Syarat Sahnya Amalan yaitu berpedoman pada Tsaqal pertama yaitu “Kitabullah” dan Tsaqal kedua yaitu “Itrah atau Ahlulbait Nabi SAW”

Subuh tanggal 19 Ramadhan hati Imam Ali as bergetar petanda akan terjadi sebuah peristiwa besar. Berkali-kali beliau keluar dari kamarnya dan menatap langit sembari menitikkan air mata. Kepada dirinya Imam Ali berkata, “Malam ini adalah malam yang telah dijanjikan.” Beliau kemudian mengingat ucapan Rasulullah yang disampaikan kepadanya di bulan Ramadhan. Rasul berkata, “Akan terjadi peristiwa getir yang menimpamu di bulan ini. Aku melihatmu tengah melaksanakan shalat ketika seorang paling celaka di muka bumi menghantam kepalamu dengan pedang sehingga jenggotmu bersimbah darah yang bercucuran dari kepalamu.” (‘Uyun Akhbar ar-Ridha, jilid 1, hal 297)

Subuh hari itu tengkuk kepala Imam Ali terbelah setelah disabet pedang yang telah dilumuri racun milik Abdurrahman bin Muljam di mihrab masjid Kufah. Darah membasahi seluruh wajah Imam Ali as, namun terdengar dari lisannya beliau berkata, “Demi Allah pemilik Ka’bah! Aku Beruntung.” Tiga hari kemudian pada Subuh tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijrah, Imam Ali as meninggalkan dunia yang fana menemui penciptanya.

Sejak waktu itu anak-anak yatim menjadi sedih, tidak mendengarkan langkah-langkah Imam Ali as menuju mereka. Anak-anak yatim harus meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang lagi yang dapat diajak bermain. Karena selama ini mereka dengan gembira bermain menaiki punggung Imam Ali as. Sementara orang-orang miskin baru mengetahui bahwa orang asing yang setiap malam membawakan roti dan korma kepada mereka telah tiada. Kebun korma yang biasanya didatangi Imam Ali di malam-malam untuk bermunajat sudah tidak dapat mendengar lagi lirihnya munajat beliau. Semua merasa kehilangan.

Pengaruh wujud sebagian tokoh besar terkadang berlanjut hingga beberapa waktu. Tapi sangat jarang ada tokoh dalam sejarah yang berpengaruh untuk segala masa. Berlalunya waktu tidak dapat menghilangkan mereka dari ingatan. Salah satunya adalah Imam Ali as. Beliau untuk semua. GibranKhalil Gibran, penulis Lebanon yang meskipun memeluk Kristen, tapi ia begitu terpikat dengan pribadi Imam Ali as. Sekaitan dengan Imam Ali as, ia menulis, “Saya tidak habis pikir bagaimana ada orang yang mendahului masanya. Menurut keyakinan saya, Ali bin Abi Thalib bukan hanya untuk masanya. Ia pribadi yang senantiasa berada di sisi jiwa yang menguasai wujud.”

Potensi wujud dan fitrahnya yang sudi membuat Imam Ali as istimewa di setiap dimensi kemanusiaannya. Beliau berada di atas semua masa dan generasi. Ali bin Abu Thalib dibesarkan oleh pribadi besar seperti Rasulullah Saw yang membuatnya sampai pada keadilan dan ketakwaan yang tinggi. Allamah Syahid Murtadha Muthahhari dalam bukunya “Daya Tolak dan Tarik Imam Ali as” menulis:

“Imam Ali as benar-benar wujud yang adil dan seimbang. Ia mampu mengumpulkan seluruh kesempurnaan manusia. Ia memiliki pemikiran yang dalam dan afeksi yang lembut. Di siang hari mata manusia menyaksikan pengorbanan yang dilakukannya dan telinga mereka mendengarkan nasihat-nasihat penuh hikmahnya. Sementara di malam hari bintang-bintang menyaksikan air matanya yang menetes saat beribadah dan langit mendengarkan munajat penuh cintanya. Imam Ali as adalah seorang bijak dan arif. Ia pemimpin sosial, sekaligus tentara, buruh, orator dan penulis. Pada intinya, Imam Ali as adalah seorang manusia sempurna dengan segala keindahannya.”

Apa sebenarnya yang menyebabkan pribadi Imam Ali as masih menarik perhatian hati manusia setelah berlalu berabad-abad dan akal senantiasa memujinya? Rahasia keabadian Imam Ali as terletak pada hubungannya yang terus menerus dengan Allah. Hubungan ini yang membuatnya melewati ruang dan waktu. Setiap hati manusia pasti mencintainya. Karena beliau punya hubungan sangat dalam dengan kebenaran. Dari sini, setiap fitrah yang masih suci dan sehat serta punya kecenderungan meraih hakikat, sudah barang tentu akan memuji Imam Ali as dan mencintainya.

Imam Ali as adalah contoh nyata orang yang berjalan di jalan yang lurus. Orang-orang jujur dalam berbuat dan berkata. Ketika berada di puncak kekuasaan, maka akan dimanfaatkan sebagai alat untuk menghidupkan kebenaran. Kekuasaan yang dimiliki menjadi sarana bagi pertumbuhan keutamaan manusia dan menciptakan keadilan. Terkadang kita menyaksikan beliau menghadapi orang-orang yang begitu mencintai dunia, tapi terkadang beliau harus menghadapi orang-orang munafik dan di lain waktu harus memerangi orang-orang yang ingin menipu masyarakat dengan simbol-simbol agama. Imam Ali as memerintah dengan gaya yang sangat merakyat dan keadilan merupakan ciri khasnya. Tidak ada yang dapat mempengaruhinya dalam menegakkan keadilan, sekalipun itu keluarganya sendiri.

Gaya hidup Imam Ali as dalam kehidupan sehari-hari bersumber dari cara pandangnya terhadap dunia dan bagaimana menghadapinya. Dunia dan alam diciptakan oleh Allah dengan sangat indah. Langit, bumi, laut, gunung, awan dan angin semua merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Imam Ali as juga mencintai dunia dan alam sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Dalam sejarah disebutkan bagaimana Imam Ali as begitu mencintai mata air, kebun dan sawah. Beliau memanggul pohon korma untuk di tanam di kebun. Beliau menggali sumur seorang diri guna mengairi korma-korma itu. Itulah mengapa dalam satu ucapannya Imam Ali as mencela orang yang mencaci dunia. Imam Ali as berkata:

“Dunia tempat kejujuran bagi orang-orang yang jujur, tempat yang sehat bagi mereka yang mengenal dunia rumah sehat dan dunia tempat yang tidak dibutuhkan bagi mereka yang telah memiliki bekal… Dunia adalah tempat penyembahan kepada Allah bagi mereka yang mencintai-Nya dan tempat shalat para malaikat… Dunia adalah pasar untuk mencari untung bagi para pecinta Allah dan di dunia mereka meraih rahmat Allah serta memiliki surga yang kekal.” (Nahjul Balaghah, hikmah 131)

Dengan dasar ini, Imam Ali as memandang dunia sebagai pengantar bagi akhirat agar jangan sampai kita telah bersusah payah di dunia, tapi ternyata tidak mendapatkan apa-apa di akhirat. Dunia adalah tempat ujian dan sarana untuk meluncur meraih puncak kesempurnaan. Dunia merupakan pasar dimana orang-orang beriman memanfaatkan segala kemampuan materi dan spiritualnya untuk mencapai derajat kemanusiaan yang tinggi. Mereka melayani, memperluas keadilan dan melindungi kehormatan manusia demi menciptakan masyarakat yang bahagia.

Dunia menurut Imam Ali as akan bernilai dan mulia selama tetap pada fungsinya sebagai alat untuk melayani masyarakat, menciptakan keadilan dan memperkuat fondasi perdamaian. Cara pandang terhadap dunia yang diajarkan Imam Ali as membuat beliau sendiri menjadi seorang pejuang gigih dalam melawan kezaliman dan ketidakadilan. Beliau melawan setiap bentuk penindasan demi mengembalikan hak-hak orang tertindas. Tapi pada saat yang sama, cara pandang beliau terhadap dunia membuatnya berpanas-panas untuk menanam korma dan hasilnya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang miskin.

Tapi bila dunia dijadikan tujuan dan berhadap-hadapan dengan akhirat, maka ini akan menjadi penghalang besar bagi manusia untuk meraih kesempurnaan. Bila di dunia ini tujuan mulia manusia ditumpas dan manusia ditawan dan bila ajaran langit, perasaan manusia dan moral terbakar dalam api kekuasaan dan kekayaan, maka pada waktu itu dunia menjadi tercela. Imam Ali as berperang dengan dunia yang dipandang dengan cara seperti ini. Dunia seperti inilah yang dilukiskan begitu hina dan buruk oleh Imam Ali as.

Terkadang beliau menyamakan dunia dengan ular yang tampaknya indah, tapi sangat berbisa. Di lain kesempatan beliau mengatakan dunia di mataku lebih hina dari tulang babi yang berada di tangan seorang yang berpenyakit kusta atau daun yang tak bernilai di mulut belalang. Di sini Imam Ali as memulai perjuangannya melawan dunia. Imam mengingatkan dunia dapat menjadi tempat manusia tergelincir dan tertinggal dari jalan Allah menuju kesempurnaan. Oleh karena itu orang-orang yang beriman harus melihat dunia sebagai tempat penyeberangan menuju akhirat

.

Mengimani Wilayah Ahlulbait as. Adalah Jaminan Keselamatan Dari Api Neraka Jahannam

Allah SWT berfirman:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” (QS. ash Shaffat:24)

 Keterangan:

Di antara peristiwa-peristiwa mengerikan nun menentukan nasib di hari kiamat adalah diberhentikannya manusia di jembatan pemeriksaan di atas neraka Jahim. Allah memerintahkan para malaikat-Nya agar menahan umat manusia karena akan ada pertanyaan yang mesti mereka jawab. Pertanyaan yang akan mengungkap jati diri setiap orang. Allah berfiaman, “Hentikan (tahan) mereka karena mereka akan ditanyai.”

Tentang apa yang akan ditanyakan kepada umat manusia kelak di hari kiamat, di antara para ulama dan ahli tafsir ada yang mengatakan pertanyaan itu terkait dengan konsep Tauhid; Lâ Ilâha Illallah/Tiada Tuhan selain Allah! Ada pula yangt mengatakan mereka akan ditayai dan dimintai pertanggung-jawaban tentang WilâyahImam Ali as.

Akan tetapi di sini perlu diketahui bahwa apa yang disebutkan di atas adalah penyebutan mishdâq dari apa yang akan ditanyakan… ia tidak sedang membatasai… bukan hanya itu yang akan ditanyakan…. Inti dari pertanyaan itu tentang kebenaran apapun yang mereka abaikan di dunia, baik ia berupa I’tiqâd/keyakinan yang intinya adalah Syahâdatain…Tentunya dan juga tentang Wilâyah Imam Ali as. yang akan menentukan nilai Syahâdatain di sisi Allah SWT. … Atau berupa amal shaleh yang mereka tinggalkan kerena keangkuhan dan sikap takabbur kepada atasnya.

Riwayat Tafsir Nabi saw.

Para muhaddis telah meriwayatkan bahwa Nabi saw. telah menyebut bahwa di antara pertanyaan penting yang akan ditanyakan adalah tentang Wilâyah Imam Ali as., karenanya para ulama Ahlusunnah meriwayatkan dari para mufassir Salaf; sahabat dan tabi’în, di antara mereka Abu Said al Khadri, Ibnu Abbas, Abu Ishaq as Subai’i, Jabir al Ju’fi, Mujahid, Imam Muhammad al Baqir as. dan Mandal bahwa kelak pada hari kiamat Allah SWT akan menanyai setiap orang akan sikapnya terhadap wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as.

Riwayat Abu Sa’id al Khadri:

Ibnu Hajar (dan juga para ulama lainnya) menggolongkan ayat di atas sebagai ayat yang turun menjelaskan keagungan, keutamaan dan maqam mulia Ahlulbait as., ia berkata: “(Ayat Keempat) Firman Allah –Ta’âlâ-:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”

Ad Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khadri bahwa Nabi saw. bersabda:

{و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ} عن وِلايَةِ علِيٍّ.

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”tentang wilayah Ali.

Sepertinya sabda ini yang dimaksud oleh al Wâhidi dengan ucapannya, ‘“Dan Hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” tentang wilayah Ali dan Ahlubait, sebab Allah telah memerintah Nabi-Nya saw. agar memberitahui umat manusia bahwa ia tidak meminta upah atas jerih payah mentablîghkan Risalah (agama) kecuali kecintaan kepada keluarga beliau. Maknanya, bahwa mereka akan ditanyai apakah mereka mengakui Wilâyah mereka dengan sepenuh arti seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka atau mereka menyia-nyiakan dan mengabaikannya, maka mereka akan dituntut dan dikenakan sanksi.’

Dan dengan ucapannya ‘seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka’ ia menunjuk kepada hadis-hadis yang datang dalam masalah ini, dan ia sangat banyak sebagainnya akan kami sebutkan pada pasal kedua nanti.”[1] 

 

Sumber Riwayat:

Hadis Abu Sa’id telah diriwayatkan para ulama Ahlusunnah dari banyak jalur. Dalam riwayat al Wâhidi di atas hadis itu diriwayatkan dari jalur: Qais ibn Rabî’i dari’Athiyyah dari Abu Sa’id dari Nabi saw.

Al Hakim al Hiskâni meriwayatkannya dari  dua jalur; 1) dari Qais ibn Rabî’ dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw…. 2) dari Isa ibn Maimun dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw. hadis

Riwayat Ibnu Abbas ra.

Al Hakim al Hiskâni juga meriwayatkan tafsir serupa dari Nabi saw. dari riwayat Ibnu Abbas ra….. Dari ‘Athâ’ ibn Sâib dari Sa’id ibn Jubair dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

“Kelak di hari kiamat aku dan Ali diberdirikan di atas Shirâth (jembatan pemeriksaan), maka tiada seorang pun yang melewatinya melainkan kami tanyai tentang WilâyahAli. Maka barang siapa memilikinya (maka ia boleh berjalan terus), dan yang tidak akan kami lemparkan ke dalam api neraka. Itu adalah firman Allah:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”[2]

Dalam riwayat lain, Al Hakim meriwayatkan tentang firman Allah SWT.:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Tentang Wilayah Ali ibn Abi Thalib.”[3]

 Status Hadis:

Seperti Anda saksikan bahwa Nabi saw.[4] sendirilah yang menafsirkan ayat di atas dengan Wilâyah Ali as…. Bahwa perkara terpenting yang akan ditanyakan kepada setiap manusia kelak di hari kiamat setelah tentang keesaan Allah dan kerasulan Mahammad saw. adalah Wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as. dan berdasarkan sikap setiap orang, nasib mereka akan ditentukan di sana!

Apabila seorang dalam hidupnya mengimani Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa dan Muhammad ibn Abdillah sebagai Rasul penutup Allah serta mengimani Ali dan Ahlulbait as. sebagai para Wali (pemimpin)nya, maka ia akan mendapat rahmat dan nikmat dari Allah dan apabila tidak maka Allah akan memintainya pertangung-jawaban atas sikapnya tersebut dan memberinya sanksi, seperti yang ditegaskan Al Wâhidi di atas.

Lalu bagaimana sikap Anda? Apakah Anda telah mempersiapkan jawaban untuk intrograsi para malaikat Allah kelak di hari Pengadilan Akbar; hari kiamat terkait dengan sikap Anda terhadap kepemimpinan Imam Ali dan Ahlulbait as.?

Apakah Anda termasuk orang yang peduli akan nasib abadi Anda di alam akhirat sana? Atau Anda termasuk mereka yang acuh terhadap apapun tentang tanggung jawab di hadapan Tuhan?

Jawabnya terserah Anda!!

Catatan:

Hadis Abu Sa’id dan keterangan Al Wâhidi, selain dikutip dan dibenarkan oleh Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab ash Shawâiq-nya juga dikutip dan dibenarkan oleh banyak ulama Ahlusunnah lainnya, di antaranya:

A)        Syihâbuddîn al Khaffâji dalam kitab tafsir Ayat al Mawaddah-nya:82, seperti disebutkan dengan lengkap oleh az Zarandi dalam Nadzm  Durar as Simthain:109.

B)          Syeikhul Islam al Hamawaini dalam Farâid as Simthain,1/78-79 ketika menyebut hadis no.46 dan 47.

C)         As Samhûdi dalam Jawâhir al Iqdain,2/108.

Mereka menyebut dan menukilnya serta mendukungnya dengan beberapa bukti pendukung lainnya.

Tafsir Para Sahabat Dan Mufassir Salaf

Selain dua sahabat yang telah kami sebutkan tafsir mereka, para mufassir Salaf juga menafsirkan ayat di atas sesuai denga tafsir Nabi saw. di antara tafsir yang diriwayatkan dari mereka adalah sebagai berikut:

(1)                       Abu Ishaq as Subai’i

Al Khawârizmi meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu Ahwash dari Abu Ishaq as Subai’i tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[5]

(2)        Mujahid

Adz Dzahabi menykil riwayat dari jalur Israil dari Ibnu Najîh dari Mujahid tentang ayat:“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[6]

(3)        Imam Muhammad al Baqir as.

Al Hiskani meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Daud ibn Hasan ibn Hasan dari ayahnya dari (Imam) Abu Ja’far tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.

Hadis serupa juga diriwayatkan dari jalur Abu Ishaq as Subai’i dari Jabir al Ju’fi.[7]

 

Hadis-hadis Pendukung!

Selain itu hadis tafsir Nabi saw. di atas dan juga tafsir para sahabat telah dikuatkan dan didukung oleh banyak bukti… di antara bukti-bukti itu adalah:

  • Hadis-hadis yang menegaskan bahwa kelak di hari kiamat Nabi saw. akan meminta dari umat Islam pertanggung-jawaban sikap terhadap Kitabullah dan Ahlulbait as. Di antara hadis-hadis itu dalah sebagai berikut ini:

Dari Abu Thufail Amir ibn Watsilah dari Hudzaifah ibn Usaid al Giffari dalam sebuah hadis panjang di antaranya beliau saw. bersabda:

يَا أيُّها الناسُ إِنِّيْ فَرَطُكُمْ, إِنَّكُمْ وَارِدُونَ عَلَيَّ الْحَوْضَ أَعْرَضَ مِمَّا بين بُصْرَى إلى صَنْعاءَ فيهِ عَدَدُ النُّجُومِ قَدْحانَ فِضَّةٍ، و إِنِّيْ سائِلُكُمْ حين تَرِدُوْنَ عَنِ الثَّقَليْنَ ، فَانْظُرُوا كيفَ تَخْلُفُونِيْ فيهِما: الثقل ألأكْبَرُ كتابَ اللهِ عز و جلَّ سببٌ طَرَفُهُ بِيَدِ اللهِ و طرفُهُ بِأَيْدِيْكُمْ، فاسْتَمْسِكُوا بِهِ و لا تَضِلُّوا و لا تُبَدِّلُوا، وَعِتْرتِيْ أَهلَ بيتِيْ، فَإِنَِّ اللطيفَ الخبيرَنَبَّأَنِيْ أَنَّهُما لَنْ يَنْقَضِيا حتى يرِدَا عليَّ الْحَوْضَ.

“Wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku akan mendahului kalian menuju telaga dan kalian pasti mendatangiku di telaga, sebuah telaga yang lebih lebar dari kota Bushra hingga kota Shan’a’, di dalamnya terdapat cawan-cawan sejumlah bintang di langit. Aku akan meminta pertanggung-jawaban kalian ketika menjumpaiku akanTsaqalaian. Maka perhatikan, bagaimana perlakuan kalian terhadap keduanya.Tsaqal pertama adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla, sebab penyambung yang satu ujungnya di tangan Allah dan satu ujungnya lagi di tangan kalian, maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah; jangan kalian menyimpang dan mencari ganti selainnya, dan kedua adalah Itrah-ku yaitu Ahlulbaitku. Sesungguhnya Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui telah memberitauku bahwa keduanya tidak akan berakhir sehingga menjumpaiku di haudh (telaga).”[8]

  • Hadis akan ditanyakannya empat perkara di hari kiamat. Di antaranya adalah riwayat di bawah ini:

Al Hafidz al Haitsami berkata, “dan dari Ibnu Abbbas, ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda:

لاَ تزولُ قَدَما عبْدٍ يومَ القيامة حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ و عن ماله فِيمَ أنْفَقَهُ و مِنْ أين إكْتَسَبَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang pada hari kiamat sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang hartanya untuk apa ia belanjakan dan dari mana ia perolah dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Awsath, dan pada sanadnya terdapat Husain al Asyqar, ia dianggap lemah oleh sebagian ulama, akan tetapi Ibnu Hibbân mentsiqahkannya.

Al Haitsami juga meriwayatkannya dari jalur lain dari Abu Barzah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

تزولُ قَدَما عبْدٍ حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ وَ عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه و عن ماله مِنْ أين إكْتَسَبَهُ وَ فِيمَ أنْفَقَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang harta dari mana ia perolahnya dan untuk apa ia belanjakan dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Lalu ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa tanda kecintaan kepada kalian Ahlulbait?’

Maka beliau menunjuk Ali sambil menepuk pundaknya.“

Ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam Awsath.

Perhatikan di sini, al Haitsami hanya mencacat hadis dengan jalur pertama yaitu disebabkan Husain al Asyqar. Sementara terhadap hadis dengan jalur kedua ia mendiamkan dan tidak mencacatnya dengan sepatah kata pun..

Dan dalam sumber aslinya disebutkan bahwa Nabi menjawab si penanya dengan sabda beliau, “Tanda kecintaan kepada kami adalah kecintaan kepada orang ini sepeninggalaku.” Sabda ini tidak disebutkan oleh al Haitsami. Adapun pencacatannya atas Husain al Asyqar sangat tidak berdasar. Perawi yang satu initsiqah dan adil seperti telah dibuktikan pada tempatnya.

Ikhtisar kata, hadis ini termasuk dari hadis-hadis terkuat tentang keutamaan Ali dan Ahlulbait as. tidak ada tempat untuk pencacatan!

  • Hadis yang mengatakan bahwa manusia tidak akan diizinkan melewati jembatan penyeberangan di Shirâth kelak kecuali setelah terbutki ia meyakiniWilayah Imam Ali as.

Di antara hadis-hadis itu adalah sebagai berikut:

A)                    Hadis riwayat Imam Ali as.

Al Hafidz Abul Khair al Hâkimi ath Thâliqâni berkata, “Dan dengannya al Hâkim berkata…. Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا جمَع اللهُ الأولين و الآخرين يوم القيامة و نصب الصراطَ على جسر جهنمَ ما جازاها أحدٌ حتى كانت معه برآءَةٌ بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kelak pada hari kiamat Allah mengumpulkan manusia yang pertama hingga yang terakhir dan Dia menegakkan Shirâth di atas jembatan neraka Jahannam, maka tidak seorang pun melewatinya sehingga ia memiliki surat jalan berupa (keyakinan akan) Wilâyah Ali ibn Abi Thalib.”[9]

B)          Hadis Anas ibn Malik.

Ibnu al Maghâzili meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Anas ibn Malik, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

إذا كان يوم القيامة و نُصِبَ الصراطُ على شَفِير جهنمَ لَمْ يَجُزْ إلاَّ مَن معه كتابُ  بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kiamat terjadi dan Shirath dibentangkan di atas bantaran nereka Jahannam, maka tidak ada yang dapat melewatinya kecuali orang memiliki catatan berupa Wilayah kepada Ali ibn Abi Thalib.”[10]

Dan selain dua hadis di atas banyak hadis lainnya dari riwayat Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas dan Abu Bakar.

Setelah ini semua adalah sebuah sikap gegabah jika ada yang meragukan kesahaihan tafsir ayat di atas dengan Wilayah Imam Ali ibn Abi Thalib as., apalagi mengatakannya sebagai hadis palsu!!

Wallahu A’lam.


[1] Ash Shawâiq al Muhriqah:149. Cet. Maktabah al Qahirah. Thn.1385 H/1965 M. dengan tahqiq Abdul Wahhâb Abdul Lathîf..

[2] Syawâhid at Tanzîl,2/162 hadis no..789.

[3] Ibid. no790.

[4] Pada riwayat-riwayat Abu Sa’id dan Ibnu Abbas ra. di atas Anda dapat saksikan bahwa sesekali mereka menukil tafsir ayat tersebut dari Nabi saw. dan sesekali mereka memauqufkan (tidak menyandarkannya) kepada Nabi saw.! Untuk bentuk yang kedua (yang mauqûf) para ulama Ahlusunnah telah membangun sebuah kaidah bahwa ucapan para sahabat tentang tafsir ayat-ayat Al Qur’an yang tidak ada ruang bagi ijtihad dan pendapat maka dihukumi marfû’ (diambil dari Nabi saw.) sebab tidak mungkin para sahabat itu membuat-buat keterangan palsu tentang masalah yang tidak ada ruang bagi berijtihad. Dan kasus kita sekarang ini termasuk darinya… pertanyaan di hari kaimat termasuk berita ghaib, maka pastilah ucapan Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam masalah ini bersumber dari Nabi saw. Apalgi telah terbukti bahwa Nabi saw. telah menafsirkan sendiri makna ayat tersebut seperti mereka berdua sampaikan!

[5] Manâqib:275 hadis no.256.

[6] Mâzân al I’tidâl,5/145 ketika menyebut sejarah hidup Ali ibn Hatim.

[7] Syawâhid at Tanzîl,2/164 hadis no.790.

[8] Hadis ini telah diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir, Hilyah al Awliyâ’,1/355 dan 9/64, Tarikh Damasqus,1/45 tentang sejarah hidup Imam Ali as., 3/180, hadis no. 3052, Al Haitsami dalam Majma’ az Zawaid, 9/165, Tarikh Ibnu Katsir,7/348, as Sirah al Halabiyah,3/301, ash Shaw^aiq al Muhriqah:25, Farâid as Simthain,2/274, Nadzm Durar as Simthain:231 dan al Fushûl al Muhimmah:23.

[9] Kitâb al Arba’în al Muntaqâ Min Manâqib Ali al Murtadhâ, hadis no 40.

[10] Manâqib Ali ibn Abi Thalib:243.

pemimpin tertinggi Republik ISLAM Iran, Ayatullah Khamenei menggali Ayat Ayat Sains Dalam Al Quran untuk kemandirian Iran

Rahbar di hari Milad Rasul SAW:
Revolusi Islam Iran Adalah Kelahiran Kembali Islam
“Berkat Islam dan gerakan agung Rasulullah Saw, revolusi Islam Iran berhasil menang dan hari ke hari semakin solid.”
Revolusi Islam Iran Adalah Kelahiran Kembali IslamSatu-satunya jalan bagi umat Islam untuk memperoleh kemuliaan, kehormatan, keagungan hakiki serta kesejahteraan spiritual dan materi adalah dengan mengambil pelajaran dari berbagai dimensi wujud dan kepribadian agung Rasulullah Saw. Hal itu dikatakan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei hari ini (10/2) dalam acara peringatan Milad Rasulullah Muhammad Saw dan Imam Ja’far Shadiq (as) di Huseiniyah Imam Khomeini Tehran.
.
Dalam acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, berbagai lapisan masyarakat, para peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-25 dan Duta Besar negara-negara Islam itu, Rahbar menyampaikan ucapan selamat atas peringatan Milad Nabi Saw dan Imam Ja’far Shadiq (as) seraya menyebut hari ini sebagai hari raya terbesar sepanjang sejarah bagi umat manusia.
.
Ayatollah al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa Rasulullah Saw adalah manifestasi ilmu, amanah, keadilan, akhlak mulia, kasih sayang, dan keyakinan akan pertolongan Allah.
.
“Sepanjang sejarah, dengan berbagai kemajuan materi dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan, umat manusia selalu menjunjung tinggi sifat-sifat mulia dan nilai-nilai agung ini. Saat ini, dibanding yang lain umat Islam lebih memerlukan sifat-sita agung dan mulia tersebut,” kata beliau.
.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menekankan jalinan persaudaraan, kesabaran dan toleransi di antara umat Islam, seraya menambahkan, hal lain yang sangat diperlukan umat Islam saat ini adalah keyakinan akan terwujudnya janji-janji Ilahi. Sebab, Allah Swt telah menjanjikan bahwa kerja keras, perjuangan, resistensi menghadapi segala tekanan dan tidak tunduk terhadap hawa nafsu duniawi, harta dan kekuasaan akan membuahkan keberhasilan.
.
Mengenai 10 tahan masa pemerintahan Rasulullah Saw di Madinah, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, “Meskipun pemerintahan ini berlangsung singkat, namun berhasil membangun pondasi kokoh bagi umat manusia sepanjang masa untuk bergerak mencapai puncak keilmuan, peradaban dan kemajuan materi dan spiritual.”
.
Beliau menyinggung persatuan sebagai salah satu kebutuhan umat Islam yang mendesak. Seraya mengingatkan akan kebangkitan bangsa-bangsa Muslim di kawasan, beliau menandaskan, “Transformasi dan revolusi-revolusi di kawasan yang berlangsung saat ini seiring dengan kegagalan demi kegagalan yang dialami Amerika Serikat (AS) dan kubu arogansi serta kian melemahnya rezim Zionis Israel adalah kesempatan langka bagi umat Islam yang harus dimanfaatkan secara maksimal.”
.
Rahbar menambahkan, tak diragukan bahwa dengan inayah Allah Swt dan dengan tekad kuat umat Islam, para cendekiawan, tokoh keilmuan, politik dan agama gerakan ini akan terus berlanjut, dan umat Islam akan kembali mencapai era kemuliaan dan kemajuannya.
.
Beliau mengomentari jatuhnya peringatan Milad Nabi Saw dan Imam Ja’far Shadiq (as) yang bertepatan dengan ulang tahun kemenangan revolusi Islam seraya mengatakan, “Revolusi ini adalah buah dari gerakan agung Nabi Saw yang dicatat sejarah. Revolusi Islam adalah kelahiran kembali Islam.”
.
Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, “Di zaman ketika kekuatan adi daya dunia beranggapan telah berhasil menyingkirkan dan meredam segala hal yang berhubungan dengan spiritualitas dan gerakan Islam, mendadak terdengar gema agung revolusi Islam yang abadi dan bersejarah. Selain menyentak musuh-musuh Islam, gema revolusi ini membangkitkan harapan dan optimisme di hati kawan yang cerdik, arif dan bijak.”
.
Seraya mengingatkan konspirasi besar-besaran dan sistematis kubu adidaya dan arogansi untuk meredam gema revolusi Islam, beliau menegaskan, di tengah himpitan tekanan dan konspirasi, berkat kepemimpinan Imam Khomeini dan resistensi rakyat Iran, revolusi Islam tetap lestari dan semakin kuat.
.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan bahwa bangsa Iran tetap loyal dengan khittah Imam Khomeini dan terus bergerak mencapai cita-citanya. Dengan teguh dan bersabar menghadapi berbagai kesulitan dan tekanan, bangsa ini berhasil menggagalkan semua konspirasi musuh.
.
“Berkat Islam dan gerakan agung Rasulullah Saw, revolusi Islam Iran berhasil menang dan hari ke hari semakin solid,” imbuh beliau.
.
Menurut Rahbar apa yang berhasil dicapai bangsa Iran dengan revolusi Islamnya dan resistensinya selama 33 tahun ini bisa menjadi teladan bagi bangsa-bangsa Muslim yang lain.
..
Di awal pertemuan itu Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam pembicaraannya menyampaikan ucapan selamat atas peringatan hari lahir Rasulullah Saw dan Imam Ja’far Shadiq (as) seraya menyebut semua gerakan kebebasan dan pembaharuan termasuk revolusi Islam Iran sebagai buah dari perjuangan kebangkitan para Nabi utusan Allah, khususnya gerakan kebangkitan agung dan sempurna yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw.
.
Dikatakannya, Nabi Saw bangkit untuk mengibarkan panji tauhid, mengajarkan norma-norma hakiki, menyingkirkan segala keburukan, kezaliman dan kebodohan serta menegakkan keadilan dan akhlak, sementara revolusi Islam Iran adalah kepanjangan dari gerakan agung ini.Ahmadinejad menyinggung gerakan kebangkitan Islam di kawasan saat ini dan menyebutnya sebagai kelanjutan dari gerakan Nabi Saw.
.
“Transformasi terkini dengan cepat akan melahirkan gerakan kebangkitan besar yang bakal mengibarkan kedaulatan tauhid di dunia dan menyingkirkan kezaliman kaum durjana dan zionis dari muka bumi,” imbuhnya.
.
Di akhir pertemuan, sejumlah tamu asing peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-25 bertatap muka dan berbincang-bincang dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam.
.
Iran berhasil meluncurkan satelit orbitnya, Jumat (3/2) pagi waktu setempat. Di lokasi peluncuran, Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad  berharap peluncuran satelit ini bisa menjadi sinyal persahabatan antar sesama manusia. “Tindakan ini [peluncuran satelit] akan mengirim sinyal persahabatan yang kuat untuk umat manusia,” tulis kantor berita resmi Iran, IRNA sebagaimana dilansir dari Associated Press, Sabtu (4/2).Satelit kecil bernama Navid dan Gospel ini dirancang untuk mengumpulkan data tentang kondisi cuaca dan memantau bencana alam. Satelit memiliki berat sekitar 110 pon (50 kilogram), mengorbit di ketinggian 234 mil (375 kilometer), dan mengelilingi bumi sebanyak 15 kali dalam sehari
.

Satelit diproduksi sebuah Universitas Teknik di Iran. Satelit Navid merupakan satelit kecil ketiga yang berhasil diluncurkan Iran dalam beberapa tahun terakhir. Satelit ini diperkirakan mampu mengorbit selama dua bulan. Satelit Navid dilengkapi teknologi kontrol maju, kamera resolusi tinggi, dan photocells untuk menghasilkan tenaga. Navid diluncurkan menggunakan rudal Safir yang berarti Duta Besar Persia. Sebuah situs Iran, irannuc.ir, menyebutkan Safir merupakan rudal balistik yang dapat diubah menjadi rudal jelajah antar benua

.

Sementara itu, seperti biasanya Amerika Serikat (AS) langsung kalang-kabut dengan kemajuan yang dicapai Iran. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di Washington mengatakan pengembangan Roket Safir melanggar resolusi PBB 2010, yang melarang Iran meluncurkan menggunakan teknologi rudal balistik. Pelucuran Safir, menurut AS, merupakan krisis pengembangan rudal balistik jarak jauh Iran

.

Bagi Iran, mengorbitnya satelit Navida dan Gospel serta meluncurnya Rudal Safir merupakan jawaban bahwa negara ini sama sekali tidak terpengaruh dengan sanksi ekonomi yang diberikan AS dan Uni Eropa.

Soft Power, Sumber Kekuatan Iran

Selasa, 2012 Februari 14 12:49


Dalam studi Hubungan Internasional, power, atau kekuatan negara-negara biasanya didefinisikan dalam dua kategori, hard power dan soft power.
.
Hard power secara singkat bisa dimaknai sebagai kekuatan material, semisal senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara. Umumnya pemikir Barat (atau pemikir Timur yang westernized) lebih memfokuskan pembahasan pada  hitung-hitungan hard power ini. Contohnya saja, seberapa mungkin Indonesia bisa menang melawan Malaysia jika terjadi perang? Yang dikedepankan biasanya adalah kalkulasi seberapa banyak senjata, kapal perang, kapal selam, dan jumlah pasukan yang dimiliki kedua negara
.
Begitu juga, di saat AS dan Israel berkali-kali melontarkan ancaman serangan kepada Iran, yang banyak dihitung oleh analis Barat adalah berapa banyak pasukan AS yang kini sudah dipindahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan sekitar Teluk Persia; seberapa banyak rudal yang dimililiki Iran, seberapa jauh jarak jelajahnya, dst
.
Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi Negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar  687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai penjuru dunia yang mengepung Iran
.
Tapi, dalam kasus Iran, memperhatikan kalkulasi hard power saja tidak cukup. Sebabnya adalah karena kunci kekuatan Iran justru di soft power-nya. Dan ini sepertinya diabaikan  oleh banyak analis Barat, mungkin sengaja, atau mungkin juga ketidaktahuan. Dalam papernya di The Iranian Journal of International Affairs, Manouchehr Mohammadi (Professor Hubungan Internasional dari Tehran University) menyebutkan bahwa kemampuan Republik Islam Iran untuk bertahan hingga hari ini adalah bergantung pada faktor-faktor yang sangat langka ditemukan dalam masyarakat Barat yang materialistis, yaitu faktor-faktor spiritual. Tentu saja, faktor hard power tetap diperhatikan oleh Republik Islam Iran, namun basisnya adalah soft power
.
Apa itu soft power?Secara ringkas bisa dikatakan bahwa subtansi soft power adalah sikap persuasif dan kemampuan meyakinkan pihak lain; sementara hard power menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam upayanya menundukkan pihak lawan. Karena itulah, menurut Mohammadi, dalam soft power, mentalitas menjadi kekuatan utama dan investasi terbesar yang dibangun Iran adalah membangun mental ini, bukan membangun kekuatan militer. Pemerintah Iran berusaha untuk menumbuhkan nilai-nilai bersama, antara lain nilai tentang kesediaan untuk berkorban dan bekerja sama dalam mencapai kepentingan nasional.Mohammadi mengidentifikasi ada 10 sumber kekuatan soft power Iran,tiga diantaranya adalah sebagai berikut
.
1.    Rahmat Tuhan.
Faktor Tuhan memang jarang disebut-sebut dalam analisis politik. Tapi, kenyataannya, memang inilah yang diyakini oleh rakyat Iran, dan inilah sumber kekuatan mereka. Menurut Mohammadi, bangsa Iran percaya bahwa orang yang berjuang melawan penentang Tuhan, pastilah dibantu oleh Tuhan. Dengan kalimat yang indah, Mohammadi mendefinisikan keyakinan ini sebagai berikut, “Kenyataannya, mereka [yang berjuang di jalan Allah] bagaikan tetesan air yang bergabung dengan lautan luas, lalu menghilang dan menyatu dalam lautan, kemudian menjelma menjadi kekuatan yang tak terbatas.”
.

Keyakinan ini semakin kuat setelah bangsa Iran pasca Revolusi terbukti berkali-kali meraih kemenangan dalam melawan berbagai serangan dari pihak musuh, mulai dari invasi Irak (yang didukung penuh oleh AS, Eropa, Arab, dan Soviet), hingga berbagai aksi terorisme (pengeboman pusat-pusat ziarah, pemerintahan, dan aparat negara). Salah satu kejadian yang dicatat dalam sejarah Iran adalah kegagalan operasi rahasia Angkatan Udara AS untuk memasuki Teheran. Pada tahun 1980, Presiden AS Jimmy Carter mengirimkan delapan helicopter dalam Operasi Eagle Claw. Misinya adalah menyelamatkan 52 warga AS yang disandera para mahasiswa Iran di Teheran. Operasi itu gagal ‘hanya’ karena angin topan menyerbu kawasan Tabas, gurun tempat helikopter itu ‘bersembunyi’ sebelum meluncur ke Teheran. Angin topan dan pasir membuat helikopter itu saling bertabrakan dan rusak parah. Mengomentari kejadian ini, Imam Khomeini mengatakan, “Pasir dan angin adalah ‘pasukan’ Allah dalam operasi ini.”

.

2.    Kepemimpinan dan Otoritas
Peran kepemimpinan dan komando adalah faktor yang sangat penting dalam situasi konflik, baik itu militer, politik, atau budaya. Pemimpin-lah yang menjadi penunjuk arah dalam setiap gerakan perjuangan. Dialah yang menyusun rencana dan strategi untuk berhadapan dengan musuh. Menurut Mohammadi, hubungan yang erat dan solid antara pemimpin dengan rakyatnya adalah sumber power yang sangat penting. Di Iran, karena yang menjadi pemimpin adalah ulama yang memiliki kredibilitas tinggi, kepatuhan kepada pemimpin bahkan dianggap sebagai sebuah gerakan relijius, dan inilah yang menjadi sumber utama kekuatan soft power Iran. Dalam kalimat Mohammadi, “[it] is a source of power per se, that assures the friends and frightens the foes.”

.

3.  Mengubah Ancaman Menjadi Kesempatan
Revolusi Islam Iran telah menggulingkan Shah Pahlevi yang didukung penuh oleh Barat.

.

 Pra-revolusi Islam, Barat sangat mendominasi Iran, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun budaya. Kepentingan Barat di Iran terancam oleh naiknya seorang ulama yang menyuarakan independensi dan sikap anti kapitalisme-liberalisme, yaitu Imam Khomeini. Karena itulah, Barat dengan berbagai cara berusaha menggulingkan pemerintahan Islam, antara lain dengan memback-up Saddam Husein untuk memerangi Iran. Saddam yang sesumbar bisa menduduki Teheran hanya dalam sepekan, ternyata setelah berperang selama 8 tahun tetap tidak mampu mengalahkan Iran
.
AS dan Eropa kemudian menerapkan berbagai sanksi dan embargo; berusaha meminggirkan Iran dalam pergaulan internasional, mempropagandakan citra buruk terhadap pemerintahan Islam, dll.Karena didasari oleh dua faktor sebelumnya (keyakinan pada rahmat Tuhan dan faktor kepemimpinan relijius), bangsa Iran mampu bertahan hidup dalam situasi yang sulit dan berjuang untuk mengubah tekanan dan ancaman ini menjadi kesempatan untuk maju dan berdikari. Contoh mutakhirnya adalah, ketika akhir-akhir ini semakin marak pembunuhan terhadap pakar nuklir Iran yang didalangi oleh agen-agen rahasia asing; jumlah pendaftar kuliah di jurusan teknik nuklir justru semakin meningkat. Inilah jenis mental yang berhasil dibangun oleh pemerintah Iran selama 34 tahun terakhir:  semakin ditekan, semakin kuat semangat perjuangan mereka
.

Dalam pidato terbarunya di Teheran, pemimpin tertinggi Republik ISLAM Iran, Ayatullah Khamenei, menyinggung masalah ini. Beliau mengatakan,

“Ketika kita diembargo, kemampuan kita justru semakin meningkat, potensi kita justru semakin terasah, kita tumbuh dari dalam. Jika kita tidak diembargo senjata, hari ini kita tidak akan mencapai kemajuan yang mengagumkan. Jika kita tidak diembargo dalam pengembangan nuklir –padahal reaktor nuklir Bushehr itu mereka [Barat] yang membangunnya—hari ini kita tidak memiliki kemampuan dalam pengayaan uranium,. Jika mereka tidak menutup pintu-pintu ilmu dari kita, hari ini kita tidak akan mampu menciptakan stem cell, menguasai ilmu antariksa dan mengirim satelit ke angkasa luar. Karena itu, semakin mereka mengembargo kita, semakin besar kita mampu menggali kemampuan dan potensi kita sendiri. Dan semakin hari, potensi kita itu akan semaki mekar berkembang. Karena itulah, embargo sesungguhnya bermanfaat bagi kita.”
.
Belajar dari Iran, kita perlu mengajukan pertanyaan, bagaimana dengan Indonesia hari ini? Faktor kepemimpinan yang lemah dan lebih mendahulukan membeli pesawat produk luar negeri jelas faktor yang sangat melemahkan soft power Indonesia. Namun sebagai bangsa, kita masih memiliki kekuatan untuk membangun dari dalam, dimulai dari diri sendiri, yaitu membangun kekuatan dan keyakinan spiritual; membangun etos perjuangan berbasis relijiusitas.
.



Fatwa Mati untuk Salman Rushdie, Lini Pertahanan dari Serangan Budaya Barat

Selasa, 2012 Februari 14 08:56

.

Ahmad Salman Rushdie, tentu termasuk salah satu penulis yang paling benci masyarakat dunia. Seorang antek-antek yang menjual nafas setannya untuk menistakan dunia Islam. Akan tetapi ia lupa bahwa telah menjadi sunnah ilahi, bahwa orang-orang yang beranggapan dapat menenggelamkan cahaya abadi Islam, akan hancur.
.
Ahmad Salman Rushdie, adalah putra tunggal dari seorang pengusaha lulusan Cambridge, dan ibunya adalah seorang guru di Bombay. Mengenai kehidupan pribadinya, tersebar isu bahwa ibunya adalah seorang penari, namun berdasarkan sumber-sumber resmi, ibunya adalah seorang pengajar.
.
Sebelum menginjak usia 14 tahun, berhijrah ke Inggris untuk belajar di sebuah sekolah rubgy, Salman Rushdie belajar di sebuah sekolah privat di Bombay. Setelah itu, Salman Rushdie belajar di King’s College di jurusan sejarah.
.
Karya pertama Salman Rushdie berjudul Grimus yang terbit tahun 1975. Novel tersebut tidak mendapat sambutan pasar. Novel berikutnya berjudul Midnight’s Children, yang terbit tahun 1981 dan mendapat penghargaan Booker Prize dan pada tahun 1993 dan 2008, novel itu mendapat penghargaan Best of the Bookers.
.
Setelah itu ia menulis buku Shame pada tahun 1983. Dan karya keempat Salman Rushdie dan yang paling kontroversial adalah Satanic Verses, yang secara resmi dilarang publikasinya di Iran, India, Pakistan, Bangladesh, Mesir, dan Afrika Selatan.
.
Buku tersebut adalah sebuah cerita panjang yang diterbitkan pada 26 September 1988 oleh penerbitan Viking. Buku tersebut pada hakikatnya ditulis Salman Rushdie atas pesanan Gillon Aitken, oleh pemimpin penerbitan Viking keturunan Yahudi, dengan komisi hingga 580 ribu pound.
.
Dukungan luas media massa dari buku ini dan publikasi meluasnya di berbagai negara dunia, mengungkap dukungan banyak pihak di balik tabir terhadap buku Salman Rushdie. Secara bertahap protes umat Islam atas penerbitan buku tersebut semakin meluas dan ratusan warga Muslim di kota Bradford membakar ratusan kopi buku tersebut. Di banyak negara Islam, termasuk Pakistan dan India, masyarakat menggelar demo massif. Dilaporkans sejumlah orang tewas dalam demonstrasi tersebut.
.
Pemimpin Revolusi Islam Iran dan pendiri pemerintahan Republik Islam, Imam Khomeini pada 14 Februari 1989, mengeluarkan fatwa mati kepada Salman Rushdie dan fatwa tersebut hingga kini tetap berlaku. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei tujuh tahun lalu menyatakan bahwa fatwa Imam Khomeini atas Salman Rushdie itu tidak dapat diubah.
.
Menyusul fatwa tersebut, media massa asing di Barat mengklaim bahwa jika Salman Rushdie bertobat, maka fatwa mati terhadapnya akan dihapus. Imam Khomeini dengan segera menepis berita tersebut dan menekankan bahwa meski Salman Rushdie bertobat dan menjadi orang yang paling zuhud di dunia, wajib bagi setiap umat Islam untuk mengerahkan seluruh kemampuannya dari sisi materi maupun maknawi untuk mengantarkan Salman Rushdie ke neraka. Dan jika seorang non-Muslim mengetahui tempat persembunyian Salman Rushdie dan membunuhnya lebih cepat dari umat Islam, maka wajib bagi umat Islam untuk memberinya imbalan sebesar-besarnya.
.
Setelah statemen Imam Khomeini, pemerintah Inggris menyatakan bersedia melindungi Salman Rushdie dan bahkan menyediakan pengawal pribadi.
.
Salman Rushdie bersembunyi sejak fatwa Imam Khomeini dan polisi Inggris bertanggung jawab menjaganya di tempat yang dirahasiakan. Biaya pengawalan Salman Rushdie setiap tahunnya mencapai 10 juta pound. Besarnya dana tersebut hingga membuat pangeran Inggris pernah menyatakan bahwa Salman Rushdie telah menjadi beban berat bagi para pembayar pajak Inggris.
.
Meski menghadapi kemarahan umat Islam dunia, Salman Rushdie tidak jera untuk mencetak ulang novelnya. Ketika pemerintah Inggris menolak untuk mencetak ulang buku Ayat-Ayat Setan, Salman Rushdie membawanya ke Amerika Serikat dan mencetak ulang buku kontroversial itu dan dijual dengan harga yang sangat murah. (IRIB Indonesia/MZ)

Imam Khomeini Ungkap Makar Dinas Intelijen Barat di Balik Publikasi Buku Ayat-Ayat Setan

Selasa, 2012 Februari 14 09:00
Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Parlemen Republik Islam Iran, Heshmatollah Falahat menilai fatwa mati terhadap Salman Rushdie yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini, sebagai langkah bijak dan bahwa fatwa tersebut bukan hanya sesuai dengan prinsip-prinsip al-Quran, melainkan juga sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional.
 .
Dalam wawancaranya dengan Mehr News (13/2), Heshmatollah mengatakan, “Di Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa, dibentuk berbagai komite budaya yang beraktivitas di bawah pengawasan lembaga-lembaga intelijen. Komite-komite budaya tersebut secara resmi merekrut para cendikiawan untuk dikerahkan dalam program perang budaya.”
 .
“Mereka [Barat] berpendapat bahwa para cendikiawan yang dikerahkan pada era Perang Dingin dalam melawan paham komunisme era Uni Soviet, dapat kembali di aktifkan untuk melawan dunia Islam sebagai tantangan baru bagi Barat. Salah satu dari cendikiawan tersebut adalah Salman Rushdie,” tegas Hehsmatollah.
 .
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Iran itu mengatakan, “Salman Rushdie  dan komite budaya Barat menggelar propaganda anti-Islam itu untuk dua tujuan. Pertama melawan gelombang kecenderungan terhadap Islam yang semakin meluas di Barat dan keud menghadapi dunia Islam secara keseluruhan dalam upaya mewujudkan atmosfer sekulerisme di negara-negara Islam.
 .
“Imam Khomeini pada masa itu mengungkap tujuan-tujuan di balik layar Barat dan menjelaskan bahwa blok Barat tengah menggelar perang baru yaitu perang dengan Islam. Imam Khomeini ra berusaha menciptakan baris pertahanan baru menghadapi propaganda Barat dengan fatwa tegas itu. Fatwa Imam Khomeini itu mengubah perimbangan internasional dan kini setelah bertahun-tahun berlalu sejak, para pemuda Muslim mengetahui bahwa fatwa Imam Khomeini itu merupakan langkah pencegahan menghadapi politik budaya distorsif Barat,” jelas Heshmatollah.
 .
Menurutnya, fatwa Imam Khomeini bukan hanya sesuai dengan prinsip al-Quran dan agama melainkan juga sesuai dengan hukum internasional. Karena Salman Rushdie melalui jenis pengingkarannya tengah berupaya menggelar perang era abad pertengahan anti-Islam dan menciptakan fitnah besar dalam dunia Islam serta menyulut medan perang baru antara Barat dan Islam.
 .
Fatwa Imam Khomeini terhadap Salman Rushdie itu merupakan langkah pencegahan karena terungkap bahwa di masa-masa berikutnya, muncul Salman Rushdie baru di Belanda, Denmark, Jerman, dan di banyak negara Barat, yang semuanya merupakan hasil dari komite budaya yang berada di bahwa pengawasan lembaga-lembaga intelijen.
 .
Menjawab pertanyaan apakah fatwa mati terhadap Salman Rushdie itu akan membuat musuh-musuh Islam semakin kurang ajar? Heshmatollah mengatakan, “Fatwa Imam Khomeini ra telah menunjukkan pengaruhnya, mungkin jika Salman Rushdie terbunuh, pengaruhnya tidak seperti sekarang. Karena setiap tahun umat Islam memperingati solidaritas mereka dalam mendukung fatwa Imam Khomeini terhadap Salman Rushdie.”
 .
“Dunia barat dengan seluruh kemampuan mereka berusaha melindungi Salam Rushdie dan ini membuktikan kekhawatiran Barat terhadap dunia Islam, dan bahkan sejak fatwa terhadap Salman Rushdie itu, kecenderungan terhadap agama Islam di Barat semakin meluas.”

Di Iran, karena yang menjadi pemimpin adalah ulama yang memiliki kredibilitas tinggi, kepatuhan kepada pemimpin bahkan dianggap sebagai sebuah gerakan relijius, dan inilah yang menjadi sumber utama kekuatan Iran

 23 Tahun Fatwa Mati Salman Rushdi

Penistaan terhadap simbol-simbol kesucian agama ilahi, terutama agama Islam hingga kini masih terus berlangsung. Musuh-musuh Islam melakukan berbagai cara untuk memalingkan opini publik dunia dari kebenaran agama ilahi ini. Salah satu penistaan agama Islam yang pernah tercatat dalam lembaran kelam sejarah adalah penghinaan yang dilakukan Salman Rushdi dengan bukunya Ayat-ayat Setan (Satanic Verses).

 

Di saat publik dunia bungkam menyikapi sepak terjang Salman Rushdi, secara tak terduga muncul seorang ulama terkemuka Iran yang bersuara lantang mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi penghina agama ilahi itu. Pada 14 februari 1989, Imam Khomeini mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Salman Rusdhie yang membuat geger dunia.

 

Kini tak terasa fatwa hukuman mati bagi Salman Rushdi yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini telah berumur 23 tahun. Pada masa fatwa tersebut dikeluarkan, tidak ada yang membayangkan Imam Khomeini akan menyikapi buku Ayat-ayat Setan sekeras itu. Karena ketika itu, Iran baru saja menerima resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 598 mengenai gencatan senjata dengan Irak. Tentu saja, Iran disibukkan rekonsiliasi dengan negara tetangganya itu.

 

Semua lupa akan prinsip-prinsip berpikir Imam Khomeini. Pikirannya menembus batas-batas teritorial Iran dan orang-orang Iran. Bagi Imam Khomeini semua tindakannya demi ridha Allah dan kemuliaan agama Islam. Sebelum mengeluarkan fatwa keras bagi Rushdi, Imam Khomeini menelaah isi buku Ayat-ayat Setan tersebut. Beliau menilai ada rencana busuk di balik penerbitan buku itu. Itulah yang membuat bapak pendiri Republik Islam Iran mengeluarkan fatwa monumentalnya.

 

Salman Rushdi dilahirkan di kota Devanegari, Bombai, India pada tanggal 19 Juni 1947. Setelah Pakistan berdiri sendiri, ia bersama keluarganya pindah ke Karachi dan setelah itu berimigrasi ke Inggris. Rushdi muda tinggal di Inggris sejak berumur 13 tahun hingga meraih sarjana. Setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan sejarah di universitas Cambridge, ia kembali ke Pakistan. Selama di Inggris, Rushdi  mampu membayar sebagian biaya sekolahnya sendiri dengan memanfaatkan kemampuannya menulis artikel yang dimuat media massa. Dan ia pun menjadi warga negara Inggris.

 

Tujuh tahun setelah menulis artikel, Rushdi akhirnya berhasil menulis novel berjudul Midnight’s Children pada tahun 1981. Berkat buku itu ia mendapat penghargaan sastra Inggris Booker Prize. Buku ini isinya mengkritik perlawanan rakyat India untuk merdeka dari tangan Inggris. Sekitar setengah juta naskah terjual. Pada tahun 1983 ia menulis buku Shame tentang kondisi Pakistan. Buku The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey 1987 adalah hasil dari perjalanan 3 minggunya ke Nikaragua. Karya Salman Rushdi paling menyedot perhatian adalah The Satanic Verses yang ditulis pada tahun 1988.

 

Menganalisa cara berpikir Salman Rushdi dapat lacak dari latar belakang keluarganya yang suram. Ibunya adalah seorang penari bernama Vanita. Pada masa remajanya ia disukai oleh seorang pemuda bernama Raju. Dengan dukungan Salim Khan, gubernur Bombai, Vanita melakukan berbagai penghinaan terhadap masjid. Ia pernah meletakkan kepala babi di undak-undakan masjid kemudian lari menyembunyikan dirinya. Ia juga pernah membakar upacara orang-orang Hindu dan menyebarkan bahwa itu dilakukan oleh kaum muslimin. Setiap kali ia melakukan penghinaan, ia mendapat bayaran dari Salim Khan.

 

Semenjak kecil, Rushdi terkenal nakal. Pada umur tiga belas tahun ia sudah tiga belas kali ditahan polisi. Ia kemudian di masukkan asrama melanjutkan sekolahnya di Inggris. Di sana ia berkenalan dengan Umar dari Mesir. Mereka menjalin percintaan dan sepakat untuk menikah. Mereka akhirnya membuka ajaran-ajaran agama yang memperbolehkan perkawinan sesama jenis. Mereka tidak menemukan ajaran yang memperbolehkan. Ketika Madame Rosa ibu asrama mengetahui gelagat ini, ia menyurati ayah Umar yang berpangkat jenderal. Ayahnya datang untuk membawa anaknya pulang ke Mesir. Umar yang begitu cinta kepada Salman akhirnya membakar dirinya. Setelah Umar meninggal, Salman sangat terpukul dan memutuskan untuk membalaskan dendamnya terhadap agama.

 

Salman Rushdi menulis banyak buku. Bila jeli melihat karya-karyanya, kebanyakan isinya menghina agama dan keyakinan masyarakat setempat. Dalam bukunya Grimus (1975), secara terang-terangan ia menghina keyakinan orang-orang India. Buku Shame (1983) juga ditulis dengan motif yang sama. Midnight’s Children (1981) ditulis mengkritik perjuangan rakyat India untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris. Bukunya The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey (1987) terkait dengan situasi politik di Nikaragua dan keyakinan masyarakatnya.

 

Puncak penghinaan Rushdi terhadap agama dilakukan dengan menulis novelnya yang berjudul The Satanic Verses (1988). Ia menulis buku ini pada usia 47 tahun. Sebelum menulis buku ini, ia menghadiri dalam sebuah pertemuan yang bermaksud untuk menghancurkan agama tidak lagi dengan senjata, tapi dengan tulisan. Tujuan itu terealisasikan dengan diterbitkannya buku ini.

 

Untuk pertama kalinya dicetak dalam 547 halaman. Buku ini dicetak oleh penerbit Viking anggota jaringan penerbit Penguin. Salman Rushdi menulis buku ini karena pesanan pimpinan Viking, seorang Yahudi, dengan bayaran mencapai 850 ribu pound.

 

Novel Ayat-ayat Setan bukanlah buku ilmiah, melainkan hanya sekedar fantasi penulis. Sekalipun demikian, penghinaannya terhadap keyakinan yang disucikan oleh kaum muslimin tidak dapat dibiarkan begitu saja. Untungnya, Imam Khomeini cepat tanggap rencana besar dibalik penerbitan buku ini. Beliau kemudian mengeluarkan fatwa hukuman matinya yang bersejarah. Fatwa ini membuat skenario besar itu prematur.

 

Umat Islam tersadar dan ini membuat Barat lebih berhati-hati. Inggris sebagai pembela nomor satu Salman Rushdi mencoba menekan Iran dengan ancaman ekonomi dan politik agar Imam Khomeini menarik kembali fatwanya. Tidak cukup itu saja, dengan menggerakkan 12 negara lainnya mereka kemudian memburukkan citra Iran dan Imam Khomeini. Di balik tekanan dari negara-negara Barat, keteguhan Imam Khomeini membuat musuh-musuh islam ciut. Di sisi lain, fatwa ini meniupkan semangat baru bagi dunia Islam.

 

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw tidak pernah berhenti di Barat. Benar, Imam Khomeini pernah mengeluarkan fatwa hukuman mati atas Salman Rushdi. Namun, penghinaan terhadap Nabi Islam, Muhammad saw tidak pernah selesai. Permusuhan Barat terhadap Islam masih tetap berlangsung. Pemuatan karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw di Denmark merupakan bentuk lain dari penistaan terhadap agama ilahi. Masihkah Barat tidak ingin mengambil pelajaran dari fatwa ulama Islam seperti Imam Khomeini? Bila ditanya, mengapa kalian melindungi dan membiarkan orang-orang menghina keyakinan orang lain? Jawabannya adalah kebebasan berekspresi. Kebebasan berekspresi yang selalu dijajakan untuk menghina keyakinan orang lain

Antisipasi Serangan Musuh, Iran Gelar ‘Val Fajr’

  • Kapal Tempur IranKapal Tempur Iran

Tentara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan manuver militer besar-besaran di Provinsi Yazd. Hal ini dilakukan guna meningkatkan kesiapan tempur pasukan bersenjata Iran jika terjadi serangan.

Wakil Komandan IRGC, Brigadir Jenderal Abdollah Araghi, mengatakan bahwa semua aspek pertahanan pasif akan dipraktekkan selama latihan dengan nama kode latihan ‘Val Fajr’. Beberapa aspek latihan pertahanan tersebut antara lain adalah latihan penyebaran pasukan militer, penipuan musuh, kamuflase, serta unsur-unsur penting dalam meningkatkan kemampuan pasukan.

Araghi mengatakan bahwa semua fase latihan ‘Val Fajr’ telah direncanakan secara terpusat. Mereka juga akan melakukan pendekatan desentralisasi.

“Ini berarti bahwa setiap anggota pasukan militer di manapun dia ditempatkan itu harus menunjukkan kemandirian dan menggunakan peralatan untuk melawan musuh dan menyelesaikan misinya,” kata Araghi seperti dikutip Press TV.

Araghi menambahkan bahwa integrasi tembakan artileri lengkung dan berbagai bentuk ledakan linier akan diberlakukan selama latihan ‘Val Fajr’.

Soft Power, Sumber Kekuatan Iran

Selasa, 2012 Februari 14 12:49


Dalam studi Hubungan Internasional, power, atau kekuatan negara-negara biasanya didefinisikan dalam dua kategori, hard power dan soft power.
.
Hard power secara singkat bisa dimaknai sebagai kekuatan material, semisal senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara. Umumnya pemikir Barat (atau pemikir Timur yang westernized) lebih memfokuskan pembahasan pada  hitung-hitungan hard power ini. Contohnya saja, seberapa mungkin Indonesia bisa menang melawan Malaysia jika terjadi perang? Yang dikedepankan biasanya adalah kalkulasi seberapa banyak senjata, kapal perang, kapal selam, dan jumlah pasukan yang dimiliki kedua negara
.
Begitu juga, di saat AS dan Israel berkali-kali melontarkan ancaman serangan kepada Iran, yang banyak dihitung oleh analis Barat adalah berapa banyak pasukan AS yang kini sudah dipindahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan sekitar Teluk Persia; seberapa banyak rudal yang dimililiki Iran, seberapa jauh jarak jelajahnya, dst
.
Bila memakai kalkulasi hard power, harus diakui bahwa sebenarnya kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi Negara lain). Iran hanya menganggarkan 1,8% dari pendapatan kotor nasional (GDP)-nya untuk militer (atau sebesar 7 M dollar). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, yaitu 4,7% dari GDP atau sebesar  687 M dollar. Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai penjuru dunia yang mengepung Iran
.
Tapi, dalam kasus Iran, memperhatikan kalkulasi hard power saja tidak cukup. Sebabnya adalah karena kunci kekuatan Iran justru di soft power-nya. Dan ini sepertinya diabaikan  oleh banyak analis Barat, mungkin sengaja, atau mungkin juga ketidaktahuan. Dalam papernya di The Iranian Journal of International Affairs, Manouchehr Mohammadi (Professor Hubungan Internasional dari Tehran University) menyebutkan bahwa kemampuan Republik Islam Iran untuk bertahan hingga hari ini adalah bergantung pada faktor-faktor yang sangat langka ditemukan dalam masyarakat Barat yang materialistis, yaitu faktor-faktor spiritual. Tentu saja, faktor hard power tetap diperhatikan oleh Republik Islam Iran, namun basisnya adalah soft power
.
Apa itu soft power?Secara ringkas bisa dikatakan bahwa subtansi soft power adalah sikap persuasif dan kemampuan meyakinkan pihak lain; sementara hard power menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam upayanya menundukkan pihak lawan. Karena itulah, menurut Mohammadi, dalam soft power, mentalitas menjadi kekuatan utama dan investasi terbesar yang dibangun Iran adalah membangun mental ini, bukan membangun kekuatan militer. Pemerintah Iran berusaha untuk menumbuhkan nilai-nilai bersama, antara lain nilai tentang kesediaan untuk berkorban dan bekerja sama dalam mencapai kepentingan nasional.Mohammadi mengidentifikasi ada 10 sumber kekuatan soft power Iran,tiga diantaranya adalah sebagai berikut
.
1.    Rahmat Tuhan.
Faktor Tuhan memang jarang disebut-sebut dalam analisis politik. Tapi, kenyataannya, memang inilah yang diyakini oleh rakyat Iran, dan inilah sumber kekuatan mereka. Menurut Mohammadi, bangsa Iran percaya bahwa orang yang berjuang melawan penentang Tuhan, pastilah dibantu oleh Tuhan. Dengan kalimat yang indah, Mohammadi mendefinisikan keyakinan ini sebagai berikut, “Kenyataannya, mereka [yang berjuang di jalan Allah] bagaikan tetesan air yang bergabung dengan lautan luas, lalu menghilang dan menyatu dalam lautan, kemudian menjelma menjadi kekuatan yang tak terbatas.”
.

Keyakinan ini semakin kuat setelah bangsa Iran pasca Revolusi terbukti berkali-kali meraih kemenangan dalam melawan berbagai serangan dari pihak musuh, mulai dari invasi Irak (yang didukung penuh oleh AS, Eropa, Arab, dan Soviet), hingga berbagai aksi terorisme (pengeboman pusat-pusat ziarah, pemerintahan, dan aparat negara). Salah satu kejadian yang dicatat dalam sejarah Iran adalah kegagalan operasi rahasia Angkatan Udara AS untuk memasuki Teheran. Pada tahun 1980, Presiden AS Jimmy Carter mengirimkan delapan helicopter dalam Operasi Eagle Claw. Misinya adalah menyelamatkan 52 warga AS yang disandera para mahasiswa Iran di Teheran. Operasi itu gagal ‘hanya’ karena angin topan menyerbu kawasan Tabas, gurun tempat helikopter itu ‘bersembunyi’ sebelum meluncur ke Teheran. Angin topan dan pasir membuat helikopter itu saling bertabrakan dan rusak parah. Mengomentari kejadian ini, Imam Khomeini mengatakan, “Pasir dan angin adalah ‘pasukan’ Allah dalam operasi ini.”

.

2.    Kepemimpinan dan Otoritas
Peran kepemimpinan dan komando adalah faktor yang sangat penting dalam situasi konflik, baik itu militer, politik, atau budaya. Pemimpin-lah yang menjadi penunjuk arah dalam setiap gerakan perjuangan. Dialah yang menyusun rencana dan strategi untuk berhadapan dengan musuh. Menurut Mohammadi, hubungan yang erat dan solid antara pemimpin dengan rakyatnya adalah sumber power yang sangat penting. Di Iran, karena yang menjadi pemimpin adalah ulama yang memiliki kredibilitas tinggi, kepatuhan kepada pemimpin bahkan dianggap sebagai sebuah gerakan relijius, dan inilah yang menjadi sumber utama kekuatan soft power Iran. Dalam kalimat Mohammadi, “[it] is a source of power per se, that assures the friends and frightens the foes.”

.

3.  Mengubah Ancaman Menjadi Kesempatan
Revolusi Islam Iran telah menggulingkan Shah Pahlevi yang didukung penuh oleh Barat.

.

 Pra-revolusi Islam, Barat sangat mendominasi Iran, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun budaya. Kepentingan Barat di Iran terancam oleh naiknya seorang ulama yang menyuarakan independensi dan sikap anti kapitalisme-liberalisme, yaitu Imam Khomeini. Karena itulah, Barat dengan berbagai cara berusaha menggulingkan pemerintahan Islam, antara lain dengan memback-up Saddam Husein untuk memerangi Iran. Saddam yang sesumbar bisa menduduki Teheran hanya dalam sepekan, ternyata setelah berperang selama 8 tahun tetap tidak mampu mengalahkan Iran
.
AS dan Eropa kemudian menerapkan berbagai sanksi dan embargo; berusaha meminggirkan Iran dalam pergaulan internasional, mempropagandakan citra buruk terhadap pemerintahan Islam, dll.Karena didasari oleh dua faktor sebelumnya (keyakinan pada rahmat Tuhan dan faktor kepemimpinan relijius), bangsa Iran mampu bertahan hidup dalam situasi yang sulit dan berjuang untuk mengubah tekanan dan ancaman ini menjadi kesempatan untuk maju dan berdikari. Contoh mutakhirnya adalah, ketika akhir-akhir ini semakin marak pembunuhan terhadap pakar nuklir Iran yang didalangi oleh agen-agen rahasia asing; jumlah pendaftar kuliah di jurusan teknik nuklir justru semakin meningkat. Inilah jenis mental yang berhasil dibangun oleh pemerintah Iran selama 34 tahun terakhir:  semakin ditekan, semakin kuat semangat perjuangan mereka
.

Dalam pidato terbarunya di Teheran, pemimpin tertinggi Republik ISLAM Iran, Ayatullah Khamenei, menyinggung masalah ini. Beliau mengatakan,

“Ketika kita diembargo, kemampuan kita justru semakin meningkat, potensi kita justru semakin terasah, kita tumbuh dari dalam. Jika kita tidak diembargo senjata, hari ini kita tidak akan mencapai kemajuan yang mengagumkan. Jika kita tidak diembargo dalam pengembangan nuklir –padahal reaktor nuklir Bushehr itu mereka [Barat] yang membangunnya—hari ini kita tidak memiliki kemampuan dalam pengayaan uranium,. Jika mereka tidak menutup pintu-pintu ilmu dari kita, hari ini kita tidak akan mampu menciptakan stem cell, menguasai ilmu antariksa dan mengirim satelit ke angkasa luar. Karena itu, semakin mereka mengembargo kita, semakin besar kita mampu menggali kemampuan dan potensi kita sendiri. Dan semakin hari, potensi kita itu akan semaki mekar berkembang. Karena itulah, embargo sesungguhnya bermanfaat bagi kita.”
.
Belajar dari Iran, kita perlu mengajukan pertanyaan, bagaimana dengan Indonesia hari ini? Faktor kepemimpinan yang lemah dan lebih mendahulukan membeli pesawat produk luar negeri jelas faktor yang sangat melemahkan soft power Indonesia. Namun sebagai bangsa, kita masih memiliki kekuatan untuk membangun dari dalam, dimulai dari diri sendiri, yaitu membangun kekuatan dan keyakinan spiritual; membangun etos perjuangan berbasis relijiusitas.
.



Fatwa Mati untuk Salman Rushdie, Lini Pertahanan dari Serangan Budaya Barat

Selasa, 2012 Februari 14 08:56

.

Ahmad Salman Rushdie, tentu termasuk salah satu penulis yang paling benci masyarakat dunia. Seorang antek-antek yang menjual nafas setannya untuk menistakan dunia Islam. Akan tetapi ia lupa bahwa telah menjadi sunnah ilahi, bahwa orang-orang yang beranggapan dapat menenggelamkan cahaya abadi Islam, akan hancur.
.
Ahmad Salman Rushdie, adalah putra tunggal dari seorang pengusaha lulusan Cambridge, dan ibunya adalah seorang guru di Bombay. Mengenai kehidupan pribadinya, tersebar isu bahwa ibunya adalah seorang penari, namun berdasarkan sumber-sumber resmi, ibunya adalah seorang pengajar.
.
Sebelum menginjak usia 14 tahun, berhijrah ke Inggris untuk belajar di sebuah sekolah rubgy, Salman Rushdie belajar di sebuah sekolah privat di Bombay. Setelah itu, Salman Rushdie belajar di King’s College di jurusan sejarah.
.
Karya pertama Salman Rushdie berjudul Grimus yang terbit tahun 1975. Novel tersebut tidak mendapat sambutan pasar. Novel berikutnya berjudul Midnight’s Children, yang terbit tahun 1981 dan mendapat penghargaan Booker Prize dan pada tahun 1993 dan 2008, novel itu mendapat penghargaan Best of the Bookers.
.
Setelah itu ia menulis buku Shame pada tahun 1983. Dan karya keempat Salman Rushdie dan yang paling kontroversial adalah Satanic Verses, yang secara resmi dilarang publikasinya di Iran, India, Pakistan, Bangladesh, Mesir, dan Afrika Selatan.
.
Buku tersebut adalah sebuah cerita panjang yang diterbitkan pada 26 September 1988 oleh penerbitan Viking. Buku tersebut pada hakikatnya ditulis Salman Rushdie atas pesanan Gillon Aitken, oleh pemimpin penerbitan Viking keturunan Yahudi, dengan komisi hingga 580 ribu pound.
.
Dukungan luas media massa dari buku ini dan publikasi meluasnya di berbagai negara dunia, mengungkap dukungan banyak pihak di balik tabir terhadap buku Salman Rushdie. Secara bertahap protes umat Islam atas penerbitan buku tersebut semakin meluas dan ratusan warga Muslim di kota Bradford membakar ratusan kopi buku tersebut. Di banyak negara Islam, termasuk Pakistan dan India, masyarakat menggelar demo massif. Dilaporkans sejumlah orang tewas dalam demonstrasi tersebut.
.
Pemimpin Revolusi Islam Iran dan pendiri pemerintahan Republik Islam, Imam Khomeini pada 14 Februari 1989, mengeluarkan fatwa mati kepada Salman Rushdie dan fatwa tersebut hingga kini tetap berlaku. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei tujuh tahun lalu menyatakan bahwa fatwa Imam Khomeini atas Salman Rushdie itu tidak dapat diubah.
.
Menyusul fatwa tersebut, media massa asing di Barat mengklaim bahwa jika Salman Rushdie bertobat, maka fatwa mati terhadapnya akan dihapus. Imam Khomeini dengan segera menepis berita tersebut dan menekankan bahwa meski Salman Rushdie bertobat dan menjadi orang yang paling zuhud di dunia, wajib bagi setiap umat Islam untuk mengerahkan seluruh kemampuannya dari sisi materi maupun maknawi untuk mengantarkan Salman Rushdie ke neraka. Dan jika seorang non-Muslim mengetahui tempat persembunyian Salman Rushdie dan membunuhnya lebih cepat dari umat Islam, maka wajib bagi umat Islam untuk memberinya imbalan sebesar-besarnya.
.
Setelah statemen Imam Khomeini, pemerintah Inggris menyatakan bersedia melindungi Salman Rushdie dan bahkan menyediakan pengawal pribadi.
.
Salman Rushdie bersembunyi sejak fatwa Imam Khomeini dan polisi Inggris bertanggung jawab menjaganya di tempat yang dirahasiakan. Biaya pengawalan Salman Rushdie setiap tahunnya mencapai 10 juta pound. Besarnya dana tersebut hingga membuat pangeran Inggris pernah menyatakan bahwa Salman Rushdie telah menjadi beban berat bagi para pembayar pajak Inggris.
.
Meski menghadapi kemarahan umat Islam dunia, Salman Rushdie tidak jera untuk mencetak ulang novelnya. Ketika pemerintah Inggris menolak untuk mencetak ulang buku Ayat-Ayat Setan, Salman Rushdie membawanya ke Amerika Serikat dan mencetak ulang buku kontroversial itu dan dijual dengan harga yang sangat murah. (IRIB Indonesia/MZ)

Imam Khomeini Ungkap Makar Dinas Intelijen Barat di Balik Publikasi Buku Ayat-Ayat Setan

Selasa, 2012 Februari 14 09:00
Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Parlemen Republik Islam Iran, Heshmatollah Falahat menilai fatwa mati terhadap Salman Rushdie yang dikeluarkan oleh Imam Khomeini, sebagai langkah bijak dan bahwa fatwa tersebut bukan hanya sesuai dengan prinsip-prinsip al-Quran, melainkan juga sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional.
 .
Dalam wawancaranya dengan Mehr News (13/2), Heshmatollah mengatakan, “Di Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa, dibentuk berbagai komite budaya yang beraktivitas di bawah pengawasan lembaga-lembaga intelijen. Komite-komite budaya tersebut secara resmi merekrut para cendikiawan untuk dikerahkan dalam program perang budaya.”
 .
“Mereka [Barat] berpendapat bahwa para cendikiawan yang dikerahkan pada era Perang Dingin dalam melawan paham komunisme era Uni Soviet, dapat kembali di aktifkan untuk melawan dunia Islam sebagai tantangan baru bagi Barat. Salah satu dari cendikiawan tersebut adalah Salman Rushdie,” tegas Hehsmatollah.
 .
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Iran itu mengatakan, “Salman Rushdie  dan komite budaya Barat menggelar propaganda anti-Islam itu untuk dua tujuan. Pertama melawan gelombang kecenderungan terhadap Islam yang semakin meluas di Barat dan keud menghadapi dunia Islam secara keseluruhan dalam upaya mewujudkan atmosfer sekulerisme di negara-negara Islam.
 .
“Imam Khomeini pada masa itu mengungkap tujuan-tujuan di balik layar Barat dan menjelaskan bahwa blok Barat tengah menggelar perang baru yaitu perang dengan Islam. Imam Khomeini ra berusaha menciptakan baris pertahanan baru menghadapi propaganda Barat dengan fatwa tegas itu. Fatwa Imam Khomeini itu mengubah perimbangan internasional dan kini setelah bertahun-tahun berlalu sejak, para pemuda Muslim mengetahui bahwa fatwa Imam Khomeini itu merupakan langkah pencegahan menghadapi politik budaya distorsif Barat,” jelas Heshmatollah.
 .
Menurutnya, fatwa Imam Khomeini bukan hanya sesuai dengan prinsip al-Quran dan agama melainkan juga sesuai dengan hukum internasional. Karena Salman Rushdie melalui jenis pengingkarannya tengah berupaya menggelar perang era abad pertengahan anti-Islam dan menciptakan fitnah besar dalam dunia Islam serta menyulut medan perang baru antara Barat dan Islam.
 .
Fatwa Imam Khomeini terhadap Salman Rushdie itu merupakan langkah pencegahan karena terungkap bahwa di masa-masa berikutnya, muncul Salman Rushdie baru di Belanda, Denmark, Jerman, dan di banyak negara Barat, yang semuanya merupakan hasil dari komite budaya yang berada di bahwa pengawasan lembaga-lembaga intelijen.
 .
Menjawab pertanyaan apakah fatwa mati terhadap Salman Rushdie itu akan membuat musuh-musuh Islam semakin kurang ajar? Heshmatollah mengatakan, “Fatwa Imam Khomeini ra telah menunjukkan pengaruhnya, mungkin jika Salman Rushdie terbunuh, pengaruhnya tidak seperti sekarang. Karena setiap tahun umat Islam memperingati solidaritas mereka dalam mendukung fatwa Imam Khomeini terhadap Salman Rushdie.”
 .
“Dunia barat dengan seluruh kemampuan mereka berusaha melindungi Salam Rushdie dan ini membuktikan kekhawatiran Barat terhadap dunia Islam, dan bahkan sejak fatwa terhadap Salman Rushdie itu, kecenderungan terhadap agama Islam di Barat semakin meluas.”

para ahli hadis sunni menisbatkan hal yang tidak masuk akal kepada Nabi mulia Muhammad saw

Para ulama Ahlusunnah, seperti Muslim dan lainnya meriwayatkan bahwa ada seorang waria yang baisa main-mainn ke rumah istri-istri Nabi saw. Demikian ditegaskan Ibnu Hajar dalam Fathu al Bâri-nya19/398.

Karena Nabi saw. adalah sumber syari’at maka para ulama Ahlusunnah segera menarik sebuah kesimpulan hukum bahwa: pria yang berlagak seperti kaum perempuan karena adanya kecenderungan bawaan, maka ia boleh dan bebas masuk ke dalam rumah-rumah untuk bergaul dengan dengan istri-istri/anak-anak perempuan kita. Demikian difatwakan oleh Imam ath Thabari. Ibnu Hajar berkata, “Ath Thabari berdalil untuk hal itu dengan tidak melarangnya Nabi saw. masuknya si waria itu ke rumah beliau, sehingga setelah terbukti waria itu mulai merusak moral para istri beliau barulah beliau memerintahkan agar ia tidak diizinlkan lagi masuk dan bergaul dengan istri-istri beliau… “[1]

UStad Husain Ardilla :

Setujukan Anda dengan prilaku para istri Nabi saw. yang gemar bergaul dan ngobrol dengan kaum waria, sehingga disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari, ia mensifati bagian-bagian tubuh paling sensual kaum wanita kota Thaif kepada saudara Ummu Salamah istri Nabi yang bernama Abdullah bin Abi Umayyah dan juga merangsangnya agar memburu gadis-gadis kota Thaif jika nanti pada suatu hari Nabi saw. menyerang dan menaklukan kota Thaif?

Setujukan Anda menerima kenyataan bahwa rumah Nabi saw. sebagai rumah singgah dan tempat ngerumpi kaum waria?

Relakah Anda jika istri Anda bergaul dan gemar ngerumpi dengan kaum waria?

Lalu mengapakah para ahli hadis sunni  menisbatkannya kepada Nabi mulia Muhammad saw.?!


[1] Fathu al Bâri,19/398

Orang Orang Yang Masuk Syi’ah Imamiyah

Phillippe Senderos Masuk Islam Syiah

Philippe Senderos, centre back Fulham dan timnas Swiss masuk Islam. Hal tersebut dimulai ketika mantan punggawa Arsenal dan AC Milan itu, tertangkap kamera seorang fotografer tengah bersama seorang ulama.

“Saya sangat tertarik dengan agama-agama yang ada di dunia dan membaca banyak buku tentang subyek itu,” demikian ujar Senderos pada sebuah wawancara untuk Arsenal Magazine beberapa tahun lalu.

“If I wasn’t playing football, I would probably have become a priest.” lanjutnya.

Ternyata situs Syiah ternama, Ahlul Bayt News Agency (ABNA) menginfokan bahwa Senderos berpindah dari Agamanya yang lama ke Agama islam Syiah.

Lebih jelasnya di situs tersebut dinyatakan bahwa Senderos menyatakan imannya di kota Manchester Inggris, dalam sebuah pusat Islam yang didedikasikan untuk menyebarkan ajaran-ajaran Ahlulbait.

Philippe Sylvain Senderos lahir di Jenewa, Swiss, 14 Februari 1985. Senderos berdarah Spanyol dari ayahnya dan Serbia dari ibunya. Ia mengawali karier sebagai pemain yunior Servette. Senderos pernah bermain untuk tim utama Servette, Arsenal, A.C. Milan dan Everton sebelum bergabung dengan Fulham pada bulan Juni 2010. Senderos telah memperkuat timnas Swiss sejak bulan Maret 2005 dengan mencatat 45 kali penampilan dan 5 gol.

======================================================
Sri Lanka:
31 Keluarga Menyatakan Diri Masuk Syiah
“Dengan kehadiran ramai keluarga-keluarga Ahlusunnah di wilayah ini dan kesadaran mereka mengenai hakikat Ahlul Bait yang kami bicarakan, mereka cenderung ke arah mazhab Ahlul Bait. Kami juga melanjutkan usaha memberi membimbing mereka ke arah jalan yang lurus.”
31 Keluarga Menyatakan Diri Masuk SyiahZawini Jalil, pengurus Komunitas Persatuan Perempuan Az Zahra di Sri Lanka menyatakan 31 kepala keluarga di wilayah Nuwara Elya telah menerima mazhab Syiah. Menurutnya, keberhasilan tersebut diraih setelah 2 tahun melakukan amal sosial di kawasan tersebut
.
Lebih lanjut, beliau mengatakan, “Sewaktu kami hendak membagikan makanan sebagaimana tugas rutin kami setiap bulannya buat warga wilayah Nuwara Elya, tanpa kami duga, semua anggota keluarga tersebut menyatakan niat tulus mereka untuk menjadi pengikut Ahlul Bait. Inilah pencapaian dan keberhasilan terbesar kami.”
.
“Setelah kami melihat mereka ini benar-benar ingin mengikuti mazhab Syiah, setiap pekan kami konsisten mengajari mereka bagaimana cara berwudhu, shalat dan bagaimana membaca doa sesuai ajaran Ahlul Bait”. Tambahnya.Zawini Jalil selanjutnya menceritakan kegiatan Komunitas Persatuan Perempuan Az Zahra yang dipimpinnya dalam menyelenggarakan berbagai majelis di wilayah tersebut, “Kami memperkenalkan keutamaan Nabi SAWW dan Ahlul Bait AS dalam setiap ucapan kami. Kami juga sukses mengadakan majelis-majelis Asyura dalam bulan Muharam di wilayah Nuwara Elya
.
“Zawini Jalil turut menjelaskan bahwa saudara-saudara dari kalangan Ahlusunnah di wilayah tersebut juga turut hadir dalam acara-acara mereka, “Dengan kehadiran ramai keluarga-keluarga Ahlusunnah di wilayah ini dan kesadaran mereka mengenai hakikat Ahlul Bait yang kami bicarakan, mereka cenderung ke arah mazhab Ahlul Bait. Kami juga melanjutkan usaha memberi membimbing mereka ke arah jalan yang lurus.”

Yahya Hayder, Perjalanan Spiritual dari Wahabi ke Syiah

Selasa, 2012 Februari 07 08:30

Nama saya Yahya Hayder Seymour. Saya dilahirkan di Filipina pada tahun 1987 dengan nama Sean Andrew Seymour. Ayah saya warga Skotlandia dan ibu saya seorang Filipina. Itu berari seorang berdarah campuran atau dengan istilah half cast seperti yang disebut oleh rekan-rekan saya. Kedua orang tua saya bercerai ketika saya masih muda. Ibu saya terpaksa membesarkan kakak saya yang waktu itu berusia 3 tahun, sementara saya baru berusia 9 bulan. Ibu berusaha keras untuk membesarkan kami, meskipun ia berada di sebuah negara asing, Skotlandia. Sebuah Negara yang agak kasar terhadap orang asing.

Berasal dari Filipina, secara alami saya adalah seorang Katolik Romawi. Saya memang percaya akan wujudnya Tuhan, tetapi bukan dalam bentuk dogma yang tertentu. Bukan juga dari sudut pandang Panteisme. Walaupun saya punya minat dalam berbagai agama yang dilahirkan dalam sejarah, saya sering membaca agama, mitos dan legenda.

Pada usia 13-14, saya berteman dengan orang-orang yang salah. Mungkin karena saya ingin merasa punya kelompok dan mendapat perhatian. Oleh karena itu, saya menjadi salah seorang anak dari keluarga yang berlatarbelakang kelas menengah yang dihormati, yang berlagak kononnya ghetto, dan seperti itu. Saya mulai merokok pada usia 14 tahun, dan minum Binge pada usia yang sama. Sayangnya kebiasaan ini memberi dampak buruk bagi pelajaran saya. Nilai-nilai di sekolah mulai menurun  dan akhirnya saya dikeluarkan dari sana. Pada usia tersebut, guru pembimbing saya telah memberikan saran agar saya melakukan proyek pribadi sebagai hukuman. Tugas ini harus dilakukan selama 2 bulan dan tugasnya mengkaji tradisi Filipina. Proyek ini menjadi bertambah menarik karena dengan sendirinya saya mulai mengenal agama Islam. Boleh jadi Islam merupakan keyakinan besar dunia yang tidak pernah timbul dibenak saya sebelum ini.

Sejarah membuktikan bahwa leluhur saya dahulu adalah muslim sebelum kedatangan Spanyol ke Filipina. Orang-orang Spanyol inilah yang memaksakan agama Kristen di bagian Utara Negara ini dan sebagian besarnya dengan cara brutal. Bagaimanapun saya tidak melihat Islam secara mendalam pada saat itu.

Saya mula membaca sejarah dan politik dunia sebagai hobi, sesuatu yang sebelum ini tidak pernah terlintas di pikiran saya. Saya mula memutuskan bahwa kehidupan saya akan menjadi mimpi buruk bila saya tidak segera mengambil sikap. Ia akan menjadi akhir kehidupan saya tanpa meninggalkan kelayakan mendasar dan tidak juga mampu untuk maju serta gagal dalam kehidupan.

Saya berubah dan serius mengikut agama yang seharus dipatuhi oleh kedua orang tua saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menumpukan perhatian serius kepada Katolik dan melaksanakan ajarannya. Sekalipun doktrin Trinitas membuat minat saya mengkaji Katolik, di sisi lain, saya juga tidak yakin Paus menjadi wakil Tuhan di bumi.

Saat ke Mesir, saya mengunjungi ayah. Di sana saya diberikan sebuah al-Quran terjemahan bahasa Inggris. Saya mulai membacanya. Saya mendapai al-Quran sungguh menarik. Terutama di dalamnya disebutkan nabi-nabi yang saya akrab dengannya termasuklah Nabi Isa as yang mempunyai peran lebih logis dalam agama ini. Saya juga merasakan bahwa buku ini, meletakkan Tuhan di posisi yang tinggi selayaknya dibandingkan dengan Old Testament yang memberi penjelasan tentang Tuhan.

Dalam Old Testament atau Perjanjian Lama menyebut Tuhan adalah penerobosan dari Israiliyyat atau sekelompok hadis palsu yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad Saw, yang secara umumnya telah dipalsukan oleh yahudi dan Kristen, malah sebagian umat Islam juga meyakininya…. Semoga Allah melindungi kita dari penyimpangan tersebut.

Setahun melakukan penelitian sayapun memeluk agama Islam pada usia 15/16 tahun. Saya menjadi seorang muslim yang setia dan mulai memusatkan diri dalam mempelajari agama ini. Kononnya ketika itu saya ingin menjadi contoh yang bersinar kepada mereka yang berada dalam kegelapan(seperti yang dijelaskan oleh Malcolm X dalam biografinya). Saya melibatkan diri dalam masyarakat lokal dan pada masa itu saya menjadi pengikut Najdi (Salafi atau Wahabi) yang tidak toleran dan meremehkan status Nabi dan keluarganya serta meninggikan status mereka yang menjadi sahabat Nabi tanpa mengetahui apakah itu layak atau tidak. Bagaimanapun Salafi sangat terorganisir dan begitu memahami kehendak masyarakat serta menarik perhatian anak muda.

Dengan mendapatkan dukungan dari negara kaya minyak Teluk Persia, terutama dari Arab Saudi dan Kuwait, kelompok Salafi-Wahabi ini mendapat dana mencukupi dan terorganisir. Selain itu mereka juga lebih aktif dalam berbagai bidang dan tugas-tugas misionaris dari syiah.

Bagian final kemajuan atau perkembangan spiritual saya ketika berusia 17 tahun. Kebetulan saya mendengar ceramah Sayed Mahdi Modaressi pada tanggal 1 Muharram di London……

Sebuah kisah lelaki, wanita dan anak-anak yang telah dibunuh dengan kejam oleh ekstrim muslim………siapakah mereka ini???

Cucu baginda Rasulullah Saw Husein dan keluarganya.

Saya terperanjat.

Selama berbulan-bulan saya melakukan penelitian, kemudian saya memutuskan bahwa terdapat bukti yang sahih lewat buku hadis kita sendiri(Ahlu Sunnah) bahwa mazhab Syaih adalah yang paling akurat dan status Ahlul Bait as serta peran mereka melindungi agama. Demikian juga cinta tulus terhadap keluarga Nabi, semuanya bersumber dari hari wafatnya Rasulullah dan juga peristiwa Saqifah.

Bagaimana bisa saya tidak merasakan kesedihan Rasulullah Saw, insan teragung di atas muka bumi? Banyak buku-buku sejarah yang merekam peristiwa hitam dalam kehidupannya, bagaimana mereka yang akrab dengannya berusaha untuk menghancurkannya dan warisannya. Sebagai seorang sunni, saya tahu benar bagaimana dua khalifah yang pertama begitu diberi pujian, begitu juga Khalid ibn al-Walid dan Imam Ali as, bagaimanapun kita tidak mengetahui apa-apa berkaitan Hasan dan Husein.

Saya masih teringat bagaimana saya bertanya mengapa Aishah memerangi Ali dan kemudian peperangan Imam Ali dengan Muawiyah? Bagaimana kejadian tersebut bisa berlaku ke atas generasi yang paling benar?? Sebenarnya, terlalu sedikit kebenaran yang terdapat mengenai mereka.

Sepanjang saya sebagai sunni, saya berusaha untuk menjelaskan kepada rekan dan keluarga yang non-muslim, yang percaya bahwa Islam sebagai agama fanatik dan teroris bahwa Islam tidak sedemikian. Bagaimanapun, saya kemudian menyadari bahwa Islam tidak jauh dari hakikat….

…. Islam yang diyakini oleh sebagian mayoritas Muslim benar mewakili sedikit teror dan ekstrim. Nabi Muhammad Saw dan keluarga baginda bukanlah arsitek dan tidak juga lambing terorisme, malah merekalah yang menjadi korban terbesar dan syahid yang diambil dari kita oleh teroris.

Muhammad, Fatima, Ali, Hasan dan Husein as adalah korban semua terorisme ini.

Akhirnya, saya dapat bernafas, hijab yang menutup mata saya terangkat dan saya dapat melihat dengan jelas jalan bimbingan.

Saya menyadari bahwa sejarah sering ditulis oleh pihak tirani. Kita masih saja membiarkan Islam dikorup dan dirusak oleh sampah masyarakat. Bani Umayah yang merupakan musuh Nabi ketika baginda hidup dan tidak lama selepas kewafatan baginda, toh seluruh dinasti Umayyah dibiarkan menjadikan penjaga dan memerintah seluruh umat, bagaimana bisa perkara seperti ini masuk akal??

Syiah merupakan keadilan yang revolusioner dan pusat jantung Islam, dan saya telah menemuinya. Syiah memberi hakikat gambaran yang amat menyedihkan kepada saya. Nabi Muhammad Saw dan mereka yang loyal kepada Tuhan adalah yang paling bertakwa, paling dermawan dan paling menyayangi; merekalah yang paling menderita, mereka menderita ditangan orang yang menganiaya mereka dan seterusnya menganiaya yang lain.

Bagaimanapun sebaik saja rantai ujian dan penderitaan berakhir dan kegelapan tenggelam, keadilan pun timbul dan merebak.

Saya menerima Syiah pada tahun 2004, dan meninggalkan cinta saya pada taghut dan penganiaya keluarga Muhammad Saw. Saya memberi baiahtsaya kepada Imam al-Mahdi, semoga Allah mempercepatkan kehadirannya. Sejak itu saya meninggalkan Universitas Skotlandia dan bergabung dengan Hawza Ilmiah London, dimana saya mendapat banyak ilmu dari Sheik Mohammed Saeed Bahmanpour, Sheikh Hakimelahi, Dr. Jassim Hussain dan Ayatollah Sayyed Fadhil Milani.

Segala puji kepada Allah, selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad dan keluarganya. Laknat Allah ke atas pembunuh mereka.

Rabu, 15 Februari 2012 14:30 WIB

Putra Oliver Stone, Aktor dan Sutradara AS Masuk Syiah di Iran

Ali Stone: Ketika Mengucapkan Syahadat, Aku Merasa Berhadapan dengan Orang Suci

Rabu, 2012 Februari 15 13:54

Sean Stone setelah memeluk Islam dan mengganti namanya Ali Stone mengatakan, “Menurut saya, sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia saat ini juga bakal hancur. Karena masyarakat dengan keimanannya telah memulai kebangkitan di Timur Tengah.”

Di sela-sela acara pembacaan dua kalimat syahadat di Isfahan, Fars News sempat mewawancarai Sean Stone yang akhirnya memilih nama Ali Stone setelah memeluk Islam. Kepada Fars Ali Stone mengatakan bahwa Gerakan Occupy Wall Street tidak akan padam. Karena ia berada di hati setiap orang.

“Agama Islam adalah lanjutan dari “Firman Tuhan”. Allah yang telah mengutus Nabi Ibrahim as dan Musa as, serta menyatukan seluruh mazhab dan prinsip-prinsip agama,” jelas Ali Stone mengenai alasan mengapa ia memeluk Islam.

Seniman Amerika ini juga memaparkan bahwa Nabi Muhammad Saw berhasil menyatukan seluruh masyarakat yang waktu itu penuh dengan kekufuran. Menurutnya, saya dapat memahami keberanian dan ketulusan Nabi Muhammad Saw. “Itulah mengapa saya memeluk Islam,” ujar Ali Stone.

Seraya menyinggung bahwa agama-agama lain menyembah Allah sama dengan Islam, Stone menekankan, “Laa Ilaaha Illa Allah” bukan pengertian yang baru. Kalimat ini senantiasa ada bersama agama-agama yang ada. Perbedaannya hanya pada cara penjelasannya.”

Ketika ditanya apakah keluarganya mengetahui ia berencana memeluk Islam dan apa reaksi mereka, Ali Stone mengatakan, “Tidak. Mereka tidak banyak tahu tentang masalah ini. Dengan memeluk Islam, pada dasarnya saya mengikuti seluruh agama. Kita semua satu di mata Allah yang Maha Kuasa.”

Kembali Ali Stone ditanya mengapa di usia 27 tahun ia memutuskan untuk memeluk Islam. “Saya telah membaca al-Quran. Tapi tentu saja orang tidak bisa menjadi muslim hanya dengan membaca al-Quran semalaman. Karena seseorang harus membaca al-Quran selama hidupnya. Proses saya memeluk Islam merupakan perintah Allah. Saya bukan orangnya yang menentukan kapan saya harus muslim,” ujar anak sutradara terkenal Amerika, Oliver Stone.

Sekaitan dengan perasaannya saat mengucapkan dua kalimat syahadat, Ali Stone mengatakan, “Saya berhadapan dengan seorang alim rabbani dan suci. Saya berpikir ia memiliki hubungan khusus dengan Allah.”

Berbicara mengenai masa depan umat Islam di Timur Tengah, Ali Stone menjelaskan bahwa sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia juga akan tumbang. “Di sinilah perbedaan antara seseorang yang beriman dengan Barat yang tidak percaya,” tambahnya.

Ketika ditanya mengenai masa depan gerakan Occupy Wall Street, Ali Stone mengatakan, “Wall Street merupakan sebuah gerakan yang tidak pernah padam. Karena ia ada di hati setiap orang.

Putra Oliver Stone Masuk Islam di Iran 

Aktor Amerika dan pembuat film dokumenter Sean Stone, putra sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, masuk Syiah saat upacara keagamaan di Iran.

Stone menjadi seorang penganut Syiah dan memilih menggantinya namanya menjadi Ali pada upacara yang diadakan di kota bersejarah Isfahan Iran pada tanggal 14 Februari kemarin.

“Pindah agama ke “Islam” tidak berartu meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengannya,” kata Stone.

“Artinya saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” tambahnya dalam panggilan telepon singkat.

Lahir dari ayah Yahudi dan ibu Kristen, Stone tidak mengatakan mengapa ia masuk Syiah.

Stone yang mengunjungi Iran beberapa bulan lalu mengatakan ia ingin mengetahui lebih banyak tentang budaya dan peradaban Persia serta akrab dengan tradisi Iran.

Stone menyebut Iran sebagai salah satu pusat utama Asia dalam pembuatan film sembari mengatakan bahwa ia “ingin memperkenalkan budaya Persia dan peradabannya ke Barat.”

Pembuat film berusia 27-tahun ini adalah lulusan sejarah dari Princeton University dan telah berkolaborasi pada banyak proyek ayahnya. Dia juga telah menyutradai beberapa film dokumenter

Pembuat film AS, Sean Stone, putra dari sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, dilaporkan masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, saat tengah membuat film dokumenter.

“Konversi ke Islam tidak meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengan. Ini berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” kata Sean, lewat sebuah panggilan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, tempat di mana ia menjalani ritual, seperti dikutip AFP.

Ayah Sean, Oliver Stone terkenal sebagai penganut Yahudi, sedangkan ibunya beragama Kristen.

Pria pembuat film berusia 27 tahun itu tidak mengungkapkan alasan mengapa ia masuk Islam.

Menurut kantor berita Iran, Fars, Sean Stone telah menjadi penganut Syiah dan memilih dikenal dengan nama depan Muslim, Ali.

Sebelumnya, Sean (Ali Stone) telah beraksi dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, kini telah mengarahkan sendiri beberapa film dokumenter.

Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran

Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan.
Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran
 Sean Stone, seorang sutradara film dokumentasi Amerika Serikat, putra Oliver Stone yang juga produsen film terkemuka Amerika, memeluk agama Islam.Mehr News (14/2) melaporkan, Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan.Dalam wawancaranya dengan AFP, Sean menyatakan bahwa konversi ke agama Islam itu berarti dia telah menerima Muhammad sebagai nabi di antara nabi-nabi lainnya
.
Ayah Sean, yaitu Oliver Stone adalah seorang Yahudi dan ibunya seorang Kristen. Produsen film dokumenter berusia 27 tahun itu sebelumnya pernah tampil singkat dalam film-film produksi ayahnya.Sean memilih nama Ali dan ia memilih mazhab Syiah.
Sean Stone, anak sutradara kondang Oliver Stone, memutuskan untuk masuk Islam di Iran. Ia tengah membuat film dokumenter di negeri itu.Namun, pemuda 27 tahun ini menyatakan tak akan meninggalkan akar Kristen yang Yahudi orang tuanya, kendati dia telah menjadi Muslim. Tanpa menyebut alasannya, dia mengaku menjadi penganut Syiah dengan nama depan Ali.“Menjadi Muslim berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” ujar Stone di Isfahan, Iran, di mana upacara konversi dilakukan
.
Dia tengah membuat film dokumenter tentang Rumi, seorang penyair mistis. Sebelumnya, ia terlibat dalam 12 film yang disutradarai ayahnya. Sebuah dokumen mencatat, dia merupakan pembela Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad
.
Lulusan Princeton University ini pernah tampil dalam film Wall Street: Money Never Sleeps pada tahun 2010, Nixon pada tahun 1995, dan JFK pada tahun 1991 – semua besutan oleh ayahnya.Tehran Times melaporkan, dia mengikrarkan keislamannya di Isfahan, di kantor ulama Syiah Ayatollah Mohammad Nasseri Dowlatabadi. Dia berada di Iran sejak awal bulan ini untuk sebuah acara apreasiasi film Hollywood yang dihadiri Ahmadinejad
Produser film terkenal Amerika, Sean Stone, yang juga anak dari sutradara pemenang Oscar, Oliver Stone, masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, tempat di mana ia sedang membuat film dokumenter, katanya kepada AFP.

Bagusnya, ia masuk Islam di Iran sehingga ia menjadi seorang Syiah.

“Masuk Islam tidaklah mengabaikan agama Kristen atau Yudaisme, yang mana saya sudah peluk semenjak lahir. Ini berarti saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” katanya dalam sebuah percakapan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, di mana ia menjalani upacara peresmian keIslamannya.

Ayahnya yang terkenal, Sean Stone adalah Yahudi, sedangkan ibunya adalah Kristen.

Produser film yang berumur 27 tahun ini tidak mengatakan mengapa ia bisa masuk Islam.

Menurut kantor berita Iran Fars, Sean Stone telah menjadi Syiah dan memilih nama Ali Muslim.

Sean Stone pernah akting dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, dan telah menyutradarai beberapa film dokumenter

Cucu Malcolm X Masuk Syi’ah

Setelah masa muda yang penuh masalah, Malcolm Shabazz berusaha untuk mengikuti jejak kakeknya, Malcolm X. Dia juga cucu dari Dr. Betty Shabazz yang meninggal pada tahun 1997 setelah menderita luka bakar di apartemennya. Malcolm yang saat itu berusia 12 tahun mengaku bersalah telah menyulut api. Ibunya yang pada saat umur empat tahun melihat ayahnya ditembak, Qubilah Shabazz, memberi tahu bahwa neneknya wafat.

Malcolm duduk di penjara dan berbicara kepada arwah neneknya, memohon tanda agar dimaafkan. “Saya hanya ingin dia tahu bahwa saya menyesal. Saya ingin tahu bahwa dia menerima permohonan maaf ini, karena saya tidak bermaksud demikian,” kenangnya. “Tapi saya tidak mendapat jawaban, meski ingin.” Enam tahun setelah kebakaran, dia kembali masuk penjara—kali ini penjara orang dewasa dengan tuduhan pencobaan perampokan. Tapi ia masih mencari kesempatan untuk melanjutkan kehidupan, dan dunia melihatnya akan melihatnya sebagai cucu dari seorang martir.

Malcolm tumbuh jauh dari kilauan ketenaran nama yang diwariskan. Selama bertahun-tahun ia berjuang memenuhi harapan untuk mengikuti jejak kakeknya, meskipun ia mendapat manfaat hubungan keluarga dan dukungan para pengagum Malcolm X. Tapi dia ingin mencapainya sendiri. “Saya punya tujuan. Saya punya rencana. Saya ingin orang tahu apa yang terjadi pada saya.”

Butuh waktu selama 22 bulan. Bahkan untuk menghadapi komentar sinis tentangnya: pembakar dengan gangguan mental. “Menurut catatan, saya didiagnosa dengan banyak hal. Saya mendengar banyak suara dan hal. Saya skizofrenia, saya depresi berat. Saya tidak akan bisa duduk tenang jika semua itu benar.” Ruth Clark, ibu baptis Malcom, berkata, “Banyak tekanan menjadi cucu Malcolm X. Setiap orang memiliki harapan tinggi.”

Sama seperti kakeknya, ia banyak menghabiskan waktu di jalanan dan penjara. Sama seperti kakeknya, di balik penjara ia menemukan kembali iman dan tenggelam ke dalam Islam. Ketika dikarantina di Attica Correctional Facility di New York, Malcolm Shabazz mengatakan bahwa dia tidak memiliki perlengkapan yang bersih dan bahan bacaan. Tapi saat itu, ia bertemua napi lainnya asal Meksiko-Iran. Menurut Shabazz, orang ini menjadi teman diskusi dengan banyak teks keagamaan.

“Saya dibesarkan sebagai suni, semua keluarga saya suni.” Perpindahannya kepada Syiah menyebabkan reaksi yang mirip seperti ketika kakeknya meninggalkan Nation of Islam pada tahun 1964 dan menyatakan dirinya sebagai suni. Tersebarnya berita itu, membuat beberapa pemimpin suni and anggota komunitas menyatakan ketidaknyamanan mereka. Banyak orang menulis kepadanya, “Bagaimana Anda bisa menjadi Syiah?”

Shabazz menceritakan bahwa dirinya telah diberi tahu bahwa Syiah bukan muslim dan mereka adalah kelompok radikal. Semua yang dikatakan kepadanya sudah ia anggap sebagai propaganda biasa. Karena setiap informasi yang diterima Shabazz tentang mazhab ahlulbait ini berasal dari musuh-musuhnya yang telah dikemas ulang. Shabazz mengatakan, jika kita ingin tahu tentang apapun maka kita harus merujuk pada sumber aslinya dan tidak hanya cukup kepada satu orang awam Syiah, tapi harus kepada alim.

Shabazz Malcolm terkesan dengan buku-buku seperti Peshawar Nights dan Then I was Guided. Malcolm Shabazz kagum dengan perjuangan Imam Husain a.s. yang menurut beberapa alim juga diperjuangkan oleh kakeknya Malcolm X, sama seperti perjuangan Nabi Musa melawan firaun.

Setelah dibebaskan, Shabazz memutuskan untuk pindah ke Suriah dan belajar di sebuah lembaga keislaman dan menghabiskan delapan bulan berikutnya untuk mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak. “Saya keluar dari penjara dan ingin pergi sementara waktu.” Setelah kembali dari Suriah, Shabbaz kembali ke Miami dan menyiapkan sebuah memoar yang akan menyingkap kesalahpahaman agar semua menjadi jelas.

Setelah kembali ke Amerika Serikat, ia memutuskan untuk mengikuti jejak kakeknya pergi haji. Pengalaman seumur hidup Shabazz ini membuktikan kekuatan keimanan. Selain salat di tanah suci Mekah dan Madinah, Shabazz juga berkunjung ke Riyadh dan Jeddah.

Selengkapnya di blog Malcolm Shabazz: Live From Saudi Arabia

Shabazz sempat ditanya oleh seorang jendral Arab Saudi yang fasih berbahasa Inggris, “Brother, are you Shia or are you Sunni?” Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan menjadi terdiam. Shabazz menjawab, “Brother, I’m a Muslim.” Shabazz juga mengunjungi komunitas Syiah kulit hitam di Madinah yang menurutnya sudah tinggal sejak masa awal Islam. Di sana ia menceritakan tentang siapa dirinya lalu didoakan agar ibadah hajinya di terima Allah Swt.

Puluhan tahun sebelumnya, kakeknya telah membuat perubahan pada kultur Amerika dengan mengambil pendekatan radikal untuk menuntut persamaan hak. Ketika ditanya apakah kakeknya akan mengagumi Presiden Obama jika ia masih hidup hari ini, Shabazz menjawab, “Jelas tidak. Bagi saya, dia tidak ada bedanya dengan Bush.”

Shabazz mengatakan bahwa demokrasi di negaranya palsu, sebuah ilusi yang diabadikan para elite penguasa. Meski secara khusus ia tidak mengagumi Obama, ia berharap pemilihan presiden Afrika-Amerika pertama ini bisa “meningkatkan harga diri pemuda kulit hitam”. Pesan-pesan yang disampaikan Malcolm X semakin lebih penting saatnya daripada sebelumnya.

“Kakek saya pernah mengatakan bahwa hanya ada dua kekuatan yang dihargai di Amerika Serikat—kekuatan ekonomi dan kekuata politik—dan dia menjelaskan bagaimana kekuatan sosial berasal dari keduanya. Sayangnya, mayoritas masyarakat (saat ini) buta huruf secara ekonomi dan naif secara politik. Mereka percaya dengan apa yang mereka lihat di televisi dan baca di koran. Saya katakan, percaya sebagian yang Anda lihat, dan jangan percaya apa yang Anda dengar.”

Shabazz percaya bahwa perubahan dapat dimulai dengan pendidikan dan persatuan. “Pendidikan dapat dilakukan melalui musik, puisi yang diucapkan, seni, ceramah dari mimbar, atau terlibat dalam pekerjaan fisik.” Terkait persatuan, ia mencontohkan Uni Eropa, sebagai organisasi “di mana negara-negara yang tidak saling suka satu sama lain tapi karena memiliki akal sehat untuk bersama dengan satu tujuan atau melawan musuh bersama.”

“Setelah peristiwa 11 September, banyak orang tidak tahu (tentang Islam). Tapi mereka mulai menyelidiki dan belajar lebih.” Meski reaksi pertama orang adalah berpaling dari agama jihad, Shabazz merasa banyak orang juga butuh mendidik diri mereka sendiri—dan menemukan ada banyak sisi lain Islam dari yang media gambarkan. Bagi seorang pemuda yang telah menjalani kehidupan penuh gejolak, Shabazz mencari sesuatu yang mendasar bagi keimanannya: “Saya ingin ketenangan pikiran.”

Putra Oliver Stone Masuk Syi’ah Imamiyah di Iran

Rabu, 15 Februari 2012 14:30 WIB

Putra Oliver Stone, Aktor dan Sutradara AS Masuk Syiah di Iran

Ali Stone: Ketika Mengucapkan Syahadat, Aku Merasa Berhadapan dengan Orang Suci

Rabu, 2012 Februari 15 13:54

Sean Stone setelah memeluk Islam dan mengganti namanya Ali Stone mengatakan, “Menurut saya, sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia saat ini juga bakal hancur. Karena masyarakat dengan keimanannya telah memulai kebangkitan di Timur Tengah.”

Di sela-sela acara pembacaan dua kalimat syahadat di Isfahan, Fars News sempat mewawancarai Sean Stone yang akhirnya memilih nama Ali Stone setelah memeluk Islam. Kepada Fars Ali Stone mengatakan bahwa Gerakan Occupy Wall Street tidak akan padam. Karena ia berada di hati setiap orang.

“Agama Islam adalah lanjutan dari “Firman Tuhan”. Allah yang telah mengutus Nabi Ibrahim as dan Musa as, serta menyatukan seluruh mazhab dan prinsip-prinsip agama,” jelas Ali Stone mengenai alasan mengapa ia memeluk Islam.

Seniman Amerika ini juga memaparkan bahwa Nabi Muhammad Saw berhasil menyatukan seluruh masyarakat yang waktu itu penuh dengan kekufuran. Menurutnya, saya dapat memahami keberanian dan ketulusan Nabi Muhammad Saw. “Itulah mengapa saya memeluk Islam,” ujar Ali Stone.

Seraya menyinggung bahwa agama-agama lain menyembah Allah sama dengan Islam, Stone menekankan, “Laa Ilaaha Illa Allah” bukan pengertian yang baru. Kalimat ini senantiasa ada bersama agama-agama yang ada. Perbedaannya hanya pada cara penjelasannya.”

Ketika ditanya apakah keluarganya mengetahui ia berencana memeluk Islam dan apa reaksi mereka, Ali Stone mengatakan, “Tidak. Mereka tidak banyak tahu tentang masalah ini. Dengan memeluk Islam, pada dasarnya saya mengikuti seluruh agama. Kita semua satu di mata Allah yang Maha Kuasa.”

Kembali Ali Stone ditanya mengapa di usia 27 tahun ia memutuskan untuk memeluk Islam. “Saya telah membaca al-Quran. Tapi tentu saja orang tidak bisa menjadi muslim hanya dengan membaca al-Quran semalaman. Karena seseorang harus membaca al-Quran selama hidupnya. Proses saya memeluk Islam merupakan perintah Allah. Saya bukan orangnya yang menentukan kapan saya harus muslim,” ujar anak sutradara terkenal Amerika, Oliver Stone.

Sekaitan dengan perasaannya saat mengucapkan dua kalimat syahadat, Ali Stone mengatakan, “Saya berhadapan dengan seorang alim rabbani dan suci. Saya berpikir ia memiliki hubungan khusus dengan Allah.”

Berbicara mengenai masa depan umat Islam di Timur Tengah, Ali Stone menjelaskan bahwa sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia juga akan tumbang. “Di sinilah perbedaan antara seseorang yang beriman dengan Barat yang tidak percaya,” tambahnya.

Ketika ditanya mengenai masa depan gerakan Occupy Wall Street, Ali Stone mengatakan, “Wall Street merupakan sebuah gerakan yang tidak pernah padam. Karena ia ada di hati setiap orang.

Putra Oliver Stone Masuk Islam di Iran 

Aktor Amerika dan pembuat film dokumenter Sean Stone, putra sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, masuk Syiah saat upacara keagamaan di Iran.

Stone menjadi seorang penganut Syiah dan memilih menggantinya namanya menjadi Ali pada upacara yang diadakan di kota bersejarah Isfahan Iran pada tanggal 14 Februari kemarin.

“Pindah agama ke “Islam” tidak berartu meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengannya,” kata Stone.

“Artinya saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” tambahnya dalam panggilan telepon singkat.

Lahir dari ayah Yahudi dan ibu Kristen, Stone tidak mengatakan mengapa ia masuk Syiah.

Stone yang mengunjungi Iran beberapa bulan lalu mengatakan ia ingin mengetahui lebih banyak tentang budaya dan peradaban Persia serta akrab dengan tradisi Iran.

Stone menyebut Iran sebagai salah satu pusat utama Asia dalam pembuatan film sembari mengatakan bahwa ia “ingin memperkenalkan budaya Persia dan peradabannya ke Barat.”

Pembuat film berusia 27-tahun ini adalah lulusan sejarah dari Princeton University dan telah berkolaborasi pada banyak proyek ayahnya. Dia juga telah menyutradai beberapa film dokumenter

Pembuat film AS, Sean Stone, putra dari sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, dilaporkan masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, saat tengah membuat film dokumenter.

“Konversi ke Islam tidak meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengan. Ini berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” kata Sean, lewat sebuah panggilan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, tempat di mana ia menjalani ritual, seperti dikutip AFP.

Ayah Sean, Oliver Stone terkenal sebagai penganut Yahudi, sedangkan ibunya beragama Kristen.

Pria pembuat film berusia 27 tahun itu tidak mengungkapkan alasan mengapa ia masuk Islam.

Menurut kantor berita Iran, Fars, Sean Stone telah menjadi penganut Syiah dan memilih dikenal dengan nama depan Muslim, Ali.

Sebelumnya, Sean (Ali Stone) telah beraksi dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, kini telah mengarahkan sendiri beberapa film dokumenter.

Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran

Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan.
Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran
 Sean Stone, seorang sutradara film dokumentasi Amerika Serikat, putra Oliver Stone yang juga produsen film terkemuka Amerika, memeluk agama Islam.Mehr News (14/2) melaporkan, Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan.Dalam wawancaranya dengan AFP, Sean menyatakan bahwa konversi ke agama Islam itu berarti dia telah menerima Muhammad sebagai nabi di antara nabi-nabi lainnya
.
Ayah Sean, yaitu Oliver Stone adalah seorang Yahudi dan ibunya seorang Kristen. Produsen film dokumenter berusia 27 tahun itu sebelumnya pernah tampil singkat dalam film-film produksi ayahnya.Sean memilih nama Ali dan ia memilih mazhab Syiah.
Sean Stone, anak sutradara kondang Oliver Stone, memutuskan untuk masuk Islam di Iran. Ia tengah membuat film dokumenter di negeri itu.Namun, pemuda 27 tahun ini menyatakan tak akan meninggalkan akar Kristen yang Yahudi orang tuanya, kendati dia telah menjadi Muslim. Tanpa menyebut alasannya, dia mengaku menjadi penganut Syiah dengan nama depan Ali.“Menjadi Muslim berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” ujar Stone di Isfahan, Iran, di mana upacara konversi dilakukan
.
Dia tengah membuat film dokumenter tentang Rumi, seorang penyair mistis. Sebelumnya, ia terlibat dalam 12 film yang disutradarai ayahnya. Sebuah dokumen mencatat, dia merupakan pembela Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.Lulusan Princeton University ini pernah tampil dalam film Wall Street: Money Never Sleeps pada tahun 2010, Nixon pada tahun 1995, dan JFK pada tahun 1991 – semua besutan oleh ayahnya
.
Tehran Times melaporkan, dia mengikrarkan keislamannya di Isfahan, di kantor ulama Syiah Ayatollah Mohammad Nasseri Dowlatabadi. Dia berada di Iran sejak awal bulan ini untuk sebuah acara apreasiasi film Hollywood yang dihadiri Ahmadinejad
Produser film terkenal Amerika, Sean Stone, yang juga anak dari sutradara pemenang Oscar, Oliver Stone, masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, tempat di mana ia sedang membuat film dokumenter, katanya kepada AFP.

Bagusnya, ia masuk Islam di Iran sehingga ia menjadi seorang Syiah.

“Masuk Islam tidaklah mengabaikan agama Kristen atau Yudaisme, yang mana saya sudah peluk semenjak lahir. Ini berarti saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” katanya dalam sebuah percakapan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, di mana ia menjalani upacara peresmian keIslamannya.

Ayahnya yang terkenal, Sean Stone adalah Yahudi, sedangkan ibunya adalah Kristen.

Produser film yang berumur 27 tahun ini tidak mengatakan mengapa ia bisa masuk Islam.

Menurut kantor berita Iran Fars, Sean Stone telah menjadi Syiah dan memilih nama Ali Muslim.

Sean Stone pernah akting dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, dan telah menyutradarai beberapa film dokumenter

Setelah masa muda yang penuh masalah, Malcolm Shabazz berusaha untuk mengikuti jejak kakeknya, Malcolm X. Dia juga cucu dari Dr. Betty Shabazz yang meninggal pada tahun 1997 setelah menderita luka bakar di apartemennya. Malcolm yang saat itu berusia 12 tahun mengaku bersalah telah menyulut api. Ibunya yang pada saat umur empat tahun melihat ayahnya ditembak, Qubilah Shabazz, memberi tahu bahwa neneknya wafat.

Malcolm duduk di penjara dan berbicara kepada arwah neneknya, memohon tanda agar dimaafkan. “Saya hanya ingin dia tahu bahwa saya menyesal. Saya ingin tahu bahwa dia menerima permohonan maaf ini, karena saya tidak bermaksud demikian,” kenangnya. “Tapi saya tidak mendapat jawaban, meski ingin.” Enam tahun setelah kebakaran, dia kembali masuk penjara—kali ini penjara orang dewasa dengan tuduhan pencobaan perampokan. Tapi ia masih mencari kesempatan untuk melanjutkan kehidupan, dan dunia melihatnya akan melihatnya sebagai cucu dari seorang martir.

Malcolm tumbuh jauh dari kilauan ketenaran nama yang diwariskan. Selama bertahun-tahun ia berjuang memenuhi harapan untuk mengikuti jejak kakeknya, meskipun ia mendapat manfaat hubungan keluarga dan dukungan para pengagum Malcolm X. Tapi dia ingin mencapainya sendiri. “Saya punya tujuan. Saya punya rencana. Saya ingin orang tahu apa yang terjadi pada saya.”

Butuh waktu selama 22 bulan. Bahkan untuk menghadapi komentar sinis tentangnya: pembakar dengan gangguan mental. “Menurut catatan, saya didiagnosa dengan banyak hal. Saya mendengar banyak suara dan hal. Saya skizofrenia, saya depresi berat. Saya tidak akan bisa duduk tenang jika semua itu benar.” Ruth Clark, ibu baptis Malcom, berkata, “Banyak tekanan menjadi cucu Malcolm X. Setiap orang memiliki harapan tinggi.”

Sama seperti kakeknya, ia banyak menghabiskan waktu di jalanan dan penjara. Sama seperti kakeknya, di balik penjara ia menemukan kembali iman dan tenggelam ke dalam Islam. Ketika dikarantina di Attica Correctional Facility di New York, Malcolm Shabazz mengatakan bahwa dia tidak memiliki perlengkapan yang bersih dan bahan bacaan. Tapi saat itu, ia bertemua napi lainnya asal Meksiko-Iran. Menurut Shabazz, orang ini menjadi teman diskusi dengan banyak teks keagamaan.

“Saya dibesarkan sebagai suni, semua keluarga saya suni.” Perpindahannya kepada Syiah menyebabkan reaksi yang mirip seperti ketika kakeknya meninggalkan Nation of Islam pada tahun 1964 dan menyatakan dirinya sebagai suni. Tersebarnya berita itu, membuat beberapa pemimpin suni and anggota komunitas menyatakan ketidaknyamanan mereka. Banyak orang menulis kepadanya, “Bagaimana Anda bisa menjadi Syiah?”

Shabazz menceritakan bahwa dirinya telah diberi tahu bahwa Syiah bukan muslim dan mereka adalah kelompok radikal. Semua yang dikatakan kepadanya sudah ia anggap sebagai propaganda biasa. Karena setiap informasi yang diterima Shabazz tentang mazhab ahlulbait ini berasal dari musuh-musuhnya yang telah dikemas ulang. Shabazz mengatakan, jika kita ingin tahu tentang apapun maka kita harus merujuk pada sumber aslinya dan tidak hanya cukup kepada satu orang awam Syiah, tapi harus kepada alim.

Shabazz Malcolm terkesan dengan buku-buku seperti Peshawar Nights dan Then I was Guided. Malcolm Shabazz kagum dengan perjuangan Imam Husain a.s. yang menurut beberapa alim juga diperjuangkan oleh kakeknya Malcolm X, sama seperti perjuangan Nabi Musa melawan firaun.

Setelah dibebaskan, Shabazz memutuskan untuk pindah ke Suriah dan belajar di sebuah lembaga keislaman dan menghabiskan delapan bulan berikutnya untuk mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak. “Saya keluar dari penjara dan ingin pergi sementara waktu.” Setelah kembali dari Suriah, Shabbaz kembali ke Miami dan menyiapkan sebuah memoar yang akan menyingkap kesalahpahaman agar semua menjadi jelas.

Setelah kembali ke Amerika Serikat, ia memutuskan untuk mengikuti jejak kakeknya pergi haji. Pengalaman seumur hidup Shabazz ini membuktikan kekuatan keimanan. Selain salat di tanah suci Mekah dan Madinah, Shabazz juga berkunjung ke Riyadh dan Jeddah.

Selengkapnya di blog Malcolm Shabazz: Live From Saudi Arabia

Shabazz sempat ditanya oleh seorang jendral Arab Saudi yang fasih berbahasa Inggris, “Brother, are you Shia or are you Sunni?” Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan menjadi terdiam. Shabazz menjawab, “Brother, I’m a Muslim.” Shabazz juga mengunjungi komunitas Syiah kulit hitam di Madinah yang menurutnya sudah tinggal sejak masa awal Islam. Di sana ia menceritakan tentang siapa dirinya lalu didoakan agar ibadah hajinya di terima Allah Swt.

Puluhan tahun sebelumnya, kakeknya telah membuat perubahan pada kultur Amerika dengan mengambil pendekatan radikal untuk menuntut persamaan hak. Ketika ditanya apakah kakeknya akan mengagumi Presiden Obama jika ia masih hidup hari ini, Shabazz menjawab, “Jelas tidak. Bagi saya, dia tidak ada bedanya dengan Bush.”

Shabazz mengatakan bahwa demokrasi di negaranya palsu, sebuah ilusi yang diabadikan para elite penguasa. Meski secara khusus ia tidak mengagumi Obama, ia berharap pemilihan presiden Afrika-Amerika pertama ini bisa “meningkatkan harga diri pemuda kulit hitam”. Pesan-pesan yang disampaikan Malcolm X semakin lebih penting saatnya daripada sebelumnya.

“Kakek saya pernah mengatakan bahwa hanya ada dua kekuatan yang dihargai di Amerika Serikat—kekuatan ekonomi dan kekuata politik—dan dia menjelaskan bagaimana kekuatan sosial berasal dari keduanya. Sayangnya, mayoritas masyarakat (saat ini) buta huruf secara ekonomi dan naif secara politik. Mereka percaya dengan apa yang mereka lihat di televisi dan baca di koran. Saya katakan, percaya sebagian yang Anda lihat, dan jangan percaya apa yang Anda dengar.”

Shabazz percaya bahwa perubahan dapat dimulai dengan pendidikan dan persatuan. “Pendidikan dapat dilakukan melalui musik, puisi yang diucapkan, seni, ceramah dari mimbar, atau terlibat dalam pekerjaan fisik.” Terkait persatuan, ia mencontohkan Uni Eropa, sebagai organisasi “di mana negara-negara yang tidak saling suka satu sama lain tapi karena memiliki akal sehat untuk bersama dengan satu tujuan atau melawan musuh bersama.”

“Setelah peristiwa 11 September, banyak orang tidak tahu (tentang Islam). Tapi mereka mulai menyelidiki dan belajar lebih.” Meski reaksi pertama orang adalah berpaling dari agama jihad, Shabazz merasa banyak orang juga butuh mendidik diri mereka sendiri—dan menemukan ada banyak sisi lain Islam dari yang media gambarkan. Bagi seorang pemuda yang telah menjalani kehidupan penuh gejolak, Shabazz mencari sesuatu yang mendasar bagi keimanannya: “Saya ingin ketenangan pikiran.”

Siti Aisyah mengeluarkan fatwa tegas yang sangat terkenal: اقتلوا نَعْثَلافقد كفر “Bunuhlah si Na’tsal (Usman bin Affan) itu sesungguhnya ia telah KAFIR! “

Di penghujung bulan Shafar tahun 11 hijriyah, Nabi SAW menerima panggilan Sang Khalik untuk menghadap-nya. Beliau wafat meninggalkan umatnya setelah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Umat Islam bagai anak-anak yatim yang kehilangan orang tua mereka. Untuk itulah sejumlah orang berkumpul di sebuah balairung yang disebut dengan nama Saqifah bani Saidah. Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah orang Anshar dan beberapa orang muhajirin. Meski sempat terjadi keributan, pertemuan itu menghasilkan keputusan mengangkat Abu bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah untuk memerintah atas umat.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di saat jenazah suci Rasulullah SAW belum dimakamkan, cukup mengejutkan bagi para sahabat yang lain. Sebagian dari mereka masih meyakini bahwa Rasul sudah menjelaskan siapakah yang bakal menjadi penerus beliau. Namun segala penentangan terhadap keputusan itu tidak membuahkan hasil apapun. 

Hubungan yang terjalin antara Aisyah; istri Nabi saw. dan Utsman; Khalifah ketiga berjalan wajar-wajar saja, tidak ada ketegangan! Bahkan tampak harmonis, akrab dan saling mendukung! Terpilihnya Utsman sebagai Khalifah ketiga dalam sebuah sandiwara Syûrâ Sudâsi [1] dilihat oleh banyak kelompok sahabat Quraisy dan suku-suku yang berkualisi dengannya sebagai kelanjutan dari kekhalifahan dua Khalifah sebelumnya. Pandangan Siti Aisyah tidak jauh dari pandangan umum partai Quraisy!

Tetapi kemudian sejarah mencatat terjadinya ketegangan hubungan antara Siti Aisyah dan Khalifah Utsman bahkan lebih dari itu ketegangan merembet kepada retaknya hubungan antara keluarga Utsman dan keluarga besar Abu Bakar! Tidak diketahui persis sejak kapan keretakan hubungan itu terjadi. Tapi sangat kuat dugaan bahwa ia mulai terjadi di paroh kedua masa kekhalifahan Utsman yaitu setelah enam tahun Utsman berkuasa!

Utsman yang tadinya banyak dipuji Aisyah dengan seperti “Utsman sebagai seorang yang malaikat saja malu, mengapa aku –kata Nabi saw. dalam hadis riwayat Siti Aisyah- tidak harus malu kepadanya”[2], dan banyak pujian lainnya yang dapat kita temukan dalam riwayat-riwayat yang ditebar oleh Siti Aisyah ra.

Awal Keretakan Hubungan Antara Siti Aisyah ra Dan Khalifah Utsman!

Data-data sejarah melaporkan bahwa ketegangan antara kedua tokoh ini dipicu oleh dikuranginya gaji atau uang negara yang biasanya diberikan untuk Aisyah di masa kedua Khalifah sebelum Utsman yaitu Abu Bakar; ayah Aisyah sendiri dan Umar sebagai penggantinya yang mengistimewakan Aisyah dan Hafshah putri Umar lebih dari istri-istri Nabi lainnya!

Al Ya’qubi dan Ibnu A’tsum melaporkan: “Antara Utsman dan Aisyah terjadi ketegangan. Hal itu disebabkan Utsman mengurangi jatah santunan negara dari jumlah yang dahulu diberikan oleh Umar bin Khaththab. Utsman menyamakan santunan yang diberikan untuk Aisyah sama dengan yang diberikan kepada istri-istri Nabi lainnya.”[3]

Setelah itu ketegangan terus memanas. Siti Aisyah menjadi tempat mengadu dan berlindung para sahabat dan tabi’in yang beroposisi dengan Utsman hingga pada akhirnya Utsman terbunuh! Sejarah mencatat bahwa tidak ada keluarga yang paling keras penentangannya terhadap Khalifah Utsman melebihi bani Taim; keluarga Abu Bakar!

 Puncak Ketegangan dan Perseteruan antara Utsman Dan Aisyah!

Banyak ketidak-puasan terhadap pemerintahan Utsman yang mengarah kepada ketegangan antara para penuntut keadilan dan Khalifah Utsman. Di antaranya adalah tuntutan pendukuk Mesir! Setelah terjadi tarik ulur antara para Penuntut dan Khalifah Utsman, beliau menyetujui tuntutan mereka dengan mengangkat Muhammad putra Khalifah Abu Bakar; adik Siti Aisyah ra sebagai Gubernur negeri Mesir.

Utsman mengutus Muhammad bin Abu Bakar bersama penduduk Mesir pulang ke negeri mereka sebagai Gubernur. Tetapi mereka segera dikejutkan dengan temuan seorang kurir yang berjalan menuju Mesir dengan mengendarai kuda sang Khalifah! Setelah mereka pergoki dan mereka geledah, terjanya ia membawa sepucuk surat perintah dengan setelpel Kekahlifahan milik Khalifah Utsman yang berisikan agar Gubernur yang masih menjabat di Mesir itu segera memenggal kepada Muhammad bin Abu Bakar dan rombongannya!

Muhammmad bin Abu Bakkar dan rombongan segera kembali menuju kota Madinah. Setelah mengetahui hal, para pembesar sahabat seperti Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqâsh dan lainnya menjadi mengecam tindakan Utsman itu! Utsman mengelak dan menolak jika itu perbuatannya!

Kaum Muslimin mulai mengepung rumah Khalifah Utsman. Muhammad bin Abu Bakar melibatkan keluarga besar bani Taim dan juga selainnya. Thalhah dan Siti Aisyah mendukung tindakan Muhammad adiknya!

Dalam kitab al Bad’u wa at Târîkh disebutkan bahwa: Orang yang paling keras permusuhannya terhadap Utsman adalah Thalhah, Zubair, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah. Kaum Muhajirin dan Anshar menelantarkan Utsman dan tidak memberikan pembelaan yang berarti!

Dalam banyak kali, Siti Aisyah memprovokasi kaum Muslimin dengan melantangkan suara kerasnya dari dalam rumahnya seraya mengeluarkan beberapa benda peninggalan Rasulullah saw. seperti potongan rambut suci beliau, sepasang terompa dan baju milik Nabi saw. Aisyah berkata, “Perhatikan! Alangkah cepatnya kalian melupakan sunnah nabi kalian.” Ustman pun marah hingga tidak menyadari apa yang ia katakan![4]

Siti Aisyah memotong Khutbah Khalifah Utsman!

Para ulama banyak menyebutkan insiden ketegangan terjadi antara Siti Aisyah ra dengan Khalifah Utsman dan juga antara Khalifah Utsman sahabat-sabahat dan tokoh-tokoh lain seperti Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar!

Al Ya’qûbi dan al Balâdzuri melaporkan: “Ketika Utsman sedang berpidato di atas Mimbar di masjid Nabi swaw. Tiba-tiba Aisyah mengeluarkan baju Rasulullah saw. dan berkata dengan suara lantang, ‘Hai kaum Muslimin! Perhatikan ini adalah baju Rasulullah masih utuh belum lapuk, tetapi Utsman sudah melapukkan Sunnah beliau!’

Utsman terkejut dan kemudia berkata, ‘Wahai Tuhan palingkan dariku makar jahat wanita-wanita itu, sesungguhnya tipu daya mereka itu dahsyat.’[5]

Ibnu A’tsum berkata, “Aisyah berkata kepada Utsman, ‘Hai Utsman, engkau memonopoli Baitul Mâl hanya untuk dirimu. Engkau bebaskan tangan-tangan bani Umayyah menguasai harta kaum Muslimin dan engkau jadikan mereka sebagai penguasa atas urusan kaum Muslimin, sementara engkau biarkan umat (Nabi) Muhammad dalam kesengsaran dan kesusahan hidup. Semoga Allah memutus darimu keberkahan langit dan menghalangimu dari kebaikan bumi. Andai bukan karena engkau masih shalat pasti mereka menyenbelihmu hidup-hidup seperti onta-onta disembelih!

Mendengar kecaman pedas itu dari Aisyah; istri Nabi saw., Utsman marah dan kemudian membacakan ayat 10 surah at Tahrim untuk Aisyah:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِلَّذينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَ امْرَأَتَ لُوطٍ كانَتا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبادِنا صالِحَيْنِ فَخانَتاهُما فَلَمْ يُغْنِيا عَنْهُما مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَ قيلَ ادْخُلاَ النَّارَ مَعَ الدَّاخِلينَ

“Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya);” Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.[6]

Penyikapan yang sangat pedas dan keras dari Khalifah Utsman terhadap Aisyah di atas dengan menyerupakan aisyah dengan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang kafir dan khianat terhadap suami mereka membuat Siti Aisyah tak terkendalikan murkanya atas Utsman. Siti Aisyah yang melihat Utsman telah jauh menyimpang dari tanggung jawab sebagai Khliafah suaminya; Nabi Muhammad saw. dan telah berbuat kejam terhadap keluarganya dengan memerintah membunuh Muhammad putra Khalifah Abu Bakar.

Karenanya Siti Aisyah ra segera mengeluarkan fatwa tegas yang sangat terkenal:

اقتلوا نَعْثَلافقد كفر

Bunuhlah si Na’tsal itu sesungguhnya ia telah KAFIR![7]

Segera setelah diucapkannya oleh Ummul Mukmini Aisyah ra., kalimat itu menyebar dengan luas di kalangan masyarakat dan menjadi penghias bibir kaum Muslimin! Kini kaum Muslimin tidak takuk menyebut Khalifah Utsman derngan sebutan Na’tsal!

Na’tsal adalah seorang yahudi tua bangka yang tinggal di kota Madinah. Aisyah menyerupakan Utsman dengan si Yahudi tua bangka itu!

 

Kematian Mengerikan Usman .!

Pemberontakan makin mengganas dan tuntutan agar Utsman segera mundur dari jabatannya dan/atau menyerahkan para aparat yang bejat seperti Marwan putra Hakam yang dikutuk Nabi saw. untuk segera diadili! Semua usaha menengahi yang di antaranya dilakukan oleh Imam Ali as., antara pihak Utsman dan pihak  Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah serta para pemberontak menemui jalan buntu. Utsman tetap bersikeras tidak akan menaggalkan baju kekhalifahan yang ia katakan tekah dianugerahkannya oleh Allah! Maka kini para pemberontak pun segera akan menjalankan fatwa Siti Aisyah janda sang Nabi mulia.

Di tengah-tengah berkecamukkan kemurkaan atas Khalifah Utsman atas sikapnya dan berbagai penyimpangannya dalam menjalankan tugas kekhalifahan tidak ada pilihan di hadapan para sahabat besar kecuali:

A)    Menjauhkan diri dari kekacauan ini.

B)    Mengangkat senjata.

Dan Thalhah, Muhammad bin Abu Bakat dan Abdurrahman bin Udais (seorang sahabat Nabi saw. yang berbaiat kepada beliau di Bai’at Ridhwân) serta beberapa sahabat lainnya termasuk mereka yang memilih sikap kedua. Mereka meghunuskan pedang di wajah Utsman; Khalifah kaum Muslimini!

Pada awalnya mereka yang dipimpin oleh Thalhah dkk mengepung rumah tempat tingga Khalifah Utsman. Pengepungan diperketat sehingga tidak setetes pun pasokan air dan logistik lainnya dapat masuk ke rumah Utsman! Di masa-masa pengepungan itu Thalhah dan Zubair yang menguasai dan mengendalikan urusan manusia.[8]

Ath Thabari melaporkan, “Ketika pengepungan Utsman semakin ketat dan ia pun dicegah dari air, Utsman mengutus utusan untuk menemui Ali meminta air. Ali datang menemui Thalhah dan berbicara kepadanya agar ia mengizinkan air masuk ke rumah Utsman. Ali marah keras kepada Thalhah dan akhirnya pasokan air pun dikirim Ali ke rumah Utsman.

Ketika Ali mengetahui keseriusan mereka untuk menghabisi nyawa Utsman, ia segera mengirim kedua putra kesayangannya; al Hasan dan al Husain dengan senjata lengkap untuk menjaga pintu rumah Utsman   agar tidak seorang pun berani memaksa masuk! Terjadilah ketegangan di depan pintu rumah Utsman, Al Hasan sempat terluka.

Muhammad bin Abu Bakar pun khawatir bani Hasyim bangkit membela al Hasan dan al Husain dan gagallah niatan  mereka untuk membunuh Utsman! Karenanya Muhammad mulai mencari jalan untuk masuk ke rumah Utsman tidak melewati pintu depan. Ketika melihat bahwa mereka takut masuk ke rumah Utsman lewat pintu depan, Thalhah pun mengajak mereka menyerang rumah Utsman dari atap rumah sebagian orang Anshar. Thalhah mempersilahkan mereka melompat masuk ke rumah Utsman melalui rumah itu dan akhirnya mereka pun membunuh Utsman!

Rumah itu adalah milik ‘Amr bin Hazm.[9]

Al Balâdzuri mewlaporkan bahwa Thalhah mengepung Utsman dan tidak mengizinkan setettas air pun masuk ke rumah Utsman dan membiarkannya akan mati kehausan. Mengetahui hal itu, Ali yang berada di tempat peristirahatannya di luar kota Madinah segera mengutus utusan menemui Thalhah agar membiarkan Utsman menikmati air segar dari sumur miliknya di luar rumahnya, dan jangan kalian biarkan ia mati kehausan. Tetapi Thalhah bersikeras menolak![10]

Utsman pun terbunuh di tangan para pemberontak yang dipimpin oleh Thalhah, Muhammad binn Abu Bakar dan beberapa sahabat senior yang pernah membaiat  Nabi saw. pada Bai’atu Ridhwan! Mendengar berita itu, Ali marah kepada kedua putranya dan berkata, “Bagaimana ini bisa terjadi sementara kalian aku tugaskan menjaga Utsman di depan pintu rumahnya?!” Thalhah memergokoi Ali dan berkata, ‘Hai Ali, mengapakah engkau?’ Ali berkata, ‘Atasmu laknat Allah, apakah seorang dari sahabat Rasulullah dibunuh…?! Thalhah menjawab, ‘Andai ia (Utsman) mau menyerahkan Marwan pasti ia tidak akan dibunuh…. Ali meninggalkannya dan pulang menuju rumahnya… “[11]

 

Jasad Utsman Dibiarkan Tiga Hari tak Dikuburkan!

Setelah Khalifah Utman terbunuh dengan tragis, jasadnya pun dibiarkan tergeletak. Para pemberontak  yang dipimpin Thalhah dan para sahabat itu tidak mengizinkan jasad Utsman yang berlumuran darah itu dikebumikan! Setelah Imam Ali turun tangan dan menekan para pemberontak, barulah mereka mengizinkan jasad Utsman untuk dikebumikan. Utsman dikebumikan setelah tiga hari. Tetapi ketika keluarganya memikul keranda jenazah Utsman keluar dari rumah untuk dibawa ke pemakaman, para pemberontak bersama sebagian penduduk kota suci Madinah menghadang dan melemparinya dengan batu, sehingga hampir-hampir keranda itu mereka tinggalkan.Ali kembali turun untuk mencegah mereka. Akhirnya keluarga Utsman berhasil membawa lari jenazah Utsman dan mengebumikannya di sebuah tempat bernama Husysyu Kaukab, tempat di mana orang-orang Yahudi biasa menguburkan orang-orang mati mereka. Ketika dikemudian hari Mu’awiyah berkuasa, ia menyambungkan tanah pemakaman yahudi (yang Utsman dikebumikan di sana) dengan memerintahkan merobohkan tembok pemisah dan memerintahkan kaum Muslimin dikebumikan di sekirtarnya sehingga bersambubnglah tempat dengan taman pemakaman Baqi’! Utsman berhasil di kebumikan di antara maghrib dan Isyâ’ dan tidak mengahdiri pemakamannya melainkan Marwan dan beberapa gelintir keluarga dekat Utsman termasuk putri kelima Utsman. Ia mengantar kepergian ayahnya dengan tangisan dan ratapan. Mendengarnya, kaum pemberontak melempari keranda ayahnya dengan batu! Demikian dilaporkan para ahli sejarah![12]

Dan dengan demikian berakhirlah seri permusuhan antara istri Nabi dan Usman !

Utsman terbunuh dengan pedang yang dihunuskan oleh Siti Aisyah (dengan fatwanya) dan diasah sehingga menjadi tajam oleh Thalhah dan dilaksanakan oleh  dan  Abdurrahman bin Udais Cs.

Innâ Lillahi wa Innâ ilaihi Râji’ûn.

 

Ustad Husain Ardilla :

Ketika mensyarahi hadis bahwa Nabi berpidato sambil menunjuk rumah ke Aisyah,“Dari situlah fitnah akan keluar ….” para pensyarah sunni berusaha mempermainkan akal-akal kita dengan mempelintir hadis itu lalu mengatakan yang dimaksud adalah arah timur. Yaitu Irak maksudnya. Negeri itulah sarang fitnah dan tempat munculnya tanduk setan. Peperangan demi peperangan terjadi di negeri itu. Perang Jamal yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubair serta sisa-sasa rezim Utsman seperti Marwan bin Hakam dengn alasan untuk menuntut balas atas kematian Utsman dan agar Khalifah Ali as. (yang terpilih secara aklamasi) segera menyerahkan para pembunuh Utsman untuk diadili!

Setelah para pemberontak yang dipimpin Aisyah dan Thalhal Cs. berhasil ditumpas oleh Ali as. Mu’awiyah bangkit memberontak juga dengan alasan yang sama; menunutu diserahkannya para pembunuh Khalifah Utsman! Setelahnya, kaum Khawarij memberontak melawan Ali di Nahrawan… kata pensyarah itu semua itu terjadi berawal dari terbunuhnya Utsman; Khalifah kaum Muslimin secara tragis!

Tidak sedikit dari mereka yang lugu -atau lebih tepatnya mereka yang senang dan bangga dibuat lugu dan dipermainkan akal warasnya oleh tukang syarah hadis itu- menelan mentah-mentah apa yang mereka katakan tentang maksud sabda Nabi suci itu!

Tetapi sangatlah memprihatikan apa yang mereka katakan itu?! Apakah mereka tidak menyadari bahwa terbunuhnya Utsman  itu adalah akibat dari fatwa Siti Aisyah, istri Nabi saw.?! Mungkinkah semua itu terjadi andai Siti Aisyah tidak menfatwakan:

اقتلوا نَعْثَلافقد كفر

Bunuhlah si Na’tsal itu sesungguhnya ia telah KAFIR?!

Akankah terjadi peperangan Jamal jika Siti Asiyah, janda Nabi itu ta’at kepada Allah dan meneruti perintah-Nya agar tetap tinggal di daalam rumahnya?

وَ قَرْنَ في‏ بُيُوتِكُنَّ وَ لا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجاهِلِيَّةِ الْأُولى‏

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu… .” (QS. Al Ahzâb [33];33)

Mengapakah mereka menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman, sementara mereka semualah orang-orang paling bertanggung jawab atas kematian Utsman?! Tidak ada yang layak dimintai pertanggung-jawaban atas kematian Utsman lebih dari mereka yang justru setelah kematiannya menuntut agar Ali menyerahkan para pembunuh itu?!

Tidak ada pribadi yang paling bersih dalam kasus terbunuhnya Utsman lebih dari Ali as.! Menuntut balas atas kematian Utsman hanya alasan palsu dan penipuan publik yang tak termaafkan! Semua hanya karena kebencian kepada Ali as. dan ketidak-sukaan mereka menyaksikan Ali sebagai Khalifah, sebab itu artinya: Ucapkan selamat tinggal bagi kepentingan-kepentingan dunia murahan yang menjadi incaran mereka!

Setelah kematian Utsman  atas fatwa Siti Aisyah; istri Nabi saw., apakah Siti Aisyah akan juga melakukan provokasi umat agar melawan Ali menantu sang  Nabi?!

Kebijakan pertama yang dilakukan Ali setelah jadi khalifah adalah mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan orang-orang yang cakap dan adil. Imam Ali yang dikenal dengan keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan kepada orang-orang Quresy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan baitul mal.

Perang Jamal

Sikap inilah yang mendapat penentangan sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan beliau. Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mngumpulkan pasukan yang cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi Thalib.

Mendengar adanya pemberontakan itu, Imam Ali mengerahkan pasukannya. Kedua pasukan saling berhadapan. Ali terus berusaha membujuk Thalhah dan Zubair agar mengurungkan rencana berperang. Beliau mengingatkan keduanya akan hari-hari manis saat bersama Rasulullah SAW dan berperang melawan pasukan kafir.

Meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa himbauan Imam Ali itu tidak berhasil menyadarkan kedua sahabat Nabi itu, tetapi sebagian sejarawan menceritakan bahwa Thalhah dan Zubair saat mendengar teguran Ali, bergegas meninggalkan medan perang.

Perang tak terhindarkan. Ribuan nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta. Perang Jamal atau Perang Unta berakhir setelah unta yang dinaiki oleh Aisyah tertusuk tombak dan jatuh terkapar.

Sebagai khalifah yang bijak, Ali memaafkan mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga dikirim kembali ke Madinah dengan dikawal oleh sepasukan wanita bersenjata lengkap. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali as berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai poros kebenaran.

Untuk mengetahui hal itu bacalah sejarah berbagai peristiwa setelah kematian Khalifah Utsman yang berujung pemberontakan yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubairyang dinamai dengan nama perang Jamal (perang onta) yang menelan korban tidak kurang dari 20 ribu jiwa umat Islam, umat suami Siti Aisyah, umat Nabi Muhammad saw.!


[1] Syura yang beranggotakan enam anggota yang dibentuk Khalifah Umar menjelang wafat beliau yang diatur dengan syarat-syarat tertentu yang hingga kini masih menjadi bahan kajian dan ketidak puasan sebagai peneliti sejarah.

[2] Baca selengkapnya dongeng pujian untuk Utsman itu dalam Shahih Muslim,7/116, Musnad Ahmad,6/62, Kanzul ‘Ummâl,6/376 hadis noo. 5845 dan Muntakhab Kanzul ‘Ummâl,5/2 dan 17 dan buku-buku lainnya.

[3] Târîkh al Wa’qûbi,2/132 dan Târîkh Ibn A’tsum:155.

[4] Ansâb al Asyrâf,5/205.

[5] Ibid.2/175.

[6] Kitab al Futûh; Ibnu A’tsum:115. Sangat kuat kemungkinan bahwa kecaman Aisyah atas Utsman di atas beliau sampaikan sebelum perintiwa ditemukannya surat perintah rahasia Khalifah Utsman agar Muhammad bin Abu Bakar segera dipenggal kepalanya sesampainya di negeri Mesir, seperti telah disinggung sebelumnya!

[7] Târîkh ath Thabari,4/477, Târîkh Ibn A’tsum:155, al Kâmil; Ibnu al Atsîr,3/87, an Nihâyah, Ibnu al Atsîr,4/156 dan sumber-sumber lain.

[8] Ansâb al Asyrâf,5/81 dan 90.

[9] Târîkh ath Thabari,5/122.

[10] Ansâb al Asyrâf,5/ 90.

[11] Târîkh ath Thabari,5/122.

[12] Ibnu Jarîr ath Thabari,5/143-144, Ibnu al Atsîr,3/76 dan Ibnu A’tsum:159. Baca juga ar Riyâdh an Hadhirah; Muhibbudîn ath Thabari,2/131-132.

Kata Ulama Sunni: Siti Aisyah ra. Mengandalkan Kaum Waria Untuk Memilihkan Calon Istri Bagi Saudaranya!

 

Ketika Abdurrahman, saudara Ummul Mukmini Aisyah berniat untuk menikah, Siti Aisyah segera menemui dan berkonsultasi dengan seorang waria bernamaAnnah untuk menunjukkan wanita yang cocok untuk dinikahi Abdurrahman; saudaranya!

Ibnu Hajar meriwayatkan dari kitab ash Shahâbah karya al Bârûdi dari jalur Ibrahim bin Muhâjir dari Abu Bakar bin hafsh, bahwa: Aisyah berkata kepada seorang mukhannas/waria bernama Annah, ‘Sudikah engkau menunjukkan kepada kami seorang wanita untuk kami lamar buat Abdurrahman bin Abu Bakar!  Maka Annnah berkata, “Ya.” Lalu waria itu mensifatkan seorang wanita gemol yang badanya padat berisi yang jika ia datang menghadap menghadap dengan empat lekukan di bagian perut dan dadanya dan jika ia membelakangi ia tampat berlekuk depapan. Mendengar ocehan tidak senonoh dan cabul si waria itu, Nabi saw. marah dan segera mengusirnya dari kota Madinah menuju Hamrâ’ al Asad, “Hai Annah keluarlah engkau dari kota Madinah ke Hamrâ’ al Asad, jadikan desa itu tempat tinggalmu!”.[1]

Ustad Husain Ardilla:

Anda pasti sadar bahwa memilih pasangan hidup adalah untuk membina rumah yang Islami. Tentunya hal itu akan terwujud dengan meminang wanita yang shalehah. Dan untuk mengelani wanita shalehah tentunya dengan berujuk kepada para wanita shalehah yang mengenal gadis-gadis shalehah. Tetapi jika mencari informasi calon pendamping dengan berkonsultasi kepada seorang waria yang jorok tutur katanya dan cabul prilakakunya, maka tidak mungkin kita akan ditunjukkan kepada gadis shalehah…. pasti yang akan kita terima adalah informasikan cabul seperti yang di sampaikan si Annah kepada Siti Aisyah!!

Apa kira-kira yang akan diraih Aisyah ra. dengan berkonsultasi kepada si Annah, si waria andalannya itu?

Setujukah dengan apa yang dilakukan Siti Aisyah ra.?

Bukankah riwayat sejarah di atas termasuk penghinaan terhadap Istri Nabi saw.?!

Mengapa ulama Sunni menghina Istri Nabi saw.?! Apa maksud mereka?!


[1] Fathu al Bâri,19398

.

Di penghujung bulan Shafar tahun 11 hijriyah, Nabi SAW menerima panggilan Sang Khalik untuk menghadap-nya. Beliau wafat meninggalkan umatnya setelah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Umat Islam bagai anak-anak yatim yang kehilangan orang tua mereka. Untuk itulah sejumlah orang berkumpul di sebuah balairung yang disebut dengan nama Saqifah bani Saidah. Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah orang Anshar dan beberapa orang muhajirin. Meski sempat terjadi keributan, pertemuan itu menghasilkan keputusan mengangkat Abu bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah untuk memerintah atas umat.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di saat jenazah suci Rasulullah SAW belum dimakamkan, cukup mengejutkan bagi para sahabat yang lain. Sebagian dari mereka masih meyakini bahwa Rasul sudah menjelaskan siapakah yang bakal menjadi penerus beliau. Namun segala penentangan terhadap keputusan itu tidak membuahkan hasil apapun.

Hubungan yang terjalin antara Aisyah; istri Nabi saw. dan Utsman; Khalifah ketiga berjalan wajar-wajar saja, tidak ada ketegangan! Bahkan tampak harmonis, akrab dan saling mendukung! Terpilihnya Utsman sebagai Khalifah ketiga dalam sebuah sandiwara Syûrâ Sudâsi [1] dilihat oleh banyak kelompok sahabat Quraisy dan suku-suku yang berkualisi dengannya sebagai kelanjutan dari kekhalifahan dua Khalifah sebelumnya. Pandangan Siti Aisyah tidak jauh dari pandangan umum partai Quraisy!

Tetapi kemudian sejarah mencatat terjadinya ketegangan hubungan antara Siti Aisyah dan Khalifah Utsman bahkan lebih dari itu ketegangan merembet kepada retaknya hubungan antara keluarga Utsman dan keluarga besar Abu Bakar! Tidak diketahui persis sejak kapan keretakan hubungan itu terjadi. Tapi sangat kuat dugaan bahwa ia mulai terjadi di paroh kedua masa kekhalifahan Utsman yaitu setelah enam tahun Utsman berkuasa!

Utsman yang tadinya banyak dipuji Aisyah dengan seperti “Utsman sebagai seorang yang malaikat saja malu, mengapa aku –kata Nabi saw. dalam hadis riwayat Siti Aisyah- tidak harus malu kepadanya”[2], dan banyak pujian lainnya yang dapat kita temukan dalam riwayat-riwayat yang ditebar oleh Siti Aisyah ra.

Awal Keretakan Hubungan Antara Siti Aisyah ra Dan Khalifah Utsman!

Data-data sejarah melaporkan bahwa ketegangan antara kedua tokoh ini dipicu oleh dikuranginya gaji atau uang negara yang biasanya diberikan untuk Aisyah di masa kedua Khalifah sebelum Utsman yaitu Abu Bakar; ayah Aisyah sendiri dan Umar sebagai penggantinya yang mengistimewakan Aisyah dan Hafshah putri Umar lebih dari istri-istri Nabi lainnya!

Al Ya’qubi dan Ibnu A’tsum melaporkan: “Antara Utsman dan Aisyah terjadi ketegangan. Hal itu disebabkan Utsman mengurangi jatah santunan negara dari jumlah yang dahulu diberikan oleh Umar bin Khaththab. Utsman menyamakan santunan yang diberikan untuk Aisyah sama dengan yang diberikan kepada istri-istri Nabi lainnya.”[3]

Setelah itu ketegangan terus memanas. Siti Aisyah menjadi tempat mengadu dan berlindung para sahabat dan tabi’in yang beroposisi dengan Utsman hingga pada akhirnya Utsman terbunuh! Sejarah mencatat bahwa tidak ada keluarga yang paling keras penentangannya terhadap Khalifah Utsman melebihi bani Taim; keluarga Abu Bakar!

 Puncak Ketegangan dan Perseteruan antara Utsman Dan Aisyah!

Banyak ketidak-puasan terhadap pemerintahan Utsman yang mengarah kepada ketegangan antara para penuntut keadilan dan Khalifah Utsman. Di antaranya adalah tuntutan pendukuk Mesir! Setelah terjadi tarik ulur antara para Penuntut dan Khalifah Utsman, beliau menyetujui tuntutan mereka dengan mengangkat Muhammad putra Khalifah Abu Bakar; adik Siti Aisyah ra sebagai Gubernur negeri Mesir.

Utsman mengutus Muhammad bin Abu Bakar bersama penduduk Mesir pulang ke negeri mereka sebagai Gubernur. Tetapi mereka segera dikejutkan dengan temuan seorang kurir yang berjalan menuju Mesir dengan mengendarai kuda sang Khalifah! Setelah mereka pergoki dan mereka geledah, terjanya ia membawa sepucuk surat perintah dengan setelpel Kekahlifahan milik Khalifah Utsman yang berisikan agar Gubernur yang masih menjabat di Mesir itu segera memenggal kepada Muhammad bin Abu Bakar dan rombongannya!

Muhammmad bin Abu Bakkar dan rombongan segera kembali menuju kota Madinah. Setelah mengetahui hal, para pembesar sahabat seperti Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqâsh dan lainnya menjadi mengecam tindakan Utsman itu! Utsman mengelak dan menolak jika itu perbuatannya!

Kaum Muslimin mulai mengepung rumah Khalifah Utsman. Muhammad bin Abu Bakar melibatkan keluarga besar bani Taim dan juga selainnya. Thalhah dan Siti Aisyah mendukung tindakan Muhammad adiknya!

Dalam kitab al Bad’u wa at Târîkh disebutkan bahwa: Orang yang paling keras permusuhannya terhadap Utsman adalah Thalhah, Zubair, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah. Kaum Muhajirin dan Anshar menelantarkan Utsman dan tidak memberikan pembelaan yang berarti!

Dalam banyak kali, Siti Aisyah memprovokasi kaum Muslimin dengan melantangkan suara kerasnya dari dalam rumahnya seraya mengeluarkan beberapa benda peninggalan Rasulullah saw. seperti potongan rambut suci beliau, sepasang terompa dan baju milik Nabi saw. Aisyah berkata, “Perhatikan! Alangkah cepatnya kalian melupakan sunnah nabi kalian.” Ustman pun marah hingga tidak menyadari apa yang ia katakan![4]

Siti Aisyah memotong Khutbah Khalifah Utsman!

Para ulama banyak menyebutkan insiden ketegangan terjadi antara Siti Aisyah ra dengan Khalifah Utsman dan juga antara Khalifah Utsman sahabat-sabahat dan tokoh-tokoh lain seperti Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar!

Al Ya’qûbi dan al Balâdzuri melaporkan: “Ketika Utsman sedang berpidato di atas Mimbar di masjid Nabi swaw. Tiba-tiba Aisyah mengeluarkan baju Rasulullah saw. dan berkata dengan suara lantang, ‘Hai kaum Muslimin! Perhatikan ini adalah baju Rasulullah masih utuh belum lapuk, tetapi Utsman sudah melapukkan Sunnah beliau!’

Utsman terkejut dan kemudia berkata, ‘Wahai Tuhan palingkan dariku makar jahat wanita-wanita itu, sesungguhnya tipu daya mereka itu dahsyat.’[5]

Ibnu A’tsum berkata, “Aisyah berkata kepada Utsman, ‘Hai Utsman, engkau memonopoli Baitul Mâl hanya untuk dirimu. Engkau bebaskan tangan-tangan bani Umayyah menguasai harta kaum Muslimin dan engkau jadikan mereka sebagai penguasa atas urusan kaum Muslimin, sementara engkau biarkan umat (Nabi) Muhammad dalam kesengsaran dan kesusahan hidup. Semoga Allah memutus darimu keberkahan langit dan menghalangimu dari kebaikan bumi. Andai bukan karena engkau masih shalat pasti mereka menyenbelihmu hidup-hidup seperti onta-onta disembelih!

Mendengar kecaman pedas itu dari Aisyah; istri Nabi saw., Utsman marah dan kemudian membacakan ayat 10 surah at Tahrim untuk Aisyah:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِلَّذينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَ امْرَأَتَ لُوطٍ كانَتا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبادِنا صالِحَيْنِ فَخانَتاهُما فَلَمْ يُغْنِيا عَنْهُما مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَ قيلَ ادْخُلاَ النَّارَ مَعَ الدَّاخِلينَ

“Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya);” Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.[6]

Penyikapan yang sangat pedas dan keras dari Khalifah Utsman terhadap Aisyah di atas dengan menyerupakan aisyah dengan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang kafir dan khianat terhadap suami mereka membuat Siti Aisyah tak terkendalikan murkanya atas Utsman. Siti Aisyah yang melihat Utsman telah jauh menyimpang dari tanggung jawab sebagai Khliafah suaminya; Nabi Muhammad saw. dan telah berbuat kejam terhadap keluarganya dengan memerintah membunuh Muhammad putra Khalifah Abu Bakar.

Karenanya Siti Aisyah ra segera mengeluarkan fatwa tegas yang sangat terkenal:

اقتلوا نَعْثَلافقد كفر

Bunuhlah si Na’tsal itu sesungguhnya ia telah KAFIR![7]

Segera setelah diucapkannya oleh Ummul Mukmini Aisyah ra., kalimat itu menyebar dengan luas di kalangan masyarakat dan menjadi penghias bibir kaum Muslimin! Kini kaum Muslimin tidak takuk menyebut Khalifah Utsman derngan sebutan Na’tsal!

Na’tsal adalah seorang yahudi tua bangka yang tinggal di kota Madinah. Aisyah menyerupakan Utsman dengan si Yahudi tua bangka itu!

 

Kematian Mengerikan Usman .!

Pemberontakan makin mengganas dan tuntutan agar Utsman segera mundur dari jabatannya dan/atau menyerahkan para aparat yang bejat seperti Marwan putra Hakam yang dikutuk Nabi saw. untuk segera diadili! Semua usaha menengahi yang di antaranya dilakukan oleh Imam Ali as., antara pihak Utsman dan pihak  Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah serta para pemberontak menemui jalan buntu. Utsman tetap bersikeras tidak akan menaggalkan baju kekhalifahan yang ia katakan tekah dianugerahkannya oleh Allah! Maka kini para pemberontak pun segera akan menjalankan fatwa Siti Aisyah janda sang Nabi mulia.

Di tengah-tengah berkecamukkan kemurkaan atas Khalifah Utsman atas sikapnya dan berbagai penyimpangannya dalam menjalankan tugas kekhalifahan tidak ada pilihan di hadapan para sahabat besar kecuali:

A)    Menjauhkan diri dari kekacauan ini.

B)    Mengangkat senjata.

Dan Thalhah, Muhammad bin Abu Bakat dan Abdurrahman bin Udais (seorang sahabat Nabi saw. yang berbaiat kepada beliau di Bai’at Ridhwân) serta beberapa sahabat lainnya termasuk mereka yang memilih sikap kedua. Mereka meghunuskan pedang di wajah Utsman; Khalifah kaum Muslimini!

Pada awalnya mereka yang dipimpin oleh Thalhah dkk mengepung rumah tempat tingga Khalifah Utsman. Pengepungan diperketat sehingga tidak setetes pun pasokan air dan logistik lainnya dapat masuk ke rumah Utsman! Di masa-masa pengepungan itu Thalhah dan Zubair yang menguasai dan mengendalikan urusan manusia.[8]

Ath Thabari melaporkan, “Ketika pengepungan Utsman semakin ketat dan ia pun dicegah dari air, Utsman mengutus utusan untuk menemui Ali meminta air. Ali datang menemui Thalhah dan berbicara kepadanya agar ia mengizinkan air masuk ke rumah Utsman. Ali marah keras kepada Thalhah dan akhirnya pasokan air pun dikirim Ali ke rumah Utsman.

Ketika Ali mengetahui keseriusan mereka untuk menghabisi nyawa Utsman, ia segera mengirim kedua putra kesayangannya; al Hasan dan al Husain dengan senjata lengkap untuk menjaga pintu rumah Utsman   agar tidak seorang pun berani memaksa masuk! Terjadilah ketegangan di depan pintu rumah Utsman, Al Hasan sempat terluka.

Muhammad bin Abu Bakar pun khawatir bani Hasyim bangkit membela al Hasan dan al Husain dan gagallah niatan  mereka untuk membunuh Utsman! Karenanya Muhammad mulai mencari jalan untuk masuk ke rumah Utsman tidak melewati pintu depan. Ketika melihat bahwa mereka takut masuk ke rumah Utsman lewat pintu depan, Thalhah pun mengajak mereka menyerang rumah Utsman dari atap rumah sebagian orang Anshar. Thalhah mempersilahkan mereka melompat masuk ke rumah Utsman melalui rumah itu dan akhirnya mereka pun membunuh Utsman!

Rumah itu adalah milik ‘Amr bin Hazm.[9]

Al Balâdzuri mewlaporkan bahwa Thalhah mengepung Utsman dan tidak mengizinkan setettas air pun masuk ke rumah Utsman dan membiarkannya akan mati kehausan. Mengetahui hal itu, Ali yang berada di tempat peristirahatannya di luar kota Madinah segera mengutus utusan menemui Thalhah agar membiarkan Utsman menikmati air segar dari sumur miliknya di luar rumahnya, dan jangan kalian biarkan ia mati kehausan. Tetapi Thalhah bersikeras menolak![10]

Utsman pun terbunuh di tangan para pemberontak yang dipimpin oleh Thalhah, Muhammad binn Abu Bakar dan beberapa sahabat senior yang pernah membaiat  Nabi saw. pada Bai’atu Ridhwan! Mendengar berita itu, Ali marah kepada kedua putranya dan berkata, “Bagaimana ini bisa terjadi sementara kalian aku tugaskan menjaga Utsman di depan pintu rumahnya?!” Thalhah memergokoi Ali dan berkata, ‘Hai Ali, mengapakah engkau?’ Ali berkata, ‘Atasmu laknat Allah, apakah seorang dari sahabat Rasulullah dibunuh…?! Thalhah menjawab, ‘Andai ia (Utsman) mau menyerahkan Marwan pasti ia tidak akan dibunuh…. Ali meninggalkannya dan pulang menuju rumahnya… “[11]

 

Jasad Utsman Dibiarkan Tiga Hari tak Dikuburkan!

Setelah Khalifah Utman terbunuh dengan tragis, jasadnya pun dibiarkan tergeletak. Para pemberontak  yang dipimpin Thalhah dan para sahabat itu tidak mengizinkan jasad Utsman yang berlumuran darah itu dikebumikan! Setelah Imam Ali turun tangan dan menekan para pemberontak, barulah mereka mengizinkan jasad Utsman untuk dikebumikan. Utsman dikebumikan setelah tiga hari. Tetapi ketika keluarganya memikul keranda jenazah Utsman keluar dari rumah untuk dibawa ke pemakaman, para pemberontak bersama sebagian penduduk kota suci Madinah menghadang dan melemparinya dengan batu, sehingga hampir-hampir keranda itu mereka tinggalkan.Ali kembali turun untuk mencegah mereka. Akhirnya keluarga Utsman berhasil membawa lari jenazah Utsman dan mengebumikannya di sebuah tempat bernama Husysyu Kaukab, tempat di mana orang-orang Yahudi biasa menguburkan orang-orang mati mereka. Ketika dikemudian hari Mu’awiyah berkuasa, ia menyambungkan tanah pemakaman yahudi (yang Utsman dikebumikan di sana) dengan memerintahkan merobohkan tembok pemisah dan memerintahkan kaum Muslimin dikebumikan di sekirtarnya sehingga bersambubnglah tempat dengan taman pemakaman Baqi’! Utsman berhasil di kebumikan di antara maghrib dan Isyâ’ dan tidak mengahdiri pemakamannya melainkan Marwan dan beberapa gelintir keluarga dekat Utsman termasuk putri kelima Utsman. Ia mengantar kepergian ayahnya dengan tangisan dan ratapan. Mendengarnya, kaum pemberontak melempari keranda ayahnya dengan batu! Demikian dilaporkan para ahli sejarah![12]

Dan dengan demikian berakhirlah seri permusuhan antara istri Nabi dan Usman !

Utsman terbunuh dengan pedang yang dihunuskan oleh Siti Aisyah (dengan fatwanya) dan diasah sehingga menjadi tajam oleh Thalhah dan dilaksanakan oleh  dan  Abdurrahman bin Udais Cs.

Innâ Lillahi wa Innâ ilaihi Râji’ûn.

 

Ustad Husain Ardilla :

Ketika mensyarahi hadis bahwa Nabi berpidato sambil menunjuk rumah ke Aisyah,“Dari situlah fitnah akan keluar ….” para pensyarah sunni berusaha mempermainkan akal-akal kita dengan mempelintir hadis itu lalu mengatakan yang dimaksud adalah arah timur. Yaitu Irak maksudnya. Negeri itulah sarang fitnah dan tempat munculnya tanduk setan. Peperangan demi peperangan terjadi di negeri itu. Perang Jamal yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubair serta sisa-sasa rezim Utsman seperti Marwan bin Hakam dengn alasan untuk menuntut balas atas kematian Utsman dan agar Khalifah Ali as. (yang terpilih secara aklamasi) segera menyerahkan para pembunuh Utsman untuk diadili!

Setelah para pemberontak yang dipimpin Aisyah dan Thalhal Cs. berhasil ditumpas oleh Ali as. Mu’awiyah bangkit memberontak juga dengan alasan yang sama; menunutu diserahkannya para pembunuh Khalifah Utsman! Setelahnya, kaum Khawarij memberontak melawan Ali di Nahrawan… kata pensyarah itu semua itu terjadi berawal dari terbunuhnya Utsman; Khalifah kaum Muslimin secara tragis!

Tidak sedikit dari mereka yang lugu -atau lebih tepatnya mereka yang senang dan bangga dibuat lugu dan dipermainkan akal warasnya oleh tukang syarah hadis itu- menelan mentah-mentah apa yang mereka katakan tentang maksud sabda Nabi suci itu!

Tetapi sangatlah memprihatikan apa yang mereka katakan itu?! Apakah mereka tidak menyadari bahwa terbunuhnya Utsman  itu adalah akibat dari fatwa Siti Aisyah, istri Nabi saw.?! Mungkinkah semua itu terjadi andai Siti Aisyah tidak menfatwakan:

اقتلوا نَعْثَلافقد كفر

Bunuhlah si Na’tsal itu sesungguhnya ia telah KAFIR?!

Akankah terjadi peperangan Jamal jika Siti Asiyah, janda Nabi itu ta’at kepada Allah dan meneruti perintah-Nya agar tetap tinggal di daalam rumahnya?

وَ قَرْنَ في‏ بُيُوتِكُنَّ وَ لا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجاهِلِيَّةِ الْأُولى‏

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu… .” (QS. Al Ahzâb [33];33)

Mengapakah mereka menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman, sementara mereka semualah orang-orang paling bertanggung jawab atas kematian Utsman?! Tidak ada yang layak dimintai pertanggung-jawaban atas kematian Utsman lebih dari mereka yang justru setelah kematiannya menuntut agar Ali menyerahkan para pembunuh itu?!

Tidak ada pribadi yang paling bersih dalam kasus terbunuhnya Utsman lebih dari Ali as.! Menuntut balas atas kematian Utsman hanya alasan palsu dan penipuan publik yang tak termaafkan! Semua hanya karena kebencian kepada Ali as. dan ketidak-sukaan mereka menyaksikan Ali sebagai Khalifah, sebab itu artinya: Ucapkan selamat tinggal bagi kepentingan-kepentingan dunia murahan yang menjadi incaran mereka!

Setelah kematian Utsman  atas fatwa Siti Aisyah; istri Nabi saw., apakah Siti Aisyah akan juga melakukan provokasi umat agar melawan Ali menantu sang  Nabi?!

Kebijakan pertama yang dilakukan Ali setelah jadi khalifah adalah mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan orang-orang yang cakap dan adil. Imam Ali yang dikenal dengan keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan kepada orang-orang Quresy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan baitul mal.

Perang Jamal

Sikap inilah yang mendapat penentangan sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan beliau. Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mngumpulkan pasukan yang cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi Thalib.

Mendengar adanya pemberontakan itu, Imam Ali mengerahkan pasukannya. Kedua pasukan saling berhadapan. Ali terus berusaha membujuk Thalhah dan Zubair agar mengurungkan rencana berperang. Beliau mengingatkan keduanya akan hari-hari manis saat bersama Rasulullah SAW dan berperang melawan pasukan kafir.

Meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa himbauan Imam Ali itu tidak berhasil menyadarkan kedua sahabat Nabi itu, tetapi sebagian sejarawan menceritakan bahwa Thalhah dan Zubair saat mendengar teguran Ali, bergegas meninggalkan medan perang.

Perang tak terhindarkan. Ribuan nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta. Perang Jamal atau Perang Unta berakhir setelah unta yang dinaiki oleh Aisyah tertusuk tombak dan jatuh terkapar.

Sebagai khalifah yang bijak, Ali memaafkan mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga dikirim kembali ke Madinah dengan dikawal oleh sepasukan wanita bersenjata lengkap. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali as berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai poros kebenaran.

Untuk mengetahui hal itu bacalah sejarah berbagai peristiwa setelah kematian Khalifah Utsman yang berujung pemberontakan yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubairyang dinamai dengan nama perang Jamal (perang onta) yang menelan korban tidak kurang dari 20 ribu jiwa umat Islam, umat suami Siti Aisyah, umat Nabi Muhammad saw.!


[1] Syura yang beranggotakan enam anggota yang dibentuk Khalifah Umar menjelang wafat beliau yang diatur dengan syarat-syarat tertentu yang hingga kini masih menjadi bahan kajian dan ketidak puasan sebagai peneliti sejarah.

[2] Baca selengkapnya dongeng pujian untuk Utsman itu dalam Shahih Muslim,7/116, Musnad Ahmad,6/62, Kanzul ‘Ummâl,6/376 hadis noo. 5845 dan Muntakhab Kanzul ‘Ummâl,5/2 dan 17 dan buku-buku lainnya.

[3] Târîkh al Wa’qûbi,2/132 dan Târîkh Ibn A’tsum:155.

[4] Ansâb al Asyrâf,5/205.

[5] Ibid.2/175.

[6] Kitab al Futûh; Ibnu A’tsum:115. Sangat kuat kemungkinan bahwa kecaman Aisyah atas Utsman di atas beliau sampaikan sebelum perintiwa ditemukannya surat perintah rahasia Khalifah Utsman agar Muhammad bin Abu Bakar segera dipenggal kepalanya sesampainya di negeri Mesir, seperti telah disinggung sebelumnya!

[7] Târîkh ath Thabari,4/477, Târîkh Ibn A’tsum:155, al Kâmil; Ibnu al Atsîr,3/87, an Nihâyah, Ibnu al Atsîr,4/156 dan sumber-sumber lain.

[8] Ansâb al Asyrâf,5/81 dan 90.

[9] Târîkh ath Thabari,5/122.

[10] Ansâb al Asyrâf,5/ 90.

[11] Târîkh ath Thabari,5/122.

[12] Ibnu Jarîr ath Thabari,5/143-144, Ibnu al Atsîr,3/76 dan Ibnu A’tsum:159. Baca juga ar Riyâdh an Hadhirah; Muhibbudîn ath Thabari,2/131-132.

Kata “Ahlulbait” dalam Alquran

 

 

Ada seseorang yang kerap kali berkunjung ke blog syiahali  dan konsisten dalam berkomentar tentang topik yang sama. Sesekali dia datang dan kembali meng-copy-paste hipotesisnya. Orang itu beranggapan bahwa konflik suni-Syiah disebabkan perebutan tahta ahlulbait. Dia juga mengatakan bahwa ahlulbait (dan keturunan nabi) sudah tidak ada, sehingga sepantasnya tidak perlu ada lagi konflik suni-Syiah.

Dia mungkin mencoba untuk menyederhanakan masalah. Sangat mungkin dia akan kembali lagi ke blog ini dan mengulang hipotesisnya. Kalau ahlulbait sudah tidak ada, mengapa nabi saw. mewasiatkan umatnya untuk berpegang teguh pada Alquran dan ‘itrah, ahlulbait (HR. Muslim)? Kalau Alquran suci, bagaimana mungkin dipadankan dengan yang tidak suci? Kalau Alquran kekal dan menjadi petunjuk hingga saat ini, bagaimana pantas dipadankan dengan sesuatu yang sudah tidak ada? Berikut ini sekelumit penjelasan tentang kata “ahlulbait” dalam Alquran yang saya kutip dari A Shi’ite Encyclopedia.

Keluarga Ibrahim

Alquran bersaksi bahwa Sarah, istri nabi Ibrahim a.s., diberkahi oleh para malaikat dan diberi kabar gembira bahwa dia akan melahirkan dua nabi Allah:

Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir) Yakub. Istrinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua dan suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran dengan ketetapan Allah? Rahmat dan keberkahan Allah dicurahkan kepada kalian wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (11: 71-73)

Karena keberkahan dan rahmat Allah diberikan kepada keluarga Ibrahim, ayat di atas menjadi alat tendensius bagi beberapa komentator untuk mencari argumen dan memasukkan istri-istri nabi saw. ke dalam istilah ahlulbait. Mereka beranggapan karena Sarah istri nabi Ibrahim termasuk ke dalam istilah ahlulbait dalam ayat di atas, maka seluruh istri nabi saw. juga termasuk ke dalam surah Al-Ahzab ayat 33 yang berkaitan dengan kemurnian dan keutamaan ahlulbait Nabi Muhammad saw.

Namun, sengaja atau tidak, para komentator itu mengabaikan pentingnya ucapan malaikat. Jika Sarah, istri Ibrahim, dimasukkan ke dalam istilah ahlulbait yang digunakan dalam ayat di atas, hal itu bukan karena dia istri Ibrahim, tapi karena dia akan menjadi ibu dari dua nabi (Ishak dan Yakub). Sarah disebut oleh malaikat dalam ayat di atas sebagai anggota ahlulbait, setelah dia menerima anugerah bahwa dia mengandung Nabi Ishak a.s.

Hubungan pernikahan antara pria dan wanita merupakan kondisi sementara dan bisa berhenti kapan saja. Istri tidak bisa menjadi pasangan yang kekal bagi suami dan masuk ke dalam amanat surgawi yang diberkahi dengan keunggulan, kecuali dia membawa putra yang menjadi seorang nabi atau imam. Dengan demikian, jika kita menganggap Sarah sebagai anggota keluarga, hal itu hanya karena dia akan menjadi ibu dari Ishak, bukan istri Ibrahim. Ayat 71-73 yang dikutip di atas menunjukkan bahwa Sarah disapa di antara ahlulbait setelah dia tahu bahwa dia memiliki Ishak a.s.

Keluarga Imran

Demikian juga, Alquran menyebut ibu nabi Musa di antara ahlulbait Imran. Lagi-lagi, sebagaimana yang bisa kita lihat di ayat berikut, penekanan di sini adalah ibu dari nabi Musa dan bukan istri Imran:

Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui sebelum itu; maka berkatalah saudari Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (28: 12-13)

Ibu nabi Musa disebut sebagai ahlulbait bukan sebagai istri Imran, tapi karena menjadi ibu dari Musa, karena para istri tunduk terhadap perceraian dan bisa digantikan dengan wanita yang lebih baik (Quran 66: 5) sebagaimana yang dikatakan oleh Zaid bin Arqam. Hal ini diilustrasikan oleh istri nabi Nuh dan Luth; meskipun mereka adalah istri dari hamba-hamba Allah, mereka tidak dianggap  sebagai ahlulbait. Mereka binasa bersama umat tersisa. Zaid bin Arqam berkata: “Ahlulbait nabi adalah garis silsilah dan keturunan (yang berasal dari darah dagingnya) yang diharamkan menerima zakat.”

Istri Imran berada di garis Musa, sebagaimana istri Ibrahim berada di garis Ishak dan Yakub. Demikian pula, jika Fatimah berada di antara ahlulbait nabi saw., hal ini bukan hanya karena dia putri dari nabi saw., tapi juga ibu dari dua imam.

Keluarga Nuh

Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sungguh perbuatannya tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (11: 45-46)

Abul Ala Maududi menulis dalam komentarnya terkait ayat di atas:

Jika bagian dari tubuh seseorang membusuk dan ahli bedah memutuskan untuk memotongnya, ia tidak akan mematuhi permintaan pasien yang berkata, “Jangan potong, karena itu bagian dari tubuhku!”. Ahli bedah akan menjawab, “Ia bukan lagi bagian dari tubuhmu karena ia membusuk.” Begitu juga ketika seorang ayah yang baik diberi tahu bahwa putranya berlaku tidak baik, itu berarti untuk mengimplikasikan bahwa usaha yang dilakukan untuk membawa dia sebagai anak yang baik telah sia-sia dan berakhir dengan kegagalan.

Referensi suni:

Komentar Quran oleh Abul Ala Maududi (diterbitkan oleh the Islamic Publications (Pvt) Limited), h. 367, tentang ayat 11:45-46

Nabi Nuh a.s. memohon untuk putranya dan jawabannya adalah putra itu tidak pantas menjadi anaknya. Melalui ayat tersebut, hal ini menjadi jelas bahwa meskipun seseorang berasal dari darah dan daging yang sama, lahir melalui orang tua yang sama, tapi jika ia tidak memiliki kualitas yang baik yang dimiliki orang tuanya maka dia tidak memiliki saham dari orang tuanya (sebagaimana disebut dalam ayat kedua di atas). Nuh memiliki tiga putra, Ham, Sam, dan Yafet yang beriman dan bersama istri mereka memasuki bahtera dan selamat, sedangkan Kan’an adalah putra Nuh dari istri yang berbeda yang tidak beriman dan musnah bersama putranya.

Dapat disimpulkan bahwa jika seseorang tidak memiliki kebaikan iman yang benar pada Allah, meskipun dia putra rasul, dia tidak berada dalam saham orang tua; lahirnya dia yang berasal dari orang tua tertolak, bahkan hak untuk berada di bumi Allah juga ditarik darinya, dan musnahlah dia.

Oleh karena itu, meskipun seseorang itu putra dari nabi Allah, kurangnya kebajikan membuatnya tidak diakui sebagai bagian dari ‘itrah keluarga kerasulan. Karena alasan inilah istilah ahlulbait terbatas pada anggota keluarga nabi yang layak dan tidak meliputi semua orang yang lahir dari darahnya. Ahlulbait hanyalah pribadi-pribadi di antara keturunan nabi yang juga memiliki kedekatan karakter dan pencapaian spiritual sepenuhnya bersama nabi saw.

Pendidikan dan peran Wanita di Keluarga Dalam Pandangan Syi’ah

Saat ini di Republik Islam Iran, kaum wanita dengan baik membuktikan kemampuannya tampil di berbagai sektor sosial dan tanggung jawabnya sebagai sorang ibu dalam mendidik anak serta istri dalam mendampingi suami. Hal ini berhasil dicapai berkat penghormatan tinggi terhadap ajaran Islam terkait urgensitas keluarga dan peran sentral wanita yang menilai pekerjaan seorang istri di rumah seperti jihad.

Dewasa ini penentuan status sosial yang tepat bagi kaum hawa menjadi isu besar. Kemenangan Revolusi Islam di Iran tahun 1979 ternyata juga sangat memperhatikan posisi serta peran wanita. Sampai-sampai Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menyebut isu wanita termasuk masalah utama Republik Islam Iran.

Saat ini di Iran, masalah kaum hawa dibahas dalam dua kategori, keluarga dan sosial. Pandangan terhadap wanita yang dilandasi oleh ajaran suci Islam membuat kemampuan wanita meningkat serta masyarakat pun semakin maju. Islam memandang kaum waniata sebagai manusia. Dalam pandangan Islam, wanita memiliki kehormatan dan terhitung landasan bagi tatanan keluarga serta sosial. Oleh karena itu, aktivitas wanita di berbagai bidang tidak menghalanginya untuk membentuk keluarga.

Keluarga merupakan institusi pertama dalam sebuah masyarakat dan maminkan peran penting terkait keselamatan sosial. Rahbar yang memiliki pandangan luas dan mendalam soal wanita menilai keluarga sebagai sel utama sebuah masyarakat. Menurut Rahbar, jika sel ini sehat maka bagian masyarakat lainnya juga sehat pula. Beliau berpendapat kemajuan masyarakat Islam tidak mungkin dicapai tanpa adanya keluarga yang sehat dan aktif dalam sebuah negara.

Sementara di Barat, masalah utama yang ada adalah para pejabat negara tidak memandang keluarga sebagai lembaga utama dan penting dalam sebuah masyarakat. Mereka memandang wanita sebagai indivu yang terpisah dari keluarga. Rahbar menilai Barat sengaja melalaikan masalah keluarga. Dalam pandangan Rahbar, masalah keluarga menjadi titik lemah Barat dan wanita yang menjadi poros utama di keluarga telah disingkirkan.

Perkawinan selama ini menjadi sarana bagi manusia untuk menyalurkan kebutuhan biologis, mental dan spiritualnya.  Dan keluarga menjadi pondasi utama bagi tatanan sosial, infrastruktur bagi kemajuan budaya dan peradapan manusia. Kini berbagai iklan dan propaganda di Barat menjurus pada dorongan kepada manusia untuk hidup membujang dan tidak membentuk sebuah keluarga. Oleh karena itu, kita menyaksikan maraknya keluarga yang terdiri dari satu orang tua atau orang yang membujang di Barat. Sementara di Iran, perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan ikatan janji suci yang memiliki akar kuat di ajaran Islam

Rasulullah Saw menyebut perkawinan sebagai penyempurna keimanan seseorang serta menyebutnya sebagai sunnah beliau. Rahbar seraya mengisyaratkan sakralitas perkawinan dalam pandangan agama khususnya Islam meyakini bahwa nilai sakral ini tidak boleh dipisahkan dari perkawinan. Beliau kerap menekankan acara perkawinan digelar dengan sederhana dan tidak mewah. Salah satu tujuan utama perkawinan adalah membentuk komunikasi hangat antara anggota keluarga. Allah Swt dalam surat Ar-Rum ayat 21 berfirman,” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Sebagai negara dengan pemerintahan yang meneladani ajaran Nabi Saw, Republik Islam Iran memandang kaum wanita sebagai kelompok masyarakat yang memiliki banyak potensi dan bakat. Pemerintahan Islam ini menghidupkan kembali kedudukan dan kemuliaan kaum wanita yang sebenarnya. Pandangan seperti ini mendorong kaum wanita untuk terlibat secara aktif dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Dengan menyadari dan menjaga jatidirinya, wanita Muslimah dapat menunjukkan kepada dunia hakikat diri dan perannya. Islam memandang wanita sebagai insan mulia yang mendidik dan mencetak wanita-wanita agung, cendekia, dan ibu atau istri yang berjiwa kuat dan pejuang di jalan Allah.

Apa yang dilakukan Republik Islam Iran terkait masalah wanita selama ini memang layak diapresiasi. Namun demikian, Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei memandangnya sebagai kinerja yang belum sempurna. Untuk itu dalam pertemuan dengan kalangan elit, cendekia dan intelektual wanita, beliau mengimbau mereka untuk melakukan telaah dan studi yang mendalam dan ilmiah terkait masalah wanita. Hasil telaah itu dapat diimplementasikan lewat penyusunan program strategis.

Di dunia Barat, masalah perempuan dan perannya di tengah masyarakat diidentikkan dengan benturan dua kelompok gender, laki-laki dan perempuan, dan gesekan kepentingan diantara mereka. Pandangan yang salah ini telah menjauhkan perempuan di Barat dari keistimewaan jiwa dan kedudukan insaninya. Mengenai masalah ini Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, “Secara perlahan mereka membuat aturan yang tidak adil yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang diuntungkan, sementara perempuan dijadikan sebagai pihak yang dimanfaatkan. Karena itu, dalam budaya Barat, jika perempuan ingin menonjol dan meraih kepribadiannya maka ia mesti mempertontonkan daya tarik seksualnya. Bahkan dalam acara-acara resmi, pakaian yang dikenakan perempuan harus bisa memuaskan pihak yang diuntungkan, yakni laki-laki.”

Menurut Rahbar, ada dua masalah inti terkait problema perempuan di tengah masyarakat. Jika dua masalah ini dipikirkan dengan baik, dicanangkan sebagai wacana baru dan ditindaklanjuti secara intensif maka apa yang kini di dunia dianggap sebagai krisis wanita bisa diharapkan terurai dalam jangka pendek ataupun panjang. Pertama berkenaan dengan kesalahan orang dalam memandang status dan kedudukan wanita di tengah masyarakat. Kesalahan ini mengakar pada pemikiran Barat yang kebetulan memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Bisa diperkirakan tidak salah orang yang mengklaim bahwa masalah ini ada dalam protokol-protokol para pemikir Zionis. Artinya, kesalahan persepsi mengenai kedudukan wanita di tengah masyarakat ini kemungkinan baru berjalan di Barat sekitar 100 sampai 150 tahun dan merambah komunitas-komunitas masyarakat lain, termasuk masyarakat Islam. Masalah kedua adalah yang paling asas, yakni kesalahan persepsi mengenai rumah tangga dan keburukan perilaku dalam rumah tangga.

Munculnya fenomena anak haram – dalam hal ini AS menduduki rangking tertinggi-, begitu pula fenomena kumpul kebo sejatinya adalah pemusnahan sendi-sendi, kehangatan, keharmonian dan berkah kehidupan rumah tangga. Problema tadi adalah biang keterasingan manusia dari berkah tersebut. Ini harus dipikirkan; kedudukan sejati kaum wanita harus dijelaskan, logika naif Barat itu harus dilawan dengan sungguh-sungguh.

Peran penting wanita dalam sebuah keluarga adalah posisinya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Psikolog dewasa ini menyebut insting keibuan merupakan bawaan dan fitrah seorang wanita. De Marneffe Daphne, psikolog Amerika Serikat dalam sebuah bukunya menulis, mayoritas seorang ibu menganggap kecintaannya untuk membesarkan dan merawat anak adalah fitrah dan alami serta sarana untuk merepleksikan hubungan kekeluargaan. Sangat disayangkan di masyarakat Barat, fitrah keibuan untuk menjaga serta merawat anak mengahadapi ancaman serius. Wanita di Barat cenderung untuk tidak memiliki anak atau jika mereka memiliki anak lebih memilih menyerahkan anak-anaknya ke tempat penitipan anak atau pusat-pusat sosial lainnya.

Sementara itu, aktivitas dan pekerjaan wanita di luar rumah juga merupakan dimensi lain dari mereka. Dalam pandangan Islam diperbolehkan aktif di berbagai bidang mulai sains, riset, politik, sosial dan ekonomi. Islam sejak 14 abad lalu telah mengakui secara resmi aktivitas wanita tersebut. Adapun di Barat partisipasi wanita untuk berpolitik baru diakui di akhir abad 20 dan dipermulaan abad 21.

Salah satu perkembangan penting pasca kemenangan Revolusi Islam bagi perempuan Iran adalah perkembangan pola fikir dan mental mereka. Kaum hawa di Iran berhasil menggapai banyak kemajuan dengan aktif di masyarakat. Saat ini, lebih dari 68 persen pusat-pusat pendidikan khususnya di jenjang perguruan tinggi ditempati perempuan. Angka buta huruf khususnya bagi kaum wanita di Iran pun mengalami penurunan. Jika sebelum revolusi, jumlah wanita yang mengenyam pendidikan mencapai 34 persen, kini tercatat wanita Iran yang berpendidikan sebesar 80 persen. Ini menunjukkan perhatian besar Revolusi Islam terhadap kaum wanita.(

 

pendidikan bengis wahabi : Militer Arab Saudi Serang Rumah Sakit, Tangkapi Demonstran Yang Terluka

Selasa, 2012 Februari 14 01:50

Pasukan keamanan Arab Saudi dengan brutal menyerang sejumlah rumah sakit di negara ini untuk menangkapi para demonstran yang terluka dan tengah di rawat di rumah sakit tersebut.

 

Situs Rashad mengutip sumber-sumber lokal Arab Saudi mengkonfirmasikan serangan pasukan keamanan Arab Saudi ke sejumlah rumah sakit di wilayah timur negara ini termasuk Qatif dan al-Awamiyyah untuk menangkap para demonstran yang tengah menjalani perawatan medis.

 

Menurut sumber ini, militer rezim al-Saud sejak Sabtu lalu aktif menyisir dan memeriksa setiap rumah sakit klinik di wilayah timur negara ini.

 

Aksi demo damai warga timur Arab Saudi dijawab brutal oleh pasukan keamanan negara ini akibatnya dua pemuda di Qatif dan al-Awamiyyah tewas serta sejumlah lainnya cidera. (IRIB Indonesia/MF)