QS. At-Taubah: 73—77, QS. At-Taubah: 101, Qs.Al-Ahzab: 12—13 menunjukkan bahwa beberapa sahabat Nabi itu adalah orang munafik dan Rasulullah bahkan tidak mengenali mereka sebagai munafik sampai Allah memberitahu beliau lewat wahyu-Nya.

Para sahabat menurut Syi’ah

Para ulama Syi’ah sendiri tidak pernah meletakkan seluruh sahabat tanpa kecuali dalam satu tingkatan yang sama tanpa pandang bulu. Mereka bahkan tidak berpendapat bahwa semua sahabat itu jujur, adil dan bisa dipercaya. Para ulama Syi’ah melihat sebagian dari para sahabat itu memang memiliki derajat kemuliaan yang utama. Sebagian lagi disebut sebagai sahabat yang baik dan shaleh meskipun tingkat kemuliaannya tidak setinggi yang pertama. Ada juga para sahabat yang tidak diketahui apakah mereka itu memiliki kemuliaan atau keshalehan; apakah mereka bisa dipercaya atau tidak. Ada juga sebagian sahabat yang di masa hidupnya dikenal dengan tingkah lakunya yang menyimpang dan seringkali bertentangan dengan Nabi; seringkali mengganggu kebijakan Nabi (yang jelas menurut atau sesuai dengan wahyu Illahi).
Pendapat para ulama Syi’ah ini sangat sesuai dengan logika yang sehat dan  fakta sejarah yang akurat.
——————————————————————————————————-

Ayat-ayat Al-Qur’an mendukung pandangan para ulama Syi’ah

Pandangan para ulama yang yakin bahwa tidak semua sahabat itu adil dan jujur serta bisa dipercaya diperkuat oleh beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan fakta sejarah dan kenyataan kehidupan para sahabat di jaman itu. Diantara dari ayat-ayat Al-Qur’an itu ialah:

“Dan mereka  mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung”
 (QS. An-Nisa: 81)
Ayat ini jelas menunjukkan sejumlah sahabat Nabi yang merupakan penduduk kota Madinah yang jelas juga mereka itu Muslim dan mereka shalat bersama Rasulullah dan ikut berkumpul bersama Rasulullah mendengarkan Rasulullah memerintahkan mereka agar melakukan sebuah perbuatan baik. Mereka pada waktu itu berkata pada Rasulullah: “Sami’na wa atho’na” “Kami dengar; dan kami ta’ati” akan tetapi ketika Rasulullah meninggalkan mereka, mereka tidak berkehendak sedikitpun untuk mematuhi Rasulullah. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda dengan yang digariskan oleh Rasulullah.
Kita akan dapati dalam surat At-Taubah—misalnya—banyak  sekali ayat-ayatnya yang menunjukkan bahwa beberapa sahabat Nabi itu adalah orang munafik dan Rasulullah bahkan tidak mengenali mereka sebagai munafik sampai Allah memberitahu beliau lewat wahyu-Nya.

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”
 (QS. At-Taubah: 101)

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”
 (QS. At-Taubah: 73—74)

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.”
 (QS. At-Taubah: 75—77)
Lihat juga dalam surat Al-Ahzab:

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.”
 (Qs.Al-Ahzab: 12—13)

Surat Al-Munafiquun
 sendiri adalah bukti yang sangat kuat bahwa ada sejumlah kaum Muslimin yang menyatakan keIslamannya pada jaman Nabi dan tinggal bersama dengan Nabi di kota Madinah; mereka shalat berjama’ah bersama Nabi; akan tetapi mereka hidup sebagai orang munafik. Mereka datang kepada Nabi untuk menyelamatkan diri mereka dengan bersaksi di hadapan Nabi bahwa mereka akan patuh dan taat kepada Nabi dan mereka berjanji tidak akan berkhianat kepada Nabi. DAN MEREKA BERDUSTA. Mereka memeluk Islam untuk kemudian meninggalkannya dan Allah akhirnya mengunci hati mereka.

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” 
(QS. Al-Munafiquun: 1—3)
Ayat-ayat ini dan banyak lagi ayat yang tidak bisa kami tuliskan karena keterbatasan ruang dan waktu menunjukkan dengan jelas dan tegas bahwa banyak sekali para sahabat—orang-orang yang hidup sejaman dengan Nabi itu—telah menyatakan keIslaman mereka di jaman Nabi dan di hadapan Nabi dan mereka tinggal bersama Nabi dan Shalat di belakang Nabi akan tetapi mereka hidup sebagai orang-orang munafik.
KESAKSIAN APA LAGI YANG LEBIH KUAT DARIPADA KESAKSIAN AL-QUR’AN?
——————————————————————————————————–
Orang-orang munafik yang tinggal bersama Nabi dan bersama para sahabat lainnya yang shaleh dan jujur nama-namanya tidak pernah disebutkan secara terbuka. Oleh karena itu, ada kemungkinan besar bahwa kita tidak bisa terhindar seratus persen untuk menukil hadits-hadits dari mereka. Ada kemungkinan yang sangat besar kita selama ini mengambil hadits-hadits dari mereka—kaum munafik—dan mengamalkannya sepenuh hati.
Para sejarawan seperti misalnya At-Tabari dalam Tarikh-nya (volume 2, halaman 504); atau Ibnu Hisyam dalam Al-Sirah al-Nabawiyyah (volume 2, halaman 64) menuliskan bahwa ketika Rasulullah pergi berperang di Uhud, beliau berangkat bersama 1000  orang sahabatnya. Akan tetapi Abdullah Ibn Abu Salul meninggalkan Nabi dan kembali ke kota Madinah bersama 300 orang lainnya. Kitab-kitab sejarah Islam tidak berterus terang siapakah mereka yang ikut bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Kitab-kitab sejarah itu tidak menuliskan apakah diantara yang 300 orang itu ada sahabat yang terkemuka atau tidak. Kitab-kitab sejarah hanya menuliskan satu nama: Abdullah Ibn Abu Salul.
Jadi dengan itu maka  kita tidak terhindar dari menukil hadits-hadits yang mungkin melewati jalur 300 orang yang bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Bagaimana kita bisa menghindari orang-orang yang kita tidak ketahui?
UNTUK ITULAH MAKA KITA HARUS MEMPELAJARI RIWAYAT HIDUP PARA SAHABAT DAN MENELITINYA UNTUK MENDAPATKAN KEPASTIAN DARI SUATU RIWAYAT ATAU HADITS NABI.
BERSIKAP KRITIS TERHADAP PARA SAHABAT ADALAH SEBUAH KEBIJAKAN YANG CERDAS DAN TEPAT
————-

QS. An-Nisa: 81 menjelaskan ketika Rasulullah meninggalkan sejumlah SAHABAT nya, mereka tidak berkehendak sedikitpun untuk mematuhi Rasulullah. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda dengan yang digariskan oleh Rasulullah.

Para sahabat menurut Syi’ah

Para ulama Syi’ah sendiri tidak pernah meletakkan seluruh sahabat tanpa kecuali dalam satu tingkatan yang sama tanpa pandang bulu. Mereka bahkan tidak berpendapat bahwa semua sahabat itu jujur, adil dan bisa dipercaya. Para ulama Syi’ah melihat sebagian dari para sahabat itu memang memiliki derajat kemuliaan yang utama. Sebagian lagi disebut sebagai sahabat yang baik dan shaleh meskipun tingkat kemuliaannya tidak setinggi yang pertama. Ada juga para sahabat yang tidak diketahui apakah mereka itu memiliki kemuliaan atau keshalehan; apakah mereka bisa dipercaya atau tidak. Ada juga sebagian sahabat yang di masa hidupnya dikenal dengan tingkah lakunya yang menyimpang dan seringkali bertentangan dengan Nabi; seringkali mengganggu kebijakan Nabi (yang jelas menurut atau sesuai dengan wahyu Illahi).
Pendapat para ulama Syi’ah ini sangat sesuai dengan logika yang sehat dan  fakta sejarah yang akurat.
——————————————————————————————————-

Ayat-ayat Al-Qur’an mendukung pandangan para ulama Syi’ah

Pandangan para ulama yang yakin bahwa tidak semua sahabat itu adil dan jujur serta bisa dipercaya diperkuat oleh beberapa ayat Al-Qur’an yang menggambarkan fakta sejarah dan kenyataan kehidupan para sahabat di jaman itu. Diantara dari ayat-ayat Al-Qur’an itu ialah:

“Dan mereka  mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung”
 (QS. An-Nisa: 81)
Ayat ini jelas menunjukkan sejumlah sahabat Nabi yang merupakan penduduk kota Madinah yang jelas juga mereka itu Muslim dan mereka shalat bersama Rasulullah dan ikut berkumpul bersama Rasulullah mendengarkan Rasulullah memerintahkan mereka agar melakukan sebuah perbuatan baik. Mereka pada waktu itu berkata pada Rasulullah: “Sami’na wa atho’na” “Kami dengar; dan kami ta’ati” akan tetapi ketika Rasulullah meninggalkan mereka, mereka tidak berkehendak sedikitpun untuk mematuhi Rasulullah. Mereka merencanakan sesuatu yang berbeda dengan yang digariskan oleh Rasulullah.
Kita akan dapati dalam surat At-Taubah—misalnya—banyak  sekali ayat-ayatnya yang menunjukkan bahwa beberapa sahabat Nabi itu adalah orang munafik dan Rasulullah bahkan tidak mengenali mereka sebagai munafik sampai Allah memberitahu beliau lewat wahyu-Nya.

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”
 (QS. At-Taubah: 101)

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya. Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”
 (QS. At-Taubah: 73—74)

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.”
 (QS. At-Taubah: 75—77)
Lihat juga dalam surat Al-Ahzab:

“Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.”
 (Qs.Al-Ahzab: 12—13)

Surat Al-Munafiquun
 sendiri adalah bukti yang sangat kuat bahwa ada sejumlah kaum Muslimin yang menyatakan keIslamannya pada jaman Nabi dan tinggal bersama dengan Nabi di kota Madinah; mereka shalat berjama’ah bersama Nabi; akan tetapi mereka hidup sebagai orang munafik. Mereka datang kepada Nabi untuk menyelamatkan diri mereka dengan bersaksi di hadapan Nabi bahwa mereka akan patuh dan taat kepada Nabi dan mereka berjanji tidak akan berkhianat kepada Nabi. DAN MEREKA BERDUSTA. Mereka memeluk Islam untuk kemudian meninggalkannya dan Allah akhirnya mengunci hati mereka.

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” 
(QS. Al-Munafiquun: 1—3)
Ayat-ayat ini dan banyak lagi ayat yang tidak bisa kami tuliskan karena keterbatasan ruang dan waktu menunjukkan dengan jelas dan tegas bahwa banyak sekali para sahabat—orang-orang yang hidup sejaman dengan Nabi itu—telah menyatakan keIslaman mereka di jaman Nabi dan di hadapan Nabi dan mereka tinggal bersama Nabi dan Shalat di belakang Nabi akan tetapi mereka hidup sebagai orang-orang munafik.
KESAKSIAN APA LAGI YANG LEBIH KUAT DARIPADA KESAKSIAN AL-QUR’AN?
——————————————————————————————————–
Orang-orang munafik yang tinggal bersama Nabi dan bersama para sahabat lainnya yang shaleh dan jujur nama-namanya tidak pernah disebutkan secara terbuka. Oleh karena itu, ada kemungkinan besar bahwa kita tidak bisa terhindar seratus persen untuk menukil hadits-hadits dari mereka. Ada kemungkinan yang sangat besar kita selama ini mengambil hadits-hadits dari mereka—kaum munafik—dan mengamalkannya sepenuh hati.
Para sejarawan seperti misalnya At-Tabari dalam Tarikh-nya (volume 2, halaman 504); atau Ibnu Hisyam dalam Al-Sirah al-Nabawiyyah (volume 2, halaman 64) menuliskan bahwa ketika Rasulullah pergi berperang di Uhud, beliau berangkat bersama 1000  orang sahabatnya. Akan tetapi Abdullah Ibn Abu Salul meninggalkan Nabi dan kembali ke kota Madinah bersama 300 orang lainnya. Kitab-kitab sejarah Islam tidak berterus terang siapakah mereka yang ikut bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Kitab-kitab sejarah itu tidak menuliskan apakah diantara yang 300 orang itu ada sahabat yang terkemuka atau tidak. Kitab-kitab sejarah hanya menuliskan satu nama: Abdullah Ibn Abu Salul.
Jadi dengan itu maka  kita tidak terhindar dari menukil hadits-hadits yang mungkin melewati jalur 300 orang yang bersama Abdullah Ibn Abu Salul itu. Bagaimana kita bisa menghindari orang-orang yang kita tidak ketahui?
UNTUK ITULAH MAKA KITA HARUS MEMPELAJARI RIWAYAT HIDUP PARA SAHABAT DAN MENELITINYA UNTUK MENDAPATKAN KEPASTIAN DARI SUATU RIWAYAT ATAU HADITS NABI.
BERSIKAP KRITIS TERHADAP PARA SAHABAT ADALAH SEBUAH KEBIJAKAN YANG CERDAS DAN TEPAT
————-

QS. Al-Fath: 18 tidak memasukkan seluruh sahabat Nabi.


بسم الله الرحمن الرحيم
Ahlusunnah mempunyai akidah bahawa barangsiapa yang hadir di dalam Baiʻatul Rhidwan dan pernah memberikan Baiʻat kepada Rasulullah, maka dia termasuklah daripada kalangan orang yang mendapat keredaan Ilahi yang kekal abadi. Perkara ini juga menyabitkan bahawa semua orang yang memberi Baiʻat di bawah pohon adalah adil.
.
Mereka juga mempunyai akidah bahawa: Mereka ini sudah diampunkan. Dosa-dosa silam dan akan datang tidak akan dihitung lagi. Kerana itu api neraka tidak akan membakar mereka yang berada di dalam pembaiʻatan Ridhwan.
.
Namun benarkah salah seorang munafik terkenal seperti Abdullah bin Ubai turut hadir di dalam peristiwa ini bersama Rasulullah dan sempat memberikan baiʻat kepada Rasulullah?
.
Apakah Rasulullah (s.a.w) meredainya serta mengampuni dosa silam dan akan datangnya?
.
Jawapan:
.
Sebelum kita membuktikan bahawa Abdullah bin Ubai, seorang munafik terkenal di zaman Rasulullah turut hadir di dalam Baiʻatul Ridhwan, hendaklah kita selidiki terlebih dahulu apakah Allah (s.w.t) meredai semua orang dalam peristiwa tersebut selama-lamanya atau tidak? Apakah ada ulama Ahlusunnah yang mendakwa demikian atau tidak?
.
Keredaan abadi ke atas pemberi baiʻat di bawah pohon.
.
Menurut Ahlusunnah Wal Jamaah, semua orang yang telah hadir di dalam Baiʻatul Ridhwan merupakan penghuni syurga dan tidak seorang pun daripada mereka yang akan memasuki neraka.
.
Muslim Nisyaburi di dalam kitab Sahihnya menulis:
حدثني هَارُونُ بن عبد اللَّهِ حدثنا حَجَّاجُ بن مُحَمَّدٍ قال قال بن جُرَيْجٍ أخبرني أبو الزُّبَيْرِ انه سمع جَابِرَ بن عبد اللَّهِ يقول أَخْبَرَتْنِي أُمُّ مُبَشِّرٍ انها سَمِعَتْ النبي صلى الله عليه وسلم يقول عِنْدَ حَفْصَةَ لَا يَدْخُلُ النَّارَ ان شَاءَ الله من أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا … .
النيسابوري القشيري ، ابوالحسين مسلم بن الحجاج (متوفاى261هـ)، صحيح مسلم، ج4، ص 1942، ح2496، 37 ، كِتَاب فَضَائِلِ الصَّحَابَةِ ، بَاب من فَضَائِلِ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَهْلِ بَيْعَةِ الرُّضْوَانِ رضي الله عَنْهُمْ، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Diriwayatkan daripada Harun bin Abdullah, daripada Hajjaj bin Muhammad, daripada Ibnu Juraij, Abu Al-Zubair memberitakan kepadaku sesungguhnya beliau mendengar daripada Jabir bin Abdullah berkata, Abu Mubassyir memberitahuku bahawa beliau mendengar Nabi (s.a.w) bersabda kepada Hafsah:
.
InsyaAllah, tidak akan masuk neraka seorang pun daripada Ashhab Syajarah, mereka yang memberi baiʻat di bawahnya….
.
- Al-Nisyaburi Al-Qushayri, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj (wafat tahun 261 hijrah), Sahih Muslim, jilid 1 halaman 1942, Hadis 2496
قوله صلى الله عليه وسلم  ( لا يدخل النار إن شاء الله من أصحاب الشجرة أحد من الذين بايعوا تحتها) قال العلماء معناه لا يدخلها أحد منهم قطعا كما صرح به في الحديث الذي قبله حديث حاطب وانما قال إن شاء الله للتبرك لا للشك.
النووي الشافعي، محيي الدين أبو زكريا يحيى بن شرف بن مر بن جمعة بن حزام (متوفاى676 هـ)، شرح النووي علي صحيح مسلم، ج16، ص 58، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت، الطبعة الثانية، 1392 هـ.
.
Sabda Nabi (s.a.w): “InsyaAllah, tidak akan masuk neraka seorang pun daripada kalangan Ashhabu As-Syajarah, mereka yang memberi baiʻat di bawahnya”. Ulama berkata maknanya ialah tetaplah bahawa seorang pun daripada mereka tidak akan masuk ke dalam neraka seperti mana yang dijelaskan di dalam hadis tersebut yang sebelumnya berkaitan dengan hadis Hatib. Kata-kata Insyallah disebut di dalam riwayat sebagai Tabarruk.
.
- Al-Nawawi Al-Syafiʻi, Muhiyuddin Abu Zakaria bin Syarf bin Murri bin Jumʻah bin Hizam (wafat tahun 676 Hijrah), Syarh Nawawi Ala Syarah Muslim, jilid 16 halaman 58.
.
Sebenarnya ada lagi riwayat yang jelas mengenai perkara ini, namun cukuplah satu sahaja dikemukakan di sini.
.
Kehadiran Abdullah bin Ubai di bawah pohon
.
Sampai di sini kita dapati bahawa semua orang yang hadir di dalam Baiʻatul Ridhwan dan memberi baiʻah kepada Rasulullah (s.a.w) adalah ahli syurga. Sekarang persoalannya apakah Abdullah bin Ubai turut serta bersama mereka?
.
Beberapa teks telah ditemui dari kitab-kitab Ahlusunnah yang membuktikan bahawa Abdullah bin Ubai, ketua kaum munafik Madinah turut serta di dalam perjalanan Rasulullah. Badruddin Al-Aini di dalam kitab Umdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari memuatkan riwayat:
.
    ان ابن أبي قال يوم الحديبية كلمة حسنة ، وهي : أن الكفار قالوا : لو طفت أنت بالبيت ؟ فقال : لا ، لي في رسول الله إسوة حسنة ، فلم يطف .
العيني الغيتابي الحنفي، بدر الدين ابومحمد محمود بن أحمد (متوفاى 855هـ)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري، ج8، ص 54، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Pada hari Hudaibiyah, Abdullah bin Ubai berkata dengan kata-kata yang baik, iaitu orang kafir berkata kepadanya: Mahukah engkau bertawaf?: Maka ibnu Ubai menjawab: Tidak, Rasulullah bagiku adalah contoh tauladan yang baik. Maka Abdullah bin Ubai pun tidak pergi tawaf. – Al-ʻAini Al-Ghitabi Al-Hanafi, Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad (wafat tahun 855 Hijrah), ‘Umdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari, jilid 8 halaman 54.
.
Ini membuktikan bahawa Abdullah bin Ubai telah hadir di dalam Hudaibiyah kerana tidak menerima usulan daripada kaum Quraysh di samping membuat keputusan enggan mengerjakan tawaf sebagaimana Rasulullah dan kaum muslimin yang lain.
.
Ibnu Hazm Al-Andalusi juga turut menjelaskan bahawa kaum Quraysh mengusulkan tawaf namun Abdullah bin Ubai tidak menerimanya:
.
¬¬¬¬¬¬¬¬¬وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ (ص) لم يَخْدَعْ إنْسَانًا قَطُّ غير أَنَّهُ قال يوم الْحُدَيْبِيَةِ كَلِمَةً حَسَنَةً قال الْحَكَمُ فَسَأَلْت عِكْرِمَةَ ما هذه الْكَلِمَةُ قال قالت قُرَيْشٌ يا أَبَا حَبَّابٍ إنَّا قد مَنَعْنَا مُحَمَّدًا طَوَافَ هذا الْبَيْتِ وَلَكِنَّا نَأْذَنُ لَك فقال لاَ لي في رسول اللَّهِ (ص) أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
إبن حزم الأندلسي الظاهري، ابومحمد علي بن أحمد بن سعيد (متوفاى456هـ)، المحلى، ج11، ص 209 ، تحقيق: لجنة إحياء التراث العربي، ناشر: دار الآفاق الجديدة – بيروت.
Sesungguhnya Rasulullah (s.a.w) tidak pernah menipu manusia sedikitpun, melainkan Abdullah bin Ubai berkata dengan kata-kata yang baik di hari Hudaibiyah. Hakam berkata: Aku bertanya kepada ʻIkrimah: Apakah kata-kata tersebut? Dia menjawab: Quraysh berkata: Wahai Aba Habbab (nama panggilan Abdullah bin Ubai), kami melarang Muhammad mengerjakan tawaf di rumah ini, namun kami izinkan kamu. Maka Abdullah bin Ubai menjawab: Tidak!, bagiku pada diri Rasulullah adalah contoh tauladan yang baik. – Ibnu Hazm Al-Andalusi Al-Zahiri, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Saʻid (wafat tahun 456 Hijrah), Al-Muhalla, jilid 11 halaman 209.
.
Badruddin ʻAyni dan Jalaluddin Suyuthi turut menukilkan riwayat ini:
غير أن ابن أبي قال يوم الحديبية كلمة حسنة وهي أن الكفار قالوا لو طفت أنت بالبيت فقال لا لي في رسول الله إسوة حسنة فلم يطف
العيني الغيتابي الحنفي، بدر الدين ابومحمد محمود بن أحمد (متوفاى 855هـ)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري، ج8، ص 54، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
… melainkan Abdullah bin Ubai yang berkata di hari Hudaibiyah dengan kata-kata yang baik, iaitu sesungguhnya orang kafir berkata kepadanya: Mahukah engkau mengerjakan tawaf di rumah itu?: Maka Abdullah bin Ubai pun menjawab: Tidak, bagiku Rasulullah adalah contoh tauladan yang baik. Maka dia pun tidak mengerjakan tawaf. – Al-ʻAyni Al-Ghitabi Al-Hanafi, Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad (wafat tahun 855 Hijrah), ʻUmdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari, jilid 8 halaman 54.
.
قالت له قريش : يا أبا حباب إنا قد منعنا محمداً طواف هذا البيت ، ولكنا نأذن لك ، فقال : لا لي في رسول الله أسوة حسنة .
السيوطي، جلال الدين أبو الفضل عبد الرحمن بن أبي بكر (متوفاى911هـ)، الدر المنثور، ج8، ص 177، ناشر: دار الفكر – بيروت – 1993.
.
Kaum Quraysh berkata kepada Abdullah bin Ubai: Wahabi Aba Habbab, sesungguhnya kami mencegah Muhammad dari melakukan tawaf di rumah ini, namun kami izinkan engkau, maka Abdullah bin Ubai pun menjawab: Tidak, bagiku pada diri Rasulullah adalah contoh tauladan. – Al-Suyuthi, Jalaludin Abu Al-Fadhl Abdul Rahman bin Abi Bakr (wafat tahun 911 Hijrah), Al-Dur Manthur, jilid 8 halaman 177.
.
Berdasarkan riwayat ini, Ali bin Burhan Al-Halabi memberikan penjelasan bawaha Abdullah bin Ubai turut hadir di dalam perjanjian Hidaibiyah, termasuklah dalam perang Badar.
.
    وقال له المشركون يوم الحديبية انا لانأذن لمحمد ولكن نأذن لك فقال لا ان لى فى رسول الله أسوة حسنة فشكر رسول الله صلى الله عليه وسلم له ذلك واكراما لابنه وفى هذا تصريح بأن ابن أبى كان مع المسلمين فى بدر وفى الحديبية فلما بلغ وفي لفظ قال إن لي في رسول الله أسوة حسنة رسول صلى الله عليه وسلم امتناعه رضي الله عنه أثنى عليه بذلك.
الحلبي، علي بن برهان الدين (متوفاى1044هـ)، السيرة الحلبية في سيرة الأمين المأمون، ج2، ص 23، ناشر: دار المعرفة – بيروت – 1400.
.
Di hari perjanjian Hudaibiyyah, kaum musyrikin berkata kepadanya: sesungguhnya kami tidak izinkan Muhammad, tetapi kami izinkan untuk kamu. Maka Abdullah bin Ubai menjawab: Tidak, sesungguhnya Rasulullah bagiku adalah contoh tauladan yang baik. Maka Rasulullah (s.a.w) pun berterima kasih kepadanya kerana itu dan penghormatan anaknya. (Penulis berkata) Peristiwa ini menjelaskan sesungguhnya Abdullah bin Ubai telah bersama kaum muslimin di dalam perang Badar dan Hudaibiyah.Maka tatkala sampai lafaz Abdullah bin Ubai radhiallahuanhu: “Bagiku pada Rasulullah adalah contoh tauladan yang baik” dan keengganannya menerima pelawaan Qurasyh, maka Rasulullah pun memujinya. – Al-Halabi, Ali bin Burhanuddin (wafat tahun 1044 Hijrah), Al-Sirah Al-Halabiyyah, jilid 2 halaman 23.
.
Pembaiʻatan Abdullah bin Ubai di bawah pohon.
.
Sampai di sini terbuktilah bahawa Abdullah bin Ubai turut hadir di dalam peristiwa Hudaibiyah. Namun benarkah ia turut memberi Baiʻat kepada Rasulullah (s.a.w)? Ini disebabkan jikalau ia tidak memberi Baiʻat maka ia tidak termasuk di dalam keredaan Allah. Namun jikalau terbukti ia juga terut serta memberikan Baiʻat, maka dengan sendirinya seluruh argumentasi Ahlusunnah terbatal.
.
Menurut riwayat yang dicatat oleh Muslim Nisyaburi di dalam kitab Sahihnya, semua orang yang hadir di dalam peristiwa Baiʻatul Ridhwan telah memberikan baiʻat mereka kepada Rasulullah (s.a.w) kecuali seorang yang bernama Jaddi bin Qais yang bersembunyi di bawah perut untanya.
.
وحدثنا محمد بن حَاتِمٍ حدثنا حَجَّاجٌ عن بن جُرَيْجٍ أخبرني أبو الزُّبَيْرِ سمع جَابِرًا يَسْأَلُ كَمْ كَانُوا يوم الْحُدَيْبِيَةِ قال كنا أَرْبَعَ عَشْرَةَ مِائَةً فَبَايَعْنَاهُ وَعُمَرُ آخِذٌ بيده تَحْتَ الشَّجَرَةِ وَهِيَ سَمُرَةٌ فَبَايَعْنَاهُ غير جَدِّ بن قَيْسٍ الْأَنْصَارِيِّ اخْتَبَأَ تَحْتَ بَطْنِ بَعِيرِهِ.
النيسابوري القشيري ، ابوالحسين مسلم بن الحجاج (متوفاى261هـ)، صحيح مسلم، ج3، ص 1483 ، ح1856، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Jabir ditanya berapakah orang yang berada di hari Hudaibiyah: Kami seramai seribu empat ratus orang membaiʻat baginda. sedangkan Umar memegangi tangannya di bawah pohon Samurah. Maka kami pun memberikan Baiʻat kepada baginda kecuali Jaddi bin Qais Al-Anshari yang bersembunyi di bawah perut untanya. – Al-Nisyaburi Al-Qushayri, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj (wafat tahun 261 hijrah), Sahih Muslim, jilid 1 halaman 1483, Hadis 1856.
.
Sebelum ini kita telah berjaya membuktikan kehadiran Abdullah bin Ubai di dalam Hudaibiyah, sementara itu riwayat dari Sahih Muslim ini secara langsung mengatakan semua yang hadir telah memberikan Baiʻat kepada Rasulullah (s.a.w) kecuali Jaddi bin Qais. Oleh itu terbuktilah Abdullah bin Ubai juga turut memberikan Baiʻat kepada Rasulullah, jikalau tidak sudah tentu ia juga akan dikecualikan seperti Jaddi bin Qais.
.
Persoalannya sekarang ialah, apakah keredaan abadi Allah (s.w.t) turut meliputi Abdullah bin Ubai juga?
.
Apakah Abdullah bin Ubai juga adalah seorang penghuni Syurga dan tidak akan masuk neraka?
.

Jikalau ia tidak akan masuk syurga, maka terbuktilah bahawa tidak semua yang terlibat di dalam Baiʻatul Ridhwan tergolong dalam ayat keredaan Allah. Selain itu mereka yang mendapat keredaan Allah itu hanyalah terhad kepada sahabat yang tetap konsisten beriman sehingga ke akhir hayatnya

.

Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji

.

Al-Fath 18
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Ayat ini tidak menunjukkan ridha Allah kepada semua sahabat pada semua waktu. “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon” Menurut kamus-kamus bahasa Arab (Lth, T, S, M, L, Mughni, K), kata إِذْ menunjukkan satu waktu di masa lalu, seperti dalam firman Allah “wadzkurû idz kuntum qalîlan” (Al-Quran 7:84); atau “wa idz qâla Rabbuka lil malâikat” (Al-Quran 2:); atau “wadzkurû ni’matallahi ‘alaykum idz kuntum a’dâ-an” (Al-Quran 3:98)

.

Karena idz itu selalu menunjukkan waktu tertentu, kalau sesudah kata idz ini ada kata waktu, orang Arab menyambungkan kedua kata itu seperti dalam kata yawmaidzin, hinaidzin, laylataidzin, ghadâtaidzin, waqtaidzin, sa’ataidzin,dan sebagainya. Dalam struktur kalimat kata idz ini bisa bersambung dengan kata benda atau kata ganti, fi’l madhi dan fi’l mudhari’, walaupun tetap menunjukkan satu waktu di masa lalu

.

Al-Quran dengan indah menggambarkan ketiga struktur idz ini dalam firmanNya Al-Quran 9:40:

إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Walhasil, ayat ini tidak bisa dijadikan dalil tentang keadilan semua sahabat; tapi hanya kepada sebagian sahabat dan hanya pada waktu mereka berjanji setia. Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji seperti disebutkan dalam Al-Fath 10: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”

.
Semua ahli tafsir sepakat bahwa al-Fath 10 dan al-Fath 18 berkaitan dengan perjanjian Hudaybiyah. Ibnu Katsir malah membuat catatan panjang tentang Perjanjian Hudaybiyah pada rangkaian ayat-ayat ini (Ibn Katsir, 4:185-200). Ada beberapa peristiwa yang penting kita catat tentang perjanjian Hudaybiyah dalam hubungannya dengan adalat al-shahabah

.
Sebab terjadinya bay’at.
Diriwayatkan oleh ‘Urwah. Ia berkata: Ketika Nabi saw sampai di Hudaybiyah, orang Quraisy terkejut dengan kedatangan Nabi. Rasulullh saw ingin mengutus salah seorang di antara sahabatnya. Ia memanggil Umar bin Khathab untuk diutus menemui mereka. Tapi Umar berkata: Ya Rasulallah, saya tidak aman (Dalam riwayat Ibn Katsir, “saya takut akan perlakuan orang Quraisy terhadap diriku”)

.

Di Makkah tidak seorang pun di antara Bani Ka’ab yang akan membelaku jika aku disakiti. Utuslah Utsman, karena ia punya banyak keluarga di kalangan mereka. Ia akan bisa menyampaikan apa yang engkau kehendaki. Kemudian Rasulullah saw memanggil Utsman dan mengutusnyamenemui orang Quraisy

.

Beliau bersabda: Beritahukan kepada mereka bahwa kami tidak datang untuk berperang. Kami datang untuk umrah dan ajaklah mereka kepada Islam. Beliau juga memerintahkan Utsman untuk menemui laki-laki dan perempuan di Makkah yang mukmin, memasuki rumah mereka dan meberikan kabar gembira tentang Kemenangan. Ia juga harus memberitakan bahwa sebentar lagi Allah akan memunculkan agamanya di Makkah. Mereka tidak perlu lagi menyembunyikan imannya

.
Berangkatlah Utsman menemui orang Quraisy dan mengabari mereka. Orang musyrik menahan Utsman. Rasulullah saw memanggil mereka untuk bai’at. Penyeru Rasulullah saw berseru: Ketahuilah, Ruh Qudus telah turun kepada Nabi saw dan memerintahkannya untuk mengambil bai’at. Keluarlah kalian semua, atas nama Allah, berbaiatlah. Kaum muslimin beramai-ramai berbaiat kepada Rasulullah saw di bawah pohon. Orang Quraysy ketakutan. Mereka melepaskan tahanan kaum muslimin dan meminta untuk berdamai.” (Al-Durr al-Mantsur 7:522-523)

.

Perjanjian damai ini dikenal sebagai Shulh al-Hudaybiyyah, terjadi pada tahun keenam Hijriah. Pembaiatannya dikenal sebagai Bay’at al-Ridhwan.
‘Umar meragukan kenabiyan Rasulullah saw

.
Perjanjian damai itu –seperti kita ketahui- terasa oleh para sahabat sebagai perjanjian yang tidak adil dan merugikan kaum muslim. Al-Durr al-Mantsur 7:527-532 meriwayatkan hadis yang panjang tentang protes para sahabat terhadap perjanjian ini. Di antara yang protes dengan penuh kemarahan adalah Umar bin Khathab. Kita dengarkan ia bertutur: “Demi Allah, belum pernah aku meragukan (kenabiyan Rasulullah saw) sejak aku Islam kecuali hari itu. Aku mendatangi Nabi saw. Aku berkata: Bukankah engkau Nabi Allah? (Dalam Al-Bukhari 2:81, Kitab al-Syuruth, Umar bertanya: Bukankah engkau Nabi yang sebenarnya?)

.

Ia berkata: Benar! Aku berkata: Aku berkata: Bukankah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan? Ia berkata: Benar! Aku berkata: Kenapa kita harus menghinakan diri dalam agama kita? Ia berkata: Sungguh, aku Rasulullah saw. Aku tidak akan membantahNya. Allah akan menolongku. Aku berkata: Bukankah engkau pernah mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan bertawaf di sana? Ia berkata: Benar. Tapi apakah aku memberitahukan kepada kamu bahwa kamu akan datang ke Baitullah tahun ini? Aku menjawab: Tidak Ia berkata: Sungguh kamu akan datang ke Baitullah dan kamu akan bertawaf di situ. (Dalam Shahih Muslim, 2, Bab “Shulh al-Hudaybiyah” disebutkan “Umar meninggalkan Nabi saw dalam keadaan yang tidak bisa mengendalikan amarahnya –fa lam yashbir mutaghayyidhan- dan berkata: ) Ya Aba Bakr, Betulkah Nabi ini Nabi yang sebenarnya?

.

Ia berkata: Benar. Betulkah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan? Ia berkata: Benar. Kalau begitu, mengapa kita harus menghinakan diri dalam agama kita? Abu Bakar berkata: Ayyuhar Rajul, ia sungguh Rasulullah saw. Ia tidak akan menentang Tuhannya dan Dia akan menolongnya. Berpegang teguhlah kepada keputusannya, engkau akan menang sampai engkau mati.”

.
Dalam riwayat lain disebutkan: Tidak henti-hentinya Umar membantah ucapan Nabi saw; sehingga Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah berkata: Apakah tidak kaudengar, wahai putra Al-Kahthab, Rasulullah saw mengatakan apa yang ia katakan. Kami berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (Sirah al-Halabiyah 2:706). Rasulullh saw berkata kepada Umar: Radhitu wa ta’ba. Aku ridha dan engkau membangkang (Ibn Katsir, Al-Sirah al-Nabawiyah 3:320)

.

Para sahabat membantah perintah Rasulullah saw.

Kita lanjutkan laporan Umar bin Khathab: “Setelah Rasulullah saw menyelesaikan penulisan surat perjanjian itu, beliau berkata kepada para sahabatnya:”bangunlah, sembelihlah qurban dan bercukurlah. Demi Allah tidak seorang pun di antara para sahabat yang bangun sampai ia mengatakannya tiga kali. Ketika tidak seorang pun berdiri, beliau masuk ke tempat Ummu Salamah. Ia mengadu kepadanya tentang apa yang ia hadapi dari orang banyak. Ummu Salamah berkata:’Ya Nabiyallah, apakah engkau ingin mereka melakukannya? Beliau berkata;”benar.” Ummu Salamah berkata:”Keluarlah dan jangan berbicara dengan seorang pun di antara mereka sampai engkau menyembelih hewanmu dan memanggil tukang cukurmu untuk memotong rambutmu.”

.

Lalu Nabi saw berdiri keluar dan tidak berbicara pada seorang pun sepatah kata pun sampai ia melakukan penyembelihan dan memotong rambut. Ketika mereka melihat Nabi berbuat seperti itu, mulailah mereka bangun dan menyembelih serta satu sama lain saling mencukur rambut sehingga hampir-hampir mereka saling membunuh” (Al-Durr al-Mantsur &;53; Ibn Katsir 4:199)

.

Allah ridha kepada mereka ??

Dalil berikutnya yang dijadikan dalil tentang ‘Adalat al-Shahabah adalah potongan ayat
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ . Potongan ayat ini disebut empat kali dalam al-Quran. Tiga kali disebut untuk menunjukkan karakteristik umum orang-orang yang diridhai Allah swt; tidak khusus berkaitan dengan sahabat: Al-Maidah 5:119; Al-Mujadilah 58:22; Al-Bayyinah 98:7-8.

.
Al-Bayyinah 7-8
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Para mufasir tidak pernah menisbahkan “Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepadaNya khusus untuk sahabat. “Mereka” dinisbahkan kepada semua orang yang beriman dan beramal saleh; kepada khayrul bariyyah

.

Ibn Katsir menulis, “Telah berdalil dengan ayat ini Abu Hurairah dan sebagian ulama tentang keutamaan kaum mukmin di atas para malaikat, berdasarkan firman Allah –ulaika hum khayrul bariyyah” (Ibn Katsir 4:538). Ibn Katsir kemudian menurunkan hadis-hadis yang menjelaskan sifat-sifat mukmin yang termasuk khayrul bariyyah. Misalnya, “Khayrul bariyyah adalah orang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Tetap tegak di atasnya apa pun yang terjadi”

.

Jalaluddin al-Suyuthi, setelah mengutip hadis Abu Hurairah tentang mukmin yang beramal saleh –yang diridhai Allah- lebih mulia dari malaikat, ia meriwayatkan hadis dari Aisyah ketika Rasulullah menjawab pertanyaan tentang manusia yang paling mulia: “Ya Aisyah, tidakkah kamu membaca ayat:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Setelah itu, Al-Suyuthi menurunkan hadis-hadis berikut: Ibn Asakir mengeluarkan dari Jabir bin Abdillah. Ia berkata: Kami sedang bersama Nabi saw, lalu datanglah Ali. Nabi saw berkata: Demi yang diriku ada di tangannya. Sesungguhnya ini dan Syi’ahnya sungguh orang-orang yang berbahagia pada hari kiamat. Dan turunlah ayat
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

.

Setelah itu, para sahabat Nabi saw, bila Ali datang, mereka berkata: Telah datang khayrul bariyyah

.
Ibn Adi dan Ibn Asakir mengeluarkan dari Ibn Abbas. Ia berkata: Ketika turun ayat
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
Rasulullah saw bersabda kepada Ali, “Dia itu adalah kamu dan Syi’ahmu, pada hari kiamat, ridha kepada Allah dan diridhai Allah”

.

Ibn Mardawayh mengeluarkan dari Ali. Ia berkata: Rasulullh saw berkata kepadaku: Tidakkah kamu dengar firman Allah
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة
Itulah engkau dan Syi’ahmu. Tempat perjanjianku dan perjanjian kalian adalah al-Hawdh, ketika umat-umat datang untuk dihisab, kalian dipanggil ghurran muhjalin (Al-Durr al-Mantsur 8:589).

.

Keadilan semua sahabat dalam Qs.Al Fath ayat 10 dan Qs. Al Fath ayat 18 ?? Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai !

.

Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai   dan tidak  masuk  neraka  jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai ! Faktanya ada diantara mereka yang  melanggar janji !

Allah berfirman
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (Qs Al Hadid:10)
.
Yang dimaksud dengan Penaklukan adalah penaklukan Hudaibiyah, yaitu ketika Rasulullah membai’at shahabat-shahbatnya dibawah sebuah pohon, ketika yang berbaiat dengan Beliau sejumlah 1500 orang, merekalah yang telah menaklukkan khaibar
.

 SHAHIH BUKHARI NO. 3852
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ
طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِي…َّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al 'Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara' bin 'Azib radliallahu 'anhuma] seraya berkata; “Beruntunglah kamu karena mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbai’at kepadanya di bawah pohon pada bai’atur ridlwan.” Al Bara’ berkata; “Wahai anak saudaraku, kamu tidak tahu apa yang kami perbuat setelah itu.”
.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernahbersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat  sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemuiAllah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(1)
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon(bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku,
engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apakah mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi sahabat-sahabat

ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal Nabi, pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggal nya.

Rasululah SAW juga telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”(3)

.

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS. Lalu apa hukuman bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70 tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok dalam 3 Perang Besar.

Rujukan :

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24;

Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

.

Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (Hadis no.488 )

.

Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

.

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

.

Pengakuan Sahabat Nabi SAW bernama Al-Barra’ bin ‘Azib (r.a) membuktikan bahwa Ayat bai’at ridwan  tidaklah meliputi seluruh sahabat,  hanya untuk sahabat istiqamah  yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.

Salam dan Solawat. Baru-bari ini ada seorang saudara dari Sunni membangkitkan satu persoalan menarik. Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut:

Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Jawapan kami ialah pertamanya ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Iaitu ayat itu menyatakan pada ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Dengan ini tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan tertakluk dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga kemakmuran ini.

Kami membacakannya mereka kisah orang yang telah kami berikannya ayat maka dia menuruti Syaitan dan termasuk di kalangan mereka yang sesat”
al-A’raf 175

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Sebagai contoh Abdullah bin Abi Sara sahabat Rasulullah (s) penulis wahyu pertama, akan tetapi selepas beberapa ketika ia murtad dan menghina Rasulullah (s). Hingga sampai ke satu tahap, Rasulullah berkata pada waktu Fath Makkah, beberapa orang daripada mereka, walaupun mereka bergantung pada kain Kaabah, penggallah kepala mereka, salah seorang daripada mereka ialah Abdullah bin Abi Sara’.

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316

Menjawab : Ayat Bai’ah Ridwan

Salah satu ayat yang sering digunakan golongan Ahlusunnah untuk membuktikan keadilan para sahabat ialah ayat surah Al-Fath ayat 18. Mereka mendakwa seluruh sahabat yang hadir di dalam peristiwa tersebut mendapat keredhaan Ilahi. Allah (s.w.t) berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا . الفتح / 18 .

Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya- Surah Al-Fatḥ ayat 18.

Jawapan pertama: Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:

4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .
صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .

Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.

Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus dua puluh ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.

Jawapan ke-dua: Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.

Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.

Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:

Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.

Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:

… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .
تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .

Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf.
-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371
– Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224
– Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340
– Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14
– Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60
– Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77
– At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…

Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).

Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ » tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.

Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:

. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .

Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.

Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:

… والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .
كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني

Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. – Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: http://www.alwarraq.com

Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.

Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.

Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.

Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.

Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ‏ نَفْسِهِ وَ مَنْ أَوْفىَ‏ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.

Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.

Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman ” فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ “? Apakah firman ini sia-sia belaka?

Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:

عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى … .

Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh… – Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.

Jawapan ke-empat: Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:

1) Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .
صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.- Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170

Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.

2) Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:

عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .
الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و … .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.

3) ʽAisyah:

Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:

عن قيس ، قال : قالت عائشة… إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها
سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و …

Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.

Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .
المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .

Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.

Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?

Jawapan ke-lima: Sifat Allah teridir daripada Dhātī dan Fiʽlī. Sifat Dhātī adalah sifat Azālī dan Abadī, namun sifat Fiʽlī tidak seperti ini, bahkan tertakluk pada suatu zaman seperti yang dikatakan oleh Fakhrul Rāzī:

والفرق بين هذين النوعين من الصفات وجوه . أحدها : أن صفات الذات أزلية ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثانيها : أن صفات الذات لا يمكن أن تصدق نقائضها في شيء من الأوقات ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثالثها : أن صفات الفعل أمور نسبية يعتبر في تحققها صدور الآثار عن الفاعل ، وصفات الذات ليست كذلك .
تفسير الرازي ، الرازي ، ج 4 ، ص 75 .

Dan beza di antara kedua sifat Allah (Dhāt dan Fiʽl) ialah beberapa perkara: 1. Sifat Dhāt Azalī dan abadi, dan sifat Al-Fiʽl tidak seperti itu. 2. Sesungguhnya sifat Al-Dhāt tidak mungkin menepati pertentangannya terhadap sesuatu dalam waktu-waktu (contohnya jahil bertentnagan dengan ‘ālim); dan sifat Fiʽl tidak seperti itu. 3. Sesungguhnya sifat Fiʽl adalah perkara yang berhubung dengan kadangkala terjadi dengan kemunculan dalam suatu kesan daripada Fiʽl, namun sifat Dhāt tidak seperti ini (iaitu kekal abadi).

Oleh itu ketika Allah menyatakan keredhaan atau kemurkaan-Nya, ini bermakna pengurniaan pahala dan balasan. Oleh itu keredhaan dan kemurkaan Allah adalah sifat Fiʽl, bukan sifat Dhatī. Jikalau ianya dari sifat Fiʽl maka ia tidak akan berkekalan. Mengenai perkara ini Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:

ومعنى قوله ولا يرضى أي لا يشكره لهم ولا يثيبهم عليه فعلى هذا فهي صفة فعل .
فتح الباري ، ابن حجر ، ج 11 ، ص 350 .

Makna kata-kata « ولا يرضي » ialah tidak menghargai perbuatan yang dilakukan sekarang dan tidak diberi ganjaran. Inilah dia sifat Fiʽl – Fathul Bārī, ibnu Ḥajar, jilid 11 halaman 350

.

Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. Mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. Karena itu Nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai’ah (janji setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Bai’atur Ridwan. Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah

.

Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Caranya berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi maksud tangan Allah di atas mereka ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama dengan berjanji dengan Allah. Jadi seakan-akan Allah di atas tangan orang-orang yang berjanji itu. Hendaklah diperhatikan bahwa Allah Maha Suci dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluknya.

Qs. 48. Qs.Al Fath  ayat  10. : “”Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar

.

Qs. 48. Qs.Al Fath  ayat  18 : “”Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)

.

Al Quran  Memuji  Sahabat ??? Bagaimana  Syi’ah  iMamiyah  Menyikapi  Ayat  ayat  Pujian Kepada  Sahabat ???

Dalam Bahasa Arab, guna  fi’il   madhi  sama  dengan PAST  TENSE  dalam bahasa  Inggris  yaitu  untuk  menyatkan  sesuatu yang  telah  terjadi

Contoh :

Nike  gadis   yang  baik  pada saat  AYAHNYA  hidup…

Setelah  AYAHNYA  MATi  maka   Nike  belum tentu tetap  baik…

Ayat  yang  memuji / memberi  ampunan kepada sahabat semuanya fi’il  madhi  artinya  ayat  tersebut  Cuma  rekaman misi  religius ( semacam fakta sejarah )

Coba  anda perhatikan  dengan teliti  ayat ayat  yang menyatakan memuji / memberi ampunan   kepada  SAHABAT  semuanya  ada  konteks yang melatar belakangi nya  yaitu hanya berlaku  terhadap kesalahan  yang  telah  mereka  lakukan, kesalahan yang telah  mereka lakukan diampuni

Jaminan surga berlaku  kepada semua orang  Islam jika taat pada Allah, jika ingkar  maka tidak  ada  jaminan  SURGA

Dalam Bahasa Arab, guna  fi’il   mudhari’   sama  dengan PRESENT  TENSE  + PRESENT   CONTiNOUS untuk  menyatakan sesuatu  yang  sedang  terjadi dan akan  terjadi  ( secara  berkesinambungan )..

Contoh  : Nabi  SAW, Imam Ali, Fatimah, Hasan dan Husain  disucikan dalam  ayat  tathir ( fi’il  mudhari’ ) maka mereka tetap suci  sampai  kapanpun…

———————————————————————————

Pertanyaan :

Apakah  ada ayat  Al Quran yang  memakai  fi’il   mudhari’   yang  menjamin  ampunan  / pujian / jaminan  SURGA  kepada SAHABAT  atau  MUHAJiRin  ANSHAR  atau  peserta  PERANG  yang  melanggar  imamah  Ali  ????

Jawab :

Sepengetahuan  saya tidak ada !!! Semua  ayat yang  menyatakan  SAHABAT di maafkan  atau  diampuni   menggunakan  fi’il   madhi  yang  artinya  ampunan  itu hanya berlaku  pada  apa yang telah  mereka langgar, bukan berlaku  untuk selama lamanya

QS. At-Taubah: 100 hanya berbicara tentang keutamaan kaum imigran (kaum Muhajirin) dari Mekah dan penduduk kota Madinah (kaum Anshar) yang memeluk Islam pada awal perkembangan Islam. Ini tidak termasuk ribuan sahabat yang memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah atau setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. Karena mereka semua bukan yang pertama-tama masuk Islam seperti yang digambarkan ayat tersebut di atas.

 

“Orang-orang pertama dan terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar, (yakni yang memasuki Islam), dan mereka yang mengikutinya dengan baik, Allah meridhai mereka, dan mereka pun meridhainya, dan disediakan Allah buat mereka syurga-syurga yang di bawahnya mengalir sungAl-sungai, mereka kekal di dalamnya buat selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

.

ayat ini dijadikan oleh pengikut sekte wahabi yang awam bahwa sahabat Nabi dari kalangan muhajirin dan anshar sudah di stempel oleh Allah dan mendapatkan predikat (Allah ridho kpd mereka dan merekapun ridho kpd Allah). Disinilah salafiun menggeneralisasi makna ridho Allah terhadap kaum muhajirin dan Anshar.Terkait tafsir Al Qur’an At Taubah ayat 100 di atas biasanya adalah generalisasi  sunni dengan hanya memandang title “muhajirin” dan title “anshar”

Padahal…

Orang Orang  terdahulu  bisa bermakna  beberapa orang tertentu yang berada diantara golongan Muhajirin dan Anshar !

padahal hakikatnya ayat tersebut tidak untuk semua orang yang bertitel Muhajirin dan Anshar melainkan untuk Muhajirin dan Anshar yang dengan sungguh-sungguh membela Allah SWT dan Rasul-Nya.

Kalau kita perhatikan dan pelajari dengan benar frman Allah dlm ayat 100 Surah Attaubah. Maka terlihat bahwa Allah tidak berhenti firmanNya pada mereka terdahulu. Tapi ada kelanjutan yakni dan diikuti orang2 dengan baik. Apakah selain Imam Ali as adakah orang lain yang mengikuti mereka mereka  terdahulu dengan baik? Apakah selain Imam Ali as ada petunjuk petunjuk  yang baik? Yang berguna dalam agama.

Jadi kalau disimpulkan tidak semuanya dari kalangan muhajirin dan anshar mendapatkan titel Ridho Allah hanya sebagiannya saja. Dengan demikian hanya mereka yg teguh keyakinanny, dan istiqamah dalam ketaatan kpd Allah dan Rasuln-Nya saja yg akan mendapat Ridha Allah SWT.

Tafsir Qs. At taubah 100: Assabiqul awwaluna min al muhajiriina wa al anshar : kata min pada ayat ini bermakna : “diantara / sebagian dari “ … BUKAN SEMUA MUHAJiRiN DAN ANSHAR dijamin !! Contoh penggunaan kata Min ini ada di ayat lain yaitu Qs. 2 ayat 8 ( Wa min an Naasi man yaquuluu aamannaa..” artinya sebagian diantara manusia ada yang berkata “

Kita lihat bagaimana al-Quran membagi sahabat menjadi tiga golongan yang berbeda-beda:

“Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (Qs-Fathir: 32).

Jika kita cermati surat At-taubah ayat 100 itu, sebenarnya terkait dengan assabiquuna al awwaluun dan itu bukan lah semua kaum muhajirin dan anshar tetapi sebagian kaum muhajirin karena kalimat “min” (litab’idz) menunjukkan ba’dzi bukanlah kulli.

Orang-orang yang Allah Ridha kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah itu adalah orang-orang yang diterangkan secara khusus bukan secara umum, yakni sebagian (min) kaum muhajirin dan kaum anshar dan juga yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga tidak bisa diterima jikalau ayat tersebut mengandung arti seluruh kaum muhajirin dan anshar (seluruh shahabat)…

Ayat ini sebenarnya hanya berbicara tentang keutamaan kaum imigran (kaum Muhajirin) dari Mekah dan penduduk kota Madinah (kaum Anshar) yang memeluk Islam pada awal perkembangan Islam. Ini tidak termasuk ribuan sahabat yang memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah atau setelah peristiwa penaklukan kota Mekah. Karena mereka semua bukan yang pertama-tama masuk Islam seperti yang digambarkan ayat tersebut di atas.
Ribuan kaum Muslimin yang tidak termasuk ayat itu ialah mereka yang masuk Islam sekitar 20 tahun setelah Islam disebarkan. Mereka masuk Islam sekitar tahun ke-8 Hijriah.

Apakah Mungkin Mayoritas Ulama Sunni Salah lalu cuma Syi’ah yang benar sendiri ??

E-mail Cetak PDF

Oleh: Ustad Husain Ardilla

PENJELASAN mengenai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah kepada umat menjadi penting, sebab ini dilakukan demi merajut ukhuwah kelompok Ahlus Sunnah (Sunni), memantapkan dan meluruskan pemahaman, memadamkan fitnah, serta membentengi diri

Menentukan apakah sebuah agama atau keyakinan itu salah atau benar tidak bisa diambil dari sedikit atau banyaknya para pengikut yang menganutnya.
Ayat Al-Qur’an seringkali menyalahkan umat mayoritas dan malah memuji umat minoritas dalam berbagai ayatnya dan ini sangat mengherankan karena berbeda dengan keyakinan kebanyakan orang yang menentukan kebenaran suatu keyakinan itu dengan jumlah orang yang meyakininya. Kita lihat misalnya dalam sebuah ayat-ayat berikut ini:
  1. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“. (QS. Saba’: 36)
  2. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 243)
  3. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)
  4. …….. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 49)
  5. …………………….. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-An’am: 119)
  6. ……………….. Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS. Huud: 17)
  7. Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36)
  8. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya). (QS. Al-Israa: 89)
  9. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Ruum: 30)
  10. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(QS. Saba’: 28)
Dan masih banyak lagi ayat yang bernada sama dimana Allah sering menunjukkan betapa yang mayoritas justeru bersama kesesatan dan kesalahan. Allah pastilah punya maksud khusus ketika menyiratkan (dan menyuratkan) berkali-kali dalam Al-Qur’an (lebih dari 30 kali) ketika menggambarkan betapa kebanyakan manusia itu tidak punya rasa syukur dan tidak punya pengetahuan atau tidak condong kepada kebenaran. Bisa dibayangkan kalau kita menentukan kebenaran dengan melihat jumlah orang yang percaya bahwa itu benar sedangkan kebanyakan orang seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur’an selalu memilih kesesatan dan lebih condong kepada kesalahan.
.
Jadi orang yang realistik tidak akan pernah merasa khawatir apabila para pengikut dari agama yang diyakininya itu merupakan kelompok minoritas di dalam sebuah kelompok yang besar. Ia juga tidak akan merasa bangga ketika kelompoknya kebetulan adalah kelompok yang mayoritas karena siapa tahu kelompoknya adalah kelompok yang ikut kesesatan dan bukan kebenaran. Sebagai orang yang realistis ia seharusnya berpikir logis.
.
Dalam perang Jamal, seorang laki-laki datang menghampiri Imam Ali bin Abi Thalib dan bertanya:
.
“Bagaimana mungkin engkau menyebut musuh perangmu itu sebagai orang yang ikut kesesatan sementara jumlah mereka lebih banyak daripada pasukanmu?”
.
Imam Ali bin Abi Thalib menjawab:
.
“Kebenaran dan kesesatan itu tidak diukur dari jumlah pengikutnya. Kenalilah kebenaran, dan engkau akan melihat siapakah para pengikutnya; kenalilah kesesatan dan engkau akan tahu juga siapakah para pengikutnya”
.
Seorang Muslim itu sudah sepantasnya dan sepatutnya memecahkan permasalahan itu dengan berpikir logis dan empiris dan mengambil Qur’an sebagai panduan hidupnya.
.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.(QS. Al-Israa: 36)
.
Memang benar bahwa Syi’ah itu hanya diikuti oleh seperempat umat Muslim sedunia (LIHAT A’yan al-Shi’ah, volume 1, halaman 194). Akan tetapi orang dengan terang benderang bisa melihat sepanjang sejarah bahwa lebih banyak ilmuwan dan penulis yang lahir dari kaum Muslimin golongan Syi’ah ini. Bahkan kalau mau jujur hampir semua pendiri cabang ilmu itu berasal dari kaum Muslimin dari golongan Syi’ah. Salah satu yang sering juga disebut-sebut namanya oleh kaum Muslimin ialah Ibnu Sina yang menjadi pendiri atau pelopor ilmu kedokteran moderen yang melepaskan diri dari belenggu takhayul dan kepercayaan sempit yang tidak ada hubungannya dengan kedokteran itu sendiri.
.
Berikut empat nama yang akan saya jadikan contoh (Nama-nama lainnya anda bisa lihat dalam kitab-kitab berikut ini:
  1. al-Dhari’ah Ila Tasanif al-Shi’ah
  2. A’yan al-Shi’ah
  3. Tarikh al-Shi’ah)

.

Mereka adalah:
  • Abu’l-Aswad al-Du’ali, penemu ilmu sintaksis bahasa Arab
  • Al-Khalil Ibn Ahmad, peletak dasar dari ilmu prosody
  • Mu’adh ibn Muslim Ibn Abi Sarah dari Kufah, peletak dasar dari ilmu konyugasi, salah satu cabang ilmu biologi
  • Abu Abdullah Muhammad Ibn Imran Katib dari Khurasan (disebut juga Marzbani), pencetus ilmu retorika (LIHAT: Ta’sis al-Shi’ah, ditulis oleh Sayyid Hasan al-Sadr)

Sepanjang kesaksian sejarah, pada masa kekhalifahan Muawiyah, umat Islam dikenal dalam dua kelompok, yaitu Alawiyah dan Utsmaniyah. Setelah itu, akibat beberapa peristiwa, di masa Umar bin Abdulaziz (versi pertama), atau di masa kekhalifahan Bani Abbas (versi kedua), istilah Ahlussunnah disematkan kepada Utsmaniyah (para pengikut Utsman), sementara Alawiyah (para pengikut Ali) tetap disebut dengan nama pertama mereka, yaitu Syiah.

Secara umum, umat Islam dibagi menjadi dua kelompok utama: Ahlussunnah dan Syiah. Ahlussunnah bercabang kepada beberapa mazhab kalam (teologi), yang terpenting di antaranya adalah Mu`tazilah, Ahlul hadits (hadis centris), Asya`irah, Maturidiyah, dan Wahabiyah. Mu`tazilah adalah hasil dari pertentangan antara keyakinan Khawarij dan Murjiah.

Sebelum mazhab kalam Asya`irah dan Maturidiyah muncul, komunitas Ahlussunnah mengikuti dua mazhab Mu`tazilah dan Ahlul hadits atau Hanbaliyah. Akibat pertentangan keyakinan antara Mu`tazilah dan Ahlul hadits, para ulama Ahlussunnah berinisiatif untuk mereformasi mazhab mereka, khususnya untuk menghadapi prinsip-prinsip kalam Mu`tazilah. Buah dari reformasi ini, adalah kemunculan dua mazhab baru bernama Asya`irah dan Maturidiyah. Sehingga di masa ini, istilah Ahlussunnah wal Jama`ah khusus diberikan kepada dua mazhab terakhir ini.

Pendiri mazhab Asya`irah adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Ia lahir pada tahun 260 H di Bashrah dan wafat tahun 324 H di Baghdad. Sampai usia empat puluh tahun, ia adalah salah satu murid Abu Ali Jubai yang mendukung mazhab Mu`tazilah. Abu Hasan Asy`ari keluar dari mazhab Mu`tazilah pada tahun 300 H. Setelah mengadakan beberapa perbaikan dalam ajaran Ahlul hadits, Abu Hasan Asy`ari mendirikan mazhab baru, yang berlawanan dengan Ahlul hadits dan juga Mu`tazilah. Dalam bidang fikih, Abu Hasan Asy`ari mengikuti mazhab Syafi`i. Di masa sekarang, sebagian besar pengikutnya juga berkiblat kepada Imam Syafi`i dalam masalah hukum.

Sezaman dengan mazhab Asya`irah, Maturidiyah didirikan oleh Abu Manshur Muhammad bin Muhammad Maturidi, di daerah Maturid Samarqand, untuk melawan mazhab Mu`tazilah. Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) menganut mazhab Abu Hanifah dalam masalah fikih. Oleh sebab itu, kebanyakan pengikutnya juga bermazhab Hanafi.

Ada banyak kesamaan antara dua mazhab ini. Keduanya termasuk dalam aliran Ahlussunnah. Terkait kepemimpinan para khalifah setelah Nabi saw sesuai urutan historis yang telah terjadi, keduanya memiliki pandangan serupa. Juga tak ada perbedaan dalam pandangan mereka terhadap para penguasa Bani Umayah dan Bani Abbas. Dalam semua sisi masalah imamah pun mereka saling sepakat. Keduanya juga sepaham bahwa Allah bisa dilihat tanpa kaif (cara), had (batas), qiyam (berdiri) wa qu`ud (duduk) dan hal-hal sejenisnya. Berbeda dengan Hasyawiyah dan Ahlul hadits yang berpendapat bahwa Allah, seperti selain-Nya, bisa dilihat dengan kaif dan had. Dalam hal kalam Allah (Al-Quran), kedua mazhab ini juga memiliki pandangan sama, yaitu bahwa kalam-Nya memiliki dua tingkatan. Pertama adalah kalam nafsi yang bersifat qadim (dahulu), dan kedua adalah kalam lafdhi (lafal) yang bersifat hadits (baru). Ini adalah pendapat moderat dari kedua mazhab ini, yang berada di antara pendapat Mu`tazilah bahwa kalam Allah hadits secara mutlak, dan pendapat Ahlul hadits bahwa kalam-Nya qadim secara mutlak.

Ringkas kata, Asya`irah dan Maturidiyah memiliki banyak kesamaan pandangan dalam masalah akidah. Namun, di saat yang sama, ada pula beberapa perbedaan dalam prinsip-prinsip teologis dua mazhab ini, yang membedakan mereka satu sama lain.

Dalam rangka mereformasi dan mengembangkan akidah Ahlussunnah di hadapan Mu`tazilah, Abu Hasan Asy`ari menempuh jalan Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam banyak kasus, ia memilih sikap jumud `ala dhawahir (hanya memerhatikan sisi lahiriah) dan jarang menggunakan akal dan argumentasi. Namun Abu Manshur Maturidi menjadikan metode Abu Hanifah sebagai dasar teologi Ahlussunnah dan banyak menggunakan argumentasi rasional. Perbedaan mendasar dalam metode ini pula yang memunculkan perbedaan pendapat antara teologi Maturidiyah dan Asya`irah dalam sebagian masalah. Karena itu, metode Maturidiyah lebih jauh dari tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhluk) dan tajsim (menganggap Tuhan memiliki bentuk seperti materi) serta lebih dekat kepada tanzih (penyucian). Sementara metode Abu Hasan Al Asy’ari lebih condong kepada tasybih dan tajsim, walaupun Baqilaini dan Juwaini merombak metode Asy’ari tetapi pengikut Asy’ari tidak tau lagi ajaran Asy’ari yang asli

Parameter utama dalam perbedaan mazhab-mazhab Ahlussunnah adalah masalah husn wa qubh `aqli (baik dan buruk rasional) dan persoalan-persoalan terkait akal dan argumen rasional. Jika Mu`tazilah disebut sebagai simbol husn wa qubh `aqli, maka Maturidiyah berada di tingkat kedua, Asya`irah di tingkat ketiga, sementara Hasyawiyah menolak sepenuhnya masalah husn wa qubh `aqli. Sedangkan Wahabiyah adalah mazhab baru gabungan dari Hasyawiyah dan Hanbaliyah.

Perbedaan-perbedaan antara Maturidiyah dan Asya`irah bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

Terkait sifat-sifat khabariyah (sifat-sifat Alah yang tersebut dalam Al Qur’an, seperti yadullah [tangan Allah] dll), Asya`irah meyakini makna lahiriah ayat tanpa takwil dan tafwidh (menyerahkan maknya kepada Allah), sedangkan Maturidiyah menerima tafwidh dan menolak takwil. Sementara prinsip Mu`tazilah dalam masalah ini adalah menakwilkan sifat-sifat khabariyah.

Asya`irah menganggap makrifat Allah wajib berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, sementara Maturidiyah, seperti halnya Mu`tazilah, berpendapat bahwa kewajiban mengenal Allah bersifat rasional.

Karena Asya`irah mengingkari husn wa qubh `aqli, maka mereka berpendapat bahwa perbuatan Allah tidak berlandaskan tujuan. Namun Maturidiyah mengatakan bahwa perbuatan Allah berasaskan maslahat, sebab mereka menerima konsep husn wa qubh `aqli dalam sebagian tingkatannya.

Asya`irah berpendapat bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, sementara manusia adalah wadah bagi perbuatan-Nya. Untuk menghindar dari problem jabr (determinasi), mereka mengemukakan solusi ‘kasb‘. Maturidiyah menolak tafwidh (manusia bertindak bebas dan menafikan intervensi kekuasaan Tuhan) Mu`tazilah serta jabr Ahlul hadits dan Asya`irah. Mereka berpendapat bahwa meski perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, namun di saat yang sama, ia adalah pelaku dan kasib (hasil) perbuatannya sendiri.

Seperti kaum `Adliyyin, Asya`irah membagi sifat-sifat Allah kepada dzati dan fi`li. Namun Maturidiyah menolak pembagian ini dan menyatakan bahwa semua sifat fi`li-Nya qadim seperti sifat dzati.

Asya`irah mengatakan bahwa Allah mustahil membebankan taklif yang tak mampu dilakukan manusia, sementara Maturidiyah berpendapat sebaliknya.

Asya`irah meyakini bahwa semua yang dilakukan Allah adalah baik, sedangkan Maturidiyah, berdasarkan hukum akal, berpandangan bahwa Dia mustahil berbuat zalim.

Kesimpulannya, meski Asya`irah dan Maturidiyah tergabung dalam kelompok Ahlussunnah dan banyak memiliki kesamaan, namun mereka juga memiliki perbedaan pendapat dalam sebagian masalah

.

Mazhab Teologi Asyariyah Dalam Sorotan

Asy’ariyah atau Asya`irah adalah sebutan bagi para pengikut Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Tolak Ukur utama dalam meneliti proses terbentuknya Asya`irah adalah kinerja mazhab Mu`tazilah. Dijadikannya perubahan sebagai landasan penyingkapan hakikat oleh Mu`tazilah dan perselisihan mereka dengan para fukaha dan ahli hadis, memicu penentangan terhadap Mu`tazilah. Hingga akhirnya, dengan adanya provokasi dari pihak Mutawakkil, kelompok Mu`tazilah dikucilkan dan kemudian lahirlah kelompok moderat, yaitu Asya`irah.

Asya`irah menjadikan dalil rasional (`aqli) sebagai sarana pembuktian ajaran akidah konvensional. Di penghujung abad keenam, ada tiga tokoh yang memilih metode ini, yaitu Abu al-Hasan Asy`ari di Baghdad, Thahawi (wafat 331 H) di Mesir, dan Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) di Samarqand. Kendati terdapat perbedaan antara mereka, namun mereka sepakat untuk sama-sama menentang Mu`tazilah.

Abu al-Hasan Asy`ari lahir di Bashrah tahun 260 H. Garis keturunannya sampai kepada Abu Musa Asy`ari, salah seorang sahabat terkenal. Beliau adalah murid Abu Ali Jubba’i. Beliau mempelajari ilmu kalam (teologi) dari Mu`tazilah dan banyak menimba ilmu dari para fukaha dan ahli hadis. Setelah mengkaji hasil pelajaran terdahulunya, beliau lalu mengkritisi dan menolak sebagian keyakinan dirinya yang diambil dari Mu`tazilah. Di antara keyakinan terdahulunya adalah al-Quran itu makhluk, kemustahilan melihat Allah, dan menghindari penisbatan keburukan kepada Allah. Kitab al-Ibanah mengandung kritik-kritik Asy`ari terhadap Mu`tazilah. Dalam kitab itu, ia menyebut Mu`tazilah sebagai kelompok penakwil al-Quran dan menyatakan kecenderungannya kepada al-Quran, sunah, dan metode Ahmad bin Hanbal. Ibnu `Asakir menyebut judul 98 kitab yang ditulis Asy`ari hingga tahun 32 H. Empat karyanya yang terkenal adalah:

1. Al-Luma` fi Al-Rad `ala Ahl al-Zaigh wa al-Bida`.

2. Al-Ibanah fi Ushul al-Diyanah.

3. Istihsan al-Khaudh fi `Ilm al-Kalam.

4. Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin.

Tiga kitab pertama seputar ilmu kalam dan kitab keempat tentang pengenalan mazhab-mazhab. Judul yang dipilih untuk kitab keempat menunjukkan sikap moderat dan toleransi Asy`ari.

Pandangan-pandangan Asy`ari

Asy`ari memilih metode `aqli-naqli (kombinasi akal dan riwayat) sebagai metode yang moderat. Misalnya, dalam bab tauhid, ia meyakini penambahan sifat atas zat Allah. Sikap moderat ini tampak dalam pandangan-pandangannya. Secara umum, Asya`irah membuktikan keberadaan Tuhan dengan tiga cara: naqli, `aqli, dan qalbi (hati) yang mirip dengan metode sufi Imam Ghazali dan Fakhruddin Razi. Berdasarkan pendapat Fakhruddin Razi, ada dua argumen filosofis, yaitu Burhan Imkan al-Ajsam (argumentasi kemungkinan keberadaan materi) dan Imkan al-A`radh (kemungkinan sifat), serta dua argumen teologis, yaitu Burhan Huduts al-Ajsam (argumentasi barunya materi) dan Huduts al-A`radh (barunya sifat), yang semua ini digunakan Asya`irah untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Terkait pengenalan Tuhan, sebagian Mu`tazilah (seperti Juwaini dan Ghazali) berpendapat bahwa hal ini tidak mungkin, sementara sebagian yang lain (seperti Baqillani) berpandangan sebaliknya.

Sifat-sifat Allah: Sifat-sifat Allah ada tiga bagian, yaitu salbi (negatif), tsubuti (tetap), dan ikhbari, yaitu seperti sifat manusia (misalnya, memiliki mata dan tangan). Asy`ari berpendapat bahwa bagian yang ketiga harus diyakini secara bila kaif (tanpa cara dan bagaimana), sebab substansi sifat-sifat ini tidak jelas bagi kita.

Determinasi (Jabr) dan Ikhtiar: Dalam masalah ini, demi menjaga sisi qadha dan qadar Allah serta ikhtiar manusia, Asya`irah mengemukakan pandangan kasb (usaha) yang merupakan istilah al-Quran. Penafsiran mereka tentang kasb adalah sebagai berikut: Kemampuan (qudrah) ada dua macam, yaitu qadim/lama (yang merupakan milik Allah dan berperan dalam penciptaan perbuatan) dan hadits/baru (yang merupakan milik hamba). Satu-satunya fungsi kemampuan hadits adalah bahwa hamba merasakan kebebasan dalam dirinya. Oleh karena itu, makna kasb al-fi`l adalah berbarengannya penciptaan perbuatan dengan penciptaan kemampuan hadits pada diri manusia. Tentunya, Asy`ari menyebut kasb sendiri sebagai ciptaan Allah. Beliau berpendapat bahwa orang yang melakukan kasb adalah tempat Allah mewujudkan perbuatan-Nya dan orang itu berperan sebagai sarana perbuatan Allah.

Baik dan buruknya perbuatan (husn wa qubh): Asy`ari menyebut tiga makna baik dan buruknya perbuatan dan memilih makna ketiga sebagai makna yang benar. Tiga makna itu adalah:

1. Kesempurnaan dan kekurangan.

2. Mengandung maslahat atau madharat.

3. Layak dipuji atau dicela. Menurutnya, tidak ada perbuatan yang layak dipuji atau dicela secara mandiri. Hanya lantaran perintah dan larangan dari syariat-lah suatu perbuatan layak dipuji atau dicela.

Kosmologi: Meliputi dua masalah:

a) Struktur semesta: Asya`irah condong kepada teori atomisme (jauhar fard). Melalui teori ini, Asya`irah mendapat peluang untuk membuktikan bahwa dunia itu hadits (baru) dan Allah sebagai satu-satunya Zat yang qadim (dahulu).

b) Mortalitas semesta: Asya`irah berpendapat bahwa semesta itu mortal. Mereka menyebut `aradh (sifat) mortal dan jauhar (esensi) imortal. Tujuan dari pandangan ini adalah pembuktian sifat qadim Allah dan peran abadi-Nya dalam segala perkara semesta.

Antropologi: Meliputi dua pandangan:

a) Hakikat manusia adalah jauhar (esensi) jasmani (Juwaini).

b) Hakikat manusia adalah esensi ruhani (Baqalani).

Tokoh-tokoh Asya`irah: Di antaranya adalah: Abu Bakar Baqillani (penulis al-Tamhid), Imam Ghazali, Imam al-Haramain Juwaini, Fakhrurrazi, Baidhawi, dan Sayyid Syarif Jurjani.

Mazhab kalam ini memiliki peran penting di tengah kaum Muslimin, kendati di masa Asy`ari sendiri tidak begitu mendapat perhatian khalayak. Pada hakikatnya, Asy`ari dikucilkan lantaran penentangan dan perselisihan sengitnya dengan ahlul hadits (para pendukung hadis). Namun belakangan, khususnya setelah era Imam al-Haramain Juwaini dan dukungan dinasti Saljuqi di masa Khaje Nidham al-Mulk Thusi terhadap mazhab ini, Asya`irah menjadi mazhab kalam yang dominan di tengah Ahlussunnah. Hingga sekarang pun, sebagian besar kaum Muslimin Ahlussunah di seluruh dunia, khususnya yang bermazhab Syafi`i dan Hanafi, merujuk dan mengacu kepada Asya`irah dalam masalah-masalah akidah.

Hanya saja umat Islam perlu memahami kembali akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam konteks sekarang ini – dengan tujuan untuk lebih memantapkan pemahaman kita terhadap akidah, pemikiran dan tantangannya. Hal ini penting, sebab bisa terjadi seseorang mengaku Sunni, tetapi di luar pengetahuannya ia sebenarnya bukan pengikut Sunni sejati.

Identitas sebagai kelompok Sunni terkadang diperebutkan, terkadang pula disempitkan konsepnya. Identitas ini diperebutkan, sebab kelompok ini yang disebut para ulama dahulu sebagai kelompok yang setia memegang ajaran Islam. Karena pandangan yang terlalu riqid dan sentimen kepada kelompok lain, sehingga konsep Ahlus Sunnah kadang dipersempit untuk ‘jama’ah’-nya sendiri.

Kalau para sahabat itu semuanya baik dan shaleh, mengapa mereka saling bunuh sepeninggal nabi?


Apabila kita melihat sejarah maka kita akan terkesima karena para sahabat ternama ternyata terlibat dalam peperangan besar. Para sahabat seperti Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam, Mu’awiyyah bin Abu Sofyan, Amr bin Ash, Al-Naaman bin Basyir, dan Samurah bin Jundub terlibat dalam pembunuhan kaum Muslimin. ‘Aisyah binti Abu Bakar sendiri malah menjadi kepala penyerangan terhadap khalifah yang syah pada waktu itu yaitu Ali bin Abi Thalib. A’isyah beserta Thalhah dan Zubayr menjadi tiga serangkai yang menyerang khalifah Ali bin Abi Thalib dalam perang saudara yang disebut dengan perang unta atau Perang Jamal. Puluhan ribu sahabat terbunuh dalam peristiwa itu. Mereka menyerang Imam Ali bin Abi Thalib karena ingin menjadikan salah satu dari Thalhah atau Zubayr menjadi khalifah menggantikan Imam Ali bin Abi Thalib yang sangat tidak disukai oleh ‘Aisyah. Ketidak sukaan ‘Aisyah terhadap Ali sudah terkenal dalam sejarah
.
Pembunuhan yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin yang didasari oleh nafsu duniawi sama sekali tidak dibenarkan oleh Islam. Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya” (QS. An-Nisaa: 93)
.
Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
Sangatlah tidak masuk di akal apabila memasukkan nama-nama mereka kedalam kelompok para sahabat yang shaleh dan beriman dan sangat tidak masuk di akal juga apabila kita masih mau mengambil hadits-hadits dari mereka karena ada kemungkinan hadits yang mereka laporkan dipenuhi kepentingan politis di dalamnya
.
Ada memang sekelompok orang yang menganggap mereka sebagai orang baik-baik dan shaleh karena mereka katanya termasuk orang-orang yang menganut Islam pertama kali dari kalangan penduduk Makah dan Madinah. Mereka juga dianggap sebagai orang yang pernah hadir dalam bait ar-ridhwan  (mereka yang mengikat bai’at kesetiaan di bawah pohon) setelah perjanjian Hudaybiyah. Oleh karena itu, (masih menurut klaim mereka), orang-orang tersebut di atas orang-orang ridha terhadap Allah dan Allah ridha kepada mereka. Dan barangsiapa pernah diridhai atau disukai oleh Allah maka Allah takkan pernah marah lagi kepada mereka (itu masih menurut klaim mereka)
.
maka memang dengan jelas kita bisa melihat bahwa ada sekelompok sahabat nabi yang merupakan penduduk kota Makah dan Madinah yang akan mendapatkan balasan berupa surga yang di dalamnya ada kebun-kebun subur dan sungai-sungai mengalir dimana mereka akan tinggal kekal bersama para penghuni surga yang lain
.
Akan tetapi yang menjadi masalah ialah bahwa Mu’awiyyah dan Amr bin Ash tidak termasuk kedalam orang yang dimaksud oleh ayat ini bersama ayat tentang bai’at kesetiaan di bawah pohon. Mereka berdua bukan orang yang masuk Islam pertama kali. Mereka juga bukan kaum imigran atau Muhajirin dari kota Makah. Mereka juga tidak pernah hadir dalam bait ar-ridhwan. Amr bin Ash itu terpaksa masuk Islam  setelah perjanjian Hudaybiyyah. Sementara Mu’awiyyah juga tidak memiliki alternatif lain selain memeluk Islam untuk menyelamatkan kehidupannya setelah peristiwa penaklukan kota Makah
.
Lebih jauh lagi kita tidak menemukan apapun dalam al-Qur’an itu yang menyiratkan bahwa orang-orang yang sudah diridhai atau disukai oleh akan bebas dari murka Allah. Pernyataan seperti itu hanya datang dari mereka yang terlalu memuja-muja para sahaba Nabi sehingga luput dari mengenali kebenaran
.
Sangat sukar sekali dibayangkan apabila Allah memberikan kekebalan hukum secara permanen kepada orang yang berbuat baik pada suatu waktu dan kemudian berbuat sangat jahat di waktu lainnya. Tidak bisa dibayangkan bahwa Allah akan mema’afkan orang-orang yang pernah membunuh ribuan orang beriman setelah sebelumnya pernah berbuat baik (bukankah para ulama itu percaya bahwa ada sekelompok orang yang mati dalam keburukan atau biasa disebut dengan su’ul khatimah?)
.
Kalau memang kekebalan hukum itu ada untuk para sahabat, maka bisa saja seorang sahabat nabi itu tidak menjalankan (atau malah menentang) ajaran yang diajarkan dalam Al-Qur’an (seperti larangan membunuh orang tanpa dosa) atau ajaran yang diajarkan langsung oleh Nabi kepada dirinya
.
Akan tetapi kita tidak akan mempercayai hal ini karena Allah sendiri pernah berfirman kepada Rasulullah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS. Al-An’am: 15)
.
Apabila para sahabat itu boleh menafsirkan ayat-ayat Qur’an dan sabda Rasulullah sekehendak hatinya (sampai mereka bisa membunuh kaum Muslimin tanpa dosa), maka bisa saja mereka mengeluarkan fatwa bahwa shalat wajib 5 kali dalam sehari semalam itu adalah sunnah dan bukan kewajiban! Bisa saja mereka berdalih, “Kami menganggap bahwa kata-kata aqiimus shalah itu artinya kita boleh atau sunnah untuk melakukan shalat. Karena dalam kata-kata itu tidak dijelaskan apakah kita harus berdiri, kemudian rukuk kemudian sujud dan seterusnya. Tidak juga dijelaskan bahwa kita harus membaca Al-Qur’an di dalamnya atau membaca syahadat di dalamnya. Kita cukup saja berdo’a kepada Allah untuk memohonkan ampun dan meminta rizki atau memohon untuk dipanjangkan umur karena kata “Shalat” itu sendiri artinya berdo’a
.

APA KATA RASULULLAH TENTANG MU’AWIYYAH

Berikut ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya:
“Rasulullah (saw) pada suatu hari menyuruh Ibnu Abbas untuk mengundangnya (Mu’awiyyah) agar datang ke rumah Rasulullah untuk menuliskan sesuatu untuknya. Ibnu Abbas menemukan Mu’awiyyah sedang makan dengan lahapnya (Mu’awiyyah tidak bisa memenuhi undangan Nabi). Rasulullah kemudian mengirimnya (Ibnu Abbas) sekali lagi kepada Mu’awiyyah, dan Ibnu Abbas sekali lagi melihatnya masih dalam keadaan makan. Kejadian ini berulang hingga tiga kali hingga Rasulullah berkata:
“Semoga Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”
(Lihat: Muslim, Shahih, volume 5, halaman 462 dalam Kitab Keramah-tamahan, Kedermawanan, dan Sopan Santun; dalam sebuah bab tentang seseorang yang pernah dikutuk oleh Rasulullah (edisi Dar al-Sha’b) seperti yang dikutip oleh al-Nawawi dalam Sharh-nya)

Juga dalam Shahih Muslim ada tulisan berikut: “Rasulullah berkata:

‘………adapun Mu’awiyyah, ia itu seorang pengangguran dan seorang pemalas’
(Lihat: Al-Bukhari, Shahih, volume 3, halaman 693)
Dalam Musnad-nya Imam Ahmad, Rasulullah diriwayatkan pernah berkata seperti berikut ini tntang Mu’awiyyah dan ‘Amr bi Ash:
“Ya Allah! Lemparkanlah mereka kedalam permusuhan sesegera mungkin, dan masukkanlah mereka kedalam api neraka,”. Masih ada beberapa lagi riwayat yang menggambarkan Mu’awiyyah (yang kerapkali disebut sebagai “Amirul Mukminin” atau “Pemimpin Orang-orang Yang Beriman” oleh sebagian kaum Muslimin yang memujanya). Mu’awiyyah adalah anak dari seorang ibu yang berani memakan jantung Sayyidina Hamzah pada peperangan Uhud. Mu’awiyyah menutup hidupnya dengan mengangkat anaknya Yazid bin Mu’awiyyah seorang pemuda yang memiliki sifat hedonis—suka berpoya-poya, bermabuk-mabukan dan melakukan perzinahan—sebagai khalifah bagi kaum Muslimin. Sungguh pemimpin yang sangat tidak bijak karena merelakan umat untuk dipimpin oleh makhluk terburuk yang pernah lahir ke dunia ini. Yazid waktu itu baru berusia 20 tahun ketika ia menjabat menjadi khalifah. Pengangkatan Yazid itu merupakan pelanggaran atas kesepakatan yang telah dijalin oleh Mu’awiyyah bersama dengan Imam Hasan (as). Selengkapnya perjanjian damai antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah itu adalah sebagai berikut.

PERJANJIAN DAMAI DAN SYAHIDNYA IMAM HASAN (AS)

Setelah kesyahidan Imam Ali (as) (karena dibacok oleh Ibnu Muljam ketika sedang shalat Shubuh), Imam Hasan (as) naik ke atas mimbar dan orang-orang Kufah pada waktu itu memberikan bai’at kesetiannya kepada Imam Hasan (as) sebagai khalifah pengganti ayahnya; dan orang-orang Kufah menginginkan Imam Hasan (as) menjadi pemimpin umat Islam secara keseluruhan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Akan tetapi hal ini ternyata hanya berlangsung hingga enam bulan saja.
Ketika kabar tentang syahidnya Imam Ali (as) itu sampai ke Syiria, Mu’awiyyah memimpin pasukan yang besar sekali dan berangkat menuju Kufah (pusat pemerintahan Islam pada waktu itu karena Imam Ali memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah karena Imam Ali selalu dirongrong kekuasaannya oleh para sahabat senior dari Rasulullah—red). Mu’awiyyah menyerbu Kufah untuk merampas khilafah dari Imam Hasan (as). Imam Hasan dipaksa untuk menyerah kepada Mu’awiyyah. Demi melihat keadaan genting yang bisa menyebabkan pertempuran yang besar sekali dan melibatkan seluruh umat Islam, maka Imam Hasan (as) tidak punya pilihan lain selain berdamai dengan Mu’awiyyah demi melindungi kaum Muslimin dari perang saudara yang besar. Imam Hasan (as) tidak ingin darah kaum Muslimin tertumpahkan hanya karena mereka saling membunuh satu sama lain karena keduanya ingin memperebutkan kursi kekhalifahan. Imam Hasan (as) tidak seperti para pemimpin Arab saat ini yang lebih memilih untuk bertahan dan mengorbankan rakyatnya untuk kekuasaannya. Imam Hasan (as) mencintai rakyatnya dan ia tidak mau darah umat tertumpah gara-gara ia mempertahankan kekuasaan yang tidak ada apa-apanya di hadapan Imam.
Selain itu Imam Hasan melihat ada bibit perpecahan di kalangan tentaranya sendiri yang sudah berhasil disuap oleh mata-mata Mu’awiyyah. Ditambah dengan kondisi politis yang tidak stabil di Irak (dan Kufah terletak di Irak!); ditambah lagi dengan ancaman dari negara lain—Kekaisaran Romawi sedang mengintai dan melihat peluang yang matang untuk menyerbu umat Islam. Jadi seandainya perang itu terjadi antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah, maka kemungkinan besar yang akan keluarg menjadi pemenang justeru kekuatan di luar Islam yaitu kekaisaran Romawi karena siapa saja yang menang perang akan berkurang kekuatannya setelah peperangan berakhir dan kekaisaran Romawi akan dengan mudah menyerang dan melumpuhkan umat Islam.
Imam Hasan langsung memilih opsi untuk melakukan perjanjian damai untuk melepaskan umat Islam dari ancaman bahaya yang jauh lebih besar lagi. Perjanjian damai yang disepakati dengan Mu’awiyyah adalah sebagai berikut:
  1. Imam Hasan harus menyerahkan kekhalifahan dan urusan umat Islam kepada Mu’awiyyah dengan syarat bahwa Mu’awiyyah harus mengurus dan mengatur umat dengan berdasarkan Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
  2. Kursi khilafah—apabila Mu’awiyyah meninggal lebih dulu—harus segera dan langsung diserahkan kepada Imam Hasan (as). Apabila ada sesuatu yang terjadi kepada Imam Hasan, maka kursi khilafah akan diserahkan kepada adiknya, Imam Husein (as).
  3. Semua kutukan dan laknat terhadap Imam Ali harus dihentikan baik itu yang dilakukan di mimbar-mimbar maupun yang dilakukan di tempat lainnya.
  4. Uang sebanyak 5 juta dirham yang ada di baytul mal di Kufah sepenuhnya akan dijaga dan diawasi oleh Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah harus mengirimkan sebanyak 1 juta dirham tiap tahun untuk pajak khiraj kepada Imam Hasan (as) yang akan disalurkan langsung kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh para syuhada pada perang Unta dan perang Siffin yang bertempur di pihak Imam Ali.
  5. Mu’awiyyah harus bersumpah untuk tidak mengganggu umat manusia dari kalangan manapun tanpa memandang ras, suku, dan agama. Mu’awiyyah tidak boleh mengejar-ngejar mereka; menyakiti mereka dan ia harus bersumpah akan melaksanakan seluruh isi perjanjian ini dan berjanji untuk menjadikan umat manusia sebagai saksinya.
Akan tetapi kemudian yang terjadi benar-benar menyesakkan dada. Imam Hasan (as) syahid terbunuh pada tahun 50H (670 masehi). Imam Hasan (as) meninggal dibunuh dengan racun yang dibubuhkan oleh isterinya sendiri yang bernama Ju’dah binti Al-Ash’ath ibn Qays. Isteri Imam Hasan ini berasal dari keluarga yang memiliki kehidupan dan keyakinan yang berbeda dengan kehidupan dan keyakinan yang dimiliki oleh keluarga atau keturunan Imam Ali (as). Mu’awiyyah menyuruh Ju’dah untuk memberikan racun kepada makanan yang akan dimakan oleh Imam Hasan (as) dengan terlebih dahulu mengirimkan uang sebanyak 100,000 dirham dan sebuah janji kepadanya bahwa sepeninggal Imam Hasan (as), Ju’dah akan dinikahkan kepada puteranya Mu’awiyyah yaitu Yazid bin Mu’awiyyah.
Mu’awiyyah tertawa kegirangan di istananya demi mendengar kematian Imam Hasan (as). Ia merasa telah mengangkat duri dalam daging yang mengganggu kehidupannya siang dan malam. Dengan itu maka impiannya yaitu mengangkat anaknya, Yazid, seorang pemuda mesum, akan segera menjadi kenyataan. Tinggal satu orang lagi yang masih mengganggu pikirannya. Ia adalah Imam Husein (as).

Rasulullah pernah meramalkan penyimpangan yang akan diperbuat oleh para sahabatnya

Rasulullah pernah memberitahu kepada seluruh kaum Muslimin tentang apa-apa yang akan diperbuat oleh para sahabatnya kelak setelah Rasulullah wafat. Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya volume 2, halaman 149 melaporkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Sejumlah sahabatku akan datang untuk meminum air di sebuah telaga . Ketika aku mengenali mereka, mereka lalu dibawa pergi menjauh dariku. Aku berkata: ‘Ya, Rabbi! Mereka ini para sahabatku.’ Kemudian Allah menjawab: ‘Engkau tidak tahu apa-apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’’
Masih di kitab yang sama pada halaman 150, diriwayatkan bahwa Abu Hazim melaporkan bahwa Sahl Ibn Saad menyampaikan dari Rasulullah yang bersabda:
“Aku akan datang ke telaga al-Haudh sebelum kalian semua. Barangsiapa yang menemuiku di sana akan meminum air dari telaga itu. Dan barangsiapa meminum air darinya maka ia tidak akan pernah lagi merasakan kehausan selamanya. Kelompok demi kelompok akan datang kepadaku, dan aku akan mengenali mereka dan mereka akan mengenaliku dan mereka akan dipilih sebelum menemuiku.”
Abu Hazim berkata: “Al-Naman Ibn Ayyash mendengar diriku (ketika membacakan hadits ini) dan kemudian ia berkata: “Aku bersaksi bahwa Abu Sa’id al-Khidri berkata dan aku mendengar ia menambahkan sebuah kalimat kepada hadits itu yaitu kata-kata:
“Aku akan berkata: Semoga Allah menyingkirkan mereka yang telah meyimpang dariku setelahku”
Ada hadits lainnya yang kurang lebih sama atau mirip redaksinya diriwayatkan dalam kitab Shahih-nya Muslim volume 15, halaman 53—54. Al-Bukhari meriwayatkan dalam bagian mengenai telaga Al-Haudh ini dimana Abu Hurairah melaporkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Pada hari penghisaban nanti sekelompok sahabatku akan datang menemuiku di telaga Al-Haudh, dan mereka itu dilarang untuk meminum air darinya. Aku kelak akan berkata: ‘Ya, Rabbi! Mereka ini adalah para sahabatku’. Kemudian Allah akan berkata: ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka telah lakukan sepeninggalmu. Mereka telah meninggalkan ajaranmu.”
Al-Bukhari melaporkan dalam kitab Shahih-nya, volume 4, halaman 169, bahwa seseorang telah mengutip dari Ibn Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Kalian akan dibangkitkan di hari akhirat nanti dengan bertelanjang kaki, tak berpakaian, dan tak berkhitan.”  Kemudian ia membaca (ayat Al-Qur’an, Al-Anbiyaa: 104) ‘Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami lah yang akan melaksanakannya.’ “
“Sekelompok sahabatku akan dibawa ke sebelah kiri, dan aku akan berkata: ‘Sahabatku……sahabatku….’ Allah akan berkata: ‘Mereka telah meninggalkan keimanan mereka setelah engkau pergi meninggalkan mereka.”
Muslim dalam kitab Shahih-nya, volume 10, halaman 59, melaporkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Aku akan menjadi orang pertama yang akan datang ke telaga, dan aku akan ditanya tentang beberapa dan aku akan kehilangan mereka. Kemudian aku akan berkata: “Ya, Illahi! Mereka ini adalah para sahabatku; mereka ini adalah para sahabatku.’ Aku akan diberitahu: ‘Engkau tidak tahu apa-apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu.’”
Muslim dalam kitab Shahih-nya, volume 10, halaman 64, mencatat bahwa Anas Ibn Malik pernah melaporkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Sebagian dari para sahabatku akan datang menemuiku  (pada hari penghisaban) di telaga. Ketika aku melihat mereka dan mereka dibawa kepadaku, mereka kemudian akan diseret menjauh dariku. Aku akan berkata: ‘Ya, Illahi, mereka adalah semua para sahabatku.’ Kemudian dikatakan kepadaku: ‘Engkau tidak tahu apa-apa yang mereka perbuat sepeninggalmu”

DUA TUBUH SAHABAT NABI ITU MASIH UTUH WALAU SUDAH DIMAKAMKAN 13 ABAD YANG LALU (peristiwa menghebohkan di kota Baghdad)

Miracle of Islam: Excavation of the Graves of true Companions of Holy Prophet Muhammad (saw)Meskipun dalam keadaan normal mayat yang sudah dikubur selama beberapa lama itu akan  mengalami proses pembusukan dan penguraian akan tetapi kita bisa temui beberapa bukti yang sangat kuat bahwa mayat-mayat atau jenazah pada syuhada, para nabi, dan orang-orang suci itu tetap segar bugar dan tidak mengalami proses pembusukan ketika kuburan mereka itu digali kembali.
Pada tahun 1932 (atau tahun 1351H), raja Iraq yang bernama Shah Faisal I  bermimpi dimana dalam mimpinya ia ditegur oleh Hudhaifah al-Yamani (salah seorang sahabat Nabi) yang berkata:
“Wahai raja! Ambillah jenazahku dan jenazah Jabir al-Ansari (juga salah seorang sahabat nabi) dari tepian sungai Tigris dan kemudian kuburkan kembali di tempat yang aman karena kuburanku sekarang dipenuhi oleh air; kuburan Jabir juga sedang dipenuhi oleh air.”
Mimpi yang sama terjadi berulang-ulang pada malam-malam berikutnya akan tetapi raja Faisal I tidak peduli dengan mimpi itu karena ia merasa ada hal-hal lain yang jauh lebih penting dalam kehidupannya yang berupa urusan-urusan kenegaraan. Pada malam ketiga Hudhaifa al-Yamani hadir dalam mimpi Mufti Besar Iraq. Hudhaifa al-Yamani berkata dalam mimpi sang Mufti itu:

“Aku telah memberitahu raja dua malam sebelumnya untuk memindahkan jenazahku akan tetapi tampaknya ia tidak peduli. Beritahukanlah kepada raja agar ia mau sedikit berempati untuk memindahkan kuburan-kuburan kami.”

 

Lalu setelah mendiskusikan masalah ini, raja Faisal, disertai oleh Perdana Menteri dan Mufti Besar bermaksud untuk melaksanakan tugas ini. Diputuskan bahwa Mufti Besar akan memberikan fatwa mengenai hal ini dan Perdana Menteri akan memberikan pernyataan kepada pers supaya semua orang tahu tentang rencana besar ini. Kemudian diumumkan kepada umum bahwa rencana ini akan dilangsungkan pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat Dzhuhur dan Ashar. Kuburan kedua sahabat Nabi itu akan dibuka dan jenazahnya (atau mungkin kerangkanya) akan dipindahkan ke tempat lain.

 

Karena pada waktu itu sedang musim haji, maka para jamaah haji juga ikut berkumpul di kota Mekah. Mereka meminta Raja Faisal I untuk menunda rencana itu selama beberapa hari agar mereka juga bisa melihat dengan mata kepala sendiri proses ekskavasi dari kedua tubuh sahabat nabi itu. Mereka ingin agar proses ekskavasi itu ditunda hingga mereka selesai beribadah haji. Akhirnya Raja Faisal setuju untuk menangguhkannya dan mengundurkannya hingga tanggal 20 Dzulhijjah.
Setelah shalat Dzhuhur dan Ashar, pada tanggal 20 Dzulhijjah tahun 1351 (Hijriah) atau tahun 1932 Masehi, orang-orang berdatangan ke kota Baghdad. Yang datang bukan saja kaum Muslimin melainkan juga kaum Non-Muslim. Mereka berkumpul di kota Baghdad hingga penuh sesak. Ketika kuburan Hudzaifa al-Yamani dibuka segera mereka melihat bahwa kuburan itu dipenuhi air di dalamnya. Tubuh Hudzaifa al-Yamani diangkat dengan menggunakan katrol dengan sangat hati-hati agar tidak rusak dan kemudian jenazah yang tampak masih sangat segar itu dibaringkan di sebuah tandu. Kemudian Raja Faisal beserta Mufti Besar, Perdana Menteri dan Pangeran Faruq dari Mesir mendapatkan kehormatan untuk mengangkat tandu itu bersama-sama dan kemudian meletakkan jenazah segar itu ke sebuah peti mati dati kaca yang dibuat khusus untuk menyimpan jenazah-jenazah itu. Tubuh Jabir bin Abdullah Al-Ansari juga dipindahkan ke peti mati dari kaca yang sama dengan cara yang sama hati-hatinya dan dengan segenap penghormatan.
Pemandangan yang sangat menakjubkan itu sekarang sedang dilihat oleh banyak orang laki-laki dan perempuan, muda dan tua, miskin dan kaya, Muslim dan Non-Muslim. Kedua jenazah suci dari sahabat sejati Nabi yang kurang dikenal kaum Muslimin ini kelihatan masih segar dan tak tersentuh bakteri pengurai sedikitpun. Keduanya dengan mata terbuka menatap kedepan menatap kenabian yang mana keduanya membuat para penonton terperangah dan tak bisa menutup mulutnya. Kebisuan mengharu biru……….. Mereka seolah tak percaya atas apa yang mereka saksikan pada hari itu.
Selain tubuh keduanya yang tampak segar bugar, juga peti mati mereka yang juga tampak masih utuh dan baru; juga pakaian yang mereka kenakan pada saat dikubur semuanya utuh dan kalau dilihat sekilas seolah-olah kedua sahabat nabi dan pahlawan Islam ini masih hidup dan hanya terbaring saja.
Kedua jasad suci ini akhirnya dibawa dan dikebumikan kembali di kuburan yang baru tidak jauh dari kuburan sahabat sejati nabi lainnya yaitu Salman Al-Farisi yang terletak di SALMAN PARK kurang lebih 30 mil jauhnya dari kota Baghdad. Kejadian ajaib ini sangat mengundang kekaguman para ilmuwan, kaum filsafat, dan para dokter. Mereka yang biasanya sangat sering berkicau memberikan analisa sesuai dengan bidangnya masing-masing, kali ini tertunduk bisu terkesima dengan kejadian yang teramat langka.
Salah satu dari mereka ialah seorang ahli fisiologis dari Jerman yang kelihatan sekali sangat tertarik dengan fenomena ini. Ia sangat ingin melihat kondisi tubuh jenazah kedua sahabat nabi itu yang pernah dikuburkan selama kurang lebih 1300 tahun lamanya. Oleh karena itu, ia serta merta langsung mendatangi Mufti Besar Iraq. Sesampainya ia di tempat dimana peristiwa akbar itu terjadi, ia langsung memegang kedua tangan sang Mufti dengan eratnya sambil berkata:

“BUKTI APALAGI YANG BISA LEBIH MENGUATKAN BAHWA ISLAM ITU BENAR. AKU SEKARANG AKAN MASUK ISLAM DAN TOLONG AJARI AKU TENTANG ISLAM”
Di hadapan orang banyak beribu-ribu jumlahnya yang menyaksikan dirinya, dokter dari Jerman itu menyatakan keIslamannya. Demi melihat itu banyak orang lainnya yang beragama Kristen atau Yahudi turut juga menyatakan diri sebagai Muslim pada saat itu karena mereka telah melihat bukti yang sangat nyata dipampangkan di depan mereka. Ini bukan yang pertama dan terakhir. Masih banyak lagi kaum Nasrani dan Yahudi serta dari agama lain yang berbondong-bondong masuk Islam karena telah menyaksikan atau turut mendengar kejadian aneh nan menakjubkan.
MARILAH KITA RENUNGKAN KEMBALI KEJADIAN MENAKJUBKAN DI ATAS. KEJADIAN ITU BISA MEMBERI KITA ILHAM DAN MEMBUKA MATA KITA SEHINGGA KITA LEBIH PEKA UNTUK MENGENALI KEBENARAN.
Tulisan tersebut di atas dikutip dari sebuah suratkabar di Pakistan yang bertajuk “Daily Jung” edisi tanggal 7 Juni 1970.
————————————————————————————————————-
Sekarang mari kita lihat 2 pribadi agung yang telah kita bicarakan pada kejadian di atas. Kita lihat siapakah mereka itu:

HUDZAIFA AL-YAMANI (RA):

Ia adalah seorang sahabat Nabi yang sangat dipercayai oleh Nabi. Ia adalah juga sahabat Imam Ali bin Abi Thalib (sudah mafhum adanya kalau ada orang yang dekat pada Rasulullah pastilah ia juga dekat dengan Imam Ali). Ia juga termasuk kedalam kelompok orang yang ikut dalam proses penguburan Bunda Fathimah Az-Zahra (Lihat: PUTRI NABI ITU DIMAKAMKAN SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI). Banyak sekali peristiwa dalam sejarah yang menunjukkan bahwa Hudzaifa al-Yamani itu adalah seorang sahabat Rasulullah yang sangat setia. Hudzaifa al-Yamani bersedia dipanggil oleh Rasulullah untuk berperang di dalam perang Khandaq (perang parit). Waktu itu Rasulullah menawarkan surga kepada siapapun yang berani untuk masuk ke wilayah musuh dalam tugas memata-matai kekuatan musuh. Itu adalah pekerjaan yang sangat berbahaya akan tetapi Hudzaifa al-Yamani bersedia melakukannya.
Hudzaifa juga dikenal orang sebagai “Si Pemegang Rahasia”, karena Rasulullah telah memberikan nama-nama dan ciri-ciri dari orang-orang yang munafik yang bermaksud untuk membunuh Nabi pada perjalanan pulang sekembalinya dari perang Tabuk. Akan tetapi Rasulullah memintanya untuk tidak membocorkan rahasia itu.
Hudzaifa al-Yamani pernah ditunjuk sebagai gubernur kota Madain (sebuah tempat di dekat kota Baghdad, Iraq) pada masa rezim Umar bin Khattab dan ia tetap menjalankan tugasnya hingga Imam Ali bin Abi Thalib ditunjuk umat untuk menjadi Khalifah sepeninggal Umar bin Khattab yang tewas di tangan seorang Yahudi. Imam Ali mengirimkan sepucuk surat kepada para penduduk kota Madain memberitahu mereka bahwa sekarang yang menjadi khalifah adalah Imam Ali sekaligus mengukuhkan posisi Hudzaifa sebagai gubernur kota Madain untuk melanjutkan tugasnya di sana. Hudzaifah al-Yamani meninggal dunia sebelum terjadi Perang Jamal  (perang saudara antara para sahabat Nabi dalam dua kubu yaitu kubu Imam Ali bin Abi Thalib di satu sisi; dan kubu ‘Aisyah binti Abu Bakar di sisi lainnya) pada tahun 36H. Hudzaifa al-Yamani dikebumikan di kota Madain.

JABIR BIN ABDULLAH AL-ANSARI (RA):

Jabir bin Abdullah al-Ansari (RA) juga adalah seorang sahabat Nabi yang utama dan mulia diantara para sahabat nabi lainnya. Jabir bin Abdullah al-Ansari selalu berada di front terdepan dalam kurang lebih 18 peperangan yang ia ikuti untuk membela Islam. Jabir bin Abdullah al-Ansari diberkahi umur yang cukup panjang sehingga ia masih hidup pada jaman Imam Muhammad al-Baqir dan puteranya yaitu Imam Ja’far as-Sadiq.
Tentang Jabir, Imam Ja’far as-Sadiq pernah berkata:

“Jabir bin Abdullah al-Ansari adalah sahabat Rasulullah satu-satunya yang tersisa”
Jabir bin Abdullah al-Ansari demi mendengar bahwa Imam Husein telah syahid dibantai oleh tentara Yazid; dan sekarang para sahabat serta keluarganya yang tersisa sekarang sedang dipermalukan, ditawan dan diarak di jalanan; segera saja Jabir—yang sudah sangat renta—bergegas menuju Karbala dengan sepasukan kecil terdiri dari para sahabatnya dan pengikutnya yang setia. Sesampainya di sana Jabir hanya menemukan potongan-potongan tubuh keluarga suci Rasulullah beserta para pengikut setianya berserakan berlumuran darah. Jabir jugalah (beserta pasukan kecilnya) yang memunguti potongan tubuh itu satu persatu dan menguburkan potongan jenazah para syuhada itu di sana. Jabir bin Abdullah al-Ansari jugalah yang menjadi orang pertama yang berziarah di pemakaman Karbala dimana Para Syuhada Karbala dikebumikan dan ia jugalah yang sebelumnya melangsungkan upacara penguburan atasnya.
Dikabarkan bahwa dulu Rasulullah (saaw) pernah berwasiat kepada Jabir bin Abdullah al-Ansari bahwa ia akan hidup lama dan berusia panjang hingga akhirnya ia bisa menemui seseorang bernama Muhammad al-Baqir yang rupanya dan akhlaknya sangat mirip dengan Rasulullah (karena memang ia keturunan Rasulullah dari Bunda Fathimah az-Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib). Rasulullah meminta kepada Jabir bin Abdullah al-Ansari untuk menyampaikan salamnya (pada cicitnya itu).
Sepanjang hidupnya Jabir bin Abdullah al-Ansari tidak sabar menunggu untuk bertemu dengan Imam Muhammad al-Baqir (as). Hingga akhirnya hari yang dinantikan itu datang juga. Ketika bertemu dengan orang yang dimaksud, Jabir sangat gembira sekali dan memeluk erat sang Imam sambil mengatakan bahwa Rasulullah telah menitipkan salam untuk sang Imam.
Jabir bin Abdullah al-Ansari tidak berusia lama lagi setelah pertemuan dengan Imam Muhammad al-Baqir itu. Ia sempat ditawan oleh Hajjaj bin Yusuf dan dilaporkan bahwa timah cair yang panas sekali disiramkan ke atas kedua tangan sucinya oleh penguasa kejam bernama Hajjaj bin Yusuf itu. Jabir bin Abdullah al-Ansari dilaporkan meninggal pada usia 94 tahun dan dikebumikan di kota Madain.
Marilah kita sampaikan bacaan Al-Fathihah untuk mereka berdua; kedua murid cerdas dari baginda Rasulullah yang mulia. Marilah kita mengingat selalu setiap sumbangsih dan jasanya terhadap Islam dan do’akan mereka yang terbaik dan sekaligus memohon kepada Allah agar kita bisa diberikan kekuatan untuk mengikuti jejak langkah keduanya dalam membela Islam yang benar.

SIKAP IMAM ALI TERHADAP KA’AB AL-AHBAR : ““Ia adalah pendusta besar!!””

Kita kesampingkan dulu tokoh fiktif Yahudi bernama Abdullah bin Saba. Mari kita bicarakan tentang tokoh Yahudi yang lain yang benar-benar ada dan sangat berpengaruh di kalangan beberapa orang sahabat Nabi. Imam Ali sendiri sangat waspada akan datangnya beberapa orang yang berpindah keyakinan kepada Islam setelah sebelumnya mereka larut dalam keyakinan Yahudi dan Nasrani. Imam Ali ingin agar Islam yang baru saja ditinggalkan Nabi-nya tetap menjadi Islam yang suci dan murni dan terbebas dari pengaruh agama lain yang terkadang sangat bertentangan
.
Mereka yang dulunya beragama Yahudi atau Nasrani dan kemudian masuk menjadi mu’alaf seringkali mengaku bahwa mereka mengetahui agama Islam itu melalui Kitab Perjanjian Lama dan sekarang mereka berkehendak untuk “mewariskan” pengetahuan mereka itu dan “memasukkan” nya kedalam Islam.
Sikap Imam Ali ini sangat bijaksana dibandingkan dengan sikap dari para sahabat senior lainnya yang dengan mudahnya tertipu oleh para ahlul kitab yang sedang berbondong-bondong masuk Islam pada waktu itu. Kita akan lanjutkan perbincangan tentang hal ini nanti.

KAAB AL-AHBAR, ULAMA YAHUDI YANG MENANCAPKAN AJARAN YAHUDI KE JANTUNG KEYAKINAN UMAT ISLAM

Ka’ab al-Ahbar adalah seorang pria Yahudi yang datang dari Yaman dengan nama lengkap Kaab Ibn Mati al-Humyari alias Abu Ishaq. Ia datang ke kota Madinah pada jaman rezim pemerintahan Umar bin Khattab. Ia adalah seorang ulama Yahudi (Rabbi) yang lebih dikenal dengan nama Ka’ab al-Ahbar. Ia kemudian masuk Islam dan menyatakan dirinya sebagai Muslim dan kemudian tinggal menetap di Madinah hingga berakhirnya masa rezim pemerintahan Utsman bin Affan. Dalam tulisan bagian pertama ini kita akan menyimak beberapa pernyataannya yang kontroversial; kemudian keahliannya dalam menipu khalifah Umar; usaha-usaha pembunuhan para khalifah yang dirancangnya; serta sikap Imam Ali bin Abi Thalib terhadap dirinya.
Tokoh Ka’ab al-Ahbar ini berbeda dengan tokoh Abdullah bin Saba yang memang fiktif adanya. Ka’ab al-Ahbar tercatat rapi dalam sejarah. Orangnya benar-benar ada dan selama ia hidup dan tinggal di kota Madinah orang-orang sangat respek terhadap dirinya termasuk dua khalifah (Umar dan Utsman; Abu Bakar sudah meninggal pada waktu itu—red). Ia seringkali menceritakan kisah-kisah (Israiliyyat) yang ia klaim sebagai kisah-kisah yang berasal dari Kitab Perjanjian Lama. Banyak sekali sahabat Nabi seperti:
  • Abu Hurairah
  • Abdullah bin Umar
  • Abdullah Ibn Amr Ibn al-Aas
  • Mu’awiyyah Ibn Abu Sufyan
yang meneruskan cerita Ka’ab al-Ahbar ini dan meyakininya sebagai kebenaran. Ulama Yahudi ini seringkali meriwayatkan cerita-cerita yang aneh  yang isinya sangat tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Salah satu dari cerita yang ia buat-buat ialah sebagai berikut:
“Seorang sahabat bernama Qais Ibn Kharshah al-Qaisi melaporkan bahwa Ka’ab al-Ahbar pernah berkata: ‘Setiap peristiwqa  yang pernah terjadi dan akan terjadi di permukaan bumi ini semuanya tertulis dalam kitab Torat (Kitab Perjanjian Lama) yang diturunkan kepada Musa”

(LIHAT: (referensi dari Sunni) Ibn Abdul Barr, Al-Istiab, volume 3, halaman 1287, Kairo 1380H)

Riwayat seperti itu sudah seharusnya menimbulkan tanda tanya dari para pembaca karena riwayat itu mengandung pernyataan yang sangat susah dibayangkan kebenarannya. Kita bayangkan saja. Bumi ini luas sekali; luasnya bisa bermilyar-milyar km persegi dimana tiap kilometer perseginya terdiri dari berjuta jengkal (bayangkan saja; tidak usah dihitung secara tepat karena memang tidak perlu) dan pada setiap jengkal tanah itu telah terjadi jutaan peristiwa baik yang penting maupun yang tidak penting dan masih akan terjadi lagi jutaan (bahkan lebih!) peristiwa yang akan terjadi hingga berakhirnya dunia atau alam semesta ini. Kalau itu semuanya termuat dalam Kitab Torat yang diturunkan kepada Nabi Musa, maka bisa dibayangkan betapa tebalnya kitab tersebut dan isinya semua kejadian di bumi ini!!!!!

Sedangkan pada kenyataannya kitab Torat yang didiktekan kepada Nabi Musa itu tebalnya tidak lebih dari 400 halaman saja!!
Melaporkan seluruh peristiwa yang ada di bumi ini dari mulai diutusnya Musa sampai hari pengadilan nanti pastilah memerlukan jutaan kubik meter kertas, akan tetapi Ka’ab al-Ahbar berkata bahwa itu semua tercantum dalam kitab Torat.
Anehnya (bertentangan dengan klaim Ka’ab al-Ahbar), kitab Perjanjian Baru yang ada sekarang ini hanya mencatat kejadian-kejadian yang telah terjadi di masa lalu baik itu di masa para nabi atau di masa sebelum para nabi dan tidak ada catatan tentang kejadian yang akan terjadi di masa datang. Oleh karena itu, klaim Ka’ab al-Ahbar gugur dengan sendirinya.
KA’AB AL-AHBAR MERAMALKAN KEMATIAN UMAR BIN KHATTAB

Ulama Yahudi (Rabbi) ini berhasil menipu sejumlah sahabat nabi. Ia bahkan berhasil juga mengelabui Umar bin Khattab yang notabene seorang khalifah pada masa itu. Pengaruh Ka’ab al-Ahbar sangat besar sekali pada masa itu (masa rezim pemerintahan Umar bin Khattab) sehingga ia bebas saja berbicara di depan khalifah yang berkuasa. Simaklah dialog berikut ini.

Ka’ab : “Amirul Mukminin, anda sebaiknya segera menulis surat wasiat karena anda akan meninggal dalam 3 hari kedepan.”
Umar : “Bagaimana engkau bisa tahu?”
Ka’ab : “Aku mengetahuinya dari kitabullah, Taurat (Perjanjian Lama)”
Umar : “Demi Allah, apakah engkau melihat nama Umar bin Khattab ada di sana?”
Ka’ab : “Demi Allah, tidak. Namamu tidak tertulis di sana tapi aku menemukan ciri-ciri yang mirip dengan ciri-cirimu tertera di sana dan di sana pula aku menemukan bahwa kematianmu sudah semakin dekat menghampiri.”
Umar : “Tapi aku tidak merasakan sakit atau apapun yang membuat aku khawatir akan kematian.”
Selama 3 hari kedepan Ka’ab sering mengunjungi Umar sambil berkata; “Ya, amirulmukminin, satu hari telah berlalu dan engkau hanya memiliki 2 hari lagi.”
Keesokan harinya Ka’ab kembali menjumpai Umar seraya berkata: “Ya, amirulmukminin 2 hari sudah berlalu dan engkau hanya memiliki satu siang dan satu malam saja sebelum ajal datang menjemput.”

Pada hari ketiga, saat shubuh tiba, Umar pergi keluar rumahnya untuk mengimami shalat shubuh (itu kewajiban khalifah pada saat itu). Umar sudah terbiasa untuk memerintahkan beberapa orang untuk menertibkan barisan shalat. Ketika para jema’ah shalat sudah berdiri lurus dan rapi, maka Umar memulai shalat.

Saat itulah ada seseorang yang kemudian hari dikenali sebagai Abu Lulu memasuki masjid dengan menghunus sebuah belati bermata dua yang beracun. Ia kemudian menusuk-nusuk tubuh Umar hingga 6 kali, salah satu dari tusukan itu tepat mengenai pusarnya Umar; dari luka-luka itulah Umar menemui kematiannya.

(LIHAT: Referensi dari Sunni: Thabari, History of al-Thabari, volume 4, halaman 191, dicetak di Dar-al-Maarif, Kairo)
———————————————————————————————————————————-
Apabila kita meneliti kitab Perjanjian Lama, maka kita tidak akan dapati nama Umar atau ciri-ciri yang disebutkan oleh Ka’ab al-Ahbar sebagai ciri-ciri Umar. Selain itu tidak ada ulama Yahudi yang pernah mengatakan bahwa kitab Perjanjian Lama itu menyebut-nyebut tentang diri Umar; tentang pembunuhan Umar atau kematian Umar; juga tidak disebutkan kapan Umar akan meninggal. Itu hanya akal-akalan dari Ka’ab al-Ahbar saja.
Seandainya dalam kitab Perjanjian Lama itu ada disebutkan itu semua, maka semua orang Yahudi akan sangat bangga sekali karena kitabnya itu memuat sesuatu perkara ghaib yang mencenggangkan. Informasi tentang itu semua bisa dijadikan bukti bahwa kitab mereka itu otentik dan benar adanya dan pada akhirnya bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa agama Yahudi itu lebih benar dari agama lainnya karena kitab sucinya memuat informasi yang tidak ada pada kitab suci lainnya.
———————————————————————————————————————————-


BAGIAN DARI KONSPIRASI TINGKAT TINGGI

Tampak jelas oleh kta semua bahwa kematian Umar bin Khattab ini merupakan konspirasi tingkat tinggi dari orang-orang Yahudi; dan Ka’ab merupakan bagian terpenting dari plot konspirasi ini. Pembunuhan Umar bin Khattab akan melemahkan kaum Muslimin karena kejatuhan atau kematian seorang khalifah (tanpa melihat apakah khalifah itu baik dan bermutu atau tidak) tetap saja akan menimbulkan kepanikan dan kebingungan.

Ka’ab tahu benar apabila kematian seorang khalifah itu sudah diumumkan sebelum khalifah itu mati, maka itu akan mendatangkan kekaguman pada orang yang meramalkan itu (yaitu diri Ka’ab sendiri); selain itu para sahabat nabi juga akan menaruh rasa hormat yang berlebihan pada diri Ka’ab dan kitab Perjanjian Lama. Apabila semua itu terjadi maka ini akan mendatangkan keuntungan yang amat besar pada Ka’ab al-Ahbar dan pada umat Yahudi pada umumnya. Untunglah tidak semua sahabat mempercayai Ka’ab. Imam Ali adalah salah satu dari mereka yang sangat tidak percaya dengan Ka’ab al-Ahbar.
Apabila umat Islam percaya pada diri Ka’ab al-Ahbar (karena secara tepat ia bisa meramalkan kematian Umar—padahal plot pembunuhan itu dibuat oleh Ka’ab sendiri), maka sudah bisa dipastikan apapun yang dikatakan oleh Ka’ab akan didengar oleh para sahabat Nabi terlebih lagi Ka’ab sudah menjadi muslim (paling tidak secara de jure). Kalau kelak Ka’ab bilang bahwa khalifah berikutnya ialah “X”, maka sudah dipastikan bahwa para sahabat Nabi akan banyak yang percaya. Dan apabila ia dibiarkan maka kita akan memiliki khalifah yang diplot dan diangkat oleh orang-orang Yahudi yang benci pada Islam. Ka’ab akan dengan mudah menentukan masa depan dari umat Islam ini karena pemimpin umatnya ia yang pilih dan tentukan.
Ka’ab al-Ahbar tidak hanya bercerita tentang apa-apa yang terjadi dan bakal terjadi di bumi ini, melainkan ia juga bercerita tentang surga dan Kursi Tahta Tuhan. Al-Qurtubi dalam tafsir al-Qur’an melaporkan bahwa Ka’ab telah berkata sebagai berikut:
“Ketika Tuhan menciptakan kursi tahtaNya, kursi tahtaNya itu berkata, ‘Allah tidak pernah menciptakan makhluk yang tubuhnya lebih besar daripada aku.’ Kursi Tahta Allah itu kemudian mengguncang-guncangkan tubuhnya untuk menunjukkan kebesarannya. Allah kemudian mengikat kursi tahtaNya itu dengan seekor ular yang memiliki 70 ribu pasang sayap. Pada setiap sayapnya ada 70 ribu bulu; dan pada setiap bulu itu ada 70 ribu wajah dan pada setiap wajah itu ada 70 ribu mulut; kemudian dari setiap mulut itu ada 70 ribu buah lidah. Dari semua mulut ini keluar kalimat-kalimat pujian untuk Allah yang jumlahnya sama banyaknya dengan jumlah titik air hujan yang jatuh dari langit, ditambah dengan jumlah dedaunan; ditambah lagi dengan jumlah bebatuan dan butir pasir ditambah lagi dengan jumlah hari-hari yang telah terlewat di dunia ditambah lagi dengan jumlah para malaikat. Ular itu melingkari kursi tahta Allah karena tahta Allah itu ternyata lebih kecil daripada si ular tadi. Kursi tahta Allah itu tertutupi oleh setengah tubuh ular.”
.
SIKAP IMAM ALI TERHADAP KA’AB AL-AHBAR

Umar dan sejumlah sahabat senior lainnya menunjukkan sikap yang penuh hormat terhadap Ka’ab al-Ahbar sementara itu Imam Ali sebaliknya. Imam Ali menunjukkan rasa ketidak senangannya terhadap Ka’ab al-Ahbar. Ka’ab tak pernah sekalipun berani dekat-dekat dengan Imam Ali walaupun saat itu Imam Ali ada di Madinah selama Ka’ab tinggal disana. Seringkali dilaporkan bahwa Imam Ali berkata tentang Ka’ab al-Ahbar sebagai berikut:

“Ia adalah pendusta besar!!”

SIKAP ABDULLAH IBN ABBAS TERHADAP KA’AB AL-AHBAR

Tabari mencatat dalam tarikhnya bahwa Ibn Abbas pernah diberitahu:

Ka’ab pernah berkata bahwa pada hari penghisaban matahari dan bulan akan dibawa ke hadapan Allah seperti kerbau yang di cocok hidungnya dan kemudian keduanya akan dilemparkan kedalam neraka! Demi mendengar ini Ibn Abbas marah sekali dan ia berkata sambil berteriak sebanyak tiga kali:

“Ka’ab pendusta besar!”

“Ka’ab pendusta besar!”

“Ka’ab pendusta besar!”

“Keyakinan seperti di atas adalah keyakinan Yahudi dan Ka’ab ingin memperkenalkan keyakinan itu dan memasukkannya kedalam Islam. Sesungguhnya Allah itu tidak seperti yang mereka sangkakan. Allah tidak akan pernah menghukumi hamba-hambanya yang patuh dan ta’at padaNya. Bukankah dalam al-Qur’an itu disebutkan” :

وسخر لكم الشمس والقمر دآئبين وسخر لكم الليل والنهار

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim: 33)
Ibnu Abbas menyebutkan bahwa kata  دآئبين itu memiliki arti kepatuhan total dan terus menerus kepada Allah. Ibnu Abbas melanjutkan:
“Bagaimana mungkin Allah menghukum 2 benda langit yang Allah sendiri telah memujinya karena keta’atan keduanya kepada Allah. Allah mengutuk ulama Yahudi (maksudnya K’aab) itu  dan ajarannya! Betapa beraninya ia menisbahkan kedustaan seperti itu kepada Allah dan betapa beraninya ia menyalahkan kedua makhluk Allah yang taat itu!
Setelah berkata seperti itu Ibnu Abbas berkata lagi sebanyak tiga kali:

“Innalillahi wa inna ilayhi raji’uun

Innalillahi wa inna ilayhi raji’uun

Innalillahi wa inna ilayhi raji’uun”

(LIHAT: (REFERENSI SUNNI: Tabari, Tarikh al-Tabari, volume 1, halaman 62—63, Edisi Eropa)
.

Pengaruh Ka’ab terhadap Khilafah

Ka’ab betul-betul menggunakan secara maksimal kebaikan hati Umar kepadanya; dan ia menggunakan pengaruhnya terhadap Umar untuk membuat Umar menjegal Ali dari kekhilafahan.
Ka’ab tidak ingin Ali menjadi khalifah karena Ka’ab menyimpan dendam umat Yahudi terhadap Ali. Itu disebabkan karena Ali-lah yang menghentikan pengaruh Yahudi di daerah Hijaz; dan Ali-lah yang menghancurkan luluh lantak kekuatan Yahudi terakhir di benteng-benteng Khaybar (dalam peperangan Khaybar).
Sangat mengherankan sebenarnya melihat khalifah Umar sangat percaya kepada Ka’ab al-Ahbar, sampai pada tingkat dimana ia malah meminta nasehat dari Ka’ab dalam perkara pemerintahan dan keagamaan. Ia juga meminta pendapat Ka’ab tentang masa depan kekhalifahan!!!
Abdullah Ibn Abbas pernah meriwayatkan bahwa Umar pernah berkata kepada Ka’ab (pada waktu itu Abdullah Ibn Abbas ada di sana menjadi saksi mata dari peristiwa itu—red) seperti yang akan kami paparkan di sini:

UMAR : “Aku ingin mengumumkan nama orang yang akan menggantikanku sebagai khalifah karena aku sebentar lagi akan mati. Bagaimana pendapatmu kalau aku memilih Ali? Berikan pendapatmu dan beritahu aku apa yang engkau temukan dalam kitab sucimu (Perjanjian Lama), karena engkau pernah berkata bahwa “kami” disebutkan dalam kitab itu”

KA’AB : “Sebagaimana yang engkau yakini, adalah tidak “bijaksana” apabila anda memilih Ali sebagai penggantimu karena ia “terlalu relijius”. Ia bisa melihat setiap penyimpangan dan ia sangat tidak toleran terhadap setiap bentuk kejahatan. Ia hanya mengikuti pendapatnya dalam aturan Islam dan ini sangat tidak baik apabila dijadikan kebijakan. Kami juga menemukan dalam kitab suci Perjanjian Lama bahwa ia dan anak-anaknya tidak bisa menjadi penguasa. Dan apabila ia menjadi penguasa, maka akan terjadi kebingungan.”
UMAR : “Mengapa ia tidak bisa menjadi penguasa?”
KA’AB : “Karena ia telah menumpahkan darah dan Allah telah menjauhkan dirinya dari kekuasaan. Ketika Daud hendak mendirikan benteng-benteng di Jerusalem, Allah berkata kepadanya: “Kamu tidak boleh mendirikan tempat peribadatan di Jerusalem karena engkau telah mencurahkan darah. Hanyya Sulayman yang bisa mendirikan itu’”

UMAR : “Bukankah Ali telah mencurahkan darah orang secara haq dan mengikut kebenaran?”
KA’AB : “Ya, Amirul mukminin. Daud juga telah mencurahkan darah secara haq.”
UMAR : “Lalu siapa kira-kira yang bisa menjadi khalifah menurut kitab sucimu itu?”
KA’AB : “Kami temukan bahwa setelah Rasulullah dan kedua khalifah yang lalu, maka kekuasaan itu akan diberikan kepada musuh Rasulullah (Bani Umayyah) yang telah menentang ajarah Allah dan RasulNya.
Demi mendengar ini, konon, Umar tampak sedih dan ia berkata:

Inna lillahi wa inna ilayhi raji’uun

Kemudian Umar berkata kepada Abdullah Ibn Abbas:
“Ibnu Abbas, apakah engkau mendengar apa yang dikatakan oleh Ka’ab? Demi Allah, aku juga pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah mengatakan hal yang sama persis seperti: “Anak-anak Bani Umayyah akan menaiki mimbarku. Aku melihat mereka dalam mimpiku dan mereka berlompatan di mimbarku itu seperti monyet-monyet”
Kemudian Rasulullah membacakan ayat berikut ini yang berkenaan dengan mimpi Rasulullah:
“…………….. Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Qur’an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka”(QS. Al-Isra: 60)
(Keluarga Bani Umayyah di dalam al-Qur’an diibaratkan dengan “pohon terkutuk”.
(LIHAT: Referensi dari Ahlu Sunnah:
  • Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh, volume 3, halaman 81, dicetak di Mohammad Ali Subaih, di Mesir
  • Imam Fakhr ad-Din al-Razi dalam tafsir al-Qur’an-nya, bab 17, volume 5, halaman 413—414, cetakan kedua oleh al-Matbaah al-Sarafeyah, 1304H.)
Dialog di atas antara Ka’ab dan Umar itu menyiratkan akan adanya rencana jahat dan makar yang dilakukan oleh Ka’ab sebagai bekas ulama Yahudi yang masih memendam dendam akan kekalahan Yahudi oleh umat Islam. Rencana Ka’ab al-Ahbar itu nantinya memang akan mendatangkan akibat yang panjang dan menyedihkan bagi umat Islam. Bisa disimpulkan dari dialog itu sebagai berikut:
1. Ka’ab itu sangat benci kepada Imam Ali karena Imam Ali lah yang telah meluluh lantakkan kekuatan Yahudi yang pernah bercokol di Jazirah Arab. Ka’ab berpikir bahwa Imam Ali adalah satu-satunya orang yang bisa menghapus seluruh pengaruh buruk Yahudi dalam masyarakat Arab pada waktu itu. Oleh karena itu, Ka’ab sangat ingin sekali kekuasaan itu jatuh ke tangan Bani Umayyah yang sama sekali tidak peduli dengan kemajuan Islam. Kaum Bani Umayyah itu hanya tertarik pada aspek duniawi saja. Lebih dari itu, Ka’ab memang menganggap Ali sebagai musuh utama dan musuh bersama kaum Yahudi karena Imam Ali telah memusnahkan para pemimpin mereka ketika Imam Ali berjuang demi Islam.
2. Ka’ab berujar bahwa Imam Ali itu terlalu relijius dan ia tidak akan menutup mata terhadap segala bentuk kejahatan yang terjadi di hadapannya. Ia juga tidak akan pernah toleran terhadap setiap penyimpangan dari Islam. Ka’ab sendiri telah lupa ketika ia mengatakan bahwa seorang yang relijius dan shaleh tidak akan pernah bisa menjadi seorang pemimpin yang sukses karena ia telah melupakan sosok Rasulullah yang selain relijius dan shaleh ia juga berhasil dalam memimpin umatnya. Ia berhasil menjadi pemimpin dan negarawan.
3. Ka’ab juga mengaku bahwa ia telah “menemukan” dalam kitab Perjanjian Lama bahwa Imam Ali dan anak-anaknya tidak bisa menjadi menjadi pemimpin karena mereka telah mencurahkan atau mengalirkan darah. Ka’ab menambahkan bahwa Nabi Daud tidak bisa mendirikan kuil atau tempat peribadatan di Jerusalem karena ia telah mengalirkan darah. Jadi Nabi Sulayman lah yang bisa mendirikan tempat peribadatan itu. Ka’ab rupanya lupa atau sengaja melupakan bahwa Nabi Daud (walaupun telah mengalirkan darah) bisa menjadi seorang raja yang memerintah dengan keadilan! Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah telah berkata kepada Nabi Daud:
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad: 26)
Ka’ab juga lupa bahwa Nabi Muhammad juga mencurahkan darah para musuhnya demi kebenaran. Ia bahkan memimpin dalam beberapa peperangan dan ia tetap menjalankan tugasnya dalam mengatur dan mengurus urusan umat! Ia bahkan terus membangun masyarakat Muslim menjadi semacam negara!
4. Lebih jauh lagi, Ka’ab al-Ahbar mengatakan bahwa dengan mencurahkan darah maka seseorang tidak akan pernah bisa menjadi pemimpin dan berkuasa; dan itu artinya bahwa orang yang pernah berjuang di jalan Allah akan kurang harganya dibandingkan dengan mereka yang duduk ongkang-ongkang (dan tidak mencurahkan darah). Ini jelas bertentangan dengan apa yang telah diwahyukan oleh Allah dalam al-Qur’an:
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” (QS. An-Nisaa: 95)
Adalah sangat tidak masuk akal apabila Allah memerintahkan manusia untuk berperang di jalanNya, akan tetapi kemudian menghukumi mereka dengan menjauhkan mereka dari kekuasaan  membuat mereka tidak bisa menjadi pemimpin dan berkuasa.
5. Ka’ab al-Ahbar mengklaim bahwa kitab Torat (Perjanjian Lama) menyebutkan bahwa kekuasaan Islam itu akan digilirkan dari Rasulullah kemudian kepada dua khalifah pertama kemudian kepada keturunan dari musuh Rasulullah. Padahal hal yang seperti itu sama sekali tidak pernah tercatat dalam kitab tersebut. Padahal sebelumnya Ka’ab berkata pada Qais Ibn Kharsha
.
bahwa segala kejadian yang pernah terjadi dan akan terjadi semuanya telah tertulis dalam Perjanjian Lama.
Apa yang dikatakan oleh Ka’ab kepada Umar tentang kekhalifahan tentu saja tidak ia dapatkan dari kitab suci Agama Yahudi melainkan ia mendengarnya dari para sahabat Nabi (termasuk Umar sendiri) yang meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Kaum Bani Umayyah akan menaiki mimbarku dan aku melihat mereka berlompatan di atas mimbar itu seperti kawanan monyet”
————————————————————————————————————–
LIHAT REFERENSI DARI AHLU SUNNAH:
  • Jalaluddin as-Suyuthi, Tarikh Khulafa, diterjemahkan oleh Major H. S. Barret, halaman 12, diterbitkan oleh J. W. Thomas, Baptist Mission Press, Calcutta, India
  • Imam Fakhr ad-Din al-Razi, dalam tafsir al-Qur’an-nya, bab 17, volume 5, halaman 413—414, cetakan kedua oleh al-Matbaah al-Sarafeyah, 1304H
Sangat mengherankan juga mengapa Khalifah Umar bin Khattab yang pernah mendengar ini sebelumnya dari Rasulullah, masih mempercayai perkataan Ka’ab al-Ahbar dan menganggapnya memang benar-benar telah mengambilnya dari kitab Perjanjian Lama. Ka’ab melanjutkan dustanya dengan mengatakan bahwa ia telah menemukan dalam kitab agama Yahudi itu bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh Rasulullah itu akan digilirkan dari Rasulullah kepada dua sahabatnya dan kemudian kepada musuh-musuhnya. Klaim Ka’ab ini (yang merupakan saduran dari hadits nabi saja) ternyata tidak terjadi dalam kehidupan nyata. Kekhalifahan ternyata berpindah ke tangan Utsman setelah dari Umar dan Utsman bukanlah musuh Rasulullah (paling tidak bukan musuh secara terang-terangan—red). Dan yang paling telak ialah ketika kekuasaan kekhalifahan itu jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib yang sangat dibenci oleh Ka’ab al-Ahbar. “Ramalan” Ka’ab al-Ahbar hancur berkeping-keping.
Selain keheranan kita atas sikap yang ditunjukkan Umar (yang bisa kita katakan sebagai perbuatan teledor atau bodoh—red), ada lagi satu keheranan kita atas sikap Umar ini (sekali lagi…..sikap ini tidak menunjukkan orang yang waspada dan cerdas—red). Yang mengherankan kita ialah bahwa Umar sama sekali tidak pernah menyuruh Ka’ab untuk menunjukkan kitab Perjanjian Lama yang memuat “klaim-klaim” yang dibuat oleh Ka’ab. Ini sangat mengherankan.
Khalifah yang kedua ini kelihatan sekali sangat percaya dan yakin kepada Ka’ab dan menganggap ucapan-ucapan Ka’ab sebagai ucapan yang datang dari langit dan sudah pasti benar. Umar sepertinya lupa bahwa suksesi kepemimpinan itu sekarang ada di tangannya sendiri. Ia bisa saja menentukan khalifah berikutnya sekehendak hatinya sendiri tanpa harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh seorang Ka’ab al-Ahbar.
Umar bisa saja memilih Ali bin Abi Thalib sebagai penerusnya. Umar bisa saja mencegah orang-orang dari Bani Umayyah yang ingin menduduki singasana khalifah. Umar bisa saja melakukan perbuatan yang baik dengan mencegah orang yang tidak kompeten untuk memilih khalifah atau menjadi khalifah.

Satu kata dari Umar bisa mengubah alur sejarah…………

Seandainya Umar mau melakukan itu……………………….

Khalifah Umar bin Khattab bisa saja langsung menunjuk Imam Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya kelak dan itu berarti ia telah mencegah kaum Bani Umayyah yang ingin merebut dan mengangkangi kursi kekhaifahan. Dengan begitu ia bisa mencergah mimpi buruk Nabi itu menjadi kenyataan. Dan dengan itu pula sekaligus ia bisa menunjukkan kasih sayangnya pada Nabi (kalau memang ia cinta kepada Nabi). Tapi ternyata yang terjadi tidak seperti itu. Ia lebih menuruti kata-kata sakti sang ulama Yahudi bernama Ka’ab al-Ahbar. Umar mencegah dan menjauhkan Imam Ali dari kekhalifahan. Ia membentuk “6 orang panitia” yang berisi Imam Ali dan 5 orang lainnya yang di kehidupan sehari-harinya tidak memiliki kedekatan sama sekali dengan Imam Ali atau lebih cenderung berseberangan dengan Imam Ali di sisi lain mereka sangat dekat dengan Utsman bin Affan, salah satu keturunan Bani Umayyah yang sangat mencintai sukunya itu.
.
Jadi alih-alih membuyarkan mimpi buruk Nabi, Umar malah mematuhi apa yang sudah direncanakan matang-matang oleh Ka’ab al-Ahbar.
(LIHAT: (REFERENSI DARI AHLU SUNNAH: Ibn Al-Athir, Al-Kamil, volume 3 halaman 35, diterbitkan oleh Dar al-Kitab al-Lubnanai 1973 Masehi)
SEORANG ULAMA YAHUDI YANG BARU MASUK ISLAM ; KEMUDIAN MENGAKU MEMILIKI PENGETAHUAN TENTANG MASA LALU DAN MASA YANG AKAN DATANG…………………AKHIRNYA BISA MENGUBAH SEJARAH LEWAT SEORANG KHALIFAH YANG TERLALU PERCAYA PADANYA!
BENAR-BENAR BENCANA SEJARAH!
.

Sepak terjang Ka’ab al-Ahbar pada masa rezim pemerintahan Utsman bin Affan

Pengaruh Ka’ab al-Ahbar terus bertambah kuat setelah kematian Umar bin Khattab. Selama masa rezim pemerintahan khalifah yang ketiga (masa kekhalifahan Utsman bin Affan), Ka’ab al-Ahbar malah dipercaya untuk memberikan fatwa-fatwa dalam urusan umat Islam dan urusan keagamaan. Utsman bin Affan sangat sering meminta pendapatnya dan menyetujui pendapatnya. Dalam rapat-rapat kenegaraan, Utsman seringkali meminta pendapat Ka’ab, dan tidak ada seorangpun yang hadir dalam rapat itu yang berani menentangnya. Kalaupun ada yang menentang Ka’ab, maka orang itu adalah orang-orang terdekatnya Imam Ali bin Abi Thalib seperti misalnya Abu Dzar al-Ghifari. Abu Dzar bisa sangat marah sekali dengan hal ini. Pada suatu ketika Abu Dzar marah karena mendengar Ka’ab mengeluarkan fatwa dan ia memukul Ka’ab dengan sebuah tongkat yang dibawanya sambil berkata:
“Hai anak dari wanita Yahudi! Apakah engkau ingin mengajari kami tentang agama kami?”
Ka’ab juga mencoba-coba untuk menyenangkan hati Mu’awiyyah bin Abu Sufyan dengan mengatakan kepadanya bahwa setelah Utsman bin Affan, yang akan memimpin umat Islam itu ialah Mu’awiyyah. Dengan bermanis-manis seperti itu kepada Mu’awiyyah, sebenarnya Ka’ab ingin menyelamatkan dan mengamankan dirinya serta masa depannya agar ia bisa lebih memperluas pengaruhnya di kalangan kaum Muslimin.
Pada suatu waktu Utsman sedang dalam perjalanan kembali dari perjalanan haji ditemani oleh Mu’awiyyah dan sang kusir karavan waktu itu sedang melantunkan sya’ir yang isinya meramalkan bahwa Ali bin Abi Thalib akan menjadi khalifah setelah Utsman bin Affan memimpin. Ka’ab menuduh sang kusir karavan itu telah menyenandungkan sya’ir yang penuh dusta dengan mengatakan:
“Demi Allah, engkau telah berdusta dengan sya’irmu. Penguasa setelah Utsman itu adalah dia yang sedang mengendarai keledai pirang.”
Yang dimaksud oleh Ka’ab waktu itu tidak lain ialah Mu’awiyyah dan ia pada waktu itu juga berdusta dengan mengatakan bahwa ia mendapat
kan informasi itu (informasi tentang khilafah) dari kitab Perjanjian Lama! Padahal dalam kitab itu tidak ada informasi tentang itu sama sekali!
Mu’awiyyah juga seringkali memerintahkan Ka’ab al-Ahbar untuk membuat-buat dusta tentang keunggulan kota Damaskus serta para penghuninya kalau bisa dibuat lebih dari kota lain atau provinsi lain sehingga timbul kebanggaan orang-orang Damaskus dan muncul perasaan kagum orang-orang yang tidak bermukim di kota Damaskus itu.
(LIHAT: REFERENSI SUNNI / AHLUSSUNNAH:
  • Ibn al-Athir, Kamil, volume 3, halaman 76, lebih dikenal sebagai Ali Ibn al-Sahibani…….cetakan kedua (Mule Reference/bagian tentang keledai)
  • al-Tabari, Tarikh, volume 4, halaman 343, dicetak oleh Dar al-Maarif, Kairo (Mule Reference/bagian tentang keledai)
  • Ibn Hajar Asqalani (seorang ulama ahli hadits dari Sunni), al-Isabah, volume 5, halaman 323 (Mu’awiyyah ordering reference/bagian tentang perintah Mu’awiyyah)
———————————————————————————————————————————-

KEJADIAN-KEJADIAN LAINNYA

Ahmad meriwayatkan bahwa Jabir Ibn Abdullah mengatakan bahwa Umar telah datang kepada Rasulullah (SAAW) sambil membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari beberapa para pengikut Ahlul Kitab. Umar kemudian secara sengaja membacakan keras-keras kitab itu di depan Rasulullah (SAAW). Rasulullah waktu itu tampak marah karena Umar melakukan perbuatan yang tidak layak. Rasulullah kemudian berkata:
“Wahai putera Khattab, demi Dia yang jiwaku ada di tanganNya. Seandainya Musa saat ini masih hidup, maka ia itu harus mengikutiku.”
.
Al-Bukhari melaporkan bahwa Ibn Abbas telah berkata:
“Bagaimana mungkin engkau bertanya kepada Ahlul Kitab tentang segala sesuatu padahal kitabmu itu, yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya adalah kitab yang terbaru? Kalian membacanya tanpa perubahan dan penambahan dari yang selain Qur’an. Al-Qur’an telah memberitahu kita bahwa orang-orang Ahlul Kitab telah merusak kitab mereka dan mengubah-ubah kitab mereka.”
Di sisi lain (berlawanan dengan Ibn Abbas), dua begundal Mu’awiyyah yaitu Abu Hurairah dan Abdullah Ibn Amr Al-Aas telah berdusta dengan mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Ambillah dari kaum Yahudi itu, karena kalian tidak akan berdosa karenanya”
.
Juga al-Bukhari pernah menuliskan dalam Shahih Bukhari, hadits no 4667 sebagai berikut:
Rasulullah bersabda, “Sampaikanlah pada orang-orang walaupun itu satu ayat; dan sampaikan pada orang-orang cerita-cerita dari Bani Israil karena kalian tidak akan berdosa apabila melakukannya.”
.
Untuk kesekian kalinya saya utarakan bahwa dalam sejarah dikenal luas bahwa ABU HURAIRAH dan ABDULLAH BIN AMR AL-AAS itu adalah MURID SETIA dari KA’AB AL-AHBAR. Abdullah Ibn Amr Al-Aas pernah diberi 2 ekor unta yang membawa dua buah peti berisi kitab-kitab dari Ahlul Kitab dan Abdullah Ibn Amr al-Aas senantiasa memberikan informasi dan nasihat kepada kaum Muslimin berdasarkan kitab-kitab yang ia dapat dari Ahlul Kitab itu
.
Ibn Hajar al-Asqalani, yang dikenal sebagai ulama Sunni yang ahli hadits—terutama hadits dari Shahih Bukhari—mengatakan:
“Oleh karena itu, banyak sekali para tabi’in (murid-murid para sahabat Nabi) tidak mau mengambil keterangan atau informasi dari Abdullah Ibn Amr al-Aas”
(LIHAT: Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-Asqalani, volume 1, halaman 167)
———————————————————————————————————————————-

PERNYATAAN-PERNYATAAN KA’AB AL-AHBAR YANG TEREKAM SEJARAH:

1. TENTANG ARAH KIBLAT YANG UTAMA
Ka’ab al-Ahbar berusaha keras untuk menyebar-luaskan cerita-cerita Israiliyyat (cerita-cerita musykil dari agama Yahudi) di kalangan kaum Muslimin dan sampai sekarang cerita-cerita itu banyak sekali yang dipercayai atau diyakini kebenarannya oleh kaum Muslimin.
Salah satunya ialah tentang arah kiblat yang dulunya dipakai juga oleh kalangan Ahlul Kitab yaitu Baitul Muqadas.
Ibn Asakir dalam Tarikh –nya ia menuliskan kata-kata Ka’ab tenteng arah kiblat:
أحب البلاد الى الله الشام و أحب الشام الى الله القدس
“Negeri yang paling dicintai Allah ialah Syam (Syria) dan yang paling dicintai di Syam ialah Quds”
(Jadi Syria dan Quds lebih dicintai dan lebih berharga di mata Allah daripada Mekah dan Madinah)
LIHAT: Ibn Asakir; “Sejarah kota Damaskus”  (History of the city of Damascus), volume 1, halaman 110, Damascus Print
———————————————————————————————————————————-
2. TENTANG NEGERI SYAM ATAU SYRIA
تسعة أعشار الخير بالشام وجزئه في سائر الأرضين
“ Allah sudah memberikan 9 persepuluh (9/10) kebaikan dan keberkahan kepada negeri Syria dan memberikan sisanya untuk seluruh dunia”
LIHAT: Ibn Asakir dalam “Sejarah kota Damaskus”; volume 1, hala man 147
———————————————————————————————————————————-
3. TENTANG NEGERI-NEGERI LAINNYA
خمس مدائن من مدن الجنة : بيت المقدس وحمص و دمشق وجبرين وظفار اليمن
“ Ada lima kota dari kota-kota di surga, yaitu: Bait al-muqodas, Hums, Damaskus, Jabrin (kota satelit dari Baitul Muqodas) dan Zafar al-Yaman (tempat dimana dulu Ka’ab pernah tinggal sebelum ia hijrah ke kota Madinah dan kemudian pindah ke Syria)”
LIHAT: Ibnu Asakir, volume 1, halaman 211—212
———————————————————————————————————————————-
4. TENTANG HARI PENGHISABAN DAN KURSI ALLAH
اربعة اجبل : جبل الخليل ولبنان و الطور والجودى يكون كل واحد منهم يوم القيامة لولوة بيضاء ما بين السماء واالأرض يرجعن الى بيت المقدس حتى يجعل في زواياة ويضع الجبار جل جلاله عليها كرسيه حتى يقضى بين اهل الجنة والنار وترى الملائكة حافين من حول العرش يسبحون بحمد ربهم و قضي بينهم بالحق و قيل الحمدلله رب العالمين:
“Pada hari penghisaban ada 4 buah gunung yang bernama Jabal al-Khalil yang terletak di dekat Bait-ul-muqodas dimana di atasnya ada kuburan Ibrahim al-Khalil; kemudian Jabal Lebanon (daerah pegunungan di Libanon); kemudian Jabal Tur (daerah pegunungan Tur); dan Jabal al-Judi (daerah pegununan Judi) semuanya akan bercahaya seperti untaian mutiara diantara langit dan bumi. Pada hari itu keempat gunung itu akan dikembalikan ke Bait-ul-muqodas dan akan ditempatkan di keempat sudut kota. Kemudian Allah akan menempatkan kursi tahtaNya di sana dan dari sana Allah akan memberikan penghisaban apakah seseorang itu akan masuk surga atau neraka. Kemudian Allah akan membacakan ayat al-Qur’an sebagai bukti:
“Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arasy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Az-Zumar: 75)
LIHAT: Ibnu Asakir, volume 2, halaman 122; Jalaluddin as-Suyuthi, Durrul Mantsur, volume 5, halaman 344
———————————————————————————————————————————-
5. TENTANG KEUTAMAAN NEGERI SYRIA DAN PARA PENDUDUKNYA
Ka’ab berkata: “Pada hari penghisaban, orang-orang Syria akan diberitahu bahwa Allah akan menjaga dan mengurusi mereka sama seperti seorang prajurit yang menjaga dan memasukkan anak-anak panah ke sarung panahnya. Allah berbuat seperti itu karena Syria adalah tempat yang paling dicintai Allah dan para penduduknya adalah orang-orang makhluk-makhluk yang paling dicintai Allah”
Ka’ab menambahkan: “Barangsiapa yang memasuki negeri Syria, maka ia senantiasa ada dalam kasih sayang Allah dan RahmatNya dan barangsiapa keluar dari kota itu maka ia akan menjadi orang yang merugi”
LIHAT: Tarikh oleh Ibnu Asakir, volume 1, halaman 110
———————————————————————————————————————————-
6. TENTANG TEMPAT BERLINDUNG DARI BENCANA BAGI KAUM MUSLIMIN
Ka’ab berkata: “Tempat berlindung bagi kaum Muslimin dari bahaya dan bencana ialah kota Damaskus; dan tempat kelahiran Dajjal ialah sungai Abu Fatras (tempat di dekat Ramallah di Palestina) dan tempat perlindungan dari GOG dan MAGOG ialah gunung Tur”
LIHAT: Ibnu Asakir, volume 1, halaman 232
———————————————————————————————————————————–
7. KA’BAH SUJUD
ان الكعبة تسجد لبيت المقدس في كل غداة
“Setiap pagi hari, Ka’bah itu sujud kepada Bait-ul-Muqodas”
LIHAT: Tafsir Durrul Mantsur, volume 1, halaman 136
———————————————————————————————————————————-
8. TENTANG KEUTAMAAN UMAR BIN KHATTAB
Pada suatu ketika dalam sebuah kesempatan dengan Umar bin Khattab, Ka’ab al-Ahbar berkata:
انا لنجدك فى كتاب الله على باب من ابواب جهنم تمنع الناس ان يقعوا فيها فاذامت لم يزالوا يقتحمون فيها الى يوم القيامة
“Kami telah menemukan nama tuan di dalam kitabullah (yang dimaksud oleh Ka’ab ialah Torah/Perjanjian Lama). Di sana dijelaskan bahwa tuan telah ditempatkan di pintu neraka dan tuan menghalangi orang-orang supaya tidak memasukinya. Akan tetapi ketika tuan meninggal orang-orang tidak henti-hentinya memasuki neraka hingga hari penghisaban nanti”
LIHAT: At-Tabaqat-ul-Kubra, volume 3, halaman 240 (European print) atau volume 3, halaman 332 (Beirut print)
———————————————————————————————————————————-
9. UMUR UMAR
“Apabila Umar meminta pada Allah untuk membolehkan dirinya hidup terus, maka Allah tentu saja akan memberikannya hidup yang sangat panjang”
LIHAT: At-Tabaqat-ul-Kubra, volume 3, halaman 257 (European print) atau volume 3, halaman 354 (Beirut print)
——————————————————————————————————————————————————————
MASIH BANYAK LAGI PERNYATAAN-PERNYATAAN KA’AB AL AHBAR YANG SEKIRANYA DITULISKAN DI SINI MAKA AKAN MEMAKAN BANYAK SEKALI RUANG DAN WAKTU UNTUK PENULISANNYA.

KETIKA AL-QUR’AN MENEGUR mayoritas SAHABAT, YANG MENINGGALKAN SHALAT JUM’AT, DEMI NIAGA YANG LEWAT, alasan apalagi yang akan kita buat untuk menjaga mereka punya martabat?

Ibnu Katsir menulis tentang sahabat yang meninggalkan Rasul yang sedang khutbah Jum’at hanya karena perdagangan. Dia berkata bahwa Imam Ahmad berkata: Berkata kepada Ibnu Idris dari Hushain bin Salim dari Jabir, ia berkata: Aku sering masuk ke Madinah dan ketika RasuluLLAAH SAW. sedang berkhutbah orang-orang meninggalkan beliau dan tersisa hanya dua belas orang saja,kemudian turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perdagangan (yang menguntungkan) ataupermainan (yang menyenangkan) mereka bubar dan pergi ke sana meninggalkan engkau berdiri (berkutbah)(al-Jumu’ah ayat 11).
.
Kejadian ini juga termuat dalam Shahihain. (lih. Tafsir Ibnu Katsir 4/378, ad-Durrul Mantsur Suyuthi hal.220-223, Shahih Bukhari 1/316, Shahih Muslim, 2/590)

.
Untuk penelitian dan eksplorasi yang mendalam tentang naqd al-Qur’an terhadap sahabat, silahkan anda buka kitab-kitab berikut:
– Tafsir Ibn Katsir 1/421 dan Tafsir at-Tabari 4/155, tafsir surah al-Imran ayat 161.
– Tafsir Ibn katsir 4/209 tafsir surah al-Hujurat ayat 6 dan 2/283-285 tafsir surah al-Anfal ayat 1
Lihat juga tafsir surah al-Imran ayat 103, al-Ahzab ayat 12-13. at-Taubah 101-102, al-Hujurat 14, at-Taubah ayat 60

.

Sungguh Tega! Ulama Ahlusunnah Menuduh Para Sahabat Meninggalkan Nabi saw. Sa’at Khutbah Jum’at!

Sungguh keterlaluan tuduhan yang dilontarkan para ulama Ahlusunnah terhadap para sahabat mulia Nabi saw. tega-teganya mereka menuduh para sahabat mulia hasil didikan Nabi Muhammad saw. sebagai kaum yang tidak tau adab dan lebih dari itu tidak tau malu! Para sahabat ada di antara mereka telah dididik belasan tahun dan ada yang hampir dua puluh tiga tahun… ternyata di tahun-tahun akhir mereka menyakiti hati Nabi mereka dengan meninggalkan secara kolektif Nabi saw. yang sedang berpidato di atas minbar Jum’at! Sebuah pemandangan yang saya yakin belum pernah dan tidak akaan pernah kita saksikan ada seorang ustadz/syeikh/kyai ditinggalkan murid-murid dekatnya atau para jama’ah kebanggaannya berdiri bengong di atas mimbar, sementara mereka berlompatan keluar meninggalkan masjid dan membiarkannya di atas Mimbar berpidato hanya berebut makanan misalnya atau kerena ada pawai barongse lewat!!

Tetapi itulah yang “dituduhkan” para ulama Ahlsunnah terhadap para sahabat mulia! Mereka berhamburan keluar masjid sementara Nabi saw. sedang berkhutbah di atas Mimbar... mereka tega meninggalkan Nabi saw. berdiri di atas mimbar hanya kerena ada seorang pedagang makanan datang dengan menabuh genderang sebagai alat memanggil para pelanggan! Dari ribuan sahabat yang hadir shalat Jum’at hanya tersisa belasan sahabat saja yang masih setia duduk mendengar pidato Nabi saw.

Sungguh luar biasa!!

Bukankah tunuduhan demikian terhadap para sahabat mulia Nabi saw. adalah sebuah penghinaan dan pelecehan?! Bukankah para sahabat itu seluruhnya, ajma’în adalah ‘udûl/baik/terdidik dan shaleh?! Bukankah semestinya kita katakan bahwa para sahabat itu seluruhnya, ajma’în adalah lebih mengutamakan Nabi mereka lebih dari segalanya tidak terkecuali jiwa-jiwa mereka? Lalu mengapakah para ulama Ahlusunnah menghina mereka dengan mengatakan mereka lebih mementingkan perut-perut mereka ketimbang mendengar pidato Rasulullah Muhammad saw.?!

Para Ulama Ahluusunnah Mengaitkan Penghinaan Itu Dengan Sebuah Ayat Al Qur’an!

Tidak cukup sampai di sini, para ulama Ahlusunnah sepakat mempertegas tuduhan menghinakan itu dengan mengaitkannya dengan sebuah ayat Al Qur’an. Allah SWT berfirman:

وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً قُلْ ما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَ مِنَ التِّجارَةِ وَ اللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقينَ

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah:” Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik- baik Pemberi rezeki. (QS. Jumu’ah [62];11)

Keterangan Para Ulama Ahlusunnah Tentang Ayat di Atas

Tentang ayat di atas, para ulama Ahlusunnnah mengaitkannnya dengan sebuah peristiwa yang menggemparkan penghuni langit sebelum menggemparkan penduduk bumi, sehingga Allah SWT langsung menurunkan ayat teguran bahkan ancaman keras dan Nabi pun tidak ketinggalan menampakkan murkanya atas para pelaku tindakan hina yang biadab itu.

Untuk menyingkat waktu mari kita dengar langsung penghinaan ulama Ahlusunnah terhadap para sahabat Nabi mulia saw.

Setelah menerangkan makna ayat bahwa para sahabat itu meninggalkan Nabi saw. berpidato di  atas mimbar, Ibnu Jarir ath Thabari (mufassir tertua Ahlusunnah) mengutip berbagai riwayat, di antaranya:

.

حدثنا ابن حميد، قال: ثنا مهران، عن سفيان، عن إسماعيل السدي، عن أبي مالك، قال: قدم دحية بن خليفة بتجارة زيت من الشام، و النبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة، فلما رأوه قاموا إليه بالبقيع خشوا أن يسبقوا إليه، قال: فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً

“…. dari Abu Mâlik, ia berkata, ‘Dihyah datang dengan membawa dagangan (berupa minyak) dari negeri Syam. Saat itu Nabi saw. sedang berkhutbah Jum’at, sepontan ketika melihat itu, para sahabat berdiri menujunya di tanah Baqi’. Mereka takut kedahuluan orang lain. Ia berkata, ‘Lalu turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).”

.

حدثنا أبو كريب، قال: ثنا ابن يمان، قال: ثنا سفيان، عن السدي، عن قرة إِذا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قال: جاء دحية الكلبي بتجارة و النبي صلى الله عليه و سلم قائم في الصلاة يوم الجمعة، فتركوا النبي صلى الله عليه و سلم و خرجوا إليه، فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً حتى ختم السورة

“… dari as Suddi dari Qarrah, ‘Tentang ayat {.. apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat}  ia berkata, “Dihyah al kalbi datang membawa dagangan sementara Nabi saw. berdiri (berkhutbah) dalam shalat Jum’at, maka mereka serempak meninggalkan Nabi saw. dan keluar menghampiri Dihyah. Lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).” hingga akhir surah.”

.

حدثني أبو حصين عبد الله بن أحمد بن يونس، قال: ثنا عبثر، قال: ثنا حصين، عن سالم بن أبي الجعد، عن جابر بن عبد الله، قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم في الجمعة، فمرت عير تحمل الطعام، قال: فخرج الناس إلا اثني عشر رجلا، فنزلت آية الجمعة.  

“… (sahabat) Jabir bin Abdillah berkata, ‘Kami bersama Rasulullah saw. di hari Jum’at, lalu lewatah kafilah dagang membawa makanan. Ia (Jabir) berkata, ‘Maka manusia keluar kecuali dua belas orang saja, lalu turunlah ayat surah Jum’at”

.

حدثنا ابن عبد الأعلى، قال: ثنا محمد بن ثور، عن معمر، قال: قال الحسن: إن أهل المدينة أصابهم جوع و غلاء سعر، فقدمت عير و النبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة، فسمعوا بها، فخرجوا و النبي صلى الله عليه و سلم قائم، كما قال الله عز وجل.

“ … Hasan berkata, ‘Penduduk kota Madinah mengalami kelaparan dan mahalnya bahan makanan, lalu datanglah kafilah dagang sementara Nabi saw. sedang berkhutbah shalat Jum’at, ketika mendengar kedatangan kafilah itu mereka bergegas keluar dan meninggalkan Nabi saw. yang sedang berdiri seperti yang difirmankan Allah.”

.

حدثنا بشر، قال: ثنا يزيد، قال: ثنا سعيد، عن قتادة: بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يخطب الناس يوم الجمعة، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال: كم أنتم؟ فعدوا أنفسهم فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثانية فجعل يخطبهم قال سفيان: و لا أعلم إلا أن في حديثه و يعظهم و يذكرهم، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال: كم أنتم، فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثالثة فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال كم أنتم؟ فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة، فقال:” و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا” و أنزل الله عز وجل: وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً.

“… dari Qatadah, ia berkata, ‘Ketika Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jum’at, tiba-tiba mereka berangsur-angsur bangun dan keluar sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan.

Kemudian di hari jum’at berikutnya beliau berkhutbah di hadapan mereka … Sufyan berkata, ‘Aku tidak mengetahui dari hadisnya melainkan beliau menasihati dan mengingatkan mereka, lalu mereka berangsur-angsur meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan.

Kemudian pada hari jum’at ketiga beliau berkhutbah lalu mereka berangsur-angsur meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan. Setelah itu beliau bersabda (mengancam)

.

و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا

“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai orang terakhir kamu mengikuti orang pertama kamu (yang keluar) pastilah lembah ini akan dilahab api membakar kalian!.”

Lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).”

.

Ustad Husain Ardilla :

Ini mungkin yang dimaksud dengan penegasan Syeikh Ibnu Âsyûr bahwa peristiwa memalukan itu mereka lakukan sebanyak tiga kali secara berturut-turut, sehingga akhirnya Nabi saw. murka dan mengancam dan Allah pun segera menurunkan ayat kecamanan yang mengabadikan prilaku para sahabat itu!

Ibnu Âsyûr berkata dalam tafsirnya at Tahrîr at Tanwîr,28/205:

فقد قيل إن ذلك تكرر منهم ثلاث مرات

“Dan telah dikatakan bahwa peristiwa itu terulang sebanyak tiga kali… “

Catatan:

Dalam sebagian riwayat dikatakan bahwa sahabat yang tetap setia tidak tergiur kafilah dagang itu berjumlah empat puluh orang.

Para ulama Ahlusunnah tidak meragukan peristiwa itu memang benar-benar terjadi.. para sahabat Nabi meninggalklan Nabi saw. berdiri di atas Mimbar!

Ibnu Katsir meyakinkan kita dengan kata-katanya:

يعاتب تبارك و تعالى على ما كان وقع من الانصراف عن الخطبة يوم الجمعة إلى التجارة التي قدمت المدينة يومئذ فقال تعالى: وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً أي على المنبر تخطب، هكذا ذكره غير واحد من التابعين، منهم أبو العالية و الحسن و زيد بن أسلم و قتادة، و زعم مقاتل بن حيان أن التجارة كانت لدحية بن خليفة قبل أن يسلم، و كان معها طبل فانصرفوا إليها و تركوا رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم قائما على المنبر إلا القليل منهم، و قد صح بذلك الخبر فقال الإمام أحمد: حدثنا ابن إدريس عن حصين عن سالم بن أبي الجعد عن‏ جابر قال: قدمت عير مرة المدينة، و رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم يخطب فخرج الناس و بقي اثنا عشر رجلا فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها. أخرجاه في الصحيحين من حديث سالم به.

“Allah –Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi- telah menegur (para sahabat) atas apa yang terjadi yaitu meninggalkan (Nabi saw.) saat khutbah Jum’at menuju kafilah dagang yang datang ke kota Madinah pada hari itu. Allah -Ta’ala- berfiman: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri.” berkhutbah di atas mimbar. Demikian disebutkan banyak ulama tabi’în di antara mereka adalah Abul ‘Âliyah, al Hasan, Zaid bin Aslam dan Qatadah. Dan Muqatil bin Hayyân berpendapat bahwa kafilah dagang itu milik Dihyah sebelum ia memeluk Islam. Ia membawa genderang (dan menabuhnya) lalu orang-orang -kecuali beberapa orang saja- keluar menujunya dan meninggalkan Rasulullah saw. berdiri di atas mimbar. Dan telah shahih berita tentang kejadian ini.”

Kemudian ia menyebutkan beberapa riwayat tentangnya, di antaranya adalah:

Imam Ahmad[1] meriwayat dari … Jabir, ia berkata, “Pada seuatu hari ada kafilah dagang datang ke kota Madinah ketika itu Rasulullah saw. sedang berkhutbah, maka orang-orang keluar (dari masjid) kecuali dua belas orang saja, lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri.” Dan hadis ini juga diriwayatkan Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Sahahih mereka dari hadis Salim dengan sanad di atas.

Ustad Husain Ardilla :

Sobat, Anda berhak bertanya, mungkinkah Allah menyebut-nyebut kejelekan para sahabat mulia Nabi saw. dalam Al Qur’an, kitab suci-Nya yang akan dibaca umat Islam sepanjang zaman?!

Atau justeru, jangan-jangan mereka yang keluar (apalagi kalau diterima riwayat yang menyebut bahwa kejadian itu terulang sebanyak tiga kali) bukanlah sahabat, tetapi mereka adalah gabungan dari kaum munafik, kaum lemah imam dan yang islamnya ikut-ikutan?!

Jika hanya karena rayuan pedagang makaman, para sahabat itu berbondong-bondong keluar meninggalkan masjid di saat beliau saw. berkhutbah, dengan tanpa malu dan sungkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw., lalu apa bayangan kita terhadap mereka di medan perang ketika maut mengejar mereka?! Mungkinkah mereka akan tegar menghadapinya dan membela Nabi mereka hingga tetes darah penghabisan?

Sobat, peristiwa itu terjadi bukan di awal-awal kedatangan Nabi saw. di kota Madinah, tetapi justeru di tahun-tahun terakhir! Artinya mereka sudah lama mendapat didikan istimewa dari Nabi saw.! Lalu apa yang salah di sini? Yang jelas beliau saw. tidak mungkin “teledor” dalam mendidik. Tetapi, pendidikan itu bukanlah aktifitas satu arah dan kesuksesan hanya ditentukan oleh sang pendidik betapa pun hebatnya ia!

Di sini, saya hanya hendak mengatakan, tidakkah apa yang disajikan para ulama Ahlusunnah tentang kejadian di atas yang dilakoni mayoritas para sahabat itu tergolong penghinaan, caci maki dan pelecehan terhadap kehormatan mereka?

Bukankah firman suci Allah SWT yang mengabadikan peristiwa itu memuat pelecehan, atau paling tidak tindakan memalukan yang mereka lakukan?!

Apakah para ulama Ahlusunnah itu agak terpengaruh pandangan Syi’ah dalam menilai para sahabat, di mana (kata Syi’ah) tidak semua sahabat itu baik dan terpuji! Atau di sini, dalam kasus ini, Allah “agak kesyi’ah-syi’ahan”! Buktinya Allah SWT tidak mendukung konsep Sunni tentang keadilan sahabat dan malah memberikan amunisi yang menguatkan argumentasi Syi’ah!

Atau jangan-jangan seluruh data dan nash tentangnya itu palsu?! Saya yakin tidak sedikit dari Anda –hai sobat sunniku- yang rasa-rasanya ingin menolak nash-nash dan hadis-hadis tentangnya dan berkata dalam hatinya, ‘Mengapa Allah tidak merahasiakan saja kejadian itu! Tidakkah Allah tau betapa bahayanya jika ayat itu dibaca kaum Syi’ah! Bisa dibuat repot kita oleh mereka’ Atau “Jika kita terima kenyataan ini, habislah! Lebih selamat kalau kita ingkari saja!! Tetapi… apa hendak dikata… kali ini Allah kurang berpihak kepada kita (Sunni).’!

Sekali lagi saya hanya menyampaikan keterheranan saya, bagaimana ulama Ahlusunnah itu tega menghina para sahabat mulai dengan tuduhan seperti itu!

[1] Musnad Ahmad,3-313

………..

.

Para Ulama Sunni Mengaitkan Kejadian Ini Dengan Ayat Al Quran

Demi menguatkan hujah dan tuduhan mereka, para ulamak Sunni telah menggunakan ayat Al Quran seperti berikut. Allah SWT berfirman:

وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً قُلْ ما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَ مِنَ التِّجارَةِ وَ اللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah:” Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik- baik Pemberi rezeki.” (QS. Jumu’ah [62];11)

Berkaitan dengan ayat di atas, para ulamak Sunni telah mengaitkanya dengan kejadian yang telah menggemparkan penduduk langit dan bumi, apabila Allah menunjukkan kemurkaannya, begitu juga dengan Rasulullah(sawa).

Untuk menyingkat waktu mari kita lihat langsung penghinaan ulama Sunni terhadap para sahabat Nabi mulia sawa.

Setelah menerangkan makna ayat bahwa para sahabat itu meninggalkan Nabi saw. berpidato di  atas mimbar, Ibnu Jarir ath Thabari (mufassir tertua Sunni)mengutip berbagai riwayat, di antaranya:

.

حدثنا ابن حميد، قالثنا مهران، عن سفيان، عن إسماعيل السدي، عن أبي مالك، قالقدم دحية بن خليفة بتجارة زيت من الشام، و النبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة، فلما رأوه قاموا إليه بالبقيع خشوا أن يسبقوا إليه، قالفنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً

“…. dari Abu Mâlik, ia berkata, ‘Dihyah datang dengan membawa dagangan (berupa minyak) dari negeri Syam. Saat itu Nabi (sawa). sedang berkhutbah Juma’at, sepontan ketika melihat perkara itu, para sahabat berdiri menuju ke tanah Baqi’. Mereka takut jika orang lain mendahului mereka. Beliau berkata, ‘Lalu turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).”

.

حدثنا أبو كريب، قالثنا ابن يمان، قالثنا سفيان، عن السدي، عن قرة إِذا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قالجاء دحية الكلبي بتجارة و النبي صلى الله عليه و سلم قائم في الصلاة يوم الجمعة، فتركوا النبي صلى الله عليه و سلم و خرجوا إليه، فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً حتى ختم السورة

“… dari as Suddi dari Qarrah, ‘Tentang ayat {.. apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumaat}  ia berkata, “Dihyah al kalbi datang membawa dagangan ketika Nabi (sawa). berdiri (berkhutbah) dalam shalat Juma’at, maka mereka terus meninggalkan Nabi (sawa). dan keluar menghampiri Dihyah. Lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).” hingga akhir surah.”

.

حدثني أبو حصين عبد الله بن أحمد بن يونس، قالثنا عبثر، قالثنا حصين، عن سالم بن أبي الجعد، عن جابر بن عبد الله، قالكنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم في الجمعة، فمرت عير تحمل الطعام، قالفخرج الناس إلا اثني عشر رجلا، فنزلت آية الجمعة.  

“… (sahabat) Jabir bin Abdillah berkata, ‘Kami bersama Rasulullah (sawa). di hari Juma’at, lalu lewatlah kafilah dagang membawa makanan. Ia (Jabir) berkata, ‘Maka manusia keluar kecuali dua belas orang saja, lalu turunlah ayat surah Juma’at”

.

حدثنا ابن عبد الأعلى، قالثنا محمد بن ثور، عن معمر، قالقال الحسنإن أهل المدينة أصابهم جوع و غلاء سعر، فقدمت عير و النبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة، فسمعوا بها، فخرجوا و النبي صلى الله عليه و سلم قائم، كما قال الله عز وجل.

“ … Hasan berkata, ‘Penduduk kota Madinah mengalami kelaparan dan mahalnya bahan makanan, lalu datanglah kafilah dagang ketika Nabi (sawa) sedang berkhutbah shalat Juma’at, apabila mendengar kedatangan kafilah itu, maka mereka bergegas keluar dan meninggalkan Nabi (sawa) yang sedang berdiri seperti yang difirmankan Allah swt.”

حدثنا بشر، قالثنا يزيد، قالثنا سعيد، عن قتادةبينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يخطب الناس يوم الجمعة، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقالكم أنتم؟ فعدوا أنفسهم فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثانية فجعل يخطبهم قال سفيانو لا أعلم إلا أن في حديثه و يعظهم و يذكرهم، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقالكم أنتم، فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثالثة فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال كم أنتم؟ فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة، فقال:” و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا” و أنزل الله عز وجلوَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً.

“… dari Qatadah, beliau berkata, ‘Ketika Rasulullah (sawa) berkhutbah di hadapan manusia pada hari Juma’at, tiba-tiba mereka beransur-ansur bangun dan keluar sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan.

Kemudian di hari jum’at berikutnya baginda berkhutbah di hadapan mereka … Sufyan berkata, ‘Aku tidak mengetahui dari hadisnya melainkan baginda menasihati dan mengingatkan mereka, lalu mereka beransur-ansur meninggalkan baginda sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan.

Kemudian pada hari jum’at ketiga baginda berkhutbah lalu mereka berangsur-angsur meninggalkan baginda sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan. Setelah itu beliau bersabda (mengancam)

.

و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا

“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai orang terakhir kamu mengikuti orang pertama kamu (yang keluar) pastilah lembah ini akan dilahab api membakar kalian!.”

Lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).”

Mungkin inilah yang dimaksudkan oleh Syeikh Ibnu Âsyûr bahawa peristiwa memalukan itu mereka lakukan sebanyak tiga kali secara berturut-turut, sehingga akhirnya Nabi (sawa) murka dan memberi ancaman serta Allah pun segera menurunkan ayat kecaman yang mengabadikan perilaku para sahabat itu!

Ibnu Âsyûr berkata dalam tafsirnya at Tahrîr at Tanwîr,28/205:

فقد قيل إن ذلك تكرر منهم ثلاث مرات

“Dan telah dikatakan bahwa peristiwa itu terulang sebanyak tiga kali… “

Di dalam sebahagian riwayat, telah dikatakan bahawa para sahabat yang tetap setia, dan tidak terngiur sedikit pun pada kafilah dagang itu hanya berjumlah empat puluh orang.

Ibnu Katsir meyakinkan kita dengan kata-katanya:

يعاتب تبارك و تعالى على ما كان وقع من الانصراف عن الخطبة يوم الجمعة إلى التجارة التي قدمت المدينة يومئذ فقال تعالىوَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً أي على المنبر تخطب، هكذا ذكره غير واحد من التابعين، منهم أبو العالية و الحسن و زيد بن أسلم و قتادة، و زعم مقاتل بن حيان أن التجارة كانت لدحية بن خليفة قبل أن يسلم، و كان معها طبل فانصرفوا إليها و تركوا رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم قائما على المنبر إلا القليل منهم، و قد صح بذلك الخبر فقال الإمام أحمدحدثنا ابن إدريس عن حصين عن سالم بن أبي الجعد عن جابر قالقدمت عير مرة المدينة، و رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم يخطب فخرج الناس و بقي اثنا عشر رجلا فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْهاأخرجاه في الصحيحين من حديث سالم به.

“Allah –Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi- telah menegur (para sahabat) atas apa yang terjadi iaitu meninggalkan Nabi (sawa) ketika khutbah Juma’at menuju kafilah dagang yang datang ke kota Madinah pada hari itu. Allah -Ta’ala- berfiman: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri.” berkhutbah di atas mimbar. Demikian telah disebutkan oleh para ulama tabi’în seperti Abul ‘Âliyah, al Hasan, Zaid bin Aslam dan Qatadah. Dan Muqatil bin Hayyân berpendapat bahwa kafilah dagang itu milik Dihyah sebelum ia memeluk Islam. Ia membawa genderang (dan memukulnya) lalu orang-orang -kecuali beberapa orang saja- keluar menujunya dan meninggalkan Rasulullah (sawa) berdiri di atas mimbar. Dan telah shahih berita tentang kejadian ini.”

Kemudian ia menyebutkan beberapa riwayat tentangnya, di antaranya adalah:

Imam Ahmad(Musnad Ahmad 3-313) telah meriwayatkan dari … Jabir, ia berkata, “Pada suatu hari ada kafilah dagang datang ke kota Madinah ketika Rasulullah (sawa) sedang berkhutbah, maka orang ramai keluar (dari masjid) kecuali dua belas orang saja, lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri.” Dan hadis ini juga diriwayatkan Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Sahahih mereka dari hadis Salim dengan sanad di atas.

 

So apa kesimpulannya? Seperti biasa, ini membuktikan bahawa para sahabat itu bukan semuanya adil, malah mereka seperti manusia biasa, seperti kita, selalu sahaja membuat kesalahan dan melakukan dosa. Mereka tidak maksum, boleh sahaja menyebabkan kemurkaan Allah swt dan RasulNya(sawa), tidak kiralah samada mereka terkenal atau tidak, jadi khalifah atau rakyat biasa setelah Nabi(sawa), mereka hanya manusia biasa. Kecuali Ahlulbait(as), sudah tentu

Adalah salah satunya surat Al-Jumu’ah yang menceritakan kepada kita bahwa tidak semua sahabat itu patuh dan taat. Mereka punya kepentingan sendiri-sendiri yang mungkin pula bertentangan dengan kepentingan Islam dan kaum Muslimin pada umumnya.

Ketika sebuah rombongan perniagaan dari Syam atau Syria lewat, serentak para sahabat berdiri dan keluar dari mesjid meninggalkan Rasulullah yang sedang berkhotbah. Dari jumlah ratusan sahabat hanya tersisa 12 saja yang tetap tinggal dan mendengarkan khutbah Rasulullah dengan khusyu. Atas peristiwa yang menakjubkan ini, Allah menurunkan ayat:

Dan ketika mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.  (QS. Al-Jumu’ah: 11)

Simaklah keterangan para ulama Ahlussunnah berikut ini:

Keterangan Jalalluddin As-Suyuthi

Jallaluddin as-Suyuthi, seorang ahli sejarah dan tafsir dari kalangan Ahlussunnah, menuliskan asbabun nuzul dari ayat tersebut dalam tafsirnya sebagai berikut:

“Imam Bukhari dan Muslim (Lihat Shahih Bukhari, kitab al-Jumu’ah, hadits nomor 936; dan Shahih Muslim, kitab al-Jumu’ah, hadits nomor 863) meriwayatkan dari Jabir yang berkata, “Pada suatu Jum’at, ketika Nabi sedang berkhutbah, tiba-tiba datang serombongan kafilah (dengan membawa barang-barang perdagangan). Para sahabat lantas keluar (dari masjid) sehingga tidak tersisa bersama Nabi, kecuali dua belas orang saja. Allah lalu menurunkan ayat yang disebutkan dilatas, “Dan ketika mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya………..”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Jabir yang berkata, “Wanita-wanita saat itu jika mengadakan pesta pernikahan maka mereka membuat iringan-iringan yang gemerlap dengan diiringi alunan suara musik. Para sahabat nabi (Yang Sering diidolakan oleh kaum Muslimin itu) lantas meninggalkan Rasulullah yang tengah berkhutbah di atas mimbar dan pergi menghampiri iring-iringan tersebut. Mereka mungkin lebih tertarik untuk melihat para wanita bermain musik atau para pedagang yang menawarkan barang dagangannya daripada mendapatkan petuah dari surga yang diberikan oleh Rasulullah yang mulia!

Betapa mengherankan dan mencenggangkan prilaku para sahabat Nabi itu dan lebih mencenggankan lagi orang-orang yang masih menipu diri mereka sendiri dengan mengatakan bahwa para sahabat itu jujur dan adil serta shaleh semuanya tanpa kecuali!

Allah menurunkan ayat tersebut di atas untuk mengabadikan kelakuan tidak elok dari para sahabat itu untuk menjadikan peringatan bagi kita sekalian.

Keterangan Ibnu Jarir ath-Thabari

Setelah menerangkan makna ayat bahwa para sahabat itu meninggalkan Nabi saw. berpidato di  atas mimbar, Ibnu Jarir ath Thabari (mufassir tertua Ahlusunnah) mengutip berbagai riwayat, di antaranya:
1.

حدثنا ابن حميد، قال: ثنا مهران، عن سفيان، عن إسماعيل السدي، عن أبي مالك، قال: قدم دحية بن خليفة بتجارة زيت من الشام، و النبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة، فلما رأوه قاموا إليه بالبقيع خشوا أن يسبقوا إليه، قال: فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً

“…. dari Abu Mâlik, ia berkata, ‘Dihyah datang dengan membawa dagangan (berupa minyak) dari negeri Syam. Saat itu Nabi saw. sedang berkhutbah Jum’at, sepontan ketika melihat itu, para sahabat berdiri menujunya di tanah Baqi’. Mereka takut kedahuluan orang lain. Ia berkata, ‘Lalu turunlah ayat “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).”
2.

حدثنا أبو كريب، قال: ثنا ابن يمان، قال: ثنا سفيان، عن السدي، عن قرة إِذا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قال: جاء دحية الكلبي بتجارة و النبي صلى الله عليه و سلم قائم في الصلاة يوم الجمعة، فتركوا النبي صلى الله عليه و سلم و خرجوا إليه، فنزلت وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً حتى ختم السورة

“… dari as Suddi dari Qarrah, ‘Tentang ayat {.. apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat}  ia berkata, “Dihyah al kalbi datang membawa dagangan sementara Nabi saw. berdiri (berkhutbah) dalam shalat Jum’at, maka mereka serempak meninggalkan Nabi saw. dan keluar menghampiri Dihyah. Lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).” hingga akhir surah.”
3.


حدثني أبو حصين عبد الله بن أحمد بن يونس، قال: ثنا عبثر، قال: ثنا حصين، عن سالم بن أبي الجعد، عن جابر بن عبد الله، قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم في الجمعة، فمرت عير تحمل الطعام، قال: فخرج الناس إلا اثني عشر رجلا، فنزلت آية الجمعة.

“… (sahabat) Jabir bin Abdillah berkata, ‘Kami bersama Rasulullah saw. di hari Jum’at, lalu lewatah kafilah dagang membawa makanan. Ia (Jabir) berkata, ‘Maka manusia keluar kecuali dua belas orang saja, lalu turunlah ayat surah Jum’at”
4.


حدثنا ابن عبد الأعلى، قال: ثنا محمد بن ثور، عن معمر، قال: قال الحسن: إن أهل المدينة أصابهم جوع و غلاء سعر، فقدمت عير و النبي صلى الله عليه و سلم يخطب يوم الجمعة، فسمعوا بها، فخرجوا و النبي صلى الله عليه و سلم قائم، كما قال الله عز وجل.

“ … Hasan berkata, ‘Penduduk kota Madinah mengalami kelaparan dan mahalnya bahan makanan, lalu datanglah kafilah dagang sementara Nabi saw. sedang berkhutbah shalat Jum’at, ketika mendengar kedatangan kafilah itu mereka bergegas keluar dan meninggalkan Nabi saw. yang sedang berdiri seperti yang difirmankan Allah.”
5.


حدثنا بشر، قال: ثنا يزيد، قال: ثنا سعيد، عن قتادة:
 بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يخطب الناس يوم الجمعة، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال: كم أنتم؟ فعدوا أنفسهم فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثانية فجعل يخطبهم قال سفيان: و لا أعلم إلا أن في حديثه و يعظهم و يذكرهم، فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال: كم أنتم، فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة ثم قام في الجمعة الثالثة فجعلوا يتسللون و يقومون حتى بقيت منهم عصابة، فقال كم أنتم؟ فعدوا أنفسهم، فإذا اثنا عشر رجلا و امرأة، فقال:” و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا” و أنزل الله عز وجل: وَ إِذا رَأَوْا تِجارَةً أَوْ لَهْواً انْفَضُّوا إِلَيْها وَ تَرَكُوكَ قائِماً.

“… dari Qatadah, ia berkata, ‘Ketika Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jum’at, tiba-tiba mereka berangsur-angsur bangun dan keluar sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan.


Kemudian di hari jum’at berikutnya beliau berkhutbah di hadapan mereka … Sufyan berkata, ‘Aku tidak mengetahui dari hadisnya melainkan beliau menasihati dan mengingatkan mereka, lalu mereka berangsur-angsur meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan.


Kemudian pada hari jum’at ketiga beliau berkhutbah lalu mereka berangsur-angsur meninggalkan beliau sehingga tidak tersisa kecuali sekelompok kecil.’ Maka beliau bertanya, ‘Berapa jumlah kalian?’ Para sahabat itu kemudian menghitung jumlah mereka, maka hanya dua belas orang laki-laki dan satu perempuan. Setelah itu beliau bersabda (mengancam)
.

و الذي نفسي بيده لو اتبع آخركم أولكم لالتهب عليكم الوادي نارا

“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai orang terakhir kamu mengikuti orang pertama kamu (yang keluar) pastilah lembah ini akan dilahab api membakar kalian!.”

Lalu turunlah ayat: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).”

————————————————————————————————————–

Demi Allah yang jiwa kita ada dalam genggamanNya! 
Tidak mungkin kita akan melakukan hal serupa 
Dengan apa yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah Al-Mustafa
Yang meninggalkan dirinya sendirian terpana……

Ya, Rasul…………Sungguh prilaku sahabatmu itu tak terpuji
Menusuk dirimu dari belakang menjegal Islam
Sungguh biarkan kami nanti yang akan mengadukan perihal ini