Risalah Amman 2005 M tegaskan Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.

 

Risalah Amman “Pernyataan Sikap Konferensi Islam Internasional“

Konferensi ini diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.)

 

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

 

SALAM DAN SALAWAT SEMOGA TERCURAH PADA BAGINDA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA YANG SUCI

 

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa… (Al-Nisa’,4:1)

 

Sesuai dengan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh YTH Imam Besar Syaikh Al-Azhar, YTH Ayatollah Sayyid Ali Al-Sistani, YTH Mufti Besar Mesir, para ulama Syiah yang terhormat (baik dari kalangan Syiah Ja’fari maupun Zaidi), YTH Mufti Besar Kesultanan Oman, Akademi Fiqih Islam Kerajaan Saudi Arabia, Dewan Urusan Agama Turki, YTH Mufti Besar Kerajaan Yordania dan Para Anggota Komite Fatwa Nasional Yordania, dan YTH Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi;Sesuai dengan kandungan pidato Yang Mulia Raja Abdullah II bin Al-Hussein, Raja Yordania, pada acara pembukaan konferensi;

 

Sesuai dengan pengetahuan tulus ikhlas kita pada Allah SWT;

Dan sesuai dengan seluruh makalah penelitian dan kajian yang tersaji dalam konferensi ini, serta seluruh diskusi yang timbul darinya;

 

Kami, yang bertandatangan di bawah ini, dengan ini menyetujui dan menegaskan kebenaran butir-butir yang tertera di bawah ini:

 

(1) Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan.

 

Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.

 

(2) Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip-prinsip utama Islam (Ushuluddin). Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Mahaesa dan Makakuasa; percaya pada al-Qur’an sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia.

 

Semua sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat (syahadatayn); kewajiban shalat; zakat;puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ‘ulama adalah hal yang baik.

 

(3) Mengakui kedelapan mazhab dalam Islam tersebut berarti bahwa mengikuti suatu metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada orang yang berhak mengeluarkan fatwa tanpa keahlihan pribadi khusus yang telah ditentukan oleh masing-masing mazhab bagi para pengikutnya. Tidak ada orang yang boleh mengeluarkan fatwa tanpa mengikuti metodologi yang telah ditentukan oleh mazhab-mazhab Islam tersebut di atas. Tidak ada orang yang boleh mengklaim untuk melakukan ijtihad mutlak dan menciptakan mazhab baru atau mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak bisa diterima hingga membawa umat Islam keluar dari prinsip-prinsip dan kepastian-kepastian Syariah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab yang telah disebut di atas.

 

(4)  Esensi Risalah Amman, yang ditetapkan pada Malam Lailatul Qadar tahun 1425 H dan dideklarasikan dengan suara lantang di Masjid Al-Hasyimiyyin, adalah kepatuhan dan ketaatan pada mazhab-mazhab Islam dan metodologi utama yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab tersebut. Mengikuti tiap-tiap mazhab tersebut di atas dan meneguhkan penyelenggaraan diskusi serta pertemuan di antara para penganutnya dapat memastikan sikap adil, moderat, saling memaafkan, saling menyayangi, dan mendorong dialog dengan umat-umat lain.

 

(5) Kami semua mengajak seluruh umat untuk membuang segenap perbedaan di antara sesama Muslim dan menyatukan kata dan sikap mereka; menegaskan kembali sikap saling menghargai; memperkuat sikap saling mendukung di antara bangsa-bangsa dan negara-negara umat Islam; memperkukuh tali persaudaraan yang menyatukan mereka dalam saling cinta di jalan Allah. Dan kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di antara mereka.

 

Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara. Maka itu islahkan hubungan di antara saudara-saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah sehingga kalian mendapat rahmat-Nya. (Al-Hujurat, 49:10).

 

Amman, 27-29 Jumadil Ula 1426 H./ 4-6 Juli 2005 M.

 

Para penandatangan:

AFGHANISTAN

  1. YTH. Nusair Ahmad Nour
    Dubes Afghanistan untuk Qatar

ALJAZAIR

  1. YTH. Lakhdar Ibrahimi
    Utusan Khusus Sekjen PBB; Mantan Menlu Aljazair
  2. Prof. Dr. Abd Allah bin al-Hajj Muhammad Al Ghulam Allah
    Menteri Agama
  3. Dr. Mustafa Sharif
    Menteri Pendidikan
  4. Dr. Sa’id Shayban
    Mantan Menteri Agama
  5. Prof. Dr. Ammar Al-Talibi
    Departemen Filsafat, University of Algeria
  6. Mr. Abu Jara Al-Sultani
    Ketua LSM Algerian Peace Society Movement

AUSTRIA

  1. Prof. Anas Al-Shaqfa
    Ketua Komisi Islam
  2. Mr. Tar afa Baghaj ati
    Ketua LSM Initiative of Austrian Muslims

AUSTRALIA

  1. Shaykh Salim ‘Ulwan al-Hassani
    Sekjen, Darulfatwa, Dewan Tinggi Islam

AZERBAIJAN

  1. Shaykh Al-Islam Allah-Shakur bin Hemmat Bashazada
    Ketua Muslim Administration of the Caucasus

BAHRAIN

  1. Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Sutri
    Menteri Kehakiman
  2. Dr. Farid bin Ya’qub Al-Miftah
    sekretaris Kementerian Agama

BANGLADESH

  1. Prof. Dr. Abu Al-Hasan Sadiq
    Rektor Asian University of Bangladesh

BOSNIA dan HERZEGOVINA

  1. Prof. Dr. Syaikh Mustafa Ceric
    Ketua Majlis ‘Ulama’dan Mufti Besar Bosnia dan Herzegovina
  2. Prof. Hasan Makic
    Mufti Bihac
  3. Prof. Anes Lj evakovic
    Peneliti dan Pengajar, Islamic Studies College

BRAZIL

  1. Syaikh Ali Muhmmad Abduni
    Perwakilan International Islamic Youth Club di Amerika Latin

KANADA

  1. Shaykh Faraz Rabbani
    Guru, Hanafijurisprudence,Sunnipath.com

REPUBLIK CHAD

  1. Shaykh Dr. Hussein Hasan Abkar
    Presiden, Higher Council for Islamic Affair; Imam Muslim, Chad

MESIR

  1. Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq
    Menteri Agama
  2. Prof. Dr. Ali Jumu’a
    Mufti Besar Mesir
  3. Prof. Dr. Ahmad Muhammad Al-Tayyib
    Rektor Universitas Al-Azhar University
  4. Prof. Dr. Kamal Abu Al-Majd
    Pemikir Islam; Mantan Menteri Informasi;
  5. Dr. Muhammad Al-Ahmadi Abu Al-Nur
    Mantan Menteri Agama Mesir; Profesor Fakultas Syariah, Yarmouk University, Jordan
  6. Prof. Dr. Fawzi Al-Zifzaf
    Ketua Masyayikh Al-Azhar; Anggota the Academy of Islamic Research
  7. Prof. Dr. Hasan Hanafi
    Peneliti dan Cendekiawan Muslim, Departemen Filsafat, Cairo University
  8. Prof. Dr. Muhammad Muhammad Al-Kahlawi
    Sekjen Perserikatan Arkeolog Islam;
    Dekan Fakultas Studi Kesejarahan Kuno, Cairo University
  9. Prof. Dr. Ayman Fuad Sayyid
    Mantan Sekjen, Dar al-Kutub Al-Misriyya
  10. Syaikh Dr. Zaghlul Najjar
    Anggota Dewan Tinggi Urusan Islam, Mesir
  11. Syaikh Moez Masood
    Dai Islam
  12. Dr. Raged al-Sirjani
  13. Dr. Muhammad Hidaya

PERANCIS

  1. Syaikh Prof. Dalil Abu Bakr
    Ketua Dewan Tinggi Urusan Agama Islam dan Dekan Masjid Paris
  2. Dr. Husayn Rais
    Direktur Urusan Budaya, Masjid Jami’ Paris

JERMAN

  1. Prof. Dr. Murad Hofmann
    Mantan Dubes Jerman untuk Maroko
  2. Syaikh Salah Al-Din Al- Ja’farawi
    Asisten Sekjen World Council for Islamic Propagation

INDIA

  1. H.E. Maulana Mahmood Madani
    Anggota Parlemen
    Sekjen Jamiat Ulema-i-Hind
  2. Ja’far Al-Sadiq Mufaddal Sayf Al-Din
    Cendikiawan Muslim
  3. Taha Sayf Al-Din
    Cendikiawan Muslim
  4. Prof. Dr. Sayyid Awsaf Ali 
    Rektor Hamdard University
  5. Prof. Dr. Akhtar Al-Wasi
    Dekan College of Humanities and Languages

INDONESIA

  1. Dr. Tutty Alawiyah
    Rektor Universitas Islam Al-Syafi’iyah
  2. Rabhan Abd Al-Wahhab
    Dubes RI untuk Yordania
  3. KH Ahmad Hasyim Muzadi
    Mantan Ketua PBNU
  4. Rozy Munir
    Mantan Wakil Ketua PBNU
  5. Muhamad Iqbal Sullam
    International Conference of Islamic Scholars, Indonesia

IRAN

  1. Ayatollah Syaikh Muhammad Ali Al-Taskhiri
    Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah.
  2. Ayatollah Muhammad Waez-zadeh Al-Khorasani
    Mantan Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah
  3. Prof. Dr. Mustafa Mohaghegh Damad
    Direktur the Academy of Sciences; Jaksa; Irjen Kementerian Kehakiman
  4. Dr. Mahmoud Mohammadi Iraqi
    Ketua LSM Cultural League and Islamic Relations in the Islamic Republic of Iran
  5. Dr. Mahmoud Mar’ashi Al-Najafi
    Kepala Perpustakaan Nasional Ayatollah Mar’ashi Al-Najafi
  6. Dr. Muhammad Ali Adharshah
    Sekjen Masyarakat Persahabatan Arab-Iran
  7. Shaykh Abbas Ali Sulaymani
    Wakil Pemimpin Spiritual Iran di wilayah Timur Iran

IRAK

  1. Grand Ayatollah Shaykh Husayn Al-Mu’ayyad
    Pengelola Knowledge Forum
  2. Ayatollah Ahmad al-Bahadili
    Dai Islam
  3. Dr. Ahmad Abd Al-Ghaffur Al-Samara’i
    Ketua Diwan Waqaf Sunni

ITALIA

  1. Mr. Yahya Sergio Pallavicini
    Wakil Ketua, Islamic Religious Community of Italy (CO.RE.IS.)

YORDANIA

  1. Prof. Dr. Ghazi bin Muhammad
    Utusan Khusus Raja Abdullah II bin Al-Hussein
  2. Syaikh Izzedine Al-Khatib Al-Tamimi
    Jaksa Agung
  3. Prof. Dr. Abdul-Salam Al-Abbadi
    Mantan Menteri Agama
  4. Prof. Dr. Syaikh Ahmad Hlayyel
    Penasehat Khusus Raja Abdullah dan Imam Istana Raja
  5. Syaikh Said Al-Hijjawi
    Mufti Besar Yordania
  6. Akel Bultaji
    Penasehat Raja
  7. Prof. Dr. Khalid Touqan
    Menteri Pendidikan dan Riset
  8. Syaikh Salim Falahat
    Ketua Umum Ikhwanul Muslimin Yordania
  9. Syaikh Dr. Abd Al-Aziz Khayyat
    Mantan Menteri Agama
  10. Syaikh Nuh Al-Quda
    Mantan Mufti Angkatan Bersenjata Yordania
  11. Prof. Dr. Ishaq Al-Farhan
    Mantan Menteri Pendidikan
  12. Dr. Abd Al-Latif Arabiyyat
    Mantan Ketua DPR Yordania;
    Shaykh Abd Al-Karim Salim Sulayman Al-Khasawneh
    Mufti Besar Angkatan Bersenjata Yordania
  13. Prof. Dr. Adel Al-Toweisi
    Menteri Kebudayaan
  14. Mr.BilalAl-Tall
    Pemimpin Redaksi Koran Liwa’
  15. Dr. Rahid Sa’id Shahwan
    Fakultas Ushuluddin, Balqa Applied University

KUWAIT

  1. Prof. Dr. Abdullah Yusuf Al-Ghoneim
    Kepala Pusat Riset dan Studi Agama
  2. Dr. Adel Abdullah Al-Fallah
    Wakil Menteri Agama

LEBANON

  1. Prof. Dr. Hisham Nashabeh
    Ketua Badan Pendidikan Tinggi
  2. Prof. Dr. Sayyid Hani Fahs
    Anggota Dewan Tinggi Syiah
  3. Syaikh Abdullah al-Harari
    Ketua Tarekat Habashi
  4. Mr. Husam Mustafa Qaraqi
    Anggota Tarekat Habashi
  5. Prof. Dr. Ridwan Al-Sayyid
    Fakultas Humaniora, Lebanese University; Pemred Majalah Al-Ijtihad
  6. Syaikh Khalil Al-Mays
    Mufti Zahleh and Beqa’ bagian Barat

LIBYA

  1. Prof. Ibrahim Al-Rabu
    Sekretaris Dewan Dakwah Internasional
  2. Dr. Al-Ujaili Farhat Al-Miri
    Pengurus International Islamic Popular Leadership

MALAYSIA

  1. Dato’ Dr. Abdul Hamid Othman
    Menteri Sekretariat Negara
  2. Anwar Ibrahim
    Mantan Perdana Menteri
  3. Prof. Dr. Muhamad Hashem Kamaly
    Dekan International Institute of Islamic Thought and Civilisation
  4. Mr. Shahidan Kasem
    Menteri Negara Bagian Perlis, Malaysia
  5. Mr. Khayri Jamal Al-Din
    Wakil Ketua Bidang Kepemudaan UMNO

MALADEWA

  1. Dr. Mahmud Al-Shawqi
    Menteri Pendidikan

MAROKO

  1. Prof. Dr. Abbas Al-Jarari
    Penasehat Raja
  2. Prof. Dr. Mohammad Farouk Al-Nabhan
    Mantan Kepala DarAl-Hadits Al-Hasaniyya
  3. Prof. Dr. Ahmad Shawqi Benbin
    Direktur Perpustakaan Hasaniyya
  4. Prof. Dr. Najat Al-Marini
    Departemen Bahasa Arab, Mohammed V University

NIGERIA

  1. H.H. Prince Haji Ado Bayero
    Amir Kano
  2. Mr. Sulayman Osho
    Sekjen Konferensi Islam Afrika

KESULTANAN OMAN

  1. Shaykh Ahmad bin Hamad Al-Khalili
    Mufti Besar Kesultanan Oman
  2. Shaykh Ahmad bin Sa’ud Al-Siyabi
    Sekjen Kantor Mufti Besar

PAKISTAN

  1. Prof. Dr. Zafar Ishaq Ansari
    Direktur Umum, Pusat Riset Islam, Islamabad
  2. Dr. Reza Shah-Kazemi
    Cendikiawan Muslim
  3. Arif Kamal
    Dubes Pakistan untuk Yordania
  4. Prof. Dr. Mahmoud Ahmad Ghazi
    Rektor Islamic University, Islamabad; Mantan Menteri Agama Pakistan

PALESTINA

  1. Shaykh Dr. Ikrimah Sabri
    Mufti Besar Al-Quds dan Imam Besar Masjid Al-Aqsa
  2. Shaykh Taysir Raj ab Al-Tamimi
    Hakim Agung Palestina

PORTUGAL

  1. Mr. Abdool Magid Vakil
    Ketua LSM Banco Efisa
  2. Mr. Sohail Nakhooda
    Pemred Islamica Magazine

QATAR

  1. Prof. Dr. Shaykh Yusuf Al-Qaradawi
    Ketua Persatuan Internasional Ulama Islam
  2. Prof. Dr. Aisha Al-Mana’i
    Dekan Fakultas Hukum Islam, University of Qatar

RUSIA

  1. Shaykh Rawi Ayn Al-Din
    Ketua Urusan Muslim
  2. Prof. Dr. Said Hibatullah Kamilev
    Direktur, Moscow Institute of Islamic Civilisation
  3. Dr. Murad Murtazein
    Rektor, Islamic University, Moskow

ARAB SAUDI

  1. Dr. Abd Al-Aziz bin Uthman Al-Touaijiri
    Direktur Umum, The Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO)
  2. Syaikh al-Habib Muhammad bin Abdurrahman al-Saqqaf

SENEGAL

  1. Al-Hajj Mustafa Sisi
    Penasehat Khusus Presiden Senegal

SINGAPORA

  1. Dr. Yaqub Ibrahim
    Menteri Lingkuhan Hidup dan Urusan Muslim

AFRIKA SELATAN

  1. Shaykh Ibrahim Gabriels
    Ketua Majlis Ulama Afrika Utara South African ‘Ulama’

SUDAN

  1. Abd Al-Rahman Sawar Al-Dhahab
    Mantan Presiden Sudan
  2. Dr. Isam Ahmad Al-Bashir
    Menteri Agama

SWISS

  1. Prof. Tariq Ramadan
    Cendikiawan Muslim

SYRIA

  1. Dr. Muhammad Sa’id Ramadan Al-Buti
    Dai, Pemikir dan Penulis Islam
  2. Prof. Dr. Syaikh Wahba Mustafa Al-Zuhayli
    Ketua Departemen Fiqih, Damascus University
  3. Syaikh Dr. Ahmad Badr Hasoun
    Mufti Besar Syria

 

THAILAND

  1. Mr. Wan Muhammad Nur Matha
    Penasehat Perdana Menteri
  2. Wiboon Khusakul
    Dubes Thailand untuk Irak

TUNISIA

  1. Prof. Dr. Al-Hadi Al-Bakkoush
    Mantan Perdana Menteri Tunisia
  2. Dr. Abu Baker Al-Akhzuri
    Menteri Agama

TURKI

  1. Prof. Dr. Ekmeleddin I lis an og hi
    Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI)
  2. Prof. Dr. Mualla Saljuq
    Dekan Fakultas Hukum, University of Ankara
  3. Prof. Dr. Mustafa Qag nci
    Mufti Besar Istanbul
  4. Prof. Ibrahim Kafi Donmez
    Profesor Fiqih University of Marmara

UKRAINa

  1. Shaykh Dr. Ahmad Tamim
    Mufti Ukraina

UNI EMIRAT ARAB

  1. Mr. Ali bin Al-Sayyid Abd Al-Rahman Al-Hashim
    Penasehat Menteri Agama
  2. Syaikh Muhammad Al-Banani
    Hakim Pengadilan Tinggi
  3. Dr. Abd al-Salam Muhammad Darwish al-Marzuqi
    Hakim Pengadilan Dubai

INGGRIS

  1. Syaikh Abdal Hakim Murad / Tim Winter
    Dosen, University of Cambridge
  2. Syaikh Yusuf Islam /Cat Steven
    Dai Islam dan mantan penyanyi
  3. Dr.FuadNahdi
    Pemimpin Redaksi Q-News International
  4. SamiYusuf
    Penyanyi Lagu-lagu Islam

AMERIKA SERIKAT

  1. Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr
    Penulis dan profesor Studi-studi Islam, George Washington University
  2. Syaikh Hamza Yusuf
    Ketua Zaytuna Institute
  3. Syaikh Faisal Abdur Rauf
    Imam Masjid Jami Kota New York
  4. Prof. Dr. Ingrid Mattson
    Profesor Studi-studi Islam, Hartford Seminary; Ketua Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA)

UZBEKISTAN

  1. Syaikh Muhammad Al-Sadiq Muhammad Yusuf
    Mufti Besar

YAMAN

  1. Syaikh Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz
    Ketua Madrasah Dar al-Mustafa, Tarim
  2. Syaikh Habib Ali Al-Jufri
    Dai Internasional

Prof. Dr. Husayn Al-Umari
Anggota UNESCO; Profesor Sejarah, Universitas San

 

Naskah ARAB RISALAH AMMAN

حول
حقيقة الإسلام ودوره في المجتمع المعاصر
عمّان- المملكة الأردنية الهاشمية
27- 29 جمادى الأولى 1426هـ/ الموافق 4-6 تموز (يوليو) 2005م

بسم الله الرحمن الرحيم

والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وسلّم

]يا أيّها الناس اتقوا ربّكم الذي خلقكم من نفسٍ واحدة [ [النساء 1]

بيان صادر عن المؤتمر الإسلامي الدولي الذي عقد في عمّان، عاصمة المملكة الأردنية الهاشمية، تحت عنوان (حقيقة الإسلام ودوره في المجتمع المعاصر)، في المدة 27- 29 جمادى الأولى 1426هـ/ 4- 6 تموز (يوليو) 2005م

وفقاً لما جاء في فتوى فضيلة الإمام الأكبر شيخ الأزهر المكرّم، وفتوى سماحة آية الله العظمى السيد علي السيستاني الأكرم، وفتوى فضيلة مفتي الديار المصرية الأكرم، وفتاوى المراجع الشيعية الأكرمين (الجعفرية والزيدية)، وفتوى فضيلة المفتي العام لسلطنة عُمان الأكرم، وفتوى مجمع الفقه الإسلامي الدولي (منظمة المؤتمر الإسلامي- جدّة، المملكة العربية السعودية)، وفتوى المجلس الأعلى للشؤون الدينية التركية، وفتوى فضيلة مفتي المملكة الأردنية الهاشمية ولجنة الإفتاء الأكرمين فيها، وفتوى فضيلة الشيخ الدكتور يوسف القرضاوي الأكرم،

ووفقاً لما جاء في خطاب صاحب الجلالة الهاشمية الملك عبد الله الثاني ابن الحسين ملك المملكة الأردنية الهاشمية في افتتاح مؤتمرنا،

ووفقاً لعلمنا الخالص لوجه الله الكريم،

ووفقاً لما قدم في مؤتمرنا هذا من بحوث ودراسات وما دار فيه من مناقشات،

فإننا، نحن الموقعين أدناه، نعرب عن توافقنا على ما يرد تالياً، وإقرارنا به:

(1) إنّ كل من يتّبع أحد المذاهب الأربعة من أهل السنّة والجماعة (الحنفي، والمالكي، والشافعي، والحنبلي) والمذهب الجعفري، والمذهب الزيدي، والمذهب الإباضي، والمذهب الظاهري، فهو مسلم، ولا يجوز تكفيره. ويحرم دمه وعرضه وماله. وأيضاً، ووفقاً لما جاء في فتوى فضيلة شيخ الأزهر، لا يجوز تكفير أصحاب العقيدة الأشعريّة، ومن يمارس التصوّف الحقيقي. وكذلك لا يجوز تكفير أصحاب الفكر السلفي الصحيح.

كما لا يجـــوز تكفير أيّ فئة أخــرى مـن المسلمين تؤمــن بالله سبحانه وتعالى وبرسوله صلى الله عليه وسلم وأركان الإيمان، وتحترم أركان الإسلام، ولا تنكر معلوماً من الدين بالضرورة.

(2) إنّ ما يجمع بين المذاهب أكثر بكثير ممّا بينها من الاختلاف. فأصحاب المذاهب الثمانية متفقون على المبادىء الأساسيّة للإسلام. فكلّهم يؤمنون بالله سبحانه وتعالى، واحداً أحداً، وبأنّ القرآن الكريم كلام الله المنزَّل، وبسيدنا محمد عليه الصلاة والسلام نبياً ورسولاً للبشرية كافّة. وكلهم متفقون على أركان الإسلام الخمسة: الشهادتين، والصلاة، والزكاة، وصوم رمضان، وحجّ البيت، وعلى أركان الإيمان: الإيمان بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وبالقدر خيره وشرّه. واختلاف العلماء من أتباع المذاهب هو اختلاف في الفروع وليس في الأصول، وهو رحمة. وقديماً قيل: إنّ اختلاف العلماء في الرأي أمرٌ جيّد.

(3) إنّ الاعتراف بالمذاهب في الإسلام يعني الالتزام بمنهجية معينة في الفتاوى: فلا يجوز لأحد أن يتصدّى للإفتاء دون مؤهّلات شخصية معينة يحددها كل مذهب، ولا يجوز الإفتاء دون التقيّد بمنهجية المذاهب، ولا يجوز لأحد أن يدّعي الاجتهاد ويستحدث مذهباً جديداً أو يقدّم فتاوى مرفوضة تخرج المسلمين عن قواعد الشريعة وثوابتها وما استقرَّ من مذاهبها.

(4) إنّ لبّ موضوع رسالة عمّان التي صدرت في ليلة القدر المباركة من عام 1425 للهجرة وقُرئت في مسجد الهاشميين، هو الالتزام بالمذاهب وبمنهجيتها؛ فالاعتراف بالمذاهب والتأكيد على الحوار والالتقاء بينها هو الذي يضمن الاعتدال والوسطية، والتسامح والرحمة، ومحاورة الآخرين.

(5) إننا ندعو إلى نبذ الخلاف بين المسلمين وإلى توحيد كلمتهم، ومواقفهم، وإلى التأكيد على احترام بعضهم لبعض، وإلى تعزيز التضامن بين شعوبهم ودولهم، وإلى تقوية روابط الأخوّة التي تجمعهم على التحابّ في الله، وألاّ يتركوا مجالاً للفتنة وللتدخّل بينهم.

فالله سبحانه يقول:

]إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم تُرحمون [ [الحجرات 10].

والحمد لله وحده.

قائمة بأسماء السادة الموقعين في المؤتمر الإسلامي الدولي

حول
حقيقة الإسلام ودوره في المجتمع المعاصر*

جمهورية أذربيجان

سماحة شيخ الإسلام الله شكور بن همّت باشا زادة/ رئيس إدارة مسلمي القفقاز

المملكة الأردنية الهاشمية

صاحب السموّ الملكي الأمير غازي بن محمد/ المبعوث الشخصي والمستشار الخاص لجلالة الملك عبد الله الثاني ابن الحسين المعظم، رئيس مجلس أمناء مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي

سماحة الشيخ عز الدين الخطيب التميمي/ مستشار جلالة الملك للشؤون الإسلامية، قاضي القضاة

معالي الأستاذ الدكتور عبد السلام العبادي/ وزير الأوقاف والشؤون والمقدسات الإسلامية

سماحة الأستاذ الدكتور أحمد هليل/ مستشار جلالة الملك/ إمام الحضرة الهاشمية

سماحة الشيخ سعيد الحجاوي/ المفتي العام للمملكة الأردنية الهاشمية

معالي السيد عقل بلتاجي/ مستشار جلالة الملك

معالي الأستاذ الدكتور خالد طوقان/ وزير التربية والتعليم/ وزير التعليم العالي والبحث العلمي

سماحة الشيخ سالم الفلاحات/ المراقب العام للإخوان المسلمين

سماحة الأستاذ الدكتور الشيخ عبد العزيز الخياط/ وزير الأوقاف سابقاً

سماحة الدكتور الشيخ نوح القضاة/ مفتي القوات المسلحة الأردنية سابقاً

معالي الأستاذ الدكتور خالد الكركي/ نائب رئيس مجلس أمناء مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي/ رئيس جامعة جرش الأهلية

معالي الأستاذ الدكتور إسحق الفرحان/ رئيس جامعة الزرقاء الأهلية/ وزير التربية والتعليم سابقاً

معالي الأستاذ كامل الشريف/ الأمين العام للمجلس الإسلامي العالمي للدعوة والإغاثة

معالي الدكتور عبد اللطيف عربيّات/ رئيس مجلس النواب سابقاً، رئيس مجلس شورى جبهة العمل الإسلامي

سماحة العميد عبد الكريم سليم سليمان الخصاونة/ المفتي العام للقوات المسلحة الأردنية

عطوفة الأستاذ الدكتور عادل الطويسي/ رئيس جامعة آل البيت

فضيلة الأستاذ الدكتور يوسف غيظان/ عميد كلية الدعوة وأصول الدين، جامعة البلقاء التطبيقية

فضيلة الشيخ حسن السقّاف/ مستشار سمو رئيس مجلس أمناء مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي، مدير دار الإمام النووي للنشر والتوزيع

سعادة المهندس مروان الفاعوري/ رئيس منتدى الوسطية للفكر والثقافة

سعادة السيدة نوال الفاعوري/ مربية ومفكرة إسلامية

فضيلة الأستاذ الدكتور عبد الناصر أبو البصل/ عميد كلية الشريعة- جامعة اليرموك

عطوفة الأستاذ بلال التل/ رئيس تحرير صحيفة اللواء

سعادة الأستاذ الدكتور عزمي طه السيد/ كلية الدراسات الفقهية والقانونية – جامعة آل البيت

الدكتور راشد سعيد شهوان/ كلية أصول الدين – جامعة البلقاء التطبيقية

أستراليا

الشيخ سليم علوان الحسيني/ أمين عام دار الفتوى- المجلس الإسلامي الأعلى

جمهورية أفغانستان

سعادة السيد نصير أحمد نور/ سفير أفغانستان في دولة قطر

الجمهورية الألمانية

سعادة الأستاذ الدكتور مراد هوفمان/ سفير ألمانيا السابق في المملكة المغربية/ مفكر وباحث

فضيلة الشيخ صلاح الدين الجعفراوي/ الأمين العام المساعد للمجلس العالمي للدعوة الإسلامية

دولة الإمارات العربية المتحدة:

سماحة السيد علي بن السيد عبد الرحمن الهاشم/ مستشار سمو رئيس الدولة للشؤون القضائية والدينية

سماحة الشيخ محمد البناني/ القاضي بالمحكمة الاتحادية العليا- الإمارات العربية المتحدة

الدكتور عبد السلام محمد درويش المرزوقي/ قاضي في محكمة دبي.

الولايات المتحدة الأمريكية:

الأستاذ الدكتور سيّد حسين نصر/ أستاذ الدراسات الإسلامية في جامعة جورج واشنطن

فضيلة الشيخ حمزة يوسف/ رئيس مؤسسة الزيتونة

فضيلة الشيخ فيصل عبد الرؤوف/ إمام مسجد نيويورك

سعادة الدكتورة إنجريد ماتسون/ أستاذة الدراسات الإسلامية – كلية هارتفورد

سعادة الأستاذ الدكتور سليمان عبد الله شلايفر/ مدير مركز أدهم للصحافة والتلفزيون/ الجامعة الأمريكية – القاهرة

فضيلة الدكتور الشيخ نوح حاميم كلر/ داعية ومفكر إسلامي/ عضو مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي

سعادة السيد نهاد عوض/ مدير عام مجلس العلاقات الإسلامية الأمريكية

سعادة الأستاذ الدكتور جيمس موريس/ جامعة إكستر

الشيخ عبد الله أدهمي/ داعية ومفكر إسلامي

سعادة الدكتور يوسف لومبارد/ مفكر إسلامي

جمهورية إندونيسيا:

سعادة الدكتورة توتي علوية عبد الله شافعي/ رئيسة جامعة الشافعية الإسلامية

سعادة السيد ربحان عبد الوهاب/ سفير الجمهورية الإندونيسية إلى المملكة الأردنية الهاشمية

سعادة الحاج أحمد هاشم مزادي/ رئيس المجلس المركزي لجمعية نهضة العلماء

سعادة السيد محمد رازي منير/ مساعد رئيس المجلس المركزي لجمعية نهضة العلماء

سعادة السيد محمد إقبال سُلام/ المؤتمر العالمي للجامعات الإسلامية

جمهورية أوزبكستان:

سماحة الشيخ محمد الصادق محمد يوسف/ المفتي العام للجمهورية

سعادة الأستاذ يوسفوف أرتقبيك/ مفكر إسلامي

أوكرانيا

المفتي الشيخ أحمد تميم/ مفتي أوكرانيا

جمهورية إيران الإسلامية:

سماحة آية الله الشيخ محمد علي التسخيري/ الأمين العام للمجمع العالمي للتقريب بين المذاهب الإسلامية

سماحة آية الله محمد واعظ زادة الخراساني/ الأمين العام للمجمع العالمي للتقريب بين المذاهب الإسلامية (سابقاً)

سماحة الأستاذ الدكتور السيد مصطفى محقّق داماد/ مدير أكاديمية العلوم، القاضي بوزارة العدل، رئيس مؤسسة التفتيش العام

سماحة حجة الإسلام والمسلمين الدكتور محمود محمدي عراقي/ رئيس رابطة الثقافة والعلاقات الإسلامية في الجمهورية الإسلامية الإيرانية

سعادة الدكتور السيد محمود مرعشي النجفي/ رئيس مكتبة آية الله العظمى مرعشي النجفي

سعادة الدكتور محمد علي آذرشب/ الأمين العام لجمعية الصداقة العربية الإيرانية

سعادة السيد مرتضى هاشم بور قادي/ المدير العام لدائرة العلاقات الدولية/ دائرة المعارف الإسلامية الكبرى

فضيلة العلامة الشيخ عباس علي سليماني/ مندوب الإمام في شرق إيران

سعادة السيد غلام رضا ميرزائي/ عضو مجلس الشورى

سعادة الدكتور محمد رضا خاتمي/ زعيم جبهة المشاركة السياسية الإصلاحية

سماحة الشيخ محمد شريعتي/ جبهة المشاركة السياسية الإصلاحية

الأستاذ ما شاء الله محمود شمس الواعظين/ كاتب وصحفي.

إيطاليا

السيد يحيى سيرجيو بالاّفيسثيني/ نائب الرئيس، التجمّع الديني الإسلامي في إيطاليا.

جمهورية الباكستان:

سعادة الأستاذ الدكتور ظفر إسحاق أنصاري/ المدير العام لمركز البحوث الإسلامية، إسلام آباد- باكستان

سماحة الدكتور رضا شاه كاظمي/ باحث ومفكر إسلامي

سعادة الأستاذ عارف كمال/ مفكر إسلامي، سفير جمهورية الباكستان إلى المملكة الأردنية الهاشمية

سماحة الأستاذ الدكتور محمود أحمد غازي/ رئيس الجامعة الإسلامية في إسلام أباد

الشيخ الدكتور محمد طاهر القادري/ مركز البحوث الإسلامية- إسلام آباد

مملكة البحرين:

سماحة الشيخ الدكتور محمد علي الستري/ وزير العدل

سعادة الدكتور فريد بن يعقوب المفتاح/ وكيل وزارة الشؤون الإسلامية

جمهورية البرازيل:

فضيلة الشيخ علي محمد عبدوني/ ممثل الندوة العالمية للشباب الإسلامي في أمريكا اللاتينية والمعتمد الديني لدار الفتوى للجمهورية اللبنانية في ساوباولو

البرتغال

السيد عبد المجيد وكيل/ رئيس بانكو إفيسبا

السيد سهيل ناخودا/ رئيس تحرير مجلة إسلاميكا

جمهورية بنغلادش

سعادة الأستاذ الدكتور أبو الحسن صادق/ رئيس جامعة بنغلادش الآسيوية

البوسنة والهرسك:

فضيلة الأستاذ الدكتور الشيخ مصطفى تسيريتش/ رئيس العلماء والمفتي العام في البوسنة والهرسك

فضيلة الأستاذ حسن ماكيتش/ مفتي بيهاتش

سعادة الأستاذ أنس ليفاكوفيتش/ باحث ومحاضر/ كلية الدراسات الإسلامية

مملكة تايلند:

سعادة السيد وان محمد نور ماثا/ مستشار دولة رئيس الوزراء

سعادة السيد ويبون خوساكول/ سفير تايلند – بغداد

الجمهورية التركية:

معالي الأستاذ الدكتور أكمل الدين إحسان أوغلو/ الأمين العام لمنظمة المؤتمر الإسلامي

سعادة الأستاذ الدكتور علي أوزاك/ رئس وقف دراسات العلوم الإسلامية – إستانبول

سعادة الأستاذة الدكتورة معلّى سلجوق/ عميدة كلية الشريعة – أنقرة

سعادة البروفسور الدكتور مصطفى شاغريجي/ مفتي اسطنبول وأستاذ الفلسفة الإسلامية

سعادة البروفسور إبراهيم كافي دونماز/ أستاذ الفقه الإسلامي في جامعة مرمرة

جمهورية تشاد

الشيخ الدكتور حسين حسن أبكر/ رئيس المجلس الأعلى للشؤون الإسلامية بجمهورية تشاد

الجمهورية التونسية:

دولة الأستاذ الدكتور الهادي البكوش/ رئيس وزراء تونس سابقاً

السيد الدكتور أبو بكر الأخزوري/ وزير الشؤون الدينيّة

سعادة الأستاذ الدكتور علي الشّابي/ رئيس المجلس الإسلامي الأعلى، وزير الشؤون الإسلامية سابقاً

سعادة الأستاذ الحبيب شيبوب/ كاتب ومؤرخ

سعادة الدكتور عامر الزمالي/ مستشار شؤون العالم الإسلامي، اللجنة الدولية للصليب الأحمر

الجمهورية الجزائرية الديمقراطية الشعبية:

معالي الأستاذ الأخضر الإبراهيمي/ المبعوث الخاص للأمين العام للأمم المتحدة

معالي الأستاذ الدكتور بو عبد الله بن الحاج محمد آل غلام الله/ وزير الشؤون الدينية والأوقاف

معالي الدكتور مصطفى شريف/ وزير التعليم العالي وسفير الجزائر في القاهرة سابقاً

معالي الدكتور سعيد شيبان/ وزير الشؤون الدينية سابقاً

سعادة الأستاذ الدكتور عمّار الطالبي/ قسم الفلسفة – جامعة الجزائر

سعادة السيد أبو جرة سلطاني/ حركة مجتمع السلم

جنوب إفريقيا:

الشيخ إبراهيم جابرييلز/ رئيس علماء جنوب إفريقيا

جمهورية روسيا الاتحادية:

فضيلة الشيخ راوي عين الدين/ رئيس الإدارة الدينية للمسلمين

سعادة الأستاذ الدكتور سعيد هبة الله كاميليف/ مدير معهد الحضارة الإسلامية – موسكو

سعادة الدكتور مراد مرتازين/ رئيس الجامعة الإسلامية – موسكو

السيد روشان عباسوف/ مدير قسم العلاقات الخارجية لمجلس شورى المفتين لروسيا

المملكة العربية السعودية:

معالي الدكتور عبد العزيز بن عثمان التويجري/ المدير العام للمنظمة الإسلامية للتربية والعلوم والثقافة

الشيخ الحبيب محمد بن عبد الرحمن السقاف

جمهورية سنغافورة:

معالي الدكتور يعقوب إبراهيم/ وزير البيئة والموارد المائية، الوزير المكلف بالشؤون الإسلامية

جمهورية السنغال:

معالي السيد الحاج مصطفى سيسي/ المستشار الخاص لفخامة رئيس الجمهورية السنغالية

سعادة الأستاذ عبد الله باه/ رئيس اتحاد المتطوعين للتربية والثقافة الإسلامية

الجمهورية السودانية:

فخامة الرئيس عبد الرحمن سوار الذهب/ رئيس الجمهورية الأسبق

معالي الدكتور عصام أحمد البشير/ وزير الإرشاد والأوقاف

سعادة الأستاذ الدكتور عز الدين عمر موسى/ محاضر في قسم التاريخ ، جامعة الملك سعود – الرياض

الجمهورية العربية السورية:

فضيلة الأستاذ الدكتور محمد سعيد رمضان البوطي/ داعية ومفكر إسلامي

فضيلة الأستاذ الدكتور الشيخ وهبة مصطفى الزحيلي/ رئيس قسم الفقه الإسلامي ومذاهبه، كلية الشريعة – جامعة دمشق

سماحة الدكتور صلاح الدين أحمد كفتارو/ المدير العام لمجمع الشيخ أحمد كفتارو

سماحة الشيخ الدكتور أحمد بدر حسون/ مفتي الجمهورية العربية السورية

فضيلة الدكتور محمد توفيق سعيد البوطي/ أستاذ الفقه وأصوله- كلية الشريعة- جامعة دمشق

سويسرا

الأستاذ طارق رمضان/ مفكر إسلامي

الجمهورية العراقية

سماحة آية الله العظمى الشيخ حسين المؤيد/ المنتدى العلمي- بغداد

سماحة آية الله أحمد البهادلي/ داعية إسلامي

الدكتور أحمد عبد الغفور السامرائي/ رئيس ديوان الوقف السني

سماحة السيد عبد الصاحب الخوئي/ الأمين العام لمؤسسة الإمام الخوئي الخيرية

سماحة السيد محمد الموسوي/ الأمين العام لرابطة أهل البيت العالمية الإسلامية

سعادة الأستاذ الدكتور عبد العزيز الدوري/ باحث ومؤرخ، قسم التاريخ – الجامعة الأردنية

سعادة الأستاذ الدكتور بشار عوّاد معروف/ باحث ومحقق، عضو مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي والمشرف العلمي على مشروع التفاسير فيها

سماحة الشيخ عباس علي كاشف الغطاء/ كلية الدراسات الإسلامية – جامعة الكوفة

سعادة الدكتور عبد الحميد النجدي / مفكر إسلامي

سماحة الشيخ وليد فرج الله الأسدي/ كلية الدراسات الإسلامية – جامعة الكوفة

فضيلة الشيخ الأستاذ الدكتور أحمد الكبيسي/ داعية ومفكر إسلامي

سعادة الأستاذ غانم جواد/ مدير الشؤون الثقافية، مؤسسة الإمام الخوئي الخيرية

سعادة السيد محمد علاوي / نائب المدير العام لرابطة أهل البيت العالمية الإسلامية

سعادة الأستاذ سعد الملاّ/ مفكر إسلامي

سعادة الدكتور مصطفى عبد الإله كمال الدين/ مفكر إسلامي

سلطنة عُمان

سماحة الشيخ أحمد بن حمد الخليلي/ المفتي العام لسلطنة عُمان

فضيلة الشيخ أحمد بن سعود السيابي/ الأمين العام بمكتب المفتي العام للسلطنة

جمهورية فرنسا

فضيلة الشيخ دليل أبو بكر/رئيس مجلس الديانة الإسلامية في فرنسا/ إمام جامع باريس

سعادة الدكتور حسين رئيس/ مدير الشؤون الثقافية لمسجد باريس

دولة فلسطين

فضيلة الشيخ الدكتور عكرمة صبري/ المفتي العام للقدس والديار الفلسطينية، خطيب المسجد الأقصى المبارك

فضيلة الشيخ تيسير رجب التميمي/ قاضي قضاة فلسطين

دولة قطر

فضيلة الأستاذ الدكتور الشيخ يوسف القرضاوي/ مدير مركز بحوث السنة والسيرة – جامعة قطر

سعادة الأستاذة الدكتورة عائشة المناعي/ عميدة كلية الشريعة – جامعة قطر

كندا:

الشيخ فراز ربّاني/ عالم حنفي

دولة الكويت

معالي الأستاذ الدكتور عبد الله يوسف الغنيم/ رئيس مركز البحوث والدراسات الكويتية

سعادة الدكتور عادل عبد الله الفلاح/ وكيل وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية

الجمهورية اللبنانية

سعادة الأستاذ الدكتور هشام نشابة/ رئيس مجلس إدارة المعاهد العليا، عميد التربية والتعليم ، جمعية المقاصد الخيرية الإسلامية

فضيلة الشيخ السيد هاني فحص/ عضو المجلس الإسلامي الشيعي الأعلى

الشيخ عبد الله بن محمد الهرري

السيد حسام بن مصطفى قراقرة/ رئيس جمعية المشاريع الخيرية الإسلامية

سعادة الأستاذ الدكتور رضوان السيّد/ كلية الآداب – الجامعة اللبنانية، رئيس تحرير مجلة الاجتهاد

سعادة الأستاذ محمد السماك/ الأمين العام للجنة الوطنية الإسلامية المسيحية للحوار ، الأمين العام للقمة الروحية الإسلامية

سماحة القاضي الشرعي الجعفري الشيخ أسد الله الحرشي/ المجلس الإسلامي الشيعي الأعلى

سماحة الشيخ خليل الميس/ مفتي زحلة والبقاع الغربي

فضيلة الشيخ عبد الأمير قبلان/ نائب رئيس المجلس الإسلامي الشيعي الأعلى

الشيخ جميل محمد الحسيني/ رئيس جمعية المشايخ الصوفية في لبنان

سعادة الأستاذ حسن فرحات/ المجلس الإسلامي الشيعي الأعلى

الجماهيرية العربية الليبية الشعبية الاشتراكية العظمى

سعادة الأستاذ إبراهيم الربو/ أمين مكتب المؤتمرات/ جمعية الدعوة الإسلامية العالمية

سعادة الدكتور العجيلي فرحات الميري/ مسؤول شؤون الحوار بالقيادة الشعبية الإسلامية العالمية

جزر المالديف

معالي الدكتور محمود شوقي/ وزير التربية والتعليم

جمهورية ماليزيا

معالي فيهين فادوكا الدكتور عبد الحميد عثمان/ الوزير برئاسة الوزراء

الدكتور أنور إبراهيم/ نائب رئيس الوزراء الأسبق

سعادة الأستاذ الدكتور محمد هاشم كمالي/ عميد المعهد العالمي للفكر الإسلامي والحضارة الإسلامية

معالي السيد شهيدان قاسم/ الوزير الأول لولاية برلنس- ماليزيا

سعادة السيد خيري جمال الدين/ نائب رئيس قطاع الشباب، المنظمة الوطنية المتحدة لماليزيا

الأوقاف

فضيلة الأستاذ الدكتور علي جمعة/ مفتي جمهورية مصر العربية

فضيلة الأستاذ الدكتور أحمد محمد أحمد الطيب/ رئيس جامعة الأزهر

معالي الأستاذ الدكتور أحمد كمال أبو المجد/ مفكر إسلامي، وزير الإعلام سابقاً، محام بالنقض وخبير دولي في شؤون التحكيم

معالي الدكتور محمد الأحمدي أبو النور/ وزير الأوقاف في جمهورية مصر العربية سابقاً، والأستاذ في كلية الشريعة – جامعة اليرموك، الأردن

فضيلة الأستاذ الدكتور فوزي الزفزاف/ رئيس اللجنة الدائمة للأزهر الشريف للحوار بين الأديان السماوية، عضو مجمع البحوث الإسلامية

سعادة الأستاذ الدكتور حسن حنفي/ باحث ومفكر إسلامي، قسم الفلسفة – جامعة القاهرة، عضو مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي

سعادة الأستاذ الدكتور محمد محمد الكحلاوي/ أمين الاتحاد العام للآثاريين العرب، عميد كلية الآثار- فرع الفيوم، جامعة القاهرة

سعادة الأستاذ الدكتور أيمن فؤاد سيّد/ المدير العام لدار الكتب المصرية سابقاً

فضيلة الشيخ الدكتور زغلول النجار الأكرم/ رئيس لجنة الإعجاز العلمي في القرآن والسنة في المجلس الأعلى للشؤون الإسلامية- القاهرة

فضيلة الشيخ الأستاذ معز مسعود/ داعية إسلامي

الدكتور راغب السرجاني

الدكتور محمد هداية

المملكة المتحدة

الشيخ عبد الحكيم مراد/ جامعة كامبردج

فضيلة الشيخ يوسف إسلام/ داعية ومنشد إسلامي

فضيلة الدكتور عباس مهاجراني/ عضو مؤسسة الإمام الخوئي الخيرية

سعادة الدكتور فؤاد نهدي/ إعلامي إسلامي

سعادة السيد شمس فيلاني / مفكر إسلامي

سعادة الدكتور فرهد دفتري/ مفكر إسلامي

السيد سامي يوسف/ منشد إسلامي

المملكة المغربية

معالي الأستاذ الدكتور عباس الجراري/ مستشار جلالة الملك

معالي الأستاذ الدكتور عبد الهادي بوطالب/ المستشار السابق لجلالة الملك

سعادة الأستاذ الدكتور عبد الهادي التازي/ عضو أكاديمية المملكة المغربية، سفير سابق

سعادة الأستاذ الدكتور محمد فاروق النبهان/ مدير دار الحديث الحسنية سابقاً

سعادة الأستاذ الدكتور أحمد شوقي بنبين/ مدير المكتبة الحسنية

سعادة الأستاذة الدكتورة نجاة المريني/ قسم اللغة العربية – جامعة محمد الخامس

سعادة الدكتور عبدو الفيلالي الأنصاري/ مفكر إسلامي

موريشيوس

فضيلة الشيخ غلام محمد/ الرئيس والمدير العام لجمعية الهلال الأزرق

النمسا

سعادة البروفسور أنس الشقفة/ رئيس الهيئة الدينية الإسلاميّة

السيد طرفة البغاجاتي/ مبادرة مسلمي النمسا

جمهورية نيجيريا الفيدرالية

صاحب السمو الملكي الحاجي آدو باييرو/ أمير كانو

السيد سليمان أوشو/ الأمين العام للمؤتمر الإسلامي لإفريقيا

جمهورية الهند

سعادة مولانا محمود مدني/ عضو البرلمان، الأمين العام لجمعية علماء الهند، معهد ديوباند الديني

سمو الأمير جعفر الصادق مفضل سيف الدين/ مفكر إسلامي

سمو الأمير طه سيف الدين/ مفكر إسلامي

سعادة الأستاذ الدكتور سيد أوصاف علي/ رئيس جامعة هامدارد

سعادة الأستاذ الدكتور أختر الواسع/ رئيس دائرة الدراسات الإسلامية، عميد كلية الإنسانيات واللغات، مدير مركز ذاكر حسين للدراسات الإسلامية

جمهورية اليمن

سماحة الشيخ إبراهيم بن محمد الوزير/ الأمين العام لحركة التوحيد والعمل الإسلامي

الشيخ الحبيب عمر بن محمد بن سالم بن حفيظ/ عميد دار المصطفى بتريم للدراسات الإسلامية

فضيلة الشيخ الحبيب علي الجفري/ داعية ومفكر إسلامي

معالي الأستاذ الدكتور حسين العمري/ عضو مجلس الشورى، عضو المجلس التنفيذي لليونسكو، أستاذ التاريخ الحديث والمعاصر – جامعة صنعاء

* رتبت أسماء الدول المشاركة حسب الترتيب الهجائي

Syiah Menjawab: Al-Quran, Kitab Yang Tak Mungkin Ditahrif

Ulama Syiah Tegaskan Tidak Ada Tahrif dalam Al-Qur’an
Sebenarnya tuduhan adanya keyakinan Syiah mengenai tahrif Al-Qur’an sangat ganjil, sebab Syiah selama ini mengklaim sebagai umat Islam yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Ahlul Bait, jika Syiah meyakini adanya perubahan pada Al-Qur’an yang membuatnya tidak orisinil lagi sama artinya Syiah meruntuhkan bangunan aqidah mereka sendiri.

Ulama Syiah Tegaskan Tidak Ada Tahrif dalam Al-Qur.

Syeikh Fauzi as Saif, direktur Hauzah Ilmiyah Ahsa’ dan termasuk salah satu ulama Syiah terpandang Saudi Arabia saat wawancara dengan Jaringan TV al Kautsar menegaskan, “Sebagian TV parabola mengklaim bahwa para ulama Syiah meyakini tahrif (distorsi) Al Quran, padahal sesungguhnya tidaklah demikian”.

Beliau menyatakan: Terdapat riwayat yang berbau tahrif dalam kitab hadis Syiah dan juga Ahlussunnah, namun perlu digarisbawahai bahwa semua riwayat ini tidak muktabar dan menerima riwayat ini sama dengan menolak penegasan gamblang Al Qur’an perihal tidak mungkinnya terjadi tahrif. Pengikut Syiah sendiri sama sekali tidak meyakini tahrif Al Qur’an.

Beliau lebih lanjut menambahkan, “Karena para imam Ahlul Bait as adalah kepanjangan misi kenabian Rasul saww dan mereka adalah salah satu sumber terpercaya dalam menafsirkan Al Qur’an maka kaum Syiah mengambil pemahaman agamanya dari mereka, sedangkan para imam Ahlul Bait sendiri berulangkali menegaskan perihal tidak terjadinya tahrif Al Qur’an.”

Syeikh Fauzi as Saif menambahkan, “Ahlul Bait as adalah penyebab terjaganya sunah nabawi. Bila saja Ahlul Bait as tidak bekerja keras dalam menjaga sunah nabawi dan pasca Imam Ali, para imam yang lain tidak melanjutkan usaha menjaga sunah nabawi maka sunah nabawi akan hilang dan sirna, sehingga dampaknya adalah kaum Muslimin tidak memiliki dalil dan dokumentasi (sunah) yang dapat menjadi sandaran.”

Syubhat adanya keyakinan tahrif Al-Qur’an di kalangan Syiah telah berhembus beratus-ratus tahun lamanya, meskipun telah mendapat bantahan dari ulama-ulama Syiah. Sebenarnya tuduhan tersebut sangat ganjil, sebab Syiah selama ini mengklaim sebagai umat Islam yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Ahlul Bait, jika Syiah meyakini adanya perubahan pada Al-Qur’an yang membuatnya tidak orisinil lagi sama artinya Syiah meruntuhkan bangunan aqidah mereka sendiri.

.

Setelah membaca tanggapan Bung Fahmi Salim yang berjudul “Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat” yang dimuat Eramuslim, pada Sabtu (21/1), saya melihat meskipun ia mengkritik tulisan Bung Haidar Bagir di Republika, namun ia menyampaikannya dengan cukup santun. Tetapi, saat berbicara tentang Syiah, tampak sekali bahwa ia terlalu “pede” dengan hanya bermodalkan kutipan-kutipan dari satu atau dua buku bacaan

.

Tulisannya tersebut menggambarkan betapa tidak mengertinya ia tentang mazhab Syiah. Pun menunjukkan betapa sempit dan terkungkungnya pengetahuannya hanya pada pandangan kelompoknya sendiri, dan kurangnya kemauannya untuk belajar tentang pandangan mazhab lain secara proporsional. Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi, “Untuk berbicara, orang harus lebih dahulu mendengar. Maka, belajarlah berbicara dengan mendengar.”

.

Karenanya, sebelum berkomentar dan menilai mazhab Syiah, semestinyalah ia belajar atau minimal mendengar terlebih dahulu dengan baik tentang mazhab ini dari sumbernya secara adil. Karena, sebagaimana kata Ibn Hajar al-Haitsami, “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran.”

.

Tahrif Al-Qur’an

.

Isu tahrif (distorsi) Al-Qur’an selalu dituduhkan kepada Syiah, meskipun masalah tahrif ini telah dibantah oleh para ulama Syiah di setiap masa dan generasi sejak ratusan tahun yang lalu.
.
Mengenai pernyataan Adnan al-Bahrani yang dikutip Bung Fahmi, semakin memperlihatkan kepedeannya dengan hanya membaca buku kutipan. Padahal, kalau ia mau, buku ini dengan mudah bisa diperoleh di internet. Buku Adnan tersebut berjudul asli “Masyariq asy-Syamus ad-Duriyah fi Ahaqiyah Madzhab al-Akhbariyah”. Di dalamnya, Adnan mengatakan bahwa persoalan tahrif tersebut merupakan “konsensus firqah al-muhiqah dan sesuatu yang asasi dalam mazhab mereka” (hal. 126). Sayangnya, kata “firqah al-muhiqah” kemudian diartikan sebagai Syiah secara umum. Padahal, jelas maksud Adnan hanya sebagian, yaitu merujuk kepada kaum Syiah Akhbariyah, sebagaimana yang tertera gamblang dalam judul bukunya. Selain itu, pada halaman berikutnya, Adnan mengatakan bahwa ulama-ulama Syiah seperti al-Murtadha, ash-Shaduq, dan sebagainya menentang isu tahrif tersebut. Ini menunjukkan bahwa Adnan tidak memaksudkan pernyataannya itu untuk Syiah secara umum.
.
Mengenai an-Nuri dalam kitabnya “Fashlul Khitab” itu, lagi-lagi Bung Fahmi kepedean dengan hanya mengutip tulisan Ahmad Sa’ad Al-Ghamidi. Berikut saya kutipkan pernyataan murid an-Nuri, Syaikh Agha Buzurg Tahrani, yang menuturkan bahwa an-Nuri berkata, “Saya telah keliru memberi judul buku tersebut. Semestinya saya beri judul: Fashlul Khitab fi Adami Tahrif al-Kitab. Karena, dalam buku ini saya telah membuktikan bahwa Al-Quran adalah wahyu Ilahi yang tidak mengandung tahrif, baik penambahan maupun pengurangan, sejak dia dikumpulkan hingga sekarang. Sedangkan kumpulan pertama Al-Quran sampai kepada kita dengan tingkat kemutawatiran yang meyakinkan. Saya telah lalai untuk menjelaskan dengan tegas di banyak tempat dalam kitab tersebut, sehingga banyak kritik dan celaan yang ditujukan kepada saya. Bahkan, karena kelalaian tersebut, penegasannya menjadi sebaliknya. Saya hanya memberi isyarat tentang tujuan saya yang sebenarnya pada halaman 22. Sebab, yang penting adalah keyakinan bahwa tidak ada ayat lain selain yang terdapat dalam Al-Quran di tangan kita….” [Syaikh Rasul Ja'fariyan, "Ukdzubah Tahrif al-Qur'an Baina asy-Syiah wa as-Sunnah", hal. 137]

.

Mengenai riwayat-riwayat lainnya, sebagian mesti dipahami sebagai tahrif maknawi (distorsi kontekstual), bukan tahrif lughawi (distorsi tekstual). Hal ini tampak pada riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir, “Di antara ulah mereka yang suka membuang Al-Qur’an adalah membiarkan huruf-hurufnya, tetapi mengubah hukum-hukumnya…” [Al-Kulaini, "Al-Kafi", jil. 8, hal. 53]

.
Namun demikian, bila ada riwayat yang mengindikasikan tahrif lughawi, maka hal ini telah dibantah oleh jumhur ulama Syiah. Sayid Muhsin al-Amin mengatakan tentang tahrif yang dinisbatkan pada Syiah, “Itu adalah bohong dan dusta. Para ulama Syiah dan para muhadis mereka menyatakan yang sebaliknya.” [Sayid Muhsin al-Amin, "A'yan asy-Syi'ah", jil. 1, hal. 46 dan 51]
.
Bahkan hal ini ditegaskan pula oleh seorang ulama besar Ahlusunah, Rahmatullah al-Hindi, “Sesungguhnya Al-Qur’an al-Majid, di kalangan jumhur Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, adalah terjaga dari perubahan dan pergantian. Apabila ada di antara mereka yang mengatakan adanya tahrif pada Al-Qur’an, maka yang demikian itu telah mereka tolak dan tidak mereka terima.” [Rahmatullah al-Hindi, "Izh-harul Haq", jil. 2, hal. 128]
.
Saya senang mendengar bahwa isu tahrif di kalangan Ahlusunah, seperti riwayat Ibnu Majah tersebut, telah dibantah oleh Bung Fahmi. Untuk itu, saya juga menunggu argumen bantahan lanjutan untuk riwayat-riwayat Ahlusunah berikut:

1.  Khudzaifah berkata, “Pada masa Nabi, Saya pernah membaca Surat Al-Ahzab. Tujuh puluh ayat darinya saya sudah agak lupa bunyinya, namun saya tidak mendapatinya di dalam Al-Qur’an yang ada saat ini.” [Suyuthi, "Durr al-Mantsur", jil. 5, hal. 180]

2. Ibn Mas’ud telah membuang surat Mu’awidzatain (an-Nas dan al-Falaq) dari mushafnya dan mengatakan bahwa keduanya tidak termasuk ayat Al-Qur’an. [Al-Haitsami, "Majma' az-Zawa'id", jil. 7, hal 149; Suyuthi, "Al-Itqan", jil. 1, hal. 79]

3. Umar bin Khattab berkata, “Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat ke dalam Kitabullah, maka akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” [Shahih Bukhari, bab Syahadah ‘Indal Hakim Fi Wilayatil Qadha; Suyuthi, "Al-Itqan", jil. 2, hal. 25 dan 26;  Asy-Syaukani, "Nailul Authar", jil. 5, hal. 105; "Tafsir Ibnu Katsir", jil. 3, hal. 260]

.
Laknat Bani Umayah Terhadap Ali bin Abi Thalib Sekali lagi, Bung Fahmi terlalu pede dengan hanya mengutip tulisan Shallabi. Mengenai Al-Madaini yang kata Shallabi dinilai tak bisa dipercaya oleh hampir semua pakar dan imam hadis Ahlusunah, adz-Dzahabi dalam kitabnya “Siyar A’lami Nubala” justru berkata sebaliknya, “Ia memiliki pengetahuan yang menakjubkan tentang sejarah, peperangan, nasab, dan peristiwa-peristiwa di tanah Arab. Ia jujur (shadiq) dalam menyampaikannya. Ia seorang alim dalam isu seputar penaklukan (futuh), peperangan (maghazi), dan syair. Ia seorang yang jujur (shadiq) dalam hal itu.” Saya rasa Bung Fahmi tentu tahu bahwa Adz-Dzahabi adalah salah seorang imam rijal hadis Ahlusunah kenamaan. Namun demikian, saya juga ingin menambahkan riwayat tentang pelaknatan Ali tersebut dari sumber-sumber yang lain,

.

di antaranya:

1. Suyuthi berkata, “Pada zaman Bani Umayyah terdapat lebih dari tujuh puluh ribu mimbar untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang telah ditetapkan Muawiyah.” [Ibn Abil Hadid al-Mu'tazili, "Syarh Nahjul Balaghah", jil. 1, hal. 356].

2. Ibn Abdu Rabbih berkata, “Ketika Muawiyah melaknat Ali dalam khutbahnya di Masjid Madinah, Ummu Salamah segera menyurati Muawiyah, ‘Sungguh engkau telah melaknat Ali bin Abi Thalib. Padahal, aku bersaksi, Allah dan Rasul-Nya mencintainya.’ Namun, Muawiyah tidak peduli dengan kata-kata Ummu Salamah itu.” [Ibn Abdu Rabbih, "Al-‘Iqdu al-Farid", jil. 2, hal. 301 dan jil. 3, hal. 127].

3. Yaqut al-Hamawi berkata, “Atas perintah Muawiyah, Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Timur hingga Barat, di mimbar-mimbar masjid.” [Yaqut al-Hamawi, "Mu'jam al-Buldan", jil. 1, hal. 191]

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan kepada Bung Fahmi bahwa persatuan itu bukan dibentuk dengan cara memaksa untuk sama. Ini namanya hegemoni dan sewenang-wenang. Persatuan dan persaudaraan hanya bisa terwujud melalui sikap toleran terhadap perbedaan. Selain itu, negeri ini juga bukan negara agama, sehingga tidak semestinya diklaim sebagai milik mazhab tertentu.

Wallahu a’lam.

.

Syiah Menjawab:
 Al-Quran, Kitab Yang Tak Mungkin Ditahrif
Syi’ah dengan berbagai tuduhan dan tudingan tetap berkeyakinan bahwa Quran yang ada ditangan kita dan yang ada di tangan semua orang muslim adalah Quran yang sama yang diturunkan pada kita Muhammad Saw;tidak bertambah dan berkurang walau satu kalimatpun.
Masalah ini begitu jelas dipahami dari kitab-kitab tafsir, ushul fiqih dan lainnya dengan berbagai dalil aqli dan naqil.
Al-Quran, Kitab Yang Tak Mungkin DitahrifSyi’ah dengan berbagai tuduhan dan tudingan tetap berkeyakinan bahwa Quran yang ada ditangan kita dan yang ada di tangan semua orang muslim adalah Quran yang sama yang diturunkan pada kita Muhammad Saw;tidak bertambah dan berkurang walau satu kalimatpun.
Masalah ini begitu jelas dipahami dari kitab-kitab tafsir, ushul fiqih dan lainnya dengan berbagai dalil aqli dan naqil.Kita meyakini sesuai dengan ijma’ para ulama Islam baik Syi’ah atau Ahli sunnah bahwa Quran tidak bertambah dan juga menurut kesepakatan moyoritas muhaqqiq bahwa tidak ada yang terkurangi dari Al-Quran sedikitpun.Memang ada sedikit dari dua kelompok tersebut meyakini bahwa Quran ada yang bekurang akan tetapi keyakinan mereka tidak didukung oleh cendikiawan-cendikiawan terkenal Islam.Dua Kitab Dari Dua Kelompok

Diantara mereka adalah Ibnul-Khatib Misry dari golongan ahli sunnah yang menulis kitab Al-Furqan fi Tahrifil Quran dimana kitab tersebut telah tersebar pada tahun 1948M ( 1367 H.Q). Universitas Al-Azhar pada waktu yang tepat menyadari keberadaannya mahaminya hal teesebut dan akhirnya mengumpulkan berkas-berkas itu dan melenyapkannya. Akan tetapi beberapa berkas darinya masih di tangan beberapa orang.

Begitu juga dengan kitab Faslul Khitab fi Tahrifi Kitab Rabbil Arbab yang ditulis oleh salah satu muhaddis yang bernama Haji Nuri dan telah dicetak pada tahun 1291H.Q , para pemuka hauzah ilmiah Najaf mengingkarinya dan mengeluarkan perintah untuk mengumpulkannya dan ditulislah beberapa kitab yang banyak yang menentang kitab tersebut, diantara para ulama yang mengkritik dan menentang kitab tersebut adalah:

1. Seorang faqih yang terpilih yang bernama marhum Syekh Mahmud bin Abi Qasim yang terkenal dengan Muarrab Tehrani (wafat pada tahun 1313) yang mana beliau menulis kitab Kasyful Irtiyab fi Adami Tahrifil Kitab.
2. Marhum Allamah Sayyid Muhammad Husain Syahristani (wafat pada tahun 1315) beliau menulis kitab lain dalam rangka menolak kitab Faslul Khitab karnya Haji Nuri yang bernama Hifdzul Kitabisy Syarif ‘an Syubhatil Qaul bit Tahrif.
3. Marhum Allamah Balaghi (wafat pada Tahun 1352) salah seorang muhaqqiq hauzah ilmiyah Najaf yang terkenal dengan karangannya kitabTafsiru Alau Rahman, merupakan salah satu ulama yang menulis kitab untuk menjawab isi kitab Faslul Khitab.[1]
4. Kami juga mendapatkan dalam kitab Anwarul-Usul pembahasan yang cukup luas tentang tidak adanya tahrif Quran Majid dan kami juga memberikan jawaban yang memuaskan pada syubhah-Syubhah kitab Faslul-Khitab.
Marhum Haji Nuri walaupun seorang alim akan tetapi dia sebagaimana perkataan Allamah Balaghi selalu bersandar pada hadis-hadis dzaif dan lemah, dan dia sendiri merasa menyesal setelah tersebarnya kitab tersebut, semua pembesar hauzah ilmiyah Najaf menyimpulkan bahwa penyesalannya dikarenakan kesalaha-kesalahannya yang jelas tersebut.[2]

Yang menarik perhatian adalah Haji Nuri setelah bukunya tersebar dan dikarenakan serangan yang ditujukan kepadanya, untuk membela diri terpaksa dia menulis risalah yang isinya adalah maksud saya dari kitab tersebut adalah tidak adanya tahrif dalam al-Quran akan tetapi dari ungkapan-ungkapan yang saya pakai telah ……..salah difahami.[3]

Marhum Allamah Sayyid Hibbatuddin Syahristani mengatakan: ketika aku berada di Samira, berkata Marhum Mirza Syirazi Buzurg, Samira dirubah menjadi markas ilmu-ilmu Syi’ah, setiap aku memasuki suatu acara aku mendengarkan jeritan-jeritan dalam rangka menentang Haji Nuri dan kitab yang ia tulis dan sebagian dari mereka menyebutkannya dengan kalimat-kalimat yang buruk. [4]

Dengan ini semua apakah masih bisa perkataan Syekh Nuri dinisbatkan dengan akidah Syi’ah?

Sebagian dari mutaassib wahabi kitab Faslul-Khitab ini dibut sebagai alasan dan memaksa menisbatkan masalah tahrif Quran pasa Syi’ah, sedangkan:

1. Kalau hanya dengan satu kitab bisa dijadikan dalil bahwa Syi’ah meyakini hal ini maka masalah tahrif Quran ini juga harus dinisbatkan pada Ahli Sunnah, karena Ibnu Khatib Misri juga menulis kitab Alfurqan fi Tahrifil Quran. Jika protes para ulama al-Azhar terhadap kitab tersebut merupakan dalil akan ketiadak benaran isi kitab tersebut, maka penolakan dan protes para ulama Najaf terhadap kitab Faslul-Kihitab juga merupakan dalil yang sama akan ketidakbenaran isi kitab.

2. Dalam tafsir Qurtubi dan Durul-Mantsur yang mana kedua kitab tersebut termasuk kitab tafsir yang makruf di kalangan ahli sunnsh, dinukil dari Aisyah (istri nabi Saw) dimana dia mengatakan:” sesungguhnya surah Al- Ahzab memiliki 200 ayat, maka yang tersisa hanya 73 ayat saja.[5]

Lebih dari itu, dalam kitab Bukhari dan Muslim riwayat semacam itu juga yang mengesankan tahrif Quran dapat dijumpai dalam kedua kitab standar tersebut.[6]

Akan tetapi, tidak bisa kita mengatakan akan tahrif Quran dengan berlandaskan kepada seorang penulis atau beberapa riwayat lemah.
3. Mayoritas riwayat yang dinukil oleh Haji Nuri dinukil dari tiga perawi yang mazhabnya tidak jelas atau seorang pembohog atau kondisi tidak diketahui; Ahmad bin Muhammad Al-Yasari, Ali bin Muhammad Kufi dan Abu Jarud.

4. Pada dasarnya tuduhan tahrif Quran yang dinisbahkan kepada sebuah sekte imbas dan citra buruknya mengarah kepada agama Islam sendiri. Karena hal inilah yang diinginkan oleh para musuh Islam.

5. Para qari’ dan hafiz Quran dari Iran (yang secara note bene pengikut Syi’ah) yang kerap kali mendapat peringkat terbaik dalam musabaqah qurani, terlebih para hafiz kecil, serta ribuan hafiz setiap tahunnya yang muncul dari negeri ini, semuanya membaca dan menghafal al-Quran yang sama dengan Quran yang ada di tangan musimin.

Dalil Aqli Dan Naqli

Di dalam al-Quran terdapa banyak ayat yang menegaskan bahwa kitab agung ini tidak akan ditahrif. Allah berfirman:” sesungguhnya Kami telah menurunkan dzikr dan Kamilah yang akan menjaganya.[7]

Dalam ayat lain disebutkan:” Dan sesungguhnya dia adalah kitab yang tidak ada tandingannya, tidak akan sesuatu (yang batil) yang akan mengahmpirinya; baik dari depan, belakang, karena dia diturunkan dari Dzat yang bijak danterpuji.[8]

Selain itu, para pencatat wahyu yang jumlahnya sekitar 14 orang hingga 400 orang senantiasa siogap dan dengan cepat mencatat ayat-ayat yang baru turun kepada Rasulullah Saw. Terdapat ratusan para hafiz di zaman itu saat ayat turun mereka langsung menghafalnya. Bacaan kitab ini saat itu merupakan ibadah penting yang dibaca siang dan malam. Di samping itu, Quran merupakan kitab pedoman kehidupan kaum muslimin yang selalu hadir di tengah-tengah kehidupan. Dengan memperhatikan bukti-bukti di atas, akal sehat tidak mungkin membenarkan bahwa dia dapat dirubah; ditambah atau dikurangi.

Dalam riwayat yang dinukil dari para maksum juga telah ditekankan keterjagaan Quran dari tahrif. Amirul mukminin Ali a.s. dalam Nahjul balaghah bersabda:” Allah telah menurunkan kepada kalian sebuah kitab yang menjadi penjelas segala sesuatu, dan Dia menganugrahkan usia Rasulullah Saw sampai agama yang diridhai itu sempurna melalui al-Quran.[9]

Catatan Kaki:

[1] Alaur-Rahman, jilid 1, hal 25.
[2] Alaur-Rahman, jilid 2, hal 311.
[3] Adz-Dzariah, jilid 16, halaman 231.
[4] Burhane Rusyan, halaman 143.
[5] Yafsir Qurthubi, jilid 14, halaman 113 dan Durul-Mantsur, jilid 5, halaman 180
[6] Shahih Bukhari, jilid 8, halaman 208-211 dan shahih Muslim, jilid 4, halaman 167 dan jilid 5, halaman 116

[7] Surah Hijr, ayat 9.
[8] Surah Fushilat, ayat 41 dan 42.
[9] Nahjul Balaghah, khutbah 86
.
Tanggapan atas Artikel Era Muslim “Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat”
 Syiah dan Tuduhan Tahrif al-Quran
Isu tahrif (distorsi) Al-Qur’an selalu dituduhkan kepada Syiah, meskipun masalah tahrif ini telah dibantah oleh para ulama Syiah di setiap masa dan generasi sejak ratusan tahun yang lalu.

.

Syiah dan Tuduhan Tahrif al-QuranSetelah membaca tanggapan Bung Fahmi Salim di Eramuslim, saya melihat meskipun ia mengkritik tulisan Bung Haidar Bagir di Republika, namun ia menyampaikannya dengan cukup santun. Tetapi, saat berbicara tentang Syiah, tampak sekali bahwa ia terlalu pede dengan hanya bermodalkan kutipan-kutipan dari satu atau dua buku bacaan.Tulisannya tersebut menggambarkan betapa tidak mengertinya ia tentang mazhab Syiah. Pun menunjukkan betapa sempit dan terkungkungnya pengetahuannya hanya pada pandangan kelompoknya sendiri, dan kurangnya kemauannya untuk belajar tentang pandangan mazhab lain secara proporsional. Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi, “Untuk berbicara, orang harus lebih dahulu mendengar. Maka, belajarlah berbicara dengan mendengar”.Karenanya, sebelum berkomentar dan menilai mazhab Syiah, semestinyalah ia belajar atau minimal mendengar terlebih dahulu dengan baik tentang mazhab ini dari sumbernya secara adil. Karena, sebagaimana kata Ibn Hajar al-Haitsami, “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran.”Tahrif Al-Qur’an

Isu tahrif (distorsi) Al-Qur’an selalu dituduhkan kepada Syiah, meskipun masalah tahrif ini telah dibantah oleh para ulama Syiah di setiap masa dan generasi sejak ratusan tahun yang lalu.

Mengenai pernyataan Adnan al-Bahrani yang dikutip Bung Fahmi, semakin memperlihatkan kepedeannya dengan hanya membaca buku kutipan. Padahal, kalau ia mau, buku ini dengan mudah bisa diperoleh di internet. Buku Adnan tersebut berjudul asli ‘Masyariq asy-Syamus ad-Duriyah fi Ahaqiyah Madzhab al-Akhbariyah’. Di dalamnya, Adnan mengatakan bahwa persoalan tahrif tersebut merupakan “konsensus firqah al-muhiqah dan sesuatu yang asasi dalam mazhab mereka” (hal. 126). Sayangnya, kata ‘firqah al-muhiqah’ kemudian diartikan sebagai Syiah secara umum. Padahal, jelas maksud Adnan hanya sebagian, yaitu merujuk kepada kaum Syiah Akhbariyah, sebagaimana yang tertera gamblang dalam judul bukunya. Selain itu, pada halaman berikutnya, Adnan mengatakan bahwa ulama-ulama Syiah seperti al-Murtadha, ash-Shaduq, dan sebagainya menentang isu tahrif tersebut. Ini menunjukkan bahwa Adnan tidak memaksudkan pernyataannya itu untuk Syiah secara umum.

Mengenai an-Nuri dalam kitabnya ‘Fashlul Khitab’ itu, lagi-lagi Bung Fahmi kepedean dengan hanya mengutip tulisan Ahmad Sa’ad Al-Ghamidi. Berikut saya kutipkan pernyataan murid an-Nuri, Syaikh Agha Buzurg Tahrani, yang menuturkan bahwa an-Nuri berkata, “Saya telah keliru memberi judul buku tersebut. Semestinya saya beri judul: Fashlul Khitab fi Adami Tahrif al-Kitab. Karena, dalam buku ini saya telah membuktikan bahwa Al-Quran adalah wahyu Ilahi yang tidak mengandung tahrif, baik penambahan maupun pengurangan, sejak dia dikumpulkan hingga sekarang. Sedangkan kumpulan pertama Al-Quran sampai kepada kita dengan tingkat kemutawatiran yang meyakinkan. Saya telah lalai untuk menjelaskan dengan tegas di banyak tempat dalam kitab tersebut, sehingga banyak kritik dan celaan yang ditujukan kepada saya. Bahkan, karena kelalaian tersebut, penegasannya menjadi sebaliknya. Saya hanya memberi isyarat tentang tujuan saya yang sebenarnya pada halaman 22. Sebab, yang penting adalah keyakinan bahwa tidak ada ayat lain selain yang terdapat dalam Al-Quran di tangan kita”.[Syaikh Rasul Ja'fariyan, "Ukdzubah Tahrif al-Qur'an Baina asy-Syiah wa as-Sunnah", hal. 137]

Mengenai riwayat-riwayat lainnya, sebagian mesti dipahami sebagai tahrif maknawi (distorsi kontekstual), bukan tahrif lughawi (distorsi tekstual). Hal ini tampak pada riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir, “Di antara ulah mereka yang suka membuang Al-Qur’an adalah membiarkan huruf-hurufnya, tetapi mengubah hukum-hukumnya.”[Al-Kulaini, Al-Kafi, jil. 8, hal. 53]

Namun demikian, bila ada riwayat yang mengindikasikan tahrif lughawi, maka hal ini telah dibantah oleh jumhur ulama Syiah. Sayid Muhsin al-Amin mengatakan tentang tahrif yang dinisbatkan pada Syiah, “Itu adalah bohong dan dusta. Para ulama Syiah dan para muhadis mereka menyatakan yang sebaliknya.” [Sayid Muhsin al-Amin, yan asy-Syi'ah, jil. 1, hal. 46 dan 51]

Bahkan hal ini ditegaskan pula oleh seorang ulama besar Ahlusunah, Rahmatullah al-Hindi, “Sesungguhnya Al-Qur’an al-Majid, di kalangan jumhur Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, adalah terjaga dari perubahan dan pergantian. Apabila ada di antara mereka yang mengatakan adanya tahrif pada Al-Qur’an, maka yang demikian itu telah mereka tolak dan tidak mereka terima.” [Rahmatullah al-Hindi, Izh-harul Haq, jil. 2, hal. 128]

Saya senang mendengar bahwa isu tahrif di kalangan Ahlusunah, seperti riwayat Ibnu Majah tersebut, telah dibantah oleh Bung Fahmi. Untuk itu, saya juga menunggu argumen bantahan lanjutan untuk riwayat-riwayat Ahlusunah berikut:
1. Khudzaifah berkata, “Pada masa Nabi, Saya pernah membaca Surat Al-Ahzab. Tujuh puluh ayat darinya saya sudah agak lupa bunyinya, namun saya tidak mendapatinya di dalam Al-Qur’an yang ada saat ini.”[Suyuthi, Durr al-Mantsur, jil. 5, hal. 180]

2. Ibn Mas’ud telah membuang surat Muawidzatain (an-Nas dan al-Falaq) dari mushafnya dan mengatakan bahwa keduanya tidak termasuk ayat Al-Qur’an. [Al-Haitsami, Majma az-Zawa'id, jil. 7, hal 149; Suyuthi, Al-Itqan, jil. 1, hal. 79]

3. Umar bin Khattab berkata, “Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat ke dalam Kitabullah, maka akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” [Shahih Bukhari, bab Syahadah Indal Hakim Fi Wilayatil Qadha; Suyuthi, Al-Itqan, jil. 2, hal. 25 dan 26; Asy-Syaukani, Nailul Authar, jil. 5, hal. 105; Tafsir Ibnu Katsir, jil. 3, hal. 260]

Laknat Bani Umayah Terhadap Ali bin Abi Thalib Sekali lagi, Bung Fahmi terlalu pede dengan hanya mengutip tulisan Shallabi. Mengenai Al-Madaini yang kata Shallabi dinilai tak bisa dipercaya oleh hampir semua pakar dan imam hadis Ahlusunah, adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lami Nubala justru berkata sebaliknya, “Ia memiliki pengetahuan yang menakjubkan tentang sejarah, peperangan, nasab, dan peristiwa-peristiwa di tanah Arab. Ia jujur (shadiq) dalam menyampaikannya. Ia seorang alim dalam isu seputar penaklukan (futuh), peperangan (maghazi), dan syair. Ia seorang yang jujur (shadiq) dalam hal itu.”

Saya rasa Bung Fahmi tentu tahu bahwa Adz-Dzahabi adalah salah seorang imam rijal hadis Ahlusunah kenamaan. Namun demikian, saya juga ingin menambahkan riwayat tentang pelaknatan Ali tersebut dari sumber-sumber yang lain, di antaranya:

1. Suyuthi berkata, “Pada zaman Bani Umayyah terdapat lebih dari tujuh puluh ribu mimbar untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang telah ditetapkan Muawiyah.” [Ibn Abil Hadid al-Mu'tazili, Syarh Nahjul Balaghah, jil. 1, hal. 356].

2. Ibn Abdu Rabbih berkata, “Ketika Muawiyah melaknat Ali dalam khutbahnya di Masjid Madinah, Ummu Salamah segera menyurati Muawiyah, “Sungguh engkau telah melaknat Ali bin Abi Thalib. Padahal, aku bersaksi, Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Namun, Muawiyah tidak peduli dengan kata-kata Ummu Salamah itu. [Ibn Abdu Rabbih, Al-Iqdu al-Farid, jil. 2, hal. 301 dan jil. 3, hal. 127].

3. Yaqut al-Hamawi berkata, “Atas perintah Muawiyah, Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Timur hingga Barat, di mimbar-mimbar masjid.” [Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldan, jil. 1, hal. 191]

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan kepada Bung Fahmi bahwa persatuan itu bukan dibentuk dengan cara memaksa untuk sama. Ini namanya hegemoni dan sewenang-wenang. Persatuan dan persaudaraan hanya bisa terwujud melalui sikap toleran terhadap perbedaan. Selain itu, negeri ini juga bukan negara agama, sehingga tidak semestinya diklaim sebagai milik mazhab tertentu. Wallahu a’lam

.
Wawancara dengan Hafiz Cilik Iran:
 Sunni-Syiah Itu Bersaudara, Al-Qur’annya Satu
“Tidak perlu lagi ada dikotomi Sunni dan Syiah, kesemuanya bersaudara, sama-sama umat Islam, Al-Qur’an kita satu. Anda sendiri melihatnya, di negeri ini, saya hanyalah salah seorang diantara ribuan hafiz yang ada. Apa yang kami hafal, baca dan kaji sama dengan Al-Qur’an yang dicetak di Negara anda. Anda juga tengah berada di dalam masjid yang sebentar lagi dipenuhi orang-orang untuk shalat Jum’at berjamaah, yang pada hari yang sama juga dilakukan oleh umat Islam di negeri anda.”
Sunni-Syiah Itu Bersaudara, Al-Qur
“Pertanyaan terakhir, Mujtaba apa pesanmu buat teman-teman di Indonesia?””Yang saya tahu Indonesia negara multi etnis, agama yang dipeluk penduduknya beragam, karenanya pesan saya jagalah persatuan yang ada, khususnya sesama umat Islam. Harus kita terima, sulit menyatukan mazhab-mazhab yang ada dalam Islam. Karena itu kebutuhan kita saat ini bukan penyatuan, melainkan persatuan. Kelemahan bukan karena kita berbeda, tetapi merasa benar sendiri dan tidak menerima yang lainlah yang melemahkan
.
Tidak perlu lagi ada dikotomi Sunni dan Syiah, kesemuanya bersaudara, sama-sama umat Islam, Al-Qur’an kita satu. Anda sendiri melihatnya, di negeri ini, saya hanyalah salah seorang diantara ribuan hafiz yang ada. Apa yang kami hafal, baca dan kaji sama dengan Al-Qur’an yang dicetak di Negara anda. Anda juga tengah berada di dalam masjid yang sebentar lagi dipenuhi orang-orang untuk shalat Jum’at berjamaah, yang pada hari yang sama juga dilakukan oleh umat Islam di negeri anda.”
.
Saya hanya mengangguk membenarkan. Saya tiba-tiba merasa kecil di hadapannya. Kalau bukan berhadapan langsung, sulit dipercaya, kata-kata yang bijak dan sangat dewasa ini keluar dari mulut seorang pemuda 14 tahun. Tampak ia masih mau melanjutkan pesannya, tapi alat perekam telah saya matikan. “Tak apa ya, jika saya potret?” HPku beralih fungsi menjadi kamera.
“Iya, tapi jangan sampai ketahuan.”Dengan hati-hati saya memotretnya. Hanya tiga kali pengambilan gambar. Saya khawatir jika petugas sampai harus menyita HP karena tidak mematuhi aturan mereka.
.
“Mujtaba, saya benar-benar berterimakasih atas waktu yang kamu luangkan untuk wawancara ini.”
“Iya, sama-sama.” Kujabat erat tangannya.
Kubenahi tasku. “Apa anda tidak ingin bersama duduk di shaff depan?” tanyanya.
“Oh, maaf, saya harus keluar dulu, masih ada waktu sejam. Saya ingin membeli sesuatu. Saya khawatir tokonya tutup sehabis Jum’atan.” Ia mengangguk maklum.Kujabat erat tangannya untuk kedua kalinya. Sekali lagi kuucapkan terimakasih.Kutinggalkan masjid yang telah hampir dipenuhi jama’ah. Pesannya tadi masih juga terngiang, pasti ia mengucapkan pesan itu karena pengaruh pertanyaanku sebelumnya mengenai Malaysia. Iya, di era informasi yang seakan dunia bisa dilipat-lipat ini, sangat mengherankan, masih juga ada yang berkeyakinan bahwa Iran dengan warganya yang mayoritas Syiah mempunyai Al-Qur’an yang berbeda, bahwa mereka tidak menunaikan shalat Jum’at dan propaganda-propaganda negatif lainnya. Dari menara masjid yang menjulang tinggi, masih terdengar lantunan ayat suci yang menggetarkan, “Afalam yasiiruu fil ardi fatakuna lahum quluubun ya’qiluna bihaa…Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami….” (Qs. Al-Hajj: 46)

**********

Wawancara ini setelah mengalami pengeditan seperlunya dimuat dalam buku “Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik” terbitan Pustaka Iiman termasuk wawancara dengan Muhammad Husein Tabatabai (Doktor Cilik) setelah berusia 20 tahun dan dua hafiz cilik Iran lainnya.

Imam Hasan Askari as. senantiasa dalam pengawasan para penguasa, karena adanya riwayat-riwayat dari Nabi saw. yang menguatkan, bahwa Al-Mahdi as. adalah Imam ke-12 dan dia adalah anak beliau..Akan tetapi, Imam Hasan Askari as. telah berhasil merahasiakn putranya itu, betapa pun sulitnya keadaan waktu itu.

Mengenal Ahlul Bait:
 Imam Hasan Askari; Pembina Generasi Unggul
Ahmad bin Khaqan pernah mengenang baik Imam As, padahal ia termasuk pembenci Ahlulbait As. Katanya, “Aku tidak melihat di antara keluarga Bani Alawiyyin (keturunan Imam Ali as.) di Samarra seperti Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali Al-Ridha As. Dan aku tidak menemukan orang sebanding dengannya dalam pengorbanan, kesederhanaan, kehormatan, keagungan, kemulyaan, dan kedermawanan”.

 

Imam Hasan Askari; Pembina Generasi UnggulImam Hasan Al-Askari As. adalah imam ke-11 dari 12 imam Ahlul Bait. Beliau dilahirkan di Madinah Al-Munawwarah pada tahun 232 H. dan meninggal syahid di Samarra tahun 260 H. Ayah beliau ialah Imam Ali Al-Hadi As, sedangkan ibu beliau bernama Susan.

Beliau menjadi Imam (pemimpin umat) pada usia 22 tahun dan hidup pada masa yang penuh dengan kesulitan dan berbagai macam tipu daya. Setelah wafat sang ayah, Imam as. hidup selama 6 tahun, dan sepanjang itulah masa kepemimpinannya (Imamah). Pada masa Imam as, khalifah Abbasiyah Al-Mu’taz tewas di tangan orang-orang Turki. Lalu mereka mengangkat Al-Muhtadi sebagai penggantinya, yang tak lama kemudian juga tewas dibunuh. Seteleh itu, khilafah Abbasiyah jatuh ke tangan Al-Mu’tamid. Panggilan Imam Hasan As ialah Abu Muhammad. Orang-orang mengenalnya dengan berbagai julukan seperti: Al-Hadi, Az-Zaki, An-Naqi, dan Al-Kholis. Julukan beliau yang paling masyhur adalah Al-Askari, karena beliau tinggal di sebuah tempat yang disebut Al-Askar. Selain itu, beliau juga dikenal dengan panggilan Ibnu Ridha.

Ahmad bin Khaqan pernah mengenang baik Imam As, padahal ia termasuk pembenci Ahlulbait As. Katanya, “Aku tidak melihat di antara keluarga Bani Alawiyyin (keturunan Imam Ali as.) di Samarra seperti Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali Al-Ridha As. Dan aku tidak menemukan orang sebanding dengannya dalam pengorbanan, kesederhanaan, kehormatan, keagungan, kemulyaan, dan kedermawanan”.

Dia juga mengatakan, “Seandainya khilafah ini lepas dari tangan-tangan Bani Abbasiyah, maka tidak ada yang layak menjadi khalifah di antara Bani Hasyim selain Hasan bin Ali As., karena kepribadiaannya yang luhur, akhlaknya yang mulia, dan pikirannya yang brilian”.

Tersebarnya kerusakan dan kebobrokan di dalam negeri serta pengaruh besar orang-orang Turki di kalangan para pejabat tinggi negara, semua itu menjadi penyebab munculnya pemberontakan masyarakat terhadap pemerintahan Abbasiyah.

Sementara itu, orang-orang Alawiyah (anak keturunan Imam Ali bin Abi Thalib As) tidak tinggal diam. Mereka juga mengadakan pemberontakan di berbagai tempat.

Hasan bin Zaid Al-Alawi telah mengadakan pemberontakan di daerah Tabristan dan berhasil menguasainya.

Begitu juga di Basrah, telah terjadi pemberontakan yang disebut dengan “Tsaurah Zanj” yang pemimpinnya mengaku sebagai salah satu keturunan Ahlul Bait. Pemberontakan itu dilakukannya dengan sangat keji, hingga ia membunuh anak-anak dan para wanita. Kemudian Imam Hasan Al-Askari as. mengumumkan kepada masyarakat luas, bahwa pemimpin pemberontakan “Tsaurah Zanj” itu bukanlah dari keturunan Ahlul Bait As.

Imam Hasan Al-Askari as. menghadapi situasi yang sangat sulit. Seringkali beliau dijebloskan ke dalam penjara. Para khalifah telah menugaskan penjaga-penjaga yang bengis untuk mengawasinya. Tapi dalam tempo yang singkat, banyak dari mereka yang malah terpengaruh oleh akhlak luhur Imam as., hingga mereka menemukan kembali suara fitrahnya yang bersih dan menjadi orang-orang yang soleh.

Suatu waktu, Imam Hasan as. dijebloskan ke dalam kandang serigala, tapi amat mengejutkan tatkala kawanan serigala tampak gembira dengan kehadiran beliau. Mereka memain-mainkan ekornya ke telapak kaki Imam as, dan terkadang mereka sentuhkan badannya dengan kaki beliau.

Seorang penganut Nasrani (Kristen) telah bertemu Imam Hasan Al-Askari as. dan ia merasa bahwa Tuhan bersama beliau. Ia pun masuk Islam di hadapan Imam as. Tatkala ditanya alasan keislamannya, ia menjawab, “Aku melihat sifat-sifat Isa Al-Masih as. tampak pada dirinya”.

Kebanyakan wasiat-wasiat Imam Hasan Al-Askari as. berkisar pada masalah keadilan, kemuliaan, dan pengorbanan. Beliau senantiasa memperingatkan kaum muslimin akan kedzaliman dan penindasan.

Keluasan Ilmu Imam

Mazhab Ahlul Bait telah tersebar dengan pesat. Pada masa Imam Hasan Al-Askari as., berbagai gerakan ilmiah dan semangat ilmu pengetahuan bermunculan.

Imam Hasan as. melakukan pengajaran di Kufah, Baghdad, dan Hijaz. Kota Qum merupakan salah satu kota yang masyhur sebagai pusat pengembangan ilmu agama. Ilmu beliau laksana samudera, di mana lebih dari 18000 sarjana yang menimba ilmu pada beliau.

Orang dekat khalifah Abbasiyah Al-Mu’taz bernama Muhammad bin Mas’ud Asy-Syirazi menuturkan, “Hasan Al-Askari telah mencapai ketinggian ilmunya, hingga menjadikan Al-Kindi – guru Al-Farabi- membakar bukunya sendiri setelah beliau melihat dan mengoreksi kandungan-kandungannya yang tidak lagi sesuai dengan ajaran Islam”.

Imam Hasan As dan Seorang Pendeta

Suatu masa, kota Samarra pernah dilanda kekeringan. Maka khalifah memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan shalat Istisqa’. masyarakat menyambutnya dan keluar berbondong-bondong untuk melakukan shalat sampai tiga hari. Akan tetapi, tidak ada perubahan keadaan kota.

Pada hari keempat, Jastliq pergi bersama para pengikutnya, para pendeta, dan orang-orang Nasrani (Kristen) ke tengah padang sahara. Salah satu pendeta mengangkat tangannya sambil berdoa. Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan sangat lebat.

Melihat kejadian ini, orang-orang menjadi ragu atas kebenaran Islam, padahal ia adalah agama yang paling utama. Sebagian dari mereka berkata, “Sekiranya orang-orang Nasrani itu berada dalam kebatilan, niscaya Allah swt. tidak akan mengabulkan doa mereka”. Lantas sebagian muslimin berfikir untuk memeluk agama Nasrani.

Pada saat itu, Imam Hasan Al-Askari as. ada dalam penjara. Pengawal khalifah mendatanginya dan berkata, “Temuilah umat kakekmu Muhammad saw., karena mereka telah meragukan agama Allah swt.”.

Maka pada kesempatan lain, Jastliq beserta para pendeta dan Imam Hasan as. pergi ke tengah padang pasir. Imam as. senantiasa mengawasi keadaan mereka dengan baik. Kemudian beliau melihat salah satu dari pendeta tersebut mengangkat tangannya yang kanan. Segera beliau memerintahkan sebagian budaknya untuk memegang tangan pendeta tadi dan melihat apa yang ada di telapaknya.

mereka pun lekas memegang tangan pendeta dan mereka melihat tulang hitam di antara jari-jarinya. Kemudian Imam as. mengambilnya lantas berkata pada pendeta tersebut, “Sekarang berdoalah untuk meminta hujan!”.

Pendeta itu kembali mengangkat tangannya dan berdoa. Saat itu langit sudah mulai mendung. Ttiba-tiba mendung menghilang dan berubah menjadi awan dan matahari yang mulai memancarkan sinarnya.

Khalifah bertanya pada Imam Hasan Al-Askari as. tentang rahasia tulang tadi. Beliau menjawab, “Pendeta ini pernah melewati salah satu kuburan nabi-nabi terdahulu, kemudian ia dapati tulang ini, dan hujan lebat akan turun dari langit seketika tulang itu disingkapkannya”.

Dakwah dan Pendidikan

Dikisahkan bahwa ada seorang pemuda keturunan Imam Ja’far Ash-Shadiq as. tinggal di kota Qum. Ia suka minum khamar. Pada suatu hari, ia pergi ke rumah Ahmad bin Ishak Al-Asy’ari, seorang wakil Imam Hasan Al-Askari as. Namun Ahmad tidak mengizinkan pemuda itu masuk, karena ia telah mengetahui akhlaknya. Pemuda itu kembali ke rumahnya dengan perasaan sedih atas perlakuannya itu.

Suatu saat, Ahmad bin Ishak hendak pergi menunaikan ibadah haji. Tatkala ia sampai di Madinah dan ingin berjumpa dengan Imam Hasan as, ia meminta izin untuk bisa masuk dan bertemu dengan beliau. Akan tetapi, Imam as. tidak mengizinkannnya. Ia pun merasa sedih dan bersipuh di depan pintu sehingga Imam as. mengizinkannya masuk.

Ahmad bin Ishak bertanya kepada Imam as. tentang alasan beliau tidak mengizinkannnya masuk tadi. Imam as. menjawab, “Sungguh aku telah memperlakukanmu sebagimana yang telah kamu lakukan terhadap anak pamanku, aku melarangmu sebagaimana kamu melarangnya”.

Ahmad bin Ishak berkata, “Tuanku, sesungguhnya ia suka minum khomer. Aku menolaknya, karena itu aku bermaksud untuk mengingatkannnya agar bertaubat”.

Imam Hasan Al-Askari as. menjawab, ”Bila Kau ingin memberikan pelajaran padanya, tidaklah demikian caranya”.

Kemudian Ahmad bin Ishak kembali ke Qum dan orang-orang mengucapkan selamat kepadanya. Tatkala pemuda itu menemuinya, ia pun bangun menyambutnya dan merangkulnya begitu hangat serta mendudukkannya di sampingnya.

Pemuda yang bernama Abul Hasan itu malah terheran-heran melihat perlakuan Ahmad kali ini, kemudian ia bertanya tentang sebab penolakannya kemarin dan penyambutannya yang hangat terakhir ini. Maka, Ahmad menceritakan pengalamannya sewaktu hendak menjumpai Imam Hasan Al-Askari As. di Madinah.

Usai cerita itu, Abul Hasan menundukkan kepalanya karena malu. Seketika itu ia bertekad untuk segera bertaubat. Sekembalinya ke rumah, ia pecahkan kendi-kendi khomer, dan senantiasa pergi ke masjid.

Dua Kisah

• Sewaktu Imam Hasan Al-Askari As di dalam sebuah penjara yang dikepalai oleh Shaleh bin Washif, Khalifah Abbasiyah memerintahkan agar memperketat pengawasan dan penjagaannnya atas beliau. Shaleh mengeluhkan, “Apalagi yang harus aku lakukan, padahal aku telah menugaskan dua orang yang paling jahatnya makhluk Allah untuk menjaganya, tetapi mereka berdua justru menjadi tekun solat dan beribadah”.

Kemudian ia memanggil kedua penjaga tersebut. Kepada mereka ia bertanya, “Apa yang kalian ketahui tentang laki-laki ini (Imam as.)?”.

Mereka berkata, “Apa yang harus kami katakan tentang seseorang yang senantiasa menghabiskan siangnya dengan berpuasa, dan melewatkan malamnya dengan bertahajud. Dia tidak berbicara dan bekerja selain ibadah”.

• Tatkala orang-orang Turki berhasil menciptakan pengaruh besar di dalam pemerintahan Abbasiyah dan mempermainkan khalifahnya, mereka membunuh setiap orang yang mereka curigai, bahkan mereka dapat menentukan khalifah yang mereka kehendaki.

Ketika Al-Mu’tamad menjadi khalifah, dia berbuat sewenang-wenang, karena dia sendiri tidak tahu berapa lama dia akan memerintah, 3 bulan ataukah lebih. Namun, ia mengetahui betul kedudukan Imam Hasan Al-Askari as. di sisi Allah swt.

Maka pada suatu hari, Al-Mu’tamid menghadap Imam as. dan memohon kepadanya supaya Allah memanjangkan umurnya. Imam as. pun mendoakannya, sehingga ia pun tetap duduk sebagai khalifah selama lebih dari 20 tahun.

Orang Bijak dari Irak

Ishak Al-Kindi adalah seorang filsuf Irak yang telah menulis sebuah buku tentang pertentangan antarayat Al-Qur’an. Salah seorang dari muridnya datang menghadap Imam Hasan Al-Askari as. Kepadanya beliau bertanya, “Adakah di antara kalian yang berani untuk mengkritik pendapat guru kalian Al-Kindi tentang sanggahan dan keraguannya terhadap Al-Qur’an?”

Salah seorang muridnya mengatakan: “Aku tidak mampu menyanggahnya”.

Imam As. berkata, “Katakan kepadanya, bahwa aku punya masalah dan aku ingin bertanya padamu. Yaitu, bila ada seorang yang membacakan Al-Qur’an di hadapanmu, apakah mungkin maksud ayat-ayat yang dibacanya itu berbeda dengan maksud yang kau dengar darinya? Dia pasti akan mengatakan, ‘Tentu, sangat mungkin itu, karena ia adalah seorang yang dapat memahami apa yang telah ia dengar’.

“Apabila ia menjawab seperti itu, katakan lagi padanya, ‘Bagaimana Anda bisa memastikan itu, padahal mungkin saja dia memahami maksud yang berbeda dengan yang kau pahami? Dengan begitu, maka kamu telah meletakkan maksud bukan pada tempat yang semestinya”.

Kemudian si murid menyampaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada gurunya, Al-kindi. Selekas menyimak, ia meminta muridnya untuk mengulang pertanyaan. Sang murid pun mengulangnya.

Setelah itu, Al-Kindi malah menundukkan kepala sambil berfikir. Akhirnya ia sadar bahwa hal tersebut memang mungkin terjadi dalam bahasa dan bisa diterima oleh akal. Dengan kesadaran ini, pandangannya tentang Al-Qur’an tampak begitu lemah dan rapuh. Lalu, ia bangkit dan membakar bukunya tersebut.

Surat untuk Seorang Sahabat

Dalam rangka menasehati para sahabatnya, Imam Hasan Al-Askari as. banyak menulis surat yang dikirimkan kepada mereka. Di antaranya, surat berikut ini yang dikirimkan kepada Ali bin Husain bin Babaweh Qumi:

“Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Akibat baik bagi orang-orang yang bertakwa, surga bagi orang-orang yang mengesakannya, dan neraka bagi orang-orang yang mengingkarinya, serta tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang zalim.

“Tiada Tuhan selain Allah, Dialah sebaik-baik pencipta. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada sebaik-baik mahluk-Nya, Muhammad saw. dan keluarganya yang suci.

“Kamu harus besabar dan menanti kedatangan Al-Mahdi, karena Rasulullah saw. telah bersabda: “Amalan umatku yang paling utama adalah menanti kehadiran Al-Mahdi”.

“Syi’ah kami akan senantiasa dalam kesedihan hingga muncul anakku, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi, bahwa ia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kezaliman.

“Bersabarlah wahai Syi’ahku, ya..Abul Hasan, sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah yang telah diwariskan untuk hambanya yang dikehendaki. Dan akibat yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.

“Salam atasmu dan seluruh Syi’ah kami, semoga rahmat dan berkah Allah meliputimu dan Syi’ah kami. Akhirnya, semoga Allah swt. merahmati Muhammad dan keluarganya”.

Hari Syahadah

Ketika diboyong oleh sang ayah ke Samarra, Imam Hasan Al-Askari as. baru berusia 4 tahun. Semenjak itu pula beliau selalu diawasi secara ketat oleh pemerintahan Abbasiyah.

Seringkali Imam as. dijebloskan dalam penjara, sampai akhirnya beliau diracun dan meninggal syahid 8 Rabiul Awwal 260 H. Beliau dimakamkan di samping ayahnya, Imam Ali Al-Hadi as., di kota Samarra.

Imam Hasan Askari as. senantiasa dalam pengawasan para penguasa, karena adanya riwayat-riwayat dari Nabi saw. yang menguatkan, bahwa Al-Mahdi as. adalah Imam ke-12 dan dia adalah anak dari Imam Hasan Al-Askari. Sebab itulah para penguasa merasa takut akan kemunculannya yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan. Akan tetapi, Imam Hasan Askari as. telah berhasil merahasiakn putranya itu, betapa pun sulitnya keadaan waktu itu.

Meski demikian, saudara Imam Hasan Al-Askari as. yang bernama Ja’far Al-Kaddzab berusaha untuk menunggu kesempatan guna menyatakan dirinya sebagai imam setelah wafatnya beliau dengan dukungan orang-orang Bani Abbasiyah. Akan tetapi, Allah swt. menggagalkan seluruh makar dan muslihatnya itu

.
Mengenang Syahadah Imam Hasan Askari as
 Menelisik Fungsi Hidayah Imam Hasan Askari as
Tanggal 8 Rabiul Awal tahun 260 Hijriah, Imam Hasan Askari as, cucu Raulullah Saw generasi ke-9, gugur syahid di kota Samara, Irak. Imam Hasan Askari lahir di Madinah pada tahun 232 Hijriah. Ayah beliau adalah Imam Hadi, imam ke-9 kaum muslimin. Setelah Imam Hadi gugur syahid, Hasan Askari as mengemban tugas untuk melanjutkan tampuk keimamahan kaum muslimin.

.

Menelisik Fungsi Hidayah Imam Hasan Askari asKehidupan dan metode perjuangan setiap dari Ahlul Bait Rasulullah Saw merupakan satu bagian dari puzzel yang saling melengkapi yang terejawantahkan dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada. Imam Hasan Askari as lahir di kota Madinah, tapi peristiwa yang terjadi memaksa beliau mengikuti ayahnya Imam Hadi as yang diperintahkan penguasa Dinasti Abbasiah untuk meninggalkan kota Madinah. Imam Hasan Askari as terpaksa tinggal di kota Samara, yang waktu itu menjadi ibukota kekuatan Dinasti Abbasiah
.
Para penguasa Bani Abbasiah di masa itu begitu menekan Imam Hadi as dan anaknya Imam Hasan Askari as. Tujuan asli tekanan yang dilakukan itu dimaksudkan agar masyarakat menjauhi Imam. Oleh karena itu, pasca Imam Shadiq as, seluruh Imam hidup dalam pengasingan dan menemui syahadah jauh dari kota Madinah. Bahkan boleh dikata, di antara para Imam yang hidup di masa kekuasaan Bani Abbasiah, tiga Imam; Imam Muhammad at-Taqi, Imam Ali an-Naqi dan Imam Hasan Askari as harus melewati kehidupan mereka dalam kondisi yang paling sulit.
.
Pemerintah Abbasiah punya dua alasan penting untuk membatasi ruang gerak Imam Hasan Askari as. Pertama, posisi khusus Ahlul Bait di tengah masyarakat Islam, khususnya di tengah-tengah warga Irak. Posisi ini membuat khawatir pemerintah. Oleh karenanya, para khalifah Bani Abbasiah berusaha memenjarakan para Imam dan menerapkan kontrol secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi guna mencegah kebangkitan pengikut Imam Ali as lewat kepemimpinan mereka.

Kedua, banyak hadis mutawatir yang menjelaskan tentang Imam Zaman dan Penyelamat Manusia. Riwayat-riwayat ini menyebutkan Sang Mujaddid dan Penyelamat ini merupakan anak Imam Hasan Askari as. Sang Penyelamat inilah yang akan mencabut akar kezaliman dan penindasan serta melengserkan para penguasa lalim. Dari sini, penguasa Abbasiah dengan segala cara berusaha mengontrol Imam Hasan Askari dan keluarganya guna mencegah lahirnya Sang Penyelamat.

Imam Hasan Askari as terpaksa memilih tinggal di kawasan militer di kota Samara. Kondisi kawasan ini dibuat sedemikian rupa sehingga Imam tidak dapat dengan mudah melakukan hubungan dengan sahabat dan pengikutnya. Selama 6 tahun menjabat sebagai Imam, sekalipun tekanan yang diterapkan pemerintah Bani Abbasiah begitu keras, tapi Imam Hasan Askari tetap dapat menjelaskan ajaran Islam. Tidak hanya itu, Imam juga melindungi agama dari bidaah dan penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat Islam.

Metode yang dilakukan Imam dalam kondisi yang sulit ini menunjukkan tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi beliau menjalankan tugasnya sebagai pemimpin spiritual yang menuntun manusia. Kontrol yang begitu ketat dari penguasa Bani Abbasiah tidak mampu mencegah beliau mengajarkan agama. Beliau bahkan mampu mendidik murid-murid hebat di pelbagai bidang keagamaan. Syeikh Thusi mencatat ada lebih dari 100 murid yang berhasil dididik beliau dalam kondisi yang sulit.

Imam Hasan Askari dalam kontrol ketat penguasa Bani Abbasiah mampu menciptakan jaringan penghubung dengan para pengikut Ahlul Bait. Beliau memilih wakil-wakil khusus dan berhubungan dengan mereka dan masyarakat Islam lewat surat-menyurat. Jaringan penghubung ini sangat tertutup dan hanya para pengikut setia Imam yang mengetahui adanya jaringan ini. Sebagai contoh, Utsman bin Said, seorang sahabat penting Imam selalu mendatangi beliau dengan menyamar sebagai penjual minyak. Imam Hasan Askari as menyimpan sebagian surat yang ditujukan kepada wakil-wakilnya di tempat minyak milik Utsman bin Said.

Dalam kondisi ditekan sedemikian rupa oleh penguasa Bani Abbasiah, Imam Hasan Askari as tetap mendorong para pengikutnya dan memperkuat semangat mereka, terutama para sahabat dekat dan orang-orang penting. Dalam suratnya yang ditujukan kepada Ali bin Husein bin Babawaih al-Qummi, Imam Hasan Askari as menggunakan ungkapan sebagai berikut, “Wahai pribadi besar dan faqih kepercayaanku! Bersabarlah! Ajaklah para pengikutku untuk juga berlaku sabar! Bumi adalah milik Allah. Setiap orang yang dikehendaki Allah bakal dijadikan pewaris bumi. Akhir yang baik hanya menjadi milik orang-orang yang bertakwa. Salamku dan rahmat serta berkah Allah kepadamu dan para Syiahku. (Manaqib jilid 4, halaman 425)

Satu langkah cerdas Imam Hasan Askari as di masa sulit dan tekanan Bani Abbasiah adalah mempersiapkan para pecinta Ahlul Bait memasuki periode kegaiban. Pada hakikat, jaringan perwakilan yang dibentuk oleh Imam dengan sendirinya mengurangi intensitas masyarakat bertemu dengan beliau. Sudah terbiasa tidak melihat Imam mereka, membuat masyarakat secara perlahan-lahan siap memasuki periode kegaiban Imam Mahdi af.

Hari syahadah Imam Hasan Askari yang kita peringati saat ini berdekatan dengan tahun kedatangan Imam Khomeini ra ke Iran setelah menjalani pengasingan selama 15 tahun di luar negeri. Tak syak, satu dari sikap penting Imam Khomeini ra yang berpengaruh besar bagi kemenangan Revolusi Islam di Iran adalah mengikuti sejarah dan perilaku Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait as dalam memerangi kezaliman. Tegar menghadapi orang-orang zalim dan tidak menyerah menghadapi mereka merupakan satu hakikat dalam sejarah perjuangan Ahlul Bait. Bila Imam Hasan Askari as tegar menghadapi meluasnya kefasadan dan bangkit berjuang melawan kemiskinan dan ketidakadilan, maka itu berarti memuat sebuah pesan penting kepada seluruh pencari keadilan di seluruh dunia untuk bangkit melawan setiap kezaliman di muka bumi.
Penyebaran konsep Tawalli dan Tabarri yang berarti mencintai dan membenci karena Allah merupakan konsep yang diterapkan oleh Imam Hasan Askari as. Tawalli artinya bersikap lembut dan menyayangi orang yang mencintai Allah dan tersiksa melihat musuh-musuh Allah. Tawalli bak sebuah kekuatan yang menahan orang mukmin dalam lingkaran kebenaran. Sementara Tabarri berarti memusuhi para musuh Allah. Konsep ini menjauhkan manusia dari keburukan dan jalan kebatilan. Sekaitan dengan sikap umat Islam yang menerima asumsi ini, Imam Hasan Askari as berkata, “Rasa bersahabat dan cinta seorang muslim kepada orang-orang baik bakal mendatangkan pahala untuknya. Sementara kemarahan dan kebenciannya terhadap orang yang berperilaku buruk menyebabkan orang-orang buruk menjadi terhina.”

Imam Hasan Askari as dengan daya tarik dan daya tolaknya yang kuat mampu membuat orang-orang yang memiliki fitrah yang suci semakin tertarik dengannya dan pada saat yang sama menjauhkan orang munafik dan kafir darinya. Sekaitan dengan daya tarik beliau, seorang sahabat dekat Imam Hasan Askari as berkata, “Aku belum pernah melihat seorang yang punya pengaruh luar biasa seperti Imam Hasan Askari as. Setiap kali beliau ingin melewati sebuah tempat, maka di situ sudah banyak orang berkumpul. Tempat yang yang akan dilewati beliau menjadi ramai. Ketika beliau muncul di sana, semua tiba-tiba tanpa dikomando langsung terdiam dan tanpa sadar memberi jalan beliau lewat.”

Imam Hasan Askari as selama 6 tahun menjadi imam, beliau mengalami tiga penguasa zalim Bani Abbasiah; Mu’taz, Muhtadi dan Mu’tamid. Menghadapi kezaliman mereka, Imam tidak pernah diam. Itulah mengapa beliau berkali-kali dijebloskan ke dalam penjara dan akhirnya akibat ketegaran beliau dan sikapnya yang tidak pernah menyerah menghadapi para penguasa zalim, Imam Hasan Askari as akhirnya mereguk cawan syahadah di usia 28 tahun.

Kini kita simak bersama ucapan penuh hikmah Imam Hasan Askari as di hari syahadahnya:
“Saya berwasiat kepada kalian untuk bertakwa dalam agama, berusaha demi Allah semata, jujur, bersikap amanat dan berbuat baik dengan tetangga. Bertakwalah kepada Allah dan jadilah hiasan kami. Perbanyaklah zikir kepada Allah, mengingat mati, membaca al-Quran dan salawat kepada Nabi Muhammad Saw. Karena bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw memiliki sepuluh kebaikan. Bila ada di antara kalian yang bertakwa dalam agamanya, jujur dalam ucapannya, amanat dan berakhlak mulia terhadap masyarakat, maka orang yang seperti ini dapat dikatakan sebagai pengikut kami. Perbuatan seperti ini yang membuatku gembira dan membuatku meminta kalian mempertahankannya. Aku menyerahkan kalian kepada Allah dan salam buat kalian.” (Tuhaf al-‘Uqul halam 748 dan 884)

Ketika Imam Mahdi as. muncul secara tiba-tiba, yang saat itu beliau masih kecil, dan datang untuk menyolati jenazah ayahnya, banyak orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Dengan begitu, mereka mengimani keimamannya. Mereka pun percaya bahwa dialah Imam Al-Mahdi ajf. yang dinanti-nantikan.

krisis ekonomi yang melanda blok Eropa hadiah dari Allah SWT atas Sanksi Anti Minyak Iran !!!

Los Angeles Times Khawatirkan Dampak Buruk Sanksi Anti Minyak Iran

Koran Los Angeles Times memperingatkan dampak buruk dari sanksi anti minyak Iran yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Seperti dilaporkan Press TV Selasa (31/1), di sebuah artikel yang dimuat Koran Los Angeles Times, sanksi anti Iran yang diterapkan oleh AS dan Uni Eropa dinilai sebagai strategi berbahaya. Koran ini memperingatkan dampak buruk dari kebijakan tersebut.

Sumber ini menambahkan, sejumlah petinggi yang masih aktif maupun tidak negara-negara Barat meragukan dampak positif dari kebijakan penjatuhan sanksi terhadap Iran. Mereka meyakini langka ini malah akan memperhebat sentimen anti Barat di Republik Islam Iran.

AS dan negara Barat menuding Iran berusaha menggapai senjata nuklir, namun Iran sendiri sebagai salah satu anggota Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) menekakan status damai program nuklirnya.

Amerika Serikat dan Uni Eropa baru-baru ini menjatuhkan sanksi sepihak terhadap minyak Republik Islam Iran

.

Uni Eropa Tersandung Lagi

Sidang tingkat tinggi Uni Eropa berakhir Senin malam (30/1) dengan keluarnya kesepakatan baru yang diselipi kecemasan dan percikan friksi.

Para pemimpin Uni Eropa berkumpul di Brussel, Belgia untuk membahas solusi keluar dari krisis ekonomi yang melanda blok Eropa itu. Rancangan disiplin fiskal ini mendapat penentangan dari Inggris dan Ceko.

Sementara itu, Yunani masih menjadi sumber masalah di Uni Eropa. Athena belum bisa memenuhi target disiplin fiskal yang diwajibkan sebagai kompensasi dari pencairan dana talangan dan kesepakatan utang dengan kreditur swasta.

Usai pertemuan Brussel, Presiden Dewan Eropa Herman Van Rompuy mengungkapkan rancangan kesepakatan disiplin fiskal akan ditandatangani dalam KTT musim semi Maret mendatang. Dokumen itu akan diberlakukan setelah mendapat ratifikasi 12 dari 17 negara Zona Euro, yang berarti semua negara penandatangan akan mematuhi prinsip fiskal yang lebih ketat.

Pada pertemuan sebelumnya yang digelar Desember 2011, 26 negara Uni Eropa kecuali Inggris menyatakan sepakat untuk menandatangani kontrak finansial. Dilaporkan, Mahkamah Eropa sebagai lembaga kehakiman tertinggi Uni Eropa berhak mengenakan sanksi terhadap negara anggota yang defisit strukturalnya di atas 0,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Dana sanksi maksimum akan dibatasi di bawah 0,1 persen dari PDB negara bersangkutan.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, para pemimpin Uni Eropa tidak mampu mencapai kesepakatan mengenai kucuran bantuan finansial bagi Yunani. Merkel mensinyalir kesepakatan mungkin tertunda sampai Yunani bisa memenuhi komitmennya. Total dana talangan Yunani sebesar 110 miliar euro. Yunani menghadapi utang yang jatuh tempo senilai 14,5 miliar euro pada 20 Maret mendatang.

Berlin melemparkan usulan baru terkait keuangan Athena, namun proposal itu memicu kritik keras dari Yunani dan beberapa negara lain, termasuk Perancis. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menyebut usulan Jerman itu tidak masuk akal. Namun, Kanselir Jerman Angela Merkel justru berdalih bahwa langkah tersebut akan membantu Yunani mengamankan bailout kedua sebesar 130 miliar euro.

Sementara itu, Presiden Dewan Eropa Herman Van Rompuy mengatakan, 25 dari 27 negara Uni Eropa setuju untuk bergabung dengan pakta Jerman yang bertujuan untuk mencegah krisis utang masa depan.

Dilaporkan, hanya Inggris dan Republik Ceko yang menolak untuk menandatangani disiplin fiskal ketat tersebut. Aturan ini akan memberlakukan sanksi terhadap negara-negara yang melanggar batas defisit anggaran Uni Eropa.

Para pemimpin Eropa juga menyepakati mekanisme permanen bailout zona euro, dengan menetapkan kapasitas pinjaman sebesar 500 miliar euro. Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM) diharapkan mulai berlaku pada bulan Juli mendatang, setahun lebih awal dari rencana semula.

ESM akan menggantikan dana talangan sementara Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF), yang sebelumnya digunakan untuk menyelamatkan Irlandia, Portugal dan akan membantu paket penyelamatan kedua untuk Yunani.

Pemerintah Yunani kini menghadapi kesulitan bernegosiasi dengan pemegang obligasi swasta untuk mengurangi utang yang membengkak. Jika kesepakatan tidak tercapai, Yunani bisa mengalami gagal bayar atas utang yang besar dan jatuh tempo kurang dari dua bulan mendatang.

Syi’ah di Cina

Seorang Syiah Cina Rampungkan Terjemahan Al-Quran Setelah 10 Tahun

Selasa, 2012 Januari 31 23:45

Hujatul Islam Mohammad Naqdi, Ketua Lembaga Budaya Penerjemahan Wahyu, mengkonfirmasikan rencana pameran terjemahan al-Quran dalam bahasa Cina yang pertama oleh lembaga ini pada tanggal 5 Februari mendatang.

Fars News melaporkan, Naqdi mengatakan, “Bersamaan dengan peringatan Sepuluh Hari Fajar Kemenangan, akan dipamerkan terjemahan al-Quran dalam bahasa Cina pertama oleh lembaga ini.”

Penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa Cina itu telah dimulai sejak 10 tahun lalu dan pada tahun 2010 telah disetujui pencetakannya di Cina. Program terjemah itu diserahkan kepada Sulaiman Baiji Su.

Menurut Hujjatul Islam Naqdi, ini merupakan terjemahan al-Quran dalam bahasa Cina pertama yang dilakukan oleh seorang Syiah Cina. Baiji Su adalah pasca sarjana Maarif Islami di Universitas Razavi, Mashhad, dan juga telah mengantongi ijazah S1 di bidang sastra Persia di Universitas Tehran. Penerjemah Cina itu telah berdomisili di Iran sejak 15 tahun.

.

Hujjatul Islam Mandegari: Agama Islam Penuh Rahmat, Bukan Kesedihan

Hujjatul Islam Mandegari, menjawab shubhah dari sejumlah pihak yang menilai Islam sebagai agama yang penuh dengan kesedian, tangisan, dan kegalauan, seraya menyatakan, “Kegembiraan bukan hanya dengan tertawa. Jika kita mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh orang lain dan kita dapat membuatnya gembira serta menenangkan hati mereka, maka pahalanya berkali-kali lipat lebih besar dari pada membuat seseorang tertawa.”

Seraya menekankan bahwa agama Islam adalah rahmat dan Allah Swt adalah arhamur rohimin, serta Rasulullah adalah rahmatan lil alamin, Mandegari mengatakan, “Slogan penyebaran agama adalah penyebaran rahmat. Oleh karena itu pasca penaklukan kota Mekkah, sebagian besar sahabat Nabi saat ini ingin membalas kekejaman kaum kuffar, akan tetapi Rasulullah Saw mengatakan bahwa hari itu adalah hari rahmat bukan pembalasan, dan siapa pun yang berada di Masjidul Haram dan rumah Abu Sufyan, akan aman.”

Mendegari menegaskan, “Kala itu tidak ada yang tidak mengetahui gangguan Abu Sufyan terhadap Rasulullah Saw dan para sahabat beliau, akan tetapi pada waktu penaklukan Mekkah, Rasulullah telah menunjukkan sisi rahmat agama Islam.”

Lebih lanjut dijelaskannya, “Agama Islam adalah agama rahmat, dan siapapun yang menginginkan hubungan dengan Allah Swt dan Rasul-Nya, maka harus memasuki rahmat. Bukti rahmat dalam agala Islam sangat banyak, termasuk di antaranya adalah wujud Imam Mahdi as, yang merupakan rahmat dan hidayah bagi umat.”

Dalam ayat 159 surat Al-Imran Allah Swt berfirman:

«فعفوا عنهم فاستغفر لهم»

“Wahai Nabi, umatmu telah melakukan kesalahan, maafkanlah mereka sehingga Aku akan mengampuni mereka. Rahmat dalam agama Islam telah ditunjukkan oleh Rasulullah,” tegas Mandegari.

Ulama Syiah Tegaskan Tidak Ada Tahrif dalam Al-Qur’an

Ulama Syiah Tegaskan Tidak Ada Tahrif dalam Al-Qur’an
Sebenarnya tuduhan adanya keyakinan Syiah mengenai tahrif Al-Qur’an sangat ganjil, sebab Syiah selama ini mengklaim sebagai umat Islam yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Ahlul Bait, jika Syiah meyakini adanya perubahan pada Al-Qur’an yang membuatnya tidak orisinil lagi sama artinya Syiah meruntuhkan bangunan aqidah mereka sendiri.

Ulama Syiah Tegaskan Tidak Ada Tahrif dalam Al-Qur.

Syeikh Fauzi as Saif, direktur Hauzah Ilmiyah Ahsa’ dan termasuk salah satu ulama Syiah terpandang Saudi Arabia saat wawancara dengan Jaringan TV al Kautsar menegaskan, “Sebagian TV parabola mengklaim bahwa para ulama Syiah meyakini tahrif (distorsi) Al Quran, padahal sesungguhnya tidaklah demikian”.

Beliau menyatakan: Terdapat riwayat yang berbau tahrif dalam kitab hadis Syiah dan juga Ahlussunnah, namun perlu digarisbawahai bahwa semua riwayat ini tidak muktabar dan menerima riwayat ini sama dengan menolak penegasan gamblang Al Qur’an perihal tidak mungkinnya terjadi tahrif. Pengikut Syiah sendiri sama sekali tidak meyakini tahrif Al Qur’an.

Beliau lebih lanjut menambahkan, “Karena para imam Ahlul Bait as adalah kepanjangan misi kenabian Rasul saww dan mereka adalah salah satu sumber terpercaya dalam menafsirkan Al Qur’an maka kaum Syiah mengambil pemahaman agamanya dari mereka, sedangkan para imam Ahlul Bait sendiri berulangkali menegaskan perihal tidak terjadinya tahrif Al Qur’an.”

Syeikh Fauzi as Saif menambahkan, “Ahlul Bait as adalah penyebab terjaganya sunah nabawi. Bila saja Ahlul Bait as tidak bekerja keras dalam menjaga sunah nabawi dan pasca Imam Ali, para imam yang lain tidak melanjutkan usaha menjaga sunah nabawi maka sunah nabawi akan hilang dan sirna, sehingga dampaknya adalah kaum Muslimin tidak memiliki dalil dan dokumentasi (sunah) yang dapat menjadi sandaran.”

Syubhat adanya keyakinan tahrif Al-Qur’an di kalangan Syiah telah berhembus beratus-ratus tahun lamanya, meskipun telah mendapat bantahan dari ulama-ulama Syiah. Sebenarnya tuduhan tersebut sangat ganjil, sebab Syiah selama ini mengklaim sebagai umat Islam yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Ahlul Bait, jika Syiah meyakini adanya perubahan pada Al-Qur’an yang membuatnya tidak orisinil lagi sama artinya Syiah meruntuhkan bangunan aqidah mereka sendiri.

.

Setelah membaca tanggapan Bung Fahmi Salim yang berjudul “Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat” yang dimuat Eramuslim, pada Sabtu (21/1), saya melihat meskipun ia mengkritik tulisan Bung Haidar Bagir di Republika, namun ia menyampaikannya dengan cukup santun. Tetapi, saat berbicara tentang Syiah, tampak sekali bahwa ia terlalu “pede” dengan hanya bermodalkan kutipan-kutipan dari satu atau dua buku bacaan

.

Tulisannya tersebut menggambarkan betapa tidak mengertinya ia tentang mazhab Syiah. Pun menunjukkan betapa sempit dan terkungkungnya pengetahuannya hanya pada pandangan kelompoknya sendiri, dan kurangnya kemauannya untuk belajar tentang pandangan mazhab lain secara proporsional. Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi, “Untuk berbicara, orang harus lebih dahulu mendengar. Maka, belajarlah berbicara dengan mendengar.”

.

Karenanya, sebelum berkomentar dan menilai mazhab Syiah, semestinyalah ia belajar atau minimal mendengar terlebih dahulu dengan baik tentang mazhab ini dari sumbernya secara adil. Karena, sebagaimana kata Ibn Hajar al-Haitsami, “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran.”

.

Tahrif Al-Qur’an

.

Isu tahrif (distorsi) Al-Qur’an selalu dituduhkan kepada Syiah, meskipun masalah tahrif ini telah dibantah oleh para ulama Syiah di setiap masa dan generasi sejak ratusan tahun yang lalu.
.
Mengenai pernyataan Adnan al-Bahrani yang dikutip Bung Fahmi, semakin memperlihatkan kepedeannya dengan hanya membaca buku kutipan. Padahal, kalau ia mau, buku ini dengan mudah bisa diperoleh di internet. Buku Adnan tersebut berjudul asli “Masyariq asy-Syamus ad-Duriyah fi Ahaqiyah Madzhab al-Akhbariyah”. Di dalamnya, Adnan mengatakan bahwa persoalan tahrif tersebut merupakan “konsensus firqah al-muhiqah dan sesuatu yang asasi dalam mazhab mereka” (hal. 126). Sayangnya, kata “firqah al-muhiqah” kemudian diartikan sebagai Syiah secara umum. Padahal, jelas maksud Adnan hanya sebagian, yaitu merujuk kepada kaum Syiah Akhbariyah, sebagaimana yang tertera gamblang dalam judul bukunya. Selain itu, pada halaman berikutnya, Adnan mengatakan bahwa ulama-ulama Syiah seperti al-Murtadha, ash-Shaduq, dan sebagainya menentang isu tahrif tersebut. Ini menunjukkan bahwa Adnan tidak memaksudkan pernyataannya itu untuk Syiah secara umum.
.
Mengenai an-Nuri dalam kitabnya “Fashlul Khitab” itu, lagi-lagi Bung Fahmi kepedean dengan hanya mengutip tulisan Ahmad Sa’ad Al-Ghamidi. Berikut saya kutipkan pernyataan murid an-Nuri, Syaikh Agha Buzurg Tahrani, yang menuturkan bahwa an-Nuri berkata, “Saya telah keliru memberi judul buku tersebut. Semestinya saya beri judul: Fashlul Khitab fi Adami Tahrif al-Kitab. Karena, dalam buku ini saya telah membuktikan bahwa Al-Quran adalah wahyu Ilahi yang tidak mengandung tahrif, baik penambahan maupun pengurangan, sejak dia dikumpulkan hingga sekarang. Sedangkan kumpulan pertama Al-Quran sampai kepada kita dengan tingkat kemutawatiran yang meyakinkan. Saya telah lalai untuk menjelaskan dengan tegas di banyak tempat dalam kitab tersebut, sehingga banyak kritik dan celaan yang ditujukan kepada saya. Bahkan, karena kelalaian tersebut, penegasannya menjadi sebaliknya. Saya hanya memberi isyarat tentang tujuan saya yang sebenarnya pada halaman 22. Sebab, yang penting adalah keyakinan bahwa tidak ada ayat lain selain yang terdapat dalam Al-Quran di tangan kita….” [Syaikh Rasul Ja'fariyan, "Ukdzubah Tahrif al-Qur'an Baina asy-Syiah wa as-Sunnah", hal. 137]

.

Mengenai riwayat-riwayat lainnya, sebagian mesti dipahami sebagai tahrif maknawi (distorsi kontekstual), bukan tahrif lughawi (distorsi tekstual). Hal ini tampak pada riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir, “Di antara ulah mereka yang suka membuang Al-Qur’an adalah membiarkan huruf-hurufnya, tetapi mengubah hukum-hukumnya…” [Al-Kulaini, "Al-Kafi", jil. 8, hal. 53]

.
Namun demikian, bila ada riwayat yang mengindikasikan tahrif lughawi, maka hal ini telah dibantah oleh jumhur ulama Syiah. Sayid Muhsin al-Amin mengatakan tentang tahrif yang dinisbatkan pada Syiah, “Itu adalah bohong dan dusta. Para ulama Syiah dan para muhadis mereka menyatakan yang sebaliknya.” [Sayid Muhsin al-Amin, "A'yan asy-Syi'ah", jil. 1, hal. 46 dan 51]
.
Bahkan hal ini ditegaskan pula oleh seorang ulama besar Ahlusunah, Rahmatullah al-Hindi, “Sesungguhnya Al-Qur’an al-Majid, di kalangan jumhur Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, adalah terjaga dari perubahan dan pergantian. Apabila ada di antara mereka yang mengatakan adanya tahrif pada Al-Qur’an, maka yang demikian itu telah mereka tolak dan tidak mereka terima.” [Rahmatullah al-Hindi, "Izh-harul Haq", jil. 2, hal. 128]
.
Saya senang mendengar bahwa isu tahrif di kalangan Ahlusunah, seperti riwayat Ibnu Majah tersebut, telah dibantah oleh Bung Fahmi. Untuk itu, saya juga menunggu argumen bantahan lanjutan untuk riwayat-riwayat Ahlusunah berikut:

1.  Khudzaifah berkata, “Pada masa Nabi, Saya pernah membaca Surat Al-Ahzab. Tujuh puluh ayat darinya saya sudah agak lupa bunyinya, namun saya tidak mendapatinya di dalam Al-Qur’an yang ada saat ini.” [Suyuthi, "Durr al-Mantsur", jil. 5, hal. 180]

2. Ibn Mas’ud telah membuang surat Mu’awidzatain (an-Nas dan al-Falaq) dari mushafnya dan mengatakan bahwa keduanya tidak termasuk ayat Al-Qur’an. [Al-Haitsami, "Majma' az-Zawa'id", jil. 7, hal 149; Suyuthi, "Al-Itqan", jil. 1, hal. 79]

3. Umar bin Khattab berkata, “Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat ke dalam Kitabullah, maka akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” [Shahih Bukhari, bab Syahadah ‘Indal Hakim Fi Wilayatil Qadha; Suyuthi, "Al-Itqan", jil. 2, hal. 25 dan 26;  Asy-Syaukani, "Nailul Authar", jil. 5, hal. 105; "Tafsir Ibnu Katsir", jil. 3, hal. 260]

.
Laknat Bani Umayah Terhadap Ali bin Abi Thalib Sekali lagi, Bung Fahmi terlalu pede dengan hanya mengutip tulisan Shallabi. Mengenai Al-Madaini yang kata Shallabi dinilai tak bisa dipercaya oleh hampir semua pakar dan imam hadis Ahlusunah, adz-Dzahabi dalam kitabnya “Siyar A’lami Nubala” justru berkata sebaliknya, “Ia memiliki pengetahuan yang menakjubkan tentang sejarah, peperangan, nasab, dan peristiwa-peristiwa di tanah Arab. Ia jujur (shadiq) dalam menyampaikannya. Ia seorang alim dalam isu seputar penaklukan (futuh), peperangan (maghazi), dan syair. Ia seorang yang jujur (shadiq) dalam hal itu.” Saya rasa Bung Fahmi tentu tahu bahwa Adz-Dzahabi adalah salah seorang imam rijal hadis Ahlusunah kenamaan. Namun demikian, saya juga ingin menambahkan riwayat tentang pelaknatan Ali tersebut dari sumber-sumber yang lain,

.

di antaranya:

1. Suyuthi berkata, “Pada zaman Bani Umayyah terdapat lebih dari tujuh puluh ribu mimbar untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang telah ditetapkan Muawiyah.” [Ibn Abil Hadid al-Mu'tazili, "Syarh Nahjul Balaghah", jil. 1, hal. 356].

2. Ibn Abdu Rabbih berkata, “Ketika Muawiyah melaknat Ali dalam khutbahnya di Masjid Madinah, Ummu Salamah segera menyurati Muawiyah, ‘Sungguh engkau telah melaknat Ali bin Abi Thalib. Padahal, aku bersaksi, Allah dan Rasul-Nya mencintainya.’ Namun, Muawiyah tidak peduli dengan kata-kata Ummu Salamah itu.” [Ibn Abdu Rabbih, "Al-‘Iqdu al-Farid", jil. 2, hal. 301 dan jil. 3, hal. 127].

3. Yaqut al-Hamawi berkata, “Atas perintah Muawiyah, Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Timur hingga Barat, di mimbar-mimbar masjid.” [Yaqut al-Hamawi, "Mu'jam al-Buldan", jil. 1, hal. 191]

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan kepada Bung Fahmi bahwa persatuan itu bukan dibentuk dengan cara memaksa untuk sama. Ini namanya hegemoni dan sewenang-wenang. Persatuan dan persaudaraan hanya bisa terwujud melalui sikap toleran terhadap perbedaan. Selain itu, negeri ini juga bukan negara agama, sehingga tidak semestinya diklaim sebagai milik mazhab tertentu.

Wallahu a’lam.

.

Syiah Menjawab:
 Al-Quran, Kitab Yang Tak Mungkin Ditahrif
Syi’ah dengan berbagai tuduhan dan tudingan tetap berkeyakinan bahwa Quran yang ada ditangan kita dan yang ada di tangan semua orang muslim adalah Quran yang sama yang diturunkan pada kita Muhammad Saw;tidak bertambah dan berkurang walau satu kalimatpun.
Masalah ini begitu jelas dipahami dari kitab-kitab tafsir, ushul fiqih dan lainnya dengan berbagai dalil aqli dan naqil.
Al-Quran, Kitab Yang Tak Mungkin DitahrifSyi’ah dengan berbagai tuduhan dan tudingan tetap berkeyakinan bahwa Quran yang ada ditangan kita dan yang ada di tangan semua orang muslim adalah Quran yang sama yang diturunkan pada kita Muhammad Saw;tidak bertambah dan berkurang walau satu kalimatpun.
Masalah ini begitu jelas dipahami dari kitab-kitab tafsir, ushul fiqih dan lainnya dengan berbagai dalil aqli dan naqil.Kita meyakini sesuai dengan ijma’ para ulama Islam baik Syi’ah atau Ahli sunnah bahwa Quran tidak bertambah dan juga menurut kesepakatan moyoritas muhaqqiq bahwa tidak ada yang terkurangi dari Al-Quran sedikitpun.Memang ada sedikit dari dua kelompok tersebut meyakini bahwa Quran ada yang bekurang akan tetapi keyakinan mereka tidak didukung oleh cendikiawan-cendikiawan terkenal Islam.Dua Kitab Dari Dua Kelompok

Diantara mereka adalah Ibnul-Khatib Misry dari golongan ahli sunnah yang menulis kitab Al-Furqan fi Tahrifil Quran dimana kitab tersebut telah tersebar pada tahun 1948M ( 1367 H.Q). Universitas Al-Azhar pada waktu yang tepat menyadari keberadaannya mahaminya hal teesebut dan akhirnya mengumpulkan berkas-berkas itu dan melenyapkannya. Akan tetapi beberapa berkas darinya masih di tangan beberapa orang.

Begitu juga dengan kitab Faslul Khitab fi Tahrifi Kitab Rabbil Arbab yang ditulis oleh salah satu muhaddis yang bernama Haji Nuri dan telah dicetak pada tahun 1291H.Q , para pemuka hauzah ilmiah Najaf mengingkarinya dan mengeluarkan perintah untuk mengumpulkannya dan ditulislah beberapa kitab yang banyak yang menentang kitab tersebut, diantara para ulama yang mengkritik dan menentang kitab tersebut adalah:

1. Seorang faqih yang terpilih yang bernama marhum Syekh Mahmud bin Abi Qasim yang terkenal dengan Muarrab Tehrani (wafat pada tahun 1313) yang mana beliau menulis kitab Kasyful Irtiyab fi Adami Tahrifil Kitab.
2. Marhum Allamah Sayyid Muhammad Husain Syahristani (wafat pada tahun 1315) beliau menulis kitab lain dalam rangka menolak kitab Faslul Khitab karnya Haji Nuri yang bernama Hifdzul Kitabisy Syarif ‘an Syubhatil Qaul bit Tahrif.
3. Marhum Allamah Balaghi (wafat pada Tahun 1352) salah seorang muhaqqiq hauzah ilmiyah Najaf yang terkenal dengan karangannya kitabTafsiru Alau Rahman, merupakan salah satu ulama yang menulis kitab untuk menjawab isi kitab Faslul Khitab.[1]
4. Kami juga mendapatkan dalam kitab Anwarul-Usul pembahasan yang cukup luas tentang tidak adanya tahrif Quran Majid dan kami juga memberikan jawaban yang memuaskan pada syubhah-Syubhah kitab Faslul-Khitab.
Marhum Haji Nuri walaupun seorang alim akan tetapi dia sebagaimana perkataan Allamah Balaghi selalu bersandar pada hadis-hadis dzaif dan lemah, dan dia sendiri merasa menyesal setelah tersebarnya kitab tersebut, semua pembesar hauzah ilmiyah Najaf menyimpulkan bahwa penyesalannya dikarenakan kesalaha-kesalahannya yang jelas tersebut.[2]

Yang menarik perhatian adalah Haji Nuri setelah bukunya tersebar dan dikarenakan serangan yang ditujukan kepadanya, untuk membela diri terpaksa dia menulis risalah yang isinya adalah maksud saya dari kitab tersebut adalah tidak adanya tahrif dalam al-Quran akan tetapi dari ungkapan-ungkapan yang saya pakai telah ……..salah difahami.[3]

Marhum Allamah Sayyid Hibbatuddin Syahristani mengatakan: ketika aku berada di Samira, berkata Marhum Mirza Syirazi Buzurg, Samira dirubah menjadi markas ilmu-ilmu Syi’ah, setiap aku memasuki suatu acara aku mendengarkan jeritan-jeritan dalam rangka menentang Haji Nuri dan kitab yang ia tulis dan sebagian dari mereka menyebutkannya dengan kalimat-kalimat yang buruk. [4]

Dengan ini semua apakah masih bisa perkataan Syekh Nuri dinisbatkan dengan akidah Syi’ah?

Sebagian dari mutaassib wahabi kitab Faslul-Khitab ini dibut sebagai alasan dan memaksa menisbatkan masalah tahrif Quran pasa Syi’ah, sedangkan:

1. Kalau hanya dengan satu kitab bisa dijadikan dalil bahwa Syi’ah meyakini hal ini maka masalah tahrif Quran ini juga harus dinisbatkan pada Ahli Sunnah, karena Ibnu Khatib Misri juga menulis kitab Alfurqan fi Tahrifil Quran. Jika protes para ulama al-Azhar terhadap kitab tersebut merupakan dalil akan ketiadak benaran isi kitab tersebut, maka penolakan dan protes para ulama Najaf terhadap kitab Faslul-Kihitab juga merupakan dalil yang sama akan ketidakbenaran isi kitab.

2. Dalam tafsir Qurtubi dan Durul-Mantsur yang mana kedua kitab tersebut termasuk kitab tafsir yang makruf di kalangan ahli sunnsh, dinukil dari Aisyah (istri nabi Saw) dimana dia mengatakan:” sesungguhnya surah Al- Ahzab memiliki 200 ayat, maka yang tersisa hanya 73 ayat saja.[5]

Lebih dari itu, dalam kitab Bukhari dan Muslim riwayat semacam itu juga yang mengesankan tahrif Quran dapat dijumpai dalam kedua kitab standar tersebut.[6]

Akan tetapi, tidak bisa kita mengatakan akan tahrif Quran dengan berlandaskan kepada seorang penulis atau beberapa riwayat lemah.
3. Mayoritas riwayat yang dinukil oleh Haji Nuri dinukil dari tiga perawi yang mazhabnya tidak jelas atau seorang pembohog atau kondisi tidak diketahui; Ahmad bin Muhammad Al-Yasari, Ali bin Muhammad Kufi dan Abu Jarud.

4. Pada dasarnya tuduhan tahrif Quran yang dinisbahkan kepada sebuah sekte imbas dan citra buruknya mengarah kepada agama Islam sendiri. Karena hal inilah yang diinginkan oleh para musuh Islam.

5. Para qari’ dan hafiz Quran dari Iran (yang secara note bene pengikut Syi’ah) yang kerap kali mendapat peringkat terbaik dalam musabaqah qurani, terlebih para hafiz kecil, serta ribuan hafiz setiap tahunnya yang muncul dari negeri ini, semuanya membaca dan menghafal al-Quran yang sama dengan Quran yang ada di tangan musimin.

Dalil Aqli Dan Naqli

Di dalam al-Quran terdapa banyak ayat yang menegaskan bahwa kitab agung ini tidak akan ditahrif. Allah berfirman:” sesungguhnya Kami telah menurunkan dzikr dan Kamilah yang akan menjaganya.[7]

Dalam ayat lain disebutkan:” Dan sesungguhnya dia adalah kitab yang tidak ada tandingannya, tidak akan sesuatu (yang batil) yang akan mengahmpirinya; baik dari depan, belakang, karena dia diturunkan dari Dzat yang bijak danterpuji.[8]

Selain itu, para pencatat wahyu yang jumlahnya sekitar 14 orang hingga 400 orang senantiasa siogap dan dengan cepat mencatat ayat-ayat yang baru turun kepada Rasulullah Saw. Terdapat ratusan para hafiz di zaman itu saat ayat turun mereka langsung menghafalnya. Bacaan kitab ini saat itu merupakan ibadah penting yang dibaca siang dan malam. Di samping itu, Quran merupakan kitab pedoman kehidupan kaum muslimin yang selalu hadir di tengah-tengah kehidupan. Dengan memperhatikan bukti-bukti di atas, akal sehat tidak mungkin membenarkan bahwa dia dapat dirubah; ditambah atau dikurangi.

Dalam riwayat yang dinukil dari para maksum juga telah ditekankan keterjagaan Quran dari tahrif. Amirul mukminin Ali a.s. dalam Nahjul balaghah bersabda:” Allah telah menurunkan kepada kalian sebuah kitab yang menjadi penjelas segala sesuatu, dan Dia menganugrahkan usia Rasulullah Saw sampai agama yang diridhai itu sempurna melalui al-Quran.[9]

Catatan Kaki:

[1] Alaur-Rahman, jilid 1, hal 25.
[2] Alaur-Rahman, jilid 2, hal 311.
[3] Adz-Dzariah, jilid 16, halaman 231.
[4] Burhane Rusyan, halaman 143.
[5] Yafsir Qurthubi, jilid 14, halaman 113 dan Durul-Mantsur, jilid 5, halaman 180
[6] Shahih Bukhari, jilid 8, halaman 208-211 dan shahih Muslim, jilid 4, halaman 167 dan jilid 5, halaman 116

[7] Surah Hijr, ayat 9.
[8] Surah Fushilat, ayat 41 dan 42.
[9] Nahjul Balaghah, khutbah 86
.
Tanggapan atas Artikel Era Muslim “Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat”
 Syiah dan Tuduhan Tahrif al-Quran
Isu tahrif (distorsi) Al-Qur’an selalu dituduhkan kepada Syiah, meskipun masalah tahrif ini telah dibantah oleh para ulama Syiah di setiap masa dan generasi sejak ratusan tahun yang lalu.

.

Syiah dan Tuduhan Tahrif al-QuranSetelah membaca tanggapan Bung Fahmi Salim di Eramuslim, saya melihat meskipun ia mengkritik tulisan Bung Haidar Bagir di Republika, namun ia menyampaikannya dengan cukup santun. Tetapi, saat berbicara tentang Syiah, tampak sekali bahwa ia terlalu pede dengan hanya bermodalkan kutipan-kutipan dari satu atau dua buku bacaan.Tulisannya tersebut menggambarkan betapa tidak mengertinya ia tentang mazhab Syiah. Pun menunjukkan betapa sempit dan terkungkungnya pengetahuannya hanya pada pandangan kelompoknya sendiri, dan kurangnya kemauannya untuk belajar tentang pandangan mazhab lain secara proporsional. Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi, “Untuk berbicara, orang harus lebih dahulu mendengar. Maka, belajarlah berbicara dengan mendengar”.Karenanya, sebelum berkomentar dan menilai mazhab Syiah, semestinyalah ia belajar atau minimal mendengar terlebih dahulu dengan baik tentang mazhab ini dari sumbernya secara adil. Karena, sebagaimana kata Ibn Hajar al-Haitsami, “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran.”Tahrif Al-Qur’an

Isu tahrif (distorsi) Al-Qur’an selalu dituduhkan kepada Syiah, meskipun masalah tahrif ini telah dibantah oleh para ulama Syiah di setiap masa dan generasi sejak ratusan tahun yang lalu.

Mengenai pernyataan Adnan al-Bahrani yang dikutip Bung Fahmi, semakin memperlihatkan kepedeannya dengan hanya membaca buku kutipan. Padahal, kalau ia mau, buku ini dengan mudah bisa diperoleh di internet. Buku Adnan tersebut berjudul asli ‘Masyariq asy-Syamus ad-Duriyah fi Ahaqiyah Madzhab al-Akhbariyah’. Di dalamnya, Adnan mengatakan bahwa persoalan tahrif tersebut merupakan “konsensus firqah al-muhiqah dan sesuatu yang asasi dalam mazhab mereka” (hal. 126). Sayangnya, kata ‘firqah al-muhiqah’ kemudian diartikan sebagai Syiah secara umum. Padahal, jelas maksud Adnan hanya sebagian, yaitu merujuk kepada kaum Syiah Akhbariyah, sebagaimana yang tertera gamblang dalam judul bukunya. Selain itu, pada halaman berikutnya, Adnan mengatakan bahwa ulama-ulama Syiah seperti al-Murtadha, ash-Shaduq, dan sebagainya menentang isu tahrif tersebut. Ini menunjukkan bahwa Adnan tidak memaksudkan pernyataannya itu untuk Syiah secara umum.

Mengenai an-Nuri dalam kitabnya ‘Fashlul Khitab’ itu, lagi-lagi Bung Fahmi kepedean dengan hanya mengutip tulisan Ahmad Sa’ad Al-Ghamidi. Berikut saya kutipkan pernyataan murid an-Nuri, Syaikh Agha Buzurg Tahrani, yang menuturkan bahwa an-Nuri berkata, “Saya telah keliru memberi judul buku tersebut. Semestinya saya beri judul: Fashlul Khitab fi Adami Tahrif al-Kitab. Karena, dalam buku ini saya telah membuktikan bahwa Al-Quran adalah wahyu Ilahi yang tidak mengandung tahrif, baik penambahan maupun pengurangan, sejak dia dikumpulkan hingga sekarang. Sedangkan kumpulan pertama Al-Quran sampai kepada kita dengan tingkat kemutawatiran yang meyakinkan. Saya telah lalai untuk menjelaskan dengan tegas di banyak tempat dalam kitab tersebut, sehingga banyak kritik dan celaan yang ditujukan kepada saya. Bahkan, karena kelalaian tersebut, penegasannya menjadi sebaliknya. Saya hanya memberi isyarat tentang tujuan saya yang sebenarnya pada halaman 22. Sebab, yang penting adalah keyakinan bahwa tidak ada ayat lain selain yang terdapat dalam Al-Quran di tangan kita”.[Syaikh Rasul Ja'fariyan, "Ukdzubah Tahrif al-Qur'an Baina asy-Syiah wa as-Sunnah", hal. 137]

Mengenai riwayat-riwayat lainnya, sebagian mesti dipahami sebagai tahrif maknawi (distorsi kontekstual), bukan tahrif lughawi (distorsi tekstual). Hal ini tampak pada riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir, “Di antara ulah mereka yang suka membuang Al-Qur’an adalah membiarkan huruf-hurufnya, tetapi mengubah hukum-hukumnya.”[Al-Kulaini, Al-Kafi, jil. 8, hal. 53]

Namun demikian, bila ada riwayat yang mengindikasikan tahrif lughawi, maka hal ini telah dibantah oleh jumhur ulama Syiah. Sayid Muhsin al-Amin mengatakan tentang tahrif yang dinisbatkan pada Syiah, “Itu adalah bohong dan dusta. Para ulama Syiah dan para muhadis mereka menyatakan yang sebaliknya.” [Sayid Muhsin al-Amin, yan asy-Syi'ah, jil. 1, hal. 46 dan 51]

Bahkan hal ini ditegaskan pula oleh seorang ulama besar Ahlusunah, Rahmatullah al-Hindi, “Sesungguhnya Al-Qur’an al-Majid, di kalangan jumhur Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, adalah terjaga dari perubahan dan pergantian. Apabila ada di antara mereka yang mengatakan adanya tahrif pada Al-Qur’an, maka yang demikian itu telah mereka tolak dan tidak mereka terima.” [Rahmatullah al-Hindi, Izh-harul Haq, jil. 2, hal. 128]

Saya senang mendengar bahwa isu tahrif di kalangan Ahlusunah, seperti riwayat Ibnu Majah tersebut, telah dibantah oleh Bung Fahmi. Untuk itu, saya juga menunggu argumen bantahan lanjutan untuk riwayat-riwayat Ahlusunah berikut:
1. Khudzaifah berkata, “Pada masa Nabi, Saya pernah membaca Surat Al-Ahzab. Tujuh puluh ayat darinya saya sudah agak lupa bunyinya, namun saya tidak mendapatinya di dalam Al-Qur’an yang ada saat ini.”[Suyuthi, Durr al-Mantsur, jil. 5, hal. 180]

2. Ibn Mas’ud telah membuang surat Muawidzatain (an-Nas dan al-Falaq) dari mushafnya dan mengatakan bahwa keduanya tidak termasuk ayat Al-Qur’an. [Al-Haitsami, Majma az-Zawa'id, jil. 7, hal 149; Suyuthi, Al-Itqan, jil. 1, hal. 79]

3. Umar bin Khattab berkata, “Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat ke dalam Kitabullah, maka akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” [Shahih Bukhari, bab Syahadah Indal Hakim Fi Wilayatil Qadha; Suyuthi, Al-Itqan, jil. 2, hal. 25 dan 26; Asy-Syaukani, Nailul Authar, jil. 5, hal. 105; Tafsir Ibnu Katsir, jil. 3, hal. 260]

Laknat Bani Umayah Terhadap Ali bin Abi Thalib Sekali lagi, Bung Fahmi terlalu pede dengan hanya mengutip tulisan Shallabi. Mengenai Al-Madaini yang kata Shallabi dinilai tak bisa dipercaya oleh hampir semua pakar dan imam hadis Ahlusunah, adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lami Nubala justru berkata sebaliknya, “Ia memiliki pengetahuan yang menakjubkan tentang sejarah, peperangan, nasab, dan peristiwa-peristiwa di tanah Arab. Ia jujur (shadiq) dalam menyampaikannya. Ia seorang alim dalam isu seputar penaklukan (futuh), peperangan (maghazi), dan syair. Ia seorang yang jujur (shadiq) dalam hal itu.”

Saya rasa Bung Fahmi tentu tahu bahwa Adz-Dzahabi adalah salah seorang imam rijal hadis Ahlusunah kenamaan. Namun demikian, saya juga ingin menambahkan riwayat tentang pelaknatan Ali tersebut dari sumber-sumber yang lain, di antaranya:

1. Suyuthi berkata, “Pada zaman Bani Umayyah terdapat lebih dari tujuh puluh ribu mimbar untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang telah ditetapkan Muawiyah.” [Ibn Abil Hadid al-Mu'tazili, Syarh Nahjul Balaghah, jil. 1, hal. 356].

2. Ibn Abdu Rabbih berkata, “Ketika Muawiyah melaknat Ali dalam khutbahnya di Masjid Madinah, Ummu Salamah segera menyurati Muawiyah, “Sungguh engkau telah melaknat Ali bin Abi Thalib. Padahal, aku bersaksi, Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Namun, Muawiyah tidak peduli dengan kata-kata Ummu Salamah itu. [Ibn Abdu Rabbih, Al-Iqdu al-Farid, jil. 2, hal. 301 dan jil. 3, hal. 127].

3. Yaqut al-Hamawi berkata, “Atas perintah Muawiyah, Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Timur hingga Barat, di mimbar-mimbar masjid.” [Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldan, jil. 1, hal. 191]

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan kepada Bung Fahmi bahwa persatuan itu bukan dibentuk dengan cara memaksa untuk sama. Ini namanya hegemoni dan sewenang-wenang. Persatuan dan persaudaraan hanya bisa terwujud melalui sikap toleran terhadap perbedaan. Selain itu, negeri ini juga bukan negara agama, sehingga tidak semestinya diklaim sebagai milik mazhab tertentu. Wallahu a’lam

.
Wawancara dengan Hafiz Cilik Iran:
 Sunni-Syiah Itu Bersaudara, Al-Qur’annya Satu
“Tidak perlu lagi ada dikotomi Sunni dan Syiah, kesemuanya bersaudara, sama-sama umat Islam, Al-Qur’an kita satu. Anda sendiri melihatnya, di negeri ini, saya hanyalah salah seorang diantara ribuan hafiz yang ada. Apa yang kami hafal, baca dan kaji sama dengan Al-Qur’an yang dicetak di Negara anda. Anda juga tengah berada di dalam masjid yang sebentar lagi dipenuhi orang-orang untuk shalat Jum’at berjamaah, yang pada hari yang sama juga dilakukan oleh umat Islam di negeri anda.”
Sunni-Syiah Itu Bersaudara, Al-Qur
“Pertanyaan terakhir, Mujtaba apa pesanmu buat teman-teman di Indonesia?””Yang saya tahu Indonesia negara multi etnis, agama yang dipeluk penduduknya beragam, karenanya pesan saya jagalah persatuan yang ada, khususnya sesama umat Islam. Harus kita terima, sulit menyatukan mazhab-mazhab yang ada dalam Islam. Karena itu kebutuhan kita saat ini bukan penyatuan, melainkan persatuan. Kelemahan bukan karena kita berbeda, tetapi merasa benar sendiri dan tidak menerima yang lainlah yang melemahkan
.
Tidak perlu lagi ada dikotomi Sunni dan Syiah, kesemuanya bersaudara, sama-sama umat Islam, Al-Qur’an kita satu. Anda sendiri melihatnya, di negeri ini, saya hanyalah salah seorang diantara ribuan hafiz yang ada. Apa yang kami hafal, baca dan kaji sama dengan Al-Qur’an yang dicetak di Negara anda. Anda juga tengah berada di dalam masjid yang sebentar lagi dipenuhi orang-orang untuk shalat Jum’at berjamaah, yang pada hari yang sama juga dilakukan oleh umat Islam di negeri anda.”
.
Saya hanya mengangguk membenarkan. Saya tiba-tiba merasa kecil di hadapannya. Kalau bukan berhadapan langsung, sulit dipercaya, kata-kata yang bijak dan sangat dewasa ini keluar dari mulut seorang pemuda 14 tahun. Tampak ia masih mau melanjutkan pesannya, tapi alat perekam telah saya matikan. “Tak apa ya, jika saya potret?” HPku beralih fungsi menjadi kamera.
“Iya, tapi jangan sampai ketahuan.”Dengan hati-hati saya memotretnya. Hanya tiga kali pengambilan gambar. Saya khawatir jika petugas sampai harus menyita HP karena tidak mematuhi aturan mereka.
.
“Mujtaba, saya benar-benar berterimakasih atas waktu yang kamu luangkan untuk wawancara ini.”
“Iya, sama-sama.” Kujabat erat tangannya.
Kubenahi tasku. “Apa anda tidak ingin bersama duduk di shaff depan?” tanyanya.
“Oh, maaf, saya harus keluar dulu, masih ada waktu sejam. Saya ingin membeli sesuatu. Saya khawatir tokonya tutup sehabis Jum’atan.” Ia mengangguk maklum.Kujabat erat tangannya untuk kedua kalinya. Sekali lagi kuucapkan terimakasih.Kutinggalkan masjid yang telah hampir dipenuhi jama’ah. Pesannya tadi masih juga terngiang, pasti ia mengucapkan pesan itu karena pengaruh pertanyaanku sebelumnya mengenai Malaysia. Iya, di era informasi yang seakan dunia bisa dilipat-lipat ini, sangat mengherankan, masih juga ada yang berkeyakinan bahwa Iran dengan warganya yang mayoritas Syiah mempunyai Al-Qur’an yang berbeda, bahwa mereka tidak menunaikan shalat Jum’at dan propaganda-propaganda negatif lainnya. Dari menara masjid yang menjulang tinggi, masih terdengar lantunan ayat suci yang menggetarkan, “Afalam yasiiruu fil ardi fatakuna lahum quluubun ya’qiluna bihaa…Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami….” (Qs. Al-Hajj: 46)

**********

Wawancara ini setelah mengalami pengeditan seperlunya dimuat dalam buku “Bintang-bintang Penerus Doktor Cilik” terbitan Pustaka Iiman termasuk wawancara dengan Muhammad Husein Tabatabai (Doktor Cilik) setelah berusia 20 tahun dan dua hafiz cilik Iran lainnya.

Al Quran mampu membuktikan kebenaran mazhab syi’ah imamiyah dan kedustaan Sunni

Imam Ali as dan al-Quran Karim


Allah swt berfirman:

لِنَجْعَلَها لَكُمْ تَذْكِرَةً وَ تَعِيَها أُذُنٌ واعِيَةٌ

“Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.
Pembahasan ini berkisar seputar Ali as dan al-Quran. Para pakar ulumul Quran dan mufassir sepakat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw berbeda tingkatan dalam potensi memahami dan menjangkau makna-makna al-Quran sebagaimana mereka relatif berbeda dalam mengambil manfaat dari curahan kesaksian turunnya wahyu, surat-surat dan kumpulan ayat-ayat yang diterima Nabi saw.

Mereka yang beriman kepada Rasulullah saw di Madinah tidak menyaksikan turunnya surat-surat Makkiyah (yang turun di Makkah) dan terhalang dari tafsir dan asbabun nuzul terutama efidence turunnya ayat-ayat.

Berkenaan dengan sebab turunnya ayat yang telah dibacakan, para pakar hadis dan sejarawan sepakat bahwa maksud dari “udhunun wa’iyah” adalah Ali bin Abi Thalib as. Sebagaimana Ibnu Jarir Thabari, Ibnu Abi Hatim, Wahidi (pengarang kitab “Asbabun Nuzul”), Ibnu Murdawaih, Ibnu Asakir dan yang lain mencatat dari ucapan Buraidah Aslami yang mana Rasulullah saw bersabda kepada Ali as:

إنّ اللّه أمرنى أن أدنيك و لا أقصيك و أن أعلّمك و أن تعي و حقّ لك أن تعي

Maka turunlah ayat ini «لِنَجْعَلَها لَكُمْ تَذْكِرَةً وَ تَعِيَها أُذُنٌ واعِيَةٌ » dan hal ini mereka nukil dari “Ad-Durrul Mantsur” tafsir Jalaluddin Suyuthi, dan “Asbabun Nuzul” hal 294 dan Abu Na’im dalam “Hilyatul Auliya’” juga mencatat yang demikian dan dengan nukilan hadis lain yang mana Nabi saw bersabda kepada Ali as:

“فأنت أذن واعية لعلمي”

Demikian juga dalam tafsiran ayat ini, Sa’id bin Mansur, Ibnu Jarir, penulis kitab sejarah dan tafsir Thabari, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Murdawaih mencatat riwayat ini tetapi secara mursal yang mana setelah turun ayat “وَ تَعِيَها أُذُنٌ واعِيَةٌ” Rasulullah saw bersabda: “Aku berharap dari Allah swt supaya menajamkan telinga kecerdasan Ali as seperti demikian”. Dan Ali as berkata: “Setelah itu tidak pernah aku mendengar sesuatu dari Nabi saw dan kemudian melupakannya”. Tsa’labi juga mencatat riwayat ini dari Abu Hamzah Tsumali secara musnad (bukan mursal).

Dalam surat al-Haaqqah sebelum ayat ini, Allah swt menceritakan perihal kaum-kaum yang telah lenyap dan juga nabi-nabi terdahulu dan ketika itu Allah swt berfirman: Untuk menjangkau dan memahami serta menjaga perihal-perihal penuh pelajaran (‘ibrah) pada sejarah para nabi dan bangsa-bangsa terdahulu diperlukan telinga cerdas potensial dan menyeluruh. Oleh karena itu Ali as memahami al-Quran lebih baik dari seluruh sahabat Rasulullah saw dan mengajarkan kepada yang lain.

Ibnu ‘Athiyyah, Badruddin dan Suyuthi berkeyakinan bahwa pemuka para mufassir adalah Ali bin Abi Thalib as, sementara itu Ibnu Abbas belajar tafsir di sisi beliau as, dan setelah itu yang lain seperti Mujahid, Sa’id bin Jubair dan lain-lain mengikutinya dan menjadi murid Ibnu Abbas.

Amirul Mukminin Ali as disamping adalah orang terbaik dalam memahami, menghapal dan mempelajari al-Quran, juga termasuk pemuka para sahabat dalam pengumpulan dan penjelasan penafsiran al-Quran.

Ibnu Abbas mengenai ayat suci “إِنَّ عَلَيْنا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَهُ” berkata: Allah swt telah mengumpulkan al-Quran di hati dan dada Ali as dan beliau as sepeninggal Rasulullah saw mengumpulkan dan membukukannya selama 6 bulan.

Abu Na’im dalam “Hulyatul Auliya’” dan Khatib dalam “Arba’in” dari Suyuti dan dia dari Ali bin Abi Thalib as meriwayatkan: Ketika Nabi saw meninggal dunia, aku bersumpah bahwa aku tidak akan menyingkapkan jubahku dari pundak hingga aku menyusun al-Quran dan aku melakukan hal tersebut.

Para ahli sejarah dan tafsir juga menyepakati bahwa hanya Ali as yang mengklaim mengumpulkan al-Quran sebelum orang lain berfikir untuk mengumpulkan dan menyusunnya.

Dalam al-Ihtijaj Thabarsi disebutkan bahwa Abu Dzar al-Ghiffari berkata: Ali as setelah wafat Rasulullah saw dan berdasarkan wasiat beliau saw, mengumpulkan dan menyusun al-Quran dan membawanya ke hadapan kaum Muhajirin dan Anshar serta memperlihatkan kepada mereka. Ketika salah seorang membukanya dan pada halaman pertama, ia melihat kemarahan-kemarahan orang-orang maka ia tidak setuju dengannya.

Proyek pertama yang dilakukan Imam Ali as berkenaan dengan al-Quran adalah bertekad bahwa beliau as tidak akan keluar rumah sehingga menyelesaikan pengumpulan dan penyusunan al-Quran. Hal ini sendiri adalah ancaman terbesar bagi orang-orang yang memiliki maksud menodai al-Quran Karim dan sebuah pedang tajam terhunus di atas kepala orang-orang yang ingin mengurangi dan menambahi al-Quran. Sejarah mencatat bahwa dalam ayat:

“إِنَّ كَثِيراً مِنَ الْأَحْبارِ وَ الرُّهْبانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوالَ النَّاسِ بِالْباطِلِ”

hingga ayat berikutnya yang berbunyi:

“وَ الَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَ الْفِضَّةَ وَ لا يُنْفِقُونَها فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذابٍ أَلِيمٍ”

ketika mereka ingin menghilangkan «واو» dari ujung «الّذين» hingga merubah arti ayat dan ingin menunjukkan bahwa «الّذين» ini yakni orang-orang yang menyimpan emas dan perak hanya para pendeta dan pastur saja bukan orang-orang yang berada di kalangan masyarakat Islam yang melakukan perbuatan pengkhianatan seperti ini, Abu Dzar, seorang sahabat agung menghunuskan lidah tajamnya di atas kepala mereka sehingga tahrif ini tidak terlaksana. Akan tetapi proyek Ali as lebih tinggi dari hal-hal ini.

Beliau as (menurut Abu Rafi’) duduk di rumah dan menyusun al-Quran sebagaimana turunnya (bukan berarti bahwa beliau as mengumpulkan sekumpulan ayat dan surat menurut urutan turunnya karena hal tersebut telah terlaksana, dan urutan yang sekarang ini keluar dari ikhtiar manusia bahkan Nabi saw, akan tetapi menentukan sebab turun dan mengenai siapa-siapa dan kapan ayat-ayat turun dan hal ini adalah keterjagaan al-Quran dan arti-artinya dari bahaya tahrif maknawi. Oleh karena itu beliau as memberikan motifasi kepada murid-murid untuk mempelajari dalam tafsir sebab turun dan urutan turun ayat dan surat dan supaya mengajarkan kepada yang lain berkenaan dengan siapa-siapa, kejadian-kejadian apa dan kondisi-kondisi apa ayat-ayat diturunkan). Dari Ibnu Hajar juga dinukil kandungan yang demikian dan riwayat ini dicatat oleh Ibnu Abi Dawud Nasa’i dengan sanad shahih dari Abdullah bin Umar.

Husain bin Ali bin Abi Thalib as juga berkata, Imam Ali as dalam sebuah ungkapan mengatakan: Bertanyalah kepadaku mengenai al-Quran sehingga aku katakan bahwa ayat-ayatnya turun berkenaan dengan siapa-siapa saja dan kapan.

Adapun untuk memahami urgensitas penjelasan urutan, kapan dan kondisi turunnya ayat-ayat, kami berikan dua contoh; salah satunya berkenaan dengan ahkam (hukum-hukum) dan satu lagi menyangkut sebab turun.

Dalam surat al-Baqarah kita memiliki dua ayat berkenaan dengan kematian dan hukum isteri-isteri yang salah satunya nasikh (menghapus) dan yang lain mansukh (yang dihapus). Akan tetapi ayat nasikh berada sebelum ayat mansukh (ayat nasikh adalah ayat 234 dan ayat mansukh 240). Untuk mengetahui manakah ayat nasikh dan manakah mansukh perlu mengenal persyaratan-persyaratan turunnya ayat, dan tentu saja semua orang mengetahui hukum nasikh dan mansukh semenjak masa pengumpulan dan penyusunan al-Quran hingga sekarang, dan malaikat wahyu juga menyampaikan tempat atau posisi ayat-ayat kepada Nabi saw. Dari Ibnu Abbas bahwa ketika ayat tertentu turun, malaikat wahyu berkata kepada Nabi saw, letakkanlah ayat ini di ujung ayat ini. Bagaimanapun, mengetahui urutan turunnya ayat-ayat memiliki urgensitas luar biasa dari sisi bahwa ayat nasikh dari mansukh dapat dikenal.

Contoh berikutnya mengenai sebab turunnya ayat. Sejarah perang Uhud dimuat dalam surat Aali ‘Imran. Mengenai bagaimana terjadinya perang Uhud ditanyakan kepada Abdurrahman bin ‘Auf atau sahabat lain Rasulullah saw dan ia mengembalikan kepada ayat-ayat setelah ayat 120 surat Aali ‘Imran, dan berkata: Jika engkau membacanya maka seolah-olah engkau ikut serta dalam perang ini bersama kami.

Di antara kejadian-kejadian perang Uhud adalah pada mulanya kemenangan diraih oleh kaum Muslimin akan tetapi setelah pengosongan lereng gunung oleh para pemanah dan serangan pasukan berkuda tentara musuh ke tempat itu, maka tekanan musuh menjadi berlimpah. Nabi saw memberikan perintah supaya kaum Muslimin naik dari lereng gunung depan dan bersandar ke gunung serta mundur karena ketidakkompakan sedikit pasukan.

Nabi saw berada di barisan belakang tentara dan beliau saw juga menaiki lereng gunung, akan tetapi beliau saw berada dalam serangan bahaya pasukan berkuda musuh yang sedang beraksi melakukan pembunuhan tanpa belas kasih.
Ayat 153 menunjukkan hal tersebut:

“إِذْ تُصْعِدُونَ وَ لا تَلْوُونَ عَلى أَحَدٍ وَ الرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْراكُمْ فَأَثابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِكَيْلا تَحْزَنُوا عَلى ما فاتَكُمْ وَ لا ما أَصابَكُمْ وَ اللَّهُ خَبِيرٌ بِما تَعْمَلُونَ”

“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Hingga di sini tidak ada permasalahan dan ayat-ayat menceritakan kelanjutan peristiwa tersebut, akan tetapi secara tiba-tiba Allah swt mengecam orang-orang yang berpaling dari musuh dan melarikan diri, ayat 155:

“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu [pasukan kaum muslimin dan pasukan kaum musyrikin], hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau).

Maka jelas bahwa mereka adalah sekelompok dari tentara Islam, akan tetapi siapa-siapa mereka tersebut harus dijelaskan oleh pribadi tinggi seperti Ali as.

Dalam sirah (sejarah) paling kuno yang pengarangnya wafat pada tahun 207 H dan sirah Ibnu Ishaq terlihat, al-Maghazi Ibnu Syihab az-Zuhri dapat disaksikan dan seluruh riwayat menjadi bahan kajian dan dicatat serta dinyatakan: Ketika berita tentang terbunuhnya Nabi saw tersebar melalui lidah kaum kafir di tengah-tengah Muslimin, mereka bercerai berai dan sebagian telah sampai di Madinah dan orang pertama yang datang ke Madinah dan menceritakan berita tentang terbunuhnya Nabi saw adalah Sa’d bin Utsman yang berlaqab Abu ‘Ubadah. Setelah itu sekelompok lain masuk ke kota menuju isteri-isteri mereka. Para isteri mencaci mereka dan mengatakan, kalian melarikan diri dari sisi Rasulullah saw. Salah seorang wanita adalah Ummu Aiman yang dalam menghadapi sekelompok orang melemparkan tanah ke muka mereka, dan mengatakan kepada salah seorang dari mereka: Kemarilah, ambil lipatan ini dan lipatlahlah serta berikan pedangmu kepadaku. Setelah itu ia pergi ke Uhud bersama sekelompok wanita.

Namun pada arah berlawanan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqash dan sekelompok dari kaum Anshar yang nama-nama mereka tercatat seluruhnya dalam sejarah berperang melawan musuh dengan gigih dan menjaga Nabi saw.

Nashibah puteri Ka’b Ummu ‘Umarah yang datang ke medan perang sebagai pemberi minum dan perawat ketika melihat gigi dan dahi Nabi saw retak, dada Nabi saw terluka, ia mengangkat pedang dan membunuh beberapa orang. Ia sendiri dan beberapa orang anggota keluarganya bertahan dalam perang itu.

Thalhah bin Ubaidillah, seorang sahabat pemberani, menjadikan tangannya sebagai tameng supaya pedang Ibnu Qumaishah tidak turun di pundak Nabi saw sehingga jarinya terpotong dan sampai akhir umurnya menjadi saksi pembelaannya kepada Nabi saw. Dalam kondisi seperti itu Nabi saw terjatuh ke dalam sebuah lubang dari lubang-lubang yang digali oleh Abu ‘Amir Rahib (yang dijuluki oleh Nabi saw sebagai munafik) dan ditutupi permukaannya, seorang bernama Syimas bin Utsman menjadikan dirinya sebagai tameng melindungi Nabi saw di hadapan pedang-pedang yang menebas ke arah Nabi saw dan syahid di tempat itu. Mereka adalah para pahlawan kejadian tersebut. Akan tetapi sekelompok orang juga melarikan diri sehingga Nabi saw bersabda kepada Nashibah, pahlawan wanita yang bekas-bekas tebasan pedang musuh membekas pada tubuhnya hingga akhir hayatnya: “Perbuatanmu lebih baik daripada orang-orang yang melarikan diri (disebutkan nama-nama mereka).”

Di lobang tersebut, sementara lutut suci Nabi saw terluka dan beliau saw tidak dapat berdiri, Ali as mengambil tangan beliau saw dan Thalhah meraih bawah pundak beliau saw dan pergi ke atas lereng gunung, dan ketika itulah kaum Muslimin juga sampai, dan mengelilingi serta melindungi Nabi saw dari musuh.

Apapun yang terjadi, sya’n nuzul secara detail menjelaskan bahwa siapakah orang-orang tersebut dan ayat-ayatnya berkata apa. Hal ini sedemikian jeli hingga dalam perang ini salah seorang dari kaum Muslimin yang memiliki permusuhan dengan yang lain membunuhnya secara tiba-tiba. Setelah beberapa waktu berlalu, ketika mereka menangkapnya Nabi saw menghakiminya dan menghukumnya dengan hukuman mati. Apapun yang terjadi, orang-orang yang bertahan, para pahlawan dan orang-orang yang melarikan diri namanya tertulis dengan terperinci dalam tafsir-tafsir dan juga dalam kitab-kitab hadis shihah terutama shahih Bukhari.

Khalid bin Walid (panglima tentara pasukan berkuda yang menyerang dan membunuh banyak kaum Muslimin) setelah beberapa waktu ketika masuk Islam berkata di Syam: Aku bersyukur kepada Allah karena telah memeluk Islam dan Allah telah memberikan hidayat kepadaku, dan setelah itu berkata, kesaksianku dalam perang Uhud adalah bahwa kaum Muslimin melarikan diri, aku melihat seorang kerabat yang melarikan diri sendirian. Aku berada dalam kepemimpinan tentara berkuda yang kuat. Karena aku masih berkerabat dengannya, maka aku khawatir bila aku mendekatinya, maka tentara akan menangkap dan membunuhnya, oleh karena itu aku membelokkan arah sehingga ia tidak terlihat tentara.

Demikian juga dalam sirah Ibnu Hisyam, dalam kitab Waqidi dan seluruh shihah terdapat bahwa Anas bin Nadhar, paman Anas bin Malik, melihat seorang sahabat yang sedang duduk-duduk dengan sekelompok orang. Ia bertanya kenapa mereka duduk, mereka menjawab, Rasulullah saw telah terbunuh. Ia berkata, setelah beliau saw untuk apa kalian ingin hidup. Bangkitlah dan berperanglah demi apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah hingga terbunuh. Ketika itu sahabat tersebut berdiri dan berperang hingga terbunuh dan tampak puluhan luka di badannya.

Di sinilah jelas bahwa penulisan sya’n nuzul oleh Ali as memberikan manfaat apa. Supaya hak para pahlawan yang membela Nabi saw seperti Thalhah bin Ubaidillah tidak disia-siakan dan jelas siapa saja yang melarikan diri. Maka ketika itu sekelompok penulis resep berkhianat dan menghapus sebagian nama-nama. Silahkan amati nama-nama yang kami nukil dari kitab Waqidi ini apa yang mereka lakukan dan usaha Amirul Mukminin Ali as bernilai apa dalam menghapus kepalsuan-kepalsuan. Bila ini tidak ada, kita tidak dapat memahami kejadian-kejadian yang berlangsung. Akan tetapi mereka tidak membiarkan tafsir Amirul Mukminin as dengan urutan turun, sebab dan kejadian-kejadiannya tersebar. Sebagian sahabat setia mempelajari sebagian hal tersebut dan terdapat dalam sejarah dan tafsir-tafsir seperti kisah Anas bin Nadhar.

Sangat disayangkan sekali mereka ingin menyingkirkan orang yang membela dan menyelamatkan Nabi saw dari kebinasaan tersebut dan ingin meninggikan orang-orang yang melarikan diri. Mereka tidak membiarkan keterangan al-Quran dan tafsir Ali bin Abi Thalib as tersebar. Imam Ali as setelah perang Jamal, ketika memasuki Bashrah, datanglah seorang Badui dan menjelek-jelekkan Thalhah. Imam Ali as menegornya dan berkata, engkau tidak ada dalam perang Uhud dan tidak melihat bagaimana ia berkhidmat dan kedudukan dan tingkatan apa yang dimiliki di sisi Allah swt. Orang tersebut merasa malu dan terdiam. Orang lain bertanya, khidmat apa yang dilakukan? Beliau as menjawab, ia menjadikan dirinya sebagai perisai Nabi saw sementara dari setiap arah datang tebasan pedang dan tusukan tombak. Dari satu arah aku dan dari arah lain Abu Dujanah membuat mundur para penyerang sementara Sa’d bin Abi Waqqash dari arah lain. Aku dengan sendirian membuat mundur tentara berkuda yang dikomando oleh ‘Ikrimah bin Abu Jahal sementara mereka mengepungku dari setiap penjuru dan untuk kedua kalinya aku mendesak mereka mundur dan aku kembali…

Di sinilah penjelasan dan tafsir Ali bin Abi Thalib as menyelamatkan al-Quran dari perubahan maknawi, dan sebagaimana mestinya beliau as menyampaikannya kepada generasi-generasi dan murid-murid beliau as seperti Ibnu Abbas dan yang setelahnya membawanya ke hadapan kita.

Ya Allah! Jadikanlah kami menghargai nikmat wilayah Amirul Mukminin Ali as. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah : 124 (Ayat Imamah)


Ayat Imamah

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia (berhasil) melengkapinya. Allah berfirman: “Sungguh aku akan menjadikanmu seorang imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim memohon: “ Juga dari keturunanku!”.

Allah berfirman: “Janjiku ini (imamah) tidak akan dapat digapai oleh  orang-orang yang zalim”.

Dalam Tafsir Al-Mizan karya Allamah Thabathaba’i juz 1 hal. 273, diriwayatkan bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima Nabi Ibrahim as sebagai seorang hamba sebelum Dia mengangkatnya menjadi seorang mabi, mengangkatnya menjadi nabi sebelum Dia memilihnya menjadi rasul, mengangkatnya menjadi rasul sebelum Ia menjadikannya sebagai kekasih-Nya (Khalilullah), dan menjadikannya sebagai khalilullah sebelum mengangkatnya menjadi seorang imam. Dan setelah Allah menganugerahkan semua itu kepadanya, Dia berfirman: “Sungguh Aku telah mengangkatmu menjadi imam bagi seluruh manusia”. Karena imamah itu sangat agung baginya, maka beliau memohon kepada Allah: “Dan dari keturunanku juga!”. Kemudian Allah menjawab: “Janjiku ini (imamah) tidak akan dapat digapai oleh orang-orang yang zalim”. Selanjutnya Imam Ja’far berkata: “Orang yang bodoh tidak akan menjadi imam bagi orang yang bertakwa”.

Allamah Thabathaba’i mengatakan berdasarkan riwayat di atas, yang dimaksud dengan “Kalimat” dalam ayat ini adalah imamah Nabi Ibrahim as, Ishak dan keturunannya yang kemudian ia menyempurnakannya dengan imamah Muhammad SAWW dan para imam Ahlul Bayt as dari keturunan Nabi Ismail as Kemudian Allah memperjelas persoalan ini dengan firman-Nya: “Sungguh Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia.”

Hadis tersebut dan hadis-hadis lain yang memiliki kandungan yang sama dengan hadis di atas terdapat di dalam:

1.Al-Manāqib,karya Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 276.

2.Naqdhus Shawā’iq,karya Sayid Amir Muhammad Al-Khazhim, hal. 220.

3.Dalā`ilus Shidq,karya Al-Imam Al-Muzhaffar, hal. 140.

4.Al-Manāqib,karya Syahr-asyub, juz 2, hal. 263.

5.Tafsir Al-‘Ayyāsyi, tentang surat ini.

Surah An-Nahl : 43 (Perintah Merujuk Kepada Ahlul Bayt as)


Perintah Merujuk Kepada Ahlul Bayt as

“Maka bertanyalah kepada ahludz dzikr jika kamu tidak tahu”

Yang dimaksud dengan ahludz dzikr dalam ayat di atas adalah Ahlul Bayt Nabi as Yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as Silahkan rujuk:

1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 334, hadis ke: 460,463, 464, 465, dan 466.

2.Yanābī’ul Mawaddah, karya syeikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 51 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 46, 119, cetakan Islambul.

3.Tafsir Al-Qurthubi, juz 11, hal. 272.

4.Tafsir Ath-Thabari, juz 14, hal. 109.

5.Tafsir Ibnu Katsir, juz 2, hal. 570.

6.Rūhul Ma’ānī, karya Al’Alusi, juz 14, hal. 134.

7.Ihqāqul Haqq, karya At-Tustari juz 3, hal. 483, cetakan Tehran.

Asbabun Nuzul Surah Ālu Imrān : 103(Perintah Berpegang Teguh Dengan Ahlul Bait)



Perintah Berpegang Teguh Dengan Ahlul Bait

“Berpeganglah dengan tali Allah (hablullah) dan janganlah bercerai-berai”

Yang dimaksud dengan hablullah (tali Allah) dalam ayat ini adalah Ahlul Bayt as Hal ini dapat dirujuk di buku-buku referensi berikut ini:

1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 130, hadis ke: 177, 178, 179, dan 180.

2.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i, hal. 149, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 90, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.

3.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 139, 328, 356, cetakan Al-Haidariyah; hal. 119, 274, dan 279, cetakan Islambul.

4.Al-Ittihāf bi Hubbil Asyrāf, karya Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, hal. 76.

5.Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi, juz 4, hal. 16.

6.Nūrul Abshār, karya Asy-Syablanji, hal. 102, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 101, cetakan Al-‘Utsmaniyah.

7.Is’āfur Rāghibīn, karya Ash-Shabban Asy-Syafi’i, hal. 107, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 100, cetakan Al-‘Utsmaniyah.

Asbabun Nuzul Surah At-Taubah : 119 (Orang-orang yang Benar)


بسم الله الرحمن الرحيم

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar”

Yang dimaksud dengan “orang-orang yang benar” dalam ayat di atas adalah Imam Ali as dan para pengikut beliau. Silahkan rujuk:

1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 259, hadis ke : 350, 351, 352, 353, 355, dan 356.

2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-syafi’i, hal. 236, cetakan Al-Haidariyah; hal. 111, cetakan Al-Ghira.

3.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 421, hadis ke 923.

4.Al-Manāqib,karya Al-Kharazmi, hal. 198.

5.Nizhām Duraris Simthain, hal. 91.

6.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 414.

7.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal. 150, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 90, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.

8.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 136 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 116 dan 119, cetakan Islambul.

9.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-suyuthi, juz 3, hal. 390.

10.Al-Ghadīr,karya Al-Amini, juz 2, hal. 305.

11.Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi juz 11, hal. 41.

12.Ghāyatul Marām, bab 42, hal. 248, cetakan Iran.

13.Farā`idus Simthain, karya Al-Hamwini, juz 1, hal. 314, hadis ke 250; hal.

Asbabun Nuzul Surah Asy-Syūrā : 23 (Perintah Mencintai Ahlul Bayt as)



Perintah Mencintai Ahlul Bayt as

“Katakanlah wahai Muhammad: “Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam dakwah ini melainkan kecintaan terhadap keluargaku”.

Ayat ini turun untuk keluarga Rasulullah SAWW, yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as Silahkan rujuk:

1.Syawāhidut Tanzīl,karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 130, hadis ke 822, 823, 824, 825, 826, 827, 828, 832, 833, 834, dan 838.

2.Manāqib Ali bin Abi Thalib,karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 307, hadis ke 352.

3.Dzakhā`irul ‘Uqbā, karya Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 25 dan 138.

4.Ash-Shawā’iqul Muhriqah,karya Ibnu Hajar Asy-syafi’i, hal. 101, 135, 136, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir; hal. 168, dan 225, cetakan Al-Muhammadiyah, Mesir.

5.Kifāyatut Thālib,karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 91,93, dan 313, cetakan Al-Haidariyah; hal. 31, 32, 175, 178, cetakan Al-Ghira.

6.Al-Fushūlul Muhimmahkarya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 11.

7.Maqtalul Husein as,karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, juz 1, hal. 1 dan 57.

8.Tafsir Ath-Thabari, juz 25, hal. 25, cetakan ke 2, Mushthafa Al-Halabi, Mesir; juz 25, hal. 14 dan 15, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.

9.Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, juz 3, hal. 172.

10. Al-Ittirāf,karya Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, hal. 5 dan 13.

11. Ihyā`ul Mayyit,karya As-Suyuthi Asy-Syafi’i (catatan pinggir) Al-Ittihāf, hal. 110.

12. Nūrul Abhsār,karya Asy-Syablanji, hal. 102, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 106, cetakan Al-’Utsmaniyah.

13. Tafsir Al-Kasysyāf,karya Zamakhsyari, juz 3, hal. 402, cetakan Mushthafa Muhammad; juz 4, hal. 220, cetakan Beirut.

14. At-Tafsīrul Kabīr, karya Imam Fakhrur Razi, juz 27, hal. 166, cetakan Abdurrahman Muhammad, Mesir; juz 7, hal. 405-406.

15. Tafsir Al-Baidhāwi, juz 4, hal 123, cetakan Mushthafa Muhammad, Mesir; juz 5, hal. 53, cetakan Darul Kutub, hal. 642, cetakan Al-‘Utsmaniyah.

16. Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 112.

17. Majma’uz Zawā`id, juz 7, hal. 103; dan juz 9, hal. 168.

18. Fathul Bayān fī Maqāshidil Qurān, karya Shiddiq Hasan Khan, juz 8, hal. 372.

19. Tafsir Al-Qurthubi juz 16 hal. 22.

20. Fathul Qadīrkarya Asy-Syaukani juz 4 hal. 537, cetakan ke 2; juz 2 hal. 22, cetakan pertama, Mesir.

21. Ad-Durrul Mantsūrkarya As-Suyuthi, juz 6, hal. 7.

22. Yanābī’ul Mawaddah,karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 106, 194, 261, cetakan Islambul; hal. 123, 229, 311, cetakan Al-Haidariyah.

23. Tafsir An-Nasafi, juz 4, hal. 105.

24. Hilyatul Awliyā`, juz 3, hal. 201.

25. Al-Ghadīr,Al-Amini, juz 2, hal. 306-311.

26. Ihqāqul Haqq,karya At-Tustari, juz 3, hal. 2-22; juz 9, hal. 92-101, cetakan Pertama, Tehran.

27. Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 259.

28. Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 20; juz 2, hal. 13, hadis ke 359.

29. Abaqātul Anwārbagian hadis Ats-Tsaqalain, juz 1, hal. 285.

Asbabun Nuzul Surah Al-Ahzāb : 33



Pensucian Ahlul Bayt as

“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala jenis kekotoran darimu wahai Ahlul bayt dan mensucikanmu sesuci-sucinya.”

Berdasarkan riwayat dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Sa’id Al-Khudri dan Anas bin Malik, ayat ini turun hanya untuk lima orang, yaitu Rasulullah SAWW, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as

Rasulullah SAWW bersabda seraya menunjuk kepada Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as: “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlul Baytku, maka peliharalah mereka dari keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya.” Banyak hadis lain yang searti dengan hadis tersebut. Silahkan rujuk:

1.Shahih Muslim, kitab Fadhā`ius Shahābah, bab Fadhā`il Ahli Baytin Nabi SAWW, juz 2, hal. 368, cetakan Isa Al-Halabi; juz 15 hal. 194, Syarah An-Nawawi, cetakan Mesir.

2.Shahih Tirmidzi, juz 5, hal. 30, hadis ke 3258; hal. 328, hadis ke 3875, cetakan Darul Fikr.

3.Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 5, hal. 25, cetakan Darul Ma’arif, Mesir.

4.Al-Mustadrak,karya Al-Hakim, juz 3, hal. 133, 146, 147, 158; juz 2, hal. 416.

5.Al-Mu’jamuz Shaghīr,karya Ath-Thabarani, juz 1, hal. 65 dan 135.

6.Syawāhidut Tanzīl,karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 11-92, hadis ke 637, 638, 639, 640, 641, 644, 648, 649, 650, 651, 652, 653, 656, 657, 658, 659, 660, 661, 663, 664, 665, 666, 667, 668, 671, 672, 673, 675, 678, 680, 681, 686, 689, 690, 691, 694, 707, 710, 713, 714, 717, 718, 729, 740, 751, 754, 755, 756, 757, 758, 759, 760, 761, 762, 764, 765, 767, 768, 769, 770, 774, cetakan pertama, Beirut.

7.Khashā`ish Amīrul Mu`minān, karya An-Nasa’i Asy-Syafi’i, hal. 4, cetakan At-Taqaddum Al-‘Ilmiyah, Mesir; hal. 8, cetakan Beirut; hal. 49, cetakan Al-Haidariyah.

8.Tarjamatul Imam Ali bin Abi Thalibdalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu ‘Asakir Asy-Sayarifi’i, juz 1, hal. 185.

9.Kifāyatut Thālib,karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 45, 373, 374, 375.

10. Musnad Ahmad, juz 3, hal. 259 dan 285; juz 4, hal. 107; juz 6, hal. 292, 296, 298, 304, dan 306, cetakan Mesir.

11. Usdul Ghābah fī Ma’rifatis Shahābah, karya Ibnu Atsir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 12 dan 20; juz 3, hal. 413; juz 5, hal. 521 dan 589.

12. Dzakhā`irul ‘Uqbā,karya Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 21, 23, dan 24.

13. Asbābun Nuzūl,karya Al-Wahidi, hal. 203, cetakan Al-Halabi, Mesir.

14. Al-Manāqib, karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, hal. 23 dan 224.

15. Tafsīr Ath-Thabari, juz 22, hal. 6, 7, dan 8, cetakan Al-Halabi, Mesir.

16. Ad-Durrul Mantsūr,karya As-Suyuthi, juz 5, hal. 198 dan 199.

17. Ahkāmul Qurān,karya Al-Jashshash, juz 5, hal. 230, cetakan Abdurrahman Muhammad; hal. 443, cetakan Kairo.

18. Manāqib Ali bin Abi Thalib,karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 301, hadis ke 345, 348, 349, 350, dan 351.

19. Mashābīhus Sunnah,karya Al-Baghawi Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 278, cetakan Muhammad Ali Shabih; juz 2, hal. 204, cetakan Al-Khasyab.

20. Misykātul Mashābīh,karya Al-‘Amri, juz 3, hal. 354.

21. Al-Khasysyāfkarya Az-Zamakhsyari, juz 1, hal 193, cetakan Mushthafa Muhammad; juz 1, hal. 369, cetakan Beirut.

22. Tadzkiratul Khawwāsh,karya As-Sibth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, hal. 233.

23. Mathālibus Sa`ūl,karya Ibnu Thalhah Asy-Syafi’i, juz 1, hal. 19 dan 20.

24. Ahkāmul Qurān,karya Ibnu ‘Arabi, juz 2, hal. 166, cetakan Mesir.

25. Tafsir Al-Qurthubi, juz 14, hal. 182, cetakan Kairo.

26. Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal. 483, 494, dan 485, cetakan Mesir.

27. Al-fushūlul Muhimmah karya Ibnu Shabbagh Al-Maliki hal. 8.

28. At-Tashīl li ’Ūlūmit Tanzīl, karya Al-Kalbi, juz 3, hal. 137.

29. At-Tafsīrul Munīr li ma’ālimit Tanzīl, karya Al-Jawi, juz 2, hal. 183.

30. Al-Ishābah,karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 502; juz 4; hal. 367, cetakan Mushthafa Muhammad; juz 2, hal. 509; juz 4, hal. 378, cetakan As-Sa’adah, Mesir.

31. Al-Itqān fī ‘Ulūmil Qurān, karya As-Suyuthi, juz 4, hal. 240, cetakan Mathba’ Al-Masyhad Al-Huseini, Mesir.

32. Ash-Shawā’iqul Muhriqah,karya Ibnu Hajar, hal. 85, cetakan Al-Maimaniyah; hal. 141 dan 227, cetakan Al-Muhammadiyah.

33. Muntakhab Kanzul ‘Ummāl(catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 5, hal. 96.

34. As-Sīrah An-Nabawiyah, karya Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sīrah Al-Halabiyah, juz 3, hal. 329 dan 330, cetakan Al-Mathba’ Al-Bahiyah, Mesir; juz 3, hal. 365, cetakan Muhammad Ali Shabih, Mesir.

35. Is’āfur Rāghibīn,karya Ash-Shabban (catatan pinggir) Nurul Abshār, hal. 104, 105, dan 106, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 97 dan 98, cetakan Al-‘Utsmaniyah; hal. 105, cetakan Mushthafa Muhammad, Mesir.

36. Ihqāqul Haqq,karya At-Tustari juz 2, hal. 547-502.

37. Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 223 dan 224.

38. Al-Istī’āb,karya Ibnu Abdul Bar (catatan pinggir) Al-Ishābah, juz 3, hal. 37, cetakan As-Sa’adah; juz 3, hal. 317, cetakan Mushthafa Muhammad.

39. Yanābī’ul Mawaddah,karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 107, 108, 228, 229, 230, 244, 260, dan 294, cetakan Istambul; hal. 124, 125, 126, 135, 196, 229, 269, 271, 272, 352, dan 353, cetakan Al-Haidariyah.

Asbabun Nuzul Surah Asy-Syūrā : 23 (Perintah Mencintai Ahlul Bayt as)



Perintah Mencintai Ahlul Bayt as

“Katakanlah wahai Muhammad: “Aku tidak meminta upah kepada kalian dalam dakwah ini melainkan kecintaan terhadap keluargaku”.

Ayat ini turun untuk keluarga Rasulullah SAWW, yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husein as Silahkan rujuk:

1.Syawāhidut Tanzīl,karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 2, hal. 130, hadis ke 822, 823, 824, 825, 826, 827, 828, 832, 833, 834, dan 838.

2.Manāqib Ali bin Abi Thalib,karya Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i, hal. 307, hadis ke 352.

3.Dzakhā`irul ‘Uqbā, karya Ath-Thabari Asy-Syafi’i, hal. 25 dan 138.

4.Ash-Shawā’iqul Muhriqah,karya Ibnu Hajar Asy-syafi’i, hal. 101, 135, 136, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir; hal. 168, dan 225, cetakan Al-Muhammadiyah, Mesir.

5.Kifāyatut Thālib,karya Al-Ganji Asy-Syafi’i, hal. 91,93, dan 313, cetakan Al-Haidariyah; hal. 31, 32, 175, 178, cetakan Al-Ghira.

6.Al-Fushūlul Muhimmahkarya Ibnu Shabbagh Al-Maliki, hal. 11.

7.Maqtalul Husein as,karya Al-Kharazmi Al-Hanafi, juz 1, hal. 1 dan 57.

8.Tafsir Ath-Thabari, juz 25, hal. 25, cetakan ke 2, Mushthafa Al-Halabi, Mesir; juz 25, hal. 14 dan 15, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.

9.Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, juz 3, hal. 172.

10. Al-Ittirāf,karya Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, hal. 5 dan 13.

11. Ihyā`ul Mayyit,karya As-Suyuthi Asy-Syafi’i (catatan pinggir) Al-Ittihāf, hal. 110.

12. Nūrul Abhsār,karya Asy-Syablanji, hal. 102, cetakan As-Sa’idiyah; hal. 106, cetakan Al-’Utsmaniyah.

13. Tafsir Al-Kasysyāf,karya Zamakhsyari, juz 3, hal. 402, cetakan Mushthafa Muhammad; juz 4, hal. 220, cetakan Beirut.

14. At-Tafsīrul Kabīr, karya Imam Fakhrur Razi, juz 27, hal. 166, cetakan Abdurrahman Muhammad, Mesir; juz 7, hal. 405-406.

15. Tafsir Al-Baidhāwi, juz 4, hal 123, cetakan Mushthafa Muhammad, Mesir; juz 5, hal. 53, cetakan Darul Kutub, hal. 642, cetakan Al-‘Utsmaniyah.

16. Tafsir Ibnu Katsir, juz 4, hal. 112.

17. Majma’uz Zawā`id, juz 7, hal. 103; dan juz 9, hal. 168.

18. Fathul Bayān fī Maqāshidil Qurān, karya Shiddiq Hasan Khan, juz 8, hal. 372.

19. Tafsir Al-Qurthubi juz 16 hal. 22.

20. Fathul Qadīrkarya Asy-Syaukani juz 4 hal. 537, cetakan ke 2; juz 2 hal. 22, cetakan pertama, Mesir.

21. Ad-Durrul Mantsūrkarya As-Suyuthi, juz 6, hal. 7.

22. Yanābī’ul Mawaddah,karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 106, 194, 261, cetakan Islambul; hal. 123, 229, 311, cetakan Al-Haidariyah.

23. Tafsir An-Nasafi, juz 4, hal. 105.

24. Hilyatul Awliyā`, juz 3, hal. 201.

25. Al-Ghadīr,Al-Amini, juz 2, hal. 306-311.

26. Ihqāqul Haqq,karya At-Tustari, juz 3, hal. 2-22; juz 9, hal. 92-101, cetakan Pertama, Tehran.

27. Fadhā`ilul Khamsah, juz 1, hal. 259.

28. Farā`idus Simthain, juz 1, hal. 20; juz 2, hal. 13, hadis ke 359.

29. Abaqātul Anwārbagian hadis Ats-Tsaqalain, juz 1, hal. 285

.

Pesan Terakhir Rasulullah saww di Ghadir Khum



Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala Puji bagi Allah yang tinggi dalam keesaan¬-Nya, dekat dalam ketunggalan-Nya, perkasa dalam kekuatan-Nya, agung dalam keberadaan pembantu¬-pembantu utama-Nya, Maha Tahu akan segala sesuatu, sementara Dia tetap ditempat-Nya; rnenundukkan seluruh makhluk dengan kekuasaan¬Nya dan (kekuatan) bukti-bukti-Nya.

Dialah Tuhan yang kesucian-Nya abadi dan pujian bagi-Nya tak pernah terhenti. Pencipta langit-langit yang menjulang dan lapisan bumi yang membentang. Penguasa bumi dan langit, Maha Kudus dan Maha Suci. Tuhan para Malaikat dan al-Ruh yang kepada seluruh ciptaan-Nya bersifat sangat pemurah, dan kepada seluruh makhluk-Nya bersifat Maha Derma.
Dia melihat setiap pandangan, tanpa pandangan¬-pandangan itu rnelihat-Nya, Dialah Maha Pemurah, Maha Tabah dan Maha Kasih.

(Dialah) Penabur rahmat yang meliputi segala sesuatu, Pelimpah nikmat yang memberkati seluruh rnakhluk, tidak mempercepat siksa-Nya dan tidak segera menimpakan azab kcpada mereka yang berhak rnendapatkannya. Dia tahu setiap rahasia yang tersembunyi dan segala apa yang tersimpan dalarn hati. Tiada rahasia yang luput dari-Nya. dan tiada misteri yang rnengelirukan-Nya.

Dia Maha Tahu akan segala sesuatu, menundukkan segala sesuatu, perkasa atas segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu yang rnenyerupai-Nya.

Dialah yang menciptakan sesuatu ketika belum ada yang disebut sesuatu. Dialab yang Maha Abadi, yang berkuasa atas dasar keadilan. Tiada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana, Maha Suci Tuhan dan dilihat oleh pandangan mata, dan Dialah yang meliputi pandangan mata. Dia yang Maha Kasih dan Maha Mengetahui.

Tiada siapa yang menceritakan Sifat-Nya lantaran (pernah) melihat-Nya, tiada siapa yang mengetahui bagaimana Dia secara lahir dan batin, melainkan apa yang dikatakan oleh Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung itu sendri.

Aku bersaksi bahwa Dia Allah yang kudus-Nya memenuhi masa, cahaya-Nya meliputi alpha dan omega, perintah-Nya terlaksana tanpa musyawarah, takdir-Nya ditentukan tanpa bersama-Nya mitra.

Tiada cela dalam pengaturan-Nya, tiada contoh dan ciptaan yang dibentuk-Nya, tiada bantuan dari setiap apapun, tiada kerja keras dan tiada tipuan atas apa yang diciptakan-Nya, Dia ciptakan makhluk-Nya dan jadilah ia, dan karena cahaya wujud-Nya maka tampaklah semua.

Dialah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Rapi dan Maha lndah dalam mencipta, maha Adil yang tidak menganiaya, dan Maha Pemurah yang kepada-Nya kembali seluruh hajat dan perkara.

Aku bersaksi bahwa Dialah Tuhan yang kepada kekuasaan-Nya segala sesuatu tunduk, dan kepada keagungan-Nya segala sesuatu membungkuk. Dialah Empunya seluruh kekayaan, Raja dari seluruh kerajaan, Pencipta planet-planet senta bintang gemintang di langit, pengendali matahari dan bulan, di mana kesemuanya mengorbit untuk batas waktu yang telah ditentukan. Dialah yang menggilirkan malam setelah siang, dan siang setelah malam saling berganti. Dialah penghancur para tiran yang membangkang dan pemusnah setan-setan yang terkutuk yang menentang.

Tiada bersama-Nya lawan dan kawan, Dia Maha Esa, Tunggal. Satu dan tempat bertumpu segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Dialah Tuhan yang Satu, Pemelihara yang Agung dan Pemurah. (Bila) berkehendak ia akan terlaksana, (bila) berkeinginan ia akan terwujud. Dia mengetahui segala sesuatu dengan rinci. Dia yang mematikan dan menghidupkan, membuat orang menjadi fakir dan kaya, tertawa dan menangis, menyimpan dan memberi.

Di tangan-Nyalah kerajaan; bagi-Nya segala pujian, di tangan-Nya semua kebaikan dan Dia-lah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Malam dimasukkan-Nya ke dalarn siang, dan siang ke malarn. Tiada Tuhan melainkan Dia. Maha Perkasa dan Maha Pengampun, Pengijabah do’a, Pemberi yang tulus, Maha Tahu secara rinci segala hembusan nafas, Tuhan seluruh makhluk, baik dan golongan jin maupun golongan nas (manusia). Tiada perkara sulit di hadapan-Nya; tiada gemuruh suara orang-orang yang berteriak mengganggu-Nya atau desakan orang-orang yang mendesak rnencemaskan¬Nya. Dialah Pemelihara orang-orang yang saleh, Penyebab berjayanya orang-orang yang sukses, Pelindung penghuni alam semesta, dan Yang paling berhak untuk disyukuri dan dipuji oleh setiap makhluk ciptaan-Nya. Aku memuji-Nya pada saat suka dan duka, juga pada saat sempit dan lapang. Aku beriman kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya, Kitab-kitab¬Nya dan Rasul-rasul-Nya. Aku mendengar perintah¬Nya, patuh dan segera bangkit melaksanakan segala yang diridhai-Nya, menerima total ketentuan-Nya, semangat dalam mematuhi-Nya dan takut akan siksa¬Nya. Sebab Dialah Tuhan yang tiada seorangpun akan merasa aman dari makar-Nya atau khawatir dan kezaliman-Nya. Aku ikrarkan pada diriku akan kehambaanku dihadapan-Nya, dan juga bersaksi akan ketuhanan-Nya (untuk diriku). Kini akan aku sampaikan (kepada kalian) apa yang Tuhan wahyukan kepadaku, sebab bila tidak kulakukan itu, niscaya azab-Nya akan mengenaiku, sedemikian sehingga tiada siapapun yang akan dapat menolak¬Nya dariku, (sebesar apapun kekuatannya). Tiada Tuhan melainkan Dia. Dia telah memberitahuku, apabila tidak kusampaikan apa yang diturunkan-Nya kepadaku, itu berarti sama dengan aku tidak menyarnpaikan seluruh risalah (pesan)-Nya; dan Dia juga telah menjamin untuk memeliharaku (dan upaya orang-orang yang menentang). Bagiku cukuplah Allah Yang Maha Pemurah sebagal penjamin.

Firman-Nya untukku:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
“Wahai Rasul (Muhammad), sainpaikan apa yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan itu, berarti sama dengan engkau tidak menyampaikan s eluruh risalah (pesan) -Nya, dan Allah (akan) memeliharamu dari (gangguan) manusia-manusia lain.” (Q.S. 5:67)

Wahai umat manusia! aku tidak pernah salah, alpa atau lalai dalam menyampaikan segala sesuatu yang diturunkan Allah kepadaku. Kini aku jelaskan kepada anda semua sebab turunnya ayat ini: Malaikat Jibril (as) turun menjumpaiku sebanyak tiga kali, memerintah aku–berdasarkan perintah Tuhanku— untuk berdiri di tempat keramaian ini dan menyatakan kepada (bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib (as) adalah saudaraku, Washi-ku (penerima wasiatku) penggantiku dan imam setelahku, yang kedudukannya di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada nabi selepasku. Dia adalah wali (pemimpin) kamu setelah Allah dan Rasul-Nya. Allah (SWT) juga telah menurunkan kepadaku sebuah ayat dalam kitab-Nya berkenaan dengan itu:

“Sungguh wali (pemimpin) kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat sementara mereka dalam keadaan ruku” (Q.S. 5:55)

Ali bin Abi Thalib (as) adalah orang yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakatnya dalain keadaan ruku’ seperti yang dirnaksud oleh Allah (SWT) itu.

(Pada rnulanya) Aku mernohon kepada Malaikat Jibnil agar dia mernintakan kepada Allah untuk membehaskan aku dan menyampaikan penintah mi kepada kamu, kanena aku tahu betapa sedikitnya orang-orang yang bertakwa, dan hetapa banyaknya orang yang niunafik, penebar fitnah dan mengolok¬olok agama Islam sebagaimana yang disifatkan oleh Allah karakten-kanakter mereka dalarn Al-Qur’an, “… kamu katakan dengan multi/mu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga. clan kamu menganggapnya sesua/u yang ningan, padaha/ di sisi A//a/i ia ada/a/i besan. “ (24:15)

Masih segar dalam ingatanku bagaimana mereka menyebutku sebagal udzun (orang yang tidak teliti dan cepat percaya pada setiap berita yang didengarnya). Mereka mendugaku demikian lantaran seringnya mereka mendapati dia (Ali) duduk bersamaku dan besarnya penghormatanku kepadanya sehingga untuk itu Allah ‘Azza wa jalla menurunkan firman-Nya:
Di antara mereka (orang-orang munafìk) ada yang menyakiti nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Kalakanlah: “Ia mempercayai semua yang balk bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin.” (Q.S. 9:61)

Seandainya aku mau sebutkan nama-nama mereka niscaya akan kusebutkan, atau seandainya aku mau tunjuk wajah-wajah mereka niscaya akan kutunjukkan. Namun —demi Allah— aku telah dan terus akan bersikap sangat bersahabat dan dewasa terhadap mereka. Bagaimanapun, Allah tetap mendesakkan dan tidak akan rela padaku melainkan aku sampaikan apa yang diturunkan-Nya padaku tentang maksud ayat: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, apabila kamu tidak mengerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalahmu. Allah akan memelihara kamu dan gangguan manusia” (Q.S. 5:67)

Ketahuilah —wahai umat manusia— sesungguhnya Allah telah menetapkannya (Ali) sebagai wali, pemimpin dan imam bagi kalian. Mematuhinya adalah wajib, baik bagi kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang baik yang datang setelahnya, orang-orang desa, kota, Ajam (Non Arab), Arab, orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar. putih, hitam, dan bagi setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah (SWT). Keputusan hukum yang diambilnya (All) adalalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan perintahnya wajib dipatuhi. Orang yang menentangnya akan terkutuk, yang rnengikutinya akan mernperoleh rahmat, dan yang mernpercayainya adalah orang beriman. Allah telah mengampuni orang yang mendengarnya dan yang mematuhinya.

Wahai umat manusia ini adalah kali terakhir aku berdiri di tempat keramaian ini.
Dengarlah, patuhilah dan ikutilah perintah Tuhan kamu, karena Allah ‘Azza wa Jalla adalah Tuan, Pelindung, dan Tuhan kamu. Berikutnya adalah Muhammad (saw), yang sekarang tengah berdiri dan berbicara dihadapan kamu sebagai wali dan pemimpin kamu. Setelah aku, Ali adalah Wali dan imam kamu berdasarkan perintah Tuhanmu. Kemudian imamah dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada zuriat keturunanku dari putra-putranya sehinggalah tiba suatu hari di mana kamu akan berjumpa dengan Allah dan Rasul-Nya.

Sungguh tiada suatu yang halal melainkan apa yang dihalalkan oleh Allah, dan tiada yang haram melainkan apa yang diharamkan oleh-Nya. Dialah yang telah mengajariku mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian aku mengajarkannya kepada Ali apa yang diajarkan oleh Tuhanku padaku dari kitab-Nya dan hukum halal dan haram-Nya.

Wahai umat manusia! seluruh ilmu yang diajarkan-Nya kepadaku adalah ilmu-ilmu yang rinci.

Dan dari setiap ilmu yang kuketahui itu, telah kuajarkan pula secara rinci pada imam orang-orang yang bertakwa ini. Sungguh tiada ilmu melainkan telah aku sampaikan kepada Ali, sang Imam yang agung.

Wahai umat manusia! Jangan kalian tersesat karena meninggalkannya; jangan kalian berpaling darinya; dan jangan kalian takabur dan enggan untuk menerima kepemimpinannya. Karena dia akan mem bawa kepada kebenaran dan mengamalkannya, serta menghancurkan kebatilan dan mencegahnya, tanpa dia peduli pada celaan para pencela dalam menjalankan perintah Tuhannya. Dialah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; dialah orang yang mengorbankan jiwanya demi Rasul-Nya; dialah satu-satunya dari kaum lelaki yang pertama kali menyembah Allah bersama Rasul utusan-Nya.

Wahai umat manusia! Utamakanlah dia. Karena Allah telah mengutamakannya.

Terimalah dia, karena Allah yang telah mengangkatnya.

Wahai umat manusia! Dialah Imam yang ditunjuk oleh Allah. Allah tidak akan mengampuni orang¬-orang yang ingkar terhadap wilayah dan kepemimpinannya dan tidak akan pernah memaafkannya sekali-kali. Sungguh, Allah telah memastikan diri-Nya untuk melakukan itu bagi mereka yang menentang perintah-Nya dalam perkara ini, dan akan menimpakan kepadanya azab yang
pedih, maha dahsyat dan selama-lamanya. Awas! jangan kalian mengingkarinya karena itu akan menghantar kalian ke dalam api neraka, yang bara apinya terdiri dan manusia dan batu-batuan yang telah disiapkan bagi orang-orang kafir.

Wahai umat manusia! Demi Allah, para nabi dan rasul terdahulu telah memberitakan kepada kaumnya akan kedatanganku. Aku adalah akhir dan penutup seluruh nabi dan rasul. Aku adalah bukti Allah (hujjah) bagi segenap makhluk-Nya. di langit dan di bumi.

Barangsiapa ragu-ragu tentang itu, maka dia adalah orang kafir sekafirnya orang jahiliyah terdahulu. Barangsiapa meragukan sebagian ucapanku, itu berarti meragukan keseluruhannya. Orang yang ragu-ragu seperti itu baginya adalah api neraka.
Wahai umat manusia! Anugerah Allah kepadaku akan keutamaan-keutamaan ini adalah karena kasih sayang-Nya dan ihsan-Nya yang agung kepadaku. Tiada tuhan melainkan Dia. BagiNya pujian dariku pada setiap keadaan sepanjang masa dan selama¬-lamanya.

Wahai umat manusia! Utamakanlah Ali, sebab dia adalah manusia yang paling utama setelahku, baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan. Karena kamilah kemudian Allah menurunkan rezeki-Nya (kepada kalian) dan (karena kami jugalah maka) seluruh makhluk memperoleh kehidupan. Terkutuk dan sungguh terkutuk; dimurkai dan sungguh dimurkailah mereka yang menolak ucapanku ini dan merasa tidak berkenan di dalam hatinya. Ketahuilah bahwa Jibril telah memberitahuku tentang itu berdasarkan firman Allah (SWT) kepadanya:

“Barangsiapa memusuhi .4li dan tidak mewila’nya (menjadikannya sebagai wali) niscaya dia akan memperoleh laknat-Ku dan murka-Ku “. Karena itu hendaklah setiap jiwa melihat apa yang akan disiapkannya untuk hari esok. Takutlah kamu kepada Allah, dan hindarilah dari menentang-Nya. karena akibatnya kalian akan tergelincir, padahal sebelumnya kalian berada pada jalan yang lurus. Sungguh Allah Maha Tahu atas apa yang kamu kerjakan.
Wahai umat manusia! Sungguh Alilah yang dimaksudkan sebagai hak Allah (yang harus dipenuhi haknya) seperti yang disebutkan dalarn kitab suci¬Nya. Allah berfirman: (kelak di hari kiamat) setiap jiwa berkata : “amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan hak-hak Allah…”
(Q.S. 39:56)

Wahai umat manusia! Tadabburlah (renungkanlah) kitab suci AlQuran, pahamilah ayat-ayatnya. perhatikanlah ayat-ayat muhkamatnya dan jangan kalian ikuti (secara lahiriah) makna ayat-ayat Mutasyabihat-nya. Demi Allah, tidak ada yang bisa menjelaskan batas-batasnya atau menerangkan tafsirnya kepada kalian melainkan orang yang kupegang tangannya ini; yang kunaikkan dia ke sisiku ini dan yang kuangkat lengannya ini. Kini aku umumkan kepada kalian, barangsiapa menjadikan aku sebagai maula atau pemimpin, maka inilah Ali sehagai maula dan pemimpinnya. Dia—Ali bin .Abii Thalib— adalah saudaraku dan washiku. Perintah untuk mengangkatnya sebagai maula inl turun dari Allah ‘azza wa jalla kepadaku.

Wahai umat manusia! Sungguh Ali dan putra-putraku yang suci adalah peninggalan beratku yang besar. Masing-masing mereka akan memberitakan satu sama lain dan saling membenarkan. Keduanya (AlQuran dan keluarga Nabi) tidak akan pernah berpisah sehingga mereka menjumpaiku di telaga (syurga) kelak. Mereka (para Imam, penerj.) ini adalah orang-orang kepercayaan Allah yang ada di antara makhlukNya dan para pemimpin bijaksana yang ada di bumiNya. Sungguh telah kutunaikan (perintah ini). Sungguh telah kusampaikan; sungguh telah kuperdengarkan; sungguh telah kujelaskan.

Ketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla telah memfirmankannya dan aku telah mengucapkannya dari sisiNya. Ketahuilah, sungguh tidak ada orang yang disebut sebagai Amir alMukminin (Pemimpin orang-orang yang beriman) melainkan saudaraku ini. Siapapun tidak diperkenankan untuk menyandang gelar dan status ini melainkan dia semata-mata.

(Kemudian Nabi saw mengambil lengan Ali yang sejak tadi berdiri bersama Nabi di atas mimbar dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sebegitu dekatnya sehingga kakinya sejajar persis dengan lutul Rasulullah saw. Nabi kemudian berkata:)
Wahai umat manusia! Ini adalah Ali, saudaraku dan washiku, pemelihara ilmuku, khilafahku bagi umatku dan wakilku dalam menafsirkan kitab Allah ‘azza wa jalla.

Dialah penyeru kepada Allah, melaksanakan segala apa yang diridhoiNya, memerangi musuh-musuhNya, penganjur pada ketaatan, pencegah maksiat, khalifah Nabi utusan Allah, Amir alMukminin, Imam yang memberi petunjuk, yang memerangi—berdasarkan perintah Allah—kelompok Nakitsin, Qosithin dan Mariqin.

Kini kusampaikan pada kalian—berdasarkan perintah Tuhanku, sesuatu yang tidak dapat kuubah. Aku nyatakan, “Allahumma, ya Allah berilah dukungan dan wila’Mu kepada orang yang mewila’ Ali, musuhilah orang yang memusuhinya, kutuklah orang yang mengingkarinya dan murkailah orang yang mengabaikan haknya. Ya Allah, Engkaulah yang telah menurunkan firmanMu kepadaku bahwa imamah setelahku adalah milik Ali kekasihMu, di saat kujelaskan perkara itu(kepada mereka) dan kuangkat dia (sebagai pemimpin) yang dengannya Engkau sempurnakan untuk hamba-hambaMu agama mereka dan Engkau sempurnakan untuk mereka nikmatMu, dan Engkau ridhoi bagi mereka Islam sebagai agamanya. Engkau telah berfirman : “Barangsiapa menjadikan selain Islam sebagai agamanya, niscaya ia tidak akan diterima dan kelak di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. 3:89). Ya Allah, kumohon kesaksianMu dan cukup bagiku Engkau sebagai saksi—bahwa aku telah sampaikan (perintahMu ini).

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama kalian ini dengan imamah Ali. Barangsiapa tidak mengikutinya atau tidak mengikuti pengganti-penggantinya—putra-putraku yang datang dari slbinya yang tetap ada sampai hari kiamat dan hari perjumpaan dengan Allah swt, niscaya amal-amal baik mereka akan gugur dan mereka akan kekal dalam api neraka, tanpa keringanan dan tanpa harapan (untuk bebas darinya).

Wahai umat manusia! Inilah Ali, seorang yang paling banyak membelaku di antara kalian, yang paling berhak atasku, yang paling dekat denganku dan yang paling mulia di sisiku. Allah swt dan aku ridho padanya. Tiada ayat tentang ridho Allah yang turun melainkan ia berkaitan dengan Ali, tiada ayat di mana Allah berbicara dengan orang-orang beriman melainkan Dia memulainya dengan Ali; tiada ayat pujian dalam AlQuran yang turun melainkan berkaitan dengan Ali; tiada kesaksian akan surga (seperti) dalam ayat “hal ata’alal insani” melainkan Alilah yang dimaksudkannya; ayat tersebut tidak turun untuk selain Ali.
Wahai umat manusia! Ali adalah pembela agama Allah dan pelindung Rasul utusan Allah. Dialah orang bertakwa, suci, petunjuk jalan Allah dan memperoleh petunjuk dariNya. (Aku) Nabi kalian adalah sebaik-baik nabi, dan (Ali) washi kalian adalah sebaik-baik washi, sementara putra-putranya juga adalah sebaik-baik washi.

Wahai umat manusia! Sungguh zuriat setiap nabi berasal dari tulang sulbinya, tetapi zuriat keturunanku adalah berasal dari sulbi Ali.

Wahai umat manusia! Sungguh karena dengkilah maka Iblis mengeluarkan Adam dari surga. Oleh karena itu hindarilah dari mendengki Ali, karena ia akan menyebabkan amal-amal kalian gugur dan kaki-kaki kalian tergelincir. Ingat bahwa Nabi Adam telah diturunkan (oleh Allah) ke bumi ini hanya lantaran satu kesalahan, padahal ia adalah manusia pilihanNya. Apalagi kalian, manusia biasa, di mana di antara kalian ada juga musuh-musuh Allah. (Wahai umat manusia!) Hanya orang-orang yang durhaka sajalah yang membenci Ali, sementara orang-orang yang takwa akan mendukungnya dan menjadikannya sebagai wali dan orang-orang yang beriman yang tulus akan beriman kepadanya.

Demi Allah! Berkenaan dengan Alilah surat al¬‘Asr berikut turun “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam keaduan rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…”

Wahai umat manusia! Biarlah Allah sebagai saksiku bahwa aku telah sampaikan tugas risalahini. Sungguh tugas Rasul hanya menyampaikan firman Tuhan semata-mata.

Wahai umat manusia! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan (sampai) kamu mati melainkan kamu benar-benar sebagai orang muslim.

Wahai umat manusia! Berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya dan cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan bersamanya, sebelum kami mengubah mukamu lalu kami putarkan ke belakang (yakni mati).

Wahai umat manusia! Telah mengalir dalam jiwaku ini cahaya dari sisi Allah. Kemudian (ia mengalir juga) ke dalam (tanah) Ali, dan berikutnya ke dalam zuriat keturunannya sehinggalah ke (lmam) al-Qoim al-Mahdi, yang akan mengembalikan hak Allah dan seluruh hak-hak kami ke tempatnya sernula. Sebab Allah ‘azza wa jalla telah menjadikan kamu sebagai hujjah dan bukti-Nya terhadap orang-orang yang ingkar, penentang, pembangkang, pengkhianat, pendosa dan penzalim dari seluruh makhluk jagad raya ini.

Wahai umat manusia! Kuingatkan kalian bahwa aku ini adalah Rasul utusan Allah. Sebelumku telah ada rasul-rasul yang lain. Apakah kalian akan berpaling dariku (dan tidak bersabar) setelah aku mati atau terbunuh? Sungguh barangsiapa berpaling, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikitpun; dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur. Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan mereka yang menyandang sifat sabar dan syukur di atas adalah Ali dan putra-putranya yang datang dari sulbinya.

Wahai umat manusia! Janganlah kalian rnengungkit-ungkit dan membusungkan dada di hadapan Allah akan keislaman kalian, sebab itu akan mendatangkan murka Allah dan azab-Nya. Sungguh Dia benar-benar mengawasi kamu.
Wahai umat manusia! Akan datang setelahku para pemimpin yang menyeru kepada api neraka, dan mereka tidak akan memperoleh pembelaan kelak pada hari kiamat.

Wahai urnat manusia! Sungguh Allah (SWT) dan aku tidak bertanggung jawab atas nasib mereka dan tidak akan sekali-kali melindungi mereka.

Wahai umat manusia! Sungguh mereka dan pembela-pembelanya serta para pengikutnya akan berada di tingkat terendah dari api neraka, sebuah tempat yang paling hina bagi orang-orang yang takabur (akan kebenaran). Sungguh rnerekalah Ashabus Shahifah. Dengan demikian, hendaklah kalian melihat buku amalnya masing-masing meskipun yang benar-benar peduli terhadapnya hanya segelintir orang saja.

Wahai umat manusia! Sungguh, aku serahkan masalah imamah (umat ini) dan pewarisan (nya) dalam zuriat keturunanku sampai hari kiamat. Sungguh telah kusampaikan kepada kalian kewajiban yang diperintahkan kepadaku ini, menjadi hujjah atau bukti Tuhan bagi setiap orang, baik yang hadir ataupun yang gaib (tidak hadir), yang menyaksikan perhelatan ini ataupun yang tidak menyaksikannya, yang sudah lahir atau yang belum lahir. Hendaklah mereka yang hadir menyampaikan pesanku ini kepada yang tidak hadir, si ayah menyampaikannya kepada anaknya, demikian seterusnya sampai hari kiamat, meskipun—tidak lama berselang——sejumlah orang akan merampasnya dan menjadikannya sebagai dinasti kerajaan. Ketahuilah bahwa laknat Allah pasti ditimpakan kepada perampas itu. Di saat itu “Karni akari perhatikan sepenuhnya terhadap kamu wahai makhluk manusia dan jin…, di mana (akan) dilepaskan nyala api dun cairan tembaga (kepadu kalian) sedemikian sehingga kamu tidak dapal ,menyelamatkan diri darinya (Q.S. 55:31,35)

Wahai umat manusia! Sungguh Allah ‘ala wa jalla tidak akan membiarkan kamu berada dalam keadaan seperti ini sampai dia akan membedakan (untuk kamu) mana yang buruk (munafik) dan yang baik (mukmin) dan Allah sekali-kali tidak memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.

Wahai umat manusia! Tiada desa yang selamat dan murka Allah dan penduduknya dibinasakan kecuali karena pendustaan mereka terhadap kebenaran. Demikianlah Tuhan yang membinasakan penduduk sebuah tempat lantaran perlakuan mereka yang zalim, seperti yang disebut-sebut oleh Allah (SWT). lnilah Ali, imam kalian dan wali kalian.

Dialah orang di mana seluruh janji atau ancaman Allah turun karenanya; dan Allah pasti menepati seluruh janjiNya.
Wahai umat manusia! Telah banyak orang-orang terdahulu sebelum kamu jatuh sesat. Allahlah yang membinasakan orang-orang terdahulu itu sebagaimana Dia jugalah yang akan membinasakan orang-orang yang akan datang kemudian. Allah berfirman : “Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang terdahulu, lalu Kami sertakan (juga) mereka yang datang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa, dan celakalah pada hari itu bagi orang-orang pendusta.” (Q.S. 77:16-19).

Wahai umat manusia! Allah telah menurunkan perintahNya dan laranganNya untukku; dan aku (kemudian) menyampaikan perintah dan larangan itu kepada Ali. Dengan demikian dia mengetahui perintah dan larangan (Allah) dari Tuhannya yang Maha Suci dan Maha Perkasa. Oleh karena itu hendaklah kalian mendengar perintahnya niscaya kalian akan selamat; patuhilah dia niscaya kalian akan memperoleh petunjuk; ikutilah apa yang dilarangnya, niscaya kalian akan memperoleh bimbingan; bersikaplah seperti yang diinginkannya, dan jangan kalian berpisah dari jalannya lantaran banyaknya jalan lain.
Wahai umat manusia! Aku adalah Shiratal Mustaqim (jalan lurus) yang kalian diperintahkan untuk mengikutinya. Setelahku adalah Ali, kemudian dilanjutkan oleh putra-putraku yang datang dari sulbinya. Mereka adalah para imam yang membimbing kepada kebenaran dan dengan kebenaran itulah mereka menjalankan keadilan.

(Kemudian Nabi membaca surat AlFatihah sampai akhir, dan melanjutkan khotbahnya berikut).

Ayat-ayat ini diturunkan oleh Allah berkenaan denganku dan mereka (Ali dan putra-putranya). Ia meliputi seluruh mereka dan khusus untuk mereka. Merekalah kekasih-kekasih Allah yang tidak pernah merasa takut dan sedih. Sungguh mereka yang berada dalam partai Allahlah yang menang. Dan sungguh, musuh-musuh Alilah sebagai kelompok pendurhaka, munafik, licik, pelampau batas, dan saudara-saudara setan yang saling membisikkan perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Sungguh, para kekasih dan pendukung Ali dan putra-putranya adalah mereka yang disebutkan oleh Allah dalam kitabNya berikut : “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling kasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya…” (Q.S. 58:22). Sungguh, mereka juga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah swt : “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. 6:82). Sungguh, mereka juaga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah berikut : Yang masuk ke dalam surga dengan penuh keamanan, dan disambut oleh para malaikat dengan salam sambil berkata, kalian adalah orang-orang suci, maka masuklah ke dalam surga untuk selama-lamanya.
Sungguh, para kekasih dan pendukung mereka adalah orang-orang yang difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla berikut, mereka masuk ke dalam surga tanpa hisab…

Dan sungguh, musuh-musuh mereka akan masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang mendengar suara neraka yang mengerikan; (suara) api yang menggelegak dan yang dikelilingi oleh algojo-algojonya. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah sebagai umat yang saling mengutuk saudaranya ketika masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang seperti difirmankan oleh Allah berikut : “Setiap kali dilemparkan ke dalam api neraka satu kumpulan, maka penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka, apakah belum pernah datang kepada kamu seorang pemberi peringatan. Mereka menjawab : “benar ada”, telah datang kepada kami seorang yang memberikan peringatan, namun kami telah mendustakannya dan kami katakan : “Allah tidak menurunkan suatu apapun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” (Q.S. 67:8,9).

Sungguh para kekasih mereka adalah orang-orang yang takut akan Tuhannya secara ghaib; bagi mereka ampunan dan ganjaran yang besar.

Wahai umat manusia! Sungguh jauh perbedaan antara neraka dan surga. Musuh kami adalah orang-orang yang dicela dan dikutuk oleh Allah; dan kekasih kami adalah orang-orang yang dipuji dan dicintai oleh Allah.

Wahai umat manusia! Sungguh, aku adalah (Nabi) yang memberi peringatan, sementara Ali adalah pembimbing.

Wahai umat manusia! Sungguh aku adalah Nabi dan Ali adalah washi (penerima wasiat)ku. Sungguh, penutup para imam adalah dari kami, (bergelar) alQoim alMahdi, yang akan menegakkan keadilan dan memperoleh petunjuk Allah swt.

Sungguh, dia adalah pembela agama. Sungguh, dialah yang akan membalas kezaliman orang-orag yang zalim. Sungguh dialah yang akan membebaskan benteng-benteng yang kuat dan akan menghancurkannya. Sungguh, dialahpenghancur kelompok-kelompok kemusyrikan. Sungguh dialah yang akan membalas darah-darah kekasih Allah yang tumpah. Sungguh, dialah pembela agama Allah. Sungguh dialah penegak air lautan (makrifat dan hakikat) yang dalam.

Sungguh, dialah yang menunjukkan keutamaan orang-orang yang mempunyai keutamaan dan kebodohan orang-orang yang bodoh. Sungguh dialah manusia pilihan Allah dan kekasihNya. Sungguh, dialah pewaris semua ilmu dan menguasai segala ilmu.
Sungguh, dia adalah pembawa berita dari Tuhan ‘azza wa jalla, dan yang memberi tahu tentang perkara iman. Sungguh, dia adalah manusia yang senantiasa memperoleh petunjuk (Allah) dan selalu dijayakanNya.

Sungguh, dialah manusia yang diserahkan oleh Allah urusan makhluk ciptaanNya. Sungguh dia adalah manusia yang kedatangannya telah diberitakan oleh para imam sebelumnya. Sungguh, dia adalah hujjah Allah terakhir yang masih hidup, di mana tiada hujjah lain setelahnya; tiada kebenaran melainkan bersamanya dan tiada cahaya melainkan ada di sisinya.

Sungguh, dia adalah wali Allah yang ada di bumiNya, penguasa yang haq dan benar di sekitar makhluk ciptaanNya, dan manusia kepercayaanNya (pada martabat) zahir dan batinNya.

Wahai umat manusia! Aku telah jelaskan kepada kalian sejelas-jelasnya (tentang perkara ini), dan inilah Ali yang akan menjelaskan kepada kalian setelahku.

Usai khotbahku ini, aku menyeru kalian untuk pertama-tama mengulurkan tangannya kepadaku, kemudian kepada Ali sebagai tanda bai’at dan pernyataan setia.

Ketahuilah bahwa aku telah memberikan bai’atku kepada Allah, dan Ali telah memberikan bai’atnya kepadaku. Kini berdasarkan perintah dari Allah ‘azza wa jalla, aku mengajak kalian untuk membai’at. Barangsiapa mengingkari bai’atnya, berarti dia telah membinasakan dirinya sendiri.

Wahai umat manusia! Sungguh haji, shafa, marwah dan umroh adalah bagian dari syi’ar Allah. “Barangsiapa menunaikan ibadah haji atau umrah ke rumah Allah, maka hendaklah ia mengerjakan sai’ di antara keduanya.” (Q.S. 2:158).

Wahai umat manusia! Tunaikan ibadah haji ke rumah Allah. Tiada suatu keluarga yang datang ke rumah Allah ini melainkan ia akan dicukupkan olehNya; dan tiada suatu keluarga yang berpaling meninggalkannya melainkan ia akan mengalami kefakiran.
Wahai umat manusia! Tiada seorang yang mukmin yang wukuf atau berdiri di tempat-tempat mulia tersebut melainkan Allah akan ampunkan seluruh dosa-dosanya yang lalu maupun yang baru. Demikianlah sehingga apabila ibadah hajinya selesai maka (perhitungan) amalnya dimulai lagi dari awal.

Wahai umat manusia! Para jamaah haji memperoleh bantuan dari Allah, dan ongkos perjalanan mereka terhitung sebagai simpanan (untuk hari akhirat kelak). Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan ganjaranNya bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.
Wahai umat manusia! Tunaikanlah ibadah haji ke rumah Allah dengan pemahaman yang sempurna akan ajaran-ajaran agama ini. Jangan kalian meninggalkan tempat-tempat mulia itu melainkan setelah kalian benar-benar taubat dan menyesali dosa-dosa kalian.

Wahai umat manusia! Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat, seperti diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla atas kalian. Apabila dikarenakan lamanya waktu berlalu kemudian kalian menjadi jahil atau lupa, maka Alilah—sebagai pemimpin kalian yang telah ditunjuk oleh Allah setelahku, yang akan menjelaskan (seluruh hukum-hukum itu) kepada kalian. Dia adalah orang yang dijadikan oleh Allah sebagai penggantiku; menjawab pertanyaan-¬pertanyaan kalian dan menjelaskan kepada kalian segala apa yang kalian tidak ketahui.

Sungguh, perkara-perkara yang halal dan yang haram adalah lebih banyak dan yang dapat kuhitung satu per satu dan kuberitahukan (kepada kalian). Untuk itu secara singkat kukatakan bahwa apa yang kuperintahkan pasti adalah perkara yang halal, dan yang kularang pasti adalah sesuatu yang haram. Kemudian aku diperintahkan untuk niengambil bai’ai dan janji setia dari kalian agar menerima segala apa yang kubawa dari Allah ‘Azza wa Jalla berkenaan dengan Ali selaku Amirul Mukminin dan para Imam yang datang setelahriya. Mereka adalah putra-putraku dan putra-putra Ali; para imam yang menegakkan kebenaran sampai hari kiamat, yang di antaranya adalah al-Mahdi, yang akan memerintah (dunia ini) dengan kebenaran.

Wahai umat manusia! setiap perkara halal yang kuajarkan kepada kalian, atau perkara haram yang kucegah kalian darinya, adalah sesuatu yang tidak mungkin kuubah atau kucabut. Karena itu hendaknya kalian mengingatnya, memeliharanya dan saling mengajarkannya. Jangan sekali-kali kalian mengubahnya atau menggantinya.

Kini kuulangi lagi perkataanku: hendaklah kalian mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh yang ma’ruf (dan mencegah yang mungkar. Ketahuilah balwa pangkal amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah penerimaan kalian akan kata-kataku sebagai sesuatu yang final, di mana kalian yang hadir menyampaikannya kepada yang tidak hadir serta memerintahkan mereka untuk menerimanya dan mencegah mereka dari menentangnya. Sebab ini adalah perintah dan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung, dan dariku. (Ketahuilah) bahwa upaya melakukan yang ma’ruf dan rnencegah yang mungkar tidak akan berarti melainkan sepengetahuan atau bersama Imam yang maksum (terpelihara dari dosa).

Wahai umat manusia kitab suci Alqur’an telah menyatakan bahwa para imam setelah Ali adalah putra-putranya. Aku juga telah mengatakan kepada kalian bahwa Ali adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya, seperti yang difirmankan oleh Allah dalam kitab Nya: “(bahwa Ibrahim) telah menjadikan kalimat tauhid sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya.. “, (Q.S. 43:28). Aku juga berkata: “Selagi kalian berpegang teguh pada keduanya: (Alqur ‘an dan itrah keluanga Nabi), niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.

Wahai umat manusia Bentakwalah, sekali lagi bertakwalah kalian kepada Allah, lngatlah akan dahsyatnya hari kiamat, sepenti yang ditafsirkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Sungguh gempa hari kiamat adalah sesuatu yang maha dahsyat “lngatlah saat-saat mati, hisab, timbangan dan pengadilan Allah terhadap kalian;(demikian juga) pahala dan dosa. Barangsiapa melakukan amal kebajikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya, sementara mereka yang melakukan perbuatan buruk maka sedikitpun dia tidak akan memperoleh syurga.

Wahai umat nianusia! Jumlah kalian sedemikian banyaknya sehingga tidak mungkin kalian bisa mengulurkan tangan bai’atnya kepadaku satu persatu. Namun demikian, Allah ‘Azza wa jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dan lisan kalian tentang pengangkatan Ali sebagai Amirul Mukminin, dan para imam dari keturunanku dan keturunannya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kuberitahukan kepada kalian bahwa Zuriat keturunanku adalah berasal dan sulbinya (Ali).

Katakan secara serentak: “Karni telah mendengar, akan patuh, rela dan ikut secara penuh atas apa yang telah engkau sampaikan dari Tuhan kami dan Tuhanmu berkaitan dengan kepemimpinan Ali dan kepemimpinan putra-putranya yang datang dari sulbinya. Untuk itu kami membai’atmu dengan hati, jiwa, lisan dan tangan kami. Berdasarkan itu pula kami hidup, mati dan dibangkitkan tanpa kami mengubah, mengganti, ragu mencabut janji atau membatalkan ikrar dan pernyataan kami. Kami mematuhi Allah dan mematuhi engkau (nabi, serta mematuhi Ali sebagai Amirul Mukminin). Demikian juga putra-putranya, para imam yang kau katakan berasal dan zuriat keturunanmu, yang datang dari sulbi Ali, Hasan dan Husain.”

Tentang Hasan dan Husain ini, telah kukenalkan kepada kalian kedudukan mereka di sisiku, tempat mereka dihadapanku dan martabat mereka di haribaan Tuhanku yang Maha Mulia dan Maha Agung. Semua itu telah kusampaikan kepada kalian.
Sungguh, mereka berdua adalah penghulu pemuda-pemuda surga, imam-imam pasca ayahnya, Ali; dan aku adalah ayah mereka sebelum Ali menjadi ayahnya.

Katakan secara serentak:”Kami mematuhi perintah Allah, mematuhimu, Ali, Hasan dan Husain serta para irnarn setelahnya. Mereka adalah orang¬-orang yang kau ikat hati, jiwa dan lisan kami untuk berjanji setia, berikrar dan berbai’at lewat tangan Amirul Mukminin (Ali). Sebagian dari kami membai’atnya dengan tangannya dan sebagian yang lain dengan pernyataan lisannya. Sungguh kami tidak ingin berpaling darinya selama-lamanya. Kami jadikan Allah sebagai saksi dan cukuplah Allah sebagai saksi. Demikian juga engkau (Nabi), semua orang yang patuh pada Allah, yang hadir dan yang tidak hadir, para malaikat Allah, tentara-tentara-Nya dan hamba-hamba-Nya, semua adalah saksi-saksi kami. Namun Allah adalah lebih besar dari semua saksi.”

Wahai umat manusia! Apa yang kalian katakan? Sungguh Allah Maha Mendengar setiap suara dan Maha Tahu akan setiap jiwa yang tersembunyi. Barangsiapa memperoleh petunjuk, maka itu adalah keberuntungan bagi dirinya, dan barangsiapa yang tersesat, maka itu adalah kemalangan bagi dirinya. Mereka yang berbai ‘at, sebenarnya telah memberikan bai’atnya kepada Allah; dan tangan Allah berada di atas tangan mereka semua. (48:10)

Wahal umat manusia! Bertakwalah kalian kepada Allah. Berbai’atlah kalian kepada Ali Amirul Mukminin, kepada Hasan dan Husain serta para Imam (keturunannya). Mereka adalah kalimat Thayyibah yang masih sisa di atas muka bumi ini. Kelak Allah akan membinasakan orang-orang yang mengkhianati mereka, dan merahmati orang-orang yang setia kepada mereka. “Barangsiapa melanggar janji dan bai ‘atnya, niscaya itu akan menimpa dirinya sendiri.” (48:10)

Wahai umat manusia! Ucapkanlah apa yang telah kukatakan kepada kalian. Salamilah Ali selaku Arnirul Mukminin. Katakanlah: “(Tuhan kami)! Kami ielah dengar dan akan patuh (pada perintah-Mu). Ampunilah karni wahai Tuhan karni. Sungguh kepada-Mulah segala sesuatu akan kernbali. Katakanlah:” Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kalian ke jalan ini. Sungguh, karni tidak akan memperoleh bimbingan tanpa bimbingan dari Allah.” (7:43)

Wahai umat manusia! Sungguh keutamaan Ali bin Abi Thalib (a.s) di sisi Allah dan yang ada dalarn Al-
Qur’an adalah lebih banyak dari pada yang bisa kusebutkan secara rinci di tempat ini. Siapapun yang meriwayatkannya dan memberitahukannya kepada kalian, maka percayailah dan terimalah ia.

Wahai umat manusia! barangsiapa patuh pada Allah, Rasul-Nya, Ali dan para Imam yang telah kusebutkan itu niscaya dia akan lulus dengan hasil yang amat sangat gemilang.

Wahai umat manusia! Mereka yang segera berangkat memberikan bai’at kepadanya dan menjadikannya sebagai walinya serta menerirnanya sebagai Amirul Mukminin, mereka adalah orang-¬orang yang selamat, dan kelak akan berada di dalam syurga yang penuh nikmat.

Wahai umat manusia! Ucapkanlah kata-kata yang menyebabkan Allah rela tenhadap kalian. Seandainya kalian dan semua penghuni bumi ini kufur kepadaNya, niscaya itu tidak akan merugikan-Nya sedikitpun. (3:144)
Yaa Allah! Berikanlah ampunan-Mu kepada orang-orang mukmin, dan murka-Mu kepada orang–orang kafir. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Kemudian khalayak menyahut seruan Nabi dan berkata:”Kami telah dengar dan akan patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati, lidah dan kekuatan kami.”

Mereka kemudian berhimpit-himpitan mengelilingi Nabi dan Ali untuk bersalaman dan mengulurkan tangan bai ‘atnya kepada Rasulullah (SAW). Abubakar, kemudian Umar, lalu Usman. Berikutnya adalah orang-orang Muhajirin, Anshar dan seterusnya sesuai dengan tingkatan martabat mereka sehinggalah tiba waktu Maghrib. Setelah shalat Maghrib dan lsya’ yang di jamak dalam satu waktu, mereka kemudian meneruskan ikrar bai’atnya. Setiap kali orang datang berbai’at, Nabi kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mengutamakan kami di atas seluruh penghuni alam semesta.”

——————————————————————————–
Di sini kami petik nama-nama perawi hadits al-Ghadir di kalangan para sahabat tentang perlantikan ‘Ali AS sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWW. Sebagaimana sabdanya:’Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya.’ Dan semua nama-nama perawi tersebut telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka seperti berikut:
1. Abu Hurairah al-Dausi (w.57/58H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 130. Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 327.
2. Abu Laila al-Ansari (w. 37H). Diriwayatkan oleh al-Hawarizmi, di dalam Manaqibnya, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 14.
3. Abu Zainab bin ‘Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 408.
4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi SAWAW di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada ‘Ali AS dengan hadith al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan ‘Ali AS di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 276.
6. Abu ‘Umrah bin ‘Umru bin Muhsin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Di antara yang menjadi saksi kepada ‘Ali AS di hari Rahbah dengan hadith al-Ghadir.
7. Abu l-Haitham bin al-Taihan meninggal dunia di dalam peperangan al-Siffin tahun 37H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 62.
8. Abu Rafi’ al-Qibti, hamba Rasulullah SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhbnya.
9. Abu Dhuwaib Khuwalid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah ‘Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah, al-Khawarizmi di dalam Maqtal.
10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w.13H). Diriwayatkan oleh Ibn Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah, Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi di dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 di antara perawi-perawi hadith al-Ghadir.
11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w.54H). Diriwayatkan di dalam Hadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.
12. Ubayy bin Ka’ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi dengan sanad-sanadnya di dalam Nakhb al-Manaqib.
13. As’ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4.
14. Asma’ binti Umais al-Khath’amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
15. Umm Salmah isteri Nabi SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi al-Mawaddah, hlm. 40.
16. Umm Hani’ binti Abi Talib. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dengan sanad-sanadnya.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah SAWAW (w. 93H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya, VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah di dalam al-Ma’arif, hlm. 291; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
18. Al-Barra’ bin ‘Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281; Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.
19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
20. Abu Sa’id Thabit bin Wadi’ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa’i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 398.
22. Jabir bin Abdullah al-Ansari (w. 73/74H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-Isti’ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tadhib, V, hlm. 337.
23. Jabalah bin ‘Umru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
24. Jubair bin Mut’am bin ‘Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 31, 336.
25. Jarir bin ‘Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 106.
26. Abu Dhar Janadah al-Ghaffari (w.31 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.
27. Abu Junaidah Janda’ bin ‘Umru bin Mazin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 308.
28. Hubbah bin Juwain Abu Qadamah al-’Arani (w. 76-79H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.
29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307, V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa Nihayah, VI, hlm. 211.
30. Habib bin Badil bin Waraqa’ al-Khaza’i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.
31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari. (w.40/42 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38.
32. Huzaifah al-Yamani (w.36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 40.
33. Hasan bin Tsabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama Hijrah.
34. Imam Mujtaba Hasan bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
35. Imam Husain bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, IX, hlm.9.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w.50/51H). Diriwayatkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, I, hlm. 169; Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabbah, V, hlm. 6 dan lain-lain.
37. Abu Sulaiman Khalid bin al-Walid al-Mughirah al-Makhzumi (w. 21/22H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
38. Khuzaimah bin Thabit al-Ansari Dhu al-Syahadataini (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,III, him. 307 dan lain-lain.
39. Abu Syuraih Khuwailid Ibn Umru al-Khaza’i (w. 68 H). Di antara orang yang menyaksikan Amiru l-Mukminin dengan hadith alGhadir.
40. Rifalah bin Abd aI-Mundhir al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
41. Zubair bin al-Awwam al-Qurasyi (w. 36 H). Diriwayatkan oieh Syamsuddln al-Jazari ai-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib. him.3.
42. Zaid bin Arqam al-Ansari al-Khazraji (w. 66/68 H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya. IV. hIm. 368 dan lain-lain.
43. Abu Sa’ld Zaid bin Thabit (w. 45/48 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib him. 4 dan lain-lain.
44. Zaid Yazid bin Syarahil al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,, II. hIm. 233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah. I. him. 567 dan lain-lain.
45. Zaid bin Abdullah al-Ansari. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
46. Abu Ishak Sa’d bin Abi Waqqas (w. 54/56/58 h). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 116 dan lain-lain.
47. Sa’d bin Janadah al-’Aufi bapa kepada ‘Atiyyah al-’Aufi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
48. Sad bin Ubadah al-Ansari al-Khazraji (w. 14/15 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhb.
49. Abu Sa’id Sad bin Malik al-Ansari al-Khudri (w. 63/64/65 H). Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 8; Ibn Kathir di dalam Tafsirnya, II, hlm. 14 dan lain-lain.
50. Sa’id bin Zald al-Qurasyi ‘Adwi (w. 50/5 1 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Maghazili di dalam Manaqibnya.
51. Sa’id bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari. Dlriwayatkan oleh Ibn‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
52. Abu ‘Abdullah Salman al-Farisi (w. 36/37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddln al-Jazari al-Syafl’i di dalam Asna l-Matallb, hlm. 4 dan lain-lain.
53. Abu Muslim Salmah bin ‘Umru bin al-Akwa’ al-Aslami (w.74 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya dl dalam Hadith aI-Wilayah.
54. Abu Sulaiman Samurah bin Jundab al-Fazari (w. 58/59/60 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
55. Sahal bin Hanifal-Ansari al-Awsi (w. 38 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, him. 4 dan lain-lain.
56. Abu ‘Abbas Sahal bin Sa’d al-Ansari al-Khazraji al-Sa’idi (w.
91 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi 1-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
57. Abu Imamah al-Sadiq Ibn ‘Ajalan al-Bahili (w. 86 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalain Hadith al-Wilayah.
58. Dhamirah al-Asadi. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di daiam Hadith al-Wilayah.
59. Talhah bin ‘Ubaidillah al-Tamimi wafat pada tahun 35 Hijrah di dalam Perang Jamal. Dirlwayatkan oleh al-Mas’udi di dalam Muruj al-Dhahab, II, hlm. 11; al-Hakim didalam al-Mustadrak,III, hlm. 171 dan lain-lain.
60. Amlr bin ‘Umair al-Namiri Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah II, hlm. 255.
61. AmIr bin Laila bin Dhumrah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hln. 92, dan lain-lain.
62. ‘Amir bin Laila a1-Gbaffari Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hIm. 257 dan lain-lain.
63. Abu Tupail ‘Amir bin Wathilah. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I. hlm. 118; al-Turmudhi di dalam Sahihnya, II, hlm. 298 dan lain-lain.
64. ‘Alsyah binti Abu Bakr bin Abi Qahafah, Isteri Nabi Sawaw Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
65. ‘Abbas bin ‘Abdu l-Muttallib bin Hasyim bapa saudara Nabi Sawaw. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
66. ‘Abdu r-Ráhman bin ‘Abd Rabb al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ai-Ghabah, III, hIm. 307; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, him. 408 dan lain-lain.
67. Abu Muhammad bin ‘Abdu r-Rahman bin Auf al-Qurasyi al-Zuhri (w. 31 H), Diriwayatkan oieh Syamsuddin al-Jazari a!Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 dan lain-lain.
68. ‘Abdu r-Rahman bin Ya’mur al-Daili Diriwayatkan oleb Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
69. ‘Abdullah bin Abi ‘Abd al-Asad al-Makhzumi. Di riwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
70. ‘Abdullah bin Badil bin Warqa’ Sayyid Khuza’ah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
71. ‘Abdullah bin Basyir al-Mazini. Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
72, ‘Abduilah bin Thabit al-Ansari. Dlriwayatkan oleh al-Qadhi didalam Tarikh Ali Muhammad, him. 67.
73. ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Talib al-Hasyimi (w, 80 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah
74. ‘Abdullah bin Hantab al-Qurasyi al-Makhzumi. Dlrlwayatkanoleh al-Suyuti di dalam Ihya’ al-Mayyit.
75. ‘Abdullah bin Rabi’ah. Dlrlwayatkan oleh al-Khawarizmi didalam Maqtalnya.
76. ‘Abdullah bin ‘Abbas (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Nasa’i di dalam al-Khasa’is, hlm. 7 dan lain-lain.
77. ‘Abdullah bin Ubayy Aufa ‘Alqamah al-Aslami (w. 86/87 H).
Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah hal.78. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khattab al-’Adawi (w. 72/73 H), Dlrlwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’ld, IX, hIm. 106 dan lain-lain,
79. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud al-Hazali (w. 32 /
33 H). Dlriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298 dan lain-lain.
80. ‘Abdullah bin Yamil. Dlriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ol-Ghabah,III, him. 274; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II,hlm. 382 dan lain-lain.
81. ‘Uthman bin ‘Affan (w. 35 H). Dirilwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
82. ‘Ubaid bin ‘Azib al-Ansari, saudara al-Bara’ bin ‘Azib. Di antara orang yang membuat penyaksian kepada ‘Ali A.S. di Rahbah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-AthIr di dalam Usd al-Ghabah, III, him.
307.
83. Abu Tarif Adi bin Hatim (w. 68 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, him. 38
dan lain-lain.
84. ‘Atiyyah bin Basr al-Mazini. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
85. ‘Uqbah bin Amir al-Jauhani. Diriwayatkan al-Qadh di dalam
Tarikh Ali Muhammad, him. 68.
86. Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib A.S. Diriwayatkan oieh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 152: al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX. him. 107; al-Suyuti di dalam Tarlkh al-Khulafa’ , him. 114; Ibn Hajr di dalam Tahdhlb al-Tahdhlb, VII, him. 337; Ibn Kathir dl dalain al-Bidayah wa al-Nihayah. V. him. 211 dan lain-lain.
87. Abu Yaqzan ‘Ammar bin Yasir (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalain Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
88. ‘Ammarah al-Khazraji al-Ansari. Dlrlwayatkan oieh al-Halthami dl dalam MaJma’ al-Zawa’ld, IX, him. 107 dan lain-lain.
89. ‘Umar bin Abi Salmah bin ‘Abd al-Asad al-Makhzumi (w. 83 H).
Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
90. ‘Umar bin al-Khattab (w. 23 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari dl dalam al-Rlyadh aI-Nadhirah, H, him. 161; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah. VII. Mm. 349 dan lain-lain.
91. Abu Najid ‘Umran bin Hasin al-Khuza’i (w. 52 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin ai-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib. him. 4 dan lain-lain.
92. Umru bin al-Humq al-Khuza’i al-Kufi (w. 50 H). Diriwayatkan oieh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
93. ‘Umru bin Syarhabil. Dlrlwayatkan oleh aI-Khawarizmi di dalain Maqtalnya.
94. ‘Umru bin al-Asi Diriwayatkan oleh Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Slyasah, him. 93 dan lain-lain.
95. ‘Umru bin Murrah al-Juhani Abu Talhah atau Abu Maryam. Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-’Ummal, VI, him. 154 dan lain-lain.
96. Al.Siddiqah Fatimah binti Nabi Sawaw. Dlriwayatkan oieh Ibn
‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
97. Fatimah binti Hamzah bin ‘Abdu l-Muttalib. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
98. Qais bin Thabit bin Syamas al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hIm. 368; lbn Hajr di dalam al-Isabah, I. him. 305 dan lain-lain.
99. Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari al-Khazraji. Dlrlwayatkan oleh Ibn Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
100. Abu Muhammad Ka’ab bin ‘Ajrah al-Ansari al-Madani (w.5 1 H). Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
101. Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairath al-Laithi (w. 84 H) Dirtwayatkan oleh al-Suyutl di dalam Tarikh al -Khulafa’ , hlm. 114 dan lain-lain.
102. A1-Miqdad bin ‘Umry al-Kindi al-Zuhrl (w. 33 H). Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
103. Najiah bin ‘Umru al-Khuzai. Dlrlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V. him. 6; Ibn Hajr di dalain al-Isabah,III, hlm. 542 dan lain-lain.
104. Abu Barzah Fadhiah bin ‘Utbah al-Aslami (w. 65 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
105. Na’mar bin ‘Ajalan al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di
daiam Tarikh Ali Muhammad, him. 68 dan lain-lain.
106. Hasyim al-Mirqal Ibn ‘Utbah bin Abi Waqqas al-Zuhrl (w. 37 H). Dlrlwayatkan oieh Ibn al-Athir dl dalam Usd al-Ghabah, I, him. 366; Ibn Hajr di dalam aI-Isabah, 1, hlm. 305.
107. Abu Wasmah Wahsyiy bin Harb al-Habsyl al-Hamsi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah.
108. Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan oieh al-Khawarizmi pada Fasal Keempat di dalam Maqtalnya.
109. Abu Juhallah Wahab bin Abdullah al-Suwa’i(w. 74 H). Dinwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
110. Abu Murazim Ya’li bin Murrah bin Wahab al-Thaqali. Diniwayatkan oleh Ibn al-Athir dl dalam Usd aI-Ghabah. II. him. 233; Ibn Hair di dalam aI-Isabah, Ill, him. 542

.
Demikian dikemukakan kepada kalian 110 perawi-perawl hadits al-Ghadir dikalangan para sahabat mengenal perlantikan ‘Ali A.S. sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah Saww, oleh ularna-ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka. Oleh karena Itu hadits ini sudah mencapai ke peringkat mutawatir. Kemudian diikuti pula oleh 84 perawl-perawi dari golongan para Tabi’in yang merlwayatkan hadits al-Ghadir serta 360 perawl-perawi di kalangan para ulama Sunnah yang meriwayatkan hadits tersebut di dalam buku-buku mereka. Malah terdapat 26 pengarang dari kalangan para ulama Ahlus-Sunnah yang mengarang buku-buku tentang hadis al-Ghadir. Untuk keterangan lebih lanjut silakan rujuk al-Amini, al-Ghadlr, I. hlm. 14 – 158

.

Perhatikan gambar silsilah 12 Imam Syiah, kalau imam-imam ke-1 s.d. ke-11 mempunyai tahun wafat sedangkan imam ke-12 yaitu Muhamad Al-Mahdi Al-Muntazar hanya memiliki tahun lahir saja karena menurut kepercayaan syiah, imam ke-12 hilang secara gaib pada umur 5 tahun (untuk menghindari dari kejaran penguasa pada waktu itu) dan akan muncul kembali sebagai Imam Mahdi.

Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur

Dua Belas Imam

Imamiah merupakan kelompok mayoritas dalam Syi’ah, disebut juga Itsna Asyariah, berikut ini merupakan daftar Imam yang merupakan pengganti Nabi Muhammad dalam hal kepemimpinan umat (bukan sebagai Nabi, karena Imamiah berpendapat Nabi terakhir adalah Muhammad). Setiap Imam merupakan anak dari Imam sebelumnya kecuali Husain bin Ali, yang merupakan saudara dari Hasan bin Ali.

  1. Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Ja’far bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Jafar (745799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawadatau Muhammad at-Taqi
  10. Ali bin Muhamad (827868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

PANDANGAN ISMAILIYAH


Ismailiyah percaya bahwa lima pertama dari enam Imam di atas adalah Imam sebenarnya pengganti Muhammad, tetapi Ismailiyah berpendapat bahwaIsmail bin Jafar adalah Imam pengganti ayahnya Jafar as-Sadiq, bukan saudaranya Musa al-Kazim. Dari Ismail bin Jafar, garis Imam Ismailiyah sampai ke Aga Khan yang mengklaim sebagai keturunannya. Lihat [1].

  1. Ali bin Abi Thalib (600661)
  2. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain as Syahid
  3. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  4. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  5. Jafar bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Jafar as-Sadiq
  6. Ismail bin Jafar

Hal penting untuk dicatat adalah Hasan bin Ali tidak termasuk dalam Imam yang diakui oleh Ismailiyah.

PANDANGAN ZAIDIYAH

Zaidiyah percaya bahwa empat Imam pertama seperti dalam daftar Imamiah adalah Imam yang sebenarnya, tetapi berbeda dengan yang kelima. Zaidiyah menyatakan bahwa Zaid bin Ali dan bukan saudaranya Muhammad al-Baqirsebagai Imam penerus. Untuk Zaidiyah, Keimaman dipindahkan dari Zaid bin Ali ke Imam yang menjadi pengikutnya; sering mereka menggunakan gelarKhalifah.

  1. Ali bin Abi Thalib (600661)
  2. Hasan bin Ali (625669)
  3. Husain bin Ali (626680)
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Zaid bin Ali (meninggal 740)

Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur

Dua Belas Imam

Dua belas Imam (Bahasa Arab: اثنا عشرية – Ithnāˤashariyya) adalah cabang dari ajaran Syiah yang memiliki pengikut terbanyak. Mereka yang mengikuti ajaran yang disebut sebagai Syiah Imamiyah ini mempercayai bahwa mereka mempunyai 12 orang pemimpin, yang pemimpin pertamanya adalah Imam Ali ra. dan pemimpin terakhir mereka adalah Imam Mahdi Al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), seorang Imam yang muncul pada tahun 868 dan kemudian menghilang. Para pengikut Itsna Asyariyyah yakin bahwa Imam Mahdi akan kembali untuk menghadapi dajjal dan akan membangun pemerintahan Islam

dalam aspek keyakinan kaum Syi’ah Itsna Asyariyyah, para Imam bukanlah nabi atau rasul. Para Imam hanyalah membawakan pesan Nabi Muhammad saw. Syi’ah Itsna Asyariyyah tidak menganggap Imam lebih berkuasa daripada nabi. Kebanyakan muslim salah melihat Syi’ah dalam hal tersebut. Bahkan, di ajaran Syi’ah, jika ada seseorang yang menganggap adanya nabi atau rasul setelah Nabi Muhammad saw. akan langsung diberi status bid’ah atau kafir.

.

Keyakinan Itsna Asyariyyah

Para pengikut ajaran Syi’ah Itsna Asyariyyah mendasarkan hukum mereka (Syariah) pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Perbedaan antara hukum syariah Sunni dan Syiah terletak pada keyakinan bahwa Nabi Muhammad memberikan Ali ra. sebagai pemimpin pertama setelah Nabi Muhammad saw

.

Lebih lanjut, menurut pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah, bahwa Imam atau pemimpin umat tidaklah dapat dipilih oleh manusia secara demokrasi (pemilu). Imam adalah jabatan langsung dari Allah swt. Sedangkan pengikut Sunni percaya bahwa pemimpin umat dipilih dengan pemilu dan yang memiliki suara terbanyaklah yang menjadi pemimpin (khalifah). Perbedaan inilah yang membuat Syi’ah dan Sunni menjadi terpecah. Berikut ini adalah perbedaan lain dalam masalah Syari’ah antara Syi’ah dan Sunni:

  1. Mengambil hadits dari Nabi Muhammad saw. dan para Ahlul Bait
  2. Tidak mengambil hadits dan contoh yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar dan Usman (Mereka bertiga adalah khulafaur rasyidin sebelum Ali ra.)
  3. Memberikan status ma’shum (bebas dari kesalahan) kepada para Imam dan mengikuti contoh dan ajaran mereka.

.

Doktrin utama

Berikut ini adalah keyakinan-keyakinan para pengikut Itsna Asyariyyah dalam dua hal yaitu Ushuluddin (prinsip keyakinan) dan Furu’ ad-Din (prinsip keagamaan) :

Prinsip keimanan Itsna Asyariyyah

Seorang mullah sedang berada di sebuah Imamzadeh di TabrizIran

Aliran Itsna Asyariyyah tidak membolehkan taklid (keyakinan yang buta), tapi setiap mereka yang sudah mukallaf harus mengetahui keyakinan yang sudah ditentukan:

  • Masalah ketauhidan: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Allah-lah pencipta, menciptakan Adam langsung dengan tangan-Nya, kemudian menghidupkannya, memberinya rizki dan mematikannya. Juga memberi manusia sakit dan ujian, semua atas kekuasaan-Nya (QS Yasin:82). Mereka juga percaya bahwa Allah Maha Kuasa, Allah Maha Esa, Allah tidak terlihat dan tidak tergambar secara lahiriah oleh manusia. Secara tauhid, mereka sama dengan umat Islam pada umumnya.[3] [4]
  • Masalah keadilan: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Allah tidak menganiaya satupun dari hamba-Nya, dan setiap hamba-Nya diberikan rizki sesuai yang dibutuhkannya.
  • Masalah kenabian: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa rasul terakhir umat Islam adalah Rasulullah Muhammad saw. dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. adalah wajib, seperti yang tercantum di Al-Qur’an (QS Ali ‘Imran:85)
  • Masalah imamah: Pengikut islam Syi’ah termasuk cabang Itsna Asyariyyah (Syiah Imamiyah) mempercayai bahwa ada sistem kepemimpinan yang disebut imamah yang berasal dari Nabi Muhammad. Imam sendiri bertugas untuk memimpin umat Islam dengan petunjuk dari Allah swt. Dan dalam prinsip ajaran Syi’ah disebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan umat Islam tanpa pemimpin. Mereka mempercayai bahwa Imam ma’shum (bebas dari dosa) dan jabatan Imam adalah langsung dari ilham yang didatangkan oleh Allah. Setiap Imam akan berwasiat kepada Imam selanjutnya.
  • Masalah Kebangkitan: Bahwa Allah menghidupkan manusia untuk beramal. Mereka yang beramal baik akan diberikan ganjaran untuk masuk ke surga selamanya, sedangkan yang beramal buruk akan dimasukkan ke neraka selamanya.

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

  • Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
  • Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda“Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan olehAs Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam.Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Hadits dalam Itsna Asyariyyah

  • Hadits dalam Syi’ah: dimana hadits adalah perkataan dan tindakan dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam). Hadits ini akan diteliti dengan shahih atau dengan interview dengan sang perawi. Hadits ini akan melewati banyak perawi yang di antaranya adalah sahabat dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) dan sampai akhirnya akan tiba di al-Ma’shum tersebut (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam)[38] .
  • Ilmu dariyah dalam Itsna Asyariyyah: yaitu ilmu untuk mencari gejala hadits dalam kondisi darurat dalam hal bagaimana matan dan sanad menyampaikan hadits[39].
  • Hadits dalam satu jalur: karena hadits merupakan hasil adaptasi untuk mempertahankan dan menyampaikan sebuah cerita atau perkataan dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam), maka ada satu orang yang akan menyampaikan banyak hadist dalam satu jalur dan kemudian akan diteruskan ke setiap orang, seperti yang telah ditulis dan diikuti dalam ilmu Ushul Fiqih, bahwa kebenaran hadist dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) belum tentu benar adanya jika disampaikan dalam banyak jalur.
  • Ilmu rijal : Ilmu yang ditujukan untuk menguji ilmu dan keadaan para perawi saat menyampaikan hadits untuk mengetahui dan mengidentifikasi sebuah hadits sebagai shahih atau tidak shahih.
  • Sifat perawi yang riwayatnya dan kualifikasinya diterima:
  1. Beragama Islam: Tidak akan diterima riwayat hadits dari perawi kafir, sebelum sang perawi kafir tersebut mengucapkan syahadat secara sungguh-sungguh.
  2. Mempunyai akal yang logis (tidak gila): Tidak diterima hadits yang disampaikan oleh orang gila
  3. Baligh (cukup umur untuk menyampaikan hadits): Tidak diterima hadits dari seorang anak kecil sebelum dia mumayyiz (dewasa)
  4. Beriman
  5. Adil: Sang perawi harus bisa mempertahankan haditsnya dalam kebenaran dan tidak berlebihan dalam meriwayatkan hadits

Salam dan Solawat. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih

Sejak kita di bangku sekolah lagi, di dalam pendidikan sejarah Islam, nama Khalifah Ar Rasyidin adalah sesuatu yang kerap kita dengar, dan kita telah dididik untuk menyanjung dan mencontohi mereka dalam segala hal. Kita kerap mendengar guru-guru kita memberikan hadis ini kepada kita.

“Aku wasiatkan kepada kamu agar bertaqwa kepada Allah dengar serta taat, meskipun kamu dipimpin oleh seorang hamba. Sesungguhnya barangsiapa diantara kamu yang masih hidup sesudah pemergianku, ia akan melihat banyak perselisihan yang akan berlaku. Maka ketika itu pastikan kamu berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Ar Rasyidin. Gigitlah ia dengan gerahammu, dan berhatilah dengan perkara-perkara baru dalam agama, kerana setiap bidaah itu ialah kesesatan.”

Hadis di atas adalah antara sandaran utama AhlulSunnah, dan antara sebab mereka mengagungkan para khalifah ini. Walaubagaimanapun, hadis ini dhaif, dan akan saya bincangkan nanti tentang kedhaifannya. Anyway, saya berpendapat, matan hadis ini boleh di pakai, hanya jika kita menakwilkannya terhadap para Imam dari Ahlulbait(as), seperti yang saya telah bahaskan dalam artikel yang lepas. Sunnah para Aimmah(as) tidak pernah bercanggah dengan Sunnah Nabi(sawa), juga tidak pernah bercanggah sesama mereka. Ini ialah satu fakta dan mengapa saya memilih untuk menggigit sunnah mereka dengan gigi geraham saya.

Ada beberapa masalah tentang hadis di atas, jika katakan kita mahu mengguna pakai hadis ini:

  1. Rasulullah(sawa) tidak pernah menyebutkan siapa “Khalifah Ar Rasyidin” ini secara jelas(kecuali untuk Imam Ali(as) dan Ahlulbait baginda) di dalam hadisnya, jadi mengapa kalian AhlulSunnah menamakan Abu Bakr, Umar dan Usman sebagai khalifah ar rasyidin?
  2. Jika pun benar mereka ialah para khalifah yang disebutkan oleh Rasul Akram(sawa), apakah hujah kalian untuk hanya menetapkan mereka kepada 4 orang sahaja?

Inilah antara kemusykilan saya, kerana kita suka-suka hati sahaja menetapkan siapa khulafa ar rasyidin, sedangkan perlantikan ini seharusnya daripada Allah swt melalui mulut Rasul yang suci, bukan oleh kita manusia biasa penuh dosa. Saudara Sunni jelas telah tersilap, kerana sepatutnya hadis ini perlu digandingkan dengan hadis-hadis dalam artikel Imamah bahagian 2 yang lepas, dan juga, dengan hadis ini-:

1. Di keluarkan dari Bukhari, Ahmad dan Baihaqi, dari Jabir bin Samurah, berkata,

“Akan wujud 12 orang amir”.

Jabir berkata: Setelah itu baginda(sawa) mengatakan sesuatu yang tidak dapat aku mendengarnya.    Lantas bapaku berkata bahawa baginda bersabda:

“Semuanya dari Quraish.”

2. Di keluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku masuk bersama bapaku ke hadhrat Nabi lalu aku mendengar baginda(sawa) bersabda:

‘Urusan agama ini tidak akan selesai hingga sempurna 12 orang Khalifah.”

Jabir berkata: Kemudian baginda mengatakan sesuatu yang kabur dari pendengaran ku, maka aku bertanya kepada bapaku. Bapaku menjawab:

Semuanya daripada Quraish”

3.  Dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad dari Jabir bin Samurah: Aku telah mendengar bahawa Rasulullah bersabda:

“Urusan agama akan tetap berjalan lancar selagi mereka dipimpin oleh 12 orang lelaki.”

4. Di keluarkan oleh Muslim, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, al Khatib al Tabrizi, dari Jabir bin Samurah, Rasulullah(sawa) bersabda:

“Islam akan tetap mulia(selagi mereka dipimpin oleh) dengan 12 orang khalifah”

5. Dikeluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Nabi bersabda pada petang Jumaat ketika al Aslani di rejam:

“Agama ini akan tetap teguh berdiri hingga hari kiamat kerana kamu dipimpin oleh 12 orang khalifah.”

6. Di keluarkan oleh Ahmad, Al Hakim, al Haithami di dalam Majma’ uz Zawaid dinukil dari Thabrani dan al Bazzar, dari Jabir bin Samurah, Nabi bersabda:

“Urusan umatku akan berada dalam keadaan baik sehinggalah cukup 12 orang khalifah.”

7. Di keluarkan oleh Ahmad, al Haithami di dalam Majma uz Zawaid, Ibnu Hajar di dalam al Mathalibul ‘Aliyah, al Busairi di dalam Mukhtasar al Ithaf dari Masruq berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata:

Apakah Nabimu pernah mengkhabarkan bilangan khalifah setelah pemergiannya?

Ibnu Mas’ud menjawab:

“Ya, tetapi tiada orang pun selain kamu yang bertanyakan perkara ini. Sesungguhnya kamu masih muda. Bilangan khalidah adalah seperti bilangan majlis Musa(as), iaitu 12 orang.”

Inilah antara hadis yang menunjukkan bilangan khalifah/amir sepeninggalan Rasululla(sawa), iaitu 12 orang, yang mana selagi di bawah pimpinan mereka:-

  1. Islam akan tetap mulia.
  2. Agama ini akan tetap teguh.
  3. Urusan umat akan tetap dalam keadaan baik.

Syeikh Sulaiman al Qunduzi al Hanafi menerusi kitabnya Yanabi al Mawaddah telah mengkhususkan satu bab hanya untuk himpunan hadis 12 orang khalifah ini. Beliau menyatakan bahawa Yahya bin Hassan menerusi kitabnya, al Umdah menyenaraikan 20 jalan sanad bahawa khalifah sepeninggalan Nabi(sawa) ialah 12 orang. Manakala Bukhari menyenaraikan 3 jalan, Muslim 9 jalan, Abu Daud 3 jalan, dan Tarmizi 1 jalan.

Dengan adanya hadis-hadis ini, bagaimanakah saudara-saudara Sunni sekalian boleh menghadkan Khalifah sesudah Nabi hanya 4 orang, dan apakah dalil-dalil atau nas yang mengatakan khalifah-khalifah ini ialah Abu Bakr, Umar, atau Usman(Ali sudah tentu ada, hehe)? Setakat ini dan selama sejarah ini,yang diketahui mengenali dan mengikut 12 orang khalifah secara tepat hanyalah Syiah Imamiah. Mereka menjadikan mereka sebagai sumber kepimpinan mereka.

Lihat sahaja betapa Rasulullah(sawa) begitu menekankan tentang 12 orang khalifah ini, yang dari semua hadis ini, kita dapat rumuskan mereka sebagai penjaga agama dan urusan umat sepeninggalan baginda. Kalau kita match kan hadis-hadis ini dengan hadis wilayah Ahlulbait(as), tidakkah kita mendapati mereka(Ahlulbaiy) ialah gandingan yang sesuai untuk 12 orang ini? Dan sememangnya, hanya 12 orang sahaja yang dengan sebenar-benarnya layak memimpin umat Islam.

Siapakah Mereka?

Sewaktu saya masih dalam tempoh kajian, saya begitu teruja dan ingin tahu tentang 12 orang amir ini. Saya sentiasa membayangkan mereka sebagai pelindung Islam dan pengikutnya. Malangnya saya tidak mengenali mereka yang lain, selain dari empat yang telah diketahui umum. Saya tertanya-tanya, siapakah 8 orang yang selebihnya? Ulama-ulama Sunni, menemui jalan buntu dalam percubaan mereka untuk menakwil dan memahami hadis ini. Apa kata mereka?

Qadi Abu Bakr Ibn Al Arabi

Setelah mengira bilangan Amir selepas Rasulullah sebagai 12 kita mendapati mereka terdiri daripada : Abu Bakr, ‘Umar, ‘Uthman, Ali, Hasan, Mu’awiyah, Yazid, Mu’awiyah ibn Yazid, Marwan, ‘Abd al-Malik ibn Marwan, Yazid bin ‘Abd al-Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Selepas dari mereka ini ada 27 orang lagi khalifah dari Bani Abbasiyyah.

Kalau kita hanya mengambil 12 orang khalifah dari mereka itu kita akan sampai kepada Sulayman.  Kalau kita mengambil maksud hadith ini secara literal, kita hanya boleh mengambil 5 orang daripada mereka dan ditambah dengan 4 orang Khulafa’ ar-Rasyidun dan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz…

Saya tidak boleh memahami maksud Hadith ini.

[Qadi Abu Bakr Ibn al-'Arabi, Sharh Sunan Tirmidhi, 9:68-69]

Qadi ‘Iyad al-Yahsubi:

Bilangan Khalifah adalah lebih dari itu. Untuk menghadkan bilangan mereka kepada dua belas adalah tidak tepat. Rasulullah (s.a.w.s.) tidak pernah mengatakan bahawa hanya ada dua belas orang dan tidak lebih dari itu. Oleh itu bilangan mungkin ada lebih.

[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim, 12:201-202;Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalal al-Din al-Suyuti:

Hanya ada duabelas orang khalifah sehingga hari kebangkitan. Dan mereka akan tetap bertindak mengikut haq (kebenaran) walaupun mereka tidak berturutan.

Daripada 12 itu, empat adalah khulafa ar-Rasyidun, kemudian Hasan, kemudian Mu’awiyah, kemudian Ibn Zubayr, dan diakhiri dengan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz. Bilangan mereka baru lapan. Tinggal lagi empat. Mungkin Mahdi, si-Abbasiyyah boleh dimasukkan kerana beliau dikalangan Bani Abbasiyyah adalah seperti  ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz dikalangan Bani Umayyah. Tahir ‘Abbasi akan juga dimasukkan kedalam bilangan ini kerana beliau merupakan seorang sultan yang adil. Dua lagi akan datang pada masa hadapan. Salah seorang daripada mereka adalahMahdi, kerana beliau adalah dari Ahlul Bayt (a.s.).

[Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Page 12;Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Page 19

Ibn Hajar al-'Asqalani:

Tidak ada seorangpun yang mempunyai ilmu yang cukup untuk memahami hadith dari sahih Bukhari ini.Adalah tidak tepat untuk mengatakan bahawa imam-imam ini akan hadir pada satu ketika/masa yang sama.

[Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

Ibn al-Jawzi:

Khalifah pertama dari Bani Umayyah adalah Yazid ibn Mu’awiyah dan yang terakhir adalah, Marwan Al-Himar. Bilangan mereka adalah tiga belas. ‘Uthman, Mu’awiyah dan ibn Zubayr tidak dimasukkan didalam bilangan ini kerana mereka adalah dikalangan para sahabat Rasulullah(s).

Kalau kita mengecualikan Marwan bin al-Hakam kerana kontorversi samada beliau dikira sebagai sahabat ataupun tidak kerana walaupun beliau berkuasa  Abdullah ibn Zubayr mendapat sokongan daripada rakyat. Baharulah kita akan mendapat angka dua belas. … Setelah kekhilafahan Bani Umayyah, suatu kekacauan yang hebat berlaku. Sehingga Bani Abbasiyyah berjaya untuk menstabilkan pemerintahan mereka. Oleh itu suasana asal telah bertukar seluruhnya.

[Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana yang telah dicatatkan dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al Baihaqi:

Bilangan ini (duabelas) akan dijumpai hingga ke zaman Walid ibn ‘Abd al-Malik. Selepas daripada ini timbul kekacauan dan gangguan. Kemudian datang pula Bani Abbasiyyah. Riwayat ini telah meningkatkan bilangan Imam. Sekiranya kita ketepikan sebahagian daripada perilaku mereka yang datang selepas kekacauan tersebut, bilangan mereka akan meningkat.”

[Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Page 11]

Ibnu Katsir:

Barangsiapa yang mengikut dan bersetuju dengan  pandangan Bayhaqi bahawa Jama’ah bermaksud khalifah-khalifah yang datang turut menurut sehingga pada masa Walid ibn Yazid ibn ‘Abd al-Malik si-pengganas adalah mereka yang dikritik dan dihina oleh kami dengan berhujah kepada beberapa hadith.

Dan sekiranya kita menerima Kekhalifahan Ibn Zubayr sebelum ‘Abd al-Malik bilangannya akan menjadi enam belas. Padahal bilangannya sepatutnya duabelas sebelum dari ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Dengan kaedah ini Yazid ibn Mu’awiyah akan dimasukkan dan tidak  ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Walaubagaimanapun, adalah telah diterima oleh junhur ulema bahawa ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz adalah seorang khalifah yang benar dan adil.

[Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249-250]

Lihat sahaja kekeliruan mereka. Ini mungkin disebabkan oleh kejahilan mereka kerana hanya memberi tumpuan terhadap orang yang memegang kuasa bukan yang di lantik Rasulullah(sawa). Ini juga disebabkan oleh prejudis terhadap Syiah sehingga mereka terlepas pandang terhadap hadis keutamaan Ahlulbait(as).

Demi membuka kebuntuan ini, biarlah saya meriwayatkan hadis ini sebagai permulaan:-

Al-Dhahabi yang merupakan seorang ulamak yang terkenal, berkata di dalam Tadhkirat al-Huffaz, Jilid. 4, ms. 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani berkata didalam al-Durar al-Kaminah, Jilid. 1, ms. 67 bahawa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi’i merupakan seorang ulamak hadith yang terkenal. Beliau (Al-Juwayni) melaporkan dari Abdullah ibn Abbas (r) yang melaporkan dari Rasulullah (s) yang bersabda,

Aku adalah penghulu bagi para Nabi dan Ali ibn Abi Talib adalah penghulu bagi penggantiku, dan selepas daripada aku, penggantiku adalah 12, yang pertama merupakan Ali ibn Abi Talib dan yang terakhir merupakan Al Mahdi.

Al-Juwayni juga meriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas (r) yang meriwayatkan daripada Rasulullah (s):

“Sesungguhnya Khalifahku dan pewarisku dan Hujjah Allah keatas makhlukNya selepas dari ku adalah 12. Yang pertama daripada mereka adalah saudaraku dan yang terakhir daripada mereka adalah anakku (cucu).“  Baginda ditanya: “Ya Rasulullah, Siapakah saudaramu?”  Beliau menjawab, “Ali ibn Abi Talib” Kemudian mereka bertanya lagi, “Dan siapakah anakmu?”  Rasulullah (s) menjawab, “Al Mahdi, beliau yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan seperti mana pada ketika itu ia dipenuhi oleh ketidakadilan dan kekejaman. Dengan Dia yang telah mengangkatku sebagai pemberi khabar buruk dan khabar baik, biarpun hanya sehari tinggal untuk kehidupan dunia ini, Allah Maha Kuasa akan memanjangkan hari itu sehingga beliau menghantar anakku Mahdi, kemudian Beliau akan menyuruh Ruhullah ‘Isa ibn Maryam (a) untuk turun dan solat dibelakang beliau (Mahdi). Dan dunia akan disinari oleh cahaya kehebatannya. Dan kekuasaannya akan mencapai timur dan barat.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan bahawa Rasulullah(s) juga memberitahu: “Aku, Ali, Hasan, Husayn dan sembilan orang daripada zuriat Husayn adalah mereka yang disucikan dan yang tidak melakukan kesalahan.

[Al-Juwayni, Fara'id al-Simtayn, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, p. 160.]

Pendapat inilah yang selari dengan pendapat kami, Syiah Ahlulbait(as). Jelas sekali di sini, Khalifah ar Rasyidin bukanlah ditujukan kepada Abu Bakr, Umar atau Usman. Gelaran ini juga tidak muncul di zaman pemerintahan mereka. Ia hanya diberikan oleh ulama-ulama dari golongan Tabiin dan seterusnya, yang memandang zaman itu sebagai zaman kegemilangan Islam.

Untuk lebih detail, inilah mereka.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai Jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”

Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

Telah diriwayatkan oleh al Hamwini, di dalam Fara’id al-Simtayn dan dinukilkan darinya di dalam Yanabi al Mawaddah, dengan sanad dari Ibnu Abbas berkata:

Seorang Yahudi yang bergelar Nat’sal datang bertemu Rasulullah(sawa) lalu berkata;

Wahai Muhammad(sawa) aku berhajat untuk bertanya kepadamu sesuatu yang aku pendamkan di dalam diriku. Jika kamu menjawabnya, maka aku akan mengisytiharkan keislamanku di hadapan mu.” Rasulullah(sawa) menjawab, “Tanyalah wahai Abu Imarah.” Dia lalu menyoal baginda sehingga beliau merasa puas dan mengakui kebenaran baginda(sawa).

Kemudian dia berkata, “ Beritahu aku tentang pengganti kamu, siapakah mereka? Sesungguhnya tiada Rasul yang tidak mempunyai wasi(pengganti).Rasul kami Musa melantik Yusha bin Nuun sebagai pengganti dirinya. Baginda menjawab: “Wasi ku ialah Ali bin Abi Thalib, diikuti oleh kedua cucuku, Hassan dan Hussain, seterusnya diikuti pula oleh 9 orang keturunan Hussain.

Dia bertanya lagi: “Sebutkan nama-nama mereka kepada ku waha Muhammad(sawa).” Rasul menjawab, “Apabila Hussain pergi, beliau akan diganti oleh anaknya, Ali, apabila Ali pergi, Muhammad akan menggantikannya. Apabila Muhammad pergi, Ja’afar akan menggantikannya. Apabila Ja’afar pergi, beliau akan digantikan oleh anaknya Musa. Apabila Musa pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Setelah Ali pergi anaknya Muhammad akan menggantikannya. Setelah Muhammad pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Apabila Ali pergi, anaknya Hassan akan menggantikannya. Apabila Hassan pergi, anaknya Muhammad al Mahdi akan menggantikannya. Inilah mereka yang 12 orang.Dengan jawapan tersebut yahudi itu memuji Allah dan menyatakan keislamannya.

Setakat ini, bolehlah saya simpulkan bahawa nama para Imam/Khalifah/Amir ini ialah:

  1. Imam Ali Ibnu Abi Thalib Al Murtadha
  2. Imam Hassan ibn Ali al Mujtaba
  3. Imam Hussain ibn Ali asy-Syahid
  4. Imam Ali ibn Hussain Zain al Abidin
  5. Imam Muhammad ibn Ali al Baqir
  6. Imam Ja’afar ibn Muhammad as Sadiq
  7. Imam Musa ibn Ja’afar al Kazim
  8. Imam Ali ibn Musa ar Redha
  9. Imam Muhammad ibn Ali al Jawad
  10. Imam Ali Ibn Muhammad al Hadi
  11. Imam Hassan ibn Ali al Askari
  12. Imam Muhammad ibn Hassan al Mahdi

Demi Allah, para Imam-imam inilah tempat kami, orang-orang Syiah, meletakkan kesetiaan kami, rujukkan ilmu agama kami, dan sebagai hakim kami. Mereka ialah lantikan Allah swt, menerusi lidah suci Imam ar Rahmah, Rasulullah(sawa). Ada sesetengah pihak menuduh kami, sesuka hati meletakkan siapa Imam-imam ini, seolah-olah kami memilih Imam kami. Kalian silap, Allah swt lah yang menetapkan mereka, bukan kami, kami hanya “Sami’na wa atho’na.“(Kami dengar dan kami taat)

Apa yang boleh saya simpulkan di sini ialah:-

  • Khalifa ar Rasyidin bukan sekadar 4 orang, tetapi 12 orang.
  • Mereka semuanya ialah Ahlulbait(as), bukan Abu Bakr, Umar dan Usman.
  • Rasulullah sendiri telah menyebut mereka, dan bukan ciptaan kami.
  • Di bawah Imamah mereka, Islam itu aman, terurus dan terlindung, begitu jugalah dengan umatnya yang mengikuti mereka.

Kalau nak diikutkan, perbahasan ini masih boleh dipanjangkan, tetapi saya merasakan cukup setakat ini. Tidak mengapa jika ada yang tidak bersetuju dengan apa yang saya utarakan di sini, tetapi hormatilah pendapat kami, kerana kami mengeluarkan pendapat berdasarkan dalil dan nas, bukan sekadar suka-suka.

Wallahu’alam. Salam alaikum dan solawat.

.
DR. Majdi Wahbe as Syafi’i (Khatib al Azhar) berhasil menetapkan jumlah para imam Ahlul Bait (as) melalui Al Quran
 Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur’an
Salah seorang pemerhati Agama Mesir dan Khatib Universitas al Azhar berhasil menetapkan jumlah para imam Ahlul Bait (as) melalui Al Quran. Berdasarkan laporan ini disebutkan bahwa beliau mampu membuktikan kebenaran 12 imam yang dimulai dari Imam Ali sampai Imam terakhir, yaitu Imam Mahdi (as).
Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur

Kemudian laporan itu melanjukan: Kata yang merupakan derivasi (pecahan) dari “al imamah” (imam/kepemimpinan) juga berulang sebanyak 12 kali dalam Al Qur’an yang bermakna 12 imam dimana berdasarkan riwayat yang dinukil dari Nabi saw urutannya adalah dari Imam Ali (as), Imam Hasan (as) dan Imam Husain serta mencakup 9 Imam dari keturunan Imam Ketiga.

Dua belas (12) Ayat Al Quran yang mencakup kata “imam dan imamah”, yaitu:

- سورة البقرة، الآية 124: {وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِين}.

2- سورة التوبة، الآية 12: {وَإِن نَّكَثُواْ أَيْمَانَهُم مِّن بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُواْ أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لاَ أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنتَهُونَ}.

3- سورة هود، الآية17: {أَفَمَن كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِّنْهُ وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إَمَاماً وَرَحْمَةً أُوْلَـئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ }.

4- سورة الاسراء، الآية70: {يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُوْلَـئِكَ يَقْرَؤُونَ كِتَابَهُمْ وَلاَ يُظْلَمُونَ فَتِيلا}.

5- سورة الانبياء، الآية 72: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِين}.

6- سورة القصص، الآية 5: {وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِين}.

7- سورة الحجر، الآية 79: {فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ }.

8- سورة السجدة، الآية 24: {وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُون}.

9- سورة يس، الآية 12: {إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ }.

10- سورة القصص، الآية 41: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لا يُنصَرُون}.

11- سورة الفرقان، الآية 74: {وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}.

12- سورة الأحقاف، الآية 12: {وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَاماً وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ مُّصَدِّقٌ لِّسَاناً عَرَبِيّاً لِّيُنذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ}.

Yang menarik Khatib Masjid al Azhar ini juga membuktikan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait –sebagaimana yang termaktub dalam surah al Ahzab, ayat 33 itu hanya 5 orang (yaitu Rasul saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain) dan sama sekali tidak mencakup istri-istri Nabi saw, sebagaimana diriwayatkan sendiri oleh Ummu Salamah. Hal ini ditegaskan oleh Nabi saw dalam hadisnya yang terkenal dengan “hadis kisa”. (Kisa berarti kain penutup). Beliau menyatakan bahwa kata kisa’ pun lima kali disebutkan dalam al Quran, yaitu:

1- سورة البقرة، الآية 233: {وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا لاَ تُضَآرَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالاً عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُواْ أَوْلاَدَكُمْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّا آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير}.

2- سورة البقرة، الآية 259: {أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىَ يُحْيِـي هَـَذِهِ اللّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللّهُ مِئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْماً أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِئَةَ عَامٍ فَانظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِّلنَّاسِ وَانظُرْ إِلَى العِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْماً فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير}.

3- سورة المائدة، الآية 89: {لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون}.

4- سورة المؤمنون، الآية 14: {ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِين}.

5- سورة النساء، الآية 5: {وَلاَ تُؤْتُواْ السُّفَهَاء أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللّهُ لَكُمْ قِيَاماً وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفا}.

.

Hadis Tsaqalain Sunni bermakna 12 imam Ahlul bait beserta Fatimah Az Zahra

Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya [1], “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Bakkar bin at-Tarian, “Telah berkata kepada kami Hisan (yaitu Ibnu Ibrahim), dari Sa’id (yaitu Ibnu Masruq), dari Yazid bin Hayan yang berkata, ‘Kami masuk kepada Zaid bin Arqam dan berkata, ‘Anda telah melihat kebajikan. Anda telah bersahabat dengan Rasulullah saw dan telah salat di belakangnya. Anda telah menjumpai banyak kebaikan, ya Zaid (bin Arqam). Katakanlah kepada kami, ya Zaid (bin Arqam), apa yang Anda telah dengar dari Rasulullah saw.‘ Zaid (bin Arqam) berkata, ‘Wahai anak saudaraku, demi Allah, telah lanjut usiaku, telah berlalu masaku dan aku telah lupa sebagian yang pernah aku ingat ketika bersama Rasulullah. Oleh karena itu, apa yang aku katakan kepadamu terimalah, dan apa yang aku tidak katakan kepadamu janganlah kamu membebaniku dengannya.’

Kemudian Zaid bin Arqam berkata, ‘Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah saw berkata, ‘Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.’Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, ‘Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

Kemudian kami bertanya kepadanya (Zaid bin Arqam), ‘Siapakah Ahlul Baitnya, apakah istri-istrinya?’ Zaid bin Arqam menjawab, ‘Demi Allah, seorang wanita akan bersama suaminya untuk suatu masa tertentu. Kemudian jika suaminya menceraikannya maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun Ahlul Bait Rasulullah adalah keturunan Rasulullah saw yang mereka diharamkan menerima sedekah sepeninggal beliau. “

———————-

Penunjukkan makna hadis tsaqalain terhadap keimamahan Ahlul Bait adalah sesuatu yang amat jelas bagi setiap orang yang adil. Karena makna hadis tsaqalain menunjukkan kepada wajibnya mengikuti mereka di dalam masalah-masalah keyakinan, hukum dan pendapat, dan tidak menentang mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

Karena amal perbuatan apa pun yang melenceng dari kerangka mereka maka dianggap telah keluar dari Al-Qur’an, dan tentunya juga telah keluar dari agama. Dengan demikian, mereka adalah ukuran yang teliti, yang dengannya dapat diketahui jalan yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada petunjuk kecuali melalui jalan mereka dan tidak ada kesesatan kecuali dengan menentang mereka.

Inilah yang dimaksud dengan ungkapan, “jika kamu berpegang teguh kepada keduanya (tsaqalain)niscaya kamu tidak akan tersesat”. Karena yang dimaksud berpegang teguh kepada Al-Qur’an ialah mengamalkan apa yang ada di dalamnya, yaitu menuruti perintahnya dan menjauhi laranganya.

Demikian juga halnya dengan berpegang teguh kepada ‘ltrah Ahlul Bait. Karena jawab syarat tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan terlaksananya yang disyaratkan (al-masyruth) terlebih dahulu. Dhamir (kata ganti) “bihima” kembali kepada al-Kitab dan ‘ltrah. Saya kira tidak ada seorang pun dari orang Arab, yang mempunyai pemahaman sedikit tentang bahasa, yang menentang hal ini. Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasulullah saw adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana juga mengikuti Al-Qur’an adalah sesuatu yang wajib, terlepas dari siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu.

Yang penting di sini ialah kita membuktikan bahwa perintah dan larangan serta ikutan adalah milik Ahlul Bait. Adapun pembahasan mengenai siapa mereka, berada di luar konteks pembahasan hadis ini. Sebagaimana para ulama ilmu ushul mengatakan, “Sesungguhnya proposisi tidak menetapkan maudhu-nya”‘, maka tentu Ahlul Bait adalah para khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Sabda Rasulullah yang berbunyi “Aku tinggalkan padamu….” adalah merupakan nas yang jelas bahwa Rasulullah saw menjadikan mereka sebagai khalifah sepeninggal beliau, dan berpesan kepada umat untuk mengikuti mereka.

Rasulullah saw menekankan hal ini dengan sabdanya “Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya sepeninggalku”. Kekhilafahan Al-Qur’an sudah jelas, sementara kekhilafahan Ahlul Bait tidak dapat terjadi kecuali dengan keimamahan mereka.

Oleh karena itu, Kitab Allah dan ‘ltrah Rasulullah saw adalah merupakan sebab yang menyampaikan manusia kepada keridaan Allah. Karena mereka adalah tali Allah yang kita telah telah diperintahkan oleh Allah untuk berpegang teguh kepadanya, “Dan berpegang teguh lah kamu kepada tali Allah.” (QS. Ali ‘lmran: 103)

Ayat ini bersifat umum di dalam menentukan apa dan siapa tali Allah yang dimaksud. Sesuatu yang dengan jelas dapat disimpulkan dari ayat ini ialah wajibnya berpegang teguh kepada tali Allah; lalu kemudian datang sunah dengan membawa hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya, yang menjelaskan bahwa tali yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya ialah Kitab Allah dan Rasulullah saw.

Al-Qanduzi menyebutkannya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Dia berkata tentang firman Allah SWT yang berbunyi “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah”, “Tsa’labi telah mengeluarkan dari Aban bin Taghlab, dari Ja’far ash-Shadiq as yang berkata, ‘Kami inilah tali Allah yang telah Allah katakan di dalam firman-Nya ‘Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah danjanganlah berpecah-belah.’”

Penulis kitab al-Manaqib juga mengeluarkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Kami pernah duduk di sisi Rasulullah saw, lalu datang seorang orang Arab yang berkata, ‘Ya Rasulullah, saya dengar Anda berkata, ‘Berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah’, lalu apa yang dimaksud tali Allah yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya?’ Rasulullah saw memukulkan tangannya ke tangan Ali seraya berkata, ‘Berpegang teguhlah kepada ini, dia lah tali Allah yang kokoh itu.‘”[2]

Adapun sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemui aku di telaga”, menunjukkan kepada beberapa arti berikut:

Pertama, menetapkan kemaksuman mereka. Karena keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang sama sekali tidak ada sedikit pun kebatilan di dalamnya, menunjukkan pengetahuan mereka tentang apa yang ada di dalam Kitab Allah dan bahwa mereka tidak akan menyalahinya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Jelas, munculnya penentangan dalam bentuk apa pun dari mereka terhadap Kitab Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja, itu berarti keterpisahan mereka dari Kitab Allah. Padahal, secara tegas hadis mengatakan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga menjumpai Rasulullah saw di telaga. Karena jika tidak demikian, maka itu berarti menuduh Rasulullah saw berbohong. Pemahaman ini juga dikuatkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan sunah. Kita akan tunda pembahasan ini pada tempatnya.

Kedua, sesungguhnya kata lan menunjukkan arti pelanggengan (ta’bidiyyah). Yaitu berarti bahwa berpegang teguh kepada keduanya akan mencegah manusia dari kesesatan untuk selamanya, dan itu tidak dapat terjadi kecuali dengan berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, tidak hanya kepada salah satunya saja. Sabda Rasulullah saw di dalam riwayat Thabrani yang berbunyi “Janganlah kamu mendahului mereka karena kamu akan celaka, janganlah kamu tertinggal dari mereka karena kamu akan binasa, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui dari kamu” memperkuat makna ini.

Ketiga, keberadaan ‘ltrah di sisi Kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat, dan tidak ada satu pun masa yang kosong dari mereka. Ibnu Hajar telah mendekatkan makna ini di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, “Di dalam hadis-hadis yang menganjurkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait, terdapat isyarat yang mengatakan tidak akan terputusnya kelayakan untuk berpegang teguh kepada mereka hingga hari kiamat. Demikian juga halnya dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, mereka adalah para pelindung bagi penduduk bumi, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Hadis yang berbunyi ‘Pada setiap generasi dari umatku akan ada orang-orang yang adil dari Ahlul Baitku’, memberikan kesaksian akan hal ini. Kemudian, orang yang paling berhak untuk diikuti dari kalangan mereka, yang merupakan imam mereka ialah Ali bin Abi Thalib —karramallah wajhah, dikarenakan keluasan ilmunya dan ketelitian hasil-hasil istinbathnya.[3]

Keempat, kata ini juga menunjukkan kelebihan mereka dan pengetahuan mereka terhadap rincian syariat; dan itu dikarenakan keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang tidak mengabaikan hal-hal yang kecil apalagi hal-hal yang besar. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah kamu mengajari mereka karena mereka lebih tahu darimu.”

Ringkasnya, mau tidak mau harus ada seorang dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman hingga datangnya hari kiamat, yang ucapan dan perbuatannya tidak menyalahi Al-Qur’an, sehingga tidak berpisah darinya. Dan arti dari “tidak berpisah dari Al-Qur’an secara perkataan maupun perbuatan” ialah berarti dia maksum dari segi perkataan dan perbuatan, sehingga wajib diikuti karena merupakan pelindung dari kesesatan.

Tidak ada yang mengatakan arti yang seperti ini kecuali Syi’ah, di mana mereka mengatakan wajibnya adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman, yang terjaga dari segala kesalahan, yang kita wajib mengenal dan mengikutinya.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal Imam jaman-nya maka dia mati sebagaimana matinya orang jahiliyyah.”

Makna yang demikian ditunjukkan oleh firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan pada hari di saat Kami memanggil setiap manusia dengan Imam mereka.”

1.  Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

2, Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 118, terbitan Muassasah al-A ‘lami Beirut – Lebanon.

3. Ash-hawa’iq, hal. 151.

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saw adalah 12 imam ahlulbait !! Ternyata Sunni berdusta

Perhatikan gambar silsilah 12 Imam Syiah, kalau imam-imam ke-1 s.d. ke-11 mempunyai tahun wafat sedangkan imam ke-12 yaitu Muhamad Al-Mahdi Al-Muntazar hanya memiliki tahun lahir saja karena menurut kepercayaan syiah, imam ke-12 hilang secara gaib pada umur 5 tahun (untuk menghindari dari kejaran penguasa pada waktu itu) dan akan muncul kembali sebagai Imam Mahdi.

Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur

Dua Belas Imam

Imamiah merupakan kelompok mayoritas dalam Syi’ah, disebut juga Itsna Asyariah, berikut ini merupakan daftar Imam yang merupakan pengganti Nabi Muhammad dalam hal kepemimpinan umat (bukan sebagai Nabi, karena Imamiah berpendapat Nabi terakhir adalah Muhammad). Setiap Imam merupakan anak dari Imam sebelumnya kecuali Husain bin Ali, yang merupakan saudara dari Hasan bin Ali.

  1. Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Ja’far bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Jafar (745799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawadatau Muhammad at-Taqi
  10. Ali bin Muhamad (827868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

PANDANGAN ISMAILIYAH


Ismailiyah percaya bahwa lima pertama dari enam Imam di atas adalah Imam sebenarnya pengganti Muhammad, tetapi Ismailiyah berpendapat bahwaIsmail bin Jafar adalah Imam pengganti ayahnya Jafar as-Sadiq, bukan saudaranya Musa al-Kazim. Dari Ismail bin Jafar, garis Imam Ismailiyah sampai ke Aga Khan yang mengklaim sebagai keturunannya. Lihat [1].

  1. Ali bin Abi Thalib (600661)
  2. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain as Syahid
  3. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  4. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  5. Jafar bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Jafar as-Sadiq
  6. Ismail bin Jafar

Hal penting untuk dicatat adalah Hasan bin Ali tidak termasuk dalam Imam yang diakui oleh Ismailiyah.

 

PANDANGAN ZAIDIYAH

Zaidiyah percaya bahwa empat Imam pertama seperti dalam daftar Imamiah adalah Imam yang sebenarnya, tetapi berbeda dengan yang kelima. Zaidiyah menyatakan bahwa Zaid bin Ali dan bukan saudaranya Muhammad al-Baqirsebagai Imam penerus. Untuk Zaidiyah, Keimaman dipindahkan dari Zaid bin Ali ke Imam yang menjadi pengikutnya; sering mereka menggunakan gelarKhalifah.

  1. Ali bin Abi Thalib (600661)
  2. Hasan bin Ali (625669)
  3. Husain bin Ali (626680)
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Zaid bin Ali (meninggal 740)

Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur

Dua Belas Imam

Dua belas Imam (Bahasa Arab: اثنا عشرية – Ithnāˤashariyya) adalah cabang dari ajaran Syiah yang memiliki pengikut terbanyak. Mereka yang mengikuti ajaran yang disebut sebagai Syiah Imamiyah ini mempercayai bahwa mereka mempunyai 12 orang pemimpin, yang pemimpin pertamanya adalah Imam Ali ra. dan pemimpin terakhir mereka adalah Imam Mahdi Al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), seorang Imam yang muncul pada tahun 868 dan kemudian menghilang. Para pengikut Itsna Asyariyyah yakin bahwa Imam Mahdi akan kembali untuk menghadapi dajjal dan akan membangun pemerintahan Islam

dalam aspek keyakinan kaum Syi’ah Itsna Asyariyyah, para Imam bukanlah nabi atau rasul. Para Imam hanyalah membawakan pesan Nabi Muhammad saw. Syi’ah Itsna Asyariyyah tidak menganggap Imam lebih berkuasa daripada nabi. Kebanyakan muslim salah melihat Syi’ah dalam hal tersebut. Bahkan, di ajaran Syi’ah, jika ada seseorang yang menganggap adanya nabi atau rasul setelah Nabi Muhammad saw. akan langsung diberi status bid’ah atau kafir.

.

Keyakinan Itsna Asyariyyah

Para pengikut ajaran Syi’ah Itsna Asyariyyah mendasarkan hukum mereka (Syariah) pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Perbedaan antara hukum syariah Sunni dan Syiah terletak pada keyakinan bahwa Nabi Muhammad memberikan Ali ra. sebagai pemimpin pertama setelah Nabi Muhammad saw

.

Lebih lanjut, menurut pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah, bahwa Imam atau pemimpin umat tidaklah dapat dipilih oleh manusia secara demokrasi (pemilu). Imam adalah jabatan langsung dari Allah swt. Sedangkan pengikut Sunni percaya bahwa pemimpin umat dipilih dengan pemilu dan yang memiliki suara terbanyaklah yang menjadi pemimpin (khalifah). Perbedaan inilah yang membuat Syi’ah dan Sunni menjadi terpecah. Berikut ini adalah perbedaan lain dalam masalah Syari’ah antara Syi’ah dan Sunni:

  1. Mengambil hadits dari Nabi Muhammad saw. dan para Ahlul Bait
  2. Tidak mengambil hadits dan contoh yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar dan Usman (Mereka bertiga adalah khulafaur rasyidin sebelum Ali ra.)
  3. Memberikan status ma’shum (bebas dari kesalahan) kepada para Imam dan mengikuti contoh dan ajaran mereka.

.

Doktrin utama

Berikut ini adalah keyakinan-keyakinan para pengikut Itsna Asyariyyah dalam dua hal yaitu Ushuluddin (prinsip keyakinan) dan Furu’ ad-Din (prinsip keagamaan) :

Prinsip keimanan Itsna Asyariyyah

Seorang mullah sedang berada di sebuah Imamzadeh di TabrizIran

Aliran Itsna Asyariyyah tidak membolehkan taklid (keyakinan yang buta), tapi setiap mereka yang sudah mukallaf harus mengetahui keyakinan yang sudah ditentukan:

  • Masalah ketauhidan: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Allah-lah pencipta, menciptakan Adam langsung dengan tangan-Nya, kemudian menghidupkannya, memberinya rizki dan mematikannya. Juga memberi manusia sakit dan ujian, semua atas kekuasaan-Nya (QS Yasin:82). Mereka juga percaya bahwa Allah Maha Kuasa, Allah Maha Esa, Allah tidak terlihat dan tidak tergambar secara lahiriah oleh manusia. Secara tauhid, mereka sama dengan umat Islam pada umumnya.[3] [4]
  • Masalah keadilan: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Allah tidak menganiaya satupun dari hamba-Nya, dan setiap hamba-Nya diberikan rizki sesuai yang dibutuhkannya.
  • Masalah kenabian: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa rasul terakhir umat Islam adalah Rasulullah Muhammad saw. dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. adalah wajib, seperti yang tercantum di Al-Qur’an (QS Ali ‘Imran:85)
  • Masalah imamah: Pengikut islam Syi’ah termasuk cabang Itsna Asyariyyah (Syiah Imamiyah) mempercayai bahwa ada sistem kepemimpinan yang disebut imamah yang berasal dari Nabi Muhammad. Imam sendiri bertugas untuk memimpin umat Islam dengan petunjuk dari Allah swt. Dan dalam prinsip ajaran Syi’ah disebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan umat Islam tanpa pemimpin. Mereka mempercayai bahwa Imam ma’shum (bebas dari dosa) dan jabatan Imam adalah langsung dari ilham yang didatangkan oleh Allah. Setiap Imam akan berwasiat kepada Imam selanjutnya.
  • Masalah Kebangkitan: Bahwa Allah menghidupkan manusia untuk beramal. Mereka yang beramal baik akan diberikan ganjaran untuk masuk ke surga selamanya, sedangkan yang beramal buruk akan dimasukkan ke neraka selamanya.

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

  • Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
  • Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda“Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan olehAs Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam.Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Hadits dalam Itsna Asyariyyah

  • Hadits dalam Syi’ah: dimana hadits adalah perkataan dan tindakan dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam). Hadits ini akan diteliti dengan shahih atau dengan interview dengan sang perawi. Hadits ini akan melewati banyak perawi yang di antaranya adalah sahabat dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) dan sampai akhirnya akan tiba di al-Ma’shum tersebut (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam)[38] .
  • Ilmu dariyah dalam Itsna Asyariyyah: yaitu ilmu untuk mencari gejala hadits dalam kondisi darurat dalam hal bagaimana matan dan sanad menyampaikan hadits[39].
  • Hadits dalam satu jalur: karena hadits merupakan hasil adaptasi untuk mempertahankan dan menyampaikan sebuah cerita atau perkataan dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam), maka ada satu orang yang akan menyampaikan banyak hadist dalam satu jalur dan kemudian akan diteruskan ke setiap orang, seperti yang telah ditulis dan diikuti dalam ilmu Ushul Fiqih, bahwa kebenaran hadist dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) belum tentu benar adanya jika disampaikan dalam banyak jalur.
  • Ilmu rijal : Ilmu yang ditujukan untuk menguji ilmu dan keadaan para perawi saat menyampaikan hadits untuk mengetahui dan mengidentifikasi sebuah hadits sebagai shahih atau tidak shahih.
  • Sifat perawi yang riwayatnya dan kualifikasinya diterima:
  1. Beragama Islam: Tidak akan diterima riwayat hadits dari perawi kafir, sebelum sang perawi kafir tersebut mengucapkan syahadat secara sungguh-sungguh.
  2. Mempunyai akal yang logis (tidak gila): Tidak diterima hadits yang disampaikan oleh orang gila
  3. Baligh (cukup umur untuk menyampaikan hadits): Tidak diterima hadits dari seorang anak kecil sebelum dia mumayyiz (dewasa)
  4. Beriman
  5. Adil: Sang perawi harus bisa mempertahankan haditsnya dalam kebenaran dan tidak berlebihan dalam meriwayatkan hadits

Salam dan Solawat. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih

Sejak kita di bangku sekolah lagi, di dalam pendidikan sejarah Islam, nama Khalifah Ar Rasyidin adalah sesuatu yang kerap kita dengar, dan kita telah dididik untuk menyanjung dan mencontohi mereka dalam segala hal. Kita kerap mendengar guru-guru kita memberikan hadis ini kepada kita.

“Aku wasiatkan kepada kamu agar bertaqwa kepada Allah dengar serta taat, meskipun kamu dipimpin oleh seorang hamba. Sesungguhnya barangsiapa diantara kamu yang masih hidup sesudah pemergianku, ia akan melihat banyak perselisihan yang akan berlaku. Maka ketika itu pastikan kamu berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Ar Rasyidin. Gigitlah ia dengan gerahammu, dan berhatilah dengan perkara-perkara baru dalam agama, kerana setiap bidaah itu ialah kesesatan.”

Hadis di atas adalah antara sandaran utama AhlulSunnah, dan antara sebab mereka mengagungkan para khalifah ini. Walaubagaimanapun, hadis ini dhaif, dan akan saya bincangkan nanti tentang kedhaifannya. Anyway, saya berpendapat, matan hadis ini boleh di pakai, hanya jika kita menakwilkannya terhadap para Imam dari Ahlulbait(as), seperti yang saya telah bahaskan dalam artikel yang lepas. Sunnah para Aimmah(as) tidak pernah bercanggah dengan Sunnah Nabi(sawa), juga tidak pernah bercanggah sesama mereka. Ini ialah satu fakta dan mengapa saya memilih untuk menggigit sunnah mereka dengan gigi geraham saya.

Ada beberapa masalah tentang hadis di atas, jika katakan kita mahu mengguna pakai hadis ini:

  1. Rasulullah(sawa) tidak pernah menyebutkan siapa “Khalifah Ar Rasyidin” ini secara jelas(kecuali untuk Imam Ali(as) dan Ahlulbait baginda) di dalam hadisnya, jadi mengapa kalian AhlulSunnah menamakan Abu Bakr, Umar dan Usman sebagai khalifah ar rasyidin?
  2. Jika pun benar mereka ialah para khalifah yang disebutkan oleh Rasul Akram(sawa), apakah hujah kalian untuk hanya menetapkan mereka kepada 4 orang sahaja?

Inilah antara kemusykilan saya, kerana kita suka-suka hati sahaja menetapkan siapa khulafa ar rasyidin, sedangkan perlantikan ini seharusnya daripada Allah swt melalui mulut Rasul yang suci, bukan oleh kita manusia biasa penuh dosa. Saudara Sunni jelas telah tersilap, kerana sepatutnya hadis ini perlu digandingkan dengan hadis-hadis dalam artikel Imamah bahagian 2 yang lepas, dan juga, dengan hadis ini-:

1. Di keluarkan dari Bukhari, Ahmad dan Baihaqi, dari Jabir bin Samurah, berkata,

“Akan wujud 12 orang amir”.

Jabir berkata: Setelah itu baginda(sawa) mengatakan sesuatu yang tidak dapat aku mendengarnya.    Lantas bapaku berkata bahawa baginda bersabda:

“Semuanya dari Quraish.”

2. Di keluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku masuk bersama bapaku ke hadhrat Nabi lalu aku mendengar baginda(sawa) bersabda:

‘Urusan agama ini tidak akan selesai hingga sempurna 12 orang Khalifah.”

Jabir berkata: Kemudian baginda mengatakan sesuatu yang kabur dari pendengaran ku, maka aku bertanya kepada bapaku. Bapaku menjawab:

Semuanya daripada Quraish”

3.  Dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad dari Jabir bin Samurah: Aku telah mendengar bahawa Rasulullah bersabda:

“Urusan agama akan tetap berjalan lancar selagi mereka dipimpin oleh 12 orang lelaki.”

4. Di keluarkan oleh Muslim, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, al Khatib al Tabrizi, dari Jabir bin Samurah, Rasulullah(sawa) bersabda:

“Islam akan tetap mulia(selagi mereka dipimpin oleh) dengan 12 orang khalifah”

5. Dikeluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Nabi bersabda pada petang Jumaat ketika al Aslani di rejam:

“Agama ini akan tetap teguh berdiri hingga hari kiamat kerana kamu dipimpin oleh 12 orang khalifah.”

6. Di keluarkan oleh Ahmad, Al Hakim, al Haithami di dalam Majma’ uz Zawaid dinukil dari Thabrani dan al Bazzar, dari Jabir bin Samurah, Nabi bersabda:

“Urusan umatku akan berada dalam keadaan baik sehinggalah cukup 12 orang khalifah.”

7. Di keluarkan oleh Ahmad, al Haithami di dalam Majma uz Zawaid, Ibnu Hajar di dalam al Mathalibul ‘Aliyah, al Busairi di dalam Mukhtasar al Ithaf dari Masruq berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata:

Apakah Nabimu pernah mengkhabarkan bilangan khalifah setelah pemergiannya?

Ibnu Mas’ud menjawab:

“Ya, tetapi tiada orang pun selain kamu yang bertanyakan perkara ini. Sesungguhnya kamu masih muda. Bilangan khalidah adalah seperti bilangan majlis Musa(as), iaitu 12 orang.”

Inilah antara hadis yang menunjukkan bilangan khalifah/amir sepeninggalan Rasululla(sawa), iaitu 12 orang, yang mana selagi di bawah pimpinan mereka:-

  1. Islam akan tetap mulia.
  2. Agama ini akan tetap teguh.
  3. Urusan umat akan tetap dalam keadaan baik.

Syeikh Sulaiman al Qunduzi al Hanafi menerusi kitabnya Yanabi al Mawaddah telah mengkhususkan satu bab hanya untuk himpunan hadis 12 orang khalifah ini. Beliau menyatakan bahawa Yahya bin Hassan menerusi kitabnya, al Umdah menyenaraikan 20 jalan sanad bahawa khalifah sepeninggalan Nabi(sawa) ialah 12 orang. Manakala Bukhari menyenaraikan 3 jalan, Muslim 9 jalan, Abu Daud 3 jalan, dan Tarmizi 1 jalan.

Dengan adanya hadis-hadis ini, bagaimanakah saudara-saudara Sunni sekalian boleh menghadkan Khalifah sesudah Nabi hanya 4 orang, dan apakah dalil-dalil atau nas yang mengatakan khalifah-khalifah ini ialah Abu Bakr, Umar, atau Usman(Ali sudah tentu ada, hehe)? Setakat ini dan selama sejarah ini,yang diketahui mengenali dan mengikut 12 orang khalifah secara tepat hanyalah Syiah Imamiah. Mereka menjadikan mereka sebagai sumber kepimpinan mereka.

Lihat sahaja betapa Rasulullah(sawa) begitu menekankan tentang 12 orang khalifah ini, yang dari semua hadis ini, kita dapat rumuskan mereka sebagai penjaga agama dan urusan umat sepeninggalan baginda. Kalau kita match kan hadis-hadis ini dengan hadis wilayah Ahlulbait(as), tidakkah kita mendapati mereka(Ahlulbaiy) ialah gandingan yang sesuai untuk 12 orang ini? Dan sememangnya, hanya 12 orang sahaja yang dengan sebenar-benarnya layak memimpin umat Islam.

Siapakah Mereka?

Sewaktu saya masih dalam tempoh kajian, saya begitu teruja dan ingin tahu tentang 12 orang amir ini. Saya sentiasa membayangkan mereka sebagai pelindung Islam dan pengikutnya. Malangnya saya tidak mengenali mereka yang lain, selain dari empat yang telah diketahui umum. Saya tertanya-tanya, siapakah 8 orang yang selebihnya? Ulama-ulama Sunni, menemui jalan buntu dalam percubaan mereka untuk menakwil dan memahami hadis ini. Apa kata mereka?

Qadi Abu Bakr Ibn Al Arabi

Setelah mengira bilangan Amir selepas Rasulullah sebagai 12 kita mendapati mereka terdiri daripada : Abu Bakr, ‘Umar, ‘Uthman, Ali, Hasan, Mu’awiyah, Yazid, Mu’awiyah ibn Yazid, Marwan, ‘Abd al-Malik ibn Marwan, Yazid bin ‘Abd al-Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Selepas dari mereka ini ada 27 orang lagi khalifah dari Bani Abbasiyyah.

Kalau kita hanya mengambil 12 orang khalifah dari mereka itu kita akan sampai kepada Sulayman.  Kalau kita mengambil maksud hadith ini secara literal, kita hanya boleh mengambil 5 orang daripada mereka dan ditambah dengan 4 orang Khulafa’ ar-Rasyidun dan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz…

Saya tidak boleh memahami maksud Hadith ini.

[Qadi Abu Bakr Ibn al-'Arabi, Sharh Sunan Tirmidhi, 9:68-69]

Qadi ‘Iyad al-Yahsubi:

Bilangan Khalifah adalah lebih dari itu. Untuk menghadkan bilangan mereka kepada dua belas adalah tidak tepat. Rasulullah (s.a.w.s.) tidak pernah mengatakan bahawa hanya ada dua belas orang dan tidak lebih dari itu. Oleh itu bilangan mungkin ada lebih.

[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim, 12:201-202;Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalal al-Din al-Suyuti:

Hanya ada duabelas orang khalifah sehingga hari kebangkitan. Dan mereka akan tetap bertindak mengikut haq (kebenaran) walaupun mereka tidak berturutan.

Daripada 12 itu, empat adalah khulafa ar-Rasyidun, kemudian Hasan, kemudian Mu’awiyah, kemudian Ibn Zubayr, dan diakhiri dengan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz. Bilangan mereka baru lapan. Tinggal lagi empat. Mungkin Mahdi, si-Abbasiyyah boleh dimasukkan kerana beliau dikalangan Bani Abbasiyyah adalah seperti  ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz dikalangan Bani Umayyah. Tahir ‘Abbasi akan juga dimasukkan kedalam bilangan ini kerana beliau merupakan seorang sultan yang adil. Dua lagi akan datang pada masa hadapan. Salah seorang daripada mereka adalahMahdi, kerana beliau adalah dari Ahlul Bayt (a.s.).

[Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Page 12;Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqa Page 19

Ibn Hajar al-'Asqalani:

Tidak ada seorangpun yang mempunyai ilmu yang cukup untuk memahami hadith dari sahih Bukhari ini.Adalah tidak tepat untuk mengatakan bahawa imam-imam ini akan hadir pada satu ketika/masa yang sama.

[Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

Ibn al-Jawzi:

Khalifah pertama dari Bani Umayyah adalah Yazid ibn Mu’awiyah dan yang terakhir adalah, Marwan Al-Himar. Bilangan mereka adalah tiga belas. ‘Uthman, Mu’awiyah dan ibn Zubayr tidak dimasukkan didalam bilangan ini kerana mereka adalah dikalangan para sahabat Rasulullah(s).

Kalau kita mengecualikan Marwan bin al-Hakam kerana kontorversi samada beliau dikira sebagai sahabat ataupun tidak kerana walaupun beliau berkuasa  Abdullah ibn Zubayr mendapat sokongan daripada rakyat. Baharulah kita akan mendapat angka dua belas. … Setelah kekhilafahan Bani Umayyah, suatu kekacauan yang hebat berlaku. Sehingga Bani Abbasiyyah berjaya untuk menstabilkan pemerintahan mereka. Oleh itu suasana asal telah bertukar seluruhnya.

[Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana yang telah dicatatkan dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al Baihaqi:

Bilangan ini (duabelas) akan dijumpai hingga ke zaman Walid ibn ‘Abd al-Malik. Selepas daripada ini timbul kekacauan dan gangguan. Kemudian datang pula Bani Abbasiyyah. Riwayat ini telah meningkatkan bilangan Imam. Sekiranya kita ketepikan sebahagian daripada perilaku mereka yang datang selepas kekacauan tersebut, bilangan mereka akan meningkat.”

[Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Page 11]

Ibnu Katsir:

Barangsiapa yang mengikut dan bersetuju dengan  pandangan Bayhaqi bahawa Jama’ah bermaksud khalifah-khalifah yang datang turut menurut sehingga pada masa Walid ibn Yazid ibn ‘Abd al-Malik si-pengganas adalah mereka yang dikritik dan dihina oleh kami dengan berhujah kepada beberapa hadith.

Dan sekiranya kita menerima Kekhalifahan Ibn Zubayr sebelum ‘Abd al-Malik bilangannya akan menjadi enam belas. Padahal bilangannya sepatutnya duabelas sebelum dari ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Dengan kaedah ini Yazid ibn Mu’awiyah akan dimasukkan dan tidak  ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Walaubagaimanapun, adalah telah diterima oleh junhur ulema bahawa ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz adalah seorang khalifah yang benar dan adil.

[Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249-250]

Lihat sahaja kekeliruan mereka. Ini mungkin disebabkan oleh kejahilan mereka kerana hanya memberi tumpuan terhadap orang yang memegang kuasa bukan yang di lantik Rasulullah(sawa). Ini juga disebabkan oleh prejudis terhadap Syiah sehingga mereka terlepas pandang terhadap hadis keutamaan Ahlulbait(as).

Demi membuka kebuntuan ini, biarlah saya meriwayatkan hadis ini sebagai permulaan:-

Al-Dhahabi yang merupakan seorang ulamak yang terkenal, berkata di dalam Tadhkirat al-Huffaz, Jilid. 4, ms. 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani berkata didalam al-Durar al-Kaminah, Jilid. 1, ms. 67 bahawa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi’i merupakan seorang ulamak hadith yang terkenal. Beliau (Al-Juwayni) melaporkan dari Abdullah ibn Abbas (r) yang melaporkan dari Rasulullah (s) yang bersabda,

Aku adalah penghulu bagi para Nabi dan Ali ibn Abi Talib adalah penghulu bagi penggantiku, dan selepas daripada aku, penggantiku adalah 12, yang pertama merupakan Ali ibn Abi Talib dan yang terakhir merupakan Al Mahdi.

Al-Juwayni juga meriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas (r) yang meriwayatkan daripada Rasulullah (s):

“Sesungguhnya Khalifahku dan pewarisku dan Hujjah Allah keatas makhlukNya selepas dari ku adalah 12. Yang pertama daripada mereka adalah saudaraku dan yang terakhir daripada mereka adalah anakku (cucu).“  Baginda ditanya: “Ya Rasulullah, Siapakah saudaramu?”  Beliau menjawab, “Ali ibn Abi Talib” Kemudian mereka bertanya lagi, “Dan siapakah anakmu?”  Rasulullah (s) menjawab, “Al Mahdi, beliau yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan seperti mana pada ketika itu ia dipenuhi oleh ketidakadilan dan kekejaman. Dengan Dia yang telah mengangkatku sebagai pemberi khabar buruk dan khabar baik, biarpun hanya sehari tinggal untuk kehidupan dunia ini, Allah Maha Kuasa akan memanjangkan hari itu sehingga beliau menghantar anakku Mahdi, kemudian Beliau akan menyuruh Ruhullah ‘Isa ibn Maryam (a) untuk turun dan solat dibelakang beliau (Mahdi). Dan dunia akan disinari oleh cahaya kehebatannya. Dan kekuasaannya akan mencapai timur dan barat.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan bahawa Rasulullah(s) juga memberitahu: “Aku, Ali, Hasan, Husayn dan sembilan orang daripada zuriat Husayn adalah mereka yang disucikan dan yang tidak melakukan kesalahan.

[Al-Juwayni, Fara'id al-Simtayn, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, p. 160.]

Pendapat inilah yang selari dengan pendapat kami, Syiah Ahlulbait(as). Jelas sekali di sini, Khalifah ar Rasyidin bukanlah ditujukan kepada Abu Bakr, Umar atau Usman. Gelaran ini juga tidak muncul di zaman pemerintahan mereka. Ia hanya diberikan oleh ulama-ulama dari golongan Tabiin dan seterusnya, yang memandang zaman itu sebagai zaman kegemilangan Islam.

Untuk lebih detail, inilah mereka.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai Jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”

Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

Telah diriwayatkan oleh al Hamwini, di dalam Fara’id al-Simtayn dan dinukilkan darinya di dalam Yanabi al Mawaddah, dengan sanad dari Ibnu Abbas berkata:

Seorang Yahudi yang bergelar Nat’sal datang bertemu Rasulullah(sawa) lalu berkata;

Wahai Muhammad(sawa) aku berhajat untuk bertanya kepadamu sesuatu yang aku pendamkan di dalam diriku. Jika kamu menjawabnya, maka aku akan mengisytiharkan keislamanku di hadapan mu.” Rasulullah(sawa) menjawab, “Tanyalah wahai Abu Imarah.” Dia lalu menyoal baginda sehingga beliau merasa puas dan mengakui kebenaran baginda(sawa).

Kemudian dia berkata, “ Beritahu aku tentang pengganti kamu, siapakah mereka? Sesungguhnya tiada Rasul yang tidak mempunyai wasi(pengganti).Rasul kami Musa melantik Yusha bin Nuun sebagai pengganti dirinya. Baginda menjawab: “Wasi ku ialah Ali bin Abi Thalib, diikuti oleh kedua cucuku, Hassan dan Hussain, seterusnya diikuti pula oleh 9 orang keturunan Hussain.

Dia bertanya lagi: “Sebutkan nama-nama mereka kepada ku waha Muhammad(sawa).” Rasul menjawab, “Apabila Hussain pergi, beliau akan diganti oleh anaknya, Ali, apabila Ali pergi, Muhammad akan menggantikannya. Apabila Muhammad pergi, Ja’afar akan menggantikannya. Apabila Ja’afar pergi, beliau akan digantikan oleh anaknya Musa. Apabila Musa pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Setelah Ali pergi anaknya Muhammad akan menggantikannya. Setelah Muhammad pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Apabila Ali pergi, anaknya Hassan akan menggantikannya. Apabila Hassan pergi, anaknya Muhammad al Mahdi akan menggantikannya. Inilah mereka yang 12 orang.Dengan jawapan tersebut yahudi itu memuji Allah dan menyatakan keislamannya.

Setakat ini, bolehlah saya simpulkan bahawa nama para Imam/Khalifah/Amir ini ialah:

  1. Imam Ali Ibnu Abi Thalib Al Murtadha
  2. Imam Hassan ibn Ali al Mujtaba
  3. Imam Hussain ibn Ali asy-Syahid
  4. Imam Ali ibn Hussain Zain al Abidin
  5. Imam Muhammad ibn Ali al Baqir
  6. Imam Ja’afar ibn Muhammad as Sadiq
  7. Imam Musa ibn Ja’afar al Kazim
  8. Imam Ali ibn Musa ar Redha
  9. Imam Muhammad ibn Ali al Jawad
  10. Imam Ali Ibn Muhammad al Hadi
  11. Imam Hassan ibn Ali al Askari
  12. Imam Muhammad ibn Hassan al Mahdi

Demi Allah, para Imam-imam inilah tempat kami, orang-orang Syiah, meletakkan kesetiaan kami, rujukkan ilmu agama kami, dan sebagai hakim kami. Mereka ialah lantikan Allah swt, menerusi lidah suci Imam ar Rahmah, Rasulullah(sawa). Ada sesetengah pihak menuduh kami, sesuka hati meletakkan siapa Imam-imam ini, seolah-olah kami memilih Imam kami. Kalian silap, Allah swt lah yang menetapkan mereka, bukan kami, kami hanya “Sami’na wa atho’na.“(Kami dengar dan kami taat)

Apa yang boleh saya simpulkan di sini ialah:-

  • Khalifa ar Rasyidin bukan sekadar 4 orang, tetapi 12 orang.
  • Mereka semuanya ialah Ahlulbait(as), bukan Abu Bakr, Umar dan Usman.
  • Rasulullah sendiri telah menyebut mereka, dan bukan ciptaan kami.
  • Di bawah Imamah mereka, Islam itu aman, terurus dan terlindung, begitu jugalah dengan umatnya yang mengikuti mereka.

Kalau nak diikutkan, perbahasan ini masih boleh dipanjangkan, tetapi saya merasakan cukup setakat ini. Tidak mengapa jika ada yang tidak bersetuju dengan apa yang saya utarakan di sini, tetapi hormatilah pendapat kami, kerana kami mengeluarkan pendapat berdasarkan dalil dan nas, bukan sekadar suka-suka.

Wallahu’alam. Salam alaikum dan solawat.

.
DR. Majdi Wahbe as Syafi’i (Khatib al Azhar) berhasil menetapkan jumlah para imam Ahlul Bait (as) melalui Al Quran
 Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur’an
Salah seorang pemerhati Agama Mesir dan Khatib Universitas al Azhar berhasil menetapkan jumlah para imam Ahlul Bait (as) melalui Al Quran. Berdasarkan laporan ini disebutkan bahwa beliau mampu membuktikan kebenaran 12 imam yang dimulai dari Imam Ali sampai Imam terakhir, yaitu Imam Mahdi (as).
Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al QurKemudian laporan itu melanjukan: Kata yang merupakan derivasi (pecahan) dari “al imamah” (imam/kepemimpinan) juga berulang sebanyak 12 kali dalam Al Qur’an yang bermakna 12 imam dimana berdasarkan riwayat yang dinukil dari Nabi saw urutannya adalah dari Imam Ali (as), Imam Hasan (as) dan Imam Husain serta mencakup 9 Imam dari keturunan Imam Ketiga.

Dua belas (12) Ayat Al Quran yang mencakup kata “imam dan imamah”, yaitu:

- سورة البقرة، الآية 124: {وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِين}.

2- سورة التوبة، الآية 12: {وَإِن نَّكَثُواْ أَيْمَانَهُم مِّن بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُواْ أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لاَ أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنتَهُونَ}.

3- سورة هود، الآية17: {أَفَمَن كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِّنْهُ وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إَمَاماً وَرَحْمَةً أُوْلَـئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ }.

4- سورة الاسراء، الآية70: {يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُوْلَـئِكَ يَقْرَؤُونَ كِتَابَهُمْ وَلاَ يُظْلَمُونَ فَتِيلا}.

5- سورة الانبياء، الآية 72: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِين}.

6- سورة القصص، الآية 5: {وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِين}.

7- سورة الحجر، الآية 79: {فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ }.

8- سورة السجدة، الآية 24: {وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُون}.

9- سورة يس، الآية 12: {إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ }.

10- سورة القصص، الآية 41: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لا يُنصَرُون}.

11- سورة الفرقان، الآية 74: {وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}.

12- سورة الأحقاف، الآية 12: {وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَاماً وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ مُّصَدِّقٌ لِّسَاناً عَرَبِيّاً لِّيُنذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ}.

Yang menarik Khatib Masjid al Azhar ini juga membuktikan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait –sebagaimana yang termaktub dalam surah al Ahzab, ayat 33 itu hanya 5 orang (yaitu Rasul saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain) dan sama sekali tidak mencakup istri-istri Nabi saw, sebagaimana diriwayatkan sendiri oleh Ummu Salamah. Hal ini ditegaskan oleh Nabi saw dalam hadisnya yang terkenal dengan “hadis kisa”. (Kisa berarti kain penutup). Beliau menyatakan bahwa kata kisa’ pun lima kali disebutkan dalam al Quran, yaitu:

1- سورة البقرة، الآية 233: {وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا لاَ تُضَآرَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالاً عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُواْ أَوْلاَدَكُمْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّا آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير}.

2- سورة البقرة، الآية 259: {أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىَ يُحْيِـي هَـَذِهِ اللّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللّهُ مِئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْماً أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِئَةَ عَامٍ فَانظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِّلنَّاسِ وَانظُرْ إِلَى العِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْماً فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير}.

3- سورة المائدة، الآية 89: {لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون}.

4- سورة المؤمنون، الآية 14: {ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِين}.

5- سورة النساء، الآية 5: {وَلاَ تُؤْتُواْ السُّفَهَاء أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللّهُ لَكُمْ قِيَاماً وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفا}.

 

.

Hadis Tsaqalain Sunni bermakna 12 imam Ahlul bait beserta Fatimah Az Zahra

Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya [1], “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Bakkar bin at-Tarian, “Telah berkata kepada kami Hisan (yaitu Ibnu Ibrahim), dari Sa’id (yaitu Ibnu Masruq), dari Yazid bin Hayan yang berkata, ‘Kami masuk kepada Zaid bin Arqam dan berkata, ‘Anda telah melihat kebajikan. Anda telah bersahabat dengan Rasulullah saw dan telah salat di belakangnya. Anda telah menjumpai banyak kebaikan, ya Zaid (bin Arqam). Katakanlah kepada kami, ya Zaid (bin Arqam), apa yang Anda telah dengar dari Rasulullah saw.‘ Zaid (bin Arqam) berkata, ‘Wahai anak saudaraku, demi Allah, telah lanjut usiaku, telah berlalu masaku dan aku telah lupa sebagian yang pernah aku ingat ketika bersama Rasulullah. Oleh karena itu, apa yang aku katakan kepadamu terimalah, dan apa yang aku tidak katakan kepadamu janganlah kamu membebaniku dengannya.’

Kemudian Zaid bin Arqam berkata, ‘Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah saw berkata, ‘Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.’Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, ‘Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

Kemudian kami bertanya kepadanya (Zaid bin Arqam), ‘Siapakah Ahlul Baitnya, apakah istri-istrinya?’ Zaid bin Arqam menjawab, ‘Demi Allah, seorang wanita akan bersama suaminya untuk suatu masa tertentu. Kemudian jika suaminya menceraikannya maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun Ahlul Bait Rasulullah adalah keturunan Rasulullah saw yang mereka diharamkan menerima sedekah sepeninggal beliau. “

———————-

Penunjukkan makna hadis tsaqalain terhadap keimamahan Ahlul Bait adalah sesuatu yang amat jelas bagi setiap orang yang adil. Karena makna hadis tsaqalain menunjukkan kepada wajibnya mengikuti mereka di dalam masalah-masalah keyakinan, hukum dan pendapat, dan tidak menentang mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

Karena amal perbuatan apa pun yang melenceng dari kerangka mereka maka dianggap telah keluar dari Al-Qur’an, dan tentunya juga telah keluar dari agama. Dengan demikian, mereka adalah ukuran yang teliti, yang dengannya dapat diketahui jalan yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada petunjuk kecuali melalui jalan mereka dan tidak ada kesesatan kecuali dengan menentang mereka.

Inilah yang dimaksud dengan ungkapan, “jika kamu berpegang teguh kepada keduanya (tsaqalain)niscaya kamu tidak akan tersesat”. Karena yang dimaksud berpegang teguh kepada Al-Qur’an ialah mengamalkan apa yang ada di dalamnya, yaitu menuruti perintahnya dan menjauhi laranganya.

Demikian juga halnya dengan berpegang teguh kepada ‘ltrah Ahlul Bait. Karena jawab syarat tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan terlaksananya yang disyaratkan (al-masyruth) terlebih dahulu. Dhamir (kata ganti) “bihima” kembali kepada al-Kitab dan ‘ltrah. Saya kira tidak ada seorang pun dari orang Arab, yang mempunyai pemahaman sedikit tentang bahasa, yang menentang hal ini. Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasulullah saw adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana juga mengikuti Al-Qur’an adalah sesuatu yang wajib, terlepas dari siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu.

Yang penting di sini ialah kita membuktikan bahwa perintah dan larangan serta ikutan adalah milik Ahlul Bait. Adapun pembahasan mengenai siapa mereka, berada di luar konteks pembahasan hadis ini. Sebagaimana para ulama ilmu ushul mengatakan, “Sesungguhnya proposisi tidak menetapkan maudhu-nya”‘, maka tentu Ahlul Bait adalah para khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Sabda Rasulullah yang berbunyi “Aku tinggalkan padamu….” adalah merupakan nas yang jelas bahwa Rasulullah saw menjadikan mereka sebagai khalifah sepeninggal beliau, dan berpesan kepada umat untuk mengikuti mereka.

Rasulullah saw menekankan hal ini dengan sabdanya “Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya sepeninggalku”. Kekhilafahan Al-Qur’an sudah jelas, sementara kekhilafahan Ahlul Bait tidak dapat terjadi kecuali dengan keimamahan mereka.

Oleh karena itu, Kitab Allah dan ‘ltrah Rasulullah saw adalah merupakan sebab yang menyampaikan manusia kepada keridaan Allah. Karena mereka adalah tali Allah yang kita telah telah diperintahkan oleh Allah untuk berpegang teguh kepadanya, “Dan berpegang teguh lah kamu kepada tali Allah.” (QS. Ali ‘lmran: 103)

Ayat ini bersifat umum di dalam menentukan apa dan siapa tali Allah yang dimaksud. Sesuatu yang dengan jelas dapat disimpulkan dari ayat ini ialah wajibnya berpegang teguh kepada tali Allah; lalu kemudian datang sunah dengan membawa hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya, yang menjelaskan bahwa tali yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya ialah Kitab Allah dan Rasulullah saw.

Al-Qanduzi menyebutkannya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Dia berkata tentang firman Allah SWT yang berbunyi “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah”, “Tsa’labi telah mengeluarkan dari Aban bin Taghlab, dari Ja’far ash-Shadiq as yang berkata, ‘Kami inilah tali Allah yang telah Allah katakan di dalam firman-Nya ‘Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah danjanganlah berpecah-belah.’”

Penulis kitab al-Manaqib juga mengeluarkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Kami pernah duduk di sisi Rasulullah saw, lalu datang seorang orang Arab yang berkata, ‘Ya Rasulullah, saya dengar Anda berkata, ‘Berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah’, lalu apa yang dimaksud tali Allah yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya?’ Rasulullah saw memukulkan tangannya ke tangan Ali seraya berkata, ‘Berpegang teguhlah kepada ini, dia lah tali Allah yang kokoh itu.‘”[2]

Adapun sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemui aku di telaga”, menunjukkan kepada beberapa arti berikut:

Pertama, menetapkan kemaksuman mereka. Karena keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang sama sekali tidak ada sedikit pun kebatilan di dalamnya, menunjukkan pengetahuan mereka tentang apa yang ada di dalam Kitab Allah dan bahwa mereka tidak akan menyalahinya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Jelas, munculnya penentangan dalam bentuk apa pun dari mereka terhadap Kitab Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja, itu berarti keterpisahan mereka dari Kitab Allah. Padahal, secara tegas hadis mengatakan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga menjumpai Rasulullah saw di telaga. Karena jika tidak demikian, maka itu berarti menuduh Rasulullah saw berbohong. Pemahaman ini juga dikuatkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan sunah. Kita akan tunda pembahasan ini pada tempatnya.

Kedua, sesungguhnya kata lan menunjukkan arti pelanggengan (ta’bidiyyah). Yaitu berarti bahwa berpegang teguh kepada keduanya akan mencegah manusia dari kesesatan untuk selamanya, dan itu tidak dapat terjadi kecuali dengan berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, tidak hanya kepada salah satunya saja. Sabda Rasulullah saw di dalam riwayat Thabrani yang berbunyi “Janganlah kamu mendahului mereka karena kamu akan celaka, janganlah kamu tertinggal dari mereka karena kamu akan binasa, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui dari kamu” memperkuat makna ini.

Ketiga, keberadaan ‘ltrah di sisi Kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat, dan tidak ada satu pun masa yang kosong dari mereka. Ibnu Hajar telah mendekatkan makna ini di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, “Di dalam hadis-hadis yang menganjurkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait, terdapat isyarat yang mengatakan tidak akan terputusnya kelayakan untuk berpegang teguh kepada mereka hingga hari kiamat. Demikian juga halnya dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, mereka adalah para pelindung bagi penduduk bumi, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Hadis yang berbunyi ‘Pada setiap generasi dari umatku akan ada orang-orang yang adil dari Ahlul Baitku’, memberikan kesaksian akan hal ini. Kemudian, orang yang paling berhak untuk diikuti dari kalangan mereka, yang merupakan imam mereka ialah Ali bin Abi Thalib —karramallah wajhah, dikarenakan keluasan ilmunya dan ketelitian hasil-hasil istinbathnya.[3]

Keempat, kata ini juga menunjukkan kelebihan mereka dan pengetahuan mereka terhadap rincian syariat; dan itu dikarenakan keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang tidak mengabaikan hal-hal yang kecil apalagi hal-hal yang besar. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah kamu mengajari mereka karena mereka lebih tahu darimu.”

Ringkasnya, mau tidak mau harus ada seorang dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman hingga datangnya hari kiamat, yang ucapan dan perbuatannya tidak menyalahi Al-Qur’an, sehingga tidak berpisah darinya. Dan arti dari “tidak berpisah dari Al-Qur’an secara perkataan maupun perbuatan” ialah berarti dia maksum dari segi perkataan dan perbuatan, sehingga wajib diikuti karena merupakan pelindung dari kesesatan.

Tidak ada yang mengatakan arti yang seperti ini kecuali Syi’ah, di mana mereka mengatakan wajibnya adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman, yang terjaga dari segala kesalahan, yang kita wajib mengenal dan mengikutinya.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal Imam jaman-nya maka dia mati sebagaimana matinya orang jahiliyyah.”

Makna yang demikian ditunjukkan oleh firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan pada hari di saat Kami memanggil setiap manusia dengan Imam mereka.”

1.  Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

2, Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 118, terbitan Muassasah al-A ‘lami Beirut – Lebanon.

3. Ash-hawa’iq, hal. 151.

.

Pesan Terakhir Rasulullah saww di Ghadir Khum


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala Puji bagi Allah yang tinggi dalam keesaan¬-Nya, dekat dalam ketunggalan-Nya, perkasa dalam kekuatan-Nya, agung dalam keberadaan pembantu¬-pembantu utama-Nya, Maha Tahu akan segala sesuatu, sementara Dia tetap ditempat-Nya; rnenundukkan seluruh makhluk dengan kekuasaan¬Nya dan (kekuatan) bukti-bukti-Nya.

Dialah Tuhan yang kesucian-Nya abadi dan pujian bagi-Nya tak pernah terhenti. Pencipta langit-langit yang menjulang dan lapisan bumi yang membentang. Penguasa bumi dan langit, Maha Kudus dan Maha Suci. Tuhan para Malaikat dan al-Ruh yang kepada seluruh ciptaan-Nya bersifat sangat pemurah, dan kepada seluruh makhluk-Nya bersifat Maha Derma.
Dia melihat setiap pandangan, tanpa pandangan¬-pandangan itu rnelihat-Nya, Dialah Maha Pemurah, Maha Tabah dan Maha Kasih.

(Dialah) Penabur rahmat yang meliputi segala sesuatu, Pelimpah nikmat yang memberkati seluruh rnakhluk, tidak mempercepat siksa-Nya dan tidak segera menimpakan azab kcpada mereka yang berhak rnendapatkannya. Dia tahu setiap rahasia yang tersembunyi dan segala apa yang tersimpan dalarn hati. Tiada rahasia yang luput dari-Nya. dan tiada misteri yang rnengelirukan-Nya.

Dia Maha Tahu akan segala sesuatu, menundukkan segala sesuatu, perkasa atas segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu yang rnenyerupai-Nya.

Dialah yang menciptakan sesuatu ketika belum ada yang disebut sesuatu. Dialab yang Maha Abadi, yang berkuasa atas dasar keadilan. Tiada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana, Maha Suci Tuhan dan dilihat oleh pandangan mata, dan Dialah yang meliputi pandangan mata. Dia yang Maha Kasih dan Maha Mengetahui.

Tiada siapa yang menceritakan Sifat-Nya lantaran (pernah) melihat-Nya, tiada siapa yang mengetahui bagaimana Dia secara lahir dan batin, melainkan apa yang dikatakan oleh Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung itu sendri.

Aku bersaksi bahwa Dia Allah yang kudus-Nya memenuhi masa, cahaya-Nya meliputi alpha dan omega, perintah-Nya terlaksana tanpa musyawarah, takdir-Nya ditentukan tanpa bersama-Nya mitra.

Tiada cela dalam pengaturan-Nya, tiada contoh dan ciptaan yang dibentuk-Nya, tiada bantuan dari setiap apapun, tiada kerja keras dan tiada tipuan atas apa yang diciptakan-Nya, Dia ciptakan makhluk-Nya dan jadilah ia, dan karena cahaya wujud-Nya maka tampaklah semua.

Dialah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Rapi dan Maha lndah dalam mencipta, maha Adil yang tidak menganiaya, dan Maha Pemurah yang kepada-Nya kembali seluruh hajat dan perkara.

Aku bersaksi bahwa Dialah Tuhan yang kepada kekuasaan-Nya segala sesuatu tunduk, dan kepada keagungan-Nya segala sesuatu membungkuk. Dialah Empunya seluruh kekayaan, Raja dari seluruh kerajaan, Pencipta planet-planet senta bintang gemintang di langit, pengendali matahari dan bulan, di mana kesemuanya mengorbit untuk batas waktu yang telah ditentukan. Dialah yang menggilirkan malam setelah siang, dan siang setelah malam saling berganti. Dialah penghancur para tiran yang membangkang dan pemusnah setan-setan yang terkutuk yang menentang.

Tiada bersama-Nya lawan dan kawan, Dia Maha Esa, Tunggal. Satu dan tempat bertumpu segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Dialah Tuhan yang Satu, Pemelihara yang Agung dan Pemurah. (Bila) berkehendak ia akan terlaksana, (bila) berkeinginan ia akan terwujud. Dia mengetahui segala sesuatu dengan rinci. Dia yang mematikan dan menghidupkan, membuat orang menjadi fakir dan kaya, tertawa dan menangis, menyimpan dan memberi.

Di tangan-Nyalah kerajaan; bagi-Nya segala pujian, di tangan-Nya semua kebaikan dan Dia-lah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Malam dimasukkan-Nya ke dalarn siang, dan siang ke malarn. Tiada Tuhan melainkan Dia. Maha Perkasa dan Maha Pengampun, Pengijabah do’a, Pemberi yang tulus, Maha Tahu secara rinci segala hembusan nafas, Tuhan seluruh makhluk, baik dan golongan jin maupun golongan nas (manusia). Tiada perkara sulit di hadapan-Nya; tiada gemuruh suara orang-orang yang berteriak mengganggu-Nya atau desakan orang-orang yang mendesak rnencemaskan¬Nya. Dialah Pemelihara orang-orang yang saleh, Penyebab berjayanya orang-orang yang sukses, Pelindung penghuni alam semesta, dan Yang paling berhak untuk disyukuri dan dipuji oleh setiap makhluk ciptaan-Nya. Aku memuji-Nya pada saat suka dan duka, juga pada saat sempit dan lapang. Aku beriman kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya, Kitab-kitab¬Nya dan Rasul-rasul-Nya. Aku mendengar perintah¬Nya, patuh dan segera bangkit melaksanakan segala yang diridhai-Nya, menerima total ketentuan-Nya, semangat dalam mematuhi-Nya dan takut akan siksa¬Nya. Sebab Dialah Tuhan yang tiada seorangpun akan merasa aman dari makar-Nya atau khawatir dan kezaliman-Nya. Aku ikrarkan pada diriku akan kehambaanku dihadapan-Nya, dan juga bersaksi akan ketuhanan-Nya (untuk diriku). Kini akan aku sampaikan (kepada kalian) apa yang Tuhan wahyukan kepadaku, sebab bila tidak kulakukan itu, niscaya azab-Nya akan mengenaiku, sedemikian sehingga tiada siapapun yang akan dapat menolak¬Nya dariku, (sebesar apapun kekuatannya). Tiada Tuhan melainkan Dia. Dia telah memberitahuku, apabila tidak kusampaikan apa yang diturunkan-Nya kepadaku, itu berarti sama dengan aku tidak menyarnpaikan seluruh risalah (pesan)-Nya; dan Dia juga telah menjamin untuk memeliharaku (dan upaya orang-orang yang menentang). Bagiku cukuplah Allah Yang Maha Pemurah sebagal penjamin.

Firman-Nya untukku:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
“Wahai Rasul (Muhammad), sainpaikan apa yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan itu, berarti sama dengan engkau tidak menyampaikan s eluruh risalah (pesan) -Nya, dan Allah (akan) memeliharamu dari (gangguan) manusia-manusia lain.” (Q.S. 5:67)

Wahai umat manusia! aku tidak pernah salah, alpa atau lalai dalam menyampaikan segala sesuatu yang diturunkan Allah kepadaku. Kini aku jelaskan kepada anda semua sebab turunnya ayat ini: Malaikat Jibril (as) turun menjumpaiku sebanyak tiga kali, memerintah aku–berdasarkan perintah Tuhanku— untuk berdiri di tempat keramaian ini dan menyatakan kepada (bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib (as) adalah saudaraku, Washi-ku (penerima wasiatku) penggantiku dan imam setelahku, yang kedudukannya di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada nabi selepasku. Dia adalah wali (pemimpin) kamu setelah Allah dan Rasul-Nya. Allah (SWT) juga telah menurunkan kepadaku sebuah ayat dalam kitab-Nya berkenaan dengan itu:

“Sungguh wali (pemimpin) kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat sementara mereka dalam keadaan ruku” (Q.S. 5:55)

Ali bin Abi Thalib (as) adalah orang yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakatnya dalain keadaan ruku’ seperti yang dirnaksud oleh Allah (SWT) itu.

(Pada rnulanya) Aku mernohon kepada Malaikat Jibnil agar dia mernintakan kepada Allah untuk membehaskan aku dan menyampaikan penintah mi kepada kamu, kanena aku tahu betapa sedikitnya orang-orang yang bertakwa, dan hetapa banyaknya orang yang niunafik, penebar fitnah dan mengolok¬olok agama Islam sebagaimana yang disifatkan oleh Allah karakten-kanakter mereka dalarn Al-Qur’an, “… kamu katakan dengan multi/mu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga. clan kamu menganggapnya sesua/u yang ningan, padaha/ di sisi A//a/i ia ada/a/i besan. “ (24:15)

Masih segar dalam ingatanku bagaimana mereka menyebutku sebagal udzun (orang yang tidak teliti dan cepat percaya pada setiap berita yang didengarnya). Mereka mendugaku demikian lantaran seringnya mereka mendapati dia (Ali) duduk bersamaku dan besarnya penghormatanku kepadanya sehingga untuk itu Allah ‘Azza wa jalla menurunkan firman-Nya:
Di antara mereka (orang-orang munafìk) ada yang menyakiti nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Kalakanlah: “Ia mempercayai semua yang balk bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin.” (Q.S. 9:61)

Seandainya aku mau sebutkan nama-nama mereka niscaya akan kusebutkan, atau seandainya aku mau tunjuk wajah-wajah mereka niscaya akan kutunjukkan. Namun —demi Allah— aku telah dan terus akan bersikap sangat bersahabat dan dewasa terhadap mereka. Bagaimanapun, Allah tetap mendesakkan dan tidak akan rela padaku melainkan aku sampaikan apa yang diturunkan-Nya padaku tentang maksud ayat: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, apabila kamu tidak mengerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalahmu. Allah akan memelihara kamu dan gangguan manusia” (Q.S. 5:67)

Ketahuilah —wahai umat manusia— sesungguhnya Allah telah menetapkannya (Ali) sebagai wali, pemimpin dan imam bagi kalian. Mematuhinya adalah wajib, baik bagi kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang baik yang datang setelahnya, orang-orang desa, kota, Ajam (Non Arab), Arab, orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar. putih, hitam, dan bagi setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah (SWT). Keputusan hukum yang diambilnya (All) adalalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan perintahnya wajib dipatuhi. Orang yang menentangnya akan terkutuk, yang rnengikutinya akan mernperoleh rahmat, dan yang mernpercayainya adalah orang beriman. Allah telah mengampuni orang yang mendengarnya dan yang mematuhinya.

Wahai umat manusia ini adalah kali terakhir aku berdiri di tempat keramaian ini.
Dengarlah, patuhilah dan ikutilah perintah Tuhan kamu, karena Allah ‘Azza wa Jalla adalah Tuan, Pelindung, dan Tuhan kamu. Berikutnya adalah Muhammad (saw), yang sekarang tengah berdiri dan berbicara dihadapan kamu sebagai wali dan pemimpin kamu. Setelah aku, Ali adalah Wali dan imam kamu berdasarkan perintah Tuhanmu. Kemudian imamah dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada zuriat keturunanku dari putra-putranya sehinggalah tiba suatu hari di mana kamu akan berjumpa dengan Allah dan Rasul-Nya.

Sungguh tiada suatu yang halal melainkan apa yang dihalalkan oleh Allah, dan tiada yang haram melainkan apa yang diharamkan oleh-Nya. Dialah yang telah mengajariku mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian aku mengajarkannya kepada Ali apa yang diajarkan oleh Tuhanku padaku dari kitab-Nya dan hukum halal dan haram-Nya.

Wahai umat manusia! seluruh ilmu yang diajarkan-Nya kepadaku adalah ilmu-ilmu yang rinci.

Dan dari setiap ilmu yang kuketahui itu, telah kuajarkan pula secara rinci pada imam orang-orang yang bertakwa ini. Sungguh tiada ilmu melainkan telah aku sampaikan kepada Ali, sang Imam yang agung.

Wahai umat manusia! Jangan kalian tersesat karena meninggalkannya; jangan kalian berpaling darinya; dan jangan kalian takabur dan enggan untuk menerima kepemimpinannya. Karena dia akan mem bawa kepada kebenaran dan mengamalkannya, serta menghancurkan kebatilan dan mencegahnya, tanpa dia peduli pada celaan para pencela dalam menjalankan perintah Tuhannya. Dialah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; dialah orang yang mengorbankan jiwanya demi Rasul-Nya; dialah satu-satunya dari kaum lelaki yang pertama kali menyembah Allah bersama Rasul utusan-Nya.

Wahai umat manusia! Utamakanlah dia. Karena Allah telah mengutamakannya.

Terimalah dia, karena Allah yang telah mengangkatnya.

Wahai umat manusia! Dialah Imam yang ditunjuk oleh Allah. Allah tidak akan mengampuni orang¬-orang yang ingkar terhadap wilayah dan kepemimpinannya dan tidak akan pernah memaafkannya sekali-kali. Sungguh, Allah telah memastikan diri-Nya untuk melakukan itu bagi mereka yang menentang perintah-Nya dalam perkara ini, dan akan menimpakan kepadanya azab yang
pedih, maha dahsyat dan selama-lamanya. Awas! jangan kalian mengingkarinya karena itu akan menghantar kalian ke dalam api neraka, yang bara apinya terdiri dan manusia dan batu-batuan yang telah disiapkan bagi orang-orang kafir.

Wahai umat manusia! Demi Allah, para nabi dan rasul terdahulu telah memberitakan kepada kaumnya akan kedatanganku. Aku adalah akhir dan penutup seluruh nabi dan rasul. Aku adalah bukti Allah (hujjah) bagi segenap makhluk-Nya. di langit dan di bumi.

Barangsiapa ragu-ragu tentang itu, maka dia adalah orang kafir sekafirnya orang jahiliyah terdahulu. Barangsiapa meragukan sebagian ucapanku, itu berarti meragukan keseluruhannya. Orang yang ragu-ragu seperti itu baginya adalah api neraka.
Wahai umat manusia! Anugerah Allah kepadaku akan keutamaan-keutamaan ini adalah karena kasih sayang-Nya dan ihsan-Nya yang agung kepadaku. Tiada tuhan melainkan Dia. BagiNya pujian dariku pada setiap keadaan sepanjang masa dan selama¬-lamanya.

Wahai umat manusia! Utamakanlah Ali, sebab dia adalah manusia yang paling utama setelahku, baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan. Karena kamilah kemudian Allah menurunkan rezeki-Nya (kepada kalian) dan (karena kami jugalah maka) seluruh makhluk memperoleh kehidupan. Terkutuk dan sungguh terkutuk; dimurkai dan sungguh dimurkailah mereka yang menolak ucapanku ini dan merasa tidak berkenan di dalam hatinya. Ketahuilah bahwa Jibril telah memberitahuku tentang itu berdasarkan firman Allah (SWT) kepadanya:

“Barangsiapa memusuhi .4li dan tidak mewila’nya (menjadikannya sebagai wali) niscaya dia akan memperoleh laknat-Ku dan murka-Ku “. Karena itu hendaklah setiap jiwa melihat apa yang akan disiapkannya untuk hari esok. Takutlah kamu kepada Allah, dan hindarilah dari menentang-Nya. karena akibatnya kalian akan tergelincir, padahal sebelumnya kalian berada pada jalan yang lurus. Sungguh Allah Maha Tahu atas apa yang kamu kerjakan.
Wahai umat manusia! Sungguh Alilah yang dimaksudkan sebagai hak Allah (yang harus dipenuhi haknya) seperti yang disebutkan dalarn kitab suci¬Nya. Allah berfirman: (kelak di hari kiamat) setiap jiwa berkata : “amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan hak-hak Allah…”
(Q.S. 39:56)

Wahai umat manusia! Tadabburlah (renungkanlah) kitab suci AlQuran, pahamilah ayat-ayatnya. perhatikanlah ayat-ayat muhkamatnya dan jangan kalian ikuti (secara lahiriah) makna ayat-ayat Mutasyabihat-nya. Demi Allah, tidak ada yang bisa menjelaskan batas-batasnya atau menerangkan tafsirnya kepada kalian melainkan orang yang kupegang tangannya ini; yang kunaikkan dia ke sisiku ini dan yang kuangkat lengannya ini. Kini aku umumkan kepada kalian, barangsiapa menjadikan aku sebagai maula atau pemimpin, maka inilah Ali sehagai maula dan pemimpinnya. Dia—Ali bin .Abii Thalib— adalah saudaraku dan washiku. Perintah untuk mengangkatnya sebagai maula inl turun dari Allah ‘azza wa jalla kepadaku.

Wahai umat manusia! Sungguh Ali dan putra-putraku yang suci adalah peninggalan beratku yang besar. Masing-masing mereka akan memberitakan satu sama lain dan saling membenarkan. Keduanya (AlQuran dan keluarga Nabi) tidak akan pernah berpisah sehingga mereka menjumpaiku di telaga (syurga) kelak. Mereka (para Imam, penerj.) ini adalah orang-orang kepercayaan Allah yang ada di antara makhlukNya dan para pemimpin bijaksana yang ada di bumiNya. Sungguh telah kutunaikan (perintah ini). Sungguh telah kusampaikan; sungguh telah kuperdengarkan; sungguh telah kujelaskan.

Ketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla telah memfirmankannya dan aku telah mengucapkannya dari sisiNya. Ketahuilah, sungguh tidak ada orang yang disebut sebagai Amir alMukminin (Pemimpin orang-orang yang beriman) melainkan saudaraku ini. Siapapun tidak diperkenankan untuk menyandang gelar dan status ini melainkan dia semata-mata.

(Kemudian Nabi saw mengambil lengan Ali yang sejak tadi berdiri bersama Nabi di atas mimbar dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sebegitu dekatnya sehingga kakinya sejajar persis dengan lutul Rasulullah saw. Nabi kemudian berkata:)
Wahai umat manusia! Ini adalah Ali, saudaraku dan washiku, pemelihara ilmuku, khilafahku bagi umatku dan wakilku dalam menafsirkan kitab Allah ‘azza wa jalla.

Dialah penyeru kepada Allah, melaksanakan segala apa yang diridhoiNya, memerangi musuh-musuhNya, penganjur pada ketaatan, pencegah maksiat, khalifah Nabi utusan Allah, Amir alMukminin, Imam yang memberi petunjuk, yang memerangi—berdasarkan perintah Allah—kelompok Nakitsin, Qosithin dan Mariqin.

Kini kusampaikan pada kalian—berdasarkan perintah Tuhanku, sesuatu yang tidak dapat kuubah. Aku nyatakan, “Allahumma, ya Allah berilah dukungan dan wila’Mu kepada orang yang mewila’ Ali, musuhilah orang yang memusuhinya, kutuklah orang yang mengingkarinya dan murkailah orang yang mengabaikan haknya. Ya Allah, Engkaulah yang telah menurunkan firmanMu kepadaku bahwa imamah setelahku adalah milik Ali kekasihMu, di saat kujelaskan perkara itu(kepada mereka) dan kuangkat dia (sebagai pemimpin) yang dengannya Engkau sempurnakan untuk hamba-hambaMu agama mereka dan Engkau sempurnakan untuk mereka nikmatMu, dan Engkau ridhoi bagi mereka Islam sebagai agamanya. Engkau telah berfirman : “Barangsiapa menjadikan selain Islam sebagai agamanya, niscaya ia tidak akan diterima dan kelak di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. 3:89). Ya Allah, kumohon kesaksianMu dan cukup bagiku Engkau sebagai saksi—bahwa aku telah sampaikan (perintahMu ini).

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama kalian ini dengan imamah Ali. Barangsiapa tidak mengikutinya atau tidak mengikuti pengganti-penggantinya—putra-putraku yang datang dari slbinya yang tetap ada sampai hari kiamat dan hari perjumpaan dengan Allah swt, niscaya amal-amal baik mereka akan gugur dan mereka akan kekal dalam api neraka, tanpa keringanan dan tanpa harapan (untuk bebas darinya).

Wahai umat manusia! Inilah Ali, seorang yang paling banyak membelaku di antara kalian, yang paling berhak atasku, yang paling dekat denganku dan yang paling mulia di sisiku. Allah swt dan aku ridho padanya. Tiada ayat tentang ridho Allah yang turun melainkan ia berkaitan dengan Ali, tiada ayat di mana Allah berbicara dengan orang-orang beriman melainkan Dia memulainya dengan Ali; tiada ayat pujian dalam AlQuran yang turun melainkan berkaitan dengan Ali; tiada kesaksian akan surga (seperti) dalam ayat “hal ata’alal insani” melainkan Alilah yang dimaksudkannya; ayat tersebut tidak turun untuk selain Ali.
Wahai umat manusia! Ali adalah pembela agama Allah dan pelindung Rasul utusan Allah. Dialah orang bertakwa, suci, petunjuk jalan Allah dan memperoleh petunjuk dariNya. (Aku) Nabi kalian adalah sebaik-baik nabi, dan (Ali) washi kalian adalah sebaik-baik washi, sementara putra-putranya juga adalah sebaik-baik washi.

Wahai umat manusia! Sungguh zuriat setiap nabi berasal dari tulang sulbinya, tetapi zuriat keturunanku adalah berasal dari sulbi Ali.

Wahai umat manusia! Sungguh karena dengkilah maka Iblis mengeluarkan Adam dari surga. Oleh karena itu hindarilah dari mendengki Ali, karena ia akan menyebabkan amal-amal kalian gugur dan kaki-kaki kalian tergelincir. Ingat bahwa Nabi Adam telah diturunkan (oleh Allah) ke bumi ini hanya lantaran satu kesalahan, padahal ia adalah manusia pilihanNya. Apalagi kalian, manusia biasa, di mana di antara kalian ada juga musuh-musuh Allah. (Wahai umat manusia!) Hanya orang-orang yang durhaka sajalah yang membenci Ali, sementara orang-orang yang takwa akan mendukungnya dan menjadikannya sebagai wali dan orang-orang yang beriman yang tulus akan beriman kepadanya.

Demi Allah! Berkenaan dengan Alilah surat al¬‘Asr berikut turun “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam keaduan rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…”

Wahai umat manusia! Biarlah Allah sebagai saksiku bahwa aku telah sampaikan tugas risalahini. Sungguh tugas Rasul hanya menyampaikan firman Tuhan semata-mata.

Wahai umat manusia! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan (sampai) kamu mati melainkan kamu benar-benar sebagai orang muslim.

Wahai umat manusia! Berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya dan cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan bersamanya, sebelum kami mengubah mukamu lalu kami putarkan ke belakang (yakni mati).

Wahai umat manusia! Telah mengalir dalam jiwaku ini cahaya dari sisi Allah. Kemudian (ia mengalir juga) ke dalam (tanah) Ali, dan berikutnya ke dalam zuriat keturunannya sehinggalah ke (lmam) al-Qoim al-Mahdi, yang akan mengembalikan hak Allah dan seluruh hak-hak kami ke tempatnya sernula. Sebab Allah ‘azza wa jalla telah menjadikan kamu sebagai hujjah dan bukti-Nya terhadap orang-orang yang ingkar, penentang, pembangkang, pengkhianat, pendosa dan penzalim dari seluruh makhluk jagad raya ini.

Wahai umat manusia! Kuingatkan kalian bahwa aku ini adalah Rasul utusan Allah. Sebelumku telah ada rasul-rasul yang lain. Apakah kalian akan berpaling dariku (dan tidak bersabar) setelah aku mati atau terbunuh? Sungguh barangsiapa berpaling, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikitpun; dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur. Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan mereka yang menyandang sifat sabar dan syukur di atas adalah Ali dan putra-putranya yang datang dari sulbinya.

Wahai umat manusia! Janganlah kalian rnengungkit-ungkit dan membusungkan dada di hadapan Allah akan keislaman kalian, sebab itu akan mendatangkan murka Allah dan azab-Nya. Sungguh Dia benar-benar mengawasi kamu.
Wahai umat manusia! Akan datang setelahku para pemimpin yang menyeru kepada api neraka, dan mereka tidak akan memperoleh pembelaan kelak pada hari kiamat.

Wahai urnat manusia! Sungguh Allah (SWT) dan aku tidak bertanggung jawab atas nasib mereka dan tidak akan sekali-kali melindungi mereka.

Wahai umat manusia! Sungguh mereka dan pembela-pembelanya serta para pengikutnya akan berada di tingkat terendah dari api neraka, sebuah tempat yang paling hina bagi orang-orang yang takabur (akan kebenaran). Sungguh rnerekalah Ashabus Shahifah. Dengan demikian, hendaklah kalian melihat buku amalnya masing-masing meskipun yang benar-benar peduli terhadapnya hanya segelintir orang saja.

Wahai umat manusia! Sungguh, aku serahkan masalah imamah (umat ini) dan pewarisan (nya) dalam zuriat keturunanku sampai hari kiamat. Sungguh telah kusampaikan kepada kalian kewajiban yang diperintahkan kepadaku ini, menjadi hujjah atau bukti Tuhan bagi setiap orang, baik yang hadir ataupun yang gaib (tidak hadir), yang menyaksikan perhelatan ini ataupun yang tidak menyaksikannya, yang sudah lahir atau yang belum lahir. Hendaklah mereka yang hadir menyampaikan pesanku ini kepada yang tidak hadir, si ayah menyampaikannya kepada anaknya, demikian seterusnya sampai hari kiamat, meskipun—tidak lama berselang——sejumlah orang akan merampasnya dan menjadikannya sebagai dinasti kerajaan. Ketahuilah bahwa laknat Allah pasti ditimpakan kepada perampas itu. Di saat itu “Karni akari perhatikan sepenuhnya terhadap kamu wahai makhluk manusia dan jin…, di mana (akan) dilepaskan nyala api dun cairan tembaga (kepadu kalian) sedemikian sehingga kamu tidak dapal ,menyelamatkan diri darinya (Q.S. 55:31,35)

Wahai umat manusia! Sungguh Allah ‘ala wa jalla tidak akan membiarkan kamu berada dalam keadaan seperti ini sampai dia akan membedakan (untuk kamu) mana yang buruk (munafik) dan yang baik (mukmin) dan Allah sekali-kali tidak memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.

Wahai umat manusia! Tiada desa yang selamat dan murka Allah dan penduduknya dibinasakan kecuali karena pendustaan mereka terhadap kebenaran. Demikianlah Tuhan yang membinasakan penduduk sebuah tempat lantaran perlakuan mereka yang zalim, seperti yang disebut-sebut oleh Allah (SWT). lnilah Ali, imam kalian dan wali kalian.

Dialah orang di mana seluruh janji atau ancaman Allah turun karenanya; dan Allah pasti menepati seluruh janjiNya.
Wahai umat manusia! Telah banyak orang-orang terdahulu sebelum kamu jatuh sesat. Allahlah yang membinasakan orang-orang terdahulu itu sebagaimana Dia jugalah yang akan membinasakan orang-orang yang akan datang kemudian. Allah berfirman : “Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang terdahulu, lalu Kami sertakan (juga) mereka yang datang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa, dan celakalah pada hari itu bagi orang-orang pendusta.” (Q.S. 77:16-19).

Wahai umat manusia! Allah telah menurunkan perintahNya dan laranganNya untukku; dan aku (kemudian) menyampaikan perintah dan larangan itu kepada Ali. Dengan demikian dia mengetahui perintah dan larangan (Allah) dari Tuhannya yang Maha Suci dan Maha Perkasa. Oleh karena itu hendaklah kalian mendengar perintahnya niscaya kalian akan selamat; patuhilah dia niscaya kalian akan memperoleh petunjuk; ikutilah apa yang dilarangnya, niscaya kalian akan memperoleh bimbingan; bersikaplah seperti yang diinginkannya, dan jangan kalian berpisah dari jalannya lantaran banyaknya jalan lain.
Wahai umat manusia! Aku adalah Shiratal Mustaqim (jalan lurus) yang kalian diperintahkan untuk mengikutinya. Setelahku adalah Ali, kemudian dilanjutkan oleh putra-putraku yang datang dari sulbinya. Mereka adalah para imam yang membimbing kepada kebenaran dan dengan kebenaran itulah mereka menjalankan keadilan.

(Kemudian Nabi membaca surat AlFatihah sampai akhir, dan melanjutkan khotbahnya berikut).

Ayat-ayat ini diturunkan oleh Allah berkenaan denganku dan mereka (Ali dan putra-putranya). Ia meliputi seluruh mereka dan khusus untuk mereka. Merekalah kekasih-kekasih Allah yang tidak pernah merasa takut dan sedih. Sungguh mereka yang berada dalam partai Allahlah yang menang. Dan sungguh, musuh-musuh Alilah sebagai kelompok pendurhaka, munafik, licik, pelampau batas, dan saudara-saudara setan yang saling membisikkan perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Sungguh, para kekasih dan pendukung Ali dan putra-putranya adalah mereka yang disebutkan oleh Allah dalam kitabNya berikut : “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling kasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya…” (Q.S. 58:22). Sungguh, mereka juga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah swt : “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. 6:82). Sungguh, mereka juaga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah berikut : Yang masuk ke dalam surga dengan penuh keamanan, dan disambut oleh para malaikat dengan salam sambil berkata, kalian adalah orang-orang suci, maka masuklah ke dalam surga untuk selama-lamanya.
Sungguh, para kekasih dan pendukung mereka adalah orang-orang yang difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla berikut, mereka masuk ke dalam surga tanpa hisab…

Dan sungguh, musuh-musuh mereka akan masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang mendengar suara neraka yang mengerikan; (suara) api yang menggelegak dan yang dikelilingi oleh algojo-algojonya. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah sebagai umat yang saling mengutuk saudaranya ketika masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang seperti difirmankan oleh Allah berikut : “Setiap kali dilemparkan ke dalam api neraka satu kumpulan, maka penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka, apakah belum pernah datang kepada kamu seorang pemberi peringatan. Mereka menjawab : “benar ada”, telah datang kepada kami seorang yang memberikan peringatan, namun kami telah mendustakannya dan kami katakan : “Allah tidak menurunkan suatu apapun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” (Q.S. 67:8,9).

Sungguh para kekasih mereka adalah orang-orang yang takut akan Tuhannya secara ghaib; bagi mereka ampunan dan ganjaran yang besar.

Wahai umat manusia! Sungguh jauh perbedaan antara neraka dan surga. Musuh kami adalah orang-orang yang dicela dan dikutuk oleh Allah; dan kekasih kami adalah orang-orang yang dipuji dan dicintai oleh Allah.

Wahai umat manusia! Sungguh, aku adalah (Nabi) yang memberi peringatan, sementara Ali adalah pembimbing.

Wahai umat manusia! Sungguh aku adalah Nabi dan Ali adalah washi (penerima wasiat)ku. Sungguh, penutup para imam adalah dari kami, (bergelar) alQoim alMahdi, yang akan menegakkan keadilan dan memperoleh petunjuk Allah swt.

Sungguh, dia adalah pembela agama. Sungguh, dialah yang akan membalas kezaliman orang-orag yang zalim. Sungguh dialah yang akan membebaskan benteng-benteng yang kuat dan akan menghancurkannya. Sungguh, dialahpenghancur kelompok-kelompok kemusyrikan. Sungguh dialah yang akan membalas darah-darah kekasih Allah yang tumpah. Sungguh, dialah pembela agama Allah. Sungguh dialah penegak air lautan (makrifat dan hakikat) yang dalam.

Sungguh, dialah yang menunjukkan keutamaan orang-orang yang mempunyai keutamaan dan kebodohan orang-orang yang bodoh. Sungguh dialah manusia pilihan Allah dan kekasihNya. Sungguh, dialah pewaris semua ilmu dan menguasai segala ilmu.
Sungguh, dia adalah pembawa berita dari Tuhan ‘azza wa jalla, dan yang memberi tahu tentang perkara iman. Sungguh, dia adalah manusia yang senantiasa memperoleh petunjuk (Allah) dan selalu dijayakanNya.

Sungguh, dialah manusia yang diserahkan oleh Allah urusan makhluk ciptaanNya. Sungguh dia adalah manusia yang kedatangannya telah diberitakan oleh para imam sebelumnya. Sungguh, dia adalah hujjah Allah terakhir yang masih hidup, di mana tiada hujjah lain setelahnya; tiada kebenaran melainkan bersamanya dan tiada cahaya melainkan ada di sisinya.

Sungguh, dia adalah wali Allah yang ada di bumiNya, penguasa yang haq dan benar di sekitar makhluk ciptaanNya, dan manusia kepercayaanNya (pada martabat) zahir dan batinNya.

Wahai umat manusia! Aku telah jelaskan kepada kalian sejelas-jelasnya (tentang perkara ini), dan inilah Ali yang akan menjelaskan kepada kalian setelahku.

Usai khotbahku ini, aku menyeru kalian untuk pertama-tama mengulurkan tangannya kepadaku, kemudian kepada Ali sebagai tanda bai’at dan pernyataan setia.

Ketahuilah bahwa aku telah memberikan bai’atku kepada Allah, dan Ali telah memberikan bai’atnya kepadaku. Kini berdasarkan perintah dari Allah ‘azza wa jalla, aku mengajak kalian untuk membai’at. Barangsiapa mengingkari bai’atnya, berarti dia telah membinasakan dirinya sendiri.

Wahai umat manusia! Sungguh haji, shafa, marwah dan umroh adalah bagian dari syi’ar Allah. “Barangsiapa menunaikan ibadah haji atau umrah ke rumah Allah, maka hendaklah ia mengerjakan sai’ di antara keduanya.” (Q.S. 2:158).

Wahai umat manusia! Tunaikan ibadah haji ke rumah Allah. Tiada suatu keluarga yang datang ke rumah Allah ini melainkan ia akan dicukupkan olehNya; dan tiada suatu keluarga yang berpaling meninggalkannya melainkan ia akan mengalami kefakiran.
Wahai umat manusia! Tiada seorang yang mukmin yang wukuf atau berdiri di tempat-tempat mulia tersebut melainkan Allah akan ampunkan seluruh dosa-dosanya yang lalu maupun yang baru. Demikianlah sehingga apabila ibadah hajinya selesai maka (perhitungan) amalnya dimulai lagi dari awal.

Wahai umat manusia! Para jamaah haji memperoleh bantuan dari Allah, dan ongkos perjalanan mereka terhitung sebagai simpanan (untuk hari akhirat kelak). Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan ganjaranNya bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.
Wahai umat manusia! Tunaikanlah ibadah haji ke rumah Allah dengan pemahaman yang sempurna akan ajaran-ajaran agama ini. Jangan kalian meninggalkan tempat-tempat mulia itu melainkan setelah kalian benar-benar taubat dan menyesali dosa-dosa kalian.

Wahai umat manusia! Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat, seperti diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla atas kalian. Apabila dikarenakan lamanya waktu berlalu kemudian kalian menjadi jahil atau lupa, maka Alilah—sebagai pemimpin kalian yang telah ditunjuk oleh Allah setelahku, yang akan menjelaskan (seluruh hukum-hukum itu) kepada kalian. Dia adalah orang yang dijadikan oleh Allah sebagai penggantiku; menjawab pertanyaan-¬pertanyaan kalian dan menjelaskan kepada kalian segala apa yang kalian tidak ketahui.

Sungguh, perkara-perkara yang halal dan yang haram adalah lebih banyak dan yang dapat kuhitung satu per satu dan kuberitahukan (kepada kalian). Untuk itu secara singkat kukatakan bahwa apa yang kuperintahkan pasti adalah perkara yang halal, dan yang kularang pasti adalah sesuatu yang haram. Kemudian aku diperintahkan untuk niengambil bai’ai dan janji setia dari kalian agar menerima segala apa yang kubawa dari Allah ‘Azza wa Jalla berkenaan dengan Ali selaku Amirul Mukminin dan para Imam yang datang setelahriya. Mereka adalah putra-putraku dan putra-putra Ali; para imam yang menegakkan kebenaran sampai hari kiamat, yang di antaranya adalah al-Mahdi, yang akan memerintah (dunia ini) dengan kebenaran.

Wahai umat manusia! setiap perkara halal yang kuajarkan kepada kalian, atau perkara haram yang kucegah kalian darinya, adalah sesuatu yang tidak mungkin kuubah atau kucabut. Karena itu hendaknya kalian mengingatnya, memeliharanya dan saling mengajarkannya. Jangan sekali-kali kalian mengubahnya atau menggantinya.

Kini kuulangi lagi perkataanku: hendaklah kalian mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh yang ma’ruf (dan mencegah yang mungkar. Ketahuilah balwa pangkal amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah penerimaan kalian akan kata-kataku sebagai sesuatu yang final, di mana kalian yang hadir menyampaikannya kepada yang tidak hadir serta memerintahkan mereka untuk menerimanya dan mencegah mereka dari menentangnya. Sebab ini adalah perintah dan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung, dan dariku. (Ketahuilah) bahwa upaya melakukan yang ma’ruf dan rnencegah yang mungkar tidak akan berarti melainkan sepengetahuan atau bersama Imam yang maksum (terpelihara dari dosa).

Wahai umat manusia kitab suci Alqur’an telah menyatakan bahwa para imam setelah Ali adalah putra-putranya. Aku juga telah mengatakan kepada kalian bahwa Ali adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya, seperti yang difirmankan oleh Allah dalam kitab Nya: “(bahwa Ibrahim) telah menjadikan kalimat tauhid sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya.. “, (Q.S. 43:28). Aku juga berkata: “Selagi kalian berpegang teguh pada keduanya: (Alqur ‘an dan itrah keluanga Nabi), niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.

Wahai umat manusia Bentakwalah, sekali lagi bertakwalah kalian kepada Allah, lngatlah akan dahsyatnya hari kiamat, sepenti yang ditafsirkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Sungguh gempa hari kiamat adalah sesuatu yang maha dahsyat “lngatlah saat-saat mati, hisab, timbangan dan pengadilan Allah terhadap kalian;(demikian juga) pahala dan dosa. Barangsiapa melakukan amal kebajikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya, sementara mereka yang melakukan perbuatan buruk maka sedikitpun dia tidak akan memperoleh syurga.

Wahai umat nianusia! Jumlah kalian sedemikian banyaknya sehingga tidak mungkin kalian bisa mengulurkan tangan bai’atnya kepadaku satu persatu. Namun demikian, Allah ‘Azza wa jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dan lisan kalian tentang pengangkatan Ali sebagai Amirul Mukminin, dan para imam dari keturunanku dan keturunannya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kuberitahukan kepada kalian bahwa Zuriat keturunanku adalah berasal dan sulbinya (Ali).

Katakan secara serentak: “Karni telah mendengar, akan patuh, rela dan ikut secara penuh atas apa yang telah engkau sampaikan dari Tuhan kami dan Tuhanmu berkaitan dengan kepemimpinan Ali dan kepemimpinan putra-putranya yang datang dari sulbinya. Untuk itu kami membai’atmu dengan hati, jiwa, lisan dan tangan kami. Berdasarkan itu pula kami hidup, mati dan dibangkitkan tanpa kami mengubah, mengganti, ragu mencabut janji atau membatalkan ikrar dan pernyataan kami. Kami mematuhi Allah dan mematuhi engkau (nabi, serta mematuhi Ali sebagai Amirul Mukminin). Demikian juga putra-putranya, para imam yang kau katakan berasal dan zuriat keturunanmu, yang datang dari sulbi Ali, Hasan dan Husain.”

Tentang Hasan dan Husain ini, telah kukenalkan kepada kalian kedudukan mereka di sisiku, tempat mereka dihadapanku dan martabat mereka di haribaan Tuhanku yang Maha Mulia dan Maha Agung. Semua itu telah kusampaikan kepada kalian.
Sungguh, mereka berdua adalah penghulu pemuda-pemuda surga, imam-imam pasca ayahnya, Ali; dan aku adalah ayah mereka sebelum Ali menjadi ayahnya.

Katakan secara serentak:”Kami mematuhi perintah Allah, mematuhimu, Ali, Hasan dan Husain serta para irnarn setelahnya. Mereka adalah orang¬-orang yang kau ikat hati, jiwa dan lisan kami untuk berjanji setia, berikrar dan berbai’at lewat tangan Amirul Mukminin (Ali). Sebagian dari kami membai’atnya dengan tangannya dan sebagian yang lain dengan pernyataan lisannya. Sungguh kami tidak ingin berpaling darinya selama-lamanya. Kami jadikan Allah sebagai saksi dan cukuplah Allah sebagai saksi. Demikian juga engkau (Nabi), semua orang yang patuh pada Allah, yang hadir dan yang tidak hadir, para malaikat Allah, tentara-tentara-Nya dan hamba-hamba-Nya, semua adalah saksi-saksi kami. Namun Allah adalah lebih besar dari semua saksi.”

Wahai umat manusia! Apa yang kalian katakan? Sungguh Allah Maha Mendengar setiap suara dan Maha Tahu akan setiap jiwa yang tersembunyi. Barangsiapa memperoleh petunjuk, maka itu adalah keberuntungan bagi dirinya, dan barangsiapa yang tersesat, maka itu adalah kemalangan bagi dirinya. Mereka yang berbai ‘at, sebenarnya telah memberikan bai’atnya kepada Allah; dan tangan Allah berada di atas tangan mereka semua. (48:10)

Wahal umat manusia! Bertakwalah kalian kepada Allah. Berbai’atlah kalian kepada Ali Amirul Mukminin, kepada Hasan dan Husain serta para Imam (keturunannya). Mereka adalah kalimat Thayyibah yang masih sisa di atas muka bumi ini. Kelak Allah akan membinasakan orang-orang yang mengkhianati mereka, dan merahmati orang-orang yang setia kepada mereka. “Barangsiapa melanggar janji dan bai ‘atnya, niscaya itu akan menimpa dirinya sendiri.” (48:10)

Wahai umat manusia! Ucapkanlah apa yang telah kukatakan kepada kalian. Salamilah Ali selaku Arnirul Mukminin. Katakanlah: “(Tuhan kami)! Kami ielah dengar dan akan patuh (pada perintah-Mu). Ampunilah karni wahai Tuhan karni. Sungguh kepada-Mulah segala sesuatu akan kernbali. Katakanlah:” Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kalian ke jalan ini. Sungguh, karni tidak akan memperoleh bimbingan tanpa bimbingan dari Allah.” (7:43)

Wahai umat manusia! Sungguh keutamaan Ali bin Abi Thalib (a.s) di sisi Allah dan yang ada dalarn Al-
Qur’an adalah lebih banyak dari pada yang bisa kusebutkan secara rinci di tempat ini. Siapapun yang meriwayatkannya dan memberitahukannya kepada kalian, maka percayailah dan terimalah ia.

Wahai umat manusia! barangsiapa patuh pada Allah, Rasul-Nya, Ali dan para Imam yang telah kusebutkan itu niscaya dia akan lulus dengan hasil yang amat sangat gemilang.

Wahai umat manusia! Mereka yang segera berangkat memberikan bai’at kepadanya dan menjadikannya sebagai walinya serta menerirnanya sebagai Amirul Mukminin, mereka adalah orang-¬orang yang selamat, dan kelak akan berada di dalam syurga yang penuh nikmat.

Wahai umat manusia! Ucapkanlah kata-kata yang menyebabkan Allah rela tenhadap kalian. Seandainya kalian dan semua penghuni bumi ini kufur kepadaNya, niscaya itu tidak akan merugikan-Nya sedikitpun. (3:144)
Yaa Allah! Berikanlah ampunan-Mu kepada orang-orang mukmin, dan murka-Mu kepada orang–orang kafir. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Kemudian khalayak menyahut seruan Nabi dan berkata:”Kami telah dengar dan akan patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati, lidah dan kekuatan kami.”

Mereka kemudian berhimpit-himpitan mengelilingi Nabi dan Ali untuk bersalaman dan mengulurkan tangan bai ‘atnya kepada Rasulullah (SAW). Abubakar, kemudian Umar, lalu Usman. Berikutnya adalah orang-orang Muhajirin, Anshar dan seterusnya sesuai dengan tingkatan martabat mereka sehinggalah tiba waktu Maghrib. Setelah shalat Maghrib dan lsya’ yang di jamak dalam satu waktu, mereka kemudian meneruskan ikrar bai’atnya. Setiap kali orang datang berbai’at, Nabi kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mengutamakan kami di atas seluruh penghuni alam semesta.”

——————————————————————————–
Di sini kami petik nama-nama perawi hadits al-Ghadir di kalangan para sahabat tentang perlantikan ‘Ali AS sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWW. Sebagaimana sabdanya:’Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya.’ Dan semua nama-nama perawi tersebut telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka seperti berikut:
1. Abu Hurairah al-Dausi (w.57/58H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 130. Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 327.
2. Abu Laila al-Ansari (w. 37H). Diriwayatkan oleh al-Hawarizmi, di dalam Manaqibnya, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 14.
3. Abu Zainab bin ‘Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 408.
4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi SAWAW di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada ‘Ali AS dengan hadith al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan ‘Ali AS di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 276.
6. Abu ‘Umrah bin ‘Umru bin Muhsin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Di antara yang menjadi saksi kepada ‘Ali AS di hari Rahbah dengan hadith al-Ghadir.
7. Abu l-Haitham bin al-Taihan meninggal dunia di dalam peperangan al-Siffin tahun 37H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 62.
8. Abu Rafi’ al-Qibti, hamba Rasulullah SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhbnya.
9. Abu Dhuwaib Khuwalid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah ‘Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah, al-Khawarizmi di dalam Maqtal.
10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w.13H). Diriwayatkan oleh Ibn Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah, Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi di dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 di antara perawi-perawi hadith al-Ghadir.
11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w.54H). Diriwayatkan di dalam Hadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.
12. Ubayy bin Ka’ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi dengan sanad-sanadnya di dalam Nakhb al-Manaqib.
13. As’ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4.
14. Asma’ binti Umais al-Khath’amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
15. Umm Salmah isteri Nabi SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi al-Mawaddah, hlm. 40.
16. Umm Hani’ binti Abi Talib. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dengan sanad-sanadnya.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah SAWAW (w. 93H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya, VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah di dalam al-Ma’arif, hlm. 291; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
18. Al-Barra’ bin ‘Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281; Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.
19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
20. Abu Sa’id Thabit bin Wadi’ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa’i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 398.
22. Jabir bin Abdullah al-Ansari (w. 73/74H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-Isti’ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tadhib, V, hlm. 337.
23. Jabalah bin ‘Umru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
24. Jubair bin Mut’am bin ‘Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 31, 336.
25. Jarir bin ‘Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 106.
26. Abu Dhar Janadah al-Ghaffari (w.31 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.
27. Abu Junaidah Janda’ bin ‘Umru bin Mazin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 308.
28. Hubbah bin Juwain Abu Qadamah al-’Arani (w. 76-79H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.
29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307, V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa Nihayah, VI, hlm. 211.
30. Habib bin Badil bin Waraqa’ al-Khaza’i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.
31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari. (w.40/42 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38.
32. Huzaifah al-Yamani (w.36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 40.
33. Hasan bin Tsabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama Hijrah.
34. Imam Mujtaba Hasan bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
35. Imam Husain bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, IX, hlm.9.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w.50/51H). Diriwayatkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, I, hlm. 169; Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabbah, V, hlm. 6 dan lain-lain.
37. Abu Sulaiman Khalid bin al-Walid al-Mughirah al-Makhzumi (w. 21/22H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
38. Khuzaimah bin Thabit al-Ansari Dhu al-Syahadataini (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,III, him. 307 dan lain-lain.
39. Abu Syuraih Khuwailid Ibn Umru al-Khaza’i (w. 68 H). Di antara orang yang menyaksikan Amiru l-Mukminin dengan hadith alGhadir.
40. Rifalah bin Abd aI-Mundhir al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
41. Zubair bin al-Awwam al-Qurasyi (w. 36 H). Diriwayatkan oieh Syamsuddln al-Jazari ai-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib. him.3.
42. Zaid bin Arqam al-Ansari al-Khazraji (w. 66/68 H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya. IV. hIm. 368 dan lain-lain.
43. Abu Sa’ld Zaid bin Thabit (w. 45/48 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib him. 4 dan lain-lain.
44. Zaid Yazid bin Syarahil al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,, II. hIm. 233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah. I. him. 567 dan lain-lain.
45. Zaid bin Abdullah al-Ansari. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
46. Abu Ishak Sa’d bin Abi Waqqas (w. 54/56/58 h). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 116 dan lain-lain.
47. Sa’d bin Janadah al-’Aufi bapa kepada ‘Atiyyah al-’Aufi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
48. Sad bin Ubadah al-Ansari al-Khazraji (w. 14/15 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhb.
49. Abu Sa’id Sad bin Malik al-Ansari al-Khudri (w. 63/64/65 H). Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 8; Ibn Kathir di dalam Tafsirnya, II, hlm. 14 dan lain-lain.
50. Sa’id bin Zald al-Qurasyi ‘Adwi (w. 50/5 1 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Maghazili di dalam Manaqibnya.
51. Sa’id bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari. Dlriwayatkan oleh Ibn‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
52. Abu ‘Abdullah Salman al-Farisi (w. 36/37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddln al-Jazari al-Syafl’i di dalam Asna l-Matallb, hlm. 4 dan lain-lain.
53. Abu Muslim Salmah bin ‘Umru bin al-Akwa’ al-Aslami (w.74 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya dl dalam Hadith aI-Wilayah.
54. Abu Sulaiman Samurah bin Jundab al-Fazari (w. 58/59/60 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
55. Sahal bin Hanifal-Ansari al-Awsi (w. 38 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, him. 4 dan lain-lain.
56. Abu ‘Abbas Sahal bin Sa’d al-Ansari al-Khazraji al-Sa’idi (w.
91 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi 1-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
57. Abu Imamah al-Sadiq Ibn ‘Ajalan al-Bahili (w. 86 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalain Hadith al-Wilayah.
58. Dhamirah al-Asadi. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di daiam Hadith al-Wilayah.
59. Talhah bin ‘Ubaidillah al-Tamimi wafat pada tahun 35 Hijrah di dalam Perang Jamal. Dirlwayatkan oleh al-Mas’udi di dalam Muruj al-Dhahab, II, hlm. 11; al-Hakim didalam al-Mustadrak,III, hlm. 171 dan lain-lain.
60. Amlr bin ‘Umair al-Namiri Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah II, hlm. 255.
61. AmIr bin Laila bin Dhumrah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hln. 92, dan lain-lain.
62. ‘Amir bin Laila a1-Gbaffari Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hIm. 257 dan lain-lain.
63. Abu Tupail ‘Amir bin Wathilah. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I. hlm. 118; al-Turmudhi di dalam Sahihnya, II, hlm. 298 dan lain-lain.
64. ‘Alsyah binti Abu Bakr bin Abi Qahafah, Isteri Nabi Sawaw Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
65. ‘Abbas bin ‘Abdu l-Muttallib bin Hasyim bapa saudara Nabi Sawaw. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
66. ‘Abdu r-Ráhman bin ‘Abd Rabb al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ai-Ghabah, III, hIm. 307; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, him. 408 dan lain-lain.
67. Abu Muhammad bin ‘Abdu r-Rahman bin Auf al-Qurasyi al-Zuhri (w. 31 H), Diriwayatkan oieh Syamsuddin al-Jazari a!Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 dan lain-lain.
68. ‘Abdu r-Rahman bin Ya’mur al-Daili Diriwayatkan oleb Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
69. ‘Abdullah bin Abi ‘Abd al-Asad al-Makhzumi. Di riwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
70. ‘Abdullah bin Badil bin Warqa’ Sayyid Khuza’ah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
71. ‘Abdullah bin Basyir al-Mazini. Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
72, ‘Abduilah bin Thabit al-Ansari. Dlriwayatkan oleh al-Qadhi didalam Tarikh Ali Muhammad, him. 67.
73. ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Talib al-Hasyimi (w, 80 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah
74. ‘Abdullah bin Hantab al-Qurasyi al-Makhzumi. Dlrlwayatkanoleh al-Suyuti di dalam Ihya’ al-Mayyit.
75. ‘Abdullah bin Rabi’ah. Dlrlwayatkan oleh al-Khawarizmi didalam Maqtalnya.
76. ‘Abdullah bin ‘Abbas (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Nasa’i di dalam al-Khasa’is, hlm. 7 dan lain-lain.
77. ‘Abdullah bin Ubayy Aufa ‘Alqamah al-Aslami (w. 86/87 H).
Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah hal.78. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khattab al-’Adawi (w. 72/73 H), Dlrlwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’ld, IX, hIm. 106 dan lain-lain,
79. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud al-Hazali (w. 32 /
33 H). Dlriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298 dan lain-lain.
80. ‘Abdullah bin Yamil. Dlriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ol-Ghabah,III, him. 274; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II,hlm. 382 dan lain-lain.
81. ‘Uthman bin ‘Affan (w. 35 H). Dirilwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
82. ‘Ubaid bin ‘Azib al-Ansari, saudara al-Bara’ bin ‘Azib. Di antara orang yang membuat penyaksian kepada ‘Ali A.S. di Rahbah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-AthIr di dalam Usd al-Ghabah, III, him.
307.
83. Abu Tarif Adi bin Hatim (w. 68 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, him. 38
dan lain-lain.
84. ‘Atiyyah bin Basr al-Mazini. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
85. ‘Uqbah bin Amir al-Jauhani. Diriwayatkan al-Qadh di dalam
Tarikh Ali Muhammad, him. 68.
86. Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib A.S. Diriwayatkan oieh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 152: al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX. him. 107; al-Suyuti di dalam Tarlkh al-Khulafa’ , him. 114; Ibn Hajr di dalam Tahdhlb al-Tahdhlb, VII, him. 337; Ibn Kathir dl dalain al-Bidayah wa al-Nihayah. V. him. 211 dan lain-lain.
87. Abu Yaqzan ‘Ammar bin Yasir (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalain Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
88. ‘Ammarah al-Khazraji al-Ansari. Dlrlwayatkan oieh al-Halthami dl dalam MaJma’ al-Zawa’ld, IX, him. 107 dan lain-lain.
89. ‘Umar bin Abi Salmah bin ‘Abd al-Asad al-Makhzumi (w. 83 H).
Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
90. ‘Umar bin al-Khattab (w. 23 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari dl dalam al-Rlyadh aI-Nadhirah, H, him. 161; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah. VII. Mm. 349 dan lain-lain.
91. Abu Najid ‘Umran bin Hasin al-Khuza’i (w. 52 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin ai-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib. him. 4 dan lain-lain.
92. Umru bin al-Humq al-Khuza’i al-Kufi (w. 50 H). Diriwayatkan oieh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
93. ‘Umru bin Syarhabil. Dlrlwayatkan oleh aI-Khawarizmi di dalain Maqtalnya.
94. ‘Umru bin al-Asi Diriwayatkan oleh Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Slyasah, him. 93 dan lain-lain.
95. ‘Umru bin Murrah al-Juhani Abu Talhah atau Abu Maryam. Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-’Ummal, VI, him. 154 dan lain-lain.
96. Al.Siddiqah Fatimah binti Nabi Sawaw. Dlriwayatkan oieh Ibn
‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
97. Fatimah binti Hamzah bin ‘Abdu l-Muttalib. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
98. Qais bin Thabit bin Syamas al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hIm. 368; lbn Hajr di dalam al-Isabah, I. him. 305 dan lain-lain.
99. Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari al-Khazraji. Dlrlwayatkan oleh Ibn Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
100. Abu Muhammad Ka’ab bin ‘Ajrah al-Ansari al-Madani (w.5 1 H). Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
101. Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairath al-Laithi (w. 84 H) Dirtwayatkan oleh al-Suyutl di dalam Tarikh al -Khulafa’ , hlm. 114 dan lain-lain.
102. A1-Miqdad bin ‘Umry al-Kindi al-Zuhrl (w. 33 H). Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
103. Najiah bin ‘Umru al-Khuzai. Dlrlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V. him. 6; Ibn Hajr di dalain al-Isabah,III, hlm. 542 dan lain-lain.
104. Abu Barzah Fadhiah bin ‘Utbah al-Aslami (w. 65 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
105. Na’mar bin ‘Ajalan al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di
daiam Tarikh Ali Muhammad, him. 68 dan lain-lain.
106. Hasyim al-Mirqal Ibn ‘Utbah bin Abi Waqqas al-Zuhrl (w. 37 H). Dlrlwayatkan oieh Ibn al-Athir dl dalam Usd al-Ghabah, I, him. 366; Ibn Hajr di dalam aI-Isabah, 1, hlm. 305.
107. Abu Wasmah Wahsyiy bin Harb al-Habsyl al-Hamsi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah.
108. Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan oieh al-Khawarizmi pada Fasal Keempat di dalam Maqtalnya.
109. Abu Juhallah Wahab bin Abdullah al-Suwa’i(w. 74 H). Dinwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
110. Abu Murazim Ya’li bin Murrah bin Wahab al-Thaqali. Diniwayatkan oleh Ibn al-Athir dl dalam Usd aI-Ghabah. II. him. 233; Ibn Hair di dalam aI-Isabah, Ill, him. 542

.
Demikian dikemukakan kepada kalian 110 perawi-perawl hadits al-Ghadir dikalangan para sahabat mengenal perlantikan ‘Ali A.S. sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah Saww, oleh ularna-ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka. Oleh karena Itu hadits ini sudah mencapai ke peringkat mutawatir. Kemudian diikuti pula oleh 84 perawl-perawi dari golongan para Tabi’in yang merlwayatkan hadits al-Ghadir serta 360 perawl-perawi di kalangan para ulama Sunnah yang meriwayatkan hadits tersebut di dalam buku-buku mereka. Malah terdapat 26 pengarang dari kalangan para ulama Ahlus-Sunnah yang mengarang buku-buku tentang hadis al-Ghadir. Untuk keterangan lebih lanjut silakan rujuk al-Amini, al-Ghadlr, I. hlm. 14 – 158.

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56

Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw.



Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. ”

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)
2.
….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)
3.
….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
4.
Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)
5.
….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)
6.
….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)
7.
(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)
8.
….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.
Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.
…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.
Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

Nasihat Para Imam Ahlilbait as Untuk Syiah Mereka


Para Imam Ahlulbait as. adalah pewaris kepemimpinan kenabian mereka adalah hujjah-hujjah Allah di atas bumi…. Mereka adalah adillâ’u Ilal Khair/penunjuk jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat mengkuti bimbingan para Imam Ahlulbait as. akan menjamin kebahagian umat manusia dalam berbagai kesempatan, para Imam as. mencurahkan perhatian mereka terhadap umat Rasulullah saw. secara umum dan kepada para pecinta dan pengkut secara khusus

Adalah sebuah realita yang tak terbantahkan bahwa ternyata di tengah-tengah umat Islam, ada sekelompok yang berkiblat, meyakini imamah para imam Ahlulbait as. dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam segala urusan agama , mereka itu adalah Syi’ah Ahlulbait/para pengikut Ahlulbait as. eksistenti mereka selalu digandengakan dengan nama Ahlulbait as.

Untuk mereka, para imam suci Ahlulbait as. memberikan perhatian khusus mereka dalam membimbing mereka untuk merealisasikan Islam dengan segenap ajarannya yang paripurna dan kâffah, baik dalam ibadah maupun akhlak dan etika pergaulan.

Dalam artikel ini saya mencoba menyajikan untuk Anda irsyâd dan didikan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka, agar dapat diketahui batapa agung dan mulianya bimbingan mereka as.

Jadilah Kalian Sebagai Penghias Kami

Dalam sabda-sabda mereka, para Imam suci Ahlulbait as. meminta dengan sangat dari Syi’ah agar menjadi penghias bagi para imam dan tidak mencoreng nama harus mereka. Apabila mereka menyandang akhlak islami, beradab dengan didikan para imam pasti manusia akan memunji para imam Ahlulbait sebagai pembimbing yang telah mampu mencetak para pengikut yang berkualitas, mareka pasti akan mengatakan alangkah mulianya didikan para imam Ahlulbait itu terhadap Syi’ah mereka! Begitu juga sebailnya, apabila manusia menyaksikan keburukan sifat dan sikap serta perlakuan, maka mereka akan menyalahkan Ahlulbait as. dan mungkin akan menuduh para imam telah gagal dalam membina para Syi’ah mereka.

Sulaiman ibn Mahrân berkata, “Aku masuik menjumpai Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as., ketika itu di sisi beliau ada beberapa orang Syi’ah, beliau as. bersabda:

معاشِرَ الشيعَةِ! كونُوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا، و احفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ و كُفُّها عن الفُضُولِ و قُبْحِ القولِ.

“Wahai sekalian Syi’ah! Jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik keada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelak.” [1]

Dalam sabda beliau di atas, Imam Ja’far menekankan pentingnya menjadi penghias bagi Ahlulbait as., hal demikian tidak berarti bahwa Ahlulbait as. akan menyandang kemulian disebabkan kebaikan Syi’ah mereka, akan tetapi lebih terkait dengan penilaian manusia tentang mereka yang biasa menilai seorang pemimpin melalui penilaian terhadap para pengikutnya. Imam Ja’far as. menekankan pentinghnya bertutur kata yang baik dan manjaga lisan dari berbicara jelak.

Dalam hadis lain, Imam Ja’far as. bersabda:

يا معشرَ الشيعَةِ! إِنَّكُمْ نُسِبْتُمْ إلينَا، كونوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا

“Hai sekalian Syi’ah! Sesungguhnya kalian telah dinisbatkan kepada kami, jadilah penghias bagi kami dan jangan menjadi pencorang!” [2]

Dalam sabda lain beliau berkata:

رَحِمَ اللهُ عَبْدًا حَبَبَنَا إلى الناسِ لا يُبَغِّضُنا إليهِمْ. وايمُ اللهِ لَوْ يرْوونَ مَحاسِنَ كلامِنا لَكانوا أَعَزَّ، و ما استَطاعَ أَحدٌ أَنْ يَتَعَلَّقَ عليهِمْ بشيْئٍ.

“Semoga Allah merahmati seorang yang mencintakan kami kepada manusia dan tidak membencikan kami kepada mereka. Demi Allah andai mereka menyampaikn keindahan ucapan-ucapan kami pastilah mereka lebih berjaya dan tiada seorangpun yang dapt bergantung atas (menyalahkan) mereka dengan sesuatu apapun.”[3]

Dalam salah satu pesannya melalui sahabat beliau bernama Abdul A’lâ, Imam Ja’far bersabda:

يَا عبدَ الأعلى … فَأَقْرَأْهُمْ السلام و رحمة الله و قل: قال لكم: رَحِمَ اللهُ عبْدًا اسْتَجَرَّ مَوَدَّةَ الناسِ إلى نفسِهِ و إلينا بِأَنْ يُظْهِرَ ما يَعْرِفُونَ و يَكُفَّ عنهُم ما يُنْكِرُونَ.

“Hai Abdul A’lâ… sampaikan salam kepada mereka (syi’ahku) dan katakana kepada mereka bahwa Ja’far berkata keada kalian, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menarik kecintaan manusia kepada dirnya dan keada kami dengan menampakkan apa-apa yang mereka kenal dan menahan dari menyampaikan apa-apa yang tidak mereka kenal.”[4]

Wara’ dan Ketaqwaan

Tidak kita temukan wasiat yang paling ditekankan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka seperti ketaqwaan dan wara’. Syi’ah adalah mereka yang mengikuti dan bermusyâya’ah kepada Ahlulbait as.. Dan mereka yang paling berpegang teguh dengan ketaqwaan dan wara’lah yang paling dekat dan paling istimewa kedudukannya di sisi Ahlulbait as., sebab inti kesyi’ahan adalah mengikuti, beruswah dan meneladani. Maka barang siapa hendak mengikuti dan meneladani Ahlulibat as. tidak ada jalan untuk itu selain ketaatan kepada Allah SWT. bersikap wara’ dan bertaqwa.

Abu Shabâh al Kinani berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. ‘Di kota Kufah kami diperolok-olokkan karena (mengikuti tuan), kami diolok-olok ‘Ja’fariyah’. Maka Imam murka dan bersabda:

إنَّ أصحابَ جعفر مِنكُم لَقليلٌ، إنما أصحابُ جَعْفَر مَنْ اشْتَدَّ وَرَعُهُ و عَمِلَ لِخالِقِهِ.

“Sesungguhnya pengikut Ja’far di antara kalian itu sedikit. Sesungguhnya pengikut ja’fa itu adalah oran yang besar kehait-hatiannya dan berbuat untuk akhiratnya.’”[5]

Syi’ah adalah mereka yang telah menjadikan manusia-manusia suci pilihan Allah SWT sebagai panutan mereka. Para imam itu adalah hamba-hamba Allah yang telah mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah disebabkan ketaqwaan mereka, maka dari mereka yang mengikuti para imam Ahlulbait as. itu adalah yang paling berhak menghias diri mereka dengan ketaqwaan dan wara’.

Bassâm berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah as. bersabda:

إنَّ أَحَقَّ الناسِ بالورعِ آلُ محمدٍ و شِيْعَتُهُم

“Yang paling berhak bersikap wara’ adalah keluarga Muhammad dan Syi’ah mereka.”[6]

Dan berkat didikan para imamsuci Ahlulbait as., maka sudah seharusnyaSyi’ah Ahlulbait adalah seperti yang disabdakan Imam Ja’far as.:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ، و أهلُ الوقارِ و الأمانَةِ، أهلُ الزهدِ و العبادَةِ. أصحابُ إحدَى و خمسونَ رَكْعَةً في اليومِ و الليلَةِ، القائمونَ بالليلِ، الصائمونَ بالنهار، يَحِجُّونَ البيتَ… و يَجْتَنِبونَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan getol beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari sealam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[7]

Imam Ja’far as. bersabda:

و اللهِ ما شيعَةُ علي (عليه السلام) إلاَّ مَنْ عَفَّ بطنُهُ و فرْجُهُ، و عمل لِخالقِهِ، و رجَا ثوابَهُ، و خافَ عقابَهُ.

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as. kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.”[8]

Dalam sabda lain Imam Ja’far as. bersabda mengarahkan Syi’ah beliau:

يا شِيْعَةَ آلِ محمَّدٍ، إنَهُ ليسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَملكْ نفسَهُ عندَ الغضَبِ، و لَمْ يُحسِنْ صُحْبَةَ مَن صحِبَهُ، و مرافَقَةَ مَن رافقَهُ، و مصالَحَةَ مَن صالَحَهُ.

“Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya disaat merah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan oranf yang berdamai dengannya.” [9]

Para Imam Ahlubait as. tidak puas dari Syi’ah mereka apabila di sebuah kota masih ada orang selain mereka yang lebih berkualitas. Syi’ah Ahlulbait as. harus menjadi anggota masyarakat paling unggul dalam berbagai kebaikan. Imam Ja’far as. bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَنْ يكونُ فِيْ مِصْرَ، يكونُ فيْهِ آلآف و يكون في المصرِ أورَعُ منهُ.

“Tidak termasuk dari Syi’ah kami seorang yang betinggal di sebuah kota yang terdiri dari beribu-ribu masyarakat, sementara di kota itu ada seorang yang lebih wara’ darinya.” [10]

Dengan berwilayah, mengakui imamah Ahlulbait as. dan mengikuti ajaran mereka, Syi’ah benar-benar berada di atas jalan yang mustaqîm dan di atas agama Allah SWT. Jadi dari sisi keyakinan dan I’tiqâd mereka sudah berasa di atas kebenaran, sehingga yang petning sekarang bagi mereka adalah memperbaikit kualitas amal dan akhak mereka. Kulaib ibn Mu’awiyah al Asadi berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. bersabda:

و اللهِ إنَّكُمْ لَعلَى دينِ اللهِ و دينِ ملآئكَتِهِ فَأَعِيْنُونِيْ بورَعٍ و اجتهادٍ. عليكُمْ بصلاةِ الليلِ و اعبادَةِ، عليكم بالورعِ.

“Demi Allah kalian benar-benar berada di atas agama Allah dan agama para malaikat-Nya, maka bantulah aku dengan wara’ dan kesungguh-sungguhan dalam ibadah. Hendaknya kalian konsisten shalat malam, beribadah. Hendaknya kalian konsisten berpegang dengan wara’.” [11]

Memelihara hati agar selalu ingat kepada Allah SWT.; perintah dan larangan-Nya juga menjadi sorotan perhatian parta imam suci Ahlulbait as.

Penulis kitab Bashâir ad Darâjât meriwayatkan dari Murâzim bahwa Imam Zainal Abidin as. bersabda kepadanya:

يا مرازِم! ليسَ مِن شيعَتِنا مَنْ خَلاَ ثُمَّ لَمْ يَرْعَ قَلْبَهُِ

“Hai Murâzim, bukan dari Syi’ah kami seorang yang menyendiri kemudian ia tidak menjaga hatinya.”[12]

Diriwayatkan ada seseorang berkata kepada Imam Hsain as., “Wahai putra Rasulullah, aku dari Syi’ah kamu.” Maka Imam bersabda:

إنَّ شِيْعَتَنا مَنْ سَلِمَتْ قلوبُهُم من كُلِّ غِشٍّ و غِلِّ و دَغْلٍ.ُ

“Syi’ah kami, adalah orang-oarng yang hati-hati mereka selamat/bersih dari segala bentuk pengkhianatan, kedengkian dan makar.”[13]

Imam Ja’far as. juga bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَن قال بلسانِهِ و خالفَنا في أعمالِنا و آثارِنا، لَكِنْ شيعتُنا مَنْ وافقَنا بلسانِهِ و قلبِهِ و تَب~عَ أثارَنا وَ عمِلَ بِأَعمالِنا. أولئكَ شيعتُنا.

“Bukan termasuk Syi’ah kami orang yang berkata dengan lisannya namun ia menyalahgi kami dalam amal-amal dan tindakan kami. Tetapi Syi’ah kami adalah orang yang menyesuai kami dengan lisan dan hatinya dan mengikuti tindakan-tindakan kami serta beamal dengan amal kami. Mereka itulah Syi’ah kami.”

Hadis di atas adalah pendefenisian yang sempurna siapa sejatinya Syi’ah Ahlulbiat itu, dan sekaligus membubarkan angan-angan dan klaim-klaim sebagian yang mengaku-ngaku sebagai Syiah sementara dari sisi ajaran tidak mengambil dari Ahlulbait as. dan dalam beramal tidak menteladani Ahlulbait as. Semoga kita digolongkan dari Syi’ah Ahlulbait yang sejati. Amin.

Semangat Beribadah

Ciri lain yang seharusnya terpenuhi dapa Syi’ah Ahlulbait as. adalah bergeloranya semangat beribadah kepada Allah SWT. mengisi hari-hari mereka dengan mendekatkan diri kepada Allah, drengan bersujud, menangisi kesahalan dan dosa-dosa yang dikerjakannya dan kekurangan serta keteledorannya, membaca Alqu’an al Karim.

Dalam sebuah sabdanya, Imam al baqir as. bersabda kepada Abu al Miqdâm:

… إِذا جَنَّهُمُ الليلُ اتَّخَذُوا الأرْضَ فِراشًا، و استقلُُّوا الأرضَ بِجِباهِهِمْ ، كثيرٌ سجودُهُم ، كثيرَةٌ دموعُهُمْ، كثيرٌدعاؤُهُم ، كثيرٌ بكاؤُهُمْ ، يَفْرَحُ الناسُ و هُمْ يَحْزَنونَ.

“…jika malam menyelimuti mereka, mereka menjadikan tanah sebagai hamparannya, dan meletakkan dahi-dahi mereka ke bumi. Banyak sujudnya, deras air matanya, banyak doanya dan banyak tangisnya. Orang-orang bergembira sementara mereka bersedih.”[14]

Imam Ja’far as. bersabda:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ ، و اهلُ الوفاء و الأمانةِ، و أهل الزهدِ و العبادةِ، أصحابُ إحدِىَ و خمسينَ ركعَةً في اليومِ و الليلَةِ، و القَائِمُونَ باللَّيلِ، الصائِمونَ بالنهارِ ،يُزَكُّوْنَ أَموالَهُمْ ، و يَحِجُّوْنَ البيتَ و يَجْتَنِبُوْنَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli (penyandang) wara’, dan kesungguh-sungguhaa dalam ibadah, ahli menepati janji dan amanat, ahli zuhud dan ibadah, ahli (pelaknasa) salat lima puluh sau raka’at dalam sehari, bangun di malam hari, puasa di siang hari, menzakati hartanya, melaksanakan haji, dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan.”[15]

Rahib Di Malam Hari Dan Singa Di Siang Hari

Nauf, -seorang sahabat Imam Ali as.- mensifati kenangan indahnya bersama Imam Ali as. ketika menghidupkan malamnya di atas atap rumah dengan shalat… Imam Ali as. menatap bintang- gemintang di langit seakan sedih, kemudian beliau bertanya kepada Nauf, “Hai Nauf, apakah engkap tidur atau bangun?” Aku terjaga. Jawab Nauf. Lalu beliau bersabda:

أَ تَدْرِيْ مَنْ شيعتِيْ؟ شيعتِيْ الذُبْلُ الشِفاهِ، الخُمْصٌ البُطُونِ، الذي تُعْرَفُ الرَّهْبانِيَّةُ و الربانية في وُجُوهِهِمْ، رهبانٌ بالليلِ ، أسَدٌ بالنهارِ، إذا جّنَّهُم الليلُ اتَّزَرُوا على أوساطِهِمْ و ارْتَدَوْا على أطرافِهِمْ، و صَفُّوا أقدامَهُمْ و افترشُوا جناهَهُمْ، تَجْرِي الدموعُ على خدودِهِم، يَجْأَرونَ إلى اللهِ فكتكِ رقَبَتِهِمْ مِنَ ، أمَّا الليلُ فَحُلماءُ علماؤ أبرارٌ أتقِياءُ.

“Hai Nauf, tahukan engkau siapa Syi’ahku? Syi’ahku adalah yang layu bibir-bibr mereka, cekung perut-perut mereka, penghambaan dan rabbaniyah dikenal dari wajah-wajah mereka. Mereka adalah para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Jika malam telah menyelimuti mereka, mereka mengencangkan kain ikatan (baju) mereka, mereka berkain di atas pundak mereka, mereka merapatkan kaki-kaki mereka, mereka meletakkan dahi-dahi mereka. Air mata mereka mengalir di atas pipi-pipi mereka, mereka meraung-raung memohon kepada Allah agar dibebaskan dari siksa neraka. Adapun di siang hari mereka adalah orang-orang yang dingin hatinya, pandai, baik-baik dan bertaqwa.”[16]

Sungguh indah gambaran yang dilukiskan Imam Ali as. bagi Syi’ah beliau as. para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Ia adalah ungkapan yang sangat tepat yang menggambarkan kondisi serasi dalam mengombinasikan aktifitas kehidupan mereka. Mereka menguasa mala-malam taktaka kegelapan telah menyelimuti angkasa. Kamu saksikan mereka meletakkan dahi-dahi kerendahan di hadapan Sang Khaliq dalam keadaan khusyu’ dan penuh penghambaan. Mereka meraung-raung menangis mengharap ampunan Allah dan kebebasan dari belenggu ap neraka.

Dan ketika siang datang menyinari bumi, berubalah mereka menjadi para pendekar di ddalam arena perjuangan kehidupan… mereka adalah ulama yang meresap ilmu dan ma’rifahnya tentang Allah SWT…. mereka adalah berhati dingin, pemaaf, bertaqwa dan penyabar serta berjuang tak kenal lelah.

Dzikir dim ala hari, ketaqwaan dan perjuangan dim ala hari… kebuah komposisi seimbang bagi kepribadian seorang Muslim Mukmin yang ideal. Itulah Syi’ah Ali as.!

[1] Amâli ath Thûsi,2/55 dan Bihar al Anwâr,68/151.

[2] Misykât al Anwâr:67.

[3] Ibid.180.

[4] Bihal al Anwâr,2/77.

[5] Al Bihar,68/166.

[6] Bisyâratul Mushthafa:17.

[7] Al Bihâr,68/167.

[8] Ibid.168.

[9] Ibid.266.

[10] Ibid.164.

[11] Bisyâratul Mushthafa:55 dan 174, dan Al Bihâr,68/87.

[12] Bashâir ad Darajât:247 darinya al Bihâr,68/153.

[13] Al Bihâr,68/164.

[14] Al Khishâl,2/58 darinya al Bihâr,68/1490-150.

[15] Shifâtusy Syi’ah:2 dari al Bihâr,68/167 hadis 33.

[16] Al Bihâr,68/191

 

kewajiban shalat jum’at menurut syi’ah

Sholat Jum’at Jemaah Syiah di Pengungsian Berlangsung Hikmat

Jum’at, 06 Januari 2012 14:52:02 WIB

Proses sholat jum’at yang dilakukan oleh jemaah Syiah di penampungan pengungsi berjalan hikmat, seluruh jemaah khusuk mengikuti sholat Jum’at tersebut.

Dalam khutbahnya KH Tajul Muluk menyampaikan beberapa hadis tentang perbedaan umat, namun yang lebih mendasar pihaknya lebih menekankan kesamaan pandangan yang membuat Islam lebih indah.

“Islam itu indah, saya harap kita bisa mengesampingkan perbedaan dan satukan persamaan karena bukan hanya Islam saja yang ada perbedaan di dalam kehidupan berumah tanggapun kita sering kali menemukan perbedaan, namun kita tepis dahulu perbedaan itu kita selaraskan persamaan untuk membuat Islam lebih indah, kebenaran sejati hanya ada di mata Allah,”ujarnya di hadapan para santri jemaah sholat jum’at.

Pantauan beritajatim.com pelaksanaan ibadah sholat jum’at yang di lakukan jemaah syiah rata – rata hampir sama, namun di rokaat yang ke dua mereka mengunakan doa dan mengangkat tangan seperti saat qunut sholat shubuh

Jemaah Syiah Sampang Gelar Sholat Jumat

.
KH Tajul Muluk gelar sholat jum’at di lokasi penampungan GOR Sampang. Sekitar 109 jemaah ikut menjadi makmum pelaksanaan sholat tersebut. Pantauan beritajatim.com isu tentang jemaah Syiah yang tidak melakukan sholat jum’at, ternyata bertolak belakang dengan realita yang ada.

Namun dalam tata cara sholat jemaah Syiah tersebut melakukan sholat dengan tanpa melipat tangan usai melakukan takbir. Dan di tengah – tegah sholat mereka berdoa atau menyerupai kunut sholat subuh atau berdoa sambil berdiri

SHALAT JUM’AT ITU PENUH BERKAH

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
.
Tidak ada keraguan sama sekali bahwa shalat Jum’at itu wajib hukumnya seperti yang telah disuratkan dalam al-Qur’an ayat di atas. Semua madzhab sepakat atas kewajiban dari melakukan shalat Jum’at. Tak ada satupun yang berbeda pendapat.
.
Hari Jum’at itu adalah hari yang paling penuh dengan keberkahan dalam satu minggu. Banyak sekali kejadian yang telah terjadi atau akan terjadi yang dikaitkan langsung dengan hari Jum’at ini. Memulai hari Jum’at dengan mandi dan mengenakan pakaian yang bersih dan baik adalah disunnahkan. Khutbah Jum’at disebut-sebut sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan; sumber bimbingan; dan sumber keshalehan. Khutbah Jum’at itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan acara shalat Jum’at yang harus disimak dan didengarkan sepenuh hati
.
Urusan-urusan kemasyarakatan dan kabar-kabar dari dunia Islam atau dunia secara keseluruhan jadi topik yang seringkali dibahas dalam khutbah itu.Aspek yang sangat penting untuk diperhatikan dalam acara shalat Jum’at ini ialah setiap anggota masyarakat akan bertemu bersama; saling berkenalan dan saling menjalin persahabatan
.
Kekuatan dari umat akan terbentuk dengan sendirinya. Perasaan persaudaraan akan terjalin dengan eratnya. Dan jelas ini akan mendatangkan rahmat Tuhan kepada setiap insan yang hadir yang merayakan kebersamaan dalam shalat mingguan. Kaum miskin dan papa bersanding dengan kaum berada dan kaya. Setiap bahu mereka saling bersentuhan bersatu padu membentuk barisan. Tidak ada perbedaan yang harus ditonjolkan………….semua dianggap setara di depan Tuhan.

BERIKUT ADALAH HADITS-HADITS NABI DAN SABDA-SABDA IMAM SUCI AHLUL BAYT TENTANG SHALAT BERJAMAAH:

  1. Rasulullah bersabda: “Apabila ada 2 orang (satu imam dan satu makmum) shalat berjama’ah, maka setiap raka’atnya akan dihitung dengan 50 kali pahala shalat. Pahala itu akan bertambah apabila ada 10 orang yang melakukan shalat. Setiap raka’atnya akan dihitung lebih banyak dari pada pahala shalat 76,000 kali. Apabila lebih dari 10 orang maka pahalanya hanya Allah saja yang tahu.”

  2. Hadits yang lain dari Rasulullah adalah sebagai berikut: “Apabila ada dua orang (satu imam dan satu makmum) mendirikan shalat berjama’ah, pahala untuk setiap raka’at shalat mereka ialah sama dengan 150 kali shalat. Apabila ada 3 orang yang shalat, maka pahala untuk setiap raka’atnya ialah sebanding dengan 600 kali shalat. Apabila ada 4 orang yang berjama’ah, maka pahalanya untuk setiap raka’at sama dengan 1200 kali shalat. Apabila ada 5 orang yang shalat, maka pahala untuk setiap raka’atnya ialah sama dengan 2400 kali shalat. Apabila ada lebih 10 orang yang shalat berjama’ah, maka apabila langit itu dijadikan kertas semua dan laut dijadikan tinta, dan semua pohon dijadikan pena, dan seluruh manusia, jin, para malaikat bersama-sama disuruh untuk menuliskan jumlah pahala yang didapat, maka niscaya mereka takkan mampu untuk menuliskannya.

  3. Rasulullah (saaw) bersabda: “Sesungguhnya, ketika salah seorang hamba Allah ikut mendirikan shalat berjama’ah dan dia berdo’a kepada Allah meminta sesuatu, yang mana permintaan itu tidak dikabulkan Allah, maka Allah merasa malu sampai Ia memenuhi permintaan itu.”

  4. Imam Ali bin Musa al-Ridha (as) bersabda: “Keutamaan dari shalat berjama’ah dibandingkan dengan shalat sendirian ialah ibarat satu raka’at dibandingkan dengan 2000 raka’at.”

  5. Imam Muhammad al-Baqir (as): “Orang yang meninggalkan shalat berjama’ah tanpa ada alasan yang jelas, hanya untuk sekedar menghindari kaum Muslimin, maka ia dihitung tidak pernah shalat sama sekali (shalatnya tidak diterima).”

  6. Dalam hadits yang lain, disebutkan bahwa Takbir (Allahu Akbar) yang diucapkan oleh orang-orang yang beriman ketika shalat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada 60,000 kali haji dan umrah, dan lebih baik daripada dunia ini beserta isinya, 60 kali lebih baik. Tiap raka’at yang dilakukan oleh seorang beriman di dalam shalat berjama’ah itu lebih baik daripada bersedekah 100,000 dinar kepada orang miskin, dan sajadah yang ia pakai itu lebih baik daripada ia membebaskan 100 orang budak.”

PENTINGNYA SHALAT JUM’AT MENURUT PARA ULAMA TERKEMUKA

Almarhum Ayatullah Shaykh Muhammad Hasan Najafi, seorang ulama Syi’ah terkemuka dari India, seringkali mengeluhkan para pengikut Syi’ah yang malas untuk shalat Jum’at. Pada tahun 1950-an, ia menerbitkan sebuah selembaran yang diberijudul “PAYGHANIE NAJAFI” dimana di dalamnya ia mengingatkan betapa pentingnya shalat Jum’at itu. Dalam sebuah pesan yang panjang (Paygham #94, tanggal 29 Januari 1954) yang diberijudul “Meninggalkan Shalat Jum’at itu sama saja dengan meninggalkan al-Qur’an dan Ahlul Bayt (as),” Ayatullah Najafi memulai dengan mengatakan bahwa Rasulullah telah menekankan bahwa mendirikan shalat Jum’at sebegitu rupa hingga shalat Jum’at itu benar-benar berbeda dengan shalat-shalat harian yang biasa.
.
Nabi Muhammad (saaw) telah bersabda: “Shalat Jum’at itu seperti melaksanakan ibadah bagi orang-orang miskin; setiap kali hari Jum’at ada haji dan umrah untuk kalian dan menunggu shalat Ashar ialah seperti umrah. Bagi setiap orang mukmin yang pergi shalat Jum’at, Allah akan meringankan baginya ketakutan yang akan dihadapinya kelak di hari penghisaban, dan orang mukmin itu akan dimasukkan ke dalam surga. Dan barangsiapa yang tidak peduli, tanpa alasan sama sekali, dan meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali berturut-turut, maka Allah akan menutup hatinya rapat sebagai orang munafik.”
.
Imam Ali (as) bersabda: “Aku menjamin bahwa Allah akan memasukkan 6 jenis manusia kedalam surga—salah satunya ialah mereka yang suka pergi menunaikan shalat Jum’at; ketika ia meninggal, ia akan masuk ke surga.”
.
Imam al-Sadiq (as) telah bersabda, “Untuk setiap langkah yang engkau lakukan menuju tempat shalat Jum’at, Allah sudah mengharamkan api neraka darinya.”
.
Dalam madzhab Syi’ah, dalam keadaan ketidak-hadiran Imam yang disucikan pada waktu ini, shalat Jum’at itu hukumnya “wajib takhiri” yang artinya kalau semua persyaratan dari wajibnya shalat itu sudah terpenuhi maka seseorang wajib untuk melakukannya; dimana shalat itu menggantikan kedudukan shalat dzhuhur. Kalau persyaratan dari shalat Jum’at itu tidak terpenuhi maka ia harus melakukan shalat dzhuhur sebagai gantinya.
.
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari uraian di atas ialah:
.
“Karena shalat Jum’at itu (yang dilakukan secara berjama’ah) penuh dengan keberkahan dan kebaikan seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, Hadits dan perkataan para Imam maka kalau kita tidak melaksanakannya itu adalah sebuah kerugian yang amat sangat bagi kaum beriman.”

DAFTAR KOTA TEMPAT SHALAT JUM’AT DILANGSUNGKAN DAN NAMA KHATIB SEKALIGUS IMAM SHALATNYA

Berikut adalah nama-nama kota di negara Iran—yang notabene mayoritas penduduknya bermadzhab Syi’ah 12 Imam (lebih dari 90% penduduk)—tempat berlangsungnya shalat Jum’at berikut nama-nama dari para Imam Shalat Jum’at. Nama-nama ini ditunjuk oleh pemimpin ruhani tertinggi di Iran (Sayyid Ali Khamenei) dengan persyaratan keilmuan dari para Imam Shalat (sekaligus Khatib) yang harus mencapai tingkatan tertentu supaya ilmu yang diberikan lewat khutbah Jum’at bisa dipertanggung-jawabkan. Jadi tidak asal bisa shalat dan bisa berkhutbah saja untuk menjadi Imam Shalat dan Khatib Jum’at (seperti yang lumrah terjadi di Indonesia). Seorang Khatib dan Imam Shalat Jum’at harus memiliki ilmu yang tinggi untuk bisa menjawab semua pertanyaan yang bisa saja ditanyakan kepadanya setelah selesai shalat Jum’at.
.
Sebagian dari Imam Shalat Jum’at yang ditunjuk oleh Pemimpin Ruhani Tertintinggi Iran itu malah bermadzhab Sunni sebagai perwujudan persatuan dan persaudaraan Islam senantiasa dipelihara dan dihembuskan di Iran. Tidak ada rasa alergi sedikitpun untuk itu. Seharusnya hal yang sama kita lakukan di tanah air. Sekat-sekat madzhab seharusnya cair dan kita bisa saja shalat bersama berjamaah dalam satu barisan karena yang kita sembah itu Tuhan yang sama—Tuhan yang menciptakan kita semua.
.

DAFTAR KOTA DAN IMAM JUM’AT DI IRAN

catatan: DAFTAR INI BELUM LENGKAP DAN MASIH BISA DITAMBAH LAGI……………..

Salat Jumat berjumlah dua rakaat. Tata caranya adalah seperti tata cara salat Shubuh. Dalam salat Jumat, sunah kita membaca qirâ’ah dengan suara keras, membaca surah Al-Jumu‘ah pada rakaat pertama, dan surah Al-Munâfiqûn pada rakaat kedua. Salat Jumat memiliki dua qunut: pertama, sebelum rukuk rakaat pertama dan kedua, setelah rukuk rakaat kedua.

Pada saat imam maksum as. berkuasa, salat Jumat memiliki hukum wajib ta‘yînî. Akan tetapi, pada masa kegaiban beliau, salat Jumat memiliki hukum wajib takhyîrî; yaitu kita bisa memiliki antara mengerjakan salat Jumat atau salat Zhuhur. Akan tetapi, mengerjakan salat Jumat adalah afhdal (lebih utama), dan mengerjakan salat Zhuhur adalah ahwath (lebih hati-hati). Dan lebih ihtiyâth lagi adalah kita mengumpulkan antara mengerjakan salat Jumat dan salat Zhuhur.
Syarat-Syarat Salat Jumat

Salat Jumat harus memenuhi beberapa syarat berikut ini:

a. Jumlah peserta; minimal jumlah peserta salat Jumat yang diperlukan adalah 5 orang dan salah seorang dari mereka bertindak sebagai imam. Salat Jumat tidak bisa terlaksana dengan jumlah peserta kurang dari 5 orang.

b. Dua khutbah; dua khutbah adalah wajib dan salat Jumat tidak bisa terbentuk tanpa kedua khutbah ini.

c.Berjamaah; salat Jumat tidak bisa terbentuk dengan salat furâdâ.

d. Tidak ada salat Jumat lain yang didirikan dalam jarak yang kurang dari 3 mil. Jika jarak antara kedua salat Jumat itu adalah 3 mil atau lebih, maka kedua salat Jumat itu sah. Jika terdapat sebuah kota besar yang berukuran beberapa farsakh, maka beberapa salat Jumat boleh didirikan pada setiap batas 3 mil.

Ada beberapa hal yang diwajibkan dalam kedua khutbah tersebut berikut ini:

a. At-Tahmîd (memuji Allah) dan—berdasarkan ihtiyâth wajib[1]—lantas diikuti dengan Ats-Tsanâ’ (menjunjung dan memuja-Nya).

b. Kemudian, mengirimkan salawat kepada Rasulullah saw. berdasarkan ihtiyâth wajib[2] pada khutbah pertama dan berdasarkan pendapat yang lebih kuat pada khutbah kedua.

c. Kemudian, berwasiat untuk bertakwa kepada Allah berdasarkan pendapat yang lebih kuat pada khutbah pertama dan berdasarkan ihtiyâth wajib[3] pada khutbah kedua.

d. Kemudian, membaca satu surah Al-Qur’an yang pendek berdasarkan pendapat yang lebih kuat pada khutbah pertama dan berdasarkan ihtiyâth wajib pada khutbah kedua.

e.Berdasarkan ihtiyâth mustahab,[4] mengirimkan salawat kepada para imam maksum as. setelah mengirimkan salawat kepada Rasulullah saw. dan memintakan ampun untuk mukminin dan mukminat pada khutbah kedua.

Yang paling utama adalah kita membaca khutbah yang telah diriwayatkan dari para maksum as.

Imam salat Jumat yang juga bertindak sebagai khatib harus menyebutkan hal-hal berikut ini dalam khutbahnya:

a. Seluruh kemaslahatan muslimin yang berhubungan dengan agama dan dunia mereka.

b. Memberitahukan kepada mereka segala peristiwa yang terjadi di negara-negara Islam dan non-Islam dan memiliki hubungan dengan mereka dalam agama dan dunia mereka, seperti masalah politik dan ekonomi yang memiliki peran penting dalam mewujudkan kemerdekaan dan tata cara hubungan mereka dengan negara-negara lain.

c. Memperingatkan mereka akan bahaya campur tangan negara-negara kolonialis asing dalam urusan politik dan ekonomi mereka.

d. Seluruh kemasalahatan muslimin yang lain.

Kedua khutbah Jumat boleh dibaca sebelum matahari tergelincir (zawâl). Akan tetapi, pembacaan khutbah ini harus diatur sedemikian rupa sehingga matahari tergelincir pada saat khatib usai membaca kedua khutbah tersebut. Dan ahwath[5] adalah kedua khutbah itu dibaca pada saat matahari tergelincir.[6]

Kedua khutbah Jumat harus dibaca sebelum salat Jumat didirikan. Jika imam salat Jumat mengerjakan salat Jumat terlebih dahulu, maka salat Jumat itu batal, dan ia harus mengulangi salat Jumat setelah membaca kedua khutbah Jumat.

Menurut pendapat yang zhâhir, imam salat Jumat tidak wajib mengulangi salat Jumat apabila ia lebih dahulu mengerjakan salat Jumat itu sebelum membaca kedua khutbah karena tidak tahu hukum atau lupa. Bahkan, ketidakwajiban mengulangi salat Jumat itu apabila ia mengerjakannya terlebih dahulu karena tidak sengaja dan tanpa pengetahuan adalah sebuah pendapat yang memiliki dalil (kâna lahu wajh).

Khatib harus berdiri pada saat membaca khutbah Jumat. Khatib dan imam salat Jumat harus satu orang; (yaitu orang yang bertindak sebagai khatib Jumat juga harus bertindak sebagai imam salat Jumat—pen.).

Berdasarkan ihtiyâth, bila bukan berdasarkan pendapat yang lebih kuat, khatib harus mengeraskan suaranya sehingga jumlah minimal peserta salat Jumat dapat mendengar suaranya. Bahkan menurut pendapat yang zhâhir, ia tidak boleh memelankan suaranya. Khatib selayaknya mengeraskan suaranya sehingga seluruh hadirin dapat mendengar suaranya, dan bahkan hal ini adalah ahwath.[7]

Jika peserta salat Jumat sangat banyak, maka ia selayaknya membaca khutbah dengan menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan nasihat dan tablig agama, khususnya tentang masalah-masalah yang sangat penting, kepada mereka.

Berdasarkan ihtiyâth,[8] bahkan menurut pendapat yang awjah (lebih jitu), para peserta salat Jumat harus mendengarkan khutbah Jumat. Bahkan, berdasarkan ihtiyâth, mereka harus diam dan tidak berbicara apapun pada saat pembacaan khutbah Jumat berlangsung. Meskipun demikian, menurut pendapat yang lebih kuat, makruh mereka berbicara pada saat itu. Jika berbicara menyebabkan fungsi khutbah Jumat hilang dan mereka tidak dapat mendengarkan khutbah, maka mereka wajib tidak berbicara.
Orang yang Wajib Mengerjakan Salat Jumat

Salat Jumat adalah wajib atas mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut ini:

a.Berusia taklif (berusia balig dan berakal).

b.Laki-laki.

c. Merdeka, (bukan budak).

d. Tidak buta dan tidak terjangkit penyakit.

e. Bukan orang yang sudah tua bangka.

f. Jarak antara tempat tinggal mereka dan tempat salat Jumat didirikan tidak lebih dari 2 farsakh.

Mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas tidak wajib menghadiri salat Jumat, meskipun kita berpendapat bahwa salat Jumat adalah wajib ta‘yînî.

Jika mereka yang tidak memenuhi persyaratan di atas secara kebetulan menghadiri salat Jumat atau memaksakan diri untuk menghadirinya, maka salat Jumat mereka sah dan mencukupi dari salat Zhuhur. Begitu juga halnya berkenaan dengan mereka yang diizinkan untuk tidak menghadiri salat Jumat lantaran hujan atau hawa dingin yang menyengat, dan juga berkenaan dengan mereka yang menghadiri salat Jumat menyulitkan mereka.

Ya, salat Jumat orang yang gila tidak sah. Akan tetapi, salat Jumat yang dikerjakan oleh anak kecil adalah sah. Hanya saja, jumlah minimal salat Jumat tidak boleh disempurnakan dengan menggunakan anak kecil dan salat Jumat juga tidak bisa terwujud bila hanya dihadiri oleh anak-anak kecil saja.

Musafir boleh[9] menghadiri salat Jumat; salat Jumatnya adalah sah dan mencukupi salat Zhuhur. Akan tetapi, salat Jumat yang hanya didirikan oleh para musafir tanpa mengikuti orang-orang yang tidak musafir adalah tidak sah. Musafir juga tidak boleh menjadi penyempurna jumlah minimal peserta salat Jumat.

Orang perempuan juga boleh menghadiri salat Jumat dan salatnya ini mencukupi salat Zhuhur, asalkan minimal jumlah peserta salat Jumat telah sempurna oleh kalangan kaum laki-laki.
Waktu Salat Jumat[10]

Waktu salat Jumat tiba pada saat matahari tergelincir. Jika imam salat Jumat telah usai membaca kedua khutbah pada saat matahari tergelincir, maka ia boleh memulai salat Jumat. Berdasarkan pendapat yang aqrab (lebih dekat), akhir waktu salat Jumat adalah bila ukuran bayangan orang yang memiliki tinggi tubuh normal telah berukuran dua langkah.

Jika kita telah memulai salat Jumat, lalu waktunya habis, maka salat Jumat kita adalah sah, asalkan kita telah mengerjakan satu rakaat dari salat Jumat itu pada waktunya. Jika tidak, maka salat Jumat kita adalah batal. Dan dalam kondisi ini, ihtiyâth dengan memilih salat Zhuhur—berdasarkan pendapat bahwa salat Jumat adalah wajib takhyîrî, sebagaimana hal ini adalah pendapat yang lebih kuat—jangan kita tinggalkan.[11]

Jika waktu salat Jumat telah habis, maka kita harus mengerjakan salat Zhuhur. Salat Jumat tidak memiliki qadha.
Beberapa Poin Penting

Pertama, seluruh persyaratan yang harus terpenuhi dalam salat jamaah juga harus terpenuhi dalam salat Jumat; yaitu tidak boleh ada penghalang, tempat imam berdiri tidak boleh lebih tinggi dari tempat makmum berdiri, jarak antara imam dan antara saf-saf salat harus terjaga, dan lain sebagainya. Begitu juga, seluruh persyaratan yang harus terpenuhi dalam diri imam salat jamaah juga harus terpenuhi dalam diri imam salat Jumat; yaitu berakal, bermazhab Syi‘ah Imamiah, adil, dan syarat-syarat yang lain.[12] Ya, salat Jumat tidak sah bila anak kecil atau orang perempuan bertindak sebagai imam salat Jumat, meskipun kita memperbolehkan mereka berdua menjadi imam bagi sejenis kelamin mereka dalam selain salat Jumat.

Kedua, azan kedua pada hari Jumat adalah sebuah bid‘ah yang haram. Azan ini dikumandangkan setelah azan asli (pertanda salat Zhuhur sudah masuk). Azan ini juga disebut dengan “azan ketiga”.
[1] Syaikh Behjat: Kedua khutbah Jumat tidak boleh kosong dari nasihat dan bacaan Al-Qur’an.

[2] Syaikh Behjat: Berdasarkan pendapat yang azhhar, salawat ini harus dibaca pada setiap khutbah.

[3] Syaikh Behjat: Berdasarkan ihtiyâth wajib, setiap khutbah harus berisi nasihat dan bacaan Al-Qur’an.

[4] Syaikh Behjat: Berdasarkan ihtiyâth wajib, khutbah kedua harus berisi salawat atas seluruh maksum as., satu per satu.

[5] Imam Khamenei: Berdasarkan ihtiyâth mustahab, sebagian dari kedua khutbah itu harus dibaca setelah matahari tergelincir.

Syaikh Behjat: Berdasarkan pendapat yang azhhar, kadar yang wajib dari kedua khutbah itu harus dibaca setelah matahari tergelincir.

[6] Sayyid Khu’i: Kedua khutbah itu harus dibaca setelah matahari tergelincir.

[7] Syaikh Behjat: Berdasarkan ihtiyâth wajib, kedua khutbah Jumat harus dibaca sedemikian rupa sehingga para hadirin dapat memahami artinya, sekalipun dengan menggunakan selain bahasa Arab. Meskipun demikian, kesahan salat Jumat bergantung pada memperdengarkan khutbah pada jumlah minimal peserta salat Jumat.

[8] Syaikh Behjat: Mereka wajib diam dan haram berbicara di pertengahan khutbah, apabila hal itu menyebabkan fungsi khutbah Jumat hilang.

[9]
Sayyid Khu’i: Berdasarkan ihtiyâth, setelah matahari tergelincir, kita jangan bepergian dari kota tempat didirikan salat Jumat yang memenuhi persyaratan.

[10] Masalah: Waktu salat Jumat dimulai dari awal waktu Zhuhur. Berdasarkan ihtiyâth, salat Jumat jangan ditunda hingga melebihi permulaan ‘urfi waktu salat Zhuhur (± 1 atau 2 jam dari awal waktu Zhuhur). Jika salat Jumat tidak didirikan hingga saat itu, maka berdasarkan ihtiyâth kita harus mengerjakan salat Zhuhur sebagai ganti dari salat Jumat itu.

[11] Syaikh Behjat: Jika kita menunda salat Jumat dari awal waktu, maka berdasarkan ihtiyâth wajib kita harus mengumpulkan antara salat Jumat dan salat Zhuhur.

[12] Imam Khamenei: Imam salat Jumat disyaratkan harus ditunjuk oleh pemimpin negara Islam (Al-Hâkim Asy-Syar‘i) yang adil. Akan tetapi, syarat ini hanya diperlukan berkenaan dengan aktualisasi efek-efek yang hanya khusus dimiliki oleh imam salat Jumat yang ditunjuk secara langsung, bukan berkenaan dengan pendirian salat Jumat itu sendiri.

 

Mandi Junub dan Wudhu’

Mandi Junub



Allah swt berfirman, “Apabila kamu junub, maka bersucilah.” (QS AlMaidah : 5)
Imam Shadiq as berkata, “Mandi junub adalah wajib.” Ia berkata pula, “Barangsiapa dengan sengaja tidak mencuci sehelai rambutnya saja dalam mandi junub maka ia akan berada di neraka.”
Imam ditanya, “Kapan seorang laki-laki dan perempuan wajib mandi?” Beliau menjawab, “Jika (zakar) telah masuk maka wajib mandi, membayar mahar dan rajam.” Dari cucunya, Imam Ridha as, “Apabila dua kemaluan telah bertemu maka wajib mandi.”
Imam as ditanya tentang orang yang melakukan hubungan seksual dengan paha : apakah wajib mandi? Imam berkata, “Ya, jika ia mengeluarkan mani.”
Imam as ditanya tentang wanita yang melihat apa yang dilihat laki-laki. Ia berkata, “Jika ia mengeluarkan mani, wajib atasnya mandi; jika tidak, tidak wajib mandi.”
Fukaha : Junub adalah penyebab wajibnya mandi, terjadi karena dua hal : memasukkan kepala kemaluan laki-laki ke dalam vagina; dan mengeluarkan mani dengan cara apapun, baik memancar maupun tidak, dengan syahwat ataupun tanpa syahwat, dalam tidur maupun di waktu jaga. Dalam hal ini, ada hal yang perlu diperhatikan :
Barangsiapa mimpi bersetubuh namun ketika bangun tidak mendapati bekas mani, maka ia tidak wajib mandi. Imam Ja’far as pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi dan merasakan nikmat dalam mimpinya, tapi ketika bangun ia tidak melihat air mani di pakaiannya atau di tubuhnya. Imam as berkata, “Ia tidak wajib mandi, sesungguhnya Ali as berkata, “Sesungguhnya mandi itu disebabkan oleh keluarnya air besar. Jika ia bermimpi, tapi tidak melihat air besar itu, maka ia tidak wajib mandi.””

Sebab-sebab Mandi Junub
1. Keluarnya mani dan cairan yang dihukumi mani, seperti cairan yang meragukan sebelum istibra’. Ciri-ciri mani adalah cairannya keluar memuncrat dengan syahwat dan setelah itu badan menjadi lemas, kecuali bagi orang yang sakit dan wanita cukup dengan adanya syahwat atau orgasme.
2. Jima’ (bersebadan), sekalipun tidak ejakulasi. Jima’ terjadi dengan masuknya bagian atas zakar (hasyafah) ke dalam vagina atau anus.

Hukum-hukum Junub
Perkara-perkara yang kesahannya tergantung pada mandi junub :
1. Shalat dengan semua macamnya kecuali shalat jenazah
2. Thawaf
3. Puasa Ramadhan dan puasa qadha Ramadhan artinya seorang yang dengan sengaja menunda mandi sampai waktu subuh, maka puasanya batal.

Perkara-perkara yang diharamkan bagi orang yang junub :
1. Menyentuh tulisan Alquran, nama Allah, Sifat-sifat dan Asma-Nya, juga nama para nabi dan para imam.
2. Masuk ke dalam Masjid Al-Haram ( di Mekah dan Madinah)
3. Menetap di dalam masjid
4. Meletakkan sesuatu di dalam masjid sekalipun dari luar atau sambil lewat.
5. Membaca surat-surat ‘azhimah yakni surat Al-’Alaq, An-Najm, As-Sajdah, dan Fushilat.

Perkara-perkara yang dimakruhkan bagi yang junub :
1. Makan
2. Minum
3. Membaca lebih dari tujuh ayat selain dari surat-surat ‘azhimah
4. Menyentuh kulit dan kertas Alquran
5. Tidur
6. Memakai daun pacar
7. Berjima’
8. Membawa mushhaf.

Cara-cara Mandi Junub
1. Niat. Dalam niat harus ikhlas
2. Membasuh permukaan kulit.
- Jika ada penghalang sampainya air ke kulit maka wajib dihilangkan dan jika seseorang mempunyai rambut atau bulu yang tebal, maka wajib memasukkan jari-jarinya ke tengah rambut /bulu sehingga air sampai ke kulit.
- Tidak diharuskan membasuh bagian dalam mata, hidung, telinga dan lainnya.
3. Tertib bagi yang mandi tartibi (yakni membasuh seluruh kepala, termasuk leher. Kemudian membasuh/menyiram badan sebelah kanan termasuk leher dan membasuh/menyiram badan sebelah kiri termasuk leher juga.
- Kemaluan dan pusar masuk kepada dua bagian badan (kanan dan kiri)
- Setelah tertib dilakukan sebaiknya membasuh/menyiram seluruh tubuh sekaligus.

Syarat-syarat Mandi Junub
1. Air yang mutlak (suci dan menyucikan)
2. Air yang mubah (bukan air milik orang lain atau tanpa seizin pemiliknya)
3. Mandi sendiri (tidak dimandikan orang lain) kecuali bagi yang tidak mampu.
4. Tidak ada yang menghalangi penggunaan air, seperti sakit.
5. Tempat air yang suci.
- Setelah mandi wajib tidak diwajibkan wudhu untuk shalat
- Jika di tengah mandi wajib, keluar angin, sah mandinya, tetapi wajib wudhu untuk shalat.
- Jika seorang yang junub shalat lalu ragu-ragu apakah sebelum shalat, mandi atau tidak, maka shalatnya dianggap sah. Tetapi untuk shalat berikutnya harus mandi lagi.
- Jika banyak penyebab mandi baik mandi wajib ataupun sunnah, maka cukup mandi sekali saja untuk seluruhnya.

Tujuan Mandi

Pertama, untuk sahnya perbuatan seperti shalat dan bagian-bagiannya yang tertinggal karena lupa (kecuali shalat jenazah), thawaf, dan puasa di bulan Ramadhan dan puasa Qadha.
Kedua, untuk diperbolehkannya atau tidak diharamkannya melakukan sebuah perbuatan seperti menyentuh nama (isim) Allah dan sifat-sifat-Nya yang tertentu, menyentuh nama para Nabi as. dan para Imam as., masuk ke dalam Mesjid Haram (di Mekah dan Madinah), menetap di mesjid-mesjid, meletakkan sesuatu di dalam mesjid, dan membaca surat-surat ‘Azhimah (yaitu surat yang mengandung ayat sajdah seperti surat An-Najm, Fushshilat, As-Sajdah dan Al-’Alaq).

Catatan-catatan :
1. Jika ragu-ragu tentang bagian dari anggota-anggota mandi setelah melakukannya, seperti jika seseorang ragu-ragu tentang kesahan badan sebelah kanan setelah ia membasuhnya, maka anggaplah sah.
2. Jika seseorang berhadas kecil (seperti kentut, kencing, buang air) di tengah-tengah mandi, maka teruskanlah mandinya dan setelah mandi hendaknya wudhu.
3. Jika seorang yang sedang junub melaksanakan shalat, kemudian ragu-ragu apakah dia sudah mandi atau belum, maka anggaplah shalatnya sah dan hendaknya mandi untuk melakukan shalat-shalat berikutnya. Tetapi jika keraguan itu muncul di tengah-tengah shalat, maka shalatnya batal dan wajib baginya mengulangi shalat setelah mandi.
4. Segala jenis mandi tidak bisa menggantikan wudhu kecuali mandi junub.
5. Seorang yang pada badannya terdapat jabirah (luka yang dibalut / diperban) kemudian dia berhadas besar (seperti junub), maka hendaknya dia mengusapkan air ke atas jabirah itu dan membasuh anggota badan yang sehat dan hendaknya mandi secara tartibi, bukan irtimasy.

Tata Cara Wudhu`


Pertama kali, berniatlah untuk berwudhu` dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Ambillah air wudhu` dengan tangan kanan.

Basuhlah wajah Anda dengan air tersebut dimulai dari tempat tumbuhnya rambut di dahi hingga ujung janggut. Membasuh wajah disyaratkan dari atas ke bawah.

Lalu ambillah air untuk kedua kalinya dengan tangan kiri dan basuhlah tangan kanan dimulai dari siku-siku hingga ujung jari-jari. Membasuh tangan kanan disyaratkan dari atas ke bawah.

Lalu ambillah air untuk ketiga kalinya dengan tangan kanan dan basuhlah tangan kiri dari siku-siku hingga ujung jari-jari. Membasuh tangan kiri juga disyaratkan dari atas ke bawah.

Kemudian usaplah kepala bagian atas ke arah depan dengan tangan kanan dan menggunakan sisa air yang tersisa di tangan. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk mengusap kepala.

Setelah itu, usaplah kaki kanan Anda dengan sisa air yang ada di tangan kanan dari ujung jari kaki hingga pergelangan kaki. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk mengusap kaki kanan.

Selanjutnya, usaplah kaki kiri Anda dengan sisa air yang ada di tangan kiri dari ujung jari kaki hingga pergelangan kaki. Anda tidak diperkenankan mengambil air baru untuk memngusap kaki kiri. Dengan demikian, Anda tela selesai berwudhu`.

Praktek Wudhu dalam bentuk Video:

Membasuh Kaki Dalam Wudhu


Sebagaimana diketahui, pada tertib ritual wudhu, madzhab ahlusunnah mewajibkan membasuh kaki.
Sementara, madzhab syi’ah mewajibkan mengusap kaki (bukan membasuh kaki), berdasarkan ayat al-Qur’an :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” [5]

Sedang hadits-hadits seputar hal itu juga diriwayatkan, baik dari jalur ahlusunnah maupun syi’ah. Namun, larangan sebagian ulama ahlusunnah untuk mengusap kaki dikarenakan hadits-hadits yang memerintahkan membasuh kaki; yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Khalid bin Walid, Amr bin al-‘Ash, Urwah, dan lain-lain [6]. Dan sejarah membuktikan bahwa keempat orang tersebut adalah orang-orang yang tidak menyukai, bahkan memerangi Ahlul Bait as. Sementara hadits-hadits dari jalur ahlusunnah, yang memerintahkan untuk mengusap kaki, sebagai berikut :

1. Baihaqi meriwayatkan dalam Sunan-nya, dari Rifa’ah bin Rafi’, yang mengatakan bahwa Rasulullah (saww) bersabda : “Sungguh tidaklah kalian mengerjakan sholat, hingga kalian mengerjakan wudhu sebagaimana perintah Allah, yakni “basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.” [7]

2. Ibn Abi Hatim meriwayatkan dari Ibn Abbas, yang berkata bahwa ayat “usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki” mengandung makna “mengusap”. [8]

3. Abdurrazzaq, Ibn Abi Syaibah, dan Ibn Majah meriwayatkan dari Ibn Abbas, yang berkata : “Orang-orang telah membasuh, padahal tidak aku jumpai dalam Kitabullah kecuali mengusap.” [9]

dan lain-lain.

Sementara dari jalur Ahlul Bait as (syi’ah), terdapat banyak sekali riwayat yang memerintahkan untuk mengusap kaki, seperti :

1. Imam Muhammad al-Baqir as, ketika menerangkan wudhu Rasulullah saww, mengatakan bahwa Rasul saww mengusap kakinya sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan : “Usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. [10]

2. Imam Ali bin Abi Thalib as mengatakan bahwa ayat : “basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki” termasuk ayat muhkam, yang tidak memerlukan takwil lagi. Adapun batasan (hukum) wudhu adalah membasuh muka dan kedua tangan, serta mengusap kepala dan kedua kaki. [11]

3. Imam Ali al-Ridha as, ketika ditanya seseorang, mengatakan bahwa surat al-Maidah tersebut sudah jelas, yaitu mengusap kepala dan kedua kaki. [12]

4. Imam Muhammad al-Baqir as, ketika ditanya tentang darimana perintah untuk mengusap kepala dan kedua kaki, maka beliau menjawab bahwa perintah tersebut tercantum dalam al-Qur’an : “basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, serta usaplah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. [13]

Referensi:

[5] QS. al-Maidah: 6

[6] Al-Syaukani, “Nailul Authar”, jilid 1, bab “Sifat Wudhu”; Suyuthi, “Durr al-Mantsur”, jilid 3, tentang (QS. al-Maidah: 6).

[7] Suyuthi, “Durr al-Mantsur”, jilid 3, tentang (QS. al-Maidah: 6).

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Al-Hurr al-Amili, “Wasail al-Syi’ah”, jilid 1, hal. 389, riwayat 1022.

[11] Ibid, hal. 399, riwayat 1042.

[12] Al-Majlisi, “Bihar al-Anwar”, jilid 80, hal. 283, riwayat 32.

[13] Al-Kulaini, “Al-Kafi”, jilid 3, hal. 30, riwayat 4.