin Hanbal berkata ”Abu Bakar sangat jujur, ia lebih saya sukai disbanding Utsman saudaranya”. Al Khathib berkata “Abu Bakar rapi hafalannya dan hafidz”.

.

.

Muhammad bin Bisyr
Muhammad bin Bisyr adalah salah seorang dari perawi hadis dalam Kutub Al Sittah. Dalam Tahdzib At Tahdzib jilid 9 hal 64, Thabaqat Ibnu Saad jilid 6 hal 394, Tarikh al Kabir jilid I hal 45, Al Jarh Wat Ta’dil jilid 7 hal 210, Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 322 dan Al Kasyf jilid 3 hal 22 terdapat keterangan tentang Muhammad bin Bisyr.

  • Ibnu Hajar berkata “Ia tsiqah”.
  • Yahya bin Main telah mentsiqahkannya
  • Al Ajuri berkata ”Ia paling kuat hafalannya diantara perawi kufah”
  • Utsman Ibnu Abi Syaibah berkata “Ia tsiqah dan kokoh”
  • Adz Dzahabi berkata ”Ia adalah Al Hafidz Al Imam dan kokoh”
  • An Nasai berkata “Ia tsiqah”.

.

.

Ubaidillah bin Umar
Keterangan tentang beliau disebutkan dalam Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 160-161, Siyar A’lam An Nubala jilid 6 hal 304, Tahdzib At Tahdzib jilid 7 hal 37, Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 637, Ats Tsiqat jilid 3 hal 143,dan Al Jarh Wa At Ta’dil jilid 5 hal 326.

  • Ibnu Hajar berkata ”Ia tsiqah dan tsabit”
  • Yahya bin Ma’in berkata ”Ia tsiqah, hafidz yang disepakati”
  • Abu Hatim berkata ”Ia tsiqah”
  • Adz Dzahabi berkata ”Ia Imam yang merdu bacaan Al Qurannya”
  • An Nasai berkata ”Ia tsiqah dan kokoh”
  • Ibnu Manjawaih berkata ”Ia termasuk salah satu tuan penduduk Madinah dan suku Quraisy dalam keutamaan Ilmu,ibadah hafalan dan ketelitian”.
  • Abu Zar’ah berkata “Ia tsiqah”.
  • Abdullah bin Ahmad berkata ”Ubaidillah bin Umar termasuk orang yang terpercaya”.

.

.

Zaid bin Aslam
Zaid bin Aslam adalah salah seorang perawi Kutub As Sittah. Keterangan tentang beliau terdapat dalam Al Jarh Wa At Ta’dil jilid 3 hal 554, Tahdzib at Tahdzib jilid 3 hal 341, Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 326, Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 132-133, dan Siyar A’lam An Nubala jilid 5 hal 316.

  • Abu Hatim menyatakan Zaid tsiqah
  • Ya’qub bin Abi Syaibah berkata ”Ia tsiqah,ahli fiqh dan alim dalam tafsir Al Quran”
  • Imam Ahmad menyatakan beliau tsiqah
  • Ibnu Saad menyatakan “Ia tsiqah”
  • Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Al Imam, Al Hujjah dan Al Qudwah(teladan)
  • Abu Zara’ah menyatakan Ia tsiqah
  • Ibnu Kharrasy menyatakan beliau tsiqah
  • Ibnu Hajar berkata “Ia tsiqah” .

.

.

Aslam Al Adwi Al Umari
Aslam dikenal sebagai tabiin senior dan merupakan perawi Kutub As Sittah. Beliau termasuk yang telah disepakati ketsiqahannya. Keterangan tentang Beliau dapat dilihat di Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 88 dan Siyar A’lam An Nubala jilid 4 hal 98

  • Adz Dzahabi berkata “Ia seorang Faqih dan Imam”
  • Al Madani berkata “Ia seorang penduduk Madinah terpercaya dan Kibar At Tabi’in”
  • Ya’qub bin Abi Syaibah berkata ”Ia tsiqah”
  • Ibnu Hajar berkata ”Ia tsiqah”
  • Abu Zara’ah berkata ”Ia tsiqah”
  • An Nawawi berkata ”Huffadz bersepakat menyatakan Aslam tsiqah”

.

.

Jadi riwayat di atas yang menyatakan adanya Ancaman Pembakaran Rumah Ahlul Bait Sayyidah Fatimah Az Zahra AS telah diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah dan tidak berlebihan kalau ada yang menyatakan riwayat tersebut shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim. Oleh karena itu sebenarnya keliru sekali kalau ada yang beranggapan bahwa Riwayat ini tidak ada dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah apalagi kalau menyatakan ini adalah riwayat yang dibuat-buat oleh golongan Syiah. Just Syiahpobhia :mrgreen: .

Salam Damai

.

 

sunni- syiah siapa yang benar ?? dan siapa yang berdusta ??

Oknum Sat Pol PP Indramayu Otaki Perampokan Bank
Orang-orang yang mengaku sebagai pecinta Ahlul Bait ini mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi khalifah dibanding Abu Bakr Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang Syi’ah. Uraian berikut mencoba membongkar berbagai kebenaran yang menjadi pijakan sikap mereka.

Pertanyaan dari  http://asysyariah.com  ke web ini :

Imam Ali membai’at Abubakar, Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah, makaitu artinya Nabi tidak mewasiatkan kekhalifahan kepada mereka !

Jawaban kami :

Rasulullah n menyatakan bahwa  khalifah itu seluruhnya dari kaum Quraisy, sebagaimana dalam hadits: “Dari Jabir bin Samurah z, ia berkata: Aku masuk bersama ayahku menemui Rasulullah n, maka aku mendengar beliau berkata: “Sesungguhnya urusan ini tidak akan lenyap hingga berakhir di antara mereka dua belas khalifah”. Kemudian beliau berbicara dengan ucapan yang tersamar atasku. Maka aku bertanya kepada ayahku: “Apa yang dikatakan oleh beliau?” Ia menjawab: “Seluruhnya dari kalangan Quraisy.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

sunni sangat mengagungkan Muawiyah yang Bani Umayah yang notabene membenci bani Hasyim (lucu juga ya).

Andaikan ada seorang perampok masuk ke rumah mas. Kemudian ia mengancam akan menyakiti keluarga mas jika mas tidak bersedia menyerahkan harta-harta mas

.
Maka, apa tindakan yang akan mas ambil?

.
Saya percaya, karena ingin melindungi keluarga mas, maka mas dengan terpaksa mengikuti permintaan si perampok untuk menyerahkan harta kekayaan mas. Begitu kan?

.
Pertanyaannya:
(1) Benarkah tindakan mas melindungi keluarga mas dengan menyerahkan harta kekayaan mas?
(2) Hak milik siapakah sesungguhnya harta yang sekarang di tangan si Perampok yang telah dirampas dengan zalim? Punya mas kah atau si perampok kah?
(3) Dipebolehkankah orang-orang yang cinta kepada mas untuk membela mas dan menyalahkan si perampok serta mengatakan bahwa harta kekayaan itu sesungguhnya adalah milik mas?

Oknum Sat Pol PP Indramayu Otaki Perampokan Bank

Ada ayat2 Alqur’an dan Hadis dimana Allah menunjuk pemimpin utk melanjutkan misi Rasul. Dibawa ini saya tunjukkan 2 ayat saja dimana Allah menunjuk pimpinan utk melanjukan misi Rasul :

.
1.

AL ANBIYAA’ ayat 73 tentang kepemimpinan

[21:73] Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,

i (A

2.

surah / surat : As-Sajdah Ayat : 24
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar [1196]. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.

[1196] yang dimaksud dengan “sabar” ialah sabar dalam menegakkan kebenaran.

Imam atau Khalifah adalah berdasarkan penunjukan atau nash dari Nabi SAW, jadi walaupun Imam Ali secara terpaksa membai’at Abubakar dan Imam Hasan terpaksa berdamai dengan Mu’awiyah, maka hal tsb tidak menggugurkan nash !

“Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw”

.

Ashabiyah atau fanatisme kesukuan muncul kembali menjelang dan pasca Nabi wafat !
.
khalifah yang 12 artinya wakil (pengganti) Nabi Muhammad saw  setelah Nabi wafat (dl urusan negara dan agama) yg melaksanakan syariat (hukum) Islam dl kehidupan negara;
 

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awalKitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhahdan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:
.
Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. “
.
Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s

Argumen wahabi :

Pihak majalah asysyariah melontarkan dalil dalil palsu sbb:

a. Aisyah berkata dalam riwayat Muslim: “Rasulullah n  tidak meninggalkan dirham; tidak pula dinar, tidak seekor kambing, tidak pula seekor unta dan tidak mewasiatkan dengan apa pun.” (HR. Muslim, dalam Kitabul Washiyyah, juz 3, hal. 256, hadits ke 18)

.

b. dari Aswad bin Yazid, dia berkata: “Mereka menyebutkan di sisi ‘Aisyah bahwa Ali adalah seorang yang mendapatkan wasiat. Maka beliau (Aisyah) berkata: “Kapan Rasulullah n berwasiat kepadanya, padahal aku adalah sandaran beliau ketika beliau bersandar di dadaku -atau ia berkata:  pangkuanku- kemudian beliau meminta segelas air, tiba-tiba beliau terkulai di pangkuanku, dan aku tidak merasa ternyata beliau sudah meninggal, maka kapan dia berwasiat kepadanya?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

.

c. “Dari ‘Aisyah x, ia berkata; Rasulullah n berkata kepadaku: “Panggillah Abu Bakr, ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Sungguh aku khawatir akan ada seseorang yang menginginkan (kepemimpinan, -pent.), kemudian seseorang berkata: “Aku lebih utama.” Kemudian beliau bersabda: “Allah dan orang-orang beriman tidak meridhai kecuali Abu Bakr.” (HR. Muslim 7/110 dan Ahmad (6/144); Lihat Ash-Shahihah, juz 2, hal. 304, hadits no. 690)

jawaban kami :

dalil dali diatas hanyalah dalil dalil yang diakui pihak Sunni namun ditolak pihak Syi’ah !

Hadis yang disepakati sunni – syi’ah MUTLAK BENAR, namun hadis yang hanya diakui pihak sunni sendirian maka MUTLAK SALAH !

Diriwayatkan  bahwa di antara keluarga Rasulullah n yaitu Ibnu Abbas c menyatakan pula kekecewaannya, karena Rasulullah n tidak sempat berwasiat disebabkan ulah keji Umar, hingga datanglah ajal beliau dalam keadaan belum sempat memberikan wasiat.

Maka Ibnu Abbas c berkata: “Sesungguhnya kerugian dari segala kerugian adalah terhalangnya Rasulullah n untuk menulis wasiat kepada mereka, karena perselisihan dan silang pendapat mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Maghazi, bab Maradhun Nabi; Fathul Bari, juz 8, hal. 132 no. hadits 4432; Muslim dalam Kitabul Washiyyah, bab Tarkul Wasiat Liman Laisa Lahu Syai`un Yuushi bihi, juz 3 hal. 1259, no. 22)

:mrgreen:

WAFATNYA Rasulullah saw membuat sebagian umat Islam goyah iman dan pudar ketaatan. Meskipun sudah disebutkan di Ghadir Khum bahwa yang berhak menjadi pemimpin Islam setelah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, tetap menyelenggarakan pemilihan khalifah di Saqifah.

Mereka lupa bahwa Rasulullah saw sendiri dalam hadis-hadis telah menyebutkan dua belas khalifah yang berhak memimpin dan membimbing umat Islam. Misalnya riwayat Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah sawbersabda,“Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhluk-Nya selepasku ialah dua belas orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku Al-Mahdi; maka itulah Isa putra Maryam shalat di belakang Al-Mahdi.”

Bahkan, dalam hadis yang dikeluarkan Abu Al-Mu’ayyid Ibn Ahmad Al-Khawarizmi dengan sanad dari Abu Sulaiman secara rinci disebutkan nama-namanya: Ali, Fathimah, Hasan, Husain, Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali, dan Muhammad Al-Mahdi bin Hasan.

Muslim dalam kitab Shahih Muslimmeriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa, “Aku bersama bapakku berjumpa Nabi Muhammad saw. Maka aku mendengar Nabi saw bersabda, “Urusan ini tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: kemudian beliau berbicara dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya kepada ayahku, apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab, “Semuanya dari Quraisy.”

Dalam bagian kitab fadhl ahlulbait, Muslim menyebut dua belas orang dari kalangan Bani Hasyim. Juga Bukhari dalam Shahih Bukhari bagian kitab al-ahkam meriwayatkandari Jabir bin Samurah bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Selepasku adalah dua belas amir (pemimpin).”Bukhari menyebutkannya dengan tiga riwayat dan Muslim sembilan riwayat serta Abu Daud tiga riwayat. Sedangkan Al-Turmudzi satu riwayat dan Al-Humaidi tiga riwayat.

Al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95meriwayatkan bahwa Jabir bin ‘Abdullah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali Al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya Anda mendapatinya; maka sampailah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian Al-Qa’im, namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan ‘membuka’ seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah Swt.” Kemudian Jabir berkata,“Wahai Rasulullah.apakah orang-orang bisa mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya?” Beliau menjawab,“Ya! Demi yang mengutuskan aku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya daripada wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil faedah dari matahari sekalipun ianya ditutupi awan.”

Para muhadis dan perawi yang disebutkan tersebut orang-orang ternama dan banyak dirujuk oleh ulama-ulama. Karena itu, kebenarannya layak untuk dipegang sebelum benar-benar dipastikan terdapat kekeliruan. Sudah banyak kajian hadis dan sejarah yang membuktikan kebenaran dari riwayat-riwayat tentang adanya khalifah-khalifah Islam setelah Rasulullah saw. Namun, untuk umat Islam Indonesia kajian berkaitan dengan hadis atau riwayat tersebut belum banyak diketahui sehingga tidak jarang ada orang yang berani menolaknya.

Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:
  1. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)
  2. ….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)
  3. ….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
  4. Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)
  5. ….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
    kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)
  6. ….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)
  7. (Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)
  8. ….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
  9. Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
  10. …… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
  11. Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
  12. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)
    Ayat Keduabelas
    Saya berpendapat bahwa jumlah para Imam itu sama dengan jumlah para Nuqaba Bani Israil, yaitu sebanyak 12 orangnaqib. Di antara yang menarik perhatian ialah ketika Nuqaba itu ber­jumlah 12, ia pun disebutkan pada ayat keduabelas dari surat Al-Maidah, yaitu ketika Allah berfirman:
    Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani lsrail dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin (naqib) ….. (AI-Maidah: 12)
     
    Duabelas Khalifah Rasul saw.
    Kata khalifah dan turunan kata isim-nya, yang digunakan untuk memuji, disebutkan sebanyak 12 kali. Di dalamnya dijelas­kan mengenai khilafah dari Allah SWT, yaitu pada ayat-ayat berikut ini:
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi ….. “ (Al-Baqarah: 30)
  1. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu ….. (Shad: 26)
  2. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalaif) di bumi ….. (Al-An’am: 165)
  3. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti mereka (khalaif) sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat ….. (Yunus: 73).
  4. ….. Dan Kami jadikan mereka pemegang kekuasaan (khalaif) dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat­ayat kami ….. (Yunus: 73)
  5. Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri ….. (Fathir: 39)
  6. Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa) yan,q berkuasa setelah lenyapnya Nuh ….. (Al-A’raf: 69)
  7. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa) setelah lenyapnya kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi ….. (AI­A’raf; 74)
  8. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah-khalifah (khulafa) di muka burni …..” (Al-Nur: 55)
  9. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa (layastakhlifannahum) di muka bumi ….. (Al-Nur: 55)
  10. ….. Sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa (istakhlafa) orang-orang sebelum mereka ….. (Al-Nur: 55)
  11. ….. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi  ….. ” (AI­A’raf: 129)
    Duabelas Washi
    Termasuk yang ditegaskan oleh jumlah ini (12) ialah wasiat Rasulullah saw. bahwasanya Imam sesudah beliau itu berjumlah 12 Imam, sama dengan jumlah wasiat Allah kepada para makhluk, yaitu sebanyak kata wasiat dan bentuk turunannya dari Allah kepada makhluknya sebagaimana terdapat pada ayat-ayat berikut:
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan yang telah diwahyukan kepadamu ….. (Al-Syura: 13)
  1. …..  Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan (washsha) ini bagimu  …… (Al-An’am: 144)
  2. ….. Demikian itu yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu (washshakum) supaya kamu memahami(nya) ….. (Al-An’am: 151)
  3. …. Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu supaya kamu ingat ….. (AI-An’am: 152)
  4. Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu agar kamu bertakwa ….. (Al-An’am: 153)
  5. ….. Dan sesungguhnya      Kami telah memerintahkan         (wash­shaina) kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan (juga) kepadamu: “Bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa: 131)
  6. Dan Kami wajibkan (washshaina) manusia untuk (berbuat) kebaikan kepada kedua ibu-bapaknya … (Al-Ankabut: 8)
  7. Dan Kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah ….. (Luqman: 14)
  8. …..  Dan apa yang telah Kami wasiatkan (washshaina) kepada Ibrahim, Musa dan lsa, yaitu: “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya …..  (Al-Syura: 13)
  9. Kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua ibu-bapaknya …..  (Al-Ahqaf: 15)
  10. …… Dan Dia memerintahkan (ausha) kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup ….. (Maryam: 31)
  11. ….. Syariat (washiyyatan) dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. (An-Nisa: 12)

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

  • Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
  • Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Ancaman Pembakaran Rumah Ahlul Bait

Judul di atas tentu saja akan cukup mengejutkan bagi siapa saja yang belum mengetahui tentang riwayat ini. Hal ini termasuk salah satu hal yang dipermasalahkan dalam perdebatan yang biasa terjadi oleh kelompok Islam Sunni dan Syiah. Permasalahan ini jelas merupakan masalah yang pelik dan musykil dan tidak jarang ulama sunni yang menyatakan bahwa peristiwa ini tidak pernah terjadi dan riwayat ini tidak ada dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah. Sebaliknya untuk menjawab anggapan ini Syiah menyatakan bahwa peristiwa ini benar terjadi dan terdapat riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa tersebut dalam referensi Ahlus Sunnah..

.

Tulisan kali ini hanya ingin melihat dengan jelas apakah benar peristiwa ini benar-benar tercatat dalam sejarah atau hanyalah berita bohong belaka. Perlu dinyatakan sebelumnya bahwa tulisan ini tidak dibuat dengan tujuan untuk medeskriditkan pribadi atau kelompok tertentu melainkan hanya menyampaikan sesuatu apa adanya.

.

Riwayat-riwayat tentang Ancaman Pembakaran Rumah Sayyidah Fathimah Az Zahra as ternyata memang benar ada dalam kitab-kitab yang menjadi pegangan Ahlus Sunnah yaitu dalam Tarikh Al Umm Wa al Mulk karya Ibnu Jarir At Thabari, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Ansab Al Asyraf karya Al Baladzuri, Al Isti’ab karya Ibnu Abdil Barr dan Muruj Adz Dzahab karya Al Mas’udi. Berikut adalah riwayat yang terdapat dalam Kitab Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan peristiwa itu dengan sanad

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Aslam Ayahnya yang berkata ”Ketika Bai’ah telah diberikan kepada Abu Bakar setelah kewafatan Rasulullah SAW. Ali dan Zubair sedang berada di dalam rumah Fatimah bermusyawarah dengannya mengenai urusan mereka. Sehingga ketika Umar menerima kabar ini Ia bergegas ke rumah Fatimah dan berkata ”Wahai Putri Rasulullah SAW setelah Ayahmu tidak ada yang lebih aku cintai dibanding dirimu tetapi aku bersumpah jika orang-orang ini berkumpul di rumahmu maka tidak ada yang dapat mencegahku untuk memerintahkan membakar rumah ini bersama mereka yang ada di dalamnya”. Ketika Umar pergi, mereka datang dan Fatimah berbicara  kepada mereka “tahukah kalian kalau Umar datang kemari dan bersumpah akan membakar rumah ini jika kalian kemari. Aku bersumpah demi Allah ia akan melakukannya jadi pergilah dan jangan berkumpul disini”. Oleh karena itu mereka pergi dan tidak berkumpul disana sampai mereka membaiat Abu Bakar. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah jilid 7 hal 432 riwayat no 37045).

Riwayat ini memiliki sanad yang shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim.
Sanad Riwayat Dalam Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah

.

.

Ibnu Abi Syaibah
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Utsman Al Absi Al Kufi. Ia adalah seorang imam penghulu para hafidz, penulis banyak kitab seperti Musnad,al Mushannaf dan Tafsir. Para ulama telah sepakat akan keagungan ilmu kejujuran dan hafalannya. Dalam Mizan Al I’tidal jilid 2 hal 490 Adz Dzahabi berkata ”Ia termasuk yang sudah lewat jembatan pemeriksaan dan sangat terpercaya”. Ahmad bin Hanbal berkata ”Abu Bakar sangat jujur, ia lebih saya sukai disbanding Utsman saudaranya”. Al Khathib berkata “Abu Bakar rapi hafalannya dan hafidz”.

.

.

Muhammad bin Bisyr
Muhammad bin Bisyr adalah salah seorang dari perawi hadis dalam Kutub Al Sittah. Dalam Tahdzib At Tahdzib jilid 9 hal 64, Thabaqat Ibnu Saad jilid 6 hal 394, Tarikh al Kabir jilid I hal 45, Al Jarh Wat Ta’dil jilid 7 hal 210, Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 322 dan Al Kasyf jilid 3 hal 22 terdapat keterangan tentang Muhammad bin Bisyr.

  • Ibnu Hajar berkata “Ia tsiqah”.
  • Yahya bin Main telah mentsiqahkannya
  • Al Ajuri berkata ”Ia paling kuat hafalannya diantara perawi kufah”
  • Utsman Ibnu Abi Syaibah berkata “Ia tsiqah dan kokoh”
  • Adz Dzahabi berkata ”Ia adalah Al Hafidz Al Imam dan kokoh”
  • An Nasai berkata “Ia tsiqah”.

.

.

Ubaidillah bin Umar
Keterangan tentang beliau disebutkan dalam Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 160-161, Siyar A’lam An Nubala jilid 6 hal 304, Tahdzib At Tahdzib jilid 7 hal 37, Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 637, Ats Tsiqat jilid 3 hal 143,dan Al Jarh Wa At Ta’dil jilid 5 hal 326.

  • Ibnu Hajar berkata ”Ia tsiqah dan tsabit”
  • Yahya bin Ma’in berkata ”Ia tsiqah, hafidz yang disepakati”
  • Abu Hatim berkata ”Ia tsiqah”
  • Adz Dzahabi berkata ”Ia Imam yang merdu bacaan Al Qurannya”
  • An Nasai berkata ”Ia tsiqah dan kokoh”
  • Ibnu Manjawaih berkata ”Ia termasuk salah satu tuan penduduk Madinah dan suku Quraisy dalam keutamaan Ilmu,ibadah hafalan dan ketelitian”.
  • Abu Zar’ah berkata “Ia tsiqah”.
  • Abdullah bin Ahmad berkata ”Ubaidillah bin Umar termasuk orang yang terpercaya”.

.

.

Zaid bin Aslam
Zaid bin Aslam adalah salah seorang perawi Kutub As Sittah. Keterangan tentang beliau terdapat dalam Al Jarh Wa At Ta’dil jilid 3 hal 554, Tahdzib at Tahdzib jilid 3 hal 341, Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 326, Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 132-133, dan Siyar A’lam An Nubala jilid 5 hal 316.

  • Abu Hatim menyatakan Zaid tsiqah
  • Ya’qub bin Abi Syaibah berkata ”Ia tsiqah,ahli fiqh dan alim dalam tafsir Al Quran”
  • Imam Ahmad menyatakan beliau tsiqah
  • Ibnu Saad menyatakan “Ia tsiqah”
  • Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Al Imam, Al Hujjah dan Al Qudwah(teladan)
  • Abu Zara’ah menyatakan Ia tsiqah
  • Ibnu Kharrasy menyatakan beliau tsiqah
  • Ibnu Hajar berkata “Ia tsiqah” .

.

.

Aslam Al Adwi Al Umari
Aslam dikenal sebagai tabiin senior dan merupakan perawi Kutub As Sittah. Beliau termasuk yang telah disepakati ketsiqahannya. Keterangan tentang Beliau dapat dilihat di Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 88 dan Siyar A’lam An Nubala jilid 4 hal 98

  • Adz Dzahabi berkata “Ia seorang Faqih dan Imam”
  • Al Madani berkata “Ia seorang penduduk Madinah terpercaya dan Kibar At Tabi’in”
  • Ya’qub bin Abi Syaibah berkata ”Ia tsiqah”
  • Ibnu Hajar berkata ”Ia tsiqah”
  • Abu Zara’ah berkata ”Ia tsiqah”
  • An Nawawi berkata ”Huffadz bersepakat menyatakan Aslam tsiqah”

.

.

Jadi riwayat di atas yang menyatakan adanya Ancaman Pembakaran Rumah Ahlul Bait Sayyidah Fatimah Az Zahra AS telah diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah dan tidak berlebihan kalau ada yang menyatakan riwayat tersebut shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim. Oleh karena itu sebenarnya keliru sekali kalau ada yang beranggapan bahwa Riwayat ini tidak ada dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah apalagi kalau menyatakan ini adalah riwayat yang dibuat-buat oleh golongan Syiah. Just Syiahpobhia :mrgreen: .

Salam Damai

.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 94 pengikut lainnya.