Klaim Ahlu Sunnah sangat lemah untuk menyebut tiga khalifah pertama sebagai khalifah yang sah karena sistem pemilihan mereka sangat berbeda dari satu pemilihan ke pemilihan yang lainnya.. Perbedaan tata cara pemilihan khalifah itu menyiratkan bahwa tata cara itu ilegal dan tidak mengikuti syariat Islam

BAGAIMANA ABU BAKAR SAMPAI MENJADI KHALIFAH

 Abu Bakar akhirnya menjadi khalifah. Nasi telah menjadi bubur. Sejarah tak bisa direka-ulang. Yang terjadi sudah terjadi dan meninggalkan bekas luka yang dalam di tubuh umat Islam. Luka yang tak mungkin tersembuhkan. Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Berikut ulasannya
.
1. Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat Arab pada waktu itu apabila seseorang telah diangkat menjadi pemimpin walaupun itu diangkat oleh sekelompok kecil orang, maka orang-orang yang tidak boleh menentangnya walaupun ia tidak setuju dengan orang itu. Orang-orang yang ada di sekitarnya diharuskan untuk membai’atnya tanpa basa-basi dan tanpa banyak omong lagi. Kebiasaan ini diketahui benar oleh Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi). Dan ia pada suatu ketika berkata kepada Ali: “Ulurkanlah tanganmu supaya aku bisa membai’at dirimu………karena begitu ini telah terjadi maka tidak ada seorangpun yang bisa mengambilnya darimu.”
Dan kebiasaan inilah yang menyebabkan Sa’ad bin Ubaydah bergegas membujuk-bujuk kaum Anshar agar segera mengambil kekhalifahan itu sebelum orang lain mengambil itu lebih dulu.
Dan kebiasaan yang sama inilah yang menyebabkan seseorang memberitahu Umar agar cepat-cepat bergegas menuju Saqifah dengan kata-kata “sebelum segala sesuatunya terlambat dan segala yang sudah diputuskan tak mungkin bisa diubah lagi.” Dan karena kebiasaan atau adat istiadat ini pula maka setiap orang menerima Abu Bakar menjadi seorang khalifah…………nasi sudah menjadi bubur…………masyarakat kota Madinah akhirnya terpaksa mengikuti orang-orang untuk berbai’at kepada Abu Bakar.
2. Ali tahu benar akan kebiasaan masyarakat Arab ini. Mungkin ada yang bertanya: “Kalau tahu akan kebiasaan masyarakat Arab itu seperti itu mengapa Ali tidak mau memberikan tangannya untuk dibai’at oleh Abbas seraya berkata kepadanya, ‘Adakah orang lain selain aku yang kira-kira akan dibai’at oleh orang-orang?’” (seolah-olah Imam Ali ingin menegaskan bahwa hak khilafah itu tidak lain melainkan untuk dirinya sehingga tidak ada kepentingannya untuk membai’at dirinya karena memang sudah mafhum setiap orang telah mengetahui adanya pelantikan di Ghadir Khum—red)
(Lihat Ibn Qutaybah: al-Imamah wa ‘s-siyasah, vol. 1, halaman 4; lihat juga al-Mawardi: al-Ahkamu ‘s-sultaniyyah, halaman 7)
.
Imam Ali tahu benar bahwa khilafah itu bukanlah hak umat untuk diperebutkan oleh mereka. Imam Ali tahu bahwa khilafah itu bukan ditunjuk oleh rakyat dan dari rakyat. Imam Ali tahu benar bahwa khilafahitu adalah tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh Allah dan bukan diberikan oleh umat. Karena Imam Ali telah diangkat oleh Allah melalui Nabi dan diberikan tugas Imamah (kepemimpinan) (dalam beberapa kesempatan dan puncaknya di Ghadir Khum—red), maka beliau melihat tidak perlu adanya ketergesaan untuk meminta bai’at dari umat. Imam Ali tidak mau menciptakan kesan bahwa Imamah itu datangnya dari umat sehingga ia harus menghiba pada umat untuk meminta bai’at. Apabila umat datang kepada Imam Ali dan memberikan bai’atnya atas pengangkatan beliau di Ghadir Khum, maka itu baik dan bermanfaat bagi orang yang memberikan bai’at kepada Imam Ali itu. Sementara apabila mereka tidak memberikan bai’at kepada Imam Ali, maka kerugian ada di pihak orang yang tidak memberikan bai’at itu.
3. Sekarang kita lihat lagi apa yang terjadi di Saqifah. Selama masa hidup Rasulullah, mesjid selalu menjadi pusat aktifitas kaum Muslimin. Di mesjidlah semua keputusan yang penting dibuat seperti keputusan untuk melangsungkan peperangan dan gencatan senjata atau keputusan untuk damai; juga acara lainnya seperti penyambutan perwakilan negara lain, khutbah-khutbah dan ceramah dan juga tidak lupa keputusan hukum semuanya dibuat dan dilangsungkan di tempat ini. Oleh karena itu, tidak heran ketika umat mengetahui bahwa Rasulullah sudah meninggal dunia, maka seluruh umat Islam berkumpul di mesjid.
Lalu mengapa ada sekelompok kecil orang di pimpin oleh Sa’ad bin Ubadah berkumpul di Saqifah—sebuah tempat terpencil sekitar 4,5km jauhnya dari kota Medinah—padahal tempat itu terkenal dengan reputasinya yang sama sekali tidak baik? Bukankah itu mudah sekali ditebak? Mereka itu mau mengakali jabatan khalifah tanpa sepengetahuan orang-orang. Mereka ingin mendudukan Sa’ad bin Ubadah
.
Bukankah kalau mereka itu berniat baik, mereka akan datang ke mesjid dan mendeklarasikan khilafah bagi Sa’ad bin Ubadah? Mengapa mereka memilih tempat terpencil untuk tujuan itu? Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal selain karena mereka takut tidak bisa mewujudkan mimpinya itu apabila niat mereka diutarakan di mesjid nabi. Mereka tahu bahwa Imam Ali lebih berhak untuk jabatan ini selain karena kekerabatan yang amat dekat dengan Nabi juga karena Nabi pernah mengangkatnya di Ghadir Khum
.
4. Ketika Umar dan Abu Bakar mengetahui akan adanya pertemuan rahasia ini, mereka berdua sedang berada di mesjid. Demi mengetahui itu mereka segera meninggalkan mesjid dan bergabung dengan pertemua itu. Pertanyaan yang timbul ialah: “Mengapa Umar dan Abu Bakar tidak memberitahu orang-orang tentang pertemuan rahasia itu? Mengapa Umar dan Abu Bakar disertai dengan orang yang memberitahu mereka yaitu Abu Ubaydah bertiga beranjak dari mesjid secara hati-hati dan meninggalkan mesjid secara diam-diam? Apakah mereka melakukan itu karena mereka takut ketahuan? Apakah mereka kabur diam-diam dari tempat itu karena mereka melihat ada Ali dan keluarga Bani Hasyim (yang jauh lebih berhak terhadap kekhalifahan—red) ada di mesjid dan Abu Bakar serta Umar tidak ingin keluarga Bani Hasyim tahu tentang rencana jahat mereka? Mereka tampaknya takut kalau Ali tahu akan pertemuan di Saqifah dan kemudian ia juga ikut pergi ke sana maka Abu Bakar dan Umar tidak akan bisa menjalankan rencananya untuk merebut kekhalifahan. Mereka tidak akan berhasil mendapatkan khilafah apabila Ali ada di sana
.
5. Ketika Abu Bakar menggembar-gemborkan keutamaan kelompok Muhajirin sebagai kelompok yang paling dekat kekerabatannya kepada Rasulullah, apakah ia tidak tahu bahwa ada orang-orang yang kekerabatannya dengan Rasulullah sangatlah dekat dibandingkan dengan kekerabatan dirinya? Apakah Abu Bakar tidak tahu bahwa ada orang-orang yang memiliki klaim kekhalifahan yang jauh lebih kuat ketimbang dirinya karena orang-orang itu berasal dari keluarga suci Rasulullah? Orang-orang yang masih memiliki hubungan darah dengan Rasulullah?
Tidaklah salah kalau Ali bin Abi Thalib segera bersabda:
“Mereka telah berhujjah dengan pohonnya tapi mereka melupakan buahnya” (Lihat: Ar-Radi: Nahjul Balaghah, Edisi Subhi as-Salih, terbitan Beirut, halaman 98)
.
Apabila kita cukup memiliki akal sehat, maka kita akan segera melihat bahwa peristiwa pengangkatan Abu Bakar itu sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai “pemilihan umum yang adil, jujur dan bersih” dengan alasan sebagai berikut:
1. Para pemilih (seharusnya seluruh kaum Muslimin yang bertebaran di seluruh jazirah Arab atau paling tidak seluruh Muslim di kota Madinah) sama sekali tidak tahu akan adanya pemilihan. Mereka tidak tahu kapan dan dimana akan diadakan pemilihan itu.
2. Para bakal calonnya pun bahkan tidak tahu apa yang bakalan terjadi di Saqifah. Tidak ada calon yang benar-benar calon karena sebelumnya mereka tidak pernah dijadikan calon. Masing-masing orang yang hadir mendambakan posisi khalifah itu untuk diri mereka sendiri.
Sehubungan dengan dua poin di atas, Imam Ali bersabda:

Kalau memang benar engkau telah mendapatkan kekuasaan dengan cara musyawarah bersama kaum Muslimin untuk mencapai mufakat

Lalu bagaimana itu bisa terjadi kalau yang engkau ajak musyawarah itu tak ada di tempat

Dan kalau engkau mengalahkan lawanmu dengan menunjukkan betapa dekatnya engkau dengan Rasulullah bagai kerabat

Lalu mengapa engkau lupakan orang yang lebih berhak dan kepadanya Rasulullah hubunganya lebih erat dan dekat
(Lihat: Ar-Radi: Nahjul Balaghah, Edisi Subhi as-Salih, terbitan Beirut, Kata-kata mutiara no. 190, [halaman 502—503] Kata-kata Imam Ali bin Abi Thalib telah dikutip oleh ash-Sharif ar-Radi dan dituliskan sebagai kata-kata mutiara no. 190 yang bunyinya sebagai berikut: “Betapa anehnya? Apakah khilafah itu turun melalui hubungan sahabat Rasulullah dan bukan melalui hubungan sahabat Rasullah ditambah dengan hubungan keluarga Rasulullah?” Cukup mengejutkan apabila kita lihat dalam edisi Subhi as-Salih dan edisi Muhammad Abduh (Beirut, 1973) kata-kata “dan bukan melalui hubungan sahabat Rasullah” Apabila anda ingin mendapatkan kalimat yang penuh dan lengkap anda bisa lihat versi kata-kata mutiara ini secara utuh dalam Sharh yang ditulis oleh Ibn Abi ‘l-Hadid (Cairo, 1959), volume 18, halaman 416)
————————————————————————————————————————-
Dengan tegas dan penuh keyakinan kita bisa katakan bahwa “pemilihan umum” yang terjadi di Saqifah itu bukanlah pemilihan umum yang sah, jujur, adil, dan bisa dipertanggungjawabkan. Alasannya sederhana saja: banyak sekali sahabat Rasulullah yang ternama yang tidak sama sekali tidak tahu tentang pemilihan di Saqifah ini. Jadi jangankan hadir, tahu saja mereka tidak. Para sahabat ternama seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Utsma bin Affan, Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash, Ammar bin Yasir, Miqdad, Abdurrahman bin Auf, sama sekali tidak pernah diberitahu apalagi diundang
.
Satu-satunya argumentasi yang bisa digunakan untuk mendukung keabsahan pengangkatan Abu Bakar itu ialah: “Apapun yang terjadi di Saqifah—karena Abu Bakar telah terpilih menjadi khalifah (dengan menggunakan cara atau adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakat suku Arab—jadi bukan dengan cara-cara Islami) dan menggenggam kekuasaan penuh di tangannya, maka ia dianggap sebagai khalifah secara konstitusional”
.
Dalam bahasa sederhana bisa kita katakan bahwa Abu Bakar itu dianggap sebagai khalifah yang sah hanya karena ia telah berhasil menggunakan kekuatannya. Ia berhasil karena ia telah berhasil memaksakan kehendaknya. Kaum Muslimin di seluruh dunia dan di seluruh jaman diajarkan dan didoktrin untuk mengagungkan peristiwa ini (sebagian kaum Muslimin menjadikannya contoh untuk menggambarkan betapa demokratisnya umat Islam ketika memilih pemimpinnya walaupun sejarah tidak bisa dibohongi bahwa yang terjadi sama sekali tidak demokratis—red). Kaum Muslimin didoktrin untuk memahami bahwa yang paling penting itu ialah  “kekuatan”. Sekali anda memiliki kekuatan dan berhasil duduk di kursi kekuasaan, maka segala sesuatu sudah dianggap benar. Anda akan menjadi khalifah yang “sah”  atau “konstitusional” walaupun usaha untuk meraih kekuasaan itu sama sekali tidak konstitusional
.
Untuk menutup tulisan ini, kami akan ketengahkan sebuah komentar dari Umar bin Khattab yang pada hakikatnya merupakan orang yang paling berjasa atas “terpilihnya” Abu Bakar. Umar-lah perancang atau perekayasa politik yang berhasil mengangkat Abu Bakar menjadi khalifah. Umar berkata dalam sebuah khutbahnya ketika waktu itu ia sudah menjadi seorang khalifah:
“Aku diberitahu oleh seseorang bahwa ada seseorang yang berkata: ‘Kalau Umar mati, aku akan berbai’at pada si fulan atau si fulan.’ Aku harap tidak ada orang yang sesat seperti itu dengan mengira bahwa karena pemilihan Abu Bakar itu adalah sesuatu yang tidak bisa diduga-duga, maka ia juga boleh melakukan hal yang sama. Tentu saja, terplilihnya Abu Bakar itu betul-betul tak terduga, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kita dari keburukannya. Sekarang apabila ada orang yang berniat untuk melakukan hal yang sama (baca: hal yang sama seperti yang Umar lakukan) maka aku tidak akan segan-segan untuk memotong lehernya”

.

BAGAIMANA UMAR MENJADI KHALIFAH (kisah tentang sebuah surat sakti)

Mayoritas saudara kita dari kalangan Ahlu Sunnah (Sunni) meyakini bahwa yang terjadi di Saqifah itu ialah sebuah perwujudan dari semangat demokratis dalam Islam (walaupun dengan keheranan kita harus bertanya: Sejak kapan Islam mengenal demokrasi? Bukankah demokrasi itu berasal dari luar Islam?—red). Dengan pandangan seperti itu maka sudah sewajarnya apabila kita mengharapkan bahwa “PEMILIHAN DEMOKRATIS”  (lengkap dengan segenap artinya dan atribut yang di sandangnya dalam konteks “pemilihan” di Saqifah) itu akan berlanjut untuk dijadikan dasar pemilihan khalifah berikutnya. Bukankah wajar apabila sebuah sistem itu akan dilanjutkan untuk dijadikan dasar dari suatu peristiwa yang sama? Bukankah wajar apabila sebuah aturan pemilihan pemimpin itu sama dari satu pemilihan pemimpin ke pemilihan pemimpin yang lain.
سنة من قد أرسلنا قبلك من رسلنا ولا تجد لسنتنا تحويلا
“(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu” (QS. Al-Israa: 77)
.
Ketetapan atau aturan Allah itu senantiasa tetap dan tidak berubah. Aturan untuk “pemilihan” khalifah sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah pun seharusnya tidak berubah. Aturannya harus tetap karena ia berasal dari Tuhan yang sama untuk menggantikan Rasul yang sama pula. Ketentuan pemilihan khalifah itu seharusnya sama dari satu khalifah ke khalifah yang lainnya. Kalau pemilihan Abu Bakar itu dianggap “demokratis” karena dianggap mencerminkan “semangat demokratis”, maka sudah sewajarnya kalau kita menginginkan hal yang sama terjadi untuk pemilihan khalifah berikutnya setelah khalifah Abu Bakar selesai menjabat. Ingat! Ketetapan Allah itu tidak berubah. Apalagi ini menyangkut sesuatu yang teramat penting dalam kehidupan manusia yaitu menentukan calon pemimpin dan memilihnya untuk dijadikan panutan dan suri teladan sebagai perwujudan sempurna dari nilai-nilai keIslaman seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Al-Mustafa, junjungan sekalian alam. Akan tetapi keingingan tetaplah keinginan. Rupanya elit politik jaman dulu pun seringkali suka bermain. Bermain dan berjudi untuk memperebutkan kepemimpinan dan kekuasaan. Lihatlah buktinya dalam sejarah berikut ini
.
Abu Bakar merasa berhutang budi pada Umar bin Khattab. Umarlah yang telah menjadikannya khalifah dan untuk itu Abu Bakar ingin menjadikan dia menjadi khalifah berikutnya. Hitung-hitung membalas hutang budi yang cukup tinggi dari Umar bin Khattab sahabatnya yang sejati. Abu Bakar tahu betul kalau kaum Muslimin disuruh atau diberikan kesempatan untuk memilih pemimpin, mereka tidak akan mau memilih Umar bin Khattab. Umar bin Khattab takkan mungkin mendapatkan kesempatan menjadi pemimpin kaum Muslimin. Mengapa? Karena sepengetahuan kaum Muslimin waktu itu, Umar dikenal sebagai orang yang “fadzhun ghaliidzhul qalbi” atau “kasar dan hatinya keras”. Oleh karena itu, Abu Bakar berniat untuk memilih langsung pengganti dirinya. Ia ingin memilih Umar secara langsung tanpa melibatkan kaum Muslimin. Ini jelas bertentangan dengan cara pengangkatan dirinya dulu ketika menjadi khalifah
.
Sejarawan Sunni, At-Tabari menulis: “Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan (waktu itu Abu Bakar sedang menjelang sakaratul maut). Abu Bakar memanggilnya untuk menuliskan sebuah “SURAT PERINTAH”. Abu Bakar mendiktekan surat itu kepada Utsman bin Affan:
‘Dengan Nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Ini surat perintah dari Abdullah ibn Abi Qahafah (Abu Bakar—red) kepada seluruh kaum Muslimin. Dengan ini……….(kemudian Abu Bakar pingsan). Utsman kemudian menambahkan kata-kata sebagai berikut: ‘saya menunjuk Umar bin Khattab sebagai penerusku untuk memimpin kalian.’
.
“Kemudian Abu Bakar kembali siuman dan menyuruh Utsman bin Affan untuk membacakan surat perintah itu kepadanya. Utsman membacanya kemudian Abu Bakar bertakbir: Allahu Akbar!, dan kelihatan ia senang sekali sambil berujar, ‘Aku kira anda ini takut kalau orang-orang tidak setuju dan bertengkar satu sama lain apabila aku meninggal lebih dulu (belum sampai mendiktekan surat itu).’ Utsman menjawab, ‘Betul. Memang demikian  adanya.’ Abu Bakar kemudian berkata, ‘Semoga Allah memberikan balasan atas budi baikmu atas Islam dan kaum Muslimin.’ (lihat: at-Tabari: at-Tarikh, halaman 2138—2139). Dengan itu selesailah surat perintah itu dan Abu Bakar memerintahkan agar surat itu dibacakan di hadapan kaum Muslimin.
Ibn Abi ‘l-Hadid al-Mu’tazili menuliskan sebagai berikut: “Ketika Abu Bakar kembali siuman dari pingsannya dan si penulis surat itu membacakan apa yang telah ia tuliskan dan Abu Bakar mendengar nama “Umar” dibacakan maka Abu Bakar bertanya kepada si penulis surat itu, “Bagaimana anda sampai menuliskan nama ini?” Si penulis surat menjawab, “Anda tidak mungkin melupakan nama ini.” Abu Bakar menjawab, “Anda benar.” (lihat: Ibn Abi ‘l-Hadid al-Mu’tazili: Sharh, volume 1, halaman 163—165)
.
Tidak lama setelah itu, Abu Bakar meninggal.
Umar mendapatkan tampuk kekhalifahan dengan sepucuk surat perintah pengangkatan tersebut di atas. Mau tidak mau ingatan kaum Muslimin kembali kepada sebuah kejadian (Ibnu Abbas malah menamakan kejadian ini sebagai sebuah tragedi, yaitu TRAGEDI HARI KAMIS). Kejadian ini atau tragedi ini terjadi kira-kira tiga atau lima hari sebelum Rasulullah wafat
.
Dalam Sahih Muslim diriwayatkan oleh Ibnu Abbas sebagai berikut:
“Tiga hari sebelum Rasulullah wafat, Umar bin Khattab dan para sahabat lainnya datang menemui Nabi di pembaringannya. Rasulullah berkata, ‘Sekarang akan aku tuliskan sesuatu untuk kalian berupa surat wasiat agar kalian tidak tersesat sepeninggalku.’ Umar berkata dengan keras, ‘Rasulullah sedang mengigau; cukuplah Kitabullah di samping kita.’ Pernyataan Umar yang tidak sopan ini mengundang kegaduhan di antara orang-orang yang hadir di kamar Nabi itu. Mereka bertengkar satu sama lainnya. Sebagian sahabat yang setia berkata bahwa apa-apa yang dikatakan dan diperintahkan oleh Nabi itu harus didengar dan dipatuhi agar nanti Rasulullah bisa menuliskan apapun yang hendak beliau tuliskan untuk kebaikan umat. Sebagian lain memihak Umar dan tidak memberikan kesempatan pada Rasulullah untuk menuliskan surat wasiat. Ketegangan memuncak dan kemarahan terdengar di sana-sini akhirnya Rasulullah berkata, “Pergilah kalian semua dan menjauhlah dariku”
(Kejadian di atas anda bisa lihat dalam
1.  Muslim: as-Shahih (“Kitabu ‘l-Wasiyyah”, Babu’t-tarki ‘lwasiyyah), volume 5, halaman 75—76
2. al-Bukhari: as-Shahih, (Cairo, 1958), volume 1, (“Kitabu ‘l-‘Ilm”), halaman 38—39; volume 4, halaman 85; volume 6, halaman 11—12; volume 7 (“Kitabu ‘t-Tib”), halaman 155—156; volume 9, (“Kitabu ‘l I’tisam bi ‘l-Kitab wa ‘s-Sunnah”), halaman 137. Menarik untuk diketahui di sini ialah bahwa Bukhari menyatakan kalimat “Rasulullah sedang mengigau” akan tetapi ia menghapuskan nama orang yang mengatakan kalimat yang amat tidak sopan untuk Rasulullah itu. Akan tetapi lucunya ialah ketika Bukhari mengubah kalimat itu supaya lebih sopan lagi, ia menuliskan nama Umar secara jelas dan tegas sebagai orang yang mengucapkan kalimat tersebut. Rupanya Bukhari ingin melindungi Umar atas ketidak sopanan yang telah ia perbuat kepada Rasulullah.
3. Ibn Sa’d: at-Tabaqat, volume 2, halaman 242, 324f, 336, 368
4. Ahmad ibn Hanbal: al-Musnad, volume 1, halaman 232, 239, 324f, 336, 355.)
————————————————————————————————————————-
Kita lihat kembali peristiwa dimana Abu Bakar mendiktekan surat yang kurang lebih mirip dengan keadaan dimana Rasulullah terbaring sakit dan hendak menuliskan surat wasiat. Abu Bakar yang tidak memiliki kema’shuman (artinya sangat mungkin melakukan kesalahan dan dosa karena tidak diberikan perlindungan dari Allah dari dosa) mendiktekan surat wasiat pengangkatan dengan kondisi kesehatan yang sangat parah. Malahan ia sempat pingsan ketika mendiktekan surat itu kepada Utsman sebelum ia sempat menyebutkan siapa penerus kepemimpinan berikutnya. Akan tetapi meskipun demikian Umar tidak pernah mengatakan bahwa ABU BAKAR ITU MENGINGAU atau dikuasai sakitnya
.
Tidak ada satu orangpun yang bisa memastikan apa yang hendak dituliskan oleh Rasulullah itu. Akan tetapi kalimat yang beliau pergunakan memberi kita sedikit gagasan akan apa yang sebenarnya beliau hendak tuliskan waktu itu. Dalam beberapa kesempatan Rasulullah pernah bersabda:
“Wahai manusia! Sesungguhnya, akan aku tinggalkan bersama kalian dua hal yang sangat berharga yaitu Kitabullah dan Keturunanku, Ahlul Baytku. Berpegang teguhlah kepada keduanya kuat-kuat, sehingga engkau takkan pernah sesat selamanya”
.
Ketika Rasulullah menggunakan kata-kata yang sama 5 hari sebelum wafatnya (yaitu kata-kata: “………akan aku tuliskan untuk kalian sebuah wasiat yang apabila kalian berpegang teguh padanya maka kalian takkan sesat selamanya sepeninggalku”), maka dengan mudah kita menebak dan  menyimpulkan apa yang sebenarnya Rasulullah ingin tuliskan. Rasulullah ingin menuliskan agar kita berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Ahlul Baytnya. Umar tahu akan hal ini. Oleh karena itu ia berkata, “Cukuplah Kitabullah di samping kita.” Umar tidak ingin berpegang teguh kepada Ahlul Bayt seperti yang hendak diwasiatkan oleh Rasulullah kepada kita.
Mungkin memang Umar telah menduga hal ini dari semula bahwa Rasulullah hendak mewasiatkan agar kita berpegang teguh kepada Kitabullah dan Ahlul Baytnya. Itu tampak dari klaim dirinya ketika ia berujar: “Cukuplah Kitabullah di samping kita.” Ia ingin memberitahu Rasulullah secara langsung bahwa ia tidak akan berpegang teguh kepada Ats-Tsaqalayn (Dua hal yang sangat berharga). Satu saja cukup bagi Umar……….dan ia telah memilih Kitabullah saja
.
Umar sendiri di kelak kemudian hari mengaku kepada Abdullah bin Abbas:
“Aku tahu sekali bahwa ia (Rasulullah), dalam sakitnya,  ingin menyebutkan namanya (nama Ali), oleh karena itu saya cepat-cepat mencegahnya.”
(lihat: Ibn Abi ‘l-Hadid: Sharh, volume 12, halaman 21 (mengutip dari Tarikh Baghdad  yang tditulis oleh al-Khatib al-Baghdadi)
Mungkin dengan alasan bahwa “Rasulullah telah mengigau” (seperti yang disebutkan oleh Umar), sudah cukup bagi Umar untuk menolak wasiat itu walaupun misalnya Rasulullah telah berhasil menuliskan wasiat itu. Umar dan para begundalnya akan berkata “karena wasiat itu ditulis dalam keadaan mengigau maka wasiat itu kehilangan validitasnya.”

.

BAGAIMANA UTSMAN BISA MENJADI KHALIFAH

Setelah berkuasa selama kurang lebih 10 tahun, Umar pada suatu ketika terluka oleh seorang budak yang beragama Zoroaster bernama Firuz
.
Umar sewaktu berkuasa merasa berhutang budi pada Utsman yang telah menuliskan namanya di surat wasiat yang didiktekan oleh Abu Bakar kepada Utsman. Akan tetapi walaupun begitu, Umar tidak ingin mencalonkan Utsman secara terbuka. Ia tidak ingin kaum Muslimin tahu bahwa ia berkehendak mencalonkan Utsman. Di sisi lain, Umar juga tidak ingin kaum Muslimin memilih secara bebas calon pemimpinnya di kelak kemudian hari ketika Umar mau lengser dari kepemimpinannya. Umar dengan cerdik menyusun sebuah sistem pemilihan khalifah. Sistem ini menjadi sistem ketiga yang berhasil ditemukan oleh Umar, Abu Bakar, dan Utsman sebagai elit politik yang hidup pada jaman Rasulullah. Sistem yang sebelumnya tidak dikenal dalam Islam dan kemudian dipaksakan kepada umat Islam dan secara perlahan dijadikan hukum Islam walaupun tidak berdasarkan Islam melainkan berdasarkan hasil kreatifitas manusia yang tidak terjaga dari dosa
.
Umar berkata, “Sesungguhnya Rasulullah telah mati dan ia telah ridho dengan enam orang dari suku Qurays yaitu: Ali, Utsman, Thalhah, Zubayr, Sa’ad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf. Dan aku menginginkan agar mereka bermusyawarah bersama untuk menentukan siapakah yang akan menjadi khalifah selanjutnya. Jadi mereka boleh saling memilih satu sama lainnya (hingga terpilih seorang khalifah—red).”
.
Keenam orang itu akhirnya dipanggil kehadapan Umar ketika Umar menjelang kematiannya. Ketika melihat keenam orang itu, Umar berkata, “Jadi setiap orang dari kalian ini menginginkan jabatan khalifah sepeninggalku? Tak ada seorangpun yang menjawab. Umar mengulangi lagi pertanyaannya. Kali ini Zubayr bin Awwam balik bertanya, “Apa yang membuat kami tidak masuk hitungan untuk menjadi khalifah? Anda sendiri sudah pernah menjadi khalifah dan memerintah sebagai khalifah; padahal kami ini tidak lebih buruk dari anda selama ini. Kami ini semua orang Qurays yang memeliki hubungan kekerabatan yang sama baiknya (dengan anda terhadap Rasulullah)”
.
Umar bertanya, “Haruskah aku berbicara tentang kalian semua (tentang kelemahan mereka)?”
Az-Zubayr bin Awwam berkata, “Ceritakanlah kepadaku karena walaupun kami mencegahmu untuk tidak mengatakannya, anda tetap akan menceritakannya kepada kita semua, anda tidak akan menghiraukan kami.” Kemudian Umar mulai menyebutkan satu persatu kelemahan yang dimiliki oleh Zubayr bin Awwam, Thalhah bin Ubaydillah, Sa’ad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf. Kemudian ia menghadapkan wajahnya pada Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Demi Allah anda sangat layak untuk mendapatkan jabatan khalifah ini kalau anda ini tidak terlalu suka bercanda (Imam Ali dan Rasulullah seringkali diriwayatkan senang bercanda satu sama lainnya—red). Demi Allah, seandainya kalian memilih DIA (sambil menunjuk Imam Ali) untuk menjadi pemimpin kalian, maka ia akan membimbingmu menuju jalan kebenaran yang terang.”
.
Kemudian ia memandang Utsman bin Affan sambil berkata, “Ambillah khilafah ini dariku. Aku seolah-olah bisa melihat apa yang akan terjadi padamu. Aku lihat orang-orang Qurays mengalungkan kalung (khilafah) ini di lehermu karena kecintaanmu pada mereka; kemudian kamu akan mengutamakan orang-orang Bani Umayyah dan Bani Abu Mu’ayt (klan keluarga Utsman) di atas orang-orang lain. Kamu akan memberi mereka harta dari baytul mal (harta kaum Muslimin). Oleh karena itu, sekelompok orang, serigala-serigala Arab, akan datang padamu dan membunuhmu di tempat tidurmu.”
.
“Demi Allah apabila orang-orang Qurays memberimu jabatan khalifah, kamu akan segera memberikan hak-hak khusus pada kaum Bani Umayyah; dan apabila itu yang terjadi, maka kaum Muslimin akan membunuhmu.” Kemudian Umar memegang kepala Utsman sambil berkata, “Apabila ini memang terjadi, ingatlah kata-kataku. Karena ini memang akan terjadi.”
Kemudian Umar memanggil Abu Thalhah al-Ansari dan berkata padanya bahwa apabila ia (Umar) mati, maka setelah upacara penguburan selesai, Abu Thalhah harus mengumpulkan sebanyak 50 orang Anshar. Mereka semua harus dipersenjatai dengan pedang. Setelah itu 6 orang yang disebutkan di atas harus dikumpulkan di sebuah rumah. Mereka akan menjadi kandidat khalifah dan harus saling memilih hingga satu orang terpilih sebagai khalifah. Ketentuan yang diajukan Umar ialah sebagai berikut:
1. Apabila ada 5 orang yang setuju dan 1 orang menolak, yang satu itu harus dibunuh dipenggal kepalanya.
2. Apabila ada 4 orang yang setuju dan 2 orang menolak, maka yang dua orang itu harus dipenggal kepalanya.
3. Apabila kelompok terbagi kedalam 2 bagian yang sama yaitu masing-masing 3 orang, maka kelompok yang di dalamnya ada Abdurrahman bin Auf harus menang dan khilafah diberikan kepada orang yang dipilih oleh kelompok ini. Dan apabila kelompok yang satunya lagi tidak setuju, maka mereka yang berada di kelompok yang tidak setuju itu harus dipenggal semuanya.
4. Apabila setelah 3 hari 3 malam berlalu tidak ada juga keputusan, maka semuanya harus dipenggal kepalanya dan seluruh kaum Muslimin diberikan kebebasan untuk memilih khalifahnya masing-masing.
————————————————————————————————————————-
SEMUA PENJELASAN DI ATAS TERMAKTUB DALAM KITAB AHLU SUNNAH:
1. Ibn Abi ‘l-Hadid: Sharh, volume 1, halaman 185—188
2. Ibn Qutaybah: al-Imamah wa ‘s-siyasah, volume 1, halaman 23—27
3. At-Tabari: at-Tarikh, (Egypt, n.d.), volume 5, halaman 33—41
————————————————————————————————————————-
Salah seorang penulis sejarah yang bermadzhab Ahlul Bayt bernama Qutbu ‘d-Din ar-Rawandi meriwayatkan bahwa ketika Umar memutuskan bahwa kelompok Abdurrahman bin Auf-lah yang akan memenangkan pemilihan apabila terjadi perpecahan kedalam dua kelompok yang sama banyaknya (yaitu tiga lawan tiga), Abdullah bin Abbas berkata kepada Imam Ali, “Sekali lagi kita akan kalah. Orang ini (Abdurrahman bin Auf) pastinya menginginkan Utsman menjadi khalifah.” Imam Ali menjawab, “Aku juga tahu itu akan tetapi aku tetap akan duduk bersama mereka dalam majelis syura ini. Dengan mengikuti aturan Umar ini aku paling tidak dianggap layak olehnya untuk menjabat jabatan khalifah padahal sebelumnya Umar sebelumnya pernah menyebutkan bahwa Nubuwwah (kenabian) tidak boleh tergabung jadi satu dengan Imamah dalam satu keluarga (maksudnya menurut Umar keturunan atau keluarga nabi tidak boleh menjabat menjadi khalifah—red). Oleh karena itu, aku akan tetap ikut serta dalam majelis Syura ini untuk menunjukkan kepada umat bahwa Umar senantiasa bertentangan antara perbuatan dan ucapannya.” (LIHAT: Ibn Abi ‘l-Hadid: Sharh, halaman 189)
.
Sekarang kita bertanya-tanya mengapa Ibnu Abbas dan Imam Ali bisa yakin bahwa Umar itu menginginkan Utsman menjadi khalifah? Jawabannya terletak dari aturan pemilihan khalifah yang telah ditentukan oleh Umar sendiri.
a. Abdurrahman bin Auf itu menikah dengan saudarinya Utsman. Jadi Abdurrahman bin Auf dan Utsman itu adalah ipar.
b. Sementara itu Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf itu adalah saudara sepupu
Mengingat hubungan keluarga dalam masyarakat Arab itu begitu kuatnya, susah untuk membayangkan Sa’ad akan bertentangan dengan Abdurrahman bin Auf. Susah juga dibayangkan bahwa Abdurrahman bin Auf akan mengabaikan Utsman. Dengan begitu Utsman telah mengantongi tiga suara yaitu suara Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, dan suara dirinya sendiri.
c. Thalhah bin Ubaydillah berasal dari klan yang sama dengan Abu Bakar (yaitu sama-sama dari berasal dari Bani Taim), dan sejak peristiwa pengangkatan Abu Bakar di Saqifah klan Bani Hasyim dan Bani Taim memiliki hubungan yang buruk. Mereka terlibat dalam permusuhan yang sengit satu sama lainnya. Itu di satu sisi. Di sisi lainnya yang lebih bersifat pribadi: Imam Ali pernah membunuh pamannya Thalhah yang bernama Umayr bin Utsman; kemudian saudaranya Thalhah, Malik bin Ubaydillah; dan keponakannya Thalhah, Utsman bin Malik semuanya pada perang Badar (LIHAT: asy-Syaikh al-Mufid:al-Irsyad (dengan terjemahan Persia oleh Sh. Muhammad Baqir Sa’idi Khurasani), halaman 65 [lihat juga: terjemahan bahasa Inggrisnya oleh I.K.A Howard, halaman 47).
Mengingat itu semua maka mustahil bagi Thalhah untuk mendukung Imam Ali untuk menjadi khalifah.
d. Zubayr bin Awwam itu puteranya Safiyyah, bibinya Imam Ali, dan setelah peristiwa Saqifah ,ia telah menghunus pedangnya untuk memerangi siapa saja yang berusaha memasuki rumah Imam Ali untuk memaksa Imam Ali agar berbai’at kepada Abu Bakar. Zubayr melindungi keluarga Imam Ali karena hubungan darahnya dengan Imam Ali. Jadi ada kemungkinan ia akan memilih Imam Ali untuk menjadi khalifah. Akan tetapi di sisi lain ada juga kemungkinan ia tergiur oleh jabatan khalifah itu dan memilih untuk maju menjadi calon khalifah dengan memilih dirinya sendiri
.
Dengan ini, yang menjadi harapan Imam Ali satu-satunya ialah Zubayr akan memilih dirinya. Akan tetapi walaupun Zubayr memilih Imam Ali, Imam Ali tetap saja kalah karena di pihaknya hanya ada dua suara sementara di pihak lawannya ada 4 suara. Meskipun Thalhah menyeberang, misalnya, tetap saja Imam Ali akan kalah karena Umar bin Khattab sudah merekayasa pemilihan dengan ketentuan bahwa apabila keenam orang itu terpisah dalam kelompok yang sama besar (yaitu masing-masing 3 orang dalam setiap kelompoknya), maka kelompok yang menang ialah kelompok yang ada Abdurrahman bin Auf-nya. (LIHAT: analisa ini dibuat oleh Thabari dalam Tarikh-nya, halaman 35; [lihat juga: percakapan antara Ibnu Abbas dan Imam Ali di atas])
Dengan ketentuan yang telah digariskan oleh Umar bin Khattab, pemilihan khalifah berlangsunglah sudah. Thalhah mengundurkan diri dan memilih Utsman untuk menjadi calonnya. Zubayr bin Awwam ikut-ikutan mundur dan ia memilih Ali untuk menjadi calonnya. Sementara itu Sa’ad bin Abi Waqash juga mundur untuk memasrahkan suaranya pada Abdurrahman bin Auf
.
Pada hari ketiga, Abdurrahman bin Auf mundur dan berbicara kepada Ali bahwa ia akan memilih Ali apabila Ali bersumpah untuk mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Nabi serta sistem yang sudah dibuat oleh Abu Bakar dan Umar. Abdurrahman bin Auf tahu betul jawaban yang akan diberikan oleh Ali. Ali berkata, “Aku akan mengikuti Kitabullah dan sunnah Rasulullah serta keyakinanku sendiri.”
Setelah puas mendengar jawaban itu, Abdurrahman bin Auf memberikan persyaratan yang sama kepada Utsman bin Affan yang dengan segera menjawab bahwa ia sepakat dan bersedia menjalankan ketentuan atau syarat yang diajukan oleh Abdurrahman bin Auf itu. Setelah itu Abdurrahman bin Auf menyatakan bahwa khalifah terpilih ialah Utsman bin Affan.
Imam Ali berkata kepada Abdurrahman bin Auf: “Demi Allah, kamu tidak melakukan itu kecuali dengan satu harapan yang sama seperti harapan yang dimiliki Umar ketika ia memilih temannya (Abu Bakar)” (Maksudnya ialah Abdurrahman bin Auf menjadikan Utsman khalifah dengan harapan bahwa kelak Utsman akan menunjuk dirinya untuk menjadi khalifah selanjutnya)
.
Kemudian Ali berkata, “Semoga Allah menciptakan permusuhan diantara kalian berdua.” Setelah dua tahun berselang, Abdurrahman bin AUf dan Utsman saling membenci satu sama lainnya; mereka tak pernah bertegur sapa hingga akhirnya Abdurrahman bin Auf meninggal dunia.
————————————————————————————————————————-
BAHASAN:
1. Apakah yang dilakukan Umar ini ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi? Manakah dalil yang bisa dijadikan landasan pemilihan dengan sistem syura yang dilakukan Umar ini?
2. Apakah ketentuan Umar dalam pemilihan itu sudah adil dan jujur?
3. Alasan apakah yang dipakai Umar untuk membunuh mereka yang tidak sepakat?
4. Alasan apakah yang dipakai oleh Umar untuk mengutamakan Abdurrahman bin Auf sehingga ia menentukan bahwa kelompok yang ada Abdurrahman bin Auf-lah yang harus menjadi pemenang?
5. Mengapa sistem yang diciptakan oleh Umar ini berbeda dengan sistem yang sebelumnya? Manakah yang lebih Islami?
6. Kalau pemilihan hasil rekayasa Umar ini tidak Islami, maka hasil pemilihannya pun pastilah tidak sah menurut Islam!
.
KEKUATAN MILITER DIANGGAP CARA YANG SAH UNTUK MENDAPATKAN JABATAN KHALIFAH
Utsman, sang khalifah ketiga, dibunuh beramai-ramai oleh kaum Muslimin yang tidak puas dengan prilaku nepotisnya. Keadaan yang berlangsung cepat dari waktu-ke-waktu membuat Utsman tidak sempat untuk memilih khalifah pengganti dirinya yang akan meneruskan kepemimpinannya. Kaum Muslimin untuk pertama kali setelah wafatnya Nabi, merasakan kebebasan untuk memilih pemimpinnya sendiri. Sewaktu pemilihan Abu Bakar, Umar, dan Utsman mereka sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak bisa memilih pemimpinnya sendiri. Kaum Muslimin, ketika kematian Utsman telah mereka dengar, mereka berbondong-bondong menuju rumah Ali. Mereka mengetuk pintu rumah Ali. Mereka beramai-ramai membai’at Ali untuk menjadi khalifah berikutnya. Untuk pertama kalinya, kaum Muslimin mendapatkan pemimpin yang mereka inginkan bukan pemimpin yang dipaksakan kepada mereka untuk dituruti dan dipatuhi
.
Akan tetapi jaman sudah berubah………kepemimpinan tiga khalifah sebelumnya yang memerintah selama 25 tahun lamanya sudah mengubah segalanya. Sifat dan tabiat kaum Muslimin sudah banyak sekali yang  berubah dibandingkan dengan ketika ditinggalkan oleh Rasulullah. Para tokoh ternama di kalangan Muslimin sudah berubah perangai. Walaupun Imam Ali memerintah dengan sangat jujur, adil, penuh cinta kasih seperti ketika Rasulullah memimpin umat ini, tetap saja para tokoh ternama itu tidak senang dengan perlakuan Imam Ali terhadap mereka. Para tokoh ternama itu tidak suka diri mereka disejajarkan dengan kaum Muslimin non-Arab. Mereka merasa bahwa bangsa Arab jauh lebih mulia dan lebih utama dibandingkan bangsa lainnya. Tokoh-tokoh ternama seperti Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam dan A’isyah binti Abu Bakar mulai menentang Imam Ali. Kemudian penentangan mereka itu diikuti oleh Mu’awiyyah bin Abu Sofyan. Terjadilah beberapa perang antara kaum Muslimin. Sebagian kaum Muslimin yang dihasut oleh para tokoh itu memerangi rakyat yang setia kepada Imam Ali
.
Setelah Imam Ali meninggal (syahid karena luka-luka yang dideritanya ketika dibacok oleh Ibn Muljam sewaktu Imam Ali sedang shalat—red), Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib meneruskan perjuangan Imam Ali. Imam Hasan ingin meneruskan jihad melawan Mu’awiyyah. Akan tetapi perjuangan Imam Hasan menemui kendala yang serius. Sebagian dari para prajuritnya disuap, disogok oleh Mu’awiyyah. Sebagian dari mereka ialah para perwira tinggi yang ketika dikirimkan untuk mencegat Mu’awiyyah, mereka malah tunduk dengan sogokan Mu’awiyyah dan beralih mendukung Mu’awiyyah. Di dalam situasi yang tidak mendukung seperti ini, Imam Hasan akhirnya terpaksa harus menerima tawaran damai dari Mu’awiyyah
.
Setelah peristiwa perdamaian atau gencatan senjata ini, kaum Ahlu Sunnah memandang bahwa kekuatan militer dianggap sebagai salah satu cara yang sah untuk mendapatkan jabatan khalifah secara konstitusional
.
Dengan itu kaum Ahlu Sunnah memiliki empat cara yang konstitusional untuk mendapatkan jabatan khilafah………………………
ULASAN SINGKAT TENTANG SISTEM KHILAFAH
Di dunia politik, biasanya sebuah undang-undang dasar negara itu disusun terlebih dahulu sebelum negara itu terbentuk. Dan ketika negara itu akan melangsungkan pemilihan umum untuk menentukan calon pemimpinnya, maka perangkat untuk itu sudah ada sebelumnya. Undang-undang pemilu yang mengatur pemilihan harus sudah ada sebelumnya. Setiap kegiatan untuk menentukan calon dan memilih calon, mengangkat calon, memberhentikan calon, dan lain sebagainya sudah diatur dalam undang-undang itu. Kalau setiap aturan yang ada dalam undang-undang itu dipatuhi, maka itu artinya kita mematuhi undang-undang (dalam hal ini mematuhi hukum Islam); sedangkan kalau tidak mengikuti aturan itu kita dianggap membangkang dan harus dikenakan hukuman atas tindakan menyimpang itu. Belum lagi kita akan dianggap berdosa karena setiap pelanggaran hukum Islam bisa berdampak ganda. Melanggar aturan sosial dan dianggap berdosa
.
Menurut Ahlu Sunnah, mengangkat khalifah itu adalah tanggung jawab dan hak umat Islam (walaupun pada hakikatnya hanya ketika mengangkat Ali lah umat diberikan hak untuk mengangkat khalifah—red). Karena Ahlu Sunnah berpendapat demikian maka sudah selayaknya kalau kita menyebutkan bahwa Allah dan RasulNya harus terlebih dahulu menyediakan perangkat undang-undang (lengkap dengan prosedur pemilihan khalifah dan lain-lain). Dan apabila Rasulullah belum sempat membuatnya, maka seharusnya umat sudah membuat langkah-langkah konstitusional (membuat aturan pemilihan terlebih dahulu) sebelum akhirnya memilih khalifah
.
Akan tetapi anehnya ini belum pernah dilakukan sama sekali! Tidak pernah di dalam sejarah disebutkan bahwa umat berembuk untuk menentukan sistem pemilihan khalifah sebelum mereka memilih khalifah. Semua serba mendadak. Semua serba kebetulan. Semua serba darurat. Itulah fakta sejarah yang menyedihkan!
.
Kita bisa lihat bahwa “undang-undang” atau “aturan” pemilihan tidak mengikuti aturan baku karena memang tidak pernah ada aturan baku sebelumnya! Undang-undang atau aturan pemilihan hanya mengikuti perkembangan politik terkini saat itu!
.
Argumen atau alasan yang paling baik yang bisa diajukan kelompok Ahlu Sunnah demi membendung keheranan dan keberatan kelompok lain ialah bahwa mengangkat khalifah itu adalah sesuatu yang sangat penting. Saking pentingnya sampai orang-orang pada waktu itu mengabaikan dan menelantarkan keawajiban untuk mengurus jenazah Nabi yang suci. Para elit politik pada waktu itu malah secara sembunyi-sembunyi pergi ke Saqifah Bani Saidah untuk menetapkan khalifah penerus kepemimpinan umat Islam. Dari titik poin ini, kelompok Ahlu Sunnah berketetapan bahwa memilih khalifah itu adalah kewajiban umat
.
Akan tetapi sekali lagi mereka gagal membuktikan bahwa pemilihan khalifah di Saqifah itu adalah benar-benar pemilihan yang diketahui oleh umum (ingat! mereka bilang itu kewajiban umat!).
Kelompok pengikut Ahlul Bayt Nabi (Syi’ah) menganggap pemilihan Abu Bakar itu sebagai pemilihan ilegal dan bertentangan dengan Islam; sementara itu kelompok Ahlu Sunnah (Sunni) menganggap itu legal dan benar. Bagaimana kelompok Ahlu Sunnah bisa membuktikan bahwa klaim mereka itu benar?
.
Kita bisa merangkum klaim mereka dengan sebuah peribahasa:
“TINGKAHKU INI BENAR KARENA AKU TELAH MELAKUKANNYA”
Pengadilan mana yang bisa membenarkan pernyataan tersebut di atas????????
————————————————————————————————————————-
ULASAN:
1. Klaim Ahlu Sunnah sangat lemah untuk menyebut tiga khalifah pertama sebagai khalifah yang sah karena sistem pemilihan mereka sangat berbeda dari satu pemilihan ke pemilihan yang lainnya
2. Kaum Ahlu Sunnah tidak bisa membuktikan bahwa ada undang-undang pemilihan sebelumnya yang akan dipakai untuk memilih khalifah
3. Pemilihan khalifah itu bukan seperti permainan anak-anak. Ini masalah serius. Tidak mungkin aturan dibuat mendadak dan tergesa-gesa tanpa sosialisasi kepada umat. Ingat! Hasil pemilihan itu harus dipertanggung jawabkan kepada umat (ingat! Kelompok Ahlu Sunnah percaya bahwa ini hak dan kewajiban umat, jadi wajar kalau umat harus—paling tidak—diberitahu tentang ini)
4. Perbedaan tata cara pemilihan khalifah itu menyiratkan bahwa tata cara itu ilegal dan tidak mengikuti syariat Islam karena syariat Islam pastilah memberlakukan satu sistem yang baku dan tegas dan tidak pernah berubah-ubah
.
AKIBAT BURUK DARI SISTEM KHILAFAH YANG AMBURADUL
Marilah kita kesampingkan dulu pembahasan akademis dari metoda pemilihan khalifah ini yang memang susah sekali untuk dicarikan dalil dan hujah untuk membenarkan sistem-sistem yang dipakai oleh para elit politik Madinah waktu itu untuk mengejar dan meraih jabatan khalifah. Marilah kita bahas dampak buruk yang timbul karena sistem khilafah yang amburadul itu. Kita akan bicarakan dampaknya terhadap mental kaum Muslimin dan terhadap kepemimpinan
.
Dalam kurun waktu tiga puluh tahun setelah Rasulullah wafat, setiap elit politik di kota Madinah menggunakan berbagai macam cara untuk merealisasikan ambisinya menduduki dan mengangkangi kursi khilafah. Berbagai macam cara mereka lakukan seperti sistem pemilihan (walaupun yang memilih cuma beberapa gelintir itupun memakai cara ancaman dan kekerasan); syura (memilih lewat dewan pemilih yang sekaligus calon yang bakal dipilih); atau pengangkatan langsung lewat surat penunjukkan; dan lewat kekuatan militer yang mengutamakan kemenangan dalam medan peperangan atau stratedi peperangan. Akibatnya yang langsung terasa ialah setiap orang berbondong-bondong terinspirasi untuk mendapatkan kursi khilafah yang sekaligus “pemimpin agama” di dunia Muslim. Dengan ini umat disibukkan untuk berpikir keras mendapatkan kursi khilafah itu baik dengan mencalonkan diri (dengan malu-malu) atau dengan mendukung calon yang mereka anggap layak untuk jabatan itu. Ini menimbulkan ketidak stabilan politis di dunia Muslim dari dulu hingga sekarang. Setiap pemimpin Muslim, sebagai seorang Muslim, yang telah dididik bahwa “kekuatan militer” itu adalah cara yang konstitusional untuk mendapatkan khilafah (seperti Mu’awiyyah) akan mencoba untuk melemahkan kekuatan para pemimpin atau tokoh agama sesama Muslim lainnya agar hanya dialah yang tersisa yang masih memiliki kekuatan militer yang tangguh agar nantinya dengan gampang ia akan menjadi kekuatan satu-satunya yang menonjol di wilayah itu (di dunia moderen anda bisa mengambil contoh Saddam Husein sebagai contoh yang paling shahih—red). Dengan perlombaan pengarus kekuatan militer ini, kaum Muslimin akan menjadi lemah karena tidak bersatu di bawah satu bendera. Mereka terkotak-kotak dan masing-masing kelompok memusuhi kelompok lainnya yang memiliki pemimpin yang berbeda dengan mereka.
Sebelum melangkah terlalu jauh, mari kita melihat lagi pada jaman sahabat ketika keempat sistem (sebetulnya lima karena ada sistem yang lain yaitu sistem pemilihan langsung oleh umat seperti yang terjadi pada diri Imam Ali yang ditunjuk oleh umat secara suka rela tanpa paksaan dan tanpa intrik politik—red) dan dampak langsungnya tepat ketika sistem itu ditemukan oleh para penemunya. Keempat sistem yang bid’ah itu mendorong orang untuk memilih siapa saja tanpa melihat kualitas dan karakter dari orang yang akan dipilihnya itu. Orang yang memiliki kualitas sangat buruk bisa saja melenggang menjadi khalifah asalkan ia bisa terpilih paling tidak dengan salah satu sistem yang ditemukan oleh para elit politik Madinah itu
.
Mu’awiyyah bin Abu Sofyan telah mengangkat anaknya yaitu Yazid bin Mu’awiyyah (mengkopi cara Abu Bakar ketika menunjuk Umar secara langsung oleh dirinya sendiri—red). Mu’awiyyah menggunakan juga kekuatan militernya yang tak tertandingi pada waktu itu untuk menakut-nakuti dan mengancam orang agar orang itu berbai’at kepada Yazid, anaknya. Karena “pengangkatan” Mu’awiyyah itu dianggap konstitusional oleh para elit politik dan sebagian umat Islam, maka khalifah Mu’awiyyah juga boleh memilih calon penggantinya karena dulu Abu Bakar juga memilih calon penggantinya yaitu Umar bin Khattab
.
Sekarang kita lihat siapakah Yazid bin Mu’awiyyah yang menjadi khalifah selanjutnya. Apakah ia memiliki karakter dan sifat yang baik untuk dijadikan khalifah? (Ahlu Sunnah berpendapat bahwa khalifah atau pemimpin harus memiliki sifat-sifat yang baik seperti Amanah, Fathonah, ‘Adalah, dan lain sebagainya—red) Kita ternyata dihadapkan kepada kenyataan yang pahit. Yazid bin Mu’awiyyah adalah orang yang sama sekali menolak kenabian dari Rasulullah al-Mustafa. Dia menyatakan keyakinannya dalam sebuah puisi sebagai berikut:

“Bani Hasyim telah bermain peran
Untuk mendapatkan kursi kerajaan
Sebenarnya tak pernah ada yang namanya utusan Tuhan
Yang mendapatkan wahyu bimbingan untuk disampaikan”
(LIHAT: Sibt ibn Al-Jawzi: Tadzkirah, edisi S.M.S Bahru ‘l ‘Ulum, halaman 261. [lihat juga: Tabari: at-Tarikh, volume 13, halaman 2174])
.
Yazid juga tidak pernah percaya dengan HARI PENGHISABAN. Ia seringkali berkata:
“Wahai cintaku! Janganlah percaya bahwa engkau akan bertemu denganku setelah kematian, karena apa yang telah mereka katakan kepadamu tentang hari kebangkitan setelah mati untuk menghadapi hari penghisaban itu hanyalah cerita bohong belaka yang akan membuat hatimu lupa akan kesenangan dunia yang lebih nyata.”
(LIHAT: Sibt ibn al-Jawzi: Tadzkirah, halaman 291)
.
Setelah mendapatkan kekhalifahan (khilafah), Yazid secara terbuka mempermainkan shalat. Ia juga menghina lambang-lambang keagamaan seperti misalnya memakaikan jubah yang biasanya dipakai oleh para ulama atau kaum agamawan pada waktu itu kepada binatang peliharaannya yaitu anjing dan kera. Berjudi dan bercanda dengan beruang adalah salah satu kegemarannya di waktu senggang. Yazid menghabiskan waktunya dengan minum minuman keras tanpa peduli tempat dan waktu. Ia tidak ragu-ragu untuk menengak minuman kerasnya itu. Yazid tidak pernah menghargai kaum wanita; bahkan kaum wanita yang secara hubungan keluarga masih dekat atau sangat dekat dengannya seperti ibu tirinya, adiknya, bibinya, dan puteri kandungnya sendiri. Menurut Yazid mereka semua sama dan dapat diperlakukan sama
.
Yazid pernah mengirimkan tentaranya ke kota Madinah. Kota suci Nabi itu dijarah habis. Tiga ratus perempuan yang masih gadis dan juga kaum wanita lainnya diperkosa oleh bala tentaranya. Tiga ratusqurra (pembaca) Qur’an dan tujuh ratus sahabat Nabi tercatat oleh sejarah dibunuh secara kejam oleh bala tentaranya.
Mesjid suci Nabawwi ditutup selama beberapa hari; tentara Yazid menggunakan tempat itu sebagai kandang kuda. Anjing-anjing juga dimasukkan kesana dan mimbar nabi dikotori dengan kotoran hewan
.
Akhirnya, komandan pasukan Yazid memerintahkan masyarakat kota Madinah untuk berbai’at kepada Yazid dengan kalimat bai’at seperti ini:
“Kami ini para budak dari Yazid; terserah dirinya apakah kami akan dibebaskan atau dijual di pasar budak.”
Diantara mereka yang berbai’at ada yang mau memberikan bai’atnya kepada Yazid asalkan Yazid bersedia mengikuti hukum yang dinyatakan dalam Al-Qur’an dan mengikuti Sunnah Nabi
.
Mereka yang memberikan syarat itu akhirnya dihukum mati oleh Yazid.
Pada suatu waktu Rasulullah pernah bersabda, “Semoga Allah mengutuk dia yang menakut-nakuti penduduk kota Madinah!”
————————————————————————————————————————-
LIHATLAH RUJUKAN BERIKUT INI:
1. as-Suyuti: Tarikhu ‘l-khulafa, halaman 209, [lihat juga  terjemahan bahasa Inggris Major H.S. Jarret, halaman 213])
2. Abu ‘l-Fida: at-Tarikh, volume 1, halaman 192
3. Sibt ibn al-Jawzi: Tadzkirah, halaman 288
4. Mir Khwand: Rawdatu ‘s-Safa, volume 3, halaman 66
5. Ibn Hajar al-Haytami: as-Sawa’iqu ‘l-muhriqah, halaman 79
————————————————————————————————————————-
Kemudian pasukan Yazid itu (dibawah perintah Yazid) berangkat menuju kota Mekah. Kota tersuci, rumah Allah yang paling keramat dikepung oleh tentara Yazid. Tapi tentara Yazid tidak bisa memasuki kota itu. Akhirnya mereka menggunakan manjaniq (ketapel besar yang bisa melontarkan batu yang besar yang dulu digunakan oleh angkatan bersenjata jaman dulu). Dengan ketapel manjaniq ini, pasukan Yazid melontarkan batu-batu besar dan obor-obor besar yang sudah dinyalakan ke arah Ka’bah. Kiswah (kain penutup Ka’bah) terbakar hebat dan sebagian dari bangunan Ka’bah hancur berantakan…………………..

Ummu Salamah isteri Nabi SAW idola syi’ah

“Hind”–anak dari Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi dan Atikah bin Amir–lebih dikenal dengan sebutan Ummu Salamah (atau Umme Salama, Umme Salma, Umm-e-Salama). Dia adalah isteri dari Rasulullah setelah Khadijah (as.), yang memiliki kualitas keimanan dan kebaikan yang paling utama diantara para isteri-isteri Nabi. Keluarga Ummu Salamah mewarisi kebesaran dan kemuliaan dari pihak ayahnya yaitu Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi yang seringkali disebut dengan nama panggilan “Zad-ar-Rakib” yang artinya “Orang yang sering mendapatkan hadiah dari sahabatnya dan dari para pengelana”.
Ummu Salamah adalah salah seorang pemeluk Islam pertama yang menerima Islam dan kemudian ikut hijrah ke Abyssinia atau Ethiopia. Beliau juga ikut hijrah ke Medinah dengan tujuan mulia yaitu untuk turut menjaga tujuan atau misi suci Islam. Ayat pensucian (yaitu ayat Al-Ahzab: 33) diturunkan di rumah Ummu Salamah. Beliau dikenal sebagai seorang isteri yang baik hati, penuh perhatian, penuh kasih sayang, dan penuh ketaatan. Para ulama menyebut dirinya sebagai seseorang yang mewakili kebesaran jiwa, juga penuh intelektualitas dan penuh wawasan dan itu terlihat dari sepak terjangnya pada masa-masa sulit ketika Islam mendapatkan beberapa masalah yang sangat besar pada jamannya.
Suami pertama dari Ummu Salamah ialah sepupunya sendiri yaitu Abu Salamah bin Abdul-Asad yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk berhijrah ke Abyssinia untuk menghindari perlakuan dzalim dari para musyrikin kota Mekah. Di tempat mereka berhijrah itulah puteri mereka yang bernama Salamah lahir dan setelah itu lahir juga Umar. Umar kelak dikenal sebagai orang yang bijaksana dan penuh pertimbangan. Karena Umar dibesarkan di bawah pengawasan ibunya, maka sejak kecil ia telah ikut dalam berbagai pertempuran dan ikut beserta pasukan Imam Ali (as) dan setelah itu ia pernah ditunjuk untuk menjadi gubernur Bahrain.
Abu Salamah bin Abdul-Asad sendiri ikut serta dalam peperangan Uhud dan ia terluka parah dan akhirnya meninggal dunia. Abu Salamah adalah seorang Muslim yang memiliki pandangan jernih dan cerdas. Ia tidak ingin mengikuti tradisi buruk yang sudah mendarah daging di kalangan masyarakat Mekah. Tradisi yang dimaksud ialah tradisi dimana seorang isteri yang ditinggalkan mati oleh suaminya maka ia tidak bisa menikah kembali.
Suami dari Ummu Salamah ini berpendirian tidak akan mengikuti tradisi ini. Untuk menegaskan sikapnya ini ia merentangkan kedua tangannya dan mendongakan wajahnya ke langit seraya berkata: “Ya, Allah! Berikanlah untuk Ummu Salamah seorang suami yang jauh lebih baik daripada aku setelah kematianku!”
Setelah Abu Salamah bin Abdul-Asad meninggal dunia, Rasulullah pergi ke rumah Abu Salamah dan menyampaikan rasa duka citanya kepada isteri dari Abu Salamah. Rasulullah mencoba menghibur isteri dari sahabatnya yang setia itu. Rasulullah bersabda: “Ya, Allah! Hapuskanlah kesedihannya, kurangilah penderitaannya, anugerahilah ia seorang suami yang lebih baik untuk menggantikan suaminya yang telah meninggalkannya!”
Ummu Salamah unggul dalam hal kecantikan dan kesempurnaan akhlak oleh karena itu banyak sekali tokoh ternama dalam Islam baik karena kekayaannya maupun terkenal di masyarakat karena keturunannya berbondong-bondong ingin menikahinya. Contoh yang terkenal ialah Abu Bakar yang nantinya menjadi khalifah pertama, serta Umar bin Khatab, sebagai khalifah yang kedua mengutarakan maksudnya untuk menikahi Ummu Salamah akan tetapi Ummu Salamah menolak keduanya dan ia lebih memilih untuk bersuamikan Nabi Muhammad meskipun mas kawin yang diterimanya sangatlah kecil dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh Abu Bakar dan Umar. Karena Ummu Salamah berpandangan jernih dan penuh pertimbangan selain juga memang cerdas, maka pilihannya tentu saja pilihan yang cerdas. Hati Rasulullah akhirnya terbuka dan bisa menerima kehadiran Ummu Salamah setelah sebelumnya hati beliau terkunci karena kecintaan beliau yang tinggi kepada isterinya yang telah lama meninggal yaitu Khadijah (as.). Hati Rasulullah terbuka terhadap Ummu Salamah karena keutamaan akhlak yang dimiliki oleh Ummu Salamah.
Ummu Salamah adalah seorang isteri yang sangat saleh dan cerdas; ia memiliki kemampuan bahasa yang baik dan pandai berpidato di depan khalayak. Ia memiliki ketaatan dan kasih sayang yang ia bisa berikan kepada Rasulullah sebagai suaminya. Ummu Salamah senantiasa siap untuk melakukan apapun untuk membuat suaminya, Rasulullah, senang. Ia sanggup untuuk meredakan kepedihan Rasulullah dan juga sanggup untuk memberikan pemecahan terhadap beberapa masalah yang dihadapi oleh mereka. Ummu Salamah selalu menjadi isteri yang terdepan dalam memberikan simpati dan penghiburan kepada Rasulullah–suami yang ia sangat ia cintai. Oleh karena itu, Ummu Salamah juga seringkali ikut dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh suaminya. Ia ikut dalam peperangan Khandak. Ia juga turut dalam peristiwa penaklukan kota Mekah atauFutuh Makah. Ia ikut dalam pengepungan Taif, perang Hawazin, Saghif, dan kemudian ikut juga dalam peristiwa Haji Wada atau Haji Perpisahan. Ummu Salamah sudah melek huruf semenjak masa Jahiliyyah walau saat itu yang namanya wanita masih dianggap sepele dan dipandang sebelah mata.
Dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, ketika Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk memotong rambut, kemudian memotong kurban dan kembali dari kota Mekah menuju kota Madinah, kebanyakan dari para sahabat itu tidak mematuhi apa yang diperintahankan oleh Rasulullah. Mereka menolak untuk mengikuti perintah Nabinya sendiri! Ketika Ummu Salamah melihat Rasulullah sedih dan kecewa, ia menawarkan sebuah saran yang sangat bijaksana. Ummu Salamah berkata:
“Ya, Rasulullah! Kulihat mereka terlalu sulit untuk menerima kebijakanmu. Mereka ingin menduduki kota Mekah dan mendeklarasikan kemenangan (mereka tidak ingin kembali ke kota Madinah tanpa menyandangan gelar sebagai seorang penakluk). Sebaiknya engkau berdiri dan menunjukkan kepada mereka apa yang harus mereka lakukan tanpa usah berkata apapun (cukup diberi contoh saja). Anda cukur rambut anda sendiri saja, kemudian anda juga potong hewan kurban anda sendiri saja. Saya yakin mereka akan mengikuti perbuatan engkau nantinya!”
Rasulullah melakukan apa yang disarankan oleh isterinya yang tercinta. Setelah Rasulullah melakukan hal itu seluruh kaum Muslimin serentak berdiri dan mengikuti apa-apa yang diperbuat oleh Rasulullah.
Pada suatu ketika Ummu Salamah mengutarakan pikirannya kepada Rasulullah. Pikiran ini sudah membebani benaknya selama beberapa waktu lamanya. Ummu Salamah berkata: “Ya, Rasulullah! Aki lihat kaum laki-laki itu berjuang mengangkat senjata dan bertempur dalam peperangan, mengapa perempuan tidak diijinkan untuk itu. Padahal kalau laki-laki itu gugur dalam pertempuran mereka akan mendapatkan pahala kesyahidan sedangkan kaum perempuan tidak. Sungguh membahagiakan mereka seandainyapun mereka kalah dalam peperangan”.
Rasulullah menerangkan kepada Ummu Salamah sebagai berikut:
“Wanita itu memiliki perjuangannya sendiri yaitu di keluarganya ketika melayani suaminya”
Dan setelah itu, malaikat Jibril (as.) dikirimkan oleh Allah untuk menurunkan firman Allah dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An-Nisa: 32)
Dan setelah itu ayat berikut juga turun:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang musllim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab: 35).
UMMU SALAMAH: CINTANYA DAN KESABARANNYA BERJUANG BERSAMA NABI
Setelah masuk Islam, Ummu Salamah sebenarnya secara langsung maupun tak langsung telah melepaskan dahaga yang mencekik yang telah menyiksanya selama bertahun-tahun. Islam itu laksana air mancur yang segar yang memberikan pelepas dahaga yang berisi kumpulan hikmah dan ilmu yang selama ini dicari oleh Ummu Salamah. Ia senantiasa berjuang untuk mendapatkan ketinggian akhlak seiring denga berjalannya waktu yang ia habiskan bersama-sama dengan suaminya yang tercinta. Ummu Salamah melihat dengan matanya sendiri ketinggian akhlak yang diperagakan oleh suaminya; keluasan dan kedalaman ilmu yang dimiliki suaminya; ketangguhan dan kesabaran yang memperkuat daya juang suaminya. Kesemuanya itu membuat Ummu Salamah menjadi seorang isteri yang penurut senantiasa mengikuti perintah Rasulullah yang dilihatnya sebagai seorang suami yang paling sempurna di dunia ini. Dengan ketinggian akhlak yang dimilikinya, Ummu Salamah bisa mengikuti semua ajaran suci dari Nabi.
Setelah menikah dengan Rasulullah (karena sebelumnya Ummu Salamah sudah memiliki ketinggian akhlak yang baik), maka segera ia memiliki kedudukan yang tinggi–lebih tinggi dari kedudukan isteri-isteri Rasulullah yang lainnya. Ummu Salamah senantiasa menjaga dirinya dan membuat dirinya sedemikian rupa sehingga ia tidak pernah menyakiti perasaan Nabi dan selalu memberikan Nabi pelayanan terbaik yang bisa diberikan oleh seorang isteri.  Ia selalu berusaha untuk menyukai apa yang disukai oleh Nabi. Ia juga selalu menjauhi sesuatu atau seseorang yang memang pernah dibenci oleh Nabi. Ia juga seringkali berkata tentang ketinggian akhlak dan kemuliaan Khadijah (as) isteri pertama dari Nabi yang paling dicintai oleh Nabi. Ia juga menghormati Imam Ali (as) dengan sepenuh penghormatan; ia menunjukan sikap hormat dan sayang sekaligus kepada Fathimah (as) dan ia juga selalu memasakan makanan kesukaan Nabi. Alasan-alasan itulah yang membuat orang merasa bahwa Ummu Salamah memang layak mendapatkan perhatian lebih dari Nabi dan menempatkan Ummu Salamah di tempat yang sangat spesial dalam hatinya.
Ummu Salamah seringkali dilihat orang sangat memperhatikan Nabi dan setiap kegiatan dakwahnya. Ia akan segera meninggalkan pekerjaannya, walau pekerjaan itu hampir selesai, untuk mendengarkan apa-apa yang dikatakan oleh Rasulullah. Itulah gambaran tingkah laku dan prilaku dari Ummu Salamah yang disampaikan kepada kita oleh para ahli sejarah dan para ahli hadits yang terpercaya. Para ahli sejarah mempercayai bahwa ia telah meriwayatkan sekitar 378 hadits Nabi dan beberapa dari mereka juga bahkan mengatakan bahwa Ummu Salamah telah meriwayatkan sekitar 518 hadits yang kesemuanya langsung ia dapatkan dari Rasulullah atau langsung dari keluarga suci Rasulullah.
Kecakapan dan kecerdasan Ummu Salamah serta kejujurannya yang terkenal luas yang bisa ditiru oleh setiap orang membuat dirinya dipercaya oleh kelima orang anggota keluarga suci Nabi (yaitu Rasulullah (saaw) sendiri; Ali (as), Fathimah (as), Hasan (as), dan Husein (as)). Ummu Salama juga dipercayai oleh para Imam suci dari keluarga Nabi. Mereka tidak segan-segan, misalnya, menitipkan harta benda atau milik mereka kepada Ummu Salamah dan bahkan juga menceritakan rahasia-rahasia kepadanya karena yakin akan kejujuran yang dimilikinya. Pada suatu ketika Rasulullah menceritakan peristiwa yang bakal terjadi di Karbala kepada Ummu Salamah dan Rasulullah menggambarkan kesyahidan yang akan didapatkan oleh cucunya yang sangat ia sayangi yaitu Husein bin Ali (as). Rasulullah menitipkan segenggam tanah Karbala dalam sebuah botol kaca seraya berkata kepada Ummu Salamah: “Apabila nanti kau lihat tanah ini berubah menjadi darah, maka ketahuilah bahwa cucuku, Husein bin Ali (as) telah syahid”.
Pada tanggal 10 Muharram tahun 61H, Ummu Salamah sedang tidur di Madinah pada sore hari. Dalam mimpinya ia melihat Rasulullah. Wajah Rasulullah tampak jelas sekali dipenuhi dengan kesedihan dan kepedihan yang tidak terkira: baju yang dikenakannya itu koyak-koyak di sana-sini. Rasulullah berkata: “Aku baru datang dari Karbala; aku baru datang dari kuburan para syuhada”. Tiba-tiba Ummu Salamah terbangun dan ia segera melihat ke botol kaca yang pernah dititipkan kepadanya. Ia menyadari bahwa Imam Husein (as) telah menemui kesyahidannya; Ummu Salamah menjerit dan larut dalam tangisannya yang menyayat hati. Orang lain tahu tentang kejadian ini dan Ummu Salamah menggambarkan kejadian ini dengan lebih jelas lagi. Kejadian ini dikenal orang lewat hadits yang disebut dengan “Hadits Gharoureh”.
UMMU SALAMAH MENCINTAI IMAM ALI DAN FATHIMAH
Ketika Fathimah binti Asad (ibunda dari Imam Ali as.) meninggal, Rasulullah memilih Ummu Salamah untuk menjaga dan mengasuh Fathimah (as). Pada suatu ketika wanita yang sederhana dan penuh kasih sayang ini berkata: “Aku lihat Fathimah (as) itu melebihiku dalam setiap hal kebaikan”. Pada suatu kesempatan Ummu Salamah pernah juga berbicara, “Aku tidak pernah mendapati orang lain yang mirip sekali dengan Rasulullah kecuali Fathimah (as)”.
Ketika Ummu Ayman ditanya untuk menentukan tanggal pernikahan Fathimah (as), Rasulullah bertanya: “Siapakah itu. Siapa yang ada di dalam?”
Ummu Salamah menjawab: “Aku di sini, ya Rasulullah. Ini Zainab dan itu dan itu”
Rasulullah berkata: “Tolong siapkan sebuah ruangan untuk puteriku dan sepupuku di rumahku!”
Ummu Salamah bertanya: “Ruangan mana yang engkau maksud, ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab: “Di ruangan engkau, wahai isteriku”. Kemudian Rasulullah meminta para sahabatnya untuk pergi dan bersiap-siap. Ummu Salamah yang ramah berkata: “Aku bertanya kepada Fathimah apakah ia telah mempersiapkan parfum untuk dirinya. Ia kemudian menjawab: ‘Ya’. Fathimah (as) kemudian membawa sebuah gelas berisi parfum dan menyiramkan sedikit parfum ke tangannya. Parfum itu harum sekali dan baunya memenuhi ruangan. Aku belum pernah mencium bebauan seperti itu sebelumnya. Aku bertanya darimanakah gerangan ia mendapatkan parfum itu. Fathimah menjawab bahwa parfum itu ia dapatkan dari sayap-sayap malaikat Jibril.
Pada malam hari pernikahan, Rasulullah (saaw) meminta beberapa buah mangkuk dan piring. Kemudian beliau mengisi mangkuk-mangkuk dan piring-piring itu dengan makanan dan kemudian menyuruh orang untuk mengirimkan mangkuk-mangkuk dan piring itu ke rumah para isteri Rasulullah. Kemudian beliau meminta sebuah mangkuk lagi dan mengisi mangkuk itu dengan makanan dan kemudian beliau berkata: “Makanan ini untuk Fathimah dan suaminya”. Ketika matahari sudah tenggelam, Rasulullah (saaw) meminta Ummu Salamah untuk membawa Fathimah ke hadapannya. Ummu Salamah: “Aku pergi menjemput Fathimah. Aku kemudian membawa Fathimah. Kami berdua berjalan berdampingan; aku menggenggam tangannya dengan erat. Pakaiannya terjuntai ke tanah menyapu tanah sekitar ketika ia berjalan”. Keringat bercucuran deras ke wajahnya karena rasa gugup dan rasa malunya. Ketika Fathimah sampai kepada ayahnya, ia menyelinap ke balik punggung ayahnya karena ia merasa sangat malu. Rasulullah berkata: “Semoga Allah menghilangkan rasa kebosanan dan kepenatan dari dirimu dan semoga engkau terlindungi dari marabahaya dunia!” Ketika ia sudah berhadap-hadapan dengan ayahnya, ayahnya menyibakkan kerudung yang menutup wajahnya supaya Ali (as) bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan setelah hari pernikahan itu, Ummu Salamah tetap seperti sedia kala. Ia tetap menjadi seorang ibu pengganti yang penuh kasih sayang kepada anak asuhnya yaitu Fathimah az-Zahra. Ummu Salamah tetap memberikan pelayanan terbaik kepada Fathimah dan kedua puteranya yaitu Hasan (as) dan Husein (as) ketika keduanya lahir. Rasulullah mempercayakan Fathimah dan Ali kepada Ummu Salamah dan itu bisa dilihat dengan jelas lewat beberapa pernyataan dan tingkah laku dari Rasulullah (saaw) selama beliau masih hidup. Imam Hasan (as) dan Imam Husein (as) juga  memberikan kepercayaan yang sama kepada nenek tirinya itu. Ini menunjukkan bahwa Ummu Salamah telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari seluruh anggota Ahlul Bayt karena dirinya memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan yang tinggi di antara seluruh isteri Rasulullah yang masih hidup pada waktu itu.
Pada suatu waktu Rasulullah memanggil Ummu Salamah dan mempercayakan kepadanya selembar kulit domba yang diatasnya tertulis beberapa rahasia pengetahuan. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya: “Siapapun yang meminta kulit ini darimu setelah diriku tiada, maka ia adalah Imam dari umat ini dan akan menjadi pemimpin sesudahku”.
Ummu Salamah meninggal di kota Madinah pada tahun 62 selama pemerintahan tirani Yazid ketika beliau berusia 84 tahun. Beliau dikebumikan di kompleks pemakaman Baqi di kota Madinah (Jannatul Baqi). Ummu Salamah adalah isteri Rasulullah yang paling terakhir meninggal diantara semua isteri-isteri Rasulullah.
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).” (QS. Al-Ahzab: 6)

siapakah Ulil Amri yang dimaksud oleh ayat tersebut yang ketaatan kepada mereka itu disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan engkau, ya Rasulullah?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Mereka adalah para khalifah dan Imam yang dari kaum Muslimin yang datang setelahku. Yang pertama dari mereka ialah Ali, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein; kemudian Muhammad bin Ali—yang disebut dengan nama Al-Baqir dalam Taurat.


Musuh Bertekad Memisahkan Masyarakat dari para Ulama

“Salah satu harapan terbesar pihak musuh adalah ketiadaan hubungan antara masyarakat dengan para ulama dan ruhaniawan. Namun, Alhamdulillah, kita masih diperhadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat kita telah menunjukkan tekadnya berkali-kali bahwa akan tetap berada pada jalan wilayah dan para ulama marja dan ruhaniawan.” 

 

Musuh Bertekad Memisahkan Masyarakat dari para Ulama

Syi’ah ditudh ghuluw pada imam nya, benarkah waliyul amr adalah para pemimpin biasa sebagaimana doktrin sunni ???

Ayatullah al Uzhma Alawi Gurgani, selasa (25/12/2012) dalam pertemuannya dengan para pejabat tinggi dan staf Angkatan Udara Republik Islam Iran dengan menukil dari ayat Al-Qur’an menyatakan, ketaatan kepada Nabiullah Muhammad Saw sama halnya dengan ketaatan kepada Allah SWT
.
Beliau berkata, “Ketaatan kepada Waliyul amr, sama halnya dengan ketataan kepada Nabi dan Allah SWT. Karena Aimmah maksumin as adalah pelanjut Rasulullah Saw namun sangat disayangkan tidak sedikit kaum muslimin yang justru memilih untuk membangkang dan berada pada jalan kesesatan.”
.
Ulama marja taklid tersebut kemudian melanjutkan, “Kebahagiaan dan keberuntungan seorang manusia terletak pada ketaatannya kepada Ahlul Bait Nabi Saw dan kesengsaraan dan penderitaan manusia bersumber dari pembangkangan kepada mereka.”
“Sama halnya dengan  kewajiban Rasulullah Saw yang mendakwahkan ajaran-ajaran agama, menyampaikan wahyu dan aturan-aturan Ilahi kepada masyarakat, rakyat Iran yang peka terhadap panggilan zaman dan kepatuhan terhadap titah Imam Khomeini rahimahullah dalam menghadapi seruan sesat keluarga Pahlevi dan kekuatan Negara adidaya dan atas kepemimpinan Rahbar dan wilayatul faqih, revolusi Islam Iran mencapai kemenangannya.” Lanjutnya
.
Ayatullah Alawi Ghurgani berkenaan dengan banyaknya darah yang tertumpah di jalan revolusi, menyatakan, “Revolusi Islam memiliki persyaratan yang sedemikian berat dan sulit. Dengan pengorbanan jiwa dan harta yang tidak sedikit dari rakyat Iran, Islam bangkit dan hari ini setelah 33 tahun berlalu, Negara Islam dengan kepemimpinan Wilayatul Faqih memancarkan cahaya yang benderang di antara bangsa-bangsa di dunia.”
.
Pada bagian lain ceramahnya, Ayatullah Alawi Ghurgani mengingatkan bahwa pemerintah dalam menjalankan amanah dan tugasnya harus mengenyampingkan perselisihan. “Pemerintahan Islam sampai sekarang dengan sistem wilayatul faqih sedang berada pada jalur yang membawanya kepada kemajuan. Pemerintah harus lebih serius dan telaten lagi dalam menjalankan tugas dan kewajiban masing-masing.” Ungkapnya
.
“Sebagaimana telah ditegaskan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran bahwa semua pihak harus mendukung dan membela wilayatul faqih agar rakyat tidak terjerumus pada kerugian  dan kerusakan.” Tambahnya
.
Ulama yang juga guru besar Hauzah Ilmiyah Qom Iran tersebut kemudian menyebutkan akan tekad dan kegigihan pihak musuh untuk memisahkan masyarakat dari bimbingan para ruhaniawan. Beliau menyatakan,”Salah satu harapan terbesar pihak musuh adalah ketiadaan hubungan antara masyarakat dengan para ulama dan ruhaniawan. Namun, Alhamdulillah, kita masih diperhadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat kita telah menunjukkan tekadnya berkali-kali bahwa akan tetap berada pada jalan  wilayah dan para ulama marja dan ruhaniawan.”
.
siapakah Ulil Amri yang dimaksud oleh ayat tersebut yang ketaatan kepada mereka itu disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan engkau, ya Rasulullah?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Mereka adalah para khalifah dan Imam yang dari kaum Muslimin yang datang setelahku. Yang pertama dari mereka ialah Ali, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein; kemudian Muhammad bin Ali—yang disebut dengan nama Al-Baqir dalam Taurat.
يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا
.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisaa: 59)
.
Kita akan bahas arti sebenarnya dari ungkapan Ulil Amri yang terdapat dalam Al-Qur’an
.

Al-Imam Ja’far As-Shadiq (as) bersabda bahwa ayat yang dimaksud di atas ialah ayat yang berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib, Hasan, dan Husein (as). Demi mendengar ini seseorang bertanya kepada Imam: “Orang-orang berkata, ‘Mengapa Allah tidak mencantumkan langsung nama Ali dan keluarganya di dalam Al-Qur’an?’”

.

Kemudian Imam menjawab: “Katakan saja pada mereka bahwa perintah untuk shalat sudah datang, tapi Allah tidak pernah mencantumkan (dalam al-Qur’an) apakah shalat itu tiga raka’at atau empat raka’at. Adalah Rasulullah yang menjelaskan semua itu secara rinci. Ketika perintah zakat telah turun, Allah tidak menjelaskan apakah zakat itu besarnya seper empat puluh untuk setiap dirham yang kita miliki. Adalah Rasulullah yang menjelaskan itu semua. Ketika datang perintah untuk berhaji, Allah juga tidak menjelaskan apakah kita harus bertawaf—berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Rasulullah-lah yang menjelaskan itu semua secara terperinci. Begitu juga ketika ayat ini datang:

.

اأطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم
“taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”

Ayat ini dijelaskan Nabi bahwa ini berkenaan dengan Ali, Hasan, dan Husein (as)”

(LIHAT: al-‘Ayyashi: at-Tafsir, volume 1, halaman 249—250; juga lihat: Fayd al-Kashani: At-Tafsir (as-Safi), volume 1, halaman 364)

Dalam Kifayatu ‘l-athar, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir ibn ‘Abdillah al-Ansari, yang menjelaskan arti sebenarnya dari ayat tersebut di atas. Ketika ayat tersebut turun, Jabir bertanya kepada Rasulullah: “Kami mengenal Allah dan RasulNya, akan tetapi siapakah Ulil Amri yang dimaksud oleh ayat tersebut yang ketaatan kepada mereka itu disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan engkau, ya Rasulullah?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Mereka adalah para khalifah dan Imam yang dari kaum Muslimin yang datang setelahku. Yang pertama dari mereka ialah Ali, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein; kemudian Muhammad bin Ali—yang disebut dengan nama Al-Baqir dalam Taurat. Wahai Jabir! Engkau akan bertemu dengannya. Ketika engkau bertemu dengannya, sampaikan salamku kepadanya. Ia akan diteruskan oleh puteranya Ja’far as-Sadiq; kemudian Musa bin Ja’far; kemudian Ali bin Musa; kemudian Muhammad bin Ali; kemudian Ali bin Muhammad; kemudian Hasan bin Ali; ia akan diikuti oleh puteranya yang namanya dan nama panggilannya sama dengan namaku. Ia akan menjadi hujatullah (bukti adanya Allah) di muka bumi ini, dan baqiyyatullah (atau yang ditangguhkan oleh Allah untuk menjaga keimanan) diantara umat manusia. Ia akan menguasai dunia dari timur hingga ke barat. Begitu lama ia akan tersembunyi dari mata para pengikutnya dan para sahabatnya dan keimanan pada Imamah yang disandangnya akan tetap di dalam hati-hati mereka yang sudah diuji oleh Allah keimanannya.”

Jabir berkata: “Wahai Rasulullah! Akankah para pengikutnya mendapatkan keberkahan atau keuntungan dari keghaibannya?”

Rasulullah bersabda, “Ya, tentu saja! Demi DIA yang telah mengirimku bersama dengan kenabian! Mereka yang beriman akan diberikan bimbingan dengan cahayanya, dan akan mendapatkan keuntungan dari wilayah-nya (cinta dan kasih sayangnya) selama masa keghaibannya sama seperti manusia yang mendapatkan kehangatan cahaya matahari yang sedang tertutup awan. Wahai Jabir! Berita ini berasal dari rahasia Allah dan dari pengetahuan tersembunyi milik Allah. Jadi jagalah rahasia ini kecuali dari orang-orang (yang layak untuk mengetahui ini)

(LIHAT: Al-Khazzaz: Kifayatu ‘l-athar, halaman 53)

.
Hadits tersebut dikutip dari sumber-sumber yang berasal dari kalangan Ahlul Bayt Nabi (Syi’ah). Sementara itu di kalangan Ahlu Sunnah kita tidak memiliki sumber yang terperinci seperti itu. Akan tetapi kita juga tetap bisa mendapatkan ratusan (sekitar 270 hadits—red) hadits dari Ahlu Sunnah yang menyebutkan akan datangnya 12 imam(untuk mengetahui lebih lanjut tentang hadits-hadits dari Ahlu Sunnah yang mengemukakan tentang akan datangnya 12 Imam sepeninggal Rasulullah anda bisa klik kata “12 imam” yang berwarna kuning di atas. Itu adalah tulisan saya bagian pertama dari diskusi saya dengan salah seorang ustadz/ulama bermadzhab wahabi. Semuanya ada 12 bagian. Bagian terakhir tidak dilanjutkan karena ustadz yang bersangkutan tidak lagi mau melanjutkan diskusi)
.

Sekarang karena kita telah mengetahu arti ungkapan “Ulil Amri” (mereka yang diberi kekuasaan), maka telah jelaslah mengapa kita harus patuh dan taat kepada mereka dan mereka itu bukanlah para penguasa atau raja lalim yang biasa dipatuhi oleh umat manusia termasuk kaum Muslimin. Dalam ayat ini juga tersirat bahwa kaum Muslimin sama sekali tidak diwajibkan untuk mematuhi para pemimpin dan atau penguasa yang dzalim, tiran, jahil, egosi, dan bergeliman dalam dosa—baik dosa kecil apalagi dosa besar

.

Kaum Muslimin (sesuai dengan hadits-hadits yang beredar baik di kalangan Ahlul Bayt Nabi maupun di kalangan Ahlu Sunnah) diperintahkan untuk mematuhi dan mentaati serta mengikuti petunjuk dan bimbingan dari 12 Imam tertentu yang telah disucikan oleh Allah. Mereka semua terjaga dari dosa dan terjauh dari pikiran buruk dan terpelihara dari perbuatan dosa dan perbuatan sia-sia. Mematuhi dan mentaati orang-orang seperti itu bukan saja boleh tetapi malah diwajibkan karena tidak akan mendatangkan mudharat kepada siapa saja yang mengikuti mereka. Bahkan apabila kita senantiasa mengikuti mereka, kita akan terlindungi dari resiko besar yang akan terjadi apabila kita patuh dan taat kepada seorang pemimpin. Karena mereka akan memberikan perintah yang senantiasa ada pada koridor keridhoan Allah. Mereka akan memerintah umat manusia dengan cinta kasih dan rasa sayang. Mereka akan memperlakukan kita dengan adil dan jujur; jauh dari sifat korup dan tiran yang senantiasa ada pada para pemimpin biasa yang tidak ditunjuk oleh Allah untuk memimpin umat ini.

.

ULIL AMRI: APAKAH ITU ARTINYA PARA PEMIMPIN MUSLIM?

يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah  dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisaa: 59)
.
Banyak dari saudara-saudara kita dari kalangan Ahlus Sunnah yang cenderung untuk menerjemahkan “ulil amri” sebagai “para pemimpin diantara kalian” yaitu para pemimpin yang ada di kalangan kaum Muslimin. Terjemahan atau tafsiran ini tidak didasarkan atas akal sehat atau logika melainkan atas dasar kejadian-kejadian yang pernah terjadi di kalangan kaum Muslimin. Mayoritas kaum Muslimin menjadi pendukung kekuasaan monarki beserta para pemimpin yang dilahirkan darinya. Kaum muslimin dipaksa sejarah untuk menafsirkan dan menafsirkan ulang ayat-ayat Al-Qur’an hanya demi menggembirakan dan menyenangkan hati para pemimpin Muslim yang sedang berkuasa.
.
Sejarah Islam dan kaum Muslimin (sama halnya seperti sejarah bangsa-bangsa lainnya di dunia) selalu dihubung-hubungkan dengan nama-nama para pemimpin yang dzalim, tidak adil, suka berbuat tidak senonoh, dan gila kekuasaan serta memiliki sifat diktator dalam dirinya. Para pemimpin itu telah mencemarkan nama baik Islam seperti yang sudah kita ketahui dalam sejarah. Para pemimpin seperti itu selalu ada dan terlahir di sepanjang sejarah umat Islam. Dalam al-Qur’an kita diberitahu bahwa ada sekelompok manusia yang disebut dengan sebutan ULIL AMRI yang ketaatan kepada mereka itu disejajarkan dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya.
.
Apabila Allah memerintahkan kita untuk mentaati raja-raja dan para pemimpin yang dzalim dan berakhlaq rendah seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi kebingungan dan kerancuan di dalam tubuh umat Islam. Lihatlah ayat tersebut di atas………kita harus taat (أطيعو) kepada Allah, RasulNya dan juga kepada para pemimpin (ulim amri). Apabila pemimpin yang kita taati itu ialah para pemimpin yang dzalim dan kemudian kita ikuti dia, maka kita sudah bertentangan dengan kehendak Allah. Allah melarang kita untuk mengikuti, patuh dan taat terhadap orang-orang dzalim. Akan tetapi kalau kita tidak mematuhi para pemimpin itu, maka kita dikenai lagi oleh ayat tersebut yang menyuruh kita untuk menaati para pemimpin. Jadi kalah kita menafsirkan ayat itu seperti itu maka kita akan kebingungan ibarat memakan buah simalakama (dimakan ibu mati tak dimakan ayah mati). Kita menjadi salah tingkah dan sakit jiwa. Itu akan terjadi kalau kita selalu menafsirkan ayat itu seperti itu; kita menafsirkan ulil amri  sebagai sembarang pemimpin asal ia sah dan memiliki kekuasaan.
.
Seorang ahli tafsir al-Qur’an dari kalangan Ahlus Sunnah yang bernama Fakhru ‘d-Din ar-Razi menuliskan dalam tafsirnya Tafsiru ‘l-kabir (lihat: ar-Razi: at-Tafsiru ‘l-kabir, volume 10, halaman 144) bahwa ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa ulil amri itu haruslah orang-orang yang ma’shum. Ar-Razi mengomentari bahwa Allah telah memerintahkan kita untuk taat (أطيعو) kepada ulil amri tanpa syarat sama sekali; oleh karena itu, ulil amri itu seharusnya orang yang ma’shum (terjaga dari dosa). Karena kalau ulil amri itu berbuat dosa (dan berbuat dosa itu terlarang hukumnya), maka itu artinya kita harus ‘taat’ kepada mereka dan juga harus ‘tidak taat’ kepada mereka sekaligus! Dan ini jelas sama sekali suatu kemustahilan! Fakhru ‘d-Din ar-Razi takut orang-orang akan menjadi pengikut Ahlul Bayt, maka oleh karena itu ia cepat-cepat menambahkan dalam tafsirnya dengan penemuannya yang belum pernah ditemukan orang lain. Ia mengemukakan sebuah teori bahwa Umat Islam secara keseluruhan sebagai suatu kesatuan itu ma’shum!!!! (sedangkan kalau berdiri sendiri-sendiri itu tidak ma’shum!!!)
.
Ini adalah tafsir yang sangat unik dan belum pernah ditulis orang sebelumnya (jadi Ar-Razi itulah penemunya). Teori ini sama sekali tidak berdasarkan hadits apapun atau sunnah apapun. Sangat mengejutkan sekali mengetahui bahwa Ar-Razi sendiri memang mengakui bahwa umat Islam secara individual bukanlah manusia yang ma’shum; jadi tidak ada seorang Muslim pun (menurut Ar-Razi) yang ma’shum akan tetapi apabila mereka tergabung menjadi suatu kesatuan mereka adalah umat yang ma’shum. Jadi secara keseluruhan umat Islam itu ma’shum. Ini menggelikan mengingat seorang anak SD pun tahu kalau 200 sapi ditambah 200 sapi pastilah hasilnya 400 sapi dan tidak mungkin jadi seekor kuda!
.
Akan tetapi Ar-Razi mengemukakan bahwa 70 juta Muslimin yang tidak ma’shum ditambah 70 juta Muslim lagi yang sama tidak ma’shum-nya akan menghasilkan seorang Muslim yang ma’shum! Apakah Ar-Razi berkehendak untuk mengatakan bahwa apabila kita menggabungkan seluruh pasien rumah sakit jiwa akan menghasilkan satu orang yang waras?
Seorang pujangga kenamaan bernama Dr. Iqbal telah berkata:

Otak-otak dari dua ratus ekor keledai takkan pernah menghasilkan otak sehat milik seorang manusia
Jelas sekali dengan pengetahuan seperti ini Ar-Razi seharusnya  akan mudah menyimpulkan bahwa seorang Ulil Amri itu haruslah seorang yang ma’shum (terjaga dari dosa), akan tetapi sikap prejudice-nya (seperti diterangkan di atas—red) telah menghalangi beliau sampai pada keputusan seperti itu. Alih-alih begitu, Ar-Razi malah menyimpulkan bahwa Umat Islam iut secara keseluruhan adalah ma’shum.
Juga harus ditekankan di sini bahwa ayat tersebut mengandung kata minkum (diantaramu); jadi bukan keseluruhan melainkan sebagian dari kaum Muslimin. Kalau yang dimaksud oleh Ar-Razi itu keseluruhan umat (karena hanya dengan bentuk keseluruhan-lah umat Islam itu menjadi ma’shum seperti yang disebutkan oleh Ar-Razi—red) maka Ulil Amri itu adalah keseluruhan umat dan dengan demikian Ulil Amri tidak lagi memiliki pengikut atau rakyat yang dipimpinnya. Sedangkan apabila hanya satu orang saja dari kaum Muslimin, Ar-Razi berkata bahwa umat Islam secara individu itu tidak ada yang ma’shum; jadi Ulil Amri yang terpilih menjadi tidak ma’shum (menurut teori Ar-Razi).
.
Walhasil……….teori tersebut sangat membingungkan karena:
1. Tidak diambil dari khasanah Islam. Tidak dari Al-Qur’an tidak dari Hadits
2. Teori itu dibuat karena terpaksa. Ar-Razi dengan segenap kecerdasannya tahu bahwa Ulil Amri itu haruslah seorang yang ma’shum; akan tetapi ia tidak mau menyebutkan bahwa ada orang ma’shum setelah atau sepeninggal Nabi yang akan menjadi pemimpin karena kalau ia berkeyakinan seperti itu, maka ia sebenarnya telah menjadi syi’i karena hanya orang syi’i –lah yang memiliki keyakinan seperti itu. Orang syi’i percaya bahwa sepeninggal Nabi ada orang-orang yang harus mereka patuhi dan taati(Ulil Amri) yang tidak lain adalah para Imam ma’shumin (para Imam yang telah dijaga Allah dari perbuatan dosa)
.
(alau kita mengambil sesuatu yang tidak berasal dari Allah maka hasil akhirnya akan sama yaitu suatu kesia-siaan. Ar-Razi tahu benar akan kandungan ayat itu, tapi beliau menghindar dari arti sebenarnya dari ayat itu dan ia menemui kesia-siaan. Ia tidak berhasil mempertahankan teorinya yang ia buat sendiri—red)
.
Semoga kedatangan Imam akhir zaman menjadi akhir yang baik bagi kemanusiaan.

Fatimah Az Zahra mati syahid akibat luka luka pasca keguguran karena pukulan dari kedzaliman penguasa yang memerintah sepeninggal Nabi.


Pintu yang menjadi saksi gugurnya Muhsin ; Martyrdom of the Unborn Child, Mohsin

[Bibi+Fatima+1.jpg]














ya-fatimah.gif

fatimah-az-zahra-1.jpg

ya-fatimah-2.jpg

Ringkasan Pertanyaan
.
Apakah hal-hal yang berkenaan dengan syahâdah Hadhrat Fatimah Sa dapat dijumpai pada literatur-literatur Ahlusunnah?
.
Pertanyaan
Apakah hal-hal yang berkenaan dengan syahâdah Hadhrat Fatimah Sa dapat dijumpai pada literatur-literatur Ahlusunnah? Tolong Anda sebutkan literatur-literatur itu dan sedapat mungkin dikirim ke email saya. Terima kasih.
.
Jawaban Global

Fakta sejarah ini tetap hidup dan terjaga dalam kitab-kitab sejarah dan hadis. Para pembesar Ahlusunnah seperti Ibnu Abi Syaibah, Baladzuri, Ibnu Qutaibah dan sebagainya mengakui fakta ini. Untuk mengetahui lebih jauh beberapa referensi terkait dengan penyerangan rumah Hadhrat Zahra Sa demikian juga beberapa referensi berkenaan dengan syahâdah Hadhrat Fatimah Zahra Sa kami persilahkan Anda untuk melihat jawaban detil dari site ini

.

Jawaban Detil

Peristiwa Seputar Wafatnya Fatimah RA

Satu penggal kisah yang terhimpun dalam buku-buku sejarah, adalah sebuah episode kesedihan nan memilukan.

Tampaknya, meskipun Sayyidina ‘Ali memutuskan untuk mengurung diri di rumah dan memilih untuk tidak ambil bagian dalam politik kekuasaan, namun pintu  rumah tinggalnya dibakar ketika istri tercinta, Sayyidah Fatimah, putri Rasulullah, sedang berada di dalam.

Pintu yang dibakar, pukulan keras gagang pedang, dorongan keras dan  itu semua yang mematahkan rusuk dan tangan Fatimah dan mengakibatkan luka serius, hingga bayi dalam kandungannya pun keguguran.

Tampaknya penyerbuan itu terjadi secara mendadak dan tak terduga, tak seorang pun siap siaga menghadapinya. Putri Rasulullah itu menderita luka serius, hingga akhirnya pingsan. Sementara pintu rumah itu diliputi kepulan asap yang menyisakan trauma mendalam bagi anak-anaknya. Ketika Sayyidina ‘Ali merawat istrinya dan anak-anaknya yang hampir mati lemas, dia disergap dan diseret keluar dari rumahnya. Bahkan setelah peristiwa ini, warisan Fatimah dari ayahnya, Rasulullah Saw, pun ikut disita

Dua hari setelah Kewafatan  nabi Muhammad Saww, maka Umar bin Khattab memimpin tentara ke rumah ALI AS. Mereka berteriak memanggil orang orang yang ada di dalam rumah untuk berbaiat kepada Abu Bakar dan mengancam untuk membakar rumah bila tidak ada yang mau keluar. karena tidak ada orang yang mau keluar rumah,  tentara – tentara itu memaksa masuk. Fatimah AS yang sedang hamil sedang berdiri di belakang pintu. Umar bin Khattab mendorong  fatimah AS ke belakang pintu yang terbakar. Umar telah mematahkan tulang rusuk dan pergelangan tangan bunda Fatimah AS, dan Bahkan bunda Fatimah AS juga kemudian keguguran atas putranya yang bernama Muhsin AS.Sekujur tubuh Fatimah terluka parah, mentalnya terguncang. Hal ini menyebabkan kondisi tubuhnya semakin lemah

.

Enam bulan kemudian

Ali dan Fatimah menangis sesaat. Kemudian, Imam ‘Ali as memegang kepala Sayyidah Fathimah dan menyandarkan ke dadanya. Beliau berkata. “Wasiatkanlah kepadaku apa yang ingin kau wasiatkan.”

Sayyidah Fathimah lalu berwasiat, “Semoga Tuhanmu membalas kebaikanmu, wahai anak pak cik Rasulullah! Wasiatku yang pertama adalah agar engkau menikahi Umamah, puteri saudaraku. Sebab dia sangat menyayangi anak-anakku dan kaum lelaki memang harus memiliki isteri. Wasiatku yang lain, siapapun di antara mereka yang menzalimiku dan merampas hakku tidak boleh menghadiri upacara pemakamanku. Sebab, mereka musuhku dan musuh Rasulullah saww. Jangan biarkan salah seorang di antara mereka, atau pengikut mereka, mensolati jenazahku. Wahai Abul Hasan! Kuburkan jenazahku di malam hari, saat semua mata tertidur…”

Setelah beberapa bulan kemudian Fatimah wafat pada tanggal 14 Jumadil Awal 11 H. Fatimah dimakamkan pada malam harinya. Hanya keluarga Bani Hasyim, dan para sahabat pilihan saja, seperti Salman, Abu Dzarr, Ammar bin Yasir dan Miqdal al-Aswad yang diperkenankan menyertai pemakamannya

…………………..

Penyerangan rumah dan syahâdah Fatimah Zahra Sa

Terkait dengan hal ini kami akan mengutip beberapa matan dari kitab-kitab Ahlusunnah sehingga menjadi jelas bahwa masalah penyerangan kediaman Hadhrat Fatimah Zahra Sa merupakan sebuah peristiwa sejarah faktual dan niscaya serta bukan sebuah mitos dan legenda!! Meski pada masa para khalifah terjadi sensor besar-besaran terhadap penulisan keutamaan dan derajat (para maksum); akan tetapi kaidah menyatakan bahwa “hakikat (kebenaran) adalah penjaga sesuatu.” Hakikat sejarah ini tetap hidup dan terjaga dalam kitab-kitab sejarah dan hadis. Di sini kami akan mengutip beberapa referensi dengan memperhatikan urutan masa semenjak abad-abad pertama hingga masa kiwari.

1. Ibnu Abi Syaibah dan kitab “Al-Musannif”

Abu Bakar bin Abi Syaibah (159-235 H) pengarang kitab al-Mushannif dengan sanad sahih menukil demikian:

“Tatkala orang-orang memberikan baiat kepada Abu Bakar, Ali dan Zubair berada di rumah Fatimah berbincang-bincang dan melakukan musyawarah. Hal ini terdengar oleh Umar bin Khattab. Ia pergi ke rumah Fatimah dan berkata, “Wahai putri Rasulullah, ayahmu merupakan orang yang paling terkasih bagi kami dan setelah Rasulullah adalah engkau. Namun demi Allah! Kecintaan ini tidak akan menjadi penghalang.  Apabila orang-orang berkumpul di rumahmu maka Aku akan perintahkan supaya rumahmu dibakar. Umar bin Khattab menyampaikan ucapan ini dan keluar. Tatkala Ali As dan Zubair kembali ke rumah, putri Rasulullah Saw menyampaikan hal ini kepada Ali As dan Zubair: Umar datang kepadaku dan bersumpah apabila kalian kembali berkumpul maka ia akan membakar rumah ini. Demi Allah! Apa yang ia sumpahkan akan dilakukannya![1]

2. Baladzuri dan kitab “Ansab al-Asyrâf”

Ahmad bin Yahya Jabir Baghdadi Baladzuri (wafat 270) penulis masyhur dan sejarawan terkemuka, mengutip peristiwa sejarah ini dalam kitab “Ansab al-Asyrâf” sebagaimaan yang telah disebutkan.

Abu Bakar mencari Ali As untuk mengambil baiat darinya, namun Ali tidak memberikan baiat kepadanya. Kemudian Umar bergerak disertai dengan alat untuk membakar dan kemudian bertemu dengan Fatima di depan rumah. Fatimah berkata, “Wahai putra Khattab! Saya melihat kau ingin membakar rumahku? Umar berkata, “Iya. Perbuatan ini akan membantu pekerjaan yang untuknya ayahmu diutus.”[2]

 

3. Ibnu Qutaibah dan kitab “Al-Imâmah wa al-Siyâsah”

Sejarawan kawakan Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Dainawari (216-276) yang merupakan salah seorang tokoh dalam sastra dan penulis kawakan dalam bidang sejarah Islam, penulis kitab “Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits” dan “Adab al-Kitab” dan sebagainya. Dalam kitab “Al-Imamah wa al-Siyasah” ia menulis sebagai berikut:

“Abu Bakar mencari orang-orang yang menghindar untuk memberikan baiat kepadanya dan berkumpul di rumah Ali bin Abi Thalib. Kemudian ia mengutus Umar untuk mendatangi mereka. Ia datang ke rumah Ali As dan tatkala ia berteriak untuk meminta mereka keluar namun orang-orang dalam rumah tidak mau keluar. Melihat hal ini Umar meminta supaya kayu bakar dikumpulkan dan berkata, “Demi Allah yang jiwa Umar di tangan-Nya! Apakah kalian akan keluar atau aku akan membakar rumah (ini).” Seseorang berkata kepada Umar, “Wahai Aba Hafs (julukan Umar) dalam rumah ini ada Fatimah, putri Rasulullah.” Umar menjawab: “Sekalipun.”!![3]

Ibnu Qutaibah sebagai kelanjutan kisah ini, menulis lebih mengerikan, “Umar disertai sekelompok orang mendatangi rumah Fatimah. Ia mengetuk rumah. Tatkala Fatimah mendengar suara mereka, berteriak keras: “Duhai Rasulullah! Selepasmu alangkah besarnya musibah yang ditimpakan putra Khattab dan putra Abi Quhafah kepada kami.” Tatkala orang-orang yang menyertai Umar mendengar suara dan jerit tangis Fatimah, maka mereka memutuskan untuk kembali namun Umar tinggal disertai sekelompok orang dan menyeret Ali keluar rumah dan membawanya ke hadapan Abu Bakar dan berkata kepadanya, “Berbaiatlah.” Ali berkata, “Apabila Aku tidak memberikan baiat lantas apa yang akan terjadi?” Orang-orang berkata, “Demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, kami akan memenggal kepalamu.”[4]

Tentu saja penggalan sejarah ini sangat berat dan pahit bagi mereka yang mencintai syaikhain (dua orang syaikh, Abu Bakar dan Umar). Karena itu, mereka meragukan kitab ini sebagai karya Ibnu Qutaibah. Padahal Ibnu Abil Hadid, guru sejarah ternama, memandang bahwa kitab ini merupakan karya Ibnu Qutaibah dan senantiasa menukil hal-hal di atas. Namun amat disayangkan kitab ini telah mengalami distorsi dan sebagian hal telah dihapus tatkala dicetak sementara hal yang sama disebutkan dalam Syarh Nahj al-Balâghah karya Ibnu Abil Hadid.

Zarkili menegaskan bahwa kitab “Al-Imâmah wa al-Siyâsah” ini merupakan karya Ibnu Qutaibah dan mengimbuhkan bahwa sebagian memiliki pendapat terkait dengan masalah ini. Artinya keraguan dan sangsi disandarkan kepada orang lain bukan kepada mereka, sebagaimana Ilyas Sarkis[5] memandang bahwa kitab ini merupakan salah satu karya Ibnu Qutaibah.

4. Thabari dan kitab “Târikh”

Muhammad bin Jarir Thabari (W 310 H) dalam Târikh-nya peristiwa penyerangan ke rumah wahyu menjelaskan demikian:

Umar bin Khattab mendatangi rumah Ali bin Abi Thalib sementara sekelompok orang-orang Muhajir berkumpul di tempat itu. Umar berkata kepada mereka: “Demi Allah! Saya akan membakar rumah ini kecuali kalian keluar untuk memberikan baiat.” Zubair keluar dari rumah sembari membawa pedang terhunus, tiba-tiba kakinya terjungkal dan pedangnya terjatuh. Dalam kondisi ini, orang lain menyerangnya dan mengambil pedang darinya.[6]

Penggalan sejarah ini merupakan sebuah indikator bahwa pengambilan baiat dilakukan dengan intimidasi dan ancaman. Seberapa nilai baiat semacam ini? Kami persilahkan Anda untuk menjawabnya sendiri.

5. Ibnu Abdurabih dan kitab “Al-‘Aqd al-Farid”

Syihabuddin Ahmad yang lebih dikenal dengan Ibnu Abdurabih Andalusi (463 H) penulis kitab al-Aqd al-Farid dalam kitabnya menulis sebuah pembahasan rinci terkait dengan sejarah Saqifah dengan judul “Orang-orang yang menentang baiat kepada Abu Bakar.” Berikut tulisannya, “Ali, Abbas dan Zubair duduk di rumah Fatimah dimana Abu Bakar mengutus Umar bin Khattab untuk mengeluarkan mereka dari rumah Fatimah. Ia berkata kepadanya, “Apabila mereka tidak keluar, maka berperanglah dengan mereka! Dan ketika itu, Umar bin Khattab bergerak menuju ke rumah Fatimah dengan membawa api untuk membakar rumah tersebut. Dalam kondisi seperti ini, ia berjumpa dengan Fatimah. Putri Rasulullah Saw berkata, “Wahai putra Khattab! Kau datang untuk membakar (rumah) kami. Ia menjawab: “Iya. Kecuali kalian memasuki apa yang telah dimasuki umat![7]

Kiranya kami cukupkan sampai di sini penggalan kisah tentang adanya keinginan untuk menyerang rumah Fatimah. Sekarang mari kita mengulas pembahasan kedua kita yang menunjukkan alasan adanya niat untuk menyerang ini.

Apakah penyerangan itu benar-benar terjadi?

Di sini ucapan-ucapan kelompok yang hanya menyinggung niat buruk khalifah dan para pendukungnya berakhir sampai di sini saja. Sebuah kelompok yang tidak ingin atau tidak mampu menyuguhkan laporan tragedi yang terjadi dengan jelas, sementara sebagian kelompok menyinggung inti tragedi yaitu penyerangan terhadap rumah dan sebagainya, sehingga tersingkap kedok yang sebenarnya meski pada tingkatan tertentu. Di sini kami akan menyebutkan beberapa referensi terkait dengan penyerangan dan penodaan kehormatan (pada bagian ini juga dalam mengutip beberapa literatur dan referensi ghalibnya dengan memperhatikan urutan masa penulis atau sejarawan):

1.     Abu Ubaid dan kitab “Al-Amwâl”

Abu Ubaid Qasim bin Salam (W 224 H) dalam kitabnya “Al-Amwâl” yang menjadi sandaran para juris Islam menukil: “Abdurrahman bin Auf berkata, “Aku datang ke rumah Abu Bakar untuk membesuknya yang tengah sakit. Setelah berbicara panjang-lebar, ia berkata: “Saya berharap kiranya saya tidak melakukan tiga perbuatan yang telah saya lakukan. Demikian juga saya berharap saya bertanya tiga hal kepada Rasulullah Saw. Adapun tiga hal yang telah saya lakukan dan saya berharap kiranya saya tidak melakukannya adalah: “Kiranya saya tidak menodai kehormatan rumah Fatimah dan membiarkanya begitu saja meski pintunya tertutup untuk (siap-siap) perang.”[8]

Abu Ubaid tatkala sampai pada redaksi ini, tatkala sampai pada redaksi ini, alih-alih menulis “Lam aksyif baita Fatima wa taraktuhu…” Ia malah menulis, “kadza..kadza..” dan menambahkan bahwa saya tidak ingin menyebutkannya!

Namun kapan saja Abu Ubaid berdasarkan fanatisme mazhab atau alasan lainnya menolak untuk menukil kebenaran dan hakikat ini; namun para peneliti kitab al-Amwâl menulis pada catatan kaki: Redaksi kalimatnya telah dihapus dan disebutkan pada kitab “Mizân al-I’tidâl” (sebagaimana yang telah dijelaskan). Di samping itu, Thabarani dalam “Mu’jam” dan Ibnu Abdurrabih dalam “Aqd al-Farid” dan lainnya menyebutkan redaksi kalimat yang telah dihapus itu. (Perhatikan baik-baik)

 

2.     Thabarani dan kitab “Mu’jam al-Kabir”

Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad Thabarani (260-360 H) dimana Dzahabi bercerita tentangnya dalam Mizân al-I’tidâl: Ia adalah seorang yang dapat dipercaya.[9] Dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir yang berulang kali telah dicetak, terkait dengan Abu Bakar, khutbah-khutbah dan wafatnya, Thabarani menyebutkan: “Abu Bakar sebelum wafatnya ia berharap dapat melakukan beberapa hal. Kiranya saya tidak melakukan tiga hal. Kiranya saya melakukan tiga hal. Kiranya saya bertanya tiga hal kepada Rasulullah. Ihwal tiga perkara yang dilakukan dan berharap kiranya tidak dilakukannya, Abu Bakar menuturkan, “Saya berharap saya tidak melakukan penodaan atas kehormatan rumah Fatimah dan membiarkannya begitu saja![10] Redaksi-redaksi ini dengan baik menunjukkan bahwa ancaman Umar itu terlaksana.

3.     Ibnu Abdurrabih dan “Aqd al-Farid”

Ibnu Abdurrabih Andalusi (W 463 H) penulis kitab “Aqd al-Farid” dalam kitabnya menukil dari Abdurrahman bin Auf: ““Aku datang ke rumah Abu Bakar untuk membesuknya yang tengah sakit. Setelah berbicara panjang-lebar, ia berkata: “Saya berharap kiranya saya tidak melakukan tiga perbuatan yang telah saya lakukan. Salah satu dari tiga hal tersebut adalah. Kiranya saya tidak menodai kehormatan rumah Fatimah dan membiarkanya begitu saja meski pintunya tertutup untuk (siap-siap) perang.”[11] Dan juga nama-nama dan ucapan-ucapan orang-orang yang menukil ucapan khalifah ini akan disebutkan bagian mendatang.

4.     Nazzham dan “Al-Wâfi bi al-Wafâyât”

Ibrahim bin Sayyar Nazzham Muktalizi (160-231) yang lantaran keindahan tulisannya dalam puisi dan prosa sehingga ia dikenal sebagai Nazzham. Dalam beberapa kitab menukil tragedi pasca hadirnya beberapa orang di rumah Fatimah As. Ia berkata, “Umar, pada hari pengambilan baiat untuk Abu Bakar, memukul perut Fatimah dan ia keguguran seorang putra yang diberi nama Muhsin yang ada dalam rahimnya.”[12] (Perhatikan baik-baik)

5.     Mubarrad dan kitab “Kâmil”

Muhammad bin Yazid bin Abdulakbar Baghdadi (210-285), seorang sastrawan, penulis terkenal dan pemilik karya-karya terkemuka, dalam kitab “Al-Kâmil”-nya, mengutip kisah harapan-harapan khalifah dari Abdurrahman bin Auf. Ia menyebutkan, “Saya berharap kiranya saya tidak menyerang rumah Fatimah dan membiarkannya begitu saja pintunya (meski) tertutup untuk (siap-siap) perang.”[13]

6.     Mas’udi dan “Murûj al-Dzahab”

Mas’udi (W 325 H) dalam Murûj al-Dzahab menulis: “Tatkala Abu Bakar menjelang wafatnya berkata demikian, “Tiga hal yang saya lakukan dan berharap kiranya saya tidak melakukannya. Salah satunya adalah: Saya berharap kiranya saya tidak menodai kehormatan rumah Fatimah. Hal ini banyak (kali) ia sebutkan.”[14]

Mas’udi meski ia memiliki kecendrungan yang baik kepada Ahlulbait namun sayang ia menghindar untuk mengungkap ucapan khalifah dan menyampaikannya dengan bahasa kiasan. Akan tetapi Tuhan mengetahui dan hamba-hamba Tuhan juga secara global mengetahui hal ini!

7.     Ibnu Abi Daram dalam Mizân al-I’tidâl

Ahmad bin Muhammad yang dikenal sebagai “Ibnu Abi Daram” ahli hadis Kufa (W 357 H), adalah seseorang yang dikatakan oleh Muhammad bin Ahmad bin Himad Kufah: “Ia adalah orang yang menghabiskan seluruh hidupnya di jalan lurus.”

Dengan memperhatikan martabat ini, ia menukil bahwa di hadapannya berita ini dibacakan, “Umar menendang Fatimah dan ia keguguran seorang putra bernama Muhsin yang ada dalam rahimnya![15] (Perhatikan baik-baik)

8. Abdulfatah Abdulmaqshud dan kitab “Al-Imâm Ali”

Ia menyebutkan dua hal terkait dengan penyerangan ke rumah wahyu dan kita hanya menukil satu darinya: “Demi (Dzat) yang jiwa Umar berada di tangan-Nya. Apakah kalian keluar atau aku akan membakar rumah ini (berikut penghuninya). Sebagian orang yang takut (kepada Allah) dan menjaga kedudukan Rasulullah Saw dari akibat perbuatan ini, mereka berkata: “Aba Hafs, Fatimah dalam rumah ini.” Tanpa takut, Umar berteriak: “Sekalipun!! Ia mendekat, mengetuk pintu, kemudian menggedor pintu dengan tangan dan kaki untuk masuk ke dalam rumah secara paksa. Ali As muncul.. pekik jeritan suara Zahra kedengaran di dekat tempat masuk pintu rumah… suara ini adalah suara meminta pertolongan..”[16]

Kami ingin mengakhiri pembahasan ini dengan satu hadis lainnya dari “Maqatil Ibnu ‘Athiyyah” dalam kitab al-Imâmah wa al-Siyâsah (Meski masih banyak yang belum diungkap di sini!)

Ia menulis dalam kitab ini sebagai berikut:

“Tatkala Abu Bakar mengambil baiat dari orang-orang dengan ancaman, pedang dan paksaan, Umar, mengirim Qunfudz dan sekelompok orang ke rumah Ali dan Fatimah As dan Umar mengumpulkan kayu bakar dan membakar pintu rumah…”[17]

ng ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar…. mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. ( Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.)

.

……gugurnya  janin Muhsin, dan membuat Fatimah sakit parah, dia melarang orang yang menyakitinya dari menjenguknya, ( Lihat Dala’ilul Imamah, At Thabari, hal 45)

As Shaduq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda : seakan saya melihat rumahnya dimasuki kehinaan, kehormatannya dilecehkan, diserobot haknya, dihalangi untuk menerima warisannya, tulang rusuknya dipatahkan, dan janinnya digugurkan.
Amali Shaduq hal 100

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

 

Apakah dengan seluruh referensi dan literatur jelas yang umumnya dari literatur-literatur Ahlusunnah mereka masih berkata-kata bahwa syahâdah Hadhrat Fatimah itu sebagai mitos dan legenda..” Dimana sikap fair Anda? Pasti setiap orang yang membaca pembahasan pendek ini dengan bersandar pada beberapa referensi jelas memahami prahara yang terjadi pasca wafatnya Rasulullah Saw. Untuk sampai pada kekuasaan dan khilafah apa yang telah mereka lakukan. Hal ini merupakan penuntasan hujjah Ilahi (itmâm al-hujjah) bagi seluruh pemikir bebas yang jauh dari sikap fanatik.   Lantaran kami tidak menulis sesuatu dari kami sendiri, apa pun yang kami tulis semuanya dari literatur-literatur yang mereka terima sendiri.[18] [IQuest]


[1]. Ibnu Abi Saibah, al-Musannif, 8/572, Kitab al-Maghazi:

« انّه حین بویع لأبی بکر بعد رسول اللّه(صلى الله علیه وآله) کان علی و الزبیر یدخلان على فاطمة بنت رسول اللّه، فیشاورونها و یرتجعون فی أمرهم. فلما بلغ ذلک عمر بن الخطاب خرج حتى دخل على فاطمة، فقال: یا بنت رسول اللّه(صلى الله علیه وآله) و اللّه ما أحد أحبَّ إلینا من أبیک و ما من أحد أحب إلینا بعد أبیک منک، و أیم اللّه ما ذاک بمانعی إن اجتمع هؤلاء النفر عندک أن امرتهم أن یحرق علیهم البیت. قال: فلما خرج عمر جاؤوها، فقالت: تعلمون انّ عمر قد جاءَنى، و قد حلف باللّه لئن عدتم لیُحرقنّ علیکم البیت، و أیم اللّه لَیمضین لما حلف علیه.»

[2]. Ansab al-Asyrâf, 1/582, Dar Ma’arif, Kairo:

«انّ أبابکر أرسل إلى علىّ یرید البیعة فلم یبایع، فجاء عمر و معه فتیلة! فتلقته فاطمة على الباب. فقالت فاطمة: یابن الخطاب، أتراک محرقاً علىّ بابى؟ قال: نعم، و ذلک أقوى فیما جاء به أبوک…»

[3]. Al-Imâmah wa al-Siyâsah, hal. 12, Maktab Tijariyah Kubra, Mesir:

« انّ أبابکر رضی اللّه عنه تفقد قوماً تخلّقوا عن بیعته عند علی کرم اللّه وجهه فبعث إلیهم عمر فجاء فناداهم و هم فی دار على، فأبوا أن یخرجوا فدعا بالحطب و قال: والّذی نفس عمر بیده لتخرجن أو لاحرقنها على من فیها، فقیل له: یا أبا حفص انّ فیها فاطمة فقال، و إن!! »

[4]. Al-Imâmah wa al-Siyâsah, hal. 13, Maktab Tijariyah Kubra, Mesir:

« ثمّ قام عمر فمشى معه جماعة حتى أتوا فاطمة فدقّوا الباب فلمّا سمعت أصواتهم نادت بأعلى صوتها یا أبتاه رسول اللّه ماذا لقینا بعدک من ابن الخطاب، و ابن أبی قحافة فلما سمع القوم صوتها و بکائها انصرفوا. و بقی عمر و معه قوم فأخرجوا علیاً فمضوا به إلى أبی بکر فقالوا له بایع، فقال: إن أنا لم أفعل فمه؟ فقالوا: إذاً و اللّه الّذى لا إله إلاّ هو نضرب عنقک…!»

[5]. Mu’jam al-Mathbu’ât al-Arabiyah, 1/212.

[6]. Târikh Thabari, 2/443:

« أتى عمر بن الخطاب منزل علی و فیه طلحة و الزبیر و رجال من المهاجرین، فقال و اللّه لاحرقن علیکم أو لتخرجنّ إلى البیعة، فخرج علیه الزّبیر مصلتاً بالسیف فعثر فسقط السیف من یده، فوثبوا علیه فأخذوه.»

[7]. Aqd al-Farid, 4/93, Maktabatu Hilal:

.« فأمّا علی و العباس و الزبیر فقعدوا فی بیت فاطمة حتى بعثت إلیهم أبوبکر، عمر بن الخطاب لیُخرجهم من بیت فاطمة و قال له: إن أبوا فقاتِلهم، فاقبل بقبس من نار أن یُضرم علیهم الدار، فلقیته فاطمة فقال: یا ابن الخطاب أجئت لتحرق دارنا؟! قال: نعم، أو تدخلوا فیما دخلت فیه الأُمّة!»

[8]. Al-Amwâl, Catatan Kaki 4, Nasyr Kulliyat Azhariyah, al-Amwal, hal. 144, Beirut dan juga dinukil Ibnu Abdurrabih dalam Aqd al-Farid, 4/93:

« وددت انّی لم أکشف بیت فاطمة و ترکته و ان اغلق على الحرب»

[9]. Mizân al-I’tidâl, jil. 2, hal. 195.

[10]. Mu’jam Kabir Thabarani, 1/62, Hadis 34, Tahqiq Hamdi Abdulmajid Salafi:

« أمّا الثلاث اللائی وددت أنی لم أفعلهنّ، فوددت انّی لم أکن أکشف بیت فاطمة و ترکته. »

[11]. Aqd al-Farid, 4/93, Maktabatu al-Hilal:

« وودت انّی لم أکشف بیت فاطمة عن شی و إن کانوا اغلقوه على الحرب.»

[12]. Al-Wâfi bil Wafâyât, 6/17, No. 2444. Al-Milal wa al-Nihal, Syahrastani, 1/57, Dar al-Ma’rifah, Beirut. Dan pada terjemahan Nazzham silahkan lihat, Buhuts fi al-Milal wa al-Nihal, 3/248-255.

« انّ عمر ضرب بطن فاطمة یوم البیعة حتى ألقت المحسن من بطنها.»

[13]. Syarh Nahj al-Balâghah, 2/46-47, Mesir:

« وددت انّی لم أکن کشفت عن بیت فاطمة و ترکته ولو أغلق على الحرب.»

[14]. Muruj al-Dzahab, 2/301, Dar Andalus, Beirut:

« فوددت انّی لم أکن فتشت بیت فاطمة و ذکر فی ذلک کلاماً کثیراً! »

[15]. Mizân al-I’tidâl, 3/459:

«انّ عمر رفس فاطمة حتى أسقطت بمحسن.»

[16]. Abdulfattah Abdulmaqshud, ‘Ali bin Abi Thalib, 4/276-277:

« و الّذی نفس عمر بیده، لیَخرجنَّ أو لأحرقنّها على من فیها…! قالت له طائفة خافت اللّه، و رعت الرسول فی عقبه: یا أبا حفص، إنّ فیها فاطمة…! فصاح لایبالى: و إن..! و اقترب و قرع الباب، ثمّ ضربه و اقتحمه… و بداله علىّ… و رنّ حینذاک صوت الزهراء عند مدخل الدار… فان هى الا طنین استغاثة…»

[17]. Maqatil ibn ‘Athiyyah, Kitâb al-Imâmah wa al-Khilâfah, hal. 160-161, diterbitkan dengan kata pengantar Dr. Hamid Daud, dosen Universitas ‘Ain al-Syams, Kairo, Cetakan Beirut, Muassasah al-Balagh:

« ان ابابکر بعد ما اخذ البیعة لنفسه من الناس بالارهاب و السیف و القوّة ارسل عمر، و قنفذاً و جماعة الى دار علىّ و فاطمه(علیه السلام) و جمع عمر الحطب على دار فاطمه و احرق باب الدار!..»

[18]. Jawaban ini diadaptasi dan diringkas dari makalah Ayatullah Makarim Syirazi. Demikan juga Anda dapat mengklik http://www.tebyan.net/index.aspx?pid=67823 untuk telaah lebih jauh.

Peringatan Wafat Fatimah Az Zahra

Jamadil Awal, bulan yang berkah ini mengandungi hari kesedihan buat pencinta Ahlulbait(as), bunda kepada Hassanain, Qurrata ainar Rasul, dan penyambung antara Nubuwwah dan Imamah
.
Seperti biasa, di mana-mana sahaja ada pengikut Ahlulbait(as), maka akan di adakanlah majlis peringatan hari kesedihan ini. Di bawa ini ialah majlis yang dihadiri oleh Ayatollah Khamenei dan pemuka-pemuka politik di Iran.

Ini pula di Qom, yang dihadiri oleh para Marja’, antaranya, Ayatollah Saafi Gulpaigani, Wahid Khurasani dan Ali al Milani. Perhatikan bagaimana orang Syiah berinteraksi dengan ulama mereka, menunjukkan peranan penting ulama dalam sistem sosial masyarakat Syiah, dan perhatikan juga cara mereka dalam mengenang tragedi kepada Ahlulbait(as).

Wow, tidak syak lagi, mereka memang mencintai Ahlulbait(as) samada dari percakapan atau perbuatan. Kat Malaysia ramai orang mengaku cinta Ahlulbait(as) jugak, tapi hampeh, tiada sebarang majlis diadakan di masjid-masjid, of course, kecuali penduduk Syiah di Malaysia la.

Hujjatul Islam Moawenian dalam ceramahnya menceritakan kisah berikut. Ulama besar Syiah, Allamah Amini, menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana di hadapan para ulama ahlusunah: Siapakah imamnya Fatimah binti Muhammad?

Ada sebuah kisah nyata tentang Allamah Amini (penulis kitab al-Ghadir). Allamah Amini diundang oleh para ulama suni dalam sebuah acara makan malam ketika beliau ada di Mekah atau Madinah. Pertama kalinya beliau menolak, tapi mereka memaksa. Namun kemudian, beliau menerima dengan satu syarat bahwa dia hanya datang untuk makan malam, bukan diskusi, karena pandangan beliau sudah dikenal. Mereka menerima persyaratannya. Mereka mengatakan kalau beliau datang, barulah akan dipikirkan apa yang akan dilakukan.

Dalam pertemuan tersebut terdapat sekitar 70-80 ulama besar suni yang menghafal antara 10-100 ribu hadis yang ada. Setelah mereka makan, mereka ingin mengajaknya terlibat dalam diskusi dan dengan cara ini mereka dapat membuatnya terdiam. Tapi Allamah Amini mengingatkan mereka tentang peraturan bahwa dia datang hanya untuk makan malam.

Salah satu di antara mereka kemudian mengatakan bahwa akan lebih baik jika masing-masing di antara yang hadir dapat mengutipkan sebuah hadis. Dengan cara ini, allamah juga akan terlibat menyampaikan hadis dan hadis tersebut dapat membantu mereka untuk memulai diskusi. Semuanya menyampaikan sebuah hadis sampai akhirnya giliran Allamah Amini. Mereka memintanya untuk menyampaikan sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw.

Allamah mengatakan tidak masalah, tapi dia akan menyampaikan sebuah hadis dengan satu syarat: setelah hadis disampaikan, masing-masing dari kalian harus menyampaikan pandangan tentang sanad dan kebenaran hadis tersebut. Mereka menerimanya.

Kemudian, beliau menyampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Siapa yang tidak mengenal imam zamannya kemudian meninggal, maka meninggalnya sama seperti pada masa jahiliah.”

من مات و لم يعرف إمام زمانه مات ميتة جاهلية

Kemudian ia bertanya kepada masing-masing dari mereka tentang kebenaran hadis tersebut. Mereka semua menyatakan bahwa hadis tersebut benar dan tidak ada keraguan tentangnya dalam semua kitab rujukan suni. Kemudian allamah mengatakan bahwa kalian semua sepakat tentang kebenaran hadis ini. “Baiklah, saya mempunyai satu pertanyaan. Katakan kepada saya apakah Fatimah mengenali imamnya? Lalu siapakah imamnya? Siapakah imamnya Fatimah?”

Tidak ada yang menjawabnya. Mereka semua terdiam dan setelah beberapa lama satu per satu meninggalkan tempat. “Allah mengetahui bahwa saya melakukan diskusi ini dengan ulama suni di Masjidilharam dan dia adalah orang yang sangat ahli dan berpengetahuan. Dia hanya tertawa. Aku tanyakan kepadanya jawaban pertanyaan saya, tapi dia hanya tertawa.”

Saya mulai marah dan mengatakan padanya, “Apa yang Anda tertawakan?” Dia menjawab, “Saya menertawakan diri saya sendiri.” Saya tanya, “Benarkah?” Dia menjawab, “Ya.” Saya tanya lagi, “Mengapa?”

“Karena saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Anda. Jika saya katakan Fatimah tidak mengenal imam pada zamannya, itu berarti dia wafat sebagai orang kafir. Tapi tidak mungkin pemimpin para wanita di dunia ini tidak mengenal imamnya. Tidak pernah mungkin!”

“Jika Fatimah mengenal imamnya, bagaimana saya bisa mengatakannya? Misal Abu Bakar adalah imamnya, tetapi Bukhari dalam kitabnya menuliskan fakta bahwa Fatimah wafat dalam keadaan marah… Tidak mungkin bagi Fatimah untuk marah kepada imamnya!”

Fatimah adalah alasan terkuat kami. Karena Fatimah, tidak ada tempat untuk menyembunyikan kebenaran. Karenanya, menghidupkan nama Fatimah dan menangis untuk kesyahidahannya adalah seruan kepada tauhid. Menangis untuk Fatimah, pintu dan rumahnya yang terbakar adalah menangis untuk Alquran yang juga terbakar!

fatimah2
Fathimah az-Zahra (as) telah berwasiat agar dikuburkan pada malam hari. Permintaannya agar kuburannya disembunyikan merupakan pesan tersendiri yang ingin disampaikan lewat rintang sejarah hingga ke masa yang akan datang. Fathimah Az-Zahra (as) ingin agar pesan ini sampai kepada seluruh umat Islam………….pesan yang menyatakan bahwa keluarga Nabi telah disia-siakan dan didzalimi serta hak-haknya dirampas oleh rezim yang berkuasa. Dan ini bisa menjadi titik balik sejarah di kehidupan seseorang yang hanya mengetahui satu versi sejarah yaitu sejarah yang ditulis dan diajarkan penguasa dan diindoktrinkan ke dalam sel-sel darah umat Islam
.
Fathimah Az-Zahra membangkitkan kehidupan dari kematian; memberikan kemenangan dari kekalahan; dan sebuah cerita kepahlawanan dan perdamaian dari jaman ke jaman ia ciptakan dari hidupnya yang penuh kepedihan. Fathimah menciptakan sebuah revolusi di setiap jantung kaum Muslim yang sadar dari satu generasi ke generasi lainnya. Jantung Fathimah masih berdetak di sela-sela detak jantung umat Islam. Dan kedua belah matanya terjaga menunggu bendera kebebasan yang akan berkibar bersama dengan kedatangan puteranya yang ditunggu-tunggu yaitu Imam Mahdi (as)
.
Sekarang ini, seperti juga pada jaman-jaman lainnya yang telah lalu, kita semua menghadapi kepedihan dan penindasan. Kita harus bersabar dalam menghadapi kepedihan ini. Kita harus meneruskan pesan Fathimah ini ke generasi selanjutnya. Kita harus sampaikan penderitaan keluarga Nabi ini kepada generasi kita dan selanjutnya agar mereka tahu bahwa Rasulullah dan misi keIslamannya telah mendapatkan tekanan dari orang-orang terdekatnya dan Islam telah dicampuri dan dikotori oleh mereka.
fatima.zehraMisalnya, ketika Bunda Fathimah Az-Zahra mendengar hadits palsu yang disampaikan oleh khalifah pertama, ia marah sekali. Ia tahu betul bahwa hadits palsu itu (yang sengaja dibuat oleh khalifah pertama untuk mencegahnya menuntut haknya atas tanah Fadak. Beberapa perawi hadits dan sejarawan seperti Bukhari, Ahmad bin Hanbal, Ibn Sa’ad, Ibn Katsir dan lain-lain telah mencatat dan melaporkan bahwa Fathimah az-Zahra tetap marah kepada khalifah yang pertama hingga beliau wafat menemui ayahnya yang tercinta
.
Ketika tubuh Rasulullah yang suci dibaringkan di liang lahat dan kemudian dikuburkan, terkubur juga kata-katanya tentang peran Imam Ali dan kepemimpinannya atas umat Islam. Dengan kepandaian berbicara yang fasih, Rasulullah menyebut Imam Ali sebagai “pemimpin orang-orang beriman” dan bukannya “pemimpin orang-orang Islam”. Dengan kata-kata itu, Rasulullah ingin menegaskan bahwa mereka yang menerima Islam dibawah tekanan politis tidak akan bisa menerima kepemimpinan Imam Ali (as). Sedangkan mereka yang menerima kepemimpinan dan kenabian Muhammad, akan bisa menerima kepemimpinan Imam Ali (as)
.
.
Pada saat-saat terakhir kehidupan Fathimah, Ummu Salamah (salah satu isteri Rasulullah yang baik) menanyakan tentang keadaannya. Fathimah dengan gamblang berkata, “Saya merasa kehilangan Rasulullah yang amat sangat; dan kesedihan serta kepedihan saya itu ditambah dengan kenyataan pahit harus berhadapan dengan penguasa dzalim.” Dalam kesempatan yang lain, Fathimah menjelaskan dengan kata-kata yang hampir sama akan tetapi lebih rinci ketika kaum wanita datang menjenguk keadaannya yang sedang sakit dan terbaring lemah di ranjangnya. Kepada kaum wanita yang datang menjenguknya itu, Fathimah berkata: “Demi Allah, aku melalui hari-hari pertamaku dengan bertahan dari perbuatan buruk yang kalian lakukan padaku dan juga dari para suamimu. Celakalah kalian semua! Mengapa mereka menolak ketentuan Allah (dalam penunjukkan Imam Ali sebagai penerus Nabi), seperti yang sudah disampaikan oleh Rasulullah? Mengapa mereka rampas hak orang yang lebih mendatangkan manfaat bagi kalian; yang lebih mengetahui tentang urusan dunia dan akhirat kalian? Mengapa kalian sampai benci pada Ali? Demi Allah seandainya mereka membantunya dalam mengurus pemerintahan ini, Ali akan menjalankannya dengan baik sekali. Seandainya mereka melakukan itu, maka pintu-pintu keberkahan akan terbuka dari langit dan bumi.”
.
Fathimah Az-Zahra (as) seringkali menggunakan setiap kesempatan untuk memperingatkan dan memberitahu orang-orang tentang penyelewengan ketentuan Allah yang telah disampaikan oleh Rasulullah itu, akan tetapi mereka tidak menghiraukannya. Lalu kalau begitu bagaimana dengan masa depan nanti? Siapa lagi yang akan mengingatkan mereka dari penyelewengan ini? Bagaimana pesan suci dari Nabi ini bisa sampai pada generasi nanti? Sekarang saja sudah begini. “Ketika Rasulullah wafat, pesan sucinya langsung diinjak-injak oleh para pencari kekuasaan, yang menghendaki Islam karena ingin mendapatkan keuntungan duniawi darinya; dengan memanfaatkan kejahilan orang-orang yang ada di sekelilingnya.” Bagaimana bisa keberatan Fathiimah itu mencapai masa yang jauh? Bagaimana Fathimah bisa menyampaikan keberatannya kepada generasi yang akan datang yang terlahir jauh kemudian? Karena ……… dalam masa-nya saja Fathimah tak pernah memiliki kebebasan untuk menyampaikan rasa kehilangannya akan ayahandanya; ia tak punya kebebasan untuk menyampaikan apa yang pernah disampaikan ayahandanya.

KESYAHIDAN FATHIMAH DAN HARI-HARI TERAKHIR DARI KEHIDUPANNYA

dot[1]
fatima.zehraCatatan dari hari-hari terakhir kehidupan Fathimah (as) menunjukkan secara jelas siapa sebenarnya wanita suci dari durriyyat Nabi ini. Hari itu tanggal 3 Jumadil Tsani tahun 11H. Hari itu Fathimah Az-Zahra berkata kepada seluruh anggota keluarganya bahwa sekarang merasa baikan. Rasa nyeri yang ada di beberapa tulang iganya dan di tangannya sudah jauh berkurang dan panas demam yang ditimbulkan oleh rasa sakitnya itu sudah menurun. Kemudian ia bangkit dari tidurnya dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Ia memaksakan dirinya untuk memandikan anak-anaknya; akan tetapi kemudian muncul Bibi Fizzza dan Imam Ali untuk membantu dirinya memandikan anak-anak. Fathimah selesai memandikan anak-anak kemudian memakaikan pakaian dan memberikan makanan hingga kenyang. Setelah itu mengirimkan anak-anak itu kepada saudara sepupunya
.
Imam Ali (as) merasa terkejut melihat isterinya yang tercinta bangkit dari ranjangnya dan sudah mulai pekerjaan rumah tangganya. Lalu Imam Ali bertanya kepada isterinya apa yang terjadi dengan dirinya. Fathimah (as) menjawab, “Hari ini adalah hari terakhir dari hidupku. Aku ingin memandikan anak-anakku dan memakaikannya baju untuk yang terakhir kalinya karena setelah ini mereka akan menjadi anak-anak piatu, tak beribu!”
.
Imam Ali (as) kemudian bertanya bagaimana Fathimah bisa tahu bahwa ini adalah hari terakhir hidupnya dan sebentar lagi akan datang hari kematiannya. Kemudian Fathimah Az-Zahra (as) menjawab bahwa ia melihat ayahanda tercintanya (Rasulullah) di dalam mimpinya. Rasulullah berkata bahwa Fathimah akan segera bergabung dengan Rasulullah pada malam itu.
.
IMAM ALI: “Sebutkanlah apa yang ingin engkau aku lakukan, wahai puteri Rasulullah”
(Imam Ali lalu meminta setiap orang untuk meninggalkan rumah itu agar bisa bicara tenang dengan isterinya. Imam Ali kemudian duduk di samping isterinya)
.
FATHIMAH: “Suamiku tercinta, engkau tahu benar apa yang telah aku lakukan dan untuk apa aku lakukan itu semua. Aku mohon agar engkau memaafkan kecerewetanku selama ini;  mereka telah menderita terlalu banyak karena kecerewetanku ini selama aku sakit dan aku sekarang ingin melihat mereka bahagia di akhir hidupku ini. Aku bahagia sekaligus aku juga bersedih hati. Aku bahagia karena sebentar lagi aku terbebas dari segala kesulitan hidupku dan aku akan segera bertemu dengan ayahku; dan aku bersedih hati karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan engkau, suamiku. Suamiku tercinta…………engkau tahu benar bahwa aku tak pernah berdusta; aku juga tetap setia dan berkhidmat padamu……………pernahkah aku membantahmu selama aku menjadi isterimu?”
.
IMAM ALI: “Masya Allah! Engkau adalah orang yang paling mengenal Allah’; isteri yang paling berbakti pada suaminya; isteri yang paling shalehah. Engkau lebih mulia dan lebih bertakwa sehingga takkan mungkin engkau membangkang kepadaku. Sungguh betapa beratnya aku harus berpisah denganmu dan harus kehilanganmu akan tetapi peristiwa ini memang takkan mungkin terelakan. Demi Allah! Engkau telah membuat kedukaanku kembali lagi. Baru saja aku bersedih hati karena ditinggalkan oleh Rasulullah, sekarang aku harus ditinggalkan olehmu. Sungguh kematianmu dan berpulangnya engkau itu adalah sebuah musibah yang sangat besar bagiku; akan tetapi kepada Allah-lah semua kita berpulang; semuanya ini milik Allah ta’ala, dan kepadaNyalah kita akan kembali (QS. 2: 156). Betapa pedihnya musibah ini. Musibah ini begitu besarnya hingga tak ada lagi bandingan yang sepadan dengannya.”
.
(Kemudian mereka berdua menangis bersama. Imam Ali memeluk isterinya yang tercinta seraya berkata)
IMAM ALI: “Suruhlah aku untuk melakukan apa yang engkau mau; engkau niscaya akan melihatku patuh dan setia pada apa yang engkau perintahkan. Akan aku utamakan segala apa yang engkau mintakan kepadaku. Akan aku utamakan kemauanmu itu diatas kemauanku.”
FATHIMAH: “Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu, suamiku. Sekarang, dengarlah wasiatku ini. Pertama, menikahlah segera sepeninggalku, akan tetapi engkau harus terlebih dahulu menikahi keponakanku Umamah. Umamah itu akan memperlakukan anak-anak kita seperti aku memperlakukan anak-anak kita. Selain itu, laki-laki itu tak bisa hidup layak tanpa adanya kehadiran seorang perempuan di sisinya. Umamah mencintai anak-anak kita dan Husein sangat dekat dengannya. Lalu biarkanlah Fizza (pembantu keluarga Imam Ali) tetap bersamamu hingga ia menikah, apabila ia masih mau bersamamu keluarga kita, biarlah ia tetap bersama. Fizza itu lebih dari sekedar pembantu bagiku. Aku mencintai Fizza seperti aku mencintai anak perempuanku sendiri.”
.
FATHIMAH: (kemudian melanjutkan pembicaraannya) “Aku mohon padamu agar nanti ketika aku dikuburkan jangan sampai ada satu orangpun yang pernah mendzalimiku hadir di pemakamanku, karena mereka telah menjadi musuhku; dan yang telah menjadi musuhku itu telah menjadi musuh Allah dan RasulNya. Jangan juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk menshalatiku; jangan juga beri kesempatan yang sama kepada para pengikutnya. Aku ingin engkau memandikan jenazahku di malam hari; kafani aku juga di malam hari dan shalati aku dan kuburkan aku di malam yang sama ketika semua mata umat manusia sedang tertutup dan semua pandangan tak terjaga. Dan setelah penguburan selesai, duduklah di dekat kuburku dan bacakan AlQur’an untukku.”
.
“Jangan sampai kematianku ini membuatmu patah semangat. Engkau harus berkhidmat kepada Islam dan kemanusiaan dalam jangka waktu yang lama setelah kematianku. Jangan sampai penderitaanku ini menjadikan hidupmu susah, berjanjilah kepadaku wahai suamiku.”
sayyida

IMAM ALI: “Baik, Fathimah isteriku tercinta. Aku berjanji.”

FATHIMAH: “Aku tahu bagaimana rasa cintamu kepada anak-anak kita akan tetapi berhati-hatilah dengan anak kita Husein. Ia sangat mencintaiku dan ia akan merasa sangat kehilangan diriku. Jadilah seorang ibu utuknya. Hingga saat ini ia masih sukan tidur di dadaku, dan sekarang ia akan segera kehilangan itu.”
.
(Imam Ali membelai tangan Fathimah yang patah (akibat dari penyerangan yang dilakukan oleh para pengawal kekhalifahan ke rumah mereka—red) dan menyapu air matanya yang hangat. Fathimah memandang sendu kepada Imam Ali dan kemudian berkata:)
.
FATHIMAH: “Janganlah meratapiku, wahai suamiku. Aku tahu betul di balik wajahmu yang keras ada hati yang sangat lembut. Engkau sudah terlalu banyak menderita dan engkau akan menderita lagi lebih banyak.”
.
Fathimah Az-Zahra sudah siap menemui Tuhannya. Ia sekarang mandi membersihkan dirinya kemudian berpakaian lengkap dan sudah itu langsung berbaring di atas ranjangnya. Ia memintah Asma binti Umays untuk menunggu dirinya sebentar dan kemudian memanggil namanya. Apabila tidak ada jawaban ketika namanya dipanggil……………berarti Fathimah sudah meninggalkan dunia ini menemui Tuhannya
.
Asma bint Umays menunggu beberapa waktu lamanya dan kemudian ia memanggil-manggil nama Fathimah akan tetapi tidak ada jawaban dari Fathimah. Asma binti Umays memanggil sekali lagi: “Wahai puteri terkasih Muhammad! Duhai puteri paling mulia yang pernah dilahirkan oleh wanita mulia! Duhai puteri terbaik dari orang-orang yang terbaik yang pernah berjalan di muka bumi ini! Duhai puteri Rasulullah yang kedekatannya sama dengan jarak dua busur panah bahkan lebih dekat lagi (QS. 53: 9)”
.
Tak ada jawaban sama sekali yang bisa terdengar dari puteri Nabi………; kebisuan mencekik ruangan sempit dimana jenazah suci sang puteri Nabi tergeletak tak bergerak. Asma binti Umays kemudian mendekat ke jenazah suci itu dan memang betul tubuh kurus puteri Nabi itu sudah tak bernyawa lagi. Ruh suci yang harum telah meninggalkan tubuh kuyu itu dan menjumpai ayahnya, Rasulullah, di hadapan sang maha lembut, maha kasih dan maha sayang
.
Tepat pada saat itulah Imam Hasan (as) dan Imam Husein (as) yang masih kanak-kanak memasuki rumah dan bertanya pada Asma binti Umays: “Dimanakah ibu?” “Ibu kami tidak biasanya tidur pada saat siang hari seperti ini!”
.
Asma bint Umays menjawab: “Wahai putera Rasulullah! Ibumu itu tidak sedang tidur………ia telah mendahului kalian semua. Ia sudah meninggal dunia!”
Ketika Imam Hasan (as) mendengar kata-kata seperti itu, ia menjatuhkan dirinya ke tubuh ibunya yang sudah dingin dan ia menciumi pipi ibunya dan wajahnya seraya berkata kepadanya: “Ibuku yang kusayang! Berbicaralah kepadaku sebelum engkau meninggal dunia.”
Imam Husein (as) datang dan kemudian ia juga mendekati ibunya dan menciumi kaki ibunya dan berkata: “Ibuku sayang! Ini aku Husein, anakmu. Bicaralah kepadaku sebelum engkau meninggal.”
.
Kemudian, Imam Husein berpaling kepada Imam Hasan dan berkata: “Semoga Allah menghibur dirimu atas kepergian ibunda kita”
Ada dua hadits yang berbeda tentang keberadaan Imam Ali (as) ketika Fathimah meninggal dunia. Salah satunya menyebutkan bahwa Imam Ali ada bersama Fathimah pada saat kematian isterinya itu. Dan hadits yang lain adalah sebagai berikut
:
(Imam Ali sedang berada di mesjid. Imam Hasan dan Imam Husein pergi ke mesjid dan menceritakan tentang wafatnya ibu mereka kepada ayahnya. Segera setelah Imam Ali mendengar berita itu, ia terjatuh pingsan. Ketika siuman, ia berkata: “Siapa lagi yang bisa menghiburku ketika aku sedih dan pilu, wahai puteri Muhammad? Engkau dulu selalu menghiburku dan sekarang siapakah yang bisa menggantikan kedudukanmu?” Fathimah Az-Zahra (sa) meninggal dalam usia yang masih muda dan Imam Ali senantiasa mengenang saat-saat indah bersamanya. Imam Ali senantiasa berkata: ““Sekuntum bunga tumbuh berkembang; bunga itu berasal dari surga dan kembali ke surga…………akan tetapi keharumannya yang ia tinggalkan, tetap bersemayam dalam ingatan”
ya.fatima

Kaum wanita dari bani Hasyim kemudian dikumpulkan dan diberitahu tentang musibah yang sangat besar itu. Betul, memang musibah yang sangat besar. Dan musibah besar itu datang setelah musibah besar lainnya datang sebelumnya. Belum lagi sembuh luka hati ini karena telah ditinggal Nabi; sekarang beberapa kelompok umat Islam yang masih setia kepada keluarga Nabi ditinggalkan pula oleh puteri Nabi yang mereka cintai itu

.

Ketika orang-orang di kota Madinah sadar bahwa Fathimah Az-Zahra itu sudah menemui kesyahidannya (syahid karena luka-luka—luka dalam dan luka luar—yang telah diderita olehnya karena serangan yang dilakukan oleh para pengawal khalifah pertama atas perintahnya—red). Mereka berkumpul di depan rumah Fathimah dan menunggu untuk melakukan upacara penguburan. Akan tetapi kemudian mereka mendengar bahwa upacara penguburannya akan ditunda. Pada malam hari, ketika orang-orang sudah tertidur dengan lelapnya, Imam Ali (as) mulai memandikan jenazah Fathimah dan mengkafaninya dengan rapi
.
Dan itu dilakukannya—sesuai dengan bunyi wasiat isterinya—dengan tanpa kehadiran orang-orang yang telah membenci dan dibenci oleh Fathimah. Orang-orang yang sudah melakukan penyerbuan ke rumahnya dan hendak membakar rumahnya. Setelah Imam Ali selesai memulasara jenazah Fathimah, Imam Ali menyuruh Imam Hasan dan Imam Husein yang waktu itu masih kecil untuk memanggil beberapa sahabat Nabi yang setia dan jujur yang juga disukai oleh Fathimah agar membantu proses penguburannya hingga selesai. Tidak lebih dari 7 orang saja yang dilaporkan oleh sejarah yang turut membantu dalam proses penguburan itu. Setelah mereka datang; Imam Ali melakukan shalat dan berdoa dan kemudian menguburkan jenazah isterinya yang tercinta itu. Sementara itu kedua putera tercintanya berdiri sedih tidak jauh dari liang lahat yang sebentar lagi akan ditutup memisahkan mereka berdua dengan ibunya yang tercinta. Mereka berdua menangis diam-diam menahan rasa pilu yang membuncah di dalam dada keduanya

ya-fatimah-2.jpg

fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah

-

.Tidak ada yang aneh  dengan  bai’at  Imam Ali  pada Abubakar… Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)
.

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi MuhammadAS.

.

Sejarah telah diatur dan kita hanya memiliki rekaan sebuah cerita ‘sejarah’ kononnya…aku dari dulu mengkaji perihal sahabat² yang di’angkat’kononnya penuh keistimewaan disisi nabi.aku tahu siapa abu bakar,umar,usman dan aisyah.kalau mereka hidup,mereka pasti malu kerana aku tahu siapa mereka…apa tujuan abu bakar berdamping dengan Nabi,apa keistimewaan umar dalam islam…?gagah?sebutkan nama² orang yang mati ditangan umar?!10 orang pun cukup…tak ada kan…usman dan femili muawiyah…

.

dan apa wasiat Nabi pada aisyah sebelum wafat.jgn sekali-kali keluar dari rumah…tapi macammana pula dengan wataknya sebagai ketua peperangan antara beliau dan ali.Nabi sudah berkata bahawa baginda gedung ilmu dan ali pintunya….kenapa kita berpaksikan hadis sibapak kucing yang nyaris dihukum mati oleh umar.banyak lagi yang kita tenggelam oleh cerita rekaan antara zaman kita sehingga zaman nabi.contoh seperti politik sekarang.media sentiasa menggambarkan pemimpin arus perdana sebagai wira dan tiada ruang untuk kita lihat apa keburukannya.cukuplah berpegang pada al-quran dan sunah.sayangi ahlul bait….aku bukan sunnah mahupun syiah…aku pencari kebenaran

.

bila kita kaji perihal diatas kita akan dapat sedikit sebanyak fakta pada persoalan dimana dan mengapa makamnya fatimah dirahsiakan.apakah kerana bimbang ancaman musuh dalam selimut.lihat sahaja pada cara kematian ahlul bait yg lain selain fatimah.ali,hasan dan husin.tragis bukan.benar kita terleka pada sejarah peperangan aisyah dan ali.kenapa orang yang paling hampir dengan nabi saling berperang.

bukan lah perselisihan kecil anak beranak jika sudah segerombolan angkatan perang tersedia.allah sahaja yang maha mengetahui.allahumasalli ala muhammad,awala ali muhammad.itu sahaja tanda kasihnya aku pada Nabi dan keluarga nabi

.

bahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran. Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umar

dan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak…(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)

.

sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…

.

tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…

.

benar benar bingung….segala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk???

.

tdk ada satupun yg mngetahui dimana kbradaan makam sayyidah fatimah,krna beliau mmng tidak inggin kuburanx diketahui oleh orng2 munafiq,beliau wafat dlm keadaan sakit hati yg tramat dlm,rosul jauh lbh mncintai putrix dibnding sapapun,”fatimah bit atu minni’fatimah adlh sbgian dr aq,mk jgn sekali2 mnyakiti sydh fatimah krna rosul akan trsakiti,dan apabila rosul sdh trsakiti mk allah akan murka kpdax,krna rosul mrpakan kekasih allah,dan allah tdk akan mnciptakan dunia dan seisix klo bkn krna rosulullah

Inilah umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW…selalu mencakar dirinya sendiri dari dalam. ada teman mengatakan bahwa terkadang sejarah adalah milik siapa yang berkuasa saat itu…,mungkin ada benarnya juga tapi kita lupa satu hal bahwa Allah menjadikan sejarah agar umat yang “belakangan” bisa belajar “positif dan negatif-nya”sejarah tersebut. Dienul Islam adalah agama pembawa kedamaian,kesejahteraan dan kemajuan,yang mendukung manusia selaku khalifah Allah dimuka bumi. Ia bukanlah agama yang membawa kebencian menjadi sesuatu yang absolut karena Sang Pencipta adalah Maha Pemaaf,jika “produk”nya bertaubat.

.

Marilah kita jalankan Dien ini sesuai dengan aslinya tanpa melibatkan oknum yang lain,biarlah mereka dan diri kita akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan dikehidupan dunia ini. Dien ini dilaksanakan dengan “manual” yang telah diberikan “Pencipta”nya dan akal pikiran kita serta hati nurani sebagai nilai pembandingnya.. Ada kisah yang menceritakan seorang shahabat bertanya pada Baginda Rasul tentang konsep dan hakikat dosa serta pahala lalu Rasul berkata “Tanyalah hati nuranimu jika kamu melakukan sesuatu,jika hatimu gundah gulana dan rasa bersalah setelah melakukan sesuatu maka itulah perbuatan dosa..begitupun sebaliknya..WaLlaahu a’lam..Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad

.

Teka-teki yang hendak kita cari jawabannya. Sebenarnya jika kita kritis pula maka kita harus bertanya pula, kenapa Sy. Fathimah Zahra as mewasiatkan untuk dimakamkan pada malam hari?

.

Amirul Mukminin Imam Ali sendiri mengetuai mandi jenazah beliau. Turut dilaporkan membantu dalam urusan itu ialah Asma binti Umays. Asma meriwayatkan: “Fatimah telah menyatakan di dalam wasiat beliau yang tiada orang lain di benarkan menguruskan jenazahnya kecuali Imam Ali dan diriku(Asma). Olwh itu kami memandikan beliau bersama, dan Amirul Mukminin bersolat untuk Fatimah bersama Hassan, Hussain, Ammar, Miqdad,’Aqil, Az Zubair, Abu Dzar, Salman, Burydah dan beberapa orang dari Bani Hasyim. Mereka bersolat di waktu malam ,dan demi menuruti  wasiat Fatimah, Imam Ali, mengebumikan beliau dalam rahsia.”

.

Pengebumian Yang Sunyi

Di dalam kegelapan malam, apabila mata-mata sedang tertutup terlena dan suasana yang sunyi, upaca pengebumian jenazah meninggalak rumah Imam Ali, membawa anak perempuan Rasulullah(sawa) ke tempat persemadian terakhir beliau. Ini berlaku pada malam 3 Jamadil Akhir 11AH.

Upacara yang menyentuh hati ini menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui, diikuti oleh beberapa hamba Allah yang setia. Mereka ialah Ali(A.S.), Hasan(A.S.), Hussain(A.S.), Zainab(A.S.) and Umm Kulthum(A.S.)… Abu Dhar, Ammar, Miqdad, dan Salman

Di mana lagi ribuan yang tinggal di Madinah?  Seseorang mungkin bertanya, dan jawapan yang datang berbunyi begini:  Fatimah telah meminta agar tiada orang lain hadir di majlis pengebumian beliau! Ahli keluarga terdekat dan sahabat bergegas untuk mengebumikan Fatimah dan pulang ke rumah agar tiada orang lain mengetahui kedudukan sebenar kubur beliau.

Imam Ali, suami beliau berasa sangat sedih atas pemergian ini, namau siapa yang tidak apabila dipisahkan dengan wanita terbaik alam ini? Dalam keadaan menangis, Imam Ali berbicara dengan Rasulullah(sawa);

“Ya Rasulullah, salam keatas kamu dari ku dan dari anak perempuan mu yang telah pergi menemui mu. Ya Rasulullah(sawa)! Kesabaran ku semakin menipis dan ketahanan ku semakin lemah(atas kejadian ini), kecuali aku mempunyai asas yang cukup kuat untuk bertahan dalam kejadian yang sangat menghancurkan hati ku iaitu dengan pemergian mu. Aku membaringkan kamu di dalam kubur mu, apabila kamu tidak lagi bernyawa, dan kepalamu di antara leherku dan dada ku. “Sesungguhnya dari Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali”(2″56)

Sekarang amanah telah dikembalikan dan apa yang telah diberi kini telah di ambil semula. Kesedihanku tidak mempunya sempadan dan malam-malamku tidak akan lena tidurnya sehingga Allah swt memilihkan untukku sebuah rumah yang di dalamnya ada kamu. Semestinya anak kamu pasti mengadukan kepada mu akan Ummah yang menindas beliau. Kamu bertnya keadaan sebenar kapadanya dan mendapat berita akan situasi sebenar, Perkara ini terjadi sewaktu masa belum lama berlalu dan memori mu masih belum menghilang. Salam ku ke atas kamu berdua, salam seorang yang bersedih dan berduka dan bukan dari seorang yang membenci dan mecemuh, jika aku pergi sekarang, ia bukanlah kerana aku sudah letih akan kalian dan jika aku tinggal, ia bukanlah kerana kurangnya kepercayaan ku atas janji Allah kepada orng-orang yang sabar.”

Percubaan yang Gagal

Pada waktu subuh, orang ramai berkumpul untuk menyertai pengebumian Fatimah, akan tetapi mereka telah di beritahu bahawa puteri Rasulullah telah di kebumikan secara rahsia di waktu malam. Sementara itu Imam Ali telah membuat 4 kuburan baru di Baqi’ untuk memalsukan kedudukan sebenar Fatimah.

Apabila orang ramai memasuki tanah perkuburan itu, mereka berasa keliru akan kedudukan sebenar kubur beliau, mereka memandang antara satu sama lain, dan dengan nada menyesal, mereka berkata: “Nabi kita hanya meninggalkan seorang anak perempuan, namun beliau meninggal dalam keadaan tanpa penyertaan kita dalam pengebumiannya. Malah kita langsung tidak mengetahui lokasi nya!”

Menyedari pemberontakan yang mungkin terjadi dari suasana beremosi ini, pihak pemerintah mengumumkan: “Pilihlah sekumpulan wanita Muslim, dan minta mereka menggali tanah-tanah ini, agar kita dapat menemui Fatimah dan menyolatkan beliau.

Ya! Mereka mencuba untuk menjalankan rancangan itu, melanggar wasiat Fatimah, dan menyebabkan percubaan Imam Ali untuk merahsiakan lokasi sebenar Fatimah gagal. Apakah mereka telah lupa akan ketajaman pedang Imam Ali dan keberanian beliau yang terkenal itu? Adakah mereka menyangkakan Imam Ali akan duduk senyap dalam menghadapi rancangan mereka yang tidak masuk akal itu?

Imam Ali tidak membalas balik selepas kewafatan Rasulullah kerana beliau mementingkan kesatuan Muslim sebagai sesuatu yang lebih utama. Bagaimanapun ini tidak bermakna beliau akan membiarkan jenayah mereka ke atas Fatimah Az Zahra walaupun selepas pemergian beliau.

Dalam kata lain, Rasulullah meminta Imam Ali untuk bersabar, tetapi hanyalah sehingga peringkat tertentu. Apabila Imam Ali mendengar rancangan mereka, beliau bergegas memakai pakaian perang dan menuju ke Baqi’.

Imam Ali mengeluarkan pedang dan berkata:

“JIka kamu -berani mengubah walau satu sahaja batu dari kubur-kubur ini, akan ku serang walaupun sehingga mereka ialah pengikut terakhir ketidakadilan.”

Orang ramai menyedari keseriusan kata-kata Imam Ali, dan mengambil amaran beliau dengan penuh kepercayan yang beliau akan melakukan sebagaimana yang diucapkan. Namun seseorang dari pihak pemerintah berkata kepada Imam Ali dengan kata-kata ini:

“Apa masalahnya Abul Hassan? Demi Allah, kami akan menggali semula kubur Fatimah dan menyolatkan beliau.” Imam Ali kemudiannya memegang pakaian orang itu dan membaling orang itu ke tanah dan berkata:

“Ibnu Sawada! Aku telah meninggalkan hak ku untuk mengelakkan orang ramai dari meninggalkan kepercayaan mereka, tetapi dalam kes Fatimah, demi Dia yang nyawa ku berada di dalam tangannya, jika kamu dan pengikut kamu berani mencuba sesuatu, aku akan mengalirkan tanah dengan darah kamu.”

Pada ketika ini Abu Bakr berkata:

“Abu al Hassan, aku meminta kepadamu demi hak Rasulullah dan demi Dia yang berada di atas arash, lepaskan dia dan kami tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai.” Seterusnya sehingga ke hari ini, kedudukan sebenar kubur Fatimah masih belum di ketahui.

Fathimah ra mempunyai tiga orang putra Al Hasan, Al Husin dan Muhsin serta dua orang putri Ummu Kalsum dan Zainab… Tapi Muhsin gagal lahir kedunia ini karena sewaktu dalam kandungan Fatimah ; perut Fatimah dipukul  Umar Bin Khattab hingga Fatimah keguguran, peristiwa tersebut terjadi  sewaktu  Umar cs  menyerbu  ke rumah Fatimah  malam hari pasca tragedi  Pemilihan Abubakar di Saqifah…

Fatimah  tidak  wafat  secara alamiah, melainkan  karena  sakit bekas  pukulan lahir dan bathin… Jelas  Fatimah Az Zahra mati syahid

HARI-HARI TERAKHIR RASULULLAH (kisah tentang para sahabat setianya) ! Kebenaran yang disembunyikan sunni

Seberapa besarkah cinta anda padanya?
Waktu itu muncul secara tiba-tiba seseorang mengucapkan salam. Kemudian ia berkata, “Bolehkah saya masuk?”. Ia meminta ijin untuk masuk. Akan tetapi Fathimah binti Rasulillah tidak berkenan dirinya masuk.  Beliau tidak mengijinkan orang itu untuk masuk sambil berkata dengan lemah lembutnya, “Ma’afkan saya. Anda tidak boleh masuk ke dalam karena ayah saya kebetulan sedang sakit”. Fathimah kemudian berpaling dan menutup pintu dari dalam rumah.
Fathimah kembali ke pembaringan dimana ayahnya sedang terbaring sakit. Ayahnya yang tercinta membuka matanya dan bertanya kepada Fathimah, “Siapa tadi, wahai anakku?”
“Aku tidak tahu, ayah. Ini kali pertama aku bertemu dengannya, ayah”, Fathimah menjawab dengan lembutnya.
Kemudian Rasulullah menatap wajah puterinya itu dengan tatapan bergetar seolah-olah ia hendak mengingat-ingat setiap lekuk wajah puterinya itu. “Ketahuilah satu hal, anakku! Dialah yang akan menghilangkan semua kesenangan yang fana ini; dialah yang hendak memisahkan hubungan kekerabatan dan pertemanan di dunia ini. Dialah malaikat pencabut nyawa”, Rasulullah menjelaskan pada puterinya.
Demi mendengar itu Fathimah terhenyak seolah-olah mendengarkan sebuah bom yang diledakkan di dekatnya. Tangisan Fathimah meledak. Ia menangis tersedu-sedu dan tidak pernah tangisan dirinya itu, sepilu dan sepedih itu. Rasulullah kemudian menyuruh puterinya itu untuk mempersilahkan masuk sang malaikat pencabut nyawa itu. Kemudian ia masuk ke rumah.
Malaikat pencabut nyawa (Izrail) datang menuju tempat dimana jasad Rasulullah terbaring lemah. Rasululah bertanya mengapa Jibril tidak datang bersama dengannya. Kemudian Jibril pun dipanggil dan datang. Jibril telah siap menyambut kedatangan Rasulullah di langit. Jibril sudah siap menyambut ruh suci dari kekasih Tuhan yang pernah memimpin dunia dengan keadilan, kebenaran, dan penuh kelembutan.
“Wahai Jibril. Jelaskanlah kepadaku apa hak-hak yang akan aku dapatkan dari Allah?”, Rasulullah bertanya kepada Jibril dengan nada bicara yang sangat lemah.
“Pintu-pintu langit akan terbuka dan para malaikat akan berbaris rapi menyambut kedatangan ruh sucimu. Surga akan memanggil-manggilmu dan tidak sabar akan kedatanganmu”, Jibril berkata. Semua perkataan Jibril itu seolah-olah sama sekali tidak membuat Rasulullah tenang karena masih terlihat kedua mata Rasulullah menyimpan kekhawatiran yang mendalam.
“Tuanku, apakah engkau tidak berbahagia dengan berita ini?”, tanya Jibril.
“Ceritakan kepadaku nasib dari umatku nanti di masa yang akan datang!”
“Janganlah kau khawatir, tuanku, ya Rasulullah! Aku telah mendengar Allah berfirman: Aku akan haramkan surga untuk setiap orang kecuali setelah umat Muhammad masuk kedalamnya“, Jibril mencoba menenangkan.
Waktu merambat makin dekat dan makin dekat. Waktu untuk mencabut ruh suci sang Nabi makin dekat. Izrail sebentar lagi akan menunaikan tugasnya. Dengan perlahan dan hati-hati ruh suci Nabi ditarik. Tubuh Rasulullah mulai mencucurkan keringat; urat lehernya menegang.
“Jbril, ternyata yang namanya sakaratul maut itu sakit sekali”, Rasulullah berkata dengan gumaman lemah. Fathimah, puteri Rasulullah menutup kedua matanya menahan kesedihan yang teramat sangat. Imam Ali (as.) duduk di dekat Fathimah mendudukan kepalanya dalam-dalam; sementara itu Jibril memalingkan mukanya tidak kuat melihat pemandangan yang sangat mengharukan itu.
“Apakah aku tampak menjijikan bagimu, wahai, Jibril. Sehingga engkau memalingkan wajahmu dariku?’, Rasulullah bertanya kepada sang penyampai wahyu. “Siapakah gerangan orangnya yang sanggup dan kuat melihat kekasih Allah sedang menghadapi sakaratul maut. Oleh karena itu aku memalingkan wajahku darimu, wahai tuanku”, Jibril berkata.
Tidak berapa lama berselang, Rasulullah mengeluarkan suara dari tenggorokkannya karena rasa sakit yang teramat sangat.
“Ya, Allah. Betapa sakitnya sakaratul maut ini. Berikanlah rasa sakit ini kepadaku semuanya dan jangan berikan sedikitpun kepada umatku”. Tubuh Rasulullah kemudian terasa dingin; kedua kakinya dan dadanya tidak bisa lagi digerakkan. Bibir mulia beliau bergetar seolah-olah ingin mengutarakan sesuatu. Imam Ali (as.) mendekatkan telinganya ke arah mulut beliau yang suci. Rasulullah berbisik: “Ushiikum bis salati, wa maa malakat aimanuku” (jagalah shalat dan urusilah urusan orang-orang lemah yang ada di sekitarmu)”.
Di luar ruangan terdengar tangisan sahut menyahut; tangisan yang satu disusul oleh tangisan yang lain–lebih keras dan lebih keras. Para sahabat Nabi saling berpegangan tangan satu sama lain seolah-olah ingin memperkuat dan menghibur hati sahabatnya yang lain.  Fathimah binti Muhammad, puteri Nabi, menutupi wajahnya yang basah dengan air mata yang bercucuran sejak tadi. Imam Ali sekali lagi mendekatkan telinganya ke dekat mulut Rasulullah yang sekarang sudah tampak membiru.
“Ummati, ummati, ummati”, (Ummatku, ummatku, ummatku) (dengan kalimat itu Rasulullah berwasiat agar Ali bin Abi Thalib mengurusi urusan umat Muhammad sepeninggal beliau). Setelah mengucapkan kalimat itu, Rasulullah pun berangkat menuju kekasihnya dengan tenang. Innalillahi wa inna ilayhi roji’un.
DAPATKAH KAMI MEMBALAS CINTAMU WAHAI MUHAMMAD-KU?

Allahumma Shali ‘Ala Muhammad wa ‘ala Ali Muhammad (Ya, Allah curahkan shalawat dan salam kepada Muhammad dan juga kepada keluarga Muhammad)
Berapa besar dan dalamkah cinta Rasulullah kepada kita? Sesungguhnya, Rasulullah-lah yang lebih pantas kita cintai daripada apapun di dunia ini seperti yang diceritakan dalam sebuah riwayat di bawah ini.
Thawban, sahabat yang setia
Thawban adalah salah seorang budak belian yang telah dibebaskan oleh Rasulullah. Ia selalu bersama Rasulullah baik itu ketika Rasulullah ada di rumahnya maupun ketika beliau sedang melakukan perjalanan. Setelah Rasulullah meninggal, ia tetap berdiam diri di rumahnya di Syiria selama bertahun-tahun dan kemudian ia pindah ke Mesir untuk tinggal di sana juga selama beberapa tahun lamanya. Ia berada di Mesir ketika pasukan Muslimin menguasai Mesir. Thawban meninggal pada usia 51 tahun.
Diceritakan dalam beberapa riwayat bahwa dirinya itu sangat mencintai Rasulullah (saaw.); begitu cintanya hingga dirinya hampir tidak sanggup kehilangan Rasulullah walaupun hanya beberapa saat saja. Pada suatu ketika Rasulullah melihat Thawban dalam keadaan bersedih hati tampak dari wajahnya yang kusam dan muram. Ia kelihatan tampak lemah dan tidak bertenaga. Rasulullah bertanya pada dirinya, “Hai, Thawban! Ada apakah gerangan dengan dirimu sehingga tampak muram dan kusam wajahmu?”. Thawban menjawab dengan penuh kesopanan, “Ya, Rasulullah! Aku tidak sedang sakit juga tidak sedang mengalami rasa sakit sedikitpun, akan tetapi ada sesuatu yang mengganjal  pikiranku. Aku khawatir dengan kedekatan dirimu dengan Allah. Aku mungkin nanti akan kehilangan kesempatan untuk masuk surga; sedangkan dirimu itu akan berada di sana, di tempat yang tinggi, malah. Aku sendiri walau masuk surga misalnya, tempat kedudukanku tidak akan setinggi kedudukanmu. Aku akan berada di tempat yang rendah di sana. Oleh karena itu, kemungkinan aku tidak bisa berjumpa dengan dirimu. Itulah yang merisaukan pikiranku selama ini. Aku tidak sanggup dan tidak kuat kalau aku tidak bisa lagi melihat wajah sucimu”.
Pada saat itulah turun sebuah ayat kepada Rasulullah. Ayat itu berbunyi:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisaa: 69)
 [lihat Bihar al-Anwar, vol. 2, 68]
“Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya aku sangat mencintai dirimu!”
A’isyah melaporkan dalam sebuah riwayat bahwa seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata kepada beliau, “Ya, Rasulullah! Sesungguhnya, aku ini sangat mencintaimu. Malah kecintaanku padamu ini melebihi dari kecintaanku pada keluargaku sendiri. Aku lebih mencintaimu daripada aku mencintai anak-anakku. Apabila aku sedang berada di rumah dan aku sedang memikirkan dirimu, maka aku tidak bisa menahan diriku hingga aku bisa datang menemuimu dan memandang wajah dirimu yang suci itu. Apabila aku sedang berpikir tentang kematianku dan kematianmu, aku tahu bahwa engkau nantinya akan masuk ke surga dan engkau akan ditempatkan di tempat yang tinggi–tempat yang paling baik untuk para nabi. Tapi apabila aku masuk surga, aku takut dan bertanya-tanya: ‘Apakah aku akan bisa bertemu dengan dirimu?'”
Rasulullah tidak berkata-kata. Beliau terdiam. Beliau terdiam hingga Jibril menyampaikan sebuah ayat yang diturunkan oleh Allah untuk disampaikan kepada Rasulullah. Ayat itu berbunyi:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shidiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisaa: 69)
[lihat: Silsilat al-Ahadith as-Sahihah; #2933)
RASULULLAH BERSAMA ENAM SAHABAT SETIANYA

Pada tahun ketiga setelah Hijrah, beberapa orang dari suku Ozal dan Qarih yang bermukim di sekitar kota Mekah (dan tampaknya masih memiliki kesamaan asal-usul dengan orang-orang Qurays) datang menemui diri Rasulullah (saaw.) yang mulia dan berkata, “Ya, Rasulullah! Beberapa orang dari suku kami telah memilih Islam dan memeluk Islam sebagai agama mereka. Sekarang perkenankanlah kami untuk meminta kepada tuan agar sudi untuk mengirimkan beberapa orang Muslim kepada kami untuk mengajari kami tentang agama Islam, tentang Al-Qur’an ul-Karim, tentang ajaran dan aturan serta hukum-hukum Islam”.
Demi mendengar ini, Rasulullah yang mulia (saaw.) memilih enam sahabatnya untuk pergi dengan perwakilan dari suku Ozal dan Qarih itu. Pemimpin dari enam orang sahabat itu ialah Marand bin Abi Marthad atau Asim bin Sabit.
Rasulullah (saaw.) kemudian mengirimkan sekelompok utusannya yang terpilih untuk berangkat dengan perwakilan dari suku tersebut meninggalkan kota Medinah. Mereka berjalan meninggalkan kota Medinah hingga akhirnya mereka tiba di sebuah pemukiman suku Hozail dan mereka beristirahat di sana. Para sahabat Rasulullah yang diutus itu beristirahat dan melepaskan lelah di sana sambil mengumpulkan tenaga untuk meneruskan perjalanan. Tiba-tiba ketika mereka sedang beristirahat sekelompok orang dari suku Hozail datang dan menyerang mereka dengan sebilah pedang terhunus di tangan.
Dengan segera para utusan Rasulullah itu menyadari apa yang sedang terjadi. Mereka dengan cepat bergegas menjemput senjata-senjata yang mereka bawa untuk mempertahankan diri mereka.
Para penyerang para utusan Rasulullah itu berjanji bahwa mereka tidak memiliki maksud untuk membunuh akan tetapi bermaksud untuk menyerahkan mereka kepada orang-orang Qurays di kota Mekah untuk mendapatkan bayaran uang. Mereka telah memiliki kesepakatan dengan orang-orang Mekah. Tiga orang dari mereka termasuk Asim bin Sabit menjawab, “Kami tidak bisa menerima perlakuan kaum Musyrikin”. Akhirnya para utusan Rasulullah itu balik menyerang dan bertempur habis-habisan hingga akhirnya mereka menemui kesyahidan.
Sementara itu 3 orang utusan Rasulullah yang lain yaitu Zaid bin Dasaneh, Khabib bin Oday, dan Abdullah bin Tariq menerima usulan dari kelompok penyerang itu dan akhirnya mereka setuju untuk berserah diri dan ikut beserta kelompok penyerang untuk menemui orang-orang Qurays di kota Mekah.
Orang-orang dari suku Hozail itu kemudian memberangus mereka dan mengikat mereka dengan seutas tali yang kuat dan kemudian mereka semua berangkat ke kota Mekah. Abdullah bin Tariq, ketika makin mendekati kota Mekah, mencoba untuk melonggarkan tali ikatan yang mengikat kedua tangannya dan ia berhasil mencapai pedang yang masih ada di pinggangnya akan tetapi orang-orang Hozail itu mengetahui apa yang ia lakukan dan mereka tidak mau mengambil resiko lebih buruk dengan membuang waktu terlalu banyak membiarkan seorang tawanan yang sedang ingin membebaskan dirinya. Orang-orang Hozail itu dengan cepat mendekati Abdullah bin Tariq dan kemudian membunuhnya.
Zaid bin Dasaneh dan Khabib bin Oday diakhir perjalanan mereka akhirnya ditukar dengan dua orang suku Hozail yang menjadi tawanan orang-orang  Mekah. Jadi orang-orang Hozail sebenarnya telah melakukan kesepakatan dengan orang-orang Qurays di kota Mekah dimanan untuk setiap tawanan dari suku Hozail akan ditebus dengan seorang tawanan dari kaum Muslimin.
Safwan bin Umayyah dari suku Qurays membeli Zaid bin Dasaneh. Ayahnya Safwan terbunuh dalam peperangan Badar atau Uhud jadi ia bermaksud untuk membalas dendam terhadap Zaid bin Dasaneh. Ia ingin membunuh Zaid bin Dasaneh.
Zaid bin Dasaneh dibawa keluar kota Mekah. Orang-orang Qurays berkumpul semua untuk menyaksikan adegan demi adegan dimana Zaid bin Dasaneh akan dibunuh. Zaid bin Dasaneh datang berjalan dengan tegap. Langkahnya pasti tak sedikitpun gurat keraguan di wajahnya; tak sedikitpun rasa ketakutan tergambar di matanya.
Abu Sufyan melihat adegan yang berlangsung itu dengan perasaan hati gembira. Ia mengira bahwa inilah saatnya yang ia nantikan dimana ia bisa memaksa Zaid bin Dasaneh untuk mencaci maki diri pribadi Nabi yang suci karena menyangka bahwa Zaid bin Dasaneh akan ketakutan dan ia akan mengorbankan keimanannya demi kehidupan atau nyawanya. Abu Sufyan mendatangi Zaid bin Dasaneh dan kemudian ia berkata, “Apakah kamu ingin bertukar tempat dengan Muhammad agar dirimu selamat dan kami tidak usah memotong lehermu. Kamu bisa pulang kepada isterimu dan anakmu dengan aman dan nyaman”.
Zaid bin Dasaneh menjawab, “Demi Allah aku tidak akan senang apabila melihat sebuah duripun menusuk kaki suci Nabi sementara aku beristirahat dengan tenang dan santainya di rumahku bersama isteri dan anak-anakku”.
AbU Sufyan memandang Zaid dengan tatapan tajam menusuk seraya membuka mulutnya lebar-lebar seakan-akan tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Zaid. Ia kemudian berpaling dan menghadap kepada orang-orang Qurays, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat teman atau sahabat seseorang yang sebegitu cintanya ia kepada orang itu seperti cintanya teman-teman Muhammad kepada diri Muhammad”.
Para sahabat Nabi Muhammad mencintai Muhammad secinta-cintanya hingga bahkan mereka tidak rela melihat Nabi Muhammad terkena duri di kakinya.
Demi melihat cinta seperti ini, Abu Sufyan, salah seorang musuh Islam dan musuh Rasulullah nomor wahid, mengakui bahwa ia tidak pernah melihat seseorang yang sangat dicintai oleh orang-orang lain seperti Muhammad yang dicintai para sahabatnya.
Setelah beberapa saat setelah kesyahidan Zaid bin Dasaneh, tibalah saatnya bagi Khabib bin Oday untuk digantung hingga mati. Ia juga dibawa keluar kota Mekah. Khabib bin Oday meminta waktu sebentar kepada mereka untuk mengijinkan dirinya mendirikan shalat terlebih dahulu untuk menyongsong kesyahidannya yang hanya menunggu berlalunya waktu yang sudah kian mendekat. Mereka mengijinkan Khabib bin Oday untuk shalat dan kemudian shalatlah dia dalam shalat yang sangat khusyu dan penuh dengan penyerahan diri kepada Allah. Khabib menunaikan shalatnya dengan cepat.
Kemudian ia kembali kepada orang-orang Qurays sambil berkata, “Demi Allah seandainya aku tidak takut bahwa kalian akan mengira bahwa diriku shalat berlama-lama itu karena aku takut pada kematian maka aku akan shalat lebih lama dan lebih khusyu lagi”.
Mereka akhirnya membawa Khabib ke sebuah pohon yang ditentukan. Kemudian Khabib bin Oday berdo’a kepada Allah. Suara do’anya yang begitu menyentuh hati dan penuh konsentrasi terdengar oleh orang-orang begitu menyentuhnya do’a yang tinggi nilai spiritualnya itu hingga beberapa orang terjatuh ke tanah.
Apa yang diucapkan Khabib dalam do’anya? Khabib berdo’a sebagai berikut:
Kami telah menunaikan tugas yang diberikan oleh Nabimu yang suci
Beritahukanlah kepada junjunanku itu bahwa kami telah mati
Ya, Allah! Lihatlah apa yang telah diperbuat orang-orang dzalim kepadaku
Musnahkanlah mereka seperti mereka memusnahkan kami satu per satu

(Oleh as-Syahid, Morteza Motahhari)

CERITA TENTANG KEHORMATAN RASULULLAH

Seorang Yahudi kehilangan sebuah cincin yang sangat berharga bagi dirinya. Untungnya seorang Muslim yang kebetulan juga orang miskin menemukan cincin tersebut. Ketika orang Muslim yang miskin ini mengetahui bahwa cincin itu milik dari orang Yahudi itu maka ia segera mengembalikan cincin itu kepadanya. Orang Yahudi itu tersenyum dan kemudian bertanya kepada orang Muslim miskin itu: “Tahukah kamu betapa berharganya cincin ini?”

Orang Muslim menjawab: “Ya, aku tahu”

“Kamu menemukan cincin ini sedangkan kamu ini orang miskin dan sangat memerlukan bantuan tapi kamu tetap mengembalikan cincin berharga ini kepadaku?”, kata orang Yahudi itu.

“Betul sekali tuan, memang itu yang aku lakukan”, Muslim yang miskin itu menjawab.

Orang Yahudi itu kemudian bertanya lagi, “Pernahkah terbersit dalam benakmu untuk menjual cincin ini hingga kamu bisa memenuhi kebutuhanmu malah kamu bisa hidup senang. Kemudian kamu ngomong kepada orang-orang bahwa karena cincin yang ditemukan itu milik orang Yahudi maka kamu merasa memiliki alasan untuk menjualnya dan tidak mengembalikannya?”

Orang Muslim itu kemudian menjawab, “Mengapa aku harus berpikiran seperti itu?”

“Mengapa juga kamu mengembalikan cincin ini padahal aku khan tidak tahu bahwa kamu yang menemukan cincin ini?”

Dijawab oleh si Muslim yang miskin itu, “Kami orang Islam percaya kepada hari pembalasan. Aku berkata pada diriku sendiri seandainya aku tidak mengembalikan cincin ini kepada pemiliknya, maka nanti pada saat penghitungan amal-amalan manusia pada hari Kiamat, Nabi saya, Nabi Muhammad bersama dengan nabimu, Nabi Musa akan duduk bersama. Kamu mengeluh kepada Nabi Musa dan kemudian Nabi Musa akan mengeluh kepada Nabiku, Nabi Muhammad. Nabi Musa akan bercerita kepada Nabi Muhammad bahwa ada salah seorang umatnya telah melakukan perbuatan buruk. Pada saat itu, aku yakin bahwa Nabi Muhammad tidak akan dapat menjawab pertanyaan itu. Aku telah mengembalikan cincin ini kepadamu hingga nanti pada hari pembalasan, aku bisa menyelamatkan kehormatan Nabiku, Nabi Muhammad.
———————————————————————————————————————————-
Catatan moral : berpikirlah sebagai seorang Muslim, bertindaklah sebagai seorang Muslim, dan cintailah Allah, cintailah Rasulullah! Itulah hidup sejati seorang Muslim!

PUTERI NABI ITU DIMAKAMKAN SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI !!!! Mengapa Kuburannya Dirahasiakan ??

Hari itu Madinah panas dan hingar bingar

Gumaman sibuk dari sekumpulan sahabat terdengar
Mereka bertikai memperebutkan tampuk kekuasaan
Sambil lalu lalang mereka berteriak-teriak di jalanan
Mereka memanggil suamimu, Ali, untuk keluar dari rumah suci
Agar ia segera memberikan bai’at kepada “Ash-Shidiqy”
Suamimu tak hirau bukan karena galau ataupun risau
Namun, Ia tak ingin menimbulkan suasana yang jauh lebih kacau
Seorang sahabat terdengar berujar: “Bakarlah rumahnya sampai jadi Abu!”
Yang lain ribut bertikai; ada yang tak setuju dan ada yang ragu-ragu
Seorang sahabat lainnya menukas: “Tapi puteri Nabi, Fathimah, ada di dalamnya!”
“Biar! Meskipun ia sekeluarga ada di dalamnya,” sahabat yang tadi menghardiknya
Wahai sungguh tercela aib yang tertorehkan
Kau, puteri Nabi, tak seorangpun yang menghiraukan
Kau didorong sebuah tangan dari kekejaman
Yang membuatmu jatuh terhumbalang dan keguguran
Al-Muhsin, bayimu yang lahir tak jadi
Kelak akan bertanya di kemudian hari
“Siapakah ia orangnya yang membunuhku sebelum aku lahir?”
“Sungguh tempatnyalah di neraka Saqr”
Kau, Fathimah yang suci berdarah-darah
Kau menatap kerumunan itu dengan marah
Tak pedulikah mereka……………………
Bahwa marahmu itu adalah marah sang Nabi?
Tak tahukah mereka………………………
Kepedihanmu itu terasa oleh kami hingga hari ini?


dot

Sebagian besar kaum Muslimin tidak tahu apa yang terjadi pada diri Bunda Fathimah (puteri Rasulullah) setelah ayahanda tercinta-nya wafat meninggalkan dirinya. Kaum Muslimin tidak banyak yang tahu derita dan perlakuan buruk yang terjadi pada diri puteri Nabi itu. Sebenarnya apabila kaum Muslimin mau meluangkan waktu mereka barang sedikit saja untuk menggali sumber-sumber sejarah dari kalangan Ahlu Sunnah maupun Ahlul Bayt, maka mereka akan melihat dengan jelas sekali bahwa kitab sejarah otentik yang ada di kalangan kedua kelompok itu mencatat dengan cukup rinci kejadian yang menimpa puteri Nabi sepeninggal ayahnya yang tercinta itu. Kitab-kitab sejarah itu menjelaskan bagaimana Bunda Fathimah (as) kerap kali mengeluhkan kedzaliman penguasa yang memerintah sepeninggal Nabi.
fatima.zehraMisalnya, ketika Bunda Fathimah Az-Zahra mendengar hadits palsu yang disampaikan oleh khalifah pertama, ia marah sekali. Ia tahu betul bahwa hadits palsu itu (yang sengaja dibuat oleh khalifah pertama untuk mencegahnya menuntut haknya atas tanah Fadak. Beberapa perawi hadits dan sejarawan seperti Bukhari, Ahmad bin Hanbal, Ibn Sa’ad, Ibn Katsir dan lain-lain telah mencatat dan melaporkan bahwa Fathimah az-Zahra tetap marah kepada khalifah yang pertama hingga beliau wafat menemui ayahnya yang tercinta
.
Ketika tubuh Rasulullah yang suci dibaringkan di liang lahat dan kemudian dikuburkan, terkubur juga kata-katanya tentang peran Imam Ali dan kepemimpinannya atas umat Islam. Dengan kepandaian berbicara yang fasih, Rasulullah menyebut Imam Ali sebagai “pemimpin orang-orang beriman” dan bukannya “pemimpin orang-orang Islam”. Dengan kata-kata itu, Rasulullah ingin menegaskan bahwa mereka yang menerima Islam dibawah tekanan politis tidak akan bisa menerima kepemimpinan Imam Ali (as). Sedangkan mereka yang menerima kepemimpinan dan kenabian Muhammad, akan bisa menerima kepemimpinan Imam Ali (as)
.
Fathimah Az-Zahra (as) melihat dengan jelas sekali bahwa tubuh ayahnya yang terbujur kaku di liang lahat akan segera tertutup tanah dan seiring dengan tubuhnya yang tertutup tanah, terkubur juga kata-katanya yang biasanya terngiang-ngiang di telinga menyampaikan nasehat bijak dari surga. Setiap kata-kata ayahnya sekarang ini digantikan oleh kata-kata para penguasa yang menggantikan kebajikan dengan doktrin kekuatan. Dengan segera Fathimah menyadari bahwa ia harus berbuat sesuatu sebelum segalanya terlambat. Ia harus menyampaikan sesuatu yang akan diingat orang sepanjang zaman. Ia harus menyampaikan sesuatu yang akan dicatat para pecintanya hingga akhir zaman
.
Dengan segera dan dengan segenap keyakinan, ia bergegas menuju mesji Nabawi—mesjid Nabi—dan ia berkhutbah di sana. Ia menyampaikan kata-kata mutiaranya kepada khalayak yang baru saja berbai’at kepada kekuasaan yang baru berkuasa—kekuasaan yang telah menentang perintah dan kebijakan Nabi. Fathimah berkata, “Kami akan berdiri kukuh dan menentang kalian hingga tubuh kami luluh diterjang puluhan tombak dan pisau yang tajam berkilauan”. Fathimah, puteri Nabi mengumumkan penolakan bai’at kepada sang khalifah yang baru menjabat!
.
Kalau kita lihat sekilah khutbah Fathimah (Khutbah Fadakiyah/Khutbah Al-Fadakiyah yang dicatat dengan rinci baik oleh kelompok Sunni maupun Syi’ah) yang disampaikan di mesjid Nabi dan di hadapan kaum Muhajirin dan Ansar, kita akan segera melihat bahwa Fathimah mempertanyakan penguasa yang baru itu dan memberikan peringatan keras terhadapnya. Pertanyaan segera timbul terhadap kecaman Fathimah terhadap penguasa baru itu: Apakah khutbah yang disampaikan Fathimah itu dikarenakan oleh rasa marah yang dan sakit hati yang timbul karena telah diperlakukan kasar oleh penguasa baru dan para pengawalnya itu? Karena sebelum peristiwa ini terjadi Rasulullah sering berkata: “Rasa senang dan rasa marah Fathimah itu menyebabkan rasa senang dan rasa marah Allah.”Kesukaan dan kemarahan Fathimah itu menimbulkan kesukaan dan kemarahan Allah. Dengan mengacu pada hadits itu, maka kita akan bisa menyimpulkan bahwa Allah tentu saja marah pada orang yang pernah membuat Fathimah marah. Dan orang yang membuat Allah marah, tak pernah pantas untuk menduduki kursi khilafah
.
Khutbah yang disampaikan oleh Fathimah itu jelah memberikan dampak yang dasyhat terhadap khalfah pertama beserta para begundalnya. Dengan khutbah itu, Fathimah memberikan pandangan yang baru di kalangan umat Islam terhadap tirani yang sedang berkuasa. Akan tetapi walaupun begitu, setelah Fathimah selesai memberikan khutbah di mesjid Nabawi itu serangkaian peristiwa menyedihkan yang terjadi pada keluarga Nabi tetap saja menghantui. Semua peristiwa itu menyebabkan Fathimah tergeletak lemah di pembaringannya yang resah
.
Pada saat-saat terakhir kehidupan Fathimah, Ummu Salamah (salah satu isteri Rasulullah yang baik) menanyakan tentang keadaannya. Fathimah dengan gamblang berkata, “Saya merasa kehilangan Rasulullah yang amat sangat; dan kesedihan serta kepedihan saya itu ditambah dengan kenyataan pahit harus berhadapan dengan penguasa dzalim.” Dalam kesempatan yang lain, Fathimah menjelaskan dengan kata-kata yang hampir sama akan tetapi lebih rinci ketika kaum wanita datang menjenguk keadaannya yang sedang sakit dan terbaring lemah di ranjangnya. Kepada kaum wanita yang datang menjenguknya itu, Fathimah berkata: “Demi Allah, aku melalui hari-hari pertamaku dengan bertahan dari perbuatan buruk yang kalian lakukan padaku dan juga dari para suamimu. Celakalah kalian semua! Mengapa mereka menolak ketentuan Allah (dalam penunjukkan Imam Ali sebagai penerus Nabi), seperti yang sudah disampaikan oleh Rasulullah? Mengapa mereka rampas hak orang yang lebih mendatangkan manfaat bagi kalian; yang lebih mengetahui tentang urusan dunia dan akhirat kalian? Mengapa kalian sampai benci pada Ali? Demi Allah seandainya mereka membantunya dalam mengurus pemerintahan ini, Ali akan menjalankannya dengan baik sekali. Seandainya mereka melakukan itu, maka pintu-pintu keberkahan akan terbuka dari langit dan bumi.”
.
Fathimah Az-Zahra (as) seringkali menggunakan setiap kesempatan untuk memperingatkan dan memberitahu orang-orang tentang penyelewengan ketentuan Allah yang telah disampaikan oleh Rasulullah itu, akan tetapi mereka tidak menghiraukannya. Lalu kalau begitu bagaimana dengan masa depan nanti? Siapa lagi yang akan mengingatkan mereka dari penyelewengan ini? Bagaimana pesan suci dari Nabi ini bisa sampai pada generasi nanti? Sekarang saja sudah begini. “Ketika Rasulullah wafat, pesan sucinya langsung diinjak-injak oleh para pencari kekuasaan, yang menghendaki Islam karena ingin mendapatkan keuntungan duniawi darinya; dengan memanfaatkan kejahilan orang-orang yang ada di sekelilingnya.” Bagaimana bisa keberatan Fathiimah itu mencapai masa yang jauh? Bagaimana Fathimah bisa menyampaikan keberatannya kepada generasi yang akan datang yang terlahir jauh kemudian? Karena ……… dalam masa-nya saja Fathimah tak pernah memiliki kebebasan untuk menyampaikan rasa kehilangannya akan ayahandanya; ia tak punya kebebasan untuk menyampaikan apa yang pernah disampaikan ayahandanya.

.

KESYAHIDAN FATHIMAH DAN HARI-HARI TERAKHIR DARI KEHIDUPANNYA

dot[1]
fatima.zehraCatatan dari hari-hari terakhir kehidupan Fathimah (as) menunjukkan secara jelas siapa sebenarnya wanita suci dari durriyyat Nabi ini. Hari itu tanggal 3 Jumadil Tsani tahun 11H. Hari itu Fathimah Az-Zahra berkata kepada seluruh anggota keluarganya bahwa sekarang merasa baikan. Rasa nyeri yang ada di beberapa tulang iganya dan di tangannya sudah jauh berkurang dan panas demam yang ditimbulkan oleh rasa sakitnya itu sudah menurun. Kemudian ia bangkit dari tidurnya dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Ia memaksakan dirinya untuk memandikan anak-anaknya; akan tetapi kemudian muncul Bibi Fizzza dan Imam Ali untuk membantu dirinya memandikan anak-anak. Fathimah selesai memandikan anak-anak kemudian memakaikan pakaian dan memberikan makanan hingga kenyang. Setelah itu mengirimkan anak-anak itu kepada saudara sepupunya
.
Imam Ali (as) merasa terkejut melihat isterinya yang tercinta bangkit dari ranjangnya dan sudah mulai pekerjaan rumah tangganya. Lalu Imam Ali bertanya kepada isterinya apa yang terjadi dengan dirinya. Fathimah (as) menjawab, “Hari ini adalah hari terakhir dari hidupku. Aku ingin memandikan anak-anakku dan memakaikannya baju untuk yang terakhir kalinya karena setelah ini mereka akan menjadi anak-anak piatu, tak beribu!”
.
Imam Ali (as) kemudian bertanya bagaimana Fathimah bisa tahu bahwa ini adalah hari terakhir hidupnya dan sebentar lagi akan datang hari kematiannya. Kemudian Fathimah Az-Zahra (as) menjawab bahwa ia melihat ayahanda tercintanya (Rasulullah) di dalam mimpinya. Rasulullah berkata bahwa Fathimah akan segera bergabung dengan Rasulullah pada malam itu.
.
IMAM ALI: “Sebutkanlah apa yang ingin engkau aku lakukan, wahai puteri Rasulullah”
(Imam Ali lalu meminta setiap orang untuk meninggalkan rumah itu agar bisa bicara tenang dengan isterinya. Imam Ali kemudian duduk di samping isterinya)
FATHIMAH: “Suamiku tercinta, engkau tahu benar apa yang telah aku lakukan dan untuk apa aku lakukan itu semua. Aku mohon agar engkau memaafkan kecerewetanku selama ini;  mereka telah menderita terlalu banyak karena kecerewetanku ini selama aku sakit dan aku sekarang ingin melihat mereka bahagia di akhir hidupku ini. Aku bahagia sekaligus aku juga bersedih hati. Aku bahagia karena sebentar lagi aku terbebas dari segala kesulitan hidupku dan aku akan segera bertemu dengan ayahku; dan aku bersedih hati karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan engkau, suamiku. Suamiku tercinta…………engkau tahu benar bahwa aku tak pernah berdusta; aku juga tetap setia dan berkhidmat padamu……………pernahkah aku membantahmu selama aku menjadi isterimu?”
.
IMAM ALI: “Masya Allah! Engkau adalah orang yang paling mengenal Allah'; isteri yang paling berbakti pada suaminya; isteri yang paling shalehah. Engkau lebih mulia dan lebih bertakwa sehingga takkan mungkin engkau membangkang kepadaku. Sungguh betapa beratnya aku harus berpisah denganmu dan harus kehilanganmu akan tetapi peristiwa ini memang takkan mungkin terelakan. Demi Allah! Engkau telah membuat kedukaanku kembali lagi. Baru saja aku bersedih hati karena ditinggalkan oleh Rasulullah, sekarang aku harus ditinggalkan olehmu. Sungguh kematianmu dan berpulangnya engkau itu adalah sebuah musibah yang sangat besar bagiku; akan tetapi kepada Allah-lah semua kita berpulang; semuanya ini milik Allah ta’ala, dan kepadaNyalah kita akan kembali (QS. 2: 156). Betapa pedihnya musibah ini. Musibah ini begitu besarnya hingga tak ada lagi bandingan yang sepadan dengannya.”
.
(Kemudian mereka berdua menangis bersama. Imam Ali memeluk isterinya yang tercinta seraya berkata)
IMAM ALI: “Suruhlah aku untuk melakukan apa yang engkau mau; engkau niscaya akan melihatku patuh dan setia pada apa yang engkau perintahkan. Akan aku utamakan segala apa yang engkau mintakan kepadaku. Akan aku utamakan kemauanmu itu diatas kemauanku.”
.
FATHIMAH: “Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu, suamiku. Sekarang, dengarlah wasiatku ini. Pertama, menikahlah segera sepeninggalku, akan tetapi engkau harus terlebih dahulu menikahi keponakanku Umamah. Umamah itu akan memperlakukan anak-anak kita seperti aku memperlakukan anak-anak kita. Selain itu, laki-laki itu tak bisa hidup layak tanpa adanya kehadiran seorang perempuan di sisinya. Umamah mencintai anak-anak kita dan Husein sangat dekat dengannya. Lalu biarkanlah Fizza (pembantu keluarga Imam Ali) tetap bersamamu hingga ia menikah, apabila ia masih mau bersamamu keluarga kita, biarlah ia tetap bersama. Fizza itu lebih dari sekedar pembantu bagiku. Aku mencintai Fizza seperti aku mencintai anak perempuanku sendiri.”
.
FATHIMAH: (kemudian melanjutkan pembicaraannya) “Aku mohon padamu agar nanti ketika aku dikuburkan jangan sampai ada satu orangpun yang pernah mendzalimiku hadir di pemakamanku, karena mereka telah menjadi musuhku; dan yang telah menjadi musuhku itu telah menjadi musuh Allah dan RasulNya. Jangan juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk menshalatiku; jangan juga beri kesempatan yang sama kepada para pengikutnya. Aku ingin engkau memandikan jenazahku di malam hari; kafani aku juga di malam hari dan shalati aku dan kuburkan aku di malam yang sama ketika semua mata umat manusia sedang tertutup dan semua pandangan tak terjaga. Dan setelah penguburan selesai, duduklah di dekat kuburku dan bacakan AlQur’an untukku.”
“Jangan sampai kematianku ini membuatmu patah semangat. Engkau harus berkhidmat kepada Islam dan kemanusiaan dalam jangka waktu yang lama setelah kematianku. Jangan sampai penderitaanku ini menjadikan hidupmu susah, berjanjilah kepadaku wahai suamiku.”
sayyida

IMAM ALI: “Baik, Fathimah isteriku tercinta. Aku berjanji.”

FATHIMAH: “Aku tahu bagaimana rasa cintamu kepada anak-anak kita akan tetapi berhati-hatilah dengan anak kita Husein. Ia sangat mencintaiku dan ia akan merasa sangat kehilangan diriku. Jadilah seorang ibu utuknya. Hingga saat ini ia masih sukan tidur di dadaku, dan sekarang ia akan segera kehilangan itu.”
(Imam Ali membelai tangan Fathimah yang patah  dan menyapu air matanya yang hangat. Fathimah memandang sendu kepada Imam Ali dan kemudian berkata:)
FATHIMAH: “Janganlah meratapiku, wahai suamiku. Aku tahu betul di balik wajahmu yang keras ada hati yang sangat lembut. Engkau sudah terlalu banyak menderita dan engkau akan menderita lagi lebih banyak.”
Fathimah Az-Zahra sudah siap menemui Tuhannya. Ia sekarang mandi membersihkan dirinya kemudian berpakaian lengkap dan sudah itu langsung berbaring di atas ranjangnya. Ia memintah Asma binti Umays untuk menunggu dirinya sebentar dan kemudian memanggil namanya. Apabila tidak ada jawaban ketika namanya dipanggil……………berarti Fathimah sudah meninggalkan dunia ini menemui Tuhannya.
Asma bint Umays menunggu beberapa waktu lamanya dan kemudian ia memanggil-manggil nama Fathimah akan tetapi tidak ada jawaban dari Fathimah. Asma binti Umays memanggil sekali lagi: “Wahai puteri terkasih Muhammad! Duhai puteri paling mulia yang pernah dilahirkan oleh wanita mulia! Duhai puteri terbaik dari orang-orang yang terbaik yang pernah berjalan di muka bumi ini! Duhai puteri Rasulullah yang kedekatannya sama dengan jarak dua busur panah bahkan lebih dekat lagi” (QS. 53: 9)
;
Tak ada jawaban sama sekali yang bisa terdengar dari puteri Nabi………; kebisuan mencekik ruangan sempit dimana jenazah suci sang puteri Nabi tergeletak tak bergerak. Asma binti Umays kemudian mendekat ke jenazah suci itu dan memang betul tubuh kurus puteri Nabi itu sudah tak bernyawa lagi. Ruh suci yang harum telah meninggalkan tubuh kuyu itu dan menjumpai ayahnya, Rasulullah, di hadapan sang maha lembut, maha kasih dan maha sayang.
Tepat pada saat itulah Imam Hasan (as) dan Imam Husein (as) yang masih kanak-kanak memasuki rumah dan bertanya pada Asma binti Umays: “Dimanakah ibu?” “Ibu kami tidak biasanya tidur pada saat siang hari seperti ini!”
Asma bint Umays menjawab: “Wahai putera Rasulullah! Ibumu itu tidak sedang tidur………ia telah mendahului kalian semua. Ia sudah meninggal dunia!”
Ketika Imam Hasan (as) mendengar kata-kata seperti itu, ia menjatuhkan dirinya ke tubuh ibunya yang sudah dingin dan ia menciumi pipi ibunya dan wajahnya seraya berkata kepadanya: “Ibuku yang kusayang! Berbicaralah kepadaku sebelum engkau meninggal dunia.”
Imam Husein (as) datang dan kemudian ia juga mendekati ibunya dan menciumi kaki ibunya dan berkata: “Ibuku sayang! Ini aku Husein, anakmu. Bicaralah kepadaku sebelum engkau meninggal.”
Kemudian, Imam Husein berpaling kepada Imam Hasan dan berkata: “Semoga Allah menghibur dirimu atas kepergian ibunda kita”
Ada dua hadits yang berbeda tentang keberadaan Imam Ali (as) ketika Fathimah meninggal dunia. Salah satunya menyebutkan bahwa Imam Ali ada bersama Fathimah pada saat kematian isterinya itu. Dan hadits yang lain adalah sebagai berikut:
(Imam Ali sedang berada di mesjid. Imam Hasan dan Imam Husein pergi ke mesjid dan menceritakan tentang wafatnya ibu mereka kepada ayahnya. Segera setelah Imam Ali mendengar berita itu, ia terjatuh pingsan. Ketika siuman, ia berkata: “Siapa lagi yang bisa menghiburku ketika aku sedih dan pilu, wahai puteri Muhammad? Engkau dulu selalu menghiburku dan sekarang siapakah yang bisa menggantikan kedudukanmu?” Fathimah Az-Zahra (sa) meninggal dalam usia yang masih muda dan Imam Ali senantiasa mengenang saat-saat indah bersamanya. Imam Ali senantiasa berkata: ““Sekuntum bunga tumbuh berkembang; bunga itu berasal dari surga dan kembali ke surga…………akan tetapi keharumannya yang ia tinggalkan, tetap bersemayam dalam ingatan”
ya.fatima

Kaum wanita dari bani Hasyim kemudian dikumpulkan dan diberitahu tentang musibah yang sangat besar itu. Betul, memang musibah yang sangat besar. Dan musibah besar itu datang setelah musibah besar lainnya datang sebelumnya. Belum lagi sembuh luka hati ini karena telah ditinggal Nabi; sekarang beberapa kelompok umat Islam yang masih setia kepada keluarga Nabi ditinggalkan pula oleh puteri Nabi yang mereka cintai itu.

Ketiak orang-orang di kota Madinah sadar bahwa Fathimah Az-Zahra itu sudah menemui kesyahidannya (syahid karena luka-luka—luka dalam dan luka luar—yang telah diderita olehnya karena serangan yang dilakukan oleh para pengawal khalifah pertama atas perintahnya—red). Mereka berkumpul di depan rumah Fathimah dan menunggu untuk melakukan upacara penguburan. Akan tetapi kemudian mereka mendengar bahwa upacara penguburannya akan ditunda. Pada malam hari, ketika orang-orang sudah tertidur dengan lelapnya, Imam Ali (as) mulai memandikan jenazah Fathimah dan mengkafaninya dengan rapi. Dan itu dilakukannya—sesuai dengan bunyi wasiat isterinya—dengan tanpa kehadiran orang-orang yang telah membenci dan dibenci oleh Fathimah. Orang-orang yang sudah melakukan penyerbuan ke rumahnya dan hendak membakar rumahnya. Setelah Imam Ali selesai memulasara jenazah Fathimah, Imam Ali menyuruh Imam Hasan dan Imam Husein yang waktu itu masih kecil untuk memanggil beberapa sahabat Nabi yang setia dan jujur yang juga disukai oleh Fathimah agar membantu proses penguburannya hingga selesai. Tidak lebih dari 7 orang saja yang dilaporkan oleh sejarah yang turut membantu dalam proses penguburan itu. Setelah mereka datang; Imam Ali melakukan shalat dan berdoa dan kemudian menguburkan jenazah isterinya yang tercinta itu. Sementara itu kedua putera tercintanya berdiri sedih tidak jauh dari liang lahat yang sebentar lagi akan ditutup memisahkan mereka berdua dengan ibunya yang tercinta. Mereka berdua menangis diam-diam menahan rasa pilu yang membuncah di dalam dada keduanya.
Ada dua hadits yang tentang wafatnya Fathimah. Yang satu mengatakan bahwa wafatnya itu terjadi 75 hari setelah wafatnya Rasulullah sementara hadits lainnya mengatakan bahwa wafatnya Fathimah itu terjadi setelah 95 hari dari wafatnya Rasulullah. Seperti yang kita ketahui, Rasulullah itu meninggal pada tanggal 28 Safar. Jadi 75 hari setelah bulan Safar itu kira-kira tanggal 13, 14, atau 15 Jumadil Awwal. Sedangkan kalau 95 hari maka para sahabat menghitungnya sampai tanggal 3 Jumadil Tsani. Karena kita tidak tahu persisnya kapan bunda Fathimah meninggal, maka kita menggabungkan tanggal 13, 14 dan 15 Jumadil Awwal itu dengan tanggal 3 Jumadil Awwal sebagai hari-hari bunda Fathimah atau dalam bahasa Parsi disebut Ayyame Fatimiyya
.
Sebuah rombongan kecil yang terdiri dari orang-orang yang setia dan patuh pada Rasulullah tampak berjalan gontai. Segukan tangis lirih dan terasa mengiris-iris hati yang pilu terdengar dari mereka. Wajah-wajah mereka lusuh tertunduk tersembunyi dalam tutup-tutup kepala yang jatuh menaungi kepala-kepala mereka. Rombongan itu berjalan tanpa mengeluarkan bunyi berarti ke sebuah tempat sunyi yang khusus untuk menguburkan salah seorang manusia suci yang mereka cintai. Mereka berjalan dalam kegelapan malam pada bulan Jumadil Tsani, hari ketiga di tahun sebelas Hijriah. Rombongan itu menyusuri jalan-jalan kota Madinah. Terasa segar dalam ingatan baru beberapa lama lewat mereka melakukan hal yang sama untuk manusia suci lainnya, Muhammad Al-Mustafa. Sekarang giliran puterinya yang tercinta…………Fathimah Az-Zahra (as).
Dalam rombongan itu ada anak-anak dengan ayah mereka beserta teman-teman dekat dari sang ayah; mereka semua berjalan dalam kebisuan dan kesabaran. Pada wajah-wajah mereka tampak kepasrahan dan keridhoan akan apa yang telah menimpa mereka selama beberapa hari ini. Akan tetapi meskipun begitu sesekali masih terdengar tangis yang tertahan di tenggorokan; air mata mengucur deras dengan tangisan yang lirih sekali hampir tak terdengar seakan ingin menyembunyikan kepedihan yang telah menimpa mereka agar tidak ada orang yang mendengar mereka di kegelapan malam karena memang mereka tidak ingin seorangpun tahu di kota Madinah itu bahwa mereka sedang melakukan sebuah perbuatan yang akan direkam baik oleh sejarah.
Seorang ayah yang tadi disebutkan di atas ialah Imam Ali (as); sementara anak-anak yang turut bersamanya ialah putera-puterinya. Ada Imam Hasan (as) di sana; ada Imam Husein (as), ada Zainab, dan ada Umm Kultsum yang berjalan gontai dalam kebisuan di belakang ayahnya. Bersama mereka ada para sahabat pilihan yang sangat setia kepada Nabi baik ketika Nabi masih hidup atau ketika sudah wafat. Mereka adalah Abu Dzar, Ammar bin Yasir, Miqdad al-Aswad, dan Salman Al-Farisi.
Ketika setiap mata dari penduduk Madinah tertutup; ketika tak ada suara sedikitpun dari mereka, rombongan surga itu meninggalkan rumah Imam Ali membawa usungan tandu berisi jenazah suci dari puteri sang Nabi, Fathimah az-Zahra. Anak-anaknya sekarang mengantar jenazah ibunya itu ke sebuah pemakaman yang sunyi yang sudah ditentukan.
Akan tetapi dimanakah ribuan penduduk kota Madinah yang seharusnya ada di tempat?

Ketika iringan pengantar jenazah puteri Nabi itu lewat?  

Mengapa tak seorangpun dari mereka datang melawat?
Mengapa pemakamannya dilangsungkan pada saat dianggap sangat tidak tepat?

Mengapa harus dilangsungkan di kegelapan malam yang pekat?

Fathimah memang merencanakan itu semua sebelumnya. Fathimah telah memberikan wasiat kepada Imam Ali agar para penduduk kota Madinah itu tidak datang ke pemakamannya. Ia ingin dikuburkan pada malam hari dan ingin agar kuburannya disembunyikan dari pengetahuan penduduk kota Madinah.
Ada kesunyian yang mencekam di sana. Tiba-tiba terdengar tangisan agak keras dan parau memecah kesunyian yang tadi. Tangisan itu datang dari pahlawan padang pasir yang musuh manapun pasti akan ngeri dan menyingkir. Tangisan itu sekarang terdengar lebih keras seakan menghabiskan rasa kepenasaran karena sedari tadi tangisan itu ia tahan. Ia berkata dalam tangisannya:

“Ya, Rasulullah! Salam bagimu, wahai kekasihku. Salam dariku dan dari puterimu yang sekarang ini akan datang kepadamu dan ia sangat bergegas meninggalkanku untuk sampai kepadamu. Ya, Rasulullah, rasa luluh lantak terasa pada diriku dan rasa lemah tak berdaya telah menggerogoti diriku. Itu tak lain karena engkau dan puterimu telah meninggalkanku. Tapi aku sadar semua ini milik Allah dan kepadaNyalah segala sesuatu itu kembali (QS. 2: 156)
shaheed
Semua yang telah dititipkan itu akan diambil kembali; semua yang pernah kita miliki itu akan diambil lagi oleh pemiliknya yang sejati. Sementara itu kepedihan dan kesedihan Ali, tetap bermasayam dalam dirinya baik siang maupun malam hari. Tak ada batasan jelas untuk Ali kapan ia bersedih dan kapan ia terbebas dari kesedihannya itu. Kepergian dua orang yang dicintainya sangat mengguncang dirinya. Perasaan itu akan tetap pada dirinya hingga dirinya nanti bertemu lagi dengan yang dicintainya……yaitu pada hari dimana ia dipanggil oleh Allah untuk menghadapNya. Imam Ali kembali mengadu kepada Rasulullah dalam rintihan yang lirih……”Ya, Rasulullah, puterimu pastilah akan mengadukan kejadian yang sedang menimpa umat ini. Puterimu ingin umat ini bersatu kembali. Puterimu ingin agar engkau datang kembali agar bisa mempersatukan umat yang sudah bercerai berai ini. Dan engkau nanti akan bertanya padanya secara rinci. Engkau akan bertanya mengapa umat ini menentang keluarga nabi. Mengapa mereka mengkhianati apa-apa yang telah ditentukan oleh Nabi. Dan mengapa mereka melakukan hal ini padahal kematianmu itu baru saja terjadi dan umat masih merasakan kejadian ini!”
“Salam untuk kalian berdua! Salam perpisahan dariku yang sedang berduka bukan dariku yang telah tak suka kepada kalian berdua. Kalau aku pergi dari pusara kalian, itu bukan karena aku merasa bosan kepada kalian. Dan kalau aku berlama-lama di pusara kalian, itu bukan karena aku tak lagi percaya dengan kuasa Tuhan dan apa yang telah Tuhan janjikan kepada orang-orang yang tengah ditimpa kepedihan.”
Setelah menguburkan Fathimah az-Zahra (as), rombongan berisi keluaga dekat Nabi dan para sahabat pilihannya segera bergegas kembali ke rumahnya masing- masing sehingga tidak ada satu orangpun di kota Madinah yang tahu dimana Fathimah dikuburkan.
Sesampainya mereka di rumah, anak-anak dengan segera sadar bahwa mereka telah ditinggalkan oleh ibunya. Mereka merasakan kesepian yang mencekik. Imam Ali segera menghibur mereka supaya kesedihan tak terlalu larut membawa pikiran mereka. Akan tetapi itu tidak mudah dilakukan. Imam Ali mencoba menenangkan diri mereka dan kemudian ia sendiri masuk ke dalam kamar dan kemudian larut dalam tangisan yang sendu. Pahlawan Badar, Uhud, Khaybar, Khandaq dan beberapa perang lainnya itu merasakan kelelahan yang luar biasa dalam menahan kepedihan dan akhirnya ia lampiaskan dalam tangisan. Tangisan karena rasa cinta dan kehilangan; bukan tangisan manja dan penuh keputus-asaan
.
Mereka semua telah melalui serangkaian kejadian yang menyesakkan sepeninggal Rasulullah. Pengangkatan Imam Ali di Ghadir kum telah dilupakan secara sengaja oleh banyak orang; tanah Fadak sudah dirampas; rumah mereka telah diserang oleh para utusan khalifah pertama; pintu rumah keluarga Nabi yang dibakar menimpa Bunda Fathimah az-Zahra—pintu itu mematahkan beberapa tulang iganya dan menggugurkan kandungannya. Isteri sang Imam harus terbaring sakit di ranjangnya selama beberapa hari setelah itu; terbaring sendirian dan terisolasi dari dunia luar dan kemudian meninggal dalam kepedihan yang menyesakkan!
Salah satu sudut pandang tempat bernama Ghadir Khum
Malam hari itu setiap anak terpaksa saling menghibur untuk meredakan kesedihan mereka. Mereka berkumpul dalam satu kamar dan tidur kelelahan……………hari-hari yang berat akan masih menyambangi mereka satu demi satu. Sementara itu Bunda Fathimah menyaksikan mereka dengan wajah sendu.

MENGAPA KUBURANNYA DIRAHASIAKAN?

Hingga detik ini tidak ada seorangpun yang tahu persis dimanakah kuburan dari sayyidah Fathimah (as) yang kepadanya Rasulullah selalu memberikan pernghormatan yang penuh takzim. Rasulullah selalu senantiasa berdiri menyambut apabila Fathimah datang menjenguk. Rasulullah seringkali didengar orang berkata: “Fathimah itu adalah bagian dari diriku. Siapapun yang menyakiti diri Fathimah akan berarti menyakiti diriku.” Rasulullah juga seringkali berkata: “Barangsiapa yang menyakiti Fathimah, ia berarti menyakitiku; barangsiapa yang menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah!”. Rasulullah juga seringkali berkata: “Allah menjadi sangat marah karena kemarahan Fathimah; dan merasa senang dengan rasa senang Fathimah.” Sejarah telah mencatat bahwa Fathimah dikuburkan di sekitar Jannat al-Baqi di Madinah akan tetapi tidak ada seorangpun yang tahu tempat persisnya; tak ada seorangpun yang bisa menunjukkan dengan pasti di mana makam dari puteri Nabi yang suci itu.

USAHA-USAHA UNTUK MENCARI DAN  MEMBUKA KUBURAN FATHIMAH (as) DI JANNAT AL-BAQI SENANTIASA MENGALAMI KEGAGALAN


dot[1]
fatima.zahraKetika matahari terbit di keesokan harinya, orang-orang di kota Madinah berduyun-duyun menuju rumah Ali (as). Mereka ingin ikut serta dalam upacara penguburan dari puteri kandung Rasulullah itu. Akan tetapi mereka terpaksa gigit jari karena upacara penguburan telah lama selesai. Penguburan sayyidah Fathimah dilakukan secara sembunyi-sembunyi di malam hari dan tanpa kehadiran penduduk kota Madinah.
Pada saat yang bersamaan Imam Ali sedang membuat empat buah kuburan baru di Jannat al-Baqi untuk mengelabui para penduduk kota Madinah supaya orang-orang tidak tahu dimana letak kuburan Fathimah yang sebenarnya. Ketika para penduduk kota Madinah memasuki kompleks pemakaman, mereka kebingungan karena ada empat buah kubur yang baru dan mereka tidak tahu yang mana yang kuburan Fathimah (as) yang asli. Mereka saling pandang satu sama lainnya dan segera saja perasaan bersalah menyelimuti mereka. Mereka berkata: “Nabi kita tidak meninggalkan satupun anak kecuali Fathimah (as). Dan sekarang puteri Rasulullah telah meninggal dan kita sama sekali tidak ikut serta dalam upacara penguburannya. Kita bahwak tidak sadar dan tidak tahu persis dimana letak makamnya”
Kompleks pemakaman Jannatul Baqi sebelum dihancurkan rezim Saudi pada tahun 1925
Pemerintah yang berkuasa sadar sekali akan bahaya yang mengancam dari peristiwa ini. Kematian puteri tercinta Nabi setelah kejadian penyerbuan ke rumahnya oleh pemerintah yang berkuasa, serta upacara penguburan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi akan mengharu biru perasaan emosi dari para penduduk kota Madinah. Oleh karena itu, pemerintah membuat pengumuman yang mengejutkan: “Buatlah kelompok berisi wanita Muslimah dan suruh mereka untuk menggali makam-makam ini agar kita bisa menemukan mayat Fathimah dan kita bisa menshalatkan dia dan menguburkannya lagi”
Kompleks pemakaman Jannatul Baqi setelah penghancuran yang diperintahkan oleh rezim Saudi. Rupanya rezim Saudi menindaklanjuti rencana rezim Abu Bakar yang tertunda belasan abad sebelumnya.
Kemudian mereka tanpa basa-basi lagi dan tanpa mengenal rasa malu dan khawatir sedikitpun mulai melaksanakan rencana mereka. Mereka melanggar wasiat yang telah diberikan oleh Fathimah! Mereka juga melanggar hak-hak privasi seseorang. Imam Ali telah berusaha untuk menyembunyikan makam Fathimah akan tetapi mereka berusaha untuk membongkarnya.
Apakah mereka telah lupa betapa tajamnya pedang Imam Ali, Zulfiqar? Apakah mereka telah lupa betapa beraninya Imam Ali? Apakah mereka akan mengira bahwa Imam Ali akan tetap diam melihat perbuatan tercela mereka? Apakah mereka mengira Imam Ali akan diam tak bertindak melihat mereka membogkar kuburan Fathimah?
Kompleks pemakaman Jannatul Baqi sekarang……….rata dengan tanah. Tidak menyisakan keindahan melainkan sebuah gurun gersang. Kalau saja orang tidak pernah mengingatnya sebagai kompleks pemakaman para sahabat dan isteri-isterin Nabi dan Ahlul Bayt Nabi, mungkin orang sama sekali tidak bisa mengetahui nilai sejarahnya. Rezim Saudi ingin melupakan nilai historis dari kompleks pemakaman ini.
Imam Ali sama sekali tidak melawan atau melakukan tindakan balasan atas perlakuan rezim Abu Bakar sepeninggal Rasulullah karena Imam Ali tidak ingin perlawanannya menimbulkan perpecahan di kalangan Muslimin. Umat Islam akan terpecah-pecah kedalam berbagai kelompok kepentingan dan itu tak bisa dihindarkan kalau Imam Ali melawan. Imam Ali dan keluarga Nabi terpaksa mengorbankan dirinya sebagai tumbal untuk persatuan dan keutuhan umat Islam. Imam Ali selama ini tidak melawan meskipun ada tindakan-tindakan kejahatan yang dilakukan kepada Fathimah sebelum maupun setelah Nabi wafat. Imam Ali tidak melawan karena Imam Ali telah diperintahkan oleh Rasulullah untuk bersabar, akan tetapi kesabaran itu sampai pada batas yang telah ditentukan. Ketika Imam Ali menerima berita bahwa rezim Abu Bakar akan membongkar kuburan Fathimah, Imam Ali dengan segera mengenakan pakaian perangnya dan bergegas menuju pemakaman Jannat al-Baqi. Seseorang dari mereka berteriak melihat kedatangan Imam Ali, “Ini Ali bin Abu Thalib datang dengan menghunus pedangnya dan berkata: “Barangsiapa ada yang berani untuk membongkar makam puteri Nabi walaupun ia hanya memindahkan sebuah batu darinya, aku akan memukul punggungnya dengan pedang hingga orang terakhir dari kalian, wahai kaum yang dzalim.”
Orang-orang yang tahu benar akan keseriusan Imam Ali segera mundur teratur melihat ancaman itu bukan hanya sekedar bualan. Mereka sadar bahwa Imam Ali akan melaksanakan ancamannya kepada orang yang berani mengganggu kuburan isterinya, Fathimah. Pada waktu itu, ada seorang suruhan dari pemerintah yang berkuasa yang datang dengan gemetar menghadap Imam Ali sambil berkata: “Ada apa gerangan, ya Abbal Hasan? Demi Allah, kami ini akan menggali kuburannya dan membawa jasadnya keluar untuk kami shalatkan.”
Imam Ali menjambak pakaian orang itu dan mengguncang-guncangnya kemudian melemparkannya ke tanah jauh sekali dan kemudian berkata: “Wahai anaknya Sawada! Aku telah lama mengabaikan hakku dan kewajibanku untuk melindungi orang-orang dari mencampakkan keyakinannya…………akan tetapi demi kuburan Fathimah dan demi DIA yang jiwaku ada di tanganNya, apabila engkau dan para pengikutmu berusaha untuk membongkar kuburan Fathiimah, maka saksikanlah…………aku akan menggenangi tanah ini dengan darah kalian!”
Pada saat-saat kritis seperti ini akhirnya Abu Bakar datang tergopoh-gopoh dan menggigil ketakutan sambil berkata: “Wahai Abu Al-Hasan, aku memohon kepadamu demi hak Rasulullah dan demi DIA yang ada di Arasy; tinggalkanlah lelaki itu dan kami berjanji tidak akan melakukan apapun yang engkau tidak sukai.”
Akhirnya hingga saat ini detik ini, lokasi dari kuburan Fathimah (as) tetaplah misteri………tak seorangpun yang tahu.
fatimah2
Fathimah az-Zahra (as) telah berwasiat agar dikuburkan pada malam hari. Permintaannya agar kuburannya disembunyikan merupakan pesan tersendiri yang ingin disampaikan lewat rintang sejarah hingga ke masa yang akan datang. Fathimah Az-Zahra (as) ingin agar pesan ini sampai kepada seluruh umat Islam………….pesan yang menyatakan bahwa keluarga Nabi telah disia-siakan dan didzalimi serta hak-haknya dirampas oleh rezim yang berkuasa. Dan ini bisa menjadi titik balik sejarah di kehidupan seseorang yang hanya mengetahui satu versi sejarah yaitu sejarah yang ditulis dan diajarkan penguasa dan diindoktrinkan ke dalam sel-sel darah umat Islam.
Fathimah Az-Zahra membangkitkan kehidupan dari kematian; memberikan kemenangan dari kekalahan; dan sebuah cerita kepahlawanan dan perdamaian dari jaman ke jaman ia ciptakan dari hidupnya yang penuh kepedihan. Fathimah menciptakan sebuah revolusi di setiap jantung kaum Muslim yang sadar dari satu generasi ke generasi lainnya. Jantung Fathimah masih berdetak di sela-sela detak jantung umat Islam. Dan kedua belah matanya terjaga menunggu bendera kebebasan yang akan berkibar bersama dengan kedatangan puteranya yang ditunggu-tunggu yaitu Imam Mahdi (as).
Sekarang ini, seperti juga pada jaman-jaman lainnya yang telah lalu, kita semua menghadapi kepedihan dan penindasan. Kita harus bersabar dalam menghadapi kepedihan ini. Kita harus meneruskan pesan Fathimah ini ke generasi selanjutnya. Kita harus sampaikan penderitaan keluarga Nabi ini kepada generasi kita dan selanjutnya agar mereka tahu bahwa Rasulullah dan misi keIslamannya telah mendapatkan tekanan dari orang-orang terdekatnya dan Islam telah dicampuri dan dikotori oleh mereka.

AL QURAN MENYURUH MENJAGA SEMUA PENINGGALAN AHLULBAIT, MENGHORMATI PENINGGALAN SEJARAH ITU TERMASUK SYIRIK (?)

DAFTAR KUBURAN DAN TEMPAT SUCI YANG MENGALAMI PENGHANCURAN

Kompleks pekuburan Al- Mu’allah di kota Mekah dimana di dalamnya ada makam Sayyida Khadija binti Khuwailid—isteri Rasulullah, kemudian makam dari bunda Amina binti Wahab—ibunya Rasulullah, kemudian Abu Thalib—paman Rasulullah, ayahanda dari Imam Ali—yang sangat dicintai dan mencintai Rasulullah yang jasanya untuk Islam sangat besar.
makam-bibi-amena
Makam Aminah binti Wahab, ibunda dari Rasulullah. Sekarang hancur dan hanya berupa tumpukkan batu tak terurus. Kaum Wahabi dan rezim Saudi adalah dalang dan pelaku dari penghancuran ini.
KOMPLEKS PEMAKAMAN BAQI SEBELUM TRAGEDI PENGHANCURAN TERJADI



KOMPLEKS AL-BAQI SETELAH DIHANCURKAN WAHABI DAN REZIM SAUDI

 

KOMPLEKS AL-BAQI ITU DENGAN LATAR BELAKANG KOTA MADINAH

KOMPLEKS PEMAKAMAN DARI ATAS DENGAN LATAR BELAKANG KOTA MADINAH

PETA LOKASI KUBURAN PARA SAHABAT DAN ANGGOTA KELUARGA NABI DI KOMPLEKS AL-BAQI






BEBERAPA MAKAM LAIN DI AL-BAQI DAN AL-MU’ALLA



KUBURAN IMAM HASAN DAN 3 ORANG IMAM LAINNYA





KUBURAN ANGGOTA KELUARGA AHLUL BAYT

KUBURAN IBRAHIM PUTERA RASULULLAH
Ibrahim adalah putera tercinta Rasulullah. Ia meninggal ketika masih kecil. ibunya ialah Ummul Mu’minin Sayyidah Maria Qutbia He was beloved son of prophet (saw). He passed away in his child hood. His mother was um-ul-momeeneen Syeda Maria Qutbia yang kuburannya juga bisa anda temukan di Al-Baqi.
KUBURAN HALIMAH 

Halimah Sadia adalah ibu susuan dari Rasulullah. Dialah yang menyusui Rasulullah ketika Rasulullah masih bayi.
KUBURAN ISTERI-ISTERI RASULULLAH DI MADINAH

Semua isteri Rasulullah dikuburkan di sini kecuali Khadijah binti Khuwailid yang dimakamkan di Mekah di Jannat al-Mu’alla.


KUBURAN SAFIA

di paling kiri adalah kuburan Safia dan di tengah adalah kuburan Atika dan di sebelah kanan adalah kuburan dari Ummul Baiza–semuanya adalah bibi-bibi dari Rasulullah

Sayyida Safia dikenali masuk Islam. Ia sangat mencintai Rasulullah yang merupakan keponakannya itu. Ia adalah seorang wanita yang pemberani. Ia ikut dalam peperangan Uhud bersama para prajurit Muslimin lainnya. Ia bekerja menolong para prajurit yang terluka. Ia juga memberikan dan menyediakan suplai makanan dan minuman untuk para tentara yang bertempur di medan perang.


KUBURAN PARA PUTERI NABI

Berikut adalah makam para puteri Nabi

No1. Syeda Zainab R.A
No2. Syeda Umm-e-Kulsoom R.A
No3. Syeda Ruqiya R.A



KUBURAN DARI PAMAN NABI, ABBAS BIN ABDUL MUTTALIB

Ini adalah kuburan salah satu dari paman Nabi yang masuk Islam selain Sayyidina Hamzah yang gugur di Uhud dan Abu Thalib yang dikuburkan di Mekah



MAKAM DARI JAFFAR BIN ABI THALIB DAN AQIL BIN ABI THALIB, SEPUPU DARI RASULULLAH

 

Selain itu ada juga makam dari Abdul Muttalib, kakek Rasulullah
Makam dari Bunda Hawa, isteri nabi Adam, di Jeddah
Makam ayahnya Rasulullah, Abdullah, di kota Madinah
Rumah Duka (Bayt Al-Ahzan) milik Sayyidah Fathimah, di kota Madinah
Mesjid Salman Al-Farisi, di kota Madinah
Mesjid Raj’at Asy-Syams, di kota Madinah
Rumah kediaman Rasulullah di kota Madinah, dimana ia tinggal setelah berhijrah dari kota Mekah
Rumah kediaman Imam Ja’far As-Sadiq, di kota Madinah
Kompleks Bani Hasyim, di ota Madinah
Rumah Imam Ali dimana Imam Hasan dan Imam Husein dilahirkan
Rumah Hamza dan kuburan-kuburan para syuhada perang Uhud

MENGAPA KITA HARUS MENJAGA SEMUA PENINGGALAN ISLAM?

ويريكم آياته فأي آيات الله تنكرون
“Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?” (QS. Al-Mukmin: 81)
Allah Ta’ala yang maha tahu dan maha kuasa telah menyebutkan ungkapan “tanda-tanda kekuasaan Allah” (آياته) beberapa kali dalam Al-Qur’an. “Tanda-tanda kekuasaan Allah” (آياته) itu bisa berbentuk tempat-tempat tertentu, kejadian-kejadian tertentu, orang-orang tertentu, musibah-musibah tertentu, dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun hanya satu hal yang bisa kita lihat dari Al-Qur’an ketika ia berbicara tentang “tanda-tanda kekuasaan Allah” (آياته) yaitu bahwa semuanya itu untuk mengingatkan manusia akan keberadaan Allah; rizkiNya yang selalu mengalir kepada manusia dan makhluk lainnya; pengampunanNya kepada maklukNya; kasih sayangNya; kemarahanNya; dan segala sifat yang dinisbahkan kepadaNya. Oleh karena itu, tempat-tempat ini; simbol-simbol atau lambang-lambang; kejadian yang bersejarah; dan orang-orang tertentu yang memiliki arti dalam sejarah yang kesemuanya itu bisa menjadi peringatan bagi umat manusia, bisa memperkuat ikatan cinta dan kepasrahan diri kepada Allah. Kesemua tanda-tanda kekuasaan Allah itu harus kita hormati, kita jaga dan kita ingat bukan saja sebagai sesuatu yang sakral akan tetapi juga sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan semangat dan kekuatan (kalau Ka’bah, misalnya dihancurkan, maka seluruh kaum Muslimin akan bersatu dan melupakan perbedaan diantara mereka. Mereka bersatu untuk mengutuk orang atau kelompok yang melakukan penghancuran itu. Jadi, Ka’bah itu mendatangkan kekuatan yaitu kekuatan pemersatu umat Islam—red).
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang tanda-tanda kekuasaan Allah maka tanda-tanda itu biasanya digunakan untuk mengingatkan umat manusia agar senantiasa berbuat baik dan selalu ingat padaNya. Oleh karena itu, selain “tanda-tanda tertentu” yang disebutkan oleh Al-Qur’an, “tanda-tanda lainnya yang tidak disebutkan spesifik” seperti pengorbanan Ibrahim; pelajarah dari Imam Husein di Karbala; sifat-sifat dan perbuatan Rasulullah sehari-hari; tempat suci seperti mesjid Nabawi dan Ka’bah suci semuanya bisa memperkuat hubungan manusia dan kedekatan manusia dengan sang maha pencipta. Oleh karena itu, sekali lagi, kita harus memelihara dan menjaganya agar tetap lestari dan memberikan fungsi yang kuat sekali untuk mengingat Illahi.
Kita tidak cukup beruntung karena kita dilahirkan di zaman dimana semua kejadian dan peristiwa itu tidak pernah kita saksikan. Oleh karena itu, kita  semua harus melihat semua kejadian dan peristiwa yang tidak pernah kita saksikan itu lewat peninggalan-peninggalan sejarah (dalam ilmu sejarah disebutrelics—red). Dengan alasan itulah maka kita harus menjaga semua peninggalan bersejarah itu dan bukan malah menghancurkannya. Dan tidak salah kalau kita memperkuat rasa cinta kita dan keyakinan kita dengan memelihara peninggalan-peninggalan bersejarah yang terpampang di hadapan kita untuk mengingat mereka yang telah berjasa mengajarkan Islam kepada kita dan akhirnya kita bisa juga memperkuat keyakinan kita akan adanya Tuhan bersama kita karena orang-orang yang mengajarkan tentang keberadaan Tuhan itupun kita yakini keberadaannya.
Itu adalah alasan yang kuat mengapa kaum Muslimin melestarikan sumur Zamzam (dan percaya ia bisa menyembuhkan atau mendatangkan keajaiban karena Tuhan—red); kemudian melestarikan Hajar Aswad; mempercantik kota Madinah; menjaga gua Hira; (walaupun untuk yang dua terakhir pemerintah Saudi tidak memiliki keyakinan sama sekali akan keberkahan yang disemburatkannya—red). Sebagian Muslimin juga menghormati tanah Karbala dan lain-lain selain tempat-tempat suci lainnya seperti tempat untuk melontar Jumrah dan Maqam Ibrahim (disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai tempat beribadah yang harus dihormati juga)………Bentuk-bentuk simbolis dan benda-benda peninggalan bersejarah ini kesemuanya membentuk ikatan yang kuat antara kita dengan pribadi-pribadi agung yang telah mengenalkan ajaran dan mengajarkan akhlak yang mulia kepada kita.

MENGHORMATI PENINGGALAN SEJARAH ITU TERMASUK SYIRIK (?)

Ada sementara orang yang karena kejahilannya mengira bahwa Tauhid itu artinya kita hanya mencintai dan menghormati Allah saja. Mereka menganggap bahwa mencintai dan menghormati peninggalan bersejarah itu sebagai suatu bentuk kemusyrikan saja karena kita telah menyekutukan rasa cinta dan hormat kita kepada Allah dengan kecintaan dan rasa hormat kita kepada selain Allah. Untuk itu mereka mengutuk perbuatan tersebut di atas. Poin yang mereka ajukan ialah: mencintai seseorang selain mencintai Tuhan itu adalah perbuatan syirik. Mereka tidak pernah memahami mengapa seseorang itu menghormati maqam Ibrahim (tempat Ibrahim as. berdiri ketika Ka’bah dibangun—red)? Kita menghormati maqam Ibrahim itu bukan karena kita ingin menyembah sebuah batu atau sebuah tempat. Yang kita lakukan ialah menghidupkan kembali ingatan kita ketika Nabi Ibrahim as—yang kita cintai—sedang berdiri di sana. Karena kita mencintai Nabi Ibrahim, maka kita akan terpesona oleh tempat-tempat dimana beliau pernah berada. Kita mencintai Nabi Ibrahim karena Nabi Ibrahim sudah mencintai Allah demikian kuatnya dan Allah juga sudah mencintai Ibrahim dengan kecintaan yang dasyhat pula………oleh karena itu kita ingin menjadi bagian dari rasa kecintaan itu. Cinta yang mengalir antara Allah dan Ibrahim itu semuanya bermula dan bermuara; berujung dan berpangkal dari dan kepada Allah yang maha pencipta (Ibrahim mencintai Allah dan Allah mencintai Ibrahim. Karena kita mencintai Ibrahim maka Allah akan mencintai kita karena kita telah mencintai apa yang dicintai oleh Allah. Karena kita tidak pernah bertemu dengan Ibrahim maka apapun yang berhubungan dengannya kita cintai semuanya. Kita cintai ajarannya; kita cintai peninggalannya; kita cintai jejak rekam perbuatannya. Semua peninggalan Ibrahim—termasuk tempat dimana ia berdiri—kita hormati dan kita cintai. Kaum Wahabi gagal memahami ini—red).
Lihatlah ayat Al-Qur’an berikut ini:
“Ikhlaslah kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (QS. Al-Hajj: 31)
Kemudian lihat ayat berikutnya di surat yang sama:
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al-Hajj: 32)
Itu adalah definisi yang jelas tentang kemusyrikan. Menduakan Allah itu tidak boleh hukumnya dan orang-orang yang melakukannya akan menjadi orang-orang hina—derajatnya jatuh dari tempat yang tinggi (mulia) ke tempat yang rendah (hina). Akan tetapi Alah memperbolehkan dan menyuruh kita untuk mengagungkan syiar-syiar (tanda-tanda kekuasaan) Allah dan Allah malah menyebutnya sebagaisesuatu yang timbul dari ketakwaan hati.
Oleh karena itu, menghormati tanda-tanda kekuasaan Allah itu diperbolehkan malah diperintahkan.
Ayat lain mengatakan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah: 2)
Dalam ayat itu secara jelas diterangkan bahwa kita harus menghormati dan menjaga keselamatan orang-orang yang pergi menuju ke tempat-tempat suci untuk tujuan mencari keberkahan dari Allah. Bahkan hewan-hewan kurban dan bulan-bulan suci harus dihormati dan dijaga kesuciannya (jangan dikotori dan jangan diganggu—red).
Akhirnya, untuk menyanggah tuduhan “syirik” yang dialamatkan oleh orang-orang yang menolak tanda-tanda kekuasaan Allah dan bahkan ingin menghilangkan kecintaan orang padanya atau menghancurkan semua tanda-tanda kekuasaan Allah itu , cukuplah kiranya kita mengajukan sebuah ayat sebagai berikut:
“……… Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar” (QS. Lukman: 32)

Imam Ali merupakan ilmuwan yang mewariskan ilmu sains kepada syi’ah nya

MEMBAGI WARISAN

dot
mathematical.brillianceImam Ali bin Abi Thalib (as) diberkahi kemampuan matematis yang sangat cepat, akurat, dan lugas. Berikut ini ada beberapa kisah dimana Imam Ali (as) menggunakan kemampuan matematisnya yang ia tunjukkan kepada orang-orang.
Berapa bagian sang isteri?
Imam Ali (as) pada suatu ketika pembicaraannya dipotong oleh seseorang. Ketika itu Imam Ali sedang memberikan khutbah di atas mimbar dimana seseorang bertanya tentang bagaimana membagikan warisan seseorang yang meninggal meninggalkan seorang isteri, kedua orang tuanya, dan dua orang anak perempuan. Imam Ali tanpa berpikir sejenakpun langsung saja menjawab tanpa menghitung dan tanpa berpikir terlebih dahulu:
Bagian si isteri itu sepersembilan
Bagaimana itu bisa terjadi?
Jawaban ini ternyata merupakan sebuah perhitungan yang sangat panjang dengan serangkaian langkah yang rumit. Biasanya kita harus menentukan dulu pembagi dari setiap angka itu dengan pembagi aslinya terlebih dahulu seperti yang ditentukan oleh Allah dalam Al-Qur’an seperti:
1. “……… Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu……” (QS. An-Nisa: 12)
2. “………. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, …….” (QS. An-Nisa: 11)
3. ‘………… dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan………” (QS. An-Nisa: 11)
Jadi penghitungan sebagai berikut:
1/8 + 1/6 + 1/6 + 2/3 = 3/24 + 4/24 + 4/24 + 16/24 = 27/24
Ini artinya bahwa bagian itu menjadi kurang dari 1/8 dilihat dari bertambahnya jumlah total bagian yang telah ditentukan. Jadi satu perdelapan—yaitu bagian yang asli bagi wanita dari 24 bagian (total), menjadi tiga bagian dari 27 yaitu satu persembilan! Sungguh perhitungan yang rumit! Akan tetapi Imam Ali (as) menghitungnya dengan sangat cepat dan tanpa berpikir sama sekali!

ANGKA BULAT SEMUA DAN BUKAN PECAHAN

Pada suatu hari seorang Yahudi datang menemui Imam Ali (as). Orang Yahudi itu berpikir karena Imam Ali (as) itu sangat cerdas dan tak ada yang menandinginya waktu itu, maka ia akan memberikan pertanyaan yang sangat berat kepada Imam Ali (as). Pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab olehnya. Dan itu artinya ia bisa mempermalukan Imam Ali di hadapan seluruh bangsa Arab.
Orang Yahudi itu bertanya, “Imam Ali bin Abi Thalib, berilah aku satu angka yang apabila angka itu dibagi oleh angka lainnya dari 1 hingga 10, maka jawabannya selalu angka yang genap dan bukan pecahan.”
mathImam Ali bin Abi Thalib (as) melihat kepada orang Yahudi itu dan berkata, “Ambillah jumlah hari dalam satu tahun dan kalikan angka itu dengan jumlah hari dalam satu minggu dan engkau akan mendapapatkan angka itu.”
Orang Yahudi itu dibuat keheranan akan tetapi karena ia itu telah menjadi seorang yang musyrik (penyembah berhala), maka ia tidak beriman kepada Imam Ali (as). Ia mencoba untuk menghitung angka yang dimaksud oleh Imam Ali dan kemudian ia sekali lagi dibuat terheran-heran. Kalau tadi ia terheran-heran karena Imam Ali menjawab dengan cepat sekali tanpa perhitungan sama sekali; sekarang ia dibuat heran karena hasil dari perhitungan itu tepat sekali. Lihatlah penghitungannya di bawah ini:
Jumlah hari dalam satu tahun = 360 (perhitungan Arab yang menggunakan kalender bulan)
Jumlah hari dalam satu minggu = 7
Jumlah hari dalam satu tahun dikali dengan jumlah hari dalam satu minggu = 2520
Sekarang lihatlah angka itu dibagi dengan angka-angka dari 1 hingga 10 yang hasilnya harus genap:
2520 ÷ 1 = 2520

2520 ÷ 2 = 1260

2520 ÷ 3 = 840

2520 ÷ 4 = 630

2520 ÷ 5 = 504

2520 ÷ 6 = 420

2520 ÷ 7 = 360

2520 ÷ 8 = 315

2520 ÷ 9 = 280

2520 ÷ 10= 252

MEMBAGI 17 EKOR UNTA

camelSeseorang sudah hampir meninggal dan sekarang dalam keadaan sekarat. Sebelum meninggal ia menulis sebuah surat wasiat sebagai berikut:
“Aku memiliki 17 ekor unta dan aku memiliki 3 anak laki-laki. Bagikanlah unta-unta itu sehingga anak tertua mendapatkan setengah bagian; yang kedua mendapatkan sepertiga bagian; dan anak yang ketiga mendapatkan sepersembilan bagian dari unta-unta itu”

Setelah ia meninggal ributlah seluruh keluarga yang ditinggalkan demi membaca surat wasiat yang aneh ini. Mereka kebingungan dan berkata satu sama lainnya menunjukkan rasa kebingungannya. Mereka tidak tahu bagaimana cara membagi ke 17 ekor unta itu kepada anak-anak yang ditinggalkan mati ayahnya itu.
Setelah mereka berpikir keras akhirnya mereka menyimpulkan bahwa hanya ada satu orang di jazirah Arab ini yang bisa menolong mereka yaitu ALI BIN ABI THALIB (as).
Jadi………….berangkatlah mereka menuju rumah Imam Ali (as). Sesampainya di rumah Imam Ali mereka langsung mengajukan surat wasiat itu dan menanyakan jawaban penyelesaian dari masalah yang ada di surat wasiat itu.
Imam Ali tanpa berpikir panjang langsung menjawab, “Baiklah, aku akan membagi semua unta itu sesuai dengan surat wasiat yang dimaksud.”
“Pertama-tama  aku akan meminjamkan seekor untuk menggenapkan jumlah unta itu menjadi 18 ekor (17 + 1= 18), lalu sekarang mari kita bagi ke 18 unta itu sesuai dengan surat wasiat.”
“Anak yang tertua mendapatkan 1/2 bagian (dari 18 ekor) jadi ia mendapatkan 9 ekor unta”
“Anak yang kedua mendapatkan 1/3 bagian (dari 18 ekor) jadi ia mendapatkan 6 ekor unta”
“Anak yang ketiga mendapatkan 1/9 bagian (dari 18 ekor) jadi ia mendapatkan 2 ekor unta’
“Semuanya jumlah total yang dibagikan ialah 9 ditambah 6 ditambah 2 jadi 17 ekor unta”
“Sisa satu ekor unta” “Aku akan mengambil kembali untaku yang aku pinjamkan tadi.”

LIMA POTONG ROTI

five.loaves.of.breadZarr Bin Hobeish menceritakan kisah ini: “Dua orang pengelana duduk bersama untuk menyantap makan siang mereka. Mereka sudah jauh berjalan dan sekarang mereka akan beristirahat sejenak. Salah seorang dari mereka memiliki 5 potong roti. Sementara yang lainnya memiliki 3 potong roti. Seorang pengelana lain datang ke tempat mereka dan si pengelana itu ditawari untuk duduk bersama untuk melepaskan lelah sambil makan siang bersama.
Para pengelana itu memotong-motong roti itu semuanya, masing-masing kedalam tiga bagian yang sama. Setiap pengelana itu memakan 8 potongan kecil roti.
Ketika si pengelana ketiga yang ditawari makan itu akan beranjak pergi ia memberikan uang sejumlah 8 dirham dan memberikannya kepada orang pertama yang telah menawari dia makan roti. Kemudian ia pergi. Ketika menerima uang itu kedua pengelana itu mulai bertengkar satu sama lainnya karena mereka berselisih paham tentang siapakah yang berhak mendapatkan uang lebih banyak dan berapa banyak yang akan ia terima.
Yang memiliki roti 5 potong menghendaki 5 dirham. Sedangkah yang memiliki 3 potong roti ingin uang itu dibagikan sama rata untuk keduanya.
Pertengkaran itu sampai kepada Imam Ali. Mereka dibawa menghadap Imam Ali karena mereka bertikai di jalanan. Pada waktu itu Imam Ali sudah menjabat menjadi khalifah dan ia selalu memberikan keputusan yang sangat adil dibandingkan dengan para khalifah yang sudah berlalu sebelumnya.
Imam Ali (as) meminta orang yang memiliki 3 potong roti untuk menerima uang sebanyak 3 dirham, karena orang yang memiliki 5 potong roti sudah sangat adil padanya. Yang memiliki 3 potong roti menolak keputusan itu dan ia berkata bahwa ia ingin mendapatkan 4 dirham. Demi mendengar ini, Imam Ali (as) menjawab, “Engkau sebenarnya hanya layak mendapatkan satu dirham saja.” Coba hitung, kalian memiliki 8 potong roti besar semuanya. Setiap potongan besar roti itu dipotong menjadi 3 bagian kecil  sehingga kalian mendapatkan 24 potongan kecil roti. Roti engkau itu ada 3 potong dan kemudian masing-masing dipotong 3 bagian menjadi 9 potongan kecil. Engkau memakan 8 potongan kecil dan menyisakan satu potongan kecil saja untuk si pengelana yang tadi memberikan uang kepadamu. Sedangkan kawanmu ini memiliki 5 potong besar roti dan masing-masing dipotong kedalam 3 bagian kecil. Jadi ia memiliki 15 potong roti kecil. Ia makan 8 potong kecil dan sisanya yang 7 potong diberikan kepada si pengelana yang memberi kalian uang tadi. Jadi si pengelana ketiga itu mendapatkan satu potong kecil dari engkau dan 7 potong kecil dari temanmu ini. Kalau si pengelana itu memberikan kalian uang 8 dirham untuk 8 potong kecil roti itu, maka engkau memang berhak untuk satu dirham saja, sementara temanmu itu berhak mendapatkan 7 dirham.”

MEMBAGI UNTA MENJADI TIGA

dot[4]
camel1Tiga orang laki-laki sedang membagi seekor unta kedalam tiga bagian yang sama besarnya. Salah seorang dari mereka mengikat dua kaki depan unta itu; kemudian ia meninggalkannya untuk bekerja di ladang. 2 orang yang lain melihat unta itu diikat kaki depannya, maka mereka memutuskan untuk melepaskan ikatannya hingga cuma satu kaki saja yang terikat. Setelah itu keduanya berangkat. Ketika 3 orang itu pergi, unta itu berjalan menjauh dari tempat dimana ia diikat. Ia bisa berjalan menjauh karena hanya satu kaki depannya saja yang terikat. Ia berjalan menjauh hingga tiba-tiba ia terperosok kedalma sebuah sumur. Ketika 2 orang tadi datang, mereka merasa bersalah telah melepaskan kaki unta itu. Mereka akhirnya menyembelih untan itu dan dagingnya dibawa ke pasar untuk dijual.
Ketika orang yang satu kembali dari kerjanya, ia hanya mendapati kulit unta yang sedang dijemur. Usut punya usut ternyata 2 orang temannya telah menyembelih unta itu dan sedang menjual dagingnya. Ia tentu saja keberatan karena unta yang hidup akan memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada daging unta. Kerugian yang diderita sudah pasti datang padanya.
Ia kemudian mengadukan kasus itu kepada Imam Ali (as) yang akhirnya memutuskan untuk memberinya 1/3 dari harga unta itu ketika unta itu masih hidup. Ketika uang sudah didapatkan dari hasil penjualan daging itu, ternyata harganya sama persis dengan harga 1/3 unta itu kalau unta itu masih hidup.
Uang itu akhirnya semuanya diberikan kepada orang yang pertama dan dua orang lagi pergi dengan tangan hampa.
Ketika mereka akan pergi, Imam Ali berkata kepada keduanya bahwa mereka berdua telah lalai dalam menjaga unta itu hingga akhirnya unta itu masuk sumur dan terluka parah sekali hingga harus segera disembelih. Sementara temannya sudah berusaha semaksimal mungkin agar unta itu tetap pada tempatnya dengan mengikat kedua kaki depannya. Jadi kerugian yang diderita harus ditanggung oleh 2 orang dari mereka. Kerugian itu bukan kerugian orang yang pertama.

Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93

Anomali Sunni :
a. Thalhah bin  Ubaidillah di ancam  Allah SWT pada  QS. al Ahzâb[33];53 karena bersikap tidak senonoh
.
b. Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
c. Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas. Kok Sahabat bunuh sahabat sich ??
.
Akal saya sulit mencerna kontradiksi  ini…
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS. 4:93)
.
Wajarlah mazhab syi’ah imamiyah pantas menjadi AL Firqatun Najiyah alias satu satunya Firqah yang selamat
Posted on 31 Agustus 2009 by UMMATie

Di tengah eforia kemenangannya dalam pemilu Iran yang telah lama  digelar, Ahmadinejad sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad saw.

Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu—lebih gila lagi—disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.

Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua mengikuti Muawiyah!”

Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.

Benarkah ???

Thalhah dan Zubair Membantu Mu’awiyah melalui PERANG JAMAL, walaupun PERANG JAMAL bukan dipimpin Mu’awiyah namun akibat provokasi Mu’awiyah yang memanas manasi 

Umar bin Khattab berkata kepada Thalhah : “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum Rasul Allah wafat, ia marah kepadamu kerana kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saw wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”. Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53

Di bahagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”.

Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah. Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan: “Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya” Dan di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’

Tiada seorang nabi yang diganggu kaumnya seperti Nabi Muhammad saw. diganggu kaumnya!

Dan tiada nabi yang lebih sabar  dari Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi gangguan kaumnya, baik yang kafir maupun yang munafik atau yang lemah imannya!

Serta tiada dosa melebihi dosa mengganggu Allah dan Rasul-Nya! Allah melaknat dan mencampakkan ke dalam siksa pedih-Nya sesiapa yangberani-berani mengganggu rasul-Nya!

Allah SWT. berfirman:

إِنَّ الَّذينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذاباً مُهيناً.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. al Ahzâb[33] ;57)

Keterangan:

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir berkata, “Allah berfirman sembari mengancam dan manjanjikan siksaan atas sesiapa yang mengganggu-Nya dengan melanggar perintah-perintah-Nya dan menerjang larangan-larangan-Nya serta berterus-terus dalam melanggar. Allah juga mengancam sesiapa yang mengganggu Rasul-Nya dengan menisbatkan aib atau cacat –kami berlindung kepada Allah darinya-…. .” Dan setelah menyebutkan perselisihat pendapat para ahli tafsir tentang siapa atau kelompok mana yang dimaksud dengannya, di antaranya adalah pendapat Ibnu Abbas ra. bahwa yang dimaksud dengannya  adalah para sahabat yang mengganggu Nabi saw. terkait dengan pernikahan beliau saw. dengan Shaifyah binti Huyai ibn Akhthab, ia melanjutkan, “Yang zahir bahwa ayat itu bersifat umum untuk siapapun yang mengganggu beliau dengan bentuk gangguan apapun. Maka barang siapa mengganggu beliau berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah. Sebagaimana ta’at kepada beliau adalah ta’at kepada Allah.”[1]

Asy Syaukani menjelaskan makna mengganggu dengan: “Tindakan apapun yang tidak disukai Allah dan rasul-Nya berupa maksiat. Sebab mustahil Allah terganggu. Adapun makna la’nah (laknat) adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah. Dan Allah menjadikan ganjaran itu di dunia dan di akhirat agar mereka diliputi laknat sehingga tidak tersisa waktu hidup dan mati mereka melainkan laknat/kutukan Allah mengena dan menyertai mereka.”[2]

Dalam ayat di atas Allah menegaskan bahwa siapapun yang mengganggu Rasulullah saw. berarti ia menganggu Allah, sebab seorang rasul selaku rasul tidak lain adalah utusan Allah, maka siapapun yang mengganggunya berarti sebenarnya ia sedang bermaksud mengganngu Allah. Dan Allah mencancam bagi yang mengganngu-Nya dan mengganggu Rasul-Nya dengan kutukan/ laknatan yang akan mengena dan menyertainya di sepanjang kehidupan dunia dan akhiratnya, selain Allah siapkan siksa yang menghinakan kelak di hari kiamat ketika mereka dicampakkan ke dalam api neraka!

Allah mengancamnya dengan laknat yang artinya –seperti telah disebutkan- adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT. Dan rahmat Allah yang khusus bagi kaum Mukmin adalah berbentuk bimbingan kepada keyakinan yang benar/haq dan hakikat keimanan yang akan diikuti dengan amal shaleh. Jadi dijauhkan dari rahmat di dunia berkonsekuensi terhalanginya orang tersebut dari mendapatkan rahmat tersebut di atas sebagai balasan atas kejahatannya. Dan ia akan menyebabkan terkuncinya hati dari menerima kebenaran, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

لَعَنَّاهُمْ وَ جَعَلْنَا قُلُوبَهُم قاسِيَةً.

“Kami laknati mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al Mâidah [5];13)

Sebagaimana mata hati mereka menjadi buta dan telinga battin mereka menjadi tuli. Allah SWT berfiaman:

أُلئكَ الذين لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُم و أَعْمَى أَبْصارَهُمْ.

“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad [47];23)

Inilah ganjaran mereka yang menggangggu Rasulullah saw. di dunia. Adaapun ganjarang atas mereka di akhirat nanti adalah dijauhkan dari rahmat kedekatan Allah. Mereka dihalau dari mendapat anugrah-Nya. Dan setelah itu Allah menambahkan lagi dengan firman-Nya: “dan (Allah) menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang menghinakan mereka, karena daahulu di dunia mereka mengganggu Rasulullah saw. sebagai bentuk kecongkakan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka sekarang mereka dibalas dengan kehinaan abadi.

Salah Satu Bentuk Mengganggu Nabi saw.

Para ulama ahli tafsir Sunni menyebutkan bahwa di antara sikap yang mengganggu dan menyakitkan hati Nabbi saw. adalah ucapan sebagian sahabat bahwa ia akan menikahi seorang dari istri beliau saw. jika nanti beliau mati. Maka Allah merekam sikap tidak senonoh tersebut dalam firman-Nya:

وَ ما كانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَ لا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْواجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَداً إِنَّ ذلِكُمْ كانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظيماً.

“….Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. al Ahzâb[33];53)

Keterangan:

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah (dengan melanggar perintahnya baik yang terkait dengan sikap kalian terhadap istri-istri beliau atau dalam masalah-masalah lain) dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu ( menikahi istri-iastri beliau sepeninggal beliau)adalah (dosa yang) amat besar (dosanya) di sisi Allah.

Ayat ini mengesankan secara kuat bahwa sebagian sahabat telah menyebut-nyebut niatan/ucapan yang disebut di dalamnya bahwa ada di antara mereka yang berniat menikahi istri-istri Nabi saw. sepeninggal beliau saw.

Beberapa riwayat telah direkan para Ahli Hadis bahwa yang berbicara tidak sononoh itu adalah salah seorang sahabat Nabi saw. Sementara beberapa riwayat lainnya menegaskan bahwa sahabat yang dimaksud adalah Thalhal ibn Ubaidillah.

Jalaluddin as Suyuthi menyebutkan dalam kitab tafsir ad Durr al Mantsûr-nya delapan riwayat dalam masalah ini dari para muhaddis kenamaan Ahlusunnah, di antaranya adalah:

(1)   Ibnu Jarir ath Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Ada seorang datang menemui salah seorang istri Nabi saw. lalu berbincang-bincang dengannya, ia adalah anak pamannya. Maka Nabi saw. bersabda, ‘Jangan kamu ulang lagi perbuatan ini setelah hari ini!’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Dia adalah anak pamanku dan aku tidak berbincang-bincang yang munkar kepadanya dan dia pun tidak berbicara yang munkar kepadaku.’ Nabi saw. bersabda, ‘Aku mengerti itu. Tiada yang lebih cemburu dibanding Allah dan tiada seorang yang lebih pecemburu dibanding aku.’ Lalu ia meninggalkan Nabi kemudian berkata, ‘Dia meralangku berbincang-bincang dengan anak pamanku, jika ia mati aku benar-benar akan menikahinya.’ Maka turunlah ayat itu. …. “

(2)   Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as Siddi ra., ia berkata, “Telah samapai kepada kami berita bahwa Thalhah berkata, ‘Apakah Muhammad menghalang-halangi kami dari menikahi wanita-wanita suku kami, sementara ia menihaki wanita-wanita kami setelah kematian kami? Jika terjadi sesuatu atasnya (mati_maksudnya) aku akan nikahi istri-istrinya.” Maka turunlah ayat ini.

(3)   Abdurrazzâq, Abdu ibn Humaid dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Qatadah ra., ia baerkata, “Thahlah berkata, ‘Jika Nabi wafat aku akan nikahi ‘Aisyah ra.” maka turunlah ayat: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat… “

(4)   Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Bakar ibn Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm tentang firman Allah: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat….”, ia berkata, “Ayat ini turun untuk Thalhah ibn Ubaidillah, sebab dia berkata, ‘Jika Rasulullah saw. aku akan nikahi Aisyah ra.’”[3]

Wallahu A’lam.

Khulashah:

Dari keterangan di atas dimengerti bahwa karenan Allah SWT. tidak mungkin menimpa-Nya gangguan apapun baik secara fisik maupun non fisik karena Dzat Allah Maha suci dari mengalami itu semua. Maka Allah menetapkan manusia-manusia suci pilihan-Nya sebagai barometer gangguan kepada Allah. Nabi Muhammad saw. adalah barometer tersebut! Sesiapa yang mengganggu Nabi Muhammad saw. maka berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah SWT. Sebab beliau adalah duta Allah dan hamba pilihan-Nya!


[1] Tafsir al Qur’an al Adzîm; Ibnu Katsir,4/517.

[2] Fathul Qadîr,4/302-303.

[3] Baca ad Durr al Mantsûr,5/403-404, Tafsir Fathul Qadîr,4/298-300, tafsir Ibnu Katsir,3/506, Tafsir Ma’âlim at Tanzîl,5/273, dll.

Apabila kita melihat sejarah maka kita akan terkesima karena para sahabat ternama ternyata terlibat dalam peperangan besar. Para sahabat seperti Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam, Mu’awiyyah bin Abu Sofyan, Amr bin Ash, Al-Naaman bin Basyir, dan Samurah bin Jundub terlibat dalam pembunuhan kaum Muslimin. ‘Aisyah binti Abu Bakar sendiri malah menjadi kepala penyerangan terhadap khalifah yang syah pada waktu itu yaitu Ali bin Abi Thalib. A’isyah beserta Thalhah dan Zubayr menjadi tiga serangkai yang menyerang khalifah Ali bin Abi Thalib dalam perang saudara yang disebut dengan perang unta atau Perang Jamal. Puluhan ribu sahabat terbunuh dalam peristiwa itu. Mereka menyerang Imam Ali bin Abi Thalib karena ingin menjadikan salah satu dari Thalhah atau Zubayr menjadi khalifah menggantikan Imam Ali bin Abi Thalib yang sangat tidak disukai oleh ‘Aisyah. Ketidak sukaan ‘Aisyah terhadap Ali sudah terkenal dalam sejarah
.
Pembunuhan yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin yang didasari oleh nafsu duniawi sama sekali tidak dibenarkan oleh Islam. Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya” (QS. An-Nisaa: 93)
.
Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
Sangatlah tidak masuk di akal apabila memasukkan nama-nama mereka kedalam kelompok para sahabat yang shaleh dan beriman dan sangat tidak masuk di akal juga apabila kita masih mau mengambil hadits-hadits dari mereka karena ada kemungkinan hadits yang mereka laporkan dipenuhi kepentingan politis di dalamnya
.
Ada memang sekelompok orang yang menganggap mereka sebagai orang baik-baik dan shaleh karena mereka katanya termasuk orang-orang yang menganut Islam pertama kali dari kalangan penduduk Makah dan Madinah. Mereka juga dianggap sebagai orang yang pernah hadir dalam bait ar-ridhwan  (mereka yang mengikat bai’at kesetiaan di bawah pohon) setelah perjanjian Hudaybiyah. Oleh karena itu, (masih menurut klaim mereka), orang-orang tersebut di atas orang-orang ridha terhadap Allah dan Allah ridha kepada mereka. Dan barangsiapa pernah diridhai atau disukai oleh Allah maka Allah takkan pernah marah lagi kepada mereka (itu masih menurut klaim mereka)
.
maka memang dengan jelas kita bisa melihat bahwa ada sekelompok sahabat nabi yang merupakan penduduk kota Makah dan Madinah yang akan mendapatkan balasan berupa surga yang di dalamnya ada kebun-kebun subur dan sungai-sungai mengalir dimana mereka akan tinggal kekal bersama para penghuni surga yang lain
.
Akan tetapi yang menjadi masalah ialah bahwa Mu’awiyyah dan Amr bin Ash tidak termasuk kedalam orang yang dimaksud oleh ayat ini bersama ayat tentang bai’at kesetiaan di bawah pohon. Mereka berdua bukan orang yang masuk Islam pertama kali. Mereka juga bukan kaum imigran atau Muhajirin dari kota Makah. Mereka juga tidak pernah hadir dalam bait ar-ridhwan. Amr bin Ash itu terpaksa masuk Islam  setelah perjanjian Hudaybiyyah. Sementara Mu’awiyyah juga tidak memiliki alternatif lain selain memeluk Islam untuk menyelamatkan kehidupannya setelah peristiwa penaklukan kota Makah
.
Lebih jauh lagi kita tidak menemukan apapun dalam al-Qur’an itu yang menyiratkan bahwa orang-orang yang sudah diridhai atau disukai oleh akan bebas dari murka Allah. Pernyataan seperti itu hanya datang dari mereka yang terlalu memuja-muja para sahaba Nabi sehingga luput dari mengenali kebenaran
.
Sangat sukar sekali dibayangkan apabila Allah memberikan kekebalan hukum secara permanen kepada orang yang berbuat baik pada suatu waktu dan kemudian berbuat sangat jahat di waktu lainnya. Tidak bisa dibayangkan bahwa Allah akan mema’afkan orang-orang yang pernah membunuh ribuan orang beriman setelah sebelumnya pernah berbuat baik (bukankah para ulama itu percaya bahwa ada sekelompok orang yang mati dalam keburukan atau biasa disebut dengan su’ul khatimah?)
.
Kalau memang kekebalan hukum itu ada untuk para sahabat, maka bisa saja seorang sahabat nabi itu tidak menjalankan (atau malah menentang) ajaran yang diajarkan dalam Al-Qur’an (seperti larangan membunuh orang tanpa dosa) atau ajaran yang diajarkan langsung oleh Nabi kepada dirinya
.
Akan tetapi kita tidak akan mempercayai hal ini karena Allah sendiri pernah berfirman kepada Rasulullah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS. Al-An’am: 15)
.
Apabila para sahabat itu boleh menafsirkan ayat-ayat Qur’an dan sabda Rasulullah sekehendak hatinya (sampai mereka bisa membunuh kaum Muslimin tanpa dosa), maka bisa saja mereka mengeluarkan fatwa bahwa shalat wajib 5 kali dalam sehari semalam itu adalah sunnah dan bukan kewajiban! Bisa saja mereka berdalih, “Kami menganggap bahwa kata-kata aqiimus shalah itu artinya kita boleh atau sunnah untuk melakukan shalat. Karena dalam kata-kata itu tidak dijelaskan apakah kita harus berdiri, kemudian rukuk kemudian sujud dan seterusnya. Tidak juga dijelaskan bahwa kita harus membaca Al-Qur’an di dalamnya atau membaca syahadat di dalamnya. Kita cukup saja berdo’a kepada Allah untuk memohonkan ampun dan meminta rizki atau memohon untuk dipanjangkan umur karena kata “Shalat” itu sendiri artinya berdo’a
.

APA KATA RASULULLAH TENTANG MU’AWIYYAH

Berikut ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya:
“Rasulullah (saw) pada suatu hari menyuruh Ibnu Abbas untuk mengundangnya (Mu’awiyyah) agar datang ke rumah Rasulullah untuk menuliskan sesuatu untuknya. Ibnu Abbas menemukan Mu’awiyyah sedang makan dengan lahapnya (Mu’awiyyah tidak bisa memenuhi undangan Nabi). Rasulullah kemudian mengirimnya (Ibnu Abbas) sekali lagi kepada Mu’awiyyah, dan Ibnu Abbas sekali lagi melihatnya masih dalam keadaan makan. Kejadian ini berulang hingga tiga kali hingga Rasulullah berkata:
“Semoga Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”
(Lihat: Muslim, Shahih, volume 5, halaman 462 dalam Kitab Keramah-tamahan, Kedermawanan, dan Sopan Santun; dalam sebuah bab tentang seseorang yang pernah dikutuk oleh Rasulullah (edisi Dar al-Sha’b) seperti yang dikutip oleh al-Nawawi dalam Sharh-nya)
.

Juga dalam Shahih Muslim ada tulisan berikut: “Rasulullah berkata:

.
‘………adapun Mu’awiyyah, ia itu seorang pengangguran dan seorang pemalas’
(Lihat: Al-Bukhari, Shahih, volume 3, halaman 693)
.
Dalam Musnad-nya Imam Ahmad, Rasulullah diriwayatkan pernah berkata seperti berikut ini tntang Mu’awiyyah dan ‘Amr bi Ash:
.
“Ya Allah! Lemparkanlah mereka kedalam permusuhan sesegera mungkin, dan masukkanlah mereka kedalam api neraka,”. Masih ada beberapa lagi riwayat yang menggambarkan Mu’awiyyah (yang kerapkali disebut sebagai “Amirul Mukminin” atau “Pemimpin Orang-orang Yang Beriman” oleh sebagian kaum Muslimin yang memujanya). Mu’awiyyah adalah anak dari seorang ibu yang berani memakan jantung Sayyidina Hamzah pada peperangan Uhud. Mu’awiyyah menutup hidupnya dengan mengangkat anaknya Yazid bin Mu’awiyyah seorang pemuda yang memiliki sifat hedonis—suka berpoya-poya, bermabuk-mabukan dan melakukan perzinahan—sebagai khalifah bagi kaum Muslimin
.
Sungguh pemimpin yang sangat tidak bijak karena merelakan umat untuk dipimpin oleh makhluk terburuk yang pernah lahir ke dunia ini. Yazid waktu itu baru berusia 20 tahun ketika ia menjabat menjadi khalifah. Pengangkatan Yazid itu merupakan pelanggaran atas kesepakatan yang telah dijalin oleh Mu’awiyyah bersama dengan Imam Hasan (as). Selengkapnya perjanjian damai antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah itu adalah sebagai berikut.

PERJANJIAN DAMAI DAN SYAHIDNYA IMAM HASAN (AS)

Setelah kesyahidan Imam Ali (as) (karena dibacok oleh Ibnu Muljam ketika sedang shalat Shubuh), Imam Hasan (as) naik ke atas mimbar dan orang-orang Kufah pada waktu itu memberikan bai’at kesetiannya kepada Imam Hasan (as) sebagai khalifah pengganti ayahnya; dan orang-orang Kufah menginginkan Imam Hasan (as) menjadi pemimpin umat Islam secara keseluruhan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Akan tetapi hal ini ternyata hanya berlangsung hingga enam bulan saja
.
Ketika kabar tentang syahidnya Imam Ali (as) itu sampai ke Syiria, Mu’awiyyah memimpin pasukan yang besar sekali dan berangkat menuju Kufah (pusat pemerintahan Islam pada waktu itu karena Imam Ali memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah karena Imam Ali selalu dirongrong kekuasaannya oleh para sahabat senior dari Rasulullah—red). Mu’awiyyah menyerbu Kufah untuk merampas khilafah dari Imam Hasan (as). Imam Hasan dipaksa untuk menyerah kepada Mu’awiyyah
.
Demi melihat keadaan genting yang bisa menyebabkan pertempuran yang besar sekali dan melibatkan seluruh umat Islam, maka Imam Hasan (as) tidak punya pilihan lain selain berdamai dengan Mu’awiyyah demi melindungi kaum Muslimin dari perang saudara yang besar. Imam Hasan (as) tidak ingin darah kaum Muslimin tertumpahkan hanya karena mereka saling membunuh satu sama lain karena keduanya ingin memperebutkan kursi kekhalifahan. Imam Hasan (as) tidak seperti para pemimpin Arab saat ini yang lebih memilih untuk bertahan dan mengorbankan rakyatnya untuk kekuasaannya. Imam Hasan (as) mencintai rakyatnya dan ia tidak mau darah umat tertumpah gara-gara ia mempertahankan kekuasaan yang tidak ada apa-apanya di hadapan Imam
.
Selain itu Imam Hasan melihat ada bibit perpecahan di kalangan tentaranya sendiri yang sudah berhasil disuap oleh mata-mata Mu’awiyyah. Ditambah dengan kondisi politis yang tidak stabil di Irak (dan Kufah terletak di Irak!); ditambah lagi dengan ancaman dari negara lain—Kekaisaran Romawi sedang mengintai dan melihat peluang yang matang untuk menyerbu umat Islam. Jadi seandainya perang itu terjadi antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah, maka kemungkinan besar yang akan keluarg menjadi pemenang justeru kekuatan di luar Islam yaitu kekaisaran Romawi karena siapa saja yang menang perang akan berkurang kekuatannya setelah peperangan berakhir dan kekaisaran Romawi akan dengan mudah menyerang dan melumpuhkan umat Islam
.
Imam Hasan langsung memilih opsi untuk melakukan perjanjian damai untuk melepaskan umat Islam dari ancaman bahaya yang jauh lebih besar lagi. Perjanjian damai yang disepakati dengan Mu’awiyyah adalah sebagai berikut:
  1. Imam Hasan harus menyerahkan kekhalifahan dan urusan umat Islam kepada Mu’awiyyah dengan syarat bahwa Mu’awiyyah harus mengurus dan mengatur umat dengan berdasarkan Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
  2. Kursi khilafah—apabila Mu’awiyyah meninggal lebih dulu—harus segera dan langsung diserahkan kepada Imam Hasan (as). Apabila ada sesuatu yang terjadi kepada Imam Hasan, maka kursi khilafah akan diserahkan kepada adiknya, Imam Husein (as).
  3. Semua kutukan dan laknat terhadap Imam Ali harus dihentikan baik itu yang dilakukan di mimbar-mimbar maupun yang dilakukan di tempat lainnya.
  4. Uang sebanyak 5 juta dirham yang ada di baytul mal di Kufah sepenuhnya akan dijaga dan diawasi oleh Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah harus mengirimkan sebanyak 1 juta dirham tiap tahun untuk pajak khiraj kepada Imam Hasan (as) yang akan disalurkan langsung kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh para syuhada pada perang Unta dan perang Siffin yang bertempur di pihak Imam Ali.
  5. Mu’awiyyah harus bersumpah untuk tidak mengganggu umat manusia dari kalangan manapun tanpa memandang ras, suku, dan agama. Mu’awiyyah tidak boleh mengejar-ngejar mereka; menyakiti mereka dan ia harus bersumpah akan melaksanakan seluruh isi perjanjian ini dan berjanji untuk menjadikan umat manusia sebagai saksinya
    .
Akan tetapi kemudian yang terjadi benar-benar menyesakkan dada. Imam Hasan (as) syahid terbunuh pada tahun 50H (670 masehi). Imam Hasan (as) meninggal dibunuh dengan racun yang dibubuhkan oleh isterinya sendiri yang bernama Ju’dah binti Al-Ash’ath ibn Qays. Isteri Imam Hasan ini berasal dari keluarga yang memiliki kehidupan dan keyakinan yang berbeda dengan kehidupan dan keyakinan yang dimiliki oleh keluarga atau keturunan Imam Ali (as). Mu’awiyyah menyuruh Ju’dah untuk memberikan racun kepada makanan yang akan dimakan oleh Imam Hasan (as) dengan terlebih dahulu mengirimkan uang sebanyak 100,000 dirham dan sebuah janji kepadanya bahwa sepeninggal Imam Hasan (as), Ju’dah akan dinikahkan kepada puteranya Mu’awiyyah yaitu Yazid bin Mu’awiyyah
.
Mu’awiyyah tertawa kegirangan di istananya demi mendengar kematian Imam Hasan (as). Ia merasa telah mengangkat duri dalam daging yang mengganggu kehidupannya siang dan malam. Dengan itu maka impiannya yaitu mengangkat anaknya, Yazid, seorang pemuda mesum, akan segera menjadi kenyataan. Tinggal satu orang lagi yang masih mengganggu pikirannya. Ia adalah Imam Husein (as).

Imam Ali bin Abi Thalib bersama kelompok Nakitsin (perang Jamal)
Para pencetus fitnah

Pembaiatan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib AS. oleh mayoritas kaum muslimin laksana petir yang menyambar bagi Quraisy dan bagi mereka yang memusuhi Islam. Mereka tahu bahwa pemerintahan Ali bin Abi Thalib adalah kepanjangan tangan pemerintahan Rasulullah saw yang merendahkan dan menghina kezaliman, permusuhan dan pemberontakan. Pemerintahan yang membawa nilai-nilai keadilan, persamaan dan kebenaran. Pemerintahan yang mengumumkan perang terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi yang berlandaskan riba, monopoli dan eksploitasi. Pemerintahan yang memberikan hak yang sama kepada para tokoh Quraisy dengan masyarakat lainnya dari manapun ia. Itu setelah mereka mendapat perlakukan istimewa di zaman Usman.

Thalhah dan Zubeir keduanya melihat dirinya setara dengan Ali bin Abi Thalib. Hal itu dikarenakan keduanya adalah sama-sama kandidat dalam syura yang dibentuk oleh Umar bin Khatthab untuk dipilih menjadi khalifah. Setidak-tidaknya, bila tidak menjadi khalifah mereka mendapat bagian menguasai sebagian dari negara Islam. Sementara Aisyah memiliki posisi yang cukup diperhitungkan oleh khalifah-khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib sebagaimana terlihat pada zaman itu ia dapat berbicara apa saja yang diinginkannya. Saat ini ia tahu benar bahwa kebebasan yang seperti itu tidak akan didapatkannya lagi di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib yang senantiasa bersandarkan Al-Quran dan Sunah sebagai sumber perundang-undangan dan eksekutif.

Di Syam, Muawiyah bin Abu Sufyan berlaku bagaikan penguasa mutlak yang tidak berada di bawah pemerintah pusat. Ketamakannya akan kekuasaan untuk memimpin umat Islam membuatnya ia mengatur urusan kaum muslimin secara mutlak. Muawiyah bin Abu Sufyan dan kroniknya tiba-tiba dikejutkan dengan aturan-aturan Imam Ali bin Abi Thalib AS. yang melakukan perbaikan sesuai dengan langkahnya mendapatkan kenyataan bahwa posisi yang didapatkan di zaman Usman bin Affan sedang dalam terancam. Keberadaan Imam Ali bin Abi Thalib AS. di puncak piramida kekuasaan dianggap sebagai ancaman bagi garis kebijakan para khalifah sebelumnya yang menguntungkan Quraisy. Hal itu dikarenakan Imam Ali bin Abi Thalib mampu untuk mengangkat kembali bendera Islam dan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ia pasti akan membuka kedok penyelewengan yang selama ini terjadi tanpa ada rasa khawatir sedikit pun.

Dari sini mereka sepakat memunculkan fitnah untuk mencegah kestabilan pemerintah yang baru. Adanya elemen-elemen yang memusuhi pandangan dan perjalanan pemerintahan Islam yang sah tidaklah aneh bagi Imam Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw telah memberitahukannya bahwa pada masa pemerintahannya akan ada kelompok-kelompok pemberontak yang menentangnya. Nabi juga mengatakan bahwa ia akan memerangi mereka sebagaimana kelompok-kelompok ini, dinamai oleh Rasulullah dengan Nakitsin, Qasithin dan mariqin

.

Aisyah mengumumkan pemberontakan

Posisi Ummul Mukminin Aisyah pada Usman bin Affan adalah sangat aneh dan kontradiktif yang tidak pantas disandang oleh seorang wanita, istri Nabi. Ia berkali-kali berkata, ‘Bunuh Na’tsal (orang tua yang bego, Usman bin Affan)! Aisyah juga mengajak orang-orang untuk membangkang terhadap Usman dan bahkan membunuhnya. Ia keluar dari kota Madinah menuju Mekkah di tengah-tengah pengepungan Usman bin Affan. sebelum terjadi pembunuhan Usman. pengharapannya sangat besar agar Usman cepat terbunuh, ia ingin sekali Thalhah, yang masih keluarga dekatnya menjadi khalifah.

Sekonyong-konyong harapan Aisyah buyar karena pemerintahan berada di tangan Ali bin Abi Thalib setelah umat Islam membaiatnya. Aisyah membatalkan rencananya menuju Madinah dan kembali ke Mekkah. Di Mekkah ia menampakkan kesedihan dan keteraniayaannya atas kematian Usman bin Affan. Ada yang bertanya kepadanya, ‘Bukankah engkau yang mengajak orang untuk membunuhnya dan sekarang engkau berubah pikiran dengan alasan yang terlalu sederhana’. Ia menjawab, ‘mereka telah memintanya agar bertaubat namun kemudian tetap membunuhnya. Ucapannya memberikan kesan seakan-akan ia hadir di tempat kejadian dan menyaksikan pembunuhan Usman bin Affan.

Aisyah mengumumkan perang terhadap Imam Ali bin Abi Thalib dalam pidato yang diucapkannya di Mekkah dengan memberi semangat pendukungnya untuk perang.

Ketamakan Aisyah tidak cukup sampai di sini saja, ia mengajak istri-istri Nabi untuk ikut bersamanya memerangi Imam Ali bin Abi Thalib. Aisyah

kecewa karena ajakannya tidak bersambut. Para istri Nabi tidak ada yang mau ikut dengannya memerangi Ali bin Abi Thalib

.

Selain tidak ikut, Ummu Salamah malah menasihatinya untuk tidak melanjutkan niatnya. Alasannya sederhana agar tidak terjadi pertumpahan darah antar sesama muslimin

.

Aisyah menjawab, ‘Engkau sebelumnya termasuk orang yang mengajak untuk membunuh Usman. Setiap kali engkau berbicara mengenai Usman niscaya dengan bahasa yang buruk. Engkau tidak pernah memanggilnya selain dengan kata Na’tsal. Engkau juga tahu bagaimana posisi Ali bin Abi Thalib di sisi Rasulullah saw. Apakah aku perlu mengingatkanmu tentang hal ini? Ummu Salamah menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika Nabi datang dan kita bersamanya. Bagaimana Nabi bersama Ali bin Abi Thalib berduaan dengan menghamparkan sebuah alas di sebelah kiri kemudian keduanya berbicara agak lama. Melihat percakapan mereka sedemikian lamanya, engkau ingin menuju ke arah mereka dengan kesal namun aku menahanmu tapi engkau tetap bersikeras menuju ke arah mereka. Yang membuatku heran pada waktu itu adalah mengapa engkau kembali sambil berderaian air mata. Aku kemudian ingin mengetahui apa yang terjadi padamu sehingga kutanya, ‘Apa yang terjadi denganmu? Pada waktu itu engkau menjawab, ‘Aku menerobos ke arah keduanya ternyata mereka lagi berdialog. Aku lalu menatap Ali dan berkata kepadanya, ‘Aku tidak punya waktu bersama Rasulullah saw kecuali satu hari dari sembilan hari yang dimilikinya. Apakah engkau mau meninggalkan aku bersama hariku? Nabi kemudian mengarahkan wajahnya membelakangi Ali bin Abi Thalib dan menatapku. Ia tampak marah wajahnya kemerah-merahan saking marahnya dan kemudian berkata, ‘Kembali ke tempatmu! Demi Allah, orang yang membenci Ali bin Abi Thalib, siapa pun dia, berarti telah keluar dari imannya’. Mendengar itu aku kembali ke tempatku menyesali apa yang telah kulakukan namun aku marah besar terhadap Ali bin Abi Thalib’. Aisyah mengangguk dan berkata, ‘Aku ingat apa yang kau ucapkan’. Ummu Salamah kemudian menambahkan, ‘Apa yang membuat harus keluar memerangi Ali bin Abi Thalib setelah kejadian ini? Aisyah menjawab, ‘ Aku keluar melakukan ini untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan mendamaikan mereka. Aku hanya ingin mendapat balasan dari Allah swt’. Ummu Salamah menyela,’Itu engkau dan pikiranmu’. Mendengar itu Aisyah langsung pergi dari situ

.

Diriwayatkan bahwa istri-istri Nabi keluar bersama Aisyah sampai pada sebuah tempat bernama Dzatu ‘Araq. Tampaknya penyertaan mereka adalah usaha untuk menggagalkan keinginan Aisyah ke Madinah agar tidak terjadi fitnah. Ketika dirasa bahwa usaha mereka sia-sia mereka kemudian menangis bersama-sama karena membayangkan apa yang akan terjadi dengan Islam. Orang-orang yang ikut bersama mereka ikut pula menangis. Pada hari itu disebut dengan hari An-Nahib (hari ratapan)

.

Perbuatan makar Muawiyah dan pelanggaran janji baiat dari Zubeir dan Thalhah

Muawiyah bin Abu Sufyan menikmati kekuasaannya di Syam. Ia memiliki alat-alat dan pendukung yang dapat digerakkan sesuai dengan keinginannya. Di samping itu, ia tidak memiliki masalah dengan masyarakat Syam karena kota Syam semenjak mengenal Islam itu dibarengi dengan pengenalan mereka kepada keluarga Abu Sufyan dan Muawiyah adalah gubernur yang ditunjuk oleh khalifah. Sebelum Muawiyah, saudaranya Yazid menjadi gubernur di sana yang kemudian digantikannya. Dan Muawiyah diuntungkan karena letak geografis Syam jauh dari ibu kota Islam yang memberinya kekuatan yang cukup untuk menyusun kekuatan. Dengan memperhatikan semua ini, Muawiyah bin Abu Sufyan mulai melaksanakan ide-idenya untuk membesarkan api fitnah yang sudah mulai menyala dengan pembunuhan Usman bin Affan. Ia memanfaatkan kondisi ini untuk meraih tujuan-tujuannya. Ia berbicara kepada Zubeir dan Thalhah dan mengompori keduanya agar ketamakan akan kekuasaan yang ada dalam dirinya semakin kuat muncul ke permukaan dan dengan itu secara serius memasuki medan pertempuran dengan Ali bin Abi Thalib yang pada gilirannya menambah besar cakupan fitnah di ibu kota. Ia mengirimkan surat kepada Zubeir yang isinya:

‘Kepada Amir Mukminin Zubeir dari Muawiyah bin Abu Sufyan. Salam untukmu. Aku membaiatmu atas nama rakyat Syam. Mereka mendengar perintah dan akan menaatimu. Kuasailah kota Kufah dan Basrah karena Ali bin Abi Thalib tidak dapat mendahuluimu bila engkau telah lebih dahulu berkuasa di sana. Kedua kota ini adalah segala-galanya. Bila engkau telah menguasai keduanya sama artinya engkau telah menguasai yang lain. Aku telah membaiat Thalhah bin Ubaidillah sebagai khalifah sepeninggalmu. Tunjukkan tuntutanmu akan darah Usman bin Affan dan ajak manusia mengikuti langkahmu. Tentunya ini semua akan berhasil bila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah memenangkan kalian berdua dan mengalahkan musuh kalian’

.

Ketika surat Muawiyah bin Abu Sufyan sampai di tangannya ia betul-betul gembira dan merasa yakin dan percaya akan kebenaran niat Muawiyah. Ia bersama Thalhah kemudian sepakat untuk melanggar baiat terhadap Ali bin Abi Thalib. Langkah pertama yang diambil adalah menunjukkan penyesalan mengapa melakukan baiat kepada Ali bin Abi Thalib. Dan kedua, mengajak Aisyah ikut dalam gerakannya untuk memberi dukungan. Untuk dapat menarik Aisyah, oleh keduanya kemudian menyusun rencana untuk ikut bersama mereka. Diriwayatkan bahwa keduanya datang dan menuntut haknya untuk ikut dalam pemerintah Imam Ali bin Abi Thalib setidak-tidaknya sebagai pejabat dalam pemerintahannya namun keduanya gagal karena Ali bin Abi Thalib tidak menerima. Kemudian mereka berdua ingin bergabung dengan Aisyah dan untuk itu meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Mekkah mengerjakan umrah. Imam Ali bin Abi Thalib memberikan izin sambil berkata, ‘Baiklah. Demi Allah! Kalian tidak benar-benar hendak melakukan umrah. Yang akan kalian lakukan adalah ingin melakukan sesuatu untuk posisi kalian’. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib berkata kepada keduanya, ‘Bahkan kalian ingin melakukan pengkhianatan’

.

Mereka yang melanggar janji dan baiatnya kepada Ali bin Abi Thalib berkumpul di rumah Aisyah di Mekkah setelah sebelumnya orang-orang ini adalah penentang keras Usman bin Affan. Zubeir, Thalhah dan Marwan bin Hakam bergabung dengan mereka dan sepakat menjadikan darah Usman bin Affan sebagai simbol perlawanan mereka kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka mengangkat baju Usman sebagai bentuk penentangan dan Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling bertanggung jawab terjadinya pembunuhan Usman bin Affan. Hal itu disimpulkan dari sikap Ali bin Abi Thalib yang melindungi dan keengganan Ali bin Abi Thalib untuk membalas dendam kepada mereka. Mereka sepakat untuk pergi ke Basrah mendudukinya dan menjadikannya sebagai pusat gerakan dan peperangan mereka menghadapi Ali bin Abi Thalib dan pasukannya sementara Muawiyah menguasai daerah Syam sedangkan Madinah senantiasa dalam kondisi tidak aman

.

Pergerakan Aisyah menuju kota Basrah

Aisyah tetap bersikeras untuk tetap melanjutkan apa yang telah direncanakan untuk mengobarkan fitnah dan langsung terjun secara langsung berperang dengan Imam Ali bin Abi Thalib AS. selaku khalifah yang sah. Aisyah mengumpulkan sejumlah orang yang punya kedengkian terhadap Islam dan Ali bin Abi Thalib serta ditambah dengan para spekulan kekuasaan. Ya’la bin Muniyyah mempersiapkan persenjataan untuk mereka mulai dari pedang dan unta yang dicurinya dari Yaman ketika Imam Ali bin Abi Thalib mengusirnya ke sana. Datang juga Abdullah bin ‘Amir membantu sejumlah besar uang dari Basrah yang juga dicurinya dari sana. Mereka menyiapkan sebuah unta khusus untuk Aisyah yang diberi nama Askar. Posisi Aisyah berada di tengah pasukan dan dilindungi dengan mengitarinya Bani Umayyah. Aisyah dengan posisi seperti ini berada paling depan dan pasukan besar mengiringnya dari belakang menuju kota Basrah. Sebelum sampai ke Basrah, surat yang ditulis untuk beberapa tokoh Basrah telah sampai terlebih dahulu. Isi surat itu mengajak mereka untuk sama-sama dengannya merobek perjanjian dan meninggalkan baiat yang telah dilakukan dengan alasan menuntut darah Usman.

Dimulailah usaha makar dan tipuan yang memang menjadi kebiasaan siapa saja yang ingin menentang Imam Ali bin Abi Thalib. Ketika pasukan Aisyah hendak keluar dari kota Mekkah, Marwan bin Hakam mengucapkan azan untuk melakukan salat. Ia mendatangi Thalhah dan Zubeir untuk mengadu domba antara keduanya dan pada suatu saat menguasai keduanya. Ia berkata, ‘kepada salah satu dari kalian kuserahkan kekuasaan padanya, dengan menjadi imam salat, dan aku meminta izin darinya untuk mengucapkan azan salat. Pengikut keduanya saling berlomba-lomba untuk mendudukan pemimpinnya sebagai yang paling utama untuk menjadi imam salat sebagai lambang kekhalifahan. Aisyah yang paling dahulu memahami apa yang akan terjadi karena kelihatannya pertikaian sudah di depan hidung. Ia kemudian mengutus Zubeir anak saudaranya untuk menjadi imam salat

.

Saat pasukan Aisyah memasuki sebuah tempat bernama Authas mereka bertemu denga Said bin Al-‘Ash dan Mughirah bin Syu’bah. Ketika Said mengetahui bahwa Aisyah mengklaim ‘menuntut darah Usman’, ia menertawakannya dan berkata, ‘Yang membunuh Usman adalah orang-orang yang bersamamu, wahai ummul mukminin!

.

Diriwayatkan, Said berkata, ‘Kalian hendak ke mana? Apakah kalian ingin meninggalkan dendam kalian di balik unta-unta yang lemah? Yang dimaksud dengan ucapannya adalah Thalhah, Zubeir dan Aisyah. Pasukan melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tempat yang bernama Hauab. Di pertengahan jalan mereka menemui sekelompok anjing yang menggonggong. Gonggongan itu menakutkan hati Aisyah yang membuatnya akhirnya bertanya kepada Muhammad bin Thalhah tempat yang sedang mereka lalui ini, ‘Air yang ada di sini disebut apa? Muhammad menjawab, ‘Air Hauab, wahai ummul mukminin’. Serentak badannya menggigil dan berteriak dengan lantang, ‘Kita harus kembali! Di tanya kepadanya, ‘Mengapa? Aisyah berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata, ‘Seakan-akan ada salah satu dari kalian (istri-istri Nabi), yang akan digonggong oleh anjing-anjing Hauab. Pada saat itu engkau, wahai Humaira (panggilan kesayangan Nabi untuk Aisyah), harus berhati-hati dan meninggalkan tempat itu. Aisyah kemudian menghentakkan kakinya agar untanya bergerak dan berkata, ‘Pulangkan aku! Demi Allah, akulah yang disebut oleh Rasulullah sebagai air Hauab dan aku harus kembali. Pasukan yang ada kemudian untanya di tahan sambil mengitarinya sehari semalam. Kemudian Abdullah bin Zubeir mendatanginya dan bersumpah di hadapannya, ‘Demi Allah di sini bukan tempat yang bernama Hauab’. Ia kemudian mendatangkan dua orang Arab badui dan dipaksanya keduanya untuk mengucapkan sumpah bahwa tempat ini bukan Hauab. Ini adalah sebuah sumpah yang diucapkan dengan paksaan yang pertama kali dicatat dalam Islam

.

Pertempuran-pertempuran kecil Basrah

Ketika pasukan Aisyah sampai di kota Basrah, Usman bin Hanif menjelaskan kepada masyarakat Basrah apa tujuan kelompok ini. Ia mewanti-wanti mereka untuk berhati-hati dengan mereka karena fitnah yang akan ditimbulkan pemimpin-pemimpinnya. Ia mengajak mereka yang ikhlas dan masih setia kepada Imam Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan dirinya mempertahankan kebenaran dan syariat Islam yang suci sekaligus menahan pasukan Nakitsin untuk menguasai kota Basrah

.

Usaha yang dapat dilakukan oleh Usman bin Hanif adalah memperlakukan Aisyah dengan segala penuh penghormatan sebagaimana layaknya akhlak Islam. Ia berusaha sebisa mungkin agar perang tidak terjadi. Ia mengutus kepada mereka Imran bin Hashin dan Abu Aswad Ad-Duali untuk berdiplomasi dengan Aisyah dan pengikutnya serta meyakinkan mereka bahwa sikap yang diambil ini adalah satu kesalahan besar. Akan tetap usaha ini menemui jalan buntu dan gagal. Aisyah dan Thalhah serta Zubeir yang senantiasa bersamanya bersikeras untuk tetap ingin mengobarkan api fitnah dan mengumumkan perang.

Aisyah dan pasukannya merangsek maju hingga mencapai daerah Al-Marbad. Para petinggi pasukan memasuki kota. Usman bin Hanif bersama penduduk kota Basrah keluar menemui mereka. Aisyah, Thalhah dan Zubeir mengajak orang-orang untuk meninggalkan janji baiat yang telah mereka ucapkan kepada Ali bin Abi Thalib dengan alasan menuntut darah Usman bin Affan. Orang-orang yang mendengar pidato ketiga orang itu langsung terbagi antara yang pro dan kontra

.

Budak wanita dari Ibn Qudamah As-Sa’di maju menemui Aisyah dan menasihatinya siapa tahu ia mau mengurungkan niatnya untuk mengobarkan api fitnah dan perpecahan. Ia berkata, ‘Wahai ummul mukminin! Demi Allah, orang-orang yang membunuh Usman bin Affan lebih rendah dari usahamu keluar dari rumah sambil menunggang unta terlaknat ini. Urungkanlah senjatamu! Sesungguhnya engkau memiliki kemuliaan tersendiri di sisi Allah namun sekarang engkau yang membuka penutup dirimu dan merusak kehormatanmu sendiri. Sesungguhnya siapa saja yang melihat engkau berperang pasti mengetahui bahwa suatu saat ia akan memerangimu. Bila engkau datang kepada kami dengan ketaatan maka lebih baik engkau pulang ke rumahmu. Dan bila engkau cengkal maka masyarakat akan membantuku’

.

Peperangan, gencatan senjata dan pengkhianatan

Kedatangan Aisyah ke kota Basrah membuat penduduk kota terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian setuju dengan cara pandang Aisyah dan sebagian lain tidak setuju. Mulailah perang mulut di antara mereka. Yang memisahkan mereka adalah malam ketika mereka harus istirahat dan tidur. Usman bin Hanif tetap bersikeras agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah. Ia berusaha untuk menjaga agar kota tetap dalam kedamaian sambil menunggu kedatangan Imam Ali bin Abi Thalib ke Basrah. Ketika akhirnya peperangan dimulai dari kedua belah pihak mereka sama-sama menginginkan perdamaian. Untuk itu dilakukanlah gencatan senjata. Perjanjian gencatan senjata berisikan permintaan untuk mengirim seorang utusan ke Madinah dan bertanya kepada penduduk kota Madinah. Bila Thalhah dan Zubeir memang melakukan baiat dengan dipaksa maka Usman bin Hanif harus keluar dari Basrah dan bila ternyata memang mereka ini melakukan baiat maka Thalhah dan Zubeir yang harus keluar dari kota Basrah.

Ka’ab bin Musawwir utusan yang dikirim oleh kedua belah pihak yang mengadakan gencatan senjata kembali dari Madinah dengan klaim Usamah bin Ziyad yang mengatakan bahwa memang benar ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah keduanya dipaksa untuk melakukan baiat sementara pandangan penduduk kota Madinah berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pendapat Usamah. Namun para komandan pasukan Aisyah mengambil pendapat Usamah dan pada malam harinya ketika hujan turun mereka langsung menyerang bangunan pemerintah dan membunuh setiap yang ada di sana kecuali Usman bin Hanif karena saudaranya, Sahl bin Hanif adalah gubernur Ali bin Abi Thalib di Madinah. Tidak membunuhnya tidak berarti Usman bin Hanif aman dari penyiksaan. Mereka mencabut bulu-bulunya mulai dari kepala, jenggot dan alisnya

.

Usaha Ali Menumpas Pemberontakan

Tatkala Ali bin Abi Thalib a.s. menerima tampuk kepemimpinan dan menjabat sebagai khalifah kaum muslimin, terdapat tantangan yang mengganggu kestabilan  pemerintahan pusat. Tantangan itu ialah penolakan Muawiyah bin Abu Sufyan untuk berbaiat kepadanya. Ali telah menyiapkan angkatan bersenjata yang setiap saat siap menjaga kestabilan negara dari ancaman para pemberontak. Demikian itu agar keamanan tetap terbina dan tidak terjadi pertumpahan darah di antara umat Islam.

Sebenarnya, pasukan itu disiapkan untuk menyerang Muawiyah. Dan karena mengetahui pasukan pemberontakan itu dikomandani oleh Aisyah, Thalhah dan Zubeir, Ali bin Abi Thalib memimpin pasukannya menuju Basrah. Pasukan ini diikuti oleh tokoh-tokoh dari kaum Anshar dan Muhajirin.

Setibanya di sebuah tempat yang bernama Rabadzah, Ali bin Abi Thalib menulis surat kepada pemerintah-pemerintah daerah untuk menambah personil dan menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi sehingga mereka ikut membantu memadamkan api fitnah dan menahannya agar tidak menyebar. Untuk itu, Ali mengirim dua utusan; Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Ja’far, ke Kufah. Di sana mereka menerangkan apa maksud kedatangan, sementara Abu Musa Al-Asy’ari, gubernur Kufah, tidak ingin terlibat dalam membantu Ali, sekalipun dalam berperan aktif guna menahan penyebaran fitnah.

Untuk kedua kalinya Ali bin Abi Thalib mengirim utusan. Ia adalah Abdullah bin Abbas. Ia pun tidak mampu meyakinkan Abu Musa untuk mndapatkan dukungannya; membantu dan menguatkan semangat warga Kufah untuk tetap memihaknya. Akhirnya, untuk kali yang ketiga, Ali bin Abi Thalib mengirim anaknya Hasan dan Ammar bin Yasir yang kemudian Malik bin Asytar ikut bergabung. Tugas mereka adalah menurunkan Abu Musa dari jabatannya. Dengan demikian, Kufah dengan segala kekuatannya memihak Ali dan bergabung dengan pasukannya di tempat bernama Dzi Qar.

Dalam pada itu, Ali bin Abi Thalib juga mengirim surat dan utusan kepada Thalhah, Zubeir dan Aisyah. Ia masih berharap dapat mengembalikan mereka ke jalan yang benar dan agar mereka menyadari bahwa langkah mereka itu sangat merugikan kepentingan segenap umat Islam. Hendaknya mereka juga berpikir untuk menghindarkan umat dari kesulitan, tantangan dan pertumpahan darah.

Ali mengirim utusan kepada Aisyah dan kelompoknya. Zaid bin Shuhan, Abdullah bin Abbas dan beberapa orang lain ditugaskan untuk berdialog dengan mereka. Setelah berargumentasi dengan teks-teks wahyu dan akal, Aisyah berkata kepada Ibnu Abbas: “Aku tidak mampu berargumentasi di hadapanmu”. “Bila engkau tidak mampu membela diri di hadapan makhluk, bagaimana engkau akan  membela diri di hadapan Al-Khaliq kelak?!”, demikian Ibnu Abbas menjawab

.

Nasihat Terakhir

Semakin mendekati pintu gerbang kota Basrah, Ali bin Abi Thalib a.s. lebih banyak lagi menyurati Thalhah dan Zubeir. Sedangkan Aisyah merasa khawatir dengan surat-surat tersebut. Kekhawatiran bisa dimengerti karena bisa jadi mereka berdua terpengaruh oleh ucapan dan argumentasi Ali.

Akhirnya, Aisyah memimpin pasukannya untuk menahan pasukan Ali. Ketika kedua pasukan telah berhadap-hadapan, Ali memerintahkan seseorang untuk berteriak menginstruksikan pasukannya: “Jangan ada yang melepaskan busur dari anak panahnya, tidak juga melemparkan batu dan tombak sampai jelas bagi mereka bahwa mereka telah mendengar bukti terakhir, dan tidak lagi punya alasan untuk mengingkarinya di kemudikan hari”.

Ketika Ali bin Abi Thalib melihat maksud keras mereka untuk berperang, ia keluar dari barisan pasukan menuju Zubeir dan Thalhah yang berada di antara dua barisan pasukan. Kepada kedua sahabat ini ia mengatakan: “Demi Allah! Kalian berdua telah menyiapkan pasukan dengan persenjataan lengkap, kuda dan bala tentara yang siap berperang. Bila kalian berdua mengerahkan semua ini karena alasan yang benar di sisi Allah, maka takutlah kepada-Nya. Jangan sampai kalian seperti seorang wanita yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat sehingga bercerai berai kembali. Bukankah aku saudara kalian dalam agama Allah? Kalian mengharamkan darahku dan aku mengharamkan darah kalian. Lalu, gerangan apakah yang tiba-tiba membuat darahku halal bagi kalian?”

Kemudian Ali bin Abi Thalib berbicara khusus kepada Thalhah: “Engkau membawa istri Rasulullah untuk berperang bersamanya, sementara engkau tinggalkan istrimu sendirian di rumah?! Apakah hanya dengan dalih tidak berbaiat kepadaku?!”

Lalu beliau berpaling kepada Zubeir dan berkata: “Selama ini, kami telah menganggapmu sebagai bagian dari Bani Abdul Mutthalib sampai anakmu menjadi bejat dan berusaha memisahkan kita”. Ali melanjutkan: “Wahai Zubeir! Masih ingatkah engkau; ketika bersama Nabi aku melintas kampung Bani Ghanim. Tiba-tiba Nabi melihatku lalu tertawa dan aku pun ikut tertawa. Kemudian engkau berkata kepada Nabi: ‘Jangan biarkan dia menjadi sombong’. Nabi menjawab teguranmu: ‘Dia, Ali bin Abi Thalib, bukanlah manusia sombong. Pada suatu hari nanti, engkau akan memeranginya dan engkau dalam posisi sebagai pihak yang dzalim!”

Mendengar kejadian itu, Zubeir menjawab: “Benar apa yang engkau katakan”. Diriwayatkan juga bahwa Zubeir lantas meninggalkan medan pertempuran, namun ia dibunuh di tempatnya yang jauh darinya. Sayangnya, itu terjadi setelah api fitnah telah menyala.

Sejarah berlanjut menuju PERANG JAMAL ::::

Qatadah meriwayatkan peristiwa berikut. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, Zubair menyeruak ke muka mengendarai kudanya dengan persenjataan lengkap. Orang-orang berkata kepada Ali, “Dia Zubair!” Karena itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Zubair diharapkan dari dua orang itu lebih mengingat Allah, sekiranya ia diberi peringatkan.” Thalhah juga maju ke hadapan Ali. Ketika Ali berhadapan dengan mereka, ia berkata, “Sesungguhnya kalian telah menyiapkan persenjataan, kendaraan, dan pasukan. Apakah kalian telah menyiapkan alasan di Hari Perhitungan ketika kalian menemui Tuhan kalian? Bertakwalah kepada Allah dan janganlah menjadi seperti seorang wanita yang menguraikan hasil tenunannya setelah selesai menenunnya! Bukankah aku adalah saudara kalian dan kalian meyakini kesucian darahku? Apakah ada yang menjadikannya halal sehingga kalian berani menumpahkan darahku?” Thalhah berkata, “Kalian telah memfitnah umat untuk memerangi Utsman.”

Ali bin Abi Thalib menjawab dengan mengutip ayat Quran, Pada hari itu (Hari Pembalasan), Allah akan membalas mereka dengan balasan yang adil, dan mereka akan mengetahui hal itu, sesungguhnya Allah adalah saksi yang nyata. (QS. 24:25) Lalu Ali melanjutkan, “Thalhah, apakah engkau berperang untuk menuntut darah Utsman? Semoga Allah mengutuk mereka yang telah membunuh Utsman. Zubair, ingatkah ketika engkau sedang bersama Rasulullah dan melewati Bani Ghunam dan ia melihat kepadaku dan tersenyum? Aku tersenyum kepadanya dan engkau berkata kepadanya, Ali bin Abi Thalib selalu sombong.” Rasulullah bersabda kepadamu, “la tidak sombong, engkaulah yang akan memeranginya dengan tidak adil!”

Dzahabi meriwayatkan, “Kami berada di tenda Ali bin Abi Thalib ketika terjadi Perang Unta. Saat itu Ali mengutus seseorang untuk menemui Thalhah agar ia berunding dengannya (sebelum perang dimulai). Thalhah maju ke depan dan Ali berkata kepadanya, “Aku ingatkan engkau atas nama Allah! Tidakkah engkau mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, Ali adalah juga maulanya. Ya Allah, cintailah orang-orang yang mencintainya, dan bencilah orang-orang yang membencinya!”‘ Thalhah menjawab, “Ya, aku mendengarnya.” Ali berkata, “Lalu mengapa engkau memerangiku?

Imam Ali as yg tau persis niat dan tujuan Aisyah, Thalhah dan Zubair, tau bhw tujuan mereka hanya utk menjatuhkan Imam Ali as dari Kekhalifahan bukan mencari pembunuh yg adalah mereka (Aisyah dan Thalhah) sendiri yg merencanakannya.

Akhirnya pecah perang. Dalam perang itu, Thalhah dibunuh oleh Marwan bin Hakam (Marwan ikut pasukan Aisyah membunuh Thalhah dari belakang) karena Marwan menyaksikan bahwa Thalhahlah yg mengayunkan pedang membunuh Utsman.

Demikian sejarah singkat yg saya simpulkan dari berbagai sumber.

Kesimpulannya: Karena berlomba-lomba dalam urusan duniawi mereka semua terjerumus.

[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Mereka (Aisyah dan para sahabat) telah diuji dalam urusan duniawi, dan kebanyakan mereka terbukti gagal oleh sejarah.
[6:119] Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas

Sebagaimana juga nasib akhir Thalhah yang kemudian dibunuh oleh Marwan bin Hakam di tempat yang juga jauh dari medan pertempuran

.

Perang Dimulai

Sebelum perang dimulai, Ali bin Abi Thalib a.s. sangat berharap kelompok Nakitsin itu pada akhirnya akan mengurungkan niat mereka. Ia tidak mengizinkan satu orang pun dari pasukannya untuk memulai peperangan, sekalipun ia melihat bagaimana para komandan pasukan Nakitsin itu sudah tidak sabar lagi untuk memulai peperangan. Kepada para pengikutnya, Ali berkata: :Tidak kuperkenankan seorang pun dari kalian memanah musuh dan tidak kuperbolehkan melempar tombak ke barisan musuh sampai mereka yang pertama memulai peperangan dan terjadi sesuatu ke atas kalian. Tunggulah sampai mereka memulai peperangan”.

Akhirnya, pasukan Jamal (unta) tidak lagi dapat menahan kesabarannya. Mereka mulai memanah pasukan Ali bin Abi Thalib dan membunuh satu dari bala tentaranya. Ali masih belum memperkenankan pasukannya untuk bergerak sehingga orang kedua pun gugur terkena panah. Ali masih tetap dengan sikapnya semula menahan pasukannya. Sampai ketika orang ketiga dari pasukannya terbunuh gugur, Ali bin Abi Thalib tidak dapat lagi menahan dirinya. Ia memberikan izin dan memerintahkan pasukan untuk mulai bergerak mempertahankan kebenaran dan keadilan.

Kemudian kedua pasukan maju dan saling menyerbu. Peperangan yang sangat hebat dan sungguh menakutkan. Begitu banyak kepala-kepala menggelinding terpisah dari badannya, tangan-tangan putus berserakan dan luka-luka diderita oleh kedua belah pihak.

Ali bin Abi Thalib a.s. mulai mengevaluasi apa yang terjadi di medan pertempuran. Ia melihat bagaimana pasukan Jamal berusaha mati-matian mempertahankan unta mereka. Kemudian Ali berteriak dengan suara lantang: “Celakalah kalian! Sembelih unta itu. Binatang itu adalah setan”.

Lalu Ali bin Abi Thalib a.s. bersama para sahabatnya menerjang dan maju mendesak ke depan hingga berhasil mendekati unta yang dipertahankan mati-matian oleh musuh dan kemudian menyembelihnya. Melihat kekuatan Ali dan pasukannya, sebagian dari pasukan Jamal melarikan diri dari medan pertempuran. Kemudian Ali  a.s. kemudian memerintahkan pasukannya untuk membakar unta itu lalu melemparkan abunya ke udara agar tidak dipolitisasi untuk memprovokasi orang-orang awam. Setelah semua itu usai, Ali berkata: “Semoga Allah melaknat unta tadi. Binantang itu  persis dengan anak sapi Bani Israel’.

Ali bin Abi Thalib a.s. memandang abu yang berhamburan di angkasa sambil membaca ayat:

“Dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)”.

Sikap Ali Pasca Perang Jamal

Usai sudah perang Jamal yang dimenangkan oleh pasukan Ali bin Abi Thalib a.s. Debu-debu yang beterbangan telah hilang. Ali memerintahkan salah seorang agar mengumumkan amnesti umum untuk kategori-kategori berikut ini: “Ketahuilah! Siapa saja yang tidak membunuh orang yang terluka, siapa saja yang tidak ikut memimpin perang Jamal, siapa saja yang tidak menghina gubernur, siapa saja yang meletakkan senjata, maka mereka aman. Siapa saja yang menutup pintu rumahnya, ia aman dan tidak akan diganggu. Pasukan dilarang mengambil harta pasukan Jamal kecuali yang ditemukan di medan pertempuran seperti senjata dan lain-lainnya yang dipakai untuk bertempur. Sementara selain yang disebutkan tadi, harta mereka menjadi milik pewarisnya”.

Ali bin Abi Thalib a.s. memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar dan Ammar bin Yasir untuk membawa sekedup Aisyah yang tergeletak di antara korban-korban perang yang terbunuh di tengah medan pertempuran dan meletakkan kembali di atas unta. Muhammad bin Abu Bakarlah yang mengurusi semua urusan saudarinya sendiri; Aisyah. Menjelang pagi, Muhammad membawanya masuk kota Basrah dan menginapkannya di rumah Abdullah bin Khalaf Al-Khuza’i.

Setelah semuanya usai, Ali bin Abi Thalib a.s. berputar mengelilingi mayat-mayat pasukan Jamal dan berbicara kepada mereka dengan mengulang-ulangi perkataan: “Aku telah menemukan apa yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku sebagai sebuah kebenaran. Apakah kalian juga mendapatkan janji dari Tuhan kalian sebagai kebenaran?”

Ali bin Abi Thalib a.s. berkata lagi: “Sungguh hari yang paling hina dan tercela bagi orang yang menginginkan kematian kami dan selain kami. Namun yang lebih celaka lagi adalah mereka yang hendak memerangi dan membunuh kami”.

Ali bin Abi Thalib a.s. tidak langsung memasuki Basrah. Ia tinggal sejenak di luar kota. Di sana ia memberikan izin kepada siapa saja yang memiliki kerabat yang terbunuh di perang Jamal untuk menguburkan mayatnya. Setelah itu, ia memasuki kota Basrah; pusat kelompok Nakitsin. Sesampainya di masjid jami’ Basrah, ia melakukan shalat kemudian berpidato di hadapan warga Basrah dan pasukannya. Ia mengingatkan mereka akan baiat yang telah mereka berikan sebelumnya dan sikap kelompok Nakitsin terhadap baiat. Warga kota yang merasa salah meminta kebesaran hati Ali a.s. untuk mengampuni mereka. Ia berkata: “Aku telah memberi ampunan kepada kalian. Tetapi kalian harus waspada untuk tidak lagi melakukan dan mengobarkan fitnah. Kalian adalah kelompok yang pertama merobek perjanjian yang telah kalian lakukan dengan membaiatku. Kalian orang pertama yang memorak-porandakan persatuan umat Islam”. Kemudian warga yang hadir—termasuk tokoh-tokoh masyarakat Basrah—kembali mengulangi dan mengukuhkan baiat mereka kepadanya.

Setelah menerima pembaiatan kedua kali dari warga Basrah, Ali bin Abi Thalib a.s. mendatangi Baitul Mal kota. Ketika melihat sekian besarnya jumlah harta yang tersimpan, ia berkata: “Berikan harapan kepada selainku!”. Itu diucapkannya berulang kali. Kemudian Ali a.s. memerintahkan untuk membagi harta Baitul Mal kepada semua warga secara sama rata. Pada saat itu, setiap orang menerima lima ratus Dirham. Ali sendiri mendapat jumlah Dirham yang sama dengan yang lain.

Ketika harta Baitul Mal itu telah terbagi habis, seseorang menghadap Ali bin Abi Thalib a.s. Ia tidak hadir dalam perangan Jamal, namun menuntut bagiannya. Lalu Ali a.s. pun memberikan bagian yang telah diterimanya kepada orang itu. Semua sudah mendapatkan bagian kecuali Ali bin Abi Thalib yang telah memberikan bagiannya kepada orang tadi.

Ali bin Abi Thalib a.s. memerintahkan untuk mempersiapkan segala keperluan perjalanan Aisyah menuju Madinah. Ia mengutus saudara Aisyah, Muhammad, dan beberapa orang wanita bersenjata dan bersorban untuk mengawal perjalanannya sampai tiba di Madinah dengan selamat. Meski demikian, Aisyah masih saja berburuk sangka kepada Ali a.s. lantaran ia merasa dirinya tidak diperlakukan sebagaimana mestinya; yakni didampingi oleh segerombolan laki-laki asing. Namun, segera setelah ia tahu bahwa Ali tidaklah demikian karena yang mendampinginya adalah  saudaranya sendiri, Muhammad, dan wanita-wanita yang dipakaikan sorban, ia pun menyesali dirinya. Akhirnya, Aisyah menyesali perbuatannya ikut dengan pasukan Jamal dan memberontak khalifah terpilih yang kemudian menjadi fitnah yang tidak mungkin ditarik lagi. Nasi telah menjadi bubur. Aisyah pun menangis tersedu-sedu

.

Dampak Negatif Perang Jamal

Perang Jamal meninggalkan dampak-dampak negatif terhadap masyarakat Islam, antara lain:

1.  Kasus pembunuhan Utsman bin Affan semakin berkembang luas sehingga menjadi krisis politik besar yang kemudian menjadi gelombang fitnah yang secara langsung menyerang risalah Islam, baik berupa pernyataan ataupun aksi. Di sisi lain, Muawiyah mempolitisasi situasi ini demi kepentingan pribadi dan mengoptimalkannya dengan kejadian perang Jamal dan pertumpahan darah di sana.

2.  Kebencian dan kecurigaan massal yang mengancam integritas kaum muslimin dan terkadang menjadi penyulut peperangan di antara mereka. Seperti yang terjadi antara sekelompok warga Basrah dan kaum muslimin dari luar kota. Kebencian dan permusuhan itu muncul lantaran tuntutan atas darah kerabat-kerabat mereka yang  terbunuh di perang Jamal.

3.  Penyimpangan yang terjadi di dalam kubu kaum muslimin sendiri semakin merekah. Kondisi ini membuat tugas Ali bin Abi Thalib a.s. menjadi semakin berat. Belum lagi pembangkangan Muawiyah di Syam yang telah membuka medan baru. Akibatnya, ekspansi dan perluasan wilayah Islam menjadi bermasalah. Demikian juga, aksi Muawiyah telah membuat sulit proses pembaharuan dan pembanguan peradaban yang dapat dilakukan di dalam masyarakat Islam.

4.  Kebencian dan penyimpangan telah membuka jalan bagi para penentang pemerintahan yang sah untuk secara mudah menyelesaikan masalah mereka dengan kekuatan senjata dan perang

.

Kufah menjadi ibu kota pemerintahan Islam

Setelah kondisi perlahan-lahan tenang, Imam Ali bin Abi Thalib dan pasukannya bergerak menuju kota Kufah untuk dijadikan ibu kota. Sebelum itu, Imam Ali bin Abi Thalib telah mengirikan utusan ke sana untuk menjelaskan detil masalah apa yang sebenarnya telah terjadi. Sebagaimana juga Imam Ali bin Abi Thalib telah mengutus dan menjadikan Abdullah bin Abbas sebagai gubernur di sana serta menjelaskan secara lengkap bagaimana bersikap dan menghadapi mereka setelah kejadian perang Jamal.

Alasan Imam Ali bin Abi Thalib memilih Kufah sebagai ibu kota baru bagi negara Islam dengan memperhatikan alasan-alasan yang di antaranya:

1. Perluasan area dan teritori dunia Islam. Hal ini harus diimbangi dengan adanya sebuah ibu kota yang terpusat baik secara administrasi dan politik. Dan untuk itu, ibu kota harus berada di tempat yang strategis untuk dapat bergerak cepat mencapai semua titik di negara Islam.

2. Pertimbangan terbesar lainnya adalah orang-orang yang turut membantu Imam Ali bin Abi Thalib dalam menumpas pasukan Jamal adalah tokoh-tokoh dan masyarakat Irak dan yang paling banyak memberikan bantuan adalah dari Kufah.

3. Kondisi politik dan ketegangan yang disebabkan oleh pembunuhan Usman bin Affan dan perang Jamal membuat Imam Ali bin Abi Thalib memutuskan memilih Kufah sebagai ibu kota baru untuk memastikan dan memberikan keamanan pada daerah sekitar itu.

sumber :

.Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 450.

.Ibid.

.Nahjul Balaghah, Kalimat pendek 92.

.Ibid.

. Nahjul Balaghah, Khotbah Ketiga yang dikenal dengan Khotbah Syiqsyiqiyah.

. Ansab Al-Asyraf, jilid 1, hal 157.

. Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 22.

. Nahjul Balaghah, kalimat pendek 229.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 452.

. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 17-18.

. Nahjul Balaghah, khotbah ke 15.

. Bihar Al-Anwar, jilid 41, hal 116.

. As-Sunan Al-Kubra, jilid 10, hal 136. Tarikh Dimasyq, jilid 3, hal 196. Al-Aghani, jilid16, hal 36. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, hal 4. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid3, hal 399. As-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal 78.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 462.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 461. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 255.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 469.

. Nahjul Balaghah, Khotbah ke 3.

. Bihar Al-Anwar, jilid 6, hal 179.

. Sunan At-Turmudzi, jilid 2, hal 298.

. Waq’ah Shiffin, hal 119.

. As-Syahid Muhammad Baqir As-Shadr, Ahl Al-Bait Tanawwu’ wa Wadah Hadaf, hal 59-69.

. Untuk lebih detilnya lihat: Sayyid Murtadha Al-‘Askari, Ma’alim Al-Madrasatain, jilid2, hal 43.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 1, hal 125. Sunan Abi Daud, jilid 2, hal 262. Musnad Ahad, jilid 2, hal 162. Tadzkirah Al-Huffazh, jilid 1, hal 2.

. Ibnu Saad, Thabaqat, jilid 5, hal 140.

. Tarikh Ibnu Kasir, jilid 8, hal 107. Sunan Ad-Darimi, jilid 1, hal 54. Tafsir Ath-thabari, jilid 3, hal 38. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 1, hal 115.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 448.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 365. Al-Baihaqi, Sunan Al-Kubra, jilid 6, hal 223.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 359. Usd Al-Ghabah, jilid 3, hal 299.

. Futuh Al-Buldan, hal 55. As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa, hal 136.

. Kanz Al-‘Ummal, jilid 16, hal 519, hadis ke 54715. Ibnu Al-Qayyim, Zad Al-Ma’ad, jilid 2, hal 205.

. Ibnu Taimiah, Minhaj As-Sunnah, jilid 3, hal 193. Buku-buku sejarah mencatat banyak ijtihad yang dilakukan oleh ketiga khalifah.

. Nahjul Balaghah, khotbah ke 50.

. Al-Aghani, jilid 12, hal 13. Ibnu An-Nadim, Al-Fihrist, hal 59. Wafayat Al-‘Ayan, jilid 2, hal 216. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, 312.

. Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 6, hal 186. As-Sayyid Al-Jalali, Tadwin As-Sunnah Asy-Syarifah, hal 137.

. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 139. Tarikh Baghdad, jilid 8, hal 340. Majma’ Az-Zawaid, jilid 9, hal 235. Kanz Al-‘Ummal, jilid 6, hal 82.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 6, hal 215. Kasyf Al-Ghummah, jilid 3, hal 323.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 206.

. Idem.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 474.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 6, hal 217. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 149.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 209.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 231.

. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 70.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 232.

. Tarikh At-Thabari, jilid 3, hal 471.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 79. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 207.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 80. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 210.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 209.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82. Musnad Ahmad, jilid 6, hal 521. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 497.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82. Muruj Az-Dzahab, jilid 2, hal 395.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 83.

. Tarikh At-Thabari, jilid 3, hal 479. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 211.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 482. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 213.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 87. Ath-Thabari, jilid 3, hal 483-484. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 215.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 89. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 484. Muruj Adz-Dzhab, jilid 2, hal 367.

. Al-Imamah Wa As-Siyasah, hal 90. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 122.

. Idem, hal 91. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 270.

. Al-Mamah wa As-Siyasah, hal 91. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 270

. Ath-Thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 158. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 97.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 9, hal 111.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 95.

. QS. 20 : 97.

. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 172. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 371.

. Al-Mufid, Al-Irsyad, jilid 1, hal 256, cetakan Muassasah Alu Al-Bait.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 255.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid, 3, hal 544. Al-Mufid, Al-Irsyad, hal 137.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 250.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 98. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 379. Al-Khawarizmi, Al-Manaqib, hal 115. As-Sibth bin Al-Jauzi, At-Tadzkirah, hal 80.

Banyak hadits tentang kedatangan 12 Imam atau 12 pemimpin atau 12 emir atau 12 khalifah sepeninggal Rasulullah. Jumlah yang persis 12 dan diulang-ulang itu tentu saja bukan sembarang angka yang tidak ada maknanya. Mengabaikan angka itu sama dengan mengabaikan risalah Islam yang disampaikan oleh Rasulullah. Rasulullah telah mewanti-wanti kita bahwa jumlah mereka yang 12 itu akan memimpin umat Islam sampai akhir zaman

JUMLAH HADITS

Banyak hadits tentang kedatangan 12 Imam atau 12 pemimpin atau 12 emir atau 12 khalifah sepeninggal Rasulullah. Jumlah yang persis 12 dan diulang-ulang itu tentu saja bukan sembarang angka yang tidak ada maknanya. Mengabaikan angka itu sama dengan mengabaikan risalah Islam yang disampaikan oleh Rasulullah. Rasulullah telah mewanti-wanti kita bahwa jumlah mereka yang 12 itu akan memimpin umat Islam sampai akhir zaman. Beberapa dari hadits-hadits tersebut ialah sebagai berikut:

1. Shahih al-Bukhari, vol. 4, halaman 168

Jabir berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada 12 pemimpin dan khalifah.’ Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Ayahku berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Semuanya dari golongan Qurays’”
(Lihat Kitab al-Ahkam, Mesir 1351, no. 6682; lihat juga Shahih Muslim, Kitab al-‘Imarah, no. 3393, 3394, 3395, 3396, dan 3397; juga Sunan at-Turmudzi, Kitab al-Fitan, no. 2149; juga Sunan Abi Dawud, Kitab al-Mahdi, no 3731 dan 3732; juga Musnad Ahmad, Musnad al-Basyiryin, no. 19875, 19901, 19920, 19963, 20017, 20019, 20032, dan 20125)

2. Shahih Muslim, vol. 6, halaman 4 (Syarh Nawawi)

Rasulullah saw telah bersabda, “Agama ini akan tetap berdiri sampai 12 khalifah, yang semuanya dari golongan Qurays, memerintah atas kamu.”
(Lihat Kitab al-Imarah, no. 3398)

3. Shahih Muslim, vol. 6, halaman 3

Jabir meriwayatkan, “Aku dan ayahku pergi menemui Rasulullah saw. Kami mendengarnya bersabda, ‘Persoalan ini (khilafah) tidak akan berakhir sampai datang 12 khalifah.’ Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang tidak kudengar. Aku menanyakan pada ayahku apa yang Rasulullah saw sabdakan. Beliau saw bersabda, ‘Semuanya dari golongan Qurays’”
(Lihat Kitab al-Imarah, no. 3398, Mesir 1334)

4. Shahih Muslim, vol. 6, halaman 3

Jabir meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw yang agung bersabda, “Islam akan selalu besar hingga datang 12 Imam.” (Jabir berkata), “Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Aku bertanya pada ayahku, ‘Apa yang beliau katakana?’ Ia menjawab, ‘Semuanya dari golongan Qurays.’”
(Lihat Kitab al-Imarah, no. 3398)

5. Shahih at-Tirmidzi, vol. 2, halaman 45

Jabir berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada 12 Imam dan pemimpin setelahku.’ Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak dapat kumengerti. Aku menanyakan pada seseorang di sampingku tentang itu. Ia berkata, ‘Semuanya dari golongan Qurays.’”
(Lihat cetakan New Delhi (tahun 1342), no. 2149. Tirmidzi menulis tentang hadits ini, “Hadits ini baik dan shahih, diriwayatkan oleh Jabir dari jalur sanad yang berbeda. Hal yang sama dikutip dari Jabir dalam ‘Shahih Abi Daud’, vol. 2, cet. Matba’a Taziyah, Mesir. Kitab al-Manaqib halaman 207 no. 3731)

6. Musnad Ahmad, vol. 5, hal. 106

Rasulullah bersabda, “Terdapat dua belas khalifah untuk umat ini”
Catatan: Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad mengutip hadits tentang persoalan ini dalam tiga puluh empat rantai hadits yang berlainan dari Jabir.
(Lihat: Matba’a Miymaniyyah, Mesir 1313, Musnad al-Basriyyin, no. 19944)

7. Shahih Abu Daud, vol. 2, hal. 309

“Agama ini akan tetap agung sampai datang dua belas Imam.” Mendengar hal ini, orang-orang mengagunkan Allah dengan berkata, “Allahu Akbar” (Allah maha besar) dan menangis keras. Kemudian beliau mengatakan sesuatu dengan suara yang pelan. “Aku bertanya pada ayahku, ‘Apa yang beliau katakan?’ ‘Mereka semua dari golongan Qurays,’ jawabnya.”
Catatan: Hakim Naysaburi meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang berbeda dari yang sebelumnya disebutkan.
(Lihat: Edisi pertama dari ‘Dar- Al-Fikr, 1334)

APA KATA AHLU SUNNAH MENGENAI HADITS-HADITS TENTANG 12 IMAM YANG ADA DI DALAM KITAB MEREKA?

Para ulama Ahlussunnah memiliki pendapat yang beraneka-ragam mengenai hal ini. Mereka sama sekali tidak bisa menolak keberadaan dan kesahihan dari hadits-hadits tersebut karena saking banyak jumlahnya dan saking sahih sanad yang dilalui oleh hadits-hadits itu. Mau tidak mau mereka juga mencoba untuk menyusun daftar para pemimpin atau khalifah atau amir atau imam yang menurut mereka cocok dengan risalah Nabi itu. Berikut nama ulama Ahlussunnah dan daftar-daftar yang telah mereka buat:
  1. Menurut Ibnu Katsir:

    mereka adalah keempat khalifah awal, lalu Umar ibn Abdul Aziz, dan sebagian khalifah dari dinasti Abbasiyah, di mana Imam Mahdi yang dijanjikan berasal dari mereka. Menurut Ibnu Katsir Imam Mahdi bukan berasal dari Bani Hasyim melainkan Bani Umayyah.
  2. Menurut Qadhi Damaskus:

    mereka adalah Khulafa’ Rasyidin, Muawiyah, Yazid ibn Muawiyah, Abdul Malik ibn Marwan dan keempat anaknya (Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam), dan diakhiri oleh Umar ibn Abdul Aziz. Di sini tidak ada Imam Mahdi yang dijanjikan.
  3. Menurut Waliyyullah:

    seorang Ahli Hadis dalam kitab Qurratul ‘Ainain, sebagaimana dinukil dalam kitab ‘Aunul Ma’bud: mereka adalah empat khalifah pertama muslimin, Abdul Malik ibn Marwan dan keempat anaknya, Umar ibn Abdul Aziz, Walid ibn Yazid ibn Abdul Malik. Kemudian Waliyyullah menukil dari Malik ibn Anas seraya memasukkan Abdullah ibn Zubair ke dalam dua belas orang tersebut, akan tetapi dia menolak perkataan Malik dengan dalil riwayat dari Umar dan Ustman dari Rasulullah saw. yang menunjukkan bahwa pemerintahan yang dipimpin oleh Abdullah ibn Zubair adalah sebuah bencana dari sederet malapetaka yang diderita umat Islam. Ia juga menolak dimasukkannya Yazid dan menegaskan, bahwa dia adalah sosok yang berperilaku bejat.
  4. Menurut Ibnu Qayim Jauzi:

    “Sedangkan jumlah khalifah itu dua belas orang; sekelompok orang yang di antaranya; Abu Hatim, Ibnu Hibban dan yang lain mengatakan bahwa yang terakhir dari mereka adalah Umar ibn Abdul Aziz. Mereka menyebut khalifah empat pertama, Muawiyah, Yazid ibn Muawiyah, Muawiyah ibn Yazid, Marwan ibn Hakam, Abdul Malik ibn Marwan, Walid ibn Abdul Malik, Sulaiman ibn Abdul Malik, dan khalifah yang kedua belas Umar ibn Abdul Aziz. Khalifah yang terakhir ini wafat pada tahun seratus Hijriyah; di abad pertama dan paling awal dari abad-abad kalender Hijriah manapun, pada abad inilah agama berada di puncak kejayaan sebelum terjadi apa yang telah terjadi”.
  5. Menurut Nurbasyti:

    ”Cara terbaik memaknai hadis ini adalah menerapkan maknanya pada mereka yang adil, karena pada dasarnya merekalah yang berhak menyandang gelar sebagai khalifah, dan tidak mesti mereka memegang kekuasaan, karena yang dimaksud dari hadis adalah makna metaforis saja. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Mirqat”.
  6. Dan menurut Maqrizi:

    jumlah dua belas imam adalah khalifah empat pertama dan Hasan cucunda Nabi saw. Ia mengatakan: “Dan padanya (Imam Hasan a.s.), masa khalifah rasyidin pun berakhir”. Maqrizi tidak memasukkan satu pun dari penguasa dinasti Umawiyah. Masih menurut penjelasannya, khilafah setelah Imam Hasan a.s. telah menjadi sistem kerajaan yang di dalamnya telah terjadi kekerasan dan kejahatan. Lebih lanjut, ia juga tidak memasukkan satu penguasa pun dari dinasti Abbasiyah, karena pemerintahan mereka telah memecah belah kalimat umat dan persatuan Islam, dan membersihkan kantor-kantor administrasi dari orang Arab lalu merekrut bangsa Turki. Yaitu, pertama-tama bangsa Dailam memimpin, lalu disusul bangsa Turki yang akhirnya menjadi sebuah bangsa yang begitu besar. Maka, terpecahlah kerajaan besar itu kepada berbagai bagian, dan setiap penguasa suatu kawasan mencaplok dan menguasainya dengan kekerasan dan kebrutalan.
Dengan demikian, tampak jelas bagaimana kebingungan madrasah Khulafa’ (Ahli Sunnah) dalam menafsirkan hadis tersebut; mereka tidak sanggup keluar dari keadaan ini selagi berpegang pada tafsir futuralistik itu.
Dalam kitab Al-Hawi lil Fatawa, As-Suyuthi mengatakan: ”Sampai sekarang, belum ada kesepakatan dari umat Islam mengenai setiap pribadi dua belas imam.”
Dengan itu maka, saudara-saudara kita dari golongan Ahlussunnah telah tersandera oleh ketidak-pastian tentang siapakah yang akan dirujuk dan dijadikan anutan untuk mendapatkan bimbingan dan pertolongan mengingat manusia itu memerlukan petunjuk Tuhan agar hidupnya senantiasa berjalan di atas kebenaran menuju kebahagiaan yang memang telah dijanjikan Tuhan.
Kaum Ahlussunnah akan senantiasa bertikai memperebutkan hak kepemimpinan karena mereka satu sama lain akan berlainan pendapat mengenai siapakah yang harus mereka ikut hingga akhir zaman. Kasus Ahmadiyyah adalah salah satu contoh klasik dimana ada kelompok yang tidak setuju dengan penafsiran siapakah yang disebut dengan IMAM MAHDI itu? Kaum Ahmadiyyah telah menentukan IMAM MAHDINYA sementara kelompok yang berseberangan memiliki IMAM MAHDI sendiri yang sampai saat ini masih mereka cari atau mungkin sebagian besar dari mereka tidak peduli.
Padahal hadits-hadits tentang 12 Imam yang ditutup oleh Imam Mahdi itu sangat shahih dan tak bisa dibantah keberadaannya. Mana mungkin mereka mendapatkan petunjuk kalau mereka tidak atau belum menentukan siapakah imam-imamnya secara pasti. Padahal mengenali Imam zamannya dan mengikuti bimbingan dan petunjuknya serta patuh dan taat padanya adalah bagian penting dari risalah suci ini. Rasulullah telah tiada meninggalkan kita, dan beliau mewariskan 12 pemimpin itu untuk kita ikuti bersama. Melupakan hadits-hadits suci itu sama saja dengan mengkhianati Nabi. Mengkhianati Nabi sama saja dengan keluar dari Islam dan hidup sebagai orang murtad. Pantas saja Nabi mewanti-wanti agar kita mengenali Imam kita. Lihatlah hadits-hadits berikut ini.

BAGAIMANA KATA HADITS TENTANG KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMIMPIN?

Berikut akan saya paparkan beberapa hadits tentang kewajiban untuk memiliki, mengikuti dan mentaatipemimpin atau imam.
1. “Barangsiapa mati tanpa imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Majma’ az-Zawa’id, jilid 5, halaman 218; lihat juga Abu Dawud, Musnad, halaman 259 dari jalur ‘Abdullah bin Umar dan ditambahkan: “Dan barangsiapa menolak untuk taat, maka pada hari kiamat ia tidak punya hujjah, pembelaan”)

2. “Barangsiapa mati tanpa berbai’at maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Shahih Muslim, jilid 6, halaman 22; lihat juga Baihaqi, Sunan, jilid 8, halaman 156; kemudian Ibnu Katsir dalam Tafsir, jilid 1, halaman 517; Al-Haitsami dalam Al-Majma’, jilid 5, hal. 218)
3. “Barangsiapa meninggal dan tiada ketaatan (kepada imam), maka ia telah meninggal dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Imam Ahmad dalam Musnad, jilid 3, hal. 446; Haitsami dalam al-Majma’, jilid 5, hal. 223)
4. “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Al-Taftazani, Syarh al-Maqashid, jilid 2, hal. 275. Ia mengeluarkan  hadits ini dalam hubungan ayat (QS. An-Nisaa: 59) yang saya kutipkan di atas. Syaikh ‘Ali al-Qari, Al-Marqat fi Khatimah al-Jawahir al-Madhiyah, jilid 2, hal. 509, dan pada hal. 457 tatkala mengutip Shahih Muslim yang berbunyi:“Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”, ia menambahkan bahwa arti hadits tersebut adalah: “seseorang yang tidak mengetahui bahwa ia wajib mengikuti tuntunan imam pada zamannya.
SEMOGA KITA TIDAK DIGOLONGKAN MENJADI UMAT YANG KEHILANGAN PEGANGAN KARENA TIDAK MENGENALI IMAM ZAMANNYA. AMIN.