ghadir kum dan ulil amri yang ditinggalkan sunni

MEDIEVAL II: TOTAL WAR ~ SB

Surat AN-NISA’: 59
Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya? Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Fakhrur Razi
Fakhrur Razi mengatakan: Pembatasan kata Ulil-amri dengan kata minkum menunjukkan salah seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, yaitu orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan Ishmah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah). Yang perlu diragukan adalah pendapat yang mengatakan: Mereka (Ulil-amri) adalah satu kesatuan pemimpin, yang ketaatan kepada masing-masing mereka hukumnya wajib

.

Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah masyhur digunakan dalam bahasa Al-Qur’an, misalnya: “janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)” (Al-Qalam: 8), “Janganlah kamu mentaati orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 52), dan ayat-ayat yang lain dalam bentuknya yang bermacam-macam: kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita, kalimat perintah dan larangan.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Tafsir Al-Manar
Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan

.

Inikah maksud dari Ulil-amri? Pendapat ini dan yang punya pandangan seperti ini telah menutupi makna Al-Qur’an yang sempurna dengan makna yang tidak jelas. Ayat ini mengandung makna yang jelas yaitu Ismah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah) bagi Ulil-amri. Karena ketaatan kepada Ulil-amri bersifat mutlak, dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

.
Apakah yang mempunyai sifat kesucian (‘ishmah) adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu sehingga mereka dikatagorikan sebagai orang-orang yang ma’shum? Yang jelas tidak pernah terjadi para Ahlul hilli wal-‘Iqdi yang mengatur urusan ummat, mereka semuanya ma’shum. Mustahil Allah swt memerintahkan sesuatu yang penting tanpa mishdaq (ekstensi) yang jelas. Dan mustahil sifat ‘ishmah dimiliki oleh lembaga yang orang-orangnya tidak ma’shum, bahkan yang sangat memungkinkan mereka berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Pendapat mereka ini jelas salah dan mengajak pada kesesatan dan kemaksiatan. Mungkinkah Allah mewajibkan kita taat kepada orang-orang seperti mereka?

.

Pendapat Ahlul Bait (as)
Ulil-amri adalah Ali bin Abi Thalib dan para Imam suci (as).

Dalam Tafsir Al-‘Ayyasyi tetang ayat ini menyebutkan bahwa:
Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata tentang ayat ini: “Mereka itu adalah para washi Nabi saw.”
Tentang ayat ini Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari Ahlul bait Rasulullah saw.”
Tentang ayat ini Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari kiamat.”

.

Dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah disebutkan suatu riwayat dari Salim bin Qais Al-Hilali, ia berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Yang paling dekat bagi seorang hamba terhadap kesesatan adalah ia yang tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka wa Ta’ala. Karena Allah telah menjadikannya sebagai hujjah bagi hamba-hamba-Nya, dia adalah orang yang kepadanya Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaatinya dan mewajibkan untuk berwilayah kepadanya

.
Salim berkata: Wahai Amirul mukmin, jelaskan kepadaku tentang mereka (Ulil-amri) itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang ketaataannya kepada mereka Allah kaitkan pada diri-Nya dan Nabi-Nya.” Kemudian ia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Ulil-amri kalian.”
Salim bin Qais berkata: Wahai Amirul mukminin, jadikan aku tebusanmu, jelaskan lagi kepadaku tentang mereka itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasulullah saw disampaikan di berbagai tempat dalam sabda dan khutbahnya, Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku: Kitab Allah dan ‘itrahku, Ahlul baitku’.”

.

Riwayat hadis ini dan yang semakna dengan hadis tersebut terdapat dalam:

1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat ini.
2. Tafsir Ath-Thabari tentang ayat ini.
3. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3 halaman 357, tentang ayat ini.
4. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134, cet. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul.
5. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
6. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 424, cet. pertama, Teheran.
7. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

.

Hadis tentang dua belas Imam redaksinya bermacam-macam, saya hanya menyebutkan sebagian saja:
1. Dalam Shahih Bukhari juz 4, kitab Ahkam:
Diriwayatkan oleh Jabir bin Sammarah, ia berkata bahwa Nabi saw bersabda:

يكون بعدي إثنا عشر أميراً، فقال كلمة لم أسمعها، فقال أبي أنه قال كلهم من قريش

“Sesudahku ada dua belas amir (pemimpin)”. Kemudian beliau menyabdakan suatu kalimat yang aku tidak mendengarnya; lalu ayahku mengatakan bahwa Nabi saw bersabda: “Mereka semuanya dari golongan Quraisy.”

2. Dalam Shahih Muslim, bermacam-macam redaksi:

جابر بن سمرة قال دخلت مع أبي على النبي (صلى الله عليه وآله) فسمعته يقول (إن هذا الامر لا ينقضي حتى يمضي فيهم إثنا عشر خليفة) قال ثم تكلم بكلام خفي علي قال: فقلت لابي ما قال، قال «كلهم من قريش»

Jabir bin Sammarah berkata: aku bersama ayahku datang kepada Nabi saw, lalu aku mendengar beliau bersabda: “Sungguh persoalan ini tidak akan selesai sehingga berada di bawah pimpinan dua belas khalifah.” Kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat yang tidak jelas bagiku. Kemudian aku bertanya kepada ayahku tentang apa yang diucapkan oleh beliau. Ayahku berkata bahwa Nabi saw bersabda: “semuanya dari quraisy.” (Shahih Muslim jilid 4, halaman 79).

Nabi saw bersabda:

لا يزال الدين قائماً حتى تقوم الساعة ويكون عليهم إثنا عشر خليفة كلهم من قريش

“Agama akan selalu tegak sampai hari kiamat di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari golongan quraisy.” (Shahih Muslim jilid 2, bab manusia mengikuti Qurasy). Sebagian lagi redaksinya:

لا يزال الاسلام عزيزاً إلى اثنى عشر خليفة كلهم من قريش

“Islam selalu mulia di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari quraisy.” Redaksi yang lain:

لا يزال أمر الناس ماضياً ما وليهم إثنا عشر رجلاً كلهم من قريش

“Persoalan manusia senantiasa sempurna di bawah pimpinan dua belas orang, semuanya dari quraisy.” Sebagian redaksinya:

لا يزال هذا الدين عزيزاً منيعاً إلى إثنا عشر خليفة كلهم من قريش

“Agama ini akan selalu mulia dan terjaga di bawah pimpinan dua belas khalifah, semuanya dari quraisy.”

3. Shahih At-Turmidzi, jilid 2:

لا يزال الاسلام عزيزاً إلى اثنى عشر امـيرا كلهم من قريش

“Islam akan selalu tegak di bawah pimpinan dua belas amir yang semuanya dari quraisy.”

4. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 398:

عن الشعبي عن مسروق قال كنا جلوساً عند عبد الله بن مسعود وهو يقرئنا القرآن فقال له رجل يا أبا عبد الرحمن هل سألتم رسول الله (صلى الله عليه وآله) كم تملك الامة من خليفة فقال عبد الله بن مسعود ما سألني عنها أحد منذ قدمت العراق قبلك ثم قال نعم ولقد سألنا رسول الله (صلى الله عليه وآله)فقال اثنا عشر كعدة نقباء بني إسرائيل

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi dari Masyruq, ia berkata, aku pernah duduk-duduk dengan Abdullah bin Mas’ud, ia membacakan ayat Al-Qur’an kepada kami. Kemudia ada seseorang bertanya kepadanya: wahai Aba Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasulullah saw berapa jumlah khalifah yang akan memimpin ummat. Kemudian Ibnu Mas’ud menjawab: Ya, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw, lalu beliau bersabda: “Dua belas khalifah seperti jumlah pemimpin Bani Israil.”

Dalam redaksi yang lain:

عن جابر بن سمرة قال سمعت رسول الله (صلى الله عليه وآله) يقول في حجة الوداع لا يزال هذا الدين ظاهراً على من ناواه ولا يضره مخالف ولا مطارق حتى يمضي من امتي إثنا عشر أميراً كلهم من قريش

Diriwayatkan dari Jabir bin Sammarah, ia berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda dalam haji wada’: “Agama ini selalu jelas pada orang yang bermaksud padanya, dan membahayakan padanya orang yang menentang dan menyerangnya, sehingga berlalu dari ummatku dua belas amir yang semuanya dari quraisy.” (Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 5, halaman 89).

5. Shawa’iqul Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 11, pasal 2:

عن جابر بن سمرة أن النبي صلى الله عليه وآله قال: «يكون بعدي إثنا عشر أميراً كلهم من قريش.

Diriwayatkan dari Jabir bin Sammarah bahwa Nabi saw bersabda: “Akan ada sesudahku dua belas amir semuanya dari quraisy.”

6. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi, jilid 6, halaman 160:

عن النبي صلى الله عليه وآله أنه قال: يكون بعدي إثنا عشر خليفة

Dari Nabi saw, beliau bersabda: “Akan ada sesudahku dua belas khalifah.”

7. Dalam Kitab Yanabi’ul Mawaddah oleh Al-Qunduzi Al-Hanafi, bab 95:

جابر بن عبدالله قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله) يا جابر أن اوصيائي وأئمة المسلمين من بعدي أولهم علي، ثم الحسن، ثم الحسين، ثم علي بن الحسين، ثم محمد بن علي المعروف بالباقر ستدركه يا جابر فإذا لقيته فاقراه مني السلام، ثم جعفر بن محمد، ثم موسى بن جعفر، ثم علي بن موسى، ثم محمد بن علي، ثم علي بن محمد، ثم الحسن بن علي، ثم القائم اسمه اسمى وكنيته كنيتي ابن الحسن ابن علي ذاك الذي يفتح الله تبارك وتعالى على يديه مشارق الارض ومغاربها، ذاك الذي يغيب عن أوليائه غيبة لا يثبت القول بامامته الا من امتحن الله قلبه للايمان قال جابر: فقلت يا رسول الله فهل للناس الانتفاع به في غيبته؟ فقال اي والذي بعثني بالنبوة انهم يستضيئون بنور ولايته في غيبته كانتفاع الناس بالشمس وان سترها سحاب هذا سر مكنون سر الله ومخزون علم الله فاكتمه الا عن أهله

Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Wahai Jabir, sesungguhnya para washiku (penerima wasiatku) dan para Imam kaum muslimin sesudahku adalah pertama Ali, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Al-Baqir dan kamu akan menjumpainya wahai Jabir, dan jika kamu menjumpainya sampaikan padanya salamku; kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Al-Hasan bin Ali; kemudian Al-Qaim, namanya sama dengan namaku, nama panggilannya sama dengan nama panggilanku, yaitu putera Al-Hasan bin Ali, di tangan dialah Allah tabaraka wa ta’ala membuka kemenangan di bumi bagian timur dan barat, dialah yang ghaib dari para kekasihnya, ghaib yang menggoncangkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya kecuali orang yang hatinya telah Allah uji dalam keimanan. Kemudian Jabir berkata, aku bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, apakah manusia memperoleh manfaat dalam keghaibannya? Nabi menjawab: Demi Zat Yang Mengutusku dengan kenabian, mereka memperoleh cahaya dari cahaya wilayahnya (kepemimpinannya) dalam keghaibannya seperti manusia memperoleh manfaat cahaya matahari walaupun matahari itu tertutup oleh awan; inilah rahasia Allah yang tersimpan dan ilmu Allah yang dirahasiakan, Allah menyimpannya kecuali dari ahlinya.

.

Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum, setelah haji wada’, di hadapan kurang lebih 150.000 sahabat, di bawah terik matahari yang sangat panas, sambil memegang tangan Imam Ali bin Abi Thalib (as). Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang paling mutawatir, tidak ada satupun hadis Nabi saw yang melebihi kemutawatiran hadis Al-Ghadir.

من كنت مولاه فعـلي مولاه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

من كنت مولاه فإنّ عليّاً مولاه، اللهمّ عاد من عاداه ووال من والاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka sesungguhnya Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, musuhi orang yang memusuhinya, dan cintai orang yang mencintainya.”

Zaid bin Arqam juga mengatakan bahwa Rasulullah saw:

من كنت وليّه فهذا وليّه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

“Sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin setiap mukmin.” Kemudian beliau memegang tangan Ali (as) seraya bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan pemimpinnya, maka ini adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpin, maka ini Ali adalah pemimpinnya.”

Hadis-hadis tersebut terdapat di dalam:
1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.
2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.
3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.
4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.
5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.
6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.
7. Khashaish Amirul mu’minin (as), halaman 96, cet Kuwait 1406 H.
8. Fadhilah ash-Shahabah, halaman 15, Dar kutub ilmiyah, Bairut.
9. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 533, Dar fikr, Bairut 1398 H.
10. Majma’ az-Zawaid, jilid 9, halaman 104-105, Dar kitab Al-Arabi, Bairut 1402 H.
11. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 213, hadis ke: 271,277,278,279,281,460,461 dan 465; jilid 2, halaman 14, hadis ke: 509,510,519,520,524,525,529,530,531,533,534,536,537,538,540,541,542,551,554,555,556,557,563,564,574,575,577,578,579 dan 587,cet. Pertama, Bairut.
12. Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami Asy-Syafi’I, jilid 9, halaman: 103,105,106,107 dan 108.
13. Kanzul ‘Ummal jilid 15, halaman: 91,92,120,135,143,147 dan 150, cetakan. Kedua.
14. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 94,95 dan 50, cet. Al-Haidariyah.
15. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110.
16. Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 26.
17. Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 5, halaman 369; jilid3, halaman 274; jilid 5, halaman 208.
18. Jami’ul Ushul, oleh Ibnu Atsir, jilid 9, halaman 468.
19. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 79,94 dan 95.
20. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 182.
21. Nizham Durar As-Samthin, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, halaman 112.
22. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I, halaman 19, hadis ke: 24,23,30,31,32,34 dan 36.
23. Al-Hawi, oleh As-Suyuthi, jilid 1, halaman 122.
24. Al-jarh wat-Ta’dil, oleh Abi Hatim, jilid 4, halaman 431, cet. Haidar Abad.
25. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman: 31,33,36,37,38,181,187,274.
26. Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67.
27. Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305,372 dan 567; jilid 2, halaman 257,382,408 dan 509; jilid 3, halaman 542; jilid 4, halaman 80.
28. Al-Aghani, oleh Abil Farj Al-Isfahan, jilid 8, halaman 307.
29. Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’I, halaman 169, cet. As-Sa’adah, Mesir; halaman 65, cet Al-Maimaniyah, Mesir.
30. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 275.
31. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman: 58,60,62 dan 286, cet. Al-Ghira.
32. Al-Imamah was Siyasah, oleh Ibnu Qataibah, jilid 1, halaman 101.
33. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 157, hadis ke: 210,212 dan 213.
34. Sirr Al-‘Alamin, oleh Al-Ghazali, halaman 21.
35. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-Umari, jilid 3, halaman 243.
36. Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 222,223 dan 224.
37. At-Tarikh Al-Kabir, oleh Al-Bukhari, jilid 1, halaman 375, cet. Turki.
38. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 63 dan 66.
39. Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 228.
40. Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman: 211,212,213 dan 214; jilid 7, halaman: 338,348,448 dan 334.
41. Al-Manaqib, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
42. Wafaul Wafa’, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
43. Miftahun Naja, oleh Al-Badkhasyi, halaman 58.
44. Taysirul Wushul, oleh Ibnu Ar-Rabi,, jilid 2, halaman 147.
45. Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghadi, jilid 8, halaman 290.
46. Al-Kina wal- Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 1, halaman 160, cet. Haidar Abad.
47. Nizham An-Nazhirin, halaman 39.
48. Al-Jarh wat-Ta’dil, oleh Ibnu Mundzir, jilid 4, halaman 431.
49. Asy-Syadzarat Adz-dzahabiyah, halaman 54.
50. Akhbar Ad-Duwal, oleh Al-Qurmani, halaman 102.
51. Dzakhair Al-Mawarits, oleh An-Nabilis, jilid 1, halaman 213.
52. Kunuzul Haqaiq, oleh Al-Mannawi, huruf Mim, cet. Bulaq.
53. Arjah Al-Mathalib, oleh Syaikh Abidillah Al-Hanafi, halaman: 564,568,570,471,448,581,36 dan 579.
54. Muntakhab min shahih Bukhari wa Muslim, oleh Muhammad bin Utsman Al-Baghdadi, halaman 217.
55. Fathul Bayan, oleh Haasan Khan Al-Hanafi, jilid 7, halaman 251, cet, Bulaq
56. Al-Arba’in, oleh Ibnu Abil Fawaris, halaman 39.
57. Al-I’tiqad ‘Ala Madzhab As-Salaf, oleh Al-Baihaqi, halaman 182.
58. Al-Mu’tashar minal Mukhtashar, jilid 2, halaman 332, cet. Haidar Abad.
59. MawdhihAwhamil Jam’I Wat-Tafriq, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 1, halaman 91.
60. At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 337.
61. Al-Bayan Wat-Ta’rif, oleh Ibnu Hamzah, jilid 2, halaman 230.
62. Al-Adhdad, halaman 25 dan 180.
63. Al-‘Utsmaniyah, oleh Al-Jahizh, halaman 134 dan 144.
64. Mukhtalib Al-Ahadist, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 52.
65. An-Nihayah, oleh Ibnu Atsir Al-Jazari, jilid 4, halaman 346, cet. Al-Muniriyah, Mesir.
66. Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 244, cet. Al-Kaniji, Mesir.
67. Duwal Al-Islam, jilid 1, halaman 20.
68. Tadzkirah Al-Huffazh, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 10.
69. Al-Mawaqif, oleh Al-Iji, jilid 2, halaman 611.
70. Syarah Al-Maqashid, oleh At-Taftajani, jilid 2, halaman 219.
71. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 30.
72. Faydhul Qadir, oleh Al-Mannawi Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 57.
73. Atsna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif Al-Maratib, halaman 221.
74. Ar-Rawdh Al-Azhar, oleh Al-Qandar Al-Hindi, halaman 94.
75. Al-Jami’ Ash-Shaghir, oleh As-Suyuthi, hadis ke 900.
76. Al-Mu’jam Al-Kabir, oleh Ath-Thabrani, jilid 1, halaman 149 dan 205.
77. Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hambal, hadis ke: 91,822 dan 139.
78. Al-Kamil, oleh Ibnu ‘Adi, jilid 2, halaman 20.
79. Asy-Syaraf Al-Muabbad Li-Ali Muhammad, oleh An-Nabhani Al-Bairuti, halaman 111.
80. Maqashid Ath-Thalib, oleh Al-Barzanji, halaman 11.
81. Al-Fathu Ar-Rabbani, jilid 21, halaman 312.

Perawi hadis Al-Ghadir
1. Muhammad bin Ishaq, shahibus Sirah.
2. Mu’ammar bin Rasyid
3. Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i).
4. Abdur Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani, guru Bukhari.
5. Said bin Manshur, shahibul Musnad.
6. Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), shahibul Musnad.
7. Ibnu Majah Al-Qazwini.
8. At-Turmidzi, shahibush Shahih.
9. Abu Bakar Al-Bazzar, shahibul Musnad.
10. An-Nasa’i.
11. Abu Ya’la Al-Mawshili, shahibul Musnad.
12. Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, penulis Tafsir dan Tarikh.
13. Abu Hatim Ibnu Hibban, shahibush Shahih.
14. Abul Qasim Ath-Thabrani, penulis Mu’jam.
15. Abul Hasan Ad-Daruqudni.
16. Al-Hakim An-Naisaburi, shahibul Mustadrak.
17. Ibnu Abd Al-Birr, penulis Al-Isti’ab.
18. Khathib Al-Baghdadi, penulis Tarikh Baghdad.
19. Abu Na’im Al-Isfahani, penulis Hilyatul Awliya’ dan Dalailun Nubuwwah.
20. Abu Bakar Al-Baihaqi, penulis Sunan Al-Kubra.
21. Al-Baghawi, penulis Mashabih As-Sunnah.
22. Jarullah Az-Zamakhsyari, penulis tafsir Al-Kasysyaf.
23. Fakhrur Razi, mufassir.
24. Ibnu Asakir Ad-Damsyiqi, penulis tarikh Damsyiq.
25. Adh-Dhiya’ Al-Muqaddasi, shahibul Mukhtarah.
26. Ibnu Atsir, penulis Usdul Ghabah.
27. Abu Bakar Al-Haitsami, hafizh besar, penulis Majmauz zawaid.
28. Al-Hafizh Al-Muzzi, penulis Tahdzibul kamal.
29. Al-Hafizh Adz-Dzahabi, penulis Talkhish al-Mustadrak.
30. Al-Hafizh Al-Khathib At-Tabrizi, penulis Misykatul Mashabih.
31. Nizhamuddin An-Naisaburi, mufassir terkenal.
32. Ibnu Katsir, mufassir. Mengakui kemutawatiran hadis Al-Ghadir (lihat: Al-Bidayah wan-Nihayah 5/213).
33. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, penulis syarah Bukhari (Fathul Bari).
34. Al-Ayni Al-Hanafi, penulis Umdatul Qari fi syarh shahih Bukhari.
35. Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi.
36. Ibnu Hajar Al-Makki, penulis Ash-Shawaiqul Muhriqah.
37. Syeikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi, penulis Kanzul Ummal.
38. Syeikh Nuruddin Al-Halabi, penulis Sirah Al-Halabi.
39. Syah Waliyullah Ad-Dahlawi, penulis banyak kitab, masyhur dengan julukan Allamah Al-Hindi.
40. Syihabuddin Al-Khafaji, pensyarah Asy-Syifa’ dan penta’liq tafsir Al-Baidhawi.
41. Az-Zubaidi, penulis Tajul ‘Arus.
42. Ahmad Zaini Dahlan, penulis Sirah Ad-Dahlaniyah.
43. Syeikh Muhammad Abduh, mufassir dan pensyarah Nahjul Balaghah.

Kemutawatiran Hadis Al-Ghadir
Hadis Al-Ghadir Kemutawatirannya diakui oleh jalaluddin As-Suyuthi, di dalam:
1. Al-Faraid Al-Mutaksirah fil Akhbar Al-Mutawatirah.
2. Al-Azhar Al-Mutanatsirah fil Akhbar Al-Mutawatirah.

Pernyataan As-Suyuthi tentang kemutawatiran hadis Al-Ghadir ini dikutip oleh:
1. Allamah Al-Mannawi, di dalam At-Taysir fi Syarhi Al-jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 442.
2. Allamah Al-‘Azizi, dalam Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 3, halaman 360.
3. Al-Mala Ali Al-Qari Al-Hanafi, di dalam Al-Mirqat Syarhul Misykat, jilid 5, halaman 568.
4. Jamaluddin ‘Athaullah bin Fathlullah Asy-Syirazi, dalam kitabnya Al-Arba’ina; dan rujuk pula: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 123.
5. Al-Mannawi Asy-Syafi’I, di dalam kitabnya At-Taysir fi-Syarhi Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 123.
6. Mirza Makhdum bin Mir Abdul Baqi, di dalam An-Nawaqish ‘Ala Ar-Rawafidh; dan rujuk: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 121.
7. Muhammad bin Ismail Al-Yamani Ash-Shina’ani, di dalam kitab Ar-Rawdhah An-nadiyah. Rujuk: Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 294; dan Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 127.
8. Muhammad Shadr ‘Alim, dalam kitab Ma’arij Al-‘Ali fi Manaqib Al-Murtadha; silahkan rujuk: Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 294; dan Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 127.
9. Syaikh Abdullah Asy-Syafi’I, di dalam kitabnya Al-Ar-Ba’in.
10. Syaikh Dhiyauddin Al-Muqbili, di dalam kitabnya Al-Abhats Al-Musaddadah fil Funun Al-Muta’addidah; dan rujuk: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 125.
11. Ibnu Katsir Ad-Damsyiqi, di dalam Tarikhnya, dalam Tarjamah Muhammad bin Jarir Ath-thabari.
12. Abu Abdillah Al-Hafizh Adz-Dzahabi. Pernyataannya tentang Kemutawatiran hadis Al-ghadir dikutip oleh Ibnu Katsir, dalam Tarikhnya, jilid 5, halaman 213-214.
13. Al-Hafizh Al-Jazari. Ia menyebutkan kemutawatiran Hadis ini dalam kitabnya Asna Al-Mathalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib, halaman 48.
14. Syaikh Hisamuddin Al-Muttaqi, ia menyebukan kemutawatiran hadis ini dalam kitabnya Mukhtashar Qithful Azhar Al-Mutanatsirah.
15. Muhammad Mubin Al-Kahnawi, di dalam kitab Wasilah An-najah fi Fadhail As-Sadat, halaman 104.

Jumlah Sahabat yang bersama Nabi saw di Ghadir Khum
Ulama berbeda pendapat tentang jumlah sahabat yang menyertai Nabi saw di Ghadir Khum:

Sebagian pendapat mengatakan: 90.000 sahabat.
Sebagian pendapat mengatakan: 114.000 sahabat.
Ada yang mengatakan: 120.000 sahabat.
Dan ada juga yang menyatakan: 124.000 sahabat.

Pernyataan tersebut terdapat dalam:
1. Tadzkirah Al-Khawwash, oleh As-Sabth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, halaman 30.
2. As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 257.
3. As-Sirah An-Nabawiyah oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 3.
4. Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 1, halaman 9.

Perawi Hadis Al-Ghadir dari kalangan sahabat nabi saw
Seratus sepuluh sahabat Nabi saw yang meriwayatkan hadis Al-Ghadir, mereka adalah:

1. Abu Hurairah, wafat pada tahun 57/58/59 H.Silahkan rujuk : Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 8, halaman 290 ; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 327 ; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 130 ; Asna Al-Mathalib, halaman 3 ; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 2, halaman 259 ; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114 ; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Ad-Damsyiqi, jilid 5, halaman 214.
2. Abu Layli Al-Anshari, ia terbunuh pada perang shiffin tahun 37 H. Silahkan rujuk: Al-Manaqib, oleh Khawarizmi, halaman 35; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114.
3. Abu Zainab bin ‘Auf Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 408.
4. Abu Fudhalah Al-Anshari, terbunuh pada perang shiffin. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.
5. Abu Qudamah Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 276.
6. Abu ‘Amrah bin ‘Amr bin Muhshin Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307.
7. Abu Al-Haitsami At-Tihan, terbunuh pada perang shiffin; silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
8. Abu Rafi’ Al-Qibthi. Silahkan rujuk : Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
9. Abu Dzuwaib Khawailid bin Khalid bin Mahrats, wafat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Silahkan rujuk: Maqtal Al-Husain.
10. Abu Bakar bin Quhafah, wafat tahun 13 H. Silahkan rujuk: An-Nakhbul Manaqib, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; hadis Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, halaman 3.
11. Usamah bin Zaid bin Haritsah, wafat tahun 54 H. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, tentang Hadis Wilayah, jilid 5, halaman 205; Nakhbul Manaqib.
12. Ubay bin Ka’b Al-khazraji, wafat tahun 30/31 H. Silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib.
13. As-ad bin Zurarah Al-Anshari. Silahkan rujuk: An-Nakhbu, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; Al-Wilayah, oleh Abu Said Mas’ud As-Sijistani; Asna Ath-Thalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, oleh Ibnu ‘Uqdah.
14. Asma’ binti ‘Amis Al-Khats’amiyah. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
15. Ummu Salamah istri Nabi saw. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40. Wasilah Al-Maal, oleh Syaikh Ahmad bin Fadhl bin Muhammad Al-Makki Asy-Syafi’i.
16. Ummu Hani binti Abi Thalib (as). Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40; Musnad Al-Bazzar; Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari Al-Khazraji, Khaddam Nabi saw, wafat tahun 93 H. Rujuk: Tarikh Baghad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 7, halaman 377; Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 403; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Nuzul Abrar; oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari; halaman 4.
18. Barra’ bin Azib Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 72 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 28 dan 29; Khashais Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Tarikh Baghdad; jilid 14, halaman 236; Tafsir Ath-Thabari, jilid 3, halaman 428; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Ar-Riyadh An-Naadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 25; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 14; Tafsir Fahrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Misykatul Mashabih, halaman 557; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, Halaman 397; Al-Bidayah wan-nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209.
19. Buraidah bin Al-Hashib Abu Sahl Al-Aslami, wafat tahun 63 H. Rujuk: Al-Mustadark Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3; Tarikh Al-Hkulafa’, halaman 114; Al-Jami’ Ash-shaghir, jilid 2, halaman 555; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 367; Miftahun Naja, halaman 20; Tafsir Al-Manar, jilid 6, halaman 464.
20. Abu Said Tsabit bin Wadi’ah Al-Anshari Al-Khazraji Al-Madini. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
21. Jabir bin Sammah bin Junadah Abu Sulaiman As-Suwai, wafat setelah tahun 70 H; dalam Al-Ishabah, ia wafat tahun 73 H. Rujuk: Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209;Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.
22. Jabir bin Abdullah Al-Anshari, wafat di Madinah tahun 73/74/78 H. Rujuk: Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 41; Asna Ath-Thalib, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67..
23. Jabalah bin Amr Al-Anshari.
24. Jubair bin Math’am, wafat tahun 57/58/59 H. Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 69; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 31 dan 336.
25. Jarir bin Abdullah bin Jabir, wafat tahun 51/54 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 114; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 399.
26. Abu Dzar Jundab bin Junadah Al-Ghifari, wafat tahun 31, Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Nakhbul Manaqib. Oleh Al-Ju’abi; Faraid As-Samthin; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Asma Ath-Thalib, oleh, oleh Syamsuddin Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 4.
27. Abu Junaid Junda’ bin Amr Al-Anshari: rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 308; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
28. Habbah bin JuJuwayn Abu Qudamah Al-‘Urani, wafat tahun 76/79 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 103; Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 276; Al-Kina wal-Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 2, halaman 88; Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 367; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 372.
29. Hubsyi bin Junadah As-Saluli. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 169; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
30. Habib bin Badil bin Waraqah Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368.
31. Hudzaifah bin usaid Abu Sarihah Al-Ghifari, wafat tahun 40/42 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Al-fushulul Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh, halaman 25; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 209/jilid 7, halaman 348; Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, halaman 25; As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 301; Majma’uz Zaawaid, jilid 9, halaman 165; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tarikh Ali Muhammad, halaman 68.
32. Hudzaifah bin Al-Yaman Al-Yamani, wafat tahun 36 H. Rujuk Da’atul Huda Ila Haqqil Muwalat, oleh Al-Hakim Al-Haskani; Asna Al-Muthalib, oleh Al-Jazari, halaman 4.
33. Hassan bin Tsabit, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama, silahkan rujuk syairnya dan biografinya.
34. Al-Imam Al-Mujtaba’ Al-Hasan (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
35. Al-Imam As-Syahid Al-Husain (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari, syahid pada perang Rumawi tahun 50/51/52 H. Rujuk: Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169; Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6/jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 209; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 2, halaman 154; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, jilid 7, halaman 780/jilid 6, halaman 223/jilid 2, halaman 408, cet. Pertama; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
37. Abu Sulaiman Khalid bin Walid bin Al-Mughirah Al-makhzumi, wafat tahun 21/22 H. Rujuk: An-Nakhbu.
38. Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshari, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37. Rujuk: Usdul ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
39. Abu Syuraih Khawailid/ Ibnu ‘Amr Al-Khaza’I, wafat tahun 68 H.
40. Rifa’ah bin Abdul Mundzir Al-Anshari. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakbul Manaqib; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi.
41. Zubair bin ‘Awwam, terbunuh tahun 36 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, halaman 3.
42. Zaib bin Arqam Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 66/68 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368; Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Al-Kina Wal-Asma’, jilid 2, halaman 61; Shahih Muslim, jilid 2, halaman 325, cet. Tahun 1327;Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi, jilid 2, halaman 199; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 109, 118 dan 533; Ar-Riyad An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 3, halaman 169; At-Talikhish, oleh Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 533; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi jilid 3, halaman 224; Mathalib As-Saul, oleh Ibnu Thalhah, halaman 16; Majma’uz Zawaid, oleh Abu Bakar Al-Haitsami, jilid 9, halaman 104 dan 163; Syarhul Madzahib, oleh Az-Zarqani Al-Maliki, jilid 7, halaman 13; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 208; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 14; Tarikh Al-hkulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 338; Raiyadh Ash-Shalihin, halaman 557; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 19 dan 21; Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 350.
43. Abu Saiz Zaid bin Tsabit, wafat tahun 45/48; Rujuk: Asna Al-Mathalib, halaman 4.
44. Zaid/Yazid bin syarahil Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 2, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 567; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
45. Zaid bin Abdullah Al-Anshari. Rujuk: hadis Al-wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
46. Abu Ishaq Sa’d bin Abi Waqash, wafat tahun 54/55/56/58 H. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3,4,18 dan 25; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 30; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 116;Hilyatul Awliya’, oleh Al-Hafizh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 4, halaman 356; Musykil Al-Atshar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi Al-Hanafi, jilid 2, halaman 309;Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16 dan 151; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 5, halaman 212/jilid 7, halaman 340; Tarikh Al-Khulafa’, oleh Jamaluddin As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 405; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
47. Sa’d bin Junadah Al-‘Awfi ayah dari ‘Athiyah Al-‘Awfi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; An-Nakhbu; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi.
48. Sa’d bin ‘Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 14/15 H. Rujuk: An-Nakhbu, oleh Qadhi Abu Bakar Al-Ju’abi.
49. Abu Said Sa’d bin Malik Al-Anshari Al-Khudri (Abu Said Al-Khudri), wafat tahun 63/64/65/74 H, di makamkan di Baqi’. Rujuk Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 80; Al-Fushulul Muhimah, oleh Ibnu Shabagh Al-Maliki, halaman 27; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsammi, jilid 9, halaman 108; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 14; Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 349 dan 350; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Ad-Durrul Mantsur, jilid 2, halaman 259 dan 298; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390 dan 403; Tafsir An-Manar, jilid 6, halaman 463; Asna Al-Mathalib, oleh Al-Kazari, halaman 3.
50. Said bin Zaid Al-Quraisyi Al-‘Adawi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.
51. Said bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
52. Abu Abdillah Salman Al-Farisi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Al-Nakhbu; Faraid As-Samthin; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
53. Abu Muslim Salamah bin ‘Amr bin Aku’ Al-Aslami, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
54. Abu Sulaiman Sammarah bin Jundab Al-Firusi, wafat di Basrah tahun 58/59/60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakhbul Manaqib; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
55. Sahl bin Hunaif Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 38 H.Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
56. Abdul Abbas Sahl bin Sa’d Al-Anshari Al-Khazraji As-Sa’di, wafat tahun 91 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
57. Abu Imamah Ash-Shudi Ibnu Ajlan Al-Bahili, wafat tahun 86 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
58. Dhamrah Al-Asadi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dalam Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi, disebut Dhamrah bin Hadid dan ia mengiranya Dhamrih bin Jundab atau Ibnu Habib.
59. Thalhah bin Abidillah At-Tamimi, terbunuh pada perang Jamal tahun 36. Rujuk: Muruj Adz-Dzahab, oleh Al-Ma’udi, jilid 2, halaman 11; Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 171; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 112; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Jam’ul Jawami’, oleh As-Suyuthi; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3.
60. ‘Amir bin ‘Umair An-Numairi. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 255.
61. ‘Amir bin Layli bin Dhamrah. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92 ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257 ; Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 93.
62. ‘Amir bin Layli Al-Ghifari ; Rujuk : Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257.
63. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah Al-Laytsi, wafat tahun 100/102/108/110 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 30 dan 118/jilid 4, halaman 370; Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 15 dan 17; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 26,31 dan 298; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109,110 dan 533; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92/jilid 5, halaman 376; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93 dan 217; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-syafi’I, halaman 15; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 179; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211/jilid 7, halaman 246 dan 348; Al-Ishabah, jilid 4, halaman 159/jilid 2, halaman 252; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 38.
64. ‘Aisyah binti Abi Bakar bin Quhafah, istri Nabi saw. Rujuk : Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
65. ‘Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, paman nabi saw. Wafat tahun 32 H. Rujuk: Asna Al-Mathalib, oleh Al-Jarazi Asy-Syafi’I, halaman 3.
66. ‘Abdurrahman bin Abdi Rabb Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 408; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
67. Abu Muhammad Abdurrahman bin Auf Al-Qarasyi Az-Zuhri, wafat tahun 31/32 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Asna Al-Mathalib, halaman 3.
68. ‘Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Dili. Rujuk: Hadis Al-Wilayah;Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
69. Abdullah bin Ubay, Abdul Asad Al-Makhzumi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
70. Abdullah bin Badil bin Waraqah pemimpin suku Khaza’ah, terbunuh pada perang shiffin.
71. Abdullah bin Basyir Al-Mizani. Rujuk Al-Wilayah.
72. Abdullah bin Tsabit Al-Anshari. Rujuk; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
73. Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib Al-Hasyimi, wafat tahun 80 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dan baca Argumennya terhadap Muawiyah dengan hadis Al-Ghadir.
74. Abdullah bin Hanthab Al-Qarasyi Al-Makhzumi. Rujuk; Ihyaul Mayyit, oleh As-Suyuthi.
75. Abdullah bin Rabi’ah. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
76. Abdullah bin Abbas, wafat tahun 68 . Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 7; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 331; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 132; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 7, halaman337;Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 108; Al-Kifayah, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 115; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 22, halaman 509; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Mttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Tarikh Al-Khulafa’,oleh Jalauddin Asd-Suyuthi, halaman 114; Syamsul Akhbar, oleh Al-Qarasyi, halaman 38; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20 dan 21; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 348; Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Dan Rujuk pula Ayat Tabligh dan Ayat Ikmaluddin.
77. Abdullah bin Ubay, wafat tahun 86/87 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
78. Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Al-‘Adawi, wafat tahun 72/73. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
79. Abu Abdurrahman Abdullah bin Ma’ud, wafat tahun 32/33 H. rujuk: Ayat Tabligh dalam Ad-Durrul Mantsur, oleh Jalaluddin As-Suyuthi, jilid 2, halaman 298; Tafsir Asy-Syaukani, jilid 2, halaman 57; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
80. Abdullah bin Yamin/Yamil. Rujuk : Al-Mufradat, tentang Hadis Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah : Usdul Ghabah , jilid 3, halaman 274 ; Al-Ishabah, jilid 2, halaman 382 ; Yanabi’ul Mawaddah 34.
81. Utsman bin Affan, wafat tahun 35 H. Rujuk: Al-Mufradat tentang hadis wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.
82. ‘Ubaid bin ‘Azib Al-Anshari, saudara Al-Barra’ bin Azib.
83. Abu Thuraif ‘Adi bin Hatim, wafat tahun 68 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
84. ‘Athiyah bin Bashir Al-Mazini. Rujuk : Hadis Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
85. ‘Uqdah bin ‘Amir Al-Juhhani, seorang Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Muawiyah selama 3 tahun, wafat sekitar tahun 60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
86. Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 348; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 337; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Musykil Al-Atsar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi, jilid 2, halaman 307; Al-bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 211; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154,397,399 dan 406; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi, jilid 2, halaman 303; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.
87. Abu Yaqzhan Ammar bin Yasir, syahid pada perang Shiffin tahun 37, rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, jilid 222, halaman 273; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
88. Ammarah Al-Khazraji Al-Anshari, terbunuh pada perang Yamamah, Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 65.
89. Umar bin Abi Salamah bin Abdi Asad Al-Makhzumi, anak tiri nabi saw, ibunya adalah Ummu Salamah istri Nabi saw, wafat tahun 83. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
90. Umar bin Khaththab, terbunuh tahun 23 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I; Ar-Riyath An-Nadharah, oleh Mihibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’I, jilid 2, halaman 161; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Asna Al-Mathalib,m halaman 3; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 249.
91. Abu Najib Imran bin Hashin Al-Khaza’I, wafat tahun 52 H. di Basrah. Rujuk: Hadis Al-wilayah; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
92. Amer bin Hamq Al-Khaza’I Al-Kufi, wafat tahun 50 H. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Hadis Al-Wilayah.
93. Amer bin Syarahil. Rujuk: Maqatal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
94. Amer bi Ash. Rujuk: Al-Imamah Was-Siyasah, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 93; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 126.
95. Amer bin Marrah Al-Juhhani Abu Thalhah atau Abu maryam, Rujuk: Al-Mu’jam Al-Kabir; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154.
96. Ash-Shiddiqah Fatimah Az-Zahra’ binti Nabi saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Mawaddah Al-Qurba, oleh Syihabuddin Al-Hamdani.
97. Fatimah binti Hamzah bin Abdul Muthalib, rujuk: Hadis Al-Wilayah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Mantsur Ar-Razi.
98. Qais bin Tsabit bin Syamas Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.
99. Qais bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama. Rujuk: Argumennya terhadap Muawiyah bin Abi Sofyan dengan hadis Al-Ghadir.
100. Abu Muhammad Ka’b bin Ajrah Al-Anshari Al-Madani, wafat tahun 51 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
101. Abu Sulaiman Malik bin Huwairats Al-Laytsi, wafat tahun 74 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Imam Al-hanabilah Ahmad bin Hambal; hadis Al-Wilayah; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 108; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhayi, halaman 20.
102. Miqdad bin Amer Al-Kandi Az-Zuhri, wafat tahun 33 H. rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
103. Najiyah bin Amer Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 543.
104. Abu Barzah Fadhlah bin Utbah/’Abid/Abdullah Al-Aslami, wafat di Khurasan tahun 65 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
105. Nu’man bi Ajlan Al-Anshari, Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
106. Hasyim Al-Marqal Ibnu Utbah bin Waqash Az-Zuhri Al-Madani, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37 H. Rujuk: Udul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.
107. Abu Wasamah wahsyi bin Harbi Al-Hamashi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
108. Wahab bin Hamzah. Rujuk: Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
109. Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah As-Suwai, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
110. Abu Murazim Ya’la bin Marrah bin Wahab Ath-Tsaqali. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 233/jilid 3, halaman 93/jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 3, halaman 543.

Perawi Hadis Al-Ghadir dari Kalangan Tabi’in
Delapan puluh empat Tabi’in yang meriwayatkan hadis Al-Ghadir, mereka adalah:
1. Abu Rasyid Al-Hubrani Asy-Syami (namanya Khidir/Nu’man). Dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 419, Ibnu Hajar mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 2, halaman 302.
2. Abu Salamah (Namanya Abdullah, sebagian mengatakan: Islami) Ibnu Abdur Rahman bin Auf’ Az-Zuhri Al-Madani. Khulashah Al-Khazraji, halaman 380, mengatakan ia adalah seorang faqih; Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 422, mengatakan: Ia seorang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari
3. Jabir Al-Anshari. Rujuk: Al-‘Umdah, halaman 56.
4. Abu Sulaiman Al-Muadzdzin, dalam At-Taqrib (dikatakan Abu Salman), salah seorang tabi’in terkemuka. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mininm Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, oleh Ibnu Abil Hadid, jilid 2, halaman 362.
5. Abu Shahih As-Samman Dzikwan Al-Madani mawla Juwairiyah Al-Ghithfaniyah. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 78: ia adalah salah seorang manusia yang agung dan terpercaya, wafat tahun 101 H. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Umar bin Khathhab. Rujuk: Ayat Tabligh; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 161.
6. Abu ‘Anfuwanah Al-Mazini. Ia meriwayatkan dari Abu Junaidah Junda’ bin ‘Amer bin Mazin Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 308.
7. Abu Abdur Rahim Al-Kindi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 308.
8. Abul Qasim Ashbagh bin Nubatah At-Tamimi Al-Kufi. Al-‘Ajali dan Ibnu Mu’in mengatakan ia adalah seorang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari. Rujuk: Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169; Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6/jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205.
9. Abu Layly Al-Kindi. Sebagian mengatakan namanya Salamah bin Muawiyah, sebagian mengatakan Said bin Basyar. Dalam At-Taqrib dikatakan ia adalah seorang tabi’in terkemuka dan terpeyaca. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-Manaqib, tentang Ali bin Al-Husain, oleh Ahmad bin Hambal: bercerita kepada kami Ibrahim bin Ismail dari ayahnya, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Layli Al-Kindi, ia berkata: Aku mendengar Zaid bin Arqam berkata, ketika kami menunggu jenazah ada seorang bertanya: Wahai Aba ‘Amir, apakah kamu mendengar Rasulullah saw bersabda kepada Ali pada hari Ghadir Khum: “Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya? “Ia menjawab: Ya. Beliau menyabdakan hadis itu sebanyak empat kali.
10. Iyas bin Nudzair. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim jilid 3, halaman 371.
11. Jamil bin ‘Umarah. Ia meriwayatkan dari Salim bin Abdillah bin Umar bin Khaththab, dari Umar bin Khaththab. Rujuk : Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 213.
12. Haritsah bin Nashr. Meriyatakan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abvi Thalib (as). Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 40.
13. Habib bin Abi Tsabit Al-Asadi Al-Kufi. Adz-Dzahabi mengatakan ia seorang faqih dari tabi’in yang terpercaya, ia wafat tahun 117/119 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam Al-Anshari. Rujuk : At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 103 ; Tahdzib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 104 ; Al-khashaish, oleh An-Nasa’i, halaman 15 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109 dan 533 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109 dan 533 ; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 208 ; Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
14. Al-Harits bin Malik. Ia meriwayatkan dari Abu Ishaq Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16.
15. Al-Husain bin Malik bin Al-Huwairats. Ia meriwayatkan dari ayahnya Abu Sulaiman Malik bin Al-huwairats Al-Laytsi. Rujuk Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 108; Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Al-Manaqib, oleh Imam Al-Hanabilah Ahmad bin Hambal.
16. Hakam bin ‘Utaibah Al-Kufi Al-Kindi. Adz-dzahabi mengatakan dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 104: Ia seorang faqih dan terpercaya, penulis Sunnah wa Atba’, wafat tahun 114/115 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Hilyatul Awliyah’.
17. Hamid bin ‘Umarah Al-Khazraji Al-Anshari. Ia meriwayatkan dari ayahnya ‘Umarah bin Al-Khazraji Al-Anshari. Rujuk: Mama’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107.
18. Hamid Ath-thawil Abu ‘Ubaidah Ibnu Abi Hamid Al-Bishri, wafat tahun 143. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 136: Hamid adalah seorang Hafizh dan Muhaddist terpercaya dan salah seorang tokoh ahli hadis. Ia meriwayatkan dari Said bin Al-Musayyab, dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah Al-Kufi.
19. Khutsaimah bin Abdur Rahman Al-Ja’fi Al-Kufi. Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Tahdzib, jilid 3, halaman 179 mengatakan: Ia adalah seorang terpecaya dan wafat tahun 80 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 116.
20. Rabi’ah Al-Jurasyi, terbunuh tahun 60/61/74 H. Dalam At-Taqrib, halaman 123 dikatakan: Ia adalah seorang faqih dan dinyatakan terpecaya oleh Ad-Daruquthni dan lainnya. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-‘Umdah, halaman 48.
21. Abul Mutsanna Riyah bin Harits An-Nakhfi Al-Kufi. Dalam kitabnya At-Taqrib Ibnu Hajar mengatakan ia adalah salah seorang tabi’in terkemuka; dan dalam At-Tahdzib dikatakan: Abul Mutsanna adalah tabi’in yang terpercaya. Rujuk Hadis Ar-Rukban.
22. Abu ‘Amer zadzan bin Umar Al-Kindi Al-Bazzar atau “Al-Bazzaz.” Al-Kufi. Dalam Mizanul I’tidal, Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah salah seorang tabi’in terkemuka. Dalam At-Tahdzib, jilid 3, halaman 303, Ibnu Hajar mengatakan: ia terpecaya, wafat tahun 82 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 84.
23. Abu Maryam Zirr bin Hubaisy Al-Asadi, ia seorang tabi’in terkemuka, wafat tahun 81/82/83 H. Dalam At-Tadzikirah, jilid 1, halaman 40, Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah Imam yang layak diteladani; dalam kitab At-Taqrib dikatakan ia adalah terpercaya dan mulia; At-Tahdzib, jilid, halaman 322, dan Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 181 dan 191 mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Syarah Al-Mawahib, oleh Al-Hafizh Abu Abdillah Az-Zarqani, jilid 7, halaman 13.
24. Ziyad bin Abi Ziyad. Al-haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid dan Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib mengatakan ia adalah seorang tabi’ain terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 88.
25. Zaid bin Yutsa’I Al-hamdani Al-Kufi. Ibnu hajar dalam At-Taqrib, halaman 136, mengatakan ia adalah tabi’in terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
26. Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab Al-Quraysi Al-‘Adi Al-Madani. Adz-Dzahabi mengatakan dalam At-tahdzkirah, jilid 1, halaman 77: Ia adalah seorang faqih, alim beramal, zuhud, dan mulia. Dalam At-Taqrib Ibnu hajar mengatakan: Ia adalah salah seorang faqih yang jujur, hidup sederhana seperti ayahnya, pemberi petunjuk dan pendiam, termasuk tiga tabi’in terkemuka, wafat tahun 106 H. Ia meriwayatkan dari ayahnya Abdullah bin Umar, dari kakeknya Umar bin Khaththab, Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 213, meriwayatkan dari kitab Ghadir Khum bagian pertama, oleh Ibnu Jarir; Tarikh Al-bukhari, jilid 1, halaman 375, bagian pertama; dan hadis Ar-Rukban. Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 213: Berceritera kepada kami Mahmud (Muhammad) bin ‘Auf Ath-tha-I, berceritera kepada kami Abdullah bin Musa, memberikan kepada kami Ismail bin Kasytith (Nasyith), dari Jamil bin ‘Umarah, dari Salim bin Abdullah bin Umar (Ibnu Jarir mengatakan dari Umar bin Khaththab), ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda sambil memegang tangan Ali: “Barang siap menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya, ya Allah, kasihi orang yang menolongnya dan musuhi orang yang memusuhinya.”
27. Said bin Jubair Al-Asadi Al-Kufi. Dalam At-tadzkirah, jilid 1, halaman 65, Adz-Dzahabi menyatakan: Ia adalah salah seorang tabi’in yang terpuji; dalam Khulashah Al-khazraji, halaman 116, dikatakan: ia adalah seorang terpercaya dan imam yang ucapannya dapat dijadikan hujjah; dalam At-Taqrib, halaman 133, dikatakan: ia adalah seorang faqih yang terpercaya, terbunuh di tangan Al-Hajjaj tahun 95 H; Tahdzibut Tahdzib, jilid 4, halaman 13, dari Ath-thabari, mengatakan: ia adalah seorang yang terpercaya dan hujjah bagi kaum muslimin. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Tarikh bnu Katsir, jilid 7, halaman 348. Ia meriwayat hadis Al-Ghadir dari Ibnu Abbas, dan Buraidah bin Hashib Abu Sahl Al-Aslami. Rujuk: Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 347.
28. Said bin Abi Hudd Al-Kufi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk: faraid As-Samthin, bab sepuluh.
29. Said bin Al-Musayyab Al-Qurasyi Al-Makhzumi, menantu Abu Hurairah, wafat tahun 94 H. Dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 47, Adz-Dzahabi mengatakan: Ahmad bin Hambal dan lainnya mengatakan bahwa hadis-hadis Mursal Said adalah Shahih, dan mengatakan juga bahwa Ibnu Al-Madani ilmu Said bin Al-Musayyab, dan bagiku tidak ada tabi’in yang lebih mulia darinya; Abu Nu’aim juga mengatakan dalam kitabnya Hilyatul Awliya’, jilid 2, halaman 161. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 356; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16.
30. Said bin Wahab Al-Hamdani Al-Kufi. Dalam Khualashah Tahdzibul Kamal, halaman 122, Ibnu Mu’in mengatakan: ia adalah orang yang terpercaya, wafat tahun 76 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin AbiThalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
31. Abu Yahya Salamah bin Kuhail Al-Hadhrami Al-Kufi, wafat tahun 121 H. Dalam Khulashah At-Tahdzib, halaman 136, dan At-Taqrib, halaman 154, dikatakan bahwa Ahmad dan Al-‘Ajali menyatakan dia adalah tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Habbah bin Juwain Abu Qudamah Al-‘Urani; Zaid bin Arqam Al-Anshari; Hudzaifah Al-Usaid Abu Sarihah. Rujuk: Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298.
32. Abu Shadiq Salim bin Qais Al-Hilali, wafat tahun 90 H. Ia banyak berhujjah dengan hadis Al-Ghadir dalam kitab-kitabnya yang ada di kalangan kami. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) dan Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani, jilid 1, halaman 157; Al-Fahras, oleh Ibnu Nadim, halaman 307; At-Tanbin Wal-Asraf, oleh Al-Mas’udi, halaman 198.
33. Abu Muhammad Sulaiman bin Mahran Al-A’masy. Ad-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 138: Ia wafat 147/148, lahir tahun 61 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam, dan Abu thufail Amir bin Watsilah Al-laytsi. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 15; Munasyadah Ar-Rahbah; ayat Tabligh; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 118.
34. Sahm bin Al-Hashin Al-Asadi. Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
35. Syahr bin Husyab. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah. Rujuk : Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 290.
36. Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali Abul Qasim, wafat tahun 105 H. Ahmad dan Ibnu Mu’in dan Abu Zar’ah mengatakan bahwa ia adalah seorang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al- Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 337 ; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 108, Dalam Faraid As-Samthin, Al-Hafizh Al-Hamwini, meriwayatkan dari Abul Qasim bin Ahmad Ath-Thabrani, dari Al-Husain An-Nairi, dari Yusuf bin Muhammad Ibnu Sabiq, dari Abu Malik Al-Hasan, dari Jawhar, dari Dhahhak, dari Abdullah bin Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda pada hari Al-Ghadir : « Ya Allah, berilah ia inayah dan turun inayah-Mu sebab dia, rahmati dia turunkan rahmat-Mu sebab dia, tolonglah dia turunkan pertolongan-Mu sebab dia ; ya Allah, sayangi orang yang menyayanginya, dan musuhilah orang yang memusuhinya. »
37. Thawus bin Kisan Al-Yamani Al-Jandi, wafat tahun 106 H. Ia meriwayatakan dari Buraidah. Rujuk : Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’im, jilid 4, halaman 20-23. Pada halaman 23 dikatakan : Berceritera kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Salim, berceritera kepada kami Muhammad bin Ali An-Nasa’I, berceritera kepada kami Husain Al-Asyqar, berceritera kepada kami Ibnu ‘Uyaynah, dari ‘Amer bin Dinar, dari Thawus, dari Buraidah, dari Nabi saw, beliau bersabda : « Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya. »
38. Thalhah bin Al-Musharrif Al-Ayyami (Al-Yamami) Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: Ia adalah terpercaya dan qari’ yang utama, wafat tahun 112 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mini Ali bin Abi Thalib (as), Anas bin Malik, dan Abu Hurairah. Rujuk: Hilyatul Awliya’, jilid 5, halaman 26.
39. ‘Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash Al-Madani. At-Taqrib, halaman 185 mengatakan: ia adalah tabi’in terpercaya yang ketiga, wafat tahun 104 H. ia meriwayatkan dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3,4 dan 18.
40. Aisyah binti Sa’d, wafat tahun 117 H. Dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 473 Ibnu Hajar mengatakan: Ia tabi’in terpercaya. Ia meriwayatkan dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-khaishaish, oleh An-Nasa’I, halaman 18; faraid As-Samthin; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 212.
41. Abdul Hamid bin Al-Mundzir bin Al-Jarud Al-‘Abdi. An-Nasa’I dan Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 224, mengatakan: Ia tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 276.
42. Abu Umarah Abdu Khayr bin Yazid Al-Madani Al-Kufi Al-Mukhadhrami. Ibnu Mu’in dan-‘Ajali mengatakan ia orang yang terpercaya, sebagiaman yang tertera di dalam kitab Al-Khulashah, halaman 269. Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 225: Ia orang yang terpercaya dan terpercaya dan termasuk tabi’in terkemuka. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk:Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 104; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 94.
43. Abdur Rahman bin Abi Layli, wafat tahun 82/83/86 H. Di dalaman Al-Mizan dikatakan: Ia termasuk para imam tabi’in dan terpercaya. Dalam At-Tadzkiran dikatakan sebagai seorang faqih, dan dalam At-Taqrib Ibnu Hajar mengatakan sebagai orang yang terpercaya. Ia meriwayatakan dari ayahnya Abu Layli Al-Anshari, dan Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Hadis Munasyadah Ar-Rahbah; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Al-manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 35; Al-Mustadrak Al-hakim, jilid 3, halaman 116; Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 356.
44. Abdur Rahman bin Sabith, dipanggil Ibnu Abdillah bin Sabith Al-Jamahi, ia terpercaya dan termasuk tabi’in thabaqat menengah, wafat tahun 118 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 340; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 38.
45. Abdullah bin As’ad bin Zurarah. Ia meriwayatkan dari ayahnya As-Ad bin Zurarah Al-Anshari. Rujuk: Asna Al-Mathalib, halaman 4; Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
46. Abu Maryam Abdullah bin Ziyad Al-Asadi Al-Kufi. Ibnu Hibban menggolongkannya sebagai orang yang terpercaya, Khulashah Al-khazraji, halaman 168; juga Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 130. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152.
47. Abdullah bin Syarik Al-‘Amiri Al-Kufi. Ahmad dan Ibnu Mu’in mengatakan ia seorang terpercaya, sebagaimana yang tertera di dalam kitab Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 2, halaman 46. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Kifayah, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16 dan 151.
48. Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Aqil Al-Hasyimi Al-Madani, wafat setelah tahun 140 H. Ia meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari. Rujuk: Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 213: Ibnu Jarir berkata bahwa Al-Muthallib bin Ziyad, dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Kami berada di Ghadir Khum, lalu Rasulullah saw datang kepada kami, lalu bersabda sambil memegang tangan Ali: “Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya.”
49. Abdullah bin Ya’la bin Marrah. Ia meriwayatkan dari ‘Amir bin Layli Al-Ghifari. Rujuk: Al-Ishabah, jilid 2, halaman 257; Hadis Al-Munasyadah; Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 93.
50. ‘Adi bin Sbabit Al-Anshari Al-Kufi Al-khathami, wafat tahun 116. Adz-Dzahabi mengatakan di dalam kitabnya Mizanul I’tidal, jilid 2, halaman 193; Ia adalah seorang tasyayu’ yang alim, jujur, dan imam masjid mereka. Ia meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281. 50. Abul Hasan ‘Athiyah bin Sa’d bin Junadah Al-‘Aufi Al-Kufi, wafat tahun 111 H. Ibnu Al-jauzi dalam kitabnya At-Tadzkirah, halaman 25, mengatakan ia adalah seorang terpercaya; juga Al-Hafizh Al-Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 109, dan Al-Yafi’I dalam kitabnya Mir’atul Jinan, jilid 1, halaman242, mengatakan: ia dicambuk oleh Al-Hajjaj sebanyak 400 kali karena tidak mau mengecam Ali bin Abi Thalib (as), dan ia pun tetap tidak mau mengecamnya. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 209; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 390; Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368.
51. Ali bin Zaid bin Jud’an Al-Bisri, wafat tahun 129/131 H. Ibnu Syaibah mengatakan ia seorang yang terpercaya dan jujur. Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik, dan Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk: Tarikh Baghdad, oleh Al-Khathib Al-Baghdadi, jilid 7, halaman 377; Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281.
52. Abu Harun ‘Umarah bin Juwain Al-‘Abdi, wafat tahun 134 H. Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, dan Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk:
53. Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Al-Amawi, wafat tahun 101 H. Rujuk: Hilyatul Awliya’, oleh Al-Hafizh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 364; Al-Aghani, oleh Abul Farj, jilid 8, halaman 156; Tarikh Damsyiq, Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 5, halaman 320; Faraid As-Samthin, oleh Al-Hamwini, bab ke 10; Nizham Durar As-Samthim, oleh Al-Hafizh Jamaluddin Az-Zarnadi.
54. Umar bin Abdul Ghaffar. Ia meriwayatkan hadis Munasyadah (sumpah) seorang pemuda terhadap Abu Hurairah di Masjid Kufah. Rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, jilid 1, halaman 360.
55. Umar bin Ali Amirul Mu’minin (as). Dalam kitab At-Taqrib dikatakan ia adalah termasuk tiga orang yang terpercaya, wafat pada masa pemerintahan Al-Walid, sebagian mengatakan sebelum masa pemerintahan Al-Walid. Ia meriwayatkan dari ayahnya Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211.
56. ‘Amer bin Ju’dah bin Hubairah. Ia meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya, dari Ummu Salamah (r.a). Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 40.
57. ‘Amer bin Marrah Abu Abdillah Al-Kufi Al-Hamdani, wafat tahun 116 H. Dalam Tahdzibut, jilid 8, dikatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya; dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 108, Adz-dzahabi mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya; dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 108, Adz-Dzahabi mengatakan ia aaadalah seorang tabi’in yang terpercaya dan kuat ingatannya. Ia meriwayatakan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi, jilid 2, halaman 303.
58. Abu Ishaq ‘Amer bin Abdillah As-Saba’I Al-Hamdani. Dalam kitabnya Mizanul I’tidal, Adz-Dzahabi mengatakan ia salah seorang tabi’in Kufah yang kuat ingatannya; di dalam kitab At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 101, ia dipuji; dalam kitab At-Taqrib disebutkan ia adalah seorang tabi’in terpercaya dan hidup sederhana, wafat tahun 127 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 29; Kifayah Ath-Thalib, halaman 14; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169.
59. Abu Abdillah ‘Amer (‘Amir) bin Maimun Al-Udi. Adz-Dzahabi menyebutkan di dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 56, Ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya dan memiliki jiwa kepemimpinan; dalam At-Taqrib, halaman 288, disebutkan ia adalah seorang yang terpercaya dan hidup sederhana. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al-khashaish, oleh An-Nasa’i halaman 7 ; Musnad bin Hanbal, jilid 1, halaman 331 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 132.
60. ‘Umar bin Sa’d Al-Hamdani Al-Kufi. Ibnu Hibban mengatakan ia seorang yang terpercaya, At-Taqrib menerimanya pujian itu. Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik dan Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Kanzul “Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 403.
61. ‘Umairah binti Sa’d bin Malik Al-Madani, saudara perempuan Sahl, Ummu Rifa’ah Ibnu Mubasysyir. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mini Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: hilyatul Awliya’, oleh Abu Nu’aim, jilid 5, halaman 26; Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 5, halmaan 211.
62. Isa bin Thalhah bin Abidillah At-Tamimi Abu Muhammad Al-Madani, salah seorang ulama yang dinyatakan dapat dipercaya oleh Ibnu Mu’in, wafat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, demikian juga dinyatakan Al-Khazraji dalam Khulashahnya, halaman 257. Ia meriwayatkan dari ayahnya Thalhah bin Abidillah. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 171; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 403.
63. Abu Bakar Fithr bin Khalifah Al-makhzumi mawlahum Al-Hannath; Ahmad, Ibnu Mu’in. Al-‘Ajali, dan Ibnu Sa’d menyatakan ia sebagai orang yang terpercaya dan jujur; atau lebih dari itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Tahdzibut Tahdzib. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail ‘Amirah bin Watsilah Al-Laytsi. Rujuk Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109; Udul Ghabah, jilid 3, halaman 92/jilid 5, halaman 376; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
64. Qabishah bin Dzulaib; biogarfinya dipuji oleh Adz-Dzahabi dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 53; Ibnu Hibban menyatakan dalam Khulashahnya, halaman 268, ia adalah seorang yang terpercaya; ia wafat tahun 87 H. Ia meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah. Rujuk: Asna Al-mathalib, oleh Al-Jazari, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-qadhi, halaman 6.
65. Abu Maryam Qais Ats-Tsaqafi; An-Nasa’I menyatakan ia sebagai orang yang terpercaya sebagaimana yang terdapat didalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 395. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152.
66. Muhammad bin Umar bin Abi Thalib, wafat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, sebagian mengatakan tahun 100 H; Ibnu Hibban mengatakan ia orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 348; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Musykilul Atsar, oleh Al-Hafizh Ath-thahawi, jilid 2, halaman 307.
67. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih Al-hamdani Al-Kufi Al-‘Aththar; Ibnu Mu’in dan Abu Zar’ah mengatakan ia orang yang teroercaya sebagaimana yang terdapat di dalam At-Tahdzib, halaman 321; Ibnu Hajar mengatakan dalam At-Taqrib ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390.
68. Muslim Al-Mula’i. Ia meriwayatkan dari ayahnya, dari Habban bin Juwain Al-‘Urani. Rujuk: Al-Ishabah, jilid 1, halaman 372; Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 367.
69. Abu Zurarah Mush’ib Sa’d Abi waqqash Az-Zuhri Al-Madani; Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 334, mengatakan ia orang yang terpercaya, wafat tahun 103 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Musykilul Atshar, oleh Al-Hafizh Ath-thahawi, jilid 2, halaman 309.
70. Muthallib bin Abdillah Al-Qurasyi Al-makhzumi Al-Madani; Abu Zur’ah dan daruqutni mengatakan ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Hanthab Al-Qurasyi Al-Makhzumi. Rujuk: Ihyaul Mayyit, oleh As-Suyuthi, dari Al-Hafizh Ath-Thabrani.
71. Mathrul Warraq. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah. Rujuk: Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 290.
72. Ma’ruf bin Khurbudz. Ibnu Hibban mengatakan ia terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail, dari Hudzaifah bin Usaid. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 5/209, 7/348.
73. Manshur bin Ruba’i. Ia meriwayatkan dari Hudzaifah Al-Yamani. Rujuk: At-Tadzkirah, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 127 dan 241; Da’atul Huda Ila Adail Haqqil Muwalat.
74. Muhajir bin Mismar Az-Zuhri Al-Madani; Ibnu Hibban mengatakan ia terpercaya. Ia meriwayatkan dari Sa’d Abi Waqqash. Rujuk: Al-khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3.
75. Musa bin Aktal bin ‘Umair An-Numairi. Ia meriwayatkan dari pamannya ‘Amir bin ‘Umair An-Numairi. Rujuk : Al-Ishabah, jilid 2, halaman 255.
76. Abu Abdillah Maimun Al-BishriMawla Abdur Rahman bin Sammarah. Ibnu Hibban mengatakan ia orang yang terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 111. Ibnu Hajar mengatakan di dalam Al-Qawlul Musaddad: Maimun dinyatakan terpercaya oleh bukan seorang ahli, dan sebagian dari mereka membicarakan sebagai hafizh, At-Tirmidzi menyatakan hadisnya shahih. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 61; Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 224; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Mttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 390.
77. Nadzir Adh-Dhabbi Al-Kufi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 371.
78. Hani bin Hani Al-Hamdani Al-kufi. An-Naasa’I meniadakan kelemahan darinya sebagaimana yang terdapat di dalam At-Taqrib. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 321.
79. Abu Balaj Yahya bin Salim Al-Fazari Al-Wasithi. Ibnu Mu’in dan An-Nasa’I serta Ad-Daruquthni mengatakan ia terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 383; dalam Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 109, Al-Hafizh Al-Haitsami juga mengatakan ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al-khashaish, oleh An-Nasa’i, halaman 7 ; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 331 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 131.
80. Yahya bin Ju’dah bin Hubairah Al-Makhzumi. Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya At-Taqrib, ia adalah termasuk tiga orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Ujuk: Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209.
81. Yazid bin Abi Yiyad Al-Kufi, salah seorang imam Kufah, wafat tahun 389, ia hidup selama 90 tahun. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 88.
82. Yazid bin Hayyan At-Tamimi Al-Kufi. Al-‘Ashimi dan An-Nasa’I mengatakan ia orang terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 370; Ibnu Hajar dalam Taqribnya mengatakan ia orang yang terpercaya dan termasuk tabi’in Thabaqat menengah. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Shahih Muslim, jilid 2, halaman 325, cet. Tahun 1327; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 102.
83. Abu Dawud Yazid bin Abdur Rahman bin Udi Al-Kufi; Ibnu Habban mengatakan ia orang yang terpercaya, dalam kitab Khulashah Al-khazraji, halaman 372. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah Ad-dausi. Rujuk: Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 214.
84. Abu Najih Yasar Ats-tsaqafi, wafat tahun 109 H. Ibnu Mu’in mengatakan ia terpercaya, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Khulashah Al-Khazraji, halaman 384. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 18.

Makna kata Mawla
Makna kata Mawla: kekasih, penolong, pelindung, dan pemimpin.
Hadis Al-Ghadir disampaikan oleh Rasulullah saw di depan kurang-lebih 150.000 sahabat, sesudah haji wada’, dalam situasi yang sangat penting. Tentu missi ini bukan missi yang sederhana, tetapi missi yang paling besar, paling menentukan masa depan Risalah Nabi saw, dan nasib kaum muslimin dan mukminin pasca Rasulullah saw. Di sini jelas, tidak mungkin kata Mawla bermakna kekasih, penolong dan pelindung, tapi jelas bermakna pemimpin. Karena kepemimpinan adalah puncak segala persoalan dalam Islam. Gagalnya kepemimpinan adalah kegagalan segala aspek kehidupan.

Dengan demikian jelaslah bahwa kata Mawla dalam hadis Al-Ghadir bermakna pemimpin, bukan kekasih, penolong atau pelindung. Kondisi kaum muslimin dewasa ini menunjukkan adanya kegagalan kepemimpinan Islam pasca Rasulullah saw. Kegagalan kepemimpinan Islam akan berdampak pada segala aspek kehidupan: Idiologi, politik, sosial, ekonomi, pendidikan; penyimpangan makna ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw, perselisihan, permusuhan, kezaliman, kesengsaraan kaum muslimin.

Hadis tentang Dua Belas Imam !!! Surga diharamkan bagi orang yang menzalimi dan memerangi Ahlul bait (sa)

Rome: Total War

Hadis tentang dua belas Imam redaksinya bermacam-macam, saya hanya menyebutkan sebagian saja:
1. Dalam Shahih Bukhari juz 4, kitab Ahkam:
Diriwayatkan oleh Jabir bin Sammarah, ia berkata bahwa Nabi saw bersabda:

يكون بعدي إثنا عشر أميراً، فقال كلمة لم أسمعها، فقال أبي أنه قال كلهم من قريش

“Sesudahku ada dua belas amir (pemimpin)”. Kemudian beliau menyabdakan suatu kalimat yang aku tidak mendengarnya; lalu ayahku mengatakan bahwa Nabi saw bersabda: “Mereka semuanya dari golongan Quraisy.”

2. Dalam Shahih Muslim, bermacam-macam redaksi:

جابر بن سمرة قال دخلت مع أبي على النبي (صلى الله عليه وآله) فسمعته يقول (إن هذا الامر لا ينقضي حتى يمضي فيهم إثنا عشر خليفة) قال ثم تكلم بكلام خفي علي قال: فقلت لابي ما قال، قال «كلهم من قريش»

Jabir bin Sammarah berkata: aku bersama ayahku datang kepada Nabi saw, lalu aku mendengar beliau bersabda: “Sungguh persoalan ini tidak akan selesai sehingga berada di bawah pimpinan dua belas khalifah.” Kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat yang tidak jelas bagiku. Kemudian aku bertanya kepada ayahku tentang apa yang diucapkan oleh beliau. Ayahku berkata bahwa Nabi saw bersabda: “semuanya dari quraisy.” (Shahih Muslim jilid 4, halaman 79).

Nabi saw bersabda:

لا يزال الدين قائماً حتى تقوم الساعة ويكون عليهم إثنا عشر خليفة كلهم من قريش

“Agama akan selalu tegak sampai hari kiamat di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari golongan quraisy.” (Shahih Muslim jilid 2, bab manusia mengikuti Qurasy). Sebagian lagi redaksinya:

لا يزال الاسلام عزيزاً إلى اثنى عشر خليفة كلهم من قريش

“Islam selalu mulia di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari quraisy.” Redaksi yang lain:

لا يزال أمر الناس ماضياً ما وليهم إثنا عشر رجلاً كلهم من قريش

“Persoalan manusia senantiasa sempurna di bawah pimpinan dua belas orang, semuanya dari quraisy.” Sebagian redaksinya:

لا يزال هذا الدين عزيزاً منيعاً إلى إثنا عشر خليفة كلهم من قريش

“Agama ini akan selalu mulia dan terjaga di bawah pimpinan dua belas khalifah, semuanya dari quraisy.”

3. Shahih At-Turmidzi, jilid 2:

لا يزال الاسلام عزيزاً إلى اثنى عشر امـيرا كلهم من قريش

“Islam akan selalu tegak di bawah pimpinan dua belas amir yang semuanya dari quraisy.”

4. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 398:

عن الشعبي عن مسروق قال كنا جلوساً عند عبد الله بن مسعود وهو يقرئنا القرآن فقال له رجل يا أبا عبد الرحمن هل سألتم رسول الله (صلى الله عليه وآله) كم تملك الامة من خليفة فقال عبد الله بن مسعود ما سألني عنها أحد منذ قدمت العراق قبلك ثم قال نعم ولقد سألنا رسول الله (صلى الله عليه وآله)فقال اثنا عشر كعدة نقباء بني إسرائيل

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi dari Masyruq, ia berkata, aku pernah duduk-duduk dengan Abdullah bin Mas’ud, ia membacakan ayat Al-Qur’an kepada kami. Kemudia ada seseorang bertanya kepadanya: wahai Aba Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasulullah saw berapa jumlah khalifah yang akan memimpin ummat. Kemudian Ibnu Mas’ud menjawab: Ya, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw, lalu beliau bersabda: “Dua belas khalifah seperti jumlah pemimpin Bani Israil.”

Dalam redaksi yang lain:

عن جابر بن سمرة قال سمعت رسول الله (صلى الله عليه وآله) يقول في حجة الوداع لا يزال هذا الدين ظاهراً على من ناواه ولا يضره مخالف ولا مطارق حتى يمضي من امتي إثنا عشر أميراً كلهم من قريش

Diriwayatkan dari Jabir bin Sammarah, ia berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda dalam haji wada’: “Agama ini selalu jelas pada orang yang bermaksud padanya, dan membahayakan padanya orang yang menentang dan menyerangnya, sehingga berlalu dari ummatku dua belas amir yang semuanya dari quraisy.” (Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 5, halaman 89).

5. Shawa’iqul Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 11, pasal 2:

عن جابر بن سمرة أن النبي صلى الله عليه وآله قال: «يكون بعدي إثنا عشر أميراً كلهم من قريش.

Diriwayatkan dari Jabir bin Sammarah bahwa Nabi saw bersabda: “Akan ada sesudahku dua belas amir semuanya dari quraisy.”

6. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi, jilid 6, halaman 160:

عن النبي صلى الله عليه وآله أنه قال: يكون بعدي إثنا عشر خليفة

Dari Nabi saw, beliau bersabda: “Akan ada sesudahku dua belas khalifah.”

7. Dalam Kitab Yanabi’ul Mawaddah oleh Al-Qunduzi Al-Hanafi, bab 95:

جابر بن عبدالله قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله) يا جابر أن اوصيائي وأئمة المسلمين من بعدي أولهم علي، ثم الحسن، ثم الحسين، ثم علي بن الحسين، ثم محمد بن علي المعروف بالباقر ستدركه يا جابر فإذا لقيته فاقراه مني السلام، ثم جعفر بن محمد، ثم موسى بن جعفر، ثم علي بن موسى، ثم محمد بن علي، ثم علي بن محمد، ثم الحسن بن علي، ثم القائم اسمه اسمى وكنيته كنيتي ابن الحسن ابن علي ذاك الذي يفتح الله تبارك وتعالى على يديه مشارق الارض ومغاربها، ذاك الذي يغيب عن أوليائه غيبة لا يثبت القول بامامته الا من امتحن الله قلبه للايمان قال جابر: فقلت يا رسول الله فهل للناس الانتفاع به في غيبته؟ فقال اي والذي بعثني بالنبوة انهم يستضيئون بنور ولايته في غيبته كانتفاع الناس بالشمس وان سترها سحاب هذا سر مكنون سر الله ومخزون علم الله فاكتمه الا عن أهله

Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Wahai Jabir, sesungguhnya para washiku (penerima wasiatku) dan para Imam kaum muslimin sesudahku adalah pertama Ali, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Al-Baqir dan kamu akan menjumpainya wahai Jabir, dan jika kamu menjumpainya sampaikan padanya salamku; kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Al-Hasan bin Ali; kemudian Al-Qaim, namanya sama dengan namaku, nama panggilannya sama dengan nama panggilanku, yaitu putera Al-Hasan bin Ali, di tangan dialah Allah tabaraka wa ta’ala membuka kemenangan di bumi bagian timur dan barat, dialah yang ghaib dari para kekasihnya, ghaib yang menggoncangkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya kecuali orang yang hatinya telah Allah uji dalam keimanan. Kemudian Jabir berkata, aku bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, apakah manusia memperoleh manfaat dalam keghaibannya? Nabi menjawab: Demi Zat Yang Mengutusku dengan kenabian, mereka memperoleh cahaya dari cahaya wilayahnya (kepemimpinannya) dalam keghaibannya seperti manusia memperoleh manfaat cahaya matahari walaupun matahari itu tertutup oleh awan; inilah rahasia Allah yang tersimpan dan ilmu Allah yang dirahasiakan, Allah menyimpannya kecuali dari ahlinya

.

the-elder-scrolls-iv-oblivion

Dalam Dzakhair Al-‘Uqba, halaman 20:
Ali bin Abi Thalib (as) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

إنّ الله حرم الجنة على من ظلم أهل بيتي أو قاتلهم أو أغار عليهم أو سبهم

“Sesungguhnya Allah mengharamkan surga bagi orang yang menzalimi Ahlul baitku, atau memerangi mereka, atau menyerang mereka, atau mencerca mereka.”

Dalam Nurul Abshar, Asy-Syablanji, halaman 100:
Rasulullah saw bersabda:

حرمت الجنة على من ظلم أهل بيتي وآذاني في عترتي … الحديث

“Diharamkan surga bagi orang yang menzalimi Ahlul baitku dan menyakitiku karena menyakiti ‘itrah(keturunan)ku….”

Hadis ini dan yang semakna terdapat dalam:
1. Kanzul Ummal, jilid 7 halaman 273. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik.
2. Tafsir Ad-Durrul Mantsur Jalaluddin As-Suyuthi, tentang tafsir surat Al-Kautsar.

MEDIEVAL II: TOTAL WAR ~ SB

Surat AN-NISA’: 59
Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya? Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Fakhrur Razi
Fakhrur Razi mengatakan: Pembatasan kata Ulil-amri dengan kata minkum menunjukkan salah seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, yaitu orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan Ishmah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah). Yang perlu diragukan adalah pendapat yang mengatakan: Mereka (Ulil-amri) adalah satu kesatuan pemimpin, yang ketaatan kepada masing-masing mereka hukumnya wajib

.

Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah masyhur digunakan dalam bahasa Al-Qur’an, misalnya: “janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)” (Al-Qalam: 8), “Janganlah kamu mentaati orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 52), dan ayat-ayat yang lain dalam bentuknya yang bermacam-macam: kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita, kalimat perintah dan larangan.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Tafsir Al-Manar
Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan

.

Inikah maksud dari Ulil-amri? Pendapat ini dan yang punya pandangan seperti ini telah menutupi makna Al-Qur’an yang sempurna dengan makna yang tidak jelas. Ayat ini mengandung makna yang jelas yaitu Ismah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah) bagi Ulil-amri. Karena ketaatan kepada Ulil-amri bersifat mutlak, dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

.
Apakah yang mempunyai sifat kesucian (‘ishmah) adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu sehingga mereka dikatagorikan sebagai orang-orang yang ma’shum? Yang jelas tidak pernah terjadi para Ahlul hilli wal-‘Iqdi yang mengatur urusan ummat, mereka semuanya ma’shum. Mustahil Allah swt memerintahkan sesuatu yang penting tanpa mishdaq (ekstensi) yang jelas. Dan mustahil sifat ‘ishmah dimiliki oleh lembaga yang orang-orangnya tidak ma’shum, bahkan yang sangat memungkinkan mereka berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Pendapat mereka ini jelas salah dan mengajak pada kesesatan dan kemaksiatan. Mungkinkah Allah mewajibkan kita taat kepada orang-orang seperti mereka?

.

Pendapat Ahlul Bait (as)
Ulil-amri adalah Ali bin Abi Thalib dan para Imam suci (as).

Dalam Tafsir Al-‘Ayyasyi tetang ayat ini menyebutkan bahwa:
Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata tentang ayat ini: “Mereka itu adalah para washi Nabi saw.”
Tentang ayat ini Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari Ahlul bait Rasulullah saw.”
Tentang ayat ini Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari kiamat.”

.

Dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah disebutkan suatu riwayat dari Salim bin Qais Al-Hilali, ia berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Yang paling dekat bagi seorang hamba terhadap kesesatan adalah ia yang tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka wa Ta’ala. Karena Allah telah menjadikannya sebagai hujjah bagi hamba-hamba-Nya, dia adalah orang yang kepadanya Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaatinya dan mewajibkan untuk berwilayah kepadanya

.
Salim berkata: Wahai Amirul mukmin, jelaskan kepadaku tentang mereka (Ulil-amri) itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang ketaataannya kepada mereka Allah kaitkan pada diri-Nya dan Nabi-Nya.” Kemudian ia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Ulil-amri kalian.”
Salim bin Qais berkata: Wahai Amirul mukminin, jadikan aku tebusanmu, jelaskan lagi kepadaku tentang mereka itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasulullah saw disampaikan di berbagai tempat dalam sabda dan khutbahnya, Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku: Kitab Allah dan ‘itrahku, Ahlul baitku’.”

.

Riwayat hadis ini dan yang semakna dengan hadis tersebut terdapat dalam:

1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat ini.
2. Tafsir Ath-Thabari tentang ayat ini.
3. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3 halaman 357, tentang ayat ini.
4. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134, cet. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul.
5. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
6. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 424, cet. pertama, Teheran.
7. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

peta perbandingan kekuatan militer Israel VS Iran !!! Komparasi Kekuatan Iran vs Israel !!!

Mantan kepala badan intelijen Israel (Mossad), Meir Dagan mengingatkan untuk tidak menyerang fasilitas nuklir Iran., pesawat-pesawat tempur Israel bisa menimbulkan kerusakan serius pada lokasi-lokasi nuklir Iran. Namun mereka akan menemui kesulitan dalam menggempur fasilitas nuklir bawah tanah di dekat Kota Qom. Para analis tersebut mengatakan, kekuatan Angkatan Udara AS jauh melampaui kemampuan militer Israel.


Akhir-akhir ini berita dunia disibukan dengan masalah perseteruan antara Blok Barat yang dikompori oleh Israel dan Republik Islam Iran, sebuah ‘konflik’ konyol yang sengaja di bikin oleh Zionis Israel dengan berbagai macam tuduhan dan false flag yang tengah digelontorkannya kepada Iran.  Seperti diketahui bahwa sejarah permusuhan antara blok Barat /Israel dengan Iran bermulai sejak Revolusi Islam berhasil menggulingkan kekuasaan Shah Iran pada tahun 1979 silam. akibat lepasnya Iran dari pengaruh Barat, otomotis membuat kekuatan barat berkurang drastis disamping kehilangan keuntungan dari pasokan minyak Iran

.

Berbagai upaya yang dilakukan Amerika untuk menjatuhkan Republik Islam yang terus mengalami berbagai kegagalan, upaya menfaatkan Saddam Hussein dengan menyerang Iran gagal total, Saddam yang sesumbar akan mampu menguasai Iran dalam waktu seminggu nyatanya justru kalah terpukul balik.

Permusuhan Israel – Iran kembali memanas ketika Iran mengembangkan teknologi Nuklir, padahal sudah jelas-jelas bahwa Iran untuk saat ini belum ‘mampu’ membuat bom nuklir dan lebih ditujukan untuk kebutuhan energi. Tapi yang namanya Blok Barat (Israel dan Z.O.G) tentunya suka mencari-cari kesalahan musuhnya, tengok aja negara2 yang menjadi teman Amerika, justru didukung kan proyek teknologi nuklir nya. Melihat ekslakasi konflik yang makin meningkat ketika pemimpin Israel melontarkan ancaman untuk menyerang Iran tanpa restu dari Amerika, sepertinya menarik untuk membandingkan kekuatan 2 negara yang lagi musuhan ini, siapa yang potensial untuk memenangkan pertempuran.

ISRAEL

Yups, Israel. Negara ‘jejadian’ yang didirikan oleh konglomerat Yahudi dan Organisasi Zionis pada tahun 1948, menempati promise land diantara Mesir dan Lebanon. yang memaksa jutaan rakyat Palestina mengungsi dan sisanya di tindas. Inilah Israel, negara terkuat di Timur Tengah, negara kecil yang mampu mengendalikan negara besar yang tergabung dalam Z.O.G (Zionist Occupied Government) yakni Amerika serikat, Inggris, Perancis, Jerman, dll. Di Amerika serikat, hampir seluruh sistem keamanananya dibuat oleh yahudi, termasuk media dan industrinya. FYI, sekitar 20  dari 44 presiden Amerika serikat adalah orang Yahudi pengikut the Zion (klo ga percaya, silahkann cek silsilah dan nama keluarganya). Otomatis, sebagai “penjaganya” Israel ,Amerika mau tak mau harus memenuhi kemauan negara ini, termasuk persenjataan militernya dan tentunya gratis.

Well, berkat dukungan tak terbatas dari USA kekuatan militer Israel menjadi yang terkuat di Timteng, belum senjata nuklirnya yang sengaja dirahasiakan. Namun yang jelas  kehebatan Israel ini bukan berarti tanpa cela, Israel akan keok klo pihak2 pendukungnya tak ada,belum mental pasukannya yang katanya pengecut, digertak langsung kabur. Melihat keadaan sekarang, Israel tak bisa menang melawan Iran kecuali Amerika mendukung penuh, belum efek yang diakibatkan serangan Israel ke Iran yakni, Hizbollah , Hamas, Irak ,Pakistan ,Afganistan dan Suriah yang sepertinya bakal membantu Iran. Sebuah perang yang penuh resiko dan mengancam kedamaian dunia, prediksi tentang Perang Dunia III pun bisa menjadi kenyataan. Hal yang di takuti dari Israel adalah badan intelejennya, Mossad yang cukup sukses mengemban misi rahasia, seperti membunuh para ilmuwan nuklir Iran dan membuat teror dimana-mana dengan menebar bom. Menurut GFP, untuk saat ini militer Israel berada diperingkat 10 Dunia >> cek yang cukup menjelaskan seberapa hebat kapasitas militer Israel.

IRAN

Sebuah Negara di Timur Tengah yang kaya akan minyak, yang dahulu disebut dengan nama Persia. Republik Islam Iran, didirikan imam besar Ayatullah Khomeini melalui Revolusi di tahun 1979 dengan menggulingkan Shah. Sampai saat ini, negara ini telah mengalami kemajuan yang pesat di berbagai bidang, terutama bidang nuklir dan persenjataannya, bahkan Iran mampu meluncurkan sendiri satelitnya ke orbit. Pertumbuhan ekonominya relatif  stabil, di  bidang Otomotif, Iran telah mampu memproduksi kendaraannya sendiri yang cukup memenuhi permintaan domestiknya. Jaringan Jalan raya di Iran adalah  salah satu yang terbaik di dunia, kondisinya mulus dan menghubungkan setiap kotanya dengan lancar.

Perkembangan Iran ini membuat jengkel blok barat, terutama setelah Iran berupaya mengembangkan teknologi nuklirnya sendiri, walhasil berbagai macam tekanan dari pihak barat ditujukan pada negeri mullah ini. Ibarat senjata makan tuan, tekanan barat justru membuat  Iran mandiri dan sukses memajukan ekonominya,  Minyaknya yang diembargo barat justru membuat beberapa negara Barat kelimpungan, sedangkan Iran sendiri masih memiliki banyak calon pembeli minyaknya yang lebih menguntungkan, seperti India dan China.

kemenangan Yom Kippur thn 1973 oleh serangan Mesir_Syiria, bukan krn dukungan Iran, krn msh dibawah Syah Iran…..yg mengembargo minyak adalah King Faisal dr Saudi Arabia, diikuti oleh NGC (negara negara arab teluk)….. ….tp KIng Faisal sendiri kemudian dibunuh, & digantikan ma yg lembek ke AS…

Militer Iran terbagi atas dua pasukan yaitu pasukan militer negara dan pasukan militer revolusi, yang lebih dikenal sebagai  Garda Revolusi atau Pasdaran, Pasukan inilah yang sukses menyerang balik Irak. Garda Revolusi adalah inti dari militer Iran yang bertugas menjaga eksistensi Republik Islam, yang uniknya komando tertinggi bukan pada presiden tapi pemimpin Tertingginya

Untuk mengalahkan Iran, tak cukup dengan kekuatan militer karena selama semua komponen di Iran bersatu padu, saat itu juga tak ada jalan bagi pihak asing untuk menaklukan Iran. Secara Kualitas persenjataan, semisal  Jet Tempur dan Tank, Israel jauh berada di atas Iran. Kebanyakan Alutsista Iran masih berasal dari peninggalan shah Iran, seperti jet tempur F14 Tomcat, F5, dll. Semasa Shah, Iran mendapat gelontoran alutsista canggih dari Amerika termasuk F14 yang hanya dimiliki Amerika dan Iran saja. Saat ini, pelan tapi pasti Iran mulai menunjukan kekuatan militernya, hasil dari industri dalam negerinya dan dimanfaatkan untuk menggertak Amerika cs. Yap, kekuatan terbesar Iran justru bukan di militernya, tapi sisi SoftPower nya. Gertakan Iran terbukti sukses membuat pihak barat Keder, peringkat militer Iran menurut GFP berada di urutan 12, terpaut 1 level dari rivalnya. bisa di cek >> sini

At least, bisa ane ambil kesimpulan sederhana bahwasanya Israel tak akan bisa menaklukan Iran, sedangkan iran bisa membuat Barat cenad cenud dengan gertakan dan diplomasinya. Tanpa dukungan penuh USA, Israel dijamin tak berani menyerang, dan seandainya USA mendukung penuh, walah Perang Dunia III nongol donk. Jadi tak ada yang kuat dan kalah, yang ada adalah bagaimana Perang dunia III bisa dihindari dengan damai..

//

peta kekuatan militer israel vs iran

Berkembangnya rumor tentang perang antara Israel VS Iran, mari kita bandingkan kekuatan militer kedua negara dengan objektif dengan merujuk dari beberapa sumber yang terkait.

IRAN

Personal :
Total pasukan aktif : 545.000 (diperkirakan saat ini mencapai 650.000)
Reserve (Cadangan) : 350.000
Paramiliter : 11.390.000

Anggaran militer/tahun : USD 6,2 miliar

Peralatan Tempur

Darat :
Tank : 1800
Armored Vehicle & Artileri : 670
Armored Carrier (pengangkut) : 865
* kondisi : Mostly older technology, maybe one to three full divisions of modern equipped (kebanyakan teknologi lama, kemungkinan hanya 3 divisi yg mengalami modernisasi)

Laut :
Frigate : 3
Corvette : 3
Kapal cepat / patroli : 68 (kapal jenis small Fast Attack & sea patrol)
Kapal selam : 3 (kilo class)
*Kondisi : Sebagian besar masih berteknologi lama, namun maintenance baik.

Udara :
Pesawat Tempur : 180
Jenis lain : 482 (pesawat angkut, latih, heli dll)
*Kondisi : Kebanyakan berteknologi lama, maintenance dan modernisasi kurang baik. Kemungkinan hanya 2 skuadron yg dimaintenance & modernisasi dengan baik.

Rudal Balistik :
CSS-8, SCUD-B, SCUD-C, Shahab-3, Shahab-4, Shahab,-5, Shahab-6 ICBM, Taepo Dong 1, Taepo Dong 2

ISRAEL

Personal :
Total pasukan aktif : 187.000
Reserve (Cadangan) : 425.000
Paramiliter : 8.050

Anggaran militer/tahun : : USD 12.4 miliar

Peralatan Tempur

Darat :
Tank : 3650
Armored Vehicle & Artileri : 6334 (IFVs, ARVs, LCVs, Self-propelled artillery)
Armored Carrier (pengangkut) : 1800
*Kondisi : Hampir semua berteknologi modern, dimaintenance dengan baik dan mengalami modernisasi.

Laut :
Frigate : 10
Corvette : 3
Kapal cepat / patroli : 50 (kapal jenis small Fast Attack & sea patrol)
Kapal selam : 3
*Kondisi : Hampir semua berteknologi modern, dimaintenance dengan baik dan mengalami modernisasi.

Udara :
Pesawat Tempur : 875
Jenis lain : 255 (pesawat angkut, latih)
Heli tempur : 286
*Kondisi : Hampir semua berteknologi modern, dimaintenance dengan baik dan mengalami modernisasi.

Rudal Balistik :
Jericho-I, Jericho-II, Jericho-III, LORA, Mobile Tactical High-Energy Laser (MTHEL) dll

Senjata Nuklir :
Hulu ledak nuklir : 400

Itulah peta kekuatan kedua negara seandainya pecah perang antara Israel vs Iran. Meskipun begitu, kita semua berharap perang tak akan terjadi.

3 ribu perempuan Iran, bergabung dalam sekolah beladiri bak ninja dari Jepang. Di sekolah itu, mereka dilatih beladiri kung-fu dan menggunakan senjata tajam untuk mempertahankan negaranya.

Sekolah beladiri itu dibangun pada 1989 silam, sekolah itu memang berniat untuk membentuk siswa-siswanya menjadi kunoichi (ninja perempuan). Fatima Muamer yang menjadi instruktur beladiri itu mengatakan, para perempuan Iran sangat tertarik dengan ninjutsu karena beladiri itu dapat menseimbangkan kekuatan dan pikiran.

“Salah satu pelajaran penting di ninjutsu adalah penghormatan dan kerendahan hati. Para siswa dilatih untuk menghormati drinya sendiri. Dengan menghormati eksistensinya, mereka akan menguasai seluruh kebudayaan dari ninjutsu,” ujar Muamer, seperti dikutip Press TV, Selasa (7/2/2012).

Kunoichi Iran itu dipastikan akan menjadi salah satu kekuatan yang berguna untuk mendukung tentara reguler Iran. Senjata-senjata yang digunakan para kunoichi itu adalah panah, pedang, tongkat berantai, dan bintang ninja.

Sebuah sekolah ninja telah ditubuhkan di iran oleh seorang Sensei bernama Akbar Faraji. Khalis dah mula keliru jugak..adakah ini propoganda atau memang betul ada.. tengok pada video ni memang ada kelass arr diorang ni.. Menurut sensei.. orang lelaki dipanggil ninja.. manakala perempuan dipanggil Kunoichi

Beladiri ninjutsu di Iran juga sudah muncul 22 tahun yang lalu dan diprakarsai oleh seorang pria bernama Sensei Akbar Faraji. Hingga saat ini, sebanyak 24 ribu warga Iran bergabung dalam perguruan ninjutsu.

“Menjadi seorang ninja memerlukan kesabaran, toleransi, dan ketabahan. Ninjutsu dapat diibaratkan sebagai bisa ular, yang mematikan, namun juga tampil sebagai obat mujarab,” ujar Faraji.

Seperti diketahui, ninjutsu sendiri merupakan beladiri mematikan yang berasal dari Jepang. Beladiri tersebut umumnya dikuasai oleh agen-agen rahasia atau tentara bayaran di Jepang pada tahun 1185 silam.

From left to right :

- Mostafa Mohammad Najar (Menteri Pertahanan)
– Mohammad Ali Jafari (Komandan I.R.G.C.)
– Hassan Firuzabadi (Kepala Staf Angkatan Bersenjata IRan)
– Sayid Ali Khamenei (Pimpinan Spiritual Iran)
– Ataollah Salehi (Panglima Angkatan Bersenjata Iran)

Pasukan Pertama…BASIJI

Basiji adalah tentara sukarelawan yang terdiri dari kaum muda Iran. Dibentuk oleh Ayatollah Khomeini pada tahun 1979 saat tengah berkecamuk perang melawan Irak. Mereka telah cukup tangguh dalam hal pertempuran. Terbukti mereka mampu menghalau serangan Saddam saat itu dengan melakukan pertempuran dengan sangat gigih. Terdapat organisasi lokal Basiji di setiap tempat di seluruh pelosok Iran. Tugas mereka adalah adalah mempertahankan negara dari serangan musuh, pelayanan sosial, mengelola sumber alam, partisipasi dalam rehabilitasi tempat pendidikan,pelayanan kesehatan. Jumlah mereka saat ini mencapai kurang lebih 11 juta personel dan siap di mobilisasi kapanpun dimanapun…

kedua…TAKAVARAN (Pasukan Serbu Darat dan Laut)

Mereka adalah inti dari kekuatan Angkatan laut Iran, yang berjumlah kurang lebih 18 ribu personel. Memiliki kemampuan raid didaratan pantai maupun laut.

ketiga…SIPOH PASDARAN (Pasukan Garda Revolusi)

Sipoh Pasdaran didirikan sesaat setelah kemenangan Revolusi Iran yg dipimpin Ayatollah Khomeini yang menggulingkan Rezim Shah Iran tahun 1979. Sipoh Pasdaran adalah nama resmi pasukan elit ini, saat ini berkekuatan 250 ribu personel. Sipoh Pasdaran di pimpin langsung oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Hebatnya Sipoh Pasdaran memiliki cabang-cabang angkatan (darat, laut, udara) tersendiri yang berpararel dengan Angkatan Bersenjata Iran. Didukung dgn infrastruktur keuangan dan teknologi yang kuat, mereka memiliki kemampuan layaknya pasukan elit kelas dunia.

Infanteri
.
Lanjutan Militer Iranini adalah armor anti serangan udara, kalo di US mirip sama Stinger.
.

Militer Iran Ciptakan Teknologi Piring Terbang

Ilmuwan Iran mengklaim menciptakan piring terbang pertama, meskipun belum jelas seberapa tinggi objek itu mampu terbang, Media menyebut pesawat itu mirip UFO.

Piring terbang bernama Zohal yang berarti Saturnus itu merupakan pesawat ruang angkasa tak berawak yang dirancang untuk pencitraan udara.

Namun, berdasarkan keterangan Daily Mail, objek itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai misi yang tidak disebutkan terperinci. Kantor media Fars menggambarkan piring terbang itu mirip UFO di film Hollywood pada1950-an.

“Alat transportasi yang mudah diluncurkan dan terbang, sedikit bunyi dan memiliki keuntungan yang sama dengan pesawat lain,” tulis laporan ISNA (Iran’s Student’s News Agency).

Perangkat itu dilengkapi autopilot, pengatur stabilitas gambar, GPS dan alat perekam kualitas HD. Program luar angkasa Iran yang ambisius tampaknya menjadi peringatan bagi dunia Barat, karena pada waktu yang sama, teknologi misil yang digunakan untuk program luar angkasa sama dengan teknologi membangun rudal balistik antarbenua.

Tahun lalu, Iran mengumumkan kesuksesan mereka berhasil mengirim tikus, kura-kura dan cacing ke luar angkasa. Mereka berambisi mengirim manusia ke antariksa, sembilan tahun mendatang.

    
Ahmadinejad: Militer Iran tak Terkalahkan!

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad

Ahmadinejad: Militer Iran tak Terkalahkan!

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad menyatakan, “Militer Iran adalah pasukan paling merakyat, kuat, mulia, dan dicintai.” IRNA melaporkan, hal itu dikemukakan Senin (18/4) oleh Ahmadinejad pada peringatan Hari Angkatan Bersenjata Iran yang digelar di dekat makam Imam Khomeini, di Teheran. Dijelaskannya, “Militer yang berjalan di atas jalur kepemimpinan rahbari, tidak akan terkalahkan.”

.

Dikatakannya, “Kita bersyukur kepada Allah SWT karena selama 32 tahun, militer dan para tentara Iran berhasil melalui banyak rintangan di berbagai medan, berkat kepatuhan mereka kepada Rahbar.”Presiden Iran itu lebih lanjut menjelaskan, “Peran militer dan Angkatan Darat dalam menjaga independensi, kemuliaan, dan kehormatan negara, merupakan peran yang sangat istimewa.”
.
Menyinggung era Perang Pertahanan Suci dalam melawan agresi tentara rezim Saddam Hossein, Ahmadinejad menyebutnya sebagai era introspeksi diri dan identitas militer, serta era pembuktian kemurnian, keberanian, dan kepahlawanan militer.”Alhamdulillah berkat dan dengan memanfaatkan pengalaman pada Perang Pertahanan Suci dan berbagai perisitiwa penting di kawasan dalam beberapa tahun terakhir, kini militer Iran menjadi kekuatan yang percaya diri, kokoh, mukmin, dan tidak terkalahkan,” tambah Ahmadinejad
.
Ahmadinejad juga menyampaikan terima kasihnya yang mendalam kepada seluruh panglima militer, perwira, dan para tentara Iran yang beriman kepada Allah swt, mencintai negara, dan mematuhi Rahbar, atas upaya tanpa lelah mereka mempertahankan kemuliaan, kebudayaan, agama, tujuan, serta integritas bangsa.Di bagian lain pernyataannya, Ahmadinejad menyatakan bahwa Iran bangga karena dewasa ini Angkatan Bersenjata Iran telah mencapai swasembada dalam persenjataan maupun perlengkapan logistik.

Menhan AS: Kemampuan Militer Iran Hapus Pengaruh Militer AS di Dunia

05/03/2011 – 12:27

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates dalam sebuah pidatonya di Akademi Angkatan Udara Colorado (AFA) mengakui peningkatan kemampuan militer Republik Islam Iran. “Kemajuan militer Iran menghapus pengaruh militer AS di dunia,” aku Gates.

Hal ini disampaikan Gates saat memberikan sambutan di depan para taruna akademi angkatan udara AS di Colorado. Menurutnya kemajuan militer Iran, Cina dan Korea Utara menghapus pengaruh militer AS di dunia. Demikian dilaporkan Fars mengutip Reuters.

Ia menekankan, mencermati produksi senjata Cina, Iran dan Korea Utara mulai dari rudal Cruise dan Balistik hingga kapal selam canggih serta sistem anti udara sepertinya kesemuanya itu ditujukan untuk melumpuhkan persenjataan militer Amerika

…………………………..

Iran Produksi Massal Rudal Berdaya Ledak Tinggi

Iran memproduksi massal rudal-udara yang akan dipasang dipesawat tempur yang dilengkapi radar yang mampu menghancurkan target dengan tingkat ketepatan tinggi.

Hal itu dikonfirmasikan oleh Wakil Komandan Angkatan Udara Iran, Jenderal Sayyed Mohammad Alavi, kepada IRNA hari ini (16/3). Dikatakannya, “Para ahli Angkatan Udara Iran mulai memproduksi secara massal rudal dilengkapi radar yang kemampuannya telah dioptimalkan dan dipasang pada jet tempur.”
pada hari Rabu.

Ditambahkannya bahwa tingkat ketepatan rudal radar sangat tinggi dalam menghancurkan target. Selain daya jangkaunya, daya rusaknya pun juga telah ditingkatkan.

Pejabat militer Iran itu menegaskan bahwa kemampuan Angkatan Udara Iran meningkat pesat, bahkan kemampuan armada Angkatan Udara Iran di atas rata-rata kemampun negara-negara regional.

Jenderal Alavi menjelaskan bahwa rudal tersebut telah diujicoba di berbagai operasi dan hasilnya sangat memuaskan.

Iran telah memulai program kemandirian dalam industri pertahanan negara dan memprakarsai sejumlah proyek produksi perangkat keras militer, termasuk memproduksi kendaraan militer udara dan laut seperti kapal selam, kapal tempur, dan berbagai jenis rudal.(

Israel Akui Kecanggihan Radar Terbaru Iran

Situs Israel Defense dalam laporannya mengisyaratkan kemampuan rudal Republik Islam Iran. Menurut situs ini,”Apa yang kita saksikan menunjukkan bahwa industri militer Iran sangat maju dari apa yang dilaporkan Barat.”

“Bangsa Iran di manuver terbaru untuk pertama kalinya memamerkan radar dengan kemampuan multi dan memiliki kemampuan teknologi canggih,” tulis situs Israel Defense seperti dinukli Mehr News.

Radar terbaru tersebut dipamerkan militer Iran dengan dihadiri Pemimpin Besar Revolusi Islam atau Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei. Situs ini menambahkan, hari Selasa lalu Iran menggelar pameran dan manuver hasil industri militernya. Di manuver yang dihadiri Rahbar tersebut, dipamerkan senjata buatan dalam negeri Iran mulai dari roket, rudal, kendaraan lapis baja dan persenjataan canggih lainnya.

Radar multifungsi Iran tersebut sangat canggih, selain jarak detiksi dan radiasinya secara elektonik mendapat pengakuan juga kemampuannya menditeksi sasaran tanpa membutuhkan perubahan letak cukup mencengangkan.

Tal Inbar, peneliti di Institut Riset Antariksa Fisher membenarkan kemampuan radar Iran. Kepada situs Israel Defense, Tal Inbar mengatakan, informasi dan data terkait program Iran untuk membuat sebuah radar canggi telah dimuat di media massa Iran sejak tahun 2007, namun tidak mendapat reaksi besar dari dunia.

Ditambahkannya, Iran pada tahun 2010 memamerkan sebuah radar canggih yang disebutnya memiliki kemampuan untuk menangkap rudal canggih semacam S-300. “Namun radar yang baru saja dipamerkan dan dihadiri Rabar benar-benar canggih,” tegas Tal Inbar.

Ia menekankan, hanya segelintir negara yang berhasil membuat dan meremajakan radar semacam ini. Radar ini dengan mudah menditeksi sejumlah sasaran secara bersamaan dan memberikan informasi, tandas Inbar.

Iran Andalkan Perahu Cepat Lawan Kapal Induk AS

Iran sekarang merupakan salah satu negara produsen perahu militer tercepat di dunia yang sudah diakui perannya dalam didustri pertahanan negara.

Menteri Pertahanan Iran Brigjend Ahmad Vahidi mengatakan, bahwa selama perang Irak-Iran, AS tampil di kawasan dengan sejumlah kapal induk dan kapal perang serta kapal selam dengan teknologi nuklir, yang memungkinkan mereka untuk tetap bertahan di bawah air selama berbulan-bulan.

“Kami menghadapi kapal-kapal besar musuh dengan perahu cepat,” kata Vahidi. “Terlepas dari realita bahwa musuh awalnya meremehkan konsep itu, namun kini mereka terpaksa mengakui ketangguhannya,” tambahnya.

“Sekarang, Iran menjadi salah satu negara produsen perahu cepat di dunia yang dapat membawa senjata maupun personil militer,” jelasnya seperti dikutip IRNA.

Pada April 2010, Iran meluncurkan sebuah kapal berkecepatan tinggi yang mampu menembakkan roket dan senapan mesin berat sambil melaju dengan kecepatan 70 knot.

Iran telah menyelesaikan sejumlah proyek besar pertahanan dalam beberap tahun terakhir, meski sanksi Dewan Keamanan PBB telah menargetkan militer, sektor energi dan keuangan negara Islam ini.

Kemampuan Militer Iran Menakutkan Israel

Mohammad Abbas, purnawirawan militer Lebanon mengisyaratkan kemajuan besar yang dicapai Republik Islam Iran di berbagai bidang. “Kemajuan Iran tersebut membuat Rezim Zionis Israel ketakutan,” ungkap Abbas. Ditambahkannya, Iran baru-baru ini mampu memproduksi sistem radar yang menggantikan produk Rusia. Padahal Rusia hingga kini terkesan mengulur-ulur waktu penyerahan sistem radarnya kepada Iran.

Saat diwawancarai IRNA, Mohammad Abbas menandaskan, peningkatan kemampuan dan peralatan militer serta pertahanan adalah hak legal Iran untuk menghadapi ancaman Rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat. “Apalagi AS dan Iran setiap hari senantiasa mengancam akan menyerang instalasi nuklir Iran,” tambah Abbas.

Menurutnya Iran berusaha sedapat mungkin mempersiapkan diri menghadapi agresi musuh. Ditekankannya, di sisi lain, Israel berusaha menghubungkan instalasi nuklir Tehran dengan peningkatan kemampuan militer Iran dengan harapan dapat menyelewengkan opini publik dunia sehingga negara Barat dan dunia lainnya memusuhi Iran.

“Para petinggi Israel menebarkan propaganda anti Iran dengan menyatakan militer serta kemampuan Iran di bidang sistem anti rudal diklaim dapat mencapai seluruh Timur Tengah, London, Moskow dan mungkin sekitar AS. Hal ini ditempuh Israel untuk memprovokasi negara dunia agar memusuhi Iran, namun kita menyadari sepenuhnya bahwa Tel Aviv lihai dalam menebar propaganda menyimpang di dunia,” ungkap Abbas

.

Dengan diperkuat oleh kapal selam buatan sendiri, armada laut Iran semakin siap menghadapi serangan yang mungkin segera datang (Berita SuaraMedia)

Dengan diperkuat oleh kapal selam buatan sendiri, armada laut Iran semakin siap menghadapi serangan yang mungkin segera datang (Berita SuaraMedia)Dengan diperkuat oleh kapal selam buatan sendiri, armada laut Iran semakin siap menghadapi serangan yang mungkin segera datang

Armada kapal selam ringan produksi dalam negeri Iran semakin memantapkan langkahnya menyusul bergabungnya kapal selam Ghadir 948 dalam brigade angkatan laut di Zona pertama angkatan laut Iran.

Kapal selam buatan dalam negeri tersebut dimasukkan dalam armada kapal selam angkatan laut Iran di kota pelabuhan Bandar Abbas, sebelah selatan Iran, pada hari Senin kemarin di hadapan Komandan Pasukan Iran, Mayor Jenderal Ataollah Salehi, Menteri Pertahanan Mayor Jenderal Mohammad Mostafa-Najar dan komandan senior angkatan laut Laksamana muda Habibollah Sayyari.

Ketika didaulat untuk menyampaikan sambutan dalam upacara peluncuran kapal selam Ghadir 948, Menteri pertahanan Iran Brigadir Jenderal Mohammad Mostafa-Najjar mengatakan, “Negara Islam Iran telah berhasil menggapai banyak prestasi sendirian dan melalui ketergantungan akan pengetahuan domestik dengan cara yang tentunya akan mengejutkan para pemimpin dari kekuatan-kekuatan arogan.”

Ungkapan tersebut merujuk pada kemampuan kementerian pertahanan Iran dalam merancang, memproduksi dan memasok berbagai jenis persenjataan untuk militer dalam negeri, dan mengatakan bahwa para staf kementerian yang berpengalaman mampu untuk memasok segala hal yang dibutuhkan oleh angkatan laut, angkatan udara dan angkatan darat, dan semuanya dibuat sendiri.

Mengenai upaya-upaya musuh dalam tiga dekade terakhir sejak bergulirnya revolusi Islam untuk menghambat laju perkembangan Iran, Najjar menekankan bahwa tekanan-tekanan tersebut menyebabkan Iran semakin berkembang dalam bidang politik, ekonomi, militer dan pertahanan negara.

Dia juga menggarisbawahi bahwa perkembangan teknologi di berbagai bidang, termasuk produksi peluru kendali artileri, kapal selam, kapal angkut dan lain-lain, masih memerlukan partisipasi dan pertukaran informasi serta pengalaman dengan sejumlah negara di Barat, namun Iran mampu mencapai tingkatan teknologi tercanggih hanya dengan bantuan para ahli dalam negeri.

Pada bulan November lalu, Iran mengumumkan bahwa kapal selam Ghadir buatan dalam negeri telah siap untuk memulai operasi.

Pihak militer Iran mengatakan bahwa kapal selam tersebut dapat dengan mudah menghindari deteksi karena telah dilengkapi dengan teknologi untuk menghindari sonar, selain itu kapal selam tersebut juga dapat menembakkan peluru kendali dan torpedo secara berbarengan.

Komandan angkatan laut Laksamana Muda Habibollah Sayyari, mengatakan bahwa kapal selam Ghadir membutuhkan waktu pengembangan selama sepuluh tahun.

Armada tersebut juga dilengkapi dengan 18 unit kapal berkecepatan tinggi. Angkatan Laut Iran saat ini sudah memproduksi Ghadir dan Nahang. Kapal selam Ghadir dilengkapi dengan peralatan dan teknologi militer yang tercanggih. Sementara kapal selam Nahang, kapal selam buatan sendiri – nomor dua setelah Ghadir, disebut-sebut sebagai salah satu proyek pertahanan terbesar negara tersebut.

Dalam mempersiapkan segala kemungkinan serangan militer terhadap negara tersebut, Iran mempersenjatai angkatan lautnya dengan sistem persenjataan tercanggih, yang kabarnya sanggup menembak kapal macam apapun yang berjarak hingga 300 km (185 mil) jauhnya dari lepas pantai.

Iran telah mendorong program perkembangan persenjataan dalam beberapa tahun belakangan untuk dapat membela diri. Iran telah mampu memproduksi jet tempurnya sendiri dan juga kendaraan lapis baja, demikian halnya dengan peluru kendali yang tidak terdeteksi radar dan sejumlah senjata canggih lainnya.

Minggu lalu, menteri pertahanan Iran meresmikan produksi hovercraft (kapal apung, kendaraan yang bisa berjalan baik di darat dan di laut) Younes 6.

Dalam upacara peresmian produksi Younes 6, Najjar mengatakan  bahwa produksi perlengkapan militer di negara tersebut telah berlipat tiga dalam beberapa tahun terakhir dengan didukung oleh perencanaan yang mantap dari pihak kementerian.

Dua minggu lalu, Iran juga memulai proses produksi 30 persenjataan dan perlengkapan militer, termasuk barang-barang elektronik, telekomunikasi dan radar.

Iran sejauh ini telah mengembangkan sejumlah perlengkapan eksklusif, seperti kapal berkecepatan tinggi, kapal muatan, pesawat udara dengan bobot yang ringan dan kapal selam siluman mini sebagai bagian dari upayanya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan maritim dan operasi-operasi bawah laut.

“Perlengkapan dan produksi yang tengah berlangsung di Iran berkaitan dengan alat elektronik dan manual untuk dipergunakan dalam peperangan, sistem radar dan sonar, kendaraan air dan udara, sisitem laser dan elektro optik juga kacamata canggih untuk melihat dalam kegelapan, alat komunikasi militer dan alat simulasi peperangan,” kata Najar dalam upacara peluncuran beroperasinya produksi persenjataan dan perlengkapan militer tersebut.

Najjar menegaskan kembali di upacara tersebut bahwa Iran telah mampu memproduksi perlengkapan pmanual dan elektronik untuk dipergunakan dalam pertempuran, termasuk untuk mengumpulkan informasi, melakukan penyadapan, melacak posisi musuh melalui gelombang radio yang berbeda-beda memproses berbagai informasi dan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi data-data musuh, melacak pemancar musuh dan mengacak atau mematikan pemancar musuh

Iran Sukses Uji Coba Sistem Radar Baru Republik Islam Iran telah menguji model terbaru sistem radar yang diproduksi dalam negeri, seorang pejabat Iran mengatakan.

Direktur perusahaan elektronik Sa-Iran, Ebrahim Mohammadzadeh, kepada kantor berita Fars pada hari Senin (22/8) menuturkan bahwa sistem radar baru memiliki kemampuan untuk mendeteksi objek pada kisaran beberapa ribu kilometer.

“Uji coba itu berhasil dan harapan kami sistem radar baru akan dioperasional dalam beberapa tahun mendatang,” ujarnya.

Seraya memuji prestasi Iran di bidang teknologi, Mohammadzadeh menjelaskan bahwa negara saat ini memiliki kemampuan untuk merancang dan memproduksi sistem radar canggih.

Pada bulan Juni, kepala Divisi Aerospace Korps Pengawal Revolusi Iran Iran (IRGC) mengatakan bahwa sistem radar Ghadir, dengan kisaran 1.100 kilometer telah diaktifkan.

“Radar Ghadir dirancang dan diproduksi untuk menemukan target udara, pesawat anti-radari, rudal jelajah, rudal balistik, dan satelit di orbit rendah,” kata Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh.

Lagi, Iran Akan Luncurkan Roket ke Ruang Angkasa Badan Antariksa Iran (ISA) mengatakan, roket Kavoshgar 5, produksi dalam negeri akan diluncurkan ke ruang angkasa pada akhir musim panas ini.

Roket seberat 300 kilogram, akan membawa kapsul berisi monyet rhesus, kata Hamid Fazeli, direktur ISA kepada kantor berita Mehr kemarin (Senin,22/8).

“Roket akan mengorbit pada ketinggian 120-130 kilometer di atas permukaan bumi,” jelas Fazeli.

Dia menambahkan, ISA merencanakan untuk melakukan studi tentang tanda-tanda vital monyet dan hasilnya sangat penting dalam membantu Iran mengirim astronot ke ruang angkasa di masa depan.

“Dua satelit lainnya yaitu Navid dan Fajar juga akan diluncurkan pada Maret 2012,” ujar Fazeli.

Navid adalah satelit penelitian, yang dirancang oleh para ilmuwan di Universitas Sains dan Teknologi di Tehran.

Rabu, 10 Februari 2010 09:21 wib
Militer Iran (Foto: Ist)

Iran Buat Sistem Pertahanan Rudal Canggih Iran mempercepat pembuatan sistem pertahanan rudal yang akan lebih baik daripada S-300 milik Rusia.
Langkah ini membuktikan tekad Teheran untuk membuat sendiri seluruh persenjataan militer karena embargo persenjataan oleh Amerika Serikat (AS). Selain melakukan embargo, Washington juga menekan Rusia agar tidak mengirimkan S-300 yang telah dipesan Iran.Washington pada November 2009 mengancam melakukan tindakan hukum terhadap Rusia jika gagal memenuhi kesepakatan untuk menyuplai Teheran dengan S-300 yang merupakan sistem pertahanan udara canggih. Rusia yang menjadi aliansi terdekat Iran di antara kekuatan dunia lain, sejauh ini belum menerima S-300.Menurut Teheran, penundaan pengiriman itu karena tekanan dari Washington dan Israel, musuh bebuyutan Iran.
.
Pada Oktober 2009, kantor berita Rusia, Interfax, melaporkan bahwa Iran belum membayar S-300 karena Moskow belum memberikan persetujuan akhir tentang kesepakatan tersebut.Bagi Barat, kesepakatan itu tentu sangat dikhawatirkan dapat memperkuat sistem pertahanan Iran. Berdasarkan kontrak, Rusia akan menjual persenjataan ke Iran berupa lima baterai rudal-rudal S-300PMU1, seharga USD800 juta.S-300PMU1 yang diberi kode SA-20 Gargoyle oleh NATO itu merupakan system gerak berbasis darat yang didesain untuk menembak jatuh pesawat terbang dan rudal. Barat khawatir Iran dapat menggunakan system itu untuk menghadapi ancaman serangan AS atau Israel
.
Keduanya tidak pernah menepis kemungkinan serangan militer ke fasilitas nuklir Iran. Selain itu, kemarin, Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi membuka dua jalur produksi untuk manufaktur pesawat canggih tanpa awak atau drone. “Pesawat itu mampu melakukan pengintaian, deteksi, dan serangan dengan dengan ketepatan tinggi,” ungkap kantor berita Fars.Kemarin, Iran juga secara resmi mengumumkan pada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tentang rencana melakukan pengayaan uranium ke level 20%. “Teheran akan mulai melakukan pengayaan uranium hingga level 20% mulai Selasa (9/2) dan IAEA akan diberi informasi mengenai keputusan ini sebelumnya,” papar kepala organisasi atom Iran Ali Akbar Salehi.”Pengayaan itu akan dilakukan di fasilitas Natanz mulai Selasa (9/2),” kata Salehi
.
Fasilitas pengayaan uranium utama Iran berada di pusat kota Natanz. Fasilitas itu melakukan aktivitas atom selama bertahun-tahun meskipun telah mendapat tiga kali sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).Salehi menjelaskan, Iran akan menghentikan program pengayaan ke level 20% jika negosiasi dengan kekuatan dunia mencapai kesepakatan akhir. Saat ini draf negosiasi usulan IAEA mengalami kebuntuan karena Barat menolak perubahan yang ditawarkan Iran.Dalam draf IAEA, kekuatan dunia meminta Iran menyerahkan uranium kadar rendah (LEU) ke Rusia dan Prancis, dalam satu tahap. Tapi Teheran meminta agar penyerahan itu dilakukan dalam beberapa tahap dan berlangsung di dalam negeri Iran.Seorang komandan senior militer Iran mengatakan Tehran akan menyerang semua institusi militer dan nuklir Israel jika Tel Aviv melakukan kebodohan menyerang fasilitas nuklir Iran.Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Gholam-Ali Rasyid Ahad (20/11) menegaskan retorika Israel terhadap Iran adalah suatu bentuk perang psikologis.”Iran sepenuhnya siapkan menghadapi setiap agresi, dan Tehran akan menghancurkan semua fasilitas Israel jika Tel Aviv meluncurkan serangan militer terhadap Iran,”tegasnya.Amerika Serikat dan Israel telah berulang kali mengancam Tehran dengan opsi serangan militer yang didasarkan pada dugaan bahwa program nuklir Iran mengarah pada agenda militer rahasia
.Tehran telah membantah tuduhan itu, dan mengatakan sebagai penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan anggota IAEA, Iran memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai

.

Sementara Israel menolak  mengizinkan inspeksi fasilitas nuklirnya. Tel Aviv juga menolak bergabung dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir.
Israel baru-baru menguji rudal jarak jauh baru yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Pengujian dilakukan di pangkalan udara Palmahim di pusat Israel.

Rudal Jericho-3 milik Israel memiliki daya jangkau hingga 10.000 kilometer. Ironisnya, hulu ledak nuklir Israel yang dapat menargetkan banyak wilayah dunia itu tidak dianggap sebagai ancaman di mata Barat

.

Identifikasi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

E-mail Cetak PDF

Oleh: Ustad Husain Ardilla

PENJELASAN mengenai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah kepada umat menjadi penting, sebab ini dilakukan demi merajut ukhuwah kelompok Ahlus Sunnah (Sunni), memantapkan dan meluruskan pemahaman, memadamkan fitnah, serta membentengi diri

Menentukan apakah sebuah agama atau keyakinan itu salah atau benar tidak bisa diambil dari sedikit atau banyaknya para pengikut yang menganutnya.
Ayat Al-Qur’an seringkali menyalahkan umat mayoritas dan malah memuji umat minoritas dalam berbagai ayatnya dan ini sangat mengherankan karena berbeda dengan keyakinan kebanyakan orang yang menentukan kebenaran suatu keyakinan itu dengan jumlah orang yang meyakininya. Kita lihat misalnya dalam sebuah ayat-ayat berikut ini:
  1. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“. (QS. Saba’: 36)
  2. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 243)
  3. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)
  4. …….. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 49)
  5. …………………….. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-An’am: 119)
  6. ……………….. Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS. Huud: 17)
  7. Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36)
  8. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya). (QS. Al-Israa: 89)
  9. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Ruum: 30)
  10. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(QS. Saba’: 28)
Dan masih banyak lagi ayat yang bernada sama dimana Allah sering menunjukkan betapa yang mayoritas justeru bersama kesesatan dan kesalahan. Allah pastilah punya maksud khusus ketika menyiratkan (dan menyuratkan) berkali-kali dalam Al-Qur’an (lebih dari 30 kali) ketika menggambarkan betapa kebanyakan manusia itu tidak punya rasa syukur dan tidak punya pengetahuan atau tidak condong kepada kebenaran. Bisa dibayangkan kalau kita menentukan kebenaran dengan melihat jumlah orang yang percaya bahwa itu benar sedangkan kebanyakan orang seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur’an selalu memilih kesesatan dan lebih condong kepada kesalahan.
.
Jadi orang yang realistik tidak akan pernah merasa khawatir apabila para pengikut dari agama yang diyakininya itu merupakan kelompok minoritas di dalam sebuah kelompok yang besar. Ia juga tidak akan merasa bangga ketika kelompoknya kebetulan adalah kelompok yang mayoritas karena siapa tahu kelompoknya adalah kelompok yang ikut kesesatan dan bukan kebenaran. Sebagai orang yang realistis ia seharusnya berpikir logis.
.
Dalam perang Jamal, seorang laki-laki datang menghampiri Imam Ali bin Abi Thalib dan bertanya:
.
“Bagaimana mungkin engkau menyebut musuh perangmu itu sebagai orang yang ikut kesesatan sementara jumlah mereka lebih banyak daripada pasukanmu?”
.
Imam Ali bin Abi Thalib menjawab:
.
“Kebenaran dan kesesatan itu tidak diukur dari jumlah pengikutnya. Kenalilah kebenaran, dan engkau akan melihat siapakah para pengikutnya; kenalilah kesesatan dan engkau akan tahu juga siapakah para pengikutnya”
.
Seorang Muslim itu sudah sepantasnya dan sepatutnya memecahkan permasalahan itu dengan berpikir logis dan empiris dan mengambil Qur’an sebagai panduan hidupnya.
.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.(QS. Al-Israa: 36)
.
Memang benar bahwa Syi’ah itu hanya diikuti oleh seperempat umat Muslim sedunia (LIHAT A’yan al-Shi’ah, volume 1, halaman 194). Akan tetapi orang dengan terang benderang bisa melihat sepanjang sejarah bahwa lebih banyak ilmuwan dan penulis yang lahir dari kaum Muslimin golongan Syi’ah ini. Bahkan kalau mau jujur hampir semua pendiri cabang ilmu itu berasal dari kaum Muslimin dari golongan Syi’ah. Salah satu yang sering juga disebut-sebut namanya oleh kaum Muslimin ialah Ibnu Sina yang menjadi pendiri atau pelopor ilmu kedokteran moderen yang melepaskan diri dari belenggu takhayul dan kepercayaan sempit yang tidak ada hubungannya dengan kedokteran itu sendiri.
.
Berikut empat nama yang akan saya jadikan contoh (Nama-nama lainnya anda bisa lihat dalam kitab-kitab berikut ini:
  1. al-Dhari’ah Ila Tasanif al-Shi’ah
  2. A’yan al-Shi’ah
  3. Tarikh al-Shi’ah)

.

Mereka adalah:
  • Abu’l-Aswad al-Du’ali, penemu ilmu sintaksis bahasa Arab
  • Al-Khalil Ibn Ahmad, peletak dasar dari ilmu prosody
  • Mu’adh ibn Muslim Ibn Abi Sarah dari Kufah, peletak dasar dari ilmu konyugasi, salah satu cabang ilmu biologi
  • Abu Abdullah Muhammad Ibn Imran Katib dari Khurasan (disebut juga Marzbani), pencetus ilmu retorika (LIHAT: Ta’sis al-Shi’ah, ditulis oleh Sayyid Hasan al-Sadr)

Sepanjang kesaksian sejarah, pada masa kekhalifahan Muawiyah, umat Islam dikenal dalam dua kelompok, yaitu Alawiyah dan Utsmaniyah. Setelah itu, akibat beberapa peristiwa, di masa Umar bin Abdulaziz (versi pertama), atau di masa kekhalifahan Bani Abbas (versi kedua), istilah Ahlussunnah disematkan kepada Utsmaniyah (para pengikut Utsman), sementara Alawiyah (para pengikut Ali) tetap disebut dengan nama pertama mereka, yaitu Syiah.

Secara umum, umat Islam dibagi menjadi dua kelompok utama: Ahlussunnah dan Syiah. Ahlussunnah bercabang kepada beberapa mazhab kalam (teologi), yang terpenting di antaranya adalah Mu`tazilah, Ahlul hadits (hadis centris), Asya`irah, Maturidiyah, dan Wahabiyah. Mu`tazilah adalah hasil dari pertentangan antara keyakinan Khawarij dan Murjiah.

Sebelum mazhab kalam Asya`irah dan Maturidiyah muncul, komunitas Ahlussunnah mengikuti dua mazhab Mu`tazilah dan Ahlul hadits atau Hanbaliyah. Akibat pertentangan keyakinan antara Mu`tazilah dan Ahlul hadits, para ulama Ahlussunnah berinisiatif untuk mereformasi mazhab mereka, khususnya untuk menghadapi prinsip-prinsip kalam Mu`tazilah. Buah dari reformasi ini, adalah kemunculan dua mazhab baru bernama Asya`irah dan Maturidiyah. Sehingga di masa ini, istilah Ahlussunnah wal Jama`ah khusus diberikan kepada dua mazhab terakhir ini.

Pendiri mazhab Asya`irah adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Ia lahir pada tahun 260 H di Bashrah dan wafat tahun 324 H di Baghdad. Sampai usia empat puluh tahun, ia adalah salah satu murid Abu Ali Jubai yang mendukung mazhab Mu`tazilah. Abu Hasan Asy`ari keluar dari mazhab Mu`tazilah pada tahun 300 H. Setelah mengadakan beberapa perbaikan dalam ajaran Ahlul hadits, Abu Hasan Asy`ari mendirikan mazhab baru, yang berlawanan dengan Ahlul hadits dan juga Mu`tazilah. Dalam bidang fikih, Abu Hasan Asy`ari mengikuti mazhab Syafi`i. Di masa sekarang, sebagian besar pengikutnya juga berkiblat kepada Imam Syafi`i dalam masalah hukum.

Sezaman dengan mazhab Asya`irah, Maturidiyah didirikan oleh Abu Manshur Muhammad bin Muhammad Maturidi, di daerah Maturid Samarqand, untuk melawan mazhab Mu`tazilah. Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) menganut mazhab Abu Hanifah dalam masalah fikih. Oleh sebab itu, kebanyakan pengikutnya juga bermazhab Hanafi.

Ada banyak kesamaan antara dua mazhab ini. Keduanya termasuk dalam aliran Ahlussunnah. Terkait kepemimpinan para khalifah setelah Nabi saw sesuai urutan historis yang telah terjadi, keduanya memiliki pandangan serupa. Juga tak ada perbedaan dalam pandangan mereka terhadap para penguasa Bani Umayah dan Bani Abbas. Dalam semua sisi masalah imamah pun mereka saling sepakat. Keduanya juga sepaham bahwa Allah bisa dilihat tanpa kaif (cara), had (batas), qiyam (berdiri) wa qu`ud (duduk) dan hal-hal sejenisnya. Berbeda dengan Hasyawiyah dan Ahlul hadits yang berpendapat bahwa Allah, seperti selain-Nya, bisa dilihat dengan kaif dan had. Dalam hal kalam Allah (Al-Quran), kedua mazhab ini juga memiliki pandangan sama, yaitu bahwa kalam-Nya memiliki dua tingkatan. Pertama adalah kalam nafsi yang bersifat qadim (dahulu), dan kedua adalah kalam lafdhi (lafal) yang bersifat hadits (baru). Ini adalah pendapat moderat dari kedua mazhab ini, yang berada di antara pendapat Mu`tazilah bahwa kalam Allah hadits secara mutlak, dan pendapat Ahlul hadits bahwa kalam-Nya qadim secara mutlak.

Ringkas kata, Asya`irah dan Maturidiyah memiliki banyak kesamaan pandangan dalam masalah akidah. Namun, di saat yang sama, ada pula beberapa perbedaan dalam prinsip-prinsip teologis dua mazhab ini, yang membedakan mereka satu sama lain.

Dalam rangka mereformasi dan mengembangkan akidah Ahlussunnah di hadapan Mu`tazilah, Abu Hasan Asy`ari menempuh jalan Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam banyak kasus, ia memilih sikap jumud `ala dhawahir (hanya memerhatikan sisi lahiriah) dan jarang menggunakan akal dan argumentasi. Namun Abu Manshur Maturidi menjadikan metode Abu Hanifah sebagai dasar teologi Ahlussunnah dan banyak menggunakan argumentasi rasional. Perbedaan mendasar dalam metode ini pula yang memunculkan perbedaan pendapat antara teologi Maturidiyah dan Asya`irah dalam sebagian masalah. Karena itu, metode Maturidiyah lebih jauh dari tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhluk) dan tajsim (menganggap Tuhan memiliki bentuk seperti materi) serta lebih dekat kepada tanzih (penyucian). Sementara metode Abu Hasan Al Asy’ari lebih condong kepada tasybih dan tajsim, walaupun Baqilaini dan Juwaini merombak metode Asy’ari tetapi pengikut Asy’ari tidak tau lagi ajaran Asy’ari yang asli

Parameter utama dalam perbedaan mazhab-mazhab Ahlussunnah adalah masalah husn wa qubh `aqli (baik dan buruk rasional) dan persoalan-persoalan terkait akal dan argumen rasional. Jika Mu`tazilah disebut sebagai simbol husn wa qubh `aqli, maka Maturidiyah berada di tingkat kedua, Asya`irah di tingkat ketiga, sementara Hasyawiyah menolak sepenuhnya masalah husn wa qubh `aqli. Sedangkan Wahabiyah adalah mazhab baru gabungan dari Hasyawiyah dan Hanbaliyah.

Perbedaan-perbedaan antara Maturidiyah dan Asya`irah bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

Terkait sifat-sifat khabariyah (sifat-sifat Alah yang tersebut dalam Al Qur’an, seperti yadullah [tangan Allah] dll), Asya`irah meyakini makna lahiriah ayat tanpa takwil dan tafwidh (menyerahkan maknya kepada Allah), sedangkan Maturidiyah menerima tafwidh dan menolak takwil. Sementara prinsip Mu`tazilah dalam masalah ini adalah menakwilkan sifat-sifat khabariyah.

Asya`irah menganggap makrifat Allah wajib berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, sementara Maturidiyah, seperti halnya Mu`tazilah, berpendapat bahwa kewajiban mengenal Allah bersifat rasional.

Karena Asya`irah mengingkari husn wa qubh `aqli, maka mereka berpendapat bahwa perbuatan Allah tidak berlandaskan tujuan. Namun Maturidiyah mengatakan bahwa perbuatan Allah berasaskan maslahat, sebab mereka menerima konsep husn wa qubh `aqli dalam sebagian tingkatannya.

Asya`irah berpendapat bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, sementara manusia adalah wadah bagi perbuatan-Nya. Untuk menghindar dari problem jabr (determinasi), mereka mengemukakan solusi ‘kasb‘. Maturidiyah menolak tafwidh (manusia bertindak bebas dan menafikan intervensi kekuasaan Tuhan) Mu`tazilah serta jabr Ahlul hadits dan Asya`irah. Mereka berpendapat bahwa meski perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, namun di saat yang sama, ia adalah pelaku dan kasib (hasil) perbuatannya sendiri.

Seperti kaum `Adliyyin, Asya`irah membagi sifat-sifat Allah kepada dzati dan fi`li. Namun Maturidiyah menolak pembagian ini dan menyatakan bahwa semua sifat fi`li-Nya qadim seperti sifat dzati.

Asya`irah mengatakan bahwa Allah mustahil membebankan taklif yang tak mampu dilakukan manusia, sementara Maturidiyah berpendapat sebaliknya.

Asya`irah meyakini bahwa semua yang dilakukan Allah adalah baik, sedangkan Maturidiyah, berdasarkan hukum akal, berpandangan bahwa Dia mustahil berbuat zalim.

Kesimpulannya, meski Asya`irah dan Maturidiyah tergabung dalam kelompok Ahlussunnah dan banyak memiliki kesamaan, namun mereka juga memiliki perbedaan pendapat dalam sebagian masalah

.

Mazhab Teologi Asyariyah Dalam Sorotan

Asy’ariyah atau Asya`irah adalah sebutan bagi para pengikut Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Tolak Ukur utama dalam meneliti proses terbentuknya Asya`irah adalah kinerja mazhab Mu`tazilah. Dijadikannya perubahan sebagai landasan penyingkapan hakikat oleh Mu`tazilah dan perselisihan mereka dengan para fukaha dan ahli hadis, memicu penentangan terhadap Mu`tazilah. Hingga akhirnya, dengan adanya provokasi dari pihak Mutawakkil, kelompok Mu`tazilah dikucilkan dan kemudian lahirlah kelompok moderat, yaitu Asya`irah.

Asya`irah menjadikan dalil rasional (`aqli) sebagai sarana pembuktian ajaran akidah konvensional. Di penghujung abad keenam, ada tiga tokoh yang memilih metode ini, yaitu Abu al-Hasan Asy`ari di Baghdad, Thahawi (wafat 331 H) di Mesir, dan Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) di Samarqand. Kendati terdapat perbedaan antara mereka, namun mereka sepakat untuk sama-sama menentang Mu`tazilah.

Abu al-Hasan Asy`ari lahir di Bashrah tahun 260 H. Garis keturunannya sampai kepada Abu Musa Asy`ari, salah seorang sahabat terkenal. Beliau adalah murid Abu Ali Jubba’i. Beliau mempelajari ilmu kalam (teologi) dari Mu`tazilah dan banyak menimba ilmu dari para fukaha dan ahli hadis. Setelah mengkaji hasil pelajaran terdahulunya, beliau lalu mengkritisi dan menolak sebagian keyakinan dirinya yang diambil dari Mu`tazilah. Di antara keyakinan terdahulunya adalah al-Quran itu makhluk, kemustahilan melihat Allah, dan menghindari penisbatan keburukan kepada Allah. Kitab al-Ibanah mengandung kritik-kritik Asy`ari terhadap Mu`tazilah. Dalam kitab itu, ia menyebut Mu`tazilah sebagai kelompok penakwil al-Quran dan menyatakan kecenderungannya kepada al-Quran, sunah, dan metode Ahmad bin Hanbal. Ibnu `Asakir menyebut judul 98 kitab yang ditulis Asy`ari hingga tahun 32 H. Empat karyanya yang terkenal adalah:

1. Al-Luma` fi Al-Rad `ala Ahl al-Zaigh wa al-Bida`.

2. Al-Ibanah fi Ushul al-Diyanah.

3. Istihsan al-Khaudh fi `Ilm al-Kalam.

4. Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin.

Tiga kitab pertama seputar ilmu kalam dan kitab keempat tentang pengenalan mazhab-mazhab. Judul yang dipilih untuk kitab keempat menunjukkan sikap moderat dan toleransi Asy`ari.

Pandangan-pandangan Asy`ari

Asy`ari memilih metode `aqli-naqli (kombinasi akal dan riwayat) sebagai metode yang moderat. Misalnya, dalam bab tauhid, ia meyakini penambahan sifat atas zat Allah. Sikap moderat ini tampak dalam pandangan-pandangannya. Secara umum, Asya`irah membuktikan keberadaan Tuhan dengan tiga cara: naqli, `aqli, dan qalbi (hati) yang mirip dengan metode sufi Imam Ghazali dan Fakhruddin Razi. Berdasarkan pendapat Fakhruddin Razi, ada dua argumen filosofis, yaitu Burhan Imkan al-Ajsam (argumentasi kemungkinan keberadaan materi) dan Imkan al-A`radh (kemungkinan sifat), serta dua argumen teologis, yaitu Burhan Huduts al-Ajsam (argumentasi barunya materi) dan Huduts al-A`radh (barunya sifat), yang semua ini digunakan Asya`irah untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Terkait pengenalan Tuhan, sebagian Mu`tazilah (seperti Juwaini dan Ghazali) berpendapat bahwa hal ini tidak mungkin, sementara sebagian yang lain (seperti Baqillani) berpandangan sebaliknya.

Sifat-sifat Allah: Sifat-sifat Allah ada tiga bagian, yaitu salbi (negatif), tsubuti (tetap), dan ikhbari, yaitu seperti sifat manusia (misalnya, memiliki mata dan tangan). Asy`ari berpendapat bahwa bagian yang ketiga harus diyakini secara bila kaif (tanpa cara dan bagaimana), sebab substansi sifat-sifat ini tidak jelas bagi kita.

Determinasi (Jabr) dan Ikhtiar: Dalam masalah ini, demi menjaga sisi qadha dan qadar Allah serta ikhtiar manusia, Asya`irah mengemukakan pandangan kasb (usaha) yang merupakan istilah al-Quran. Penafsiran mereka tentang kasb adalah sebagai berikut: Kemampuan (qudrah) ada dua macam, yaitu qadim/lama (yang merupakan milik Allah dan berperan dalam penciptaan perbuatan) dan hadits/baru (yang merupakan milik hamba). Satu-satunya fungsi kemampuan hadits adalah bahwa hamba merasakan kebebasan dalam dirinya. Oleh karena itu, makna kasb al-fi`l adalah berbarengannya penciptaan perbuatan dengan penciptaan kemampuan hadits pada diri manusia. Tentunya, Asy`ari menyebut kasb sendiri sebagai ciptaan Allah. Beliau berpendapat bahwa orang yang melakukan kasb adalah tempat Allah mewujudkan perbuatan-Nya dan orang itu berperan sebagai sarana perbuatan Allah.

Baik dan buruknya perbuatan (husn wa qubh): Asy`ari menyebut tiga makna baik dan buruknya perbuatan dan memilih makna ketiga sebagai makna yang benar. Tiga makna itu adalah:

1. Kesempurnaan dan kekurangan.

2. Mengandung maslahat atau madharat.

3. Layak dipuji atau dicela. Menurutnya, tidak ada perbuatan yang layak dipuji atau dicela secara mandiri. Hanya lantaran perintah dan larangan dari syariat-lah suatu perbuatan layak dipuji atau dicela.

Kosmologi: Meliputi dua masalah:

a) Struktur semesta: Asya`irah condong kepada teori atomisme (jauhar fard). Melalui teori ini, Asya`irah mendapat peluang untuk membuktikan bahwa dunia itu hadits (baru) dan Allah sebagai satu-satunya Zat yang qadim (dahulu).

b) Mortalitas semesta: Asya`irah berpendapat bahwa semesta itu mortal. Mereka menyebut `aradh (sifat) mortal dan jauhar (esensi) imortal. Tujuan dari pandangan ini adalah pembuktian sifat qadim Allah dan peran abadi-Nya dalam segala perkara semesta.

Antropologi: Meliputi dua pandangan:

a) Hakikat manusia adalah jauhar (esensi) jasmani (Juwaini).

b) Hakikat manusia adalah esensi ruhani (Baqalani).

Tokoh-tokoh Asya`irah: Di antaranya adalah: Abu Bakar Baqillani (penulis al-Tamhid), Imam Ghazali, Imam al-Haramain Juwaini, Fakhrurrazi, Baidhawi, dan Sayyid Syarif Jurjani.

Mazhab kalam ini memiliki peran penting di tengah kaum Muslimin, kendati di masa Asy`ari sendiri tidak begitu mendapat perhatian khalayak. Pada hakikatnya, Asy`ari dikucilkan lantaran penentangan dan perselisihan sengitnya dengan ahlul hadits (para pendukung hadis). Namun belakangan, khususnya setelah era Imam al-Haramain Juwaini dan dukungan dinasti Saljuqi di masa Khaje Nidham al-Mulk Thusi terhadap mazhab ini, Asya`irah menjadi mazhab kalam yang dominan di tengah Ahlussunnah. Hingga sekarang pun, sebagian besar kaum Muslimin Ahlussunah di seluruh dunia, khususnya yang bermazhab Syafi`i dan Hanafi, merujuk dan mengacu kepada Asya`irah dalam masalah-masalah akidah.

Hanya saja umat Islam perlu memahami kembali akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam konteks sekarang ini – dengan tujuan untuk lebih memantapkan pemahaman kita terhadap akidah, pemikiran dan tantangannya. Hal ini penting, sebab bisa terjadi seseorang mengaku Sunni, tetapi di luar pengetahuannya ia sebenarnya bukan pengikut Sunni sejati.

Identitas sebagai kelompok Sunni terkadang diperebutkan, terkadang pula disempitkan konsepnya. Identitas ini diperebutkan, sebab kelompok ini yang disebut para ulama dahulu sebagai kelompok yang setia memegang ajaran Islam. Karena pandangan yang terlalu riqid dan sentimen kepada kelompok lain, sehingga konsep Ahlus Sunnah kadang dipersempit untuk ‘jama’ah’-nya sendiri.

NU dan Muhammadiyah Dukung Fatwa Sesat Syiah ?

Rabu, 07 Maret 2012 16:18 Redaksi
E-mail Cetak PDF

Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bernomor; Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan aliran Syiah yang telah dikeluarkan pada Sabtu, tanggal 21 Januari 2012 mendapat respon   para alim-ulama di Jawa Timur.

Dalam pertemuan bertajuk “Silaturrahmi Ulama-Umara, Menyikapi Berbagai Faham Keagamaan di Jawa Timur” yang dihadiri sekitar 50 ulama Jawa Timur, Selasa (06/03/2012), kemarin, para ulama (termasuk wakil PWNU dan PW Muhammadiyah)  ada perbedaan pendapat tentang kesesatan Syiah.

Dalam acara yang diselenggarakan di Kantor Wilayah Depag Jawa Timur, Jl. Raya Juanda Surabaya tersebut, dua organisasi Islam yang cukup besar di Jawa Timur, NU dan Muhammadiyah bahkan mendesak Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo segera menindak-lanjuti rekomendasi para ulama.

“Akhir-akhir ini di Jawa Timur terjadi keresahan sosial. Jika ini tidak dicegah, akan berimplikasi timbulnya perbuatan-perbuatan anarkis, yang pada gilirannya mengancam stabilitas nasional. Untuk itu, kami dari Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur mendukung keputusan MUI Jatim tentang berbagai aliran sesat di Jatim dan mendorong pemerintah daerah Propinsi Jawa Timur untuk selanjutnya mengambil langkah-langkah dan bersinergi dengan pemerintah pusat dan mengambil langkah-langkah lanjutan sebagai fungsi mencegah terjadinya anarkis,” ujar Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur, Prof Dr Tohir Luth.

Menurut KH Agoes Ali Masyhuri, yang mewakili PWNU, Jawa Timur adalah barometer nasional. Jika stabilitasnya terganggu dampaknya juga akan merembet ke wilayah lain.

“Saya atas nama PWNU Jawa Timur merespon positif langkah-langkah cerdas yang diambil oleh MUI Jawa Timur untuk mensikapi berbagai aliran sesat yang ada di Jawa Timur, karena Jatim adalah barometer nasional,” ujar pria yang juga pengasuh PP Bumi Shalawat Tulangan, Sidoarjo ini.

Sebelum ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Madura akhirnya mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syiah. Fatwa MUI Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur bernomor: A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah yang telah disebarluaskan oleh saudara Tajul Muluk di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang itu menegaskan, bahwa aliran yang dibawa Tajul Muluk itu sudah dikenal sejak 2004-2005 di daerah tersebut,  dinilai sudah menyimpang dari ajaran Islam.

Fatwa yang ditandatangani KH Imam Bukhori Maksum, sebagai Ketua MUI Kabupaten Sampang ini dikeluarkan Senin (02/01/2012) menegaskan, ajaran Syiah yang bawah oleh Tajul Muluk di masyarakat di daerah itu telah menyimpang dari ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi. Fatwa ini juga didukung oleh PWNU Jawa Timur.*

Said Aqil (ketua umum PBNU) menyebut Syi’ah Tidak Sesat, Dalam kurikulum “Al Firqoh Al Islamiyah” ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. “Ulama Sunni seberi Ibnu Khazm menilai Syiah itu Islam,” lanjutnya masih ditulis Tempo.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.

Menanggapi desakan para ulama itu, gubernur yang lebih akrab dipanggil Pakde Karwo tak banyak menjawab dan membantah. Menurutnya, meski pelarangan itu adalah kewenangan pemerintah pusat, ia akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait menyusul masukan para ulama dan kiai asal Jawa Timur ini.

“Saya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat, baik Menteri Dalam Negeri, Deparemen Agama, Kejakasaan Agung atau Kapolri.”

Prof. Umar Shihab Sepakat dengan Prof. Din, Syiah Bukan Ajaran Sesat

.
Ketua Majelis Ulama Indonesia Prof. Umar Shihab sepakat dengan pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin bahwa Syiah bukan ajaran sesat. Baik Sunni maupun Syiah, tetap diakui Konferensi Internasional Ulama Islam di Mekkah dua tahun lalu, sebagai bagian dari Islam.

Hal itu dikatakan Prof. Umar Shihab. Karena itu, kakak kandung mantan Menteri Agama M. Quraish Shihab meminta umat Islam kembali mengartikan Islam sebagai rahmahlil’alamiin. Terkait perbedaan, dia mengutip Sabda Rasulullah Muhammad SAW, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Karena itu, ungkapnya, MUI Pusat akan melakukan pertemuan dengan MUI Sampang, Jawa Timur, yang memfatwakan Syiah itu ajaran sesat.

“Kita belum ada rencana untuk evaluasi MUI daerah, terutama Sampang. Tapi Insya Allah kita akan ikuti perkembangan. Selasa besok kita ketemu,” ungkap Gurubesar Ilmu Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

MUI Sampang, menurutnya, kurang memahami bagaimana kedudukan dan pemikiran Islam Sunni dan Syiah. Atau mungkin dia menduga, ada kelompok-kelompok atau oknum tertentu yang tidak ingin umat Islam bersatu. “Ada yang tidak ingin Islam ini menyatu. Sehingga (umat Islam) ditunggangi, bahkan dihasut, yang malah jauh dari ajaran Islam seperti membakar rumah,” tandasnya.

Sunni-Syiah tak Ubahnya Seperti NU-Muhammadiyah

JAKARTA -

Eksistensi Sunni-Syiah di Indonesia tidak harus dipertentangkan. Jika, keduanya terus dipertentang, maka tidak akan menemukan kata akhir. Sebab, Sunni-Syiah tak ubahnya seperti NU dan Muhammadiyah.

“Karena itu kita melihat sisi yang tidak mempertentangkan, diluar sisi keyakinan Ahlul Bait, Imamah dan bagaimana cara beribadah,” ujar Peneliti dan Pakar Syiah Indonesia dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Zulkifli, Rabu (25/1).
Menurut dia, masyarakat Indonesia harus melihat sisi lain dari Syiah yang lebih menjawab problematika Islam kekinian. Salah satunya adalah menentang penindasan hegemoni yang ingin menghancurkan Islam, seperti Amerika, Barat dan Zionisme Israel.[republika]

Soal Islam Syiah, Muhammadiyah Minta Umat Berdialog

Muhammadiyah : “Tidak ada beda Sunni dan Syi’ah”

 Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin, mengatakan tak ada perbedaan besar antara dua mazhab besar dalam Islam Sunni dan Syiah, sebuah pernyataan sejuk yang menutup pintu perpecahan dan adu domba yang bisa menghancurkan harmoni Muslimin Indonesia. Din berkata baik Sunni dan Syiah mengakui Tuhan dan Rasul yang sama. Soal itu perlu diluruskan agar tidak memecah persaudaraan umat Islam
.
Muhammadiyah mengimbau umat Islam mengedepankan dialog dalam menyikapi perbedaan sesama muslim. Khususnya, antara Islam Sunni-dan Islam Syiah.Hal ini penting agar tidak terulang seperti kasus penyerangan dan pembakaran pesantren milik jemaah Syiah di Sampang, Madura.”Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim,” kata Wakil Rektor bidang Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Zamahsari di kampus Uhamka, Senin (2/1).Menurut Zamahsari, Muhammadiyah dan Uhamka mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Warga yang mengaku Suni menyerang dan membakar madrasah dan rumah pimpinan Syiah di Sampang.
.

Presiden SBY, sejauh ini, belum bisa bertindak terhadap pelaku-pelaku yang terlibat aksi-aksi kekerasan-kekerasan di negara ini, terutama yang dialami oleh kaum minoritas.

Demikian yang disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, Umar Shihab

Tetapi Umar tidak berani mengatakan jika kekerasan yang terjadi karena ada pembiaran dari pemerintah.

“Memang banyak yang menilai bahwa SBY tidak bisa bertindak tegas dan kurang berani memberikan satu tindakan konkret, terbukti masih banyak minoritas yang mengalami dikriminasi bahkan kekerasan seperti Ahmadiyah,” pungkas Umar

Dia menduga ada motif di balik kerapnya aksi kekerasan di negeri ini. Oleh sebab itu, MUI meminta Presiden SBY untuk mengambil tindakan tegas terhadap semua pelaku tindak kekerasan termasuk yang melakukan provokasi.

Pemerintah juga diminta untuk memberikan penerangan dan informasi yang bisa membuat minoritas aman yang artinya tidak akan terjadi perpecahan baik sesama agama maupun bangsa.

.

Pemuda Muhammadiyah: Penganut Syiah Harus Dikawal!
Senin, 02 Januari 2012 , 10:39:00 WIB

SALEH DAULAY


Pemahaman para pelaku aksi pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terhadap makna toleransi dipertanyakan.

Pasalnya, selama ini, kelompok-kelompok yang melakukan tindakan kekerasan tersebut sangat toleran terhadap agama lain. Namun kali ini, toleransi itu seakan-akan tumpul hanya karena perbedaan mazhab dan pemikiran.

“Toleransi terhadap penganut agama lain memang sangat diperlukan dan wajib dilaksanakan,” jelas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, saat dihubungiRakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 2/1)

.

“Tetapi yang lebih fundamental dari itu adalah toleransi antara sesama penganut agama yang sama. Mengapa kita mampu mentoleransi agama lain tetapi tidak mampu mentoleransi umat Islam lain yang berbeda mazhab?” sambung Saleh mempertanyakan.

Karena itu, Saleh menegaskan, kelompok yang selama ini cukup keras membela kaum minoritas dari pemeluk agama lain seharusnya juga melakukan pembelaan yang sama terhadap penganut mazhab minoritas, seperti Syiah di negeri ini.

“Hal ini sangat penting agar pluralitas dan kebhinnekaan Indonesia semakin mantap tertanam di tengah-tengah masyarakat.  Apa pun jenis mazhab yang meraka anut, haruslah tetap dihormati dan diperlakukan seperti saudara, setidaknya saudara sebangsa,” jelasnya.

Dia menekankan, toleransi antar umat beragama haruslah dilaksanakan beriringan dengan toleransi internal umat beragama. Malah tentu sangat disayangkan bila toleransi pada agama lain dianggap lebih mulia daripada toleransi di tingkat internal agamanya sendiri.

“Jangan sampai terkesan hanya peduli agama lain, tetapi lupa membina umat di tingkat internal penganut agama sendiri,” demikian Saleh.

Pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Kali ini, kecaman datang dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, menegaskan, apa pun motifnya, tindakan anarkis itu tetap tidak dapat ditolerir karena jelas-jelas melanggar hak asasi manusia.  Apalagi, tindakan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang Islam dari Mazhab Sunni.

“Tindakan ini jelas-jelas merusak nilai-nilai persaudaraan di antara sesama kaum Muslimin,” tegas Saleh saat dihubungi Rakyat Merdeka Onlinepagi ini (Senin, 2/1).

“Sudah sepatutnya, para ulama dan pemuka masyarakat di daerah itu berupaya keras mencegah terjadinya tindakan anarkis seperti itu. Selain melanggar hukum, tindakan itu jelas-jelas mencoreng umat Islam yang selama ini dikenal sangat toleran terhadap penganut agama lain,” tandasnya

.

.

Buya Syafii: Kebenaran Bukan Milik Individu

Senin, 2 Januari 2012 07:31 wib
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan
.
Menurut pria yang lebih akrab dipanggil Buya ini, hal semacam itu harus dihentikan. Sebab kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. “Saya rasa sikap yang tidak baik, ada monopoli kebenaran,” ujar Buya kepada okezone, Minggu (1/1/2012).Buya pun heran terhadap tindakan anarkistis sebagian masyarakat lantaran menganggap Syiah bertentangan dengan Islam. Padahal kata dia, Syiah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. “Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima,” jelasnya
.
Dia pun menyatakan bahwa setiap orang sekalipun atheis berhak hidup. Hal yang terpenting kata dia, bisa hidup rukun dan toleran. “Jadi perbuatan-perbuatan semacam itu harus dihentikkan, apalagi di Sampang itu bersaudara, masak agama memecah belah,” paparnya.Dia meyakini para pemeluk agama yang melakukan tindakan anarkistis bukanlah penganut agama yang diridhai. “Menurut saya semacam itu bukan agama yang autentik,” pugkasnya.
IlustrasiPeringatan Asyura atau memperingati wafatnya cucu nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husain di Indonesia berlokasi di kediaman  Abdurahman Wahid atau Gus Dur oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI)
Organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia ini membandingkan jaminan keamanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid alias Gus Dur saat menjadi Presiden RI keempat.

Menurut Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaludin Rakhmat mengatakan, semasa pemerintahan Gus Dur, kelompok Sunni dan Syiah tidak pernah terlibat konflik.

“Pada jaman Gus Dur, dia  menetapkan A, maka seluruh warga Nahdlatul Ulama mengikutinya. Itu yang tidak terjadi pada pimpinan NU sekarang,” ujarnya

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) menyesalkan aksi pembakaran area pondok pesantren milik kelompok Syiah di Sampang, Madura.

Organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia ini membandingkan jaminan keamanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid alias Gus Dur saat menjadi Presiden RI keempat.

Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaludin Rakhmat mengatakan, semasa pemerintahan Gus Dur, kelompok Sunni dan Syiah tidak pernah terlibat konflik.

“Pada jaman Gus Dur, dia  menetapkan A, maka seluruh warga Nahdlatul Ulama mengikutinya. Itu yang tidak terjadi pada pimpinan NU sekarang,” kata Jalaludin dalam jumpa pers menyikapi pembakaran Ponpes milik kelompok Syiah, Sabtu (31/12/2011).

Bahkan Gus Dur menerapkan garis kebijakan pemerintah untuk melindungi kaum minoritas. Khusus menyangkut kelompok Syiah, Gus Dur, kata Jalaludin siap mengerahkan pengikutnya untuk melakukan penghadangan bagi kelompok yang akan melakukan penyerangan.

Menyoal hal lain, Jalaludin mengungkapkan informasi mengenai kepindahan ulama NU ke kelompok Syiah. “Banyak latar belakang ulama NU yang  pindah ke Syiah, contohnya Kiai Lumajang dulunya dia  pimpinan NU di Lumajang,” sebutnya.

.

Ketua Umum Muhammadiyah : Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam

 MAY 5, 2008 

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.

“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di

muka bumi,” katanya.

Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.

“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)

Positif Thinking pada Para Sahabat Nabi

E-mail Cetak PDF

Oleh: Ustad Husain Ardilla

Membaca sejarah umat manusia yang penuh dengan intrik dan tendensi rasanya sulit sekali menyimpulkan kebenarannya seratus persen. Disamping itu, ketika kita membaca sejarah, kita di ajak untuk menelusuri zona “spekulasi” antara asbab al-waqi’ dan motif sang pelakon. Disinilah dibutuhkan kearifan dan ketelitian dalam menelusuri lembaran-lembaran sejarah apalagi sejarah pertikaian awal umat Islam. Pada akhirnya, sejarah itu akan bertutur tentang hikmah dan pelajaran berharga untuk umat selanjutnya.

Saqifah Bani Sa’idah

Bermula dari tragedi di Saqifah bani Sa’idah, semangat kesukuan di kalangan Anshar, antara Khazraj dan ‘Aus, yang pada masa Nabi bisa disatukan berpotensi bangkit kembali. Gelagat yang tidak sehat ini dapat dibaca oleh sayyidina Umar, maka ia mengajak sayyidina Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk datang ke balairung tersebut. Silang sengketa pun semakin melebar menjadi perseteruan antara Muhajirin dan Anshar.

Terjadilah dialog panjang yang pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dari sinilah kemudian benih-benih penyelewengan sejarah umat Islam dimulai.

SAHABAT MURTAD MASAL DAN MASUK NERAKA  kata hadis sunni ….!!!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُ…مْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

* Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى.

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

* Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

* Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

RUJUKAN:
[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.
[2]Shahih Bukhari, 8/150.
[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.
[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

wahai para pembaca …

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin/keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah! Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentikinya mereka sebar-luaskan, mulai dari menuduh Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri dan tidak meyakini Al Qur’an kaum Muslimin hingga menuduh bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir saja dari mereka! Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka.

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali tiga atau lima orang saja, di mana atas dasar tuduhan palsu tersebut mereka membangun kesimpulan untuk menvonis kafir kaum Syi’ah!

Sementara itu, hadis-hadis serupa tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

Untuk menyingkat waktu kami akan sebebtkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang prorsional dan ilmiah tentangnya.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش 

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

Riwayat di atas bukan satu-satunya riwayat dalam masalah ini. Banyak riwayat lain yang menegaskan kenyataan itu. Di antaranya:

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى.

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

  • Dari Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sahl bin Sa’ad berkata, ‘Aku mendengar Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُم عَلَى الْحَوْضِ -مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا- لَيَرِدُ عَلَيَّ اَقْوَامٌ اَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنِى، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ.

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh -siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya- dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Abu Hazim berkata, “Ketika aku menyampaikan di hadapan orang-orang, Nu’man bin Abi ‘Iyasy bertanya kepadaku, ”Apakah demikian yang kamu mendengar dari Sahl?” Aku menjawab, “Ya, benar.” Ia berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Said Al Khurdi menyampaikan tambahan:

 إِنَّهُمْ مِنِّى فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَابَدَّلُوْا بَعْدَكَ فَاقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

 …”. Mereka adalah sahabatku’. Maka dijawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggalmu.’ Lalu aku berkata, ‘Celakalah orang-orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.”[5]

  • Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنِّى فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَإِنِّى سَأُنَازِغُ رِجَالاً فَأُغْلَبُ عَلَيْهِمْ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ: أَصْحَابِى، فَيُقَالُ: لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Saya akan mendahuluimu sampai di telaga (haudh), dan aku akan menarik beberapa kelompok manusia, akan tetapi aku dikalahkan olehnya, lalu aku serukan, “Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku! Ia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[6]

  • Dari Hudzaifah, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,  “Akan datang kepadaku beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku serukan, “Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! (selamatkan mereka).” Kemudian dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[7]
    • Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اُنَاسًا مِنْ اَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِمَالِ، فَأَقُوْلُ، اَصْحَابِى! اَصْحَابِى! فَيَقُوْلُ: إِنَّهُ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِيْنَ عَلَى اَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ. اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ  الْحَكِيْمُ.

“Ada sekelompok sahabatku kelak akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Lalu aku berkata seperti yang diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa a.s.): ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[8]

Kemurtadan yang disinyalir akan terjadi sepeninggal Nabi saw. bukanlah sebuah masalah aneh, jika kita menyaksikan bahwa di masa hidup Nabi pun fenomena kemurtadan kolektif ini juga pernah terjadi. Para ulama dan ahli sejarah Ahlusunnah menyebutkan dengan tegas adanya kenyataan tersebut. Di antaranya adalah dokumen kemurtadan yang terjadi ketika para sahabat itu mendengar berita tentang isrâ’ dan mi’râj yang disampaikan Nabi saw…. tidak sedikit dari para sahabat saat itu murtad kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan.

  • Ibnu Hisyam menyebutkan aksi kemurtadan itu dengan kata-kata:

فَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Maka murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”[9]

  • Al Halabi menyebutkan sebuah riwayat:

حين حدَّثَهم بذلك ارْتَدّ ناسٌ كانوا أسْلِمٌوا.

“Ketika beliau menyampaikan berita itu kepada penduduk Mekkah, murtadlah banyak orang yang sebelumnya telah memeluk Islam.”[10]

Dalam kitab Hayâtu Muhammad Saw., Muhammad Husain Haikal menulis sub judul: Raibatu Quraisy wa Irtidâdu Ba’dhi Man Aslam (keraguan kaum Quraisy dan kemurtadadn sebagain orang yang telah memeluk Islam). Di dalamnya ia menegaskan terjadinya kemurtadan oleh banyak sahabat Nabi saw., ia berkata:

وَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Dan murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”

Ustad Husain Ardilla berkata:

Jika kemurtadan itu bisa saja terjadi dan telah terjadi di kalangan para sahabat, sementara Nabi saw. masih hidup di tengah-tengah mereka dan mampu memberikan pengarahan yang meyakinkan tentang apa yang menyebabkan kemurtadan, lalu apa bayangan kita jika ada penyebab serupa yang menguncang keyakinan sebagian sahabat sementara Nabi saw. tidak lagi berada di tengah-trengah mereka? Akankah kemurtadan itu menjadi mustahil terjadi?

Mengapa? Apakah keberadaan Nabi saw. dianggap sebagai faktor pemicu kemurtadan sementara jika beliau telah mangkat dan tidak lagu bersama mereka, keimanan mereka menjadi mantap dan tak mungkin tergoyahkan?

Apakah keberadaan Nabi saw. yang menjadi pemicunya?

Subhanallah… tidak mungkin! Pasti semestinya keberadaan beliau dapat mencegah terjadinya kemurtadan bukan sebaliknya! Dan ketidak beradaan beliau di tengah-tengah para sahabat jusretu dapat menjadi faktor pemicu. Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[11]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Wallah A’lam.


[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.

[2]Shahih Bukhari, 8/150.

[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.

[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

[5]Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96, Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159.

[6]Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68.

[7]Musnad Ahmad,5/388. Dan ada riwayat serupa pada hal. 393. Imam Bukhari mengisyaratkan adanya riwayat serupa pada8/148 – 149.

[8]Shahih Bukhari,4/168, 204, 6/69, 70, 122, 8/136, Shahih Muslim,8/157, Musnad Ahmad,1/235 dan 253, Al Istîy’âb (di pinggir Al-Ishabah), 1/160.

[9] Sirah Ibnu Hisyam:288. Terbitan Dâr al Kotob al Ilmiah- Beirut- Lebanon.

[10] As Sirah al Halabiyah,1/378. Terbitan al Maktabah al Islamiyah. Beirut – Lebanon.

[11]Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.

wahai para pembaca …

.

Abi Sa’id al-Khudri berkata: “Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAWW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di saf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasehat dan perintah.”Abu Sa’id melanjutkan: “Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya.Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khotbah Id-nya sebelum shalat. Kukatakan padanya: “Demi Allah kalian telah rubah.” “Wahai Aba Sa’id” Tukas Marwan, “Telah sirna apa yang kau ketahui” Kukatakan padanya: “Demi Allah,
apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui.” Kemudian Marwan berkata lagi: “Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khotbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khotbah sebelumnya.”[1]

Coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani merubah Sunnah Nabi. Itu dikarenakan Bani Umaiyah (yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi) terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai Penulis Wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar- mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib.

Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-segan
memerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U’dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. “Kesalahan” mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah.

Abul A’la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya:
1. Dia berkuasa tanpa melakukan sebarang musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.
2. Dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.
3. Dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW bersabda: “Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam.
4. Dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya.[2]

Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah merubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khotbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya.

Nah, sahabat jenis apa yang berani merubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bersalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya.

Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAWW bersabda: “Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak.”[3]

Namun sahabat-sahabat seperti ini telah merubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bersalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah.

Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan
hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAWW telah membunuh “Harun-nya” (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi’ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka.

Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agungpun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa. Demi Allah, sangat mengherankan ketika membaca buku-buku referensi kitab ahl-Sunnah yang memuat berbagai Hadits yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah Hadits-Hadits lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain.

Sehingga Nabi SAWW bersabda:
“Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku.”[4]
Atau sabdanya:
“Engkau dariku dan aku darimu”.[5]
Dan sabdanya lagi:
“Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak”.[6]
Sabdanya:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya”.[7]
Dan sabdanya:
“Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku.”[8]
Dan sabdanya:
“Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah
maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila’nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya.”[9]

Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAWW dan yang diriwayatkan oleh para ulama ahl-Sunnah dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan Hadits ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?

Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A’mr bin A’sh dan sebagainya.
Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir.

Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan “Radhiallahu Anhum”, bahkan mengucapkan salawat untuk mereka tanpa kecuali.

Sehingga ada yang berkata, “Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan”. Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya.

Rasululah SAWW telah bersabda:
“Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”[10]

Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat?

Anas bin Malik berkata:
“Tiada sesuatu yang kuketahui di zaman nabi lebih baik dari (hukum) shalat.” Kemudian dia bertanya: “Tidakkah kalian kehilangan sesuatu di dalam shalat?”

Az-Zuhri pernah bercerita:
“Suatu hari aku berjumpa dengan Anas bin Malik di Damsyik. Saat itu beliau sedang menangis. “Apa yang menyebabkan Anda menangis?”, tanyaku. “Aku telah lupa segala yang kuketahui melainkan shalat ini. Itupun telah kusia-siakan.” Jawab Anas.[11]

Agar jangan sampai terkeliru dengan mengatakan bahwa para Tabi’inlah yang merubah segala sesuatu setelah terjadinya sejumlah fitnah, perselisihan dan serta peperangan, ingin kunyatakan di sini bahwa orang pertama yang merubah Sunnah Rasul dalam hal shalat adalah khalifah muslimin yang ketiga, yakni Utsman bin Affan. Begitu juga Ummul Mukminin Aisyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Rasulullah SAWW menunaikan shalat di Mina dua rakaat (qashar). Begitu juga Abu Bakar, Umar dan periode
awal dari kekhalifahan Utsman. Setelah itu Utsman Shalat di sana (Mina) sebanyak empat rakaat.”[12]

Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa Zuhri berkata: “Suatu hari aku bertanya pada Urwah kenapa Aisyah shalat empat rakaat dalam perjalanan musafirnya?”

“Aisyah telah melakukan takwil sebagaimana Utsman”[13] jawabnya. Umar bin Khattab juga tidak jarang berijtihad dan bertakwil di hadapan nas-nas Nabi yang sangat jelas, bahkan dihadapan nas-nas Al-Qur’an, lalu kemudian menjatuhkan hukuman mengikut pendapatnya.

Beliau pernah berkata: “Dua mut’ah yang dahulunya (halal) dan dilakukan di zaman Nabi, kini aku melarangnya dan mengenakan hukuman bagi orang yang melaksanakannya[14], (bertamattu’ dalam haji dan nikah mut’ah pent.) Beliau juga pernah berkata kepada orang yang junub tetapi tidak memperoleh air untuk mandi, “Jangan sembahyang”.

Walaupun ada firman Allah di dalam surah al-Maidah ayat 6: “… Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih”.
Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Idza Khofa al-Junub A’la Nafsihi (Apabila Orang Junub Takut Akan Dirinya) berikut: “Kudengar Syaqiq bin Salmah berkata, suatu hari aku hadir dalam majlis Abdillah dan Abu Musa. Abu Musa bertanya pada Abdillah bagaimana pendapatmu tentang orang yang junub kemudian tidak memperoleh air untuk mandi?” Abdillah menjawab, “dia tidak perlu shalat sampai ia temukan air.” Abu Musa bertanya lagi, “bagaimana pendapatmu tentang jawaban Nabi kepada Ammar dalam masalah yang sama ini?” Abdullah menjawab, “Umar tidak begitu yakin dengan itu.” Abu Musa melanjutkan, “lalu bagaimana dengan ayat ini, (al-Maidah: 6)?” Abdullah diam tidak menjawab. Kemudian dia berkata, “apabila kita izinkan mereka (melakukan tayammum), niscaya mereka akan bertayammum saja dan tidak akan menggunakan air apabila udaranya dirasakan dingin. ” Kukatakan pada Syaqiqbahwa Abdillah sebenarnya tidak suka lantaran ini semata-mata; dan Syaqiq pun mengiakan”

Kesaksian Sahabat atas Diri Mereka
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”[15]

Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”[16]

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apabila sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu” sepeninggal Nabi, bukankah pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAWW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Apakah seseorang yang berpikir rasional akan tetap mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil seperti yang diklaim oleh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Mereka yang mengklaim seperti itu jelas telah menyalahi nas dan akal. Karena dengan demikian hilanglah segala kriteria intelektual yang sepatutnya dijadikan pegangan sebuah penelitian dan kajian.

—————————————
1. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 122.
2. Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.
3. Shahih Muslim jil. 2 hal. 61
4. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109.
5. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majahjil. 1 hal. 44
6. Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306.
7. Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126.
8. Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. 25; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134.
9. Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281.
10. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi hal. 81; ar-Riyadh an Nadhirah oleh Thabari jil. 2 hal. 219; Tarikh as-Suyuti hal. 73.
11. Shahih Bukhari jil.l hal.74
12. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 154; Shahih Muslim jil. 1 hal. 260
13. Shahih Muslim jil. 2 hal.134.
14. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 54
15. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135
16. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

Syi’ah Indonesia Tengah Mempersiapkan Revolusi ??

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad

Syiah Indonesia Tengah Mempersiapkan Revolusi ??

Ustadz Roisul Hukama, Mantan Pengurus Ikatan Jama’ah Ahlul Bayt Indonesia (IJABI) hanyalah penyusup yang berhasil menyusup kedalam barisan syi’ah, dia bukan mantan syi’ah, tetapi sunni yang menyusup lalu pura pura jadi mantan syi’ah. Jangan kena tipu !

Syiah di Indonesia Dalam Pergelaran Asy Syura

Imamah adalah kewajiban dalam doktrin Syiah. Ketika dia menjadi wajib, maka dia harus diperjuangakan. Menurut Ustadz Roisul Hukama, persiapan Revolusi yang seperti terjadi di Iran, juga tengah dipersiapkan Syiah di Indonesia. “Itu cita-cita. Jelas sekali,” tandasnya kepada para wartawan, kemarin, Selasa (24/01)

Karena ini sebuah desain yang cukup besar, rencana itupun tengah dimatangkan dengan melibatkan berbagai tahapan. Salah satunya menanam kader-kader Syiah di berbagai ormas dan pemerintahan. “Harus dikuatkan dulu dengan cara orang-orang Syiah ditanam dimana-mana. Mereka semua ada di Ormas, Pemerintahan, dan juga partai politik,”

Menurutnya konspirasi yang tengah disiapkan di Indonesia bagian dari sebuah konspirasi berskala global. “Ini sebenarnya bukan lokal, tapi internasional. Meski kecil mereka punya power. Coba lihat Zionis, meski kecil tapi power tidak? Mereka punya otak, duit dan senjata. Amerika pun bisa diperdaya,” sambungnya.

Sebelumnya, petinggi NU, Kiai As’ad Ali juga mengatakan hal yang senada. Menurutnya, dewasa ini Syiah Indonesia sedang berupaya membuat lembaga yang disebut Marja al-Taqlid, sebuah institusi kepemimpinan agama yang sangat terpusat, diisi oleh ulama-ulama Syiah terkemuka dan memiliki otoritas penuh untuk pembentukan pemerintah dan konstitusi Syiah. Di beberapa negara yang masuk dalam kaukus Persia, lembaga itu telah berdiri kokoh dan memainkan peran yang efektif dengan kepemimpinan yang sangat kuat. Di Irak misalnya, lembaga Marja Al Taqliddipimpin oleh Ayatollah Agung Ali al-Sistani.

Lembaga Marja Al Taqlid, selain berfungsi menyusun dan mempersiapkan pembentukan pemerintahan beserta konstitusinya, juga berfungsi menyusun prioritas-prioritas pemerintah, termasuk pembentukan sayap militer yang disebut maktab atau lajnah asykariyah. Selama Marja al Taqlid ini belum terbentuk, maka pembentukan maktab askariyah pun pastilah belum sistematis dan terstruktur.

======================================

JAWABAN KAMi :

Mana mungkin akal sehat dapat menerima 2,5 juta kaum syi’ah Indonesia mampu melakukan revolusi terhadap mayoritas ?? Soal konsep  imamah sah sah saja asal tidak anarkhis seperti gaya Abubakar Ba’asyir cs.. Apa salahnya mengeluarkan ide ?? Ide adalah bagian dari HAM

Ustadz Roisul Hukama, Mantan Pengurus Ikatan Jama’ah Ahlul Bayt Indonesia (IJABI) hanyalah penyusup yang berhasil menyusup kedalam barisan syi’ah, dia bukan mantan syi’ah, tetapi sunni yang menyusup lalu pura pura jadi mantan syi’ah. Jangan kena tipu !

Adik kandung Tajul Muluk ini mulai aktif dalam struktur IJABI pada tahun 2007.

“ (IJABI) nyatanya, di dalam semua mau diajak ke wilayatul faqih. Wilayatul Faqih itu artinya revolusi imamah. Ketika saya tahu begitu dan penyimpangan-penyimpangan ushul lainyna, ini sudah masuk ahlul bid’ah fi akidah. Akhirnya saya keluar,” sambungnya.

tanda-tanda Akhir Zaman telah nampak. Inilah era sekularisme di negara sunni

Mengenai perkara-perkara yang berkenaan dengan akidah, kita perlu memperhatikan beberapa masalah di bawah ini:

 

Pertama, kita perlu meniru al-Quran yang mengajarkan kita cara berdiskusi dan membahas sesuatu. Metode diskusi dan perbincangan yang diajarkan al-Quran akan mengantarkan kita keluar dari lingkaran egoisme dan kesempitan berpikir menuju sikap inklusif dan keterbukaan. Metode inilah yang disebut metode terbaik dalam berkomunikasi, dimana kedua belah pihak benar-benar mendapatkan penghormatan oleh lawan bicaranya.

 

Kedua, kita harus menjadikan Islam sebagai parameter tertinggi dalam berinteraksi. Seharusnya dua syahadat (bersaksi bahwa Allah Swt sebagai Pencipta alam semesta dan Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya) dijadikan sebagai syarat terjaganya setiap Muslim dari kekufuran dan kebebasannya dalam berpendapat sesuai dengan mazhab yang diyakininya, sekaligus menjadi syarat perlindungan terhadap harta dan kekayaan yang dimilikinya.

 

Ketiga, seharusnya kata “kafir” dihapus dari kamus percakapan dan komunikasi antar Muslim. Seseorang tidak akan pernah keluar dari bingkai keimanan dan masuk dalam jurang kekufuran selama ia tidak bertentangan dengan prinsip dua syahadat tersebut.

 

Keempat, perbedaan mazhab seharusnya dianggap sebagai variasi dalam kesatuan. Ijtihad setiap mazhab tidak boleh dengan mudah dinilai melenceng dari garis Islam. Mazhab lain tidak boleh dianggap bodoh, bahkan musuh, hanya karena perbedaan cara berpikir dan sumbernya saja. Oleh karenanya, sudah merupakan tugas para pemikir Islam untuk menjadikan budaya komunikasi dan diskusi yang sehat sebagai budaya resmi mereka dimana tak seorang pun yang meragukan dampak positif hal ini.

 

Kelima, jiwa persahabatan, perdamaian, cinta dan kebebasan harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim. Ini adalah tugas utama yang harus diemban oleh setiap cendekiawan dan ulama.

 

Keenam, pada situasi tertentu, perlu adanya sikap tegas terhadap pihak-pihak garis keras dan yang fanatik agar mereka sadar dan mengikuti aturan yang seharusnya. Sering kali terjadi, misalnya saat diadakan sebuah seminar pendekatan antar-mazhab, kita tidak leluasa mengutarakan pelbagai pendapat kita karena masih tetap ada saja rasa fanatik dalam diri kita, atau mungkin kita tidak menjelaskan kenyataan yang sebenarnya tentang suatu mazhab atau pihak lain karena kita tidak sejalan dengan mereka sehingga lawan bicara kita tidak mengetahui yang sebenarnya.

 

Ketujuh, menjalankan ajaran al-Quran, yakni saling menghormati dalam berdiskusi dan bertukar pendapat. Meskipun lawan bicara kita non-Muslim sekalipun, tentu ada titik-titik kesamaan yang dapat ditelusuri dalam pemikirannya dan ditanggapi dengan positif.

 

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan kondisi politik adalah:

 

Pertama, harus ada pemisah antara permasalahan primer dan permasalahan sekunder dalam masyarakat-Muslim. Sebagian dari permasalahan yang berkaitan dengan keseluruhan umat Islam tidak dapat dilakukan oleh seseorang atau tokoh tertentu yang mewakili beberapa kalangan atau juga sebuah partai yang semuanya mengatasnamakan umat Islam, karena kesalahan bertindak dalam hal ini akan membawa bahaya dan kerugian yang dampaknya akan menimpa umat Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, permasalahan yang mengyangkut kepentingan seluruh umat Islam hanya diselesaikan secara bersama dengan melalui pertimbangan yang matang. Adapun sebagian permasalah yang lainnya, yang bersifat terbatas pada dataran geografis, seperti permasalahan satu negara, adalah masalah yang tidak pokok. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan kondisi masyarakat Muslim setempat dan dengan memperhatikan mazhab-mazhab yang ada.

 

Kedua, negara-negara adidaya secara umum, dan Amerika secara khusus, adalah pihak-pihak yang menjadikan Islam dan penganutnya sebagai sasaran utama mereka. Umat Islam harus mengerti tindakan dan usaha kolektif apa yang harus dilakukan guna menghadapi mereka.

 

Ketiga, kita harus waspada dengan maraknya istilah-istilah seperti teroris, kekerasan, kejahatan dan lain sebagainya, yang mana semua kata-kata itu ditujukan kepada kita, umat Islam.

 

Keempat, kita harus memiliki sikap bersama dalam hal bagaimana seharusnya kita menghadapi upaya-upaya musuh yang berlawanan dengan persatuan umat Islam, juga dalam menyikapi istilah-istilah baru yang tersebar di tengah-tengah komunitas dunia, agar kesatuan umat Islam tetap terjaga.

 

Persatuan antar umat Islam bukan sekedar formalitas dan slogan belaka, bahkan berkaitan langsung dengan keberadaan Islam dan kaum Muslimin di panggung dunia yang keadaan mereka saat ini sedang terpuruk. Poin terakhir yang perlu kami ingatkan adalah, jika kita memang benar-benar tidak mampu mencapai persatuan, maka paling tidak kita harus bisa mengatur dan memahami perbedaan-perbedaan antara sesama kita, agar keutuhan kita sesama sebagai ummatan wahidah (umat yang satu) selalu terjaga.

 

Jalan terjal dan berliku yang kita sedang kita lewati begitu banyak. Kita sedang berada di situasi yang genting. sepanjang sejarah kita belum pernah menemukan keadaan umat Islam seperti saat ini. Karena itu, kita harus waspada dan bersikap bijaksana. Jika kita masih sibuk mengungkit perbedaan dan isu ikhtilaf mazhab, maka kita harus bersiap-siap untuk terus terpuruk dan kemudian mengalami kebinasaan.

Pertanyaan penting pertama adalah kenapa bumi diciptakan? Dalam surah Thâha ayat 53, Alquran menyebutkan: “(Dia) yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan.” Allamah Thabathabai dalam tafsir al-Mîzân (14/171) menjelaskan: “Kemudian Allah menempatkan manusia di bumi untuk menghidupkan kehidupan dunia, sehingga mereka dapat memperoleh ketetapan bagi kesenangannya dan kehidupannya yang agung; seperti seorang bayi yang ditempatkan dalam buaian dan membawa naik kepada kehidupan yang lebih mulia…”

Dari sini kita bisa menyadari bahwa bumi telah diciptakan sebagai sebuah lahan persiapan dan alat bagi kesempurnaan manusia serta kesucian hatinya. Kelirunya, banyak orang yang tidak menjaga dunia untuk akhirat yang lebih baik, namun justru menghancurkannya demi keuntungan pribadi.

Apakah Manusia sudah Memanfaatkan Bumi sebagaimana Tujuan Penciptaanya?

Dalam surah ar-Rûm (30: 41), Alquran sudah berbicara dengan jelas tentang orang-orang yang seharusnya bersyukur kepada Allah swt. dengan memanfaatkan bumi untuk tujuan utamanya, tapi malah menyebabkan kerusakan dan setelah itu menghadapi konsekuensi perbuatannya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Dan di dalam surah al-A’râf (7: 10), Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” Kalimat “amat sedikitlah kamu bersyukur” tidaklah selalu dimaknai syukur dengan lisan, karena kenyataannya syukur yang benar adalah memanfaatkan karunia sebagaimana tujuan penciptaannya.

Apa Kewajiban Kita untuk Bumi Saat Ini?

Sejak awal, jawabannya sudah jelas: karena bumi diciptakan untuk meraih kesempurnaan manusia, kita harus membuat keputusan tegas dengan memanfaatkan bumi semata-mata untuk hal tersebut. Bukan berarti kita menghentikan kemajuan ilmu pengetahuan, karena ventures juga sebuah media dalam membantu mengembangkan bumi. Tapi menciptakan solusi dalam memanfaatkan bumi sebagai alat untuk meraih kesempurnaan manusia, mengharuskan kita untuk memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana memanfaatkan bumi dan sumber dayanya dengan baik… dan wahyu (Tuhan) merupakan sumber terbaik dalam mengarahkan kita tentang hal ini.

Pertama kita harus mempelajari unsur-unsur yang bertanggung jawab bagi kerusakan dunia baik secara fisik maupun spiritual. Selama kita tidak mencari akar masalahnya, sekuat apapun usaha kita untuk merubah akan sia-sia. Selama kita berusaha, kita harus tetap berdoa dengan rendah hati agar Allah Swt. dapat menjaga usaha kita (istiqamah) sehingga dapat menyelesaikan dan melepas diri kita dari kelompok yang tidak bertanggung jawab atas krisis bumi ini.

Akar Masalah

Berbagai seminar dan diskusi tentang krisis bumi telah, sedang, dan akan terus diselenggarkan di berbagai tempat. Perayaan seperti “Hari Bumi” juga diperingati agar masyarakat menyadari bahaya yang dihadapi bumi. Pecinta lingkungan telah menyebutkan beberapa masalah. Tulisan yang singkat ini tidak mungkin menyebutkannya satu per satu. Di antara masalah yang mereka sebutkan adalah:

  1. Menipisnya lapisan ozon (yang berperan seperti layar yang melindungi bumi dari radiasi sinar ultra-violet berbahaya). Hal ini berkaitan dengan penggunaan barang-barang yang mengandung gas CFC (chlorofluorocarbon). Di antara dampak bahaya menipisnya ozon adalah kanker kulit, penyakit mata, pemanasan global (global warming), dan seterusnya.
  2. Pencemaran air. Hal ini berkaitan dengan pembuangan limbah industri ke air tanah. Sikap egois dan kapitalistik para produsen dan pengusaha pabrik menimbulkan rasa tidak peduli akan risiko kesehatan bagi mereka yang mengkonsumsi air. Karena sudah jelas bahwa penggunaan air yang terkontaminasi memiliki risiko dan berbahaya bagi kesehatan.
  3. Pencemaran udara melalui limbah industri dan unsur lainnya. Bagi mereka yang ingin lebih tahu lebih jelas tentang masalah lingkungan dapat mencari di ensiklopedia dan internet.

Tapi sebenarnya kita punya pertanyaan mendasar bagi diri kita sendiri: Apa akar masalah dari sikap bodoh yang menyebabkan polusi lingkungan? Jika kita bisa menjawabnya, maka kita mampu menghargai bumi, mengurangi bahkan mungkin menghapus krisis ekologi yang terjadi di bumi yang terzalimi ini.

Alasan mendasar bagi terjadinya krisis ini adalah pandangan-dunia (world view) yang keliru serta pemikiran yang sempit tentang dunia ini. Selama manusia tidak memahami hakikat hidup ini, tujuan penciptaannya, dan hubungan antara Pencipta (khalik) dan yang diciptakan (makhluk), maka ia tidak pernah bermurah hati pada dirinya sendiri serta membiarkan bumi ini rusak. Bumi sejatinya adalah alat bagi tujuan penciptaan, yakni perantara dan kedekatan dengan Allah Swt.

Hal ini juga berhubungan dengan ketidaktahuan kita tentang fakta tersebut atau kurangnya ketaatan dalam diri kita yang menyebabkan kekacauan di bumi yang fana ini. Faktanya, mengapa para aktivis yang berjuang bagi “lingkungan fisik” harus melupakan “lingkungan spiritual”? “Polusi spiritual” lebih terlupakan dari pada polusi fisik. Terlebih, polusi spiritual merupakan penyebab terjadinya polusi fisik. Kesimpulannya, dua alasan yang mungkin menyebabkan kerusakan yang ada di bumi ini:

  1. Kesalahan pandangan terhadap realita: tidak percaya akan Tuhan, wahyu, kehidupan akhirat, dan memiliki keyakinan buatan yang berlawanan dengan sifat alami manusia. Kecenderungan seperti ini diikuti oleh penilaian yang salah, yang datang sebagai hasil dari ketidaktahuan metode yang tepat dalam meraih kebenaran. Ketika seseorang memiliki pandangan yang salah dan tidak mengetahui makna kehidupan, dia akan melakukan apapun yang egonya kehendaki. Dia akan cenderung mengabaikan ketentraman (makhluk) lainnya.
  2. Pengabaian bagi mereka yang beriman: Jika orang beriman yang memiliki pendirian yang kuat tentang keyakinannya ia akan tetap tabah dalam menjalani perintah Allah Swt., bumi akan menjadi tempat yang tentram. Bertentangan jika ia mengikuti keinginannya dengan mengalahkan pemikirannya serta memiliki kelemahan dalam keyakinannya; dia akan membuat bahaya, tidak hanya bagi manusia tapi seluruh makhluk yang hidup di bumi.

Selepas pulang kerja beberapa malam yang lalu, bersama rekan kami melihat keramaian orang yang menyaksikan aksi kejahatan pencurian kaca spion mobil mewah. Tanpa malu berbuat kejahatan di muka publik, peristiwa ini terjadi di tengah rutinitas kemacetan. Masih di malam yang sama, bus kota yang saya tumpangi kehadiran penodong mabuk berkedok pengamen. Tanpa bernyanyi meski membawa gitar, penodong meminta uang kepada penumpang sambil mengeluarkan kata-kata kotor.

Saya sedih. Sambil berpikir benarkah kondisi bumi semakin hari semakin memburuk? Dulu, nabi saw. pernah berkata bahwa menjelang akhir zaman nanti, keburukan dan kejahatan akan benar-benar meliputi seluruh muka bumi, sebelum seseorang dari keturunannya akan menegakkan keadilan.

Ayatullah Mazhahiri mengatakan bahwa manusia mempunyai dua dimensi. Pertama adalah dimensi materi, yang dalam filsafat disebut dengan dimensi hewani. Dalam dimensi ini, ketika nafsu menguasai akalnya, maka manusia adalah hewan dalam arti sesungguhnya. Tapi manusia juga memiliki dimensi kedua, yakni dimensi malakuti, karena ia adalah makhluk yang ditiupkan roh Ilahi. Roh, akal, nurani akhlak, dan hati semuanya tertuju kepada sisi spiritual manusia.[1]

Karenanya kita pernah mendengar dan tahu bahwa jika dimensi malakuti kita kalah maka kita akan menjadi lebih buruk daripada hewan. Sebaliknya, jika kita bisa menaklukkan dimensi hewani, kita bisa menjadi lebih tinggi dari malaikat, karena malaikat hanya diberikan dimensi spiritual. Lalu, kalau manusia memiliki dua dimensi, tidakkah bumi sebagai tempat tinggal manusia memiliki dua dimensi pula?

Melihat perkembangan dimensi materi yang dimiliki bumi akan membuat kita terkagum-kagum. Dulu, butuh waktu berbulan-bulan untuk kita pindah dari satu benua ke benua lain, tapi sekarang dapat ditempuh dalam hitungan jam. Berkat kemajuan teknologi, komunikasi lintas negara juga dapat dilakukan dalam waktu singkat. Kita juga akan dibuat kagum ketika, misalnya, menyaksikan serial dokumenter MegaStructures yang ditayangkan National Geographic. Saya kagum dengan kehebatan manusia sekarang ketika membangun jembatan atau gedung pencakar langit. Tapi yang namanya materi, nantinya ia hanya akan menjadi bagian dari sejarah dan tidak akan kekal.

Dalam Matsnawi dikatakan bahwa setiap kali kita memberikan perhatian kepada dimensi materi semata, maka pada saat yang sama kita akan membunuh dimensi spiritual. Dalam contoh kecil, jika kita hanya memusatkan dan memuaskan kebutuhan hewani seperti makan, minum, atau tuntutan syahwat, maka spiritual kita akan melemah. Ketika dimensi spiritual melemah, mereka itu tidak ubahnya binatang ternak bahkan lebih sesat lagi (QS. Al-A’raf: 179). Kita bisa berbohong, menodong bahkan membunuh demi kepuasan hewani.

Dunia ini selalu menawarkan janji tentang indah dan kekalnya kehidupan materi dan membuat lupa bahwa kita mempunyai sisi rohani, spiritual. Jika kita mampu memusatkan pada dimensi spiritual maka kita bisa mengendalikan dimensi materi (hewani), untuk dimanfaatkan sesuai dengan akal dan agama. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Siapa memperbaiki batinnya maka Allah akan memperbaiki lahiriahnya.

Di antara tanda-tanda akhir zaman sebagaimana yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad saw. adalah “waktu akan terasa begitu cepat; sehingga setahun akan berlalu seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti sejam, dan satu jam seperti jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan api”. Mengapa?

Beliau menjelaskan bahwa persepsi waktu yang bergerak begitu cepat merupakan konsekuensi dari hilangnya mengingat Allah (zikir) dalam hati dan kesibukan kehidupan dunia menempati posisi penting dalam hati. Konsekuensi dari kekosongan spiritual ini menjadikan “orang-orang saling melakukan kesepakatan bisnis dan nyaris tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya”, dan “akan dikatakan bahwa di antara suku ini dan itu ada seseorang yang bisa dipercaya. Orang-orang akan berkomentar betapa cerdas, unggul, dan tegas orang itu padahal (sebenarnya) dia tidak memiliki iman (kepada Allah) meskipun seukuran biji sawi dalam hatinya.”

Nabi juga memperingatkan bahwa akan ada pengkhianatan besar di mana “fitnah atau godaan akan dilemparkan ke hati manusia dalam bentuk jerami sebatang demi sebatang, dan setiap bagian hati yang terkena olehnya akan memiliki tanda hitam. Hasilnya hati akan menjadi dua jenis, pertama, seperti batu putih yang tidak akan dirusak oleh fitnah selama bumi dan langit masih ada; kedua, hitam berdebu sehingga tidak mampu mengenali kebaikan atau menolak keburukan, karena diselimuti oleh fitnah tersebut.”

Tidak diragukan lagi bahwa masa yang disebut ‘kemajuan’ saat ini adalah masa di mana tanda-tanda Akhir Zaman telah nampak. Inilah era sekularisme. Negara sekular, begitu juga dengan politik, ekonomi, pendidikan, pasar, media, olah raga, entertainment, dan sebagainya. Ruang makan dan kamar tidur juga tersekularisasi. Sekularisme dimulai dengan ‘mengeluarkan Tuhan’ dan berpuncak pada ‘menyangkal Tuhan’! Bagaimana bisa? Ketika pengetahuan tersekularisasi, ia mengarahkan pada keyakinan bahwa pengetahuan datang hanya dari satu sumber, misalnya, observasi eksternal dan penyelidikan rasional. Implikasi pengadopsian epistemologi ini adalah: karena dunia materi ini adalah dunia yang hanya bisa kita ‘ketahui’ dengan cara ini, ia membawa pada keyakinan bahwa inilah satu-satunya dunia yang benar-benar ‘eksis’.

Jadi sekularisme itulah yang membawa kepada materialisme, yaitu, penerimaan atau pengakuan bahwa tidak ada realitas di luar realitas material. Materialisme juga mengarah, secara alami, kepada dunia yang penuh dengan keserakahan, kebohongan, ketidakadilan, penindasan, kefasikan, dan pengkhianatan besar karena fondasi moral masyarakat tidak bisa bertahan tanpa hati berisi spiritualisme agama. Dunia seperti itu tidak ingat sedikitpun dengan hal-hal seperti ‘zikir, mengingat’ Allah Taala.

Apa itu ‘zikir’? Ketika seorang pria menemukan dalam hatinya wanita yang ia cintai, dia akan gemetar seolah-olah pesona wanginya menyelimuti hati. Ini terjadi setiap waktu! Ketika dia mendengar namanya disebut, hal yang sama terjadi. Inilah ‘zikir’! Zikir hanya mungkin terjadi ketika ada cinta sejati. Sehingga ketika cinta pada Allah Taala benar-benar menghilang dari hati, ‘waktu’ bergerak lebih cepat dan semakin cepat. Oleh karena itu, cinta yang tulus kepada Allah akan mengiri kebenaran (al-haq) masuk dan menguasai hati; tentunya ‘waktu’ akan bergerak lambat dan semakin lambat, sampai kebenaran itu memindahkan kita ke dunia ‘tanpa batas waktu’.

Perbedaan-perbedaan antara Maturidiyah dan Asya`irah

E-mail Cetak PDF

Oleh: Ustad Husain Ardilla

PENJELASAN mengenai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah kepada umat menjadi penting, sebab ini dilakukan demi merajut ukhuwah kelompok Ahlus Sunnah (Sunni), memantapkan dan meluruskan pemahaman, memadamkan fitnah, serta membentengi diri

Menentukan apakah sebuah agama atau keyakinan itu salah atau benar tidak bisa diambil dari sedikit atau banyaknya para pengikut yang menganutnya.
Ayat Al-Qur’an seringkali menyalahkan umat mayoritas dan malah memuji umat minoritas dalam berbagai ayatnya dan ini sangat mengherankan karena berbeda dengan keyakinan kebanyakan orang yang menentukan kebenaran suatu keyakinan itu dengan jumlah orang yang meyakininya. Kita lihat misalnya dalam sebuah ayat-ayat berikut ini:
  1. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“. (QS. Saba’: 36)
  2. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 243)
  3. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)
  4. …….. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 49)
  5. …………………….. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-An’am: 119)
  6. ……………….. Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS. Huud: 17)
  7. Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36)
  8. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya). (QS. Al-Israa: 89)
  9. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Ruum: 30)
  10. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(QS. Saba’: 28)
Dan masih banyak lagi ayat yang bernada sama dimana Allah sering menunjukkan betapa yang mayoritas justeru bersama kesesatan dan kesalahan. Allah pastilah punya maksud khusus ketika menyiratkan (dan menyuratkan) berkali-kali dalam Al-Qur’an (lebih dari 30 kali) ketika menggambarkan betapa kebanyakan manusia itu tidak punya rasa syukur dan tidak punya pengetahuan atau tidak condong kepada kebenaran. Bisa dibayangkan kalau kita menentukan kebenaran dengan melihat jumlah orang yang percaya bahwa itu benar sedangkan kebanyakan orang seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur’an selalu memilih kesesatan dan lebih condong kepada kesalahan.
.
Jadi orang yang realistik tidak akan pernah merasa khawatir apabila para pengikut dari agama yang diyakininya itu merupakan kelompok minoritas di dalam sebuah kelompok yang besar. Ia juga tidak akan merasa bangga ketika kelompoknya kebetulan adalah kelompok yang mayoritas karena siapa tahu kelompoknya adalah kelompok yang ikut kesesatan dan bukan kebenaran. Sebagai orang yang realistis ia seharusnya berpikir logis.
.
Dalam perang Jamal, seorang laki-laki datang menghampiri Imam Ali bin Abi Thalib dan bertanya:
.
“Bagaimana mungkin engkau menyebut musuh perangmu itu sebagai orang yang ikut kesesatan sementara jumlah mereka lebih banyak daripada pasukanmu?”
.
Imam Ali bin Abi Thalib menjawab:
.
“Kebenaran dan kesesatan itu tidak diukur dari jumlah pengikutnya. Kenalilah kebenaran, dan engkau akan melihat siapakah para pengikutnya; kenalilah kesesatan dan engkau akan tahu juga siapakah para pengikutnya”
.
Seorang Muslim itu sudah sepantasnya dan sepatutnya memecahkan permasalahan itu dengan berpikir logis dan empiris dan mengambil Qur’an sebagai panduan hidupnya.
.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.(QS. Al-Israa: 36)
.
Memang benar bahwa Syi’ah itu hanya diikuti oleh seperempat umat Muslim sedunia (LIHAT A’yan al-Shi’ah, volume 1, halaman 194). Akan tetapi orang dengan terang benderang bisa melihat sepanjang sejarah bahwa lebih banyak ilmuwan dan penulis yang lahir dari kaum Muslimin golongan Syi’ah ini. Bahkan kalau mau jujur hampir semua pendiri cabang ilmu itu berasal dari kaum Muslimin dari golongan Syi’ah. Salah satu yang sering juga disebut-sebut namanya oleh kaum Muslimin ialah Ibnu Sina yang menjadi pendiri atau pelopor ilmu kedokteran moderen yang melepaskan diri dari belenggu takhayul dan kepercayaan sempit yang tidak ada hubungannya dengan kedokteran itu sendiri.
.
Berikut empat nama yang akan saya jadikan contoh (Nama-nama lainnya anda bisa lihat dalam kitab-kitab berikut ini:
  1. al-Dhari’ah Ila Tasanif al-Shi’ah
  2. A’yan al-Shi’ah
  3. Tarikh al-Shi’ah)

.

Mereka adalah:
  • Abu’l-Aswad al-Du’ali, penemu ilmu sintaksis bahasa Arab
  • Al-Khalil Ibn Ahmad, peletak dasar dari ilmu prosody
  • Mu’adh ibn Muslim Ibn Abi Sarah dari Kufah, peletak dasar dari ilmu konyugasi, salah satu cabang ilmu biologi
  • Abu Abdullah Muhammad Ibn Imran Katib dari Khurasan (disebut juga Marzbani), pencetus ilmu retorika (LIHAT: Ta’sis al-Shi’ah, ditulis oleh Sayyid Hasan al-Sadr)

Sepanjang kesaksian sejarah, pada masa kekhalifahan Muawiyah, umat Islam dikenal dalam dua kelompok, yaitu Alawiyah dan Utsmaniyah. Setelah itu, akibat beberapa peristiwa, di masa Umar bin Abdulaziz (versi pertama), atau di masa kekhalifahan Bani Abbas (versi kedua), istilah Ahlussunnah disematkan kepada Utsmaniyah (para pengikut Utsman), sementara Alawiyah (para pengikut Ali) tetap disebut dengan nama pertama mereka, yaitu Syiah.

Secara umum, umat Islam dibagi menjadi dua kelompok utama: Ahlussunnah dan Syiah. Ahlussunnah bercabang kepada beberapa mazhab kalam (teologi), yang terpenting di antaranya adalah Mu`tazilah, Ahlul hadits (hadis centris), Asya`irah, Maturidiyah, dan Wahabiyah. Mu`tazilah adalah hasil dari pertentangan antara keyakinan Khawarij dan Murjiah.

Sebelum mazhab kalam Asya`irah dan Maturidiyah muncul, komunitas Ahlussunnah mengikuti dua mazhab Mu`tazilah dan Ahlul hadits atau Hanbaliyah. Akibat pertentangan keyakinan antara Mu`tazilah dan Ahlul hadits, para ulama Ahlussunnah berinisiatif untuk mereformasi mazhab mereka, khususnya untuk menghadapi prinsip-prinsip kalam Mu`tazilah. Buah dari reformasi ini, adalah kemunculan dua mazhab baru bernama Asya`irah dan Maturidiyah. Sehingga di masa ini, istilah Ahlussunnah wal Jama`ah khusus diberikan kepada dua mazhab terakhir ini.

Pendiri mazhab Asya`irah adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Ia lahir pada tahun 260 H di Bashrah dan wafat tahun 324 H di Baghdad. Sampai usia empat puluh tahun, ia adalah salah satu murid Abu Ali Jubai yang mendukung mazhab Mu`tazilah. Abu Hasan Asy`ari keluar dari mazhab Mu`tazilah pada tahun 300 H. Setelah mengadakan beberapa perbaikan dalam ajaran Ahlul hadits, Abu Hasan Asy`ari mendirikan mazhab baru, yang berlawanan dengan Ahlul hadits dan juga Mu`tazilah. Dalam bidang fikih, Abu Hasan Asy`ari mengikuti mazhab Syafi`i. Di masa sekarang, sebagian besar pengikutnya juga berkiblat kepada Imam Syafi`i dalam masalah hukum.

Sezaman dengan mazhab Asya`irah, Maturidiyah didirikan oleh Abu Manshur Muhammad bin Muhammad Maturidi, di daerah Maturid Samarqand, untuk melawan mazhab Mu`tazilah. Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) menganut mazhab Abu Hanifah dalam masalah fikih. Oleh sebab itu, kebanyakan pengikutnya juga bermazhab Hanafi.

Ada banyak kesamaan antara dua mazhab ini. Keduanya termasuk dalam aliran Ahlussunnah. Terkait kepemimpinan para khalifah setelah Nabi saw sesuai urutan historis yang telah terjadi, keduanya memiliki pandangan serupa. Juga tak ada perbedaan dalam pandangan mereka terhadap para penguasa Bani Umayah dan Bani Abbas. Dalam semua sisi masalah imamah pun mereka saling sepakat. Keduanya juga sepaham bahwa Allah bisa dilihat tanpa kaif (cara), had (batas), qiyam (berdiri) wa qu`ud (duduk) dan hal-hal sejenisnya. Berbeda dengan Hasyawiyah dan Ahlul hadits yang berpendapat bahwa Allah, seperti selain-Nya, bisa dilihat dengan kaif dan had. Dalam hal kalam Allah (Al-Quran), kedua mazhab ini juga memiliki pandangan sama, yaitu bahwa kalam-Nya memiliki dua tingkatan. Pertama adalah kalam nafsi yang bersifat qadim (dahulu), dan kedua adalah kalam lafdhi (lafal) yang bersifat hadits (baru). Ini adalah pendapat moderat dari kedua mazhab ini, yang berada di antara pendapat Mu`tazilah bahwa kalam Allah hadits secara mutlak, dan pendapat Ahlul hadits bahwa kalam-Nya qadim secara mutlak.

Ringkas kata, Asya`irah dan Maturidiyah memiliki banyak kesamaan pandangan dalam masalah akidah. Namun, di saat yang sama, ada pula beberapa perbedaan dalam prinsip-prinsip teologis dua mazhab ini, yang membedakan mereka satu sama lain.

Dalam rangka mereformasi dan mengembangkan akidah Ahlussunnah di hadapan Mu`tazilah, Abu Hasan Asy`ari menempuh jalan Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam banyak kasus, ia memilih sikap jumud `ala dhawahir (hanya memerhatikan sisi lahiriah) dan jarang menggunakan akal dan argumentasi. Namun Abu Manshur Maturidi menjadikan metode Abu Hanifah sebagai dasar teologi Ahlussunnah dan banyak menggunakan argumentasi rasional. Perbedaan mendasar dalam metode ini pula yang memunculkan perbedaan pendapat antara teologi Maturidiyah dan Asya`irah dalam sebagian masalah. Karena itu, metode Maturidiyah lebih jauh dari tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhluk) dan tajsim (menganggap Tuhan memiliki bentuk seperti materi) serta lebih dekat kepada tanzih (penyucian). Sementara metode Abu Hasan Al Asy’ari lebih condong kepada tasybih dan tajsim, walaupun Baqilaini dan Juwaini merombak metode Asy’ari tetapi pengikut Asy’ari tidak tau lagi ajaran Asy’ari yang asli

Parameter utama dalam perbedaan mazhab-mazhab Ahlussunnah adalah masalah husn wa qubh `aqli (baik dan buruk rasional) dan persoalan-persoalan terkait akal dan argumen rasional. Jika Mu`tazilah disebut sebagai simbol husn wa qubh `aqli, maka Maturidiyah berada di tingkat kedua, Asya`irah di tingkat ketiga, sementara Hasyawiyah menolak sepenuhnya masalah husn wa qubh `aqli. Sedangkan Wahabiyah adalah mazhab baru gabungan dari Hasyawiyah dan Hanbaliyah.

Perbedaan-perbedaan antara Maturidiyah dan Asya`irah bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

Terkait sifat-sifat khabariyah (sifat-sifat Alah yang tersebut dalam Al Qur’an, seperti yadullah [tangan Allah] dll), Asya`irah meyakini makna lahiriah ayat tanpa takwil dan tafwidh (menyerahkan maknya kepada Allah), sedangkan Maturidiyah menerima tafwidh dan menolak takwil. Sementara prinsip Mu`tazilah dalam masalah ini adalah menakwilkan sifat-sifat khabariyah.

Asya`irah menganggap makrifat Allah wajib berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, sementara Maturidiyah, seperti halnya Mu`tazilah, berpendapat bahwa kewajiban mengenal Allah bersifat rasional.

Karena Asya`irah mengingkari husn wa qubh `aqli, maka mereka berpendapat bahwa perbuatan Allah tidak berlandaskan tujuan. Namun Maturidiyah mengatakan bahwa perbuatan Allah berasaskan maslahat, sebab mereka menerima konsep husn wa qubh `aqli dalam sebagian tingkatannya.

Asya`irah berpendapat bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, sementara manusia adalah wadah bagi perbuatan-Nya. Untuk menghindar dari problem jabr (determinasi), mereka mengemukakan solusi ‘kasb‘. Maturidiyah menolak tafwidh (manusia bertindak bebas dan menafikan intervensi kekuasaan Tuhan) Mu`tazilah serta jabr Ahlul hadits dan Asya`irah. Mereka berpendapat bahwa meski perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, namun di saat yang sama, ia adalah pelaku dan kasib (hasil) perbuatannya sendiri.

Seperti kaum `Adliyyin, Asya`irah membagi sifat-sifat Allah kepada dzati dan fi`li. Namun Maturidiyah menolak pembagian ini dan menyatakan bahwa semua sifat fi`li-Nya qadim seperti sifat dzati.

Asya`irah mengatakan bahwa Allah mustahil membebankan taklif yang tak mampu dilakukan manusia, sementara Maturidiyah berpendapat sebaliknya.

Asya`irah meyakini bahwa semua yang dilakukan Allah adalah baik, sedangkan Maturidiyah, berdasarkan hukum akal, berpandangan bahwa Dia mustahil berbuat zalim.

Kesimpulannya, meski Asya`irah dan Maturidiyah tergabung dalam kelompok Ahlussunnah dan banyak memiliki kesamaan, namun mereka juga memiliki perbedaan pendapat dalam sebagian masalah

.

Mazhab Teologi Asyariyah Dalam Sorotan

Asy’ariyah atau Asya`irah adalah sebutan bagi para pengikut Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Tolak Ukur utama dalam meneliti proses terbentuknya Asya`irah adalah kinerja mazhab Mu`tazilah. Dijadikannya perubahan sebagai landasan penyingkapan hakikat oleh Mu`tazilah dan perselisihan mereka dengan para fukaha dan ahli hadis, memicu penentangan terhadap Mu`tazilah. Hingga akhirnya, dengan adanya provokasi dari pihak Mutawakkil, kelompok Mu`tazilah dikucilkan dan kemudian lahirlah kelompok moderat, yaitu Asya`irah.

Asya`irah menjadikan dalil rasional (`aqli) sebagai sarana pembuktian ajaran akidah konvensional. Di penghujung abad keenam, ada tiga tokoh yang memilih metode ini, yaitu Abu al-Hasan Asy`ari di Baghdad, Thahawi (wafat 331 H) di Mesir, dan Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) di Samarqand. Kendati terdapat perbedaan antara mereka, namun mereka sepakat untuk sama-sama menentang Mu`tazilah.

Abu al-Hasan Asy`ari lahir di Bashrah tahun 260 H. Garis keturunannya sampai kepada Abu Musa Asy`ari, salah seorang sahabat terkenal. Beliau adalah murid Abu Ali Jubba’i. Beliau mempelajari ilmu kalam (teologi) dari Mu`tazilah dan banyak menimba ilmu dari para fukaha dan ahli hadis. Setelah mengkaji hasil pelajaran terdahulunya, beliau lalu mengkritisi dan menolak sebagian keyakinan dirinya yang diambil dari Mu`tazilah. Di antara keyakinan terdahulunya adalah al-Quran itu makhluk, kemustahilan melihat Allah, dan menghindari penisbatan keburukan kepada Allah. Kitab al-Ibanah mengandung kritik-kritik Asy`ari terhadap Mu`tazilah. Dalam kitab itu, ia menyebut Mu`tazilah sebagai kelompok penakwil al-Quran dan menyatakan kecenderungannya kepada al-Quran, sunah, dan metode Ahmad bin Hanbal. Ibnu `Asakir menyebut judul 98 kitab yang ditulis Asy`ari hingga tahun 32 H. Empat karyanya yang terkenal adalah:

1. Al-Luma` fi Al-Rad `ala Ahl al-Zaigh wa al-Bida`.

2. Al-Ibanah fi Ushul al-Diyanah.

3. Istihsan al-Khaudh fi `Ilm al-Kalam.

4. Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin.

Tiga kitab pertama seputar ilmu kalam dan kitab keempat tentang pengenalan mazhab-mazhab. Judul yang dipilih untuk kitab keempat menunjukkan sikap moderat dan toleransi Asy`ari.

Pandangan-pandangan Asy`ari

Asy`ari memilih metode `aqli-naqli (kombinasi akal dan riwayat) sebagai metode yang moderat. Misalnya, dalam bab tauhid, ia meyakini penambahan sifat atas zat Allah. Sikap moderat ini tampak dalam pandangan-pandangannya. Secara umum, Asya`irah membuktikan keberadaan Tuhan dengan tiga cara: naqli, `aqli, dan qalbi (hati) yang mirip dengan metode sufi Imam Ghazali dan Fakhruddin Razi. Berdasarkan pendapat Fakhruddin Razi, ada dua argumen filosofis, yaitu Burhan Imkan al-Ajsam (argumentasi kemungkinan keberadaan materi) dan Imkan al-A`radh (kemungkinan sifat), serta dua argumen teologis, yaitu Burhan Huduts al-Ajsam (argumentasi barunya materi) dan Huduts al-A`radh (barunya sifat), yang semua ini digunakan Asya`irah untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Terkait pengenalan Tuhan, sebagian Mu`tazilah (seperti Juwaini dan Ghazali) berpendapat bahwa hal ini tidak mungkin, sementara sebagian yang lain (seperti Baqillani) berpandangan sebaliknya.

Sifat-sifat Allah: Sifat-sifat Allah ada tiga bagian, yaitu salbi (negatif), tsubuti (tetap), dan ikhbari, yaitu seperti sifat manusia (misalnya, memiliki mata dan tangan). Asy`ari berpendapat bahwa bagian yang ketiga harus diyakini secara bila kaif (tanpa cara dan bagaimana), sebab substansi sifat-sifat ini tidak jelas bagi kita.

Determinasi (Jabr) dan Ikhtiar: Dalam masalah ini, demi menjaga sisi qadha dan qadar Allah serta ikhtiar manusia, Asya`irah mengemukakan pandangan kasb (usaha) yang merupakan istilah al-Quran. Penafsiran mereka tentang kasb adalah sebagai berikut: Kemampuan (qudrah) ada dua macam, yaitu qadim/lama (yang merupakan milik Allah dan berperan dalam penciptaan perbuatan) dan hadits/baru (yang merupakan milik hamba). Satu-satunya fungsi kemampuan hadits adalah bahwa hamba merasakan kebebasan dalam dirinya. Oleh karena itu, makna kasb al-fi`l adalah berbarengannya penciptaan perbuatan dengan penciptaan kemampuan hadits pada diri manusia. Tentunya, Asy`ari menyebut kasb sendiri sebagai ciptaan Allah. Beliau berpendapat bahwa orang yang melakukan kasb adalah tempat Allah mewujudkan perbuatan-Nya dan orang itu berperan sebagai sarana perbuatan Allah.

Baik dan buruknya perbuatan (husn wa qubh): Asy`ari menyebut tiga makna baik dan buruknya perbuatan dan memilih makna ketiga sebagai makna yang benar. Tiga makna itu adalah:

1. Kesempurnaan dan kekurangan.

2. Mengandung maslahat atau madharat.

3. Layak dipuji atau dicela. Menurutnya, tidak ada perbuatan yang layak dipuji atau dicela secara mandiri. Hanya lantaran perintah dan larangan dari syariat-lah suatu perbuatan layak dipuji atau dicela.

Kosmologi: Meliputi dua masalah:

a) Struktur semesta: Asya`irah condong kepada teori atomisme (jauhar fard). Melalui teori ini, Asya`irah mendapat peluang untuk membuktikan bahwa dunia itu hadits (baru) dan Allah sebagai satu-satunya Zat yang qadim (dahulu).

b) Mortalitas semesta: Asya`irah berpendapat bahwa semesta itu mortal. Mereka menyebut `aradh (sifat) mortal dan jauhar (esensi) imortal. Tujuan dari pandangan ini adalah pembuktian sifat qadim Allah dan peran abadi-Nya dalam segala perkara semesta.

Antropologi: Meliputi dua pandangan:

a) Hakikat manusia adalah jauhar (esensi) jasmani (Juwaini).

b) Hakikat manusia adalah esensi ruhani (Baqalani).

Tokoh-tokoh Asya`irah: Di antaranya adalah: Abu Bakar Baqillani (penulis al-Tamhid), Imam Ghazali, Imam al-Haramain Juwaini, Fakhrurrazi, Baidhawi, dan Sayyid Syarif Jurjani.

Mazhab kalam ini memiliki peran penting di tengah kaum Muslimin, kendati di masa Asy`ari sendiri tidak begitu mendapat perhatian khalayak. Pada hakikatnya, Asy`ari dikucilkan lantaran penentangan dan perselisihan sengitnya dengan ahlul hadits (para pendukung hadis). Namun belakangan, khususnya setelah era Imam al-Haramain Juwaini dan dukungan dinasti Saljuqi di masa Khaje Nidham al-Mulk Thusi terhadap mazhab ini, Asya`irah menjadi mazhab kalam yang dominan di tengah Ahlussunnah. Hingga sekarang pun, sebagian besar kaum Muslimin Ahlussunah di seluruh dunia, khususnya yang bermazhab Syafi`i dan Hanafi, merujuk dan mengacu kepada Asya`irah dalam masalah-masalah akidah.

Hanya saja umat Islam perlu memahami kembali akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam konteks sekarang ini – dengan tujuan untuk lebih memantapkan pemahaman kita terhadap akidah, pemikiran dan tantangannya. Hal ini penting, sebab bisa terjadi seseorang mengaku Sunni, tetapi di luar pengetahuannya ia sebenarnya bukan pengikut Sunni sejati.

Identitas sebagai kelompok Sunni terkadang diperebutkan, terkadang pula disempitkan konsepnya. Identitas ini diperebutkan, sebab kelompok ini yang disebut para ulama dahulu sebagai kelompok yang setia memegang ajaran Islam. Karena pandangan yang terlalu riqid dan sentimen kepada kelompok lain, sehingga konsep Ahlus Sunnah kadang dipersempit untuk ‘jama’ah’-nya sendiri.

Syi’ah pakistan dibantai, pemerintah Pakistan tidak ubahnya upahan Barat

Derita Warga Syiah Pakistan Tidak Bisa Didiamkan

 

“Konflik menjadi terbuka di Pakistan dalam tahun 80-an setelah kemenangan Revolusi Islam Iran 1979. Revolusi Islam Iran yang membawa pesan persatuan Islam kepada seluruh dunia, menjadi pemicu bermunculannya kelompok-kelompok teroris. AS tidak akan pernah memberi izin kepada umat Islam untuk bersatu, karena itu konflik-konflik mereka rekayasa dalam tubuh umat Islam, sehingga persatuan yang didambakan kaum muslimin tersebut menjauh dan tidak terjadi.”

 

Derita Warga Syiah Pakistan Tidak Bisa Didiamkan.
Hujjatul Islam Wal Muslimin Husaini Arif Selasa siang (6/3) dalam penyelenggaraan Seminar ‘Syuhada Ruhani Wahdat Islami’ yang diselenggarakan oleh Kantor Berita ABNA bekerjasama dengan beberapa yayasan di Qom Iran telah menceritakan hal-hal yang melatari terjadinya tindakan kekerasan dan teror bagi warga Syiah di Pakistan
.
Sambil mengucapkan terima kasih kepada para hadirin yang menyempatkan diri hadir dalam seminar tersebut, beliau berkata, “Pakistan telah merdeka dari India sejak tahun 1947 dibawah kepemimpinan Muhammad Ali Jinnah seorang muslim Syiah dari Negara tersebut.”
Pimpinan Kantor Berita ABNA tersebut lebih lanjut berkata, “Sejak kemerdekaan Pakistan sampai saat ini, pengikut Syiah di Negara tersebut tidak pernah terpisah dari keseluruhan masyarakat Pakistan, mereka bagian dari Pakistan yang tidak pernah terpisah dari Negara tersebut. Bertahun-tahun mereka hidup bersosial satu sama lain, saling menikahkan antara mereka. Hal tersebut menunjukkan sunni-syiah bisa hidup harmonis dan berdampingan tanpa memunculkan persoalan-persoalan yang dipicu oleh perbedaan mazhab.”
.
Mengenai peristiwa pertama yang memicu konflik sektarian yang terjadi di Pakistan, beliau menyatakan, “Peristiwa pertama yang terjadi di Pakistan mungkin boleh dikatakan berlatarkan seperti hari ini, yaitu pada tahun 1960 di Universitas Lahore terjadi pembunuhan seorang mahasiswa yang kebetulan pengikut Syiah yang kemudian berlarut-larut dan membesar menjadi konflik sunni-syiah di Negara tersebut.
“Kematian mahasiswa Syiah di Universitas Lahore tersebut memancing mahasiswa Syiah seluruh Pakistan mendeklarasikan sebuah kelompok yang mereka beri nama, Persatuan Mahasiswa Syiah, yang bertujuan untuk mempertahankan hak-hak Syiah sebagai warga Negara yang berhak diperlakukan adil. Keberadaan organisasi tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi perselisihan-perselisihan yang ditimbulkan karena perbedaan mazhab.” Lanjutnya.

“Hingga tahun 1980, kita tidak melihat adanya konflik yang dipicu alasan perbedaan mazhab. Namun sejak tahun 1982 teror-teror kepada penganut mazhab yang berbeda sudah mulai bermunculan, yang dipelopori oleh kelompok radikal Sepah-e-Sahaba (tentara sahabat). Tercatat sejak tahun 1985 kelompok teroris tersebut sampai saat ini masih juga melumuri tangan mereka dengan darah kaum muslimin, baik Sunni maupun Syiah.”

Beliau menambahkan, “Konflik menjadi terbuka di Pakistan dalam tahun 80-an setelah kemenangan Revolusi Islam Iran 1979. Revolusi Islam Iran yang membawa pesan persatuan Islam kepada seluruh dunia, menjadi pemicu bermunculannya kelompok-kelompok teroris. AS tidak akan pernah memberi izin kepada umat Islam untuk bersatu, karena itu konflik-konflik mereka rekayasa dalam tubuh umat Islam, sehingga persatuan yang didambakan kaum muslimin tersebut menjauh dan tidak terjadi.”

Hujjatul Islam Husain Arif menceritakan dalam berbagai operasi militer kelompok Sepah-e-Sahaba telah merenggut nyawa banyak orang. “Tahun lalu saja 291 warga Syiah Pakistan terbunuh dalam berbagai aksi teror mereka di mana 123 orang meninggal oleh ledakan bom dan 168 lainnya meninggal oleh tembakan spionase maupun serangan bersenjata secara terbuka.” Paparnya.

bahawa keganasan di Pakistan tidak hanya dilakukan oleh kumpulan Sepah-e-Sahaba sahaja. Menurut beliau, “Beberapa kumpulan pengganas di Pakistan dilindungi oleh Amerika, Israel dan pertubuhan-pertubuhan keselamatan yang diupah mereka aktif di rantau itu.”

Selain itu beliau menceritakan apa yang terjadi di Parachinar, “Parachinar adalah wilayah berpenduduk mayoritas Syiah, dan konflik baru di wilayah ini bermula pada tahun 2007 akibat penghinaan kelompok teroris terhadap Imam Husain dan penyelenggaraan upacara duka Muharram”.

Hujjatul Islam Husaini Arif menambahkan, “Sejak tahun 2007 sampai saat ini, sudah 5 tahun lebih warga Parachinar terisolir. Meskipun telah berkali terjadi beberapa gencatan senjata namun pada kenyataannya, kawasan tersebut tidak pernah aman.”

Pimpinan ABNA tersebut mengkritik pemerintah Pakistan dengan mengatakan, “Pemerintah Pakistan turut bertanggungjawab atas terjadinya berbagai aksi teror yang merenggut ratusan nyawa tersebut. Sayangnya, pemerintah Pakistan tidak ubahnya upahan Barat yang bekerjasama dengan kelompok teroris. 1600 nyawa melayang di Parachinar tidak membuat pemerintah Pakistan turun tangan untuk menghentikan atau mencegah aksi-aksi biadab tersebut.”
.
Hujjatul Islam Husain Arif berkata, “Ketakutan terhadap wacana persatuan Islam yang didengungkan revolusi Islam Iran, berubah menjadi ketakutan terhadap ideologi Syiah. Berbagai macam cara dilakukan musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dan menyingkirkan Syiah. Termasuk dengan menebar teror dan melakukan pembantaian berdarah.”

.
Beliau menegaskan bahawa Syiah mampu melakukan perubahan dalam negara tersebut, “30 juta Syiah di Pakistan telah bertekad melakukan perubahan di Negara tersebut, agar keadilan bisa ditegakkan.”
.
Di akhir pembicaraan, beliau mengingatkan mengenai Al-Quran yang mengajarkan umat Islam untuk mengagungkan dan membesarkan kedudukan para syuhada. “Untuk kepentingan mengagungkan syuhadalah acara ini diadakan.” Tutupnya.