Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?

MINGGU, 24 JULI 2011

Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?


Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.”
.
Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid
.
“Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Saya khawatir, Syiah akan menjadi sasaran berikutnya. Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah
.
Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi
.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

.

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama

.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

.

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan

.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

.

MINGGU, 24 JULI 2011

PROF.UMAR SHIHAB (KETUA MUI) : SYI’AH MAZHAB YANG SAH DI DALAM ISLAM


Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Sy’iah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut Syi’ah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 ,
.
Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat iniRombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.Apakah berita sidang pleno MUI setelah kunjungan resmi ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib hanya dusta dan fitnah atau benar adanya, seperti yg di tulis saudara Kholili Hasib di atas?
.
Sementara MOU itu adalah resmi atas nama Lembaga MUI dan bukan perorangan, beginilah sejatinya kelompok takfir selalu memprovokasi awam dengan berbagia info dan berita yg menyesatkan demi menjalankan agenda musuh2 Islam melalui adu-domba dan pecah-belah Ummat agar Islam lemah dari dalam.
_____________________________________________________________________________________________________________
Setelah MOU antar MUI dan Majma’ Taqrib baynal Mazahib Islamiyah akan keabsahan mazhab Ahlussunah dan Syi’ah (28 April 2011) maka MUI sudah sepantasnya untuk meninjau kembali Fatwa 1984 yg sekarang menjadi dasar pembenaran terjadinya anarkhisme terhadap muslim syi’ah dan mengajak Ulama Syi’ah dan ormas2 Islam untuk merumuskan kembali tentang makna Ukhuwah Islamiyah
.
Dan terpenting adalah Fatwa eksplisit dulu dari MUI bahwa Sunnah-Syi’ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah, agar siapa saja yg ingin berlaku anarkhis mentasnamakan mazhab maka akan berfikir seribu kali, tak jadi soal Fatwa itu efektif atau tidak yg jelas dgn keluarnya fatwa eksplisit dan tegas MUI berperan sebagai pengayom dan pemersatu umat dan bukannya termakan hasudan dan fitnahan dari kelompok takfir lintas mazhab yg lambat-laun akan merobohkan bangunan NKRI dengan konflik horisontal yg mereka lestarikan.UKHUWAH ISLAMIYAH :
.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalaupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama

.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

.

SABTU, 23 JULI 2011

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 23 di Teheran


Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam Ke-23 Teheran 15-17 Rabiul Awal 1431 HSegala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya
.
Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism
.
Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau
.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat
.
Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya
.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah

.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya

.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini

.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll

.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:

a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.

d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.

e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.

f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.

g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.

h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.

i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.

j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi

.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini

.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

RABU, 20 JULI 2011

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam


Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.
“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin
.
Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia
.
Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)
.
Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi
.
“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya
.
Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.
“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)
.

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab


Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju
.
Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syi’ah.Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Buhairah, Mesir
.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H. menjadi mufti umum Al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.Syekh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syi’ah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.

Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syi’ah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayyid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar Al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah Al-Islam”.

2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syi’ah, yang berhubungan dengan pendekatan antar mazhab.

3. Memasukkan fikih Syi’ah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.

4. Dan, yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti Al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu. Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiyah)?

Syekh Syaltut menjawab,

1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.

2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syi’ah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib

Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar Al-Taqrib bayna Al-Madzahib Al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syi’ah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar

Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jum’at tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

Nahju Al-Qur’an fi Bina Al-mujtama’

Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah

Al-Fatawa

Al-Qital fi Al-Islam

Min Tawjihat Al-Islam

Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh

Fiqh Al-Qur’an

SYEIKH AL-AZHAR, DR. AHMED AL-TAYEB: SERUKAN UMAT ISLAM BERSATU


Sheikh – Azhar Dr Ahmed Al-Tayeb meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tentang perlunya melakukan kebijakan keadilan dan menghentikan kebijakan standar ganda tentang isu-isu Islam dan bangsa Arab.hal ini harus ditunjukkan dengan keseriusan dan tanggung jawab.keadilan yang berhubungan dengan masalah Palestina dan isu utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh rakyat Palestina.Syaikh Al-Azhar dalam sambutannya pada pembukaan Global Forum ke lima untuk lulusan Al-Azhar pada Sabtu malam, yang berlangsung selama empat hari.Pendekatan sejarah Al-Azhar yang cukup panjang untuk mempertahankan Islam yang benar dan untuk membela serta menyebarkan keadilan, keamanan dan perdamaian di antara semua agama dan mengutuk kekerasan.
Syekh Al Azhar dalam sambutannya mengatakan Islam moderat menghadapi ekstremisme,” afiliasi dalam beberapa pelaku kekacauan serta penyebaran kekerasan dan doktrin terhadap Islam, hal ini tidak mencerminkan realitas pemikiran Islam, yang menyerukan sentrisme, moderasi, yang berhubungan dengan non-Muslim.Syekh Al Azhar menekankan tentang kebutuhan umat Muslim karena menderita diskriminasi untuk kembali kepada satu pemahaman dan menjauhkan dari perbedaan ideology, dalam rangka mencapai kesatuan muslim dan kekuatan baru islam.Syekh Al Azhar juga mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab, keadilan yang menyangkut status Palestina serta untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dari penindasan bangsa Israel.

Syekh Mufid, Sosok Teladan Dalam Mempersatukan Umat

Syekh Mufid, Sosok Teladan Dalam Mempersatukan Umat

Siapakah Syaikh Mufid?

Syaikh Mufid adalah nama panggilan untuk seorang ulama Baghdad yang bernama asli Muhammad bin Muhammad. Ia adalah ilmuwan sekaligus ahli fiqih terkemuka yang lahir di Baghdad.

Dibesarkan dalam keluarga yang mencintai ilmu pengetahuan, Syaikh Mufid telah jatuh cinta pada ilmu sejak masih kecil. Keluarganya pula yang memberikannya pendidikan dasar sebelum kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke para ulama terkemuka di zamannya.

Yang membuat nama Syaikh Mufid segera dikenal orang adalah kebiasaan belajarnya yang dianggap kurang lazim—ia suka berdebat dengan para ulama dan para ilmuwan lain untuk menemukan kebenaran yang dicarinya. Melalui perdebatan-perdebatan itulah kemudian Syaikh Mufid mengembangkan ilmu teologi, fiqih, dan perbandingan agama.

Sebagai guru, Syaikh Mufid telah membimbing banyak murid yang kemudian juga banyak yang menjadi ilmuwan serta ulama besar, di antaranya adalah Syaikh Thusi, Sayyid Murtadha, dan Sayyid Ridha. Sepanjang hidupnya, Syaikh Mufid telah menulis 200-an jilid karya, di antaranya berjudul “Al-Irsyad”, “Al-Arkan”, dan “Ushulul Fiqh.”

Sheikh Mufid semasa hidupnya mengajar di sebuah mesjid yang bernama Buratsa di Baghdad, beliau melakukan kegiatannya dengan mengajar, berkhotbah, berdiskusi, dan membahas berbagai macam ilmu pengetahuan Islam di mesjid ini. Dalam menyampaikan khutbahnya, beliau senantiasa mendorong berbagai kelompok Islam untuk senantiasa mengenyampingkan segala perbedaan yang bersifat juzi (parsial), dan melihat ushul (dasar-dasar utama) sebagai suatu hal yang dapat menyatukan mereka semua.

Pada tanggal 11 Zulqaidah 336 H, di sebuah wilayah bernama Suwaiqah bin Bashri, sebuah daerah yang terletak di utara Baghdad, lahirlah seorang yang akan membawa ajaran Islam, khususnya keilmuan Syiah ke puncak tertinggi, yang akan menghiasi kebudayaan Syiah dan membuatnya bersinar di tengah-tengah pemahaman yang menyimpang terhadap keyakinan Syiah, melalui studi ilmiah dan diskusi yang hebat serta berdalil. Kecerdasan yang dimilikinya membuat banyak orang datang dan mengelilinginya di samping sungai Tigris. Upaya ilmiah yang dilakukannya telah membuat ilmu pengetahuan menjadi hidup dan bersinar sepanjang rentang sejarah Islam. Demikian juga dengan pendirian sebuah lembaga Akademi Ilmu pengatahuan dan budaya Islam yang dilakukannya, telah memberikan manfaat yang luar biasa bagi masa depan intelektual Islam, dialah Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man al-Baghdadi yang lahir dipangkuan ibunda tercinta, serta menjadi pecinta Ahlul Bait dan mendapatkan pendidikan dan bimbingan darinya.

Syekh Mufid hidup pada abad keempat dalam sejarah Islam, era dimana gejolak politik dan ilmu pengetahuan berada pada puncaknya, era dimana tokoh-tokoh filosof terkenal seperti al-Farabi, Ibnu Maskawih dan Ibnu Sina, juga para tokoh ilmuwan Biologi dan matematika serta astronomi yang luar biasa seperti Abu Rayhan al Biruni, Zahrawi dan Ibnu Maysam hidup, beliau juga hidup sezaman dengan tokoh sejarawan terkenal seperti Abul Faraj Isfahani. Sebuah era sejak 300 tahun berlalu dari awal penerapan ajaran Islam.

Pada saat itu, buku-buku ilmu pengetahuan Yunani dan India telah diterjemahkan, dan pada saat itu pula telah lahir dan berkembang berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam seperti ilmu Hadis, Tafsir, Sejarah Islam, khilafah Islam, Sejarah Nabi, Sejarah Politik dan Penaklukan wilayah, bahkan Ilmu Pengetahuan Alam dan teknologi pun telah mengalami perkembangan pesat.

Era ini adalah era bebas, era yang memberikan ruang kepada para muhaddis (ahli hadis) dan mufassir (ahli tafsir) bebas mengemukakan pendapat mereka, demikian pula dengan pengikut mazhab fiqh bebas menentukan untuk mengikuti pendapat para ulama Fiqih mana yang dirasa sesuai bagi mereka. Akan tetapi, walaupun pada masa ini adalah masa berkembangnya ilmu pengetahuan dan penyebaran peradaban, khususnya perkembangan ilmu pengetahuan Islam dan penyebaran peradaban Islam melalui bertambahnya luas wilayah pemerintahan politik Islam, namun kesatuan pemikiran dan keyakinan pada saat itu telah hilang dari mereka.

Faktor utama inilah yang menyebabkan gejolak kejumudan pemikiran spiritual dan intelektual dalam dunia Islam, menyebabkan kelemahan iman dan keyakinan, ditambah lagi dengan masuknya pengaruh pemikiran yang beragam dalam ranah pemikiran Islam.

Keadaan ini diperparah dengan tidak adanya kerjasama yang baik dan konsisten di tubuh umat Islam berupa upaya sterilisasi pemikiran dari ajaran yang beragam itu dengan membangun sebuah sistem kesatuan pemikiran dengan sikap kritis terhadap segala pendapat dan pandangan yang baru ini yang selama ini dianggap sangat longgar karena alasan kebebasan berpikir.

Hal ini selanjutnya menyebabkan semangat dualitas dan konflik serta permusuhan di antara masyarakat, semua ini terjadi akibat dari kesalahan interpretasi dan penyebaran atas kesalahan interpretasi tersebut di kalangan masyarakat, baik berupa penafsiran teks al-Qur’an dan hadis, maupun pemahaman terhadap sejarah, bahkan masuk hingga ke ranah akidah yang dihembuskan oleh para musuh Islam dan juga intelektual Islam sendiri yang dianggap sebagai pembaharu yang “tercerahkan”. Pada akhirnya, hal ini telah melahirkan proses globalisasi pemikiran dan intelektual tanpa batas, yang tidak membawa kepada kebaikan selain kerusakan masyarakat, politik dan kemerosotan pemerintahan dan aparaturnya.

Namun dengan semua permasalahan ini, ‘Adhud Daulah, seorang Sultan pemegang kuat kerajaan Syiah waktu itu di tanah Irak, memiliki peran penting dalam mendorong para ilmuwan untuk melakukan penelitian, diskusi dan analisa berbagai permasalahan saat itu, beliau mendirikan perpustakaan dan lembaga-lembaga penelitian ilmiah lainnya di ibukota kerajaan. Tujuannya, dia berusaha sekuat tenaga agar perhatian dunia syiah beralih dari Qom ke pusat akademi yang didirikannya di Baghdad itu.

Dalam situasi inilah, Syekh Mufid hadir sebagai pelayan kebenaran dan pembawa obor persatuan dan solidaritas keislaman antar sesama muslim, beliau membawa perselisihan kepada jalan kebenaran dan cahaya persatuan dengan cara membangun rasa saling memahami, mengajak para intelektual Islam baik yang setuju ataupun yang tidak setuju, untuk memadamkan api pertengkaran dan perselisihan diantara mereka, dan menghimbau para muridnya dan seluruh masyarakat Islam, baik melalui kelas-kelas tempatnya belajar dan mengajar, ataupun di mesjid-mesjid di depan masyarakat umum untuk menyelesaikan berbagai persoalan pemikiran dan keraguan dalam akidah yang membuat kebenaran berada pada keadaan bahaya degan cara munadharah (perdebatan) dan dialog. Di dalam banyak munadharah, Beliau selalu menggunakan argumentasi yang jelas, bernas, dan dengan segala kemegahan sikap dan kebesaran, serta sikap tawaduk beliau, telah membawa generasi saat itu kepada jalan kebahagiaan dan kemenangan yang sebenarnya.

Pada bab Kesempurnaan Akhlak karya Sheikh Mufid, yang merupakan karya ulama besar Syiah yang agung ini, Mirza Syarafuddin Amili mengatakan: “Jika kedudukan ishmah (perihal maksum dari dosa) juga berlaku bagi selain para nabi dan penggantinya, maka Syeikh Mufid adalah orang pertama yang mendapatkan ishmah setelah mereka.”

Dari sisi ini juga mengapa gerakan intelektual dan ilmiah pada abad keempat disebut sebagai salah satu gerakan terbesar saat itu, yaitu terungkapnya kebenaran Mazhab Syiah setelah lama terpuruk dalam lubang hujatan dan tuduhan terhadapnya.

Syekh Mufid pada usia yang masih sangat muda bersama ayahnya dan para muridnya akhirnya pergi ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan terbesar pada waktu itu, dimana terdapat 59 dosen yang mengajar berbagai disiplin ilmu (sebagian ahli sejarah menyebutkan angka 71 orang) [Almaqalat Va Risalat, Juz 9, hal 10]. Diantara dosen yang terkenal pada waktu itu adalah Syekh Shaduq dan Abul Qosim Ja’far bin Muhammad bin Quluya al Qummi, dua orang yang merupakan pakar fiqh, dan Syeikh Mufid banyak menggunakan waktunya untuk mencatat riwayat-riwayat yang berasal dari mereka.

Disamping itu, beliau juga menghadiri pusat pendidikan Abu Abdillah, seorang teolog dan faqih Mu’tazilah yang merupakan pemikir terkenal pada masa itu, demikian pula dengan pusat pendidikan Abu Yasir, yang juga seorang teolog terkenal. Pada saat belajar pada mereka, terkadang banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Syeikh Mufid kepada mereka, namun mereka tidak mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kerenanya mereka menganjurkan beliau untuk mendatangi Ali bin Isa Rumani yang merupakan teolog tersohor. Demikianlah, hingga pada akhirnya beliau dapat mencicipi semua lautan ilmu para alim dan ulama pada masa itu hingga beliau mencapai tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi, baik yang bersumber dari ulama syiah sendiri, maupun dari ulama-ulama sunni saat itu.

Seperti disebutkan sebelumnya, Syeikh Mufid hidup pada masa pemerintahan Abbasyiah ketika Bani Buwaih yang merupakan pendukung syiah mengambil alih penguasaan atas kota Baghdad. Karena itu, penyebaran dan publikasi opini yang muncul saat itu adalah penyebaran dan publikasi opini mazhab syiah.

Seiringan dengan ini, Syeikh Mufid memanfaatkan alam kebebasan yang ada pada masa itu, dengan mengajar disebuah mesjid yang bernama Buratsa di Baghdad, beliau mengajar, berkhutbah, berdiskusi, berdebat dan membahas berbagai macam ilmu pengetahuan di mesjid itu, dan senantiasa mendorong berbagai kelompok Islam yang terpecah untuk senantiasa saling memahami dengan dialog, dan mengenyampingkan segala perbedaan yang bersifat Juz i, dan melihat permasalahan Ushul sebagai suatu hal yang dapat menyatukan mereka semua.

Peran dan usaha beliau, membuat Syekh Mufid berada dalam deretan ulama-ulama Imamiyah sebagai seorang tokoh teolog dan faqih yang terkemuka, bukan hanya sebagai pendiri tradisi intelektual, bahkan juga menjadi salah satu rujukan yang sangat membantu dalam dua kategori (teologi dan fiqih) di pusat-pusat pendidikan Islam (hauzah) hingga saat kini.

Beliau selalu dekat dengan masyarakat yang telah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran yang sesat dan prilaku bejat, dan senantiasa berbicara dan menyeru perbaikan kepada siapa saja di sudut-sudut kota, dan mengajak mereka kepada jalan kebenaran, dalam menyampaikan seruannya. Dalam mengajak masyarakat, terkadang beliau menggunakan kata-kata hikmah India dan Yunani, dan terkadang dengan metode sufi dan para arifin, beliau juga menyeru dan menasehati Abdi Negara yang melakukan kerusakan, dan mengajarkan Islam kepada mereka, menyadarkan mereka dari kealpaan karena kebodohan dan kesesatan mereka, serta menunjukkan penyimpangan dan mengkoreksi kesalahan mereka.

Karena sebab inilah Syekh Mufid terkenal sebagai orang yang memiliki kepedulian yang besar, ulet dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, sehingga dengan usaha-usaha yang dilakukan beliau diiringi dengan keyakinan yang kuat, akhirnya mampu membangkitkan kesadaran kaum muslimin.

Beliau mendirikan pusat pendidikan Ahlul Bait yang tidak terikat dan bebas sebagai upaya untuk memberi pemahaman yang benar tentang fiqih syiah dan membuat metode penggabungan antara aql dan naql dalam bidang kalam dan fiqih.

Dengan menulis dan mengajar, mendidik dan membimbing para muridnya baik melalui bimbingan di kelas ataupun dalam acara-acara debat dalam berbagai kesempatan, beliau mengajarkan bagaimana menyampaikan kebenaran dan menyelamatkan manusia dari kesesatan, inilah salah satu yang menjadi kebanggaan para pengikut Ahlul Bait, keberhasilan beliau mampu memberi petunjuk kepada firqa­h-firqah­ yang pada saat itu banyak sekali jumlahnya untuk kembali ke jalan yang benar, yaitu jalan kebenaran di bawah payung wilayah dan imamah.

Ibn Katsir dalam salah satu karyanya menulis: “Banyak sekali ilmuwan dari berbagai fiqah menghadiri majelis ilmu yang diadakannya”. Hal ini menunjukkan bahwa cahaya ilmu yang diberikan oleh Syekh Mufid dapat dimanfaatkan oleh berbagai golongan dan mazhab, dan matahari Ilmu dan kesempurnaan langit ilmu yang ditawarkannya menjadi penerang kebenaran yang ditunggu (af), karena itu beliau dipanggil “Mufid” yang menunjukkan pengajaran dan munadharah yang baik, sehingga menjadikannya bermanfaat bagi masyarakat, hal ini dapat kita lihat dari bagaimana 10 abad perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam waktu itu, tidak mampu menafikan keberadaan beliau.

Keterbatasan Pengetahuan Akal

Salah satu pengajaran yang beliau sampaikan dalam kalam adalah, keterbatasan pengetahuan akal. Adalah suatu hal yang sulit untuk menetapkan bahwa pengetahuan terpisah dari akal, karena semua permasalahan yang terdapat dalam pembahasan ilmu kalam tidak mampu dan terkadang butuh pertolongan wahyu untuk menjelaskannya hingga tuntas, walaupun sebenarnya bermanfaat, namun membatasi akal yang dimaksud tentunya adalah membatasinya sebagaimana Kholiq telah membatasinya, dan ini bukanlah kekeliruan.

Perlu disebutkan bahwa perdebatan akidah dan mazhab yang dilakukan oleh Syekh Mufid tidak hanya terbatas pada perdebatan secara verbal melalui lisan, tetapi juga beliau lakukan melalui penulisan dan karangan yang berisikan pandangan beliau dalam menolak pandangan penentangnya, dan menerangkan dimana sumber kesalahan mereka.

Disamping itu bagi golongan mazhab syiah, Syeikh Mufid memiliki keutamaan dan keistimewaan dengan pemberian gelar kemuliaan lansung oleh Imam Zaman (af). Ini merupakan kemuliaan besar yang disandarkan kepadanya. Dalam kitab-kitab terkenal para ulama menulis bahwa terdapat tiga gelar yang telah diberikan kepadanya, yaitu Syekh Sadid Maula Rosyid, Adun Sholeh, dan Saudara Mukhlis dalam mencintai Ahlul Bait, dan gelar lainnya adalah Syekh Mufid.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Baghdad, Syeikh Mufid pun kemudian mengajar para pencinta ilmu, diantara murid-muridnya yang terkenal adalah Najasyi, abdul Futuh Karachi, Syekh Thusi, Salar Dailama, Sayid Murtadha, dan Sayid Radhi.

Mengenai Sayid Murtadha dan Sayid Radhi yang merupakan saudara, beliau pernah bermimpi, hal ini juga dinukil oleh Ibnu Abil Hadid al Mu’tazily dalam syarh Nahjul Balaghahnya, pada suatu malam Syeikh Mufid bermimpi, bahwa beliau saat itu sedang duduk-duduk di dalam mesjid Karakh Baghdad, tiba-tiba datang seorang yang wajahnya bercahaya sambil memegang tangan Husain as berkata kepadanya: “Hey Syeikh!, ajarilah dua anakku ini ilmu fiqh” ketika beliau bangun, dia heran apa yang maksudnya mimpi ini?, dan apa yang akan terjadi?, kemudian pada suatu pagi ketika pulang dari mesjid, tiba-tiba Fathimah ibunda Sayid Murtadha dan Sayid Ridha sambil memegang tangan kedua anaknya memohon Syeikh Mufid untuk mengajar anaknya, pada saat itulah Syeikh Mufid tahu apa maksud mimpinya.

Karakter Ilmiah

Daya intelektual pemikir besar ini dan kejeniusannya dapat ditinjau dari empat sisi:

1. Menghimpun dan mengkompilasi teks-teks dan ajaran Islam.

2. Menolak pemikiran para teolog dengan konsep ilmiah akademis dan meneliti pemikiran mereka.

3. Sangat menekankan persoalan kepemimpinan dan filsafat politik dalam Islam

4. Banyak menulis karya-karya agung dari berbagai disiplin ilmu.

Syeikh Mufid banyak menulis karya-karya dalam menolak kesalahan mazhab lain, khususnya bidang akidah syiah dan hukum-hukum fiqih lebih dari 200 kitab dan artikel yang dapat kita temui baik dalam tulisan beliau sendiri maupun dalam tulisan yang ditulis kembali oleh murid beliau, diantaranya dapat kita sebutkan:

1. Al Muqniah, (pembahasan fiqih lengkap yang di syarah oleh Syeikh Thusi dalam kitabnya Tahzibul Ahkam—satu diantara empat kitab fiqih Syiah)

2. Al ‘ilam, penjelasan hukum-hukum yang disepakati dikalangan Syiah

3. Al Masail as Shogiyyah, meliputi 10 pembahasan fiqih dalam menolak tuduhan terhadap Syiah.

4. Ushulul Fiqh

5. Amali as Syaikhul Mufid (kitab ini adalah kitab terpenting yang memuat hadis-hadis yang bermanfaat, terdiri dari 387 hadis dari Nabi SAWW dan para Imam as dalam 200 pembahasan yang sangat menarik. Amali adalah bentuk jamak dari kata Imlaa i, hal ini karena hadis –hadis ini disebutkan dalam beberapa pertemuan dan beliau mengatakan imla, sehingga dinamakanlah dengan amali, (Dirayah hadis, C, hal. 60),

Beliau adalah orang yang sangat teliti dalam meriwayatkan sesuatu, ketelitiannya dalam menulis karya-karya baik yang berhubungan dengan Ilmu Kalam maupun Ilmu Fiqh tidak tertandingi, seorang faqih dan muhaddis yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmunya dalam dasar-dasar Islam mazhab Syiah yang dikuasainya. Dalam menulis, beliau selalu merujuk pada riwayat-riwayat dari para maksumin, dan dalam tulisannya, beliau menuliskannya sumber pengambilannya.

Ketika beliau merujuk sesuatu, maka rujukan beliau adalah rujukan yang menjaga dasar-dasar keilmiahan, bukan berdasarkan penukilannya pribadi, Syeikh Shaduq yang juga adalah gurunya, seorang pakar hadis, juga tidak luput dari kritikan beliau karena tidak teliti dalam menukil hadis. Karena sebab itu, beliau pun akhirnya menulis asas-asas dan kaidah untuk mengenal hadis, menurut beliau, setiap hadis harus dirujuk kepada ahlinya, dan ini adalah sangat darury sifatnya.

Karya-karya Syekh Mufid Dalam Bidang Kalam

1. Al Irsyad (sebuah kitab yang membahas sejarah para Imam)

2. Al Ifshah (pembahasan mengenai kepemimpinan dan falsafah kepemimpinan politik Islam)

3. An Nuqath al I’tiqadiyyah (Ushuluddin)

4. Syarahul ‘Aqaid as Shaduq

5. wailul Maqalat (membahas tentang pendapat teolog dan para ulama)

6. Al Faslul Mukhtarah (kumpulan perdebatan Syeikh Mufid)

Dalam ilmu kalam, kecerdasan Syeikh Mufid adalah tiada bandingnya, banyak perdebatan-perdebatan kalam yang telah dilakukannya, diantara perdebatan beliau yang terkenal adalah dengan salah seorang ulama Ahlus Sunnah yang bernama Qadhi Abu Bakar al Baqilani (salah seorang ulama Asya’irah), juga perdebatan-perdebatan lainnya seperti dengan Thabrani (seorang pemimpin Zaidiyah), Ibnu Lulu (salah seorang pemimpin Isma’iliyyah), Ibnu Qilab al Qhattan (pemimpin golongan Hasyawiyyah), Qadhi Abdul Jabbar (pemimpin golongan Mu’tazilah di Baghdad), dalam perdebatan yang terakhir ini, karena Qadhi Abdul Jabbar tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan Syeikh Mufid, akhirnya beliau menunjuknya untuk menggantikan kedudukan beliau dan berkata “Engkau benar-benar seorang yang mufid ­(bermanfaat)”.

Ajaran NU Mustahil Bersatu Dengan Wahabi

SABTU, 30 JULI 2011

Mufti al-Azhar Bantah Fatwa Ulama Saudi (Perayaan Nisfu Sya’ban)

 dinukil dari surat kabar Mesir ‘Al Dastur’, Syaikh Ali Jum’ah mufti besar Mesir mengeluarkan fatwa mengenai hukum bolehnya mengadakan peringatan atau perayaan pertengahan Sya’ban.Beliau dalam fatwanya mengatakan, “Apa yang menjadi landasan dari pengadaan peringatan pertengahan Sya’ban sehingga hukumnya boleh dilakukan?
.
Peringatan atau perayaan tersebut harus menjadi bagian dari syiar agama dan tidak ada keraguan dalam hal ini mengenai hukumnya selama tidak bertentangan dengan prinsip agama.”Ulama yang merupakan mufti besar lebih lanjut mengatakan, “Hadhrat Rasululullah dalam salah satu sabdanya mengatakan, ‘Hidupkanlah malam pertengahan bulan Sya’ban dan pada siang harinya berpuasalah, sebab Allah semenjak terbenamnya matahari pada malam tersebut akan mengutus malaikat-malaikatnya memasuki langit dunia dan mengatakan barang siapa beristighfar memohon ampun pada saat itu maka Aku akan mengampuninya dan barang siapa memohon rezki maka akan Kuberikan, dan barang siapa yang mengalami kesusahan akan Aku bahagiakan sampai fajar menyingsing.
.
“Beliau dalam fatwanya tersebut menyinggung mengenai akhlak dalam mengadakan peringatan tersebut dengan menegaskan, “Sebagian besar orang mengatakan bahwa peringatan pertengahan Sya’ban wajib dilakukan di masjid dengan mengenakan pakaian terbaik dan menghabiskan malam dengan membaca Al-Qur’an, sementara sebagian lainnya justru menganggap makruh peringatan tersebut dilakukan di masjid. Apapun itu, dalam peringatan tersebut tidak boleh ada pelanggaran syar’i’, inti dari penyelenggaraan peringatan-peringatan semacam itu adalah untuk mengingat Allah dan menambah ketakwaan kita.”

Pada bagian lainnya penjelasannya, Mufti Besar Mesir ini mengatakan bahwa ziarah kubur bukanlah sebuah amalan kekufuran ataupun kesyirikan. Beliau berkata, “Ziarah ke makam-makam suci Ahlul Bait Nabi saww adalah salah satu amalan yang dianjurkan dan mendapat ganjaran pahala yang banyak dari Allah swt.”

Diberitakan keluarnya fatwa tersebut sebagai bantahan dari pengklaiman ulama-ulama Wahabi bahwa peringatan pertengahan Sya’ban adalah amalan bid’ah dan ziarah kubur adalah amalan yang bisa menjerumuskan pelakunya pada kekufuran dan kesyirikan. (ABNA)

Antara Muhammadiyah dan NU, Mereka Bicara “Wahabi” Sebetulnya Apa yang Dicari?

OPINI | 31 January 2012 | 08:07Dibaca: 340 

Innalillahi wa inna illaihi roji’un.

Musuh-musuh Islam telah berhasil mengadu domba Nahdlatul Ulama dengan apa yang mereka katakan Neo Wahabi dan mengungkit kembali masalah hilafiyah dengan Muhammadiyah yang selama ini telah berhasil dihindari.

Musuh-musuh Islam hari ini berpesta pora.

Indonesia, Negara dengan pemeluk Islam terbesar didunia. Kaum Yahudi paling takut Kekuatan Islam diNegeri ini bersatu. Agen Mossad / CIA yang ada di Negeri ini diperkirakan yang terbesar dibanding yang disusupkan di Negara-negara berpenduduk Islam lainnya.

NU dan Muhammadiyah termasuk yang sangat diperhatikan, Dua organisasi merupakan sasaran garapan utama mereka.

“ Kendalikan dua Organisasi terbesar ini, berapapun biayanya. Bila secara organsai tidak bisa dikendalikan, kendalikan tokoh-tokohnya , selama mereka masih miskin dan butuh dana, maka kedua organisasi ini akan dapat dikendalikan.

Dekati NU dengan program “ Yasinan – Tahlilan dan Barzanji “ mereka akan dapat dikuasai. Kobarkan ketakutan mereka dengan gerakan pemurnian Islam. Fasilitasi masuknya faham gerakan pemurnian, namakan mereka Faham Neo Wahabi, takuti NU ( organisasi Islam terbesar di Indonesia ) dengan cara menanamkan pengertian Bahwa Wahabi adalah ancaman bagi NU. Dengan sedikit biaya ( cukup membiayai tokohnya ) NU akan memerangi Wahabi dengan sendirinya.

Inilah mengapa K.H. Said Agil Syiraj dengan gigih menytakan perang pada Wahabi. Bukan karena Wahabi itu sendiri, tapi memang sudah dirancang oleh kekuatan yang tidak mereka sadari.

Apakah Muhammadiyah terbebas dari hasutan Yahudi ini ?

Ternyata tidak!

Sebagian besar tokoh organisasi ini yang terjun ke Dunia Politik juga sudah bisa dikendalikan.

Saya teringat pesan Almarhum Ayah saya .

Teruskan dan selesaikan sampai tujuan da’wah “ Walisanga “. Jadilah sopir yang baik, antarkan umat sampai tujuan, jangan engkau jadikan kendaraanmu berubah jadi tujuan.

Almarhum Ayah saya seorang Ulama Nahdliyin, dengan cara yang sangat santun mencoba membawa muridnya , meninggalkan Tahayul, Bid’ah dan Khurafat melalui da’wah selangkah demi selangkah.

Rasulullah semula tidak mengharamkan Hamr, sebelum umatnya siap untuk meninggalkan secara penuh.

Tahlilan, Yasinan dan Barzanji menurut Ayah saya bukan bagian dari ibadah, tapi merupakan methoda pendekatan da’wah yang paling baik.

  1. Tahlilan adalah methode pendekatan perubahan Budaya Musyrik dan Paganisme menuju Tauhid. Jangan dijadikan bagian dari Ibadah Mafdhah.
  2. Yasinan adalah pendekatan untuk senang membaca Al Qur’an, jangan berhanti pada Yasinan tapi harus diteruskan menuju Al Qur’an sebagai pegangan hidup.
  3. Barzanji , adalah bagian dari Seni Budaya Islam, kembangkan sebagai Seni Budaya yang mampu membendung Budaya Kafir yang cenderung menyesatkan. Tapi jangan sekali-kali dijadikan bagian dari Ibadah karena posisinya akan berubah menjadi salah satu dari Bid’ah.

Galang uhuwah, tegakkan syari’ah.

 

NASIONAL

Senin, 06 Februari 2012 , 01:31:00

BATAM -
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia. Sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi.

Hal ini disampaikan Said AqAqilil dalam acara bedah buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama yang digelar GP Ansor di Kampus Politeknik Batam, Minggu (5/2). “Wahabi mengajarkan ektrimisme dan kekerasan. Ajaran ini selangkah menuju terorisme,” kata Aqil.

Menurutnya, Islam merupakan agama yang terintegrasi dengan tradisi dan budaya santun dan cinta damai. Sehingga Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi mengajarkan jalan jihad melalui aksi terorisme.

Dia mengisahkan, dalam sejarah Nabi Muhammad SAW tidak pernah ada perintah menghancurkan berhala. Bahkan Nabi sering sedih ketika mendengar kabar kaum agama lain mengalami kekalahan dalam perang. Atau ketika umat Yahudi mengatakan Yesus merupakan anak haram. “Sehingga kalau saat ini ada kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan berarti mereka tidak sedang menjalankan ajaran Islam,” katanya.

Aqil memang tidak mengatakan aliran Wahabi sesat. Namun dia mengecam sikap aliran Wahabi yang mengharamkan tahlilan dan amalan-amalan dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad.

“Silahkan berwahabi, silahkan melarang tahlilan. Tapi jangan di Batam atau di Indonesia. Silahkan pergi ke Afganistan, Pakistan dan negara lainnya,” kata Aqil.

Meski begitu Aqil menilai aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

“Kalau Islam tetap toleran, maka Islam akan hidup selamanya. Tapi kalau mengedepankan ajaran-ajaran yang ekstrim dan kekerasan, sebentar lagi Islam bisa bubar,” katanya.

Sebelumnya, buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya” mendapat kritik dari berbagai kalangan. Buku karangan Syaikh Idahram ini dituding membela Syi”ah yang dianggap sesat. Selain itu buku ini juga dinilai mengajarkan rasisme dan menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim.

SABTU, 30 JULI 2011

MENGENANG FATWA KONTROVERSIAL ULAMA WAHABI : Syaikh Abdullah bin Jibrin


5 (LIMA) TAHUN YANG LALU, Salah seorang ulama senior yang menjadi rujukan fiqih di kalangan
salafiyah di Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Abdurahman Al-Jibrin dalam fatwanya telah
“mengharamkan bantuan kepada pejuang Hizbullah dan tidak boleh berdoa
untuk mereka.” Karena mereka, menurut Syaikh Bin Jibrin, adalah kaum
syi’ah rafidhah yang telah keluar dari Islam.BAGAIMANAKAH TANGGAPAN ULAMA SUNNI DAN SYIAH TERHADAP FATWA ULAMA WAHABI DIATAS?
APAKAH TITEL ATAU ULAMA MENJAMIN BENARNYA “KEILMUAN” SEORANG ULAMA ?
BERITA INI MENGAJAK KITA SEMUA UNTUK BERPIKIR DAN BELAJAR MENGENAI KONSPIRASI PEMECAH BELAH UMAT ISLAM SEJATI……..!Persatuan Ulama Dunia Serukan Hindari Propaganda Perpecahan*
Sabtu, 29 Jul 06 11:41 WIBBanyaknya peringatan yang dikeluarkan para ulama Islam berupa fatwa yang
mengharamkan dukungan kepada Hizbullah dalam perang melawan Zionis
Israel, membuat Persatuan Ulama Dunia angkat bicara dan mengingatkan
bahayanya terjerumus ke dalam “propaganda-propaganda busuk” yang mencoba
mengobarkan fanatisme dan perpecahan di antara kalangan sunnah dan
syi’ah terkait dengan konflik di kawasan.Dalam pernyataan yang dikeluarkan Kamis (27/07), Persatuan Ulama Dunia
menyebut perlawanan di Palestina dan Libanon sebagai pertempuran
kepahlawanan melawan penjajah Israel. “Propaganda-propaganda memecah
belah telah muncul sejak munculnya kepahlawanan perlawanan Islam di
Libanon, yang berasal dari orang-orang yang menginginkan perpecahan
antara sunnah dan syi’ah,” tegas pernyataan tersebut.Salah seorang ulama senior yang menjadi rujukan fiqih di kalangan
salafiyah di Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Jibrin dalam fatwanya telah
“mengharamkan bantuan kepada pejuang Hizbullah dan tidak boleh berdoa
untuk mereka.” Karena mereka, menurut Syaikh Bin Jibrin, adalah kaum
syi’ah rafidhah yang telah keluar dari Islam.Namun Persatuan Ulama Dunia yang dipimpin Syaikh Yusuf al-Qardhawi
menegaskan bahwa kalimat tauhid “Laa Ilaaha IllaLlah” adalah kata
peneguh yang diteguhkan Allah swt buat orang-orang beriman. Kalimat
itulah yang menjadikan pengucapnya memiliki sifat Islam. Rasulullah saw
bersabda di dalam hadits muttafaqun ‘alaih yang diriwayatkan Bukhari dan
Muslim, “Barangsiapa mengucapkan “Laa Ilaaha IllaLlah” maka telah
terpelihara dariku harta dan jiwanya kecuali dengan alasa yang benar,
dan masalah hisabnya ada pada Allah ta’ala.”.

Rasulullah saw juga
besabda, “Cukuplah seseorang dianggap jahat apabila melecehkan
saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darah,
harta dan kehormatannya.” Kemudian Persatuan Ulama Dunia menegaskan
larangan Allah swt untuk saling berbantahan yang berakibat pada
kekalahan. “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu
menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (9/46)

.

Dr. Yusuf al-Qardhawi di harian al-Wafd Mesir edisi Kamis (27/07) telah
menegaskan bahwa perlawanan Libanon adalah jihad syar’i, sama
kedudukannya dengan jihad di Palestina. Oleh karena itu, wajib bagi
setiap muslim untuk membantu perlawanan ini melawan penjajah Zionis Israel.

Dalam pernyataan khusus kepada Islamonline, Jum’at (28/07), para ulama
Islam mengingatkan keterlibatan sebagian ahli fiqih dan para mufti dalam
permainan politik. Mereka menyerukan agar para ulama memperhatikan
prinsip-prinsip syara’ yang hanif ini dalam fatwanya. Mereka menegaskan
pengharaman memberikan bantuan kepada perlawanan Islam di Libanon adalah
pemahaman yang salah tentang Islam

.

Dalam kaitan ini, Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimun Mesir juga menolak fatwa
yang mengharamkan dukungan kepada Hizbullah dalam pertempuran melawan
penjajah Israel.

Wakil Mursyid Ikhwan Syaikh Muhammad Habib mengatakan, “Saat ini bukan
waktunya mengeluarkan fatwa yang seperti ini.” Dia menambahkan bahwa
fatwa semacam itu memberikan stigma bahwa di sana ada bahaya syi’ah yang
mengancam kawasan dan menjadi alat justifikasi untuk tidak memberikan
dukungan kepada perlawanan Libanon. Habib mengungkapkan, fatwa semacam
ini, untuk saat ini, justru menciptakan perpecahan di dunia Arab dan
Islam

.

JUMAT, 29 JULI 2011

Metodologi Dakwah “Wahabi Menentang Syiah”. Disamping kekhasannya memudahkan menyatakan “Pengkafiran atau Bid’ah” kepada Umat Islam lainnya.


Jika kita hendak memberikan apresiasi terhadap Wahabi dalam satu kalimat, dengan mengamati jumlah dana yang digunakan, dan gerak kerja Wahabi, maka sesungguhnya Wahabi dapat kita katakan sebagai sebuah pusat kebudayaan yang sangat utuh di mana umat Kristiani sekalipun tidak memiliki gerakan yang seperti mereka miliki.METODOLOGI WAHABY DALAM MENENTANG SYIAH.Menurut Kantor Berita ABNA, berikut terjemahan ringkas dari pembahasan Ayatullah Husain Qazvini mengenai metodologi dakwah Wahabi untuk menentang Syiah yang disampaikan dalam ceramahnya di Mushalla Qom.Ayatullah Husaini Qazwini
Metodologi Dakwah Wahabi Menentang Syiah.
Bertempat di Mushalla Qom, 11/08/1389.
بسم الله الرحمن الرحيمPokok pembahasan kita pada hari ini ialah metodologi terbaru propaganda Wahabi.
Jika kita hendak memberikan apresiasi terhadap Wahabi dalam satu kalimat, dengan mengamati jumlah dana yang digunakan, dan gerak kerja Wahabi, maka sesungguhnya Wahabi dapat kita katakan sebagai sebuah pusat kebudayaan yang sangat utuh di mana umat Kristiani sekalipun tidak memiliki gerakan yang seperti mereka miliki.4 tahun lalu dalam kunjungan ziarah saya ke Mekkah, saya sempat mengunjungi salah satu pusat kebudayaan Wahabi bernama رابطة العالم الإسلامية di mana setiap orang dapat melihatnya ketika masuk ke Mekkah dari Madinah, yang pertama kali terlihat adalah sebuah gedung putih yang mereka letakkan papan tertera رابطة العالم الإسلامية, saya sendiri kurang lebih tujuh jam berkeliling di dalam gedung tersebut sekedar untuk melihat lebih dekat berbagai bagian methodologi propaganda, risalah dan percetakan buku yang mereka miliki. Ringkasnya pusat رابطة العالم الإسلامية sama seperti Kantor Pusat Tablighat Islami dan Sazman Tablighat Islami kita. Inilah perbedaan yang ada pada pusat kebudayaan mereka. Namun dalam keorganisasian PBB, mereka tercatat sebagai anggota resmi dalam UNESCO dan UNICEF. Salah seorang staff mereka berkata, “Belum ada satupun negara yang di dalamnya tidak ada kantor cabang atau perwakilan dari kami.” Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa gerakan mereka yang utama adalah membantu anak yatim dan golongan miskin.Para hadirin sekalian mesti tahu, metodologi propaganda hari ini sangat jauh berbeda dengan zaman yang lalu. Dahulu tatkala alat cetak telah ditemui, surat kabar dan buku telah digunakan untuk memindahkan budaya ke wilayah yang lain, dan dari generasi ke generasi. Namun hari ini, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi pada manusia seperti bidang ‘cyber’, internet, satelit dan sms, pihak penentang dan musuh kita memanfaatkan ruang yang ada tersebut semaksimal mungkin.

Statistik Propaganda Wahabi

Dalam statistik yang ditunjukkan oleh situs web http://www.isl.org.uk bahwa terdapat lebih dari 40.000 halaman situs web Wahabi yang selama 24 jam aktif menentang Syiah. Diantara situs mereka yang paling menunjukkan bentuk kegigihan dan keprofesionalan mereka adalah halaman situs web Faisal Nur http://www.fnoor.com yang dibuat dan dioperasikan oleh seorang Wahabi di Arab Saudi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa yang mendanai segala bentuk operasional situs tersebut adalah putera mahkota Arab Saudi sekarang yaitu Amir Naif. Dalam halaman web tersebut ada lebih dari 40 ribu judul kitab dan makalah menentang Syiah, dan boleh dikatakan situs tersebutlah yang merupakan situs induk dan rujukan situs-situs Wahabi lainnya. Hampir kesemua situs berbahasa Arab yang menentang Syiah membuat tautan link dengan situs tersebut. Bahkan situs anti Syiah berbahasa Persia seperti Sunni News, Sunni Online dan Islam Teks, sebahagian besarnya memosting materi-materi yang lancang dalam menentang Syiah, serta mempropagandakan penghinaan dan caci maki yang merujuk dari situs tersebut.

Dalam berita-berita pekan lalu, laporan online menurunkan berita mengenai seorang peneliti Kanada yang menyebutkan bahwa satu dari 2 situs website Islam adalah berkaitan dengan Wahabi bahkan sampai ada yang berlindung dibalik pusat pengajian kebudayaan Ikhwanul Muslimin.

Sementara dalam perjalanan saya ke Jerman dan Belanda, saya berkesempatan membuka halaman-halaman situs dari internet teman baik saya yang membantu selama perjalanan di sana. Salah satu perkara yang mengherankan saya adalah tentang Imam Mahdi yang dinantikan, ada 1,5 juta situs dalam internet yang membahas hal tersebut itu. Tentu saja hal tersebut sangat mencengangkan, 1,5 juta situs tentu saja angka yang sangat fantastis. Meskipun membahas tentang Imam Mahdi afs namun pada hakekatnya situs-situs tersebut bertujuan untuk menghentikan laju dakwah Syiah. Untuk hal yang sederhana ini saja, kita bisa memahami betapa gigihnya mereka untuk menentang Syiah dengan berbagai kemudahan fasilitas yang mereka punyai. Hal ini dapat dirujuk dalam halaman web universitas Amir Kabir سايت دانشگاه امير كبير.

Propaganda Wahabi Melalui Stasiun-stasiun TV

Sekarang ini, dari 1800 saluran satelit yang aktif di kawasan Timur Tengah ini, hampir 300 saluran satelit yang diisi dengan acara dan program menentang Ahlul Bait.

Mungkin mendengar perkara ini dianggap biasa, menyatakan statistik liputan dan pendengarnya sangat mudah. Namun anda semua lihatlah apa hasil kerja-kerja mereka dalam masalah propaganda dan kebudayaan? Sementara apa pekerjaan kita? Akhirnya kerja اتحاديه تلويزيون‌هاي اسلامي mampu dilaksanakan, yaitu pada 2 pekan lalu sebelum persidangan di Tehran, mereka telah mengumpulkan 182 radio dan stasiun-stasiun TV lokal.

Dalam beberapa saluran satelit, atas nama membela Ahlul Bait dan mempertahankan Wilayah Faqih sekelompok orang mengaku pengikut Syiah dan pelajar agama menghantam Ahlusunnah dan menyerang mereka yang biadap terhadap kesucian Ahlul Bait. Namun hasilnya justru semakin mencoreng nama Syiah dan terjadi fitnah yang dahsyat. Kami telah mendengar bahwa dalam kongres Amerika pada tahun 2009 secara resminya menyebutnya sebagai ‘Tahun Ikhtilaf Sunni dan Syiah’. Untuk ini mereka telah memperuntukkan anggaran yang khusus. Kita tidak lupa di permulaan perang di Irak, seluruh surat kabar memaklumkan, jika tidak salah, bertanggal 20 atau 19 Esfand 1384 surat kabar Kayhan menulis, “نظاميان آمريكايي در عراق، يك جوان سيد و معمم نوراني را دستگير كرده بودند كه او، همان مهدي موعود است و مدت‌ها او را در زندان شكنجه مي‌كردند تا اعتراف كند او مهدي است” (Tentara AS di Irak menangkap seorang Sayid dan guru; yaitu Imam Mahdi, mereka menyiksanya di penjara sehingga ia mengaku bahwa dirinya Imam Mahdi) setelah mereka mengetahui ayah dan ibu Imam Mahdi itu mempunyai beberapa tanda. Ayah dan ibu individu ini adalah orang lain, mereka sudah berputus harapan dan berjanji akan melaporkan kepada tentara Amerika jikalau menemui tempat persembunyian Al-Mahdi. Begitu juga Bush, presiden Amerika yang lalu, sebuah lembaga ilmu dibentuk yang terdiri dari orang Islam dan Kristiani, teoretisi Gedung Putih telah diterangkan sehingga mereka melakukan penyelidikan tentang Al-Mahdi Maw’ud dan melaporkannya kepada beliau (presiden). Pernyataan ini turut tersebar dalam laporan media setempat, namun tidak diketahui apakah hasilnya.

Tanggal 17 bulan Ramadan tahun lalu, seseorang yang mengaku pelajar agama, namun pada hakekatnya bodoh dan tidak waras telah memprakarsai peringatan hari wafatnya Aisyah di London, Inggris dan melakuan penghinaan dan pelecehan terhadap istri Nabi, Aisyah yang tidak bisa dibernarkan oleh syariah. Perkara kontroversial tersebut mendapat perhatian dari para ulama Marja Taqlid dan Rahbar bahkan 90 ulama besar Syiah di Arab Saudi dan wilayah Timur Tengah, Imam Juma’at dan Jamaah, pusat-pusat pengkajian ilmiyah mengecam dan mengutuknya. Kecaman ini telah dicetak juga dalam surat khabar yang bernama al-Riyadh. Pergerakan yang mempunyai unsur fitnah seperti ini tidak jauh dari upaya Wahabi untuk memberi kesan jelek mengenai Syiah. Individu seperti ini telah mereka perkenalkan, dan biaya serta kemudahan telah diperuntukkan untuknya supaya ia dapat memberikan pernyataan-pernyataan mengenai dunia Islam. Setelah bulan Ramadhan, bersamaan dengan tahun penghinaan (Yasser al-Habib) terhadap Ummul Mu’minin Aisyah, hampir 19 saluran satelit Wahabi senada mengadakan program menentang Syiah. Akibatnya sebahagian saluran Wahabi seperti saluran Wisal dan Safa, saya sendiri menonton program-program mereka selama beberapa menit, saluran ini dengan penuh emosi, mereka menggunakan kata-kata yang paling buruk untuk mencerca para ulama Marja’ Taqlid, bahkan orang perusuh sekalipun tidak akan melakukan seperti ini. Mereka terlalu biadab menghina makam-makam suci para Imam,terutama sekali dalam bulan Ramadhan yang penuh keberkahan tahun itu, saluran-saluran al-Mustaqillah, Hafiz, Safa, Nas, al-Rahmah, al-Hikmah, al-Khalijiyah dan al-Sihhah tidak memiliki rasa segan sedikitpun untuk melakukan pencercaaan dan penghinaan. Jelas apa yang mereka lakukan adalah bentuk konspirasi dan propaganda negatif, terlebih lagi belasan stasiun TV tersebut disiarkan melalui Nil Sat. Alhamdulillah, pemerintah Mesir telah memblokir penyiaran beberapa saluran TV tersebut, seperti saluran Safa dan Wisal, yang telah mempropagandakan permusuhan yang terang-terangan terhadap Syiah dan mazhab Ahlul Bait. Lebih dari itu Arab Saudi dalam setiap penyelenggaraan haji, menyiarkan sebuah saluran radio siaran langsung dalam delapan bahasa yang ditujukan kepada para peziarah Haji Baitullah al-Haram.

Perkara penting lainnya, usaha mereka dalam menyebarkan kebencian dan permusuhan terhadap Syiah juga mereka sebar dalam halaman situs internet. Beberapa laporan dalam situs-situs web mereka yaitu mereka memaklumkan, ‘Saluran satelit Syiah lebih bahaya dari bom nuklir dan atom’. Ini disebabkan mereka tahu saluran seperti al-Kawthar, ulama seperti Ayatullah Kurani atau Sayyid Kamal Haidari ada sebagai berbicara di dalamnya yang berusaha menyingkap kebatilan-kebatilan mereka.

Gelombang kesadaran para pemuda Ahlusunnah dan Wahabi, dan cenderungnya mereka ke arah Syiah.

Dengan mengamati informasi yang telah tersebar, saya selalu berusaha mencari berita-berita online atau satelit yang up date, ataupun berita terbaru melalui perantaraan sahabat-sahabat. Saya ingin mengatakan satu hal bahwa, sampai dalam kurun ke-15 ini, belum ada para pemuda Wahabi dan Ahlusunnah yang lebih cenderung kepada Syiah seperti kurun sekarang. Hampir setiap minggu 10, 20 orang atau lebih dari 30 orang merujuk kepada saya dan secara resmi menyatakan mereka mengikut Mazhab Ahlul Bait. Dalam tahun ini saja, beberapa kali para pemuda Kristiani datang ke Qom dan Maha Besar Allah memberi taufiq-Nya, mereka telah menjadi Syiah di tangan kami dan pulang.

40 hari yang lalu, seorang pemuda berusia 25 tahun datang dari London, beliau adalah seorang da’i dari Baha’i. Beliau terpengaruh dengan kata-kata kami dalam salah satu acara TV dan akhirnya mengambil keputusan untuk bertaubat, lantas mengikuti mazhab Ahlul Bait dan cenderung kepada Syiah.

Penyikapan Syiah terhadap Ahlulsunnah

Dengan tersebarnya propaganda yang dilakukan Wahabi, di beberapa tempat seringkali menghasilkan keputusan yang negatif mengenai Syiah.

Abu Bashir pernah datang menemui Imam Sadiq dan berkata:

Bagaimana cara kita berhadapan dengan Ahlusunnah? Imam berkata: Apakah engkau mempunyai Imam dan yakin mengikutinya? ujarnya: Iya. Imam berkata: Saya adalah Imam kamu, dan keniscayaan bagi kamu mengikuti kami, bermuamalahlah kepada Ahlusunnah sebagaimanaa yang saya lakukan, andainya mereka sakit saya menziarahi mereka. Jikalau mereka meninggal dunia, saya akan mengikut perarakan jenazah mereka. Sekiranya… (seterusnya sampai akhir riwayat)

Karana itu kami mengatakan beberapa kali. Apakah yang hendak terjadi kepada Syiah jikalau para Imam tidak berpesan supaya kita beradab santun dengan Ahlusunnah?. Apa yang berlaku jika para marja kita tidak melarang kita dari mencerca?

Menyebarkan Penentangan Ulama Syiah terhadap Mazhab Syiah.

Salah satu bentuk propaganda baru Wahabi adalah menyebarkan perkara-perkara yang menentang Syiah dari ulama-ulama Syiah sendiri. Dalam 2 – 3 minggu belakangan ini, isu ini telah didanai. Jika anda menonton saluran-saluran Wahabi Safa, Wisal, dan Nur selama sepekan, anda akan dapati salah satu perkara yang mereka singgung ialah ada di kalangan para ulama Syiah yang membicarakan perkara yang menentang Syiah. Contohnya seperti apa yang dikatakan sebagai Dr. Musa Musawi, cucu al-Marhum Sayyid Abul Hasan Esfahani, mereka telah banyak mengeluarkan biaya di dalam halaman site, satelit dan kitab-kitabnya. Beliau telah menulis kitab yang bernama As-Syiah Wa Al-Tashih. Ayatullah al-Uzma Subhani menukilkan kepada saya dengan berkata, «من خودم از راديو شنيدم كه صدام مي‌گفت: اگر اين 8 سال جنگ ما عليه ايران، هيچ فايده‌اي نداشت جز اين‌كه اين كتاب توسط يك مرجع زاده نوشته شد، براي ما كافي است». (Saya sendiri mendengar Saddam mengatakan, jika dalam perang 8 tahun kita menentang Iran dan tidak memberi faedah apa-apa, cukuplah kemenangan bagi kita sebuah kitab yang ditulis oleh cucu seorang Marja).

Kitab ini dari awal sampai halaman terakhirnya, tidak ada yang lain kecuali penghinaan yang melampaui batas terhadap Syiah dan tempat-tempat sucinya. Wahabi juga turut menyatakan suka citanya dengan kehadiran buku tersebut. Salah seorang Marja Taqlid besar yang mungkin sebaiknya tidak usah saya sebutkan nama beliau di sini, beliau terkenal di kalangan penuntut agama sebagai seorang yang bersih, taqwa dan berwilayah. Beliau berkata kepada saya, “Saya tidak akan lupa, Musa Musawi ini di Zaman Syah, ia seorang peminum arak, pezina dan pergi ke club-club malam, dan ia sering bersama seorang artis.” Beliau juga bersama-sama dengan beberapa penari masyhur, memberi cek kepada mereka, lari dari Iran yang kemudian berita mengenai hal tersebut tersebar dalam surat kabar. Ada orang memberitahu kepada saya, “Sudah tentu ia tahu memberi uang kepada mereka ini adalah haram, dan pengeluaran uang tersebut di jalan yang salah. Ia mengatakan, “Beliau dilihat bertemu dengan bekas perdana menteri Syah, dan dikenakan topi di kepalanya, dan ia mengambil sejumlah uang dan melarikan diri”. Sekarang lihatlah golongan Wahabi hari ini memuliakan individu seperti ini, dengan menyamaratakan semua keluarga dan orang yang ada disekelilingnya, orang ini kemudian diperkenalkan sebagai seorang pemikir Syiah di mana dikatakan, “Setelah ia tahu Syiah adalah sebuah mazhab yang sesat, ia menulis sebuah buku yang dinamakan Al-Syiah Wa Al-Tashih.” Dia sekitar 7 sampai 8 tahun yang lalu di Arab Saudi telah menderita penyakit barah akibat banyak meminum arak. Saya pernah menghubungi beberapa orang pamannya dan anak saudaranya di Masyhad, termasuk adik kandungnya di Teheran. Mereka berkata “Kami sangat merasa malu, kami hanya bisa membantah apa yang dia lakukan dan nyatakan bahwa apapun yang dia nyatakan dan lakukan tidak ada lagi sangkut pautnya dengan keluarga”.

Sekarang mereka buat juga membuat ulama boneka, Sayyid Abu al-Fadhl Burqe’i sambil menggelarinya Ayatullah Uzma, kononnya beliau salah seorang ustaz hauzah ilmiyah Qom yang tersohor. Setiap hari rekaman ceramah beliau yang menghina simbol-simbol suci Syiah, penghinaan kepada para ulama marja’ besar Syiah dan ejekan terhadap ziarah para Imam ditayangkan berkali-kali dalam Saluran Nur, sementara dalam saluran-saluran Arab ditayangkan juga biografi dan sejarah latar belakangnya dengan sangat jelas. Memang benar beliau pernah berada di dalam Hauzah, yaitu di zaman Ayatullah Burujerdi, ia mengajar kitab Rasail dan makasib, dan disebabkan kebiadabannya terhadap Ayatullah Burujerdi di dalam Masjid Imam, penduduk Qom telah mengusir dan memintanya keluar dari kota Qom. Beliau pergi ke Tehran dan membina masjid Wazir Daftar. Beberapa ketika beliau di sana, beliau masih meneruskan penghinaan dan pengikut Syiah di sana turut menyingkirkannya. Ia juga pernah menerjemahkan Kitab Ibnu Taimiyah dalam bahasa Persia. Beberapa tahun lalu kami ke Makkah, ketika kami masuk ke Baitullah Al-Haram, bungkusan jilid yang dimasukkan al-Quran kecil ke dalamnya, saya lihat salah satunya mengandungi terjemahan Minhaj Al-Sunnah Ibnu Taimiyah hasil karya Abul Fadhl Burqe’i. Ini benar-benar sebuah skandal. Beliau juga mempunyai hampir 70 karya dan buku. Dari jumlah tersebut hampir 30 kitab yang menyampaikan hal sebenarnya mengenai Syiah dan 40 kitab menentang Syiah. Namun menjelang penghujung usia, beliau menyesal di atas kebiadabannya. Namun penyesalan tidak lagi berguna:

“Dan tidak ada gunanya taubat itu kepada orang-orang yang selalu melakukan kejahatan, hingga apabila salah seorang dari mereka hampir mati, berkatalah ia: “Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ini,” (sedang taubatnya itu sudah terlambat), dan (demikian juga halnya) orang-orang yang mati sedang mereka tetap kafir. Orang-orang yang demikian, Kami telah sediakan bagi mereka azab yang teramat pedih.” (Surah Al-Nisa ayat 18)

Salah seorang sahabat-sahabat terdekat beliau sendiri, Husaini dan Rajani menukilkan dan menulis, “Beliau meninggal karena sebuah penyakit. Kami telah pergi menjenguknya dan beliau membaca surat wasiatnya untuk kami dan berkata: Saya seorang Syiah yang percaya keimamahan dan kemaksuman 12 Imam. Dan saya pernah melakukan kekhilafan”. Ketika beliau dikeluarkan dari Teheran, beliau pergi ke kampung Kun di kawasan Teheran dan tinggal di rumah anak laki-lakinya. Beliau berwasiat: “Jikalau pengikut Syiah mengizinkan, kuburkan jenazahku di dalam perkuburan sanak saudara Nabi Syuaib as semoga baginda Nabi memberikan syafaat kepadaku dan Allah mengampuniku”. Sekarang kelancangan memerangi Syiah atau merusakkan pemikiran para pemuda adalah dengan memutarkan rekaman ucapan pendek beliau. Namun Uthman Khamis seorang pemuka ekstrim Wahabi dan pemikirannya, kelancangannya telah menguntungkan Syiah dan sudah tentu Syiah dalam akidahnya sangat tegar. Ia selalu memperkenalkan sosok Sayyid Abul Fadhl Burqe’i sebagai seorang tokoh Syiah terkemuka di mana sebelumnya adalah seorang Syiah dan kemudian masuk Sunni. Beginilah cara mereka mereka menebar fitnah dan kebohongan. Sekiranya mereka tidak menemukan seorang watak Syiah yang sesuai dengan keinginan mereka, mereka pasti akan menciptanya.. Contohnya berbagai kitab yang dicetak di Arab Saudi dengan nama Ayatullah al-Uzma Subhani dan Allamah Askari. Ayatullah al-Uzma Subhani menulis dalam sepucuk surat kepada Dr. Qardawi: “Apakah anda tidak punya tindakan apa-apa mengenai kenyataan di Arab Saudi dan Emirat, yang tidak berlalu satu hari melainkan ditulis sebuah risalah atau buku, atau makalah yang menyerang Syiah dan malangnya, ia sentiasa mengulang tuduhan-tuduhan palsu di mana puluhan kali jawaban sudah diberi…, mereka masih tidak cukup dengan ini, buku-buku mengkritik Syiah dengan nama Ulama Syiah telah dicetak dan disebarkan. Sehingga sebuah kitab yang mengatasnamakan saya, dan sebuah kitab dengan nama al-Marhum Allamah Askari telah di cetak dan diterbitkan. Kedua-duanya diperkenalkan seorang muballigh Wahabi dan pengkritik Syiah”. Yaitu mereka tidak ragu sedikitpun melakukan kebohongan dengan menciptakan tokoh fiktif atau mencaplok nama pemuka Syiah yang menjadi pengkritik Syiah. Sehingga seorang saudara kita dari Afganistan menelepon saya dan berkata, “Di sini mereka telah menulis sebuah kitab yang mengandungi kata-kata anda yaitu Qazwini telah menjadi Ahlusunnah dan menentang Syiah dan risalah-risalah telah mereka sebarkan”. Saya pun berkata, “Jikalau suara Ayatullah al-Uzma Subhani dan Allamah Askari tidak sampai ke seluruh dunia serta terbatas, saya dengan berkah Ahlul Bait as hadir bergiat dalam dialog Syiah – Wahabi, dan di dalam saluran Al-Mustaqillah, Nur, Salam dan Wilayah tidak sampai seminggu yang lalu saya menjalankan program menentang Wahabi dan mempertahankan Syiah”. Mereka sampai ke tahap ini melakukan upaya penentangan Syiah. Atau seperti buku Lillah Thumma Li Tarikh (telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah”), Arab Saudi telah mencetaknya dengan edaran jutaan eksemplar dan disebarkan ke seluruh negara-negara Islam. Dalam pertemuan saya dengan salah seorang ulama besar di Qatif di Makkah al-Mukarramah, ia berkata, “Di kawasan Qatif dan Ahsha, buku ini diedarkan kepada pemuda-pemuda Syiah dari sebuah kios. Di mana saja mereka lihat orang beratur membeli roti atau selainnya, mereka akan bawa serta mengedarkannya dengan gratis”. Di Kuwait 100 ribu naskah buku ini telah dicetak dan disebarkan kepada khalayak ramai. Salah seorang ulama terkenal Syiah Kuwait, (bernama) Muhri secara resmi memberi peringatan kepada kerajaan Kuwait, “Jikalau penyebaran buku ini tidak dicegah, Kuwait akan menjadi Lebanon kedua”. Mereka serta-merta kemudian melakukan pelarangan penyebaran buku tersebut. Penulis buku ini juga adalah yang dikatakan sebagai Ayatullah Sayyid Husain Musawi, salah seorang marja Syiah terkenal di Najaf (sebagaimana yang tertulis dalam buku tersebut) Ia pernah mengajar di sana selama beberapa tahun namun karena mendapat keragu-raguan, lantas pergi mencari jawaban dan berguru kepada Ayatullah al-Uzma al-Khui, Ayatullah al-Uzma Sadr dan ulama-ulama besar Syiah lainnya. Namun kesemua ulama-ulama Syiah tersebut tidak mampu menjawab keraguannya sehingg ia kembali kepada Ahlusunnah dan menjadi Wahabi. Hari ini Wahabi begitu mengagung-agungkan Sayyid Husain Musawi dan bukunya dicetak dan diedarkan ke negara-negara Islam dengan berjuta-juta naskah. Walau bagaimana pun banyak kitab telah ditulis untuk menyangkal bukunya. Salah satu buku terbaik ialah dikarang oleh ulama terkenal Saudi yang bernama Syaikh Ali Al Muhsin yang pernah menimba ilmu di Hawzah Ilmiyah Qom. Kitab ini berjudul ‘Lillah Thumma Lil Haqiqah’. Hampir 15 kitab telah menjawab buku tersebut, dan ada di dalam beberapa situs .

Di Pakistan, 3 juta Pelajar Wahabi Direkrut untuk Menyebarkan Ajaran Wahabi

Di Afghanistan, terdapat 11 ribu madrasah dibangun oleh Wahabi dan untuk Negara ini saja lebih dari 70 ribu pelajar Wahabi yang direkrut.

Sebelum ini, pemimpin pelajar Ahlusunnah atau guru dari kota Timur dan Selatan telah dibawa ke Madinah untuk belajar di Universitas Madinah. Saya berusaha mengenal lebih dekat pembelajaran di sana. Tatkala kepergian mereka (pelajar) ke Arab Saudi menghadapi masalah, Saudi telah membina madrasah di Emirat yang menempatkan 12 ribu pelajar. Beberapa kali pelajar dari Iran, Afghanistan dan Tajikistan dibawa ke Emirat. Mereka dibekali dengan uang yang sangat banyak ketika tabligh dan pulang ke kampung halaman mereka. Para hadirin sekalian, demikianlah gambaran besar dari berbagai upaya mereka untuk menghancurkan Syiah dan menyebarkan mazhab mereka.

««« و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته »»»

NU Lebih Dekat Dengan Syi’ah ketimbang “Wahabi Takfir Penghancur NU”

ORGANISASI YANG CENDERUNG MENOLAK PERSATUAN SUNNI SYIAH

Berdasarkan “isi kajian dan pemahaman serta perspektif” beberapa organisasi, perorangan atau website di tanah air yang cenderung tidak “memilih” untuk menemukan upaya “Persatuan Sunni Syiah” dan bahkan “memperjelas perbedaan yang terkesan mustahilnya Sunni Syiah bersatu” karena memiliki referensi dan pegangan masing-masing yang menyebabkan sulitnya ditemukan titiktemu, antara lain sebagai berikut:1. Yayasan Al Bayinat : Surabaya
2. Persatuan Islam: http://persis.or.id
3. Ponpes Sidogiri: Jawa Timur
4. Arrahmah. http://arrahmah.com/read/2011/06/03/13087-sunni-syiah-tidak-mungkin-bersatu.html
5. http://assunnah-qatar.com/component/content/article/659-bahaya-syiah-terhadap-islam.html
6. http://ustadzkholid.com/manhaj/bahaya-syiah-sebuah-realita/
7. http://www.syiahindonesia.com
8. http://www.hakekat.com
9. http://maulana2008.multiply.com/
10. ban syiah
11. gen syiah
12. hakekat syiah
13. syiah bukan islam
14. syiah indonesia
15. http://www.voa-islam.com
16. http://www.kabarmuslim.com

Antara Muhammadiyah dan NU, Mereka Bicara “Wahabi” Sebetulnya Apa yang Dicari?

OPINI | 31 January 2012 | 08:07Dibaca: 340 

Innalillahi wa inna illaihi roji’un.

Musuh-musuh Islam telah berhasil mengadu domba Nahdlatul Ulama dengan apa yang mereka katakan Neo Wahabi dan mengungkit kembali masalah hilafiyah dengan Muhammadiyah yang selama ini telah berhasil dihindari.

Musuh-musuh Islam hari ini berpesta pora.

Indonesia, Negara dengan pemeluk Islam terbesar didunia. Kaum Yahudi paling takut Kekuatan Islam diNegeri ini bersatu. Agen Mossad / CIA yang ada di Negeri ini diperkirakan yang terbesar dibanding yang disusupkan di Negara-negara berpenduduk Islam lainnya.

NU dan Muhammadiyah termasuk yang sangat diperhatikan, Dua organisasi merupakan sasaran garapan utama mereka.

“ Kendalikan dua Organisasi terbesar ini, berapapun biayanya. Bila secara organsai tidak bisa dikendalikan, kendalikan tokoh-tokohnya , selama mereka masih miskin dan butuh dana, maka kedua organisasi ini akan dapat dikendalikan.

Dekati NU dengan program “ Yasinan – Tahlilan dan Barzanji “ mereka akan dapat dikuasai. Kobarkan ketakutan mereka dengan gerakan pemurnian Islam. Fasilitasi masuknya faham gerakan pemurnian, namakan mereka Faham Neo Wahabi, takuti NU ( organisasi Islam terbesar di Indonesia ) dengan cara menanamkan pengertian Bahwa Wahabi adalah ancaman bagi NU. Dengan sedikit biaya ( cukup membiayai tokohnya ) NU akan memerangi Wahabi dengan sendirinya.

Inilah mengapa K.H. Said Agil Syiraj dengan gigih menytakan perang pada Wahabi. Bukan karena Wahabi itu sendiri, tapi memang sudah dirancang oleh kekuatan yang tidak mereka sadari.

Apakah Muhammadiyah terbebas dari hasutan Yahudi ini ?

Ternyata tidak!

Sebagian besar tokoh organisasi ini yang terjun ke Dunia Politik juga sudah bisa dikendalikan.

Saya teringat pesan Almarhum Ayah saya .

Teruskan dan selesaikan sampai tujuan da’wah “ Walisanga “. Jadilah sopir yang baik, antarkan umat sampai tujuan, jangan engkau jadikan kendaraanmu berubah jadi tujuan.

Almarhum Ayah saya seorang Ulama Nahdliyin, dengan cara yang sangat santun mencoba membawa muridnya , meninggalkan Tahayul, Bid’ah dan Khurafat melalui da’wah selangkah demi selangkah.

Rasulullah semula tidak mengharamkan Hamr, sebelum umatnya siap untuk meninggalkan secara penuh.

Tahlilan, Yasinan dan Barzanji menurut Ayah saya bukan bagian dari ibadah, tapi merupakan methoda pendekatan da’wah yang paling baik.

  1. Tahlilan adalah methode pendekatan perubahan Budaya Musyrik dan Paganisme menuju Tauhid. Jangan dijadikan bagian dari Ibadah Mafdhah.
  2. Yasinan adalah pendekatan untuk senang membaca Al Qur’an, jangan berhanti pada Yasinan tapi harus diteruskan menuju Al Qur’an sebagai pegangan hidup.
  3. Barzanji , adalah bagian dari Seni Budaya Islam, kembangkan sebagai Seni Budaya yang mampu membendung Budaya Kafir yang cenderung menyesatkan. Tapi jangan sekali-kali dijadikan bagian dari Ibadah karena posisinya akan berubah menjadi salah satu dari Bid’ah.

Galang uhuwah, tegakkan syari’ah.

 

NASIONAL

Senin, 06 Februari 2012 , 01:31:00

BATAM -
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia. Sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi. 

Hal ini disampaikan Said AqAqilil dalam acara bedah buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama yang digelar GP Ansor di Kampus Politeknik Batam, Minggu (5/2). “Wahabi mengajarkan ektrimisme dan kekerasan. Ajaran ini selangkah menuju terorisme,” kata Aqil.

Menurutnya, Islam merupakan agama yang terintegrasi dengan tradisi dan budaya santun dan cinta damai. Sehingga Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi mengajarkan jalan jihad melalui aksi terorisme.

Dia mengisahkan, dalam sejarah Nabi Muhammad SAW tidak pernah ada perintah menghancurkan berhala. Bahkan Nabi sering sedih ketika mendengar kabar kaum agama lain mengalami kekalahan dalam perang. Atau ketika umat Yahudi mengatakan Yesus merupakan anak haram. “Sehingga kalau saat ini ada kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan berarti mereka tidak sedang menjalankan ajaran Islam,” katanya.

Aqil memang tidak mengatakan aliran Wahabi sesat. Namun dia mengecam sikap aliran Wahabi yang mengharamkan tahlilan dan amalan-amalan dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad.

“Silahkan berwahabi, silahkan melarang tahlilan. Tapi jangan di Batam atau di Indonesia. Silahkan pergi ke Afganistan, Pakistan dan negara lainnya,” kata Aqil.

Meski begitu Aqil menilai aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

“Kalau Islam tetap toleran, maka Islam akan hidup selamanya. Tapi kalau mengedepankan ajaran-ajaran yang ekstrim dan kekerasan, sebentar lagi Islam bisa bubar,” katanya.

Sebelumnya, buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya” mendapat kritik dari berbagai kalangan. Buku karangan Syaikh Idahram ini dituding membela Syi”ah yang dianggap sesat. Selain itu buku ini juga dinilai mengajarkan rasisme dan menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim.

MINGGU, 31 JULI 2011

KENANGAN Konferensi Persaudaraan dan Persatuan Islam (DI MASA PBNU DIPIMPIN OLEH K.H. HASYIM MUZADI)


Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) (kanan) Djoko Suyanto bersama Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi (tengah) dan Ulama Iran Muhammad Ali Al Taskhiri (kiri) saat membuka Konferensi “Persaudaraan Muslim Dunia” di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (19/12). Konferensi yang berlangsung selama dua hari,19-20 Desember tersebut mengumpulkan Ulama dan Cendikiawan muslim lintas Mazhab dari sejumlah negara islam di dunia dan merupakan bagian dari kegiatan pra-Muktamar ke-32 NU yang akan berlangsung di Makasar.Konferensi Persaudaraan dan Persatuan Islam yang diprakarsai NU di hotel Sultan, Jakarta berakhir hari minggu 20/12/2009.

Turut serta mendamping Ayatullah Taskhiri sejumlah rombongan dari Republik Islam Iran, di antaranya Hujjatul Islam wal Muslimin Qummi, Hujjatul Islam wal Muslimin Thahiri dan DR. Iftikhari, wakil DPR Iran, DR. Ali Zodeh, asisisten DPR dan Muhammad Hasan Tabra’iyan, asisten urusan internasional Majma Taqrib. Begitu juga konferensi ini disemarakkan dengan kehadiran para cendekiawan dunia Islam, di antaranya: Abdul Fatah al Bazeh, mufti Damaskus, Syeikh Ahmad Zain, ketua ikatan ulama Lebanon.

Dalam awal acara penutupan, Ayatullah Taskhiri menyampaikan pidatonya dimana beliau menyinggung masalah system politik dan ekonomi Islam di kancah dunia dewasa ini. Beliau memohon diwujudkannya persatuan dan solidaritas seluruh ulama Islam untuk mengimplementasikan suatu sistem yang berdasarkan dasar-dasar Islam dan prinsip-prinsip persaudaraan serta persatuan.

Seksen Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam lebih jauh menegaskan akan potensi sumber alam dan pelbagai kekayaan yang dimiliki negara-negara Islam dimana hal tersebut merupakan miliki bersama umat Islam. Semua umat Islam bertanggung jawab atas nasib sesama saudara Muslim mereka, tegasnya.

Sementara itu. Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi dalam orasinya menegaskan perlunya kaum Muslimin merealisasikan persatuan dan kerja sama antara negara-negara Islam di bidang ekonomi dan perdagangan.

Hasyim Muzadi yang masuk kategori 500 tokoh Muslim berpengaruh di dunia ini lebih jauh menekankan bahwa problem utama dunia Islam saat ini adalah kefakiran dan kebodohan, dan ilmu tanpa amal adalah batil dan tertolak, tandas beliau.

Di akhir penutupan konferensi ini dibacakan pernyataan oleh Syeikh Ahmad Zein, ketua ikatan ulama Lebanon. Dan dengan demikian konferensi pun berakhir.

MINGGU, 31 JULI 2011

H. JUSUF KALLA SEBAGAI PEMBICARA DALAM DISKUSI PALESTINA DI UNIVERSITAS HASANUDDIN


MAKASSAR, 5/6/2010 – DISKUSI PALESTINA. Mantan Wapres Jusuf Kalla (kiri), berbincang dengan Ulama Iran, Ayatollah Marve (kanan), Sayed Mohsene Khandan (dua kanan) dan perwakilan duta besar Iran, Faiyas (dua kiri) di kampus Universitas Hasanuddin Makassar, Sabtu (5/6). Jusuf Kalla sebagai pembicara pada seminar ineternasional tentang perdamaian untuk Palestina.FOTO ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/Koz/foc/10.
5/6/2010 14:50

MINGGU, 31 JULI 2011

Kenangan menjelang setahun : KONFERENSI INTERNASIONAL HAJI PBNU-REPUBLIK ISLAM IRAN


Para ulama Iran dan pengurus NU mengadakan pertemuan khusus sesaat sebelum acara konferensi
Ayatullah Ali Tazkiri menyampaikan pidato pembukaan mewakili Iran
Ayatullah Ali Tazkiri (kanan), Qazi Asgar, wakil pemimpin tertinggi (Wali Fakih) dalam urusan haji Iran (tengah), dan KH Said Aqil Siradj
KH Said Aqil Siradj mendapatkan cenderamata dari Iran
Ayatullah Ali Tazkiri sedang berbincang dengan Rais Syuriyah PBNU KH Syaifuddin Amsir
Para peserta berfoto bersama seusai acara penutupanRekomendasi Konferensi Internasional
“Fungsi Haji dalam Penguatan Kerjasama dan Persatuan Umat Islam”
HAJJ FUNCTION IN STRENGTHENING AND COOPERATION AND UNITY AMONG MUSLIM
Hotel Borobudur, 2-3 Oktober 2010

Salah satu misi utama Islam adalah untuk membebaskan manusia dari ketidakberdayaan. Ini adalah manifestasi dari nilai Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Oleh karena itu, setiap ibadah mengandung makna yang memiliki pengaruh baik pada tingkat individu atau sosial termasuk ibadah haji.

Oleh karena itu, kami, peserta konferensi internasional tentang fungsi haji dalam penguatan kerjasama dan persatuan umat Islam, yang berkumpul di Jakarta pada tanggal 2-3 Oktober 2010, setelah mendengarkan dan memperhatikan jalannya konferensi, kami merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

1. Menghimbau kepada jamaah haji untuk menginternalisasi kesadaran spiritual dan substansi ibadah haji sehingga jamaah haji bisa menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam ibadah haji dalam kehidupan sosial ketika dan setelah melaksanakan ibadah haji.

2. Meminta kepada pemimpin islam, ulama, elit dan masyarakat Islam agar menjadikan haji sebagai media untuk untuk memecahkan setiap masalah yang dihadapi umat Islam masa kini sehingga pertemuan itu bukan sekedar seremonial tetapi memiliki dampak positif bagi kemajuan dan persatuan umat Islam.

3. Meminta kepada para pemimpin Islam untuk menjadi inisiator dan fasilitator agar pertemuan pemimpin Islam seperti yang dimaksud di atas terlaksana sehingga secara bertahap permasalahan umat Islam dapat terselesaikan.

4. Mengimbau kepada pihak penyelenggara haji atau pemerintah agar memakai momentum haji sebagai sarana untuk memperkuat persatuan dan kesatuan dan membangun kemajuan umat Islam dalam semua aspek.

5. Mendorong negara-negara Islam untuk memanfaatkan momentum haji sebagai sarana saling mengenal potensi masing-masing negara dalam rangka memperkuat kerjasama di bidang politik ekonomi, sosial dan kebudayaan.

6. Mengecam segala bentuk permusuhan terhadap Islam di Barat (islamofobia), pelecehan terhadap al-Qur’an dan Rasul; dan menyerukan adanya perjanjian internasional yang melarang segala bentuk pelecehan terhadap lambang-lambang agama yang suci.

7. Mengecam suara-suara yang memecah belah umat Islam.

8. Mengajak seluruh umat Islam untuk berpartisipasi aktif dalam menanggung beban bencana alam yang tejadi di Pakistan dan di negara-negara muslim yang lain untuk menunaikan kewajiban saling menolong dan solidaritas umat Islam.
9. Meminta kepada pihak-pihak terkait untuk memperhatikan rekomendasi ini dan membuat langkah-langkah strategis untuk menindaklanjutinya agar rekomendasi ini tidak sekedar tinta di atas kertas.

Jakarta, 3 Oktober 2010

Sumber : http://www.nu.or.id/

.

BAHAYA DARI “PENGKAFIRAN’ TERHADAP SESAMA MUSLIM SEBAGAI VIRUS YANG MELEMAHKAN ISLAM

kEMAJUAN tEKNOLOGI INFORMASI BISA DIMANFAATKAN SECARA POSITIF MAUPUN SEBALIKNYA. Salah satu gerakan dalam Dunia Islam saat ini yang PALING SULIT menyamakan PERSEPSI dengan “Saudara Muslim Lainnya” yang berbeda MAZHAB adalah “Pemahaman yang bersumber dari ajaran Muhammad bin Abdul Wahab”. Gerakan ini sejatinya memiliki potensi besar untuk memecahbelah umat Islam dengan jaringannya yang DAHSYAT.
Sedikit perbedaan saja bisa mengarah pada tuduhan, Bid’ah atau bahkan Pengkafiran.
Namun yang jelas, sejatinya ketika “seseorang telah meyakini keesaan Allah SWT dan Meyakini Rasulullah Sayyida Muhammad SAW sebagai Rasul Penutup para Nabi” maka mereka telah masuk ke dalam benteng ISLAM, dimana konsekuensi “menjadi Haram diganggu kehormatan, harta, jiwa/nyawanya”.Lalu Bagaimana dengan “JEJAK SAUDARA KITA YANG MENJADIKAN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB SEBAGAI SOKO GURU DALAM BERISLAM”?Jangankan terhadap orang yang berlainan mazhab –konon Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengaku sebagai penghidup ajaran dan metode (manhaj) Imam Ahmad bin Hambal sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyah- dengan sesama mazhabpun turut disesatkan. Bagaimana ia tega mengkafirkan orang yang se-manhaj dengannya? Jika rasa persaudaraan terhadap orang yang se-manhaj saja telah sirna, lantas bagaimana mungkin ia memiliki jiwa persaudaraan dengan pengikut manhaj lain yang di luar manhaj-nya? Niscaya pengkafirannya akan menjadi-jadi dan lebih menggila. Kita akan melihat beberapa contoh dari penyesatan pribadi-pribadi tersebut.————————————————————————————Bukti Lain Pengkafiran Wahhaby;
Muhammad bin Abdul Wahhab dan Pengkafiran beberapa TokohSetelah secara global kita mengetahui beberapa teks ibnu Abdul Wahhab yang membuktikan pengkafirannya terhadap para ulama dan menvonisnya sebagai pelaku syirik. Di sini, pada kesempatan kali ini, kita akan melihat teks-teks lain berkaitan dengan pengkafirannya terhadap para ulama dengan tidak segan-segan lagi menggunakan kata-kata ‘KAFIR’ dalam penvonisan.2- Muhammad bin Abdul Wahhab Mengkafirkan Beberapa Tokoh Ulama

Di sini, kita akan mengemukakan beberapa pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap beberapa tokoh ulama Ahlusunah yang tidak sejalan dengan pemikiran sektenya:
a- Dalam sebuah surat yang dilayangkan kepada Syeikh Sulaiman bin Sahim yang seorang tokoh mazhab Hambali di zamannya. Ia menuliskan: “Aku mengingatkan kepadamu bahwa engkau bersama ayahmu telah dengan jelas melakukan perbuatan kekafiran, syirik dan kemunafikan!…engkau bersama ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu telah berbuat permusuhan terhadap agama ini!…engkau adalah seorang penentang yang sesat di atas keilmuan. Dengan sengaja melakukan kekafiran terhadap Islam. Kitab kalian itu menjadi bukti kekafiran kalian!” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 31)
b- Dalam surat yang dilayangan kepada Ahmad bin Abdul Karim yang getol mengkritisinya, ia menuliskan: “Engkau telah menyesatkan Ibnu Ghonam dan beberapa orang lainnya. Engkau telah lepas dari millah (ajaran) Ibrahim. Mereka menjadi saksi atas dirimu bahwa engkau tergolong pengikut kaum musyrik” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 64)
c- Dalam sebuah surat yang dilayangkannya untuk Ibnu Isa yang telah melakukan argumentasi teradap pemikirannya, Muhamad bin Abdul Wahhab lantas memvonis sesat para pakar fikih (fuqoha’) secara keseluruhan. Ia menyatakan: “(Firman Allah); “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”. Rasul dan para imam setelahnya telah mengartikannya sebagai ‘Fikih’ dan itu yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai perbuatan syirik. Mempelajari hal tadi masuk kategori menuhankan hal-hal lain selain Allah. Aku tidak melihat terdapat perbedaan pendapat para ahli tafsir dalam masalah ini.” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 2 halaman 59)
d- Berkaitan dengan Fakrur Razi –pengarang kitab Tafsir al-Kabir- yang bermazhab Syafi’i Asy’ary, ia mengatakan: “Sesungguhnya Razi tersebut telah mengarang sebuah kitab yang membenarkan para penyembah bintang” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 355). Betapa kebodohan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap karya Fakhrur Razi. Padahal dalam karya tersebut, Fakhrur Razi menjelaskan tentang beberapa hal yang menjelaskan tentang fungsi gugusan bintang dalam kaitannya dengan fenomena yang berada di bumi, termasuk beraitan dengan bidang pertanian. Namun Muhamad bin Abdul Wahhab dengan keterbatasan ilmu dan kebodohannya terhadap ilmu perbintangan telah menvonisnya dengan julukan yang tidak layak, tanpa didasari ilmu yang cukup.

Silahkan para pembaca yang budiman menilai sendiri ungkapan-ungkapan pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab di atas. Lantas apakah layak ia disebut ulama pewaris akhlak dan ilmu Nabi, apalagi pembaharu (mujaddid) sebagaimana yang diakui oleh kaum Wahhaby? Dari berbagai pernyataan di atas maka jangan kita heran jika lantas Muhammad bin Abdul Wahhab pun mengkafirkan –yang lantas diikuti oleh para pengikutnya (Wahhaby)- para pakar teologi (mutakallimin) Ahlusunnah secara keseluruhan (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 53), bahkan ia mengaku-ngaku bahwa kesesatan para pakar teologi tadi merupakan konsensus (ijma’) para ulama dengan mencatut nama para ulama seperti adz-Dzahabi, Imam Daruquthni dan al-Baihaqi. Padahal jika seseorang meneliti apa yang ditulis oleh seorang seperti adz-Dzahabi –yang konon kata Ibnu Abdul Wahhab juga mengkafirkan para teolog- dalam kitab “Siar A’lam an-Nubala’” dimana beliau banyak menjelaskan dan memperkenalkan beberapa tokoh teolog, tanpa terdapat ungkapan pengkafiran dan penyesatan. Walaupun kalaulah terdapat beberapa teolog yang menyimpang namun tentu bukan hal yang bijak jika hal itu digeneralisir. Dan yang perlu digarisbawahi adalah, jelas sekali, jika kita teliti dari konteks yang terdapat dalam ungkapan Muhammad bin Abdul Wahhab, yang ia maksud bukanlah para teolog non musim atau yang menyimpang saja, tetapi semua para teolog muslim seperti Abul Hasan al-Asy’ari –pendiri mazhab ‘Asy’ariyah- dan selainnya sekalipun.

Jangankan terhadap orang yang berlainan mazhab –konon Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengaku sebagai penghidup ajaran dan metode (manhaj) Imam Ahmad bin Hambal sesuai dengan pemahaman Ibnu Taimiyah- dengan sesama mazhabpun turut disesatkan. Kita akan melihat contoh dari penyesatan pribadi-pribadi tersebut:
“Adapun Ibnu Abdul Lathif, Ibnu ‘Afaliq dan Ibnu Mutlaq adalah orang-orang yang pencela ajaran Tauhid…namun Ibnu Fairuz dari semuanya lebih dekat dengan Islam” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 78). Apa makna lebih dekat? Berarti mereka bukan Islam (baca: kafir) dan di luar Islam namun mendekati ajaran Islam. Padahal Muhammad bin Abdul Wahhab juga mengakui bahwa Ibnu Fairuz adalah pengikut dari mazhab Hambali, penjunjung ajaran Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Bahkan di tempat lain, Muhammad Abul Wahhab berkaitan dengan Ibnu Fairuz mengatakan: “Dia telah kafir dengan kekafiran yang besar dan telah keluar dari millah (agama Islam)” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 63)

Bagaimana ia tega mengkafirkan orang yang se-manhaj dengannya? Jika rasa persaudaraan terhadap orang yang se-manhaj saja telah sirna, lantas bagaimana mungkin ia memiliki jiwa persaudaraan dengan pengikut manhaj lain yang di luar manhajnya? Niscaya pengkafirannya akan menjadi-jadi dan lebih menggila.

Kita akan kembali melihat apa yang diungkapkannya kepada pengikut ajaran lain. Jika para ulama pakar fikih (faqoha’) dan ahli teologi (mutakklim) telah disesatkan atas dasar kebodohannya dan kebohongannya dengan mencatut tanpa bukti nama para ulama lainnya –seperti pada kasus di atas- maka jangan heran pula jika pakar ilmu mistik modern (baca: tasawwuf falsafi) seperti Ibnu Arabi pun dikafirkan sekafir-kafirnya. Bahkan dinyatakan bahwa kekafiran Ibnu Arabi yang bermazhab Maliki itu dinyatakan lebih kafir dari Fir’aun. Bahkan bukan hanya sebatas pengkafiran dirinya terhadap pribadi Ibnu Arabi saja, tetapi Ibnu Abdul Wahhab telah memerintahkan (baca: mewajibkan) orang lain untuk mengkafirkannya juga. Dia menyatakan: “Barangsiapa yang tidak mengkafirkannya (Ibnu Arabi) maka iapun tergolong orang yang kafir pula”. Dan bukan hanya orang yang tidak mau mengkafirkan yang divonis Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai orang kafir, bahkan yang ragu dalam kekafiran Ibnu Arabi pun divonisnya sebagai orang kafir. Ia mengatakan: “Barangsiapa yang meragukan kekafirannya (Ibnu Arabi) maka ia tergolong kafir juga”. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 25)

Kini, kita akan melihat satu contoh saja, berkaitan dengan pengkafiran Syiah, mazhab Islam di luar Ahlusunnah. Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi pernah menyatakan: “Barangsiapa yang meragukan kekafiran mereka maka iapun tergolong orang kafir” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 369). Muhammad bin Abdul Wahhab ‘mengaku’ bahwa ungkapan ini berasal dari al-Muqoddasi yang diterima oleh pemikirannya. Padahal Ibnu Taimiyah yang juga tidak suka terhadap Syiah –dilihat dari berbegai buku karyanya- tidak pernah sampai mengeluarkan Syiah dari Islam (pengkafiran), paling maksimal ia telah menvonis Syiah sebagai ahli Bid’ah saja. Atas dasar pengkafiran itulah maka jangan heran jika para pengikut Wahhaby hingga hari ini sangat menentang segala usaha untuk persatuan antara mazhab-mazhab Islam, terkhusus persatuan Sunni-Syiah. Bahkan mencela ulama-ulama Ahlusunnah –apalagi ulama Syiah- yang melakukan usaha tersebut.

Jadi jelaslah dari sini, jangankan Syiah –yang di luar Ahlusunnah- ataupun Tasawwuf, para ulama pakar teologi dan fikih dari Ahlusunnah pun ia kafirkan. Dan jangankan para ulama Ahlusunnah dari empat mazhab –Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali- yang ada, terhadap sesama penghidup ajaran Ibnu Taimiyah pun divonisnya sebagai kafir. Lantas, para pembaca yang budiman, silahkan anda nilai, mungkinkan ajaran sekte pengkafiran semacam ini akan bisa tersebar dengan ‘baik’ sehingga dapat menelorkan ketentraman, apalagi di bumi Indonesia yang menjunjung tinggi tenggang rasa dan jiwa gotong royong? Hanya di tanah Arab badui saja, ajaran ini bisa hidup, karena kekakuan ajaranya. Mungkinkan sekte pengkafiran ini mampu mewakili sebagai ajaran suci Rasul yang dinyatakan sebagai “Rahmatan lil Alaminin”?

BUKANKAH SEMUA UMAT ISLAM SEJATINYA BERSAUDARA ? DAN WAJIB KIRANYA BERDAMAI MELALUI DAKWAH YANG HIKMAH.

SELASA, 26 JULI 2011

Tiga Kota Indonesia Pamerkan Foto-Foto Iran, bertujuan untuk memperkokoh persatuan antara Syiah dan Sunni.

Tiga kota Indonesia menggelar pameran foto karya Jasem Ghazbanpour, yang memperkenalkan seni arsitek Persia-Islam masjid-masjid Iran.Pameran bertema The Elegance of Shadows itu digelar 25 Juli 2011 dan akan dibuka selama dua pekan di Bandung, Bogor, dan Jakarta.Para pengunjung dapat menikmati 40 foto seleksi yang menyuguhkan keunikan desain masjid-masjid di Iran. Penampilan foto-foto tersebut bertujuan untuk memperkokoh persatuan antara Syiah dan Sunni.Foto-foto Ghazbanpour juga dapat dilihat secara online di photochilick.com sejak 26 Juli 2011.Dilahirkan di Khorramshahr, Iran selatan, Ghazbanpour memulai aktivitas seninya di bidang fotography arsitektural dan lebih memfokuskan pada rumah-rumah gaya Persia.Foto-foto landscape dari udara dan arsitektur urban Ghazbanpour juga telah dipublikasikan dalam sebuah buku foto berjudul From the Sky of Iran

.

FATWA ULAMA TENTANG BERBAGAI MAZHAB DALAM ISLAM

Fatwa-Fatwa Resmi Ulama Besar Sunni Berkenaan Mazhab Ja`fari(Syiah Imamiyah)
Universitas Al-Azhar Asy-Syarif yang berada di kota Kairo-Mesir telah menjadi pusat dan kiblat pendidikan bagi masyarakat Ahlus Sunnah. Al-Azhar telah banyak mencetak para ulama dan tokoh Ahlus Sunnah yang kemudian tersebar di segala penjuru dunia.Para alumni al-Azhar dapat bersaing dengan alumni-alumni Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Sudan, Tunis, Moroko, Jordan, Qatar, Yaman dan negara-negara lainnya. Inilah salah satu penyebab al-Azhar menjadi semakin berpengaruh di berbagai negara muslim dunia, sehingga seorang pemimpin al-Azhar menjadi rujukan dan panutan bagi pemimpin perguruan tingi lain di Timur Tengah.Berikut ini beberapa fatwa dari para petinggi al-Azhar berkenaan kebebasan beramal dengan mazhab Ja`fari, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syiah Imamiah Itsna ‘Asyariyah. Kita akan mulai dengan fatwa dari guru besar yang memulai fatwa pembolehan tersebut.
1) Fatwa As Syeikh Al Azhar Mahmud Shaltut

Fatwa Rektor Universitas Al-Azhar, Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut
Pejabat Pusat Universitas al-Azhar
Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang
Teks Fatwa yang dikeluarkan Yang Mulia Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al-Azhar tentang Kebolehan Mengikuti Mazhab Syiah Imamiah

Soal: 
Yang Mulia, sebahagian orang percaya bahawa penting bagi seorang Muslim untuk mengikuti salah satu dari empat mazhab yang terkenal agar ibadah dan muamalahnya benar secara syar’i, sementara Syiah Imamiah bukan salah satu dari empat mazhab tersebut, begitu juga Syiah Zaidiah. Apakah Yang Mulia setuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab Syiah Imamiyah Itsna ’Asyariyah misalnya?

Jawab:
1. Islam tidak menuntut seorang Muslim untuk mengikuti salah satu mazhab tertentu. Sebaliknya, kami katakan: setiap Muslim punya hak mengikuti salah satu mazhab yang telah diriwayatkan secara sahih dan fatwa-fatwanya telah dibukukan. Setiap orang yang mengikuti mazhab-mazhab tersebut boleh berpindah ke mazhab lain, dan bukan sebuah tindakan kriminal baginya untuk melakukan demikian.
2. Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyyah (Syiah Dua Belas Imam) adalah mazhab yang secara agama benar untuk diikuti dalam ibadah sebagaimana mazhab Sunni lainnya.
Kaum Muslim wajib mengetahui hal ini, dan sebolehnya menghindarkan diri dari prasangka buruk terhadap mazhab tertentu mana pun, kerana agama Allah dan Syari’atnya tidak pernah dibatasi pada mazhab tertentu. Para mujtahid mereka diterima oleh Allah Yang Mahakuasa, dan dibolehkan bagi yang bukan-mujtahid untuk mengikuti mereka dan menyepakati ajaran mereka baik dalam hal ibadah maupun transaksi (muamalah).
Tertanda,
Mahmud Syaltut

Fatwa di atas dikeluarkan pada 6 Juli 1959 dari Rektor Universitas al-Azhar dan selanjutnya dipublikasikan di berbagai penerbitan di Timur Tengah  antara lain:
Surat kabar Ash-Sha’ab (Mesir), terbitan 7 Juli 1959.
Surat kabar Al-Kifah (Lebanon), terbitan 8 Juli 1959.
Bagian di atas juga dapat ditemui dalam buku Inquiries About Islam 
oleh Muhammad Jawad Chirri, 
Direktur Pusat Islam Amerika (Islamic Center of America), 1986, Detroit, Michigan.

2) Asy-Syeikh Al-Azhar Al-Marhum Syeikh Salim Busyra

3) Asy-Syeikh Al-Azhar Muhammad Fahham

4)Asy-Syeikh Al-Azhar Abdul Halim Mahmud

5) Fatwa Mantan Mufti Agung Mesir, Nashr Farid Washl, Mengenai “Iqtida” (Mengikuti) Para Pengikut Mazhab Ahlul Bait 

Yang Mulia Profesor Dr. Nashr Farid Washl, Mufti Mesir,
Wassalamu’alaikum wa rahmatulah,
Bagaimanakah pendapat Anda mengenai orang yang bertaklid kepada Imam Ahlul Bait AS?
Jawab:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Sudah maklum bahwa setiap Muslim yang beriman kepada Allah SWT , bersyahadat atas monoteisme (tauhid), mengakui misi Nabi Muhammad SAW, tidak menyangkal perintah-perintah agama dan orang yang dengan sepenuhnya sadar akan rukun-rukun Islam dan salat dengan tata cara yang benar, maka niscaya juga tepat baginya sebagai imam salat jamaah bagi yang lain dan juga mengikuti imamah orang lain ketika melakukan salat sehari-hari meskipun ada perbedaan-perbedaan (paham) keagamaan di antara imam dan makmumnya. Prinsip ini pun berlaku bagi Syiah Ahlul Bait AS.
Kita bersama mereka (Syiah Ahlul Bait) menyangkut Allah, Rasulullah SAW, Ahlul Bait AS, juga para sahabat Nabi Muhammad SAW.
Tidak ada perbedaan di antara kita dan mereka menyangkut prinsip-prinsip dan dasar-dasar syariah Islam juga kewajiban-kewajiban desisif agama.
Ketika Allah SWTmemberikan rahmat-Nya kepada kami sehingga bisa hadir di Republik Islam Iran di kota-kota seperti Tehran dan Qum. Ketika kami menjadi imam salat berjamaah mereka bermakmum kepada kami, begitu juga ketika mereka menjadi imam kami bermakmum kepada mereka.
Karena itu, kami memohon kepada Allah SWT untuk melahirkan persatuan di antara umat Islam, menghapus setiap permusuhan, kesulitan, perbedaan di antara mereka dan mengangkat kesulitan-kesulian yang ada di antara mereka sekaitan dengan fikih dan kewajiban-kewajiban agama yang sekunder.

Wahabi Salafi Hancurkan NU Sedikit Demi Sedikit

Antara Muhammadiyah dan NU, Mereka Bicara “Wahabi” Sebetulnya Apa yang Dicari?

OPINI | 31 January 2012 | 08:07Dibaca: 340 

Innalillahi wa inna illaihi roji’un.

Musuh-musuh Islam telah berhasil mengadu domba Nahdlatul Ulama dengan apa yang mereka katakan Neo Wahabi dan mengungkit kembali masalah hilafiyah dengan Muhammadiyah yang selama ini telah berhasil dihindari.

Musuh-musuh Islam hari ini berpesta pora.

Indonesia, Negara dengan pemeluk Islam terbesar didunia. Kaum Yahudi paling takut Kekuatan Islam diNegeri ini bersatu. Agen Mossad / CIA yang ada di Negeri ini diperkirakan yang terbesar dibanding yang disusupkan di Negara-negara berpenduduk Islam lainnya.

NU dan Muhammadiyah termasuk yang sangat diperhatikan, Dua organisasi merupakan sasaran garapan utama mereka.

“ Kendalikan dua Organisasi terbesar ini, berapapun biayanya. Bila secara organsai tidak bisa dikendalikan, kendalikan tokoh-tokohnya , selama mereka masih miskin dan butuh dana, maka kedua organisasi ini akan dapat dikendalikan.

Dekati NU dengan program “ Yasinan – Tahlilan dan Barzanji “ mereka akan dapat dikuasai. Kobarkan ketakutan mereka dengan gerakan pemurnian Islam. Fasilitasi masuknya faham gerakan pemurnian, namakan mereka Faham Neo Wahabi, takuti NU ( organisasi Islam terbesar di Indonesia ) dengan cara menanamkan pengertian Bahwa Wahabi adalah ancaman bagi NU. Dengan sedikit biaya ( cukup membiayai tokohnya ) NU akan memerangi Wahabi dengan sendirinya.

Inilah mengapa K.H. Said Agil Syiraj dengan gigih menytakan perang pada Wahabi. Bukan karena Wahabi itu sendiri, tapi memang sudah dirancang oleh kekuatan yang tidak mereka sadari.

Apakah Muhammadiyah terbebas dari hasutan Yahudi ini ?

Ternyata tidak!

Sebagian besar tokoh organisasi ini yang terjun ke Dunia Politik juga sudah bisa dikendalikan.

Saya teringat pesan Almarhum Ayah saya .

Teruskan dan selesaikan sampai tujuan da’wah “ Walisanga “. Jadilah sopir yang baik, antarkan umat sampai tujuan, jangan engkau jadikan kendaraanmu berubah jadi tujuan.

Almarhum Ayah saya seorang Ulama Nahdliyin, dengan cara yang sangat santun mencoba membawa muridnya , meninggalkan Tahayul, Bid’ah dan Khurafat melalui da’wah selangkah demi selangkah.

Rasulullah semula tidak mengharamkan Hamr, sebelum umatnya siap untuk meninggalkan secara penuh.

Tahlilan, Yasinan dan Barzanji menurut Ayah saya bukan bagian dari ibadah, tapi merupakan methoda pendekatan da’wah yang paling baik.

  1. Tahlilan adalah methode pendekatan perubahan Budaya Musyrik dan Paganisme menuju Tauhid. Jangan dijadikan bagian dari Ibadah Mafdhah.
  2. Yasinan adalah pendekatan untuk senang membaca Al Qur’an, jangan berhanti pada Yasinan tapi harus diteruskan menuju Al Qur’an sebagai pegangan hidup.
  3. Barzanji , adalah bagian dari Seni Budaya Islam, kembangkan sebagai Seni Budaya yang mampu membendung Budaya Kafir yang cenderung menyesatkan. Tapi jangan sekali-kali dijadikan bagian dari Ibadah karena posisinya akan berubah menjadi salah satu dari Bid’ah.

Galang uhuwah, tegakkan syari’ah.

NASIONAL

Senin, 06 Februari 2012 , 01:31:00

BATAM -

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia. Sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi.

Hal ini disampaikan Said AqAqilil dalam acara bedah buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama yang digelar GP Ansor di Kampus Politeknik Batam, Minggu (5/2). “Wahabi mengajarkan ektrimisme dan kekerasan. Ajaran ini selangkah menuju terorisme,” kata Aqil.

Menurutnya, Islam merupakan agama yang terintegrasi dengan tradisi dan budaya santun dan cinta damai. Sehingga Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi mengajarkan jalan jihad melalui aksi terorisme.

Dia mengisahkan, dalam sejarah Nabi Muhammad SAW tidak pernah ada perintah menghancurkan berhala. Bahkan Nabi sering sedih ketika mendengar kabar kaum agama lain mengalami kekalahan dalam perang. Atau ketika umat Yahudi mengatakan Yesus merupakan anak haram. “Sehingga kalau saat ini ada kelompok-kelompok yang menggunakan cara-cara kekerasan berarti mereka tidak sedang menjalankan ajaran Islam,” katanya.

Aqil memang tidak mengatakan aliran Wahabi sesat. Namun dia mengecam sikap aliran Wahabi yang mengharamkan tahlilan dan amalan-amalan dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad.

“Silahkan berwahabi, silahkan melarang tahlilan. Tapi jangan di Batam atau di Indonesia. Silahkan pergi ke Afganistan, Pakistan dan negara lainnya,” kata Aqil.

Meski begitu Aqil menilai aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

“Kalau Islam tetap toleran, maka Islam akan hidup selamanya. Tapi kalau mengedepankan ajaran-ajaran yang ekstrim dan kekerasan, sebentar lagi Islam bisa bubar,” katanya.

Sebelumnya, buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya” mendapat kritik dari berbagai kalangan. Buku karangan Syaikh Idahram ini dituding membela Syi”ah yang dianggap sesat. Selain itu buku ini juga dinilai mengajarkan rasisme dan menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim.

MENGAPA WAHAB-ISME SANGAT SULIT DIAJAK BERSATU DENGAN MAZHAB SUNNI TERUTAMA MAZHAB SYIAH ?

TIDAK TERHITUNG WEBSITE DARI SAUDARA-SAUDARA KITA YANG MEMILIKI KEYAKINAN YANG SALAH SATUNYA BERAKAR PADA PEMAHAMAN WAHAB-ISME, SELALU DAN SELALU MENYUARAKAN KRITIS KERAS ATAS UPAYA PERSATUAN UMAT ISLAM, TERUATAMA UPAYA MENYATUKAN SEGALA POTENSI YANG DIMILIKI OLEH UMAT MUSLIM BAIK BERMAZHAB SUNNI (HANAFI, SYAFII, HAMBALI,MALIKI) DENGAN MAZHAB SYIAH (JA’FARIAH/IMAM 12 DAN ZAIDIYAH).NAMUN YANG JELAS, SAAT INI GERAKAN DARI UMAT ISLAM YANG MENGHENDAKI PERSATUAN TRENNYA SEMAKIN BERKEMBANG.
KARENA SUATU SAAT NANTI, –DIAKUI ATAU TIDAK, DIYAKINI ATAU TIDAK– UMAT ISLAM AKAN BERSATU DIBAWAH PANJI-PANJI YANG DIPIMPIN OLEH “PEMIMPIN ISLAM SEDUNIA” YAITU “IMAM MAHDI YANG MERUPAKAN KETURUNAN DARI SAYYIDINA AR=RASUL MUHAMMAD SAW”.JADI KALAU BERBICARA STRATEGIS, –HANYA ORANG YANG ENGGANLAH– YANG TIDAK AKAN BERGABUNG DALAM “PERSATUAN PEMERINTAHAN ISLAM GLOBAL” DIBAWAH IMAM MAHDI.NAMUN, TIDAK ADA ISTILAH TERLAMBAT UNTUK BELAJAR…DAN BELAJAR LAGI
UNTUK MENERIMA KONDISI DAN KEADAAN MASING-MASING SAUDARA MUSLIM KITA…….
SEMUA ISLAM JAYA MELALUI PERASAAN SENASIB, PERSAUDARAAN DAN BERLOMBA MERAIH RAHMAT ALLAH AZZA WAJALLA.

MENGAPA WAHAB-ISME CENDERUNG SULIT BERSATU DENGAN SUNNI TERUTAMA SYIAH?


BERIKUT INI AKAN DITAMPILKAN BEBERAPA TULISAN TENTANG SEJARAH KELAHIRAN GERAKAN WAHAB-IME DIDUNIA ISLAM.1) SEJARAH HITAM KAUM WAHABIOleh: MN HarisudinSejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Hanya saja, kali ini, karena keterbatasan space, saya akan membatasi tulisan ini pada bahasan kutub ekstrem yang pertama, Wahabi. Pun bahwa saya akan membatasi pembahasan Wahabi secara khusus pada sejarah kelamnya di masa lampau, belum pada doktrin-doktrin, tokoh-tokohnya atau juga yang lainnya. Saya berharap bahwa fakta sejarah ini akan dapat kita gunakan untuk memprediksi kehidupan sosial keagamaan kita di masa-masa yang akan datang. Karena bagaimanapun juga, apa yang dilakukan oleh kaum Wahabi saat itu merupakan goresan noda hitam. Goresan noda hitam inilah yang kini mengubah wajah Islam yang sejatinya pro damai menjadi sangat keras dan mengubah Islam yang semula ramah menjadi penuh amarah.

***

Sebagaimana dimaklumi, kaum Wahabi adalah sebuah sekte Islam yang kaku dan keras serta menjadi pengikut Muhammad Ibn Abdul Wahab. Ayahnya, Abdul Wahab, adalah seorang hakim Uyainah pengikut Ahmad Ibn Hanbal. Ibnu Abd Wahab sendiri lahir pada tahun 1703 M/1115 H di Uyainah, masuk daerah Najd yang menjadi belahan Timur kerajaan Saudi Arabia sekarang. Dalam perjalanan sejarahnya, Abdul Wahab, sang ayah harus diberhentikan dari jabatan hakim dan dikeluarkan dari Uyainah pada tahun 1726 M/1139 H karena ulah sang anak yang aneh dan membahayakan tersebut. Kakak kandungnya, Sulaiman bin Abd Wahab mengkritik dan menolak secara panjang lebar tentang pemikiran adik kandungnya tersebut (as-sawaiq al-ilahiyah fi ar-rad al-wahabiyah). (Abdurrahman Wahid: Ilusi Negara Islam, 2009, hlm. 62)

Pemikiran Wahabi yang keras dan kaku ini dipicu oleh pemahaman keagamaan yang mengacu bunyi harfiah teks al-Qur’an maupun al-Hadits. Ini yang menjadikan Wahabi menjadi sangat anti-tradisi, menolak tahlil, maulid Nabi Saw, barzanji, manaqib, dan sebagainya. Pemahaman yang literer ala Wahabi pada akhirnya mengeklusi dan memandang orang-orang di luar Wahabi sebagai orang kafir dan keluar dari Islam. Dus, orang Wahabi merasa dirinya sebagai orang yang paling benar, paling muslim, paling saleh, paling mukmin dan juga paling selamat. Mereka lupa bahwa keselamatan yang sejati tidak ditunjukkan dengan klaim-klaim Wahabi tersebut, melainkan dengan cara beragama yang ikhlas, tulus dan tunduk sepenuhnya pada Allah Swt.

Namun, ironisnya pemahaman keagamaan Wahabi ini ditopang oleh kekuasaan Ibnu Saud yang saat itu menjadi penguasa Najd. Ibnu Saud sendiri adalah seorang politikus yang cerdas yang hanya memanfaatkan dukungan Wahabi, demi untuk meraih kepentingan politiknya belaka. Ibnu Saud misalnya meminta kompensasi jaminan Ibnu Abdul Wahab agar tidak mengganggu kebiasaannya mengumpulkan upeti tahunan dari penduduk Dir’iyyah. Koalisipun dibangun secara permanen untuk meneguhkan keduanya. Jika sebelum bergabung dengan kekuasaan, Ibnu Abdul Wahab telah melakukan kekerasan dengan membid’ahkan dan mengkafirkan orang di luar mereka, maka ketika kekuasaan Ibnu Saud menopangnya, Ibnu Abdul Wahab sontak melakukan kekerasan untuk menghabisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka.

Pada tahun 1746 M/1159 H, koalisi Ibnu Abdul Wahab dan Ibnu Saud memproklamirkan jihad melawan siapapun yang berbeda pemahaman tauhid dengan mereka. Mereka tak segan-segan menyerang yang tidak sepaham dengan tuduhan syirik, murtad dan kafir. Setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka dianggap murtad, yang oleh karenanya, boleh dan bahkan wajib diperangi. Sementara, predikat muslim menurut Wahabi, hanya merujuk secara eklusif pada pengikut Wahabi, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Unwan al-Majd fi Tarikh an-Najd. Tahun 1802 M /1217 H, Wahabi menyerang Karbala dan membunuh mayoritas penduduknya yang mereka temui baik di pasar maupun di rumah, termasuk anak-anak dan wanita.

Tak lama kemudian, yaitu tahun 1805 M/1220 H, Wahabi merebut kota Madinah. Satu tahun berikutnya, Wahabi pun menguasai kota Mekah. Di dua kota ini, Wahabi mendudukinya selama enam tahun setengah. Para ulama dipaksa sumpah setia dalam todongan senjata. Pembantaian demi pembantaian pun dimulai. Wahabi pun melakukan penghancuran besar-besaran terhadap bangunan bersejarah dan pekuburan, pembakaran buku-buku selain al-Qur’an dan al-Hadits, pembacaan puisi Barzanji, pembacaan beberapa mau’idzah hasanah sebelum khutbah Jumat, larangan memiliki rokok dan menghisapnya bahkan sempat mengharamkan kopi.

Tercatat dalam sejarah, Wahabi selalu menggunakan jalan kekerasan baik secara doktrinal, kultural maupun sosial. Misalnya, dalam penaklukan jazirah Arab hingga tahun 1920-an, lebih dari 400 ribu umat Islam telah dibunuh dan dieksekusi secara publik, termasuk anak-anak dan wanita. (Hamid Algar: Wahabism, A Critical Essay, hlm. 42). Ketika berkuasa di Hijaz, Wahabi menyembelih Syaikh Abdullah Zawawi, guru para ulama Madzhab Syafii, meskipun umur beliau sudah sembilan puluh tahun. (M. Idrus Romli: Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi, 2010, hlm. 27). Di samping itu, kekayaan dan para wanita di daerah yang ditaklukkan Wahabi, acapkali juga dibawa mereka sebagai harta rampasan perang.

Di sini, setidaknya kita melihat dua hal tipologi Wahabi yang senantiasa memaksakan kehendak pemikirannya. Pertama, ketika belum memiliki kekuatan fisik dan militer, Wahabi melakukan kekerasan secara doktrinal, intelektual dan psikologis dengan menyerang siapapun yang berbeda dengan mereka sebagai murtad, musyrik dan kafir. Kedua, setelah mereka memiliki kekuatan fisik dan militer, tuduhan-tuduhan tersebut dilanjutkan dengan kekerasan fisik dengan cara amputasi, pemukulan dan bahkan pembunuhan. Ironisnya, Wahabi ini menyebut yang apa yang dilakukannya sebagai dakwah dan amar maruf nahi mungkar yang menjadi intisari ajaran Islam.

***

Membanjirnya buku-buku Wahabi di Toko Buku Gramedia, Toga Mas, dan sebagainya akhir-akhir ini, hemat saya, adalah merupakan teror dan jalan kekerasan yang ditempuh kaum Wahabi secara doktrinal, intelektual dan sekaligus psikologis terhadap umat Islam di Indonesia. Wahabi Indonesia yang merasa masih lemah saat ini menilai bahwa cara efektif yang bisa dilakukan adalah dengan membid’ahkan, memurtadkan, memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang berada di luar mereka. Jumlah mereka yang minoritas hanya memungkinkan mereka untuk melakukan jalan tersebut di tengah-tengah kran demokrasi yang dibuka lebar-lebar untuk mereka.

Saya yakin seyakin-yakinnya jika suatu saat nanti kaum Wahabi di negeri ini memiliki kekuasaan yang berlebih dan kekuatan militer di negeri ini, mereka akan menggunakan cara-cara kekerasan dengan pembantaian dan pembunuhan terhadap sesama muslim yang tidak satu paham dengan mereka. Jika wong NU, jam’iyyah Nahdlatul Ulama, dan ormas lain yang satu barisan dengan keislaman yang moderat dan rahmatan lil alamien tidak mampu membentenginya, saya membayangkan Indonesia yang kelak menjadi Arab Saudi jilid kedua. Saya tidak dapat membayangkan betapa mirisnya jika para kiai dan ulama kita kelak akan menjadi korban pembantaian kaum Wahabi, terutama ketika mereka sedang berkuasa di negeri ini. Naudzubillah wa naudzubilah min dzalik.
Wallahualam. **

* Wakil Sekretaris PCNU Jember, Wakil Sekretaris Yayasan Pendidikan Nahdaltul Ulama Jember, PW Lajnah Talif wa an-Nasyr NU Jawa Timur dan kini menjabat sebagai Deputi Direktur Salsabila Group.

(sUMBER: http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/4/32688/Kolom/Sejarah__Hitam__Kaum_Wahabi.html)

2) WAHABI ANCAMAN BAGI MANUSIA

BISAKAH ANDA MEMBAYANGKAN, SEANDAINYA WAHABISME MENGUASAI DUNIA?
BAGAIMANAKAH MEREKA AKAN MEMBERLAKUKAN UMAT MUSLIM YANG BERBEDA MAZHAB DENGAN WAHABI?
BAGAIMANA PERLAKUANNYA TERHADAP MUSLIM YANG TIDAK 100% SEPAHAM?
LALU APA YANG DILAKUKAN TERHADAP NON MUSLIM?
LALU APA YANG DILAKUKAN TERHADAP MANUSIA YANG TIDAK BERAGAMA?

SEJARAH MENCATAT BAHWA DIAWAL PERTUMBUHANNYA, MELALUI KOLABORASI DENGAN IBNU SAUD MEREKA MAMPU MELAWAN KEKALIFAHAN UTSMANIYAH, MEMBUNUH PARA SAYYID (KETURUNAN RASULULLAH), ULAMA SUNNI YANG TIDAK SEHALUAN, ULAMA SYIAH, DAN MUSLIM LAINNYA YANG TIDAK MENGIKUTI WAHABISME, DAN BAHKAN KETIKA MEKKAH DAN MADINAH DIKUASAI MEREKA PADA AWALNYA MEMAKSAKAN KEHENDAK UNTUK MEMBERLAKUKAN “PAHAM WAHABISME” SEBAGAI SATU-SATUNYA “PEDOMAN” NAMUN AKHIRNYA MENDAPAT PENENTANGAN LUAS DARI DUNIA ISLAM.

BERIKUT SATU LAGI TULISAN TENTANG WAHABISME:

هُنَاكَ)النجد) الزَّلاَزِلُ وَالْفِتَنُ ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

(Disanalah Annajd munculnya malapetaka dan kesesatan (fitnah), dan disana pula muncul tanduk syaetan)

Sahih Bukhari 1037 dan 7094

Pembahasan Wahabi :

1. Definisi Kelompok Wahabi

2. Pentingnya Pembahasan Wahabi

3. Sejarah Kemunculan Wahabi :

a. Cikal Bakal Ajaran :

· Sampai Abad ke-4 H (Khawarij, Marwan, Hijaj Ibn Yusuf, Barbahari, Ibn Bathah)

· Di Abad 7 H (Ibn Taimiah)

b. Pendiri resmi : Muhammad bin Abdul Wahab

· Sejarah Singkat Muhammad bin abdul Wahab

· Reaksi dari keluarga dan para ulama zaman itu.

c. Sejarah singkat berdirinya Kerajaan Wahabi (saud)

d. Efek Gerakan Wahabi di timur tengah

· Perpecahan umat Islam

· Pembantaian umat Islam

· Penghilangan Sejarah

4. Wahabi Dan dunia Politik :

· Kerajaan Saud dan amerika dan Israel.

· Konspirasi terorisme dan peran raja saudi dalam terorisme

· Pembohongan Pemberitaan di Indonesia

5. Ajaran Umum Wahabi :

a. Aqidah Ketuhanan : Tajsim

b. Fatwa dan pandangan: Takfir, Bid’ah, pengharaman Tawasul syafaat, ziarah kubur, peringatan hari besar, Penghinaan Makam aulia, Pembelaan terhadap munafik dan khawarij,

c. Perbedaan dan persamaan Wahabi dan Ahlussunnah

· Persamaan : Dalam Mashadir Hadits, Permasalahan Sahabat

· Perbedaan : Permasalahan Ketuhanan dan fiqih.

6. Isu Wahabi Terhadap Syiah:

Simulasi Jawaban dll…

1. Definisi Kelompok wahabi pendekatan

Wahabi adalah sebuah golongan dari Islam yang mengikuti Ajaran Ibn Taimiah dan Muhammad Ibn Abdulwahab dan memposisikan dirinya sebagai ajaran Ahlussunnah waljamaah dan mengatasnamakan dirinya sebagai satu2nya ajaran Islam serta menafikan bahkan mengkafirkan golongan lainnya. (definisi penulis)

2. Pentingnya Pembahasan Wahabi

a. Mengetahui salah satu penyebab pemecah belah umat.

b. Mengetahui siasat licik yang dapat meruntuhkan peradaban Islam.

c. Dapat menjawab segala isu dan fitnah wahabiah.

d. Memahami perbedaan antara Suni dan Wahabi.

3. Sejarah Kemunculan Wahabi :

a. Cikal Bakal Ajaran :

· Sampai ke abad ke-4 Hijriah

a. Ajaran Khawarij pembenci Ahlul Bait yang terdapat di dalam hadits-hadits mereka dan diperkuat oleh mereka seperti Ikrimah albarbari yang meriwayatkan ahlulbait nabi adalah istri-istri, nabi, dan banyak pula perawi-perawi di dalam kitab bukhari yang menggunakan kaum wahabi.

(Ciri Khas dari pemikiran khawarij adalah pembenci ahlul bait as yang mana digunakan pula pemikiran ini oleh kaum wahabi)

b. Marwan

- ، قال : أقبل مروان يوما فوجد رجلا واضعا وجهه على القبر ، فأخذ برقبته وقال : أتدري ما تصنع ؟ قال : نعم ، فأقبل عليه فإذا هو أبو أيوب الأنصاري رضي الله عنه ، فقال : جئت رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم آت الحجر سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم ، يقول : « لا تبكوا على الدين إذا وليه أهله ، ولكن ابكوا عليه إذا وليه غير أهله

Musnad Ahmad 5/422, mustadrak 4/515

c. Hijaj Ibn Yusuf

وخطب الحجاج بالكوفة فذكر الذين يزورون قبر رسول الله ص بالمدينة فقال تبا لهم إنما يطوفون بأعواد ورمة بالية هلا طافوا بقصر أمير المؤمنين عبد الملك أ لا يعلمون أن خليفة المرء خير من رسوله

Nahjul Balaghah syarah Ibn abi Hadid 15/242

d. Barbahari (salah satu ulama Hanbali (w 329 H)

· Melarang Ziarah kubur Rasulullah dan lainnya dan menganggapnya ajaran sesat

· Memusuhi mazhab lainnya

Nasywar almuhadharah 2/134

e. Ibn Batthah (salah satu ulama Hanbali w 387 H )

· Melarang Berziarah ke makan Rasulullah saww dan menganggapnya sebagai maksiat dan bertolak belakang dengan ajaran rasulullah saww

(Kitab Radd ala Al-Akhnai hal.28, Ibn taimiah).

· Melarang Adzan dan mengaji dengan nada

(As-Syarh al-Ibanah Ala Ushul Assunnah wal amanah 89)

· Di abad 7 Hijriah (Ibn Taimiah) sebagai akar ajaran Wahabiah

Nama : Ahmad ibn abdil halim ibn Abdussalam taqiuddin abu alabbas ibn Taimiah alharani, lahir di harran demisyk 661 dan meninggal di Dmesyk tahun 728 H.

Menurut sebagian peneliti bahwa Taimiah adalah nama dari keturunan atau kabilah ibunya, seperti halnya Amr ibn Ash yang merupakan hasir dari wanita yang dikumpuli bersama2 dan tidak dikenal siapa bapaknya maka dinamakan nama dari keturunan ibunya dari Al-Ash, begitu juga Ibn Taimiah, yang mana Muhammad ibn Alhadhar tidak mengetahui ayahnya , dan ibunya melahirnya di “taima” ketika datang ke kota Harran, dinamakan “Taimiah” [1]

Kisah singkat :

Sejarah Singkat Ibn Taimiah

Ibn Katsir mengatakan : Jamaah dari para Fuqaha menuntut kepadanya (karena pemikiran aqidah tajsim — mentajsimkan Tuhan) dan bermaksud menyidangkannya dalam sebuah majelis Hakim Jalaluddin Al-hanafi , dia (ibn Taimiah) tidak hadir , dan dia menyeru di sebuah negeri kepada aqidahnya yang dimana kadang dia ditanya oleh Ahli hammat, dinamakan hamawiyyah…(ditulis oleh ulama suni Syeikh Atha Almakki dalam As-Sharim Alhindi fi unuqil najdi) Dan di tahun 705 Hijriah terjadi perdebatan antara Ibn taimiah dan Syarihah dari Hakim Agung, kemudian keluarlah hukuman (peraturan) menyingkirkannya ke Mesir… kemudian tahun 706 Hijriah Al-Amir saifuddin salar seorang wakil di mesir ,Ketiga hakim mazhab yakni dari mazhab As-Syafei, almaliki dan hanbali, dan para fuqaha dari Albaji, Aljazari, Annamuwari mereka semua menyidangkan Ibn taimiah dan memutuskan untuk mengeluarkannya dari penjara dan mengasingkannya , kemudian dikarenakan terlihatnya dia kembali dengan sebagian keyakinannya pada yang benar. Oleh sebab itu mereka membebaskannya dan memberikan kesempatan untuk tinggal di Mesir, akan tetapi tahun 707 Ibn atha menuduhnya dan melaporkan kepada Hakim Agung Badruddin ibn aljamaah: Bahwa dalam pemikiran Ibn taimiah terlihat tidak sopan (penghinaan) terhadap keagungan Nabi saww , kemudian terbukti dengan dipenjarakannya kembali sampai tahun 798 hijriah kemudian dibuang ke Iskandariah. Kemudian keluar darinya (Ibn Taimiah) Fatwa yang aneh…kemudian dipenjara lagi… dan dikurung di penjara Demesky… kemudian dilarang dari penulisan.

..wafat tahun 728 H

(Diterjemahkan dalam tulisan ulama suni Risalah As-Syeikh Abdullah ibn Isa Almuisi), bisa juga anda lihat dalam kitab Ad-Durar al-kaminah penulis Ibn Hajar Atsqalani, mengenai berbagai penolakan ulama suni di zamannya.

Mengenai tulisan Bukti2 dari tulisan Ibn Taimiah yang mengecilkan keagungan nabi dan menghina ahlulbaitnya bisa anda lihat salah satunya dari penulis ulama suni Mahmud As-sayyid Syarif shabih dalam kitabnya akhtha ibn Taimiyyah fi haq rasulillah wa ahlilbaitihi Daaru zainalabidin Beirut –Libanon…

Dalam Sejarah singkat Ibn Taimiah bisa kita pahami bahwa :

1. Dia bukanlah seseorang yang dilihat orang penting di masanya oleh para ulama dan hakim agung suni serta masyarakat muslim lainnya.

2. Dia di masanya menyebarkan fitnah terhadap agama sehingga dihukum dengan hukuman penjara dan diasingkan

3. Pandangannya dipandang oleh hakim Agung suni berlawanan dengan aqidah Suni dalam mazhab syafei, maliki, hanafi bahkan hanbali sekalipun, serta para ulama dan para fuqaha lainnya berlawanan dengan pandangannya.

4. Pada Ibn Taimiah terdapat pandangan mengecilkan keagungan rasullah dilihat dari pandangan para hakim agung suni dan para fuqaha.

5. Dalam masalah ketuhanan berlawanan dengan umumnya keyakinan Ulama suni, aqidah Ibn Taimiah makruf dengan aqidah Tajsim dan tasybih tuhan… yang pada akhirnya aqidah ini dilanjutkan oleh para pengikutnya dari kaum wahabiah.

Anda bisa lihat dalam kitabnya Bayan At-Talbis Aljahmiah sangat jelas didalamnya menggambarkan dan menjismikan tuhan dengan makhluknya yang hal ini ditentang oleh ulama Suni khususnya dan islam umumnya.

b. Pendiri resmi : Muhammad bin Abdul wahab

· Sejarah Singkat :

Disini kami hendak mengulas sedikit sejarah dan pandangan dari Muhammad bin abdul wahhab serta penentangan dari para ulama suni terhadapnya :

1. Kelahirannya

Muhammad bin Abdullah lahir di kota uyainah di daerah “NAJD” arab tahun 1115 H. Dalam pengakuannya dia menggunakan mazhab Hanbali (yang walaupun kenyataannya bertolak belakang dengan pemikiran Hanbali-pen) Dimasa tingkatan belajar bahasanya, guru-gurunya mengkhawatirkannya dikarenakan kecenderungan pemikirannya yang menyeleweng.

Telah makruf bahwa pemikiran yang dibawanya mengatasnamakan mazhab hanbaliah dan hal tersebut sudah dilakukan dahulu oleh Ibn Taimiah yang telah makruf penolakan ulama sunni dan syiah terhadap ibn Taimiah. Dimana Para Ulama suni dulu menghukumnya (bisa dilihat di TArikh Baghdadi). Abdul wahhab hendak meneruskan pemikiran ibn taimiah tersebut. Dan yang paling penting disini adalah dia hendak menjadikan pemikiran ibn Taimiah sebagai mazhab khusus diluar mazhab yang telah ada, yang walaupun dalam penamaan mereka sering mengatasnamakan Ahlussunnah wal jamaah, meminjam kata dari mazhab yang empat (syafei, hanbali, maliki, dan hanafi) yang sebenarnya justru dia menentang habis keempat mazhab tersebut dan menganggap mazhab yang empat tersebut sebagai ahli musyrik dan kafir. Bisa kita lihat dari berbagai fatwa dan cara pandangnya. Yang tentunya Ulama sunni menentangnya dan menghukumnya sebagai seorang zindik dan penyeleweng ajaran.

2. Dia (Muhammad bin abdul wahhab) lebih menyukai pemikiran nabi palsu seperti musalimah al kazzab, Sajjaj, Aswad anbasi, Thalihah asadi, bisa anda lihat dalam kitab (Kasyful irtiyad hal 12)

3. Penyebaran wahabiah dan peperangan dengan umat Islam di bashrah dimana umat islam (suni dan syiah) pada saat itu bangkit dan mengusir nya tertulis di (Tarikh Al-Arabiah As-su’udiah hal 88)

4. Dia di zaman hidup ayahnya tidak memperlihatkan pemikirannya dengan gamblang dan setelah meninggal ayahnya tahun 1153 H baru menzahirkan pemikirannya. (Kitab zu’ama alishlah fi ‘asr hadits hal-10 dan tarikh al’arabiah as-su’udiah hal-89, tarikh Najd Alwasi hal 111)

5. Setelah meninggalnya ayahnya ,dikarenakan Umat Muslim pada saat itu kesal dengan penyelewengan pemikirannya maka rumahnya dilempar dengan batu dan dia kembali ke kota kelahirannya, setelah tak kunjung lamanya dia juga diusir dari kota kelahirannya oleh pemimpin setempat. Terpaksa dia pergi ke kota Dir’iyyah dan dengan perjanjian dengan penguasa setempat (Muhammad ibn su’ud) dari sana maka dia melaksanakan tabligh yang diyakininya. Aksi pertamanya dia merusak dan menghancurkan seluruh tempat ziarah para orang shaleh dan aulia di kota tersebut. Salah satunya adalah kuburan Zaid ibn Khatab dimana diyakini masyarakat setempat sebagai saudaranya khalifah kedua, sehingga membuat kemarahan besar ulama suni pada saat itu . (kitab Unwan al-majd fi tarikh hal 9)

6. Pada saat itu umat islam sedang membutuhkan upaya persatuan di berbagai mazhab yang ada untuk menangkal penjajahan ingris, perancis di daerah tersebut akan tetapi dikarenakan upaya sang wahabi memecah belah hanya dikarenakan tawassul , ziarah maka dia menghukumi umat islam umumnya dengan syirik dan kafir bahkan halal darahnya. Salahsatu fatwanya:

Dan barang siapa yang bertawasul untuk meminta syafaat kepada malaikat , nabi dan para aulia dan mendekatkan diri kepada Allah dengan tawassul tersebut mala halal darahnya dan hartanya (artinya bisa diambil hartanya). Kasyful Syubhah hal 58 cetakan darul kalam Beirut. Kiab Majmu Muallifaat syeikh muhammadul bin wahhab jilid 6 hal 115,

7. Pertentangan Ulama Ahlussunnah telah diperkirakan oleh gurunya dia..

Ulama suni tersebut salahsatunya Ahmad Zaini Dahlan, Mufti besar Mekkah Mukarramah (wafat 1304 H) mengatakan Banyak sekali dari ulama Madinah diantaranya syeikh Muhammad ibn Alkardi asysyafei dan syeikh Muhammad hayat Assanadi Alhanafi, kedua ustad tersebut di awal-awal telah mengkhawatirkan mengenai nya, mengenai ketidak beragamaannya dan penyelwenganpemikirannya. Dan mereka mengatakan dia (Muhammad bin abdul wahab) akan tersesat. Di tangannya orang akan jauh dari rahmat Allah dan syafaat nabinya dkarenakan kesesatannya. Dan ternyata hal ini terbukti. (Kitab Adararu Assunniah fi raddi ala al-wahabiah, hal. 42) kitab ini bahasa indonesianya “Jalan Suni dalam menentang ajaran wahabiah).

8. Ayahnya menyebutkan mengenai kesesatannya

Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab yang sama hal 42 menyebutkan : dan juga Ayahnya salah satu ulama shalih bernama Abdul wahhab yang sudah merasakan akan kesesatannya dan ketidak beragamaannya. Oleh sebab itu ayahnya menghardiknya dan menjaga dia dari hubungan dengan masyarakat luar.

9. Dalam kitab yang sama dituliskan pula bahwa saudaranya juga telah menentangnya dan menulis dalam berbagai kitab dalam menentang penyelewengan dan bid’ah ajarannya saudaranya yang bernama sulaiman ibnu wahab. Dan secara keras saudaranya menentangnya dalam setiap langkahnya yang menyeleweng dari ajaran yang ada.

10. Dalam kitab yang sama disebutkan bahwa dalam setiap khutbahnya dia selalu mengatakan bahwa orang yang ber“tawassul kepada nabi “ adalah kafir. Sehingga saudaranya angkat bicara dan menentangnya. Dan saudaranya bertanya kepadanya rukun Islam ada berapa? Muhamad bin abdul wahab menjawab : ada lima. Saudaranya mengatakan tapi engkau meyakininya ada enam. Yang ke enam yaitu siapa yang bertawasul kepada nabi saw maka dia itu adalah kafir. Dikarenakan pertentangan dua saudara tersebut saudaranya berfatwa mengenai pembunuhannya.

(Disarikan dari berbagai sumber dan juga dari Naqd Wahabiah)

c. Sejarah singkat berdirinya kerajaan Wahabi (Saud)

1. Marhalah pertama

Awalnya sejak munculnya Muhammad bin Abdul Wahhab yang menjilati kekuasaan dan menyebarkan pemikiran Ibn Taimiah . Dalam 75 Tahun Ibnu Su’ud memerintah dari tahun 1157 -1179 dengan menggunakan ulama pengikut wahabi sebagai dewan keagamaannya, , berikut nama penguasa saud , diantaranya

a. Abdul Aziz ibnu Muhammad (1133-1218),

b. Su’ud Ibnu Abdul Aziz (1229)

c. Abdullah Ibnu Suud dimana tahun 1233 di Istambul terbunuh

2. Marhalah kedua Keruntuhan Ibnu Su’ud (pemerintahan wahabi)

Dengan melalui kekuasaan Najd di tangan Ibrahim Posoi Utsmani, Abdullah Ibnu suud terbunuh di tahun 1233 di Istanbul setelah itu sekitar 80 tahun tak ada kekuasaan suud. Akan tetapi kepemimpinan agama terus dilanjutkan oleh

a. Tarki Ibnu Abdullah ibn Muhammad ibn Su’ud di tahun 1249 H terbunuh

b. Faisal ibnu tarki ibnu Abdullah wafat 1282 H

c. Abdul rahman ibn faisal ibn tarki wafat 1346 H.

3. Marhalah ketiga

Pembentukan kembali kekuasaan Suud wahabiah di tangan Abdul aziz ibnu Abdurrahman ibn tarki tahun 1391 H dari Kuwait pergi ke Najd selam 20 Tahun dengan bantuan Ingris dan perancis melakukan upaya pemecah belahan tanah arab, yang sampai sekarang dengan hadiah dari inggris yang sampai sekarang berkuasa anak keturunannya. Kejadian ini tidak jauh dengan peristiwa Aliran Ahmadiah sebagai bentukan Ingris untuk memcah belah India, Atau aliran Bahaiayah yang dibentuk Inggris untuk memecah belah Syiah di Iran , dan mengangkat Syah pahlevi yang keluarganya banyak beraliran tersebut.

Perjanjian Ibn suud dengan Zionis yang berjanji setia sampai mati saling membela:

dokumen-raja-saudi

Book on workshops Daily: Saudi Arabia and the Zionist Brothers until victory or death

Bisa dilihat di :

http://wildwestwahabi.wordpress.com/2008/11/14/saudi-wahabia-setia-sampai-mati-pada-zionis/

dan

http://www.hakikatwahabi.blogspot.com/ —- yang disusun oleh ikhwan kita Ismail amin.disana terdapat juga foto perjanjian antara Inggris, zionis dan saud.

d. Efek Gerakan Wahabi di Timur tengah

1. Mengkafirkan seluruh mazhab yang bertawasul, diantaranya mazhab syafei, maliki, hanbali, hanafi, syiah yang dimana kelima mazhab tersebut menghalalkan tawassul sepeti yang telah ditulis diatas dalam kitab Kasyfussubhah hal 58

2. Fatwa Jihad dengan Umat Islam (suni dan syiah di daerah hijaz) yang bermazhab tersebut , dengan bantuan raja saud mereka membunuh , merampas harta umat Islam sebagai barang ghanimah mereka, seperti ditulis dalam kitab tarikh Najd hal 95, pasal ke tiga. TArikh Ali Saud 1/31, yang fatwa ini terjadi sampai zaman sekarang dengan menghalalkan membunuh masyarakat suni dan syiah di Yaman. Bisa juga dirujuk dalam sejarah Nawawi albanteni (ulama Indonesia di hijaz) ketika beliau menjadi ulama disana penyerangan kaum wahabi terjadi ke hijaz sehingga para ulama mazhab suni mengungsi menjauhi penyerangan wahabi tersebut

3. Pembantaian syiah imamiah di Karbala yang dilakukan oleh Shalahuddin Alayyubi yang bermazhab wahabi… (yang sayangnya tersebar berita di Indonesia sebagai pahlawan Islam) Tarikh Mamlikah Assu’udiah hal 73 jilid 3. Keterangan lain disebutkan leh ahli tarikh wahabi menyebutkan bahwa ketika memasuki karbala maka pembantaian dilakukan, harta dirampas mejadi ghanimah dan kuburan Al-HUsein dihancurkan dan dirusak. Unwan Najd fi tarikh najd hal 121 jilid 1 kejadian tahun 1216 , dan sebagian disebutkan juga bahwa dalam semalam membunuh 200 ribu orang disana.

Dan inipun terjadi di sumatera barat . Bisa juga kita rujuk ke sejarah imam bonjol yang membantai kaum syiah dan masyarakat adat di daerah sumatera barat. Dengan keyakinan kewahabiaannya.

4. Bukan hanya pembunuhan kaum syiah bahkan pembunuhan kaum sipil bermazhab ahlussunnah atau suni pun dilakukankannya seperti ditulis oleh Jamil shadaqi zahawi dalam kitab alfajar asShadiq hal 22 menyebutkan : yang paling keji dari perbuatan wahabiah adalah pembantaian kaum Thaif (kaum suni di Thaif) tahun 1217, dengan tanpa belas kasihan dan berprikemanusiaan membunuh seluruh penduduk tersebut baik anak kecil maupun yang sudah besar, bahkan bayi kecilpun dipenggal kepalanya. Orang yang sedang baca Quran dan sedang shalat di mesjid pun dibantai oleh mereka dan kitab-kitab hadits penting umat islam pun rusak oleh mereka.

Bahkan setelah itu ulama Ahlussunnah di Mekkah berfatwa untuk Jihad melawan wahabiah dan yang mati dalam perang tersebut dinyatakan syahid seperti ditulis dalam kitab Saiful Jabal Al MAslul alal ‘ada hal 2.

5. Ayyub Shabri menulis bahwa Abdul Aziz bin Su’ud sebagai orang yang berpemikiran abdul wahhab menyatakan bahwa dalam pidatonya dengan dihadiri oleh para pembesar qabilah mengatakan bahwa seluruh daerah harus dikuasainya dan ulama ahlussunnah yang mengatasnamakan sebagai pengikut sunnah nabi harus dihilangkan dari muka bumi . Tarikh wahabi hal 33. Kejadian itu tahun 1218 ketika telah menguasai mekkah

4. Wahabi Dan Dunia Politik

· Mereka meyakini bahwa tunduk kepada kerajaan saud adalah kewajiban mutlak dan yang menolaknya termsauk bughat wajib dibunuh. Sehingga apa boleh buat setiap keputusan sang saud diterimanya oleh para ulama.

· Seperti yang telah kita ketahui di dalam berita Al-alam atau berita lainnya yang memuat sumber-sumber berita timur tengah, telah banyak menggambarkan keburukan politik yang dilakukan oleh para raja Saud, dan dibantu oleh Fatwa-fatwa ulama mereka. Pemberitaan selain dari pada dari pihak Syiah, di pihak lainnyapun seperti pihak salafi syafei (suni syafei) bukan wahabi atau suni lainnya memberitakan keburukan politik mereka, seperti anda bisa lihat pada blog : Abusalafy.wordpress atau salafitobat.wordpress, atau banksalafi.wordpress dan banyak lagi web atau blog yang memberitakan keburukan asli dari kerajaan wahabi ini.

· Seperti yang telah dibahas diatas bahwa kesepakatan mereka dengan Amerika, Israel semakin kuat. Bahkan ditambah lagi dengan fatwa para ulama mereka yang mendukung secara langsung atau tidak langsung usaha untuk meloloskan program para musuh, seperti , Fatwa Kafir Syiah, Fatwa Haram Bantu Hizbullah, Fatwa Haram Demonstrasi, Fatwa Mati orang syiah dll.

· Fatwa dan bantuan dana bagi para terorisme dilakukan oleh kerajaan ini, baik itu secara swasta ataupun tidak

· Kaum wahabi di Indonesia senang melakukan pemutar balikan fakta berita, seperti syiahindonesia.com yang giat setiap hari memberitakan kebohongan mengenai berita timur tengah apalagi mengenai masalah syiah. Mereka menjadikan yang nyata seperti keterikatan saudi dengan amerika dilupakan oleh mereka, tetapi yang khayal seakan-akan mereka beritakan menjadi nyata seperti Isu Iran adalah teman amerika dan Yahudi dll, dan juga mereka sering menggunakan hadits dzanni untuk menunjukkan fitnah mereka di dalam wesite, seperti isu Dajjal dari iran dll.

· Di dalam pemberitaan mereka tidak pernah menggunakan nama salafi atau wahabi, justru mereka gunakan ahlussunnah atau bentuk lainnya.

· Mereka menolak keras persatuan suni dan syiah, dan mereka mengatasnamakan suni, padahal suni yang ingin bersatu dengan syiah bukanlah mereka. Alasan penolakan mereka ujung-ujungnya kembali kepada masalah sahabat.

5. Ajaran Umum Wahabi

a. Aqidah Ketuhanan

· Bahwa Tuhan adalah JIsm

1. Ibnu Taimiah dengan meyakini Bahwa Tuhan adalah jism

و ليس في كتاب الله ولا سنة رسوله و لا قول أحد من سلف الأمة و أئمتها أنه ليس بجسم و أن صفاته ليست أجساماً و أعراضاً ؟ فنقس المعاني الثابتة بالشرع و العقل بنفي الفاظ لم ينف معناها شرع و لا عقل ، جهل و ضلال

Ibn Taimiah mengatakan : Dan tidak ada di dalam kitabullah dan sunnah rasulnya dan bukan pula perkataan seorangpun dari salaf ummat dan para imamnya yang menyatakan bahwa Dia bukanlah Jism dan sesungguhnya sifat-Nya bukan Ajsam dan ‘aradh ? maka menafikan makna-makna yang telah tetap dengan syar’i dan aqli dengan menafikan lafadz yang mana syar’i dan aql pun tidak menafikan maknanya, adalah kebodohan dan kesesatan.[2]

و الكلام في وصف الله بالجسم نفياً و إثباتاً بدعة

Dan Pernyataan atau perbincangan mengenai pensifatan Allah dengan nafi dan itsbat adalah bid’ah[3]

2. Mufti Saud

و نظراً إلى أن التجسيم لم يرد في النصوص نفيه ولا إثباته فلا يجوز للمسلم نفيه ولا إثباته لأن الصفات توقيفية

Dan padangan menganai Tajsim tidak ada di dalam nushush sebuah penafian dan itsbat, maka tidak boleh bagi muslim menitsbatkan dan menafikan , karena sifat2 tersebut adalah taukifi.[4]

· Bahwa Tuhan tertawa

Banyak sekali dalam tulisan Ibnu Taimiah yang menbenarkan hadits mengenai tuhan itu tertawa salah satunya

وَقَالَ لِثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ : لَقَدْ ضَحِكَ اللَّهُ مِمَّا فَعَلْت بِضَيْفِك الْبَارِحَةَ

Dan berkata kepada Tsabit ibn Qais : Maka Tuhan telah ketawa dengan apa yang kau lakukan kepada tamumu kemarin.[5]

· Allah Turun Ke langit dunia

وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ سَمِيعٌ بَصِيرٌ عَلِيمٌ خَبِيرٌ يَتَكَلَّمُ وَيَرْضَى وَيَسْخَطُ وَيَضْحَكُ وَيَعْجَبُ وَيَتَجَلَّى لِعِبَادِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَاحِكًا وَيَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ

Sesungguhnya Allah Azza Wajalla Maha Mendengar dan Maha melihat , Maha memiliki Ilmu dan Maha Mengetahui, Dia berbicara, dan meridhoi, Dia Marah, dan Dia Tertawa, Dia terkejut, dan bertajalli (menampakkan) kepada Hambanya di hari kiamah, sambil tertawa, serta turun setiap malam ke langit dunia sesuai apa yang dia Kehendaki.[6]

· Tuhan Itu duduk diatas arasy yang sangat tinggi dan yang meyakini Tuhan di semua tempat kafir, memang akidah Allah fi Kulli Makan adalah aqidah sebagian ahlussunnah seperti Asyariah, tetapi maksudnya bukanlah hulul(menitis) seperti yang dikatakan Ibn Taimiah, Dan dia menyimpulkan yang demikian adalah kafir.

· Allah Swt Memiliki seluruh anggota badan kecuali jenggot dan aurat

إذ ذكر الله تعالى وما ورد من هذه من الظواهير في صفاته يقول : ألزموني ما شئتم فإني ألتزمه ، إلا اللحية و العورة

· Allah Swt berlari [7]

Dll

b. Fatwa dan pandangan :

· Fatwa Pengkafiran Umat Islam Lainnya

و ان قصدهم الملائكة و الانبياء والاولياء يريدون شفاعتهم و التقرب الى الله بذالك هو الذي حلل دماءهم و اموالهم

Dan barang siapa yang bermaksud (bertawasul) kepada malaikat dan ambiya dan aulia dan menginginkan syafaat mereka dan mendekatkan diri kepada Allah , dengan hal itu maka hala darahnya dan hartanya[8].

· Barang siapa yang meyakini matahari itu tidak mengitari bumi atau diam maka di itu sesat dan kafir[9]

أما بعد فإنه لما شاع بين الكثير من الكتاب و المدرسين و الطلاب القول بأن الشمس ثابة و الارض دائرة كتبت في ذلك مقالاَ يتضمن إنكار هذا القول و بيان شناعته و ذكر بعض الأدلة النقلبة و الحسية على بطلانه و غلط قائله و أوضحت فيه أن القول بثبوت الشمس و عدم جريانها كفر و ضلال

· Merayakan Hari maulud nabi bid’ah wajib ditinggalkan[10]

· Berdoa di dekat kuburan rasul saww adalah bid’ah [11]

· Qiraati Quran bersama bid’ah[12]

إن قراءة القرآن جماعة بصوت واحد بعد كل من صلاة الصبح و المغرب أو غيرهما بدعة، و كذا إلتزام الدعاء جماعة بعد الصلاة

· Pengkafiran Orang yang bertawasul :

1) Ibn Taimiah

من يأتي إلى قبر نبي أو صالح و يسأله حاجته و يستنجده مثل أن يسأله أن يزيل مرضه أو يقضي دينه أو نحو ذلك مما لا يقدر عليه إلا الله فهذا شرك صريح يجب أن يستتاب صاحبه فإن تاب و إلا قتل.

Barangsiapa yang datang ke kuburan nabi saww dan orang-orang salih dan meminta hajatnya dan meminta pertolongan seperti meminta untuk disembuhkan dari penyakit atau melunaskan utangnya atau semisalnya dari apa-apa yang tidak ada yang mempu melakukan hal itu kecuali Allah Swt, maka hal itu termasuk Syirik yang jelas dan wajib bagi pelakunya untuk bertobat, jikalau tidak maka dibunuh.[13]

2) Muhammad bin abdul wahab[14]

إن محمدا صلى الله عليه و سلّم ، لم يفّرق بين من إعتقد في الأصنام و من إعتقد في الصالحين ، بل قاتلهم كّلهم و حكم بكفرهم

3) Mufti saud

إذا كان الواقع كما ذكرت من دعائهم علياً و الحسن والحسين و نحوهم فهم مشركون شركاً أكبر يخرج من ملّة الإسلام فلا أن نزوّجهم المسلمات ولا يحلّ لنا نتزوّج من نسائهم ولا يحلّ لنا نأكل من ذبائحهمز[15]

Tetapi disisi lainnya mereka membolehkan muslim menikah dengan nasrani dan yahudi.

يجوز للمسلم أن يتزوّج كتابية – يهودية أو نصراية – إذا كانت محصنة و هي الحرة العفيفة[16]

· Menghina Maqam (kedudukan) para nabi as

من زار قبره أو قبر غيره ليشرك به و يدعوه من دون الله فهذا حرام كله و هو مع كونه شركاً بالله [17]

· Ibn Taimiah Menolak turun Ayat untuk Ahlul Bait as, diantaraya:

و أما قوله و أنزل الله فيهم (قل لآ أسأ لكم عليه أجراً إلا المودة في القربى)[18] فهذا كذب ظاهر [19]

Sedangkan ayat ini diceritakan oleh 45 para pembesar Suni (Alghadir)

· Ibn Taimiah Menghina Ali

“Sebagian umatnya mengingkari keadilannya. Para kelompok Khawarij pun akhirnya mengkafirkannya. Sedang selain Khawarij, baik dari keluarganya maupun selain keluarganya mengatakan: ia tidak melakukan keadilan. Para pengikut Usman mengatakan: ia tergolong orang yang menzalimi Usman…secara global, tidak tampak keadilan pada diri Ali, padahal ia memiliki banyak tanggungjawab dalam penyebarannya, sebagaimana yang pernah terlihat pada (masa) Umar, dan tidak sedikitpun mendekati (apa yang telah dicapai oleh Umar)” [20]

· Ibn Taimiah Mengingkari keutamaan Sayyidah Zahra as

وأما قوله: ورووا جميعاً أنّ النبي صلّى‏ اللَّه عليه وسلّم قال: يا فاطمة، إن اللَّه يغضب لغضبك ويرضى لرضاك. فهذا كذب منه، ما رووا هذا عن النبي صلّى‏ اللَّه عليه وسلّم، ولا يعرف هذا في شي‏ء من كتب الحديث المعروفة، ولا له إسناد معروف عن النبي صلّى‏ اللَّه عليه وسلّم، لا صحيح ولا حسن[21]

Sedangkan yang merawikannya dari para pembesar ulama suni diantaranya.Ibn Abi Hatim Razi, abu Ya’li Almaushali, Abu Alqasim At-Tabrani, Hakim Nisaburi, Abu Na’im Al-Isfahani, Abul Wasim ibn Asakir, Muttaqi Hindi, Abu Alhajjaj Al-Mazzi, Ibn Atsir Az-Zajri, Ibn Hajar Atsqalani, Jalaluddin As-Suyuti, Almuttqi alhindi[22]

· Ibn Taimiah Menghina Imam Ali as

و قال ابن تينية في حق علي : أخطأ في سبعة عشر شياً، ثم خالف فيها نصّ الكتاب منها

Ibn Hajar Atsqalani dalam kitabnya menuliskan mengenai Ibn Taimiah, dan berkata ibn Taimiah dalam Hak Ali : dia itu banyak salah di 17 perkara, kemudian dia berlawanan dengan nash quran [23]

· Menghina sayyidah zahra

Salah satu cendikiawan dan Ustad suni di kota urdun yang bernama Hasan Saqaf di dalam kitabnya mengatakan :

و ابن تينية يحتج كثير من الناس بكلامه، و يسميه بعضهم ((شيخ الاسلام)) و هي ناصبي عدو لعلي و إتهم فاطمة بأن فيها شعبة من النفاق[24]

· Ibn Taimiah membela Ibn Muljam

و الذي قتل كان يصلي و يصوم و يقرأ القرآن ، و قتله معتقداً انّ الله ورسوله يحبّ قتل عليّ ، و فعل ذلك محبة لله و رسوله في زعمه، و إن كان في ذالك ضالاً مبتدعاً[25]

· Ibn Taimiah Membela habis-habisan Muawiyah, Yazid dan Abbasi

إنّ الرافضة تعجز عن إثبات إيمان و عدالته ، فإنّ احتجوا بما تواتر من اسلامه و هجرته و جهاده، فقد تواتر إسلام معاوية و يزيد و خلفاء بني أمية و بني العباس و صلاتهم و صيامهم و جعادهم الكفار

· Mereka menghina Syiah punya tahrif padahal mereka sendiri di dalam kitabnya banyak yang menunjukkan Tahrif

عن عائشة، أنّها قالت: «كانت سورة الأحزاب تقرأ في زمن رسول اللّه- صلّى اللّه عليه سلّم- مائتي آية، فلمّا كتب عثمان المصاحف لم يقدر منها إلّا على ما هو الآن

Dari Aisyah , dia berkata : surat alahzab sebelumnya di zaman nabi saw 100 ayat ketika Utsman menuliskan mashahif tidak mamenuliskan 100 ayat kecuali hanya apa yang ada sekarang ( 73 ayat)[26]

c.Perbedaan dan Persamaan Wahabi dan Ahlussunnah

· Persamaan :

a) Permasalahan Sumber-sumber hadits, walaupun kecenderungan pemilian hadits dari mereka berbeda, sunni lebih mengambil secara keseluruhan, termasuk dari keutamaan ahlulbait mereka ambil , sedangkan wahabiah, terbagi menjadi beberpa bagian mengenai keutamaan ahlul bait:

- Ada yang tulen seperti ibn taimiah mengingkari hampir semua keutamaan ahlulbait kecuali pengakuan mereka mengenai ayat at-Tathhir walaupun mereka merekayasa tafsirannya.

- Mengambil hadits mengenai keutamaan tersebut tetapi mereka putarkan tafsirnya tanpa penelitian hadits dan ilmu2 penunjangnya, tafsiran mereka hanyalah ra’yu mereka, seperti yang dilakukan kelompok albayyinat.

b) Permasalahan sahabat :

- Mereka memiliki kesamaan dalam mengatakan bahwa seluruh sahabat itu adil, kecuali sebagian dari kaum muktazilah yang mengingkari keadilan pembunuh imam ali, dan sebagian lainnya seperti ulama suni taftazani.

- Perbedaannya dalam membandingkan keutamaan dan keilmuan sahabat dengan Ahlul Bait dan Imam Ali as, kalau Wahabiah mengklaim bahwa Imam Ali itu belajar dari abu Bakar, sedangkan suni pada umumnya mengakui keunggulan segalanya Imam Ali , akan tetapi dalam masalah kekhalifahan yang memenuhi syarat terpilih adalah abu bakar.

· Perbedaan :

a) Permasalah Ketuhanan

- Suni terbagi menjadi dua secara garis besar yaitu aliran al-Asyariah dan Muktazilah yang menolah jismiat Tuhan, sedangkan Wahabi menggunakan aliran Ibn Taimiah yang meyakini Tuhan itu Jism. Kaum wahabi lebih cenderung berpikir dzahiriah apa yang tertulis dan teks maka itulah hakikatnya.

b) Permasalahan Fiqih

– Suni pada umumnya dalam permasalahan fiqih lebih dekat dengan syiah, mereka menghalal tawasul, ziarah, meminta syafaat kepada waliyullah, bahkan mereka lebih banyak menggunakan kaidah ushul ketimbang minhaj tekstual hadits.

- sedangkan wahabi berbeda sama sekali dengan suni, mereka mengharamkan, menganggap musyrik dan kafir orang-orang yang bertwasul, berziarah dan meminta syafaat, dan lebih cenderung copy paste hadits dalam istinbath hukum.

6. Jawaban Isu Wahabi terhadap Syiah:

a) Permasalahan Syafaat, tawassul dan ziarah kubur

seperti yang telah kita ketahui bahwa wahabi melakukan ketergesa-gesaan yang sangat menjijikkan , mereka menganggap orang yang melakukan tawasuul , syafaat dan ziarah kubur sebagai sesuatu yang syirik , kafir dan halal darahnya, sehingga diniscayakan mereka mengkafirkan seluruh mazhab suni dan syiah, atau seluruh dari selain golongannya dan mereka halal darahnya, akan tetapi dalam masalah ini , mazhab sunipun menjawab dengan lantang dan menolak keras penghinaan yang bodoh dari kaum wahabi , anda bisa melihat website suni seperti, Abusalafy.wordpress.com, salafitobat.wordpress.com, al-subki.blogspot.com dll yang mereka menyusun dalil dari manba’ mereka terhadap pembelaan tawasul, syafaat dan ziarah kubbur, bahkan mereka sendiri menolak keras keberadaan ajaran wahabi salafi saudi.

Bersambung…

Zen

[1] Al-irhabiun khawarij am sunnah, hal 89, bisa juga lihat di alwafi bil wafiyat 3/37, dan Waffiyat Al-A’yan 4/388

[2] At-Ta’sis fi raddi Asas at-Tadis : 1/101

[3] Alfatawa :5/192

[4] Fatwa Allajnah ad-daimah Albuhuts Al’ilmiyyah wa Alifta : 3/227

[5] Majmu Fatawa 5/44

[6] Majmu Fatawa 5/61

[7] Fatawa Allajnah Ad-Daimah albuhuts wa Al-Ifta :3/196 fatawa no 6932

[8] Kitab Majmu Muallifaat syeikh muhammad bin abdul wahhab jilid 6 hal 115

[9]Adillah Annaqliyyah Walhissiyyah ala jaryani As Syams wa sukun alardh , wa Imkan As –Su’ud ila Alkaukab , Abdul Aziz bin Baz. Hal 17

[10] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhuts Alilmiyyah wa al-ifta : 3/54 fatwa no 1774

[11] Majallah Ad-Da’wah , no 1612 , hal 37

[12] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhuts Alilmiyyah wa al-ifta : 3/481 no 4994

[13] Ziaratul qubur wa alistinjad bil qubur , hal 156.

[14] [14] Kitab Majmu Muallifaat syeikh muhammad bin abdul wahhab jilid 6 hal 146

[15] Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhuts Alilmiyyah wa al-ifta : 18/298

[16] Ibid jilid 18/315

[17] Arrad Ala Al-Akhnai : 25

[18] As-Syura :23

[19] Minhaj As-Sunnah : 4/563

[20] Mihaj Assunnah Jil:6 Hal:18

[21] Minhaj Sunnah 4/248

[22] Dirasat fi Minhaj Sunnah 357

[23] Minhaj Sunnah 1/153-155

[24]Attanbih warrad :7

[25] Minhaj Sunnah :1/153

[26] Durul Mantsur

SUMBER: http://zenhusein.wordpress.com/2011/06/17/modul-wahabi-ancaman-bagi-umat-manusia/

===============================================================================
3)FENOMENA WAHABIAH

Fenomena Wahabiah
Wahabiah adalah suatu istilah yang menunjukkan golongan yang dinisbatkan kepada Muhammad bin abdul wahhab. Banyak orang yang menentang golongan tersebut baik dari kalangan ahlussunnah (suni) dan syiah. Dikarenakan pandangannya yang ekstrem dan menyalahi kaidah pokok islam yang ada. Penentangan ini tak ada hubungannya dengan kata “wahab” yang merupakan nama Allah yang mulia atau “Muhammad” yang merupakan nama rasulnya yang mulia. Ada kata sebagai asal kata ada kata sebagai istilah yang dinisbatkan pada seseorang. Bukankah banyak pula orang jahat yang memiliki nama yang menisbatkan kepada Muhammad atau sahabat rasul semisal “salman Rusydi” atau “Saddam Hussein”.
Disini kami hendak mengulas sedikit sejarah dan pandangan dari Muhammad bin abdul wahhab serta penentangan dari para ulama suni terhadapnya :
Mukaddimah
1. Kelahirannya
Muhammad bin Abdullah lahir di kota uyainah di daerah “NAJD” arab tahun 1115 H. Dalam pengakuannya dia menggunakan mazhab Hanbali (yang walaupun kenyataannya bertolak belakang dengan pemikiran Hanbali-pen) Dimasa tingkatan belajar bahasanya, guru-gurunya mengkhawatirkannya dikarenakan kecenderungan pemikirannya yang menyeleweng.
Telah makruf bahwa pemikiran yang dibawanya mengatasnamakan mazhab hanbaliah dan hal tersebut sudah dilakukan dahulu oleh Ibn Taimiah yang telah makruf penolakan ulama sunni dan syiah terhadap ibn Taimiah. Dimana Para Ulama suni dulu menghukumnya (bisa dilihat di TArikh Baghdadi). Abdul wahhab hendak meneruskan pemikiran ibn taimiah tersebut. Dan yang paling penting disini adalah dia hendak menjadikan pemikiran ibn Taimiah sebagai mazhab khusus diluar mazhab yang telah ada, yang walaupun dalam penamaan mereka sering mengatasnamakan Ahlussunnah wal jamaah, meminjam kata dari mazhab yang empat (syafei, hanbali, maliki, dan hanafi) yang sebenarnya justru dia menentang habis keempat mazhab tersebut dan menganggap mazhab yang empat tersebut sebagai ahli musyrik dan kafir. Bisa kita lihat dari berbagai fatwa dan cara pandangnya. Yang tentunya Ulama sunni menentangnya dan menghukumnya sebagai seorang zindik dan penyeleweng ajaran.
2. Dia (Muhammad bin abdul wahhab) lebih menyukai pemikiran nabi palsu seperti musalimah al kazzab, Sajjaj, Aswad anbasi, Thalihah asadi, bisa anda lihat dalam kitab (Kasyful irtiyad hal 12)
3. Penyebaran wahabiah dan peperangan dengan umat Islam di bashrah dimana umat islam (suni dan syiah) pada saat itu bangkit dan mengusir nya tertulis di (Tarikh Al-Arabiah As-su’udiah hal 88)
4. Dia di zaman hidup ayahnya tidak memperlihatkan pemikirannya dengan gamblang dan setelah meninggal ayahnya tahun 1153 H baru menzahirkan pemikirannya. (Kitab zu’ama alishlah fi ‘asr hadits hal-10 dan tarikh al’arabiah as-su’udiah hal-89, tarikh Najd Alwasi hal 111)
5. Setelah meninggalnya ayahnya ,dikarenakan Umat Muslim pada saat itu kesal dengan penyelewengan pemikirannya maka rumahnya dilempar dengan batu dan dia kembali ke kota kelahirannya, setelah tak kunjung lamanya dia juga diusir dari kota kelahirannya oleh pemimpin setempat. Terpaksa dia pergi ke kota Dir’iyyah dan dengan perjanjian dengan penguasa setempat (Muhammad ibn su’ud) dari sana maka dia melaksanakan tabligh yang diyakininya. Aksi pertamanya dia merusak dan menghancurkan seluruh tempat ziarah para orang shaleh dan aulia di kota tersebut. Salah satunya adalah kuburan Zaid ibn Khatab dimana diyakini masyarakat setempat sebagai saudaranya khalifah kedua, sehingga membuat kemarahan besar ulama suni pada saat itu . (kitab Unwan al-majd fi tarikh hal 9)
6. Pada saat itu umat islam sedang membutuhkan upaya persatuan di berbagai mazhab yang ada untuk menangkal penjajahan ingris, perancis di daerah tersebut akan tetapi dikarenakan upaya sang wahabi memecah belah hanya dikarenakan tawassul , ziarah maka dia menghukumi umat islam umumnya dengan syirik dan kafir bahkan halal darahnya. Salahsatu fatwanya:
و ان قصدهم الملائكة و الانبياء والاولياء يريدون شفاعتهم و التقرب الى الله بذالك هو الذي حلل دماءهم و اموالهم
Dan barang siapa yang bertawasul untuk meminta syafaat kepada malaikat , nabi dan para aulia dan mendekatkan diri kepada Allah dengan tawassul tersebut mala halal darahnya dan hartanya (artinya bisa diambil hartanya). Kasyful Syubhah hal 58 cetakan darul kalam Beirut. Kiab Majmu Muallifaat syeikh muhammadul bin wahhab jilid 6 hal 115,
7. Pertentangan Ulama Ahlussunnah telah diperkirakan oleh gurunya dia..
Ulama suni tersebut salahsatunya Ahmad Zaini Dahlan, Mufti besar Mekkah Mukarramah (wafat 1304 H) mengatakan Banyak sekali dari ulama Madinah diantaranya syeikh Muhammad ibn Alkardi asysyafei dan syeikh Muhammad hayat Assanadi Alhanafi, kedua ustad tersebut di awal-awal telah mengkhawatirkan mengenai nya, mengenai ketidak beragamaannya dan penyelwenganpemikirannya. Dan mereka mengatakan dia (Muhammad bin abdul wahab) akan tersesat. Di tangannya orang akan jauh dari rahmat Allah dan syafaat nabinya dkarenakan kesesatannya. Dan ternyata hal ini terbukti. (Kitab Adararu Assunniah fi raddi ala al-wahabiah, hal. 42) kitab ini bahasa indonesianya “Jalan Suni dalam menentang ajaran wahabiah).
8. Ayahnya menyebutkan mengenai kesesatannya
Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab yang sama hal 42 menyebutkan : dan juga Ayahnya salah satu ulama shalih bernama Abdul wahhab yang sudah merasakan akan kesesatannya dan ketidak beragamaannya. Oleh sebab itu ayahnya menghardiknya dan menjaga dia dari hubungan dengan masyarakat luar.
9. Dalam kitab yang sama dituliskan pula bahwa saudaranya juga telah menentangnya dan menulis dalam berbagai kitab dalam menentang penyelewengan dan bid’ah ajarannya saudaranya yang bernama sulaiman ibnu wahab. Dan secara keras saudaranya menentangnya dalam setiap langkahnya yang menyeleweng dari ajaran yang ada.
10. Dalam kitab yang sama disebutkan bahwa dalam setiap khutbahnya dia selalu mengatakan bahwa orang yang ber“tawassul kepada nabi “ adalah kafir. Sehingga saudaranya angkat bicara dan menentangnya. Dan saudaranya bertanya kepadanya rukun Islam ada berapa? Muhamad bin abdul wahab menjawab : ada lima. Saudaranya mengatakan tapi engkau meyakininya ada enam. Yang ke enam yaitu siapa yang bertawasul kepada nabi saw maka dia itu adalah kafir. Dikarenakan pertentangan dua saudara tersebut saudaranya berfatwa mengenai pembunuhannya.
Contoh Pemikiran Wahabiah
A. Pemikiran ketuhanan
(mengambil sumber pemikiran awal dari guru pertama Ibn Taimiah)
1. Menganggap Tuhan itu Jismi (memilii badan) hal ini seperti dikutip dalam gurunya yang pertama ibnu taimiah dalam kitab Alfatawa hal 192, jilid 5
و كلام في و صف الله بالجسم نفيا و اثباتا بدعة لم يقل احد من سلف الامة و اامتها ان الله ليس بجسمو كما لو يقولون ان الله جسم
dia mengklaim bahwa : tidak ada ulama jaman dulu yang menyatakan tentang sifat itsbat Allah dan sifat salbiah-Nya. Oleh sebab itu yang demikian adalah bid’ah dan yang benar adalah Allah itu Jism (artina punya badan)
Banyak juga sumber fatwa2 yang yang mensifatkan Allah dengan makhlukNya.

2. Allah tertawa
Gurunya yang pertama ibn Taimiah dalam kitab Majmu’ah Ar rasail Alkbra , risalah ke 11 hal 451 juga mengatakan :
Tuhan itu tertawa dan di akhirat dalam keadaan menitis dengan makhluqnya tertawa.
3. Allah turun ke bumi seperti turunnya saya dari mimbar ini (inilah salah satu ungkapan ibn Taimiah juga dalam kitab rihlah ibn Bathutah hak 113)
4. dll
Dalil sederhana penolakan pemikirannya:
1. Sedangkan dalam Alquran salahsatunya disebutkan LAisa kamithlihi Syai’un (Syura ayat 11) atau dalam Surat Al Ikhlash : Wa lam yakun lahu kufuan ahad… tidak ada sesuatupun yang setara sekufu semisal dengan-Nya.
2. Dan juga Ahmad ibn Hanbal dimana mazhab wahabiah mengklain bermazhab ahmad ibn Hanbal menolak pemikiran jism Allah semisal dalam kitab Thabaqat hanabilah, hal 298 jilid 2. Al-Aqidah lil Ahmad ibn Hanbal hal 110. Mengatakan
Isim diambil dari Syariat dan lughat, dan ahli lughat mendefinisikan Jism dengan sesuatu yang memiliki panjang , lebar, dan tinggi dan susunan, oleh sebab itu Tuhan bukanlah JIsm dan bersih dari sifat jism, oleh sebab itu Dia (Tuhan ) keluar dari sifat Jism. Dan juga tidak ada dalam syariat bahwa Allah itu Jism, Maka Aqidah Tuhan jism adalah bathil.
3. Ulama Ahlussunnah menolak pemikiran Tuhan Jism, bahkan berfatwa dengan kekafirannya seperti ditulis dalam tafsir qurthubi jilid 4 hal 14, Qurtubi mengatakan :
Yang benar adalah kekafiran orang yang menganggap Tuhan punya jism dikarenakan hal tersebut sama saja dengan penyembah berhala dan gambar.
Ulama lainnya pun banyak menulis penentangan pemikiran wahabiah tersebut seperti Abdul Qahir Baghdadi wafat 429 dalam kitab ushuluddin 337. Ibnu Najim wafat 970 kitabnya Albahr Arraiq jilid 1 hal 611. Imam AlGhazali dalam kitab dirasat fil minhajussunnah hal 145.

D. Penghinaan terhadap Ahlulbait nabi
- Sayyidina Ali Kw
1. Ibnu Hajar dalam kitab lisanul mizan jilid 6 hal 319 menyebutkan bahwa Banyak sekali Ibnu Taimiah (ulama awal wahabiah) menghina Ali dengan memberi kecacatan dalam sifatnya
2. Dalam kitab Ad-Dararul Kamilah jilid 1 hal 153-155, Hafidh Ibnu JAririi menulis bahwa Ibnu Taimiah menyebutkan bahwa Sayyidina Ali salah dan keliru dalam 17 Hal , kemudian menyalahi Al-Quran.
3. Di dalam kitab fatwanya sendiri Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:281, karya Ibnu Taimiyah al-Harrani, Ibnu Taimiah menuliskan bahwa :
“Ali memiliki banyak fatwa yang bertentangan dengan teks-teks agama (nash)”. Bahkan Ibnu Taimiyah dalam rangka menguatkan pendapatnya tersebut, ia tidak segan-segan untuk mengatasnamakan beberapa ulama Ahlusunnah yang disangkanya dapat sesuai dengan pernyataannya itu. Lantas dia mengatakan: “As-Syafi’i dan Muhammad bin Nasr al-Maruzi telah mengumpulkan dalam satu kitab besar berkaitan dengan hukum yang dipegang oleh kaum muslimin yang tidak diambil dari ungkapan Ali. Hal itu dikarenakan ungkapan sahabat-sahabat selainnya (Ali), lebih sesuai dengan al-Kitab (al-Quran) dan as-Sunnah”
4. Mengingkari keadilan Ali
“Sebagian umatnya mengingkari keadilannya. Para kelompok Khawarij pun akhirnya mengkafirkannya. Sedang selain Khawarij, baik dari keluarganya maupun selain keluarganya mengatakan: ia tidak melakukan keadilan. Para pengikut Usman mengatakan: ia tergolong orang yang menzalimi Usman…secara global, tidak tampak keadilan pada diri Ali, padahal ia memiliki banyak tanggungjawab dalam penyebarannya, sebagaimana yang pernah terlihat pada (masa) Umar, dan tidak sedikitpun mendekati (apa yang telah dicapai oleh Umar)” Mihaj Assunnah Jil:6 Hal:18 (kitab ibnu taimiah)
5. Meragukan Kekhalifahan Sayyidina Ali dan menetapkan dan mensyahkan dengan mengklaim dari ulama suni umumnya mengenai kekhalifahan Muawiyah dan yazid seperti dalam kitabnya sendiri Minhajus Assunnah JIlid 2 hal 62

Masih banyak dalam fatwa mereka yang mengatakan demikian, bahakan penghinaan kepada sayyidah Zahara ra /as

C. Memusuhi Kaum Muslim
1. Mengkafirkan seluruh mazhab yang bertawasul, diantaranya mazhab syafei, maliki, hanbali, hanafi, syiah yang dimana kelima mazhab tersebut menghalalkan tawassul sepeti yang telah ditulis diatas dalam kitab Kasyfussubhah hal 58
2. Fatwa Jihad dengan Umat Islam (suni dan syiah di daerah hijaz) yang bermazhab tersebut , dengan bantuan raja saud mereka membunuh , merampas harta umat Islam sebagai barang ghanimah mereka, seperti ditulis dalam kitab tarikh Najd hal 95, pasal ke tiga. TArikh Ali Saud 1/31, yang fatwa ini terjadi sampai zaman sekarang dengan menghalalkan membunuh masyarakat suni dan syiah di Yaman. Bisa juga dirujuk dalam sejarah Nawawi albanteni (ulama Indonesia di hijaz) ketika beliau menjadi ulama disana penyerangan kaum wahabi terjadi ke hijaz sehingga para ulama mazhab suni mengungsi menjauhi penyerangan wahabi tersebut
3. Pembantaian syiah imamiah di Karbala yang dilakukan oleh Shalahuddin Alayyubi yang bermazhab wahabi… (yang sayangnya tersebar berita di Indonesia sebagai pahlawan Islam) Tarikh Mamlikah Assu’udiah hal 73 jilid 3. Keterangan lain disebutkan leh ahli tarikh wahabi menyebutkan bahwa ketika memasuki karbala maka pembantaian dilakukan, harta dirampas mejadi ghanimah dan kuburan Al-HUsein dihancurkan dan dirusak. Unwan Najd fi tarikh najd hal 121 jilid 1 kejadian tahun 1216 , dan sebagian disebutkan juga bahwa dalam semalam membunuh 200 ribu orang disana.
Dan inipun terjadi di sumatera barat . Bisa juga kita rujuk ke sejarah imam bonjol yang membantai kaum syiah dan masyarakat adat di daerah sumatera barat. Dengan keyakinan kewahabiaannya.
4. Bukan hanya pembunuhan kaum syiah bahkan pembunuhan kaum sipil bermazhab ahlussunnah atau suni pun dilakukankannya seperti ditulis oleh Jamil shadaqi zahawi dalam kitab alfajar asShadiq hal 22 menyebutkan : yang paling keji dari perbuatan wahabiah adalah pembantaian kaum Thaif (kaum suni di Thaif) tahun 1217, dengan tanpa belas kasihan dan berprikemanusiaan membunuh seluruh penduduk tersebut baik anak kecil maupun yang sudah besar, bahkan bayi kecilpun dipenggal kepalanya. Orang yang sedang baca Quran dan sedang shalat di mesjid pun dibantai oleh mereka dan kitab-kitab hadits penting umat islam pun rusak oleh mereka.
Bahkan setelah itu ulama Ahlussunnah di Mekkah berfatwa untuk Jihad melawan wahabiah dan yang mati dalam perang tersebut dinyatakan syahid seperti ditulis dalam kitab Saiful Jabal Al MAslul alal ‘ada hal 2.
5. Ayyub Shabri menulis bahwa Abdul Aziz bin Su’ud sebagai orang yang berpemikiran abdul wahhab menyatakan bahwa dalam pidatonya dengan dihadiri oleh para pembesar qabilah mengatakan bahwa seluruh daerah harus dikuasainya dan ulama ahlussunnah yang mengatasnamakan sebagai pengikut sunnah nabi harus dihilangkan dari muka bumi . Tarikh wahabi hal 33. Kejadian itu tahun 1218 ketika telah menguasai mekkah

D. Marhalah kekasaan Wahabiah
1. Marhalah pertama
Awalnya sejak munculnya Muhammad bin Abdul Wahhab yang menjilati kekuasaan menyebarkan pemikiran Ibn Taimiah . Dalam 75 Tahun Ibnu Su’ud memerinta dari tahun 1157 -1179 diantaranya
a. Abdul Aziz ibnu Muhammad (1133-1218),
b. Su’ud Ibnu Abdul Aziz (1229)
c. Abdullah Ibnu Suud dimana tahun 1233 di Istambul terbunuh

2. Marhalah kedua Keruntuhan Ibnu Su’ud (pemerintahan wahabi)
Dengan melalui kekuasaan Najd di tangan Ibrahim Posoi Utsmani, Abdullah Ibnu suud terbunuh di tahun 1233 di Istanbul setelah itu sekitar 80 tahun tak ada kekuasaan suud. Akan tetapi kepemimpinan agama terus dilanjutkan oleh
a. Tarki Ibnu Abdullah ibn Muhammad ibn Su’ud di tahun 1249 H terbunuh
b. Faisal ibnu tarki ibnu Abdullah wafat 1282 H
c. Abdul rahman ibn faisal ibn tarki wafat 1346 H.

3. Marhalah ketiga
Pembentukan kembali kekuasaan Suud wahabiah di tangan Abdul aziz ibnu Abdurrahman ibn tarki tahun 1391 H dari Kuwait pergi ke Najd selam 20 Tahun dengan bantuan Ingris dan perancis melakukan upaya pemecah belahan tanah arab, yang sampai sekarang dengan hadiah dari ingris yang sampai sekarang berkuasa anak keturunannya. Kejadian ini tidak jauh dengan peristiwa Aliran Ahmadiah sebagai bentukan Ingris untuk memcah belah India, Atau aliran Bahaiayah yang dibentuk Inggris untuk memecah belah Syiah di Iran , dan mengangkat Syah pahlevi yang banyak beraliran tersebut.

Penutup
Wahabi merupakan sebuah golongan yang asal muasal pemikirannya adalah dari Muhammad bin Abdul Wahab yang mengikuti pemikiran Ibn Taimiah.. Akan tetapi para pengikut wahabi kebanyakan pula tidak paham akan asal muasal mereka sehingga mereka banyak yang tidak tahu menahu tentang Abdul wahab dan Ibnu TAimiah tersebut.
Disini kita perlu bijak antara melihat ulama wahabi dan para pengikutnya. Pengikutnya banyak yang tak tahu atau lalai dalam mengenal mazhabnya sendiri , akan tetapi ulama mereka jelas2 mengetahui hakikat mereka dan berusaha menggunakan nama ahlussunnah atau suni untuk menutupi aliran mereka yang sebenarnya bukan mazhab ahlussunnah.

Zen
Dari NAqd Wahabiah

4) JUM’AT BERDARAH; PERISTIWA KONSPIRASI SAUDI ARABIA

Jumat, 10 Juni 2011

Oleh: Abu Qurba

Pada tahun 1987 terjadi beberapa peristiwa yang sangat memukul perasaan Imam Khomeini Ra, rakyat Iran dan kaum muslimin dunia, salah satunya adalah musibah besar yang menimpa jemaah haji Iran dan jamaah haji dari beberapa Negara lainnya pada musim haji tahun itu. Para jemaah haji yang syahid akibat perlakukan kejam pemerintah Saudi menjadi perhatian Imam Khomeini Ra secara serius. Hal ini merupakan refleksi kecintaan seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Imam Khomeini sangat yakin—berdasarkan ratusan ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang tak terhitung dari Ahlul Bait yang suci—bahwa politik merupakan bagian dari agama dan bahwa proses memisahkan politik dari agama yang populer selama dekade terakhir dari abad ini, pada hakikatnya merupakan propaganda kaum kolonialis. Hasil negatif akibat dari pemisahan ini tampak pada dunia Islam dan di antara para pengikut seluruh agama Ilahi.

Imam Khomeini yakin bahwa Islam merupakan agama untuk membimbing manusia dalam seluruh tahapan dan dimensi kehidupan individual dan sosial. Dan karena hubungan sosial dan politik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, maka Imam Khomeini memandang bahwa Islam yang memperhatikan aspek ibadah dan akhlak individual semata, dan mencegah kaum Muslim dari menentukan masa depan dan masalah-masalah sosial dan politik adalah Islam yang menyimpang, dan menurut ungkapan Imam “Islam Amerika”. Sebagaimana ia memulai kebangkitannya atas dasar pemikiran penyatuan agama dan politik, dan beliau meneruskannya atas dasar ini.

Setelah kemenangan Revolusi Islam, di samping membetuk pemerintahan Islam, Imam Khomeini berinisiatif—dengan suatu cara yang berbeda sama sekali dengan berbagai sistem politik kontemporer yang menjelaskan sendi-sendi dan dasar-dasarnya yang menjadi pijakan undang-undang Republik Islam—untuk menghidupkan syiar-syiar sosial Islam dan mengembalikan spirit politik dalam hukum-hukum Islam. Menghidupkan dan meramaikan shalat Jumat dan shalat Ied yang besar di berbagai penjuru negeri dikemas berdasarkan “ibadah politik” dan mengemukakan berbagai problema yang menimpa masyarakat Islam, baik di dalam maupun di luar negeri dalam khutbah shalat Jumat dan hari raya Islam, serta mengubah cara dan kandungan acara-acara duka (misalnya seperti peringatan 10 Muharram—pen.) dengan kemasan politik tersebut. Sesungguhnya salah satu keberhasilan Imam Khomeini yang paling menonjol ialah menghidupkan haji Ibrahim.

Sebelum kemenangan revolusi Islam di Iran seremonial ibadah haji –dengan inspirasi pandangan tertentu dan mengikuti saran para penguasa negara-negara Islam, khususnya penguasa Saudi- dilaksanakan setiap tahun jauh dari ruh yang sebenarnya. Ketika itu kaum muslimin melaksanakan ibadah haji –sama sekali- tanpa memperhatikan sisi filosofis disyariatkannya muktamar akbar tahunan Islam tersebut. Padahal ibadah haji –sebagaimana disinggung oleh ayat Al-Qur’an: “Allah menjadikan Ka’bah sebagai Baitu al-Haram agar umat manusia bangkit” (Qs. al-maidah:97) – merupakan tempat yang paling tepat untuk mengadakan pertemuan dan mengumandangkan kebebasan dari kaum musyrikin. Namun setiap orang yang menyaksikan ibadah haji sedikitpun tidak melihat dilontarkannya problema dunia Islam dan bara’ah (bebas) dari kaum musyrikin. Sementara itu umat Islam hidup dalam kondisi yang paling sulit dan menghadapi serangan kolonial dan israel dari berbagai arah.

Setelah kemenangan revolusi Islam yang gemilang itu, Imam Khomeini menekankan – melalui pesan tahunan yang ia tujukan kepada segenap jamaah haji pada setiap musim haji tiba – pentingnya mengarahkan pandangan kaum muslimin terhadap masalah politik dunia Islam, menilai bara’ah dari kaum musyrikin merupakan bagian dari rukun haji dan menjelaskan tugas jamaah haji, khususnya dalam masalah ini. Kemudian berangsur-angsur muktamar haji agung tersebut mulai menampakan bentuknya yang hakiki. Karnaval bara’ah pun mulai dilaksanakan setiap tahun yang diikuti oleh ribuan jamaah haji Iran dan sebagian kaum muslimin revolusioner dari negara-negara lainnya.

Pada kesempatan itu mereka meneriakan yel-yel dengan menuntut kebebasan dari Amerika, Uni Soviet dan Israel yang merupakan contoh yang menonjol atas fenomena kemusyrikan dan kekufuran serta mengajak segenap kaum muslimin agar bersatu.

Pada waktu yang bersamaan diadakan pula berbagai muktamar untuk bertukar pandangan diantara kaum muslimin dan berusaha mencari solusi atas problema mereka. Langkah positif ini mendorong Amerika untuk menambah tekanannya kepada pemerintah Saudi untuk mencegah pengaruh gerakan tersebut.

Haji merupakan ibadah akbar dan universal yang hakiki serta menjadi acara ikrar keterbebasan dari kaum kafir setiap tahun yang diikuti oleh ribuan jamaah haji Iran dan kaum Muslimin yang revolusioner dari negeri-negeri yang lain. Pada acara itu, mereka meneriakkan yel-yel anti Amerika dan Soviet.

Dan pada hari Jumat 6 Dzulhijjah 1407 H, pada saat lebih dari seratus lima puluh ribu jamaah haji berdesak-desakan untuk ikut serta dalam acara ikrar keterbebasan dari kaum Musyrik, dinas keamanan pemerintah Saudi, baik yang bersembunyi maupun yang terang-terangan—melakukan serangan kepada lautan jamaah haji tersebut dimana dari cara serangan ini menunjukkan adanya perencanaan yang matang sebelumnya. Akibat dari tragedi yang pahit ini gugurlah lebih dari empar ratus jamaah haji Iran, Libanon, Palestina, Irak dan yang lain.

Lebih dari lima ribu orang mengalami luka-luka. Di samping itu, beberapa orang yang tidak berdosa pun ditangkap. Dan mayoritas korban yang syahid dari kalangan perempuan dan orang-orang tua yang tidak mampu lari secara cepat dari pembantaian massal tersebut.

Mereka harus mengorbankan jiwanya secara teraniaya hanya karena menyatakan keterbebasan dari kaum musyrik. Yang lebih penting dari itu, penodaan tempat suci Ilahi yang aman di hari Jumat dan di hari-hari haji yang penuh berkah dan di bulan haram yang mulia.

Sungguh tanda-tanda kemarahan dan derita menyesakkan hati Imam Khomeini akibat dari kebiadaban dan kebengisan ini, namun kemaslahatan umat Islam dan keadaan dunia Islam mencegahnya untuk mengambil tindakan praktis apa pun. Imam hanya menahan kesedihan ini di lubuk hatinya yang paling dalam dan pengaruh hal ini tampak dalam pembicaraan dan penjelasannya sampai akhir usianya.

Sesungguhnya sikap tidak peduli negara-negara Islam terhadap berbagai agresi Israel atas Libanon Selatan dan berbagai kejahatan yang dilakukan kaum Zionis di sana dan perlawanan keras kaum muslim di tanah pendudukan Palestina dan yang lebih buruk dari semua itu, keinginan negara-negara Arab untuk menciptakan apa yang dinamakan dengan perdamaian dengan Israel dan berlepas tangan dari usaha membebaskan Palestina, semua ini cukup memukul hati Imam Khomeini dan kaum muslimin dunia. Imam melontarkan kritikan tajam sejak permulaan kebangkitannya untuk membebaskan tanah-tanah Islam dari cengkraman kaum Zionis—di hadapan wajah Israil dan pelindungnya yang pertama (Amerika). Dan Karena sebab itu sendiri, Imam diasingkan keluar negerinya selama empat belas tahun. Begitu juga selama masa yang menyertai kemenangan revolusi Islam, Imam tidak pernah mengendurkan sikap dan semangatnya dalam memberikan dukungan material dan spiritual untuk merealisasikan tujuan tersebut.

Imam Khomeini pernah mengungkapkan adanya dua pemahaman yang berlawanan dari Islam di masa kita sekarang, yaitu “Islam yang orisinil” dan “Islam Amerika”. Sebab, Imam menyakini bahwa Islam yang tidak memperhatikan hukum-hukum al-Qur-an yang menjadi kesepakatan bersama dan sunah Nabi saw yang mulia yang berkaitan dengan tanggung jawab-tanggung jawab sosial, dan Islam yang tidak menghiraukan jihad dan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta keadilan sosial dan hukum-hukum yang berkenaan dengan hubungan-hubungan sosial dan ekonomi di masyarakat Islam, dan yang mencegah partisipasi kaum Muslim dalam kegiatan politik dan dalam penentuan masa depan mereka, dan hanya memandang agama sebagai ritualitas dan ibadah individual tanpa memperhatikan falsafahnya dan ruhnya yang hakiki, maka Islam seperti ini adalah Islam yang diinginkan oleh Amerika dan mereka yang menjadi agennya.

Dalam analisanya, Imam Khomeini bersandar kepada berbagai fenomena sejarah dan bukti-bukti kuat yang menghiasi wajah dan kondisi aktual negeri-negeri Islam. Imam meyakini bahwa penjajahan modern adalah hasil dari para kolonial yang dulu. Sebab, mereka telah berusaha untuk mengubah agama mayoritas kaum Muslim melalui para misionaris Kristen. Ketika mereka gagal dalam melakukan hal itu maka mereka mencurahkan usaha mereka—sejak saat itu sampai sekarang—untuk menonaktifkan pemberlakuan hukum-hukum Islam yang tinggi dan merusak citra Islam dari dalam. Dan hasil dari hal tersebut sangat nyata sekali. Hari ini semua negeri Islam menyandarkan undang-undangnya dan proses hukumnya pada sistem dan undang-undang Barat yang berlawanan dengan agama dan yang substansinya berlawanan dengan undang-undang yang bersandar pada wahyu.

“Islam Amerika” memberi kesempatan kepada budaya Barat untuk masuk dan mempengaruhi masyarakat Islam dan menghancurkan tanaman dan keturunan. Islam Amerika memberi kesempatan kepada pemerintah-pemerintah yang menjadi boneka orang-orang asing untuk menjalankan hegemoninya atas Muslimin dan atas nama Islam, mereka justru memerangi kaum Muslim yang hakiki, dan pada saat yang sama mereka menjalin persahabatan dengan Israel dan Amerika yang notabena adalah musuh-musuh Islam.

Dalam pernyataan akhirnya, Imam Khomeini menjelaskan secara gamblang hakikat ini, yaitu bahwa jalan satu-satunya untuk menyelamatkan manusia dari problemanya yang sekarang adalah kembali ke masa agama dan keyakinan keagamaan, dan jalan satu-satunya untuk membebaskan negeri-negeri Islam dari keadaannya yang sekarang yang menyedihkan adalah kembali kepada Islam yang orisinil dan kepada jati diri islaminya yang independen.

Metodologi Dakwah “Wahabi Menentang Syiah”. Disamping kekhasannya memudahkan menyatakan “Pengkafiran atau Bid’ah” kepada Umat Islam lainnya.


Jika kita hendak memberikan apresiasi terhadap Wahabi dalam satu kalimat, dengan mengamati jumlah dana yang digunakan, dan gerak kerja Wahabi, maka sesungguhnya Wahabi dapat kita katakan sebagai sebuah pusat kebudayaan yang sangat utuh di mana umat Kristiani sekalipun tidak memiliki gerakan yang seperti mereka miliki.METODOLOGI WAHABY DALAM MENENTANG SYIAH.Menurut Kantor Berita ABNA, berikut terjemahan ringkas dari pembahasan Ayatullah Husain Qazvini mengenai metodologi dakwah Wahabi untuk menentang Syiah yang disampaikan dalam ceramahnya di Mushalla Qom.Ayatullah Husaini Qazwini
Metodologi Dakwah Wahabi Menentang Syiah.
Bertempat di Mushalla Qom, 11/08/1389.
بسم الله الرحمن الرحيمPokok pembahasan kita pada hari ini ialah metodologi terbaru propaganda Wahabi.
Jika kita hendak memberikan apresiasi terhadap Wahabi dalam satu kalimat, dengan mengamati jumlah dana yang digunakan, dan gerak kerja Wahabi, maka sesungguhnya Wahabi dapat kita katakan sebagai sebuah pusat kebudayaan yang sangat utuh di mana umat Kristiani sekalipun tidak memiliki gerakan yang seperti mereka miliki.4 tahun lalu dalam kunjungan ziarah saya ke Mekkah, saya sempat mengunjungi salah satu pusat kebudayaan Wahabi bernama رابطة العالم الإسلامية di mana setiap orang dapat melihatnya ketika masuk ke Mekkah dari Madinah, yang pertama kali terlihat adalah sebuah gedung putih yang mereka letakkan papan tertera رابطة العالم الإسلامية, saya sendiri kurang lebih tujuh jam berkeliling di dalam gedung tersebut sekedar untuk melihat lebih dekat berbagai bagian methodologi propaganda, risalah dan percetakan buku yang mereka miliki. Ringkasnya pusat رابطة العالم الإسلامية sama seperti Kantor Pusat Tablighat Islami dan Sazman Tablighat Islami kita. Inilah perbedaan yang ada pada pusat kebudayaan mereka. Namun dalam keorganisasian PBB, mereka tercatat sebagai anggota resmi dalam UNESCO dan UNICEF. Salah seorang staff mereka berkata, “Belum ada satupun negara yang di dalamnya tidak ada kantor cabang atau perwakilan dari kami.” Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa gerakan mereka yang utama adalah membantu anak yatim dan golongan miskin.

Para hadirin sekalian mesti tahu, metodologi propaganda hari ini sangat jauh berbeda dengan zaman yang lalu. Dahulu tatkala alat cetak telah ditemui, surat kabar dan buku telah digunakan untuk memindahkan budaya ke wilayah yang lain, dan dari generasi ke generasi. Namun hari ini, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi pada manusia seperti bidang ‘cyber’, internet, satelit dan sms, pihak penentang dan musuh kita memanfaatkan ruang yang ada tersebut semaksimal mungkin.

Statistik Propaganda Wahabi

Dalam statistik yang ditunjukkan oleh situs web http://www.isl.org.uk bahwa terdapat lebih dari 40.000 halaman situs web Wahabi yang selama 24 jam aktif menentang Syiah. Diantara situs mereka yang paling menunjukkan bentuk kegigihan dan keprofesionalan mereka adalah halaman situs web Faisal Nur http://www.fnoor.com yang dibuat dan dioperasikan oleh seorang Wahabi di Arab Saudi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa yang mendanai segala bentuk operasional situs tersebut adalah putera mahkota Arab Saudi sekarang yaitu Amir Naif. Dalam halaman web tersebut ada lebih dari 40 ribu judul kitab dan makalah menentang Syiah, dan boleh dikatakan situs tersebutlah yang merupakan situs induk dan rujukan situs-situs Wahabi lainnya. Hampir kesemua situs berbahasa Arab yang menentang Syiah membuat tautan link dengan situs tersebut. Bahkan situs anti Syiah berbahasa Persia seperti Sunni News, Sunni Online dan Islam Teks, sebahagian besarnya memosting materi-materi yang lancang dalam menentang Syiah, serta mempropagandakan penghinaan dan caci maki yang merujuk dari situs tersebut.

Dalam berita-berita pekan lalu, laporan online menurunkan berita mengenai seorang peneliti Kanada yang menyebutkan bahwa satu dari 2 situs website Islam adalah berkaitan dengan Wahabi bahkan sampai ada yang berlindung dibalik pusat pengajian kebudayaan Ikhwanul Muslimin.

Sementara dalam perjalanan saya ke Jerman dan Belanda, saya berkesempatan membuka halaman-halaman situs dari internet teman baik saya yang membantu selama perjalanan di sana. Salah satu perkara yang mengherankan saya adalah tentang Imam Mahdi yang dinantikan, ada 1,5 juta situs dalam internet yang membahas hal tersebut itu. Tentu saja hal tersebut sangat mencengangkan, 1,5 juta situs tentu saja angka yang sangat fantastis. Meskipun membahas tentang Imam Mahdi afs namun pada hakekatnya situs-situs tersebut bertujuan untuk menghentikan laju dakwah Syiah. Untuk hal yang sederhana ini saja, kita bisa memahami betapa gigihnya mereka untuk menentang Syiah dengan berbagai kemudahan fasilitas yang mereka punyai. Hal ini dapat dirujuk dalam halaman web universitas Amir Kabir سايت دانشگاه امير كبير.

Propaganda Wahabi Melalui Stasiun-stasiun TV

Sekarang ini, dari 1800 saluran satelit yang aktif di kawasan Timur Tengah ini, hampir 300 saluran satelit yang diisi dengan acara dan program menentang Ahlul Bait.

Mungkin mendengar perkara ini dianggap biasa, menyatakan statistik liputan dan pendengarnya sangat mudah. Namun anda semua lihatlah apa hasil kerja-kerja mereka dalam masalah propaganda dan kebudayaan? Sementara apa pekerjaan kita? Akhirnya kerja اتحاديه تلويزيون‌هاي اسلامي mampu dilaksanakan, yaitu pada 2 pekan lalu sebelum persidangan di Tehran, mereka telah mengumpulkan 182 radio dan stasiun-stasiun TV lokal.

Dalam beberapa saluran satelit, atas nama membela Ahlul Bait dan mempertahankan Wilayah Faqih sekelompok orang mengaku pengikut Syiah dan pelajar agama menghantam Ahlusunnah dan menyerang mereka yang biadap terhadap kesucian Ahlul Bait. Namun hasilnya justru semakin mencoreng nama Syiah dan terjadi fitnah yang dahsyat. Kami telah mendengar bahwa dalam kongres Amerika pada tahun 2009 secara resminya menyebutnya sebagai ‘Tahun Ikhtilaf Sunni dan Syiah’. Untuk ini mereka telah memperuntukkan anggaran yang khusus. Kita tidak lupa di permulaan perang di Irak, seluruh surat kabar memaklumkan, jika tidak salah, bertanggal 20 atau 19 Esfand 1384 surat kabar Kayhan menulis, “نظاميان آمريكايي در عراق، يك جوان سيد و معمم نوراني را دستگير كرده بودند كه او، همان مهدي موعود است و مدت‌ها او را در زندان شكنجه مي‌كردند تا اعتراف كند او مهدي است” (Tentara AS di Irak menangkap seorang Sayid dan guru; yaitu Imam Mahdi, mereka menyiksanya di penjara sehingga ia mengaku bahwa dirinya Imam Mahdi) setelah mereka mengetahui ayah dan ibu Imam Mahdi itu mempunyai beberapa tanda. Ayah dan ibu individu ini adalah orang lain, mereka sudah berputus harapan dan berjanji akan melaporkan kepada tentara Amerika jikalau menemui tempat persembunyian Al-Mahdi. Begitu juga Bush, presiden Amerika yang lalu, sebuah lembaga ilmu dibentuk yang terdiri dari orang Islam dan Kristiani, teoretisi Gedung Putih telah diterangkan sehingga mereka melakukan penyelidikan tentang Al-Mahdi Maw’ud dan melaporkannya kepada beliau (presiden). Pernyataan ini turut tersebar dalam laporan media setempat, namun tidak diketahui apakah hasilnya.

Tanggal 17 bulan Ramadan tahun lalu, seseorang yang mengaku pelajar agama, namun pada hakekatnya bodoh dan tidak waras telah memprakarsai peringatan hari wafatnya Aisyah di London, Inggris dan melakuan penghinaan dan pelecehan terhadap istri Nabi, Aisyah yang tidak bisa dibernarkan oleh syariah. Perkara kontroversial tersebut mendapat perhatian dari para ulama Marja Taqlid dan Rahbar bahkan 90 ulama besar Syiah di Arab Saudi dan wilayah Timur Tengah, Imam Juma’at dan Jamaah, pusat-pusat pengkajian ilmiyah mengecam dan mengutuknya. Kecaman ini telah dicetak juga dalam surat khabar yang bernama al-Riyadh. Pergerakan yang mempunyai unsur fitnah seperti ini tidak jauh dari upaya Wahabi untuk memberi kesan jelek mengenai Syiah. Individu seperti ini telah mereka perkenalkan, dan biaya serta kemudahan telah diperuntukkan untuknya supaya ia dapat memberikan pernyataan-pernyataan mengenai dunia Islam. Setelah bulan Ramadhan, bersamaan dengan tahun penghinaan (Yasser al-Habib) terhadap Ummul Mu’minin Aisyah, hampir 19 saluran satelit Wahabi senada mengadakan program menentang Syiah. Akibatnya sebahagian saluran Wahabi seperti saluran Wisal dan Safa, saya sendiri menonton program-program mereka selama beberapa menit, saluran ini dengan penuh emosi, mereka menggunakan kata-kata yang paling buruk untuk mencerca para ulama Marja’ Taqlid, bahkan orang perusuh sekalipun tidak akan melakukan seperti ini. Mereka terlalu biadab menghina makam-makam suci para Imam,terutama sekali dalam bulan Ramadhan yang penuh keberkahan tahun itu, saluran-saluran al-Mustaqillah, Hafiz, Safa, Nas, al-Rahmah, al-Hikmah, al-Khalijiyah dan al-Sihhah tidak memiliki rasa segan sedikitpun untuk melakukan pencercaaan dan penghinaan. Jelas apa yang mereka lakukan adalah bentuk konspirasi dan propaganda negatif, terlebih lagi belasan stasiun TV tersebut disiarkan melalui Nil Sat. Alhamdulillah, pemerintah Mesir telah memblokir penyiaran beberapa saluran TV tersebut, seperti saluran Safa dan Wisal, yang telah mempropagandakan permusuhan yang terang-terangan terhadap Syiah dan mazhab Ahlul Bait. Lebih dari itu Arab Saudi dalam setiap penyelenggaraan haji, menyiarkan sebuah saluran radio siaran langsung dalam delapan bahasa yang ditujukan kepada para peziarah Haji Baitullah al-Haram.

Perkara penting lainnya, usaha mereka dalam menyebarkan kebencian dan permusuhan terhadap Syiah juga mereka sebar dalam halaman situs internet. Beberapa laporan dalam situs-situs web mereka yaitu mereka memaklumkan, ‘Saluran satelit Syiah lebih bahaya dari bom nuklir dan atom’. Ini disebabkan mereka tahu saluran seperti al-Kawthar, ulama seperti Ayatullah Kurani atau Sayyid Kamal Haidari ada sebagai berbicara di dalamnya yang berusaha menyingkap kebatilan-kebatilan mereka.

Gelombang kesadaran para pemuda Ahlusunnah dan Wahabi, dan cenderungnya mereka ke arah Syiah.

Dengan mengamati informasi yang telah tersebar, saya selalu berusaha mencari berita-berita online atau satelit yang up date, ataupun berita terbaru melalui perantaraan sahabat-sahabat. Saya ingin mengatakan satu hal bahwa, sampai dalam kurun ke-15 ini, belum ada para pemuda Wahabi dan Ahlusunnah yang lebih cenderung kepada Syiah seperti kurun sekarang. Hampir setiap minggu 10, 20 orang atau lebih dari 30 orang merujuk kepada saya dan secara resmi menyatakan mereka mengikut Mazhab Ahlul Bait. Dalam tahun ini saja, beberapa kali para pemuda Kristiani datang ke Qom dan Maha Besar Allah memberi taufiq-Nya, mereka telah menjadi Syiah di tangan kami dan pulang.

40 hari yang lalu, seorang pemuda berusia 25 tahun datang dari London, beliau adalah seorang da’i dari Baha’i. Beliau terpengaruh dengan kata-kata kami dalam salah satu acara TV dan akhirnya mengambil keputusan untuk bertaubat, lantas mengikuti mazhab Ahlul Bait dan cenderung kepada Syiah.

Penyikapan Syiah terhadap Ahlulsunnah

Dengan tersebarnya propaganda yang dilakukan Wahabi, di beberapa tempat seringkali menghasilkan keputusan yang negatif mengenai Syiah.

Abu Bashir pernah datang menemui Imam Sadiq dan berkata:

Bagaimana cara kita berhadapan dengan Ahlusunnah? Imam berkata: Apakah engkau mempunyai Imam dan yakin mengikutinya? ujarnya: Iya. Imam berkata: Saya adalah Imam kamu, dan keniscayaan bagi kamu mengikuti kami, bermuamalahlah kepada Ahlusunnah sebagaimanaa yang saya lakukan, andainya mereka sakit saya menziarahi mereka. Jikalau mereka meninggal dunia, saya akan mengikut perarakan jenazah mereka. Sekiranya… (seterusnya sampai akhir riwayat)

Karana itu kami mengatakan beberapa kali. Apakah yang hendak terjadi kepada Syiah jikalau para Imam tidak berpesan supaya kita beradab santun dengan Ahlusunnah?. Apa yang berlaku jika para marja kita tidak melarang kita dari mencerca?

Menyebarkan Penentangan Ulama Syiah terhadap Mazhab Syiah.

Salah satu bentuk propaganda baru Wahabi adalah menyebarkan perkara-perkara yang menentang Syiah dari ulama-ulama Syiah sendiri. Dalam 2 – 3 minggu belakangan ini, isu ini telah didanai. Jika anda menonton saluran-saluran Wahabi Safa, Wisal, dan Nur selama sepekan, anda akan dapati salah satu perkara yang mereka singgung ialah ada di kalangan para ulama Syiah yang membicarakan perkara yang menentang Syiah. Contohnya seperti apa yang dikatakan sebagai Dr. Musa Musawi, cucu al-Marhum Sayyid Abul Hasan Esfahani, mereka telah banyak mengeluarkan biaya di dalam halaman site, satelit dan kitab-kitabnya. Beliau telah menulis kitab yang bernama As-Syiah Wa Al-Tashih. Ayatullah al-Uzma Subhani menukilkan kepada saya dengan berkata, «من خودم از راديو شنيدم كه صدام مي‌گفت: اگر اين 8 سال جنگ ما عليه ايران، هيچ فايده‌اي نداشت جز اين‌كه اين كتاب توسط يك مرجع زاده نوشته شد، براي ما كافي است». (Saya sendiri mendengar Saddam mengatakan, jika dalam perang 8 tahun kita menentang Iran dan tidak memberi faedah apa-apa, cukuplah kemenangan bagi kita sebuah kitab yang ditulis oleh cucu seorang Marja).

Kitab ini dari awal sampai halaman terakhirnya, tidak ada yang lain kecuali penghinaan yang melampaui batas terhadap Syiah dan tempat-tempat sucinya. Wahabi juga turut menyatakan suka citanya dengan kehadiran buku tersebut. Salah seorang Marja Taqlid besar yang mungkin sebaiknya tidak usah saya sebutkan nama beliau di sini, beliau terkenal di kalangan penuntut agama sebagai seorang yang bersih, taqwa dan berwilayah. Beliau berkata kepada saya, “Saya tidak akan lupa, Musa Musawi ini di Zaman Syah, ia seorang peminum arak, pezina dan pergi ke club-club malam, dan ia sering bersama seorang artis.” Beliau juga bersama-sama dengan beberapa penari masyhur, memberi cek kepada mereka, lari dari Iran yang kemudian berita mengenai hal tersebut tersebar dalam surat kabar. Ada orang memberitahu kepada saya, “Sudah tentu ia tahu memberi uang kepada mereka ini adalah haram, dan pengeluaran uang tersebut di jalan yang salah. Ia mengatakan, “Beliau dilihat bertemu dengan bekas perdana menteri Syah, dan dikenakan topi di kepalanya, dan ia mengambil sejumlah uang dan melarikan diri”. Sekarang lihatlah golongan Wahabi hari ini memuliakan individu seperti ini, dengan menyamaratakan semua keluarga dan orang yang ada disekelilingnya, orang ini kemudian diperkenalkan sebagai seorang pemikir Syiah di mana dikatakan, “Setelah ia tahu Syiah adalah sebuah mazhab yang sesat, ia menulis sebuah buku yang dinamakan Al-Syiah Wa Al-Tashih.” Dia sekitar 7 sampai 8 tahun yang lalu di Arab Saudi telah menderita penyakit barah akibat banyak meminum arak. Saya pernah menghubungi beberapa orang pamannya dan anak saudaranya di Masyhad, termasuk adik kandungnya di Teheran. Mereka berkata “Kami sangat merasa malu, kami hanya bisa membantah apa yang dia lakukan dan nyatakan bahwa apapun yang dia nyatakan dan lakukan tidak ada lagi sangkut pautnya dengan keluarga”.

Sekarang mereka buat juga membuat ulama boneka, Sayyid Abu al-Fadhl Burqe’i sambil menggelarinya Ayatullah Uzma, kononnya beliau salah seorang ustaz hauzah ilmiyah Qom yang tersohor. Setiap hari rekaman ceramah beliau yang menghina simbol-simbol suci Syiah, penghinaan kepada para ulama marja’ besar Syiah dan ejekan terhadap ziarah para Imam ditayangkan berkali-kali dalam Saluran Nur, sementara dalam saluran-saluran Arab ditayangkan juga biografi dan sejarah latar belakangnya dengan sangat jelas. Memang benar beliau pernah berada di dalam Hauzah, yaitu di zaman Ayatullah Burujerdi, ia mengajar kitab Rasail dan makasib, dan disebabkan kebiadabannya terhadap Ayatullah Burujerdi di dalam Masjid Imam, penduduk Qom telah mengusir dan memintanya keluar dari kota Qom. Beliau pergi ke Tehran dan membina masjid Wazir Daftar. Beberapa ketika beliau di sana, beliau masih meneruskan penghinaan dan pengikut Syiah di sana turut menyingkirkannya. Ia juga pernah menerjemahkan Kitab Ibnu Taimiyah dalam bahasa Persia. Beberapa tahun lalu kami ke Makkah, ketika kami masuk ke Baitullah Al-Haram, bungkusan jilid yang dimasukkan al-Quran kecil ke dalamnya, saya lihat salah satunya mengandungi terjemahan Minhaj Al-Sunnah Ibnu Taimiyah hasil karya Abul Fadhl Burqe’i. Ini benar-benar sebuah skandal. Beliau juga mempunyai hampir 70 karya dan buku. Dari jumlah tersebut hampir 30 kitab yang menyampaikan hal sebenarnya mengenai Syiah dan 40 kitab menentang Syiah. Namun menjelang penghujung usia, beliau menyesal di atas kebiadabannya. Namun penyesalan tidak lagi berguna:

“Dan tidak ada gunanya taubat itu kepada orang-orang yang selalu melakukan kejahatan, hingga apabila salah seorang dari mereka hampir mati, berkatalah ia: “Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ini,” (sedang taubatnya itu sudah terlambat), dan (demikian juga halnya) orang-orang yang mati sedang mereka tetap kafir. Orang-orang yang demikian, Kami telah sediakan bagi mereka azab yang teramat pedih.” (Surah Al-Nisa ayat 18)

Salah seorang sahabat-sahabat terdekat beliau sendiri, Husaini dan Rajani menukilkan dan menulis, “Beliau meninggal karena sebuah penyakit. Kami telah pergi menjenguknya dan beliau membaca surat wasiatnya untuk kami dan berkata: Saya seorang Syiah yang percaya keimamahan dan kemaksuman 12 Imam. Dan saya pernah melakukan kekhilafan”. Ketika beliau dikeluarkan dari Teheran, beliau pergi ke kampung Kun di kawasan Teheran dan tinggal di rumah anak laki-lakinya. Beliau berwasiat: “Jikalau pengikut Syiah mengizinkan, kuburkan jenazahku di dalam perkuburan sanak saudara Nabi Syuaib as semoga baginda Nabi memberikan syafaat kepadaku dan Allah mengampuniku”. Sekarang kelancangan memerangi Syiah atau merusakkan pemikiran para pemuda adalah dengan memutarkan rekaman ucapan pendek beliau. Namun Uthman Khamis seorang pemuka ekstrim Wahabi dan pemikirannya, kelancangannya telah menguntungkan Syiah dan sudah tentu Syiah dalam akidahnya sangat tegar. Ia selalu memperkenalkan sosok Sayyid Abul Fadhl Burqe’i sebagai seorang tokoh Syiah terkemuka di mana sebelumnya adalah seorang Syiah dan kemudian masuk Sunni. Beginilah cara mereka mereka menebar fitnah dan kebohongan. Sekiranya mereka tidak menemukan seorang watak Syiah yang sesuai dengan keinginan mereka, mereka pasti akan menciptanya.. Contohnya berbagai kitab yang dicetak di Arab Saudi dengan nama Ayatullah al-Uzma Subhani dan Allamah Askari. Ayatullah al-Uzma Subhani menulis dalam sepucuk surat kepada Dr. Qardawi: “Apakah anda tidak punya tindakan apa-apa mengenai kenyataan di Arab Saudi dan Emirat, yang tidak berlalu satu hari melainkan ditulis sebuah risalah atau buku, atau makalah yang menyerang Syiah dan malangnya, ia sentiasa mengulang tuduhan-tuduhan palsu di mana puluhan kali jawaban sudah diberi…, mereka masih tidak cukup dengan ini, buku-buku mengkritik Syiah dengan nama Ulama Syiah telah dicetak dan disebarkan. Sehingga sebuah kitab yang mengatasnamakan saya, dan sebuah kitab dengan nama al-Marhum Allamah Askari telah di cetak dan diterbitkan. Kedua-duanya diperkenalkan seorang muballigh Wahabi dan pengkritik Syiah”. Yaitu mereka tidak ragu sedikitpun melakukan kebohongan dengan menciptakan tokoh fiktif atau mencaplok nama pemuka Syiah yang menjadi pengkritik Syiah. Sehingga seorang saudara kita dari Afganistan menelepon saya dan berkata, “Di sini mereka telah menulis sebuah kitab yang mengandungi kata-kata anda yaitu Qazwini telah menjadi Ahlusunnah dan menentang Syiah dan risalah-risalah telah mereka sebarkan”. Saya pun berkata, “Jikalau suara Ayatullah al-Uzma Subhani dan Allamah Askari tidak sampai ke seluruh dunia serta terbatas, saya dengan berkah Ahlul Bait as hadir bergiat dalam dialog Syiah – Wahabi, dan di dalam saluran Al-Mustaqillah, Nur, Salam dan Wilayah tidak sampai seminggu yang lalu saya menjalankan program menentang Wahabi dan mempertahankan Syiah”. Mereka sampai ke tahap ini melakukan upaya penentangan Syiah. Atau seperti buku Lillah Thumma Li Tarikh (telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah”), Arab Saudi telah mencetaknya dengan edaran jutaan eksemplar dan disebarkan ke seluruh negara-negara Islam. Dalam pertemuan saya dengan salah seorang ulama besar di Qatif di Makkah al-Mukarramah, ia berkata, “Di kawasan Qatif dan Ahsha, buku ini diedarkan kepada pemuda-pemuda Syiah dari sebuah kios. Di mana saja mereka lihat orang beratur membeli roti atau selainnya, mereka akan bawa serta mengedarkannya dengan gratis”. Di Kuwait 100 ribu naskah buku ini telah dicetak dan disebarkan kepada khalayak ramai. Salah seorang ulama terkenal Syiah Kuwait, (bernama) Muhri secara resmi memberi peringatan kepada kerajaan Kuwait, “Jikalau penyebaran buku ini tidak dicegah, Kuwait akan menjadi Lebanon kedua”. Mereka serta-merta kemudian melakukan pelarangan penyebaran buku tersebut. Penulis buku ini juga adalah yang dikatakan sebagai Ayatullah Sayyid Husain Musawi, salah seorang marja Syiah terkenal di Najaf (sebagaimana yang tertulis dalam buku tersebut) Ia pernah mengajar di sana selama beberapa tahun namun karena mendapat keragu-raguan, lantas pergi mencari jawaban dan berguru kepada Ayatullah al-Uzma al-Khui, Ayatullah al-Uzma Sadr dan ulama-ulama besar Syiah lainnya. Namun kesemua ulama-ulama Syiah tersebut tidak mampu menjawab keraguannya sehingg ia kembali kepada Ahlusunnah dan menjadi Wahabi. Hari ini Wahabi begitu mengagung-agungkan Sayyid Husain Musawi dan bukunya dicetak dan diedarkan ke negara-negara Islam dengan berjuta-juta naskah. Walau bagaimana pun banyak kitab telah ditulis untuk menyangkal bukunya. Salah satu buku terbaik ialah dikarang oleh ulama terkenal Saudi yang bernama Syaikh Ali Al Muhsin yang pernah menimba ilmu di Hawzah Ilmiyah Qom. Kitab ini berjudul ‘Lillah Thumma Lil Haqiqah’. Hampir 15 kitab telah menjawab buku tersebut, dan ada di dalam beberapa situs .

Di Pakistan, 3 juta Pelajar Wahabi Direkrut untuk Menyebarkan Ajaran Wahabi

Di Afghanistan, terdapat 11 ribu madrasah dibangun oleh Wahabi dan untuk Negara ini saja lebih dari 70 ribu pelajar Wahabi yang direkrut.

Sebelum ini, pemimpin pelajar Ahlusunnah atau guru dari kota Timur dan Selatan telah dibawa ke Madinah untuk belajar di Universitas Madinah. Saya berusaha mengenal lebih dekat pembelajaran di sana. Tatkala kepergian mereka (pelajar) ke Arab Saudi menghadapi masalah, Saudi telah membina madrasah di Emirat yang menempatkan 12 ribu pelajar. Beberapa kali pelajar dari Iran, Afghanistan dan Tajikistan dibawa ke Emirat. Mereka dibekali dengan uang yang sangat banyak ketika tabligh dan pulang ke kampung halaman mereka. Para hadirin sekalian, demikianlah gambaran besar dari berbagai upaya mereka untuk menghancurkan Syiah dan menyebarkan mazhab mereka.

««« و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته »»»

Idiot Saddam Hussein menghalalkan darah Syiah Iran sebab Saddam claim mereka adalah kafir. Padahal, Saddam Hussein sebenarnya takut Revolusi 1979 yang berlaku di Iran merebak ke Iraq

Iraq-Iran war antara 1980-1989 adalah satu pertembungan fahaman Syiah dan Sunni (itu yang diberitahu media). Idiot Saddam Hussein menghalalkan darah Syiah Iran sebab Saddam claim mereka adalah kafir. Padahal, Saddam Hussein sebenarnya takut Revolusi 1979 yang berlaku di Iran merebak ke Iraq. Saddam alihkan perhatian tentang soal duit minyak, Istananya yang besar, kaum kerabatnya yang kaya-raya, dan kemiskinan

.

Saddam memainkan isu sacred war against kafir Syiah. Dan peperangan ini melihatkan kebodohan bangsa Arab yang nyata. Semua negara Arab(except Syria) tolong Saddam.

30 Disember 2006, Saddam Hussein telah digantung sampai mati setelah menempuh perbicaraan yang nyata tidak telus.Walaupun sudah lama Saddan Hussein mati meniggalkan kita, namun Saddam Hussein meniggalkan kesan yang kuat dalam kehidupan umat Islam. Namanya dipuja dan tidak kurang juga ada yang membencinya. Kenapa? Jawapan saya ringkas, dalam kehidupan ini kita tidak boleh memaksa orang lain suka dengan kelakuan kita. Jujur saya katakan bahawa dahulu saya memang fanatik dengan Saddam Hussein.

.

Betulkah Saddam Hussein seorang muslim yang bagus? Namun di sini saya akan menghuraikan Saddam Hussein dari baik dan buruknya berpandukan buku “War of the Crazy Eagle” dan “Zaman Kegelapan Islam”.

The Courage of Women

An Armed Iranian women in front of mosque during Iraq invasion in 1980. Iraq was backed by most of Arab and West country but still can’t invade entirely Iran. Saddam was give up after 8 years in effort to invade Iran. This is because Iranian was fight for their faith different with Saddam’s army who fight for the dictatorship .

Sepanjang Saddam Hussein memerintah Iraq, beliau menjalankan pembersihan kaum yang merupakan rakyatnya sendiri. Beliau membunuh kaum Kurdish dan Parsi dan muslim yang berfahaman Syiah. Teknologi bom Kimianya digunankan dalam mebunuh rakyatnya sendiri. Beliau seorany yang fasisme dan materialsme. Lihat sahaja istana beliau, kita dah dapat menilai keperibadian Saddam Hussein yang tamak dan materiasme. Kepimpinan beliau boleh disamakan dengan Adof Hitler. Saddam Hussein menanamkan perasaan semangat ketenteraan dalam rakyatnya supaya kesengsaraan dari kemiskinan dapat dilupakan. Mungkin ada orang berpendapat beliau menanam semanagat Jihad dalam umat Islam, namun keikhlasan beliau diragui dengan kehidupan beliau yang mewah dan bersifat keduniaan

.

Ekonomi Iraq hanyalah bergantung pada minyak semata-mata. Beliau mula bercakap dalam hal agama untuk menarik sokongan seluruh umat Islam dan ternyata beliau berjaya. Beliau sengaja meletakkan kalimah “Allahu Akhbar” dalam bendera Iraq sebagai lesen dalam operasi ketenteraan yang tidak masuk akal oleh Saddam Hussein

.

Kaum Parsi dan Puak Kurdish antara mangsa kekejaman Saddam Hussein yang jelas, beliau menjalankan pembunuhan beramai-ramai. Teknologi Kimianya digunakan untuk membunuh rakyatnya sendiri. Dalam masa yang sama beliau bercakap dalam hal agama untuk mendapat sokongan negara Arab lain. Tindakan ini menunjukkan Saddam Hussein seorang yang munafik semata-mata

.

Selepas berlaku Revolusi Iran pada 1979 yang mengejutkan dunia kerana ia betul-betul menjadi, Iraq ternyata tercabar kerana dasar yang diperjuangkan tokoh revolusi Iran, Ayatollah Ali Khomeini. Khomeini menyeru revolusi seluruh negara Arab dalam membebaskan dari belenggu Barat dan demokrasi tulen. Saddam Hussein tercabar kerana beliau takut hilang kuasa dan memang dasar beliau benci kaum Parsi dan fahaman Syiah. Sekali lagi kebodohan Saddam Hussein terserlah setelah beliau menyerang Iran setelah sedar dengan sokongan yang bakal diterima beliau. US sememangnya menginginkan Umat Islam huru-hara selain ingin menebus malu kerana mereka dimalukan oleh Revolusi Iran yang menyingkirkan US dalam kepentingan minyak. Amat pelik kerana sebelum ini Saddam Hussein anti-Barat dan benci penjajah

.

Sekali lagi, ternyata beliau seorang munafik. US memberi sokongan terhadap Iraq dalam membentuk ketenteraan untuk menjatuhkan Revolusi Iran yang baru setahun jagung. Negara Arab Saudi banyak menyalurkan bantuan kewangan dan semua negara Arab lain menyokong kerja gila Saddam Hussein. Saddam Hussein berharap dengan kerajaan Iran yang muda ini, memudahkannya menjajah Iran sambil menikmati sumber minyak. PBB mengeluarkan resolusi yang mengatakan Iraq bersalah dalam perang ini dan harus berhenti berperang. Namun kerana mendapat restu US, Saddam Hussein buat tidak dengar

.

Iran kelihatan sangat kesenderian kerana tanpa sokongan dan bantuan mana-mana negara. Namun kaum Parsi yang terkenal dengan semangat juang yang tinggi memang tidak mudah mengalah. Yang nyata lebih 10 tahun kita dapat melihat “muslim kill muslim” dan dunia Barat gelak dengan gelagat umat Islam. Tiada apa yang berubah selepas perang ini dan sempadan Iran-Iraq masih kekal tanpa apa-apa perubahan.

Selepas kegagalan misi Saddam Hussein di Iran, beliau sekali lagi bertindak luar jangkaan dengan menyeran Kuwait dengan mendakwa Kuwait sebhagian dari Iraq. Dengan menganggap Kuwait sebuah negara kecil dan lemah maka lebih senang misi beliau berbanding misinya di Iran. Namun kali ini US bertindak memihak kepada Kuwait

.

Sekali lagi misi Saddam Hussein gagal malah kali ini lebih teruk keran Iraq dikenakan sekatan ekonomi. Rakya Iraq menderita kerana tindakan Saddam yang membuta tuli dan ia hanya menguntungkan Israel sahaja.

Kesimpulan

Jika membuat perbandingan dua watak Saddam Hussein, boleh dikatakan bahawa Saddam Hussein bukan pemerintah Islam yang bagus. Israel pernah mengeluarkan kenyataan bahawa mereka beruntung mempunyai orang seperti Saddam Hussein kerana kadang-kadang tindakan Saddam Hussein adalah tidak masuk akal. Pada satu tahap, pada awal 90 an, Iraq mempunyai ketenteraan yang ke-4 terbesar didunia. Namun Saddam Hussein tidak pernah mengambil kesempatan ini dalam membebaskan Palestin dari cengkaman Israel. Tetapi Saddam Hussein mengambil kesempatan ini untuk meluaskan jajahannya dengan menyerang Kuwait dan Iran. Adakah ini dinamakan pemerintah yang bagus?

ulama’ sunni ‘menutup pintu Ijtihād’ sekitar kurun ke-13, umat jadi taqlid buta/ statik, yang menjadi hamba kepada pendapat dan penjelasan orang-orang tertentu

Proses mencari ilmu itu tiada titik noktah

Murid: Kita mahu mengaji apa hari ini?

KH Ahmad Dahlan: Kalian mahu mengaji apa?

Murid: Errr, biasanya pengajian itu, guru yang tentukan.

KH Ahmad Dahlan: Nanti yang pintar hanya guru. Muridnya hanya mengikuti gurunya. Pengajian di sini, kalian yang tentukan. Ia dimulakan dengan pertanyaan.

Ini adalah sebahagian dialog dari filem IndonesiaSang Pencerah. KH Ahmad Dahlanmerupakan anak murid Muhammad Abduh dan juga pengasas Muhammadiyah di Indonesia. Anak murid itu mempersoalkan kepada KH Ahmad Dahlan, apa itu agama. Beliau memainkan alat muzik biola beliau. Bunyi merdu alat muzik ditafsir sebagai agama yang mampu menenangkan hati penganutnya.

Apa yang mahu disampaikan dari dialog filem ini ialah, ilmu itu dituntut melalui persoalan. Ilmu itu tiada titik noktah, kerana manusia hidup berdasarkan naluri ingin tahu. Ilmu akan terus bergerak mengikut peredaran masa. Orang purba dahulu percaya bumi itu mendatar, tetapi hari ini, fakta ini berubah kerana ada orang mempersoalkan fakta ini.


Hari ini, kita mungkin berbangga memperoleh ilmu dari buku, ceramah, dan internet. Kita menjadi follower ustaz dan alim ulama di Facebook, Twitter, dan sebagainya. Setiap yang disampaikan diserap sebagai ilmu dan dikongsi kepada orang lain. Jaringan ini berterusan, sehingga ada orang yang mempersoalkan. Maka orang ini akan dituduh lemah iman dan dilemparkan dengan cacian.

Ini adalah taqlid buta, iaitu patuh tanpa banyak tanya. Ilmu bukan diperoleh melalui kaedah taqlid buta. Buku dan kata-kata guru dan alim ulama hanya merupakan maklumat dan nasihat. Ilmu itu mesti lahir dari sifat ingin tahu, bertanya, dan seterusnya berdiskusi. Elemen- elemen ini adalah sebahagian dari konsep Ijithad. Oleh itu, ilmu dan ijtihad dua perkara yang tidak boleh dipisahkan.

Sejarah telah menunjukkan, semenjak para ulama’ sunni  membuat keputusan untuk ‘menutup pintu Ijtihād’ sekitar kurun ke-13, dunia umat Islam telah menjadi sebuah tamadun yang statik, yang menjadi hamba kepada pendapat dan penjelasan orang-orang tertentu. Ramai cendekiawan Islam yang dihormati lahir dizaman pintu ijtihad terbuka luas.

Ibn Sina misalnya tidak diugut bunuh atau dicaci hanya kerana berbeza pendapat mengenai teori ketuhanan. Ibn Sina menganggap Tuhan dapat dibuktikan melalui saintifik dan logik akal. Buku-buku beliau tidak diharamkan, tetapi pendebatan secara ilmiah berlangsung. Hari ini Malaysia mengharamkan buku-buku yang didakwa mampu menyesatkan. Buku ini dikatakan tidak sesuai dengan fahaman mazhab kita

Akar tunjang agama adalah akidah yang bererti penghambaan. Apabila agama itu dieksploitasi, manusia akan mudah terperdaya akibat taklid buta. Firaun menggunakan pendeta untuk meyakinkan rakyat akan sifat ketuhanannya. Ini membuktikan sejak dahulu kala lagi agamawan berperanan dalam pemerintahan negara.

Tetapi amatlah malang, Islam sebagai agama mukjizat gagal memainkan peranan ini dalam membina tamadun yang berjaya. Universiti al-Azhar yang melahirkan berpuluh ribu alim ulama gagal memandu rakyat menjatuhkan diktator di Mesir. Akhirnya inspirasi RevolusiArab Spring bermula dari si penjual sayur di Tunisia.

Sebab itu Arab Spring bukan Revolusi Islam seperti yang berlaku di Iran pada tahun 1979.Revolusi Iran dipandu oleh agamawan, Imam Khomeini yang menanam benih idealisme dalam rakyat Iran. Penulisan idealisme Imam Khomeini disebar sehingga ke Malaysia (diterbit oleh ABIM). Di sini, kita dapat lihat akan kepentingan idealisme dalam diri kita, iaitu harapan untuk bangun dan bergerak ke hadapan.

“Gott ist tot” (tuhan telah mati), merupakan laungan berbentuk literal(tersirat) Nitzschesebagai simbol kemenangan mutlak ideologi sekularisme. Semasa zaman kegelapan Eropah, pihak gereja telah memanipulasikan agama untuk kepentingan tertentu. Namun, aku lebih suka pandangan Karl Marx kerana beliau bercakap atas konteks ekonomi dan kemaslahatan rakyat.

Karl Marx berpendapat agama seperti candu kepada rakyat yang memberi kebahagian dalam bentuk khayalan. Karl Marx mengajak masyarakat Eropah berfikir secara realistik. Candu memberi kebaikan untuk tujuan perubatan, tetapi ia memudaratkan apabila diguna luar kawalan.

Pandangan Karl Marx harus dinilai secara kritikal kerana kita perlu akui bahawa terdapat pembodohan berlaku atas nama agama. Ramai alim ulama yang menyeleweng agama untuk menjadi pengampu kepada pemerintah.Qur’an dan Hadis diseleweng mengikut selera pemerintah seperti yang berlaku pada zaman Firaun:

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka (kaumnya) itu daripada kalangan orang-orang yang fasiq” [az-Zukhruf : 54]

Pembodohan agama juga berlaku dalam perperangan. Kita dapat lihat beberapa aktor pengganas yang melaungkan Allahu Akhbar sedangkan mereka membunuh orang yang tidak berdosa. Benih-benih kebencian dan fasis disebarkan atas nama jihad oleh Taliban dan al-Qaeda. Puak ini yang memecah belahkan umat Islam di Somalia, Mesir (pembunuhan Anwar Sadat), Morocco, Pakistan, dan Afghanistan.Tragedi pembodohan atas nama agama juga ada dalam konsep politik dan kenegaraan. Terdapat negara yang mengaku dan berbangga dengan mendakwa negara mereka adalahIslamic State. Hanya melaksanakan hukum Hudud, maka negara mereka menjadi Islamic State sedangkan soal penyelewengan kuasa dan ekonomi diketepikan.

Ulama di Middle East menyokong autokrasi dengan alasan Demokrasi buatan orang Kafir. Sedangkan al-Quran tidak pernah menyebut sistem beraja mahupun Autokrasi. Ulama ini mengeluarkan fatwa haram demonstrasi, haram derhaka kepada pemerintah, dan haram tukar kerajaan.

Kajian yang dijalankan telah membuktikan negara bukan Islam lebih Islamik berbanding negara Islam sendiri. Dalam journal How Islamic are Islamic Countries, negara seperti New Zealand, Norway, Ireland, dan Iceland lebih Islamik dari negara Islam. Negara jaguh agama seperti Arab Saudi menduduki tangga ke 131

Satu persoalan, kenapa negara Sekular lebih Islamik berbanding negara yang berpaksikan wahyu Tuhan?

“Jika orang kata Dajjal itu bahaya, Ulama sebenarnya lebih bahaya dari Dajjal”, kata Imam surau kampung aku semasa Ramadan tahun lepas.

p/s: wait for the next post about pembodohan Agama di Malaysia. Just leave your opinion, so i could conclude

.

Yang Menuduh syi’ah Sesat adalah pendukung MahaDajjal = MahaIblis
Mengurus mazhab sendiri saja nggak becus udah mau ngurus Syi’ah..
Hukum thaghut merajalela, artis dipuja, korupsi marak, nginjak rakyat, moral hancur hancuran, seks bebas  (ngurus tuch semua !!)
Buka mata lu jangan ngurus mazhab orang…

An Armed Iranian women in front of mosque during Iraq invasion in 1980. Iraq was backed by most of Arab and West country but still can’t invade entirely Iran. Saddam was give up after 8 years in effort to invade Iran. This is because Iranian was fight for their faith different with Saddam’s army who fight for the dictatorship .

MahaFiraun + MahaDajjal = MahaIblis
.

Potret Kampus Islam di Indonesia

Di Indonesia, tidak jarang kita menemukan mahasiswi yang mengaku dirinya Muslim namun berpakaian tidak sesuai dengan syariat. Berpakaian ketat dan transparan hingga  nampak aurat dan lekuk tubuhnya. Cara mereka berpakaian tidak beda dengan pakaian non Muslim. Ada pula mahasiswa pria berambut gondrong, memakai gelang/kalung, celana jean compang-camping dan awut-awutan, (maaf) mungkin sulit bagi masyarakat umum membedakan mana antara mahasiswa dan penampilan preman.

Bukan rahasia,  pergaulan bebas mewarnai kehidupan di kampus, termasuk kampus di Perguruan Tinggi Islam. Di kantin, taman, tempat parkir,  menjadi tempat pacaran dan khalwat. Tak sedikit berlanjut kasus  mesum (zina). Tentu saja, ini akibat percampuran (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan. Hubungan akrab antara laki-laki dan perempuan dianggap suatu hal yang wajar. Bahkan mereka tidak merasa malu dan canggung berboncengan mesra dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim dengan sepeda motor, baik di dalam maupun di luar kampus.

Mahasiswa dengan bebasnya merokok di kantin, ruang kelas, bahkan di depan kelas dosen bisa mengajar sambil menghisap asap beracun ini. Di sisi lain, mahasiswa dan para dosen tak beranjak ke masjid ketika azan sudah dikumandangkan

.

Inilah potret kehidupan kampus Islam kita yang memprihatinkan. Rasanya,  mustahil mengharapkan mahasiswa dari perguruan tinggi Islam melahirkan sosok intelektual yang cerdas dan berakhlak mulia

.

Yang terjadi justru sebaliknya. Kita sering mendengar, mahasiswa atau dosen fakultas syariah justru mencela syariah Islam (hukum-hukum Allah).  Alangkah ironis, mahasiswa syariah justru melahirkan pencela  ilmu-ilmu syar’i.

Raja itu Rakyat, Rakyat itu Raja

Share

PERKASA sekali lagi berbakti kepada ‘Melayu’ selepas membakar poster Datuk Zaid Ibrahim kerana dianggap penderhaka. Datuk Zaid Ibrahim pula masih berkeras dengan kenyataannya yang melanggar titah Sultan Selangor. Namun artikel ini bukan saya ingin menyatakan sokongan pada mana-mana pihak. Saya cuma inginkan Raja yang bersifat neutral dan tidak berat sebelah pada mana-mana pihak terutamanya dalam soal Politik. Raja harus dijadikan simbol perpaduan rakyat Malaysia selaras dengan Rukun Negara.

Malaysia Haramkan Tiga Buku Syi’ah Terbitan Indonesia.. Makin dizalimi, kami makin dahsyat !

Selasa, 20 Maret 2012 16:30 Redaksi
Kuala Lumpur -

Raja itu Rakyat, Rakyat itu Raja

PERKASA sekali lagi berbakti kepada ‘Melayu’ selepas membakar poster Datuk Zaid Ibrahim kerana dianggap penderhaka. Datuk Zaid Ibrahim pula masih berkeras dengan kenyataannya yang melanggar titah Sultan Selangor. Namun artikel ini bukan saya ingin menyatakan sokongan pada mana-mana pihak. Saya cuma inginkan Raja yang bersifat neutral dan tidak berat sebelah pada mana-mana pihak terutamanya dalam soal Politik. Raja harus dijadikan simbol perpaduan rakyat Malaysia selaras dengan Rukun Negara.
.
.

Kementerian Dalam Negeri (KDN) Malaysia telah menetapkan perintah larangan terhadap tiga buah buku yang diterbitkan di Indonesia karena menyebarkan doktrin yang bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah di negara ini

.

Sekretaris Bagian Pengendalian Publikasi dan Teks Al-Quran, Abdul Aziz Mohamed Nor menjelaskan, tiga buku yang diharamkan adalah “Pengantar Ilmu-ilmu Islam,” “Dialog Sunnah Syi’ah” dan “Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah.”

.

Buku “Pengantar Ilmu-ilmu Islam” ditulis oleh Murtadha Muthahhari dan diterbitkan Pustaka Zahra dari Jakarta, sedangkan “Dialog Sunnah Syi’ah” ditulis oleh A Syarafuddin Al-Musawi dan diterbitkan Penerbit Mizan Bandung. Sementara “Tafsir Sufi Al-Fatihah Mukadimah” pula ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat dan diterbitkan PT Remaja Rosdakarya, juga dari Bandung

.

“Jika ini dibiarkan, buku-buku ini dapat membahayakan ketertiban,” kata Abdul Aziz kepada wartawan, tadi malam.

.

Perintah larangan ini, lanjut Abdul Aziz, sesuai dengan Pasal 7 (1) Akta Mesin Cetak dan Penerbitan 1984 yang menjadi satu kesalahan menurut ayat 2 Pasal 8 akta tersebut

..

“Adalah menjadi satu kesalahan jika pihak yang mencetak, mengimpor, memproduksi, mereproduksi, mempublikasikan, menjual, mengeluar, mengeliling, menawarkan untuk menjual, mendistribusikan atau ada dalam miliknya, bahan yang akan dikenakan perintah larangan itu,” katanya

.

Abdul Aziz menambahkan, siapapun yang melanggar larangan ini bisa dipenjara maksimal tiga tahun atau denda maksimal RM20,000 atau keduanya.

Syi’ah Malaysia Dizalimi dan Ditindas Melalui PELANGGARAN HAM BERAT

Reaksi terhadap seminar anti Syiah;
Syiah Kedah serah memorandum bantahan
Syiah Kedah serah memorandum bantahan
.
Kerajaan Negeri Kedah Darulaman sekali lagi membuat kesilapan besar apabila membazirkan wang pada bulan lalu dengan menganjurkan seminar anti Syiah bertajuk “Ajaran Syiah dan Penguatkuasaan Undang-Undang Di Negeri Kedah Darulaman”
.
Seminar ini menampilkan ekstrimis-ekstrimis agama seperti Dr. Aziz Hanafi, Ahmad Nasim dan Dr. Ismail untuk memberi ucapan tentang Syiah menurut pandangan mereka sendiri tanpa memberikan fakta yang sahih dan berilmiyah
.

Rombongan yang mewakili komuniti Syiah Imamiyah atau mazhab Ja’fari di seluruh negeri Kedah tampil pagi kelmarin menyerahkan memorandum yang ditujukan kepada kerajaan Negeri Kedah yang berada di bawah pemerintahan Parti Islam Malaysia. Ketua rombongan tersebut disambut oleh wakil pejabat Menteri Besar Kedah dan berjanji akan memberi perhatian terhadap bantahan ini

.

Antara kandungan bantahan tersebut ialah, seminar tersebut boleh merosakkan keharmonian hidup umat Islam dengan memanipulasi isu-isu untuk memfitnah Syiah. Selain itu individu-individu yang cuba menerangkan isu Syiah di seluruh Kedah didapati bertindak di luar batas adab ketamadunan manusia, memaki hamun dan mengejek supaya menimbulkan tanggapan negatif masyarakat terhadap mazhab Syiah Imamiyah

.

Selain itu, rombongan ini berpendapat terdapat pihak yang cuba memainkan isu polemik Sunni-Syiah dengan hasrat ingin menjatuhkan kerajaan yang dipimpin oleh Parti Islam Semalaysia. Tambahan pula terdapat gerakan zionis sedunia hari ini yang ingin meluaskan pertumpahan darah di kalangan umat Islam dengan memainkan isu mazhab dan fanatik dalam amalan agama

.

Seminar anti-Syiah pada 25 Oktober 2011 lalu telah dianjurkan Kerajaan Negeri Kedah di Dewan Seri Negeri, Wisma Darulaman dengan tidak membenarkan wakil Syiah masuk ke dalamnya. Beberapa orang yang hadir mendakwa antara tuduhan tidak berasas yang dibuat oleh Dr Ismail ialah: Rakyat Syria dan Iraq bangkit untuk menjatuhkan presiden Bashar Al-Assad dan Nuri Maliki. Kalimah Iran diterjemah oleh beliau secara terbalik iaitu Nari yang bermaksud api yang dikaitkan dengan penyembah api oleh penduduk Iran yang beragama Majusi. Beliau turut mendakwa terdapat 2000 syarikat Amerika dan Zionis yang sedang membuat pelaburan di Iran!

.

Selain itu Ahmadi Nejad dikatakan sedang berlakon melawan Amerika dan Israel, hakikatnya presiden Iran ini sedang melawan Islam. Sementara itu Dr. Aziz Hanafi turut menyerang Syiah dengan mengatakan kononnya Al-Quran masih turun kepada Fatimah selepas kewafatan Nabi dan Syiah mempunyai Al-Quran lain yang dinamakan mushaf Fatimah, setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) semua sahabat murtad kecuali 4 orang. Aziz Hanafi dikatakan turut mengugut: Sekiranya tidak dapat menundukkan Syiah dengan Al-Quran kami akan menggunakan ketenteraan!

.

Sehubungan dengan itu, rombongan ini mendesak kerajaan Negeri Kedah mengkaji semula tindakannya itu untuk mengelak kejadian yang boleh mengancam keselamatan negara dan kesejahteraan masyarakat

.

Menteri Besar Kedah Dato’ Seri Azizan sebelum ini dikesan pernah melancarkan buku yang penuh dengan fakta palsu berjudul “Kenapa Aku Meninggalkan Syiah” dan ianya diedarkan secara percuma di beberapa tempat

.

Pelancaran buku “Kenapa Aku Meninggalkan Syiah”;
Laporan polis Syiah terhadap MB Kedah
Reaksi Syiah Kedah terhadap pelancaran buku “Kenapa Aku Meninggalkan Syiah” oleh Menteri Besar Kedah.
Laporan polis Syiah terhadap MB Kedah
Pada 15 Disember, pukul 10 pagi bertempat di Ibupejabat Polis daerah Kota Setar, ustaz Abdullah bin Hasan selaku wakil masyarakat Syiah di negeri Kedah Darulaman membuat laporan polis berhubung pelancaran buku anti-Syiah oleh Menteri Besar Kedah, Azizan bin Abdul Razak suatu ketika dahulu
.
Buku yang penuh pembohongan ini dipercayai diterjemahkan oleh beberapa pelajar Universiti Al-Azhar dari judul aslinya “Lillah Tsumma Li Tarikh”, sarat dengan pembohongan dan fitnah terhadap mazhab Syiah Imamiyah.Dalam laporan polis tersebut, Azizan Abdul Razak didakwa telah melancarkan buku tersebut secara gelojoh tanpa meneliti kepalsuan fakta isi kandungannya terutama sekali pertemuan penulisnya dengan Dildar Ali yang meninggal pada tahun 1235 Hijrah, sedangkan penulis turut mencatatkan pertemuannya dengan Al-Kashif Al-Ghito’ yang dilahirkan pada tahun 1373 Hijrah!
.
Ustaz Abdullah turut mempertikaikan pengkhianatan Azizan terhadap slogan “PAS For All” dan mempersoalkan apakah Pas akan mengambil tindakan terhadap beliau yang melanggar visi Pas pusat.Lebih memalukan, Dr. Aziz Hanafi telah menulis kata-kata aluan dan penghargaan dalam buku yang penuh fakta palsu tersebut, sekaligus mempertikaikan martabat ahli akademik atau kedoktoran yang dimilikinya.Antara pembohongan yang menjijikkan ialah kononnya ulama Syiah meninggal dunia dalam keadaan tidak berkhatan, Imam Khomeini bermut’ah dengan kanak-kanak dan lain-lain lagi.
.

Sementara itu buku tersebut sengaja memperbodohkan masyarakat awam dengan menukilkan hadis yang tidak pernah wujud dalam kitab-kitab Syiah seperti “Sesiapa yang bermut’ah dengan wanita muslimah seolah-olah telah menziarahi kaabah sebanyak 70 kali”.

.

Untuk melihat lebih jelas pembohongan buku tersebut sila rujuk: Sepintas lalu buku “Kenapa Aku Meninggalkan Syiah” http://abna.co/data.asp?lang=15&id=272815

.

Pihak ABNA difahamkan, pihak polis yang melakukan siasatan mendapati buku tersebut tidak mendapat permit Kementerian Dalam Negeri (KDN) dan boleh dirampas serta merta jikalau masih diedarkan.

.

Fatwa ulama Al-Azhar;
Haram bantu Amerika serang Iran
Syeikh Abdul Hamid Al-Athrash, bekas pemimpin Majlis Syura Fatwa Al-Azhar mengumumkan, negara-negara Arab dan Islam yang bersubahat dengan Amerika untuk menyerang Iran telah melakukan dosa dan menzalimi hak Islam.
Haram bantu Amerika serang Iran
.
Menurut agensi berita Al-Manar, Syeikh Abdul Hamid Al-Athrash di dalam fatwanya mengatakan bersubahat dengan musuh untuk menyerang Iran adalah bertentangan dengan ayat “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara” (إنما المؤمنون إخوة). Beliau turut menggambarkan bahawa mereka yang bertindak demikian sebagai keluar dari Islam.
.
Surat khabar Mesir turut memetik kata-kata ulama Fiqh Ahlusunnah tersebut, “Wajib ke atas negara-negara lain menghapuskan mereka yang membantu Amerika dan Israel yang cuba menyerang negara Islam. Barangsiapa yang hanya berdiam diri, sama jenayahnya dengan negara-negara yang melakukan dosa dan kezaliman ini”.
.
Beberapa minggu lalu pegawai negara Israel berterus terang mengugut untuk menyerang Iran sehingga mendapat kritikan keras daripada beberapa negara seperti Perancis.

Pengaruh Media Global Hancurkan Mazhab Sunni (ahlusunnah wal jama’ah), mustahil anda sanggup hadapi kedigdayaan Syi’ah modern !!

Sistem Pendidikan Islami Dapat Dicapai Melalui Ekstraksi Nahjul Balaghah

 

Anggota Dewan Ilmiah Fakultas Hadis, Mostafa Delshad Tehrani menyatakan bahwa dari Nahjul Balaghah dapat digali sebuah sistem pendidikan karena Islam memiliki metode pendidikan dan bimbingan tersendiri. Meski demikian dia menekankan bahwa sistem pendidikan yang terkandung dalam Nahjul Balaghah itu juga berasal dari al-Quran dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, menyampaikan ucapannya berdasarkan al-Quran.

Dalam wawancaranya dengan IKNA (20/3), Delshad Tehrani mengatakan, “Sampai sekarang saya telah berhasil melakukan ekstraksi beberapa prinsip pendidikan dari lautan hikmah Nahjul Balaghah dan telah saya tuangkan dalam beberapa buku saya. Harus diakui bahwa lautan hikmah Nahjul Balaghah itu tidak berpantai.”

Ditegaskannya  bahwa sebuah sistem pendidikan islami dapat dirumuskan melalui ekstraksi seluruh topik dalam Nahjul Balaghah di sektor pendidikan dan bimbingan.

Barat dengan berbagai cara dan propagandanya, khususnya melalui media, berupaya menarik perhatian masyarakat internasional terhadap budaya dan bahasa mereka. Sebagai contoh, media-media Eropa mengenalkan budaya dan bahasa Barat termasuk bahasa Inggis sedemikian rupa, sehingga tercipta opini bahwa budaya dan bahasa mereka lebih baik daripada budaya dan bahasa bangsa lain.

 

Dewasa ini, media dengan menggunakan berbagai teknologi canggih, seperti televisi, mampu mengantarkan pesan-pesannya kepada ratusan juta pemirsanya di seluruh penjuru dunia. Misalnya pada tahun 2010, sekitar satu miliar pemirsa dapat menyaksikan langsung pertandingan final sepakbola Piala Dunia. Jumlah itu melebihi jumlah penonton naskah-naskah pertunjukkan karya William Shakespeare sejak zaman penulisannya sekitar tahun 1600 hingga kini. Shakespeare adalah seorang penyair dan dramawan Inggris yang meninggal pada tanggal 23 April 1616.

 

Saat ini, film-film sinema terkenal dan terlaris memiliki puluhan juta penonton di seluruh penjuru dunia, maka tak aneh jika dilakukan riset dan pengkajian terhadap dampak media massa terhadap opini masyarakat.

 

Sebagian masyarakat memposisikan media massa sebagai alat hiburan. Mereka menghidupkan televisi terkadang hanya ingin menyaksikan pertandingan olahraga, serial komedi rutin tiap malam, atau hanya ingin mendapatkan informasi kondisi cuaca. Sebagian lain membeli koran hanya untuk membaca berbagai iklan dan berita olahraga atau ulasan terkait kehidupan para aktor sinema yang dimuat di dalamnya. Ada juga dari mereka yang memanfaatkan radio hanya untuk mendengarkan musik kesukaannya atau selama berjam-jam menggunakan komputer pribadi untuk bermain game. Biasanya, masyarakat seperti ini tidak mengkhawatirkan akan dampak negatif dari media terhadap perubahan prilaku dan budayanya. Jika mereka memprotes media, terkadang hanya karena tidak menemukan acara yang disukai di antara berbagai acara yang disajikan.

 

Namun, banyak pakar yang mengkhawatirkan akan dampak media massa terhadap opini dan budaya masyarakat. Mereka menilai banyak media yang merugikan dan dampak negatifnya lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh, karena isi acara dan rubrik yang disajikan baik di media cetak, visual atau audio visual mempromosikan berbagai hal yang kontroversial atau membawa misi tertentu. Para ahli itu menggambarkan media sebagai aktor utama panggung politik dan budaya, dan menilainya sebagai ancaman terhadap budaya itu sendiri.

 

Adanya keragaman persepsi dan pendapat yang berbeda mungkin akan menyebabkan keraguan bagi masyarakat apakah benar media mempunyai dampak negatif sedemikian parahnya? Untuk menjawab keraguan ini, kita perlu merujuk kembali ke berbagai peristiwa di masa lalu. Sekitar 2000 generasi sebelumnya, yaitu pada masa ketika nenek moyang kita belum menggunakan bahasa seperti saat ini, mereka hanya mampu berucap dan tahap demi tahap mulai menciptakan bahasa. Terciptanya bahasa merupakan perubahan besar pertama dalam hal komunikasi. Langkah selanjutnya adalah penyimpanan dan penyebaran informasi melalui bahasa itu, sehingga muncul apa yang disebut “media”. Terciptanya huruf Abjad, penulisan, penerbitan, pembuatan film, komputer dan internet merupakan tahap-tahap penting terkait hal itu.

 

Hubungan masyarakat antara satu dan lainnya dengan fasilitas tersebut semakin meningkat dan bervariasi. Para kritikus media meyakini bahwa dunia media saat ini tidak lagi menjaga standar dan aturan dalam membangun komunikasi dan hanya bersandar pada kerangka agenda, penulisan dan ucapan, serta tidak memperhatikan isinya. Hal ini menyebabkan munculnya ide-ide semisal “Global Village” atau “Integrasi Budaya”, di mana media digunakan untuk membantu menghapus keanekaragaman budaya di tingkat internasional.

 

Pada dekade 1920-an muncul protes terhadap media, yaitu ketika lembaga “Payne” mengkaji masalah dampak sinema terhadap anak-anak dan mempublikasikannya. Riset tersebut berkembang luas, bahkan telah meneliti pengaruh sinema dan televisi terhadap perubahan budaya.

 

Pada dekade 1960-an, Marshall McLuhan, seorang pakar media massa dari Kanada, mengatakan bahwa komunikasi yang mudah dan cepat telah menghubungkan manusia antara satu dan lainnya, bahkan hubungan internasional telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sebenarnya, tema perkataan McLuhan didasarkan pada penghapusan keragaman budaya dan penyatuan masyarakat berlandaskan pada satu budaya tertentu. Mungkin pada awalnya, pandangan McLuhan dinilai positif, namun ternyata sebaliknya, perluasan pandangan itu telah merugikan budaya masyarakat.

 

Albert Bandura, seorang psikolog yang lahir pada tanggal 4 Desember 1925, di Mundare, Alberta, Kanada dan dikenal sebagai pencetus teori pembelajaran sosial dan teori self-efficacy. Bandura memamaparkan terorinya yang dikenal dengan “Social Learning Theory”. Tahap awal penelitian Bandura menganalisa dasar-dasar belajar manusia dan kecenderungan anak-anak dan orang dewasa meniru perilaku yang diamati pada orang lain, khususnya agresi.

 

Teori pembelajaran sosial adalah teori perilaku paling relevan dengan kriminologi. Albert Bandura percaya bahwa agresi dipelajari melalui proses yang disebut pemodelan perilaku. Bandura berpendapat bahwa individu, terutama anak-anak belajar merespon secara agresif ketika mengamati orang lain, baik secara pribadi atau melalui media dan lingkungan. Pada percobaan boneka Bobo, anak-anak meniru agresi orang dewasa karena mendapat penghargaan. Bandura berpendapat bahwa agresi pada anak-anak dipengaruhi oleh penguatan anggota keluarga, media, dan lingkungan.

 

Berdasarkan teori Bandura, masyarakat cenderung mengambil contoh dan model dari apa yang disajikan di media, sehinga akan terjadi perubahan besar di tingkat sosial dan budaya mereka. Perilaku dan cara berbicara, berpakaian, berjalan dan segala bentuk perbuatan lainnya biasanya ditiru dari media audio visual seperti televisi dan sinema. Pemodelan semacam ini terkadang sangat halus sehingga pelaku tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya bukan sikap dirinya yang sesungguhnya.

 

Tentu saja, kajian terkait dampak media terhadap budaya masyarakat tidak terbatas pada pandangan-pandangan di atas. Setiap manusia dari awal lahir berada di bawah pendidikan keluarga, orang-orang sekitar dan sahabat-sahabatnya. Tetapi peran media dewasa ini sangat penting. Pendidikan masyarakat, khususnya generasi muda dan anak-anak yang didapat melalui media akan menentukan sikap mereka dalam menjalani kehidupan sosial. Sebagai contoh, sebuah drama keluarga yang menceritakan tentang seseorang yang sedang menghadapi masalah serius akan berdampak langsung terhadap pemirsa dalam menyikapi masa depannya.

 

Riset membuktikan bahwa media mampu menarik audien untuk mengikuti pendidikan yang diinginkan dan dengan halus menyeret mereka ke suatu bentuk kehidupan masyarakat yang dikehendaki. Oleh karena itu, pendidikan secara langsung melalui media adalah salah satu cara media mengubah budaya tertentu. Selain itu, untuk menarik audien, media juga menggunakan berbagai cara seperti penggunaan kata-kata yang menarik, musik, warna dan ratusan hal lainnya yang dapat memperkuat strategi media untuk mengubah budaya.

 

Namun, topik terpenting masalah ini adalah terancamanya budaya dan bahasa lokal yang semakin terkikis, di mana hanya dipraktekkan oleh komunitas kecil dan ada di sejumlah titik di dunia saja. Media-media Eropa dengan berbagai cara mengenalkan budaya dan bahasa Barat, seperti bahasa Inggris kepada masyarakat internasional dan menggiring mereka supaya ber-opini bahwa budaya dan bahasa Barat lebih baik daripada budaya dan bahasa mereka.

 

Pengembangan pendidikan bahasa asing meski ada nilai positifnya, namun penyampaian informasi hanya dengan sejumlah bahasa yang terbatas akan menyebabkan hilangnya bahasa dan budaya lainnya. Pemaparan negatif terkait suatu budaya dan pengenalan serta pendekatan terhadap budaya lain termasuk langkah media yang tidak mengidahkan hak-hak orang lain. Di sisi lain, langkah itu merupakan upaya integrasi budaya. Sebagai contoh, pada masa perang dingin, diproduksi flm-film yang menggambarkan orang-orang Rusia sebagai manusia yang kasar dan tak seorang pun memahami bahasa mereka, bahkan budaya dan seni mereka telah ditinggalkan. Kondisi itu serupa dengan apa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, di mana media-media Barat menggambarkan Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan teror, serta pemeluknya adalah teroris.

 

telah disinggung tentang peran media terhadap perubahan budaya masyarakat. Disebutkan pula bahwa sebagian kritikus dan pakar ilmu sosial mengkritik dampak media terhadap budaya dan perilaku masyarakat. Para ahli itu menilai terancamnya budaya dan penghapusan keragamannya sebagai dampak dari pengaruh media Barat terhadap masyarakat. Kini kita akan membahas bagaimana cara menghindari ancaman tersebut.

 

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

 

Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya sebagai wariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

 

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

 

Adanya bermacam-macam budaya yang berbeda dan jalinan komunikasi luas di antara masyarakat telah mendorong para pemerhati untuk menelaah keragaman budaya dan kelestariannya. Terdapat ratusan komunitas masyarakat yang berbeda di dunia yang hidup di sekitar 200 negara. Terkait hal ini, keanekaragaman budaya diartikan bahwa semua kelompok masyarakat dapat menggunakan hak-hak budayanya berdasarkan kebebasan mendasar dan Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu, semua kelompok masyarakat harus memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan aktivitas budayanya dan dengan dalih apa pun tidak dilegalkan melakukan diskriminasi.

 

Meskipun budaya di berbagai komunitas masyarakat dari sisi-sisi tertentu terdapat kesamaan, namun sebenarnya memiliki ciri khas dan fitrah yang berbeda. Oleh sebab itu, keragaman dan kesamaan itu harus dijaga dan dilestarikan sebagaimana kekayaan yang kita miliki. Prinsip pluralisme yang diartikan sebagai penghormatan terhadap pluralitas budaya memiliki arti yang sangat penting dalam internal setiap negara dan hubungan antaretnis atau antarnegara.

 

Kenyataan di dunia saat ini adalah kita tidak dapat dengan mudah mengabaikan adanya keragaman budaya begitu saja, bahkan keragaman budaya di setiap tempat memiliki makna khusus yang menimbulkan daya tarik tersendiri untuk mengkajinya. Misalnya, keragaman budaya di Afrika diartikan sebagai ketergantungan terhadap satu kelompok atau suku tertentu. Sementara, di negara-negara berkembang masalah ini memiliki sisi-sisi yang lebih luas. Sebagian negara yang dibanjiri imigran memaknai keragaman budaya dengan arti menghormati budaya minoritas.

 

Kini muncul pertanyaan, apakah dunia informasi yang didominasi oleh kelompok masyarakat tertentu tidak menimbulkan dominasi satu budaya terhadap budaya lainnya, atau bahkan menghapus budaya-budaya yang lemah karena tidak memiliki tameng terhadap pengaruh budaya luar?

 

Sejumlah pihak mengatakan, masyarakat informasi menyiapkan kondisi di mana setiap orang dalam satu waktu mampu memproduksi informasi dan sekaligus mengkonsuminya, sehingga ia menjadi produsen informasi dan sekaligus konsumen informasi lain.

 

Media digital termasuk media interaktif. Terkait media ini, setiap orang di belahan dunia manapun dapat memproduksi suatu tema tertentu dan menyajikannya ke seluruh audien di penjuru dunia. Ini adalah mimpi masyarakat informasi (Information Society) yang telah terwujud.

 

Sejak istilah “masyarakat informasi” diperkenalkan pada tahun 1962, perdebatan ramai mengenai apa dan bagaimana dampak information society atau masyarakat informasi terus berlanjut sepanjang garis kontinum dengan berbagai dimensi yang berbeda. Secara umum, masyarakat informasi adalah sebuah masyarakat yang berbasiskan ilmu pengetahuan dan mengacu pada suatu masyarakat dimana produksi, distribusi, dan pengolahan informasi merupakan aktifitas utamanya.

 

Perkembangan peradaban manusia terasa begitu cepatnya, kita tentunya mengenal masyarakat primitif, pada era itu seseorang untuk mendapatkan suatu barang harus ditukar dengan barang lagi (barter), kemudian meningkat ke masyarakat agraris, kemudian masyarakat industri. Dari masyarakat indusri loncat ke masyarakat informasi (era informasi). Mengapa dikatakan loncat ke masyarakat informasi ? karena kita baru memulai melangkah ke masyarakat industri, era informasi sudah datang.

 

Pada era informasi ini, semuanya menjadi serba yaitu serba murah, cepat, tepat, dan akurat. Teknologi Komunikasi mutakhir telah menciptakan apa yang disebut “publik dunia”. Bersamaan dengan perkembangan teknologi komunikasi ini, meningkat pula kecemasan tentang efek media massa terhadap masyarakat (khalayak). Di era globalisasi saat ini media massa mempunyai peranan penting dalam membentuk pola hidup masyarakat. Media menjadi patokan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi, terutama bagi masyarakat informasi, mereka dengan mudah dapat mengakses segala informasi yang mereka butuhkan.

 

Information societyatau masyarakat informasi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah masyarakat dan sebuah ekonomi yang dapat membuat kemungkinan terbaik dalam menggunakan informasi dan teknologi komunikasi baru (New Information and Communication Technologies (ICT’s)). Dalam masyarakat informasi orang akan mendapatkan keuntungan yang penuh dari teknologi baru dalam segala aspek kehidupan; di tempat kerja, di rumah dan tempat bermain. Contoh dari ICT’s adalah ATM untuk penarikan tunai dan pelayan perbankan lainnya, telepon genggam (handphone), teletext television, faxes dan pelayan informasi seperti internet, e-mail, mailinglist, serta komunitas maya (virtual community) dan lain-lainnya.

 

Pengertian lain dari masyarakat informasi adalah suatu keadaan masyarakat dimana produksi, distribusi dan manipulasi suatu informasi menjadi kegiatan utama. Jadi dapat dikatakan bahwa pengolahan informasi adalah inti dari kegiatan. Teknologi baru ini memiliki implikasi untuk segala aspek dari masyarakat dan ekonomi kita, teknologi mengubah cara kita melakukan bisnis, bagaimana kita belajar, bagaimana kita menggunakan waktu luang dan lain sebagainya. Namun, yang terpenting adalah teknologi ini tak jarang disalahgunakan untuk misi tertentu, misalnya untuk mengubah dan bahkan menghapus budaya tertentu. Oleh sebab itu, setiap komunitas harus mampu menjamin kelestarian budayanya sendiri.

 

Dominasi dunia internet oleh media Barat memberikan peluang bagi komunitas masyarakat tertentu untuk merealisasikan misinya. Dominasi bahasa Inggris dan sejumlah bahasa Eropa lainnya terhadap jaringan internet dan adanya berbagai perusahaan kuat yang mengontrol dunia maya ini menyebabkan budaya yang lemah tidak mampu memanfaatkan fasilitas tersebut untuk menjelaskan keberadaannya. Malah terkadang muncul suatu perilaku yang dianggap sebagai budaya yang mempengaruhi dan bahkan mendominasi dunia virtual dan pada akhirnya berdampak pada dunia masyarakat sebenarnya. Oleh karena itu, pembahasan keragaman budaya dalam masyarakat informasi menjadi pembahasan yang pelik baik di tingkat nasional ataupun internasional.

 

Pada bulan November tahun 2001,Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) mengesahkan sebuah deklarasi terkait keragaman budaya. Deklarasi itu merupakan teks pertama UNESCO yang secara khusus membahas keragaman budaya. Dalam deklarasi UNESCO ini disebutkan bahwa dialog lintas-budaya dan penghormatan terhadap keragamannya adalah mukadimah yang urgen untuk menciptakan perdamaian abadi. Deklarasi UNESCO itu terdiri dari 12 pasal. Seperti halnya keanekaragaman hayati yang dinilai sebagai sesuatu yang urgen bagi alam, maka keragaman budaya juga dinilai sebagai sumber pertukaran, inovasi dan kreativitas. Artinya, keragaman budaya merupakan warisan bersama yang harus diakui dan dijaga demi generasi sekarang dan mendatang.

 

Dalam deklarasi itu disebutkan pula bahwa akses publik terhadap keragaman budaya dinilai sebagai hal yang sangat perlu. Di sisi lain, kebebasan berpendapat, kemajemukan media, multilingual, akses yang sama terhadap seni, sains dan teknologi merupakan jaminan untuk menjaga kelestarian keragaman budaya.

 

Kelanjutan dari deklarasi itu, terbentuklah konvensi UNESCO mengenai “Perlindungan dan Promosi Keberagaman Ekspresi Budaya”. Konvensi ini merupakan konvensi UNESCO dan perjanjian yang diadopsi oleh Konferensi Umum UNESCO pada tanggal 20 Oktober 2005. Konvensi itu mengakui hak-hak berbagai pihak untuk mengambil tindakan guna melindungi dan mempromosikan keberagaman ekspresi budaya.

 

Konvensi tersebut adalah perjanjian internasional yang mengikat secara hukum dan menjamin seniman, budaya profesional, praktisi dan warga negara di seluruh dunia untuk dapat membuat, memproduksi, menyebarluaskan dan menikmati berbagai budaya. Tujuan utama Konvensi adalah untuk menyediakan sebuah perjanjian internasional yang mengikat secara hukum dan menegaskan kembali hak berdaulat negara-negara untuk mengadopsi kebijakan budaya yang mendukung industri budaya mereka.

 

Keragaman ekspresi budaya adalah aset yang “kaya bagi individu dan masyarakat.” Promosi, perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman budaya adalah suatu kebutuhan mendasar bagi pembangunan yang berkelanjutan untuk kepentingan generasi sekarang dan masa depan.

 

Masyarakat internasional di berbagai kesempatan telah membahas secara luas terkait konvensi UNESCO tersebut. Namun pembahasan keragaman budaya di masyarakat informasi mempunyai dua sisi yang berseberangan. Dari satu sisi, meskipun terdapat fasilitas untuk mentransfer dan menjelaskan keyakinan dan budaya secara bebas sehingga mampu menjaga kelestariannya, namun transfer budaya ke generasi selanjutnya tampaknya mengalami kesulitan. Sementara dari sisi lain, tidak adanya keseimbangan informasi menyebabkan meluasnya kesenjangan informasi dan digital sehingga solusi untuk menyelesaikan kesenjangan ini akan sulit ditempuh.

 

Saat ini kita menyaksikan bahwa sejumlah budaya yang lebih dominan telah menghalangi kelestarian budaya-budaya lain dan dengan menggunaan berbagai metode dan alat media, berupaya mendorong budaya-budaya lemah ke jurang kemusnahan. Oleh karena itu, mungkin dapat disimpulkan bahwa fokus terhadap  masalah kesenjangan informasi dan digital dapat menjadi solusi yang sesuai untuk mendukung keragaman budaya di masyarakat informasi, dan tentunya jalan keluar itu harus mencakup hingga ke tingkat global.

 

Media-media kontemporer terkadang menjadi ajang propaganda, namun untungnya masyarakat saat ini tidak sama dengan masyarakat pada masa lalu yang pasif dan hanya menjadi penerima informasi. Masyarakat harus lebih aktif dan memiliki wawasan luas sehingga dapat memilah media mana yang sedang berusaha menebarkan dominasi, dan media mana yang sedang menyuarakan budayanya serta berupaya melestarikannya. Dalam hal ini, media dan audien harus sama-sama aktif dan memiliki peran di sektor budaya. Sehingga keragaman budaya masyarakat akan semakin berkembang

Abubakar dan Umar dijamin surga melalui hadis rekayasa dan sejarah yang dipalsukan demi kepentingan politik rezim umayyah abbasiyah

Bismihi Ta’ala

Allahumma bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad, shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

Kenapa imam Ali  Membai’at  Abubakar  Didepan  Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar  meraih peluang  besar ketika gelombang kemurtadan  dan penentangan  terhadap islam  melanda Hijaz… Kaum Muslimin  yang  tercekam  MENOLAK  BERPERANG MELAWAN Musailamah  Al  Kadzab  dan  KAUM  MURTAD    kecuali  Imam Ali membai’at  ABUBAKAR…

Sehingga Imam Ali  TERPAKSA  membai’at  Abubakar … Menentang  Abubakar  hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal  KAUM  MUSLiMiN  berkepentingan  menyelamatkan islam agar  langgeng … Jika Imam Ali Memerangi  Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Sampai  matipun Fatimah tidak mau menerima Kekhalifahan Abubakar !!! Syi’ah Mencontoh  Al Maksum  Fatimah Karena itu Maqashid  Asy Syariah… Kenapa imam Ali Membai’at Abubakar Didepan Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar meraih peluang besar ketika gelombang kemurtadan dan penentangan terhadap islam melanda Hijaz…

Kaum Muslimin yang tercekam MENOLAK BERPERANG MELAWAN Musailamah Al Kadzab dan KAUM MURTAD kecuali Imam Ali membai’at ABUBAKAR… Sehingga Imam Ali TERPAKSA membai’at Abubakar …

Menentang Abubakar hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal KAUM MUSLiMiN berkepentingan menyelamatkan islam agar langgeng … Jika Imam Ali Memerangi Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Ulama sunni menyatakan  bahwa semua sahabat adalah adil!

Kata-kata itu adalah pembohongan dan rekaan belaka, bagaimana mungkin semua sahabat adil sedangkan Allah melaknati sebahagian mereka. Rasul sendiri telah melaknati sebahagian sahabatnya ! Sahabat pula saling melaknati sesama mereka, memerangi sesama mereka, mencaci sesama mereka dan membunuh sesama mereka bahkan ada yang menindas keluarga Nabi

Mazhab Syi’ah tidak menggugat semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran. Ayat ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuai baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. Allah Maha Adil sehingga mustahil memberikan jaminan masuk surga pada sahabat yang berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil.

Terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

Ref. Ahlusunnah :

  1. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”.
  2. Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”.
  3. 3.     Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”.
  4. 4.     Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”.
  5. 5.     Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”.

dan lain-lain.

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, BabHabsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat.

Dalam Kitab Sunan Abu Dawud(klik) tercatat :

13 – أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي صلى الله عليه وسلم إنما بنو هاشم وبنو المطلب شيء واحد قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله صلى الله عليه وسلم غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله صلى الله عليه وسلم ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده

الراوي: جبير بن مطعم المحدث: الألباني – المصدر: صحيح أبي داود – الصفحة أو الرقم: 2978

خلاصة حكم المحدث: صحيح

Riwayat yang sama dari Sunan Abu Dawud No.2978 :

2978 – حدثنا عبيد الله بن عمر بن ميسرة ثنا عبد الرحمن بن مهدي عن عبد الله بن المبارك عن يونس بن يزيد عن الزهري قال أخبرني سعيد بن المسيب قال

« أخبرني جبير بن مطعم أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي ” إنما بنو هاشم وبنو المطلب شىء واحد ” قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل [ شيئا ] من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب. قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله ما كان النبي يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده. » 72

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Maisarah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Abdullah bin Al Mubarak dari Yunus bin Yazid dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Musayyab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Jubair bin Muth’im, bahwa ia bersama Utsman bin Affan datang untuk berbicara kepada Rasulullah (saww) tentang bagian khumus yang beliau bagikan diantara Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Kemudian aku berkata : “Wahai Rasulullah, anda telah membagi untuk saudara-saudara kami Bani Al Muththalib, dan anda tidak memberikan sesuatupun kepada kami, padahal kerabat kami dan kerabat mereka bagi anda adalah satu”.

Kemudian Nabi (saww) bersabda : “Sesungguhnya Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib adalah satu.”

Jubair mengatakan Beliau tidak membagikan kepada Bani Abdu Syams dan Bani Naufal dari khumus tersebut sebagaimana beliau membagikan kepada Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Jubair berkata : “Abu Bakar membagikan khumus sebagaimana Rasulullah (saww) membagikannya hanya saja ia tidak memberikan (khumus) kepada kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan kepada mereka“.

Jubair berkata : Dan Umar bin  Khathab memberikan kepada mereka (kerabat Rasul saww) dari bagian tersebut begitu juga Utsman setelahnya”

Derajat HaditsShahih (klik)

.

“…..hanya saja ia (yaitu ABU BAKAR) tidak memberikan khumus kepada kaum kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan khumus kepada mereka

Seperti inikah yang dikatakan khalifah yang adil..??

Gembong Nashibi Ibn Taymiyah dalam Komik kebanggaan para Nashibi (LA) Minhaj As-Sunnah 8/291 (klik), mengatakan  :

وغاية ما يقال إنه كبس البيت لينظر هل فيه شيء من مال الله الذي يقسمه وأن يعطيه لمستحق

Tujuan dari apa yang dikatakan bahwa ia (abu bakar) mendobrak rumah (rumah Fathimah as) adalah untuk melihat jika disana ada harta Allah untuk disalurkan dan diberikan kepada yang layak menerimanya”

Masuk akalkah Ahlul Bait (as) menyimpan harta yang bukan miliknya alias harta ilegal..??  sehingga Abu Bakar mencari-carinya dan mendobrak rumah Fathimah (as) karena alasan tersebut?

0
inShare

Tindakan-tindakah khalifah Abu Bakar yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) serta akal yang sejahtera melebihi 4 perkara sebagaimana dicatat oleh ulama Ahlus-Sunnah wa l-Jama’ah di dalam buku-buku mereka. Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka, maka merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah (swt). Dan sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita menolaknya dan terus memusuhi Sunnah Nabi (Saw.) yang bertentangan dengan tindakan Abu Bakar? Berikut dikemukakan sebagian dari tindakan khalifah Abu Bakar :

1.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi saw, niscaya mereka tidak melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3].

2.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perpecahan kepada umat, tetapi khalifah Abu Bakar berpendapat Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perselisihan dan perpecahan kepada umat. Dia berkata: “Kalian meriwayatkan dari Rasulullah (Saw.) hadits-hadits di mana kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas kalian akan berselisih faham lebih kuat lagi.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

3.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi( Saw.), niscaya mereka meriwayatkan dan menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.) di kalangan orang ramai,tetapi khalifah Abu Bakar melarang orang ramai dari meriwayatkannya. Dia berkata: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatu pun (syai’an) dari Rasulullah (Saw.)” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

4.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak akan mengatakan bahwa Kitab Allah adalah cukup untuk menyelesaikan segala masalah tanpa Sunnah Nabi (Saw.), tetapi khalifah Abu Bakar berkata: “Kitab Allah dapat menyelesaikan segala masalah tanpa memerlukan Sunnah Nabi (Saw.)” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.”[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas peristiwa Hari Khamis yaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika dia berkata:” Rasulullah (Saw.) sedang meracau dan cukuplah bagi kita Kitab Allah (Hasbuna Kitabullah).” Lantaran itu sunnah Abu Bakar tadi adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya ; Kitab Allah dan “Sunnahku.”

5.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membakar Sunnah Nabi (Saw.), tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakarnya. Oleh itu tidak heranlah jika Khalifah Abu Bakar tidak pernah senang hati semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadits Nabi (Saw.) semasa pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula. [al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, V, hlm. 237]

Dengan ini dia telah menghilangkan Sunnah Rasulullah (Saw.). Oleh itu kata-kata Abu Bakar: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun dari Rasulullah (Saw.)” menunjukkan larangan umum terhadap periwayatan dan penulisan hadits Rasulullah (Saw,). Dan hal itu tidak boleh ditakwilkan sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.

6.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.), dan menjaganya, tetapi khalifah Abu Bakar, melarangnya dan memusnahkannya (Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,V,hlm. 237] Lantaran itu tindakan khalifah Abu Bakar adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.):”Allah memuliakan seseorang yang mendengar haditsku dan menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadits) membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala pembawa ilmu (hadits) bukanlah seorang yang alim.”[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm.437; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm.78] Dan sabdanya “Siapa yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan membelenggukannya dengan api neraka.” [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, III, hlm.263]

7.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka berkata: “Kami perlu kepada sunnah Nabi (Saw.) setiap masa,” tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya berkata: “Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi, karena kitab Allah sudah cukup bagi kita.” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

8.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka percaya bahwa taat kepada Nabi (Saw.) adalah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Nisa’(4) 80 : “Siapa yang mentaati Rasul, maka dia mentaati Allah”. Ini berarti siapa yang mendurhakai Rasul, maka dia mendurhakai Allah, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya percaya sebaliknya ketika dia berkata: : “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) Baginya mendurhakai Nabi (Saw.) bukan berarti mendurhakai Allah.

9.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak bermusuhan dengan Ahlu l-Bait Nabi (Saw.), apa lagi mengepung dan coba membakar rumah anak perempuannya; Fatimah (a.s), tetapi mereka telah mengepung dan coba membakarnya dengan menyalakan api di pintu rumahnya.Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengepung dan coba membakar rumah Fatimah al-Zahra' sekalipun Fatimah, Ali, Hasan dan Husain (a.s) berada di dalamnya. Ini disebabkan mereka tidak melakukan bai'ah kepadanya. Khalifah Abu Bakar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan mengadu kepadanya. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, IV, hlm.196 meriwayatkan dari Aisyah bahwa Fatimah tidak bercakap dengan Abu Bakar sehingga beliau meninggal dunia. Beliau hidup selepas Nabi saw wafat selama 6 bulan. [Al-Bukhari,Sahih ,VI,hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh,I,hlm.159; al-Tabari,Tarikh,III,hlm.159]

10.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membawa Ali (a.s) di dalam keadaan lehernya terikat, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepadanya di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah , I ,hlm.18-20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal,iii,hlm.139;Abul-Fida,Tarikh,I,hlm.159; al- Tabari, Tarikh ,III , hlm.159].

Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (Saw.) yang bersifat lembut terhadap Ali (a.s) dan melantiknya sebagai khalifah selepasnya: “Siapa yang telah menjadikan aku maulanya,maka Ali adalah maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap kedudukan khalifah.(al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.144,al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal ,vi,hlm.2180)

11.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka diizinkan untuk mengerjakan solat jenazah ke atas Fatimah (a.s), tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk mengerjakan solat ke atasnya. Beliau telah berwasiat kepada suaminya Ali (a.s) supaya Abu Bakar dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat ke atasnya. Karena perbuatan mereka berdua yang menyakitkan hatinya, khususnya mengenai Fadak [Al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh, I ,hlm.159;al-Tabari, Tarikh,III,hlm.159]. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

12.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka tidak dirahasiakan tentang makam Fatimah (a.s), tetapi Abu Bakar dan kumpulannya telah dirahasiakan tentang lokasi makam Fatimah (a.s),karena Fatimah (a.s) berwasiat kepada suaminya supaya merahasiakan makamnya dari mereka berdua. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

13.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mencaci Ali dan Fatimah a.s, tetapi Khalifah Abu Bakar telah mencaci Ali (a.s) dan Fatimah (a.s) sebagai musang dan ekornya. Bahkan beliau mengatakan Ali (a.s) seperti Umm al-Tihal (seorang perempuan pelacur) karena menimbulkan soal tanah Fadak. Kata-kata ini telah diucapkan oleh Abu Bakar di dalam Masjid Nabi (Saw.) selepas berlakunya dialog dengan Fatimah (a.s) mengenai tanah Fadak. Ibn Abi al-Hadid telah bertanya gurunya, Yahya Naqib Ja’far bin Yahya bin Abi Zaid al-Hasri, mengenai kata-kata tersebut:”Kepada siapakah hal itu ditujukan?”Gurunya menjawab:”hal itu ditujukan kepada Ali AS.” Kemudian ia bertanya lagi:”Adakah ia ditujukan kepada Ali?” Gurunya menjawab:”Wahai anakku inilah artinya pemerintahan dan pangkat duniawi tidak mengira kata-kata tersebut.”[Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV,hlm.80] . Kata-kata Abu Bakar adalah bertentangan dengan firman-Nya:”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”[Surah al-Ahzab (33):33] Fatimah dan Ali AS adalah Ahlul Bayt Rasulullah SAW yang telah disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda:”Kami Ahlul Bayt tidak boleh seorangpun dibandingkan dengan kami.”[Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah,hlm.243]

14.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menghentikan pemberian khums kepada keluarga Nabi saw, tetapi Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga Rasulullah (Saw.). Ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (8):41 “Ketahuilah,apa yang kamu perolehi seperlima adalah untuk Allah,Rasul-Nya,Kerabat,anak-anak yatim,orang miskin,dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ,II,hlm.127]

15.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) ,tetapi Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) selepas wafatnya Nabi (Saw.).Khalifah Abu Bakar memberi alasan “Kami para nabi tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa yang kami tinggalkan ialah sedekah.” Hujah yang diberikan oleh Abu Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan Ali (a.s) karena hal itu bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti berikut:

a) Firman-Nya yang bermaksud ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka) untuk anak-anakmu.”[Surah an-Nisa (4):11] Apa yang dimaksudkan dengan ‘anak-anak’ ialah termasuk anak-anak Nabi (Saw.).

b) Firman-Nya yang bermaksud:”Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.”(Surah al-Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman (a.s) mewarisi kerajaan Nabi Daud (a.s) dan menggantikan kenabiannya.

c) Firman-Nya yang bermaksud:”Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai.”(Surah Maryam:5-6)

Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu Bakar yang berpegang dengan hadits tersebut. Dan apabila hadits bertentangan dengan al-Qur’an, maka hal itu (hadits) mestilah diketepikan.

d) Kalau hadits tersebut benar, ia berart Nabi (Saw.) sendiri telah cuai untuk memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan hal itu bercanggah dengan firman-Nya yang bermaksud:”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”(Surah al-Syua’ra:214)

e) Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan hal itu tidak boleh menjadi hujah karena Fatimah dan Ali (a.s) menentangnya. Fatimah (a.s) berkata:”Adakah kamu sekarang menyangka bahwa aku tidak boleh menerima pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum Jahiliyyah? Tidakkah hukum Allah lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah kamu wahai anak Abi Qahafah mewarisi ayah kamu sedangkan aku tidak mewarisi ayahku? Sesungguhnya kamu telah melakukan perkara keji.” (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’,II,hlm.14;Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’,III,hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV, hlm.79,92)

f) Fatimah dan Ali (a.s) adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di dalam Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-Kisa’. Dan termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang Nasrani di dalam ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran:61. Adakah wajar orang yang disucikan Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi pembohong, penuntut harta Muslimin yang bukan haknya?

g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul hal itu bermakna Rasulullah (Saw.) sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai seorang ayah terhadap anaknya. Karena anak-anak para nabi yang terdahulu menerima harta pusaka dari ayah-ayah mereka.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi (Saw.) dengan keluarganya menunjukkan betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya, Fatimah sebagai ibu dan nenek kepada sebelas Imam AS. Beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah marah karena kemarahanmu (Fatimah ) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III , hlm.153; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, hlm.522; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI, hlm.219;Mahyu al-Din al-Syafi'i al-Tabari, Dhakhair al-Uqba,hlm.39] Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan merayu kepadanya.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14]

Beliau berwasiat supaya beliau dikebumikan di waktu malam dan tidak membenarkan seorangpun dari “mereka” menyembahyangkan jenazahnya. [Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm. 542;al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm, 177; Ibn Abd al-Birr, al-Isti'ab,II,hlm.75]

Sebenarnya Fatimah a.s menuntut tiga perkara:

1. Kedudukan khalifah untuk suaminya Ali AS karena dia adalah dari ahlul Bait yang disucikan dan perlantikannya di Ghadir Khum disaksikan oleh 120,000 orang dan hal itu diriwayatkan oleh 110 sahabat.
2. Fadak.
3. Al-khums, saham kerabat Rasulullah tetapi kesemuanya ditolak oleh khalifah Abu Bakar [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,V,hlm.86]

16.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi sawa,niscaya mereka mengenakan hukum had ke atas pelakunya tanpa pilih kasih,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali (a.s) mau supaya Khalid dihukum rejam.[Ibn Hajr, al-Isabah , III, hlm.336]

Umar berkata kepada Khalid:”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”[Al-Tabari,Tarikh ,IV, hlm.1928] Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahwa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa Umar berkata:”Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”

Umar memahami bahwa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak patut dilakukan karena mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah kepada kemurtadan mereka. Pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan ‘idfi’u, yaitu mengikut suku Kinanah ia berart “bunuh” dan dalam bahasa Arab biasa ia berart “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid bagi mengetahui maksudnya yang sebenar.

Tetapi mereka terus membunuh kaumnya dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Oleh itu Dhirar pasti memahami bahwa perkataaan idfi’u bukanlah perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik. Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam pembunuhan tersebut tidak boleh menjadi hujah dalam kejahatan Khalid, apatah lagi perzinaannya dengan isteri Malik bin Nuwairah selepas dia dibunuh. Dengan itu tidak heranlah jika Ali AS dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu Bakar enggan melakukannya.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, maka Nabi (Saw.) sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha’labah yang enggan membayar zakat kepada beliau (Saw.). Allah (swt) menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah(9):75-77. Semua ahli tafsir Ahlu s-Sunnah menyatakan bahwa ayat itu diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat karena beranggapan bahwa hal itu jizyah. Maka Allah (swt) mendedahkan hakikatnya. Dan Nabi (Saw.) tidak memeranginya dan tidak pula merampas hartanya sedangkan beliau (Saw.) mampu melakukannya. Adapun Malik bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama. Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu Bakar ke atas kedudukan khalifah selepas Rasulullah (Saw.) dengan menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadits al-Ghadir. Oleh itu tidak heranlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa mengira kejahatan yang dilakukannya terhadap Muslimin karena Khalid telah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya di bawah operasi “enggan membayar zakat dan murtad” sekalipun hal itu bertentangan dengan Sunah Nabi (Saw.).

17.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal mereka sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal dia sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.). Beliau bersabda:”Ali adalah saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku” dan sabdanya:”Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan penyerahan kedudukan khalifah kepada Umar adalah menyalahi prinsip syura yang diagung-agungkan oleh Ahlul Sunnah. Justru itu Abu Bakar adalah orang yang pertama merusakkan sistem syura dan memansuhkannya. Pertama, dia menggunakan “syura terhad” bagi mencapai cita-citanya untuk menjadi khalifah tanpa menjemput Bani Hasyim untuk menyertainya. Kedua, apabila kedudukannya menjadi kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah selepasnya tanpa syura dengan alasan bahwa Umar adalah orang yang paling baik baginya untuk memegang kedudukan khalifah selepasnya.

18.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka dilantik oleh Nabi (Saw.)untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah dilantik oleh Nabi (Saw.) untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan, malah beliau melantik orang lain. Hanya pada satu masa beliau melantiknya untuk membawa Surah Bara’ah, tetapi beliau mengambil kembali tugas itu dan kemudian meminta Ali (a.s) untuk melaksanakannya.[Al-Tabari, Dhakha'ir al-Uqba,hlm.61;al-Turmudhi, Sahih,II, hlm.461;Ibn Hajr, al-Isabah,II, hlm.509]

19.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui pengertian al-Abb di dalam al-Qur’an,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui pengertian al-Abb yaitu firman-Nya di dalam Surah ‘Abasa (80):31:”Dan buah-buahan (Fakihatun) serta rumput-rumputan (abban).”Dia berkata:”Langit mana aku akan junjung dan bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang aku tidak mengetahui?”[al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,I,hlm.274]

20.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.) tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengetahui dia akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.). Malik bin Anas di dalam a-Muwatta bab “jihad syuhada’ fi sabilillah’ telah meriwayatkan dari hamba Umar bin Ubaidillah bahwa dia menyampaikannya kepadanya bahwa Rasulullah bersabda kepada para syahid di Uhud:”Aku menjadi saksi kepada mereka semua.”Abu Bakar berkata:”Tidakkah kami wahai Rasulullah (Saw.) saudara-saudara mereka. Kami telah masuk Islam sebagaimana mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana mereka berjihad?” Rasulullah menjawab:”Ya! Tetapi aku tidak mengetahui bid’ah mana yang kalian akan lakukan selepasku.”Abu Bakar pun menangis, dan dia terus menangis. Bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri, di antaranya al-Bara’ bin Azib.

Al-Bukhari di dalam Sahihnya “Kitab bad’ al-Khalq fi bab Ghuzwah al-Hudaibiyyah” telah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ala bin al-Musayyab dari ayahnya bahwa dia berkata:”Aku berjumpa al-Barra bin Azib maka aku berkata kepadanya: Alangkah beruntungnya anda karena bersahabat dengan Nabi (Saw.) dan anda telah membai’ah kepadanya di bawah pohon. Maka dia menjawab: Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang kami telah lakukan (Ahdathna) selepasnya.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.32]

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi (Saw.) bersabda kepada orang-orang Ansar:”Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya di Haudh.”Anas berkata:”Kami tidak sabar.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.135]

Ibn Sa’d juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm. 51, dengan sanadnya dari Ismail bin Qais bahwa dia berkata:”Aisyah ketika wafatnya berkata: Sesungguhnya aku telah melakukan bid’ah-bid’ah (Ahdathtu) selepas Rasulullah (Saw.), maka kebumikanlah aku bersama-sama isteri Nabi (Saw.).” Apa yang dimaksudkan olehnya ialah “Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Nabi (Saw.) karena aku telah melakukan bid’ah-bid’ah selepasnya.”

Lantaran itu, khalifah Abu Bakar, al-Barra bin Azib, Anas bin Malik dan Aisyah telah memberi pengakuan masing-masing bahwa mereka telah melakukan bid’ah-bid’ah dengan mengubah Sunnah Nabi (Saw.).

21.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan berkata: “Syaitan menggodaku, sekiranya aku betul, maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng , maka betulkanlah aku.” Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata: “Aku digodai Syaitan. Sekiranya aku betul,maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng, maka betulkanlah aku.” [Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I, hlm. 6; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,III, hlm. 126; Ibn Hajr, al-Sawa'iq al-Muhriqah, hlm. 7; al-Syablanci,Nur al-Absar, hlm. 53] Ini berarti dia tidak mempunyai keyakinan diri,dan bagaimana dia boleh menyakinkan orang lain pula?

22.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) ,niscaya mereka tidak menyesal menjadi seorang manusia, tetapi Khalifah Abu Bakar menyesal menjadi seorang manusia, malah dia ingin menjadi pohon dimakan oleh binatang kemudian mengeluarkannya. Abu Bakar berkata:”Ketika dia melihat seekor burung hinggap di atas suatu pohon, dia berkata:Beruntunglah engkau wahai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon tanpa hisab dan balasan. Tetapi aku lebih suka jika aku ini sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan. Kemudian datang seekor unta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan pula dan tidak menjadi seorang manusia.”[al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah,I,hlm. 134; Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah,III,hlm. 130]

Kata-kata khalifah Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) di dalam Surah al-Tin (95):4:”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia di dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Dan jika Abu Bakar seorang wali Allah kenapa dia harus takut kepada hari hisab? Sedangkan Allah telah memberi khabar gembira kepada wali-walinya di dalam Surah Yunus(10):62-64,”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah ini tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.Tidak ada perubahan kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

23.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengganggu rumah Fatimah (a.s) semenjak awal lagi, tetapi khalifah Abu Bakar telah mengganggunya dan ketika sakit menyesal karena mengganggu rumah Fatimah (a.s). Dia berkata: “Sepatutnya aku tidak mengganggu rumah Fatimah sekalipun beliau mengisytiharkan perang terhadapku.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm. 18-19; al-Tabari, Tarikh ,IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, Iqd al-Farid,II,hlm.254]

24.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menjatuhkan air muka Nabi (Saw.), Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menjatuhkan air muka Nabi (Saw.) di hadapan musyrikin yang datang berjumpa dengan Nabi (Saw.) supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata:”Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah karena mereka cinta kepada agama tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami adalah tetangga anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.”Tetapi Nabi (Saw.) tidak mau menyerahkan kepada mereka hamba-hamba tersebut karena khawatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut dan beliau tidak mau juga mendedahkan hakikat ini kepada mereka. Nabi (Saw.) bertanya kepada Abu Bakar dengan harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar berkata:”Benar kata-kata mereka itu.” Lantas berubah muka Nabi (Saw.)karena jawabannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.[al-Nasa'i, al-Khasa'is,hlm. 11; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 155] Sepatutnya khalifah Abu Bakar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Nabi, tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah diam memihak kepada Musyrikun berdasarkan ijtihadnya.

25.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka telah membunuh Dhu al-Thadyah (seorang lelaki yang mempunyai payudara, akhirnya menentang khalifah Ali), tetapi khalifah Abu Bakar tidak membunuh Dhu al-Thadyah sedangkan Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar supaya membunuh Dhu al-Thadyah. Abu Bakar mendapati lelaki itu sedang mengerjakan solat. Lalu dia berkata kepada Rasulullah (Saw.) :”Subhanallah! Bagaimana aku membunuh lelaki yang sedang mengerjakan solat?” (Ahmad b.Hanbal,al-Musnad,III,hlm.14-150) Sepatutnya dia membunuh lelaki itu tanpa mengira keadaan karena Nabi (Saw.)telah memerintahkannya. Tetapi dia tidak membunuhnya, malah dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Nabi (Saw.).

26.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Seorang nenek bertanya kepada Abu Bakar tentang pusakanya. Abu Bakar menjawab:”Tidak ada saham untuk anda di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Oleh itu kembalilah.”Lalu al-Mughirah bin Syu”bah berkata:”Aku berada di sisi Nabi (Saw.)bahwa beliau memberikannya (nenek) seperenam saham.”Abu Bakar berkata:”Adakah orang lain bersama anda?” Muhammad bin Muslimah al-Ansari bangun dan berkata sebagaimana al-Mughirah. Maka Abu Bakar memberikannya seperenam.[Malik, al-Muwatta,I,hlm. 335; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,IV,hlm.224;Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid,II, hlm.334]

27.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui hukum had
ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui hukum had ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya. Dari Safiyyah binti Abi Ubaid,”Seorang lelaki buntung satu tangan dan satu kakinya telah mencuri pada masa pemerintahan Abu Bakar. Lalu Abu Bakar mau memotong kakinya dan bukan tangannya supaya dia dapat bermunafaat dengan tangannya. Maka Umar berkata:”Demi yang diriku di tangan-Nya, anda mesti memotong tangannya yang satu itu.” Lalu Abu Bakar memerintahkan supaya tangannya dipotong.”[al-Baihaqi, Sunan,VIII,hlm.273-4]
28.

Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim .Tetapi Khalifah Abu Bakar berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim (afdhal).[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I,hlm. 16; al-Baqillani, al-Tamhid,hlm. 195; al-Halabi, Sirah Nabawiyyah,III, hlm.386] Ijtihadnya adalah bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-Zumar (39):9:”Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” dan firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):35:”Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?”

29.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka melakukan korban (penyembelihan) sekali di dalam hidupnya.Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah melakukan korban (penyembelihan) karena khawatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib. Sunnahnya adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.) yang menggalakkannya.[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, IX,hlm. 265; al-Syafi'i, al-Umm, II, hlm.189]

30.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, kemudian Dia menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya. Seorang lelaki bertanya kepadanya:”Adakah anda fikir zina juga qadarNya? Lelaki itu bertanya lagi:”Allah mentakdirkannya ke atasku kemudian menyiksa aku?” Khalifah Abu Bakar menjawab:” Ya. Demi Tuhan sekiranya aku dapati seseorang masih berada di sisiku, niscaya aku menyuruhnya memukul hidung anda.”[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, hlm.65]

Oleh itu ijtihad Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman-firman Tuhan di antaranya:

a. Firman-Nya di dalam Surah al-Insan (76):3:”Sesungguhnya kami telah menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
b. Firman-Nya di dalam Surah al-Balad (90):10:”Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
c. Firman-Nya di dalam Surah al-Naml (27):40:”Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’”.

31.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata: Jika pendapat kami betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari kami dan dari syaitan. Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Jika pendapatku betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari aku dan dari syaitan.”[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VI, hlm. 223; al-Tabari, Tafsir, VI hlm. 30; Ibn Kathir, Tafsir, I, hlm.260] Kata-kata Abu Bakar menunjukkan bahwa dia sendiri tidak yakin kepada pendapatnya. Dan dia memerlukan bimbingan orang lain untuk menentukan kesalahannya.

32.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka akur kepada Sunnah Nabi (Saw.) apabila mengetahui kesannya dengan mengilakkan dirinya dari kilauan dunia ,tetapi Khalifah Abu Bakar mengetahui bahwa dia tidak terlepas dari kilauan dunia, lantaran itu dia menangis. Al-Hakim di dalam Mustadrak, IV, hlm. 309 meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Arqam, dia berkata:”Kami pada suatu masa telah berada bersama Abu Bakar, dia meminta minuman, lalu diberikan air dan madu. Manakala dia mendekatkannya ke mulutnya dia menangis sehingga membuatkan sahabat-sahabatnya menangis. Akhirnya merekapun berhenti menangis, tetapi dia terus menangis.

Kemudian dia kembali dan menangis lagi sehingga mereka menyangka bahwa mereka tidak mampu lagi menyelesaikan masalahnya. Dia berkata:kemudian dia menyapu dua matanya. Mereka berkata:Wahai khalifah Rasulullah! Apakah yang sedang ditolak oleh anda? Beliau menjawab:”Dunia ini (di hadapanku) telah “memperlihatkan”nya kepadaku, maka aku berkata kepadanya:Pergilah dariku maka hal itu pergi kemudian dia kembali lagi dan berkata:Sekiranya anda terlepas dariku, orang selepas anda tidak akan terlepas dariku.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh ak-Khatib di dalam Tarikh Baghdad, X,hlm. 268 dan Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, I, hlm.30]

33.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahan mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahannya melainkan hal itu dipersetujui oleh Umar. Adalah diriwayatkan bahwa “Uyainah bin Hasin dan al-Aqra bin Habis datang kepada Abu Bakar dan berkata:”Wahai khalifah Rasulullah, izinkan kami menanam di sebidang tanah yang terbiar berhampiran kami. Kami akan membajak dan menanamnya. Mudah-mudahan Allah akan memberikan manfaat kepada kami dengannya.”Lalu Abu Bakar menulis surat tentang persetujuannya. Maka kedua-duanya berjumpa Umar untuk mempersaksikan kandungan surat tersebut. Apabila kedua-duanya membacakan kandungannya kepadanya, Umar merebutnya dari tangan mereka berdua dan meludahnya. Kemudian memadamkannya. Lalu kedua-duanya mendatangi Abu Bakar dan berkata:”Kami tidak mengetahui adakah anda khalifah atau Umar.” Kemudian mereka berdua menceritakan kepadanya. Lalu Abu Bakar berkata:”Kami tidak melaksanakan sesuatu melainkannya dipersetujui oleh Umar.”{al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm. 335; Ibn Hajr, al-Isabah, I,hlm.56] .

34.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Nabi (Saw.). Tetapi Khalifah Abu Bakar telah dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Rasulullah SAWA. Tetapi Nabi (Saw.)tidak melarangnya sebaliknya beliau tersenyum pula, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa seorang lelaki telah mencaci Abu Bakar dan Nabi sawa sedang duduk, maka Nabi (Saw.) kagum dan tersenyum.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, VI, hlm.436] .

35.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Nabi (Saw.) khalifah Abu Bakar dan Umar telah bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.) . Abu Bakar berkata:”Wahai Rasulullah lantiklah al-Aqra bin Habi bagi mengetuai kaumnya.” Umar berkata:”Wahai Rasulullah janganlah anda melantiknya sehingga mereka menengking dan meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.).” Lalu diturunkan ayat di dalam Surah al-Hujurat(49):2,”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyedari.” Sepatutnya mereka berdua bertanya dan merujuk kepada Rasulullah (Saw.) mengenainya.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV , hlm.6;al-Tahawi, Musykil al-Athar,I,hlm. 14-42] .

36.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana mereka sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi Khalifah Abu Bakar banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana dia sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi tidak melakukannya dan sebaliknya. Ibn Qutaibah mencatatkan dalam bukunya al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19,

9 perkara yang disesali oleh Abu Bakar seperti berikut:

“Tiga perkara yang aku telah lakukan sepatutnya aku tidak melakukannya dan tiga perkara yang aku tidak lakukannya sepatutnya aku melakukannya dan tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) mengenainya. Adapun tiga perkara yang aku telah melakukannya sepatutnya aku tidak melakukannya:

1. Sepatutnya aku tinggalkan rumah Ali (Fatimah) sekalipun mereka mengisytiharkan perang ke atasku.
2. Sepatutnya aku membai’ah sama Umar atau Abu Ubadah di Saqifah Bani Saidah, yaitu salah seorang mereka menjadi amir dan aku menjadi wazir.
3. Sepatutnya aku menyembelih Fuja’ah al-Silmi atau melepaskannya dari tawanan dan aku tidak membakarnya hidup-hidup.

Adapun tiga perkara yang aku tidak melakukannya sepatutnya aku melakukannya:
1. Sepatutnya ketika al-Asy’ath bin Qais dibawa kepadaku sebagai tawanan, aku membunuhnya dan tidak memberinya peluang untuk hidup, karena aku telah mendengar tentangnya bahwa ia bersifat sentiasa menolong segala kejahatan.
2. Sepatutnya ketika aku mengutus Khalid bin al-Walid kepada orang-orang murtad, aku mesti berada di Dhi al-Qissah, dengan itu sekiranya mereka menang, mereka boleh bergembira dan sekiranya mereka kalah aku boleh menghulurkan bantuan.
3. ???-red

Adapun tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) ialah:

1. Kepada siapakan kedudukan khalifah patut diberikan sesudah beliau wafat, dengan demikian tidaklah kedudukan itu menjadi rebutan.
2. Sepatutnya aku bertanya kepada beliau, adakah orang Ansar mempunyai hak menjadi khalifah.
3. Sepatutnya aku bertanya beliau tentang pembagian harta pusaka anak saudara perempuan sebelah lelaki dan ibu saudara sebelah lelaki karena aku tida puas hati tentang hukumnya dan memerlukan penyelesaian.”

Kenyataan di atas telah disebut juga oleh al-Tabari dalam Tarikhnya, IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, ‘Iqd Farid,II,hlm. 254;Abu Ubaid, al-Amwal,hlm. 131]

37.
Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengundurkan diri dari tentara Usamah yang telah dilantik oleh Nabi saw menjadi penglima perang di dalam ushal itu yang muda,tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi (Saw.) bersabda:”Perlengkapkan tentara Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentara Usamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa'd, Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi].

38.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak menamakan dirinya(Abu Bakar) “Khalifah Rasulullah”.[Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menamakan dirinya "Khalifah Rasulullah".[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah ,I,hlm.13];al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’,hlm.78] Penamaannya adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah karena beliau tidak menamakannya dan melantiknya, malah beliau menamakan Ali dan melantiknya. Beliau bersabda:”Siapa yang aku menjadimaulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan hadits-hadits yang lain tentang perlantikan Ali (a.s) sebagai khalifah selepas Rasulullah (Saw.).

39.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membakar manusia hidup-hidup,tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakar Fuja’ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian dia menyesali perbuatannya.[al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.52] Dan hal itu bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.)”Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari Tuhannya.”(Al-Bukhari, Sahih ,X,hlm.83]

40.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak lari di dalam peperangan, tetapi Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam peperangan Uhud dan Hunain. Sepatutnya dia mempunyai sifat keberanian melawan musuh. Tindakannya itu menyalahi ayat-ayat jihad di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 37; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI,hlm.394;al-Dhahabi,al-Talkhis,III,hlm.37]

41.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak meragukan kedudukan khalifah. Tetapi Khalifah Abu Bakar telah meragukan kedudukan khalifahnya. Dia berkata:”Sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.), adalah orang-orang Ansar mempunyai hak yang sama di dalam kedudukan khalifah?” Ini adalah keraguan tentang kesahihan atau kebatilannya. Dialah orang yang menentang orang-orang Ansar manakala mereka mengatakan bahwa Amir mestilah dari golongan Quraisy.” Sekiranya apa yang diriwayatkan olehnya itu benar, bagaimana dia meragukan”nya” pula. Dan jikalau tidak, dia telah menentang orang-orang Ansar dengan “hujah palsu.”[Al-Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi,II,hlm.127; Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.18,19;al-Masudi, Muruj al-Dhahab,II,hlm.302]

42.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepada mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepadanya oleh orang Yahudi. Anas bin Malik berkata:”Seorang Yahudi datang selepas kewafatan Rasulullah (Saw.). Maka kaum Muslimin menunjukkannya kepada Abu Bakar. Dia berdiri di hadapan Abu Bakar dan berkata: Aku akan kemukakan soalan-soalan yang tidak akan dijawab melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Abu Bakar berkata:”Tanyalah apa yang anda mau. Yahudi berkata: Beritahukan kepadaku perkara yang tidak ada pada Allah, tidak ada di sisi Allah, dan tidak diketahui oleh Allah? Abu Bakar berkata: Ini adalah soalan-soalan orang zindiq wahai Yahudi! Abu Bakar dan kaum Muslimin mulai marah dengan Yahudi tersebut.

Ibn Abbas berkata: Kalian tidak dapat memberikan jawaban kepada lelaki itu. Abu Bakar berkata: Tidakkah anda mendengar apa yang diperkatakan oleh lelaki itu? Ibn Abbas menjawab: Sekirannya kalian tidak dapat menjawabnya, maka kalian pergilah bersamanya menemui Ali AS, niscaya dia akan menjawabnya karena aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda kepada Ali bin Abi Talib:”Wahai Tuhanku! Sinarilah hatinya, dan perkuatkanlah lidahnya.” Dia berkata:”Abu Bakar dan orang-orang yang hadir bersamanya datang kepada Ali bin Abi Talib, mereka meminta izin darinya. Abu Bakar berkata: Wahai Abu l-Hasan, sesungguhnya lelaki ini telah bertanya kepadaku beberapa soalan (zindiq).

Ali berkata: Apakah yang anda perkatakan wahai Yahudi? Dia menjawab: Aku akan bertanya kepada anda perkara-perkara yang tidak diketahui melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Yahudi mengemukakan soalan-soalan kepadanya. Ali berkata: Adapun perkara-perkara yang tidak diketahui oleh Allah ialah kata-kata anda bahwa Uzair adalah anak lelaki Tuhan, dan Allah tidak mengetahui bahwa Dia mempunyai anak lelaki. Adapun kata-kata anda apa yang tidak ada di sisi Allah, maka jawabannya perkara yang tidak ada di sisi Allah ialah kezaliman. Adapun kata-kata anda: Apa yang tidak ada bagi Allah maka jawabannya tidak ada bagi Allah syirik. Yahudi menjawab: Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah dan sesungguhnya anda adalah wasinya.”[Ibn Duraid, al-Mujtana, hlm.35]

43.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mempersendakan Nabi (Saw.) di masa hidupnya,apatah lagi pada masa Nabi SAWA sakit dan selepas kematiannya, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mempersendakan Nabi (Saw.) dengan menolak Sunnah Nabi (Saw.) di hadapannya ketika Nabi (Saw.) sedang sakit “ dia sedang meracau” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69),kemudian menghalang penyebarannya. (Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

44.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Di dalam riwayat lain,”Ali di kalangan kalian.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,III,hlm.132] Jikalau kata-katanya benar, berarti dia tidak layak untuk menjadi khalifah Rasulullah SAWA, berdasarkan pengakuannya sendiri.

45.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membenci orang yang mencintai dan mengamalkan Sunnah Nabi (Saw.), tetapi mereka membenci orang yang mencintai Sunnah Nabi (Saw.)dan mengamalkanya sekiranya Sunnah Nabi (Saw.) bertentangan dengan sunnah Abu Bakar.] Justru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakar dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.Lantaran Ali dan keluarganya berusaha dengan keras bagi membersihkan kekotoran yang dilakukan oleh Abu Bakar dan pengikutnya.

Para pembaca..

terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sunni sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

(Ref. Ahlusunnah :Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”..Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”..    Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”..Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”..Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”)

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.– dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat

.

 sejarah telah menunjukkan bahwa Abubakar dan seluruh keluarganya (kecuali putrinya Asma’ dan putranya Muhammad) bersikap bermusuhan terhadap keluarga Nabi SAWW, yangmemiliki konsekwensi sebagai  pembangkangan nyata terhadap apa yg ditetapkan Al Quran atau disabdakan Nabi mengenai penghargaan dan kasih sayang kepada keluarga beliau SAWW.Sebagai bukti, inilah daftar dari keluarga Abubakar yg permusuhannya terhadap keluarga Nabi SAWW sangat mencolok :
.
1. ABUBAKAR, saat kenaikannya ke tahta kekhalifahan, mengirim Umar ke rumah Sayyidah Fathimah untuk memaksa Imam Ali AS, dengan kekerasan, untuk datang dan berbaiat kepadanya. Umar mengancam Sayyidah Fathimah bahwa ia akan membumi hanguskan rumah. Setelah itu Sayyidah Fathimah begitu marah terhadap Abubakar, sehingga sepanjang sisa hidupnya, ia tdk pernah berbicara sepatah kata jua kepada Abubakar. Dan di ranjang kematiannya, ia melarang Abubakar mengiringi pemakamannya
.
2. AISYAH, putri Abubakar, memberontak terhadap Imam Ali AS, sang Khalifah, dan didepan 30 ribu pasukan, ia memimpin perang Jamal, namun dipermalukan dengan kekalahan telak
.
3. ZUBAIR BIN AWWAM, suami Asma’, putri tertua Abubakar, adalah panglima pasukan Aisyah, ditengah pertempuran ia mundur dan hendak melarikan diri ke arah Mekkah, namun terbunuh tak berapa jauh dari medan pertempuran.

4. ABDULLAH, putra Zubair dari Asma’, adalah panglima pasukan infanteri Aisyah. Ia adalah anak angkat Aisyah. Setelah pertempuran, jasadnya ditarik keluar dari setumpuk mayat yg terbaring di medan tempur.

5. THALHAH, sepupu Abubakar dan jg suami putri Abubakar Ummu Kultsum, adalah seorang panglima pasukan Aisyah. Ditengah pertempuran, Marwan bin Hakam (juru tulis dan penasihat jahat khalifah Usman), seorang perwira dari pasukan yg sama , yg melihat Thalhah sibuk bertempur, berkata kepada budaknya, “Baru kemarin Thalhah sibuk menghasut para pembunuh Usman, dan kini ia sibuk membalaskan darahnya. Betapa munafiknya ia dalam mencari kemegahan duniawi!” Selesai berbicara, ia melepaskan anak panah yg menembus kaki Thalhah dan mengenai kudanya yg lalu melonjak liar dari barisan dan Thalhah pun terjerembab ke tanah. Ia segera dibawa ke Basrah tempat ia meninggal dunia setelah beberapa saat.

6. ABU AR RAHMAN, saudaranya Thalhah dan jg sepupunya Abubakar, jg terbunuh dalam pertempuran yg sama.

7. MUHAMMAD, putra Thalhah, ikut tewas dalam pertemputan tersebut.

8. JU’DAH BINTI ASY’ATS, putri Ummu Farwah (saudara perempuan Abubakar), meracuni Imam Hasan AS hingga syahid. Ia disuap agar melakukan kekejian oleh Yazid putra Muawiyah atau oleh Muawiyah sendiri.

9. ISHAQ, putra Ummu Farwah. Kedua bersaudara putra2 Asy’ats menjadi anggota pasukan Yazid bin Muawiyah, yg bertempur melawan Imam Husain AS di karbala. Belakangan, yg pertama tewas dalam pertempuran melawan Mukhtar, yg membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS. Sementara yg kedua, yg telah menelanjangi sebagian tubuh Imam Husain AS, tercabik2 sampai mati oleh kawanan anjing.

10. MUS’AB, putra Zubair (menantu Abubakar), bertempur melawan Mukhtar, yg terbunuh selagi membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS.

Inilah bukti fakta bukan rekayasa tentang permusuhan Abubakar dan keturunannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAWW. Ini adalah bukti sejarah otentik yg tidak bisa dibantah lagi kebenarannya!

.

Umar bin Khattab Pembuka Jalan Bagi Berkuasanya Bani ‘Umayyah

Sepeninggal Rasul, dari empat khalifah yang empat,  tiga di antaranya dibunuh tatkala sedang dalam tugas, yaitu Umar, Utsman dan Ali. Yang menarik adalah ramalan Umar bin Khaththab bahwa Utsman akan dibunuh kerana membuat pemerintahan yang nepotis sepertiyang dikatakannya.

Umar seperti melibat bahaya munculnya sifat-sifat jahiliah ini sehingga tatkala ia baru ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah dan mengetahui bahwa ia akan meninggal pada tahun 24 H-645M, ia memanggil keenam anggota Syura yang ia pilih sendiri.

Umar berkata: “Sesungguhnya Rasul Allah telah wafat dan ia rida akan enam tokoh Quraisy: Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahman bin ‘Auf.”

Kepada Thalhah bin Ubaidillah ia berkata: “Boleh saya bicara atau tidak!”

Thalhah:‘Bicaralah!’.

Umar: “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum RasulAllah wafat, ia marah kepadamu [34] karena kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saww wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”.[1]

 Di bagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”. Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah.

 Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan:“ Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya”Dan  di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah

sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’. [2]

Kemudian kepada Zubair, Umar berkata : “Dan engkau, ya Zubair, engkau selalu gelisah dan resah, bila engkau senang engkau Mu’min, bila marah, engkau jadi kafir, satu hari engkau seperti manusia dan pada hari lain seperti setan. Dan andaikata engkau jadi khalifah, engkau akan tersesat dalam peperangan. Bisakah engkau bayangkan, bila engkau jadi khalifah? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada umat pada hari engkau jadi manusia dan apa yang akan terjadi pada mereka tatkala engkau jadi setan, yaitu tatkala engkau marah. Dan Allah tidak akan menyerahkan kepadamu urusan umat ini selama engkau punya sifat ini” [3]

Di bagian lain: “Dan engkau ya Zubir, demi Allah, hatimu tidak pernah tenang siang maupun malam, dan selalu berwatak kasar sekasar-kasarnya; jilfan jafian”. [4]

 Bersama Aisyah, Thalhah dan Zubair setelah membunuh Utsman memerangi Ali dan menyebabkan paling sedikit 20.000 orang meninggal dalam Perang Jamal. Dan selama puluhan tahun menyusul, beribu-ribu kepala yang dipancung banyak tangan dan kaki yang dipotong, mata yang dicungkil dengan mengatas namakan menuntut darah Utsman.

Kepada Utsman, Umar berkata: “Aku kira kaum Quraisy akan menunjukmu untuk jabatan ini kerana begitu besar cinta mereka kepadamu dan engkau akan mengambil Bani‘Umayyah dan Bani Mu’aith untuk memerintah umat. Engkau akan melindungi mereka dan membagi-bagikan Uang baitul mal kepada mereka dan orang-orang akan membunuhmu, menyembelihmu di tempat tidur”[6]

Atau menurut riwayat dari Ibnu Abbas yang didengarnya sendiri dari Umar “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsman ia akan mengambil Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat. Bila melakukannya mereka akan membunuhnya”.[7]

Di bagian lain, dalam lafal Imam Abu Hanifah: “Andaikata aku menyerah kekhalifahan kepada Utsman, ia akan mengambil keluarga Abi Mu’aith untuk memerintah umat, demi Allah andaikata aku melakukannya, ia akan melakukannya, dan mereka akhirnya akan memotong kepalanya”. [8] Atau di bagian lain: Umar berwasiat kepada Utsman dengan kata-kata: “Bila aku menyerahkan urusan ini kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengambil keluarga Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat’. [9]

Mari kita lihat ‘ramalan’ Umar bin Khaththab. Tatkala Imam Ali menolak mengikuti peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan (Sunnah) Abu Bakar dan Umar, dalam pertemuan anggota Syura,Utsman justru sebaliknya. Ia berjanji menaati peraturan dan keputusan Abu Bakar dan Umar. [10] Ia menjadi khalifah tanggal 1 Muharam tahun 24 H pada umur 79 tahun dan meninggal dibunuh tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H/ 17 Juni 656 M.

Pemerintahannya dianggap nepotis oleh banyak kalangan. Misalnya, ia mengangkat anggota keluarganya, yang bernama Marwan anak Hakam Ibnu ‘Abi’l Ash yang telah diusir Rasul saww dari Madinah kerana telah bertindak sebagai mata-mata musuh. Utsman membolehkania kembali dan mengangkatnya menjadi Sekretaris Negara.

Utsman juga memperluas wilayah kekuasaan Mu’awiyah, yang mula-mula hanya kota Damaskus, sekarang ditambah dengan Palestina, Yordania dan Libanon. Ia memecat gubernur-gubernur yang ditunjuk Umar dan menggantinya dengan keluarganya yang Thulaqa  [11], ada di antaranya yang pernah murtad dan disuruh bunuh oleh Rasul, dilaknat Rasul, penghina Rasul dan pemabuk. Ia mengganti gubernur Kufah Sa’d bin Abi Waqqash dengan Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, saudara seibu dengannya. Walid disebut sebagai munafik dalam Al-Qur’an.

Ali, Thalhah dan Zubair, tatkala Utsman mengangkat Walid bin ‘Uqbah jadi gubernur Kufah, menegur Utsman: “Bukankah Umar telah mewasiatkan kepadamu agar jangan sekali-kali mengangkat keluarga Abi Waith dan Banu ‘Umayyah untuk memerintah umat?”  Dan Utsman tidak menjawab sama sekali’. [12]

Walid adalah seorang pemabuk dan penghambur uang negara. Utsman juga mengganti gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash dengan Abdullah bin Sa’id bin Sarh, seorang yang pernah disuruh bunuh Rasul saww kerana menghujat Rasul. Di Bashrah ia mengangkat Abdullah binAmir, seorang yang terkenal sebagai munafik.

Utsman juga dituduh telah menghambur-hamburkan uang negara kepada keluarga dan paragubernur Banu ‘Umayyah’ yaitu orang-orang yang disebut oleh para sejarahwan sebagai takbermoral(fujur), pemabuk (shahibu‘l-khumur), tersesat(fasiq), malah terlaknat oleh Rasulsaww (la’in) atau tiada berguna(‘abats). Ia menolak kritik-kritik para sahabat yang terkenal jujur. Malah ia membiarkan pegawainya memukul saksi seperti Abdullah bin Mas’ud, pemegang baitul mal di Kufah sehingga menimbulkan kemarahan Banu Hudzail.

Ia juga membiarkan pemukulan ‘Ammir bin Yasir sehingga mematahkan rusuknya dan menimbulkan kemarahan Banu Makhzum dan Banu Zuhrah. Ia juga menulis surat kepada penguasa di Mesir agar membunuh Muhammad bin Abu Bakar. Meskipun tidak sampai terlaksana, tetapi menimbulkan kemarahan Banu Taim.

Ia membuang Abu Dzarr al-Ghifari –pemrotes ketidakadilan dan penyalahgunaan uang negara- ke Rabdzah dan menimbulkan kemarahan keluarga Ghifari. Para demonstran dating dari segala penjuru, seperti Mesir, Kufah, Bashrah dan bergabung dengan yang di Madinahyang mengepung rumahnya selama 40 hari  [13] yang menuntut agar Utsman memecat Marwan

yang tidak hendak dipenuhi Utsman. Tatkala diingatkan bahwa uang Baitul Mal adalahmilik umat yang harus dikeluarkan berdasarkan hukum syariat seperti sebelumnya oleh ‘AbuBakar dan Umar ia mengatakan bahwa ia harus mempererat silaturahmi dengan keluarganya.Ia mengatakan: “Akulah yang memberi dan akulah yang tidak memberi. Akulah yang membagi  uang sesukaku!”.[14]

Utsman memberikan kebun Fadak kepada Marwan, yang telah diambil oleh Abu Bakar dari Fathimah  SA putrid Rasulullah SAWW.

Dirham adalah standar mata uang perak dan dinar adalah standar mata uang emas. Satudinar berharga sekitar 10-12 dirham. Satu dirham sama harganya dengan emas seberat 55butir gandum sedang. Satu dinar seberat 7 mitsqal. Satu mitsqal sama berat dengan 72 butirgandum. Jadi satu dinar sama berat dengan 7 X 72 butir gandum atau dengan ukuransekarang sama dengan 4 grain. Barang dagangan satu kafilah di zaman Rasul yang terdiridari 1.000 unta, dan dikawal oleh sekitar 70 orang berharga 50.000 dinar yang jadi milikseluruh pedagang Makkah. Seorang budak berharga 400 dirham.

Contoh penerima hadiah dari Utsman adalah Zubair bin ‘Awwam. Ia yang hanya kepercikanuang baitul mal itu, seperti disebut dalam shahih Bukhari, memiliki 11 (sebelas) rumah diMadinah, sebuah rumah di Bashrah, sebuah rumah di Kufah, sebuah di Mesir…Jumlahuangnya, menurut Bukhari adalah 50.100.000 dan di lain tempat 59.900.000 dinar, disamping [15] seribu ekor kuda dan seribu budak.  [16]

Aisyah menuduh Utsman telah kafir dengan panggilan Na’tsal [17] dan memerintahkan agar iadibunuh. Zubair menyuruh serbu dan bunuh Utsman. Thalhah menahan air minum untukUtsman. Akhirnya Utsman dibunuh. Siapa yang menusuk Utsman, tidak pernah diketahuidengan pasti. Siapa mereka yang pertama mengepung rumah Utsman selama empat bulandan berapa jumlah mereka dapat dibaca sekilas dalam catatan berikut. Mu’awiyah mengejarmereka satu demi satu.

—————————————————————————————————-

  1.  Sebagaimana biasa, banyak perdebatan telah terjadi mengenai kata-kata ‘Umar ini. Bukankah ‘Umar mengatakan bahwa Rasul Allah saww rida kepada mereka berenam?.
  2.  Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53.
  3.  Lihat Tafsir al-Qurthubi jilid 14, hlm. 228; Faidh al-Qadir, jilid,4, hlm. 290; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hlm.506; Tafsir Baqawi jilid 5, hlm. 225; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 185, 186, jilid 12, hlm. 259 dan lain-lain.
  4. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 175.
  5. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’I-Balaghah, jilid 12, hlm. 259.
  6. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 186.
  7. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 16.
  8.  Abu uysuf dalamal-Atsar, hlm. 215.
  9. 9.      Ibnu Sa’d,Thabaqat, jilid 3, hlm. 247; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm 16; Mithibbuddin Thabari,Ar-Riydah an-Nadhirah, jilid 2, hlm. 76
  10. Lihat Bab 15, ‘Sikap ‘Ali terhadap Peristiwa Saqifah’ dan Bab 14: ‘Pembaiatan ‘Umar dan’Utsman’.
  11. Yang dibebaskan, baru memeluk Islam setelah penaklukan Makkah.
  12. Ba-ladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 30.
  13. Menurut Mas’udi, ‘Utsman dikepung selama 49 hari, Thabari 40 hari, dan ada yang mengatakan lebih dari itu. Ia dibunuh malam Jumat 3 hari sebelum berakhir bulan Dzul Hijah, tahun 34 H, 8 Juli 655 M. LihatMurujadz-Dzahab, jilid 1, hlm. 431-432
  14. Dengan lafal yang sedikit berbeda lihatlah Shahih Bukhari, jilid 5, hlm. 17; Sunan Abu Dawud, jilid 2, hlm.25.
  15. Shahih Bukhari, Kitab Jihad, jilid 5, hlm. 21 dll.
  16. Lihat Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, jilid 1, hlm. 424.
  17. Nama lelaki asal Mesir dan berjanggut panjang menyerupai ‘Utsman. Dalam al-Lisan al-’Arab Abu Ubaid berkata: ‘Orang mencerca ‘Utsman dengan nama Na’tsal ini’. Ada yang mengatakan Na’tsal ini orang Yahudi

.

Syahidnya Fathimah as.

Fatimah Az Zahra Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!!
Ya Nabi SAW Puterimu Di Zalimi !

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang- Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya. (Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251)

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu. Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar. Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.   Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang. Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. (Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58)

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash   Fatimah dicambuk. Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk. (Talkhis Syafi jilid 3 hal 156  )

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang. Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah. (Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312.)

perbedaan yang banyak di antara sesama empat mazhab membuat anda pasti bingung kan ?

“Bukankah Anda mengetahui bahwa mazhab yang empat (madzâhibul arba’ah) itu saling bertentangan satu sama lainnya dalam banyak masalah, dan dalam hal ini mereka tidak berlandaskan pada dalil yang kuat atau keterangan yang jelas dan nyata bahwa ialah yang benar, bukan yang lainnya? Orang yang terikat dengan salah satu mazhab dari empat mazhab tersebut hanyalah menyebutkan dalil-dalil yang tidak ada penopangnya. Sebab, ia tidak semuanya bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Ia seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.

Misalnya, seandainya Anda tanyakan kepada seseorang yang bennazhab Hanafi, ‘Mengapa engkau memilih mazhab Hanafi, bukan yang lainnya? Dan mengapa engkau memilih Abu Hanifah sebagai imam untuk dirimu setelah seribu tahun dari kematiannya?

Niscaya orang tersebut tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan hatimu. Demikian juga jika Anda menanyakan hal yang sama kepada seseorang yang mengikuti mazhab asy-Syafi’i, Maliki, atau Hanbali.

Rahasia di balik itu adalah setiap imam dari empat mazhab tersebut bukanlah seorang nabi atau washiyy (orang yang menerima wasiat untuk meneruskan kepemimpinan nabi). Mereka tidak mendapatkan wahyu ataupun mendapatkan ilham, mereka hanya seperti ulama yang lain, dan orang yang seperti mereka amatlah banyak.

Kemudian mereka bukanlah sahabat Nabi Saw, kebanyakan mereka atau bahkan keseluruhan mereka tidak menjumpai Nabi Saw dan tidak pula menjumpai para sahabat Nabi Saw. Setiap orang dari mereka (imam mazhab yang empat) membuat mazhab untuk dirinya sendiri, ia mengikuti mazhabnya itu dan mempunyai pendapat­-pendapat tersendiri, yang boleh jadi terdapat kesalahan atau kelalaian di dalamnya.

Dan setiap dari mereka mempunyai pendapat yang bermacam-macam, yang satu sama lainnya saling bertentangan. Akal sehat tidak akan dapat menerima hal itu, demikian pula hati yang bersih. Sebab, ia tidak berdasarkan pada dalil yang tegas dan kuat, yaitu al-­Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Maka, orang yang berpegangan atau mengikuti salah satu dari mazhab yang empat tersebut tidak mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat kelak di hadapan Allah pada Hari Perhitungan. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah hujah yang jelas lagi kuat itu. Seandainya Allah menanyakan kepada orang yang mengikuti salah satu dari mazhab yang empat itu pada hari kiamat, dengan dalil apa engkau mengikuti mazhabmu ini? Tentu saja ia tidak mempunyai jawaban kecuali ucapannya, Dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Qs. Az-Zukhruf [43]:23)

Atau, ia berkata,

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). (Qs. Al-Azhab [33]:67)

“Adapun kami yang mengikuti wilâyah (kepemimpinan) al-’itrah ath-thâhirah (keturunan yang suci), Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa, dan kami beribadah kepada Allah Swt dengan mengikuti fiqih al-Ja’fari, kami akan berkata kelak pada Hari Perhitungan, ketika kami berdiri di hadapan Allah Swt.”

‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan kami dengan hal itu karena sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam Kitab-Mu, Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (Qs. Al-Hasyr [59]:7)

Dan Nabi-Mu, Muhammad Saw, telah bersabda, sebagaimana yang telah disepakati kaum Muslim, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua pusaka yang sangar berharga (ats-tsaqalain), yaitu Kitabullâh dan Itrah Ahlulbaitku; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di Haudh.”

Dan Nabi-Mu juga telah bersabda, “Perumpamaan Ahlu/ Bairku di rengah-rengah kalian seperti bahrera Nuh barang siapa menaikinya, niscaya dia akan selamat; dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya dia akan tenggelam dan binasa.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah dari al-i’trah ath-thâhirah (keturunan yang suci), yaitu Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa. llmunya adalah ilmu ayahnya, ilmu ayahnya adalah ilmu kakeknya, yaitu Rasulullah Saw, sedangkan ilmu Rasulullah Saw bersumber dari Allah.

Selain itu, semua kaum Muslim telah sepakat akan kejujuran dan keutamaan Imam Ja’far Ash-Shiidiq As: Sesungguhnya ia (Imam Ja’far Ash-Shiidiq As) adalah seorang washiyy keenam dan Imam Maksum, sesuai keyakinan segolongan besar kaum Muslim, yaitu para pengikut mazhab Ahlubait, mazhab yang hak. Dan sesungguhnya ia adalah hujah Allah atas makhluk-Nya.

Imam Ja’far Ash-Shadiq As meriwayatkan hadis dari ayah  dan datuknya yang suci, dan ia tidak berfatwa dengan pendapatnya sendiri. Hadisnya adalah “hadis ayahku dan datukku”. Sebab, mereka adalah sumber ilmu dan hikmah.

Mazhab Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah mazhab ayahnya, dan mazhab kakeknya bersumber dari wahyu, yang tidak akan pernah berpaling sedikit pun darinya. Bukan dari hasil ijtihad, seperti lainnya yang berijtihad.

Oleh karena itu, orang yang mengikuti mazhab Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq As dan mazhab kakek-kakeknya, berarti ia telah mengikuti mazhab yang benar dan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw.

Setelah aku kemukakan dalil-dalil yang jelas dan kuat, Syaikh al-Azhar tersebut mengucapkan banyak terima kasih kepadaku dan ia pun sangat memuliakan kedudukanku.

Kemudian ia menanyakan tentang pandangan Syi’ah terhadap para sahabat Rasulullah Saw. Lalu, aku jelaskan kepadanya bahwa Syi’ah tidak menecela sahabat Rasulullah Saw secara keseluruhan. Akan tetapi, Syi’ah meletakkan mereka sesuai kedudukan mereka. Sebab, di antara mereka ada yang adil dan ada pula yang tidak adil, di antara mereka ada yang pandai dan ada pula yang bodoh, dan di antara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat.

Bukankah Anda tahu apa yang telah mereka lakukan pada hari Saqifah? Mereka telah meninggalkan jenazah Nabi mereka dalam keadaan terbujur kaku di atas tempat tidumya, mereka berlomba-lomba memperebutkan kekhalifahan. Setiap orang dari mereka beranggapan bahwa ialah yang berhak menjadi khalifah, seakan-akan ia adalah barang dagangan yang dapat diperoleh bagi siapa saja yang lebih dahulu mendapatkannya. Padahal mereka telah mendengar nash-nash yang tegas yang telah disampaikan oleh Nabi Saw tentang kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib As, baik sejak awal dakwahnya maupun hadis Ghadir Khum yang terkenal itu.

Selain itu, mengurusi jenazah Rasulullah Saw lebih penting daripada urusan kekhalifahan. Bahkan, seandainya saja Rasulullah Saw tidak mewasiatkan seseorang untuk menjadi khalifahnya (Rasulullah Saw. secara tegas telah menunjuk ‘Ali untuk menjadi khalifahnya), maka wajib bagi mereka untuk mengurusi jenazah Rasulullah Saw  terlebih dahulu.

Kemudian setelah selesai mengurusi jenazah Rasulullah Saw, seyogyanya mereka menyatakan belasungkawa kepada keluarga beliau, seandainya saja mereka adalah orang-orang yang adi!.

Akan tetapi, dimanakah keadilan dan perasaan hati mereka, dimanakah keluhuran akhlak, dan dimanakah ketulusan dan kecintaan? Dan yang lebih menyakitkan lagi di dalam hati adalah penyerbuan mereka ke rumah belahan jiwa Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra As, yang dilakukan oleh sekitar lima puluh orang pria.

Mereka telah mengumpulkan kayu bakar untuk membakar rumah Fatimah dan semua orang yang di dalamnya. Sehingga ada seseorang yang berkata kepada ‘Umar, “Sesungguhnya di dalam rumah tersebut terdapat al-Hasan, al-Husain, dan Fatimah.”

Akan tetapi, ‘Umar berkata, “Walaupun (di dalam rumah tersebut ada mereka).”

Peristiwa ini banyak disebutkan oleh sejarawan Ahlus Sunnah,[3] apalagi para sejarawan Syi’ah.

Semua orang tahu, baik orang yang berbakti maupun orang yang jahat, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka ia telah menyakitiku; barang siapa yang membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka; barang siapa yang membuatku murka, maka ia teah membuat Allah murka; dan barang siapa membuat Allah murka, maka Allah akan menyungkurkan kedua lubang hidungnya ke dalam neraka.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada para sahabat Nabi Saw secara jelas menunjukkan bahwa tidak semua sahabat itu adil. Silakan Anda merujuk ke Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh al-Muslim tentang hadis Haudh, niscaya Anda akan mendapatkan kebenaran pendapat Syi’ah tentang penilaian mereka terhadap para sahabat Nabi Saw.

Jika demikian adanya, maka dosa apakah bagi mereka (Syi’ah) jika mereka berpendapat bahwa banyak di antara sahabat Nabi Saw yang tidak adil, sedangkan banyak dari mereka sendiri (para sahabat Nabi Saw.) yang menunjukkan jati diri mereka sendiri.

Perang Jamal dan Perang Shiffin adalah dalil dan bukti yang paling jelas terhadap kebenaran pendapat mereka (Syi’ah). Dan al-Qur’an telah menyingkapkan banyak keburukan perbuatan di antara mereka (para sahabat Nabi Saw).

Bukankah Anda juga tahu apa yang telah dilakukan oleh Mu’awiyah, ‘Amru bin ‘Ash, Marwan bin Hakam, Ziyad dan anaknya, Mughirah bin Syu’bah, ‘Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah dan Zubair, yang keduanya telah memberikan baiat kepada Amirul Mukminin ‘Ali As, tetapi keduanya kemudian melanggar baiatnya dan memerangi Imam mereka (‘Ali bin Abi Thalib As) bersama ‘A’isyah di Basrah, yang sebelumnya mereka telah melakukan kejahatan-kejahatan di kota tersebut (Basrah) yang tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang mempunyai jiwa satria.

Selain itu, selama keberadaan Nabi Saw di tengah-tengah mereka (para sahabat beliau), banyak di antara mereka yang melakukan perbuatan nifâk (munafik), apakah kemudian setelah Nabi Saw menemui Tuhannya (wafat), mereka lantas menjadi adil semuanya?

Kita sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada salah seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus kepada umatnya, lalu semua umatnya menjadi adil. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan kepada kita tentang hal itu.

Sesungguhnya apa yang telah kami persembahkan kepada para pembaca adalah bersumber dari  al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dalam hadis sahih dalam kitab-kitab sahih Sunni, dan merupakan bukti yang kuat terhadap kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung (belâ fashl), sekiranya orang yang menentang kami berlaku adil.

Perhatikanlah dengan seksama dan sungguh-sungguh terhadap semua yang telah kami sebutkan  yaitu hujjah dan keterangan yang jelas, dengan begitu niscaya akan tersingkap kebenaran yang hakiki bagi Anda dan akan memudahkan jalan bagi siapa saja yang hendak menempuh jalan kebenaran. Yaitu, orang-orang yang mengikhlaskan niatnya dan menjauhkan dirinya dari fanatisme mazhab yang membutakan hati dan pikiran sehat dan membinasakan.

Orang yang bersikeras dalam fanatismenya, tidak akan berguna riwayat, walaupun jumlahnya sangat banyak dan telah dikemukakan baginya seribu dalil.

Adapun orang yang mempunyai pikiran yang jemih dan akal yang cerdas, maka yang telah kami persembahkan, dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, telah memadai baginya karena dalil-dalil tersebut adalah riwayat-riwayat yang sahih yang telah disepakati kebenarannya, baik di kalangan Sunni maupun Syi’ah.

Selain itu, orang yang bersikeras di dalam kefanatikannya, bahkan seandainya Nabi Saw sendiri yang datang kepadanya dan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia tetap akan berada di dalam sikap keras kepalanya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh   salah seorang di antara mereka, yang keras kepala, kepada saudaraku “Seandainya Jibril turun, dan ikut bersamanya Muhammad dan ‘Ali, aku tetap tidak akan membenarkan ucapanmu.”

Sesungguhnya manusia itu bermacam-macam. Dan merupakan hal yang sulit mendapatkan kerelaan seluruh manusia, bahkan itu merupakan suatu hal yang mustahil diraih.

Semoga Allah Swt. mencurahkan rahmat-Nya kepada ‘Ali al-Kailani, seorang pujangga berkebangsaan Palestina yang berkata,

Jika Tuhannya makhluk tidak meridhai makhluk-Nya,

Maka bagaimana mungkin makhluk dapat diharapkan keridhaannya.


[1] . Allah membukakan hatinya untuk menerima dan mengikuti mazhab yang benar yaitu mazhab Ahlulbait al-Ja’fari.

[2] . Silahkan Anda rujuk pada bagian ketiga dari buku ini.

[3] .  Lihat al-Imâmah was Siyâsah. Ar-Riyadhun Nadhrah, Murujudz Dzahab, Ansâbul Asyrâf, al-Imâm ‘Ali, karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud, Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadid, dan kitab-­kitab lainnya yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Anda akan mendapatkan bahwa mereka menyebutkan peristiwa yang menyedihkan dan memilukan hati ini. Adapun Syi’ah, para sejarawan mereka telah menyebutkan peristiwa yang menyakitkan hati ini berikut nama-nama mereka yang melakukan tindakan kejahatan ini. Mereka menyatakan bahwa perirstiwa penyerbuan ke rumah Fatimah As tersebut dipimpin oleh ‘Umar “seorang pahlawan yang gagah berani” tetapi gagah berani bukan di medan perang.