Kata “Ahlulbait” dalam Alquran

 

 

Ada seseorang yang kerap kali berkunjung ke blog syiahali  dan konsisten dalam berkomentar tentang topik yang sama. Sesekali dia datang dan kembali meng-copy-paste hipotesisnya. Orang itu beranggapan bahwa konflik suni-Syiah disebabkan perebutan tahta ahlulbait. Dia juga mengatakan bahwa ahlulbait (dan keturunan nabi) sudah tidak ada, sehingga sepantasnya tidak perlu ada lagi konflik suni-Syiah.

Dia mungkin mencoba untuk menyederhanakan masalah. Sangat mungkin dia akan kembali lagi ke blog ini dan mengulang hipotesisnya. Kalau ahlulbait sudah tidak ada, mengapa nabi saw. mewasiatkan umatnya untuk berpegang teguh pada Alquran dan ‘itrah, ahlulbait (HR. Muslim)? Kalau Alquran suci, bagaimana mungkin dipadankan dengan yang tidak suci? Kalau Alquran kekal dan menjadi petunjuk hingga saat ini, bagaimana pantas dipadankan dengan sesuatu yang sudah tidak ada? Berikut ini sekelumit penjelasan tentang kata “ahlulbait” dalam Alquran yang saya kutip dari A Shi’ite Encyclopedia.

Keluarga Ibrahim

Alquran bersaksi bahwa Sarah, istri nabi Ibrahim a.s., diberkahi oleh para malaikat dan diberi kabar gembira bahwa dia akan melahirkan dua nabi Allah:

Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir) Yakub. Istrinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua dan suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran dengan ketetapan Allah? Rahmat dan keberkahan Allah dicurahkan kepada kalian wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (11: 71-73)

Karena keberkahan dan rahmat Allah diberikan kepada keluarga Ibrahim, ayat di atas menjadi alat tendensius bagi beberapa komentator untuk mencari argumen dan memasukkan istri-istri nabi saw. ke dalam istilah ahlulbait. Mereka beranggapan karena Sarah istri nabi Ibrahim termasuk ke dalam istilah ahlulbait dalam ayat di atas, maka seluruh istri nabi saw. juga termasuk ke dalam surah Al-Ahzab ayat 33 yang berkaitan dengan kemurnian dan keutamaan ahlulbait Nabi Muhammad saw.

Namun, sengaja atau tidak, para komentator itu mengabaikan pentingnya ucapan malaikat. Jika Sarah, istri Ibrahim, dimasukkan ke dalam istilah ahlulbait yang digunakan dalam ayat di atas, hal itu bukan karena dia istri Ibrahim, tapi karena dia akan menjadi ibu dari dua nabi (Ishak dan Yakub). Sarah disebut oleh malaikat dalam ayat di atas sebagai anggota ahlulbait, setelah dia menerima anugerah bahwa dia mengandung Nabi Ishak a.s.

Hubungan pernikahan antara pria dan wanita merupakan kondisi sementara dan bisa berhenti kapan saja. Istri tidak bisa menjadi pasangan yang kekal bagi suami dan masuk ke dalam amanat surgawi yang diberkahi dengan keunggulan, kecuali dia membawa putra yang menjadi seorang nabi atau imam. Dengan demikian, jika kita menganggap Sarah sebagai anggota keluarga, hal itu hanya karena dia akan menjadi ibu dari Ishak, bukan istri Ibrahim. Ayat 71-73 yang dikutip di atas menunjukkan bahwa Sarah disapa di antara ahlulbait setelah dia tahu bahwa dia memiliki Ishak a.s.

Keluarga Imran

Demikian juga, Alquran menyebut ibu nabi Musa di antara ahlulbait Imran. Lagi-lagi, sebagaimana yang bisa kita lihat di ayat berikut, penekanan di sini adalah ibu dari nabi Musa dan bukan istri Imran:

Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui sebelum itu; maka berkatalah saudari Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (28: 12-13)

Ibu nabi Musa disebut sebagai ahlulbait bukan sebagai istri Imran, tapi karena menjadi ibu dari Musa, karena para istri tunduk terhadap perceraian dan bisa digantikan dengan wanita yang lebih baik (Quran 66: 5) sebagaimana yang dikatakan oleh Zaid bin Arqam. Hal ini diilustrasikan oleh istri nabi Nuh dan Luth; meskipun mereka adalah istri dari hamba-hamba Allah, mereka tidak dianggap  sebagai ahlulbait. Mereka binasa bersama umat tersisa. Zaid bin Arqam berkata: “Ahlulbait nabi adalah garis silsilah dan keturunan (yang berasal dari darah dagingnya) yang diharamkan menerima zakat.”

Istri Imran berada di garis Musa, sebagaimana istri Ibrahim berada di garis Ishak dan Yakub. Demikian pula, jika Fatimah berada di antara ahlulbait nabi saw., hal ini bukan hanya karena dia putri dari nabi saw., tapi juga ibu dari dua imam.

Keluarga Nuh

Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sungguh perbuatannya tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (11: 45-46)

Abul Ala Maududi menulis dalam komentarnya terkait ayat di atas:

Jika bagian dari tubuh seseorang membusuk dan ahli bedah memutuskan untuk memotongnya, ia tidak akan mematuhi permintaan pasien yang berkata, “Jangan potong, karena itu bagian dari tubuhku!”. Ahli bedah akan menjawab, “Ia bukan lagi bagian dari tubuhmu karena ia membusuk.” Begitu juga ketika seorang ayah yang baik diberi tahu bahwa putranya berlaku tidak baik, itu berarti untuk mengimplikasikan bahwa usaha yang dilakukan untuk membawa dia sebagai anak yang baik telah sia-sia dan berakhir dengan kegagalan.

Referensi suni:

Komentar Quran oleh Abul Ala Maududi (diterbitkan oleh the Islamic Publications (Pvt) Limited), h. 367, tentang ayat 11:45-46

Nabi Nuh a.s. memohon untuk putranya dan jawabannya adalah putra itu tidak pantas menjadi anaknya. Melalui ayat tersebut, hal ini menjadi jelas bahwa meskipun seseorang berasal dari darah dan daging yang sama, lahir melalui orang tua yang sama, tapi jika ia tidak memiliki kualitas yang baik yang dimiliki orang tuanya maka dia tidak memiliki saham dari orang tuanya (sebagaimana disebut dalam ayat kedua di atas). Nuh memiliki tiga putra, Ham, Sam, dan Yafet yang beriman dan bersama istri mereka memasuki bahtera dan selamat, sedangkan Kan’an adalah putra Nuh dari istri yang berbeda yang tidak beriman dan musnah bersama putranya.

Dapat disimpulkan bahwa jika seseorang tidak memiliki kebaikan iman yang benar pada Allah, meskipun dia putra rasul, dia tidak berada dalam saham orang tua; lahirnya dia yang berasal dari orang tua tertolak, bahkan hak untuk berada di bumi Allah juga ditarik darinya, dan musnahlah dia.

Oleh karena itu, meskipun seseorang itu putra dari nabi Allah, kurangnya kebajikan membuatnya tidak diakui sebagai bagian dari ‘itrah keluarga kerasulan. Karena alasan inilah istilah ahlulbait terbatas pada anggota keluarga nabi yang layak dan tidak meliputi semua orang yang lahir dari darahnya. Ahlulbait hanyalah pribadi-pribadi di antara keturunan nabi yang juga memiliki kedekatan karakter dan pencapaian spiritual sepenuhnya bersama nabi saw.

Pendidikan dan peran Wanita di Keluarga Dalam Pandangan Syi’ah

Saat ini di Republik Islam Iran, kaum wanita dengan baik membuktikan kemampuannya tampil di berbagai sektor sosial dan tanggung jawabnya sebagai sorang ibu dalam mendidik anak serta istri dalam mendampingi suami. Hal ini berhasil dicapai berkat penghormatan tinggi terhadap ajaran Islam terkait urgensitas keluarga dan peran sentral wanita yang menilai pekerjaan seorang istri di rumah seperti jihad.

Dewasa ini penentuan status sosial yang tepat bagi kaum hawa menjadi isu besar. Kemenangan Revolusi Islam di Iran tahun 1979 ternyata juga sangat memperhatikan posisi serta peran wanita. Sampai-sampai Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menyebut isu wanita termasuk masalah utama Republik Islam Iran.

Saat ini di Iran, masalah kaum hawa dibahas dalam dua kategori, keluarga dan sosial. Pandangan terhadap wanita yang dilandasi oleh ajaran suci Islam membuat kemampuan wanita meningkat serta masyarakat pun semakin maju. Islam memandang kaum waniata sebagai manusia. Dalam pandangan Islam, wanita memiliki kehormatan dan terhitung landasan bagi tatanan keluarga serta sosial. Oleh karena itu, aktivitas wanita di berbagai bidang tidak menghalanginya untuk membentuk keluarga.

Keluarga merupakan institusi pertama dalam sebuah masyarakat dan maminkan peran penting terkait keselamatan sosial. Rahbar yang memiliki pandangan luas dan mendalam soal wanita menilai keluarga sebagai sel utama sebuah masyarakat. Menurut Rahbar, jika sel ini sehat maka bagian masyarakat lainnya juga sehat pula. Beliau berpendapat kemajuan masyarakat Islam tidak mungkin dicapai tanpa adanya keluarga yang sehat dan aktif dalam sebuah negara.

Sementara di Barat, masalah utama yang ada adalah para pejabat negara tidak memandang keluarga sebagai lembaga utama dan penting dalam sebuah masyarakat. Mereka memandang wanita sebagai indivu yang terpisah dari keluarga. Rahbar menilai Barat sengaja melalaikan masalah keluarga. Dalam pandangan Rahbar, masalah keluarga menjadi titik lemah Barat dan wanita yang menjadi poros utama di keluarga telah disingkirkan.

Perkawinan selama ini menjadi sarana bagi manusia untuk menyalurkan kebutuhan biologis, mental dan spiritualnya.  Dan keluarga menjadi pondasi utama bagi tatanan sosial, infrastruktur bagi kemajuan budaya dan peradapan manusia. Kini berbagai iklan dan propaganda di Barat menjurus pada dorongan kepada manusia untuk hidup membujang dan tidak membentuk sebuah keluarga. Oleh karena itu, kita menyaksikan maraknya keluarga yang terdiri dari satu orang tua atau orang yang membujang di Barat. Sementara di Iran, perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan ikatan janji suci yang memiliki akar kuat di ajaran Islam

Rasulullah Saw menyebut perkawinan sebagai penyempurna keimanan seseorang serta menyebutnya sebagai sunnah beliau. Rahbar seraya mengisyaratkan sakralitas perkawinan dalam pandangan agama khususnya Islam meyakini bahwa nilai sakral ini tidak boleh dipisahkan dari perkawinan. Beliau kerap menekankan acara perkawinan digelar dengan sederhana dan tidak mewah. Salah satu tujuan utama perkawinan adalah membentuk komunikasi hangat antara anggota keluarga. Allah Swt dalam surat Ar-Rum ayat 21 berfirman,” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Sebagai negara dengan pemerintahan yang meneladani ajaran Nabi Saw, Republik Islam Iran memandang kaum wanita sebagai kelompok masyarakat yang memiliki banyak potensi dan bakat. Pemerintahan Islam ini menghidupkan kembali kedudukan dan kemuliaan kaum wanita yang sebenarnya. Pandangan seperti ini mendorong kaum wanita untuk terlibat secara aktif dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Dengan menyadari dan menjaga jatidirinya, wanita Muslimah dapat menunjukkan kepada dunia hakikat diri dan perannya. Islam memandang wanita sebagai insan mulia yang mendidik dan mencetak wanita-wanita agung, cendekia, dan ibu atau istri yang berjiwa kuat dan pejuang di jalan Allah.

Apa yang dilakukan Republik Islam Iran terkait masalah wanita selama ini memang layak diapresiasi. Namun demikian, Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei memandangnya sebagai kinerja yang belum sempurna. Untuk itu dalam pertemuan dengan kalangan elit, cendekia dan intelektual wanita, beliau mengimbau mereka untuk melakukan telaah dan studi yang mendalam dan ilmiah terkait masalah wanita. Hasil telaah itu dapat diimplementasikan lewat penyusunan program strategis.

Di dunia Barat, masalah perempuan dan perannya di tengah masyarakat diidentikkan dengan benturan dua kelompok gender, laki-laki dan perempuan, dan gesekan kepentingan diantara mereka. Pandangan yang salah ini telah menjauhkan perempuan di Barat dari keistimewaan jiwa dan kedudukan insaninya. Mengenai masalah ini Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, “Secara perlahan mereka membuat aturan yang tidak adil yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang diuntungkan, sementara perempuan dijadikan sebagai pihak yang dimanfaatkan. Karena itu, dalam budaya Barat, jika perempuan ingin menonjol dan meraih kepribadiannya maka ia mesti mempertontonkan daya tarik seksualnya. Bahkan dalam acara-acara resmi, pakaian yang dikenakan perempuan harus bisa memuaskan pihak yang diuntungkan, yakni laki-laki.”

Menurut Rahbar, ada dua masalah inti terkait problema perempuan di tengah masyarakat. Jika dua masalah ini dipikirkan dengan baik, dicanangkan sebagai wacana baru dan ditindaklanjuti secara intensif maka apa yang kini di dunia dianggap sebagai krisis wanita bisa diharapkan terurai dalam jangka pendek ataupun panjang. Pertama berkenaan dengan kesalahan orang dalam memandang status dan kedudukan wanita di tengah masyarakat. Kesalahan ini mengakar pada pemikiran Barat yang kebetulan memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Bisa diperkirakan tidak salah orang yang mengklaim bahwa masalah ini ada dalam protokol-protokol para pemikir Zionis. Artinya, kesalahan persepsi mengenai kedudukan wanita di tengah masyarakat ini kemungkinan baru berjalan di Barat sekitar 100 sampai 150 tahun dan merambah komunitas-komunitas masyarakat lain, termasuk masyarakat Islam. Masalah kedua adalah yang paling asas, yakni kesalahan persepsi mengenai rumah tangga dan keburukan perilaku dalam rumah tangga.

Munculnya fenomena anak haram – dalam hal ini AS menduduki rangking tertinggi-, begitu pula fenomena kumpul kebo sejatinya adalah pemusnahan sendi-sendi, kehangatan, keharmonian dan berkah kehidupan rumah tangga. Problema tadi adalah biang keterasingan manusia dari berkah tersebut. Ini harus dipikirkan; kedudukan sejati kaum wanita harus dijelaskan, logika naif Barat itu harus dilawan dengan sungguh-sungguh.

Peran penting wanita dalam sebuah keluarga adalah posisinya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Psikolog dewasa ini menyebut insting keibuan merupakan bawaan dan fitrah seorang wanita. De Marneffe Daphne, psikolog Amerika Serikat dalam sebuah bukunya menulis, mayoritas seorang ibu menganggap kecintaannya untuk membesarkan dan merawat anak adalah fitrah dan alami serta sarana untuk merepleksikan hubungan kekeluargaan. Sangat disayangkan di masyarakat Barat, fitrah keibuan untuk menjaga serta merawat anak mengahadapi ancaman serius. Wanita di Barat cenderung untuk tidak memiliki anak atau jika mereka memiliki anak lebih memilih menyerahkan anak-anaknya ke tempat penitipan anak atau pusat-pusat sosial lainnya.

Sementara itu, aktivitas dan pekerjaan wanita di luar rumah juga merupakan dimensi lain dari mereka. Dalam pandangan Islam diperbolehkan aktif di berbagai bidang mulai sains, riset, politik, sosial dan ekonomi. Islam sejak 14 abad lalu telah mengakui secara resmi aktivitas wanita tersebut. Adapun di Barat partisipasi wanita untuk berpolitik baru diakui di akhir abad 20 dan dipermulaan abad 21.

Salah satu perkembangan penting pasca kemenangan Revolusi Islam bagi perempuan Iran adalah perkembangan pola fikir dan mental mereka. Kaum hawa di Iran berhasil menggapai banyak kemajuan dengan aktif di masyarakat. Saat ini, lebih dari 68 persen pusat-pusat pendidikan khususnya di jenjang perguruan tinggi ditempati perempuan. Angka buta huruf khususnya bagi kaum wanita di Iran pun mengalami penurunan. Jika sebelum revolusi, jumlah wanita yang mengenyam pendidikan mencapai 34 persen, kini tercatat wanita Iran yang berpendidikan sebesar 80 persen. Ini menunjukkan perhatian besar Revolusi Islam terhadap kaum wanita.(

 

pendidikan bengis wahabi : Militer Arab Saudi Serang Rumah Sakit, Tangkapi Demonstran Yang Terluka

Selasa, 2012 Februari 14 01:50

Pasukan keamanan Arab Saudi dengan brutal menyerang sejumlah rumah sakit di negara ini untuk menangkapi para demonstran yang terluka dan tengah di rawat di rumah sakit tersebut.

 

Situs Rashad mengutip sumber-sumber lokal Arab Saudi mengkonfirmasikan serangan pasukan keamanan Arab Saudi ke sejumlah rumah sakit di wilayah timur negara ini termasuk Qatif dan al-Awamiyyah untuk menangkap para demonstran yang tengah menjalani perawatan medis.

 

Menurut sumber ini, militer rezim al-Saud sejak Sabtu lalu aktif menyisir dan memeriksa setiap rumah sakit klinik di wilayah timur negara ini.

 

Aksi demo damai warga timur Arab Saudi dijawab brutal oleh pasukan keamanan negara ini akibatnya dua pemuda di Qatif dan al-Awamiyyah tewas serta sejumlah lainnya cidera. (IRIB Indonesia/MF)

Cucu Malcolm X Memilih Syiah

Setelah masa muda yang penuh masalah, Malcolm Shabazz berusaha untuk mengikuti jejak kakeknya, Malcolm X. Dia juga cucu dari Dr. Betty Shabazz yang meninggal pada tahun 1997 setelah menderita luka bakar di apartemennya. Malcolm yang saat itu berusia 12 tahun mengaku bersalah telah menyulut api. Ibunya yang pada saat umur empat tahun melihat ayahnya ditembak, Qubilah Shabazz, memberi tahu bahwa neneknya wafat.

Malcolm duduk di penjara dan berbicara kepada arwah neneknya, memohon tanda agar dimaafkan. “Saya hanya ingin dia tahu bahwa saya menyesal. Saya ingin tahu bahwa dia menerima permohonan maaf ini, karena saya tidak bermaksud demikian,” kenangnya. “Tapi saya tidak mendapat jawaban, meski ingin.” Enam tahun setelah kebakaran, dia kembali masuk penjara—kali ini penjara orang dewasa dengan tuduhan pencobaan perampokan. Tapi ia masih mencari kesempatan untuk melanjutkan kehidupan, dan dunia melihatnya akan melihatnya sebagai cucu dari seorang martir.

Malcolm tumbuh jauh dari kilauan ketenaran nama yang diwariskan. Selama bertahun-tahun ia berjuang memenuhi harapan untuk mengikuti jejak kakeknya, meskipun ia mendapat manfaat hubungan keluarga dan dukungan para pengagum Malcolm X. Tapi dia ingin mencapainya sendiri. “Saya punya tujuan. Saya punya rencana. Saya ingin orang tahu apa yang terjadi pada saya.”

Butuh waktu selama 22 bulan. Bahkan untuk menghadapi komentar sinis tentangnya: pembakar dengan gangguan mental. “Menurut catatan, saya didiagnosa dengan banyak hal. Saya mendengar banyak suara dan hal. Saya skizofrenia, saya depresi berat. Saya tidak akan bisa duduk tenang jika semua itu benar.” Ruth Clark, ibu baptis Malcom, berkata, “Banyak tekanan menjadi cucu Malcolm X. Setiap orang memiliki harapan tinggi.”

Sama seperti kakeknya, ia banyak menghabiskan waktu di jalanan dan penjara. Sama seperti kakeknya, di balik penjara ia menemukan kembali iman dan tenggelam ke dalam Islam. Ketika dikarantina di Attica Correctional Facility di New York, Malcolm Shabazz mengatakan bahwa dia tidak memiliki perlengkapan yang bersih dan bahan bacaan. Tapi saat itu, ia bertemua napi lainnya asal Meksiko-Iran. Menurut Shabazz, orang ini menjadi teman diskusi dengan banyak teks keagamaan.

“Saya dibesarkan sebagai suni, semua keluarga saya suni.” Perpindahannya kepada Syiah menyebabkan reaksi yang mirip seperti ketika kakeknya meninggalkan Nation of Islam pada tahun 1964 dan menyatakan dirinya sebagai suni. Tersebarnya berita itu, membuat beberapa pemimpin suni and anggota komunitas menyatakan ketidaknyamanan mereka. Banyak orang menulis kepadanya, “Bagaimana Anda bisa menjadi Syiah?”

Shabazz menceritakan bahwa dirinya telah diberi tahu bahwa Syiah bukan muslim dan mereka adalah kelompok radikal. Semua yang dikatakan kepadanya sudah ia anggap sebagai propaganda biasa. Karena setiap informasi yang diterima Shabazz tentang mazhab ahlulbait ini berasal dari musuh-musuhnya yang telah dikemas ulang. Shabazz mengatakan, jika kita ingin tahu tentang apapun maka kita harus merujuk pada sumber aslinya dan tidak hanya cukup kepada satu orang awam Syiah, tapi harus kepada alim.

Shabazz Malcolm terkesan dengan buku-buku seperti Peshawar Nights dan Then I was Guided. Malcolm Shabazz kagum dengan perjuangan Imam Husain a.s. yang menurut beberapa alim juga diperjuangkan oleh kakeknya Malcolm X, sama seperti perjuangan Nabi Musa melawan firaun.

Setelah dibebaskan, Shabazz memutuskan untuk pindah ke Suriah dan belajar di sebuah lembaga keislaman dan menghabiskan delapan bulan berikutnya untuk mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak. “Saya keluar dari penjara dan ingin pergi sementara waktu.” Setelah kembali dari Suriah, Shabbaz kembali ke Miami dan menyiapkan sebuah memoar yang akan menyingkap kesalahpahaman agar semua menjadi jelas.

Setelah kembali ke Amerika Serikat, ia memutuskan untuk mengikuti jejak kakeknya pergi haji. Pengalaman seumur hidup Shabazz ini membuktikan kekuatan keimanan. Selain salat di tanah suci Mekah dan Madinah, Shabazz juga berkunjung ke Riyadh dan Jeddah.

Selengkapnya di blog Malcolm Shabazz: Live From Saudi Arabia

Shabazz sempat ditanya oleh seorang jendral Arab Saudi yang fasih berbahasa Inggris, “Brother, are you Shia or are you Sunni?” Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan menjadi terdiam. Shabazz menjawab, “Brother, I’m a Muslim.” Shabazz juga mengunjungi komunitas Syiah kulit hitam di Madinah yang menurutnya sudah tinggal sejak masa awal Islam. Di sana ia menceritakan tentang siapa dirinya lalu didoakan agar ibadah hajinya di terima Allah Swt.

Puluhan tahun sebelumnya, kakeknya telah membuat perubahan pada kultur Amerika dengan mengambil pendekatan radikal untuk menuntut persamaan hak. Ketika ditanya apakah kakeknya akan mengagumi Presiden Obama jika ia masih hidup hari ini, Shabazz menjawab, “Jelas tidak. Bagi saya, dia tidak ada bedanya dengan Bush.”

Shabazz mengatakan bahwa demokrasi di negaranya palsu, sebuah ilusi yang diabadikan para elite penguasa. Meski secara khusus ia tidak mengagumi Obama, ia berharap pemilihan presiden Afrika-Amerika pertama ini bisa “meningkatkan harga diri pemuda kulit hitam”. Pesan-pesan yang disampaikan Malcolm X semakin lebih penting saatnya daripada sebelumnya.

“Kakek saya pernah mengatakan bahwa hanya ada dua kekuatan yang dihargai di Amerika Serikat—kekuatan ekonomi dan kekuata politik—dan dia menjelaskan bagaimana kekuatan sosial berasal dari keduanya. Sayangnya, mayoritas masyarakat (saat ini) buta huruf secara ekonomi dan naif secara politik. Mereka percaya dengan apa yang mereka lihat di televisi dan baca di koran. Saya katakan, percaya sebagian yang Anda lihat, dan jangan percaya apa yang Anda dengar.”

Shabazz percaya bahwa perubahan dapat dimulai dengan pendidikan dan persatuan. “Pendidikan dapat dilakukan melalui musik, puisi yang diucapkan, seni, ceramah dari mimbar, atau terlibat dalam pekerjaan fisik.” Terkait persatuan, ia mencontohkan Uni Eropa, sebagai organisasi “di mana negara-negara yang tidak saling suka satu sama lain tapi karena memiliki akal sehat untuk bersama dengan satu tujuan atau melawan musuh bersama.”

“Setelah peristiwa 11 September, banyak orang tidak tahu (tentang Islam). Tapi mereka mulai menyelidiki dan belajar lebih.” Meski reaksi pertama orang adalah berpaling dari agama jihad, Shabazz merasa banyak orang juga butuh mendidik diri mereka sendiri—dan menemukan ada banyak sisi lain Islam dari yang media gambarkan. Bagi seorang pemuda yang telah menjalani kehidupan penuh gejolak, Shabazz mencari sesuatu yang mendasar bagi keimanannya: “Saya ingin ketenangan pikiran.”

.

Rabu, 15 Februari 2012 14:30 WIB

Putra Oliver Stone, Aktor dan Sutradara AS Masuk Syiah di Iran

Ali Stone: Ketika Mengucapkan Syahadat, Aku Merasa Berhadapan dengan Orang Suci

Rabu, 2012 Februari 15 13:54

Sean Stone setelah memeluk Islam dan mengganti namanya Ali Stone mengatakan, “Menurut saya, sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia saat ini juga bakal hancur. Karena masyarakat dengan keimanannya telah memulai kebangkitan di Timur Tengah.”

Di sela-sela acara pembacaan dua kalimat syahadat di Isfahan, Fars News sempat mewawancarai Sean Stone yang akhirnya memilih nama Ali Stone setelah memeluk Islam. Kepada Fars Ali Stone mengatakan bahwa Gerakan Occupy Wall Street tidak akan padam. Karena ia berada di hati setiap orang.

“Agama Islam adalah lanjutan dari “Firman Tuhan”. Allah yang telah mengutus Nabi Ibrahim as dan Musa as, serta menyatukan seluruh mazhab dan prinsip-prinsip agama,” jelas Ali Stone mengenai alasan mengapa ia memeluk Islam.

Seniman Amerika ini juga memaparkan bahwa Nabi Muhammad Saw berhasil menyatukan seluruh masyarakat yang waktu itu penuh dengan kekufuran. Menurutnya, saya dapat memahami keberanian dan ketulusan Nabi Muhammad Saw. “Itulah mengapa saya memeluk Islam,” ujar Ali Stone.

Seraya menyinggung bahwa agama-agama lain menyembah Allah sama dengan Islam, Stone menekankan, “Laa Ilaaha Illa Allah” bukan pengertian yang baru. Kalimat ini senantiasa ada bersama agama-agama yang ada. Perbedaannya hanya pada cara penjelasannya.”

Ketika ditanya apakah keluarganya mengetahui ia berencana memeluk Islam dan apa reaksi mereka, Ali Stone mengatakan, “Tidak. Mereka tidak banyak tahu tentang masalah ini. Dengan memeluk Islam, pada dasarnya saya mengikuti seluruh agama. Kita semua satu di mata Allah yang Maha Kuasa.”

Kembali Ali Stone ditanya mengapa di usia 27 tahun ia memutuskan untuk memeluk Islam. “Saya telah membaca al-Quran. Tapi tentu saja orang tidak bisa menjadi muslim hanya dengan membaca al-Quran semalaman. Karena seseorang harus membaca al-Quran selama hidupnya. Proses saya memeluk Islam merupakan perintah Allah. Saya bukan orangnya yang menentukan kapan saya harus muslim,” ujar anak sutradara terkenal Amerika, Oliver Stone.

Sekaitan dengan perasaannya saat mengucapkan dua kalimat syahadat, Ali Stone mengatakan, “Saya berhadapan dengan seorang alim rabbani dan suci. Saya berpikir ia memiliki hubungan khusus dengan Allah.”

Berbicara mengenai masa depan umat Islam di Timur Tengah, Ali Stone menjelaskan bahwa sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia juga akan tumbang. “Di sinilah perbedaan antara seseorang yang beriman dengan Barat yang tidak percaya,” tambahnya.

Ketika ditanya mengenai masa depan gerakan Occupy Wall Street, Ali Stone mengatakan, “Wall Street merupakan sebuah gerakan yang tidak pernah padam. Karena ia ada di hati setiap orang.

Putra Oliver Stone Masuk Islam di Iran 

Aktor Amerika dan pembuat film dokumenter Sean Stone, putra sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, masuk Syiah saat upacara keagamaan di Iran.

Stone menjadi seorang penganut Syiah dan memilih menggantinya namanya menjadi Ali pada upacara yang diadakan di kota bersejarah Isfahan Iran pada tanggal 14 Februari kemarin.

“Pindah agama ke “Islam” tidak berartu meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengannya,” kata Stone.

“Artinya saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” tambahnya dalam panggilan telepon singkat.

Lahir dari ayah Yahudi dan ibu Kristen, Stone tidak mengatakan mengapa ia masuk Syiah.

Stone yang mengunjungi Iran beberapa bulan lalu mengatakan ia ingin mengetahui lebih banyak tentang budaya dan peradaban Persia serta akrab dengan tradisi Iran.

Stone menyebut Iran sebagai salah satu pusat utama Asia dalam pembuatan film sembari mengatakan bahwa ia “ingin memperkenalkan budaya Persia dan peradabannya ke Barat.”

Pembuat film berusia 27-tahun ini adalah lulusan sejarah dari Princeton University dan telah berkolaborasi pada banyak proyek ayahnya. Dia juga telah menyutradai beberapa film dokumenter

Pembuat film AS, Sean Stone, putra dari sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, dilaporkan masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, saat tengah membuat film dokumenter.

“Konversi ke Islam tidak meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengan. Ini berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” kata Sean, lewat sebuah panggilan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, tempat di mana ia menjalani ritual, seperti dikutip AFP.

Ayah Sean, Oliver Stone terkenal sebagai penganut Yahudi, sedangkan ibunya beragama Kristen.

Pria pembuat film berusia 27 tahun itu tidak mengungkapkan alasan mengapa ia masuk Islam.

Menurut kantor berita Iran, Fars, Sean Stone telah menjadi penganut Syiah dan memilih dikenal dengan nama depan Muslim, Ali.

Sebelumnya, Sean (Ali Stone) telah beraksi dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, kini telah mengarahkan sendiri beberapa film dokumenter.

Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran

Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan.
Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran
 Sean Stone, seorang sutradara film dokumentasi Amerika Serikat, putra Oliver Stone yang juga produsen film terkemuka Amerika, memeluk agama Islam.Mehr News (14/2) melaporkan, Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan.Dalam wawancaranya dengan AFP, Sean menyatakan bahwa konversi ke agama Islam itu berarti dia telah menerima Muhammad sebagai nabi di antara nabi-nabi lainnya
.
Ayah Sean, yaitu Oliver Stone adalah seorang Yahudi dan ibunya seorang Kristen. Produsen film dokumenter berusia 27 tahun itu sebelumnya pernah tampil singkat dalam film-film produksi ayahnya.Sean memilih nama Ali dan ia memilih mazhab Syiah.
Sean Stone, anak sutradara kondang Oliver Stone, memutuskan untuk masuk Islam di Iran. Ia tengah membuat film dokumenter di negeri itu.Namun, pemuda 27 tahun ini menyatakan tak akan meninggalkan akar Kristen yang Yahudi orang tuanya, kendati dia telah menjadi Muslim. Tanpa menyebut alasannya, dia mengaku menjadi penganut Syiah dengan nama depan Ali
.
“Menjadi Muslim berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” ujar Stone di Isfahan, Iran, di mana upacara konversi dilakukan
.
Dia tengah membuat film dokumenter tentang Rumi, seorang penyair mistis. Sebelumnya, ia terlibat dalam 12 film yang disutradarai ayahnya. Sebuah dokumen mencatat, dia merupakan pembela Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.Lulusan Princeton University ini pernah tampil dalam film Wall Street: Money Never Sleeps pada tahun 2010, Nixon pada tahun 1995, dan JFK pada tahun 1991 – semua besutan oleh ayahnya.Tehran Times melaporkan, dia mengikrarkan keislamannya di Isfahan, di kantor ulama Syiah Ayatollah Mohammad Nasseri Dowlatabadi. Dia berada di Iran sejak awal bulan ini untuk sebuah acara apreasiasi film Hollywood yang dihadiri Ahmadinejad
.
Produser film terkenal Amerika, Sean Stone, yang juga anak dari sutradara pemenang Oscar, Oliver Stone, masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, tempat di mana ia sedang membuat film dokumenter, katanya kepada AFP.

Bagusnya, ia masuk Islam di Iran sehingga ia menjadi seorang Syiah.

“Masuk Islam tidaklah mengabaikan agama Kristen atau Yudaisme, yang mana saya sudah peluk semenjak lahir. Ini berarti saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” katanya dalam sebuah percakapan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, di mana ia menjalani upacara peresmian keIslamannya.

Ayahnya yang terkenal, Sean Stone adalah Yahudi, sedangkan ibunya adalah Kristen.

Produser film yang berumur 27 tahun ini tidak mengatakan mengapa ia bisa masuk Islam.

Menurut kantor berita Iran Fars, Sean Stone telah menjadi Syiah dan memilih nama Ali Muslim.

Sean Stone pernah akting dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, dan telah menyutradarai beberapa film dokumenter

Sebelas Imam ahlulbait pertama dibunuh. Begitu juga para penguasa zalim berusaha membunuh yang kedua belas dan Allah “menggaibkan” Imam Kedua Belas. Keluarga pun berusaha menyembunyikan putra Imam Kesebelas ini dari kejaran tirani.

Sebelas Imam ahlulbait pertama dibunuh. Apa dosa dosa imam dzuriyat Rasul ini kepada thaghut Umayyah Abbasiyah ??

Imamiah merupakan kelompok mayoritas dalam Syi’ah, disebut juga Itsna Asyariah, berikut ini merupakan daftar Imam yang merupakan pengganti Nabi Muhammad dalam hal kepemimpinan umat (bukan sebagai Nabi, karena Imamiah berpendapat Nabi terakhir adalah Muhammad). Setiap Imam merupakan anak dari Imam sebelumnya kecuali Husain bin Ali, yang merupakan saudara dari Hasan bin Ali.

  1. Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Ja’far bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Jafar (745799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawadatau Muhammad at-Taqi
  10. Ali bin Muhamad (827868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

sebelas Imam ahlulbait pertama dibunuh. Begitu juga para penguasa zalim berusaha membunuh yang kedua belas dan Allah “menggaibkan” Imam Kedua Belas. Keluarga pun berusaha menyembunyikan putra Imam Kesebelas ini dari kejaran tirani. Dalam Kitab Al-Irsyad bahkan disebutkan, setelah Imam Kesebelas syahid, banyak orang yang belum tahu tentang putranya. (Silakan baca Kitab Al-Irsyad, Syaikh Mufid)

.
dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”
.
Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai Jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”
.
Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)
.
* Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
* Syawahidul Tanzil:1/48 hadis 202-204
* Tafsir Razi:3/375
.
Telah diriwayatkan oleh al Hamwini, di dalam Fara’id al-Simtayn dan dinukilkan darinya di dalam Yanabi al Mawaddah, dengan sanad dari Ibnu Abbas berkata:
Seorang Yahudi yang bergelar Nat’sal datang bertemu Rasulullah(sawa) lalu berkata;
Wahai Muhammad(sawa) aku berhajat untuk bertanya kepadamu sesuatu yang aku pendamkan di dalam diriku. Jika kamu menjawabnya, maka aku akan mengisytiharkan keislamanku di hadapan mu.” Rasulullah(sawa) menjawab, “Tanyalah wahai Abu Imarah.” Dia lalu menyoal baginda sehingga beliau merasa puas dan mengakui kebenaran baginda(sawa)
.
Kemudian dia berkata, “ Beritahu aku tentang pengganti kamu, siapakah mereka? Sesungguhnya tiada Rasul yang tidak mempunyai wasi(pengganti).Rasul kami Musa melantik Yusha bin Nuun sebagai pengganti dirinya. Baginda menjawab: “Wasi ku ialah Ali bin Abi Thalib, diikuti oleh kedua cucuku, Hassan dan Hussain, seterusnya diikuti pula oleh 9 orang keturunan Hussain
.
Dia bertanya lagi: “Sebutkan nama-nama mereka kepada ku waha Muhammad(sawa).” Rasul menjawab, “Apabila Hussain pergi, beliau akan diganti oleh anaknya, Ali, apabila Ali pergi, Muhammad akan menggantikannya. Apabila Muhammad pergi, Ja’afar akan menggantikannya. Apabila Ja’afar pergi, beliau akan digantikan oleh anaknya Musa. Apabila Musa pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Setelah Ali pergi anaknya Muhammad akan menggantikannya. Setelah Muhammad pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Apabila Ali pergi, anaknya Hassan akan menggantikannya. Apabila Hassan pergi, anaknya Muhammad al Mahdi akan menggantikannya. Inilah mereka yang 12 orang.Dengan jawapan tersebut yahudi itu memuji Allah dan menyatakan keislamanny
1. Di keluarkan dari Bukhari, Ahmad dan Baihaqi, dari Jabir bin Samurah, berkata,
“Akan wujud 12 orang amir”.
Jabir berkata: Setelah itu baginda(sawa) mengatakan sesuatu yang tidak dapat aku mendengarnya. Lantas bapaku berkata bahawa baginda bersabda:
“Semuanya dari Quraish.”
.
2. Di keluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku masuk bersama bapaku ke hadhrat Nabi lalu aku mendengar baginda(sawa) bersabda:
‘Urusan agama ini tidak akan selesai hingga sempurna 12 orang Khalifah.”
Jabir berkata: Kemudian baginda mengatakan sesuatu yang kabur dari pendengaran ku, maka aku bertanya kepada bapaku. Bapaku menjawab:
“Semuanya daripada Quraish”
.
3. Dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad dari Jabir bin Samurah: Aku telah mendengar bahawa Rasulullah bersabda:
“Urusan agama akan tetap berjalan lancar selagi mereka dipimpin oleh 12 orang lelaki.”
.
4. Di keluarkan oleh Muslim, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, al Khatib al Tabrizi, dari Jabir bin Samurah, Rasulullah(sawa) bersabda:
“Islam akan tetap mulia(selagi mereka dipimpin oleh) dengan 12 orang khalifah”
.
5. Dikeluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Nabi bersabda pada petang Jumaat ketika al Aslani di rejam:
“Agama ini akan tetap teguh berdiri hingga hari kiamat kerana kamu dipimpin oleh 12 orang khalifah.”
.
6. Di keluarkan oleh Ahmad, Al Hakim, al Haithami di dalam Majma’ uz Zawaid dinukil dari Thabrani dan al Bazzar, dari Jabir bin Samurah, Nabi bersabda:
“Urusan umatku akan berada dalam keadaan baik sehinggalah cukup 12 orang khalifah.”
.
7. Di keluarkan oleh Ahmad, al Haithami di dalam Majma uz Zawaid, Ibnu Hajar di dalam al Mathalibul ‘Aliyah, al Busairi di dalam Mukhtasar al Ithaf dari Masruq berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata:
Apakah Nabimu pernah mengkhabarkan bilangan khalifah sebelum kepergiannya?
Ibnu Mas’ud menjawab:
“Ya, tetapi tiada orang pun selain kamu yang bertanyakan perkara ini. Sesungguhnya kamu masih muda. Bilangan khalidah adalah seperti bilangan majlis Musa(as), iaitu 12 orang.”
Inilah antara hadis yang menunjukkan bilangan khalifah/amir sepeninggalan Rasulullah (sawa), iaitu 12 orang, yang mana selagi di bawah pimpinan mereka:-
1. Islam akan tetap mulia.
2. Agama ini akan tetap teguh.
3. Urusan umat akan tetap dalam keadaan baik.
Syeikh Sulaiman al Qunduzi al Hanafi menerusi kitabnya Yanabi al Mawaddah telah mengkhususkan satu bab hanya untuk himpunan hadis 12 orang khalifah ini. Beliau menyatakan bahawa Yahya bin Hassan menerusi kitabnya, al Umdah menyenaraikan 20 jalan sanad bahawa khalifah sepeninggalan Nabi(sawa) ialah 12 orang. Manakala Bukhari menyenaraikan 3 jalan,

Tiga Ratus Tiga Belas

Selain angka 40 (empat puluh) atau arba’în, angka lain yang memiliki keunikan dan rahasia tersendiri adalah angka 313 (tiga ratus tiga belas). Dalam beberapa literatur, kita menemukan angka ini dalam sejarah pasukan langit. Mereka sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu sampai di masa mendatang.

313 Tentara Daud

Setelah diselamatkan oleh Nabi Musa alaihi salam, Bani Israil kembali melanggar hukum-hukum Tuhan hingga akhirnya mereka kembali ditindas oleh penguasa tiran. Kondisi sulit itu membuat mereka bertekad untuk berperang agar tidak menjadi bangsa yang terusir. Mereka memohon kepada Nabi Samuel untuk memimpin revolusi melawan para penindas. Tapi ketika Samuel meminta mereka untuk berkomitmen dengan janjinya, hanya sedikit yang mau melaksanakannya
.
Samuel berkata, “Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Namun karena Thalut hanya seorang pengembala yang tidak memiliki harta, mereka menolak dan mengatakan, “Kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dari padanya.”
.
Dari ayat Quran di atas kita tahu bahwa para nabi memiliki pengganti dan penerus, dan penerusnya itu pastilah atas perintah Allah. Thalut yang diangkat oleh Allah tidak hanya ditugaskan sebagai pemimpin perang tetapi juga raja, yang berarti bahwa agama tidak bisa dipisahkan dari politik. Ayat ini juga mengkritik orang-orang yang hanya mengutamakan harta. Sebagai syarat utama, Allah menyatakan bahwa Thalut adalah orang berilmu. Karena dia juga pemimpin perang, maka syarat kedua ia memiliki tubuh yang perkasa
.
Agar masyarakat yakin dengan kepemimpinannya, nabi berkata bahwa tabut suci Bani Israil akan dibuka di hadapan mereka. Tabut adalah peti kayu tempat dahulu ibu Musa menyimpan bayi Musa yang dilemparkan ke sungai Nil. Saat Musa diangkat menjadi nabi, beliau menyimpan papan (lauh) Taurat di dalam peti itu. Sebelum wafat, Musa juga meletakkan baju besi dan semua miliknya lalu diserahkan kepada penerima wasiat.
Tabut tersebut begitu suci sehingga Bani Israil selalu membawanya di setiap peperangan. Semakin lupa Bani Israil dengan tabut tersebut sampai akhirnya hilang di telan bumi. Allah memerintahkan malaikat untuk mengembalikan peti itu agar menjadi bukti bagi kepemimpinan Thalut
.
Jika tabut yang berisi papan Taurat dan benda-benda peninggalan keluarga Musa begitu suci dan di dalamnya terdapat ketenangan, apatah lagi dengan benda suci dan makam para nabi? Ayat ini juga menyiratkan kita untuk menjaga warisan dan peninggalan para nabi
.
Tatkala keluar membawa pasukan, Thalut berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kalian meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Siapa yang tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” (Q.S. Al-Baqarah: 249)
.
Bani Israil sekali lagi diuji untuk memperlihatkan kepatuhan terhadap pemimpinnya. Banyak di antara mereka yang lupa dengan pesan Thalut. Sebagian besar dari mereka bahkan memasukkan kepala ke dalam air. Menurut riwayat pasukan yang keluar pertama berjumlah 80.000 orang. Imam Baqir a.s. berkata, “Para pejuang yang setia menemani Thalut hanya berjumlah 313 orang.”[1]
.
Sebelum berperang, pasukan tersebut berdoa kepada Allah dan dengan izin-Nya mereka berhasil mengalahkan tentara Jalut. Dalam perang tersebut, Daud yang merupakan sahabat Thalut, berhasil membunuh Jalut yang dikenal besar dan kuat. Sesudah wafatnya Thalut, “Allah memberikan kepada Daud pemerintahan dan hikmah dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.”
.
Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 249)
.

313 Tentara Nabi

Pada tanggal 12 Ramadan, sebuah kafilah keluar dari Madinah. Setelah melakukan perjalanan selama empat hari, mereka tiba di daerah Badar. Badar berasal dari nama orang yang pernah memiliki mata air ini, Badar bin Harits bin Mukhallid bin Nadhr bin Kinanah. Pada masa itu, Badar merupakan terminal dan pasar yang ramai dikunjungi pedagang dari seluruh jazirah
.
Keesokan harinya, Jumat, dua pasukan bertemu. Kaum muslimin berjumlah 313 orang, belum termasuk nabi. Sementara kekuatan kaum jahiliah Quraisy 1.000 orang lebih. Rasul memerintahkan tiga orang pertama yang maju: Hamzah bin Abdul Muthalib, Ubaidah bin Harits bin Abdul Muthalib, serta Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib
.
Dalam perang ini, Hamzah berhasil membunuh Utbah, ayah Hindun. Sementara Ali membunuh ayah Khalid bin Walid. Ubaidah sempat membunuh Syaibah bin Rabiah, namun akhirnya harus syahid. Setelah terjadi perang terbuka, kemenangan berhasil diraih kaum muslimin. Di pihak kaum muslim, empat belas orang wafat.[2]

313 Tentara Mahdi

Menurut beberapa hadis, seseorang yang akan menegakkan pemerintahan Ilahi di akhir zaman akan hadir di Mekah. Orang-orang yang pertama kali memenuhi seruannya berjumlah 313 orang. Jumlah tersebut bukan mengartikan bahwa pengikutnya hanyalah sedikit, namun jumlah tersebut adalah orang-orang pilihan dan tulus yang siap mendampinginya. Lambat laun, jumlah tersebut akan bertambah
.
Imam Baqir a.s. mengatakan bahwa Allah akan mengumpulkan untuk Imam Mahdi para pejuang dari berbagai negeri yang jumlahnya sama seperti pejuang Badar. Imam juga mengatakan bahwa banyak dari pasukan ini yang justru merupakan orang-orang ajam.[3]
.
Pasukan berjumlah 313 yang sama seperti jumlah pasukan Badar, juga dicatat dalam kitab ahlusunah. Imam Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath dan lainnya meriwayatkan:
عن أم سلمة قالت قال رسول الله صلى الله عليه و سلم يبايع لرجل بين الركن والمقام عدة أهل بدر فيأتيه عصائب أهل العراق وأبدال أهل الشام فيغزوه جيش من أهل الشام حتى إذا كانوا بالبيداء خسف بهم فيغزوهم رجل من قريش أخواله من كلب فيلتقون فيهزمهم الله فالخائب من خاب من غنيمة كلب
Ummu Salamah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang akan dibaiat di antaraAr-Rukn dan Al-Maqâm oleh sejumlah orang seperti ahli Badar. Kemudian ‘ashâ’ib dari penduduk Irak dan abdâl dari penduduk Syam akan datang kepadanya. Sebuah pasukan dari penduduk Syam akan menyerang mereka. Ketika mereka mencapai Al-Baida’, mereka akan ditelan oleh bumi. Lalu seorang pria dari Quraisy yang paman dari ibunya berasal dari Kalb akan menyerang mereka. Allah akan mengalahkan mereka, dan pihak yang kalah pada hari itu adalah mereka yang kehilangan ganimah Kalb.”
.
Al-Qurthubi mengatakan bahwa Imam Mahdi akan memerangi Bani Sufyan dan yang bersamanya dari keturunan Kalb. Ia dan pengikutnya akan muncul dari Damaskus dan membunuh para wanita dan anak-anak. Imam Mahdi yang keturunan ahlulbait akan keluar dari Mekah. Pasukan yang dikirim Bani Sufyan untuk menyerang akan dibinasakan.[4]
.
Beberapa riwayat menyatakan bahwa pasukan Imam Mahdi yang berjumlah 313 itu bukan saja beriman dan tulus, tetapi juga memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan yang tinggi.[5] Tentu saja orang-orang ini tidak muncul begitu saja dari langit. Semua itu bergantung kepada bagaimana kita mendidik keluarga, teman, sekolah, masyarakat dan negara semampu kita. Kita harus memulainya dari diri sendiri untuk menghindari dosa dan meraih pengetahuan agar lebih taat kepada Allah.

Makna Arbain dan Kesyahidan Imam Husain

Kita tidak dapat menjangkau seluruh makna arba’în. Kita tidak tahu persis mengapa angka 40 hari itu yang dipilih; bukan 30, bukan 20, bukan juga 100. Tapi yang jelas angka 40 disebut di dalam Alquran sebanyak empat kali. Nabi Musa as. tadinya dijanjikan untuk “bertemu” dengan Allah, tapi kemudian Allah menyempurnakannya: “…Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam” (QS. Al-A’râf [7] : 142). Seorang manusia oleh Alquran juga dinyatakan mencapai kesempurnaannya. Hatta idzâ balagha asyuddahu wa balagha arba’în sannah (QS. Al-Ahqâf [46] : 15). Bani Israil disebutkan bahwa mereka dihukum Tuhan tersesat selama 40 tahun
.
Dalam hadis-hadis pun kita temukan angka 40 itu. Sekian banyak ulama, baik dari mazhab apapun, mengakui sabda nabi yang menyatakan, “Barang siapa yang menghafal 40 hadis dan memeliharanya, ia akan dibangkitkan kelak dalam kelompok orang-orang alim.” Karena itu dari kalang suni misalnya, kita menemukan Imam Nawawi menyusun Al-Arba’în An-Nawawiah. Dalam kalangan Syiah kontemporer Imam Khomeini menulis 40 hadis pilihan.
Kita menemukan di dalam hadis misalnya, ada hadis yang menyatakan “Barang siapa yang salat 40 kali—dalam riwayat lain 40 hari—di Madinah Rasul, maka ia terbebas dari kemunafikan.” Kita menemukan misalnya dalam hukum, 2,5% zakat harta atau 1 bagi setiap 40 ekor binatang; juga menggunakan angka 40
.
Kelihatannya 40 ini adalah angka kesempurnaan. Jika demikian kalau kita memperingati tokoh yang telah berlalu, yang kita ingin teladani pada masa keempatpuluhnya, maka sebenarnya salah satu yang diharapkan adalah kesempurnaan keteladan kita kepada beliau.
Hal kedua yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa Allah Swt. memerintahkan kita untuk merenung. Berulang-ulang dalam Alquran, tidak kurang 200 kali, kata “merenung” atau “mengingat” terulang di dalamnya. Banyak hal yang perlu direnungkan. Sejak dulu misalnya, Allah berpesan kepada Nabi Musa agar mengingatkan kaummya: “Wa dzakkirhum bi ayyâmillâh. Ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah” (QS. Ibrâhîm [14] : 5), maka kita dapat berkata, bahwa salah satu hari Allah adalah hari gugurnya Sayidina Husain
.
Saya terkadang berpikir, kalau unta atau sapi dijadikan Allah min sya’âirillâh (bagian dari syiar-syiar Allah), maka apakah tokoh tidak dapat menjadi salah satu dari sya’âirillâh? Kalau Kakbah,al-hadyaal-qalâid (binatang yang dibawa ke Kakbah untuk disembelih saat haji), semua dinamai Allah sebagai sya’âirillâh, maka heran rasanya kalau ada tokoh, baik yang disebut di dalam Alquran maupun yang tidak, selama dia tokoh, heran kalau dia tidak dapat dinilai sebagai salah satu dari sya’âirillâh
.
Seperti kita baca dalam Alquran: “Barang siapa yang mengagungkan sya’âirillâh (syiar-syiar Allah) maka sesungguhnya itu adalah tanda ketakwaan dari hati” (QS. Al-Hajj [22] : 32). Itu sebabnya kita merayakan maulid nabi, itu sebabnya kita mengagungkan tokoh-tokoh. Itu sebabnya sebagaimana kita bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad, sebagaimana kita menyambut tokoh-tokoh yang kita agungkan, kita pun wajar bersedih dalam batas-batas yang dibenarkan agama, dengan kepergian siapa yang mesti kita cintai
.
Syi’âr – sya’âir – sya’irah seakar dengan kata syu’ûr, rasa. Setiap yang menjadi syiar mesti menimbulkan rasa. Ketika pada hari Idul Adha misalnya, kita melihat kambing, domba atau sapi yang dijadikan syiar oleh Allah, maka ketika itu dia tidak menjadi syiar kalau dia tidak menjadi tanda kebesaran Allah dan tidak timbul di dalam hati Anda rasa kekaguman akan kebesaran Allah. Ketika kita menjadikan seorang tokoh sebagai syiar, maka harus timbul rasa di dalam hati Anda. Rasa hormat, rasa kagum dan boleh jadi rasa menyesal kenapa kita tidak hidup pada masa beliau (Imam Husain) dan ikut berjuang bersama beliau
.
Hal ketiga yang ingin saya kemukakan, mengapa kita mengagungkan Sayidina Husain? Tentu akan sangat panjang uraian kalau kita berbicara tentang beliau. Kita hanya bisa menunjuk dengan jari telunjuk; kita tidak dapat merangkul semua dari keistimewaan beliau. Kata orang menunjuk ke suatu gunung yang tinggi terkadang lebih mampu untuk menggambarkannya dari pada usaha kedua lengan untuk merangkul dunia ini. Kita hanya ingin menunjuk dan menyinggung sedikit dari banyak yang diakui oleh seluruh muslim, apapun mazhabnya baik suni atau Syiah, dan yang terdapat dalam semua kitab menyangkut Sayidina Husain
.
Pertama, beliau dan Sayidina Hasan adalah Sayyid Syabâb Ahli Jannah (Pemimpin Pemuda Penghuni Surga). Semua mengakui. Ada hal yang menarik dari dua sosok agung ini. Sepintas terlihat bahwa kepribadiannya bertolak belakang. Sayidina Hasan mau damai, Sayidina Husain revolusioner. Kelihatannya bertolak belakang, tapi sebenarnya tidak bertolak belakang. Semua bersumber dari didikan ayah beliau, Sayidina Ali bin Abi Thalib, dan semua yang dari Imam Alibersumber dari Rasulullah saw. Semua diajarkan untuk membela agama dan mempertahankannya sambil melihat kondisi yang sedang dialami
.
Kondisi yang dihadapi oleh Imam Hasan sudah berbeda dengan kondisi yang dialami oleh Imam Husain. Ketika masa Sayidina Hasan diperlukan kedamaian yang bersyarat. Tetapi ketika kedamaian yang bersyarat itu ternodai, situasi berubah dan tampillah Sayidina Husain. Ketika Sayidina Hasan “bersedia” menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah itu menunjukkan bahwa beliau tidak pernah berpikir untuk suatu kekuasaan. Kalau begitu, ketika Sayidina Husain bersedia gugur walau dengan memberi pilihan kepada pengikutnya untuk mundur ketika dikepung, beliau juga dalam perjuangannya bukan menuntut kekuasaan. Yang beliau inginkan ketika itu adalah syu’ûr, rasa, kepekaan terhadap ajaran agama dan nilai-nilainya. Yang beliau inginkan ketika itu adalah tumbuh suburnya ajaran ini yang sejak masa ayah beliau sudah mulai menjauh dari nilai-nilai yang diajarkan rasul. Bahwa beliau tidak menghendaki kekuasaan itu sebenarnya adalah ajaran Sayidina Ali
.
Abbas Al-Aqqad, seorang ulama Mesir yang diakui otoritas keilmuannya, menulis dalam bukuAbqarîyat ‘Ali bahwa kendati Sayidina Ali merasa bahwa beliau wajar untuk menjadi khalifah setelah Rasul, tetapi beliau tidak ingin menuntut itu sebelum umat menyerahkannya kepada beliau. Ditulis oleh ulama-ulama Syiah, salah satunya di dalam buku Ashlu Syî’ah wa Ushulihâ, bahwa Sayidina Ali menerima kepemimpinan Sayidina Abu Bakar dan Umar, kepimpinan dalam urusan kenegaraan karena beliau melihat bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan jalan Rasulullah. Walaupun dalam buku itu dikatakan beliau tidak menyerahkan soal imamah keagamaan. Sekali lagi saya ingin katakan, ketika Sayidina Hasan, Sayidina Husain dan sebelumnya Sayidina Ali, beliau tidak pernah berpikir untuk duduk sebagai penguasa. Inilah suatu ajaran yang perlu kita camkan sekarang ini
.
Hal terakhir yang saya ingin kemukakan dalam konteks berbicara tentang Imam Husain adalah bahwa beliau, menurut nabi saw., adalah Sayyîd Asy-Syuhadâ, penghulu, tokoh yang terutama dari para syuhada. Saya tidak ingin membatasi pengertian syuhada itu hanya dalam arti orang yang gugur membela agama. Syuhada adalah bentuk jamak dari syahîd. Syahid itu kata yang patronnya bisa berarti objek dan bisa berarti subjek. Syahâdah adalah kesaksian. Kalau dia berarti subjek maka syahîd berarti yang menyaksikan, kalau dia berarti objek berarti bahwa beliau yang disaksikan
.
Keguguran dan darah yang terpancar memang menjadi saksi akan ketulusan perjuangan beliau. Tapi karena kita tidak ingin membatasi arti syahadah hanya pada pengertian gugur di medan juang, itu juga berarti ketika kita menjadikan beliau sebagai syahîd (yang disaksikan), berarti kita ikut menyaksikan dihadapan Allah berdasarkan pada pengetahuan kita bahwa beliau tokoh dan di sisi lain kita menyaksikan beliau sebagai teladan kita dalam hidup. Itu sebabnya dalam Quran disebutkan: “Wa kadzâlika ja’alnâkum ummatan wasatha litakûnû syuhadâ ‘alâ an-nâs wa yakûna ar-rasûl ‘alaikum syahîda. Dan Kami telah menjadikan kalian umat pertengahan agar kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, sedang rasul adalah saksi kalian (QS. Al-Baqarah [2] : 143)
.
Ketika Rasul menyatakan bahwa Imam Husain adalah Sayyîd Asy-Syuhadâ, maka jangan batasi pengertian itu hanya pada keguguran beliau, tapi jadikanlah beliau teladan dalam segala apa yang beliau lakukan. Beliau berjuang, beliau mengorbakan jiwa raga untuk nilai-nilai agar dapat lebih dirasakan oleh umat. Itu sebabnya beliau adalah Sayyîd Asy-Syuhadâ. Mudah-mudahan kita dapat mengambil sedikit teladan dari apa yang telah dipersembahkan Sayyîd Asy-Syuhadâ. Sekali lagi kita kagum, kita mengagungkan beliau, kita tidak perlu berkata bahwa perjuangan beliau gagal, tapi justru perjuangan beliau amat berhasil, jauh lebih berhasil dibanding kalau beliau tidak gugur
.
Mengapa saya berkata begitu? Karena kita tidak pernah berkata bahwa hidup ini hanya di dunia; kita berkata hidup di dunia ini adalah perjuangan sepanjang masa. Kita perlu teladan-teladan yang baik, dan keteladan Imam Husain itu berlanjut hingga sekarang. Itu sebabnya tadi dikatakan sampai sekarang masih jutaan orang berkunjung ke Karbala. Sampai sekarang saya tahu persis di Mesir, Masjid Imam Husain itu dikunjungi orang; yang berkunjung bukan hanya orang Syiah tapi juga suni yang mengelilingi bagaikan bertawaf di sana. Mengagungkan Imam Husain karena perjuangannya sehingga kita dapat berkata, “Siapa yang tidak mengagungkan beliau (Imam Husain) maka diragukan keimanannya.” Aqûlu qauli hadzâ wastaghfirullâh lî walakum
.
Sumber: Ceramah disampaikan oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam acara Peringatan Arbain Imam Husain di Islamic Cultural Center, Jakarta, pada tanggal 16 Februari 2009 (20 Safar 1430 H).

Apakah Nabimu pernah mengkhabarkan bilangan “12 khalifah Quraisy ahlulbait” sebelum kepergiannya ??

Sebelas Imam ahlulbait pertama dibunuh. Apa dosa dosa imam dzuriyat Rasul ini kepada thaghut Umayyah Abbasiyah ??

Imamiah merupakan kelompok mayoritas dalam Syi’ah, disebut juga Itsna Asyariah, berikut ini merupakan daftar Imam yang merupakan pengganti Nabi Muhammad dalam hal kepemimpinan umat (bukan sebagai Nabi, karena Imamiah berpendapat Nabi terakhir adalah Muhammad). Setiap Imam merupakan anak dari Imam sebelumnya kecuali Husain bin Ali, yang merupakan saudara dari Hasan bin Ali.

  1. Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Ja’far bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Jafar (745799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawadatau Muhammad at-Taqi
  10. Ali bin Muhamad (827868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
Sebelas Imam ahlulbait pertama dibunuh. Begitu juga para penguasa zalim berusaha membunuh yang kedua belas dan Allah “menggaibkan” Imam Kedua Belas. Keluarga pun berusaha menyembunyikan putra Imam Kesebelas ini dari kejaran tirani. Dalam Kitab Al-Irsyad bahkan disebutkan, setelah Imam Kesebelas syahid, banyak orang yang belum tahu tentang putranya. (Silakan baca Kitab Al-Irsyad, Syaikh Mufid)
.
dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”
.
Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai Jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”
.
Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)
.
* Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
* Syawahidul Tanzil:1/48 hadis 202-204
* Tafsir Razi:3/375
.
Telah diriwayatkan oleh al Hamwini, di dalam Fara’id al-Simtayn dan dinukilkan darinya di dalam Yanabi al Mawaddah, dengan sanad dari Ibnu Abbas berkata:
Seorang Yahudi yang bergelar Nat’sal datang bertemu Rasulullah(sawa) lalu berkata;
Wahai Muhammad(sawa) aku berhajat untuk bertanya kepadamu sesuatu yang aku pendamkan di dalam diriku. Jika kamu menjawabnya, maka aku akan mengisytiharkan keislamanku di hadapan mu.” Rasulullah(sawa) menjawab, “Tanyalah wahai Abu Imarah.” Dia lalu menyoal baginda sehingga beliau merasa puas dan mengakui kebenaran baginda(sawa)
.
Kemudian dia berkata, “ Beritahu aku tentang pengganti kamu, siapakah mereka? Sesungguhnya tiada Rasul yang tidak mempunyai wasi(pengganti).Rasul kami Musa melantik Yusha bin Nuun sebagai pengganti dirinya. Baginda menjawab: “Wasi ku ialah Ali bin Abi Thalib, diikuti oleh kedua cucuku, Hassan dan Hussain, seterusnya diikuti pula oleh 9 orang keturunan Hussain
.
Dia bertanya lagi: “Sebutkan nama-nama mereka kepada ku waha Muhammad(sawa).” Rasul menjawab, “Apabila Hussain pergi, beliau akan diganti oleh anaknya, Ali, apabila Ali pergi, Muhammad akan menggantikannya. Apabila Muhammad pergi, Ja’afar akan menggantikannya. Apabila Ja’afar pergi, beliau akan digantikan oleh anaknya Musa. Apabila Musa pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Setelah Ali pergi anaknya Muhammad akan menggantikannya. Setelah Muhammad pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Apabila Ali pergi, anaknya Hassan akan menggantikannya. Apabila Hassan pergi, anaknya Muhammad al Mahdi akan menggantikannya. Inilah mereka yang 12 orang.Dengan jawapan tersebut yahudi itu memuji Allah dan menyatakan keislamanny
1. Di keluarkan dari Bukhari, Ahmad dan Baihaqi, dari Jabir bin Samurah, berkata,
“Akan wujud 12 orang amir”.
Jabir berkata: Setelah itu baginda(sawa) mengatakan sesuatu yang tidak dapat aku mendengarnya. Lantas bapaku berkata bahawa baginda bersabda:
“Semuanya dari Quraish.”
.
2. Di keluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku masuk bersama bapaku ke hadhrat Nabi lalu aku mendengar baginda(sawa) bersabda:
‘Urusan agama ini tidak akan selesai hingga sempurna 12 orang Khalifah.”
Jabir berkata: Kemudian baginda mengatakan sesuatu yang kabur dari pendengaran ku, maka aku bertanya kepada bapaku. Bapaku menjawab:
“Semuanya daripada Quraish”
.
3. Dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad dari Jabir bin Samurah: Aku telah mendengar bahawa Rasulullah bersabda:
“Urusan agama akan tetap berjalan lancar selagi mereka dipimpin oleh 12 orang lelaki.”
.
4. Di keluarkan oleh Muslim, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, al Khatib al Tabrizi, dari Jabir bin Samurah, Rasulullah(sawa) bersabda:
“Islam akan tetap mulia(selagi mereka dipimpin oleh) dengan 12 orang khalifah”
.
5. Dikeluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Nabi bersabda pada petang Jumaat ketika al Aslani di rejam:
“Agama ini akan tetap teguh berdiri hingga hari kiamat kerana kamu dipimpin oleh 12 orang khalifah.”
.
6. Di keluarkan oleh Ahmad, Al Hakim, al Haithami di dalam Majma’ uz Zawaid dinukil dari Thabrani dan al Bazzar, dari Jabir bin Samurah, Nabi bersabda:
“Urusan umatku akan berada dalam keadaan baik sehinggalah cukup 12 orang khalifah.”
.
7. Di keluarkan oleh Ahmad, al Haithami di dalam Majma uz Zawaid, Ibnu Hajar di dalam al Mathalibul ‘Aliyah, al Busairi di dalam Mukhtasar al Ithaf dari Masruq berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata:
Apakah Nabimu pernah mengkhabarkan bilangan khalifah sebelum kepergiannya?
Ibnu Mas’ud menjawab:
“Ya, tetapi tiada orang pun selain kamu yang bertanyakan perkara ini. Sesungguhnya kamu masih muda. Bilangan khalidah adalah seperti bilangan majlis Musa(as), iaitu 12 orang.”
Inilah antara hadis yang menunjukkan bilangan khalifah/amir sepeninggalan Rasulullah (sawa), iaitu 12 orang, yang mana selagi di bawah pimpinan mereka:-
1. Islam akan tetap mulia.
2. Agama ini akan tetap teguh.
3. Urusan umat akan tetap dalam keadaan baik.
Syeikh Sulaiman al Qunduzi al Hanafi menerusi kitabnya Yanabi al Mawaddah telah mengkhususkan satu bab hanya untuk himpunan hadis 12 orang khalifah ini. Beliau menyatakan bahawa Yahya bin Hassan menerusi kitabnya, al Umdah menyenaraikan 20 jalan sanad bahawa khalifah sepeninggalan Nabi(sawa) ialah 12 orang. Manakala Bukhari menyenaraikan 3 jalan,

Tiga Ratus Tiga Belas

Selain angka 40 (empat puluh) atau arba’în, angka lain yang memiliki keunikan dan rahasia tersendiri adalah angka 313 (tiga ratus tiga belas). Dalam beberapa literatur, kita menemukan angka ini dalam sejarah pasukan langit. Mereka sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu sampai di masa mendatang.

313 Tentara Daud

Setelah diselamatkan oleh Nabi Musa alaihi salam, Bani Israil kembali melanggar hukum-hukum Tuhan hingga akhirnya mereka kembali ditindas oleh penguasa tiran. Kondisi sulit itu membuat mereka bertekad untuk berperang agar tidak menjadi bangsa yang terusir. Mereka memohon kepada Nabi Samuel untuk memimpin revolusi melawan para penindas. Tapi ketika Samuel meminta mereka untuk berkomitmen dengan janjinya, hanya sedikit yang mau melaksanakannya
.
Samuel berkata, “Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Namun karena Thalut hanya seorang pengembala yang tidak memiliki harta, mereka menolak dan mengatakan, “Kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dari padanya.”
.
Dari ayat Quran di atas kita tahu bahwa para nabi memiliki pengganti dan penerus, dan penerusnya itu pastilah atas perintah Allah. Thalut yang diangkat oleh Allah tidak hanya ditugaskan sebagai pemimpin perang tetapi juga raja, yang berarti bahwa agama tidak bisa dipisahkan dari politik. Ayat ini juga mengkritik orang-orang yang hanya mengutamakan harta. Sebagai syarat utama, Allah menyatakan bahwa Thalut adalah orang berilmu. Karena dia juga pemimpin perang, maka syarat kedua ia memiliki tubuh yang perkasa
.
Agar masyarakat yakin dengan kepemimpinannya, nabi berkata bahwa tabut suci Bani Israil akan dibuka di hadapan mereka. Tabut adalah peti kayu tempat dahulu ibu Musa menyimpan bayi Musa yang dilemparkan ke sungai Nil. Saat Musa diangkat menjadi nabi, beliau menyimpan papan (lauh) Taurat di dalam peti itu. Sebelum wafat, Musa juga meletakkan baju besi dan semua miliknya lalu diserahkan kepada penerima wasiat.
Tabut tersebut begitu suci sehingga Bani Israil selalu membawanya di setiap peperangan. Semakin lupa Bani Israil dengan tabut tersebut sampai akhirnya hilang di telan bumi. Allah memerintahkan malaikat untuk mengembalikan peti itu agar menjadi bukti bagi kepemimpinan Thalut
.
Jika tabut yang berisi papan Taurat dan benda-benda peninggalan keluarga Musa begitu suci dan di dalamnya terdapat ketenangan, apatah lagi dengan benda suci dan makam para nabi? Ayat ini juga menyiratkan kita untuk menjaga warisan dan peninggalan para nabi
.
Tatkala keluar membawa pasukan, Thalut berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kalian meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Siapa yang tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” (Q.S. Al-Baqarah: 249)
.
Bani Israil sekali lagi diuji untuk memperlihatkan kepatuhan terhadap pemimpinnya. Banyak di antara mereka yang lupa dengan pesan Thalut. Sebagian besar dari mereka bahkan memasukkan kepala ke dalam air. Menurut riwayat pasukan yang keluar pertama berjumlah 80.000 orang. Imam Baqir a.s. berkata, “Para pejuang yang setia menemani Thalut hanya berjumlah 313 orang.”[1]
.
Sebelum berperang, pasukan tersebut berdoa kepada Allah dan dengan izin-Nya mereka berhasil mengalahkan tentara Jalut. Dalam perang tersebut, Daud yang merupakan sahabat Thalut, berhasil membunuh Jalut yang dikenal besar dan kuat. Sesudah wafatnya Thalut, “Allah memberikan kepada Daud pemerintahan dan hikmah dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.”
.
Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 249)
.

313 Tentara Nabi

Pada tanggal 12 Ramadan, sebuah kafilah keluar dari Madinah. Setelah melakukan perjalanan selama empat hari, mereka tiba di daerah Badar. Badar berasal dari nama orang yang pernah memiliki mata air ini, Badar bin Harits bin Mukhallid bin Nadhr bin Kinanah. Pada masa itu, Badar merupakan terminal dan pasar yang ramai dikunjungi pedagang dari seluruh jazirah
.
Keesokan harinya, Jumat, dua pasukan bertemu. Kaum muslimin berjumlah 313 orang, belum termasuk nabi. Sementara kekuatan kaum jahiliah Quraisy 1.000 orang lebih. Rasul memerintahkan tiga orang pertama yang maju: Hamzah bin Abdul Muthalib, Ubaidah bin Harits bin Abdul Muthalib, serta Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib
.
Dalam perang ini, Hamzah berhasil membunuh Utbah, ayah Hindun. Sementara Ali membunuh ayah Khalid bin Walid. Ubaidah sempat membunuh Syaibah bin Rabiah, namun akhirnya harus syahid. Setelah terjadi perang terbuka, kemenangan berhasil diraih kaum muslimin. Di pihak kaum muslim, empat belas orang wafat.[2]

313 Tentara Mahdi

Menurut beberapa hadis, seseorang yang akan menegakkan pemerintahan Ilahi di akhir zaman akan hadir di Mekah. Orang-orang yang pertama kali memenuhi seruannya berjumlah 313 orang. Jumlah tersebut bukan mengartikan bahwa pengikutnya hanyalah sedikit, namun jumlah tersebut adalah orang-orang pilihan dan tulus yang siap mendampinginya. Lambat laun, jumlah tersebut akan bertambah
.
Imam Baqir a.s. mengatakan bahwa Allah akan mengumpulkan untuk Imam Mahdi para pejuang dari berbagai negeri yang jumlahnya sama seperti pejuang Badar. Imam juga mengatakan bahwa banyak dari pasukan ini yang justru merupakan orang-orang ajam.[3]
.
Pasukan berjumlah 313 yang sama seperti jumlah pasukan Badar, juga dicatat dalam kitab ahlusunah. Imam Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath dan lainnya meriwayatkan:
عن أم سلمة قالت قال رسول الله صلى الله عليه و سلم يبايع لرجل بين الركن والمقام عدة أهل بدر فيأتيه عصائب أهل العراق وأبدال أهل الشام فيغزوه جيش من أهل الشام حتى إذا كانوا بالبيداء خسف بهم فيغزوهم رجل من قريش أخواله من كلب فيلتقون فيهزمهم الله فالخائب من خاب من غنيمة كلب
Ummu Salamah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang akan dibaiat di antaraAr-Rukn dan Al-Maqâm oleh sejumlah orang seperti ahli Badar. Kemudian ‘ashâ’ib dari penduduk Irak dan abdâl dari penduduk Syam akan datang kepadanya. Sebuah pasukan dari penduduk Syam akan menyerang mereka. Ketika mereka mencapai Al-Baida’, mereka akan ditelan oleh bumi. Lalu seorang pria dari Quraisy yang paman dari ibunya berasal dari Kalb akan menyerang mereka. Allah akan mengalahkan mereka, dan pihak yang kalah pada hari itu adalah mereka yang kehilangan ganimah Kalb.”
.
Al-Qurthubi mengatakan bahwa Imam Mahdi akan memerangi Bani Sufyan dan yang bersamanya dari keturunan Kalb. Ia dan pengikutnya akan muncul dari Damaskus dan membunuh para wanita dan anak-anak. Imam Mahdi yang keturunan ahlulbait akan keluar dari Mekah. Pasukan yang dikirim Bani Sufyan untuk menyerang akan dibinasakan.[4]
.
Beberapa riwayat menyatakan bahwa pasukan Imam Mahdi yang berjumlah 313 itu bukan saja beriman dan tulus, tetapi juga memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan yang tinggi.[5] Tentu saja orang-orang ini tidak muncul begitu saja dari langit. Semua itu bergantung kepada bagaimana kita mendidik keluarga, teman, sekolah, masyarakat dan negara semampu kita. Kita harus memulainya dari diri sendiri untuk menghindari dosa dan meraih pengetahuan agar lebih taat kepada Allah.

Makna Arbain dan Kesyahidan Imam Husain

Kita tidak dapat menjangkau seluruh makna arba’în. Kita tidak tahu persis mengapa angka 40 hari itu yang dipilih; bukan 30, bukan 20, bukan juga 100. Tapi yang jelas angka 40 disebut di dalam Alquran sebanyak empat kali. Nabi Musa as. tadinya dijanjikan untuk “bertemu” dengan Allah, tapi kemudian Allah menyempurnakannya: “…Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam” (QS. Al-A’râf [7] : 142). Seorang manusia oleh Alquran juga dinyatakan mencapai kesempurnaannya. Hatta idzâ balagha asyuddahu wa balagha arba’în sannah (QS. Al-Ahqâf [46] : 15). Bani Israil disebutkan bahwa mereka dihukum Tuhan tersesat selama 40 tahun
.
Dalam hadis-hadis pun kita temukan angka 40 itu. Sekian banyak ulama, baik dari mazhab apapun, mengakui sabda nabi yang menyatakan, “Barang siapa yang menghafal 40 hadis dan memeliharanya, ia akan dibangkitkan kelak dalam kelompok orang-orang alim.” Karena itu dari kalang suni misalnya, kita menemukan Imam Nawawi menyusun Al-Arba’în An-Nawawiah. Dalam kalangan Syiah kontemporer Imam Khomeini menulis 40 hadis pilihan.
Kita menemukan di dalam hadis misalnya, ada hadis yang menyatakan “Barang siapa yang salat 40 kali—dalam riwayat lain 40 hari—di Madinah Rasul, maka ia terbebas dari kemunafikan.” Kita menemukan misalnya dalam hukum, 2,5% zakat harta atau 1 bagi setiap 40 ekor binatang; juga menggunakan angka 40
.
Kelihatannya 40 ini adalah angka kesempurnaan. Jika demikian kalau kita memperingati tokoh yang telah berlalu, yang kita ingin teladani pada masa keempatpuluhnya, maka sebenarnya salah satu yang diharapkan adalah kesempurnaan keteladan kita kepada beliau.
Hal kedua yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa Allah Swt. memerintahkan kita untuk merenung. Berulang-ulang dalam Alquran, tidak kurang 200 kali, kata “merenung” atau “mengingat” terulang di dalamnya. Banyak hal yang perlu direnungkan. Sejak dulu misalnya, Allah berpesan kepada Nabi Musa agar mengingatkan kaummya: “Wa dzakkirhum bi ayyâmillâh. Ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah” (QS. Ibrâhîm [14] : 5), maka kita dapat berkata, bahwa salah satu hari Allah adalah hari gugurnya Sayidina Husain
.
Saya terkadang berpikir, kalau unta atau sapi dijadikan Allah min sya’âirillâh (bagian dari syiar-syiar Allah), maka apakah tokoh tidak dapat menjadi salah satu dari sya’âirillâh? Kalau Kakbah,al-hadyaal-qalâid (binatang yang dibawa ke Kakbah untuk disembelih saat haji), semua dinamai Allah sebagai sya’âirillâh, maka heran rasanya kalau ada tokoh, baik yang disebut di dalam Alquran maupun yang tidak, selama dia tokoh, heran kalau dia tidak dapat dinilai sebagai salah satu dari sya’âirillâh
.
Seperti kita baca dalam Alquran: “Barang siapa yang mengagungkan sya’âirillâh (syiar-syiar Allah) maka sesungguhnya itu adalah tanda ketakwaan dari hati” (QS. Al-Hajj [22] : 32). Itu sebabnya kita merayakan maulid nabi, itu sebabnya kita mengagungkan tokoh-tokoh. Itu sebabnya sebagaimana kita bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad, sebagaimana kita menyambut tokoh-tokoh yang kita agungkan, kita pun wajar bersedih dalam batas-batas yang dibenarkan agama, dengan kepergian siapa yang mesti kita cintai
.
Syi’âr – sya’âir – sya’irah seakar dengan kata syu’ûr, rasa. Setiap yang menjadi syiar mesti menimbulkan rasa. Ketika pada hari Idul Adha misalnya, kita melihat kambing, domba atau sapi yang dijadikan syiar oleh Allah, maka ketika itu dia tidak menjadi syiar kalau dia tidak menjadi tanda kebesaran Allah dan tidak timbul di dalam hati Anda rasa kekaguman akan kebesaran Allah. Ketika kita menjadikan seorang tokoh sebagai syiar, maka harus timbul rasa di dalam hati Anda. Rasa hormat, rasa kagum dan boleh jadi rasa menyesal kenapa kita tidak hidup pada masa beliau (Imam Husain) dan ikut berjuang bersama beliau
.
Hal ketiga yang ingin saya kemukakan, mengapa kita mengagungkan Sayidina Husain? Tentu akan sangat panjang uraian kalau kita berbicara tentang beliau. Kita hanya bisa menunjuk dengan jari telunjuk; kita tidak dapat merangkul semua dari keistimewaan beliau. Kata orang menunjuk ke suatu gunung yang tinggi terkadang lebih mampu untuk menggambarkannya dari pada usaha kedua lengan untuk merangkul dunia ini. Kita hanya ingin menunjuk dan menyinggung sedikit dari banyak yang diakui oleh seluruh muslim, apapun mazhabnya baik suni atau Syiah, dan yang terdapat dalam semua kitab menyangkut Sayidina Husain
.
Pertama, beliau dan Sayidina Hasan adalah Sayyid Syabâb Ahli Jannah (Pemimpin Pemuda Penghuni Surga). Semua mengakui. Ada hal yang menarik dari dua sosok agung ini. Sepintas terlihat bahwa kepribadiannya bertolak belakang. Sayidina Hasan mau damai, Sayidina Husain revolusioner. Kelihatannya bertolak belakang, tapi sebenarnya tidak bertolak belakang. Semua bersumber dari didikan ayah beliau, Sayidina Ali bin Abi Thalib, dan semua yang dari Imam Alibersumber dari Rasulullah saw. Semua diajarkan untuk membela agama dan mempertahankannya sambil melihat kondisi yang sedang dialami
.
Kondisi yang dihadapi oleh Imam Hasan sudah berbeda dengan kondisi yang dialami oleh Imam Husain. Ketika masa Sayidina Hasan diperlukan kedamaian yang bersyarat. Tetapi ketika kedamaian yang bersyarat itu ternodai, situasi berubah dan tampillah Sayidina Husain. Ketika Sayidina Hasan “bersedia” menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah itu menunjukkan bahwa beliau tidak pernah berpikir untuk suatu kekuasaan. Kalau begitu, ketika Sayidina Husain bersedia gugur walau dengan memberi pilihan kepada pengikutnya untuk mundur ketika dikepung, beliau juga dalam perjuangannya bukan menuntut kekuasaan. Yang beliau inginkan ketika itu adalah syu’ûr, rasa, kepekaan terhadap ajaran agama dan nilai-nilainya. Yang beliau inginkan ketika itu adalah tumbuh suburnya ajaran ini yang sejak masa ayah beliau sudah mulai menjauh dari nilai-nilai yang diajarkan rasul. Bahwa beliau tidak menghendaki kekuasaan itu sebenarnya adalah ajaran Sayidina Ali
.
Abbas Al-Aqqad, seorang ulama Mesir yang diakui otoritas keilmuannya, menulis dalam bukuAbqarîyat ‘Ali bahwa kendati Sayidina Ali merasa bahwa beliau wajar untuk menjadi khalifah setelah Rasul, tetapi beliau tidak ingin menuntut itu sebelum umat menyerahkannya kepada beliau. Ditulis oleh ulama-ulama Syiah, salah satunya di dalam buku Ashlu Syî’ah wa Ushulihâ, bahwa Sayidina Ali menerima kepemimpinan Sayidina Abu Bakar dan Umar, kepimpinan dalam urusan kenegaraan karena beliau melihat bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan jalan Rasulullah. Walaupun dalam buku itu dikatakan beliau tidak menyerahkan soal imamah keagamaan. Sekali lagi saya ingin katakan, ketika Sayidina Hasan, Sayidina Husain dan sebelumnya Sayidina Ali, beliau tidak pernah berpikir untuk duduk sebagai penguasa. Inilah suatu ajaran yang perlu kita camkan sekarang ini
.
Hal terakhir yang saya ingin kemukakan dalam konteks berbicara tentang Imam Husain adalah bahwa beliau, menurut nabi saw., adalah Sayyîd Asy-Syuhadâ, penghulu, tokoh yang terutama dari para syuhada. Saya tidak ingin membatasi pengertian syuhada itu hanya dalam arti orang yang gugur membela agama. Syuhada adalah bentuk jamak dari syahîd. Syahid itu kata yang patronnya bisa berarti objek dan bisa berarti subjek. Syahâdah adalah kesaksian. Kalau dia berarti subjek maka syahîd berarti yang menyaksikan, kalau dia berarti objek berarti bahwa beliau yang disaksikan
.
Keguguran dan darah yang terpancar memang menjadi saksi akan ketulusan perjuangan beliau. Tapi karena kita tidak ingin membatasi arti syahadah hanya pada pengertian gugur di medan juang, itu juga berarti ketika kita menjadikan beliau sebagai syahîd (yang disaksikan), berarti kita ikut menyaksikan dihadapan Allah berdasarkan pada pengetahuan kita bahwa beliau tokoh dan di sisi lain kita menyaksikan beliau sebagai teladan kita dalam hidup. Itu sebabnya dalam Quran disebutkan: “Wa kadzâlika ja’alnâkum ummatan wasatha litakûnû syuhadâ ‘alâ an-nâs wa yakûna ar-rasûl ‘alaikum syahîda. Dan Kami telah menjadikan kalian umat pertengahan agar kamu menjadi saksi-saksi atas manusia, sedang rasul adalah saksi kalian (QS. Al-Baqarah [2] : 143)
.
Ketika Rasul menyatakan bahwa Imam Husain adalah Sayyîd Asy-Syuhadâ, maka jangan batasi pengertian itu hanya pada keguguran beliau, tapi jadikanlah beliau teladan dalam segala apa yang beliau lakukan. Beliau berjuang, beliau mengorbakan jiwa raga untuk nilai-nilai agar dapat lebih dirasakan oleh umat. Itu sebabnya beliau adalah Sayyîd Asy-Syuhadâ. Mudah-mudahan kita dapat mengambil sedikit teladan dari apa yang telah dipersembahkan Sayyîd Asy-Syuhadâ. Sekali lagi kita kagum, kita mengagungkan beliau, kita tidak perlu berkata bahwa perjuangan beliau gagal, tapi justru perjuangan beliau amat berhasil, jauh lebih berhasil dibanding kalau beliau tidak gugur
.
Mengapa saya berkata begitu? Karena kita tidak pernah berkata bahwa hidup ini hanya di dunia; kita berkata hidup di dunia ini adalah perjuangan sepanjang masa. Kita perlu teladan-teladan yang baik, dan keteladan Imam Husain itu berlanjut hingga sekarang. Itu sebabnya tadi dikatakan sampai sekarang masih jutaan orang berkunjung ke Karbala. Sampai sekarang saya tahu persis di Mesir, Masjid Imam Husain itu dikunjungi orang; yang berkunjung bukan hanya orang Syiah tapi juga suni yang mengelilingi bagaikan bertawaf di sana. Mengagungkan Imam Husain karena perjuangannya sehingga kita dapat berkata, “Siapa yang tidak mengagungkan beliau (Imam Husain) maka diragukan keimanannya.” Aqûlu qauli hadzâ wastaghfirullâh lî walakum
.
Sumber: Ceramah disampaikan oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam acara Peringatan Arbain Imam Husain di Islamic Cultural Center, Jakarta, pada tanggal 16 Februari 2009 (20 Safar 1430 H).

Penyimpangan Terjemahan Hadis Bukhari tentang Imam Mahdi

Hadis nomor 658 bab empat kitab Shahîh al-Bukhârî edisi bahasa Arab/Inggris menyebutkan riwayat singkat tentang kedatangan Yesus (Nabi Isa alaihisalam) dan kehadiran seorang Imam. Terjemahan itu berubah pada edisi cetakan berikutnya! Shahîh al-Bukhârî merupakan kitab hadis utama bagi saudara ahlusunah dan dianggap sebagai kitab terpercaya setelah Alquran. Penerjemahan bahasa Inggrisnya yang dilakukan oleh Muhammad Muhsin Khan dalam 9 jilid, telah diterbitkan dalam beberapa edisi.
Hadis yang didiskusikan ini terdapat pada edisi Dar al-Fikr (tanpa tahun, meskipun baru) sebagai berikut:
Shahîh Al-BukhârîMuhammad b. Ismail (w. 256 H), jilid 4, hal. 437, hadis nomor 658,Beirut: Dar al-Fikr (9 jilid), diterjemahkan oleh Muhammad Muhsin Khan, t.t.
Bagi mereka, yang meskipun pemahaman bahasa Arabnya kurang, akan dapat melihat bahwa teks hadis Arab yang digarisbawahi (wa imâmukum minkum) dan padanan bahasa Inggrisnya sangat berbeda!
Terjemahan yang tepat seharusnya:
How will you do when the son of Mary descends and your imam is one of your number?
Apa yang akan kalian lakukan ketika putra Mariam turun sedangkan imam kalian berada di antara kalian?
Terjemahan ini dapat dilihat pada terjemahan James Robson dalam kitab Misykat Al-Mashabihkarya Khatib At-Tabrizi, yang mengutip hadis tersebut dari Shahîh Al-Bukhâri:
Misykat Al-Mashabih, Al-Khatib At-Tabrizi (w. 737 H), jilid 3, hal. 1159, bab enam (Keturunan Yesus), Lahore: Shaikh Muhammad Ashraf (2 jilid), diterjemahkan oleh James Robson, 1964.

Mungkinkah ini ketidaksengajaan penerjemah Shahîh Al-Bukhârî?

Terjemahan Muhammad Muhsin Khan telah diperiksa ulang oleh beberapa ulama, sebagaimana terlihat dalam lembar pengesahan di halaman pertama setiap jilidnya:
Shahîh Al-Bukhârî, Muhammad b. Ismail (w. 256 H), jilid 4, hal. 1, Beirut: Dar al-Fikr (9 jilid), diterjemahkan oleh Muhammad Muhsin Khan, t.t.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan ini?

Lembar pengesahan tersebut juga muncul pada edisi awal yang diterbitkan di Pakistan pada tahun 1971. Pada edisi tersebut kami menemukan bahwa penyimpangan fatal itu tidak ada. Hadis itu diterjemahkan lebih akurat. Perlu diingat bahwa pada jilid, halaman, dan nomor hadis pada edisi berikut, serupa dengan edisi Dar al-Fikr sebelumnya.
Shahîh Al-BukhârîAl-Bukhari, Muhammad b. Ismail (w. 256 H), jilid 4, hal. 437, hadis nomor 658, Pakistan: Sethi Straw Board Mills (Conversion) Ltd (9 jilid), diterjemahkan oleh Muhammad Muhsin Khan, 1971
Terlihat bahwa “kesalahan” ini sebenarnya penyimpangan yang jelas dan sengaja dari teks terjemahannya. Hal ini terus terjadi hingga edisi terakhir yang dicetak ulang sampai sekarang dan masih menunjukkan penyimpangan (tahrif). Termasuk edisi terakhir yang diterbitkan di Pakistan. Bahkan database hadis online memiliki terjemahan yang keliru. Misalnya lihat:
Shahîh Al-Bukârî, Al-Bukhari, Muhammad b. Ismail (w. 256 H), jilid 4, kitab 55, hadis nomor 658. Terjemahan online: (Klik di sini untuk lihat online)
hadis_usc2

Apa hubungan Fath Al-Bârî dengan versi yang keliru ini?

Fath al-Bârî merupakan uraian (syarh) paling terkenal dalam Shahîh al-Bukhârî. Kitab itu ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), seorang ulama dengan reputasi besar di kalanganahlusunah. Meskipun analisis di atas menunjukkan penyimpangan yang jelas dan terlihat sengaja, pengecekkan terhadap syarah hadis tersebut dalam Fath Al-Bârî menjadi lebih jelas. Berikut ini adalah teks yang panjang dan sangat beralasan jika Ibnu Hajar mengutip pendapat beberapa pihak mengenai arti dan maksud riwayat tersebut. Beberapa komentar diterjemahkan di bawah:
Fath al-Bârî bî Syarh Shahîh al-Bukhârî, Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H), dalam hadis nomor 3193 (klik di sini untuk lihat online)
hadis_alislam
Menurut Ahmad dari Jabir tentang kisah dajal dan turunnya Isa, “Ketika mereka bersama Isa, akan dikatakan: ‘Bangkitlah wahai Ruhullah (Nabi Isa)’, beliau berkata: ‘Biarkan imam kalian memimpin salat‘.” Juga Ibnu Majah dalam hadis panjang dari Abu Umamah tentang dajal berkata: Mereka semua, maksudnya kaum kuslim, di Baitul Muqaddas (Yerusalem) dan imam mereka yang saleh maju memimpin salat mereka, ketika Isa turun; sang imam mundur dan meminta Isa untuk memimpin. Lalu Isa berdiri di antara bahunya (maksudnya menghadapnya) lalu berkata, “Pimpinlah! (Salat ini) disiapkan untukmu.”
Abul Hasan al-Khasai al-Abidi berkata dalam Manâqib asy-Syâfi’î bahwa kabar itu adalah mutawatir yakni al-Mahdi berasal dari umat ini dan Isa akan salat dibelakangnya. Dia menyebutkan tentang penolakan hadis yang dikeluarkan Ibnu Majah yang berasal dari Anas yang mengatakan “tidak ada Mahdi kecuali Isa”.
Abu Dzar al-Harawi berkata dari al-Jauzaqi dari beberapa orang terdahulu, berkata: arti dari perkataan “imam kalian berada di antara kalian” adalah bahwa dia akan memerintah berdasarkan al-Quran dan bukan Injil.
[...]
Ibnu al-Jauzi berkata: Jika Isa memimpin maka akan terjadi keraguan dipikiran manusia apakah ia akan memimpin sebagai wakil atau sebagai pemrakarsa hukum [baru]. Oleh karena itu, dia akan salat sebagai makmum sehingga tidak diliputi keraguan, mengingat ucapan (nabi kita) “tidak ada nabi setelahku”. Tentang salatnya Isa dibelakang lelaki dari umat ini, yang terjadi di akhir zaman menjelang hari kiamat, merupakan dalil sahih (bukti yang benar) dari ucapan bahwa bumi tidak mungkin ada tanpa tegaknya hujah Allah (qâ’im lillâh bi hujjah). Wallahualam.
Menjadi jelas dari kutipan di atas bahwa terdapat berbagai penjelasan yang dikutip Ibnu Hajar untuk menyatakan makna hadis ini dan identitas sang imam. Penyimpangan teks terjemahan Muhsin Khan dilakukan dengan mengganti terjemahan dan memilih salah satu dari beberapa penjelasan, yakni yang diwarnai merah. Sedangkan yang lainnya, termasuk yang diwarnai biru, ditolak.

Lalu siapa “imam” yang disebutkan dalam riwayat itu?

Pemahaman Syiah ini mengacu kepada Imam Mahdi yang merupakan Imam Kedua Belas dan Penerus dari Nabi (saw.) dari keluarganya (ahlulbait). Beliau merupakan Qâim al-Hujjah, di mana Yesus (Nabi Isa) akan salat di belakangnya ketika turun. Wallahualam.

Source: Banjarku Umai Bungasnya: Pasukan Imam Mahdi as dan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, adalah seorang penghina Islam..!!!!! http://banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/2012/02/pasukan-imam-mahdi-as-dan-presiden.html#ixzz1m2bPiVeb
Under Creative Commons License: Attribution

“Wahabi atau salafi itu gerakan radikal, satu grade lagi itu mereka menjadi teroris,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj

Mufti Saudi Sebut Peringatan Maulud Nabi Sebagai Bidah

Mufti Wahabi Arab Saudi menilai peringatan kelahiran Rasulullah Saw sebagai bid’ah, di saat lebih dari satu milyar umat Muslim di seluruh dunia tengah bersuka cita menyambut peringatan agung dalam Islam itu.
Fars Nes (5/2) mengutip laporan situs berita al-Tawafuq menyebutkan, Abdul Aziz Al Sheikh, seorang mufti wahabi Saudi kembali menyebut peringatan hari kelahiran Nabi atau maulud sebagai bid’ah.
Kepada koran resmi kota Madinah, mufti Saudi itu mengatakan, “Peringatan tersebut tidak ada dalam sunnah Nabi, sunnah khalifah, dan para imam.”

Gerakan Ansor Provinsi Kepulauan Riau dan Politeknik Negeri Batam menggelar bedah buku sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2)

.

Acara ini menghadirkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj.
Said mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi

.
“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata dia

.
Ia mengatakan, Wahabi memang bukan teroris, namun ajaran-ajaran yang disampaikan menganggap ajaran lain tidak benar sehingga harus ditentang dan mereka mengatasnamakan Islam

.
Menurut Said, Wahabi selalu mengatasnamakan Islam dalam doktrin atau ajaran yang dilakukan, namun tindakannya kadang tidak islami.
“Meraka sering menganggap umat lain menjalankan tradisi bidah yang tak diajarkan agama seperti ziarah kubur, baca tahlil, sehingga ajaran itu harus diperangi,” kata dia

.
Ia mengatakan, segala kegiatan yang dilakukan umat Islam terutama kaum Nahdiyin (NU) semua berdasarkan ajaran dan tuntunan serta tidak ada yang mengada-ngada

.
Said mengatakan, satu alasan mengapa NU menyatakan memerangi Wahabi karena ajaran yang disampaikan malah membuat perpecahan dalam tubuh Islam

.
“NU tegas terhadap Wahabi, kami justru menghargai agama lain yang jelas-jelas tidak mebawa nama Islam,” kata dia

.
Hal tersebut, tambah Said, karena dalam Al-Quran juga diajarkan untuk saling menghargai antarumat beragama

.
Tahun lalu, pada Sabtu, 03 Desember 2011 Ketua PBNU juga pernah mengatakan bahwa gerakan Wahabi harus diwaspadai

.
“Wahabi atau salafi itu gerakan radikal, satu grade lagi itu mereka menjadi teroris,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dalam seminar Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren di Jakarta, Sabtu (3/12/2011)

.

NU Jateng Ajak Waspadai Pemalsuan Kitab 

oleh Wahabi
“Mari mewaspadai pemalsuan kitab oleh sekte Wahabi. Gerakan mereka semakin meresahkan. Kitab-kitab untuk kalangan pesantren pun telah dipalsukan. Dengan ditambahi atau dikurangi isinya agar sesuai dengan ideologi Wahabi.”
NU Jateng Ajak Waspadai Pemalsuan Kitab oleh Wahabi

.
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH A’wani mengajak segenap ulama dan warga NU untuk mewaspadai pemalsuan kitab yang dilakukan oleh sekte Wahabi. Baik versi cetak kertas maupun versi digital.
Menurutnya, sudah banyak ditemukan pemalsuan kitab karangan ulama sunni oleh penerbit buku di Libanon maupun Arab Saudi. Bahkan indikasi kuat aksi jahat itu disponsori pemerintah suatu negara.
Kepada NU Online di Semarang, pengasuh pesantren Al-Musthofa Lodan Wetan Sarang Rembang, ini menjelaskan, pemalsuan kitab itu juga dilakukan dengan membuat nama penerbit yang mirip. Seperti Darul Kutub Al-Ilmiyah untuk mengecoh masyarakat muslim atas nama penerbit asli Darul Fikr Libanon.
“Mari mewaspadai pemalsuan kitab oleh sekte Wahabi. Gerakan mereka semakin meresahkan. Kitab-kitab untuk kalangan pesantren pun telah dipalsukan. Dengan ditambahi atau dikurangi isinya agar sesuai dengan ideologi Wahabi.” jelasnya.
Pihaknya bersama para kiai NU pernah meneliti kitab-kitab yang beredar di Arab Saudi maupun di Jakarta. Ternyata, sebagian kitab yang populer di kalangan pesantren telah diubah isinya. Dipalsukan pula pengarangnya.
“Kita tentu masih ingat pemalsuan kitab Sirojut Tholibin karangan Kiai Ihsan Jampes Kediri. Kitabnya dipalsukan, nama beliau dihapus, diganti Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Lalu kitab hadis Al-Adzkar dihapus isinya tentang tawashul (doa dengan perantara) dibuang agar sesuai dengan ideologi wahabi.” terangnya.
Kiai A’wani meminta jam’iyyah NU serius menyikapi ini. Jika perlu membuat semacam petisi seperti pada peristiwa latar belakang pendirian NU. Yaitu komite Hijaz yang dibentuk KH Hasyim Asy’ari dengan misi menentang penghancuran makam-makam keluarga Nabi dan para sahabat kala Ibnu Saud hendak mendirikan Kerajaan Arab Saudi lewat pemberontakan terhadap Khalifah Turki Usmani.

Syi’ah Membela Kepribadian Rasulullah Saw terhadap Hadis Buatan Sunni dan Sejarah buatan Sunni

Nabi Muhammad Saw bin Abdullah merupakan figur teragung dalam Islam. Beliau adalah pengemban risalah dan penyampai pesan dari Allah Swt. Beliau menjadi jendela bagi kita untuk menembus dunia langit dan jalan menuju wahyu Allah. Sunahnya merupakan hujah dan perjalanan hidupnya menginspirasi berbagai bangsa dan generasi. Beliau merupakan salah satu simbol kemanusiaan dan tokoh besar yang bisa mengubah sejarah.

Kepribadian Nabi Saw yang agung ini menjadi bahan perdebatan di antara agama-agama. Sebagian orang yang mengingkari kenabiannya terkadang menyikapinya secara negatif. Di antara mereka ada yang menuduhnya sebagai pembohong, penipu, dan tukang fitnah. Ada pula yang mereduksi pesan-pesannya supaya terkesan bahwa beliau adalah orang tidak membawa kebaikan bagi masyarakatnya. Hingga era mutakhir pun banyak sekali perdebatan tentang Islam dan Nabi Saw. Mulai dari buku Ayat-ayat Setan yang menggambarkan sosok Rasulullah Saw secara tidak baik, hingga kasus teranyar yang terjadi pada tahun 2006, yaitu karikatur yang melecehkan Islam dan kaum Muslimin dan memicu kehebohan besar di berbagai belahan dunia.

Kali ini, saya bukan mau mengajak untuk berdebat, tetapi hanya ingin mengkritisi sebuah hakikat, supaya kita tidak hanya mencela orang lain, karena dengan mencela sebetulnya kita pun patut dicela. Apakah kita telah mengerdilkan kepribadian Rasulullah Saw? Apakah kita telah memberi kontribusi dalam mendistorsi citra Rasulullah Saw secara sadar ataupun tidak sadar? Lalu apa tugas kita terhadap Nabi yang besar ini?

Tidak diragukan lagi, telah banyak cendekiawan muslim yang menulis buku tentang kepribadian, biografi dan hak-hak Nabi Saw, bahkan tren itu masih menjadi fenomena mengagumkan hingga saat ini. Akan tetapi muncul sebuah pertanyaan: apakah para cendekiawan muslim itu menampilkan pribadi Nabi Saw sebagai tokoh peradaban ataukah sebagai tokoh bagi intern Islam saja?

Saya yakin pertanyaan ini membuka celah yang sangat riskan. Al-Qhadi Iyadh al-Yahshibi (wafat tahun 544 H.), misalnya, menulis buku berjudul al-Syifâ’ bi Ta‘rîf Huqûq al-Mushthafâ. Ulama-ulama lain juga banyak yang menulis karya serupa. Akan tetapi, sosok Nabi Saw yang ditampilkan al-Qhadi Iyadh al-Yahshibidalam bukunya sebatas tokoh bagi kaum Muslimin saja. Karena itu, pembicaraannya terbatas pada hak-hak beliau atas kaum Muslimin dan sebagainya. Pernahkah terpikirkan oleh al-Qhadi Iyadh al-Yahshibi untuk menampilkan beliau sebagai tokoh bagi semua orang? Ataudengan kata lain, adakah ide dalam benak al-Qhadi Iyadh—di sini al-Qhadi Iyadh sebagai sampel saja—untuk menggambarkan Nabi Saw sebagai manusia agung kepada orang tidak mempercayainya dan belum memiliki persepsi akidah yang akan membuatnya menerima semua perilaku Nabi Saw.

Mungkin kebanyakan dari kita, kaum Muslimin, menggambarkan kepribadian Rasulullah dengan gambaran yang jauh dari dimensi budaya. Artinya, gambaran tentang beliau tidak keluar dari kerangka akidah Islam. Karena itu, gambaran yang ada terfokus pada dimensi kenabian, semisal hadits tentang keistimewaan Nabi Saw, seperti yang terdapat dalam buku al-Khashâ’ish al-Kubrâ karya al-Suyuthi (wafat tahun 911 H.),atau dalam karya para ulama fikih ketika memulai bahasan nikah.

Di era dialog antar budaya seperti saat ini, menampilkan sosok Rasulullah Saw perlu memasukkan dan mengenalkan dimensi budaya dalam konteks kemanusiaan secara umum. Kaum Muslimin, terutama para ulama, harus melihat hal ini sebagai bahan pembelajaran.

Apabila studi tentang kepribadian, sejarah dan biografi Nabi Saw kita lanjutkan dari dimensi budaya ke dimensi ilmiah, saya belum banyak menemukan penelitian investigatif yang dilakukan secara serius dan berkontribusi dalam merevisi dan mengkaji biografi Nabi Saw agar diketahui mana bagian yang valid dan mana yang tidak valid. Sebagian besar buku-buku sirah bersifat naratif atau semacamnya. Jarang ada rehat-rehat serius di sepanjang teks tentang Nabi Saw yang mengusut teks-teks tersebut berdasarkan kritik historis, kritik hadits, dan kritik tokoh dari satu sudut pandang, kemudian diberi keputusan yang menguntungkan atau memberatkan berdasarkan prinsip dan standar kritik matan dengan mencocokkannya kepada akal, fakta sejarah, dan juga al-Quran yang mulia.

Ya, sejumlah upaya memang telah dilakukan, tetapi upaya yang ada tidak mewakili mainstreamdalam berurusan dengan biografi Nabi Saw. Mungkin ada penelitian yang membahas secara serius sebuah masalah dari perjalanan hidup Nabi Saw berkaitan dengan kepribadiannya dengan pendekatan fikih, filsafat, atau kalam saja. Akan tetapi jarang ada buku biografi dan sejarah Nabi Saw yang mengkaji teks-teks sejarah dengan melibatkan logika dan standar ilmu pengetahuan, baik logika tentang retorika, gairah maupun emosi. Padahal, inilah alasan bagi perjalanan ilmiah kehidupan Nabi Saw supaya perjalanan hidup beliau menjadi budaya di tengah-tengah kaum Muslimin sebagai citra kepribadian Rasulullah Saw yang terpatri dalam pikiran dankesadaran mereka.

Dari sini saya melihat bahwa salah satu faktor yang membuat sebagian peneliti dan penulis Barat membuat citra negatif tentang Rasulullah Saw adalah ketiadaan kajian yang memadai terhadap sumber-sumber hadits tentang kepribadian Rasulullah Saw. Hal itu menyebabkan eksploitasi beberapa cerita memalukan tentang perilaku Rasulullah Saw dan interaksinya dengan para istrinya. Mereka bertujuan menampilkan citra Rasulullah Saw yang telah didistorsi kepada dunia yang bersumber dari sumber-sumber Islam sendiri. Inilah yang mendorong semakin perlunya memurnikan buku-buku hadits dari mitos, kebohongan, dan cerita-cerita yang dipastikan kesalahannya. Semua mitos itu harus diungkap secara terbuka dan ilmiah agar teks-teks yang berbau mitos tersebut tidak disalahgunakan oleh pihak lain.

Ketika mengatakan ini, tentu saja saya sadar bahwa membersihkan hadits dari hal-hal yang secara ilmiah dinilai batil tidak boleh dilakukan hanya demi memuaskan pihak lain. Hadis harus dikritik secara ilmiah, objektif, dan bukan karena merasa takut kepada pihak lain. Tujuannya harus semata-mata demi pengetahuan. Setelah itu kita bertanggung jawab untuk membela kepribadian Rasulullah Saw yang sahih secara ilmiah. Kita tidak perlu membebani diri dan mengerahkan kekuatan untuk membela sesuatu yang belum diteliti secara ilmiah dan benar-benar meyakinkan. Itu bukan tanggung jawab kita.

Kita juga tidak perlu—seperti yang dilakukan sebagian orang—mendistorsi citra Rasulullah Saw yang mulia demi memoles citra sahabat ini atau sahabat itu, atau untuk menjelaskan kemuliaan imam ini dan imam itu. Sebab, setiap orang memiliki kapasitas dan kedudukan masing-masing. Perbedaan mazhab tidak boleh menyeret kita untuk membuktikan pandangan-pandangan mazhab kita sendiri dengan mengorbankan Rasulullah Saw yang agung. Namun sayangnya, itulah yang banyak ditemukan dalam beberapa riwayat kaum Muslimin dan ada di mana-mana.

Atas dasar ini, citra humanis Rasulullah Saw dan kemuliaan akhlaknya harus ditampilkan, di samping kasih sayang, toleransi, dan cara bergaul beliau dengan orang lain. Teks al-Quran memberi kita gambaran tentang Nabi Saw yang sangat berbeda dengan beberapa gambaran yang sampai kepada kita, yang mungkin didasarkan kepada sejumlah hadits yang boleh jadi lemah.

Al-Qur‘an mendeskripsikan tentang Nabi Saw, “Dan sesungguhnyaengkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).

Ayat ini mengungkapkan kasih sayang Rasulullah Saw, kemurahan hati, dan etikanya yang luhur. Tidak ada orang Arab yang mengingkari keluhuran budi pekerti Rasulullah Saw, sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an, “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 159)..

Mengkaji sirah dan karakteristik Rasulullah Saw harus difokuskan kepada al-Qur’an, karena bagi kita al-Quran adalah sumber yang pasti. Al-Quran memuat banyak hal yang berguna dalam mengodifikasikansirah Nabi Saw. Karena itu, kita harus menjadikan teks al-Quran sebagai salah satu sumber rujukan terpenting dalam mengkaji sirah Rasulullah Saw, dan jangan merasa cukup dengan buku-buku hadits dan tarikh. Keistimewaan al-Quran adalah sah dijadikan sebagai standar dalam menimbang buku dan referensi tentang tarikh dan hadits karya kaum Muslimin.

Oleh karena itu, seruan untuk menulis sirah Rasulullah Saw berlandaskan al-Quran semakin menguat, karena gambaran yang dihasilkannya lebih diyakini oleh kaum Muslimin ketimbang gambaran dari yang lain. Dalam mengkaji sirah Nabi Saw juga harus dibedakan antara unsur-unsur permanen dalam kepribadian beliau dan unsur-unsur temporal yang merupakan tuntutan situasi dan kondisi sejarah saat itu.

Tulisan ini saya tutup dengan mengutip firman Allah Swt, “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Âli ‘Imrân[3]: 159).

Syi’ah di Saudi Arabia dibantai, hanya wahabi pro AS boleh hidup

 

Ulama Arab Saudi Kutuk Brutalitas Rezim al-Saud

Sabtu, 2012 Februari 11 02:46

Ulama Syiah Arab Saudi, Sheikh Namr Amin al-Namr mengutuk keras kejahatan rezim al-Saud terhadap para demonstran di wilayah timur negara ini.

 

Di khutbah Jum’atnya di kota Qatif , Sheikh Namr Amin al-Namr menyebut janji pemerintah Arab Saudi untuk berdialog dengan demonstra sebagai janji palsu. “Kini terbongkar sudah niat busuk rezim al-Saud untuk menyelewengkan opini publik dengan kejahatan mereka membantai warga,” tandas khatib shalat Jum’at Qatif ini seperti dilaporkan al-Alam.

 

Sheikh Namr Amin al-Namr menekankan tuntutan para demonstran Arab Saudi yang meminta diakhirinya kezaliman dan pembebasan tahanan. Ia memperingatkan rezim berkuasa atas dampak dari berlanjutnya kejahatan yang mereka lakukan di wilayah timur negara ini.

 

Ulama Syiah Arab Saudi ini menjelaskan, rakyat Arab Saudi menghendaki penentuan pemimpin dari mereka dan rezim al-Saud tidak memiliki legalitas untuk memimpin negara ini.

 

Menurutnya keruntuhan dinasti al-Saud sangat pasti dan ia menekankan dilanjutkannya aksi demo hingga rezim ini terguling.

 

Sementara itu dilaporkan, Zuhair Abdullah al-Said, seorang warga Syiah Arab Saudi di Provinsi al-Sharqiyah tewas ditangan pasukan keamanan rezim al-Saud saat ikut dalam aksi demo damai hari Jum’at (10/2) di wilayah al-Awamiyah, timur Arab Saudi.

 

Aksi demo warga al-Sharqiyah Arab Saudi digelar sebagai protes atas pembantaian dan brutalitas rezim al-Saud terhadap rakyat negara ini. Di aksi damai ini dua warga juga dilaporkan cidera

.

 

kebangkitan Islam Timur Tengah;
 Seorang remaja Syiah terkorban di tangan regim Saudi
Serangan ganas pasukan polis regim Saudi ke atas demonstrasi aman “Masirah Al-’Adl Al-Ilahi” menyebabkan seorang remaja Syiah 21 tahun terkorban manakala beberapa orang tercedera.

.

Seorang remaja Arab Saudi ditembak oleh pasukan polis Saudi. Munir Abdullah Al-Maidani, 21, salah seorang pengikut mazhab Syiah dari wilayah Hay Al-Daubaj, Qatif maut dalam penyuraian demonstrasi malam tadi apabila peluru yang dilepaskan mengenai sekitar bahagian jantungnya.

Kejadian berlaku di jalan Al-Thawrah, Qatif, di Hay Al-Syuwaikah, berhampiran pejabat perlancongan Al-Hazim. Pasukan polis dikatakan melepaskan tembakan ke arah orang ramai tanpa sebab.

Demonstrasi malam tadi dinamakan Masirah Al-Adl Al-Ilahi (Perjalanan keadilan Ilahi).

Oleh kerana serangan keras pasukan polis regim Saudi, penunjuk perasaan tidak dapat membawa Maidani ke hospital dengan segera dan beliau mati di tempat kejadian.

Dalam serangan ganas ini, beberapa penduduk yang datang dari berbagai wilayah lain turut mendapat kecederaan.

Dengan kematian Maidani, jumlah penunjuk perasaan yang terbunuh di wilayah timur Arab Saudi meningkat seramai 6 orang.

Revolusi Intelektual Syi’ah Imamiyah

Revolusi Intelektual Imam Shadiq as

Imam Jakfar Shadiq as dilahirkan pada hari Jumat, 17 Rabiul Awal 83 H di kota Madinah. Ayah beliau adalah Imam Muhammad al-Baqir as. Era Imam Shadiq as merupakan masa yang penuh dengan berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam. Proses peralihan kekuasaan dari Dinasti Umayah ke Dinasti Abbasiyah di masa itu menyisakan beragam dampak sosial dan politik di tengah masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat Muslim di zaman itu berhadapan langsung dengan perkembangan berbagai bentuk ideologi dan aliran teologi dan filsafat. Atmosfir kebangkitan intelektual terasa sangat kental sekali yang dibarengi dengan maraknya penyebaran dan penerjemahan pemikiran filsafat dan teologi dari dunia luar, seperti Yunani dan Persia. Tentu saja, kebangkitan intelektual yang demikian pesat juga memunculkan beragam penyimpangan pemikiran dan akidah. Kondisi tersebut niscaya membuat misi dakwah Imam Shadiq as semakin berat.

Dari satu sisi, masyarakat di masa itu mulai condong kepada pemikiran ateisme dan materialisme. Sementara di sisi lain, Imam Shadiq as harus mempertahankan Islam dari berbagai penyimpangan dan kesalahan interpretasi. Dalam kondisi yang sangat sensitif inilah, Imam Shadiq as melancarkan gerakan revolusi kultural Islam. Gerakan ini ditandai dengan keberhasilan mencetak lebih dari empat ribu ilmuan dan ulama terkemuka dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.

Salah satu ciri khas Islam adalah perhatian agama ini kepada ilmu pengetahuan dan mewanti-wanti pemeluknya untuk selalu berpikir dan bertafakur. Dengan berani dapat kita katakan bahwa tidak ada agama dan aliran kepercayaan yang menekankan pemeluknya untuk menuntut ilmu pengetahuan dan hikmah seperti Islam. Memperhatikan sekilas ayat-ayat al-Quran dan hadis, dapat kita simpulkan bahwa Tuhan dan para utusan-Nya senantiasa mengajak manusia untuk berpikir dan menggunakan akal. Seruan ini tidak hanya terbatas pada pemeluk agama Islam, tapi juga berlaku bagi seluruh umat manusia.

Dalam perspektif Islam, keimanan buta dan tanpa berpikir, tidak akan diterima di sisi Allah Swt. Akal merupakan sarana yang akan membantu kita untuk mengenal Sang Pencipta. Penghormatan al-Quran terhadap ilmu pengetahuan dan penulisan, telah mendorong kaum Muslim pada masa permulaan Islam untuk berlomba-lomba menuntut ilmu. Pada waktu itu, al-Quran dan hadis Nabi Saw merupakan dua sumber utama dan penting dalam meningkatkan level ilmu pengetahuan dan budaya.

Pada era di mana dunia tenggelam dalam lembah kegelapan dan kebodohan, peradaban Islam dibangun berkat kerja keras Rasul Saw dan secara bertahap mulai membuahkan hasil. Pasca Rasul Saw, Ahlul Bait Nabi as secara bergantian memainkan peran penting dalam mengembangkan dan memperkaya peradaban itu. Fase ini merupakan masa dimulainya kebangkitan intelektual dalam Islam yang kemudian berkembang secara perlahan.

Perhatian terhadap ilmu pengetahuan pada masa kehidupan Ahlul Bait as khususnya pada era Imam Jakfar Shadiq as, mencapai kemajuan pesat. Ketika berbicara tentang pentingnya menuntut ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya, Imam Shadiq as mengatakan, “Jika masyarakat mengetahui manfaat-manfaat ilmu pengetahuan, tentu mereka akan bangkit untuk mencarinya, meski darah tumpah dalam menemukannya dan mereka akan menyelami kedalaman lautan.”

Sementara berkenaan dengan bahaya kebodohan dan melakukan sesuatu tanpa bekal ilmu, Imam Shadiq as berkata, “Siapa yang mengerjakan sesuatu tanpa pengetahuan dan wawasan, maka ia seperti orang yang menempuh selain jalan utama. Oleh karena itu, semakin ia melangkah ke depan, maka ia semakin menyimpang dari jalan yang lurus.”

Era kehidupan Imam Shadiq as berbarengan dengan perubahan dan transformasi besar di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Masuknya beragam pemikiran dan budaya belahan bumi lain ke wilayah Islam, mencerminkan perkembangan pesat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Pada masa itu, kebangkitan intelektual dan peradaban yang dibangun oleh Rasul Saw selama 23 tahun, telah membuahkan hasil di banyak bidang dan dimensi.

Imam Shadiq as telah memulai aktivitas ilmiah sebagai kelanjutan risalah Nabi Saw dan pendahulu-pendahulunya dalam mengembangkan peradaban tersebut. Beliau as mempertimbangkan komponen dan karakteristik dalam gerakan intelektual dan masalah memproduksi ilmu pengetahuan. Menurut Imam Shadiq as, kebangkitan intelektual harus dibangun di atas dua landasan yaitu, penghambaan dan rasionalitas. Pada dasarnya, sebuah gerakan untuk membangun peradaban akan berhasil jika memandang manusia secara utuh dan tidak menganggapnya sebagai makhluk satu dimensi. Oleh karena itu, sikap mengabaikan spiritualitas dan dimensi ruh manusia sama artinya dengan kegagalan kegiatan ilmiah, sama halnya dengan sikap menganaktirikan rasionalitas dan logika.

Sejumlah ayat dan hadis menunjukkan bahwa Islam sebagai agama Tuhan selain tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, tapi juga merupakan bentuk urgensitasnya. Rapor cemerlang peradaban Islam membuktikan bahwa para cendekiawan Muslim di berbagai bidang, biasanya adalah orang-orang yang bertaqwa dan menilai kegiatan ilmiah sebagai ibadah.

Pada dasarnya dalam Islam, tidak ada pemisah antara ilmu, akhlak dan ibadah dan bahkan senantiasa menegaskan korelasi di antara mereka. Ilmuan dan pemikir dalam Islam adalah manusia-manusia yang bertanggung jawab dan ulama tanpa moral akan berdampak negatif di tengah masyarakat. Masalah ini merupakan salah satu poros penting prinsip-prinsip peradaban Islam. Oleh karena itu, Imam Shadiq as sebagaimana Rasul Saw, senantiasa menegaskan rasionalitas dan pemanfaatan logika di samping spiritualitas.

Dalam perspektif manusia, akal dan agama adalah dua sejoli dan tidak dapat dipisahkan. Ulama adalah pewaris para Nabi as. Menurut Imam Shadiq as, ilmu pengetahuan harus dinamis, efektif, aplikatif dan responsif. Karena itu, bidang ilmiah Imam as tidak terbatas pada ilmu tertentu dan semua cabang ilmu pengetahuan diajarkan di sekolah beliau. Dalam perspektif Imam Shadiq as, masyarakat selalu dalam keadaan dinamis dan kebutuhan-kebutuhan mereka juga senantiasa baru.

Kebangkitan memproduksi ilmu pengetahuan harus selalu dinamis sehingga dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman dan kebutuhan manusia. Imam Shadiq as menekankan pada seluruh cabang ilmu pengetahuan pada masanya mulai filsafat, teologi dan yurisprudensi hingga astronomi dan kedokteran. Beliau as selalu mempelajari karya-karya para ilmuan dan memberi kritikan atas mereka. Selain itu, beliau as juga mengenalkan murid-muridnya dengan pengetahuan modern.

Imam Shadiq as juga mendirikan organisasi ilmuan dan mengorganisir kaum muda untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Langkah ini bertujuan kaderisasi dan menularkan ilmu kepada setiap generasi. Di antara murid Imam Shadiq as adalah Jabir Ibn Hayyan, yang dikenal dengan bapak kimia dan Hisyam bin Hakam, pakar ilmu yurisprudensi.

Sejarah menyebutkan bahwa murid-murid Imam Shadiq as mencapai 4000 orang. Sebagian dari mereka memiliki berbagai karya ilmiah yang tiada tara di zamannya. Misalnya Hisyam bin Hakam yang menulis 31 buku. Jabir bin Hayyan yang menghasilkan lebih dari 200 buku dan pada abad pertengahan, karya tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa. Mufadhal juga merupakan salah satu murid terkemuka Imam Shadiq as yang menulis buku “Tauhid Mufadhal”.

Imam Shadiq as adalah manusia yang paling rendah hati di kalangan masyarakatnya. Kaum papa dengan mudah menyampaikan keperluannya kepada beliau dan beliaupun akan memenuhi keperluan mereka dengan kasih sayang. Sikap mulia dan merakyat Imam Shadiq as ini, makin meningkatkan kesadaran politik dan sosial masyarakat. Tentu saja hal tersebut menyulut kekhawatiran para pemimpin zalim Dinasti Abbasiyah. Khalifah Mansur pun merasakan posisinya makin terancam. Lalu, ia meracuni Imam Shadiq as hingga akhirnya beliau pun gugur syahid pada tahun 148 H

.

Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H.

Sebelum terlalu jauh, mari kita ingat beberapa fakta ini:

1. Syiah adalah mazhab Islam terbesar kedua setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

2. Syiah adalah mazhab yang dianuti oleh jumlah sangat signifikan penduduk negara-negara Timur Tengah (untuk tidak mengatakan majoriti penduduk Teluk), tempat asal Islam.

3. Syiah adalah mazhab yang dianuto oleh majoriti dua bangsa pemilik tradisi keilmuan paling kuat dan paling kaya di dunia Islam: Iran (90%) dan Iraq (68%).

Kedua bangsa yang kemudian menjadi Muslim Syiah ini dapat dianggap pemilik dua khazanah kebudayaan pra Islam (Persia dan Akkadia, Asyuria & Babilonia di wilayah Mesopotamia) yang memberi sumbangan paling besar terhadap kemajuan umat manusia. Intinya, Persia + Babilonia memiliki “tradisi ilmiah” di atas kebanyakan penduduk Muslim lain–tanpa mengurangi rasa hormat kepada bangsa lain, kerana saya sendiri bukan tergolong dari kedua bangsa tersebut.

Ada baiknya kita bertanya: Mungkinkah kedua bangsa pemilik tradisi ilmiah hebat dan kaya itu telah sampai pada tafsir agama yang lebih baik dari kita?

4. Mari kita lihat kembali data populasi Syiah berikut ini: Iran (90%), Iraq (65%–menurut bancian rejim Saddam yang berat sebelah dan tidaak menunjukkan fakta sebenarnya), Azerbaijan (85%), Lebanon (35-40%), Kuwait (35%–menurut bancian rejim Wahabi yang menyesatkan Syiah), Turkey (25%), Saudi Arabia (10-15%–menurut bancian rejim Wahabi yang mengkafirkan Syiah), Yaman (40%), Uni Emirat Arab (15-20 % –menurut bancian rejim tribal Al-Nahiyan yang anti Iran) dan Bahrain (80%–menurut bancian rejim Wahabi yang menyesatkan Syiah).

Setelah melihat beberapa fakta di atas, marilah kita kembali ke topik hadis Syiah. Berikut saya berikan beberapa tanggapan umum—tanpa merujuk pada poin-poin yang ditulis sebelumnya karena saya tidak mahu terlibat dalam perdebatan:

1. Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H. Atas faktor itulah kita-kitab hadis Syiah ditulis dan dikodifikasikan dalam beberapa tempoh yang berbeza. Tapi itu tidak bererti bahawa kitab hadis Syiah baru wujud di abad ke7 seperti didakwa sebahagian orang. Jumlah hadis Syiah juga lebih banyak daripada hadis Sunni. Saya tidak pernah menghitung berapa tepat jumlah surplusnya, tapi yang jelas ada defisit  hadis dalam mazhab Sunni.

Maka muncullah dilema di kalangan mazhab Ahlus Sunnah yang mengakhiri tempoh waktu Sunnah pada masa Nabi Muhammad tetapi penulisannya terjadi jauh setelah baginda(s) wafat. Ada tempoh kekosongan yang panjang. Ramai peneliti yang mencurigai bahawa dalam tempoh waktu ini telah terjadi produksi hadis palsu secara besar-besaran. Kecurigaan ini didukung berbagai fakta. Bagaimanapun saya tidak berminat untuk melompat ke topik yang lain.

Kekayaan Sunnah dalam mazhab Syiah ini beberapa ratus tahun lalu memunculkan dampak negatif berupa fenomena pemikiran Akhbari. Kaum Akhbari mempercaya bahawa sunnah 14 Ma’shum sudah mencakupi semua sisi kehidupan manusia, sehingga tidak perlu ada ijtihad dan sebagainya. Tapi itu juga isu lain lagi.

2.  Setiap mujtahid dalam Syiah tidak menyandarkan keabsahan hadis pada si pengumpul hadis, namun mereka harus melakukan verifikasi dan investigasi  hadis  dengan sendiri untuk menilai kredibiliti perawi dan keabsahan matan hadis yang diriwayatkannya. Untuk itulah, mujtahid dalam mazhab Syiah harus menguasai metod verifikasi hadis dengan handal. Bahkan, banyak di antara mujtahid yang juga sekaligus adalah muhaddits. Misalnya, Ayatullah Khoei yang beberapa saat sebelum meninggal dunia sempat mengarang buku rijal sebanyak 24 jilid besar. Jika ada yang mahu melihat buku itu, boleh didownload di sini: http://www.shiatc.com/Lib_List/t5.xml

3. Kerana poin 2 di atas, kalangan Syiah tidak mengenal adanya kitab shahih. Pengumpul hadis tidak pernah mendakwa hadisnya shahih. Dia hanya mengumpulkan dan menyerahkan penilaian pada masing-masing pakar, terutama yang ingin berijtihad. Allamah Majlisi sampai berhasil menuliskan hadis Syiah dalam 120 jilid.

.

Bab Kedua

Kepeloporan Syi’ah dalam Ilmu-ilmu Hadis

Sebelum memasuki serangkaian pasal dari bab ini, kami akan mengajak pembaca untuk mengenal alasan kepeloporan kaum Syi’ah dalam ilmu-ilmu hadis. Di sini, saya hendak menyatakan bahawa di antara para sahabat dan para tabi’in terdapat perselisihan besar tentang penulisan ilmu. Banyak dari mereka enggan melakukan penulisan dan penyusunan ilmu, meski ada sebahagian dari mereka yang melakukannya, di antaranya ialah Ali ibn Abi Thalib a.s. dan putera beliau yang pertama; Hasan Al-Mujtaba a.s .

Sebagaimana yang dikatakan oleh As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi, bahawa Nabi saw. telah mengarahkan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh hadis yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar, dan Al-Hakam ibn ‘Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad Al-Baqir, iaitu ketika di antara mereka berdua terjadi perselisihan pendapat tentang suatu masalah, lalu Imam Al-Baqir a.s. mengeluarkan kitab itu dan menjelaskannya lalu mengatakan kepada Al-Hakam: “Ini adalah tulisan tangan Ali ibn Abi Thalib yang ajarkan oleh Rasulullah, dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah saw.” Maka, kaum Syi’ah mengetahui bagaimana penyusunan ilmu itu sebegitu rapihnya. Lalu, mereka segera menapaki langkah imam pertama mereka.

Sementara itu, terdapat sekelompok dari selain Syi’ah yang justru melarang penyusunan ilmu ke dalam sebuah kitab, sehingga mereka tertinggal. Al-Jahidz As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi mengatakan: “Karya-karya yang muncul pada zaman sahabat dan kaum tabi’in belum tersusun secara rapi, mengingatkan hafalan mereka yang kuat, selain juga sebelum itu mereka melarang segala usaha penulisan ilmu-ilmu, sebagaimana yang dinyatakan di dalam Shahih Muslim, lantaran kekuatiran mereka terhadap pencampuradukan hadis dengan ayat-ayat Al-Quran. Di samping itu juga karena sebahagian besar dari mereka tidak mampu menulis.”

Saya katakan bahwa hal ini terjadi pada selain sahabat dan tabi’in besar Syi’ah. Adapun sahabat dan tabi’in dari Syi’ah, mereka sudah merumuskan ilmu dan menyusunnya, sebagaimana usaha ini telah dimulai oleh Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Pasal Pertama: Tentang Orang Pertama yang Mengumpulkan Hadis dan Menyusunnya ke dalam Bab-bab

Di antara orang Syi’ah yang pertama kali melakukan proses pengumpulan dan penyusunan itu ialah Abu Rafi’e; budak Rasulullah(s). An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannifisy Syi’ah, mengatakan: “Dan Abu Rafi’e budak Rasulullah saw. mempunyai kitab As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya”. Lalu ia  menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab;  mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah. Kemudian dia menyatakan bahwa Abu Rafi’e telah menjadi Muslim secara lebih dahulu di Mekkah lalu hijrah ke Madinah dan ikut serta bersama Nabi saw. dalam banyak peperangan, dan setelah wafat beliau, ia menjadi pengikut setia Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Abu Rafi’e tergolong sebagai orang Syi’ah yang saleh, dan turut terjun di dalam peperangan bersama Ali ibn Abi Thalib a.s. Beliau juga dipercayai sebagai pemegang kunci Baitul Mal di masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib di Kufah.

Abu Rafi’e meninggal pada tahun 35 H., sesuai dengan kesaksian Ibnu Hajar di dalam At-Taqrib, di mana ia telah membenarkan tahun wafatnya di awal kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib a.s. Atas dasar ini, menurut ijma’ para ulama, tidak ada orang yang lebih dahulu dari Abu Rafi’e dalam usaha mengumpulkan hadis dan menyusunnya secara bab per bab, kerana, nama-nama yang disebutkan mengenai penghimpun hadis, semuanya muncul di pertengahan abad kedua.

Sebagaimana yang dicatat di dalam At-Tadrib oleh As-Suyuthi dan dinukil oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari, bahawa orang pertama yang mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis berdasarkan perintah Umar ibn Abdul Aziz adalah Ibnu Syahab Az-Zuhri. Segera Ibnu Syahab memulai tugasnya di awal abad kedua Hijriyah, lantaran Umar ibn Abdul Aziz menjadi khalifah pada tahun 98 H. atau 99 H., dan meninggal pada tahun 101 H. Di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, kami secara khusus memberikan catatan-catatan kritis terhadap apa yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Asqolani.

Pasal Kedua: Tentang Orang Pertama dari Kaum Sahabat yang Syi’ah yang Mengumpulkan Hadis dalam Satu Bab dan Satu Judul

Mereka adalah Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari. Rasyiduddin ibn Syarhasub di dalam kitab Ma’alim Ulamau Syi’ah, telah memberikan kesaksiannya atas hal ini. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, guru besar Syi’ah, dan Syeikh Abu Abbas An-Najasyi di dalam kitab-kitab mereka, iaitu Asma Mushannifis Syi’ah, ketika mengulas ihwal Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Gifari. Mereka melacak dan mampu menemukan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab Salman dan kitab Abu Dzar. Kitab Salman adalah kitab hadis Al-Jatsliq dan kitab Abu Dzar adalah sebuah surat khotbah yang di dalamnya menjelaskan pelbagai perkara dan peristiwa yang terjadi setelah wafat Rasulullah saw.

Sayyid Al-Khunsari di dalam kitab Ar-Raudhah fi Ahwalil ‘Ulama’ wa As-Sadat, menerangkan sebuah kitab yang dinukil dari kitab Az-Zinah karya Abu Hatim di juz ketiga; bahawa kata ‘syi’ah’ pada masa Rasulullah saw. adalah nama untuk empat sahabat, iaitu Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad Ibnul Aswad Al-Kindi dan Ammar ibn Yasir. Demikian ini telah disebutkan juga di dalam kitab Kasyful Dzunun dan kitab Az-Zinah karya Abu Hatim Sahal ibn Muhammad As-Sajastani yang wafat pada tahun 205 H.

Pasal Ketiga: Tentang Orang Pertama yang Menyusun Kata-kata Hikmah dari Para Tokoh Tabi’in Syi’ah

Para tokoh tabi’in Syi’ah itu melakukan penyusunan di satu masa, hanya saja saya tidak tahu mana di antara mereka yang melakukan hal ini lebih dahulu. Di antara mereka ialah Ali ibn Abi Rafi’e; sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s sekaligus sebagai setiausaha dan pemegang kunci Baitul Mal.

An-Najasyi di dalam Asma Mushannifisy Syi’ah, pada bab nama-nama generasi pertama Syi’ah yang mengarang  kitab, mengatakan: “Ali ibn Abu Rafi’e adalah seorang tabi’in dari Syi’ah yang soleh yang bersahabat dekat dengan Amiril Mukminin  Ali ibn Abi Thalib a.s. Beliau juga setiausaha Ali dan menghafal banyak hal dan menyusun sebuah kitab yang menghimpun pelbagai bab Fiqih, seperti Wudhu, Shalat, dan bab-bab hukum lainnya. Lalu ia menyambungkan sanadnya sampai ke Ali ibn Abi Thalib a.s.”

Dan saudara Ali ibn Abu Rafi’e bernama Ubaidillah ibn Abu Radfi’e adalah setiausaha Ali ibn Abi Thalib a.s. Beliau mengarang kitab Kitabul Qodho Amiril Mu’minin dan kitab Tasmiyatu Man Syahida ma’a Amiril Mu’minin Al-Jamala wash Shiffin wan Nahrawan minal Shohabah (kitab yang mencatat nama-nama para sahabat yang ikut bertempur bersama Imam Ali a.s. di perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan, pent.). Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Fehrest Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi dan di At-Taqrib karya Ibnu Hajar, bahwa Ubaidillah adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib dan perawi yang terpercaya.

Selain dua bersaudara di atas, adalah Ashbagh ibn Nubatah Al-Majasyi’ie. Beliau adalah sahabat khusus Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan berumur panjang hingga masih hidup setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib. Ashbagh telah meriwayatkan surat Ali ibn Abi Thalib tentang pelantikan Malik Al-Asytar sebagai gabenor Mesir. An-Najasyi berkata: “Surat itu adalah surat yang amat masyhur, juga sebagai wasiat Imam Ali ibn Abi Thalib kepada putranya yang bernama Muhammad ibn Hanafiyah.” Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menambahkan dalam Al-Fehrest, bahwa Ashbagh ibn Nubatah juga mempunyai kitab Maqtalul Husein ibn Ali, yang darinya Ad-Dauri telah meriwayatkan.

Lalu di antara mereka ialah Sulaim ibn Qois Al-Hilali Abu Shadiq, sahabat dekat Ali ibn Abi Thalib. Ia menulis kitab yang sangat bagus. Di dalamnya ia meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali ibn Abi Thalib, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad, Ammar ibn Yasir, dan sekelompok dari sahabat besar Nabi saw.

Syeikh Imam Abu Abdillah An-Nu’mani, yang perihal dirinya telah diulas oleh tokoh-tokoh tafsir terdahulu, di dalam kitab Al-Ghaibah, tepatnya setelah menukil sebuah hadis dari kitab Sulaim ibn Qois, mengatakan: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan perawi kaum Syi’ah tentang bahawa kitab Sulaim ibn Qois adalah salah satu kitab induk yang banyak dinukil hadis dan riwayatnya oleh para ulama dan perawi hadis Ahlul Bait. Dan kitab itu merupakan kitab rujukan kaum Syi’ah.” Sulaim ibn Qois wafat di awal pemerintahan Hajjaj ibn Yusuf di kota Kufah.

Lalu di antara mereka ialah Maitsam ibn Yahya Abu Soleh At-Tammar. Beliau adalah salah satu sahabat dekat Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan pemegang rahsia-rahsia beliau. Maitsam menulis kitab yang bagus mengenai hadis. Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, Syeikh Abu Amr Al-Kisyi dan Ath-Thabari di dalam Bisyarotul Musthafa, banyak menukil hadis dari kitab Maitsam ini. Maitsam wafat di Kufah karena dibunuh oleh Ubaidillah ibn Ziyad lantaran kesyi’ahannya.

Lalu di antara mereka ialah Muhammad ibn Qois Al-Bajali. Ia mengarang sebuah kitab yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Para tokoh tabi’in Syi’ah telah menyebutkan kitab tersebut. Mereka juga banyak meriwayatkan hadis-hadis darinya. Adapun Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest dari Ubaid ibn Muhammad ibn Qois mengatakan: “Saya mengajukan kitab ini kepada Abu Ja’far Imam Muhammad Al-Baqir a.s., lalu beliau berkata: ‘Kitab ini adalah perkataan Ali ibn Abi Thalib a.s.’. Dan di awal-awal kitab itu, diriwayatkan bahawa jika seseorang hendak melakukan shalat, katakanlah di awal shalatnya… Begitu selanjutnya hingga akhir kitab.”

Ya’la ibn Murroh mempunyai satu naskah kitab itu yang diriwayat-kannya dari Ali ibn Abi Thalib a.s. An-Najasyi di dalam Al-Fehrest telah membawakan sanad kesaksian atas keberadaan naskah tersebut dari Ya’la.

Lalu di antara mereka ialah Ibnul Hurr Al-Ja’fi. Beliau seorang tabi’in Kufah dan penyair Persia. Beliau memiliki sebuah naskah hadis yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Al-Ja’fi wafat di masa kekuasaan Al-Mukhtar. An-Najasyi telah menempatkannya dalam jajaran  pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah.

Lalu di antara mereka ialah Tabi’ah ibn Sami’ie. Ia menulis sebuah kitab tentang bab zakat. An-Najasyi menyebutkan nama ini di generasi pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah. Ia termasuk dari kaum tabi’in.

Lalu Harts ibn Abdillah Al-A’war, dari kota Hamadan. Ia termasuk sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s. Harts meriwayatkan pelbagai permasalahan yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. kepada seorang Yahudi, kemudian Ammar ibn Abil Miqdad meriwayatkannya dari Abi Ishaq As-Sami’ie yang beliau sendiri meriwayatkannya dari Harts Al-A’war, dan yang terakhir ini meriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib a.s., sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Fehrest karya Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi. Harts wafat pada masa kekuasaan Ibnu Zubeir.

Namun, Syeikh Rasyiduddin Ibn Syahrasyub di awal kitabnya, Ma’alimul ‘Ulama’, membawakan sebuah daftar kitab mengenai jawaban yang disampaikan oleh Al-Ghazzali, bahwa kitab pertama yang dikarang di dalam Islam ialah kitab Ibnu Juraij tentang hadis dan tafsir huruf-huruf dari Mujahid dan ‘Atha’ di Mekkah, lalu kitab Mu’ammar ibn Rafi’e Ash-Shan’ani di Yaman, lalu kitab Al-Muwaththa’ karya Malik ibn Anas, lalu kitab Al-Jami’e karya Sufyan Ats-Tsauri.

Kemudian Ibnu Syahrasyub mengatakan: “Namun yang benar ialah bahwa orang pertama yang mengarang kitab di bidang ini dalam Islam ialah Amiril Mukiminin Ali ibn Abi Thalib lalu Salman Al-Farisi, lalu Abu Dzar Al-Ghifari, lalu Ashbagh ibn Nubatah, lalu Ubaidillah ibn Abu Ra’fi’e, lalu Shohifah Kamilah Sajjadiyyah dari Imam Ali Zainal Abidin a.s.”

Syeikh An-Najasyi menyatakan bahawa generasi pertama adalah para pengarang, sebagaimana telah disebutkan, tanpa menerangkan siapa yang lebih dahulu, juga tidak menjelaskan urutan-urutan mereka. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan nama-nama mereka tanpa menerangkan urutan yang tegas. Mungkin Ibnu Syahrasyub telah menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan.

Sebuah catatan di akhir pasal ini ialah bahwa Al-Jahidz Adz-Dzahabi tatkala menyinggung riwayat hidup Aban ibn Taghlab, memberikan kesaksian bahwa mazhab Syi’ah di kalangan tabi’in dan generasi setelah tabi’in amat berkembang dan dikenal dengan ketaatan, warak dan kejujuran. Lalu mengatakan: “Jika ucapan-ucapan mereka itu ditolak, maka akan banyak hadis-hadis Nabi saw. yang tercampakkan. Ini sebuah konsekuensi yang jelas keliru dan merugikan.”

Saya katakan, renungkanlah kesaksian Al-Jahidz ini, dan ketahuilah kemuliaan pada kepeloporan nama-nama mereka yang telah kami bawakan di sini dan nama-nama yang akan kami sebutkan setelah ini, iaitu dari kaum tabi’in Syi’ah dan generasi Syi’ah setelah mereka.

Pasal Keempat: Tentang Orang Pertama Penghimpun Hadis di Pertengahan Abad Kedua

Dari kaum Syi’ah yang menyusun kitab-kitab, pokok-pokok akidah dan perincian hukum-hukum yang diriwayatkan dari jalur Ahlul Bait adalah mereka yang hidup di masa-masa orang yang disebutkan berkenaan dengan orang pertama yang mengumpulkan riwayat dari kalangan Ahli Sunnah. Mereka meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan dari putranya; Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Di antara mereka adalah Aban bin Taghlab. Ia telah meriwayatkan tiga puluh ribu hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.

Ada pula Jabir ibn Yazid Al-Ja’fi yang meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s., dari ayah-ayah beliau hingga Nabi saw. Jabir mengatakan: “Aku memiliki lima puluh ribu hadis yang belum aku sampaikan. Semuanya dari Nabi saw. dari jalur Ahlul Bait a.s.”

Terdapat nama-mana lain yang melakukan penghimpunan dan periwayatan hadis sebanyak di atas tadi, seperti Abu Hamzah, Zurarah ibn A’yan, Muhammad ibn Muslim Ath-Thaifi, Abu Bashir Yahya ibn Al-Qosim Al-Asadi, Abdul Mu’min ibn Al-Qosim ibn Qois ibn Muhammad Al-Anshari, Bassam ibn Abdullah Ash-Shairafi, Abu Ubaidah Al-Hidzaie Ziyad ibn Isa Abu Raja’ Al-Kufi, Zakaria ibn Abdullah Al-Fayyad Abu Yahya, Jahdar ibn Al-Mughirah Ath-Thaie, Hajar ibn Zaidah Al-Hadhrami Abu Abdillah, Muawiyah ibn Ammar ibn Abi Muawiyah, Khabbab ibn Abdillah, Al-Mutthalib Az-Zuhri Al-Qurasyi Al-Madani, dan Ab-dullah ibn Maimun ibn Al-Aswad Al-Qoddah. Saya telah singgung kitab dan riwayat hidup mereka masing-masing di dalam Ta’sisusy Sy’ah li Fununil Islam.

Sementara itu, Tsaur ibn Abu Fakhitah Abu Jaham telah meriwayatkan hadis-hadis dari sekelompok sahabat Nabi saw. Dan ia memiliki sebuah kitab yang masih utuh dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s.

Pasal Kelima: Tentang Orang Pertama dari Kaum Syi’ah yang Menyusun Kitab Hadis Setelah Pertengahan Abad Kedua

Terdapat sekelompok sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. yang meriwayatkan hadis dari beliau dan menghimpunnya ke dalam empat ratus kitab dengan judul Al-Ushul. Syeikh Imam Abu Ali Al-Fadhl ibn Al-Hasan Ath-Thabarsi dalam kitabnya, A’lamul Wara’, mengatakan: “Dinukil secara hampir mutawatir oleh banyak kalangan, bahwa orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. adalah mereka yang tergolong dari tokoh-tokoh besar yang jumlah mereka mencapai empat ribu. Lalu, mereka menyusun hadis-hadis tersebut ke dalam empat ratus kitab yang dikenal di tengah kaum Syi’ah dengan nama Al-Ushul. Kemudian, kitab ini diriwayatkan oleh sabahat-sahabat Imam Ash-Shadiq a.s. dan oleh para sahabat putra beliau; Imam Al-Kadzim a.s.”

Abul Abbas Ahmad ibn ‘Uqdah telah menulis sebuah buku terpisah dengan judul Kitabu Rijali Man Rowa ‘an Abi Abdillah Ash-Shadiq. Kitab ini secara khusus menghimpun nama-nama mereka yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. Bahkan, Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan dan menghitung karangan-karangan mereka masing-masing dalam bab ‘Ashabu Abi Abdillah Ash-Shadiq’ dari kitabnya;  Ar-Rijal, yaitu kitab yang disusun menurut nama-nama sahabat setiap dua belas imam a.s.

Pasal Keenam: Tentang Jumlah Kitab yang Dikarang oleh Orang Syi’ah tentang Hadis dari Jalur  Ahlul Bait

Sejak Masa Imam Ali bin Abi Thalib Sampai Masa Imam Hasan Al-Askari a.s.

Ketahuilah bahwa jumlah kitab-kitab itu melampaui angka 6600, sebagaimana yang dicatat oleh Syeikh Al-Jahidz Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr, penulis Al-Wasail, dan beliau menyatakan jumlah tersebut secara tegas pada bab keempat dari kitabnya yang besar tentang hadis, iaituWasailusy Syi’ah ila Ahkamisy Syari’ah. Tentang semua ini, saya juga telah membawakan data-data yang menguatkan jumlah di atas tadi dalam kitab saya yang berjudul Nihayatud Dirayah fi Ushuli Ilmil Hadis.

Pasal Ketujuh: Tentang Generasi Berikut yang Menjadi Tokoh Ilmu Hadis dan Penyusun Kitab-kitab Induk yang Hingga Kini Merupakan Rujukan Hukum-hukum Syar’ie Kaum Syi’ah

Ketahuilah bahawa tiga Muhammad pertama adalah tokoh terdepan dalam penyusunan empat kitab induk hadis. Yang pertama ialah Muhammad ibn Ya’qub Al-Kulaini, penyusun kitab Al-Kafi. Beliau wafat pada tahun 328 H. Di dalam kitab tersebut, Al-Kulaini telah mencatat sebanyak 16099 hadis beserta sanad-sanadnya.

Kedua ialah Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babaweih Al-Qummi yang wafat pada tahun 381 H. Ia dikenal juga dengan panggilan nasab Abu Ja’far Ash-Shaduq. Ia telah menyusun 1400 kitab tentang ilmu hadis. Yang terbesar di antara kitab-kitab Ash-Shaduq adalah kitab  Man La Yahdhuruhul Faqih yang memuat 9044 hadis menge-nai hukum-hukum syariat dan sunah-sunah.

Ketiga adalah Muhammad ibn Al-Hasan Ath-Thusi yang terkenal dengan gelar Syeikh Ath-Thoifah. Ia telah menulis kitab Tahdzibul Ahkam, dan menyusunnya ke dalam 393 bab, dan mencatat hadis sebanyak 13590. Kitab Ath-Thusi lainnya adalah Al-Istibshor yang memuat 920 bab sehingga mencakup 5511 hadis. Inilah empat kitab induk yang menjadi rujukan utama kaum Syi’ah.

Kemudian tibalah peranan tiga Muhammad terakhir yang juga tergolong sebagai tokoh kitab induk hadis. Pertama ialah Imam Muhammad Al-Baqir ibn Muhammad At-Taqie. Ia terkenal dengan nama Al-Majlisi. Kitab besar yang ditulis Al-Majlisi adalah kitab Biharul Anwar; fil Ahaditsil Marwiyyah ‘anin Nabi wal Aimmah min Alihil Ath-har. Kitab ini disusun sebanyak 26 jilid tebal. Dapat dikatakan bahawa kitab ini telah menjadi pegangan kaum Syi’ah. Sebab, tidak ada kitab induk hadis yang paling lengkap selain kitab Biharul Anwar. Sehingga Tsiqotul Islam Allamah An-Nurie menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Faidhul Qudsi fi Ahwalil Al-Majelisi dan dicetak di Iran, yakni sebuah kitab yang secara khusus mengulas ihwal kehidupan Al-Majlisi.

Kedua ialah Muhammad ibn Murtadha ibn Mahmud, seorang tokoh besar ilmu hadis dan guru utama d dalami dua bidang ilmu aqli dan naqli. Beliau lebih dikenali dengan nama Muhsin Al-Kasyani dan julukan ‘Al-Faydh’. Kitab hadis yang ditulis olehnya berjudul Al-Wafi fi Ilmil Hadis, yang ketebalannya mencapai 14 jilid, dan setiap jilidnya merupakan kitab tersendiri. Kitab Al-Wafi menghimpun hadis-hadis yang tercatat di dalam empat kitab induk terdahulu berkenaan dengan akidah, hukum syariat, akhlak dan sunah-sunah. Usia Muhsin Al-Kasyani mencapai 84 tahun dan wafat pada tahun 1091 H. Dalam usianya yang panjang itu, beliau telah mengarang lebih kurang dua ratus kitab dari pelbagai bidang ilmu.

Ketiga ialah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr Asy-Syami Al-‘Amili Al-Masyghari, seorang ulama hadis yang mayshur di kalangan ahli hadis dengan gelaran Syeikhusy Syuyukh (guru para guru). Beliau menulis kitab Tafshil Wasailsy Syi’ah ila Tahshil Ahadits Asy-Syari’ah, dan penyusunannya mengacu kepada kitab-kitab Fiqih.

Di antara kitab-kitab induk hadis, kitab hadis Al-‘Amili ini tergolong sebagai kitab yang paling  banyak diakses oleh ulama. Di dalamnya telah tercatat hadis-hadis yang dinukil dari 80 kitab induk hadis, 70 dari jumlah itu dinukil dengan perantara, dan dicetak berkali-kali di Iran. Dapat dikatakan bahawa kaum Syi’ah sekarang lebih melekat pada kitab ini. Muhammad Al-‘Amili dilahirkan pada bulan Rajab 1033 dan wafat pada tahun 1204 H. di Thus-Khurasan (sebuah daerah di bahagian barat Iran)

Dan Syeikh Allamah Tsiqotul Islam Al-Husein ibn Allamah An-Nurie telah menghimpun hadis-hadis yang tidak dicatat oleh penulis Wasailusy Syi’ah, dan menyusunnya di dalam sebuah kitab berjilid berdasarkan susunan bab-bab kitab Wasailusy Syi’ah, dan meletakkan judul Mustadrokul Wasail wa Mustanbatul Masail padanya. Secara umum, kitab ini mempunyai bentuk yang lain dari kitab Wasailusy Syi’ah. Dan dapat dikatakan bahawa kitab Syeikh An-Nurie ini merupakan kitab hadis Syi’ah yang paling besar, di mana Syeikh telah menyelesaikannya pada tahun 1319 H. Beliau wafat pada 28 Jumadil Akhir 1320 H.

Dan masih banyak kitab-kitab induk hadis yang disusun oleh ulama-ulama besar hadis Syi’ah. Di antaranya ialah kitab Al-‘Awalim sebanyak 100 jilid, karya seorang ahli hadis yang tersohor bernama Syeikh Abdullah ibn Nurullah Al-Bahrani. Beliau hidup sezaman dengan Allamah Al-Majlisi, pengarang kitab Biharul Anwar yang telah kami singgung di atas tadi.

Selain Al-‘Awalim adalah kitab Syarhul Istabshor fi Ahaditsul Aimmatil Athhar yang disusunSyeikh Qosim ibn Muhammad ibn Jawad ke dalam beberapa jilid besar, mirip dengan kitab Biharul Anwar. Syeikh Qosim dikenali dengan panggilan Ibnu Al-Wandi dan panggilan Faqih Al-Kadzimi. Beliau hidup sezaman dengan Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr; pengarang kitab Wasailusy Syi’ah sebagaimana telah disinggung. Syeikh Qosim adalah salah seorang murid utama  datuk saya, Allamah Sayyid Nuruddin; saudara Sayyid Muhammad pengarang kitab Al-Madarik.

Selain itu adalah kitab Jami’ul Akhbar fi Idhohil Istibshor. Kitab ini tergolong kitab hadis yang besar yang disusun ke dalam banyak jilid oleh Syeikh Allamah Abdullatif ibn Ali ibn Ahmad ibn Abu Jami’ Al-Haritsi Al-Hamadani Asy-Syami Al-‘Amili. Beliau menimba ilmu dari Syeikh Al-Hasan ibn Abu Mansur ibn Asy-Syahid Syeikh Zainuddin Al-‘Amili, penulis kitab Al-Ma’alim dan Al-Muntaqo, dan salah seorang ulama abad keepuluh Hijriyah.

Pasal Kelapan: Kepeloporan Kaum Syi’ah dalam Menggagas Ilmu Dirayah dan Membahaginya ke Beberapa Cabang Utama

Orang pertama yang memulai perintisan dan penggagasan ilmu ini ialah Abu Abdillah Al-Hakimyang lahir di Naysabur (Khurasan-Iran). Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abdullah. Beliau wafat pada 405 H. Semasa hidupnya, Al-Hakim telah mengarang sebuah kitab yang berjudulMa’rifatu Ulumil Hadis setebal lima jilid, lalu membahagikan ilmu-ilmu hadis ke lima puluh cabang.

Kitab Kasyful Dzunun telah menyatakan kesaksiannya atas kepeloporannya dalam penggagasan ilmu Dirayah, dan mengatakan: “Orang pertama yang memulai penggagasan dan pembahagian ilmu Hadis ialah Muhammad ibn Abdullah dari Naysabur, kemudian diikuti oleh Ibnu Ash-Shalah.”

Sementara itu, Al-Jahidz As-Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al-Wasail fil Awail, bahawa orang pertama yang menyusun macam-macam ilmu Hadis dan membahaginya menjadi beberapa cabang yang masih dikenali sampai sekarang ialah Ibnu Ash-Shalah. Beliau wafat pada tahun 643 H.

Data ini tidaklah bertentangan dengan apa yang baru saja kami bawakan. Sebab, Al-Jahidz hendak menyebutkan orang pertama yang mengerjakan hal itu dari kaum Ahli Sunnah, sedangkan Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang Syi’ah berdasarkan kesepakatan para ulama Ahli Sunnah dan Syi’ah. Syeikh As-Sam’ani di dalam Al-Ansab, Syeikh Ahmad ibn Taimiyah dan Al-Jahidz Adz-Dzahabi di dalam Tadzkirotul Huffadz telah menyatakan secara tegas kesyi’ahan Al-Hakim.

Bahkan dalam Tadzkirotul Huffadz, misalnya, Adz-Dzahabi menuturkan kesaksian Ibnu Thahir yang mengatakan: “Aku bertanya kepada Abu Ismail Al-Anshari perihal Al-Hakim. Beliau berkata: ‘Beliau adalah perawi yang terpercaya di bidang hadis dan seorang Syi’ah yang penyimpang’”. Lalu Adz-Dzahabi mengatakan: “Lalu Ibnu Thahir berkata: ‘Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang syi’ah yang fanatik dalam taqiyah-nya, namun beliau menampakkan kesunniannya dalam permasalahan khilafah dan khalifah pertama setelah Nabi saw. Beliau berseberangan dengan Muawiyah dan sanak keluarganya seraya menampakkan pengakuannya pada mereka; suatu hal yang tidak dapat diterima pendiriannya ini.’”

Pada hemat saya, ulama-ulama kami, Syi’ah, juga telah menyatakan kesaksian mereka atas kesyi’ahan Abu Abdillah Al-Hakim, seperti Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr di akhir-akhir kitab Wasailusy Syi’ah. Di dalam Ma’alimul Ulama di bab ‘Al-Kuna’, ia menukil dari Ibnu Syarasyub yang menilai Al-Hakim sebagai salah seorang pengarang Syi’ah, dan beliau memiliki kitab tentang keutamaan-keutamaan Ahlul Bait serta sebuah kitab khusus tentang keutamaan-keutamaan Imam Ar-Ridha a.s. Mereka juga menyebutkan sebuah kitabnya khusus berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Fatimah Az-Zahra a.s.

Bahkan, Abdullah Afandi telah menerangkan riwayat hidup Al-Hakim secara terperinci dalam kitabnya; Riyadul ‘Ulama, di bahagian pertama yang secara khusus membahas Syi’ah Imamiyah. Begitu juga, Afandi menyebutkan nama-nya dan memberikan kesaksian atas kesyi’ahannya di bab ‘Al-Alqob’ dan di bab ‘Al-Kuna’. Di dalam kitab itu, beliau menyebutkan dua kitab Al-Hakim yang berjudul Ushul Ilmil Hadis dan Al-Makhal ila Ilmish Shohih. Afandi mengatakan: “Dan Al-Hakim telah mencatat hadis-hadis tentang Ahlul Bait yang tidak termaktub di dalam Shahih Al-Bukhari, seperti hadis ‘Ath-Thoirul Masywi’ dan hadis ‘Man Kuntu Maulahu.’”

Setelah Abu Abillah Al-Hakim, terdapat sekelompok tokoh ilmu Hadis dari kaum Syi’ah yang mengarang di bidang Dirayah. Di antara mereka ialah Sayyid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus Abul Fadhail. Dialah peletak istilah-istilah hadis Syi’ah Imamiyah berkenaan dengan pembahagian hadis kepada empat macam; shahih, hasan, muwatssaq dan dzaif. Ibnu Tawus wafat pada tahun 673 H.

Dan di antara mereka ialah Sayyid Allamah Ali ibn Abdul Hamid Al-Hasani. Beliau mengarang kitab Syarh Ushul Dirayatul Hadis. Beliau juga melaporkan dari Syeikh Allamah Al-Hilli ibn Al-Muthahhar dan Syeikh Zainuddin yang masyhur dengan gelar Syahid Tsani (sang syahid kedua), sebuah kitab bernama Ad-Dirayah fi Ilmid Dirayah dan syarahnya yang berjudul Ad-Dirayah.

Dan di antara mereka ialah Syeikh Al-Husein ibn Abdul Shomad Al-Haritsi Al-Hamadani; pengarang kitab Wushulul Akhyar ila Ushulil Akhbar, Syeikh Abu Mansur Al-Hasan ibn Zainudin Al-‘Amili; pengarang kitab Muqod-dimatul Muntaqo dan Ushul Ilmil Hadis, dan Syeikh Bahauddin Al-‘Amili pengarang kitab Al-Wajizah fi Ilmi Diroyahtul Hadis. Saya telah mensyarahi kitab terakhir ini dalam sebuah kitab yang saya namai dengan judul Syarah Nihayatud Dirayah, dan dicetak di India sampai menjadi kurikulum di sekolah-sekolah pendidikan agama.

Pasal Kesembilan: Tentang Orang Pertama yang Menyusun Ilmu Rijal dan Riwayat Hidup Para Perawi

Ketahuilah bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi Al-Qummi adalah seorang sahabat Imam Musa ibn Ja’far Al-Kadzim a.s., sebagaimana Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi mencatat hal ini di dalam kitab Ar-Rijal. Dan Abul Faraj Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest, di awal bahagian kelima pasal keenam mengenai riwayat tokoh-tokoh fiqih Syi’ah menyebutkan karya Al-Barqi di bidang ilmu Rijal. Di sana beliau mengatakan: “Dan di antara karya-karya Al-Barqi adalah Al-‘Awidh, At-Tabshiroh dan Ar-Rijal. Di dalam kitab terakhir ini, ia menyebutkan nama-nama yang meriwayatkan hadis-hadis dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.”

Setelah Al-Barqi ialah Abu Muhammad Abdullah ibn Jablah ibn Hayyan ibn Abhar Al-Kinani. Beliau telah mengarang kitab Ar-Rijal. Abdullah Al-Kinani berusia panjang dan wafat pada tahun 219 H.

As-Suyuthi dalam Al-Awail mengatakan: “Orang pertama yang membahas ilmu Rijal ialah Syu’bah.” Jelas, bahwa Syu’bah datang setelah Abdullah ibn Jablah, kerana yang pertama wafat pada tahun 260 H. Bahkan setelah Abdullah ibn Jablah dan sebelum Syu’bah, terdapat sahabat Imam Al-Jawad a.s. yang bernama Abu Ja’far Al-Yaqthini. Beliau juga telah menulis Kitabur Rijal, sebagaimana yang dicatat oleh An-Najasyi di dalam Al-Fehrest dan Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest.

Saya letakkan di sini, bahawa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi juga seorang sahabat imam Ahlul Bait, iaitu Imam Musa Al-Kadzim a.s. dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. Bahkan, ia juga sempat menjumpai Imam Muhammad Al-Jawad a.s. Kitab Al-Barqi masih terjaga utuh dan tersedia sampai sekarang. Di dalamnya disebutkan nama perawi-perawi yang meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib a.s. dan perawi-perawi setelah mereka. Kitab itu juga memuat tema penting Rijal mengenai Al-Jarah wat Ta’dil (penilaian kritis atas ihwal kehidupan para perawi), sebagaimana yang juga dibahas oleh semua kitab Rijal.

  • Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Al-Barqi yang mengarang kitab Ar-Rijal dan kitab Ath-Thabaqot. Abu Ja’far wafat pada tahun 274 H.
  • Syeikh Abul Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Dawud ibn Ali Al-Qummi yang dikenal juga dengan Ibnu Dawud; seorang ulama terkemuka Syi’ah. Beliau mengarang kitab Al-Mamduhin wal Madzmumin minar Ruwat, dan wafat pada tahun 368 H.
  • Syeikh Abu Ja’far Muhammad ibn Babaweih Ash-Shoduq yang mengarang kitab Ma’rifatur Rijal dan Kitabur Rijalil Mukhtarin min Ashabin Nabi saw. Beliau wafat pada tahun 381 H.
  • Syeikh Abu Bakar Al-Ji’ani yang dinyatakan oleh Ibnu Nadim bahawa beliau merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah. Al-Ji’ani mengarang kitab Asy-Syi’ah min Ashabil Hadits wa Thabaqotuhum. Tentang kitab ini, An-Najasyi mengatakan bahawa kitab itu dikarang dalam ukuran besar.
  • Syeikh Muhammad ibn Baththah yang mengarang kitab Asma’ Mushannifisy Syi’ah, dan wafat pada tahun 274 H.
  • Syeikh Nashr ibn Ash-Shabah Abul Qosim Al-Balkhi; guru Syeikh Abu Amr Al-Kasyi. Beliau mengarang kitab Ma’ri-fatun Naqilin min Ahlil Miah Tsalitsah.Beliau wafat pada tahun pada abad ketiga Hijriyah.
  • Ali ibn Al-Hasan ibn Fidhal; pengarang kitab Ar-Rijal.Beliau berada di generasi sebelum Syeikh Nashr Al-Balkhi.
  • Sayyid Abu Ya’la Hamzah ibn Al-Qosim ibn Ali ibn Hamzah ibn Al-Hasan ibn Ubaidilah ibn Al-Abbas ibn Ali ibn Abu Thalib a.s., yang mengarang kitab Man Rowa ‘an Ja’far ibn Muhammad minar Rijal. An-Najasyi mengatakan: “Kitab ini bagus, dan At-Tal’akbari meriwayatkan sijil pengakuan dan pengesahan darinya”. Hamzah ibn Qosim adalah ulama Syi’ah abad ketiga Hijriyah.
  • Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ali Abu Abdillah Al-Maharibi yang menyusun kitab bagus yang berjudul Ar-Rijal min Ulama Tsalitsah.
  • Al-Musta’thof Isa ibn Mehran; pengarang Kitabul Muhadditsin. Isa termasuk ulama terdahulu Syi’ah, demikian dicatat oleh Syeikh Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest.

Berikutnya, di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mengulas karangan-karangan Syeikh Ath-Thusi, An-Najasyi, Al-Kasyi, Allamah ibn Al-Muthahhar Al-Hilli, Ibnu Dawud dan generasi-generasi yang mengarang kitab tentang ilmu Rijal. Dan hingga kini, semua karya mereka masih menjadi rujukan dalam usaha menilai kualiti peribadi para perawi (Al-jarah wa Ta’dil).

Perlu dibubuhkan di sini, bahawa Abul Faraj Al-Qannani Al-Kufi; guru An-Najasyi, mempunyai karangan di bidang ini, berjudul Kitab Mu’jam Rijalil Mufadhal, dan menyusunnya sesuai dengan urutan huruf Hijaiyah.

.

setiausaha Agung Majma’ Ahlul Bait;
 Kemenangan, kegemilangan Iran dan Syiah hari ini terhutang budi dengan Khomeini
Setiausaha Agung Majma’ Jahani Ahlul Bait menjelaskan, “Kemenangan, kegemilangan umat Islam Iran, kerohanian dan ajaran Syiah terhutang budi dengan kewujudan Imam Khomeini.”
Kemenangan, kegemilangan Iran dan Syiah hari ini terhutang budi dengan Khomeini
Setiausaha Agung Majma’ Jahani Ahlul Bait menjelaskan, “Kemenangan, kegemilangan umat Islam Iran, kerohanian dan ajaran Syiah terhutang budi dengan kewujudan Imam Khomeini.”Hujjatul Islam Muhammad Hasan Akhtari dalam majlis Pembaharuan Perjanjian Pekerja Majma’ Ahlul Bait dengan Pengasas Republik Islam Iran di makam Imam Ruhullah Al-Khomeini berkata, “10 Fajr (sepuluh hari kejatuhan Shah Iran setelah Imam Khomeini kembali dari buangan) tahun ini seperti tahun 57 di mana ia bertepatan dengan bulan Rabiul Awwal, kelahiran Rasulullah dan kelahiran Imam Ja’far.”Beliau menambah, “Kebangkitan Imam Khomeini mencapai kejayaan di mana Rasulullah (s.a.w) juga mencapai kemenangan, dan beliau juga membentuk negara Islam seperti mana di semenanjung tanah Arab dahulu, iaitu bertepatan dengan permulaan kurun ke-15 Hijrah. Persamaan zaman ini menakjubkan dan menarik perhatian”.

Hujjatul Islam Akhtari menerangkan bahawa kita dapat menyaksikan kemenangan dan kebangkitan Islam dalam hari-hari ini di berbagai lokasi di mana ia semakin berkembang setiap hari.

“Alangkah gembiranya kita menyaksikan setiap hari makam Imam Khomeini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat.”

Beliau menjelaskan, “Kemenangan, kegemilangan dan kebanggaan umat Islam Iran, kerohanian dan ajaran Syiah di zaman ini adalah terhutang budi dengan kewujudan Imam Khomeini.”

Hujjatul Islam Akhtari menambah, “Andainya nama Islam diperkenalkan dari lokasi dunia yang jauh, namun berkat dengan kewujudan Imam Khomeini dan khalifah setelah beliau hari ini Ayatullah Al-Uzma Khamenei, panji-panji beliau dipacak dengan teguh dan berani sambil berdiri menghadapi kuasa angkuh dan mustakbirin dunia.”

Beliau menegaskan, “Hari ini berkat Revolusi Islam Iran, kita saksikan pemimpin kuasa angkuh dunia seperti presiden Amerika bukan hanya tidak popular di kalangan masyarakat dunia, bahkan ia tidak popular juga di kalangan rakyatnya sendiri.”

Hujjatul Islam Ahktari di akhir ucapannya menyatakan harapan agar masyarakat Iran meneruskan apa yang mereka lakukan sekarang ini dengan perlawanan, berdiri teguh dan revolusi Islam dihubungkan dengan kebangkitan Imam Mahdi (a.s).