Gerakan Anti Syi’ah Di Tubuh Muhammadiyah ingin kudeta Ketua Umum KH.Din Syamsuddin

Gerakan Anti Syi’ah Di Tubuh Muhammadiyah ingin kudeta Ketua Umum KH.Din Syamsuddin

Sabtu, 10-03-2012

Jakarta –

Pimpinan Pusat Muhammadiyah tidak pernah mengeluarkan keputusan tentang sesatnya ajaran Syiah. Muhammadiyah hanya memberikan isyarat kepada seluruh warga Muhammadiyah agar memahami ajaran ajaran Syiah yang berbeda dengan Ajaran Ahlussunah wal jamaah pada umumnya.

Pernyataan itu disampaikan Buya Yunahar Ilyas dalam Pangajian Tabligh di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (10/3). Acara yang diselenggarakan atas kerjasama Majelis Tabligh Pimpina Pusat Muhammadiyah dan Pimpinan Pemuda Muhammadiyah ini menghadirkan dua pembicara yaitu Prof Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.Ag. dan Dr. H. Saleh Partaunan Daulay, SH.. MH.

Pengurus Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadz Agus Trisundani SHI, merujuk hasil sidang pleno PP Muhammadiyah. Sedikitnya, ada lima prinsip ajaran Syi’ah yang bertolak belakang dengan akidah Muhammadiyah

Gerakan Anti Syi’ah Di Tubuh Muhammadiyah ingin kudeta Ketua Umum KH.Din Syamsuddin

Orang kalah  melakukan trik trik setelah gagal bersaing jadi ketua Umum..

Cara apa saja dilakukan demi kekuasaan, ingat pilpres 2014 Buya KH.Din Syamsuddin calon potensial..

Gerakan  memecah belah umat ini punya visi misi ganda terselubung,.

Sunni-Syiah tak Ubahnya Seperti NU-Muhammadiyah

JAKARTA -

Eksistensi Sunni-Syiah di Indonesia tidak harus dipertentangkan. Jika, keduanya terus dipertentang, maka tidak akan menemukan kata akhir. Sebab, Sunni-Syiah tak ubahnya seperti NU dan Muhammadiyah.

“Karena itu kita melihat sisi yang tidak mempertentangkan, diluar sisi keyakinan Ahlul Bait, Imamah dan bagaimana cara beribadah,” ujar Peneliti dan Pakar Syiah Indonesia dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Zulkifli, Rabu (25/1).
Menurut dia, masyarakat Indonesia harus melihat sisi lain dari Syiah yang lebih menjawab problematika Islam kekinian. Salah satunya adalah menentang penindasan hegemoni yang ingin menghancurkan Islam, seperti Amerika, Barat dan Zionisme Israel.[republika]

.

Mathla’ul Anwar: Sunni-Syiah Bisa Bersatu

Ketua Umum PB Mathl’aul Anwar, KH Sadeli Karim, mengungkapkan, aliran Sunni dan Syiah di Indonesia sebenarnya bisa bersatu.

”Selama Syiah di Indonesia tidak mengganggu golongan lain, mengapa harus diributkan? Muslim di indonesia sangat banyak. Tentu akan banyak golongan di dalamnya. Kita harus saling toleransi. Selama akidahnya masih sejalan tidak perlu diributkan. Keributan akan berujung pada konflik yang mengganggi kerukunan hidup beragama di Indonesia,” ujarnya.

Menurut dia, Syiah baru muncul selama masa kekuasaan Ali bin Abi Talib ra. Dalam perjalanannya ,Syiah memiliki banyak sekte. Banyaknya sekte yang muncul menyebabkan, keyakinan yang dianut pemeluknya berbeda.

Waspadalah, Zionis Hendak Memecah Belah Umat Menurut Prof Dr Musthafa ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, perbedaan antara Sunni-Syiah yang selama ini kerap muncul di permukaan, hakikatnya bukan perbedaan yang prinsipil.

Perbedaan hanya terletak pada persoalan non-prinsipil furuiyyah yang dapat ditoleransi. Hal itu didasari kuat oleh pemahaman terhadap ijtihad sebagai upaya memahami teks-teks agama. Ijtihad tersebut menggunakan berbagai dasar dan sumber hukum, antara lain, Alquran, hadis, ijma (konsensus), dan qiyas (analogi).

Tak jauh berbeda dengan metode yang akrab di kalangan Syiah. Tradisi ijtihad tersebut populer di kalangan umat hingga akhirnya luntur seiring lemahnya pemerintahan Dinasti Abbasiyah di pertengahan abad ke-4 Hijriah, ketika dinasti tersebut dikuasai oleh dinasti-dinasti yang terpecah dan tersebar di sejumlah wilayah.

Bersamaan dengan itu pula, ruh ijtihad mulai melemah. Sebagian umat kala itu, kembali memilih taklid dibandingkan mengembangkan budaya ijtihad. Kondisi ini menjadi satu dari sekian faktor yang mengakibatkan perbedaan antardua kubu tersebut kian memanas.

Dalam konteks masa kini, ar-Rafa’i meyakini, faktor lain yang amat kuat memengaruhi dan memanaskan konflik antara Sunni dan Syiah adalah kekuatan eksternal yang datang dari imperalis Barat.

Terutama politik dan konspirasi devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan oleh protokol kaum Zionis yang hendak memecah belah umat. Perpecahan faksi dan sekte yang tumbuh berkembang di internal Muslim, digunakan sebagai momen membenturkan dan mengadu domba berbagai kelompok itu.

Hal lain yang selalu dijadikan tuduhan kepada muslim Syiah yang membuat mereka dinyatakan kafir dan keluar dari agama Islam adalah adanya keyakinan kaum Syiah bahwa Al-Qur’an mengalami perubahan atau kaum Syiah memiliki Al-Qur’an yang berbeda dengan kaum muslimin lainnya. Ini hanyalah fitnah belaka, sebab sampai saat ini tak ada seorangpun yang mampu menunjukkan Al-Qur’an Syiah yang berbeda dengan Al-Qur’an ummat Islam pada umumnya. Perbedaan pendapat tentang Al-Qur’an hanyalah berkisar kapan dan siapa yang mengumpulkan Al-Qur’an.

Mazhab Syiah dalam Sorotan

3-4 April 2007 Indonesia menjadi tuan rumah sebuah event internasional bertajuk Konferensi Ulama Sunni-Syiah di Istana Bogor, yang diprakarsai oleh NU dan Muhammadiyah, dua ormas besar yang lebih berhak mengatasnamakan ummat Islam Indonesia bukan hanya karena perintis organisasi keagamaan di Indonesia melainkan juga memiliki massa dan pendukung yang lebih besar dibandingkan ormas-ormas Islam lainnya. 3 bulan sebelumnya telah diadakan pula Muktamar Internasional antar Berbagai Mazhab Islam di Qatar, yang dihadiri 216 tokoh pemikir, ulama, pengamat dan menteri dari 44 negara dunia. Muktamar ini diprakarsai Universitas Qatar dan Universitas Al-Azhar Mesir.

Kedua pertemuan ini bertujuan untuk menghasilkan piagam persatuan ummat Islam. Seruan persatuan Islam memang sangat dibutuhkan ditengah konflik horizontal yang terjadi berlarut-larut yang masing-masing kelompok mengatasnamakan Islam. Namun yang patut disayangkan, masih saja ada segelintir orang yang melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan semangat persatuan ini. Seperti penyerangan pengajian Syiah di Bondowoso, Bangil dan Sampang serta penyerangan pesantren YAPI tepat di hari maulid Nabi, ataupun menggelar kegiatan-kegiatan sepihak yang menghakimi mazhab lain secara in-absentia.

Seorang matematikawan yang menulis buku tentang ilmu farmasi dan kesehatan tentu banyak mengalami kesalahan dalam penulisan bukunya, kalaupun benar, orang tetap meragukan kredibilitasnya. Begitupun tentang Syiah, muslim Syiah lah yang lebih berhak untuk berbicara tentang mazhab yang diyakininya. Mengenai hal ini, saya sebagai mahasiswa yang belajar langsung di Iran (Negara yang penduduknya mayoritas bermahdzab Syiah) ingin memberi sedikit tanggapan tentang sebagian kaum muslim yang masih memberi pengklaiman sesat bahkan kafir kepada kaum Syiah, yang oleh Mufti Universitas Al-Azhar Mesir Syaikh Muhammad Tantawi mengeluarkan fatwa bolehnya muslim Sunni shalat berjama’ah dengan Syiah, mengikuti Mufti Al-Azhar pendahulunya, almarhum Syaikh Muhammad Shaltut yang mengeluarkan fatwa penganut mazhab Syiah sah dan diakui sebagai keluarga besar kaum muslimin. Perselisihan pendapat Syiah dengan Ahli Sunnah hanya seputar persoalan-persoalan yang masih berada di bawah dataran prinsip agama. Sebagai bukti, akan saya paparkan beberapa keyakinan Syiah yang justru landasan teologisnya dalam keyakinan Ahlus Sunnah mendapatkan legitimasi dan pembenaran.

Kontroversi Aqidah Syiah

Perbedaan pendapat antar mazhab dalam Islam bukan sesuatu yang baru. Jika kita menelusuri sejarah, akan ditemukan perselisihan antara kelompok fiqh dan ushul Sunni, misalnya antara Asyariah dan Mu’tazilah atau antara pengikut Hanbali, Hanafi dan Syafi’i dan begitu pula pada kelompok-kelompok Syi’ah. Perbedaan yang paling mendasar antara mazhab Syiah dengan yang lainnya adalah loyalitas kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait) sehingga mazhab Syiah juga dikenal sebagai mazhab Ahlul Bait.

Kaum Syiah meyakini hak kekhalifahaan ada pada Ahlul Bait Nabi. Kekhalifahan yang dimaksud bukan sekedar sebagai pemimpin ummat melainkan sebagai pelanjut tugas kenabian, memberikan bimbingan dan petunjuk kepada ummat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang amat berharga, yaitu kitab Allah dan Ahlul Baitku” (Shahih Muslim Juz 4 hal 123 terbitan Dar al-Ma’rif Beirut Lebanon ). Dalam hadits ini Rasulullah mengingatkan tentang Ahlul Bait sebanyak tiga kali. Ibnu Hajar juga meriwayatkan dalam kitabnya ash-Shawa’iq dengan lafadz sedikit berbeda. Rasul menamakan keduanya, Al-Qur’an dan Ahlul Bait sebagai ats-Tsaqalain, ats-Tsaql berarti sesuatu yang berharga, mulia, terjaga dan suci karena keduanya adalah tambang ilmu-ilmu agama, hikmah dan hukum syariat.

Mengapa tidak cukup hanya dengan Al-Qur’an ?. Allah SWT berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang Kami luputkan dalam Kitab.” (Qs. Al-An’am : 38). Dengan ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa tidak ada yang tertinggal dan semuanya telah tersampaikan dalam Al-Qur’an. Namun, bukankah ayat-ayat Al-Qur’an tidak terjelaskan secara terperinci ?. Sewaktu Rasul masih hidup, Rasullah yang menjelaskan secara terperinci hukum-hukum Islam yang disebutkan secara umum dalam Al-Qur’an. Namun, apakah semuanya telah dijelaskan oleh Rasul ? Karenanya sepeninggal Rasul harus ada yang tahu interpretasi Al-Qur’an dan makna sejatinya, bukan berdasarkan logika sendiri, yang terkadang benar dan juga bisa salah, namun berdasarkan pengetahuan ilahiahnya tentang karakter esensi Islam.

Al-Qur’an dan Ahlul Bait adalah dua pusaka Nabi yang suci, Allah menjelaskan kesucian Ahlul Bait dalam Surah Al-Ahzab ayat 33. Dan setelah Rasul merekalah yang lebih banyak memahami Al-Qur’an, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah” (Qs. Al-Ahzab:34) dan merekalah yang pertama-tama mendapatkan ilmu langsung dari Rasulullah, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Qs. Asy-Syu’ara : 214). Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasul SAW adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana mengikuti Al-Qur’an, terlepas siapa yang dimaksud Ahlul Bait, hal ini membutuhkan pembahasan yang lebih lanjut. Yang penting disini adalah keberadaan Ahlul Bait (Itrah) Nabi di sisi kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat dan tidak ada satupun masa yang kosong dari kehadiran mereka.

Tidak ada yang memiliki keyakinan seperti ini selain Syiah, dimana mereka mengatakan wajib adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap zaman, yang telah disucikan oleh Allah SWT sesuci-sucinya, dan kaum muslimin wajib untuk mengenal dan mengikuti mereka, “Siapa yang mati sementara ia tidak tahu imamnya, maka ia akan mati bagai matinya jahiliyah.” (HR. Bukhari-Muslim) dan “Pada hari Kami panggil seluruh manusia bersama imamnya masing-masing” (Qs. 17:71). Oleh karena itu, Muslim Syiah meyakini, Imam Ali bin Abi Thalib as yang berhak menjadi khalifah sebagaimana sabda Rasulullah, “Ali di sisiku ibarat Harun di sisi Musa kecuali kenabian, karena tidak ada Nabi setelahku.” (Shahih Bukhari, 5 : 129 dan Shahih Muslim 2 : 360). Dan bukankah Nabi Musa as pernah berpesan kepada Nabi Harun as, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku.” (Qs. Al-A’raf : 142). Dan kepemimpinan setelah Imam Ali dilanjutkan oleh keturunannya yang berasal dari Bani Quraisy, “Setelah aku ada 12 imam, semuanya dari Quraisy.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hal lain yang selalu dijadikan tuduhan kepada muslim Syiah yang membuat mereka dinyatakan kafir dan keluar dari agama Islam adalah adanya keyakinan kaum Syiah bahwa Al-Qur’an mengalami perubahan atau kaum Syiah memiliki Al-Qur’an yang berbeda dengan kaum muslimin lainnya. Ini hanyalah fitnah belaka, sebab sampai saat ini tak ada seorangpun yang mampu menunjukkan Al-Qur’an Syiah yang berbeda dengan Al-Qur’an ummat Islam pada umumnya. Perbedaan pendapat tentang Al-Qur’an hanyalah berkisar kapan dan siapa yang mengumpulkan Al-Qur’an. Kaum Sunni meyakini, pada zaman Rasulullah SAW, Al-Qur’an masih dalam berbentuk lembaran-lembaran yang ditulis pada batu, kulit binatang dan pada tulang-tulang yang kemudian disatukan dan dijadikan satu kitab yang utuh pada zaman kekhalifaan Usman bin Affan. Kaum Syiah meyakini, Allah SWT sendirilah yang menurunkan, menjaga dan mengumpulkan Al-Qur’an sehingga tersusun menjadi ayat-ayat dalam sebuah kitab yang sebagaimana kita baca. Allah SWT berfirman, “Sungguh, Kamilah yang menurunkannya (Al-Qur’an) dan Kamilah yang menjaganya.” (Qs. Al-Hijr :9) dan ayat lain, “Sungguh, Kamilah yang akan mengumpulkannya (ayat-ayat Al-Qur’an) dan membacakannya, maka apabila telah Kami bacakan ikutilah pembacaannya, kemudian Kamilah yang akan menjelaskan.” (Qs. Al-Qiyamah : 17-19).

Menurut Syiah, jika dalam penyusunan Al-Qur’an ada campur tangan selain Allah dan Rasul-Nya maka kitab itu tidak akan suci lagi dan akan menimbulkan banyak perselisihan dalam penyusunannya sebab siapapun merasa berhak menyusun ayat-ayat Al-Qur’an sesuai yang dikehendaki. Kalaupun dalam kitab-kitab hadits Syiah didapatkan hadits yang terkesan meragukan kesucian Al-Qur’an, ulama-ulama Syiah sudah berkali-kali memberikan bantahan dan penjelasan bahwa hadits tersebut dha’if dan tidak bisa dijadikan pegangan. Sebab keberadaan hadits-hadits dha’if dan maudhu juga terdapat pada kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah. Justru, bagi kaum Syiah hadits yang meskipun dari segi sanad dinyatakan shahih namun jika bertentangan dengan pesan Al-Qur’an maka kaum Syiah membuangnya. Kaum Syiahpun meyakini, apa yang telah dihalalkan oleh Rasulullah akan tetap halal sampai kiamat, dan semuanya sepakat Nikah Mut’ah dan ziarah kubur pernah dihalalkan oleh Rasulullah untuk diamalkan kaum muslimin. Kalaupun ada yang menyalahgunakan nikah mut’ah ataupun melakukan praktik kesyirikan dan kebid’ahan dalam ziarah kubur itu lain soal, bukan menjadi dalil berubahnya hukum sesuatu menjadi haram dan terlarang.

Sunni-Syiah Bersatu, Mungkinkah ?

Senjata paling ampuh yang ada di tangan musuh-musuh Islam adalah mengobarkan koflik lama antara Sunni dan Syiah. Di semua negeri muslim tanpa kecuali, abdi kolonialisme sibuk menciptakan perselisihan di kalangan kaum muslimin atas nama agama dan simpati kepada Islam. Cukuplah Irak, Afganistan dan Lebanon menjadi korban provokasi itu. Bukankah kita sudah cukup menderita akibat perselisihan lama ini, sehingga lebih bijak untuk menahan diri dan menghormati pendapat yang berseberangan dengan kita.

Konflik horizontal yang terjadi berlarut-larut di negeri ini salah satu penyebabnya karena kurangnya rasa toleransi. Intoleransi melemahkan kekuatan, merusak martabat dan menyebabkan bangsa kita tetap dalam keterjajahan kekuatan asing. Karenanya persatuan adalah sebuah keniscayaan. Namun patut diketahui, persatuan muslim yang dikehendaki tidaklah berarti mazhab-mazhab muslim harus mengabaikan keyakinan-keyakinan prinsipil mereka demi persatuan dan mengesampingkan kekhasan mazhab. Keyakinan dan prinsip praktis adalah hak asasi yang tidak boleh diganggu gugat. Kita dituntut untuk mengembangkan keagamaan dalam konstruk pemahaman seperti itu sehingga dapat memberikan tawaran segar dan mencerahkan bagi Indonesia hari ini dan masa depan. Karenanya, keberadaan kelompok-kelompok yang tidak tertarik membahas ikhtilaf mazhab secara ilmiah sangat disayangkan. Yang dibutuhkan adalah keberanian memandang perspektif mazhab lainnya selayaknya orang alim yang sedang mencari kebenaran, dan menyadari bahwa hanya kebenaranlah yang sepatutnya diikuti.

Orang yang berakal tidak akan menentukan kebenaran atas dasar figur seseorang, akan tetapi atas dasar bukti dan argumentasi. Maka dengan mengenal kebenaran, ia juga akan mengenal orang-orang yang benar. Dalam subjek apa saja, tidak tahu adalah sikap yang paling aman. Namun haruskah kita tetap berkubang dalam ketidaktahuan sementara keimanan membutuhkan semangat Horace: Sapere aude!, yakni berani tahu. Sebab, sebagaimana pesan Imam Ali, “Seseorang cenderung memusuhi yang tidak diketahuinya.”

Selama berabad-abad lamanya, hubungan antara Sunni dan Syiah terus diwarnai perselisihan. Berbagai dialog untuk mempertemukan kedua aliran dalam Islam itu kerap dilakukan. Namun, ketegangan di antara kedua kubu itu tak juga kunjung mereda.

Akankah kedua aliran besar dalam Islam itu bersatu? Prof Dr Musthafa ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, berupaya mencari benang merah yang bisa menautkan antara Sunni dan Syiah. Tokoh kelahiran Troblus, Lebanon pada 1924 itu mencoba menghadirkan perspektif yang berbeda dan mengkaji kedua aliran itu secara fair, tanpa menghilangkan bobot dan nilai akademik.

Kitab ini mengkaji tentang kemungkinan mempersatukan antara dua kubu Sunni dan Syiah. Ar-Rifa’i menyertakan beberapa kajian penting dalam kitabnya. Ia mengupas bahasan tentang sebab kemunculan faham keagamaan Syiah, alasan penting bersatu, varian sekte yang ada dalam Syiah, serta prinsip-prinsip dan faham keagamaan mereka.

Bebarapa hal penting menjadi perhatian ar-Rifa’i, di antaranya perbedaan hukum nikah mut’ah, konsep imamah, dan kemunculan Imam al-Mahdi. Ulasan tentang persoalan itu diuraikan dengan mengomparasikan pandangan kedua belah pihak. Kesimpulannya, diarahkan untuk mencari persamaan yang mempertemukan Sunni dan Syiah.

Ar-Rifa’i menegaskan, mempertemukan kedua kubu itu bukanlah hal yang mustahil. Perbedaan yang selama ini mencuat, kata dia, pada hakikatnya bukan persoalan prinsip, melainkan masalah khilafiah yang dapat ditoleransi. Pada tataran ijtihad dan tradisi ilmiah lain, misalnya, terbuka peluang Sunni-Syiah bertemu.

Setidaknya, menurut dia, pemandangan tentang sikap saling menghormati dan toleransi diteladankan oleh para ulama Salaf. Imam Abu Hanifah mewakili Sunni dan Imam Ja’far bin ash-Shadiq mewakili Syiah. Meski berbeda mazhab dan cara pandang, kedua tokoh tak saling bermusuhan dan tidak saling menafikan.

Menurut ar-Rifa’i, keduanya justru saling meningkatkan sikap hormat dan menghormati. Dalam sebuah kisah dijelaskan bagaimana kedua pemimpin yang berbeda aliran itu hidup berdampingan dalam ukhuwah Islamiah.

Dikisahkan, Zaid bin Ali seorang pemimpin kelompok Syiah Zaidiyyah—menerima pelajaran fikih dan dasar akidah dari Abu Hanifah yang notabene tersohor sebagai imam di kalangan Sunni. Demikian sebaliknya, Abu Hanifah mempelajari hadis dan disiplin ilmu lainnya dari Imam Ja’far ash-Shadiq.

Bahkan, Abu Hanifah berguru langsung ke tokoh Syiah tersebut selama dua tahun penuh. Pujian pun kerap dilontarkan Abu Hanifah ke gurunya itu. Tak pernah bertemu guru lebih fakih dibanding Ja’far bin Muhammad.

Jika di luar negeri Sunni dan Syiah, kerap bersertu, tidak halnya di Indonesia. Sebab, untuk kali pertama terjadi di dunia, dua aliran besar dalam Islam itu menyatu dalam satu majelis, dan itu terjadi di Indonesia.

Kumpulan bernama majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) itu dideklarasikan sebelum salat Jumat di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, oleh Pengurus Pusat Dewan Mesjid Indonesia (DMI) yang mewakili Sunni dan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang mewakili Syi’ah.

“Majelis ini adalah yang pertama di dunia,” kata Ketua IJABI Jalaluddin Rahmat dalam seminar bertema ‘Kerukunan Ummat Beragama Sebagai Modal Dasar Untuk Kelestarian dan Kebangkitan Bangsa’ yang juga ajang deklarasi majelis itu di Jakarta, Jumat (20/5).

Jalaluddin mengatakan, umat Islam harus bangga pada majelis ini karena ini sejarah baru bagi kedua mazhab yang sering diliputi perpecahan, untuk menjalin ikatan persaudaraan antarsesama muslim.

Jalaluddin menegaskan majelis itu tidak mencampurkan dua paham atau ajaran kedua mazhab itu, melainkan hanya sebagai tempat untuk berkumpul, berdialog, dan melakukan kegiatan sosial.

“Masalah ajaran itu masing-masing, Lakum Dinukum Waliyadin (Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku) dan menjalin ukhuwah Islamiyah adalah perintah Allah dalam Alquran,” katanya mengutip surat Al-Kafirun dalam Alquran.

Sementara anggota Pengurus Pusat DMI Daud Poliradja menyebut majelis itu didirikan atas latar belakang banyaknya perpecahan yang mengatasnamakan agama di Indonesia, padahal semua agama mengajarkan kebaikan dan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun.

“Umat beragama saling menjelekkan agamanya, sedangkan kita hidup di Indonesia yang berasaskan Pancasila,” sambung Daud.

Selain dihadiri Jalaluddin Rahmat dan Daud Poliradja, deklarasi MUHSIN itu dihadiri pula Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh dan Pembantu Deputi Bidang Politik Nasional Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Brigjen (Pol) Manahan Daulay.

Sementara Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto dan beberapa perwakilan lembaga Islam dan organisasi masyarakat seperti MUI, FPI dan FBR, tidak tampak hadir, padahal mereka sudah diundang. “Kami tidak tahu mengapa tidak hadir, tapi kami sudah mengirimkan undangannya,”kata Daud.

Salah satu dari lima poin deklarasi MUHSIN menyebutklan, “memendam dalam-dalam warisan perpecahan dan permusuhan di antara kaum mukmin.”

Ketua Umum Muhammadiyah : Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.

“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di

muka bumi,” katanya.

Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.

“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)

.

E-mail Cetak PDF

Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bernomor; Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan aliran Syiah yang telah dikeluarkan pada Sabtu, tanggal 21 Januari 2012 mendapat respon   para alim-ulama di Jawa Timur.

Dalam pertemuan bertajuk “Silaturrahmi Ulama-Umara, Menyikapi Berbagai Faham Keagamaan di Jawa Timur” yang dihadiri sekitar 50 ulama Jawa Timur, Selasa (06/03/2012), kemarin, para ulama (termasuk wakil PWNU dan PW Muhammadiyah)  ada perbedaan pendapat tentang kesesatan Syiah.

Dalam acara yang diselenggarakan di Kantor Wilayah Depag Jawa Timur, Jl. Raya Juanda Surabaya tersebut, dua organisasi Islam yang cukup besar di Jawa Timur, NU dan Muhammadiyah bahkan mendesak Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo segera menindak-lanjuti rekomendasi para ulama.

“Akhir-akhir ini di Jawa Timur terjadi keresahan sosial. Jika ini tidak dicegah, akan berimplikasi timbulnya perbuatan-perbuatan anarkis, yang pada gilirannya mengancam stabilitas nasional. Untuk itu, kami dari Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur mendukung keputusan MUI Jatim tentang berbagai aliran sesat di Jatim dan mendorong pemerintah daerah Propinsi Jawa Timur untuk selanjutnya mengambil langkah-langkah dan bersinergi dengan pemerintah pusat dan mengambil langkah-langkah lanjutan sebagai fungsi mencegah terjadinya anarkis,” ujar Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur, Prof Dr Tohir Luth.

Menurut KH Agoes Ali Masyhuri, yang mewakili PWNU, Jawa Timur adalah barometer nasional. Jika stabilitasnya terganggu dampaknya juga akan merembet ke wilayah lain.

“Saya atas nama PWNU Jawa Timur merespon positif langkah-langkah cerdas yang diambil oleh MUI Jawa Timur untuk mensikapi berbagai aliran sesat yang ada di Jawa Timur, karena Jatim adalah barometer nasional,” ujar pria yang juga pengasuh PP Bumi Shalawat Tulangan, Sidoarjo ini.

Sebelum ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Madura akhirnya mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syiah. Fatwa MUI Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur bernomor: A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah yang telah disebarluaskan oleh saudara Tajul Muluk di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang itu menegaskan, bahwa aliran yang dibawa Tajul Muluk itu sudah dikenal sejak 2004-2005 di daerah tersebut,  dinilai sudah menyimpang dari ajaran Islam.

Fatwa yang ditandatangani KH Imam Bukhori Maksum, sebagai Ketua MUI Kabupaten Sampang ini dikeluarkan Senin (02/01/2012) menegaskan, ajaran Syiah yang bawah oleh Tajul Muluk di masyarakat di daerah itu telah menyimpang dari ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi. Fatwa ini juga didukung oleh PWNU Jawa Timur.*

Said Aqil (ketua umum PBNU) menyebut Syi’ah Tidak Sesat, Dalam kurikulum “Al Firqoh Al Islamiyah” ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. “Ulama Sunni seberi Ibnu Khazm menilai Syiah itu Islam,” lanjutnya masih ditulis Tempo.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.

Menanggapi desakan para ulama itu, gubernur yang lebih akrab dipanggil Pakde Karwo tak banyak menjawab dan membantah. Menurutnya, meski pelarangan itu adalah kewenangan pemerintah pusat, ia akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait menyusul masukan para ulama dan kiai asal Jawa Timur ini.

“Saya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat, baik Menteri Dalam Negeri, Deparemen Agama, Kejakasaan Agung atau Kapolri.”

Prof. Umar Shihab Sepakat dengan Prof. Din, Syiah Bukan Ajaran Sesat

.
Ketua Majelis Ulama Indonesia Prof. Umar Shihab sepakat dengan pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin bahwa Syiah bukan ajaran sesat. Baik Sunni maupun Syiah, tetap diakui Konferensi Internasional Ulama Islam di Mekkah dua tahun lalu, sebagai bagian dari Islam.

Hal itu dikatakan Prof. Umar Shihab. Karena itu, kakak kandung mantan Menteri Agama M. Quraish Shihab meminta umat Islam kembali mengartikan Islam sebagai rahmahlil’alamiin. Terkait perbedaan, dia mengutip Sabda Rasulullah Muhammad SAW, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Karena itu, ungkapnya, MUI Pusat akan melakukan pertemuan dengan MUI Sampang, Jawa Timur, yang memfatwakan Syiah itu ajaran sesat.

“Kita belum ada rencana untuk evaluasi MUI daerah, terutama Sampang. Tapi Insya Allah kita akan ikuti perkembangan. Selasa besok kita ketemu,” ungkap Gurubesar Ilmu Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

MUI Sampang, menurutnya, kurang memahami bagaimana kedudukan dan pemikiran Islam Sunni dan Syiah. Atau mungkin dia menduga, ada kelompok-kelompok atau oknum tertentu yang tidak ingin umat Islam bersatu. “Ada yang tidak ingin Islam ini menyatu. Sehingga (umat Islam) ditunggangi, bahkan dihasut, yang malah jauh dari ajaran Islam seperti membakar rumah,” tandasnya.

Soal Islam Syiah, Muhammadiyah Minta Umat Berdialog

Muhammadiyah : “Tidak ada beda Sunni dan Syi’ah”

 Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin, mengatakan tak ada perbedaan besar antara dua mazhab besar dalam Islam Sunni dan Syiah, sebuah pernyataan sejuk yang menutup pintu perpecahan dan adu domba yang bisa menghancurkan harmoni Muslimin Indonesia. Din berkata baik Sunni dan Syiah mengakui Tuhan dan Rasul yang sama. Soal itu perlu diluruskan agar tidak memecah persaudaraan umat Islam
.
Muhammadiyah mengimbau umat Islam mengedepankan dialog dalam menyikapi perbedaan sesama muslim. Khususnya, antara Islam Sunni-dan Islam Syiah.Hal ini penting agar tidak terulang seperti kasus penyerangan dan pembakaran pesantren milik jemaah Syiah di Sampang, Madura.”Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim,” kata Wakil Rektor bidang Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Zamahsari di kampus Uhamka, Senin (2/1).Menurut Zamahsari, Muhammadiyah dan Uhamka mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Warga yang mengaku Suni menyerang dan membakar madrasah dan rumah pimpinan Syiah di Sampang.
.

Presiden SBY, sejauh ini, belum bisa bertindak terhadap pelaku-pelaku yang terlibat aksi-aksi kekerasan-kekerasan di negara ini, terutama yang dialami oleh kaum minoritas.

Demikian yang disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, Umar Shihab

Tetapi Umar tidak berani mengatakan jika kekerasan yang terjadi karena ada pembiaran dari pemerintah.

“Memang banyak yang menilai bahwa SBY tidak bisa bertindak tegas dan kurang berani memberikan satu tindakan konkret, terbukti masih banyak minoritas yang mengalami dikriminasi bahkan kekerasan seperti Ahmadiyah,” pungkas Umar

Dia menduga ada motif di balik kerapnya aksi kekerasan di negeri ini. Oleh sebab itu, MUI meminta Presiden SBY untuk mengambil tindakan tegas terhadap semua pelaku tindak kekerasan termasuk yang melakukan provokasi.

Pemerintah juga diminta untuk memberikan penerangan dan informasi yang bisa membuat minoritas aman yang artinya tidak akan terjadi perpecahan baik sesama agama maupun bangsa.

.

Pemuda Muhammadiyah: Penganut Syiah Harus Dikawal!
Senin, 02 Januari 2012 , 10:39:00 WIB

SALEH DAULAY


Pemahaman para pelaku aksi pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terhadap makna toleransi dipertanyakan.

Pasalnya, selama ini, kelompok-kelompok yang melakukan tindakan kekerasan tersebut sangat toleran terhadap agama lain. Namun kali ini, toleransi itu seakan-akan tumpul hanya karena perbedaan mazhab dan pemikiran.

“Toleransi terhadap penganut agama lain memang sangat diperlukan dan wajib dilaksanakan,” jelas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, saat dihubungiRakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 2/1)

.

“Tetapi yang lebih fundamental dari itu adalah toleransi antara sesama penganut agama yang sama. Mengapa kita mampu mentoleransi agama lain tetapi tidak mampu mentoleransi umat Islam lain yang berbeda mazhab?” sambung Saleh mempertanyakan.

Karena itu, Saleh menegaskan, kelompok yang selama ini cukup keras membela kaum minoritas dari pemeluk agama lain seharusnya juga melakukan pembelaan yang sama terhadap penganut mazhab minoritas, seperti Syiah di negeri ini.

“Hal ini sangat penting agar pluralitas dan kebhinnekaan Indonesia semakin mantap tertanam di tengah-tengah masyarakat.  Apa pun jenis mazhab yang meraka anut, haruslah tetap dihormati dan diperlakukan seperti saudara, setidaknya saudara sebangsa,” jelasnya.

Dia menekankan, toleransi antar umat beragama haruslah dilaksanakan beriringan dengan toleransi internal umat beragama. Malah tentu sangat disayangkan bila toleransi pada agama lain dianggap lebih mulia daripada toleransi di tingkat internal agamanya sendiri.

“Jangan sampai terkesan hanya peduli agama lain, tetapi lupa membina umat di tingkat internal penganut agama sendiri,” demikian Saleh.

Pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Kali ini, kecaman datang dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, menegaskan, apa pun motifnya, tindakan anarkis itu tetap tidak dapat ditolerir karena jelas-jelas melanggar hak asasi manusia.  Apalagi, tindakan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang Islam dari Mazhab Sunni.

“Tindakan ini jelas-jelas merusak nilai-nilai persaudaraan di antara sesama kaum Muslimin,” tegas Saleh saat dihubungi Rakyat Merdeka Onlinepagi ini (Senin, 2/1).

“Sudah sepatutnya, para ulama dan pemuka masyarakat di daerah itu berupaya keras mencegah terjadinya tindakan anarkis seperti itu. Selain melanggar hukum, tindakan itu jelas-jelas mencoreng umat Islam yang selama ini dikenal sangat toleran terhadap penganut agama lain,” tandasnya

.

.

Buya Syafii: Kebenaran Bukan Milik Individu

Senin, 2 Januari 2012 07:31 wib
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan
.
Menurut pria yang lebih akrab dipanggil Buya ini, hal semacam itu harus dihentikan. Sebab kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. “Saya rasa sikap yang tidak baik, ada monopoli kebenaran,” ujar Buya kepada okezone, Minggu (1/1/2012).Buya pun heran terhadap tindakan anarkistis sebagian masyarakat lantaran menganggap Syiah bertentangan dengan Islam. Padahal kata dia, Syiah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. “Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima,” jelasnya
.
Dia pun menyatakan bahwa setiap orang sekalipun atheis berhak hidup. Hal yang terpenting kata dia, bisa hidup rukun dan toleran. “Jadi perbuatan-perbuatan semacam itu harus dihentikkan, apalagi di Sampang itu bersaudara, masak agama memecah belah,” paparnya.Dia meyakini para pemeluk agama yang melakukan tindakan anarkistis bukanlah penganut agama yang diridhai. “Menurut saya semacam itu bukan agama yang autentik,” pugkasnya.
IlustrasiPeringatan Asyura atau memperingati wafatnya cucu nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husain di Indonesia berlokasi di kediaman  Abdurahman Wahid atau Gus Dur oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI)
Organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia ini membandingkan jaminan keamanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid alias Gus Dur saat menjadi Presiden RI keempat.

Menurut Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaludin Rakhmat mengatakan, semasa pemerintahan Gus Dur, kelompok Sunni dan Syiah tidak pernah terlibat konflik.

“Pada jaman Gus Dur, dia  menetapkan A, maka seluruh warga Nahdlatul Ulama mengikutinya. Itu yang tidak terjadi pada pimpinan NU sekarang,” ujarnya

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) menyesalkan aksi pembakaran area pondok pesantren milik kelompok Syiah di Sampang, Madura.

Organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia ini membandingkan jaminan keamanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid alias Gus Dur saat menjadi Presiden RI keempat.

Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaludin Rakhmat mengatakan, semasa pemerintahan Gus Dur, kelompok Sunni dan Syiah tidak pernah terlibat konflik.

“Pada jaman Gus Dur, dia  menetapkan A, maka seluruh warga Nahdlatul Ulama mengikutinya. Itu yang tidak terjadi pada pimpinan NU sekarang,” kata Jalaludin dalam jumpa pers menyikapi pembakaran Ponpes milik kelompok Syiah, Sabtu (31/12/2011).

Bahkan Gus Dur menerapkan garis kebijakan pemerintah untuk melindungi kaum minoritas. Khusus menyangkut kelompok Syiah, Gus Dur, kata Jalaludin siap mengerahkan pengikutnya untuk melakukan penghadangan bagi kelompok yang akan melakukan penyerangan.

Menyoal hal lain, Jalaludin mengungkapkan informasi mengenai kepindahan ulama NU ke kelompok Syiah. “Banyak latar belakang ulama NU yang  pindah ke Syiah, contohnya Kiai Lumajang dulunya dia  pimpinan NU di Lumajang,” sebutnya.

Antara Muhammadiyah dan NU, Mereka Bicara “Wahabi” Sebetulnya Apa yang Dicari?

OPINI | 31 January 2012 | 08:07Dibaca: 340 

Innalillahi wa inna illaihi roji’un.

Musuh-musuh Islam telah berhasil mengadu domba Nahdlatul Ulama dengan apa yang mereka katakan Neo Wahabi dan mengungkit kembali masalah hilafiyah dengan Muhammadiyah yang selama ini telah berhasil dihindari.

Musuh-musuh Islam hari ini berpesta pora.

Indonesia, Negara dengan pemeluk Islam terbesar didunia. Kaum Yahudi paling takut Kekuatan Islam diNegeri ini bersatu. Agen Mossad / CIA yang ada di Negeri ini diperkirakan yang terbesar dibanding yang disusupkan di Negara-negara berpenduduk Islam lainnya.

NU dan Muhammadiyah termasuk yang sangat diperhatikan, Dua organisasi merupakan sasaran garapan utama mereka.

“ Kendalikan dua Organisasi terbesar ini, berapapun biayanya. Bila secara organsai tidak bisa dikendalikan, kendalikan tokoh-tokohnya , selama mereka masih miskin dan butuh dana, maka kedua organisasi ini akan dapat dikendalikan.

Dekati NU dengan program “ Yasinan – Tahlilan dan Barzanji “ mereka akan dapat dikuasai. Kobarkan ketakutan mereka dengan gerakan pemurnian Islam. Fasilitasi masuknya faham gerakan pemurnian, namakan mereka Faham Neo Wahabi, takuti NU ( organisasi Islam terbesar di Indonesia ) dengan cara menanamkan pengertian Bahwa Wahabi adalah ancaman bagi NU. Dengan sedikit biaya ( cukup membiayai tokohnya ) NU akan memerangi Wahabi dengan sendirinya.

Inilah mengapa K.H. Said Agil Syiraj dengan gigih menytakan perang pada Wahabi. Bukan karena Wahabi itu sendiri, tapi memang sudah dirancang oleh kekuatan yang tidak mereka sadari.

Apakah Muhammadiyah terbebas dari hasutan Yahudi ini ?

Ternyata tidak!

Sebagian besar tokoh organisasi ini yang terjun ke Dunia Politik juga sudah bisa dikendalikan.

Saya teringat pesan Almarhum Ayah saya .

Teruskan dan selesaikan sampai tujuan da’wah “ Walisanga “. Jadilah sopir yang baik, antarkan umat sampai tujuan, jangan engkau jadikan kendaraanmu berubah jadi tujuan.

Almarhum Ayah saya seorang Ulama Nahdliyin, dengan cara yang sangat santun mencoba membawa muridnya , meninggalkan Tahayul, Bid’ah dan Khurafat melalui da’wah selangkah demi selangkah.

Rasulullah semula tidak mengharamkan Hamr, sebelum umatnya siap untuk meninggalkan secara penuh.

Tahlilan, Yasinan dan Barzanji menurut Ayah saya bukan bagian dari ibadah, tapi merupakan methoda pendekatan da’wah yang paling baik.

  1. Tahlilan adalah methode pendekatan perubahan Budaya Musyrik dan Paganisme menuju Tauhid. Jangan dijadikan bagian dari Ibadah Mafdhah.
  2. Yasinan adalah pendekatan untuk senang membaca Al Qur’an, jangan berhanti pada Yasinan tapi harus diteruskan menuju Al Qur’an sebagai pegangan hidup.
  3. Barzanji , adalah bagian dari Seni Budaya Islam, kembangkan sebagai Seni Budaya yang mampu membendung Budaya Kafir yang cenderung menyesatkan. Tapi jangan sekali-kali dijadikan bagian dari Ibadah karena posisinya akan berubah menjadi salah satu dari Bid’ah.

Galang uhuwah, tegakkan syari’ah.

 

NASIONAL

Senin, 06 Februari 2012 , 01:31:00

BATAM -
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia. Sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi. 

Hal ini disampaikan Said AqAqilil dalam acara bedah buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama yang digelar GP Ansor di Kampus Politeknik Batam, Minggu (5/2). “Wahabi mengajarkan ektrimisme dan kekerasan. Ajaran ini selangkah menuju terorisme,” kata Aqil.

Menurutnya, Islam merupakan agama yang terintegrasi dengan tradisi dan budaya santun dan cinta damai. Sehingga Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi mengajarkan jalan jihad melalui aksi terorisme.

Dia mengisahkan, dalam sejarah Nabi Muhammad SAW tidak pernah ada perintah menghancurkan berhala. Bahkan Nabi sering sedih ketika mendengar kabar kaum agama lain mengalami kekalahan dalam perang. Atau ketika umat Yahudi mengatakan Yesus merupakan anak haram. “Sehingga kalau saat ini ada kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan berarti mereka tidak sedang menjalankan ajaran Islam,” katanya.

Aqil memang tidak mengatakan aliran Wahabi sesat. Namun dia mengecam sikap aliran Wahabi yang mengharamkan tahlilan dan amalan-amalan dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad.

“Silahkan berwahabi, silahkan melarang tahlilan. Tapi jangan di Batam atau di Indonesia. Silahkan pergi ke Afganistan, Pakistan dan negara lainnya,” kata Aqil.

Meski begitu Aqil menilai aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

“Kalau Islam tetap toleran, maka Islam akan hidup selamanya. Tapi kalau mengedepankan ajaran-ajaran yang ekstrim dan kekerasan, sebentar lagi Islam bisa bubar,” katanya.

Sebelumnya, buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya” mendapat kritik dari berbagai kalangan. Buku karangan Syaikh Idahram ini dituding membela Syi”ah yang dianggap sesat. Selain itu buku ini juga dinilai mengajarkan rasisme dan menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim.

Menjawab Tuduhan Peranan Syeikh al Tusi Dalam Serangan Mongol !! bantahan syi’ah


Artikel ini adalah untuk menunjukkan kesalah fahaman tentang fakta sejarah serta membantah tuduhan tidak berasas terhadap Syiah terutamanya berkaitan peranan seorang ahli falsafah, agama, ilmu falak dan matematik yang agung, Nasir al Din at Tusi, dalam kejatuhan Baghdad dan runtuhnya dinasti Abbasiyah di tangan pejajah Mongol, Hulagu Khan. Artikel ini juga memuatkan beberapa perbahasan tentang peranan menteri kepada Khalifah yang bermazhab Syiah, Ibn Alqami dan pertuduhan ke atas Syiah Iraq berkaitan peranan mereka menjatuhkan Khilafah Abbasiah.

 

Adalah diharapkan dengan kajian dan perbahasan yang sangat berobjektif ini, akan membantu untuk menghentikan prejudis di antara mazhab dan menyumbang ke arah kesatuan kaum Muslim, dengan menunjukkan, betapa tidak berasasnya tuduhan ini dan ketidak telitian ke atas fakta sejarah telah mencipta satu atmosfera syak dan buruk sangka sesama Muslim, sehingga memberikan peluang kepada musuh untuk terus memecah belahkan umat demi kepentingan mereka.

 

Kemunculan Syiah di Iraq

 

Perbahasan munculnya pengaruh Syiah di Iraq adalah begitu panjang sekali, dan untuk menanggapinya akan menyebabkan lari dari tajuk utama artikel ini. Sejak dari berpindahnya pusat pemerintahan Amirul Mukminin Ali(as) dari Madinah ke Kufah [1] dalam rangka menghadapi permasalahan dalam 4 tahun setengah pemerintahan beliau, benih Syiahisma telah pun di pupuk di kota tersebut. Namun keadaan ini masih tidak membawa kepada meningkatnya jumah Syiah secara fenomenal di Iraq. Bagaimanapun, dalam tahun 800an, Syiahisma merebak ke beberapa daerah Iraq.
Tidak lama selepas itu, Syiah tersebar luas di Baghdad dengan usaha  keras para ulama Syiah, dan dapat bertahan walaupun wujud tekanan dan penindasan tanpa had dari kerajaan Abbasiyah. Keadaan ini berterusan sehingga kemunculan Buyid pada pertengahan abad ke 4 selepas Hijrah, di Baghdad. Kerajaan Buyid memberi sokongan kepada Syiah dan selama 100 tahun berjaya melebarkan pengaruh Syiah dengan bantuan ulama Syiah seperti Syeikh al Mufid.[2] Setelah pemerintahan Buyid, tampuk kepimpinan diganti oleh Seljuk yang menghadkan pengaruh Syiah, namun usaha menghapuskannya menemui kegagalan.

 

Dengan berlalunya masa, kuasa pihak Alawi bertambah dan Syiah muncul sebagai sebuah kumpulan agama yang penting di Baghdad. Tambahan pula mereka juga telah menubuhkan sebuah lagi pusat ajaran Syiah di Hillah. Bertambahnya pengaruh Syiah dan kuasa politiknya akhirnya membawa kepada penentangan dan bangkangan dari pihak Sunni. Para khalifah Abbasiyah kerap membunuh dan menindas kumpulan Syiah dengan bantuan dari kumpulan Sunni.

 

Di zaman pemerintahan al Nasir li-Din Allah telah menandakan permulaan serangan pihak Mongol terhadap dunia timur. Demi menguatkan pemerintahannya, khalifah telah cuba mendapatkan sokongan dari pihak Syiah yang membentuk komuniti yang berpengaruh di Baghdad, dan Khawarazmshahi yang bermusuh dengan khalifah Abbasiyah dan menyokong komuniti Syiah. Sifat beliau yang berat terhadap kumpulan Syiah dan Alawi telah membuatkan sesetengah orang menganggap khalifah itu sendiri sebagai seorang Syiah.

 

Ibnu al Tiqtaqa menulis tentang keperibadian khalifah yang menunjukkan beliau mempercayai doktrin-doktrin Imamiyah dan para menteri beliau juga menunjukkan sifat samada menyebelahi Syiah atau mereka sendiri orang Syiah.”[3]

 

Ini dilihat sebagai satu tindakan bermotif politik bagi menarik sokongan orang-orang Syiah[4] Al Sa’di menyebutkan perlantikan Ibn al-’Alqami, seorang Syiah ke jawatan menteri sebagai satu tindakan mencari keredhaan ulama Syiah, Radi al Din Ali ibn Musa ibn Ja’far ibn Tawus al Hasani. [5]

 

Tindakan oleh Al Nasir ini bukan sahaja menunjukkan pengaruh Syiah, tetapi turut membongkar permusuhan beliau dengan penentang-penentang politiknya, sebuah percanggahan yang beliau cuba leraikan demi kepentingan diri beliau sendiri.

 

Polarisasi ini berterusan selama beberapa abad dan dan hanya muncul dalam 2 hari setiap tahun, iaitu di hari Asyura dan Ghadir. Butiran terperinci tentang konflik ini telah direkodkan dalam kitab seperti Al Bidayah wa al Nihayah tulisan Ibnu Kathir, Al Muntazam tulisan Ibnu Al Jawzi, dan Shadharat al Dhahab tulisan Ibnu al Imad al Hanbali.

 

 

Dalam tempoh masa seterusnya, pengaruh Syiah dalam pentadbiran Abbasiyah tersangatlah besar sehingga ramai sekali dari menterinya adalah Syiah. Selain menonjolkan keupayaan membuat keputusan Syiah dalam hal ehwal pentadbiran, fakta ini tidak boleh diendahkan sebagai satu usaha untuk mempengaruhi orang-orang Syiah untuk menerima ketuanan Sunni terhadap keseluruhan masyarakat Islam.

 

Khalifah Abbasiyah yang terakhir, al Musta’sim telah melantik Mu’ayyid al Din ibn Alqami, seorang Syiah sebagai seorang menteri, dan beliau memegang jawatan itu sehinggalah jatuhnya Baghdad dan pembunuhan Khalifah. Walaupun wujudnya polisi khalifah Abbasiyah yang ingin menarik sokongan kumpulan Syiah, kadang-kala sesetengah elemen Sunni dalam rejim ini masih lagi cuba membuatkan khalifah mengambil pendirian anti Syiah, yang akan mengakibatkan tunjuk perasaan dan huru hara di Baghdad menyebabkan kerugian yang besar di kedua belah pihak. Salah satu konflik ini telah terjadi pada tahun 1256, setahun sebelum kejatuhan Baghdad.[6] Peristiwa ini telah menyemarakkan lagi permusuhan Syiah terhadap terhadap kekhalifahan Abbasiyah. Atas kejadian ini, satu surat telah ditulis oleh Ibnu Alqami kepada salah seorang pemimpin Syiah al-Sayyid Taj al-Din Muhammad ibn Nasr al-Husayni menerangkan posisi kumpulan Syiah terhadap khalifah:

 

“Karkh (sebuah kawasan di barat Baghdad yang didiami Syiah), kawasan yang dihormati ini, telah dimusnahkan dan warisan dari Nabi al Akram telah dihancurkan. Rumah Ali telah di bongkarkan dan pengikut dari Bani Hashim telah ditangkap. Perkara yang telah terjadi ini bukanlah satu perkara yang memeranjatkan, kerana mereka adalah pengikut al Hussain(a), yang kesucian dan kehormatannya telah dicemari serta darahnya ditumpahkan. Tanpa ragu, syaitan telah menipu kumpulan ini(penentang). Sekarang ini, apa lagi yang boleh dilakukan selain dari menahan kesabaran?…. Pengumuman telah dibuat(oleh rejim khalifah) menyebabkan begitu ramai sekali tentera dikerahkan ke kawasan bandar dan ramai sekali penduduk yang dihalau dalam keadaan sedih dan memalukan.” [7]

 

Inilah serba sedikit latar belakang sejarah di akhir pemerintahan Abbasiyah. Prejudis kepuakan telah memberi kesan buruk kepada kedua pihak. Pihak pemerintah, yang bertindak dengan cara yang tidak menguntungkan kepentingan jangka panjang mereka, telah menggalakkan konflik sektarian samada kerana prejudis atau demi memanjangkan tempoh pemerintahan mereka.

 

Inilah serba sedikit latar belakang yang menyebabkan terjadinya pertuduhan berkaitan peranan Syiah dalam kejatuhan Baghdad dan kekhalifahan Abbasiyah. Walaupun hakikatnya, ramai juga ulama Sunni seperti Sharaf al-Din ibn al Jawzi, seorang sahabat rapat khalifah, merupakan kumpulan penasihat kepada Hulagu Khan, kewujudan Nasiruddin al Tusi(semoga Allah merahmatinya) dan peranan Muyyid al Din ibn Alqami, seorang menteri al Mu’tasim telah dijadikan sandaran pertuduhan kepada Syiah. Pertuduhan ini telah diwar-warkan oleh pengikut Hanbali dan pendahulu mereka, yang mana mempunyai sifat permusuhan terhadap Syiah lebih dari mana-mana kumpulan Islam lain di Baghdad.

 

Berdasarkan ringkasan latar belakang di atas, berikut adalah point-point yang harus dibawa dalam kajian ini:

 

Pertama, Empayar Mongolia di waktu itu, sudah pun memulakan penjajahan meluaskan taklukan mereka di Iran dan Iraq, maka mereka tidak memerlukan apa-apa sebab untuk menyerang kedua wilayah itu..


Kedua, kehadiran Khwajah Nasir al-Din al-Tusi  di dalam pemerintahan Hulagu Khan dan dakwaan-dakwaan berkaitan tidak dapat membuktikan bahawa beliau mempengaruhi Hulagu Khan untuk membunuh khalifah Abbasiyah.

Ketiga, kehadiran dan tindakan Nasiruddin at Tusi adalaha demi mengurangkan kerosakan, kehilangan nyawa dan mengelakkan Islam dari musnah. Kebenarannya dapat dilihat dan terbukti dari sejarah.

Keempat, Ibn al-’Alqami juga tidak membuat keputusan melainkan ianya merupakan keyakinan ikhlas dari dirinya dengan memberi pandangan yang tepat pada dirinya dalam keadaan tersebut, dengan tujuan melindungi nyawa rakyat yang dibahayakan secara serius oleh khalifah demi melindungi dirinya sendiri.

 

Kelima, menurut Ibn al-’Athir khalifah Baghdad ialah orang yang bertanggungjawab mengumpan dan menggalakkan pihak Monggol untuk menyerang empayar Islam. Sudah menjadi satu kepastian bahawa keseluruhan komuniti Syiah, seperti juga Sunni, menggunakan keadaan yang sudah terjadi(yakni serangan Monggol) untuk menyelamatkan diri mereka dari kebinasaan dan mangambil peluang ini untuk menyebarkan Islam secara umumnya dan Syiah secara khususnya.(Pent: Ini merujuk kepada situasi masyarakat Islam pasca serangan Monggol, terpaksa mengambil pendirian tidak “contra” dengan pihak Monggol demi  menyelamatkan diri, namun mereka mengambil peluang ini untuk menyebarkan Islam)

 

Sebelum kita meneruskan dengan perbahasan isu yang disebutkan di atas, sudah menjadi satu kemestian untuk kita meneliti kandungan tuduhan terhadap Syiah dan Nasiruddin al Tusi.

 

Antara ilmuan yang hidup selepas kejadian ini adalah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Taymiyyah(wafat 1327). Beliau menyalahkan at Tusi atas kejatuhan Baghdad. Adalah menarik untuk diperhatikan juga bahawa Ibn Taymiyyah juga ada pengasas mazhab yang baru, yang mana ia boleh dikesan ajarannya berbalik semula kepada Imam Ahmad Ibn Hanbal dan para Ahlul Hadis. Penulisan beliau terkenal dengan unsur-unsur anti Syiah, yang mana lebih buruk dari kumpulan yang lain. Di dalam banyak bukunya, kita akan mendapat ekspresi prejudis anti Syiah yang kuat. Dalam hal ini, keperibadian beliau kemungkinan besar telah disebabkan oleh diprovokasi akibat pertambahan kuasa Syiah di zamannya, yang mana membuatkan beliau menghakimi dan mengambil pendirian bercanggah dengan riwayat sejarah yang sahih, berkaitan dengan penjajahan Monggol, yang direkodkan sebelum beliau.

 

Di satu tempat, ketika menyatakan keunggulan at-Tusi dikalangan Sunni dan Syiah, Ibn Taymiyyah menulis: “Beliaulah yang mengapi-apikan Monggol untuk membunuh khalifah dan para ulama…” Kemudian, beliau menuduh at-Tusi tidak mengambil endah syariat Islam, iaitu tidak mengerjakan solat, tidak menjaga akhlak, meminum minuman haram, dan berzina. [8]

 

Di tempat yang lain, Ibnu Taymiyyah mengatakan tentang at-Tusi, “Beliaulah yang mengarahkan khalifah dibunuh dan pengakhiran khilafah Abbasiyah.” [9] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, salah seorang murid beliau yang terkenal juga mengikuti jejak lagkah gurunya dengan menuduh at-Tusi terlibat dalam membunuh khalifah dan para ulama, sambil memanggil beliau dengan nama “Nasir al shirk wa al-kufr wa al-ilhad” (sekutu pembuat syirk, kafir dan ilhad). Beliau bukan sahaja mengkritik kepercayaan falsafah at-Tusi, malah menuduh beliau menafikan akhirat, menafikan sifat-sifat ketuhanan dan mempelajari sihir serta menyembah berhala di akhir hayatnya. [10]

 

Fakta ini menunjukkan Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim tidak mengenal sebarang kekangan dalam mencerca beliau sehingga ke tahap menuduh at-Tusi melanggar larangan agama dan menyembah berhala. Tokoh lain seperti al Subki [11] dan Khwand Mir [12] hanya mengikuti Ibn Taymiyyah dalam menyalahkan at-Tusi atas kejatuhan Baghdad.

 

Di zaman moden, sesetengah orientalis seperti pengarang Cambridge History of Iran juga telah menyebutkan tentang pertuduhan berkaitan peranan at-Tusi[13] Edward Browne dan Arberry juga menerima pertuduhan tersebut, seperti yang disebutkan oleh Dr. Hairi. [14]

 

Di kalangan Syiah juga, sekitar abad ke 16, sesetengah penulis memuji tindakan yang dinisbatkan kepada at-Tusi, terhadap Abbasiyyah dan menganggap ianya satu penguat kepada Syeikh. Salah seorang dari mereka adalah al Khwansari di dalam kitab Rawdat al Janat, yang menggunakan kata-kata keras dalam menyebut perkara ini. [15] Sama juga dengan Qadi Nur Allah al-Shushtari turut memuji tindakan yang dikatakan dilakukan oleh Syeikh Tusi. [16]

 

Setelah meneliti pujian dan tentangan tentang tuduhan perbuatan Syeikh Tusi, keterlibatan beliau dalam peristiwa itu adalah sangat meragukan. Kenyataan-kenyataan pujian, seperti yang dilontarkan oleh al-Khwansari, semestinya datang dari sikap prejudis penulis kepada khalifah Abbasiyah. Tulisan-tulisan seumpama ini tidak dapat dijadikan satu bukti kukuh, kerana rujukan yang sebenar dan lebih awal tidak menyebut penglibatan Syeikh Tusi. Tambahan pula, penulisan ini telah ditulis berabad-abad lamanya selepas masa kejadian.

 

 

Rancangan Monggol untuk perluasan kawasan dan serangan Baghdad:

 

Sejarah melaporkan bahawa pada awalnya, Genghiz Khan hanya mencari persahabatan dan hubungan diplomatik dengan pemerintah Iraq dan Iran. Menjajah dan menyerang bumi ini bukanlah motif pertama. Demi mewujudkan satu hubungan diplomatik yang baik, Khan telah menghantar dutanya dan sebuah delegasi perdagangan ke istana Khwarazm Shah. Namun oleh kerana kebanggaan dan egoisme beliau, Sultan Muhammad Khwarazm Shah telah menolak wakil tersebut dan membunuh kesemua delegasi diplomatik Khan. Kebongkakan Sultan telah mencipta kesusahan untuk diri mereka sendiri dan Iran. Ia telah menyebabkan beberapa siri pertempuran di antara Khwarazm Shah dan Mongol di bahagian timur Iran.[21]

 

Yang pastinya, tindakan Shah yang tidak berfikiran panjang, yang mungkin gagal menjangkakan kejayaan dari pihak Monggol, adalah penyebab utama serangan pihak Monggol. Menurut Ibnu Athir, Shah sangat menyesali tindakannya ini dan sedang mencari jalan keluar apabila mesej dari Genghiz Khan telah sampai kepada beliau: “Kamu telah membunuh sahabat dan pedagang ku serta merampas hak milik mereka. Sekarang, bersedialah untuk perang.”[22]

 

Di pihak lain, Monggol yang pada awalnya hanya ingin menyatukan kawasan timur, telah mengubah keputusannya untuk meluaskan jajahan mereka, dan menggunakan alasan Khwarazm Shah bagi memulakan kempen ketenteraan mereka ke Asia Tengah.

 

Wujud juga beberapa faktor lain yang menyebabkan serangan mereka. Antaranya adalah para Kristian Eropah yang menjadi batu api agar Monggol menyerang wilayah Islam. Serangan ini pastinya akan memberi manfaat besar kepada Perang Salib.

 

Sejak Genghiz Khan mula memasang cita-cita meluaskan empayarnya ke Asia Barat, pihak Monggol sangat agresif dalam menjadikannya satu kenyataan dan dalam tempoh sehingga kematian beliau pada tahun 1227, banyak kawasan di Iran telah menjadi mangsa serangan Monggol. Ini termasuklah Rey, Qum, Kashan dan Saveh.[24]

 

Oleh kerana hidupnya Jalaluddin Khawarazm Shah dan taktik serang dan undur yang digunakan oleh beliau dalam menyerang tentera lawan, pergerakan tentera Monggol terhad dari memasuki wilayah tengah Iran dan menumpukan serangan mereka ke wilayah Kaukasus. Namun, ini juga mengakibatkan tentera Monggol menyerang daerah Iran yang lain demi mengusai daerah Khurasan.

 

Fakta menarik yang boleh kita perhatikan di sini adalah Monggol sudah lama mempunyai rancangan untuk meyerang Baghdad. Hampir 25 tahun sebelum kejatuhan Baghdad, Monggol sudah pun melancarkan serangan ke kota ini, ketika pemerintahan al-Muntasir. Secara praktikalnya ini menunjukkan Syeikh Tusi tidak mungkin memainkan peranan dalam memulakan serangan Monggol kerana Baghdad sudah lama berada di laluan jajahan mereka.

 

Rashid al-Din merujuk kepada serangan Monggol pada tahun 1236 dan 1237, dengan kata-kata berikut:

 

Di tahun yang telah disebutkan, khalifah Abbasiyah adalah al-Muntasir. Tentera Monggol di bawah pimpinan Baychownian telah melancarkan serangan dan mengepunya Arbil. Apabila khalifah mengetahui tentang perkara ini, maka beliau menghantar 3000 tentera berkuda di bawah pimpinan Shamsuddin Arsalan. Apabila Monggol mengetahuinya, maka mereka membatalkan kepungan dan berundur. Khalifah telah meminta para fuqaha untuk mengeluarkan fatwa tentang keutamaan Jihad atau Haji, maka secara ijmaknya, fatwa jihad telah dikeluarkan, lantas khalifah mengarahkan Haji ditangguhkan. Beliau juga mengarahkan para ulama dan fuqaha, para elit dan masyarakat awam Baghdad untuk berlatih memanah dan bermain senjata. [25]

 

Serangan yang sama juga turut dilaporkan dalam tahun 1234-1237 oleh beberapa ahli sejarah yang lain. [26] Menurut laporan oleh Ibn Abi al-Hadid, yang melihat sendiri serangan Monggol, segerombolan tentera Monggol yang diketuai oleh Bajaktai telah menyerang Baghdad pada 17 Rabi` al-’Awwal 643/1245. Serangan ini telah berjaya dipatahkan dan musuh telah mengundurkan diri. [27] Monggol juga telah dilaporkan menyerang Khanaqin pada tahun 1249. [28] Serangan yang telah dilaporkan oleh Ibn Abi al Hadid turut dilaporkan oleh Ibn – al-Kazeruni (wafat 1297) [29]

 

Bukti-bukti ini menunjukkan pihak Monggol sangat memusuhi khalifah, dan para tenteranya kerap mengadukan perkara ini kepada Khan mereka. Ini jelas menunjukkan betapa pihak Monggol tidak memerlukan mana-mana pihak mengapikan mereka untuk menyerang Baghdad.

 

Apabila Mengu (1251-1260) mengambil tampuk pemerintahan Monggol, Baychownian telah bergerak dengan pasukan tentera yang besar bagi menjaga kawasan beliau di Iran. Beliau telah menghantar utusan kepada Khan dan mengadukan perihal “orang sesat” (kumpulan Ismaili) dan hal khalifah sendiri. Qadi Besar Shamsuddin al-Qazwini, yang ketika itu berada dengan Mengu, telah berjaya menghasut Mengu ke atas Ismaili, dengan menyatakan peranan dan pengaruh mereka terhadap beberapa kawasan.[30]

 

Perkembangan ini membuatkan Mengu menghantar adiknya, Hulagu untuk mengepalai ekspedisi ke wilayah terbabit dengan berkata: “..Bermulalah dari Quhistan(Daerah kawalan Ismaili), musnahkan tembok dan kubu, seterusnya bergeraklah untuk menundukkan Iraq. Jika khalifahnya tunduk, maka jangan membunuhnya dalam apa-apa cara, jika beliau bertindak mencurigakan dan hiprokrit, maka hantarlah beliau kepada yang lain(yakni bunuh).” [31] Khwand Mir melaporkan bahawa Mengu mengarahkan Hulagu seperti berikut, “…Takluklah bumi Oxus sehingga ke hujung Mesir.” [32]

 

Jika kita menilai sikap khalifah sebelum dan ketika 55 hari pertempuran dengan Monggol, akan dapat dilihat bahawa khalifah telah menyebabkan kemurkaan besar kepada Hulagu Khan sehingga jika Syeikh Tusi atau mana-mana bangsawan dan ulama menentang, maka beliau juga akan turut dibunuh, seperti mana kesnya Husam al-Din yang memberi amaran kepada Hulagu, balasan malang jika darah khalifah ditumpahkan.

 

Sejarah Peranan Syeikh Tusi

 

Berkaitan dengan pengesahan atau penafian peranan Syeikh Tusi dalam kejatuhan Baghdad, kita boleh bahagikan rekod-rekod sejarah kepada 3:

 

(a) Sumber yang tidak menceritakan peranan Syeikh:

 

Rekod-rekod ini merujuk kepada penulisan dalam tempoh 100 tahun selepas kejatuhan Baghdad. Kebanyakan dari penulisnya melihat sendiri serangan Monggol atau hidup dalam tempoh berdekad selepasnya. Ketidak wujudan sebarang sebutan berkaitan Syeikh Tusi dalam penulisan ini bermakna penafian tuduhan kepada beliau, kerana sensitifnya isu ini.

 

Antara penulis dari zaman ini adalah Minhaj Siraj, di dalam kitabnya, Tabaqat e Nasiri (atau Tarikh e Iran wa Islam), yang mana ditulis dalam tahun 1260, menyebut tentang serangan Monggol ke atas Baghdad. Beliau menyebut beberapa rekaan tentang kejayaan khalifah juga beberapa pengkhianatan(kononnya) Ibn Alqami(akan dibincangkan). Namun tiada langsung kenyataan yang menyebut Syeikh Tusi. [33]

 

Ibn al Ibn(wafat 1286) merupakan seorang lagi penulis yang menceritakan penaklukan Monggol ke atas Baghdad dengan lebih terperinci. Bagaimanapun, penulisan beliau juga tidak menyebut apa sahaja berkaitan Syeikh Tusi. [34] Di beberapa halaman berikutnya. beliau ada menyebut tentang kewafatan Syeikh Tusi, dengan menerangkan kedalaman ilmu beliau dalam beberapa bidang ilmu, namun masih tiada apa-apa tentang peranan beliau di bidang politik. [35]

 

Dr. Hairi, Ibn al Fawti di dalam kitabnya yang ditulis pada tahun 1259 menyebut tentang kejatuhan Baghdad, tetapi langsung tiada apa-apa berkaitan Syeikh Tusi. [36] Begitu juga dengan kitab tulisan Juwayni, Tarikh-e Jahangushai, yang menceritakan tentang tragedi itu turut kosong dari sebarang pernyataan berkaitan peranan beliau. [37]

 

Hamd Allah Mustawfi, seorang sejarawan terkenal pada abad ke 14 (wafat 1329), juga merupakan antara penulis peristiwa ini. Namun seperti biasa, peranan Syeikh turut tidak beliau sebutkan. [38]

 

Ibn Taba Taba (Ibn al-Tiqtaqa,  wafat1309) seorang sejarawan yang teliti, menulis kitab sejarah pada tahun 1301, yang mana kejatuhan Baghdad diceritakan di bab hidup al Musta’sim. Bagaimanapun, tiada pula sebarang penulisan beliau yang menyentuh sebarang peranan yang dimainkan Syeikh Tusi. [39] Hanya pada satu keadaan sahaja nama Tusi disebutkan iaitu ketika Ibn Alqami menemui Hulagu Khan dan diperkenalkan oleh Syeikh. [40] \Di satu tempat, beliau membacakan sepotong kata-kata yang dikaitkan kepada Syekh Tusi, tanpa menyebut secara langsung nama beliau, berkaitan ramalan seorang yang tidak bernama. Ramalan itu menyebutkan jika khalifah dibunuh, seluruh dunia akan ditimpa bencana. [41]Kita akan meneliti kata-kata ini di waktu yang lain.

 

Rashid al-Din Fadl Allah adalah seorang lagi sejarawan terkenal di zaman Mongol yang turut menyatakan kata-kata di atas. Beliau juga tidak mengatakan apa-apa berkaitan peranan Syeikh Tusi berkaitan serangan Mongol ke atas Baghdad atau pembunuhan khalifah.

 

Abu al-Fida’ is merupakan seorang sejarawan Arab dan penulis kitab al Mukhtasar fi akhbar al-bashar. Beliau telah menulis bahawa sebab musabab pembunuhan khalifah tidak diketahui, dan tiada langsung sebarang kenyataan yang menunjukkan beliau berpendapat bahawa Syeikh Tusi mempunyai peranan dalam hal ini. [42]

 

Muhammad ibn Shakir al-Kutubi (wafat 1362), pengarang Fawat al-Wafayat, telah menulis secara relatif, biografi terperinci tentang Syiekh Tusi (6 halaman).Bagaimanapun, dalam menulis khidmat Syeikh Tusi kepada Hulagu Khan, dan pendirian Syeikh Tusi terhadap Khan, tiada langsung sebarang kenyataan tentang peranan beliau dalam episod Baghdad. [43]

 

Sejarawan seterusnya ialah Ibn al-Wardi (wafat 1348),yang mana di dalam kitab beliau ada menceritakan tentang kejatuhan Baghdad.Beliau mengesahkan peranan Ibn Alqami tanpa sedikitpun merujuk kepada Syeikh Tusi. [44]Selain dari biografi ringkas, tiada langsung sebutan akan peranan Syeikh dalam kejatuhan Baghdad atau pembunuhan khalifah. [45]
Al-Dhahabi (wafat 1345), seorang ahli hadis Sunni terkenal, juga merupakan pakar dalam ilmu rijal, menulis tentang Baghdad di bawah tajuk “Peristiwa tahun 1258/656″ telah menyebut kedudukan Ibn Alqami tetapi tiada sebutan mengenai Syeikh Tusi. [46] Al-Safadi (wafat 1394), pengarang al-Wafi bi al-Wafayat, juga tidak menyebut sebarang peranan Syeikh dalam kejatuhan Baghdad. [47]

 

Sejarawan lain yang tidak menulis tentang peranan Syeikh Tusi:
  • Al-Nakhjawani [48]
  • Al-Ghassani (wafat 1359)[49]
  • Ibn al-Kazeruni (1214-1297), hidup ketika peristiwa ini sedang terjadi [50]
  • al-’Atabaki (wafat 1469) [51]
  • al-Suyuti (wafat 1505) juga tidak menyebut langsung peranan beliau. [52]

Pengarang yang telah disebutkan di atas, semuanya adalah sejarawan terkenal dari kurun ke 13 dan 14. Telah di dapati walaupun dengan wujudnya sensitiviti mereka tentang kejatuhan kekhalifahan dan Mongol serta sifat ketidak adilan mereka dalam mengadili Syiah, mereka langsung tidak menyebut tentang peranan Syeikh dalam hal ini. Sudah tentu jika ada, mereka pasti sudah mengambilnya untuk dijadikan hujah ke atas Syiah. Sudah tentu dengan tiada sebarang sebutan dari mereka, dapat kita jadikannya sebagai hujah akan tiadanya sebarang kaitan antara Syeikh Tusi dan Mongol. Ini juga dapat menunjukkan akan tiadanya sebarang hubungan peribadi antara Syeikh Tusi dan Hulagu Khan sebelum penaklukan Baghdad.

 

(b) Kitab Yang Ada Menyebut Peranan Syeikh:

 

Di atas, kami telah menyebutkan kata-kata dari Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim al Jawziyyah, al Subki, dan Khwand Mir. Adalah sangat perlu untuk dinyatakan beberapa point berkaitan mereka di atas:

 

1. Penelitian terhadap sumber asal berkaitan kejatuhan Baghdad menunjukkan bahawa, walaupun dengan kewujudan sentimen “bias” anti Syiah dan kebencian terhadap Mongol, tiada seorang pun dari para sejarawan ini yang menyebut penglibatan Syeikh Tusi dalam peristiwa tersebut. Ini adalah petunjuk terbaik yang membuktikan bahawa tuduhan Ibnu Taymiyyah dan pengikut mereka adalah tidak berasas.

 

2. Prejudis sektarian Ibn Taymiyyah dan muridnya, Ibn Qayyim dan para pengikut mereka yang lain tidak boleh menyebabkan penerimaan pendapat mereka mengenai Syeikh Nasiruddin at Tusi. Ibn Taymiyyah, di dalam banyak penulisannya, mengambil pendirian permusuhan terhadap Syiah, dan membuat banyak sekali tuduhan tidak berasas terhadap mereka, sekaligus menunjukkan kekeliruan beliau antara kumpulan Syiah Imamiah dan ghulat. Ini dapat kita lihat apabila beliau membuat pertuduhan ini dalam kitab beliau, Radd ‘ala Nusayriyah. Pertuduhan yang sama turut ditulis dalam kitab beliau Minhaj al Sunnah, sebuah kitab yang ditulis bagi menjawab kitab Minhaj al Karamah, tulisan Allamah Hilli. Ini menunjukkan kecenderungan beliau untuk membuat tuduhan, dan seperti tuduhan-tuduhan yang lain, perkara yang dinyatakan kepada Syeikh Tusi tidak berasas. Apabila Allamah Hilli mendengar tentang tanggapan Ibnu Taymiyyah tentang kitab beliau, Allamah Hilli berkata:

 

“Jika dia faham apa yang aku katakan, maka aku sudah pasti menjawabnya” [53]

 

3. Apabila pertuduhan mereka terhadap at Tusi itu diteliti berdasarkan tuduhan bahawa beliau: (a) Tidak mengendahkan undang-undang Syariah, (b) melanggar larangan syariah, (c) tidak menunaikan solat, (d) perwatakan yang tidak berakhlaq, (e) Meminum arak, (f) Melakukan zina, (g) tidak mempercayai kebangkitan semula, (h) menafikan sifat-sifat ketuhanan, (i) menyembah berhala dan seterusnya, maka dari ini dapat kita ketahui bahawa semuanya adalah tuduhan tidak logik dan hanya berandaskan prejudis mereka. Fitnah-fitnah seperti ini tidak layak ditanggapi dan semestinya, tidak kuat untuk diisytiharkan sebagai fakta sejarah.

 

4. Seorang saksi yang kuat, yang boleh dijadikan sebagai saksi ke atas kredibiliti kata-kata Ibnu Taymiyyah terhadap at Tusi ialah Ibn Kathir(wafat 1459) Beliau adalah seorang Hanbali dan dianggap sebagai pengikut Ibn Taymiyyah. [54] Ibn Kathir menyedari dan mengetahui tuduhan-tuduhan Ibn Taymiyyah yang wujud di dalam sekurang-kurangnya 3 buku beliau namun Ibn Kathir tidak menerima kenyataan Ibn Taymiyyah.

 

Merujuk kepada Syeikh Tusi semasa menjadi menteri kepada Hulagu, Ibn Kathir menulis:

 

Syeikh Tusi bersama Hulagu semasa kejadian itu di Baghdad. Sesetengah orang membayangkan Syeikh telah mempengaruhi Hulagu untuk membunuh khalifah. Bagaimanapun, menjadi kepercayaan saya bahawa perbuatan ini tidak akan dilakukan oleh seorang yang intelektual dan yang terpelajar. [55]

 

Ibn Kathir telah menggunakan frasa “sesetengah orang” dan kemudian beliau meneruskan dengan kenyataan menolak tuduhan yang dibuat, menunjukkan beliau tidak menerima apa yang ditulis Ibn Taymiyyah, kerana beliau tidak menemui apa-apa asas dari fakta sejarah untuk menguatkan tuduhan ini. Malah, beliau melihat perkara ini sebagai jauh dari seorang yang bermaruah tinggi seperti Syeikh Tusi.

 

(c) Sumber yang tidak menyatakan peranan Syeikh Tusi di Baghdad, tetapi menyebut kata-kata beliau yang menyebabkan pertuduhan ini:

 

Walaupun tanpa kenyataan dari Syeikh Tusi ini, kedudukan beliau dalam kerajaan Mongol semata-mata sudah cukup untuk sesetengah orang membuat pertuduhan. Seperti yang dibangkitkan oleh Dr. Shaybi: “Di dalam episod penjarahan Baghdad, walaupun ia sebenarnya akibat dari serangan umum dari pihak Mongol yang memusnahkan apa sahaja halangan dari Turkistas ke Iraq, pihak Syiah telah dipersalahkan kerana permusuhan Sunni Syiah yang sudah lama.” [56]

 

Kata-kata Syeikh Tusi di atas telah dilaporkan oleh Rashid al Din berkaitan dengan seorang ahli falak, Husam al Din. Ibn al Tiqtaqa menyebutnya tanpa menyebutkan nama Syeikh Tusi dan Husam al Din. Sesetengah yang lain juga mengambil dari Rashid al Din dan melaporkannya dengan penambahan isi.

 

Sebelum kita membincangkan tentang sebutan dari Rashid al Din ini, adalah sangat penting untuk kami menyatakan bahawa, oleh kerana di waktu itu, Abbasiyah mempunyai reputasi baik di kalangan masyarakat, maka sebuah idea popular telah muncul bahawa kerajaan ini kebal dan tidak dapat diruntuhkan. Idea ini turut digalakkan penyebarannya oleh pihak kerajaan sendiri. Berdiri teguh selama 525 tahun, telah memberi satu pandangan kekebalan empayar ini di mata masyarakat umum. Beberapa waktu sebelumnya, Sultan Muhammad Khawarazm Shah mahu menyerang Baghdad dan menjatuhkan rejim Abbasiyah, namun tenteranya telah diserang suhu sejuk di Asadabid, berdekatan Hamadin lalu mengagalkan serangan itu. Peristiwa ini juga telah ditafsirkan sebagai meninggikan kelebihan dan “mukjizat” empayar Abbasiyah.

 

Menurut al Juwayni: “Apabila kelemahan mula memberi kesan kepada kerajaannya, dan mukjizat Mazhab Muhammad memusing tangan beliau… sebagai keperluan, beliau perlu menamatkan idea tersebut.” [57] Tanpa ragu, peristiwa yang membabitkan bencana alam telah memberi kesan kepada akal manusia, termasuklah yang terpelajar, yang mana sesetengah dari mereka adalah penyokong khilafah Abbasiyah.

 

Husam al Din, seorang ahli falak, yang mana beliau sendiri merupakan pembantu rapat Hulagu, malah mungkin lebih rapat dari Syeikh Tusi, turut mempunyai kepercayaan yang sama tentang kerajaan ini. Perbincangan asalnya adalah antara Hulagu dan Husam, kemudian ia telah membabitkan Syeikh Tusi. Anekdot ini kemudiannya membawa kepada tuduhan bahawa Syeikh Tusi menghasut pembunuhan khalifah. Rashid al Din menulis:

 

“Hulagu Khan telah bermesyuarat tentang keinginan beliau untuk bergerak menakluk Baghdad bersama dengan para menteri dan pegawainya. Husam al Din, seorang ahli falak, yang menemani Hulagu atas keperluan untuk menetukan masa terbaik untuk menyerang. Hulagu telah meminta beliau melaporkan apa sahaja yang diramalkan dari bintang-bintang tanpa sebarang penipuan. Keakraban yang terjalin telah memberikan keberanian untuk beliau menjawab pantas, bahawa bukanlah satu tindakan bijak untuk menentang Abbasiyah atau melaksanakan ekspedisi ketenteraan ke atas Baghdad. Sehingga sekarang, setiap pemerintah yang menentang khalifah Abbasiyah telah dinafikan kenikmatan hidup dan pemerintahan. Jika Hulagu tidak mengendahkan perkara ini, maka 6 kejahatan akan timbul.
Pertamanya, kuda-kuda akan mati dan askar akan sakit, keduanya matahari tidak akan muncul, ketiga hujan tidak akan turun, keempat ribut pasir dan dunia akan dimusnahkan oleh gempa bumi, kelimanya tumbuhan tidak akan tumbuh dari tanah, dan keenam, Hulagu akan mati pada tahun itu.”

Hulagu Khan mahukan bukti untuk perkara yang beliau ramalkan, namun Husam tidak mampu memberikan jawaban yang meyakinkan. Para menteri dan bangsawan yang hadir turut mengatakan bahawa menyerang Baghdad adalah satu peluang yang menguntungkan.

 

Hulagu kemudiannya meminta Nasiruddin untuk datang mengadap dan merujuk kepada beliau. Mengesyaki beliau sedang diuji, Syeikh memberi pendapat bahawa tiada satu pun ramalan ini akan terjadi. Syeikh Tusi juga menyatakan bahawa Hulagu akan menggantikan khalifah Baghdad sebagai raja. Husam al Din kemudiannya dipanggil untuk mendebatkan perkara ini.

 

Syeikh berhujah dengan mengatakan bahawa sudah menjadi ijmak ulama bahawa ramai sekali para sahabat besar telah syahid dan menyebabkan kesan kejahatan. Jika dikatakan bahawa kumpulan Abbasiyah adalah kes istimewa, maka ingatlah Tahir yang datang dari Khorasan telah diperintahkan oleh al Ma’mun untuk membunuh abangnya, Muhammad al Amin. Al Mutawakkil pula dibunuh oleh anaknya yang berserongkol dengan ketua tentera. Sama juga dengan al Muntasir dan al Mu’taz dibunuh oleh komander dan hamba abdi mereka. Dengan cara yang sama, beberapa khalifah yang lain turut dibunuh dan tiada kejahatan yang muncul” [58]

 

Riwayat yang sama turut diriwayatkan oleh Ibn al Tiqtaqa, dan ia dimulai dengan Syeikh menyebut berkenaan Ali ibn Abi Thalib dan Hussain Ibn Ali. [59]

 

Minhaj Siraj juga telah menyebutkan insiden itu tanpa menyebut sebarang jawaban kepada ancaman Husam kepada Hulagu, jika beliau membunuh khalifah. Beliau hanya sekadar menyatakan kembali kenyataan Badr al Din Lu’ Lu’, raja Mosul yang menasihatkan kepada Hulagu, bahawa jika khalifah dibiarkan hidup, seluruh kaum Muslimin akan bersatu untuk menyelamatkan beliau dan membunuh Hulagu Khan. [60]
Sebenarnya, mesyuarah ini, walaupun benar jika ia berlaku, Hulagu sudah pun membuat keputusannya, dan beliau tidak berada di dalam posisi untuk mendengar nasihat Husam. Kebenaran perbincangan ini juga tidak boleh di ambil sebagai hujah yang Syeikh menghasut Hulagu untuk menyerang Baghdad. Tambahan pula apabila beliau mengesyaki yang dirinya sedang diuji, dan jika tersilap langkah, boleh menyelamatkan dirinya. Ini dapat dilihat apabila akhirnya, Husam al Din telah dibunuh kerana menyuarakan ramalan yang tidak benar.[61]
Bagaimanapun, Hulagu Khan dapat dilihat telah mengambil beberapa langkah berjaga-jaga dengan mengarahkan agar “khalifah di balut dengan kain putih dan jasadnya ditendang sehingga beliau mati” [62] Dr. Ha’iri telah memberi komentar tentang kajadian ini. Selain daripada hujah yang telah dinyatakan, beliau menyatakan: (1) Hulagi telah pun diberikan tugasan ini oleh abangnya; (2) ahli falsafah seperti Syeikh Tusi sudah pasti tidak akan bersetuju dengan kepercayaan karut ini;(3) mengikut laporan Rashid al Din, Hulagu tidak mahu mendengar sebarang bantahan

 

Dr. Hairi tambah menyatakan bahawa anekdot yang telah disebutkan di atas telah menjadi asas tuduhan kepada Syeikh Tusi. Namun, sebab yang sebenarnya adalah prejudis sektarian. Setelah membaca sebutan dari Rashid al Din, beliau menambah, setelah jawaban dari Syeikh Tusi, Hulagu Khan telah meneruskan cita-cita beliau dengan semangat dan azam yang jitu.[63] Penilaian tambahan ini telah memberi Ibn Taymiyyah dan yang lain asas untuk membuat tuduhan liar yang tidak pernah dibuat oleh ahli sejarah yang lain yang telah disebutkan di atas.

 

Kesan keberadaan Syeikh Tusi bersama Mongol

 

Telah menjadi suatu fakta bahawa Syeikh Tusi bersama Mongol sehingga beliau meninggal. Setelah beliau, anak beliau juga tinggal bersama mereka.[64] Dalam konteks ini, beberapa poin perlu di ambil perhatian.

 

Poin pertama, Nasiruddin al Tusi adalah seorang Syiah Imamiyah. Beliau adalah pewaris kepada sebuah kesinambungan dan tradisi yang mana taqiyyah memainkan peranan penting. Taqiyyahlah yang melindungi Syiahisma di beberapa persimpangan sejarah yang kritikal dan mengekalkan kesinambungannya di dalam keadaan tertekan dibawah pemerintahan zalim seperti Ziyad, Ibn Ziyad, al Hajjaj, al Mansur, al Rashid, al Mutawakkil dan yang lain. Taqiyyah dianggap tersangat penting sehingga orang-orang yang tidak mempertimbangkannya dianggap tidak beriman.

Di sudut yang lain, semasa beliau dipenjarakan di Alamut, beliau telah melihat dengan matanya sendiri, pencapaian dan kejayaan tentera Mongol yang tidak dapat di capai oleh pemeritahan Seljuq dan yang lain selama 150 tahun. Di dalam masa yang singkat, pihak Mongol telah memusnahkan kesemua kubu kuat Ismaili, sesuatu perkara yang sukar dipercayai oleh ramai orang.
Syeikh Tusi telah melihat sendiri, bagaimana dalam tempoh 30 tahun penjajahan mereka, kumpulan ini telah membakar kota-kota Islam dan membunuh keseluruhan penduduknya. Banyak sekali peninggalan budaya yang dimusnahkan tanpa budi bicara, termasuk perpustakaan agung. Beliau melihat sendirii, bagaimana tiada seorangpun dapat menentang tentera penjajah ini, dan sejarah boleh memberi kesaksian akan kenyataan ini.
Satu lagi poin yang lain adalah tidak seperti bangsa Arab, penjajahan Mongol bukan untuk memandu sesuatu kaum itu dari kejahilan dan kesesatan. Malah pihak mereka sendiri berada dalam kesesatan dengan tiada sumber panduan kecuali Yasa dari Genghis dan ratusan kepercayaan karut.

 

Apabila melihat kemajuan dalam serangan Mongol, Syeikh Tusi mungkin telah terfikir bahawa jika ada seseorang yang mampu melengahkan kepala kumpulan ini, dengan menjalinkan kerjasama dengan mereka, maka mungkin boleh menghalang mereka dari terus menyebarkan kemusnahan. Oleh kerana mereka menunjukkan rasa hormat kepada golongan ilmuan walaupun minimum, mengapa tidak beliau mengambil kesempatan ini untuk cuba menyelamatkan Islam dan kaum Muslimin? Dan apabila budaya Islam telah berjaya diselamatkan, maka mungkin sekumpulan dari mereka ini yang masuk Islam dapat menjadikan mereka satu kaum yang menyebarkan ilmu, pemikiran dan agama. Semestinya Syeikh Tusi telah berpendapat satu-satunya cara untuk menyelamatkan Islam, kebudayaan dan penganutnya adalah dengan berkerjasama dengan Khan kerajaan Mongol. Itulah yang beliau lakukan dengan menjadi penasihat Hulagu Khan.

 

Ini bukanlah sekadar dakwaan kerana sejarah telah megesahkan bahawa Syeikh Tusi adalah seorang yang berpandangan jauh. Telah terbukti bahawa Syeikh Tusi dan para ulama lain dari Sunni dan Syiah berjaya melakukan tugasan ini dan membuahkan hasilnya. Bagaimanapun, khalifah yang berkuasa di waktu itu, yang pendek akal dan ilmu mereka, langsung tidak mahu mendengar nasihat mereka ini.[66] Menteri terakhir khalifah Abbasiyah juga telah mencadangkan perkara yang sama, tetapi mereka yang lain seperti Dawatdar kerana keinginan mereka untuk terus memegang jawatan telah menolak semua cadangan ini dan lemas dalam lautan darah Baghdad..

 

Bagaimanapun Syeikh Tusi dan orang-orang lain sepertinya masih tidak mempunyai pengaruh yang cukup untuk menguasai setiap keputusan Hulagu. Namun, perjalanan waktu telah menunjukkan Hulagu telah berjaya dipengaruhi dalam hal-hal politik. Selepas beliau, ramai Khan Mongol telah berjaya masuk Islam, dan sebagai pemerintah, mereka berjuang untuk meluaskan keadilan dan kebudayaan Islam, sekurang-kurangnya lebih hebat dari pemerintahan Umayyah dan Abbasiyah, yang mana kejatuhannya di ratapi oleh Ibn Taymiyyah.

 

Ini bukanlah bermakna kita tidak perlu mengiktiraf jasa dan usaha mereka yang menentang Mongol dengan berani sehingga menjadi para shuhada. Namun, pandangan jauh dan ilmu seorang cendiakawan yang ingin berkerjasama dengan Mongol demi kebaikan bukanlah sesuatu yang tidak dapat diterima oleh manusia yang berakal.

 

Tambahan pula, sudah menjadi ciri-ciri seorang Syiah agar mereka dapat melindungi diri sendiri di dalam perjuangan mereka. Ini dapat kita lihat dalam kes ketua Syiah seperti Sayyid al Radi dan Sayyid al Murtadha, walaupun apabila mereka sudah menerima pemerintahan khalifah Abbasiyah di waktu itu, mereka melakukan perkara ini demi kepentingan Syiah dan menyebarkan Islam yang asli. Akhirnya lebih dari separuh dari penduduk Baghdad, kota yang diasaskan oleh al Mansur, telah bertukar ke mazhab Syiah dalam jangka masa satu abad.

 

Seterusnya kami akan tatapkan kepada pembaca yang budiman bagaimana Syeikh Tusi menggunakan pengaruh beliau di dalam kerajaan Mongol untuk menyebarkan Islam dan kebudayaannya, juga demi menyelamatkan nyawa para ulama dan pemikir Islam di waktu itu. Ini akan menunjukkan Syeikh mengambil jalan yang tepat di waktu yang sukar itu.

 

Pengaruh Syeikh Tusi Terhadap Hulagu

 

Seperti yang telah disebutkan di awal tulisan ini, Syeikh Tusi tidak mempunyai apa-apa pengaruh pada permulaan serangan dan pemerintahan Hulagu, fakta ini telah diakui beberapa pengkaji sejarah. [67] Ini dapat dilihat apabila Mongol menyerang Baghdad, kedua Sunni dan Syiah mendapat kesan buruknya. [68]

 

Dr. Shaybi turut menyebut bahawa nasib yang sama diterima oleh Sunni dan Syiah sewaktu serangan Baghdad telah menafikan segala dakwaan terhadap Syiah sebelumnya. [69]Menarik untuk dinyatakan adalah makam Imam Musa al Kazim(a), tempat suci orang-orang Syiah turut dibakar hangus. [70]

 

Bagaimanapun, lama kelamaan Syeikh Tusi telah berjaya menambah pengaruh beliau dalam kerajaan Mongol yang memberikan beliau beberapa tugasan, antaranya adalah menguruskan harta awqaf. [71]

 

Pengurusan kota Tus juga turut diamanahkan kepada beliau. [72] Selain itu, untuk satu jangka masa singkat, beliau pernah menjadi hakim di dalam satu-satunya mahkamah Mongol. [73] Semasa pengepungan Baghdad, al Tusi telah dihantar sebagai seorang perunding dengan khalifah. [74] Beliau juga bertanggungjawab dalam pembinaan balai cerap untuk Hidagu. [75]

 

Akhirnya, pengaruh al Tusi menjadi sedemikian besar sehingga Ibn Shakir mengatakan: “Syeikh Nasir menduduki kedudukan yang tinggi dan sangat dihormati oleh Hulagu sehinggakan apa sahaja yang dimahukan akan ditunaikan dan disediakan perbelanjaannya.” [76] al Tusi merupakan yang jujur dan dipercayai, maka adalah menjadi sesuatu yang fitrah untuk Hulagu bergantung kepada beliau dalam banyak urusan.

 

Shams al-Din ibn Mu’ayyad al-’Ardi berkata: “al Tusi melaksanakan tugasan kementerian untuk Hulagu tanpa sebarang penipuan. Beliau mendominasi pemikiran Hulagu sehinggakan Hulagu tidak akan menunggang kuda atau bermusafir tanpa keizinan beliau.” [77]

 

Antara tugasan penting yang dipegang oleh al Tusi adalah berkaitan dengan perpustakaan, menghidupkan semula sains keilmuan Islam dan melatih/mengajar pelapis ulama baru, yang mana untuk semua tugasan ini, beliau berjaya mencapai matlamatnya walaupun dengan besarnya kadar kerosakan yang dibawa oleh Mongol. Beliau telah mengumpul dan membina perpustakaan dengan 400,000 buah buku dari semua perpustakaan yang dimusnahkan di Syria, Baghdad, Jazirah dan tempat-tempat lain. [78]

 

Semasa beliau menguruskan harta waqaf, beliau membelanjakan 1/10 dari pendapatan itu untuk kos pembinaan balai cerap dan perbelanjaan ilmuan yang berkerja di situ. Malah, kebaikan dari harta waqaf ini sampai kepada seluruh kaum Muslimin. [79]Antara jasa lain Syeikh al Tusi adalah memberi perlindungan kepada para ulama dan ilmuan yang menjadi buruan kerajaan Mongol atas sebab-sebab tertentu. Dalam konteks ini, ahli sejarah telah merekodkan 2 peristiwa berkaitan hal ini.

 

Episod pertama direkodkan oleh al Nakhjawani, yang dianggap sebagai generasi kedua ahli sejarah bagi era itu. Beliau menulis di dalam kitabnya pada tahun 1324: “Izzudin (Ibn Abi al Hadid, ilmuan Mu’tazilah) dan abangnya, Muwaffaq al Din telah dibawa kepada Hulagu untuk dibunuh. Apabila Ibn Alqami mendengarkan perkara ini,  beliau menjadi cemas. Maka bergegaslah beliau pergi kepada al Tusi dan meminta bantuan beliau. Ibn Alqami berkata: “Dua orang terpilih dari Baghdad yang mempunyai hak yang besar ke atas ku telah ditangkap untuk dibunuh. Aku memohon bantuan mu agar bergegas kepada raja.” al Tusi bergegas berjumpa dengan Khan, melutut selari dengan adat istiadat Mongol dan memohon belas kasihan ke atas keduanya. Beliau menerangkan bahawa dua orang ini akan dihukum bunuh berdasarkan Yasa (undang-undang Mongol), dan beliau telah datang untuk menyerahkan diri beliau untuk dibunuh sebagai ganti kedua orang tadi. Mendengar perkara ini, Hulagi tertawa dan berkata: “Jika kami mahu membunuh kamu, maka tidak akan membiarkan kamu hidup sehingga sekarang.” Kemudia, Hulagu memerintahkan kedua orang itu dibebaskan dan diserahkan kepada al Tusi. [80]

 

Dalam sebuah riwayat yang lebih menarik, al Tusi menggunakan strategi yang lan bagi menyelamatkan ilmuan yang lain. Ibn Shakir melaporkan bahawa al Tusi telah mendapat tahu keinginan Hulagu untuk membunuh Ana al Din al Juwayni.  Al Tusi memberitahu kepada abangnya al Juwayni bahawa apabila Hulagu memberikan sesuatu arahan, beliau pasti akan melaksanakannya, maka perlu bagi mereka memikirkan teknik yang terbaik. Tidak lama kemudian, sambil membawa tongkat, tasbid dan alat ukur bintang, beliau keluar bersama seorang yang membawa kemenyan, menuju ke khemah Hulagu. Apabila orang-orang Hulagu melihat al Tusi berhampiran khemahnya sambil melihat alat pengukur bintang dan membawa kemenyan terbakar, maka mereka mengabarkannya kepada Hulagu. al Tusi menghampiri pengawal beliau dan bertanya keadaan Hulagu Khan. Mereka menjawab mengatakan Hulagu Khan berada dalam keadaan baik. Al Tusi meminta kebenaran mereka untuk bertemu Khan dengan mata beliau sendiri. Hulagu Khan yang tidak membenarkan sesiapa pun berjumpa dengan beliau di waktu itu, membenarkan beliau masuk. Al Tusi menyatakan bahawa satu kejahatan akan terjadi dan beliau telah berdoa kepada Tuhan untuk mengelakkan dari kejahatan itu terkena pada Khan. Beliau mencadangkan agar Hulagu Khan juga patut melakukan amal kebaikan dengan membebaskan tawanan di semua wilayah dan memberikan mereka pengampunan. Dengan segera Khan telah mengarahkan apa yang telah dicadangkan oleh al Tusi dan Ala al Din juga dibebaskan tanpa sebarang permintaan khas al Tusi. [81]

 

Anekdot yang telah disebutkan ini jelas menunjukkan bagaimana al Tusi menggunakan pengaruhnya ke atas Hulagu. Ibn Shakir, setelah menyebutkan anekdot ini, beliau memberikan komentar: “Syeikh Tusi telah menunjukkan kebijaksanaan yang tinggi dalam mencapai objektifnya dan menyelamatkan orang lain dari bahaya. Jasa beliau dalam membebaskan begitu banyak tahanan di serata tempat sememangnya merupakan satu pencapaian yang hebat.”

 

Dengan mengaitkan peristiwa-peristiwa ini, Syeikh Tusi  telah mengajar Hulagu, selagi berpeluang, akan keperluan untuk menunjukkan belas kasihan kepada rakyatnya. Sekali sekala, beliau menceritakan kepada Hulagu Khan tentang layanan jahat terhadap masyarakat utara Iraq oleh tentera Jalaluddin Khwarazmshah, dengan ini, beliau mencadangkan pemerintahan yang elok(Jahandari) kepada pemerintah Mongol. Hulagu menjawab: “Segala puji bagi Tuhan yang maha agung, kamilah Jahanggir(penakluk dunia) dan juga Jahandar. Kami adalah Jahanggir kepada pemberontak dan Jahandir kepada puak-puak. Bukan seperti Jalaluddin yang lemah dan tidak berupaya.” [82]

 

Semasa kempen ketenteraan Hulagu, Syeikh Tusi kerap berusaha untuk mengajak masyarakat untuk menyerah diri dan menyelamatkan mereka dari pembunuhan beramai-ramai pihak Mongol. Dalam masa yang sama, dengan penyerahan ini, beliau akan mempengaruhi pihak Mongol agar bertindak adil kepada masyarakat yang di tawan. Jika kita membandingkan dua bahagian dalam tempoh pemerintahan Hulagu, maka kita akan dapat melihat kesederhanaan beliau ketika berada dalam pengaruh orang-orang seperti Syeikh Tusi.

 

Pernah di suatu ketika, Hulagu telah menghantar Syeikh Sharif Tabrazi untuk mengintip tentera Mongol di bawah pimpinan Buqa’i yang memusuhi Hulagu. Syeikh Tabrazi telah ditangkap dan dibawa ke Buqa’i untuk disoal siasat, tentang adakah beliau masih membunuh golongan bangsawan, putera, para ulama dan pedagang. Syeikh Tabrizi menjawab bahawa ini adalah benar sebelum ini. Namun sekarang perkara telah berubah. lalu beliau mengucapkan syair berikut:

 

Dibawah pemerintahannya, api tidak membakar sutera,

Rusa menyusu dari susu singa betina,

masyarakat aman kerana keadilannya,

dan semua penzalim adalah lemah. [83]

 

Sememangnya syair ini berkemungkinan dibesar-besarkan, namun sedikit sebanyak menunjukkan perubahan polisi pemerintahan Mongol. Jika mereka meneruskan cara keganasan mereka, maka tempoh pemerintahan mereka pasti tidak dapat bertahan lama.

 

Selepas kematian Hulagu pada tahun 1265, anak beliau, Abaqan menggantikan beliau dengan usaha Syeikh Tusi. Peranan al Tusi dalam melindungi orang-orang alim  tetap berterusan selepasnya.

 

 

Semasa tempoh pemerintahan Abaqan, Syeikh al Tusi sentiasa memandu dan memberi nasihat kepada beliau, seperti yang dapat dilihat dalam perenggan di bawah:

 

Perkara pertama adalah seorang raja harus sentiasa mencari keredhaan Allah, agar beliau dapat melakukan yang terbaik di dunia dan akhirat. Beliau juga harus bertindak dengan keadilan dan melaksanakan tugasan dengan kebenaran, agar rakyat mendoakan penambahan kedudukan raja. Elakkan dari menindas, terutamanya mereka yang soleh dan tidak bersalah, agar raja dapat panjang umur. Cubalah menyuburkan bumi agar banyak kekayaan diperolehi tanpa sebarang kezaliman. [85]

 

Masih banyak lagi perkara yang perlu kita kaji tentang penyebaran Islam di kalangan Mongol, termasuk Hulagu Khan. Apa yang jelas adalah, majoriti Mongol termasuk Hulagu Khan, bertentangan dengan kepercayaan orang ramai, tidak memeluk Islam di zaman hidupnya. Bagaimanapun, cukuplah jika kita maju ke zaman beberapa dekad selepasnya untuk melihat apa yang dikatakan oleh Mustawfi. Selepas Ghazan Khan ibn Arghun Khan ibn Abaqan ibn Hulagu Khan menjadi raja pada tahun 1294, 40 tahun selepas penaklukan Baghdad, ” Raja dan para pembantunya telah berusaha menyebarkan Islam, dan memusnahkan kuil dan gereja. Kehebatan pemerintahan mereka telah membuatkan seluruh Mongol di Iran memeluk Islam dan sinar agama Muhammad kembali menerangi dan kegelapan syirik sirna.”[86]

 

Nampaknya perintah pertama Ghazan Khan adalah kewajiban memeluk agama Islam kepada Mongol di bawahnya. [87]

 

 

[1]. Rasul Ja’fariyan, Tarikh e siyasi-ye Islam ta sal-e chehellum-e hijri Dar Rah Haqq, Qumm.

 

[2]. ‘Ali Asghar Faqihi, Al-a Buwayh wa awda’-e zaman-e ishan, Dar Rah-e Haqq, Qumm.

 

[3]. Ibn al-Tiqtaqa, Tarikh-e Fakhre trans. by Gulpaygani, Bungah-e Tarjumeh wa Nashr-e Kitab, Tehran, 1360, p. 432; Shaykh ‘Abbas Qummi, al-Kuna wa al-’alqab, Beedar, Qumm, pp. 193, 194.

 

[4]. Shirin Bayani, Din wa dawlat dar Iran-a ‘ahd-a Moghol, Markaz-a Nashr-e Dinishgihi, Tehran 1367, pp. 270, 271.

 

[5]. Al-Sa`idi, Mu`ayyad al-Din ibn al-`Alqami wa asrar suqut al-dawlat al ‘Abbasiyyah, Najaf, 1972, p.66.

 

[6]. Ibn al-Tiqtaqa, op. cit., p. 446; Bayani, op. Cit., p. 313; al-Dhahabi, Duwal al Islam, Beirut, al Alami, p.360.

 

[7]. Wassaf al-hadrah, vol. 1, p. 28, in Bayani, op. cit., p. 314; Ibn al-Wardi, Ta’rikh Ibn al-Wara Haydariyyah, Najaf, p. 279, Ibn al-Wardi refers to Ibn `Alqami as minister of Arbil; see also al-Ya’qubi, Babuliyyat, Najaf, vo1.3, p. 34, as cited by al-Sa’idi, pp. 33, 34; al-Dhahabi, op. cit., p. 360; Khwand Mir, Habib al-siyar, ed. by al-siyaqi, Tehran, Khayyam, vol. 2, p. 366; al-Ghassani, al-’Asjad al-masbuk, Baghdad, Dar al-Bayan, 1975, p. 626.

 

[8]. Ibn Taymiyyah, Minhaj al sunnat al Nabawiyyah, Cairo, 1903, voi.2, p.199.

 

[9]. Ibn Taymiyyah, Majmu’at al-rasa’il, Cairo, 1905, p. 97.

 

[10]. Ibn ‘Imad al-Hanbali, Shadharat al dhahab fi akhbar man dhahab, Ihyi’ al Turath al-’Arabi, pp. 359, 340; see also al-Zirikli, al-’A’lam, vol.7, p.36.

 

[11]. Al-Subki, Tabaqat al Shafiyyat al-kubra, Cairo, 1906, vol.5, p. 115.

 

[12]. Khwand Mir, op. cit., vo1.2, p. 338.

 

[13]. Boel, Cambridge History of Iran, translated by Anusheh, Amir Kabir, Tehran, 1367 (Sh.), vol. 5, p. 512.

 

[14]. Ha’iri, “Tahqiq min wujhat nazar tadwin al-ta’rikh,” Majallat al-Thaqafat al-’Islamiyyah, No. 13, p. 97.

 

[15]. Al-Khwansari, Rawdat al jinan, Qumm, Isma’iliyan, vol. 6, pp. 300, 301, 315. 316.

 

[16]. Al-Shushtari, Majalis al-mu’minin, Islamiyyah, Tehran, vol. 2, p. 205.

 

[17]. Bayani, op. cit., p. 304.

 

[18]. Ibid., pp. 285, s05.

 

[19]. Ibid., pp. 306, 306.

 

[20]. In regard to this subject, see the article of Dr. Ha’iri mentioned above (Note 14 ),

 

[21]. B. Spuler, Die Mongolen in Iran, Ta’rikh-e Mughal dar Iran, Persian tran., Intisharat-e Ilmi wa Farhane Tehran 1365, pp. 26, 27.

 

[22]. Ibn al-’Athir, al-Kamil fi al-ta’rikh, Dar sadir, 1966, vol. 12, p. 363; Mustawfi, Ta’rikh-e Gudhidah, Amir Kabir, Tehran, 1362, p. 493; Minhaj SirajTabaqat-e Nasiri ed. by Habibi, Dunyay-e Kitab, Tehran, 1363, p. 311; al-Suyuti, Ta’rikh al-khulafa, ed. by Muhy al-Din ‘Abd al-Hamid, p. 469.

 

[23]. Spuler, op. cit., p. 49; Mudarisi Zanjani, Sargudhasht wa ‘aqa’id-e Khwajah Nasir al-Din Tusi, Amir Kabir, Tehran, p. 58; Bayani, op. cit, p, 180, 181; Hasan al-’Amin, Majallat al-Thaqafat al-’Islamiyyah, No. 21, “Haqa’iq Ta’rikhiyyah hawl al-Tahaluf al-Maghuli”, p. 160; al-Sa’idi, op. cit., pp. 128, 132; Kuk, Baghdad Madinat al-’Islam, vol. 1, pp. 222, 266.

 

[24]. Spuler, op. cit., from Ibn al-’Athir, vol. 12, p. 272.

 

[25]. Rashid al-Din, Jami’ al-tawrikh, ed. by Karimi, vol. 1, p. 576; see also Mustawfi, op. cit., pp. 367, 368.

 

[26]. Al-Sa’idi,. , op. cit., pp. 83, 84, from Ibn al-Fuwati, al-Hawadith al jami’ah, p. 84. Also see Ibn al-’Ibri Mukhtasar ta’rikh al-duwal, al-Matba’ah al-Kathulikiyyah, p. 250; Ibn Abi al-Hadid, Sharh Nahj al-balaghah, ed. by Abd al-Fadl Ibrahim, Egypt, vol. 8, p. 238.

 

[27]. Ibn Abi al-Hadid, op. cit., vol. 8, pp. 239, 240.

 

[28]. Ibn al-Fuwati, op. cit., p. 241.

 

[29]. Ibn al-Kazeruni, Mukhtasar al-tarikh, ed. by Mustafa Jawad, Baghdad, 1970, p. 286.

 

[30]. Rashid al-Din, op. cit, vol. 2, pp. 284, 285.

 

[31]. Ibid., vol. 2, pp. 286, 287.

 

[32]. Khwand Mir, op. cit., vol. 3, p. 94.

 

[33]. Minhaj Siraj, op. cit., p. 130.

 

[34]. Ibn al Ibri, op. cit., pp. 270-272.

 

[35]. Ibid., pp. 286, 287.

 

[36]. Ha’iri, op, cit., p. 87.

 

[37]. Juwayni Ta’rikh-e jahangusha’i, ed. Ghazwini, Leiden, vol. 3, p. 280, under the heading, “Dhayl-a kitab, Kayfiyyat-e Waqi’eh-ye Baghdad.”

 

[38]. Mustawfi, op. cit., p. 689. also see p. 369.

 

[39]. Ibn al-Tiqtaqa, op. cit., pp. 449, 460.

 

[40]. Ibid., p. 453.

 

[41]. Ibid., pp. 189, 190.

 

[42]. Abu al-Fida’, al Mukhtasar fi akhbar al-basher, Beirut, vol. 3, pp. 193,194.

 

[43]. Ibn Shakir, Fawat al-Wafayat; ed. by Ihsan ‘Abbas, Dar al-Thaqafah, Beirut, vol. 3, pp. 246, 262.

 

[44]. Ibn al-Wardi, op. cit., vol. 2, pp. 279, 281.

 

[45]. Ibid., vol. 2, p. 318.

 

[46]. Al-Dhahabi, op. cit., pp. 360, 371, 373.

 

[47]. Al-safadi, al-Wafi bi al-Wafayat, ed. by Zeiter, Istanbul, 1831, vol. 1, pp. 179-183, in the journal al-Thaqafat al-Islamiyyah, No. 13, p. 95.

 

[48]. Nakhjawani, Tajrib al-salaf, ed. by ‘Abbas Iqbal, Tehran, p. 367.

 

[49]. Al-Ghassani, op. cit., pp. 626, 630.

 

[50]. Ibn al-Kazeruni, op. cit., p. 271, 272.

 

[51]. Atabaki, al Nujum al-zahinah fi muluk Misr wa al-Qahirah, Egypt, vol.7, pp. 47-61.

 

[52]. Al-Suyuti, op. cit., pp. 465, 466, 474.

 

[53]. Ibn Hajar al-’Asqalani, Lisan al M’izan, al-’A’lami, Beirut, 1971, vo1.2,, p. 317.

 

[54]. Al-Durar al-kaminah, vol. 1, p. 347.

 

[55]. Ibn Kathir, al Bidayah wa al-nihayah, Beirut, vol. 13, pp. 267, 268.

 

[56]. Al-Shaybi, Tashayyu’ wa tasawwuf, translated by Dhakawati, Amir Kabir, Tehran, 1360 (Sh.) p. 51.

 

[57]. Juwayni, op. cit., vol. 2, p. 98.

 

[58]. Rashid al-Din, op. cit., vol. 2, pp. 706, 707.

 

[59]. Ibn al-Tiqtaqa, op. cit, pp. 189, 190.

 

[60]. Minhaj Siraj, op. cit., pp. 197, 198.

 

[61]. Khwand Mir, op. cit., vol. 3, p. 107.

 

[62]. Minhaj Siraj, op. cit., p. 198; Khwand Mir, op. cit., vol. 2, p. 340. According to Ghazwini, the most precise date of his execution had been 14 Safar 656; See Yad-dasht-ha-ye Ghazwini, Tehran, vol. 7, p. 79.

 

[63]. Wassaf al-hadrah, al-’Amsar wa tazjiyatal-’a’sar, Tehran, 1328, vol. 2, p. 199. Also see Hairi, op. cit., pp. 91, 93.

 

[64]. Mudarrsi Zanjani, op. cit, pp. 78, 79, Spuler, op. cit., p. 297, from al Maqrizi.

 

[65]. Majidzadeh in the journal Nashriyyeh Bastan Shanasi wa Ta’rikh, Markaze Nashr-e Danishgahi, second year, No. 2, pp. 36, 37.

 

[66]. Ibn al-Tiqtaqa, op. cit, p. 448; Ibn al-’Ibri, Op. cit., pp. 269, 270.

 

[67]. Hai’ri, op. cit, p. 92.

 

[68]. Ibn al-Wardi, op. cit., vol. 2, p. 280; al-Dayarbakri, Tarikh al Khamis, Mu’assesat Sha`ban, Beirut, vol. 2, p. s77.

 

[69]. Al-Shaybi, op. cit., p. 52.

 

[70]. Rashid al-Din, op. cit, vol. 2, p. 713.

 

[71]. Ibn Shakir, op. cit., vol. 3, p. 250.

 

[72]. Rashid al-Din, op. cit., Spuler, op. cit., p. 341.

 

[73]. Ibn al-Fuwati p. 351, in Spuler, op. cit, p. 383.

 

[74]. Rashid al-Din, op. cit., vol. 2, p. 711.

 

[75]. Ibn Shakir, op. cit., vol. 3, p. 247.

 

[76]. Ibid., vol. 3, p. 247.

 

[77]. Ibid., vol. 3, p. 250.

 

[78]. Ibid., vol. 3, p. 247.

 

[79]. Ibid., vol. 3, p. 250.

 

[80]. Nakhjawani, op. cit., p. 359.

 

[81]. Ibn Shakir, op. cit., vol. 3, pp. 247, 248.

 

[82]. Rashid al-Din, op. cit., vo1.2, p. 717.

 

[83]. Ibid., vol. 2, p. 733.

 

[84]. Ibid., vol. 2, p. 744.

 

[85]. Mudarrisi Zanjani, op. cit, pp. 62, 63.

 

[86]. Mustawfi, op. cit., pp. 602, 603. Also see Spuler, op. cit., p. 244 ff.

 

[87]. Ibid., p. 803 (footnote), from Wassaf al-hadrah

.

Shaikh Naseeruddin Tusi


Syeikh Tusi

Beliau mengemukakan model heliosentrik alam semesta dua ratus tahun sebelum Copernicus. Beliau mencipta teori Segi Tiga Pascal tiga abad sebelum Pascal sendiri. Beliau mengemukakan hukum pengabadian jisim hampir empat ratus tahun sebelum Lavoisier lahir lagi. Beliau membuat teori berkenaan “evolusi melalui pemilihan semula jadi” lebih enam ratus tahun sebelum Darwin berlayar di atas Beagle. Persamaan beliau “a/sin(A) = b/sin(B) = c/sin(C)” telah digunakan dengan bijak sebagai jalan pintas oleh pelajar-pelajar geometri sehingga ke hari ini. Beliau adalah seorang ulama unggul dalam sejarah fahaman Syiah, tetapi beliau juga seorang penyair, ahli falsafah, negarawan, ahli matematik, ahli astronomi, ahli geografi, ahli biologi, ahli kimia, dan ahli fizik. Beliau dikenali sebagai Shaikh Naseeruddin Tusi.

Beliau dilahirkan dengan nama Muhammad ibn Muhammad ibn Hasan di Toos pada tahun 597 Hijrah. Ayah beliau sendiri adalah seorang cendekiawan terkenal, dan beliau menerima kebanyakan pendidikan awalnya dari ayahnya. Berasal dari Toos dan untuk khidmatnya yang tidak terhingga terhadap kepercayaannya, beliau kemudian dikenali sebagai Naseeruddin (Pembantu Agama) Tusi.

(Demi singkatan, beliau selanjutnya akan dipanggil dengan nama “Shaikh Tusi”. Jangan dikelirukan beliau dengan Shaikh Abu Ja’far Tusi, yang mendirikan sekolah agama di Najaf dan dia didahului oleh beliau sekitar 200 tahun.)

Semasa di awal hayatnya, Shaikh Tusi menyaksikan pertikaian pahit antara Syiah-Sunni. Untuk menyatukan umat Muslim, beliau mula menulis sebuah buku yang mengandungi riwayat-riwayat berkenaan kepentingan Ahlul Bayt (sejahtera ke atas mereka). Riwayat-riwayat ini adalah yang dipersetujui oleh semua mazhab dalam Islam. Selepas hampir 20 tahun bekerja keras, beliau berjaya menyiapkan karya agung tersebut dan pergi untuk mempersembahkannya kepada khalifah.

Khalifah pada waktu itu sedang bercuti berhampiran Sungai Tigris bersama dengan wazirnya. Dia mengambil buku tersebut dari Shaikh Tusi dan berikannya kepada wazirnya. Memusuhi Ahlul Bayt, wazir tersebut mencampakkan buku tersebut ke dalam sungai dan mengejek Shaikh Tusi. Berasa tersinggung, cendekiawan tersebut pulang ke rumah dan berdoa untuk keadilan. Malam tersebut, beliau bermimpi bahawa beliau berdiri di hadapan sebuah dinding yang mana tertulis satu doa yang sangat panjang. Terdapat seorang lelaki berdiri berhampiran dinding tersebut. Shaikh tersebut bertanya siapakah dirinya. Lelaki tersebut memberitahu Shaikh bahawa dia adalah Imam ke-12 (semoga Allah mempercepatkan kemuculannya semula).

Imam menyuruh Shaikh Tusi untuk menghafal doa tersebut dan ianya akan membantu beliau mengatasi musuhnya. Doa tersebut bertahan sehingga ke hari ini sebagai Doa Tawassul kedua dan dicatatkan dalam banyak buku panduan doa, termasuk Mafatihul Jinan.

Sejurus kemudian, Shaikh Tusi bergabung dengan istana seorang putera Ismaili agar dapat menyebarkan mesej kebenaran dengan lebih baik.  Puak Mongol pada ketika itu sedang bangkit di Asia Tengah, dan akhirnya kerajaan kecil ini dikuasai oleh Halaku Khan. Melihat kebijaksanaan serta kearifan Shaikh Tusi, Halaku melantik beliau sebagai perdana menteri. Beliau sering kali cuba untuk membawa Halaku untuk memeluk Islam, tetapi atas sebab asal usul Halaku serta minatnya yang sedikit terhadap sesuatu selain peperangan dan konflik, beliau kurang berjaya. Pada tahun 656 Hijrah, Halaku menyerbu serta menyelongkar Baghdad, membawa kepada berakhirnya khalifah Abbasiyah. Shaikh Tusi melihat ramalan Imam menjadi kenyataan, apabila beliau dapat menahan serta menghukum wazir tersebut kerana melakukan kekejaman terhadap beliau serta ribuan Syiah yang lain.

Ramai orang telah mengkeji Shaikh Tusi, menyalahkan penglibatan beliau dengan Halaku adalah akibat dari dendam permusuhan terhadap pembentukan politik Sunni. Kenyataannya adalah Shaikh Tusi tidak mempunyai pilihan berkenaan hal tersebut. Jika beliau menolak untuk berkhidmat dengan Halaku, beliau pastinya akan dibunuh. Dengan bekerjasama dengan Halaku, beliau dapat menyebarkan fahaman Syiah ke beberapa bahagian di pelusuk dunia, dan ianya dikatakan bahawa beliau telah melakukan lebih dalam usaha menyebarkan kebenaran berbanding individu lain dalam sejarah. Tambahan pula, perlu untuk diingatkan bahawa pihak Muslim sendiri tidak melakukan apa-apa sewaktu tempoh tersebut untuk mengelakkan kekalahan yang bakal menimpa. Semasa askar-askar Mongol sedang menawan melalui Khorasan, perdebatan dengan penuh semangat sedang dilakukan di Baghdad berkenaan kebolehan untuk memakan daging burung hantu!

Setelah penaklukan Baghdad, Shaikh Tusi meyakinkan Halaku untuk membina sebuah balai cerap di daerah utara Iran. Pembelajaran berkenaan astronomi dengan demikian secara rasminya telah ditubuhkan di dunia Islam buat pertama kalinya. Lama sebelum Copernicus dan Galileo, Shaikh Tusi berpendapat bahawa bumi berputar pada paksinya dan mencadangkan model heliosentrik alam semesta. “Tusi-couple” beliau untuk pergerakan lurus menggantikan “equant” yang dibangunkan lebih awal oleh Ptolemy dan ianya masih digunakan hari ini dalam bidang matematik gunaan. Hasil kerjanya berkaitan pengenbangan binomial kemudiannya membawa kepada pembangunan Segi Tiga Pascal. Lebih 500 tahun sebelum Antoine Lavoisier, beliau mengemukakan hukum pengabadian jisim, dan 600 tahun sebelum Charles Darwin, Shaikh Tusi membincangkan kemungkinan “evolusi melalui pemilihan semula jadi”. Hari ini, pelajar-pelajar geometri terhutang budi kepada beliau kerana telah mencipta persamaan terkenal “a/sin(A) = b/sin(B) = c/sin(C)”.

Tusi-couple

Tusi-couple

Namun Allah mempunyai cara untuk mengingatkan walaupun hambanya yang hebat mengenai kerendahan mereka dihadapan-Nya. Suatu ketika sedang beliau merantau, Shaikh Tusi berkhemah di luar rumah seorang tukang giling untuk malam tersebut. Tukang giling tersebut memberitahu beliau bahawa hujan akan turun malam tersebut, tetapi Shaikh meyakinkannya bahawa perhitungan beliau menunjukkan yang sebaliknya. Pada tengah malam, hujan mulai turun. Shaikh lari ke dalam, dan kemudian mengaku kepada tukang giling tersebut bahawa beliau pasti telah melakukan kesilapan dalam pengiraannya. Namun, beliau ingin tahu bagaimana tukang giling tersebut mengetahui bahawa hujan akan turun. Tukang giling tersebut menjawab, “Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal seperti ini. Namun, anjing saya yang setia mengetahuinya. Jika hujan akan turun pada waktu malam, ia akan masuk ke dalam untuk tidur, tetapi jika tidak akan hujan, ia akan berada di luar. Ia masuk ke dalam hari ini, maka saya jangka hujan akan turun.” Shaikh tersenyum dan berkata kepada dirinya, “Wahai Tusi, kamu sangka kamu sangat berilmu dan terpelajar, namun bahkan anjing tukang giling itu boleh meramal cuaca lebih daripada kamu!”

Melawat Baghdad pada suatu hari, Shaikh Tusi jatuh sakit dan meninggal dunia pada tahun 672 Hijrah. Beliau dikebumikan di makam Imam ke-7 dan ke-9 (sejahtera ke atas mereka) di Kadhmiyya, dan seperti yang dihajatkan beliau serta sebagai tanda rendah dirinya, satu tulisan dengan Ayat 18 Surah Al-Kahf (merujuk kepada anjing kepunyaan Ashabu Al-Kahf) telah digantung pada kubur beliau: “… sedang anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua.”

Atas penghormatan terhadap sumbangan beliau dalam bidang sains, sebuah kawah di Bulan (“Nasireddin”), sebuah planet kecil (“10269 Tusi”), dan K. N. Toosi University of Technology di Iran dinamakan atas nama beliau.

Perkembangan Syi’ah TAK TERBENDUNG !!!

oleh : Ustad Husain Ardilla
Mendengar kata Syi’ah, tentu ingatan masyarakat, terutama muslim Indonesia melayang ke negeri di wilayah Asia barat, yakni Iran. Di sanalah Syiah berkembang pesat dan hingga kini masih menjadi paham dan aliran yang dipeluk mayoritas umat Islam di negeri yang terkenal dengan Negeri Para Mullah (para imam) itu.
.
Umar Shahab menyatakan, bahwa yang membedakan Syi’ah dengan yang lainnya adalah hanya di sekitar istilah Al wila li ahli bait (loyalitas kepada keluarga Nabi). Menurutnya loyalitas ini sudah ada sejak awal kenabian Muhammad. Loyalitas ini terjadi karena mereka melihat, bahwa Nabi dan keluarganya banyak menerima tindakan yang merugikan. “Misalnya tragedi pembantaian keluarga Nabi di Karbala Irak tahun 61 hijriah, di mana Husain dan anak-anaknya terbunuh, bahkan sebagian besar keluarga Nabi dibantai oleh penguasa Bani Umayyah saat itu,” Umar mencontohkan.

.
Sementara menyinggung soal kawin Muth’ah,“Secara sosial Muth’ah (kawin atas dasar perjanjian atau kontrak, red) bisa menjadi solusi dalam kehidupan (hubungan-red) laki-laki dan perempuan, bukan dijadikan upaya melegalkan prostitusi,” tegasnya.

Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan: Mungkinkah?

Apa itu syiah ? mereka yang menyakini bahwa Khilafah, Imamah atau kepemimpinan langsung pasca Rasul adalah hak Ali bin Abi Thalib dan putra-putranya atas dasar Nash (ketentuan) yang ada dalam syari’at (Qur’an – Hadits) baik implisit maupun eksplisit. “Ini merupakan pernyataan Syekh Mufid, tokoh Syi’ah abad 3 dalam bukunya Awa Ila Maqala”

Politik Pasca Mangkatnya Rasulullah membuktikan pesan Nabi SAW via Imam Ali bahwa ia akan dikhianati oleh Umat..

Syi’ah dituduh sesat pada zaman dulu oleh babi dan anjing yang diberi makan oleh Thaghut Dinasti Umayyah dan Abbasiyah..

Sudah Muncul sejak Zaman Walisongo


MELALUI KETURUNAN: Seorang bocah bersama ayahnya turut dalam Peringatan Tragedi Karbala di Balai Sindoro Kompleks PRPP Tawangmas, Semarang, Kamis (9/2). Selain melalui pergulatan wacana intelektual, perkembangan Syiah di Indonesia terjadi melalui garis keturunan. (57h) – SM/Rukardi

Reformasi tak dimungkiri menjadi semacam pintu bagi kebangkitan sejumlah mazhab keagamaan di Indonesia yang sebelumnya terpinggirkan. Satu di antaranya kaum Syiah. Setelah sekian lama bergerak di bawah tanah, mereka mulai berani menunjukkan eksistensi dirinya. Dalam bahasa lain, para pendukung Ali bin Abi Thalib itu telah meninggalkan masa taqiyah (penyembunyian jati diri). Berikut laporan berseri mengenai hal itu.

TENGARA paling mudah bahwa kaum Syiah mulai bangkit adalah perayaan secara terbuka hari-hari besar Syiah semacam Peringatan Tragedi Karbala, Hari Arbain, atau Hari Algadir, yakni hari pengangkatan Sayidina Ali sebagai imam pertama oleh massa dalam jumlah besar.

Dalam Peringatan Tragedi Karbala di Balai Sindoro Kompleks PRPP Tawangmas Semarang, Kamis (9/2) lalu misalnya. Sekitar dua ribu warga Syiah di Jawa Tengah berkumpul untuk mengenang terbunuhnya Sayidina Husain, cucunda Rasulullah. Bagi sebuah mazhab yang diposisikan pada ranah pinggiran, jumlah pengikut Syiah yang turut dalam acara tersebut relatif signifikan. Banyak kalangan menilai, ia mengalami perkembangan pesat. Apa yang sebenarnya terjadi pada komunitas Syiah di Jawa Tengah? Dari mana latar belakang mereka? Serta, bagaimana ikhtiar menumbuhkembangkan keyakinan itu?

Meski masih diperdebatkan, kalangan Syiah menengarai, mazhab tersebut telah ada di tanah Jawa semenjak lama. Ia disyiarkan oleh Walisongo, terkecuali Kanjeng Sunan Kalijaga. Namun dalam perkembangannya, ajaran Syiah di sini hampir-hampir tak berbekas. Kalaulah ada yang tersisa, ia menyublim menjadi sekadar tradisi yang tak terlacak kejelasan akarnya. Taruh misal tradisi Suranan yang di beberapa tempat acap disebut dengan istilah Kasan Kusen.

Perkembangan Syiah baru menemukan momentumnya pasca Revolusi Iran 12 Januari 1979. Seperti umumnya terjadi di Indonesia, ia dibawa oleh para pelajar yang menuntut ilmu di Negeri Iran. Semenjak itu, Syiah menjadi wacana intelektual yang menarik perhatian. Diskusi-diskusi digelar, buku-buku karya ulama-ulama dan intelektual Syiah pun dibabar. Perlahan-lahan, mazhab itu mulai mendapatkan pengikutnya.

Ulama Pertama

Achmad Alatas, Ketua Yayaan Nuruts Tsaqolain Semarang menyebut, Habib Abdulkadir Bafaqih, pimpinan Pondok Pesantren Alqairat Bangsri Jepara sebagai ulama yang kali pertama terang-terangan menahbiskan diri sebagai penganut Syiah di Jawa Tengah. Ia yang sebelumnya bermazah Sunni mulai mengajarkan akidah Syiah kepada santri-santrinya. “Konsekuensi dari jalan yang ia pilih, sebagian santri pindah ke lain tempat. Tapi dari para santri yang bertahan, paham Syiah kemudian jadi berkembang.

Di luar itu, Syiah berkembang melalui garis keturunan atau proses pencarian. Achmad Alatas sendiri misalnya, mengaku hijrah ke mazhab itu setelah membaca buku-buku dan kitab karya para ulama Syiah. Menurutnya, paham tersebut terasa lebih rasional. “Soal wahyu Muhammad menerima shalat misalnya, Syiah meyakini, tidak ada tawar-menawar dalam penentuan banyaknya jumlah rakaat. Pasalnya, Allah sebagai Dzat yang Maha Agung tahu kemampuan umatnya,” ujar Achmad.

Kajian tentang kelompok atau sekte keagamaan dalam Islam tidak terbatas pada permasalahan teologis yang membedakan pandangan semua aliran, tetapi juga melibatkan persoalan lain seperti politik, sosial, ekonomi dan budaya dari aliran pemikiran tersebut. Semua aspek tersebut saling terkait dengan pembahasan tentang teologi karena ikut menjadi faktor pemicu dari munculnya berbagai kelompok pemikiran dalam Islam.

Kelompok seperti Muktazilah, Jabariyah, Qadariyah, Murjiah, Syiah, dan bahkan Ahlu al-Sunnah sendiri tidak muncul dan berkembang secara tiba-tiba, namun kesemuanya adalah merupakan bagian dari reaksi atas fakta yang yang sedang terjadi di sekelilingnya. Sebagai sebuah reaksi, maka kelompok keagamaan tersebut juga melakukan responsi terhadap permasalahan umat Islam yang sedang terjadi. Tentu kemudian reaksi tersebut sangat dipengaruhi oleh doktrin aliran yang digunakan oleh berbagai sekte tersebut sehingga kesemuanya memiliki variasi yang berbeda.

Pada posisi inilah kemudian seringkali terjadi perselisihan tentang satu persoalan antar berbagai kelompok keagamaan. Ketika perselisihan pendapat ini ditempatkan sebagai bagian dari kajian keagamaan dengan tujuan saling memahami, menghormati tanpa harus meyakini pendapat yang berbeda, maka akan dapat membawa dampak positif pada khazanah pemikiran Islam dalam merespon problematika umat. Namun faktanya, perbedaan pendapat ini kerapkali menjadi pemicu kekerasan fisik dari satu kelompok kepada kelompok lainnya dengan alasan membela kepentingan agama atau Tuhan itu sendiri.

Indonesia sebagai salah satu tempat berkembangnya Islam di dunia, sangat terbuka dengan pergerakan aliran-aliran dari berbagai kawasan. Tentu fakta ini tidak hanya membawa dampak positif dengan perkembangan Islam yang maju dan heterogen, namun juga membawa potensi perselisihan antar berbagai kelompok yang sedang berkembang. Maka diperlukan sebuah upaya untuk mengantisipasi keadaan ini agar dapat memperindah kehidupan beragama di Indonesia.

Orang Sunni bisa mempelajari Syiah tanpa harus menjadi Syiah, demikian juga sebaliknya.

Di samping itu, orang yang hendak mempelajari Syiah perlu melihat secara kritis latar belakang “guru” yang menyampaikan atau menulis sebuah karya. Penulis-penulis non Syi’i yang menulis tentang Syiah pada umumnya cenderung mencari kesalahan-kesalahan Syiah. Karena itu, “kritik sumber” menjadi hal yang penting.

.

Bagaimana dengan Syiah Indonesia?

Memang tidak ada data pasti kapan Syiah datang ke Indonesia. Meski ada yang berspekulasi seperti M. Yunus Jamil (1968) dan A. Hasymi (1983) yang mengatakan Islam yang datang ke Indonesia adalah Islam Syiah, bahkan pernah menjadi kekuatan politik tangguh di kepulauan ini, namun hal tersebut tidak cukup meyakinkan. Meski demikian, yang sulit disangkal adalah dekatnya kultur keislaman Indonesia, terutama Nahdatul Ulama (NU) dengan tradisi Syiah. Bahkan KH. Abdurrahman Wahid, yang biasa disebut Gus Dur, pernah menyatakan bahwa Nahdatul Ulama secara kultural adalah Syiah minus imamah; Syiah adalah Nahdatul Ulama plus imamah.

Mengapa demikian? Dalam tradisi Madzhab Syafi’i di Indonesia, ia sangat kental dengan tradisi Syiah. Ada beberapa puji-pujian khas Syiah yang sampai sekarang dibaca di pesantren-pesantren dan masjid-masjid. Penulis ingat betul ketika masa remaja selalu membaca pujian ini menjelang shalat subuh: likhamsatun uthfi biha harral waba’ al-khatimah. Al-mushtafa wal murtadha wabnahuma wa Fatimah (Aku memiliki lima “jimat” untuk memadamkan epidemi yang mengancam; mereka adalah al-Musthafa (yakni Nabi Muhammad), al-Murtadla (yakni Ali ibn Abi Talib, menantu dan sepupu Nabi), kedua putra Ali (yakni Hasan dan Husein), dan Fatimah (isteri Ali). Gus Dur menyebut gejala ini sebagai “Syiah kultural” atau pengaruh Syiah dari segi budaya, bukan dari segi akidah.

Ada juga wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan ahlul bait, tradisi ziarah kubur, membuat kubah pada kuburan, tradisi tahlilan, peringatan kematian hari ke tiga, ke tujuh atau empat puluh, dan juga tradisi haul. Tradisi-tradisi tersebut tidak dikenal dalam tradisi madzhab Syafi’i di Mesir, misalnya, tapi dikenal dalam tradisi Syafi’i di Indonesia. Dalam tradisi Nahdatul Ulama juga dikenal membaca shalawat diba’ yang biasanya dibaca pada setiap malam Jumat. Pada shalawat tersebut disebutkan seluruh imam Syiah yang dua belas. Masyarakat Nahdatul Ulama juga sangat menghormati keturunan Nabi Muhammad (ahlul bait),bahkan terkadang agak berlebihan. Orang Nahdatul Ulama-Jawa pada umumnya tidak berani mengadakan hajat pada bulan Asyura,karena bulan tersebut merupakan bulan kesedihan, yaitu terbunuhnya Husein pada 10 Asyura.Demikian juga dengan tradisi tabuik di Pariaman Sumbar atau tabot di Bengkulu sangat kental dengan tradisi Syiah.

Tanpa harus menjadi Syiah, tradisi tersebut berjalan begitu saja sebagai bagian dari tradisi keagamaan. Hal inilah yang kemudian menjadikan sebagian kalangan beranggapan tidak relevan mempertentangkan secara tajam antara Sunni dan Syiah dalam konteks Islam Indonesia. Di samping Islam Indonesia tidak mempunyai sejarah konflik Sunni-Syiah, keduanya bahkan saling menyerap tradisi dan saling belajar.

Jenjang pendidikan di YAPI menampilkan wajah pengkaderan Syiah mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai tingkat khusus (takhassus). Bagi santri yang sudah menempuh tingkat takhassus, mereka akan mendapatkan materi seperti akidah, fiqih, sejarah, mantiq (logika), dan filsafat Islam.

Kurikulum Takhassus YAPI

No Materi Kitab Sunni Kitab Syiah Pengarang
1 Akidah Al-Aqo’id al-Islamiyah, 1-3 Ayatollah Taqi Mizbah Yazdi
2 Fiqh Komparatif Al-Fiqh ‘ala al’Madhahib al-Khamsah Syaikh Jawad Mughniyah
3 Usul Al-Halaqat 1-3 M. Baqir Shadr
4 Fiqh Argumentatif Fiqh Istidlali Syaikh Baqir Irwani
5 Mantiq (Logika) Al-Mantiq Ayatollah Mudhaffar
6 Filsafat Islam Bidayah al-Hikmah Sayyid Husain Tabataba’i
7 Nahwu Sharh Alfiyah Ibnu Malik
8 Balaghah Al-Balaghah al-Wadlifah

Kurikulum yang diberikan kepada santri ini disebarkan melalui brosur penerimaan santri baru yang diedarkan oleh YAPI. Maka kerap kali brosur tersebut jatuh ke tangan masyarakat di Bangil dan membaca informasi tentang kurikulum yang diajarkan di YAPI. Dari momentum inilah muncul beberapa tuduhan yang mengarah ke YAPI bahwa lembaga pendidikan tersebut berfahamkan Syiah

.

YAPI di Bangil disamping memiliki lembaga pendidikan dari TK sampai SMU, juga memiliki forum pengajian bagi kalangan terbatas dan kalangan umum serta memiliki media cetak yang bernama Islamuna. .

Al-Hujjah di Jember

Al-Hujjah adalah sebuah yayasan yang didirikan dan dibina oleh Ustadz Husein al-Habsyi di Jember tahun 1987. Yayasan yang berdiri diatas ½ hectare tanah ini mengelola lembaga pendidikan al-Quran yang dipusatkan di sebuah masjid dan juga memiliki rumah anak yatim. Lembaga ini dikelola oleh murid Ustadz Husein al-Habsyi yang bernama Jamaluddin Asymawi yang berasal dari Madura. Ia pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren Sunni, memiliki ketertarikan dengan faham Wahabi, namun akhirnya ia mengkonversi keyakinannya sebagaimana faham Syiah. Hal itu dibuktikan Asymawi dengan pembelajaran yang dilakukannya pada Ustadz Husein al-Habsyi di Bangil dan meneruskan pendalaman ajaran Syiah di Iran pada tahun 1982. Setelah pulang pada tahun 1987, ia diajak Ustadz Husein al-Habsyi mendirikan al-Hujjah. Asymawi meninggal tahun 2002 dan kepemimpinannya diteruskan oleh Lamidi.

Organisasi ini memiliki sebuah majalah yang terbit tahun 1992 sebagai corong penyebar doktrin ajarannya kepada masyarakat yang memuat beberapa rubrik berkaitan dengan kajian keislaman. Majalah ini memuat tulisan yang terkesan “berimbang” dan menjadi jembatan dari Sunni dan Syiah (Su-si) di Jember. Dari sisi Sunni, majalah al-Hujjah terkesan menjadi media dialog antara pemikiran Sunnah dan Syiah secara obyektif ketika meneropong problematika umat yang sedang terjadi. Dari sisi Syiah, majalah ini berguna sebagai media untuk mengimplementasikan konsep taqiyah yang dipraktekkan oleh faham Syiah.

Kolaborasi yang dikembangkan oleh komunitas Syiah dengan doktrin Sunni melalui yayasan al-Hujjah ini menjadi fenomena tersendiri bagi Syiah di Indonesia. Namun, kolaborasi ini juga membawa dampak negatif dimana tidak ada kejelasan sikap yang diterapkan oleh al-Hujjah tentang satu persoalan keagamaan. Standar Sunni diakui, standar Syiah juga diakui, singkatnya al-Hujjah menggunakan double standart dalam menetapkan penjelasan atas persoalan tertentu. Inilah yang kemudian membingungkan warga sekitarnya. Jargon “menghidupkan ukhuwah” menjadi semboyan utama al-Hujjah untuk mampu survival di Jember sebagai basis utama nahdliyyin, namun semboyan ini juga yang kemudian membawa ketidakjelasan identitas ideologi al-Hujjah di mata masyarakat sekitarnya sehingga menyandang predikat organisasi “Su-Si” (Sunni sekaligus Syiah).

Al-Kautsar di Malang

Organisasi ini merupakan bentukan dari Ustadz Husein al-Habsyi yang lebih khusus diperuntukkan bagi kalangan mahasiswa yang tertarik dengan ajaran Syiah di Jawa Timur. Yayasan ini berdomisili secara berpindah-pindah meskipun kini memiliki TK dan SD I daerah Blimbing Malang. Pada awalnya al-Kautsar mengadakan pengajian bagi komunitas Syiah yang ideologis maupun yang blasteran dari Sunni-Syiah, namun al-Kautsar lebih memfokuskan dirinya sebagai organisasi yang menangani penerbitan buku-buku pemikiran Ustadz Husein al-Habsyi seperti buku berjudul “Nabi SAWW Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam”; Agar Tidak Terjadi Fitnah”; dan “Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah Islamiyah”.

Selain bergerak dalam hal penerbitan, al-Kautsar juga bergerak dalam hal kegiatan bedah buku dan seminar yang dikhususkan untuk membedah karya-karya ilmiah yang diterbitkannya. Al-Kautsar juga mengadakan haul tahunan untuk memperingati wafatnya Ayatullah Khomaini dengan menyewa tempat di beberapa perguruan tinggi terkemuka di Malang. Hal ini ditujukan agar mendapatkan simpati dari kalangan mahasiswa yang haus akan pengetahuan.

Gerakan al-Kautsar lebih banyak diorientasikan dalam bentuk penerbitan dan pengkajian pemikiran Syiah. Dampaknya, terbentuklah kelompok simpatisan terhadap ajaran Syiah, bukan massa ideologis dan militan. Simpatisan yang terbentuk dari gerakan al-Hujjah adalah mereka yang memperhatikan dan meluangkan waktu untuk mencermati doktrin yang ditawarkan oleh buku-buku al-Hujjah yang berkaitan tentang Syiah. Pembacaan terhadap ide-ide dari buku tersebut cukup mewarnai pemikiran pembaca, tanpa harus menghilangkan keyakinan dasarnya terhadap ajaran Islam –Sunni. Simpatisan Syiah seperti ini juga tidak memposisikan kebenaran argumentasi Syiah sebagaimana yang ditawarkan al-Hujjah di atas kebenaran argumentasi kelompok Sunni, namun memposisikan keduanya pada derajat yang sama. Dalam prakteknya, komunitas ini tetap akan banyak dipengaruhi ubudiyah Sunni karena telah memiliki akar yang mapan di tengah masyarakat.

Aktifitas Utama Syiah di Jawa Timur

No Kota/daerah Lembaga/media Aktifitas utama Sasaran
1 Bangil, Pasuruan Pesantren YAPIMajalah IslamunaPengajian Khusus KaderisasiPenerbitan MajalahIndoktrinasi SantriSantri/warga lingkungan YAPIHabaib dan muhibbin santri
2 Jember Majlis Taklim yayasan al-HujjahBulletin al-HujjahTK PengajianPenerbitanpendidikan UmumMahasiswaOrang tua/walimurid TK
3 Malang TK dan SD al-KautsarPenerbit buku al-KautsarPerumahanPengajian PendidikanPenerbitanReal estateIndoktrinasi UmumMahasiswa/umumUmumKhusus

Dari tempat penyebaran Syiah di Jawa Timur tersebut (Bangil, Jember dan Malang), terdapat tiga pola perkembangan Syiah. Pertama, Syiah ideologis yang dikembangkan oleh YAPI di Bangil melalui pendidikan Syiah yang lebih terstruktur dengan rapi; kedua, “Su-Si” (Sunni-Syiah) yang muncul akibat kolaborasi dan pemahaman setengah-setengah antara Sunni dan Syiah dari gerakan al-Hujjah di Jember; ketiga, Syiah Simpatisan yang muncul disebabkan ketertarikan gairah akademis dengan buku-buku yang diterbitkan oleh al-Kautsar di Malang.

Melihat perkembangan kehidupan beragama di Jawa Timur, khususnya berkaitan dengan kelompok Syiah yang disinyalir telah ada dan berkembang secara pesat, diperlukan beberapa langkah untuk merespon hal ini. Beberapa tawaran solusi yang layak dilakukan dalam konteks tersebut adalah sebagai berikut:

1.    Membangun inklusifisme antar elit kelompok keagamaan, khususnya antara kelompok yang berada dalam kategori Sunni dan Syiah. Upaya ini diarahkan untuk mendorong elit Sunni dan Syiah agar dapat saling berdialog dengan santun, etis dan diiringi persaudaraan antar sesama umat Islam, tidak membatasi kebenaran klaim keagamaan merupakan kebenaran pribadi dan menafikan kebenaran pendapat kelompok lain.

2.    Menggalakkan forum silaturrahmi antara Sunni dan Syiah. Forum silaturrahmi ini dapat dilakukan secara berkala atau tertentu di kalangan elit kelompok agar meminimalisir ketegangan yang disebabkan dari pergerakan Syiah di Jawa Timur.

3.    Masing-masing kelompok membangun pemikiran dan aplikasi keberagamaan yang moderat. Doktrin keagamaan yang digunakan untuk melihat atau mencermati problematika umat yang sedang berlangsung diarahkan untuk mampu memproduk pemikiran keagamaan yang mengandung solusi atas persoalan sosial yang sedang terjadi. Selain itu, pemikiran keagamaan yang difatwakan, selayaknya bukan merupakan pemikiran keagamaan yang ekstrim dan sektarian dengan klaim pada penyandang kebenaran tertentu dan menghilangkan kebenaran dari pihak lain.

4.    Pemerintah memfasilitasi dan memediasi dialog antar kelompok agama, khususnya Sunni dan Syiah. Dialog keagamaan ini lebih tepat bukan diarahkan untuk saling menelanjangi doktrin keduanya, namun lebih digerakkan untuk menggali pemikiran keagamaan dua kelompok ini tentang persoalan umat yang lebih besar seperti permasalahan kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan, dan sebagainya.

5.    Menghindarkan segala bentuk kekerasan atas nama agama melalui pemahaman tentang pluralitas dan multikulturalitas. Diperlukan pemahaman keagamaan yang didasari atas keyakinan bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang menjadi bagian dari sunnatullah, sehingga yang diperlukan adalah bagaimana memahami kelompok lain tanpa harus menjelma menjadi kelompok tersebut. Maka pengakuan atas pemikiran, ubudiyah dan doktrin satu faham tertentu tanpa harus menjadi pengikutnya, adalah sikap yang mencerminkan pemahaman sikap yang pluralis dan multikulturalis.

.
Kebangkitan fahaman Syiah secara meluas di Malaysia bermula dari kemenangan revolusi Islam yang diketuai oleh Ayatullah Al-Khomeini di Iran pada tahun 1979 dan menjadikan Iran sebagai Republik Islam.

Dusta Nasrani Akan Terbongkar !! Dusta Sunni Terus Dicecar Syi’ah

Nasrani menipu umat !!! Persekutuan Penguasa Romawi dan para pendeta

Sunni juga menipu umat !! Persekutuan Thaghut Umayyah Abbasiyah dan ulama kerajaan

baca artikel kami : Perkembangan Syi’ah TAK TERBENDUNG !!!

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW berwasiat akan tiga hal saat menjelang wafatnya:

Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab.

Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan.

Kemudian si perawi berkata, “aku lupa isi wasiat yang ketiga.”[1]

Akankah akal sehat kita dapat menerima dan percaya bahwa para sahabat yang hadir dan mendengar tiga wasiat Nabi itu tiba-tiba lupa pada apa isi wasiat yang ketiga ?, apa hukumnya bagi orang pelupa dan menjadi Perawi ?

Politiklah yang memaksa mereka melupakan isi wasiat itu dan tidak menyebutnya. Hal ini merupakan rangkaian musibah lain yang kita saksikan dari para sahabat seperti itu. Tidak mungkin tidak bahwa isi wasiat yang “terlupa” itu adalah wasiat Nabi akan pelantikan Ali (AS) sebagai khalifah dan imam sepeninggal beliau SAWWNamun si perawi enggan menyebutkannya.

Orang yang meneliti sejarah dan masalah-masalah seperti ini akan merasakan bahwaisi wasiat yang diabaikan itu sebenarnya adalah pesan Nabi akan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib AS, walau diupayakan dengan sistematik untuk disembunyikan.

Bukhari dalam kitab Shahihnya bab al-Washaya, dan Muslim dalam bab Al-Wasiyah meriwayatkan bahwa Nabi pernah berwasiat pada Ali di tengah kehadiran Aisyah[2].

Ingatlah ketika Ummul Mukminin Aisyah, tidak senang mendengar nama Ali disebut-sebut, seperti yang laporkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya[3], dan Bukhari dalam kitab Shahihnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan kita tahu bahwa Aisyah melakukan sujud syukur saat mendengar kematian Imam Ali KW,

Lalu harapan apa yang masih tersisa dari Ummul Mukminin ini untuk mau meriwayatkan hadis wasiat Nabi untuk Ali bin Abi Thalib? . Ummul MukmininAisyah ini sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum akan sikap permusuhan dan kebenciannya pada Imam Ali, putera-puteranya serta itrah Ahlu Bait Nabi SAWW.

Masih ada cara-cara kotor mereka yang kadang-kadang menakwilkan hadis-hadis shahih dan menafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau mendustakan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan mazhab mereka walau hadits itu tertulis dalam kitab-kitab shahih dan diriwayatkan dengan sanad-sanad yang bisa dipercaya. Mereka juga kadangkala menghapus setengah atau dua pertiga dari isi hadis lalu menggantinya dengan kalimat begini dan begitu; atau meragukan para perawi yang tsiqah lantaran ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan kehendak mereka; atau mengutip suatu hadis pada edisi pertama dari buku terbitannya, kemudian menghapusnya pada cetak-ulang berikutnya tanpa memberi sedikitpun alasan betapapun para pemerhati mengetahui sebab musababnya.

Usaha mereka itu adalah dengan sengaja hendak mengaburkan kebenaran dan mencari pembenaran sebanyak-banyaknya mereka mampu melaksanakannya, tetapi akan selalu terbongkar.

  1. Shahih Bukhori jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75.
  2. Shahih Bukhori jil. 3 hal. 68; Shahih Muslim jil. 2 hal. 14.
  3. 3. Thabaqat Ibnu Saad Bag. 2 hal. 29.

Dusta Ulama Sunni Tentang 12 Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti

Hadis ini sahih, ‘Alaikum Bi sunnati wa sunnati khulafa`ur rasyidin (Ikutlah kalian akan sunahku dan sunah khulafa`ur rasyidin). Rasulullah SAW mengucapkan hadis ini,

TETAPI bukan Khalifah yang empat itu setelah Rasulullah SAW wafat.

Hadis di atas bersambung dengan Hadis 12 khalifah dari Quraish dlm Sahih.

BAGIAN I

Hadis 12 Pemimpin

 

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan,  “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris),  Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

BAGIAN II

Pendapat Para Ulama Sunni

  Ibn Arabi 

…فعددنا بعد رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ اثني‌ عشر أميرًا، فوجدنا أبابكر، عمر، عثمان‌، عليًّا، الحسن‌، معاوية‌، يزيد، معاوية‌ بن‌ يزيد، مروان‌، عبد الملك‌ بن‌ مروان‌، الوليد، سليمان‌، عمر بن‌ عبد العزيز، يزيد بن‌ عبدالملك ، ‌مروان‌ بن محمد بن مروان، السفّاح‌،… وبعده‌ سبعة‌ وعشرون‌ خليفة‌ بن‌ بني‌ العبّاس‌. وإذا عددنا منهم‌ اثني‌ عشر انتهي‌ العدد بالصّورة‌ إلي‌ سليمان‌ بن‌ عبد الملك‌. وإذا عددناهم‌ بالمعني‌ كان‌ معنا منهم‌ خمسة‌، الخلفاء الاربعة‌، وعمر بن‌ عبد العزيز.

ولم‌ أعلم‌ للحديث‌ معني‌. ابن‌ العربي‌ّ، «شرح‌ سنن‌ التّرمذي‌ّ» 9: 68 ـ 69

Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (sawa) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.

Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….

Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn Arabi, Syarh Sunan Tirmidzi, 9:68-69]

Qadi Iyad Al-Yahsubi  

قال‌: إنّه‌ قد ولي‌ أكثر من‌ هذا العدد. وقال‌: وهذا اعتراض‌ باطل‌ لانّه‌ صلّى‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ لم‌ يقل‌: لايلي‌ الاّ اثنا عشرخليفة‌؛ وإنّما قال‌: يلي‌. وقد ولي‌ هذا العدد، ولايضرّ كونه‌ وُجد بعدهم‌ غيرهم‌. النووي‌ّ: «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 201 ـ 202. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ: «فتح‌ الباري‌» 16: 339

Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalaludin as-Suyuti

إن‌ّ المراد وجود اثني‌ عشر خليفة‌ في‌ جميع‌ مدّة‌ الاسلام‌ إلي‌ يوم‌ القيامه‌ يعملون‌ بالحق‌ّ وإن‌ لم‌ تتوال‌ أيّامهم‌…وعلى‌ هذا فقد وُجد من‌ الاثني‌ عشر خليفة‌ الخلفاء الاربعة‌، والحسن‌، ومعاوية‌، وابن‌ الزّبير، وعمر بن‌ عبد العزيز، هؤلاء ثمانية‌. ويحتمل‌ أن‌ يُضم‌ّ إليهم‌ المهتدي‌ من‌ العبّاسيّين‌، لانّه‌ فيهم‌ كعمر بن‌ عبد العزيز في‌ بني‌ أُميّة‌. وكذلك الطاهر لما اوتي‌ من‌ العدل‌، وبقي‌ الاثنان‌ المنتظران‌ أحدهما المهدي‌ لانّه‌ من‌ آل‌ بيت‌ محمّد صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌. السّيوطي‌: «تاريخ‌ الخلفاء»: 12. ابن‌ حجر الهيثمي‌ّ: الصّواعق‌ المحرقة‌: 19

Hanya ada dua belas Khalifah sampai hari kiamat. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait Nabi (as).” [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12; Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa’iq al-Muhriqa Halaman 19]

Ibn Hajar al-’Asqalani 

لم‌ ألق‌ أحدًا يقطع‌ في‌ هذا الحديث‌، يعني‌ بشي‌ء معيّن‌؛ فان‌ّ في‌ وجودهم‌ في‌ عصر واحد يوجد عين‌ الافتراق‌، فلايصح‌ّ أن‌ يكون‌ المراد. ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ، «فتح‌ الباري‌» 16: 338 ـ 341

Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih Bukhari ini.

Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

 Ibn al-Jawzi  

وأوّل‌ بني‌ أُميّة‌ يزيد بن‌ معاوية‌، وآخرهم‌ مروان‌ الحمار. وعدّتهم‌ ثلاثة‌ عشر. ولايعدّ عثمان‌، و معاوية‌، ولا ابن‌ الزّبير لكونهم‌ صحابة‌. فإذا أسقطناهم‌ منهم‌ مروان‌ بن‌ الحكم‌ للاختلاف‌ في‌ صحبته‌، أو لانّه‌ كان‌ متغلّبًا بعد أن‌ اجتمع‌ النّاس‌على‌ عبد الله بن‌ الزّبير صحّت‌ العدّة‌…وعند خروج‌ الخلافة‌ من‌ بني‌ أُميّة‌ وقعت‌ الفتن‌ العظيمة‌ والملاحم‌ الكثيرة‌ حتّى ‌استقرّت‌ دولة‌ بني‌ العبّاس‌، فتغيّرت‌ الاحوال‌ عمّا كانت‌ عليه‌ تغيّرًا بيّنًا. ابن‌ الجوزي‌ّ ، «كشف‌ المشكل‌» ، نقلاً عن‌ ابن‌ حجر العسقلاني‌ّ في‌ «فتح‌ الباري‌» 16: 340، عن‌ سبط‌ ابن‌ الجوزي‌ّ.

Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belasUsman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya (kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al-Nawawi

ويُحتمل‌ أن‌ المراد [بالائمّة‌ الاثني‌ عشر] مَن‌ْ يُعَزُّ الإسلام‌ في‌ زمنه‌ ويجتمع‌ المسلمون‌ عليه‌.

النووي‌ّ، «شرح‌ صحيح‌ مسلم‌» 12: 202 ـ 203

Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia.[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203]

 Al-Bayhaqi   

وقد وُجد هذا العدد (اثنا عشر) بالصفة‌ المذكورة‌ إلي‌ وقت‌ الوليد بن‌ يزيد بن‌ عبد الملك. ثم‌ّ وقع‌ الهرج‌ والفتنة ‌العظيمة‌…ثم‌ّ ظهر ملك العبّاسيّة‌…وإنّما يزيدون‌ على‌ العدد المذكور في‌ الخبر إذا تركت‌ الصفة‌ المذكورة‌ فيه‌، أو عُدَّ منهم ‌من‌ كان‌ بعد الهرج‌ المذكور فيه‌.

ابن‌ كثير: «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249؛ السّيوطي‌ّ، «تاريخ‌ الخلفاء»:11

Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Katsir, Ta’rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11]

 Ibn Katsir

فهذا الّذي‌ سلكه‌ البيهقي‌ّ، وقد وافقه‌ عليه‌ جماعة‌ من‌ أن‌ّ المراد بالخلفاء الاثني‌ عشر المذكورين‌ في‌ هذا الحديث‌ هم ‌المتتابعون‌ إلي‌ زمن‌ الوليد بن‌ يزيد بن عبد الملك‌ الفاسق‌ الّذي‌ قدّمنا الحديث‌ فيه‌ بالذّم‌ّ والوعيد، فانّه‌ مسلك‌ فيه‌ نظر…فان‌ اعتبرنا ولاية‌ ابن‌ الزبير قبل‌ عبد الملك‌ صاروا ستّة‌ عشر، وعلى كلّ تقدير فهم‌ اثنا عشر قبل‌ عمر بن‌ عبد العزيز. فهذا الّذي‌ سلكه‌ على‌ هذا التّقدير يدخل‌ في‌ الاثني‌ عشر يزيد بن‌ معاوية‌، و يخرج‌ منهم‌ عمر بن‌ عبد العزيز الّذي‌ أطبق‌ الائمّة‌ على شكره‌ وعلى مدحه‌، وعدوّه‌ من‌ الخلفاء الرّاشدين‌، وأجمع‌ الناس‌ قاطبة‌ على‌ عدله‌. ابن‌ كثير، «البداية‌ والنّهاية‌» 6: 249 ـ 250

Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.

Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil. [Ibn Katsir, Ta’rikh, 6:249-250]

MEREKA BINGUNG ?

Kita perlu pendapat seorang ulama Sunni lain yang dapat mengklarifikasi siapa Dua Belas Penerus, Khalifah, para Amir atau Imam-imam sebenarnya.

Al-Dzahabi mengatakan dalam Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani menyatakan dalam al-Durar al Kaminah, jilid 1, hal. 67, bahwa Shadrudin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwaini al-Syafi’i  adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni.

Lebih lengkap tentang Al-Juwaini, silahkan rujuk catatan Al-Muhadits Al-Juwaini Asy-Syafi’i (ra) dan Hadis Tentang Sayyidah Fathimah sa

BAGIAN III

Al-Juwayni Asy-Syafi’i : 

عن‌ عبد الله بن‌عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النّبي‌ّ  صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا سيّد المُرسَلين‌، وعلي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌ سيّدالوصيّين‌، وأن‌ّ أوصيائي‌ بعدي‌ اثنا عشر، أوّلهم‌ علي‌ّ بن‌ أبي‌ طالب‌، وآخرهم‌ القائم‌.

 dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah al-Qaim.

عن‌ ابن‌ عبّاس‌ رضي‌ الله عنه‌، عن‌ النبي‌ّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أن‌ّ خلفائي‌ وأوصيائي‌وححج‌ الله على‌ الخلق‌ بعدي‌ لاثنا عشر، أوّلهم‌ أخي‌، وآخرهم‌ وَلَدي‌. قيل‌: يا رسول‌ الله، ومن‌ أخوك‌؟ قال‌: علي‌ّ بن‌ أبي‌طالب‌. قيل‌: فمن‌ وَلَدُك‌َ؟ قال‌: المهدي‌ّ الّذي‌ يملاها قسطًا وعدلاً كما مُلئت‌ جورًا وظلمًا. والّذي‌ بعثني‌ بالحق‌ّ بشيرًا لو لم‌ يبق‌ من‌ الدّنيا الاّ يوم‌ واحد لطَوَّل‌ الله ذلك‌ اليوم‌ حتّي‌ يخرج‌ فيه‌ ولدي‌ المهدي‌، فينزل‌روح‌ الله عيسى بن‌ مريم‌ فيُصلّي‌ خلفَه‌ُ، وتُشرق‌ الارض‌ بنور ربّها، ويبلغ‌ سلطانه‌ المشرق‌ والمغرب‌.

Dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa washi-washiku dan Bukti (hujjah) Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (as) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

رسول‌ الله صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ أنّه‌ قال‌: أنا، وعلي‌ّ، والحسن‌، والحسين‌، وتسعة‌ من‌ ولد الحسين‌ مطهّرون‌ معصومون‌. الجويني‌ّ، «فرائد السمطين‌» مؤسّسة‌ المحمودي‌ّ للطّباعة‌ والنشر، بيروت‌، 1978، ص‌

 Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwaini, Fara’id al-Simthain, Mu’assassat al-Mahmudi li-Taba’ah, Beirut 1978, h. 160.]

Di antara semua mazhab Islam, hanya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang percaya pada individu-individu sebagai Dua Belas orang dari Ahlul Bait Raulullah saww yang berhak sebagai Penerus Rasulullah saww.

12 Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.



Berdasarkan hadith Nabi saaw dalam kitab Ahlul Sunnah antaranya ialah :

Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; maka itulah Isa b. Maryam bersembahyang di belakang al-Mahdi (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)

Hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit (Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berputar di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Ya

nabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sila teliti dengan sebaik-baiknya hadis-hadis di bawah yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama sunni:

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti Nabi SAW kepada dua belas orang.

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti-pengganti Nabi SAWW kepada dua belas orang, telah diriwayatkan oleh jumhur ulama Muslimin Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya (al-Musnad, I, hlm 398) meriwayatkan hadith ini daripada Sya’bi daripada Masruq berkata:”Kami berada di sisi ‘Abdullah bin Mas’ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Abdu r-Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah SAWAW berapakah ummat ini memiliki khalifah?” Abdullah bin Mas’ud menjawab:”Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda.” Kemudian dia berkata:”Ya! Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah SAWAW mengenainya. Maka beliau menjawab:”Dua belas (khalifah) seperti bilangan naqib Bani Israil.”

Di dalam riwayat yang lain Ahmad bin Hanbal meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah, sesungguhnya dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda semasa Haji Wida’:”Urusan agama ini masih pada zahirnya di tangan penentangannya dan tidak akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyalahinya sehingga berlalunya dua belas Amir, semuanya daripada Quraisy.” (al-Musnad, I, hlm 406, dan V, hlm 89)

Muslim di dalam Sahihnya ( Sahih, II, hlm 79 )meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku berjumpa Nabi SAWAW, Maka aku mendengar Nabi SAWAW bersabda:”Urusan ‘ini’ tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: Kemudian beliau bercakap dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya bapaku apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab:”Semuanya daripada Quraisy.”
Muslim juga meriwayatkan di dalam Sahihnya daripada Nabi SAWAW beliau bersabda:”Agama sentiasa teguh sehingga hari kiamat dan dua belas khalifah memimpin mereka, semuanya daripada Quraisy. Di dalam riwayat yang lain “Urusan manusia berlalu dengan perlantikan dua belas lelaki dari Quraisy, ” “Sentiasa Islam itu kuat sehingga kepada dua belas khalifah daripada Quraisy” dan “Sentiasa ugama ini kuat dan kukuh sehingga dua belas khalifah daripada Quraisy”
Al-Turmudzi di dalam al-Sunannya (al-sunan, II, hlm 110 ) mencatat hadith tersebut dengan lafaz amir bukan khalifah.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya ( Sahih, IV, hlm 120 (Kitab al-Ahkam ) meriwayatkannya daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku ialah dua belas amir.” Maka beliau berucap dengan perkataan yang aku tidak mendengarnya. Bapaku memberitahuku bahawa beliau bersabda:”Semuanya daripada Quraisy.”

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal ( Kanz al-Ummal, VI, hlm 160 ), meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (diikuti) oleh dua belas khalifah.”

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah ( al-Sawa’iq al-Muhriqah, bab XI ) meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (dikuti) dua belas amair semuanya daripada Quraisy.”

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 444 (bab 7) mencatat riwayat daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku di sisi Nabi SAWAW beliau bersabda:”Selepasku dua belas khalifah.” Kemudian beliau merendahkan suaranya. Maka akupun bertanya bapaku mengenainya. Dia menjawab: Beliau bersabda: “Semuanya daripada Bani Hasyim.”

Samak bin Harb juga meriwayatkannya dengan lafaz yang sama. Diriwayatkan daripada al-Sya’bi daripada Masruq daripada Ibn Mas’ud bahawa sesungguhnya Nabi SAWAW telah menjanjikan kita bahawa selepasnya dua belas khalifah sama dengan bilangan naqib Bani Isra’il. Dan dia berkata di dalam bab yang sama bahawa Yahya bin al-Hasan telah menyebutkannya di dalam Kitab al-Umdah dengan dua puluh riwayat bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW adalah dua belas orang. Semuanya daripada Quraisy. Al-Bukhari telah menyebutkannya dengan tiga riwayat, Muslim sembilan riwayat. Abu Daud tiga riwayat, al-Turmudhi satu riwayat dan al-Humaidi tiga riwayat.

Pengkaji-pengkaji menegaskan bahawa hadith-hadith tersebut menunjukkan bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW ialah dua belas orang. Dan maksud hadith Nabi SAWAW ialah dua belas orang daripada Ahlu l-Baitnya. Kerana tidak mungkin dikaitkan hadith ini kepada khalifah-khalifah yang terdiri daripada bilangan mereka kurang daripada dua belas orang. Dan tidak mungkin dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani Umaiyyah kerana bilangan mereka melebihi dua belas orang dan kezaliman mereka yang ketara selain daripada ‘Umar bin Abdu l-Aziz. Tambahan pula mereka bukan daripada Bani Hasyim. Di dalam riwayat yang lain beliau memilih Bani Hasyim di kalangan Quraisy dan memilih Ahlu l-Baitnya di kalangan Bani Hasyim (Muslim, Sahih, II, hlm 81 (Fadhl Ahlu l-Bait)
.

Di dalam riwayat ‘Abdu l-Malik daripada Jabir bahawa Nabi SAWAW telah merendahkan suaranya ketika menyebutkan Bani Hasyim kerana ‘mereka’ tidak menyukai Bani Hasyim. Hadith ini juga tidak boleh dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani ‘Abbas kerana bilangan mereka melebihi bilangan tersebut. Dan mereka tidak mengambil berat tentang firmanNya “Katakan!” Aku tidak meminta upah daripada kamu kecuali mencintai keluargaku, ” sebagaimana juga mereka tidak menghormati hadith al-Kisa’. Justeru itu, hadith tersebut mestilah dikaitkan dengan dua belas Ahlu l-Baitnya kerana merekalah orang yang paling alim, warak, takwa, paling tinggi keturunan dan ilmu-ilmu mereka adalah daripada datuk-datuk mereka yang berhubungan dengan datuk mereka Rasulullah SAWAW dari segi “warisan” dan hikmah. Mereka pula dikenali oleh para ilmuan. Oleh itu apa yang dimaksudkan oleh hadith tersebut ialah dua belas Ahlu l-Bait Rasulullah Saww (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445).
Ini juga diperkuatkan oleh hadith thaqalain, hadith al-Safinah, hadith al-Manzilah dan lain-lain.

Al-Qunduzi al-Hanafi (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445) juga telah meriwayatkan hadith daripada Jabir dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:”Akulah penghulu para Nabi dan ‘Ali adalah penghulu para wasi. Dan sesungguhnya para wasi selepasku ialah dua belas orang, pertama ‘Ali dan yang akhirnya Qaim al-Mahdi.”

Hadith-hadith yang menerangkan bahawa merekalah para wasi Rasulullah SAWAW di dalam buku-buku Ahlu l-Sunnah adalah banyak, dan ianya melebihi had mutawatir. Ini tidak termasuk hadith-hadith riwayat Syi’ah. Umpamanya hadith daripada Salman RD berkata: Aku berjumpa Nabi SAWAW dan Husain berada di atas dua pahanya. Nabi SAWAW sedang mengucup dahinya sambil berkata:’Anda adalah Sayyid bin Sayyid dan adik Sayyid. Anda adalah imam bin imam dan adik imam. Anda adalah Hujjah bin Hujjah dan adik Hujjah dan bapa hujjah-hujjah yang sembilan. Dan yang kesembilan mereka ialah Mahdi al-Muntazar.”

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin (Fara’id al-Simtin, II, hlm 26), meriwayatkan daripada ‘Ibn Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Aku , Ali, Hasan, Husain dan sembilan daripada anak-anak Husain adalah disuci dan dimaksumkan.”

Ibn ‘Abbas juga meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Wasi-wasiku, hujjah-hujjah Allah ke atas makhlukNya dua belas orang, pertamanya saudaraku dan akhirnya ialah anak lelakiku (waladi).” Lalu ditanya Rasulullah siapakah saudara anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab:’Ali. Dan ditanya lagi siapakah anak lelaki anda? Beliau menjawab: al-Mahdi yang akan memenuhi bumi ini dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kerosakan dan kezaliman. Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai kegembiraan dan peringatan, sekiranya dunia ini tinggal hanya satu hari lagi nescaya Allah akan memanjangkannya sehingga keluar anak lelakiku al-Mahdi. Kemudian diikuti oleh ‘Isa bin Maryam. Beliau akan mengerjakan solat di belakang anak lelakiku. Dunia pada ketika itu berseri dengan cahaya Tuhannya dan pemerintahannya meliputi Timur dan Barat.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95) meriwayatkan bahawa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Rasulullah saww bersabda : Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan membuka seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah SWT. Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Apakah orang2 dapat mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya ? Beliau menjawab :”Ya..! Demi yang mengutusku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil manfaat dari matahari sekalipun ia ditutupi awan.” Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Maka rahsiakanlah mengenainya melain kepada orang yang ahli. (Yanabi’ al Mawaddah, hlm 494)

daripada Jabir al-Ansari berkata: Junda; bin Janadah berjumpa Rasulullah SAWAW dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab: “Pertama penghulu dan ayah para wasi adalah Ali. Kemudian dua anak laki2nya Hasan dan Husain. Berpegang teguhlah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil memperdayaimu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (‘Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekalan terakhir di dunia ini.” (Yanabi’ al-Mawaddah Bb 76 hlm 441 – 444 )

Jundal berkata: Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allahlah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada parti Allah (hizbullah).

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 446 – 447) telah meriwayatkan hadith ini dan dinukilkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 76 dengan sanad daripada Ibn ‘Abbas dia berkata: Seorang Yahudi bernama Na’thal datang kepada Rasulullah SAWAW dan berkata: Wahai Muhammad! Aku akan bertanya anda beberapa perkara yang tidak menyenangkan hatiku seketika. Sekiranya anda dapat memberi jawapan kepadaku nescaya aku akan memeluk Islam di tangan anda. Beliau SAWAW bersabda:”Tanyalah wahai Abu ‘Ammarah.’ Dia bertanya beberapa perkara sehingga dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang wasi anda siapa dia? Tidak ada seorang Nabi melainkan ada baginya seorang wasi. Dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin ‘Imran telah berwasiatkan kepada Yusyu’ bin Nun. Maka Nabi SAWAW menjawab”Sesungguhnya wasiku ialah ‘Ali bin Abi Talib, selepasnya dua anak lelakinya Hasan dan Husain kemudian diikuti oleh sembilan imam daripada keturunan Husain.’ Dia berkata: Namakan mereka kepadaku. Beliau menjawab:’Apabila wafatnya Husain, maka anaknya ‘Ali apabila wafatnya ‘Ali, anaknya Muhammad, Dan apabila wafatnya Muhammad, anaknya Ja’far. Apabila wafatnya Ja’far anaknya Musa. Apabila wafatnya Musa, anaknya Ali. Apabila wafatnya Ali, anaknya Muhammad. Apabila wafatnya Muhammad, anaknya ‘Ali. Apabila wafatnya ‘Ali anaknya Hasan. Apabila wafatnya Hasan, anaknya Muhammad al-Mahdi. Mereka semua dua belas orang…..”Akhirnya lelaki Yahudi tadi memeluk Islam dan menceritakan bahawa nama-nama para imam dua belas telah tertulis di dalam buku-buku para Nabi yang terdahulu, dan ia termasuk di antara apa yang telah dijanjikan oleh Musa AS.
Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin meriwayatkan sanadnya kepada Abu Sulaiman penjaga unta Rasulullah SAWAW, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Di malam aku diperjalankan atau dibawa ke langit, Allah SWT berfirman:”Rasul mempercayai apa yang telah diturunkan kepadanya oleh TuhanNya.”Aku bersabda: Mukminun. Dia menjawab: Benar. Allah SWT berfirman lagi: Wahai Muhammad! Kali pertama Aku memerhatikan ahli bumi, Aku memilih anda. Aku menamakan anda dengan salah satu daripada nama-namaku. Oleh itu dimana sahaja Aku diingati, anda diingati bersama. Akulah al-Mahmud dan andalah Muhammad. Kemudian Aku memerhatikannya kali kedua, maka Aku memilih ‘Ali. Maka Aku menamakannya dengan namaku. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan anda dari Aku dan menjadikan ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan imam-imam daripada keturunan Husain daripada cahayaKu. Akupun membentangkan wilayah mereka kepada seluruh ahli langit dan bumi. Sesiapa yang menerimanya akan berada di sisiKu sebagai Mukminin. Dan sesiapa yang mengingkarinya akan berada di sisiKu sebagai kafirin. Wahai Muhammad! Sekiranya seorang daripada hamba-hambaKu beribadat kepadaKu tanpa terhenti-henti kemudian mendatangiKu dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, nescaya Aku tidak mengampuninya. Allah SWT berfirman lagi kepada Nabi SAWAW: Adakah anda ingin melihat mereka? Beliau menjawab: Ya! Wahai Tuhanku. Dia berfirman: Lihatlah di kanan ‘Arasy, maka aku dapati ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain, ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Muhammad al-Mahdi bin Hasan. Mereka diibaratkan bintang-bintang yang bersinar di kalangan mereka. Kemudian Dia berfirman lagi: Mereka itulah hujjah-hujjah ke atas hamba-hambaKu, mereka itulah wasi-wasi anda. Dan al-Mahdi adalah daripada ‘itrah anda. Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dia akan membalas dendam terhadap musuh-musuhKu.”

Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi di dalam Manaqibnya meriwayatkan daripada Salman daripada Nabi SAWAW, sesungguhnya beliau bersabda kepada Husain:”Andalah imam anak lelaki seorang imam, saudara kepada imam, bapa kepada sembilan imam. Dan yang kesembilan daripada mereka ialah Qaim mereka (al-Mahdi AS).
Begitulah juga Syahabuddin al-Hindi di dalam Manaqibnya telah menerangkan sanadnya daripada Nabi SAWAW bahawa beliau bersabda:”Sembilan imam adalah daripada anak cucu (keturunan) Husain bin ‘Ali dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi al-Muntazar AS).

Al-Hamawaini al-Syafi’e meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtin bahawa Nabi SAWAW bersabda:” Siapa yang suka berpegang kepada ugamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti ‘Ali bin Abi Talib, memusuhi seterunya dan mewalikan walinya kerana beliau adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan selepas kewafatanku. Beliau adalah imam setiap muslim dan amir setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”
Kemudian Nabi SAWAW bersabda lagi: Sesiapa yang menjauhi ‘Ali selepasku, dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan didedahkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, nescaya Allah akan menolongnya.
Kemudian beliau bersabda lagi: Hasan dan Husain kedua-duanya adalah imam ummatku selepas bapa mereka berdua adalah penghulu-penghulu pemuda syurga. Ibu kedua-duanya adalah penghulu para wasi. Dan sembilan imam adalah daripada anak cucu Husain. Dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi). Mentaati mereka adalah ketaatan kepadaku. Mendurhakakan mereka adalah mendurhakaiku. Kepada Allah aku mengadu bagi orang yang menentang kelebihan mereka, dan menghilangkan kehormatan mereka selepasku. Cukuplah bagi Allah sebagai wali dan penghulu kepada ‘itrahku, para imam ummatku. Pasti Allah akan menyiksa orang yang menentang hak mereka.”Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(Al-Syuara’(26): 227)

Ayatullah al-’Uzma al-Hulli di dalam bukunya Kasyf al-Haq (Kasyf al-Haq, I, hlm 108) telah menerangkan sebahagian daripada hadith dua belas khalifah dengan riwayat yang bermacam-macam. Seorang musuh ketatnya bernama Fadhl bin Ruzbahan al-Nasibi adalah orang yang paling kuat menentang Ahlu l-Bait AS, di dalam jawapan kepadanya mengakui bahawa apa yang disebutkan oleh Allamah al-Hulli mengenai dua belas khalifah adalah Sahih dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah.

Aku berkata: Riwayat hadith dua belas imam daripada Nabi SAWAW adalah terlalu banyak. Kami hanya menyebutkan sebahagian kecil daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah yang mencatatkan hadith tersebut. Seperti al-Bayan karangan al-Hafiz al-Khanji, Fasl al-Khittab karangan Khawajah Faris al-Hanafi, Arba’in karangan Syeikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali, Arba’in karangan Ibn Abi l-Fawarith dan lain-lain buku Ahlu s-Sunnah. Adapun riwayat Syi’ah mengenainya adalah tidak terhitung banyaknya.

Sayyid Hasyim al-Bahrani di dalam bukunya Ghayah al-Maram (Ghayah al-Maram, I, hlm 309) telah menjelaskan hadith dua belas imam sebanyak enam puluh riwayat dengan sanad-sanadnya menurut metod Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Tujuh riwayat daripada buku Manaqib Amiru l-Mukminin AS karangan Maghazali al-Syafi’i, dua puluh tiga riwayat daripada Fara’id al-Simtin karangan al-Hamawaini, satu riwayat daripada Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki dan satu riwayat daripada Syarh Nahj al-Balaghah karangan Ibn Abi l-Hadid.

Aku berkata: Sesungguhnya aku telah mengkaji risalah karangan Syaikh Kazim ‘Ali Nuh RH berjudul Turuq Hadith al-A’immah min Quraisy, hlm. 14. Dia berkata bahawa ‘Allamah Sayyid Hasan Sadr al-Din di dalam bukunya al-Durar al-Musawiyyah Fi Syarh al-’Aqa’id al-Ja’fariyyah telah mengeluarkan hadith dua belas khalifah daripada Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga puluh empat riwayat. Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh al-Bukhari, Muslim, al-Humaidi, beberapa riwayat Razin di dalam Sahih Sittah, riwayat al-Tha’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Bardah, Ibn Umar, Abdu r-Rahman Ibn Samurah, Jabir, Anas, Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Aisyah, Wa’ilah dan Abi Salma al-Ra’i.

Adapun riwayat Umar bin al-Khattab yang telah dikaitkan kepadanya oleh ‘Ali bin al-Musayyab mengenai sabda Nabi SAWAW ialah: Para imam selepasku di antaranya Mahdi ummat ini. Siapa yang berpegang kepada mereka selepasku, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali Allah. Hadith ini juga telah dikaitkan dengan al-Durasti dengan Ibn al-Muthanna yang bertanya kepada ‘Aisyah:”Berapakah khalifah Rasulullah SAWAW. ‘Aisyah menjawab:’Beliau (Rasulullah SAW) memberitahuku bahawa selepasnya dua belas khalifah.’ Aku bertanya: Siapakah mereka? Maka ‘Aisyah menjawab:’Nama-nama mereka tertulis di sisiku dengan imla Rasulullah SAWAW.’ Maka aku bertanya kepadanya: Apakah nama-nama mereka? Maka dia enggan memperkenalkannya kepadaku.’

Sayyid al-Bahrani juga mencatat sebahagian daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menyebutkan dua belas khalifah. Di antaranya Manaqib Ahmad bin Hanbal, Tanzil al-Qur’an fi Manaqib Ahlu l-Bait karangan Ibn Nu’aim al-Isfahani, Faraid al-Simtin karangan al-Hamawaini, Matalib al-Su’ul karangan Muhammad bin Talhah al-Syafi’i, Kitab al-Bayan karangan al-Kanji al-Syafi’i, Musnad al-Fatimah karangan al-Dar al-Qutni, Fadhail Ahlu l-Bait karangan al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manaqib karangan Ibn al-Maghazali al-Syafi’i, al-Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki, Jawahir al-’Aqdain karangan al-Samhudi, Dhakha’ir al-’Uqba karangan Muhibbuddin al-Tabari, Mawaddah al-Qurba karangan Syihab al-Hamdani al-Syafi’i, al-Sawa’iq al-Muhriqah karangan Ibn Hajr al-Haithami, al-Isabah karangan Ibn Hajr al-’Asqalani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-Mausuli, Musnad Abi Bakr al-Bazzar, Mu’jam al-Tabrani, Jam’ al-Saghir karangan al-Suyuti, Kunuz al-Daqa’iq karangan al-Munawi dan lain-lain.

Aku berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat yang berbilang-bilang yang datang kepada kita menurut metod Ahlu s-Sunnah adalah sekuat dalil, dan hujjah yang paling terang bahawa sesungguhnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan selepasnya ialah anak-anaknya sebelas imam yang maksum, pengganti Rasul dan para imam Muslimin satu selepas satu sehingga manusia ‘berhadapan’ dengan Tuhan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengingkari hadith-hadith yang sabit yang diriwayatkan menurut riwayat para ulama besar Ahlu s-Sunnah dan pakar-pakar hadith mereka, lebih-lebih lagi menurut riwayat Syi’ah. Kecuali cahaya pemikirannya telah dipadamkan dan dijadikan di hatinya penutup. Justeru itu ia adalah termasuk di dalam firmanNya di dalam (Surah al-Baqarah (2): 171)”Mereka itu bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”Dan firmanNya (Surah al-Zukhruf(43): 36) “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”Dan firmanNya (Surah al-Kahf(18):57)”Kami jadikan di hati mereka tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinga mereka, sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nescaya tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”

Ini adalah disebabkan penentangan mereka kepada dalil yang terang dan nas yang zahir kerana fanatik, kufur, dan kedegilan mereka.

Muhammad bin Idris al-Syafi’i memperakui kesahihan apa yang kami telah menyebutkannya dengan syairnya yang masyhur:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang
kepada mazhab yang bermacam-macam
di lautan kebodohan dan kejahilan
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan
mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustaffa
penamat segala Rasul.

Pengiktirafan Syafi’i bahawa ‘Ali adalah imam dan selepasnya sebelas imam merupakan pengiktirafan yang besar daripada seorang imam mazhab empat. Dan ianya menjadi hujjah keimamahan dua belas imam maksum dari keluarga Rasulullah SAWW.

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56


Para Imam Ahlulbait as. adalah pewaris kepemimpinan kenabian mereka adalah hujjah-hujjah Allah di atas bumi…. Mereka adalah adillâ’u Ilal Khair/penunjuk jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat mengkuti bimbingan para Imam Ahlulbait as. akan menjamin kebahagian umat manusia dalam berbagai kesempatan, para Imam as. mencurahkan perhatian mereka terhadap umat Rasulullah saw. secara umum dan kepada para pecinta dan pengkut secara khusus

Adalah sebuah realita yang tak terbantahkan bahwa ternyata di tengah-tengah umat Islam, ada sekelompok yang berkiblat, meyakini imamah para imam Ahlulbait as. dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam segala urusan agama , mereka itu adalah Syi’ah Ahlulbait/para pengikut Ahlulbait as. eksistenti mereka selalu digandengakan dengan nama Ahlulbait as.

Untuk mereka, para imam suci Ahlulbait as. memberikan perhatian khusus mereka dalam membimbing mereka untuk merealisasikan Islam dengan segenap ajarannya yang paripurna dan kâffah, baik dalam ibadah maupun akhlak dan etika pergaulan.

Dalam artikel ini saya mencoba menyajikan untuk Anda irsyâd dan didikan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka, agar dapat diketahui batapa agung dan mulianya bimbingan mereka as.

Jadilah Kalian Sebagai Penghias Kami

Dalam sabda-sabda mereka, para Imam suci Ahlulbait as. meminta dengan sangat dari Syi’ah agar menjadi penghias bagi para imam dan tidak mencoreng nama harus mereka. Apabila mereka menyandang akhlak islami, beradab dengan didikan para imam pasti manusia akan memunji para imam Ahlulbait sebagai pembimbing yang telah mampu mencetak para pengikut yang berkualitas, mareka pasti akan mengatakan alangkah mulianya didikan para imam Ahlulbait itu terhadap Syi’ah mereka! Begitu juga sebailnya, apabila manusia menyaksikan keburukan sifat dan sikap serta perlakuan, maka mereka akan menyalahkan Ahlulbait as. dan mungkin akan menuduh para imam telah gagal dalam membina para Syi’ah mereka.

Sulaiman ibn Mahrân berkata, “Aku masuik menjumpai Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as., ketika itu di sisi beliau ada beberapa orang Syi’ah, beliau as. bersabda:

معاشِرَ الشيعَةِ! كونُوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا، و احفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ و كُفُّها عن الفُضُولِ و قُبْحِ القولِ.

“Wahai sekalian Syi’ah! Jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik keada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelak.” [1]

Dalam sabda beliau di atas, Imam Ja’far menekankan pentingnya menjadi penghias bagi Ahlulbait as., hal demikian tidak berarti bahwa Ahlulbait as. akan menyandang kemulian disebabkan kebaikan Syi’ah mereka, akan tetapi lebih terkait dengan penilaian manusia tentang mereka yang biasa menilai seorang pemimpin melalui penilaian terhadap para pengikutnya. Imam Ja’far as. menekankan pentinghnya bertutur kata yang baik dan manjaga lisan dari berbicara jelak.

Dalam hadis lain, Imam Ja’far as. bersabda:

يا معشرَ الشيعَةِ! إِنَّكُمْ نُسِبْتُمْ إلينَا، كونوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا

“Hai sekalian Syi’ah! Sesungguhnya kalian telah dinisbatkan kepada kami, jadilah penghias bagi kami dan jangan menjadi pencorang!” [2]

Dalam sabda lain beliau berkata:

رَحِمَ اللهُ عَبْدًا حَبَبَنَا إلى الناسِ لا يُبَغِّضُنا إليهِمْ. وايمُ اللهِ لَوْ يرْوونَ مَحاسِنَ كلامِنا لَكانوا أَعَزَّ، و ما استَطاعَ أَحدٌ أَنْ يَتَعَلَّقَ عليهِمْ بشيْئٍ.

“Semoga Allah merahmati seorang yang mencintakan kami kepada manusia dan tidak membencikan kami kepada mereka. Demi Allah andai mereka menyampaikn keindahan ucapan-ucapan kami pastilah mereka lebih berjaya dan tiada seorangpun yang dapt bergantung atas (menyalahkan) mereka dengan sesuatu apapun.”[3]

Dalam salah satu pesannya melalui sahabat beliau bernama Abdul A’lâ, Imam Ja’far bersabda:

يَا عبدَ الأعلى … فَأَقْرَأْهُمْ السلام و رحمة الله و قل: قال لكم: رَحِمَ اللهُ عبْدًا اسْتَجَرَّ مَوَدَّةَ الناسِ إلى نفسِهِ و إلينا بِأَنْ يُظْهِرَ ما يَعْرِفُونَ و يَكُفَّ عنهُم ما يُنْكِرُونَ.

“Hai Abdul A’lâ… sampaikan salam kepada mereka (syi’ahku) dan katakana kepada mereka bahwa Ja’far berkata keada kalian, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menarik kecintaan manusia kepada dirnya dan keada kami dengan menampakkan apa-apa yang mereka kenal dan menahan dari menyampaikan apa-apa yang tidak mereka kenal.”[4]

Wara’ dan Ketaqwaan

Tidak kita temukan wasiat yang paling ditekankan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka seperti ketaqwaan dan wara’. Syi’ah adalah mereka yang mengikuti dan bermusyâya’ah kepada Ahlulbait as.. Dan mereka yang paling berpegang teguh dengan ketaqwaan dan wara’lah yang paling dekat dan paling istimewa kedudukannya di sisi Ahlulbait as., sebab inti kesyi’ahan adalah mengikuti, beruswah dan meneladani. Maka barang siapa hendak mengikuti dan meneladani Ahlulibat as. tidak ada jalan untuk itu selain ketaatan kepada Allah SWT. bersikap wara’ dan bertaqwa.

Abu Shabâh al Kinani berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. ‘Di kota Kufah kami diperolok-olokkan karena (mengikuti tuan), kami diolok-olok ‘Ja’fariyah’. Maka Imam murka dan bersabda:

إنَّ أصحابَ جعفر مِنكُم لَقليلٌ، إنما أصحابُ جَعْفَر مَنْ اشْتَدَّ وَرَعُهُ و عَمِلَ لِخالِقِهِ.

“Sesungguhnya pengikut Ja’far di antara kalian itu sedikit. Sesungguhnya pengikut ja’fa itu adalah oran yang besar kehait-hatiannya dan berbuat untuk akhiratnya.’”[5]

Syi’ah adalah mereka yang telah menjadikan manusia-manusia suci pilihan Allah SWT sebagai panutan mereka. Para imam itu adalah hamba-hamba Allah yang telah mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah disebabkan ketaqwaan mereka, maka dari mereka yang mengikuti para imam Ahlulbait as. itu adalah yang paling berhak menghias diri mereka dengan ketaqwaan dan wara’.

Bassâm berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah as. bersabda:

إنَّ أَحَقَّ الناسِ بالورعِ آلُ محمدٍ و شِيْعَتُهُم

“Yang paling berhak bersikap wara’ adalah keluarga Muhammad dan Syi’ah mereka.”[6]

Dan berkat didikan para imamsuci Ahlulbait as., maka sudah seharusnyaSyi’ah Ahlulbait adalah seperti yang disabdakan Imam Ja’far as.:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ، و أهلُ الوقارِ و الأمانَةِ، أهلُ الزهدِ و العبادَةِ. أصحابُ إحدَى و خمسونَ رَكْعَةً في اليومِ و الليلَةِ، القائمونَ بالليلِ، الصائمونَ بالنهار، يَحِجُّونَ البيتَ… و يَجْتَنِبونَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan getol beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari sealam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[7]

Imam Ja’far as. bersabda:

و اللهِ ما شيعَةُ علي (عليه السلام) إلاَّ مَنْ عَفَّ بطنُهُ و فرْجُهُ، و عمل لِخالقِهِ، و رجَا ثوابَهُ، و خافَ عقابَهُ.

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as. kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.”[8]

Dalam sabda lain Imam Ja’far as. bersabda mengarahkan Syi’ah beliau:

يا شِيْعَةَ آلِ محمَّدٍ، إنَهُ ليسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَملكْ نفسَهُ عندَ الغضَبِ، و لَمْ يُحسِنْ صُحْبَةَ مَن صحِبَهُ، و مرافَقَةَ مَن رافقَهُ، و مصالَحَةَ مَن صالَحَهُ.

“Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya disaat merah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan oranf yang berdamai dengannya.” [9]

Para Imam Ahlubait as. tidak puas dari Syi’ah mereka apabila di sebuah kota masih ada orang selain mereka yang lebih berkualitas. Syi’ah Ahlulbait as. harus menjadi anggota masyarakat paling unggul dalam berbagai kebaikan. Imam Ja’far as. bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَنْ يكونُ فِيْ مِصْرَ، يكونُ فيْهِ آلآف و يكون في المصرِ أورَعُ منهُ.

“Tidak termasuk dari Syi’ah kami seorang yang betinggal di sebuah kota yang terdiri dari beribu-ribu masyarakat, sementara di kota itu ada seorang yang lebih wara’ darinya.” [10]

Dengan berwilayah, mengakui imamah Ahlulbait as. dan mengikuti ajaran mereka, Syi’ah benar-benar berada di atas jalan yang mustaqîm dan di atas agama Allah SWT. Jadi dari sisi keyakinan dan I’tiqâd mereka sudah berasa di atas kebenaran, sehingga yang petning sekarang bagi mereka adalah memperbaikit kualitas amal dan akhak mereka. Kulaib ibn Mu’awiyah al Asadi berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. bersabda:

و اللهِ إنَّكُمْ لَعلَى دينِ اللهِ و دينِ ملآئكَتِهِ فَأَعِيْنُونِيْ بورَعٍ و اجتهادٍ. عليكُمْ بصلاةِ الليلِ و اعبادَةِ، عليكم بالورعِ.

“Demi Allah kalian benar-benar berada di atas agama Allah dan agama para malaikat-Nya, maka bantulah aku dengan wara’ dan kesungguh-sungguhan dalam ibadah. Hendaknya kalian konsisten shalat malam, beribadah. Hendaknya kalian konsisten berpegang dengan wara’.” [11]

Memelihara hati agar selalu ingat kepada Allah SWT.; perintah dan larangan-Nya juga menjadi sorotan perhatian parta imam suci Ahlulbait as.

Penulis kitab Bashâir ad Darâjât meriwayatkan dari Murâzim bahwa Imam Zainal Abidin as. bersabda kepadanya:

يا مرازِم! ليسَ مِن شيعَتِنا مَنْ خَلاَ ثُمَّ لَمْ يَرْعَ قَلْبَهُِ

“Hai Murâzim, bukan dari Syi’ah kami seorang yang menyendiri kemudian ia tidak menjaga hatinya.”[12]

Diriwayatkan ada seseorang berkata kepada Imam Hsain as., “Wahai putra Rasulullah, aku dari Syi’ah kamu.” Maka Imam bersabda:

إنَّ شِيْعَتَنا مَنْ سَلِمَتْ قلوبُهُم من كُلِّ غِشٍّ و غِلِّ و دَغْلٍ.ُ

“Syi’ah kami, adalah orang-oarng yang hati-hati mereka selamat/bersih dari segala bentuk pengkhianatan, kedengkian dan makar.”[13]

Imam Ja’far as. juga bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَن قال بلسانِهِ و خالفَنا في أعمالِنا و آثارِنا، لَكِنْ شيعتُنا مَنْ وافقَنا بلسانِهِ و قلبِهِ و تَب~عَ أثارَنا وَ عمِلَ بِأَعمالِنا. أولئكَ شيعتُنا.

“Bukan termasuk Syi’ah kami orang yang berkata dengan lisannya namun ia menyalahgi kami dalam amal-amal dan tindakan kami. Tetapi Syi’ah kami adalah orang yang menyesuai kami dengan lisan dan hatinya dan mengikuti tindakan-tindakan kami serta beamal dengan amal kami. Mereka itulah Syi’ah kami.”

Hadis di atas adalah pendefenisian yang sempurna siapa sejatinya Syi’ah Ahlulbiat itu, dan sekaligus membubarkan angan-angan dan klaim-klaim sebagian yang mengaku-ngaku sebagai Syiah sementara dari sisi ajaran tidak mengambil dari Ahlulbait as. dan dalam beramal tidak menteladani Ahlulbait as. Semoga kita digolongkan dari Syi’ah Ahlulbait yang sejati. Amin.

Semangat Beribadah

Ciri lain yang seharusnya terpenuhi dapa Syi’ah Ahlulbait as. adalah bergeloranya semangat beribadah kepada Allah SWT. mengisi hari-hari mereka dengan mendekatkan diri kepada Allah, drengan bersujud, menangisi kesahalan dan dosa-dosa yang dikerjakannya dan kekurangan serta keteledorannya, membaca Alqu’an al Karim.

Dalam sebuah sabdanya, Imam al baqir as. bersabda kepada Abu al Miqdâm:

… إِذا جَنَّهُمُ الليلُ اتَّخَذُوا الأرْضَ فِراشًا، و استقلُُّوا الأرضَ بِجِباهِهِمْ ، كثيرٌ سجودُهُم ، كثيرَةٌ دموعُهُمْ، كثيرٌدعاؤُهُم ، كثيرٌ بكاؤُهُمْ ، يَفْرَحُ الناسُ و هُمْ يَحْزَنونَ.

“…jika malam menyelimuti mereka, mereka menjadikan tanah sebagai hamparannya, dan meletakkan dahi-dahi mereka ke bumi. Banyak sujudnya, deras air matanya, banyak doanya dan banyak tangisnya. Orang-orang bergembira sementara mereka bersedih.”[14]

Imam Ja’far as. bersabda:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ ، و اهلُ الوفاء و الأمانةِ، و أهل الزهدِ و العبادةِ، أصحابُ إحدِىَ و خمسينَ ركعَةً في اليومِ و الليلَةِ، و القَائِمُونَ باللَّيلِ، الصائِمونَ بالنهارِ ،يُزَكُّوْنَ أَموالَهُمْ ، و يَحِجُّوْنَ البيتَ و يَجْتَنِبُوْنَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli (penyandang) wara’, dan kesungguh-sungguhaa dalam ibadah, ahli menepati janji dan amanat, ahli zuhud dan ibadah, ahli (pelaknasa) salat lima puluh sau raka’at dalam sehari, bangun di malam hari, puasa di siang hari, menzakati hartanya, melaksanakan haji, dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan.”[15]

Rahib Di Malam Hari Dan Singa Di Siang Hari

Nauf, -seorang sahabat Imam Ali as.- mensifati kenangan indahnya bersama Imam Ali as. ketika menghidupkan malamnya di atas atap rumah dengan shalat… Imam Ali as. menatap bintang- gemintang di langit seakan sedih, kemudian beliau bertanya kepada Nauf, “Hai Nauf, apakah engkap tidur atau bangun?” Aku terjaga. Jawab Nauf. Lalu beliau bersabda:

أَ تَدْرِيْ مَنْ شيعتِيْ؟ شيعتِيْ الذُبْلُ الشِفاهِ، الخُمْصٌ البُطُونِ، الذي تُعْرَفُ الرَّهْبانِيَّةُ و الربانية في وُجُوهِهِمْ، رهبانٌ بالليلِ ، أسَدٌ بالنهارِ، إذا جّنَّهُم الليلُ اتَّزَرُوا على أوساطِهِمْ و ارْتَدَوْا على أطرافِهِمْ، و صَفُّوا أقدامَهُمْ و افترشُوا جناهَهُمْ، تَجْرِي الدموعُ على خدودِهِم، يَجْأَرونَ إلى اللهِ فكتكِ رقَبَتِهِمْ مِنَ ، أمَّا الليلُ فَحُلماءُ علماؤ أبرارٌ أتقِياءُ.

“Hai Nauf, tahukan engkau siapa Syi’ahku? Syi’ahku adalah yang layu bibir-bibr mereka, cekung perut-perut mereka, penghambaan dan rabbaniyah dikenal dari wajah-wajah mereka. Mereka adalah para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Jika malam telah menyelimuti mereka, mereka mengencangkan kain ikatan (baju) mereka, mereka berkain di atas pundak mereka, mereka merapatkan kaki-kaki mereka, mereka meletakkan dahi-dahi mereka. Air mata mereka mengalir di atas pipi-pipi mereka, mereka meraung-raung memohon kepada Allah agar dibebaskan dari siksa neraka. Adapun di siang hari mereka adalah orang-orang yang dingin hatinya, pandai, baik-baik dan bertaqwa.”[16]

Sungguh indah gambaran yang dilukiskan Imam Ali as. bagi Syi’ah beliau as. para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Ia adalah ungkapan yang sangat tepat yang menggambarkan kondisi serasi dalam mengombinasikan aktifitas kehidupan mereka. Mereka menguasa mala-malam taktaka kegelapan telah menyelimuti angkasa. Kamu saksikan mereka meletakkan dahi-dahi kerendahan di hadapan Sang Khaliq dalam keadaan khusyu’ dan penuh penghambaan. Mereka meraung-raung menangis mengharap ampunan Allah dan kebebasan dari belenggu ap neraka.

Dan ketika siang datang menyinari bumi, berubalah mereka menjadi para pendekar di ddalam arena perjuangan kehidupan… mereka adalah ulama yang meresap ilmu dan ma’rifahnya tentang Allah SWT…. mereka adalah berhati dingin, pemaaf, bertaqwa dan penyabar serta berjuang tak kenal lelah.

Dzikir dim ala hari, ketaqwaan dan perjuangan dim ala hari… kebuah komposisi seimbang bagi kepribadian seorang Muslim Mukmin yang ideal. Itulah Syi’ah Ali as.!

[1] Amâli ath Thûsi,2/55 dan Bihar al Anwâr,68/151.

[2] Misykât al Anwâr:67.

[3] Ibid.180.

[4] Bihal al Anwâr,2/77.

[5] Al Bihar,68/166.

[6] Bisyâratul Mushthafa:17.

[7] Al Bihâr,68/167.

[8] Ibid.168.

[9] Ibid.266.

[10] Ibid.164.

[11] Bisyâratul Mushthafa:55 dan 174, dan Al Bihâr,68/87.

[12] Bashâir ad Darajât:247 darinya al Bihâr,68/153.

[13] Al Bihâr,68/164.

[14] Al Khishâl,2/58 darinya al Bihâr,68/1490-150.

[15] Shifâtusy Syi’ah:2 dari al Bihâr,68/167 hadis 33.

[16] Al Bihâr,68/191

Perhatian dunia tertuju ke Turki.  Beberapa hari ini, publik dihebohkan dengan terungkapnya sebuah misteri yang terkandung dalam  Injil berusia 1500 tahun yang tersimpan di Turki.

Yang membuat heboh, Injil kuno itu mengungkap sebuah fakta yang mengguncang keimanan, terutama bagi umat Kristiani. Betapa tidak. Injil Barnabas itu mengajarkan ajaran yang berbeda dibanding doktrin Kristen dunia.

pemerintah Turki telah mengkonfimasi sebuah injil kuno yang diprediksi berusia 1500 tahun. Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.

Bahkan Alkitab rahasia ini memicu minat yang serius dari Vatikan. Paus Benediktus XVI mengaku ingin melihat buku 1.500 tahun lalu. Sebagian orang memprediksi Injil ini adalah Injil Barnabas, yang telah disembunyikan oleh Turki selama 12 tahun terakhir.

Menurut mailonline, injil yang ditulis tangan dengan tinta emas itu menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus.

Injil kuno berusia 1.500 tahun ini bersampu kulit hewan, ditemukan polisi Turki selama operasi anti penyeludupan di tahun 2000 lalu. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.

Sebuah fotokopi satu halaman dari naskah kuno tulisan tangan Injil ini dihargai 1,5 juta poundsterling. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay mengatakan, buku tersebut bisa menjadi versi asli dari Injil. Dan sempat tersingkir akibat penindasan keyakinan Gereja Kristen yang menganggap pandangan sesat kitab yang memprediksi kedatangan penerus Yesus.

Gunay juga mengatakan Vatikan telah membuat permintaan resmi untuk melihat kitab dari teks yang kontroversial menurut keyakinan Kristen ini. Kitab ini berada diluar pandangan iman Kristen sesuai Alkitab Injil lain seperti Markus, Matius, Lukas dan Yohanes.

Kontroversi Injil Kuno yang Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad

Injil kuno yang diyakini sebagai Injil Barnabas.

Kontroversi Injil Kuno yang Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad

Penemuan Injil kuno yang memprediksi kedatangan Nabi Muhammad telah memunculkan kontroversi, terutama yang terkait dengan kesamaannya dengan Alquran maupun kontroversi seputar keasliannya.
Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis tersebut.

Walau Injil Barnabas “mengakui” kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. “Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam,” demikian tulis Al-Arabiya, Senin (27/2).

Adanya kontradiksi inilah yang menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas Mahmoud Al-Akkad.

Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, Akkad mengatakan deskripsi neraka dalam Injil Barnabas didasarkan pada informasi yang relatif baru yang tidak tersedia pada saat di mana teks itu seharusnya ditulis. “Sejumlah deskripsi yang tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari sumber-sumber Arab,” ungkapnya.

Akkad menambahkan, kisah Injil Barnabas tentang bagaimana Yesus mengabarkan tentang munculnya Nabi Muhammad kepada kerumunan ribuan pengikutnya amat sulit dipercaya. Injil ini, kata dia, mengandung beberapa kesalahan yang begitu vulgar, baik bagi Yahudi, Kristen, maupun Muslim.

Misalnya, sambung Akkad, kitab itu mengatakan ada sembilan lapis langit dan yang kesepuluh adalah surga. Sementara dalam Alquran hanya ada tujuh lapis langit. Juga klaim Injil yang menyatakan perawan Maria tidak merasakan sakit saat melahirkan Yesus. Padahal, dalam Alquran disebutkan Maryam menderita kesakitan saat melahirkan putranya.

Menurut Injil (Barnabas), Yesus mengatakan kepada imam Yahudi bahwa dirinya bukan Mesiah dan Mesiah sesungguhnya adalah Muhammad SAW. “Ini berarti ada penolakan atas keberadaan Mesiah, yang tak lain adalah Yesus sendiri. Dengan demikian, seolah-olah Yesus dan Muhammad tampak seperti satu orang yang sama,” kata Akkad.

Kitab Injil ini juga berisi informasi yang tidak memiliki kredibilitas sejarah, seperti adanya tiga tentara—masing-masing terdiri dari 200.000 tentara—di Palestina. Sedangkan seluruh penduduk Palestina sekitar 2.000 tahun lalu, tidak mencapai 200.000. Tragisnya, Palestina saat itu diduduki oleh Romawi, dan tak mungkin diizinkan memiliki bala tentara sendiri.

Demikian pula, lanjut Akkad, kalimat terakhir dalam Bab 217 yang menyatakan bahwa tubuh Yesus dibebani 100 pon batu. “Ini menegaskan bahwa Injil tersebut ditulis baru-baru ini, karena penggunaan pon sebagai satuan berat untuk pertama kali dilakukan oleh Dinasti Ottoman, dalam sebuah eksperimen dengan Italia dan Spanyol. Dan kata-kata “pon” tidak pernah dikenal pada masa Yesus,” paparnya.

Menurut Akkad, salah satu fakta paling mencolok yang disebutkan dalam Injil Barnabas terdapat dalam Bab 53, yang mengatakan bahwa pada Hari Kiamat bulan akan berubah menjadi balok darah. Dan pada hari kedua, darah ini akan menetes ke bumi seperti embun. Kemudian pada hari ketiga, bintang-bintang akan bertempur laksana serdadu perang.

“Berdasarkan sejumlah penelitian, Injil Barnabas ditulis pada Abad Pertengahan oleh seorang Yahudi Eropa yang cukup akrab dengan Alquran dan Injil. Dia kemudian mencampur-adukkan fakta dan opini dari berbagai sumber, tanpa diketahui motif dan tendensinya,” tandas Akkad.

Antara Pendeta Buhaira, Kerasulan Muhammad, Injil Kuno, dan Kristen Suriah

Saat Muhammad SAW berusia 12 tahun, Abu Thalib — sang paman — hendak melakukan ekspedisi niaga dari Makkah ke Syam (Suriah). Melihat sang paman akan pergi jauh, Muhammad berkata, “Paman, mengapa kau tak mengajakku? Aku tidak memiliki pelindung selain dirimu.”
Abu Thalib pun tak tega meninggalkan keponakan kesayangannya seorang diri di Makkah. Ia lalu mengangkat tubuh Muhammad dan mendudukkannya di atas hewan tunggangan. Kafilah dagang dari Quraisy pun menempuh perjalanan darat menuju Syam.

Hingga akhirnya, kafilah itu tiba di sebuah tempat pertapaan di Bushra, antara Syam dan Hijaz. Di sana mereka bertemu dengan seorang rahib bernama Buhaira. Sang rahib takjub menyaksikan anak laki-laki yang bernama Muhammad itu.

Betapa tidak, awan selalu bergerak memayungi ke mana pun Muhammad kecil melangkah. Sang rahib pun segera menghampiri calon nabi dan rasul terakhir itu. Buhaira memeriksa sekujur tubuh Muhammad untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.

Ia akhirnya menemukan tanda kenabian itu di punggung Muhammad, di antara kedua pundaknya, lalu ia mencium tanda itu. Menyaksikan tanda-tanda kenabian itu, sang rahib pun berpesan kepada Abu Thalib agar menjaga keponakannya itu dengan hati-hati, karena dia adalah calon rasul yang dinanti umat manusia.

Prediksi Buhaira dari Kota Bushra itu menjadi kenyataan. Ketika menginjak usia 40 tahun, Muhammad memperoleh wahyu saat menyendiri di Gua Hira. Nabi Muhammad menjadi rasul penutup bagi umat manusia yang hidup di akhir zaman.

***

Baru-baru ini, Pemerintah Turki mengumumkan penemuan Injil kuno yang berusia 1500 tahun. Yang mencengangkan, Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.

Menurut mailonline,  injil yang ditulis tangan dengan tinta emas itu menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus.

Injil kuno berusia 1.500 tahun ini bersampu kulit hewan, ditemukan polisi Turki selama operasi anti penyeludupan di tahun 2000 lalu. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.

Komunitas Kristen Suriah mengklaim kepemilikan injil kuno tersebut. Komunitas itu telah mengirim surat resmi kepada Menteri Kebudayaan Turki, Ertugrul Gunay untuk mengembalikan kitab suci tersebut kepada mereka.

Kepala Budaya Komunitas Kristen Suriah, Sabo Hanna mengatakan, Alkitab bersejarah memiliki makna material yang besar bagi umat Kristiani. “Jika Turki tidak menyerahkannya, maka ia meminta Turki membuka akses bersama dengan membangun museum di distrik Midyat, Suriah,” ujarnya kepada Hurriyet Daily News, Jumat (2/3).

***

Sebenarnya, siapakah Komunitas Kristen Suriah ini? Komunitas Kristen Suriah ini adalah penganut Kristen ortodok di wilayah Arab mulai dari Libanon, Suriah, hingga perbatasan Turki.  Penganut Kristen ini telah menggunakan bahasa Aramik sejak awal berdirinya gereja mereka.

Karena itu mereka meyakini injil yang dipamerkan di Turki adalah bagian dari sejarah mereka. “Banyak biara-biara pada awal Kristen di wilayah Suriah di tenggara Turki, telah dijarah oleh Turabidin. Karena itu kami minta agar Injil kuno itu dikembalikan,” Kepala Budaya Komunitas Kristen Suriah, Sabo Hanna kepada Hurriyetdaily, Jumat (2/3).

Kelompok Kristen Suriah ini telah menyebar hingga ke Eropa, kurang lebih delapan perwakilan komunitas ini diseluruh eropa. Kelompok Kristen ini juga menyebar di Asia Kecil dengan kitab teks Yunani dan bahasa Aram. Meski begitu,  belum dilakukan penelitian secara mendalam apakah Injil ini benar memiliki keterkaitan dengan Kristen Suriah.

Injil kuno berusia 1500 tahun menjadi perhatian, setelah dipublikasikan oleh pemerintah Turki. Kontroversi injil ini pun muncul, ketika isi dari ajaran injil ini yang meyakini Yesus sebagai Nabi. Dan memprediksi akan kedatangan Nabi Muhammad SAW, setelah Yesus.

Penemuan itu juga bahkan menarik perhatian Vatikan. Pemerintah Turki telah mengkonfirmasi permintaan Paus Benediktus sebagai pemimpin tertinggi Vatikan untuk meneliti injil ini. Diyakini injil berusia 1500 tahun ini adalah manuskrip terakhir dari ajaran Barnabas tentang Keesaan Tuhan dan Kenabian Yesus.

    

Inilah Isi Injil Barnabas Tentang Kerasulan Muhammad SAW

Injil Kuno

Inilah Isi Injil Barnabas Tentang Kerasulan Muhammad SAW

Penemuan Injil kuno yang diyakini berusia 1500 tahun telah membuat heboh. Yang membuat gempar, Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.
Sebagian orang memprediksi injil tersebut adalah Injil Barnabas. Menurut mailonline,  injil yang tersimpan di Turki itu ditulis tangan dengan tinta emas menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.

Dalam Injil Barnabas memang diungkapkan tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, setelah Nabi Isa. Berikut ini isi Injil Barnabas yang menyebut tentang Nabi Muhammad:

  • Bab 39 Barnabas: ”Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Allah Tuhan kita… Tiada Tuhan Selain Allah dan dan Muhammad adalah utusan-Nya”.

Masih pada bab 39 yang mengisahkan tentang Nabi Adam, nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam dialog antara Nabi Adam dengan Tuhan. ”…Apa arti kata-kata, Muhammad utusan Allah, apakah ada manusia sebelum aku?”

  • Bab 41 Barnabas:  “Atas perintah Allah, Mikael mengusir Adam dan Hawa dari surga, kemudian Adam keluar dan berbalik melihat tulisan pada pintu surga ‘Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah…”
  • Bab 44 Barnabas: Pada bab ini Yesus atau Nabi Isa menyebut nama Nabi Muhammad. ”Oh, Muhammad Tuhan bersamamu…”
  • Bab 97: Yesus menjawab, “Nama Mesias sangat mengagumkan, karena Allah sendiri yang memberinya nama, ketika menciptakan jiwanya dan menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: ‘Tunggu Muhammad; karena kamu Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan banyak  makhluk… Siapa pun yang memberkatimu akan diberkati, dan barangsiapa mengutukmuu akan dikutuk..”
  • Bab 112: Dalam bab ini Nabi Isa (Yesus) bercerita kepada Barnabas bahwa dirinya akan dibunuh. Namun, kata Nabi Isa, Allah aka membawanya naik dari bumi. Sedangkan orang yang dibunuh sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu adalah Nabi Isa. ”Tetapi Muhammad akan datang… Rasul Allah yang suci,” kata Nabi Isa. Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220. Isi Injil Barnabas di atas dikutip dari barnabas.net.

***

Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis tersebut.

Walau Injil Barnabas “mengakui” kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. “Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam,” demikian tulis Al-Arabiya, Senin (27/2).

Adanya kontradiksi inilah yang menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas Mahmoud Al-Akkad.

Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, Akkad mengatakan deskripsi neraka dalam Injil Barnabas didasarkan pada informasi yang relatif baru yang tidak tersedia pada saat di mana teks itu seharusnya ditulis. “Sejumlah deskripsi yang tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari sumber-sumber Arab,” ungkapnya.

Seorang pendeta Protestan Ihsan Ozbek mengatakan Injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara Barnabas, yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad pertama.

“Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah seorang pengikut Barnabas,” kata dia. Sebab, lanjutnya, ada jeda 500 tahun antara Barnabas dan penulisan salinan Inkjil. “Umat Islam mungkin akan kecewa bahwa Injil ini tidak ada hubungannya dengan injil Barnabas,” ujarnya.

Sementara Profesor Omer Faruk menilai Injil kuno itu perlu ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas atau pengikutnya.

Misteri Injil Kuno Pengungkap Kerasulan Muhammad SAW

Sebuah Injil berusia 1.500 tahun yang menceritakan kedatangan Nabi Muhammad SAW ditemukan di Turki

Misteri Injil Kuno Pengungkap Kerasulan Muhammad SAW

Perhatian dunia tertuju ke Turki.  Beberapa hari ini, publik dihebohkan dengan terungkapnya sebuah misteri yang terkandung dalam  Injil berusia 1500 tahun yang tersimpan di Turki.

Yang membuat heboh, Injil kuno itu mengungkap sebuah fakta yang mengguncang keimanan, terutama bagi umat Kristiani. Betapa tidak. Injil Barnabas itu mengajarkan ajaran yang berbeda dibanding doktrin Kristen dunia.

Ya, Injil Barnabas itu meyakini Yesus (Isa) sebagai utusan, bukan Tuhan. Menurut Huffingtonpost, Injil Barnabas pun  meyakini adanya utusan (nabi) penerus risalah Isa, yang berasal keturunan Nabi Ismail, yakni Nabi Muhammad SAW.

Barnabas dipercayai sebagai salah seorang murid Isa di Yerussalem. Barnabas yang bernama asli Yusuf, bersama para murid lainnya menyebarkan ajaran Isa. Barnabas adalah seorang Yahudi suku Lewi yang berasal dari Siprus. Dalam Wikipedia, Hajj Sayed berpendapat. terdapat pertikaian antara Paulus dan Barnabas dalam surat Galatia ketika keduanya menjalani misi dakwah menuju Syprus (45-49 M).

Ini yang mendukung perbedaan injil Barnabas dengan ajaran Paulus. Injil Barnabas ini berbeda dengan Kodeks Sinaiticus, karena menggunakan bahasa Aramik bukan Yunani kuno. Bahasa Aramik diyakini sebagai bahasa yang digunakan Nabi Isa atau Yesus. Berbeda dengan berbagai Injil lainnya, kitab Barnabas diyakini ditulis Barnabas selama berada di Siprus, setelah berpisah dari Paulus.

Di Siprus inilah pengikut Barnabas berkembang hingga lebih dari seribu tahun. Bila ditelusuri ada benang merah pengungkapan Injil Barnabas di Turki dengan tempat ajaran Barnabas yang berkembang di Siprus.

Ada sebuah biara di utara Siprus Turki yang disebut sebagai Biara Rasul St Barnabas, yang didirikan oleh pengikut setia sekte Barnabas. Dan di dalam biara inilah diyakini Barnabas dikuburkan hingga ia meninggal dunia. Pengikut sekte Barnabas inilah yang diyakini menulis ulang Injil Barnabas pada abad ke-5 masehi.

Sekitar 1980-an, biara ini telah dirampok oleh sekelompok orang. Mereka menggali lantai dan dinding biara selama malam hari. Tidak diketahui apa yang mereka incar. Diduga sekelompok orang itu telah mencuri sesuatu terkubur di dalam dinding.

Seorang wartawan Siprus mengklaim telah menemukan salinan Alkitab yang sangat kontroversial dari St Barnabas. Ia kemudian mencoba menyelidiki fakta itu. Tak lama kemudian, ia temukan tewas tertembak.

Sekitar 12 tahun lalu, polisi Turki dalam sebuah operasi menemukan sebuah Alkitab tua dari seorang warga siprus yang hijrah ke Turki. Ada beberapa rumor tentang kabar itu. Pihak polisi tak membenarkan dan menolak kabar itu.

Puncaknya, tiga hari lalu, sebuah Alkitab tersebut telah dipublikasikan untuk pertama kalinya setelah 12 tahun disimpan pemerintah Turki. Saat ini Alkitab ini disimpan di museum negara Turki dan telah menjadi perhatian dunia termasuk dari Vatikan.

Ditemukan, Injil yang Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad

Sebuah Injil berusia 1.500 tahun yang menceritakan kedatangan Nabi Muhammad SAW ditemukan di Turki. Kabarnya, Gereja Vatikan telah meminta secara resmi kepada pemerintah Turki untuk melihat Injil yang tersimpan selama 12 tahun di negara tersebut.
Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugul Gunay mengatakan sejalan dengan keyakinan Islam, Injil ini memperlakukan Yesus sebagai manusia bukan Tuhan. Fakta ini, sekaligus menolak ide konsep tritunggal dan penyaliban Yesus.

“Disebutkan injil ini, Yesus berkata kepada salah seorang pendeta, bagaimana kami memanggil mesias? Muhammad adalah nama yang diberkati,” kata dia membacakan salah satu ayat dalam Injil seperti dikutip alarabiya.net, Senin (27/2).

Gunay menuturkan dalam injil ini juga disebutkan Yesus sendiri menyangkal menjadi Mesias. Yesus mengatakan bahwa Mesias itu adalah keturunan Ismail yakni orang Arab.

Sebelumnya, Umat Islam sendiri mengklai pesan kedatangan Muhammad SAW juga terdapat dalam injil Barnabas, Markus, Matius, Lukas dan Yohannas.

Gunay mengatakan pihak Vatikan telah meminta salinan injil tersebut saat Injil tersebut hendak diselundupkan ke luar Turki pada tahun 2000. Kini, Injil tersebut berada dalam brankas pengadilan Ankara. Nantinya, Injil tersebut akan diserahkan kepada Museum Etnografi Ankara.

Meski demikian, kalangan Gereja skeptis dengan keaslian Injil tersebut. Seorang pendeta Protestan Ihsan Ozbek mengatakan Injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara Barnabas, yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad pertama.

“Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah seorang pengikut Barnabas,” kata dia.

Sebab, lanjutnya, ada jeda 500 tahun antara Barnabas dan penulisan salinan Inkjil. “Umat Islam mungkin akan kecewa bahwa Injil ini tidak ada hubungannya dengan injil Barnabas,” ujarnya.

Sementara Profesor Omer Faruk menilai Injil itu perlu ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas atau pengikutnya.

Allah Akbar, Injil Kuno Ini Kabarkan Kedatangan Rasulullah

Pemerintah Turki telah mengkonfimasi sebuah injil kuno yang diprediksi berusia 1500 tahun. Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.
Bahkan Alkitab rahasia ini memicu minat yang serius dari Vatikan. Paus Benediktus XVI mengaku ingin melihat buku 1.500 tahun lalu. Sebagian orang memprediksi Injil ini adalah Injil Barnabas, yang telah disembunyikan oleh Turki selama 12 tahun terakhir.

Menurut mailonline,  injil yang ditulis tangan dengan tinta emas itu menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus.

Injil kuno berusia 1.500 tahun ini bersampu kulit hewan, ditemukan polisi Turki selama operasi anti penyeludupan di tahun 2000 lalu. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.

Sebuah fotokopi satu halaman dari naskah kuno tulisan tangan Injil ini dihargai 1,5 juta poundsterling. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay mengatakan, buku tersebut bisa menjadi versi asli dari Injil. Dan sempat tersingkir akibat penindasan keyakinan Gereja Kristen yang  menganggap pandangan sesat kitab yang memprediksi kedatangan penerus Yesus.

Gunay juga mengatakan Vatikan telah membuat permintaan resmi untuk melihat kitab dari teks yang kontroversial menurut keyakinan Kristen ini. Kitab ini berada diluar pandangan iman Kristen sesuai Alkitab Injil lain seperti Markus, Matius, Lukas dan Yohanes.

    

Paus Ingin Ungkap Rahasia Injil Kuno Berusia 1500 Tahun

Injil Kuno

Paus Ingin Ungkap Rahasia Injil Kuno Berusia 1500 Tahun

Paus Benediktus XVI telah membuat permintaan untuk mengungkap rahasia Alkitab kuno berusia 1500 tahun. Permintaan resmi itu telah disampaikan Vatikan kepada pemerintah Turki, senin (27/2).

Vatikan ingin mengungkap kontroversi Injil ini dengan ajaran dan dogma Kriten juga dibanding injil lain. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay telah mengkonfirmasi permintaan Vatikan ini.Injil yang ditulis dengan tinta emas ini menggunakan bahasa Aramik, bahasa yang dipercayai digunakan Yesus. Alkitab berusia 1.500 tahun tersebut diduga, adalah Injil Barnabas dan bernilai lebih dari 20 juta dolar AS.Pemerintah Turki telah menyembunyikan injil ini selama 12 tahun terkahir.
Buku itu ditemukan oleh polisi Turki dalam operasi anti-penyelundupan pada tahun 2000 dan terus dijaga selama 10 tahun.Alkitab ini jauh berbeda dengan empat injil utama Kristen, Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Hal itu dikarenakan, Alkitab ini berisi prediksi kedatangan seorang nabi setelah Isa (Yesus). Dan dianggap inilah ajaran versi asli Injil.Selain itu, adalah versi yang lebih konsisten dengan keyakinan Islam dari Kristen. Alkitab ini menolak dogma Tritunggal dan Penyaliban. Hal ini juga menggambarkan Yesus menolak Mesias dan mengklaim penerusnya berasal dari keturuan Ismael (Arab)
.

Bukti Injil Kuno Mengungkap Nabi Muhammad Adalah Mesiah

Image

Berita tentang Injil kuno yang mengungkap tentang Nabi Muhammad yang diutus untuk menjadi Nabi ternyata sudah sangat lama diberitakan oleh seorang Yesus di Bibel / Injil kuno.

Injil kuno yang berumur 1.500 tahun ini telah mengungkap tentang hal tersebut. Saat ini Injil kuno tersebut sudah tersimpan selama 12 tahun didalam sebuah brankas barang bukti di pengadilan Turki.

Menteri Budaya dan Wisata Turki Ertugrul Gunay menerangkan, bahwa saat ini pihak Vatikan sangat ingin sekali melihat Injil kuno tersebut, bahkan Paus Benediktus XVI juga sangat berharap bisa melihatnya langsung.

Dalam sebuah kutipan Daily Mail, Ahad (26/2), diterangkan mengenai Injil kuno tersebut bernilai lebih dari 22 juta dollar AS, didalam Injil kuno tersebut berisi mengenai prediksi Yesus tentang kedatangan Nabi Muhammad. Tetapi, bertahun-tahun berita tentang hal itu ditutup-tutupi.

“Sejalan dengan pandangan Islam, kitab Injil kuno juga menjelaskan bahwa Yesus hanyalah seorang manusia biasa, bukan sosok Tuhan,” jelasnya.

Hal ini, ungkap Gunay, tentu isi Injil kuno tersebut menolak dengan tegas konsep trinitas. Dikatakan bahwa Yesus atau Nabi Isa juga pernah ditanya oleh seorang pendeta pada sebuah pertanyaan tentang siapa yang dinyatakan sebagai mesiah. Lalu, Nabi Isa atau Yesus menjawab dengan tegas, Muhammad adalah nama yang diberkati. Pada bagian lainnya, Yesus menepis anggapan jika dirinyalah seorang mesiah, sebeliknya ia tetap merujuk pada seorang keturunan dari bani Ismail.

Laporan Daily Mail menyebutkan, Muslim mengklaim kitab yang disebut Gospel of Barnabas itu merupakan kitab lain dari empat kitab yang ada, yaitu Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Barnabas secara tradisional dikenal sebagai pendiri gereja pada masa awal kristen. Gunay menambahkan, Vatikan sudah menyatakan dengan secara resmi untuk meminta melihat Bibel kuno tersebut.

Ia mengisahkan, kitab itu ditemukan saat terjadi operasi antipenyelundupan pada 2000. Pihak berwenang Turki menyitanya dari sebuah jaringan penyelundupan yang dikenal menyelundupkan berbagai barang berharga, termasuk Bibel dan artefak. Saat ini Bibel kuno dan artefak tersebut disimpan di pengadilan Ankara sebagai barang bukti.

Menurut Gunay, selanjutnya barang itu diserahkan ke Ankara Ethnographi Museum dan diperlihatkan kepada publik. Meski, ada keraguan mengenai keaslian Bibel yang disimpan di Ankara itu. Ihsan Ozbek, seorang pastor Protestan, mengatakan bahwa versi kitab ini dalam keterangan Gunay berasal dari abad kelima atau keenam Masehi, padahal, ucap dia, Barnabas hidup pada abad pertama.

“Salinan Bibel di Ankara kemungkinan ditulis oleh salah
satu pengikut Barnabas,” kata Ozbek kepada surat kabar Turki, Today Zaman. Karena ada jeda waktu 500 tahun antara masa kehidupan Barnabas dan penulisan salinan kitab, imbuh dia, Muslim bisa jadi akan kecewa karena salinan itu tak terkait dengan keyakinan mengenai apa yang ingin mereka temukan dalam Bibel kuno tersebut.

Ia menyimpulkan, tak ada kaintan antara salinan di Ankara dengan isi Gospel of Barnabas. Tapi, semuanya akan terungkap melalui pembuktian dengan menggunakan teknologi. Profesor Teologi, Omer Faruk Harman, mengatakan, umur sebenarnya Bibel kuno tersebut bisa tersingkap dengan metode sainstifik dan tentu akan diketahui siapa yang menuslinya, Barnabas atau pengikutnya.

Hal yang sangat lucu atas ucapan dari Pastor Ihsan Ozbek adalah ia sudah berani membuat analias sendiri sebelum fakta pembuktian mengenai Bibel tersebut berjalan, sedangkan ia belum pernah melihat isi dari Bibel kuno tersebut. Terkesan sekali ada ketakutan pihak kristen jika Bibel kuno itu mengungkapkan kebenaran mengenai Islam dan kedatangan Nabi Muhammad Saw.

Image

ghadir kum dan ulil amri yang ditinggalkan sunni

MEDIEVAL II: TOTAL WAR ~ SB

Surat AN-NISA’: 59
Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya? Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Fakhrur Razi
Fakhrur Razi mengatakan: Pembatasan kata Ulil-amri dengan kata minkum menunjukkan salah seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, yaitu orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan Ishmah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah). Yang perlu diragukan adalah pendapat yang mengatakan: Mereka (Ulil-amri) adalah satu kesatuan pemimpin, yang ketaatan kepada masing-masing mereka hukumnya wajib

.

Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah masyhur digunakan dalam bahasa Al-Qur’an, misalnya: “janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)” (Al-Qalam: 8), “Janganlah kamu mentaati orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 52), dan ayat-ayat yang lain dalam bentuknya yang bermacam-macam: kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita, kalimat perintah dan larangan.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Tafsir Al-Manar
Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan

.

Inikah maksud dari Ulil-amri? Pendapat ini dan yang punya pandangan seperti ini telah menutupi makna Al-Qur’an yang sempurna dengan makna yang tidak jelas. Ayat ini mengandung makna yang jelas yaitu Ismah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah) bagi Ulil-amri. Karena ketaatan kepada Ulil-amri bersifat mutlak, dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

.
Apakah yang mempunyai sifat kesucian (‘ishmah) adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu sehingga mereka dikatagorikan sebagai orang-orang yang ma’shum? Yang jelas tidak pernah terjadi para Ahlul hilli wal-‘Iqdi yang mengatur urusan ummat, mereka semuanya ma’shum. Mustahil Allah swt memerintahkan sesuatu yang penting tanpa mishdaq (ekstensi) yang jelas. Dan mustahil sifat ‘ishmah dimiliki oleh lembaga yang orang-orangnya tidak ma’shum, bahkan yang sangat memungkinkan mereka berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Pendapat mereka ini jelas salah dan mengajak pada kesesatan dan kemaksiatan. Mungkinkah Allah mewajibkan kita taat kepada orang-orang seperti mereka?

.

Pendapat Ahlul Bait (as)
Ulil-amri adalah Ali bin Abi Thalib dan para Imam suci (as).

Dalam Tafsir Al-‘Ayyasyi tetang ayat ini menyebutkan bahwa:
Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata tentang ayat ini: “Mereka itu adalah para washi Nabi saw.”
Tentang ayat ini Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari Ahlul bait Rasulullah saw.”
Tentang ayat ini Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari kiamat.”

.

Dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah disebutkan suatu riwayat dari Salim bin Qais Al-Hilali, ia berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Yang paling dekat bagi seorang hamba terhadap kesesatan adalah ia yang tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka wa Ta’ala. Karena Allah telah menjadikannya sebagai hujjah bagi hamba-hamba-Nya, dia adalah orang yang kepadanya Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaatinya dan mewajibkan untuk berwilayah kepadanya

.
Salim berkata: Wahai Amirul mukmin, jelaskan kepadaku tentang mereka (Ulil-amri) itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang ketaataannya kepada mereka Allah kaitkan pada diri-Nya dan Nabi-Nya.” Kemudian ia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Ulil-amri kalian.”
Salim bin Qais berkata: Wahai Amirul mukminin, jadikan aku tebusanmu, jelaskan lagi kepadaku tentang mereka itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasulullah saw disampaikan di berbagai tempat dalam sabda dan khutbahnya, Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku: Kitab Allah dan ‘itrahku, Ahlul baitku’.”

.

Riwayat hadis ini dan yang semakna dengan hadis tersebut terdapat dalam:

1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat ini.
2. Tafsir Ath-Thabari tentang ayat ini.
3. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3 halaman 357, tentang ayat ini.
4. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134, cet. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul.
5. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
6. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 424, cet. pertama, Teheran.
7. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

.

Hadis tentang dua belas Imam redaksinya bermacam-macam, saya hanya menyebutkan sebagian saja:
1. Dalam Shahih Bukhari juz 4, kitab Ahkam:
Diriwayatkan oleh Jabir bin Sammarah, ia berkata bahwa Nabi saw bersabda:

يكون بعدي إثنا عشر أميراً، فقال كلمة لم أسمعها، فقال أبي أنه قال كلهم من قريش

“Sesudahku ada dua belas amir (pemimpin)”. Kemudian beliau menyabdakan suatu kalimat yang aku tidak mendengarnya; lalu ayahku mengatakan bahwa Nabi saw bersabda: “Mereka semuanya dari golongan Quraisy.”

2. Dalam Shahih Muslim, bermacam-macam redaksi:

جابر بن سمرة قال دخلت مع أبي على النبي (صلى الله عليه وآله) فسمعته يقول (إن هذا الامر لا ينقضي حتى يمضي فيهم إثنا عشر خليفة) قال ثم تكلم بكلام خفي علي قال: فقلت لابي ما قال، قال «كلهم من قريش»

Jabir bin Sammarah berkata: aku bersama ayahku datang kepada Nabi saw, lalu aku mendengar beliau bersabda: “Sungguh persoalan ini tidak akan selesai sehingga berada di bawah pimpinan dua belas khalifah.” Kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat yang tidak jelas bagiku. Kemudian aku bertanya kepada ayahku tentang apa yang diucapkan oleh beliau. Ayahku berkata bahwa Nabi saw bersabda: “semuanya dari quraisy.” (Shahih Muslim jilid 4, halaman 79).

Nabi saw bersabda:

لا يزال الدين قائماً حتى تقوم الساعة ويكون عليهم إثنا عشر خليفة كلهم من قريش

“Agama akan selalu tegak sampai hari kiamat di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari golongan quraisy.” (Shahih Muslim jilid 2, bab manusia mengikuti Qurasy). Sebagian lagi redaksinya:

لا يزال الاسلام عزيزاً إلى اثنى عشر خليفة كلهم من قريش

“Islam selalu mulia di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari quraisy.” Redaksi yang lain:

لا يزال أمر الناس ماضياً ما وليهم إثنا عشر رجلاً كلهم من قريش

“Persoalan manusia senantiasa sempurna di bawah pimpinan dua belas orang, semuanya dari quraisy.” Sebagian redaksinya:

لا يزال هذا الدين عزيزاً منيعاً إلى إثنا عشر خليفة كلهم من قريش

“Agama ini akan selalu mulia dan terjaga di bawah pimpinan dua belas khalifah, semuanya dari quraisy.”

3. Shahih At-Turmidzi, jilid 2:

لا يزال الاسلام عزيزاً إلى اثنى عشر امـيرا كلهم من قريش

“Islam akan selalu tegak di bawah pimpinan dua belas amir yang semuanya dari quraisy.”

4. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 398:

عن الشعبي عن مسروق قال كنا جلوساً عند عبد الله بن مسعود وهو يقرئنا القرآن فقال له رجل يا أبا عبد الرحمن هل سألتم رسول الله (صلى الله عليه وآله) كم تملك الامة من خليفة فقال عبد الله بن مسعود ما سألني عنها أحد منذ قدمت العراق قبلك ثم قال نعم ولقد سألنا رسول الله (صلى الله عليه وآله)فقال اثنا عشر كعدة نقباء بني إسرائيل

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi dari Masyruq, ia berkata, aku pernah duduk-duduk dengan Abdullah bin Mas’ud, ia membacakan ayat Al-Qur’an kepada kami. Kemudia ada seseorang bertanya kepadanya: wahai Aba Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasulullah saw berapa jumlah khalifah yang akan memimpin ummat. Kemudian Ibnu Mas’ud menjawab: Ya, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw, lalu beliau bersabda: “Dua belas khalifah seperti jumlah pemimpin Bani Israil.”

Dalam redaksi yang lain:

عن جابر بن سمرة قال سمعت رسول الله (صلى الله عليه وآله) يقول في حجة الوداع لا يزال هذا الدين ظاهراً على من ناواه ولا يضره مخالف ولا مطارق حتى يمضي من امتي إثنا عشر أميراً كلهم من قريش

Diriwayatkan dari Jabir bin Sammarah, ia berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda dalam haji wada’: “Agama ini selalu jelas pada orang yang bermaksud padanya, dan membahayakan padanya orang yang menentang dan menyerangnya, sehingga berlalu dari ummatku dua belas amir yang semuanya dari quraisy.” (Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 5, halaman 89).

5. Shawa’iqul Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 11, pasal 2:

عن جابر بن سمرة أن النبي صلى الله عليه وآله قال: «يكون بعدي إثنا عشر أميراً كلهم من قريش.

Diriwayatkan dari Jabir bin Sammarah bahwa Nabi saw bersabda: “Akan ada sesudahku dua belas amir semuanya dari quraisy.”

6. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi, jilid 6, halaman 160:

عن النبي صلى الله عليه وآله أنه قال: يكون بعدي إثنا عشر خليفة

Dari Nabi saw, beliau bersabda: “Akan ada sesudahku dua belas khalifah.”

7. Dalam Kitab Yanabi’ul Mawaddah oleh Al-Qunduzi Al-Hanafi, bab 95:

جابر بن عبدالله قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله) يا جابر أن اوصيائي وأئمة المسلمين من بعدي أولهم علي، ثم الحسن، ثم الحسين، ثم علي بن الحسين، ثم محمد بن علي المعروف بالباقر ستدركه يا جابر فإذا لقيته فاقراه مني السلام، ثم جعفر بن محمد، ثم موسى بن جعفر، ثم علي بن موسى، ثم محمد بن علي، ثم علي بن محمد، ثم الحسن بن علي، ثم القائم اسمه اسمى وكنيته كنيتي ابن الحسن ابن علي ذاك الذي يفتح الله تبارك وتعالى على يديه مشارق الارض ومغاربها، ذاك الذي يغيب عن أوليائه غيبة لا يثبت القول بامامته الا من امتحن الله قلبه للايمان قال جابر: فقلت يا رسول الله فهل للناس الانتفاع به في غيبته؟ فقال اي والذي بعثني بالنبوة انهم يستضيئون بنور ولايته في غيبته كانتفاع الناس بالشمس وان سترها سحاب هذا سر مكنون سر الله ومخزون علم الله فاكتمه الا عن أهله

Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Wahai Jabir, sesungguhnya para washiku (penerima wasiatku) dan para Imam kaum muslimin sesudahku adalah pertama Ali, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Al-Baqir dan kamu akan menjumpainya wahai Jabir, dan jika kamu menjumpainya sampaikan padanya salamku; kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Al-Hasan bin Ali; kemudian Al-Qaim, namanya sama dengan namaku, nama panggilannya sama dengan nama panggilanku, yaitu putera Al-Hasan bin Ali, di tangan dialah Allah tabaraka wa ta’ala membuka kemenangan di bumi bagian timur dan barat, dialah yang ghaib dari para kekasihnya, ghaib yang menggoncangkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya kecuali orang yang hatinya telah Allah uji dalam keimanan. Kemudian Jabir berkata, aku bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, apakah manusia memperoleh manfaat dalam keghaibannya? Nabi menjawab: Demi Zat Yang Mengutusku dengan kenabian, mereka memperoleh cahaya dari cahaya wilayahnya (kepemimpinannya) dalam keghaibannya seperti manusia memperoleh manfaat cahaya matahari walaupun matahari itu tertutup oleh awan; inilah rahasia Allah yang tersimpan dan ilmu Allah yang dirahasiakan, Allah menyimpannya kecuali dari ahlinya.

.

Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum, setelah haji wada’, di hadapan kurang lebih 150.000 sahabat, di bawah terik matahari yang sangat panas, sambil memegang tangan Imam Ali bin Abi Thalib (as). Hadis Al-Ghadir adalah hadis yang paling mutawatir, tidak ada satupun hadis Nabi saw yang melebihi kemutawatiran hadis Al-Ghadir.

من كنت مولاه فعـلي مولاه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

من كنت مولاه فإنّ عليّاً مولاه، اللهمّ عاد من عاداه ووال من والاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpinnya, maka sesungguhnya Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, musuhi orang yang memusuhinya, dan cintai orang yang mencintainya.”

Zaid bin Arqam juga mengatakan bahwa Rasulullah saw:

من كنت وليّه فهذا وليّه، اللهمّ وال من والاه وعاد من عاداه

“Sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin setiap mukmin.” Kemudian beliau memegang tangan Ali (as) seraya bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan pemimpinnya, maka ini adalah pemimpinnya. Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhi orang yang memusuhinya.”

من كنت مولاه فهذا عليّ مولاه

“Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpin, maka ini Ali adalah pemimpinnya.”

Hadis-hadis tersebut terdapat di dalam:
1. Shahih Muslim, jilid 4/1873, Dar Fikr, Bairut.
2. Shahih Tirmidzi, jilid 5, halaman 297, hadis ke 3797.
3. Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 45, hadis ke 121.
4. Musnad Ahmad jilid 5, halaman 501, hadis ke18838, halaman 498, no: 18815, cet Bairut.
5. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368 dan 372.
6. Musnad Ahmad bin Hamnbal, jilid 1, halaman 88, cet.pertama; jilid 2, halaman 672, dengan sanad yang shahih; jilid 4, halaman 372. cet. Pertama.
7. Khashaish Amirul mu’minin (as), halaman 96, cet Kuwait 1406 H.
8. Fadhilah ash-Shahabah, halaman 15, Dar kutub ilmiyah, Bairut.
9. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 533, Dar fikr, Bairut 1398 H.
10. Majma’ az-Zawaid, jilid 9, halaman 104-105, Dar kitab Al-Arabi, Bairut 1402 H.
11. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 213, hadis ke: 271,277,278,279,281,460,461 dan 465; jilid 2, halaman 14, hadis ke: 509,510,519,520,524,525,529,530,531,533,534,536,537,538,540,541,542,551,554,555,556,557,563,564,574,575,577,578,579 dan 587,cet. Pertama, Bairut.
12. Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami Asy-Syafi’I, jilid 9, halaman: 103,105,106,107 dan 108.
13. Kanzul ‘Ummal jilid 15, halaman: 91,92,120,135,143,147 dan 150, cetakan. Kedua.
14. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 94,95 dan 50, cet. Al-Haidariyah.
15. Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110.
16. Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 26.
17. Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 5, halaman 369; jilid3, halaman 274; jilid 5, halaman 208.
18. Jami’ul Ushul, oleh Ibnu Atsir, jilid 9, halaman 468.
19. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 79,94 dan 95.
20. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 182.
21. Nizham Durar As-Samthin, oleh Az-Zarnadi Al-Hanafi, halaman 112.
22. Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I, halaman 19, hadis ke: 24,23,30,31,32,34 dan 36.
23. Al-Hawi, oleh As-Suyuthi, jilid 1, halaman 122.
24. Al-jarh wat-Ta’dil, oleh Abi Hatim, jilid 4, halaman 431, cet. Haidar Abad.
25. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman: 31,33,36,37,38,181,187,274.
26. Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67.
27. Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305,372 dan 567; jilid 2, halaman 257,382,408 dan 509; jilid 3, halaman 542; jilid 4, halaman 80.
28. Al-Aghani, oleh Abil Farj Al-Isfahan, jilid 8, halaman 307.
29. Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’I, halaman 169, cet. As-Sa’adah, Mesir; halaman 65, cet Al-Maimaniyah, Mesir.
30. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 275.
31. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman: 58,60,62 dan 286, cet. Al-Ghira.
32. Al-Imamah was Siyasah, oleh Ibnu Qataibah, jilid 1, halaman 101.
33. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 157, hadis ke: 210,212 dan 213.
34. Sirr Al-‘Alamin, oleh Al-Ghazali, halaman 21.
35. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-Umari, jilid 3, halaman 243.
36. Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 222,223 dan 224.
37. At-Tarikh Al-Kabir, oleh Al-Bukhari, jilid 1, halaman 375, cet. Turki.
38. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 63 dan 66.
39. Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 228.
40. Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman: 211,212,213 dan 214; jilid 7, halaman: 338,348,448 dan 334.
41. Al-Manaqib, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
42. Wafaul Wafa’, oleh Abdullah Asy-Syafi’I, halaman 106.
43. Miftahun Naja, oleh Al-Badkhasyi, halaman 58.
44. Taysirul Wushul, oleh Ibnu Ar-Rabi,, jilid 2, halaman 147.
45. Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghadi, jilid 8, halaman 290.
46. Al-Kina wal- Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 1, halaman 160, cet. Haidar Abad.
47. Nizham An-Nazhirin, halaman 39.
48. Al-Jarh wat-Ta’dil, oleh Ibnu Mundzir, jilid 4, halaman 431.
49. Asy-Syadzarat Adz-dzahabiyah, halaman 54.
50. Akhbar Ad-Duwal, oleh Al-Qurmani, halaman 102.
51. Dzakhair Al-Mawarits, oleh An-Nabilis, jilid 1, halaman 213.
52. Kunuzul Haqaiq, oleh Al-Mannawi, huruf Mim, cet. Bulaq.
53. Arjah Al-Mathalib, oleh Syaikh Abidillah Al-Hanafi, halaman: 564,568,570,471,448,581,36 dan 579.
54. Muntakhab min shahih Bukhari wa Muslim, oleh Muhammad bin Utsman Al-Baghdadi, halaman 217.
55. Fathul Bayan, oleh Haasan Khan Al-Hanafi, jilid 7, halaman 251, cet, Bulaq
56. Al-Arba’in, oleh Ibnu Abil Fawaris, halaman 39.
57. Al-I’tiqad ‘Ala Madzhab As-Salaf, oleh Al-Baihaqi, halaman 182.
58. Al-Mu’tashar minal Mukhtashar, jilid 2, halaman 332, cet. Haidar Abad.
59. MawdhihAwhamil Jam’I Wat-Tafriq, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 1, halaman 91.
60. At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 337.
61. Al-Bayan Wat-Ta’rif, oleh Ibnu Hamzah, jilid 2, halaman 230.
62. Al-Adhdad, halaman 25 dan 180.
63. Al-‘Utsmaniyah, oleh Al-Jahizh, halaman 134 dan 144.
64. Mukhtalib Al-Ahadist, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 52.
65. An-Nihayah, oleh Ibnu Atsir Al-Jazari, jilid 4, halaman 346, cet. Al-Muniriyah, Mesir.
66. Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 244, cet. Al-Kaniji, Mesir.
67. Duwal Al-Islam, jilid 1, halaman 20.
68. Tadzkirah Al-Huffazh, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 10.
69. Al-Mawaqif, oleh Al-Iji, jilid 2, halaman 611.
70. Syarah Al-Maqashid, oleh At-Taftajani, jilid 2, halaman 219.
71. Muntakhab Kanzul ‘Ummal (catatan pinggir) Musnad Ahmad, jilid 5, halaman 30.
72. Faydhul Qadir, oleh Al-Mannawi Asy-Syafi’I, jilid 1, halaman 57.
73. Atsna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif Al-Maratib, halaman 221.
74. Ar-Rawdh Al-Azhar, oleh Al-Qandar Al-Hindi, halaman 94.
75. Al-Jami’ Ash-Shaghir, oleh As-Suyuthi, hadis ke 900.
76. Al-Mu’jam Al-Kabir, oleh Ath-Thabrani, jilid 1, halaman 149 dan 205.
77. Al-Fadhail, oleh Ahmad bin Hambal, hadis ke: 91,822 dan 139.
78. Al-Kamil, oleh Ibnu ‘Adi, jilid 2, halaman 20.
79. Asy-Syaraf Al-Muabbad Li-Ali Muhammad, oleh An-Nabhani Al-Bairuti, halaman 111.
80. Maqashid Ath-Thalib, oleh Al-Barzanji, halaman 11.
81. Al-Fathu Ar-Rabbani, jilid 21, halaman 312.

Perawi hadis Al-Ghadir
1. Muhammad bin Ishaq, shahibus Sirah.
2. Mu’ammar bin Rasyid
3. Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i).
4. Abdur Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani, guru Bukhari.
5. Said bin Manshur, shahibul Musnad.
6. Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), shahibul Musnad.
7. Ibnu Majah Al-Qazwini.
8. At-Turmidzi, shahibush Shahih.
9. Abu Bakar Al-Bazzar, shahibul Musnad.
10. An-Nasa’i.
11. Abu Ya’la Al-Mawshili, shahibul Musnad.
12. Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, penulis Tafsir dan Tarikh.
13. Abu Hatim Ibnu Hibban, shahibush Shahih.
14. Abul Qasim Ath-Thabrani, penulis Mu’jam.
15. Abul Hasan Ad-Daruqudni.
16. Al-Hakim An-Naisaburi, shahibul Mustadrak.
17. Ibnu Abd Al-Birr, penulis Al-Isti’ab.
18. Khathib Al-Baghdadi, penulis Tarikh Baghdad.
19. Abu Na’im Al-Isfahani, penulis Hilyatul Awliya’ dan Dalailun Nubuwwah.
20. Abu Bakar Al-Baihaqi, penulis Sunan Al-Kubra.
21. Al-Baghawi, penulis Mashabih As-Sunnah.
22. Jarullah Az-Zamakhsyari, penulis tafsir Al-Kasysyaf.
23. Fakhrur Razi, mufassir.
24. Ibnu Asakir Ad-Damsyiqi, penulis tarikh Damsyiq.
25. Adh-Dhiya’ Al-Muqaddasi, shahibul Mukhtarah.
26. Ibnu Atsir, penulis Usdul Ghabah.
27. Abu Bakar Al-Haitsami, hafizh besar, penulis Majmauz zawaid.
28. Al-Hafizh Al-Muzzi, penulis Tahdzibul kamal.
29. Al-Hafizh Adz-Dzahabi, penulis Talkhish al-Mustadrak.
30. Al-Hafizh Al-Khathib At-Tabrizi, penulis Misykatul Mashabih.
31. Nizhamuddin An-Naisaburi, mufassir terkenal.
32. Ibnu Katsir, mufassir. Mengakui kemutawatiran hadis Al-Ghadir (lihat: Al-Bidayah wan-Nihayah 5/213).
33. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, penulis syarah Bukhari (Fathul Bari).
34. Al-Ayni Al-Hanafi, penulis Umdatul Qari fi syarh shahih Bukhari.
35. Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi.
36. Ibnu Hajar Al-Makki, penulis Ash-Shawaiqul Muhriqah.
37. Syeikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi, penulis Kanzul Ummal.
38. Syeikh Nuruddin Al-Halabi, penulis Sirah Al-Halabi.
39. Syah Waliyullah Ad-Dahlawi, penulis banyak kitab, masyhur dengan julukan Allamah Al-Hindi.
40. Syihabuddin Al-Khafaji, pensyarah Asy-Syifa’ dan penta’liq tafsir Al-Baidhawi.
41. Az-Zubaidi, penulis Tajul ‘Arus.
42. Ahmad Zaini Dahlan, penulis Sirah Ad-Dahlaniyah.
43. Syeikh Muhammad Abduh, mufassir dan pensyarah Nahjul Balaghah.

Kemutawatiran Hadis Al-Ghadir
Hadis Al-Ghadir Kemutawatirannya diakui oleh jalaluddin As-Suyuthi, di dalam:
1. Al-Faraid Al-Mutaksirah fil Akhbar Al-Mutawatirah.
2. Al-Azhar Al-Mutanatsirah fil Akhbar Al-Mutawatirah.

Pernyataan As-Suyuthi tentang kemutawatiran hadis Al-Ghadir ini dikutip oleh:
1. Allamah Al-Mannawi, di dalam At-Taysir fi Syarhi Al-jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 442.
2. Allamah Al-‘Azizi, dalam Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 3, halaman 360.
3. Al-Mala Ali Al-Qari Al-Hanafi, di dalam Al-Mirqat Syarhul Misykat, jilid 5, halaman 568.
4. Jamaluddin ‘Athaullah bin Fathlullah Asy-Syirazi, dalam kitabnya Al-Arba’ina; dan rujuk pula: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 123.
5. Al-Mannawi Asy-Syafi’I, di dalam kitabnya At-Taysir fi-Syarhi Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 123.
6. Mirza Makhdum bin Mir Abdul Baqi, di dalam An-Nawaqish ‘Ala Ar-Rawafidh; dan rujuk: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 121.
7. Muhammad bin Ismail Al-Yamani Ash-Shina’ani, di dalam kitab Ar-Rawdhah An-nadiyah. Rujuk: Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 294; dan Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 127.
8. Muhammad Shadr ‘Alim, dalam kitab Ma’arij Al-‘Ali fi Manaqib Al-Murtadha; silahkan rujuk: Ihqaqul Haqq, jilid 6, halaman 294; dan Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 127.
9. Syaikh Abdullah Asy-Syafi’I, di dalam kitabnya Al-Ar-Ba’in.
10. Syaikh Dhiyauddin Al-Muqbili, di dalam kitabnya Al-Abhats Al-Musaddadah fil Funun Al-Muta’addidah; dan rujuk: Khulashah Abqat Al-Anwar, jilid 6, halaman 125.
11. Ibnu Katsir Ad-Damsyiqi, di dalam Tarikhnya, dalam Tarjamah Muhammad bin Jarir Ath-thabari.
12. Abu Abdillah Al-Hafizh Adz-Dzahabi. Pernyataannya tentang Kemutawatiran hadis Al-ghadir dikutip oleh Ibnu Katsir, dalam Tarikhnya, jilid 5, halaman 213-214.
13. Al-Hafizh Al-Jazari. Ia menyebutkan kemutawatiran Hadis ini dalam kitabnya Asna Al-Mathalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib, halaman 48.
14. Syaikh Hisamuddin Al-Muttaqi, ia menyebukan kemutawatiran hadis ini dalam kitabnya Mukhtashar Qithful Azhar Al-Mutanatsirah.
15. Muhammad Mubin Al-Kahnawi, di dalam kitab Wasilah An-najah fi Fadhail As-Sadat, halaman 104.

Jumlah Sahabat yang bersama Nabi saw di Ghadir Khum
Ulama berbeda pendapat tentang jumlah sahabat yang menyertai Nabi saw di Ghadir Khum:

Sebagian pendapat mengatakan: 90.000 sahabat.
Sebagian pendapat mengatakan: 114.000 sahabat.
Ada yang mengatakan: 120.000 sahabat.
Dan ada juga yang menyatakan: 124.000 sahabat.

Pernyataan tersebut terdapat dalam:
1. Tadzkirah Al-Khawwash, oleh As-Sabth bin Al-Jauzi Al-Hanafi, halaman 30.
2. As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 257.
3. As-Sirah An-Nabawiyah oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 3.
4. Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 1, halaman 9.

Perawi Hadis Al-Ghadir dari kalangan sahabat nabi saw
Seratus sepuluh sahabat Nabi saw yang meriwayatkan hadis Al-Ghadir, mereka adalah:

1. Abu Hurairah, wafat pada tahun 57/58/59 H.Silahkan rujuk : Tarikh Baghdad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 8, halaman 290 ; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 327 ; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 130 ; Asna Al-Mathalib, halaman 3 ; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 2, halaman 259 ; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114 ; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Ad-Damsyiqi, jilid 5, halaman 214.
2. Abu Layli Al-Anshari, ia terbunuh pada perang shiffin tahun 37 H. Silahkan rujuk: Al-Manaqib, oleh Khawarizmi, halaman 35; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114.
3. Abu Zainab bin ‘Auf Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 408.
4. Abu Fudhalah Al-Anshari, terbunuh pada perang shiffin. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.
5. Abu Qudamah Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 276.
6. Abu ‘Amrah bin ‘Amr bin Muhshin Al-Anshari. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307.
7. Abu Al-Haitsami At-Tihan, terbunuh pada perang shiffin; silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
8. Abu Rafi’ Al-Qibthi. Silahkan rujuk : Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
9. Abu Dzuwaib Khawailid bin Khalid bin Mahrats, wafat pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Silahkan rujuk: Maqtal Al-Husain.
10. Abu Bakar bin Quhafah, wafat tahun 13 H. Silahkan rujuk: An-Nakhbul Manaqib, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; hadis Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, halaman 3.
11. Usamah bin Zaid bin Haritsah, wafat tahun 54 H. Silahkan rujuk: Usdul Ghabah, tentang Hadis Wilayah, jilid 5, halaman 205; Nakhbul Manaqib.
12. Ubay bin Ka’b Al-khazraji, wafat tahun 30/31 H. Silahkan rujuk: Nakhbul Manaqib.
13. As-ad bin Zurarah Al-Anshari. Silahkan rujuk: An-Nakhbu, oleh Abu Bakar Al-Ju’abi; Al-Wilayah, oleh Abu Said Mas’ud As-Sijistani; Asna Ath-Thalib, oleh Syamsuddin Al-Jazari, oleh Ibnu ‘Uqdah.
14. Asma’ binti ‘Amis Al-Khats’amiyah. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
15. Ummu Salamah istri Nabi saw. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40. Wasilah Al-Maal, oleh Syaikh Ahmad bin Fadhl bin Muhammad Al-Makki Asy-Syafi’i.
16. Ummu Hani binti Abi Thalib (as). Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 40; Musnad Al-Bazzar; Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari Al-Khazraji, Khaddam Nabi saw, wafat tahun 93 H. Rujuk: Tarikh Baghad, oleh Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 7, halaman 377; Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 403; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Nuzul Abrar; oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari; halaman 4.
18. Barra’ bin Azib Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 72 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 28 dan 29; Khashais Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Tarikh Baghdad; jilid 14, halaman 236; Tafsir Ath-Thabari, jilid 3, halaman 428; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Ar-Riyadh An-Naadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 25; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 14; Tafsir Fahrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Misykatul Mashabih, halaman 557; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, Halaman 397; Al-Bidayah wan-nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209.
19. Buraidah bin Al-Hashib Abu Sahl Al-Aslami, wafat tahun 63 H. Rujuk: Al-Mustadark Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3; Tarikh Al-Hkulafa’, halaman 114; Al-Jami’ Ash-shaghir, jilid 2, halaman 555; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 367; Miftahun Naja, halaman 20; Tafsir Al-Manar, jilid 6, halaman 464.
20. Abu Said Tsabit bin Wadi’ah Al-Anshari Al-Khazraji Al-Madini. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
21. Jabir bin Sammah bin Junadah Abu Sulaiman As-Suwai, wafat setelah tahun 70 H; dalam Al-Ishabah, ia wafat tahun 73 H. Rujuk: Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209;Asna Ath-Thalib, oleh Al-Jazari, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-Qadhi, halaman 67.
22. Jabir bin Abdullah Al-Anshari, wafat di Madinah tahun 73/74/78 H. Rujuk: Al-Isti’ab, jilid 2, halaman 473; Tahdzibut Tahdzib, jilid 7, halaman 337; Kifayah Ath-Thalib, halaman 16; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 398; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 41; Asna Ath-Thalib, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67..
23. Jabalah bin Amr Al-Anshari.
24. Jubair bin Math’am, wafat tahun 57/58/59 H. Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 69; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 31 dan 336.
25. Jarir bin Abdullah bin Jabir, wafat tahun 51/54 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 114; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 399.
26. Abu Dzar Jundab bin Junadah Al-Ghifari, wafat tahun 31, Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; Nakhbul Manaqib. Oleh Al-Ju’abi; Faraid As-Samthin; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Asma Ath-Thalib, oleh, oleh Syamsuddin Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 4.
27. Abu Junaid Junda’ bin Amr Al-Anshari: rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 308; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
28. Habbah bin JuJuwayn Abu Qudamah Al-‘Urani, wafat tahun 76/79 H. Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 103; Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 276; Al-Kina wal-Asma’, oleh Ad-Dawlabi, jilid 2, halaman 88; Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 367; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 372.
29. Hubsyi bin Junadah As-Saluli. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Ar-Riyadh An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 2, halaman 169; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
30. Habib bin Badil bin Waraqah Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368.
31. Hudzaifah bin usaid Abu Sarihah Al-Ghifari, wafat tahun 40/42 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Al-fushulul Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh, halaman 25; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 209/jilid 7, halaman 348; Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, halaman 25; As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 301; Majma’uz Zaawaid, jilid 9, halaman 165; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tarikh Ali Muhammad, halaman 68.
32. Hudzaifah bin Al-Yaman Al-Yamani, wafat tahun 36 H. Rujuk Da’atul Huda Ila Haqqil Muwalat, oleh Al-Hakim Al-Haskani; Asna Al-Muthalib, oleh Al-Jazari, halaman 4.
33. Hassan bin Tsabit, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama, silahkan rujuk syairnya dan biografinya.
34. Al-Imam Al-Mujtaba’ Al-Hasan (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
35. Al-Imam As-Syahid Al-Husain (as) cucu Rasulullah saw. Rujuk: hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; An-Nakhbu, oleh Al-Ju’abi; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari, syahid pada perang Rumawi tahun 50/51/52 H. Rujuk: Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169; Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6/jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 209; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 2, halaman 154; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, jilid 7, halaman 780/jilid 6, halaman 223/jilid 2, halaman 408, cet. Pertama; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
37. Abu Sulaiman Khalid bin Walid bin Al-Mughirah Al-makhzumi, wafat tahun 21/22 H. Rujuk: An-Nakhbu.
38. Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshari, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37. Rujuk: Usdul ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
39. Abu Syuraih Khawailid/ Ibnu ‘Amr Al-Khaza’I, wafat tahun 68 H.
40. Rifa’ah bin Abdul Mundzir Al-Anshari. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakbul Manaqib; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi.
41. Zubair bin ‘Awwam, terbunuh tahun 36 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Asna Al-Mathalib, halaman 3.
42. Zaib bin Arqam Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 66/68 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368; Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Al-Kina Wal-Asma’, jilid 2, halaman 61; Shahih Muslim, jilid 2, halaman 325, cet. Tahun 1327;Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi, jilid 2, halaman 199; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 109, 118 dan 533; Ar-Riyad An-Nadharah, oleh Muhibuddin Ath-Thabari, jilid 3, halaman 169; At-Talikhish, oleh Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 533; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi jilid 3, halaman 224; Mathalib As-Saul, oleh Ibnu Thalhah, halaman 16; Majma’uz Zawaid, oleh Abu Bakar Al-Haitsami, jilid 9, halaman 104 dan 163; Syarhul Madzahib, oleh Az-Zarqani Al-Maliki, jilid 7, halaman 13; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93; Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr, jilid 2, halaman 473; Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 208; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 14; Tarikh Al-hkulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Al-Jami’ Ash-Shaghir, jilid 2, halaman 555; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 338; Raiyadh Ash-Shalihin, halaman 557; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 19 dan 21; Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 350.
43. Abu Saiz Zaid bin Tsabit, wafat tahun 45/48; Rujuk: Asna Al-Mathalib, halaman 4.
44. Zaid/Yazid bin syarahil Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 2, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 233; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 567; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
45. Zaid bin Abdullah Al-Anshari. Rujuk: hadis Al-wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
46. Abu Ishaq Sa’d bin Abi Waqash, wafat tahun 54/55/56/58 H. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3,4,18 dan 25; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 30; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 116;Hilyatul Awliya’, oleh Al-Hafizh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 4, halaman 356; Musykil Al-Atshar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi Al-Hanafi, jilid 2, halaman 309;Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16 dan 151; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Al-Bidayah wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 5, halaman 212/jilid 7, halaman 340; Tarikh Al-Khulafa’, oleh Jamaluddin As-Suyuthi, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 405; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20.
47. Sa’d bin Junadah Al-‘Awfi ayah dari ‘Athiyah Al-‘Awfi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; An-Nakhbu; Maqtal Al-Husain, oleh Al-khawarizmi.
48. Sa’d bin ‘Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, wafat tahun 14/15 H. Rujuk: An-Nakhbu, oleh Qadhi Abu Bakar Al-Ju’abi.
49. Abu Said Sa’d bin Malik Al-Anshari Al-Khudri (Abu Said Al-Khudri), wafat tahun 63/64/65/74 H, di makamkan di Baqi’. Rujuk Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 80; Al-Fushulul Muhimah, oleh Ibnu Shabagh Al-Maliki, halaman 27; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsammi, jilid 9, halaman 108; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 14; Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 349 dan 350; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Ad-Durrul Mantsur, jilid 2, halaman 259 dan 298; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390 dan 403; Tafsir An-Manar, jilid 6, halaman 463; Asna Al-Mathalib, oleh Al-Kazari, halaman 3.
50. Said bin Zaid Al-Quraisyi Al-‘Adawi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.
51. Said bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
52. Abu Abdillah Salman Al-Farisi, wafat tahun 36/37 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Al-Nakhbu; Faraid As-Samthin; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
53. Abu Muslim Salamah bin ‘Amr bin Aku’ Al-Aslami, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
54. Abu Sulaiman Sammarah bin Jundab Al-Firusi, wafat di Basrah tahun 58/59/60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Nakhbul Manaqib; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
55. Sahl bin Hunaif Al-Anshari Al-Ausi, wafat tahun 38 H.Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 307; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
56. Abdul Abbas Sahl bin Sa’d Al-Anshari Al-Khazraji As-Sa’di, wafat tahun 91 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
57. Abu Imamah Ash-Shudi Ibnu Ajlan Al-Bahili, wafat tahun 86 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
58. Dhamrah Al-Asadi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dalam Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi, disebut Dhamrah bin Hadid dan ia mengiranya Dhamrih bin Jundab atau Ibnu Habib.
59. Thalhah bin Abidillah At-Tamimi, terbunuh pada perang Jamal tahun 36. Rujuk: Muruj Adz-Dzahab, oleh Al-Ma’udi, jilid 2, halaman 11; Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 171; Al-Manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 112; Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 107; Jam’ul Jawami’, oleh As-Suyuthi; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 83 dan 154; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Al-Jazari Asy-Syafi’I, halaman 3.
60. ‘Amir bin ‘Umair An-Numairi. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 255.
61. ‘Amir bin Layli bin Dhamrah. Rujuk : Hadis Al-Wilayah ; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92 ; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257 ; Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 93.
62. ‘Amir bin Layli Al-Ghifari ; Rujuk : Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 257.
63. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah Al-Laytsi, wafat tahun 100/102/108/110 H. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 30 dan 118/jilid 4, halaman 370; Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 15 dan 17; Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 26,31 dan 298; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109,110 dan 533; Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 92/jilid 5, halaman 376; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93 dan 217; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-syafi’I, halaman 15; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 179; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211/jilid 7, halaman 246 dan 348; Al-Ishabah, jilid 4, halaman 159/jilid 2, halaman 252; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 38.
64. ‘Aisyah binti Abi Bakar bin Quhafah, istri Nabi saw. Rujuk : Hadis Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
65. ‘Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim, paman nabi saw. Wafat tahun 32 H. Rujuk: Asna Al-Mathalib, oleh Al-Jarazi Asy-Syafi’I, halaman 3.
66. ‘Abdurrahman bin Abdi Rabb Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 2, halaman 408; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
67. Abu Muhammad Abdurrahman bin Auf Al-Qarasyi Az-Zuhri, wafat tahun 31/32 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili; Asna Al-Mathalib, halaman 3.
68. ‘Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Dili. Rujuk: Hadis Al-Wilayah;Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
69. Abdullah bin Ubay, Abdul Asad Al-Makhzumi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
70. Abdullah bin Badil bin Waraqah pemimpin suku Khaza’ah, terbunuh pada perang shiffin.
71. Abdullah bin Basyir Al-Mizani. Rujuk Al-Wilayah.
72. Abdullah bin Tsabit Al-Anshari. Rujuk; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
73. Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib Al-Hasyimi, wafat tahun 80 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; dan baca Argumennya terhadap Muawiyah dengan hadis Al-Ghadir.
74. Abdullah bin Hanthab Al-Qarasyi Al-Makhzumi. Rujuk; Ihyaul Mayyit, oleh As-Suyuthi.
75. Abdullah bin Rabi’ah. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
76. Abdullah bin Abbas, wafat tahun 68 . Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 7; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 331; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 132; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir Asy-Syami, jilid 7, halaman337;Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 108; Al-Kifayah, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 115; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 22, halaman 509; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Mttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 153; Tarikh Al-Khulafa’,oleh Jalauddin Asd-Suyuthi, halaman 114; Syamsul Akhbar, oleh Al-Qarasyi, halaman 38; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20 dan 21; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 348; Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3, halaman 636; Tafsir An-Naisaburi, jilid 6, halaman 194; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Dan Rujuk pula Ayat Tabligh dan Ayat Ikmaluddin.
77. Abdullah bin Ubay, wafat tahun 86/87 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
78. Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Al-‘Adawi, wafat tahun 72/73. Rujuk: Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 106; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
79. Abu Abdurrahman Abdullah bin Ma’ud, wafat tahun 32/33 H. rujuk: Ayat Tabligh dalam Ad-Durrul Mantsur, oleh Jalaluddin As-Suyuthi, jilid 2, halaman 298; Tafsir Asy-Syaukani, jilid 2, halaman 57; Tafsir Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 2, halaman 348; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
80. Abdullah bin Yamin/Yamil. Rujuk : Al-Mufradat, tentang Hadis Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah : Usdul Ghabah , jilid 3, halaman 274 ; Al-Ishabah, jilid 2, halaman 382 ; Yanabi’ul Mawaddah 34.
81. Utsman bin Affan, wafat tahun 35 H. Rujuk: Al-Mufradat tentang hadis wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili.
82. ‘Ubaid bin ‘Azib Al-Anshari, saudara Al-Barra’ bin Azib.
83. Abu Thuraif ‘Adi bin Hatim, wafat tahun 68 H. Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
84. ‘Athiyah bin Bashir Al-Mazini. Rujuk : Hadis Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah.
85. ‘Uqdah bin ‘Amir Al-Juhhani, seorang Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Muawiyah selama 3 tahun, wafat sekitar tahun 60 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
86. Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 348; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 7, halaman 337; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhasyi, halaman 20; Musykil Al-Atsar, oleh Al-Hafizh Ath-Thahawi, jilid 2, halaman 307; Al-bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 211; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154,397,399 dan 406; Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi, jilid 2, halaman 303; Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 9, halaman 64.
87. Abu Yaqzhan Ammar bin Yasir, syahid pada perang Shiffin tahun 37, rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, jilid 222, halaman 273; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
88. Ammarah Al-Khazraji Al-Anshari, terbunuh pada perang Yamamah, Rujuk: Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 65.
89. Umar bin Abi Salamah bin Abdi Asad Al-Makhzumi, anak tiri nabi saw, ibunya adalah Ummu Salamah istri Nabi saw, wafat tahun 83. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
90. Umar bin Khaththab, terbunuh tahun 23 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’I; Ar-Riyath An-Nadharah, oleh Mihibuddin Ath-Thabari Asy-Syafi’I, jilid 2, halaman 161; Dzakhairul ‘Uqba, halaman 67; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 349; Asna Al-Mathalib,m halaman 3; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 249.
91. Abu Najib Imran bin Hashin Al-Khaza’I, wafat tahun 52 H. di Basrah. Rujuk: Hadis Al-wilayah; Asna Al-Mathalib, halaman 4.
92. Amer bin Hamq Al-Khaza’I Al-Kufi, wafat tahun 50 H. Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi; Hadis Al-Wilayah.
93. Amer bin Syarahil. Rujuk: Maqatal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
94. Amer bi Ash. Rujuk: Al-Imamah Was-Siyasah, oleh Ibnu Qutaibah, halaman 93; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 126.
95. Amer bin Marrah Al-Juhhani Abu Thalhah atau Abu maryam, Rujuk: Al-Mu’jam Al-Kabir; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 154.
96. Ash-Shiddiqah Fatimah Az-Zahra’ binti Nabi saw. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Kitab Al-Ghadir, oleh Al-Manshur Ar-Razi; Mawaddah Al-Qurba, oleh Syihabuddin Al-Hamdani.
97. Fatimah binti Hamzah bin Abdul Muthalib, rujuk: Hadis Al-Wilayah; kitab Al-Ghadir, oleh Al-Mantsur Ar-Razi.
98. Qais bin Tsabit bin Syamas Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.
99. Qais bin Sa’d bin Ubadah Al-Anshari Al-Khazraji, salah seorang penyair Al-Ghadir pada abad pertama. Rujuk: Argumennya terhadap Muawiyah bin Abi Sofyan dengan hadis Al-Ghadir.
100. Abu Muhammad Ka’b bin Ajrah Al-Anshari Al-Madani, wafat tahun 51 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
101. Abu Sulaiman Malik bin Huwairats Al-Laytsi, wafat tahun 74 H. Rujuk: Al-Manaqib, oleh Imam Al-hanabilah Ahmad bin Hambal; hadis Al-Wilayah; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 108; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Nuzlul Abrar, oleh Al-Badkhayi, halaman 20.
102. Miqdad bin Amer Al-Kandi Az-Zuhri, wafat tahun 33 H. rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
103. Najiyah bin Amer Al-Khaza’i. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, jilid 3, halaman 543.
104. Abu Barzah Fadhlah bin Utbah/’Abid/Abdullah Al-Aslami, wafat di Khurasan tahun 65 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
105. Nu’man bi Ajlan Al-Anshari, Rujuk: Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
106. Hasyim Al-Marqal Ibnu Utbah bin Waqash Az-Zuhri Al-Madani, terbunuh pada perang Shiffin tahun 37 H. Rujuk: Udul Ghabah, jilid 1, halaman 368; Al-Ishabah, jilid 1, halaman 305.
107. Abu Wasamah wahsyi bin Harbi Al-Hamashi. Rujuk: Hadis Al-Wilayah; Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
108. Wahab bin Hamzah. Rujuk: Rujuk: Maqtal Al-Husain, oleh Al-Khawarizmi.
109. Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah As-Suwai, wafat tahun 74 H. Rujuk: Hadis Al-Wilayah.
110. Abu Murazim Ya’la bin Marrah bin Wahab Ath-Tsaqali. Rujuk: Usdul Ghabah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 233/jilid 3, halaman 93/jilid 5, halaman 6; Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar, jilid 3, halaman 543.

Perawi Hadis Al-Ghadir dari Kalangan Tabi’in
Delapan puluh empat Tabi’in yang meriwayatkan hadis Al-Ghadir, mereka adalah:
1. Abu Rasyid Al-Hubrani Asy-Syami (namanya Khidir/Nu’man). Dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 419, Ibnu Hajar mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 2, halaman 302.
2. Abu Salamah (Namanya Abdullah, sebagian mengatakan: Islami) Ibnu Abdur Rahman bin Auf’ Az-Zuhri Al-Madani. Khulashah Al-Khazraji, halaman 380, mengatakan ia adalah seorang faqih; Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 422, mengatakan: Ia seorang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari
3. Jabir Al-Anshari. Rujuk: Al-‘Umdah, halaman 56.
4. Abu Sulaiman Al-Muadzdzin, dalam At-Taqrib (dikatakan Abu Salman), salah seorang tabi’in terkemuka. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mininm Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, oleh Ibnu Abil Hadid, jilid 2, halaman 362.
5. Abu Shahih As-Samman Dzikwan Al-Madani mawla Juwairiyah Al-Ghithfaniyah. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 78: ia adalah salah seorang manusia yang agung dan terpercaya, wafat tahun 101 H. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Umar bin Khathhab. Rujuk: Ayat Tabligh; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 161.
6. Abu ‘Anfuwanah Al-Mazini. Ia meriwayatkan dari Abu Junaidah Junda’ bin ‘Amer bin Mazin Al-Anshari. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 308.
7. Abu Abdur Rahim Al-Kindi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 308.
8. Abul Qasim Ashbagh bin Nubatah At-Tamimi Al-Kufi. Al-‘Ajali dan Ibnu Mu’in mengatakan ia adalah seorang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshari. Rujuk: Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169; Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 6/jilid 3, halaman 307/jilid 5, halaman 205.
9. Abu Layly Al-Kindi. Sebagian mengatakan namanya Salamah bin Muawiyah, sebagian mengatakan Said bin Basyar. Dalam At-Taqrib dikatakan ia adalah seorang tabi’in terkemuka dan terpeyaca. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-Manaqib, tentang Ali bin Al-Husain, oleh Ahmad bin Hambal: bercerita kepada kami Ibrahim bin Ismail dari ayahnya, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Layli Al-Kindi, ia berkata: Aku mendengar Zaid bin Arqam berkata, ketika kami menunggu jenazah ada seorang bertanya: Wahai Aba ‘Amir, apakah kamu mendengar Rasulullah saw bersabda kepada Ali pada hari Ghadir Khum: “Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya? “Ia menjawab: Ya. Beliau menyabdakan hadis itu sebanyak empat kali.
10. Iyas bin Nudzair. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim jilid 3, halaman 371.
11. Jamil bin ‘Umarah. Ia meriwayatkan dari Salim bin Abdillah bin Umar bin Khaththab, dari Umar bin Khaththab. Rujuk : Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 213.
12. Haritsah bin Nashr. Meriyatakan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abvi Thalib (as). Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I Asy-Syafi’I, halaman 40.
13. Habib bin Abi Tsabit Al-Asadi Al-Kufi. Adz-Dzahabi mengatakan ia seorang faqih dari tabi’in yang terpercaya, ia wafat tahun 117/119 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam Al-Anshari. Rujuk : At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 103 ; Tahdzib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 104 ; Al-khashaish, oleh An-Nasa’i, halaman 15 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109 dan 533 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109 dan 533 ; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 208 ; Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
14. Al-Harits bin Malik. Ia meriwayatkan dari Abu Ishaq Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16.
15. Al-Husain bin Malik bin Al-Huwairats. Ia meriwayatkan dari ayahnya Abu Sulaiman Malik bin Al-huwairats Al-Laytsi. Rujuk Majma’uz Zawaid, oleh Al-Hafizh Al-Haitsami, jilid 9, halaman 108; Tarikh Al-Khulafa’, oleh As-Suyuthi, halaman 114; Al-Manaqib, oleh Imam Al-Hanabilah Ahmad bin Hambal.
16. Hakam bin ‘Utaibah Al-Kufi Al-Kindi. Adz-dzahabi mengatakan dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 104: Ia seorang faqih dan terpercaya, penulis Sunnah wa Atba’, wafat tahun 114/115 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Hilyatul Awliyah’.
17. Hamid bin ‘Umarah Al-Khazraji Al-Anshari. Ia meriwayatkan dari ayahnya ‘Umarah bin Al-Khazraji Al-Anshari. Rujuk: Mama’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107.
18. Hamid Ath-thawil Abu ‘Ubaidah Ibnu Abi Hamid Al-Bishri, wafat tahun 143. Adz-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 136: Hamid adalah seorang Hafizh dan Muhaddist terpercaya dan salah seorang tokoh ahli hadis. Ia meriwayatkan dari Said bin Al-Musayyab, dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Kitab Al-Wilayah, oleh Ibnu ‘Uqdah Al-Kufi.
19. Khutsaimah bin Abdur Rahman Al-Ja’fi Al-Kufi. Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Tahdzib, jilid 3, halaman 179 mengatakan: Ia adalah seorang terpecaya dan wafat tahun 80 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 116.
20. Rabi’ah Al-Jurasyi, terbunuh tahun 60/61/74 H. Dalam At-Taqrib, halaman 123 dikatakan: Ia adalah seorang faqih dan dinyatakan terpecaya oleh Ad-Daruquthni dan lainnya. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-‘Umdah, halaman 48.
21. Abul Mutsanna Riyah bin Harits An-Nakhfi Al-Kufi. Dalam kitabnya At-Taqrib Ibnu Hajar mengatakan ia adalah salah seorang tabi’in terkemuka; dan dalam At-Tahdzib dikatakan: Abul Mutsanna adalah tabi’in yang terpercaya. Rujuk Hadis Ar-Rukban.
22. Abu ‘Amer zadzan bin Umar Al-Kindi Al-Bazzar atau “Al-Bazzaz.” Al-Kufi. Dalam Mizanul I’tidal, Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah salah seorang tabi’in terkemuka. Dalam At-Tahdzib, jilid 3, halaman 303, Ibnu Hajar mengatakan: ia terpecaya, wafat tahun 82 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 84.
23. Abu Maryam Zirr bin Hubaisy Al-Asadi, ia seorang tabi’in terkemuka, wafat tahun 81/82/83 H. Dalam At-Tadzikirah, jilid 1, halaman 40, Adz-Dzahabi mengatakan ia adalah Imam yang layak diteladani; dalam kitab At-Taqrib dikatakan ia adalah terpercaya dan mulia; At-Tahdzib, jilid, halaman 322, dan Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 181 dan 191 mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Syarah Al-Mawahib, oleh Al-Hafizh Abu Abdillah Az-Zarqani, jilid 7, halaman 13.
24. Ziyad bin Abi Ziyad. Al-haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid dan Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib mengatakan ia adalah seorang tabi’ain terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 88.
25. Zaid bin Yutsa’I Al-hamdani Al-Kufi. Ibnu hajar dalam At-Taqrib, halaman 136, mengatakan ia adalah tabi’in terpercaya. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
26. Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab Al-Quraysi Al-‘Adi Al-Madani. Adz-Dzahabi mengatakan dalam At-tahdzkirah, jilid 1, halaman 77: Ia adalah seorang faqih, alim beramal, zuhud, dan mulia. Dalam At-Taqrib Ibnu hajar mengatakan: Ia adalah salah seorang faqih yang jujur, hidup sederhana seperti ayahnya, pemberi petunjuk dan pendiam, termasuk tiga tabi’in terkemuka, wafat tahun 106 H. Ia meriwayatkan dari ayahnya Abdullah bin Umar, dari kakeknya Umar bin Khaththab, Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 213, meriwayatkan dari kitab Ghadir Khum bagian pertama, oleh Ibnu Jarir; Tarikh Al-bukhari, jilid 1, halaman 375, bagian pertama; dan hadis Ar-Rukban. Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 213: Berceritera kepada kami Mahmud (Muhammad) bin ‘Auf Ath-tha-I, berceritera kepada kami Abdullah bin Musa, memberikan kepada kami Ismail bin Kasytith (Nasyith), dari Jamil bin ‘Umarah, dari Salim bin Abdullah bin Umar (Ibnu Jarir mengatakan dari Umar bin Khaththab), ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda sambil memegang tangan Ali: “Barang siap menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya, ya Allah, kasihi orang yang menolongnya dan musuhi orang yang memusuhinya.”
27. Said bin Jubair Al-Asadi Al-Kufi. Dalam At-tadzkirah, jilid 1, halaman 65, Adz-Dzahabi menyatakan: Ia adalah salah seorang tabi’in yang terpuji; dalam Khulashah Al-khazraji, halaman 116, dikatakan: ia adalah seorang terpercaya dan imam yang ucapannya dapat dijadikan hujjah; dalam At-Taqrib, halaman 133, dikatakan: ia adalah seorang faqih yang terpercaya, terbunuh di tangan Al-Hajjaj tahun 95 H; Tahdzibut Tahdzib, jilid 4, halaman 13, dari Ath-thabari, mengatakan: ia adalah seorang yang terpercaya dan hujjah bagi kaum muslimin. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 110; Tarikh bnu Katsir, jilid 7, halaman 348. Ia meriwayat hadis Al-Ghadir dari Ibnu Abbas, dan Buraidah bin Hashib Abu Sahl Al-Aslami. Rujuk: Tarikh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 347.
28. Said bin Abi Hudd Al-Kufi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk: faraid As-Samthin, bab sepuluh.
29. Said bin Al-Musayyab Al-Qurasyi Al-Makhzumi, menantu Abu Hurairah, wafat tahun 94 H. Dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 47, Adz-Dzahabi mengatakan: Ahmad bin Hambal dan lainnya mengatakan bahwa hadis-hadis Mursal Said adalah Shahih, dan mengatakan juga bahwa Ibnu Al-Madani ilmu Said bin Al-Musayyab, dan bagiku tidak ada tabi’in yang lebih mulia darinya; Abu Nu’aim juga mengatakan dalam kitabnya Hilyatul Awliya’, jilid 2, halaman 161. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 356; Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16.
30. Said bin Wahab Al-Hamdani Al-Kufi. Dalam Khualashah Tahdzibul Kamal, halaman 122, Ibnu Mu’in mengatakan: ia adalah orang yang terpercaya, wafat tahun 76 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin AbiThalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 1, halaman 118.
31. Abu Yahya Salamah bin Kuhail Al-Hadhrami Al-Kufi, wafat tahun 121 H. Dalam Khulashah At-Tahdzib, halaman 136, dan At-Taqrib, halaman 154, dikatakan bahwa Ahmad dan Al-‘Ajali menyatakan dia adalah tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Habbah bin Juwain Abu Qudamah Al-‘Urani; Zaid bin Arqam Al-Anshari; Hudzaifah Al-Usaid Abu Sarihah. Rujuk: Shahih Tirmidzi, jilid 2, halaman 298.
32. Abu Shadiq Salim bin Qais Al-Hilali, wafat tahun 90 H. Ia banyak berhujjah dengan hadis Al-Ghadir dalam kitab-kitabnya yang ada di kalangan kami. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) dan Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani, jilid 1, halaman 157; Al-Fahras, oleh Ibnu Nadim, halaman 307; At-Tanbin Wal-Asraf, oleh Al-Mas’udi, halaman 198.
33. Abu Muhammad Sulaiman bin Mahran Al-A’masy. Ad-Dzahabi mengatakan dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 138: Ia wafat 147/148, lahir tahun 61 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam, dan Abu thufail Amir bin Watsilah Al-laytsi. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 15; Munasyadah Ar-Rahbah; ayat Tabligh; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 93; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 118.
34. Sahm bin Al-Hashin Al-Asadi. Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
35. Syahr bin Husyab. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah. Rujuk : Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 290.
36. Dhahhak bin Muzahim Al-Hilali Abul Qasim, wafat tahun 105 H. Ahmad dan Ibnu Mu’in dan Abu Zar’ah mengatakan bahwa ia adalah seorang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al- Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 337 ; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 108, Dalam Faraid As-Samthin, Al-Hafizh Al-Hamwini, meriwayatkan dari Abul Qasim bin Ahmad Ath-Thabrani, dari Al-Husain An-Nairi, dari Yusuf bin Muhammad Ibnu Sabiq, dari Abu Malik Al-Hasan, dari Jawhar, dari Dhahhak, dari Abdullah bin Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda pada hari Al-Ghadir : « Ya Allah, berilah ia inayah dan turun inayah-Mu sebab dia, rahmati dia turunkan rahmat-Mu sebab dia, tolonglah dia turunkan pertolongan-Mu sebab dia ; ya Allah, sayangi orang yang menyayanginya, dan musuhilah orang yang memusuhinya. »
37. Thawus bin Kisan Al-Yamani Al-Jandi, wafat tahun 106 H. Ia meriwayatakan dari Buraidah. Rujuk : Hilyatul Awliya’, oleh Abu Na’im, jilid 4, halaman 20-23. Pada halaman 23 dikatakan : Berceritera kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Salim, berceritera kepada kami Muhammad bin Ali An-Nasa’I, berceritera kepada kami Husain Al-Asyqar, berceritera kepada kami Ibnu ‘Uyaynah, dari ‘Amer bin Dinar, dari Thawus, dari Buraidah, dari Nabi saw, beliau bersabda : « Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya. »
38. Thalhah bin Al-Musharrif Al-Ayyami (Al-Yamami) Al-Kufi. Ibnu Hajar mengatakan: Ia adalah terpercaya dan qari’ yang utama, wafat tahun 112 H. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mini Ali bin Abi Thalib (as), Anas bin Malik, dan Abu Hurairah. Rujuk: Hilyatul Awliya’, jilid 5, halaman 26.
39. ‘Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash Al-Madani. At-Taqrib, halaman 185 mengatakan: ia adalah tabi’in terpercaya yang ketiga, wafat tahun 104 H. ia meriwayatkan dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3,4 dan 18.
40. Aisyah binti Sa’d, wafat tahun 117 H. Dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 473 Ibnu Hajar mengatakan: Ia tabi’in terpercaya. Ia meriwayatkan dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-khaishaish, oleh An-Nasa’I, halaman 18; faraid As-Samthin; Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 212.
41. Abdul Hamid bin Al-Mundzir bin Al-Jarud Al-‘Abdi. An-Nasa’I dan Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 224, mengatakan: Ia tabi’in yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail. Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 5, halaman 276.
42. Abu Umarah Abdu Khayr bin Yazid Al-Madani Al-Kufi Al-Mukhadhrami. Ibnu Mu’in dan-‘Ajali mengatakan ia orang yang terpercaya, sebagiaman yang tertera di dalam kitab Al-Khulashah, halaman 269. Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 225: Ia orang yang terpercaya dan terpercaya dan termasuk tabi’in terkemuka. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Tahlib (as). Rujuk:Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 104; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209; Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi, halaman 94.
43. Abdur Rahman bin Abi Layli, wafat tahun 82/83/86 H. Di dalaman Al-Mizan dikatakan: Ia termasuk para imam tabi’in dan terpercaya. Dalam At-Tadzkiran dikatakan sebagai seorang faqih, dan dalam At-Taqrib Ibnu Hajar mengatakan sebagai orang yang terpercaya. Ia meriwayatakan dari ayahnya Abu Layli Al-Anshari, dan Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Hadis Munasyadah Ar-Rahbah; Tarikh Al-Khulafa’, halaman 114; Al-manaqib, oleh Al-khawarizmi, halaman 35; Al-Mustadrak Al-hakim, jilid 3, halaman 116; Hilyatul Awliya’, jilid 4, halaman 356.
44. Abdur Rahman bin Sabith, dipanggil Ibnu Abdillah bin Sabith Al-Jamahi, ia terpercaya dan termasuk tabi’in thabaqat menengah, wafat tahun 118 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 340; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, halaman 38.
45. Abdullah bin As’ad bin Zurarah. Ia meriwayatkan dari ayahnya As-Ad bin Zurarah Al-Anshari. Rujuk: Asna Al-Mathalib, halaman 4; Hadis Al-Wilayah, oleh Al-Hafizh Ibnu ‘Uqdah.
46. Abu Maryam Abdullah bin Ziyad Al-Asadi Al-Kufi. Ibnu Hibban menggolongkannya sebagai orang yang terpercaya, Khulashah Al-khazraji, halaman 168; juga Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 130. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152.
47. Abdullah bin Syarik Al-‘Amiri Al-Kufi. Ahmad dan Ibnu Mu’in mengatakan ia seorang terpercaya, sebagaimana yang tertera di dalam kitab Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 2, halaman 46. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Kifayah, oleh Al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 16 dan 151.
48. Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Aqil Al-Hasyimi Al-Madani, wafat setelah tahun 140 H. Ia meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari. Rujuk: Al-Bidayah wan-Nihayah, jilid 5, halaman 213: Ibnu Jarir berkata bahwa Al-Muthallib bin Ziyad, dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Kami berada di Ghadir Khum, lalu Rasulullah saw datang kepada kami, lalu bersabda sambil memegang tangan Ali: “Barang siapa menjadikan aku pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya.”
49. Abdullah bin Ya’la bin Marrah. Ia meriwayatkan dari ‘Amir bin Layli Al-Ghifari. Rujuk: Al-Ishabah, jilid 2, halaman 257; Hadis Al-Munasyadah; Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 93.
50. ‘Adi bin Sbabit Al-Anshari Al-Kufi Al-khathami, wafat tahun 116. Adz-Dzahabi mengatakan di dalam kitabnya Mizanul I’tidal, jilid 2, halaman 193; Ia adalah seorang tasyayu’ yang alim, jujur, dan imam masjid mereka. Ia meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281. 50. Abul Hasan ‘Athiyah bin Sa’d bin Junadah Al-‘Aufi Al-Kufi, wafat tahun 111 H. Ibnu Al-jauzi dalam kitabnya At-Tadzkirah, halaman 25, mengatakan ia adalah seorang terpercaya; juga Al-Hafizh Al-Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 109, dan Al-Yafi’I dalam kitabnya Mir’atul Jinan, jilid 1, halaman242, mengatakan: ia dicambuk oleh Al-Hajjaj sebanyak 400 kali karena tidak mau mengecam Ali bin Abi Thalib (as), dan ia pun tetap tidak mau mengecamnya. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-bidayah Wan-Nihayah, jilid 5, halaman 209; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 390; Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 368.
51. Ali bin Zaid bin Jud’an Al-Bisri, wafat tahun 129/131 H. Ibnu Syaibah mengatakan ia seorang yang terpercaya dan jujur. Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik, dan Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk: Tarikh Baghdad, oleh Al-Khathib Al-Baghdadi, jilid 7, halaman 377; Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 281.
52. Abu Harun ‘Umarah bin Juwain Al-‘Abdi, wafat tahun 134 H. Ia meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, dan Barra’ bin ‘Azib Al-Anshari. Rujuk:
53. Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Al-Amawi, wafat tahun 101 H. Rujuk: Hilyatul Awliya’, oleh Al-Hafizh Abu Na’Imam Muhammad Al-Baqir (as), jilid 5, halaman 364; Al-Aghani, oleh Abul Farj, jilid 8, halaman 156; Tarikh Damsyiq, Ibnu Asakir Asy-Syafi’I, jilid 5, halaman 320; Faraid As-Samthin, oleh Al-Hamwini, bab ke 10; Nizham Durar As-Samthim, oleh Al-Hafizh Jamaluddin Az-Zarnadi.
54. Umar bin Abdul Ghaffar. Ia meriwayatkan hadis Munasyadah (sumpah) seorang pemuda terhadap Abu Hurairah di Masjid Kufah. Rujuk: Syarah Nahjul Balaghah, jilid 1, halaman 360.
55. Umar bin Ali Amirul Mu’minin (as). Dalam kitab At-Taqrib dikatakan ia adalah termasuk tiga orang yang terpercaya, wafat pada masa pemerintahan Al-Walid, sebagian mengatakan sebelum masa pemerintahan Al-Walid. Ia meriwayatkan dari ayahnya Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 211.
56. ‘Amer bin Ju’dah bin Hubairah. Ia meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya, dari Ummu Salamah (r.a). Rujuk: Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 40.
57. ‘Amer bin Marrah Abu Abdillah Al-Kufi Al-Hamdani, wafat tahun 116 H. Dalam Tahdzibut, jilid 8, dikatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya; dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 108, Adz-dzahabi mengatakan ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya; dalam At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 108, Adz-Dzahabi mengatakan ia aaadalah seorang tabi’in yang terpercaya dan kuat ingatannya. Ia meriwayatakan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Mizanul I’tidal, oleh Adz-dzahabi, jilid 2, halaman 303.
58. Abu Ishaq ‘Amer bin Abdillah As-Saba’I Al-Hamdani. Dalam kitabnya Mizanul I’tidal, Adz-Dzahabi mengatakan ia salah seorang tabi’in Kufah yang kuat ingatannya; di dalam kitab At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 101, ia dipuji; dalam kitab At-Taqrib disebutkan ia adalah seorang tabi’in terpercaya dan hidup sederhana, wafat tahun 127 H. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 7, halaman 29; Kifayah Ath-Thalib, halaman 14; Ar-Riyadh An-Nadharah, jilid 2, halaman 169.
59. Abu Abdillah ‘Amer (‘Amir) bin Maimun Al-Udi. Adz-Dzahabi menyebutkan di dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 56, Ia adalah seorang tabi’in yang terpercaya dan memiliki jiwa kepemimpinan; dalam At-Taqrib, halaman 288, disebutkan ia adalah seorang yang terpercaya dan hidup sederhana. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al-khashaish, oleh An-Nasa’i halaman 7 ; Musnad bin Hanbal, jilid 1, halaman 331 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 132.
60. ‘Umar bin Sa’d Al-Hamdani Al-Kufi. Ibnu Hibban mengatakan ia seorang yang terpercaya, At-Taqrib menerimanya pujian itu. Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik dan Abu Said Al-Khudri. Rujuk: Kanzul “Ummal, jilid 6, halaman 154 dan 403.
61. ‘Umairah binti Sa’d bin Malik Al-Madani, saudara perempuan Sahl, Ummu Rifa’ah Ibnu Mubasysyir. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’mini Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: hilyatul Awliya’, oleh Abu Nu’aim, jilid 5, halaman 26; Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 16; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 5, halmaan 211.
62. Isa bin Thalhah bin Abidillah At-Tamimi Abu Muhammad Al-Madani, salah seorang ulama yang dinyatakan dapat dipercaya oleh Ibnu Mu’in, wafat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, demikian juga dinyatakan Al-Khazraji dalam Khulashahnya, halaman 257. Ia meriwayatkan dari ayahnya Thalhah bin Abidillah. Rujuk: Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 171; Tahdzibut Tahdzib, oleh Ibnu Hajar, jilid 1, halaman 391; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 403.
63. Abu Bakar Fithr bin Khalifah Al-makhzumi mawlahum Al-Hannath; Ahmad, Ibnu Mu’in. Al-‘Ajali, dan Ibnu Sa’d menyatakan ia sebagai orang yang terpercaya dan jujur; atau lebih dari itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Tahdzibut Tahdzib. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail ‘Amirah bin Watsilah Al-Laytsi. Rujuk Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 109; Udul Ghabah, jilid 3, halaman 92/jilid 5, halaman 376; Yanabi’ul Mawaddah, halaman 38; Tarikh Ali Muhammad, halaman 67.
64. Qabishah bin Dzulaib; biogarfinya dipuji oleh Adz-Dzahabi dalam kitabnya At-Tadzkirah, jilid 1, halaman 53; Ibnu Hibban menyatakan dalam Khulashahnya, halaman 268, ia adalah seorang yang terpercaya; ia wafat tahun 87 H. Ia meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah. Rujuk: Asna Al-mathalib, oleh Al-Jazari, halaman 3; Tarikh Ali Muhammad, oleh Al-qadhi, halaman 6.
65. Abu Maryam Qais Ats-Tsaqafi; An-Nasa’I menyatakan ia sebagai orang yang terpercaya sebagaimana yang terdapat didalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 395. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 152.
66. Muhammad bin Umar bin Abi Thalib, wafat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, sebagian mengatakan tahun 100 H; Ibnu Hibban mengatakan ia orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 2, halaman 348; Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 107; Musykilul Atsar, oleh Al-Hafizh Ath-thahawi, jilid 2, halaman 307.
67. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih Al-hamdani Al-Kufi Al-‘Aththar; Ibnu Mu’in dan Abu Zar’ah mengatakan ia orang yang teroercaya sebagaimana yang terdapat di dalam At-Tahdzib, halaman 321; Ibnu Hajar mengatakan dalam At-Taqrib ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 390.
68. Muslim Al-Mula’i. Ia meriwayatkan dari ayahnya, dari Habban bin Juwain Al-‘Urani. Rujuk: Al-Ishabah, jilid 1, halaman 372; Usdul Ghabah, jilid 1, halaman 367.
69. Abu Zurarah Mush’ib Sa’d Abi waqqash Az-Zuhri Al-Madani; Ibnu Hajar dalam kitabnya At-Taqrib, halaman 334, mengatakan ia orang yang terpercaya, wafat tahun 103 H. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Musykilul Atshar, oleh Al-Hafizh Ath-thahawi, jilid 2, halaman 309.
70. Muthallib bin Abdillah Al-Qurasyi Al-makhzumi Al-Madani; Abu Zur’ah dan daruqutni mengatakan ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Hanthab Al-Qurasyi Al-Makhzumi. Rujuk: Ihyaul Mayyit, oleh As-Suyuthi, dari Al-Hafizh Ath-Thabrani.
71. Mathrul Warraq. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah. Rujuk: Tarikh Baghdad, jilid 8, halaman 290.
72. Ma’ruf bin Khurbudz. Ibnu Hibban mengatakan ia terpercaya. Ia meriwayatkan dari Abu Thufail, dari Hudzaifah bin Usaid. Rujuk: Al-Bidayah Wan-Nihayah, jilid 5/209, 7/348.
73. Manshur bin Ruba’i. Ia meriwayatkan dari Hudzaifah Al-Yamani. Rujuk: At-Tadzkirah, oleh Adz-Dzahabi, jilid 1, halaman 127 dan 241; Da’atul Huda Ila Adail Haqqil Muwalat.
74. Muhajir bin Mismar Az-Zuhri Al-Madani; Ibnu Hibban mengatakan ia terpercaya. Ia meriwayatkan dari Sa’d Abi Waqqash. Rujuk: Al-khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 3.
75. Musa bin Aktal bin ‘Umair An-Numairi. Ia meriwayatkan dari pamannya ‘Amir bin ‘Umair An-Numairi. Rujuk : Al-Ishabah, jilid 2, halaman 255.
76. Abu Abdillah Maimun Al-BishriMawla Abdur Rahman bin Sammarah. Ibnu Hibban mengatakan ia orang yang terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 111. Ibnu Hajar mengatakan di dalam Al-Qawlul Musaddad: Maimun dinyatakan terpercaya oleh bukan seorang ahli, dan sebagian dari mereka membicarakan sebagai hafizh, At-Tirmidzi menyatakan hadisnya shahih. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 61; Mizanul I’tidal, oleh Adz-Dzahabi, jilid 3, halaman 224; Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Mttaqi Al-Hindi, jilid 6, halaman 390.
77. Nadzir Adh-Dhabbi Al-Kufi. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 371.
78. Hani bin Hani Al-Hamdani Al-kufi. An-Naasa’I meniadakan kelemahan darinya sebagaimana yang terdapat di dalam At-Taqrib. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as). Rujuk: Usdul Ghabah, jilid 3, halaman 321.
79. Abu Balaj Yahya bin Salim Al-Fazari Al-Wasithi. Ibnu Mu’in dan An-Nasa’I serta Ad-Daruquthni mengatakan ia terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 383; dalam Majma’uz Zawaid, jilid 9, halaman 109, Al-Hafizh Al-Haitsami juga mengatakan ia adalah orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas. Rujuk : Al-khashaish, oleh An-Nasa’i, halaman 7 ; Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 331 ; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 131.
80. Yahya bin Ju’dah bin Hubairah Al-Makhzumi. Ibnu Hajar mengatakan dalam kitabnya At-Taqrib, ia adalah termasuk tiga orang yang terpercaya. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Ujuk: Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 209.
81. Yazid bin Abi Yiyad Al-Kufi, salah seorang imam Kufah, wafat tahun 389, ia hidup selama 90 tahun. Ia meriwayatkan dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (as) Rujuk: Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 88.
82. Yazid bin Hayyan At-Tamimi Al-Kufi. Al-‘Ashimi dan An-Nasa’I mengatakan ia orang terpercaya sebagaimana yang terdapat di dalam Khulashah Al-Khazraji, halaman 370; Ibnu Hajar dalam Taqribnya mengatakan ia orang yang terpercaya dan termasuk tabi’in Thabaqat menengah. Ia meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Rujuk: Shahih Muslim, jilid 2, halaman 325, cet. Tahun 1327; Kanzul ‘Ummal, jilid 6, halaman 102.
83. Abu Dawud Yazid bin Abdur Rahman bin Udi Al-Kufi; Ibnu Habban mengatakan ia orang yang terpercaya, dalam kitab Khulashah Al-khazraji, halaman 372. Ia meriwayatkan dari Abu Hurairah Ad-dausi. Rujuk: Bidayah Wan-Nihayah, oleh Ibnu Katsir, jilid 5, halaman 214.
84. Abu Najih Yasar Ats-tsaqafi, wafat tahun 109 H. Ibnu Mu’in mengatakan ia terpercaya, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Khulashah Al-Khazraji, halaman 384. Ia meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash. Rujuk: Al-Khashaish, oleh An-Nasa’I, halaman 18.

Makna kata Mawla
Makna kata Mawla: kekasih, penolong, pelindung, dan pemimpin.
Hadis Al-Ghadir disampaikan oleh Rasulullah saw di depan kurang-lebih 150.000 sahabat, sesudah haji wada’, dalam situasi yang sangat penting. Tentu missi ini bukan missi yang sederhana, tetapi missi yang paling besar, paling menentukan masa depan Risalah Nabi saw, dan nasib kaum muslimin dan mukminin pasca Rasulullah saw. Di sini jelas, tidak mungkin kata Mawla bermakna kekasih, penolong dan pelindung, tapi jelas bermakna pemimpin. Karena kepemimpinan adalah puncak segala persoalan dalam Islam. Gagalnya kepemimpinan adalah kegagalan segala aspek kehidupan.

Dengan demikian jelaslah bahwa kata Mawla dalam hadis Al-Ghadir bermakna pemimpin, bukan kekasih, penolong atau pelindung. Kondisi kaum muslimin dewasa ini menunjukkan adanya kegagalan kepemimpinan Islam pasca Rasulullah saw. Kegagalan kepemimpinan Islam akan berdampak pada segala aspek kehidupan: Idiologi, politik, sosial, ekonomi, pendidikan; penyimpangan makna ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw, perselisihan, permusuhan, kezaliman, kesengsaraan kaum muslimin.

Hadis tentang Dua Belas Imam !!! Surga diharamkan bagi orang yang menzalimi dan memerangi Ahlul bait (sa)

Rome: Total War

Hadis tentang dua belas Imam redaksinya bermacam-macam, saya hanya menyebutkan sebagian saja:
1. Dalam Shahih Bukhari juz 4, kitab Ahkam:
Diriwayatkan oleh Jabir bin Sammarah, ia berkata bahwa Nabi saw bersabda:

يكون بعدي إثنا عشر أميراً، فقال كلمة لم أسمعها، فقال أبي أنه قال كلهم من قريش

“Sesudahku ada dua belas amir (pemimpin)”. Kemudian beliau menyabdakan suatu kalimat yang aku tidak mendengarnya; lalu ayahku mengatakan bahwa Nabi saw bersabda: “Mereka semuanya dari golongan Quraisy.”

2. Dalam Shahih Muslim, bermacam-macam redaksi:

جابر بن سمرة قال دخلت مع أبي على النبي (صلى الله عليه وآله) فسمعته يقول (إن هذا الامر لا ينقضي حتى يمضي فيهم إثنا عشر خليفة) قال ثم تكلم بكلام خفي علي قال: فقلت لابي ما قال، قال «كلهم من قريش»

Jabir bin Sammarah berkata: aku bersama ayahku datang kepada Nabi saw, lalu aku mendengar beliau bersabda: “Sungguh persoalan ini tidak akan selesai sehingga berada di bawah pimpinan dua belas khalifah.” Kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat yang tidak jelas bagiku. Kemudian aku bertanya kepada ayahku tentang apa yang diucapkan oleh beliau. Ayahku berkata bahwa Nabi saw bersabda: “semuanya dari quraisy.” (Shahih Muslim jilid 4, halaman 79).

Nabi saw bersabda:

لا يزال الدين قائماً حتى تقوم الساعة ويكون عليهم إثنا عشر خليفة كلهم من قريش

“Agama akan selalu tegak sampai hari kiamat di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari golongan quraisy.” (Shahih Muslim jilid 2, bab manusia mengikuti Qurasy). Sebagian lagi redaksinya:

لا يزال الاسلام عزيزاً إلى اثنى عشر خليفة كلهم من قريش

“Islam selalu mulia di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari quraisy.” Redaksi yang lain:

لا يزال أمر الناس ماضياً ما وليهم إثنا عشر رجلاً كلهم من قريش

“Persoalan manusia senantiasa sempurna di bawah pimpinan dua belas orang, semuanya dari quraisy.” Sebagian redaksinya:

لا يزال هذا الدين عزيزاً منيعاً إلى إثنا عشر خليفة كلهم من قريش

“Agama ini akan selalu mulia dan terjaga di bawah pimpinan dua belas khalifah, semuanya dari quraisy.”

3. Shahih At-Turmidzi, jilid 2:

لا يزال الاسلام عزيزاً إلى اثنى عشر امـيرا كلهم من قريش

“Islam akan selalu tegak di bawah pimpinan dua belas amir yang semuanya dari quraisy.”

4. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 398:

عن الشعبي عن مسروق قال كنا جلوساً عند عبد الله بن مسعود وهو يقرئنا القرآن فقال له رجل يا أبا عبد الرحمن هل سألتم رسول الله (صلى الله عليه وآله) كم تملك الامة من خليفة فقال عبد الله بن مسعود ما سألني عنها أحد منذ قدمت العراق قبلك ثم قال نعم ولقد سألنا رسول الله (صلى الله عليه وآله)فقال اثنا عشر كعدة نقباء بني إسرائيل

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi dari Masyruq, ia berkata, aku pernah duduk-duduk dengan Abdullah bin Mas’ud, ia membacakan ayat Al-Qur’an kepada kami. Kemudia ada seseorang bertanya kepadanya: wahai Aba Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasulullah saw berapa jumlah khalifah yang akan memimpin ummat. Kemudian Ibnu Mas’ud menjawab: Ya, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw, lalu beliau bersabda: “Dua belas khalifah seperti jumlah pemimpin Bani Israil.”

Dalam redaksi yang lain:

عن جابر بن سمرة قال سمعت رسول الله (صلى الله عليه وآله) يقول في حجة الوداع لا يزال هذا الدين ظاهراً على من ناواه ولا يضره مخالف ولا مطارق حتى يمضي من امتي إثنا عشر أميراً كلهم من قريش

Diriwayatkan dari Jabir bin Sammarah, ia berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda dalam haji wada’: “Agama ini selalu jelas pada orang yang bermaksud padanya, dan membahayakan padanya orang yang menentang dan menyerangnya, sehingga berlalu dari ummatku dua belas amir yang semuanya dari quraisy.” (Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 5, halaman 89).

5. Shawa’iqul Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 11, pasal 2:

عن جابر بن سمرة أن النبي صلى الله عليه وآله قال: «يكون بعدي إثنا عشر أميراً كلهم من قريش.

Diriwayatkan dari Jabir bin Sammarah bahwa Nabi saw bersabda: “Akan ada sesudahku dua belas amir semuanya dari quraisy.”

6. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi, jilid 6, halaman 160:

عن النبي صلى الله عليه وآله أنه قال: يكون بعدي إثنا عشر خليفة

Dari Nabi saw, beliau bersabda: “Akan ada sesudahku dua belas khalifah.”

7. Dalam Kitab Yanabi’ul Mawaddah oleh Al-Qunduzi Al-Hanafi, bab 95:

جابر بن عبدالله قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله) يا جابر أن اوصيائي وأئمة المسلمين من بعدي أولهم علي، ثم الحسن، ثم الحسين، ثم علي بن الحسين، ثم محمد بن علي المعروف بالباقر ستدركه يا جابر فإذا لقيته فاقراه مني السلام، ثم جعفر بن محمد، ثم موسى بن جعفر، ثم علي بن موسى، ثم محمد بن علي، ثم علي بن محمد، ثم الحسن بن علي، ثم القائم اسمه اسمى وكنيته كنيتي ابن الحسن ابن علي ذاك الذي يفتح الله تبارك وتعالى على يديه مشارق الارض ومغاربها، ذاك الذي يغيب عن أوليائه غيبة لا يثبت القول بامامته الا من امتحن الله قلبه للايمان قال جابر: فقلت يا رسول الله فهل للناس الانتفاع به في غيبته؟ فقال اي والذي بعثني بالنبوة انهم يستضيئون بنور ولايته في غيبته كانتفاع الناس بالشمس وان سترها سحاب هذا سر مكنون سر الله ومخزون علم الله فاكتمه الا عن أهله

Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Wahai Jabir, sesungguhnya para washiku (penerima wasiatku) dan para Imam kaum muslimin sesudahku adalah pertama Ali, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Al-Baqir dan kamu akan menjumpainya wahai Jabir, dan jika kamu menjumpainya sampaikan padanya salamku; kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Al-Hasan bin Ali; kemudian Al-Qaim, namanya sama dengan namaku, nama panggilannya sama dengan nama panggilanku, yaitu putera Al-Hasan bin Ali, di tangan dialah Allah tabaraka wa ta’ala membuka kemenangan di bumi bagian timur dan barat, dialah yang ghaib dari para kekasihnya, ghaib yang menggoncangkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya kecuali orang yang hatinya telah Allah uji dalam keimanan. Kemudian Jabir berkata, aku bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, apakah manusia memperoleh manfaat dalam keghaibannya? Nabi menjawab: Demi Zat Yang Mengutusku dengan kenabian, mereka memperoleh cahaya dari cahaya wilayahnya (kepemimpinannya) dalam keghaibannya seperti manusia memperoleh manfaat cahaya matahari walaupun matahari itu tertutup oleh awan; inilah rahasia Allah yang tersimpan dan ilmu Allah yang dirahasiakan, Allah menyimpannya kecuali dari ahlinya

.

the-elder-scrolls-iv-oblivion

Dalam Dzakhair Al-‘Uqba, halaman 20:
Ali bin Abi Thalib (as) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

إنّ الله حرم الجنة على من ظلم أهل بيتي أو قاتلهم أو أغار عليهم أو سبهم

“Sesungguhnya Allah mengharamkan surga bagi orang yang menzalimi Ahlul baitku, atau memerangi mereka, atau menyerang mereka, atau mencerca mereka.”

Dalam Nurul Abshar, Asy-Syablanji, halaman 100:
Rasulullah saw bersabda:

حرمت الجنة على من ظلم أهل بيتي وآذاني في عترتي … الحديث

“Diharamkan surga bagi orang yang menzalimi Ahlul baitku dan menyakitiku karena menyakiti ‘itrah(keturunan)ku….”

Hadis ini dan yang semakna terdapat dalam:
1. Kanzul Ummal, jilid 7 halaman 273. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik.
2. Tafsir Ad-Durrul Mantsur Jalaluddin As-Suyuthi, tentang tafsir surat Al-Kautsar.

MEDIEVAL II: TOTAL WAR ~ SB

Surat AN-NISA’: 59
Ulil amri adalah para Imam dari Ahlul bait (as)

يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَ أَطِيعُوا الرَّسولَ وَ أُولى الأَمْرِ مِنكمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil amri kamu.”

Yang dimaksud “Ulil-amri” dalam ayat ini adalah Ali bin Abi Thalib (as) dan Ahlul bait Nabi saw.

Dalam Tafsir Al-Burhan tentang ayat ini disebutkan suatu riwayat yang bersumber dari Jabir Al-Anshari (ra), ia berkata: Ketika Allah menurunkan ayat ini aku bertanya: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, tetapi siapakah yang dimaksud dengan Ulil-amri yang ketaatannya kepada mereka Allah kaitkan dengan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-Nya? Rasulullah saw menjawab:
Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku: Pertama, Ali bin Abi Thalib, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Al-Husein, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Muhammad bin Ali yang dalam Taurat gelarnya masyhur Al-Baqir. Wahai Jabir, kamu akan menjumpai dia, sampaikan salamku kepadanya. Kemudian Ash-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Al-Hasan bin Muhammad, kemudian dua nama Muhammad dan yang punya dua gelar Hujjatullah di bumi-Nya dan Baqiyatullah bagi hamba-hamba-Nya yaitu Ibnul Hasan, dialah yang Allah perkenalkan sebutan namanya di seluruh belahan bumi bagian barat dan timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoyahkan keimamahannya kecuali bagi orang-orang yang Allah kokohkan keimanan dalam hatinya.”

.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Fakhrur Razi
Fakhrur Razi mengatakan: Pembatasan kata Ulil-amri dengan kata minkum menunjukkan salah seorang dari mereka yakni manusia biasa seperti kita, yaitu orang yang beriman yang tidak mempunyai keistimewaan Ishmah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah). Yang perlu diragukan adalah pendapat yang mengatakan: Mereka (Ulil-amri) adalah satu kesatuan pemimpin, yang ketaatan kepada masing-masing mereka hukumnya wajib

.

Ar-Razi lupa bahwa makna ini sudah masyhur digunakan dalam bahasa Al-Qur’an, misalnya: “janganlah kamu mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)” (Al-Qalam: 8), “Janganlah kamu mentaati orang-orang kafir.” (Al-Furqan: 52), dan ayat-ayat yang lain dalam bentuknya yang bermacam-macam: kalimat positif, kalimat negatif, kalimat berita, kalimat perintah dan larangan.

Ringkasan Kritik Allamah Thabathaba’i terhadap Tafsir Al-Manar
Syeikh Rasyid Ridha mengatakan: Ulil-amri adalah Ahlul hilli wal-Aqdi yaitu orang-orang yang mendapat kepercayaan ummat. Mereka itu bisa terdiri dari ulama, panglima perang, dan para pemimpin kemaslatan umum seperti pemimpin perdagangan, perindustrian, pertanian. Termasuk juga para pemimpin buruh, partai, para pemimpin redaksi surat kabar yang Islami dan para pelopor kemerdekaan

.

Inikah maksud dari Ulil-amri? Pendapat ini dan yang punya pandangan seperti ini telah menutupi makna Al-Qur’an yang sempurna dengan makna yang tidak jelas. Ayat ini mengandung makna yang jelas yaitu Ismah Ilahiyah (jaminan kesucian dari Allah) bagi Ulil-amri. Karena ketaatan kepada Ulil-amri bersifat mutlak, dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

.
Apakah yang mempunyai sifat kesucian (‘ishmah) adalah para pemimpin lembaga-lembaga itu sehingga mereka dikatagorikan sebagai orang-orang yang ma’shum? Yang jelas tidak pernah terjadi para Ahlul hilli wal-‘Iqdi yang mengatur urusan ummat, mereka semuanya ma’shum. Mustahil Allah swt memerintahkan sesuatu yang penting tanpa mishdaq (ekstensi) yang jelas. Dan mustahil sifat ‘ishmah dimiliki oleh lembaga yang orang-orangnya tidak ma’shum, bahkan yang sangat memungkinkan mereka berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Pendapat mereka ini jelas salah dan mengajak pada kesesatan dan kemaksiatan. Mungkinkah Allah mewajibkan kita taat kepada orang-orang seperti mereka?

.

Pendapat Ahlul Bait (as)
Ulil-amri adalah Ali bin Abi Thalib dan para Imam suci (as).

Dalam Tafsir Al-‘Ayyasyi tetang ayat ini menyebutkan bahwa:
Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata tentang ayat ini: “Mereka itu adalah para washi Nabi saw.”
Tentang ayat ini Imam Ja’far Ash-Shadiq (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari Ahlul bait Rasulullah saw.”
Tentang ayat ini Imam Muhammad Al-Baqir (as) berkata: “Mereka adalah para Imam dari keturunan Ali dan Fatimah hingga hari kiamat.”

.

Dalam kitab Yanabi’ul Mawaddah disebutkan suatu riwayat dari Salim bin Qais Al-Hilali, ia berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata: “Yang paling dekat bagi seorang hamba terhadap kesesatan adalah ia yang tidak mengenal Hujjatullah Tabaraka wa Ta’ala. Karena Allah telah menjadikannya sebagai hujjah bagi hamba-hamba-Nya, dia adalah orang yang kepadanya Allah perintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaatinya dan mewajibkan untuk berwilayah kepadanya

.
Salim berkata: Wahai Amirul mukmin, jelaskan kepadaku tentang mereka (Ulil-amri) itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang ketaataannya kepada mereka Allah kaitkan pada diri-Nya dan Nabi-Nya.” Kemudian ia berkata: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Ulil-amri kalian.”
Salim bin Qais berkata: Wahai Amirul mukminin, jadikan aku tebusanmu, jelaskan lagi kepadaku tentang mereka itu.
Amirul mukminin (as) berkata: “Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasulullah saw disampaikan di berbagai tempat dalam sabda dan khutbahnya, Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku: Kitab Allah dan ‘itrahku, Ahlul baitku’.”

.

Riwayat hadis ini dan yang semakna dengan hadis tersebut terdapat dalam:

1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat ini.
2. Tafsir Ath-Thabari tentang ayat ini.
3. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 3 halaman 357, tentang ayat ini.
4. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134, cet. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul.
5. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204.
6. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 3, halaman 424, cet. pertama, Teheran.
7. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250.

peta perbandingan kekuatan militer Israel VS Iran !!! Komparasi Kekuatan Iran vs Israel !!!

Mantan kepala badan intelijen Israel (Mossad), Meir Dagan mengingatkan untuk tidak menyerang fasilitas nuklir Iran., pesawat-pesawat tempur Israel bisa menimbulkan kerusakan serius pada lokasi-lokasi nuklir Iran. Namun mereka akan menemui kesulitan dalam menggempur fasilitas nuklir bawah tanah di dekat Kota Qom. Para analis tersebut mengatakan, kekuatan Angkatan Udara AS jauh melampaui kemampuan militer Israel.


Akhir-akhir ini berita dunia disibukan dengan masalah perseteruan antara Blok Barat yang dikompori oleh Israel dan Republik Islam Iran, sebuah ‘konflik’ konyol yang sengaja di bikin oleh Zionis Israel dengan berbagai macam tuduhan dan false flag yang tengah digelontorkannya kepada Iran.  Seperti diketahui bahwa sejarah permusuhan antara blok Barat /Israel dengan Iran bermulai sejak Revolusi Islam berhasil menggulingkan kekuasaan Shah Iran pada tahun 1979 silam. akibat lepasnya Iran dari pengaruh Barat, otomotis membuat kekuatan barat berkurang drastis disamping kehilangan keuntungan dari pasokan minyak Iran

.

Berbagai upaya yang dilakukan Amerika untuk menjatuhkan Republik Islam yang terus mengalami berbagai kegagalan, upaya menfaatkan Saddam Hussein dengan menyerang Iran gagal total, Saddam yang sesumbar akan mampu menguasai Iran dalam waktu seminggu nyatanya justru kalah terpukul balik.

Permusuhan Israel – Iran kembali memanas ketika Iran mengembangkan teknologi Nuklir, padahal sudah jelas-jelas bahwa Iran untuk saat ini belum ‘mampu’ membuat bom nuklir dan lebih ditujukan untuk kebutuhan energi. Tapi yang namanya Blok Barat (Israel dan Z.O.G) tentunya suka mencari-cari kesalahan musuhnya, tengok aja negara2 yang menjadi teman Amerika, justru didukung kan proyek teknologi nuklir nya. Melihat ekslakasi konflik yang makin meningkat ketika pemimpin Israel melontarkan ancaman untuk menyerang Iran tanpa restu dari Amerika, sepertinya menarik untuk membandingkan kekuatan 2 negara yang lagi musuhan ini, siapa yang potensial untuk memenangkan pertempuran.

ISRAEL

Yups, Israel. Negara ‘jejadian’ yang didirikan oleh konglomerat Yahudi dan Organisasi Zionis pada tahun 1948, menempati promise land diantara Mesir dan Lebanon. yang memaksa jutaan rakyat Palestina mengungsi dan sisanya di tindas. Inilah Israel, negara terkuat di Timur Tengah, negara kecil yang mampu mengendalikan negara besar yang tergabung dalam Z.O.G (Zionist Occupied Government) yakni Amerika serikat, Inggris, Perancis, Jerman, dll. Di Amerika serikat, hampir seluruh sistem keamanananya dibuat oleh yahudi, termasuk media dan industrinya. FYI, sekitar 20  dari 44 presiden Amerika serikat adalah orang Yahudi pengikut the Zion (klo ga percaya, silahkann cek silsilah dan nama keluarganya). Otomatis, sebagai “penjaganya” Israel ,Amerika mau tak mau harus memenuhi kemauan negara ini, termasuk persenjataan militernya dan tentunya gratis.

Well, berkat dukungan tak terbatas dari USA kekuatan militer Israel menjadi yang terkuat di Timteng, belum senjata nuklirnya yang sengaja dirahasiakan. Namun yang jelas  kehebatan Israel ini bukan berarti tanpa cela, Israel akan keok klo pihak2 pendukungnya tak ada,belum mental pasukannya yang katanya pengecut, digertak langsung kabur. Melihat keadaan sekarang, Israel tak bisa menang melawan Iran kecuali Amerika mendukung penuh, belum efek yang diakibatkan serangan Israel ke Iran yakni, Hizbollah , Hamas, Irak ,Pakistan ,Afganistan dan Suriah yang sepertinya bakal membantu Iran. Sebuah perang yang penuh resiko dan mengancam kedamaian dunia, prediksi tentang Perang Dunia III pun bisa menjadi kenyataan. Hal yang di takuti dari Israel adalah badan intelejennya, Mossad yang cukup sukses mengemban misi rahasia, seperti membunuh para ilmuwan nuklir Iran dan membuat teror dimana-mana dengan menebar bom. Menurut GFP, untuk saat ini militer Israel berada diperingkat 10 Dunia >> cek yang cukup menjelaskan seberapa hebat kapasitas militer Israel.

IRAN

Sebuah Negara di Timur Tengah yang kaya akan minyak, yang dahulu disebut dengan nama Persia. Republik Islam Iran, didirikan imam besar Ayatullah Khomeini melalui Revolusi di tahun 1979 dengan menggulingkan Shah. Sampai saat ini, negara ini telah mengalami kemajuan yang pesat di berbagai bidang, terutama bidang nuklir dan persenjataannya, bahkan Iran mampu meluncurkan sendiri satelitnya ke orbit. Pertumbuhan ekonominya relatif  stabil, di  bidang Otomotif, Iran telah mampu memproduksi kendaraannya sendiri yang cukup memenuhi permintaan domestiknya. Jaringan Jalan raya di Iran adalah  salah satu yang terbaik di dunia, kondisinya mulus dan menghubungkan setiap kotanya dengan lancar.

Perkembangan Iran ini membuat jengkel blok barat, terutama setelah Iran berupaya mengembangkan teknologi nuklirnya sendiri, walhasil berbagai macam tekanan dari pihak barat ditujukan pada negeri mullah ini. Ibarat senjata makan tuan, tekanan barat justru membuat  Iran mandiri dan sukses memajukan ekonominya,  Minyaknya yang diembargo barat justru membuat beberapa negara Barat kelimpungan, sedangkan Iran sendiri masih memiliki banyak calon pembeli minyaknya yang lebih menguntungkan, seperti India dan China.

kemenangan Yom Kippur thn 1973 oleh serangan Mesir_Syiria, bukan krn dukungan Iran, krn msh dibawah Syah Iran…..yg mengembargo minyak adalah King Faisal dr Saudi Arabia, diikuti oleh NGC (negara negara arab teluk)….. ….tp KIng Faisal sendiri kemudian dibunuh, & digantikan ma yg lembek ke AS…

Militer Iran terbagi atas dua pasukan yaitu pasukan militer negara dan pasukan militer revolusi, yang lebih dikenal sebagai  Garda Revolusi atau Pasdaran, Pasukan inilah yang sukses menyerang balik Irak. Garda Revolusi adalah inti dari militer Iran yang bertugas menjaga eksistensi Republik Islam, yang uniknya komando tertinggi bukan pada presiden tapi pemimpin Tertingginya

Untuk mengalahkan Iran, tak cukup dengan kekuatan militer karena selama semua komponen di Iran bersatu padu, saat itu juga tak ada jalan bagi pihak asing untuk menaklukan Iran. Secara Kualitas persenjataan, semisal  Jet Tempur dan Tank, Israel jauh berada di atas Iran. Kebanyakan Alutsista Iran masih berasal dari peninggalan shah Iran, seperti jet tempur F14 Tomcat, F5, dll. Semasa Shah, Iran mendapat gelontoran alutsista canggih dari Amerika termasuk F14 yang hanya dimiliki Amerika dan Iran saja. Saat ini, pelan tapi pasti Iran mulai menunjukan kekuatan militernya, hasil dari industri dalam negerinya dan dimanfaatkan untuk menggertak Amerika cs. Yap, kekuatan terbesar Iran justru bukan di militernya, tapi sisi SoftPower nya. Gertakan Iran terbukti sukses membuat pihak barat Keder, peringkat militer Iran menurut GFP berada di urutan 12, terpaut 1 level dari rivalnya. bisa di cek >> sini

At least, bisa ane ambil kesimpulan sederhana bahwasanya Israel tak akan bisa menaklukan Iran, sedangkan iran bisa membuat Barat cenad cenud dengan gertakan dan diplomasinya. Tanpa dukungan penuh USA, Israel dijamin tak berani menyerang, dan seandainya USA mendukung penuh, walah Perang Dunia III nongol donk. Jadi tak ada yang kuat dan kalah, yang ada adalah bagaimana Perang dunia III bisa dihindari dengan damai..

//

peta kekuatan militer israel vs iran

Berkembangnya rumor tentang perang antara Israel VS Iran, mari kita bandingkan kekuatan militer kedua negara dengan objektif dengan merujuk dari beberapa sumber yang terkait.

IRAN

Personal :
Total pasukan aktif : 545.000 (diperkirakan saat ini mencapai 650.000)
Reserve (Cadangan) : 350.000
Paramiliter : 11.390.000

Anggaran militer/tahun : USD 6,2 miliar

Peralatan Tempur

Darat :
Tank : 1800
Armored Vehicle & Artileri : 670
Armored Carrier (pengangkut) : 865
* kondisi : Mostly older technology, maybe one to three full divisions of modern equipped (kebanyakan teknologi lama, kemungkinan hanya 3 divisi yg mengalami modernisasi)

Laut :
Frigate : 3
Corvette : 3
Kapal cepat / patroli : 68 (kapal jenis small Fast Attack & sea patrol)
Kapal selam : 3 (kilo class)
*Kondisi : Sebagian besar masih berteknologi lama, namun maintenance baik.

Udara :
Pesawat Tempur : 180
Jenis lain : 482 (pesawat angkut, latih, heli dll)
*Kondisi : Kebanyakan berteknologi lama, maintenance dan modernisasi kurang baik. Kemungkinan hanya 2 skuadron yg dimaintenance & modernisasi dengan baik.

Rudal Balistik :
CSS-8, SCUD-B, SCUD-C, Shahab-3, Shahab-4, Shahab,-5, Shahab-6 ICBM, Taepo Dong 1, Taepo Dong 2

ISRAEL

Personal :
Total pasukan aktif : 187.000
Reserve (Cadangan) : 425.000
Paramiliter : 8.050

Anggaran militer/tahun : : USD 12.4 miliar

Peralatan Tempur

Darat :
Tank : 3650
Armored Vehicle & Artileri : 6334 (IFVs, ARVs, LCVs, Self-propelled artillery)
Armored Carrier (pengangkut) : 1800
*Kondisi : Hampir semua berteknologi modern, dimaintenance dengan baik dan mengalami modernisasi.

Laut :
Frigate : 10
Corvette : 3
Kapal cepat / patroli : 50 (kapal jenis small Fast Attack & sea patrol)
Kapal selam : 3
*Kondisi : Hampir semua berteknologi modern, dimaintenance dengan baik dan mengalami modernisasi.

Udara :
Pesawat Tempur : 875
Jenis lain : 255 (pesawat angkut, latih)
Heli tempur : 286
*Kondisi : Hampir semua berteknologi modern, dimaintenance dengan baik dan mengalami modernisasi.

Rudal Balistik :
Jericho-I, Jericho-II, Jericho-III, LORA, Mobile Tactical High-Energy Laser (MTHEL) dll

Senjata Nuklir :
Hulu ledak nuklir : 400

Itulah peta kekuatan kedua negara seandainya pecah perang antara Israel vs Iran. Meskipun begitu, kita semua berharap perang tak akan terjadi.

3 ribu perempuan Iran, bergabung dalam sekolah beladiri bak ninja dari Jepang. Di sekolah itu, mereka dilatih beladiri kung-fu dan menggunakan senjata tajam untuk mempertahankan negaranya.

Sekolah beladiri itu dibangun pada 1989 silam, sekolah itu memang berniat untuk membentuk siswa-siswanya menjadi kunoichi (ninja perempuan). Fatima Muamer yang menjadi instruktur beladiri itu mengatakan, para perempuan Iran sangat tertarik dengan ninjutsu karena beladiri itu dapat menseimbangkan kekuatan dan pikiran.

“Salah satu pelajaran penting di ninjutsu adalah penghormatan dan kerendahan hati. Para siswa dilatih untuk menghormati drinya sendiri. Dengan menghormati eksistensinya, mereka akan menguasai seluruh kebudayaan dari ninjutsu,” ujar Muamer, seperti dikutip Press TV, Selasa (7/2/2012).

Kunoichi Iran itu dipastikan akan menjadi salah satu kekuatan yang berguna untuk mendukung tentara reguler Iran. Senjata-senjata yang digunakan para kunoichi itu adalah panah, pedang, tongkat berantai, dan bintang ninja.

Sebuah sekolah ninja telah ditubuhkan di iran oleh seorang Sensei bernama Akbar Faraji. Khalis dah mula keliru jugak..adakah ini propoganda atau memang betul ada.. tengok pada video ni memang ada kelass arr diorang ni.. Menurut sensei.. orang lelaki dipanggil ninja.. manakala perempuan dipanggil Kunoichi

Beladiri ninjutsu di Iran juga sudah muncul 22 tahun yang lalu dan diprakarsai oleh seorang pria bernama Sensei Akbar Faraji. Hingga saat ini, sebanyak 24 ribu warga Iran bergabung dalam perguruan ninjutsu.

“Menjadi seorang ninja memerlukan kesabaran, toleransi, dan ketabahan. Ninjutsu dapat diibaratkan sebagai bisa ular, yang mematikan, namun juga tampil sebagai obat mujarab,” ujar Faraji.

Seperti diketahui, ninjutsu sendiri merupakan beladiri mematikan yang berasal dari Jepang. Beladiri tersebut umumnya dikuasai oleh agen-agen rahasia atau tentara bayaran di Jepang pada tahun 1185 silam.

From left to right :

- Mostafa Mohammad Najar (Menteri Pertahanan)
– Mohammad Ali Jafari (Komandan I.R.G.C.)
– Hassan Firuzabadi (Kepala Staf Angkatan Bersenjata IRan)
– Sayid Ali Khamenei (Pimpinan Spiritual Iran)
– Ataollah Salehi (Panglima Angkatan Bersenjata Iran)

Pasukan Pertama…BASIJI

Basiji adalah tentara sukarelawan yang terdiri dari kaum muda Iran. Dibentuk oleh Ayatollah Khomeini pada tahun 1979 saat tengah berkecamuk perang melawan Irak. Mereka telah cukup tangguh dalam hal pertempuran. Terbukti mereka mampu menghalau serangan Saddam saat itu dengan melakukan pertempuran dengan sangat gigih. Terdapat organisasi lokal Basiji di setiap tempat di seluruh pelosok Iran. Tugas mereka adalah adalah mempertahankan negara dari serangan musuh, pelayanan sosial, mengelola sumber alam, partisipasi dalam rehabilitasi tempat pendidikan,pelayanan kesehatan. Jumlah mereka saat ini mencapai kurang lebih 11 juta personel dan siap di mobilisasi kapanpun dimanapun…

kedua…TAKAVARAN (Pasukan Serbu Darat dan Laut)

Mereka adalah inti dari kekuatan Angkatan laut Iran, yang berjumlah kurang lebih 18 ribu personel. Memiliki kemampuan raid didaratan pantai maupun laut.

ketiga…SIPOH PASDARAN (Pasukan Garda Revolusi)

Sipoh Pasdaran didirikan sesaat setelah kemenangan Revolusi Iran yg dipimpin Ayatollah Khomeini yang menggulingkan Rezim Shah Iran tahun 1979. Sipoh Pasdaran adalah nama resmi pasukan elit ini, saat ini berkekuatan 250 ribu personel. Sipoh Pasdaran di pimpin langsung oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Hebatnya Sipoh Pasdaran memiliki cabang-cabang angkatan (darat, laut, udara) tersendiri yang berpararel dengan Angkatan Bersenjata Iran. Didukung dgn infrastruktur keuangan dan teknologi yang kuat, mereka memiliki kemampuan layaknya pasukan elit kelas dunia.

Infanteri
.
Lanjutan Militer Iranini adalah armor anti serangan udara, kalo di US mirip sama Stinger.
.

Militer Iran Ciptakan Teknologi Piring Terbang

Ilmuwan Iran mengklaim menciptakan piring terbang pertama, meskipun belum jelas seberapa tinggi objek itu mampu terbang, Media menyebut pesawat itu mirip UFO.

Piring terbang bernama Zohal yang berarti Saturnus itu merupakan pesawat ruang angkasa tak berawak yang dirancang untuk pencitraan udara.

Namun, berdasarkan keterangan Daily Mail, objek itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai misi yang tidak disebutkan terperinci. Kantor media Fars menggambarkan piring terbang itu mirip UFO di film Hollywood pada1950-an.

“Alat transportasi yang mudah diluncurkan dan terbang, sedikit bunyi dan memiliki keuntungan yang sama dengan pesawat lain,” tulis laporan ISNA (Iran’s Student’s News Agency).

Perangkat itu dilengkapi autopilot, pengatur stabilitas gambar, GPS dan alat perekam kualitas HD. Program luar angkasa Iran yang ambisius tampaknya menjadi peringatan bagi dunia Barat, karena pada waktu yang sama, teknologi misil yang digunakan untuk program luar angkasa sama dengan teknologi membangun rudal balistik antarbenua.

Tahun lalu, Iran mengumumkan kesuksesan mereka berhasil mengirim tikus, kura-kura dan cacing ke luar angkasa. Mereka berambisi mengirim manusia ke antariksa, sembilan tahun mendatang.

    
Ahmadinejad: Militer Iran tak Terkalahkan!

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad

Ahmadinejad: Militer Iran tak Terkalahkan!

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad menyatakan, “Militer Iran adalah pasukan paling merakyat, kuat, mulia, dan dicintai.” IRNA melaporkan, hal itu dikemukakan Senin (18/4) oleh Ahmadinejad pada peringatan Hari Angkatan Bersenjata Iran yang digelar di dekat makam Imam Khomeini, di Teheran. Dijelaskannya, “Militer yang berjalan di atas jalur kepemimpinan rahbari, tidak akan terkalahkan.”

.

Dikatakannya, “Kita bersyukur kepada Allah SWT karena selama 32 tahun, militer dan para tentara Iran berhasil melalui banyak rintangan di berbagai medan, berkat kepatuhan mereka kepada Rahbar.”Presiden Iran itu lebih lanjut menjelaskan, “Peran militer dan Angkatan Darat dalam menjaga independensi, kemuliaan, dan kehormatan negara, merupakan peran yang sangat istimewa.”
.
Menyinggung era Perang Pertahanan Suci dalam melawan agresi tentara rezim Saddam Hossein, Ahmadinejad menyebutnya sebagai era introspeksi diri dan identitas militer, serta era pembuktian kemurnian, keberanian, dan kepahlawanan militer.”Alhamdulillah berkat dan dengan memanfaatkan pengalaman pada Perang Pertahanan Suci dan berbagai perisitiwa penting di kawasan dalam beberapa tahun terakhir, kini militer Iran menjadi kekuatan yang percaya diri, kokoh, mukmin, dan tidak terkalahkan,” tambah Ahmadinejad
.
Ahmadinejad juga menyampaikan terima kasihnya yang mendalam kepada seluruh panglima militer, perwira, dan para tentara Iran yang beriman kepada Allah swt, mencintai negara, dan mematuhi Rahbar, atas upaya tanpa lelah mereka mempertahankan kemuliaan, kebudayaan, agama, tujuan, serta integritas bangsa.Di bagian lain pernyataannya, Ahmadinejad menyatakan bahwa Iran bangga karena dewasa ini Angkatan Bersenjata Iran telah mencapai swasembada dalam persenjataan maupun perlengkapan logistik.

Menhan AS: Kemampuan Militer Iran Hapus Pengaruh Militer AS di Dunia

05/03/2011 – 12:27

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Robert Gates dalam sebuah pidatonya di Akademi Angkatan Udara Colorado (AFA) mengakui peningkatan kemampuan militer Republik Islam Iran. “Kemajuan militer Iran menghapus pengaruh militer AS di dunia,” aku Gates.

Hal ini disampaikan Gates saat memberikan sambutan di depan para taruna akademi angkatan udara AS di Colorado. Menurutnya kemajuan militer Iran, Cina dan Korea Utara menghapus pengaruh militer AS di dunia. Demikian dilaporkan Fars mengutip Reuters.

Ia menekankan, mencermati produksi senjata Cina, Iran dan Korea Utara mulai dari rudal Cruise dan Balistik hingga kapal selam canggih serta sistem anti udara sepertinya kesemuanya itu ditujukan untuk melumpuhkan persenjataan militer Amerika

…………………………..

Iran Produksi Massal Rudal Berdaya Ledak Tinggi

Iran memproduksi massal rudal-udara yang akan dipasang dipesawat tempur yang dilengkapi radar yang mampu menghancurkan target dengan tingkat ketepatan tinggi.

Hal itu dikonfirmasikan oleh Wakil Komandan Angkatan Udara Iran, Jenderal Sayyed Mohammad Alavi, kepada IRNA hari ini (16/3). Dikatakannya, “Para ahli Angkatan Udara Iran mulai memproduksi secara massal rudal dilengkapi radar yang kemampuannya telah dioptimalkan dan dipasang pada jet tempur.”
pada hari Rabu.

Ditambahkannya bahwa tingkat ketepatan rudal radar sangat tinggi dalam menghancurkan target. Selain daya jangkaunya, daya rusaknya pun juga telah ditingkatkan.

Pejabat militer Iran itu menegaskan bahwa kemampuan Angkatan Udara Iran meningkat pesat, bahkan kemampuan armada Angkatan Udara Iran di atas rata-rata kemampun negara-negara regional.

Jenderal Alavi menjelaskan bahwa rudal tersebut telah diujicoba di berbagai operasi dan hasilnya sangat memuaskan.

Iran telah memulai program kemandirian dalam industri pertahanan negara dan memprakarsai sejumlah proyek produksi perangkat keras militer, termasuk memproduksi kendaraan militer udara dan laut seperti kapal selam, kapal tempur, dan berbagai jenis rudal.(

Israel Akui Kecanggihan Radar Terbaru Iran

Situs Israel Defense dalam laporannya mengisyaratkan kemampuan rudal Republik Islam Iran. Menurut situs ini,”Apa yang kita saksikan menunjukkan bahwa industri militer Iran sangat maju dari apa yang dilaporkan Barat.”

“Bangsa Iran di manuver terbaru untuk pertama kalinya memamerkan radar dengan kemampuan multi dan memiliki kemampuan teknologi canggih,” tulis situs Israel Defense seperti dinukli Mehr News.

Radar terbaru tersebut dipamerkan militer Iran dengan dihadiri Pemimpin Besar Revolusi Islam atau Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei. Situs ini menambahkan, hari Selasa lalu Iran menggelar pameran dan manuver hasil industri militernya. Di manuver yang dihadiri Rahbar tersebut, dipamerkan senjata buatan dalam negeri Iran mulai dari roket, rudal, kendaraan lapis baja dan persenjataan canggih lainnya.

Radar multifungsi Iran tersebut sangat canggih, selain jarak detiksi dan radiasinya secara elektonik mendapat pengakuan juga kemampuannya menditeksi sasaran tanpa membutuhkan perubahan letak cukup mencengangkan.

Tal Inbar, peneliti di Institut Riset Antariksa Fisher membenarkan kemampuan radar Iran. Kepada situs Israel Defense, Tal Inbar mengatakan, informasi dan data terkait program Iran untuk membuat sebuah radar canggi telah dimuat di media massa Iran sejak tahun 2007, namun tidak mendapat reaksi besar dari dunia.

Ditambahkannya, Iran pada tahun 2010 memamerkan sebuah radar canggih yang disebutnya memiliki kemampuan untuk menangkap rudal canggih semacam S-300. “Namun radar yang baru saja dipamerkan dan dihadiri Rabar benar-benar canggih,” tegas Tal Inbar.

Ia menekankan, hanya segelintir negara yang berhasil membuat dan meremajakan radar semacam ini. Radar ini dengan mudah menditeksi sejumlah sasaran secara bersamaan dan memberikan informasi, tandas Inbar.

Iran Andalkan Perahu Cepat Lawan Kapal Induk AS

Iran sekarang merupakan salah satu negara produsen perahu militer tercepat di dunia yang sudah diakui perannya dalam didustri pertahanan negara.

Menteri Pertahanan Iran Brigjend Ahmad Vahidi mengatakan, bahwa selama perang Irak-Iran, AS tampil di kawasan dengan sejumlah kapal induk dan kapal perang serta kapal selam dengan teknologi nuklir, yang memungkinkan mereka untuk tetap bertahan di bawah air selama berbulan-bulan.

“Kami menghadapi kapal-kapal besar musuh dengan perahu cepat,” kata Vahidi. “Terlepas dari realita bahwa musuh awalnya meremehkan konsep itu, namun kini mereka terpaksa mengakui ketangguhannya,” tambahnya.

“Sekarang, Iran menjadi salah satu negara produsen perahu cepat di dunia yang dapat membawa senjata maupun personil militer,” jelasnya seperti dikutip IRNA.

Pada April 2010, Iran meluncurkan sebuah kapal berkecepatan tinggi yang mampu menembakkan roket dan senapan mesin berat sambil melaju dengan kecepatan 70 knot.

Iran telah menyelesaikan sejumlah proyek besar pertahanan dalam beberap tahun terakhir, meski sanksi Dewan Keamanan PBB telah menargetkan militer, sektor energi dan keuangan negara Islam ini.

Kemampuan Militer Iran Menakutkan Israel

Mohammad Abbas, purnawirawan militer Lebanon mengisyaratkan kemajuan besar yang dicapai Republik Islam Iran di berbagai bidang. “Kemajuan Iran tersebut membuat Rezim Zionis Israel ketakutan,” ungkap Abbas. Ditambahkannya, Iran baru-baru ini mampu memproduksi sistem radar yang menggantikan produk Rusia. Padahal Rusia hingga kini terkesan mengulur-ulur waktu penyerahan sistem radarnya kepada Iran.

Saat diwawancarai IRNA, Mohammad Abbas menandaskan, peningkatan kemampuan dan peralatan militer serta pertahanan adalah hak legal Iran untuk menghadapi ancaman Rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat. “Apalagi AS dan Iran setiap hari senantiasa mengancam akan menyerang instalasi nuklir Iran,” tambah Abbas.

Menurutnya Iran berusaha sedapat mungkin mempersiapkan diri menghadapi agresi musuh. Ditekankannya, di sisi lain, Israel berusaha menghubungkan instalasi nuklir Tehran dengan peningkatan kemampuan militer Iran dengan harapan dapat menyelewengkan opini publik dunia sehingga negara Barat dan dunia lainnya memusuhi Iran.

“Para petinggi Israel menebarkan propaganda anti Iran dengan menyatakan militer serta kemampuan Iran di bidang sistem anti rudal diklaim dapat mencapai seluruh Timur Tengah, London, Moskow dan mungkin sekitar AS. Hal ini ditempuh Israel untuk memprovokasi negara dunia agar memusuhi Iran, namun kita menyadari sepenuhnya bahwa Tel Aviv lihai dalam menebar propaganda menyimpang di dunia,” ungkap Abbas

.

Dengan diperkuat oleh kapal selam buatan sendiri, armada laut Iran semakin siap menghadapi serangan yang mungkin segera datang (Berita SuaraMedia)

Dengan diperkuat oleh kapal selam buatan sendiri, armada laut Iran semakin siap menghadapi serangan yang mungkin segera datang (Berita SuaraMedia)Dengan diperkuat oleh kapal selam buatan sendiri, armada laut Iran semakin siap menghadapi serangan yang mungkin segera datang

Armada kapal selam ringan produksi dalam negeri Iran semakin memantapkan langkahnya menyusul bergabungnya kapal selam Ghadir 948 dalam brigade angkatan laut di Zona pertama angkatan laut Iran.

Kapal selam buatan dalam negeri tersebut dimasukkan dalam armada kapal selam angkatan laut Iran di kota pelabuhan Bandar Abbas, sebelah selatan Iran, pada hari Senin kemarin di hadapan Komandan Pasukan Iran, Mayor Jenderal Ataollah Salehi, Menteri Pertahanan Mayor Jenderal Mohammad Mostafa-Najar dan komandan senior angkatan laut Laksamana muda Habibollah Sayyari.

Ketika didaulat untuk menyampaikan sambutan dalam upacara peluncuran kapal selam Ghadir 948, Menteri pertahanan Iran Brigadir Jenderal Mohammad Mostafa-Najjar mengatakan, “Negara Islam Iran telah berhasil menggapai banyak prestasi sendirian dan melalui ketergantungan akan pengetahuan domestik dengan cara yang tentunya akan mengejutkan para pemimpin dari kekuatan-kekuatan arogan.”

Ungkapan tersebut merujuk pada kemampuan kementerian pertahanan Iran dalam merancang, memproduksi dan memasok berbagai jenis persenjataan untuk militer dalam negeri, dan mengatakan bahwa para staf kementerian yang berpengalaman mampu untuk memasok segala hal yang dibutuhkan oleh angkatan laut, angkatan udara dan angkatan darat, dan semuanya dibuat sendiri.

Mengenai upaya-upaya musuh dalam tiga dekade terakhir sejak bergulirnya revolusi Islam untuk menghambat laju perkembangan Iran, Najjar menekankan bahwa tekanan-tekanan tersebut menyebabkan Iran semakin berkembang dalam bidang politik, ekonomi, militer dan pertahanan negara.

Dia juga menggarisbawahi bahwa perkembangan teknologi di berbagai bidang, termasuk produksi peluru kendali artileri, kapal selam, kapal angkut dan lain-lain, masih memerlukan partisipasi dan pertukaran informasi serta pengalaman dengan sejumlah negara di Barat, namun Iran mampu mencapai tingkatan teknologi tercanggih hanya dengan bantuan para ahli dalam negeri.

Pada bulan November lalu, Iran mengumumkan bahwa kapal selam Ghadir buatan dalam negeri telah siap untuk memulai operasi.

Pihak militer Iran mengatakan bahwa kapal selam tersebut dapat dengan mudah menghindari deteksi karena telah dilengkapi dengan teknologi untuk menghindari sonar, selain itu kapal selam tersebut juga dapat menembakkan peluru kendali dan torpedo secara berbarengan.

Komandan angkatan laut Laksamana Muda Habibollah Sayyari, mengatakan bahwa kapal selam Ghadir membutuhkan waktu pengembangan selama sepuluh tahun.

Armada tersebut juga dilengkapi dengan 18 unit kapal berkecepatan tinggi. Angkatan Laut Iran saat ini sudah memproduksi Ghadir dan Nahang. Kapal selam Ghadir dilengkapi dengan peralatan dan teknologi militer yang tercanggih. Sementara kapal selam Nahang, kapal selam buatan sendiri – nomor dua setelah Ghadir, disebut-sebut sebagai salah satu proyek pertahanan terbesar negara tersebut.

Dalam mempersiapkan segala kemungkinan serangan militer terhadap negara tersebut, Iran mempersenjatai angkatan lautnya dengan sistem persenjataan tercanggih, yang kabarnya sanggup menembak kapal macam apapun yang berjarak hingga 300 km (185 mil) jauhnya dari lepas pantai.

Iran telah mendorong program perkembangan persenjataan dalam beberapa tahun belakangan untuk dapat membela diri. Iran telah mampu memproduksi jet tempurnya sendiri dan juga kendaraan lapis baja, demikian halnya dengan peluru kendali yang tidak terdeteksi radar dan sejumlah senjata canggih lainnya.

Minggu lalu, menteri pertahanan Iran meresmikan produksi hovercraft (kapal apung, kendaraan yang bisa berjalan baik di darat dan di laut) Younes 6.

Dalam upacara peresmian produksi Younes 6, Najjar mengatakan  bahwa produksi perlengkapan militer di negara tersebut telah berlipat tiga dalam beberapa tahun terakhir dengan didukung oleh perencanaan yang mantap dari pihak kementerian.

Dua minggu lalu, Iran juga memulai proses produksi 30 persenjataan dan perlengkapan militer, termasuk barang-barang elektronik, telekomunikasi dan radar.

Iran sejauh ini telah mengembangkan sejumlah perlengkapan eksklusif, seperti kapal berkecepatan tinggi, kapal muatan, pesawat udara dengan bobot yang ringan dan kapal selam siluman mini sebagai bagian dari upayanya untuk meningkatkan kemampuan pertahanan maritim dan operasi-operasi bawah laut.

“Perlengkapan dan produksi yang tengah berlangsung di Iran berkaitan dengan alat elektronik dan manual untuk dipergunakan dalam peperangan, sistem radar dan sonar, kendaraan air dan udara, sisitem laser dan elektro optik juga kacamata canggih untuk melihat dalam kegelapan, alat komunikasi militer dan alat simulasi peperangan,” kata Najar dalam upacara peluncuran beroperasinya produksi persenjataan dan perlengkapan militer tersebut.

Najjar menegaskan kembali di upacara tersebut bahwa Iran telah mampu memproduksi perlengkapan pmanual dan elektronik untuk dipergunakan dalam pertempuran, termasuk untuk mengumpulkan informasi, melakukan penyadapan, melacak posisi musuh melalui gelombang radio yang berbeda-beda memproses berbagai informasi dan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi data-data musuh, melacak pemancar musuh dan mengacak atau mematikan pemancar musuh

Iran Sukses Uji Coba Sistem Radar Baru Republik Islam Iran telah menguji model terbaru sistem radar yang diproduksi dalam negeri, seorang pejabat Iran mengatakan.

Direktur perusahaan elektronik Sa-Iran, Ebrahim Mohammadzadeh, kepada kantor berita Fars pada hari Senin (22/8) menuturkan bahwa sistem radar baru memiliki kemampuan untuk mendeteksi objek pada kisaran beberapa ribu kilometer.

“Uji coba itu berhasil dan harapan kami sistem radar baru akan dioperasional dalam beberapa tahun mendatang,” ujarnya.

Seraya memuji prestasi Iran di bidang teknologi, Mohammadzadeh menjelaskan bahwa negara saat ini memiliki kemampuan untuk merancang dan memproduksi sistem radar canggih.

Pada bulan Juni, kepala Divisi Aerospace Korps Pengawal Revolusi Iran Iran (IRGC) mengatakan bahwa sistem radar Ghadir, dengan kisaran 1.100 kilometer telah diaktifkan.

“Radar Ghadir dirancang dan diproduksi untuk menemukan target udara, pesawat anti-radari, rudal jelajah, rudal balistik, dan satelit di orbit rendah,” kata Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh.

Lagi, Iran Akan Luncurkan Roket ke Ruang Angkasa Badan Antariksa Iran (ISA) mengatakan, roket Kavoshgar 5, produksi dalam negeri akan diluncurkan ke ruang angkasa pada akhir musim panas ini.

Roket seberat 300 kilogram, akan membawa kapsul berisi monyet rhesus, kata Hamid Fazeli, direktur ISA kepada kantor berita Mehr kemarin (Senin,22/8).

“Roket akan mengorbit pada ketinggian 120-130 kilometer di atas permukaan bumi,” jelas Fazeli.

Dia menambahkan, ISA merencanakan untuk melakukan studi tentang tanda-tanda vital monyet dan hasilnya sangat penting dalam membantu Iran mengirim astronot ke ruang angkasa di masa depan.

“Dua satelit lainnya yaitu Navid dan Fajar juga akan diluncurkan pada Maret 2012,” ujar Fazeli.

Navid adalah satelit penelitian, yang dirancang oleh para ilmuwan di Universitas Sains dan Teknologi di Tehran.

Rabu, 10 Februari 2010 09:21 wib
Militer Iran (Foto: Ist)

Iran Buat Sistem Pertahanan Rudal Canggih Iran mempercepat pembuatan sistem pertahanan rudal yang akan lebih baik daripada S-300 milik Rusia.
Langkah ini membuktikan tekad Teheran untuk membuat sendiri seluruh persenjataan militer karena embargo persenjataan oleh Amerika Serikat (AS). Selain melakukan embargo, Washington juga menekan Rusia agar tidak mengirimkan S-300 yang telah dipesan Iran.Washington pada November 2009 mengancam melakukan tindakan hukum terhadap Rusia jika gagal memenuhi kesepakatan untuk menyuplai Teheran dengan S-300 yang merupakan sistem pertahanan udara canggih. Rusia yang menjadi aliansi terdekat Iran di antara kekuatan dunia lain, sejauh ini belum menerima S-300.Menurut Teheran, penundaan pengiriman itu karena tekanan dari Washington dan Israel, musuh bebuyutan Iran.
.
Pada Oktober 2009, kantor berita Rusia, Interfax, melaporkan bahwa Iran belum membayar S-300 karena Moskow belum memberikan persetujuan akhir tentang kesepakatan tersebut.Bagi Barat, kesepakatan itu tentu sangat dikhawatirkan dapat memperkuat sistem pertahanan Iran. Berdasarkan kontrak, Rusia akan menjual persenjataan ke Iran berupa lima baterai rudal-rudal S-300PMU1, seharga USD800 juta.S-300PMU1 yang diberi kode SA-20 Gargoyle oleh NATO itu merupakan system gerak berbasis darat yang didesain untuk menembak jatuh pesawat terbang dan rudal. Barat khawatir Iran dapat menggunakan system itu untuk menghadapi ancaman serangan AS atau Israel
.
Keduanya tidak pernah menepis kemungkinan serangan militer ke fasilitas nuklir Iran. Selain itu, kemarin, Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi membuka dua jalur produksi untuk manufaktur pesawat canggih tanpa awak atau drone. “Pesawat itu mampu melakukan pengintaian, deteksi, dan serangan dengan dengan ketepatan tinggi,” ungkap kantor berita Fars.Kemarin, Iran juga secara resmi mengumumkan pada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tentang rencana melakukan pengayaan uranium ke level 20%. “Teheran akan mulai melakukan pengayaan uranium hingga level 20% mulai Selasa (9/2) dan IAEA akan diberi informasi mengenai keputusan ini sebelumnya,” papar kepala organisasi atom Iran Ali Akbar Salehi.”Pengayaan itu akan dilakukan di fasilitas Natanz mulai Selasa (9/2),” kata Salehi
.
Fasilitas pengayaan uranium utama Iran berada di pusat kota Natanz. Fasilitas itu melakukan aktivitas atom selama bertahun-tahun meskipun telah mendapat tiga kali sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).Salehi menjelaskan, Iran akan menghentikan program pengayaan ke level 20% jika negosiasi dengan kekuatan dunia mencapai kesepakatan akhir. Saat ini draf negosiasi usulan IAEA mengalami kebuntuan karena Barat menolak perubahan yang ditawarkan Iran.Dalam draf IAEA, kekuatan dunia meminta Iran menyerahkan uranium kadar rendah (LEU) ke Rusia dan Prancis, dalam satu tahap. Tapi Teheran meminta agar penyerahan itu dilakukan dalam beberapa tahap dan berlangsung di dalam negeri Iran.Seorang komandan senior militer Iran mengatakan Tehran akan menyerang semua institusi militer dan nuklir Israel jika Tel Aviv melakukan kebodohan menyerang fasilitas nuklir Iran.Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Gholam-Ali Rasyid Ahad (20/11) menegaskan retorika Israel terhadap Iran adalah suatu bentuk perang psikologis.”Iran sepenuhnya siapkan menghadapi setiap agresi, dan Tehran akan menghancurkan semua fasilitas Israel jika Tel Aviv meluncurkan serangan militer terhadap Iran,”tegasnya.Amerika Serikat dan Israel telah berulang kali mengancam Tehran dengan opsi serangan militer yang didasarkan pada dugaan bahwa program nuklir Iran mengarah pada agenda militer rahasia
.Tehran telah membantah tuduhan itu, dan mengatakan sebagai penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan anggota IAEA, Iran memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai

.

Sementara Israel menolak  mengizinkan inspeksi fasilitas nuklirnya. Tel Aviv juga menolak bergabung dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir.
Israel baru-baru menguji rudal jarak jauh baru yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Pengujian dilakukan di pangkalan udara Palmahim di pusat Israel.

Rudal Jericho-3 milik Israel memiliki daya jangkau hingga 10.000 kilometer. Ironisnya, hulu ledak nuklir Israel yang dapat menargetkan banyak wilayah dunia itu tidak dianggap sebagai ancaman di mata Barat

.

Identifikasi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

E-mail Cetak PDF

Oleh: Ustad Husain Ardilla

PENJELASAN mengenai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah kepada umat menjadi penting, sebab ini dilakukan demi merajut ukhuwah kelompok Ahlus Sunnah (Sunni), memantapkan dan meluruskan pemahaman, memadamkan fitnah, serta membentengi diri

Menentukan apakah sebuah agama atau keyakinan itu salah atau benar tidak bisa diambil dari sedikit atau banyaknya para pengikut yang menganutnya.
Ayat Al-Qur’an seringkali menyalahkan umat mayoritas dan malah memuji umat minoritas dalam berbagai ayatnya dan ini sangat mengherankan karena berbeda dengan keyakinan kebanyakan orang yang menentukan kebenaran suatu keyakinan itu dengan jumlah orang yang meyakininya. Kita lihat misalnya dalam sebuah ayat-ayat berikut ini:
  1. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“. (QS. Saba’: 36)
  2. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 243)
  3. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)
  4. …….. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 49)
  5. …………………….. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-An’am: 119)
  6. ……………….. Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS. Huud: 17)
  7. Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36)
  8. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya). (QS. Al-Israa: 89)
  9. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Ruum: 30)
  10. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(QS. Saba’: 28)
Dan masih banyak lagi ayat yang bernada sama dimana Allah sering menunjukkan betapa yang mayoritas justeru bersama kesesatan dan kesalahan. Allah pastilah punya maksud khusus ketika menyiratkan (dan menyuratkan) berkali-kali dalam Al-Qur’an (lebih dari 30 kali) ketika menggambarkan betapa kebanyakan manusia itu tidak punya rasa syukur dan tidak punya pengetahuan atau tidak condong kepada kebenaran. Bisa dibayangkan kalau kita menentukan kebenaran dengan melihat jumlah orang yang percaya bahwa itu benar sedangkan kebanyakan orang seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur’an selalu memilih kesesatan dan lebih condong kepada kesalahan.
.
Jadi orang yang realistik tidak akan pernah merasa khawatir apabila para pengikut dari agama yang diyakininya itu merupakan kelompok minoritas di dalam sebuah kelompok yang besar. Ia juga tidak akan merasa bangga ketika kelompoknya kebetulan adalah kelompok yang mayoritas karena siapa tahu kelompoknya adalah kelompok yang ikut kesesatan dan bukan kebenaran. Sebagai orang yang realistis ia seharusnya berpikir logis.
.
Dalam perang Jamal, seorang laki-laki datang menghampiri Imam Ali bin Abi Thalib dan bertanya:
.
“Bagaimana mungkin engkau menyebut musuh perangmu itu sebagai orang yang ikut kesesatan sementara jumlah mereka lebih banyak daripada pasukanmu?”
.
Imam Ali bin Abi Thalib menjawab:
.
“Kebenaran dan kesesatan itu tidak diukur dari jumlah pengikutnya. Kenalilah kebenaran, dan engkau akan melihat siapakah para pengikutnya; kenalilah kesesatan dan engkau akan tahu juga siapakah para pengikutnya”
.
Seorang Muslim itu sudah sepantasnya dan sepatutnya memecahkan permasalahan itu dengan berpikir logis dan empiris dan mengambil Qur’an sebagai panduan hidupnya.
.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.(QS. Al-Israa: 36)
.
Memang benar bahwa Syi’ah itu hanya diikuti oleh seperempat umat Muslim sedunia (LIHAT A’yan al-Shi’ah, volume 1, halaman 194). Akan tetapi orang dengan terang benderang bisa melihat sepanjang sejarah bahwa lebih banyak ilmuwan dan penulis yang lahir dari kaum Muslimin golongan Syi’ah ini. Bahkan kalau mau jujur hampir semua pendiri cabang ilmu itu berasal dari kaum Muslimin dari golongan Syi’ah. Salah satu yang sering juga disebut-sebut namanya oleh kaum Muslimin ialah Ibnu Sina yang menjadi pendiri atau pelopor ilmu kedokteran moderen yang melepaskan diri dari belenggu takhayul dan kepercayaan sempit yang tidak ada hubungannya dengan kedokteran itu sendiri.
.
Berikut empat nama yang akan saya jadikan contoh (Nama-nama lainnya anda bisa lihat dalam kitab-kitab berikut ini:
  1. al-Dhari’ah Ila Tasanif al-Shi’ah
  2. A’yan al-Shi’ah
  3. Tarikh al-Shi’ah)

.

Mereka adalah:
  • Abu’l-Aswad al-Du’ali, penemu ilmu sintaksis bahasa Arab
  • Al-Khalil Ibn Ahmad, peletak dasar dari ilmu prosody
  • Mu’adh ibn Muslim Ibn Abi Sarah dari Kufah, peletak dasar dari ilmu konyugasi, salah satu cabang ilmu biologi
  • Abu Abdullah Muhammad Ibn Imran Katib dari Khurasan (disebut juga Marzbani), pencetus ilmu retorika (LIHAT: Ta’sis al-Shi’ah, ditulis oleh Sayyid Hasan al-Sadr)

Sepanjang kesaksian sejarah, pada masa kekhalifahan Muawiyah, umat Islam dikenal dalam dua kelompok, yaitu Alawiyah dan Utsmaniyah. Setelah itu, akibat beberapa peristiwa, di masa Umar bin Abdulaziz (versi pertama), atau di masa kekhalifahan Bani Abbas (versi kedua), istilah Ahlussunnah disematkan kepada Utsmaniyah (para pengikut Utsman), sementara Alawiyah (para pengikut Ali) tetap disebut dengan nama pertama mereka, yaitu Syiah.

Secara umum, umat Islam dibagi menjadi dua kelompok utama: Ahlussunnah dan Syiah. Ahlussunnah bercabang kepada beberapa mazhab kalam (teologi), yang terpenting di antaranya adalah Mu`tazilah, Ahlul hadits (hadis centris), Asya`irah, Maturidiyah, dan Wahabiyah. Mu`tazilah adalah hasil dari pertentangan antara keyakinan Khawarij dan Murjiah.

Sebelum mazhab kalam Asya`irah dan Maturidiyah muncul, komunitas Ahlussunnah mengikuti dua mazhab Mu`tazilah dan Ahlul hadits atau Hanbaliyah. Akibat pertentangan keyakinan antara Mu`tazilah dan Ahlul hadits, para ulama Ahlussunnah berinisiatif untuk mereformasi mazhab mereka, khususnya untuk menghadapi prinsip-prinsip kalam Mu`tazilah. Buah dari reformasi ini, adalah kemunculan dua mazhab baru bernama Asya`irah dan Maturidiyah. Sehingga di masa ini, istilah Ahlussunnah wal Jama`ah khusus diberikan kepada dua mazhab terakhir ini.

Pendiri mazhab Asya`irah adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Ia lahir pada tahun 260 H di Bashrah dan wafat tahun 324 H di Baghdad. Sampai usia empat puluh tahun, ia adalah salah satu murid Abu Ali Jubai yang mendukung mazhab Mu`tazilah. Abu Hasan Asy`ari keluar dari mazhab Mu`tazilah pada tahun 300 H. Setelah mengadakan beberapa perbaikan dalam ajaran Ahlul hadits, Abu Hasan Asy`ari mendirikan mazhab baru, yang berlawanan dengan Ahlul hadits dan juga Mu`tazilah. Dalam bidang fikih, Abu Hasan Asy`ari mengikuti mazhab Syafi`i. Di masa sekarang, sebagian besar pengikutnya juga berkiblat kepada Imam Syafi`i dalam masalah hukum.

Sezaman dengan mazhab Asya`irah, Maturidiyah didirikan oleh Abu Manshur Muhammad bin Muhammad Maturidi, di daerah Maturid Samarqand, untuk melawan mazhab Mu`tazilah. Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) menganut mazhab Abu Hanifah dalam masalah fikih. Oleh sebab itu, kebanyakan pengikutnya juga bermazhab Hanafi.

Ada banyak kesamaan antara dua mazhab ini. Keduanya termasuk dalam aliran Ahlussunnah. Terkait kepemimpinan para khalifah setelah Nabi saw sesuai urutan historis yang telah terjadi, keduanya memiliki pandangan serupa. Juga tak ada perbedaan dalam pandangan mereka terhadap para penguasa Bani Umayah dan Bani Abbas. Dalam semua sisi masalah imamah pun mereka saling sepakat. Keduanya juga sepaham bahwa Allah bisa dilihat tanpa kaif (cara), had (batas), qiyam (berdiri) wa qu`ud (duduk) dan hal-hal sejenisnya. Berbeda dengan Hasyawiyah dan Ahlul hadits yang berpendapat bahwa Allah, seperti selain-Nya, bisa dilihat dengan kaif dan had. Dalam hal kalam Allah (Al-Quran), kedua mazhab ini juga memiliki pandangan sama, yaitu bahwa kalam-Nya memiliki dua tingkatan. Pertama adalah kalam nafsi yang bersifat qadim (dahulu), dan kedua adalah kalam lafdhi (lafal) yang bersifat hadits (baru). Ini adalah pendapat moderat dari kedua mazhab ini, yang berada di antara pendapat Mu`tazilah bahwa kalam Allah hadits secara mutlak, dan pendapat Ahlul hadits bahwa kalam-Nya qadim secara mutlak.

Ringkas kata, Asya`irah dan Maturidiyah memiliki banyak kesamaan pandangan dalam masalah akidah. Namun, di saat yang sama, ada pula beberapa perbedaan dalam prinsip-prinsip teologis dua mazhab ini, yang membedakan mereka satu sama lain.

Dalam rangka mereformasi dan mengembangkan akidah Ahlussunnah di hadapan Mu`tazilah, Abu Hasan Asy`ari menempuh jalan Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam banyak kasus, ia memilih sikap jumud `ala dhawahir (hanya memerhatikan sisi lahiriah) dan jarang menggunakan akal dan argumentasi. Namun Abu Manshur Maturidi menjadikan metode Abu Hanifah sebagai dasar teologi Ahlussunnah dan banyak menggunakan argumentasi rasional. Perbedaan mendasar dalam metode ini pula yang memunculkan perbedaan pendapat antara teologi Maturidiyah dan Asya`irah dalam sebagian masalah. Karena itu, metode Maturidiyah lebih jauh dari tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhluk) dan tajsim (menganggap Tuhan memiliki bentuk seperti materi) serta lebih dekat kepada tanzih (penyucian). Sementara metode Abu Hasan Al Asy’ari lebih condong kepada tasybih dan tajsim, walaupun Baqilaini dan Juwaini merombak metode Asy’ari tetapi pengikut Asy’ari tidak tau lagi ajaran Asy’ari yang asli

Parameter utama dalam perbedaan mazhab-mazhab Ahlussunnah adalah masalah husn wa qubh `aqli (baik dan buruk rasional) dan persoalan-persoalan terkait akal dan argumen rasional. Jika Mu`tazilah disebut sebagai simbol husn wa qubh `aqli, maka Maturidiyah berada di tingkat kedua, Asya`irah di tingkat ketiga, sementara Hasyawiyah menolak sepenuhnya masalah husn wa qubh `aqli. Sedangkan Wahabiyah adalah mazhab baru gabungan dari Hasyawiyah dan Hanbaliyah.

Perbedaan-perbedaan antara Maturidiyah dan Asya`irah bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

Terkait sifat-sifat khabariyah (sifat-sifat Alah yang tersebut dalam Al Qur’an, seperti yadullah [tangan Allah] dll), Asya`irah meyakini makna lahiriah ayat tanpa takwil dan tafwidh (menyerahkan maknya kepada Allah), sedangkan Maturidiyah menerima tafwidh dan menolak takwil. Sementara prinsip Mu`tazilah dalam masalah ini adalah menakwilkan sifat-sifat khabariyah.

Asya`irah menganggap makrifat Allah wajib berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, sementara Maturidiyah, seperti halnya Mu`tazilah, berpendapat bahwa kewajiban mengenal Allah bersifat rasional.

Karena Asya`irah mengingkari husn wa qubh `aqli, maka mereka berpendapat bahwa perbuatan Allah tidak berlandaskan tujuan. Namun Maturidiyah mengatakan bahwa perbuatan Allah berasaskan maslahat, sebab mereka menerima konsep husn wa qubh `aqli dalam sebagian tingkatannya.

Asya`irah berpendapat bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, sementara manusia adalah wadah bagi perbuatan-Nya. Untuk menghindar dari problem jabr (determinasi), mereka mengemukakan solusi ‘kasb‘. Maturidiyah menolak tafwidh (manusia bertindak bebas dan menafikan intervensi kekuasaan Tuhan) Mu`tazilah serta jabr Ahlul hadits dan Asya`irah. Mereka berpendapat bahwa meski perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, namun di saat yang sama, ia adalah pelaku dan kasib (hasil) perbuatannya sendiri.

Seperti kaum `Adliyyin, Asya`irah membagi sifat-sifat Allah kepada dzati dan fi`li. Namun Maturidiyah menolak pembagian ini dan menyatakan bahwa semua sifat fi`li-Nya qadim seperti sifat dzati.

Asya`irah mengatakan bahwa Allah mustahil membebankan taklif yang tak mampu dilakukan manusia, sementara Maturidiyah berpendapat sebaliknya.

Asya`irah meyakini bahwa semua yang dilakukan Allah adalah baik, sedangkan Maturidiyah, berdasarkan hukum akal, berpandangan bahwa Dia mustahil berbuat zalim.

Kesimpulannya, meski Asya`irah dan Maturidiyah tergabung dalam kelompok Ahlussunnah dan banyak memiliki kesamaan, namun mereka juga memiliki perbedaan pendapat dalam sebagian masalah

.

Mazhab Teologi Asyariyah Dalam Sorotan

Asy’ariyah atau Asya`irah adalah sebutan bagi para pengikut Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Tolak Ukur utama dalam meneliti proses terbentuknya Asya`irah adalah kinerja mazhab Mu`tazilah. Dijadikannya perubahan sebagai landasan penyingkapan hakikat oleh Mu`tazilah dan perselisihan mereka dengan para fukaha dan ahli hadis, memicu penentangan terhadap Mu`tazilah. Hingga akhirnya, dengan adanya provokasi dari pihak Mutawakkil, kelompok Mu`tazilah dikucilkan dan kemudian lahirlah kelompok moderat, yaitu Asya`irah.

Asya`irah menjadikan dalil rasional (`aqli) sebagai sarana pembuktian ajaran akidah konvensional. Di penghujung abad keenam, ada tiga tokoh yang memilih metode ini, yaitu Abu al-Hasan Asy`ari di Baghdad, Thahawi (wafat 331 H) di Mesir, dan Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) di Samarqand. Kendati terdapat perbedaan antara mereka, namun mereka sepakat untuk sama-sama menentang Mu`tazilah.

Abu al-Hasan Asy`ari lahir di Bashrah tahun 260 H. Garis keturunannya sampai kepada Abu Musa Asy`ari, salah seorang sahabat terkenal. Beliau adalah murid Abu Ali Jubba’i. Beliau mempelajari ilmu kalam (teologi) dari Mu`tazilah dan banyak menimba ilmu dari para fukaha dan ahli hadis. Setelah mengkaji hasil pelajaran terdahulunya, beliau lalu mengkritisi dan menolak sebagian keyakinan dirinya yang diambil dari Mu`tazilah. Di antara keyakinan terdahulunya adalah al-Quran itu makhluk, kemustahilan melihat Allah, dan menghindari penisbatan keburukan kepada Allah. Kitab al-Ibanah mengandung kritik-kritik Asy`ari terhadap Mu`tazilah. Dalam kitab itu, ia menyebut Mu`tazilah sebagai kelompok penakwil al-Quran dan menyatakan kecenderungannya kepada al-Quran, sunah, dan metode Ahmad bin Hanbal. Ibnu `Asakir menyebut judul 98 kitab yang ditulis Asy`ari hingga tahun 32 H. Empat karyanya yang terkenal adalah:

1. Al-Luma` fi Al-Rad `ala Ahl al-Zaigh wa al-Bida`.

2. Al-Ibanah fi Ushul al-Diyanah.

3. Istihsan al-Khaudh fi `Ilm al-Kalam.

4. Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin.

Tiga kitab pertama seputar ilmu kalam dan kitab keempat tentang pengenalan mazhab-mazhab. Judul yang dipilih untuk kitab keempat menunjukkan sikap moderat dan toleransi Asy`ari.

Pandangan-pandangan Asy`ari

Asy`ari memilih metode `aqli-naqli (kombinasi akal dan riwayat) sebagai metode yang moderat. Misalnya, dalam bab tauhid, ia meyakini penambahan sifat atas zat Allah. Sikap moderat ini tampak dalam pandangan-pandangannya. Secara umum, Asya`irah membuktikan keberadaan Tuhan dengan tiga cara: naqli, `aqli, dan qalbi (hati) yang mirip dengan metode sufi Imam Ghazali dan Fakhruddin Razi. Berdasarkan pendapat Fakhruddin Razi, ada dua argumen filosofis, yaitu Burhan Imkan al-Ajsam (argumentasi kemungkinan keberadaan materi) dan Imkan al-A`radh (kemungkinan sifat), serta dua argumen teologis, yaitu Burhan Huduts al-Ajsam (argumentasi barunya materi) dan Huduts al-A`radh (barunya sifat), yang semua ini digunakan Asya`irah untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Terkait pengenalan Tuhan, sebagian Mu`tazilah (seperti Juwaini dan Ghazali) berpendapat bahwa hal ini tidak mungkin, sementara sebagian yang lain (seperti Baqillani) berpandangan sebaliknya.

Sifat-sifat Allah: Sifat-sifat Allah ada tiga bagian, yaitu salbi (negatif), tsubuti (tetap), dan ikhbari, yaitu seperti sifat manusia (misalnya, memiliki mata dan tangan). Asy`ari berpendapat bahwa bagian yang ketiga harus diyakini secara bila kaif (tanpa cara dan bagaimana), sebab substansi sifat-sifat ini tidak jelas bagi kita.

Determinasi (Jabr) dan Ikhtiar: Dalam masalah ini, demi menjaga sisi qadha dan qadar Allah serta ikhtiar manusia, Asya`irah mengemukakan pandangan kasb (usaha) yang merupakan istilah al-Quran. Penafsiran mereka tentang kasb adalah sebagai berikut: Kemampuan (qudrah) ada dua macam, yaitu qadim/lama (yang merupakan milik Allah dan berperan dalam penciptaan perbuatan) dan hadits/baru (yang merupakan milik hamba). Satu-satunya fungsi kemampuan hadits adalah bahwa hamba merasakan kebebasan dalam dirinya. Oleh karena itu, makna kasb al-fi`l adalah berbarengannya penciptaan perbuatan dengan penciptaan kemampuan hadits pada diri manusia. Tentunya, Asy`ari menyebut kasb sendiri sebagai ciptaan Allah. Beliau berpendapat bahwa orang yang melakukan kasb adalah tempat Allah mewujudkan perbuatan-Nya dan orang itu berperan sebagai sarana perbuatan Allah.

Baik dan buruknya perbuatan (husn wa qubh): Asy`ari menyebut tiga makna baik dan buruknya perbuatan dan memilih makna ketiga sebagai makna yang benar. Tiga makna itu adalah:

1. Kesempurnaan dan kekurangan.

2. Mengandung maslahat atau madharat.

3. Layak dipuji atau dicela. Menurutnya, tidak ada perbuatan yang layak dipuji atau dicela secara mandiri. Hanya lantaran perintah dan larangan dari syariat-lah suatu perbuatan layak dipuji atau dicela.

Kosmologi: Meliputi dua masalah:

a) Struktur semesta: Asya`irah condong kepada teori atomisme (jauhar fard). Melalui teori ini, Asya`irah mendapat peluang untuk membuktikan bahwa dunia itu hadits (baru) dan Allah sebagai satu-satunya Zat yang qadim (dahulu).

b) Mortalitas semesta: Asya`irah berpendapat bahwa semesta itu mortal. Mereka menyebut `aradh (sifat) mortal dan jauhar (esensi) imortal. Tujuan dari pandangan ini adalah pembuktian sifat qadim Allah dan peran abadi-Nya dalam segala perkara semesta.

Antropologi: Meliputi dua pandangan:

a) Hakikat manusia adalah jauhar (esensi) jasmani (Juwaini).

b) Hakikat manusia adalah esensi ruhani (Baqalani).

Tokoh-tokoh Asya`irah: Di antaranya adalah: Abu Bakar Baqillani (penulis al-Tamhid), Imam Ghazali, Imam al-Haramain Juwaini, Fakhrurrazi, Baidhawi, dan Sayyid Syarif Jurjani.

Mazhab kalam ini memiliki peran penting di tengah kaum Muslimin, kendati di masa Asy`ari sendiri tidak begitu mendapat perhatian khalayak. Pada hakikatnya, Asy`ari dikucilkan lantaran penentangan dan perselisihan sengitnya dengan ahlul hadits (para pendukung hadis). Namun belakangan, khususnya setelah era Imam al-Haramain Juwaini dan dukungan dinasti Saljuqi di masa Khaje Nidham al-Mulk Thusi terhadap mazhab ini, Asya`irah menjadi mazhab kalam yang dominan di tengah Ahlussunnah. Hingga sekarang pun, sebagian besar kaum Muslimin Ahlussunah di seluruh dunia, khususnya yang bermazhab Syafi`i dan Hanafi, merujuk dan mengacu kepada Asya`irah dalam masalah-masalah akidah.

Hanya saja umat Islam perlu memahami kembali akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam konteks sekarang ini – dengan tujuan untuk lebih memantapkan pemahaman kita terhadap akidah, pemikiran dan tantangannya. Hal ini penting, sebab bisa terjadi seseorang mengaku Sunni, tetapi di luar pengetahuannya ia sebenarnya bukan pengikut Sunni sejati.

Identitas sebagai kelompok Sunni terkadang diperebutkan, terkadang pula disempitkan konsepnya. Identitas ini diperebutkan, sebab kelompok ini yang disebut para ulama dahulu sebagai kelompok yang setia memegang ajaran Islam. Karena pandangan yang terlalu riqid dan sentimen kepada kelompok lain, sehingga konsep Ahlus Sunnah kadang dipersempit untuk ‘jama’ah’-nya sendiri.

NU dan Muhammadiyah Dukung Fatwa Sesat Syiah ?

Rabu, 07 Maret 2012 16:18 Redaksi
E-mail Cetak PDF

Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bernomor; Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan aliran Syiah yang telah dikeluarkan pada Sabtu, tanggal 21 Januari 2012 mendapat respon   para alim-ulama di Jawa Timur.

Dalam pertemuan bertajuk “Silaturrahmi Ulama-Umara, Menyikapi Berbagai Faham Keagamaan di Jawa Timur” yang dihadiri sekitar 50 ulama Jawa Timur, Selasa (06/03/2012), kemarin, para ulama (termasuk wakil PWNU dan PW Muhammadiyah)  ada perbedaan pendapat tentang kesesatan Syiah.

Dalam acara yang diselenggarakan di Kantor Wilayah Depag Jawa Timur, Jl. Raya Juanda Surabaya tersebut, dua organisasi Islam yang cukup besar di Jawa Timur, NU dan Muhammadiyah bahkan mendesak Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo segera menindak-lanjuti rekomendasi para ulama.

“Akhir-akhir ini di Jawa Timur terjadi keresahan sosial. Jika ini tidak dicegah, akan berimplikasi timbulnya perbuatan-perbuatan anarkis, yang pada gilirannya mengancam stabilitas nasional. Untuk itu, kami dari Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur mendukung keputusan MUI Jatim tentang berbagai aliran sesat di Jatim dan mendorong pemerintah daerah Propinsi Jawa Timur untuk selanjutnya mengambil langkah-langkah dan bersinergi dengan pemerintah pusat dan mengambil langkah-langkah lanjutan sebagai fungsi mencegah terjadinya anarkis,” ujar Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur, Prof Dr Tohir Luth.

Menurut KH Agoes Ali Masyhuri, yang mewakili PWNU, Jawa Timur adalah barometer nasional. Jika stabilitasnya terganggu dampaknya juga akan merembet ke wilayah lain.

“Saya atas nama PWNU Jawa Timur merespon positif langkah-langkah cerdas yang diambil oleh MUI Jawa Timur untuk mensikapi berbagai aliran sesat yang ada di Jawa Timur, karena Jatim adalah barometer nasional,” ujar pria yang juga pengasuh PP Bumi Shalawat Tulangan, Sidoarjo ini.

Sebelum ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Madura akhirnya mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syiah. Fatwa MUI Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur bernomor: A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah yang telah disebarluaskan oleh saudara Tajul Muluk di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang itu menegaskan, bahwa aliran yang dibawa Tajul Muluk itu sudah dikenal sejak 2004-2005 di daerah tersebut,  dinilai sudah menyimpang dari ajaran Islam.

Fatwa yang ditandatangani KH Imam Bukhori Maksum, sebagai Ketua MUI Kabupaten Sampang ini dikeluarkan Senin (02/01/2012) menegaskan, ajaran Syiah yang bawah oleh Tajul Muluk di masyarakat di daerah itu telah menyimpang dari ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi. Fatwa ini juga didukung oleh PWNU Jawa Timur.*

Said Aqil (ketua umum PBNU) menyebut Syi’ah Tidak Sesat, Dalam kurikulum “Al Firqoh Al Islamiyah” ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. “Ulama Sunni seberi Ibnu Khazm menilai Syiah itu Islam,” lanjutnya masih ditulis Tempo.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.

Menanggapi desakan para ulama itu, gubernur yang lebih akrab dipanggil Pakde Karwo tak banyak menjawab dan membantah. Menurutnya, meski pelarangan itu adalah kewenangan pemerintah pusat, ia akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait menyusul masukan para ulama dan kiai asal Jawa Timur ini.

“Saya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat, baik Menteri Dalam Negeri, Deparemen Agama, Kejakasaan Agung atau Kapolri.”

Prof. Umar Shihab Sepakat dengan Prof. Din, Syiah Bukan Ajaran Sesat

.
Ketua Majelis Ulama Indonesia Prof. Umar Shihab sepakat dengan pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin bahwa Syiah bukan ajaran sesat. Baik Sunni maupun Syiah, tetap diakui Konferensi Internasional Ulama Islam di Mekkah dua tahun lalu, sebagai bagian dari Islam.

Hal itu dikatakan Prof. Umar Shihab. Karena itu, kakak kandung mantan Menteri Agama M. Quraish Shihab meminta umat Islam kembali mengartikan Islam sebagai rahmahlil’alamiin. Terkait perbedaan, dia mengutip Sabda Rasulullah Muhammad SAW, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Karena itu, ungkapnya, MUI Pusat akan melakukan pertemuan dengan MUI Sampang, Jawa Timur, yang memfatwakan Syiah itu ajaran sesat.

“Kita belum ada rencana untuk evaluasi MUI daerah, terutama Sampang. Tapi Insya Allah kita akan ikuti perkembangan. Selasa besok kita ketemu,” ungkap Gurubesar Ilmu Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

MUI Sampang, menurutnya, kurang memahami bagaimana kedudukan dan pemikiran Islam Sunni dan Syiah. Atau mungkin dia menduga, ada kelompok-kelompok atau oknum tertentu yang tidak ingin umat Islam bersatu. “Ada yang tidak ingin Islam ini menyatu. Sehingga (umat Islam) ditunggangi, bahkan dihasut, yang malah jauh dari ajaran Islam seperti membakar rumah,” tandasnya.

Sunni-Syiah tak Ubahnya Seperti NU-Muhammadiyah

JAKARTA -

Eksistensi Sunni-Syiah di Indonesia tidak harus dipertentangkan. Jika, keduanya terus dipertentang, maka tidak akan menemukan kata akhir. Sebab, Sunni-Syiah tak ubahnya seperti NU dan Muhammadiyah.

“Karena itu kita melihat sisi yang tidak mempertentangkan, diluar sisi keyakinan Ahlul Bait, Imamah dan bagaimana cara beribadah,” ujar Peneliti dan Pakar Syiah Indonesia dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Zulkifli, Rabu (25/1).
Menurut dia, masyarakat Indonesia harus melihat sisi lain dari Syiah yang lebih menjawab problematika Islam kekinian. Salah satunya adalah menentang penindasan hegemoni yang ingin menghancurkan Islam, seperti Amerika, Barat dan Zionisme Israel.[republika]

Soal Islam Syiah, Muhammadiyah Minta Umat Berdialog

Muhammadiyah : “Tidak ada beda Sunni dan Syi’ah”

 Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin, mengatakan tak ada perbedaan besar antara dua mazhab besar dalam Islam Sunni dan Syiah, sebuah pernyataan sejuk yang menutup pintu perpecahan dan adu domba yang bisa menghancurkan harmoni Muslimin Indonesia. Din berkata baik Sunni dan Syiah mengakui Tuhan dan Rasul yang sama. Soal itu perlu diluruskan agar tidak memecah persaudaraan umat Islam
.
Muhammadiyah mengimbau umat Islam mengedepankan dialog dalam menyikapi perbedaan sesama muslim. Khususnya, antara Islam Sunni-dan Islam Syiah.Hal ini penting agar tidak terulang seperti kasus penyerangan dan pembakaran pesantren milik jemaah Syiah di Sampang, Madura.”Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim,” kata Wakil Rektor bidang Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Zamahsari di kampus Uhamka, Senin (2/1).Menurut Zamahsari, Muhammadiyah dan Uhamka mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Warga yang mengaku Suni menyerang dan membakar madrasah dan rumah pimpinan Syiah di Sampang.
.

Presiden SBY, sejauh ini, belum bisa bertindak terhadap pelaku-pelaku yang terlibat aksi-aksi kekerasan-kekerasan di negara ini, terutama yang dialami oleh kaum minoritas.

Demikian yang disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, Umar Shihab

Tetapi Umar tidak berani mengatakan jika kekerasan yang terjadi karena ada pembiaran dari pemerintah.

“Memang banyak yang menilai bahwa SBY tidak bisa bertindak tegas dan kurang berani memberikan satu tindakan konkret, terbukti masih banyak minoritas yang mengalami dikriminasi bahkan kekerasan seperti Ahmadiyah,” pungkas Umar

Dia menduga ada motif di balik kerapnya aksi kekerasan di negeri ini. Oleh sebab itu, MUI meminta Presiden SBY untuk mengambil tindakan tegas terhadap semua pelaku tindak kekerasan termasuk yang melakukan provokasi.

Pemerintah juga diminta untuk memberikan penerangan dan informasi yang bisa membuat minoritas aman yang artinya tidak akan terjadi perpecahan baik sesama agama maupun bangsa.

.

Pemuda Muhammadiyah: Penganut Syiah Harus Dikawal!
Senin, 02 Januari 2012 , 10:39:00 WIB

SALEH DAULAY


Pemahaman para pelaku aksi pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terhadap makna toleransi dipertanyakan.

Pasalnya, selama ini, kelompok-kelompok yang melakukan tindakan kekerasan tersebut sangat toleran terhadap agama lain. Namun kali ini, toleransi itu seakan-akan tumpul hanya karena perbedaan mazhab dan pemikiran.

“Toleransi terhadap penganut agama lain memang sangat diperlukan dan wajib dilaksanakan,” jelas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, saat dihubungiRakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 2/1)

.

“Tetapi yang lebih fundamental dari itu adalah toleransi antara sesama penganut agama yang sama. Mengapa kita mampu mentoleransi agama lain tetapi tidak mampu mentoleransi umat Islam lain yang berbeda mazhab?” sambung Saleh mempertanyakan.

Karena itu, Saleh menegaskan, kelompok yang selama ini cukup keras membela kaum minoritas dari pemeluk agama lain seharusnya juga melakukan pembelaan yang sama terhadap penganut mazhab minoritas, seperti Syiah di negeri ini.

“Hal ini sangat penting agar pluralitas dan kebhinnekaan Indonesia semakin mantap tertanam di tengah-tengah masyarakat.  Apa pun jenis mazhab yang meraka anut, haruslah tetap dihormati dan diperlakukan seperti saudara, setidaknya saudara sebangsa,” jelasnya.

Dia menekankan, toleransi antar umat beragama haruslah dilaksanakan beriringan dengan toleransi internal umat beragama. Malah tentu sangat disayangkan bila toleransi pada agama lain dianggap lebih mulia daripada toleransi di tingkat internal agamanya sendiri.

“Jangan sampai terkesan hanya peduli agama lain, tetapi lupa membina umat di tingkat internal penganut agama sendiri,” demikian Saleh.

Pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Kali ini, kecaman datang dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, menegaskan, apa pun motifnya, tindakan anarkis itu tetap tidak dapat ditolerir karena jelas-jelas melanggar hak asasi manusia.  Apalagi, tindakan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang Islam dari Mazhab Sunni.

“Tindakan ini jelas-jelas merusak nilai-nilai persaudaraan di antara sesama kaum Muslimin,” tegas Saleh saat dihubungi Rakyat Merdeka Onlinepagi ini (Senin, 2/1).

“Sudah sepatutnya, para ulama dan pemuka masyarakat di daerah itu berupaya keras mencegah terjadinya tindakan anarkis seperti itu. Selain melanggar hukum, tindakan itu jelas-jelas mencoreng umat Islam yang selama ini dikenal sangat toleran terhadap penganut agama lain,” tandasnya

.

.

Buya Syafii: Kebenaran Bukan Milik Individu

Senin, 2 Januari 2012 07:31 wib
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan
.
Menurut pria yang lebih akrab dipanggil Buya ini, hal semacam itu harus dihentikan. Sebab kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. “Saya rasa sikap yang tidak baik, ada monopoli kebenaran,” ujar Buya kepada okezone, Minggu (1/1/2012).Buya pun heran terhadap tindakan anarkistis sebagian masyarakat lantaran menganggap Syiah bertentangan dengan Islam. Padahal kata dia, Syiah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. “Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima,” jelasnya
.
Dia pun menyatakan bahwa setiap orang sekalipun atheis berhak hidup. Hal yang terpenting kata dia, bisa hidup rukun dan toleran. “Jadi perbuatan-perbuatan semacam itu harus dihentikkan, apalagi di Sampang itu bersaudara, masak agama memecah belah,” paparnya.Dia meyakini para pemeluk agama yang melakukan tindakan anarkistis bukanlah penganut agama yang diridhai. “Menurut saya semacam itu bukan agama yang autentik,” pugkasnya.
IlustrasiPeringatan Asyura atau memperingati wafatnya cucu nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husain di Indonesia berlokasi di kediaman  Abdurahman Wahid atau Gus Dur oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI)
Organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia ini membandingkan jaminan keamanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid alias Gus Dur saat menjadi Presiden RI keempat.

Menurut Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaludin Rakhmat mengatakan, semasa pemerintahan Gus Dur, kelompok Sunni dan Syiah tidak pernah terlibat konflik.

“Pada jaman Gus Dur, dia  menetapkan A, maka seluruh warga Nahdlatul Ulama mengikutinya. Itu yang tidak terjadi pada pimpinan NU sekarang,” ujarnya

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) menyesalkan aksi pembakaran area pondok pesantren milik kelompok Syiah di Sampang, Madura.

Organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia ini membandingkan jaminan keamanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid alias Gus Dur saat menjadi Presiden RI keempat.

Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaludin Rakhmat mengatakan, semasa pemerintahan Gus Dur, kelompok Sunni dan Syiah tidak pernah terlibat konflik.

“Pada jaman Gus Dur, dia  menetapkan A, maka seluruh warga Nahdlatul Ulama mengikutinya. Itu yang tidak terjadi pada pimpinan NU sekarang,” kata Jalaludin dalam jumpa pers menyikapi pembakaran Ponpes milik kelompok Syiah, Sabtu (31/12/2011).

Bahkan Gus Dur menerapkan garis kebijakan pemerintah untuk melindungi kaum minoritas. Khusus menyangkut kelompok Syiah, Gus Dur, kata Jalaludin siap mengerahkan pengikutnya untuk melakukan penghadangan bagi kelompok yang akan melakukan penyerangan.

Menyoal hal lain, Jalaludin mengungkapkan informasi mengenai kepindahan ulama NU ke kelompok Syiah. “Banyak latar belakang ulama NU yang  pindah ke Syiah, contohnya Kiai Lumajang dulunya dia  pimpinan NU di Lumajang,” sebutnya.

.

Ketua Umum Muhammadiyah : Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam

 MAY 5, 2008 

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.

“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di

muka bumi,” katanya.

Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.

“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)

Positif Thinking pada Para Sahabat Nabi

E-mail Cetak PDF

Oleh: Ustad Husain Ardilla

Membaca sejarah umat manusia yang penuh dengan intrik dan tendensi rasanya sulit sekali menyimpulkan kebenarannya seratus persen. Disamping itu, ketika kita membaca sejarah, kita di ajak untuk menelusuri zona “spekulasi” antara asbab al-waqi’ dan motif sang pelakon. Disinilah dibutuhkan kearifan dan ketelitian dalam menelusuri lembaran-lembaran sejarah apalagi sejarah pertikaian awal umat Islam. Pada akhirnya, sejarah itu akan bertutur tentang hikmah dan pelajaran berharga untuk umat selanjutnya.

Saqifah Bani Sa’idah

Bermula dari tragedi di Saqifah bani Sa’idah, semangat kesukuan di kalangan Anshar, antara Khazraj dan ‘Aus, yang pada masa Nabi bisa disatukan berpotensi bangkit kembali. Gelagat yang tidak sehat ini dapat dibaca oleh sayyidina Umar, maka ia mengajak sayyidina Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk datang ke balairung tersebut. Silang sengketa pun semakin melebar menjadi perseteruan antara Muhajirin dan Anshar.

Terjadilah dialog panjang yang pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Dari sinilah kemudian benih-benih penyelewengan sejarah umat Islam dimulai.

SAHABAT MURTAD MASAL DAN MASUK NERAKA  kata hadis sunni ….!!!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُ…مْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

* Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى.

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

* Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

* Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

RUJUKAN:
[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.
[2]Shahih Bukhari, 8/150.
[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.
[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

wahai para pembaca …

Musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah (pengikut setia) mereka tak henti-hentinya menaburkan fitnah beracun untuk memecah belah wahdatul Islam wal Muslimin/keutuhan Islam dan kesatuan barisan kaum Muslimin. Demi menyukseskan proyek besar musuh-musuh Islam, berbagai cara licik mereka tempuh agar terjadi benturan antara dua puak besar kaum Muslimin yaitu Ahlusunnah dan Syi’ah! Tuduhan demi tuduhan palsu tak henti-hentikinya mereka sebar-luaskan, mulai dari menuduh Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri dan tidak meyakini Al Qur’an kaum Muslimin hingga menuduh bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali segelintir saja dari mereka! Untuk melengkapi tuduhan palsu semacam itu tidak jarang riwayat-riwayat tertentu mereka pelintir kandungannya atau bahkan teksnya mereka modifikasi agar mendukung kesimpulan mereka.

Khusus terkait dengan tuduhan bahwa Syi’ah mengafirkan seluruh sahabat Nabi saw. kecuali tiga atau lima orang saja, di mana atas dasar tuduhan palsu tersebut mereka membangun kesimpulan untuk menvonis kafir kaum Syi’ah!

Sementara itu, hadis-hadis serupa tentang kemurtadan para sahabat juga banyak diriwayatkan para ulama ahli hadis Ahlusunnah wal jama’ah. Lalu bagaimana para ahli hadis Sunni dapat dibebaskan dari vonis itu sementara muhaddis dan kaum Syi’ah divonis kafir?

Untuk menyingkat waktu kami akan sebebtkan beberapa contoh hadis-hadis kemurtadan sahabat dalam riwayat Ahlusunnah dengan harapan mendapat jawaban dan arahan yang prorsional dan ilmiah tentangnya.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw.:

بَيْنَا اَنَا قَائِمٌ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، فَقُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ إِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ القَهْقَرَى، ثُمَّ اِذَا زَمْرَةٌ حَتَّى اِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ هَلُمَّ، قُلْتُ اَيْنَ؟ قَالَ اِلَى النَّارِ -وَاللهِ- قُلْتُ مَاشَأْنُهُمْ؟ قَالَ اِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا بَعْدَكَ عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى. فَلاَ اَرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ اِلاَّ مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ.ااااابشنمبش 

“Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[1]

Riwayat di atas bukan satu-satunya riwayat dalam masalah ini. Banyak riwayat lain yang menegaskan kenyataan itu. Di antaranya:

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

يَرِدُ عَلِيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ اَصْحَابِى، فَيُحْلَوْنَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ اَصْحَابِى. فَيَقُوْلُ: إِنَكَ لاَ عِلْمَ لَكَ بِمَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ، إِنَّهُمْ ارْتَدُّوْا عَلَى اَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى.

“Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama).’.”[2]

  • Dari Abu Bakrah, Rasulullah saw. bersabda:

لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِى وَرَآنِي، حَتَّى اِذَا رُفِعُوْا اِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى فَأَقُوْلَنَّ: رَبِّ اَصْحَابِى اَصْحَابِى. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabatku.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[3]

  • Dari Abi Wa’il, ia berkata, “Abdullah berkata: Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ لَيُرْفَعَنَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى اِذَا اَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمْ آخْتَلَجُوْا دُوْنِى،فَأَقُوُْل: اي رَبِّ اَصْحَابِيْ؟ يَقُوْلُ: لاَتَدْرِى مَا اَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Aku akan mendahuluimu sampai di telaga hudh, dan akan dihadapkan kepadaku banyak orang-orang dari kalian. Lalu, tatkala aku hendak memberi minum mereka, mereka terpelanting, maka aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku, bukankah mereka itu sahabat-sahabatku? Ia menjawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[4]

  • Dari Abu Hazim, ia berkata, “Aku mendengar Sahl bin Sa’ad berkata, ‘Aku mendengar Nabi saw. bersabda:

اَنَا فَرَطُكُم عَلَى الْحَوْضِ -مَنْ وَرَدَ شَرِبَ مِنْهُ، وَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ لاَيَظْمَأُ بَعْدَهُ اَبَدًا- لَيَرِدُ عَلَيَّ اَقْوَامٌ اَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنِى، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ.

“Aku akan mendahuluimu datang di haudh -siapa yang mendatanginya ia pasti akan minum darinya, dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya- dan akan datang kepadaku beberapa kelompok yang sudah aku kenali mereka, lalu mereka dihalau dariku.”

Abu Hazim berkata, “Ketika aku menyampaikan di hadapan orang-orang, Nu’man bin Abi ‘Iyasy bertanya kepadaku, ”Apakah demikian yang kamu mendengar dari Sahl?” Aku menjawab, “Ya, benar.” Ia berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Said Al Khurdi menyampaikan tambahan:

 إِنَّهُمْ مِنِّى فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَتَدْرِى مَابَدَّلُوْا بَعْدَكَ فَاقُوْلُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

 …”. Mereka adalah sahabatku’. Maka dijawab, ‘Kamu tidak tahu apa yang sudah mereka ubah sepeninggalmu.’ Lalu aku berkata, ‘Celakalah orang-orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku.”[5]

  • Dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنِّى فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَإِنِّى سَأُنَازِغُ رِجَالاً فَأُغْلَبُ عَلَيْهِمْ فَأَقُوْلُ: يَارَبِّ: أَصْحَابِى، فَيُقَالُ: لاَتَدْرِى مَااَحْدَثُوْا بَعْدَكَ.

“Saya akan mendahuluimu sampai di telaga (haudh), dan aku akan menarik beberapa kelompok manusia, akan tetapi aku dikalahkan olehnya, lalu aku serukan, “Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku! Ia menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.”[6]

  • Dari Hudzaifah, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,  “Akan datang kepadaku beberapa kelompok manusia, lalu mereka terpelanting. Maka aku serukan, “Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! Ya Rabbi, sahabat-sahabatku! (selamatkan mereka).” Kemudian dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.’”[7]
    • Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اُنَاسًا مِنْ اَصْحَابِى يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِمَالِ، فَأَقُوْلُ، اَصْحَابِى! اَصْحَابِى! فَيَقُوْلُ: إِنَّهُ لَمْ يَزَالُوْا مُرْتَدِيْنَ عَلَى اَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَادُمْتُ فِيْهِمْ، فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ وَاَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ. اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَاِنْ تَغْفِرْلَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ  الْحَكِيْمُ.

“Ada sekelompok sahabatku kelak akan diambil dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘Ya Rabbi, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Lalu aku berkata seperti yang diucapkan oleh seorang hamba yang shaleh (Nabi Isa a.s.): ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[8]

Kemurtadan yang disinyalir akan terjadi sepeninggal Nabi saw. bukanlah sebuah masalah aneh, jika kita menyaksikan bahwa di masa hidup Nabi pun fenomena kemurtadan kolektif ini juga pernah terjadi. Para ulama dan ahli sejarah Ahlusunnah menyebutkan dengan tegas adanya kenyataan tersebut. Di antaranya adalah dokumen kemurtadan yang terjadi ketika para sahabat itu mendengar berita tentang isrâ’ dan mi’râj yang disampaikan Nabi saw…. tidak sedikit dari para sahabat saat itu murtad kembali kepada kekafiran dan kemusyrikan.

  • Ibnu Hisyam menyebutkan aksi kemurtadan itu dengan kata-kata:

فَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Maka murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”[9]

  • Al Halabi menyebutkan sebuah riwayat:

حين حدَّثَهم بذلك ارْتَدّ ناسٌ كانوا أسْلِمٌوا.

“Ketika beliau menyampaikan berita itu kepada penduduk Mekkah, murtadlah banyak orang yang sebelumnya telah memeluk Islam.”[10]

Dalam kitab Hayâtu Muhammad Saw., Muhammad Husain Haikal menulis sub judul: Raibatu Quraisy wa Irtidâdu Ba’dhi Man Aslam (keraguan kaum Quraisy dan kemurtadadn sebagain orang yang telah memeluk Islam). Di dalamnya ia menegaskan terjadinya kemurtadan oleh banyak sahabat Nabi saw., ia berkata:

وَارْتَدَّ كثيرٌ مِمَّنْ كان أسْلِمَ.

“Dan murtadlah banyak dari mereka yang telah memeluk Islam.”

Ustad Husain Ardilla berkata:

Jika kemurtadan itu bisa saja terjadi dan telah terjadi di kalangan para sahabat, sementara Nabi saw. masih hidup di tengah-tengah mereka dan mampu memberikan pengarahan yang meyakinkan tentang apa yang menyebabkan kemurtadan, lalu apa bayangan kita jika ada penyebab serupa yang menguncang keyakinan sebagian sahabat sementara Nabi saw. tidak lagi berada di tengah-trengah mereka? Akankah kemurtadan itu menjadi mustahil terjadi?

Mengapa? Apakah keberadaan Nabi saw. dianggap sebagai faktor pemicu kemurtadan sementara jika beliau telah mangkat dan tidak lagu bersama mereka, keimanan mereka menjadi mantap dan tak mungkin tergoyahkan?

Apakah keberadaan Nabi saw. yang menjadi pemicunya?

Subhanallah… tidak mungkin! Pasti semestinya keberadaan beliau dapat mencegah terjadinya kemurtadan bukan sebaliknya! Dan ketidak beradaan beliau di tengah-tengah para sahabat jusretu dapat menjadi faktor pemicu. Seperti disiyaratkan dalam hadis Imam Bukhari juga dari Ibnu Umar, ia mendengar Nabi saw. bersabda:

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِى كُفَّارًا، يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ.

“Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, sebagian dari kamu menebas leher sebagian yang lain.”

Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Jarir dan Ibnu Abbas dari Nabi saw.[11]

Karena penyebab kemurtadan seperti yang disinyalir dalam hadis di atas itu muncul di saat Nabi saw. tidak berada di tengah-tengah para sahabat!

Semua yang kami paparkan di sini sekedar renungan yang menuntut kita untuk merenung dan memikirkan kenyataan tersebut dan mencari tau apa penyebab sebenarnya kemurtadan itu? Dan apa maksud dari kata kemurtadan itu? Semua itu agar kita terhindar dari kesalahan fatal dalam menilai para sahabat dan juga agar tidak gegebah menuduh serampangan mazhab lain yang tidak kita sukai!

Wallah A’lam.


[1]Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.

[2]Shahih Bukhari, 8/150.

[3]Musnad Ahmad,5/48 dan 50.

[4]Shahih Bukhari,9/58, kitabul-fitan,8/148. Ia juga meriwayatkan dari Hudzaifah. Musnad Ahmad,1/439 dan 455.

[5]Shahih Bukhari,9/58-59, kitabul-fitan dan 8/150, Shahih Muslim,7/96, Musnad Ahmad, 5/33 dan 3/28, Al Isti’âb (di pinggir Al-Ishâbah),1/159.

[6]Musnad Ahmad,1/402, 406, 407, 384, 425 dan 453. Shahih Muslim, 7/68.

[7]Musnad Ahmad,5/388. Dan ada riwayat serupa pada hal. 393. Imam Bukhari mengisyaratkan adanya riwayat serupa pada8/148 – 149.

[8]Shahih Bukhari,4/168, 204, 6/69, 70, 122, 8/136, Shahih Muslim,8/157, Musnad Ahmad,1/235 dan 253, Al Istîy’âb (di pinggir Al-Ishabah), 1/160.

[9] Sirah Ibnu Hisyam:288. Terbitan Dâr al Kotob al Ilmiah- Beirut- Lebanon.

[10] As Sirah al Halabiyah,1/378. Terbitan al Maktabah al Islamiyah. Beirut – Lebanon.

[11]Shahih Bukhari,9/63-64, Shahih Muslim, 1/58.

wahai para pembaca …

.

Abi Sa’id al-Khudri berkata: “Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, Rasulullah SAWW keluar rumah untuk menunaikan shalat Id. Usai shalat beliau berdiri menghadap para hadirin yang masih duduk di saf, kemudian berkhotbah yang penuh dengan nasehat dan perintah.”Abu Sa’id melanjutkan: “Cara seperti ini dilanjutkan oleh para sahabatnya sampailah suatu hari ketika aku keluar untuk shalat Id (Idul Fitri atau Idul Adha) bersama Marwan, gubernur kota Madinah. Sesampainya di sana Marwan langsung naik ke atas mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalt. Aku tarik bajunya.Tapi dia menolakku. Marwan kemudian memulai khotbah Id-nya sebelum shalat. Kukatakan padanya: “Demi Allah kalian telah rubah.” “Wahai Aba Sa’id” Tukas Marwan, “Telah sirna apa yang kau ketahui” Kukatakan padanya: “Demi Allah,
apa yang kutahu adalah lebih baik dari apa yang tidak kuketahui.” Kemudian Marwan berkata lagi: “Orang-orang ini tidak akan mau duduk mendengar khotbah kami seusai shalat. Karena itu kulakukan khotbah sebelumnya.”[1]

Coba teliti gerangan apa yang menyebabkan sahabat seperti ini berani merubah Sunnah Nabi. Itu dikarenakan Bani Umaiyah (yang mayoritasnya adalah sahabat Nabi) terutama Muawiyah bin Abu Sufyan yang konon sebagai Penulis Wahyu, senantiasa memaksa kaum muslimin untuk mencaci dan melaknat Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar- mimbar masjid. Muawiyah memerintahkan orang-orangnya di setiap negeri untuk menjadikan cacian dan laknat pada Ali sebagai suatu tradisi yang mesti dinyatakan oleh para khatib.

Ketika sejumlah sahabat protes atas ketetapan ini, Muawiyah tidak segan-segan
memerintahkan mereka dibunuh atau dibakar. Muawiyah telah membunuh sejumlah sahabat yang sangat terkenal seperti Hujur bin U’dai beserta para pengikutnya, dan sebagian lain dikuburkan hidup-hidup. “Kesalahan” mereka (dalam persepsi Muawiyah) semata-mata karena enggan mengutuk Ali dan bersikap protes atas dekrit Muawiyah.

Abul A’la al-Maududi dalam kitabnya al-Khilafah Wal Muluk (Khilafah Dan Kerajaan) menukil dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Ada empat hal dalam diri Muawiyah, yang apabila satu saja ada pada dirinya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencelakakannya:
1. Dia berkuasa tanpa melakukan sebarang musyawarah sementara sahabat-sahabat lain yang merupakan cahaya kemuliaan masih hidup.
2. Dia melantik puteranya (Yazid) sebagai pemimpin setelahnya, padahal sang putera adalah seorang pemabuk dan pecandu minuman keras dan musikus.
3. Dia menyatakan Ziyad (seorang anak zina) sebagai puteranya, padahal Nabi SAWW bersabda: “Anak adalah milik sang ayah, sementara yang melacur dikenakan sanksi rajam.
4. Dia telah membunuh Hujur dan para pengikutnya. Karena itu maka celakalah dia lantaran (membunuh) Hujur; dan celakalah dia karena Hujur dan para pengikutnya.[2]

Sebagian sahabat yang mukmin lari dari masjid seusai shalat karena tidak mau mendengar khotbah yang berakhir pada kutukan terhadap Ali dan keluarganya. Itulah kenapa Bani Umaiyah merubah Sunnah Nabi ini dengan mendahulukan khotbah sebelum shalat agar yang hadir terpaksa mendengarnya.

Nah, sahabat jenis apa yang berani merubah Sunnah Nabinya, bahkan hukum-hukum Allah sekalipun semata-mata demi meraih cita-citanya yang rendah dan ekspresi dari rasa dengki yang sudah terukir. Bagaimana mereka bisa melaknat seseorang yang telah Allah sucikan dari segala dosa dan nista dan diwajibkan oleh Allah untuk bersalawat kepadanya sebagaimana kepada Rasul-Nya.

Allah juga telah mewajibkan kepada semua manusia untuk mencintainya hingga Nabi SAWW bersabda: “Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak.”[3]

Namun sahabat-sahabat seperti ini telah merubahnya. Mereka berkata, kami telah dengar sabda-sabda Nabi tentang Ali, tetapi kami tidak mematuhinya. Seharusnya mereka bersalawat kepadanya, mencintainya dan taat patuh kepadanya; namun sebaliknya mereka telah mencaci dan melaknatnya sepanjang enam puluh tahun, seperti yang dicatat oleh sejarah.

Apabila sahabat-sahabat Musa pernah sepakat mengancam nyawa Harun dan
hampir-hampir membunuhnya, maka sebagian sahabat Muhammad SAWW telah membunuh “Harun-nya” (yakni Ali) dan mengejar-ngejar anak keturunannya serta para Syi’ahnya di setiap tempat dan ruang. Mereka telah hapuskan nama-nama dan bahkan melarang kaum muslimin menggunakan nama mereka.

Tidak sekadar itu, hatta para sahabat besar dan agungpun mereka paksa untuk melakukan hal yang serupa. Demi Allah, sangat mengherankan ketika membaca buku-buku referensi kitab ahl-Sunnah yang memuat berbagai Hadits yang mewajibkan cinta pada Nabi dan saudaranya serta anak pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib, dan sejumlah Hadits-Hadits lain yang mengutamakan Ali atas para sahabat yang lain.

Sehingga Nabi SAWW bersabda:
“Engkau (hai Ali) di sisiku bagaikan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada Nabi setelahku.”[4]
Atau sabdanya:
“Engkau dariku dan aku darimu”.[5]
Dan sabdanya lagi:
“Mencintai Ali adalah iman dan membencinya adalah nifak”.[6]
Sabdanya:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya”.[7]
Dan sabdanya:
“Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin setelahku.”[8]
Dan sabdanya:
“Siapa yang menjadikan aku sebagai maulanya (pemimpinnya) maka Ali adalah
maulanya. Ya Allah, bantulah mereka yang mewila’nya dan musuhilah mereka yang memusuhinya.”[9]

Apabila kita ingin mencatat semua keutamaan Ali yang disabdakan oleh Nabi SAWW dan yang diriwayatkan oleh para ulama ahl-Sunnah dengan sanadnya yang shahih, maka ia pasti akan memerlukan suatu buku tersendiri. Bagaimana mungkin sejumlah sahabat seperti itu pura-pura tidak tahu akan Hadits ini, lalu mencacinya, memusuhinya, melaknatnya dari atas mimbar dan membunuh atau memerangi mereka?

Orang pertama yang pernah mengancam akan membakar rumahnya (Ali) beserta para penghuni yang ada di dalamnya adalah Umar bin Khattab; orang pertama yang memeranginya adalah Thalhah, Zubair, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar, Muawiyah bin Abu Sufyan dan A’mr bin A’sh dan sebagainya.
Rasa terkejut dan kagetku bertambah dalam dan seakan tidak akan berakhir.

Setiap orang yang berpikir rasional akan segera mendukung pendapatku ini. Bagaimana ulama-ulama Ahlu Sunnah sepakat mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil sambil mengucapkan “Radhiallahu Anhum”, bahkan mengucapkan salawat untuk mereka tanpa kecuali.

Sehingga ada yang berkata, “Laknatlah Yazid tapi jangan berlebihan”. Apa yang dapat kita bayangkan tentang Yazid yang telah melakukan tragedi yang sangat tragis ini, yang tidak dapat diterima bahkan oleh akal dan agama. Aku nyatakan kepada Ahlu Sunnah Wal Jamaah, jika mereka benar-benar mengikut Sunnah Nabi, agar meninjau hukum Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara cermat dan seadil-adilnya tentang kefasikan Yazid dan kekufurannya.

Rasululah SAWW telah bersabda:
“Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Aku akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”[10]

Demikian itu adalah sanksi bagi orang yang mencaci Ali. Maka bagaimana pula apabila ada orang yang melaknatnya dan memeranginya. Mana alim-ulama kita dari hakikat kebenaran ini? Apakah hati mereka telah tertutup rapat?

Anas bin Malik berkata:
“Tiada sesuatu yang kuketahui di zaman nabi lebih baik dari (hukum) shalat.” Kemudian dia bertanya: “Tidakkah kalian kehilangan sesuatu di dalam shalat?”

Az-Zuhri pernah bercerita:
“Suatu hari aku berjumpa dengan Anas bin Malik di Damsyik. Saat itu beliau sedang menangis. “Apa yang menyebabkan Anda menangis?”, tanyaku. “Aku telah lupa segala yang kuketahui melainkan shalat ini. Itupun telah kusia-siakan.” Jawab Anas.[11]

Agar jangan sampai terkeliru dengan mengatakan bahwa para Tabi’inlah yang merubah segala sesuatu setelah terjadinya sejumlah fitnah, perselisihan dan serta peperangan, ingin kunyatakan di sini bahwa orang pertama yang merubah Sunnah Rasul dalam hal shalat adalah khalifah muslimin yang ketiga, yakni Utsman bin Affan. Begitu juga Ummul Mukminin Aisyah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitabnya bahwa Rasulullah SAWW menunaikan shalat di Mina dua rakaat (qashar). Begitu juga Abu Bakar, Umar dan periode
awal dari kekhalifahan Utsman. Setelah itu Utsman Shalat di sana (Mina) sebanyak empat rakaat.”[12]

Muslim juga meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa Zuhri berkata: “Suatu hari aku bertanya pada Urwah kenapa Aisyah shalat empat rakaat dalam perjalanan musafirnya?”

“Aisyah telah melakukan takwil sebagaimana Utsman”[13] jawabnya. Umar bin Khattab juga tidak jarang berijtihad dan bertakwil di hadapan nas-nas Nabi yang sangat jelas, bahkan dihadapan nas-nas Al-Qur’an, lalu kemudian menjatuhkan hukuman mengikut pendapatnya.

Beliau pernah berkata: “Dua mut’ah yang dahulunya (halal) dan dilakukan di zaman Nabi, kini aku melarangnya dan mengenakan hukuman bagi orang yang melaksanakannya[14], (bertamattu’ dalam haji dan nikah mut’ah pent.) Beliau juga pernah berkata kepada orang yang junub tetapi tidak memperoleh air untuk mandi, “Jangan sembahyang”.

Walaupun ada firman Allah di dalam surah al-Maidah ayat 6: “… Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang bersih”.
Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Idza Khofa al-Junub A’la Nafsihi (Apabila Orang Junub Takut Akan Dirinya) berikut: “Kudengar Syaqiq bin Salmah berkata, suatu hari aku hadir dalam majlis Abdillah dan Abu Musa. Abu Musa bertanya pada Abdillah bagaimana pendapatmu tentang orang yang junub kemudian tidak memperoleh air untuk mandi?” Abdillah menjawab, “dia tidak perlu shalat sampai ia temukan air.” Abu Musa bertanya lagi, “bagaimana pendapatmu tentang jawaban Nabi kepada Ammar dalam masalah yang sama ini?” Abdullah menjawab, “Umar tidak begitu yakin dengan itu.” Abu Musa melanjutkan, “lalu bagaimana dengan ayat ini, (al-Maidah: 6)?” Abdullah diam tidak menjawab. Kemudian dia berkata, “apabila kita izinkan mereka (melakukan tayammum), niscaya mereka akan bertayammum saja dan tidak akan menggunakan air apabila udaranya dirasakan dingin. ” Kukatakan pada Syaqiqbahwa Abdillah sebenarnya tidak suka lantaran ini semata-mata; dan Syaqiq pun mengiakan”

Kesaksian Sahabat atas Diri Mereka
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemui Allah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”[15]

Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon (bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku, engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”[16]

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apabila sahabat-sahabat ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu” sepeninggal Nabi, bukankah pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAWW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggalnya.

Apakah seseorang yang berpikir rasional akan tetap mengatakan bahwa semua sahabat adalah adil seperti yang diklaim oleh Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Mereka yang mengklaim seperti itu jelas telah menyalahi nas dan akal. Karena dengan demikian hilanglah segala kriteria intelektual yang sepatutnya dijadikan pegangan sebuah penelitian dan kajian.

—————————————
1. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 122.
2. Al-Khilafah Wal Muluk Oleh al-Maududi hal. 106.
3. Shahih Muslim jil. 2 hal. 61
4. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 305; Shahih Muslim jil. 2 hal. 366; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109.
5. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 76; Shahih Turmidzi jil. 5 hal. 300; Shahih Ibnu Majahjil. 1 hal. 44
6. Shahih Muslim jil. 1 hal. 61; Sunan an-Nasai jil. 6 hal. 177; Shahih Turmudzi jil. 8 hal. 306.
7. Shahih Thurmudzi jil. 5 hal. 201; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 126.
8. Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 5 hal. 25; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 134.
9. Shahih Muslim jil.2 hal.362; Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 109; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 4 hal, 281.
10. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi hal. 81; ar-Riyadh an Nadhirah oleh Thabari jil. 2 hal. 219; Tarikh as-Suyuti hal. 73.
11. Shahih Bukhari jil.l hal.74
12. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 154; Shahih Muslim jil. 1 hal. 260
13. Shahih Muslim jil. 2 hal.134.
14. Shahih Bukhari jil. 1 hal. 54
15. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135
16. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.