HARI-HARI TERAKHIR RASULULLAH (kisah tentang para sahabat setianya) ! Kebenaran yang disembunyikan sunni

Seberapa besarkah cinta anda padanya?
Waktu itu muncul secara tiba-tiba seseorang mengucapkan salam. Kemudian ia berkata, “Bolehkah saya masuk?”. Ia meminta ijin untuk masuk. Akan tetapi Fathimah binti Rasulillah tidak berkenan dirinya masuk.  Beliau tidak mengijinkan orang itu untuk masuk sambil berkata dengan lemah lembutnya, “Ma’afkan saya. Anda tidak boleh masuk ke dalam karena ayah saya kebetulan sedang sakit”. Fathimah kemudian berpaling dan menutup pintu dari dalam rumah.
Fathimah kembali ke pembaringan dimana ayahnya sedang terbaring sakit. Ayahnya yang tercinta membuka matanya dan bertanya kepada Fathimah, “Siapa tadi, wahai anakku?”
“Aku tidak tahu, ayah. Ini kali pertama aku bertemu dengannya, ayah”, Fathimah menjawab dengan lembutnya.
Kemudian Rasulullah menatap wajah puterinya itu dengan tatapan bergetar seolah-olah ia hendak mengingat-ingat setiap lekuk wajah puterinya itu. “Ketahuilah satu hal, anakku! Dialah yang akan menghilangkan semua kesenangan yang fana ini; dialah yang hendak memisahkan hubungan kekerabatan dan pertemanan di dunia ini. Dialah malaikat pencabut nyawa”, Rasulullah menjelaskan pada puterinya.
Demi mendengar itu Fathimah terhenyak seolah-olah mendengarkan sebuah bom yang diledakkan di dekatnya. Tangisan Fathimah meledak. Ia menangis tersedu-sedu dan tidak pernah tangisan dirinya itu, sepilu dan sepedih itu. Rasulullah kemudian menyuruh puterinya itu untuk mempersilahkan masuk sang malaikat pencabut nyawa itu. Kemudian ia masuk ke rumah.
Malaikat pencabut nyawa (Izrail) datang menuju tempat dimana jasad Rasulullah terbaring lemah. Rasululah bertanya mengapa Jibril tidak datang bersama dengannya. Kemudian Jibril pun dipanggil dan datang. Jibril telah siap menyambut kedatangan Rasulullah di langit. Jibril sudah siap menyambut ruh suci dari kekasih Tuhan yang pernah memimpin dunia dengan keadilan, kebenaran, dan penuh kelembutan.
“Wahai Jibril. Jelaskanlah kepadaku apa hak-hak yang akan aku dapatkan dari Allah?”, Rasulullah bertanya kepada Jibril dengan nada bicara yang sangat lemah.
“Pintu-pintu langit akan terbuka dan para malaikat akan berbaris rapi menyambut kedatangan ruh sucimu. Surga akan memanggil-manggilmu dan tidak sabar akan kedatanganmu”, Jibril berkata. Semua perkataan Jibril itu seolah-olah sama sekali tidak membuat Rasulullah tenang karena masih terlihat kedua mata Rasulullah menyimpan kekhawatiran yang mendalam.
“Tuanku, apakah engkau tidak berbahagia dengan berita ini?”, tanya Jibril.
“Ceritakan kepadaku nasib dari umatku nanti di masa yang akan datang!”
“Janganlah kau khawatir, tuanku, ya Rasulullah! Aku telah mendengar Allah berfirman: Aku akan haramkan surga untuk setiap orang kecuali setelah umat Muhammad masuk kedalamnya“, Jibril mencoba menenangkan.
Waktu merambat makin dekat dan makin dekat. Waktu untuk mencabut ruh suci sang Nabi makin dekat. Izrail sebentar lagi akan menunaikan tugasnya. Dengan perlahan dan hati-hati ruh suci Nabi ditarik. Tubuh Rasulullah mulai mencucurkan keringat; urat lehernya menegang.
“Jbril, ternyata yang namanya sakaratul maut itu sakit sekali”, Rasulullah berkata dengan gumaman lemah. Fathimah, puteri Rasulullah menutup kedua matanya menahan kesedihan yang teramat sangat. Imam Ali (as.) duduk di dekat Fathimah mendudukan kepalanya dalam-dalam; sementara itu Jibril memalingkan mukanya tidak kuat melihat pemandangan yang sangat mengharukan itu.
“Apakah aku tampak menjijikan bagimu, wahai, Jibril. Sehingga engkau memalingkan wajahmu dariku?’, Rasulullah bertanya kepada sang penyampai wahyu. “Siapakah gerangan orangnya yang sanggup dan kuat melihat kekasih Allah sedang menghadapi sakaratul maut. Oleh karena itu aku memalingkan wajahku darimu, wahai tuanku”, Jibril berkata.
Tidak berapa lama berselang, Rasulullah mengeluarkan suara dari tenggorokkannya karena rasa sakit yang teramat sangat.
“Ya, Allah. Betapa sakitnya sakaratul maut ini. Berikanlah rasa sakit ini kepadaku semuanya dan jangan berikan sedikitpun kepada umatku”. Tubuh Rasulullah kemudian terasa dingin; kedua kakinya dan dadanya tidak bisa lagi digerakkan. Bibir mulia beliau bergetar seolah-olah ingin mengutarakan sesuatu. Imam Ali (as.) mendekatkan telinganya ke arah mulut beliau yang suci. Rasulullah berbisik: “Ushiikum bis salati, wa maa malakat aimanuku” (jagalah shalat dan urusilah urusan orang-orang lemah yang ada di sekitarmu)”.
Di luar ruangan terdengar tangisan sahut menyahut; tangisan yang satu disusul oleh tangisan yang lain–lebih keras dan lebih keras. Para sahabat Nabi saling berpegangan tangan satu sama lain seolah-olah ingin memperkuat dan menghibur hati sahabatnya yang lain.  Fathimah binti Muhammad, puteri Nabi, menutupi wajahnya yang basah dengan air mata yang bercucuran sejak tadi. Imam Ali sekali lagi mendekatkan telinganya ke dekat mulut Rasulullah yang sekarang sudah tampak membiru.
“Ummati, ummati, ummati”, (Ummatku, ummatku, ummatku) (dengan kalimat itu Rasulullah berwasiat agar Ali bin Abi Thalib mengurusi urusan umat Muhammad sepeninggal beliau). Setelah mengucapkan kalimat itu, Rasulullah pun berangkat menuju kekasihnya dengan tenang. Innalillahi wa inna ilayhi roji’un.
DAPATKAH KAMI MEMBALAS CINTAMU WAHAI MUHAMMAD-KU?

Allahumma Shali ‘Ala Muhammad wa ‘ala Ali Muhammad (Ya, Allah curahkan shalawat dan salam kepada Muhammad dan juga kepada keluarga Muhammad)
Berapa besar dan dalamkah cinta Rasulullah kepada kita? Sesungguhnya, Rasulullah-lah yang lebih pantas kita cintai daripada apapun di dunia ini seperti yang diceritakan dalam sebuah riwayat di bawah ini.
Thawban, sahabat yang setia
Thawban adalah salah seorang budak belian yang telah dibebaskan oleh Rasulullah. Ia selalu bersama Rasulullah baik itu ketika Rasulullah ada di rumahnya maupun ketika beliau sedang melakukan perjalanan. Setelah Rasulullah meninggal, ia tetap berdiam diri di rumahnya di Syiria selama bertahun-tahun dan kemudian ia pindah ke Mesir untuk tinggal di sana juga selama beberapa tahun lamanya. Ia berada di Mesir ketika pasukan Muslimin menguasai Mesir. Thawban meninggal pada usia 51 tahun.
Diceritakan dalam beberapa riwayat bahwa dirinya itu sangat mencintai Rasulullah (saaw.); begitu cintanya hingga dirinya hampir tidak sanggup kehilangan Rasulullah walaupun hanya beberapa saat saja. Pada suatu ketika Rasulullah melihat Thawban dalam keadaan bersedih hati tampak dari wajahnya yang kusam dan muram. Ia kelihatan tampak lemah dan tidak bertenaga. Rasulullah bertanya pada dirinya, “Hai, Thawban! Ada apakah gerangan dengan dirimu sehingga tampak muram dan kusam wajahmu?”. Thawban menjawab dengan penuh kesopanan, “Ya, Rasulullah! Aku tidak sedang sakit juga tidak sedang mengalami rasa sakit sedikitpun, akan tetapi ada sesuatu yang mengganjal  pikiranku. Aku khawatir dengan kedekatan dirimu dengan Allah. Aku mungkin nanti akan kehilangan kesempatan untuk masuk surga; sedangkan dirimu itu akan berada di sana, di tempat yang tinggi, malah. Aku sendiri walau masuk surga misalnya, tempat kedudukanku tidak akan setinggi kedudukanmu. Aku akan berada di tempat yang rendah di sana. Oleh karena itu, kemungkinan aku tidak bisa berjumpa dengan dirimu. Itulah yang merisaukan pikiranku selama ini. Aku tidak sanggup dan tidak kuat kalau aku tidak bisa lagi melihat wajah sucimu”.
Pada saat itulah turun sebuah ayat kepada Rasulullah. Ayat itu berbunyi:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisaa: 69)
 [lihat Bihar al-Anwar, vol. 2, 68]
“Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya aku sangat mencintai dirimu!”
A’isyah melaporkan dalam sebuah riwayat bahwa seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata kepada beliau, “Ya, Rasulullah! Sesungguhnya, aku ini sangat mencintaimu. Malah kecintaanku padamu ini melebihi dari kecintaanku pada keluargaku sendiri. Aku lebih mencintaimu daripada aku mencintai anak-anakku. Apabila aku sedang berada di rumah dan aku sedang memikirkan dirimu, maka aku tidak bisa menahan diriku hingga aku bisa datang menemuimu dan memandang wajah dirimu yang suci itu. Apabila aku sedang berpikir tentang kematianku dan kematianmu, aku tahu bahwa engkau nantinya akan masuk ke surga dan engkau akan ditempatkan di tempat yang tinggi–tempat yang paling baik untuk para nabi. Tapi apabila aku masuk surga, aku takut dan bertanya-tanya: ‘Apakah aku akan bisa bertemu dengan dirimu?'”
Rasulullah tidak berkata-kata. Beliau terdiam. Beliau terdiam hingga Jibril menyampaikan sebuah ayat yang diturunkan oleh Allah untuk disampaikan kepada Rasulullah. Ayat itu berbunyi:

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shidiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisaa: 69)
[lihat: Silsilat al-Ahadith as-Sahihah; #2933)
RASULULLAH BERSAMA ENAM SAHABAT SETIANYA

Pada tahun ketiga setelah Hijrah, beberapa orang dari suku Ozal dan Qarih yang bermukim di sekitar kota Mekah (dan tampaknya masih memiliki kesamaan asal-usul dengan orang-orang Qurays) datang menemui diri Rasulullah (saaw.) yang mulia dan berkata, “Ya, Rasulullah! Beberapa orang dari suku kami telah memilih Islam dan memeluk Islam sebagai agama mereka. Sekarang perkenankanlah kami untuk meminta kepada tuan agar sudi untuk mengirimkan beberapa orang Muslim kepada kami untuk mengajari kami tentang agama Islam, tentang Al-Qur’an ul-Karim, tentang ajaran dan aturan serta hukum-hukum Islam”.
Demi mendengar ini, Rasulullah yang mulia (saaw.) memilih enam sahabatnya untuk pergi dengan perwakilan dari suku Ozal dan Qarih itu. Pemimpin dari enam orang sahabat itu ialah Marand bin Abi Marthad atau Asim bin Sabit.
Rasulullah (saaw.) kemudian mengirimkan sekelompok utusannya yang terpilih untuk berangkat dengan perwakilan dari suku tersebut meninggalkan kota Medinah. Mereka berjalan meninggalkan kota Medinah hingga akhirnya mereka tiba di sebuah pemukiman suku Hozail dan mereka beristirahat di sana. Para sahabat Rasulullah yang diutus itu beristirahat dan melepaskan lelah di sana sambil mengumpulkan tenaga untuk meneruskan perjalanan. Tiba-tiba ketika mereka sedang beristirahat sekelompok orang dari suku Hozail datang dan menyerang mereka dengan sebilah pedang terhunus di tangan.
Dengan segera para utusan Rasulullah itu menyadari apa yang sedang terjadi. Mereka dengan cepat bergegas menjemput senjata-senjata yang mereka bawa untuk mempertahankan diri mereka.
Para penyerang para utusan Rasulullah itu berjanji bahwa mereka tidak memiliki maksud untuk membunuh akan tetapi bermaksud untuk menyerahkan mereka kepada orang-orang Qurays di kota Mekah untuk mendapatkan bayaran uang. Mereka telah memiliki kesepakatan dengan orang-orang Mekah. Tiga orang dari mereka termasuk Asim bin Sabit menjawab, “Kami tidak bisa menerima perlakuan kaum Musyrikin”. Akhirnya para utusan Rasulullah itu balik menyerang dan bertempur habis-habisan hingga akhirnya mereka menemui kesyahidan.
Sementara itu 3 orang utusan Rasulullah yang lain yaitu Zaid bin Dasaneh, Khabib bin Oday, dan Abdullah bin Tariq menerima usulan dari kelompok penyerang itu dan akhirnya mereka setuju untuk berserah diri dan ikut beserta kelompok penyerang untuk menemui orang-orang Qurays di kota Mekah.
Orang-orang dari suku Hozail itu kemudian memberangus mereka dan mengikat mereka dengan seutas tali yang kuat dan kemudian mereka semua berangkat ke kota Mekah. Abdullah bin Tariq, ketika makin mendekati kota Mekah, mencoba untuk melonggarkan tali ikatan yang mengikat kedua tangannya dan ia berhasil mencapai pedang yang masih ada di pinggangnya akan tetapi orang-orang Hozail itu mengetahui apa yang ia lakukan dan mereka tidak mau mengambil resiko lebih buruk dengan membuang waktu terlalu banyak membiarkan seorang tawanan yang sedang ingin membebaskan dirinya. Orang-orang Hozail itu dengan cepat mendekati Abdullah bin Tariq dan kemudian membunuhnya.
Zaid bin Dasaneh dan Khabib bin Oday diakhir perjalanan mereka akhirnya ditukar dengan dua orang suku Hozail yang menjadi tawanan orang-orang  Mekah. Jadi orang-orang Hozail sebenarnya telah melakukan kesepakatan dengan orang-orang Qurays di kota Mekah dimanan untuk setiap tawanan dari suku Hozail akan ditebus dengan seorang tawanan dari kaum Muslimin.
Safwan bin Umayyah dari suku Qurays membeli Zaid bin Dasaneh. Ayahnya Safwan terbunuh dalam peperangan Badar atau Uhud jadi ia bermaksud untuk membalas dendam terhadap Zaid bin Dasaneh. Ia ingin membunuh Zaid bin Dasaneh.
Zaid bin Dasaneh dibawa keluar kota Mekah. Orang-orang Qurays berkumpul semua untuk menyaksikan adegan demi adegan dimana Zaid bin Dasaneh akan dibunuh. Zaid bin Dasaneh datang berjalan dengan tegap. Langkahnya pasti tak sedikitpun gurat keraguan di wajahnya; tak sedikitpun rasa ketakutan tergambar di matanya.
Abu Sufyan melihat adegan yang berlangsung itu dengan perasaan hati gembira. Ia mengira bahwa inilah saatnya yang ia nantikan dimana ia bisa memaksa Zaid bin Dasaneh untuk mencaci maki diri pribadi Nabi yang suci karena menyangka bahwa Zaid bin Dasaneh akan ketakutan dan ia akan mengorbankan keimanannya demi kehidupan atau nyawanya. Abu Sufyan mendatangi Zaid bin Dasaneh dan kemudian ia berkata, “Apakah kamu ingin bertukar tempat dengan Muhammad agar dirimu selamat dan kami tidak usah memotong lehermu. Kamu bisa pulang kepada isterimu dan anakmu dengan aman dan nyaman”.
Zaid bin Dasaneh menjawab, “Demi Allah aku tidak akan senang apabila melihat sebuah duripun menusuk kaki suci Nabi sementara aku beristirahat dengan tenang dan santainya di rumahku bersama isteri dan anak-anakku”.
AbU Sufyan memandang Zaid dengan tatapan tajam menusuk seraya membuka mulutnya lebar-lebar seakan-akan tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Zaid. Ia kemudian berpaling dan menghadap kepada orang-orang Qurays, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat teman atau sahabat seseorang yang sebegitu cintanya ia kepada orang itu seperti cintanya teman-teman Muhammad kepada diri Muhammad”.
Para sahabat Nabi Muhammad mencintai Muhammad secinta-cintanya hingga bahkan mereka tidak rela melihat Nabi Muhammad terkena duri di kakinya.
Demi melihat cinta seperti ini, Abu Sufyan, salah seorang musuh Islam dan musuh Rasulullah nomor wahid, mengakui bahwa ia tidak pernah melihat seseorang yang sangat dicintai oleh orang-orang lain seperti Muhammad yang dicintai para sahabatnya.
Setelah beberapa saat setelah kesyahidan Zaid bin Dasaneh, tibalah saatnya bagi Khabib bin Oday untuk digantung hingga mati. Ia juga dibawa keluar kota Mekah. Khabib bin Oday meminta waktu sebentar kepada mereka untuk mengijinkan dirinya mendirikan shalat terlebih dahulu untuk menyongsong kesyahidannya yang hanya menunggu berlalunya waktu yang sudah kian mendekat. Mereka mengijinkan Khabib bin Oday untuk shalat dan kemudian shalatlah dia dalam shalat yang sangat khusyu dan penuh dengan penyerahan diri kepada Allah. Khabib menunaikan shalatnya dengan cepat.
Kemudian ia kembali kepada orang-orang Qurays sambil berkata, “Demi Allah seandainya aku tidak takut bahwa kalian akan mengira bahwa diriku shalat berlama-lama itu karena aku takut pada kematian maka aku akan shalat lebih lama dan lebih khusyu lagi”.
Mereka akhirnya membawa Khabib ke sebuah pohon yang ditentukan. Kemudian Khabib bin Oday berdo’a kepada Allah. Suara do’anya yang begitu menyentuh hati dan penuh konsentrasi terdengar oleh orang-orang begitu menyentuhnya do’a yang tinggi nilai spiritualnya itu hingga beberapa orang terjatuh ke tanah.
Apa yang diucapkan Khabib dalam do’anya? Khabib berdo’a sebagai berikut:
Kami telah menunaikan tugas yang diberikan oleh Nabimu yang suci
Beritahukanlah kepada junjunanku itu bahwa kami telah mati
Ya, Allah! Lihatlah apa yang telah diperbuat orang-orang dzalim kepadaku
Musnahkanlah mereka seperti mereka memusnahkan kami satu per satu

(Oleh as-Syahid, Morteza Motahhari)

CERITA TENTANG KEHORMATAN RASULULLAH

Seorang Yahudi kehilangan sebuah cincin yang sangat berharga bagi dirinya. Untungnya seorang Muslim yang kebetulan juga orang miskin menemukan cincin tersebut. Ketika orang Muslim yang miskin ini mengetahui bahwa cincin itu milik dari orang Yahudi itu maka ia segera mengembalikan cincin itu kepadanya. Orang Yahudi itu tersenyum dan kemudian bertanya kepada orang Muslim miskin itu: “Tahukah kamu betapa berharganya cincin ini?”

Orang Muslim menjawab: “Ya, aku tahu”

“Kamu menemukan cincin ini sedangkan kamu ini orang miskin dan sangat memerlukan bantuan tapi kamu tetap mengembalikan cincin berharga ini kepadaku?”, kata orang Yahudi itu.

“Betul sekali tuan, memang itu yang aku lakukan”, Muslim yang miskin itu menjawab.

Orang Yahudi itu kemudian bertanya lagi, “Pernahkah terbersit dalam benakmu untuk menjual cincin ini hingga kamu bisa memenuhi kebutuhanmu malah kamu bisa hidup senang. Kemudian kamu ngomong kepada orang-orang bahwa karena cincin yang ditemukan itu milik orang Yahudi maka kamu merasa memiliki alasan untuk menjualnya dan tidak mengembalikannya?”

Orang Muslim itu kemudian menjawab, “Mengapa aku harus berpikiran seperti itu?”

“Mengapa juga kamu mengembalikan cincin ini padahal aku khan tidak tahu bahwa kamu yang menemukan cincin ini?”

Dijawab oleh si Muslim yang miskin itu, “Kami orang Islam percaya kepada hari pembalasan. Aku berkata pada diriku sendiri seandainya aku tidak mengembalikan cincin ini kepada pemiliknya, maka nanti pada saat penghitungan amal-amalan manusia pada hari Kiamat, Nabi saya, Nabi Muhammad bersama dengan nabimu, Nabi Musa akan duduk bersama. Kamu mengeluh kepada Nabi Musa dan kemudian Nabi Musa akan mengeluh kepada Nabiku, Nabi Muhammad. Nabi Musa akan bercerita kepada Nabi Muhammad bahwa ada salah seorang umatnya telah melakukan perbuatan buruk. Pada saat itu, aku yakin bahwa Nabi Muhammad tidak akan dapat menjawab pertanyaan itu. Aku telah mengembalikan cincin ini kepadamu hingga nanti pada hari pembalasan, aku bisa menyelamatkan kehormatan Nabiku, Nabi Muhammad.
———————————————————————————————————————————-
Catatan moral : berpikirlah sebagai seorang Muslim, bertindaklah sebagai seorang Muslim, dan cintailah Allah, cintailah Rasulullah! Itulah hidup sejati seorang Muslim!

PUTERI NABI ITU DIMAKAMKAN SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI !!!! Mengapa Kuburannya Dirahasiakan ??

Hari itu Madinah panas dan hingar bingar

Gumaman sibuk dari sekumpulan sahabat terdengar
Mereka bertikai memperebutkan tampuk kekuasaan
Sambil lalu lalang mereka berteriak-teriak di jalanan
Mereka memanggil suamimu, Ali, untuk keluar dari rumah suci
Agar ia segera memberikan bai’at kepada “Ash-Shidiqy”
Suamimu tak hirau bukan karena galau ataupun risau
Namun, Ia tak ingin menimbulkan suasana yang jauh lebih kacau
Seorang sahabat terdengar berujar: “Bakarlah rumahnya sampai jadi Abu!”
Yang lain ribut bertikai; ada yang tak setuju dan ada yang ragu-ragu
Seorang sahabat lainnya menukas: “Tapi puteri Nabi, Fathimah, ada di dalamnya!”
“Biar! Meskipun ia sekeluarga ada di dalamnya,” sahabat yang tadi menghardiknya
Wahai sungguh tercela aib yang tertorehkan
Kau, puteri Nabi, tak seorangpun yang menghiraukan
Kau didorong sebuah tangan dari kekejaman
Yang membuatmu jatuh terhumbalang dan keguguran
Al-Muhsin, bayimu yang lahir tak jadi
Kelak akan bertanya di kemudian hari
“Siapakah ia orangnya yang membunuhku sebelum aku lahir?”
“Sungguh tempatnyalah di neraka Saqr”
Kau, Fathimah yang suci berdarah-darah
Kau menatap kerumunan itu dengan marah
Tak pedulikah mereka……………………
Bahwa marahmu itu adalah marah sang Nabi?
Tak tahukah mereka………………………
Kepedihanmu itu terasa oleh kami hingga hari ini?


dot

Sebagian besar kaum Muslimin tidak tahu apa yang terjadi pada diri Bunda Fathimah (puteri Rasulullah) setelah ayahanda tercinta-nya wafat meninggalkan dirinya. Kaum Muslimin tidak banyak yang tahu derita dan perlakuan buruk yang terjadi pada diri puteri Nabi itu. Sebenarnya apabila kaum Muslimin mau meluangkan waktu mereka barang sedikit saja untuk menggali sumber-sumber sejarah dari kalangan Ahlu Sunnah maupun Ahlul Bayt, maka mereka akan melihat dengan jelas sekali bahwa kitab sejarah otentik yang ada di kalangan kedua kelompok itu mencatat dengan cukup rinci kejadian yang menimpa puteri Nabi sepeninggal ayahnya yang tercinta itu. Kitab-kitab sejarah itu menjelaskan bagaimana Bunda Fathimah (as) kerap kali mengeluhkan kedzaliman penguasa yang memerintah sepeninggal Nabi.
fatima.zehraMisalnya, ketika Bunda Fathimah Az-Zahra mendengar hadits palsu yang disampaikan oleh khalifah pertama, ia marah sekali. Ia tahu betul bahwa hadits palsu itu (yang sengaja dibuat oleh khalifah pertama untuk mencegahnya menuntut haknya atas tanah Fadak. Beberapa perawi hadits dan sejarawan seperti Bukhari, Ahmad bin Hanbal, Ibn Sa’ad, Ibn Katsir dan lain-lain telah mencatat dan melaporkan bahwa Fathimah az-Zahra tetap marah kepada khalifah yang pertama hingga beliau wafat menemui ayahnya yang tercinta
.
Ketika tubuh Rasulullah yang suci dibaringkan di liang lahat dan kemudian dikuburkan, terkubur juga kata-katanya tentang peran Imam Ali dan kepemimpinannya atas umat Islam. Dengan kepandaian berbicara yang fasih, Rasulullah menyebut Imam Ali sebagai “pemimpin orang-orang beriman” dan bukannya “pemimpin orang-orang Islam”. Dengan kata-kata itu, Rasulullah ingin menegaskan bahwa mereka yang menerima Islam dibawah tekanan politis tidak akan bisa menerima kepemimpinan Imam Ali (as). Sedangkan mereka yang menerima kepemimpinan dan kenabian Muhammad, akan bisa menerima kepemimpinan Imam Ali (as)
.
Fathimah Az-Zahra (as) melihat dengan jelas sekali bahwa tubuh ayahnya yang terbujur kaku di liang lahat akan segera tertutup tanah dan seiring dengan tubuhnya yang tertutup tanah, terkubur juga kata-katanya yang biasanya terngiang-ngiang di telinga menyampaikan nasehat bijak dari surga. Setiap kata-kata ayahnya sekarang ini digantikan oleh kata-kata para penguasa yang menggantikan kebajikan dengan doktrin kekuatan. Dengan segera Fathimah menyadari bahwa ia harus berbuat sesuatu sebelum segalanya terlambat. Ia harus menyampaikan sesuatu yang akan diingat orang sepanjang zaman. Ia harus menyampaikan sesuatu yang akan dicatat para pecintanya hingga akhir zaman
.
Dengan segera dan dengan segenap keyakinan, ia bergegas menuju mesji Nabawi—mesjid Nabi—dan ia berkhutbah di sana. Ia menyampaikan kata-kata mutiaranya kepada khalayak yang baru saja berbai’at kepada kekuasaan yang baru berkuasa—kekuasaan yang telah menentang perintah dan kebijakan Nabi. Fathimah berkata, “Kami akan berdiri kukuh dan menentang kalian hingga tubuh kami luluh diterjang puluhan tombak dan pisau yang tajam berkilauan”. Fathimah, puteri Nabi mengumumkan penolakan bai’at kepada sang khalifah yang baru menjabat!
.
Kalau kita lihat sekilah khutbah Fathimah (Khutbah Fadakiyah/Khutbah Al-Fadakiyah yang dicatat dengan rinci baik oleh kelompok Sunni maupun Syi’ah) yang disampaikan di mesjid Nabi dan di hadapan kaum Muhajirin dan Ansar, kita akan segera melihat bahwa Fathimah mempertanyakan penguasa yang baru itu dan memberikan peringatan keras terhadapnya. Pertanyaan segera timbul terhadap kecaman Fathimah terhadap penguasa baru itu: Apakah khutbah yang disampaikan Fathimah itu dikarenakan oleh rasa marah yang dan sakit hati yang timbul karena telah diperlakukan kasar oleh penguasa baru dan para pengawalnya itu? Karena sebelum peristiwa ini terjadi Rasulullah sering berkata: “Rasa senang dan rasa marah Fathimah itu menyebabkan rasa senang dan rasa marah Allah.”Kesukaan dan kemarahan Fathimah itu menimbulkan kesukaan dan kemarahan Allah. Dengan mengacu pada hadits itu, maka kita akan bisa menyimpulkan bahwa Allah tentu saja marah pada orang yang pernah membuat Fathimah marah. Dan orang yang membuat Allah marah, tak pernah pantas untuk menduduki kursi khilafah
.
Khutbah yang disampaikan oleh Fathimah itu jelah memberikan dampak yang dasyhat terhadap khalfah pertama beserta para begundalnya. Dengan khutbah itu, Fathimah memberikan pandangan yang baru di kalangan umat Islam terhadap tirani yang sedang berkuasa. Akan tetapi walaupun begitu, setelah Fathimah selesai memberikan khutbah di mesjid Nabawi itu serangkaian peristiwa menyedihkan yang terjadi pada keluarga Nabi tetap saja menghantui. Semua peristiwa itu menyebabkan Fathimah tergeletak lemah di pembaringannya yang resah
.
Pada saat-saat terakhir kehidupan Fathimah, Ummu Salamah (salah satu isteri Rasulullah yang baik) menanyakan tentang keadaannya. Fathimah dengan gamblang berkata, “Saya merasa kehilangan Rasulullah yang amat sangat; dan kesedihan serta kepedihan saya itu ditambah dengan kenyataan pahit harus berhadapan dengan penguasa dzalim.” Dalam kesempatan yang lain, Fathimah menjelaskan dengan kata-kata yang hampir sama akan tetapi lebih rinci ketika kaum wanita datang menjenguk keadaannya yang sedang sakit dan terbaring lemah di ranjangnya. Kepada kaum wanita yang datang menjenguknya itu, Fathimah berkata: “Demi Allah, aku melalui hari-hari pertamaku dengan bertahan dari perbuatan buruk yang kalian lakukan padaku dan juga dari para suamimu. Celakalah kalian semua! Mengapa mereka menolak ketentuan Allah (dalam penunjukkan Imam Ali sebagai penerus Nabi), seperti yang sudah disampaikan oleh Rasulullah? Mengapa mereka rampas hak orang yang lebih mendatangkan manfaat bagi kalian; yang lebih mengetahui tentang urusan dunia dan akhirat kalian? Mengapa kalian sampai benci pada Ali? Demi Allah seandainya mereka membantunya dalam mengurus pemerintahan ini, Ali akan menjalankannya dengan baik sekali. Seandainya mereka melakukan itu, maka pintu-pintu keberkahan akan terbuka dari langit dan bumi.”
.
Fathimah Az-Zahra (as) seringkali menggunakan setiap kesempatan untuk memperingatkan dan memberitahu orang-orang tentang penyelewengan ketentuan Allah yang telah disampaikan oleh Rasulullah itu, akan tetapi mereka tidak menghiraukannya. Lalu kalau begitu bagaimana dengan masa depan nanti? Siapa lagi yang akan mengingatkan mereka dari penyelewengan ini? Bagaimana pesan suci dari Nabi ini bisa sampai pada generasi nanti? Sekarang saja sudah begini. “Ketika Rasulullah wafat, pesan sucinya langsung diinjak-injak oleh para pencari kekuasaan, yang menghendaki Islam karena ingin mendapatkan keuntungan duniawi darinya; dengan memanfaatkan kejahilan orang-orang yang ada di sekelilingnya.” Bagaimana bisa keberatan Fathiimah itu mencapai masa yang jauh? Bagaimana Fathimah bisa menyampaikan keberatannya kepada generasi yang akan datang yang terlahir jauh kemudian? Karena ……… dalam masa-nya saja Fathimah tak pernah memiliki kebebasan untuk menyampaikan rasa kehilangannya akan ayahandanya; ia tak punya kebebasan untuk menyampaikan apa yang pernah disampaikan ayahandanya.

.

KESYAHIDAN FATHIMAH DAN HARI-HARI TERAKHIR DARI KEHIDUPANNYA

dot[1]
fatima.zehraCatatan dari hari-hari terakhir kehidupan Fathimah (as) menunjukkan secara jelas siapa sebenarnya wanita suci dari durriyyat Nabi ini. Hari itu tanggal 3 Jumadil Tsani tahun 11H. Hari itu Fathimah Az-Zahra berkata kepada seluruh anggota keluarganya bahwa sekarang merasa baikan. Rasa nyeri yang ada di beberapa tulang iganya dan di tangannya sudah jauh berkurang dan panas demam yang ditimbulkan oleh rasa sakitnya itu sudah menurun. Kemudian ia bangkit dari tidurnya dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Ia memaksakan dirinya untuk memandikan anak-anaknya; akan tetapi kemudian muncul Bibi Fizzza dan Imam Ali untuk membantu dirinya memandikan anak-anak. Fathimah selesai memandikan anak-anak kemudian memakaikan pakaian dan memberikan makanan hingga kenyang. Setelah itu mengirimkan anak-anak itu kepada saudara sepupunya
.
Imam Ali (as) merasa terkejut melihat isterinya yang tercinta bangkit dari ranjangnya dan sudah mulai pekerjaan rumah tangganya. Lalu Imam Ali bertanya kepada isterinya apa yang terjadi dengan dirinya. Fathimah (as) menjawab, “Hari ini adalah hari terakhir dari hidupku. Aku ingin memandikan anak-anakku dan memakaikannya baju untuk yang terakhir kalinya karena setelah ini mereka akan menjadi anak-anak piatu, tak beribu!”
.
Imam Ali (as) kemudian bertanya bagaimana Fathimah bisa tahu bahwa ini adalah hari terakhir hidupnya dan sebentar lagi akan datang hari kematiannya. Kemudian Fathimah Az-Zahra (as) menjawab bahwa ia melihat ayahanda tercintanya (Rasulullah) di dalam mimpinya. Rasulullah berkata bahwa Fathimah akan segera bergabung dengan Rasulullah pada malam itu.
.
IMAM ALI: “Sebutkanlah apa yang ingin engkau aku lakukan, wahai puteri Rasulullah”
(Imam Ali lalu meminta setiap orang untuk meninggalkan rumah itu agar bisa bicara tenang dengan isterinya. Imam Ali kemudian duduk di samping isterinya)
FATHIMAH: “Suamiku tercinta, engkau tahu benar apa yang telah aku lakukan dan untuk apa aku lakukan itu semua. Aku mohon agar engkau memaafkan kecerewetanku selama ini;  mereka telah menderita terlalu banyak karena kecerewetanku ini selama aku sakit dan aku sekarang ingin melihat mereka bahagia di akhir hidupku ini. Aku bahagia sekaligus aku juga bersedih hati. Aku bahagia karena sebentar lagi aku terbebas dari segala kesulitan hidupku dan aku akan segera bertemu dengan ayahku; dan aku bersedih hati karena sebentar lagi aku akan berpisah dengan engkau, suamiku. Suamiku tercinta…………engkau tahu benar bahwa aku tak pernah berdusta; aku juga tetap setia dan berkhidmat padamu……………pernahkah aku membantahmu selama aku menjadi isterimu?”
.
IMAM ALI: “Masya Allah! Engkau adalah orang yang paling mengenal Allah'; isteri yang paling berbakti pada suaminya; isteri yang paling shalehah. Engkau lebih mulia dan lebih bertakwa sehingga takkan mungkin engkau membangkang kepadaku. Sungguh betapa beratnya aku harus berpisah denganmu dan harus kehilanganmu akan tetapi peristiwa ini memang takkan mungkin terelakan. Demi Allah! Engkau telah membuat kedukaanku kembali lagi. Baru saja aku bersedih hati karena ditinggalkan oleh Rasulullah, sekarang aku harus ditinggalkan olehmu. Sungguh kematianmu dan berpulangnya engkau itu adalah sebuah musibah yang sangat besar bagiku; akan tetapi kepada Allah-lah semua kita berpulang; semuanya ini milik Allah ta’ala, dan kepadaNyalah kita akan kembali (QS. 2: 156). Betapa pedihnya musibah ini. Musibah ini begitu besarnya hingga tak ada lagi bandingan yang sepadan dengannya.”
.
(Kemudian mereka berdua menangis bersama. Imam Ali memeluk isterinya yang tercinta seraya berkata)
IMAM ALI: “Suruhlah aku untuk melakukan apa yang engkau mau; engkau niscaya akan melihatku patuh dan setia pada apa yang engkau perintahkan. Akan aku utamakan segala apa yang engkau mintakan kepadaku. Akan aku utamakan kemauanmu itu diatas kemauanku.”
.
FATHIMAH: “Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu, suamiku. Sekarang, dengarlah wasiatku ini. Pertama, menikahlah segera sepeninggalku, akan tetapi engkau harus terlebih dahulu menikahi keponakanku Umamah. Umamah itu akan memperlakukan anak-anak kita seperti aku memperlakukan anak-anak kita. Selain itu, laki-laki itu tak bisa hidup layak tanpa adanya kehadiran seorang perempuan di sisinya. Umamah mencintai anak-anak kita dan Husein sangat dekat dengannya. Lalu biarkanlah Fizza (pembantu keluarga Imam Ali) tetap bersamamu hingga ia menikah, apabila ia masih mau bersamamu keluarga kita, biarlah ia tetap bersama. Fizza itu lebih dari sekedar pembantu bagiku. Aku mencintai Fizza seperti aku mencintai anak perempuanku sendiri.”
.
FATHIMAH: (kemudian melanjutkan pembicaraannya) “Aku mohon padamu agar nanti ketika aku dikuburkan jangan sampai ada satu orangpun yang pernah mendzalimiku hadir di pemakamanku, karena mereka telah menjadi musuhku; dan yang telah menjadi musuhku itu telah menjadi musuh Allah dan RasulNya. Jangan juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk menshalatiku; jangan juga beri kesempatan yang sama kepada para pengikutnya. Aku ingin engkau memandikan jenazahku di malam hari; kafani aku juga di malam hari dan shalati aku dan kuburkan aku di malam yang sama ketika semua mata umat manusia sedang tertutup dan semua pandangan tak terjaga. Dan setelah penguburan selesai, duduklah di dekat kuburku dan bacakan AlQur’an untukku.”
“Jangan sampai kematianku ini membuatmu patah semangat. Engkau harus berkhidmat kepada Islam dan kemanusiaan dalam jangka waktu yang lama setelah kematianku. Jangan sampai penderitaanku ini menjadikan hidupmu susah, berjanjilah kepadaku wahai suamiku.”
sayyida

IMAM ALI: “Baik, Fathimah isteriku tercinta. Aku berjanji.”

FATHIMAH: “Aku tahu bagaimana rasa cintamu kepada anak-anak kita akan tetapi berhati-hatilah dengan anak kita Husein. Ia sangat mencintaiku dan ia akan merasa sangat kehilangan diriku. Jadilah seorang ibu utuknya. Hingga saat ini ia masih sukan tidur di dadaku, dan sekarang ia akan segera kehilangan itu.”
(Imam Ali membelai tangan Fathimah yang patah  dan menyapu air matanya yang hangat. Fathimah memandang sendu kepada Imam Ali dan kemudian berkata:)
FATHIMAH: “Janganlah meratapiku, wahai suamiku. Aku tahu betul di balik wajahmu yang keras ada hati yang sangat lembut. Engkau sudah terlalu banyak menderita dan engkau akan menderita lagi lebih banyak.”
Fathimah Az-Zahra sudah siap menemui Tuhannya. Ia sekarang mandi membersihkan dirinya kemudian berpakaian lengkap dan sudah itu langsung berbaring di atas ranjangnya. Ia memintah Asma binti Umays untuk menunggu dirinya sebentar dan kemudian memanggil namanya. Apabila tidak ada jawaban ketika namanya dipanggil……………berarti Fathimah sudah meninggalkan dunia ini menemui Tuhannya.
Asma bint Umays menunggu beberapa waktu lamanya dan kemudian ia memanggil-manggil nama Fathimah akan tetapi tidak ada jawaban dari Fathimah. Asma binti Umays memanggil sekali lagi: “Wahai puteri terkasih Muhammad! Duhai puteri paling mulia yang pernah dilahirkan oleh wanita mulia! Duhai puteri terbaik dari orang-orang yang terbaik yang pernah berjalan di muka bumi ini! Duhai puteri Rasulullah yang kedekatannya sama dengan jarak dua busur panah bahkan lebih dekat lagi” (QS. 53: 9)
;
Tak ada jawaban sama sekali yang bisa terdengar dari puteri Nabi………; kebisuan mencekik ruangan sempit dimana jenazah suci sang puteri Nabi tergeletak tak bergerak. Asma binti Umays kemudian mendekat ke jenazah suci itu dan memang betul tubuh kurus puteri Nabi itu sudah tak bernyawa lagi. Ruh suci yang harum telah meninggalkan tubuh kuyu itu dan menjumpai ayahnya, Rasulullah, di hadapan sang maha lembut, maha kasih dan maha sayang.
Tepat pada saat itulah Imam Hasan (as) dan Imam Husein (as) yang masih kanak-kanak memasuki rumah dan bertanya pada Asma binti Umays: “Dimanakah ibu?” “Ibu kami tidak biasanya tidur pada saat siang hari seperti ini!”
Asma bint Umays menjawab: “Wahai putera Rasulullah! Ibumu itu tidak sedang tidur………ia telah mendahului kalian semua. Ia sudah meninggal dunia!”
Ketika Imam Hasan (as) mendengar kata-kata seperti itu, ia menjatuhkan dirinya ke tubuh ibunya yang sudah dingin dan ia menciumi pipi ibunya dan wajahnya seraya berkata kepadanya: “Ibuku yang kusayang! Berbicaralah kepadaku sebelum engkau meninggal dunia.”
Imam Husein (as) datang dan kemudian ia juga mendekati ibunya dan menciumi kaki ibunya dan berkata: “Ibuku sayang! Ini aku Husein, anakmu. Bicaralah kepadaku sebelum engkau meninggal.”
Kemudian, Imam Husein berpaling kepada Imam Hasan dan berkata: “Semoga Allah menghibur dirimu atas kepergian ibunda kita”
Ada dua hadits yang berbeda tentang keberadaan Imam Ali (as) ketika Fathimah meninggal dunia. Salah satunya menyebutkan bahwa Imam Ali ada bersama Fathimah pada saat kematian isterinya itu. Dan hadits yang lain adalah sebagai berikut:
(Imam Ali sedang berada di mesjid. Imam Hasan dan Imam Husein pergi ke mesjid dan menceritakan tentang wafatnya ibu mereka kepada ayahnya. Segera setelah Imam Ali mendengar berita itu, ia terjatuh pingsan. Ketika siuman, ia berkata: “Siapa lagi yang bisa menghiburku ketika aku sedih dan pilu, wahai puteri Muhammad? Engkau dulu selalu menghiburku dan sekarang siapakah yang bisa menggantikan kedudukanmu?” Fathimah Az-Zahra (sa) meninggal dalam usia yang masih muda dan Imam Ali senantiasa mengenang saat-saat indah bersamanya. Imam Ali senantiasa berkata: ““Sekuntum bunga tumbuh berkembang; bunga itu berasal dari surga dan kembali ke surga…………akan tetapi keharumannya yang ia tinggalkan, tetap bersemayam dalam ingatan”
ya.fatima

Kaum wanita dari bani Hasyim kemudian dikumpulkan dan diberitahu tentang musibah yang sangat besar itu. Betul, memang musibah yang sangat besar. Dan musibah besar itu datang setelah musibah besar lainnya datang sebelumnya. Belum lagi sembuh luka hati ini karena telah ditinggal Nabi; sekarang beberapa kelompok umat Islam yang masih setia kepada keluarga Nabi ditinggalkan pula oleh puteri Nabi yang mereka cintai itu.

Ketiak orang-orang di kota Madinah sadar bahwa Fathimah Az-Zahra itu sudah menemui kesyahidannya (syahid karena luka-luka—luka dalam dan luka luar—yang telah diderita olehnya karena serangan yang dilakukan oleh para pengawal khalifah pertama atas perintahnya—red). Mereka berkumpul di depan rumah Fathimah dan menunggu untuk melakukan upacara penguburan. Akan tetapi kemudian mereka mendengar bahwa upacara penguburannya akan ditunda. Pada malam hari, ketika orang-orang sudah tertidur dengan lelapnya, Imam Ali (as) mulai memandikan jenazah Fathimah dan mengkafaninya dengan rapi. Dan itu dilakukannya—sesuai dengan bunyi wasiat isterinya—dengan tanpa kehadiran orang-orang yang telah membenci dan dibenci oleh Fathimah. Orang-orang yang sudah melakukan penyerbuan ke rumahnya dan hendak membakar rumahnya. Setelah Imam Ali selesai memulasara jenazah Fathimah, Imam Ali menyuruh Imam Hasan dan Imam Husein yang waktu itu masih kecil untuk memanggil beberapa sahabat Nabi yang setia dan jujur yang juga disukai oleh Fathimah agar membantu proses penguburannya hingga selesai. Tidak lebih dari 7 orang saja yang dilaporkan oleh sejarah yang turut membantu dalam proses penguburan itu. Setelah mereka datang; Imam Ali melakukan shalat dan berdoa dan kemudian menguburkan jenazah isterinya yang tercinta itu. Sementara itu kedua putera tercintanya berdiri sedih tidak jauh dari liang lahat yang sebentar lagi akan ditutup memisahkan mereka berdua dengan ibunya yang tercinta. Mereka berdua menangis diam-diam menahan rasa pilu yang membuncah di dalam dada keduanya.
Ada dua hadits yang tentang wafatnya Fathimah. Yang satu mengatakan bahwa wafatnya itu terjadi 75 hari setelah wafatnya Rasulullah sementara hadits lainnya mengatakan bahwa wafatnya Fathimah itu terjadi setelah 95 hari dari wafatnya Rasulullah. Seperti yang kita ketahui, Rasulullah itu meninggal pada tanggal 28 Safar. Jadi 75 hari setelah bulan Safar itu kira-kira tanggal 13, 14, atau 15 Jumadil Awwal. Sedangkan kalau 95 hari maka para sahabat menghitungnya sampai tanggal 3 Jumadil Tsani. Karena kita tidak tahu persisnya kapan bunda Fathimah meninggal, maka kita menggabungkan tanggal 13, 14 dan 15 Jumadil Awwal itu dengan tanggal 3 Jumadil Awwal sebagai hari-hari bunda Fathimah atau dalam bahasa Parsi disebut Ayyame Fatimiyya
.
Sebuah rombongan kecil yang terdiri dari orang-orang yang setia dan patuh pada Rasulullah tampak berjalan gontai. Segukan tangis lirih dan terasa mengiris-iris hati yang pilu terdengar dari mereka. Wajah-wajah mereka lusuh tertunduk tersembunyi dalam tutup-tutup kepala yang jatuh menaungi kepala-kepala mereka. Rombongan itu berjalan tanpa mengeluarkan bunyi berarti ke sebuah tempat sunyi yang khusus untuk menguburkan salah seorang manusia suci yang mereka cintai. Mereka berjalan dalam kegelapan malam pada bulan Jumadil Tsani, hari ketiga di tahun sebelas Hijriah. Rombongan itu menyusuri jalan-jalan kota Madinah. Terasa segar dalam ingatan baru beberapa lama lewat mereka melakukan hal yang sama untuk manusia suci lainnya, Muhammad Al-Mustafa. Sekarang giliran puterinya yang tercinta…………Fathimah Az-Zahra (as).
Dalam rombongan itu ada anak-anak dengan ayah mereka beserta teman-teman dekat dari sang ayah; mereka semua berjalan dalam kebisuan dan kesabaran. Pada wajah-wajah mereka tampak kepasrahan dan keridhoan akan apa yang telah menimpa mereka selama beberapa hari ini. Akan tetapi meskipun begitu sesekali masih terdengar tangis yang tertahan di tenggorokan; air mata mengucur deras dengan tangisan yang lirih sekali hampir tak terdengar seakan ingin menyembunyikan kepedihan yang telah menimpa mereka agar tidak ada orang yang mendengar mereka di kegelapan malam karena memang mereka tidak ingin seorangpun tahu di kota Madinah itu bahwa mereka sedang melakukan sebuah perbuatan yang akan direkam baik oleh sejarah.
Seorang ayah yang tadi disebutkan di atas ialah Imam Ali (as); sementara anak-anak yang turut bersamanya ialah putera-puterinya. Ada Imam Hasan (as) di sana; ada Imam Husein (as), ada Zainab, dan ada Umm Kultsum yang berjalan gontai dalam kebisuan di belakang ayahnya. Bersama mereka ada para sahabat pilihan yang sangat setia kepada Nabi baik ketika Nabi masih hidup atau ketika sudah wafat. Mereka adalah Abu Dzar, Ammar bin Yasir, Miqdad al-Aswad, dan Salman Al-Farisi.
Ketika setiap mata dari penduduk Madinah tertutup; ketika tak ada suara sedikitpun dari mereka, rombongan surga itu meninggalkan rumah Imam Ali membawa usungan tandu berisi jenazah suci dari puteri sang Nabi, Fathimah az-Zahra. Anak-anaknya sekarang mengantar jenazah ibunya itu ke sebuah pemakaman yang sunyi yang sudah ditentukan.
Akan tetapi dimanakah ribuan penduduk kota Madinah yang seharusnya ada di tempat?

Ketika iringan pengantar jenazah puteri Nabi itu lewat?  

Mengapa tak seorangpun dari mereka datang melawat?
Mengapa pemakamannya dilangsungkan pada saat dianggap sangat tidak tepat?

Mengapa harus dilangsungkan di kegelapan malam yang pekat?

Fathimah memang merencanakan itu semua sebelumnya. Fathimah telah memberikan wasiat kepada Imam Ali agar para penduduk kota Madinah itu tidak datang ke pemakamannya. Ia ingin dikuburkan pada malam hari dan ingin agar kuburannya disembunyikan dari pengetahuan penduduk kota Madinah.
Ada kesunyian yang mencekam di sana. Tiba-tiba terdengar tangisan agak keras dan parau memecah kesunyian yang tadi. Tangisan itu datang dari pahlawan padang pasir yang musuh manapun pasti akan ngeri dan menyingkir. Tangisan itu sekarang terdengar lebih keras seakan menghabiskan rasa kepenasaran karena sedari tadi tangisan itu ia tahan. Ia berkata dalam tangisannya:

“Ya, Rasulullah! Salam bagimu, wahai kekasihku. Salam dariku dan dari puterimu yang sekarang ini akan datang kepadamu dan ia sangat bergegas meninggalkanku untuk sampai kepadamu. Ya, Rasulullah, rasa luluh lantak terasa pada diriku dan rasa lemah tak berdaya telah menggerogoti diriku. Itu tak lain karena engkau dan puterimu telah meninggalkanku. Tapi aku sadar semua ini milik Allah dan kepadaNyalah segala sesuatu itu kembali (QS. 2: 156)
shaheed
Semua yang telah dititipkan itu akan diambil kembali; semua yang pernah kita miliki itu akan diambil lagi oleh pemiliknya yang sejati. Sementara itu kepedihan dan kesedihan Ali, tetap bermasayam dalam dirinya baik siang maupun malam hari. Tak ada batasan jelas untuk Ali kapan ia bersedih dan kapan ia terbebas dari kesedihannya itu. Kepergian dua orang yang dicintainya sangat mengguncang dirinya. Perasaan itu akan tetap pada dirinya hingga dirinya nanti bertemu lagi dengan yang dicintainya……yaitu pada hari dimana ia dipanggil oleh Allah untuk menghadapNya. Imam Ali kembali mengadu kepada Rasulullah dalam rintihan yang lirih……”Ya, Rasulullah, puterimu pastilah akan mengadukan kejadian yang sedang menimpa umat ini. Puterimu ingin umat ini bersatu kembali. Puterimu ingin agar engkau datang kembali agar bisa mempersatukan umat yang sudah bercerai berai ini. Dan engkau nanti akan bertanya padanya secara rinci. Engkau akan bertanya mengapa umat ini menentang keluarga nabi. Mengapa mereka mengkhianati apa-apa yang telah ditentukan oleh Nabi. Dan mengapa mereka melakukan hal ini padahal kematianmu itu baru saja terjadi dan umat masih merasakan kejadian ini!”
“Salam untuk kalian berdua! Salam perpisahan dariku yang sedang berduka bukan dariku yang telah tak suka kepada kalian berdua. Kalau aku pergi dari pusara kalian, itu bukan karena aku merasa bosan kepada kalian. Dan kalau aku berlama-lama di pusara kalian, itu bukan karena aku tak lagi percaya dengan kuasa Tuhan dan apa yang telah Tuhan janjikan kepada orang-orang yang tengah ditimpa kepedihan.”
Setelah menguburkan Fathimah az-Zahra (as), rombongan berisi keluaga dekat Nabi dan para sahabat pilihannya segera bergegas kembali ke rumahnya masing- masing sehingga tidak ada satu orangpun di kota Madinah yang tahu dimana Fathimah dikuburkan.
Sesampainya mereka di rumah, anak-anak dengan segera sadar bahwa mereka telah ditinggalkan oleh ibunya. Mereka merasakan kesepian yang mencekik. Imam Ali segera menghibur mereka supaya kesedihan tak terlalu larut membawa pikiran mereka. Akan tetapi itu tidak mudah dilakukan. Imam Ali mencoba menenangkan diri mereka dan kemudian ia sendiri masuk ke dalam kamar dan kemudian larut dalam tangisan yang sendu. Pahlawan Badar, Uhud, Khaybar, Khandaq dan beberapa perang lainnya itu merasakan kelelahan yang luar biasa dalam menahan kepedihan dan akhirnya ia lampiaskan dalam tangisan. Tangisan karena rasa cinta dan kehilangan; bukan tangisan manja dan penuh keputus-asaan
.
Mereka semua telah melalui serangkaian kejadian yang menyesakkan sepeninggal Rasulullah. Pengangkatan Imam Ali di Ghadir kum telah dilupakan secara sengaja oleh banyak orang; tanah Fadak sudah dirampas; rumah mereka telah diserang oleh para utusan khalifah pertama; pintu rumah keluarga Nabi yang dibakar menimpa Bunda Fathimah az-Zahra—pintu itu mematahkan beberapa tulang iganya dan menggugurkan kandungannya. Isteri sang Imam harus terbaring sakit di ranjangnya selama beberapa hari setelah itu; terbaring sendirian dan terisolasi dari dunia luar dan kemudian meninggal dalam kepedihan yang menyesakkan!
Salah satu sudut pandang tempat bernama Ghadir Khum
Malam hari itu setiap anak terpaksa saling menghibur untuk meredakan kesedihan mereka. Mereka berkumpul dalam satu kamar dan tidur kelelahan……………hari-hari yang berat akan masih menyambangi mereka satu demi satu. Sementara itu Bunda Fathimah menyaksikan mereka dengan wajah sendu.

MENGAPA KUBURANNYA DIRAHASIAKAN?

Hingga detik ini tidak ada seorangpun yang tahu persis dimanakah kuburan dari sayyidah Fathimah (as) yang kepadanya Rasulullah selalu memberikan pernghormatan yang penuh takzim. Rasulullah selalu senantiasa berdiri menyambut apabila Fathimah datang menjenguk. Rasulullah seringkali didengar orang berkata: “Fathimah itu adalah bagian dari diriku. Siapapun yang menyakiti diri Fathimah akan berarti menyakiti diriku.” Rasulullah juga seringkali berkata: “Barangsiapa yang menyakiti Fathimah, ia berarti menyakitiku; barangsiapa yang menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah!”. Rasulullah juga seringkali berkata: “Allah menjadi sangat marah karena kemarahan Fathimah; dan merasa senang dengan rasa senang Fathimah.” Sejarah telah mencatat bahwa Fathimah dikuburkan di sekitar Jannat al-Baqi di Madinah akan tetapi tidak ada seorangpun yang tahu tempat persisnya; tak ada seorangpun yang bisa menunjukkan dengan pasti di mana makam dari puteri Nabi yang suci itu.

USAHA-USAHA UNTUK MENCARI DAN  MEMBUKA KUBURAN FATHIMAH (as) DI JANNAT AL-BAQI SENANTIASA MENGALAMI KEGAGALAN


dot[1]
fatima.zahraKetika matahari terbit di keesokan harinya, orang-orang di kota Madinah berduyun-duyun menuju rumah Ali (as). Mereka ingin ikut serta dalam upacara penguburan dari puteri kandung Rasulullah itu. Akan tetapi mereka terpaksa gigit jari karena upacara penguburan telah lama selesai. Penguburan sayyidah Fathimah dilakukan secara sembunyi-sembunyi di malam hari dan tanpa kehadiran penduduk kota Madinah.
Pada saat yang bersamaan Imam Ali sedang membuat empat buah kuburan baru di Jannat al-Baqi untuk mengelabui para penduduk kota Madinah supaya orang-orang tidak tahu dimana letak kuburan Fathimah yang sebenarnya. Ketika para penduduk kota Madinah memasuki kompleks pemakaman, mereka kebingungan karena ada empat buah kubur yang baru dan mereka tidak tahu yang mana yang kuburan Fathimah (as) yang asli. Mereka saling pandang satu sama lainnya dan segera saja perasaan bersalah menyelimuti mereka. Mereka berkata: “Nabi kita tidak meninggalkan satupun anak kecuali Fathimah (as). Dan sekarang puteri Rasulullah telah meninggal dan kita sama sekali tidak ikut serta dalam upacara penguburannya. Kita bahwak tidak sadar dan tidak tahu persis dimana letak makamnya”
Kompleks pemakaman Jannatul Baqi sebelum dihancurkan rezim Saudi pada tahun 1925
Pemerintah yang berkuasa sadar sekali akan bahaya yang mengancam dari peristiwa ini. Kematian puteri tercinta Nabi setelah kejadian penyerbuan ke rumahnya oleh pemerintah yang berkuasa, serta upacara penguburan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi akan mengharu biru perasaan emosi dari para penduduk kota Madinah. Oleh karena itu, pemerintah membuat pengumuman yang mengejutkan: “Buatlah kelompok berisi wanita Muslimah dan suruh mereka untuk menggali makam-makam ini agar kita bisa menemukan mayat Fathimah dan kita bisa menshalatkan dia dan menguburkannya lagi”
Kompleks pemakaman Jannatul Baqi setelah penghancuran yang diperintahkan oleh rezim Saudi. Rupanya rezim Saudi menindaklanjuti rencana rezim Abu Bakar yang tertunda belasan abad sebelumnya.
Kemudian mereka tanpa basa-basi lagi dan tanpa mengenal rasa malu dan khawatir sedikitpun mulai melaksanakan rencana mereka. Mereka melanggar wasiat yang telah diberikan oleh Fathimah! Mereka juga melanggar hak-hak privasi seseorang. Imam Ali telah berusaha untuk menyembunyikan makam Fathimah akan tetapi mereka berusaha untuk membongkarnya.
Apakah mereka telah lupa betapa tajamnya pedang Imam Ali, Zulfiqar? Apakah mereka telah lupa betapa beraninya Imam Ali? Apakah mereka akan mengira bahwa Imam Ali akan tetap diam melihat perbuatan tercela mereka? Apakah mereka mengira Imam Ali akan diam tak bertindak melihat mereka membogkar kuburan Fathimah?
Kompleks pemakaman Jannatul Baqi sekarang……….rata dengan tanah. Tidak menyisakan keindahan melainkan sebuah gurun gersang. Kalau saja orang tidak pernah mengingatnya sebagai kompleks pemakaman para sahabat dan isteri-isterin Nabi dan Ahlul Bayt Nabi, mungkin orang sama sekali tidak bisa mengetahui nilai sejarahnya. Rezim Saudi ingin melupakan nilai historis dari kompleks pemakaman ini.
Imam Ali sama sekali tidak melawan atau melakukan tindakan balasan atas perlakuan rezim Abu Bakar sepeninggal Rasulullah karena Imam Ali tidak ingin perlawanannya menimbulkan perpecahan di kalangan Muslimin. Umat Islam akan terpecah-pecah kedalam berbagai kelompok kepentingan dan itu tak bisa dihindarkan kalau Imam Ali melawan. Imam Ali dan keluarga Nabi terpaksa mengorbankan dirinya sebagai tumbal untuk persatuan dan keutuhan umat Islam. Imam Ali selama ini tidak melawan meskipun ada tindakan-tindakan kejahatan yang dilakukan kepada Fathimah sebelum maupun setelah Nabi wafat. Imam Ali tidak melawan karena Imam Ali telah diperintahkan oleh Rasulullah untuk bersabar, akan tetapi kesabaran itu sampai pada batas yang telah ditentukan. Ketika Imam Ali menerima berita bahwa rezim Abu Bakar akan membongkar kuburan Fathimah, Imam Ali dengan segera mengenakan pakaian perangnya dan bergegas menuju pemakaman Jannat al-Baqi. Seseorang dari mereka berteriak melihat kedatangan Imam Ali, “Ini Ali bin Abu Thalib datang dengan menghunus pedangnya dan berkata: “Barangsiapa ada yang berani untuk membongkar makam puteri Nabi walaupun ia hanya memindahkan sebuah batu darinya, aku akan memukul punggungnya dengan pedang hingga orang terakhir dari kalian, wahai kaum yang dzalim.”
Orang-orang yang tahu benar akan keseriusan Imam Ali segera mundur teratur melihat ancaman itu bukan hanya sekedar bualan. Mereka sadar bahwa Imam Ali akan melaksanakan ancamannya kepada orang yang berani mengganggu kuburan isterinya, Fathimah. Pada waktu itu, ada seorang suruhan dari pemerintah yang berkuasa yang datang dengan gemetar menghadap Imam Ali sambil berkata: “Ada apa gerangan, ya Abbal Hasan? Demi Allah, kami ini akan menggali kuburannya dan membawa jasadnya keluar untuk kami shalatkan.”
Imam Ali menjambak pakaian orang itu dan mengguncang-guncangnya kemudian melemparkannya ke tanah jauh sekali dan kemudian berkata: “Wahai anaknya Sawada! Aku telah lama mengabaikan hakku dan kewajibanku untuk melindungi orang-orang dari mencampakkan keyakinannya…………akan tetapi demi kuburan Fathimah dan demi DIA yang jiwaku ada di tanganNya, apabila engkau dan para pengikutmu berusaha untuk membongkar kuburan Fathiimah, maka saksikanlah…………aku akan menggenangi tanah ini dengan darah kalian!”
Pada saat-saat kritis seperti ini akhirnya Abu Bakar datang tergopoh-gopoh dan menggigil ketakutan sambil berkata: “Wahai Abu Al-Hasan, aku memohon kepadamu demi hak Rasulullah dan demi DIA yang ada di Arasy; tinggalkanlah lelaki itu dan kami berjanji tidak akan melakukan apapun yang engkau tidak sukai.”
Akhirnya hingga saat ini detik ini, lokasi dari kuburan Fathimah (as) tetaplah misteri………tak seorangpun yang tahu.
fatimah2
Fathimah az-Zahra (as) telah berwasiat agar dikuburkan pada malam hari. Permintaannya agar kuburannya disembunyikan merupakan pesan tersendiri yang ingin disampaikan lewat rintang sejarah hingga ke masa yang akan datang. Fathimah Az-Zahra (as) ingin agar pesan ini sampai kepada seluruh umat Islam………….pesan yang menyatakan bahwa keluarga Nabi telah disia-siakan dan didzalimi serta hak-haknya dirampas oleh rezim yang berkuasa. Dan ini bisa menjadi titik balik sejarah di kehidupan seseorang yang hanya mengetahui satu versi sejarah yaitu sejarah yang ditulis dan diajarkan penguasa dan diindoktrinkan ke dalam sel-sel darah umat Islam.
Fathimah Az-Zahra membangkitkan kehidupan dari kematian; memberikan kemenangan dari kekalahan; dan sebuah cerita kepahlawanan dan perdamaian dari jaman ke jaman ia ciptakan dari hidupnya yang penuh kepedihan. Fathimah menciptakan sebuah revolusi di setiap jantung kaum Muslim yang sadar dari satu generasi ke generasi lainnya. Jantung Fathimah masih berdetak di sela-sela detak jantung umat Islam. Dan kedua belah matanya terjaga menunggu bendera kebebasan yang akan berkibar bersama dengan kedatangan puteranya yang ditunggu-tunggu yaitu Imam Mahdi (as).
Sekarang ini, seperti juga pada jaman-jaman lainnya yang telah lalu, kita semua menghadapi kepedihan dan penindasan. Kita harus bersabar dalam menghadapi kepedihan ini. Kita harus meneruskan pesan Fathimah ini ke generasi selanjutnya. Kita harus sampaikan penderitaan keluarga Nabi ini kepada generasi kita dan selanjutnya agar mereka tahu bahwa Rasulullah dan misi keIslamannya telah mendapatkan tekanan dari orang-orang terdekatnya dan Islam telah dicampuri dan dikotori oleh mereka.

AL QURAN MENYURUH MENJAGA SEMUA PENINGGALAN AHLULBAIT, MENGHORMATI PENINGGALAN SEJARAH ITU TERMASUK SYIRIK (?)

DAFTAR KUBURAN DAN TEMPAT SUCI YANG MENGALAMI PENGHANCURAN

Kompleks pekuburan Al- Mu’allah di kota Mekah dimana di dalamnya ada makam Sayyida Khadija binti Khuwailid—isteri Rasulullah, kemudian makam dari bunda Amina binti Wahab—ibunya Rasulullah, kemudian Abu Thalib—paman Rasulullah, ayahanda dari Imam Ali—yang sangat dicintai dan mencintai Rasulullah yang jasanya untuk Islam sangat besar.
makam-bibi-amena
Makam Aminah binti Wahab, ibunda dari Rasulullah. Sekarang hancur dan hanya berupa tumpukkan batu tak terurus. Kaum Wahabi dan rezim Saudi adalah dalang dan pelaku dari penghancuran ini.
KOMPLEKS PEMAKAMAN BAQI SEBELUM TRAGEDI PENGHANCURAN TERJADI



KOMPLEKS AL-BAQI SETELAH DIHANCURKAN WAHABI DAN REZIM SAUDI

 

KOMPLEKS AL-BAQI ITU DENGAN LATAR BELAKANG KOTA MADINAH

KOMPLEKS PEMAKAMAN DARI ATAS DENGAN LATAR BELAKANG KOTA MADINAH

PETA LOKASI KUBURAN PARA SAHABAT DAN ANGGOTA KELUARGA NABI DI KOMPLEKS AL-BAQI






BEBERAPA MAKAM LAIN DI AL-BAQI DAN AL-MU’ALLA



KUBURAN IMAM HASAN DAN 3 ORANG IMAM LAINNYA





KUBURAN ANGGOTA KELUARGA AHLUL BAYT

KUBURAN IBRAHIM PUTERA RASULULLAH
Ibrahim adalah putera tercinta Rasulullah. Ia meninggal ketika masih kecil. ibunya ialah Ummul Mu’minin Sayyidah Maria Qutbia He was beloved son of prophet (saw). He passed away in his child hood. His mother was um-ul-momeeneen Syeda Maria Qutbia yang kuburannya juga bisa anda temukan di Al-Baqi.
KUBURAN HALIMAH 

Halimah Sadia adalah ibu susuan dari Rasulullah. Dialah yang menyusui Rasulullah ketika Rasulullah masih bayi.
KUBURAN ISTERI-ISTERI RASULULLAH DI MADINAH

Semua isteri Rasulullah dikuburkan di sini kecuali Khadijah binti Khuwailid yang dimakamkan di Mekah di Jannat al-Mu’alla.


KUBURAN SAFIA

di paling kiri adalah kuburan Safia dan di tengah adalah kuburan Atika dan di sebelah kanan adalah kuburan dari Ummul Baiza–semuanya adalah bibi-bibi dari Rasulullah

Sayyida Safia dikenali masuk Islam. Ia sangat mencintai Rasulullah yang merupakan keponakannya itu. Ia adalah seorang wanita yang pemberani. Ia ikut dalam peperangan Uhud bersama para prajurit Muslimin lainnya. Ia bekerja menolong para prajurit yang terluka. Ia juga memberikan dan menyediakan suplai makanan dan minuman untuk para tentara yang bertempur di medan perang.


KUBURAN PARA PUTERI NABI

Berikut adalah makam para puteri Nabi

No1. Syeda Zainab R.A
No2. Syeda Umm-e-Kulsoom R.A
No3. Syeda Ruqiya R.A



KUBURAN DARI PAMAN NABI, ABBAS BIN ABDUL MUTTALIB

Ini adalah kuburan salah satu dari paman Nabi yang masuk Islam selain Sayyidina Hamzah yang gugur di Uhud dan Abu Thalib yang dikuburkan di Mekah



MAKAM DARI JAFFAR BIN ABI THALIB DAN AQIL BIN ABI THALIB, SEPUPU DARI RASULULLAH

 

Selain itu ada juga makam dari Abdul Muttalib, kakek Rasulullah
Makam dari Bunda Hawa, isteri nabi Adam, di Jeddah
Makam ayahnya Rasulullah, Abdullah, di kota Madinah
Rumah Duka (Bayt Al-Ahzan) milik Sayyidah Fathimah, di kota Madinah
Mesjid Salman Al-Farisi, di kota Madinah
Mesjid Raj’at Asy-Syams, di kota Madinah
Rumah kediaman Rasulullah di kota Madinah, dimana ia tinggal setelah berhijrah dari kota Mekah
Rumah kediaman Imam Ja’far As-Sadiq, di kota Madinah
Kompleks Bani Hasyim, di ota Madinah
Rumah Imam Ali dimana Imam Hasan dan Imam Husein dilahirkan
Rumah Hamza dan kuburan-kuburan para syuhada perang Uhud

MENGAPA KITA HARUS MENJAGA SEMUA PENINGGALAN ISLAM?

ويريكم آياته فأي آيات الله تنكرون
“Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?” (QS. Al-Mukmin: 81)
Allah Ta’ala yang maha tahu dan maha kuasa telah menyebutkan ungkapan “tanda-tanda kekuasaan Allah” (آياته) beberapa kali dalam Al-Qur’an. “Tanda-tanda kekuasaan Allah” (آياته) itu bisa berbentuk tempat-tempat tertentu, kejadian-kejadian tertentu, orang-orang tertentu, musibah-musibah tertentu, dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun hanya satu hal yang bisa kita lihat dari Al-Qur’an ketika ia berbicara tentang “tanda-tanda kekuasaan Allah” (آياته) yaitu bahwa semuanya itu untuk mengingatkan manusia akan keberadaan Allah; rizkiNya yang selalu mengalir kepada manusia dan makhluk lainnya; pengampunanNya kepada maklukNya; kasih sayangNya; kemarahanNya; dan segala sifat yang dinisbahkan kepadaNya. Oleh karena itu, tempat-tempat ini; simbol-simbol atau lambang-lambang; kejadian yang bersejarah; dan orang-orang tertentu yang memiliki arti dalam sejarah yang kesemuanya itu bisa menjadi peringatan bagi umat manusia, bisa memperkuat ikatan cinta dan kepasrahan diri kepada Allah. Kesemua tanda-tanda kekuasaan Allah itu harus kita hormati, kita jaga dan kita ingat bukan saja sebagai sesuatu yang sakral akan tetapi juga sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan semangat dan kekuatan (kalau Ka’bah, misalnya dihancurkan, maka seluruh kaum Muslimin akan bersatu dan melupakan perbedaan diantara mereka. Mereka bersatu untuk mengutuk orang atau kelompok yang melakukan penghancuran itu. Jadi, Ka’bah itu mendatangkan kekuatan yaitu kekuatan pemersatu umat Islam—red).
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang tanda-tanda kekuasaan Allah maka tanda-tanda itu biasanya digunakan untuk mengingatkan umat manusia agar senantiasa berbuat baik dan selalu ingat padaNya. Oleh karena itu, selain “tanda-tanda tertentu” yang disebutkan oleh Al-Qur’an, “tanda-tanda lainnya yang tidak disebutkan spesifik” seperti pengorbanan Ibrahim; pelajarah dari Imam Husein di Karbala; sifat-sifat dan perbuatan Rasulullah sehari-hari; tempat suci seperti mesjid Nabawi dan Ka’bah suci semuanya bisa memperkuat hubungan manusia dan kedekatan manusia dengan sang maha pencipta. Oleh karena itu, sekali lagi, kita harus memelihara dan menjaganya agar tetap lestari dan memberikan fungsi yang kuat sekali untuk mengingat Illahi.
Kita tidak cukup beruntung karena kita dilahirkan di zaman dimana semua kejadian dan peristiwa itu tidak pernah kita saksikan. Oleh karena itu, kita  semua harus melihat semua kejadian dan peristiwa yang tidak pernah kita saksikan itu lewat peninggalan-peninggalan sejarah (dalam ilmu sejarah disebutrelics—red). Dengan alasan itulah maka kita harus menjaga semua peninggalan bersejarah itu dan bukan malah menghancurkannya. Dan tidak salah kalau kita memperkuat rasa cinta kita dan keyakinan kita dengan memelihara peninggalan-peninggalan bersejarah yang terpampang di hadapan kita untuk mengingat mereka yang telah berjasa mengajarkan Islam kepada kita dan akhirnya kita bisa juga memperkuat keyakinan kita akan adanya Tuhan bersama kita karena orang-orang yang mengajarkan tentang keberadaan Tuhan itupun kita yakini keberadaannya.
Itu adalah alasan yang kuat mengapa kaum Muslimin melestarikan sumur Zamzam (dan percaya ia bisa menyembuhkan atau mendatangkan keajaiban karena Tuhan—red); kemudian melestarikan Hajar Aswad; mempercantik kota Madinah; menjaga gua Hira; (walaupun untuk yang dua terakhir pemerintah Saudi tidak memiliki keyakinan sama sekali akan keberkahan yang disemburatkannya—red). Sebagian Muslimin juga menghormati tanah Karbala dan lain-lain selain tempat-tempat suci lainnya seperti tempat untuk melontar Jumrah dan Maqam Ibrahim (disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai tempat beribadah yang harus dihormati juga)………Bentuk-bentuk simbolis dan benda-benda peninggalan bersejarah ini kesemuanya membentuk ikatan yang kuat antara kita dengan pribadi-pribadi agung yang telah mengenalkan ajaran dan mengajarkan akhlak yang mulia kepada kita.

MENGHORMATI PENINGGALAN SEJARAH ITU TERMASUK SYIRIK (?)

Ada sementara orang yang karena kejahilannya mengira bahwa Tauhid itu artinya kita hanya mencintai dan menghormati Allah saja. Mereka menganggap bahwa mencintai dan menghormati peninggalan bersejarah itu sebagai suatu bentuk kemusyrikan saja karena kita telah menyekutukan rasa cinta dan hormat kita kepada Allah dengan kecintaan dan rasa hormat kita kepada selain Allah. Untuk itu mereka mengutuk perbuatan tersebut di atas. Poin yang mereka ajukan ialah: mencintai seseorang selain mencintai Tuhan itu adalah perbuatan syirik. Mereka tidak pernah memahami mengapa seseorang itu menghormati maqam Ibrahim (tempat Ibrahim as. berdiri ketika Ka’bah dibangun—red)? Kita menghormati maqam Ibrahim itu bukan karena kita ingin menyembah sebuah batu atau sebuah tempat. Yang kita lakukan ialah menghidupkan kembali ingatan kita ketika Nabi Ibrahim as—yang kita cintai—sedang berdiri di sana. Karena kita mencintai Nabi Ibrahim, maka kita akan terpesona oleh tempat-tempat dimana beliau pernah berada. Kita mencintai Nabi Ibrahim karena Nabi Ibrahim sudah mencintai Allah demikian kuatnya dan Allah juga sudah mencintai Ibrahim dengan kecintaan yang dasyhat pula………oleh karena itu kita ingin menjadi bagian dari rasa kecintaan itu. Cinta yang mengalir antara Allah dan Ibrahim itu semuanya bermula dan bermuara; berujung dan berpangkal dari dan kepada Allah yang maha pencipta (Ibrahim mencintai Allah dan Allah mencintai Ibrahim. Karena kita mencintai Ibrahim maka Allah akan mencintai kita karena kita telah mencintai apa yang dicintai oleh Allah. Karena kita tidak pernah bertemu dengan Ibrahim maka apapun yang berhubungan dengannya kita cintai semuanya. Kita cintai ajarannya; kita cintai peninggalannya; kita cintai jejak rekam perbuatannya. Semua peninggalan Ibrahim—termasuk tempat dimana ia berdiri—kita hormati dan kita cintai. Kaum Wahabi gagal memahami ini—red).
Lihatlah ayat Al-Qur’an berikut ini:
“Ikhlaslah kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (QS. Al-Hajj: 31)
Kemudian lihat ayat berikutnya di surat yang sama:
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al-Hajj: 32)
Itu adalah definisi yang jelas tentang kemusyrikan. Menduakan Allah itu tidak boleh hukumnya dan orang-orang yang melakukannya akan menjadi orang-orang hina—derajatnya jatuh dari tempat yang tinggi (mulia) ke tempat yang rendah (hina). Akan tetapi Alah memperbolehkan dan menyuruh kita untuk mengagungkan syiar-syiar (tanda-tanda kekuasaan) Allah dan Allah malah menyebutnya sebagaisesuatu yang timbul dari ketakwaan hati.
Oleh karena itu, menghormati tanda-tanda kekuasaan Allah itu diperbolehkan malah diperintahkan.
Ayat lain mengatakan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah: 2)
Dalam ayat itu secara jelas diterangkan bahwa kita harus menghormati dan menjaga keselamatan orang-orang yang pergi menuju ke tempat-tempat suci untuk tujuan mencari keberkahan dari Allah. Bahkan hewan-hewan kurban dan bulan-bulan suci harus dihormati dan dijaga kesuciannya (jangan dikotori dan jangan diganggu—red).
Akhirnya, untuk menyanggah tuduhan “syirik” yang dialamatkan oleh orang-orang yang menolak tanda-tanda kekuasaan Allah dan bahkan ingin menghilangkan kecintaan orang padanya atau menghancurkan semua tanda-tanda kekuasaan Allah itu , cukuplah kiranya kita mengajukan sebuah ayat sebagai berikut:
“……… Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar” (QS. Lukman: 32)

Imam Ali merupakan ilmuwan yang mewariskan ilmu sains kepada syi’ah nya

MEMBAGI WARISAN

dot
mathematical.brillianceImam Ali bin Abi Thalib (as) diberkahi kemampuan matematis yang sangat cepat, akurat, dan lugas. Berikut ini ada beberapa kisah dimana Imam Ali (as) menggunakan kemampuan matematisnya yang ia tunjukkan kepada orang-orang.
Berapa bagian sang isteri?
Imam Ali (as) pada suatu ketika pembicaraannya dipotong oleh seseorang. Ketika itu Imam Ali sedang memberikan khutbah di atas mimbar dimana seseorang bertanya tentang bagaimana membagikan warisan seseorang yang meninggal meninggalkan seorang isteri, kedua orang tuanya, dan dua orang anak perempuan. Imam Ali tanpa berpikir sejenakpun langsung saja menjawab tanpa menghitung dan tanpa berpikir terlebih dahulu:
Bagian si isteri itu sepersembilan
Bagaimana itu bisa terjadi?
Jawaban ini ternyata merupakan sebuah perhitungan yang sangat panjang dengan serangkaian langkah yang rumit. Biasanya kita harus menentukan dulu pembagi dari setiap angka itu dengan pembagi aslinya terlebih dahulu seperti yang ditentukan oleh Allah dalam Al-Qur’an seperti:
1. “……… Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu……” (QS. An-Nisa: 12)
2. “………. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, …….” (QS. An-Nisa: 11)
3. ‘………… dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan………” (QS. An-Nisa: 11)
Jadi penghitungan sebagai berikut:
1/8 + 1/6 + 1/6 + 2/3 = 3/24 + 4/24 + 4/24 + 16/24 = 27/24
Ini artinya bahwa bagian itu menjadi kurang dari 1/8 dilihat dari bertambahnya jumlah total bagian yang telah ditentukan. Jadi satu perdelapan—yaitu bagian yang asli bagi wanita dari 24 bagian (total), menjadi tiga bagian dari 27 yaitu satu persembilan! Sungguh perhitungan yang rumit! Akan tetapi Imam Ali (as) menghitungnya dengan sangat cepat dan tanpa berpikir sama sekali!

ANGKA BULAT SEMUA DAN BUKAN PECAHAN

Pada suatu hari seorang Yahudi datang menemui Imam Ali (as). Orang Yahudi itu berpikir karena Imam Ali (as) itu sangat cerdas dan tak ada yang menandinginya waktu itu, maka ia akan memberikan pertanyaan yang sangat berat kepada Imam Ali (as). Pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab olehnya. Dan itu artinya ia bisa mempermalukan Imam Ali di hadapan seluruh bangsa Arab.
Orang Yahudi itu bertanya, “Imam Ali bin Abi Thalib, berilah aku satu angka yang apabila angka itu dibagi oleh angka lainnya dari 1 hingga 10, maka jawabannya selalu angka yang genap dan bukan pecahan.”
mathImam Ali bin Abi Thalib (as) melihat kepada orang Yahudi itu dan berkata, “Ambillah jumlah hari dalam satu tahun dan kalikan angka itu dengan jumlah hari dalam satu minggu dan engkau akan mendapapatkan angka itu.”
Orang Yahudi itu dibuat keheranan akan tetapi karena ia itu telah menjadi seorang yang musyrik (penyembah berhala), maka ia tidak beriman kepada Imam Ali (as). Ia mencoba untuk menghitung angka yang dimaksud oleh Imam Ali dan kemudian ia sekali lagi dibuat terheran-heran. Kalau tadi ia terheran-heran karena Imam Ali menjawab dengan cepat sekali tanpa perhitungan sama sekali; sekarang ia dibuat heran karena hasil dari perhitungan itu tepat sekali. Lihatlah penghitungannya di bawah ini:
Jumlah hari dalam satu tahun = 360 (perhitungan Arab yang menggunakan kalender bulan)
Jumlah hari dalam satu minggu = 7
Jumlah hari dalam satu tahun dikali dengan jumlah hari dalam satu minggu = 2520
Sekarang lihatlah angka itu dibagi dengan angka-angka dari 1 hingga 10 yang hasilnya harus genap:
2520 ÷ 1 = 2520

2520 ÷ 2 = 1260

2520 ÷ 3 = 840

2520 ÷ 4 = 630

2520 ÷ 5 = 504

2520 ÷ 6 = 420

2520 ÷ 7 = 360

2520 ÷ 8 = 315

2520 ÷ 9 = 280

2520 ÷ 10= 252

MEMBAGI 17 EKOR UNTA

camelSeseorang sudah hampir meninggal dan sekarang dalam keadaan sekarat. Sebelum meninggal ia menulis sebuah surat wasiat sebagai berikut:
“Aku memiliki 17 ekor unta dan aku memiliki 3 anak laki-laki. Bagikanlah unta-unta itu sehingga anak tertua mendapatkan setengah bagian; yang kedua mendapatkan sepertiga bagian; dan anak yang ketiga mendapatkan sepersembilan bagian dari unta-unta itu”

Setelah ia meninggal ributlah seluruh keluarga yang ditinggalkan demi membaca surat wasiat yang aneh ini. Mereka kebingungan dan berkata satu sama lainnya menunjukkan rasa kebingungannya. Mereka tidak tahu bagaimana cara membagi ke 17 ekor unta itu kepada anak-anak yang ditinggalkan mati ayahnya itu.
Setelah mereka berpikir keras akhirnya mereka menyimpulkan bahwa hanya ada satu orang di jazirah Arab ini yang bisa menolong mereka yaitu ALI BIN ABI THALIB (as).
Jadi………….berangkatlah mereka menuju rumah Imam Ali (as). Sesampainya di rumah Imam Ali mereka langsung mengajukan surat wasiat itu dan menanyakan jawaban penyelesaian dari masalah yang ada di surat wasiat itu.
Imam Ali tanpa berpikir panjang langsung menjawab, “Baiklah, aku akan membagi semua unta itu sesuai dengan surat wasiat yang dimaksud.”
“Pertama-tama  aku akan meminjamkan seekor untuk menggenapkan jumlah unta itu menjadi 18 ekor (17 + 1= 18), lalu sekarang mari kita bagi ke 18 unta itu sesuai dengan surat wasiat.”
“Anak yang tertua mendapatkan 1/2 bagian (dari 18 ekor) jadi ia mendapatkan 9 ekor unta”
“Anak yang kedua mendapatkan 1/3 bagian (dari 18 ekor) jadi ia mendapatkan 6 ekor unta”
“Anak yang ketiga mendapatkan 1/9 bagian (dari 18 ekor) jadi ia mendapatkan 2 ekor unta’
“Semuanya jumlah total yang dibagikan ialah 9 ditambah 6 ditambah 2 jadi 17 ekor unta”
“Sisa satu ekor unta” “Aku akan mengambil kembali untaku yang aku pinjamkan tadi.”

LIMA POTONG ROTI

five.loaves.of.breadZarr Bin Hobeish menceritakan kisah ini: “Dua orang pengelana duduk bersama untuk menyantap makan siang mereka. Mereka sudah jauh berjalan dan sekarang mereka akan beristirahat sejenak. Salah seorang dari mereka memiliki 5 potong roti. Sementara yang lainnya memiliki 3 potong roti. Seorang pengelana lain datang ke tempat mereka dan si pengelana itu ditawari untuk duduk bersama untuk melepaskan lelah sambil makan siang bersama.
Para pengelana itu memotong-motong roti itu semuanya, masing-masing kedalam tiga bagian yang sama. Setiap pengelana itu memakan 8 potongan kecil roti.
Ketika si pengelana ketiga yang ditawari makan itu akan beranjak pergi ia memberikan uang sejumlah 8 dirham dan memberikannya kepada orang pertama yang telah menawari dia makan roti. Kemudian ia pergi. Ketika menerima uang itu kedua pengelana itu mulai bertengkar satu sama lainnya karena mereka berselisih paham tentang siapakah yang berhak mendapatkan uang lebih banyak dan berapa banyak yang akan ia terima.
Yang memiliki roti 5 potong menghendaki 5 dirham. Sedangkah yang memiliki 3 potong roti ingin uang itu dibagikan sama rata untuk keduanya.
Pertengkaran itu sampai kepada Imam Ali. Mereka dibawa menghadap Imam Ali karena mereka bertikai di jalanan. Pada waktu itu Imam Ali sudah menjabat menjadi khalifah dan ia selalu memberikan keputusan yang sangat adil dibandingkan dengan para khalifah yang sudah berlalu sebelumnya.
Imam Ali (as) meminta orang yang memiliki 3 potong roti untuk menerima uang sebanyak 3 dirham, karena orang yang memiliki 5 potong roti sudah sangat adil padanya. Yang memiliki 3 potong roti menolak keputusan itu dan ia berkata bahwa ia ingin mendapatkan 4 dirham. Demi mendengar ini, Imam Ali (as) menjawab, “Engkau sebenarnya hanya layak mendapatkan satu dirham saja.” Coba hitung, kalian memiliki 8 potong roti besar semuanya. Setiap potongan besar roti itu dipotong menjadi 3 bagian kecil  sehingga kalian mendapatkan 24 potongan kecil roti. Roti engkau itu ada 3 potong dan kemudian masing-masing dipotong 3 bagian menjadi 9 potongan kecil. Engkau memakan 8 potongan kecil dan menyisakan satu potongan kecil saja untuk si pengelana yang tadi memberikan uang kepadamu. Sedangkan kawanmu ini memiliki 5 potong besar roti dan masing-masing dipotong kedalam 3 bagian kecil. Jadi ia memiliki 15 potong roti kecil. Ia makan 8 potong kecil dan sisanya yang 7 potong diberikan kepada si pengelana yang memberi kalian uang tadi. Jadi si pengelana ketiga itu mendapatkan satu potong kecil dari engkau dan 7 potong kecil dari temanmu ini. Kalau si pengelana itu memberikan kalian uang 8 dirham untuk 8 potong kecil roti itu, maka engkau memang berhak untuk satu dirham saja, sementara temanmu itu berhak mendapatkan 7 dirham.”

MEMBAGI UNTA MENJADI TIGA

dot[4]
camel1Tiga orang laki-laki sedang membagi seekor unta kedalam tiga bagian yang sama besarnya. Salah seorang dari mereka mengikat dua kaki depan unta itu; kemudian ia meninggalkannya untuk bekerja di ladang. 2 orang yang lain melihat unta itu diikat kaki depannya, maka mereka memutuskan untuk melepaskan ikatannya hingga cuma satu kaki saja yang terikat. Setelah itu keduanya berangkat. Ketika 3 orang itu pergi, unta itu berjalan menjauh dari tempat dimana ia diikat. Ia bisa berjalan menjauh karena hanya satu kaki depannya saja yang terikat. Ia berjalan menjauh hingga tiba-tiba ia terperosok kedalma sebuah sumur. Ketika 2 orang tadi datang, mereka merasa bersalah telah melepaskan kaki unta itu. Mereka akhirnya menyembelih untan itu dan dagingnya dibawa ke pasar untuk dijual.
Ketika orang yang satu kembali dari kerjanya, ia hanya mendapati kulit unta yang sedang dijemur. Usut punya usut ternyata 2 orang temannya telah menyembelih unta itu dan sedang menjual dagingnya. Ia tentu saja keberatan karena unta yang hidup akan memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada daging unta. Kerugian yang diderita sudah pasti datang padanya.
Ia kemudian mengadukan kasus itu kepada Imam Ali (as) yang akhirnya memutuskan untuk memberinya 1/3 dari harga unta itu ketika unta itu masih hidup. Ketika uang sudah didapatkan dari hasil penjualan daging itu, ternyata harganya sama persis dengan harga 1/3 unta itu kalau unta itu masih hidup.
Uang itu akhirnya semuanya diberikan kepada orang yang pertama dan dua orang lagi pergi dengan tangan hampa.
Ketika mereka akan pergi, Imam Ali berkata kepada keduanya bahwa mereka berdua telah lalai dalam menjaga unta itu hingga akhirnya unta itu masuk sumur dan terluka parah sekali hingga harus segera disembelih. Sementara temannya sudah berusaha semaksimal mungkin agar unta itu tetap pada tempatnya dengan mengikat kedua kaki depannya. Jadi kerugian yang diderita harus ditanggung oleh 2 orang dari mereka. Kerugian itu bukan kerugian orang yang pertama.

Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93

Anomali Sunni :
a. Thalhah bin  Ubaidillah di ancam  Allah SWT pada  QS. al Ahzâb[33];53 karena bersikap tidak senonoh
.
b. Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
c. Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas. Kok Sahabat bunuh sahabat sich ??
.
Akal saya sulit mencerna kontradiksi  ini…
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS. 4:93)
.
Wajarlah mazhab syi’ah imamiyah pantas menjadi AL Firqatun Najiyah alias satu satunya Firqah yang selamat
Posted on 31 Agustus 2009 by UMMATie

Di tengah eforia kemenangannya dalam pemilu Iran yang telah lama  digelar, Ahmadinejad sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad saw.

Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu—lebih gila lagi—disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.

Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua mengikuti Muawiyah!”

Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.

Benarkah ???

Thalhah dan Zubair Membantu Mu’awiyah melalui PERANG JAMAL, walaupun PERANG JAMAL bukan dipimpin Mu’awiyah namun akibat provokasi Mu’awiyah yang memanas manasi 

Umar bin Khattab berkata kepada Thalhah : “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum Rasul Allah wafat, ia marah kepadamu kerana kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saw wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”. Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53

Di bahagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”.

Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah. Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan: “Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya” Dan di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’

Tiada seorang nabi yang diganggu kaumnya seperti Nabi Muhammad saw. diganggu kaumnya!

Dan tiada nabi yang lebih sabar  dari Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi gangguan kaumnya, baik yang kafir maupun yang munafik atau yang lemah imannya!

Serta tiada dosa melebihi dosa mengganggu Allah dan Rasul-Nya! Allah melaknat dan mencampakkan ke dalam siksa pedih-Nya sesiapa yangberani-berani mengganggu rasul-Nya!

Allah SWT. berfirman:

إِنَّ الَّذينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذاباً مُهيناً.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. al Ahzâb[33] ;57)

Keterangan:

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir berkata, “Allah berfirman sembari mengancam dan manjanjikan siksaan atas sesiapa yang mengganggu-Nya dengan melanggar perintah-perintah-Nya dan menerjang larangan-larangan-Nya serta berterus-terus dalam melanggar. Allah juga mengancam sesiapa yang mengganggu Rasul-Nya dengan menisbatkan aib atau cacat –kami berlindung kepada Allah darinya-…. .” Dan setelah menyebutkan perselisihat pendapat para ahli tafsir tentang siapa atau kelompok mana yang dimaksud dengannya, di antaranya adalah pendapat Ibnu Abbas ra. bahwa yang dimaksud dengannya  adalah para sahabat yang mengganggu Nabi saw. terkait dengan pernikahan beliau saw. dengan Shaifyah binti Huyai ibn Akhthab, ia melanjutkan, “Yang zahir bahwa ayat itu bersifat umum untuk siapapun yang mengganggu beliau dengan bentuk gangguan apapun. Maka barang siapa mengganggu beliau berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah. Sebagaimana ta’at kepada beliau adalah ta’at kepada Allah.”[1]

Asy Syaukani menjelaskan makna mengganggu dengan: “Tindakan apapun yang tidak disukai Allah dan rasul-Nya berupa maksiat. Sebab mustahil Allah terganggu. Adapun makna la’nah (laknat) adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah. Dan Allah menjadikan ganjaran itu di dunia dan di akhirat agar mereka diliputi laknat sehingga tidak tersisa waktu hidup dan mati mereka melainkan laknat/kutukan Allah mengena dan menyertai mereka.”[2]

Dalam ayat di atas Allah menegaskan bahwa siapapun yang mengganggu Rasulullah saw. berarti ia menganggu Allah, sebab seorang rasul selaku rasul tidak lain adalah utusan Allah, maka siapapun yang mengganggunya berarti sebenarnya ia sedang bermaksud mengganngu Allah. Dan Allah mencancam bagi yang mengganngu-Nya dan mengganggu Rasul-Nya dengan kutukan/ laknatan yang akan mengena dan menyertainya di sepanjang kehidupan dunia dan akhiratnya, selain Allah siapkan siksa yang menghinakan kelak di hari kiamat ketika mereka dicampakkan ke dalam api neraka!

Allah mengancamnya dengan laknat yang artinya –seperti telah disebutkan- adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT. Dan rahmat Allah yang khusus bagi kaum Mukmin adalah berbentuk bimbingan kepada keyakinan yang benar/haq dan hakikat keimanan yang akan diikuti dengan amal shaleh. Jadi dijauhkan dari rahmat di dunia berkonsekuensi terhalanginya orang tersebut dari mendapatkan rahmat tersebut di atas sebagai balasan atas kejahatannya. Dan ia akan menyebabkan terkuncinya hati dari menerima kebenaran, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

لَعَنَّاهُمْ وَ جَعَلْنَا قُلُوبَهُم قاسِيَةً.

“Kami laknati mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al Mâidah [5];13)

Sebagaimana mata hati mereka menjadi buta dan telinga battin mereka menjadi tuli. Allah SWT berfiaman:

أُلئكَ الذين لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُم و أَعْمَى أَبْصارَهُمْ.

“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad [47];23)

Inilah ganjaran mereka yang menggangggu Rasulullah saw. di dunia. Adaapun ganjarang atas mereka di akhirat nanti adalah dijauhkan dari rahmat kedekatan Allah. Mereka dihalau dari mendapat anugrah-Nya. Dan setelah itu Allah menambahkan lagi dengan firman-Nya: “dan (Allah) menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang menghinakan mereka, karena daahulu di dunia mereka mengganggu Rasulullah saw. sebagai bentuk kecongkakan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka sekarang mereka dibalas dengan kehinaan abadi.

Salah Satu Bentuk Mengganggu Nabi saw.

Para ulama ahli tafsir Sunni menyebutkan bahwa di antara sikap yang mengganggu dan menyakitkan hati Nabbi saw. adalah ucapan sebagian sahabat bahwa ia akan menikahi seorang dari istri beliau saw. jika nanti beliau mati. Maka Allah merekam sikap tidak senonoh tersebut dalam firman-Nya:

وَ ما كانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَ لا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْواجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَداً إِنَّ ذلِكُمْ كانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظيماً.

“….Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. al Ahzâb[33];53)

Keterangan:

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah (dengan melanggar perintahnya baik yang terkait dengan sikap kalian terhadap istri-istri beliau atau dalam masalah-masalah lain) dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu ( menikahi istri-iastri beliau sepeninggal beliau)adalah (dosa yang) amat besar (dosanya) di sisi Allah.

Ayat ini mengesankan secara kuat bahwa sebagian sahabat telah menyebut-nyebut niatan/ucapan yang disebut di dalamnya bahwa ada di antara mereka yang berniat menikahi istri-istri Nabi saw. sepeninggal beliau saw.

Beberapa riwayat telah direkan para Ahli Hadis bahwa yang berbicara tidak sononoh itu adalah salah seorang sahabat Nabi saw. Sementara beberapa riwayat lainnya menegaskan bahwa sahabat yang dimaksud adalah Thalhal ibn Ubaidillah.

Jalaluddin as Suyuthi menyebutkan dalam kitab tafsir ad Durr al Mantsûr-nya delapan riwayat dalam masalah ini dari para muhaddis kenamaan Ahlusunnah, di antaranya adalah:

(1)   Ibnu Jarir ath Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Ada seorang datang menemui salah seorang istri Nabi saw. lalu berbincang-bincang dengannya, ia adalah anak pamannya. Maka Nabi saw. bersabda, ‘Jangan kamu ulang lagi perbuatan ini setelah hari ini!’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Dia adalah anak pamanku dan aku tidak berbincang-bincang yang munkar kepadanya dan dia pun tidak berbicara yang munkar kepadaku.’ Nabi saw. bersabda, ‘Aku mengerti itu. Tiada yang lebih cemburu dibanding Allah dan tiada seorang yang lebih pecemburu dibanding aku.’ Lalu ia meninggalkan Nabi kemudian berkata, ‘Dia meralangku berbincang-bincang dengan anak pamanku, jika ia mati aku benar-benar akan menikahinya.’ Maka turunlah ayat itu. …. “

(2)   Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as Siddi ra., ia berkata, “Telah samapai kepada kami berita bahwa Thalhah berkata, ‘Apakah Muhammad menghalang-halangi kami dari menikahi wanita-wanita suku kami, sementara ia menihaki wanita-wanita kami setelah kematian kami? Jika terjadi sesuatu atasnya (mati_maksudnya) aku akan nikahi istri-istrinya.” Maka turunlah ayat ini.

(3)   Abdurrazzâq, Abdu ibn Humaid dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Qatadah ra., ia baerkata, “Thahlah berkata, ‘Jika Nabi wafat aku akan nikahi ‘Aisyah ra.” maka turunlah ayat: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat… “

(4)   Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Bakar ibn Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm tentang firman Allah: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat….”, ia berkata, “Ayat ini turun untuk Thalhah ibn Ubaidillah, sebab dia berkata, ‘Jika Rasulullah saw. aku akan nikahi Aisyah ra.’”[3]

Wallahu A’lam.

Khulashah:

Dari keterangan di atas dimengerti bahwa karenan Allah SWT. tidak mungkin menimpa-Nya gangguan apapun baik secara fisik maupun non fisik karena Dzat Allah Maha suci dari mengalami itu semua. Maka Allah menetapkan manusia-manusia suci pilihan-Nya sebagai barometer gangguan kepada Allah. Nabi Muhammad saw. adalah barometer tersebut! Sesiapa yang mengganggu Nabi Muhammad saw. maka berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah SWT. Sebab beliau adalah duta Allah dan hamba pilihan-Nya!


[1] Tafsir al Qur’an al Adzîm; Ibnu Katsir,4/517.

[2] Fathul Qadîr,4/302-303.

[3] Baca ad Durr al Mantsûr,5/403-404, Tafsir Fathul Qadîr,4/298-300, tafsir Ibnu Katsir,3/506, Tafsir Ma’âlim at Tanzîl,5/273, dll.

Apabila kita melihat sejarah maka kita akan terkesima karena para sahabat ternama ternyata terlibat dalam peperangan besar. Para sahabat seperti Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam, Mu’awiyyah bin Abu Sofyan, Amr bin Ash, Al-Naaman bin Basyir, dan Samurah bin Jundub terlibat dalam pembunuhan kaum Muslimin. ‘Aisyah binti Abu Bakar sendiri malah menjadi kepala penyerangan terhadap khalifah yang syah pada waktu itu yaitu Ali bin Abi Thalib. A’isyah beserta Thalhah dan Zubayr menjadi tiga serangkai yang menyerang khalifah Ali bin Abi Thalib dalam perang saudara yang disebut dengan perang unta atau Perang Jamal. Puluhan ribu sahabat terbunuh dalam peristiwa itu. Mereka menyerang Imam Ali bin Abi Thalib karena ingin menjadikan salah satu dari Thalhah atau Zubayr menjadi khalifah menggantikan Imam Ali bin Abi Thalib yang sangat tidak disukai oleh ‘Aisyah. Ketidak sukaan ‘Aisyah terhadap Ali sudah terkenal dalam sejarah
.
Pembunuhan yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin yang didasari oleh nafsu duniawi sama sekali tidak dibenarkan oleh Islam. Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya” (QS. An-Nisaa: 93)
.
Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
Sangatlah tidak masuk di akal apabila memasukkan nama-nama mereka kedalam kelompok para sahabat yang shaleh dan beriman dan sangat tidak masuk di akal juga apabila kita masih mau mengambil hadits-hadits dari mereka karena ada kemungkinan hadits yang mereka laporkan dipenuhi kepentingan politis di dalamnya
.
Ada memang sekelompok orang yang menganggap mereka sebagai orang baik-baik dan shaleh karena mereka katanya termasuk orang-orang yang menganut Islam pertama kali dari kalangan penduduk Makah dan Madinah. Mereka juga dianggap sebagai orang yang pernah hadir dalam bait ar-ridhwan  (mereka yang mengikat bai’at kesetiaan di bawah pohon) setelah perjanjian Hudaybiyah. Oleh karena itu, (masih menurut klaim mereka), orang-orang tersebut di atas orang-orang ridha terhadap Allah dan Allah ridha kepada mereka. Dan barangsiapa pernah diridhai atau disukai oleh Allah maka Allah takkan pernah marah lagi kepada mereka (itu masih menurut klaim mereka)
.
maka memang dengan jelas kita bisa melihat bahwa ada sekelompok sahabat nabi yang merupakan penduduk kota Makah dan Madinah yang akan mendapatkan balasan berupa surga yang di dalamnya ada kebun-kebun subur dan sungai-sungai mengalir dimana mereka akan tinggal kekal bersama para penghuni surga yang lain
.
Akan tetapi yang menjadi masalah ialah bahwa Mu’awiyyah dan Amr bin Ash tidak termasuk kedalam orang yang dimaksud oleh ayat ini bersama ayat tentang bai’at kesetiaan di bawah pohon. Mereka berdua bukan orang yang masuk Islam pertama kali. Mereka juga bukan kaum imigran atau Muhajirin dari kota Makah. Mereka juga tidak pernah hadir dalam bait ar-ridhwan. Amr bin Ash itu terpaksa masuk Islam  setelah perjanjian Hudaybiyyah. Sementara Mu’awiyyah juga tidak memiliki alternatif lain selain memeluk Islam untuk menyelamatkan kehidupannya setelah peristiwa penaklukan kota Makah
.
Lebih jauh lagi kita tidak menemukan apapun dalam al-Qur’an itu yang menyiratkan bahwa orang-orang yang sudah diridhai atau disukai oleh akan bebas dari murka Allah. Pernyataan seperti itu hanya datang dari mereka yang terlalu memuja-muja para sahaba Nabi sehingga luput dari mengenali kebenaran
.
Sangat sukar sekali dibayangkan apabila Allah memberikan kekebalan hukum secara permanen kepada orang yang berbuat baik pada suatu waktu dan kemudian berbuat sangat jahat di waktu lainnya. Tidak bisa dibayangkan bahwa Allah akan mema’afkan orang-orang yang pernah membunuh ribuan orang beriman setelah sebelumnya pernah berbuat baik (bukankah para ulama itu percaya bahwa ada sekelompok orang yang mati dalam keburukan atau biasa disebut dengan su’ul khatimah?)
.
Kalau memang kekebalan hukum itu ada untuk para sahabat, maka bisa saja seorang sahabat nabi itu tidak menjalankan (atau malah menentang) ajaran yang diajarkan dalam Al-Qur’an (seperti larangan membunuh orang tanpa dosa) atau ajaran yang diajarkan langsung oleh Nabi kepada dirinya
.
Akan tetapi kita tidak akan mempercayai hal ini karena Allah sendiri pernah berfirman kepada Rasulullah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS. Al-An’am: 15)
.
Apabila para sahabat itu boleh menafsirkan ayat-ayat Qur’an dan sabda Rasulullah sekehendak hatinya (sampai mereka bisa membunuh kaum Muslimin tanpa dosa), maka bisa saja mereka mengeluarkan fatwa bahwa shalat wajib 5 kali dalam sehari semalam itu adalah sunnah dan bukan kewajiban! Bisa saja mereka berdalih, “Kami menganggap bahwa kata-kata aqiimus shalah itu artinya kita boleh atau sunnah untuk melakukan shalat. Karena dalam kata-kata itu tidak dijelaskan apakah kita harus berdiri, kemudian rukuk kemudian sujud dan seterusnya. Tidak juga dijelaskan bahwa kita harus membaca Al-Qur’an di dalamnya atau membaca syahadat di dalamnya. Kita cukup saja berdo’a kepada Allah untuk memohonkan ampun dan meminta rizki atau memohon untuk dipanjangkan umur karena kata “Shalat” itu sendiri artinya berdo’a
.

APA KATA RASULULLAH TENTANG MU’AWIYYAH

Berikut ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya:
“Rasulullah (saw) pada suatu hari menyuruh Ibnu Abbas untuk mengundangnya (Mu’awiyyah) agar datang ke rumah Rasulullah untuk menuliskan sesuatu untuknya. Ibnu Abbas menemukan Mu’awiyyah sedang makan dengan lahapnya (Mu’awiyyah tidak bisa memenuhi undangan Nabi). Rasulullah kemudian mengirimnya (Ibnu Abbas) sekali lagi kepada Mu’awiyyah, dan Ibnu Abbas sekali lagi melihatnya masih dalam keadaan makan. Kejadian ini berulang hingga tiga kali hingga Rasulullah berkata:
“Semoga Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”
(Lihat: Muslim, Shahih, volume 5, halaman 462 dalam Kitab Keramah-tamahan, Kedermawanan, dan Sopan Santun; dalam sebuah bab tentang seseorang yang pernah dikutuk oleh Rasulullah (edisi Dar al-Sha’b) seperti yang dikutip oleh al-Nawawi dalam Sharh-nya)
.

Juga dalam Shahih Muslim ada tulisan berikut: “Rasulullah berkata:

.
‘………adapun Mu’awiyyah, ia itu seorang pengangguran dan seorang pemalas’
(Lihat: Al-Bukhari, Shahih, volume 3, halaman 693)
.
Dalam Musnad-nya Imam Ahmad, Rasulullah diriwayatkan pernah berkata seperti berikut ini tntang Mu’awiyyah dan ‘Amr bi Ash:
.
“Ya Allah! Lemparkanlah mereka kedalam permusuhan sesegera mungkin, dan masukkanlah mereka kedalam api neraka,”. Masih ada beberapa lagi riwayat yang menggambarkan Mu’awiyyah (yang kerapkali disebut sebagai “Amirul Mukminin” atau “Pemimpin Orang-orang Yang Beriman” oleh sebagian kaum Muslimin yang memujanya). Mu’awiyyah adalah anak dari seorang ibu yang berani memakan jantung Sayyidina Hamzah pada peperangan Uhud. Mu’awiyyah menutup hidupnya dengan mengangkat anaknya Yazid bin Mu’awiyyah seorang pemuda yang memiliki sifat hedonis—suka berpoya-poya, bermabuk-mabukan dan melakukan perzinahan—sebagai khalifah bagi kaum Muslimin
.
Sungguh pemimpin yang sangat tidak bijak karena merelakan umat untuk dipimpin oleh makhluk terburuk yang pernah lahir ke dunia ini. Yazid waktu itu baru berusia 20 tahun ketika ia menjabat menjadi khalifah. Pengangkatan Yazid itu merupakan pelanggaran atas kesepakatan yang telah dijalin oleh Mu’awiyyah bersama dengan Imam Hasan (as). Selengkapnya perjanjian damai antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah itu adalah sebagai berikut.

PERJANJIAN DAMAI DAN SYAHIDNYA IMAM HASAN (AS)

Setelah kesyahidan Imam Ali (as) (karena dibacok oleh Ibnu Muljam ketika sedang shalat Shubuh), Imam Hasan (as) naik ke atas mimbar dan orang-orang Kufah pada waktu itu memberikan bai’at kesetiannya kepada Imam Hasan (as) sebagai khalifah pengganti ayahnya; dan orang-orang Kufah menginginkan Imam Hasan (as) menjadi pemimpin umat Islam secara keseluruhan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Akan tetapi hal ini ternyata hanya berlangsung hingga enam bulan saja
.
Ketika kabar tentang syahidnya Imam Ali (as) itu sampai ke Syiria, Mu’awiyyah memimpin pasukan yang besar sekali dan berangkat menuju Kufah (pusat pemerintahan Islam pada waktu itu karena Imam Ali memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah karena Imam Ali selalu dirongrong kekuasaannya oleh para sahabat senior dari Rasulullah—red). Mu’awiyyah menyerbu Kufah untuk merampas khilafah dari Imam Hasan (as). Imam Hasan dipaksa untuk menyerah kepada Mu’awiyyah
.
Demi melihat keadaan genting yang bisa menyebabkan pertempuran yang besar sekali dan melibatkan seluruh umat Islam, maka Imam Hasan (as) tidak punya pilihan lain selain berdamai dengan Mu’awiyyah demi melindungi kaum Muslimin dari perang saudara yang besar. Imam Hasan (as) tidak ingin darah kaum Muslimin tertumpahkan hanya karena mereka saling membunuh satu sama lain karena keduanya ingin memperebutkan kursi kekhalifahan. Imam Hasan (as) tidak seperti para pemimpin Arab saat ini yang lebih memilih untuk bertahan dan mengorbankan rakyatnya untuk kekuasaannya. Imam Hasan (as) mencintai rakyatnya dan ia tidak mau darah umat tertumpah gara-gara ia mempertahankan kekuasaan yang tidak ada apa-apanya di hadapan Imam
.
Selain itu Imam Hasan melihat ada bibit perpecahan di kalangan tentaranya sendiri yang sudah berhasil disuap oleh mata-mata Mu’awiyyah. Ditambah dengan kondisi politis yang tidak stabil di Irak (dan Kufah terletak di Irak!); ditambah lagi dengan ancaman dari negara lain—Kekaisaran Romawi sedang mengintai dan melihat peluang yang matang untuk menyerbu umat Islam. Jadi seandainya perang itu terjadi antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah, maka kemungkinan besar yang akan keluarg menjadi pemenang justeru kekuatan di luar Islam yaitu kekaisaran Romawi karena siapa saja yang menang perang akan berkurang kekuatannya setelah peperangan berakhir dan kekaisaran Romawi akan dengan mudah menyerang dan melumpuhkan umat Islam
.
Imam Hasan langsung memilih opsi untuk melakukan perjanjian damai untuk melepaskan umat Islam dari ancaman bahaya yang jauh lebih besar lagi. Perjanjian damai yang disepakati dengan Mu’awiyyah adalah sebagai berikut:
  1. Imam Hasan harus menyerahkan kekhalifahan dan urusan umat Islam kepada Mu’awiyyah dengan syarat bahwa Mu’awiyyah harus mengurus dan mengatur umat dengan berdasarkan Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
  2. Kursi khilafah—apabila Mu’awiyyah meninggal lebih dulu—harus segera dan langsung diserahkan kepada Imam Hasan (as). Apabila ada sesuatu yang terjadi kepada Imam Hasan, maka kursi khilafah akan diserahkan kepada adiknya, Imam Husein (as).
  3. Semua kutukan dan laknat terhadap Imam Ali harus dihentikan baik itu yang dilakukan di mimbar-mimbar maupun yang dilakukan di tempat lainnya.
  4. Uang sebanyak 5 juta dirham yang ada di baytul mal di Kufah sepenuhnya akan dijaga dan diawasi oleh Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah harus mengirimkan sebanyak 1 juta dirham tiap tahun untuk pajak khiraj kepada Imam Hasan (as) yang akan disalurkan langsung kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh para syuhada pada perang Unta dan perang Siffin yang bertempur di pihak Imam Ali.
  5. Mu’awiyyah harus bersumpah untuk tidak mengganggu umat manusia dari kalangan manapun tanpa memandang ras, suku, dan agama. Mu’awiyyah tidak boleh mengejar-ngejar mereka; menyakiti mereka dan ia harus bersumpah akan melaksanakan seluruh isi perjanjian ini dan berjanji untuk menjadikan umat manusia sebagai saksinya
    .
Akan tetapi kemudian yang terjadi benar-benar menyesakkan dada. Imam Hasan (as) syahid terbunuh pada tahun 50H (670 masehi). Imam Hasan (as) meninggal dibunuh dengan racun yang dibubuhkan oleh isterinya sendiri yang bernama Ju’dah binti Al-Ash’ath ibn Qays. Isteri Imam Hasan ini berasal dari keluarga yang memiliki kehidupan dan keyakinan yang berbeda dengan kehidupan dan keyakinan yang dimiliki oleh keluarga atau keturunan Imam Ali (as). Mu’awiyyah menyuruh Ju’dah untuk memberikan racun kepada makanan yang akan dimakan oleh Imam Hasan (as) dengan terlebih dahulu mengirimkan uang sebanyak 100,000 dirham dan sebuah janji kepadanya bahwa sepeninggal Imam Hasan (as), Ju’dah akan dinikahkan kepada puteranya Mu’awiyyah yaitu Yazid bin Mu’awiyyah
.
Mu’awiyyah tertawa kegirangan di istananya demi mendengar kematian Imam Hasan (as). Ia merasa telah mengangkat duri dalam daging yang mengganggu kehidupannya siang dan malam. Dengan itu maka impiannya yaitu mengangkat anaknya, Yazid, seorang pemuda mesum, akan segera menjadi kenyataan. Tinggal satu orang lagi yang masih mengganggu pikirannya. Ia adalah Imam Husein (as).

Imam Ali bin Abi Thalib bersama kelompok Nakitsin (perang Jamal)
Para pencetus fitnah

Pembaiatan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib AS. oleh mayoritas kaum muslimin laksana petir yang menyambar bagi Quraisy dan bagi mereka yang memusuhi Islam. Mereka tahu bahwa pemerintahan Ali bin Abi Thalib adalah kepanjangan tangan pemerintahan Rasulullah saw yang merendahkan dan menghina kezaliman, permusuhan dan pemberontakan. Pemerintahan yang membawa nilai-nilai keadilan, persamaan dan kebenaran. Pemerintahan yang mengumumkan perang terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi yang berlandaskan riba, monopoli dan eksploitasi. Pemerintahan yang memberikan hak yang sama kepada para tokoh Quraisy dengan masyarakat lainnya dari manapun ia. Itu setelah mereka mendapat perlakukan istimewa di zaman Usman.

Thalhah dan Zubeir keduanya melihat dirinya setara dengan Ali bin Abi Thalib. Hal itu dikarenakan keduanya adalah sama-sama kandidat dalam syura yang dibentuk oleh Umar bin Khatthab untuk dipilih menjadi khalifah. Setidak-tidaknya, bila tidak menjadi khalifah mereka mendapat bagian menguasai sebagian dari negara Islam. Sementara Aisyah memiliki posisi yang cukup diperhitungkan oleh khalifah-khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib sebagaimana terlihat pada zaman itu ia dapat berbicara apa saja yang diinginkannya. Saat ini ia tahu benar bahwa kebebasan yang seperti itu tidak akan didapatkannya lagi di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib yang senantiasa bersandarkan Al-Quran dan Sunah sebagai sumber perundang-undangan dan eksekutif.

Di Syam, Muawiyah bin Abu Sufyan berlaku bagaikan penguasa mutlak yang tidak berada di bawah pemerintah pusat. Ketamakannya akan kekuasaan untuk memimpin umat Islam membuatnya ia mengatur urusan kaum muslimin secara mutlak. Muawiyah bin Abu Sufyan dan kroniknya tiba-tiba dikejutkan dengan aturan-aturan Imam Ali bin Abi Thalib AS. yang melakukan perbaikan sesuai dengan langkahnya mendapatkan kenyataan bahwa posisi yang didapatkan di zaman Usman bin Affan sedang dalam terancam. Keberadaan Imam Ali bin Abi Thalib AS. di puncak piramida kekuasaan dianggap sebagai ancaman bagi garis kebijakan para khalifah sebelumnya yang menguntungkan Quraisy. Hal itu dikarenakan Imam Ali bin Abi Thalib mampu untuk mengangkat kembali bendera Islam dan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ia pasti akan membuka kedok penyelewengan yang selama ini terjadi tanpa ada rasa khawatir sedikit pun.

Dari sini mereka sepakat memunculkan fitnah untuk mencegah kestabilan pemerintah yang baru. Adanya elemen-elemen yang memusuhi pandangan dan perjalanan pemerintahan Islam yang sah tidaklah aneh bagi Imam Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw telah memberitahukannya bahwa pada masa pemerintahannya akan ada kelompok-kelompok pemberontak yang menentangnya. Nabi juga mengatakan bahwa ia akan memerangi mereka sebagaimana kelompok-kelompok ini, dinamai oleh Rasulullah dengan Nakitsin, Qasithin dan mariqin

.

Aisyah mengumumkan pemberontakan

Posisi Ummul Mukminin Aisyah pada Usman bin Affan adalah sangat aneh dan kontradiktif yang tidak pantas disandang oleh seorang wanita, istri Nabi. Ia berkali-kali berkata, ‘Bunuh Na’tsal (orang tua yang bego, Usman bin Affan)! Aisyah juga mengajak orang-orang untuk membangkang terhadap Usman dan bahkan membunuhnya. Ia keluar dari kota Madinah menuju Mekkah di tengah-tengah pengepungan Usman bin Affan. sebelum terjadi pembunuhan Usman. pengharapannya sangat besar agar Usman cepat terbunuh, ia ingin sekali Thalhah, yang masih keluarga dekatnya menjadi khalifah.

Sekonyong-konyong harapan Aisyah buyar karena pemerintahan berada di tangan Ali bin Abi Thalib setelah umat Islam membaiatnya. Aisyah membatalkan rencananya menuju Madinah dan kembali ke Mekkah. Di Mekkah ia menampakkan kesedihan dan keteraniayaannya atas kematian Usman bin Affan. Ada yang bertanya kepadanya, ‘Bukankah engkau yang mengajak orang untuk membunuhnya dan sekarang engkau berubah pikiran dengan alasan yang terlalu sederhana’. Ia menjawab, ‘mereka telah memintanya agar bertaubat namun kemudian tetap membunuhnya. Ucapannya memberikan kesan seakan-akan ia hadir di tempat kejadian dan menyaksikan pembunuhan Usman bin Affan.

Aisyah mengumumkan perang terhadap Imam Ali bin Abi Thalib dalam pidato yang diucapkannya di Mekkah dengan memberi semangat pendukungnya untuk perang.

Ketamakan Aisyah tidak cukup sampai di sini saja, ia mengajak istri-istri Nabi untuk ikut bersamanya memerangi Imam Ali bin Abi Thalib. Aisyah

kecewa karena ajakannya tidak bersambut. Para istri Nabi tidak ada yang mau ikut dengannya memerangi Ali bin Abi Thalib

.

Selain tidak ikut, Ummu Salamah malah menasihatinya untuk tidak melanjutkan niatnya. Alasannya sederhana agar tidak terjadi pertumpahan darah antar sesama muslimin

.

Aisyah menjawab, ‘Engkau sebelumnya termasuk orang yang mengajak untuk membunuh Usman. Setiap kali engkau berbicara mengenai Usman niscaya dengan bahasa yang buruk. Engkau tidak pernah memanggilnya selain dengan kata Na’tsal. Engkau juga tahu bagaimana posisi Ali bin Abi Thalib di sisi Rasulullah saw. Apakah aku perlu mengingatkanmu tentang hal ini? Ummu Salamah menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika Nabi datang dan kita bersamanya. Bagaimana Nabi bersama Ali bin Abi Thalib berduaan dengan menghamparkan sebuah alas di sebelah kiri kemudian keduanya berbicara agak lama. Melihat percakapan mereka sedemikian lamanya, engkau ingin menuju ke arah mereka dengan kesal namun aku menahanmu tapi engkau tetap bersikeras menuju ke arah mereka. Yang membuatku heran pada waktu itu adalah mengapa engkau kembali sambil berderaian air mata. Aku kemudian ingin mengetahui apa yang terjadi padamu sehingga kutanya, ‘Apa yang terjadi denganmu? Pada waktu itu engkau menjawab, ‘Aku menerobos ke arah keduanya ternyata mereka lagi berdialog. Aku lalu menatap Ali dan berkata kepadanya, ‘Aku tidak punya waktu bersama Rasulullah saw kecuali satu hari dari sembilan hari yang dimilikinya. Apakah engkau mau meninggalkan aku bersama hariku? Nabi kemudian mengarahkan wajahnya membelakangi Ali bin Abi Thalib dan menatapku. Ia tampak marah wajahnya kemerah-merahan saking marahnya dan kemudian berkata, ‘Kembali ke tempatmu! Demi Allah, orang yang membenci Ali bin Abi Thalib, siapa pun dia, berarti telah keluar dari imannya’. Mendengar itu aku kembali ke tempatku menyesali apa yang telah kulakukan namun aku marah besar terhadap Ali bin Abi Thalib’. Aisyah mengangguk dan berkata, ‘Aku ingat apa yang kau ucapkan’. Ummu Salamah kemudian menambahkan, ‘Apa yang membuat harus keluar memerangi Ali bin Abi Thalib setelah kejadian ini? Aisyah menjawab, ‘ Aku keluar melakukan ini untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan mendamaikan mereka. Aku hanya ingin mendapat balasan dari Allah swt’. Ummu Salamah menyela,’Itu engkau dan pikiranmu’. Mendengar itu Aisyah langsung pergi dari situ

.

Diriwayatkan bahwa istri-istri Nabi keluar bersama Aisyah sampai pada sebuah tempat bernama Dzatu ‘Araq. Tampaknya penyertaan mereka adalah usaha untuk menggagalkan keinginan Aisyah ke Madinah agar tidak terjadi fitnah. Ketika dirasa bahwa usaha mereka sia-sia mereka kemudian menangis bersama-sama karena membayangkan apa yang akan terjadi dengan Islam. Orang-orang yang ikut bersama mereka ikut pula menangis. Pada hari itu disebut dengan hari An-Nahib (hari ratapan)

.

Perbuatan makar Muawiyah dan pelanggaran janji baiat dari Zubeir dan Thalhah

Muawiyah bin Abu Sufyan menikmati kekuasaannya di Syam. Ia memiliki alat-alat dan pendukung yang dapat digerakkan sesuai dengan keinginannya. Di samping itu, ia tidak memiliki masalah dengan masyarakat Syam karena kota Syam semenjak mengenal Islam itu dibarengi dengan pengenalan mereka kepada keluarga Abu Sufyan dan Muawiyah adalah gubernur yang ditunjuk oleh khalifah. Sebelum Muawiyah, saudaranya Yazid menjadi gubernur di sana yang kemudian digantikannya. Dan Muawiyah diuntungkan karena letak geografis Syam jauh dari ibu kota Islam yang memberinya kekuatan yang cukup untuk menyusun kekuatan. Dengan memperhatikan semua ini, Muawiyah bin Abu Sufyan mulai melaksanakan ide-idenya untuk membesarkan api fitnah yang sudah mulai menyala dengan pembunuhan Usman bin Affan. Ia memanfaatkan kondisi ini untuk meraih tujuan-tujuannya. Ia berbicara kepada Zubeir dan Thalhah dan mengompori keduanya agar ketamakan akan kekuasaan yang ada dalam dirinya semakin kuat muncul ke permukaan dan dengan itu secara serius memasuki medan pertempuran dengan Ali bin Abi Thalib yang pada gilirannya menambah besar cakupan fitnah di ibu kota. Ia mengirimkan surat kepada Zubeir yang isinya:

‘Kepada Amir Mukminin Zubeir dari Muawiyah bin Abu Sufyan. Salam untukmu. Aku membaiatmu atas nama rakyat Syam. Mereka mendengar perintah dan akan menaatimu. Kuasailah kota Kufah dan Basrah karena Ali bin Abi Thalib tidak dapat mendahuluimu bila engkau telah lebih dahulu berkuasa di sana. Kedua kota ini adalah segala-galanya. Bila engkau telah menguasai keduanya sama artinya engkau telah menguasai yang lain. Aku telah membaiat Thalhah bin Ubaidillah sebagai khalifah sepeninggalmu. Tunjukkan tuntutanmu akan darah Usman bin Affan dan ajak manusia mengikuti langkahmu. Tentunya ini semua akan berhasil bila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah memenangkan kalian berdua dan mengalahkan musuh kalian’

.

Ketika surat Muawiyah bin Abu Sufyan sampai di tangannya ia betul-betul gembira dan merasa yakin dan percaya akan kebenaran niat Muawiyah. Ia bersama Thalhah kemudian sepakat untuk melanggar baiat terhadap Ali bin Abi Thalib. Langkah pertama yang diambil adalah menunjukkan penyesalan mengapa melakukan baiat kepada Ali bin Abi Thalib. Dan kedua, mengajak Aisyah ikut dalam gerakannya untuk memberi dukungan. Untuk dapat menarik Aisyah, oleh keduanya kemudian menyusun rencana untuk ikut bersama mereka. Diriwayatkan bahwa keduanya datang dan menuntut haknya untuk ikut dalam pemerintah Imam Ali bin Abi Thalib setidak-tidaknya sebagai pejabat dalam pemerintahannya namun keduanya gagal karena Ali bin Abi Thalib tidak menerima. Kemudian mereka berdua ingin bergabung dengan Aisyah dan untuk itu meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Mekkah mengerjakan umrah. Imam Ali bin Abi Thalib memberikan izin sambil berkata, ‘Baiklah. Demi Allah! Kalian tidak benar-benar hendak melakukan umrah. Yang akan kalian lakukan adalah ingin melakukan sesuatu untuk posisi kalian’. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib berkata kepada keduanya, ‘Bahkan kalian ingin melakukan pengkhianatan’

.

Mereka yang melanggar janji dan baiatnya kepada Ali bin Abi Thalib berkumpul di rumah Aisyah di Mekkah setelah sebelumnya orang-orang ini adalah penentang keras Usman bin Affan. Zubeir, Thalhah dan Marwan bin Hakam bergabung dengan mereka dan sepakat menjadikan darah Usman bin Affan sebagai simbol perlawanan mereka kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka mengangkat baju Usman sebagai bentuk penentangan dan Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling bertanggung jawab terjadinya pembunuhan Usman bin Affan. Hal itu disimpulkan dari sikap Ali bin Abi Thalib yang melindungi dan keengganan Ali bin Abi Thalib untuk membalas dendam kepada mereka. Mereka sepakat untuk pergi ke Basrah mendudukinya dan menjadikannya sebagai pusat gerakan dan peperangan mereka menghadapi Ali bin Abi Thalib dan pasukannya sementara Muawiyah menguasai daerah Syam sedangkan Madinah senantiasa dalam kondisi tidak aman

.

Pergerakan Aisyah menuju kota Basrah

Aisyah tetap bersikeras untuk tetap melanjutkan apa yang telah direncanakan untuk mengobarkan fitnah dan langsung terjun secara langsung berperang dengan Imam Ali bin Abi Thalib AS. selaku khalifah yang sah. Aisyah mengumpulkan sejumlah orang yang punya kedengkian terhadap Islam dan Ali bin Abi Thalib serta ditambah dengan para spekulan kekuasaan. Ya’la bin Muniyyah mempersiapkan persenjataan untuk mereka mulai dari pedang dan unta yang dicurinya dari Yaman ketika Imam Ali bin Abi Thalib mengusirnya ke sana. Datang juga Abdullah bin ‘Amir membantu sejumlah besar uang dari Basrah yang juga dicurinya dari sana. Mereka menyiapkan sebuah unta khusus untuk Aisyah yang diberi nama Askar. Posisi Aisyah berada di tengah pasukan dan dilindungi dengan mengitarinya Bani Umayyah. Aisyah dengan posisi seperti ini berada paling depan dan pasukan besar mengiringnya dari belakang menuju kota Basrah. Sebelum sampai ke Basrah, surat yang ditulis untuk beberapa tokoh Basrah telah sampai terlebih dahulu. Isi surat itu mengajak mereka untuk sama-sama dengannya merobek perjanjian dan meninggalkan baiat yang telah dilakukan dengan alasan menuntut darah Usman.

Dimulailah usaha makar dan tipuan yang memang menjadi kebiasaan siapa saja yang ingin menentang Imam Ali bin Abi Thalib. Ketika pasukan Aisyah hendak keluar dari kota Mekkah, Marwan bin Hakam mengucapkan azan untuk melakukan salat. Ia mendatangi Thalhah dan Zubeir untuk mengadu domba antara keduanya dan pada suatu saat menguasai keduanya. Ia berkata, ‘kepada salah satu dari kalian kuserahkan kekuasaan padanya, dengan menjadi imam salat, dan aku meminta izin darinya untuk mengucapkan azan salat. Pengikut keduanya saling berlomba-lomba untuk mendudukan pemimpinnya sebagai yang paling utama untuk menjadi imam salat sebagai lambang kekhalifahan. Aisyah yang paling dahulu memahami apa yang akan terjadi karena kelihatannya pertikaian sudah di depan hidung. Ia kemudian mengutus Zubeir anak saudaranya untuk menjadi imam salat

.

Saat pasukan Aisyah memasuki sebuah tempat bernama Authas mereka bertemu denga Said bin Al-‘Ash dan Mughirah bin Syu’bah. Ketika Said mengetahui bahwa Aisyah mengklaim ‘menuntut darah Usman’, ia menertawakannya dan berkata, ‘Yang membunuh Usman adalah orang-orang yang bersamamu, wahai ummul mukminin!

.

Diriwayatkan, Said berkata, ‘Kalian hendak ke mana? Apakah kalian ingin meninggalkan dendam kalian di balik unta-unta yang lemah? Yang dimaksud dengan ucapannya adalah Thalhah, Zubeir dan Aisyah. Pasukan melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tempat yang bernama Hauab. Di pertengahan jalan mereka menemui sekelompok anjing yang menggonggong. Gonggongan itu menakutkan hati Aisyah yang membuatnya akhirnya bertanya kepada Muhammad bin Thalhah tempat yang sedang mereka lalui ini, ‘Air yang ada di sini disebut apa? Muhammad menjawab, ‘Air Hauab, wahai ummul mukminin’. Serentak badannya menggigil dan berteriak dengan lantang, ‘Kita harus kembali! Di tanya kepadanya, ‘Mengapa? Aisyah berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata, ‘Seakan-akan ada salah satu dari kalian (istri-istri Nabi), yang akan digonggong oleh anjing-anjing Hauab. Pada saat itu engkau, wahai Humaira (panggilan kesayangan Nabi untuk Aisyah), harus berhati-hati dan meninggalkan tempat itu. Aisyah kemudian menghentakkan kakinya agar untanya bergerak dan berkata, ‘Pulangkan aku! Demi Allah, akulah yang disebut oleh Rasulullah sebagai air Hauab dan aku harus kembali. Pasukan yang ada kemudian untanya di tahan sambil mengitarinya sehari semalam. Kemudian Abdullah bin Zubeir mendatanginya dan bersumpah di hadapannya, ‘Demi Allah di sini bukan tempat yang bernama Hauab’. Ia kemudian mendatangkan dua orang Arab badui dan dipaksanya keduanya untuk mengucapkan sumpah bahwa tempat ini bukan Hauab. Ini adalah sebuah sumpah yang diucapkan dengan paksaan yang pertama kali dicatat dalam Islam

.

Pertempuran-pertempuran kecil Basrah

Ketika pasukan Aisyah sampai di kota Basrah, Usman bin Hanif menjelaskan kepada masyarakat Basrah apa tujuan kelompok ini. Ia mewanti-wanti mereka untuk berhati-hati dengan mereka karena fitnah yang akan ditimbulkan pemimpin-pemimpinnya. Ia mengajak mereka yang ikhlas dan masih setia kepada Imam Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan dirinya mempertahankan kebenaran dan syariat Islam yang suci sekaligus menahan pasukan Nakitsin untuk menguasai kota Basrah

.

Usaha yang dapat dilakukan oleh Usman bin Hanif adalah memperlakukan Aisyah dengan segala penuh penghormatan sebagaimana layaknya akhlak Islam. Ia berusaha sebisa mungkin agar perang tidak terjadi. Ia mengutus kepada mereka Imran bin Hashin dan Abu Aswad Ad-Duali untuk berdiplomasi dengan Aisyah dan pengikutnya serta meyakinkan mereka bahwa sikap yang diambil ini adalah satu kesalahan besar. Akan tetap usaha ini menemui jalan buntu dan gagal. Aisyah dan Thalhah serta Zubeir yang senantiasa bersamanya bersikeras untuk tetap ingin mengobarkan api fitnah dan mengumumkan perang.

Aisyah dan pasukannya merangsek maju hingga mencapai daerah Al-Marbad. Para petinggi pasukan memasuki kota. Usman bin Hanif bersama penduduk kota Basrah keluar menemui mereka. Aisyah, Thalhah dan Zubeir mengajak orang-orang untuk meninggalkan janji baiat yang telah mereka ucapkan kepada Ali bin Abi Thalib dengan alasan menuntut darah Usman bin Affan. Orang-orang yang mendengar pidato ketiga orang itu langsung terbagi antara yang pro dan kontra

.

Budak wanita dari Ibn Qudamah As-Sa’di maju menemui Aisyah dan menasihatinya siapa tahu ia mau mengurungkan niatnya untuk mengobarkan api fitnah dan perpecahan. Ia berkata, ‘Wahai ummul mukminin! Demi Allah, orang-orang yang membunuh Usman bin Affan lebih rendah dari usahamu keluar dari rumah sambil menunggang unta terlaknat ini. Urungkanlah senjatamu! Sesungguhnya engkau memiliki kemuliaan tersendiri di sisi Allah namun sekarang engkau yang membuka penutup dirimu dan merusak kehormatanmu sendiri. Sesungguhnya siapa saja yang melihat engkau berperang pasti mengetahui bahwa suatu saat ia akan memerangimu. Bila engkau datang kepada kami dengan ketaatan maka lebih baik engkau pulang ke rumahmu. Dan bila engkau cengkal maka masyarakat akan membantuku’

.

Peperangan, gencatan senjata dan pengkhianatan

Kedatangan Aisyah ke kota Basrah membuat penduduk kota terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian setuju dengan cara pandang Aisyah dan sebagian lain tidak setuju. Mulailah perang mulut di antara mereka. Yang memisahkan mereka adalah malam ketika mereka harus istirahat dan tidur. Usman bin Hanif tetap bersikeras agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah. Ia berusaha untuk menjaga agar kota tetap dalam kedamaian sambil menunggu kedatangan Imam Ali bin Abi Thalib ke Basrah. Ketika akhirnya peperangan dimulai dari kedua belah pihak mereka sama-sama menginginkan perdamaian. Untuk itu dilakukanlah gencatan senjata. Perjanjian gencatan senjata berisikan permintaan untuk mengirim seorang utusan ke Madinah dan bertanya kepada penduduk kota Madinah. Bila Thalhah dan Zubeir memang melakukan baiat dengan dipaksa maka Usman bin Hanif harus keluar dari Basrah dan bila ternyata memang mereka ini melakukan baiat maka Thalhah dan Zubeir yang harus keluar dari kota Basrah.

Ka’ab bin Musawwir utusan yang dikirim oleh kedua belah pihak yang mengadakan gencatan senjata kembali dari Madinah dengan klaim Usamah bin Ziyad yang mengatakan bahwa memang benar ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah keduanya dipaksa untuk melakukan baiat sementara pandangan penduduk kota Madinah berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pendapat Usamah. Namun para komandan pasukan Aisyah mengambil pendapat Usamah dan pada malam harinya ketika hujan turun mereka langsung menyerang bangunan pemerintah dan membunuh setiap yang ada di sana kecuali Usman bin Hanif karena saudaranya, Sahl bin Hanif adalah gubernur Ali bin Abi Thalib di Madinah. Tidak membunuhnya tidak berarti Usman bin Hanif aman dari penyiksaan. Mereka mencabut bulu-bulunya mulai dari kepala, jenggot dan alisnya

.

Usaha Ali Menumpas Pemberontakan

Tatkala Ali bin Abi Thalib a.s. menerima tampuk kepemimpinan dan menjabat sebagai khalifah kaum muslimin, terdapat tantangan yang mengganggu kestabilan  pemerintahan pusat. Tantangan itu ialah penolakan Muawiyah bin Abu Sufyan untuk berbaiat kepadanya. Ali telah menyiapkan angkatan bersenjata yang setiap saat siap menjaga kestabilan negara dari ancaman para pemberontak. Demikian itu agar keamanan tetap terbina dan tidak terjadi pertumpahan darah di antara umat Islam.

Sebenarnya, pasukan itu disiapkan untuk menyerang Muawiyah. Dan karena mengetahui pasukan pemberontakan itu dikomandani oleh Aisyah, Thalhah dan Zubeir, Ali bin Abi Thalib memimpin pasukannya menuju Basrah. Pasukan ini diikuti oleh tokoh-tokoh dari kaum Anshar dan Muhajirin.

Setibanya di sebuah tempat yang bernama Rabadzah, Ali bin Abi Thalib menulis surat kepada pemerintah-pemerintah daerah untuk menambah personil dan menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi sehingga mereka ikut membantu memadamkan api fitnah dan menahannya agar tidak menyebar. Untuk itu, Ali mengirim dua utusan; Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Ja’far, ke Kufah. Di sana mereka menerangkan apa maksud kedatangan, sementara Abu Musa Al-Asy’ari, gubernur Kufah, tidak ingin terlibat dalam membantu Ali, sekalipun dalam berperan aktif guna menahan penyebaran fitnah.

Untuk kedua kalinya Ali bin Abi Thalib mengirim utusan. Ia adalah Abdullah bin Abbas. Ia pun tidak mampu meyakinkan Abu Musa untuk mndapatkan dukungannya; membantu dan menguatkan semangat warga Kufah untuk tetap memihaknya. Akhirnya, untuk kali yang ketiga, Ali bin Abi Thalib mengirim anaknya Hasan dan Ammar bin Yasir yang kemudian Malik bin Asytar ikut bergabung. Tugas mereka adalah menurunkan Abu Musa dari jabatannya. Dengan demikian, Kufah dengan segala kekuatannya memihak Ali dan bergabung dengan pasukannya di tempat bernama Dzi Qar.

Dalam pada itu, Ali bin Abi Thalib juga mengirim surat dan utusan kepada Thalhah, Zubeir dan Aisyah. Ia masih berharap dapat mengembalikan mereka ke jalan yang benar dan agar mereka menyadari bahwa langkah mereka itu sangat merugikan kepentingan segenap umat Islam. Hendaknya mereka juga berpikir untuk menghindarkan umat dari kesulitan, tantangan dan pertumpahan darah.

Ali mengirim utusan kepada Aisyah dan kelompoknya. Zaid bin Shuhan, Abdullah bin Abbas dan beberapa orang lain ditugaskan untuk berdialog dengan mereka. Setelah berargumentasi dengan teks-teks wahyu dan akal, Aisyah berkata kepada Ibnu Abbas: “Aku tidak mampu berargumentasi di hadapanmu”. “Bila engkau tidak mampu membela diri di hadapan makhluk, bagaimana engkau akan  membela diri di hadapan Al-Khaliq kelak?!”, demikian Ibnu Abbas menjawab

.

Nasihat Terakhir

Semakin mendekati pintu gerbang kota Basrah, Ali bin Abi Thalib a.s. lebih banyak lagi menyurati Thalhah dan Zubeir. Sedangkan Aisyah merasa khawatir dengan surat-surat tersebut. Kekhawatiran bisa dimengerti karena bisa jadi mereka berdua terpengaruh oleh ucapan dan argumentasi Ali.

Akhirnya, Aisyah memimpin pasukannya untuk menahan pasukan Ali. Ketika kedua pasukan telah berhadap-hadapan, Ali memerintahkan seseorang untuk berteriak menginstruksikan pasukannya: “Jangan ada yang melepaskan busur dari anak panahnya, tidak juga melemparkan batu dan tombak sampai jelas bagi mereka bahwa mereka telah mendengar bukti terakhir, dan tidak lagi punya alasan untuk mengingkarinya di kemudikan hari”.

Ketika Ali bin Abi Thalib melihat maksud keras mereka untuk berperang, ia keluar dari barisan pasukan menuju Zubeir dan Thalhah yang berada di antara dua barisan pasukan. Kepada kedua sahabat ini ia mengatakan: “Demi Allah! Kalian berdua telah menyiapkan pasukan dengan persenjataan lengkap, kuda dan bala tentara yang siap berperang. Bila kalian berdua mengerahkan semua ini karena alasan yang benar di sisi Allah, maka takutlah kepada-Nya. Jangan sampai kalian seperti seorang wanita yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat sehingga bercerai berai kembali. Bukankah aku saudara kalian dalam agama Allah? Kalian mengharamkan darahku dan aku mengharamkan darah kalian. Lalu, gerangan apakah yang tiba-tiba membuat darahku halal bagi kalian?”

Kemudian Ali bin Abi Thalib berbicara khusus kepada Thalhah: “Engkau membawa istri Rasulullah untuk berperang bersamanya, sementara engkau tinggalkan istrimu sendirian di rumah?! Apakah hanya dengan dalih tidak berbaiat kepadaku?!”

Lalu beliau berpaling kepada Zubeir dan berkata: “Selama ini, kami telah menganggapmu sebagai bagian dari Bani Abdul Mutthalib sampai anakmu menjadi bejat dan berusaha memisahkan kita”. Ali melanjutkan: “Wahai Zubeir! Masih ingatkah engkau; ketika bersama Nabi aku melintas kampung Bani Ghanim. Tiba-tiba Nabi melihatku lalu tertawa dan aku pun ikut tertawa. Kemudian engkau berkata kepada Nabi: ‘Jangan biarkan dia menjadi sombong’. Nabi menjawab teguranmu: ‘Dia, Ali bin Abi Thalib, bukanlah manusia sombong. Pada suatu hari nanti, engkau akan memeranginya dan engkau dalam posisi sebagai pihak yang dzalim!”

Mendengar kejadian itu, Zubeir menjawab: “Benar apa yang engkau katakan”. Diriwayatkan juga bahwa Zubeir lantas meninggalkan medan pertempuran, namun ia dibunuh di tempatnya yang jauh darinya. Sayangnya, itu terjadi setelah api fitnah telah menyala.

Sejarah berlanjut menuju PERANG JAMAL ::::

Qatadah meriwayatkan peristiwa berikut. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, Zubair menyeruak ke muka mengendarai kudanya dengan persenjataan lengkap. Orang-orang berkata kepada Ali, “Dia Zubair!” Karena itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Zubair diharapkan dari dua orang itu lebih mengingat Allah, sekiranya ia diberi peringatkan.” Thalhah juga maju ke hadapan Ali. Ketika Ali berhadapan dengan mereka, ia berkata, “Sesungguhnya kalian telah menyiapkan persenjataan, kendaraan, dan pasukan. Apakah kalian telah menyiapkan alasan di Hari Perhitungan ketika kalian menemui Tuhan kalian? Bertakwalah kepada Allah dan janganlah menjadi seperti seorang wanita yang menguraikan hasil tenunannya setelah selesai menenunnya! Bukankah aku adalah saudara kalian dan kalian meyakini kesucian darahku? Apakah ada yang menjadikannya halal sehingga kalian berani menumpahkan darahku?” Thalhah berkata, “Kalian telah memfitnah umat untuk memerangi Utsman.”

Ali bin Abi Thalib menjawab dengan mengutip ayat Quran, Pada hari itu (Hari Pembalasan), Allah akan membalas mereka dengan balasan yang adil, dan mereka akan mengetahui hal itu, sesungguhnya Allah adalah saksi yang nyata. (QS. 24:25) Lalu Ali melanjutkan, “Thalhah, apakah engkau berperang untuk menuntut darah Utsman? Semoga Allah mengutuk mereka yang telah membunuh Utsman. Zubair, ingatkah ketika engkau sedang bersama Rasulullah dan melewati Bani Ghunam dan ia melihat kepadaku dan tersenyum? Aku tersenyum kepadanya dan engkau berkata kepadanya, Ali bin Abi Thalib selalu sombong.” Rasulullah bersabda kepadamu, “la tidak sombong, engkaulah yang akan memeranginya dengan tidak adil!”

Dzahabi meriwayatkan, “Kami berada di tenda Ali bin Abi Thalib ketika terjadi Perang Unta. Saat itu Ali mengutus seseorang untuk menemui Thalhah agar ia berunding dengannya (sebelum perang dimulai). Thalhah maju ke depan dan Ali berkata kepadanya, “Aku ingatkan engkau atas nama Allah! Tidakkah engkau mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, Ali adalah juga maulanya. Ya Allah, cintailah orang-orang yang mencintainya, dan bencilah orang-orang yang membencinya!”‘ Thalhah menjawab, “Ya, aku mendengarnya.” Ali berkata, “Lalu mengapa engkau memerangiku?

Imam Ali as yg tau persis niat dan tujuan Aisyah, Thalhah dan Zubair, tau bhw tujuan mereka hanya utk menjatuhkan Imam Ali as dari Kekhalifahan bukan mencari pembunuh yg adalah mereka (Aisyah dan Thalhah) sendiri yg merencanakannya.

Akhirnya pecah perang. Dalam perang itu, Thalhah dibunuh oleh Marwan bin Hakam (Marwan ikut pasukan Aisyah membunuh Thalhah dari belakang) karena Marwan menyaksikan bahwa Thalhahlah yg mengayunkan pedang membunuh Utsman.

Demikian sejarah singkat yg saya simpulkan dari berbagai sumber.

Kesimpulannya: Karena berlomba-lomba dalam urusan duniawi mereka semua terjerumus.

[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Mereka (Aisyah dan para sahabat) telah diuji dalam urusan duniawi, dan kebanyakan mereka terbukti gagal oleh sejarah.
[6:119] Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas

Sebagaimana juga nasib akhir Thalhah yang kemudian dibunuh oleh Marwan bin Hakam di tempat yang juga jauh dari medan pertempuran

.

Perang Dimulai

Sebelum perang dimulai, Ali bin Abi Thalib a.s. sangat berharap kelompok Nakitsin itu pada akhirnya akan mengurungkan niat mereka. Ia tidak mengizinkan satu orang pun dari pasukannya untuk memulai peperangan, sekalipun ia melihat bagaimana para komandan pasukan Nakitsin itu sudah tidak sabar lagi untuk memulai peperangan. Kepada para pengikutnya, Ali berkata: :Tidak kuperkenankan seorang pun dari kalian memanah musuh dan tidak kuperbolehkan melempar tombak ke barisan musuh sampai mereka yang pertama memulai peperangan dan terjadi sesuatu ke atas kalian. Tunggulah sampai mereka memulai peperangan”.

Akhirnya, pasukan Jamal (unta) tidak lagi dapat menahan kesabarannya. Mereka mulai memanah pasukan Ali bin Abi Thalib dan membunuh satu dari bala tentaranya. Ali masih belum memperkenankan pasukannya untuk bergerak sehingga orang kedua pun gugur terkena panah. Ali masih tetap dengan sikapnya semula menahan pasukannya. Sampai ketika orang ketiga dari pasukannya terbunuh gugur, Ali bin Abi Thalib tidak dapat lagi menahan dirinya. Ia memberikan izin dan memerintahkan pasukan untuk mulai bergerak mempertahankan kebenaran dan keadilan.

Kemudian kedua pasukan maju dan saling menyerbu. Peperangan yang sangat hebat dan sungguh menakutkan. Begitu banyak kepala-kepala menggelinding terpisah dari badannya, tangan-tangan putus berserakan dan luka-luka diderita oleh kedua belah pihak.

Ali bin Abi Thalib a.s. mulai mengevaluasi apa yang terjadi di medan pertempuran. Ia melihat bagaimana pasukan Jamal berusaha mati-matian mempertahankan unta mereka. Kemudian Ali berteriak dengan suara lantang: “Celakalah kalian! Sembelih unta itu. Binatang itu adalah setan”.

Lalu Ali bin Abi Thalib a.s. bersama para sahabatnya menerjang dan maju mendesak ke depan hingga berhasil mendekati unta yang dipertahankan mati-matian oleh musuh dan kemudian menyembelihnya. Melihat kekuatan Ali dan pasukannya, sebagian dari pasukan Jamal melarikan diri dari medan pertempuran. Kemudian Ali  a.s. kemudian memerintahkan pasukannya untuk membakar unta itu lalu melemparkan abunya ke udara agar tidak dipolitisasi untuk memprovokasi orang-orang awam. Setelah semua itu usai, Ali berkata: “Semoga Allah melaknat unta tadi. Binantang itu  persis dengan anak sapi Bani Israel’.

Ali bin Abi Thalib a.s. memandang abu yang berhamburan di angkasa sambil membaca ayat:

“Dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)”.

Sikap Ali Pasca Perang Jamal

Usai sudah perang Jamal yang dimenangkan oleh pasukan Ali bin Abi Thalib a.s. Debu-debu yang beterbangan telah hilang. Ali memerintahkan salah seorang agar mengumumkan amnesti umum untuk kategori-kategori berikut ini: “Ketahuilah! Siapa saja yang tidak membunuh orang yang terluka, siapa saja yang tidak ikut memimpin perang Jamal, siapa saja yang tidak menghina gubernur, siapa saja yang meletakkan senjata, maka mereka aman. Siapa saja yang menutup pintu rumahnya, ia aman dan tidak akan diganggu. Pasukan dilarang mengambil harta pasukan Jamal kecuali yang ditemukan di medan pertempuran seperti senjata dan lain-lainnya yang dipakai untuk bertempur. Sementara selain yang disebutkan tadi, harta mereka menjadi milik pewarisnya”.

Ali bin Abi Thalib a.s. memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar dan Ammar bin Yasir untuk membawa sekedup Aisyah yang tergeletak di antara korban-korban perang yang terbunuh di tengah medan pertempuran dan meletakkan kembali di atas unta. Muhammad bin Abu Bakarlah yang mengurusi semua urusan saudarinya sendiri; Aisyah. Menjelang pagi, Muhammad membawanya masuk kota Basrah dan menginapkannya di rumah Abdullah bin Khalaf Al-Khuza’i.

Setelah semuanya usai, Ali bin Abi Thalib a.s. berputar mengelilingi mayat-mayat pasukan Jamal dan berbicara kepada mereka dengan mengulang-ulangi perkataan: “Aku telah menemukan apa yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku sebagai sebuah kebenaran. Apakah kalian juga mendapatkan janji dari Tuhan kalian sebagai kebenaran?”

Ali bin Abi Thalib a.s. berkata lagi: “Sungguh hari yang paling hina dan tercela bagi orang yang menginginkan kematian kami dan selain kami. Namun yang lebih celaka lagi adalah mereka yang hendak memerangi dan membunuh kami”.

Ali bin Abi Thalib a.s. tidak langsung memasuki Basrah. Ia tinggal sejenak di luar kota. Di sana ia memberikan izin kepada siapa saja yang memiliki kerabat yang terbunuh di perang Jamal untuk menguburkan mayatnya. Setelah itu, ia memasuki kota Basrah; pusat kelompok Nakitsin. Sesampainya di masjid jami’ Basrah, ia melakukan shalat kemudian berpidato di hadapan warga Basrah dan pasukannya. Ia mengingatkan mereka akan baiat yang telah mereka berikan sebelumnya dan sikap kelompok Nakitsin terhadap baiat. Warga kota yang merasa salah meminta kebesaran hati Ali a.s. untuk mengampuni mereka. Ia berkata: “Aku telah memberi ampunan kepada kalian. Tetapi kalian harus waspada untuk tidak lagi melakukan dan mengobarkan fitnah. Kalian adalah kelompok yang pertama merobek perjanjian yang telah kalian lakukan dengan membaiatku. Kalian orang pertama yang memorak-porandakan persatuan umat Islam”. Kemudian warga yang hadir—termasuk tokoh-tokoh masyarakat Basrah—kembali mengulangi dan mengukuhkan baiat mereka kepadanya.

Setelah menerima pembaiatan kedua kali dari warga Basrah, Ali bin Abi Thalib a.s. mendatangi Baitul Mal kota. Ketika melihat sekian besarnya jumlah harta yang tersimpan, ia berkata: “Berikan harapan kepada selainku!”. Itu diucapkannya berulang kali. Kemudian Ali a.s. memerintahkan untuk membagi harta Baitul Mal kepada semua warga secara sama rata. Pada saat itu, setiap orang menerima lima ratus Dirham. Ali sendiri mendapat jumlah Dirham yang sama dengan yang lain.

Ketika harta Baitul Mal itu telah terbagi habis, seseorang menghadap Ali bin Abi Thalib a.s. Ia tidak hadir dalam perangan Jamal, namun menuntut bagiannya. Lalu Ali a.s. pun memberikan bagian yang telah diterimanya kepada orang itu. Semua sudah mendapatkan bagian kecuali Ali bin Abi Thalib yang telah memberikan bagiannya kepada orang tadi.

Ali bin Abi Thalib a.s. memerintahkan untuk mempersiapkan segala keperluan perjalanan Aisyah menuju Madinah. Ia mengutus saudara Aisyah, Muhammad, dan beberapa orang wanita bersenjata dan bersorban untuk mengawal perjalanannya sampai tiba di Madinah dengan selamat. Meski demikian, Aisyah masih saja berburuk sangka kepada Ali a.s. lantaran ia merasa dirinya tidak diperlakukan sebagaimana mestinya; yakni didampingi oleh segerombolan laki-laki asing. Namun, segera setelah ia tahu bahwa Ali tidaklah demikian karena yang mendampinginya adalah  saudaranya sendiri, Muhammad, dan wanita-wanita yang dipakaikan sorban, ia pun menyesali dirinya. Akhirnya, Aisyah menyesali perbuatannya ikut dengan pasukan Jamal dan memberontak khalifah terpilih yang kemudian menjadi fitnah yang tidak mungkin ditarik lagi. Nasi telah menjadi bubur. Aisyah pun menangis tersedu-sedu

.

Dampak Negatif Perang Jamal

Perang Jamal meninggalkan dampak-dampak negatif terhadap masyarakat Islam, antara lain:

1.  Kasus pembunuhan Utsman bin Affan semakin berkembang luas sehingga menjadi krisis politik besar yang kemudian menjadi gelombang fitnah yang secara langsung menyerang risalah Islam, baik berupa pernyataan ataupun aksi. Di sisi lain, Muawiyah mempolitisasi situasi ini demi kepentingan pribadi dan mengoptimalkannya dengan kejadian perang Jamal dan pertumpahan darah di sana.

2.  Kebencian dan kecurigaan massal yang mengancam integritas kaum muslimin dan terkadang menjadi penyulut peperangan di antara mereka. Seperti yang terjadi antara sekelompok warga Basrah dan kaum muslimin dari luar kota. Kebencian dan permusuhan itu muncul lantaran tuntutan atas darah kerabat-kerabat mereka yang  terbunuh di perang Jamal.

3.  Penyimpangan yang terjadi di dalam kubu kaum muslimin sendiri semakin merekah. Kondisi ini membuat tugas Ali bin Abi Thalib a.s. menjadi semakin berat. Belum lagi pembangkangan Muawiyah di Syam yang telah membuka medan baru. Akibatnya, ekspansi dan perluasan wilayah Islam menjadi bermasalah. Demikian juga, aksi Muawiyah telah membuat sulit proses pembaharuan dan pembanguan peradaban yang dapat dilakukan di dalam masyarakat Islam.

4.  Kebencian dan penyimpangan telah membuka jalan bagi para penentang pemerintahan yang sah untuk secara mudah menyelesaikan masalah mereka dengan kekuatan senjata dan perang

.

Kufah menjadi ibu kota pemerintahan Islam

Setelah kondisi perlahan-lahan tenang, Imam Ali bin Abi Thalib dan pasukannya bergerak menuju kota Kufah untuk dijadikan ibu kota. Sebelum itu, Imam Ali bin Abi Thalib telah mengirikan utusan ke sana untuk menjelaskan detil masalah apa yang sebenarnya telah terjadi. Sebagaimana juga Imam Ali bin Abi Thalib telah mengutus dan menjadikan Abdullah bin Abbas sebagai gubernur di sana serta menjelaskan secara lengkap bagaimana bersikap dan menghadapi mereka setelah kejadian perang Jamal.

Alasan Imam Ali bin Abi Thalib memilih Kufah sebagai ibu kota baru bagi negara Islam dengan memperhatikan alasan-alasan yang di antaranya:

1. Perluasan area dan teritori dunia Islam. Hal ini harus diimbangi dengan adanya sebuah ibu kota yang terpusat baik secara administrasi dan politik. Dan untuk itu, ibu kota harus berada di tempat yang strategis untuk dapat bergerak cepat mencapai semua titik di negara Islam.

2. Pertimbangan terbesar lainnya adalah orang-orang yang turut membantu Imam Ali bin Abi Thalib dalam menumpas pasukan Jamal adalah tokoh-tokoh dan masyarakat Irak dan yang paling banyak memberikan bantuan adalah dari Kufah.

3. Kondisi politik dan ketegangan yang disebabkan oleh pembunuhan Usman bin Affan dan perang Jamal membuat Imam Ali bin Abi Thalib memutuskan memilih Kufah sebagai ibu kota baru untuk memastikan dan memberikan keamanan pada daerah sekitar itu.

sumber :

.Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 450.

.Ibid.

.Nahjul Balaghah, Kalimat pendek 92.

.Ibid.

. Nahjul Balaghah, Khotbah Ketiga yang dikenal dengan Khotbah Syiqsyiqiyah.

. Ansab Al-Asyraf, jilid 1, hal 157.

. Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 22.

. Nahjul Balaghah, kalimat pendek 229.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 452.

. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 17-18.

. Nahjul Balaghah, khotbah ke 15.

. Bihar Al-Anwar, jilid 41, hal 116.

. As-Sunan Al-Kubra, jilid 10, hal 136. Tarikh Dimasyq, jilid 3, hal 196. Al-Aghani, jilid16, hal 36. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, hal 4. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid3, hal 399. As-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal 78.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 462.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 461. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 255.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 469.

. Nahjul Balaghah, Khotbah ke 3.

. Bihar Al-Anwar, jilid 6, hal 179.

. Sunan At-Turmudzi, jilid 2, hal 298.

. Waq’ah Shiffin, hal 119.

. As-Syahid Muhammad Baqir As-Shadr, Ahl Al-Bait Tanawwu’ wa Wadah Hadaf, hal 59-69.

. Untuk lebih detilnya lihat: Sayyid Murtadha Al-‘Askari, Ma’alim Al-Madrasatain, jilid2, hal 43.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 1, hal 125. Sunan Abi Daud, jilid 2, hal 262. Musnad Ahad, jilid 2, hal 162. Tadzkirah Al-Huffazh, jilid 1, hal 2.

. Ibnu Saad, Thabaqat, jilid 5, hal 140.

. Tarikh Ibnu Kasir, jilid 8, hal 107. Sunan Ad-Darimi, jilid 1, hal 54. Tafsir Ath-thabari, jilid 3, hal 38. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 1, hal 115.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 448.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 365. Al-Baihaqi, Sunan Al-Kubra, jilid 6, hal 223.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 359. Usd Al-Ghabah, jilid 3, hal 299.

. Futuh Al-Buldan, hal 55. As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa, hal 136.

. Kanz Al-‘Ummal, jilid 16, hal 519, hadis ke 54715. Ibnu Al-Qayyim, Zad Al-Ma’ad, jilid 2, hal 205.

. Ibnu Taimiah, Minhaj As-Sunnah, jilid 3, hal 193. Buku-buku sejarah mencatat banyak ijtihad yang dilakukan oleh ketiga khalifah.

. Nahjul Balaghah, khotbah ke 50.

. Al-Aghani, jilid 12, hal 13. Ibnu An-Nadim, Al-Fihrist, hal 59. Wafayat Al-‘Ayan, jilid 2, hal 216. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, 312.

. Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 6, hal 186. As-Sayyid Al-Jalali, Tadwin As-Sunnah Asy-Syarifah, hal 137.

. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 139. Tarikh Baghdad, jilid 8, hal 340. Majma’ Az-Zawaid, jilid 9, hal 235. Kanz Al-‘Ummal, jilid 6, hal 82.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 6, hal 215. Kasyf Al-Ghummah, jilid 3, hal 323.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 206.

. Idem.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 474.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 6, hal 217. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 149.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 209.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 231.

. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 70.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 232.

. Tarikh At-Thabari, jilid 3, hal 471.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 79. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 207.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 80. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 210.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 209.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82. Musnad Ahmad, jilid 6, hal 521. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 497.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82. Muruj Az-Dzahab, jilid 2, hal 395.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 83.

. Tarikh At-Thabari, jilid 3, hal 479. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 211.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 482. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 213.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 87. Ath-Thabari, jilid 3, hal 483-484. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 215.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 89. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 484. Muruj Adz-Dzhab, jilid 2, hal 367.

. Al-Imamah Wa As-Siyasah, hal 90. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 122.

. Idem, hal 91. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 270.

. Al-Mamah wa As-Siyasah, hal 91. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 270

. Ath-Thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 158. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 97.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 9, hal 111.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 95.

. QS. 20 : 97.

. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 172. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 371.

. Al-Mufid, Al-Irsyad, jilid 1, hal 256, cetakan Muassasah Alu Al-Bait.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 255.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid, 3, hal 544. Al-Mufid, Al-Irsyad, hal 137.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 250.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 98. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 379. Al-Khawarizmi, Al-Manaqib, hal 115. As-Sibth bin Al-Jauzi, At-Tadzkirah, hal 80.

Banyak hadits tentang kedatangan 12 Imam atau 12 pemimpin atau 12 emir atau 12 khalifah sepeninggal Rasulullah. Jumlah yang persis 12 dan diulang-ulang itu tentu saja bukan sembarang angka yang tidak ada maknanya. Mengabaikan angka itu sama dengan mengabaikan risalah Islam yang disampaikan oleh Rasulullah. Rasulullah telah mewanti-wanti kita bahwa jumlah mereka yang 12 itu akan memimpin umat Islam sampai akhir zaman

JUMLAH HADITS

Banyak hadits tentang kedatangan 12 Imam atau 12 pemimpin atau 12 emir atau 12 khalifah sepeninggal Rasulullah. Jumlah yang persis 12 dan diulang-ulang itu tentu saja bukan sembarang angka yang tidak ada maknanya. Mengabaikan angka itu sama dengan mengabaikan risalah Islam yang disampaikan oleh Rasulullah. Rasulullah telah mewanti-wanti kita bahwa jumlah mereka yang 12 itu akan memimpin umat Islam sampai akhir zaman. Beberapa dari hadits-hadits tersebut ialah sebagai berikut:

1. Shahih al-Bukhari, vol. 4, halaman 168

Jabir berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada 12 pemimpin dan khalifah.’ Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Ayahku berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Semuanya dari golongan Qurays’”
(Lihat Kitab al-Ahkam, Mesir 1351, no. 6682; lihat juga Shahih Muslim, Kitab al-‘Imarah, no. 3393, 3394, 3395, 3396, dan 3397; juga Sunan at-Turmudzi, Kitab al-Fitan, no. 2149; juga Sunan Abi Dawud, Kitab al-Mahdi, no 3731 dan 3732; juga Musnad Ahmad, Musnad al-Basyiryin, no. 19875, 19901, 19920, 19963, 20017, 20019, 20032, dan 20125)

2. Shahih Muslim, vol. 6, halaman 4 (Syarh Nawawi)

Rasulullah saw telah bersabda, “Agama ini akan tetap berdiri sampai 12 khalifah, yang semuanya dari golongan Qurays, memerintah atas kamu.”
(Lihat Kitab al-Imarah, no. 3398)

3. Shahih Muslim, vol. 6, halaman 3

Jabir meriwayatkan, “Aku dan ayahku pergi menemui Rasulullah saw. Kami mendengarnya bersabda, ‘Persoalan ini (khilafah) tidak akan berakhir sampai datang 12 khalifah.’ Kemudian beliau menambahkan sesuatu yang tidak kudengar. Aku menanyakan pada ayahku apa yang Rasulullah saw sabdakan. Beliau saw bersabda, ‘Semuanya dari golongan Qurays’”
(Lihat Kitab al-Imarah, no. 3398, Mesir 1334)

4. Shahih Muslim, vol. 6, halaman 3

Jabir meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw yang agung bersabda, “Islam akan selalu besar hingga datang 12 Imam.” (Jabir berkata), “Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Aku bertanya pada ayahku, ‘Apa yang beliau katakana?’ Ia menjawab, ‘Semuanya dari golongan Qurays.’”
(Lihat Kitab al-Imarah, no. 3398)

5. Shahih at-Tirmidzi, vol. 2, halaman 45

Jabir berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Akan ada 12 Imam dan pemimpin setelahku.’ Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak dapat kumengerti. Aku menanyakan pada seseorang di sampingku tentang itu. Ia berkata, ‘Semuanya dari golongan Qurays.’”
(Lihat cetakan New Delhi (tahun 1342), no. 2149. Tirmidzi menulis tentang hadits ini, “Hadits ini baik dan shahih, diriwayatkan oleh Jabir dari jalur sanad yang berbeda. Hal yang sama dikutip dari Jabir dalam ‘Shahih Abi Daud’, vol. 2, cet. Matba’a Taziyah, Mesir. Kitab al-Manaqib halaman 207 no. 3731)

6. Musnad Ahmad, vol. 5, hal. 106

Rasulullah bersabda, “Terdapat dua belas khalifah untuk umat ini”
Catatan: Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnad mengutip hadits tentang persoalan ini dalam tiga puluh empat rantai hadits yang berlainan dari Jabir.
(Lihat: Matba’a Miymaniyyah, Mesir 1313, Musnad al-Basriyyin, no. 19944)

7. Shahih Abu Daud, vol. 2, hal. 309

“Agama ini akan tetap agung sampai datang dua belas Imam.” Mendengar hal ini, orang-orang mengagunkan Allah dengan berkata, “Allahu Akbar” (Allah maha besar) dan menangis keras. Kemudian beliau mengatakan sesuatu dengan suara yang pelan. “Aku bertanya pada ayahku, ‘Apa yang beliau katakan?’ ‘Mereka semua dari golongan Qurays,’ jawabnya.”
Catatan: Hakim Naysaburi meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang berbeda dari yang sebelumnya disebutkan.
(Lihat: Edisi pertama dari ‘Dar- Al-Fikr, 1334)

APA KATA AHLU SUNNAH MENGENAI HADITS-HADITS TENTANG 12 IMAM YANG ADA DI DALAM KITAB MEREKA?

Para ulama Ahlussunnah memiliki pendapat yang beraneka-ragam mengenai hal ini. Mereka sama sekali tidak bisa menolak keberadaan dan kesahihan dari hadits-hadits tersebut karena saking banyak jumlahnya dan saking sahih sanad yang dilalui oleh hadits-hadits itu. Mau tidak mau mereka juga mencoba untuk menyusun daftar para pemimpin atau khalifah atau amir atau imam yang menurut mereka cocok dengan risalah Nabi itu. Berikut nama ulama Ahlussunnah dan daftar-daftar yang telah mereka buat:
  1. Menurut Ibnu Katsir:

    mereka adalah keempat khalifah awal, lalu Umar ibn Abdul Aziz, dan sebagian khalifah dari dinasti Abbasiyah, di mana Imam Mahdi yang dijanjikan berasal dari mereka. Menurut Ibnu Katsir Imam Mahdi bukan berasal dari Bani Hasyim melainkan Bani Umayyah.
  2. Menurut Qadhi Damaskus:

    mereka adalah Khulafa’ Rasyidin, Muawiyah, Yazid ibn Muawiyah, Abdul Malik ibn Marwan dan keempat anaknya (Walid, Sulaiman, Yazid dan Hisyam), dan diakhiri oleh Umar ibn Abdul Aziz. Di sini tidak ada Imam Mahdi yang dijanjikan.
  3. Menurut Waliyyullah:

    seorang Ahli Hadis dalam kitab Qurratul ‘Ainain, sebagaimana dinukil dalam kitab ‘Aunul Ma’bud: mereka adalah empat khalifah pertama muslimin, Abdul Malik ibn Marwan dan keempat anaknya, Umar ibn Abdul Aziz, Walid ibn Yazid ibn Abdul Malik. Kemudian Waliyyullah menukil dari Malik ibn Anas seraya memasukkan Abdullah ibn Zubair ke dalam dua belas orang tersebut, akan tetapi dia menolak perkataan Malik dengan dalil riwayat dari Umar dan Ustman dari Rasulullah saw. yang menunjukkan bahwa pemerintahan yang dipimpin oleh Abdullah ibn Zubair adalah sebuah bencana dari sederet malapetaka yang diderita umat Islam. Ia juga menolak dimasukkannya Yazid dan menegaskan, bahwa dia adalah sosok yang berperilaku bejat.
  4. Menurut Ibnu Qayim Jauzi:

    “Sedangkan jumlah khalifah itu dua belas orang; sekelompok orang yang di antaranya; Abu Hatim, Ibnu Hibban dan yang lain mengatakan bahwa yang terakhir dari mereka adalah Umar ibn Abdul Aziz. Mereka menyebut khalifah empat pertama, Muawiyah, Yazid ibn Muawiyah, Muawiyah ibn Yazid, Marwan ibn Hakam, Abdul Malik ibn Marwan, Walid ibn Abdul Malik, Sulaiman ibn Abdul Malik, dan khalifah yang kedua belas Umar ibn Abdul Aziz. Khalifah yang terakhir ini wafat pada tahun seratus Hijriyah; di abad pertama dan paling awal dari abad-abad kalender Hijriah manapun, pada abad inilah agama berada di puncak kejayaan sebelum terjadi apa yang telah terjadi”.
  5. Menurut Nurbasyti:

    ”Cara terbaik memaknai hadis ini adalah menerapkan maknanya pada mereka yang adil, karena pada dasarnya merekalah yang berhak menyandang gelar sebagai khalifah, dan tidak mesti mereka memegang kekuasaan, karena yang dimaksud dari hadis adalah makna metaforis saja. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Mirqat”.
  6. Dan menurut Maqrizi:

    jumlah dua belas imam adalah khalifah empat pertama dan Hasan cucunda Nabi saw. Ia mengatakan: “Dan padanya (Imam Hasan a.s.), masa khalifah rasyidin pun berakhir”. Maqrizi tidak memasukkan satu pun dari penguasa dinasti Umawiyah. Masih menurut penjelasannya, khilafah setelah Imam Hasan a.s. telah menjadi sistem kerajaan yang di dalamnya telah terjadi kekerasan dan kejahatan. Lebih lanjut, ia juga tidak memasukkan satu penguasa pun dari dinasti Abbasiyah, karena pemerintahan mereka telah memecah belah kalimat umat dan persatuan Islam, dan membersihkan kantor-kantor administrasi dari orang Arab lalu merekrut bangsa Turki. Yaitu, pertama-tama bangsa Dailam memimpin, lalu disusul bangsa Turki yang akhirnya menjadi sebuah bangsa yang begitu besar. Maka, terpecahlah kerajaan besar itu kepada berbagai bagian, dan setiap penguasa suatu kawasan mencaplok dan menguasainya dengan kekerasan dan kebrutalan.
Dengan demikian, tampak jelas bagaimana kebingungan madrasah Khulafa’ (Ahli Sunnah) dalam menafsirkan hadis tersebut; mereka tidak sanggup keluar dari keadaan ini selagi berpegang pada tafsir futuralistik itu.
Dalam kitab Al-Hawi lil Fatawa, As-Suyuthi mengatakan: ”Sampai sekarang, belum ada kesepakatan dari umat Islam mengenai setiap pribadi dua belas imam.”
Dengan itu maka, saudara-saudara kita dari golongan Ahlussunnah telah tersandera oleh ketidak-pastian tentang siapakah yang akan dirujuk dan dijadikan anutan untuk mendapatkan bimbingan dan pertolongan mengingat manusia itu memerlukan petunjuk Tuhan agar hidupnya senantiasa berjalan di atas kebenaran menuju kebahagiaan yang memang telah dijanjikan Tuhan.
Kaum Ahlussunnah akan senantiasa bertikai memperebutkan hak kepemimpinan karena mereka satu sama lain akan berlainan pendapat mengenai siapakah yang harus mereka ikut hingga akhir zaman. Kasus Ahmadiyyah adalah salah satu contoh klasik dimana ada kelompok yang tidak setuju dengan penafsiran siapakah yang disebut dengan IMAM MAHDI itu? Kaum Ahmadiyyah telah menentukan IMAM MAHDINYA sementara kelompok yang berseberangan memiliki IMAM MAHDI sendiri yang sampai saat ini masih mereka cari atau mungkin sebagian besar dari mereka tidak peduli.
Padahal hadits-hadits tentang 12 Imam yang ditutup oleh Imam Mahdi itu sangat shahih dan tak bisa dibantah keberadaannya. Mana mungkin mereka mendapatkan petunjuk kalau mereka tidak atau belum menentukan siapakah imam-imamnya secara pasti. Padahal mengenali Imam zamannya dan mengikuti bimbingan dan petunjuknya serta patuh dan taat padanya adalah bagian penting dari risalah suci ini. Rasulullah telah tiada meninggalkan kita, dan beliau mewariskan 12 pemimpin itu untuk kita ikuti bersama. Melupakan hadits-hadits suci itu sama saja dengan mengkhianati Nabi. Mengkhianati Nabi sama saja dengan keluar dari Islam dan hidup sebagai orang murtad. Pantas saja Nabi mewanti-wanti agar kita mengenali Imam kita. Lihatlah hadits-hadits berikut ini.

BAGAIMANA KATA HADITS TENTANG KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMIMPIN?

Berikut akan saya paparkan beberapa hadits tentang kewajiban untuk memiliki, mengikuti dan mentaatipemimpin atau imam.
1. “Barangsiapa mati tanpa imam, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Majma’ az-Zawa’id, jilid 5, halaman 218; lihat juga Abu Dawud, Musnad, halaman 259 dari jalur ‘Abdullah bin Umar dan ditambahkan: “Dan barangsiapa menolak untuk taat, maka pada hari kiamat ia tidak punya hujjah, pembelaan”)

2. “Barangsiapa mati tanpa berbai’at maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Shahih Muslim, jilid 6, halaman 22; lihat juga Baihaqi, Sunan, jilid 8, halaman 156; kemudian Ibnu Katsir dalam Tafsir, jilid 1, halaman 517; Al-Haitsami dalam Al-Majma’, jilid 5, hal. 218)
3. “Barangsiapa meninggal dan tiada ketaatan (kepada imam), maka ia telah meninggal dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Imam Ahmad dalam Musnad, jilid 3, hal. 446; Haitsami dalam al-Majma’, jilid 5, hal. 223)
4. “Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”
(lihat Al-Taftazani, Syarh al-Maqashid, jilid 2, hal. 275. Ia mengeluarkan  hadits ini dalam hubungan ayat (QS. An-Nisaa: 59) yang saya kutipkan di atas. Syaikh ‘Ali al-Qari, Al-Marqat fi Khatimah al-Jawahir al-Madhiyah, jilid 2, hal. 509, dan pada hal. 457 tatkala mengutip Shahih Muslim yang berbunyi:“Barangsiapa meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah”, ia menambahkan bahwa arti hadits tersebut adalah: “seseorang yang tidak mengetahui bahwa ia wajib mengikuti tuntunan imam pada zamannya.
SEMOGA KITA TIDAK DIGOLONGKAN MENJADI UMAT YANG KEHILANGAN PEGANGAN KARENA TIDAK MENGENALI IMAM ZAMANNYA. AMIN.

QS. Al-Munafiquun: 1—3 adalah bukti yang sangat kuat bahwa ada sejumlah kaum Muslimin yang menyatakan keIslamannya pada jaman Nabi dan tinggal bersama dengan Nabi di kota Madinah; mereka shalat berjama’ah bersama Nabi; akan tetapi mereka hidup sebagai orang munafik. Mereka datang kepada Nabi untuk menyelamatkan diri mereka dengan bersaksi di hadapan Nabi bahwa mereka akan patuh dan taat kepada Nabi dan mereka berjanji tidak akan berkhianat kepada Nabi. DAN MEREKA BERDUSTA. Mereka memeluk Islam untuk kemudian meninggalkannya dan Allah akhirnya mengunci hati mereka.

Para sahabat menurut Syi’ah

Para ulama Syi’ah sendiri tidak pernah meletakkan seluruh sahabat tanpa kecuali dalam satu tingkatan yang sama tanpa pandang bulu. Mereka bahkan tidak berpendapat bahwa semua sahabat itu jujur, adil dan bisa dipercaya. Para ulama Syi’ah melihat sebagian dari para sahabat itu memang memiliki derajat kemuliaan yang utama. Sebagian lagi disebut sebagai sahabat yang baik dan shaleh meskipun tingkat kemuliaannya tidak setinggi yang pertama. Ada juga para sahabat yang tidak diketahui apakah mereka itu memiliki kemuliaan atau keshalehan; apakah mereka bisa dipercaya atau tidak. Ada juga sebagian sahabat yang di masa hidupnya dikenal dengan tingkah lakunya yang menyimpang dan seringkali bertentangan dengan Nabi; seringkali mengganggu kebijakan Nabi (yang jelas menurut atau sesuai dengan wahyu Illahi).
Pendapat para ulama Syi’ah ini sangat sesuai dengan logika yang sehat dan  fakta sejarah yang akurat.
——————————————————————————————————-

Ayat-ayat Al-Qur’an mendukung pandangan para ulama Syi’ah

Pandangan para ulama yang yakin bahwa tidak semua sahabat itu adil dan jujur serta bisa dipercaya diperkuat oleh beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan fakta sejarah dan kenyataan kehidupan para sahabat di jaman itu. Diantara dari ayat-ayat Al-Qur’an itu ialah:

“Dan mereka  mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung”
 (QS. An-Nisa: 81)
Ayat ini jelas menunjukkan sejumlah sahabat Nabi yang merupakan penduduk kota Madinah yang jelas juga mereka itu Muslim dan mereka shalat bersama Rasulullah dan ikut berkumpul bersama Rasulullah mendengarkan Rasulullah memerintahkan mereka agar melakukan sebuah perbuatan baik. Mereka pada waktu itu berkata pada Rasulullah: “Sami’na wa atho’na” “Kami dengar; dan kami ta’ati” akan tetapi ketika Rasulullah meninggalkan mereka, mereka tidak berkehendak sedikitpun untuk mematuhi Rasulullah. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda dengan yang digariskan oleh Rasulullah.
Kita akan dapati dalam surat At-Taubah—misalnya—banyak  sekali ayat-ayatnya yang menunjukkan bahwa beberapa sahabat Nabi itu adalah orang munafik dan Rasulullah bahkan tidak mengenali mereka sebagai munafik sampai Allah memberitahu beliau lewat wahyu-Nya.

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”
 (QS. At-Taubah: 101)

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”
 (QS. At-Taubah: 73—74)

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.”
 (QS. At-Taubah: 75—77)
Lihat juga dalam surat Al-Ahzab:

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.”
 (Qs.Al-Ahzab: 12—13)

Surat Al-Munafiquun
 sendiri adalah bukti yang sangat kuat bahwa ada sejumlah kaum Muslimin yang menyatakan keIslamannya pada jaman Nabi dan tinggal bersama dengan Nabi di kota Madinah; mereka shalat berjama’ah bersama Nabi; akan tetapi mereka hidup sebagai orang munafik. Mereka datang kepada Nabi untuk menyelamatkan diri mereka dengan bersaksi di hadapan Nabi bahwa mereka akan patuh dan taat kepada Nabi dan mereka berjanji tidak akan berkhianat kepada Nabi. DAN MEREKA BERDUSTA. Mereka memeluk Islam untuk kemudian meninggalkannya dan Allah akhirnya mengunci hati mereka.

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” 
(QS. Al-Munafiquun: 1—3)
Ayat-ayat ini dan banyak lagi ayat yang tidak bisa kami tuliskan karena keterbatasan ruang dan waktu menunjukkan dengan jelas dan tegas bahwa banyak sekali para sahabat—orang-orang yang hidup sejaman dengan Nabi itu—telah menyatakan keIslaman mereka di jaman Nabi dan di hadapan Nabi dan mereka tinggal bersama Nabi dan Shalat di belakang Nabi akan tetapi mereka hidup sebagai orang-orang munafik.
KESAKSIAN APA LAGI YANG LEBIH KUAT DARIPADA KESAKSIAN AL-QUR’AN?
——————————————————————————————————–
Orang-orang munafik yang tinggal bersama Nabi dan bersama para sahabat lainnya yang shaleh dan jujur nama-namanya tidak pernah disebutkan secara terbuka. Oleh karena itu, ada kemungkinan besar bahwa kita tidak bisa terhindar seratus persen untuk menukil hadits-hadits dari mereka. Ada kemungkinan yang sangat besar kita selama ini mengambil hadits-hadits dari mereka—kaum munafik—dan mengamalkannya sepenuh hati.
Para sejarawan seperti misalnya At-Tabari dalam Tarikh-nya (volume 2, halaman 504); atau Ibnu Hisyam dalam Al-Sirah al-Nabawiyyah (volume 2, halaman 64) menuliskan bahwa ketika Rasulullah pergi berperang di Uhud, beliau berangkat bersama 1000  orang sahabatnya. Akan tetapi Abdullah Ibn Abu Salul meninggalkan Nabi dan kembali ke kota Madinah bersama 300 orang lainnya. Kitab-kitab sejarah Islam tidak berterus terang siapakah mereka yang ikut bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Kitab-kitab sejarah itu tidak menuliskan apakah diantara yang 300 orang itu ada sahabat yang terkemuka atau tidak. Kitab-kitab sejarah hanya menuliskan satu nama: Abdullah Ibn Abu Salul.
Jadi dengan itu maka  kita tidak terhindar dari menukil hadits-hadits yang mungkin melewati jalur 300 orang yang bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Bagaimana kita bisa menghindari orang-orang yang kita tidak ketahui?
UNTUK ITULAH MAKA KITA HARUS MEMPELAJARI RIWAYAT HIDUP PARA SAHABAT DAN MENELITINYA UNTUK MENDAPATKAN KEPASTIAN DARI SUATU RIWAYAT ATAU HADITS NABI.
BERSIKAP KRITIS TERHADAP PARA SAHABAT ADALAH SEBUAH KEBIJAKAN YANG CERDAS DAN TEPAT
————-

QS. At-Taubah: 73—77, QS. At-Taubah: 101, Qs.Al-Ahzab: 12—13 menunjukkan bahwa beberapa sahabat Nabi itu adalah orang munafik dan Rasulullah bahkan tidak mengenali mereka sebagai munafik sampai Allah memberitahu beliau lewat wahyu-Nya.

Para sahabat menurut Syi’ah

Para ulama Syi’ah sendiri tidak pernah meletakkan seluruh sahabat tanpa kecuali dalam satu tingkatan yang sama tanpa pandang bulu. Mereka bahkan tidak berpendapat bahwa semua sahabat itu jujur, adil dan bisa dipercaya. Para ulama Syi’ah melihat sebagian dari para sahabat itu memang memiliki derajat kemuliaan yang utama. Sebagian lagi disebut sebagai sahabat yang baik dan shaleh meskipun tingkat kemuliaannya tidak setinggi yang pertama. Ada juga para sahabat yang tidak diketahui apakah mereka itu memiliki kemuliaan atau keshalehan; apakah mereka bisa dipercaya atau tidak. Ada juga sebagian sahabat yang di masa hidupnya dikenal dengan tingkah lakunya yang menyimpang dan seringkali bertentangan dengan Nabi; seringkali mengganggu kebijakan Nabi (yang jelas menurut atau sesuai dengan wahyu Illahi).
Pendapat para ulama Syi’ah ini sangat sesuai dengan logika yang sehat dan  fakta sejarah yang akurat.
——————————————————————————————————-

Ayat-ayat Al-Qur’an mendukung pandangan para ulama Syi’ah

Pandangan para ulama yang yakin bahwa tidak semua sahabat itu adil dan jujur serta bisa dipercaya diperkuat oleh beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan fakta sejarah dan kenyataan kehidupan para sahabat di jaman itu. Diantara dari ayat-ayat Al-Qur’an itu ialah:

“Dan mereka  mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung”
 (QS. An-Nisa: 81)
Ayat ini jelas menunjukkan sejumlah sahabat Nabi yang merupakan penduduk kota Madinah yang jelas juga mereka itu Muslim dan mereka shalat bersama Rasulullah dan ikut berkumpul bersama Rasulullah mendengarkan Rasulullah memerintahkan mereka agar melakukan sebuah perbuatan baik. Mereka pada waktu itu berkata pada Rasulullah: “Sami’na wa atho’na” “Kami dengar; dan kami ta’ati” akan tetapi ketika Rasulullah meninggalkan mereka, mereka tidak berkehendak sedikitpun untuk mematuhi Rasulullah. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda dengan yang digariskan oleh Rasulullah.
Kita akan dapati dalam surat At-Taubah—misalnya—banyak  sekali ayat-ayatnya yang menunjukkan bahwa beberapa sahabat Nabi itu adalah orang munafik dan Rasulullah bahkan tidak mengenali mereka sebagai munafik sampai Allah memberitahu beliau lewat wahyu-Nya.

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”
 (QS. At-Taubah: 101)

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”
 (QS. At-Taubah: 73—74)

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.”
 (QS. At-Taubah: 75—77)
Lihat juga dalam surat Al-Ahzab:

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.”
 (Qs.Al-Ahzab: 12—13)

Surat Al-Munafiquun
 sendiri adalah bukti yang sangat kuat bahwa ada sejumlah kaum Muslimin yang menyatakan keIslamannya pada jaman Nabi dan tinggal bersama dengan Nabi di kota Madinah; mereka shalat berjama’ah bersama Nabi; akan tetapi mereka hidup sebagai orang munafik. Mereka datang kepada Nabi untuk menyelamatkan diri mereka dengan bersaksi di hadapan Nabi bahwa mereka akan patuh dan taat kepada Nabi dan mereka berjanji tidak akan berkhianat kepada Nabi. DAN MEREKA BERDUSTA. Mereka memeluk Islam untuk kemudian meninggalkannya dan Allah akhirnya mengunci hati mereka.

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” 
(QS. Al-Munafiquun: 1—3)
Ayat-ayat ini dan banyak lagi ayat yang tidak bisa kami tuliskan karena keterbatasan ruang dan waktu menunjukkan dengan jelas dan tegas bahwa banyak sekali para sahabat—orang-orang yang hidup sejaman dengan Nabi itu—telah menyatakan keIslaman mereka di jaman Nabi dan di hadapan Nabi dan mereka tinggal bersama Nabi dan Shalat di belakang Nabi akan tetapi mereka hidup sebagai orang-orang munafik.
KESAKSIAN APA LAGI YANG LEBIH KUAT DARIPADA KESAKSIAN AL-QUR’AN?
——————————————————————————————————–
Orang-orang munafik yang tinggal bersama Nabi dan bersama para sahabat lainnya yang shaleh dan jujur nama-namanya tidak pernah disebutkan secara terbuka. Oleh karena itu, ada kemungkinan besar bahwa kita tidak bisa terhindar seratus persen untuk menukil hadits-hadits dari mereka. Ada kemungkinan yang sangat besar kita selama ini mengambil hadits-hadits dari mereka—kaum munafik—dan mengamalkannya sepenuh hati.
Para sejarawan seperti misalnya At-Tabari dalam Tarikh-nya (volume 2, halaman 504); atau Ibnu Hisyam dalam Al-Sirah al-Nabawiyyah (volume 2, halaman 64) menuliskan bahwa ketika Rasulullah pergi berperang di Uhud, beliau berangkat bersama 1000  orang sahabatnya. Akan tetapi Abdullah Ibn Abu Salul meninggalkan Nabi dan kembali ke kota Madinah bersama 300 orang lainnya. Kitab-kitab sejarah Islam tidak berterus terang siapakah mereka yang ikut bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Kitab-kitab sejarah itu tidak menuliskan apakah diantara yang 300 orang itu ada sahabat yang terkemuka atau tidak. Kitab-kitab sejarah hanya menuliskan satu nama: Abdullah Ibn Abu Salul.
Jadi dengan itu maka  kita tidak terhindar dari menukil hadits-hadits yang mungkin melewati jalur 300 orang yang bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Bagaimana kita bisa menghindari orang-orang yang kita tidak ketahui?
UNTUK ITULAH MAKA KITA HARUS MEMPELAJARI RIWAYAT HIDUP PARA SAHABAT DAN MENELITINYA UNTUK MENDAPATKAN KEPASTIAN DARI SUATU RIWAYAT ATAU HADITS NABI.
BERSIKAP KRITIS TERHADAP PARA SAHABAT ADALAH SEBUAH KEBIJAKAN YANG CERDAS DAN TEPAT
————-

QS. An-Nisa: 81 menjelaskan ketika Rasulullah meninggalkan sejumlah SAHABAT nya, mereka tidak berkehendak sedikitpun untuk mematuhi Rasulullah. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda dengan yang digariskan oleh Rasulullah.

Para sahabat menurut Syi’ah

Para ulama Syi’ah sendiri tidak pernah meletakkan seluruh sahabat tanpa kecuali dalam satu tingkatan yang sama tanpa pandang bulu. Mereka bahkan tidak berpendapat bahwa semua sahabat itu jujur, adil dan bisa dipercaya. Para ulama Syi’ah melihat sebagian dari para sahabat itu memang memiliki derajat kemuliaan yang utama. Sebagian lagi disebut sebagai sahabat yang baik dan shaleh meskipun tingkat kemuliaannya tidak setinggi yang pertama. Ada juga para sahabat yang tidak diketahui apakah mereka itu memiliki kemuliaan atau keshalehan; apakah mereka bisa dipercaya atau tidak. Ada juga sebagian sahabat yang di masa hidupnya dikenal dengan tingkah lakunya yang menyimpang dan seringkali bertentangan dengan Nabi; seringkali mengganggu kebijakan Nabi (yang jelas menurut atau sesuai dengan wahyu Illahi).
Pendapat para ulama Syi’ah ini sangat sesuai dengan logika yang sehat dan  fakta sejarah yang akurat.
——————————————————————————————————-

Ayat-ayat Al-Qur’an mendukung pandangan para ulama Syi’ah

Pandangan para ulama yang yakin bahwa tidak semua sahabat itu adil dan jujur serta bisa dipercaya diperkuat oleh beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan fakta sejarah dan kenyataan kehidupan para sahabat di jaman itu. Diantara dari ayat-ayat Al-Qur’an itu ialah:

“Dan mereka  mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung”
 (QS. An-Nisa: 81)
Ayat ini jelas menunjukkan sejumlah sahabat Nabi yang merupakan penduduk kota Madinah yang jelas juga mereka itu Muslim dan mereka shalat bersama Rasulullah dan ikut berkumpul bersama Rasulullah mendengarkan Rasulullah memerintahkan mereka agar melakukan sebuah perbuatan baik. Mereka pada waktu itu berkata pada Rasulullah: “Sami’na wa atho’na” “Kami dengar; dan kami ta’ati” akan tetapi ketika Rasulullah meninggalkan mereka, mereka tidak berkehendak sedikitpun untuk mematuhi Rasulullah. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda dengan yang digariskan oleh Rasulullah.
Kita akan dapati dalam surat At-Taubah—misalnya—banyak  sekali ayat-ayatnya yang menunjukkan bahwa beberapa sahabat Nabi itu adalah orang munafik dan Rasulullah bahkan tidak mengenali mereka sebagai munafik sampai Allah memberitahu beliau lewat wahyu-Nya.

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”
 (QS. At-Taubah: 101)

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”
 (QS. At-Taubah: 73—74)

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.”
 (QS. At-Taubah: 75—77)
Lihat juga dalam surat Al-Ahzab:

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.”
 (Qs.Al-Ahzab: 12—13)

Surat Al-Munafiquun
 sendiri adalah bukti yang sangat kuat bahwa ada sejumlah kaum Muslimin yang menyatakan keIslamannya pada jaman Nabi dan tinggal bersama dengan Nabi di kota Madinah; mereka shalat berjama’ah bersama Nabi; akan tetapi mereka hidup sebagai orang munafik. Mereka datang kepada Nabi untuk menyelamatkan diri mereka dengan bersaksi di hadapan Nabi bahwa mereka akan patuh dan taat kepada Nabi dan mereka berjanji tidak akan berkhianat kepada Nabi. DAN MEREKA BERDUSTA. Mereka memeluk Islam untuk kemudian meninggalkannya dan Allah akhirnya mengunci hati mereka.

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” 
(QS. Al-Munafiquun: 1—3)
Ayat-ayat ini dan banyak lagi ayat yang tidak bisa kami tuliskan karena keterbatasan ruang dan waktu menunjukkan dengan jelas dan tegas bahwa banyak sekali para sahabat—orang-orang yang hidup sejaman dengan Nabi itu—telah menyatakan keIslaman mereka di jaman Nabi dan di hadapan Nabi dan mereka tinggal bersama Nabi dan Shalat di belakang Nabi akan tetapi mereka hidup sebagai orang-orang munafik.
KESAKSIAN APA LAGI YANG LEBIH KUAT DARIPADA KESAKSIAN AL-QUR’AN?
——————————————————————————————————–
Orang-orang munafik yang tinggal bersama Nabi dan bersama para sahabat lainnya yang shaleh dan jujur nama-namanya tidak pernah disebutkan secara terbuka. Oleh karena itu, ada kemungkinan besar bahwa kita tidak bisa terhindar seratus persen untuk menukil hadits-hadits dari mereka. Ada kemungkinan yang sangat besar kita selama ini mengambil hadits-hadits dari mereka—kaum munafik—dan mengamalkannya sepenuh hati.
Para sejarawan seperti misalnya At-Tabari dalam Tarikh-nya (volume 2, halaman 504); atau Ibnu Hisyam dalam Al-Sirah al-Nabawiyyah (volume 2, halaman 64) menuliskan bahwa ketika Rasulullah pergi berperang di Uhud, beliau berangkat bersama 1000  orang sahabatnya. Akan tetapi Abdullah Ibn Abu Salul meninggalkan Nabi dan kembali ke kota Madinah bersama 300 orang lainnya. Kitab-kitab sejarah Islam tidak berterus terang siapakah mereka yang ikut bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Kitab-kitab sejarah itu tidak menuliskan apakah diantara yang 300 orang itu ada sahabat yang terkemuka atau tidak. Kitab-kitab sejarah hanya menuliskan satu nama: Abdullah Ibn Abu Salul.
Jadi dengan itu maka  kita tidak terhindar dari menukil hadits-hadits yang mungkin melewati jalur 300 orang yang bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Bagaimana kita bisa menghindari orang-orang yang kita tidak ketahui?
UNTUK ITULAH MAKA KITA HARUS MEMPELAJARI RIWAYAT HIDUP PARA SAHABAT DAN MENELITINYA UNTUK MENDAPATKAN KEPASTIAN DARI SUATU RIWAYAT ATAU HADITS NABI.
BERSIKAP KRITIS TERHADAP PARA SAHABAT ADALAH SEBUAH KEBIJAKAN YANG CERDAS DAN TEPAT
————-

QS. Al-Fath: 18 tidak memasukkan seluruh sahabat Nabi.


بسم الله الرحمن الرحيم
Ahlusunnah mempunyai akidah bahawa barangsiapa yang hadir di dalam Baiʻatul Rhidwan dan pernah memberikan Baiʻat kepada Rasulullah, maka dia termasuklah daripada kalangan orang yang mendapat keredaan Ilahi yang kekal abadi. Perkara ini juga menyabitkan bahawa semua orang yang memberi Baiʻat di bawah pohon adalah adil.
.
Mereka juga mempunyai akidah bahawa: Mereka ini sudah diampunkan. Dosa-dosa silam dan akan datang tidak akan dihitung lagi. Kerana itu api neraka tidak akan membakar mereka yang berada di dalam pembaiʻatan Ridhwan.
.
Namun benarkah salah seorang munafik terkenal seperti Abdullah bin Ubai turut hadir di dalam peristiwa ini bersama Rasulullah dan sempat memberikan baiʻat kepada Rasulullah?
.
Apakah Rasulullah (s.a.w) meredainya serta mengampuni dosa silam dan akan datangnya?
.
Jawapan:
.
Sebelum kita membuktikan bahawa Abdullah bin Ubai, seorang munafik terkenal di zaman Rasulullah turut hadir di dalam Baiʻatul Ridhwan, hendaklah kita selidiki terlebih dahulu apakah Allah (s.w.t) meredai semua orang dalam peristiwa tersebut selama-lamanya atau tidak? Apakah ada ulama Ahlusunnah yang mendakwa demikian atau tidak?
.
Keredaan abadi ke atas pemberi baiʻat di bawah pohon.
.
Menurut Ahlusunnah Wal Jamaah, semua orang yang telah hadir di dalam Baiʻatul Ridhwan merupakan penghuni syurga dan tidak seorang pun daripada mereka yang akan memasuki neraka.
.
Muslim Nisyaburi di dalam kitab Sahihnya menulis:
حدثني هَارُونُ بن عبد اللَّهِ حدثنا حَجَّاجُ بن مُحَمَّدٍ قال قال بن جُرَيْجٍ أخبرني أبو الزُّبَيْرِ انه سمع جَابِرَ بن عبد اللَّهِ يقول أَخْبَرَتْنِي أُمُّ مُبَشِّرٍ انها سَمِعَتْ النبي صلى الله عليه وسلم يقول عِنْدَ حَفْصَةَ لَا يَدْخُلُ النَّارَ ان شَاءَ الله من أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا … .
النيسابوري القشيري ، ابوالحسين مسلم بن الحجاج (متوفاى261هـ)، صحيح مسلم، ج4، ص 1942، ح2496، 37 ، كِتَاب فَضَائِلِ الصَّحَابَةِ ، بَاب من فَضَائِلِ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَهْلِ بَيْعَةِ الرُّضْوَانِ رضي الله عَنْهُمْ، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Diriwayatkan daripada Harun bin Abdullah, daripada Hajjaj bin Muhammad, daripada Ibnu Juraij, Abu Al-Zubair memberitakan kepadaku sesungguhnya beliau mendengar daripada Jabir bin Abdullah berkata, Abu Mubassyir memberitahuku bahawa beliau mendengar Nabi (s.a.w) bersabda kepada Hafsah:
.
InsyaAllah, tidak akan masuk neraka seorang pun daripada Ashhab Syajarah, mereka yang memberi baiʻat di bawahnya….
.
- Al-Nisyaburi Al-Qushayri, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj (wafat tahun 261 hijrah), Sahih Muslim, jilid 1 halaman 1942, Hadis 2496
قوله صلى الله عليه وسلم  ( لا يدخل النار إن شاء الله من أصحاب الشجرة أحد من الذين بايعوا تحتها) قال العلماء معناه لا يدخلها أحد منهم قطعا كما صرح به في الحديث الذي قبله حديث حاطب وانما قال إن شاء الله للتبرك لا للشك.
النووي الشافعي، محيي الدين أبو زكريا يحيى بن شرف بن مر بن جمعة بن حزام (متوفاى676 هـ)، شرح النووي علي صحيح مسلم، ج16، ص 58، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت، الطبعة الثانية، 1392 هـ.
.
Sabda Nabi (s.a.w): “InsyaAllah, tidak akan masuk neraka seorang pun daripada kalangan Ashhabu As-Syajarah, mereka yang memberi baiʻat di bawahnya”. Ulama berkata maknanya ialah tetaplah bahawa seorang pun daripada mereka tidak akan masuk ke dalam neraka seperti mana yang dijelaskan di dalam hadis tersebut yang sebelumnya berkaitan dengan hadis Hatib. Kata-kata Insyallah disebut di dalam riwayat sebagai Tabarruk.
.
- Al-Nawawi Al-Syafiʻi, Muhiyuddin Abu Zakaria bin Syarf bin Murri bin Jumʻah bin Hizam (wafat tahun 676 Hijrah), Syarh Nawawi Ala Syarah Muslim, jilid 16 halaman 58.
.
Sebenarnya ada lagi riwayat yang jelas mengenai perkara ini, namun cukuplah satu sahaja dikemukakan di sini.
.
Kehadiran Abdullah bin Ubai di bawah pohon
.
Sampai di sini kita dapati bahawa semua orang yang hadir di dalam Baiʻatul Ridhwan dan memberi baiʻah kepada Rasulullah (s.a.w) adalah ahli syurga. Sekarang persoalannya apakah Abdullah bin Ubai turut serta bersama mereka?
.
Beberapa teks telah ditemui dari kitab-kitab Ahlusunnah yang membuktikan bahawa Abdullah bin Ubai, ketua kaum munafik Madinah turut serta di dalam perjalanan Rasulullah. Badruddin Al-Aini di dalam kitab Umdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari memuatkan riwayat:
.
    ان ابن أبي قال يوم الحديبية كلمة حسنة ، وهي : أن الكفار قالوا : لو طفت أنت بالبيت ؟ فقال : لا ، لي في رسول الله إسوة حسنة ، فلم يطف .
العيني الغيتابي الحنفي، بدر الدين ابومحمد محمود بن أحمد (متوفاى 855هـ)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري، ج8، ص 54، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Pada hari Hudaibiyah, Abdullah bin Ubai berkata dengan kata-kata yang baik, iaitu orang kafir berkata kepadanya: Mahukah engkau bertawaf?: Maka ibnu Ubai menjawab: Tidak, Rasulullah bagiku adalah contoh tauladan yang baik. Maka Abdullah bin Ubai pun tidak pergi tawaf. – Al-ʻAini Al-Ghitabi Al-Hanafi, Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad (wafat tahun 855 Hijrah), ‘Umdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari, jilid 8 halaman 54.
.
Ini membuktikan bahawa Abdullah bin Ubai telah hadir di dalam Hudaibiyah kerana tidak menerima usulan daripada kaum Quraysh di samping membuat keputusan enggan mengerjakan tawaf sebagaimana Rasulullah dan kaum muslimin yang lain.
.
Ibnu Hazm Al-Andalusi juga turut menjelaskan bahawa kaum Quraysh mengusulkan tawaf namun Abdullah bin Ubai tidak menerimanya:
.
¬¬¬¬¬¬¬¬¬وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ (ص) لم يَخْدَعْ إنْسَانًا قَطُّ غير أَنَّهُ قال يوم الْحُدَيْبِيَةِ كَلِمَةً حَسَنَةً قال الْحَكَمُ فَسَأَلْت عِكْرِمَةَ ما هذه الْكَلِمَةُ قال قالت قُرَيْشٌ يا أَبَا حَبَّابٍ إنَّا قد مَنَعْنَا مُحَمَّدًا طَوَافَ هذا الْبَيْتِ وَلَكِنَّا نَأْذَنُ لَك فقال لاَ لي في رسول اللَّهِ (ص) أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
إبن حزم الأندلسي الظاهري، ابومحمد علي بن أحمد بن سعيد (متوفاى456هـ)، المحلى، ج11، ص 209 ، تحقيق: لجنة إحياء التراث العربي، ناشر: دار الآفاق الجديدة – بيروت.
Sesungguhnya Rasulullah (s.a.w) tidak pernah menipu manusia sedikitpun, melainkan Abdullah bin Ubai berkata dengan kata-kata yang baik di hari Hudaibiyah. Hakam berkata: Aku bertanya kepada ʻIkrimah: Apakah kata-kata tersebut? Dia menjawab: Quraysh berkata: Wahai Aba Habbab (nama panggilan Abdullah bin Ubai), kami melarang Muhammad mengerjakan tawaf di rumah ini, namun kami izinkan kamu. Maka Abdullah bin Ubai menjawab: Tidak!, bagiku pada diri Rasulullah adalah contoh tauladan yang baik. – Ibnu Hazm Al-Andalusi Al-Zahiri, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Saʻid (wafat tahun 456 Hijrah), Al-Muhalla, jilid 11 halaman 209.
.
Badruddin ʻAyni dan Jalaluddin Suyuthi turut menukilkan riwayat ini:
غير أن ابن أبي قال يوم الحديبية كلمة حسنة وهي أن الكفار قالوا لو طفت أنت بالبيت فقال لا لي في رسول الله إسوة حسنة فلم يطف
العيني الغيتابي الحنفي، بدر الدين ابومحمد محمود بن أحمد (متوفاى 855هـ)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري، ج8، ص 54، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
… melainkan Abdullah bin Ubai yang berkata di hari Hudaibiyah dengan kata-kata yang baik, iaitu sesungguhnya orang kafir berkata kepadanya: Mahukah engkau mengerjakan tawaf di rumah itu?: Maka Abdullah bin Ubai pun menjawab: Tidak, bagiku Rasulullah adalah contoh tauladan yang baik. Maka dia pun tidak mengerjakan tawaf. – Al-ʻAyni Al-Ghitabi Al-Hanafi, Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad (wafat tahun 855 Hijrah), ʻUmdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari, jilid 8 halaman 54.
.
قالت له قريش : يا أبا حباب إنا قد منعنا محمداً طواف هذا البيت ، ولكنا نأذن لك ، فقال : لا لي في رسول الله أسوة حسنة .
السيوطي، جلال الدين أبو الفضل عبد الرحمن بن أبي بكر (متوفاى911هـ)، الدر المنثور، ج8، ص 177، ناشر: دار الفكر – بيروت – 1993.
.
Kaum Quraysh berkata kepada Abdullah bin Ubai: Wahabi Aba Habbab, sesungguhnya kami mencegah Muhammad dari melakukan tawaf di rumah ini, namun kami izinkan engkau, maka Abdullah bin Ubai pun menjawab: Tidak, bagiku pada diri Rasulullah adalah contoh tauladan. – Al-Suyuthi, Jalaludin Abu Al-Fadhl Abdul Rahman bin Abi Bakr (wafat tahun 911 Hijrah), Al-Dur Manthur, jilid 8 halaman 177.
.
Berdasarkan riwayat ini, Ali bin Burhan Al-Halabi memberikan penjelasan bawaha Abdullah bin Ubai turut hadir di dalam perjanjian Hidaibiyah, termasuklah dalam perang Badar.
.
    وقال له المشركون يوم الحديبية انا لانأذن لمحمد ولكن نأذن لك فقال لا ان لى فى رسول الله أسوة حسنة فشكر رسول الله صلى الله عليه وسلم له ذلك واكراما لابنه وفى هذا تصريح بأن ابن أبى كان مع المسلمين فى بدر وفى الحديبية فلما بلغ وفي لفظ قال إن لي في رسول الله أسوة حسنة رسول صلى الله عليه وسلم امتناعه رضي الله عنه أثنى عليه بذلك.
الحلبي، علي بن برهان الدين (متوفاى1044هـ)، السيرة الحلبية في سيرة الأمين المأمون، ج2، ص 23، ناشر: دار المعرفة – بيروت – 1400.
.
Di hari perjanjian Hudaibiyyah, kaum musyrikin berkata kepadanya: sesungguhnya kami tidak izinkan Muhammad, tetapi kami izinkan untuk kamu. Maka Abdullah bin Ubai menjawab: Tidak, sesungguhnya Rasulullah bagiku adalah contoh tauladan yang baik. Maka Rasulullah (s.a.w) pun berterima kasih kepadanya kerana itu dan penghormatan anaknya. (Penulis berkata) Peristiwa ini menjelaskan sesungguhnya Abdullah bin Ubai telah bersama kaum muslimin di dalam perang Badar dan Hudaibiyah.Maka tatkala sampai lafaz Abdullah bin Ubai radhiallahuanhu: “Bagiku pada Rasulullah adalah contoh tauladan yang baik” dan keengganannya menerima pelawaan Qurasyh, maka Rasulullah pun memujinya. – Al-Halabi, Ali bin Burhanuddin (wafat tahun 1044 Hijrah), Al-Sirah Al-Halabiyyah, jilid 2 halaman 23.
.
Pembaiʻatan Abdullah bin Ubai di bawah pohon.
.
Sampai di sini terbuktilah bahawa Abdullah bin Ubai turut hadir di dalam peristiwa Hudaibiyah. Namun benarkah ia turut memberi Baiʻat kepada Rasulullah (s.a.w)? Ini disebabkan jikalau ia tidak memberi Baiʻat maka ia tidak termasuk di dalam keredaan Allah. Namun jikalau terbukti ia juga terut serta memberikan Baiʻat, maka dengan sendirinya seluruh argumentasi Ahlusunnah terbatal.
.
Menurut riwayat yang dicatat oleh Muslim Nisyaburi di dalam kitab Sahihnya, semua orang yang hadir di dalam peristiwa Baiʻatul Ridhwan telah memberikan baiʻat mereka kepada Rasulullah (s.a.w) kecuali seorang yang bernama Jaddi bin Qais yang bersembunyi di bawah perut untanya.
.
وحدثنا محمد بن حَاتِمٍ حدثنا حَجَّاجٌ عن بن جُرَيْجٍ أخبرني أبو الزُّبَيْرِ سمع جَابِرًا يَسْأَلُ كَمْ كَانُوا يوم الْحُدَيْبِيَةِ قال كنا أَرْبَعَ عَشْرَةَ مِائَةً فَبَايَعْنَاهُ وَعُمَرُ آخِذٌ بيده تَحْتَ الشَّجَرَةِ وَهِيَ سَمُرَةٌ فَبَايَعْنَاهُ غير جَدِّ بن قَيْسٍ الْأَنْصَارِيِّ اخْتَبَأَ تَحْتَ بَطْنِ بَعِيرِهِ.
النيسابوري القشيري ، ابوالحسين مسلم بن الحجاج (متوفاى261هـ)، صحيح مسلم، ج3، ص 1483 ، ح1856، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Jabir ditanya berapakah orang yang berada di hari Hudaibiyah: Kami seramai seribu empat ratus orang membaiʻat baginda. sedangkan Umar memegangi tangannya di bawah pohon Samurah. Maka kami pun memberikan Baiʻat kepada baginda kecuali Jaddi bin Qais Al-Anshari yang bersembunyi di bawah perut untanya. – Al-Nisyaburi Al-Qushayri, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj (wafat tahun 261 hijrah), Sahih Muslim, jilid 1 halaman 1483, Hadis 1856.
.
Sebelum ini kita telah berjaya membuktikan kehadiran Abdullah bin Ubai di dalam Hudaibiyah, sementara itu riwayat dari Sahih Muslim ini secara langsung mengatakan semua yang hadir telah memberikan Baiʻat kepada Rasulullah (s.a.w) kecuali Jaddi bin Qais. Oleh itu terbuktilah Abdullah bin Ubai juga turut memberikan Baiʻat kepada Rasulullah, jikalau tidak sudah tentu ia juga akan dikecualikan seperti Jaddi bin Qais.
.
Persoalannya sekarang ialah, apakah keredaan abadi Allah (s.w.t) turut meliputi Abdullah bin Ubai juga?
.
Apakah Abdullah bin Ubai juga adalah seorang penghuni Syurga dan tidak akan masuk neraka?
.

Jikalau ia tidak akan masuk syurga, maka terbuktilah bahawa tidak semua yang terlibat di dalam Baiʻatul Ridhwan tergolong dalam ayat keredaan Allah. Selain itu mereka yang mendapat keredaan Allah itu hanyalah terhad kepada sahabat yang tetap konsisten beriman sehingga ke akhir hayatnya

.

Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji

.

Al-Fath 18
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Ayat ini tidak menunjukkan ridha Allah kepada semua sahabat pada semua waktu. “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon” Menurut kamus-kamus bahasa Arab (Lth, T, S, M, L, Mughni, K), kata إِذْ menunjukkan satu waktu di masa lalu, seperti dalam firman Allah “wadzkurû idz kuntum qalîlan” (Al-Quran 7:84); atau “wa idz qâla Rabbuka lil malâikat” (Al-Quran 2:); atau “wadzkurû ni’matallahi ‘alaykum idz kuntum a’dâ-an” (Al-Quran 3:98)

.

Karena idz itu selalu menunjukkan waktu tertentu, kalau sesudah kata idz ini ada kata waktu, orang Arab menyambungkan kedua kata itu seperti dalam kata yawmaidzin, hinaidzin, laylataidzin, ghadâtaidzin, waqtaidzin, sa’ataidzin,dan sebagainya. Dalam struktur kalimat kata idz ini bisa bersambung dengan kata benda atau kata ganti, fi’l madhi dan fi’l mudhari’, walaupun tetap menunjukkan satu waktu di masa lalu

.

Al-Quran dengan indah menggambarkan ketiga struktur idz ini dalam firmanNya Al-Quran 9:40:

إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Walhasil, ayat ini tidak bisa dijadikan dalil tentang keadilan semua sahabat; tapi hanya kepada sebagian sahabat dan hanya pada waktu mereka berjanji setia. Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji seperti disebutkan dalam Al-Fath 10: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”

.
Semua ahli tafsir sepakat bahwa al-Fath 10 dan al-Fath 18 berkaitan dengan perjanjian Hudaybiyah. Ibnu Katsir malah membuat catatan panjang tentang Perjanjian Hudaybiyah pada rangkaian ayat-ayat ini (Ibn Katsir, 4:185-200). Ada beberapa peristiwa yang penting kita catat tentang perjanjian Hudaybiyah dalam hubungannya dengan adalat al-shahabah

.
Sebab terjadinya bay’at.
Diriwayatkan oleh ‘Urwah. Ia berkata: Ketika Nabi saw sampai di Hudaybiyah, orang Quraisy terkejut dengan kedatangan Nabi. Rasulullh saw ingin mengutus salah seorang di antara sahabatnya. Ia memanggil Umar bin Khathab untuk diutus menemui mereka. Tapi Umar berkata: Ya Rasulallah, saya tidak aman (Dalam riwayat Ibn Katsir, “saya takut akan perlakuan orang Quraisy terhadap diriku”)

.

Di Makkah tidak seorang pun di antara Bani Ka’ab yang akan membelaku jika aku disakiti. Utuslah Utsman, karena ia punya banyak keluarga di kalangan mereka. Ia akan bisa menyampaikan apa yang engkau kehendaki. Kemudian Rasulullah saw memanggil Utsman dan mengutusnyamenemui orang Quraisy

.

Beliau bersabda: Beritahukan kepada mereka bahwa kami tidak datang untuk berperang. Kami datang untuk umrah dan ajaklah mereka kepada Islam. Beliau juga memerintahkan Utsman untuk menemui laki-laki dan perempuan di Makkah yang mukmin, memasuki rumah mereka dan meberikan kabar gembira tentang Kemenangan. Ia juga harus memberitakan bahwa sebentar lagi Allah akan memunculkan agamanya di Makkah. Mereka tidak perlu lagi menyembunyikan imannya

.
Berangkatlah Utsman menemui orang Quraisy dan mengabari mereka. Orang musyrik menahan Utsman. Rasulullah saw memanggil mereka untuk bai’at. Penyeru Rasulullah saw berseru: Ketahuilah, Ruh Qudus telah turun kepada Nabi saw dan memerintahkannya untuk mengambil bai’at. Keluarlah kalian semua, atas nama Allah, berbaiatlah. Kaum muslimin beramai-ramai berbaiat kepada Rasulullah saw di bawah pohon. Orang Quraysy ketakutan. Mereka melepaskan tahanan kaum muslimin dan meminta untuk berdamai.” (Al-Durr al-Mantsur 7:522-523)

.

Perjanjian damai ini dikenal sebagai Shulh al-Hudaybiyyah, terjadi pada tahun keenam Hijriah. Pembaiatannya dikenal sebagai Bay’at al-Ridhwan.
‘Umar meragukan kenabiyan Rasulullah saw

.
Perjanjian damai itu –seperti kita ketahui- terasa oleh para sahabat sebagai perjanjian yang tidak adil dan merugikan kaum muslim. Al-Durr al-Mantsur 7:527-532 meriwayatkan hadis yang panjang tentang protes para sahabat terhadap perjanjian ini. Di antara yang protes dengan penuh kemarahan adalah Umar bin Khathab. Kita dengarkan ia bertutur: “Demi Allah, belum pernah aku meragukan (kenabiyan Rasulullah saw) sejak aku Islam kecuali hari itu. Aku mendatangi Nabi saw. Aku berkata: Bukankah engkau Nabi Allah? (Dalam Al-Bukhari 2:81, Kitab al-Syuruth, Umar bertanya: Bukankah engkau Nabi yang sebenarnya?)

.

Ia berkata: Benar! Aku berkata: Aku berkata: Bukankah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan? Ia berkata: Benar! Aku berkata: Kenapa kita harus menghinakan diri dalam agama kita? Ia berkata: Sungguh, aku Rasulullah saw. Aku tidak akan membantahNya. Allah akan menolongku. Aku berkata: Bukankah engkau pernah mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan bertawaf di sana? Ia berkata: Benar. Tapi apakah aku memberitahukan kepada kamu bahwa kamu akan datang ke Baitullah tahun ini? Aku menjawab: Tidak Ia berkata: Sungguh kamu akan datang ke Baitullah dan kamu akan bertawaf di situ. (Dalam Shahih Muslim, 2, Bab “Shulh al-Hudaybiyah” disebutkan “Umar meninggalkan Nabi saw dalam keadaan yang tidak bisa mengendalikan amarahnya –fa lam yashbir mutaghayyidhan- dan berkata: ) Ya Aba Bakr, Betulkah Nabi ini Nabi yang sebenarnya?

.

Ia berkata: Benar. Betulkah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan? Ia berkata: Benar. Kalau begitu, mengapa kita harus menghinakan diri dalam agama kita? Abu Bakar berkata: Ayyuhar Rajul, ia sungguh Rasulullah saw. Ia tidak akan menentang Tuhannya dan Dia akan menolongnya. Berpegang teguhlah kepada keputusannya, engkau akan menang sampai engkau mati.”

.
Dalam riwayat lain disebutkan: Tidak henti-hentinya Umar membantah ucapan Nabi saw; sehingga Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah berkata: Apakah tidak kaudengar, wahai putra Al-Kahthab, Rasulullah saw mengatakan apa yang ia katakan. Kami berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (Sirah al-Halabiyah 2:706). Rasulullh saw berkata kepada Umar: Radhitu wa ta’ba. Aku ridha dan engkau membangkang (Ibn Katsir, Al-Sirah al-Nabawiyah 3:320)

.

Para sahabat membantah perintah Rasulullah saw.

Kita lanjutkan laporan Umar bin Khathab: “Setelah Rasulullah saw menyelesaikan penulisan surat perjanjian itu, beliau berkata kepada para sahabatnya:”bangunlah, sembelihlah qurban dan bercukurlah. Demi Allah tidak seorang pun di antara para sahabat yang bangun sampai ia mengatakannya tiga kali. Ketika tidak seorang pun berdiri, beliau masuk ke tempat Ummu Salamah. Ia mengadu kepadanya tentang apa yang ia hadapi dari orang banyak. Ummu Salamah berkata:’Ya Nabiyallah, apakah engkau ingin mereka melakukannya? Beliau berkata;”benar.” Ummu Salamah berkata:”Keluarlah dan jangan berbicara dengan seorang pun di antara mereka sampai engkau menyembelih hewanmu dan memanggil tukang cukurmu untuk memotong rambutmu.”

.

Lalu Nabi saw berdiri keluar dan tidak berbicara pada seorang pun sepatah kata pun sampai ia melakukan penyembelihan dan memotong rambut. Ketika mereka melihat Nabi berbuat seperti itu, mulailah mereka bangun dan menyembelih serta satu sama lain saling mencukur rambut sehingga hampir-hampir mereka saling membunuh” (Al-Durr al-Mantsur &;53; Ibn Katsir 4:199)

.

Allah ridha kepada mereka ??

Dalil berikutnya yang dijadikan dalil tentang ‘Adalat al-Shahabah adalah potongan ayat
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ . Potongan ayat ini disebut empat kali dalam al-Quran. Tiga kali disebut untuk menunjukkan karakteristik umum orang-orang yang diridhai Allah swt; tidak khusus berkaitan dengan sahabat: Al-Maidah 5:119; Al-Mujadilah 58:22; Al-Bayyinah 98:7-8.

.
Al-Bayyinah 7-8
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Para mufasir tidak pernah menisbahkan “Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepadaNya khusus untuk sahabat. “Mereka” dinisbahkan kepada semua orang yang beriman dan beramal saleh; kepada khayrul bariyyah

.

Ibn Katsir menulis, “Telah berdalil dengan ayat ini Abu Hurairah dan sebagian ulama tentang keutamaan kaum mukmin di atas para malaikat, berdasarkan firman Allah –ulaika hum khayrul bariyyah” (Ibn Katsir 4:538). Ibn Katsir kemudian menurunkan hadis-hadis yang menjelaskan sifat-sifat mukmin yang termasuk khayrul bariyyah. Misalnya, “Khayrul bariyyah adalah orang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Tetap tegak di atasnya apa pun yang terjadi”

.

Jalaluddin al-Suyuthi, setelah mengutip hadis Abu Hurairah tentang mukmin yang beramal saleh –yang diridhai Allah- lebih mulia dari malaikat, ia meriwayatkan hadis dari Aisyah ketika Rasulullah menjawab pertanyaan tentang manusia yang paling mulia: “Ya Aisyah, tidakkah kamu membaca ayat:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Setelah itu, Al-Suyuthi menurunkan hadis-hadis berikut: Ibn Asakir mengeluarkan dari Jabir bin Abdillah. Ia berkata: Kami sedang bersama Nabi saw, lalu datanglah Ali. Nabi saw berkata: Demi yang diriku ada di tangannya. Sesungguhnya ini dan Syi’ahnya sungguh orang-orang yang berbahagia pada hari kiamat. Dan turunlah ayat
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

.

Setelah itu, para sahabat Nabi saw, bila Ali datang, mereka berkata: Telah datang khayrul bariyyah

.
Ibn Adi dan Ibn Asakir mengeluarkan dari Ibn Abbas. Ia berkata: Ketika turun ayat
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
Rasulullah saw bersabda kepada Ali, “Dia itu adalah kamu dan Syi’ahmu, pada hari kiamat, ridha kepada Allah dan diridhai Allah”

.

Ibn Mardawayh mengeluarkan dari Ali. Ia berkata: Rasulullh saw berkata kepadaku: Tidakkah kamu dengar firman Allah
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة
Itulah engkau dan Syi’ahmu. Tempat perjanjianku dan perjanjian kalian adalah al-Hawdh, ketika umat-umat datang untuk dihisab, kalian dipanggil ghurran muhjalin (Al-Durr al-Mantsur 8:589).

.

Keadilan semua sahabat dalam Qs.Al Fath ayat 10 dan Qs. Al Fath ayat 18 ?? Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai !

.

Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai   dan tidak  masuk  neraka  jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai ! Faktanya ada diantara mereka yang  melanggar janji !

Allah berfirman
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (Qs Al Hadid:10)
.
Yang dimaksud dengan Penaklukan adalah penaklukan Hudaibiyah, yaitu ketika Rasulullah membai’at shahabat-shahbatnya dibawah sebuah pohon, ketika yang berbaiat dengan Beliau sejumlah 1500 orang, merekalah yang telah menaklukkan khaibar
.

 SHAHIH BUKHARI NO. 3852
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ
طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِي…َّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al 'Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara' bin 'Azib radliallahu 'anhuma] seraya berkata; “Beruntunglah kamu karena mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbai’at kepadanya di bawah pohon pada bai’atur ridlwan.” Al Bara’ berkata; “Wahai anak saudaraku, kamu tidak tahu apa yang kami perbuat setelah itu.”
.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernahbersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat  sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemuiAllah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(1)
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon(bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku,
engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apakah mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi sahabat-sahabat

ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal Nabi, pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggal nya.

Rasululah SAW juga telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”(3)

.

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS. Lalu apa hukuman bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70 tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok dalam 3 Perang Besar.

Rujukan :

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24;

Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

.

Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (Hadis no.488 )

.

Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

.

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

.

Pengakuan Sahabat Nabi SAW bernama Al-Barra’ bin ‘Azib (r.a) membuktikan bahwa Ayat bai’at ridwan  tidaklah meliputi seluruh sahabat,  hanya untuk sahabat istiqamah  yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.

Salam dan Solawat. Baru-bari ini ada seorang saudara dari Sunni membangkitkan satu persoalan menarik. Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut:

Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Jawapan kami ialah pertamanya ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Iaitu ayat itu menyatakan pada ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Dengan ini tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan tertakluk dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga kemakmuran ini.

Kami membacakannya mereka kisah orang yang telah kami berikannya ayat maka dia menuruti Syaitan dan termasuk di kalangan mereka yang sesat”
al-A’raf 175

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Sebagai contoh Abdullah bin Abi Sara sahabat Rasulullah (s) penulis wahyu pertama, akan tetapi selepas beberapa ketika ia murtad dan menghina Rasulullah (s). Hingga sampai ke satu tahap, Rasulullah berkata pada waktu Fath Makkah, beberapa orang daripada mereka, walaupun mereka bergantung pada kain Kaabah, penggallah kepala mereka, salah seorang daripada mereka ialah Abdullah bin Abi Sara’.

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316

Menjawab : Ayat Bai’ah Ridwan

Salah satu ayat yang sering digunakan golongan Ahlusunnah untuk membuktikan keadilan para sahabat ialah ayat surah Al-Fath ayat 18. Mereka mendakwa seluruh sahabat yang hadir di dalam peristiwa tersebut mendapat keredhaan Ilahi. Allah (s.w.t) berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا . الفتح / 18 .

Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya- Surah Al-Fatḥ ayat 18.

Jawapan pertama: Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:

4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .
صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .

Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.

Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus dua puluh ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.

Jawapan ke-dua: Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.

Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.

Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:

Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.

Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:

… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .
تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .

Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf.
-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371
– Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224
– Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340
– Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14
– Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60
– Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77
– At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…

Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).

Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ » tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.

Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:

. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .

Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.

Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:

… والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .
كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني

Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. – Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: http://www.alwarraq.com

Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.

Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.

Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.

Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.

Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ‏ نَفْسِهِ وَ مَنْ أَوْفىَ‏ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.

Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.

Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman ” فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ “? Apakah firman ini sia-sia belaka?

Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:

عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى … .

Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh… – Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.

Jawapan ke-empat: Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:

1) Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .
صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.- Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170

Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.

2) Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:

عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .
الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و … .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.

3) ʽAisyah:

Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:

عن قيس ، قال : قالت عائشة… إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها
سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و …

Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.

Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .
المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .

Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.

Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?

Jawapan ke-lima: Sifat Allah teridir daripada Dhātī dan Fiʽlī. Sifat Dhātī adalah sifat Azālī dan Abadī, namun sifat Fiʽlī tidak seperti ini, bahkan tertakluk pada suatu zaman seperti yang dikatakan oleh Fakhrul Rāzī:

والفرق بين هذين النوعين من الصفات وجوه . أحدها : أن صفات الذات أزلية ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثانيها : أن صفات الذات لا يمكن أن تصدق نقائضها في شيء من الأوقات ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثالثها : أن صفات الفعل أمور نسبية يعتبر في تحققها صدور الآثار عن الفاعل ، وصفات الذات ليست كذلك .
تفسير الرازي ، الرازي ، ج 4 ، ص 75 .

Dan beza di antara kedua sifat Allah (Dhāt dan Fiʽl) ialah beberapa perkara: 1. Sifat Dhāt Azalī dan abadi, dan sifat Al-Fiʽl tidak seperti itu. 2. Sesungguhnya sifat Al-Dhāt tidak mungkin menepati pertentangannya terhadap sesuatu dalam waktu-waktu (contohnya jahil bertentnagan dengan ‘ālim); dan sifat Fiʽl tidak seperti itu. 3. Sesungguhnya sifat Fiʽl adalah perkara yang berhubung dengan kadangkala terjadi dengan kemunculan dalam suatu kesan daripada Fiʽl, namun sifat Dhāt tidak seperti ini (iaitu kekal abadi).

Oleh itu ketika Allah menyatakan keredhaan atau kemurkaan-Nya, ini bermakna pengurniaan pahala dan balasan. Oleh itu keredhaan dan kemurkaan Allah adalah sifat Fiʽl, bukan sifat Dhatī. Jikalau ianya dari sifat Fiʽl maka ia tidak akan berkekalan. Mengenai perkara ini Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:

ومعنى قوله ولا يرضى أي لا يشكره لهم ولا يثيبهم عليه فعلى هذا فهي صفة فعل .
فتح الباري ، ابن حجر ، ج 11 ، ص 350 .

Makna kata-kata « ولا يرضي » ialah tidak menghargai perbuatan yang dilakukan sekarang dan tidak diberi ganjaran. Inilah dia sifat Fiʽl – Fathul Bārī, ibnu Ḥajar, jilid 11 halaman 350

.

Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. Mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. Karena itu Nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai’ah (janji setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Bai’atur Ridwan. Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah

.

Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Caranya berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi maksud tangan Allah di atas mereka ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama dengan berjanji dengan Allah. Jadi seakan-akan Allah di atas tangan orang-orang yang berjanji itu. Hendaklah diperhatikan bahwa Allah Maha Suci dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluknya.

Qs. 48. Qs.Al Fath  ayat  10. : “”Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar

.

Qs. 48. Qs.Al Fath  ayat  18 : “”Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)

.

Al Quran  Memuji  Sahabat ??? Bagaimana  Syi’ah  iMamiyah  Menyikapi  Ayat  ayat  Pujian Kepada  Sahabat ???

Dalam Bahasa Arab, guna  fi’il   madhi  sama  dengan PAST  TENSE  dalam bahasa  Inggris  yaitu  untuk  menyatkan  sesuatu yang  telah  terjadi

Contoh :

Nike  gadis   yang  baik  pada saat  AYAHNYA  hidup…

Setelah  AYAHNYA  MATi  maka   Nike  belum tentu tetap  baik…

Ayat  yang  memuji / memberi  ampunan kepada sahabat semuanya fi’il  madhi  artinya  ayat  tersebut  Cuma  rekaman misi  religius ( semacam fakta sejarah )

Coba  anda perhatikan  dengan teliti  ayat ayat  yang menyatakan memuji / memberi ampunan   kepada  SAHABAT  semuanya  ada  konteks yang melatar belakangi nya  yaitu hanya berlaku  terhadap kesalahan  yang  telah  mereka  lakukan, kesalahan yang telah  mereka lakukan diampuni

Jaminan surga berlaku  kepada semua orang  Islam jika taat pada Allah, jika ingkar  maka tidak  ada  jaminan  SURGA

Dalam Bahasa Arab, guna  fi’il   mudhari’   sama  dengan PRESENT  TENSE  + PRESENT   CONTiNOUS untuk  menyatakan sesuatu  yang  sedang  terjadi dan akan  terjadi  ( secara  berkesinambungan )..

Contoh  : Nabi  SAW, Imam Ali, Fatimah, Hasan dan Husain  disucikan dalam  ayat  tathir ( fi’il  mudhari’ ) maka mereka tetap suci  sampai  kapanpun…

———————————————————————————

Pertanyaan :

Apakah  ada ayat  Al Quran yang  memakai  fi’il   mudhari’   yang  menjamin  ampunan  / pujian / jaminan  SURGA  kepada SAHABAT  atau  MUHAJiRin  ANSHAR  atau  peserta  PERANG  yang  melanggar  imamah  Ali  ????

Jawab :

Sepengetahuan  saya tidak ada !!! Semua  ayat yang  menyatakan  SAHABAT di maafkan  atau  diampuni   menggunakan  fi’il   madhi  yang  artinya  ampunan  itu hanya berlaku  pada  apa yang telah  mereka langgar, bukan berlaku  untuk selama lamanya