bagaimana kriteria suatu hadis dikatakan shahih? Apakah kalau ulama sunni bilang shahih, lantas kita diwajibkan shahihkan? Lantas kalau ulama A bilang shahih dan B bilang nggak shahih, apa harus dikatakan hadis “rahmat”? Mengkritik hadis Bhukari, saya dibilang laknat. Menolak hadis Hurairah, dituduh ingkarsunnah. Menggunakan akal, dituduh menyalahi syariat.

Pertanyaannya, bagaimana kriteria suatu hadis dikatakan shahih?

Apakah kalau ulama sunni bilang shahih, lantas kita diwajibkan shahihkan?

Lantas kalau ulama A bilang shahih dan B bilang nggak shahih, apa harus dikatakan hadis “rahmat”?

Mengkritik hadis Bhukari, saya dibilang laknat.

Menolak hadis Hurairah, dituduh ingkarsunnah.

Menggunakan akal, dituduh menyalahi syariat.
Ya Allah, betapa sulitnya mencari kebenaran.

Ya Allah, lapangkanlah dadaku, tunjukilah aku ke jalan yang lurus!

Firqah itu terdiri berakar dari susunan huruf “ fa, ra dan qaf “. Menunjukkan adanya perbedaan antara dua hal. Misalnya perbedaan antara dua ekor kambing. Atau memisahkan antara kambing yang sakit dan sehat Atau perbedaan antara siang dan malam.terang dan gelap. Atau perbedaan antara seekor ayam dan seekor kuda. Kitab Al-Quran, juga disebut Al-Furqan yang berasal dari akar kata itu juga, karena berfungsi membedakan antara yang hak dan batil
.
Dalam dunia Islam, ,kini hanya tinggal dua firqah muslim. Yaitu Islam Sunni dan Islam Syi’ah. Islam Sunni digunakan di Timur Tengah dan di Indonesia disebut “ Ahlus Sunnah ”
.
Menurut Al-Milal wa al-Nihal,sebab-bab lahirnya firqah dalam Islam antara lain, karena ketika Nabi Muhammad SAW wafat, yang ditinggalkan adalah agama lurus yang bersumber dari Al-Quran, untuk menjelaskan segala sesuatu (Lihat QS.16:89). Dan hadispun tiada lain, kecuali wahyu dan diwahyukan kepadanya (QS.53: 4).Kemudian adalagi Hadis Staqalain, yang juga diriwayatkan Imam Al-Bukhari menyebut “ wa ‘itrati” ( Dan keturunanku ), juga sebagai sumber. Tapi kaum Sunni dan Syi’ah berbeda memahami masalah Imamah
.

SYI’AH ADA DALAM AL-QUR’AN; ADAKAH SUNNI DALAM AL-QUR’AN?

يوم ندعو كل أناس بإمامهم فمن أوتي كتابه بيمينه فأولئك يقرؤون كتابهم ولا يظلمون فتيلا
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan imamnya; dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (QS. Al-Israa: 71)
vlcsnap-2011-03-03-13h48m05s159
Pada hari pengadilan akhirat, takdir dari setiap orang yang mengikuti para imamnya yang dipercayainya akan tergantung dari imam-imam yang dipercayainya itu apabila ia memang benar-benar mengikuti para imam yang ia percayai itu. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua jenis imam yang diikuti dan diyakini oleh para pengikutnya. Ada imam yang mengajak manusia untuk masuk ke dalam api neraka. Untuk kategori ini adalah para pemimpin yang dzalim dan tiran di masanya seperti Fir’aun, misalnya.
وجعلناهم أئمة يدعون إلى النار ويوم القيامة لا ينصرون
وأتبعناهم في هذه الدنيا لعنة ويوم القيامة هم من المقبوحين
“Dan Kami jadikan mereka para imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.
Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al-Qashash: 41—42)
Al-Qur’an sudah memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengikuti para imam yang dzalim dan para pengikut imam seperti itu akan mendapatkan takdir buruknya kelak di akhir zaman. Mereka akan digabungkan dengan para imamnya itu dalam jahanam.
Di sisi lain Al-Qur’an juga memberikan informasi tentang adanya Imam-Imam yang memang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Lihatlah ayat berikut ini:
وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون
“Dan Kami JADIKAN di antara mereka itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
(lihatlah kata-kata JADIKAN (جعلنا) dan IMAM-IMAM (أئمة) yang menjelaskan secara tegas tentang jabatan Imam yang ditunjuk oleh Allah dan bukan oleh manusia. Dan mereka memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan nabi walaupun tidak membawa kitab suci yang baru).
Dengan melihat ayat-ayat tersebut di atas, maka kita bisa simpulkan bahwa para pengikut dari Imam-Imam yang mendapat mandat dari Allah itu akan menemui kebahagiaan di akhirat kelak. Jadi kalau kita menjadi pengikut seorang imam maka itu tidak berarti apa-apa kalau yang kita ikuti itu adalah seorang imam yang tidak mendapatkan mandat dari Allah. Jadi akhir yang baik dan yang buruk bagi kita di akhirat kelak itu ditentukan dari siapakah imam yang kita ikuti dan patuhi selama kita hidup di bumi.
Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beberapa hambaNya yang haq adalah juga pengikut (Syi’ah) bagi para hambaNya yang lain. Seperti pernah dijelaskan Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim itu adalah pengikut (Syi’ah) dari Nabi Nuh.
وإن من شيعته لإبراهيم
“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)” (QS. Ash-Shaaffaat: 83)
(Lihatlah kata شيعته (Syi’ah) yang dipakai secara jelas sekali oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata itu huruf demi huruf dalam ayat tersebut di atas dan juga dalam ayat berikut ini)
Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an diceritakan tentang pengikut (شيعته) Nabi Musa melawan musuh-musuh dari Nabi Musa. Lihatlah ayat berikut dan lihatlah penggunaan kata SYI’AH untuk ayat tersebut:
ودخل المدينة على حين غفلة من أهلها فوجد فيها رجلين يقتتلان هذا من شيعته وهذا من عدوه فاستغاثه الذي منشيعته على الذي من عدوه فوكزه موسى فقضى عليه قال هذا من عمل الشيطان إنه عدو مضل مبين
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari SYI’AHNYA (pengikutnya)(Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari SYI’AHNYA (pengikutnya)meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya) (QS. Al-Qashash: 15)
Di dalam ayat Al-Qur’an di atas ada orang  yang disebut sebagai pengikut Nabi Musa (atau SYI’AH MUSA) dan orang yang satunya lagi disebut sebagai musuh dari Nabi Musa. Orang-orang pada jaman bisa dibagi kedalam dua kelompok: kelompok SYI’AH MUSA atau kelompok MUSUH MUSA.
Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa Allah secara resmi menggunakan kata SYI’AH dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengikut para Nabi dan sekaligus para Nabi itu sendiri (masih ingat Nabi Ibrahim yang disebut sebagai SYI’AH—pengikut—dari Nabi Nuh?). Allah menggunakan kata SYI’AH ini dengan segenap penghormatan kepada para hambaNya yang shaleh. Apakah dengan itu kita membuat Nabi Ibrahim itu sebagai seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?
Kata شيعته itu sendiri artinya “pengikut” atau “anggota dari sebuah kelompok”. Sementara itu kata SYI’AH sendiri sebenarnya tidak mengandung sifat positif atau negatif. Kata itu akan bersifat negatif atau positif apabila kata itu disandingkan dengan nama seorang pemimpin tertentu.
Apabila seorang pengikut (SYI’AH) itu mengikuti para hamba Allah yang haq, maka tidak ada salahnya dengan kata SYI’AH itu apalagi mengingat imam yang ia ikuti itu adalah imam yang diberikan mandat langsung oleh Allah untuk membimbing umat manusia. Sementara itu apabila seseorang itu telah menjadi seorang pengikut (SYI’AH) dari seorang tiran yang kejam; seorang pemimpin yang tidak berperikemanusiaan; seorang pemimpin yang korup bukan kepalang, maka ia akan menemui takdir buruknya bersama dengan imam yang diikutinya.

SEKARANG PERKENANKANLAH SAYA MENGAJUKAN BEBERAPA PERTANYAAN:

______________________________________________________________________
APABILA SAUDARA KITA DARI KALANGAN AHLUSSUNNAH JUGA MENGAKU SEBAGAI PENGIKUT ALI MAKA:
  1. Mengapa mereka tidak menyebut diri mereka sebagai Syi’ah Ali (pengikut Ali)? Bukankah mereka juga mengaku-aku sebagai pengikut Ali?
  2. Apabila mereka mengaku dan menganggap dirinya sebagai pengikut Mu’awiyyah, mengapa mereka tidak mengubah nama kelompok mereka (AHLUSSUNNAH) menjadi Syi’ah Mu’awiyyah? Mengapa mereka malah malu-malu menyebut diri sebagai pengikut Mu’awiyyah dan malah menyebut kelompok mereka sebagai kelompok Sunni?
  3. Siapakah yang telah memberi mereka nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?
  4. Apabila Allah yang telah memberikan mereka nama (SUNNI/AHLUSSUNNAH) itu (seperti nama SYI’AH yang digunakan Allah dalam Al-Qur’an), lalu bisakah mereka menunjukkan kepada kita ayat mana yang menggunakan nama golongan mereka?
  5. Apabila nama kelompok SUNNI/AHLUSSUNNAH itu diberikan oleh Rasulullah, maka tunjukkanlah haditsnya dimana Rasulullah menyebutkan nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?
PADA KENYATAANNYA  YANG TERJADI IALAH KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU TIDAK PERNAH DIDAPATI BAIK DALAM AL-QUR’AN MAUPUN DALAM HADITS YANG DISAMPAIKAN OLEH RASULULLAH.
________________________________________________________________________
vlcsnap-2011-03-03-13h47m58s90
Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang disebutkan di atas menggunakan bentuk tunggal (singular form) yaitu hanya menunjuk pada satu kelompok saja. Jadi artinya ialah kata ini sangatlah khusus dan digunakan untuk tujuan khusus oleh Allah. Allah menuliskan kata SYI’AH NUH (pengikut nabi Nuh) kemudian SYI’AH MUSA (pengikut nabi Musa) dengan tujuan bahwa kata SYI’AH itu akan dipahami sebagai pengikut orang baik-baik. Pengikut para Nabi. Pengikut para wali Allah yang suci. Pengikut Rasulullah. Pengikut keluarga Nabi. Kata SYI’AH itu dipergunakan Allah untuk menyebut satu kelompok saja yaitu kelompok yang beserta kebaikan dan untuk kelompok lawannya Allah menggunakan kata yang lain seperti kata عدوه (musuhnya). Al-Qur’an tidak menyebut dua kelompok sebagai SYI’AH MUSA dan SYI’AH FIR’AUN. Jadi Allah hanya mengakui satu kelompok saja yang Allah berinama SYI’AH untuk disandingkan dengan nama para Nabi dan para nama Wali Allah.
Dalam sejarah Islam, kata SYI’AH (pengikut) telah secara khusus digunakan sebagai “Pengikut Ali” (SYI’AH ALI). Dan orang yang mengeluarkan istilah PENGIKUT ALI ialah Rasulullah sendiri!———————————————————————————————————————————-
Rasulullah telah berkata kepada Imam Ali:
“Kesejahteraan dan kebahagiaan bersamamu, ya Ali! Sesungguhnya engkau dan Syi’ahmu (pengikutmu) semuanya akan masuk surga”

Lihat hadtis tersebut dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI seperti dalam kitab-kitab:
  1. Fadha’il al-Sahaba, oleh Ahmad Ibn Hanbal, volume 2, halaman 655
  2. Hilyatul Awliyaa, oleh Abu Nu’aym, volume 4, halaman 329
  3. Tarikh, oleh Al-Khatib al-Baghdadi, volume 12, halaman 289
  4. Al-Ausath, oleh At-Tabarani——————————————————————————————————————
Rasulullah sendiri menggunakan kata-kata SYI’AH ALI ketika beliau masih hidup (tentunya!). Kata-kata ini bukanlah kata-kata yang dibuat di kemudian hari. Kata-kata ini benar-benar keluar dari mulut Nabi yang suci. Rasulullah berkata bahwa PENGIKUT ALI YANG SETIA akan masuk surga, dan ini tentunya adalah kesempatan yang berharga untuk dilewatkan begitu saja!
vlcsnap-2011-03-03-13h45m19s36vlcsnap-2011-03-03-13h48m23s87
Jabir Ibn Abdillah Al-Ansari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “SYI’AH ALI akan menjadi kelompok pemenang di hari kebangkitan nanti”
Lihat referensi dari hadits tersebut di atas dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI:
  1. Al-Manaqib Ahmad seperti yang juga termaktub dalam
  2. Yanabi al-Mawaddah, oleh Al-Qunduzai al-Hanafi, halaman 62
  3. Tafsir Al-Durr al-Mantsuur, oleh Al-Hafidh Jalaluddin As-Suyuthi
KATA “SYI’AH” TELAH TERBUKTI ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI. APABILA KELOMPOK SUNNI ATAU AHLUSSUNNAH TIDAK BISA MENGEMUKAKAN BAHWA KATA-KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI………………………..,
MAKA SESUNGGUHNYA AGAMA YANG MEREKA PERCAYAI ITU ADALAH AGAMA BUATAN SEMATA! DAN ITU TERMASUK BID’AH YANG BESAR! AGAMA YANG DISISIPKAN KEDALAM ISLAM SETELAH MENINGGALNYA RASULULLAH AL-MUSTAFA.
KEBENARAN TELAH TERSAMPAIKAN ……………SEKARANG KEPUTUSAN ADA DI TANGAN ANDA!
vlcsnap-2011-03-03-13h48m56s161vlcsnap-2011-03-03-13h48m54s144

Raja Qatar Beri Dukungan kepada Wahabi walaupun rezim Arab Saudi merupakan Kerajaan yang dibentuk oleh Ibnu Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab yang dibantu oleh Pasukan salib serta Yahudi.

Qatar:
Raja Qatar Beri Dukungan kepada Wahabi

 

“Hari ini umat Islam sangat membutuhkan pemurnian kembali ajaran Islam, dan yang mampu melakukannya sepanjang sejarah ini adalah sekte Wahabi.”

 

Menurut Kantor Berita ABNA, Syakh Hamad bin Khaliah Al Thani, raja Qatar dalam penyampaian dukungannya kepada Wahabi ia mengatakan, “Hari ini umat Islam sangat membutuhkan pemurnian kembali ajaran Islam, dan yang mampu melakukannya sepanjang sejarah ini adalah sekte Wahabi.”

Raja Qatar yang dalam sambutannya pada acara peresmian masjid “Muhammad bin Abdul Wahab” tersebut mengatakan, “Ide penamaan masjid ini sungguh brilian. Masjid dengan nama Muhammad bin Abdul Wahab ini menunjukkan penghargaan kita kepada beliau sebagai ulama besar umat Islam dan pembaharu dimasanya, ini juga diharapkan mampu melahirkan generasi yang akan melanjutkan perjuangan beliau dalam berkhidmat untuk Islam dan kaum muslimin.”

Raja Qatar ini juga berharap bahwa melalui mimbar masjid yang mampu menampung 30 ribu jamaah tersebut, dakwah Islamiyah dapat dimaksimalkan sehingga mampu memberantas bid’ah-bid’ah yang menyebar luas di masyarakat dan mengembalikan Islam sebagaimana hakekatnya semula.

Paham Wahabi adalah paham yang disebarkan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Wahab yang mendapat dukungan dari keluarga Suud yang kemudian mendirikan kerajaan Arab Saudi dan menjadi raja. Paham ini banyak tersebar di Timur Tengah dan mendapat dukungan dan perlindungan dari kebanyakan raja-raja Arab.

Arab Saudi Kerajaan yang dibentuk oleh Ibnu Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab yang dibantu oleh Pasukan salib serta Yahudi.

Mengapa Jepang Tolak Embargo Minyak Iran

 

Embargo ekonomi yang dipaksakan AS dan sekutunya terhadap Iran tidak mendapat dukungan dari negara-negara besar dunia. Kali ini Jepang terang-terangan menolak penerapan sanksi Barat atas Tehran. Menteri Luar Negeri Jepang Koichiro Gemba menegaskan bahwa negaranya tidak akan menghentikan impor minyak mentah dari Iran.

 

Gemba dalam kunjungan ke Washington setelah pembicaraan dengan Menlu AS Hillary Clinton Senin (19/12) mencatat bahwa penghentian impor minyak mentah dari Iran bisa membahayakan perekonomian global.

 

Menurut laporan sebuah media Jepang pada Ahad, Tokyo, yang mendapat pasokan 10 persen dari impor minyak Tehran akan sangat terpukul jika sanksi menargetkan industri minyak Iran.

 

Sebelumnya, Kongres AS meloloskan RUU yang mencakup ketentuan-ketentuan untuk menjatuhkan sanksi terhadap lembaga keuangan asing yang melakukan transaksi dengan Bank Sentral Iran.

 

Jepang sebagai kekuatan ekonomi besar ketiga dunia sangat tergantung atas pasokan stabil minyak mentah dari Iran. Kondisi serupa juga menimpa negara-negara Eropa.

 

Mencermati tekanan sanksi Barat terhadap Iran terutama di sektor industri migas, tampaknya terdapat dua hal yang harus disoroti. Pertama, terdapat fakta bahwa sanksi yang dihembuskan AS terhadap Iran tidak diamini oleh negara-negara dunia, salah satunya Jepang.

 

Di luar prediksi Washington, hingga kini masih banyak perusahaan asing yang menanam investasi di Iran dan berperan aktif dalam proyek industri migas Iran. Mundurnya perusahaan-perusahaan raksasa negeri global seperti BP justru menjadi peluang bagi perusahaan besar energi seperti Petronas Malaysia dan perusahaan energi Cina untuk berpartisipasi aktif dalam proyek migas Iran.

 

Kedua, terlepas dari masalah perdagangan besar global sebagai salah satu variabel terpenting dalam menganalisis masalah sanksi, penyebab utama penolakan berbagai negara dunia untuk tidak mengekor dikte Washington kembali pada posisi strategis Iran.

 

Saat ini  Iran tercatat sebagai pemilik cadangan minyak mentah terbesar di dunia dengan kapasitas melebihi 141 miliar barel perhari dengan kuota produksi harian yang ditetapkan OPEC sebesar 43 juta barel perhari. Selain itu, Iran juga adalah pemilik cadangan gas terbesar kedua di dunia setelah Rusia. Tentu saja potensi strategis Iran itu tidak menjadi perhatian perusahaan-perusahaan raksasa energi dunia.

 

Selain faktor ekonomi, penentangan Jepang dan negara lainnya terhadap embargo minyak Iran juga disebabkan karena sanksi Barat terhadap Tehran tersebut cenderung politis, sekedar alat negara arogan seperti AS untuk menekan negara lain yang tidak menguntungkan pihak manapun di dunia, kecuali negara-negara arogan yang terancam kepentingannya.

Syiah Menghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Ahlul Bait ?

E-mail Cetak PDF

 

Ash-Shaduq di dalam kitab “al-Amal” meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu: “Seandainya aku tidak menyampaikan apa yang aku diperintah dengannya dari perkara wilayahmu (kepemimpinanmu) maka leburlah seluruh amalku.”( Tafsir Nur ats-Tsaqalain. Jilid I. Hal 654.)

Muhsin al-Amin menambahkan: “Para sejarawan menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya memiliki empat putri, dan setelah meneliti teks-teks sejarah ternyata kita tidak mendapatkan bukti yang menetapkan adanya putri Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selain Fathimah az-Zahra’.” (Dairah al-Ma’arif al-Islamiyah asy-Syi’iyyah. Jilid I. Hal 27. Dar al-Ma’arif. Beirut; Kasyf al-Ghitha’. Ja’far an-Najefi. Hal 5.)

Telah disebutkan oleh Salim ibn Qais penulis buku Syi’ah pertama kali bahwa Ali telah menaikkan Fathimah di atas himar, dan ia menuntun al-Hasan dan al-Husain. Disebutkan bahwa Ali tidak meninggalkan satu sahabatpun melainkan ia telah mendatanginya di rumahnya untuk meminta haknya atas nama Allah.(Kitab Salim ibn Qais. Hal 82-83.)

Salafi wahabi menggunakan hadis hadis dha’if syiah untuk menuduh syiah sesat !

Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui.

Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih. Mereka yang mengkritik Syiah atau lebih tepatnya menghakimi Syiah itu adalah Dr Abdul Mun’im Al Nimr dalam karyanya(terjemahan Ali Mustafa Yaqub) Syiah, Imam Mahdi dan Duruz Sejarah dan Fakta, Ihsan Illahi Zahir dalam karyanya Baina Al Sunnah Wal Syiah, Mamduh Farhan Al Buhairi dalam karyanyaGen Syiah dan lain-lain.

Tidak diragukan lagi bahwa karya-karya mereka memuat riwayat-riwayat dalam kitab rujukan Syiah sendiri seperti Al Kafi tanpa penjelasan pada para pembacanya apakah riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi Ulama Syiah. Karya-karya mereka ini jelas menjadi rujukan oleh orang-orang(termasuk oleh mereka yang menamakan dirinya salafi) untuk mengkafirkan atau menyatakan bahwa Syiah sesat.

Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafishahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda denganShahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

.

.

Kedudukan Shahih Bukhari
Shahih Bukhari adalah kitab hadis Sunni yang ditulis oleh Bukhari yang memuat 7275 hadis. Jumlah ini telah diseleksi sendiri oleh Bukhari dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari 90.000 guru. Kitab ini ditulis dalam waktu 16 tahun yang terdiri dari 100 kitab dan 3450 bab. Hasil seleksi Bukhari dalam Shahih Bukhari ini telah Beliau nyatakan sendiri sebagai hadis yang shahih.

Bukhari berkata

“Saya tidak memasukkan ke kitab Jami’ ini kecuali yang shahih dan saya telah meninggalkan hadis-hadis shahih lain karena takut panjang” (Tahdzib Al Kamal 24/442).

Bukhari hidup pada abad ke-3 H, karya Beliau Shahih Bukhari pada awalnya mendapat kritikan oleh Abu Ali Al Ghassani dan Ad Daruquthni, bahkan Ad Daruquthni menulis kitab khusus Al Istidrakat Wa Al Tatabbu’ yang mengkritik 200 hadis shahih yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Tetapi karya Ad Daruquthni ini telah dijawab oleh An Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Hady Al Sari Fath Al Bari.

An Nawawi dan Ibnu Shalah yang hidup pada abad ke-7 adalah ulama yang pertama kali memproklamirkan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab yang paling otentik sesudah Al Quran. Tidak ada satupun ulama ahli hadis saat itu yang membantah pernyataan ini. Bahkan 2 abad kemudian pernyataan ini justru dilegalisir oleh Ibnu Hajar Al Asqallani dalam kitabnya Hady Al Sari dan sekali lagi tidak ada yang membantah pernyataan ini. Oleh karenanya adalah wajar kalau dinyatakan bahwa ulama-ulama sunni telah sepakat bahwa semua hadis Bukhari adalah shahih. (lihat Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis oleh Ali Mustafa Yaqub hal 41-45).

.

.

Kedudukan Al Kafi
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30).

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalamAl Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif)jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukharidan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

.

.

Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

PERTANYAAN DARi TANDUK SETAN DARi NAJAD :

website salafi wahabi menulis sbb : “
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 644 (1.5%) saja riwayat yg sanadnya sampai ke Nabi?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 690 saja riwayat yg sampai ke Imam Ali?
-44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah tidak ada satupun riwayat yg sampai ke Sayyidah Fatimah?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 21 saja riwayat yg sampai ke Imam Hassan?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 7 saja riwayat yg sampai ke Imam Hussein?

Sedangkan di 9 kitab hadits Sunni :
– Imam Ali ra = 1.583 riwayat
– Abu Bakar ra = 210 riwayat
– Umar bin Khattab ra = 977 riwayat
– Utsman bin Affan ra = 313 riwayat
– Fatimah ra = 11 riwayat
– Hasan bin Ali ra = 35
– Hussein bin Ali ra = 43

Terlihat, kitab2 Sunni lebih banyak meriwayatkan hadits dengan sanad sampai kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wassalam dan Ahlul Bait Utama beliau daripada kitab2 hadits Syiah… why???

“””mayoritas hadits dalam Al Kafi adalah Ahad yang tidak dapat dijadikan pegangan dalam masalah akidah –menurut syi’ah sendiri.. Jumlah riwayat yang ada dalam empat kitab syi’ah di atas adalah 44 ribu riwayat lebih sedikit, tetapi riwayat yang berasal dari Nabi SAW hanya ada 644, atau hanya sekitar 1.5 % saja. Itu saja banyak yang sanadnya terputus dan tidak shahih.. Yang lebih mengherankan, dalam kitab Al Kafi yang haditsnya berjumlah 16199, hanya ada 92 riwayat dari Nabi SAW, sementara riwayat dari Ja’far As Shadiq berjumlah 9219.. Sementara riwayat dari Ali bin Abi Thalib dalam empat kitab syi’ah di atas hanya berjumlah 690 riwayat, kebanyakan terputus sanadnya dan tidak shahih, sepertinya fungsi pintu ilmu sudah diambil alih oleh orang lain…Sementara riwayat dari Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang ada dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 21 riwayat…Empat kitab literatur utama hadits syi’ah tidak memuat riwayat dari Fatimah Az Zahra..Riwayat Imam Husein yang tercantum dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 7 riwayat saja. “”

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

Itu akibatnya kalau belajar syiah dari ulama salafy. Sebagusnya meneliti syiah kalau memang mau ya dari orang syiah sendiri. MEREKA BERDUSTA !!!!!!!! MEREKA BERDUSTA !!!!!!!!!!!

Tidak benar apa yang mereka sampaikan !!!!!!!! Sebagai ulama syi’ah yang sudah bertahun tahun belajar syi’ah saya mengatakan bahwa : “YANG MEREKA HiTUNG CUMA YANG DiSEBUT NAMA, SEMENTARA YANG MENYEBUT GELAR TiDAK MEREKA HiTUNG, KALAU CARA BEGiNi MENGHiTUNG HADiS JUSTRU DALAM SELURUH KiTAB ASWAJA TiDAK ADA SATUPUN HADiS MUHAMMAD SAW KARENA TiDAK ADA HADiS YANG DiSEBUT DENGAN NAMA NABi TAPi DiSEBUT DENGAN GELAR ‘

ANGKA YANG MEREKA SEBUTKAN DiATAS CUMA YANG DiSEBUT DENGAN NAMA, PADAHAL MASiH BANYAK YANG DiSEBUT DENGAN GELAR !!!!!!!!!!!!!!!!!!

KENAPA BANYAK HADiS DARi Imam Ja’far Shadiq ????? Itu wajar karena yang menyampaikan hadis dengan mata rantai sampai ke Nabi SAW kan Imam Ja’far !!!!!!!!!! tapi dengan hal ini justru hadis syi’ah lebih terjaga karena disampaikan dari jalur { Nabi SAW- Ali- Hasan- Husain- Zainal- Baqir- Ja’far } mereka adalah keluarga jadi tidak mungkin menipu !!!!!!!!

hadis hadis syi’ah biasanya dengan redaksi misalnya : Dalam Al KAfi ada hadis : Zurarah mendengar Abu Abdillah ( Ja’far Ash Shadiq ) bersabda : Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) bersabda “hiburlah hatimu agar ia tidak menjadi keras”

Hadis seperti tadi banyak dalam kitab syi’ah… Yang diteliti adalah sanad dan matannya dari Zurarah sampai dengan Kulayni, sementara dari Imam Ja’far sampai dengan Imam Ali tidak diperiksa lagi karena dari Ja’far sampai dengan Imam Ali sanad nya pasti bersambung oleh tali kekeluargaan dan tidak mungkin Imam Ja’far mendustai ayahnya, kakek, buyut hingga Imam Ali

Sanad hadis kulaini benar benar otentik karena benar benar bersambung pada Imam Imam hingga Nabi SAW..

Yang meriwayatkan hadis bisa keturunan Nabi SAW yaitu ahlul bait, bisa pengikut atau pendukung ahlul bait dan bisa murid murid ahlul bait….

Bisakah rawi rawi sunni diterima riwayatnya ??? ya bisa asal riwayatnya benar dan orangnya jujur ( hanya saja riwayatnya paling tinggi statusnya HASAN )

Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW

TAPi hadis sunni disampaikan dengan jalur antara mata rantai satu dengan berikutnya dan seterusnya jarang yang ada ikatan keluarga (itrah) tapi diduga hanya saling bertemu…KALAU MODEL HADiS ASWAJA iNi DALAM METODE Syi’AH DiANGGAP DHAiF ATAU MUWATSTSAQ SAJA KARENA MATA RANTAi SANADNYA HANYA DUGA DUGA !!!!!!!!!!

Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin
( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis

Setahu saya, ulama syiah tidak menjadikan kitab pegangan mereka seperti Al Kafi sebagai kitab yang semuanya shahih oleh karena itu mereka tidak menyebut kitab mereka kitab shahih seperti Sunni menyebut kitab shahih Bukhari dan Muslim. Coba saja hitung hadis yg diriwayatkan oleh Ali misalnya dg hadis yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Bukhori, pasti lebih banyak Abu Hurairah. Tidak kurang dari 446 hadis yg berasal dari Abu Hurairah yg terdapat dlm Sahih Bukhori. Sementara hadis Ali cuma 50 yg dianggap sahih atau 1.12 % dari jumlah hadis Abu Hurairah. Padahal Aisyah menuduh Abu Hurairah sbg pembohong dan Umar mengancamnya dg mencambuk kalau masih meriwayatkan hadis2..Apanya yg dirujuk ? Wong Sunni lebih banyak ngambil hadis dari Abu Hurairah dan org2 Khawarij atau dari Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi? Kalo ngomong jangan asbun.

Al Kulayni tidak pernah menyatakan semua hadits dalam al kahfi shahih, bisa berarti:
bisa maksudnya adalah: ada yang shahih dan tidak shahih.

Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik.

beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dr hadits tsb, krn jika melakukannya maka beliau tentunya akan mengkategorikannya sesuai penelitian beliau (minimal melakukan catatan2).

Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. Kayaknya cuma Mas deh yang menganggap itu masalah.

Saya lebih suka menganalogikan Al Kafi itu dengan kitab Musnad Ahmad atau bisa juga dengan Ashabus Sunan yaitu Sunan Tirmidzi, Nasai Abu dawud dan Ibnu Majah. Tidak ada mereka secara eksplisit menyatakan semua isinya shahih, tetapi kitab mereka menjadi rujukan… metode yang dilakukan

Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi … …. Artinya bagi saya adalah bahwa secara implisit mereka sudah mengklaim bhw hadits2 mereka tulis bukan sekedar koleksi tapi melewati filtrasi dg menggunakan metode yang mereka yakini.

setiap pilihan ada resikonya, cara Bukhari bisa dipandang bermasalah ketika diketahui banyak hadis yang menurut orang tertentu tidak layak disandarkan kepada Nabi tetapi dishahihkan Bukhari, kesannya memaksa orang awam untuk percaya “la kan shahih”. Belum lagi beberapa orang yang mengakui perawi-perawi Bukhari yang bermasalah, jadi masalah selalu ada.

tidak ada yg mengatakan alkulayni superman atau ma’shumin, ia hanya orang yang mencatat hadist2 tanpa mengklaim sepihak keshahihan hadist2nya…. ingat, alkafi bukan satu2nya kitab yg dimiliki Syiah mas, itulah bedanya kita…perkembangan zaman selalu menuntut adanya perkembangan pemikiran shg Syiah selalu memiliki marja’ disetiap zaman utk memutuskan suatu hal yg boleh jadi berbeda di setiap zaman, dan kitab rujukan utama Syiah adalah Alquran, belajar lgsg dari orgnya dong mas…

Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis. Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak.

Secara metodologis ini tdk menjadi masalah, para imam mazhab dan Bukhari serta perawi lain juga hadir jauh setelah kehadiran Rasulullah saw sebagai pembawa risalah. Toh masih dianggap sebagai perwakilan penyambung syareat Nabi saw.

Memang bukan kitab shahih tetapi bukan berarti seluruhnya dhaif. Jumlah hadis yang menurut Syaikh Ali Al Milani shahih dalam Al Kafi jumlahnya hampir sama dengan jumlah seluruh hadis dalam shahih Bukhari. Dengan cara berpikir anda hal yang sama bisa juga dikatakan pada kitab hadis sunni semisal Musnad Ahmad, Sunan Daruquthni, Musnad Al Bazzar, Mu’jam Thabrani Shaghir dan Kabir, Al Awsath Thabrani dan lain-lain yang banyak berisi hadis dhaif. Anehnya kutub as sittah sendiri terdapat hadis-hadis dhaif dan palsu seperti yang ada pada Ashabus Sunan, kalau gak salah Syaikh Albani membuat kitab sendiri tentang itu (Dhaif Sunan Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Dawud) dan celakanya menurut syaikh Al Albani dan Daruquthni dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadis dhaif.

Atau contoh lain adalah kitab Shahih Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Khuzaimah dan Mustadrak Shahihain, itu nama kitab yang pakai kata “shahih” dan anehnya banyak hadis-hadis dhaif bahkan palsu. Dengan semua data itu apakah anda juga akan berkata sedangkan kitab-kitab pegangan sunni banyak dinyatakan ulama sunni sendiri gak sahih (banyak diragukan bersumber dari Rasulullah SAW). Silakan direnungkan
Jawabannya sederhana kok, berpegang teguh kepada ahlul bait dalam arti merujuk kepada mereka dalam agama diantaranya akidah dan ibadah

Memang banyak hadits dha’if yang terdapat dalam berbagai kitab, entah dlm kitab sunni maupun syi’ah. Yang penting esensi ajarannya, seperti para Imam Ahlul Bayt yg konsisten mengawasi dan meluruskan terhadap penyimpangan para penguasa yg zalim.

Makanya jangan sok tau. Dalam Syi’ah, fungsi Imam yg 12 adalah BUKAN sbg pembuat hal2 baru dlm agama (bida’ah). Mereka hanyalah pelaksana sekaligus penjaga/pengawal syariat Islam yg dibawa nabi Muhammad saw. Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yg disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya spt Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Dus ucapan para Imam = ucapan Nabi saw.

He he he…dasar sok tau. Kalau para ulama Syi’ah selalu mengatakan bahwa hadis2 yg terdapat dlm Al-Kafi umpamanya masih banyak yg dhaif, itu bukan berarti kebanggaan. Pernyataan mereka itu lebih kpd sikap jujur dan terbuka dan apa adanya. ………Sudah ane jelaskan bahwa Syi’ah tdk membeda-bedakan sumber hadis apakah itu dari Ali, Fatimah, Hasan, Husein atau para Imam yg lainnya. Apa yg diucapkan oleh Imam Ja’far umpamanya, itu juga yg diucapkan oleh Imam Ali bin Muhammad kmdn juga oleh Ali bin Husein, Husein bin Ali, Ali bin Abi Talib, Fatimah dan Nabi saw. Substansinya bukan pada jumlah yg diriwayatkan Fatimah atau Imam Hasan lebih sedikit dibanding Imam Ja’far atau imam yg lainnya tetapi pada kesinambungan periwayatan dari Rasulullah saw smp kpd Imam yg terakhir.

hadis2 Rasulullah saw selalu terjaga dibawah pengawasan langsung para Imam zaman dan para pengikut Ali masih bisa berkomunikasi dg para Imam Zaman.

==================================================================================================================================================================

SYi’AH iMAMiYAH MENDHA’iFKAN RiBUAN HADiS
KARENA SYi’AH SANGAT KETAT DALAM iLMU HADiS

Dalam Rasa’il fi Dirayat Al Hadits jilid 1 hal 395 disebutkan mengenai syarat hadis dinyatakan shahih di sisi Syiah yaitu apa saja yang diriwayatkan secara bersambung oleh para perawi yang adil dan dhabit dari kalangan Imamiyah dari awal sanad sampai para Imam maksum dan riwayat tersebut tidak memiliki syadz dan illat atau cacat………..

Dalam kitab Masadir Al Hadits Inda As Syi’ah Al Imamiyah yang ditulis oleh Allamah Muhaqqiq Sayid Muhammad Husain Jalali.. Beliau mengklasifikasikan hadis dalam kitab Al Kafi Kulaini dengan perincian sebagai berikut :
Jumlah hadis secara keseluruhan : 1621 ( termasuk riwayat dan cerita )
Hadis lemah / dha’if : 9485
Hadis yang benar / hasan : 114
Hadis yang dapat dipercaya / mawtsuq : 118
Hadis yang kuat / Qawi : 302
Hadis shahih : 5702

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya. Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[sumber :Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.]

Menurut pengakuan Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi.

Kenapa banyak sekali hadis dha’if ??? Apa kulaini lemah dalam keilmuan ????
Jawab:
Syi’ah imamiyah itsna asyariah sangat ketat dalam ilmu hadis, sehingga ribuan hadis berani kami dha’if kan .. Tindakan pendha’ifan ribuan hadis ini menunjukkan bahwa kami SANGAT SANGAT SERiUS DALAM menilai keshahihan sesuatu yang dinisbatkan pada agama….Tidak ada kompromi dalam hal seleksi hadis… Pertanyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan mana yang bukan…..

Apa yang dimaksud dengan hadis lemah/dha’if ????
Jawab :
Jika salah satu seorang dari rantai penulis hadis itu tidak ada, maka hadis itu lemah dalam isnad tanpa melihat isinya… Ada hadis dalam Al Kafi yang salah satu atau beberapa unsur dari rangkaian periwayatnya tidak ada, oleh sebab itu hadis hadis demikian isnad nya dianggap lemah

Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah !!!!!

Apakah dengan modal empat kitab hadis syi’ah maka kita sudah dianggap berpedoman pada TSAQALAiN ???
jawab :
Yang dimaksud dengan berpedoman pada tsaqalain adalah mengikuti petunjuk Al Quran dan orang orang terpilih dari ahlul bait…SEMENTARA EMPAT KiTAB HADiS TERSEBUT ADALAH CATATAN CATATAN REKAMAN UCAPAN, PERBUATAN, DAN AKHLAK AHLUL BAiT.. YANG NAMANYA CATATAN MEREKA TENTU ADA YANG AKURAT DAN ADA YANG TiDAK AKURAT… YANG AKURAT DiNiLAi SHAHiH DAN YANG TiDAK AKURAT DiNiLAi DHA’iF

Adakah hadis aneh aneh dalam kitab syi’ah ????
Jawab :Jika ada hadis yang bertentangan dengan Al Quran maka kami menilainya tidak shahih maka masalahnya selesai !!!! Kalau ada hadis hadis aneh dalam kitab kitab mu’tabar syi’ah maka setelah meneliti sanad dan matannya maka ulama syi’ah langsung memvonisnya dha’if dan hadis tersebut tidak dipakai !!!!

Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as.

Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

Dr. Muhammad At-Tîjâni as-Samâwie –seorang Sunni yang kemudian membelot ke Syi’ah, ketika melakukan kajian komparatif antara Sunnah dan Syi’ah, memberikan judul bukunya tersebut: Asy-Syî’ah Hum Ahlu Sunnah.

dalam beberapa hal, metodologi hadis Syi’ah amat berlainan dengan metodologi Ahlu Sunnah. Kajian tentang metodologi hadis dalam Syi’ah Imamiah telah menjadi objek sebuah risalah doktoral di fakultas Ushuluddin Universitas al Azhar. Pada penghujung tahun 1996, risalah tersebut telah diuji dan dinyatkan lulus.
Dalam kalangan Syi’ah, kitab-kitab hadis yang dijadikan pedoman utama -dan berfungsi seperti kutub sittah dalam kalangan sunni- ada sebanyak 4 buah kitab.

Kitab al Kâfi. Disusun oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al Kulayni (w.328 H.). Kitab tersebut disusun dalam 20 tahun, menampung sebanyak 16.090 hadis. Di dalamnya sang penyusun menyebutkan sanadnya hingga al ma’shum. Dalam kitab hadis tersebut terdapat hadis shahih, hasan, muwats-tsaq dan dla’if.

Kitab Ma La Yahdluruhu al Faqih. Disusun oleh ash-Shadduq Abi Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Babawaih al Qummi (w.381 H.). Kitab ini merangkum 9.044 hadis dalam masalah hukum.

Kitab at-Tahzib. Kitab ini disusun oleh Syaikh Muhammad bin al Hasan ath-Thusi (w.460 H.). Penyusun, dalam penulisan kitab ini mengikuti metode al Kulayni. Penyusun juga menyebutkan dalam setiap sanad sebuah hakikat atau suatu hukum. Kitab ini merangkum sebanyak 13.095 hadis.

Kitab al Istibshar. Kitab ini juga disusun oleh Muhammad bin Hasan al Thusi. Penysusun kitab at-Tahzib. Kitab ini merangkum sebanyak 5.511 hadis.

Di bawah derajat ke empat kitab ini, terdapat beberapa kitab Jami’ yang besar. Antara lain:

Kitab Bihârul Anwâr. Disusun oleh Baqir al Majlisi. Terdiri dalam 26 jilid.
Kitab al Wafie fi ‘Ilmi al Hadis. Disusun oleh Muhsin al Kasyani. Terdiri dalam 14 juz. Ia merupakan kumpulan dari empat kitab hadis.

Kitab Tafshil Wasail Syi’ah Ila Tahsil Ahadis Syari’ah. Disusun oleh al Hus asy-Syâmi’ al ‘Amili. Disusun berdasarkan urutan tertib kitab-kitab fiqh dan kitab Jami’ Kabir yang dinamakan Asy-Syifa’ fi Ahadis al Mushthafa. Susunan Muhammad Ridla at-Tabrizi.

Kitab Jami’ al Ahkam. Disusun oleh Muhammad ar-Ridla ats-Tsairi al Kâdzimi (w.1242 H). Terdiri dalam 25 jilid. Dan terdapat pula kitab-kitab lainnya yang mempunyai derajat di bawah kitab-kitab yang disebutkan di atas. Kitab-kitab tersebut antara lain: Kitab at-Tauhid, kitab ‘Uyun Akhbâr Ridla dan kitab al ‘Amali.

Kaum Syi’ah, juga mengarang kitab-kitab tentang rijal periwayat hadis. Di antara kitab-kitab tersebut, yang telah dicetak antara lain: Kitab ar-Rijal, karya Ahmad bin ‘Ali an-Najasyi (w.450 H.), Kitab Rijal karya Syaikh al Thusi, kita Ma’alim ‘Ulama karya Muhammad bin ‘Ali bin Syahr Asyub (w.588 H.), kitab Minhâj al Maqâl karya Mirza Muhammad al Astrabady (w.1.020 H.), kitab Itqan al Maqal karya Syaikh Muhammad Thaha Najaf (w.1.323 H.), kitab Rijal al Kabir karya Syaikh Abdullah al Mumaqmiqani, seorang ulama abad ini, dan kitab lainnya.

Satu yang perlu dicatat: Mayoritas hadis Syi’ah merupakan kumpulan periwayatan dari Abi Abdillah Ja’far ash-Shadiq. Diriwayatkan bahwa sebanyak 4.000 orang, baik orang biasa ataupun kalangan khawas, telah meriwayatkan hadis dari beliau. Oleh karena itu, Imamiah dinamakan pula sebagai Ja’ fariyyah. Mereka berkata bahwa apa yang diriwayatkan dari masa ‘Ali k.w. hingga masa Abi Muhammad al Hasan al ‘Askari mencapai 6.000 kitab, 600 dari kitab-kitab tersebut adalah dalam hadis.

===============================================================================================================================================================

Di dalam Syi’ah, ada 4 kitab hadits, yang terdiri dari:

Al-Kafi
Hadits-hadits dalam kitab dikumpulkan oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini ar-Razi. Ia adalah cendekiawan Islam yang sangat menguasai ilmu hadits. Wafat tahun 329 Hijriah Terdapat sekitar 16000 hadits yang berada dalam kitab al-Kafi, dan merupakan jumlah terbanyak yang berhasil dikumpulkan. Kitab Syi’ah yang terbaik

Man la yahdarul fiqh
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah..Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah…

Tazhibul Ahkam
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terdapat sekitar 13590 Hadits dalam kitab ini.

Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar Ditulis oleh Syakih Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi..Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah..Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini.
==================================================================================================================================================================

AL-FURU’ AL-KAFI AL-KULAINI
(Telaah Kritis Atas Kualitas Hadis-hadis Syi’ah)

A. Pendahuluan

Dalam Syi’ah, kitab hadis pertama adalah kitab Ali Ibn Abi Thalib yang didalamnya memuat-hadis-hadis yang di-imla’-kan langsung dari Rasulullah SAW tentang halal, haram dan sebagainya. Kemudian dibukukan oleh Abu Rafi’ al-Qubthi al-Syi’i dalam kitab al-Sunan, al-Ahkam dan al-Qadaya. Ulama sesudahnya akhirnya membukukannya ke berbagai macam kitab,[1] salah satunya adalah al-Kafi fi ‘Ilmi al-Din yang dikalangan Syi’ah merupakan pegangan utama diantara kitab-kitab yang lain.[2]

Pembahasan tentang kitab al-Kafi karya al-Kulaini secara keseluruhan telah banyak dilakukan. Baik melalui komparasi dengan kitab pokok aliran Sunni, tentang kriteria kesahihan hadis,[3] maupun secara khusus kajian tentang al-Ushul al-Kafi. Namun sejauh telaah yang penulis lakukan kajian tentang al-Furu’ al-Kafi, hampir belum ada. Karena itu kajian secara kritis atas kitab tersebut menjadi sangat urgen untuk dilakukan. Selanjutnya, penulis akan berupaya memaparkan sekaligus menganalisa terhadap informasi yang ada. Khususnya pada setting pribadi al-Kulaini dan umumnya pada al-Furu’ al-Kafi (sistematika, metode dan isi).

B. Setting Biografi al-Kulaini

Pengarang dari kitab al-Kafi adalah Siqat al-Islam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Ya’qub Ibn Ishaq al-Kulaini al-Raziy.[4] Beliau dilahirkan sekitar tahun 254 H dan atau 260 H di kampung yang bernama al-Kulain atau al-Kulin di Ray Iran. Tidak banyak diketahui mengenai kapan tepatnya al-Kulaini lahir. Informasi lain hanya mengenai tempat tinggal al-Kulaini selain di Iran yaitu pernah mendiami Baghdad dan Kufah. Ia pindah ke Baghdad karena menjadi ketua ulama atau pengikut Syi’ah Imam dua belas disana, selama pemerintahan al-Muqtadir. Beliau hidup di zaman sufara’ al-arba’ah (empat wakil Imam al Mahdi). Selain itu tahun wafatnya adalah 328 H / 329 H (939/940). Beliau dikebumikan di pintu masuk Kufah.[5]

Ayah al-Kulaini bernama Ya’qub Ibn Ishaq atau al-Salsali, seorang tokoh Syi’ah terkemuka di Iran. Di kota inilah ia mulai mengenyam pendidikan. Al-Kulaini punya pribadi yang unggul dan banyak dipuji ulama, bahkan ulama mazhab Sunni dan Syi’ah sepakat akan kebesaran dan kemuliaan al-Kulaini.[6]

Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa sosok al-Kulaini merupakan sosok fenomenal dimana dia adalah seorang faqih sekaligus muhaddis yang cemerlang di zamannya. Seorang yang paling serius, aktif, dan ikhlas dalam menda’wahkan Islam dan menyebarkan berbagai dimensi kebudayaan dan dijuluki siqat al-Islam.[7]

Al-Kulaini menyusun kitab al-Kafi selama dua puluh tahun dengan melakukan perjalanan ilmiah untuk mendapatkan hadis-hadis dari berbagai daerah, seperti Irak, Damaskus, Ba’albak, dan Talfis. Namun bukan hanya hadis yang ia cari tetapi juga berbagai sumber dan kodifikasi hadis dari para ulama sebelumnya. Dari sini nampak adanya usaha yang serius dan besar-besaran.[8]

Imam al-Kulaini –merupakan seseorang yang ahli hadis mempunyai banyak guru dari kalangan ahl al-bait dalam proses transmisi hadis, diantara nama gurunya adalah Abdullah Ibnu Umayyah, Ishaq Ibnu Ya’qub dan lain-lain. Ada beberapa kitab yang telah ditulis oleh al-Kulaini disamping al-Kufi diantaranya adalah: Kitab tafsir al-Ru’ya, kitab al-Rijal, kitab al-Rad ala al-Qaramitah, kitab Rasa’il dan lain-lain.

Banyak ulama yang mengungkap kebesaran dari al-Kulaini ini diantaranya adalah, Ayatullah Ja’far Subhani melukiskan dengan matahari dan lainnya sebagai bintang-bintang yang menghiasi langit. Kaum Syi’ah bersepakat bahwasanya kitab ini merupakan kitab utama dan diperbolehkan berhujjah dengan dalil-dalil yang ada didalamnya.[9]

C. Sistematika, Metode dan Isi Kitab al-Furu’ al-Kafi al-Kulaini

Al-Kafi merupakan kitab hadis yang menyuguhkan berbagai persoalan pokok agama (ushul), cabang-cabang (furu’) dan taman (rawdhah). Al-Kurki dalam ijazah-nya al-Qadhi Shafi al-Din ‘Isa, mengatakan, al-Kulaini telah menghimpun hadis-hadis syar’iyyah dan berbagai rahasia rabbani yang tidak akan didapati di luar kitab al-Kafi. Kitab ini menjadi pegangan utama dalam mazhab Syi’ah dalam mencari hujjah keagamaan. Bahkan di antara mereka ada yang mencukupkan atas kitab tersebut dengan tanpa melakukan ijtihad sebagaimana terjadi dikalangan ahbariyyun.[10]

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya.[11] Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy[12] 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[13]

Al-Kafi terdiri atas 8 jilid yang terbagi menjadi tiga puluh lima (35) kitab dan 2355 bab, 2 jilid pertama berisi tentang al-Ushul (pokok) jilid pertama memuat 1.437 hadis dan jilid kedua memuat 2.346 hadis, yang berkaitan dengan masalah akidah. 5 jilid selanjutnya berbicara tentang al-Furu’ (fikih) dan 1 jilid terakhir memuat 597 hadis yang disebut al-Rawdhah (taman) adalah kumpulan hadis yang menguraikan berbagai segi dan minat keagamaan serta termasuk beberapa surat dan khutbah para imam.[14] Juz ini berisi tentang pernyataan tentang ahl al-bait, ajaran para imam, adab orang-orang saleh, mutiara hukum dan ilmu, yang tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Dinamakan al-rawdhah (taman) karena berisi hal-hal yang bernilai dan berharga, yang identik dengan taman yang menjadi tempat tumbuh bermacam-macam buah dan bungah.[15]

Adapun tema-tema dalam al-Furu’ al-Kafi yang dimulai dalam jilid III terdiri dari 5 kitab yaitu;[16]

Kitab al-Taharah, yang terdiri dari 46 bab dan 340 hadis.
Kitab al-Haid, yang terdiri dari 24 bab dan 93 hadis.
Kitab al-Jana’iz, berisi tentang pemakaman dan hal-hal lain yang terkait dengan upacara penguburan. Terdiri dari 95 bab dan 545 hadis.
Kitab al-Salah, terdiri dari 103 bab dan 924 buah hadis.
Kitab al-Zakah, terdiri dari 47 bab dan 277 hadis.
Jilid IV terdiri dari 2 kitab yaitu;

Kitab al-Siyam, memuat bab-bab shadaqah yang terdiri dari 43 bab dan 252 buah hadis. Sedangkan tentang puasa terdiri dari 83 bab dan 452 hadis.

Kitab al-Hajj dan bab-bab ziarah, terdiri dari 236 bab dan 1486 buah hadis.

Jilid V terdiri dari 3 kitab yaitu;

Kitab al-Jihad, terdiri dari 32 bab dan 149 buah hadis.

Kitab al-Ma’isyah (cara-cara memperoleh kehidupan), terdiri dari 159 bab dan 1061 hadis.

Kitab al-Nikah, terdiri dari 192 bab dan 990 buah hadis.

Jilid VI terdiri dari 9 kitab yaitu;

Kitab al-’aqiqah, terdiri dari 38 bab dan 223 hadis.
Kitab al-Talaq, terdiri dari 82 bab dan 499 buah hadis.
kitab al-’Itq wa al-Tadbir wa al-Kitabah (jenis-jenis budak dan cara memerdekakannya), terdiri dari 19 bab dan 114 hadis.
Kitab al-Sayd (perburuan), terdiri dari 17 bab dan 119 hadis.
Kitab al-Zaba’ih (penyembelihan), terdiri dari 15 bab dan 74 hadis.
Kitab al-At’imah (makanan), terdiri dari 134 bab dan 709 buah hadis.
Kitab al-Asyribah (minuman), terdiri dari 37 bab dan 268 hadis.
Kitab al-Zayy wa al-Tajammul wa al-Muru’ah (pakaian, perhiasan dan kesopanan), terdiri dari 69 bab dan 553 hadis.
Kitab al-Dawajin (hewan piaraan), terdiri dari 13 bab dan 106 hadis.
Jilid VII terdiri dari 7 kitab, yaitu;

Kitab al-Wasaya (wasiat), terdiri dari 39 bab dan 240 hadis.
Kitab al-Mawaris berisi 69 bab dan 309 hadis.
Kitab al-Hudud berisi 63 bab dan 448 hadis.
Kitab al-Diyat (hukum qisas dan rincian cara penebusan jika seseorang melukai secara fisik), terdiri dari 56 bab dan 366 hadis.
Kitab al-Syahadah (kesaksian dalam kasus hukum), terdiri dari 23 bab dan 123 hadis.

Kitab al-Qada wa al-Ahkam (peraturan tentang tingkah laku para hakim dan syarat-syaratnya), terdiri dari 19 bab dan 78 hadis.
Kitab al-Aiman wa al-Nuzur wa al-Kafarat (tentang sumpah, janji dan cara penebusan kesalahan ketika pihak kedua batal), terdiri dari 18 bab dan 144 hadis.

Jadi isi keseluruhan al-Furu’ al-Kafi berjumlah 10.474 hadis, dengan perincian jilid III berisi 2049 hadis, jilid IV berisi 2424 hadis, jilid V berisi 2200 hadis, jilid VI berisi 2727 hadis, dan jilid VII berisi 1074 hadis. Sistematika pembagian kitab dan bab yang dipakai al-Kulaini sangat sistematis sehingga memudahkan bagi kaum muslimin khususnya kaum Syi’ah untuk menggunakannya sebagai referensi yang utama dalam kehidupan mereka.

D. Al-Kafi Cukup ! Walaupun banyak yang tidak shahih

Kitab al-Kafi menjawab kebutuhan para ahli hadis, fiqih, teologi, juru dakwah, tukang debat (mujadil) dan para pelajar.[18] Oleh karena itu, maka kitab ini mencakup pokok-pokok agama ushul, furu’, akhlak, nasehat, etika dan ajaran Islam yang lain.

Al-Kafi adalah suatu kitab koleksi hadis yang berasal dari Nabi dan para Imam yang diteruskan kepada masyarakat muslim oleh murid-murid dari para Imam. Nama Al-Kafi mempunyai arti “cukup”, ini adalah sebuah kitab yang mencakup hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para Imam Syi’i. Al-Kulaini dalam muqaddimah kitabnya menjelaskan:

“… Kamu ingin mempunyai suatu buku yang akan memenuhi kebutuhan religius-mu (kafin), yang meliputi bermacam-macam pengetahuan tentang agama, yang berguna untuk memberikan arahan bagi siswa maupun guru. Yang dapat digunakan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pengetahuan agama dan amaliyyah dan hukum-hukum menurut nampak hadis (asar) dari orang yang dapat dipercaya (Imam)…”[19]

Dengan melihat sejarah penyusunan kitab ini yang mencapai 20 tahun dan didukung oleh kondisi sosial politik saat itu yang merupakan masa yang kondusif bagi Syi’ah. Menurut penulis adalah sangat wajar jika penyusunan al-Kafi mencapai 16.199 hadis, di tambah lagi dengan fenomena bahwa para imam berhak meriwayatkan hadis setelah Nabi wafat.

E. Analisa atas Metode Penulisan al-Furu’ al-Kafi

Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik dalam kitab ini, di antaranya: adalah sebagai berikut;

Adanya peringkasan sanad. Istilah sanad menurut para ahli hadis Syi’ah adalah para rawi yang menukil hadis secara berangkai dari awal sumber, baik dari Nabi Saw., para imam, para sahabat maupun dari yang lainnya yang diperlihatkan kepada Imam, sampai kepada rawi yang terakhir.[20] Sanad-sanad yang ada dalam kitab ini kadang ditulis secara lengkap, tetapi terkadang al-Kulaini membuang sebagian sanad dengan menggunakan kata ashhabuna, fulan, ‘iddah, jama’ah dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan bagi periwayat-periwayat yang sudah terkenal.[21]

Jika al-Kulaini menyebutkan sahabat kami dari Ahmad Ibn Muhammad Ibn al-Barqi, maka yang dimaksud adalah Ali Ibn Ibrahim, Ali Ibn Muhammad Abdullah Ahmad Ibn Abdullah dari ayahnya dan Ali Ibn al-Husain al-Sa’dabadi. Sedangkan sebutan dari Sahl Ibn Ziyad adalah Muhammad Ibn Hasan dan Muhammad Ibn ‘Aqil, dan lain-lain. Mereka adalah para periwayat yang dianggap baik oleh al-Kulaini dan telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya.

Misalnya dalam kitab al-Furu’ jilid keenam bab kesembilan mengenai memerdekakan budak, al-Kulaini menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “iddatun min ashabina” ialah ‘Ali Ibn Ibrahim, Muhammad Ibn Ja’far, Muhammad Ibn Yahya, ‘Ali Ibn Muhammad Ibn ‘Abdullah al-Qummi, Ahmad Ibn Abdillah, ‘Ali Ibn Husain, yang semuanya dari Ahmad Ibn Muhammad Ibn Khalid dari Usman Ibn Isa.

Peringkasan sanad ini dilandasi atas keinginan al-Kulaini untuk tidak memperpanjang tulisan, dan dilakukan hanya pada para periwayat yang dianggap baik dan dipercaya oleh beliau. Oleh karena itu, jika sanad telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya, maka selanjutnya al-Kulaini tidak menulisnya secara lengkap.

Adanya para rawi yang bermacam-macam sampai Imam mereka dan periwayat lain. Jika dibandingkan dengan hadis-hadis lain diluar Syi’ah berbeda derajat penilaiannya. Dengan demikian, mereka masih mengakui periwayat hadis dari kalangan lain dan menganggapnya masih dalam tataran kuat.

F. Kriteria Kesahihan Hadis al-Kulaini

Al-Kulaini dalam menentukan kriteria kesahihan hadis yang terdapat dalam al-Kafi, menggunakan kriteria kesahihan hadis yang lazim dipakai oleh para ulama mutaqaddimin, hal ini dikarenakan masa hidup al-Kulaini termasuk dalam generasi ulama mutaqaddimin. Sedangkan yang masyhur, ada dua pembagian hadis, pada masa ulama mutaqaddimin, pada masa kedua tokoh periwayat, Sayyid Ahmad Ibn Thawus dan Ibn Dawud al-Hulliy. Pembagian hadis ini berkisar pada hadis mu’tabar dan ghairu mu’tabar. Pembagian ini dipandang dari segi kualitas eksternal (keakuratan periwayat), seperti kemuktabaran hadis yang dihubungkan dengan Zurarah, Muhammad Ibn Muslim serta Fudhail Ibn Yasar. Maka hadis yang berkualitas demikian itu dapat dijadikan hujjah[23].

Sedangkan menurut jumhur Ja’fariyah hadis terbagi menjadi mutawatir dan ahad. Pengaruh akidah mereka tampak dalam maksud hadis mutawatir. Karena hadis mutawatir menurut mereka adalah harus dengan syarat hati orang yang mendengar tidak dicemari syubhat atau taklid yang mewajibkan menafikan hadis dan maksudnya.[24]

Pengaruh imamah di sini dapat diketahui ketika mereka menolak hujjah orang-orang yang berbeda dengan mereka yaitu mazhab yang menafikan ketetapan amir al-mukminin Ali sebagai imam. Mereka juga berpendapat tentang mutawatir-nya hadis al-saqalain dan hadis al-ghadir. [25]

Sedangkan hadis Ahad menurut mereka terbagi dalam empat tingkatan atau empat kategori, yang bertumpu pada telaah atas sanad (eksternal) dan matan (internal), dan keempat tingkatan tersebut merupakan pokok bagian yang menjadi rujukan setiap bagian yang lain. Empat tingkatan itu adalah; sahih, hasan, muwassaq, dan dha’if. Pembagian inilah yang kemudian berlaku sampai saat ini.[26] Namun ada sebagian ulama Syi’ah yang mengakui adanya kualitas qawiy dalam pembagian hadis tersebut, jadi tingkatan kualitas hadis menjadi lima (5), yaitu:

Hadis Sahih

Hadis sahih menurut mereka adalah, hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum serta adil dalam semua tingkatan dan jumlahnya berbilang. Dengan kata lain, hadis sahih menurut mereka adalah hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum.[27]

Pengaruh Imamiyah di sini tampak pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah Imamiyah. Jadi hadis tidak sampai pada tingkatan sahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan.[28]

Kalangan Syi’ah Imamiyah menjelaskan sebab adanya persyaratan ini adalah tidak diterima riwayat orang fasiq, meskipun dari sisi agamanya dia dikatakan sebagai orang yang selalu menghindari kebohongan. Dengan tetap wajib meneliti riwayat dari orang fasik dan orang yang berbeda dari kaum Muslimin (maksudnya; selain Imamiyah). Jika dia dikafirkan maka dia tertolak riwayatnya meskipun diketahui dia orang adil dan mengharamkan kebohongan.

Menurut al-Mamqani, keadilan pasti sejalan dengan akidah dan iman, dan menjadi syarat bagi setiap periwayat. Sejalan dengan firman Allah, “jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.(Q.S al-Hujurat; 6).

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan, bahwa iman adalah syarat bagi periwayat dan riwayat orang fasik wajib diteliti, sedangkan selain pengikut Ja’fariyah adalah kafir atau fasik, maka riwayatnya tidak mungkin sahih sama sekali. Dari sini tidak hanya tampak pengaruh imamah, tapi juga tampak sikap ekstrim dan zindiq.

Hadis Hasan

Hadis hasan menurut Syi’ah adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dari periwayat adil, sifat keadilannya sesuai dalam semua atau sebagian tingkatan para rawi dalam sanadnya.[29]

Dari definisi tersebut tampak bahwa mereka mensyaratkan hadis hasan sebagai berikut;

Bertemu sanadnya kepada imam yang ma’shum tanpa terputus.
Semua periwayatnya dari kelompok Imamiyah.
Semua periwayatnya terpuji dengan pujian yang diterima dan diakui tanpa mengarah pada kecaman. Dapat dipastikan bahwa bila periwayatnya dikecam, maka dia tidak diterima dan tidak diakui riwayatnya.

Tidak ada keterangan tentang adilnya semua periwayat. Sebab jika semua periwayat adil maka hadisnya menjadi sahih sebagaimana syarat yang ditetapkan di atas.

Semua itu harus sesuai dalam semua atau sebagian rawi dalam sanadnya.

Hadis Muwassaq[30]
Hadis muwassaq yaitu hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dengan orang yang dinyatakan siqah oleh para pengikut Syi’ah imamiyah, namun dia rusak akidahnya, seperti dia termasuk salah satu firqah yang berbeda dengan imamiyah meskipun dia masih seorang Syi’ah dalam semua atau sebagian periwayat, sedangkan lainnya termasuk periwayat yang sahih.

Definisi ini memberikan pengertian tentang persyaratan sebagai berikut:

Bersambungnya sanad kepada imam yang ma’shum.
Para periwayatnya bukan dari kelompok Imamiyah, tapi mereka dinyatakan siqah oleh ja’fariyah secara khusus.
Sebagian periwayatnya sahih, dan tidak harus dari imamiyah.
Pengaruh akidah mereka tampak dalam hal-hal sebagai berikut:

Posisi hadis muwassaq diletakkan setelah hadis sahih dan hadis hasan karena adanya periwayat dari selain Ja’fariyah.
Pernyataan siqah harus dari kelompok Ja’fariyah sendiri. Karena bagi mereka pernyataan siqah dari selain Ja’fariyah tidak cukup, bahkan orang yang dinyatakan siqah oleh mereka (selain Ja’fariyah) adalah dha’if menurut mereka.

Al-Mamqani menjelaskan bahwa pengukuhan siqah harus dari para pengikutnya dengan mengatakan, menerima penilaian siqah selain imamiyah, jika dia dipilih imam untuk menerima atau menyampaikan persaksian dalam wasiat, wakaf talak, atau imam mendoakan rahmat dan ridha kepadanya, atau diberi kekuasaan untuk mengurusi wakaf atas suatu negeri, atau dijadikan wakil, pembantu tetap atau penulis, atau diizinkan berfatwa dan memutuskan hukum, atau termasuk syaikh ijazah[31], atau mendapat kemuliaan dengan melihat imam kedua belas.

Hadis Dha’if

Menurut pandangan Syi’ah, hadis dha’if adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari tiga kriteria di atas. Misalnya di dalam sanadnya terdapat orang yang cacat sebab fasik, atau orang yang tidak diketahui kondisinya, atau orang yang lebih rendah dari itu, seperti orang yang memalsukan hadis.[32]

Dalam hadis sahih terlihat bahwa mereka menilai selain Ja’fariyah sebagai orang kafir atau fasik, sehingga riwayatnya dinyatakan dha’if yang tidak boleh diterima, dan juga tidak diterima dari selain Ja’fariyah kecuali orang yang dinyatakan siqah oleh mereka.

Atas dasar itu mereka menolak hadis-hadis sahih dari tiga khulafa al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, dan Usman) dan sahabat yang lain, tabiin, serta para imam ahli hadis dan fuqaha, pasalnya mereka tidak percaya dengan akidah imamiyah isna ‘asyariyah. Sebab riwayat-riwayat sahih yang di dalam sanadnya terdapat para sahabat senior dan para imam yang amanah, tetapi tidak percaya dengan akidah dua belas imam, maka riwayat-riwayat tersebut dinyatakan dha’if oleh kaum Ja’fariyah.

Hukum Mengamalkan Hadis Dha’if

Adapun hadis-hadis yang dha’if bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis sahih manakala hadis tersebut populer dan sesuai dengan ajaran mereka. Dengan demikian nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di kalangan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradisi Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. Sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalamnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja, melainkan memasukkan hal-hal lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad dan para imam mereka.

Hadis Qawiy[33]

Menurut muhaqqiq dan muhaddis al-Nuri, yang dimaksud dengan tingkat kuat adalah karena sebagian atau semua tokoh sanadnya adalah orang-orang yang dipuji oleh kalangan Muslim non-Imami, dan tidak ada seorang pun yang melemahkan hadisnya. Hadis muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.[34]

Tingkatan hadis qawiy ini tidak banyak dikenal baik oleh kalangan Syi’ah selain Imamiyah maupun kalangan Sunni. Hal ini dikarenakan jumhur ulama telah sepakat akan pembagian tingkatan hadis Syi’ah menjadi empat macam. Di samping itu sebagian rawi dari tingkatan qawiy ini berasal dari non-Imami, sedangkan mereka membatasi untuk menerima hadis dari selain Imamiyah. Karena syarat utama diterimanya hadis adalah harus dari kalangan Imamiyah.

G. Kualitas Hadis dalam al-Furu’ al-Kafi

Sebagaimana diketahui bahwa kitab al-Furu’ al-Kafi mencakup riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hukum fikih. Maka kitab ini sama dengan kitab Faqih Man La Yahdhuruh al-Faqih karya al-Shadiq dan dua kitab karya al-Thusi yaitu al-Tahzib dan al-Istibsar. Pengaruh imamah dalam al-Furu’ ini juga sangat kental, misalnya pada bab haji, al-Kulaini meriwayatkan dari Wahab, ia berkata, ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa orang yang tidak bermazhab Ja’fariyah kemudian setelah haji dia mengikuti mazhab Ja’fariyah maka orang tersebut disunahkan mengulang hajinya. Bagi orang Ja’fariyah, tidak boleh menggantikan haji selain dari Ja’fariyah kecuali terhadap bapaknya. Sedang dalam berziarah maka disunahkan dengan sunnah muakkad untuk berziarah ke makam para imam.

Contoh-contoh lain dalam al-Furu’ terdapat pada bab wudhu dan mawaris[35]

· ان العبد اذا توضأ فغسل وجهه تناثرت ذنوب وجهه واذا غسل يديه الى المرفقين تناثرت عنه ذنوب يديه واذا مسح رجليه او غسلهما للتقية تناثرت عنه ذنوب رجليه وان قال في اول وضوئه بسم الله الحمن الرحيم طهرت اعضاؤه كلها من الذنوب وان قال في اخر وضوئه او غسله من الجناية سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ا لا اله الاانت استغفرك واتوب اليك واشهد ان محمدا عبدك ورسولك واشهد ان عليا وليك وخليفتك بعد نبيك وان اوليائه خلفائه واوصيائه…..
· عدة من اصحابنا, عن أحمد بن محمد عن ابن محبوب قال: أخبرني ابن بكير عن زرارة قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: ولكل جعلنا موالي ممّا ترك الوالدين والاقربون, قال : إنّما عنّي بذلك أولى الأرحام في الموارث ولم يعن أولياء النعمة, فأولاهم بالميّت أقربهم إليه من الرحم التي تجرّه إليها
· علي بن ابراهيم عن ابيه ومحمد بن اسماعيل عن الفضل بن شاذان جميعا عن ابن ابي عمير عن عمر بن اذنيه عن محمد بن مسلم والفضيل بن يسار وبريد العجلي وزرارة ابن اعين عن ابي جعفر عليه السلام قال: السلام لا تعول ولاتكون اكثر من ستة.
· وعنه عن محمد بن عيسى بن عبيد عن يونس بن عبد الرحمن عن عمر بن اذنيه مثل ذلك

Dalam riwayat tentang wudhu di atas, tampak sekali adanya pemalsuan, yaitu dalam redaksi “atau membasuh kedua kaki karena taqiyah“, dan dalam redaksi “bahwa orang-orang yang dicintainya (Ali) adalah para khalifahnya dan orang-orang yang diwasiatkannya”. Maka hubungan pendapat mereka dalam masalah fiqih dengan mazhab adalah yang menjadikan mereka memalsukan hadis untuk menolong dua orang (al-Thusi dan al-’Amili).

Al-Thusi dan al-’Amili adalah dua orang yang mengatakan bahwa membasuh dua kaki diterapkan pada taqiyyah. Jadi fanatik Syi’ah kepada pendapat sesuai mazhabnya dan kerancauan dalam pemikiran dan ta’wil telah memunculkan dampak yang sangat buruk, yaitu pemalsuan hadis.

Sedangkan pada riwayat tentang mawaris tampak adanya peringkasan sanad. Adapun mengenai kualitas hadis tentang mawaris ini, secara eksplisit, tidak diketahui karena informasi yang di dapat dalam al-Furu’ sangat terbatas, tanpa keterangan kualitas hadisnya. Dan telah diketahui bahwa dalam kitab al-Kafi ini tidaklah semuanya sahih.

Namun setelah penulis menemukan adanya pembahasan tentang al-Jarh wa al-Ta’dil dan Ushul al-Hadis fi ‘Ilmi al-Dirayah dalam tradisi Syi’ah, adanya peringkasan sanad tidaklah mempengaruhi kualitas hadis. Jadi hadis-hadis tentang mawaris tersebut masih bisa dipakai dan dapat dijadikan hujah.

Fenomena ini bisa dijadikan bukti, bahwa hadis-hadis dalam al-Kafi al-Kulaini, khususnya al-Furu’ memang memuat beragam kualitas, dari sahih, hasan, muwassaq, qawiy, bahkan dha’if.

H. Kesimpulan

Setelah melakukan penelusuran terhadap kitab-kitab Syi’ah, penulis menemukan kitab ilmu hadis baik sanad maupun matan dari kalangan Syi’ah yang disusun oleh Ja’far Subhani, keduanya adalah Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah, dan Kulliyat fi ‘ilmi al-Rijal. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kajian sanad dan matan telah dikaji secara mendalam. Jika dibandingkan dengan tradisi Sunni, kajian ulum al-hadis Syi’ah juga bisa dianggap telah matang. Meskipun pengaruh Imamiyah masih sangat kental. Hal ini terbukti dengan syarat diterimanya hadis adalah harus dari kalangan Imamiyah. Itulah yang menjadi syarat utama dalam ilmu al-jarh wa al-Ta’dil.

Demikian juga terhadap kajian matan, adanya anggapan teologis tentang tidak terhentinya wahyu sepeninggal Rasulullah, maka imam-imam pada mazhab Syi’ah dapat mengeluarkan hadis. Jadi, tidak heran jika surat-surat, khutbah para imam dan hal-hal lain yang disangkutpautkan dengan ajaran agama diposisikan setara dengan hadis. Ini menjadikan kajian hadis Syi’ah berbeda dengan kalangan Sunni. Menurut hemat penulis, dua syarat itulah yang menjadikan penyebab jumlah hadis Syi’ah jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah hadis Sunni.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Gifari, ‘Abd al-Hasan. al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th.

Al- Hasani, Hasan Ma’ruf. “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, Jurnal al-Hikmah, no. 6., Juli-Oktober 1992.

Al-Kulaini Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub. Muqaddimah Usul al-kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Giffari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1388.

Al-Kulaini, Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub. Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.).

Al-Salus, Ali Ahmad. Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997.

Dr. I. K. A. Howard, “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001.

Esposito, John. L. Ensiklopedi Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001.

Kurniawan,Yudha. “Kriteria Kesahihan Hadis: Studi Komparatif antara Kitab al-Jami’ al-Sahih dan al-Kafi al-Kulaini”, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2003.

Subhani, Ayatullah Ja’far. “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001.

_______ Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah. Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th.

Suryadilaga, M. Alfatih. Kitab al-Kafi al-Kulaini, (Yogyakarta: TERAS, 2003.

[1] M. Alfatih Suryadilaga Kitab al-Kafi al-Kulaini, (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 307, lihat juga al-Kulaini Muqaddimah Usul al-kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Giffari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1388), hlm. 4-5.

[2] Ketiga kitab lainnya adalah Man La Yahduruh al-Faqih, Tahzib al-Hakam, dan al-Ikhtisar fi Ma Ukhtulifa min Akhbar.

[3] Yudha Kurniawan, “Kriteria Kesahihan Hadis: Studi Komparatif antara Kitab al-Jami’ al-Sahih dan al-Kafi al-Kulaini”, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2003.

[4] ‘Abd al-Hasan al-Gifari, al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th), hlm. 124

[5] Dr. I. K. A. Howard, “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001, hlm. 11.

[6] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, Jurnal al-Hikmah, no. 6., Juli-Oktober 1992, hlm. 25

[7] Ibid

[8] M. Alfatih Suryadilaga Ibid, hlm. 310.

[9] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah: Studi atas Kitab al-Kafi”, Al-Huda Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, vol. II, no. 5, 2001. hlm. 35.

[10] Di dalam Syi’ah sekarang terdapat dua aliran besar dalam menanggapi masalah-masalah yang berkembang di Dunia modern dikaitkan dengan ijtihad. Kelompok pertama mengatakan tidak ada ijtihad. Permasalahan sudah cukup dibahas para imam-imam mereka. Aliran ini dikenal dengan ahbariyyun atau muhaddisun. Kedua, kelompok ushuliyyun. Mereka beranggapan bahwa tradisi ijtihad masih terbuka lebar di kalangan Syi’ah tidak terbatas pada kematangan imam-imam mereka. Lihat Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah Al-Kafi” dalam Jurnal al-Hikmah, no, 6, Juli-Oktober 1992, hlm. 29.

[11] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.

[12] Ibid.,

[13] Ibid., hlm. 37

[14] Al-Fatih Suryadilaga, “al-Kafi al-Kulaini” dalam Studi Hadis (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 313.

[15] Lihat dalam Mukaddimah al-Rawdhah, hlm 9. Dikutip dalam Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 140.

[16] Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.)

[17] John L. Esposito, Ensiklopedi Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 302

[18] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, jurnal al-Hikmah, no. 6, Juli-Oktober, 1992, hlm. 25

[19] Dr. I. K. A. Howard “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001, hlm. 14.

[20] ‘Abd al-Hasan al-Gifari, al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th), hlm. 469-470.

[21] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, jurnal al-Hikmah, no. 6, Juli-Oktober, 1992, hlm. 39.

[22] Ibid

[23] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 38-39.

[24] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 125

[25] Yang disebut dengan hadis ghadir adalah wasiat Nabi Muhammad bahwa Ali ditunjuk sebagai pengganti beliau. Ibid, hlm.126.

[26] Ja’far Subhani, Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah (Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th), hlm. 48.

[27] Ibid

[28]Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 127.

[29] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 129.

[30] Muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.

[31] Telah berlaku dalam ungkapan ulama hadis penyebutan sebagian ulama dengan “syaikh ijazah“, dan yang lain dengan “syaikh riwayah”. Yang dimaksud dengan yang pertama adalah orang yang tidak mempunyai kitab yang diriwayatkan dan tidak mempunyai riwayat yang dinukil, tetapi dia memperbolehkan periwayatan kitab dari selainnya dan dia disebutkan dalam sanad karena dia bertemu gurunya. Dan jika dia dha’if maka tidak madharat kedha’ifannya. Sedangkan yang kedua adalah orang yang diambil riwayatnya dan dikenal sebagai penulis kitab, dia termasuk orang yang menjadi sandaran riwayat. Orang ini madharat bila tidak mengetahui riwayat. Untuk diterima riwayatnya, disyaratkan harus adil.

[32] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 130.

[33] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 37

[34] Ibid.

[35] Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.), hlm. 76, 80 dan 81

Umar juga bersikap kasar kepada Rasul. Umar berkata kasar kepada Rasul saat menentang isi perjanjian Hudaibiyah yang dianggapnya tidak benar meskipun Allah telah mengancam siapapun yang berbicara keras kepada Rasul maka amal kebaikannya akan terhapus. Ia juga menentang keras perintah Rasul kala Beliau memerintahkan para sahabat untuk menyediakan pena dan kertas agar Rasulullah bisa menuliskan wasiat terakhir beliau sebelum beliau meninggal (peristiwa tragedi hari Kamis). Dalam buku sejarah Rosul karangan Mohammad Haikal pada bagian Perang Uhud dikisahkan bahwa Umar termasuk sahabat yang melarikan diri kala mendengar hasutan orang-orang musyrik Quraish tentang kematian Rosulullah. Bersama Abu Bakar Umar berlari lintang pukang hingga terhenti di bawah suatu bukit karena kelelahan.

Umar Bin Khattab Penakut?

 

Bagi para pemuja kepahlawanan dan keberanian Sayyidina Umar ibn al Khaththab banyak kisah yang mencengangkan…. Di antaranya yang sangat dibanggakan adalah keberanian Umar ketika ia hendak berhijrah meninggalkan kota Mekkah ke kota Madinah…. Semua sahabat Nabi saw. berhijrah dengan sembunyi-sembunyi, tidak terkecuali Nabi sendiri, sementara Sayyidina Umar dengan begitu beraninya mengumumkan niatannya untuk berhirjah seraya menantang para pendekar Quraisy, siapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim hendaknya ia menghalanginya untuk berhijrah. Dan benar, tidak seorang pun berani menghalangi Sayyidina Umar!! Sebab tidak seorang pun dari pendekar Quraisy yang ingin mati di tangan Umar “Sang Pendekar Andalan Nabi saw.”!

Akhirnya, Umar pun hijrah tanpa ada seorang pun yang berani menghalanginya!

Sebuah keberanian yang luar biasa…. Yang sepertinya Nabi saw. sendiri tidak berani melakukannya, terbukti beliau pergi hijrah dengan sembunyi-sembunyi! Bukankah begitu sobatku?!

Tetapi rupanya keberanian Sayyidina Umar yang digambarkan pena para pemujinya itu tidak bertahan…. Umar yang dahulu ketika hendak berhijrah menantang para pendenkar Quraisy… Umar si pemilik jiwa baja nun tak pernah gentar… Umar sang pemberani dalam lukisan para pemujanya kini dalam peristiwa Hudaibiyah berubah menjadi bukan Umar yang dahulu… entah mengapa? Mungkin sekarang Sayyidina kini sudah mulai tua.. kekekaran kepalan tangannya mulai melemah…. Ketegasan sikapnya kini berubah menjadi kelemah lembutan … Atau mungkin karena para pelukis itu sudah lelah melukiskan untuk kita kisah-kisah keberanian dan kepahlawanan Sayyidina Umar… Atau mungkin Anda tau sebabnya?

Dalam peristiwa niatan Nabi saw. untuk mendatangi kota suci Mekkah dengan maksud damai yaitu untuk umrah namun kaum kafir Quraisy menghalangi beliau dan melarangnya untuk masuk ke kota suci Mekkah…. Sesampainya di dekt kota Mekkah dan Nabi mengetahui bahwa pembesar kafir Quraisy bersikeras menghalangi beliau dan kaum Muslminin masuk kota suci Mekkah, Nabi saw. memanggil Sayyidina Umar kita (sang pemberai andalan Nabi saw.) untuk mendatangi pembesar kaum Quraisy dan menyampaikan pasar damai beliau bahwa kedatangan beliau hanyaa untuk menjalan manasik umrah dan setelahnya beliau akan kembali pulang ke kota madina bersama para sahabatnya….

Tentunya kita mengetahui bahwa dalam etika yang berlaku bahkan di kalangan kauk kafir Quraisy bahwa seorang delegasi/utusan/rasul itu pasti memiliki hak untuk diperlakukan baik… untuk tugas itu, Nabi saw. menunjuk Sayyidina Umar, sebab ia adalah pendekar andalan yang sudah teruji 9demikian hendak digambarkan para pekulis kepahlawanan Sayyidina Umar)…. Siapa lagi yang cocok untuk “tugas seberat” itu selain pelimik hati baja… sang pendekar tak tertandingi…

Pasti Anda penasan mendengar jawaban Sayyidina Umar ketika Nabi saw. memanggilnya dan menugaskannya menemui para pembesar kafir Quraisy? Pasti Anda sudah tidak sabar lagi untuk mendengar ketegasan Sayyidina Umar seperti yang biasa kita dengar dari ppara penceramah atau kit abaca dalaam buku sejarah?

Mari kita simak bersama jawaban Sayyidina Umar…. Pendekar kebanggaan kita.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam kitab Sirah-nya: Kemudian Nabi saw. memanggil Umar ibn al Khaththab untuk menutusnya sebagai delegasi kepada pembesar Quraisy tentang tujuan kedatangan beliau, maka Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku benar-benar takut kepada suku Quraisy atas keselamatn diriku. Di kota Mekkah tidak ada seoarang pun dari suku bani Adiy yang dapat membelaku. Mereka telah mengenal permusuhanku dan kekerasan sikapku terhadap mereka. Tetapi aku tunjukkan kepada Anda orang yang cocok untuk tugas ini, ia lebih terhormat di sisi mereka ketimbang aku. Dia adalah Utsman ibn Affan. (Sirah Ibnu Hisyam;685. Cet. Dâr al Kotob al Ilmiah. Beirut, thn. 2001)

Mungkin Anda sedikit kecewa dengan sikap Sayyidina Umar Anda yang selama ini selalu membanggakan kita semua dengan dongen-dongen keberanian… dengan ketegasan sikap yang sering di antaranya beliau tampakkan dengan meninju Abu Hurairah karena terlau berbanyak-banyak dalam mengobral hadis Nabi saw….

Tetapi saya berharap Anda mau memberikan udzur untuknya… Mungkin saat itu sang pendekar kita sudah menua.. tak semuda di saat ia berhijrah meninggalkan kota aslinya Mekkah kekuatannya mulai memudar…

Cerita tentang penakutnya Umar sebenarnya sebanyak cerita tentang kekasaran perilakunya. Ia pernah menampar wajah Abu Hurairah hingga berdarah dan sembari menangis Abu Hurairah mengadukannya kepada Rosul. Ia juga pernah mengejek seorang sahabat utama wanita Rosul yang termasuk orang-orang yang pertama yang masuk Islam hingga saat Rosul mendengar cerita tersebut mengatakan kepada sahabat wanita tersebut: “Ia tidak lebih baik darimu. Engkau berhijrah 2 kali, sedang ia (Umar) hanya sekali.” Para ahli sejarah juga menulis kekasaran Umar kepada Fathimah Az-Zahra kala berusaha memaksa keluarga Rosul (ahlul bait yang disucikan Allah dalam surat Al Azhab: 33) untuk membaiat Abu Bakar.

Namun yang mengiris hati adalah Umar juga bersikap kasar kepada Rasul. Umar berkata kasar kepada Rasul saat menentang isi perjanjian Hudaibiyah yang dianggapnya tidak benar meskipun Allah telah mengancam siapapun yang berbicara keras kepada Rasul maka amal kebaikannya akan terhapus. Ia juga menentang keras perintah Rasul kala Beliau memerintahkan para sahabat untuk menyediakan pena dan kertas agar Rasulullah bisa menuliskan wasiat terakhir beliau sebelum beliau meninggal (peristiwa tragedi hari Kamis).

Dalam buku sejarah Rosul karangan Mohammad Haikal pada bagian Perang Uhud dikisahkan bahwa Umar termasuk sahabat yang melarikan diri kala mendengar hasutan orang-orang musyrik Quraish tentang kematian Rosulullah. Bersama Abu Bakar Umar berlari lintang pukang hingga terhenti di bawah suatu bukit karena kelelahan. Pada saat itu ada seorang sahabat yang mengingatkan tentang kemuliaan mati syahid dan mengajak Umar dan Abu Bakar untuk “menyusul” Rosul, namun keduanya menolak.

Dalam Perang Khandaq, seorang pendekar Quraish yang berhasil menerobos parit berteriak-teriak menentang para pendekar Islam untuk berperang tanding. Semua orang, termasuk Umar, yang berani meladeni tantangan itu kecuali Ali bin Abi Thalib. Ali maju ke depan untuk meladeni tantangan tersebut namun dicegah Rosul karena Beliau ingin mengetahui siapa di antara sahabatnya yang benar-benar berani membela Islam. Sampai tiga kali sang jagoan Quraish berteriak-teriak menentang, tiga kali pula para pendekar Islam dibuat gentar olehnya kecuali Ali. Akhirnya Rosul pun mengijinkan Ali meladeni tantangan tersebut dan berhasil membunuh sang jagoan Quraish hingga pasukan Quraish pun mundur.

Dalam Perang Khaibar beberapa kali pasukan Islam dipukul mundur pasukan yahudi yang bertahan di dalam benteng. Umar adalah salah seorang sahabat yang dipercaya untuk memimpin pasukan penyerang, namun kembali dengan kekalahan. Hingga akhirnya Rosul pun berkata lantang kepada para sahabat: “Besok pagi komando akan saya serahkan kepada orang yang Allah dan Rosul-Nya ridho kepadanya, yang tidak pernah kalah dalam perkelahian dan tidak pernah mundur dalam pertempuran.” Para sahabat pun berharap kehormatan besar itu akan mereka peroleh. Kehormatan apa yang lebih besar daripada kehormatan keridhoan Allah dan Rosul? Mereka tidak pernah berfikir Ali lah yang akan mendapat kehormatan itu karena Ali tengah menderita sakit mata parah hingga tidak bisa melihat dan harus tinggal dari medang perang. Namun ternyata Ali-lah yang mendapatkan kehormatan itu dan berhasil mendobrak pintu gerbang benteng yahudi hingga orang-orang yahudi pun menyerah.

Umar juga tercatat memiliki keturunan yang tidak patut untuk menjadi panutan keluarga pemimpin. Seorang anaknya dirajam sendiri oleh Umar karena berzina. Seorang lainnya dicambuk karena mabuk-mabukan. Selain itu anaknya yang lain membunuh orang tanpa dasar hukum sehingga nyaris diqhisos
seandainya saja tidak dilindungi khalifah Usman bin Affan. Semuanya tercatat dalam sejarah

.

Tentang Hadis  menyangkut sepuluh orang yang telah dinyatakan akan masuk surga (sepuluh yang mendapat kabar gembira masuk surga), yang dilaporkan oleh Sa’id bin Zaid, ipar Umar bin Khaththab, di zaman Mu’awiyah. Baiklah kita ikuti riwayat munculnya hadis ini di zaman ‘pengucilan’ Ali bin Abi Thalib ini. Kuwait ngga ngerti agama, antek antek Amerika..

.
Said meninggal dunia tahun 51 H/671 M. Di tahun itu juga Mu’awiyah membunuh Hujur bin ‘Adi bersama dua belas kawan-­kawannya. Ibnu Atsir meriwayatkan bahwa pemulanya ialah Mughirah bin Syu’bah, gubernur yang diangkat Mu’awiyah di Kufah, melaknat Ali dan Hujur membantahnya. Pada tahun 40 H/660 M, Mughirah bin Syubah digantikan oleh Ziyad bin Abih yang mengejar dan menganiaya siapa saja yang tidak mau mencerca Ali bin Abi Thalib. Hadis ini timbul pada masa itu, dengan lafal: ‘Pada suatu ketika, di masjid (Kufah), seseorang telah menyebut (melaknat pen.) Ali bin Abi Thalib. Maka berdirilah Said bin Zaid seraya berkata: ‘Aku bersaksi dengan nama Rasul Allah saw bahwa sesungguhnya aku mendengar beliau bersabda, ‘Sepuluh orang masuk surga: Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’d bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin ‘Auf’. Kemudian orang bertanya, ‘Siapa yang kesepuluh?’ Setelah ditanyakan berkali-­kali, ‘Sa’id bin Zaid’ menjawab, ‘Aku’. Dalam lafal yang lain, nama Abu Ubaidah bin al ‘Jarrah disebut, sedang Nabi tidak dimasukkan.1

.
Dalam kemelut seperti itu, Said bin Zaid’ telah bertindak sangat berani. Orang-­orang yang disebut oleh ‘Sa’id bin Zaid’ sudah tepat. Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah pernah bergesekan dengan Ali, mengepung dan hendak membakar rumah ‘penghulu wanita mu’minin’ Fathimah, ‘meskipun Fathimah ada di dalam’. Utsman adalah dari marga Umayyah, marganya Mu’awiyah. Thalhah dan Zubair memerangi Ali dalam perang Jamal. Ali menyebut mereka sebagai kelompok Nakitsun, yaitu kelompok yang membatalkan baiat, karena mereka berdua merupakan orang-­orang pertama yang membaiat Ali, tetapi kemudian berbalik memeranginya. Sa’d bin Abi Waqqash tidak mau membaiat Ali setelah Utsman meninggal dunia. Abdurrahman bin ‘Auf ­meskipun kemudian menyesal­ pernah mengancam akan membunuh Ali dengan pedang, bila Ali tidak membaiat Utsman dalam Syura yang dibentuk oleh Umar. Dengan cerdiknya, ‘Sa’id’ memasukkan nama Ali untuk mencegah para penguasa mengutuk Ali di mimbar-­mimbar seluruh desa dan kota dan secara tidak langsung berusaha menyelamatkan kaum Syi’ah agar tidak dibantai seperti Hujur. Dan untuk menyelamatkan dirinya, ‘ia’ memasukkan namanya pula. Hadis ini, ditinjau dari segi sejarah, tidak dapat ditafsirkan lain dari itu. Hadis yang merupakan ‘pemberontakan’ terhadap penguasa yang zalim seperti ini, tidak dapat dikatakan salah, tetapi tidak juga dapat dikatakan benar. Riwayat di atas kemungkinan besar dibuat orang dengan mengatas namakan Sai’d bin Zaid.

Imam Malik, misalnya, meriwayatkan: Rasul Allah saw bersabda kepada para Syuhada’ Perang Uhud: ‘Aku menjadi saksi mereka (bahwa mereka telah mengorbankan nyawa mereka) di jalan Allah’. Dan berkatalah Abu Bakar ash­Shiddiq: ‘Wahai Rasul Allah, bukankah kami saudara­ saudara mereka? Kami memeluk Islam seperti mereka, dan kami berjihad seperti mereka berjihad!’. Dan Rasul Allah menjawab: ‘Ya, tetapi aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan sesudahku’. Dan menangislah Abu Bakar sambil berkata: ‘Apakah kami akan masih hidup sesudahmu?
Perawi ‘sepuluh orang masuk surga’ tidak menceritakan kepada kita dalam hubungan apa Rasul Allah saw menyampaikan hadis ini, dan siapa saja yang ikut mendengarkan

.
Dan mengapa Sa’id, misalnya, tidak berdiri di depan massa yang sedang mengepung rumah Utsman yang berakhir dengan pembunuhan khalifah ketiga itu dan mengatakan kepada mereka hadis yang penting ini?

.
Mengapa Sa’id bin Zaid, misalnya, tidak menasihati Abdullah bin Umar agar membaiat Ali tatkala terjadi pembaiatan terhadap Ali sesudah Utsman terbunuh, karena bagaimanapun juga Ali termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasul Allah? Malah membaiat Mu’awiyah, Yazid dan ‘Abdul Malik serta Hajjaj bin Yusuf?

.
Mengapa tidak menasihati ummu’l ­mu’minin Aisyah dan menyampaikan hadis itu agar ia tidak memerangi Ali dan agar menetap di rumahnya sebagaimana diperintahkan Al­Qur’an?

.
Mengapa pula Thalhah dan Zubair dimasukkan ke dalam sepuluh masuk surga dan bukan, misalnya, Abu Dzarr al­Ghifari dan Hamzah paman Rasul?
Mengapa pula Saad bin Abi Waqqash dimasukkan ke dalam Sepuluh Masuk Surga dan bukan misalnya Miqdad atau Abu Ayyub at­ Anshari?
Begitu pula Abu Ubaidah bin al­Jarrah, seorang penggali kubur di Madinah dimasukkan pula ke dalam Sepuluh Masuk Surga dan bukan, misalnya Salman al-­Farisi?

.
Meskipun menyesal di kemudian hari Sa’d bin Abi Waqqash tidak mau membaiat Imam Ali
sedang Rasul mengatakan bahwa ‘barangsiapa tidak mengenal imam pada zamannya, ia mati dalam keadaan jahiliah’. Dan hadis ini diakui sebagai hadis shahih di semua mazhab?

.
Apakah surga ini hanya diperuntukkan bagi para khalifah dan mereka. yang ikut dalam pergolakan kekuasaan dan bukan orang-­orang seperti ‘Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Dzarr al­ Ghifari atau Salman al-­Farisi?

1.
Tirmidzi, dalam Jami’­nya, hlm. 13, 183, 186, dan lain­lain. Hadis ini melalui ‘Abdurrahman al­Akhnas, yang didengamya sendiri di masjid Kufah. Jalur lain melalui ‘Abdurrahman bin Hamid yang didengarnya dari ayahnya; ayahnya mendengar dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Hadis yang disebut ini dianggap batil, karena ayah ‘Abdurrahman bin Hamid, yang bernama az­Zuhri, adalah seorang tabi’i (generasi kedua), bukan Sahabat. Ia lahir 32 H., 653 M. dan meninggal 105 H, 723 M. dalam usia 73 tahun, sedang ‘Abdurrahman bin ‘Auf meninggal 31, 652 M.atau 32 H., 653 M. Dengan kata lain, Zuhri lahir pada saat ‘Abdurrahman bin ‘Auf meninggal atau setahun sesudahnya. Dengan demikian maka satu-­satunya jalur adalah yang melalui Said bin Zaid.

Mewaspadai Manuver Politik Kaum Syi’ah Indonesia ?

Selasa, 13 Desember 2011 14:11 Redaksi
E-mail Cetak PDF

Oleh: Ustad Husain Ardilla*

tepatnya 6 Desember 2011, ada sebuah moment besar yang terjadi khususnya bagi kalangan kaum Syi’ah sedunia, yaitu peringatan hari raya 10 Muharram atau yang biasa dikenal Hari Asyura.

Menurut kepercayaan kalangan syiah Hari Asyura adalah hari untuk mengenang terbunuhnya Hussain bin Ali RA di Padang Karbala.

waspadai Manuver Politik Kaum wahabi   karena Indonesia menganut kebebasan beragama sehingga syiah masih dapat beraktivitas secara bebas bahkan diliput oleh media massa nasional baik cetak maupun elektronik

Suatu strategi agar dapat diterima oleh khalayak umat islam di Indonesia. Jika sebelumnya pada bulan April 2011 lalu mereka berusaha untuk membuat Forum MUHSIN (Majelis Ukhuwah Sunnah-Syi’ah Indonesia) yang diprakarsai oleh Dewan Mesjid Indonesia  dengan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), sunnah dan Syi’ah di Indonesia bisa bersatu.

Upaya pendekatan antara Syiah dan Suni sudah sering kali diadakan. Namun masih saja sebagian golongan Sunni yang masih menganggap Syiah sebagai umat yang lain. Sebenarnya upaya pendekatan tidak perlu dilakukan jika semua golongan mau belajar dan memahami sejarah Islam dari ribuan riwayat sahih yang beredar. Jika saja sebagian Sunni tersebut mau mempelajari dan memahami sejarah tersebut, mereka pasti paham dan mengenal baik akan keberadaan golongan Syiah sejak Nabi saw masih hidup, bukan setelah beliau wafat. Coba anda cari di Jagad Internet yang luas ini tentang jawaban persoalan di bawah ini:

Abu Bakr dipandang sebagai sahabat terdekat Nabi saw oleh mayoritas Sunni, Lalu mengapa pada waktu “hari persaudaraan” saat pertama kali datang di Madinah, Nabi saw lebih memilih Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya dengan mengatakan “Kamu adalah saudaraku di dunia ini dan di akhirat nanti”. Atas dasar apa golongan Sunni menganggap Abu Bakr sahabat terdekat Nabi saw.

Semua kaum muslim sepakat bahwa ajaran Islam mencakup dan menormai dalam segala aspek kehidupan, dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang amat besar. Kaum Sunni mengatakan masalah Imamah tidak dijelaskan oleh Qur’an dan sunnah, jadi sahabat berijtihad dalam masalah imamah. Jika benar Nabi saw wafat tanpa memberikan petunjuk apapun tentang Imamah pada umatnya, lalu mengapa Abu Bakr menyebutkan hadits “al-aimmah min al-Quraish” Para imam berasal dari kaum Quraish di Saqifah Bani Saidah. Apa Abu Bakr memalsukan riwayat Nabi saw? dan mengapa Abu Bakr memilih Umar sebagai penggantinya, dengan menyalahi sunnah Nabi saw yang tidak menjelaskan apapun tentang imamah.

Dalam hadis-hadis sahih (Bukhari, Muslim, dll) Nabi saw menyatakan bahwa ”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.” atau “Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya Sa’ah (Hari Kebangkitan), berkat peranan Dua Belas Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy”. Bandingkan susunan 12 imam yang disusun golongan sunni dan Syiah?

Kuat mana derajat kesahihan antara riwayat yang menyebutkan wasiat Nabi saw (biasa disebut hadits al-Thaqalain) untuk berpegangan pada al-Qur’an dan Sunnah dengan hadis yang memerintah kita semua berpegangan pada al-Qur’an dan Itrahnya (keturunannya)?

Tuhan telah mengutus 124.000 utusan ke dunia ini, apa ada bukti bahwa semua peninggalan mereka akan menjadi sedekah bagi para pengikutnya? Jika Sunni menganggap demikian mengapa para Umm al-Mukminin tidak memberikan seluruh kepunyaan Rasulullah ke Pemerintahan Islam? Setelah wafatnya Rasulullah saw, Sayyidah Fatimah bertengkar dengan Abu Bakr mengenai Fadak, yang seharusnya menjadi miliknya dari warisan Nabi saw, Fatimah marah dan tidak akan berbicara dengan Abu Bakr sampai akhir hayatnya karena Abu Bakr tidak memberikan Fadak kepadanya. Kenapa Abu Bakr tidak memberikan tanah Fadak tersebut sedangkan Umar bin Abd Aziz saat menjabat sebagai khalifah mengembalikan kembali tanah Fadak ke keturunan Sayyidah Fatimah as?

Jika anda melihat denah pemakaman Baqi’, anda akan mengetahui bahwa kuburan Uthman bin Affan terpencil dari makam sahabat lainnya. Bagaimana proses pemakaman khalifah ketiga Uthman bin Affan di luar Baqi’ (dulu)? Siapa saja sahabat besar yang bermusuhan dengan Uthman? dan siapa pemicu sebenarnya yang akhirnya membunuh Khalifah Uthman bin Affan? Aisyah bahkan menyebut Uthman sebagai Natsal, seseorang kafir yang harus dibunuh. Jika Sunni mengganggap Aisyah seorang yang benar berarti menerima julukan yang diberikan pada Uthman, dan jika Aisyah berkata dusta mengapa Sunni menganggap dia benar?

Tuhan telah berfirman bahwa barang siapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, hukumannya adalah laknat Tuhan dan balasan Neraka selamanya. Sejarah mencatat selama perang Shiffin dan Jamal, 70.800 kaum muslim telah terbunuh. Dimana posisi pembunuh saat itu? apakah ayat tersebut berlaku bagi mereka? Jika kaum muslim melawan khalifah yang sah dan menyebabkan kekacauan dan terbunuhnya ribuan nyawa kaum muslim, dimana posisi mereka saat Hari Pembalasan? Neraka karena Pembunuh atau Surga karena “Mujtahid Teroris”? … Yang pasti salah satunya salah, bukan benar semuanya. Jika anda jawab benar semuanya, APA KATA DUNIA!!!

Apa sebenarnya arti dari kata “Mu’awiyah”, dan siapa sebenarnya ayah dari Muawiyah dan cerita sebelum kelahirannya, dan menurut al-Nasai, hanya ada satu hadis sahih yang menceritakan keutamaan Muawiyah, hadis apakah itu? Baca juga kisah menyedihkan wafatnya al-Nasa’i karena hadith tersebut.

Biasanya Golongan Sunni menuduh bahwa Syiahlah yang membantai Imam Husayn as beserta para pengikutnya, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mayoritas Sunni yang jumlahnya lebih banyak dari Syiah tidak menolong Imam Husain as? Dimana posisi Sunni ketika terjadi pembantaian cucu Nabi saw, Imam Husayn as?

Ingat, kebenaran itu harus dicari dan dipertahankan, bukan sesuatu yang dijejalkan langsung ke akal kita.

* Pengamat Sekte Syiah di Indonesia

Ternyata Justru Mazhab Sunni Yang SESAT MENYESATKAN, bukan syi’ah !! Ini secuil buktinya

Ashra Mubashra- Kebenarannya


 

 

Mungkin banyak dari saudara-saudara Ahlusunnah yang sering mendengar akan adanya hadis yang menyatakan jaminan Rasulullah terhadap 10 sahabat beliau untuk masuk syurga. Anehnya, hadis yang terkenal itu selain tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, juga tidak pernah dijadikan hujah khalifah pertama dan kedua dalam pemilihan mereka sebagai khalifah. Padahal jika hadis Rasul itu memang benar adanya maka itu juga dapat dijadikan penguat akan sahnya kekhalifahan mereka. Sebelum kita mengkaji dengan lebih dalam tentang hadis ini, adalah lebih elok jika kita mengkaji hujah saudara Sunni kita tentang jaminan syurga oleh Allah kepada para sahabat.

Saudara Sunni membaca ayat Quran berikut bagi menyokong hujah mereka atas adanya khabar gembira dari Allah ke atas para sahabat.

“Tiadalah sama di antara kamu orang yang menafkahkan(hartanya) dan berperang sebelum penaklukan kota(Makkah dengan orang yang lainnya. Mereka itu lebih besar darjatnya dari orang yang menafkahkan hartanya dan berperang setelah penaklukan. Tetapi masing-masingnya itu Allah telah menjanjikan pahala yang baik baginya. Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.” Al Quran(57:10)

Mereka mengatakan melalui ayat ini, Allah telah, secara umumnya, menjanjikan syurga kepada para sahabat. Walaubagaimanapun, terdapat satu lagi kumpulan para sahabat yang lebih istimewa, kerana diberikan berita gembira ini dari mulut Rasulullah saaw sendiri. Mereka inilah yang digelar Ashara Mubashara bil Jannah. 10 yang dijamin syurga.

(http://www.lastprophet.info/en/the-ashara-mubashara-the-ten-companions-promised-/companions-given-the-good-tidings-of-paradise-ashara-mubashara.html)

Walaubagaimanapun, membuat kesimpulan dengan hanya mendasarkan kepada ayat yang umum, jelas hanya boleh dilakukan oleh orang yang tidak pernah membaca atau merenungi ayat-ayat quran yang ditujukan oleh Allah kepada para sahabat dalam artikel saya sebelum ini. Contohnya : “Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul, seperti Rasul-rasul sebelumnya. Jika Rasul itu mati atau terbunuh, adakah kamu akan kembali menjadi kafir? …..Tetapi Allah akan memberi ganjaran kepada mereka yang berterima kasih.(3:144)

 

Ayat ini menyebut, Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur, yang juga membawa maksud orang-orang yang mematuhi segala suruhan Rasulullah saaw, taat dan dedikasi pada ajaran dan suruhan baginda. Mereka yang menafkahkan harta serta berperang di jalan Allah sudah semestinya adalah dari kumpulan orang-orang yang berterima kasih ini. Oleh itu, selama mana seseorang sahabat itu hidup dalam keadaan ini dan mati dalam keadaan yang serupa, maka sudah pasti, berita gembira Allah untuknya. Walaubagaimanapun, jika dia kemudiannya memusnahkan segala kebaikan yang pernah di buatnya, maka, perkara yang serupa tidak boleh dikatakan padanya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara mu lebih dari suara nabi..kerana takut akan menghapuskan amalan sedang kamu tiada sedar”Al Quran(49:2)

 

Barangsiapa yang kebaikannya masih berada di dalam diri mereka, maka dia akan selamat. Allah swt akan menghakimi dan mengadili semua mengikut amal yang baik atau buruk yang telah dilakukan semasa di dunia, oleh itu dengan mengatakan semua para sahabat dijanjikan syurga telah melakukan satu ketidakadilan pada Al Quran sendiri.

Saudara dari Ahlul Sunnah mengatakan bahawa Allah telah menjanjikan syurga kepada sahabat-sahabat ini, dan mengkritik sahabat ini adalah satu dosa. Manakala Syiah pula mengatakan semua orang, termasuk para sahabat akan dihakimi dan diadili oleh Allah swt di hari pembalasan dan mendapat balasan yang setimpal dengan amal perbuatan mereka di dunia, serta Rasulullah tidak menjanjikan syurga kepada mana-mana sahabat. Mana-mana mereka yang mengingkari suruhan Allah, Rasul dan Ahlul Bait baginda, haruslah kita mengasingkan diri dari mereka.

Mari kita kembali semula kepada kes kita iaitu Ashra Mubashra, bukan sahaja hadis yang sangat-sangat mencurigakan ini tidak langsung diriwayatkan dari 2 buku utama Sunni iaitu Bukhari dan Muslim, malah ia diriwayatkan di dalam Tarmizi, Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan beberapa percanggahan.

  1. Said bin Zaid berkata: Aku bersaksi, aku mendengar Rasulullah bersabda: 10 orang berada di dalam syurga: Nabi di dalam syurga, Abu Bakr di dalam syurga, Thalhah di dalam syurga, Umar berada di dalam syurga, Uthman berada di dalam syurga, Saad bin Malik berada di dalam syurga, dan Abdul Rahman berada di dalam syurga. Kalau kamu mahu aku akan khabarkan yang ke sepuluh? Mereka menjawab: “Siapakah dia?”. Baginda menjawab: “Said bin Zaid.”

Sunan Abu Dawud

  1. Abdul Rahman Bin Auf berkata: Nabi bersabda: Abu Bakr di dalam syurga, Umar di dalam syurga, Uthman di dalam syurga, Ali di dalam syurga, Thalhah di dalam syurga, Zubair di dalam syurga, Abdul Rahman di dalam syurga, Saad bin Abi Waqas di dalam syurga, Said bin Zaid di dalam syurga dan Abu Ubaidah di dalam syurga. Al Tarmizi, Hadis 3747
  1. Said Bin Zaid berkata, 10 orang berada di dalam syurga, Abu Bakr, Umar, Uthman, Ali, Al Zubair, Thalhah, Abu Ubaidah, AbdulRahman dan Saad Abi Waqas. Mereka bertanya, siapa yang ke sepuluh? Dia menjawab: Kamu bersumpah atas nama Allah, Abu Al Anwar berada di dalam syurga.” Tarmizi memberi komentar bahawa Abu Al Anwar ialah Said bin Zaid.

Dari pada hadis-hadis di atas dapatlah disimpulkan bahawa para sahabat yang dijanjikan syurga oleh Rasulullah(sawa) itu ialah:

  1. Nabi Muhammad (SAW)
  2. Abu Bakr
  3. Umar
  4. Uthman
  5. Ali ibn Abu Talib(as)
  6. Talha
  7. Zubair bin al-Awwam
  8. Saad bin Abi Waqas
  9. Saeed bin Zaid
  10. Abdul Rahman ibn Awf
  11. Saad bin Malik
  12. Abu `Ubaida bin al-Jarrah

Selain dari apa yang saya kata bahawa hadis ini tidak di jumpai di dalam buku hadis utama Sunni, iaitu Bukhari dan Muslim, hadis-hadis ini juga mencabar para pemilik akal yang berfikir:

  • Mereka bersusah payah untuk menghadkan bilangan hanya kepada sepuluh orang, kadang kala mereka meletakkan Saad ibn Abi Waqas, dan kadangkala mereka meletakkan Saad ibn Malik.
  • Versi hadis yang pertama tidak meletakkan Ali dan juga Abu Ubaidah, tidak lupa juga pada Rasulullah yang tidak tersenarai di dalamnya.
  • Hadis yang pertama dan ketiga jelas ialah hadis yang serupa, dari orang yang sama, tetapi seorang disingkirkan dan seorang lagi di tambah dan hanya 7 orang sahaja yang diriwayatkan di dalam Abu Daud.
  • Menyenaraikan Nabi di dalam kumpulan ini membuktikan pemalsuan hadis ini, adakah logik apabila sahabat-sahabat baginda masuk syurga tetapi dirinya ditinggalkan? Baginda tidak perlu menjelaskan hal ini kerana ia sudah termaktub.
  • Kedua-dua perawi ini menceritakan hadis tentang diri mereka sendiri.Keduanya menyenaraikan diri mereka sebagai antara yang di janjikan syurga. Mengikut Islam, apabila seseorang itu memuji orang lain dengan memuji diri sendiri, maka ia tidak akan di endahkan. Juga apabila seseorang itumemberi kesaksian untuk orang lain walhal dalam masa yang sama, mendapat faedah darinya, kesaksiannya akan ditolak.
  • Sejarah menunjukkan kebanyakan dari 10 orang yang dijamin syurga ini, tidak layak mendapat ganjaran sebesar ini, sementara dalam masa yang sama, menyingkirkan ramai lagi para sahabat yang alim, dan tetap pada pendirian mereka sehingga mereka meninggal dunia. Bukhari sendiri langsung tidak meletakkan ruangan khas untuk kemuliaan Abdul Rahman Ibn Awf dan Saad ibn Zaid, sedangkan dia meletakkan kemuliaan untuk Muawiyah, dan 1 hadis untuk Khalid ibn Al Walid.
  • Secara faktanya, Saad bin Malik langsung tidak di kategorikan sebagai 10 sahabat yang paling di hormati Sunni.

InsyaAllah, dalam post saya yang seterusnya, akan saya isukan tajuk tentang hadis, agar kita dapat menilai hadis mana yang patut kita terima dan hadis mana yang kita patut tolak. Bagaimanapun secara ringkasnya, hadis yang bercanggah dengan Quran, sejarah dan logik, adalah hadis yang selayakknya di di tolak mentah-mentah.

Sebelum saya meneruskan, saya ingin bertanya kepada saudara-saudara Sunni saya tentang apa yang mereka dapat fahami dari hadis ini.

  • Orang-orang ini akan masuk syurga setelah dihisab amal mereka, atau secara ringkas, segala amal mereka sehingga mereka mati mendapat keredhaan Illahi.
  • Orang-orang ini akan masuk syurga tanpa dihisab segala amal mereka, atau secara ringkasnya, tidak kira apa amalan dan pengkhiatan yang telah mereka lakukan, Allah swt akan membenarkan mereka ke dalam syurga.
  • Orang-orang ini akan masuk ke syurga setelah menjalani hukuman atas dosa mereka di dunia(jika ada).

Masuk syurga tanpa hisab

Jikalau kamu mempercayai bahawa mereka akan masuk ke syurga tanpa hisab, ini bermaknakamu mengecualikan mereka dari keadilan Allah, dan memberikan sifat maksum kepada mereka.

“Kami letakkan neraca yang adil pada hari kiamat, maka tiadalah teraniaya seseorang sedikit pun. Jika usahanya seberat biji sawi, niscaya kami hadirkan juga. Cukuplah Kami memperhitungkannya.” Al Quran(21:47)

“Allah menciptkan langit dan bumi dengan kebenaran dan supaya dibalas tiap-tiap orang menurut usahanya masing-masing, sedang mereka itu tidak teraniaya.” Al Quran(45:22)

Masuk syurga selepas hisab

Jikalau kamu mempercayai mereka semua akan masuk ke dalam syurga selepas hisab, maka kamu harus mengandaikan bahawa di dalam amalan mereka, tiada langsung amalan buruk, kerana Rasulullah telah menjanjikan syurga kepada mereka. Sekali lagi kamu memberi sifat maksum kepada mereka. Beban kini beralih kepada kamu untuk membuktikan kepada kami bahawa orang-orang ini memang maksum dan tidak melakukan sebarang dosa kepada Allah, Rasulullah(sawa) dan Ahlul Baitnya(as).

Masuk syurga setelah balasan

Jika kamu mempercayai bahawa mereka akan masuk syurga setelah di hukum berdasarkan amalan mereka, maka hadis ini menjadi sia-sia, kerana semua orang lain juga akan di adili dengan cara serupa.

Terdapat beberapa perkara yang menyebabkan hadis-hadis ini diragui. Kami mempercayai bahawa hadis ini direka dan dipalsukan bagi mengangkat kedudukan para musuh Imam Ali as, dan juga keluarga Rasulullah saaw.

Seseorang yang berfikiran waras dan rasional akan mendapati,- tanpa syarat-, adalah sangat tidak logik untuk seseorang yang tidak maksum, dan terdedah kepada kebarangkalian untuk membuat dosa dijanjikan syurga, dan mendapat immuniti dari api neraka. Seseorang yang terdedah kepada dosa adalah sangat tidak boleh di jangka. Jika seseorang yang tidak maksum dijanjikan syurga, maka dia akan mempunyai satu sifat kemahuan untuk melakukan dosa kerana dia menganggap semua dosa beliau tidak akan dihisab di hadapan Allah swt. Jadi adalah tidak logik bagi Rasulullah untuk menjanjikan perkara sedemikian kepada para sahabatnya.

Jika hadis ini benar, mengapa Uthman tidak menggunakan hujah ini keatas orang-orang yang menganggap halal untuk membunuh beliau? Tidak juga mana-mana para sahabat memprotes tindakan membunuh seseorang yang telah dijanjikan syurga walau sebanyak mana kejahatan dan ketidakadilan yang telah beliau lakukan. Malah, adalah haram bagi mereka untuk mendiamkan diri mereka dalam hal ini. Jelaslah bahawa hadis ini telah dipalsukan pada kemudian hari.

Selain itu, apakah yang membuatkan kamu, wahai saudaraku dari Ahlul Sunnah, yakin bahawa 10 orang ini dijanjikan syurga? Thalhah dan Zubair menentang Imam Ali dalam perang Jamal yang mengakibatkan kematian ribuan Muslim, dan ketiga mereka akan berada di dalam syurga?Sejarah telah menunjukkan bahawa sesiapa sahaja yang menentang Imam Ali semuanya berada di jalan yang salah, tidak kira sama kaum musyrikin Mekah, Yahudi Khaibar, isteri Rasulullah atau Muawiyah. Malah Rasulullah sendiri telah bersabda secara berulang-ulang, bahawa sesiapa yang menentang Imam Ali adalah munafik, atau sesiapa yang menentang Ali bererti menentang Rasulullah, yang juga bererti menentang Allah swt!!

Adakah kamu mempercayai bahawa pembunuh dan yang dibunuh keduanya akan berada di dalam syurga, walaupun mereka semasa hidupnya, melancarkan perang antara satu sama lain, yang turut mengorbankan diri mereka bersama ribuan lagi Muslim lain?

Jika hadis ini benar, maka ia adalah wahyu untuk Rasulullah, kerana setiap perkataan yang keluar dari mulut Rasulullah adalah wahyu(53:3-4), dan sekaligus bermakna bahawa Allah swt telah mengetahui apa yang bakal dilakukan oleh mereka, dan redha dengan tindakan mereka. Tetapi akal kami yang sentiasa mendasarkan kepada pemikiran logika, gagal untuk memahami bagaimana Allah swt redha dengan tindakan mereka yang memanggil Rasulullah nyanyuk, yang menafikan hak anak baginda, membuat bid’ah di dalam agama dll.

Namun, ternyata hadis itu memiliki ‘tanda tanya besar’ yang mengakibatkan kita meragukan kebenarannya. Hadis itu memiliki dua sandaran (sanad) yang kedua-duanya tidak dapat dipercaya.

Sanad pertama hadis itu kembali kepada peribadi yang bernama Humaid bin Abdurrahman bin Auf, di mana kononnya Umaid menukilkan hadis tersebut dari ayahnya sendiri, Abdurrahman. Padahal sewaktu ayahnya meninggal, Humaid masih berusia kanak-kanak, 10 tahun. (Tahdzib at-Tahdzib 3/40)

Sanad kedua kembali kepada peribadi Abdullah bin Dzalim dimana keperibadiannya sangat ditentang oleh para ulama ilmu hadis Ahlusunnah sendiri, seperti: Bukhari, Ibnu ‘Adi, Aqili dan selainnya. (Tahdzib at-Tahdzib 5/236, adz-Dzu’afaa’ al-Kabir 2/267, al-Kamil fi adz-Dzu’afaa’ 4/223)

Jika hadis itu tidak dapat di sahihkan maka masihkah kita akan menggembar-gemburkan keutamaan 10 sahabat itu sebagai “yang mendapat jaminan masuk syurrga” (‘asyrah mubassyariin bil jannah) oleh Allah melalui lisan suci Rasulullah? Pada zaman siapakah dan atas perintah siapakah hadis itu dibuat? Silahkan teliti kembali untuk membuka hakikat pemalsuan hadis atas nama Rasulullah itu…!

Sunni mengatakan di antara ciri-ciri ashra mubashra ialah:

  1. Menjadi antara muslim yang terawal
  2. Berjasa besar kepada Rasulullah dan perjuangan Islam
  3. Berhijrah
  4. Menyertai Perang Badar
  5. Baiyah pada Nabi di Hudaibiyah

Jika apa yang dikatakan adalah benar, maka bolehkah terangkan apakah sumbangan yang telah mereka lakukan? Jika mereka adalah orang-orang yang berhijrah, senarai nama mereka juga dapat dilihat di dalam senarai nama yang meninggalkan Rasulullah di medan perang.

Jika mereka menyertai perang Badar, mereka juga menyertai perang sesama diri mereka.

Jika mereka member perjanjian taat setia kepada Nabi, mereka juga meragui kenabian baginda, semasa mereka mengatakan beginda nyanyuk.

Jika terdapat banyak hadis tentang kemuliaan mereka, maka juga Allah swt mengutamakan mengenai kemuliaan Ahlul Bait, jadi bagaimana boleh kita mengatakan bahawa orang-orang yang menentang Ahlul Bait ini diberikan taraf yang serupa oleh Allah?

Allah swt tidak menjanjikan 10 orang ini syurga, Dia menjanjikan kepada semuanya seperti di dalam ayat ini:

“Sesiapa yang mengerjakan sesuatu perbuatan jahat maka ia tidak dibalas melainkan dengan kejahatan yang sebanding dengannya; dan sesiapa yang mengerjakan amal soleh – dari lelaki atau perempuan – sedang ia beriman, maka mereka itu akan masuk Syurga; mereka beroleh rezeki di dalam Syurga itu dengan tidak dihitung.(40:40)

Jikalau kita mengikuti syarat seperti di dalam ayat ini, Allah swt pasti mengabulkan janjinya

.
Salah satu yang menjadi topik perdebatan dan juga benih permusuhan antara saudara Sunni dan Syiah adalah masalah berkaitan para sahabat. Perkara ini diburukkan lagi apabila berlakunya salah faham dan fitnah yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu membantu memburukkan lagi keadaan.

Mereka menuduh Syiah membenci para sahabat, mencaci maki mereka serta mengatakan bahawa Syiah menjatuhkan hukum kafir kepada para sahabat. Tidak hairanlah perselisihan dan pergaduhan sangat mudah terjadi kerana di sebelah pihak, Sunni menganggap semua para sahabat adalah adil dan saksama serta soleh, tanpa sebarang pertimbangan atas kelakuan mereka. Gelaran sahabat diberikan tanpa kompromi kepada sesiapa sahaja dari mereka yang mendampingi Rasulullah sehingga lah kepada mereka yang pernah sekalipun melihat baginda. Manakala Syiah memilih sikap berhati-hati dalam mendefinasikan perkataan “sahabat” serta kepada siapa gelaran ini diberikan. Kami menilai sikap dan perbuatan para sahabat dengan Al-Quran dan Sunnah, untuk mengetahui kedudukan dan integriti sahabat di sisi Islam.

Jadi atas dasar kesatuan Ummah, maka perlu rasanya saya membuat beberapa siri artikel mengenai para sahabat, objektifnya untuk memberi penjelasan tentang pandangan Syiah tentang para sahabat secara umumnya, dan secara terperinci mengenai beberapa sahabat yang sangat-sangat menjadi kontroversi antara kedua puak.

Secara ringkasnya Syiah mengkategorikan para sahabat kepada 3 kumpulan dan kategori mengikut kelakuan dan sikap mereka yang dinilai berdasarkan undang-undang Islam dari Al Quran dan Al Hadis. Syiah juga menilai para sahabat berdasarkan fakta sejarah berkaitan kelakuan sahabat  sebelum Islam, semasa Rasulullah masih hidup dan selepas baginda wafat.

Kategori pertama

Kategori pertama para sahabat ialah para sahabat yang mempercayai Allah, Rasulnya dan telah memberi apa yang termampu untuk Islam. Kumpulam ini mempunyai kedudukan paling tinggi dalam Islam. Mereka sentiasa menyokong Nabi, bersamanya susah dan senang, mempercayai baginda, tidak pernah meragui baginda, sentiasa melaksanakan arahan nabi, tidak pernah mengengkari arahan nabi dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti baginda contohnya mengatakan Nabi bercakap karut, berhalusinasi dan sebagainya.

Kumpulan ini lah yang disebutkan di dalam Quran (48:29)

“Muhammad itu adalah Rasulullah. Orang-orang yang bersama dengannya(mukminin) sangat keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keredhaannya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, kerana bekas sujud. Itulah contoh mereka di dalam taurat. Dan contoh mereka dalam injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya, lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang yang menanamnya.  Begitu juga orang islam , pada mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat, supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal soleh diantara mereka itu.

Sahabat kategori ini ialah para sahabat yang tiada percanggahan antara kedua-dua pihak. Tidak kira Sunni dan Syiah,bersetuju dengan kemuliaan para sahabat kategori ini, oleh itu, sahabat kategori ini tidak akan dibincangkan di dalam siri artikel ini.

Perhatikan frasa yang telah di bold di atas, “di antara mereka itu”. Jelas sekali penggunaan frasa ini menunjukkan bahawa bukan semua para sahabat nabi tergolong dalam kategori ini seperti yang di war-warkan oleh saudara Ahlul Sunnah. Inilah yang kami cuba untuk nyatakan selama ini, bahawa di antara semua para sahbt nabi, hanya sebahagian sahaja yang mencapai standard yang telah di tetapkan di dalam ayat ini. Antaranya besikap keras terhadap orang kafir dan berkasih sayang antara mereka. Jadi para sahabat yng tidak bersikap keras terhadap orang kafir dan berlemah lembut sesama kaum muslimin tidak jatuh dalam kategori ini. Sekaligus membatalkan kenyataan sesetengah saudara Ahlul Sunnah bahawa ayat ini diturunkan untuk semua sahabat tanpa kecuali.

Contoh para sahabat yang jatuh dalam kategori ini ialah- Ammar Ibn Yassir, Miqdad, Malik Al Asytar, Abu Dzar Al Ghiffari dan Salman Al Farisi.

Kategori kedua

Kategori kedua ialah para sahabat yang memeluk Islam dan mengikuti Rasulullah samada kerana pilihan sendiri atau kerana ketakutan, dan mereka sentiasa menghargai dan berterima kasih kepada Rasulullah atas keislaman mereka. Bagaimanapun, mereka menyakiti Rasulullah di beberapa peristiwa, dan tidak selalunya mengikuti perintah baginda, malah kerap mencabar perintah baginda, sehingga Allah swt, melalui Quran, harus masuk campur dengan memberi amaran dan mengancam mereka. Allah membuka pekung mereka dalam banyak ayat-ayat Quran, Rasulullah juga banyak menegur mereka dalam banyak hadis. Syiah hanya menyebut kumpulan sahabat ini dengan menyebut perbuatan mereka tanpa sebarang kekaguman.

Para sahabat kategori kedua di terangkan oleh Al Quran dalam banyak ayat, walau bagaimanapun saya akan menulis artikel yang berasingan bagi tajuk ini agar tidak terlampau memanjangkan artikel. Berikut ialah beberapa potong ayat dari kitab suci Al Quran yang menyebut tentang mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu bila dikatkan padamu: Berperanglah kamu di jaln Allah, lalu kamu berlambat-lambat duduk di tanah? Adakah kamu lebih suka kepada kehidupan dunia lebih dari akhirat? Maka tidak adalah kesukaan hidup di dunia, di perbandingkan dengan akhirat melainkan sikit sekali. Jika kamu tiada mahu berperang, niscaya Allah akan menyiksamu dengan azab yang pedih dan dia akan menukarkan kamu dengan orang lain” (9:38-39)

Ayat di atas menceritakan mengenai ada sesetengah sahabat yang berasa malas untuk berjihad sehingga Allah swt mengancam mereka dengan azab seksa di akhirat. Ini bukanlah satu-satunya peristiwa mereka di tegur.

“Jika kamu berpaling, maka Allah akan menukar kamu dengan kaum yang lain dri mu.” (47:38)

Bolehkah anda terangkan siapakah yang dimaksudkan dengan kamu di dalam ayat di atas? Allah juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara mu lebih dari suara nabi..kerana takut akan menghapuskan amalan sedang kamu tiada sedar”(49:2)

Walaupun perintah Allah seperti diatas, kita dapati masih terdapat kes-kes dimana para sahabat menentang perintah nabi yang dapat kita lihat dalam sejarah seperti:

  1. Kes tawanan perang badar, apabila Rasulullah mengarahkan pembebasan mereka dengan dibayar fidyah.
  2. Perang Tabuk dimana ketika Rasulullah mengarahkan unta di sembelih untuk menyelamatkan nyawa mereka.
  3. Ketika Perjanjian Hudaibiyah, para sahabat ragu kepada kenabian
  4. Perang Hunain, di mana para sahabat menuduh Nabi tidak adil dalam pengagihan rampasan perang.
  5. Ketidakpuasan hati dalam isu perlantikan Usamah Ibnu Zaid sebagai komander tentera sejurus sebelum kewafatan baginda.
  6. Peristiwa Hari Khamis di mana para sahabat menghalang Rasulullah menulis wasiat terakhir baginda dan menuduh baginda meracau.(Na uzubillah)

Dan banyak lagi laporan-laporan dari buku-buku hadis tentang kelakuan para sahabat, yang akan saya pautkan di dalam artikel-artikel saya yang seterusnya. Contoh-contoh para sahabat yang jatuh dalam kategori ini tidak dapat  saya sertakan kerana ia bergantung kepada penilaian individu berdasarkan kelakuan setiap sahabat itu. InsyaAllah, saya juga akan menulis lebih banyak artikel dalam menganalisis keperibadian sahabat Rasulullah secara spesifik, semoga para pembaca boleh membuat pemerhatian sendiri.

Kategori ketiga

Kategori ketiga ialah para munafik yang tidak pernah mempercayai Allah dan Rasulnya, juga golongan yang menjadi murtad selepas nabi. Walaupun begitu kumpulan ini berjaya memasuki dan berada bersama kelompok kaum muslimin, dan melakukan kerosakan dari dalam. Antaranya ialah Abu Sufyan, Muawiyah dan Yazid.

Yazid berkata: “Bani Hashim bermain dengan kerajaan, tetapi tiada wahyu yang di turunkan, malah tiada langsung risalah yang benar.”- Tarikh Al Tabari dan Tadhkirat al Khawas

Abu Sufyan pernah berkata apabila Usman mengambil alih jabatan khalifah:

“Wahai anak-anak Umaiyah! Oleh kerana kerajaan ini telah jatuh ke tangan kita, maka bermainlah dengannya seperti kanak-kanak bermain bola, dan berilah ia di antara satu sama lain di dalam puak kita. Kita tidak dapat memastikan wujudnya syurga atau neraka, tetapi kerajaan ini ialah realiti.- Al Isti’ab, Ibn Abd Al Barr dan Sharh Ibn Abil Hadid.

Muawiyah berkata:

“Aku tidak memerangi kamu agar kamu bersolat, berpuasa atau membayar zakat, tetapi untuk menjadi raja kamu dan menguasai kamu.”- Tadhkirat al Khawas

Ini adalah sebahagian dari contoh yang saya berikan tentang bagaimana ketiga-tiga orang ini meragui beberapa doktrin paling penting dalam Islam. Seperti yang saya sebutkan sebelum ini, saya akan membincangkan dengan lebih detail berkenaan individu-individu ini dalam artikel saya yang lain.

Di dalam Quran, Allah swt banyak memberi amaran dan menceritakan tentang golongan ketiga ini malah memperuntukkan satu surah khas untuk mereka, iaitu surah Al Munafiqun. Berikut adalah contoh ayat mengenai kumpulan ini.

“Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul, seperti Rasul-rasul sebelumnya. Jika Rasul itu mati atau terbunuh, adakah kamu akan kembali menjadi kafir? …..Tetapi Allah akan memberi ganjaran kepada mereka yang berterima kasih.(3:144)

Ayat ini diturunkan ketika perang Uhud, apabila para sahabat melarikan diri apabila mendengar berita kematian Rasulullah saaw. Hanya beberapa orang sahaja yang masih setia bersama nabi ketika itu kebanyakannya golongan Ansar di antaranya Imam Ali, Abu Bakr, Abd Rahman Ibn Auf,Abu Dujana, Saad ibn Abi Waqas, Assim Ibn Thabit, Saad Ibn Muadh. Bagaimanapun dari sumber-sumber hadis lain antaranya Al-Mustadrak karangan Imam Al Hakim, kita dapat mengetahui bahawa hanya Imam Ali sahaja yang bersama Rasul selama pertempuran berlaku,manakala para sahabat lain yang sama baginda adalah antara yang pertama sampai semula kepada baginda selepas mereka berundur.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, nanti Allah akan mendatangkan satu kaum, Allah mengasihi mereka, dan mereka mengasihi Allah, mereka berlemah lembut kepada orang-orang beriman dank eras terhadap orang kafir, mereka berjuang di jalan Allah, tidak taku orang yang mencerca. Demikian itu kurnia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Allah luas kurnianya lagi maha mengetahui. (5:54)

Ayat ini menunjukkan adanya kemungkinan para sahabat akan murtad dari agama Islam. Panggilan “Hai orang-orang beriman!”,jelas sekali merujuk kepada kaum muslimin, yaitu para sahabat di zaman Nabi. Jelas sekali gelaran sahabat, sama sekali tidak menjamin seseorang itu dari:

  • Imuniti dari dosa
  • Tahap keimanan yang sama sehingga mati.
  • Akan sentiasa berada dalam Islam sehingga mati.
  • Imuniti dari kemahuan kepada duniawi dan tuntutan hawa nafsu.

Kami Syiah, apa yang kami mahu ungkapkan kepada saudara Sunni hanyalah bahawa, para sahabat juga manusia biasa, terdedah kepada:

  • Dosa
  • Kesilapan
  • Godaan syaitan
  • Godaan nafsu.

Yang menjadikan seorang sahabat itu sahabat ialah apabila dia setia kepada perintah Rasul selama baginda masih hidup dan setelah baginda wafat,  selama nyawa ditanggung badan. Itulah erti sahabat kepada Syiah.

Begitu juga halnya dalam kehidupan harian kita, kita hanya boleh menganggap seseorang itu sebagai sahabat apabila dia bersama kita dalam susah dan senang, setia, sentiasa menjaga hubungannya dengan kita, rahsia kita. Tetapi adakah definasi itu masih boleh dipakai jika tiba-tiba pada suatu hari, sahabat kita berubah, mengaibkan kita, tikam belakang, mengkhianati kita, membocorkan rahsia kita dan meninggalkan kita keseorangan bila kita memerlukan mereka?

Mari kita perhatikan apa kata Rasulullah saaw dalam hal ini secara ringkas melalui hadis-hadis dalam Sahih Al Bukhari.

Rasulullah bersabda:  “Pada hari kebangkitan kamu akan di sambar dari sebelah kiri, dan aku akan berkata: “Kemana mereka di bawa pergi?” Kemudian akan dijawab: “Ke neraka, demi tuhan”. Aku berkata: “Tuhanku! Mereka adalah sahabatku.” Allah menjawab: Kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan selepas kamu. Dari waktu kamu pergi meninggalkan mereka, mereka tidak berhenti-henti berubah. Aku menjawab: “Pergilah dengan dia, pergilah dengan dia, celakalah barangsiapa yang mengubah perkara-perkara selepas ku. Dan aku tidak melihat satu pun dari mereka terselamat melainkan dia menjadi seolah-olah kambing yang ditinggalkan.(minoriti)

Diriwayatkan dari Abdullah: “Aku adalah pendahulu mu di telaga kausar, dan sesetengah dari kamu akan dibawa kehadapanku hingga aku dapat melihat mereka, dan mereka akan di bawa pergi dari ku dan aku akan berkata: “Ya Tuhan mereka adalah sahabatku!” Kemudian akan di balas: “Kamu tidak mengetahui apa yang mereka telah lakukan selepas pemergianmu.”

Lihat bagaimana dalam hadis ini Nabi saaw menceritakan apa yang bakal terjadi kepada para sahabatnya,  yang mana berubah dan mengubah selepas wafatnya Rahmatal Lil Alamin. Malangnya mereka tidak akan mendapat keselamatan di Akhirat.

Nabi berkata kepada puak Ansar: “Kamu akan mendapati selepasku sifat kepentingan diri yang tinggi. Oleh itu bersabarlah sehingga kamu bertemu Allah dan Rasulnya di Kautsar.” Anas menambah, “Tetapi kami tidak bersabar.”

Lihat sahaja apa yang dihadapi kaum Ansar selepas wafat nabi dan kaum muhajirun menyingkirkan mereka.

Diriwayatkan dari Al Musayyab: Aku bertemu al Bara Ibnu ‘Azib dan berkata padanya: “Semoga kamu hidup dalam kemakmuran. Kamu menikmati persabatan dengan nabi, dan memberi Nabi perjanjian taat setia di bawah pokok.” Selepas itu Al Bara berkata: “Wahai anak saudaraku, kamu tidak mengetahui apa yang telah kami lakukan selepas baginda.” Fikirkan!!!

Begitulah secara ringkasnya, pandangan Syiah tentang para sahabat. Kami mempunyai definasi yang berbeza mengenai perkataan ‘sahabat’.  Kami tidak mengkaji kelakuan dan sejarah para sahabat untuk memalukan mereka atau mengaibkan mereka. Kami mengkaji adalah demi untuk mencari kebenaran, memastikan pihak yang benar dan pihak yang salah.

Kami mengkaji adalah kerana telah menjadi suruhan Allah swt agar kita mengkaji sejarah, supaya kita dapat mengmbil kebaikan darinya, serta mengelakkan keburukan sebagaimana Allah menyarankan kita mengambil iktibar dari peristiwa sejarah Firaun, Namrud, dan kaum-kaum lain yang diceritakan di dalam Quran, kerana sejarah mereka akan berulang kepada kaum Muslimin, dan telah terjadi di zaman para sahabat, sebagaimana sabda Rasulullah saaw: Kamu akan mengikuti jalan umat terdahulu sebelum kamu, sedikit demi sedikit, walaupun jika mereka memasuki lubang biawak sekalipun, pasti kamu akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, adakah kamu maksudkan Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah saaw menjawab, “Siapa lagi?”

Kami juga mengkaji para sahabat  atas dasar kecintaan kami kepada Ahlul Bait Rasulullah saaw, agar kami tidak mencintai mereka dan dalam masa yang sama redha kepada musuh-musuh mereka. “Tidak wujud di dalam hati kaum Muslimin rasa sayang serta cinta kepada sahabat dan musuh Allah swt.” Imam Ali bersabda: “Seseorang yang menyamakan kami dengan musuh kami bukanlah dari kalangan kami”

Kebanyakan para sahabat yang kalian letakkan di kedudukan tertinggi, semua mereka menyakiti, memerangi, mencaci maki serta membunuh Imam Ali serta Ahlul Bait Nabi yang lainnya. Sedangkan Rasulullah dengan terang bersabda:

“Barangsiapa yang mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang telah dijanjikan padaku, hendaklah dia mengiktiraf Ali sebagai walinya selepas ku, dan selepas Ali, hendaklah mengiktiraf anak-anak Ali, kerana mereka tidak akan membiarkan kamu di luar pintu petunjuk dan tidak pula membiarkan kamu memasuki pintu kesesatan.” Kanz Al Ummal

“Barangsiapa yang aku ini adalah mawla, maka Ali juga ialah mawla mereka. Ya tuhan, cintailah orang yang mencintai beliau dan musuhilah orang yang memusuhi beliau.”

  • Sahih Tarmizi
  • Sunan Ibnu Majah
  • Khsa’is, an Nisai
  • Al Mustadrak
  • Musnad Inbu Hanbal

“Aku menasihatkan kamu untuk berbuat baik kepada Ahlul Baitku, kerana sesungguhnya aku akan membuat tuntutan dari kamu mengenai mereka di hari perhitungan, dan barangsiapa yang aku berbalah dengannya akan merasa Api. Barangsiapa yang mengenangku dengan mengenang Ahlul Bait ku telah mengambil janji Allah(untuk memasuki syurga)

  • Al Tabaqat
  • Al Sawaiq al Muhriqah

“Barangsiapa yang menghina Ali menghina ku, barangsiapa menghinaku, menghinaku dia menghina Allah, dan barangsiapa menghina Allah, akan dihumban ke dalam neraka.”

  • Mustadrak
  • Khasais
  • Musnad Ibnu Hanbal
  • Tarikh at Tabari.

Didalam Majma’ al Zawa’id, dan Tafsir Suyuti, telah diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri, berbunyi:

Selama 40 hari Rasulullah pergi ke rumah Fatimah pada waktu pagi lalu berkata “Assalamu’alaika ya Ahlul Bayt, sudah tiba masa solat. Dan selepas itu beliau akan membaca ayat “Allah hanya mengkehendaki…(33:33)” Aku akan berada dalam keadaan berperang dengan sesiapa yang memerangi kamu. Dan aku akan berada dalam keadaan berdamai dengan sesiapa yang mengikuti kamu.”

Hadis-hadis seperti ini terlampau banyak dan diriwayatkan secara mutawattur dari sumber-sumber Ahlul Sunnah juga Syiah. Akhir kata sebagai renungan mari kita amati hadis di bawah:

Fatimah berkata kepada Abu Bakr dan Umar: “Aku bertanya pada kamu dengan nama Allah, bukankah kamu mendengar Rasulullah bersabda, “Kepuasan Fatimah ialah kepuasanku, kemarahan Fatimah ialah kemarahanku, barangsiapa menyayangi Fatimah menyayangi ku, yang memuaskan hati Fatimah memuaskan hati ku, dan barangsiapa yang membuatkan Fatimah marah, membuatku marah.” Mereka menjawab “ya”. Fatimah meneruskan: “Jadi aku memberi kesaksian di hadapan Allah dan para Malaikat yang kamu telah membuat ku marah, dan apabila aku berjumpa Nabi, pasti aku akan mengadukan tentang kamu berdua pada Nabi.”

  • Al Imamah wal Siyasah, Ibnu Qutaybah

Balasan Penafian Imamah Ali(as)

 


Salam dan Solawat

Berikut ialah beberapa tambahan dalil bagi menambah kekuatan bahawa perkataan maula yang disebutkan bukanlah bermaksud sahabat, tetapi pemimpin.

Imam Abu Ishaq at Tsalabi telah mengeluafkan riwayat dengan 2 sanad muktabar dalam menafsirkan Surah al Maarij di dalam kitab beliau, Al Kabir:

Ketika Rasulullah berada di Ghadir Khum, baginda menyeru agar orang ramai berkumpul. Lalu baginda bersabda sambil memegang tangan Ali:

“Barangsiapa yang aku ialah maulanya, maka ini Ali maulanya.” Berita itu kemudiannya tersebar luas ke seluruh pelusuk tanah kaum muslimin. Apabila berita itu sampai ke al Harits ibn an Nu’man al Fihri, beliau dengan segera berangkat berjumpa dengan baginda Nabi, setelah tiba, beliau berkata:

“Wahai Muhammad, kamu telah memerintahkan kami mengakui bahawa tiada Tuhan selain Allah dan kamu adalah Rasulnya, maka kami menerimanya. Kamu memerintahkan kami menunaikan solat 5 waktu, maka kami menerimanya. Kamu memerintahkan kami mengeluarkan zakat, lantas kamia menerimanya. Kamu memerintahkan kami berpuasa di bulan Ramadhan, maka kami menerimanya. Kamu memerintahkan kami menunaikan haji, maka kami menerimanya. Namun kamu tidak cukup dengan semua itu, hingga kamu mengangkat sepupu mu dan mengutamakannya ke atas kami dengan kata mu, “Barangsiapa yang aku ialah maulanya, maka Ali ialah maulanya. Adakah perkara ini datang dari kamu ataua dari Allah swt?”

Lalu baginda menjawab: “Demi Dia yang tiada Tuhan  selainnya. Sesungguhnya perkara ini adalah benar dari Allah swt.

Mendengar jawapan itu Harits berpaling dan menuju ke kudanya sambil berkata: “Ya Allah, sekiranya apa yang diucapkan oleh Muhammad itu benar, maka datangkanlah kepada kami batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”

Belumpun sempat beliau sampai ke tunggangan beliau, tiba-tiba sebiji batu datang dari langit tepat ke kepala beliau menembusi keluar ke duburnya. Dengan itu turunlah wahyu dari Allah yang berbunyi:

“Salah seorang (secara mengejek-ejek) meminta kedatangan azab yang (dijanjikan) akan berlaku,untuk orang-orang yang kafir, yang tidak ada sesiapapun dapat menolak kedatangannya -Dari Allah yang menguasai tempat-tempat turun naik”

Rujukan kisah ini:

1. Nuzm Durar as Simthin, Zarandi al Hanafi
2. Nurul Absar, Syablanji
3. Tazkiratul Khawas, Sibt Ibnu Jauzi
4. Al Fusulul Muhimmah, ibnu Sabbagh al Maliki
5. Yanabi al Mawaddah, Qunduzi al Hanafi
6. Sirah al Halabiyah, Burhanuddin al Halabi asy Syafii
7. Syawahidul Tanzil, Hakim al Huskani
8. Tafsir al Qurtubi, Tafsir Abi Saud, dan Tafsir al Manar
9. Syarh Jamius Soghir, Suyuthi

Lihatlah, ini adalah satu lagi tambahan bukti kepimpinan Imam Ali. Ini dapat kita dasarkan kepada perkataan maula di sini bukanlah bermaksud sahabat,kawan atau apa sahaja omongan kosong wahabi. Dengan konteks sebegini penting yang ditunjukkan, adakah semata-mata kerana Rasulullah(sawa) menerangkan kepada para sahabat kedudukan Imam Ali sebagai sahabat?

Mengapa Harits terlampau marah sehingga perlu berjumpa Rasul, kerana Rasul menyatakan Imam Ali sebagai kawan? Macam la sebelum ini, mereka tidak mengetahui betapa rapatnya mereka berdua, apabila Imam Ali dipersaudarakan dengan baginda, malah Rasul menyatakan hubungan mereka berdua seperti Musa kepada Harun?

Cukup-cukuplah menentang hujah yang haq, jika kamu tidak mahu menerima pun, hormatilah pendapat kami. Ini ialah hujah dari buku kamu, rujukan kamu. Kalau dari rujukan kami, tidak perlu diucapkan lagi.

Saya hairan, apa salahnya kami mengambil panduan syariat dari Ahlulbait(as) ? Mengapa perlu ditentang habis habisan hanya kerana kepercayaan kami ini? Kenapa kamu tidak dapat menerima Ahlulbait(as) sebagai Imam rujukan kamu? Adakah mereka terlampau jahil? Apakah mereka pembuat maksiat? Apakah mereka penjilat punggung kerajaan yang berkuasa sehingga mengeluarkan fatwa mengikut kemahuan para khalifah yang memerntah? Ataupun hanya kerana mereeka menghancurkan segala fantasi yang kalian pegang sebelum ini?

Ini kesimpulan saya dan kata-kata saya..

Agama Islam yang diterjemahkan melalui mazhab Syiah, adalah naluri semulajadi bagi manusia, konsep ketuhanan dalam Islam menarik para manusia yang luar dari agama ini untuk menerima Islam, sementara konsep imamah pula adalah penambah perisa semula jadi bagi melengkapkan Islam ini secukup rasa.

Ia ibarat madu yang menarik lebah, kecantikan yang mengindahkan mata dan panadol yang menghilangkan sakit kepala kerana perbezaan mazhab.

Wallahu’alam

Mitos Tentang Para Sahabat

 

Manusia sememangnya telah diketahui suka membuat keputusan, atau menghakimi sesuatu walaupun di dalam keadaan diri mereka belum mengetahui sepenuhnya sesuatu isu itu kerana mereka selalu tersilap. Sebelum kamu menghakimi artikel ini, dan mengumumkan bahawa artikel ini ialah kempen anti sahabat, suka saya mengingatkan sekali lagi, seperti artikel-artikel saya sebelumnya, nama  saya ialah Ammar, di namakan dari seorang sahabat terkemuka Nabi, Ammar ibn Yassir. Rasa benci terhadap sahabat bukanlah sebahagian dari Pegangan Syiah(Islam). Kami menyayangi para sahabat Rasulullah saaw, yang berbuat kebaikan kepada diri mereka dan kepada orang lain.

“Muhammad itu adalah Rasulullah. Orang-orang yang bersama dengannya(mukminin) sangat keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keredhaannya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, kerana bekas sujud. Itulah contoh mereka di dalam taurat. Dan contoh mereka dalam injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya, lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang yang menanamnya.  Begitu juga orang Islam , pada mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat, supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal soleh diantara mereka itu.
Quran [48:29]

Para sahabat ialah manusia normal yang tidak maksum. Mereka itu tidaklah suci dan bukan pula dihantar oleh Allah swt.  Para sahabat Nabi yang setia bersama Nabi Saaw dan misi baginda, yang kuat berjihad(sughra dan kubra) di jalan Islam, yang melakukan kebaikan kepada diri mereka dan orang lain, sebelum dan selepas kewafatan Rasulullah, akan layak memasuki syurga melalui proses hisab. Dan kepada sahabat-sahabat ini kami memberi penghargaan dan penghormatan kepada mereka.

Walaubagaimanapun, menghormati semua sahabat dan menyayangi mereka semua, serta mendakwa kesemua mereka -tanpa kompromi- benar dan soleh, adalah salah dari segi prinsip asas Quran dan sejarah.Sedangkan Allah sendiri tidak menjanjikan keampunan kepada semua para sahabat, kecuali mereka yang beriman dan melakukan kebaikan, jadi siapalah kita untuk memberikan sifat zuhud kepada semua para sahabat?

Jika semua para sahabat nabi maksum dan tidak dapat melakukan kesilapan, jadi untuk siapakah ayat Quran yang mengutuk kekikiran mereka untuk berjihad ditujukan?

Kamu Hai orang-orang yang diseru, supaya kamu menafkahkan(hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang bakhil. Barangsiapa yang bakhil, maka bahaya kebakhilan itu hanya atas dirinya.
Quran [47:38]

Begitu juga jika semua sahabat suci, maka bolehkah kamu buktikan dari sejarah bahawa tiada hukuman syariah pernah dikenakan semasa zaman nabi dan 4 khalifah awal, iaitu sebuah era di mana semua yang wujud ialah para sahabat?

Nabi saaw ialah seorang yang hebat. Baginda ialah Nabi Allah yang maksum. Baginda ialah asas Islam. Untuk menjadi seorang Muslim, kita perlu memberi kesaksian tentang kenabian baginda.. Manakala orang-orang lain di sekeliling beliau(kecuali orang-orang yang disebut khas oleh Allah) ialah orang-orang biasa. Selagi mana mereka berpegang kepada prinsip Islam dan mematuhi perintah Muhammad saaw,  akan dibalasi mereka dengan kebaikan oleh Allah swt. Tetapi jika mereka mengingkari baginda dan Islam, maka mereka akan dipertanggungjawabkan atas tindakan mereka. Kamu boleh memuji Musharaf atas kebaikan yang dilakukan oleh beliau, dan mengkritik Musharaf kerana perkara buruk yang beliau lakukan, kerana beliau bukanlah seorang personaliti di pilih Allah, beliau ialah seorang bukan maksum yang dipilih oleh rakyatnya atau pemimpin yang diangkat oleh dirinya sendiri.

Islam bukan tentang orang yang kamu pilih. Mereka tidak menjadi sebahagian dari kepercayaan/agama kamu. Islam ialah mengenai manusia yang dipilih Allah, dan orang-orang yang manusia pilihan Allah swt tetapkan.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim dan keluarga Imran keatas orang-orang seluruh alam.
Quran [3:33]

Muhammad wa aali Muhammad ialah keturunan Ibrahim as. Allah swt memilih mereka. Mereka inilah orang-orang ditujukan solawat oleh kita. Ahlul Bait Nabi ialah orang-orang yang diarahkan kepada kita untuk disayangi dan dicintai, mereka disucikan dari segala jenis kekotoran dan di bawa di dalam insiden mubahila

Tidakkah engkau perhatikan (dan merasa pelik wahai Muhammad) kepada orang-orang yang menyucikan (memuji) diri sendiri? (Padahal perkara itu bukan hak manusia) bahkan Allah jualah yang berhak menyucikan (memuji) sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan SyariatNya); dan mereka pula tidak akan dianiaya (atau dikurangkan balasan mereka) sedikit pun.
Quran [4:49]

Sesetengah orang menyucikan(kata diri sendiri suci)  diri mereka sendiri atau orang lain. Mereka ialah orang-orang yang tidak perlu kita pentingkan. Bagaimanapun, terdapat satu golongan yang Allah sendiri memilih mereka, ini ialah orang-orang yang perlu kita pentingkan.

Sesungguhnya Allah hanyalah kerana hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu – wahai “AhlulBait” dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji).Quran [33:33]

Manakala orang-orang lain, mereka layak mendapat cinta dan penghormatan kami selagi mereka melakukan kebaikan dan mematuhi arahan Nabi saaw.

Secara peribadi, saya tidak mempunyai masalah dan tidak akan menimbulkan apa-apa isu dalam menyayangi dan menghormati semua para sahabat, jika semua mereka sendiri tiada masalah dalam menyayangi dan menghormati sesama diri mereka sendiri. Bagaimana kami boleh mempercayai semua para sahabat itu adil, soleh dan hidup seperti saudara, sebelum dan selepas kewafatan Nabi, sedangkan sejarah membuktikan perkara yang bertentangan dengan menceritakan begitu banyak perbalahan antara para sahabat Nabi juga isteri-isteri Nabi serta antara para sahabat dan Ahlul Bait Nabi saaw.

Akan saya utarakan isu-isu yang terdapat di dalam sejarah yang diketahui Sunni, tetapi dipandang sebelah mata untuk bertahun lamanya

INSIDEN IFK

Mari kita mulakan dengan insiden IFK, di mana Aisya telah di tuduh melakukan penzinaan. Perlu rasanya bagi saya untuk menyatakan, Syiah tidak menyukai Aisya kerana kebencian beliau kepada Mawla Ali. Tiada Syiah yang mendakwa Aisyah melakukan penzinaan, kerana penghakiman dari Quran mengalahkan segala dakwaan. InsyaAllah akan saya tulis artikel mengenai Aisyah dan peranan beliau dalam Islam, jika ada peluang nanti.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita yang amat dusta itu ialah segolongan dari kalangan kamu; janganlah kamu menyangka (berita yang dusta) itu buruk bagi kamu, bahkan ia baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang di antara mereka akan beroleh hukuman sepadan dengan kesalahan yang dilakukannya itu, dan orang yang mengambil bahagian besar dalam menyiarkannya di antara mereka, akan beroleh seksa yang besar (di dunia dan di akhirat). Sepatutnya semasa kamu mendengar tuduhan itu, orang-orang yang beriman – lelaki dan perempuan, menaruh baik sangka kepada diri (orang-orang) mereka sendiri. dan berkata: “Ini ialah tuduhan dusta yang nyata”. Sepatutnya mereka (yang menuduh) membawa empat orang saksi membuktikan tuduhan itu. Oleh kerana mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka mereka itu pada sisi hukum Allah, adalah orang-orang yang dusta. Dan kalaulah tidak kerana adanya limpah kurnia Allah dan rahmatNya kepada kamu di dunia dan di akhirat, tentulah kamu dikenakan azab seksa yang besar disebabkan kamu turut campur dalam berita palsu itu; -Iaitu semasa kamu bertanya atau menceritakan berita dusta itu dengan lidah kamu, dan memperkatakan dengan mulut kamu akan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan yang sah mengenainya; dan kamu pula menyangkanya perkara kecil, pada hal ia pada sisi hukum Allah adalah perkara yang besar dosanya. Dan sepatutnya semasa kamu mendengarnya, kamu segera berkata: “Tidaklah layak bagi kami memperkatakan hal ini! Maha Suci Engkau! Ini adalah satu dusta besar yang mengejutkan”. Allah memberi pengajaran kepada kamu, supaya kamu tidak mengulangi perbuatan yang sedemikian ini selama-lamanya, jika betul kamu orang-orang yang beriman.
Quran [24:11-17]

(Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita yang amat dusta itu ialah segolongan dari kalangan kamu) bererti mereka mempunyai 2 kumpulan. Yang paling menyerlah di dalam kumpulan ini ialah Abdullah bin Ubayy bin Salul, ketua kaum munafik, yang mencipta fitnah ini dan menyebarkannya ke orang lain, hinggakan sesetengah kaum Muslimin mulai mempercayai berita itu, sementara yang lain berprasangka bahawa berita itu mungkin benar dan mula bercerita mengenainya. Perkara ini berterusan selama hampir sebulan sehingga ayat Quran mengenainya diturunkan.
Tafseer Ibn Kathir, Tafseer  Surah 24, ayat 11

Fitnah terhadap Aisyah mungkin dimulakan oleh kaum Munafik, tetapi pertuduhan ini turut di sokong oleh sekumpulan sahabat Rasul saaw, yang dikutuk kuat oleh Allah swt dan diberi amaran untuk menjaga sikap mereka di masa hadapan. Ini membuktikan para sahabat adalah manusia yang boleh melakukan kesilapan, yang mampu melakukan dosa, dan akan menerima hukuman yang berat jika mereka mengulangi kesilapan mereka.

Pergaduhan dan perselisihan kecil serta kebencian antara para sahabat nabi, telah pun muncul sebelum kewafatan baginda..

Di dalam buku-buku sahih Sunni, telah menyebutkan tentang perselisihan antara Abu Bakr dan Umar, yang hampir membawa kepada kemusnahan ke atas diri mereka sendiri dan merosakkan amal mereka, tetapi mereka di maafkan atas perbuatan mereka.

(Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu tinggikan suara kamu dari suara nabi!) Ayat ini mengdanungi satu lagi sikap yang bagus. Allah swt mengajar orang-orang beriman agar tidak meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi saaw. Telah dinyatakan bahawa ayat ini diturunkan tentang Abu Bakr dan Umar. Al-Bukhari melaporkan bahawa Ibn Abi Mulaykah meriwayatkan, “2 orang yang benar, Abu Bakr dan Umar, hampir memperoleh kebinasaan kerana meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi, sebelum baginda menerima wakil delegasi Bani Tamim. Salah seorang dari mereka( Abu Bakr dan Umar) mencadangkan Al-Aqra bin Habis, seorang ahli Bani Mujashi, manakala seorang lagi mencadangkan orang lain. Nafi’(salah seorang perawi) berkata: “Aku lupa namanya.”  Abu Bakr berkata kepada Umar, “Kamu hanya mahu menyanggah pendapat ku.” Sementara Umar berkata, “Aku tidak berniat untuk menyanggah kamu”. Suara mereka menjadi kuat, dan oleh kerana itu, Allah swt menurunkan ayat di atas.`Abdullah bin Az-Zubayr said” Abdullah bin Az Zubair berkata, “Selepas kejadian itu, suara Umar menjadi begitu rendah sehingga Rasulullah terpaksa meminta Umar mengulangi apa yang beliau katakan untuk memahaminya.
Tafseer Ibn Kathir, Tafseer of Surah 49, Ayat 2

Sahih Sunni juga meriwayatkan bahawa seorang sahabat Rasulullah, Urwa, mencaci maki seorang lagi sahabat Nabi, Hassan Bin Thabit

Diriwayatkan dari Al-Bara: Nabi bersabda kepada Hassan, “Cacilah mereka(dengan sajak mu), dan Jibril bersama kamu(menyokong kamu).” (Melalui sebuah lagi kumpulan perawi) Al-Bara bin Azib berkata, “Di hari Quraiza, Rasulullah bersabda kepada Hassan bin Thabit, “Cacilah mereka(dengan sajakmju), dan Jibril bersama dengan mu. ”
Sahih Bukhari, Jilid 5, Kitab 59, Nombor 449

Diriwayatkan dari Urwa: Aku mula mencaci Hassan di hadapan Aishah, di mana beliau(aishah) berkata: “Janganlah kamu mencaci Hassan, kerana beliau pernah mempertahankan Rasulullah(dengan sajaknya)”
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 56, Nombor 731

Sebelum kewafatan Nabi saaw, baginda mengarahkan ekspidisi ketenteraan ke Syria di hantar di bawh pimpinan Usama bin Zayd. Tetapi para sahabat Nabi saaw, bukan sahaja menentang perintah Rasul pada permulaannya, malah mereka mengkritik kepimpinan Usama, sama seperti mereka mengkritik kepimpinan ayah beliau, Zayd.

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar: Rasulullah menghantar tentera dengan Usama bin Zayd sebagai panglimanya. Orang ramai mengkriktik kepimpinan beliau. Rasulullah bangun dan bersabda: “Jika kalian mengkritik kepimpinan beliau, maka kalian mengkritik kepimpinan bapanya. Demi Allah, Zayd memang layak mendapat kepimpinan tersebut, dan beliau pernah menjadi antara orang yang paling aku sayangi, dan sekarang Usama ialah antara yang paling aku sayangi selepas bapanya.”
Sahih Bukhari, Jilid 5, Kitab 59, Hadith 745

Tidak dilupakan, harus juga kita menyebut pergaduhan dan perselisihan antara para sahabat di kamar kematian baginda, juga dikenali sebagai Insiden pen dan kertas atau Tragedi Hari Khamis.

Ibnu Abbas melaporkan:….Rasulullah saaw bersabda: Mari, aku tuliskan kepada kalian sesuatu, yang mana kalian tidak akan tersesat di kemudian hari. Kemudian Umar berkata: Sesungguhnya Nabi Allah sedang berada dalam kesakitan yang teramat sangat. Quran bersama dengan kamu. Kitab Allah cukup untuk kita. Mereka yang berada di dalam rumah berbeza pendapat.Sebahagian dari  mereka berkata: Bawakan baginda(bahan menulis) agar baginda dapat menuliskan wasiat yang tidak akan menyelamatkan kita dari kesesatan selepas baginda manakala sebahagian lagi berkata apa yang Umar katakan. Apabila mereka mula bergaduh di dalam keberadaan Rasulullah saaw, baginda berkata: Bangunlah dan pergi. Ubaidillah berkata: Ibn Abbas selalu berkata: Ini adalah kerugian yang besar, memang adalah kerugian yang besar, oleh kerana hingar bingar pergaduhan mereka, Rasulullah tidak dapat menuliskan dokumen untuk mereka.”
Sahih Muslim, Kitab 13, Hadith 4016

 

Sebelum kita beralih kepada isu yang lebih besar, yang boleh menganggu pemikiran serta iman kita, molek juga kiranya kita lihat bahawa sesetengah isteri-isteri Rasulullah cemburu antara satu sama lain, mensabotaj dan bergaduh antara satu sama lain.

…Ibn Awn berkata: Adalah dipercayai beliau selalu pergi kepada Ummul Mukminin Aishah. Dia berkata: Ummul Mukminin berkata: “ Rasulullah saaw datang kepada ku ketika Zainab binti Jahsh sedang bersama kami. Baginda mula melakukan sesuatu dengan tangan baginda. Aku memberi isyarat kepada baginda sehingga baginda memahami tentang beliau(Zainab). Jadi baginda berhenti. Zainab datang dan mula memaki Aishah. Aishah cuba menghalang tetapi Zainab tidak mahu berhenti. Jadi Nabi berkata kepada Aishah: Makilah dia, jadi Aishah mencaci Zainab dan memenangi….
Sunan Abu Dawud, Kitab 41, Nombor 4880

Bukan itu sahaja, mereka kerap merancang sesuatu terhadap Nabi saaw sendiri.

Diriwayatkan dari ‘Ubaid bin Umar: Aku mendengar Aishah berkata, “Nabi selalu tinggal untuk jangka masa yang lama bersama Zainab binti Jahsh dan minum madu di rumahnya. Jadi Hafsah dan aku membuat keputusan jika Nabi datang salah seorang dari kami, kami akan berkata kepada baginda, “Aku tercium bau Maghafir(gula-gula berbau busuk) pada mu. Adakah kamu makan Maghafir?” Jadi Rasulullah melawat salah seorang dari mereka dan mereka berkata yang serupa kepada baginda Nabi saaw. Nabi saaw bersabda: “Tidak mengapa, aku telah mengambil sedikit madu dari rumah Zainab Binti Jash, tetapi aku tidak akan meminumnya lagi.” Kemudian diturunkan ayat :

(1)“Wahai Nabi! Mengapa engkau haramkan (dengan bersumpah menyekat dirimu daripada menikmati) apa yang dihalalkan oleh Allah bagimu, (kerana) engkau hendak mencari keredaan isteri-isterimu? (Dalam pada itu, Allah ampunkan kesilapanmu itu) dan Allah sememangnya Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi kamu (wahai Nabi dan umatmu, untuk) melepaskan diri dari sumpah kamu; dan Allah ialah Pelindung yang mentadbirkan keadaan kamu, dan Ia Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
Dan (ingatlah), ketika Nabi memberitahu suatu perkara secara rahsia kepada salah seorang dari isteri-isterinya. Kemudian apabila isterinya itu menceritakan rahsia yang tersebut (kepada seorang madunya), dan Allah menyatakan pembukaan rahsia itu kepada Nabi, (maka Nabi pun menegur isterinya itu) lalu menerangkan kepadanya sebahagian (dari rahsia yang telah dibukanya) dan tidak menerangkan yang sebahagian lagi (supaya isterinya itu tidak banyak malunya). Setelah Nabi menyatakan hal itu kepada isterinya, isterinya bertanya: “Siapakah yang memberi tahu hal ini kepada tuan? ” Nabi menjawab: “Aku diberitahu oleh Allah Yang Maha Mengetahui, lagi Amat Mendalam PengetahuanNya (tentang segala perkara yang nyata dan yang tersembunyi) “.
Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah (wahai isteri-isteri Nabi, maka itulah yang sewajibnya), kerana sesungguhnya hati kamu berdua telah cenderung (kepada perkara yang menyusahkan Nabi); dan jika kamu berdua saling membantu untuk (melakukan sesuatu yang) menyusahkannya, (maka yang demikian itu tidak akan berjaya) kerana sesungguhnya Allah adalah Pembelanya; dan selain dari itu Jibril serta orang-orang yang soleh dari kalangan orang-orang yang beriman dan malaikat-malaikat – juga menjadi penolongnya.”(4) Menegur Aishah dan Hafsah
Sahih Bukhari Jilid 7, Kitab 63, Nombor 192
Sahih Bukhari Jilid 7, Kitab 63, Nombor 193
Sahih Muslim Kitab 009, Nombor 3496

Akan saya postkan artikel tentang peranan Aishah di dalam sejarah di masa hadapan, InsyaAllah.

Sekarang, untuk perselisihan antara sahabat “yang mendebarkan”.

Khalid bin Al Walid, pedang Allah, selepas memimpin Quraysh dalam penentangan mereka terhadap Nabi di Uhud, menerima Islam selepas Hudaibiyah.

Selepas Khalid memimpin ekspidisi keatas Bani Jadhimah, beliau memujuk mereka untuk meletak senjata dengan mengakui mereka semua telah memeluk Islam, kemudian beliau membunuh sebahagian mereka. Apabila Muhammad mendengar perkara ini, baginda mengumumkan kepada Tuhan bahawa baginda tidak bersalah diatas apa yang Khalid telah lakukan, dan menghantar Ali untuk membayar ganti rugi kepada yang terselamat.
al-Tabari, Victory of Islam, translated by Michael Fishbein, Albany 1997, pp. 188 ff.

Sebelum kita meneruskan dengan tindakan Khalid ini, serta perselisihan beliau dengan Umar al Khattab, sewajarnya juga kita menyebut tentang Saqifa.

Kewafatan Nabi menimbulkan isu tentang khilafah, atau pengganti politik. Ansar mahukan khalifah dari mereka manakala Muhajir menentang dengan mengatakan Nabi adalah dari mereka, dan khalifah perlu dari Quraish. Ansar mencadangkan 2 khalifah iaitu dari Ansar dan Muhajirun, tetapi ditolak oleh Muhajir.

Selepas Abu Bakr menyudahi ucapan beliau, al Hubab ibn Al Mundhir bangun, menghadap kaum Ansar dan berkata: “Wahai kaum Ansar, janganlah kamu memberikan pemerintahan kepada orang lain. Penduduk semua berada di bawah jagaan kamu. Kamu adalah orang-orang yang bermaruah, berharta. Jikalau kaum Muhajirun mempunyai kelebihan di dalam hal tertentu, maka kamu juga mempunyai kelebihan dalam hal tertentu. Kamu memberi mereka perlindungan di dalam rumah kita. Kamu ialah tangan Islam yang berperang. Dengan bantuan kamu Islam berjaya berdiri. Di bandar kamu ibadah kepada Allah dilakukan dengan bebasnya. Selamatkan diri kamu dari perpecahan dan peganglah hak kamu. Jikalau Muhajirun tidak mahu mengalah, maka beritahu mereka, akan ada satu ketua dari mereka dan satu dari kita.

Sejurus selepas Al Hubab duduk, Umar bangun dan berkata: “Tidak boleh wujud 2 pemerintah dalam satu masa yang sama. Demi Allah, bangsa Arab tidak akan bersetuju untuk kalian menjadi ketua negara, kerana Nabi bukan dari kalian. Kaum Arab mahukan pemimpin dari rumah yang sama dengan Nabi. Kepada sesiapa yang mempunyai hujjah yang jelas, boleh lah bentangkan. Sesiapa yang bercanggah dalam isu khalifah dengan kami, sedang menuju kearah yang salah, ialah seorang pendosa dan sedang menuju kehancuran.”

Selepas Umar, Al Hubab bangun sekali lagi dan berkata kepada kaum Ansar, “ Tetapkan pendirian kalian dan jangan endahkan pandangan orang ini atau penyokongnya. Mereka mahu memijak-mijak hak kamu, dan jika mereka tidak bersetuju, maka, halaulah mereka dari bandar kamu, dan ambil alih khilafah. Siapa lagi yang lebih layak dari kalian.

Selepas al Hubab selesai, Umar memarahinya. Terdapat  beberapa penggunaan perkataan yang kotor, dan situasi semakin buruk. Melihat perkara ini, Abu Ubaidah bersuara dengan niat menenangkan keadaan dan memenangi hati kaum Ansar. Beliau berkata: Wahai kaum Ansar, kamu adalah kaum yang menyokong kami dan membantu kami dari segala segi. Janganlah menukar jalan kamu dan sikap kamu.”

Malangnya, kaum Ansar tidak mahu menukar pendirian mereka.Mereka bersedia untuk memberi perjanjian taat setia kepada Sa’ad, sehinggalah seorang dari Bani Sa’ad, Bashir ibn `Amr al-Khazraji berdiri dan berkata: “Tidak dapat diragukan lagi, kita berjihad dan memberi bantuan kepada agama, bagaimanapun, tujuan kita adalah keredhaan Allah dan mentaati  Rasulullah. Tidaklah sepadan dengan kita untuk mengungkit kelebihan dan meriuhkan keadaan untuk khilafah. Muhammad (sawa) berasal dari Quraish dan mereka mempunyai hak yang lebih keatasnya dan lebih sesuai.” Sebaik sahaja beliau habis mengucapkan kata-kata beliau, perbezaan pendapat terjadi di kalangan Ansar, dan ini ialah matlamat beliau, kerana beliau tidak mahu melihat seseorang dari puaknya berada di kedudukan yang sangat tinggi. Kaum Muhajirun mengambil sepenuhnya kesempatan ke atas perkara ini, dan Umar serta Abu Ubaidah membuat keputusan untuk membai’ah Abu Bakr. Mereka mempunyai peluang untuk berbuat demikian apabila Bashir meletakkan tangannya ke atas Abu Bakr dan seterusnya Umar dan Abu Ubaidah.The Kemudian orang dari suku Bashir datang dan memberi baiah, dan memijak Sa’d ibn Ubadah di bawah kaki mereka.
al-Tabari, Ta’rikh, VI, 263
Nahjul Balaghah, Footnotes of Khutbah 67, Berita di Saqifah

Perselisihan di Saqifah diantara Muhajirun dan Ansar, telah diselesaikan di Saqifah, dengan kecederaan serius kepada Saad Ibnu Ubadah, seorang sahabat.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: ……dan salah seorang dari Ansar berkata, ‘Aku ialah satu tonggak dimana unta yang menghidapi penyakit kulit menggaru gatalnya( Aku seorang bansawan), dan aku ialah pohon palma berkualiti tinggi! Wahai kaum Quraish, adakan satu pemimpin dari kamu dan satu dari kami.” Kemudian terdapat kekecohan yang besar diantara mereka, jadi aku(Umar) risau akan terjadinya perselisihan pendapat yang besar, jadi aku berkata, “Wahai Abu Bakr, keluarkan tangan kamu.” Beliau mengeluarkan tangannya, dan aku memberi baiah padanya, dan kemudiannya para muhajirin memberi baiah dan kemudiannya Ansar.‘ Dan akhirnya kami mendapat kemenangan ke atas Saad Ibn Ubadah. Salah seorang dari Ansar berkata: “Kamu telah membunuh Saad Ibn Ubadah.” Aku(Umar) menjawab, “Allah telah membunuh Saad.”
Sahih Muslim, Jilid 8, Kitab 82, Nombor 817

Perlantikan Abu Bakr masih mendapat tentangan dari ahli keluarga dan para sahabat besar Nabi, yang dikenali sebagai Syiah Ali, seperti Ammar, Salman, Miqdad, Abu Dzarr, Thalhah dan Zubair.

Dari Ibn Abbass: ….. Dan tiada ragu selepas kewafatan Nabi, kami diberitahu yang Ansar tidak bersetuju dengan kami dan berkumpul di Bani Sa’da. Ali dan Zubair sert sesiapa lagi yang bersama mereka menentang kami, sementara Muhajirun bersama Abu Bakr.
Sahih Bukhari, Jilid 8, Kitab 82, Hadith 817

Dengan berkurangnya pengaruh politik Imam Ali, isu Fadak antara Fatimah dan Abu Bakr muncul. Fatimah mendakwa Fadak ialah hak beliau, serta mendapat sokongan Imam Ali, tetapi ditolak oleh Abu Bakr. Oleh itu Fatimah memboikot kepimpinan Abu Bakr.

Dari ‘Aisha:  Selepas kewafatan Rasulullah, Fatimah binti Rasulillah meminta Abu Bakr untuk memberi semula hak beliau dari peninggalan Rasulullah selepas Fai, yang mana Allah berikan pada baginda. Abu Bakr berkata pada Fatimah, “Rasulullah bersabda: Harta kami tidak akan diwarisi, segala yang ditinggalkan oleh Nabi ialah sedekah.” Fatimah, anak kepada Rasulullah berasa marah dan berhenti dari bercakap dengan Abu Bakr sehingga beliau wafat. Fatimah hidup selama 6 bulan selepas peninggalan baginda (saaw)
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 53, Hadith 325

 

 

 

Imam Ali menyangka Khilafah ialah hak beliau. Hujah yang digunakan oleh Umar di Saqifa lebih sesuai di gunakan untuk Ali( kerana beliau ialah saudara terdekat Rasulullah) lebih dari kedua sheikh( Abu Bakr dan Umar). Ini juga ialah sebab kenapa Imam Ali, singa Allah di Badr, Uhud, Khaibar dan Khandaq, tidak menyertai mana-mana pertempuran(yang di dakwa sebagai jihad) di bawah khalifah Abu Bakr dan Umar serta Usman.

Berjagalah! Demi Allah anak Abu Quhafah (Abu Bakr) memakai pakaian khalifah dan beliau semestinya mengetahui kedudukan ku kepada khilafah ibarat paksi kepada pengisar. Air banjir melalui ku, dan burung-burung tidak boleh terbang kepada ku. Aku meletakkan hijab kepada khilafah dan menjauhkan diriku darinya. Kemudiannya aku mula berfikir samada aku sepatutnya menyerang atau bertahan dengan tenang dalam kegelapan bencana yang membutakan……..Aku mendapati bertahan adalah lebih bijak. Jadi aku mangamalkan sikap bersabar, walupun sakit dimataku dan kelemasan di kerongkong ku. Aku melihat hak warisan ku dirompak, sehinggalah yang pertama pergi dan memberikan Khilafah kepada Ibnu Al Khattab sendiri.
Nahjul Balaghah, Khutbah 3, Khutbah ash-Shiqshiqiyyah

Adalah di laporkan dari Zuhri, riwayat ini diriwayatkan oleh Malik Ibn Aus yang berkata: Abu Bakr berkata:”Rasulullah(saw) bersabda: “Kami tidak mempunyai pewaris, dan apa yang kami tinggalkan ialah sadaqah.” Jadi kamu berdua( Ali dan Abbas) mendakwa dia ialah penipu, pendosa, pengkhianat dan tidak jujur. Dan Allah maha mengetahui bahawa dia seorang yang benar, mulia, terpimpin dan pengikut kebenaran. Setelah Abu Bakr meninggal, aku(umar) telah menjadi pengganti Rasulullah saw dan Abu Bakr, kamu(Ali) mendakwa aku ialah seorang penipu, pendosa, pengkhianat dan tidak jujur. Dan Allah lebih mengetahui yang aku ialah orang yang benar, mulia dan pengikut kebenaran.”
Sahih Muslim , Kitab 19, Nombor 4349

Walaupun Imam Ali memilih untuk senyap dan tidak aktif dalam politik demi survival Islam, beliau selalu memberi nasihat kepada Umar bila-bila sahaja Umar memintanya. Ini bukan bermakna Mawla Ali menerima Khilafah Umar,menyayangi atau menerimanya, nasihat politik Imam Ali ialah untuk kebaikan Islam.

Sebagai contoh, Raja Mesir bukanlah seorang Muslim, bagaimanapun, baginda selalu meminta nasihat dari Nabi Yusuf, dan Nabi Yusuf bersetuju menolong baginda, demi rakyatnya. Saya tidak memaksudkan bahawa Umar bukan Muslim. Allah ialah hakim yang menghakimi dengan seadil-adilnya. Apa yng saya maksudkan ialah nasiha Imam Ali kepada Umar adalah demi kebaikan Empayar Muslim, dan bukanlah kerana Umar ialah orang yang jujur.

…. raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, aku hendak menjadikan dia orang yang khas untuk aku bermesyuarat dengannya. Setelah (Yusuf dibawa mengadap, dan raja) berkata-kata dengannya (serta mengetahui kebijaksanaannya) berkatalah raja kepadanya: “Sesungguhnya engkau pada hari ini (wahai Yusuf), seorang yang berpangkat tinggi, lagi dipercayai di kalangan kami “.
Quran [12:54]

Raja, para menteri, putera, pegawai dan orang-orang berpangkat pada ketika itu  telah mengetahui dan mengakui nilai Yusuf, dan merasai kehebatan moral baginda selama beberapa tahun yang lepas. Yusuf telah membuktikan tiada setandingnya dalam kejujuran, kemuliaan, kesabaran, displin, kemurahan, kebijaksanaan dan pemahaman. Mereka mengetahui dan mempercayai bahaw hanya Yusuf sahaja yang mengetahui bagaimana untuk menjaga dan menguruskan sumber tanah. Oleh kerana itu, sebaik sahaja Yusuf menunjukkan keinginannya, mereka dengan sepenuh hati member kepercayaan pada Nabi Yusuf

Tafheem ul Quran, dari Abul Ala Maududi, Tafseer of Surah 12, ayat 55

Kejujuran, kemuliaan, kesabaran, disiplin, kemurahan, kebijaksanaan dan pemahaman yang dimiliki oleh Imam Ali, melebihi yang lainnya. Kesanggupan beliau membantu pentadbiran Umar dan beberapa isu politik yang lain adalah kerana kualiti yang dipunyai oleh Imam Ali.

Sekali lagi kita kembali semula tentang keperibadian Khalid Ibn Al Walid. Malik Ibnu Nuwairah telah dilantik sebagai pengutip zakat oleh Rasulullah saw. Sunni dan Syiah berbeza pendapat samada Malik menjadi murtad selepas kewafatan baginda atau tidak. Semasa pemerintahan Abu Bakr, Khalid ibn Walid telah dihantar untuk berurusan dengan Malik. Mari kita perhatikan dari pendapat Sunni:

Setelah ditahan, Malik bertanya kepada Khalid tentang kesalahan yang dilakukan oleh beliau(malik). Khalid membalas dengan berkata: ‘Tuan kamu berkata itu dan ini.’ Khalid mengetahui ini adalah satu percubaan Malik untuk melepaskan diri. Setelah mempunyai bukti yang kukuh yang Malik mengagihkan duit zakat setelah mendengar kewafatan Muhammad, dan pakatan beliau dengan Sajjah, Khalid mendakwa Malik telah kufur dan mengarahkan pembunuhan beliau.
al-Balazuri, kitab no 1, m/s 107

Malik mempunyai seorang isteri, Layla bint al Minhal. Beliau ialah sahabat wanita Rasulullah saw, dan dikatakan seorang wanita tercantik di seluruh Tanah Arab. Syiah mendakwa Khalid merogol Layla pada malam Khalid membunuh Malik. Sunni pula mendakwa, Layla dikahwini Khalid pada malam yang sama Malik dibunuh.

Pada malam yang sama, Khalid menikahi Layla, bekas isteri Malik, yang dikatakan sebagai perempuan Arab tercantik
Tabari: Vol. 2, M/s 5

Katakan saya menerima pandangan Sunni, iaitu Malik menikahi Layla pada malam yang sama Malik dibunuh, dan ia bukan satu kes rogol, maka saya mempunyai 2 isu. Saya bukanlah Ulama, tetapi di dalam Quran ada menyebutkan:

Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu, sedang mereka meninggalkan isteri-isteri hendaklah isteri-isteri itu menahan diri mereka (beridah) selama empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa idahnya itu maka tidak ada salahnya bagi kamu mengenai apa yang dilakukan mereka pada dirinya menurut cara yang baik (yang diluluskan oleh Syarak). Dan (ingatlah), Allah sentiasa mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukan.
Quran [2:234]

1.      Seorang isteri yang melihat suami nya terbunuh, atau mendengar suaminya meninggal dunia, tidak akan berkahwin semula pada hari yang sama dengan sukarela, kerana perkahwinan adalah berdasarkan cinta dan kasih sayang. Saya ingin menyatakan di sini, tiada isteri yang akan mengahwini lelaki lain dalam masa yang terdekat setelah kematian suaminya.

2.      Iddah seorang balu ialah selama 4 bulan 10 hari, atau lebih kurang 130 hari. Berdasarkan prinsip Islam, dia tidak boleh berkahwin semula, walaupun jika beliau mahukannya.

Oleh itu, berdasarkan point pertama, sudah semestinya keinginan Khalid sendiri untuk mengahwini Layla, dan bukannya kemahuan Layla, yang juga seorang balu yang sedang berkabung. Berdasarkan point kedua, perkahwinan itu tidak sah, dan ia merupakan penzinaan(jika Layla mahukannya) atau kes rogol(jika dipaksakan keatas Layla). Saya mempunyai sebab untuk mempercayai ia adalah rogol dari mempercayai mitos perkahwinan.

Para sahabat Nabi yang lain juga melihat perkara yang serupa, termasuk Umar Al Khattab yang memprotes tindakan itu. Perkahwinan antara Layla dan Khalid akhirnya menjadi satu isu kontroversi kerana terdapat kumpulan yang menyangka Khalid membunuh Malik untuk mendapatkan Layla, termasuk dalam kumpulan ini ialah saudara Khalid, Umar. Khalid kemudiannya di panggil oleh Khalifah Abu Bakr untuk menerangkan keadaan, Selepas memikirkan perkara ini, Khalifah membuat keputusan bahawa Khalid tidak bersalah. Khalifah bagaimanapun mencaci Khalid atas tindakan beliau menikahi Layla serta membuka peluang kepada orang lain mengkritik beliau, dan kerana terdapat kemungkinan kesilapan, kerana bagi sesetengah orang menganggap Malik ialah Muslim. Abu Bakr mengarahkan agar membayar ganti rugi kepada pewaris Malik.

Di Madinah, Umar berasa sangat memalukan sehingga beliau menuntut agar Abu Bakr memecat Khalid. Umar berkata Khalid patut didakwa atas 2 kesalahan iaitu membunuh dan berzina. Bagaimanapun, Abu Bakr mempertahankan Khalid dengan mengatakan beliau telah melakukan “perhitungan yang salah”
A Restatement of the History of Islam dan Muslims, Ali Razwy, Chapter 55

Ini mungkin salah satu sebab Umar memecat Khalid dari pimpinan tertinggi tentera apabila beliau diangkat menjadi khalifah oleh Abu Bakr, dan menggantikan Abu Ubaidah di tempatnya. Kemudiannya Umar memecat sepenuhnya Khalid dari pasukan tentera. Syiah dan Sunni  berbeza pendapat tentang mengapa beliau dipecat, bagaimanapun ia tidak akan dibincangkan disini.

Selepas kematian Umar, Usman telah mengambil tampuk pemerintahan. Masalah ekonomi dan pengagihan kekayaan yang tidak seimbang telah menyebabkan kekecohan di kalangan kaum Muslim, dan mereka menyuarakan rasa tidak puas hati mereka kepada Khalifah Usman. Para sahabat seperti Ammar, Abu Dzarr dan Abdullah Ibn Masud telah dipukul, diseksa serta dibuang negeri oleh pentadbiran Usman.

Wahai Abu Dzarr! Kamu menunjukkan kemarahan kamu atas nama Allah, kerana kamu mempunyai harapan keatasNya. Masyarakat takut kepada mu dalam hal kesenangan duniawi mereka manakala kamu risaukan mereka kerana iman kamu. Maka tinggalkanlah apa yang mereka takutkan dari kamu dan lepaskanlah kerisauan kamu keatas mereka. Betapa mereka memerlukan perkara yang kamu minta mereka jauhkan dan betapa tulinya kamu keatas perkara yang mereka nafikan kepada kamui. Tidak lama lagi kamu akan mengetahui siapa yang mendapat keuntungan di akhirat dan siapa yang akan dicemburui di sana. Walaupun langit dan bumi ini tertutup untuk individu tertentu dan beliau takut kepada Allah, maka Allah akan membuka langit dan bumi untuk beliau. Hanya kebenaran dapat menarik kamu sementara kabatilan menjauhi kamu. JIka kamu menerima tarikan duniawi mereka, pasti mereka menyayangi kamu, dan pasti mereka akan melindungi kamu jika kamu berkongsi dengan mereka
Nahjul Balaga, Khutbah130, Diberi semasa Abu Dharr di buang negeri ke ar-Rabadhah

Oleh kerana Abu Dzar dibuang negeri dan kehormatannya di jatuhkan, oleh kerana Abdullah ibn Mas’ud dipukul tanpa belas, oleh kerana patahnya rusuk Ammar ibn Yassir, dan oleh kerana rancangan untuk membunuh Muhammad Ibn Abu Bakr, Bani Ghiffar, Bani Hudhayl, Bani Makhzum dan Bani Taym semuanya menyimpan dendam dan kemarahan(terhadap pentadbiran Usman)Muslim dari bandar-bdanar lain juga penuh dengan aduan terhadap pegawai-pegawai Usman yang terlampau mabuk dengan kekayaan dan kemewahan, yang melakukan sesuka hati mereka dan memusnahkan sesiapa yang mereka mahu.
Al-Baladhuri, Ansab, V, 98, 101

Amr Ibn Al ‘as, Thalhah, Zubair dan Aisyah telah memainkan peranan yang besar dalam mengapikan masyarakat terhadap Usman, yang kemudiannya terbunuh. Siapakah pembunuh beliau? Mereka ialah kaum Muslimin sendiri, yang secara teknikalnya ialah para sahabat sendiri.

Di manakah Muawiyah, Thalhah, Zubair dan Aisyah, apabila rumah Usman di kepung selama berhari-hari atau berminggu? Mengapa mereka tidak datang membantu Usman ketika itu? Orang-orang yang mempertahankan mereka mendakwa perang Jamal dan Siffin tercetus akibat mereka ingin membalas dendam terhadap pembunuh Usman. Jika mereka ialah sekutu kepada Usman seperti yang di dakwa oleh Sunni, jadi mengapa mereka yang mempunyai kekayaan dan kuasa suku atau puak mereka, tidak datang untuk membantu Usman yang dikepung selama berminggu-minggu? Jawablah soalan ini dan kamu mungkin akan mendapat pemahaman yang lebih mendalam tentang pembunuh Usman.

Apabila masyarakat melihat apa yang di lakukan oleh Usman, para sahabat Nabi di Madinah menulis surat kepada para sahabat yang berada di kawasan lain: “Kamu telah berjuang di jalan Allah swt, demi agama Muhammad. Semasa ketiadaan kalian, agama Muhammad telah dirosakkan dan ditinggalkan. Jadi kembalilah untuk membangunkan agama Muhammad.”Kemudian, mereka datang dari segala penjuru sehingga mereka membunuh khalifah Usman.
Sejarah al-Tabari, English version, v15, p184

Masyarakat melantik Imam Ali sebagai khalifah. Imam Ali mengambil jawatan itu dengan berat hati dan menghadapi pemberontakan dari Thalhah, Zubair dan Aisyah di Jamal. Saya akan membincangkan tentang perang Jamal di dalam artikel yang lain. Bagaimanapun, secara hakikatnya dapat kita ketahui bahawa perang Jamal ialah perang yang di sertai oleh para sahabat di kedua-dua belah pihak lawan.

Mawla Ali memberi komen tentang  Thalhah dan Zubair;

Demi Allah, mereka tidak menjumpai sesuatu yang tidak mereka setujui pada ku, tidak juga mereka berlaku adil di antara mereka dan aku. Sudah pasti, sekarang mereka menuntut hak yang mereka sendiri tinggalkan dan menuntut darah yang mereka sendiri tumpahkan(dalam kes Usman). Jika aku menyertai mereka di dalamnya, maka mereka juga mempunyai bahagian di dalam perkara itu, tetapi jika mereka melakukan tindakan itu, maka tuntutan itu sepatutnya ke atas mereka. Langkah pertama dalam keadilan mereka ialah mereka mengeluarkan keputusan kehakiman ke atas diri mereka sendiri. Aku mempunyai kecerdikan ku. Aku tidak pernah mencampurkan keadaan atau keadaan itu nampak tercampur padaku. Sesungguhnya, ini ialah kumpulan pemberontak yang terdiri dari orang terdekat(az Zubair), bisa kala jengking( Aisyah) dan keraguan yang mencipta hijab( terhadap kebenaran). Tetapi hal ini sangat jelas, dan kebatilan telah digoncang dari asasnya. Lidahnya telah berhenti dari mengucapkan suatu kebatilan. Demi Allah, aku akan menyediakan untuk mereka tangki air, yang hanya aku seorang sahaja boleh mengambilnya. Mereka tidak akan boleh meminum darinya atau dari tempat lain.
Nahjul Balagah, Khutbah 137,Tentang Thalhah dan Zubair

). Saya  tidak akan berhujah mengenai sebab-sebab tercetusnya perang Jamal, tetapi hakikatnya tetap sama, Thalhah, Zubair dan Aisyah memberontak terhadap Mawla Ali.

Imam Ali memberi komen tentang Muawiyah

Demi Allah, Muawiyah tidak lebih bijak dari ku, tetapi beliau menipu dan melakukan perbuatan yang jahat. Jika tidak kerana aku membenci kejahatan(dalam menggunakan taktik kotor), maka akulah orang yang paling bijak antara mereka. Bagaimanapun, setiap penipuan ialah dosa dan setiap dosa ialah penderhakaan kepada Allah. Setiap orang yang menipu akan ada panji yang menyebabkan dia akan dikenali di Hari Pembalasan.Demi Allah aku tidak akan dapat melupakan strategi atau tidak pula aku boleh dikalahkan oleh kesusahan.
Nahjul Balagah, Khutbah 200, Pengkhianatan Muawiyah dan nasib pengkhianat di Akhirat kelak.

Dan tentang Amr Ibn Al ‘As, seorang sahabat Nabi, juga merupakan seorang panglima Muawiyah yang cerdik tipu daya nya.

Aku berasa terkejut dengan anak an Naghibah yang mengatakan tentangku kepada penduduk asy Syams, sebagai seorang pelawak yang suka bermain-main dan menyeronokkan. Dia telah silap bercakap sesuatu yang berdosa. Beringatlah, ucapan yang paling buruk ialah yang tidak benar. Dia bercakap dan menipu. Dia memberi janji dan memungkirinya. Dia merayu dan meminta, tetapi bila seseorang merayu padanya, beliau melayannya dengan teruk. Dia mengkhianati perjanjian dan tidak mengendahkan hubungan persaudaraan. Di dalam pertempuran, beliau memberi arahan dan menasihati, tetapi hanya sehingga tidak melibatkan pedang. Apabila sampai masa itu, teknik terhebat beliau ialah lari membelakangkan lawan beliau. Demi Allah, mengingati mati telah menjauhkan aku dari keseronokan dan bermain-main, sementara kelupaan terhadapa dunia akhirat telah menghalang beliau dari bercakap benar. Beliau tidak memberi baiah kepada Muawiyah tanpa sebab: melainkan sebelumnya telah menetapkan harga yang harus dibayar, dan member penghargaan padanya kerana meninggalkan agama.
Nahjul Balagah, Khutbah 84, tentang Amr ibn al-aas

Oleh itu Imam Ali menganggap Muawiyah dan Amr sebagai manusia yang jahat. Mengambil kira peristiwa Perang Siffin, di mana Imam Ali menghadapi sahabat seperti Muawiyah dan Amr, Rasulullah (saw) memberi ramalan bahawa Ammar(ra) akan di syahidkan oleh pemberontak.

…Semasa pembinaan masjid Nabi, kami membawa bata masjid itu satu demi stu, sementara Ammar membawa 2 dalam masa yang sama. Nabi terserempak dengan Ammar dan membuang debu dari kepala beliau dan berkata: “Semoga Allah merahmati Ammar. Beliau akan dibunuh oleh kumpulan pemberontak yang agresif. Ammar akan menjemput mereka untuk taat kepada Allah manakala mereka menjemput Ammar ke neraka.”…
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 52, Hadith 67

Ammar disyahidkan pada hari ketiga Perang Siffin oleh pasukan Syria, iaitu pasuka Muawiyah. Ramalan Rasulullah (saw) menjelaskan dengan sendirinya.

Muawiyah bukan sahaja membenci Imam Ali, tetapi memulakan aktiviti mencaci maki beliau dari mimbar setiap kali khutbah, seperti yang diramalkan oleh Imam Ali.

Selepas pemergianku, akan diletakkan kepada mu seorang lelaki dengan mulut yang luas dan perut yang besar. Beliau akan menelan apa sahaja yang beliau dapat dan mengidam perkara yang  tidak beliau dapat. Kamu patut membunuh beliau tetapi aku tahu, kamu tidak akan membunuhnya. Beliau akan memerintahkan kamu untuk mencaci diriku dan menafikan diriku. Berkenaan mencaciku, kamu ccilah aku kerana ia membawa kepada penyucian untuk diriku dan keselamatan untuk diri mu. Berkenaan menafikan ku, janganlah kamu menafikan aku kerana aku dilahirkan pada agama lumrah(Islam) dan merupakan yang terawal dalam menerimanya, dan juga berhijrah. 
Nahjul Balagah, Khutbah 57, Amir al-mu’minin berkata kepada para sahabatnya tentang Muawiyah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Shu’ba dengan rangkaian perawi yang sama. Amir ibn Saad ibn Abi Waqas melaporkan dari bapanya: “Muawiyah ibn Abu Sufyan melantik Saad sebagai gabenor dan berkata: Apa yang menghalang kamu dari mencaci Abu Turab(Imam Ali), di mana beliau menjawab: “Ia kerana 3 perkara yang aku ingati Rasulullah(sawa) sebutkan mengenai beliau, yang membuatkan aku tidak akan mencaci beliau dan jika satu dari sift itu aku miliki, maka ia adalah lebih berharga bagi ku dari unta merah.Aku mendengar Rasulullah (sawa)  berkata kepada Ali semasa baginda meninggalkan beliau untuk perang Tabuk. Ali berkata kepada baginda: “Ya Rasulullah, kamu meninggalkan aku bersama wanita dan kanak-kanak.” Rasulullah(sawa) bersabda: “Tidakkah kamu berpuas hati dengan kedudukan mu pada ku ialah seperti kedudukan Harun kepada Musa dengan pengecualian tiada lagi Nabi selepas ku.” Dan aku juga mendengar baginda bersabda di Hari Khaibar: Aku akan memberi panji ini kepada seorang yang menyintai Allah dan RasulNya serta Allah dan RasulNya turut menyayangi beliau. Dia(perawi) berkata: Kami menunggu dengan penuh debaran, sehingga Rasulullah bersabda: “Panggilkan Ali.” Beliau di panggil, sedangkan ketika itu beliau mengidap sakit mata. Baginda menyapukan air liur baginda pada mata beliau, dan member panji itu pada beliau, dan Allah memberi beliau kejayaan. Yang ketiga ialah ketika ayat ini diturunkan“Marilah kita menyeru anak-anak kami serta anak-anak kamu”(Ayat Mubahalah [3:61]), baginda memanggil Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain dan berkata : Ya Allah, mereka ialah keluarga ku.”

Sahih Muslim, Kitab 31, Hadith 5915

Mari kita andaikan kamu tidak mencaci Imam Ali, dan saya tidak pernah menyuruh kamu mencaci Imam Ali(nauzubillah), jadi adakah sebarang sebab untuk saya bertanya kepada kamu sebab kamu tidak mencaci Imam Ali? Tidak! Sebab mengapa Muawiyah bertanya kepada Saad ialah kerana Muawiyah memperkenalkan amalan itu sendiri.

Seerat ul Nabi, Jilid 1, m/s 66 to 67 menyatakan; Shibli Numani mengatakan perkara yang serupa iaitu para Khalifah Bani Umayyah mencaci keturunan Fatimah di seluruh Empayar Islam, di setiap masjid, selama 90 tahun dan mencaci Al dari setiap mimbar semasa solat Jumaat.

… Shah Shaheed bertanya kepada Subhan Khan, “Adakah Tabarra kepada Muawiyah di lakukan oleh Imam Ali?” Beliau memberi jawapan negatif. Shah bertanya lagi: “Adakah Tabarra kepada Imam Ali di lakukan oleh Muawiyah?” beliau menjawab: “Tanpa ragu ia berlaku.” Mendengar perkara ini Mawlana Shah Shaheed memuji Allah dan berkata Ahlul Sunnah mengikuti amalan Ali manakala Rafidi mengikut amalan Muawiyah.

…. Mawlana Shah Moinuddin Ahmad Nadvi menyatakan dalam Tareekh e Islam, Jilid 1, M/s 13 dan 14. Semasa pemerintahan Muawiyah, beliau telah memulakan amalan mencaci maki Imam Ali dari mimbar, serta semua tindakan beliau dan masyarakat mencapat tujuan ini. Mughaira ibn Shuibah ialah seorang penuh dengan kualiti mulia, tetapi kerana beliau mengikuti Muawiyah, beliau juga tidak dapat melindungi diri dari Bid’ah ini.

Click below for scanned m/s:
Khilafat O Malukiyat aur Ulema e AhleSunnat, Abu Khalid Muhammad Aslam, m/s 120-122

Selepas kewafatan Maula Ali, permusuhan antara maula Hassan dan Muawiyah berterusan. Imam Hassan mehu perjanjian damai ditandatangani dari melancarkan satu lagi peperangan dengan Muawiyah, yang telah menyebabkan tertumpahnya banyak darah kaum Muslimin dan para sahabat Nabi (sawa)

Perjanjian damai itu tidak bermakna Imam Hassan menjadi sahabat kepada Muawiyah atau mencintai Muawiyah, kerana perjanjian itu ditandatngani oleh 2 paksi berperang. Nabi Muhammad (sawa) menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan pihak yang sama memerangi baginda selama bertahun-tahun.

Kalau tidak ada angin masakan dahan bergoyang. Sumber Sunni yang kuat mencadangkan yang Muawiyah turut bertanggungjawab dalam pembunuhan Aisyah.

Kita bercakap mengenai isteri yang paling disayangi Rasulullah (sawa) yang telah diceritakan sebagai contoh segala wanita di dalam Quran, dan kerana inilah darah beliau menjadi sangat bernilai pada umur 64.

Muawiyah menjemput Aisyah untuk makan malam. Beliau mengarahkan satu lubang dikorek, dan dipenuhkan ia dengan lembing dan pedang mencacak keatas. Mengikut sejarah Allama Ibn Khldun, Muawiyah menyorokkan lubang ini dengan papan yang lembik dan karpet. Beliau meletakkan kerusi kayu di atasnya sebagai tanda menghormati Aisyah. Sebaik sahaja aisyah duduk di atas kerusi itu, beliau jatuh ke dalam lubang itu dan cedera parah. Untuk menyembunyikan jenayahnya, Muawiyah mengarahkan lubang itu di tutup dan Aisyah turut di tanam di dalamnya. Oleh itu Muawiyah bertanggungjawab atas kematian baginda. Aisyah berumur 64 ketika itu, dan tindakan ini membuktikan kebencian beliau terhadap Nabi Muhammad (sawa)

Klik Di Bawah:
Musharaf al Mehboobeen, By Sheikh ul Tareeqat Hazrat Khwaja Mehboob Qasim Chishti Muhsarafee Qadiri, M/s 616

Ini ialah salah satu dari dakwaan yang di ambil dari sumber Sunni yang sahih. Kamu boleh memberi hujah balas berkenaan perkara ini, tetapi sebelum itu, saya sangat-sangat teringin untuk membaca berkenaan dengan majlis pengebumian Aisyah mengikut rujukan kamu.

Selepas syahidnya Imam Hassan, giliran Imam Hussain pula untuk syahid di bumi Karbala oleh Yazid Ibn Muawiyah.

Saya tidak boleh mempercayai semua sahabat secara TOTAL Rasulullah (sawa) membuat kebaikan samada kepada diri mereka atau antara satu sama lain. Sebagai kesimpulan, biar saya tunjukkan senarai keraguan saya;

  • Para sahabat Rasulullah (sawa) menyebarkan berita yang salah tentang Aisyah berzina.
  • Pergaduhan kecil antara Umar dan Abu Bakr yang meninggikan suara lebih dari Rasulullah (sawa) dan hampir menghapuskan segala amalan mereka.
  • Urwah(seorang sahabat) mencaci Hassan(seorang lagi sahabat)
  • Para sahabat enggan mengakui kepimpinan Usamah yang dilantik sendiri oleh Rasulullah. Ada juga sesetengah sahabat mengkritik kepimpinan beliau.
  • Tragedi Hari Khamis; Pertengkaran antara dua kumpulan sahabat di hadapan Rasulullah yang sedang tenat, di satu pihak mahu mengikut permintaan Rasulullah untuk menulis wasiat manakala di satu pihak lagi mengikuti pendapat mereka sendiri dengan menolak permintaan Rasulullah.
  • Pertengkaran dan pergaduhan  antara isteri-isteri nabi akibat dari cemburu sesama mereka. Ada juga di antara mereka yang merancang keatas Rasulullah (sawa) sendiri.
  • Kekejaman Khalid Ibn Walid kepada Bani Jadhima, sehingga Rasulullah sendiri berlepas tangan darinya.
  • Pertengkaran panas antara Muhajirun dan Ansar di Saqifah yang berakhir dengan Saad Ibn Ubaidah di pijak-pijak
  • Imam Ali dan penyokong beliau tidak bersetuju dalam konteks hak khilafah Abu Bakr.
  • Boikot dari Fatimah kepada Abu Bakr dalam konteks rampasan Fadak
  • Pendapat Imam Ali tentang Abu Bakr dan Umar yang dianggap oleh Imam Ali sebagi penipu dan tidak jujur dalam isu Fadak dan isu khilafah
  • Khalid Ibn Walid(sahabat) membunuh Malik Ibn Nuwara(juga seorang sahabat) dan merogol isteri beliau, Layla(juga seorang sahabat)
  • Kemarahan Umar dan protes beliau terhadap Khalid di zaman Abu Bakr.
  • Pemecatan Khalid dari semua jawatan angkatan tentera,
  • Abu Dzar dibuang negeri oleh Usman dan pentadbirannya.
  • Ammar Yasir dan Abdullah Ibn Masud di pukul atas arahan Usman
  • Menyalakan api pemberontakan rakyat terhadap Usman oleh Thalhah, Zubair dan Aisyah.
  • Pendapat Imam Ali terhadap Thalhah, Zubair dan Aisyah serta perang Jamal
  • Pendapat Imam Ali terhadap Muawiyah dan Amr ibn Al As serta perang Siffin
  • Muawiyah memulakan amalan mencaci Imam Ali
  • Ramalan Rasulullah (sawa) terhadap pembunuhan Ammar ibn Yassir oleh puak pemberontak(Muawiyah)
  • Perjanjian damai Imam Hassan dan Muawiyah
  • Pertuduhan Muawiyah membunuh Aisyah

Jika kamu ingin saya mempercayai bahawa semua sahabat dan isteri Nabi tidak mempunyai masalah dan kebencian antara satu sama lain, dan mereka hidup aman dan damai seperti saudara, jadi saya perlu menghiraukan sebahagian besar dari sejarah dan logik untuk hidup dalam dunia mitos dan mimpi. Bagaimanapun jika kamu bertanya mengenai fakta, maka fakta itu amat menggentarkan bagi orang yang mempercayai Imam Ali menyayangi Muawiyah, atau Aisyah menghormati Usman. Khalid ibn al Walid dan Amr ibn Al As secara faktanya, tidak dapat dinafikan ialah panglima perng yang bagus, tetapi itu tidak menjadikan mereka Muslim yang baik. Jika kamu mencintai dan menghormati semua orang, maka ia seperti menghormati Musa dan Firaun dalam masa yang sama. Ini kerana 2 puak yang melancarkan perang antra satu sama lain , secara logiknya tidak menyayangi satu sama lain, tetapi berniat untuk membunuh pihak lawannya.

Keadaan di mana Rasulullah (saw) meninggalkan dunia ini sangat sensitif sehingga tidak sampai 50 tahun peninggalan baginda, cucu baginda di bunuh oleh seorang Muslim, khalifah dan anak kepada sahabat.

Jika kamu mendakwa kamu menyayangi semua pihak, maka kamu secara logiknya tidak mampu membuat keputusan dan keliru secara moral.

Satu-satunya pilihan untuk kamu, ialah memilih. Pilihlah antara orang yang dipilih masyarakat atau yang di pilih Allah swt. Ini kerana jika kamu memilih seseorang yang menyakiti Allah, rasul dan Ahlul Bait baginda, maka kamu akan bertanggungjawab dengn pilihan kamu.

Jika kamu bertanya kepada saya, maka saya memilih Ahlul Bait yang di rahmati dari para sahabat Rasulullah(sawa). Kamu mungkin akan bertanya mengapa, saya akan membiarkan Imam Ali menjawab soalan ini.

Imam Ali(as) dalam suratnya menukilkan:

Sekumpulan Muhajirin berjaya mendapatkan syahid. Mereka terbunuh dalam perjuangan Islam dan Allah. Semuanya dirahmati Allah dengan kedudukan dan pangkat(di akhirat).Mereka yang terdiri daripada keluarga ku dan suku ku, Bani Hashim, di berikan status yang tinggi oleh Allah swt. Hamzah menerima gelaran Sayyidus Syuhada. Rasulullah (sawa) sendiri memanggil nama ini selepas kesyahidan beliau dan ketika pengebumian beliau. Rasulullah mengucapkan takbir 70 kali sebagai pengiktirafan kepada beliau, sesuatu yang tidak dilakukan kepada Muslim lain. Terdapat Muhajirin yang kehilangan tangannya di medan perang, tetapi apabila salah seorang dari kami kehilangan (Ja’far, saudara Nabi)  kedua tangannya dan syahid di medan perang, Allah memberikan beliau sayap, dan Rasulullah memberitahu kami beliau diberikan gelaran At Tayyar.

 

Jika tidak kerana Allah swt tidak menyukai perbuatan meninggi dan memuji diri sendiri, aku akan memberikan beberapa peristiwa yang menceritakan prestij ku dan statusku di hadapan Allah swt, peristiwa di mana ia boleh diterima dan diberi kesaksian oleh Muslim yang beriman kerana ia tidak boleh diragui lagi. Janganlah kamu menjadi seperti seorang yang syaitan telah sesatkan. Terimalah kebenaran apabila ia berada di hadapan mu.

Dengar wahai Muawiyah! Kami Ahlul Bait ialah satu contoh yang unik dari semua ciptaan Allah swt. Untuk status itu, kami tidak mempunyai tanggungjawab terhadap mana-mana orang atau suku kecuali Allah swt. Manusia telah dan akan mencapai kesempurnaan melalui kami. Ketinggian darjat kami tidak menghalang kami dari berurusan dengan kamu atau suku kamu, kami telah mengahwini sesama kamu dan membina hubungan kekeluargaan dengan suku kamu, walaupun kamu tidak termasuk di dalam kumpulan kami.

 

Bagaimana kamu boleh menjadi setaraf dengan kami sedangkan Rasulullah sebahagian dari kami dan Abu Jahal, musuh terburuk Islam adalah sebahagian dari kamu. Asadullah(Imam Ali) adalah dari kami dan Asadul Ahlaaf(Singa pihak lawan) adalah dari kamu. Dua orang pemuda ketua pemuda syurga adalah dari kami dan anak-anak neraka adalah dari kamu. Wanita terbaik di dunia(Fatimah) adalah dari kami, sedangkan wanita terburuk yang sentiasa mahu menyakiti Nabi ialah ibu saudara mu.

Terlalu banyak perkara yang membezakan kita. Kami ialah pengikut setia arahan Allah swt, manakala kamu dan suku kamu sentiasa menentang Islam dan menerimanya hanya untuk menyelamatkan diri kamu dari penghinaan. Keikhlasan kami dalam Islam dan bakti kami keatasnya adalah fakta sejarah manakala sejarah tidak dapat menidakkan kebencian kamu terhadap Islam dan Rasulullah (sawa).

Nama baik kami, yang mana kamu cuba merampasnya dari kami, dan kehormatan yang ingin kamu rendahkannya ialah sesuatu yang dijaga sendiri oleh Al Quran. Diceritakan di dalam Quran: “ Dan orang-orang yang mempunyai pertalian kerabat, setengahnya lebih berhak dari setengahnya yang lain – menurut (hukum) Kitab Allah [ Qur'an, 33:6 ] dan di tempat lain dalam kitab yang sama, Allah memberitahu manusia: “Sesungguhnya orang-orang yang hampir sekali kepada Nabi Ibrahim (dan berhak mewarisi ugamanya) ialah orang-orang yang mengikutinya dan juga Nabi (Muhammad) ini serta orang-orang yang beriman (umatnya – umat Islam). Dan (ingatlah), Allah ialah Pelindung dan Penolong sekalian orang-orang yang beriman.” [ Qur'an, 3:68 ]. Oleh itu kami mempunyai 2 kelebihan, hubungan yang rapat dengan Rasulullah (sawa) dan kesetiaan dalam menerima ajaran baginda.

Tahukah kamu di hari Saqifah, Muhajirin memberitahu kepada Ansar, yang mereka mempunyai kelebihan lebih dari Ansar kerana mereka mempunyai pertalian dengan Rasulullah(sawa), dan oleh kerana itu, mereka lebih layak ke atas khilafah, dan oleh kerana hujah ini juga mereka berjaya memenangi perebutan kuasa pada hari itu. Jika kejayaan boleh dicapai dengan bantuan hujah ini dan jika hujah ini mempunyai walau sedikit sahaja kebenaran di dalamnya, maka KAMI dan BUKAN KAMU lebih layak ke atas khilafah. Jika tidak, maka kaum Ansar juga masih mempunyai hak ke atas khilafah.

Nahjul Balaga, Surat 28, Surat balasan Imam Ali terhadap surat Muawiyah

Sunni mendakwa mengikuti dan menyayangi para sahabat akan membawa kamu ke jalan yang benar. Mereka mengungkapkan hadis yang dhaif ini:

Rasulullah (sawa) bersabda : Para sahabat ku ialah seperti bintang, sesiapa sahaja yang kamu ikuti, akan terpimpin(ke jalan yang benar)
Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, p. 160.

Jadi siapakah yang harus saya pilih, kerana jika saya memilih Ali, kamu memanggil saya kafir, kerana jika saya memilih Ali, maka saya perlu memisahkan diri dari musuh-musuh beliau, orang-orang yang beliau perangi serta orang-orang yang beliau kenali sebagai penipu. . Ini di panggil Tabarra, yang mana akan saya bincangkan dalam artikel lain selepas ini.

Zirr melaporkan: ‘Ali berkata: Demi Dia yang membelah benih dan mencipta Sesuatu yang hidup, Rasulullah (sawa) memberi ku janji yang hanya seorang Muslim akan menyayangi aku dan hanya seorang munafiq yang akan membenci ku.’
Sahih Muslim Kitab 001, Nombor 0141

Cinta kami ialah untuk Ali ibn Abi Thalib dan cinta kami juga untuk Ahlul Bait Nabi(as). Penghormatan kami ialah untuk para sahabat dan isteri baginda yang kekal setia kepada Islam, Nabi dan Ahlul Bait baginda sebelum dan selepas kewafatan baginda. Saya bertanya kepada kamu semua, siapa yang kamu pilih, semua para sahabat atau para sahabat yang bertaqwa kepada Allah dan melakukan kebaikan

Iaitu orang-orang yang menjunjung perintah Allah dan RasulNya (supaya keluar menentang musuh yang menceroboh), sesudah mereka mendapat luka (tercedera di medan perang Uhud).Untuk orang-orang yang telah berbuat baik di antara mereka dan yang bertaqwa, ada balasan yang amat besar.
Quran [3:172]

Ingatlah, ganjaran Allah bukan untuk semua orang.

Rahmat Allah ke atas Nabi Muhammad (sawa) dan Ahlul Bait baginda yang di rahmati. Redha Allah ke atas mereka yang menyokong perjuangn Islam serta membantu Rasulullah dan Ahlul Bait Baginda dengan ikhlas seumur hidup mereka. Dan laknat Allah telah mencukupi bagi mereka yang bertindak bertentangan dengan Islam, arahan Nabi serta menyakiti Ahlul Bait baginda, kerana Allah swt tidak akan bersama penipu.

Perlantikan Abu Bakar Satu Ijmak?

 

Bismillah.Salam wa rahmatollah.

Sunni berpendapat bahawa di dalam Islam ada unsur demokrasi dalam berpolitik, berdasarkan peristiwa perlantikan Abu Bakar yang mendapat sokongan padu para sahabat, atau sekurang-kurangnya itulah yang disuapkan kepada kita dari kecil hingga dewasa. Hujah ini jugs mereeka gunakan bagi mengenepikan hujah Syiah bahawa Rssululla sawa melantik pengganti, artikel ini adalah demi membuktikan bahawa perlantikan Abu Bakar tidak ada ijmak dan penuh dengan kontroversi.

Segalanya berlaku sejurus selepas kewafatan baginda Rasul(sawa). Bahkan ketika itu jasad suci Rasulullah masih belum dimandikan lagi. Ketika ini kaum Ansar telah pun berkumpul di Saqifah Bani Saadah untuk mengangkat Saad bin Ubadah sebagai khalifah. Mendengar berita itu, golongan muhajirin bergegas ke sana dengan meninggalkan Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait berserta sedikit para sahabat setia berseorangan memandikan jasad Rasulullah(sawa).

Setelah golongan Muhajirin tiba, maka berlakulah perdebatan sengit antara kedua golongan. Qais bin Saad selaku juru cakap bagi pihak ayah beliau menegaskan bahawa bapanya lebih layak dengan jawatan khalifah. Malangnya beliau tidak berjaya mendapatkan pungutan suara, lalu Saad mengambil keputusan untuk tidak membaiat sesiapa pun sehingga beliau meninggal dunia. Sementara Umar yang menyokong kuat perlantikan Abu Bakar pula berasa marah dan berkata kepadanya:

Bunuhlah Saad, semoga Allah swt membunuh Saad.”

Umar juga berkata kepada pengikutnya agar tidak membiarkan Saad selagi beliau belum memberi baiat kepada Abu Bakar. Sebaliknya, Basyir bin Saad pula berpendapat agar Saad dibiarkan sahaja kerana bimbang tuntut bela oleh kaumnya.

Rujukan:

Al Imamah was Siyasah: Ibnu Qutaibah, hal 20 dan Tarikh al Yaakubi, juz 2 hal. 84
Rujuk keengganan Saad untuk memberi baiat kepada Abu Bakar menerusi: al Kamil fit Tarikh:Ibnu Atsir, 2/194, Tarikh Thabari:3/222

Setelah itu al Hubbab bin Munzir bin al Jamuh pula berlawan cakap dan berhujah dengan Umar hingga beliau mengatakan kepada kaumnya dari golongan Ansar agar jangan sesekali menyerahkan jabatan Khalifah kepada golongan Muhajirin, kerana golongan Ansar lebih layak untuknya. Sekiranya mereka berkeras, halau mereka dari Madinah meskipun perlu berperang.(al Imamah was Siyasah, hal 18, al Kamil fit Tarikh 2/192-193)

Begitu juga dengan Abu Ubaidah yang tetap berkeras mahukan jabatan khalifah dipegang oleh golongan Ansar. Tetapi hujahnya dijawab oleh Abdul Rahman Bin Auf, Basyir bin Saad dan Abu Nu’man bin Basyir yang lebih bersetuju Abu Bakar lebih layak sebagai khalifah.(Tarikh Yaaakubi:2/83 dan al Kamil fit Tarikh 2/193)

Sementara sebahagian dari golongan Ansar bersama Zubair bin Al Awwam dan Al Abbas yang bersungguh-sungguh menjelaskan bahawa Ali bin Abi Thalib lebih layak sebagai khalifah. Sebaliknya, setelah perlantikan Abu Bakar, mereka semua pulang tanpa memberi baiat kepadanya, sehingga menyebabkan Umar menjadi marah, alalu membawa beberapa orang seperti Usaid bin Khudair dan Slimah bin Aslam untuk menyerang mereka. Melihatkan keadaan itu, Zubair lantas menghunuskan pedangnya, tetapi dengan segera beliau diserbu, pedangnnya dirampas dan beliau dihantukkan ke dinding atas arahan Umar al Khattab. (Al Imamah wa Siyasah hal. 21)

Setelah Abu bakar ditabalkan sebagai khalifah, sebahagian dari golongan Muhajirin dan Ansar berkumpul di rumah Imam Ali(as). Mereka tidak mahu memberi baiat kepada Abu Bakar hinggalah beberapa orang penyokong kuat Abu Bakar, yang antaranya Umar Al Khattab datang menyerang rumah Imam Ali(as) dan memaksa mereka berbaiat. Bahkan Umar mengancam untuk membakar rumah itu berserta dengan isinya hidup-hidup jika mereka berkeras tidak mahu membaiat.

Peristiwa cubaan membakar rumah Imam Ali(as) telah dicatat oleh Ibnu Katstir dan At Thabari dalam kitab-kitab tarikh mereka. Umar telah berkata: ” Aku akan membakar kamu mua sehingga kamu keluar untuk memberi baiah kepada Abu Bakar.”(sila rujuk ancaman ini menerusi: Al Imamah wa Siyasah, hal 24; Tarikh Ibnu Katsir,7/203); Tarikh Thabari, 3/198; Tarikh Abu Fida 4/259; Syarah Nahjul Balaghah)

Kenyataan sejarah telah membuktikan bahawa bukan Ali dan Ahlulbait sahaja yang enggan berbaiat kepada Abu Bakar, malah sebilangan besar para sahabat dari Muhajirin dan Ansar turut menentang beliau. Di antaranya:

  • Qais bin Saad
  • Abbas bin Abdul Muthalib
  • Al Fadhl bin Abbas
  • Zubair bin Awwam
  • Khalid bin Said
  • Miqdad bin Amr
  • Salman al Farisi
  • Abu Dzar Al Ghiffari
  • Ammar bin Yassir
  • Al Bara’ bin azib
  • Ubay bin Kaab
  • Saad bin Abi Waqqas
  • Thalhah bin Ubaidillah
  • Khuzaimhn bin Tsabit
  • Saad bin Ubadah
  • Farwah bin Amru al Ansari

Rujukan:

  • Tarikh Yaakubi
  • Al Kamil fit Tarikh
  • Al Imamah wa Siyasah
  • Iqdul Farid
  • Tarikh Thabari
  • Sirah Halabiyah

Berdasarkan peristiwa peerbalahan di balai raya Bani Saidah, maka kita dapt menyimpulkan beberapa perkara, seperti berikut:

  • Ali dan para sahabat besar enggan berbaiat
  • Umar dan kuncu-kuncunya mengugut untuk membakar jika enggan berbaiat
  • Golongan Ansar mengugut untuk menghalau golongan Muhajirin, walaupun terpaksa berperang jika Muhajirin berkeeras mahukan jawatan khalifah
  • Umar mengancam membunuh Saad
  • Zubair bin Awwam diserang atas arahan Umar hingga memaksanya menghunuskan pedang

Inilah secara ringkas perbalahan dan peretelingkahan yang berlaku sewaktu perlantikan Abu Bakar, dalam tempoh yang begitu singkat selepas kewafatan Nabi(sawa). Golongan Muhajirin dan Ansar masing-masing membela diri dengan sekerasnya demi jawatan yang bukan menjadi hak mereka untuk menuntutnya.

Ekoran peristiwa huru hara tersebut telah menghantui salah sesorang isteri Rasul Akram hingga memaksa beliau meminta Umar untuk melantik penggantinya di ambang maut dengan katanya: “Tentukanlah penggantimu sebagai pemimpin umat Muhammad, dan janganlah kamu meninggalkan mereka begitu sahaja sesudah pemergianmu. Sesungguhnya aku takut fitnah akan menimpa ke atas mereka.” (al Imamah wa Siyasah)

Diikuti pula Ibnu Umar yang beria-ia meminta ayahnya Umar agar berwasiat bagi menentukan pengganti sesudahnya dengan berkata: “Aku telah mendengar dari orang ramai yang berkata anda tidak akan melantik pengganti mu. Seandainya anda mempunyai pengembala kambing, kemudian ia datang kepada mu, dan anda meninggalkan unta dan kambing tersebut teerbiar, bukankah ia telah mensia-siakannya? Ketahuilah soal memimpin manusia itu lebih berat.”

Rujukan:

  • Sahih Muslim
  • Sunan Abu Daud
  • Sahih Tarmizi
  • Tuhftul Asyraf

Hairan juga para sahabat sendiri risau akan berlaku fitnah jika tidak dilantik pemimpin, tetapi Sunni mempercayai bahawa Rasulullah sendiri berbuat demikian. Jikalau diikut dari kata-kata Ibnu Umar, maka adakah Rasulullah adalah pengembala yang mensia-siakan gembalaannya?

Inilah juga yang diingatkan oleh Rasulullah dengan sabdanya:
“Sesungguhnya kamu semua akan tamak tentang jawatan pemerintahan. Dan oleh kerana itu kamu akan menyesal pada hari kiamat. Stu nikmat bagi yang menyusukan dan kesengsaraan bagi yang disusukan.”

Rujukan:

  • Sahih Bukhari, bil 7147
  • At Targhib wa Tarhib

Dengan semua penjelasan di atas, jelaslah di sini bahawa perlantikan Abu Bakar bukanlah satu ijmak di kalangan kaum Muslimin. Apatah lagi apabila kita mendapati, orang yang menentang beliau ialah para sahabat besar lagi masyhur. Jika ijmak sudah tiada, apa mungkin baiat itu boleh berlaku? Wallahualam

Apakah Yang Menyebabkan 100,000 Orang Mangabaikan Imam Ali?

 

Pertanyaan: Pada hari al-Ghadir lebih 100 ribu orang berada di samping Rasulullah dan kelangsungan peristiwa al-Ghadir telah mereka saksikan. Apa yang menyebabkan dikalangan mereka tiada yang mempertahankan Imam Ali? 

Jawapan: Adapun tiada yang mempertahankan Imam Ali di kalangan orang ramai amnya ada banyak perbahasan. Namun tidak benar mengatakan tiada langsung sesiapa yang mempertahankan beliau.

Umar Ibnu al-Khattab berkata sebaik sahaja wafatnya Nabi (s), golongan Ansar berselisihan dengan kami dan berhimpun di Saqifah Bani Sa’adah. Maka Ali dan Zubair serta sesiapa yang bersama mereka menentang kami.
Sahih Bukhari: 26/7

Ibnu Abil Hadid al-Muktazili dalam kitab Syarah Nahjul Balaghah mencatatkan bahawa kebayakan Muhajirin dan Majoriti Ansar tidak mengesyaki sesungguhnya Ali yang empunya Amir setelah Rasulullah.
Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid: 6/21;

Abbas bapa saudara Nabi mengatakan perilaku orang Islam ini adalah jelek; yang menyebabkan mereka berpisah dengan Ali dan mengikuti jejak Abu bakar. 

Adapun dalam riwayat dalam catatan Ibnu Abil Hadid:
“Umar bertanya pada Zubair: Pedang ini untuk apa? Jawabnya: Ku siap sediakan ia untuk pembai’atan Ali”
Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid, 6/48, Saqifah Wa Fadak, Juhari 73

Juga Riwayat yang tersedia:
Sebahagian kaum Muhajirin dan Ansar berselisihan dan mereka yang bersama Ali ialah Abbas bin Abdul Mutalib, Abu Fadl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad, Salman, Abu Zar, Ammar, Bara’ bin ‘Arib, Ubai Ka’ab, ‘Aduh bin Abi Lahab, Talhah bin Ubaidullah, Khuzaimah bin Thabit, Taruh bin Muhammad, Khalid bin Sa’id bin ‘As dan kumpulan Bani Hasyim.

Dalam sebahagian riwayat pula telah disebut hampir 30 ribu orang mengikuti Ali (as). Ibnu Abil Hadid bertanya kepada gurunya: Kenapa Ali bersama kekuatan 30 ribu orang tidak berjaya? Jawapan yang didengarinya: Apakah kekuatan 30 ribu orang terdaya untuk bangun berjuang menghadapi kekuatan 70 ribu atau 100 ribu yang dihimpun mereka?. 

Dari arah lain, pada zaman itu raja Rom menyerang, sehingga Islam dari akar umbi ingin mereka cabutkan dan umat Islam ingin mereka hapuskan habis-habisan. Dari satu arah lagi orang Yahudi sudah bersiap sedia menyerang Islam, golongan Munafik juga sibuk merencana konspirasi. Dalam suasana begini Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib berkata: Jikalau aku bangun demi kebangkitan dan hak-hak, peperangan dari dalam meletus dan musuh memanfaatkan peluang ini dan Islam yang sebenar akan jatuh dalam mara bahaya.
Nahjul Balaghah, surat 62; As-Syafi 3/243.

Oleh itu tidaklah benar Ali bin Abi Talib tidak mengambil perhatian subjek ini.

Masalah lain yang berkaitan dengan ini juga perlu diambil kira, iaitu ketika sebelum perancangan beberapa orang membina satu suasana, sehingga pemerintahan daripada Ali dirampas dan diberi pada Abu Bakar. Mukadimah-mukadimah ini juga telah disiap sediakan sejak di zaman nabi (s).

Ibnu Abil Hadid al-Muktazili dalam syarah peristiwa Saqifah telah mencatatkan: Beberapa orang daripada kabilah Aslam mendiami khemah di sekitar Madinah. Beberapa berita telah sampai; mereka telah mengikat janji dengan khalifah ke-dua bahawa selepas kewafatan Nabi (s), mereka akan masuk ke kota Madinah dan mengambil Bai’at orang ramai secara paksa. Umar bin al-Khattab sendiri berkata bahawa setelah kewafatan Nabi, beliau pernah melihat khabilah Aslam di kota Madinah, saya dijamin oleh bantuan mereka (Tarikh Tabari, 2/459). Had bilangan individu-individu kabilah ini sangatlah ramai hingga tiada tempat lagi di lorong-lorong Madinah untuk mereka lalu lalang.
Tarikh Tabari, 2/458 

Bara bin ‘Azib menukilkan beberapa individu daripada kabilah ini memakai persalinan tentera dan memaksa orang ramai membai’at Abu Bakar samada orang ramai mahu atau tidak mahu. Dengan arahan Umar jikalau barangsiapa yang membantah akan dipukul dan dicerca.
Syarah Nahjul Balaghah; Ibnu Abil Hadid; 1/219

Semoga Berhasil

Imam Ali Menuntut Jawatan Khalifah

 


Salam wa rahmatollah. Bismillahir Rahman Ar Rahim

Dalam siri Imamah yang lepas, telah diberikan banyak dalil yang membuktikan Imamah Ali Ibn Abi Thalib serta wilayah Ahlulbait(as) ke atas umat Islam. Persoalan yang timbul ialah jika benar perlantikan ini terjadi, dan arahannya adalah dari Rasulullah, maka mengapakah beliau tidak menuntutnya, meskipun perlu kepada pertumpahan darah? Ingat, ini bukan perkara kecil kerana ia adalah perintah Allah dan RasulNya.

 

Jika anda mengatakan Imam Ali langsung tidak menuntut jawatan khalifah adalah tidak tepat sama sekali. Bahkan beliau telah memencilkan diri di rumah beliau tanpa memberikan baiat kepada Abu Bakar, sehingga memaksa si khalifah datang menemui beliau dengan harapan Imam Ali mengakui kedudukannya.

 

Imam Ali mengemukakan beberapa soalan kepada beliau, khususnya mengenai hak sebagai khalifah, secara langsung selepas kewafatan baginda Rasul adalah miliknya berdasarkan hadis-hadis Rasulullah yang melantik beliau di Ghadir Khum. Dalam sesi dialog ini Abu Bakar mengakui hak Imam Ali, dan hampir menyerahkannya semula kepada  beliau, jika tidak kerana campur tangan Umar. Berikut ialah sesi dialog itu.

 

Imam berkata kepada Abu Bakar, “Aku adalah hamba Allah dan saudara RasulNya!”

 

Lalu berkata kepada seseorang kepada Imam Ali, “Berbaiatlah kepada Abu Bakar.”

 

Imam Ali: Aku lebih berhak kepada jawatan ini, dan aku tidak akan membaiat kamu, kerana kamu lebih patut membaiat aku. Kamu mengambil jawatan ini dari Ansar dengan alasan kekerabatan kamu dengan Rasulullah(sawa), sedangkan kamu mengambilnya dari kami, Ahlulbait Nabi secara rampasan. Kamu membuat dakwaan atas golongan Ansar bahawa kamu lebih layak akan jawatantersebut kerana kedudukan kamu di sisi Rasulullah, lalu mereka menyerahkan kepada kamu tampuk pemerintahan. Sekarang aku berhujah dengan kamu sebagaimana kamu berhujah dengan kaum Ansar bahawasanya kami Ahlulbait lebih layak di sisi Rasulullah samada hidup atau mati. Oleh itu, kembalikanlah kepada kami sekiranya kamu orang-orang yang benar. Jika tidak, kamu sebenarnya telah mengembalikan semula kezaliman sedang kamu menyedarinya.”

 

Lantas Umar berkata: “Kamu tidak akan dibiarkan begitu sahaja hinggalah kamu berbaiat.”

 

Imam Ali: “Perahlah susu dengan sekali perahan, dan untukmu separuh darinya. Berilah sokongan penuh mu kepada Abu Bakar, agar dia menyerahkan kepada mu(jawatan khalifah) esok.”(*Dan memang benar ia terjadi seperti mana yang diucapkan beliau, jawatan khalifah diwariskan tanpa Syura terus kepada Umar)

 

Imam Ali meneruskan hujahnya: “Demi Allah wahai Umar, aku tidak menerima kata-kata mu dan aku tidak mungkin akan membaiat.”

 

Abu Bakar: “Sekiranya dia tidak mahu membaiat, maka aku tidak mahu memaksanya.”

 

Rujukan: Al Imamah wa Siyasah; Ibnu Qutaibah, hal. 23

 

Setelah itu rumah Imam Ali dikepung oleh sekumpulan samseng, yang mengaku diri mereka sebagai sahabat Rasul, bahkan diancam bakar jika mereka tidak mahu keluar memberi baiat. Maka beberapa orang dari pengikut Imam merasa takut lalu menyatakan persetujuan, maka tinggallah hanya beberapa orang yang tetap setia bersama Imam. Setelah itu Imam Ali diheret keluar bertemu dengan Abu Bakar, dan di situ penyokong Abu Bakar berkata kepadanya:

 

Penyokong Abu Bakar(PAB): Baiatlah Abu Bakar!!

 

Imam Ali: Jika aku tidak mahu membaiat, apa yang akan kalian lakukan?

 

PAB: Demi Allah yang tiada Tuhan selainNya, kami akan memancung leher mu!

 

Imam Ali: Jadi kamu sanggup membunuh seorang hamba Allah dan saudara Rasulnya?

 

Umar mencelah: Kamu memang seorang hamba Allah, tetapi bukan saudara Rasulullah!

 

Ketika pertengkaran sedang hangat berlaku, Abu Bakar hanya diam membisu tanpa berkata sepatah pun. Melihat keadaan itu, Umar berkata pada Abu Bakar: “Tidakkah kamu mahu mengeluarkan sebarang perintah terhadap tindakan Ali ini?”

 

Abu Bakar menjawab: “Aku tidak mahu memaksanya selagi Fatimah ada di sisinya.” Setelah itu, Imam Ali dilepaskan lalu beliau berlari ke kubur Rasulullah(sawa) sambil berkata: “Wahai sepupuku, sesungguhnya kaum itu menghinaku dan mahu membunuhku.”Al Imamah wa Siyasah; Ibnu Qutaibah, hal. 25

 

Setelah dialog ini, Imam Ali dibiarkan tanpa berbaiat selama 6 bulan, sehingga pemergian Fatimah Zahra. Dialog di atas dipetik dari kitab Al Imamah wa Siyasah karangan Imam Ibnu Qutaibah ad Dainuri. Beliau adalah di antara ulama Ahlul Sunnah yang dipercayai kutipannya. Antara karangan beliau yang mashyur ialah:

  • Gharibul Quran
  • Gharibul Hadis
  • Musykilul Quran
  • Uyun al Akbar
  • Al Maarif
  • Adabul Katib

Berikut ialah beberapa ulasan ulama Sunni tentang keperibadian Ibnu Qutaibah:

  • Ibnu Khalikan berkata: Ibnu Qutaibah ialah seorang yang dihormati Allah dan dipercayai.(Siyaru Alamin Nubala: 13/296-302 dan Wafayatul Ayan: 2/246)
  • Ibnu Katsir berkata: Ibnu Qutaibah ialah seorang yang paling dipercayai dan terhormat. (al Bidayah wa An Nihayah; 2/48)
  • Ibnu Hajar berkata: Ibnu Qutaibah ialah seorang yang dipercayai dalam ucapannya.(Lisanul Mizan, 3/357)
  • Maslamah bin Qasim berkata: Ibnu Qutaibah ialah seorang yang dipercaya dikalangan Ahlul Sunnah.
  • Az Zahabi berkata: Ibnu Qutaibah bukanlah ulama hadis, tetapi beliau ialah ulama yang mashyur. Di sisinya ilmu-ilmu yang banyak dan penting. (Siyaru Alamin Nubala; 13/196-302)

Sekiranya masih ada yang kurang berpuas hati dengan nukilan riwayat di atas, maka akan saya bawakan perbandingan dari kitab-kitab Ahlul Sunnah yang lain, iaitu Sahih Bukhari(Hadis Bilangan 3711,3712,4035,4036,4240,4241,6725&6726), Sahih Muslim(Bil. 4555), Sunan Abu Daud(Hadis 2968-2970) dan Sunan An Nisa’i(Hadis 4152)

Menerusi kitab-kitab di atas, jelas memperlihatkan penyesalan Abu Bakar ketika sesi dialog yang kedua dengan Imam Ali selepas kewafatan isterinya.

Secara ringkas, riwayat telah menceritakan bahawa setelah Fatimah datang bertemu Abu Bakar untuk menuntut haknya, yakni tanah Fadak dan Khumus, Abu Bakar enggan menyerahkannya bersandarkan kepada hadis yang berbunyi: “Kami para Nabi tidak mewariskan dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.”(Hadis ini palsu riwayat Abu Bakar, akan dibuktikan). Mendengarkan alasan itu, Fatimah sangat berdukacita lalu menjauhkan dirinya dari Abu Bakar serta tidak bercakap dengan beliau sehingga wafat. Fatimah(sa) hanya hidup 6 bulan setelah kewafatan bapanya.

Sebelum beliau wafat, Fatimah telah mewasiatkan suaminya agar melarang Abu Bakar atau sesiapapun menyembahyangkannya. Bahkan jenazah suci beliau perlu dikuburkan ditempat yang tidak diketahui oleh orang ramai.

Ketika hayat isterinya, orang ramai masih memberi tumpuan kepada Imam Ali. Sebaliknya setelah pemergian Fatimah, tumpuan masyarakat mula berkurangan. Seterusnya Imam mencari jalan penyelesaian dengan menjemput Abu Bakar untuk berdialog, dengan syarat Umar tidak turut serta. Namun Umar tetap mahu mengiringinya.(*Umar berasa takut, jika Abu Bakar pergi seorang diri, beliau akan kalah dalam hujah-hujah Ali, maka kita dapati, Umar lebih banyak bercakap dari Abu Bakar)

Diantara teks dialog tersebut Imam Ali berkata kepada Abu Bakar: “Kamu merampas hak khalifah tersebut dari kami, dan kami melihat bahawa kami(ahlulbait) ada hak kerana kekerabatan kami dengan Rasulullah!” dan imam terus berbicara hingga Abu Bakar menangis teresak-esak.

Cuba anda perhatikan teks riwayat yang saya bawakan dari Sahih Muslim. Teks riwayatnya seperti ada yang tertinggal atau mungkin sengaja dibuang. Ia hanya mengemukakan dialog “…dan beliau(Imam Ali) terus berbicara hingga Abu Bakar menangis teresak-esak.”

Persoalannya apa yang membuatkan Abu Bakar menangis teresak-esak? Di manakah perginya teks dialog lain yang mengharukan itu, sehingga Abu Bakar menangis tersak-esak? Apakah sekadar Imam berkata “anda telah merampas hak kami…” sudah cukup membuatkan Abu Bakar menangis?

Berikut akan saya kemukakan teks dialog diantara Abu Bakar dan Imam Ali yang membuatkan dia menangis menurut catatan Allah Thabrisi di dalam kitab Al Ihtijaj: 1/115-129, kemudian saya akan merujuk kitab-kitab Ahlul Sunnah sebagai pengukuh kepada kesahihan hadis-hadis tersebut.

Daripada Jaafar, yang meriwayat dari bapanya Muhammad yang meriwayat dari bapanya Ali meriwayat dari bapanya Hussain meriwayat dari bapanya Ali bin Abi Thalib:

 

“Setelah selesai urusan Abu Bakar dan pembaiatan orang ramai kepada nya serta tindakan ancaman terhadap Imam Ali(as) Abu Bakar masih tetap mengharapkan Imam Ali memberi baiat, bagaimanapun Abu Bakar menerima reaksi negatif daripada Imam(as). Abu Bakar menganggap perkara ini sebagai serius, lalu ingin berjumpa dengan beliau dan meminta penjelasan dari Imam. Abu Bakar juga memohon maaf kepada beliau di atas pembaiatan orang ramai, dan ia berlaku bukan di atas kehendaknya, yang tidak mahukan jawatan khalifah, disebabkan oleh kelemahannya. Abu Bakar mengadakan pertemuan 4 mata dengan Imam Ali(as).

 

Abu Bakar: Wahai Abul Hassan. Demi Allah, perkara ini(jawatan khalifah) bukanlah benar-benar keinginan ku, kerana aku sendiri tidak mempunyai keyakinan pada diriku terhadap keperluan umat ini. Aku tidak memiliki harta yang banyak, dan keluarga ku pula ramai. Oleh itu, mengapa kamu menyembunyikan diriku apa yang aku tidak berhak dari kamu. Kamu melahirkan kebencian terhadap diriku?(Al Imamah was Siyasah; Hal.18-19, Marujuz Zahab;2/302, Tarikh Yaakubi;2/127)

 

Imam Ali: Apa yang mendorong kamu untuk memegang jawatan khalifah ini sekiranya kamu benar-benar tidak menginginkannya? Bahkan kamu merasa kurang yakin dengan dirimu sendiri dalam mengendalikannya.

 

Abu Bakar: Sebuah hadis yang aku mendengarnya daripada Rasulullah(sawa): “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat menuju ke arah kesesatan” maka dengan ini, apabila aku melihat kesepakatan(ijmak) orang ramai atas perlantikan ku, maka aku mengikuti sabda Nabi tersebut.(Milal wan Nihal: 1/9) Bahkan aku langsung tidak terfikir bahawa kesepakatan mereka menyalahi petunjuk. Oleh itu aku memberikan jawaban positif(dengan menerima perlantikan itu). Sekiranya aku mengetahui walau seorang pun yang tidak bersetuju dengan perlantikan itu, maka pasti aku akan menolaknya.

 

Imam Ali: Sabda Nabi yang kamu sebutkan itu bahawa sesungguhnya umat ini tidak akan bersepakat menuju ke arah  kesesatan itu, adakah aku ini sebahagian dari umat atau tidak?

 

Abu Bakar: Tentu sekali kamu itu sebahagian dari umat.

 

Imam Ali: Adakah golongan yang menentang kamu itu seperti Salman, Ammar, Abu Dzar, Miqdad, Ibnu Ubbad dan orang-orang Ansar lain yang bersama mereka itu termasuk di dalam umat?

 

Abu Bakar: Semuanya termasuk di dalam umat

 

Imam Ali: Jadi bagaimana kamu boleh berhujah dengan hadis tersebut, sedangkan orang-orang seperti mereka telah membelakangi kamu? Sedangkan umat tidak mencela mereka, dan persahabatan mereka dengan Rasulullah sangat baik sekali?

 

Abu Bakar: Aku tidak mengetahui penentangan mereka berlaku selepas perlantikan khalifah. Aku bimbang sekiranya aku tidak mengambil berat perkara ini(hal pemeritahan) orang ramai akan menjadi murtad. Oleh itu tindakan mereka memilih ku adalah memudahkan untukku memberi pertolongan di dalam agama dan mengekalkannya dari permusuhan dikalangan mereka yang membawa mereka menjadi kafir. Aku menyedari bahawa kamu bukanlah orang yang dapat mengekalkan mereka dan agama mereka.

 

Imam Ali: Benarkah? Baik, beritahukan kepadaku tentang orang yang berhak menjadi khalifah dan dengan sifat apakah dia berhak ke atasnya?

 

Abu Bakar: Dengan nasihat, kesetiaan, akhlaq yang baik, melaksanakan keadilan, alim dengan kitab Allah dan sunnah Rasulnya, memiliki puncak kefasihan yang tinggi, zuhud dalam soal duniawi, tidak cintakan dunia, menyelamatkan orang yang tertindas samada yang jauh atau dekat..(setelah itu Abu Bakar terdiam..)

 

Imam Ali: Orang yang terawal memeluk Islam dan kerabat Nabi?

 

Abu Bakar: Ya

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah sifat-sifat tersebut ada pada kamu atau diriku?

 

Abu Bakar: Bahkan pada dirimu wahai Abul Hassan.(Lisanul Mizan:6/78, Al Manaqib Hal. 7, Al Bidayah Wan Nihayah,7/356)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah aku yang terawal menyahut dakwah Nabi dari kalangan lelaki atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu(Yanabi al Mawaddah: Hal 91-92)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah!Adakah aku yang mengisytiharkan surah Al Baraah(at Taubah) di musim haji akbar atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu.(Musnad Ahmad:1/56, Sahih Tarmizi: 2/461, Mustadrak al Hakim:2/51)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah aku yang mempertahankan(menjadi pengawal) di hari al Ghadir atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu.(Rujuk Siri:Imamah di Daftar Artikel)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah aku maula kamu dan keseluruhan kaum Muslimin melalui hadis Nabi di Ghadir atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah ayat al Wilayah daripada Allah itu berkenaan dengan cincin yang aku sedekahkan atau kamu?

 

Abu Bakar:Kamu

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah wazarah(menteri/pembantu) bersama Nabi yang diibaratkan seperti Harun di sisi Musa itu aku atau kamu?

Abu Bakar: Kamu

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah Ayatul Thathir itu untukku, isteri ku dan anak-anak lelaki ku atau untuk kamu, isterimu dan anak-anakmu?

 

Abu Bakar: Kamu, isterimu dan kedua anak lelaki mu.

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah Rasulullah mempertaruhkan aku, isteriku dan kedua anak lelaki ku ketika ber Mubahalah dengan kaum Nasrani atau mempertaruhkan kamu, isterimu dan anak-anak lelaki mu?

 

Abu Bakar: Dengan kalian.(Peristiwa Mubahalah)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah aku, isteriku dan anak-anak lelaki ku yang didoakan oleh Rasulullah di hari al Kisa: “Ya Allah, mereka ini Ahlulbait ku, kepada Mu bukan ke neraka Mu” atau kamu sekeluarga?

 

Abu Bakar: Kamu dan anak isteri mu.(Rujuk perbahasan ayatul Thathir dan siapa Ahlulbait)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah aku yang dimaksudkan dengan ayat: Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya dimana-mana(Al Insan:7) atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu(Asbabun Nuzul Wahidi; hal 331, Tafsir Fakhrul Radzi: Ayat berkenaan, Al Isabah: 8/68, Usudul Ghabah: 5/350,Nurul Absar: Hal 102)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah aku atau kamu yang dikembalikan matahari untuk menunaikan solat Asar yang terlepas kemudian ia terbenam semua?

 

Abu Bakar: Kamu(Lisanul Mizan:5/76, Al Bidayah wan Nihaya: 6/80, Musykilul Atsar: 2/8, Yanabi al Mawaddah: Hal 137)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah kamu yang melegakan Rasulullah(sawa) dan kaum Muslimin dengan pembunuhan Amru bin Abdu Wudd(perwira hebat di perang Khandaq) atau aku?

 

Abu Bakar: Kamu(Lisanul Mizan:5/76, Al Bidayah wan Nihaya: 6/80, Musykilul Atsar: 2/8, Yanabi al Mawaddah: Hal 137, Kifayatuth Thalib: Hal 227)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang diamanahkan oleh Rasulullah sebagai utusan kepada jin, lalu mereka menyahutnya, adalah aku atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu(Kifayatuth Thalib: Hal 230-231)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang disucikan oleh Allah dari penzinaan sejak Adam hinggalah bapanya dengan sabda baginda: “Aku dan kamu(Ali) adalah dari nikah yang sah bukan dari penzinaan sejak Adam hinggalah Abdul Muthalib itu” aku atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu(Kifayatuth Thalib: Hal 379, Majma’ uz Zawaid)

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang dipilih oleh Allah untuk mengahwini puterinya Fatimah dengan sabdanya: “Allah telah mengahwinkan kamu denga Fatimah di langit” kamu atau aku?

 

Abu Bakar: Kamu(Al Sawaiqul Muhriqah:Hal 84-85, Kifayatuth Thalib: Hal 298-299)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah bapa Hassan dan Hussain menerusi sabdaan Nabi: “Kedua-duanya ahli syurga, dan bapa mereka berdua lebih baik dari mereka” adalah kamu atau aku?

 

Abu Bakar: Kamu(Kifayatuth Thalib Hal 204, Yanabi al Mawaddah: Hal 166)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Aakah saudara kamu yang dihiasi 2 sayap terbang ke syurga bersama para malaikat atau saudara ku?

 

Abu Bakar: saudara kamu.(Jaafar bin Abu Thalib)-(Yanabi al Mawaddah hal 519)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Aakah orang yang telah menjamin hutang Rasulullah dan mengadakan pengisytiharan di musim haji dengan melaksanakan janjinya adalah kamu atau aku?

 

Abu Bakar: kamu(Mizanul i’tidal: 1/306, Ad Durul Mantsur 3/309)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang didoakan Rasulullah ketika burung panggang ada di sisinya dan baginda bersabda ketika mahu memakannya: “Ya Allah hadirkanlah kepada ku orang yang paling Engkau cintai sesudah ku untuk memakan burung ini bersamaku” maka tidak ada seorang pun yang hadir melainkan kamu atau aku?

 

Abu Bakar: Kamu(Sahih Tarmizi: bil 373, Mustadrak:3/130, Mu’jamul Kabir: 1/253/730)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang diberi mandat oleh baginda Nabi untuk memerangi kaum Nakitsin, Qasithin dan Mariqin mengikut takwilan Al Quran adalah aku atau kamu?

 

Abu Bakar: kamu(Kanzul Ummal: 6/154, Tahzibut Tahzib: 3/178, Kifayatuth Thalib: hal 167-168)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang ditunjukkan oleh Rasulullah dengan kebijaksanaan dan kefasihan dengan sabdanya: “Ali adalah orang yang paling alim dalam ilmu penghakiman” aku atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu(Kifayatuth Thalib:Hal 112)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang Rasulullah pada masa hidup baginda telah memerintahkan para sahabat agar memberi salam kepadanya untuk menjadi ketua, aku atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu(Al Isabah:3/20, Kanzul Ummal: 6/155, Mustadrak al Hakim: 3/128)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang menyaksikan ucapan Rasul yang terakhir, mengurus dan mengkafankan jenazah beliau adalah aku atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu(Al Manaqib:Hal 60-63)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah aku kerabat Rasulullah atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang dikurniakan Allah dengan dinar ketika ia memerlukan dan Jibril menjualkan kepadanya juga menjadikan Muhammad sebagai tetamu lalu ia memberi makan anaknya adalah kamu atau aku?

 

Abu Bakar(menangis): Kamu(Usudul Ghabah: 5/530 dan Kifayatuth Thalib: Hal 348-349)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang diletakkan Nabi di atas bahunya untuk menolak dan memecahkan berhala-berhala di atas Kaabah hinggakan jika dikehendaki nescaya ia dapat menyentuh ketinggian langit itu kamu atau aku?

 

Abu Bakar: Kamu(Mustadrak al Hakim: 3/5)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang diperintahkan Rasulnya supaya pintunya dibuka sementara pintu para sahabat lain ditutup itu aku atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu(Khasais Ali:Hal 17, Mustadrak: 3/125, Sahih Tarmizi: 2/301)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang dimaksudkan Nabi sebagai pemilik panji dunia dan akhirat itu kamu atau aku?

 

Abu Bakar: Kamu(Yanabi al Mawaddah: Hal 81)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang mengeluarkan sedekahtatkala diadakan perbicaraan khusus dengan Rasul dan ketika itu Allah mengkritik satu golongan: “Apakah kamu takut menjadi miskin kerana kamu memberi sedekah sebelum perbicaraan dengan Rasul(Al Mujadalah:13) itu aku atau kamu?

 

Abu Bakar: Kamu(Yanabi Al Mawaddah: Hal 100)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! Adakah orang yang dimaksudkan Rasul ketika baginda bersabda kepada Fatimah(sa): “Aku nikahkan kamu dengan orang yang pertama beriman kepada Allah” itu kamu atau aku?

 

Abu Bakar: Kamu(Dzakhairul Uqba: Hal 29, Sawaiqul Muhriqah: Hal 85, Kifayatuth Thalib: Hal 298)

 

Imam Ali: Aku menyeru kamu dengan nama Allah! adakah orang yang diberi salam oleh malaikat 7 langit di hari al Qulaib itu kamu atau aku?

 

Abu Bakar: Kamu(Tarikh Baghdadi:4/403)

 

Imam Ali: Jadi adakah dengan perkara-perkara ini dan seumpama dengannya kamu masih lebih berhak melaksanakan urusan umat Muhammad? Apakah yang membuatkan kamu terlanjur jauh dari Allah dan RasulNya, sedangkan kamu tidak memiliki sesuatu apapun yang diperlukan oleh penganut agamanya?

Abu Bakar menangis dan mejawab: Memang benar apa yang kamu katakan wahai Abul Hassan. Tunggulah hingga berlalu hari ku. Aku akan memikirkan tentang jawatan ku sebagai khalifah dan aku tidak akan mendengar lagi percakapan sebegini dari pada kamu.(Al Imamah wa Siyasah: Hal 18-19, Tarikh Yaakubi: 2/127-128)

 

Imam Ali: Itu terserahlah kepada kamu wahai Abu Bakar.

 

Inilah teks dialog yang berlangsung antara Imam Ali dan Abu Bakar. Dialog yang membuatkan Abu Bakar teresak-esak menangis kerana terpaksa mengakui kebenaran kata-kata Imam Ali(as).

 

Meskipun begitu, tiada sebarang tindakan susulan daripada Abu Bakar untuk menyerahkan kembali hak kepimpinan kepada orang yang lebih berhak walaupun dia telah mengakui kebenaran hak Imam Ali(as). Mengapa ye?

Analisis Riwayat Ancaman Pembakaran Rumah Fatimah

 


salam wa rahmatollah.

Antara yang menentang adalah Ahlulbait(as) dan para syiah mereka, yang menyebabkan Umar memimpin satu kumpulan orang untuk membuat pengepungan rumah Imam Ali dan mengugut membakarnya. Oleh kerana betapa beratnya tindakan para sahabat besar ini, maka sudah pasti ia mengejutkan pencinta mereka, sekaligus, membuatkan penafian muncul dari mulut mereka. Penafian ini mungkin berupa penafian kejadian ini pernah berlaku, atau apabila ditunjukkan bukti dalil riwayat, maka mereka mula akan menafikan kesahihan riwayat itu dan mempermasalahkannya.

Ini adalah satu perkara yang yang menghairankan kerana ia telah diriwayatkan dalam banyak kitab-kitab pegangan Sunni seperti:

  • Tarikh al Umm wa al Mulk: Ibnu Jarir at Thabari
  • Al Mushannaf: Ibnu Abi Syaibah
  • Ansab al Asyraf: Al Baladzuri
  • al Isti’ab: Ibnu Abdil Barr
  • Muruj Adz Dzahab: Al Mas’udi

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan tragedi ini dengan sanad berikut:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kamiUbaidillah bin Umar telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Aslam ayahnya yang berkata ”Ketika Bai’ah telah diberikan kepada Abu Bakar setelah kewafatan Rasulullah SAW,  Ali dan Zubair sedang berada di dalam rumah Fatimah bermusyawarah dengannya mengenai urusan mereka. Sehingga ketika Umar menerima khabar ini beliau bergegas ke rumah Fatimah dan berkata ”Wahai Puteri Rasulullah SAW setelah Ayahmu tidak ada yang lebih aku cintai dibanding dirimu tetapi aku bersumpah jika orang-orang ini berkumpul di rumahmu maka tidak ada yang dapat mencegahku untuk memerintahkan membakar rumah ini bersama mereka yang ada di dalamnya”. Ketika Umar pergi, mereka datang dan Fatimah berbicara  kepada mereka “tahukah kalian bahawa Umar datang kemari dan bersumpah akan membakar rumah ini jika kalian kemari. Aku bersumpah demi Allah ia akan melakukannya jadi pergilah dan jangan berkumpul disini”. Oleh karena itu mereka pergi dan tidak berkumpul disana sampai mereka membaiat Abu Bakar. (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah jilid 7 hal 432 riwayat no 37045).

Riwayat ini memiliki sanad yang shahih sesuai persyaratan Bukhari dan Muslim.

Sanad Riwayat Dalam Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah

Ibnu Abi Syaibah
Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Utsman Al Absi Al Kufi. Ia adalah seorang imam penghulu para hafidz, penulis banyak kitab seperti Musnad,al Mushannaf dan Tafsir. Para ulama telah sepakat akan keagungan ilmu kejujuran dan hafalannya. Dalam Mizan Al I’tidal jilid 2 hal 490 Adz Dzahabi berkata”Ia termasuk yang sudah melewati jembatan pemeriksaan dan sangat terpercaya”. Ahmad bin Hanbal berkata ”Abu Bakar sangat jujur, ia lebih saya sukai berbanding Utsman saudaranya”. Al Khathib berkata “Abu Bakar rapi hafalannya dan hafidz”.

Muhammad bin Bisyr
Muhammad bin Bisyr adalah salah seorang dari perawi hadis dalam Kutub Al Sittah. Dalam Tahdzib At Tahdzib jilid 9 hal 64, Thabaqat Ibnu Saad jilid 6 hal 394, Tarikh al Kabir jilid I hal 45, Al Jarh Wat Ta’dil jilid 7 hal 210, Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 322 dan Al Kasyf jilid 3 hal 22 terdapat keterangan tentang Muhammad bin Bisyr.

  • Ibnu Hajar berkata “Ia tsiqah”.
  • Yahya bin Main telah mentsiqahkannya
  • Al Ajuri berkata ”Ia paling kuat hafalannya diantara perawi kufah”
  • Utsman Ibnu Abi Syaibah berkata “Ia tsiqah dan kukuh”
  • Adz Dzahabi berkata ”Ia adalah Al Hafidz Al Imam dan kukuh”
  • An Nasai berkata “Ia tsiqah”.

Ubaidillah bin Umar
Keterangan tentang beliau disebutkan dalam Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 160-161,Siyar A’lam An Nubala jilid 6 hal 304, Tahdzib At Tahdzib jilid 7 hal 37, Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 637, Ats Tsiqat jilid 3 hal 143,dan Al Jarh Wa At Ta’dil jilid 5 hal 326.

  • Ibnu Hajar berkata ”Ia tsiqah dan tsabit”
  • Yahya bin Ma’in berkata ”Ia tsiqah, hafidz yang disepakati”
  • Abu Hatim berkata ”Ia tsiqah”
  • Adz Dzahabi berkata ”Ia Imam yang merdu bacaan Al Qurannya”
  • An Nasai berkata ”Ia tsiqah dan kukuh”
  • Ibnu Manjawaih berkata ”Ia termasuk salah seorang imam penduduk Madinah dan suku Quraisy dalam keutamaan Ilmu,ibadah hafalan dan ketelitian”.
  • Abu Zar’ah berkata “Ia tsiqah”.
  • Abdullah bin Ahmad berkata ”Ubaidillah bin Umar termasuk orang yang terpercaya”.

Zaid bin Aslam 
Zaid bin Aslam adalah salah seorang perawi Kutub As Sittah. Keterangan tentang beliau terdapat dalam Al Jarh Wa At Ta’dil jilid 3 hal 554, Tahdzib at Tahdzib jilid 3 hal 341, Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 326, Tadzkirah Al Huffadz jilid 1 hal 132-133, dan Siyar A’lam An Nubala jilid 5 hal 316.

  • Abu Hatim menyatakan Zaid tsiqah
  • Ya’qub bin Abi Syaibah berkata ”Ia tsiqah,ahli fiqh dan alim dalam tafsir Al Quran”
  • Imam Ahmad menyatakan beliau tsiqah
  • Ibnu Saad menyatakan “Ia tsiqah”
  • Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Al Imam, Al Hujjah dan Al Qudwah(teladan)
  • Abu Zara’ah menyatakan Ia tsiqah
  • Ibnu Kharrasy menyatakan beliau tsiqah
  • Ibnu Hajar berkata “Ia tsiqah” .

Aslam Al Adwi Al Umari
Aslam dikenal sebagai tabiin senior dan merupakan perawi Kutub As Sittah. Beliau termasuk yang telah disepakati ketsiqahannya. Keterangan tentang beliau dapat dilihat di Taqrib At Tahdzib jilid 1 hal 88 dan Siyar A’lam An Nubala jilid 4 hal 98

  • Adz Dzahabi berkata “Ia seorang Faqih dan Imam”
  • Al Madani berkata “Ia seorang penduduk Madinah terpercaya dan Kibar At Tabi’in”
  • Ya’qub bin Abi Syaibah berkata ”Ia tsiqah”
  • Ibnu Hajar berkata ”Ia tsiqah”
  • Abu Zara’ah berkata ”Ia tsiqah”
  • An Nawawi berkata ”Huffadz bersepakat menyatakan Aslam tsiqah”

Maka dengan ini, sudah jelaslah bahawa riwayat pembakaran rumah Ahlulbait(as) adalah sesuatu yang sahih, sesuai dengan pengsyaratan Imam Bukhari sendiri. Dr. Asri yang mengatakan cerita ini adalah rekaan Syiah, perlu menjawab dalil ini.

Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.

Ternyata Ulama Sunni Menipu Umat ?

Rasulullah SAW Tidak Mahu Bersaksi Untuk Abu Bakr


Rasulullah SAW Tidak Mau Bersaksi Untuk Abu Bakr

 

وحدثني عن مالك عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أنه بلغه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لشهداء أحد هؤلاء اشهد عليهم فقال أبو بكر الصديق ألسنا يا رسول الله بإخوانهم أسلمنا كما أسلموا وجاهدنا كما جاهدوا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم بلى ولكن لا أدري ما تحدثون بعدي فبكى أبو بكر ثم بكى ثم قال أإنا لكائنون بعدك

Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalan Ku”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata ”Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

 

Penjelasan 
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitabnya Al Muwatta. Dari hadis di atas diketahui bahwa

  • Para syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakr dan sahabat lainnya, kerana Rasulullah memberi kesaksian untuk mereka(para syuhada Uhud)
  • Rasulullah SAW tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya kerana Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang akan mereka perbuat sepeninggal Beliau SAW.

.

.

Sebuah Permasalahan

Seperti biasa masalah akan selalu ada jika seseorang menuliskan hadis-hadis yang kontroversial

Saya akan memberi contoh tentang apa yang mungkin difikirkan oleh anda:

  • Mungkinkah anda akan teringat akan hadis-hadis tentang para Sahabat Nabi yang akan berpaling setelah perginya Nabi SAW dalam artikel-artikel saya yang lalu?
  • Seorang Sunni Salafi biasanya akan mengeleng-geleng kepala dan mulaimengeluarkan berbagai prasangka dan nasehat yang tidak mahu menerima atau mungkin pembelaan
  • Seorang Syiah tidak akan terlalu terkejut dan mungkin akan berkata “Sahabat Nabi kan memang ada bermacam-macam”.
  • Ada juga mungkin yang beranggapan tidak penting untuk memikirkan perkara seperti ini, kan lebih baik fikirkan sesuatu untuk kebaikan Ummah?
  • Atau akan ada yang mendhaifkan hadis tersebut(seperti biasa..)  silakan silakan asalkan disertakan alasannya biar saya yang bodoh ini belajar lebih banyak lagi.

Selebihnya saya berharap banyak respon dari anda, Apa tanggapan andaberkenaan hadis ini?

Mari kita berdialog  baik-baik dengan santun dan jika saja ada yang beranggapan kalau saya ini tidak berharga dan sudah menyimpang dari jalan yang lurus mari tolong luruskan saya
Salah satu yang menjadi topik perdebatan dan juga benih permusuhan antara saudara Sunni dan Syiah adalah masalah berkaitan para sahabat. Perkara ini diburukkan lagi apabila berlakunya salah faham dan fitnah yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu membantu memburukkan lagi keadaan.

Mereka menuduh Syiah membenci para sahabat, mencaci maki mereka serta mengatakan bahawa Syiah menjatuhkan hukum kafir kepada para sahabat. Tidak hairanlah perselisihan dan pergaduhan sangat mudah terjadi kerana di sebelah pihak, Sunni menganggap semua para sahabat adalah adil dan saksama serta soleh, tanpa sebarang pertimbangan atas kelakuan mereka. Gelaran sahabat diberikan tanpa kompromi kepada sesiapa sahaja dari mereka yang mendampingi Rasulullah sehingga lah kepada mereka yang pernah sekalipun melihat baginda. Manakala Syiah memilih sikap berhati-hati dalam mendefinasikan perkataan “sahabat” serta kepada siapa gelaran ini diberikan. Kami menilai sikap dan perbuatan para sahabat dengan Al-Quran dan Sunnah, untuk mengetahui kedudukan dan integriti sahabat di sisi Islam.

Jadi atas dasar kesatuan Ummah, maka perlu rasanya saya membuat beberapa siri artikel mengenai para sahabat, objektifnya untuk memberi penjelasan tentang pandangan Syiah tentang para sahabat secara umumnya, dan secara terperinci mengenai beberapa sahabat yang sangat-sangat menjadi kontroversi antara kedua puak.

Secara ringkasnya Syiah mengkategorikan para sahabat kepada 3 kumpulan dan kategori mengikut kelakuan dan sikap mereka yang dinilai berdasarkan undang-undang Islam dari Al Quran dan Al Hadis. Syiah juga menilai para sahabat berdasarkan fakta sejarah berkaitan kelakuan sahabat  sebelum Islam, semasa Rasulullah masih hidup dan selepas baginda wafat.

Kategori pertama

Kategori pertama para sahabat ialah para sahabat yang mempercayai Allah, Rasulnya dan telah memberi apa yang termampu untuk Islam. Kumpulam ini mempunyai kedudukan paling tinggi dalam Islam. Mereka sentiasa menyokong Nabi, bersamanya susah dan senang, mempercayai baginda, tidak pernah meragui baginda, sentiasa melaksanakan arahan nabi, tidak pernah mengengkari arahan nabi dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti baginda contohnya mengatakan Nabi bercakap karut, berhalusinasi dan sebagainya.

Kumpulan ini lah yang disebutkan di dalam Quran (48:29)

“Muhammad itu adalah Rasulullah. Orang-orang yang bersama dengannya(mukminin) sangat keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keredhaannya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, kerana bekas sujud. Itulah contoh mereka di dalam taurat. Dan contoh mereka dalam injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya, lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang yang menanamnya.  Begitu juga orang islam , pada mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat, supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal soleh diantara mereka itu.

Sahabat kategori ini ialah para sahabat yang tiada percanggahan antara kedua-dua pihak. Tidak kira Sunni dan Syiah,bersetuju dengan kemuliaan para sahabat kategori ini, oleh itu, sahabat kategori ini tidak akan dibincangkan di dalam siri artikel ini.

Perhatikan frasa yang telah di bold di atas, “di antara mereka itu”. Jelas sekali penggunaan frasa ini menunjukkan bahawa bukan semua para sahabat nabi tergolong dalam kategori ini seperti yang di war-warkan oleh saudara Ahlul Sunnah. Inilah yang kami cuba untuk nyatakan selama ini, bahawa di antara semua para sahbt nabi, hanya sebahagian sahaja yang mencapai standard yang telah di tetapkan di dalam ayat ini. Antaranya besikap keras terhadap orang kafir dan berkasih sayang antara mereka. Jadi para sahabat yng tidak bersikap keras terhadap orang kafir dan berlemah lembut sesama kaum muslimin tidak jatuh dalam kategori ini. Sekaligus membatalkan kenyataan sesetengah saudara Ahlul Sunnah bahawa ayat ini diturunkan untuk semua sahabat tanpa kecuali.

Contoh para sahabat yang jatuh dalam kategori ini ialah- Ammar Ibn Yassir, Miqdad, Malik Al Asytar, Abu Dzar Al Ghiffari dan Salman Al Farisi.

Kategori kedua

Kategori kedua ialah para sahabat yang memeluk Islam dan mengikuti Rasulullah samada kerana pilihan sendiri atau kerana ketakutan, dan mereka sentiasa menghargai dan berterima kasih kepada Rasulullah atas keislaman mereka. Bagaimanapun, mereka menyakiti Rasulullah di beberapa peristiwa, dan tidak selalunya mengikuti perintah baginda, malah kerap mencabar perintah baginda, sehingga Allah swt, melalui Quran, harus masuk campur dengan memberi amaran dan mengancam mereka. Allah membuka pekung mereka dalam banyak ayat-ayat Quran, Rasulullah juga banyak menegur mereka dalam banyak hadis. Syiah hanya menyebut kumpulan sahabat ini dengan menyebut perbuatan mereka tanpa sebarang kekaguman.

Para sahabat kategori kedua di terangkan oleh Al Quran dalam banyak ayat, walau bagaimanapun saya akan menulis artikel yang berasingan bagi tajuk ini agar tidak terlampau memanjangkan artikel. Berikut ialah beberapa potong ayat dari kitab suci Al Quran yang menyebut tentang mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu bila dikatkan padamu: Berperanglah kamu di jaln Allah, lalu kamu berlambat-lambat duduk di tanah? Adakah kamu lebih suka kepada kehidupan dunia lebih dari akhirat? Maka tidak adalah kesukaan hidup di dunia, di perbandingkan dengan akhirat melainkan sikit sekali. Jika kamu tiada mahu berperang, niscaya Allah akan menyiksamu dengan azab yang pedih dan dia akan menukarkan kamu dengan orang lain” (9:38-39)

Ayat di atas menceritakan mengenai ada sesetengah sahabat yang berasa malas untuk berjihad sehingga Allah swt mengancam mereka dengan azab seksa di akhirat. Ini bukanlah satu-satunya peristiwa mereka di tegur.

“Jika kamu berpaling, maka Allah akan menukar kamu dengan kaum yang lain dri mu.” (47:38)

Bolehkah anda terangkan siapakah yang dimaksudkan dengan kamu di dalam ayat di atas? Allah juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara mu lebih dari suara nabi..kerana takut akan menghapuskan amalan sedang kamu tiada sedar”(49:2)

Walaupun perintah Allah seperti diatas, kita dapati masih terdapat kes-kes dimana para sahabat menentang perintah nabi yang dapat kita lihat dalam sejarah seperti:

  1. Kes tawanan perang badar, apabila Rasulullah mengarahkan pembebasan mereka dengan dibayar fidyah.
  2. Perang Tabuk dimana ketika Rasulullah mengarahkan unta di sembelih untuk menyelamatkan nyawa mereka.
  3. Ketika Perjanjian Hudaibiyah, para sahabat ragu kepada kenabian
  4. Perang Hunain, di mana para sahabat menuduh Nabi tidak adil dalam pengagihan rampasan perang.
  5. Ketidakpuasan hati dalam isu perlantikan Usamah Ibnu Zaid sebagai komander tentera sejurus sebelum kewafatan baginda.
  6. Peristiwa Hari Khamis di mana para sahabat menghalang Rasulullah menulis wasiat terakhir baginda dan menuduh baginda meracau.(Na uzubillah)

Dan banyak lagi laporan-laporan dari buku-buku hadis tentang kelakuan para sahabat, yang akan saya pautkan di dalam artikel-artikel saya yang seterusnya. Contoh-contoh para sahabat yang jatuh dalam kategori ini tidak dapat  saya sertakan kerana ia bergantung kepada penilaian individu berdasarkan kelakuan setiap sahabat itu. InsyaAllah, saya juga akan menulis lebih banyak artikel dalam menganalisis keperibadian sahabat Rasulullah secara spesifik, semoga para pembaca boleh membuat pemerhatian sendiri.

Kategori ketiga

Kategori ketiga ialah para munafik yang tidak pernah mempercayai Allah dan Rasulnya, juga golongan yang menjadi murtad selepas nabi. Walaupun begitu kumpulan ini berjaya memasuki dan berada bersama kelompok kaum muslimin, dan melakukan kerosakan dari dalam. Antaranya ialah Abu Sufyan, Muawiyah dan Yazid.

Yazid berkata: “Bani Hashim bermain dengan kerajaan, tetapi tiada wahyu yang di turunkan, malah tiada langsung risalah yang benar.”- Tarikh Al Tabari dan Tadhkirat al Khawas

Abu Sufyan pernah berkata apabila Usman mengambil alih jabatan khalifah:

“Wahai anak-anak Umaiyah! Oleh kerana kerajaan ini telah jatuh ke tangan kita, maka bermainlah dengannya seperti kanak-kanak bermain bola, dan berilah ia di antara satu sama lain di dalam puak kita. Kita tidak dapat memastikan wujudnya syurga atau neraka, tetapi kerajaan ini ialah realiti.- Al Isti’ab, Ibn Abd Al Barr dan Sharh Ibn Abil Hadid.

Muawiyah berkata:

“Aku tidak memerangi kamu agar kamu bersolat, berpuasa atau membayar zakat, tetapi untuk menjadi raja kamu dan menguasai kamu.”- Tadhkirat al Khawas

Ini adalah sebahagian dari contoh yang saya berikan tentang bagaimana ketiga-tiga orang ini meragui beberapa doktrin paling penting dalam Islam. Seperti yang saya sebutkan sebelum ini, saya akan membincangkan dengan lebih detail berkenaan individu-individu ini dalam artikel saya yang lain.

Di dalam Quran, Allah swt banyak memberi amaran dan menceritakan tentang golongan ketiga ini malah memperuntukkan satu surah khas untuk mereka, iaitu surah Al Munafiqun. Berikut adalah contoh ayat mengenai kumpulan ini.

“Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul, seperti Rasul-rasul sebelumnya. Jika Rasul itu mati atau terbunuh, adakah kamu akan kembali menjadi kafir? …..Tetapi Allah akan memberi ganjaran kepada mereka yang berterima kasih.(3:144)

Ayat ini diturunkan ketika perang Uhud, apabila para sahabat melarikan diri apabila mendengar berita kematian Rasulullah saaw. Hanya beberapa orang sahaja yang masih setia bersama nabi ketika itu kebanyakannya golongan Ansar di antaranya Imam Ali, Abu Bakr, Abd Rahman Ibn Auf,Abu Dujana, Saad ibn Abi Waqas, Assim Ibn Thabit, Saad Ibn Muadh. Bagaimanapun dari sumber-sumber hadis lain antaranya Al-Mustadrak karangan Imam Al Hakim, kita dapat mengetahui bahawa hanya Imam Ali sahaja yang bersama Rasul selama pertempuran berlaku,manakala para sahabat lain yang sama baginda adalah antara yang pertama sampai semula kepada baginda selepas mereka berundur.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, nanti Allah akan mendatangkan satu kaum, Allah mengasihi mereka, dan mereka mengasihi Allah, mereka berlemah lembut kepada orang-orang beriman dank eras terhadap orang kafir, mereka berjuang di jalan Allah, tidak taku orang yang mencerca. Demikian itu kurnia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Allah luas kurnianya lagi maha mengetahui. (5:54)

Ayat ini menunjukkan adanya kemungkinan para sahabat akan murtad dari agama Islam. Panggilan “Hai orang-orang beriman!”,jelas sekali merujuk kepada kaum muslimin, yaitu para sahabat di zaman Nabi. Jelas sekali gelaran sahabat, sama sekali tidak menjamin seseorang itu dari:

  • Imuniti dari dosa
  • Tahap keimanan yang sama sehingga mati.
  • Akan sentiasa berada dalam Islam sehingga mati.
  • Imuniti dari kemahuan kepada duniawi dan tuntutan hawa nafsu.

Kami Syiah, apa yang kami mahu ungkapkan kepada saudara Sunni hanyalah bahawa, para sahabat juga manusia biasa, terdedah kepada:

  • Dosa
  • Kesilapan
  • Godaan syaitan
  • Godaan nafsu.

Yang menjadikan seorang sahabat itu sahabat ialah apabila dia setia kepada perintah Rasul selama baginda masih hidup dan setelah baginda wafat,  selama nyawa ditanggung badan. Itulah erti sahabat kepada Syiah.

Begitu juga halnya dalam kehidupan harian kita, kita hanya boleh menganggap seseorang itu sebagai sahabat apabila dia bersama kita dalam susah dan senang, setia, sentiasa menjaga hubungannya dengan kita, rahsia kita. Tetapi adakah definasi itu masih boleh dipakai jika tiba-tiba pada suatu hari, sahabat kita berubah, mengaibkan kita, tikam belakang, mengkhianati kita, membocorkan rahsia kita dan meninggalkan kita keseorangan bila kita memerlukan mereka?

Mari kita perhatikan apa kata Rasulullah saaw dalam hal ini secara ringkas melalui hadis-hadis dalam Sahih Al Bukhari.

Rasulullah bersabda:  “Pada hari kebangkitan kamu akan di sambar dari sebelah kiri, dan aku akan berkata: “Kemana mereka di bawa pergi?” Kemudian akan dijawab: “Ke neraka, demi tuhan”. Aku berkata: “Tuhanku! Mereka adalah sahabatku.” Allah menjawab: Kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan selepas kamu. Dari waktu kamu pergi meninggalkan mereka, mereka tidak berhenti-henti berubah. Aku menjawab: “Pergilah dengan dia, pergilah dengan dia, celakalah barangsiapa yang mengubah perkara-perkara selepas ku. Dan aku tidak melihat satu pun dari mereka terselamat melainkan dia menjadi seolah-olah kambing yang ditinggalkan.(minoriti)

Diriwayatkan dari Abdullah: “Aku adalah pendahulu mu di telaga kausar, dan sesetengah dari kamu akan dibawa kehadapanku hingga aku dapat melihat mereka, dan mereka akan di bawa pergi dari ku dan aku akan berkata: “Ya Tuhan mereka adalah sahabatku!” Kemudian akan di balas: “Kamu tidak mengetahui apa yang mereka telah lakukan selepas pemergianmu.”

Lihat bagaimana dalam hadis ini Nabi saaw menceritakan apa yang bakal terjadi kepada para sahabatnya,  yang mana berubah dan mengubah selepas wafatnya Rahmatal Lil Alamin. Malangnya mereka tidak akan mendapat keselamatan di Akhirat.

Nabi berkata kepada puak Ansar: “Kamu akan mendapati selepasku sifat kepentingan diri yang tinggi. Oleh itu bersabarlah sehingga kamu bertemu Allah dan Rasulnya di Kautsar.” Anas menambah, “Tetapi kami tidak bersabar.”

Lihat sahaja apa yang dihadapi kaum Ansar selepas wafat nabi dan kaum muhajirun menyingkirkan mereka.

Diriwayatkan dari Al Musayyab: Aku bertemu al Bara Ibnu ‘Azib dan berkata padanya: “Semoga kamu hidup dalam kemakmuran. Kamu menikmati persabatan dengan nabi, dan memberi Nabi perjanjian taat setia di bawah pokok.” Selepas itu Al Bara berkata: “Wahai anak saudaraku, kamu tidak mengetahui apa yang telah kami lakukan selepas baginda.” Fikirkan!!!

Begitulah secara ringkasnya, pandangan Syiah tentang para sahabat. Kami mempunyai definasi yang berbeza mengenai perkataan ‘sahabat’.  Kami tidak mengkaji kelakuan dan sejarah para sahabat untuk memalukan mereka atau mengaibkan mereka. Kami mengkaji adalah demi untuk mencari kebenaran, memastikan pihak yang benar dan pihak yang salah.

Kami mengkaji adalah kerana telah menjadi suruhan Allah swt agar kita mengkaji sejarah, supaya kita dapat mengmbil kebaikan darinya, serta mengelakkan keburukan sebagaimana Allah menyarankan kita mengambil iktibar dari peristiwa sejarah Firaun, Namrud, dan kaum-kaum lain yang diceritakan di dalam Quran, kerana sejarah mereka akan berulang kepada kaum Muslimin, dan telah terjadi di zaman para sahabat, sebagaimana sabda Rasulullah saaw: Kamu akan mengikuti jalan umat terdahulu sebelum kamu, sedikit demi sedikit, walaupun jika mereka memasuki lubang biawak sekalipun, pasti kamu akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, adakah kamu maksudkan Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah saaw menjawab, “Siapa lagi?”

Kami juga mengkaji para sahabat  atas dasar kecintaan kami kepada Ahlul Bait Rasulullah saaw, agar kami tidak mencintai mereka dan dalam masa yang sama redha kepada musuh-musuh mereka. “Tidak wujud di dalam hati kaum Muslimin rasa sayang serta cinta kepada sahabat dan musuh Allah swt.” Imam Ali bersabda: “Seseorang yang menyamakan kami dengan musuh kami bukanlah dari kalangan kami”

Kebanyakan para sahabat yang kalian letakkan di kedudukan tertinggi, semua mereka menyakiti, memerangi, mencaci maki serta membunuh Imam Ali serta Ahlul Bait Nabi yang lainnya. Sedangkan Rasulullah dengan terang bersabda:

“Barangsiapa yang mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang telah dijanjikan padaku, hendaklah dia mengiktiraf Ali sebagai walinya selepas ku, dan selepas Ali, hendaklah mengiktiraf anak-anak Ali, kerana mereka tidak akan membiarkan kamu di luar pintu petunjuk dan tidak pula membiarkan kamu memasuki pintu kesesatan.” Kanz Al Ummal

“Barangsiapa yang aku ini adalah mawla, maka Ali juga ialah mawla mereka. Ya tuhan, cintailah orang yang mencintai beliau dan musuhilah orang yang memusuhi beliau.”

  • Sahih Tarmizi
  • Sunan Ibnu Majah
  • Khsa’is, an Nisai
  • Al Mustadrak
  • Musnad Inbu Hanbal

“Aku menasihatkan kamu untuk berbuat baik kepada Ahlul Baitku, kerana sesungguhnya aku akan membuat tuntutan dari kamu mengenai mereka di hari perhitungan, dan barangsiapa yang aku berbalah dengannya akan merasa Api. Barangsiapa yang mengenangku dengan mengenang Ahlul Bait ku telah mengambil janji Allah(untuk memasuki syurga)

  • Al Tabaqat
  • Al Sawaiq al Muhriqah

“Barangsiapa yang menghina Ali menghina ku, barangsiapa menghinaku, menghinaku dia menghina Allah, dan barangsiapa menghina Allah, akan dihumban ke dalam neraka.”

  • Mustadrak
  • Khasais
  • Musnad Ibnu Hanbal
  • Tarikh at Tabari.

Didalam Majma’ al Zawa’id, dan Tafsir Suyuti, telah diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri, berbunyi:

Selama 40 hari Rasulullah pergi ke rumah Fatimah pada waktu pagi lalu berkata “Assalamu’alaika ya Ahlul Bayt, sudah tiba masa solat. Dan selepas itu beliau akan membaca ayat “Allah hanya mengkehendaki…(33:33)” Aku akan berada dalam keadaan berperang dengan sesiapa yang memerangi kamu. Dan aku akan berada dalam keadaan berdamai dengan sesiapa yang mengikuti kamu.”

Hadis-hadis seperti ini terlampau banyak dan diriwayatkan secara mutawattur dari sumber-sumber Ahlul Sunnah juga Syiah. Akhir kata sebagai renungan mari kita amati hadis di bawah:

Fatimah berkata kepada Abu Bakr dan Umar: “Aku bertanya pada kamu dengan nama Allah, bukankah kamu mendengar Rasulullah bersabda, “Kepuasan Fatimah ialah kepuasanku, kemarahan Fatimah ialah kemarahanku, barangsiapa menyayangi Fatimah menyayangi ku, yang memuaskan hati Fatimah memuaskan hati ku, dan barangsiapa yang membuatkan Fatimah marah, membuatku marah.” Mereka menjawab “ya”. Fatimah meneruskan: “Jadi aku memberi kesaksian di hadapan Allah dan para Malaikat yang kamu telah membuat ku marah, dan apabila aku berjumpa Nabi, pasti aku akan mengadukan tentang kamu berdua pada Nabi.”

  • Al Imamah wal Siyasah, Ibnu Qutaybah

Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad

Semoga Allah SWT memberikan rahmat kepada kita semua

Ashra Mubashra- Kebenarannya


 

 

Mungkin banyak dari saudara-saudara Ahlusunnah yang sering mendengar akan adanya hadis yang menyatakan jaminan Rasulullah terhadap 10 sahabat beliau untuk masuk syurga. Anehnya, hadis yang terkenal itu selain tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, juga tidak pernah dijadikan hujah khalifah pertama dan kedua dalam pemilihan mereka sebagai khalifah.

Padahal jika hadis Rasul itu memang benar adanya maka itu juga dapat dijadikan penguat akan sahnya kekhalifahan mereka. Sebelum kita mengkaji dengan lebih dalam tentang hadis ini, adalah lebih elok jika kita mengkaji hujah saudara Sunni kita tentang jaminan syurga oleh Allah kepada para sahabat.

Saudara Sunni membaca ayat Quran berikut bagi menyokong hujah mereka atas adanya khabar gembira dari Allah ke atas para sahabat.

“Tiadalah sama di antara kamu orang yang menafkahkan(hartanya) dan berperang sebelum penaklukan kota(Makkah dengan orang yang lainnya. Mereka itu lebih besar darjatnya dari orang yang menafkahkan hartanya dan berperang setelah penaklukan. Tetapi masing-masingnya itu Allah telah menjanjikan pahala yang baik baginya. Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.” Al Quran(57:10)

Mereka mengatakan melalui ayat ini, Allah telah, secara umumnya, menjanjikan syurga kepada para sahabat. Walaubagaimanapun, terdapat satu lagi kumpulan para sahabat yang lebih istimewa, kerana diberikan berita gembira ini dari mulut Rasulullah saaw sendiri. Mereka inilah yang digelar Ashara Mubashara bil Jannah. 10 yang dijamin syurga.

(http://www.lastprophet.info/en/the-ashara-mubashara-the-ten-companions-promised-/companions-given-the-good-tidings-of-paradise-ashara-mubashara.html)

Walaubagaimanapun, membuat kesimpulan dengan hanya mendasarkan kepada ayat yang umum, jelas hanya boleh dilakukan oleh orang yang tidak pernah membaca atau merenungi ayat-ayat quran yang ditujukan oleh Allah kepada para sahabat dalam artikel saya sebelum ini. Contohnya : “Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul, seperti Rasul-rasul sebelumnya. Jika Rasul itu mati atau terbunuh, adakah kamu akan kembali menjadi kafir? …..Tetapi Allah akan memberi ganjaran kepada mereka yang berterima kasih.(3:144)

 

Ayat ini menyebut, Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur, yang juga membawa maksud orang-orang yang mematuhi segala suruhan Rasulullah saaw, taat dan dedikasi pada ajaran dan suruhan baginda. Mereka yang menafkahkan harta serta berperang di jalan Allah sudah semestinya adalah dari kumpulan orang-orang yang berterima kasih ini. Oleh itu, selama mana seseorang sahabat itu hidup dalam keadaan ini dan mati dalam keadaan yang serupa, maka sudah pasti, berita gembira Allah untuknya. Walaubagaimanapun, jika dia kemudiannya memusnahkan segala kebaikan yang pernah di buatnya, maka, perkara yang serupa tidak boleh dikatakan padanya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara mu lebih dari suara nabi..kerana takut akan menghapuskan amalan sedang kamu tiada sedar”Al Quran(49:2)

 

Barangsiapa yang kebaikannya masih berada di dalam diri mereka, maka dia akan selamat. Allah swt akan menghakimi dan mengadili semua mengikut amal yang baik atau buruk yang telah dilakukan semasa di dunia, oleh itu dengan mengatakan semua para sahabat dijanjikan syurga telah melakukan satu ketidakadilan pada Al Quran sendiri.

Saudara dari Ahlul Sunnah mengatakan bahawa Allah telah menjanjikan syurga kepada sahabat-sahabat ini, dan mengkritik sahabat ini adalah satu dosa. Manakala Syiah pula mengatakan semua orang, termasuk para sahabat akan dihakimi dan diadili oleh Allah swt di hari pembalasan dan mendapat balasan yang setimpal dengan amal perbuatan mereka di dunia, serta Rasulullah tidak menjanjikan syurga kepada mana-mana sahabat. Mana-mana mereka yang mengingkari suruhan Allah, Rasul dan Ahlul Bait baginda, haruslah kita mengasingkan diri dari mereka.

Mari kita kembali semula kepada kes kita iaitu Ashra Mubashra, bukan sahaja hadis yang sangat-sangat mencurigakan ini tidak langsung diriwayatkan dari 2 buku utama Sunni iaitu Bukhari dan Muslim, malah ia diriwayatkan di dalam Tarmizi, Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan beberapa percanggahan.

  1. Said bin Zaid berkata: Aku bersaksi, aku mendengar Rasulullah bersabda: 10 orang berada di dalam syurga: Nabi di dalam syurga, Abu Bakr di dalam syurga, Thalhah di dalam syurga, Umar berada di dalam syurga, Uthman berada di dalam syurga, Saad bin Malik berada di dalam syurga, dan Abdul Rahman berada di dalam syurga. Kalau kamu mahu aku akan khabarkan yang ke sepuluh? Mereka menjawab: “Siapakah dia?”. Baginda menjawab: “Said bin Zaid.”

Sunan Abu Dawud

  1. Abdul Rahman Bin Auf berkata: Nabi bersabda: Abu Bakr di dalam syurga, Umar di dalam syurga, Uthman di dalam syurga, Ali di dalam syurga, Thalhah di dalam syurga, Zubair di dalam syurga, Abdul Rahman di dalam syurga, Saad bin Abi Waqas di dalam syurga, Said bin Zaid di dalam syurga dan Abu Ubaidah di dalam syurga. Al Tarmizi, Hadis 3747
  1. Said Bin Zaid berkata, 10 orang berada di dalam syurga, Abu Bakr, Umar, Uthman, Ali, Al Zubair, Thalhah, Abu Ubaidah, AbdulRahman dan Saad Abi Waqas. Mereka bertanya, siapa yang ke sepuluh? Dia menjawab: Kamu bersumpah atas nama Allah, Abu Al Anwar berada di dalam syurga.” Tarmizi memberi komentar bahawa Abu Al Anwar ialah Said bin Zaid.

Dari pada hadis-hadis di atas dapatlah disimpulkan bahawa para sahabat yang dijanjikan syurga oleh Rasulullah(sawa) itu ialah:

  1. Nabi Muhammad (SAW)
  2. Abu Bakr
  3. Umar
  4. Uthman
  5. Ali ibn Abu Talib(as)
  6. Talha
  7. Zubair bin al-Awwam
  8. Saad bin Abi Waqas
  9. Saeed bin Zaid
  10. Abdul Rahman ibn Awf
  11. Saad bin Malik
  12. Abu `Ubaida bin al-Jarrah

Selain dari apa yang saya kata bahawa hadis ini tidak di jumpai di dalam buku hadis utama Sunni, iaitu Bukhari dan Muslim, hadis-hadis ini juga mencabar para pemilik akal yang berfikir:

  • Mereka bersusah payah untuk menghadkan bilangan hanya kepada sepuluh orang, kadang kala mereka meletakkan Saad ibn Abi Waqas, dan kadangkala mereka meletakkan Saad ibn Malik.
  • Versi hadis yang pertama tidak meletakkan Ali dan juga Abu Ubaidah, tidak lupa juga pada Rasulullah yang tidak tersenarai di dalamnya.
  • Hadis yang pertama dan ketiga jelas ialah hadis yang serupa, dari orang yang sama, tetapi seorang disingkirkan dan seorang lagi di tambah dan hanya 7 orang sahaja yang diriwayatkan di dalam Abu Daud.
  • Menyenaraikan Nabi di dalam kumpulan ini membuktikan pemalsuan hadis ini, adakah logik apabila sahabat-sahabat baginda masuk syurga tetapi dirinya ditinggalkan? Baginda tidak perlu menjelaskan hal ini kerana ia sudah termaktub.
  • Kedua-dua perawi ini menceritakan hadis tentang diri mereka sendiri.Keduanya menyenaraikan diri mereka sebagai antara yang di janjikan syurga. Mengikut Islam, apabila seseorang itu memuji orang lain dengan memuji diri sendiri, maka ia tidak akan di endahkan. Juga apabila seseorang itumemberi kesaksian untuk orang lain walhal dalam masa yang sama, mendapat faedah darinya, kesaksiannya akan ditolak.
  • Sejarah menunjukkan kebanyakan dari 10 orang yang dijamin syurga ini, tidak layak mendapat ganjaran sebesar ini, sementara dalam masa yang sama, menyingkirkan ramai lagi para sahabat yang alim, dan tetap pada pendirian mereka sehingga mereka meninggal dunia. Bukhari sendiri langsung tidak meletakkan ruangan khas untuk kemuliaan Abdul Rahman Ibn Awf dan Saad ibn Zaid, sedangkan dia meletakkan kemuliaan untuk Muawiyah, dan 1 hadis untuk Khalid ibn Al Walid.
  • Secara faktanya, Saad bin Malik langsung tidak di kategorikan sebagai 10 sahabat yang paling di hormati Sunni.

InsyaAllah, dalam post saya yang seterusnya, akan saya isukan tajuk tentang hadis, agar kita dapat menilai hadis mana yang patut kita terima dan hadis mana yang kita patut tolak. Bagaimanapun secara ringkasnya, hadis yang bercanggah dengan Quran, sejarah dan logik, adalah hadis yang selayakknya di di tolak mentah-mentah.

Sebelum saya meneruskan, saya ingin bertanya kepada saudara-saudara Sunni saya tentang apa yang mereka dapat fahami dari hadis ini.

  • Orang-orang ini akan masuk syurga setelah dihisab amal mereka, atau secara ringkas, segala amal mereka sehingga mereka mati mendapat keredhaan Illahi.
  • Orang-orang ini akan masuk syurga tanpa dihisab segala amal mereka, atau secara ringkasnya, tidak kira apa amalan dan pengkhiatan yang telah mereka lakukan, Allah swt akan membenarkan mereka ke dalam syurga.
  • Orang-orang ini akan masuk ke syurga setelah menjalani hukuman atas dosa mereka di dunia(jika ada).

Masuk syurga tanpa hisab

Jikalau kamu mempercayai bahawa mereka akan masuk ke syurga tanpa hisab, ini bermaknakamu mengecualikan mereka dari keadilan Allah, dan memberikan sifat maksum kepada mereka.

“Kami letakkan neraca yang adil pada hari kiamat, maka tiadalah teraniaya seseorang sedikit pun. Jika usahanya seberat biji sawi, niscaya kami hadirkan juga. Cukuplah Kami memperhitungkannya.” Al Quran(21:47)

“Allah menciptkan langit dan bumi dengan kebenaran dan supaya dibalas tiap-tiap orang menurut usahanya masing-masing, sedang mereka itu tidak teraniaya.” Al Quran(45:22)

Masuk syurga selepas hisab

Jikalau kamu mempercayai mereka semua akan masuk ke dalam syurga selepas hisab, maka kamu harus mengandaikan bahawa di dalam amalan mereka, tiada langsung amalan buruk, kerana Rasulullah telah menjanjikan syurga kepada mereka. Sekali lagi kamu memberi sifat maksum kepada mereka. Beban kini beralih kepada kamu untuk membuktikan kepada kami bahawa orang-orang ini memang maksum dan tidak melakukan sebarang dosa kepada Allah, Rasulullah(sawa) dan Ahlul Baitnya(as).

Masuk syurga setelah balasan

Jika kamu mempercayai bahawa mereka akan masuk syurga setelah di hukum berdasarkan amalan mereka, maka hadis ini menjadi sia-sia, kerana semua orang lain juga akan di adili dengan cara serupa.

Terdapat beberapa perkara yang menyebabkan hadis-hadis ini diragui. Kami mempercayai bahawa hadis ini direka dan dipalsukan bagi mengangkat kedudukan para musuh Imam Ali as, dan juga keluarga Rasulullah saaw.

Seseorang yang berfikiran waras dan rasional akan mendapati,- tanpa syarat-, adalah sangat tidak logik untuk seseorang yang tidak maksum, dan terdedah kepada kebarangkalian untuk membuat dosa dijanjikan syurga, dan mendapat immuniti dari api neraka. Seseorang yang terdedah kepada dosa adalah sangat tidak boleh di jangka. Jika seseorang yang tidak maksum dijanjikan syurga, maka dia akan mempunyai satu sifat kemahuan untuk melakukan dosa kerana dia menganggap semua dosa beliau tidak akan dihisab di hadapan Allah swt. Jadi adalah tidak logik bagi Rasulullah untuk menjanjikan perkara sedemikian kepada para sahabatnya.

Jika hadis ini benar, mengapa Uthman tidak menggunakan hujah ini keatas orang-orang yang menganggap halal untuk membunuh beliau? Tidak juga mana-mana para sahabat memprotes tindakan membunuh seseorang yang telah dijanjikan syurga walau sebanyak mana kejahatan dan ketidakadilan yang telah beliau lakukan. Malah, adalah haram bagi mereka untuk mendiamkan diri mereka dalam hal ini. Jelaslah bahawa hadis ini telah dipalsukan pada kemudian hari.

Selain itu, apakah yang membuatkan kamu, wahai saudaraku dari Ahlul Sunnah, yakin bahawa 10 orang ini dijanjikan syurga? Thalhah dan Zubair menentang Imam Ali dalam perang Jamal yang mengakibatkan kematian ribuan Muslim, dan ketiga mereka akan berada di dalam syurga?Sejarah telah menunjukkan bahawa sesiapa sahaja yang menentang Imam Ali semuanya berada di jalan yang salah, tidak kira sama kaum musyrikin Mekah, Yahudi Khaibar, isteri Rasulullah atau Muawiyah. Malah Rasulullah sendiri telah bersabda secara berulang-ulang, bahawa sesiapa yang menentang Imam Ali adalah munafik, atau sesiapa yang menentang Ali bererti menentang Rasulullah, yang juga bererti menentang Allah swt!!

Adakah kamu mempercayai bahawa pembunuh dan yang dibunuh keduanya akan berada di dalam syurga, walaupun mereka semasa hidupnya, melancarkan perang antara satu sama lain, yang turut mengorbankan diri mereka bersama ribuan lagi Muslim lain?

Jika hadis ini benar, maka ia adalah wahyu untuk Rasulullah, kerana setiap perkataan yang keluar dari mulut Rasulullah adalah wahyu(53:3-4), dan sekaligus bermakna bahawa Allah swt telah mengetahui apa yang bakal dilakukan oleh mereka, dan redha dengan tindakan mereka. Tetapi akal kami yang sentiasa mendasarkan kepada pemikiran logika, gagal untuk memahami bagaimana Allah swt redha dengan tindakan mereka yang memanggil Rasulullah nyanyuk, yang menafikan hak anak baginda, membuat bid’ah di dalam agama dll.

Namun, ternyata hadis itu memiliki ‘tanda tanya besar’ yang mengakibatkan kita meragukan kebenarannya. Hadis itu memiliki dua sandaran (sanad) yang kedua-duanya tidak dapat dipercaya.

Sanad pertama hadis itu kembali kepada peribadi yang bernama Humaid bin Abdurrahman bin Auf, di mana kononnya Umaid menukilkan hadis tersebut dari ayahnya sendiri, Abdurrahman. Padahal sewaktu ayahnya meninggal, Humaid masih berusia kanak-kanak, 10 tahun. (Tahdzib at-Tahdzib 3/40)

Sanad kedua kembali kepada peribadi Abdullah bin Dzalim dimana keperibadiannya sangat ditentang oleh para ulama ilmu hadis Ahlusunnah sendiri, seperti: Bukhari, Ibnu ‘Adi, Aqili dan selainnya. (Tahdzib at-Tahdzib 5/236, adz-Dzu’afaa’ al-Kabir 2/267, al-Kamil fi adz-Dzu’afaa’ 4/223)

Jika hadis itu tidak dapat di sahihkan maka masihkah kita akan menggembar-gemburkan keutamaan 10 sahabat itu sebagai “yang mendapat jaminan masuk syurrga” (‘asyrah mubassyariin bil jannah) oleh Allah melalui lisan suci Rasulullah? Pada zaman siapakah dan atas perintah siapakah hadis itu dibuat? Silahkan teliti kembali untuk membuka hakikat pemalsuan hadis atas nama Rasulullah itu…!

Sunni mengatakan di antara ciri-ciri ashra mubashra ialah:

  1. Menjadi antara muslim yang terawal
  2. Berjasa besar kepada Rasulullah dan perjuangan Islam
  3. Berhijrah
  4. Menyertai Perang Badar
  5. Baiyah pada Nabi di Hudaibiyah

Jika apa yang dikatakan adalah benar, maka bolehkah terangkan apakah sumbangan yang telah mereka lakukan? Jika mereka adalah orang-orang yang berhijrah, senarai nama mereka juga dapat dilihat di dalam senarai nama yang meninggalkan Rasulullah di medan perang.

Jika mereka menyertai perang Badar, mereka juga menyertai perang sesama diri mereka.

Jika mereka member perjanjian taat setia kepada Nabi, mereka juga meragui kenabian baginda, semasa mereka mengatakan beginda nyanyuk.

Jika terdapat banyak hadis tentang kemuliaan mereka, maka juga Allah swt mengutamakan mengenai kemuliaan Ahlul Bait, jadi bagaimana boleh kita mengatakan bahawa orang-orang yang menentang Ahlul Bait ini diberikan taraf yang serupa oleh Allah?

Allah swt tidak menjanjikan 10 orang ini syurga, Dia menjanjikan kepada semuanya seperti di dalam ayat ini:

“Sesiapa yang mengerjakan sesuatu perbuatan jahat maka ia tidak dibalas melainkan dengan kejahatan yang sebanding dengannya; dan sesiapa yang mengerjakan amal soleh – dari lelaki atau perempuan – sedang ia beriman, maka mereka itu akan masuk Syurga; mereka beroleh rezeki di dalam Syurga itu dengan tidak dihitung.(40:40)

Jikalau kita mengikuti syarat seperti di dalam ayat ini, Allah swt pasti mengabulkan janjinya. Wallahu’alam

Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad.

Pengkisahan Sejarah Bukanlah Menghina Para Sahabat

 


Salam wa rahmatollah. Bismillah wa bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad.

Semasa saya masih menganut mazhab Ahlul Sunnah, saya mengingati zaman itu dengan kepercayaan bahawa para sahabat ialah orang-orang yang terbaik selepas Rasulullah(sawa). Mereka adil, sentiasa berniat baik dan Jarah wa Ta’dil tidak boleh digunakan ke atas mereka. Dengan kedudukan yang hampir mencapai taraf maksum ini, maka sudah tentu, apabila kita mendengar perkara yang tidak elok tentang mereka, maka lantas kita terus menuduh orang yang mengucapkannya sebagai penipu, pembohong, kafir dan lain-lain. Ajaran dan pegangan yang disuapkan oleh Sunni menyebabkan kita tidak boleh menerima kenyataan sejarah bahawa para sahabat memang tidak seperti yang kita fantasikan.

Sejarah telah menjadi saksi akan banyak hal yang tidak elok oleh sesetengah para sahabat. Mahu tidak mahu, kalian haris menerimanya. Mari kita baca komen Ayatollah al Uzma Syeikh Makarem Shirazi akan hal ini, tentang isu panas yang baru ditimbulkan sejak akhir-akhir ini. Solawat.

Ayatollah Nasser Makarem Shirazi

Ayatullah al-Uzma Makarim Syirazi  dalam pengajian luar Fiqh yang dihadiri ramai pelajar dan ulama di Masjid A’zam Qom telah menyatakan pandangannya tentang protes beberapa ulama Sunni terhadap rancangan televisyen Sida-ya-Sima Iran. Beliau mengatakan: Sekumpulan ulama Mesir dan saudara Ahlu Sunnah selatan negara ini telah menganggap beberapa filem sejarah yang ditayangkan oleh Sida-ye-Sima telah menghina sahabat Nabi”.

“Mereka ini hendaklah menyedari, penghinaan adalah satu masalah manakala pengkisahan sejarah merupakan satu masalah lain dan keduanya mempunyai perbezaan asas”.

“Adakah sesiapa yang masih ragu bahawa perang Jamal pernah terjadi atau tidak?, ada sesiapa yang meragui Talhah dan Zubair telah mengingkari bai’ah dengan imam mereka?, adakah sesiapa yang masih ragu bahawa terlalu banyak darah umat Islam tumpah dalam perang Jamal? Ini semua adalah sejarah dan orang ramai menjadi penilainya”, kata beliau dalam ceramah pengajian.

Ayatullah Makarim Syirazi menambah, “Adakah sesiapa yang meragui pernah terjadi perang Siffin dalam sejarah Islam? Ada sesiapa yang masih syak bahawa sebahagian sahabat tidak memberi bai’ah kepada Imam Zamannya malah bangkit menentangnya dan sejumlah besar daripada mereka terbunuh?, Adakah anda ingin mengatakan, anda tidak mahu menukilkan sejarah”.

Beliau selaku ustaz besar dalam bidang Fiqh di Hawzah Ilmiyah Qom menegaskan, “Kita tidak seharusnya menutup mata terhadap sejarah, penghinaan dan penilitian kedua-duanya adalah entiti yang berasingan, tidak boleh kedua-duanya dicampur aduk”.

Tambahnya lagi, “Saudara-saudara kita ini hendaklah benar-benar memahami bahawa masalah sejarah tidak boleh dilupakan, seluruh kitab sejarah Islam penuh dengan kisah ini sehinggakan kitab-kitab sejarah Ahlusunnah turut ada menceritakan masalah Talhah, Zubair dan Abdullah bin Zubair”.

“Jikalau kita benar-benar meneliti sejarah tersebut, pasti perkara sebenar akan jelas”.

“Sepanjang sejarah Islam masih terdapat beberapa orang sahabat nabi yang beristiqomah dalam jejak langkah nabi, perkara ini jelas jikalau kita tidak bersikap fanatik dengan peristiwa sejarah. Masalah ini benar-benar jelas dan tidak ada unsur-unsur penghinaan”.

Ayatullah Makarim Syirazi menceritakan pula beberapa riwayat yang dianggap mencerca tokoh-tokoh umat Islam dan berkata, “Jikalau seorang mukmin membuat penghinaan kecil terhadap sahabat nabi dan mengkafirkan mereka tanpa sebab, maka ia pun terkeluar dari Islam”.

Sambil menegaskan Nabi (s.a.w) melarang pengkafiran terhadap orang Islam yang lain beliau menambah, “Tidak boleh menuduh seseorang itu jahat tanpa bukti jelas”.

Penjelasan Ayatullah Makarim ini berdasarkan protes beberapa orang ulama Sunni terhadap filem bersiri Mukhtarnameh yang dianggap menghina Abdullah bin Zubair.

Abu Bakar Dan Umar Di Bawah Pasukan Usamah

 




Menjelang akhir hayat Rasulullah(sawa), baginda telah mengangkat Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan tentera menuju ke tanah Balqa di Syam, tempat terbunuhnya Zaid bin Haritsah RA, Ja’far RA dan Ibnu Rawahah RA. Telah disebutkan oleh banyak ulama bahwa Abu Bakar dan Umar termasuk dalam kumpulan mereka yang ikut dalam Sariyyah Usamah. Saat itu usia Usamah bin Zaid masih muda, anehnya kepemimpinan Usamah ini dikecam oleh sebahagian sahabat Nabi dan khabar kecaman ini sampai ke telinga Rasulullah(sawa)

عن بن عمر ان النبي صلى الله عليه و سلم بعث بعثا وأمر عليهم أسامة بن زيد فطعن بعض الناس في أمرته فقام رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال ان تطعنوا في أمرته فقد تطعنون في إمرة أبيه من قبل وأيم الله ان كان لخليقا للأمارة وان كان لمن أحب الناس إلى وان هذا لمن أحب الناس إلى بعده

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi(sawa) telah mengutuskan pasukan tentera dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela kepemimpinannya tersebut. Lalu Rasulullah(sawa) berdiri dan berkata “Jika kalian mencela kepemimpinannya maka kalian mencela kepemimpinan Ayahnya sebelumnya. Demi Allah, dia (Zaid) memang layak memimpin pasukan dan dia termasuk orang yang paling aku cintai, dan anaknya ini termasuk orang yang paling aku cintai setelahnya. [Shahih Muslim 4/1884 no 2426, Shahih Bukhari 5/23 no 3730, Musnad Ahmad 2/20 no 4701 dan 2/110 no 5888 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Sukar dibayangkan bagaimana para sahabat berani mengecam apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW tetapi memang begitulah kenyataannya. Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 4/66 yang berkata

أخبرنا عبد الوهاب بن عطاء قال أخبرنا العمري عن نافع عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث سرية فيهم أبو بكر وعمر فاستعمل عليهم أسامة بن زيد

Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahab bin Atha’ yang berkata telah mengabarkan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi(sawa) mengutus pasukan yang didalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima mereka…

Riwayat ini sanadnya hasan, telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Al Umari, dia seorang yang hadisnya hasan. Abdul Wahab bin Atha’ adalah seorang perawi yang tsiqat. Dalam At Tahdzib juz 6 no 838 disebutkan bahwa beliau adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Muslim dan telah dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Yahya Al Qattan, Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin, Daruquthni dan Hasan bin Sufyan. Ibnu Ady dan Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”Nafi’ maula Ibnu Umar adalah seorang yang tsiqat tsabit sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/239.

Al Umari adalah Abdullah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab Al Umari, ia adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan yang diperselisihkan dan pendapat terkuat adalah ia seorang yang hadisnya hasan. Disebutkan dalam At Tahdzib juz 5 no 564 bahawa ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Yaqub bin Syaibah, Ahmad bin Yunus dan Al Khalili. Ahmad bin Hanbal menghasankan hadisnya, terkadang berkata “ tidak ada masalah dengannya”, terkadang pula berkata“dia termasuk perawi yang shalih”. Ibnu Ady mengatakan tidak ada masalah dengannya dan shaduq. Al Ajli memasukkannya ke dalam perawi tsiqat dalam Ma’rifat Ats Tsiqat no 937 dan berkata

عبد الله بن عمر بن حفص بن عاصم بن عمر بن الخطاب أخو عبيد الله لا بأس به مديني

Abdullah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab saudara Ubaidillah ‘tidak ada masalah dengannya’, orang Madinah.

Memang terdapat sebahagian ulama yang mencacatnya dan mereka ini dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok berikut

  • Ulama yang mencacat Al Umari tanpa menyebutkan alasannya. Disebutkan dalam At Tahdzib juz 5 no 564 diantaranya Yahya bin Sa’id, Ali bin Madini, Bukhari dimana ia hanya mengikuti pencacatan Yahya bin Sa’id
  • Ulama yang mencacat Al Umari bukan dengan jarh yang keras seperti Salih Al Jazarah yang berkata “layyin”(lemah), An Nasa’i dan Al Hakim yang berkata“laisa bi qawiy” (tidak kuat). Dimana pencacatan dengan predikat “laisa bi qawy” boleh bererti seorang yang hadisnya hasan apalagi jika telah dinyatakan tsiqah oleh ulama-ulama lain.
  • Ulama yang mencacat Al Umari tetapi juga memberikan predikat ta’dil padanya diantaranya At Tirmidzi, pencacatan Tirmidzi hanyalah mengikuti gurunya Bukhari yang mengikuti Yahya bin Sa’id. Dalam kitab Sunan-nya Tirmidzi telah membawakan hadis-hadis Al Umari, terkadang ia menyatakan“laisa bi qawy” dan terkadang ia mengatakan shaduq (Sunan Tirmidzi 1/321 hadis no 172).

Pencacatan terhadap Al Umari tanpa menyebutkan alasannya tidak dapat dijadikan hujjah sebagaimana yang ma’ruf dalam Ulumul hadis jika seorang perawi telah dinyatakan tsiqat oleh ulama-ulama lain maka pencacatan terhadapnya hendaknya bersifat mufassar atau dijelaskan. Satu-satunya alasan pencacatan Al Umari mungkin karena hafalannya seperti yang diisyaratkan Adz Dzahabi dalam Mizan Al ‘Itidal no 4472 dimana Dzahabi juga menyatakan ia shaduq (jujur) dan Adz Dzahabi juga memasukkan Al Umari dalam kitabnya Asma Man Tukullima Fihi Wa huwa Muwatstsaq 1/112 no 190.

Riwayat Al Umari ini juga dikuatkan oleh riwayat lain yang juga menyatakan Abu Bakar dan Umar ikut dalam Sariyyah Usamah. Riwayat tersebut terdapat dalam Al Mushannaf 6/392 no 32305

حدثنا عبد الرحيم بن سليمان عن هشام بن عروة عن ابيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان قطع بعثا قبل مؤتة وأمر عليهم اسامة بن زيد وفي ذلك البعث أبو بكر وعمر

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahim bin Sulaiman dari Hisyam bin Urwah dari Ayahnya bahawa Rasulullah(sawa) sebelum wafatnya mengutus pasukan dan mengangkat pemimpin diantara mereka Usamah bin Zaid, didalamnya juga terdapat Abu Bakar dan Umar…

Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat tetapi mursal. Abdurrahim bin Sulaiman dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/598, Hisyam bin Urwah juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/267 dan ayahnya Urwah bin Zubair adalah seorang tabiin yang tsiqat dalam At Taqrib 1/671. Riwayat Urwah dan Riwayat Ibnu Umar saling menguatkan sehingga dapat dijadikan hujjah.

Kemudian diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir 8/60

أخبرنا أبو بكر وجيه بن طاهر أنا أبو حامد الأزهري أنا أبو محمد المخلدي أنا المؤمل بن الحسن نا أحمد بن منصور نا أبو النضر هاشم بن القاسم نا عاصم بن محمد عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) استعمل أسامة بن زيد على جيش فيهم أبو بكر وعمر فطعن الناس في عمله فخطب النبي (صلى الله عليه وسلم) الناس ثم قال قد بلغني أنكم قد طعنتم في عمل أسامة وفي عمل أبيه قبله وإن أباه لخليق للإمارة وإنه لخليق للأمرة يعني أسامة وإنه لمن أحب الناس إلي فأوصيكم به

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Wajih bin Thahir yang berkata menceritakan kepada kami Abu Hamid Al Azhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muammal bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr Hasyim bin Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashim bin Muhammad dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar.Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela pengangkatannya. Nabi SAW kemudian berkhutbah kepada orang-orang “telah sampai kepadaKu bahwa kalian mencela pengangkatan Usamah dan begitu pula pengangkatan Ayahnya sebelumnya. Sesungguhnya Ayahnya memang layak memimpin dan ia yakni Usamah juga layak untuk memimpin dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai maka kuwasiatkan kalian untuk taat kepadanya”.

Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya sehingga sanadnya jayyid (baik). Berikut keterangan mengenai para perawinya.

  • Abu Bakar Wajih bin Thahir, Adz Dzahabi dalam Siyar ‘Alam An Nubala20/109 menyebutnya sebagai seorang Syaikh Alim Adil Musnid Khurasan. Ibnu Jauzi dalam Al Muntazam Fi Tarikh 18/54 menyebutkan bahwa ia seorang Syaikh yang shalih shaduq (jujur).
  • Abu Hamid Al Azhari, Adz Dzahabi dalam As Siyar 18/254 menyebutnya sebagaiseorang syaikh yang adil dan shaduq. Disebutkan pula biografinya dalam Syadzrat Adz Dzahab Ibnu ‘Imad Al Hanbali 3/311 bahwa ia seorang yang tsiqah.
  • Abu Muhammad Al Makhlad, Adz Dzahabi dalam As Siyar 16/539 menyebutnya sebagai seorang Syaikh, Adil, Imam dan shaduq (jujur). Ibnu ‘Imad Al Hanbali dalam Syadzrat Adz Dzahab 3/131 juga menyebutnyaseorang Syaikh Muhaddis yang Adil.
  • Muammal bin Hasan, Adz Dzahabi dalam Siyar ‘Alam An Nubala 15/21-22 menyebutnya sebagai seorang Imam Muhaddis Mutqin. Dalam Tarikh Al Islam23/592 Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Syaikh Naisabur termasuk dari kalangan syaik-syaikh yang mulia.
  • Ahmad bin Manshur Ar Ramadi. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 1 no 143 bahwa ia telah dinyatakan tsiqat oleh Daruquthni, Abu Hatim, Maslamah bin Qasim, Al Khalili dan Ibnu Hibban. Dalam At Taqrib 1/47 ia dinyatakan tsiqat.
  • Abu Nadhr Hasyim bin Qasim, Ibnu Hajar memuat keterangan tentangnya dalam At Tahdzib juz 11 no 39 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Ali bin Madini, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim dan Ibnu Qani’. Dalam At Taqrib 2/261 ia dinyatakan tsiqat tsabit.
  • Ashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar bin Khattab, Ibnu Hajar menyebutkannya dalam At Tahdzib juz 5 no 92 dan ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban. Dalam At Taqrib1/459 ia dinyatakan tsiqat.
  • Ubaidillah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab, Ibnu Hajar memuat biografinya dalam At Tahdzib juz 7 no 71, ia adalah perawi Bukhari Muslim yang telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Ahmad bin Shalih dan Ibnu Sa’ad. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/637 menyatakan ia tsiqat.
  • Nafi’ maula Ibnu Umar, Ibnu Hajar menyebutkan keterangannya dalam At Tahdzibjuz 10 no 743, ia seorang perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat. Ibnu Sa’ad, Al Ajli, Ibnu Kharrasy, An Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin dan yang lainnya menyatakan bahwa ia tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/239 menyatakan Nafi’ tsiqat tsabit.

Semua Atsar di atas menunjukkan dengan jelas bahwa Abu Bakar dan Umar ikut dalam pasukan Usamah bin Zaid di bawah pimpinan Usamah RA. Hal ini juga telah ditegaskan oleh banyak ulama di antaranya

  • Ibnu Sa’ad dalam kitabnya At Thabaqat 2/190
  • Al Baladzuri dalam kitabnya Ansab Al Asyraf 2/115
  • Ibnu Atsir dalam Al Kamil Fi Tarikh 2/317
  • Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 391 biografi Usamah bin Zaid dan dalam Fath Al Bari 8/190
  • Al Hafiz Ibnu Zaky Al Mizzi dalam Tahdzib Al Kamal 2/340 biografi Usamah bin Zaid no 316
  • As Suyuthi dalam Is’af Al Mubatta 1/5 biografi Usamah bin Zaid
  • Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al Muntazam 2/405
  • Muhammad bin Yusuf Shalih Asy Syami dalam kitabnya Subul Al Huda Wa Rasyad 11/341
  • Al Qasthalani dalam Irsyad As Sari Syarh Shahih Bukhari 9/423
  • Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 8/46 biografi Usamah bin Zaid
  • Ibnu Manzur dalam Mukhtasar Tarikh Dimasyq 4/248
  • Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya ‘Uyun Al Atsar 2/352

Apa kata Rasulullah terhadap orang yang tidak mengikuti Sariyyah Usamah? Rasulullah bersabda: “”Perlengkapkan tentara Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentera Usamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa'd, Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi].

Keterangan bahwa Abu Bakar dan Umar di bawah pimpinan Usamah telah diriwayatkan melalui kabar yang shahih dan hal ini juga ditegaskan oleh banyak ulama. Oleh karena itu pengingkaran terhadap hal ini hanyalah usaha yang lemah dan tidak berdasar.

Al Quran Dan Keadilan Total Para Sahabat Ajmain



Salam dan Solawat. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Pengasihani.

Tidak dapat dinafikan, para sahabat Rasulullah(keredhaan Allah swt ke atas mereka yang kekal setia kepada baginda) memainkan peranan penting dalam membantu Rasulullah(sawa) menegakkan syiar Islam, dan di dalam Al Quran, di banyak tempat, Allah swt memuji mereka. Tetapi harus diingat, tidak semua para sahabat itu adil, dan ada segelintir dari mereka mendapat kecaman dari Allah swt.

Ramai dari kita keliru dan mengambil sikap sambil lewa apabila membaca ayat-ayat ini seolah-olah Allah swt menujukan ayat-ayat ini kepada sekalian manusia, tetapi pengecualian diberikan kepada para sahabat. Tetapi harus diingat, wahyu Allah swt ini dibacakan melalui mulut Rasulullah(sawa), bermakna ketika baginda membacakan wahyu ini, para sahabat turut tidak terkecuali dari ayat-ayat ini. Para sahabat juga liable dan tertuju secara langsung apabila Rasulullah(s) menyampaikan wahyu ini.

 

Berikut ialah apa yang dikatakan oleh Allah swt melalui Al Quran al Majid mengenai para sahabat.

  1. “Hai orang-orang beriman, barangsiapa yang murtad di antara kamu dari pada agamanya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Allah mengasihi mereka dan mereka mengasihi Allah, mereka lemah lembut terhadap orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka berjuang pada jalan Allah, dan tidak takut akan cerca orang yang mencerca. Demikian itu kurnia Allah, diberikan kepada sesiapa yang dikehendakinya, Allah luas kurnianya lagi maha mengetahui.” (5:54)   Komen: Jika semua para sahabat itu adil dan taat secara total kepada Rasulullah(s) dan Tuhannya, maka tidak perlu turun ayat ancaman seperti ini, sehingga Allah swt memberi amaran akan menggantikan mereka dengan kaum lain yang lebih taat.
  2. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu khianat pada Allah dan Rasul, dan jangan pula khianat terhadap barang-barang yang diamanatkan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Ketahuilah bahwa  harta dan anak2mu menjadi cubaan dan sesungguhnya disisi Allah pahala yang besar.”(8:27-28) Komen: Ingatan Allah kepada para sahabat yang adil agar jangan mengkhianat.
  3. “Hai orang2 yang beriman, sahutlah seruan Allah dan Rasul, bila ia menyeru kamu, untuk menghidupkan kamu, dan ketahuilah, bahawa Allah membatas antara manusia dengan hatinya, dan sesungguhnya kamu akan dihimpunkan kepadanya. Takutlah oleh mu akan fitnah yang tiada akan menimpa orang2 yang aniaya sahaja diantara kamu, dan ketahuilah, bahawa Allah amat keras siksaannya.” (8:24-25): Fitnah akan menimpa masyarakat yang adil secara total?
  4. “Hai orang2 yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika tentera musuh menyerang kamu, lalu kami kirim kepada mereka angin badai dan tentera yang tidak kamu lihat. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Ketika mereka menyerang kamu dari sebelah atas kamu dan dari sebelah bawah kamu, dan ketika miring pandangan dan naik jantung ke kerongkong kamu(kerana ketakutan) dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berbagai-bagai sangkaan. Di sana lah di cubai(keimanan) orang-orang yang beriman, dan mereka gementar dengan gementaran yang keras. Ketika berkata orang-orang munafiq dan orang2 yang di dalam hatinya ada penyakit(ragu-ragu): Tidak adalah janji Allah dan Rasulnya melainkan tipuan semat-mata.” (33:9-12)Komen: Para sahabat yang adil secara total menyangka terhadap Allah dengan berbagai sangkaan?
  5. “Hai orang2 yang beriman, mengapa kau  mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah, karena kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat.” (61:24) Komen: Para sahabat yang adil secara total mengatakan sesuatu yang mereka tidak buat?
  6. “Apa belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingati Allah dan kebenaran yang diturunkannya.(57:16) Komen: Para sahabat yang adil secara total ada di kalangan mereka yang masih tidak tunduk hati mereka?
  7. Mereka menyebut-nyebut kurnianya kepada engkau, kerana mereka masuk Islam. Katakanlah: janganlah engkau menyebut-nyebut kurniamu kepada ku, kerana keislaman kamu itu, bahkan Allah yang memberikan kurnia kepada mu, kerana dia menunjuki kamu kearah keimanan, jika kamu orang2 yang benar.”(49:17) Komen: Para sahabat yang adil secara total bersifat begini?
  8. Orang-orang yang tiada beriman kepada Allah dan hari kemudian itu, meminta izin kepada mu serta syak wasangka di dalam hatinya, sedang mereka dalam keraguan serta bimbang.
  9. Kalaulah mereka keluar bersama kamu, tidaklah mereka menambahkan kamu melainkan kerosakan, dan tentulah mereka segera menjalankan hasutan di antara kamu, (dengan tujuan) hendak menimbulkan fitnah (kekacauan) dalam kalangan kamu; sedang di antara kamu ada orang yang suka mendengar hasutan mereka. Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim.(9:47) Komen: Para sahabat yang adil secara total suka mendengar hasutan, dan suka menghasut. Sebuah masyarakat yang adil secara total wujud golongan yang munafik dalam hatinya, namun kita tidak mengenali mereka, Rasul juga ada tidak menceritakan siapa. Bagaimana mahu mengenali mereka? Sudah tentu dengan melihat tindakan mereka, sebelum dan sesudah kewafatan Rasul(s).
  10. Orang-orang  yang ditinggalkan (tidak turut berperang) itu, bersukacita disebabkan mereka tinggal di belakang Rasulullah (di Madinah); dan mereka (sememangnya) tidak suka berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah (dengan sebab kufurnya), dan mereka pula (menghasut dengan) berkata: “Janganlah kamu keluar beramai-ramai (untuk berperang) pada musim panas ini”. Katakanlah (wahai Muhammad): “Api neraka Jahannam lebih panas membakar”, kalaulah mereka itu orang-orang yang memahami.(9:81) Komen: Para sahabat yang adil secara total tidak suka keluar berperang dengan Nabi(s), malah diancam pula oleh Rasul(s). Inikah contoh para sahabat yang adil?
  11. Dan sekiranya Kami kehendaki, tentulah Kami akan memperkenalkan mereka kepadamu (wahai Muhammad), lalu engkau tetap mengenalinya dengan tanda-tanda (yang menjadi sifat) mereka; dan demi sesungguhnya, engkau akan mengenali mereka dari gaya dan tutur katanya. Dan (ingatlah kamu masing-masing), Allah mengetahui segala yang kamu lakukan.(47:30) Komen: Para sahabat yang adil secara total juga wujud golongan munafik di dalamnya, kenalilah mereka melalui perbuatan mereka.
  12. Mereka membantahmu tentang kebenaran (berjihad) setelah nyata (kepada mereka kemenangan yang engkau janjikan), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebabnya).(8:6) Komen: Para sahabat yang adil secara total membantah Nabi(s) dalam berjihad walaupun telah dijanjikan kemenangan?
  13. (Ingatlah), kamu ini adalah orang-orang yang bertabiat demikian – kamu diseru supaya menderma dan membelanjakan sedikit dari harta benda kamu pada jalan Allah, maka ada di antara kamu yang berlaku bakhil, padahal sesiapa yang berlaku bakhil maka sesungguhnya ia hanyalah berlaku bakhil kepada dirinya sendiri. Dan (ingatlah) Allah Maha kaya (tidak berhajat kepada sesuatupun), sedang kamu semua orang-orang miskin (yang sentiasa berhajat kepadaNya dalam segala hal). Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertaqwa dan berderma) Ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain; setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu.(47:38) Komen Ibnu Azmi: Para sahabat yang adil secara total mempunyai sifat bakhil?
  14. Dan di antara mereka ada yang mencelamu (wahai Muhammad) mengenai (pembahagian) sedekah-sedekah (zakat); oleh itu jika mereka diberikan sebahagian daripadanya (menurut kehendak mereka), mereka suka (dan memandangnya adil); dan jika mereka tidak diberikan dari zakat itu (menurut kehendaknya), (maka) dengan serta merta mereka marah.(9:58) Komen : Para sahabat yang adil secara total mencela Nabi(s) kerana tidak puas hati pembahagian zakat?
  15. Dan di antara mereka yang mendengar ajaranmu (dengan sambil lewa),sehingga apabila mereka keluar dari sisimu berkatalah mereka (secara mengejek-ejek) kepada orang-orang yang diberi ilmu : “Apa yang dikatakan oleh Muhammad tadi?” Mereka itu ialah orang-orang yang telah dimeteraikan Allah atas hati mereka, dan ialah orang-orang yang menurut hawa nafsunya.(47:16) Komen: Para sahabat yang adil secara total mengambil sambil lewa ajaran Nabi dan mengejek-ejek orang yang diberi ilmu.
  16. Dan di antara mereka ada orang-orang yang menyakiti Nabi sambil mereka berkata: “Bahawa dia (Nabi Muhammad) orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya)”. Katakanlah: “Dia mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan percaya kepada orang mukmin, dan ia pula menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnya.(9:61)

Ayat-ayat di atas sepatutnya sudah memuaskan hati para pencari kebenaran yang berfikiran terbuka dan rasional,serta para pemikir yang sentiasa berusaha keluar dari kepompong propaganda yang telah diserap masuk sejak dari mula.

Dari ayat Quran di atas, dapat kita ceraikan para sahabat kepada 2 iaitu:

  1. Minoriti- Mempercayai Allah dan Rasulnya, menyerahkan urusan mereka dan kepimpinan kepada Allah dan Rasulnya, berdedikasi dengan sepenuh hati dalam perjuangan di jalan Allah, dan bersedia mengorbankan segalanya. Al Quran memanggil mereka dengan gelaran “orang-orang yang bersyukur”
  2. Majoriti- Pada luarnya mempercayai Allah dan Rasulnya, tetapi ada penyakit di dalam hatinya. Tidak berserah diri dalam  hal urusannya melainkan untuk kepentingan sendiri dan duniawi. Mereka menentang perintah Allah dan Rasulnya, serta mementingkan kemahuan diri sendiri lebih dari perintah nabi. Kumpulan ini adalah golongan yang rugi dan mewakili majorit dri para sahabat. Allah swt berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Kami telah mendatangkan kebenaran kepada kamu, tetapi kebanyakan kamu benci kebenaran itu.” (43:78)

Para pengkaji akan mendapati kumpulan majoriti ini tinggal bersama Nabi, bersolat bersama baginda dan menemani baginda dalam bermusafir.  Mereka berusaha mendekati baginda, agar perwatakan di sebalik tabir mereka tidak diketahui oleh para Muslimin yang ikhlas(ra). Mereka berusaha keras untuk melakonkan sifat-sifat mulia, membuatkan kaum muslimin lain kagum dengan kekhusyukan mereka dalam beribadah.

Jika kita mengkaji ayat-ayat Quran di atas, dan bandingkan dengan ayat-ayat Quran yang memuji para sahabat, maka kita dapat simpulkan beberapa perkara berikut:

  1. Para sahabat tidak keseluruhannya adil
  2. Mereka berkemampuan untuk berdosa
  3. Para munafik juga dikenali sebagai sebahagian dari para sahabat, tetapi tidak dikenali umum
  4. Keadilan sahabat harus dikenal melalui perwatakan, percakapan dan tindak tanduknya samada melanggar larangan Allah swt atau tidak.
  5. Ayat-ayat Quran yang menunjukkan redha Allah kepada para sahabat hanya berlangsung selama mana mereka dalam kebenaran dan tidak mencanggahi kebenaran. Jika mereka mencanggahi kebenaran, masakan mereka diredhai Allah.
Mohon mereka yang masih berpegang teguh kepada keadilan para sahabat keseluruhan mereka, secara total, tolong menjawab soalan ini: 

  • Adakah para sahabat yang membantah perintah Rasul(s) di redhai Allah?
  • Adakah para sahabat  yang mencaci antara satu sama lain diredhai Allah?
  • Adakah para sahabat yang menfitnah antara satu sama lain diredhai Allah?
  • Adakah para sahabat yang membunuh sesama mereka diredhai Allah?
  • Adakah para sahabat yang mengkhianati bai’ah diredhai Allah?
Jelas, dapat disimpulkan, walaupun untuk seorang Sunni, kalian harus memilih dengan betul, para sahabat mana yang layak untuk anda ikut, kerana bukan semua mereka adil. Adapun jika kalian telah memilih, ambillah yang jernih dan buang yang keruh kerana bukan semua tindakan mereka selari dengan Al Quran.

Semoga Allah memberi kita hidayah. Salam dan Solawat.

Wallahu’alam

Ulama Sunni Menipu Umat Karena Tekanan Rezim Kerajaan ??

Terma Syiah Di Dalam Quran Dan Hadis


Salamun alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala

Kata “Syiah” bermaksud “pengikut; ahli parti“. Dengan demikian, istilah “Syiah” itu
sendiri tidak mempunyai erti negatif atau positif kecuali jika kami gandingkan bersama pemimpin sesuatu kumpulan.

Jika seseorang itu ialah Syiah (pengikut) kepada hamba Allah yang soleh , maka tidak ada salahnya menjadi Syiah kepada beliau, khususnya jika pemimpin parti tersebut telah
ditetapkan oleh Allah. Di sisi lain, jika kita seseorang menjadi Syiah kepada seorang penindas atau orang yg bersalah, maka beliau akan bertemu dengan nasib yang sama dengan pemimpinnya.  Al Quran telah pun menunjukkan
bahawa pada hari kiamat manusia akan dibangkitkan di dalam kumpulan, dan masing-masing kelompok memiliki pemimpin di depannya. Allah, Yang maha Mulia, berfirman:

Suatu hari Kami akan memanggil setiap kumpulan manusia bersama Imam masing-masing. (Quran 17:71)

Pada hari penghakiman, nasib para “pengikut” dari setiap kumpulan sangat bergantung pada nasib Imam-nya (asalkan mereka benar-benar mengikuti Imam). Allah menyebutkan di dalam Quran bahawa ada dua jenis imam. Ada imam yang menjemput manusia ke api neraka. Mereka adalah para pemimpin yang zalim di setiap era (seperti Firaun, dll):

Dan Kami jadikan mereka ketua-ketua (dalam kesesatan) yang mengajak ke neraka (dengan kekufurannya), dan pada hari kiamat pula mereka tidak mendapat sebarang pertolongan.
Dan Kami iringi mereka dengan laknat di dunia ini, dan pada hari kiamat pula adalah mereka dari orang-orang yang tersingkir (dari rahmat Kami) dengan sehina-hinanya.. (Al-Quran
28:41-42).

Tentu saja, menjadi ahli parti-parti Syaitan seperti di atas
sangat dikecam dalam Al-Quran, dan para pengikut parti-parti tersebut akan mengikuti
nasib pemimpin mereka. Namun, Quran juga mengingatkan bahawa akan ada pula imam yang dilantik oleh Allah sebagai Panduan bagi manusia:

Dan Kami jadikan dari kalangan mereka beberapa pemimpin, yang membimbing kaum masing-masing kepada hukum ugama Kami, selama mereka bersikap sabar (dalam menjalankan tugas itu) serta mereka tetap yakin akan ayat-ayat keterangan Kami.”(Al-Quran 32:24)

Tentu saja, yang sesungguhnya golongan (Syiah) Imam ini akan merasa kemakmuran nyata
pada hari kebangkitan. Jadi menjadi Syiah tidak membawa erti apa-apa, kecuali jika kita
mengetahui kita menjadi Syiah kepada siapa. Allah menyebutkan di dalam Quran yang Sesetengah hambanya yang benar ialah Syiah kepada hamba-hamba-Nya yang lain. Contohnya Nabi
Ibrahim disebutkan dalam Quran secara khusus sebagai Syiah kepada Nuh:

“Dan yang paling pasti Ibrahim ialah di antara Syiah kapadanya-Nya (iaitu, Nabi Nuh)” (Al-Quran (37:83)

(Perhatikan bahawa perkataan “Syiah” secara eksplisit digunakan, huruf demi huruf, di atas
ayat dan juga ayat seterusnya.) Dalam ayat lain, Al-Quran menceritakan tentang
Musa melawan Syiah kepada musuh-musuh Nabi Musa:

Dan masuklah ia ke Kamur (Mesir) dalam masa penduduknya tidak menyedarinya, lalu didapatinya di situ dua orang lelaki sedang berkelahi, – seorang dari Syiahnya sendiri dan yang seorang lagi dari pihak musuhnya. Maka orang yang dari Syiahnya meminta tolong kepadanya melawan orang yang dari pihak musuhnya; Musa pun menumbuknya lalu menyebabkan orang itu mati. (pada saat itu) Musa berkata: “Ini adalah dari kerja Syaitan, sesungguhnya Syaitan itu musuh yang menyesatkan, yang nyata (angkaranya) “.Al-Quran(28:15)

Jadi Syiah ialah perkataan rasmi yang digunakan oleh Allah dalam
Quran-Nya untuk menyatakan pangkat serta kualiti nabi-Nya serta para pengikut mereka. Adakah kamu ingin menuduh Nabi Ibrahim seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?

Jika seseorang menggelarkan dirinya seorang Syiah, maka ia bukan kerana ada perasaan sektarianisme, atau apa-apa bida’ah. Itu kerana Al-Quran telah menggunakan frasa ini untuk beberapa hamba terbaik-Nya. Ayat di atas yang saya telah sebutkan dalam membela Syiah, telah menggunakan istilah berbentuk tunggal (iaitu, satu kumpulan pengikut). Ini bererti frasa ini membawa erti khusus, seperti: Syiah Nuh (AS), Syiah Musa (AS). Juga dalam
sejarah Islam, Syiah telah secara khusus digunakan untuk “pengikut Ali”.

Individu pertama yang menggunakan istilah ini ialah Rasulullah sendiri:

Rasulullah berkata kepada Ali: “Berita gembira wahai Ali! Sesungguhnya kamu
dan sahabat kamu dan Syiah (pengikut) akan berada di Syurga. “

Rujukan Sunni:

(1) Fadha’il al-Sahabat, oleh Ahmad Ibn Hanbal, v2, p655
(2) Hilyatul wali-wali, oleh Abu Nu’aym, v4, p329
(3) Tarikh, by al-Khateeb al-Baghdadi, V12, p289
(4) al-Awsat, oleh al-Tabrani
(5) Majma ‘al-Zawa’id, by al-Haythami, V10, hlm 21-22
(6) al-Darqunti, yang mengatakan hadis ini telah disebar melalui pelbagai
perawi.
(7) al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p247

Dengan demikian Rasulullah (saw & HF) digunakan untuk mengatakan frasa “Syiah Ali”.
Ungkapan ini bukanlah sesuatu yang diciptakan nanti! Nabi Muhammad (saw & HF) berkata
bahawa pengikut sebenar imam Ali akan pergi ke Syurga, dan ini merupakan
kebahagiaan. Juga Jabir bin Abdillah al-Ansari meriwayatkan bahawa:

Rasulullah (saw) berkata: “Syiah Ali akan merasai kemenangan yang nyata pada hari kebangkitan”

Rujukan Sunni:
– Al-Manaqib Ahmad, sebagaimana disebutkan dalam:
– Yanabi al-Mawaddah, oleh Al-Qundoozi al-Hanafi, p62
– Tafsir al-Durr Al-Manthoor, oleh al-Hafidh Jalaluddin al-Suyuti, yang mengutip
hadis berikut: “Kami dengan Nabi saw ketika Ali datang ke
kami. Nabi berkata: Dia dan Syiahnya akan memperoleh keselamatan pada hari
penghakiman. “

“Hari kebangkitan” boleh juga dirujuk kepada hari kebangkitant al-Mahdi (AS). Tetapi dalam
istilah yang lebih umum, itu berarti hari penghakiman. Juga ada sebuah hadith bahawa:

Rasulullah berkata: “Wahai Ali! Pada hari kiamat aku akan Mengharapkan
kepada Allah dan kamu akan mengharapkan kepadaku dan anak-anak kamu akan mengharapkan kepadamu dan Syiahmu akan mengharapkan kepada mereka. Kemudian kamu akan melihat di mana mereka membawa kami.(iaitu Syurga) “

Rujukan sunni: Rabi al-Abrar, oleh al-Zamakhsyari

Selain itu, diceritakan bahawa:

Rasulullah berkata: “Wahai Ali! (Pada hari kiamat)kamu dan Syiah kamu akan datang kepada Allah dengan senang dan menyenangkan, dan akan ada
datang kepada-Nya musuh-musuh kamu yang marah dan angkuh (yakni, kepala mereka di paksa keatas).

Rujukan sunni:
– Al-Tabrani, berdasarkan kuasa Imam Ali
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar al-Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p236

Sebuah versi lebih lengkap daripada hadis yang juga telah dilaporkan oleh
Sunni, adalah sebagai berikut:

Ibnu Abbas (RA) meriwayatkan: Ketika ayat “Orang-orang yang beriman dan
amal soleh adalah yang terbaik daripada penciptaan (Al-Quran 98:7) “diturunkan, Rasulullah (saw) berkata kepada Ali: “Mereka adalah kamu
dan Syiahmu. “Dia melanjutkan:” Wahai Ali! (Pada hari kiamat), kamu dan
Syiah kamu akan datang ke arah Allah dengan senang dan menyenangkan, dan
musuhmu akan dating dengan marah serta kepala mereka dipaksa ke atas. Ali berkata: “Siapakah musuhmu? “Nabi (SAAW) menjawab:” Dia yang menjauhkan dirinya
daripada kamu dan mengutukmu. Dan berita kepada mereka yang pertama mencapai di bawah bayang-bayang al-’Arsh pada hari kebangkitan. “Ali bertanya:” Siapakah
mereka, wahai Rasulullah? “Dia menjawab:” Syiahmu, wahai Ali, dan
orang yang mengasihi kamu. “

Rujukan sunni:
– Al-Hafidh Jamaluddin al-Dharandi, tentang kuasa Ibnu Abbas
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, Ch. 11, bahagian 1, hal 246-247

Kemudian Ibnu Hajar memberikan komentar aneh untuk hadis pertama, beliau berkata:
Syiah Ali adalah Ahlussunnah kerana mereka adalah orang-orang yang mencintai Ahlul –
Bayt sebagaimana Allah memerintahkannya kepada Nabi. Tetapi orang lain (iaitu, selain
Sunni) adalah musuh-musuh Ahlulbait kerana mencintai mereka di luar
batas hukum adalah permusuhan besar. Juga, musuh-musuh Ahlulbait adalah al-Khawarij dan mereka yang bersama-sama daripada Syria, bukan sahabat Muawiyah dan lain-lain kerana mereka ialah Muteawweloon, dan bagi mereka pahala yang baik, dan untuk Ali dan Syiah adalah sebuah pahala yang baik!

Rujukan sunni: al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, Ch. 11, bahagian 1,
p236

Dan ini adalah caranya bagaimana ulama Sunni menundukkan hadis nabi yang menyokong
“Syiah Ali”! Mereka mengatakan bahawa mereka adalah Syiah yang sebenar!

Mari kita lihat satu lagi hadis berkenaan hal ini:

Rasulullah berkata kepada Ali: ” empat orang Yang pertama yang akan
masuk Syurga adalah aku, kau, al-Hasan, dan al-Husain, dan keturunan kami
akan berada di belakang kami, dan isteri kita akan berada di belakang keturunan kita, dan Syiah kita akan berada di sekeliling kita. “

Rujukan sunni:
– Al-Manaqib, oleh Ahmad
– Al-Tabrani, seperti dikutip dalam:
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p246

Dari keterangan di atas, perkataan “Syiah” digunakan oleh Allah di dalam Quran untuk
Para nabi-Nya serta para pengikut mereka. Lebih lanjut lagi, Nabi Muhammad
(SAAW) telah berulang kali menggunakan kata ini untuk para pengikut Imam Ali (AS) dalam memuji kedudukan dan kualiti mereka.

Namun saya tidak menemukan istilah-istilah seperti “Ahlussunnah wal-Jama’ah”,
“al-Wahhabiyyah”, “al-Salafiyyah” di mana sahaja dalam Al-Quran atau
hadis Nabi. Saya bersetuju bahawa kita harus mengikuti Sunnah Nabi,
tetapi saya ingin mencari asal-usul istilah yang tepat di sini. Kami Syiah
berbangga dalam mengikuti Sunnah Nabi. Namun, persoalannya ialah yang mana satukah Sunnah yang asli dan yang mana yang tidak. Perkataan “Sunnah” dengan sendirinya tidak
memenuhi tujuan pengetahuan. Semua umat Islam dengan penuh keyakinan,
mendakwa bahawa mereka mengikuti Sunnah Nabi (sawa).

Harus ditekankan bahawa Rasulullah tidak pernah menginginkan untuk memecah-belahkan kaum Muslimin dalam berbagai pecahan kumpulan. Nabi telah memerintahkan semua orang untuk mengikuti Imam Ali (AS) sebagai pembantu baginda selama hidupnya Rasulullah, dan sebagai khalifah selepas ketiadaan baginda. Nabi berharap para sahabatnya mengikuti perintahnya. Tapi sayangnya para sahabat baginda, yang disayangi dan dikenali sebagai “Syiah Ali” terpaksa menahan pelbagi jenis diskriminasi dan menderita sejak hari pertama daripada kematian rahmat untuk Manusia, Nabi Muhammad (SAAW), sehinggalah sekarang.

Allah berfirman dalam Quran:
“Peganglah teguh-teguh kepada Tali Allah, kalian semua bersama-sama dan tidak berasingan”
(Al-Quran 3:103) “

Tali Allah yang tidak boleh dipisahkan dengan kita, adalah Ahlulbait. Bahkan, beberapa ulama meriwayatkan daripada Imam Ja’far ash-Shadiq (AS) berkata:
“Kami adalah Tali Allah tentang siapa yang Allah telah berfirman:” Peganglah teguh-teguh untuk yang Tali Allah, kalian semua bersama-sama dan tidak berasingan (3:103) ‘

Rujukan sunni:
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Haythami, Ch. 11, bahagian 1, p233
– Tafsir al-Kabir, by al-Tha’labi, di bawah komentar dari ayat 3:103

Jadi, jika Allah mencela sektarianisme(sifat kepuakan), maka secara tidak langsung Dia juga mencela mereka yang berpisah daripada Tali-Nya, bukan orang-orang yang berpegang teguh kepadanya(Tali Allah). Juga terdapat beberapa pendapat mengatakan Tali Allah ialah Al-Quran. Pendapat ini juga benar. Mari kita lihat hadis berikut yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah yang berkata:

Rasulullah berkata: “Ali bersama dengan Quran, dan Quran bersama dengan Ali.
Mereka tidak akan terpisah daripada satu sama lain sehingga mereka berdua kembali kepada-Ku berhampiran telaga ku (Syurga). “

Rujukan sunni:
– Al-Mustadrak, by al-Hakim, v3, p124 pada kuasa Ummu Salamah
– Al-Shawd’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, Ch. 9, bahagian 2, hlm 191.194
– Al-Awsat, oleh al-Tabrani, juga dalam al-Saghir
– Tarikh al-Khulafa, oleh Jalaluddin Al-Suyuti, p173

Kemudian kita bolehlah menyimpulkan bahawa Imam Ali ialah Al-Quran yang bercakap. Dari hujah ini, dapatlah disimpulkan juga bahawa Imam Ali ialah tali Allah yang kukuh kerana mereka (Al-Quran dan Ali) adalah tidak dapat dipisahkn. Bahkan, ada sejumlah besar hadis Sunni yang Sahih sumbernya di mana Nabi bersabda, “Al-Quran dan Ahlulbaitku tidak dapat dipisahkan dan jika umat Islam ingin tetap berada di jalan yang benar, mereka harus tetap pada KEDUA mereka.

Oleh kerana itu, kita bolehlah menyimpulkan bahawa mereka yang memisahkan diri mereka daripada Ahlulbait adalah bersifat kepuakan, yang dikecam oleh Allah dan Nabi-Nya kerana perbezaan mereka.

Bahkan, pendapat majoriti bukanlah kriteria yang baik untuk membezakan yang palsu
daripada kebenaran. Jika kamu melihat di dalam Quran, kamu akan melihat bahawa Quran terlampau banyak sekali mencela majoriti dengan sering mengatakan bahawa “majoriti tidak memahami “,” majoriti tidak menggunakan logika mereka “,” majoriti mengikuti hawa nafsu “…

Sebagai kesimpulan, saya telah menunjukkan dalam artikel ini bahawa istilah Syiah telah pun digunakan dalam Quran bagi para pengikut besar hamba-hamba Allah, dan dalam hadis-hadis Nabi bagi para pengikut Imam Ali (AS).
.

Bai’ah Ali Adalah Secara Terpaksa

 


Salam wa rahmatollah. Bismillah.

Sejak zaman bangku sekolah, apa yang disajikan kepada kita adalah sejarah yang luarannya hanya indah-indah belaka. Kononnya, selepas kewafatan Rasul, diriwayatkan bahawa tiada pertelingkahan yang berlaku sesama para sahabat. Semua sahabat, secara bersepakat memilih Abu Bakar tanpa sebarang konflik dan pertelingkahan. Begitu juga dengan Imam Ali(as) yang turut sama menyatakan perjanjiannya untuk taat setia tanpa sebarang bantahan.

Bagaimanapun, dengan sedikit kajian, segera saya dapati, ia bukanlah seindah seperti yang disangka, seperti yang saya bahaskan di dalam artikel: “Perlantikan Abu Bakar Satu Ijmak?“. Malah banyak lagi kejadian sejarah yang tidak dibuka kepada kita, demi menutup betapa burukya perpecahan di zaman para sahabat. Dalil Imamah juga cukup kuat mengatakan bahawa Imamah adalah hak Imam Ali dan Ahlulbait(as). Jelas, Abu Bakar dan para khalifah selepasnya telah merampas hak ini dari pemilik asalnya.

Atas sebab-sebab demi kebaikan ummah, Imam Ali(as) terpaksa memberi baiat, agar Islam sentiasa terjaga, dan tidak musnah di tangan para manusia jahil. Mari kita perhatikan, sedikit riwayat ring

Kemudian Umar berkata: Berdirilah wahai Ibn Abi Talib dan berilah bai‘ah. Ali a.s menjawab: Jika aku tidak melakukannya? Dia menjawab: Jika begitu, demi Allah! kami akan memenggal kepala anda. Ali a.s. telah memberi hujah kepada mereka sebanyak tiga kali, kemudian menghulurkan tangannya tanpa membuka tapak tangannya. Maka Abu Bakr pun memegang tangannya dan meridhai hal sedemikian.

Ali a.s. telah menyeru sebelum memberi bai‘ah dalam keadaan tali terikat pada lehernya: Wahai Ibn Umm! Sesungguhnya mereka menindasku dan hampir membunuhku. Ada seseorang berkata kepada al-Zubair: Berilah bai‘ah, tetapi dia menolaknya. Lantas Umar, Khalid, al-Mughirah bin Syu‘bah telah bergegas ke hadapan orang ramai, lantas mereka merampas pedangnya dan memukulnya ke tanah sehingga mereka mematah dan mengucapkan talbiah kepadanya.

Maka al-Zubair berkata dalam keadaan Umar menolak dadanya: Wahai Ibn Sahhak! Sekiranya pedang berada di tanganku, nescaya anda menjauhiku, kemudian diapun memberi bai‘ah. Salman berkata: Kemudian mereka telah membawaku dan memegang tengkukku dengan pantas sehingga mereka meninggalkannya seperti barang. Kemudian mereka memegang tanganku, lalu aku memberi bai‘ah secara terpaksa. Seterusnya Abu Dhar dan al-Miqdad juga telah memberi bai‘ah secara terpaksa.

Tiada seorangpun yang telah memberi bai‘ah secara terpaksa selain daripada Ali a.s. dan kami berempat. Dan tiada seorangpun daripada kami yang begitu lantang selain daripada al-Zubair kerana dia berkata ketika memberi bai‘ah: Wahai Ibn Sahhak! Demi Allah! Sekiranya tiada mereka yang zalim membantu anda nescaya anda tidak akan datang kepadaku ketika pedangku berada di tanganku, kerana aku mengetahui anda adalah seorang yang pengecut dan keji. Tetapi anda mendapatkan orang yang zalim (thughat) bagi menguatkan kedudukan anda. Kata-kata itu menyebabkan Umar naik marah.

Al-Zubair berkata lagi: Adakah anda masih ingat wahai Sahhak? Umar bertanya: Siapa Sahhak? Al-Zubair menjawab: Apakah yang menghalangku daripada menyebut Sahhak? Sahhak adalah seorang penzina wanita. Adakah anda mengingkarinya wahai Umar? Tidakah dia seorang hamba wanita daripada Habsyah kepunyaan datukku Abd al-Muttalib, kemudian datuk anda Nufail berzina dengannya, lalu melahirkan bapa anda al-Khattab? Selepas itu Abd al-Muttalib memberikannya kepada datuk anda selepas dia berzina denganya kemudian melahirkanya (al-Khattab). Sesungguhnya dia (al-Khattab) adalah hamba kepada datukku, adalah anak zina.[1] Lantas Abu Bakr mendamaikan di antara mereka berdua, lalu kedua-duanya dapat mengawal diri mereka.

 

Ucapan Salman al-Farisi selepas memberi bai‘ah secara terpaksa di majlis Abu Bakr

 

Sulaim bin Qais berkata: Maka aku berkata kepada Salman: Wahai Salman! Adakah anda telah memberi bai‘ah kepada Abu Bakr tanpa berkata apa-apa? Beliau menjawab: Sesungguhnya aku telah berkata selepas memberi bai‘ah: Binasalah untuk kalian sepanjang masa. Adakah kalian mengetahui apa yang kalian lakukan untuk diri kalian? Kalian betul dari satu segi dan bersalah dari satu segi yang lain ? Kalian betul, kerana menepati sunnah orang sebelum kalian yang telah berpecah-belah dan berselisih faham.

Dan kalian telah bersalah kerana menyalahi Sunnah Nabi kalian sehingga kalian mengeluarkan (sunnah) daripada galiannya dan keluarganya. Lantas Umar berkata: Wahai Salman! Justeru sahabat anda telah memberi bai‘ah dan anda sendiri telah memberi bai‘ah maka cakaplah apa sahaja yang anda mahu dan lakukanlah apa yang terlintas di hati anda. Dan biarlah sahabat anda berkata apa yang terlintas di hatinya.[2] Salman berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya kepada anda dan sahabat anda yang anda bai‘ah kepadanya adalah seperti dosa-dosa umatnya sehingga Hari Kiamat dan seperti azab mereka semua”.

Maka Umar berkata kepadanya: Katakanlah apa yang anda mahu. Tidakkah anda telah memberi bai‘ah? Allah tidak akan mententeramkan dua mata anda jika sahabat anda memegang jawatan khalifah. Maka Salman berkata: Aku naik saksi bahawa sesungguhnya aku telah membaca beberapa kitab Allah yang diturunkan, bahawa anda dan nama anda, keturunan anda dan sifat anda adalah satu pintu daripada pintu-pintu Jahanam. Maka Umar berkata kepadaku: Katakanlah apa yang anda mahu. Tidakkah Allah telah menghilangkan daripada Ahl al-Bait yang kalian telah mengambil mereka sebagai tuhan (arbaban) selain daripada Allah?

Aku berkata kepadanya: Aku naik saksi sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda dan aku telah bertanya kepadanya firman-Nya dalam Surah al-Fajr (89): 25-26 ‘‘Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksaaan Allah. Dan tiada seorangpun yang mengikat dengan rantai seperti ikatan Allah” Maka beliau memberitahuku bahawa andalah yang dimaksudkan.

Maka Umar berkata kepadaku: Diam! Allah mendiamkan mulut anda wahai hamba anak lelaki orang yang tidak berkhatan. Lantas Ali a.s. berkata kepadaku: Aku bersumpah ke atas anda wahai Salman supaya diam. Salman berkata: Demi Allah! Sekiranya Ali a.s. tidak memerintahkanku supaya berdiam nescaya aku memberitahunya setiap ayat yang turun mengenainya dan setiap sesuatu yang aku mendengar daripada Rasulullah Saw. tentangnya dan sahabatnya (Abu Bakr). Manakala Umar melihatku dia berdiam seketika kemudian berkata: Anda terlalu mematuhinya!

Apabila Abu Dhar dan al-Miqdad memberi bai‘ah dan mereka berdua tidak berkata apa-apa, Umar berkata: Wahai Salman! Tidakkah anda boleh menahan diri anda sebagaimana yang dilakukan oleh kedua-dua sahabat anda? Demi Allah! bahawa sesungguhnya anda bukanlah mencintai Ahl al-Bait ini lebih daripada mereka berdua dan bukan pula lebih membesarkan mereka daripada kedua-duanya.

Sesungguhnya memadailah sebagaimana anda lihat mereka berdua telah memberi bai‘ah. Abu Dhar berkata: Adakah anda menghina kami kerana cinta kami kepada keluarga Muhammad dan membesarkan mereka? Allah melaknati dan Dia telah melakukannya kepada orang yang memusuhi mereka, membohongi mereka, menzalimi hak mereka, membuat orang ramai memandang rendah terhadap mereka dan mengembalikan umat ini mundur kebelakang.

Umar berkata: Amin! Allah melaknati orang yang menzalimi hak mereka. Tidak! Demi Allah! mereka tidak mempunyai apa-apa hakpun. Malah manusia adalah sama. Abu Dhar berkata: (Jika begitu) Kenapa kalian bertengkar dengan kaum Ansar tentang hak mereka dan hujah mereka?[3]

 

Ucapan Ali a.s. selepas memberi bai‘ah secara terpaksa

 

Ali a.s. berkata kepada Umar: Wahai Ibn Sahhak! Kami tidak mempunyai hak mengenainya malah ia untuk anda dan anak lelaki kepada wanita pemakan lalat (Abu Bakr). Umar berkata: Tahan diri anda sekarang juga wahai Abu al-Hasan! Kerana anda telah memberi bai‘ah. Lagipun orang ramai meridhai dengan sahabatku dan bukan dengan anda. Justeru itu apakah dosaku?

Ali a.s. berkata: Tetapi Allah (SWT) dan Rasul-Nya tidak meridhai selain daripadaku. Lantaran itu, terimalah berita gembira untuk anda, sahabat anda dan sesiapa yang mengikut kalian berdua maka kemurkaan Allah, azab-Nya dan penghinaan-Nya[4].

Celakalah anda (waila-ka) wahai Ibn al-Khattab! Adakah anda mengetahui dari manakah anda keluar, dari manakah anda masuk, apakah jenayah yang anda perlakukan ke atas diri anda dan sahabat anda? Maka Abu Bakr berkata: Wahai Umar! Tidakkah dia telah memberi bai‘ah kepada kita dan kita telah terselamat daripada kejahatannya, pembunuhannya dan ancamannya? Justeru itu, biarkan dia berkata apa yang dia mahu.

Lalu Ali a.s. berkata: Aku tidak akan berkata melainkan satu perkara; aku mengingatkan kalian akan Allah, wahai kalian berempat (Salman, Abu Dhar, al-Zubair dan al-Miqdad) bahawa aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Tabut daripada api mengandungi dua belas lelaki. Enam terdiri daripada orang yang terdahulu dan enam lagi terdiri daripada orang yang terkemudian berada di Neraka Jahannam, peringkat terbawah, di dalam Tabut (peti besi) yang bertutup di atasnya dengan batu besar. Apabila Allah ingin memanaskan Neraka Jahannam, Dia akan membuka batu besar tersebut daripada Tabut. Lantas Neraka Jahanam menjadi lebih panas lagi”.

Ali a.s. berkata: Aku telah bertanya kepada Rasulullah Saw. dan kalian menjadi saksi tentang enam orang yang terdahulu. Maka beliau berkata: Orang yang terdahulu adalah anak lelaki Adam yang telah membunuh saudaranya, ketua segala Fir‘aun yang telah berhujah dengan nabi Ibrahim tentang Tuhannya, dua lelaki daripada Bani Isra’il yang telah mengubah Kitab dan Sunnah mereka. Salah seorang daripada mereka mengyahudikan Yahudi, sementara seorang lagi menasranikan Nasrani, pembunuh unta betina (al-Naqah)dan pembunuh Nabi Yahya bin Zakaria.

Adapun orang yang terkemudian adalah Dajjal dan lima orang yang membuat perjanjian di hadapan Ka‘bah (Ashab al-Sahifah) bagi menentang anda. Wahai saudaraku! mereka akan melahirkan penentangan ke atas anda selepasku; ini dan ini sehingga dia namakan mereka satu persatu kepada kami. Salman berkata: Maka kamipun berkata: Anda memang benar. Kami bersaksi sesungguhnya kami telah mendengar perkara itu daripada Rasulullah Saw.

Uthman berkata: Wahai Abu al-Hasan! Adakah di sisi anda dan sahabat anda ada hadis mengenaiku? Ali a.s. menjawab: Ya. Aku telah mendengar Rasulullah Saw. melaknati anda. Kemudian Allah tidak akan mengampuninya selepas beliau melaknati anda. Lantas Uthman memarahinya dan berkata: Apa salahku dan anda? Janganlah anda meninggalkanku pada masa nabi dan selepasnya. Ali a.s. berkata: Ya, Allah telah menundukkan keangkuhan anda.

Maka Uthman berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Al-Zubair akan dibunuh dalam keadaan murtad daripada agama Islam. Salman berkata: Ali a.s. telah berkata kepadaku ketika kami berdua: Benar apa yang telah dikatakan oleh Uthman tadi. Dia telah memberi bai‘ah kepadaku selepas pembunuhan Uthman tetapi dia telah menarik balik bai‘ahnya daripadaku. Justeru itu, dia telah dibunuh dalam keadaan murtad.

Salman berkata: Maka Ali a.s. berkata lagi: Sesungguhnya orang ramai semuanya telah menjadi murtad selepas Rasulullah Saw. melainkan empat orang. Sesungguhnya orang ramai telah menjadi murtad selepas Rasulullah Saw. sepertilah kedudukan Harun dan orang yang mengikutinya dan kedudukan al-‘Ijl serta orang yang mengikutinya. Maka Ali a.s. diumpamakan seperti Harun dan al-Atiq (Abu Bakr) diumpamakan seperti al-‘Ijl, sementara Umar sepertilah al-Samiri.

Dan aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Akan datang satu kaum daripada sahabatku yang mempunyai kedudukan yang tinggi di sisiku melalui al-Sirat. Apabila aku melihat mereka dan mereka melihatku, aku mengenali mereka dan mereka juga mengenaliku”. Tiba-tiba mereka dibawa begitu pantas daripadaku, maka akupun berkata: Wahai Tuhanku! (mereka itu) sahabatku, sahabatku. Maka dijawab: Anda tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh mereka selepas anda. Mereka telah menjadi murtad kebelakang sebaik saja anda meninggalkan mereka”.

Maka aku berkata: Mohon dijauhkan perkara tersebut! Dan aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Umatku akan mengikut sunnah Bani Isra’il sepenuhnya sehingga jika mereka memasuki lubang biawak sekalipun, mereka akan memasukinya bersama mereka,[5] kerana sesungguhnya Taurat dan al-Qur’an telah ditulis oleh seorang Malaikat dalam satu lembaran dengan satu penulisan. Lantaran itu, contoh-contoh dan sunnah-sunnah adalah sama”.

 

 

[1] Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, xxx, hlm. 98-99.

 

[2] Bandingkan, al-Tabari, Tarikh, iii, hlm. 198-20. Abu al-Fida’, Tarikh, hlm. 156-9.

 

[3] Lihat misalnya Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, hlm. 10-11.

 

[4]Abu Nu‘aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya, i, hlm. 66. al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, hlm. 72.

 

[5] Ibn Hanbal, Musnad, iii, hlm. 84,94

.

Bidasan Berkenaan Makna Mawla

 


Salam dan Solawat.

Sejak Aidil Ghadir, macam-macam reaksi diterima oleh pihak penentang Syiah. Macam-macam jawapan balas mereka berikan tentang peristiwa ini. Berkenaan dengan jawapan balas mereka ini, sebenarnya hujah lama, dan telah saya lalui dalam tempoh kajian saya terhadap Syiah dahulu. Oleh itu, saya tahu dan sudah menjangka mereka akan melatah. Ini adalah beberapa point utama hujah balas geng-geng pembenci Syiah terhadap Ghadir Khum.

  1. Percubaan menakwilkan maksud perkataan Mawla dalam peristiwa al Ghadir
  2. Menetapkan hujah bahawa Imam Ali tidak menuntut jabatan Khalifah sejurus selepas kewafatan Nabi(sawa)
  3. Dan beberapa lagi hujah lemah, antaranya berkenaan Imam Ali memohon kesaksian Al Ghadir di zaman pemerintahan beliau, bagi mengenal pasti siapa yang benar-benar menyokong beliau, dan siapa pula yang tergolong dalam golongan penentang. (Yang bestnya, antara yang tidak memberikan kesaksian ialah para sahabat besar juga, aduss)

Seperti yang saya pernah sebutkan sebelum ini, sumber perpecahan utama Sunni dan Syi’i, berpusat dan bermula dari satu perkara sahaja yang paling utama, iaitu Imamah. Sudah tentu jika Sunni mengakui hal-hal berkaitan wilayah Ahlulbait(as) dan perlantikan Imam Ali(as), maka sudah tentu tidak akan wujud lagi Sunni sampai ke hari ini. Oleh kerana setelah hampir lebih kurang 1200 tahun, masih lagi wujud Sunni dan Syiah, maka ini menunjukkan di pihak Sunni ada penakwilan mereka, dan di pihak Syiah juga ada penakwilan mereka tersendiri. Sunni dengan sumber mereka, manakala Syiah dengan sumber mereka dan sumber Sunni pun boleh pakai jugak.

Yang sepatutnya dijadikan garis sempadan ialah menghormati pendapat masing-masing, bukan berusaha mencari hujah balas untuk mengkafirkan pihak lawan. Perdebatan berkenaan hal ini dah 1000 tahun lebih pun, maka tidak perlu la nak jadikan ia isu lagi. Kalian mengatakan peristiwa Ghadir Khum bukan perlantikan Ali, tetapi hanya menunjukkan kemuliaan dan kelebihan beliau(biar betul?), fine! Ada tak kami kafirkan kalian? Ada tak kami membenci kalian? Ada tak kami memburuk-burukkan kalian, jawapannya semua tidak!

Itu pendapat kalian, so kami hormati, manakala kami Syiah pula, berpendapat berdasarkan Nas dari Quran, hadis dan dalil aqli, bahawa peristiwa ini, hanyalah salah satu dari berlambak peristiwa yang menunjukkan pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah. Ia sentiasa berkait dengan hadis 12 Imam, Ahlulbait dan Imam Ali. Dengan kami mempercayai perkara ini, bahagian mana dari kepercayaan ini yang membuatkan kami keluar dari Islam? Kenapa perlu kafir dan membenci kami hanya kerana kami mempercayai sesuatu berdasarkan sumber yang dipercayai semua? Bukankah Rasulullah(sawa) dalam kitab hadis kalian pernah sebut:

“Perbezaan pendapat dalam umat ku ialah satu rahmat.”?

Semua ini kerana Syiahfobia yang dihadapi kalian. Penyakit ini menyebabkan kalian cenderung untuk menafikan apa sahaja yang keluar dari mulut Syiah, walaupun ia adalah sesuatu yang kukuh dan logik. Kasihan sekali.

Anyway, kita akan mulakan dengan point nombor 1 bagi artikel ini, iaitu berkenaan maksud mawla, kerana ia adalah point paling utama mereka. Sekali lagi telah saya nukilkan bahawa kenyataan bahawa Rasulullah(sawa) telah menegaskan Imam Ali(as) sebagai mawla bukan di satu tempat sahaja, malah di banyak peristiwa dan waktu, ini dapat dilihat jika kalian membaca kesemua siri Imamah.

Mengikut pendapat saudara kita dari Ahlulsunnah atau lawan kita dari para wahabi, perkataan maula atau wali bererti pencinta, penolong dan kawan, bukan bermaksud pemimpin. Ini kerana Nabi(sawa) mengetahui bahawa Ali mempunyai banyak musuh, maka dengan itu baginda menerangkan kepada ratusan ribu para sahabat bahawa sesiapa yang menganggap baginda sebagai orang yang dicintai, maka Ali juga merupakan orang yang patut dicintai.

Ironiknya pendapat mereka ini membatalkan hujah mereka tentang sifat berkasih sayang antara para sahabat, yang mengatakan para sahabat sentiasa menyayangi antara satu sama lain(hoho!). Ada banyak jalan bagi saya untuk menjawab hujah bidasan mereka. Pendapat mereka bathil antaranya atas sebab-sebab berikut:

1. Telah jelas bahawa peristiwa Ghadir Khum ialah susulan dari turunnya ayat Al Balagh yang memerintahkan Rasulullah menyampaikan perlantikan ini. Ini menunjukkan, tanpa risalah ini, Islam akan menjadi tidak lengkap. Maka cubalah kalian fikirkan, kalaulah peristiwa ini terjadi hanya semata-mata untuk menyatakan bahawa Imam Ali adalah sahabat baginda dan orang yang harus dicintai, apakah perlu sehingga tahap ayat Quran diturunkan? Lagipun, bukankah Imam Ali sebagai sahabat Nabi ialah satu pengetahuan umum dan telah diketahui ramai?

Mereka mengatakan bahawa Rasulullah berbuat begitu setelah terjadi perselisihan faham antara Imam Ali dan seorang sahabat berkenaan hal-hal rampasan perang(again?), maka Rasulullah terpaksa mengisytiharkan di hadapan ratusan ribu para sahabat tentang kedudukan Ali. Setahu saya, kedudukan Imam Ali telah banyak diterangkan dari permulaan dakwah hingga ke akhirnya di banyak tempat, maka saya tidak nampak sebab Rasulullah(sawa) perlu untuk menerangkan sekali lagi perkara ini hanya semata-mata terdapat perselisihan faham. Tidakkah jika benar, tindakan Rasulullah ini nampak redundant(sia-sia)?(Nauzubillah)

Firman Allah swt dalam ayat al Balagh:

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan(apa yang diperintahkan itu bererti) kamu tidak menyampaikan dengan sempurna risalahNya. Dan Allah akan sentiasa memelihara kamu dari ganguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang yang kafir(menentang). Al Quran(5:67)

Maka secara logiknya, apakah perkara yang terlalu serius, sehingga jika Rasul(sawa) tidak menyampaikan “persahabatan baginda dengan Ali” maka ia bererti Rasul tidak menyampaikan langsung risalah Allah?

Bagi menguatkan lagi dalil Imamah Imam Ali, setelah Rasulullah(sawa) selesai menyampaikan amanah perlantikan itu, ayat Ikmal pula diturunkan bagi menyatakan kesempurnaan agama setelah perlantikan Imam Ali. Apakah yang menyebabkan agama menjadi sempurna, hanya dengan pengisytiharan Imam Ali sebagai sahabat baginda di hadapan ratusan ribu para sahabat? Fikirkanlah..

2. Point seterusnya ialah konteks kata-kata Rasulullah sendiri yang menunjukkan kata mawla itu sebagai pemimpin. Seperti yang dapat kita lihat dalam riwayat Ghadir Khum, Rasul memulakan ucapannya dengan bertanya kepada orang ramai:

“Bukankah aku ini lebih utama dari diri-diri orang mukmin sendiri?”

Ungkapan ini dikuatkan lagi dengan firman Allah swt:

“Nabi itu lebih utama dari diri-diri orang mukmin itu sendiri.” Al Quran(33:6)

Lantas ratusan ribu para sahabat mengakuinya. Seterusnya Nabi bersabda:

“Maka ini juga(Ali) adalah yang paling utama bagi sesiapa yang aku ini lebih utama darinya.”

Menerusi konteks ucapan ini, jelas bahawa apa yang dimaksudkan oleh baginda Rasul adalah “berkuasa” atau “ketua ke atas orang lain” apabila beliau menggunakan perkataan mawla.

Seterusnya kita kaji pula rangkap ini yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah ialah mawla ku dan aku adalah wali bagi setiap mukmin.”

Setelah ini, barulah Rasulullah(sawa) mengucapkan:

“Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai wali, maka ini(Ali) sebagai walinya.”

Jika kita menggunapakai hujah Sunni bahawa perkataan wali itu bermaksud kawan, pencinta dan pembantu, maka apakah logiknya Rasulullah cuba mengatakan “Allah itu hanyalah kawan dan pembantu Nabi, manakala Nabi pula hanyalah kawan dan pembantu kaum Muslimin. Dengan ini Ali hanyalah kawan dan pembantu yang perlu dicintai.” Logikkah pengertian begini? Sungguh tidak sama sekali.

Mustahil bagi seorang Rasul hanya mahu menyampaikan ucapan yang tidak bermakna begini di hadapan ratusan ribu para sahabat sebagai penyempurna risalah. Oleh itu maksud yang paling tepat ialah Allah swt ialah pemimpin bagi Nabi dalam berdakwah. Setelah itu, Nabi pula merupakan pemimpin bagi umat Islam, manakala Ali akan menggantikan posisi itu selepas pemergian baginda.

Ini dikuatkan lagi dengan Ayat al Wilayah yang telah saya bincangkan dalam Imamah Bahagian 5, yang berbunyi:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمۡ رَٲكِعُونَ

Sesungguhnya wali(pemimpin-pemimpin) kamu ialah Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman iaitu yang mendirikan solat dan menunaikan zakat ketika mereka sedang ruku’.Dan barangsiapa yang menjadikan Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itu yang menang.”Al Quran(5:55-56)

3. Berdasarkan bandingan seluruh teks Ghadir Khum, menyatakan bahawa suasana persekitaran pada hari itu sangat panas. Setelah turun ayat al Balagh, Rasulullah(sawa) telah memerintahkan agar kumpulan yang telah pergi agar pulang semula, manakala bagi kumpulan yang belum sampai agar ditunggu mereka kerana ada wahyu yang wajib untuk di sampaikan. Oleh itu, terkumpullah 120,000 orang para sahabat di al Ghadir. Maka dengan keadaan ini, adakah logik bahawa semua ini hanya semata-mata untuk menyatakan bahawa Ali ialah sahabat baginda? Satu perkara yang telah menjadi pengetahuan umum?  Sudah pasti tidak ada seorang pun yang tidak tahu hubungan rapat antara Rasulullah(sawa) dan Imam Ali(as).

4. Sibt Ibnu Jauzi, iaitu salah seorang ulama Sunni yang bermazhab Hanafi yang masyhur melalui kitabnya Tazkiratul al Khawas, di dalam bab 2 halaman 20 telah memberikan 10 maksud perkataan wali atau mawla. Setelah itu beliau menyimpulkan bahawa tidak ada satupun perkataan yang sesuai dengan maksud yang dikatakan oleh Nabi(sawa) di Ghadir Khum, melainkan maksud ke 10. Beliau berkata: “Hadis tersebut khusus bermaksud ketaatan.” Oleh itu, makna ke 10 adalah yang paling tepat, ianya bererti “ketua di atas yang lain”. Oleh itu, hadis tersebut bermaksud, “sesiapa yang menjadikan aku sebagai ketuanya, maka Ali juga ketuanya.”

Beliau meneruskan lagi: Kata-kata Nabi bahawa Imam Ali mempunyai kuasa atau merupakan ketua di atas diri semua yang beriman dengan jelas membuktikan kepimpinan(Imamah) atau wazir adalah untuk Ali dan kepatuhan kepada beliau adalah wajib.

Seterusnya Allamah Abu Salim Kamaluddin menerusi kitabnya Mathalibus Suul, fasal ke 5 dari bab pertama, memberi komentar setelah mengeluarkan hadis Ghadir Khum seperti berikut:

Sesungguhnya perkataan mawla mempunyai banyak maksud. Sebagai contoh: ketua,penolong,pengganti dan pemimpin. Sementara di dalam hadis ini menunjukkan bahawa apa sahaja yang ada pada diri Rasul, ada pada Imam Ali.

Sebagaimana Nabi adalah ketua bagi umat Islam dalam semua perkara, samada penolong, ketua ata pemimpin, maka semuanya ada pada Ali. Inilah kedudukan paling tinggi yang diperuntukkan kepada Ali. Kerana itulah 18 Zulhijjah merupakan perayaan dan hari bersuka ria bagi pencinta dan penyokong Ahlulbait(as).”

5. Berdasarkan asas ilmu Usul, satu perkataan yang mempunya banyak maksud sebenarnya akan kembali kepada satu kata asas(hakiki). Menerusi kata asas inilah maksud yang lain diambil sebagai kata pinjam(majazi). Pengertian asas bagi maksud mawla ialah ketua. Sebagai contoh:

  • Wali nikah bererti seorang yang bertindak sebagai pesuruhjawa(berkuasa wakil) atau yang diamanahkan.
  • Wali wanita adalah suaminya.
  • Wali kanak-kanak adalah bapanya
  • Wali ahd bermaksud seseorang yang memiliki kuasa penuh memerintah selepas kemangkatan raja atau ketiadaannya.

Banyak penggunaan bagi kalimat wali atau mawla yang membawa makna sedemikian rupa di dalam bahasa Arab dan penulisan teks-teks ucapan.

6. Kita telahpun mengetahui bahawa makna bagi perkataan wali itu banyak, tetapi anehnya,mengapa Sunni hanya menumpukan maknanya hanya disekitar sahabat, kawan atau penolong sahaja? Kalaupun betul, apakah hujah bandingan yang boleh mereka gunakan bagi membuktikan dakwaan mereka itu? Menentukan maksud itu tanpa bandingan khusus jelas akan menjadikan hujah itu lemah dan tertolak.

Seperti yang dapat kita lihat, hujah yang digunakan oleh Syiah pula jelas bukan hujah kosong tanpa sokongan sebarang bandingan. Bandingan yang dijadikan hujah, kami ambil daripada ayat-ayat al Quran, hadis-hadis Sahih dan pendapat para ulama sendiri. Kesemuanya bersepakat membuktikan maksud yang sama. Bahkan hujah yang paling kukuh ialah keterangan Imam Shaukani yang membawa riwayat dari Ibnu Mardawaih dari Ibnu Mas’ud yang berkata: “Pada masa hidup Nabi, kami membaca ayat al Balagh begini:

“Wahai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu, iaitu Ali sebagai ketua bagi orang beriman, jika tidak kamu tidak dianggap menyempurnakan risalahNya.”

Inilah pengakuan seorang sahabat agung yang jelas membuktikan ayat al Balagh merupakan penyampaian mesej Ali adalah ketua umat sesudah kewafatan baginda(sawa).

Kesimpulannya, perkataan mawla disini jelas menunjukkan kekuasaan ke atas orang lain, atau bermaksud sebagai pemimpin, seperti yang dapat dibuktikan oleh hujah-hujah di atas. Tidak mengapa jikalau kalian tidak dapat menerimanya, tetapi tidak perlu sampai menjatuhkan hukum takfir semata-mata jika kami mempercayai sesuatu yang kuat sokongannya.

Cukup setakat ini dahulu, insyaAllah saya akan menyambung membincangkan isu ini di lain waktu.

Salam dan Solawat.

Ayat Bai’ah Rizwan tidak menunjukkan Keadilan semua Sahabat (bukan fi’il mudhari’)

Keadilan Sahabat dan Baiah Ridhwan


Salam dan Solawat. Baru-bari ini ada seorang saudara dari Sunni membangkitkan satu persoalan menarik. Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut:

Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Jawapan kami ialah pertamanya ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Iaitu ayat itu menyatakan pada ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Dengan ini tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan tertakluk dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga kemakmuran ini.

Kami membacakannya mereka kisah orang yang telah kami berikannya ayat maka dia menuruti Syaitan dan termasuk di kalangan mereka yang sesat”
al-A’raf 175

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Sebagai contoh Abdullah bin Abi Sara sahabat Rasulullah (s) penulis wahyu pertama, akan tetapi selepas beberapa ketika ia murtad dan menghina Rasulullah (s). Hingga sampai ke satu tahap, Rasulullah berkata pada waktu Fath Makkah, beberapa orang daripada mereka, walaupun mereka bergantung pada kain Kaabah, penggallah kepala mereka, salah seorang daripada mereka ialah Abdullah bin Abi Sara’.

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, Wahabi ingin mempermasalahkan Syiah iaitu engkau mengatakan sesudah Nabi semua orang selain empat orang telah murtad, iaitu selama masa 23 tahun usaha keras Rasulullah mendidik hanya empat orang yang tidak murtad? Jawaban kami ialah, kalau kami mengatakan hanya empat orang yang tidak murtad,tetapi Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Pada zaman khalifah ke dua, ketika salah seorang sahabat meninggal, saat Huzaifah tidak menerima bahawa sahabat ini bukan daripada kalangan munafik, hinggalah khalifah tidak hadir untuk menyolatinya kerana ia takut orang tersebut daripada golongan munafik. Ini kerana Syiah dan Sunni menerima bahawasanya Huzaifah sahabat penyimpan rahsia dan Rasulullah pernah mengatakan nama-nama orang munafik kepadanya.

Jawaban Berkaitan Ayat Bai’ah Rizwan


Salah satu ayat yang sering digunakan golongan Ahlusunnah untuk membuktikan keadilan para sahabat ialah ayat surah Al-Fath ayat 18. Mereka mendakwa seluruh sahabat yang hadir di dalam peristiwa tersebut mendapat keredhaan Ilahi. Allah (s.w.t) berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا . الفتح / 18 .

Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya- Surah Al-Fatḥ ayat 18.

Jawapan pertama: Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:

4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .

صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .

Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.

Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus dua puluh ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.

Jawapan ke-dua: Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.

Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.

Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:

Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.

Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:

… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .

تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .

Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf.

-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371

- Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224

- Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340

- Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14

- Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60

- Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77

- At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…

Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).

Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ »  tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.

Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:

. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .

Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.

Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:

… والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .

كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني

Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. – Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: www.alwarraq.com

Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.

Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.

Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.

Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.

Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ  فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ نَفْسِهِ  وَ مَنْ أَوْفىَ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.

Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.

Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman ” فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ “? Apakah firman ini sia-sia belaka?

Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:

عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى … .

Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh… – Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.

Jawapan ke-empat: Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:

1)    Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .

صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.- Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170

Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.

2)    Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:

عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .

الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و … .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.

3)    ʽAisyah:

Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:

عن قيس ، قال : قالت عائشة… إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها

سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و …

Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.

Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .

المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .

Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.

Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?

Jawapan ke-lima: Sifat Allah teridir daripada Dhātī dan Fiʽlī. Sifat Dhātī adalah sifat Azālī dan Abadī, namun sifat Fiʽlī tidak seperti ini, bahkan tertakluk pada suatu zaman seperti yang dikatakan oleh Fakhrul Rāzī:

والفرق بين هذين النوعين من الصفات وجوه . أحدها : أن صفات الذات أزلية ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثانيها : أن صفات الذات لا يمكن أن تصدق نقائضها في شيء من الأوقات ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثالثها : أن صفات الفعل أمور نسبية يعتبر في تحققها صدور الآثار عن الفاعل ، وصفات الذات ليست كذلك .

تفسير الرازي ، الرازي ، ج 4 ، ص 75 .

Dan beza di antara kedua sifat Allah (Dhāt dan Fiʽl) ialah beberapa perkara: 1. Sifat Dhāt Azalī dan abadi, dan sifat Al-Fiʽl tidak seperti itu. 2. Sesungguhnya sifat Al-Dhāt tidak mungkin menepati pertentangannya terhadap sesuatu dalam waktu-waktu (contohnya jahil bertentnagan dengan ‘ālim); dan sifat Fiʽl tidak seperti itu. 3. Sesungguhnya sifat Fiʽl adalah perkara yang berhubung dengan kadangkala terjadi dengan kemunculan dalam suatu kesan daripada Fiʽl, namun sifat Dhāt tidak seperti ini (iaitu kekal abadi).

Oleh itu ketika Allah menyatakan keredhaan atau kemurkaan-Nya, ini bermakna pengurniaan pahala dan balasan. Oleh itu keredhaan dan kemurkaan Allah adalah sifat Fiʽl, bukan sifat Dhatī. Jikalau ianya dari sifat Fiʽl maka ia tidak akan berkekalan. Mengenai perkara ini Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:

ومعنى قوله ولا يرضى أي لا يشكره لهم ولا يثيبهم عليه فعلى هذا فهي صفة فعل .

فتح الباري ، ابن حجر ، ج 11 ، ص 350 .

Makna kata-kata « ولا يرضي »  ialah tidak menghargai perbuatan yang dilakukan sekarang dan tidak diberi ganjaran. Inilah dia sifat Fiʽl – Fathul Bārī, ibnu Ḥajar, jilid 11 halaman 350

Kesimpulan:

Ayat ini tidaklah meliputi seluruh sahabat, bahkan ia hanya untuk orang beriman yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.