PENGARUH AGAMA YAHUDI DI DALAM KEYAKINAN PARA SAHABAT NABI (serial Ka’ab Al-Ahbar)

Kita kesampingkan dulu tokoh fiktif Yahudi bernama Abdullah bin Saba. Mari kita bicarakan tentang tokoh Yahudi yang lain yang benar-benar ada dan sangat berpengaruh di kalangan beberapa orang sahabat Nabi. Imam Ali sendiri sangat waspada akan datangnya beberapa orang yang berpindah keyakinan kepada Islam setelah sebelumnya mereka larut dalam keyakinan Yahudi dan Nasrani. Imam Ali ingin agar Islam yang baru saja ditinggalkan Nabi-nya tetap menjadi Islam yang suci dan murni dan terbebas dari pengaruh agama lain yang terkadang sangat bertentangan
.
Mereka yang dulunya beragama Yahudi atau Nasrani dan kemudian masuk menjadi mu’alaf seringkali mengaku bahwa mereka mengetahui agama Islam itu melalui Kitab Perjanjian Lama dan sekarang mereka berkehendak untuk “mewariskan” pengetahuan mereka itu dan “memasukkan” nya kedalam Islam.
Sikap Imam Ali ini sangat bijaksana dibandingkan dengan sikap dari para sahabat senior lainnya yang dengan mudahnya tertipu oleh para ahlul kitab yang sedang berbondong-bondong masuk Islam pada waktu itu. Kita akan lanjutkan perbincangan tentang hal ini nanti.

KAAB AL-AHBAR, ULAMA YAHUDI YANG MENANCAPKAN AJARAN YAHUDI KE JANTUNG KEYAKINAN UMAT ISLAM

Ka’ab al-Ahbar adalah seorang pria Yahudi yang datang dari Yaman dengan nama lengkap Kaab Ibn Mati al-Humyari alias Abu Ishaq. Ia datang ke kota Madinah pada jaman rezim pemerintahan Umar bin Khattab. Ia adalah seorang ulama Yahudi (Rabbi) yang lebih dikenal dengan nama Ka’ab al-Ahbar. Ia kemudian masuk Islam dan menyatakan dirinya sebagai Muslim dan kemudian tinggal menetap di Madinah hingga berakhirnya masa rezim pemerintahan Utsman bin Affan. Dalam tulisan bagian pertama ini kita akan menyimak beberapa pernyataannya yang kontroversial; kemudian keahliannya dalam menipu khalifah Umar; usaha-usaha pembunuhan para khalifah yang dirancangnya; serta sikap Imam Ali bin Abi Thalib terhadap dirinya.
Tokoh Ka’ab al-Ahbar ini berbeda dengan tokoh Abdullah bin Saba yang memang fiktif adanya. Ka’ab al-Ahbar tercatat rapi dalam sejarah. Orangnya benar-benar ada dan selama ia hidup dan tinggal di kota Madinah orang-orang sangat respek terhadap dirinya termasuk dua khalifah (Umar dan Utsman; Abu Bakar sudah meninggal pada waktu itu—red). Ia seringkali menceritakan kisah-kisah (Israiliyyat) yang ia klaim sebagai kisah-kisah yang berasal dari Kitab Perjanjian Lama. Banyak sekali sahabat Nabi seperti:
  • Abu Hurairah
  • Abdullah bin Umar
  • Abdullah Ibn Amr Ibn al-Aas
  • Mu’awiyyah Ibn Abu Sufyan
yang meneruskan cerita Ka’ab al-Ahbar ini dan meyakininya sebagai kebenaran. Ulama Yahudi ini seringkali meriwayatkan cerita-cerita yang aneh  yang isinya sangat tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Salah satu dari cerita yang ia buat-buat ialah sebagai berikut:
“Seorang sahabat bernama Qais Ibn Kharshah al-Qaisi melaporkan bahwa Ka’ab al-Ahbar pernah berkata: ‘Setiap peristiwqa  yang pernah terjadi dan akan terjadi di permukaan bumi ini semuanya tertulis dalam kitab Torat (Kitab Perjanjian Lama) yang diturunkan kepada Musa”

(LIHAT: (referensi dari Sunni) Ibn Abdul Barr, Al-Istiab, volume 3, halaman 1287, Kairo 1380H)

Riwayat seperti itu sudah seharusnya menimbulkan tanda tanya dari para pembaca karena riwayat itu mengandung pernyataan yang sangat susah dibayangkan kebenarannya. Kita bayangkan saja. Bumi ini luas sekali; luasnya bisa bermilyar-milyar km persegi dimana tiap kilometer perseginya terdiri dari berjuta jengkal (bayangkan saja; tidak usah dihitung secara tepat karena memang tidak perlu) dan pada setiap jengkal tanah itu telah terjadi jutaan peristiwa baik yang penting maupun yang tidak penting dan masih akan terjadi lagi jutaan (bahkan lebih!) peristiwa yang akan terjadi hingga berakhirnya dunia atau alam semesta ini. Kalau itu semuanya termuat dalam Kitab Torat yang diturunkan kepada Nabi Musa, maka bisa dibayangkan betapa tebalnya kitab tersebut dan isinya semua kejadian di bumi ini!!!!!

Sedangkan pada kenyataannya kitab Torat yang didiktekan kepada Nabi Musa itu tebalnya tidak lebih dari 400 halaman saja!!
Melaporkan seluruh peristiwa yang ada di bumi ini dari mulai diutusnya Musa sampai hari pengadilan nanti pastilah memerlukan jutaan kubik meter kertas, akan tetapi Ka’ab al-Ahbar berkata bahwa itu semua tercantum dalam kitab Torat.
Anehnya (bertentangan dengan klaim Ka’ab al-Ahbar), kitab Perjanjian Baru yang ada sekarang ini hanya mencatat kejadian-kejadian yang telah terjadi di masa lalu baik itu di masa para nabi atau di masa sebelum para nabi dan tidak ada catatan tentang kejadian yang akan terjadi di masa datang. Oleh karena itu, klaim Ka’ab al-Ahbar gugur dengan sendirinya.
KA’AB AL-AHBAR MERAMALKAN KEMATIAN UMAR BIN KHATTAB

Ulama Yahudi (Rabbi) ini berhasil menipu sejumlah sahabat nabi. Ia bahkan berhasil juga mengelabui Umar bin Khattab yang notabene seorang khalifah pada masa itu. Pengaruh Ka’ab al-Ahbar sangat besar sekali pada masa itu (masa rezim pemerintahan Umar bin Khattab) sehingga ia bebas saja berbicara di depan khalifah yang berkuasa. Simaklah dialog berikut ini.

Ka’ab : “Amirul Mukminin, anda sebaiknya segera menulis surat wasiat karena anda akan meninggal dalam 3 hari kedepan.”
Umar : “Bagaimana engkau bisa tahu?”
Ka’ab : “Aku mengetahuinya dari kitabullah, Taurat (Perjanjian Lama)”
Umar : “Demi Allah, apakah engkau melihat nama Umar bin Khattab ada di sana?”
Ka’ab : “Demi Allah, tidak. Namamu tidak tertulis di sana tapi aku menemukan ciri-ciri yang mirip dengan ciri-cirimu tertera di sana dan di sana pula aku menemukan bahwa kematianmu sudah semakin dekat menghampiri.”
Umar : “Tapi aku tidak merasakan sakit atau apapun yang membuat aku khawatir akan kematian.”
Selama 3 hari kedepan Ka’ab sering mengunjungi Umar sambil berkata; “Ya, amirulmukminin, satu hari telah berlalu dan engkau hanya memiliki 2 hari lagi.”
Keesokan harinya Ka’ab kembali menjumpai Umar seraya berkata: “Ya, amirulmukminin 2 hari sudah berlalu dan engkau hanya memiliki satu siang dan satu malam saja sebelum ajal datang menjemput.”

Pada hari ketiga, saat shubuh tiba, Umar pergi keluar rumahnya untuk mengimami shalat shubuh (itu kewajiban khalifah pada saat itu). Umar sudah terbiasa untuk memerintahkan beberapa orang untuk menertibkan barisan shalat. Ketika para jema’ah shalat sudah berdiri lurus dan rapi, maka Umar memulai shalat.

Saat itulah ada seseorang yang kemudian hari dikenali sebagai Abu Lulu memasuki masjid dengan menghunus sebuah belati bermata dua yang beracun. Ia kemudian menusuk-nusuk tubuh Umar hingga 6 kali, salah satu dari tusukan itu tepat mengenai pusarnya Umar; dari luka-luka itulah Umar menemui kematiannya.

(LIHAT: Referensi dari Sunni: Thabari, History of al-Thabari, volume 4, halaman 191, dicetak di Dar-al-Maarif, Kairo)
———————————————————————————————————————————-
Apabila kita meneliti kitab Perjanjian Lama, maka kita tidak akan dapati nama Umar atau ciri-ciri yang disebutkan oleh Ka’ab al-Ahbar sebagai ciri-ciri Umar. Selain itu tidak ada ulama Yahudi yang pernah mengatakan bahwa kitab Perjanjian Lama itu menyebut-nyebut tentang diri Umar; tentang pembunuhan Umar atau kematian Umar; juga tidak disebutkan kapan Umar akan meninggal. Itu hanya akal-akalan dari Ka’ab al-Ahbar saja.
Seandainya dalam kitab Perjanjian Lama itu ada disebutkan itu semua, maka semua orang Yahudi akan sangat bangga sekali karena kitabnya itu memuat sesuatu perkara ghaib yang mencenggangkan. Informasi tentang itu semua bisa dijadikan bukti bahwa kitab mereka itu otentik dan benar adanya dan pada akhirnya bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa agama Yahudi itu lebih benar dari agama lainnya karena kitab sucinya memuat informasi yang tidak ada pada kitab suci lainnya.
———————————————————————————————————————————-


BAGIAN DARI KONSPIRASI TINGKAT TINGGI

Tampak jelas oleh kta semua bahwa kematian Umar bin Khattab ini merupakan konspirasi tingkat tinggi dari orang-orang Yahudi; dan Ka’ab merupakan bagian terpenting dari plot konspirasi ini. Pembunuhan Umar bin Khattab akan melemahkan kaum Muslimin karena kejatuhan atau kematian seorang khalifah (tanpa melihat apakah khalifah itu baik dan bermutu atau tidak) tetap saja akan menimbulkan kepanikan dan kebingungan.

Ka’ab tahu benar apabila kematian seorang khalifah itu sudah diumumkan sebelum khalifah itu mati, maka itu akan mendatangkan kekaguman pada orang yang meramalkan itu (yaitu diri Ka’ab sendiri); selain itu para sahabat nabi juga akan menaruh rasa hormat yang berlebihan pada diri Ka’ab dan kitab Perjanjian Lama. Apabila semua itu terjadi maka ini akan mendatangkan keuntungan yang amat besar pada Ka’ab al-Ahbar dan pada umat Yahudi pada umumnya. Untunglah tidak semua sahabat mempercayai Ka’ab. Imam Ali adalah salah satu dari mereka yang sangat tidak percaya dengan Ka’ab al-Ahbar.
Apabila umat Islam percaya pada diri Ka’ab al-Ahbar (karena secara tepat ia bisa meramalkan kematian Umar—padahal plot pembunuhan itu dibuat oleh Ka’ab sendiri), maka sudah bisa dipastikan apapun yang dikatakan oleh Ka’ab akan didengar oleh para sahabat Nabi terlebih lagi Ka’ab sudah menjadi muslim (paling tidak secara de jure). Kalau kelak Ka’ab bilang bahwa khalifah berikutnya ialah “X”, maka sudah dipastikan bahwa para sahabat Nabi akan banyak yang percaya. Dan apabila ia dibiarkan maka kita akan memiliki khalifah yang diplot dan diangkat oleh orang-orang Yahudi yang benci pada Islam. Ka’ab akan dengan mudah menentukan masa depan dari umat Islam ini karena pemimpin umatnya ia yang pilih dan tentukan.
Ka’ab al-Ahbar tidak hanya bercerita tentang apa-apa yang terjadi dan bakal terjadi di bumi ini, melainkan ia juga bercerita tentang surga dan Kursi Tahta Tuhan. Al-Qurtubi dalam tafsir al-Qur’an melaporkan bahwa Ka’ab telah berkata sebagai berikut:
“Ketika Tuhan menciptakan kursi tahtaNya, kursi tahtaNya itu berkata, ‘Allah tidak pernah menciptakan makhluk yang tubuhnya lebih besar daripada aku.’ Kursi Tahta Allah itu kemudian mengguncang-guncangkan tubuhnya untuk menunjukkan kebesarannya. Allah kemudian mengikat kursi tahtaNya itu dengan seekor ular yang memiliki 70 ribu pasang sayap. Pada setiap sayapnya ada 70 ribu bulu; dan pada setiap bulu itu ada 70 ribu wajah dan pada setiap wajah itu ada 70 ribu mulut; kemudian dari setiap mulut itu ada 70 ribu buah lidah. Dari semua mulut ini keluar kalimat-kalimat pujian untuk Allah yang jumlahnya sama banyaknya dengan jumlah titik air hujan yang jatuh dari langit, ditambah dengan jumlah dedaunan; ditambah lagi dengan jumlah bebatuan dan butir pasir ditambah lagi dengan jumlah hari-hari yang telah terlewat di dunia ditambah lagi dengan jumlah para malaikat. Ular itu melingkari kursi tahta Allah karena tahta Allah itu ternyata lebih kecil daripada si ular tadi. Kursi tahta Allah itu tertutupi oleh setengah tubuh ular.”
.
SIKAP IMAM ALI TERHADAP KA’AB AL-AHBAR

Umar dan sejumlah sahabat senior lainnya menunjukkan sikap yang penuh hormat terhadap Ka’ab al-Ahbar sementara itu Imam Ali sebaliknya. Imam Ali menunjukkan rasa ketidak senangannya terhadap Ka’ab al-Ahbar. Ka’ab tak pernah sekalipun berani dekat-dekat dengan Imam Ali walaupun saat itu Imam Ali ada di Madinah selama Ka’ab tinggal disana. Seringkali dilaporkan bahwa Imam Ali berkata tentang Ka’ab al-Ahbar sebagai berikut:

“Ia adalah pendusta besar!!”

SIKAP ABDULLAH IBN ABBAS TERHADAP KA’AB AL-AHBAR

Tabari mencatat dalam tarikhnya bahwa Ibn Abbas pernah diberitahu:

Ka’ab pernah berkata bahwa pada hari penghisaban matahari dan bulan akan dibawa ke hadapan Allah seperti kerbau yang di cocok hidungnya dan kemudian keduanya akan dilemparkan kedalam neraka! Demi mendengar ini Ibn Abbas marah sekali dan ia berkata sambil berteriak sebanyak tiga kali:

“Ka’ab pendusta besar!”

“Ka’ab pendusta besar!”

“Ka’ab pendusta besar!”

“Keyakinan seperti di atas adalah keyakinan Yahudi dan Ka’ab ingin memperkenalkan keyakinan itu dan memasukkannya kedalam Islam. Sesungguhnya Allah itu tidak seperti yang mereka sangkakan. Allah tidak akan pernah menghukumi hamba-hambanya yang patuh dan ta’at padaNya. Bukankah dalam al-Qur’an itu disebutkan” :

وسخر لكم الشمس والقمر دآئبين وسخر لكم الليل والنهار

“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim: 33)
Ibnu Abbas menyebutkan bahwa kata  دآئبين itu memiliki arti kepatuhan total dan terus menerus kepada Allah. Ibnu Abbas melanjutkan:
“Bagaimana mungkin Allah menghukum 2 benda langit yang Allah sendiri telah memujinya karena keta’atan keduanya kepada Allah. Allah mengutuk ulama Yahudi (maksudnya K’aab) itu  dan ajarannya! Betapa beraninya ia menisbahkan kedustaan seperti itu kepada Allah dan betapa beraninya ia menyalahkan kedua makhluk Allah yang taat itu!
Setelah berkata seperti itu Ibnu Abbas berkata lagi sebanyak tiga kali:

“Innalillahi wa inna ilayhi raji’uun

Innalillahi wa inna ilayhi raji’uun

Innalillahi wa inna ilayhi raji’uun”

(LIHAT: (REFERENSI SUNNI: Tabari, Tarikh al-Tabari, volume 1, halaman 62—63, Edisi Eropa)
.

Pengaruh Ka’ab terhadap Khilafah

Ka’ab betul-betul menggunakan secara maksimal kebaikan hati Umar kepadanya; dan ia menggunakan pengaruhnya terhadap Umar untuk membuat Umar menjegal Ali dari kekhilafahan.
Ka’ab tidak ingin Ali menjadi khalifah karena Ka’ab menyimpan dendam umat Yahudi terhadap Ali. Itu disebabkan karena Ali-lah yang menghentikan pengaruh Yahudi di daerah Hijaz; dan Ali-lah yang menghancurkan luluh lantak kekuatan Yahudi terakhir di benteng-benteng Khaybar (dalam peperangan Khaybar).
Sangat mengherankan sebenarnya melihat khalifah Umar sangat percaya kepada Ka’ab al-Ahbar, sampai pada tingkat dimana ia malah meminta nasehat dari Ka’ab dalam perkara pemerintahan dan keagamaan. Ia juga meminta pendapat Ka’ab tentang masa depan kekhalifahan!!!
Abdullah Ibn Abbas pernah meriwayatkan bahwa Umar pernah berkata kepada Ka’ab (pada waktu itu Abdullah Ibn Abbas ada di sana menjadi saksi mata dari peristiwa itu—red) seperti yang akan kami paparkan di sini:

UMAR : “Aku ingin mengumumkan nama orang yang akan menggantikanku sebagai khalifah karena aku sebentar lagi akan mati. Bagaimana pendapatmu kalau aku memilih Ali? Berikan pendapatmu dan beritahu aku apa yang engkau temukan dalam kitab sucimu (Perjanjian Lama), karena engkau pernah berkata bahwa “kami” disebutkan dalam kitab itu”

KA’AB : “Sebagaimana yang engkau yakini, adalah tidak “bijaksana” apabila anda memilih Ali sebagai penggantimu karena ia “terlalu relijius”. Ia bisa melihat setiap penyimpangan dan ia sangat tidak toleran terhadap setiap bentuk kejahatan. Ia hanya mengikuti pendapatnya dalam aturan Islam dan ini sangat tidak baik apabila dijadikan kebijakan. Kami juga menemukan dalam kitab suci Perjanjian Lama bahwa ia dan anak-anaknya tidak bisa menjadi penguasa. Dan apabila ia menjadi penguasa, maka akan terjadi kebingungan.”
UMAR : “Mengapa ia tidak bisa menjadi penguasa?”
KA’AB : “Karena ia telah menumpahkan darah dan Allah telah menjauhkan dirinya dari kekuasaan. Ketika Daud hendak mendirikan benteng-benteng di Jerusalem, Allah berkata kepadanya: “Kamu tidak boleh mendirikan tempat peribadatan di Jerusalem karena engkau telah mencurahkan darah. Hanyya Sulayman yang bisa mendirikan itu’”

UMAR : “Bukankah Ali telah mencurahkan darah orang secara haq dan mengikut kebenaran?”
KA’AB : “Ya, Amirul mukminin. Daud juga telah mencurahkan darah secara haq.”
UMAR : “Lalu siapa kira-kira yang bisa menjadi khalifah menurut kitab sucimu itu?”
KA’AB : “Kami temukan bahwa setelah Rasulullah dan kedua khalifah yang lalu, maka kekuasaan itu akan diberikan kepada musuh Rasulullah (Bani Umayyah) yang telah menentang ajarah Allah dan RasulNya.
Demi mendengar ini, konon, Umar tampak sedih dan ia berkata:

Inna lillahi wa inna ilayhi raji’uun

Kemudian Umar berkata kepada Abdullah Ibn Abbas:
“Ibnu Abbas, apakah engkau mendengar apa yang dikatakan oleh Ka’ab? Demi Allah, aku juga pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah mengatakan hal yang sama persis seperti: “Anak-anak Bani Umayyah akan menaiki mimbarku. Aku melihat mereka dalam mimpiku dan mereka berlompatan di mimbarku itu seperti monyet-monyet”
Kemudian Rasulullah membacakan ayat berikut ini yang berkenaan dengan mimpi Rasulullah:
“…………….. Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Qur’an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka”(QS. Al-Isra: 60)
(Keluarga Bani Umayyah di dalam al-Qur’an diibaratkan dengan “pohon terkutuk”.
(LIHAT: Referensi dari Ahlu Sunnah:
  • Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh, volume 3, halaman 81, dicetak di Mohammad Ali Subaih, di Mesir
  • Imam Fakhr ad-Din al-Razi dalam tafsir al-Qur’an-nya, bab 17, volume 5, halaman 413—414, cetakan kedua oleh al-Matbaah al-Sarafeyah, 1304H.)
Dialog di atas antara Ka’ab dan Umar itu menyiratkan akan adanya rencana jahat dan makar yang dilakukan oleh Ka’ab sebagai bekas ulama Yahudi yang masih memendam dendam akan kekalahan Yahudi oleh umat Islam. Rencana Ka’ab al-Ahbar itu nantinya memang akan mendatangkan akibat yang panjang dan menyedihkan bagi umat Islam. Bisa disimpulkan dari dialog itu sebagai berikut:
1. Ka’ab itu sangat benci kepada Imam Ali karena Imam Ali lah yang telah meluluh lantakkan kekuatan Yahudi yang pernah bercokol di Jazirah Arab. Ka’ab berpikir bahwa Imam Ali adalah satu-satunya orang yang bisa menghapus seluruh pengaruh buruk Yahudi dalam masyarakat Arab pada waktu itu. Oleh karena itu, Ka’ab sangat ingin sekali kekuasaan itu jatuh ke tangan Bani Umayyah yang sama sekali tidak peduli dengan kemajuan Islam. Kaum Bani Umayyah itu hanya tertarik pada aspek duniawi saja. Lebih dari itu, Ka’ab memang menganggap Ali sebagai musuh utama dan musuh bersama kaum Yahudi karena Imam Ali telah memusnahkan para pemimpin mereka ketika Imam Ali berjuang demi Islam.
2. Ka’ab berujar bahwa Imam Ali itu terlalu relijius dan ia tidak akan menutup mata terhadap segala bentuk kejahatan yang terjadi di hadapannya. Ia juga tidak akan pernah toleran terhadap setiap penyimpangan dari Islam. Ka’ab sendiri telah lupa ketika ia mengatakan bahwa seorang yang relijius dan shaleh tidak akan pernah bisa menjadi seorang pemimpin yang sukses karena ia telah melupakan sosok Rasulullah yang selain relijius dan shaleh ia juga berhasil dalam memimpin umatnya. Ia berhasil menjadi pemimpin dan negarawan.
3. Ka’ab juga mengaku bahwa ia telah “menemukan” dalam kitab Perjanjian Lama bahwa Imam Ali dan anak-anaknya tidak bisa menjadi menjadi pemimpin karena mereka telah mencurahkan atau mengalirkan darah. Ka’ab menambahkan bahwa Nabi Daud tidak bisa mendirikan kuil atau tempat peribadatan di Jerusalem karena ia telah mengalirkan darah. Jadi Nabi Sulayman lah yang bisa mendirikan tempat peribadatan itu. Ka’ab rupanya lupa atau sengaja melupakan bahwa Nabi Daud (walaupun telah mengalirkan darah) bisa menjadi seorang raja yang memerintah dengan keadilan! Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah telah berkata kepada Nabi Daud:
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad: 26)
Ka’ab juga lupa bahwa Nabi Muhammad juga mencurahkan darah para musuhnya demi kebenaran. Ia bahkan memimpin dalam beberapa peperangan dan ia tetap menjalankan tugasnya dalam mengatur dan mengurus urusan umat! Ia bahkan terus membangun masyarakat Muslim menjadi semacam negara!
4. Lebih jauh lagi, Ka’ab al-Ahbar mengatakan bahwa dengan mencurahkan darah maka seseorang tidak akan pernah bisa menjadi pemimpin dan berkuasa; dan itu artinya bahwa orang yang pernah berjuang di jalan Allah akan kurang harganya dibandingkan dengan mereka yang duduk ongkang-ongkang (dan tidak mencurahkan darah). Ini jelas bertentangan dengan apa yang telah diwahyukan oleh Allah dalam al-Qur’an:
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” (QS. An-Nisaa: 95)
Adalah sangat tidak masuk akal apabila Allah memerintahkan manusia untuk berperang di jalanNya, akan tetapi kemudian menghukumi mereka dengan menjauhkan mereka dari kekuasaan  membuat mereka tidak bisa menjadi pemimpin dan berkuasa.
5. Ka’ab al-Ahbar mengklaim bahwa kitab Torat (Perjanjian Lama) menyebutkan bahwa kekuasaan Islam itu akan digilirkan dari Rasulullah kemudian kepada dua khalifah pertama kemudian kepada keturunan dari musuh Rasulullah. Padahal hal yang seperti itu sama sekali tidak pernah tercatat dalam kitab tersebut. Padahal sebelumnya Ka’ab berkata pada Qais Ibn Kharsha
.
bahwa segala kejadian yang pernah terjadi dan akan terjadi semuanya telah tertulis dalam Perjanjian Lama.
Apa yang dikatakan oleh Ka’ab kepada Umar tentang kekhalifahan tentu saja tidak ia dapatkan dari kitab suci Agama Yahudi melainkan ia mendengarnya dari para sahabat Nabi (termasuk Umar sendiri) yang meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Kaum Bani Umayyah akan menaiki mimbarku dan aku melihat mereka berlompatan di atas mimbar itu seperti kawanan monyet”
————————————————————————————————————–
LIHAT REFERENSI DARI AHLU SUNNAH:
  • Jalaluddin as-Suyuthi, Tarikh Khulafa, diterjemahkan oleh Major H. S. Barret, halaman 12, diterbitkan oleh J. W. Thomas, Baptist Mission Press, Calcutta, India
  • Imam Fakhr ad-Din al-Razi, dalam tafsir al-Qur’an-nya, bab 17, volume 5, halaman 413—414, cetakan kedua oleh al-Matbaah al-Sarafeyah, 1304H
Sangat mengherankan juga mengapa Khalifah Umar bin Khattab yang pernah mendengar ini sebelumnya dari Rasulullah, masih mempercayai perkataan Ka’ab al-Ahbar dan menganggapnya memang benar-benar telah mengambilnya dari kitab Perjanjian Lama. Ka’ab melanjutkan dustanya dengan mengatakan bahwa ia telah menemukan dalam kitab agama Yahudi itu bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh Rasulullah itu akan digilirkan dari Rasulullah kepada dua sahabatnya dan kemudian kepada musuh-musuhnya. Klaim Ka’ab ini (yang merupakan saduran dari hadits nabi saja) ternyata tidak terjadi dalam kehidupan nyata. Kekhalifahan ternyata berpindah ke tangan Utsman setelah dari Umar dan Utsman bukanlah musuh Rasulullah (paling tidak bukan musuh secara terang-terangan—red). Dan yang paling telak ialah ketika kekuasaan kekhalifahan itu jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib yang sangat dibenci oleh Ka’ab al-Ahbar. “Ramalan” Ka’ab al-Ahbar hancur berkeping-keping.
Selain keheranan kita atas sikap yang ditunjukkan Umar (yang bisa kita katakan sebagai perbuatan teledor atau bodoh—red), ada lagi satu keheranan kita atas sikap Umar ini (sekali lagi…..sikap ini tidak menunjukkan orang yang waspada dan cerdas—red). Yang mengherankan kita ialah bahwa Umar sama sekali tidak pernah menyuruh Ka’ab untuk menunjukkan kitab Perjanjian Lama yang memuat “klaim-klaim” yang dibuat oleh Ka’ab. Ini sangat mengherankan.
Khalifah yang kedua ini kelihatan sekali sangat percaya dan yakin kepada Ka’ab dan menganggap ucapan-ucapan Ka’ab sebagai ucapan yang datang dari langit dan sudah pasti benar. Umar sepertinya lupa bahwa suksesi kepemimpinan itu sekarang ada di tangannya sendiri. Ia bisa saja menentukan khalifah berikutnya sekehendak hatinya sendiri tanpa harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh seorang Ka’ab al-Ahbar.
Umar bisa saja memilih Ali bin Abi Thalib sebagai penerusnya. Umar bisa saja mencegah orang-orang dari Bani Umayyah yang ingin menduduki singasana khalifah. Umar bisa saja melakukan perbuatan yang baik dengan mencegah orang yang tidak kompeten untuk memilih khalifah atau menjadi khalifah.

Satu kata dari Umar bisa mengubah alur sejarah…………

Seandainya Umar mau melakukan itu……………………….

Khalifah Umar bin Khattab bisa saja langsung menunjuk Imam Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya kelak dan itu berarti ia telah mencegah kaum Bani Umayyah yang ingin merebut dan mengangkangi kursi kekhaifahan. Dengan begitu ia bisa mencergah mimpi buruk Nabi itu menjadi kenyataan. Dan dengan itu pula sekaligus ia bisa menunjukkan kasih sayangnya pada Nabi (kalau memang ia cinta kepada Nabi). Tapi ternyata yang terjadi tidak seperti itu. Ia lebih menuruti kata-kata sakti sang ulama Yahudi bernama Ka’ab al-Ahbar. Umar mencegah dan menjauhkan Imam Ali dari kekhalifahan. Ia membentuk “6 orang panitia” yang berisi Imam Ali dan 5 orang lainnya yang di kehidupan sehari-harinya tidak memiliki kedekatan sama sekali dengan Imam Ali atau lebih cenderung berseberangan dengan Imam Ali di sisi lain mereka sangat dekat dengan Utsman bin Affan, salah satu keturunan Bani Umayyah yang sangat mencintai sukunya itu.
.
Jadi alih-alih membuyarkan mimpi buruk Nabi, Umar malah mematuhi apa yang sudah direncanakan matang-matang oleh Ka’ab al-Ahbar.
(LIHAT: (REFERENSI DARI AHLU SUNNAH: Ibn Al-Athir, Al-Kamil, volume 3 halaman 35, diterbitkan oleh Dar al-Kitab al-Lubnanai 1973 Masehi)
SEORANG ULAMA YAHUDI YANG BARU MASUK ISLAM ; KEMUDIAN MENGAKU MEMILIKI PENGETAHUAN TENTANG MASA LALU DAN MASA YANG AKAN DATANG…………………AKHIRNYA BISA MENGUBAH SEJARAH LEWAT SEORANG KHALIFAH YANG TERLALU PERCAYA PADANYA!
BENAR-BENAR BENCANA SEJARAH!
.

Sepak terjang Ka’ab al-Ahbar pada masa rezim pemerintahan Utsman bin Affan

Pengaruh Ka’ab al-Ahbar terus bertambah kuat setelah kematian Umar bin Khattab. Selama masa rezim pemerintahan khalifah yang ketiga (masa kekhalifahan Utsman bin Affan), Ka’ab al-Ahbar malah dipercaya untuk memberikan fatwa-fatwa dalam urusan umat Islam dan urusan keagamaan. Utsman bin Affan sangat sering meminta pendapatnya dan menyetujui pendapatnya. Dalam rapat-rapat kenegaraan, Utsman seringkali meminta pendapat Ka’ab, dan tidak ada seorangpun yang hadir dalam rapat itu yang berani menentangnya. Kalaupun ada yang menentang Ka’ab, maka orang itu adalah orang-orang terdekatnya Imam Ali bin Abi Thalib seperti misalnya Abu Dzar al-Ghifari. Abu Dzar bisa sangat marah sekali dengan hal ini. Pada suatu ketika Abu Dzar marah karena mendengar Ka’ab mengeluarkan fatwa dan ia memukul Ka’ab dengan sebuah tongkat yang dibawanya sambil berkata:
“Hai anak dari wanita Yahudi! Apakah engkau ingin mengajari kami tentang agama kami?”
Ka’ab juga mencoba-coba untuk menyenangkan hati Mu’awiyyah bin Abu Sufyan dengan mengatakan kepadanya bahwa setelah Utsman bin Affan, yang akan memimpin umat Islam itu ialah Mu’awiyyah. Dengan bermanis-manis seperti itu kepada Mu’awiyyah, sebenarnya Ka’ab ingin menyelamatkan dan mengamankan dirinya serta masa depannya agar ia bisa lebih memperluas pengaruhnya di kalangan kaum Muslimin.
Pada suatu waktu Utsman sedang dalam perjalanan kembali dari perjalanan haji ditemani oleh Mu’awiyyah dan sang kusir karavan waktu itu sedang melantunkan sya’ir yang isinya meramalkan bahwa Ali bin Abi Thalib akan menjadi khalifah setelah Utsman bin Affan memimpin. Ka’ab menuduh sang kusir karavan itu telah menyenandungkan sya’ir yang penuh dusta dengan mengatakan:
“Demi Allah, engkau telah berdusta dengan sya’irmu. Penguasa setelah Utsman itu adalah dia yang sedang mengendarai keledai pirang.”
Yang dimaksud oleh Ka’ab waktu itu tidak lain ialah Mu’awiyyah dan ia pada waktu itu juga berdusta dengan mengatakan bahwa ia mendapat
kan informasi itu (informasi tentang khilafah) dari kitab Perjanjian Lama! Padahal dalam kitab itu tidak ada informasi tentang itu sama sekali!
Mu’awiyyah juga seringkali memerintahkan Ka’ab al-Ahbar untuk membuat-buat dusta tentang keunggulan kota Damaskus serta para penghuninya kalau bisa dibuat lebih dari kota lain atau provinsi lain sehingga timbul kebanggaan orang-orang Damaskus dan muncul perasaan kagum orang-orang yang tidak bermukim di kota Damaskus itu.
(LIHAT: REFERENSI SUNNI / AHLUSSUNNAH:
  • Ibn al-Athir, Kamil, volume 3, halaman 76, lebih dikenal sebagai Ali Ibn al-Sahibani…….cetakan kedua (Mule Reference/bagian tentang keledai)
  • al-Tabari, Tarikh, volume 4, halaman 343, dicetak oleh Dar al-Maarif, Kairo (Mule Reference/bagian tentang keledai)
  • Ibn Hajar Asqalani (seorang ulama ahli hadits dari Sunni), al-Isabah, volume 5, halaman 323 (Mu’awiyyah ordering reference/bagian tentang perintah Mu’awiyyah)
———————————————————————————————————————————-

KEJADIAN-KEJADIAN LAINNYA

Ahmad meriwayatkan bahwa Jabir Ibn Abdullah mengatakan bahwa Umar telah datang kepada Rasulullah (SAAW) sambil membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari beberapa para pengikut Ahlul Kitab. Umar kemudian secara sengaja membacakan keras-keras kitab itu di depan Rasulullah (SAAW). Rasulullah waktu itu tampak marah karena Umar melakukan perbuatan yang tidak layak. Rasulullah kemudian berkata:
“Wahai putera Khattab, demi Dia yang jiwaku ada di tanganNya. Seandainya Musa saat ini masih hidup, maka ia itu harus mengikutiku.”
.
Al-Bukhari melaporkan bahwa Ibn Abbas telah berkata:
“Bagaimana mungkin engkau bertanya kepada Ahlul Kitab tentang segala sesuatu padahal kitabmu itu, yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya adalah kitab yang terbaru? Kalian membacanya tanpa perubahan dan penambahan dari yang selain Qur’an. Al-Qur’an telah memberitahu kita bahwa orang-orang Ahlul Kitab telah merusak kitab mereka dan mengubah-ubah kitab mereka.”
Di sisi lain (berlawanan dengan Ibn Abbas), dua begundal Mu’awiyyah yaitu Abu Hurairah dan Abdullah Ibn Amr Al-Aas telah berdusta dengan mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Ambillah dari kaum Yahudi itu, karena kalian tidak akan berdosa karenanya”
.
Juga al-Bukhari pernah menuliskan dalam Shahih Bukhari, hadits no 4667 sebagai berikut:
Rasulullah bersabda, “Sampaikanlah pada orang-orang walaupun itu satu ayat; dan sampaikan pada orang-orang cerita-cerita dari Bani Israil karena kalian tidak akan berdosa apabila melakukannya.”
.
Untuk kesekian kalinya saya utarakan bahwa dalam sejarah dikenal luas bahwa ABU HURAIRAH dan ABDULLAH BIN AMR AL-AAS itu adalah MURID SETIA dari KA’AB AL-AHBAR. Abdullah Ibn Amr Al-Aas pernah diberi 2 ekor unta yang membawa dua buah peti berisi kitab-kitab dari Ahlul Kitab dan Abdullah Ibn Amr al-Aas senantiasa memberikan informasi dan nasihat kepada kaum Muslimin berdasarkan kitab-kitab yang ia dapat dari Ahlul Kitab itu
.
Ibn Hajar al-Asqalani, yang dikenal sebagai ulama Sunni yang ahli hadits—terutama hadits dari Shahih Bukhari—mengatakan:
“Oleh karena itu, banyak sekali para tabi’in (murid-murid para sahabat Nabi) tidak mau mengambil keterangan atau informasi dari Abdullah Ibn Amr al-Aas”
(LIHAT: Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-Asqalani, volume 1, halaman 167)
———————————————————————————————————————————-

PERNYATAAN-PERNYATAAN KA’AB AL-AHBAR YANG TEREKAM SEJARAH:

1. TENTANG ARAH KIBLAT YANG UTAMA
Ka’ab al-Ahbar berusaha keras untuk menyebar-luaskan cerita-cerita Israiliyyat (cerita-cerita musykil dari agama Yahudi) di kalangan kaum Muslimin dan sampai sekarang cerita-cerita itu banyak sekali yang dipercayai atau diyakini kebenarannya oleh kaum Muslimin.
Salah satunya ialah tentang arah kiblat yang dulunya dipakai juga oleh kalangan Ahlul Kitab yaitu Baitul Muqadas.
Ibn Asakir dalam Tarikh –nya ia menuliskan kata-kata Ka’ab tenteng arah kiblat:
أحب البلاد الى الله الشام و أحب الشام الى الله القدس
“Negeri yang paling dicintai Allah ialah Syam (Syria) dan yang paling dicintai di Syam ialah Quds”
(Jadi Syria dan Quds lebih dicintai dan lebih berharga di mata Allah daripada Mekah dan Madinah)
LIHAT: Ibn Asakir; “Sejarah kota Damaskus”  (History of the city of Damascus), volume 1, halaman 110, Damascus Print
———————————————————————————————————————————-
2. TENTANG NEGERI SYAM ATAU SYRIA
تسعة أعشار الخير بالشام وجزئه في سائر الأرضين
“ Allah sudah memberikan 9 persepuluh (9/10) kebaikan dan keberkahan kepada negeri Syria dan memberikan sisanya untuk seluruh dunia”
LIHAT: Ibn Asakir dalam “Sejarah kota Damaskus”; volume 1, hala man 147
———————————————————————————————————————————-
3. TENTANG NEGERI-NEGERI LAINNYA
خمس مدائن من مدن الجنة : بيت المقدس وحمص و دمشق وجبرين وظفار اليمن
“ Ada lima kota dari kota-kota di surga, yaitu: Bait al-muqodas, Hums, Damaskus, Jabrin (kota satelit dari Baitul Muqodas) dan Zafar al-Yaman (tempat dimana dulu Ka’ab pernah tinggal sebelum ia hijrah ke kota Madinah dan kemudian pindah ke Syria)”
LIHAT: Ibnu Asakir, volume 1, halaman 211—212
———————————————————————————————————————————-
4. TENTANG HARI PENGHISABAN DAN KURSI ALLAH
اربعة اجبل : جبل الخليل ولبنان و الطور والجودى يكون كل واحد منهم يوم القيامة لولوة بيضاء ما بين السماء واالأرض يرجعن الى بيت المقدس حتى يجعل في زواياة ويضع الجبار جل جلاله عليها كرسيه حتى يقضى بين اهل الجنة والنار وترى الملائكة حافين من حول العرش يسبحون بحمد ربهم و قضي بينهم بالحق و قيل الحمدلله رب العالمين:
“Pada hari penghisaban ada 4 buah gunung yang bernama Jabal al-Khalil yang terletak di dekat Bait-ul-muqodas dimana di atasnya ada kuburan Ibrahim al-Khalil; kemudian Jabal Lebanon (daerah pegunungan di Libanon); kemudian Jabal Tur (daerah pegunungan Tur); dan Jabal al-Judi (daerah pegununan Judi) semuanya akan bercahaya seperti untaian mutiara diantara langit dan bumi. Pada hari itu keempat gunung itu akan dikembalikan ke Bait-ul-muqodas dan akan ditempatkan di keempat sudut kota. Kemudian Allah akan menempatkan kursi tahtaNya di sana dan dari sana Allah akan memberikan penghisaban apakah seseorang itu akan masuk surga atau neraka. Kemudian Allah akan membacakan ayat al-Qur’an sebagai bukti:
“Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arasy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Az-Zumar: 75)
LIHAT: Ibnu Asakir, volume 2, halaman 122; Jalaluddin as-Suyuthi, Durrul Mantsur, volume 5, halaman 344
———————————————————————————————————————————-
5. TENTANG KEUTAMAAN NEGERI SYRIA DAN PARA PENDUDUKNYA
Ka’ab berkata: “Pada hari penghisaban, orang-orang Syria akan diberitahu bahwa Allah akan menjaga dan mengurusi mereka sama seperti seorang prajurit yang menjaga dan memasukkan anak-anak panah ke sarung panahnya. Allah berbuat seperti itu karena Syria adalah tempat yang paling dicintai Allah dan para penduduknya adalah orang-orang makhluk-makhluk yang paling dicintai Allah”
Ka’ab menambahkan: “Barangsiapa yang memasuki negeri Syria, maka ia senantiasa ada dalam kasih sayang Allah dan RahmatNya dan barangsiapa keluar dari kota itu maka ia akan menjadi orang yang merugi”
LIHAT: Tarikh oleh Ibnu Asakir, volume 1, halaman 110
———————————————————————————————————————————-
6. TENTANG TEMPAT BERLINDUNG DARI BENCANA BAGI KAUM MUSLIMIN
Ka’ab berkata: “Tempat berlindung bagi kaum Muslimin dari bahaya dan bencana ialah kota Damaskus; dan tempat kelahiran Dajjal ialah sungai Abu Fatras (tempat di dekat Ramallah di Palestina) dan tempat perlindungan dari GOG dan MAGOG ialah gunung Tur”
LIHAT: Ibnu Asakir, volume 1, halaman 232
———————————————————————————————————————————–
7. KA’BAH SUJUD
ان الكعبة تسجد لبيت المقدس في كل غداة
“Setiap pagi hari, Ka’bah itu sujud kepada Bait-ul-Muqodas”
LIHAT: Tafsir Durrul Mantsur, volume 1, halaman 136
———————————————————————————————————————————-
8. TENTANG KEUTAMAAN UMAR BIN KHATTAB
Pada suatu ketika dalam sebuah kesempatan dengan Umar bin Khattab, Ka’ab al-Ahbar berkata:
انا لنجدك فى كتاب الله على باب من ابواب جهنم تمنع الناس ان يقعوا فيها فاذامت لم يزالوا يقتحمون فيها الى يوم القيامة
“Kami telah menemukan nama tuan di dalam kitabullah (yang dimaksud oleh Ka’ab ialah Torah/Perjanjian Lama). Di sana dijelaskan bahwa tuan telah ditempatkan di pintu neraka dan tuan menghalangi orang-orang supaya tidak memasukinya. Akan tetapi ketika tuan meninggal orang-orang tidak henti-hentinya memasuki neraka hingga hari penghisaban nanti”
LIHAT: At-Tabaqat-ul-Kubra, volume 3, halaman 240 (European print) atau volume 3, halaman 332 (Beirut print)
———————————————————————————————————————————-
9. UMUR UMAR
“Apabila Umar meminta pada Allah untuk membolehkan dirinya hidup terus, maka Allah tentu saja akan memberikannya hidup yang sangat panjang”
LIHAT: At-Tabaqat-ul-Kubra, volume 3, halaman 257 (European print) atau volume 3, halaman 354 (Beirut print)
——————————————————————————————————————————————————————
MASIH BANYAK LAGI PERNYATAAN-PERNYATAAN KA’AB AL AHBAR YANG SEKIRANYA DITULISKAN DI SINI MAKA AKAN MEMAKAN BANYAK SEKALI RUANG DAN WAKTU UNTUK PENULISANNYA.

(EXCLUSIVE) JENAZAH SEORANG ULAMA SYI’AH MASIH UTUH DAN SEGAR WALAUPUN SUDAH DIKUBUR SELAMA 17 TAHUN LAMANYA

KOTA SUCI KARBALA, IRAQ. Pada hari Kamis tanggal 12 Mei 2011 (8 Jumadil AKhir), almarhum Ayatullah Sayyed Mohammad Kadhim Al-Qazwimi (masih keturunan Rasulullah), menantu dari Sayyid Meerza Mehdi Al-Husseini Ash-Shirazi, dikuburkan kembali di Kompleks Pemakaman Shiraziah di kota Karbala.

Sejumlah ulama, khatib mesjid, cendikiawan Muslim, dan para santri serta orang-orang biasa berkumpul untuk menghadiri upacara penguburan kembali dari jenazah Ayatullah Qazwini.

Iringan pembawa jenazah dimulai dari makam Al-Allamah Ahmed bin Fahd Al-Hilli berbaris rapi menuju tempat makam suci dari Abi al-Fadhl Al-Abbas (as). Selama iring-iringan itu maju, do’a ziarah tidak henti-hentinya dibacakan. Mereka berkumpul bergabung membentuk kerumunan besar sekali di kompleks pemakaman Imam Husein (as) dimana sang Imam dikuburkan.

Sayyed al-Qazwini dilahirkan di kota suci Karbala. Ia menyelesaikan pendidikan santrinya di Hauzah Karbala. Ia telah menulis banyak sekali buku dimana diantara karya tulis besarnya ialah serangkai buku yang diberi judulMinn al-Mahdi illal Lahdi (Dari Lahir hingga Mati) tentang perjalanan hidup dari para Imam suci Ahlul Bayt Nabi (as); dan sebuah buku lagi tentang Imam As-Sadiq (as) yang terdiri dari 50 volume.

Sayyid al-Qazwimi meninggal 17 tahun lalu (kira-kira tahun 1994) pada tanggal 15 Jumadil Akhir. Ia dikuburkan di Husseiniyah az-Zaynabiyah dan direncanakan akan dipindahkan ke kota Karbala sesuai dengan wasiat almarhum sebelum meninggal.

Kemudian……………setelah 17 tahun berlalu, pada tanggal 5 Jumadil Akhir, tubuhnya yang masih utuh dan segar diambil dari kuburannya untuk dipindahkan ke kota suci Karbala.

Tubuhnya yang masih utuh dan segar (seperti tampak pada gambar) sangat mengherankan semua orang yang hadir. Selain itu peti jenazahnya pun masih dalam keadaan yang baik sekali (biasanya kurang dari satu tahun kayu itu sudah mengalami proses pelapukan—dan peti ini sudah tertanam selama 17 tahun lamanya!!!!!). Yang juga masih tampak seperti baru ialah pakaian yang dikenakannya; kain kafan yang menutupi tubuhnya; dan buku yang dibawanya yaitu buku FATIMAH AZ-ZAHRA Minna al-Mahdi illal Lahdi yang ditempatkan di dadanya ketika ia dibaringkan di liang lahat (sesuai dengan pesan wasiatnya). Semua benda yang berhubungan dengan dirinya dalam keadaan yang sangat baik sekali seakan-akan baru dikuburkan beberapa saat saja!!!!

Ketika Ayatullah Sayyid Muhammad Sadeq Ash-Shirazi menghadiri pemakaman (yang kedua kalinya), beliau berkata:


“Alasan mengapa Ayatullah Sayyed Muhammad Sadeq Al-Qazwini ini tetap segar dan utuh jenazahnya walau telah dikubur selama 17 tahun, ialah karena beliau semasa hidupnya senantiasa menjadi manusia yang bertakwa. Ia menghabiskan hidupnya di jalan Allah dan 14 manusia suci dari keluarga Muhammad Rasulullah.”
———————————————————————————————————————————-
ولا تقولوا لمن يقتل في سبيل الله أموات بل أحياء ولكن لا تشعرون

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.(QS. Al-Baqarah: 154)

(super exclusive) BATU ITU (masih) MENGELUARKAN DARAH SEGAR (batu tempat meletakkan kepala cucu nabi—al-Hussein as.)

MESJID AL-NUQTAH

LETAKNYA IALAH DI KOTA ALLEPPO ATAU HALAB SEKITAR 360KM DARI KOTA DAMASKUS. Lihatlah peta berikut…………………………..

Sejarah singkat berikut ini diambil dari sebuah buku yang ditulis oleh Sheikh Ibrahim Nasralla yang diberi judul “The Traces of Ale Mohammad in Aleppo” (Jejak-jejak Keturunan Muhammad di Aleppo).
Untuk mengenal sejarah dari tempat ini maka kita harus memalingkan wajah ke masa lalu terlebih dahulu. Tempat ini konon dulunya adalah sebuah biara yang terdiri dari 2 buah ruangan yang diberi-nama Mart Ruta Monastery, sebelum datangnya Islam ke kota ini.
Ketika rombongan Imam Ali Zainal Abiddin As-Sajjad (as) (putera Imam Husein) dan Zainab (as) (adik Imam Husein) disertai rombongan kecil berisi wanita dan anak-anak datang dari Kufah dan Karbala ke Syam, rombongan itu berhenti di kota Aleppo untuk beristirahat di dekat biara ini. Para biarawan dan pendeta dari biara ini melihat dengan jelas sekali ada cahaya yang terang yang keluar dari kepala Imam Husein (as) yang diarak oleh tentara Yazid yang mengawal rombongan dari keluarga Nabi itu. Kejadian itu terjadi pada tahun 61H.
Ketika para biarawan dan para pendeta dari biara itu tahu bahwa para tawanan yang dibawa itu ialah sisa-sisa keluarga Nabi (dimana banyak dari kaum lelakinya sudah syahid), maka mereka meminta para pengawal rombongan itu untuk memberikan mereka kesempatan untuk merawat kepala Imam Husein (as).

Untuk itu, para pendeta dari biara itu harus mengeluarkan uang yang sangat banyak.

Seorang pendeta yang memiliki pengetahuan luas mengambil kepala Imam Husein (as) dari para pengawal (tentara Yazid) dan kemudian meletakkan kepala Imam Husein (as) itu di atas sebuah batu untuk dicuci dan disisir rambutnya serta diberi minyak wangi.

“Betapa besar penghargaan yang diberikan oleh seorang Nasrani untuk kepala suci dari cucu sang nabi”

 

“Betapa kecil penghormatan yang diberikan oleh kaum Muslimin waktu itu, kepada sisa keluarga Nabi yang ditawan dan dibelenggu”

Pendeta itu berdo’a terus menerus di depan kepala Imam Husein (as) itu hingga shubuh menjelang pagi dan kemudian ia memberikan kembali kepala itu kepada para bala tentara Yazid. Pendeta itu sendiri konon katanya langsung memeluk Islam tidak lama setelah kejadian itu.
Sejak malam itu hingga beberapa hari kemudian darah segar senantiasa keluar dari batu itu dan setelah rombongan tawanan keluarga nabi itu pergi dari biara itu…………..kembali pendeta tersebut melantunkan do’a-do’a rintihan untuk mengenang cucu Nabi. Sementara itu…………………..batu itu tetap mengeluarkan darah segar.
Batu ini—yang warnanya akhirnya memerah karena darah yang pernah tercurahkan dari kepala “Pemimpin Para Syuhada”—tetap bersemayam di biara ini dari awal bulan Safar tahun 61H hingga tahun 333H ketika Raja Sifoddowie Hamdani (seorang pengikut Ahlul Bayt Nabi) memasuki kota Aleppo dan memutuskan untuk menjadikan kota Aleppo itu menjadi ibu kota. Raja itu seringkali menjenguk batu itu dan sampai detik itu masih pula mengeluarkan darah segar. Ia akhirnya memutuskan untuk membangun tempat itu untuk menghormati batu yang mengeluarkan darah itu sebagai tanda kebesaran Allah di muka bumi ini.
BATU ITU SAMPAI SEKARANGPUN MASIH MENGELUARKAN DARAH SEGAR……………SIMAKLAH VIDEO BERIKUT INI……………………
Pada pertengahan abad keempat Hijriah, bangunan indah yang ditujukan untuk menghormati batu itu berdirilah dan sejak saat itu tempat itu menjadi tempat ziarah bagi para pecinta cucu Nabi (Imam Husein as.). Tempat itu dikenal sekarang sebagai “Mesjid Al-Nuqtah” atau kurang lebih berarti “Mesjid tempat darah tercurah”.
Pada tahun 1333H  ketika para penguasa Ottoman (Khilafah Utsmaniyyah) menguasai kawasan ini, mereka melarang orang-orang yang hendak berziarah ke tempat ini dan mereka malah menggunakan tempat ini untuk menyimpan amunisi dan senjata selama masa perang. Akhirnya pada suatu masa, Kekhalifahan Ottoman mengalami kemunduran dan lemah dalam segala bidang; pada saat itulah tentara sekutu bermaksud untuk menyerang kota Aleppo. Timbullah anarki di mana-mana pada waktu itu (tanggal 20 Muharram 1337H). Mesjid yang dipenuhi oleh amunisi senjata dan mesiu ini tiba-tiba meledak. Gedung yang indah ini hancur berkeping-keping dan kepingannya berserakan di mana-mana.
Keajaiban terjadi……………….batu berdarah itu tetap berada di tempatnya dan beberapa batu yang besar berkumpul di sekelilingnya seolah-olah ingin melindungi batu itu. Sungguh itu merupakan suatu tanda kebesaran Illahi. Kemudian beberapa orang ulama mengambil batu itu dan membawanya ke Mesjid Zakaria yang ada di kota itu.
Batu itu menunjukkan beberapa keganjilan. Batu itu seringkali bergerak-gerak sehingga membuat ketakutan para alim ulama dan santri-santrinya hingga akhirnya mereka berkeputusan untuk menempatkan batu itu di atas punggung seekor kuda dan kemudian membiarkan kuda itu membawanya kemana ia suka.
Kuda itu membawa batu suci itu ke tengah-tengah kota Aleppo menuju tempat dimana batu itu dulu ditempatkan yaitu di Mesjid Al-Nuqtah yang pada waktu itu dalam keadaan hancur berkeping-keping setelah meledak. Karena tempat itu rusak, maka kuda itu (seolah-olah memiliki kehendak sendiri) membawa batu itu ke tempat pemakaman bayi Imam Husein, Muhsin. Kemudian batu itu akhirnya disimpan di sisi makam Muhsin.
Tempat suci itu tetap dalam keadaan hancur selama masa-masa sulit setelah peperangan berlangsung hingga tahun 1379H. Pada tahun itu ada sebuah organisasi bernama Jafari Islamic Rebuilding Societyyang berencana untuk membangun kembali mesjid itu sesuai dengan bentuk aslinya dulu. Dan dengan rahmat dan kebesaran Allah serta keinginan kuat dari orang-orang yang bersedia menyumbangkan tenaga dan hartanya serta bantuan moril dan materil dari para ulama, maka mereka bisa membangun kembali tempat itu dengan mengikuti bentuknya yang lama. Anehnya mereka juga tetap bisa menggunakan  batu-batuan yang dulunya digunakan untuk membuat Mesjid bersejarah itu. Dengan batuan yang sama (yang dulu berserakan setelah ledakan) mereka berhasil membangun Mesjid itu seperti sedia kala, seperti yang bisa kita lihat sekarang ini.
Allahumma Shali ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

BAGAIMANA AYATULLAH DASTGHAIB SYAHID

BAGAIMANA AYATULLAH DASTGHAIB SYAHID

 

Hari itu sama saja seperti hari Jum’at yang sudah-sudah di kota suci Shiraz. Tampak parar ulama dan beberapa santri sedang bergegas menuju mesjid, untuk menunaikan shalat Jum’at. Tiba-tiba, sebuah ledakan yang sangat kuat dan memekakan telinga mengguncang tempat di mana mereka berada. Serpihan batu dan serpihan bom berterbangan bertemperasan ke semua arah. Teriakan dan jeritan terdengar dimana-mana dan asap menghalangi pandangan orang-orang. Ketika asap mulai pudar mereka baru sadar apa yang sudah terjadi.

 

Setelah kejadian itu selama beberapa hari banyak orang-orang yang masih menangisi kejadian di kota Shiraz itu karena tokoh panutan sekaligus imam shalat mereka turut hancur bersama dengan ledakan dasyhat tersebut. Pecahan tubuhnya berserakan di jalanan dan di sebuah gang sempit di kota Shirazi.

Ayatullah Abul-Husayn Dastghaib Shirazi lahir di kota Shiraz pada tahun 1332H. Ia memulai pendidikan keagamaannya pada usia yang sangat dini; dan pada usia remaja ia sudah memulai mengimami shalat-shalat di mesjid Baghir Khan di kota Shiraz. Pada tahun 1353H, ia pergi ke kota Najaf di Irak untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Di kota Najaf, ia belajar di bawah bimbingan para ulama yang terkemuka pada waktu itu termasuk Sayyid Abul Hassan Isfehani, Sayyid Ali Qadhi Tabatabai, dan Shaikh Diauddin al-Iraqi.

Setelah selesai mengenyam pendidikannya, Sayyid Dastghaib kembali ke kota Shiraz. Sekolah pesantren Shiraz sudah mengalami kemundurannya selama beberapa abad, dan Sayyid Dastghaib tergerak hatinya untuk membantu dengan mengadakan acara amal mengumpulkan sumbangan untuk merevitalisasi mesjid Aatiq. Bersama beberapa ulama dan cendikiawan setempat ia mulai mengajarkan ilmu teologi, ilmu fikih, dan ilmu tafsir di mesjid itu.

Ketika Shah Pahlevi sedang menciptakan ideologi sekuler untuk mendirikan Iran yang sekuler dan otokratis, para ulama di kota Qom merespon kebijakan itu. Di kota Shiraz, Sayyid Dastghaib berbicara dengan lantang menyuarakan gagasan-gagasan revolusioner dari Imam Khomeini. Karena kelancangannya itu, ia seringkali ditangkap dan dimasukkan kedalam tahanan. Walaupun begitu, ia tetap saja melangsungkan jihadnya. Ia melatih masyarakat untuk siap secara mental dan spiritual menyambut Revolusi Islam. Oleh karena itu, walaupun Dastghaib telah menulis beberapa tulisan akademis, namun kebanyakan buku-bukunya itu ditulis untuk kalangan rakyat biasa. Beberapa dari bukunya telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dan tersedia secara on-line misalnya bukuGreater SinsSeeking Allah’s Protection from Satan, dan A Commentary to Sura al-Yasin. Selain itu ia juga menulis Qalbe SaleemSalat al-Khashi’eenNafs al-Mutmainna, dan sebuah buku biografi Bunda Fathimah dan Bibi Zainab (as).

Setelah Revolusi Islam benar-benar terealisasi, Sayyid Dastghaib terpilih sebagai anggota parlemen oleh orang-orang di kota Shiraz. Ia juga ditunjuk oleh Imam Khomeini sebagai perwakilan dirinya di kota Shiraz. Ia juga ditunjuk untuk mengimami shalat di Mesjid Jami di kota Shiraz. Sebagai orang yang shaleh dan rendah hati, Sayyid Dastghaib dicintai dan dihormati oleh seluruh jama’ahnya.

Di saat-saat seperti itulah, sekelompok besar teroris dengan dana yang sangat besar mencoba untuk meruntuhkan Pemerintahan Islam di Iran. Mereka berhasil dalam membunuhi beberapa tokoh pamuncak yang telah berhasil menggulingkan Shah Iran dan menggulirkan revolusi. Beberapa diantaranya yang berhasil mereka bunuh ialah Sayyid Muhammad Beheshti, Sayyid Ali Qadhi Tabatabai, Sayyid Asadullah Madani, dan Shaikh Murtadha Muthahari. Pada tahun 1402H, ketika Sayyid Dastghaib berjalan menuju Mesjid hendak mengimami shalat Jum’at, sebuah ledakan dasyhat mengguncang kota Shiraz. Ayyatullah Dastghaib Shirazi syahid. Potongan-potongan tubuhnya dikumpulkan satu demi satu oleh para pengikutnya, dan kemudian potongan-potongan itu dikuburkan di kota Shiraz.

—————————————————————————————————————-

Banyak sekali buku dan tulisan ditujukan untuk menggambarkan kematian. Akan tetapi kami tidak pernah menemukan tulisan atau buku atau kuliah yang lebih efektif dan lebih meyakinkan daripada apa yang disampaikan oleh Ayatullah Syed Abdul Husain Dastghaib yang dinyatakan kira-kira 25 tahun yang lalu. Kuliah beliau pada waktu itu menggambarkan pengetahuan beliau yang sangat mumpuni. Pengetahuannya menggambarkan bahwa dirinya sangat menguasai Al-Qur’an, Hadits-hadits dan buku-buku keagamaan lainnya.

Pada suatu kesempatan di bulan suci Ramadhan, ia menyampaikan sebuah khutbah dimana di dalamnya ia menyebutkan bahwa kematian adalah tidak lain dari sebuah pintu kehidupan dan langkah pertama untuk mendapatkan pengampunan Tuhan. Ia menggambarkan keadaan di alam barzakh sedemikian hidupnya (padahal topiknya tentang kematian bukan tentang kehidupan!) sehingga para jama’ahnya terpana mendengarnya. Ia juga menggambarkan siksaan di alam barzakh demikian meyakinkannya sehingga para jama’ah ketakutan dan menggigil. Sebagai hasilnya, setelah mendengarkan petikan-petikan ayat suci al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi banyak orang yang bertekad untuk tidak lagi mengulangi dosa-dosa yang mereka biasa lakukan setiap hari dan para jama’ahnya mulai melakukan perbuatan baik dan beramal shaleh.

DARAHNYA AYATULLAH DASTGHAIB RUPANYA LEBIH AJAIB DARIPADA KHUTBAH-KHUTBAHNYA

Ayatullah Dastghaib berulangkali menyampaikan dalam khutbah-khutbahnya bahwa “kematian itu bukanlah sebuah kepunahan melainkan sebuah permulaan dari sebuah kehidupan yang abadi”. Ia berulangkali menyampaikan ini kepada para keluarga yang anggota keluarganya menjadi syuhada. Ia menyampaikan ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa orang-orang yang mati di jalan Allah itu sebenarnya masih hidup dan mendapatkan rizkiNya (lihat Ali Imran ayat 169—red).

ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (Ali Imran: 169)

Sebenarnya kita semua ini lebih tepat dikatakan mati dibandingkan mereka yang syahid karena kehidupan kita ini ada habisnya; ada tamatnya. Sedangkah kehidupan mereka itu abadi karena tidak ada lagi kematian setelah adanya kematian.

PERMATA BERHARGA YANG TAK TERNILAI HARGANYA

Duhai syuhada! Semoga arwah sucimu bahagia selalu. Engkau sudah membuat semua ini menjadi terang benderang dengan kesyahidanmu. Bahkan setelah dua bulan berlalu semenjak kepergianmu, tetapi keajaiban demi keajaiban datang satu per satu sehingga banyak orang yang merasa menyesal dan resah karena mereka belum mengenalimu dengan lebih jauh. Mereka merasa menyesal karena tidak mengambil keberkahan dari pertemanan mereka denganmu ketika engkau masih hidup bersama kami.Here, regarding the discussion about this book and about Hereafter as well as with reference to your oft-repeated statement that “The martyrs are forever immortal” we’d like to mention an event which took place on the seventh day of your martyrdom which has become known to most of the residents of Shiraz to such an extent that it has also been reported in the press.

PERMINTAAN YANG ANEH DARI SEORANG SYUHADA

Putera dari Ayatullah Dastghaib memberikan kesaksian sebagai berikut:

“Pagi hari itu—tepat pada hari keempat puluh semenjak kesyahidan Ayatullah Dastghaib—tahun 1402H, aku pergi ke rumah ayahku dan itu sudah menjadi kebiasaanku. Pagi itu aku bertemu dengan sekretaris kantor mendiang ayahku dan setelah mengucapkan salam dan sekedar bertanya basa basi tentang kesehatan masing-masing, ia mulai berbicara tentang mimpi yang dialami oleh Syed Lady. Syed Lady adalah orang yang terhormat di kota kami dan kami sangat mengenal beliau dengan baik. Syed Lady menceritakan mimpinya kepadaku sebagai berikut: “Tadi malam aku bermimpi bertemu dengan almarhum asy-syahid Ayatullah Dastghaib. Dalam mimpiku itu ayatullah berkata, ‘Beberapa potong daging tubuhku ada di sela-sela batu bata di sebuah dinding di jalan ini (jalan dimana ayatullah terkena ledakan). Tolong kumpulkan potongan daging tubuhku itu dan kemudian satukan kembali dengan jasadku’”

Pada mulanya tidak mempedulikan berita itu. Tapi kemudian aku mendengar orang-orang di kantor ayahku membicarakan tentang mimpi itu dan itu berlanjut hingga dua jam lamanya. Siangnya aku pergi keluar bersama beberapa orang dari mereka yang membicarakah mimpi itu sambil melangsungkan acara Fatihakhaani (Fatihakhaani adalah acara pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal). Pada kesempatan itu kami harus melewati jalan dimana ayah saya menemui kesyahidannya. Jadi ketika kami sampai ke tempat yang disebutkan dalam mimpi Syed Lady, segera kami teringat akan mimpi yang dibicarakan oleh orang-orang se kantor itu. Segera aku beritahu teman-teman yang ikut dengan saya. Saya katakan kepada mereka bahwa tidak ada salahnya apabila kita melihat di sekitar sambil memeriksa siapa tahu yang dimaksud dalam mimpi itu benar adanya. Tiba-tiba pandangan kami tertuju kepada sebuah dinding yang mengelupas di beberapa bagian dan di suatu tempat…….di sela-sela batu bata, kami menemukan potongan daging tertancap di dinding di sela-sela batu bata………………”

PEMAKAMAN AYATULLAH YANG HARUS DIULANG

Putera dari ayatullah Dastghaib masih meneruskan cerita kesaksiannya:

“Dua orang dari sahabatku menghampiri dindign itu dan kemudian mengumpulkan potongan daging dari syuhada kemudian mengumpulkannya dalam sebuah kantong plastik. Berita tentang peristiwa ini segera tersebar di seantero kota terutama karena selain itu hari keempat puluh kesyahidan ayahku juga hari itu adalah hari peringatan Arba’in (hari keempat puluh syahidnya Imam Husein) dan pada hari itu termasuk hari libur di kota Shiraz.

Pada malam hari Jum’at di mesjid Shiraz seperti biasanya sudah menjadi tradisi dibacakan do’a Kumail dan para jama’ah berkumpul untuk mendengarkan peristiwa tempo hari. Kemudian setelah itu diumumkan bahwa tepat pada jam 10 malam, sisa-sisa jasad dari Asy-Syuhada Ayatullah Dastghaib akan dikuburkan. Setelah diumumkan para jama’ah meneruskan do’a ziarah hingga malam hari di pelataran makam Ahmed bin Musa Kazim.

Malam itu hari Arba’in ……………. ingatan tentang peristiwa penguburan jasad Imam Husein (as) seolah-olah menjadi latar belakang dari peristiwa penguburan kembali Ayatullah Dastghaib. Two kantong plastik berisi sisa-sisa jasad Ayatullah Dastghaib akhirnya dikebumikan di ujung kaki dari kuburan beliau sendiri…….”

ADA DUA ORANG LAIN YANG BERMIMPI SAMA

Kejadian tersebut di atas amatlah aneh dan langka. Masih ada lagi yang belum kami sampaikan. Pada hari yang sama ketika serpihan daging itu diketemukan di sela-sela batu bata, ada seseorang yang tampak sekali jujur dari raut wajahnya (di kelak kemudian hari ditemukan bahwa ternyata ia seorang ustadz). Ia berkata kepada putera Ayatullah Dastghaib bahwa ada dua orang yang datang kepadanya (salah satunya adalah ternyata kerabat dekat Ayatullah) yang melaporkan bahwa mereka berdua bermimpi bahwa asy-Syahid datang dalam mimpi mereka (selanjutnya mimpi mereka sama persis seperti mimpi yang dialami oleh Syed Lady. Demi mendengar ini putera dari Ayatullah Dastghaib menyuruh seorang pesuruh untuk menemui Syed Lady dan memintanya untuk menuliskan mimpi—secara  rinci—yang  ia alami. Juga dipesankan kepada Syed Lady untuk menuliskan namanya dan nama suaminya serta nama-nama anggota keluarganya. Syed Lady menyanggupi dan mengirimkan surat berikut detail lainnya sesuai dengan yang diminta. Surat ini kemudian dijadikan arsip siapa tahu diperlukan di kelak kemudian hari. Putera Ayatullah Dastghaib ingin kejadian ini direkam sejarah yang pasti dan rinci mengingat ini kejadian langka yang menimpa seseorang yang memiliki keutamaan dan nama baik sepanjang hidupnya.

SYED LADY MENULISKAN, “BEBERAPA POTONGAN JASADKU TERTANCAP DI SELA-SELA BATU-BATA”

Dalam mimpi itu digambarkan, “Aku (Syed Lady) sedang berada di sebuah taman. Tiba-tiba aku melihat Ayatullah Dastghaib sedang berjalan melintas di depanku. Aku kemudian mengikuti beliau. Kami sedang berada di tengah-tengah taman; dan Ayatullah pada waktu itu sedang mengenakan mantel berwarna kopi. Ia kemudian berkata kepadaku, “Tolonglah aku. Beritahukan kepada orang-orang. Beritahukan kepada mereka bahwa beberapa bagian dari jasadku tertancap di dinding. Ia mengulangi kalimatnya beberapa kali. Aku merasa terkejut dan heras sekali dan saking terkejutnya kemudian aku bangun.”

CERITA ITU SERINGKALI LEBIH MEMUKAU DARIPADA SEBUAH BUKU

Anda sendiri bisa menentukan kebenaran apa yang termuat dalam mimpi yang kita bahas di atas. Mengungkapkan pengakuan secara lisan tentang kebenaran seringkali terlihat lebih meyakinkan daripada sebuah buku berisi pengakuan-pengakuan. Sang syuhada yang kita bicarakan pernah berkata, “Kematian itu bukanlah suatu kemusnahan; melainkan ia itu sebuah pintu menuju Pengampungan Tuhan.” Para syuhada yang mati itu di sisi Tuhan adalah orang-orang yang hidup. dan mereka mendapatkan rezeki dariNya. Ayatullah Dastghaib dalam buku The Hereafter (Ma’aad) menuliskan secara lengkap dan rinci mengenai kejadian-kejadian yang akan dialami oleh manusia di alam Barzakh (Alam antara Kematian dan Kebangkitan). Ia juga menceritakan tentang kembalinya ruh  ke jasad. Semuanya ini ternyata benar adanya. Syuhada sendiri telah membuktikan ini dan memberitahukannya kepada kita semua.

ABU BAKAR DAN UMAR BIN KHATTAB MEMBAKAR HADITS-HADITS NABI? NAUDZUBILLAH SUMMA NAUDZUBILLAH!

ABU BAKAR DAN UMAR BIN KHATTAB yang MEMBAKAR HADITS-HADITS NABI mengakibatkan kaum sunni tersesat hingga kini !!


Abu Bakar r.a Membakar Kumpulan Hadits

Aisyah r.ha berkata, “Ayahku, Abu Bakar, memiliki catatan berisi 500 Hadits yang telah ia kumpulkan”. Pada suatu malam Aisyah melihat ayahnya sangat gelisah dan berbaing membolak balikan badannya. Aisyah pun bertanya “apakah engkau sakit atau ada sesuatu yang membebani pikiranmu?” Namun pada malam itu Abu BAkar tetap gelisah dan cemas. Keesokan harinya Abu Bakar  bertanya kepada Aisyah “Dimanakah catatan haditsku yang pernah aku berikan kepadamu?” Aisyah pun mengambilnya dan memberikan kepadanya. Ternyata dia membakar catatan itu. Aisyah bertanya, “Mengapa dibakar?” Abu Bakar pun menjawab “Aku ragu jika ada kekhilafan lalu aku meninggal, sedangkan catatan ini masih ada padaku. Jika sampai kepada tangan orang lain, lalu mereka menggangapnya dapat dipercaya, dan ternyata dalam catatan ini ada kesalahan, tentu hal itu akan mencelakakanku.” (Tadzkiratul Huffadz).

.
Dapat dibayangkan betapa banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang diingat oleh Abu Bakar r.a, namun sangat sedikit hadits yang diriwayatkan olehnya.

Prinsip bahawa hadis memiliki kesahihan, seperti yang diperakui al-Quran, tidak dipertikaikan langsung di kalangan syiah mahupun di kalangan semua umat Islam. Tetapi kerana kegagalan beberapa pemerintah awal Islam dalam memelihara dan menjaga hadis, dan sikap tidak berhati-hati beberapa sahabat Nabi dalam penyebaran penulisan hadis, pengumpulan hadis menghadapi beberapa cabaran. Di satu segi ada khalifah masa itu menghalang penulisan dan rakaman hadis seraya mengarahkan mana-mana tulisan hadis dibakar. Seringkali juga sebarang kegiatan penyebaran dan kajian hadis dilarang.[1] Lantaran itu sebilangan hadis telah dilupakan atau hilang dan beberapa yang sempat dirawikan berubah dan menyelewing maksudnya

.

Dalam pada itu  kecenderungan lain juga wujud di kalangan sekumpulan lain sahabat nabi yang telah diberi penghormatan hidup sezaman dengan beliau dan mendengar sendiri sabda-sabda beliau. Kumpulan yang dihormati oleh beberapa khalifah dan kaum muslimin, memulakan satu usaha yang gigih untuk menyebarkan hadis. Ia menjadi sedemikian rupa sehinggakan kadang-kadang hadis boleh menolak Al-Quran dan ketetapan ayat al-Quran dimansukhkan oleh hadis mereka.[2]

.

Selalunya perawi hadis akan menjelajah beribu batu dan menanggung semua kesukaran bermusafir hanya untuk mendengar sepotong hadis. Ada juga orang asing yang menyamar sebagai orang Islam dan juga musuh dari kalangan Islam sendiri mula mengubah dan memutar-belitkan beberapa hadis sehingga kebenaran dan kesahihan hadis itu boleh dipertikaikan oleh saksi-saksi hadis itu sendiri. [3]

.

Di atas sebab itu para ulama Islam mula berfikirkan satu penyelesaian. Mereka mencipta beberapa kaedah memeriksa biografi perawi hadis dan kekuatan perawian untuk kita dapat membezakan antara hadis yang benar dan palsu. [4]

Kaedah Syiah dalam mengesahkan sesuatu hadis, di samping berusaha untuk mengesahkan rantaian perawi hadis yang sah tidak putus , disemak hubung-kait teks hadis dengan al-Quran adalah menjadi sebagai syarat yang perlu dalam menentukan kesahihan. Dari sumber-sumber Syiah walaupun terdapat banyak hadis Nabi dan Imam dengan rantaian perawian yang sah tetapi apabila ia bercanggah dengan al-Quran; ia tidak bernilai apa-apa. Hanya hadis yang menepati semua kriteria di atas boleh dianggap sah.[5]

Lantaran itu, Syiah tidak mengamalkan hadis-hadis yang bercanggahan dengan teks al-Quran. Maka pada hadis yang tidak memenuhi kriteria di atas dan pengesahan mahupun bantahan oleh para Imam belum diperolehi, hadis itu hanya merupakan setakat riwayat atau khabar berita. [6]

Tidak dinafikan juga dalam Syiah sendiri, sama seperti sekumpulan Sunni yang menerima kesemua hadis dari pelbagai sumber. Kaedah Syiah dalam kesahihan hadis. Sebuah hadis yang dinyatakan terus dari mulut Nabi mahupun salah seorang daripada Imam akan diterima sebagaimana al-Quran. Manakala hadis yang disampaikan oleh perawi akan diterima rata-rata syiah jika rantaian rawinya tidak terputus kesahihannya atau jika wujud bukti yang jelas tentang kebenaran hadis itu dan  jika mereka peka akan prinsip doktrin yang memerlukan pengetahuan dan kepastian, sesuai dengan teks al-Quran.

Selain daripada dua jenis hadis itu, tiada hadis yang lain mempunyai sebarang kesahihan melalui prinsip pengkhabaran yang sah/mutawatir, maka hadis ini digelar hadis bersumber tunggal. Walau bagaimanapun, dalam menzahirkan syariah dengan kriteria di atas, Syiah menerima juga hadis yang diterima dan dipercayai. Oleh itu, ia boleh dikatakan bahawa untuk Syiah akan menerima hadis mutawatir dan akur dengannya, manakala hadis yang kurang sahih tetapi pada umumnya boleh dipercayai akan digunakan hanya dalam penjelasan pengamatan syariah.

ABU BAKAR DAN UMAR BIN KHATTAB MEMBAKAR HADITS-HADITS NABI? NAUDZUBILLAH SUMMA NAUDZUBILLAH!

Riwayat tentang pembakaran hadits

Riwayat pemabakaran hadits ini adalah riwayat yang terkenal baik di kelompok Muslim Sunni maupun kelompok Muslim Syi’ah. Hanya saja di kalangan Ahlu Sunnah (Sunni) riwayat ini jarang sekali atau hampir tak pernah diberitakan karena mungkin menyangkut kemuliaan Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang bisa saja terganggu karena mereka telah melakukan perbuatan yang mengundang banyak tanya.

Berikut adalah beberapa riwayat dimana Abu Bakar atau (dan) Umar membakar hadits-hadits Nabi. Perbuatan pembakaran hadits ini dampaknya terus terasa hingga sekarang. Umat Islam banyak sekali kehilangan ilmu dari sisi Nabi yang membuat mereka kehilangan petunjuk dan kekuarangan pengetahuan yang sebenarnya bisa mereka dapatkan dengan mudah hanya dengan meneliti apa-apa yang sudah dikatakan atau didiktekan oleh Nabi kepada umat Islam pada masa-masa awal.

Seandainya saja hadits-hadits itu tidak dibakar, maka umat Islam akan mendapatkan warisan yang berharga disamping Al-Qur’an.

LAPORAN PERTAMA

إن الخليفة أبا بكر نفسه كتب بيده خمسمائة حديث أثناء حياة الرسول، وانتقل الرسول إلى جوار ربه وهذه الأحاديث مكتوبة عنده، وبعد وفاة الرسول وعملا بتوجهاته وتوجهات دولة بطون قريش قام الخليفة الأول بإحراق الأحاديث النبوية التي سمعها من الرسول وكتبها بخط يده)

Ad-Dhahabi melaporkan bahwa Abu Bakar sendiri pernah menulis kurang lebih 500 buah hadits dengan tangannya sendiri ketika Rasulullah masih hidup (dan Rasulullah tidak melarangnya!). Akan tetapi ketika Rasulullah meninggal, ia memerintahkan umat Islam dan juga memerintahkan para gubernur dari suku Qurays untuk memerintahkan orang-orang membakar hadits-hadits yang mereka kumpulkan.

Kalau saja hadits yang jumlahnya 500 itu masih ada sampai sekarang, maka itu akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua karena hadits-hadits tersebut kemungkinan jauh lebih shahih ketimbang hadits-hadits yang sekarang karena mata rantai sanadnya langsung tidak melalui rantai sanad yang panjang yang kemungkinan mengurangi esensi dari hadits tersebut. Sayang sekali Abu Bakar sama sekali tidak memiliki visi yang jernih untuk masa depan umat Islam.

LAPORAN KEDUA

Al-Dhahabi, Ibnu Katsir, dan al-Muttaqi menyajikan fakta yang jauh lebih rinci tentang kebijakan Abu Bakar untuk melenyapkan hadits-hadits di awal masa pemerintahannya.

A’isyah melaporkan: “Ayahku mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah, dan jumlahnya kurang lebih ada 500 buah, dan kemudian ia menghabiskan malam itu tanpa tidur hanya berguling-guling di tempat tidur. Aku mengira bahwa ia sedang marah karena seseorang mungkin membuatnya begitu, atau mungkin ia mendengar berita yang tidak mengenakkan. Di keesokan harinya, ia berkata kepadaku, ‘Oh, anakku! Bawakanlah hadits-hadits yang ada padamu itu kepadaku,’ kemudian aku membawakan hadits-hadits itu kepada ayahku dan kemudian ia membakarnya.”

LAPORAN KETIGA

Ibn Sa’ad melaporkan dalam Thabaqat bahwa pada masa pemerintahan Umar, banyak sekali orang yang menyampaikan hadits-hadits dari sisi Rasulullah. Umar kemudian meminta orang-orang agar membawakan kepadanya semua hadits yang ditulis mereka. Setelah semuanya terkumpul kemudian Umar membakarnya:

إن أحاديث رسول الله قد كثرت على عهد عمر بن الخطاب فناشد الناس أن يأتوه بها، فلما أتوه بها أمر بتحريقها

“INI SEBENARNYA MENYIRATKAN BAHWA PARA SAHABAT SEJAK DULU SUDAH MENULIS HADITS-HADITS DAN MENYIMPANNYA. INI JUGA SEKALIGUS MENYIRATKAN BAHWA RASULULLAH TAK PERNAH MELARANG MEREKA MENULIS HADITS KARENA KALAU RASULULLAH PERNAH MELARANGNYA MAKA HANYA SEDIKIT SEKALI ATAU BAHKAN MUNGKIN TIDAK ADA SAMA SEKALI SAHABAT YANG BERANI MENULIS HADITS.”

LAPORAN KEEMPAT

Al-Muttaqi al-Hindi menulis bahwa setelah Umar membakar semua hadits yang dikumpulkan dari orang-orang, kemudian ia menulis pesan kepada para gubernur untuk memusnahkan semua salinan hadits yang ada di tangan mereka:

أن من كان عنده شئ مكتوب من سنة الرسول فليمحه

LAPORAN KELIMA

Kisah TRAGEDI HARI KAMIS adalah contoh yang paling telanjang bahwa Rasulullah memerintahkan orang-orang untuk menuliskan Sunnahnya dan menyimpannya supaya mereka bisa belajar darinya dan kemudian menyampaikannya kepada orang-orang di generasi selanjutnya. Kisah TRAGEDI HARI KAMIS itu adalah sebagai berikut:

Ibn Abbas melaporkan: “Ketika Rasulllah (SAAW) hendak berangkat ke Rahmatullah, ada sekelompok orang yang mengelilinginya (sebagian ada di luar rumahnya). Umar bin Khattab adalah salah seorang diantaranya. Rasulullah (SAAW) bersabda: ‘Kemarilah, aku akan tuliskan sebuah surat wasiat untuk kalian; supaya kalian tidak akan tersesat setelahnya. Demi mendengar itu Umar berkata dengan keras: ‘Sesungguhnya Rasulullah sedang meracau. Kita memiliki Kitabullah. Kitabullah sudah cukup bagi kita semua.’ Mereka yang ada di rumah Rasulullah saling bertengkar satu sama lainnya. Sebagian dari mereka berkata: ‘Bawakanlah kepadanya (alat tulis—pena dan kertas) supaya Rasulullah bisa menuliskan sebuah surat wasiat untuk kalian dan engkau takkan tersesat lagi sepeninggalnya. Dan beberapa sahabat berkata seperti apa yang dikatakan oleh Umar. Ketika mereka bertikai satu sama lainnya di hadapan Rasulullah, kemudian Rasulullah bangkit dari tidurnya dan berkata: ‘Menyingkirlah dariku!’”

‘Ubaidullah berkata: Ibn Abbas selalu berkata: ‘Sungguh sebuah kerugian besar; kerugian yang amat besar. Karena orang-orang hiruk pikuk dan kegaduhan bising sekali dimana-mana, maka Rasulullah takbisa menuliskan (mendiktekan) surat wasiat untuk mereka.

“JELAS SEKALI BAHWA RASULULLAH INGIN MENULISKAN SEBUAH SURAT WASIAT UNTUK PARA SAHABAT SUPAYA MEREKA TIDAK TERSESAT SEPENINGGALNYA. KALAU SAJA SURAT WASIAT ITU BENAR-BENAR TERTULISKAN, MAKA ITU ALANGKAH INDAHNYA. PERMINTAAN RASULULLAH INI SEKALIGUS JUGA MEMBUKTIKAN BAHWA PENULISAN HADIT ITU BUKAN SAJA BOLEH, MALAH DICONTOHKAN OLEH NABI LANGSUNG.”

Nota:
1. Bihar al-Anwaar, jilid.1,m/s.117.
2. Persoalan pemansuhan atau penggantian sebahagian ayat-ayat Al-Quran adalah satu cabaran sukar sains  perundangan Islam dan setengah ulama Sunni seolah-olah menerima konsep pemansuhan. Perisitwa Fadak merungkaikan pelbagai  tanggapan akan tafsir ayat-ayat Al-Quran melalui penggunaan hadis.
3. Kesan tragis persoalan ini apabila terdapat sebilangan besar karya-karya yang ditulis oleh ulama hadith tersohor dari hadis yang direka. Begitu juga tatkala biografi perawi hadis disemak, mereka samada dibuktikan sebagai tidak jujur ataupun perawi lemah.
4. Nota penyunting: Namun penelitian kesusasteraan hadis dan penciptaan kriteria untuk membezakan antara hadis yang benar mahupun palsu tidak boleh disamakan dengan kritikan orientalis Eropah terhadap pengumpulan keseluruhan hadis Islam. Dari pandangan Islam, komentar orientalis itu adalah salah satu dakyah yang paling kejam dibuat terhadap struktur keseluruhan Islam.
5. Bihar al-Anwaar, jilid.1.m/s.139.
6. Bihar al-anwar, jilid.l.m/s.117.-Sumber: petikan dari buku Syiah dikarang oleh Allamah Sayyid Muhammad Husayn Tabatabaei.

Analisis Hadis Kitabullah Dan Sunnah


Tajuk ini merupakan perbicaraan lama, yang pada mulanya, saya tidak mahu disentuh di dalam web ini. Ini kerana saya telah begitu menekankan hadis sebenar yang sahih lagi mutawattir adalah hadis Tsaqalain, yakni, Kitabullah dan itrati Ahlulbait. Bagaimanapun, kebelakangan ini, timbul kembali isu ini, tambahan pula ia ditimbukan oleh orang-orang yang suka-suka mendhaifkan sesuatu hadis, tanpa dalil yang mutlak, atau yang meyakinkan, demi mendhaifkan hadis Tsaqalain. Sia-sia. Ini adalah analisis hadis Kitabullah dan Sunnah, oleh saudara Secondprince. Selamat membaca.

Al Quranul Karim dan Sunnah Rasulullah SAW adalah landasan dan sumber syariat Islam. Hal ini merupakan kebenaran yang sifatnya pasti dan diyakini oleh umat Islam. Banyak ayat Al Quran yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah SAW, diantaranya

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah .Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (QS ; Al Hasyr 7).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS ; Al Ahzab 21).

Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah .Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS ; An Nisa 80).

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS ; An Nur 51-52).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu Ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS ; Al Ahzab 36).

Jadi Sunnah Rasulullah SAW merupakan salah satu pedoman bagi umat islam di seluruh dunia. Berdasarkan ayat-ayat Al Quran di atas sudah cukup rasanya untuk membuktikan kebenaran hal ini. Tulisan ini akan membahas hadis “Kitabullah wa Sunnaty” yang sering dijadikan dasar bahwa kita harus berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yaitu

Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.”.

Hadis “Kitabullah Wa Sunnaty” ini adalah hadis masyhur yang sering sekali didengar oleh umat Islam sehingga tidak jarang banyak yang beranggapan bahwa hadis ini adalah benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dasarnya kita umat Islam harus berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang merupakan dua landasan utama dalam agama Islam. Banyak dalil dalil shahih yang menganjurkan kita agar berpegang kepada As Sunnah baik dari Al Quran (seperti yang sudah disebutkan) ataupun dari hadis-hadis yang shahih. Sayangnya hadis”Kitabullah Wa Sunnaty” yang seringkali dijadikan dasar dalam masalah ini adalah hadis yang tidak shahih atau dhaif. Berikut adalah analisis terhadap sanad hadis ini.

Analisis Sumber Hadis “Kitab Allah dan SunahKu”

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini tidak terdapat dalam kitab hadis Kutub As Sittah(Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Tirmidzi). Sumber dari Hadis ini adalah Al Muwatta Imam Malik,Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim, At Tamhid Syarh Al Muwatta Ibnu Abdil Barr,Sunan Baihaqi, Sunan Daruquthni, dan Jami’ As Saghir As Suyuthi. Selain itu hadis ini juga ditemukan dalam kitab-kitab karya Ulama seperti , Al Khatib dalam Al Faqih Al MutafaqqihShawaiq Al Muhriqah Ibnu HajarSirah Ibnu Hisyam, Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh, Al Ihkam Ibnu Hazm danTarikh At Thabari. Dari semua sumber itu ternyata hadis ini diriwayatkan dengan 4 jalur sanad yaitu dari Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Amr bin Awf ra, dan Abu Said Al Khudri ra. Terdapat juga beberapa hadis yang diriwayatkan secara mursal (terputus sanadnya), mengenai hadis mursal ini sudah jelas kedhaifannya.

Hadis ini terbagi menjadi dua yaitu

  1. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang mursal
  2. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang muttasil atau bersambung

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Secara Mursal

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang diriwayatkan secara mursal ini terdapat dalam kitab Al Muwatta, Sirah Ibnu Hisyam, Sunan Baihaqi, Shawaiq Al Muhriqah, danTarikh At Thabari. Berikut adalah contoh hadisnya

Dalam Al Muwatta jilid I hal 899 no 3

Bahwa Rasulullah SAW bersabda” Wahai Sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunah RasulNya”.

Dalam Al Muwatta hadis ini diriwayatkan Imam Malik tanpa sanad. Malik bin Anas adalah generasi tabiit tabiin yang lahir antara tahun 91H-97H. Jadi paling tidak ada dua perawi yang tidak disebutkan di antara Malik bin Anas dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal ini maka dapat dinyatakan bahwa hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Dalam Sunan Baihaqi terdapat beberapa hadis mursal mengenai hal ini, diantaranya

Al Baihaqi dengan sanad dari Urwah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada haji wada “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan sesuatu bagimu yang apabila berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selamanya yaitu dua perkara Kitab Allah dan Sunnah NabiMu, Wahai umat manusia dengarkanlah olehmu apa yang aku sampaikan kepadamu, maka hiduplah kamu dengan berpegang kepadanya”.

Selain pada Sunan Baihaqi, hadis Urwah ini juga terdapat dalam Miftah Al Jannah hal 29 karya As Suyuthi. Urwah bin Zubair adalah dari generasi tabiin yang lahir tahun 22H, jadi Urwah belum lahir saat Nabi SAW melakukan haji wada oleh karena itu hadis di atas terputus, dan ada satu orang perawi yang tidak disebutkan, bisa dari golongan sahabat dan bisa juga dari golongan tabiin. Singkatnya hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Al Baihaqi dengan sanad dari Ibnu Wahb yang berkata “Aku telah mendengar Malik bin Anas mengatakan berpegang teguhlah pada sabda Rasulullah SAW pada waktu haji wada yang berbunyi ‘Dua hal Aku tinggalkan bagimu dimana kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya”.

Hadis ini tidak berbeza dengan hadis Al Muwatta, karena Malik bin Anas tidak bertemu Rasulullah SAW jadi hadis ini juga dhaif.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam jilid 4 hal 185 hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda pada haji wada…..,Disini Ibnu Ishaq tidak menyebutkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW oleh karena itu hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam Tarikh At Thabari jilid 2 hal 205 hadis ini juga diriwayatkan secara mursal melalui Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Najih. Jadi kedua hadis ini dhaif. Mungkin ada yang beranggapan karena Sirah Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq sudah menjadi kitab Sirah yang jadi pegangan oleh jumhur ulama maka adanya hadis itu dalam Sirah Ibnu Hisyam sudah cukup menjadi bukti kebenarannya. Jawaban kami adalah benar bahwa Sirah Ibnu Hisyam menjadi pegangan oleh jumhur ulama, tetapi dalam kitab ini hadis tersebut terputus sanadnya jadi tentu saja dalam hal ini hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.

Sebuah Pembelaan dan Kritik

Hafiz Firdaus dalam bukunya Kaidah Memahami Hadis-hadis yang Bercanggah telah membahas hadis dalam Al Muwatta dan menanggapi pernyataan Syaikh Hasan As Saqqaf dalam karyanya Shahih Sifat shalat An Nabiy (dalam kitab ini As Saqqaf telah menyatakan hadis Kitab Allah dan SunahKu ini sebagai hadis yang dhaif ). Sebelumnya berikut akan dituliskan pendapat Hafiz Firdaus tersebut.

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya”

Hadis ini sahih: Dikeluarkan oleh Malik bin Anas dalam al-Muwattha’ – no: 1619 (Kitab al-Jami’, Bab Larangan memastikan Takdir). Berkata Malik apabila mengemukakan riwayat ini: Balghni………bererti “disampaikan kepada aku” (atau dari sudut catatan anak murid beliau sendiri: Dari Malik, disampaikan kepadanya………). Perkataan seperti ini memang khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahawa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Lebih lanjut lihat Qadi ‘Iyadh Tartib al-Madarik, jld 1, ms 136; Ibn ‘Abd al-Barr al Tamhid, jld 1, ms 34; al-Zarqani Syarh al Muwattha’, jld 4, ms 307 dan Hassath binti ‘Abd al-’Aziz Sagheir Hadis Mursal baina Maqbul wa Mardud, jld 2, ms 456-470.

Hasan ‘Ali al-Saqqaf dalam bukunya Shalat Bersama Nabi SAW (edisi terj. dari Sahih Sifat Solat Nabi), ms 269-275 berkata bahwa hadis ini sebenarnya adalah maudhu’. Isnadnya memiliki perawi yang dituduh pendusta manakala maksudnya tidak disokongi oleh mana-mana dalil lain. Beliau menulis: Sebenarnya hadis yang tsabit dan sahih adalah hadis yang berakhir dengan “wa ahli baiti” (sepertimana Khutbah C – penulis). Sedangkan yang berakhir dengan kata-kata “wa sunnati” (sepertimana Khutbah B) adalah batil dari sisi matan dan sanadnya.

Nampaknya al-Saqqaf telah terburu-buru dalam penilaian ini kerana beliau hanya menyimak beberapa jalan periwayatan dan meninggalkan yang selainnya, terutamanya apa yang terkandung dalam kitab-kitab Musannaf, Mu’jam dan Tarikh (Sejarah). Yang lebih berat adalah beliau telah menepikan begitu sahaja riwayat yang dibawa oleh Malik di dalam kitab al-Muwattha’nya atas alasan ianya adalah tanpa sanad padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Kritik kami adalah sebagai berikut, tentang kata-kata hadis riwayat Al Muwatta adalah shahih karena pernyataan Balghni atau “disampaikan kepada aku” dalam hadis riwayat Imam Malik ini adalah khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahwa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Maka Kami katakan, Kaidah periwayatan hadis dengan pernyataan Balghni atau “disampaikan kepadaku” memang terdapat di zaman Imam Malik. Hal ini juga dapat dilihat dalam Kutub As Sunnah Dirasah Watsiqiyyah oleh Rif’at Fauzi Abdul Muthallib hal 20, terdapat kata kata Hasan Al Bashri

“Jika empat shahabat berkumpul untuk periwayatan sebuah hadis maka saya tidak menyebut lagi nama shahabat”.Ia juga pernah berkata”Jika aku berkata hadatsana maka hadis itu saya terima dari fulan seorang tetapi bila aku berkata qala Rasulullah SAW maka hadis itu saya dengar dari 70 orang shahabat atau lebih”.

Tetapi adalah tidak benar mendakwa suatu hadis sebagai shahih hanya dengan pernyataan “balghni”. Hal ini jelas bertentangan dengan kaidah jumhur ulama tentang persyaratan hadis shahih seperti yang tercantum dalam Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis yaitu

Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.

Dengan kaidah Inilah as Saqqaf telah menepikan hadis al Muwatta tersebut karena memang hadis tersebut tidak ada sanadnya. Yang aneh justru pernyataan Hafiz yang menyalahkan As Saqqaf dengan kata-kata padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Pernyataan Hafiz di atas menunjukan bahwa Malik bin Anas dan tokoh hadis zamannya (sekitar 93H-179H) jika meriwayatkan hadis dengan pernyataan telah disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah SAW atau Qala Rasulullah SAW tanpa menyebutkan sanadnya maka hadis tersebut adalah shahih. Pernyataan ini jelas aneh dan bertentangan dengan kaidah jumhur ulama hadis. Sekali lagi hadis itu mursal atau terputus dan hadis mursal tidak bisa dijadikan hujjah karena kemungkinan dhaifnya. Karena bisa jadi perawi yang terputus itu adalah seorang tabiin yang bisa jadi dhaif atau tsiqat, jika tabiin itu tsiqatpun dia kemungkinan mendengar dari tabiin lain yang bisa jadi dhaif atau tsiqat dan seterusnya kemungkinan seperti itu tidak akan habis-habis. Sungguh sangat tidak mungkin mendakwa hadis mursal sebagai shahih “Hanya karena terdapat dalam Al Muwatta Imam Malik”.

Hal yang kami jelaskan itu juga terdapat dalam Ilmu Mushthalah Hadis oleh A Qadir Hassan hal 109 yang mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah, Ibnu Hajar berkata

”Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat itu dari seorang shahabat, tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain”.

Lihat baik-baik walaupun yang meriwayatkan hadis mursal itu adalah tabiin tetap saja dinyatakan dhaif apalagi Malik bin Anas yang seorang tabiit tabiin maka akan jauh lebih banyak kemungkinan dhaifnya. Pernyataan yang benar tentang hadis mursal Al Muwatta adalah hadis tersebut shahih jika terdapat hadis lain yang bersambung dan shahih sanadnya yang menguatkan hadis mursal tersebut di kitab-kitab lain. Jadi adalah kekeliruan menjadikan hadis mursal shahih hanya karena terdapat dalam Al Muwatta.

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Dengan Sanad Yang Bersambung.

Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dari sumber-sumber yang ada ternyata ada 4 jalan sanad hadis “Kitab Allah dan SunahKu”. 4 jalan sanad itu adalah
1. Jalur Ibnu Abbas ra
2. Jalur Abu Hurairah ra
3. Jalur Amr bin Awf ra
4. Jalur Abu Said Al Khudri ra

Jalan Sanad Ibnu Abbas

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas dapat ditemukan dalam Kitab Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93 dan Sunan Baihaqi juz 10 hal 4 yang pada dasarnya juga mengutip dari Al Mustadrak. Dalam kitab-kitab ini sanad hadis itu dari jalan Ibnu Abi Uwais dari Ayahnya dari Tsaur bin Zaid Al Daily dari Ikrimah dari Ibnu Abbas

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya”.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena terdapat kelemahan pada dua orang perawinya yaitu Ibnu Abi Uwais dan Ayahnya.

1. Ibnu Abi Uwais

  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 mengenai biografi Ibnu Abi Uwais terdapat perkataan orang yang mencelanya, diantaranya Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong. Menurut Abu Hatim Ibnu Abi Uwais itu mahalluhu ash shidq atau tempat kejujuran tetapi dia terbukti lengah. An Nasa’i menilai Ibnu Abi Uwais dhaif dan tidak tsiqah. Menurut Abu Al Qasim Al Alkaiy “An Nasa’i sangat jelek menilainya (Ibnu Abi Uwais) sampai ke derajat matruk(ditinggalkan hadisnya)”. Ahmad bin Ady berkata “Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya Malik beberapa hadis gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun.”
  • Dalam Muqaddimah Al Fath Al Bary halaman 391 terbitan Dar Al Ma’rifah, Al Hafiz Ibnu Hajar mengenai Ibnu Abi Uwais berkata ”Atas dasar itu hadis dia (Ibnu Abi Uwais) tidak dapat dijadikan hujjah selain yang terdapat dalam As Shahih karena celaan yang dilakukan Imam Nasa’i dan lain-lain”.
  • Dalam Fath Al Mulk Al Aly halaman 15, Al Hafiz Sayyid Ahmad bin Shiddiq mengatakan “berkata Salamah bin Syabib Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan “mungkin aku membuat hadis untuk penduduk madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu di antara mereka”.

Jadi Ibnu Abi Uwais adalah perawi yang tertuduh dhaif, tidak tsiqat, pembohong, matruk dan dituduh suka membuat hadis. Ada sebagian orang yang membela Ibnu Abi Uwais dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu Rijal atau perawi Shahih Bukhari oleh karena itu hadisnya bisa dijadikan hujjah. Pernyataan ini jelas tertolak karena Bukhari memang berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais tetapi telah dipastikan bahwa Ibnu Abi Uwais adalah perawi Bukhari yang diperselisihkan oleh para ulama hadis. Seperti penjelasan di atas terdapat jarh atau celaan yang jelas oleh ulama hadis seperti Yahya bin Mu’in, An Nasa’i dan lain-lain. Dalam prinsip Ilmu Jarh wat Ta’dil celaan yang jelas didahulukan dari pujian(ta’dil). Oleh karenanya hadis Ibnu Abi Uwais tidak bisa dijadikan hujjah. Mengenai hadis Bukhari dari Ibnu Abi Uwais, hadis-hadis tersebut memiliki mutaba’ah atau pendukung dari riwayat-riwayat lain sehingga hadis tersebut tetap dinyatakan shahih. Lihat penjelasan Al Hafiz Ibnu Hajar dalam Al Fath Al Bary Syarh Shahih Bukhari, Beliau mengatakan bahwa hadis Ibnu Abi Uwais selain dalam As Shahih(Bukhari dan Muslim) tidak bisa dijadikan hujjah. Dan hadis yang dibicarakan ini tidak terdapat dalam kedua kitab Shahih tersebut, hadis ini terdapat dalam Mustadrak dan Sunan Baihaqi.

2. Abu Uwais

  • Dalam kitab Al Jarh Wa At Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim jilid V hal 92, Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya Abu Hatim Ar Razy yang berkata mengenai Abu Uwais “Ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah dan dia tidak kuat”.Ibnu Abi Hatim menukil dari Yahya bin Mu’in yang berkata “Abu Uwais tidak tsiqah”.
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya(Abu Uwais) suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong.

Dalam Al Mustadrak jilid I hal 93, Al Hakim tidak menshahihkan hadis ini. Beliau mendiamkannya dan mencari syahid atau penguat bagi hadis tersebut, Beliau berkata”Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah ra”. Mengenai hadis Abu Hurairah ra ini akan dibahas nanti, yang penting dari pernyataan itu secara tidak langsung Al Hakim mengakui kedhaifan hadis Ibnu Abbas tersebut oleh karena itu beliau mencari syahid penguat untuk hadis tersebut .Setelah melihat kedudukan kedua perawi hadis Ibnu Abbas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hadis ”Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas adalah dhaif.

Jalan Sanad Abu Hurairah ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad Abu Hurairah ra terdapat dalam Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93, Sunan Al Kubra Baihaqi juz 10, Sunan DaruquthniIV hal 245, Jami’ As Saghir As Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94, At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan Al Ihkam VI hal 243 Ibnu Hazm.
Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin Musa At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi’dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh”.

Hadis di atas adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

  • Dalam Kitab Tahdzib Al Kamal ( XIII hal 96) berkata Yahya bin Muin bahwa riwayat hadis Shalih bin Musa bukan apa-apa. Abu Hatim Ar Razy berkatahadis Shalih bin Musa dhaif. Imam Nasa’i berkata hadis Shalih bin Musa tidak perlu ditulis dan dia itu matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).
  • Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Tahdzib At Tahdzib IV hal 355 menyebutkan Ibnu Hibban berkata bahwa Shalih bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadis itsbat(yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tersebut ma’mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk berhujjah. Abu Nu’aim berkata Shalih bin Musa itu matruk Al Hadis sering meriwayatkan hadis mungkar.
  • Dalam At Taqrib (Tarjamah :2891) Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallany menyatakan bahwa Shalih bin Musa adalah perawi yang matruk(harus ditinggalkan).
  • Al Dzahaby dalam Al Kasyif (2412) menyebutkan bahwa Shalih bin Musa itu wahin (lemah).
  • Dalam Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 306 Sayyid Alwi bin Thahir ketika mengomentari Shalih bin Musa, beliau menyatakan bahwa Imam Bukhari berkata”Shalih bin Musa adalah perawi yang membawa hadis-hadis mungkar”.

Kalau melihat jarh atau celaan para ulama terhadap Shalih bin Musa tersebut maka dapat dinyatakan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan sanad dari Abu Hurairah ra di atas adalah hadis yang dhaif. Adalah hal yang aneh ternyata As Suyuthi dalam Jami’ As Saghir menyatakan hadis tersebut hasan, Al Hafiz Al Manawi menshahihkannya dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir dan Al Albani juga telah memasukkan hadis ini dalam Shahih Jami’ As Saghir. Begitu pula yang dinyatakan oleh Al Khatib dan Ibnu Hazm. Menurut kami penshahihan hadis tersebut tidak benar karena dalam sanad hadis tersebut terdapat cacat yang jelas pada perawinya, Bagaimana mungkin hadis tersebut shahih jika dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, mungkar al hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nyata sekali bahwa ulama-ulama yang menshahihkan hadis ini telah bertindak longgar(tasahul) dalam masalah ini.

Mengapa para ulama itu bersikap tasahul dalam penetapan kedudukan hadis ini?. Hal ini mungkin karena matan hadis tersebut adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi menurut kami matan hadis tersebut yang benar dan shahih adalah dengan matan hadis yang sama redaksinya hanya perbedaan pada“Kitab Allah dan SunahKu” menjadi “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu”. Hadis dengan matan seperti ini salah satunya terdapat dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 & 3788 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi.Kalau dibandingkan antara hadis ini dengan hadis Abu Hurairah ra di atas dapat dipastikan bahwa hadis Shahih Sunan Tirmidzi ini jauh lebih shahih kedudukannya karena semua perawinya tsiqat. Sedangkan hadis Abu Hurairah ra di atas terdapat cacat pada salah satu perawinya yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

Adz Dzahabi dalam Al Mizan Al I’tidal jilid II hal 302 berkata bahwa hadis Shalih bin Musa tersebut termasuk dari kemunkaran yang dilakukannya. Selain itu hadis riwayat Abu Hurairah ini dinyatakan dhaif oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy setelah beliau mengkritik Shalih bin Musa salah satu perawi hadis tersebut. Jadi pendapat yang benar dalam masalah ini adalah hadis riwayat Abu Hurairah tersebut adalah dhaif sedangkan pernyataan As Suyuthi, Al Manawi, Al Albani dan yang lain bahwa hadis tersebut shahih adalah keliru karena dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang sangat jelas cacatnya sehingga tidak mungkin bisa dikatakan shahih.

Jalan Sanad Amr bin Awf ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Amr bin Awf terdapat dalam kitab At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr. Telah menghadiskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ahmad bin Sa’id, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Daibaly, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ali bin Zaid Al Faridhy, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Al Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Awf dari ayahnya dari kakeknya

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat cacat pada perawinya yaitu Katsir bin Abdullah .

  • Dalam Mizan Al Itidal (biografi Katsir bin Abdullah no 6943) karya Adz Dzahabi terdapat celaan pada Katsir bin Abdullah. Menurut Daruquthni Katsir bin Abdullah adalah matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya). Abu Hatim menilai Katsir bin Abdullah tidak kuat. An Nasa’i menilai Katsir bin Abdullah tidak tsiqah.
  • Dalam At Taqrib at Tahdzib, Ibnu Hajar menyatakan Katsir bin Abdullah dhaif.
  • Dalam Al Kasyf Adz Dzahaby menilai Katsir bin Abdullah wahin(lemah).
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Ibnu Hibban berkata tentang Katsir bin Abdullah “Hadisnya sangat mungkar” dan “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari ayahnya dari kakeknya yang tidak pantas disebutkan dalam kitab-kitab maupun periwayatan”
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Yahya bin Main berkata “Katsir lemah hadisnya”
  • DalamKitab Al Jarh Wat Ta’dil biografi no 858, Abu Zur’ah berkata “Hadisnya tidak ada apa-apanya, dia tidak kuat hafalannya”.
  • Dalam Adh Dhu’afa Al Kabir Al Uqaili (no 1555), Mutharrif bin Abdillah berkata tentang Katsir “Dia orang yang banyak permusuhannya dan tidak seorangpun sahabat kami yang mengambil hadis darinya”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Ibnu Adi berkata perihal Katsir “Dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan pegangan”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Abu Khaitsamah berkata “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku : jangan sedikitpun engkau meriwayatkan hadis dari Katsir bin Abdullah”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Wal Matrukin Ibnu Jauzi juz III hal 24 terdapat perkataan Imam Syafii perihal Katsir bin Abdullah “Katsir bin Abdullah Al Muzanni adalah satu pilar dari berbagai pilar kedustaan”

Jadi hadis Amr bin Awf ini sangat jelas kedhaifannya karena dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, dhaif atau tidak tsiqah dan pendusta.

Jalur Abu Said Al Khudri ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Abu Said Al Khudri ra terdapat dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94 karya Al Khatib Baghdadi dan Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh dengan sanad dari Saif bin Umar dari Ibnu Ishaq Al Asadi dari Shabbat bin Muhammad dari Abu Hazm dari Abu Said Al Khudri ra.

Dalam rangkaian perawi ini terdapat perawi yang benar-benar dhaif yaitu Saif bin Umar At Tamimi.

  • Dalam Mizan Al I’tidal no 3637 Yahya bin Mu’in berkata “Saif daif dan riwayatnya tidak kuat”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Al Matrukin no 256, An Nasa’i mengatakan kalau Saif bin Umar adalah dhaif.
  • Dalam Al Majruhin no 443 Ibnu Hibban mengatakan Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi yang tsabit, ia seorang yang tertuduh zindiq dan seorang pemalsu hadis.
  • Dalam Ad Dhu’afa Abu Nu’aim no 95, Abu Nu’aim mengatakan kalau Saif bin Umar adalah orang yang tertuduh zindiq, riwayatnya jatuh dan bukan apa-apanya.
  • Dalam Tahzib At Tahzib juz 4 no 517 Abu Dawud berkata kalau Saif bukan apa-apa, Abu Hatim berkata “ia matruk”, Ad Daruquthni menyatakannya dhaif dan matruk. Al Hakim mengatakan kalau Saif tertuduh zindiq dan riwayatnya jatuh. Ibnu Adi mengatakan kalau hadisnya dikenal munkar dan tidak diikuti seorangpun.

Jadi jelas sekali kalau hadis Abu Said Al Khudri ra ini adalah hadis yang dhaif karena kedudukan Saif bin Umar yang dhaif di mata para ulama.

Hadis Tersebut Dhaif

Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini adalah hadis yang dhaif. Sebelum mengakhiri tulisan ini akan dibahas terlebih dahulu pernyataan Ali As Salus dalam Al Imamah wal Khilafah yang menyatakan shahihnya hadis “Kitab Allah Dan SunahKu”.
Ali As Salus menyatakan bahwa hadis riwayat Imam Malik adalah shahih walaupun dalam Al Muwatta hadis ini mursal. Beliau menyatakan bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh As Suyuthi,Al Manawi dan Al Albani. Selain itu hadis mursal dalam Al Muwatta adalah shahih menurutnya dengan mengutip pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Tanggapan Terhadap Ali As Salus

Pernyataan pertama bahwa hadis Malik bin Anas dalam Al Muwatta adalah shahih walaupun mursal adalah tidak benar. Hal ini telah dijelaskan dalam tanggapan kami terhadap Hafiz Firdaus bahwa hadis mursal tidak bisa langsung dinyatakan shahih kecuali terdapat hadis shahih(bersambung sanadnya) lain yang menguatkannya. Dan kenyataannya hadis yang jadi penguat hadis mursal Al Muwatta ini adalah tidak shahih. Pernyataan  Ali As Salus selanjutnya bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah ra adalah tidak tepat karena seperti yang sudah dijelaskan, dalam sanad hadis Abu Hurairah ra ada Shalih bin Musa yang tidak dapat dijadikan hujjah.

Ali As Salus menyatakan bahwa hadis mursal Al Muwatta shahih berdasarkan

  • Pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan
  • Pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Mengenai pernyataan Ibnu Abdil Barr tersebut, jelas itu adalah pendapatnya sendiri dan mengenai hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang mursal dalam Al Muwatta Ibnu Abdil Barr telah mencari sanad hadis ini dan memuatnya dalam kitabnya At Tamhid dan beliau menshahihkannya. Setelah dilihat ternyata hadis dalam At Tamhid tersebut tidaklah shahih karena cacat yang jelas pada perawinya.

Begitu pula pernyataan As Suyuthi yang dikutip Ali As Salus di atas itu adalah pendapat beliau sendiri dan As Suyuthi telah menjadikan hadis Abu Hurairah ra sebagai syahid atau pendukung hadis mursal Al Muwatta seperti yang beliau nyatakan dalam Jami’ As Saghir dan beliau menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah ditelaah ternyata hadis Abu Hurairah ra itu adalah dhaif. Jadi Kesimpulannya tetap saja hadis “Kitab Allah dan SunahKu” adalah hadis yang dhaif.

Salah satu bukti bahwa tidak semua hadis mursal Al Muwatta shahih adalah apa yang dikemukakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silisilatul Al Hadits Adh Dhaifah Wal Maudhuah hadis no 908

Nabi Isa pernah bersabda”Janganlah kalian banyak bicara tanpa menyebut Allah karena hati kalian akan mengeras.Hati yang keras jauh dari Allah namun kalian tidak mengetahuinya.Dan janganlah kalian mengamati dosa-dosa orang lain seolah-olah kalian Tuhan,akan tetapi amatilah dosa-dosa kalian seolah kalian itu hamba. Sesungguhnya setiap manusia itu diuji dan selamat maka kasihanilah orang-orang yang tengah tertimpa malapetaka dan bertahmidlah kepada Allah atas keselamatan kalian”.

Riwayat ini dikemukakan Imam Malik dalam Al Muwatta jilid II hal 986 tanpa sanad yang pasti tetapi Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil(bersambung) atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.

Syaikh Al Albani berkata tentang hadis ini

”Sekali lagi saya tegaskan memarfu’kan riwayat ini sampai kepada Nabi adalah kesalahan yang menyesatkan dan tidak syak lagi merupakan kedustaan yang nyata-nyata dinisbatkan kepada beliau padahal beliau terbebas darinya”.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Al Albani tidaklah langsung menyatakan bahwa hadis ini shahih hanya karena Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW. Justru Syaikh Al Albani menyatakan bahwa memarfu’kan hadis ini adalah kedustaan atau kesalahan yang menyesatkan karena berdasarkan penelitian beliau tidak ada sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW mengenai hadis ini.

Yang Aneh adalah pernyataan Ali As Salus dalam Imamah Wal Khilafah yang menyatakan bahwa hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah dhaif dan yang shahih adalah hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”. Hal ini jelas sangat tidak benar karena hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”sanad-sanadnya tidak shahih seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan di atas. Sedangkan hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah hadis yang diriwayatkan banyak shahabat dan sanadnya jauh lebih kuat dari hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”.

Jadi kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih. Ali As Salus dalam Imamah wal Khilafah telah membandingkan kedua hadis tersebut dengan metod yang tidak berimbang. Untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” beliau mengkritik habis-habisan bahkan dengan kritik yang tidak benar sedangkan untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” beliau bertindak longgar(tasahul) dan berhujjah dengan pernyataan ulama lain yang juga telah memudahkan dalam penshahihan hadis tersebut.

Nota:
1. Bihar al-Anwaar, jilid.1,m/s.117.
2. Persoalan pemansuhan atau penggantian sebahagian ayat-ayat Al-Quran adalah satu cabaran sukar sains  perundangan Islam dan setengah ulama Sunni seolah-olah menerima konsep pemansuhan. Perisitwa Fadak merungkaikan pelbagai  tanggapan akan tafsir ayat-ayat Al-Quran melalui penggunaan hadis.
3. Kesan tragis persoalan ini apabila terdapat sebilangan besar karya-karya yang ditulis oleh ulama hadith tersohor dari hadis yang direka. Begitu juga tatkala biografi perawi hadis disemak, mereka samada dibuktikan sebagai tidak jujur ataupun perawi lemah.
4. Nota penyunting: Namun penelitian kesusasteraan hadis dan penciptaan kriteria untuk membezakan antara hadis yang benar mahupun palsu tidak boleh disamakan dengan kritikan orientalis Eropah terhadap pengumpulan keseluruhan hadis Islam. Dari pandangan Islam, komentar orientalis itu adalah salah satu dakyah yang paling kejam dibuat terhadap struktur keseluruhan Islam.
5. Bihar al-Anwaar, jilid.1.m/s.139.
6. Bihar al-anwar, jilid.l.m/s.117.-Sumber: petikan dari buku Syiah dikarang oleh Allamah Sayyid Muhammad Husayn Tabatabaei.

 

BAGAIMANA UTSMAN BISA MENJADI KHALIFAH dan Siapa Yang Membunuhnya ??

BAGAIMANA UTSMAN BISA MENJADI KHALIFAH?

Ketika Khalifah Umar bin Khattab ditusuk orang, ia telah diberitahu orang-orang bahwa nama penggantinya sudah dibicarakan orang-orang. Untuk itu Umar berkata pada orang-orang yang ada di sekitarnya, “Seandainya Abu ‘Ubaydah ibn Al-Jarrah masih hidup, aku akan mengangkat dia menjadi khalifah penggantiku. Seandainya juga Salim, budak dari Hudzhaifah, masih hidup. Maka aku akan mencalonkan dia menjadi khalifah untuk menggantikan diriku.”
.
Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya kepada orang-orang, “Orang-orang berkata bahwa pembai’atan Abu Bakar oleh kaum Muslimin itu sebagai sebuah rekayasa dari setan tapi Allah melindungi kita dari keburukannya. Orang-orang juga berkata bahwa pengangkatan Umar untuk menjadi khalifah itu kurang konsultasi dan masyarakat tidak dilibatkan. Maka sekarang setelahku pengangkatan khalifah itu harus melalui musyawarah (Syura)” (Lihat Shahih Bukhari)
.
“Aku telah menentukan bahwa untuk tujuan ini aku akan berkonsultasi dengan sejumlah Muhajirun. Panggil Ali, Utsman, Thalhah, Zubayr, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqash. Apabila ada empat orang dari mereka setuju satu nama, maka yang dua lagi harus setuju dengan yang empat. Dan apabila keputusan mereka terbelah tiga-tiga, maka kalian harus mengikuti kelompok yang ada Abdurrahman bin Auf-nya; oleh karena itu dengarkan dia dan patuhi dia…” (Lihat Shahih Bukhari)
.
Dari riwayat yang ada di Shahih Bukhari itu jelaslah sudah bahwa Umar bin Khattab telah menentukan calon khalifahnya yang akan disebutkan oleh Abdurrahman bin Auf. Sistem pemilihan khalifah seperti inilah yang seringkali diambil sebagai cara untuk memilih pemimpin di kalangan saudara kita Ahlussunnah. Khalifah Umar bin Khattab menyuruh Abdurrahman bin Auf untuk menyebutkan kriteria-kriteria yang pantas dan harus dimiliki oleh seorang Khalifah yang nantinya harus dibai’at oleh kaum Muslimin. Abdurrahman bin Auf menyebutkan bahwa seorang khalifah baru itu harus mengikuti tindakan dan kebijakan yang telah dijalankan oleh kedua khalifah sebelumnya (Abu Bakar dan Umar) selain ia harus mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, keenam orang ternama di suku Arab itu terbagi kedalam dua kelompok masing-masing berisi tiga orang dimana di dalam masing-masing kelompok ada calonnya sebanyak satu orang calon khalifah. Kelompok pertama terdiri dari: Ali sebagai calon khalifah, kemudian Thalhah, dan Zubayr. Kelompok kedua terdiri dari Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, dan Utsman bin Affan sebagai calon khalifah di kelompok ini. Imam Ali menolak untuk mengikuti sunnah Abu Bakar dan Umar. Ali hanya akan mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta ijtihadnya sendiri. Ali berkata, “Aku akan mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta Ijtihadku sendiri” (Lihat: Khalid Muhammad Khalid,Khulafa ‘al-Rasul, halaman 272, edisi ke-8). Sementara itu Utsman menerima syarat itu. Ia menerima untuk mengikuti sunnah Abu Bakar dan Umar
.
Al-Bukhari melukiskan dalam kitab Shahih-nya tentang kejadian ini. Bukhari menyatakan bahwa Al-Hasir ibn Makhramah berkata: “Abdurrahman bin Auf mengetuk pintu rumahku setelah separuh malam berlalu hingga aku terbangun. Ia berkata, ‘Aku tahu engkau telah tertidur. Demi Allah, kedua mataku ini belumlah merasakan nikmatnya tidur. Marilah ikut denganku, panggilah Zubayr dan Sa’ad kehadapanku.’ Aku kemudian memanggil mereka, kemudian ia berbicara dengan keduanya. Kemudian setelah beberapa saat ia memanggilku dan berkata, ‘Panggilah Ali kehadapanku.’ Aku kemudian memanggilnya dan meminta kesediaannya untuk bertemu dengannya (Abdurrahman bin Auf). Ia kemudian berbicara dengan Ali secara pribadi hingga malam berangsur menuju pagi. Setelah itu Ali meninggalkan dia dengan raut wajah penuh optimisme. Ia kemudian berkata kepadaku, ‘Sekarang panggilah Utsman ke hadapanku.’ Dan saya melakukan perintahnya sekali lagi. Ia berbicara dengan Utsman secara pribadi hingga mu’adzin menyerukan adzhan untuk shalat shubuh dan akhirnya keduanya memutuskan untuk berpisah
.
Setelah shalat Shubuh, orang-orang yang sama berkumpul di depan mimbar Nabi. Abdurrahman bin Auf memanggil orang-orang Muhajirin dan Ansar yang hadir pada saat itu. Ia juga mengirimkan pesan agar para komandan pasukan berkumpul di sana. Para komandan pasukan ini ialah orang-orang yang sangat setia kepada Umar bin Khattab. Setelah semuanya berkumpul, Abdurrahman memulai pidatonya dengan dua kalimah syahadat, kemudian melanjutkan:
“Ya, Ali! Aku telah meneliti urusan umat ini dan kemudian aku tidak menemukan satu orangpun yang sebanding dengan Utsman; jadi, janganlah engkau sia-siakan keselamatanmu untuk engkau korbankan.”
Kemudian ia berkata kepada Utsman:
“Aku berikan bai’at kesetiaanku kepadamu sesuai dengan Sunnatulllah dan sunnah Rasulullah dan sunnah kedua khalifah sebelumnya”
Dengan perkataan itu Abrurrahman bin Auf memberikan bai’atnya kepada Utsman bin Affan diikuti oleh orang-orang yang hadir di sana.”
(Lihat: Al-Bukhari, Shahih, volume 9, halaman 239)
.
Jelas sekali terlihat intrik-intrik politik yang telah dibuat oleh Umar bin Khattab. Umar telah memperkirakan sebelumnya bahwa Ali tidak akan pernah setuju dengan syarat yang diajukan oleh Abdurrahman bin Auf yaitu syarat bahwa khalifah selanjutnya itu selain berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, juga berpegang pada sunnah kedua khalifah sebelumnya. Umar tahu calon yang lain pasti setuju apabila itu diajukan kepada mereka demi untuk mendapatkan jabatan khalifah, akan tetapi Ali senantiasa setia pada Islam dan bukan sunnah kedua khalifah sebelumnya yang sering menunjukkan pertentangannya dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
.
Umar tahu bahwa Thalhah dan Zubayr akan memilih Ali karena Umar melihat mereka berada di sisi Ali ketika terjadi peristiwa Saqifah yang mengantarkan Abu Bakar ke tampuk khilafah lewat intrik politik yang dibuat oleh Umar. Selain itu syarat yang diajukan oleh Umar yaitu apabila kelompok yang terdiri dari enam orang itu terpecah menjadi dua bagian yang sama, maka pihak yang ada Abdurrahman bin Auf lah yang boleh menentukan syarat menjadi khalifah. Ini menunjukkan dengan jelas sekali bahwa ada Intrik politik yang sedang dijalankan demi mencapai tujuan memenangkan kekhalifahan. InilahSYURA  yang telah mereka sebut-sebut itu……………………………

ALASAN MEREKA MEMBUNUH UTSMAN

Banyak sekali pernyataan yang simpang siur atas terbunuhnya Utsman bin Affan. Banyak sekali riwayat dan pernyataan yang saling berbenturan terutama ketika membicarakan tentang kelompok mana yang menggalang masa untuk membunuh Utsman; terus alasan apa yang mereka gunakan untuk membenarkan tindakan mereka itu; dan apa yang membuat mereka bersegera untuk melakukan itu hingga akhirnya Utsman terbunuhlah sudah………………………
.
Penjelasan yang paling masuk akal untuk menjelaskan mengapa Utsman dibunuh oleh mereka ialah karena Utsman seringkali bertindak nepotis dengan mengangkat para gubernur provinsi dari kalangan kerabatnya selain itu Utsman seringkali memberikan uang yang berasal dari Baytul Mal untuk diberikan kepada kerabatnya. Tindakan Utsman yang nepotis dan korup ini mengundang kritik tajam dan pemberontakan di sana sini untuk melengserkan Utsman.
.
Tangan-tangan rakus dari karib kerabat Utsman bin Affan (yang berasal dari suku Bani Umayyah) yang menjarah harta yang ada di Baytul Mal sesuka hati mereka menyebabkan orang berpikir bahwa rezim Bani Umayyah itu sebenarnya dimulai ketika Utsman menjabat khilafah dan dibai’at oleh semua orang dari suku Bani Umayyah. Abu Sufyan sebagai pemuka suku Bani Umayyah berkata sebagai berikut ketika Utsman resmi dibai’at sebagai khalifah baru, “Ya, Banu Umayyah! Ambillah khilafah ini dan mainkanlah seperti kalian memainkan bola, karena demi dia yang Abu Sufyan bersumpah atas namanya, aku sangat yakin kalian akan mendapatkannya, dan itu akan diperoleh oleh keturunanmu secara turun temurun.” (Lihat: Al-Tabari, Tarikh, Al-Mas’udi, Ibn Al-Athir, Al-Isti’ab). Menurut riwayat lainnya atas pernyataan yang sama, Abu Sufyan dilaporkan berkata, “Terimalah itu (khilafah) seperti ketika engkau menerima sebuah bola, karena aku yakin tidak ada surga maupun neraka…………” (Lihat: Ibn Al-Athir, Al-Mas’udi, Al-Tabari, Tarikh).
.
Diantara mereka yang menentang kekuasaan Utsman ialah mereka yang berasal dari kalangan sahabat yang ternama. Yang paling terkenal diantara mereka ialah Abu Dzar al-Ghifari (semoga Allah meridhoinya), kemudian Abdullah bin Mas’ud, dan Ammar bin Yasir. Utsman sangat membenci mereka ini dan memberikan hukuman yang keras terhadap mereka. Seperti misalnya, Abu Dzar, yang harus menemui kematiannya di sebuah gurun bernama Al-Rabathah karena ia telah melontarkan protes keras atas penunjukkan Mu’awiyyah sebagai gubernur provinsi Syiria (kemudian akhirnya kelak Mu’awiyyah mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa mutlak atas negeri Syria). Abu Dzar sangat membenci kebiasaan Mu’awiyyah yang mengambil timbunan emas dan uang yang merupakan milik dari umat Islam secara keseluruhan.
.
Zayd bin Wahbah berkata, “Aku melewati gurun Al-Rabathah dan melihat Abu Dzar di sana, semoga dia diridhoi oleh Allah, kemudian aku bertanya kepadanya, “Ya, Abu Dzar! Apakah yang membawamu ke tempat ini (hingga engkau menderita seperti ini)?” Kemudian Abu Dzar menjawab, “Aku dulu berada di Syiria dan aku bertengkar dengan Mu’awiyyah tentang sebuah ayat yang berbunyi:
.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih” (QS. At-Taubah: 34).
.
Mu’awiyyah berkata bahwa ayat ini hanya diturunkan berkenaan dengan orang-orang Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Sementara itu aku bilang bahwa ayat ini juga diturunkan untuk kita dan mereka; setelah itu terjadilah pertentangan antara kami berdua. Ia akhirnya menulis surat kepada Utsman mengeluhkan tentang aku. Kemudian Utsman menyuratiku memerintahkan diriku agar datang ke Madinah. Lalu aku pergi ke sana. Orang-orang berdatangan untuk melihatku seolah-olah mereka belum pernah melihatku sebelumnya, kemudian aku juga menyebutkan hal ini kepada Utsman. Ia berkata kepadaku, ‘Kalau engkau mau, engkau bisa tinggal jauh di sekitar sini’. Ini lah yang membuatku berada di tempat ini. Seandainya mereka mengutus seorang Ethiopia untuk menjabat sebagai seorang pemimpin (amir), maka aku mungkin akan mendengarkan dia dan mematuhi dia.” (Lihat: Al-Bukhari,Shahih, volume 2, halaman 278, dalam bab zakat).
.
Sementara itu Abdullah bin Mas’ud yang dipasrahi jabatan untuk mengawasi dan mengurus Baytul Mal di Kufah (Irak) mendapatkan perlakuan yang jauh lebih buruk. Beberapa tulang iganya patah karena dipukuli oleh budak-budak Utsman bin Affan sebagai hukuman yang harus ia terima karena ia berkeberatan atas tindakan Al-Walid bin Mu’it (saudara seibu dari Utsman bin Affan yang diangkat oleh Utsman untuk mengurus kota Kufah menggantikan posisi Sa’ad bin Abi Waqash). Abdullah bin Mas’ud keberatan terhadap Al-Walid bin Mu’it karena ia suka mengambil uang dari kaum Muslimin (dari Baytul Mal) dan kemudian tidak mengembalikan lagi ke kas baytul mal. (Lihat: Al-Balathiri, Ansab al-Ashraf, Al-Waqidi. Al-Ya’qibi, Tarikh)
.
Sedangkan Ammar bin Yasir, ia menderita sakit hernia setelah dipukuli oleh budak beliannya Utsman sebagai hukuman karena Ammar bin Yasir mendirikan shalat jenazah atas jenazah Abdullah bin Mas’ud tanpa memberitahu Utsman terlebih dahulu. Sebenarnya Ammar bin Yasir melakukan itu untuk menghormati Abdullah bin Mas’ud supaya khalifah Utsman tidak usah lagi menshalati jenazah Abdullah bin Mas’ud. (Lihat: Ibn Abul-Hadid, Sharh Nahjul Balaghah)
.
Masih banyak lagi orang-orang yang tidak setuju dengan keborosan karib kerabat dari khalifah Utsman yang semuanya berasal dari Bani Umayyah. Orang-orang tidak setuju dengan kebiasaan kaum Bani Umayyah yang mengambil harta kaum Muslimin yang dikumpulkan di Baytul Mal. Marwan bin Hakam, misalnya, pernah mengambil seperlima harta dari pajak khiraj dari Afrika. Masih banyak lagi cerita atau kisah tentang hal ini yang bisa anda baca dalam buku berjudul Khilafah wa Mulukiyyah (Khilafah dan Kerajaan)
.

SEBELUM UTSMAN DIBUNUH

Satu tahun sebelum Utsman dibunuh, orang-orang Kufah, Basrah dan Mesir bertemu di Masjidil Haram, Mekah. Pemimpin kelompok Kufah adalah Ka’ab bin Abduh, pemimpin kelompok Basrah adalah Al-Muthanna bin Makhrabah Al-‘Abdi dan pemimpin kelompok Mesir adalah Kinanah bin Basyir bin Uttab bin Auf As-Sukuni kemudian hari diganti oleh At-Taji’i. Beberapa kelompok dari mereka ialah:
  1. KELOMPOK KELUARGA YANG DILALIMI KHALIFAH: Sa’ad bin Musayyib menceritakan adanya keluarga Banu Hudzail dan Banu Zuhrah yang merasa sakit hati atas perbuatan Utsman terhadap ‘Abdullah bin Mas’ud, karena Ibnu Mas’ud berasal dari kedua klan ini. Yang tergabung kedalam kelompok ini adalah mereka yang anggota keluarganya mendapatkan perlakuan buruk dari Utsman bin Affan seperti keluarga Banu Taim yang membela Muhammad bin Abu Bakar; keluarga Banu Ghifari yang membela Abu Dzar; keluarga Banu Makhzum yang membela ‘Ammar bin Yasir dll. Mereka semua mengepung rumah khalifah Utsman dan menuntut khalifah memecat Sekretaris Negara, Marwan bin Hakam.
  2. KELOMPOK PENDUDUK BASRAH: Kemudian dari Basrah datang ke Madinah sekitar 150 orang. Yang tergabung kedalam kelompok ini adalah Dzarih bin Ubbad Al-‘Abdi, Basyir bin Syarih Al-Qaisi, Ibnu Muharrisy. Malah menurut Ibnu Khaldun jumlah mereka sama banyaknya dengan jumlah pendatang Mesir yaitu sekitar 1,000 orang, dan terbagi kedalam 4 kelompok.
  3. KELOMPOK KUFAH: Dari Kufah datang 200 orang yang dipimpin Asytar. Ibnu Qutaybah mengatakan kelompok Kufah terdiri dari 1,000 orang dalam 4 kelompok. Pemimpin masing-masing kelompok adalah Zaid bin Suhan al-‘Abdi, Ziyad bin an-Nashr al-Haritsi, ‘Abdullah bin al-‘Ashm al-‘Amiri dan ‘Amr bin al-Ahtam.
  4. KELOMPOK MESIR: Dari Mesir datang 1,000 orang (ada yang mengatakan hanya 400 orang, atau 500 orang, atau 700 orang, atau 600 orang. Menurut Ibn Abil-Hadid 2,000 orang). Dalam kelompok ini terdapat Muhammad bin Abi Bakar, Sudan  bin Hamran as-Sukuni, ‘Amr bin Hamaq al-Khaza’i. Mereka dibagi dalam empat kelompok masing-masing dipimpin oleh ‘Amr bin Badil bin Waraqa’ al-Khaza’i, ‘Abdurrahman bin ‘Adis Abu Muhammad al-Balwi, ‘Urwah bin Sayyim bin al-Baya’ al-Kinani al-Laitsi, Kinanah bin Basyir Sukuni at-Tajidi. Mereka semua berkumpul di sekitar ‘Amr bin Badil al-Ghaza’i, seorang sahabat Rasulullah, dan ‘Abdurrahman bin ‘Adis al-Tajibi.
  5. KELOMPOK MADINAH: Mereka disambut oleh kelompok Madinah yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar seperti ‘Ammar bin Yasir al-‘Abasi, seorang pengikut perang Badar, Rifaqah bin Rafi’ al-Anshari, pengikut Perang Badar, al-Hajjaj bin Ghaziah seorang sahabat Rasulullah, Amir bin Bakir, seorang dari Banu Kinanah dan pengikut Perang Badar, Thalhah bin Ubaydillah dan Zubayr bin Awwam, peserta Perang Badar. Lihat referensi berikut ini:
    • Ibnu Sa’ad, Thabaqat, jilid 3, halaman 49
    • Baladzuri, al-Ansab al-Asyraf, jilid 5, halaman 26, 59
    • Ibnu Qutaybah, al-Imamah wa’s-Siyasah, jilid 1, halaman 34
    • Ibnu Qutaybah, al-Ma’arif, halaman 84
    • Thabari, Tarikh, jilid 5, halaman 116
    • Muruj adz-Dzahab, jilid 1, halaman 441
    • Ibnu ‘Abd Rabbih, al-‘Iqd al-Farid, jilid 2, halaman 262, 263, 269
    • Muhibbudin Thabari, Ar-Riyadh an-Nadhirah, jilid 2, halaman 123, 124
    • Ibnu Atsir, al-Kamil, jilid 3, halaman 66
    • dll.

‘AISYAH BERKATA: “BUNUH NA’TSAL, SESUNGGUHNYA IA TELAH KAFIR!”

Sejarah telah mencatat bahwa Ummul Mukminin ‘Aisyah, bersama Thalhah, Zubayr dan anaknya Abdullah bin Zubayr, telah melancarkan peperangan terhadap khalifah yang sah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, yang memakan korban hingga lebih dari 20,000 orang, dengan alasan untuk menuntut darah Utsman bin Affan (jadi mereka menyalahkan orang yang sama sekali tidak bersalah!).

Padahal Ummul Mukminin ‘Aisyah adalah pelopor dalam melawan ‘Utsman dengan mengatakan bahwa Utsman telah kafir.

Thalhah menahan pengiriman air minum kepada Utsman, tatkala rumah khalifah yang ketiga itu dikepung ‘para pemberontak’ yang datang dari daerah-daerah.

Zubayr menyuruh orang membunuh Utsman pada waktu rumah khalifah itu sedang dikepung. Orang mengatakan kepada Zubayr: “Anakmu sedang menjaga di pintu, mengawal (Utsman).” Zubayr menjawab: “Biar aku kehilangan anakku tetapi Utsman harus dibunuh!” (Lihat: Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju-l-Balaghah, jilid 6, halaman 35—36).

Zubayr dan Thalhah juga adalah orang-orang yang pertama membai’at Ali.

Khalifah Utsman mengangkat Walid bin Uqbah, saudara seibunya jadi Gubernur di Kufah. Ayahnya Uqbah pernah menghujat Rasulallah di depan orang banyak, dan kemudian dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib. Walid sendiri dituduh sebagai pemabuk dan menghambur-hamburkan uang baitul mal. Ibnu Mas’ud (Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud), seorang sahabat terkemuka, yang ikut Perang Badar, yang mengajar Al-Qur’an dan agama di Kufah, penanggung jawab baytul mal, menegur Walid. Walid mengirim surat kepada Utsman mengenai Ibnu Mas’ud. Utsman memanggil Ibnu Mas’ud menghadap Madinah.

Baladzuri menulis:

“ ‘Utsman sedang berkhotbah di atas mimbar Rasulullah. Tatkala Utsman melihat Ibnu Mas’ud datang ia berkata: ‘Telah datang kepadamuu seekor kadal (duwaibah) yang buruk, yang kerjanya mencari makan malam hari, muntah dan berak!’.

Ibnu Mas’ud menjawab: ‘Bukan begitu, tetapi aku adalah sahabat Rasulullah pada perang Badar danbai’at ar-ridwan’ (Ibnu Mas’ud sengaja menyebutkan kedua peristiwa ini karena Utsman memang tidak pernah hadir dalam kedua peristiwa itu—red)

‘Aisyah berteriak: ‘Hai Utsman, apa yang kau katakan terhadap sahabat Rasulullah ini?’

Utsman naik pitam dan berteriak: ‘Diam engkau!’

Dan kemudian Utsman memerintahkan mengeluarkan Ibnu Mas’ud dari Masjid dengan kekerasan. Abdullah bin Zam’ah, pembantu Utsman, membanting Ibnu Mas’ud ke tanah. Kemudian ia menginjak tengkuk Ibnu Mas’ud secara bergantian dengan kedua kakinya hingga rusuk Ibnu Mas’ud patah.

Marwan bin Hakam berkata kepada Utsman: ‘Ibnu Mas’ud telah merusak Irak, apakah engkau ingin ia merusak Syam juga?’ Dan Ibnu Mas’ud ditahan dalam kota Madinah sampai ia meninggal dunia tiga tahun kemudian. Sebelum mati ia membuat wasiat agara Ammar bin Yasir menguburkannya diam-diam, yang kemudian membuat Utsman marah.

Karena Utsman sering menghukum saksi pelanggaran agama oleh pembantu-pembantunya, timbullah gejolak di Kufah. Orang menuduh Utsman sering menghukum saksi dan membebaskan tertuduh (Lihat: Ibnu Abd al-Barr, Kitab al-Istiab fi Ma’rifati ‘l-Ashhab, dalam pembicaraan Ibnu Mas’ud; lihat juga Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya bin Jabir, Ansab al-Asyraf, jilid 5, halaman 35).

Abu’l-Faraj menulis: “Berasal dari az-Zuhri yang berkata:  ‘Sekelompok orang Kufah menemui Utsman pada masa Walid bin Uqbah menjadi gubernur. Maka berkatalah Utsman: ‘Bila seorang diantara kamu marah kepada pemimpinnya, maka dia lalu menuduhnya melakukan kesalahan,  besok aku akan menghukum dirimu.’ Dan mereka meminta perlindungan ‘Aisyah. Besoknya Utsman mendengar kata-kata kasar mengenai dirinya keluar dari kamar ‘Aisyah, maka Utsman berseru: ‘Orang Iraq yang tidak beragama dan fasik-lah yang mengungsi di rumah ‘Aisyah’.’ Tatkala ‘Aisyah mendengar kata-kata Utsman ini, ia mengangkat sandal Rasulullah, dan berkata: ‘Anda meninggalkan sunnah Rasulullah, pemilik sandal ini!’ Orang-orang mendengarkan. Mereka datang memenuhi masjid. Ada yang berkata, “Dia betul” dan ada yang berkata, “Bukan urusan perempuan!” . Akhirnya mereka baku hantam dengan sandal. (Lihat: Abu’l-Faraj al-Isfahani, al-AghaniI, jilid 4, halaman 18)

Baladzuri menulis: “Aisyah mengeluarkan kata-kata kasar yang ditujukan kepada Utsman dan Utsman membalasnya: ‘Apa hubungan anda dengan ini?’ ‘Anda diperintahkan agar diam di rumahmu (maksudnya ialah firman Allah yang memerintahkan isteri Rasul agar tinggal di rumah:


“…dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat…………” (QS. AL-Ahzab: 33).

Dan ada kelompok yang berucap seperti Utsman, dan yang lain berkata: ‘Siapakah yang lebih utama dari ‘Aisyah?’ Dan mereka baku hantam dengan sandal, dan ini pertama kali perkelahian antara kaum Muslimin, sesudah Nabi wafat. (Lihat: Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, halaman 18)

Tatkala khalifah Utsman sedang dikepung oleh “pemberontak” yang datang dari Mesir, Basrah, dan Kufah, ‘Aisyah naik haji ke Mekah.

Thabari menulis: “Seorang laki-laki bernama Akhdhar (datang dari Madinah) dan menemui ‘Aisyah”

Aisyah: “Apa yang sedang mereka lakukan?”
Akhdhar: “Utsman telah membunuh orang-orang Mesir itu!”
Aisyah: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Apakah ia membunuh kaum yang datang mencari hak dan mengingkari dzalim? Demi Allah, kita tidak rela akan (peristiwa) ini.
Kemudian seorang laki-laki lain (datang dari Madinah).
Aisyah: “Apa yang sedang dilakukan oleh orang itu?”
Laki-laki itu menjawab: “Orang-orang Mesir telah membunuh Utsman!”
Aisyah: “Ajaib si Akhdhar. Ia mengatakan bahwa yang terbunuhlah yang membunuh” Sejak saat itulah muncul peribahasa, “LEBIH BOHONG DARIPADA SI AKHDHAR” (Lihat: Thabari,Tarikh, jilid 5, halaman 166)
Abu Mikhnaf Luth al-‘Azdi menulis: ‘Aisyah berada di Mekah tatkala mendengar terbunuhnya Utsman. Ia segera kembali ke Madinah dalam keadaan tergesa-gesa. Dia berkata: “Dialah PEMILIK JARI” (Dzul Ishba, gelar Thalhah bin Ubaydillah, karena beberapa jarinya buntung di perang Uhud). Demi Allah, mereka akan mendapatkan kecocokan pada Thalhah. Dan tatkala Aisyah berhenti di Sarf (Sarf, suatu tempat sekitar 10 km jauhnya dari kota Mekah), ia bertemu dengan Ubaid bin Abi Salmah al-Laitsi.
Aisyah berkata: “Ada berita apa?”
Ubaid menjawab: “Utsman dibunuh”
Aisyah: “Kemudian bagaimana?”
Ubaid: “Kemudian mereka telah menyerahkan kepada orang yang paling baik, mereka telah membai’at Ali”
Aisyah: “Aku lebih suka langit runtuh menutupi bumi! Selesailah sudah! Celakalah anda! Lihatlah apa yang anda katakan!.
Ubaid: “Itulah yang saya katakan pada anda, ya ummul mukminin
Maka merataplah Aisyah
Ubaid: “Ada apa, ya ummul mukminin! Demi Allah, aku tidak mengetahui ada yang lebih utama dan lebih baik dari dirinya. Dan aku tidak mengetahui orang yang sejajar dengannya, maka mengapa anda tidak menyukai wilayah-nya?”
Aisyah tidak menjawab.

Dengan jalur yang berbeda-beda diriwayatkan pula bahwa Aisyah tatkala sedang berada di kota Mekah, mendapatkan berita tentang pembunuhan Utsman, ia berkata:

“Mampuslah dia (ab’adahu ‘llah)! Itulah hasil kedua tangannya sendiri! Dan Allah tidak dzalim terhadap hambaNya!”

Dan diriwayatkan bahwa Qais bin Abi Hazm naik haji pada tahun Utsman dibunuh. Tatkala berita pembunuhan sampai, ia berada bersama Aisyah dan menemaninya pergi ke Madinah. Dan Qais berkata: “Aku mendengar ia telah berkata:

‘Dialah si PEMILIK JARI!’

Dan tatkala disebut nama Utsman, ia berkata:

‘Mampuslah dia!’

Dan waktu mendapat kabar dibai’atnya Ali, ia berkata:

‘Aku ingin yang itu (sambil menunjuk ke langit) runtuh menutupi yang ini (sambil menunjuk ke bumi)’”

Ia lalu memerintahkan agar unta tunggangannya di kembalikan ke Mekah dan aku kembali bersamanya. Sampai di Mekah ia berkhotbah kepada dirinya sendiri, seakan-akan ia berbicara kepada seseorang.

‘Mereka telah membunuh Ibnu Affan (Utsman) dengan dzalim’. Dan aku berkata kepadanya: ‘Ya Ummul mukminin! Tidakkah aku mendengar baru saja anda telah berkata, “Ab’adahu-llah!”?”

‘Dan aku melihat engkau sebelum ini paling keras terhadapnya dan mengeluarkan kata-kata buruk untuknya!”

Aisyah menjawab, “Betul demikian, tetapi aku telah mengamati masalahnya dan aku melihat mereka meminta agar dia bertobat………….kemudian setelah ia bertobat mereka membunuhnya pada bulan haram’

Dan diriwayatkan dalam jalur lain bahwa tatkala sampai kepadanya berita terbunuhnya Utsman ia berkata:

“Mampuslah dia! Ia dibunuh oleh dosanya sendiri. Mudah-mudahan Allah menghukumnya dengan hasil perbuatannya (aqadahu-llah)! Hai kaum Qurays, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang terhadap pembunuh Utsman, seperti yang dilakukan kepada kaum Tsamud! Orang yang paling berhak akan kekuasaan ini adalah Si Pemilik Jari!”

Dan tatkala sampai berita pembaiatan terhadap Ali, ia berkata:

“Habis sudah, habis sudah (ta’isa), mereka tidak akan mengembalikan kekuasaan kepada (Banu) Taim untuk selama-lamanya!”

Dan jalur lain lagi: “Kemudian ia kembali ke Madinah dan ia tidak ragu lagi bahwa Thalhah-lah yang akan memegang kekuasaan (khilafah) dan ia berkata:

‘(Allah) menjauhkan dan membinasakan si Na’tsal. Dialah si Pemilik Jari! (maksudnya Thalhah) Itu dia siAbu Syibl! (Julukan dari Thalhah yang berarti ‘ayah dari anak singa’), dialah misanku! Demi Allah, mereka akan menemukan pada Thalhah kepantasan untuk kedudukan ini. Seakan-akan aku sedang melihat ke jarinya tatkala ia dibai’at! Bangkitkan unta ini dan segera berangkatkan dia!” (Lihat: Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 4, halaman 215, 216).

Dan tatkala ia berhenti di Sarf dalam perjalanan ke Madinah ia bertemu dengan Ubaid bin Umm Kilab (Ubaid bin Umm Kilab adalah orang yang sama dengan Ubaid bin Abi Salamah al-Laitsi)

Ubaid berkata: “Mereka membunuh Utsman, dan delapan hari tanpa pemimpin!”

Aisyah: “Kemudian apa yang mereka lakukan?”

Ubaik berkata: “Penduduk Madinah secara bulat (bi-l-ijma) telah menyalurkan ke jalan yang terbaik, mereka secara bulat telah memilih Ali bin Abi Thalib”.

Aisyah berkata: “Kekuasaan jatuh ke tangan sahabatmu! Aku ingin yang itu runtuh menutupi yang ini! Lihatlah apa yang kamu katakan!”

Ubaid menjawab: “Itulah yang aku katakan, ya ummul mukmini

Maka merataplah Aisyah. Ubaid melanjutkan: “Ada apa dengan anda, ya ummul mukminin? Demi Allah! Aku tidak menemukan antara dua daerah berlafa gunung berapi (maksudnya Madinah) ada satu orang yang lebih utama dan lebih berhak dari dia. Aku juga tidak melihat orang yang sama dan sebanding dengannya, maka mengapa anda tidak menyukai wilayah-nya?”


Ummul mukiminin berteriak: “Kembalikan aku, kembalikan aku”, dan ia lalu berangkat ke Mekah. Dan ia berkata: ‘Demi Allah, Utsman telah dibunuh secara dzalim. Demi Allah, kami akan menuntut darahnya!”

Ibnu Ummu’l-Kilab berkata kepada Aisyah: “Mengapa, Demi Allah, sesungguhnya orang yang pertama mengamati pekerjaan Utsman adalah anda, dan anda telah berkata: “BUNUHLAH SI NA’TSAL! IA TELAH KAFIR!

Aisyah berkata: “Mereka minta ia bertobat dan mereka membunuhnya. Aku telah bicara dan mereka juga telah bicara. Dan perkataanku yang terakhir lebih baik daripada perkataanku yang pertama”

Ibnu Ummu-l- Kilab kemudian bersyair:

Dari anda bibit disemai
Dari anda kekacauan dimulai
Dari anda datangnya badai
DAri anda hujan berderai
Anda suruh bunuh sang imam
Ia ‘lah kafir, anda yang bilang
Jika saja kami patuh
Ia tentu kami bunuh
Bagi kami pembunuh adalah penyuruh
Tidak akan runtuh loteng di atas kalian
Tidak akan gerhana matahari dan bulan
Telahh dibaiat orang yang agung
Membasmi penindas, menekan yang sombong
Ia selalu berpakaian perang
Penepat janji, bukan pengingkar
Menurut Mas’udi (Lihat: Muruj adz-Dzaha, jilid 2, halaman 9)
Dari anda datang tangis
Dari anda datang ratapan
Dari anda datangnya  topan
Dari anda tercurah hujan
Anda perintah bunuh sang imam
Pembunuh bagi kami adalah penyuruh
Dan Utsman telah terbunuh…………………Para pembunuhnya telah mengepung rumah Utsman dan memotong suplai air agar ia meletakkan jabatan. Para ahli sejarah juga mencatat bahwa mayat Utsman dilarang oleh para sahabat lain dikebumikan di pekuburan Muslim. Akhirnya ia dikebumikan di pekuburan Hash Kaukab (sebuah pekuburan Yahudi yang letaknya tidak begitu jauh dari pekuburan Muslimin di Baqi Madinah). Utsman dikuburkan tanpa dimandikan dan tanpa dikafani.

Pekuburan Hash Kaukab itu akhirnya dibeli oleh pemerintah pada saat Mu’awiyyah yang satu suku dengan Utsman (Bani Umayyah) mengangkangi kursi khilafah. Dan kemudian pekuburan itu disatukan dengan pekuburan Baqi. Tapi tetap kita bisa melihat betapa kuburan Utsman itu letaknya jauh sekali dari kuburan khalifah sebelumnya seperti kuburan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Kaum Muslimin pada waktu itu enggan menguburkan Utsman berdampingan dengan kuburan khalifah sebelumnya padahal sebagai seorang Khalifah sudah selayaknya ia mendapatkan prioritas—dikubur bersebelahan dengan Nabi.

Rupanya letak kuburan Utsman itu menyisakan misteri selain pembelajaran kepada kaum Muslimin hingga sekarang.

Agen-agen anti Syiah, terus berusaha melakukan propaganda negatif tentang Syiah

Sebuah Kitab Anti Syiah dicetak dan Tersebar di Qom

Sebuah Kitab Anti Syiah dicetak dan Tersebar di Qom

Agen-agen anti Syiah, terus berusaha melakukan propaganda negatif tentang Syiah. Bahkan berani melakukannya di jantung pusat kota ilmu bagi para pengikut Syiah. Sebuah buku yang berisi materi-materi yang berupa hinaan dan cemohan terhadap ajaran-ajaran Syiah dicetak dan disebarkan di Qom, Iran.

di hari Syahadah Imam Muhammad al-Baqir as, Ayatullah al-Uzma Husain Nuri Hamdani dalam pertemuannya dengan anggota Majma’ Syi’ah Syenasi di Qom berkata, “Imamah adalah Ushul yang penting dalam Islam, dan Ahlul Bait rela berkorban karenanya. Oleh itu kita berkewajiban menghidupkan dan menjaga pondasi suci Imamah”.

Beliau menambahkan, “Sepanjang sejarah musuh-musuh terus mencoba menghapuskan kebudayaan Ahlul Bait as, mereka telah menggunakan berbagai media seperti pena, kekuatan dan kesempatan untuk menolak ajaran Syiah. Mereka dalam sejarah berusaha menyingkirkan Ahlul Bait dengan cara menyebar fitnah dan hal-hal negatif mengenai Ahlul Bait dan pengikutnya. Sampai hari ini kita masih berada di zaman kebencian terhadap Ahlul Bait makin menjadi-jadi.”

Ayatullah Nuri Hamdani menyampaikan secara terbuka, bahwa hari ini agen-agen anti Syiah bahkan sampai menyebarkan buku menentang Syiah yang memuat materi-materi kebencian terhadap Syiah ke seluruh pelusuk kota Qom. Ribuan hadis anti Syiah dari pusat-pusat propaganda Wahabi dinukil untuk menimbulkan masalah kepada Syiah. “Untuk menjawab masalah ini hendaklah kita merujuk kepada berbagai kitab supaya dapat melangkah ke depan karena menyebarkan buku jawaban saja masih tidak mencukupi.” Ungkapnya.

Marja Taklid yang sekaligus sebagai tenaga pengajar di Hauzah Ilmiyah Qom ini sambil menjelaskan bahwa sampai saat ini Wahabi telah menulis dan menyebarkan ribuan  kitab di Makkah, beliau berkata, “Wahabi dan firqah-firqah seperti ini ingin menyerang Syiah habis-habisan sehingga ia benar-benar hancur dan rusak. Mereka menyatakan bahwa firqah sesat Syiah digagas di zaman perang Jamal dan Siffin, sebagian lain dari mereka juga mengatakan ia terbentuk setelah perang Karbala. Mereka menulis pembentukan Syiah seperti ini di dalam kitab-kitab mereka. Oleh karena itu,  muslim Syiah hendaklah lebih gigih lagi menyampaikan yang sebenarnya dengan penulisan, pembahasan dan dialog. Harus  ada usaha yang lebih keras lagi untuk menjawab segala kedustaan-kedustaan dan fitnah keji yang ditujukan kepada Syiah.”

Marj’a Taqlid ini menegaskan, “Hendaklah kita berpikir apakah jalan lain selain dari menerbitkan kitab untuk menjawab permasalahan ini. Sekarang ini kebanyakan masjid kota-kota di Eropa dipegang oleh Wahabi dari Arab Saudi yang menguasai beberapa bahasa serta menggunakan kesempatan shalat Jum’at untuk berdakwah. Di Qom hendaklah kita mendidik pelajar supaya menguasai bahasa asing untuk diutus ke beberapa negara. Beberapa  individu yang berpotensi hendaklah dikenal pasti untuk menjadi aset dakwah seterusnya diberi peluang belajar sehingga ia mampu berdakwah”.

Syi’ah Imamiyah adalah satu satunya Firqah yang selamat karena mampu menyegarkan ajarannya tetap shalih li kulli zaman wa makan (selaras dengan situasi dan kondisi zaman).

Ketika Nabi Muhammad SAW dan jasadnya belum dikuburkan, sedangkan para anggota keluarganya dan beberapa orang sahabat sibuk dengan persiapan dan upacara pemakaman Beliau, teman dan pengikut Ali bin Abi Thalib mendengar adanya kelompok lain yang telah pergi ke masjid, tempat berkumpul pulangnya pemimpin yang tiba-tiba. Kelompok ini yang kemudian menjadi mayoritas dan bertindak lebih jauh dan dengan sangat tergesa-gesa memilih pemimpin kaum muslimin dengan maksud menjaga kesejahteraan umat islam dan memecahkan masalah pada saat itu. Mereka melakukan hal itu tanpa berunding dengan Ahl bait, keluarga ataupun para sahabat yang sibuk dengan upacara pemakaman dan tidak sedikitpun memberitahukan mereka
.
Berdasarkan realitas yang seperti inilah yang kemudian memunculkan sikap di kalangan umat islam yang menentang kekhalifahan dan menolak kaum mayoritas dalam masalah-masalah kepercayaan tertentu. Mereka berpendapat bahwa pengganti Nabi SAW dan penguasa keagamaan yang sah adalah Ali Ra. Hal ini mereka yakini karena sejalan dengan isyarat yang Nabi SAW berikan pada masa kenabian, yaitu pada awal masa kenabian ketika Nabi SAW diperintahkan menyampaikan dakwah kepada kerabat yang pertama kali menerima adalah Ali bin Abu Thalib Ra. Diceritakan pada saat itu Nabi SAW mengatakan bahwa orang yang pertama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya. Kelompok yang menolak keputusan mayoritas inilah yang kemudain disebut sebagai Syi’ah
.
Abdullah Bin Saba’ Pendiri Syiah, Benarkah?  Itu cuma dusta demi kepentingan politik ulama tertentu
Tuduhan bahwa madzhab syiah adalah ajaran dari si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ telah lama diketengahkan kepada masyarakat muslim dan semacam sudah merasuk di tengah masyarakat bahwa syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah ibn Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam
.
Perkataan Syi’ah sudah ada pada masa Nabi, bahkan terdapat dalam Al Qur’an beberapa kali, yang mengandung arti golongan atau kalangan pengikut suatu paham tertentu. Abu Zahrah dalam kitabnya “al Mahzahibul Islamiyah” mengatakan bahwa Syi’ah itu ialah madzahab politik Islam yang paling tertua lahir pada masa akhir pemerintahan Usman, tumbuh dan tersebar pada masa Ali berbarengan dengan lahirnya Khawarij.. Orang – orang Syi’ah mengatakan, pintu ijtihad selamanya terbuka sepanjang zaman, meletakkan ijtihad lebih tinggi dari Ijma dan Qiyas. Imam bagi mereka berkedudukan sebagai kepala mujtahid (sayyidul mujtahid), tempat mereka memperoleh pengetahuan agama
.
Salah satu madzah Syi’ah yang terdekat dengan Sunni adalah Syi’ah Imamiyah atau Ja’fariyah. Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada kewajiban berimam yang menurut mereka harus maksum, memegang nash sebagai sumber hukumdan kemudian menggunakan akal sebagai alat berijtihad yang menurut mereka tidak pernah tertutup. Syi’ah Imamiyah disebut juga Syi’ah dua belas. Mereka disebut Syi’ah dua belas karena mempunyai dua belas imam nyata, tidak ada imam lain yang wajib diikuti, melainkan hanya imam yang dua belas itu
.
 Tasyri Syi’ah

Perkataan Syi’ah sudah ada pada masa Nabi, bahkan terdapat dalam Al Qur’an beberapa kali, yang mengandung arti golongan atau kalangan pengikut suatu paham tertentu. Abu Zahrah dalam kitabnya “al Mahzahibul Islamiyah” mengatakan bahwa Syi’ah itu ialah madzahab politik Islam yang paling tertua lahir pada masa akhir pemerintahan Usman, tumbuh dan tersebar pada masa Ali berbarengan dengan lahirnya Khawarij. Thaha Husein mengatakan Syi’ah adalah madzhab siasat yang teratur di belakang Ali dan anak – anaknya, lahir pada masa Husein bin Ali
.
Muhammad Jawad Mughniyah menyangkal pendapat  yang mengatakan sebab lahirnya Syi’ah karena alas an politik. Menurutnya alas an pertama adalah berdasarkan nash Nabi yang mengutamakan Ali sebagai penggantinya sesudah beliau wafat, baik berupa ucapan maupun perbuatan
.
Banyak orang menyangka Syi’ah menetapkan hukum – hokum fiqh dari sumber yang berlainan dengan Sunni, anggapan ini salah. Baik Sunni dan Syi’ah menganggap sumber hukum yang utama adalah Kitabullah dan Sunnah Nabi. Ijma dan Qiyas juga mereka gunakan, namun dengan bermacam – macam istilah. Orang Syi’ah meringkas pokok dasar hukum menjadi dua dengan istilah nash dan ijtihad. Nash terdiri dari al Qur’an dan Sunnah. Syi’ah sepakat menerima al Qur’an dan Sunnah sebagai pokok dasar hukum agama atau fiqh
.
Sunnah bagi orangSyi’ah adalah penyempurnaan bagi al Qur’an, merupakan satu sumber yang tidak boleh diragukan akan kebenarannya, ia hamper tidak berbeda dengan al Qur’an, karena Allah mengakui bahwa Nabi tidak menuturkan sesuatu karena hawa nafsunya kecuali firman yang diwahyukan Tuhan kepadanya. Syi’ah menganggap Sunnah sebagai dasar hukum yang kedua
.
Orang – orang Syi’ah mengatakan, pintu ijtihad selamanya terbuka sepanjang zaman, meletakkan ijtihad lebih tinggi dari Ijma dan Qiyas. Imam bagi mereka berkedudukan sebagai kepala mujtahid (sayyidul mujtahid), tempat mereka memperoleh pengetahuan agama
.
Syi’ah mengakui bahwa ahli – ahli fiqh dan ahli hadits mereka pada masa sahabat dan tabi’in menyebut perkataan ijma, tetapi ijma yang dimaksud adalah ijma yang disepakati oleh semua ulama atas suatu hokum, dan Imam Ali turut serta bersama mereka. Syi’ah tidak menggunakan Qiyas sebagai sumber hukum, namun menggunakan akal. Alasan mereka adalah bahwa Syari’ yang membuat agama hanyalah Allah sendiri, sedang Syari’ dalam hukum qiyas adalah manusia, mereka menolak kebenaran keterangan yang mengatakan qiyas sudah ada pada masa Nabi
.
Yang menolak qiyas bukan hanya golongan Sy’ah saja tetapi juga Mu’tazilah dan Ibrahim an Nizam, sebagaimana juga Daud bin Ali al Asfahani yang lebih terkenal dengan nama az Zhahiri (wafat 270 H) dengan alasan yang serupa
.
 Syi’ah Imamiyah

Salah satu madzah Syi’ah yang terdekat dengan Sunni adalah Syi’ah Imamiyah atau Ja’fariyah. Perbedaan antara keduanya hanya terletak pada kewajiban berimam yang menurut mereka harus maksum, memegang nash sebagai sumber hukumdan kemudian menggunakan akal sebagai alat berijtihad yang menurut mereka tidak pernah tertutup.
.
Syi’ah Imamiyah disebut juga Syi’ah dua belas. Mereka disebut Syi’ah dua belas karena mempunyai dua belas imam nyata, tidak ada imam lain yang wajib diikuti, melainkan hanya imam yang dua belas itu. Kedua belas Imam itu adalah Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, Husain bin Ali, Ali Zain al Abidin, Muhammad al Baqir, Ja’far Shadiq, Musa al Khazim, Ali al Ridha, Muhammad al Jawwad, Ali al Hadi, Hasan al Askariy, dan Muhammad al Mahdi.
.
1.    Dasar dan Pola Fikir Syi’ah Imamiyah
Dasar tasyri’ madzhab ini adalah al Qur’an, Sunnah,Ijma yang menurut mereka persetujuan ulama yang dibenarkan oleh imam yang maksum, bukan semata – mata persetujuan pendapat ulama dan akal pikiran (rasio). Mengenai Sunnah mereka hanya menerima hadits – hadits yang perawi atau sanadnya kepada ahli bait
.
Sungguh pun demikian madzhab mereka tidak jauh dari madzhab Sunni, kecuali beberapa masalah saja. Mereka membolehkan nikah Mut’ah, wajib mengadakan saksi dikala menjatuhkan talak, tidak boleh menikahi wanita kitabiyah dan dalam warisan lebih mendahulukan anak paman seibu atas paman sebapak.
.
2.    Kitab – kitab Syi’ah Imamiyah
Kitab – kitab ushul fiqh dalam madzhab Syi’ah Imamiyah, antara lain:
·         Al Kafiy oleh Ja’far Muhammad ibn Ya’qub al Khulainiy,
·         Al Tahzib dan al I’tibar oleh Muhammad ibn Hasan.
Sedangkan kitab – kitab Syi’ah Imamiyah dalam bidang fiqh antara lain:
·         Al Mukhtasharu al Nafi’ oleh Abi Qasim al Husain al Huliy,
·         Syara’ Islam oleh Ja’far al Hasan al Huliy,
·         Jawahir al Kalam oleh Muhammad al Najafiy
.
3.    Hukum – hukum Fiqh Khusus Syi’ah Imamiyah
Diantara hukum – hukum Fiqh khusus madzhab Syi’ah Imamiyah adalah sebagai berikut:
·         Tidak boleh sujud diatas apa yang selain tanah dan tumbuh – tumbuhan (rumput). Jadi, tidak sah shlat kalau sujud diatas wol, kulit dan lain – lain.
·         Istinja’ dengan batu khusus pada buang air besar saja, tidak boleh digunakan istinja’ dari buang air kecil.
·         Tidak sah mengusap kepala dalam wudhu kecuali dengan sisa air yang masih melekat ditangan ketika membasuh kedua belah tangan. Ketika orang berwudhu membasahi lagi tangannya untuk mengusap kepalanya, maka wudhunya tidak sah meskipun ia telah mengelap tangannya, ia harus mengulangi wudhunya.
·         Laki – laki berzina dengan perempuan yang masih mempunyai suami, maka haram selama – lamanya baginya untuk menikahiny, meskipun suaminya telah menceraikannya.
·         Membolehkan nikah Mut’ah.
·         Mengharamkan nikah dengan wanita kitabiyah
.
Para pembaca…
Dinasti Muawiyah (bani Sufyan yg diragukan akidahnya) karena bertentangan dengan Ali bin Abi Thalib.Dan menjadi sangat ofensif terhadap kelompok lain. Sampai-sampai menisbatkan golongan mereka  lah “satu-satunya” dari 73 golongan yang selamat. Mengingatkan kami  pada konsili yang dibuat oleh Raja Constantine
.
Adalah Paulus, seorang yahudi dari Tarsus yang mulai menyebarkan ajaran Yesus kepada orang2 non bani Israil.

Umat yang menolak ketuhanan Yesus ini dipimpin oleh seorang Imam Kecil (Prebyster) dari Iskandaria bernama Arius (270-350 M). Arius mendapat dukungan dari Mesir, Palestina, Nocimedia, Maradonia, Assiut, dan bahkan Patriarch Konstantinopel. Sedangkan umat yang menganut ketuhanan yesus dipimpin oleh Anathasius Imam besar (Uskup) dari Iskandaria.

Akhirnya, pada 325 M kaisar Konstantin mengumpulkan di Nicaea sebanyak 2018 Uskup dan Patriarch dari seluruh penjuru negeri untuk menyelesaikan masalah ini. Ini adalah konsili okuimenis pertama dalam sejarah kekristenan yang membahas Yesus itu hanyalah Nabi atau Tuhan. Sebanyak 1700 orang sepaham dengan Arius dan sisanya sepaham dengan Anathasius. Tetapi kaisar Konstantin enggan membuat keputusan, karena dia adalah seorang pendukung Anathasius. Konsilipun dibubarkan.

Namun, setelah itu Konstantin mengumpulkan para uskup yang pro-Athanasius. Lewat pemungutan suara rekayasa, Konstantin memenangkan ajaran Athanasius menjadikannya sebagai agama resmi (Kristen) di Roma .
Pada waktu itu, Konsili Nicaea belum sepenuhnya merumuskan konsep trinitas. Nah, baru pada konsili Konstantinopel (381 M) dan Konsili Chalcedon (451 M), Roh Kudus ditetapkan sebagai Tuhan. Dan lengkaplah konsep trinitas seperti yang dianut sekarang.

Akhirnya, Arius dibuang ke sebuah pulau. Sedangkan Anathasius dan Konstantin sendiri hidup tenang. Anehnya, di akhir hayatnya keduanya mengakui jika ajaran Unitarianlah yang benar dan menyatakan Trinitas sebagai paham yang tidak berdasar!

vlcsnap-2011-03-03-13h48m05s159

Pertanyaannya, bagaimana kriteria suatu hadis dikatakan shahih?

Apakah kalau ulama sunni bilang shahih, lantas kita diwajibkan shahihkan?

Lantas kalau ulama A bilang shahih dan B bilang nggak shahih, apa harus dikatakan hadis “rahmat”?

Mengkritik hadis Bhukari, saya dibilang laknat.

Menolak hadis Hurairah, dituduh ingkarsunnah.

Menggunakan akal, dituduh menyalahi syariat.
Ya Allah, betapa sulitnya mencari kebenaran.

Ya Allah, lapangkanlah dadaku, tunjukilah aku ke jalan yang lurus!

Firqah itu terdiri berakar dari susunan huruf “ fa, ra dan qaf “. Menunjukkan adanya perbedaan antara dua hal. Misalnya perbedaan antara dua ekor kambing. Atau memisahkan antara kambing yang sakit dan sehat Atau perbedaan antara siang dan malam.terang dan gelap. Atau perbedaan antara seekor ayam dan seekor kuda. Kitab Al-Quran, juga disebut Al-Furqan yang berasal dari akar kata itu juga, karena berfungsi membedakan antara yang hak dan batil
.
Dalam dunia Islam, ,kini hanya tinggal dua firqah muslim. Yaitu Islam Sunni dan Islam Syi’ah. Islam Sunni digunakan di Timur Tengah dan di Indonesia disebut “ Ahlus Sunnah ”
.
Menurut Al-Milal wa al-Nihal,sebab-bab lahirnya firqah dalam Islam antara lain, karena ketika Nabi Muhammad SAW wafat, yang ditinggalkan adalah agama lurus yang bersumber dari Al-Quran, untuk menjelaskan segala sesuatu (Lihat QS.16:89). Dan hadispun tiada lain, kecuali wahyu dan diwahyukan kepadanya (QS.53: 4).Kemudian adalagi Hadis Staqalain, yang juga diriwayatkan Imam Al-Bukhari menyebut “ wa ‘itrati” ( Dan keturunanku ), juga sebagai sumber. Tapi kaum Sunni dan Syi’ah berbeda memahami masalah Imamah
.

SYI’AH ADA DALAM AL-QUR’AN; ADAKAH SUNNI DALAM AL-QUR’AN?

.
يوم ندعو كل أناس بإمامهم فمن أوتي كتابه بيمينه فأولئك يقرؤون كتابهم ولا يظلمون فتيلا
“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan imamnya; dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (QS. Al-Israa: 71)
vlcsnap-2011-03-03-13h48m05s159
Pada hari pengadilan akhirat, takdir dari setiap orang yang mengikuti para imamnya yang dipercayainya akan tergantung dari imam-imam yang dipercayainya itu apabila ia memang benar-benar mengikuti para imam yang ia percayai itu. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua jenis imam yang diikuti dan diyakini oleh para pengikutnya. Ada imam yang mengajak manusia untuk masuk ke dalam api neraka. Untuk kategori ini adalah para pemimpin yang dzalim dan tiran di masanya seperti Fir’aun, misalnya.
.
وجعلناهم أئمة يدعون إلى النار ويوم القيامة لا ينصرون
وأتبعناهم في هذه الدنيا لعنة ويوم القيامة هم من المقبوحين
.
“Dan Kami jadikan mereka para imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.
.
Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al-Qashash: 41—42)
.
Al-Qur’an sudah memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengikuti para imam yang dzalim dan para pengikut imam seperti itu akan mendapatkan takdir buruknya kelak di akhir zaman. Mereka akan digabungkan dengan para imamnya itu dalam jahanam.
.
Di sisi lain Al-Qur’an juga memberikan informasi tentang adanya Imam-Imam yang memang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Lihatlah ayat berikut ini:
.
وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون
“Dan Kami JADIKAN di antara mereka itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
.
(lihatlah kata-kata JADIKAN (جعلنا) dan IMAM-IMAM (أئمة) yang menjelaskan secara tegas tentang jabatan Imam yang ditunjuk oleh Allah dan bukan oleh manusia. Dan mereka memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan nabi walaupun tidak membawa kitab suci yang baru).
.
Dengan melihat ayat-ayat tersebut di atas, maka kita bisa simpulkan bahwa para pengikut dari Imam-Imam yang mendapat mandat dari Allah itu akan menemui kebahagiaan di akhirat kelak. Jadi kalau kita menjadi pengikut seorang imam maka itu tidak berarti apa-apa kalau yang kita ikuti itu adalah seorang imam yang tidak mendapatkan mandat dari Allah. Jadi akhir yang baik dan yang buruk bagi kita di akhirat kelak itu ditentukan dari siapakah imam yang kita ikuti dan patuhi selama kita hidup di bumi.
.
Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beberapa hambaNya yang haq adalah juga pengikut (Syi’ah) bagi para hambaNya yang lain. Seperti pernah dijelaskan Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim itu adalah pengikut (Syi’ah) dari Nabi Nuh.
.
وإن من شيعته لإبراهيم
.
“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)” (QS. Ash-Shaaffaat: 83)
.
(Lihatlah kata شيعته (Syi’ah) yang dipakai secara jelas sekali oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata itu huruf demi huruf dalam ayat tersebut di atas dan juga dalam ayat berikut ini)
.
Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an diceritakan tentang pengikut (شيعته) Nabi Musa melawan musuh-musuh dari Nabi Musa. Lihatlah ayat berikut dan lihatlah penggunaan kata SYI’AH untuk ayat tersebut:
.
ودخل المدينة على حين غفلة من أهلها فوجد فيها رجلين يقتتلان هذا من شيعته وهذا من عدوه فاستغاثه الذي منشيعته على الذي من عدوه فوكزه موسى فقضى عليه قال هذا من عمل الشيطان إنه عدو مضل مبين
.
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari SYI’AHNYA (pengikutnya)(Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari SYI’AHNYA (pengikutnya)meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya) (QS. Al-Qashash: 15)
.
Di dalam ayat Al-Qur’an di atas ada orang  yang disebut sebagai pengikut Nabi Musa (atau SYI’AH MUSA) dan orang yang satunya lagi disebut sebagai musuh dari Nabi Musa. Orang-orang pada jaman bisa dibagi kedalam dua kelompok: kelompok SYI’AH MUSA atau kelompok MUSUH MUSA.
.
Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa Allah secara resmi menggunakan kata SYI’AH dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengikut para Nabi dan sekaligus para Nabi itu sendiri (masih ingat Nabi Ibrahim yang disebut sebagai SYI’AH—pengikut—dari Nabi Nuh?). Allah menggunakan kata SYI’AH ini dengan segenap penghormatan kepada para hambaNya yang shaleh. Apakah dengan itu kita membuat Nabi Ibrahim itu sebagai seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?
.
Kata شيعته itu sendiri artinya “pengikut” atau “anggota dari sebuah kelompok”. Sementara itu kata SYI’AH sendiri sebenarnya tidak mengandung sifat positif atau negatif. Kata itu akan bersifat negatif atau positif apabila kata itu disandingkan dengan nama seorang pemimpin tertentu.
.
Apabila seorang pengikut (SYI’AH) itu mengikuti para hamba Allah yang haq, maka tidak ada salahnya dengan kata SYI’AH itu apalagi mengingat imam yang ia ikuti itu adalah imam yang diberikan mandat langsung oleh Allah untuk membimbing umat manusia. Sementara itu apabila seseorang itu telah menjadi seorang pengikut (SYI’AH) dari seorang tiran yang kejam; seorang pemimpin yang tidak berperikemanusiaan; seorang pemimpin yang korup bukan kepalang, maka ia akan menemui takdir buruknya bersama dengan imam yang diikutinya.
.

SEKARANG PERKENANKANLAH SAYA MENGAJUKAN BEBERAPA PERTANYAAN:

______________________________________________________________________
APABILA SAUDARA KITA DARI KALANGAN AHLUSSUNNAH JUGA MENGAKU SEBAGAI PENGIKUT ALI MAKA:
  1. Mengapa mereka tidak menyebut diri mereka sebagai Syi’ah Ali (pengikut Ali)? Bukankah mereka juga mengaku-aku sebagai pengikut Ali?
  2. Apabila mereka mengaku dan menganggap dirinya sebagai pengikut Mu’awiyyah, mengapa mereka tidak mengubah nama kelompok mereka (AHLUSSUNNAH) menjadi Syi’ah Mu’awiyyah? Mengapa mereka malah malu-malu menyebut diri sebagai pengikut Mu’awiyyah dan malah menyebut kelompok mereka sebagai kelompok Sunni?
  3. Siapakah yang telah memberi mereka nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?
  4. Apabila Allah yang telah memberikan mereka nama (SUNNI/AHLUSSUNNAH) itu (seperti nama SYI’AH yang digunakan Allah dalam Al-Qur’an), lalu bisakah mereka menunjukkan kepada kita ayat mana yang menggunakan nama golongan mereka?
  5. Apabila nama kelompok SUNNI/AHLUSSUNNAH itu diberikan oleh Rasulullah, maka tunjukkanlah haditsnya dimana Rasulullah menyebutkan nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?
PADA KENYATAANNYA  YANG TERJADI IALAH KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU TIDAK PERNAH DIDAPATI BAIK DALAM AL-QUR’AN MAUPUN DALAM HADITS YANG DISAMPAIKAN OLEH RASULULLAH.
________________________________________________________________________
vlcsnap-2011-03-03-13h47m58s90
Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang disebutkan di atas menggunakan bentuk tunggal (singular form) yaitu hanya menunjuk pada satu kelompok saja. Jadi artinya ialah kata ini sangatlah khusus dan digunakan untuk tujuan khusus oleh Allah. Allah menuliskan kata SYI’AH NUH (pengikut nabi Nuh) kemudian SYI’AH MUSA (pengikut nabi Musa) dengan tujuan bahwa kata SYI’AH itu akan dipahami sebagai pengikut orang baik-baik. Pengikut para Nabi. Pengikut para wali Allah yang suci. Pengikut Rasulullah
.
Pengikut keluarga Nabi. Kata SYI’AH itu dipergunakan Allah untuk menyebut satu kelompok saja yaitu kelompok yang beserta kebaikan dan untuk kelompok lawannya Allah menggunakan kata yang lain seperti kata عدوه (musuhnya). Al-Qur’an tidak menyebut dua kelompok sebagai SYI’AH MUSA dan SYI’AH FIR’AUN. Jadi Allah hanya mengakui satu kelompok saja yang Allah berinama SYI’AH untuk disandingkan dengan nama para Nabi dan para nama Wali Allah.
Dalam sejarah Islam, kata SYI’AH (pengikut) telah secara khusus digunakan sebagai “Pengikut Ali” (SYI’AH ALI). Dan orang yang mengeluarkan istilah PENGIKUT ALI ialah Rasulullah sendiri!———————————————————————————————————————————-
Rasulullah telah berkata kepada Imam Ali:
“Kesejahteraan dan kebahagiaan bersamamu, ya Ali! Sesungguhnya engkau dan Syi’ahmu (pengikutmu) semuanya akan masuk surga”

Lihat hadtis tersebut dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI seperti dalam kitab-kitab:
  1. Fadha’il al-Sahaba, oleh Ahmad Ibn Hanbal, volume 2, halaman 655
  2. Hilyatul Awliyaa, oleh Abu Nu’aym, volume 4, halaman 329
  3. Tarikh, oleh Al-Khatib al-Baghdadi, volume 12, halaman 289
  4. Al-Ausath, oleh At-Tabarani
    ——————————————————————————————————————
Rasulullah sendiri menggunakan kata-kata SYI’AH ALI ketika beliau masih hidup (tentunya!). Kata-kata ini bukanlah kata-kata yang dibuat di kemudian hari. Kata-kata ini benar-benar keluar dari mulut Nabi yang suci. Rasulullah berkata bahwa PENGIKUT ALI YANG SETIA akan masuk surga, dan ini tentunya adalah kesempatan yang berharga untuk dilewatkan begitu saja!
vlcsnap-2011-03-03-13h45m19s36vlcsnap-2011-03-03-13h48m23s87
Jabir Ibn Abdillah Al-Ansari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “SYI’AH ALI akan menjadi kelompok pemenang di hari kebangkitan nanti”
Lihat referensi dari hadits tersebut di atas dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI:
  1. Al-Manaqib Ahmad seperti yang juga termaktub dalam
  2. Yanabi al-Mawaddah, oleh Al-Qunduzai al-Hanafi, halaman 62
  3. Tafsir Al-Durr al-Mantsuur, oleh Al-Hafidh Jalaluddin As-Suyuthi
KATA “SYI’AH” TELAH TERBUKTI ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI. APABILA KELOMPOK SUNNI ATAU AHLUSSUNNAH TIDAK BISA MENGEMUKAKAN BAHWA KATA-KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI………………………..
,
MAKA SESUNGGUHNYA AGAMA YANG MEREKA PERCAYAI ITU ADALAH AGAMA BUATAN SEMATA! DAN ITU TERMASUK BID’AH YANG BESAR! AGAMA YANG DISISIPKAN KEDALAM ISLAM SETELAH MENINGGALNYA RASULULLAH AL-MUSTAFA.
KEBENARAN TELAH TERSAMPAIKAN ……………SEKARANG KEPUTUSAN ADA DI TANGAN ANDA!
vlcsnap-2011-03-03-13h48m56s161vlcsnap-2011-03-03-13h48m54s144
Syiah Ali, Sebaik-baik Makhluk
Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171 diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360.

I

Syiah Ali, Sebaik-baik MakhlukSungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (Qs. Al-Bayyinah [98]: 7-8)
.
Berkenaan dengan ayat di atas, kita memfokuskan pembicaraan pada kata-kata, khairul bariyyah, sebaik-baik makhluk. Bariyyah berasal dari kata baraa yang artinya ciptaan. Karenanya kita mengenal Allah SWT dengan sebutan Al-Barii yang artinya khaliq atau pencipta dan makhluk atau ciptaan-Nya disebut, Bariyyah. Pendapat lain mengatakan, Bariyyah, berasal dari katabaryan (meraut), seperti pada kalimat baraitul qalam, saya meraut pensil. Karena itulah makhluk disebut juga bariyyah, karena Allah SWT lewat firman-Nya, meraut atau membentuk ciptaannya dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana misalnya pabrik yang memproduksi pensil dalam bentuk yang bermacam-macam
.

Untuk lebih dalam menelisik makna khairul bariyyah, kita bisa memulainya dari ayat sebelumnya pada surah yang sama. Pada ayat surah Al-Bayyinah, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” Pada ayat ini Allah SWT berbicara mengenai,syarrul bariyyah, seburuk-buruknya makhluk. Seburuk-buruk makhluk khusus pada ayat ini adalah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik

.

Mengenai seburuk-buruknya makhluk kita juga bisa melihat misalnya pada surah Al-Anfal ayat 22, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” Pada ayat ini, Allah lebih memperluas cakupan siapa saja yang termasuk seburuk-buruknya makhluk dengan memperinci karakteristiknya. Dalam surah Al-A’raf ayat 179 Allah SWT lebih memperincinya lagi, mereka mempunyai hati namun tidak mempergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata namun tidak menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mempunyai telinga namun tidak menggunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, oleh Allah mereka tidak hanya disebut sebagai seburuk-buruknya makhluk bahkan lebih sesat dari binatang ternak

.

Mengenai syarrul bariyyah, yang dimaksud pada surah Al-Bayyinah -sebagaimana yang difirmankan Allah SWT pada ayat-ayat sebelumnya- tidaklah mencakup seluruh orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun seluruh orang-orang musyrik, namun terbatas hanya bagi mereka yang telah mendapatkan hujjah yang sangat jelas mengenai kebenaran  ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saww, namun mereka bukan hanya sekedar menolaknya namun juga melakukan penentangan yang keras. Sementara mereka yang tidak beriman dan bertauhid yang benar, karena dakwah Islam belum sampai kepada mereka atau karena memiliki halangan-halangan tertentu, bukan karena sejak awal melakukan penentangan, perhitungannya ada pada sisi Allah SWT

.

Selanjutnya, kita kembali berbincang mengenai khairul bariyyah. Pada ayat ke tujuh dan delapan, Allah SWT menyampaikan karakteristik orang-orang yang termasuk khairul bariyyah

.

Pertama, orang-orang yang beriman (alladziina aamanuu). Yang dimaksud mereka yang beriman adalah yang beriman kepada Allah SWT, para Anbiyah as dan kitab-kitab yang mereka bawa serta mereka yakin akan keberadaan hari akhirat. Sementara mereka yang musyrik ataupun orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun dari agama-agama selain Islam tidak termasuk dalam golongan ini

.

Kedua, mereka yang beramal shalih (wa ‘amilushshaalihat). Setelah mereka mengimani Allah  SWT dan ajaran-ajaran yang dibawa para Anbiyah as mereka mengejewantahkannya dalam laku perbuatan, dalam amalan-amalan dzahir mereka. Pengertian amal saleh, telah sedemikian jelas dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, sebagaimana yang termaktub dalam Shahih Muslim kitab al-Iman disebutkan bahwa sekedar menghilangkan penghalang yang menganggu pada jalanan yang dilalui kaum muslimin termasuk amal shalih dan sebaik-baiknya amal shalih adalah beriman kepada Allah SWT dan bersaksi hanya Allah yang berhak untuk disembah

.

Ketiga, mereka yang takut pada Tuhannya (dzalika liman  khasiya Rabba). Mereka yang termasuk dalamkhairul bariyyah adalah mereka yang beriman, beramal shalih dan takut kepada Rabbnya. Ketiga karakteristik ini mesti dimiliki seseorang yang ingin termasuk dalam khairul bariyyah, tidak memilah dan mengabaikan yang lain. Amal shalih misalnya, bisa saja dilakukan tanpa mesti beriman atau atas dasar takut kepada Allah, bisa saja karena paksaan, takut atau karena terbentuk dari kebiasaan dan tradisi keluarga atau lingkungan dimana dia berada

.

Setelah menjelaskan karakteristik khairul bariyyah, Allah SWT melanjutkannya, dengan menyampaikan balasan bagi mereka. Di akhirat mereka tidak hanya mendapat balasan dan pahala secara lahiriah saja namun juga secara maknawi atau batiniah

.

Sebagaimana mafhum, manusia terdiri atas dua bagian, lahiriah dan batiniah, jasmani dan ruhiyah, maka masing-masing dari kedua sisi manusia ini mendapatkan balasannya. Sebagaimana pada ayat terakhir pada surah Al-Bayyinah, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” ini menunjukkan balasan lahiriah. Dan kata-kata selanjutnya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” Menunjukkan balasan atau pahala maknawi. Keridhaan adalah perasaan batiniah. Keridhaan Allah terhadap mereka karena amalan-amalan shalih mereka di dunia yang dibaluri keimanan yang kuat kepada-Nya dan keridhaan mereka kepada Allah karena balasan dan pemberian Allah berupa kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kepada mereka. Alangkah beruntungnya mereka yang termasuk khairul bariyyah, adakah kenikmatan dan balasan yang lebih mulia daripada keridhaan Allah SWT?

.

Pertanyaan yang biasanya hadir ketika berbicara mengenai ayat, diantaranya, apakah ayat tersebut termasuk ayat umum atau ayat khusus?. Berkenaan dengan pembahasan kita, maka kemungkinan timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud Allah SWT khairul bariyyah adalah mencakup kesemua kaum mukminin yang beramal shalih atau hanya terbatas pada kelompok tertentu?

.

Untuk menjawabnya, tidak ada cara lain selain melihat asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat), yang terdapat dalam riwayat-riwayat nabawiyah. Di sini saya mengajukan beberapa referensi dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171  diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu  (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360

.

Saya mencukupkan dengan menukilkan riwayat dari dua kitab ini saja. Akan sangat membutuhkan banyak tempat kalau harus menukilkan dari semua kitab yang menjelaskan asbabun nuzul ayat yang sedang kita bicarakan, yang jelas semua riwayat mengerucut pada imam Ali as dan Syiahnya lah yang dimaksud Khairul Bariyyah

.

Timbul pertanyaan, mengapa harus ada tambahan persyaratan untuk terkategorikan sebagai makhluk yang terbaik, yakni harus menjadi pengikut dan syiahnya Imam Ali as?. Sebagaimana masyhur telah tercatat dalam kitab-kitab tarikh yang mu’tabar, umat Islam sepeninggal nabi Muhammad saww -terutama di masa pemerintahan Imam Ali as- terpecah menjadi bergolong-golongan

.

Perseteruan antara Imam Ali as dan Muawiyah menjadikan umat Islam setidaknya berpecah menjadi 4 kelompok besar. Pengikut imam Ali as, pengikut Muawiyah, Khawarij (yang tidak mengikuti salah satu diantara keduanya, malah membenci dan memusuhi keduanya) dan kelompok keempat yang terdiri dari banyak sahabat Nabi, tidak menjadi pengikut salah satu diantara keduanya, namun juga tidak membenci keduanya. Keempat golongan besar ini kesemuanya mendakwahkan diri sebagai umatnya Muhammad saww, namun lewat nubuat yang jauh-jauh sebelumnya telah disampaikan Nabi, bahwa tidak mungkin keempat golongan yang berpecah dan saling bermusuhan ini, bahkan terlibat dalam pertumpahan darah yang tragis semuanya benar. Sesungguhnya Nabi Muhammad saww ketika memberi penjelasan mengenai ayat “Khairul Bariyyah”, hakekatnya ingin menyampaikan, bahwa untuk menjadi makhluk yang terbaik, ikutilah Ali as jika terjadi perselisihan sepeninggalku

.

Saya menutup tulisan ini, dengan menukilkan kembali sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, dari Ali as yang berkata, “Demi Allah yang menumbuhkan jenis biji, menciptakan jenis insan, sesungguhnya Rasulullah saww telah menegaskan kepadaku, bahwa takkan cinta kepadaku kecuali orang mukmin, dan takkan benci kepadaku kecuali orang munafik.” (HR. Muslim hadits no. 48 bab Keimanan jilid I)

.

Rasulullah saww menyampaikan kepada kita diantara bukti keimanan adalah memberikan kecintaan kepada Imam Ali as, sebaik-baiknya makhluk Allah SWT. Semoga kita termasuk diantara pengikutnya. Insya Allah.

bagaimana kriteria suatu hadis dikatakan shahih? Apakah kalau ulama sunni bilang shahih, lantas kita diwajibkan shahihkan? Lantas kalau ulama A bilang shahih dan B bilang nggak shahih, apa harus dikatakan hadis “rahmat”? Mengkritik hadis Bhukari, saya dibilang laknat. Menolak hadis Hurairah, dituduh ingkarsunnah. Menggunakan akal, dituduh menyalahi syariat.

Pertanyaannya, bagaimana kriteria suatu hadis dikatakan shahih?

Apakah kalau ulama sunni bilang shahih, lantas kita diwajibkan shahihkan?

Lantas kalau ulama A bilang shahih dan B bilang nggak shahih, apa harus dikatakan hadis “rahmat”?

Mengkritik hadis Bhukari, saya dibilang laknat.

Menolak hadis Hurairah, dituduh ingkarsunnah.

Menggunakan akal, dituduh menyalahi syariat.
Ya Allah, betapa sulitnya mencari kebenaran.

Ya Allah, lapangkanlah dadaku, tunjukilah aku ke jalan yang lurus!

Firqah itu terdiri berakar dari susunan huruf “ fa, ra dan qaf “. Menunjukkan adanya perbedaan antara dua hal. Misalnya perbedaan antara dua ekor kambing. Atau memisahkan antara kambing yang sakit dan sehat Atau perbedaan antara siang dan malam.terang dan gelap. Atau perbedaan antara seekor ayam dan seekor kuda. Kitab Al-Quran, juga disebut Al-Furqan yang berasal dari akar kata itu juga, karena berfungsi membedakan antara yang hak dan batil
.
Dalam dunia Islam, ,kini hanya tinggal dua firqah muslim. Yaitu Islam Sunni dan Islam Syi’ah. Islam Sunni digunakan di Timur Tengah dan di Indonesia disebut “ Ahlus Sunnah ”
.
Menurut Al-Milal wa al-Nihal,sebab-bab lahirnya firqah dalam Islam antara lain, karena ketika Nabi Muhammad SAW wafat, yang ditinggalkan adalah agama lurus yang bersumber dari Al-Quran, untuk menjelaskan segala sesuatu (Lihat QS.16:89). Dan hadispun tiada lain, kecuali wahyu dan diwahyukan kepadanya (QS.53: 4).Kemudian adalagi Hadis Staqalain, yang juga diriwayatkan Imam Al-Bukhari menyebut “ wa ‘itrati” ( Dan keturunanku ), juga sebagai sumber. Tapi kaum Sunni dan Syi’ah berbeda memahami masalah Imamah
.

SYI’AH ADA DALAM AL-QUR’AN; ADAKAH SUNNI DALAM AL-QUR’AN?

يوم ندعو كل أناس بإمامهم فمن أوتي كتابه بيمينه فأولئك يقرؤون كتابهم ولا يظلمون فتيلا
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan imamnya; dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (QS. Al-Israa: 71)
vlcsnap-2011-03-03-13h48m05s159
Pada hari pengadilan akhirat, takdir dari setiap orang yang mengikuti para imamnya yang dipercayainya akan tergantung dari imam-imam yang dipercayainya itu apabila ia memang benar-benar mengikuti para imam yang ia percayai itu. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua jenis imam yang diikuti dan diyakini oleh para pengikutnya. Ada imam yang mengajak manusia untuk masuk ke dalam api neraka. Untuk kategori ini adalah para pemimpin yang dzalim dan tiran di masanya seperti Fir’aun, misalnya.
وجعلناهم أئمة يدعون إلى النار ويوم القيامة لا ينصرون
وأتبعناهم في هذه الدنيا لعنة ويوم القيامة هم من المقبوحين
“Dan Kami jadikan mereka para imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.
Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al-Qashash: 41—42)
Al-Qur’an sudah memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengikuti para imam yang dzalim dan para pengikut imam seperti itu akan mendapatkan takdir buruknya kelak di akhir zaman. Mereka akan digabungkan dengan para imamnya itu dalam jahanam.
Di sisi lain Al-Qur’an juga memberikan informasi tentang adanya Imam-Imam yang memang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Lihatlah ayat berikut ini:
وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون
“Dan Kami JADIKAN di antara mereka itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
(lihatlah kata-kata JADIKAN (جعلنا) dan IMAM-IMAM (أئمة) yang menjelaskan secara tegas tentang jabatan Imam yang ditunjuk oleh Allah dan bukan oleh manusia. Dan mereka memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan nabi walaupun tidak membawa kitab suci yang baru).
Dengan melihat ayat-ayat tersebut di atas, maka kita bisa simpulkan bahwa para pengikut dari Imam-Imam yang mendapat mandat dari Allah itu akan menemui kebahagiaan di akhirat kelak. Jadi kalau kita menjadi pengikut seorang imam maka itu tidak berarti apa-apa kalau yang kita ikuti itu adalah seorang imam yang tidak mendapatkan mandat dari Allah. Jadi akhir yang baik dan yang buruk bagi kita di akhirat kelak itu ditentukan dari siapakah imam yang kita ikuti dan patuhi selama kita hidup di bumi.
Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beberapa hambaNya yang haq adalah juga pengikut (Syi’ah) bagi para hambaNya yang lain. Seperti pernah dijelaskan Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim itu adalah pengikut (Syi’ah) dari Nabi Nuh.
وإن من شيعته لإبراهيم
“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)” (QS. Ash-Shaaffaat: 83)
(Lihatlah kata شيعته (Syi’ah) yang dipakai secara jelas sekali oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata itu huruf demi huruf dalam ayat tersebut di atas dan juga dalam ayat berikut ini)
Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an diceritakan tentang pengikut (شيعته) Nabi Musa melawan musuh-musuh dari Nabi Musa. Lihatlah ayat berikut dan lihatlah penggunaan kata SYI’AH untuk ayat tersebut:
ودخل المدينة على حين غفلة من أهلها فوجد فيها رجلين يقتتلان هذا من شيعته وهذا من عدوه فاستغاثه الذي منشيعته على الذي من عدوه فوكزه موسى فقضى عليه قال هذا من عمل الشيطان إنه عدو مضل مبين
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari SYI’AHNYA (pengikutnya)(Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari SYI’AHNYA (pengikutnya)meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya) (QS. Al-Qashash: 15)
Di dalam ayat Al-Qur’an di atas ada orang  yang disebut sebagai pengikut Nabi Musa (atau SYI’AH MUSA) dan orang yang satunya lagi disebut sebagai musuh dari Nabi Musa. Orang-orang pada jaman bisa dibagi kedalam dua kelompok: kelompok SYI’AH MUSA atau kelompok MUSUH MUSA.
Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa Allah secara resmi menggunakan kata SYI’AH dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengikut para Nabi dan sekaligus para Nabi itu sendiri (masih ingat Nabi Ibrahim yang disebut sebagai SYI’AH—pengikut—dari Nabi Nuh?). Allah menggunakan kata SYI’AH ini dengan segenap penghormatan kepada para hambaNya yang shaleh. Apakah dengan itu kita membuat Nabi Ibrahim itu sebagai seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?
Kata شيعته itu sendiri artinya “pengikut” atau “anggota dari sebuah kelompok”. Sementara itu kata SYI’AH sendiri sebenarnya tidak mengandung sifat positif atau negatif. Kata itu akan bersifat negatif atau positif apabila kata itu disandingkan dengan nama seorang pemimpin tertentu.
Apabila seorang pengikut (SYI’AH) itu mengikuti para hamba Allah yang haq, maka tidak ada salahnya dengan kata SYI’AH itu apalagi mengingat imam yang ia ikuti itu adalah imam yang diberikan mandat langsung oleh Allah untuk membimbing umat manusia. Sementara itu apabila seseorang itu telah menjadi seorang pengikut (SYI’AH) dari seorang tiran yang kejam; seorang pemimpin yang tidak berperikemanusiaan; seorang pemimpin yang korup bukan kepalang, maka ia akan menemui takdir buruknya bersama dengan imam yang diikutinya.

SEKARANG PERKENANKANLAH SAYA MENGAJUKAN BEBERAPA PERTANYAAN:

______________________________________________________________________
APABILA SAUDARA KITA DARI KALANGAN AHLUSSUNNAH JUGA MENGAKU SEBAGAI PENGIKUT ALI MAKA:
  1. Mengapa mereka tidak menyebut diri mereka sebagai Syi’ah Ali (pengikut Ali)? Bukankah mereka juga mengaku-aku sebagai pengikut Ali?
  2. Apabila mereka mengaku dan menganggap dirinya sebagai pengikut Mu’awiyyah, mengapa mereka tidak mengubah nama kelompok mereka (AHLUSSUNNAH) menjadi Syi’ah Mu’awiyyah? Mengapa mereka malah malu-malu menyebut diri sebagai pengikut Mu’awiyyah dan malah menyebut kelompok mereka sebagai kelompok Sunni?
  3. Siapakah yang telah memberi mereka nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?
  4. Apabila Allah yang telah memberikan mereka nama (SUNNI/AHLUSSUNNAH) itu (seperti nama SYI’AH yang digunakan Allah dalam Al-Qur’an), lalu bisakah mereka menunjukkan kepada kita ayat mana yang menggunakan nama golongan mereka?
  5. Apabila nama kelompok SUNNI/AHLUSSUNNAH itu diberikan oleh Rasulullah, maka tunjukkanlah haditsnya dimana Rasulullah menyebutkan nama SUNNI atau AHLUSSUNNAH?
PADA KENYATAANNYA  YANG TERJADI IALAH KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU TIDAK PERNAH DIDAPATI BAIK DALAM AL-QUR’AN MAUPUN DALAM HADITS YANG DISAMPAIKAN OLEH RASULULLAH.
________________________________________________________________________
vlcsnap-2011-03-03-13h47m58s90
Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang disebutkan di atas menggunakan bentuk tunggal (singular form) yaitu hanya menunjuk pada satu kelompok saja. Jadi artinya ialah kata ini sangatlah khusus dan digunakan untuk tujuan khusus oleh Allah. Allah menuliskan kata SYI’AH NUH (pengikut nabi Nuh) kemudian SYI’AH MUSA (pengikut nabi Musa) dengan tujuan bahwa kata SYI’AH itu akan dipahami sebagai pengikut orang baik-baik. Pengikut para Nabi. Pengikut para wali Allah yang suci. Pengikut Rasulullah. Pengikut keluarga Nabi. Kata SYI’AH itu dipergunakan Allah untuk menyebut satu kelompok saja yaitu kelompok yang beserta kebaikan dan untuk kelompok lawannya Allah menggunakan kata yang lain seperti kata عدوه (musuhnya). Al-Qur’an tidak menyebut dua kelompok sebagai SYI’AH MUSA dan SYI’AH FIR’AUN. Jadi Allah hanya mengakui satu kelompok saja yang Allah berinama SYI’AH untuk disandingkan dengan nama para Nabi dan para nama Wali Allah.
Dalam sejarah Islam, kata SYI’AH (pengikut) telah secara khusus digunakan sebagai “Pengikut Ali” (SYI’AH ALI). Dan orang yang mengeluarkan istilah PENGIKUT ALI ialah Rasulullah sendiri!———————————————————————————————————————————-
Rasulullah telah berkata kepada Imam Ali:
“Kesejahteraan dan kebahagiaan bersamamu, ya Ali! Sesungguhnya engkau dan Syi’ahmu (pengikutmu) semuanya akan masuk surga”

Lihat hadtis tersebut dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI seperti dalam kitab-kitab:
  1. Fadha’il al-Sahaba, oleh Ahmad Ibn Hanbal, volume 2, halaman 655
  2. Hilyatul Awliyaa, oleh Abu Nu’aym, volume 4, halaman 329
  3. Tarikh, oleh Al-Khatib al-Baghdadi, volume 12, halaman 289
  4. Al-Ausath, oleh At-Tabarani——————————————————————————————————————
Rasulullah sendiri menggunakan kata-kata SYI’AH ALI ketika beliau masih hidup (tentunya!). Kata-kata ini bukanlah kata-kata yang dibuat di kemudian hari. Kata-kata ini benar-benar keluar dari mulut Nabi yang suci. Rasulullah berkata bahwa PENGIKUT ALI YANG SETIA akan masuk surga, dan ini tentunya adalah kesempatan yang berharga untuk dilewatkan begitu saja!
vlcsnap-2011-03-03-13h45m19s36vlcsnap-2011-03-03-13h48m23s87
Jabir Ibn Abdillah Al-Ansari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “SYI’AH ALI akan menjadi kelompok pemenang di hari kebangkitan nanti”
Lihat referensi dari hadits tersebut di atas dalam referensi AHLUSSUNNAH atau SUNNI:
  1. Al-Manaqib Ahmad seperti yang juga termaktub dalam
  2. Yanabi al-Mawaddah, oleh Al-Qunduzai al-Hanafi, halaman 62
  3. Tafsir Al-Durr al-Mantsuur, oleh Al-Hafidh Jalaluddin As-Suyuthi
KATA “SYI’AH” TELAH TERBUKTI ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI. APABILA KELOMPOK SUNNI ATAU AHLUSSUNNAH TIDAK BISA MENGEMUKAKAN BAHWA KATA-KATA “SUNNI” ATAU “AHLUSSUNNAH” ITU ADA DALAM AL-QUR’AN DAN HADITS NABI………………………..,
MAKA SESUNGGUHNYA AGAMA YANG MEREKA PERCAYAI ITU ADALAH AGAMA BUATAN SEMATA! DAN ITU TERMASUK BID’AH YANG BESAR! AGAMA YANG DISISIPKAN KEDALAM ISLAM SETELAH MENINGGALNYA RASULULLAH AL-MUSTAFA.
KEBENARAN TELAH TERSAMPAIKAN ……………SEKARANG KEPUTUSAN ADA DI TANGAN ANDA!
vlcsnap-2011-03-03-13h48m56s161vlcsnap-2011-03-03-13h48m54s144

Raja Qatar Beri Dukungan kepada Wahabi walaupun rezim Arab Saudi merupakan Kerajaan yang dibentuk oleh Ibnu Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab yang dibantu oleh Pasukan salib serta Yahudi.

Qatar:
Raja Qatar Beri Dukungan kepada Wahabi

 

“Hari ini umat Islam sangat membutuhkan pemurnian kembali ajaran Islam, dan yang mampu melakukannya sepanjang sejarah ini adalah sekte Wahabi.”

 

Menurut Kantor Berita ABNA, Syakh Hamad bin Khaliah Al Thani, raja Qatar dalam penyampaian dukungannya kepada Wahabi ia mengatakan, “Hari ini umat Islam sangat membutuhkan pemurnian kembali ajaran Islam, dan yang mampu melakukannya sepanjang sejarah ini adalah sekte Wahabi.”

Raja Qatar yang dalam sambutannya pada acara peresmian masjid “Muhammad bin Abdul Wahab” tersebut mengatakan, “Ide penamaan masjid ini sungguh brilian. Masjid dengan nama Muhammad bin Abdul Wahab ini menunjukkan penghargaan kita kepada beliau sebagai ulama besar umat Islam dan pembaharu dimasanya, ini juga diharapkan mampu melahirkan generasi yang akan melanjutkan perjuangan beliau dalam berkhidmat untuk Islam dan kaum muslimin.”

Raja Qatar ini juga berharap bahwa melalui mimbar masjid yang mampu menampung 30 ribu jamaah tersebut, dakwah Islamiyah dapat dimaksimalkan sehingga mampu memberantas bid’ah-bid’ah yang menyebar luas di masyarakat dan mengembalikan Islam sebagaimana hakekatnya semula.

Paham Wahabi adalah paham yang disebarkan oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Wahab yang mendapat dukungan dari keluarga Suud yang kemudian mendirikan kerajaan Arab Saudi dan menjadi raja. Paham ini banyak tersebar di Timur Tengah dan mendapat dukungan dan perlindungan dari kebanyakan raja-raja Arab.

Arab Saudi Kerajaan yang dibentuk oleh Ibnu Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab yang dibantu oleh Pasukan salib serta Yahudi.