Abdullah bin Sarh sahabat yang dimusuhi Nabi SAW justru diangkat menjadi PEJABAT oleh Usman bin Affan


dukung.JPG

Abdullah ibn Sa‘ad ibn Abī as-Sarḥ

‘Abdullāh ibn Sa‘ad ibn Abī as-Sarḥ (Arabic: عبدالله بن سعد بن أبي السرح‎) was the foster brother of Uthman. His father was Saad ibn Abi Sarh. Abdullah bin Sa’ad bin Abi’l Sarh built a strong Egyptian Arab navy. Under him the Muslim navy won a number of naval victories including its first major naval battle against Constans II at the Battle of the Masts in 655 CE. Abdullah bin Sa’ad bin Abi’l Sarh was the Governor of Egypt at the time. One of his achievements while governor of Egypt, was the capture of Tripoli in 647 whereby he brought Libya into the folds of Islamic Empire
.

Abdullah Ibn Sa’d Ibn Abi Sarh was a governor of Upper Egypt during the reign of Uthman (644–656). He was the co-founder of the first Muslim Navy.

Utsman bin Affan menjadi khalifah pada usia 74, sekali lagi muncul pertanyaan mengapa dia lebih disukai ketimbang sahabat-sahabat lainnya yang lebih muda dan lebih mampu? Apakah ini merupakan siasat Umar bin Khathab untuk memberikan kekuasaan mutlak kepada klan Bani Umayyah? Strategi ini memuluskan berdirinya kekuasaan Utsman yang notabene adalah Bani Umayyah.

.
‘Abdullāh ibn Sa‘ad ibn Abī as-Sarḥ 

Abdallah Ibn Sarh al-`Amiri   adalah suku Quraisy pertama dari pada orang-orang yang menulis di Mekkah sebelum dia berpaling dari Islam. Sebelumnya ia merupakan seorang Muslim yang diperintahkan menulis kumpulan firman-firman Allah, namun ia berkhianat dan bergabung dengan pemberontak (murtad) . Setelah Pembebasan Mekkah, ia dijatuhi hukuman mati. Kemudian ia mengungsi ke saudara sepersusuannya, Utsman bin Affan

Utsman memberinya suaka, dan membawanya ke hadapan Muhammad dan memohon agar ia diampuni. Pada hari Muhammad menaklukkan Mekkah, dia memerintahkan pencatat Qurannya untuk di bunuh. Tetapi pencatat itu kabur kepada Ustman ibn Affan, karena Ustman adalah saudara angkatnya (ibunya menyusui Ustman). Ustman, oleh karena itu, menjauhkannya dari Muhammad. Setelah orang-orang mulai reda, Ustman membawa pencatat itu kepada Muhammad dan mencari perlindungan baginya. Muhammad berdiam untuk waktu yang cukup lama, yang setelah itu mengatakn ya. Ketika Ustman sudah pergi, Muhammad mengatakan “Saya berdiam diri hanya supaya kalian seharusnya membunuh dia (si pencatat, Abdullah)

.

Dan ketika berkuasa, Utsman pun menunjuk salah seorang musuh Nabi (Saw), saudara sepupunya, Abdullah bin Sarh sebagaimana yang ditulis Amir Ali: “…Abdullah ini, suatu waktu pernah menjadi seorang sekretaris Nabi, dan ketika Nabi mendiktekan wahyu yang diterimanya, dia (Abdullah) selalu mengubah kata-katanya dan mengubah maknanya” [Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, p. 294]

pernyataan bahwa al-Quran al-Karim telah dinodai oleh Ibn Abî Sarh sama sekali tidak terbukti, mengotori segenggam air pun tidak.

.

Bahkan seorang sarjana ternama Muslim Sunni, Al-Syahid Sayyid Quthb, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas fakta sejarah ini. Sayyid Quthub menulis, “Adalah celaka sekali bahwa kekuasaan kekhalifahan diberikan kepada Utsman yang pada saat itu telah tua renta, lemah semangat juangnya untuk menegakkan Islam, tak berdaya menentang tipu daya pembantunya, Marwan bin Hakam serta pendukungnya, kaum keluarga Ummayyah.” [Sayyid Quthb, Keadilan Sosial Dalam Islam, hlm. 270, Penerbit Pustaka Bandung, Cet. I, 1984.]

.

“…tetapi sejarah juga sulit untuk memaafkan kesalahannya (Utsman bin Affan) akibat usianya yang telah sangat tua dan fisiknya yang sudah lemah, terombang-ambing dalam pengaruh buruk Bani Umayyah.” [Ibid, hlm. 272.]

.

Ketika para shahabat yang shalih masih hidup mengapa kedudukkan-kedudukkan penting justru diberikan kepada orang-orang berperilaku buruk seperti itu? Jawaban obyektifnya adalah agar sang khalifah dengan mudah mempunyai kesempatan untuk memberikan kekuasaan yang langgeng bagi Bani Umayyah. Inilah suatu kaum yang di dalam sejarahnya berambisi untuk memadamkan Cahaya Islam, yang mendapatkan kesempatan secara mulus dari para khalifah-khlaifah sebelumnya untuk berkuasa dan menghancurkan Islam dari dalam.

.

Dan saat itu pula musuh bebuyutan mereka, Bani Hasyim tidak lagi memiliki kekuatan yang berarti setelah pertahanan ekonomi mereka (Fadak) dirampas, dan posisi-posisi penting mereka dan para pendukung mereka berhasil digusur. Kemutlakan pilih kasih telah diberikan kepada Bani Umayyah dan menghapus segala kemungkinan Bani Hasyim dapat meraih kekhalifahan.

.

Utsman telah memberikan khumus (20%) dari rampasan perang dari expedisi pertama ke Afrika kepada saudara lelakinya, Abdullah ibn Abu Sarh. Marwan bin Hakam memperoleh khumus (20%) dari expedisi ke 2 Afrika. Dan akhirnya khalifah memberikan kepadanya keseluruhannya (100%). [Tarikh Ibn al Athir Volume 3 page 49 publishers, Dar ul Kitan al Lubnani, 1973.]

.

* Tanah Fadak yang merupakan milik Rasulullah Saw, yang disita Abu Bakar dari tangan Sayyidah Fathimah, akhirnya diberikan Utsman kepada Marwan.

[Ibn Qutayba, Al Ma’arif, p. 190 edited by Tharwat ‘Ukasha, Cairo edition 1960.]

.

* Utsman juga memberikan sepupunya, Harits hadiah yaitu, unta-unta yang telah dikumpulkan sebagai zakat dan pajak, lalu membawa unta-unta itu ke Madinah. [Ansab al-Ashraf, Baladhuri, Vol 5 p 28, edited by S.D.F. Goitein Jerusalem 1936.]

.

* Apakah hal ini tidak mengundang keingintahuan, bahwa Abu Bakar telah menetapkan Fadak menjadi milik negara, lalu ‘diberikan’ kepada Marwan? Utsman telah memberikan Zakat dari Qud’ah yang berjumlah 300.000 dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 1, p. 193, Dar al- Ma’arif, Egypt, 1953] dan Abdul Rahman bin Auf 3 juta dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 3, p. 126, Dar al-Ma’arif, Egypt 1953]

.

Mungkin menurut Umar bin Khaththab hal ini dipandang sebagai alternatif, setelah menyadari ketamakan Bani Umayyah, dengan dalih agar tidak terjadi perang saudara (antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim) dan menjaga persatuan umat Islam secara keseluruhan.

Tidak bisa dibantah, mengapa Umar bin Khaththab tidak menganugerahkan kekhilafahan kepada putranya, Abdullah bin Umar? Ternyata Umar mempunya visi yang terlalu jauh untuk ini.

.

Dia menyadari jika dia memberikan kekhalifahan kepada putranya, Abdullah bin Umar, dia akan mendapatkan ancaman kekuasaan dari Bani Umayyah, sehingga dengan terpaksa dia memberikannya kepada Banu Umayyah, yang dia ketahui sangat haus kekuasaan. Pada kenyataannya, dia telah membuat putranya sendiri, Abdullah bin Umar mesti memutuskan pemilihan suara dalam Dewan Syura yang sudah disiapkan Umar bin Khaththab sedemikian rupa agar Utsman bin Affan unggul dalam pemilihan tersebut.

.

Dengan cara ini, putra Umar, Abdullah bin Umar menjadi sekutu dekat dengan Bani Umayyah dan menjadi seorang musuh yang pahit bagi putra-putra Imam Ali, khususnya Imam Husain (as)

.

dukung.JPG

 

Usman memberi keutamaan kepada anggota sukunya atau menunjuk keluarga nya untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Utsman, Ia hidup dalam  kemewahan. la menunjuk anggota dari sukunya (Umayah) untuk menduduki posisi yang penting dan kuat dalam pemerintahan, dengan memberi keutamaan kepada mereka daripada umat Islam lainnya, tanpa melihat kepentingan mereka. Padahal, keluarganya ini tidak beriman, juga royal dan sangat berlebihan.

Bani Umayah seperti Muawiyah dan Marwan yang benar-benar mencari keuntungan dari keberadaan Utsman dan juga kematiannya. Kisah Ibnu Saba dalam hal ini berfungsi sebagai topeng bagi wajah-wajah yang haus kekuasaan, yang juga merupakan cara lain untuk menyerang Ali bin Abi Thalib dan pengikut-pengikut setianya.

Khalifah Utsman mengangkat saudara angkatnya, Abdullah bin Sa’d, sebagai gubernur Mesir. Pada saat itu, Mesir merupakan propinsi terbesar di negara Islam. Ibnu Sa’d telah masuk Islam dan pindah dari Mekkah ke Madinah. Ketika Mekkah ditaklukkan, Nabi Muhammad SAW menyuruh kaum Muslimin untuk membunuh Ibnu Sa’d. Ia harus dibunuh meskipun ia menalikan kain Kabah ke tubuhnya. Ibnu Sa’d bersembunyi di rumah Utsman

Khalifah Usman bin Affan membawa pamannya, Hakam bin Abi As (putra Umayah, putra Abdussyams), ke Madinah setelah Nabi Muhammad mengasingkannya dari Madinah

 Diriwayatkan bahwa Hakam sering bersembunyi dan mendengarkan percakapan Nabi Muhammad ketika ia berbicara secara rahasia kepada sahabat-sahabat utamanya, lalu menyebarkan apa yang ia dengar. Ia sering mengikuti dan memperolok-olok cara berjalan Nabi. Suatu waktu Nabi melihatnya ketika ia sedang meniru-niru jalannya dan berkata, “Selamanya ia akan seperti itu.” Segera Hakam menjadi seperti itu hingga ia meninggal. Diriwayatkan juga bahwa, suatu hari, ketika sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, Nabi Muhammad berkata, “Seorang lelaki yang telah dikutuk akan memasuki ruangan ini.” Tak lama setelah itu masuklah Hakam.

Setelah membawanya ke Madinah, Utsman memberi pamannya uang sebanyak 300 ribu dirham.

la menjadikan Marwan bin Hakam, sebagai pembantu utamanya, dan penasehat tertinggi nya, dengan memberi kekuasaan yang sama dengan dirinya. Marwan menerima seperlima pendapatan dari Afrika Utara sebesar 500 ribu dinar. Tetapi ia tidak menyerah kan uang ini. Khalifah mengizinkannya untuk menyimpan uang ini. Jumlahnya sama dengan 10 juta dollar.

Ali bin Abi Thalib sering memperingatkan Utsman mengenai berbahayanya Marwan, tetapi hal itu sia-sia saja. Percakapan berikut antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman membuktikan kenyataan ini. Kejadian ini terjadi ketika Utsman diserang, lalu ia meminta bantuan Ali bin Abi Thalib.

Orang-orang menyampaikan hal ini kepada Ali. Kemudian Ali mendatangi Utsman dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah membuat puas Marwan (sekali lagi), tetapi ia hanya akan puas jika engkau menyimpang dari agamamu dan akalmu, seperti seekor unta membawa tandu yang dituntun semaunya. Demi Allah, Marwan tidak mengetahui apapun tentang agama dan jiwanya. Aku bersumpah demi Allah, menurutku, ia akan membawamu masuk dan tidak akan mengeluarkanmu kembali. Setelah pertemuan ini, aku tidak akan datang untuk mencacimu lagi. Engkau telah menghancurkan kehormatanmu sendiri dan merampas kekuasaanmu.”

Ketika Utsman wafat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Demi Allah! Aku telah berusaha membelanya (Utsman) hingga aku dipenuhi rasa malu. Tetapi Marwan, Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As telah melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau saksikan. Ketika aku memberi nasehat yang sungguh-sungguh dan menganjurkan ia untuk mengusir mereka, ia menjadi curiga, sehingga terjadilah apa yang terjadi saat ini.”

Marwan beserta keturunannya merupakan dasar dari beberapa tuduhan korupsi dan nepotisme yang paling serius yang dilakukan Utsman. Marwan, tentu saja, merampas kekhalifahan dan menaiki tahta pada tahun 64/684 dan merupakan nenek moyang raja-raja Umayah selanjutnya di Damaskus juga pemimpin Cordova hingga setelah tahun 756.

c.  Memberikan jabatan publik kepada keluarga; khalifah Utsman mengangkat Walid bin Aqabah (salah satu keluarga Umayah) sebagai gubernur Kufah, tingkah laku Walid ketika Nabi masih hidup buruk. Quran merendahkannya dan menyebutnya sebagai orang yang menyimpang. Contohnya Nabi Muhammad SAW mengirim dia kepada Bani Mustalaq untuk mengumpulkan zakat mereka.walid melihat dari jauh Bani Mustalaq ini mendekat ke arahnya dengan mengendarai kuda, Ia menjadi takut karena ketegangan antara dia dan kaum ini sebelumnya. Ia kembali kepada Nabi Muhammad SAW dan memberitahu bahwa mereka ingin membunuhnya. Hal. ini tidak benar. Tetapi keterangan Walid ini membuat murka kaum Muslimin Madinah dan mereka ingin menyerang Bani Mustalaq

Pada saat itu turunlah ayat berikut, Hai orang-orang yang beriman, jika seorang yang menyimpang datang kepadamu membawa berita, buktikanlah kebenaran berita itu! Jika tidak engkau akan menghancurkan suatu umat tanpa kalian sengaja, kemudian kalian akan menyesal dengan perbuatan kalian yang tergesa-gesa itu

Walid masih terus menjalankan praktik hidup jahiliyahnya selama hidupnya. la selalu meminum arak dan banyak saksi menyatakan kepada khalifah bahwa mereka menyaksikan Walid sedang mabuk ketika memimpin shalat berjamaah.

Usman  malah menggantikan Jabatan Walid dengan Said bin As, anggota keluarga Umayah yang lain.

d. Umar adalah orang yang menempatkan Muawiyah di pemerintahannya selama ia berkuasa dan USMAN hanya melakukan hal yang sama.”

Tabari menukilkan bahawa ‘Uthman menulis surat kepada Muawiyah dan berkata: Sesungguh nya warga Madinah telah kafir, menderhaka dan memutuskan bai’at mereka (Tarikh Tabari jilid 3 halaman 402)

.

Utsman bin Affan tidak seperti pendahulunya yang cerdik dalam politik dan mampu mengatur pemerintahnya lebih baik. Setelah Abdurrahman bin Auf menyerahkan suaranya kepada Utsman dan ia terpilih sebagai khalifah, Utsman diarak menuju masjid Rasulullah saw. untuk mengumumkan kebijakan politiknya demi memperbaiki kondisi yang ada. Utsman naik ke atas mimbar dan duduk di atas tempat yang biasa diduduki Nabi semasa hidupnya, padahal Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak berani melakukannya ketika mereka menjabat sebagai khalifah. Mereka berdua hanya berani duduk di undakan yang menuju tempat duduk Nabi. Di atas tempat duduk Nabi itulah Utsman berpidato. Sebagian sahabat berkata: “Hari ini kepongahan telah lahir”.[31]

Utsman bin Affan bukan seorang yang pandai pidato. Ia tidak mampu berkata banyak di atas mimbar Nabi. Ia berkata: “Amma Ba’du (selanjutnya), sesungguhnya pertama kali mengendarai sesuatu adalah saat yang sangat sulit. Di sisi lain, aku bukanlah seorang orator. Allah Maha Mengetahui. Sesungguhnya masalah yang berada di antara seseorang dan Adam adalah seorang ayah yang telah meninggal dan perlu dinasehati”.[32]

Al-Ya’qubi menulis: “Utsman bin Affan berdiri dan untuk sementara waktu ia tidak berkata apapun. Kemudian ia membuka mulutnya dan berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar bin Khatthab telah menyiapkan posisi ini sebelumnya. Kalian lebih membutuhkan seorang khalifah yang adil daripada seorang khalifah yang hanya bisa berpidato. Bila kalian masih hidup, ucapan dan pidatoku akan mendatangi kalian. Kemudian Utsman turun dari mimbar”.[33]

Utsman bin Affan mulai menjalankan pemerintahannya dan melakukan kebijakan-kebijakan yang membuat mayoritas kaum muslimin marah dan membencinya kecuali keluarganya, yaitu Bani Umayyah. Ia secara transparan menunjukkan sikap fanatisme kesukuannya dan kecondongannya kepada keluarga, sekaligus mengumumkan bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar Umayyah. Ia mulai mengangkat dan menokohkan anggota keluarga Umayyah di atas masyarakat yang lain. Posisi penting mulai diisi oleh Bani Umayyah tanpa mampu ditolak oleh kaum muslimin.

Utsman bin Affan telah melampaui batas dalam kebijakan rasisnya; melebihi apa yang telah ditanamkan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khatthab. Quraisy tidak lagi memegang kendali pemerintahan, namun dibatasi oleh Utsman pada Bani Umayyah saja.

Utsman bin Affan tidak lagi  peduli pada nasihat dan peringatan-peringatan para sahabat dan di atas mereka semua Ali bin Abi Thalib. Benar, Utsman telah menguasai kekuasaan, namun ia lupa berkaca kepada pendahulunya dalam menjalankan pemerintahan di atas metode yang sah dan berdasarkan pemerintahan Islam. Elemen-elemen penting dan baik semakin lemah untuk dapat mengubah kebijakan pemerintah secara langsung. Kebijakan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab pada masa pemerintahan mereka cukup berhasil menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari kekuasaan dan kepercayaan rakyat pada pandangan dan tuntunannya. Akibatnya, penyelewengan dan penyimpangan dari pemerintahan islami dan munculnya arus kebencian dan permusuhan terhadap Ahlul Bait semakin kuat. Kondisi ini sangat menyulitkan usaha Ali agar khalifah baru mau mendengarkan nasihat. Kondisi dipersulit dengan arus kaum munafik dan Quraisy yang memeluk Islam secara terpaksa ketika pembebasan kota Mekkah serta orang-orang yang punya kepentingan yang berada di sekelilingnya.

Sikap Abu Sufyan setelah pembaiatan Utsman bin Affan

Setelah selesai pembaiatan Utsman bin Affan, Abu Sufyan berjalan mendekati rumah Utsman bin Affan, dan secara berdesak-desakan dengan keluarga dan teman-teman Utsman ia maju dan menyampaikan awal kemenangan menguasai kekuasaan. Tampak wajahnya berbinar-binar menerima kemenangan ini dengan terpilihnya Utsman sebagai khalifah kaum muslimin. Mulutnya terbuka lebar untuk menandakan kebenciannya. Tampak kegeramannya mengingat Islam telah menghina tokoh-tokoh Bani Umayah. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan kemudian berkata kepada segenap yang hadir di rumah Utsman bin Affan: “Apakah ada orang lain selain keluarga dan teman-teman Bani Umayyah?” Mereka serentak menjawab: “Tidak”. Abu Sufyan melanjutkan: “Wahai Bani Umayyah! Dengan cepat kalian telah meraih dan menguasai kekuasaan seperti menangkap bola. Demi Zat yang Abu Sufyan bersumpah atasnya! Tidak ada yang namanya surga dan neraka. Tidak pula ada perhitungan di Hari Kiamat, dan tidak ada juga yang namanya pembalasan. Sejak dahulu aku selalu mengharap kekuasaan ini untuk kalian. Jadikan ini sebagai warisan untuk anak cucu kalian”.[34]

kemudian ia berjalan menuju kuburan pemimpin para syahid, Hamzah bin Abdul Mutthalib. Ia berhenti di samping kuburan sambil menendang kuburan Hamzah dengan kakinya dan berkata: “Wahai Abu ‘Imarah! Apa yang selama ini engkau perjuangkan dengan pedangmu sekarang telah berada di tangan anak keturunan kami. Mereka menjadikannya sebagai barang mainan”.[35]

Dampak Negatif Kebijakan Pemerintahan Utsman bin Affan

Selama hidup dengan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib a.s. tidak pernah menunjukkan ketidaksetujuannya secara terbuka. Demikian ini tidak lain karena penyimpangan yang terjadi juga tidak secara terang-terangan. Bahkan dalam banyak kesempatan, Ali terlibat dalam usaha memperbaiki sikap dan posisi khalifah bila terjadi kesalahan dan itu diterima oleh keduanya. Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak khawatir karena Ali memainkan peranannya hanya sebatas tokoh agama di hadapan umatnya dan sebagai pemilik yang sah kekhalifahan dan pemimpin oposisi bersama sebagian sahabat besar lainnya. Ali siap untuk tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah dan memberikan ketenangan kepada masyarakat, sekalipun ia tidak akan mundur dari prinsip yang diwarisinya dari Rasulullah saw. sebagai penjaga dan pelindung akidah Islam.

Sikap yang diambil oleh Ali bin Abi Thalib berbeda ketika Utsman bin Affan mengambil alih pemerintahan sebagai khalifah baru. Pada pemerintahan Utsman, perilaku korup telah menyebar luas dan secara perlahan-lahan korupsi itu masuk dalam struktur pemerintahan secara terang-terangan. Kerusakan moral ini akhirnya menjalar dan merasuki masyarakat Islam. Di sini, Ali bin Abi Thalib kemudian mengambil sikap dan secara terang-terangan menentang kepemimpinan Utsman bin Affan. Banyak sahabat besar yang mendukung sikap Ali seperti: Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lain, bahkan dukungan juga mengalir dari mereka yang sebelumnya mengingkari hak Ali sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Mereka tidak setuju dengan kebijakan Utsman dalam pengelolaan negara dan kerusakan moral pemerintahannya. Di sini dapat dilihat secara global pemerintahan Utsman dan dampak buruknya:

Utsman bin Affan menerima tampuk pimpinan ketika ia telah berumur tujuh puluh tahun; batasan umur di mana seseorang sangat mencintai keluarga dan mau berkorban untuk mereka. Diriwayatkan ucapannya: “Seandainya aku memiliki kunci-kunci pintu surga, niscaya aku akan memberikannya kepada Bani Umayyah sehingga mereka semua memasukinya”.

Begitu juga sebelum Islam, Utsman bin Affan hidup dalam kondisi yang serba ada dan kondisi itu berlangsung setelah memeluk Islam. Oleh karenanya, ia tidak dapat merasakan betapa sulitnya orang-orang fakir miskin menjalani kehidupan mereka. Kepribadiannya betul-betul teruji ketika harus bersikap dengan sekelompok besar orang-orang miskin yang meminta keadilan dan persamaan hak darinya. Ia memperlakukan mereka dengan keras dan kasar sebagaimana perlakuannya kepada Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lainnya.

Dari sisi keluarga, Utsman bin Affan sangat dekat dan bahkan menempatkan mereka pada posisi-posisi penting. Ia mengangkat Al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith sebagai gubernur Kufah, padahal Al-Walid termasuk orang yang diberitakan oleh Rasulullah sebagai penghuni neraka. Utsman juga mengangkat  Abdullah bin Abi Sarh sebagai gubernur Mesir, Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam dan Abdullah bin ‘Amir sebagai gubernur Bashrah. Ia juga telah mencopot Al-Walid bin ‘Uqbah dari jabatannya sebagai gubernur Kufah dan menggantikannya dengan Said bin Al-’Ash.[36]

Utsman bin Affan adalah orang yang lemah, terutama bila berhadapan dengan Marwan bin Al-Hakam. Ia senantiasa mendengar ucapan dan menuruti keinginan Marwan. Hal itu terus berlangsung bahkan ketika terjadi konspirasi untuk menggulingkannya dan kondisi yang betul-betul gawat. Ketika keadaan telah kritis, Ali bin Abi Thalib melibatkan diri untuk meredakan ketegangan sampai berhasil memulangkan orang-orang yang melakukan demonstrasi menuntut perubahan dan perbaikan kebijakan pemerintahan sekaitan dengan kolusi dan korupsi yang telah menggerogoti pemerintah, bahkan permintaan untuk menggantikan sebagian gubernur di beberapa daerah. Ali berhasil mendapatkan janji Utsman untuk tidak lagi mendengar dan mengikuti ucapan Marwan bin Al-Hakam dan Said bin Al-’Ash.

Sayangnya, tatkala situasi mereda dan normal, Marwan dan Said kembali mendekati Utsman bin Affan dan memaksanya keluar dari rumah disertai pengawal pribadi. Melihat hal itu, Ali bin Abi Thalib a.s. menemui Utsman dengan penuh kemarahan sambil berkata: “Kau setuju dengan perkataan Marwan, namun ia tidak pernah puas padamu. Yang diinginkan darimu adalah agar engkau menyimpang dari agama dan akalmu seperti unta yang dicocok hidungnya ikut ke mana saja pemiliknya pergi. Demi Allah! Marwan bukan orang yang agama dan jiwanya baik”.[37]

Pada kesempatan lain, Utsman bin Affan sangat marah kepada para saksi yang menyaksikan Al-Walid bin ‘Uqbah yang dituduh meminum khamar sehingga Utsman mengusir mereka. Mengetahui kejadian tersebut, Ali bin Abi Thalib memperingatkan Utsman akan akibat yang bakal terjadi dari perbuatannya ini. Ali memerintahkan Utsman untuk menghadirkan Al-Walid agar diadili dan dihukum bila terbukti tuduhan tersebut. Ketika Al-Walid dihadirkan dihadirkan dalam sidang dan terbukti melakukan demikian atas kesaksian para saksi, Ali sendiri yang melaksanakan hukumannya yang membuat Utsman semakin marah. Ia berkata kepada Ali: “Engkau tidak punya hak untuk melaksanakan hukum tersebut atas Al-Walid”. Ali menjawab dengan logika yang kuat dan berlandaskan syariat Islam: “Bahkan yang lebih buruk dari ini adalah bila seseorang yang berbuat kefasikan dan mencegah hak-hak Allah berlaku kepada orang yang berbuat fasik”.[38]

Kebijakan Utsman bin Affan di bidang keuangan adalah kepanjangan dari kebijakan yang diberlakukan sebelumnya oleh Umar bin Khatthab, yaitu kebijakan  yang menciptakan sistem kasta. Umar membagikan kekayaan negara secara tidak adil kepada sebagian kelompok dan tidak kepada sebagian lainnya. Ketimpangan itu yang kemudian dilanjutkan dengan bentuk yang lebih ekstrim di zaman Utsman bin Affan. Ia memberikan perhatian khusus kepada Bani Umayyah.

Suatu waktu, penjaga khazanah Baitul Mal mengajukan keberatannya kepada Utsman mengenai kebijakan keuangannya. Mendengar itu, Utsman menjawab: “Engkau adalah penjaga Baitu Mal kami. Bila kami memberikan sesuatu kepadamu maka ambillah, dan bila kami diam maka engkau juga harus diam”. Penjaga Baitul Mal kemudian menjawab: “Demi Allah! Aku bukan penjaga Baitul Mal khalifah dan keluarganya melainkan penjaga harta kaum muslimin”.

Pada hari Jumat, ketika Utsman berkhotbah, penjaga Baitul Mal itu berkata: “Wahai kaum muslimin, Utsman bin Affan menganggap bahwa aku adalah penjaga Baitul Malnya dan keluarganya. Aku ingin mengatakan di sini bahwa aku adalah penjaga Baitul Mal kaum muslimin. Ini adalah kunci-kunci Baitul Mal milik kalian”. Ia kemudian melemparkan kunci-kunci tersebut ke hadapan Utsman.[39]

Sikap Ali terhadap Utsman bin Affan

Kaum muslimin semakin membenci Utsman bin Affan karena perilakunya. Sahabat-sahabat terbaik Rasulullah saw. semakin bersatu terhadap penyimpangan khalifah dan pejabat yang berada di bawahnya. Di seberang sana, Utsman bin Affan mengerti dan mulai menyiksa para penentang kebijakannya yang menyimpang. Penyiksaan yang dilakukan sudah tidak lagi memandang para sahabat Rasulullah saw. Dari situ, ia menyiksa Abu Dzar; salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw, karena seringnya melakukan protes terhadap kebijakan Utsman yang buruk. Utsman membuangnya ke Syam. Muawiyah sebagai gubernur Syam juga tidak mampu menahan protes Abu Dzar sehingga ia mengirimkan Abu Dzar kembali ke Madinah.

Di kota Madinah, Abu Dzar kembali melakukan perjuangan dengan memprotes kebijakan buruk Bani Umayyah. Utsman semakin terpojok dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh Abu Dzar.  Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk mengasingkan Abu Dzar ke daerah bernama Rabadzah (sebuah tempat di Lebanon sekarang ini) dan melarang siapa pun untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya.

Tanpa kekhawatiran sedikitpun, Ali bin Abi Thalib mengantarkan Abu Dzar untuk mengucapkan selamat tinggal. Ali ditemani kedua anaknya Hasan dan Husein, Aqil, dan Abdullah bin Ja’far. Marwan bin Al-Hakam gusar terhadap perlakuan baik Ali tersebut. Ia melakukan protes kepada Utsman bin Affan agar menahan mereka untuk tidak memberi ucapan selamat dan mengantarkan Abu Dzar. Ali bangkit dan menyerang Marwan. Ia berhasil memotong kedua telinga binatang tunggangan Marwan. Setelah itu, Ali berteriak kepadanya: “Coba halangi! Semoga Allah mengirimmu ke Neraka”.[40]

Ali bin Abi Thalib tetap bersikeras untuk mengucapkan perpisahan dan mengantarkan Abu Dzar sambil berkata kepadanya: “Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau bila marah karena Allah, aku berharap kemarahanmu ditujukan kepada mereka. Orang-orang takut kepadamu karena urusan dunia dan harta mereka, sementara engkau takut kepada mereka karena masalah agama mereka. Tinggalkanlah apa yang mereka takutkan atasmu buat mereka (harta dan dunia). Pergilah engkau bersama ketakutanmu atas mereka (agama). Mereka lebih butuh kepada apa yang engkau larang (cinta dunia). Apa yang mereka larang kepadamu lebih berharga (agama). Engkau akan tahu siapa yang lebih beruntung di Hari Kiamat dan siapa yang lebih dengki!”[41]

Sekembalinya dari mengantar Abu Dzar untuk mengucapkan salam perpisahan, orang-orang menyambut Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Utsman bin Affan sangat marah denganmu”. Ali menjawab: “Biarkan kuda marah karena kekangannya”.

Dampak Negatif Pemerintahan Utsman terhadap Umat Islam

Pemerintahan Utsman bin Affan merupakan kelangsungan dari garis politik pemerintah yang melalaikan kandungan risalah Islam, baik secara praktis maupun teoritis. Kondisi ini meninggalkan efek-efek negatif dalam perjalanan pemerintahan Islam dan umat sebagai kesatuan. Hal itu ditambah dengan kerusakan dan tuduhan keji terhadap transparansi pemerintahan Islam di hadapan umat Islam yang tidak pernah hidup di bawah seorang pemimpin yang maksum (Nabi Muhammad saw) kecuali selama satu dekade. Pada sepuluh tahun itulah umat melihat pemimpinnya sekaligus penguasa dan pendidik. Sementara, api fitnah semakin berkobar luas di pinggiran negara Islam yang akan membawa malapetaka kepada umat Islam. Dengan memeriksa data-data sejarah, dapat ditemukan beberapa kesimpulan di bawah ini:

1.  Kebijakan pemerintahan Utsman bin Affan tidak sesuai dengan syariat Islam. Hukum-hukum tidak dijalankan secara baik, kebusukan dan kebobrokan semakin meluas sehingga para pejabat pemerintahan tidak mampu memperbaiki kondisi yang telah buruk itu. Ini semua menjadikan keonaran dalam kehidupan bermasyarakat yang pada akhirnya memunculkan semangat untuk tidak lagi taat kepada hukum. Dampak buruk dari munculnya kebusukan ini adalah kecerobohan dan acuh terhadap nilai-nilai moral dan hukum-hukum Islam. Di rumah-rumah gubernur dan pejabat-pejabat tinggi, dapat ditemukan dengan mudah pesta pora yang diisi dengan acara musik dan nyanyian yang di sela-sela itu minuman keras dihidangkan.[42]

2.  Pemerintah Utsman bin Affan memfokuskan kebijakannya atas dasar semangat kesukuan yang sejak awal telah ditanamkan oleh Abu Bakar dalam kebijakan politiknya. Kekuasaan yang didasari oleh kesukuan semakin transparan dalam kekuasaan Bani Umayyah. Mereka bagaikan sebuah keluarga besar menguasai semua jabatan-jabatan penting, karena mereka menganggap bahwa mereka adalah penguasa besar yang menguntung Islam dan sekarang kekuasaan ini kembali kepada pemiliknya. Di sini sudah tidak ada lagi prinsip-prinsip syariat Islam. Bani Umayyah muncul sebagai haluan politik yang kuat; haluan yang memusuhi Islam dan khususnya Ahlul Bait Nabi. Mereka telah menjelma menjadi penghalang terbesar yang dapat menahan Ali bin Abi Thalib untuk dapat mengambil kembali haknya yang terampas. Mereka kemudian membentuk front di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menghadapi Ali.

3.  Pemerintahan Utsman bin Affan menganggap bahwa kekuasaan adalah hak dan sebuah pemberian dan tidak seorang pun berhak untuk merampasnya dari mereka. Kekuasaan dijadikan alat untuk memenuhi keinginan dan kerakusan mereka yang dipenuhi oleh hawa nafsu yang sesat. Menurut mereka, kekuasaan bukan untuk memperbaiki masyarakat dan menyebarkan Islam di muka bumi.[43] Pandangan seperti ini sedikit banyaknya mempengaruhi banyak orang untuk berlomba-lomba berusaha menguasai pemerintahan, karena kekuasaan akan memberikan keuntungan, kekuatan dan derajat. Amr bin Al-Ash, Muawiyah, Thalhah dan Zubeir termasuk dalam kelompok ini. Mereka tidak lagi berusaha meraih kekuasaan dengan alasan mewujudkan tujuan kemanusiaan atau sosial yang menguntungkan umat Islam.

4.  Pemerintahan Utsman bin Affan berhasil menciptakan masyarakat kelas kaya yang cukup luas. Kelas ini selalu terancam kepentingannya bila pemerintahan bermaksud untuk menjalankan kebenaran dan hukum Islam. Arus tuntutan gerakan kaum miskin muslimin ialah perubahan sistem keuangan dan lajunya kehidupan ekonomi serta pembatasan intervensi ke dalam kehidupan pribadi. Gerakan Abu Dzar menentang pemerintah karena kebusukan kebijakan moneter merupakan sebuah bukti betapa dalamnya kegusaran masyarakat miskin di tengah umat.

5.  Penggunaan kekerasan untuk meredam kritik bahkan penghinaan yang dilakukan menimbulkan reaksi yang tersumbat dan pada waktunya muncul sebagai kudeta militer. Pembunuhan Utsman bin Affan adalah titik geser dalam konflik yang melingkar di antara pandangan yang ada di kaum muslimin. Masyarakat menjadikan tindakan kekerasan sebagai solusi kebuntuan selama ini. Hal ini ditambah dengan sikap keras kepala Bani Umayyah dan pejabat-pejabat mereka yang senantiasa menantang kebenaran, keinginan dan tuntutan masyarakat luas untuk munculnya sebuah perubahan dan perbaikan.

Kondisi ini sekali lagi membuka kesempatan kepada kaum oportunis agar dapat merebut kekuasaan dengan kekerasan dan kekuatan senjata setelah umat Islam tercerai berai dan saling berselisih. Setiap kelompok menginginkan kekuasaan untuknya.

6.  Pembunuhan Utsman bin Affan meninggalkan pekerjaan rumah yang besar. Fitnah yang setiap saat dapat memanas dan membakar siapa saja setiap saat, dan dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan dan mereka yang keluar dari baiat sebagai semboyan untuk menyulut peperangan dan pertumpahan darah guna menghadapi pemerintahan sah yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib lewat pemilihan oleh masyarakat Islam. Fitnah ini kemudian dikemas sedemikian rupa kemudian menjadi sempurna di tangan Muawiyah. Ia memerangi Ali dan terjadilah pertumpahan darah yang mengakibatkan banyak kaum muslimin yang tewas. Tidak itu saja, dengan fitnah itu, mereka memanfaatkannya untuk menyesatkan perhatian kaum muslimin kepada agama yang benar melalui budaya yang digerakkan oleh sebuah masyarakat dengan tujuan melanjutkan kekuasaan kerajaan. Luasnya wilayah pemerintahan Islam sangat membantu mereka dan betapa banyaknya jumlah kelompok dalam masyarakat Islam yang tidak memahami akidah Islam secara benar dan sadar.

7.  Salah satu hasil dari kudeta yang dilakukan terhadap Utsman bin Affan adalah munculnya kelompok-kelompok bersenjata di sekitar kota-kota Islam yang kemudian mengepung Madinah. Mereka menunggu nasib dan arah perjalanan pemerintahan Islam. Kejadian-kejadian yang ada memberikan ruang kepada masyarakat untuk melakukan aksi-aksi militer demi mengubah pemerintahan. Semua ini menjadi basis kekuatan yang berpotensi untuk menekan pemerintah yang baru.

[31] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 166. Tarikh Al-Khulafa, hal 162.

[32] . Lihat Al-Muwaffaqiyat,  jilid 2, hal 2.

[33] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163.

[34] . Muruj Adz-dzahab, jilid 1, hal 440.

[35] . Al-Ghadir, jilid 8, hal 278. Al-Isti’ab, jilid 2, hal 690. Tarikh Ibnu Asakir, jilid 6, hal 407. Al-Aghani, jilid 6, hal 330.

[36]. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 160. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 445. Al-Baladzri, Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 49. Hilyah Al-Auliya, jilid 1, hal 156. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 166. Al-Ghadir, jilid 8, hal 238. An-Nash wa Al-Ijtihad, hal 399.

[37]. Ath-thabari, jilid 3, hal 397.

[38] . Muruj Adz-dzahab, , jilid 2, hal 225.

[39] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat, jilid 5, hal 388. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 153. Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 58. Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif, hal 84. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 169. Al-Ghadir, jilid 8, hal 276.

[40] . Muruj Adz-dzahab, jilid 2, hal 350.

[41] . Syarh Nahjul Balaghah, jilid 3, hal 54. Disebutkan pula oleh Abu Bakar Ahad bin Abdul Aziz dalam bukunya As-Saqifah. A’yan As-Syi’ah, jilid 3, hal 336.

[42] . Abu Al-Faraj Al-Ishfahani, Al-Aghani, jilid 7, hal 179.

[43] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 64. Tarikh Ath-thabari, jilid 5, hal 341-346.

Keanehan mazhab Sunni

Anomali Sunni :
a. Thalhah bin  Ubaidillah di ancam  Allah SWT pada  QS. al Ahzâb[33];53 karena bersikap tidak senonoh
.
b. Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
c. Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas. Kok Sahabat bunuh sahabat sich ??
.
Akal saya sulit mencerna kontradiksi  ini…
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS. 4:93)
.
Wajarlah mazhab syi’ah imamiyah pantas menjadi AL Firqatun Najiyah alias satu satunya Firqah yang selamat

Marwan bin al-Hakam, sahabat Nabi yang menyuruh Yazid untuk membunuh Imam Husain dan yang membantu Mu’awiyah untuk membantai para pengikut Imam Ali (ahlulbait)

Marwan bin al-Hakam

Tahukah anda siapakah Marwan ? dialah yang menyuruh Yazid untuk membunuh Imam Husain
.
Tahukah anda siapakah Marwan ? dialah yang membantu Mu’awiyah  untuk membantai para pengikut Imam Ali (ahlulbait)
.
Tahukah anda siapakah Marwan ? dialah yang tertawa mencemooh  ketika datang berita syahidnya Imam Husain.
.
Tahukah anda siapakah Marwan ? Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas
.
Tahukah anda siapakah Marwan ? yang menjerumuskan Khalifah Usman kedalam kehancuran total adalah Marwan bin Hakam , Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As yang merupakan para pembantu Usman. Mereka benar-benar mencari keuntungan dari keberadaan Usman dan juga kematiannya
.
Inikah sahabat Nabi SAW yang menjadi pedoman sunni ?????????
.
Marwan bin al-Hakam bergelar Marwan I (623 – 685) ialah Khalifah Bani Umayyah yang mengambil alih tampuk kekuasaan setelah Muawiyah II menyerahkan jabatannya pada 684. Naiknya Marwan menunjukkan pada perubahan silsilah Bani Umayyah dari keturunan Abu Sufyan ke Hakam, mereka ialah cucu Umayyah (darinya nama Bani Umayyah diambil). Hakam ialah saudara sepupu Utsman bin Affan
.

Selama masa pemerintahan Utsman, Marwan mengambil keuntungan dari hubungannya pada khalifah dan diangkat sebagai Gubernur Madinah. Bagaimanapun, ia diberhentikan dari posisi ini oleh Ali, hanya diangkat kembali oleh Muawiyah I. Akhirnya Marwan dipindahkan dari kota ini saat Abdullah bin Zubair memberontak terhadap Yazid I. Dari sini, Marwan pergi ke Damsaskus, di mana ia menjadi khalifah setelah Muawiyah II turun tahta

.

Masa pemerintahan singkat Marwan diwarnai perang saudara di antara keluarga Umayyah, seperti perang terhadap Ibnu Zubair yang melanjutkan pemerintahan atas Hejaz, IrakMesir dan sebagian Suriah. Marwan sanggup memenangkan perang saudara Bani Umayyah, yang berakibat naiknya keturunan Marwan sebagai jalur penguasa baru dari Khalifah Umayyah. Ia juga sanggup merebut kembali Mesir dan Suriah dari Ibnu Zubair, namun tak sanggup sepenuhnya mengalahkannya

.

Marwan bin al-Hakam digantikan sebagai khalifah oleh anaknya Abdul Malik bin Marwan.


dukung.JPG

Utsman bin Affan menjadi khalifah pada usia 74, sekali lagi muncul pertanyaan mengapa dia lebih disukai ketimbang sahabat-sahabat lainnya yang lebih muda dan lebih mampu? Apakah ini merupakan siasat Umar bin Khathab untuk memberikan kekuasaan mutlak kepada klan Bani Umayyah?

.

Strategi ini memuluskan berdirinya kekuasaan Utsman yang notabene adalah Bani Umayyah.

.
Utsman juga mengangkat Marwan bin Hakam dengan sepenuh keyakinan, yang oleh Baladzuri dikatakan: “…dia (Hakam) memeluk Islam setelah penaklukan kota Makkah, namun dia tetap terus menghina Nabi, yang mengakibatkan Hakam dan anaknya (Marwan) diusir dari kota Madinah. Pengasingan ini tetap dilaksanakan Abu Bakar dan Umar. Namun ketika Utsman berkuasa, dia mengabaikan hukum yang telah ditetapkan Nabi Saw, dia justru memanggil balik Marwan dan Hakam ke Madinah, bahkan menjadikan Marwan sebagai Asistennya dan Kepala Hakim Pengadilan”.

[Al-Baladzuri, Ansab al-Ashaf, Jil. 5, hlm. 17]

.

Bahkan seorang sarjana ternama Muslim Sunni, Al-Syahid Sayyid Quthb, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas fakta sejarah ini. Sayyid Quthub menulis, “Adalah celaka sekali bahwa kekuasaan kekhalifahan diberikan kepada Utsman yang pada saat itu telah tua renta, lemah semangat juangnya untuk menegakkan Islam, tak berdaya menentang tipu daya pembantunya, Marwan bin Hakam serta pendukungnya, kaum keluarga Ummayyah.” [Sayyid Quthb, Keadilan Sosial Dalam Islam, hlm. 270, Penerbit Pustaka Bandung, Cet. I, 1984.]

.

“…tetapi sejarah juga sulit untuk memaafkan kesalahannya (Utsman bin Affan) akibat usianya yang telah sangat tua dan fisiknya yang sudah lemah, terombang-ambing dalam pengaruh buruk Bani Umayyah.” [Ibid, hlm. 272.]

.

Ketika para shahabat yang shalih masih hidup mengapa kedudukkan-kedudukkan penting justru diberikan kepada orang-orang berperilaku buruk seperti itu? Jawaban obyektifnya adalah agar sang khalifah dengan mudah mempunyai kesempatan untuk memberikan kekuasaan yang langgeng bagi Bani Umayyah. Inilah suatu kaum yang di dalam sejarahnya berambisi untuk memadamkan Cahaya Islam, yang mendapatkan kesempatan secara mulus dari para khalifah-khlaifah sebelumnya untuk berkuasa dan menghancurkan Islam dari dalam.

.

Dan saat itu pula musuh bebuyutan mereka, Bani Hasyim tidak lagi memiliki kekuatan yang berarti setelah pertahanan ekonomi mereka (Fadak) dirampas, dan posisi-posisi penting mereka dan para pendukung mereka berhasil digusur. Kemutlakan pilih kasih telah diberikan kepada Bani Umayyah dan menghapus segala kemungkinan Bani Hasyim dapat meraih kekhalifahan.

.

Utsman telah memberikan khumus (20%) dari rampasan perang dari expedisi pertama ke Afrika kepada saudara lelakinya, Abdullah ibn Abu Sarh. Marwan bin Hakam memperoleh khumus (20%) dari expedisi ke 2 Afrika. Dan akhirnya khalifah memberikan kepadanya keseluruhannya (100%). [Tarikh Ibn al Athir Volume 3 page 49 publishers, Dar ul Kitan al Lubnani, 1973.]

.

* Tanah Fadak yang merupakan milik Rasulullah Saw, yang disita Abu Bakar dari tangan Sayyidah Fathimah, akhirnya diberikan Utsman kepada Marwan.

[Ibn Qutayba, Al Ma’arif, p. 190 edited by Tharwat ‘Ukasha, Cairo edition 1960.]

.

* Utsman juga memberikan sepupunya, Harits hadiah yaitu, unta-unta yang telah dikumpulkan sebagai zakat dan pajak, lalu membawa unta-unta itu ke Madinah. [Ansab al-Ashraf, Baladhuri, Vol 5 p 28, edited by S.D.F. Goitein Jerusalem 1936.]

.

* Apakah hal ini tidak mengundang keingintahuan, bahwa Abu Bakar telah menetapkan Fadak menjadi milik negara, lalu ‘diberikan’ kepada Marwan? Utsman telah memberikan Zakat dari Qud’ah yang berjumlah 300.000 dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 1, p. 193, Dar al- Ma’arif, Egypt, 1953] dan Abdul Rahman bin Auf 3 juta dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 3, p. 126, Dar al-Ma’arif, Egypt 1953]

.

Mungkin menurut Umar bin Khaththab hal ini dipandang sebagai alternatif, setelah menyadari ketamakan Bani Umayyah, dengan dalih agar tidak terjadi perang saudara (antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim) dan menjaga persatuan umat Islam secara keseluruhan.

Tidak bisa dibantah, mengapa Umar bin Khaththab tidak menganugerahkan kekhilafahan kepada putranya, Abdullah bin Umar? Ternyata Umar mempunya visi yang terlalu jauh untuk ini.

.

Dia menyadari jika dia memberikan kekhalifahan kepada putranya, Abdullah bin Umar, dia akan mendapatkan ancaman kekuasaan dari Bani Umayyah, sehingga dengan terpaksa dia memberikannya kepada Banu Umayyah, yang dia ketahui sangat haus kekuasaan. Pada kenyataannya, dia telah membuat putranya sendiri, Abdullah bin Umar mesti memutuskan pemilihan suara dalam Dewan Syura yang sudah disiapkan Umar bin Khaththab sedemikian rupa agar Utsman bin Affan unggul dalam pemilihan tersebut.

.

Dengan cara ini, putra Umar, Abdullah bin Umar menjadi sekutu dekat dengan Bani Umayyah dan menjadi seorang musuh yang pahit bagi putra-putra Imam Ali, khususnya Imam Husain (as)

.

dukung.JPG

 

Usman memberi keutamaan kepada anggota sukunya atau menunjuk keluarga nya untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Utsman, Ia hidup dalam  kemewahan. la menunjuk anggota dari sukunya (Umayah) untuk menduduki posisi yang penting dan kuat dalam pemerintahan, dengan memberi keutamaan kepada mereka daripada umat Islam lainnya, tanpa melihat kepentingan mereka. Padahal, keluarganya ini tidak beriman, juga royal dan sangat berlebihan.

Bani Umayah seperti Muawiyah dan Marwan yang benar-benar mencari keuntungan dari keberadaan Utsman dan juga kematiannya. Kisah Ibnu Saba dalam hal ini berfungsi sebagai topeng bagi wajah-wajah yang haus kekuasaan, yang juga merupakan cara lain untuk menyerang Ali bin Abi Thalib dan pengikut-pengikut setianya.

Khalifah Utsman mengangkat saudara angkatnya, Abdullah bin Sa’d, sebagai gubernur Mesir. Pada saat itu, Mesir merupakan propinsi terbesar di negara Islam. Ibnu Sa’d telah masuk Islam dan pindah dari Mekkah ke Madinah. Ketika Mekkah ditaklukkan, Nabi Muhammad SAW menyuruh kaum Muslimin untuk membunuh Ibnu Sa’d. Ia harus dibunuh meskipun ia menalikan kain Kabah ke tubuhnya. Ibnu Sa’d bersembunyi di rumah Utsman

Khalifah Usman bin Affan membawa pamannya, Hakam bin Abi As (putra Umayah, putra Abdussyams), ke Madinah setelah Nabi Muhammad mengasingkannya dari Madinah

 Diriwayatkan bahwa Hakam sering bersembunyi dan mendengarkan percakapan Nabi Muhammad ketika ia berbicara secara rahasia kepada sahabat-sahabat utamanya, lalu menyebarkan apa yang ia dengar. Ia sering mengikuti dan memperolok-olok cara berjalan Nabi. Suatu waktu Nabi melihatnya ketika ia sedang meniru-niru jalannya dan berkata, “Selamanya ia akan seperti itu.” Segera Hakam menjadi seperti itu hingga ia meninggal. Diriwayatkan juga bahwa, suatu hari, ketika sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, Nabi Muhammad berkata, “Seorang lelaki yang telah dikutuk akan memasuki ruangan ini.” Tak lama setelah itu masuklah Hakam.

Setelah membawanya ke Madinah, Utsman memberi pamannya uang sebanyak 300 ribu dirham.

la menjadikan Marwan bin Hakam, sebagai pembantu utamanya, dan penasehat tertinggi nya, dengan memberi kekuasaan yang sama dengan dirinya. Marwan menerima seperlima pendapatan dari Afrika Utara sebesar 500 ribu dinar. Tetapi ia tidak menyerah kan uang ini. Khalifah mengizinkannya untuk menyimpan uang ini. Jumlahnya sama dengan 10 juta dollar.

Ali bin Abi Thalib sering memperingatkan Utsman mengenai berbahayanya Marwan, tetapi hal itu sia-sia saja. Percakapan berikut antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman membuktikan kenyataan ini. Kejadian ini terjadi ketika Utsman diserang, lalu ia meminta bantuan Ali bin Abi Thalib.

Orang-orang menyampaikan hal ini kepada Ali. Kemudian Ali mendatangi Utsman dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah membuat puas Marwan (sekali lagi), tetapi ia hanya akan puas jika engkau menyimpang dari agamamu dan akalmu, seperti seekor unta membawa tandu yang dituntun semaunya. Demi Allah, Marwan tidak mengetahui apapun tentang agama dan jiwanya. Aku bersumpah demi Allah, menurutku, ia akan membawamu masuk dan tidak akan mengeluarkanmu kembali. Setelah pertemuan ini, aku tidak akan datang untuk mencacimu lagi. Engkau telah menghancurkan kehormatanmu sendiri dan merampas kekuasaanmu.”

Ketika Utsman wafat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Demi Allah! Aku telah berusaha membelanya (Utsman) hingga aku dipenuhi rasa malu. Tetapi Marwan, Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As telah melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau saksikan. Ketika aku memberi nasehat yang sungguh-sungguh dan menganjurkan ia untuk mengusir mereka, ia menjadi curiga, sehingga terjadilah apa yang terjadi saat ini.”

Marwan beserta keturunannya merupakan dasar dari beberapa tuduhan korupsi dan nepotisme yang paling serius yang dilakukan Utsman. Marwan, tentu saja, merampas kekhalifahan dan menaiki tahta pada tahun 64/684 dan merupakan nenek moyang raja-raja Umayah selanjutnya di Damaskus juga pemimpin Cordova hingga setelah tahun 756.

c.  Memberikan jabatan publik kepada keluarga; khalifah Utsman mengangkat Walid bin Aqabah (salah satu keluarga Umayah) sebagai gubernur Kufah, tingkah laku Walid ketika Nabi masih hidup buruk. Quran merendahkannya dan menyebutnya sebagai orang yang menyimpang. Contohnya Nabi Muhammad SAW mengirim dia kepada Bani Mustalaq untuk mengumpulkan zakat mereka.walid melihat dari jauh Bani Mustalaq ini mendekat ke arahnya dengan mengendarai kuda, Ia menjadi takut karena ketegangan antara dia dan kaum ini sebelumnya. Ia kembali kepada Nabi Muhammad SAW dan memberitahu bahwa mereka ingin membunuhnya. Hal. ini tidak benar. Tetapi keterangan Walid ini membuat murka kaum Muslimin Madinah dan mereka ingin menyerang Bani Mustalaq

Pada saat itu turunlah ayat berikut, Hai orang-orang yang beriman, jika seorang yang menyimpang datang kepadamu membawa berita, buktikanlah kebenaran berita itu! Jika tidak engkau akan menghancurkan suatu umat tanpa kalian sengaja, kemudian kalian akan menyesal dengan perbuatan kalian yang tergesa-gesa itu

Walid masih terus menjalankan praktik hidup jahiliyahnya selama hidupnya. la selalu meminum arak dan banyak saksi menyatakan kepada khalifah bahwa mereka menyaksikan Walid sedang mabuk ketika memimpin shalat berjamaah.

Usman  malah menggantikan Jabatan Walid dengan Said bin As, anggota keluarga Umayah yang lain.

d. Umar adalah orang yang menempatkan Muawiyah di pemerintahannya selama ia berkuasa dan USMAN hanya melakukan hal yang sama.”

Tabari menukilkan bahawa ‘Uthman menulis surat kepada Muawiyah dan berkata: Sesungguh nya warga Madinah telah kafir, menderhaka dan memutuskan bai’at mereka (Tarikh Tabari jilid 3 halaman 402)

.

Utsman bin Affan tidak seperti pendahulunya yang cerdik dalam politik dan mampu mengatur pemerintahnya lebih baik. Setelah Abdurrahman bin Auf menyerahkan suaranya kepada Utsman dan ia terpilih sebagai khalifah, Utsman diarak menuju masjid Rasulullah saw. untuk mengumumkan kebijakan politiknya demi memperbaiki kondisi yang ada. Utsman naik ke atas mimbar dan duduk di atas tempat yang biasa diduduki Nabi semasa hidupnya, padahal Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak berani melakukannya ketika mereka menjabat sebagai khalifah. Mereka berdua hanya berani duduk di undakan yang menuju tempat duduk Nabi. Di atas tempat duduk Nabi itulah Utsman berpidato. Sebagian sahabat berkata: “Hari ini kepongahan telah lahir”.[31]

Utsman bin Affan bukan seorang yang pandai pidato. Ia tidak mampu berkata banyak di atas mimbar Nabi. Ia berkata: “Amma Ba’du (selanjutnya), sesungguhnya pertama kali mengendarai sesuatu adalah saat yang sangat sulit. Di sisi lain, aku bukanlah seorang orator. Allah Maha Mengetahui. Sesungguhnya masalah yang berada di antara seseorang dan Adam adalah seorang ayah yang telah meninggal dan perlu dinasehati”.[32]

Al-Ya’qubi menulis: “Utsman bin Affan berdiri dan untuk sementara waktu ia tidak berkata apapun. Kemudian ia membuka mulutnya dan berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar bin Khatthab telah menyiapkan posisi ini sebelumnya. Kalian lebih membutuhkan seorang khalifah yang adil daripada seorang khalifah yang hanya bisa berpidato. Bila kalian masih hidup, ucapan dan pidatoku akan mendatangi kalian. Kemudian Utsman turun dari mimbar”.[33]

Utsman bin Affan mulai menjalankan pemerintahannya dan melakukan kebijakan-kebijakan yang membuat mayoritas kaum muslimin marah dan membencinya kecuali keluarganya, yaitu Bani Umayyah. Ia secara transparan menunjukkan sikap fanatisme kesukuannya dan kecondongannya kepada keluarga, sekaligus mengumumkan bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar Umayyah. Ia mulai mengangkat dan menokohkan anggota keluarga Umayyah di atas masyarakat yang lain. Posisi penting mulai diisi oleh Bani Umayyah tanpa mampu ditolak oleh kaum muslimin.

Utsman bin Affan telah melampaui batas dalam kebijakan rasisnya; melebihi apa yang telah ditanamkan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khatthab. Quraisy tidak lagi memegang kendali pemerintahan, namun dibatasi oleh Utsman pada Bani Umayyah saja.

Utsman bin Affan tidak lagi  peduli pada nasihat dan peringatan-peringatan para sahabat dan di atas mereka semua Ali bin Abi Thalib. Benar, Utsman telah menguasai kekuasaan, namun ia lupa berkaca kepada pendahulunya dalam menjalankan pemerintahan di atas metode yang sah dan berdasarkan pemerintahan Islam. Elemen-elemen penting dan baik semakin lemah untuk dapat mengubah kebijakan pemerintah secara langsung. Kebijakan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab pada masa pemerintahan mereka cukup berhasil menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari kekuasaan dan kepercayaan rakyat pada pandangan dan tuntunannya. Akibatnya, penyelewengan dan penyimpangan dari pemerintahan islami dan munculnya arus kebencian dan permusuhan terhadap Ahlul Bait semakin kuat. Kondisi ini sangat menyulitkan usaha Ali agar khalifah baru mau mendengarkan nasihat. Kondisi dipersulit dengan arus kaum munafik dan Quraisy yang memeluk Islam secara terpaksa ketika pembebasan kota Mekkah serta orang-orang yang punya kepentingan yang berada di sekelilingnya.

Sikap Abu Sufyan setelah pembaiatan Utsman bin Affan

Setelah selesai pembaiatan Utsman bin Affan, Abu Sufyan berjalan mendekati rumah Utsman bin Affan, dan secara berdesak-desakan dengan keluarga dan teman-teman Utsman ia maju dan menyampaikan awal kemenangan menguasai kekuasaan. Tampak wajahnya berbinar-binar menerima kemenangan ini dengan terpilihnya Utsman sebagai khalifah kaum muslimin. Mulutnya terbuka lebar untuk menandakan kebenciannya. Tampak kegeramannya mengingat Islam telah menghina tokoh-tokoh Bani Umayah. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan kemudian berkata kepada segenap yang hadir di rumah Utsman bin Affan: “Apakah ada orang lain selain keluarga dan teman-teman Bani Umayyah?” Mereka serentak menjawab: “Tidak”. Abu Sufyan melanjutkan: “Wahai Bani Umayyah! Dengan cepat kalian telah meraih dan menguasai kekuasaan seperti menangkap bola. Demi Zat yang Abu Sufyan bersumpah atasnya! Tidak ada yang namanya surga dan neraka. Tidak pula ada perhitungan di Hari Kiamat, dan tidak ada juga yang namanya pembalasan. Sejak dahulu aku selalu mengharap kekuasaan ini untuk kalian. Jadikan ini sebagai warisan untuk anak cucu kalian”.[34]

kemudian ia berjalan menuju kuburan pemimpin para syahid, Hamzah bin Abdul Mutthalib. Ia berhenti di samping kuburan sambil menendang kuburan Hamzah dengan kakinya dan berkata: “Wahai Abu ‘Imarah! Apa yang selama ini engkau perjuangkan dengan pedangmu sekarang telah berada di tangan anak keturunan kami. Mereka menjadikannya sebagai barang mainan”.[35]

Dampak Negatif Kebijakan Pemerintahan Utsman bin Affan

Selama hidup dengan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib a.s. tidak pernah menunjukkan ketidaksetujuannya secara terbuka. Demikian ini tidak lain karena penyimpangan yang terjadi juga tidak secara terang-terangan. Bahkan dalam banyak kesempatan, Ali terlibat dalam usaha memperbaiki sikap dan posisi khalifah bila terjadi kesalahan dan itu diterima oleh keduanya. Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak khawatir karena Ali memainkan peranannya hanya sebatas tokoh agama di hadapan umatnya dan sebagai pemilik yang sah kekhalifahan dan pemimpin oposisi bersama sebagian sahabat besar lainnya. Ali siap untuk tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah dan memberikan ketenangan kepada masyarakat, sekalipun ia tidak akan mundur dari prinsip yang diwarisinya dari Rasulullah saw. sebagai penjaga dan pelindung akidah Islam.

Sikap yang diambil oleh Ali bin Abi Thalib berbeda ketika Utsman bin Affan mengambil alih pemerintahan sebagai khalifah baru. Pada pemerintahan Utsman, perilaku korup telah menyebar luas dan secara perlahan-lahan korupsi itu masuk dalam struktur pemerintahan secara terang-terangan. Kerusakan moral ini akhirnya menjalar dan merasuki masyarakat Islam. Di sini, Ali bin Abi Thalib kemudian mengambil sikap dan secara terang-terangan menentang kepemimpinan Utsman bin Affan. Banyak sahabat besar yang mendukung sikap Ali seperti: Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lain, bahkan dukungan juga mengalir dari mereka yang sebelumnya mengingkari hak Ali sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Mereka tidak setuju dengan kebijakan Utsman dalam pengelolaan negara dan kerusakan moral pemerintahannya. Di sini dapat dilihat secara global pemerintahan Utsman dan dampak buruknya:

Utsman bin Affan menerima tampuk pimpinan ketika ia telah berumur tujuh puluh tahun; batasan umur di mana seseorang sangat mencintai keluarga dan mau berkorban untuk mereka. Diriwayatkan ucapannya: “Seandainya aku memiliki kunci-kunci pintu surga, niscaya aku akan memberikannya kepada Bani Umayyah sehingga mereka semua memasukinya”.

Begitu juga sebelum Islam, Utsman bin Affan hidup dalam kondisi yang serba ada dan kondisi itu berlangsung setelah memeluk Islam. Oleh karenanya, ia tidak dapat merasakan betapa sulitnya orang-orang fakir miskin menjalani kehidupan mereka. Kepribadiannya betul-betul teruji ketika harus bersikap dengan sekelompok besar orang-orang miskin yang meminta keadilan dan persamaan hak darinya. Ia memperlakukan mereka dengan keras dan kasar sebagaimana perlakuannya kepada Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lainnya.

Dari sisi keluarga, Utsman bin Affan sangat dekat dan bahkan menempatkan mereka pada posisi-posisi penting. Ia mengangkat Al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith sebagai gubernur Kufah, padahal Al-Walid termasuk orang yang diberitakan oleh Rasulullah sebagai penghuni neraka. Utsman juga mengangkat  Abdullah bin Abi Sarh sebagai gubernur Mesir, Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam dan Abdullah bin ‘Amir sebagai gubernur Bashrah. Ia juga telah mencopot Al-Walid bin ‘Uqbah dari jabatannya sebagai gubernur Kufah dan menggantikannya dengan Said bin Al-‘Ash.[36]

Utsman bin Affan adalah orang yang lemah, terutama bila berhadapan dengan Marwan bin Al-Hakam. Ia senantiasa mendengar ucapan dan menuruti keinginan Marwan. Hal itu terus berlangsung bahkan ketika terjadi konspirasi untuk menggulingkannya dan kondisi yang betul-betul gawat. Ketika keadaan telah kritis, Ali bin Abi Thalib melibatkan diri untuk meredakan ketegangan sampai berhasil memulangkan orang-orang yang melakukan demonstrasi menuntut perubahan dan perbaikan kebijakan pemerintahan sekaitan dengan kolusi dan korupsi yang telah menggerogoti pemerintah, bahkan permintaan untuk menggantikan sebagian gubernur di beberapa daerah. Ali berhasil mendapatkan janji Utsman untuk tidak lagi mendengar dan mengikuti ucapan Marwan bin Al-Hakam dan Said bin Al-‘Ash.

Sayangnya, tatkala situasi mereda dan normal, Marwan dan Said kembali mendekati Utsman bin Affan dan memaksanya keluar dari rumah disertai pengawal pribadi. Melihat hal itu, Ali bin Abi Thalib a.s. menemui Utsman dengan penuh kemarahan sambil berkata: “Kau setuju dengan perkataan Marwan, namun ia tidak pernah puas padamu. Yang diinginkan darimu adalah agar engkau menyimpang dari agama dan akalmu seperti unta yang dicocok hidungnya ikut ke mana saja pemiliknya pergi. Demi Allah! Marwan bukan orang yang agama dan jiwanya baik”.[37]

Pada kesempatan lain, Utsman bin Affan sangat marah kepada para saksi yang menyaksikan Al-Walid bin ‘Uqbah yang dituduh meminum khamar sehingga Utsman mengusir mereka. Mengetahui kejadian tersebut, Ali bin Abi Thalib memperingatkan Utsman akan akibat yang bakal terjadi dari perbuatannya ini. Ali memerintahkan Utsman untuk menghadirkan Al-Walid agar diadili dan dihukum bila terbukti tuduhan tersebut. Ketika Al-Walid dihadirkan dihadirkan dalam sidang dan terbukti melakukan demikian atas kesaksian para saksi, Ali sendiri yang melaksanakan hukumannya yang membuat Utsman semakin marah. Ia berkata kepada Ali: “Engkau tidak punya hak untuk melaksanakan hukum tersebut atas Al-Walid”. Ali menjawab dengan logika yang kuat dan berlandaskan syariat Islam: “Bahkan yang lebih buruk dari ini adalah bila seseorang yang berbuat kefasikan dan mencegah hak-hak Allah berlaku kepada orang yang berbuat fasik”.[38]

Kebijakan Utsman bin Affan di bidang keuangan adalah kepanjangan dari kebijakan yang diberlakukan sebelumnya oleh Umar bin Khatthab, yaitu kebijakan  yang menciptakan sistem kasta. Umar membagikan kekayaan negara secara tidak adil kepada sebagian kelompok dan tidak kepada sebagian lainnya. Ketimpangan itu yang kemudian dilanjutkan dengan bentuk yang lebih ekstrim di zaman Utsman bin Affan. Ia memberikan perhatian khusus kepada Bani Umayyah.

Suatu waktu, penjaga khazanah Baitul Mal mengajukan keberatannya kepada Utsman mengenai kebijakan keuangannya. Mendengar itu, Utsman menjawab: “Engkau adalah penjaga Baitu Mal kami. Bila kami memberikan sesuatu kepadamu maka ambillah, dan bila kami diam maka engkau juga harus diam”. Penjaga Baitul Mal kemudian menjawab: “Demi Allah! Aku bukan penjaga Baitul Mal khalifah dan keluarganya melainkan penjaga harta kaum muslimin”.

Pada hari Jumat, ketika Utsman berkhotbah, penjaga Baitul Mal itu berkata: “Wahai kaum muslimin, Utsman bin Affan menganggap bahwa aku adalah penjaga Baitul Malnya dan keluarganya. Aku ingin mengatakan di sini bahwa aku adalah penjaga Baitul Mal kaum muslimin. Ini adalah kunci-kunci Baitul Mal milik kalian”. Ia kemudian melemparkan kunci-kunci tersebut ke hadapan Utsman.[39]

Sikap Ali terhadap Utsman bin Affan

Kaum muslimin semakin membenci Utsman bin Affan karena perilakunya. Sahabat-sahabat terbaik Rasulullah saw. semakin bersatu terhadap penyimpangan khalifah dan pejabat yang berada di bawahnya. Di seberang sana, Utsman bin Affan mengerti dan mulai menyiksa para penentang kebijakannya yang menyimpang. Penyiksaan yang dilakukan sudah tidak lagi memandang para sahabat Rasulullah saw. Dari situ, ia menyiksa Abu Dzar; salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw, karena seringnya melakukan protes terhadap kebijakan Utsman yang buruk. Utsman membuangnya ke Syam. Muawiyah sebagai gubernur Syam juga tidak mampu menahan protes Abu Dzar sehingga ia mengirimkan Abu Dzar kembali ke Madinah.

Di kota Madinah, Abu Dzar kembali melakukan perjuangan dengan memprotes kebijakan buruk Bani Umayyah. Utsman semakin terpojok dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh Abu Dzar.  Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk mengasingkan Abu Dzar ke daerah bernama Rabadzah (sebuah tempat di Lebanon sekarang ini) dan melarang siapa pun untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya.

Tanpa kekhawatiran sedikitpun, Ali bin Abi Thalib mengantarkan Abu Dzar untuk mengucapkan selamat tinggal. Ali ditemani kedua anaknya Hasan dan Husein, Aqil, dan Abdullah bin Ja’far. Marwan bin Al-Hakam gusar terhadap perlakuan baik Ali tersebut. Ia melakukan protes kepada Utsman bin Affan agar menahan mereka untuk tidak memberi ucapan selamat dan mengantarkan Abu Dzar. Ali bangkit dan menyerang Marwan. Ia berhasil memotong kedua telinga binatang tunggangan Marwan. Setelah itu, Ali berteriak kepadanya: “Coba halangi! Semoga Allah mengirimmu ke Neraka”.[40]

Ali bin Abi Thalib tetap bersikeras untuk mengucapkan perpisahan dan mengantarkan Abu Dzar sambil berkata kepadanya: “Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau bila marah karena Allah, aku berharap kemarahanmu ditujukan kepada mereka. Orang-orang takut kepadamu karena urusan dunia dan harta mereka, sementara engkau takut kepada mereka karena masalah agama mereka. Tinggalkanlah apa yang mereka takutkan atasmu buat mereka (harta dan dunia). Pergilah engkau bersama ketakutanmu atas mereka (agama). Mereka lebih butuh kepada apa yang engkau larang (cinta dunia). Apa yang mereka larang kepadamu lebih berharga (agama). Engkau akan tahu siapa yang lebih beruntung di Hari Kiamat dan siapa yang lebih dengki!”[41]

Sekembalinya dari mengantar Abu Dzar untuk mengucapkan salam perpisahan, orang-orang menyambut Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Utsman bin Affan sangat marah denganmu”. Ali menjawab: “Biarkan kuda marah karena kekangannya”.

Dampak Negatif Pemerintahan Utsman terhadap Umat Islam

Pemerintahan Utsman bin Affan merupakan kelangsungan dari garis politik pemerintah yang melalaikan kandungan risalah Islam, baik secara praktis maupun teoritis. Kondisi ini meninggalkan efek-efek negatif dalam perjalanan pemerintahan Islam dan umat sebagai kesatuan. Hal itu ditambah dengan kerusakan dan tuduhan keji terhadap transparansi pemerintahan Islam di hadapan umat Islam yang tidak pernah hidup di bawah seorang pemimpin yang maksum (Nabi Muhammad saw) kecuali selama satu dekade. Pada sepuluh tahun itulah umat melihat pemimpinnya sekaligus penguasa dan pendidik. Sementara, api fitnah semakin berkobar luas di pinggiran negara Islam yang akan membawa malapetaka kepada umat Islam. Dengan memeriksa data-data sejarah, dapat ditemukan beberapa kesimpulan di bawah ini:

1.  Kebijakan pemerintahan Utsman bin Affan tidak sesuai dengan syariat Islam. Hukum-hukum tidak dijalankan secara baik, kebusukan dan kebobrokan semakin meluas sehingga para pejabat pemerintahan tidak mampu memperbaiki kondisi yang telah buruk itu. Ini semua menjadikan keonaran dalam kehidupan bermasyarakat yang pada akhirnya memunculkan semangat untuk tidak lagi taat kepada hukum. Dampak buruk dari munculnya kebusukan ini adalah kecerobohan dan acuh terhadap nilai-nilai moral dan hukum-hukum Islam. Di rumah-rumah gubernur dan pejabat-pejabat tinggi, dapat ditemukan dengan mudah pesta pora yang diisi dengan acara musik dan nyanyian yang di sela-sela itu minuman keras dihidangkan.[42]

2.  Pemerintah Utsman bin Affan memfokuskan kebijakannya atas dasar semangat kesukuan yang sejak awal telah ditanamkan oleh Abu Bakar dalam kebijakan politiknya. Kekuasaan yang didasari oleh kesukuan semakin transparan dalam kekuasaan Bani Umayyah. Mereka bagaikan sebuah keluarga besar menguasai semua jabatan-jabatan penting, karena mereka menganggap bahwa mereka adalah penguasa besar yang menguntung Islam dan sekarang kekuasaan ini kembali kepada pemiliknya. Di sini sudah tidak ada lagi prinsip-prinsip syariat Islam. Bani Umayyah muncul sebagai haluan politik yang kuat; haluan yang memusuhi Islam dan khususnya Ahlul Bait Nabi. Mereka telah menjelma menjadi penghalang terbesar yang dapat menahan Ali bin Abi Thalib untuk dapat mengambil kembali haknya yang terampas. Mereka kemudian membentuk front di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menghadapi Ali.

3.  Pemerintahan Utsman bin Affan menganggap bahwa kekuasaan adalah hak dan sebuah pemberian dan tidak seorang pun berhak untuk merampasnya dari mereka. Kekuasaan dijadikan alat untuk memenuhi keinginan dan kerakusan mereka yang dipenuhi oleh hawa nafsu yang sesat. Menurut mereka, kekuasaan bukan untuk memperbaiki masyarakat dan menyebarkan Islam di muka bumi.[43] Pandangan seperti ini sedikit banyaknya mempengaruhi banyak orang untuk berlomba-lomba berusaha menguasai pemerintahan, karena kekuasaan akan memberikan keuntungan, kekuatan dan derajat. Amr bin Al-Ash, Muawiyah, Thalhah dan Zubeir termasuk dalam kelompok ini. Mereka tidak lagi berusaha meraih kekuasaan dengan alasan mewujudkan tujuan kemanusiaan atau sosial yang menguntungkan umat Islam.

4.  Pemerintahan Utsman bin Affan berhasil menciptakan masyarakat kelas kaya yang cukup luas. Kelas ini selalu terancam kepentingannya bila pemerintahan bermaksud untuk menjalankan kebenaran dan hukum Islam. Arus tuntutan gerakan kaum miskin muslimin ialah perubahan sistem keuangan dan lajunya kehidupan ekonomi serta pembatasan intervensi ke dalam kehidupan pribadi. Gerakan Abu Dzar menentang pemerintah karena kebusukan kebijakan moneter merupakan sebuah bukti betapa dalamnya kegusaran masyarakat miskin di tengah umat.

5.  Penggunaan kekerasan untuk meredam kritik bahkan penghinaan yang dilakukan menimbulkan reaksi yang tersumbat dan pada waktunya muncul sebagai kudeta militer. Pembunuhan Utsman bin Affan adalah titik geser dalam konflik yang melingkar di antara pandangan yang ada di kaum muslimin. Masyarakat menjadikan tindakan kekerasan sebagai solusi kebuntuan selama ini. Hal ini ditambah dengan sikap keras kepala Bani Umayyah dan pejabat-pejabat mereka yang senantiasa menantang kebenaran, keinginan dan tuntutan masyarakat luas untuk munculnya sebuah perubahan dan perbaikan.

Kondisi ini sekali lagi membuka kesempatan kepada kaum oportunis agar dapat merebut kekuasaan dengan kekerasan dan kekuatan senjata setelah umat Islam tercerai berai dan saling berselisih. Setiap kelompok menginginkan kekuasaan untuknya.

6.  Pembunuhan Utsman bin Affan meninggalkan pekerjaan rumah yang besar. Fitnah yang setiap saat dapat memanas dan membakar siapa saja setiap saat, dan dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan dan mereka yang keluar dari baiat sebagai semboyan untuk menyulut peperangan dan pertumpahan darah guna menghadapi pemerintahan sah yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib lewat pemilihan oleh masyarakat Islam. Fitnah ini kemudian dikemas sedemikian rupa kemudian menjadi sempurna di tangan Muawiyah. Ia memerangi Ali dan terjadilah pertumpahan darah yang mengakibatkan banyak kaum muslimin yang tewas. Tidak itu saja, dengan fitnah itu, mereka memanfaatkannya untuk menyesatkan perhatian kaum muslimin kepada agama yang benar melalui budaya yang digerakkan oleh sebuah masyarakat dengan tujuan melanjutkan kekuasaan kerajaan. Luasnya wilayah pemerintahan Islam sangat membantu mereka dan betapa banyaknya jumlah kelompok dalam masyarakat Islam yang tidak memahami akidah Islam secara benar dan sadar.

7.  Salah satu hasil dari kudeta yang dilakukan terhadap Utsman bin Affan adalah munculnya kelompok-kelompok bersenjata di sekitar kota-kota Islam yang kemudian mengepung Madinah. Mereka menunggu nasib dan arah perjalanan pemerintahan Islam. Kejadian-kejadian yang ada memberikan ruang kepada masyarakat untuk melakukan aksi-aksi militer demi mengubah pemerintahan. Semua ini menjadi basis kekuatan yang berpotensi untuk menekan pemerintah yang baru.

[31] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 166. Tarikh Al-Khulafa, hal 162.

[32] . Lihat Al-Muwaffaqiyat,  jilid 2, hal 2.

[33] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163.

[34] . Muruj Adz-dzahab, jilid 1, hal 440.

[35] . Al-Ghadir, jilid 8, hal 278. Al-Isti’ab, jilid 2, hal 690. Tarikh Ibnu Asakir, jilid 6, hal 407. Al-Aghani, jilid 6, hal 330.

[36]. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 160. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 445. Al-Baladzri, Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 49. Hilyah Al-Auliya, jilid 1, hal 156. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 166. Al-Ghadir, jilid 8, hal 238. An-Nash wa Al-Ijtihad, hal 399.

[37]. Ath-thabari, jilid 3, hal 397.

[38] . Muruj Adz-dzahab, , jilid 2, hal 225.

[39] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat, jilid 5, hal 388. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 153. Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 58. Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif, hal 84. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 169. Al-Ghadir, jilid 8, hal 276.

[40] . Muruj Adz-dzahab, jilid 2, hal 350.

[41] . Syarh Nahjul Balaghah, jilid 3, hal 54. Disebutkan pula oleh Abu Bakar Ahad bin Abdul Aziz dalam bukunya As-Saqifah. A’yan As-Syi’ah, jilid 3, hal 336.

[42] . Abu Al-Faraj Al-Ishfahani, Al-Aghani, jilid 7, hal 179.

[43] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 64. Tarikh Ath-thabari, jilid 5, hal 341-346.

Keanehan mazhab Sunni

Anomali Sunni :
a. Thalhah bin  Ubaidillah di ancam  Allah SWT pada  QS. al Ahzâb[33];53 karena bersikap tidak senonoh
.
b. Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
c. Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas. Kok Sahabat bunuh sahabat sich ??
.
Akal saya sulit mencerna kontradiksi  ini…
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS. 4:93)
.

Wajarlah mazhab syi’ah imamiyah pantas menjadi AL Firqatun Najiyah alias satu satunya Firqah yang selamat

Umar bin Khattab berkata kepada Thalhah : “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum Rasul Allah wafat, ia marah kepadamu kerana kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saw wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”. Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53

Di bahagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”.

Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah. Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan: “Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya” Dan di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’

Tiada seorang nabi yang diganggu kaumnya seperti Nabi Muhammad saw. diganggu kaumnya!

Dan tiada nabi yang lebih sabar  dari Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi gangguan kaumnya, baik yang kafir maupun yang munafik atau yang lemah imannya!

Serta tiada dosa melebihi dosa mengganggu Allah dan Rasul-Nya! Allah melaknat dan mencampakkan ke dalam siksa pedih-Nya sesiapa yangberani-berani mengganggu rasul-Nya!

Allah SWT. berfirman:

إِنَّ الَّذينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذاباً مُهيناً.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. al Ahzâb[33] ;57)

Keterangan:

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir berkata, “Allah berfirman sembari mengancam dan manjanjikan siksaan atas sesiapa yang mengganggu-Nya dengan melanggar perintah-perintah-Nya dan menerjang larangan-larangan-Nya serta berterus-terus dalam melanggar. Allah juga mengancam sesiapa yang mengganggu Rasul-Nya dengan menisbatkan aib atau cacat –kami berlindung kepada Allah darinya-…. .” Dan setelah menyebutkan perselisihat pendapat para ahli tafsir tentang siapa atau kelompok mana yang dimaksud dengannya, di antaranya adalah pendapat Ibnu Abbas ra. bahwa yang dimaksud dengannya  adalah para sahabat yang mengganggu Nabi saw. terkait dengan pernikahan beliau saw. dengan Shaifyah binti Huyai ibn Akhthab, ia melanjutkan, “Yang zahir bahwa ayat itu bersifat umum untuk siapapun yang mengganggu beliau dengan bentuk gangguan apapun. Maka barang siapa mengganggu beliau berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah. Sebagaimana ta’at kepada beliau adalah ta’at kepada Allah.”[1]

Asy Syaukani menjelaskan makna mengganggu dengan: “Tindakan apapun yang tidak disukai Allah dan rasul-Nya berupa maksiat. Sebab mustahil Allah terganggu. Adapun makna la’nah (laknat) adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah. Dan Allah menjadikan ganjaran itu di dunia dan di akhirat agar mereka diliputi laknat sehingga tidak tersisa waktu hidup dan mati mereka melainkan laknat/kutukan Allah mengena dan menyertai mereka.”[2]

Dalam ayat di atas Allah menegaskan bahwa siapapun yang mengganggu Rasulullah saw. berarti ia menganggu Allah, sebab seorang rasul selaku rasul tidak lain adalah utusan Allah, maka siapapun yang mengganggunya berarti sebenarnya ia sedang bermaksud mengganngu Allah. Dan Allah mencancam bagi yang mengganngu-Nya dan mengganggu Rasul-Nya dengan kutukan/ laknatan yang akan mengena dan menyertainya di sepanjang kehidupan dunia dan akhiratnya, selain Allah siapkan siksa yang menghinakan kelak di hari kiamat ketika mereka dicampakkan ke dalam api neraka!

Allah mengancamnya dengan laknat yang artinya –seperti telah disebutkan- adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT. Dan rahmat Allah yang khusus bagi kaum Mukmin adalah berbentuk bimbingan kepada keyakinan yang benar/haq dan hakikat keimanan yang akan diikuti dengan amal shaleh. Jadi dijauhkan dari rahmat di dunia berkonsekuensi terhalanginya orang tersebut dari mendapatkan rahmat tersebut di atas sebagai balasan atas kejahatannya. Dan ia akan menyebabkan terkuncinya hati dari menerima kebenaran, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

لَعَنَّاهُمْ وَ جَعَلْنَا قُلُوبَهُم قاسِيَةً.

“Kami laknati mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al Mâidah [5];13)

Sebagaimana mata hati mereka menjadi buta dan telinga battin mereka menjadi tuli. Allah SWT berfiaman:

أُلئكَ الذين لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُم و أَعْمَى أَبْصارَهُمْ.

“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad [47];23)

Inilah ganjaran mereka yang menggangggu Rasulullah saw. di dunia. Adaapun ganjarang atas mereka di akhirat nanti adalah dijauhkan dari rahmat kedekatan Allah. Mereka dihalau dari mendapat anugrah-Nya. Dan setelah itu Allah menambahkan lagi dengan firman-Nya: “dan (Allah) menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang menghinakan mereka, karena daahulu di dunia mereka mengganggu Rasulullah saw. sebagai bentuk kecongkakan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka sekarang mereka dibalas dengan kehinaan abadi.

Salah Satu Bentuk Mengganggu Nabi saw.

Para ulama ahli tafsir Sunni menyebutkan bahwa di antara sikap yang mengganggu dan menyakitkan hati Nabbi saw. adalah ucapan sebagian sahabat bahwa ia akan menikahi seorang dari istri beliau saw. jika nanti beliau mati. Maka Allah merekam sikap tidak senonoh tersebut dalam firman-Nya:

وَ ما كانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَ لا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْواجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَداً إِنَّ ذلِكُمْ كانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظيماً.

“….Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. al Ahzâb[33];53)

Keterangan:

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah (dengan melanggar perintahnya baik yang terkait dengan sikap kalian terhadap istri-istri beliau atau dalam masalah-masalah lain) dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu ( menikahi istri-iastri beliau sepeninggal beliau)adalah (dosa yang) amat besar (dosanya) di sisi Allah.

Ayat ini mengesankan secara kuat bahwa sebagian sahabat telah menyebut-nyebut niatan/ucapan yang disebut di dalamnya bahwa ada di antara mereka yang berniat menikahi istri-istri Nabi saw. sepeninggal beliau saw.

Beberapa riwayat telah direkan para Ahli Hadis bahwa yang berbicara tidak sononoh itu adalah salah seorang sahabat Nabi saw. Sementara beberapa riwayat lainnya menegaskan bahwa sahabat yang dimaksud adalah Thalhal ibn Ubaidillah.

Jalaluddin as Suyuthi menyebutkan dalam kitab tafsir ad Durr al Mantsûr-nya delapan riwayat dalam masalah ini dari para muhaddis kenamaan Ahlusunnah, di antaranya adalah:

(1)   Ibnu Jarir ath Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Ada seorang datang menemui salah seorang istri Nabi saw. lalu berbincang-bincang dengannya, ia adalah anak pamannya. Maka Nabi saw. bersabda, ‘Jangan kamu ulang lagi perbuatan ini setelah hari ini!’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Dia adalah anak pamanku dan aku tidak berbincang-bincang yang munkar kepadanya dan dia pun tidak berbicara yang munkar kepadaku.’ Nabi saw. bersabda, ‘Aku mengerti itu. Tiada yang lebih cemburu dibanding Allah dan tiada seorang yang lebih pecemburu dibanding aku.’ Lalu ia meninggalkan Nabi kemudian berkata, ‘Dia meralangku berbincang-bincang dengan anak pamanku, jika ia mati aku benar-benar akan menikahinya.’ Maka turunlah ayat itu. …. “

(2)   Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as Siddi ra., ia berkata, “Telah samapai kepada kami berita bahwa Thalhah berkata, ‘Apakah Muhammad menghalang-halangi kami dari menikahi wanita-wanita suku kami, sementara ia menihaki wanita-wanita kami setelah kematian kami? Jika terjadi sesuatu atasnya (mati_maksudnya) aku akan nikahi istri-istrinya.” Maka turunlah ayat ini.

(3)   Abdurrazzâq, Abdu ibn Humaid dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Qatadah ra., ia baerkata, “Thahlah berkata, ‘Jika Nabi wafat aku akan nikahi ‘Aisyah ra.” maka turunlah ayat: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat… “

(4)   Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Bakar ibn Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm tentang firman Allah: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat….”, ia berkata, “Ayat ini turun untuk Thalhah ibn Ubaidillah, sebab dia berkata, ‘Jika Rasulullah saw. aku akan nikahi Aisyah ra.’”[3]

Wallahu A’lam.

Khulashah:

Dari keterangan di atas dimengerti bahwa karenan Allah SWT. tidak mungkin menimpa-Nya gangguan apapun baik secara fisik maupun non fisik karena Dzat Allah Maha suci dari mengalami itu semua. Maka Allah menetapkan manusia-manusia suci pilihan-Nya sebagai barometer gangguan kepada Allah. Nabi Muhammad saw. adalah barometer tersebut! Sesiapa yang mengganggu Nabi Muhammad saw. maka berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah SWT. Sebab beliau adalah duta Allah dan hamba pilihan-Nya!


[1] Tafsir al Qur’an al Adzîm; Ibnu Katsir,4/517.

[2] Fathul Qadîr,4/302-303.

[3] Baca ad Durr al Mantsûr,5/403-404, Tafsir Fathul Qadîr,4/298-300, tafsir Ibnu Katsir,3/506, Tafsir Ma’âlim at Tanzîl,5/273, dll.

Apabila kita melihat sejarah maka kita akan terkesima karena para sahabat ternama ternyata terlibat dalam peperangan besar. Para sahabat seperti Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam, Mu’awiyyah bin Abu Sofyan, Amr bin Ash, Al-Naaman bin Basyir, dan Samurah bin Jundub terlibat dalam pembunuhan kaum Muslimin. ‘Aisyah binti Abu Bakar sendiri malah menjadi kepala penyerangan terhadap khalifah yang syah pada waktu itu yaitu Ali bin Abi Thalib. A’isyah beserta Thalhah dan Zubayr menjadi tiga serangkai yang menyerang khalifah Ali bin Abi Thalib dalam perang saudara yang disebut dengan perang unta atau Perang Jamal. Puluhan ribu sahabat terbunuh dalam peristiwa itu. Mereka menyerang Imam Ali bin Abi Thalib karena ingin menjadikan salah satu dari Thalhah atau Zubayr menjadi khalifah menggantikan Imam Ali bin Abi Thalib yang sangat tidak disukai oleh ‘Aisyah. Ketidak sukaan ‘Aisyah terhadap Ali sudah terkenal dalam sejarah
.
Pembunuhan yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin yang didasari oleh nafsu duniawi sama sekali tidak dibenarkan oleh Islam. Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya” (QS. An-Nisaa: 93)
.
Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
Sangatlah tidak masuk di akal apabila memasukkan nama-nama mereka kedalam kelompok para sahabat yang shaleh dan beriman dan sangat tidak masuk di akal juga apabila kita masih mau mengambil hadits-hadits dari mereka karena ada kemungkinan hadits yang mereka laporkan dipenuhi kepentingan politis di dalamnya
.
Ada memang sekelompok orang yang menganggap mereka sebagai orang baik-baik dan shaleh karena mereka katanya termasuk orang-orang yang menganut Islam pertama kali dari kalangan penduduk Makah dan Madinah. Mereka juga dianggap sebagai orang yang pernah hadir dalam bait ar-ridhwan  (mereka yang mengikat bai’at kesetiaan di bawah pohon) setelah perjanjian Hudaybiyah. Oleh karena itu, (masih menurut klaim mereka), orang-orang tersebut di atas orang-orang ridha terhadap Allah dan Allah ridha kepada mereka. Dan barangsiapa pernah diridhai atau disukai oleh Allah maka Allah takkan pernah marah lagi kepada mereka (itu masih menurut klaim mereka)
.
maka memang dengan jelas kita bisa melihat bahwa ada sekelompok sahabat nabi yang merupakan penduduk kota Makah dan Madinah yang akan mendapatkan balasan berupa surga yang di dalamnya ada kebun-kebun subur dan sungai-sungai mengalir dimana mereka akan tinggal kekal bersama para penghuni surga yang lain
.
Akan tetapi yang menjadi masalah ialah bahwa Mu’awiyyah dan Amr bin Ash tidak termasuk kedalam orang yang dimaksud oleh ayat ini bersama ayat tentang bai’at kesetiaan di bawah pohon. Mereka berdua bukan orang yang masuk Islam pertama kali. Mereka juga bukan kaum imigran atau Muhajirin dari kota Makah. Mereka juga tidak pernah hadir dalam bait ar-ridhwan. Amr bin Ash itu terpaksa masuk Islam  setelah perjanjian Hudaybiyyah. Sementara Mu’awiyyah juga tidak memiliki alternatif lain selain memeluk Islam untuk menyelamatkan kehidupannya setelah peristiwa penaklukan kota Makah
.
Lebih jauh lagi kita tidak menemukan apapun dalam al-Qur’an itu yang menyiratkan bahwa orang-orang yang sudah diridhai atau disukai oleh akan bebas dari murka Allah. Pernyataan seperti itu hanya datang dari mereka yang terlalu memuja-muja para sahaba Nabi sehingga luput dari mengenali kebenaran
.
Sangat sukar sekali dibayangkan apabila Allah memberikan kekebalan hukum secara permanen kepada orang yang berbuat baik pada suatu waktu dan kemudian berbuat sangat jahat di waktu lainnya. Tidak bisa dibayangkan bahwa Allah akan mema’afkan orang-orang yang pernah membunuh ribuan orang beriman setelah sebelumnya pernah berbuat baik (bukankah para ulama itu percaya bahwa ada sekelompok orang yang mati dalam keburukan atau biasa disebut dengan su’ul khatimah?)
.
Kalau memang kekebalan hukum itu ada untuk para sahabat, maka bisa saja seorang sahabat nabi itu tidak menjalankan (atau malah menentang) ajaran yang diajarkan dalam Al-Qur’an (seperti larangan membunuh orang tanpa dosa) atau ajaran yang diajarkan langsung oleh Nabi kepada dirinya
.
Akan tetapi kita tidak akan mempercayai hal ini karena Allah sendiri pernah berfirman kepada Rasulullah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS. Al-An’am: 15)
.
Apabila para sahabat itu boleh menafsirkan ayat-ayat Qur’an dan sabda Rasulullah sekehendak hatinya (sampai mereka bisa membunuh kaum Muslimin tanpa dosa), maka bisa saja mereka mengeluarkan fatwa bahwa shalat wajib 5 kali dalam sehari semalam itu adalah sunnah dan bukan kewajiban! Bisa saja mereka berdalih, “Kami menganggap bahwa kata-kata aqiimus shalah itu artinya kita boleh atau sunnah untuk melakukan shalat. Karena dalam kata-kata itu tidak dijelaskan apakah kita harus berdiri, kemudian rukuk kemudian sujud dan seterusnya. Tidak juga dijelaskan bahwa kita harus membaca Al-Qur’an di dalamnya atau membaca syahadat di dalamnya. Kita cukup saja berdo’a kepada Allah untuk memohonkan ampun dan meminta rizki atau memohon untuk dipanjangkan umur karena kata “Shalat” itu sendiri artinya berdo’a
.

APA KATA RASULULLAH TENTANG MU’AWIYYAH

Berikut ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya:
“Rasulullah (saw) pada suatu hari menyuruh Ibnu Abbas untuk mengundangnya (Mu’awiyyah) agar datang ke rumah Rasulullah untuk menuliskan sesuatu untuknya. Ibnu Abbas menemukan Mu’awiyyah sedang makan dengan lahapnya (Mu’awiyyah tidak bisa memenuhi undangan Nabi). Rasulullah kemudian mengirimnya (Ibnu Abbas) sekali lagi kepada Mu’awiyyah, dan Ibnu Abbas sekali lagi melihatnya masih dalam keadaan makan. Kejadian ini berulang hingga tiga kali hingga Rasulullah berkata:
“Semoga Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”
(Lihat: Muslim, Shahih, volume 5, halaman 462 dalam Kitab Keramah-tamahan, Kedermawanan, dan Sopan Santun; dalam sebuah bab tentang seseorang yang pernah dikutuk oleh Rasulullah (edisi Dar al-Sha’b) seperti yang dikutip oleh al-Nawawi dalam Sharh-nya)
.

Juga dalam Shahih Muslim ada tulisan berikut: “Rasulullah berkata:

.
‘………adapun Mu’awiyyah, ia itu seorang pengangguran dan seorang pemalas’
(Lihat: Al-Bukhari, Shahih, volume 3, halaman 693)
.
Dalam Musnad-nya Imam Ahmad, Rasulullah diriwayatkan pernah berkata seperti berikut ini tntang Mu’awiyyah dan ‘Amr bi Ash:
.
“Ya Allah! Lemparkanlah mereka kedalam permusuhan sesegera mungkin, dan masukkanlah mereka kedalam api neraka,”. Masih ada beberapa lagi riwayat yang menggambarkan Mu’awiyyah (yang kerapkali disebut sebagai “Amirul Mukminin” atau “Pemimpin Orang-orang Yang Beriman” oleh sebagian kaum Muslimin yang memujanya). Mu’awiyyah adalah anak dari seorang ibu yang berani memakan jantung Sayyidina Hamzah pada peperangan Uhud. Mu’awiyyah menutup hidupnya dengan mengangkat anaknya Yazid bin Mu’awiyyah seorang pemuda yang memiliki sifat hedonis—suka berpoya-poya, bermabuk-mabukan dan melakukan perzinahan—sebagai khalifah bagi kaum Muslimin
.
Sungguh pemimpin yang sangat tidak bijak karena merelakan umat untuk dipimpin oleh makhluk terburuk yang pernah lahir ke dunia ini. Yazid waktu itu baru berusia 20 tahun ketika ia menjabat menjadi khalifah. Pengangkatan Yazid itu merupakan pelanggaran atas kesepakatan yang telah dijalin oleh Mu’awiyyah bersama dengan Imam Hasan (as). Selengkapnya perjanjian damai antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah itu adalah sebagai berikut.

PERJANJIAN DAMAI DAN SYAHIDNYA IMAM HASAN (AS)

Setelah kesyahidan Imam Ali (as) (karena dibacok oleh Ibnu Muljam ketika sedang shalat Shubuh), Imam Hasan (as) naik ke atas mimbar dan orang-orang Kufah pada waktu itu memberikan bai’at kesetiannya kepada Imam Hasan (as) sebagai khalifah pengganti ayahnya; dan orang-orang Kufah menginginkan Imam Hasan (as) menjadi pemimpin umat Islam secara keseluruhan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Akan tetapi hal ini ternyata hanya berlangsung hingga enam bulan saja
.
Ketika kabar tentang syahidnya Imam Ali (as) itu sampai ke Syiria, Mu’awiyyah memimpin pasukan yang besar sekali dan berangkat menuju Kufah (pusat pemerintahan Islam pada waktu itu karena Imam Ali memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah karena Imam Ali selalu dirongrong kekuasaannya oleh para sahabat senior dari Rasulullah—red). Mu’awiyyah menyerbu Kufah untuk merampas khilafah dari Imam Hasan (as). Imam Hasan dipaksa untuk menyerah kepada Mu’awiyyah
.
Demi melihat keadaan genting yang bisa menyebabkan pertempuran yang besar sekali dan melibatkan seluruh umat Islam, maka Imam Hasan (as) tidak punya pilihan lain selain berdamai dengan Mu’awiyyah demi melindungi kaum Muslimin dari perang saudara yang besar. Imam Hasan (as) tidak ingin darah kaum Muslimin tertumpahkan hanya karena mereka saling membunuh satu sama lain karena keduanya ingin memperebutkan kursi kekhalifahan. Imam Hasan (as) tidak seperti para pemimpin Arab saat ini yang lebih memilih untuk bertahan dan mengorbankan rakyatnya untuk kekuasaannya. Imam Hasan (as) mencintai rakyatnya dan ia tidak mau darah umat tertumpah gara-gara ia mempertahankan kekuasaan yang tidak ada apa-apanya di hadapan Imam
.
Selain itu Imam Hasan melihat ada bibit perpecahan di kalangan tentaranya sendiri yang sudah berhasil disuap oleh mata-mata Mu’awiyyah. Ditambah dengan kondisi politis yang tidak stabil di Irak (dan Kufah terletak di Irak!); ditambah lagi dengan ancaman dari negara lain—Kekaisaran Romawi sedang mengintai dan melihat peluang yang matang untuk menyerbu umat Islam. Jadi seandainya perang itu terjadi antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah, maka kemungkinan besar yang akan keluarg menjadi pemenang justeru kekuatan di luar Islam yaitu kekaisaran Romawi karena siapa saja yang menang perang akan berkurang kekuatannya setelah peperangan berakhir dan kekaisaran Romawi akan dengan mudah menyerang dan melumpuhkan umat Islam
.
Imam Hasan langsung memilih opsi untuk melakukan perjanjian damai untuk melepaskan umat Islam dari ancaman bahaya yang jauh lebih besar lagi. Perjanjian damai yang disepakati dengan Mu’awiyyah adalah sebagai berikut:
  1. Imam Hasan harus menyerahkan kekhalifahan dan urusan umat Islam kepada Mu’awiyyah dengan syarat bahwa Mu’awiyyah harus mengurus dan mengatur umat dengan berdasarkan Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
  2. Kursi khilafah—apabila Mu’awiyyah meninggal lebih dulu—harus segera dan langsung diserahkan kepada Imam Hasan (as). Apabila ada sesuatu yang terjadi kepada Imam Hasan, maka kursi khilafah akan diserahkan kepada adiknya, Imam Husein (as).
  3. Semua kutukan dan laknat terhadap Imam Ali harus dihentikan baik itu yang dilakukan di mimbar-mimbar maupun yang dilakukan di tempat lainnya.
  4. Uang sebanyak 5 juta dirham yang ada di baytul mal di Kufah sepenuhnya akan dijaga dan diawasi oleh Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah harus mengirimkan sebanyak 1 juta dirham tiap tahun untuk pajak khiraj kepada Imam Hasan (as) yang akan disalurkan langsung kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh para syuhada pada perang Unta dan perang Siffin yang bertempur di pihak Imam Ali.
  5. Mu’awiyyah harus bersumpah untuk tidak mengganggu umat manusia dari kalangan manapun tanpa memandang ras, suku, dan agama. Mu’awiyyah tidak boleh mengejar-ngejar mereka; menyakiti mereka dan ia harus bersumpah akan melaksanakan seluruh isi perjanjian ini dan berjanji untuk menjadikan umat manusia sebagai saksinya
    .
Akan tetapi kemudian yang terjadi benar-benar menyesakkan dada. Imam Hasan (as) syahid terbunuh pada tahun 50H (670 masehi). Imam Hasan (as) meninggal dibunuh dengan racun yang dibubuhkan oleh isterinya sendiri yang bernama Ju’dah binti Al-Ash’ath ibn Qays. Isteri Imam Hasan ini berasal dari keluarga yang memiliki kehidupan dan keyakinan yang berbeda dengan kehidupan dan keyakinan yang dimiliki oleh keluarga atau keturunan Imam Ali (as). Mu’awiyyah menyuruh Ju’dah untuk memberikan racun kepada makanan yang akan dimakan oleh Imam Hasan (as) dengan terlebih dahulu mengirimkan uang sebanyak 100,000 dirham dan sebuah janji kepadanya bahwa sepeninggal Imam Hasan (as), Ju’dah akan dinikahkan kepada puteranya Mu’awiyyah yaitu Yazid bin Mu’awiyyah
.
Mu’awiyyah tertawa kegirangan di istananya demi mendengar kematian Imam Hasan (as). Ia merasa telah mengangkat duri dalam daging yang mengganggu kehidupannya siang dan malam. Dengan itu maka impiannya yaitu mengangkat anaknya, Yazid, seorang pemuda mesum, akan segera menjadi kenyataan. Tinggal satu orang lagi yang masih mengganggu pikirannya. Ia adalah Imam Husein (as).

Imam Ali bin Abi Thalib bersama kelompok Nakitsin (perang Jamal)
Para pencetus fitnah

Pembaiatan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib AS. oleh mayoritas kaum muslimin laksana petir yang menyambar bagi Quraisy dan bagi mereka yang memusuhi Islam. Mereka tahu bahwa pemerintahan Ali bin Abi Thalib adalah kepanjangan tangan pemerintahan Rasulullah saw yang merendahkan dan menghina kezaliman, permusuhan dan pemberontakan. Pemerintahan yang membawa nilai-nilai keadilan, persamaan dan kebenaran. Pemerintahan yang mengumumkan perang terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi yang berlandaskan riba, monopoli dan eksploitasi. Pemerintahan yang memberikan hak yang sama kepada para tokoh Quraisy dengan masyarakat lainnya dari manapun ia. Itu setelah mereka mendapat perlakukan istimewa di zaman Usman.

Thalhah dan Zubeir keduanya melihat dirinya setara dengan Ali bin Abi Thalib. Hal itu dikarenakan keduanya adalah sama-sama kandidat dalam syura yang dibentuk oleh Umar bin Khatthab untuk dipilih menjadi khalifah. Setidak-tidaknya, bila tidak menjadi khalifah mereka mendapat bagian menguasai sebagian dari negara Islam. Sementara Aisyah memiliki posisi yang cukup diperhitungkan oleh khalifah-khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib sebagaimana terlihat pada zaman itu ia dapat berbicara apa saja yang diinginkannya. Saat ini ia tahu benar bahwa kebebasan yang seperti itu tidak akan didapatkannya lagi di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib yang senantiasa bersandarkan Al-Quran dan Sunah sebagai sumber perundang-undangan dan eksekutif.

Di Syam, Muawiyah bin Abu Sufyan berlaku bagaikan penguasa mutlak yang tidak berada di bawah pemerintah pusat. Ketamakannya akan kekuasaan untuk memimpin umat Islam membuatnya ia mengatur urusan kaum muslimin secara mutlak. Muawiyah bin Abu Sufyan dan kroniknya tiba-tiba dikejutkan dengan aturan-aturan Imam Ali bin Abi Thalib AS. yang melakukan perbaikan sesuai dengan langkahnya mendapatkan kenyataan bahwa posisi yang didapatkan di zaman Usman bin Affan sedang dalam terancam. Keberadaan Imam Ali bin Abi Thalib AS. di puncak piramida kekuasaan dianggap sebagai ancaman bagi garis kebijakan para khalifah sebelumnya yang menguntungkan Quraisy. Hal itu dikarenakan Imam Ali bin Abi Thalib mampu untuk mengangkat kembali bendera Islam dan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ia pasti akan membuka kedok penyelewengan yang selama ini terjadi tanpa ada rasa khawatir sedikit pun.

Dari sini mereka sepakat memunculkan fitnah untuk mencegah kestabilan pemerintah yang baru. Adanya elemen-elemen yang memusuhi pandangan dan perjalanan pemerintahan Islam yang sah tidaklah aneh bagi Imam Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw telah memberitahukannya bahwa pada masa pemerintahannya akan ada kelompok-kelompok pemberontak yang menentangnya. Nabi juga mengatakan bahwa ia akan memerangi mereka sebagaimana kelompok-kelompok ini, dinamai oleh Rasulullah dengan Nakitsin, Qasithin dan mariqin

.

Aisyah mengumumkan pemberontakan

Posisi Ummul Mukminin Aisyah pada Usman bin Affan adalah sangat aneh dan kontradiktif yang tidak pantas disandang oleh seorang wanita, istri Nabi. Ia berkali-kali berkata, ‘Bunuh Na’tsal (orang tua yang bego, Usman bin Affan)! Aisyah juga mengajak orang-orang untuk membangkang terhadap Usman dan bahkan membunuhnya. Ia keluar dari kota Madinah menuju Mekkah di tengah-tengah pengepungan Usman bin Affan. sebelum terjadi pembunuhan Usman. pengharapannya sangat besar agar Usman cepat terbunuh, ia ingin sekali Thalhah, yang masih keluarga dekatnya menjadi khalifah.

Sekonyong-konyong harapan Aisyah buyar karena pemerintahan berada di tangan Ali bin Abi Thalib setelah umat Islam membaiatnya. Aisyah membatalkan rencananya menuju Madinah dan kembali ke Mekkah. Di Mekkah ia menampakkan kesedihan dan keteraniayaannya atas kematian Usman bin Affan. Ada yang bertanya kepadanya, ‘Bukankah engkau yang mengajak orang untuk membunuhnya dan sekarang engkau berubah pikiran dengan alasan yang terlalu sederhana’. Ia menjawab, ‘mereka telah memintanya agar bertaubat namun kemudian tetap membunuhnya. Ucapannya memberikan kesan seakan-akan ia hadir di tempat kejadian dan menyaksikan pembunuhan Usman bin Affan.

Aisyah mengumumkan perang terhadap Imam Ali bin Abi Thalib dalam pidato yang diucapkannya di Mekkah dengan memberi semangat pendukungnya untuk perang.

Ketamakan Aisyah tidak cukup sampai di sini saja, ia mengajak istri-istri Nabi untuk ikut bersamanya memerangi Imam Ali bin Abi Thalib. Aisyah

kecewa karena ajakannya tidak bersambut. Para istri Nabi tidak ada yang mau ikut dengannya memerangi Ali bin Abi Thalib

.

Selain tidak ikut, Ummu Salamah malah menasihatinya untuk tidak melanjutkan niatnya. Alasannya sederhana agar tidak terjadi pertumpahan darah antar sesama muslimin

.

Aisyah menjawab, ‘Engkau sebelumnya termasuk orang yang mengajak untuk membunuh Usman. Setiap kali engkau berbicara mengenai Usman niscaya dengan bahasa yang buruk. Engkau tidak pernah memanggilnya selain dengan kata Na’tsal. Engkau juga tahu bagaimana posisi Ali bin Abi Thalib di sisi Rasulullah saw. Apakah aku perlu mengingatkanmu tentang hal ini? Ummu Salamah menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika Nabi datang dan kita bersamanya. Bagaimana Nabi bersama Ali bin Abi Thalib berduaan dengan menghamparkan sebuah alas di sebelah kiri kemudian keduanya berbicara agak lama. Melihat percakapan mereka sedemikian lamanya, engkau ingin menuju ke arah mereka dengan kesal namun aku menahanmu tapi engkau tetap bersikeras menuju ke arah mereka. Yang membuatku heran pada waktu itu adalah mengapa engkau kembali sambil berderaian air mata. Aku kemudian ingin mengetahui apa yang terjadi padamu sehingga kutanya, ‘Apa yang terjadi denganmu? Pada waktu itu engkau menjawab, ‘Aku menerobos ke arah keduanya ternyata mereka lagi berdialog. Aku lalu menatap Ali dan berkata kepadanya, ‘Aku tidak punya waktu bersama Rasulullah saw kecuali satu hari dari sembilan hari yang dimilikinya. Apakah engkau mau meninggalkan aku bersama hariku? Nabi kemudian mengarahkan wajahnya membelakangi Ali bin Abi Thalib dan menatapku. Ia tampak marah wajahnya kemerah-merahan saking marahnya dan kemudian berkata, ‘Kembali ke tempatmu! Demi Allah, orang yang membenci Ali bin Abi Thalib, siapa pun dia, berarti telah keluar dari imannya’. Mendengar itu aku kembali ke tempatku menyesali apa yang telah kulakukan namun aku marah besar terhadap Ali bin Abi Thalib’. Aisyah mengangguk dan berkata, ‘Aku ingat apa yang kau ucapkan’. Ummu Salamah kemudian menambahkan, ‘Apa yang membuat harus keluar memerangi Ali bin Abi Thalib setelah kejadian ini? Aisyah menjawab, ‘ Aku keluar melakukan ini untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan mendamaikan mereka. Aku hanya ingin mendapat balasan dari Allah swt’. Ummu Salamah menyela,’Itu engkau dan pikiranmu’. Mendengar itu Aisyah langsung pergi dari situ

.

Diriwayatkan bahwa istri-istri Nabi keluar bersama Aisyah sampai pada sebuah tempat bernama Dzatu ‘Araq. Tampaknya penyertaan mereka adalah usaha untuk menggagalkan keinginan Aisyah ke Madinah agar tidak terjadi fitnah. Ketika dirasa bahwa usaha mereka sia-sia mereka kemudian menangis bersama-sama karena membayangkan apa yang akan terjadi dengan Islam. Orang-orang yang ikut bersama mereka ikut pula menangis. Pada hari itu disebut dengan hari An-Nahib (hari ratapan)

.

Perbuatan makar Muawiyah dan pelanggaran janji baiat dari Zubeir dan Thalhah

Muawiyah bin Abu Sufyan menikmati kekuasaannya di Syam. Ia memiliki alat-alat dan pendukung yang dapat digerakkan sesuai dengan keinginannya. Di samping itu, ia tidak memiliki masalah dengan masyarakat Syam karena kota Syam semenjak mengenal Islam itu dibarengi dengan pengenalan mereka kepada keluarga Abu Sufyan dan Muawiyah adalah gubernur yang ditunjuk oleh khalifah. Sebelum Muawiyah, saudaranya Yazid menjadi gubernur di sana yang kemudian digantikannya. Dan Muawiyah diuntungkan karena letak geografis Syam jauh dari ibu kota Islam yang memberinya kekuatan yang cukup untuk menyusun kekuatan. Dengan memperhatikan semua ini, Muawiyah bin Abu Sufyan mulai melaksanakan ide-idenya untuk membesarkan api fitnah yang sudah mulai menyala dengan pembunuhan Usman bin Affan. Ia memanfaatkan kondisi ini untuk meraih tujuan-tujuannya. Ia berbicara kepada Zubeir dan Thalhah dan mengompori keduanya agar ketamakan akan kekuasaan yang ada dalam dirinya semakin kuat muncul ke permukaan dan dengan itu secara serius memasuki medan pertempuran dengan Ali bin Abi Thalib yang pada gilirannya menambah besar cakupan fitnah di ibu kota. Ia mengirimkan surat kepada Zubeir yang isinya:

‘Kepada Amir Mukminin Zubeir dari Muawiyah bin Abu Sufyan. Salam untukmu. Aku membaiatmu atas nama rakyat Syam. Mereka mendengar perintah dan akan menaatimu. Kuasailah kota Kufah dan Basrah karena Ali bin Abi Thalib tidak dapat mendahuluimu bila engkau telah lebih dahulu berkuasa di sana. Kedua kota ini adalah segala-galanya. Bila engkau telah menguasai keduanya sama artinya engkau telah menguasai yang lain. Aku telah membaiat Thalhah bin Ubaidillah sebagai khalifah sepeninggalmu. Tunjukkan tuntutanmu akan darah Usman bin Affan dan ajak manusia mengikuti langkahmu. Tentunya ini semua akan berhasil bila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah memenangkan kalian berdua dan mengalahkan musuh kalian’

.

Ketika surat Muawiyah bin Abu Sufyan sampai di tangannya ia betul-betul gembira dan merasa yakin dan percaya akan kebenaran niat Muawiyah. Ia bersama Thalhah kemudian sepakat untuk melanggar baiat terhadap Ali bin Abi Thalib. Langkah pertama yang diambil adalah menunjukkan penyesalan mengapa melakukan baiat kepada Ali bin Abi Thalib. Dan kedua, mengajak Aisyah ikut dalam gerakannya untuk memberi dukungan. Untuk dapat menarik Aisyah, oleh keduanya kemudian menyusun rencana untuk ikut bersama mereka. Diriwayatkan bahwa keduanya datang dan menuntut haknya untuk ikut dalam pemerintah Imam Ali bin Abi Thalib setidak-tidaknya sebagai pejabat dalam pemerintahannya namun keduanya gagal karena Ali bin Abi Thalib tidak menerima. Kemudian mereka berdua ingin bergabung dengan Aisyah dan untuk itu meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Mekkah mengerjakan umrah. Imam Ali bin Abi Thalib memberikan izin sambil berkata, ‘Baiklah. Demi Allah! Kalian tidak benar-benar hendak melakukan umrah. Yang akan kalian lakukan adalah ingin melakukan sesuatu untuk posisi kalian’. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib berkata kepada keduanya, ‘Bahkan kalian ingin melakukan pengkhianatan’

.

Mereka yang melanggar janji dan baiatnya kepada Ali bin Abi Thalib berkumpul di rumah Aisyah di Mekkah setelah sebelumnya orang-orang ini adalah penentang keras Usman bin Affan. Zubeir, Thalhah dan Marwan bin Hakam bergabung dengan mereka dan sepakat menjadikan darah Usman bin Affan sebagai simbol perlawanan mereka kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka mengangkat baju Usman sebagai bentuk penentangan dan Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling bertanggung jawab terjadinya pembunuhan Usman bin Affan. Hal itu disimpulkan dari sikap Ali bin Abi Thalib yang melindungi dan keengganan Ali bin Abi Thalib untuk membalas dendam kepada mereka. Mereka sepakat untuk pergi ke Basrah mendudukinya dan menjadikannya sebagai pusat gerakan dan peperangan mereka menghadapi Ali bin Abi Thalib dan pasukannya sementara Muawiyah menguasai daerah Syam sedangkan Madinah senantiasa dalam kondisi tidak aman

.

Pergerakan Aisyah menuju kota Basrah

Aisyah tetap bersikeras untuk tetap melanjutkan apa yang telah direncanakan untuk mengobarkan fitnah dan langsung terjun secara langsung berperang dengan Imam Ali bin Abi Thalib AS. selaku khalifah yang sah. Aisyah mengumpulkan sejumlah orang yang punya kedengkian terhadap Islam dan Ali bin Abi Thalib serta ditambah dengan para spekulan kekuasaan. Ya’la bin Muniyyah mempersiapkan persenjataan untuk mereka mulai dari pedang dan unta yang dicurinya dari Yaman ketika Imam Ali bin Abi Thalib mengusirnya ke sana. Datang juga Abdullah bin ‘Amir membantu sejumlah besar uang dari Basrah yang juga dicurinya dari sana. Mereka menyiapkan sebuah unta khusus untuk Aisyah yang diberi nama Askar. Posisi Aisyah berada di tengah pasukan dan dilindungi dengan mengitarinya Bani Umayyah. Aisyah dengan posisi seperti ini berada paling depan dan pasukan besar mengiringnya dari belakang menuju kota Basrah. Sebelum sampai ke Basrah, surat yang ditulis untuk beberapa tokoh Basrah telah sampai terlebih dahulu. Isi surat itu mengajak mereka untuk sama-sama dengannya merobek perjanjian dan meninggalkan baiat yang telah dilakukan dengan alasan menuntut darah Usman.

Dimulailah usaha makar dan tipuan yang memang menjadi kebiasaan siapa saja yang ingin menentang Imam Ali bin Abi Thalib. Ketika pasukan Aisyah hendak keluar dari kota Mekkah, Marwan bin Hakam mengucapkan azan untuk melakukan salat. Ia mendatangi Thalhah dan Zubeir untuk mengadu domba antara keduanya dan pada suatu saat menguasai keduanya. Ia berkata, ‘kepada salah satu dari kalian kuserahkan kekuasaan padanya, dengan menjadi imam salat, dan aku meminta izin darinya untuk mengucapkan azan salat. Pengikut keduanya saling berlomba-lomba untuk mendudukan pemimpinnya sebagai yang paling utama untuk menjadi imam salat sebagai lambang kekhalifahan. Aisyah yang paling dahulu memahami apa yang akan terjadi karena kelihatannya pertikaian sudah di depan hidung. Ia kemudian mengutus Zubeir anak saudaranya untuk menjadi imam salat

.

Saat pasukan Aisyah memasuki sebuah tempat bernama Authas mereka bertemu denga Said bin Al-‘Ash dan Mughirah bin Syu’bah. Ketika Said mengetahui bahwa Aisyah mengklaim ‘menuntut darah Usman’, ia menertawakannya dan berkata, ‘Yang membunuh Usman adalah orang-orang yang bersamamu, wahai ummul mukminin!

.

Diriwayatkan, Said berkata, ‘Kalian hendak ke mana? Apakah kalian ingin meninggalkan dendam kalian di balik unta-unta yang lemah? Yang dimaksud dengan ucapannya adalah Thalhah, Zubeir dan Aisyah. Pasukan melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tempat yang bernama Hauab. Di pertengahan jalan mereka menemui sekelompok anjing yang menggonggong. Gonggongan itu menakutkan hati Aisyah yang membuatnya akhirnya bertanya kepada Muhammad bin Thalhah tempat yang sedang mereka lalui ini, ‘Air yang ada di sini disebut apa? Muhammad menjawab, ‘Air Hauab, wahai ummul mukminin’. Serentak badannya menggigil dan berteriak dengan lantang, ‘Kita harus kembali! Di tanya kepadanya, ‘Mengapa? Aisyah berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata, ‘Seakan-akan ada salah satu dari kalian (istri-istri Nabi), yang akan digonggong oleh anjing-anjing Hauab. Pada saat itu engkau, wahai Humaira (panggilan kesayangan Nabi untuk Aisyah), harus berhati-hati dan meninggalkan tempat itu. Aisyah kemudian menghentakkan kakinya agar untanya bergerak dan berkata, ‘Pulangkan aku! Demi Allah, akulah yang disebut oleh Rasulullah sebagai air Hauab dan aku harus kembali. Pasukan yang ada kemudian untanya di tahan sambil mengitarinya sehari semalam. Kemudian Abdullah bin Zubeir mendatanginya dan bersumpah di hadapannya, ‘Demi Allah di sini bukan tempat yang bernama Hauab’. Ia kemudian mendatangkan dua orang Arab badui dan dipaksanya keduanya untuk mengucapkan sumpah bahwa tempat ini bukan Hauab. Ini adalah sebuah sumpah yang diucapkan dengan paksaan yang pertama kali dicatat dalam Islam

.

Pertempuran-pertempuran kecil Basrah

Ketika pasukan Aisyah sampai di kota Basrah, Usman bin Hanif menjelaskan kepada masyarakat Basrah apa tujuan kelompok ini. Ia mewanti-wanti mereka untuk berhati-hati dengan mereka karena fitnah yang akan ditimbulkan pemimpin-pemimpinnya. Ia mengajak mereka yang ikhlas dan masih setia kepada Imam Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan dirinya mempertahankan kebenaran dan syariat Islam yang suci sekaligus menahan pasukan Nakitsin untuk menguasai kota Basrah

.

Usaha yang dapat dilakukan oleh Usman bin Hanif adalah memperlakukan Aisyah dengan segala penuh penghormatan sebagaimana layaknya akhlak Islam. Ia berusaha sebisa mungkin agar perang tidak terjadi. Ia mengutus kepada mereka Imran bin Hashin dan Abu Aswad Ad-Duali untuk berdiplomasi dengan Aisyah dan pengikutnya serta meyakinkan mereka bahwa sikap yang diambil ini adalah satu kesalahan besar. Akan tetap usaha ini menemui jalan buntu dan gagal. Aisyah dan Thalhah serta Zubeir yang senantiasa bersamanya bersikeras untuk tetap ingin mengobarkan api fitnah dan mengumumkan perang.

Aisyah dan pasukannya merangsek maju hingga mencapai daerah Al-Marbad. Para petinggi pasukan memasuki kota. Usman bin Hanif bersama penduduk kota Basrah keluar menemui mereka. Aisyah, Thalhah dan Zubeir mengajak orang-orang untuk meninggalkan janji baiat yang telah mereka ucapkan kepada Ali bin Abi Thalib dengan alasan menuntut darah Usman bin Affan. Orang-orang yang mendengar pidato ketiga orang itu langsung terbagi antara yang pro dan kontra

.

Budak wanita dari Ibn Qudamah As-Sa’di maju menemui Aisyah dan menasihatinya siapa tahu ia mau mengurungkan niatnya untuk mengobarkan api fitnah dan perpecahan. Ia berkata, ‘Wahai ummul mukminin! Demi Allah, orang-orang yang membunuh Usman bin Affan lebih rendah dari usahamu keluar dari rumah sambil menunggang unta terlaknat ini. Urungkanlah senjatamu! Sesungguhnya engkau memiliki kemuliaan tersendiri di sisi Allah namun sekarang engkau yang membuka penutup dirimu dan merusak kehormatanmu sendiri. Sesungguhnya siapa saja yang melihat engkau berperang pasti mengetahui bahwa suatu saat ia akan memerangimu. Bila engkau datang kepada kami dengan ketaatan maka lebih baik engkau pulang ke rumahmu. Dan bila engkau cengkal maka masyarakat akan membantuku’

.

Peperangan, gencatan senjata dan pengkhianatan

Kedatangan Aisyah ke kota Basrah membuat penduduk kota terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian setuju dengan cara pandang Aisyah dan sebagian lain tidak setuju. Mulailah perang mulut di antara mereka. Yang memisahkan mereka adalah malam ketika mereka harus istirahat dan tidur. Usman bin Hanif tetap bersikeras agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah. Ia berusaha untuk menjaga agar kota tetap dalam kedamaian sambil menunggu kedatangan Imam Ali bin Abi Thalib ke Basrah. Ketika akhirnya peperangan dimulai dari kedua belah pihak mereka sama-sama menginginkan perdamaian. Untuk itu dilakukanlah gencatan senjata. Perjanjian gencatan senjata berisikan permintaan untuk mengirim seorang utusan ke Madinah dan bertanya kepada penduduk kota Madinah. Bila Thalhah dan Zubeir memang melakukan baiat dengan dipaksa maka Usman bin Hanif harus keluar dari Basrah dan bila ternyata memang mereka ini melakukan baiat maka Thalhah dan Zubeir yang harus keluar dari kota Basrah.

Ka’ab bin Musawwir utusan yang dikirim oleh kedua belah pihak yang mengadakan gencatan senjata kembali dari Madinah dengan klaim Usamah bin Ziyad yang mengatakan bahwa memang benar ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah keduanya dipaksa untuk melakukan baiat sementara pandangan penduduk kota Madinah berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pendapat Usamah. Namun para komandan pasukan Aisyah mengambil pendapat Usamah dan pada malam harinya ketika hujan turun mereka langsung menyerang bangunan pemerintah dan membunuh setiap yang ada di sana kecuali Usman bin Hanif karena saudaranya, Sahl bin Hanif adalah gubernur Ali bin Abi Thalib di Madinah. Tidak membunuhnya tidak berarti Usman bin Hanif aman dari penyiksaan. Mereka mencabut bulu-bulunya mulai dari kepala, jenggot dan alisnya

.

Usaha Ali Menumpas Pemberontakan

Tatkala Ali bin Abi Thalib a.s. menerima tampuk kepemimpinan dan menjabat sebagai khalifah kaum muslimin, terdapat tantangan yang mengganggu kestabilan  pemerintahan pusat. Tantangan itu ialah penolakan Muawiyah bin Abu Sufyan untuk berbaiat kepadanya. Ali telah menyiapkan angkatan bersenjata yang setiap saat siap menjaga kestabilan negara dari ancaman para pemberontak. Demikian itu agar keamanan tetap terbina dan tidak terjadi pertumpahan darah di antara umat Islam.

Sebenarnya, pasukan itu disiapkan untuk menyerang Muawiyah. Dan karena mengetahui pasukan pemberontakan itu dikomandani oleh Aisyah, Thalhah dan Zubeir, Ali bin Abi Thalib memimpin pasukannya menuju Basrah. Pasukan ini diikuti oleh tokoh-tokoh dari kaum Anshar dan Muhajirin.

Setibanya di sebuah tempat yang bernama Rabadzah, Ali bin Abi Thalib menulis surat kepada pemerintah-pemerintah daerah untuk menambah personil dan menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi sehingga mereka ikut membantu memadamkan api fitnah dan menahannya agar tidak menyebar. Untuk itu, Ali mengirim dua utusan; Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Ja’far, ke Kufah. Di sana mereka menerangkan apa maksud kedatangan, sementara Abu Musa Al-Asy’ari, gubernur Kufah, tidak ingin terlibat dalam membantu Ali, sekalipun dalam berperan aktif guna menahan penyebaran fitnah.

Untuk kedua kalinya Ali bin Abi Thalib mengirim utusan. Ia adalah Abdullah bin Abbas. Ia pun tidak mampu meyakinkan Abu Musa untuk mndapatkan dukungannya; membantu dan menguatkan semangat warga Kufah untuk tetap memihaknya. Akhirnya, untuk kali yang ketiga, Ali bin Abi Thalib mengirim anaknya Hasan dan Ammar bin Yasir yang kemudian Malik bin Asytar ikut bergabung. Tugas mereka adalah menurunkan Abu Musa dari jabatannya. Dengan demikian, Kufah dengan segala kekuatannya memihak Ali dan bergabung dengan pasukannya di tempat bernama Dzi Qar.

Dalam pada itu, Ali bin Abi Thalib juga mengirim surat dan utusan kepada Thalhah, Zubeir dan Aisyah. Ia masih berharap dapat mengembalikan mereka ke jalan yang benar dan agar mereka menyadari bahwa langkah mereka itu sangat merugikan kepentingan segenap umat Islam. Hendaknya mereka juga berpikir untuk menghindarkan umat dari kesulitan, tantangan dan pertumpahan darah.

Ali mengirim utusan kepada Aisyah dan kelompoknya. Zaid bin Shuhan, Abdullah bin Abbas dan beberapa orang lain ditugaskan untuk berdialog dengan mereka. Setelah berargumentasi dengan teks-teks wahyu dan akal, Aisyah berkata kepada Ibnu Abbas: “Aku tidak mampu berargumentasi di hadapanmu”. “Bila engkau tidak mampu membela diri di hadapan makhluk, bagaimana engkau akan  membela diri di hadapan Al-Khaliq kelak?!”, demikian Ibnu Abbas menjawab

.

Nasihat Terakhir

Semakin mendekati pintu gerbang kota Basrah, Ali bin Abi Thalib a.s. lebih banyak lagi menyurati Thalhah dan Zubeir. Sedangkan Aisyah merasa khawatir dengan surat-surat tersebut. Kekhawatiran bisa dimengerti karena bisa jadi mereka berdua terpengaruh oleh ucapan dan argumentasi Ali.

Akhirnya, Aisyah memimpin pasukannya untuk menahan pasukan Ali. Ketika kedua pasukan telah berhadap-hadapan, Ali memerintahkan seseorang untuk berteriak menginstruksikan pasukannya: “Jangan ada yang melepaskan busur dari anak panahnya, tidak juga melemparkan batu dan tombak sampai jelas bagi mereka bahwa mereka telah mendengar bukti terakhir, dan tidak lagi punya alasan untuk mengingkarinya di kemudikan hari”.

Ketika Ali bin Abi Thalib melihat maksud keras mereka untuk berperang, ia keluar dari barisan pasukan menuju Zubeir dan Thalhah yang berada di antara dua barisan pasukan. Kepada kedua sahabat ini ia mengatakan: “Demi Allah! Kalian berdua telah menyiapkan pasukan dengan persenjataan lengkap, kuda dan bala tentara yang siap berperang. Bila kalian berdua mengerahkan semua ini karena alasan yang benar di sisi Allah, maka takutlah kepada-Nya. Jangan sampai kalian seperti seorang wanita yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat sehingga bercerai berai kembali. Bukankah aku saudara kalian dalam agama Allah? Kalian mengharamkan darahku dan aku mengharamkan darah kalian. Lalu, gerangan apakah yang tiba-tiba membuat darahku halal bagi kalian?”

Kemudian Ali bin Abi Thalib berbicara khusus kepada Thalhah: “Engkau membawa istri Rasulullah untuk berperang bersamanya, sementara engkau tinggalkan istrimu sendirian di rumah?! Apakah hanya dengan dalih tidak berbaiat kepadaku?!”

Lalu beliau berpaling kepada Zubeir dan berkata: “Selama ini, kami telah menganggapmu sebagai bagian dari Bani Abdul Mutthalib sampai anakmu menjadi bejat dan berusaha memisahkan kita”. Ali melanjutkan: “Wahai Zubeir! Masih ingatkah engkau; ketika bersama Nabi aku melintas kampung Bani Ghanim. Tiba-tiba Nabi melihatku lalu tertawa dan aku pun ikut tertawa. Kemudian engkau berkata kepada Nabi: ‘Jangan biarkan dia menjadi sombong’. Nabi menjawab teguranmu: ‘Dia, Ali bin Abi Thalib, bukanlah manusia sombong. Pada suatu hari nanti, engkau akan memeranginya dan engkau dalam posisi sebagai pihak yang dzalim!”

Mendengar kejadian itu, Zubeir menjawab: “Benar apa yang engkau katakan”. Diriwayatkan juga bahwa Zubeir lantas meninggalkan medan pertempuran, namun ia dibunuh di tempatnya yang jauh darinya. Sayangnya, itu terjadi setelah api fitnah telah menyala.

Sejarah berlanjut menuju PERANG JAMAL ::::

Qatadah meriwayatkan peristiwa berikut. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, Zubair menyeruak ke muka mengendarai kudanya dengan persenjataan lengkap. Orang-orang berkata kepada Ali, “Dia Zubair!” Karena itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Zubair diharapkan dari dua orang itu lebih mengingat Allah, sekiranya ia diberi peringatkan.” Thalhah juga maju ke hadapan Ali. Ketika Ali berhadapan dengan mereka, ia berkata, “Sesungguhnya kalian telah menyiapkan persenjataan, kendaraan, dan pasukan. Apakah kalian telah menyiapkan alasan di Hari Perhitungan ketika kalian menemui Tuhan kalian? Bertakwalah kepada Allah dan janganlah menjadi seperti seorang wanita yang menguraikan hasil tenunannya setelah selesai menenunnya! Bukankah aku adalah saudara kalian dan kalian meyakini kesucian darahku? Apakah ada yang menjadikannya halal sehingga kalian berani menumpahkan darahku?” Thalhah berkata, “Kalian telah memfitnah umat untuk memerangi Utsman.”

Ali bin Abi Thalib menjawab dengan mengutip ayat Quran, Pada hari itu (Hari Pembalasan), Allah akan membalas mereka dengan balasan yang adil, dan mereka akan mengetahui hal itu, sesungguhnya Allah adalah saksi yang nyata. (QS. 24:25) Lalu Ali melanjutkan, “Thalhah, apakah engkau berperang untuk menuntut darah Utsman? Semoga Allah mengutuk mereka yang telah membunuh Utsman. Zubair, ingatkah ketika engkau sedang bersama Rasulullah dan melewati Bani Ghunam dan ia melihat kepadaku dan tersenyum? Aku tersenyum kepadanya dan engkau berkata kepadanya, Ali bin Abi Thalib selalu sombong.” Rasulullah bersabda kepadamu, “la tidak sombong, engkaulah yang akan memeranginya dengan tidak adil!”

Dzahabi meriwayatkan, “Kami berada di tenda Ali bin Abi Thalib ketika terjadi Perang Unta. Saat itu Ali mengutus seseorang untuk menemui Thalhah agar ia berunding dengannya (sebelum perang dimulai). Thalhah maju ke depan dan Ali berkata kepadanya, “Aku ingatkan engkau atas nama Allah! Tidakkah engkau mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, Ali adalah juga maulanya. Ya Allah, cintailah orang-orang yang mencintainya, dan bencilah orang-orang yang membencinya!”‘ Thalhah menjawab, “Ya, aku mendengarnya.” Ali berkata, “Lalu mengapa engkau memerangiku?

Imam Ali as yg tau persis niat dan tujuan Aisyah, Thalhah dan Zubair, tau bhw tujuan mereka hanya utk menjatuhkan Imam Ali as dari Kekhalifahan bukan mencari pembunuh yg adalah mereka (Aisyah dan Thalhah) sendiri yg merencanakannya.

Akhirnya pecah perang. Dalam perang itu, Thalhah dibunuh oleh Marwan bin Hakam (Marwan ikut pasukan Aisyah membunuh Thalhah dari belakang) karena Marwan menyaksikan bahwa Thalhahlah yg mengayunkan pedang membunuh Utsman.

Demikian sejarah singkat yg saya simpulkan dari berbagai sumber.

Kesimpulannya: Karena berlomba-lomba dalam urusan duniawi mereka semua terjerumus.

[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Mereka (Aisyah dan para sahabat) telah diuji dalam urusan duniawi, dan kebanyakan mereka terbukti gagal oleh sejarah.
[6:119] Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas

Sebagaimana juga nasib akhir Thalhah yang kemudian dibunuh oleh Marwan bin Hakam di tempat yang juga jauh dari medan pertempuran

.

Perang Dimulai

Sebelum perang dimulai, Ali bin Abi Thalib a.s. sangat berharap kelompok Nakitsin itu pada akhirnya akan mengurungkan niat mereka. Ia tidak mengizinkan satu orang pun dari pasukannya untuk memulai peperangan, sekalipun ia melihat bagaimana para komandan pasukan Nakitsin itu sudah tidak sabar lagi untuk memulai peperangan. Kepada para pengikutnya, Ali berkata: :Tidak kuperkenankan seorang pun dari kalian memanah musuh dan tidak kuperbolehkan melempar tombak ke barisan musuh sampai mereka yang pertama memulai peperangan dan terjadi sesuatu ke atas kalian. Tunggulah sampai mereka memulai peperangan”.

Akhirnya, pasukan Jamal (unta) tidak lagi dapat menahan kesabarannya. Mereka mulai memanah pasukan Ali bin Abi Thalib dan membunuh satu dari bala tentaranya. Ali masih belum memperkenankan pasukannya untuk bergerak sehingga orang kedua pun gugur terkena panah. Ali masih tetap dengan sikapnya semula menahan pasukannya. Sampai ketika orang ketiga dari pasukannya terbunuh gugur, Ali bin Abi Thalib tidak dapat lagi menahan dirinya. Ia memberikan izin dan memerintahkan pasukan untuk mulai bergerak mempertahankan kebenaran dan keadilan.

Kemudian kedua pasukan maju dan saling menyerbu. Peperangan yang sangat hebat dan sungguh menakutkan. Begitu banyak kepala-kepala menggelinding terpisah dari badannya, tangan-tangan putus berserakan dan luka-luka diderita oleh kedua belah pihak.

Ali bin Abi Thalib a.s. mulai mengevaluasi apa yang terjadi di medan pertempuran. Ia melihat bagaimana pasukan Jamal berusaha mati-matian mempertahankan unta mereka. Kemudian Ali berteriak dengan suara lantang: “Celakalah kalian! Sembelih unta itu. Binatang itu adalah setan”.

Lalu Ali bin Abi Thalib a.s. bersama para sahabatnya menerjang dan maju mendesak ke depan hingga berhasil mendekati unta yang dipertahankan mati-matian oleh musuh dan kemudian menyembelihnya. Melihat kekuatan Ali dan pasukannya, sebagian dari pasukan Jamal melarikan diri dari medan pertempuran. Kemudian Ali  a.s. kemudian memerintahkan pasukannya untuk membakar unta itu lalu melemparkan abunya ke udara agar tidak dipolitisasi untuk memprovokasi orang-orang awam. Setelah semua itu usai, Ali berkata: “Semoga Allah melaknat unta tadi. Binantang itu  persis dengan anak sapi Bani Israel’.

Ali bin Abi Thalib a.s. memandang abu yang berhamburan di angkasa sambil membaca ayat:

“Dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)”.

Sikap Ali Pasca Perang Jamal

Usai sudah perang Jamal yang dimenangkan oleh pasukan Ali bin Abi Thalib a.s. Debu-debu yang beterbangan telah hilang. Ali memerintahkan salah seorang agar mengumumkan amnesti umum untuk kategori-kategori berikut ini: “Ketahuilah! Siapa saja yang tidak membunuh orang yang terluka, siapa saja yang tidak ikut memimpin perang Jamal, siapa saja yang tidak menghina gubernur, siapa saja yang meletakkan senjata, maka mereka aman. Siapa saja yang menutup pintu rumahnya, ia aman dan tidak akan diganggu. Pasukan dilarang mengambil harta pasukan Jamal kecuali yang ditemukan di medan pertempuran seperti senjata dan lain-lainnya yang dipakai untuk bertempur. Sementara selain yang disebutkan tadi, harta mereka menjadi milik pewarisnya”.

Ali bin Abi Thalib a.s. memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar dan Ammar bin Yasir untuk membawa sekedup Aisyah yang tergeletak di antara korban-korban perang yang terbunuh di tengah medan pertempuran dan meletakkan kembali di atas unta. Muhammad bin Abu Bakarlah yang mengurusi semua urusan saudarinya sendiri; Aisyah. Menjelang pagi, Muhammad membawanya masuk kota Basrah dan menginapkannya di rumah Abdullah bin Khalaf Al-Khuza’i.

Setelah semuanya usai, Ali bin Abi Thalib a.s. berputar mengelilingi mayat-mayat pasukan Jamal dan berbicara kepada mereka dengan mengulang-ulangi perkataan: “Aku telah menemukan apa yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku sebagai sebuah kebenaran. Apakah kalian juga mendapatkan janji dari Tuhan kalian sebagai kebenaran?”

Ali bin Abi Thalib a.s. berkata lagi: “Sungguh hari yang paling hina dan tercela bagi orang yang menginginkan kematian kami dan selain kami. Namun yang lebih celaka lagi adalah mereka yang hendak memerangi dan membunuh kami”.

Ali bin Abi Thalib a.s. tidak langsung memasuki Basrah. Ia tinggal sejenak di luar kota. Di sana ia memberikan izin kepada siapa saja yang memiliki kerabat yang terbunuh di perang Jamal untuk menguburkan mayatnya. Setelah itu, ia memasuki kota Basrah; pusat kelompok Nakitsin. Sesampainya di masjid jami’ Basrah, ia melakukan shalat kemudian berpidato di hadapan warga Basrah dan pasukannya. Ia mengingatkan mereka akan baiat yang telah mereka berikan sebelumnya dan sikap kelompok Nakitsin terhadap baiat. Warga kota yang merasa salah meminta kebesaran hati Ali a.s. untuk mengampuni mereka. Ia berkata: “Aku telah memberi ampunan kepada kalian. Tetapi kalian harus waspada untuk tidak lagi melakukan dan mengobarkan fitnah. Kalian adalah kelompok yang pertama merobek perjanjian yang telah kalian lakukan dengan membaiatku. Kalian orang pertama yang memorak-porandakan persatuan umat Islam”. Kemudian warga yang hadir—termasuk tokoh-tokoh masyarakat Basrah—kembali mengulangi dan mengukuhkan baiat mereka kepadanya.

Setelah menerima pembaiatan kedua kali dari warga Basrah, Ali bin Abi Thalib a.s. mendatangi Baitul Mal kota. Ketika melihat sekian besarnya jumlah harta yang tersimpan, ia berkata: “Berikan harapan kepada selainku!”. Itu diucapkannya berulang kali. Kemudian Ali a.s. memerintahkan untuk membagi harta Baitul Mal kepada semua warga secara sama rata. Pada saat itu, setiap orang menerima lima ratus Dirham. Ali sendiri mendapat jumlah Dirham yang sama dengan yang lain.

Ketika harta Baitul Mal itu telah terbagi habis, seseorang menghadap Ali bin Abi Thalib a.s. Ia tidak hadir dalam perangan Jamal, namun menuntut bagiannya. Lalu Ali a.s. pun memberikan bagian yang telah diterimanya kepada orang itu. Semua sudah mendapatkan bagian kecuali Ali bin Abi Thalib yang telah memberikan bagiannya kepada orang tadi.

Ali bin Abi Thalib a.s. memerintahkan untuk mempersiapkan segala keperluan perjalanan Aisyah menuju Madinah. Ia mengutus saudara Aisyah, Muhammad, dan beberapa orang wanita bersenjata dan bersorban untuk mengawal perjalanannya sampai tiba di Madinah dengan selamat. Meski demikian, Aisyah masih saja berburuk sangka kepada Ali a.s. lantaran ia merasa dirinya tidak diperlakukan sebagaimana mestinya; yakni didampingi oleh segerombolan laki-laki asing. Namun, segera setelah ia tahu bahwa Ali tidaklah demikian karena yang mendampinginya adalah  saudaranya sendiri, Muhammad, dan wanita-wanita yang dipakaikan sorban, ia pun menyesali dirinya. Akhirnya, Aisyah menyesali perbuatannya ikut dengan pasukan Jamal dan memberontak khalifah terpilih yang kemudian menjadi fitnah yang tidak mungkin ditarik lagi. Nasi telah menjadi bubur. Aisyah pun menangis tersedu-sedu

.

Dampak Negatif Perang Jamal

Perang Jamal meninggalkan dampak-dampak negatif terhadap masyarakat Islam, antara lain:

1.  Kasus pembunuhan Utsman bin Affan semakin berkembang luas sehingga menjadi krisis politik besar yang kemudian menjadi gelombang fitnah yang secara langsung menyerang risalah Islam, baik berupa pernyataan ataupun aksi. Di sisi lain, Muawiyah mempolitisasi situasi ini demi kepentingan pribadi dan mengoptimalkannya dengan kejadian perang Jamal dan pertumpahan darah di sana.

2.  Kebencian dan kecurigaan massal yang mengancam integritas kaum muslimin dan terkadang menjadi penyulut peperangan di antara mereka. Seperti yang terjadi antara sekelompok warga Basrah dan kaum muslimin dari luar kota. Kebencian dan permusuhan itu muncul lantaran tuntutan atas darah kerabat-kerabat mereka yang  terbunuh di perang Jamal.

3.  Penyimpangan yang terjadi di dalam kubu kaum muslimin sendiri semakin merekah. Kondisi ini membuat tugas Ali bin Abi Thalib a.s. menjadi semakin berat. Belum lagi pembangkangan Muawiyah di Syam yang telah membuka medan baru. Akibatnya, ekspansi dan perluasan wilayah Islam menjadi bermasalah. Demikian juga, aksi Muawiyah telah membuat sulit proses pembaharuan dan pembanguan peradaban yang dapat dilakukan di dalam masyarakat Islam.

4.  Kebencian dan penyimpangan telah membuka jalan bagi para penentang pemerintahan yang sah untuk secara mudah menyelesaikan masalah mereka dengan kekuatan senjata dan perang

.

Kufah menjadi ibu kota pemerintahan Islam

Setelah kondisi perlahan-lahan tenang, Imam Ali bin Abi Thalib dan pasukannya bergerak menuju kota Kufah untuk dijadikan ibu kota. Sebelum itu, Imam Ali bin Abi Thalib telah mengirikan utusan ke sana untuk menjelaskan detil masalah apa yang sebenarnya telah terjadi. Sebagaimana juga Imam Ali bin Abi Thalib telah mengutus dan menjadikan Abdullah bin Abbas sebagai gubernur di sana serta menjelaskan secara lengkap bagaimana bersikap dan menghadapi mereka setelah kejadian perang Jamal.

Alasan Imam Ali bin Abi Thalib memilih Kufah sebagai ibu kota baru bagi negara Islam dengan memperhatikan alasan-alasan yang di antaranya:

1. Perluasan area dan teritori dunia Islam. Hal ini harus diimbangi dengan adanya sebuah ibu kota yang terpusat baik secara administrasi dan politik. Dan untuk itu, ibu kota harus berada di tempat yang strategis untuk dapat bergerak cepat mencapai semua titik di negara Islam.

2. Pertimbangan terbesar lainnya adalah orang-orang yang turut membantu Imam Ali bin Abi Thalib dalam menumpas pasukan Jamal adalah tokoh-tokoh dan masyarakat Irak dan yang paling banyak memberikan bantuan adalah dari Kufah.

3. Kondisi politik dan ketegangan yang disebabkan oleh pembunuhan Usman bin Affan dan perang Jamal membuat Imam Ali bin Abi Thalib memutuskan memilih Kufah sebagai ibu kota baru untuk memastikan dan memberikan keamanan pada daerah sekitar itu.

sumber :

.Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 450.

.Ibid.

.Nahjul Balaghah, Kalimat pendek 92.

.Ibid.

. Nahjul Balaghah, Khotbah Ketiga yang dikenal dengan Khotbah Syiqsyiqiyah.

. Ansab Al-Asyraf, jilid 1, hal 157.

. Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 22.

. Nahjul Balaghah, kalimat pendek 229.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 452.

. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 17-18.

. Nahjul Balaghah, khotbah ke 15.

. Bihar Al-Anwar, jilid 41, hal 116.

. As-Sunan Al-Kubra, jilid 10, hal 136. Tarikh Dimasyq, jilid 3, hal 196. Al-Aghani, jilid16, hal 36. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, hal 4. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid3, hal 399. As-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal 78.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 462.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 461. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 255.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 469.

. Nahjul Balaghah, Khotbah ke 3.

. Bihar Al-Anwar, jilid 6, hal 179.

. Sunan At-Turmudzi, jilid 2, hal 298.

. Waq’ah Shiffin, hal 119.

. As-Syahid Muhammad Baqir As-Shadr, Ahl Al-Bait Tanawwu’ wa Wadah Hadaf, hal 59-69.

. Untuk lebih detilnya lihat: Sayyid Murtadha Al-‘Askari, Ma’alim Al-Madrasatain, jilid2, hal 43.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 1, hal 125. Sunan Abi Daud, jilid 2, hal 262. Musnad Ahad, jilid 2, hal 162. Tadzkirah Al-Huffazh, jilid 1, hal 2.

. Ibnu Saad, Thabaqat, jilid 5, hal 140.

. Tarikh Ibnu Kasir, jilid 8, hal 107. Sunan Ad-Darimi, jilid 1, hal 54. Tafsir Ath-thabari, jilid 3, hal 38. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 1, hal 115.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 448.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 365. Al-Baihaqi, Sunan Al-Kubra, jilid 6, hal 223.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 359. Usd Al-Ghabah, jilid 3, hal 299.

. Futuh Al-Buldan, hal 55. As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa, hal 136.

. Kanz Al-‘Ummal, jilid 16, hal 519, hadis ke 54715. Ibnu Al-Qayyim, Zad Al-Ma’ad, jilid 2, hal 205.

. Ibnu Taimiah, Minhaj As-Sunnah, jilid 3, hal 193. Buku-buku sejarah mencatat banyak ijtihad yang dilakukan oleh ketiga khalifah.

. Nahjul Balaghah, khotbah ke 50.

. Al-Aghani, jilid 12, hal 13. Ibnu An-Nadim, Al-Fihrist, hal 59. Wafayat Al-‘Ayan, jilid 2, hal 216. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, 312.

. Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 6, hal 186. As-Sayyid Al-Jalali, Tadwin As-Sunnah Asy-Syarifah, hal 137.

. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 139. Tarikh Baghdad, jilid 8, hal 340. Majma’ Az-Zawaid, jilid 9, hal 235. Kanz Al-‘Ummal, jilid 6, hal 82.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 6, hal 215. Kasyf Al-Ghummah, jilid 3, hal 323.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 206.

. Idem.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 474.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 6, hal 217. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 149.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 209.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 231.

. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 70.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 232.

. Tarikh At-Thabari, jilid 3, hal 471.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 79. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 207.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 80. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 210.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 209.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82. Musnad Ahmad, jilid 6, hal 521. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 497.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82. Muruj Az-Dzahab, jilid 2, hal 395.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 83.

. Tarikh At-Thabari, jilid 3, hal 479. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 211.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 482. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 213.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 87. Ath-Thabari, jilid 3, hal 483-484. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 215.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 89. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 484. Muruj Adz-Dzhab, jilid 2, hal 367.

. Al-Imamah Wa As-Siyasah, hal 90. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 122.

. Idem, hal 91. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 270.

. Al-Mamah wa As-Siyasah, hal 91. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 270

. Ath-Thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 158. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 97.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 9, hal 111.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 95.

. QS. 20 : 97.

. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 172. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 371.

. Al-Mufid, Al-Irsyad, jilid 1, hal 256, cetakan Muassasah Alu Al-Bait.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 255.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid, 3, hal 544. Al-Mufid, Al-Irsyad, hal 137.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 250.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 98. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 379. Al-Khawarizmi, Al-Manaqib, hal 115. As-Sibth bin Al-Jauzi, At-Tadzkirah, hal 80.

.

Catatan :

Semua refensi di atas adalah kitab-kitab yang ditulis oleh sarjana-sarjana Muslim Sunni.

sahabat Nabi SAW yang dipuji diakui syi’ah : Khalid bin Sa’id bin Ash

Kisah Sahabat Nabi: Khalid bin Sa’id bin Ash, Keturunan Bani Umayyah yang dipuji syi’ah.. ia berpendirian bahwa di antara Kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan Khalifah itu, adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Kisah Sahabat Nabi: Khalid bin Sa'id bin Ash, Kebesaran Jiwa Seorang Sahabat

KHALID BIN SA’ID BIN ‘ASH
ANGGOTA PASUKAN BERANI MATI ANGKATAN YANG PERTAMA

Khalid bin Sa’id bin ‘Ash dilahirkan dari suatu keluarga kaya dan mewah, tergolong kepala-kepala suku dari seorang warga Quraisy yang terkemuka dan memegang pimpinan. Dan jika hendak ditambahkan lagi sebutlah: “Bin Umaiyah bin Abdi Syamsi bin Abdi Manaf … !”

Ketika berkas cahaya mulai merayap di pelosok-pelosok kota Mekah secara diam-diam, membisikkan bahwa Muhammad orang terpercaya” itu memberitakan soal wahyu yang datang kepadanya di gua Hira’, begitu pun soal Risalah yang diterimanya dari Allah untuk disampaikan kepada hamba-hambanya, maka hati nurani Khalid dapat menangkap bisikan-bisikan tersebut dan mengakui kebenarannya . . . !

Jiwanya rasa terbang kegembiraan, seolah-olah di antaranya dengan Risalah itu sudah ada janji dari pertama …. Dan mulai­lah ia mengikuti berkas cahaya itu dalam segala liku-likunya. Dan setiap kali ia mendengarkan kelompok kaumnya mempercakap­kan Agama baru itu, ia pun duduk dekat mereka, mendengarkan­nya dengan baik disertai perasaan suka cita yang dipendam. Dari waktu ke waktu ia seolah-olah dipompa dengan kata-kata atau kalimat-kalimat mengenai peristiwa itu, yang mendorongnya untuk menyebarkan beritanya, untuk mempengaruhi orang dan mengajari mereka … !

Orang-orang yang memandang Khalid waktu itu, melihatnya sebagai seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara, tapi yang sebenarnya pada bathinnya dan dalam lubuk hatinya bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegem­biraan. Di dalamnya menggelegar bunyi gendang yang di tabuh, kepakan bendera yang dinaikkan, bahana sangkakala yang ditiup . . . , nyanyian-nyanyian yang memanjatkan doa, Serta lagu-lagu pujaan yang mengagungkan Tuhan . … Pesta pora dengan segala keindahannya, dengan semua kemegahan, luapan semangat dan hiruk pikuknya . . . ! Pemuda ini menyimpan kegembiraan pesta-pora ini di dalam dadanya, ditutupnya rapat­-rapat. Karena seandainya diketahui oleh bapaknya bahwa bathin­nya sedang bersuka cita dengan da’wah Muhammad, niscaya hidupnya akan dibinasakannya dan tubuhnya akan diper­sembahkannya sebagai korban bagi tuhan-tuhan pujaan Abdu Manaf … !

Tetapi jiwa dan kesadaran bathin seseorang bila ia telah penuh sesak dengan suatu masalah, dan meluap sampai keper­mukaan, maka limpahannya tak dapat dibendung lagi …

.

Khalid pun pergilah mencari Rasulullah saw. sampai me­nemukan tempat beliau, lalu menumpahkan isi hatinya, dan menanyakan tentang da’wahnya. Jawab Nabi:

“Hendaklah engkau beriman kepada Allah yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu opapun . . . . Dan engkau beriman kepadc, Muhammad, hamba-Nya dan Rasul-Nye . . . . Dan engkau tinggalkan menyembah berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudarat dan tidak pula manfaat…” (al-Hadits)

Khalid lalu mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan kanan  Rasulullah saw. dengan penuh kemesraan, dan Khalid pun mengucapkan:

“Aku naik saksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan aku naik saksi bahwa Muhammad Rasul Allah”

Maka terlepaslah sudah senandung jiwa dan nyanyian kalbu­nya . . . . Terlepas bebas semua gelora yang bergolak dalam bathinnya . . . dan sampailah pula berita ini kepada bapaknya….

Pada waktu Khalid memeluk Islam, belum ada orang yang mendahuluinya masuk itu kecuali empat atau lima orang, hingga dengan demikian ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk Islam. Dan setelah diketahui yang menjadi pelopor dari Agama ini, salah seorang di antaranya putera Sa’id bin ‘Ash maka bagi Sa’id, peristiwa itu akan menyebabkannya men. jadi bulan-bulanan penghinaan dan ejekan bangsa Quraisy, dan akan menggoncangkan kedudukannya sebagai pemimpin.

Oleh karena itu dipanggilnyalah anaknya Khalid, lalu tanya­nya: “Benarkah kamu telah mengikuti Muhammad dan mem­biarkannya mencaci tuhan-tuhan kita … ?” Jawab Khalid:

“Demi Allah, sungguh ia seorang yang benar dan sesungguh­nya aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya . . . “.

Ketika itu bertubi-tubilah pukulan ayahnya menimpa diri­nya, yang kemudian mengurungnya dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya terpenjara menderita lapar dan dahaga … sedang Khalid berseru kepadanya dengan suara keras dari balik pintu yang terkunci:

“Demi Allah, sesungguhnya ia benar dan aku beriman ke­padanya!”

Jelaslah sekarang bagi Sa’id bahwa siksa yang ditimpakan kepada anaknya itu belum lagi cukup dan memadai. Oleh sebab itu dibawanya anak itu ke tengah panas teriknya kota Mekah, lalu ia menginjak-injaknya di atas batu-batu yang panasnya menyengat, selama tiga hari penuh, tanpa perlindungan dan keteduhan . . . , tanpa setetes air pun yang membasahi bibir­nya….

Akhirnya sang ayah putus asa lalu kembali pulang ke rumah­nya. Tapi di sana ia terus berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara baik dengan membujuk atau mengancam­nya, memberi janji kesenangan atau mempertakutinya dengan siksaan . . . tetapi Khalid berpegang teguh kepada kebenaran, Ia berkata kepada ayahnya: “Aku tak hendak meninggalkan Islam karena suatu apapun, aku akan hidup dan mati bersamanya!”

Maka berteriaklah Sa’id: — “Kalau begitu enyahlah engkau pergi dari sini, anak keparat . . . ! Demi kata kau tak boleh makan di sini . . .           Jawab Khalid: “Allah adalah sebaik-baik pemberi rizqi . . . Kemudian ditinggalkannya rumah yang penuh dengan kemewahan, berupa makanan, pakaian dan kesenangan itu, pergi memasuki kesukaran dan aral rintang­an….

Tetapi apa yang ditakutkan … ?

Bukankah ia didampingi oleh imannya … ?

Bukankah ia selalu mempertahankan kepemimpinan Hati nuraninya . . . ?

Dan dengan tegas telah menentukan nasib dirinya?

Apalah artinya lapar kalau begitu, apalah artinya halangan dan rintangan … ?

Dan bila manusia telah menemukan dirinya berada bersama kebenaran luhur seperti kebenaran yang diserukan Muham­mad saw. ini, maka masih adakah tersisa di seantero alam ini sesuatu yang berharga yang belum dimilikinya, padahal semuanya itu, bukankah Allah yang jadi pemilik dan pem­berinya … ?

Demikianlah Khalid melalui bermacam derita dengan pe­ngurbanan dan mengatasi segala halangan dan keimanan ….

Dan sewaktu Rasulullah saw. memerintahkan para shahabat­nya yang telah beriman hijrah yang kedua ke Habsyi, maka Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan …. Ia berdiam di sana beberapa lamanya, kemudian kembali bersama kawan-kawannya ke kampung halaman mereka di tahun yang ketujuh. Mereka dapatkan Kaum Muslimin telah menyelesaikan rencana mereka membebaskan Khaibar.

Sekarang Khalid bermukim di Madinah, di tengah-tengah masyarakat Islam yang baru, di mana ia termasuk salah seorang angkatan lima pertama yang menyaksikan kelahiran Islam, dan ikut membina bangunannya. Sejak itu Khalid selalu beserta Nabi dalam barisan pertama pada setiap peperangan atau per­tempuran . . . . Dan karena kepeloporannya dalam Islam ini serta keteguhan hatinya dan kesetiaannya, jadilah ia tumpuan ke­sayangan dan penghormatan . .. . Ia memegang teguh prinsip dan pendiriannya, tak hendak menodai atau menjadikannya sebagai barang dagangan.

Sebelum Rasul wafat, beliau mengangkatnya menjadi guber­nur di Yaman. Sewaktu sampai kepadanya berita pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan pengukuhannya, ia lalu meninggalkan jabatannya datang ke Madinah.

 Tetapi ia berpendirian bahwa di antara Kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan Khalifah itu, adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Pendiriannya ini dipegangnya teguh, hingga ia tidak bai’at kepada Abu Bakar . . . . Namun Abu Bakar tetap mencintai dan menghargainya, tidak memaksanya untuk mengangkat bai’at dan tidak pula membencinya karena tidak bai’at. Setiap disebut namanya di kalangan Muslimin, khalifah besar itu tetap menghargai dan memujinya, suatu hal yang memang menjadi hak dan miliknya ….

Belakangan pendirian Khalid bin Sa’id ini berubah. Tiba-tiba di suatu hari ia menerobos dan melewati barisan-barisan di mesjid, menuju Abu Bakar yang sedang berada di atas mimbar, maka Ia pun membai’atnya dengan tulus dan hati yang teguh….

Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke Syria, beliau menyerahkan salah satu panji perang kepada Khalid bin Sa’id, hingga dengan demikian berarti ia menjadi salah seorang kepala pasukan tentara. . . . . Tetapi sebelum tentara itu bergerak me­ninggalkan Madinah, Umar menentang pengangkatan Khalid bin Sa’id, dan dengan gigih mendesakkan usulnya kepada khalifah, hingga akhirnya beliau merubah keputusannya dalam pengangkatan ini ….

Berita itu sampailah kepada Khalid, maka tanggapannya hanyalah sebagai berikut: “Demi Allah, tidaklah kami bergem­bira dengan pengangkatan anda, dan tidak pula akan berduka dengan pemberhentian anda . . . !” Abu Bakar Shiddiq meringan­kan langkah ke rumah Khalid meminta ma’af padanya Serta menerangkan pendiriannya yang baru, dan menanyakan kepada kepala dan pemimpin pasukan mana ia akan bergabung, apakah kepada Amar bin ‘Ash anak pamannya, atau kepada Syurahbil bin Hasanah? Maka Khalid memberikan jawaban yang menunjuk­kan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, ujarnya: “Anak paman­ku lebih kusukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena Agamanya “‘ Kemudian dipilihnya sebagai prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah ….

Sebelum pasukan bergerak maju, Abu Bakar meminta Syu­rahbil menghadap kepadanya lalu katanya:  ”Perhatikanlah Khalid bin Sa’id, berikanlah apa yang menjadi haknya atas anda, sebagaimana anda ingin mendapatkan apa yang menjadi hak anda daripadanya, yakni seandainya anda di tempatnya, dan ia di tempat anda . . . . Tentu anda tabu kedudukannya dalam Islam . . . Dan tentu anda tidak lupa bahwa sewaktu Rasulullah wafat, ia adalah salah seorang dari gubernurnya . . . . Dan sebenarnya aku pun telah mengangkatnya sebagai panglima, tetapi kemudian aku berubah pendirian . . . . Dan semoga itulah yang lebih baik baginya dalam Agamanya, karena sungguh, aku tak pernah iri hati kepada seseorang dengan kepemimpinan … !

Dan sesungguhnya aku telah memberi kebebasan kepadanya untuk memilih di antara pemimpin-pemimpin pasukan siapa yang disukainya untuk menjadi atasannya, maka ia lebih me­nyukai anda daripada anak pamannya sendiri ….Maka apabila anda menghadapi suatu persoalan yang membutuhkan nasihat dan buah pikiran yang taqwa, pertama-tama hendaklah anda hubungi Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu Mu’adz bin Jabal dan hendaklah Khalid bin Sa’id sebagai orang ketiga. Dengan demi­kian pastilah anda akan beroleh nasihat dan kebaikan ….

Dan jauhilah mementingkan pendapat sendiri dengan mengabaikan mereka atau menyembunyikan sesuatu dari mereka…!

Di medan pertempuran Marjus Shufar di daerah Syria yang terjadi dengan dahsyatnya antara Muslimin dengan orang-orang Romawi, maka di antara orang-orang yang pertama yang telah pasti tersedia pahala mereka di sisi Allah, terdapat seorang syahid mulia, yang telah menempuh jalan hidupnya sejak masa remaja belia saat ia menghadapi ajal, secara benar, beriman lagi berani . . . . Kaum Muslimin yang sedang mencari-cari para syuhada sebagai qurban pertempuran, telah mendapatinya seperti sediakala: bersikap tenang, pendiam dan keras hati, lalu kata mereka: “ya Allah, berikanlah keridlaan kapada. Khalid bin Sa’id … ! “

Syiah Memuji Sahabat (3)

Kisah Sahabat Nabi: Khalid bin Sa’id bin Ash, Keturunan Bani Umayyah yang dipuji syi’ah.. ia berpendirian bahwa di antara Kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan Khalifah itu, adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Kisah Sahabat Nabi: Khalid bin Sa'id bin Ash, Kebesaran Jiwa Seorang Sahabat

KHALID BIN SA’ID BIN ‘ASH
ANGGOTA PASUKAN BERANI MATI ANGKATAN YANG PERTAMA

Khalid bin Sa’id bin ‘Ash dilahirkan dari suatu keluarga kaya dan mewah, tergolong kepala-kepala suku dari seorang warga Quraisy yang terkemuka dan memegang pimpinan. Dan jika hendak ditambahkan lagi sebutlah: “Bin Umaiyah bin Abdi Syamsi bin Abdi Manaf … !”

Ketika berkas cahaya mulai merayap di pelosok-pelosok kota Mekah secara diam-diam, membisikkan bahwa Muhammad orang terpercaya” itu memberitakan soal wahyu yang datang kepadanya di gua Hira’, begitu pun soal Risalah yang diterimanya dari Allah untuk disampaikan kepada hamba-hambanya, maka hati nurani Khalid dapat menangkap bisikan-bisikan tersebut dan mengakui kebenarannya . . . !

Jiwanya rasa terbang kegembiraan, seolah-olah di antaranya dengan Risalah itu sudah ada janji dari pertama …. Dan mulai­lah ia mengikuti berkas cahaya itu dalam segala liku-likunya. Dan setiap kali ia mendengarkan kelompok kaumnya mempercakap­kan Agama baru itu, ia pun duduk dekat mereka, mendengarkan­nya dengan baik disertai perasaan suka cita yang dipendam. Dari waktu ke waktu ia seolah-olah dipompa dengan kata-kata atau kalimat-kalimat mengenai peristiwa itu, yang mendorongnya untuk menyebarkan beritanya, untuk mempengaruhi orang dan mengajari mereka … !

Orang-orang yang memandang Khalid waktu itu, melihatnya sebagai seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara, tapi yang sebenarnya pada bathinnya dan dalam lubuk hatinya bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegem­biraan. Di dalamnya menggelegar bunyi gendang yang di tabuh, kepakan bendera yang dinaikkan, bahana sangkakala yang ditiup . . . , nyanyian-nyanyian yang memanjatkan doa, Serta lagu-lagu pujaan yang mengagungkan Tuhan . … Pesta pora dengan segala keindahannya, dengan semua kemegahan, luapan semangat dan hiruk pikuknya . . . ! Pemuda ini menyimpan kegembiraan pesta-pora ini di dalam dadanya, ditutupnya rapat­-rapat. Karena seandainya diketahui oleh bapaknya bahwa bathin­nya sedang bersuka cita dengan da’wah Muhammad, niscaya hidupnya akan dibinasakannya dan tubuhnya akan diper­sembahkannya sebagai korban bagi tuhan-tuhan pujaan Abdu Manaf … !

Tetapi jiwa dan kesadaran bathin seseorang bila ia telah penuh sesak dengan suatu masalah, dan meluap sampai keper­mukaan, maka limpahannya tak dapat dibendung lagi …

.

Khalid pun pergilah mencari Rasulullah saw. sampai me­nemukan tempat beliau, lalu menumpahkan isi hatinya, dan menanyakan tentang da’wahnya. Jawab Nabi:

“Hendaklah engkau beriman kepada Allah yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu opapun . . . . Dan engkau beriman kepadc, Muhammad, hamba-Nya dan Rasul-Nye . . . . Dan engkau tinggalkan menyembah berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudarat dan tidak pula manfaat…” (al-Hadits)

Khalid lalu mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan kanan  Rasulullah saw. dengan penuh kemesraan, dan Khalid pun mengucapkan:

“Aku naik saksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan aku naik saksi bahwa Muhammad Rasul Allah”

Maka terlepaslah sudah senandung jiwa dan nyanyian kalbu­nya . . . . Terlepas bebas semua gelora yang bergolak dalam bathinnya . . . dan sampailah pula berita ini kepada bapaknya….

Pada waktu Khalid memeluk Islam, belum ada orang yang mendahuluinya masuk itu kecuali empat atau lima orang, hingga dengan demikian ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk Islam. Dan setelah diketahui yang menjadi pelopor dari Agama ini, salah seorang di antaranya putera Sa’id bin ‘Ash maka bagi Sa’id, peristiwa itu akan menyebabkannya men. jadi bulan-bulanan penghinaan dan ejekan bangsa Quraisy, dan akan menggoncangkan kedudukannya sebagai pemimpin.

Oleh karena itu dipanggilnyalah anaknya Khalid, lalu tanya­nya: “Benarkah kamu telah mengikuti Muhammad dan mem­biarkannya mencaci tuhan-tuhan kita … ?” Jawab Khalid:

“Demi Allah, sungguh ia seorang yang benar dan sesungguh­nya aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya . . . “.

Ketika itu bertubi-tubilah pukulan ayahnya menimpa diri­nya, yang kemudian mengurungnya dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya terpenjara menderita lapar dan dahaga … sedang Khalid berseru kepadanya dengan suara keras dari balik pintu yang terkunci:

“Demi Allah, sesungguhnya ia benar dan aku beriman ke­padanya!”

Jelaslah sekarang bagi Sa’id bahwa siksa yang ditimpakan kepada anaknya itu belum lagi cukup dan memadai. Oleh sebab itu dibawanya anak itu ke tengah panas teriknya kota Mekah, lalu ia menginjak-injaknya di atas batu-batu yang panasnya menyengat, selama tiga hari penuh, tanpa perlindungan dan keteduhan . . . , tanpa setetes air pun yang membasahi bibir­nya….

Akhirnya sang ayah putus asa lalu kembali pulang ke rumah­nya. Tapi di sana ia terus berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara baik dengan membujuk atau mengancam­nya, memberi janji kesenangan atau mempertakutinya dengan siksaan . . . tetapi Khalid berpegang teguh kepada kebenaran, Ia berkata kepada ayahnya: “Aku tak hendak meninggalkan Islam karena suatu apapun, aku akan hidup dan mati bersamanya!”

Maka berteriaklah Sa’id: — “Kalau begitu enyahlah engkau pergi dari sini, anak keparat . . . ! Demi kata kau tak boleh makan di sini . . .           Jawab Khalid: “Allah adalah sebaik-baik pemberi rizqi . . . Kemudian ditinggalkannya rumah yang penuh dengan kemewahan, berupa makanan, pakaian dan kesenangan itu, pergi memasuki kesukaran dan aral rintang­an….

Tetapi apa yang ditakutkan … ?

Bukankah ia didampingi oleh imannya … ?

Bukankah ia selalu mempertahankan kepemimpinan Hati nuraninya . . . ?

Dan dengan tegas telah menentukan nasib dirinya?

Apalah artinya lapar kalau begitu, apalah artinya halangan dan rintangan … ?

Dan bila manusia telah menemukan dirinya berada bersama kebenaran luhur seperti kebenaran yang diserukan Muham­mad saw. ini, maka masih adakah tersisa di seantero alam ini sesuatu yang berharga yang belum dimilikinya, padahal semuanya itu, bukankah Allah yang jadi pemilik dan pem­berinya … ?

Demikianlah Khalid melalui bermacam derita dengan pe­ngurbanan dan mengatasi segala halangan dan keimanan ….

Dan sewaktu Rasulullah saw. memerintahkan para shahabat­nya yang telah beriman hijrah yang kedua ke Habsyi, maka Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan …. Ia berdiam di sana beberapa lamanya, kemudian kembali bersama kawan-kawannya ke kampung halaman mereka di tahun yang ketujuh. Mereka dapatkan Kaum Muslimin telah menyelesaikan rencana mereka membebaskan Khaibar.

Sekarang Khalid bermukim di Madinah, di tengah-tengah masyarakat Islam yang baru, di mana ia termasuk salah seorang angkatan lima pertama yang menyaksikan kelahiran Islam, dan ikut membina bangunannya. Sejak itu Khalid selalu beserta Nabi dalam barisan pertama pada setiap peperangan atau per­tempuran . . . . Dan karena kepeloporannya dalam Islam ini serta keteguhan hatinya dan kesetiaannya, jadilah ia tumpuan ke­sayangan dan penghormatan . .. . Ia memegang teguh prinsip dan pendiriannya, tak hendak menodai atau menjadikannya sebagai barang dagangan.

Sebelum Rasul wafat, beliau mengangkatnya menjadi guber­nur di Yaman. Sewaktu sampai kepadanya berita pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan pengukuhannya, ia lalu meninggalkan jabatannya datang ke Madinah.

 Tetapi ia berpendirian bahwa di antara Kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan Khalifah itu, adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Pendiriannya ini dipegangnya teguh, hingga ia tidak bai’at kepada Abu Bakar . . . . Namun Abu Bakar tetap mencintai dan menghargainya, tidak memaksanya untuk mengangkat bai’at dan tidak pula membencinya karena tidak bai’at. Setiap disebut namanya di kalangan Muslimin, khalifah besar itu tetap menghargai dan memujinya, suatu hal yang memang menjadi hak dan miliknya ….

Belakangan pendirian Khalid bin Sa’id ini berubah. Tiba-tiba di suatu hari ia menerobos dan melewati barisan-barisan di mesjid, menuju Abu Bakar yang sedang berada di atas mimbar, maka Ia pun membai’atnya dengan tulus dan hati yang teguh….

Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke Syria, beliau menyerahkan salah satu panji perang kepada Khalid bin Sa’id, hingga dengan demikian berarti ia menjadi salah seorang kepala pasukan tentara. . . . . Tetapi sebelum tentara itu bergerak me­ninggalkan Madinah, Umar menentang pengangkatan Khalid bin Sa’id, dan dengan gigih mendesakkan usulnya kepada khalifah, hingga akhirnya beliau merubah keputusannya dalam pengangkatan ini ….

Berita itu sampailah kepada Khalid, maka tanggapannya hanyalah sebagai berikut: “Demi Allah, tidaklah kami bergem­bira dengan pengangkatan anda, dan tidak pula akan berduka dengan pemberhentian anda . . . !” Abu Bakar Shiddiq meringan­kan langkah ke rumah Khalid meminta ma’af padanya Serta menerangkan pendiriannya yang baru, dan menanyakan kepada kepala dan pemimpin pasukan mana ia akan bergabung, apakah kepada Amar bin ‘Ash anak pamannya, atau kepada Syurahbil bin Hasanah? Maka Khalid memberikan jawaban yang menunjuk­kan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, ujarnya: “Anak paman­ku lebih kusukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena Agamanya “‘ Kemudian dipilihnya sebagai prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah ….

Sebelum pasukan bergerak maju, Abu Bakar meminta Syu­rahbil menghadap kepadanya lalu katanya:  ”Perhatikanlah Khalid bin Sa’id, berikanlah apa yang menjadi haknya atas anda, sebagaimana anda ingin mendapatkan apa yang menjadi hak anda daripadanya, yakni seandainya anda di tempatnya, dan ia di tempat anda . . . . Tentu anda tabu kedudukannya dalam Islam . . . Dan tentu anda tidak lupa bahwa sewaktu Rasulullah wafat, ia adalah salah seorang dari gubernurnya . . . . Dan sebenarnya aku pun telah mengangkatnya sebagai panglima, tetapi kemudian aku berubah pendirian . . . . Dan semoga itulah yang lebih baik baginya dalam Agamanya, karena sungguh, aku tak pernah iri hati kepada seseorang dengan kepemimpinan … !

Dan sesungguhnya aku telah memberi kebebasan kepadanya untuk memilih di antara pemimpin-pemimpin pasukan siapa yang disukainya untuk menjadi atasannya, maka ia lebih me­nyukai anda daripada anak pamannya sendiri ….Maka apabila anda menghadapi suatu persoalan yang membutuhkan nasihat dan buah pikiran yang taqwa, pertama-tama hendaklah anda hubungi Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu Mu’adz bin Jabal dan hendaklah Khalid bin Sa’id sebagai orang ketiga. Dengan demi­kian pastilah anda akan beroleh nasihat dan kebaikan ….

Dan jauhilah mementingkan pendapat sendiri dengan mengabaikan mereka atau menyembunyikan sesuatu dari mereka…!

Di medan pertempuran Marjus Shufar di daerah Syria yang terjadi dengan dahsyatnya antara Muslimin dengan orang-orang Romawi, maka di antara orang-orang yang pertama yang telah pasti tersedia pahala mereka di sisi Allah, terdapat seorang syahid mulia, yang telah menempuh jalan hidupnya sejak masa remaja belia saat ia menghadapi ajal, secara benar, beriman lagi berani . . . . Kaum Muslimin yang sedang mencari-cari para syuhada sebagai qurban pertempuran, telah mendapatinya seperti sediakala: bersikap tenang, pendiam dan keras hati, lalu kata mereka: “ya Allah, berikanlah keridlaan kapada. Khalid bin Sa’id … ! “

Syiah Memuji Sahabat (2)

silahkan baca artikel kami yang lain :

PANDANGAN ALQURAN TENTANG SAHABAT

Keutamaan-Keutamaan Sahabat Nabi dalam Al-Quran

Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Kemuliaan para Sahabat Nabi SAW

Mush’ab bin ‘Umayr

Mush’ab bin ‘Umayr (Arabمصعب بن عمير) adalah salah seorang sahabat nabi Nabi Muhammad. Mush’ab berhasil memasukan ajaran Islam kepada Usayd bin Hudhayr dan sahabat Usayd yang bernama Sa’ad bin Mu’adz.

Biografi

Mus’ab bin Umair berasal dari keturunan bangsawan dari suku Quraisy. Ia adalah salah satu sahabat yang pertama dalam memeluk Islamsetelah Nabi Muhammad saw diangkat sebagai Nabi dan menyebarkan agama Islam.

Mus’ab bin Umair diutus oleh Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Madinah, setelah orang-orang dari Madinah datang menyatakan keislamannya. Ia di Madinah hingga Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Mus’ab bin Umair mati syahid diPertempuran Uhud.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (ll)

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair.

Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, 

surat Al Ahzab ayat 23 :

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur . Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya )”. (QS. Al Ahzab: 23)

Setiap kita sedang berjalan dalam rangka menepati janji kita kepada Allah. Diantara kita ada yang meninggal duluan, jika kita meninggal dalam berjuang dan menepati janji, maka itu adalah hal bagus dan indah. Ada diantara kita yang menunggu kapan matinya, dan itu tidaklah masalah, selama tidak merubah arah jalan kita dan tetap berpegang teguh pada komitnen dan tetap berjuang menepati janji itu.

.

Mash’ab pada suatu peristiwa  di PERANG BADAR berada di pihak Rasulullah SAW sementara keluarganya ada yang berada di pihak kemusyrikan. Turunlah QS. Mujadilah ayat 22.  Allah Subhanahu wata’ala berfirman :


لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya :

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw melaksanakan ajaran reformasi Rasul dalam kehidupan mereka dengan cara meninggalkan kesetiaan mereka kepada kelompok menuju kesetiaan kepada Islam.

Salah satu contoh yang paling baik untuk menjelaskan hal itu adalah Mash’ab bin Umair, salah seorang wisudawan madrasah Rasulullah. Riwayat singkatnya sebagai berikut; Bapaknya adalah Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Abdi Dar bin Qusyaiy bin Kilab. Dari jalur kakeknya, Mash’ab bersambung dengan Rasulullah saw.

Mash’ab bin Umair adalah seorang pemuda Mekkah yang terkenal sebagai remaja berwajah tampan, tegap, dan murah senyum. Dia termasuk Assâbiqun fîl Islâm. Ia bergelar Abu Muhammad sedangkan laqabnya adalah Mash’ab Al-Khair, Mash’ab Si Baik.

Mash’ab termasuk salah seorang yang hijrah ke Habsyi. Nabi saw mengutusnya sebagai mubaligh, mu’alim, dan mursyid ke Madinah. Berkat dakwah Mash’ab bin Umair, banyak kabilah Anshar yang masuk Islam. Dia ikut bersama Nabi dalam perang Badar. Pada perang Uhud, Nabi memberinya bendera pasukan dan ia pun gugur sebagai seorang syuhada di Perang Uhud

.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika kaum itu (orang-orang Madinah) hendak kembali, Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin ‘Umair agar menemani mereka. Dia diperintah Rasul agar membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada mereka.”

Setibanya di Madinah, beliau tinggal di rumah Sa’ad bin Zurarah. Selama di Madinah, kesehariannya diisi dengan mengajak para penduduknya untuk masuk Islam dan membacakan al-Quran kepada mereka secara door to door. Hasilnya, seorang demi seorang dari mereka bersyahadat.

Kesuksesan Mush’ab dalam mengislamkan penduduk Madinah bikin gerah Sa’ad bin Muadz, pemuka kaum bani ‘Abd al-Asyhal di Madinah. Sa’ad makin benci dengan Mush’ab ketika sepupunya, Usaid bin Hudhair, yang disuruh untuk menegur Mushab malah ikut masuk Islam. Sa’ad bergegas menemui Mushab. Di hadapan Mushab dan As’ad, Sa’ad ngomel-ngomel. Tapi apa respon Mushab?

“Ataukah Tuan berkenan duduk, lalu mendengarkan,” ajak Mush’ab pada Sa’ad dengan kata-kata yang halus. “Jika Tuan meridai perkara [yang hendak saya paparkan] ini dan Tuan menyukainya, Tuan bisa menerimanya. Jika Tuan membencinya, kami menyingkir darimu yang memang Tuan membencinya.”

“Ya, saya menerima. Itu adil,” jawab Sa’ad. Mush’ab menatapnya sejenak dengan muka manis, lalu memaparkan Islam dan membacakan al-Qur’an kepadanya. Sa’ad bertanya kepada keduanya, “Apa yang kalian lakukan ketika masuk Islam dan masuk agama ini?”

“Mandi dan sucikan diri dan pakainmu, kemudian bacalah kesaksian yang haq, lalu salatlah dua rakaat,” jelas Mush’ab dan As’ad.

Sa’ad berdiri, lalu mandi dan menyucikan pakaiannya, kemudian membaca syahadat dan salat dua rakaat, kemudian segera menuju kaumnya. Ketika sudah tiba Sa’ad berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya ucapan kaum pria dan wanita kalian terhadapku adalah haram hingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Selang beberapa waktu, Mush’ab dan As’ad berkata, “Demi Allah, semenjak itu di rumah bani ‘Abd al-Asyhal tidak satupun laki-laki dan wanita kecuali muslim.”

Dalam waktu satu tahun, Mush’ab berhasil membalik kekufuran di Madinah, dari keberhalaan yang bodoh dan masya’ir (perasaan-perasaan) yang salah menjadi agama tauhid dan iman serta masya’ir Islam. Gimana dengan kita? Kita bisa seperti Mush’ab asal mau tetep semangat untuk ngaji dan dakwah. Oke?

Pada umumnya, orang-orang yang masuk Islam itu kebanyakan miskin, para mustadh’afin yang berasal dari keluarga sengsara, kecuali Mash’ab bin Umair. Mash’ab adalah anak seorang keluarga elit. Orang tuanya kaya raya. Ibunya sangat sayang kepadanya sehingga dia selalu diberi pakaian yang bagus-bagus dan indah-indah.

Ketika dia masuk Islam, ibunya marah-marah dan tidak mau menerimanya lagi. Mash’ab diusir dari rumahnya. Ibunya pun pernah mogok makan dan hanya mau makan bila Mash’ab bin Umair kembali lagi memeluk agamanya semula. Tetapi Mash’ab bin Umair bertahan dan akhirnya ibunya menghentikan mogok makannya. Mash’ab bin Umair sangat mencintai ibunya tetapi dia lebih mencintai Islam. Dia mendahulukan kesetia-an kepada Islam dari pada kesetiaan kepada keluarganya.

Umar bin Khathab meriwayatkan kisah Mash’ab dalam sebuah hadits sebagai berikut; “Pada suatu hari, Rasulullah saw melihat Mash’ab bin Umair di Madinah. Mash’ab datang dengan pakaian yang compang-camping, sebagian pakaiannya dijahit dari kulit domba. Rasul menangis, lalu ia bersabda kepada para sahabatnya, “Lihat, itu orang yang telah Allah sinari hatinya. Dahulu aku pernah melihatnya berada di tengah orang tuanya yang memberinya makanan yang lezat, minuman yang enak, dan pakaian yang bagus. Kemudian kecinta-an kepada Allah dan Rasul-Nya membawanya kepada keadaan yang kalian lihat.”

Mash’ab bin Umair diutus oleh Rasulullah saw sebagai mubaligh di Madinah, atas permintaan orang-orang Anshar pada Bai’at Aqabah yang pertama. Mash’ab berdakwah dengan senyuman. Rasulullah saw tahu, orang-orang Arab itu jarang ada yang ramah dan mereka sukar sekali untuk tersenyum. Sampai Nabi pernah mengingat-kan kepada mereka berkali-kali, “Senyum kepada saudaramu itu shadaqah.” Mash’ab bin Umair menaklukkan hati orang dengan senyuman dan keramahannya.

Berikut ini adalah kisah sebagian dakwahnya di Madinah; Orang yang pertama masuk Islam di tangan Mash’ab bin Umair adalah As’ad bin Jurarah. Mash’ab bin Umair tinggal bersamanya. Kedua orang itu men-datangi satu kabilah di kalangan penduduk Madinah yang sangat berpengaruh, untuk berdakwah. Pemimpin kabilah itu adalah Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudair.

Mereka masuk melalui dinding Bani Zhafar. Dulu, setiap kabilah membatasi kampungnya dengan dinding-dinding. Semacam benteng yang mempunyai pintu gerbang. Begitupun dengan kota-kotanya. Kedua pemimpin kabilah itu masih musyrik. Ketika mendengar kedatangan Mash’ab dan As’ad, Sa’ad bin Mu’adz berkata pada Usaid bin Hudair, “La aban laka, mudah-mudahan kamu tidak punya bapak. Berangkatlah kamu menemui kedua orang itu yang sudah mendatangi perkampungan kita dan menipu orang-orang bodoh di kalangan kita. Sekira-nya dia tidak datang bersama As’ad bin Jurarah dan sekiranya kamu bukan merupa-kan keluarga As’ad bin Jurarah, aku sudah bunuh dia.”

Usaid bin Hudair lalu mengambil tombaknya untuk menemui kadua mubaligh itu. Ketika As’ad bin Jurarah melihat dia, dia berkata kepada Mash’ab bin Umair, “Inilah pemimpin kaum datang, dakwahi dia kepada Islam.” Mash’ab menjawab, “Kalau dia duduk, aku akan bicara dengan dia.”

Begitu Usaid bin Hudair tiba, ia langsung memaki-maki Mash’ab bin Umair. Mash’ab hanya tersenyum menghadapi makian tersebut. Usaid memaki, “Mau apa kalian datang kepada kami ini lalu menipu orang-orang bodoh di antara kami. Pergi! Kalau kalian masih memerlukan nafas kalian.”

Mash’ab bin Umair berkata, “Bagai-mana kalau anda duduk sebentar. Kita ngobrol-ngobrol. Kalau Engkau senang, Engkau terima. Kalau engkau tidak senang, Engkau dijauhkan dari apa yang tidak Engkau senangi.” Orang itu luluh melihat kebaikan hati Mash’ab bin Umair. Dia berkata, “Engkau benar.”

Kemudian Usaid meletakkan tombak-nya dan duduk bersama mereka. Mash’ab bin Umair lalu menerangkan tentang Islam. Ia membaca Al-Qur’an. Ketika melihat Usaid bin Hudair mendengarkan dengan penuh perhati-an, kedua mubaligh itu berkata, “Demi Allah aku sudah melihat di wajahnya keislaman, sebelum dia berbicara dan menunjukkan keramahan.”

Usaid bin Hudair bertanya, “Alangkah indahnya pembicaraan kamu itu. Kalau ada orang yang mau masuk Islam bagaimana caranya?” Keduanya berkata kepada Usaid, “Engkau mandi. Engkau bersuci. Bersihkan kedua pakaianmu, kemudian Engkau meng-ucapkan kalimat syahadat, setelah itu, Engkau shalat.”

Akhirnya Usaid bin Hudair berdiri. Ia mandi, membersihkan pakaiannya, kemudian dia mengucapkan syahadat dan salat dua rakaat. Usaid, yang diutus oleh kawannya Sa’ad bin Mu’adz untuk megusir mereka itu, malah masuk Islam dan berkata, “Sesungguh-nya di belakangku ada seorang tokoh. Jika tokoh itu ikut kepadamu, tidak ada seorang pun di antara kaumnya yang akan membatah-nya. Aku akan utus dia untuk menemui kamu sekarang, Sa’ad bin Mu’adz namanya.”

Usaid mengambil lagi tombaknya dan pergi menemui Sa’ad bin Mu’adz beserta kaumnya. Sa’ad sedang duduk di tengah-tengah kabilahnya. Ketika melihat Usaid datang, Sa’ad berkata, “Demi Allah! Usaid telah datang dengan wajah yang yang berbeda daripada ketika ia pergi tadi.” Saat Usaid duduk di tengah kelompok itu, Sa’ad bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?” Usaid pun menjawab, “Aku sudah berbicara dengan kedua orang itu. Dan Demi Allah, aku tidak melihat niat yang buruk pada mereka. Aku larang mereka untuk menemui kita, tapi mereka berkata, ‘Aku akan lakukan apa yang kalian kehendaki. Namun aku dengar Bani Haritsah sudah keluar untuk membunuh Ibnu Jurarah. Mereka tahu bahwa anak bibimu itu akan menyerang kamu, karena itu mereka akan membunuhnya’.”

Sa’ad bin Mu’adz marah. Usaid membohongi Sa’ad, supaya Sa’ad marah dan menemui Ibnu Jurarah karena kuatir Ibnu Jurarah akan diserang oleh Bani Haritsah. Sa’ad mengambil tombaknya, kemudian pergi menemui Mash’ab dan As’ad. Ketika Sa’ad melihat keduanya dalam keadaan tenang. Tahulah Sa’ad bahwa Usaid hanya mendorong dia supaya mendengarkan pembicaraan mereka.

Sa’ad berdiri dan memaki-maki. Seperti biasa, Mash’ab membalasnya dengan senyuman. Dia berkata kepada Asad bin Jurarah, “Yâ Abâ Umamah, sekiranya di antara kita ini tidak ada hubungan kekeluar-gaan, aku tidak akan sampai pada keadaan seperti sekarang ini.” Lalu Asad berkata kepada Mash’ab, “Ini sudah datang pemimpin yang diikuti oleh seluruh kaumnya di belakang. Jika ia mengikutimu, tidak seorang pun di antara kaumnya yang akan mem-bantahnya.”

Mash’ab dengan ramah mengajaknya duduk dan mendengarkan pembicaraannya. Sama seperti kepada Usaid, ia berkata, “Kalau engkau suka, engkau terimalah pembicaraan-ku. Tapi kalau engkau tidak suka, tinggalkan-lah apa yang tidak engkau sukai.” Kemudian Mash’ab pun duduk membaca Al-Qur’an. Singkat cerita, karena keramahan Mash’ab, Sa’ad bin Mu’adz akhirnya masuk Islam.

Dalam Bahasa Parsi, wajah yang ramah disebut hulu adapun wajah yang menakutkan disebut lulu. Saya pernah mendengar sebuah puisi Parsi sebagai berikut, “Orang-orang ‘Irfan memperkenalkan agama dengan hulu. Sedangkan para Fuqaha memperkenalkan agama dengan lulu.” Mash’ab bin Umair adalah orang yang memperkenalkan agama dengan wajah yang ramah. Orang yang mencaci maki tidak dilawan cacian dan makian. Malahan ia tersenyum, seakan-akan ia menikmati cacian itu. Dengan keramahannya, luluhlah hati orang-orang Anshar itu.

Usaid bin Hudair dan Sa’ad bin Mu’adz lalu menemui kaumnya. Sa’ad berkata kepada kaumnya, “Ya Bani Abdil Asyhal, bagaimana menurut kalian urusanku di tengah-tengah kalian?” Kaumnya menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami yang paling akrab diantara kami. Yang paling bagus pemikirannya. Kau adalah pemimpin yang paling bisa dipercaya.” Kemudian Sa’ad berkata, “Ketahuilah mulai saat ini, kalian, baik laki-laki maupun perempuan, haram berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Sa’ad ber-maksud untuk memutuskan hubungan tribalisme itu.

Berkat bantuan kedua orang ini, akhirnya Mash’ab dan Asad mendatangi seluruh perkampungan Anshar. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang tidak masuk Islam.
Kisah lain meriwayatkan Mash’ab pada suatu peristiwa di Perang Badar. Mash’ab bin Umair berada di pihak Rasulullah saw sementara keluarganya berada di pihak Musyrikin.
Seperti kita ketahui, pada Perang Badar orang Islam memetik kemenangan. Di antara tawanan yang berada di tangan kaum Muslimin adalah saudara Mash’ab bernama Abu Aziz Ibnu Umair. Mash’ab melewatinya dan melihat saudaranya tertawan. Abu Aziz adalah pemegang bendera Kaum Musyrikin. Ketika saudaranya menegur dan meminta pertolongannya, Mash’ab bin Umair berbicara kepada orang Anshar yang menawan saudara-nya, “Pegang tawanan ini kuat-kuat. Ibunya orang kaya. Mudah-mudahan ibunya bisa menebus dia dengan harga yang mahal”.

“Saudaraku, apakah ini nasihatmu kepadaku?” tanya saudaranya kebingungan. Mash’ab berkata kepada Abu Aziz sambil menunjuk orang Anshar yang menawannya, “Dia (orang Anshar) adalah saudaraku yang lebih dekat denganku dari pada kamu. Dia adalah saudaraku selainmu”.

Jadi, menurut Mash’ab, saudara seagama itu jauh lebih dekat dari pada saudara sedarah.
Tarikh yang saya kutip ini mengakhiri kisah Mash’ab bin Umair dengan Surat Hud ayat 46 yang mengisahkan Doa Nabi Nuh, ketika ia ingin menolong anaknya yang tenggelam. Nuh berdoa, “Tuhanku, ini anakku termasuk keluargaku. Dan janji-Mu benar, Engkaulah hakim yang paling bijaksana.” Lalu Tuhan berfirman, “Hai Nuh, dia bukan dari keluargamu. Dia adalah amal yang tidak shaleh. Dan janganlah kamu minta kepadaku yang kamu tidak punya ilmunya. Aku nasihati kamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

.

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang – orang Anshar yang telah beriman dan baiat kepada Rasulullah di bukti Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.  Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian Aqabah, kaum muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka , oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah saw. atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah -kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci Allah, menyampaikan kalimatullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiga-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad saw. – yang diserukan beribadah kepada-Nya – oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan Sa’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati ”Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nurani sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengarkan dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyrakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaidpun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, ”Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab, ”Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Secepatnya berita itu pun tersiar. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. dan setelah mendengarkan uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.

Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya bertanya sesama mereka, “Jika Usain bin Hudlair, Saad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!”

—oo—

Demikian duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisypun beroleh pelajaran pahit yang menghabisakan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun berisap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggilah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, merek meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan kaum muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, atau tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membatasi Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuhpun menunjukkan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

Mush’ab bi Umair menyadari suasana gawat ini, Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah saw. dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara.

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mushab bertempur laksana pasukan tentara besar. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang yang menginjak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah.

Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceritakan saat-saat terakhir kapahlawanan besar Mush’ab bin Umar.

Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seseorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangan-nya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul” Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuhpun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraih ke dada sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh”.

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera. ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan. Disaat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Quran yang selalu dibaca orang.

—oo—

Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia. Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

Wahai Mush’ab cukuplah bagimu Ar-Raman.
Namamu harum semerbak dalam kehidupan.

—oo—

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai ditempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuran dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul ‘Urrat:

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw dengan mengharap keridlaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Diantara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun juga. Diantaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain burdah. Andainya ditaruh diatas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah saw, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir!

Betapapun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para sahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubungi dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat :


Diantara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.

(Q.S. 33. Al-Ahzab : 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda :

Ketika di Mekah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masi, hanya dibalut sehelai burdah.

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak diatanya, Rasulullah berseru :

Sungguh Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada disisi Allah

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, sabdanya,

Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslimpun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.

Salam atasmu wahai Mush’ab…….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada….

Mash’ab bin Umair lebih mencintai Islam dari pada keluarganya. Dia meninggal dunia pada perang Uhud dan Rasulullah saw pun menangisi kepergiannya.

Saya akhiri kisah Mash’ab bin Umair ini dengan satu peristiwa ketika Rasulullah saw pulang dari Uhud memasuki Madinah. Beliau disambut oleh perempuan-perempuan yang menangisi kematian keluarga mereka. Di antaranya ialah Zainab binti Jahasy. Begitu Rasulullah saw melihat Zainab, ia berkata, “Bersabarlah engkau Zainab.” Zainab ber-tanya, “Siapa yang meninggal itu, Ya Rasulullah?” “Saudaramu” jawab Rasul. “Inallilâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” jawab Zainab. Kemudian Rasulullah kembali berkata, “Bersabarlah engkau.” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” tanya Zainab. “Untuk Hamzah bin Abdul Muthalib,” jawab Rasul. Kembali Zainab berkata, “Innalillâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” Untuk ketiga kalinya, Rasulullah saw masih berkata, “Bersabarlah engkau, Hai Zainab” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” Zainab bertanya cemas. Rasul menjawab, “Untuk suamimu, Mash’ab bin Umair.” Barulah Zainab berteriak, “Duhai derita, duhai kesedihan!”

Ketika Mash’ab meninggal, dia masih memakai pakaiannya yang compang-camping itu. Rasulullah saw menangis dan berkata di hadapan jenazah Mash’ab, “Semoga Allah menyayangimu, Hai Mash’ab bin Umair. Aku sudah melihatmu di Mekkah dulu. Dan aku tak pernah melihat orang yang pakaiannya sebagus pakaian kamu. Yang kesenangannya sebaik kamu. Tapi sekarang, engkau dalam keadaan compang-camping dan tertutup debu”.
Rasulullah saw lalu menguburkan-nya. Saudara Mash’ab, Abu Rum, turun di kuburannya. Begitu juga Amir bin Rabiah Al-Anzi.

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair. Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang yang membenarkan janji yang sudah mereka berikan kepada Allah”.

Itulah Mash’ab bin Umair, yang mendahulukan kesetiaan kepada Islam di atas kesetiaan kepada kelompoknya, kepada keluarganya, dan kepada suku bangsanya. Mash’ab bin Umair adalah contoh orang yang mendahulukan Islam dengan keramahan, dengan akhlak yang baik, dan dengan senyuman.

Dialah orang yang membawa Islam dengan Bunga Mawar, tapi tidak dengan durinya. Sementara banyak orang yang menyebarkan Mawar, tidak dengan menyebar-kan harumnya, melainkan durinya. Kalau kita sebarkan Islam dengan duri, kita akan banyak menyakiti orang. Tapi kalau kita sebarkan Islam dengan harumnya, Insya Allah, kita akan menarik mereka kepada Islam.

sahabat Nabi SAW yang dipuji Al Quran dan diakui syi’ah : Mash’ab bin Umair

Mush’ab bin ‘Umayr

Mush’ab bin ‘Umayr (Arabمصعب بن عمير) adalah salah seorang sahabat nabi Nabi Muhammad. Mush’ab berhasil memasukan ajaran Islam kepada Usayd bin Hudhayr dan sahabat Usayd yang bernama Sa’ad bin Mu’adz.

Biografi

Mus’ab bin Umair berasal dari keturunan bangsawan dari suku Quraisy. Ia adalah salah satu sahabat yang pertama dalam memeluk Islamsetelah Nabi Muhammad saw diangkat sebagai Nabi dan menyebarkan agama Islam.

Mus’ab bin Umair diutus oleh Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Madinah, setelah orang-orang dari Madinah datang menyatakan keislamannya. Ia di Madinah hingga Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Mus’ab bin Umair mati syahid diPertempuran Uhud.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (ll)

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair.

 Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, 

surat Al Ahzab ayat 23 :

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur . Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya )”. (QS. Al Ahzab: 23)

Setiap kita sedang berjalan dalam rangka menepati janji kita kepada Allah. Diantara kita ada yang meninggal duluan, jika kita meninggal dalam berjuang dan menepati janji, maka itu adalah hal bagus dan indah. Ada diantara kita yang menunggu kapan matinya, dan itu tidaklah masalah, selama tidak merubah arah jalan kita dan tetap berpegang teguh pada komitnen dan tetap berjuang menepati janji itu.

.

Mash’ab pada suatu peristiwa  di PERANG BADAR berada di pihak Rasulullah SAW sementara keluarganya ada yang berada di pihak kemusyrikan. Turunlah QS. Mujadilah ayat 22.  Allah Subhanahu wata’ala berfirman :


لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya :

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw melaksanakan ajaran reformasi Rasul dalam kehidupan mereka dengan cara meninggalkan kesetiaan mereka kepada kelompok menuju kesetiaan kepada Islam.

Salah satu contoh yang paling baik untuk menjelaskan hal itu adalah Mash’ab bin Umair, salah seorang wisudawan madrasah Rasulullah. Riwayat singkatnya sebagai berikut; Bapaknya adalah Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Abdi Dar bin Qusyaiy bin Kilab. Dari jalur kakeknya, Mash’ab bersambung dengan Rasulullah saw.

Mash’ab bin Umair adalah seorang pemuda Mekkah yang terkenal sebagai remaja berwajah tampan, tegap, dan murah senyum. Dia termasuk Assâbiqun fîl Islâm. Ia bergelar Abu Muhammad sedangkan laqabnya adalah Mash’ab Al-Khair, Mash’ab Si Baik.

Mash’ab termasuk salah seorang yang hijrah ke Habsyi. Nabi saw mengutusnya sebagai mubaligh, mu’alim, dan mursyid ke Madinah. Berkat dakwah Mash’ab bin Umair, banyak kabilah Anshar yang masuk Islam. Dia ikut bersama Nabi dalam perang Badar. Pada perang Uhud, Nabi memberinya bendera pasukan dan ia pun gugur sebagai seorang syuhada di Perang Uhud

.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika kaum itu (orang-orang Madinah) hendak kembali, Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin ‘Umair agar menemani mereka. Dia diperintah Rasul agar membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada mereka.”

Setibanya di Madinah, beliau tinggal di rumah Sa’ad bin Zurarah. Selama di Madinah, kesehariannya diisi dengan mengajak para penduduknya untuk masuk Islam dan membacakan al-Quran kepada mereka secara door to door. Hasilnya, seorang demi seorang dari mereka bersyahadat.

Kesuksesan Mush’ab dalam mengislamkan penduduk Madinah bikin gerah Sa’ad bin Muadz, pemuka kaum bani ‘Abd al-Asyhal di Madinah. Sa’ad makin benci dengan Mush’ab ketika sepupunya, Usaid bin Hudhair, yang disuruh untuk menegur Mushab malah ikut masuk Islam. Sa’ad bergegas menemui Mushab. Di hadapan Mushab dan As’ad, Sa’ad ngomel-ngomel. Tapi apa respon Mushab?

“Ataukah Tuan berkenan duduk, lalu mendengarkan,” ajak Mush’ab pada Sa’ad dengan kata-kata yang halus. “Jika Tuan meridai perkara [yang hendak saya paparkan] ini dan Tuan menyukainya, Tuan bisa menerimanya. Jika Tuan membencinya, kami menyingkir darimu yang memang Tuan membencinya.”

“Ya, saya menerima. Itu adil,” jawab Sa’ad. Mush’ab menatapnya sejenak dengan muka manis, lalu memaparkan Islam dan membacakan al-Qur’an kepadanya. Sa’ad bertanya kepada keduanya, “Apa yang kalian lakukan ketika masuk Islam dan masuk agama ini?”

“Mandi dan sucikan diri dan pakainmu, kemudian bacalah kesaksian yang haq, lalu salatlah dua rakaat,” jelas Mush’ab dan As’ad.

Sa’ad berdiri, lalu mandi dan menyucikan pakaiannya, kemudian membaca syahadat dan salat dua rakaat, kemudian segera menuju kaumnya. Ketika sudah tiba Sa’ad berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya ucapan kaum pria dan wanita kalian terhadapku adalah haram hingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Selang beberapa waktu, Mush’ab dan As’ad berkata, “Demi Allah, semenjak itu di rumah bani ‘Abd al-Asyhal tidak satupun laki-laki dan wanita kecuali muslim.”

Dalam waktu satu tahun, Mush’ab berhasil membalik kekufuran di Madinah, dari keberhalaan yang bodoh dan masya’ir (perasaan-perasaan) yang salah menjadi agama tauhid dan iman serta masya’ir Islam. Gimana dengan kita? Kita bisa seperti Mush’ab asal mau tetep semangat untuk ngaji dan dakwah. Oke?

Pada umumnya, orang-orang yang masuk Islam itu kebanyakan miskin, para mustadh’afin yang berasal dari keluarga sengsara, kecuali Mash’ab bin Umair. Mash’ab adalah anak seorang keluarga elit. Orang tuanya kaya raya. Ibunya sangat sayang kepadanya sehingga dia selalu diberi pakaian yang bagus-bagus dan indah-indah.

Ketika dia masuk Islam, ibunya marah-marah dan tidak mau menerimanya lagi. Mash’ab diusir dari rumahnya. Ibunya pun pernah mogok makan dan hanya mau makan bila Mash’ab bin Umair kembali lagi memeluk agamanya semula. Tetapi Mash’ab bin Umair bertahan dan akhirnya ibunya menghentikan mogok makannya. Mash’ab bin Umair sangat mencintai ibunya tetapi dia lebih mencintai Islam. Dia mendahulukan kesetia-an kepada Islam dari pada kesetiaan kepada keluarganya.

Umar bin Khathab meriwayatkan kisah Mash’ab dalam sebuah hadits sebagai berikut; “Pada suatu hari, Rasulullah saw melihat Mash’ab bin Umair di Madinah. Mash’ab datang dengan pakaian yang compang-camping, sebagian pakaiannya dijahit dari kulit domba. Rasul menangis, lalu ia bersabda kepada para sahabatnya, “Lihat, itu orang yang telah Allah sinari hatinya. Dahulu aku pernah melihatnya berada di tengah orang tuanya yang memberinya makanan yang lezat, minuman yang enak, dan pakaian yang bagus. Kemudian kecinta-an kepada Allah dan Rasul-Nya membawanya kepada keadaan yang kalian lihat.”

Mash’ab bin Umair diutus oleh Rasulullah saw sebagai mubaligh di Madinah, atas permintaan orang-orang Anshar pada Bai’at Aqabah yang pertama. Mash’ab berdakwah dengan senyuman. Rasulullah saw tahu, orang-orang Arab itu jarang ada yang ramah dan mereka sukar sekali untuk tersenyum. Sampai Nabi pernah mengingat-kan kepada mereka berkali-kali, “Senyum kepada saudaramu itu shadaqah.” Mash’ab bin Umair menaklukkan hati orang dengan senyuman dan keramahannya.

Berikut ini adalah kisah sebagian dakwahnya di Madinah; Orang yang pertama masuk Islam di tangan Mash’ab bin Umair adalah As’ad bin Jurarah. Mash’ab bin Umair tinggal bersamanya. Kedua orang itu men-datangi satu kabilah di kalangan penduduk Madinah yang sangat berpengaruh, untuk berdakwah. Pemimpin kabilah itu adalah Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudair.

Mereka masuk melalui dinding Bani Zhafar. Dulu, setiap kabilah membatasi kampungnya dengan dinding-dinding. Semacam benteng yang mempunyai pintu gerbang. Begitupun dengan kota-kotanya. Kedua pemimpin kabilah itu masih musyrik. Ketika mendengar kedatangan Mash’ab dan As’ad, Sa’ad bin Mu’adz berkata pada Usaid bin Hudair, “La aban laka, mudah-mudahan kamu tidak punya bapak. Berangkatlah kamu menemui kedua orang itu yang sudah mendatangi perkampungan kita dan menipu orang-orang bodoh di kalangan kita. Sekira-nya dia tidak datang bersama As’ad bin Jurarah dan sekiranya kamu bukan merupa-kan keluarga As’ad bin Jurarah, aku sudah bunuh dia.”

Usaid bin Hudair lalu mengambil tombaknya untuk menemui kadua mubaligh itu. Ketika As’ad bin Jurarah melihat dia, dia berkata kepada Mash’ab bin Umair, “Inilah pemimpin kaum datang, dakwahi dia kepada Islam.” Mash’ab menjawab, “Kalau dia duduk, aku akan bicara dengan dia.”

Begitu Usaid bin Hudair tiba, ia langsung memaki-maki Mash’ab bin Umair. Mash’ab hanya tersenyum menghadapi makian tersebut. Usaid memaki, “Mau apa kalian datang kepada kami ini lalu menipu orang-orang bodoh di antara kami. Pergi! Kalau kalian masih memerlukan nafas kalian.”

Mash’ab bin Umair berkata, “Bagai-mana kalau anda duduk sebentar. Kita ngobrol-ngobrol. Kalau Engkau senang, Engkau terima. Kalau engkau tidak senang, Engkau dijauhkan dari apa yang tidak Engkau senangi.” Orang itu luluh melihat kebaikan hati Mash’ab bin Umair. Dia berkata, “Engkau benar.”

Kemudian Usaid meletakkan tombak-nya dan duduk bersama mereka. Mash’ab bin Umair lalu menerangkan tentang Islam. Ia membaca Al-Qur’an. Ketika melihat Usaid bin Hudair mendengarkan dengan penuh perhati-an, kedua mubaligh itu berkata, “Demi Allah aku sudah melihat di wajahnya keislaman, sebelum dia berbicara dan menunjukkan keramahan.”

Usaid bin Hudair bertanya, “Alangkah indahnya pembicaraan kamu itu. Kalau ada orang yang mau masuk Islam bagaimana caranya?” Keduanya berkata kepada Usaid, “Engkau mandi. Engkau bersuci. Bersihkan kedua pakaianmu, kemudian Engkau meng-ucapkan kalimat syahadat, setelah itu, Engkau shalat.”

Akhirnya Usaid bin Hudair berdiri. Ia mandi, membersihkan pakaiannya, kemudian dia mengucapkan syahadat dan salat dua rakaat. Usaid, yang diutus oleh kawannya Sa’ad bin Mu’adz untuk megusir mereka itu, malah masuk Islam dan berkata, “Sesungguh-nya di belakangku ada seorang tokoh. Jika tokoh itu ikut kepadamu, tidak ada seorang pun di antara kaumnya yang akan membatah-nya. Aku akan utus dia untuk menemui kamu sekarang, Sa’ad bin Mu’adz namanya.”

Usaid mengambil lagi tombaknya dan pergi menemui Sa’ad bin Mu’adz beserta kaumnya. Sa’ad sedang duduk di tengah-tengah kabilahnya. Ketika melihat Usaid datang, Sa’ad berkata, “Demi Allah! Usaid telah datang dengan wajah yang yang berbeda daripada ketika ia pergi tadi.” Saat Usaid duduk di tengah kelompok itu, Sa’ad bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?” Usaid pun menjawab, “Aku sudah berbicara dengan kedua orang itu. Dan Demi Allah, aku tidak melihat niat yang buruk pada mereka. Aku larang mereka untuk menemui kita, tapi mereka berkata, ‘Aku akan lakukan apa yang kalian kehendaki. Namun aku dengar Bani Haritsah sudah keluar untuk membunuh Ibnu Jurarah. Mereka tahu bahwa anak bibimu itu akan menyerang kamu, karena itu mereka akan membunuhnya’.”

Sa’ad bin Mu’adz marah. Usaid membohongi Sa’ad, supaya Sa’ad marah dan menemui Ibnu Jurarah karena kuatir Ibnu Jurarah akan diserang oleh Bani Haritsah. Sa’ad mengambil tombaknya, kemudian pergi menemui Mash’ab dan As’ad. Ketika Sa’ad melihat keduanya dalam keadaan tenang. Tahulah Sa’ad bahwa Usaid hanya mendorong dia supaya mendengarkan pembicaraan mereka.

Sa’ad berdiri dan memaki-maki. Seperti biasa, Mash’ab membalasnya dengan senyuman. Dia berkata kepada Asad bin Jurarah, “Yâ Abâ Umamah, sekiranya di antara kita ini tidak ada hubungan kekeluar-gaan, aku tidak akan sampai pada keadaan seperti sekarang ini.” Lalu Asad berkata kepada Mash’ab, “Ini sudah datang pemimpin yang diikuti oleh seluruh kaumnya di belakang. Jika ia mengikutimu, tidak seorang pun di antara kaumnya yang akan mem-bantahnya.”

Mash’ab dengan ramah mengajaknya duduk dan mendengarkan pembicaraannya. Sama seperti kepada Usaid, ia berkata, “Kalau engkau suka, engkau terimalah pembicaraan-ku. Tapi kalau engkau tidak suka, tinggalkan-lah apa yang tidak engkau sukai.” Kemudian Mash’ab pun duduk membaca Al-Qur’an. Singkat cerita, karena keramahan Mash’ab, Sa’ad bin Mu’adz akhirnya masuk Islam.

Dalam Bahasa Parsi, wajah yang ramah disebut hulu adapun wajah yang menakutkan disebut lulu. Saya pernah mendengar sebuah puisi Parsi sebagai berikut, “Orang-orang ‘Irfan memperkenalkan agama dengan hulu. Sedangkan para Fuqaha memperkenalkan agama dengan lulu.” Mash’ab bin Umair adalah orang yang memperkenalkan agama dengan wajah yang ramah. Orang yang mencaci maki tidak dilawan cacian dan makian. Malahan ia tersenyum, seakan-akan ia menikmati cacian itu. Dengan keramahannya, luluhlah hati orang-orang Anshar itu.

Usaid bin Hudair dan Sa’ad bin Mu’adz lalu menemui kaumnya. Sa’ad berkata kepada kaumnya, “Ya Bani Abdil Asyhal, bagaimana menurut kalian urusanku di tengah-tengah kalian?” Kaumnya menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami yang paling akrab diantara kami. Yang paling bagus pemikirannya. Kau adalah pemimpin yang paling bisa dipercaya.” Kemudian Sa’ad berkata, “Ketahuilah mulai saat ini, kalian, baik laki-laki maupun perempuan, haram berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Sa’ad ber-maksud untuk memutuskan hubungan tribalisme itu.

Berkat bantuan kedua orang ini, akhirnya Mash’ab dan Asad mendatangi seluruh perkampungan Anshar. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang tidak masuk Islam.
Kisah lain meriwayatkan Mash’ab pada suatu peristiwa di Perang Badar. Mash’ab bin Umair berada di pihak Rasulullah saw sementara keluarganya berada di pihak Musyrikin.
Seperti kita ketahui, pada Perang Badar orang Islam memetik kemenangan. Di antara tawanan yang berada di tangan kaum Muslimin adalah saudara Mash’ab bernama Abu Aziz Ibnu Umair. Mash’ab melewatinya dan melihat saudaranya tertawan. Abu Aziz adalah pemegang bendera Kaum Musyrikin. Ketika saudaranya menegur dan meminta pertolongannya, Mash’ab bin Umair berbicara kepada orang Anshar yang menawan saudara-nya, “Pegang tawanan ini kuat-kuat. Ibunya orang kaya. Mudah-mudahan ibunya bisa menebus dia dengan harga yang mahal”.

“Saudaraku, apakah ini nasihatmu kepadaku?” tanya saudaranya kebingungan. Mash’ab berkata kepada Abu Aziz sambil menunjuk orang Anshar yang menawannya, “Dia (orang Anshar) adalah saudaraku yang lebih dekat denganku dari pada kamu. Dia adalah saudaraku selainmu”.

Jadi, menurut Mash’ab, saudara seagama itu jauh lebih dekat dari pada saudara sedarah.
Tarikh yang saya kutip ini mengakhiri kisah Mash’ab bin Umair dengan Surat Hud ayat 46 yang mengisahkan Doa Nabi Nuh, ketika ia ingin menolong anaknya yang tenggelam. Nuh berdoa, “Tuhanku, ini anakku termasuk keluargaku. Dan janji-Mu benar, Engkaulah hakim yang paling bijaksana.” Lalu Tuhan berfirman, “Hai Nuh, dia bukan dari keluargamu. Dia adalah amal yang tidak shaleh. Dan janganlah kamu minta kepadaku yang kamu tidak punya ilmunya. Aku nasihati kamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

.

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang – orang Anshar yang telah beriman dan baiat kepada Rasulullah di bukti Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.  Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian Aqabah, kaum muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka , oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah saw. atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah -kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci Allah, menyampaikan kalimatullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiga-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad saw. – yang diserukan beribadah kepada-Nya – oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan Sa’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati ”Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nurani sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengarkan dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyrakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaidpun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, ”Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab, ”Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Secepatnya berita itu pun tersiar. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. dan setelah mendengarkan uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.

Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya bertanya sesama mereka, “Jika Usain bin Hudlair, Saad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!”

—oo—

Demikian duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisypun beroleh pelajaran pahit yang menghabisakan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun berisap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggilah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, merek meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan kaum muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, atau tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membatasi Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuhpun menunjukkan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

Mush’ab bi Umair menyadari suasana gawat ini, Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah saw. dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara.

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mushab bertempur laksana pasukan tentara besar. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang yang menginjak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah.

Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceritakan saat-saat terakhir kapahlawanan besar Mush’ab bin Umar.

Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seseorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangan-nya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul” Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuhpun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraih ke dada sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh”.

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera. ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan. Disaat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Quran yang selalu dibaca orang.

—oo—

Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia. Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

Wahai Mush’ab cukuplah bagimu Ar-Raman.
Namamu harum semerbak dalam kehidupan.

—oo—

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai ditempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuran dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul ‘Urrat:

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw dengan mengharap keridlaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Diantara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun juga. Diantaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain burdah. Andainya ditaruh diatas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah saw, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir!

Betapapun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para sahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubungi dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat :


Diantara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.

(Q.S. 33. Al-Ahzab : 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda :

Ketika di Mekah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masi, hanya dibalut sehelai burdah.

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak diatanya, Rasulullah berseru :

Sungguh Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada disisi Allah

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, sabdanya,

Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslimpun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.

Salam atasmu wahai Mush’ab…….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada….

Mash’ab bin Umair lebih mencintai Islam dari pada keluarganya. Dia meninggal dunia pada perang Uhud dan Rasulullah saw pun menangisi kepergiannya.

Saya akhiri kisah Mash’ab bin Umair ini dengan satu peristiwa ketika Rasulullah saw pulang dari Uhud memasuki Madinah. Beliau disambut oleh perempuan-perempuan yang menangisi kematian keluarga mereka. Di antaranya ialah Zainab binti Jahasy. Begitu Rasulullah saw melihat Zainab, ia berkata, “Bersabarlah engkau Zainab.” Zainab ber-tanya, “Siapa yang meninggal itu, Ya Rasulullah?” “Saudaramu” jawab Rasul. “Inallilâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” jawab Zainab. Kemudian Rasulullah kembali berkata, “Bersabarlah engkau.” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” tanya Zainab. “Untuk Hamzah bin Abdul Muthalib,” jawab Rasul. Kembali Zainab berkata, “Innalillâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” Untuk ketiga kalinya, Rasulullah saw masih berkata, “Bersabarlah engkau, Hai Zainab” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” Zainab bertanya cemas. Rasul menjawab, “Untuk suamimu, Mash’ab bin Umair.” Barulah Zainab berteriak, “Duhai derita, duhai kesedihan!”

Ketika Mash’ab meninggal, dia masih memakai pakaiannya yang compang-camping itu. Rasulullah saw menangis dan berkata di hadapan jenazah Mash’ab, “Semoga Allah menyayangimu, Hai Mash’ab bin Umair. Aku sudah melihatmu di Mekkah dulu. Dan aku tak pernah melihat orang yang pakaiannya sebagus pakaian kamu. Yang kesenangannya sebaik kamu. Tapi sekarang, engkau dalam keadaan compang-camping dan tertutup debu”.
Rasulullah saw lalu menguburkan-nya. Saudara Mash’ab, Abu Rum, turun di kuburannya. Begitu juga Amir bin Rabiah Al-Anzi.

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair. Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang yang membenarkan janji yang sudah mereka berikan kepada Allah”.

Itulah Mash’ab bin Umair, yang mendahulukan kesetiaan kepada Islam di atas kesetiaan kepada kelompoknya, kepada keluarganya, dan kepada suku bangsanya. Mash’ab bin Umair adalah contoh orang yang mendahulukan Islam dengan keramahan, dengan akhlak yang baik, dan dengan senyuman.

Dialah orang yang membawa Islam dengan Bunga Mawar, tapi tidak dengan durinya. Sementara banyak orang yang menyebarkan Mawar, tidak dengan menyebar-kan harumnya, melainkan durinya. Kalau kita sebarkan Islam dengan duri, kita akan banyak menyakiti orang. Tapi kalau kita sebarkan Islam dengan harumnya, Insya Allah, kita akan menarik mereka kepada Islam.

Syiah Memuji Sahabat (1)

QS. Al-Muzzammil ayat 20

bismillah
Artinya :
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penjelasan Syi’ah : 

Ayat ini turun berkaitan dengan Utsman bin Mazh’un. Beliau termasuk pada “segolongan/tahifah dalam Qs. Al Muzammil ayat 20

Aisyah bertutur : “Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, shalat malam, terus menerus”. Aku ceritakan hal itu kepada Nabi SAW. Rasulullah menemui Utsman dan berkata , “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh  ? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum hukumnya”

.

Q.S. Al- Maidah ayat 93

laysa ‘alaa alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu idzaa maa ittaqaw waaamanuu wa’amiluu alshshaalihaati tsumma ittaqaw waaamanuu tsumma ittaqaw wa-ahsanuu waallaahu yuhibbu almuhsiniina
.
93. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Penjelasan Syi’ah : Menurut Ibn ‘Abd Al Birr, sehubungan dengan perilaku Utsman dan sahabat sahabat yang ingin terus menerus beribadah maka turunlah Qs. Al Maidah ayat 93 (Al Isti’ab 3:186).

bismillahUtsman bin Maz`un (wafat 2 H/624 M) (Bahasa Arab عثمان بن مظعون) adalah salah satu sahabat nabi. Ia termasuk cendekiawan Arab di zaman jahiliyah, sempat mengikuti Perang Badardan meninggal dunia sekembalinya dari perang tersebut. Sepeninggal Utsman, Muhammad menciumnya sambil mengalirkan air mata. Utsman inilah sahabat pertama yang meninggal diMadinah.

Utsman inilah yang pernah berniat membujang dan meninggalkan keduniawian, akan tetapi Muhammad melarangnya dari niat tersebut. Kemudian Utsman bin Mazh’un menikah denganKhawlah binti Hakim.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (1)

REFORMASI Agung kedua yang dilakukan Rasulullah adalah dengan mengubah kesetiaan kepada kelompok menjadi kesetiaan kepada Islam. Sekarang saya ingin memberikan contoh keberhasilan reformasi kedua itu melalui kehidupan beberapa sahabat yang lulus dari Madrasah Rasulullah saw. Tidak semua sahabat lulus dari Madrasah Rasulullah. Ada juga sahabat yang diskors selama tiga bulan dan semua sahabat-sahabat Nabi yang lain dilarang berbicara dengan dia. Sampai sahabat Nabi itu kemudian lari ke gunung, bertaubat siang dan malam.

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw, anehnya, banyak yang tidak kita kenal. Salah seorang tokoh yang tidak begitu kita kenal adalah Utsman bin Mazh’un, dia dikuburkan di Baqi. Bapaknya adalah Mazh’un bin Wahab bin Hudzafah bin Jumuh Al-Quraisyi. Sedangkan Ibunya ialah Suhailah binti Al-Anbas bin Ahban bin Khudzafah bin Jumuh.

Utsman masuk Islam beserta seluruh keluarganya. Dia adalah orang ketigabelas yang masuk Islam. Dia sangat rajin beribadah. Ia pun hijrah dua kali ke Habsyi. Dia ikut berperang di Badar bersama Rasulullah saw. Dia meninggal dua setengah tahun setelah Hijrah. Nabi menguburkannya di Baqi dan memberi tanda di kuburan Utsman dengan batu. Nabi sering menziarahi kuburannya. Hal ini sekaligus merupakan dalil bahwa ziarah ke kubur itu ialah sunnah Rasulullah saw. Kelak, salah seorang putera Utsman syahid pada hari Yamanah, ketika kelompok Musailamah Al-Kadzab melakukan perlawanan.

Kesetiaan Utsman bin Mazh’un kepada Allah dan Rasul-Nya lebih tinggi daripada kesetiaannya kepada yang lain. Ketika orang-orang Islam dikejar-kejar dan dianiaya, Utsman hijrah ke Habsy beserta seluruh keluarganya. Seperti kita ketahui, ‘Amr bin ‘Ash menyusul ke Habsyi dan meminta Utsman supaya kembali lagi ke Mekkah. ‘Amr bin ‘Ash juga meminta kepada Raja Habsyi supaya tidak menerima umat Islam di negeri itu dan mengembalikannya ke Mekkah.

Ketika Utsman bin Mazh’un kembali dari Habsyi ke Mekkah, penindasan masih berlangsung. Orang-orang Islam masih disiksa dan dianiaya. Dia menghadapi ancaman terhadap dirinya dan keluarganya. Akhirnya dia mencari perlindungan kepada keluarga Al-Walid bin Mughirah, seorang penyair yang sejak dulu dekat dengan Utsman.

Pada awalnya, Utsman bin Mazh’un masuk Islam karena rasa malu. Rasulullah saw sering berdakwah kepadanya dan berulang kali mengajak Utsman bin Mazh’un masuk Islam. Utsman pernah berkata, “Aku ini masuk Islam karena malu saja. Rasulullah berulang kali mengajak aku untuk masuk Islam. Waktu itu Islam belum ada dalam hatiku. Sampai suatu hari aku sedang bersama Rasulullah, tiba-tiba Rasul memandang ke langit. Seakan-akan beliau sedang memahami sesuatu. Setelah Rasul merenung, aku bertanya kepada Rasul tentang apa yang terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Allah menyuruh kamu untuk berbuat baik dan memberikan hak kepada keluargamu. Dan Allah melarang kamu dari keburukan dan kemungkaran.” (QS Al-Nahl 90).

“Waktu itu, menetaplah Islam dalam hatiku. Itulah saatnya aku masuk Islam yang sungguh-sungguh, karena aku tersentuh oleh ayat yang indah itu. Lalu aku datangi paman Nabi, Abu Thalib, dan aku kabarkan ke-islamanku. Beliau memberi nasehat, “Ya Ahli Quraisy, ikuti Muhammad, nanti kamu mendapat petunjuk. Karena Muhammad tidak memerintah kecuali kepada akhlak yang mulia.”

“Kemudian aku datangi Walid bin Mughirah, aku bacakan ayat itu dan Mughirah pun terpesona. Dia berkata, “Sungguh dalam ayat-ayat itu ada kemanisan-nya. Di atasnya juga ada keindahannya. Pada puncaknya ada buahnya. Dan di bawahnya rimbun. Ini bukan ucapan manusia. Kalau itu ucapan Muhammad, alangkah bagusnya ucapan Muhammad itu. Dan kalau itu ucapan Tuhannya, alangkah bagusnya ucapan Tuhannya itu”.

Walid bin Mughirah memang dekat dengan Utsman bin Mazh’un, meskipun dia tidak masuk Islam. Malahan ia termasuk dedengkot kekufuran. Tapi kepada Walid bin Mughirah, Utsman bin Mazh’un berlindung. Dan Walid bin Mughirah melindungi dia. Sehingga dia tidak diganggu oleh orang-orang kafir. Sementara orang-orang Islam yang lain menderita, Utsman bin Mazh’un ber-senang-senang di bawah perlindungan Walid bin Mughirah.

Utsman berkata, “Demi Allah, pagi dan soreku tentram dalam perlindungan seseorang yang musyrik. Sedangkan sahabat-sahabatku dan teman seagamaku sekarang menderita barbagai bala dan kesulitan karena Allah. Itu semua tidak menimpaku. Sungguh keadaanku ini adalah sebuah kekurangan yang besar, sebuah aib besar untuk diriku.”

Kemudian Utsman bin Mazh’un datang menemui Walid bin Mughirah, “Wahai Abâ ‘Abdi Syam, sudah selesai sekarang perlindunganmu itu. Aku kembalikan perlindunganmu itu.” Walid menjawab, “Kenapa kau kembalikan perlindungan itu, hai anak saudaraku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?” “Tidak,” jawab Utsman, “bukan karena itu. Tapi aku ingin memilih perlindungan Allah dan aku tidak ingin meminta perlindungan kepada selain Dia.” Walid berkata, “Kalau begitu, berangkatlah kamu ke mesjid dan umumkan terang-terangan bahwa kamu sudah menolak perlindunganku.” Keduanya pun lalu berangkat ke mesjid. Di sana Walid meng-umumkan, “Ini Utsman, dia menolak perlindunganku.” Utsman mengatakan, “Benar apa yang dia katakan dan dia sudah melindungi aku dengan sebaik-baiknya. Tapi aku lebih senang untuk berlindung kepada Allah saja dan karena itu aku kembalikan perlindungan Walid.”

Pada waktu itu datang rombongan tokoh-tokoh Quraisy, salah seorang di antaranya ialah Walid bin Rabiah bin Malik bin Ja’far bin Kilab dari Bani Kilab yang juga duduk di situ. Lalu ada seorang yang bernama Lubaib dari Bani Kilab yang ketika mendengar Utsman bin Mazh’un telah melepaskan perlindungan Walid bin Mughirah, dia membacakan sebuah syair, “Sungguh segala sesuatu selain Allah itu akhirnya jadi bathil.” “Shadaqta. Kamu benar”, kata Utsman. Kemudian Lubaib meneruskan syairnya, “Semua nikmat akhirnya akan berakhir juga.” Maksud Lubaib, perlindungan Mughirah itu sekarang berakhir semua. Utsman berkata, “Kamu dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah berakhir.” Lalu Lubaib berteriak, “Hai Quraisy, lihatlah orang yang duduk bersama kalian ini! Dia termasuk orang-orang bodoh yang meninggalkan agama kita.” Utsman terus membantahnya, sampai Lubaib marah. Kemudian salah satu telinga dan mata Utsman dipukul, sehingga matanya lebam karena pukulan.

Walid bin Mughirah, yang dulu sebagai pelindung Utsman, berada di situ dan berkata, “Hai anak saudaraku, sekiranya mata kamu itu sehat, itu karena dulu kau berada pada perlindungan yang kokoh.” Walid bermaksud menyindir Utsman. Tapi Utsman berkata, “Demi Allah, mataku yang sehat ini sekarang iri dengan mata yang lain dalam membela agama Allah.” Utsman menantang untuk dipukul lagi. Walid berkata, “Mari ke sini, Hai anak saudaraku. Kalau engkau mau, aku akan melindungimu.” “Tidak,” kata Utsman.

Ketika matanya hampir pecah karena dipukul, dia kemudian melantunkan syair yang berisi pujian tentang matanya: “Jika mataku, karena mencari rido Tuhan, mendapat pukulan tangan mulhid, ateis sesat. Tuhan Maha Pengasih telah menggantinya dengan pahala. Siapa yang mendapat rido Rahman pasti bahagia.”

Utsman bin Mazh’un adalah contoh orang yang meninggalkan kesetian kepada kelompoknya karena kesetian kepada Allah. Dia meninggalkan tribalisme menuju Tauhidul Ummah, menuju Al-Ukhuwah Al-Islamiyyah, persaudaran Islam.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an turun berkenaan dengan Utsman bin Mazh’un. Utsman termasuk pada “segolongan” (thâifah) dalam ayat “Sesungguhnya Tuhanmu menge-tahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (Al-Muzammil 20). Menurut A’isyah: Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, salat malam, terus menerus.” Datang Nabi saw. aku sebutkan hal itu. Rasulullah saw menemui Utsman dan berkata: “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum-hukumnya.”

Menurut Ibn ‘Abd Al-Birr, sehubung-an dengan perilaku Utsman dan sahabat-sahabat yang ingin terus menerus ibadah, turun ayat Al-Maidah 93: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Isti’ab 3:186).

Rasulullah mengunjunginya ketika dia sakit. Ketika dia meninggal dunia, Rasulullah saw ikut menguburkan jenazah-nya. Rasulullah saw juga menangisi kepergian Utsman bin Mazh’un. Sejak zaman Jahiliyyah, Utsman bin Mazh’un memang berakhlak bagus, apalagi setelah dia masuk Islam. Nabi berkata, “Manusia itu seperti logam. Kalau di Zaman Jahiliyyah emas, setelah Islam pun emas juga.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan Utsman sebagai, “Orang yang paling banyak beribadah. Puasa di waktu siang hari dan shalat di malam hari. Dia menjauhi syahwat dan meninggalkan perempuan. Kemudian dia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk mengebiri dirinya tetapi Rasulullah melarangnya. Sejak Zaman Jahilliyah, dia tidak pernah minum khamar. Dia beralasan, “Aku tidak akan minum satu minuman yang menyebabkan akal pikiranku hilang”.

“Waktu Rasulullah saw ditinggalkan oleh putranya yang sangat dicintainya, yaitu Ibrahim yang meninggal di Madinah, Nabi mendampingkan kuburannya di samping kuburan Utsman bin Mazh’un. Beliau bersabda, “Kuburkan Ibrahim di dekat pendahulu kita yang saleh.”

Utsman bin Mazh’un

Utsman bin Mazh’un
.
Tatkala cahaya agama Islam mulai bersinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikannya di beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa gelintir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri ke dalam kelompok pengikut Rasulullah saw. Ia adalah di antara sahabat Nabi saw yang masuk Islam pada urutan keempat belas
.
Dalam kehidupannya, ia pun tidak luput dari ancaman kaum biadab golongan kuffar Qurasy yang tidak menyukai kedatangan dan keberadaan agama baru, Islam. Ia ditempa oleh berbagai derita dan siksa, sebagaimana dialami oleh orang-orang Mukmin lainnya, pengikut setia pembawa risalah baru yang lurus, Rasulullah saw.Ketika keselamatan golongan kecil dari orang-orang beriman dan teraniaya ini menjadi pilihan utama Rasulullah saw, dengan jalan menyuruhnya berhijrah ke Habsyi, maka dipilihlah seorang yang juga membawa puteranya bernama Saib, Utsman bin Mazh’un, memimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini.

Dalam perantauannya, Utsman bin Mazh’un tidak dapat melupakan rencana-rencana jahat mereka termasuk saudara sepupunya, Umayah bin Khalaf. Dihiburlah dirinya dengan menggubah sya’ir yang berisikan sindiran dan peringatan terhadap saudaranya itu, katanya:

“Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya
Kamu runcing ia setajam-tajamnya
Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia
Kamu celakan ornag-orang yang berwibawa
Ingatlah nanti saat bahaya datang menimpa
Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyat jelata”

Suatu ketika tersiarlah kabar bahwa orang-orang Qurasy telah beriman dan menganut agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dengan hati riang dan gembira, bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke Mekah. Mereka sungguh telah merindukan kampung halamannya.

Akan tetapi, baru saja mereka sampai di dekat kota, ternyata berita tentang masuknya kaum Quraisy telah beriman hanyalah berita bohong belaka. Mereka benar-benar merasa terpukul dengan kejadian dan tipuan ini. Betapa tidak, untuk pergi lagi perjalanan mereka sudah terlanjur sampai dekat kota Mekah. Sementara itu, orang-orang musyrik di kota Mekah telah mendengar datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar. Perangkap-perangkap pun mereka siapkan. Takdir telah menentukannya, datanglah barisan kaum Muslimin ke tampat itu.

Untungnya, nasib baik masih menyertai Utsman bin Mazh’un sebagai pemimpin rombongan kala itu. Perlindungan ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi Arab yang memiliki kekudusan dan sangat dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan salah seorang pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh, hingga darahnya tidak boleh ditumpahkan. Hanya sebagian kecil yang dapat masuk memperoleh perlindungan itu. Termasuk di antaranya adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah. Ia pun selamat hingga masuk ke kota Mekah.

Di tengah keberadaan kaum Muslimin di Mekah yang dilanda kecemasan dan ketakutan karena perlakuan orang-orang musyrik, Utsman bin Mazh’un, seorang yang telah ditempa Al-Qur’an dan didikan langsung dari Rasulullah saw, merasa prihatin dan dalam dirinya timbul perasaan berontak menyikapi keadaan itu. Utsman bin Mazh’un keluar dari rumah perlindungannya dengan tekad dan niat yang bulat.

Mari kita dengarkan cerita dari saksi mata yang melukiskan kejadian peristiwa itu!

“Ketika Utsman bin Mazh’un menyaksikan penderitaan yang dialami oleh para sahabat Rasulullah saw, sementara ia sendiri pulang pergi dengan aman dan tenteram disebabkan perlindungan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku ….’

“Lalu ia pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan Anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan Anda.’ ‘Mengapa, wahai keponakanku?’ ujar Walid. ‘Mungkin ada salah seorang anak buahku yang mengganggumu?’ ‘Tidak,’ ujar Utsman bin Mazh’un. ‘Hanya, saya ingin berlindung kepada Allah, dan tidak suka lagi kepada lain-Nya. Karenanya, pergilah Anda ke masjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti Anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku!”

“Lalu, pergilah mereka berdua ke masjid, maka kata Walid, ‘Utsman ini datang untuk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya.’ Ulas Utsman, ‘Betullah kiranya apa yang dikatakan itu …, ternyata ia seorang yang memegang teguh janjinya …, hanya keinginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta’ala.”

Setelah itu, Utsman bin Mazh’un pun berlalulah, sementara di salah satu gedung pertemuan kaum Quraisy, Lubaid bin Rabi’ah menggubah sebuah syair dan melagukannya di hadapan mereka, hingga Utsman bin Mazh’un menjadi tertarik karenanya dan ikut duduk bersama mereka. Kata Lubaid:

“Ingatlah bahwa apa juga yang terdapat di bawah kolong ini selain dari Allah adalah hampa.” “Benar, ucapan Anda itu,” kata Utsman bin Mazh’un menanggapinya. Kata Lubaid lagi, “Dan semua kesenangan, tak dapat tiada lenyap dan sirna.” “Itu dusta!” kata Utsman, “Karena kesenangan surga takkan lenyap.” Kata Lubaid:

“Hai orang-orang Qurasy! Demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagaimana sikap kalian kalau ini terjadi?” Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Si tolol ini telah meninggalkan agama kita, jadi tidak usah digubris, apa ucapannya!”

Utsman bin Mazh’un membalas ucapannya itu hingga di antara mereka terjadi pertengkaran. Dengan perasaan marah, orang itu tiba-tiba bangkit mendekati Utsman lalu meninjunya hingga tepat mengenai matanya, sementara Walid bin Mughirah masih berada di dekat itu dan menyaksikan apa yang terjadi. Maka katanya kepada Utsman, “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh!” Ujar Utsman, “Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syams, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu.” “Ayuhlah Utsman,” kata Walid pula, “Jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku!” “Terima kasih,” ujar Ibnu Mazh’un menolak tawaran itu. Ibnu Mazh’un kemudian meninggalkan tempat itu; Utsman pun pergi. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, dengan hati gembira, ia mendendangkan pantun:

“Andaikata dalam mencintai ridla Ilahi
Mataku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridhai-Nya pasti berbahagia
Hai ummat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku ‘kan tetap dalam agama Rasul, Muhammad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan agama yang haq
walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena.”

Utsman bin Mazh’un telah memperlihatkan kepada kita suatu teladan yang menunjukan pribadi utama yang harum semerbak disebabkan pendiriannya yang luar biasa.

Setelah tidak mendapatkan perlindungan dari Walid, Utsman bin Mazh’un mulai mendapat siksaan dari orang-orang Quraisy. Akan tetapi, karena ketabahan dan kekuatan jiwanya, penderitaannya dirasakan dengan ikhlas dan bahagia.

Suatu ketika Utsman bin Mazh’un hijrah pula ke Madinah, hingga tidak diusik lagi oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya. Ia berangkat ke Madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama yang dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka telah lulus dalam ujian yang telah mencapai puncak kesulitan dan kesukarannya.

Di Madinah, tempat hijrahnya yang baru itu, Utsman bin Mazh’un sangat tekun dan rajin beribadah: malam harinya bagai rahib dengan ibadah shalat dan dzikirnya; siang harinya bagai pahlawan dengan berjuang membela kebenaran. Dengan ketabahan dalam zuhud dan ketekunan dalam ibadahnya, ia mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupannya, baik siang maupun malam dialihnya menjadi shalat yang terus-menerus dan tasbih yang tiada henti-hentinya. Rupanya ia telah memperoleh dan merasakan kemanisan beribdah kepada Allah SWT.

Dengan berpakaian usang yang telah sobek-sobek; yang ditambalnya dengan kulit unta, suatu hari ia masuk masjid, sementara Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Rasulullah saw kemudian bertanya kepada para sahabatnya:

“Bagaimana pendapat Kalian, bila Kalian punya pakaian satu stel untuk pakaian pagi dan sore hari diganti dengan stelan lainnya … kemudian disiapkan di depan kalian suatu perangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya yang telah diangkat … serta kalian dapat menutupi rumah-rumah kediaman kalian sebagaimana Ka’bah bertutup ….?”

“Kami ingin hal itu dapat terjadi, wahai Rasulullah,” ujar mereka, “… hingga kita dapat mengalami hidup makmur dan bahagia!” Maka sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya hal itu telah terjadi, kemudian Kalian sekarang ini lebih baik dari keadaan Kalian waktu lalu.”

Meskipun Utsman bin Mazh’un ikut mendengarkan percakapan itu, ia tidak terpengaruh dengan jawaban para sahabat yang mengharapkan berbagai kecukupan. Ia tetap menjalani hidup dengan bersahaja dan menghindari sejauh-jauhnya kesenangan dunia, sampai-sampai kepada urusan menggauli isterinya hendak menahan diri. Rasulullah pun memanggil dan menyampaikan kepadanya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu.”

Utsman bin Mazh’un amat dicintai oleh Rasulullah saw. Tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat menuju tempat tujuannya, Rasulullah berada di sisinya. Beliau saw membungkuk dan mencium keningnya, seraya membasahi kedua pipinya dengan derai air mata. Wajah Utsman bin Mazh’un tampak bersinar gilang-gemilang saat kematiannya. Ia seorang Muhajirin yang kali pertama wafat di Madinah; juga yang pertama kali dimakamkan di Baqi’.

Bersabdalah Rasulullah saw melepas sahabatnya yang tercinta itu:
“Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib….
Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang kamu peroleh daripadanya, serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu.”

Sepeninggal sahabatnya itu, Rasulullah tidak melupakannya. Ketika melepas puterinya, Rukayah; ketika nyawanya hendak melayang, Beliau pun berkata:

“Pergilah susul pendahulu kita yang pilihan, Utsman bin Mazh’un!”


Orang-orang kafir Quraiys amat gusar mendengar hijrahnya beberapa kaum muslimin ke negeri Habasyah. Mereka mengutus Amr ibnul ‘Ash dan Abdullah ibnu Abdi Rabi’ah untuk membujuk Raja Habasyah agar mau mengusir kaum muslimin dari negerinya. Namun, sang Raja menolaknya. Ia tetap melindungi kaum muslimin Makkah.

rang-orang  Quraiys tak kurang akal. Beberapa waktu berselang, mereka mengabarkan kepada kaum muslimin yang hijrah, bahwa tokoh-tokoh Quraisy sudah masuk Islam. Sehingga jika mereka kembali, mereka tak lagi mengalami siksaan.

Kaum muslimin di negeri Habasyah menyambut gembira kabar ini. Mereka sudah rindu kampung halaman, dan ingin segera bertemu Rasulullah. Mereka pun segera kembali ke Makkah.

Alangkah terkejutnya mereka. Sesampai di Makkah, orang-orang kafir menangkap mereka dan menyiksa mereka. Hanya satu orang yang tak diusik. Dia adalah Utsman bin Mazh’un. Orang-orang kafir Quraisy tak berani menangkapnya, karena pamannya, Walid bin Mughirah, yang juga salah satu tokoh Quraisy telah memberikan jaminan keamanan baginya. Utsman pun selamat.

Bukannya senang dengan perlindungan ini, Utsman bin Mazh’un justru merasa sedih. Ia sedih menyaksikan saudara-saudaranya seiman mengalami penderitaan dan penyiksaan. Hatinya berontak. Ia lantas menghadap sang paman, Walid bin Mughirah yang memberikan jaminan keamanan.

“Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari Allah. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang.

Sang paman tak menyangka, kemenakannya akan mengatakan hal ini. Tapi ia tak mampu menolaknya. Walid lantas mengumumkan kepada warga Makkah, bahwa ia telah melepaskan perlindungan atas Utsman bin Mazh’un.

Mendengar pengumuman ini, kaum Quraisy bergegas mendatangi Utsman dan mulai menyiksanya. Utsman menerimanya dengan lapang dada. Ia bangga karena kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia menikmati siksaan demi siksaan itu dengan kesabaran. Baginya, lebih baik berlindung kepada Allah daripada mendapat perlindungan manusia.

Sebenarnya sang paman bersedia memberikan perlindungan lagi, agar Utsman tak lagi disiksa. Tapi, Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.”

Dan kesabaran Utsman berbuah manis. Setelah berbagai siksaan dan pukulan diterimanya dengan tabah, ia pun memenuhi perintah Rasulullah untuk berangkat hijrah ke Madinah besama kaum muslimin lainnya.

Di Madinah, umat Islam dapat beribadah dengan tenang. Mereka bisa mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah tanpa rasa takut dan khawatir. Utsman bin Mazh’un pun menjadi sahabat yang cukup ternama. Utsman adalah orang yang ahli ibadah dan seorang zahid, waktunya habis untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sepanjang siang dan malam ia habiskan waktu untuk shalat, membaca Al-Quran, dan puasa.

Tokoh yang satu ini termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, yakni pada urutan yang keempatbelas. Baliau termasuk orang yang pertama juga dari kaumMuhajirin yang hijrah ke Madinah dan sekaligus menjadi orang pertama yang wafat di Medinah, karenanya menjadi yang pertama pula dari ummat Islam yang dikuburkan diBaqi.

Beliau dikenal sebagai orang yang suci dan punya kepribadian dan hati yang suci dalam beribadah kepada Allah SWT. Beliau suci bukan karena mengucilkan diri (‘Uzlah) jauh dari kehidupan yang bisa mengantarkan orang kepada kesesatan, tapi suci di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jahil. Corak kehidupannya sangat berbeda dengan konsep hidup kaum sufi pada umumnya yang sebagian mereka berpendapat atau memiliki prinsip “Uzlah” untuk mengambil sikap mengasingkan diri dari kelompok masyarakatnya yang tidak sejalan dengan prinsip hidup seorang mu’min

.

     Paling tidak, ada “dua” pola pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh umumnya orang Islam dan kelompok Sufi. Keduanya tentu saja sama-sama hidup di jalan Allah, namun dengan “Manhaj”(Metoda) yang agak berbeda dalam mengartikan “Uzlah”. Di mana yang satu mengartikannya dengan mengasingkan diri, atau hijrah dari sebuah kondisi masyarakat yang tidak kondusif untuk berkembangnya keimanan dan kesholehan seseorang. Namun, sementara yang lain tidak sependapat dengan pemaknaan “Uzlah” seperti itu
.
     Yang paling menonjol dari diri Utsman bin Mazh’un adalah “Mujahadah”nya, yakni upaya yang sungguh-sungguh untuk hidup di jalan Allah dengan melakukan semua yang dicintai Allah dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya dan untuk itu beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat, sebaliknya beliau senantiasa siap menghadapi segala resiko yang terjadi termasuk siap menghadapi siksaan yang sudah biasa dihadapi oleh orang-orang yang baru masuk Islam. Kala itu beliau hadapi segala macam siksaan dengan kesabaran dan tidak pernah berniat sedikit pun untuk lari dari kondisi yang dialaminya
.
     Beliau baru mau berhijrah ke Habsy setelah Rasulullah Saw memerintahkan Utsman dan para sahabat yang lain meninggalkan Mekah yang sangat tidak kondusif bagi orang-orang mu’min saat itu. Mereka pun berhijrah lalu menemukan lingkungan di Habsyi yang membuat mereka merasa aman dan nyaman serta bisa meninggalkan lingkungan para penyembah berhala yang telah membuat mereka “muak” melihatnya. Di Habsyi mereka hidup di lingkungan orang-orang Nasrani. Kedatangan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang Nasrani untuk mendakwahi dengan maksud agar orang-orang muslim masuk dalam keyakinan mereka. Para sahabat yang hijrah ke Habsyi di bawah pimpinan Utsman bin Mazh’un, tidak mungkin mengikuti ajakan mereka lari dari satu kekufuran lalu masuk ke dalam kekufuran yang lain, keluar dari kesesatan yang satu lalu masuk ke dalam kesesatan yang lain. Karena mereka yakin, “Hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar” (QS. Ali Imran, 3:19;85)
.
     Ketika mereka sedang menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman dalam beribadah dan mempelajari Al Qur’an, tiba-tiba muncul berita bahwa di Mekah, orang orang Quraisy dan para tokohnya telah masuk Islam. Berita yang cukup menggembirakan ini menjadikan mereka ingin sekali segera kembali ke Mekah dan mereka pun segera bersiap-siap. Namun, pada saat akan memasuki Mekah, arulah mereka menyadari, bahwa berita tersebut hanya fitnah dan tipu daya belaka sehingga membuat Utsman dan para sahabat betul-betul merasa terpukul atas kecerobohan mereka yang tidak menyelidiki dulu kebenaran berita tersebut. Padahal, mereka saat itu sudah berada di pintu masuk kota Mekah. Sementara itu orang-orang musyirikin yang mendengar akan kehadiran mereka yang dianggap “buronan” menyambut berita tersebut dengan suka cita. Bagi orang-orang musyirikin, Utsman dan para sahabat yang mau menegakkan kebenaran dianggap “buronan”
.
     Di masyarakat Arab Jahilliyyah saat itu berlaku sistim perlindungan, di mana setiap orang bisa mencari pelindung yang tentu saja dari tokoh Quraisy yang disegani. Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, Utsman dan para sahabat berupaya mencari perlindungan. Namun tidak semuanya berhasil. Salah satu yang berhasil adalah Utsman bin Mazh’un yang mendapat perlindungan dari Walid bin Mughirah, seorang tokoh musyirikin Quraisy yang disegani. Karena mendapat perlindungan dari Walid, maka Utsman bin Mazh’un bebas masuk ke Mekah dengan tenang, tidak ada yang berani mengganggu karena Walid sudah mengumumkan di depan masjid bahwa Utsman ada dalam perlindungannya
.
Mendapat perlindungan dari Walid sebenarnya hati Utsman kemudian menjadi sangat tidak tenang, pada saat beliau melihat saudara-saudaranya yang miskin dan lemah tidak menemukan orang untuk melindungi mereka, sehingga mereka harus menerima siksaan yang tidak tertahankan. Melihat saudara-saudaranya hidup dalam penderitaan, batin Utsman bin Mazh’un tidak rela. Akhirnya beliau memutuskan menemui Walid bin Muqhirah untuk menyatakan keinginannya melepaskan diri
.
Kisahnya dapat diikuti sebagaimana diriwayatkan oleh seorang sahabat: “Ketika Utsman bin Mazh’un melihat beberapa sahabat Rasul mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, sementara ia aman dalam perlindungan Walid bin Mughirah, lalu ia berkata dalam hatinya, Demi Allah, sesungguhnya saat ini aku sedang berlindung kepada musuh Allah, sementara sahabat-sahabatku merasakan berbagai azab dan siksaan, maka ia pun segera menemui Walid bin Mughirah dan berkata: “Wahai Abu Abdi Syams (Walid), bebaskan aku dari perlindunganmu! Berkata Walid: Kenapa wahai anak pamanku? Sementara orang lain susah mencari pelindung kau malah minta dibebaskan dari perlindunganku, jika kulepaskan maka boleh jadi kau akan disiksa oleh kaumku. Jawab Utsman: “Tidak, aku lebih suka ada di dalam perlindungan Allah. Pergilah kau ke depan masjid umumkanlah bahwa kau sudah tidak lagi melindungi aku sebagaimana kau dulu mengumumkan perlindungan terhadapku. Lalumereka berdua pun pergi ke halaman masjid. Walid berkata, ini adalah Utsman, dia datang menemuiku untuk membebaskan dirinya dari perlindunganku. Utsman menanggapi pernyataan Walid dengan menyatakan: “Benar yang diucapkan Walid. Dia betul orang yang selama ini bertanggung jawab melindungiku, tetapi aku lebih suka untuk dilindungi oleh Allah dan aku tidak pernah sudi lagi untuk dilindungi oleh orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT
.
Dapat kitaambil pelajaran bahwa Utsman sempat mengambil langkah yang kurang tepat, karena sesungguhnya yang tepat sebagai pelindung hanyalah Allah SWT. Karenanya ketika turun ayat 255 surah Al Baqarah, Rasul Saw segera memerintahkan kepada para sahabat yang selama ini menjadi pengawal Rasul: “Wahai saudara-saudaraku, pergilah kalian sekarang jangan lagi kalian mengawalku karena sudah ada yang mengawalku, Allah SWT”
.
Usai proses pelepasan perlindungan dari Walid, beliau menghadiri sebuah majelis orang-orang Quraisy yang sedang dipimpin oleh Lubaid bin Rabi’ah. Di dalam majelis tersebut, Lubaid bin Rabi’ah berkata: “Bukankah segala sesuatu selain Allah itu adalah hampa tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah?”. Kata Utsman:”Benar, apa yang kau katakan wahai Lubaid. Kata Lubaid pula: “Bukankah setiap kenikmatan suatu saat akan sirna”. Utsman menimpali pernyataan Lubaid:”Bohong, nikmat syurga tidak akan pernah sirna selama-lamanya, semua kenikmatandunia benar akan sirna tapi ada kenikmatan syurga yang tidak kalian yakini, tidak akan sirna selama-lamanya. Lubaid merasa terpotong dan terhina dengan ungkapan tersebut, padahal ia seorang tokoh Quraisy yang disegani. Lalu ia mengatakan: “Wahai kaum Quraisy, demi tuhan pernahkah kalian meliha seseorang menghinaku dalam majelis seperti ini?”. Salah seorang yang hadir di dalam majelis mengatkan:”Orang yang baru bicara ini adalah orang tolol yng baru saja meninggalkan agama nenek moyang kita, maka jangan digubris ucapannya”
.
Sejarah berulang, setiap orang yang akan kembali menegakkan ajaran Allah disebut tolol, bodoh atau idiot oleh orang-orangsesat. Padahal, yang bodoh menurut Allah adalah mereka yang tersirat dan tersurat dalam ayat 179 surah Al A’raaf, yang diantaranya adalah mereka yang memiliki akal namun tidak dipergunakan untuk berfikir di jalan Allah SWT. Utsman bin Mamh’un, menanggapi pernyataan orang tersebut sehingga terjadilah perang mulut di antara mereka, yang bersangkutan lalu berdiri dan memukul salah satu mata Utsman
.
Melihat kejadian tersebut, Walid bin Mughirah berkata :”demi tuhan wahai keponakanku, jika matamu itu kebal, kau pantas untuk melepaskan tanggungan dariku, tapi kau sudah melepaskan tanggungan itu maka aku tidak akan membelamu. Utsman berkata: “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang satu lagi sangat membutuhkan apa yang dialami oleh mataku yang sebelah  karena dianiaya di jalan Allah. Walid berkata: “Jika kau mau, aku masih siap untuk menjadi pelindungmu. Jawab Utsman: “Tidak, tidak untuk selama-lamanya!”
.
Pergilah Utsman dengan sebelah matanya yang sakit, tetapi ia begitu luar biasa terbebas jiwanya karena ia sekarang sedang berlindung kepada Allah SWT. Suatu ketika, Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Medinah dan termasuklah diataranya Utsman. Di Medinah mereka bisa merasakan kekhusyuan beribadah dan kembali kesucian pribadi Utsman nampak kembali tergambar dalam hidup kesehariannya. Ia menjadi “Rahib” (orang suci) yang menghabiskan malamnya untuk beribadah dan siangnya bekerja keras, lalu terkadang malam dan siang dipakai untuk beribadah atau malam dan siang untuk berjuang termasuk berperang menghadapi orang-orang musyirikin.
utsman punya keistimewaan tersendiri dalam ber-“Zuhud”, hidupnya benar-benar-benar jauh dari kenikmatan dunia, beliau lebih suka memakai pakaian yang kasar dan tidak mengganti pakaian dan beliau tidak makan, kecuali makanan yang sangat sederhana. Pada suatu saat beliau masuk ke dalam masjid yang saat itu Rasul dan para sahabat sedang duduk-duduk, beliau masuk dengan memakai pakaian yang sangat tidak layak dipakai, melihat kondisi beliau, Rasul pun tersentuh hatinya, sementara para sahabat yang menyaksikan malah mengalirkan air mata. Beliau beribadah ternyata bukan hanya dengan meninggalkan kenikmatan dunia dalam arti makan, minum dan berpakaian, tapi pernah juga berniat untuk menjauhi istrinya. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, maka Rasul mun menegur beliau dengan mengatakan: “Istrimu punya hak darimu”
.
Keinginan beliau senantiasa ber-“Mujahadah” inilah yang membuat Rasul sangat mencintai beliau. Karena ketika ruhnya yang suci hendak meninggalkan jasad menuju ke hadirat Allah SWT, Rasul pun berada disampingnya mendampingi sampai akhir hayatnya. Dan ketika utsman bin Mazh’un akhirnya meninggalkan alam dunia ini, Rasul menundukkan kepalanya dan mencium kening memenuhi wajah Utsman dengan air mata. Dengan iringan doa beliau; “Semoga Allah merahmatimu, wahai Utsman, kau tinggalkan alam dunia ini tidak pernah kau ambil sedikitpun keuntungan darinya, dan dunia pun tidak pernah dirugikan oleh sebab kehadiranmu”
.
Rasul tidak pernah melupakan orang yang sangat dicintainya, sepeninggal Utsman beliau selalu ingat dan memujinya di depan para sahabt, sehingga diriwayatkan saat putri Rasul, Rukayah akan meninggal dunia, Rasul berkata kepada putrinya:”Temuilah segera di alam barzah (Utsman bin Mazh’un) orang yang sangat baik dan mulia di sisi Allah SWT”
.
Seandainya anda hendak bermaksud menyusun daftar nama-nama sahabat yang Rasulullah saw. menurut urutan masa masuknya kedalam agama islam, maka pada urutan ke empat belas tentulah anda akan tempatkan Utsman bin Mazh’un.Tatkala agama islam cahayanya mulai menyinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikanya dari beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, maka Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa segelincir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri dari sekelompok Rasulullah.Seperti biasanya pengikut Rasulullah selalu diterpa berbagai derita dan siksaan pada saat itu.Rasulullah saw. mengutamakan keselamatan golongan kecil dari orang beriman dan teraniaya ini, dengan jalan menyuruh mereka berhijrah ke Habsyi. Dan Utsman bin Mazh’un terpilih sebagai pemimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini. dengan putranya yang bernama Saib, dilangkahkanya kaki ke suatu negeri yang jauh menghindar dari tiap daya musuh Rasulullah dari Abu Jahal dan orang Quraisy.Dan ketika mereka berada di Habsyi, di sana mereka menghadapi suatu agama yang teratur dan tersebar luas, mempunyai gereja-gereja, rahib-rahib dan para pendeta. Dan tentulah orang-orang gereja di negeri Habsyi itu telah berusaha sekuat daya untuk menarik orang-orang Muhajirin kedalam agama mereka, dan meyakinkan kebenaran agama Masehi. Tetapi para kaum Muhajirin tidak ada yang beranjak dari kecintaan mereka yang mendalam terhadap agama islam dan terhadap Muhammad Rasulullah.Demikianlah kaum Muhajirin tinggal di Habsyi dalam keadaan aman dan tentram. Mereka senantiasa beribadan kepada Allah dengan tekun dan mempelajari ayat-ayat al-Quran yang ada pada mereka. Tiba-tiba sampailah berita kepada mereka bahwa orang-orang Quraisy telah menganut agama islam dan mengikuti Rasulullah bersujud kepada Allah.Maka bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemas barang-barang mereka, dan bagaikan terbang mereka berangkat ke Makah dibawa kerinduan dan didorong kecintaan pada kampung halaman. Tetapi baru saja mereka sampai di kota, ternyata  masuknya orang-orang Quraisy itu hanya dusta belaka.Ketika itu mereka amat terpukul karena telah berlaku ceroboh dan amat tergesa-gesa. Tetapi betapa mereka akan kembali, padahal kota mereka telah berada di hadapan mereka. Dalam keadaan itu orang-orang musyrik di kota mekah telah mendengar  datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar dan pasang perangkap untuk menangkapnya.Perlindungan, ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi arab yang memiliki kekudusan dan dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh. Diantaranya yang termasuk mendapat perlindungan adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah.Dalam keadaan itu, ia melihat saudara-saudara yang lain mendapat siksaan oleh kaum Quraisy yang keji, maka hatinya bergejolak, maka ia bermaksud untuk menanggalkan perlindunganya.

Ia pun berkata kepada Walid bin Mughirah:

“wahai Abu Abdi Syam, cukup sudah perlindungan anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan anda.”

“kenapa wahai keponakanku?” ujar Walid, “mungkin ada seseorang anak buahku yang mengganggumu?”

“tidak” jawab Utsman, ‘hanya saya ingin berlindung kepada Allah’.

Maka Utsman pergi ke masjid dan mengumumkan penanggalan perlindunganya.

Disana Utsman mendapatkan tinjuan tepat mengenai mata. Berkatalah Walid

“wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa maka sungguh, benteng perlindunganmu sangat tangguh”.

Ujar Utsman “tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat pula membutuhkan pukulan yang telah dialami saudaranya dijalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syamas, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu dari padamu.”


Dan setelah ditanggalkanya perlindungan dari Walid, maka Utsman menemui siksaan dari orang-orang Quraisy. Tetapi dengan begitu ia tidak merana, malah bahagia.

Utsman melakukan hijrah ke madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka. Dan di kota hijrah Madinah al-Munawwarah itu bersingkaplah kepribadian dari Utsman bin Mazh’un tak ubah bagai batu permata yang telah diasah dan kebesaran hatinya yang istimewa. Ia memiliki ciri khas dalam zuhud dan ibadahnya. Ia amat tekun dan mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupanya baik siang maupun malam dialihkanya menjadi sholat  yang terus menerus dan tasbih yang tiada henti.

Rupanya ia telah merasakan manisnya keasyikan beribadah itu, iapun hendak memutuskan hubungan dengan segala kesenangan dan kemewahan dunia. Ia tak hendak memakai pakaiaan kecuali yang kasar dan tak hendak memakan makanan selain yang amat bersahaja.,

Ibnu Mazh’un amat disayangi oleh rasulullah saw dan tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat, hingga demikian ia merupakan orang Muhajirin yang pertama wafat di Madinah, dan yang mula-mula merintis jalan menuju surga, maka Rasulullah saw. berada disisinya.

Rasulullah saw. membungkuk, mencium kening Ibnu Mazh’un serta membasahi kedua pipinya dengan air yang berderai dari kedua mata beliau yang diliputi santun dan duka cita hingga saat kematiannya.

Dan bersabdah Rasulullah saw. melepas sahabat yang tercinta itu:

“semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu Saib. Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satupun keuntungan yang kamu peroleh dari padanya serta tak satu kerugianpun yang dideritanya daripada mu.”

Dan sepeninggalan sahabatnya, Rasulullah yang amat penyantun itu tidak pernah melupakanya, selalu ingat dan memujinya. Bahkan untuk melepas putri beliau Rukayah, yakni ketika nyawanya hendak melayang, adalah kata-kata berikut:

“pergilah susul pendahulu kita yang pilihan. Utsman bin Mazh’un”

sahabat Nabi SAW yang dipuji Al Quran dan diakui syi’ah : Utsman bin Mazh’un

Q.S. Al-Muzzammil ayat 20

bismillah
Artinya :
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penjelasan Syi’ah : 

Ayat ini turun berkaitan dengan Utsman bin Mazh’un. Beliau termasuk pada “segolongan/tahifah dalam Qs. Al Muzammil ayat 20

Aisyah bertutur : “Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, shalat malam, terus menerus”. Aku ceritakan hal itu kepada Nabi SAW. Rasulullah menemui Utsman dan berkata , “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh  ? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum hukumnya”

.

Q.S. Al- Maidah ayat 93

laysa ‘alaa alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu idzaa maa ittaqaw waaamanuu wa’amiluu alshshaalihaati tsumma ittaqaw waaamanuu tsumma ittaqaw wa-ahsanuu waallaahu yuhibbu almuhsiniina
.
93. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Penjelasan Syi’ah : Menurut Ibn ‘Abd Al Birr, sehubungan dengan perilaku Utsman dan sahabat sahabat yang ingin terus menerus beribadah maka turunlah Qs. Al Maidah ayat 93 (Al Isti’ab 3:186).

bismillahUtsman bin Maz`un (wafat 2 H/624 M) (Bahasa Arab عثمان بن مظعون) adalah salah satu sahabat nabi. Ia termasuk cendekiawan Arab di zaman jahiliyah, sempat mengikuti Perang Badardan meninggal dunia sekembalinya dari perang tersebut. Sepeninggal Utsman, Muhammad menciumnya sambil mengalirkan air mata. Utsman inilah sahabat pertama yang meninggal diMadinah.

Utsman inilah yang pernah berniat membujang dan meninggalkan keduniawian, akan tetapi Muhammad melarangnya dari niat tersebut. Kemudian Utsman bin Mazh’un menikah denganKhawlah binti Hakim.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (1)

REFORMASI Agung kedua yang dilakukan Rasulullah adalah dengan mengubah kesetiaan kepada kelompok menjadi kesetiaan kepada Islam. Sekarang saya ingin memberikan contoh keberhasilan reformasi kedua itu melalui kehidupan beberapa sahabat yang lulus dari Madrasah Rasulullah saw. Tidak semua sahabat lulus dari Madrasah Rasulullah. Ada juga sahabat yang diskors selama tiga bulan dan semua sahabat-sahabat Nabi yang lain dilarang berbicara dengan dia. Sampai sahabat Nabi itu kemudian lari ke gunung, bertaubat siang dan malam.

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw, anehnya, banyak yang tidak kita kenal. Salah seorang tokoh yang tidak begitu kita kenal adalah Utsman bin Mazh’un, dia dikuburkan di Baqi. Bapaknya adalah Mazh’un bin Wahab bin Hudzafah bin Jumuh Al-Quraisyi. Sedangkan Ibunya ialah Suhailah binti Al-Anbas bin Ahban bin Khudzafah bin Jumuh.

Utsman masuk Islam beserta seluruh keluarganya. Dia adalah orang ketigabelas yang masuk Islam. Dia sangat rajin beribadah. Ia pun hijrah dua kali ke Habsyi. Dia ikut berperang di Badar bersama Rasulullah saw. Dia meninggal dua setengah tahun setelah Hijrah. Nabi menguburkannya di Baqi dan memberi tanda di kuburan Utsman dengan batu. Nabi sering menziarahi kuburannya. Hal ini sekaligus merupakan dalil bahwa ziarah ke kubur itu ialah sunnah Rasulullah saw. Kelak, salah seorang putera Utsman syahid pada hari Yamanah, ketika kelompok Musailamah Al-Kadzab melakukan perlawanan.

Kesetiaan Utsman bin Mazh’un kepada Allah dan Rasul-Nya lebih tinggi daripada kesetiaannya kepada yang lain. Ketika orang-orang Islam dikejar-kejar dan dianiaya, Utsman hijrah ke Habsy beserta seluruh keluarganya. Seperti kita ketahui, ‘Amr bin ‘Ash menyusul ke Habsyi dan meminta Utsman supaya kembali lagi ke Mekkah. ‘Amr bin ‘Ash juga meminta kepada Raja Habsyi supaya tidak menerima umat Islam di negeri itu dan mengembalikannya ke Mekkah.

Ketika Utsman bin Mazh’un kembali dari Habsyi ke Mekkah, penindasan masih berlangsung. Orang-orang Islam masih disiksa dan dianiaya. Dia menghadapi ancaman terhadap dirinya dan keluarganya. Akhirnya dia mencari perlindungan kepada keluarga Al-Walid bin Mughirah, seorang penyair yang sejak dulu dekat dengan Utsman.

Pada awalnya, Utsman bin Mazh’un masuk Islam karena rasa malu. Rasulullah saw sering berdakwah kepadanya dan berulang kali mengajak Utsman bin Mazh’un masuk Islam. Utsman pernah berkata, “Aku ini masuk Islam karena malu saja. Rasulullah berulang kali mengajak aku untuk masuk Islam. Waktu itu Islam belum ada dalam hatiku. Sampai suatu hari aku sedang bersama Rasulullah, tiba-tiba Rasul memandang ke langit. Seakan-akan beliau sedang memahami sesuatu. Setelah Rasul merenung, aku bertanya kepada Rasul tentang apa yang terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Allah menyuruh kamu untuk berbuat baik dan memberikan hak kepada keluargamu. Dan Allah melarang kamu dari keburukan dan kemungkaran.” (QS Al-Nahl 90).

“Waktu itu, menetaplah Islam dalam hatiku. Itulah saatnya aku masuk Islam yang sungguh-sungguh, karena aku tersentuh oleh ayat yang indah itu. Lalu aku datangi paman Nabi, Abu Thalib, dan aku kabarkan ke-islamanku. Beliau memberi nasehat, “Ya Ahli Quraisy, ikuti Muhammad, nanti kamu mendapat petunjuk. Karena Muhammad tidak memerintah kecuali kepada akhlak yang mulia.”

“Kemudian aku datangi Walid bin Mughirah, aku bacakan ayat itu dan Mughirah pun terpesona. Dia berkata, “Sungguh dalam ayat-ayat itu ada kemanisan-nya. Di atasnya juga ada keindahannya. Pada puncaknya ada buahnya. Dan di bawahnya rimbun. Ini bukan ucapan manusia. Kalau itu ucapan Muhammad, alangkah bagusnya ucapan Muhammad itu. Dan kalau itu ucapan Tuhannya, alangkah bagusnya ucapan Tuhannya itu”.

Walid bin Mughirah memang dekat dengan Utsman bin Mazh’un, meskipun dia tidak masuk Islam. Malahan ia termasuk dedengkot kekufuran. Tapi kepada Walid bin Mughirah, Utsman bin Mazh’un berlindung. Dan Walid bin Mughirah melindungi dia. Sehingga dia tidak diganggu oleh orang-orang kafir. Sementara orang-orang Islam yang lain menderita, Utsman bin Mazh’un ber-senang-senang di bawah perlindungan Walid bin Mughirah.

Utsman berkata, “Demi Allah, pagi dan soreku tentram dalam perlindungan seseorang yang musyrik. Sedangkan sahabat-sahabatku dan teman seagamaku sekarang menderita barbagai bala dan kesulitan karena Allah. Itu semua tidak menimpaku. Sungguh keadaanku ini adalah sebuah kekurangan yang besar, sebuah aib besar untuk diriku.”

Kemudian Utsman bin Mazh’un datang menemui Walid bin Mughirah, “Wahai Abâ ‘Abdi Syam, sudah selesai sekarang perlindunganmu itu. Aku kembalikan perlindunganmu itu.” Walid menjawab, “Kenapa kau kembalikan perlindungan itu, hai anak saudaraku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?” “Tidak,” jawab Utsman, “bukan karena itu. Tapi aku ingin memilih perlindungan Allah dan aku tidak ingin meminta perlindungan kepada selain Dia.” Walid berkata, “Kalau begitu, berangkatlah kamu ke mesjid dan umumkan terang-terangan bahwa kamu sudah menolak perlindunganku.” Keduanya pun lalu berangkat ke mesjid. Di sana Walid meng-umumkan, “Ini Utsman, dia menolak perlindunganku.” Utsman mengatakan, “Benar apa yang dia katakan dan dia sudah melindungi aku dengan sebaik-baiknya. Tapi aku lebih senang untuk berlindung kepada Allah saja dan karena itu aku kembalikan perlindungan Walid.”

Pada waktu itu datang rombongan tokoh-tokoh Quraisy, salah seorang di antaranya ialah Walid bin Rabiah bin Malik bin Ja’far bin Kilab dari Bani Kilab yang juga duduk di situ. Lalu ada seorang yang bernama Lubaib dari Bani Kilab yang ketika mendengar Utsman bin Mazh’un telah melepaskan perlindungan Walid bin Mughirah, dia membacakan sebuah syair, “Sungguh segala sesuatu selain Allah itu akhirnya jadi bathil.” “Shadaqta. Kamu benar”, kata Utsman. Kemudian Lubaib meneruskan syairnya, “Semua nikmat akhirnya akan berakhir juga.” Maksud Lubaib, perlindungan Mughirah itu sekarang berakhir semua. Utsman berkata, “Kamu dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah berakhir.” Lalu Lubaib berteriak, “Hai Quraisy, lihatlah orang yang duduk bersama kalian ini! Dia termasuk orang-orang bodoh yang meninggalkan agama kita.” Utsman terus membantahnya, sampai Lubaib marah. Kemudian salah satu telinga dan mata Utsman dipukul, sehingga matanya lebam karena pukulan.

Walid bin Mughirah, yang dulu sebagai pelindung Utsman, berada di situ dan berkata, “Hai anak saudaraku, sekiranya mata kamu itu sehat, itu karena dulu kau berada pada perlindungan yang kokoh.” Walid bermaksud menyindir Utsman. Tapi Utsman berkata, “Demi Allah, mataku yang sehat ini sekarang iri dengan mata yang lain dalam membela agama Allah.” Utsman menantang untuk dipukul lagi. Walid berkata, “Mari ke sini, Hai anak saudaraku. Kalau engkau mau, aku akan melindungimu.” “Tidak,” kata Utsman.

Ketika matanya hampir pecah karena dipukul, dia kemudian melantunkan syair yang berisi pujian tentang matanya: “Jika mataku, karena mencari rido Tuhan, mendapat pukulan tangan mulhid, ateis sesat. Tuhan Maha Pengasih telah menggantinya dengan pahala. Siapa yang mendapat rido Rahman pasti bahagia.”

Utsman bin Mazh’un adalah contoh orang yang meninggalkan kesetian kepada kelompoknya karena kesetian kepada Allah. Dia meninggalkan tribalisme menuju Tauhidul Ummah, menuju Al-Ukhuwah Al-Islamiyyah, persaudaran Islam.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an turun berkenaan dengan Utsman bin Mazh’un. Utsman termasuk pada “segolongan” (thâifah) dalam ayat “Sesungguhnya Tuhanmu menge-tahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (Al-Muzammil 20). Menurut A’isyah: Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, salat malam, terus menerus.” Datang Nabi saw. aku sebutkan hal itu. Rasulullah saw menemui Utsman dan berkata: “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum-hukumnya.”

Menurut Ibn ‘Abd Al-Birr, sehubung-an dengan perilaku Utsman dan sahabat-sahabat yang ingin terus menerus ibadah, turun ayat Al-Maidah 93: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Isti’ab 3:186).

Rasulullah mengunjunginya ketika dia sakit. Ketika dia meninggal dunia, Rasulullah saw ikut menguburkan jenazah-nya. Rasulullah saw juga menangisi kepergian Utsman bin Mazh’un. Sejak zaman Jahiliyyah, Utsman bin Mazh’un memang berakhlak bagus, apalagi setelah dia masuk Islam. Nabi berkata, “Manusia itu seperti logam. Kalau di Zaman Jahiliyyah emas, setelah Islam pun emas juga.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan Utsman sebagai, “Orang yang paling banyak beribadah. Puasa di waktu siang hari dan shalat di malam hari. Dia menjauhi syahwat dan meninggalkan perempuan. Kemudian dia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk mengebiri dirinya tetapi Rasulullah melarangnya. Sejak Zaman Jahilliyah, dia tidak pernah minum khamar. Dia beralasan, “Aku tidak akan minum satu minuman yang menyebabkan akal pikiranku hilang”.

“Waktu Rasulullah saw ditinggalkan oleh putranya yang sangat dicintainya, yaitu Ibrahim yang meninggal di Madinah, Nabi mendampingkan kuburannya di samping kuburan Utsman bin Mazh’un. Beliau bersabda, “Kuburkan Ibrahim di dekat pendahulu kita yang saleh.”

Utsman bin Mazh’un

Utsman bin Mazh’un
.
Tatkala cahaya agama Islam mulai bersinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikannya di beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa gelintir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri ke dalam kelompok pengikut Rasulullah saw. Ia adalah di antara sahabat Nabi saw yang masuk Islam pada urutan keempat belas
.
Dalam kehidupannya, ia pun tidak luput dari ancaman kaum biadab golongan kuffar Qurasy yang tidak menyukai kedatangan dan keberadaan agama baru, Islam. Ia ditempa oleh berbagai derita dan siksa, sebagaimana dialami oleh orang-orang Mukmin lainnya, pengikut setia pembawa risalah baru yang lurus, Rasulullah saw.Ketika keselamatan golongan kecil dari orang-orang beriman dan teraniaya ini menjadi pilihan utama Rasulullah saw, dengan jalan menyuruhnya berhijrah ke Habsyi, maka dipilihlah seorang yang juga membawa puteranya bernama Saib, Utsman bin Mazh’un, memimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini.

Dalam perantauannya, Utsman bin Mazh’un tidak dapat melupakan rencana-rencana jahat mereka termasuk saudara sepupunya, Umayah bin Khalaf. Dihiburlah dirinya dengan menggubah sya’ir yang berisikan sindiran dan peringatan terhadap saudaranya itu, katanya:

“Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya
Kamu runcing ia setajam-tajamnya
Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia
Kamu celakan ornag-orang yang berwibawa
Ingatlah nanti saat bahaya datang menimpa
Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyat jelata”

Suatu ketika tersiarlah kabar bahwa orang-orang Qurasy telah beriman dan menganut agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dengan hati riang dan gembira, bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke Mekah. Mereka sungguh telah merindukan kampung halamannya.

Akan tetapi, baru saja mereka sampai di dekat kota, ternyata berita tentang masuknya kaum Quraisy telah beriman hanyalah berita bohong belaka. Mereka benar-benar merasa terpukul dengan kejadian dan tipuan ini. Betapa tidak, untuk pergi lagi perjalanan mereka sudah terlanjur sampai dekat kota Mekah. Sementara itu, orang-orang musyrik di kota Mekah telah mendengar datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar. Perangkap-perangkap pun mereka siapkan. Takdir telah menentukannya, datanglah barisan kaum Muslimin ke tampat itu.

Untungnya, nasib baik masih menyertai Utsman bin Mazh’un sebagai pemimpin rombongan kala itu. Perlindungan ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi Arab yang memiliki kekudusan dan sangat dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan salah seorang pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh, hingga darahnya tidak boleh ditumpahkan. Hanya sebagian kecil yang dapat masuk memperoleh perlindungan itu. Termasuk di antaranya adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah. Ia pun selamat hingga masuk ke kota Mekah.

Di tengah keberadaan kaum Muslimin di Mekah yang dilanda kecemasan dan ketakutan karena perlakuan orang-orang musyrik, Utsman bin Mazh’un, seorang yang telah ditempa Al-Qur’an dan didikan langsung dari Rasulullah saw, merasa prihatin dan dalam dirinya timbul perasaan berontak menyikapi keadaan itu. Utsman bin Mazh’un keluar dari rumah perlindungannya dengan tekad dan niat yang bulat.

Mari kita dengarkan cerita dari saksi mata yang melukiskan kejadian peristiwa itu!

“Ketika Utsman bin Mazh’un menyaksikan penderitaan yang dialami oleh para sahabat Rasulullah saw, sementara ia sendiri pulang pergi dengan aman dan tenteram disebabkan perlindungan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku ….’

“Lalu ia pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan Anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan Anda.’ ‘Mengapa, wahai keponakanku?’ ujar Walid. ‘Mungkin ada salah seorang anak buahku yang mengganggumu?’ ‘Tidak,’ ujar Utsman bin Mazh’un. ‘Hanya, saya ingin berlindung kepada Allah, dan tidak suka lagi kepada lain-Nya. Karenanya, pergilah Anda ke masjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti Anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku!”

“Lalu, pergilah mereka berdua ke masjid, maka kata Walid, ‘Utsman ini datang untuk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya.’ Ulas Utsman, ‘Betullah kiranya apa yang dikatakan itu …, ternyata ia seorang yang memegang teguh janjinya …, hanya keinginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta’ala.”

Setelah itu, Utsman bin Mazh’un pun berlalulah, sementara di salah satu gedung pertemuan kaum Quraisy, Lubaid bin Rabi’ah menggubah sebuah syair dan melagukannya di hadapan mereka, hingga Utsman bin Mazh’un menjadi tertarik karenanya dan ikut duduk bersama mereka. Kata Lubaid:

“Ingatlah bahwa apa juga yang terdapat di bawah kolong ini selain dari Allah adalah hampa.” “Benar, ucapan Anda itu,” kata Utsman bin Mazh’un menanggapinya. Kata Lubaid lagi, “Dan semua kesenangan, tak dapat tiada lenyap dan sirna.” “Itu dusta!” kata Utsman, “Karena kesenangan surga takkan lenyap.” Kata Lubaid:

“Hai orang-orang Qurasy! Demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagaimana sikap kalian kalau ini terjadi?” Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Si tolol ini telah meninggalkan agama kita, jadi tidak usah digubris, apa ucapannya!”

Utsman bin Mazh’un membalas ucapannya itu hingga di antara mereka terjadi pertengkaran. Dengan perasaan marah, orang itu tiba-tiba bangkit mendekati Utsman lalu meninjunya hingga tepat mengenai matanya, sementara Walid bin Mughirah masih berada di dekat itu dan menyaksikan apa yang terjadi. Maka katanya kepada Utsman, “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh!” Ujar Utsman, “Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syams, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu.” “Ayuhlah Utsman,” kata Walid pula, “Jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku!” “Terima kasih,” ujar Ibnu Mazh’un menolak tawaran itu. Ibnu Mazh’un kemudian meninggalkan tempat itu; Utsman pun pergi. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, dengan hati gembira, ia mendendangkan pantun:

“Andaikata dalam mencintai ridla Ilahi
Mataku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridhai-Nya pasti berbahagia
Hai ummat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku ‘kan tetap dalam agama Rasul, Muhammad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan agama yang haq
walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena.”

Utsman bin Mazh’un telah memperlihatkan kepada kita suatu teladan yang menunjukan pribadi utama yang harum semerbak disebabkan pendiriannya yang luar biasa.

Setelah tidak mendapatkan perlindungan dari Walid, Utsman bin Mazh’un mulai mendapat siksaan dari orang-orang Quraisy. Akan tetapi, karena ketabahan dan kekuatan jiwanya, penderitaannya dirasakan dengan ikhlas dan bahagia.

Suatu ketika Utsman bin Mazh’un hijrah pula ke Madinah, hingga tidak diusik lagi oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya. Ia berangkat ke Madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama yang dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka telah lulus dalam ujian yang telah mencapai puncak kesulitan dan kesukarannya.

Di Madinah, tempat hijrahnya yang baru itu, Utsman bin Mazh’un sangat tekun dan rajin beribadah: malam harinya bagai rahib dengan ibadah shalat dan dzikirnya; siang harinya bagai pahlawan dengan berjuang membela kebenaran. Dengan ketabahan dalam zuhud dan ketekunan dalam ibadahnya, ia mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupannya, baik siang maupun malam dialihnya menjadi shalat yang terus-menerus dan tasbih yang tiada henti-hentinya. Rupanya ia telah memperoleh dan merasakan kemanisan beribdah kepada Allah SWT.

Dengan berpakaian usang yang telah sobek-sobek; yang ditambalnya dengan kulit unta, suatu hari ia masuk masjid, sementara Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Rasulullah saw kemudian bertanya kepada para sahabatnya:

“Bagaimana pendapat Kalian, bila Kalian punya pakaian satu stel untuk pakaian pagi dan sore hari diganti dengan stelan lainnya … kemudian disiapkan di depan kalian suatu perangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya yang telah diangkat … serta kalian dapat menutupi rumah-rumah kediaman kalian sebagaimana Ka’bah bertutup ….?”

“Kami ingin hal itu dapat terjadi, wahai Rasulullah,” ujar mereka, “… hingga kita dapat mengalami hidup makmur dan bahagia!” Maka sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya hal itu telah terjadi, kemudian Kalian sekarang ini lebih baik dari keadaan Kalian waktu lalu.”

Meskipun Utsman bin Mazh’un ikut mendengarkan percakapan itu, ia tidak terpengaruh dengan jawaban para sahabat yang mengharapkan berbagai kecukupan. Ia tetap menjalani hidup dengan bersahaja dan menghindari sejauh-jauhnya kesenangan dunia, sampai-sampai kepada urusan menggauli isterinya hendak menahan diri. Rasulullah pun memanggil dan menyampaikan kepadanya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu.”

Utsman bin Mazh’un amat dicintai oleh Rasulullah saw. Tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat menuju tempat tujuannya, Rasulullah berada di sisinya. Beliau saw membungkuk dan mencium keningnya, seraya membasahi kedua pipinya dengan derai air mata. Wajah Utsman bin Mazh’un tampak bersinar gilang-gemilang saat kematiannya. Ia seorang Muhajirin yang kali pertama wafat di Madinah; juga yang pertama kali dimakamkan di Baqi’.

Bersabdalah Rasulullah saw melepas sahabatnya yang tercinta itu:
“Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib….
Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang kamu peroleh daripadanya, serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu.”

Sepeninggal sahabatnya itu, Rasulullah tidak melupakannya. Ketika melepas puterinya, Rukayah; ketika nyawanya hendak melayang, Beliau pun berkata:

“Pergilah susul pendahulu kita yang pilihan, Utsman bin Mazh’un!”


Orang-orang kafir Quraiys amat gusar mendengar hijrahnya beberapa kaum muslimin ke negeri Habasyah. Mereka mengutus Amr ibnul ‘Ash dan Abdullah ibnu Abdi Rabi’ah untuk membujuk Raja Habasyah agar mau mengusir kaum muslimin dari negerinya. Namun, sang Raja menolaknya. Ia tetap melindungi kaum muslimin Makkah.

rang-orang  Quraiys tak kurang akal. Beberapa waktu berselang, mereka mengabarkan kepada kaum muslimin yang hijrah, bahwa tokoh-tokoh Quraisy sudah masuk Islam. Sehingga jika mereka kembali, mereka tak lagi mengalami siksaan.

Kaum muslimin di negeri Habasyah menyambut gembira kabar ini. Mereka sudah rindu kampung halaman, dan ingin segera bertemu Rasulullah. Mereka pun segera kembali ke Makkah.

Alangkah terkejutnya mereka. Sesampai di Makkah, orang-orang kafir menangkap mereka dan menyiksa mereka. Hanya satu orang yang tak diusik. Dia adalah Utsman bin Mazh’un. Orang-orang kafir Quraisy tak berani menangkapnya, karena pamannya, Walid bin Mughirah, yang juga salah satu tokoh Quraisy telah memberikan jaminan keamanan baginya. Utsman pun selamat.

Bukannya senang dengan perlindungan ini, Utsman bin Mazh’un justru merasa sedih. Ia sedih menyaksikan saudara-saudaranya seiman mengalami penderitaan dan penyiksaan. Hatinya berontak. Ia lantas menghadap sang paman, Walid bin Mughirah yang memberikan jaminan keamanan.

“Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari Allah. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang.

Sang paman tak menyangka, kemenakannya akan mengatakan hal ini. Tapi ia tak mampu menolaknya. Walid lantas mengumumkan kepada warga Makkah, bahwa ia telah melepaskan perlindungan atas Utsman bin Mazh’un.

Mendengar pengumuman ini, kaum Quraisy bergegas mendatangi Utsman dan mulai menyiksanya. Utsman menerimanya dengan lapang dada. Ia bangga karena kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia menikmati siksaan demi siksaan itu dengan kesabaran. Baginya, lebih baik berlindung kepada Allah daripada mendapat perlindungan manusia.

Sebenarnya sang paman bersedia memberikan perlindungan lagi, agar Utsman tak lagi disiksa. Tapi, Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.”

Dan kesabaran Utsman berbuah manis. Setelah berbagai siksaan dan pukulan diterimanya dengan tabah, ia pun memenuhi perintah Rasulullah untuk berangkat hijrah ke Madinah besama kaum muslimin lainnya.

Di Madinah, umat Islam dapat beribadah dengan tenang. Mereka bisa mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah tanpa rasa takut dan khawatir. Utsman bin Mazh’un pun menjadi sahabat yang cukup ternama. Utsman adalah orang yang ahli ibadah dan seorang zahid, waktunya habis untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sepanjang siang dan malam ia habiskan waktu untuk shalat, membaca Al-Quran, dan puasa.

Tokoh yang satu ini termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, yakni pada urutan yang keempatbelas. Baliau termasuk orang yang pertama juga dari kaumMuhajirin yang hijrah ke Madinah dan sekaligus menjadi orang pertama yang wafat di Medinah, karenanya menjadi yang pertama pula dari ummat Islam yang dikuburkan diBaqi.

Beliau dikenal sebagai orang yang suci dan punya kepribadian dan hati yang suci dalam beribadah kepada Allah SWT. Beliau suci bukan karena mengucilkan diri (‘Uzlah) jauh dari kehidupan yang bisa mengantarkan orang kepada kesesatan, tapi suci di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jahil. Corak kehidupannya sangat berbeda dengan konsep hidup kaum sufi pada umumnya yang sebagian mereka berpendapat atau memiliki prinsip “Uzlah” untuk mengambil sikap mengasingkan diri dari kelompok masyarakatnya yang tidak sejalan dengan prinsip hidup seorang mu’min

.

     Paling tidak, ada “dua” pola pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh umumnya orang Islam dan kelompok Sufi. Keduanya tentu saja sama-sama hidup di jalan Allah, namun dengan “Manhaj”(Metoda) yang agak berbeda dalam mengartikan “Uzlah”. Di mana yang satu mengartikannya dengan mengasingkan diri, atau hijrah dari sebuah kondisi masyarakat yang tidak kondusif untuk berkembangnya keimanan dan kesholehan seseorang. Namun, sementara yang lain tidak sependapat dengan pemaknaan “Uzlah” seperti itu
.
     Yang paling menonjol dari diri Utsman bin Mazh’un adalah “Mujahadah”nya, yakni upaya yang sungguh-sungguh untuk hidup di jalan Allah dengan melakukan semua yang dicintai Allah dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya dan untuk itu beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat, sebaliknya beliau senantiasa siap menghadapi segala resiko yang terjadi termasuk siap menghadapi siksaan yang sudah biasa dihadapi oleh orang-orang yang baru masuk Islam. Kala itu beliau hadapi segala macam siksaan dengan kesabaran dan tidak pernah berniat sedikit pun untuk lari dari kondisi yang dialaminya
.
     Beliau baru mau berhijrah ke Habsy setelah Rasulullah Saw memerintahkan Utsman dan para sahabat yang lain meninggalkan Mekah yang sangat tidak kondusif bagi orang-orang mu’min saat itu. Mereka pun berhijrah lalu menemukan lingkungan di Habsyi yang membuat mereka merasa aman dan nyaman serta bisa meninggalkan lingkungan para penyembah berhala yang telah membuat mereka “muak” melihatnya. Di Habsyi mereka hidup di lingkungan orang-orang Nasrani. Kedatangan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang Nasrani untuk mendakwahi dengan maksud agar orang-orang muslim masuk dalam keyakinan mereka. Para sahabat yang hijrah ke Habsyi di bawah pimpinan Utsman bin Mazh’un, tidak mungkin mengikuti ajakan mereka lari dari satu kekufuran lalu masuk ke dalam kekufuran yang lain, keluar dari kesesatan yang satu lalu masuk ke dalam kesesatan yang lain. Karena mereka yakin, “Hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar” (QS. Ali Imran, 3:19;85)
.
     Ketika mereka sedang menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman dalam beribadah dan mempelajari Al Qur’an, tiba-tiba muncul berita bahwa di Mekah, orang orang Quraisy dan para tokohnya telah masuk Islam. Berita yang cukup menggembirakan ini menjadikan mereka ingin sekali segera kembali ke Mekah dan mereka pun segera bersiap-siap. Namun, pada saat akan memasuki Mekah, arulah mereka menyadari, bahwa berita tersebut hanya fitnah dan tipu daya belaka sehingga membuat Utsman dan para sahabat betul-betul merasa terpukul atas kecerobohan mereka yang tidak menyelidiki dulu kebenaran berita tersebut. Padahal, mereka saat itu sudah berada di pintu masuk kota Mekah. Sementara itu orang-orang musyirikin yang mendengar akan kehadiran mereka yang dianggap “buronan” menyambut berita tersebut dengan suka cita. Bagi orang-orang musyirikin, Utsman dan para sahabat yang mau menegakkan kebenaran dianggap “buronan”
.
     Di masyarakat Arab Jahilliyyah saat itu berlaku sistim perlindungan, di mana setiap orang bisa mencari pelindung yang tentu saja dari tokoh Quraisy yang disegani. Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, Utsman dan para sahabat berupaya mencari perlindungan. Namun tidak semuanya berhasil. Salah satu yang berhasil adalah Utsman bin Mazh’un yang mendapat perlindungan dari Walid bin Mughirah, seorang tokoh musyirikin Quraisy yang disegani. Karena mendapat perlindungan dari Walid, maka Utsman bin Mazh’un bebas masuk ke Mekah dengan tenang, tidak ada yang berani mengganggu karena Walid sudah mengumumkan di depan masjid bahwa Utsman ada dalam perlindungannya
.
Mendapat perlindungan dari Walid sebenarnya hati Utsman kemudian menjadi sangat tidak tenang, pada saat beliau melihat saudara-saudaranya yang miskin dan lemah tidak menemukan orang untuk melindungi mereka, sehingga mereka harus menerima siksaan yang tidak tertahankan. Melihat saudara-saudaranya hidup dalam penderitaan, batin Utsman bin Mazh’un tidak rela. Akhirnya beliau memutuskan menemui Walid bin Muqhirah untuk menyatakan keinginannya melepaskan diri
.
Kisahnya dapat diikuti sebagaimana diriwayatkan oleh seorang sahabat: “Ketika Utsman bin Mazh’un melihat beberapa sahabat Rasul mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, sementara ia aman dalam perlindungan Walid bin Mughirah, lalu ia berkata dalam hatinya, Demi Allah, sesungguhnya saat ini aku sedang berlindung kepada musuh Allah, sementara sahabat-sahabatku merasakan berbagai azab dan siksaan, maka ia pun segera menemui Walid bin Mughirah dan berkata: “Wahai Abu Abdi Syams (Walid), bebaskan aku dari perlindunganmu! Berkata Walid: Kenapa wahai anak pamanku? Sementara orang lain susah mencari pelindung kau malah minta dibebaskan dari perlindunganku, jika kulepaskan maka boleh jadi kau akan disiksa oleh kaumku. Jawab Utsman: “Tidak, aku lebih suka ada di dalam perlindungan Allah. Pergilah kau ke depan masjid umumkanlah bahwa kau sudah tidak lagi melindungi aku sebagaimana kau dulu mengumumkan perlindungan terhadapku. Lalumereka berdua pun pergi ke halaman masjid. Walid berkata, ini adalah Utsman, dia datang menemuiku untuk membebaskan dirinya dari perlindunganku. Utsman menanggapi pernyataan Walid dengan menyatakan: “Benar yang diucapkan Walid. Dia betul orang yang selama ini bertanggung jawab melindungiku, tetapi aku lebih suka untuk dilindungi oleh Allah dan aku tidak pernah sudi lagi untuk dilindungi oleh orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT
.
Dapat kitaambil pelajaran bahwa Utsman sempat mengambil langkah yang kurang tepat, karena sesungguhnya yang tepat sebagai pelindung hanyalah Allah SWT. Karenanya ketika turun ayat 255 surah Al Baqarah, Rasul Saw segera memerintahkan kepada para sahabat yang selama ini menjadi pengawal Rasul: “Wahai saudara-saudaraku, pergilah kalian sekarang jangan lagi kalian mengawalku karena sudah ada yang mengawalku, Allah SWT”
.
Usai proses pelepasan perlindungan dari Walid, beliau menghadiri sebuah majelis orang-orang Quraisy yang sedang dipimpin oleh Lubaid bin Rabi’ah. Di dalam majelis tersebut, Lubaid bin Rabi’ah berkata: “Bukankah segala sesuatu selain Allah itu adalah hampa tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah?”. Kata Utsman:”Benar, apa yang kau katakan wahai Lubaid. Kata Lubaid pula: “Bukankah setiap kenikmatan suatu saat akan sirna”. Utsman menimpali pernyataan Lubaid:”Bohong, nikmat syurga tidak akan pernah sirna selama-lamanya, semua kenikmatandunia benar akan sirna tapi ada kenikmatan syurga yang tidak kalian yakini, tidak akan sirna selama-lamanya. Lubaid merasa terpotong dan terhina dengan ungkapan tersebut, padahal ia seorang tokoh Quraisy yang disegani. Lalu ia mengatakan: “Wahai kaum Quraisy, demi tuhan pernahkah kalian meliha seseorang menghinaku dalam majelis seperti ini?”. Salah seorang yang hadir di dalam majelis mengatkan:”Orang yang baru bicara ini adalah orang tolol yng baru saja meninggalkan agama nenek moyang kita, maka jangan digubris ucapannya”
.
Sejarah berulang, setiap orang yang akan kembali menegakkan ajaran Allah disebut tolol, bodoh atau idiot oleh orang-orangsesat. Padahal, yang bodoh menurut Allah adalah mereka yang tersirat dan tersurat dalam ayat 179 surah Al A’raaf, yang diantaranya adalah mereka yang memiliki akal namun tidak dipergunakan untuk berfikir di jalan Allah SWT. Utsman bin Mamh’un, menanggapi pernyataan orang tersebut sehingga terjadilah perang mulut di antara mereka, yang bersangkutan lalu berdiri dan memukul salah satu mata Utsman
.
Melihat kejadian tersebut, Walid bin Mughirah berkata :”demi tuhan wahai keponakanku, jika matamu itu kebal, kau pantas untuk melepaskan tanggungan dariku, tapi kau sudah melepaskan tanggungan itu maka aku tidak akan membelamu. Utsman berkata: “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang satu lagi sangat membutuhkan apa yang dialami oleh mataku yang sebelah  karena dianiaya di jalan Allah. Walid berkata: “Jika kau mau, aku masih siap untuk menjadi pelindungmu. Jawab Utsman: “Tidak, tidak untuk selama-lamanya!”
.
Pergilah Utsman dengan sebelah matanya yang sakit, tetapi ia begitu luar biasa terbebas jiwanya karena ia sekarang sedang berlindung kepada Allah SWT. Suatu ketika, Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Medinah dan termasuklah diataranya Utsman. Di Medinah mereka bisa merasakan kekhusyuan beribadah dan kembali kesucian pribadi Utsman nampak kembali tergambar dalam hidup kesehariannya. Ia menjadi “Rahib” (orang suci) yang menghabiskan malamnya untuk beribadah dan siangnya bekerja keras, lalu terkadang malam dan siang dipakai untuk beribadah atau malam dan siang untuk berjuang termasuk berperang menghadapi orang-orang musyirikin.
utsman punya keistimewaan tersendiri dalam ber-“Zuhud”, hidupnya benar-benar-benar jauh dari kenikmatan dunia, beliau lebih suka memakai pakaian yang kasar dan tidak mengganti pakaian dan beliau tidak makan, kecuali makanan yang sangat sederhana. Pada suatu saat beliau masuk ke dalam masjid yang saat itu Rasul dan para sahabat sedang duduk-duduk, beliau masuk dengan memakai pakaian yang sangat tidak layak dipakai, melihat kondisi beliau, Rasul pun tersentuh hatinya, sementara para sahabat yang menyaksikan malah mengalirkan air mata. Beliau beribadah ternyata bukan hanya dengan meninggalkan kenikmatan dunia dalam arti makan, minum dan berpakaian, tapi pernah juga berniat untuk menjauhi istrinya. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, maka Rasul mun menegur beliau dengan mengatakan: “Istrimu punya hak darimu”
.
Keinginan beliau senantiasa ber-“Mujahadah” inilah yang membuat Rasul sangat mencintai beliau. Karena ketika ruhnya yang suci hendak meninggalkan jasad menuju ke hadirat Allah SWT, Rasul pun berada disampingnya mendampingi sampai akhir hayatnya. Dan ketika utsman bin Mazh’un akhirnya meninggalkan alam dunia ini, Rasul menundukkan kepalanya dan mencium kening memenuhi wajah Utsman dengan air mata. Dengan iringan doa beliau; “Semoga Allah merahmatimu, wahai Utsman, kau tinggalkan alam dunia ini tidak pernah kau ambil sedikitpun keuntungan darinya, dan dunia pun tidak pernah dirugikan oleh sebab kehadiranmu”
.
Rasul tidak pernah melupakan orang yang sangat dicintainya, sepeninggal Utsman beliau selalu ingat dan memujinya di depan para sahabt, sehingga diriwayatkan saat putri Rasul, Rukayah akan meninggal dunia, Rasul berkata kepada putrinya:”Temuilah segera di alam barzah (Utsman bin Mazh’un) orang yang sangat baik dan mulia di sisi Allah SWT”
.
Seandainya anda hendak bermaksud menyusun daftar nama-nama sahabat yang Rasulullah saw. menurut urutan masa masuknya kedalam agama islam, maka pada urutan ke empat belas tentulah anda akan tempatkan Utsman bin Mazh’un.Tatkala agama islam cahayanya mulai menyinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikanya dari beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, maka Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa segelincir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri dari sekelompok Rasulullah.Seperti biasanya pengikut Rasulullah selalu diterpa berbagai derita dan siksaan pada saat itu.Rasulullah saw. mengutamakan keselamatan golongan kecil dari orang beriman dan teraniaya ini, dengan jalan menyuruh mereka berhijrah ke Habsyi. Dan Utsman bin Mazh’un terpilih sebagai pemimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini. dengan putranya yang bernama Saib, dilangkahkanya kaki ke suatu negeri yang jauh menghindar dari tiap daya musuh Rasulullah dari Abu Jahal dan orang Quraisy.Dan ketika mereka berada di Habsyi, di sana mereka menghadapi suatu agama yang teratur dan tersebar luas, mempunyai gereja-gereja, rahib-rahib dan para pendeta. Dan tentulah orang-orang gereja di negeri Habsyi itu telah berusaha sekuat daya untuk menarik orang-orang Muhajirin kedalam agama mereka, dan meyakinkan kebenaran agama Masehi. Tetapi para kaum Muhajirin tidak ada yang beranjak dari kecintaan mereka yang mendalam terhadap agama islam dan terhadap Muhammad Rasulullah.Demikianlah kaum Muhajirin tinggal di Habsyi dalam keadaan aman dan tentram. Mereka senantiasa beribadan kepada Allah dengan tekun dan mempelajari ayat-ayat al-Quran yang ada pada mereka. Tiba-tiba sampailah berita kepada mereka bahwa orang-orang Quraisy telah menganut agama islam dan mengikuti Rasulullah bersujud kepada Allah.Maka bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemas barang-barang mereka, dan bagaikan terbang mereka berangkat ke Makah dibawa kerinduan dan didorong kecintaan pada kampung halaman. Tetapi baru saja mereka sampai di kota, ternyata  masuknya orang-orang Quraisy itu hanya dusta belaka.Ketika itu mereka amat terpukul karena telah berlaku ceroboh dan amat tergesa-gesa. Tetapi betapa mereka akan kembali, padahal kota mereka telah berada di hadapan mereka. Dalam keadaan itu orang-orang musyrik di kota mekah telah mendengar  datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar dan pasang perangkap untuk menangkapnya.Perlindungan, ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi arab yang memiliki kekudusan dan dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh. Diantaranya yang termasuk mendapat perlindungan adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah.Dalam keadaan itu, ia melihat saudara-saudara yang lain mendapat siksaan oleh kaum Quraisy yang keji, maka hatinya bergejolak, maka ia bermaksud untuk menanggalkan perlindunganya.

Ia pun berkata kepada Walid bin Mughirah:

“wahai Abu Abdi Syam, cukup sudah perlindungan anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan anda.”

“kenapa wahai keponakanku?” ujar Walid, “mungkin ada seseorang anak buahku yang mengganggumu?”

“tidak” jawab Utsman, ‘hanya saya ingin berlindung kepada Allah’.

Maka Utsman pergi ke masjid dan mengumumkan penanggalan perlindunganya.

Disana Utsman mendapatkan tinjuan tepat mengenai mata. Berkatalah Walid

“wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa maka sungguh, benteng perlindunganmu sangat tangguh”.

Ujar Utsman “tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat pula membutuhkan pukulan yang telah dialami saudaranya dijalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syamas, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu dari padamu.”


Dan setelah ditanggalkanya perlindungan dari Walid, maka Utsman menemui siksaan dari orang-orang Quraisy. Tetapi dengan begitu ia tidak merana, malah bahagia.

Utsman melakukan hijrah ke madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka. Dan di kota hijrah Madinah al-Munawwarah itu bersingkaplah kepribadian dari Utsman bin Mazh’un tak ubah bagai batu permata yang telah diasah dan kebesaran hatinya yang istimewa. Ia memiliki ciri khas dalam zuhud dan ibadahnya. Ia amat tekun dan mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupanya baik siang maupun malam dialihkanya menjadi sholat  yang terus menerus dan tasbih yang tiada henti.

Rupanya ia telah merasakan manisnya keasyikan beribadah itu, iapun hendak memutuskan hubungan dengan segala kesenangan dan kemewahan dunia. Ia tak hendak memakai pakaiaan kecuali yang kasar dan tak hendak memakan makanan selain yang amat bersahaja.,

Ibnu Mazh’un amat disayangi oleh rasulullah saw dan tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat, hingga demikian ia merupakan orang Muhajirin yang pertama wafat di Madinah, dan yang mula-mula merintis jalan menuju surga, maka Rasulullah saw. berada disisinya.

Rasulullah saw. membungkuk, mencium kening Ibnu Mazh’un serta membasahi kedua pipinya dengan air yang berderai dari kedua mata beliau yang diliputi santun dan duka cita hingga saat kematiannya.

Dan bersabdah Rasulullah saw. melepas sahabat yang tercinta itu:

“semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu Saib. Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satupun keuntungan yang kamu peroleh dari padanya serta tak satu kerugianpun yang dideritanya daripada mu.”

Dan sepeninggalan sahabatnya, Rasulullah yang amat penyantun itu tidak pernah melupakanya, selalu ingat dan memujinya. Bahkan untuk melepas putri beliau Rukayah, yakni ketika nyawanya hendak melayang, adalah kata-kata berikut:

“pergilah susul pendahulu kita yang pilihan. Utsman bin Mazh’un”

Imam Kaum Syi’ah vs Imam Kaum Sunni.. Siapa yang benar ??

Imam Ali Abul Hasan Al Asy’ari: Sang Pencari Kebenaran

Abu al-Hasan al-Asy’ari

Abu al-Hasan bin Isma’il al-Asy’ari (Bahasa Arab ابو الحسن بن إسماعيل اﻷشعري) (lahir: 873- wafat: 935), adalah seorang pemikir muslim pendiri paham Asy’ari.

 Latar Belakang

namanya Abul al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah. Al-Asy’ari lahir tahun 260 H/873 M dan wafat pada tahun 324 H/935 M [1] Al-Asy’ari lahir di Basra, namun sebagian besar hidupnya di Baghdad. pada waktu kecilnya ia berguru pada seorang Mu’tazilah terkenal, yaitu Al-Jubbai, mempelajari ajaran-ajaran Muktazilah dan mendalaminya. Aliran ini diikutinya terus ampai berusia 40 tahun, dan tidak sedikit dari hidupnya digunakan untuk mengarang buku-buku kemuktazilahan. namun pada tahun 912 dia mengumumkan keluar dari paham Mu’tazilah, dan mendirikan teologi baru yang kemudian dikenal sebagai Asy’ariah

.

Ketika mencapai usia 40 tahun ia bersembunyi di rumahnya selama 15 hari, kemudian pergi ke Masjid Basrah. Di depan banyak orang ia menyatakan bahwa ia mula-mula mengatakan bahwa Quran adalah makhluk; Allah Swt tidak dapat dilihat mata kepala; perbuatan buruk adalah manusia sendiri yang memperbuatnya (semua pendapat aliran Muktazilah). Kemudian ia mengatakan: “saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut; saya harus menolak paham-paham orang Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahan-kelemahanya”. [1]

.

Walaupun banyak juga ulama yang menentang pamikirannya,tetapi banyak masyarakat muslim yang mengikuti pemikirannya. Orang-orang yang mengikuti/mendukung pendapat/faham imam ini dinamakan kaum/pengikut “Asyariyyah”, dinisbatkan kepada nama imamnya. DiIndonesia yang mayoritas penduduknya muslim banyak yang mengikuti paham imam ini, yang dipadukan dengan paham ilmu Tauhid yang dikembangkan oleh Imam Abu Manshur Al-Maturidi.

Karya-karyanya

Ia meninggalkan karangan-karangan, kurang lebih berjumlah 90 buah dalam berbagai lapangan.[1] Kitabnya yang terkenal ada tiga : 1. Maqalat al-Islamiyyin 2. Al-Ibanah ‘an Ushulid Diniyah 3. Al-Luma[1]

Mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah (sunni) mengikuti Imam Asy’ari dan Maturidi dalam hal tauhid, Mazhab Syafi’i dalam hal fikih dan tasawuf nya mengikuti Al Ghazali ?? Adakah yang menyuruh anda anda berimam pada mereka ?? Dasarnya apa ?? Dalilnya mana ???

Karya Abu Hasan Al Asy’ari yang paling termasyhur adalah kitab Maqalat Al Islamiyyin . Ini merupakan sebuah karya yang sangat kacau dan berantakan. Karya lainnya yang terbit adalah kitab Al Luma’  dan kitab Al Ibanah

Dibidang akidah kaum sunni terpecah menjadi dua kelompok yakni ahlulhadis dan ahlulkalam

  1. Ahlulhadis yang mengharamkan ilmu kalam. Pada abad abad pertama kalam sunni dianggap bertentangan dengan sunnah dan hadis. Bukankah para pemimpin ahlulhadis seperti Malik bin Anas dan Ahmad bin Hambal memandang perdebatan, telaah atau argumen (ilmu kalam) yang ada kaitannya  dengan masalah iman sebagai sesuatu yang diharamkan ??
  2. Asy’ariyyah selaku ahlulkalam (pengikut Abu Hasan Al Asy’ari) yang menganggap ilmu kalam boleh boleh saja. Abu Hasan Al Asy’ari menentang pandangan tokoh tokoh  ahlulhadis  pendahulunya seperti Ahmad bin Hambal, menganggap perdebatan dan argumen  serta penggunaan alat logika dalam masalah akidah boleh boleh saja. Asy’ari menulis kitab berjudul “Risalah fi Istihsan al Khawd fi ‘ilm al Kalam” (sebuah risalah tentang kelayakan telaah dalam ilmu kalam)

Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa membuktikan kesalahan banyak pikiran Asy’ari meskipun tanpa menyebutkan nama secara langsung

Akal saya sulit menerima kontradiksi ini ! Inilah gaya mazhab sunni, dua hal yang saling bertentangan dianggap sama sama benar !!

Anehnya, sebagian pengikutnya seperti Baqillaini,  Al Juwaini, Al Ghazali dan Fakhruddin Ar Razi  merevisi dan memodifikasi pandangan pandangan Asy’ari sehingga kaum Asy’ariyyah masa kini tidak mampu lagi membedakan yang mana pikiran Asy’ari yang asli dan mana pikiran pengikut pengikut Asy’ari..

Ini sangatlah menggelikan karena MAZHAB ASY’Ari telah mengalami perubahan perubahan gradual. Dan khususnya ditangan Imam Al Ghazali maka ilmu kalam sedikit banyak  kehilangan warna khasnya dan jadi berwarna irfan (sufisme). Al Ghazali adalah seorang Asy’ariyyah, dia telah banyak berbuat untuk memperkuat akidah akidah Asy’ariyyah , dia telah memberikan fondasi yang lain pada akidah akidah Asy’ariyyah . Berkat Al Ghazali maka kalam jadi lebih dekat dengan irfan dan sufisme

Dapat disebutkan bahwa  sesungguhnya semakin jauh dari masa Asy’ari maka pengikutnya semakin jauh dari ajaran asli Abu Hasan Al Asy’ari. Misalnya : Al Ghazali, kecenderungan sufinya yang kuat maka topik topik kalam jadi lain warnanya. Fakhruddin Ar Razi yang akrab dengan pemikiran filosofis mengubah bentuk kalam Asy’ari dan selanjutnya memperkuatnya

Kemenangan Asy’ariyyah atas Syi’ah Imamiyah pada masa lalu sangat merugikan dunia Islam karena Asy’arisme melemahkan semangat berpikir. Kemenangan kekuatan stagnasi atas kemerdekaan berpikir.

Syi’ah imamiyah meletakkan pendekatan rasional. Islam sebagai agama yang begitu kaya dan penuh inisiatif serta dapat memecahkan masalah membutuhkan kalam yang tak tergoyahkan keyakinannya pada kemerdekaan akal.

Kemenangan Asy’ariyyah terjadi karena adanya faktor faktor sejarah dan sosial tertentu. Dan peristiwa peristiwa politik tertentu memberikan andil yang efektif untuk kemenangan itu. Asy’ariyyah mendapat fondasi dialektiknya setelah seratus tahun dari Asy’ari

Pada umumnya ilmu tauhid yang dikenal dan diajarkan di Indonesia dan Malaysia adalah ilmu tauhid aliran Asy’ariyyah yang mana pembahasannya hanya bersifat sepihak !!

KALAM  SYI’AH

Sekarang tiba saatnya untuk membahas kalam syi’ah, meski tentu saja secara ringkas. Kalam dalam pengertian argumen logis dan rasional tentang akidah akidah pokok Islam. Di satu pihak, kalam syi’ah muncul dari bagian terpenting dari hadis syi’ah, dan dilain pihak mampu berpadu  dengan  filsafat syi’ah.

Kalam syi’ah bukan saja tidak bertentangan dengan sunnah dan hadis, kalam syi’ah berakar pada sunnah dan hadis.  Hadis Syi’ah berbeda dengan koleksi hadis sunni, terdiri atas banyak hadis atau riwayat yang membahas dengan logis masalah masalah metafisika dan sosial, dan yang menganalisis masalah masalah itu dengan rasional. Namun dalam koleksi hadis sunni tidak ada analsis seperti itu.

Sebagai contoh, banyak masalah masalah yang diangkat tidak ada argumen atau penjelasan rasionalnya  seperti qadha dan qadar , kehhendak Allah yang Maha Meliputi, sifat sifat Allah, atau topik topik seperti roh, akhirat, pengadilan akhirat, shirath, neraca atau topik topik seperti imamah, khilafah dan sebagainya

Dalam koleksi hadis syi’ah semua topik seperti itu dibahas dengan rasional dan logis. Karena itu, kalam dalam pengertian  analisis rasional atas berbagai masalah ada `dalam hadis syi’ah

Catatan kaki

  1. ^abcd Hanafi Ahmad: “Teologi Islam (Ilmu Kalam)”, hal 65-77,2001, Penerbit Bulan Bintang, ISBN : 979-418-074-2

Abu Mansur Al Maturidi

Abu Mansyur Almaturiddi

Nama lengkap beliau Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al samarqandi Al Maturidi Al Hanafi.Beliau lahir di Maturrid sebuah kota kecil di Samarkand.Nama Almaturridi nisbatkan dari dari tempat kelahirannya Maturrid. Wafat tahun 333H,9 tahun setelah Wafatnya AL Imam Asy’ari.Tidak ada data yang menerangkan bahwa kedua imam ini pernah bertemu walaupun hidup dalam satu zaman,Imam Asy’ari di bashrah- Irak,Imam maturridi di Maturrid-samarkand –Rusia.Imam Maturridi lebih dekat kepada imam Hanafi dan Asy’ari kepada Imam syafi,i,maka dalam masalah fiqih kedua imam tersebut terdapat perbedaan dalam beberapa segi walaupun tidak mendasar.

Kedua Imam ini terdapat banyak persamaan yang mendasar dalam masalah Aqidah,dan tersebut dalam kitab “Ihtihaf sadatul Muttaqin” karya “Sayid murtadha alhusaini az zabidi” yaitu kitab syarah dari “Ihya
ulumudin” karya Imam Ghozali, pada zilid II hal 6 yaitu :

إذَا أطلق أهلُ السنة والجَماعة فالمراد بِهِم الأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ
Apabila di sebut kaum Ahlu sunnah Wal’jama’ah,maka maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti Rumusan faham Al Asy’ari dan Al Maturidi.

Pokok-pokok pemikiran Imam Al Maturridi :

1.Masalah Iman :

Iman adalah ikrar dengan lisan dan tashdiq di dalam hati,serta ikrar itu adalah bagian dari iman.

2.qodlo dan qodhar dalam hubungannya dengan perbuatan manusia:

Kemauan manusia itu sebenarnya adalah kemauan Allah,akan tetapi perbuatan manusia itu tidak selamanya sesuai dengan kehendak Tuhan,sebab dia selalu menghendaki yang baik,bukan yang tidak baik.dan ini adalah prosedur akal saja sebab baik buruk adalah semua dari Qudrat dan iradatnya Allah Ta’ala

3.tentang sifat tuhan :
Sifat tuhan adalah sifatnya tidak perlu di permasalahkan lagi.

Pokok –pokok pikiran Imam Al Asy’ari :
1.Masalah Iman :

Tashdiq di dalam hati di ikuti dengan perkataan dan di buktikan dengan perbuatan.

2.qodlo dan qodhar dalam hubungannya dengan perbuatan manusia:
Di rumuskan dalam bentuk pertanyaan :
Apakah perbuatan manusia di ujudkan oleh Tuhan atau oleh Manusia itu sendiri :
Yaitu qodlo sifatnya qodim yaitu kehendak yang Azali,sedangkan Qodhar sifatnya adalah hudus/baru yaitu ,wujud pekerjaan manusia itu,Dengan kata lain terwujudnya perbuatan manusia adalah atas Qudrat dan Iradatnya Allah Ta,ala.

3.Sifat dan dzat Allah Ta’ala
Imam Asy’ari menetapkan adanya sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang tercantum dalam Alqur’an dan Sifat Allah bukan dzat Allah.Dzat Allah adalah tidak butuh kepada Dzat lain dan tidak butuh kepada yang menjadikan,sifat Allah adalah sifat yang qodim.

dalam kancah sejarah Abu Hasan Al-Asy’ari lebih di kenal daripada Abu Mansur Al Maturridi. Padahal hakikatnya baik Al-Asy’ari maupun Al-Maturidi merupakan dua pembesar Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Ketidak populeran Al Maturidi dibanding dengan Al Asy’ari dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya :

1.Para Sejarawan tidak mencantumkan pada tarajum-tarajum karangannya. Diantaranya yaitu Ibnu Al Nadim (379 H/987M) yang wafat 50 tahun setelah wafatnya Al Maturidy. Padahal ia mencantum Imam Attahawi dan Imam Al Asy’ari. Demikian pula sejarawan yang lain seperti Ibnu Kholikan, Ibnu Al ‘Amad, Assyafadi, Ibnu Khaldun pun tidak mencantumkannya dalam muqoddimahnya dalam ilmu kalam. Begitu pula Jalaludin Assuyuti tidak mencantumkanya dalam tobaqot al mufassirin, padahal Al Maturridi disamping seorang mutakalim dia juga seorang mufasir.

2.Faktor geografis.Sebagaimana kita ketahui bahwasanya Al Maturridi hidup di Samarkan yang jauh dari Irak yang saat itu merupakan pusat perkembangan Islam dan disaat yang sama Al Asy’ari mulai memperkenalkan ajaran-ajarannya disana.
Asya’irah dan Maturidiyah merupakan du teologi Islam yang legendaris yang masih eksis hingga saat ini, yang kita kenal dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Aliran Maturridiah banyak dianut umat Islam yang bermadzhab Hanafi sedangkan Asy’ariyah banyak dipakai oleh umat Islam bermadzhaf syafi’i . Oleh karena itu tidak heran jika kita mendengar ormas islam terbesar di  indonesia bahkan di dunia yaitu Nahdatul Ulama-N U. berfaham dalam aqidah  ASYTUR (Asy’ariyah Maturidiyah).dan di dalam fiqih berpegang kepada madzhabun arba’ah yaitu Hanafi-maliki-syafi’i &Hambali.
 

Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Abu Mansur al-Samarqandi al-Maturidi al-Hanafi (Bahasa Arab: محمد بن محمد بن محمود أبو منصور الماتريدي السمرقندي الحنفي) (wafat 333 AH / 944 ) adalah seorang cendekiawan muslim dan ahli di bidang ilmu kalam.

Maturidi dilahirkan di Maturid, dekat Samarqand. Di bidang ilmu agama, beliau berguru pada Abu Nasr al-`Ayadi and Abu Bakr Ahmad al-Jawzajani. Ia banyak menulis tentang Mu’tazilahQarmati, dan Syiah.

Karya

  • Kitab Al Tawhid
  • Kitab Radd Awa’il al-Adilla, sanggahan terhadap Mu’tazilah
  • Radd al-Tahdhib fi al-Jadal, sanggahan terhadap Mu’tazilah
  • Kitab Bayan Awham al-Mu’tazila (‘Kitab Pemaparan Kesalahan Mu’tazilah
  • Kitab Ta’wilat al-Qur’an.
  • Kitab al-Maqalat
  • Ma’akhidh al-Shara’i` dalam Usul al-Fiqh
  • Al-Jadal fi Usul al-Fiqh
  • Radd al-Usul al-Khamsa, sanggahan terhadap pemaparan Abu Muhammad al-Bahili’ tentang lima prinsip Mu’tazilah
  • Radd al-Imama, sanggahan terhadap konsepsi keimaman syiah
  • Al-Radd `ala Usul al-Qaramita
  • Radd Wa`id al-Fussaq

Muhammad Abu Mansur al-Maturidi (853 AD – 333 AH / 944 AD) (Persian: محمد بن محمد بن محمود أبو منصور ماتریدی سمرقندی حنفی‎) was an Iranian[1] Muslim theologian, and a scholar of Islamic jurisprudenceand Qur’anic exegesis. Al Maturidi is one of the pioneers[2] of Islamic Jurisprudence scholars and his two works are considered to be authoritative on the subject.[3] He had a “high standing” among the scholars of his time and region.[4]

Early life and education

He was born in Maturid near Samarkand, (possibly) in 853.[5] He was educated in Islamic theologyQur’anic exegesis, and Islamic jurisprudence. He was a Muslim theologian and his background is claimed as Tajik.[1] The area of Samarkand was at his time under theSamanid and its urban population were predominately Tajik while the surrounding steppes was largely populated by Turkic-speaking people.[6]

His Teachers were Abu Nasr Ahmed b. Abbas b. Husayin al-Iyazi, Abu Bakr Ahmed b. Ishak b. Salih el-Juzjani (writer from Al-Farq wat Tamyiz),Nusayr b. Yahya al-Balkhi and Qadilqudat Muhammad b. Mukatil ar-Razi. Abu Nasr al-Iyazi was his teacher and friend. Abu Bakr al-Juzjani was the pupil of Abu Sulayman Musa b. Sulayman el-Juzjani, who was the pupil of Imam Abu Yusuf and Imam Muhammad Ash-Shaybani. Muhammad b. Mukatil did learn from Imam Muhammad as-Shaybani too.

Works

When al-Maturidi was growing up there was an emerging reaction[7] against some schools within Islam, notably Mu’tazilisQarmati, and Shi’a. The Sunni scholars who were following Abu Hanifa. Al-Maturidi with other two preeminent scholars()[8] wrote especially on the creed of Islam and elaborated Abu Hanifa‘s doctrine, the other two being Abu al-Hasan al-Ash’ari in Iraq, and Ahmad ibn Muhammad al-Tahawi in Egypt.[9]

While Al-Ash’ari and Al-Tahawi were Sunni together with Al-Maturidi, they constructed their own theologies diverging slightly from Abu Hanifa‘s school. Al-Ash’ari, enunciated that God creates the individual’s power (qudra), will, and the actual act[10] giving way to a fatalist school of theology, which was later put in a consolidated form by Al Ghazali.[11] Al Maturidi, followed in Abu Hanifa‘s footsteps, and presented the “notion that God was the creator of man’s acts, although man possessed his own capacity and will to act”.[12] Al Maturidi and Al-Ash’ari also separated from each other in the issue of the attributes of God,[13] as well as some other minor issues.

Later, with the impact of Persianate states such as Great Seljuq Empire[14] and Ottoman Empire,[15] Hanafi-Maturidi school spread to greater areas where the Hanafi school of law is prevalent, such as AfghanistanCentral AsiaSouth AsiaBalkanRussiaChinaCaucasus andTurkey.

Maturidi had immense knowledge of dualist beliefs (Sanawiyya) and of other old Persian religions. His “Kitäb al-tawhld” in this way has become a primary source for modern researchers with its rich materials about Iranian Manicheanism (Mâniyya), a group of Brahmans (Barähima), and some controversial personalities such as Ibn al-RawandiMuhammad al Warraq, and Muhammad b. Shabib.[16][17]

References

  1. ab S. H. Nasr(1975), “The religious sciences”, in R.N.Frye, the Cambridge History of Iran, Cambridge University Press
  2. ^Katip Çelebi. (1943). Keşfü’z-Zünûn an Esâmi’l-Kütüb vel-Fünûn, (Vol. I), (pp. 110‑11). Istanbul:Maarif Matbaası.
  3. ^ Ali, A. (1963). Maturidism. In Sharif, M. M. (Ed.), A history of Muslim philosophy: With short accounts of other disciplines and the modern renaissance in the Muslim lands (Vol. 1), (p. 261). Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  4. ^ Mwakimako, H. (2004). Al Maturidi. In Martin, R. C. et al. (Eds.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World, (Vol. 1), (p. 443). New York: Macmillan Reference USA
  5. ^ Pessagno, J. M. (1984). The uses of evil in Maturidian thought. Studia Islamica, 60. p. 59.
  6. ^ Adeeb Khalid “Islam in contemporary Central Asia” in R. Michael Feener, “Islam in World Cultures: Comparative Perspectives”, Published by ABC-CLIO, 2004. pg 135, excerpt: Central Asia has long been an integral part of the Muslim world. Arab armies conquered the cities of Transoxiana in the early eight century, turning the region into the frontier of the Muslim world. Over the next two centuries, the urban population, mostly Tajiks converted to Islam, and the cities very soon became connected to the networks of Muslim culture and of Islami learning…. This position was cemented by the emergence, at the end of the tenth century, of Bukhara as the seat of the independent Samanid Persian dynasty, which patronized the development of “new Persian” (e.g. Persian as fully Islamized language) as a literary language. The surrendering steppe, with its largely Turkic-speaking population, remained a borderland.
  7. ^ Williams, J. A. (1994). The word of Islam. London: Thames and Hudson. p. 145.
  8. ^ Ali, A. (1963). Maturidism. In Sharif, p. 260. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  9. ^ Ali, A. (1963). Maturidism. In Sharif, p. 259. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  10. ^ Gimaret, D. (1980). The´ories de L’Acte Humain en The´ologie Musulmane. Paris: J. Vrin.
  11. ^ Hye, M. A. (1963). Ash’arism. In Sharif, p. 226. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  12. ^ Shah, M. (2006). Later Developments. In Meri, J. W. (Ed.),Medieval Islamic civilization: an encyclopedia, (Vol. 1), (p. 640). New York:Routledge.
  13. ^ Lucas, S. C.(2006). Sunni Theological Schools. In Meri, J. W. (Ed.),Medieval Islamic civilization: an encyclopedia, (Vol. 1), (p. 809). New York:Routledge.
  14. ^ Hughes, A. (2004). Ash’arites, Ash’aria. In Martin, R. C. et al. (Eds.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World, (Vol. 1), (pp. 83-84). New York: Macmillan Reference USA
  15. ^ DeWeese, D. (2004). Central Asian Culture and Islam. In Martin, R. C. et al. (Eds.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World, (Vol. 1), (p. 139). New York: Macmillan Reference USA
  16. ^ See G. Vajda, “Le Témoignage d’al-Maturidi sur la doctrine des manichéens, des daysanites et des rnarcionites”, Arabica, 13 (1966), pp. 1-38; Guy Mannot, “Matoridi et le manichéisme”, Melanges de l’Institut Dominicain d’Etudes Orientales de Caire, 13 (1977), pp. 39-66; Sarah Stroumsa, “The Barahima in Early Kalam”, Jarusalem Studies In Arable and Islam, 6 (1985), pp. 229-241; Josef van Ess, “al-Farabi and Ibn al-Rewandi”, Hamdard Islamicus, 3/4 (Winter 1980), pp. 3-15; J. Meric Pessagno, “The Reconstruction of the Thought of Muhammad Ibn Shabib”, Journal of American Oriental Society, 104/3 (1984), pp. 445-453.
  17. ^The Authenticity of the Manuscript of Maturidi’s Kitäb al-Tawhid, by M. Sait Özervarli, 1997. (Retrieved on: 23 December 2008)

Al GHAZALi

Dalam sebuah kajian yang ke sekian, ketika itu tema yang diangkat adalah seputar biografi dan mantik Imam Al-Ghazali. Presentator biografi adalah saya sendiri dan logika, orang lain. Dalam sesi tanya jawab, makalah yang saya presentasikan tidak banyak pertanyaan, hanya beberapa pertanyaan dan tambahan dari beberapa kekurangan dalam makalah yang saya tulis. Wajar saja, biografi kan masalah sejarah dan perjalanan hidup, peluang analisa lebih sempit dibanding yang lain. Sepertinya kurang menarik menurut beberapa orang, tapi menurut saya sangat penting karena banyak yang dapat diteladani dari Imam Al-Ghazali terutama perjuangannya dalam menuntut ilmu.

Salah satunya adalah ketika beliau kembali pulang setelah berguru pada Syaikh Isma’ily selama lima tahun. Beliau mencatat seluruh yang dipelajarinya bersama gurunya. Dalam perjalanan, Imam Al-Ghazali dirampok dan seluruh buku catatannya diambil. Ketika itu terjadi perdebatan sengit:

“Ambillah semua hartaku, tapi jangan kau ambil buku catatanku karena tidak gunanya bagimu”

Perampok itu menjawab, “Ilmu itu bukan dibuku, tapi otak”

Akhirnya buku catatannya pun dikembalikan lagi. Kejadian itu ternyata membuat Imam Al-Ghazali semakin semangat belajar. Akhirnya semua buku dan catatannya hasil belajar selama lima tahun itu, dihafalnya semua dalam waktu tiga tahun. Setelah itu berangkat lagi menuntut ilmu pada guru yang lain.

Seputar logika, ini yang seru. Presentator menjelaskan penggagas pertama logika dalam Islam dan asal mula logika yang berasal dari ilmu kedokteran. Jadi ulama dulu yang ahli dalam bidang mantiq juga mempunyai kapabelitas dalam bidang kedokteran. Dikatakan juga bahwa, Imam Al-Ghazali dalam hal ini mengikuti Imam Syafi’i sebagaimana dalam bidang yang lain. Kemudian masalah hukum mempelajari disiplin ilmu ini, Imam Al-Ghazali dalam kondisi tertentu mewajibkan untuk mempelajari ilmu ini.

“Man lâ yuhithu bihi ilmuhu falâ tsiqata lahu”

(Siapa yang ilmunya tidak didukung dengan mantik, maka keilmuannya diragukan)

Akan tetapi dalam waktu yang lain beliau melarang mempelajarinya.

“Man tamantaqa faqad tazandaqa”

(Barangsiapa bermain-main dangan mantik, maka dia zindik)

Tentu saja kata-kata tersebut dilontarkan kepada orang yang berbeda, bahkan berlawanan juga kondisinya.

Akan tetapi, ada salah satu diskusan yang tampaknya sangat getol meneliti pemikiran Imam Al-Ghazali, hal itu terlihat dengan gaya bicaranya yang mantap dan penuh keyakinan serta didukung dengan beberapa literatur yang pernah dibacanya. Dia mengungkapkan beberapa kekurangan Imam Al-Ghazali mulai dari filsafatnya, dengan mengatakan bahwa, “Filsafat Al-Ghazali hanya sesuai pesanan, karena ia mempelajari filsafat hanya untuk memberantas filsafat yang berkembang pada saat itu.” Selain poin filsafat, literatur punya Imam Al-Ghazali juga menurutnya banyak kelemahan. Ia juga tidak setuju sikap Imam Al-Ghazali yang mengkafirkan tiga poin dalam filsafat dalam bukunya ‘Tahafut al-Falasifah’. Terakhir ia menyimpulkan bahwa, “Al-Ghazali, tidak jelas…!”

Brek, hatiku kecewa. Kenapa kata itu terlontar kepada ulama sekaliber Imam Al-Ghazali. Mungkin ia hanya memandang dari satu segi saja. Jasa beliua dalam meng-Islamkan filsafat itu dianggap hanya sesuai pesanan dan perlu diragukan keilmuannya dalam bidang filsafat. Terlihat jelas bahwa disini ada indikasi penolakan terhadap filsafat islam yang sudah digagas oleh ulama pendahulu. Setinggi apakah keilmuan kita sehingga menganggap Imam Al-Ghazali demikian? Kalau anda tidak setuju, mana konsep yang Anda tawarkan sebagai pengganti konsep yang sudah ada? Ternyata ilmu kita tidak ada apa-apanya. Kalau mencari kesalahan tanpa memberikan solusi, banyak yang bisa Mas. Hatiku hanya berkata demikian, perasaan itu tidak ingin berpindah ke mulut karena jelas argumen saya sangat mudah dipatahkan dan saya tidak punya modal bukti ilmiah.

Sesunggunya telinga, mata, dan hati semuanya akan dipertanggungjawabkan.

wAllâhu A’lam bi ash-Shawâb

 
Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Muslim Syi’ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama (Abu Bakar As-Shiddiq, Umar ibn Khattab, dan Utsman ibn ‘Affan) seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Bentuk tunggal dari Syi’ah adalah Shī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.
Muslim Syi’ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah NabiMuhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah
.
Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah
.
Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenaiSahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan
.
Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini
.
Doktrin
Dalam Syi’ah terdapat apa yang namanya ushuluddin (pokok-pokok agama) danfuru’uddin {masalah penerapan agama). Syi’ah memiliki Lima Ushuluddin:
  1. Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa.
  2. Al-‘Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil.
  3. An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia
  4. Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam-imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian.
  5. Al-Ma’ad, bahwa akan terjadinya hari kebangkitan.
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir
.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).Dimensi ketuhanan ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir
.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang). Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. nabi sama seperti muslimin lain. I’tikadnya tentang kenabian ialah:
  1. Jumlah nabi dan rasul Allah ada 124.000.
  2. Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad SAW.
  3. Nabi Muhammad SAW suci dari segala aib dan tiada cacat apa pun. Ialah nabi paling utama dari seluruh Nabi yang ada.
  4. Ahlul Baitnya, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan 9 Imam dari keturunan Husain adalah manusia-manusia suci.
  5. Al-Qur’an ialah mukjizat kekal Nabi Muhammad SAW.
Sekte dalam Syi’ah
Dua Belas Imam
Disebut juga Imamiah atau Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan imam mereka yaitu:
  1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Ja’far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
  10. Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
.

Lebih Dekat Dengan Syiah Ali As

Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) :

“Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin karena jumlah mereka kurang dari 12. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah Bani Umayyah karena jumlah mereka lebih dari 12. Kesemuanya zalim kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan mereka juga bukan dari Bani Hashim karena Nabi bersabda: Semua Pemimpin ISLAM haruslah dari Bani Hashyim. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas karena mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar perintah al-Qur’an. Oleh karenanya itu satu satunya cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam dari Ahl Bait Rasulullah Saw. Karena mereka yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari ayah ayah mereka yang berhubung langsung dengan kakek mereka Muhammad Saw.”

(Yanabi al-Mawaddah, him. -447).

SYIAH

Saya menyimpulkan bahwa sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam”.

Dalam melihat suatu istilah, maka hendaknya kita tidak melihat dari arti leksikalnya saja. Karena ada istilah-istilah yang juga memuat makna khusus. Misalnya ijtihad, secara leksikal kata tersebut berarti “usaha keras, bersungguh-sungguh, bersusah-payah”. Namun kita tidak bisa dengan serta merta menyebut orang yang berusaha keras dengan sebutan “Mujtahid”, karena sebutan “Mujtahid” adalah istilah khas bagi mereka yang memiliki wewenang untuk melakukan istinbat hukum syar’i.

Begitu juga dengan dengan istilah “syi’ah”, secara leksikal maka itu berarti “pengikut”, sehingga pengikut Mu’awiyyah bisa disebut syi’ah Mu’awiyyah, pengikut Abubakar juga bisa disebut syi’ah Abubakar. Namun istilah “syi’ah” tersebut juga memiliki makna khas, yaitu sebutan untuk para pengikut Ali, yang tidak bisa ditempelkan begitu saja pada semua orang, sehingga pengikut selain Ali tidak bisa disebut sebagai “syi’ah”.

Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro’ 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
[ Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319, Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62, Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15, Haikal, dalam “Hayat Muhammad”]

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :
“Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul saww. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul saww menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul saww dengan pengkhianat amanat Rasul saww. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

Rasul saww sendiri menggunakan istilah “syi’ah” ketika menyebut “pengikut Ali”, hal ini bisa dilihat pada hadits beliau saww.

Rasul saww bersabda :
“Cinta pada Ali menghindarkan dari neraka, Cinta pada Ali menghindarkan dari kemunafikan, syi’atu Ali (pengikut Ali) adalah orang-orang yang beruntung”.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, dan juga oleh Dailami sebagaimana termaktub dalam kitab “Kunuuzul Haqa’iq” (Al-Manawi).

Rasul saww juga bersabda : “Wahai Ali, engkau dan syi’ah-mu berada dalam syurga”.

[Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam “Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah”, jilid 3, hal. 107-108, 162, 167]

Sehingga jelas sekali, istilah “syi’ah” dipergunakan oleh Rasul saww untuk menyebut para pengikut Ali. Oleh karena itulah, semakin jelas terlihat bahwa “syi’ah” adalah istilah khas untuk menyebut para pengikut Ali (syi’ah Ali).

Ali adalah hujjah Allah, Kholifah Rasul saww, penerus misi Rasul saww, sehingga apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka itu berarti ketetapan Ali as juga.

Kita semua tahu bahwa Rasul saww memerintahkan kita untuk mentaati para Imam Ahlul Bait as atau yang dikenal dengan “Dua belas Imam”. Sehingga ketetapan Rasul saww tersebut pastilah menjadi ketetapan Imam Ali as juga. Hal ini juga dapat dilihat pada khutbah beliau tentang Ahlul Bait as di Nahjul Balaghah.
[Nahjul Balaghah, khutbah No. 144 dan 154, tentang Ahlul Bait as]

Sehingga “syi’ah Ali” pastilah juga “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (syi’ah Dua Belas Imam)”.

Kesimpulan:

Sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, TIDAK ADA yang lain. Berikut sekedar tambahan keterangan bahwa kata “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “Syi’ah Ali” dan “Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, berdasarkan pengakuan ulama ahlusunnah :

Abul Hasan Al-Asy’ari :
“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.
[“Maqaalaat Islamiyyin”, jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab “Asy-Syi’ah Fi Maukibi At-Tarikh”, dikeluarkan oleh “Mu’awaniyyah Syu’un At-Ta’lim Wa Al-Bahuts”]

Syahrastani, berkata :
“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.
[Syahrastani, dalam “Milal Wan Nihal”, hal. 118]

Ibn Hazm, berkata :
“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”
[Ibn Hazm, dalam “Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal”, jilid 2, hal 113. ]

Siapa saja yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” adalah bukan syi’ah. Termasuk siapa saja yang pada awalnya taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” namun setelah itu membangkang atau berkhianat kepada mereka as, maka orang tersebut juga bukan syi’ah. Termasuk madzhab Zaidiyah, yang tidak bisa dikatakan sebagai syi’ah, karena madzhab ini mengakui kepemimpinan Abubakar dan Umar, dan mereka tidak berpegang kepada hukum-hukum fiqih “Dua Belas Imam Ahlul Bait as”. Hanya mereka yang selalu taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” yang disebut sebagai syi’ah.

Dengan kesimpulan tersebut, maka orang yang telah berkhianat kepada Imam Hasan as seperti Ubaidallah bin Abbas— sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Mufid dalam kitab “Al-Irsyad”— tidak bisa lagi disebut sebagai syi’ah, karena pengkhianatannya kepada Imam Hasan as dengan bergabung kepada Mua’awiyyah.

Oleh karena itu, tidak ada istilah “pengkhianatan oleh syi’ah”— sebagaimana secara implisit dituduhkan oleh sebagian orang— karena mereka yang berkhianat kepada para Imam as tidak lagi berstatus sebagai syi’ah.

Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS

Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .

1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)

Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”

Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini” [90].

Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”

Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.

Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku”[91].

Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.

Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti? Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul bersabda:”Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan gigi geraham kalian.”Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.

Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengna ayat-ayat al-Qur’an. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian ucapan kita “Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku…”[92] tidak mempunyai hujah yang kuat lagi.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.

Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:” Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai” (Surah 19:5-6)

Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.

Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”

Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya:”Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda menjawab:”Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi Allah”[93]. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau berkata:”Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta”. Atau beliau berkata:”Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali, sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu”. Kemudian Umar bin Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:”Setelah aku ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali”.

Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa’:94:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang mengucapkan “salam” kepadamu:”Kamu bukan seorang Mukmin “(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.

Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.

Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).

Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.

Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai’ah di rumah Fatimah dan membakar mereka.

Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan nas-nas al-Qur’an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid:”Wahai musuh Allah, engkau telah bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam engkau dengan batu” [94]. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:”Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah. Tutup mulutmu Khalid”.

Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang  telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut, sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita memberikannya gelaran “Pedang Allah Yang Terhunus!!!”

Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu’; seorang yang dijadikan perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid: Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di waktu malam, Khalid menidurinya [95].

Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya as-Sidiq Abu Bakar. Di dalam bab Pendapat Umar  Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal menulis:”Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.

Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap – alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar – namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai “Pedang Allah” dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid dipanggil dan dimarahi [96].

Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama seumpamanya yang berusaha menjaga “kemuliaan” sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal – adalah model keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur’an jauh sekali.

Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi SAWA berkata:”Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka lakukan  kepadanya hukum hudud “.

Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakan Khalid ini dengan  menciptakan berbagai kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya dengan sebutan “Pedang Allah Yang Terhunus”.

Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukum-hukum Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.

Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka.  Kabilah ini tidak fasih di dalam menyebutkan Aslamna (kami telah masuk Islam). Mereka menyebutnya: Saba’na, saba’na.Lalu Khalid membunuh mereka dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:”Ya Allah, aku bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid”, dibacanya dua kali [97]. Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid”.Dibacanya sehingga tiga kali [98].

Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai  Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja? Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka Waillah tempat mereka kembali.

Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah tersalah takwil?

Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai “musuh Allah”. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid lebih dari orang lain.

Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya, sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila [99].

Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:”Demi nyawaku hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi [100]. Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:”Ini mesti ulah si A’saar”, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.

Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.

Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran. Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila’ mereka sedangkan aku masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:”Orang jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya”.

Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha Mengetahui wahai Tuhanku,  aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.

Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orang-orang yang berpegang-teguh kepada tali wila’ mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka. kerana NabiMu SAWA telah bersabda:”Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dia cintai”.

2. Hadith Bahtera

Bersabda Nabi SAWA:”Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam” [101].

“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni”[102].

Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-Muhriqah dan berkata:”Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan – pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis – dengan sikap rendah hati dan memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA sebagai sebab diampuninya mereka.”

Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:”Kami adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaan-keutamaan mereka”.

Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka, atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.

Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.

Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih  sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah  ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku

Bersabda Nabi SAWA:”Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di syurga Ad’n yang ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila’ walinya serta ikut Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku, diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya” [103].

Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak memberikan hak untuk  memilih kepada seorang Muslim, bahkan menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila’ Ali dan ikut Itrah keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk mereka Nabi SAWA.

Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara lain beliau berkata:”Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya’la al-Muharibi, seorang yang lemah”. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan  sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin Ya’la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran dengan sempurnanya.

Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul Munaqasat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan [104]. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya’la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati bahawa Bukhari telah meriwayatkan  hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi  yang thiqah. Para imam al-Jarh wa at-Ta’dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.

Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya Nubuwwah dan berjalan  di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan  orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga [105].

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah [106]. Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya [107], dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syi’ah

 Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.

Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.

Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”.

Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,”Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”.

Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.

Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”.

Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja’fariyyah

Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja’far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadith.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy’ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?

Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.

Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.

Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:

Jika mereka bertanya tentang madzhabku,

Aku berdiam diri lebih selamat,

Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,

Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,

Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan ‘berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.

Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,

Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.

Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).

Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.

Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali ‘penentuan’ itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah ‘penentuan’ kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.

Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.

Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).

Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur’an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.

Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur’an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.

Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.

Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.

Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!

Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).

Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).

Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:”Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam”.(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).

Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja’fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja’far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.

Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.

Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.

Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya”.

Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.

Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.

Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.

Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.

Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)” (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).

Rasulullah SAWA bersabda:”Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam”, (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).

Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.

Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.

Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:”Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu”.

Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.

Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:”Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air”.

Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:”Wuduk itu dua basuh dan dua sapu”, iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:’Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,’Ya’. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:’Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci’. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca’Bismillah’ dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau – Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].

Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya ‘ala khayr al-’amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.

Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.

Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.

Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:”Sembahyang itu lebih baik dari tidur”, maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.

Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.

Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud”dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud” (Sahih Muslim, Bab Mawdi’ as-Salah).

Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.

Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.

Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya’ di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.

Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa “Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya’ tanpa musafir dan tanpa sebab takut”,(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam’ as-Salah fil-Hadr).

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:”Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita”.

Kemudian melantik Ubay bin Ka’ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:”Ini adalah bidaah yang baik”. Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).

Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.

Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan – sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.

Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)

Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga ‘Undang-undang 99 Perak’, dan ‘bersalam’ lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja’fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.

Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut’ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:”Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan” sehingga terbukti pembatalannya.

Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana ‘menghadkan waktu’ dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu’aqqat.

Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).

Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)

Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut’ah.

Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur’an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:”Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya”.

Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur’an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut’ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa’ (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur’an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:”Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)”.

Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut’ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut’ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi’in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut’ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:”Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu”.

Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.

Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.

Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:”Ayat mengenai mut’ah telah diturunkan dalam al-Qur’an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).

Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:”Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta’ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat” (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut’ah).

Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma’ binti Abu Bakar secara mut’ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut’ah)”.

Imam Ja’far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:”Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut’ah, dan ‘hayya ala khairil amal’ dan ditanya Imam Ja’far as-Sadiq AS mengenai nikah mut’ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut’ah).

Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.

Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.

Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.

Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur’an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang ‘ratusan ribu’ itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur’an itu ditujukan juga kepada mereka.

Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.

Mengenai Hadith “sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit”, maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.

Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)”.

Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja’far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.

Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti ‘jemputan’ kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.

Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur’an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.

Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?

Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan”Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid”. Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.

Nabi SAWA bersadba:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah ’satu’ (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji’ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.

Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa’at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).

Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.

Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai “Pintu Ilmu”.

Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:”Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya” (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).

Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.

Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.

Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.

Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja’far as-Sadiq AS.

Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz”Wahai anak Rasulullah” kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.

Imam Abu Hanifah berkata:”Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu’man” iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja’far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.

Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:

Aku adalah Syiah dalam agamaku,

Aku berasal dari Makkah,

Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).

Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.

Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa”Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa alihi Muhammad)

Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.

Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.

Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.

Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya – yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Katanya lagi,”Sesungguhnya Madzhab Ja’fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya….”(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)

Walaupun di Malaysia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.

Taqiyah termasuk konsep-konsep Al-Qur’an yang disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an

Taqiyah termasuk konsep-konsep Al-Qur’an yang disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an. Di dalam ayat-ayat tersebut ada isyarat jelas yang menunjukkan kasus-kasus ketika seorang Mukrnin terpaksa menempuh jalan yang disyariatkan ini dalam perjalanan hidupnya di tengah kondisi yang sulit. Guna melindungi diri, kehormatan, dan hartanya. Atau, untuk melindungi diri, kehormatan, dan harta orang yang ada hubungan dengannya

. Sebagaimana pernah ditempuh oleh kaum Mukmin dari keluarga Fir’aun untuk melindungi al-Kalim Musa as dari ancarnan pembunuhan. Hal itu juga pemah dilakukann ‘Ammar bin Yasir ketika ia ditawan dan diancam akan dibunuh. Dan masih banyak kasus-kasus lain yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan sunah. Yang jelas, kita harus mengenalnya, baik pengertian, tujuan, dalil, dan definisi maupun batasannya. Sehingga kita dapat menghindari sikap lalai dan berlebih-lebihan dalam melakukannya.

Taqiyah adalah isim dari kata ittaqa -yattaqi. Huruf ta’ pada kata itu menggantikan huruf waw. Asalnya adalah al-wiqayah. Dari situ, at-taqwa diartikan secara mutlak sebagai ketaatan kepada Allah. Sebab, orang yang taat menjadikannya sebagai perlindungan dari neraka dan siksaan. Maksud taqiyah itu adalah menjaga diri dari bahaya yang ditimpakan orang lain dengan menampakkan persetujuan kepadanya dalam ucapan atau perbuatan, yang bertentangan dengan kebenaran.

Pengertian Taqiyah

Jika kata at-taqiyyah itu diamhil dari kata al-wiqayah (perlindungan) dari kejahatan, pengertiannya dalam AI-Qur’an dan sunah adalah menampakkan (sikap) kekafiran dan menyembunyikan keimanan, atau memperlihatkan yang batil dan menyembunyikan yang benar. Apabila seperti itu pengertiannya, taqiyah berlawanan dengan kemunafikan seperti halnya keimanan berlawanan dengan kekafiran. Sebab, kemunafikan adalah lawannya. Kemunafikan adalah menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, serta memperlihatkan yang benar dan menyembunyikan yang batil. Karena ada kontradiksi di antara arti kedua kata tersebut, maka taqiyah tidak dapat dipandang sebagai cabang dari kemunafikan.

Benar, barangsiapa yang menafsirkan kemunafikan itu sebagai mutlak pertentangan yang tampak terhadap yang tersembunyi, dan memandang taqiyah – yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah-sebagai salah satu cabanghya, ia telah menafsirkannya dengan pengertian yang lehih luas dari pengertian yang sebenarnya dalam Al-Qur’an. la te1ah mendefinisikan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang menampakkan keimanan dan menyem- bunyikan kekafiran. Allah swt berfirman, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah menge- tahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafzk itu benar-benar pendusta. ” (QS. al-Munafiqun [63]: 1)

Apabila demikian definisi munafik, lalu bagaimana hal itu dapat mericakup orang yang menempuh taqiyah dalam menghadapi orang-orang kafir dan ahli maksiat sehingga ia menyembunyikan keimanannya dan menampakkan sikap persetujuan untuk melindungi diri, harta, dan kehormatan ketika menghadapi ancaman.

Kebenarannya akan tampak jika kita mengetahui penggunaannya dalam syariat Islam. Kalau taqiyah itu merupakan bagian dari kemunafikan, tentu hal itu akan dicela dan mustahil Dzat Yang Maha bijaksana memerintahkannya. A1lah swt berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) pe buatan yang keji. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. al-A’raf [7]: 28)

Tujuan Taqiyah

Tujuan taqiyah adalah untuk melindungi diri, kehorrnatan, dan harta. Hal itu dilakukan dalam kondisi-kondisi terpaksa ketika seorang Mukmin tidak dapat menyatakan sikapnya yang benar secara terang-terangan karena takut hal itu akan mendatangkan bahaya dan bencana dari kekuatan yang lalim, seperti kebiasaan- kebiasaan pemerintahan yang suka melalimi, mengintimidasi, mengusir, membunuh, menyita harta, dan merampas hak. Karenanya, orang yang memegang teguh akidah, yang melihat dirinya terancam, tentu ia akan menyembunyikan akidahnya. la menampakkan sikap persetujuan terhadap keinginan dan kebijakan penguasa. Sehingga ia selamat dari ancaman dan pembunuhan hingga Allah memutuskan perkara yang lain.

Taqiyah adalah senjata orang yang lemah dalam mengahadapi kekuatan yang lalim, senjata orang yang diuji dengan tindakan orang yang tidak menghargai hak hidup, kehormatan, dan hartanya. Bukan karena apa-apa, melainkan karena ia tidak sejalan dengannya dalam beberapa prinsip dan pendapatnya.

Taqiyah itu dipraktekkan oleh orang yang hidup dalam lingkungan yang tidak menerapkan kebebasan dalam berbicara, berbuat, berpendapat, dan berakidah. Orang yang menentangnya tidak akan selamat kecuali dengan sikap diam atau menampakkan persetujuan terhadap keinginan dan pemikiran penguasa. Atau, sebagian orang menggunakan taqiyah sebagai wahana yang harus ditempuh untuk menolong orang-orang lemah dan teraniaya yang tidak memiliki daya dan kekuatan. Maka mereka menampakkan sikap itu kepada penguasa yang lalim agar bisa berhubungan dengannya. Hal itu seperti yang dilakukan orang Mukmin dari keluarga Fir’aun yang dikisahkan Allah swt dalam Al-Qur’an.

Kebanyakan orang yang mencela orang-orang yang menempuh jalan taqiyah mengira bahwa tujuan taqiyah itu adalah untuk membentuk perkumpulan-perkumpulan rahasia yang bertujuan membuat kerusakan dan kehancuran. Hal itu seperti yang dikenal di kalangan penganut kebatinan dan partai-partai komunis ilegal. Itu merupakan pandangan keliru yang mereka anut karena ketidaktahuan atau kesengajaan tanpa mendasarkan pendapat mereka ini pada suatu dalil atau hujah yang benar. Apa yang telah kami sebutkan berbeda dengan apa yang mereka sebutkan. Kalau kondisi memaksa dan hukum-hukum yang lalim tidak menyentuh kelompok yang lemah ini, tentu mereka tidak akan menempuh taqiyah. Tentu mereka tidak akan menanggung beban berat dengan menyembunyikan akidah mereka dan pasti mengajak orang-orang pada akidah itu secara terang-terangan dan tanpa keraguan. Namun, senjata selalu dihunus oleh semua pemerintahan yang lalim untuk ditebaskan kepada orang-orang yang memiliki akidah yang berbeda dengan akidah yang dianutnya. Praktek pertahanan seperti ini berbeda dari praktek-praktek yang dilakukan para anggota perkumpulan-perkumpulan rahasia untuk menjatuhkan dan merebut kendali pemerintahan. Maka semua praktek mereka ditetapkan dan diatur untuk tujuan penghancuran. Mereka adalah orang-orang yang menganut slogan “tujuan menghalalkan segala cara”. Semua yang jelek menurut akal dan terlarang menurut syariat dibolehkan oleh mereka untuk meraih tujuan-tujuan mereka yang destruktif. Ada pendapat yang memandang bahwa mereka sama saja dengan orang yang menempuh taqiyah sebagai senjata pertahanan agar selamat dari kejahatan pihak lain. Sehingga ia tidak dibunuh atau dibinasakan, harta dan rumah mereka tidak dirampas, hingga Allah memutuskan perkara yang lain. Namun, pendapat itu muncul dari perasaan yang berlawanan dari hal seperti itu. Kaum Muslim yang tinggal di Uni Soviet (dulu) telah mendapat bencana dan cobaan yang menurut akal tidak mungkin mereka dapat menanggungnya. Kaum komunis selama kekuasaan mereka atas wilayah-wilayah Islam telah menunjukkan permusuhan kepada kaum Muslim. Mereka merampas harta, tanah, tempat tinggal, masjid, dan sekolah kaum Muslim, serta membakar perpustakaan-perpustakaan. Mereka membunuh banyak kaum Muslim dengan cara yang sangat keji. Tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dari kebiadaban mereka kecuali orang yang menempuh taqiyah dengan menampakkan sikap yang f1eksibel, menyembunyikan ritus-ritus agama, dan melaksanakan salat di dalam rumah hingga Allah menyelamatkan mereka dengan meruntuhkan kekuatan kafir tersebut. Maka kaum Muslim muncul kembali di atas pentas. Mereka menguasai tanah dan wilayah mereka. Mereka mulai menampakkan kembali kemuliaan dan keagungan mereka sedikit demi sedikit. Hal itu merupakan salah satu dari buah-buah taqiyah yang disyariatkan dan diperkenankan Allah SWT kepada para hamba-Nya sebagai anugerah dan kemuliaan-Nya kepada orang-orang yang tertindas.

Apabila demikian makna dan pengertian taqiyah, dan seperti itu maksud dan tujuannya, maka itu adalah sesuatu yang bersifat fitrah yang didambakan akal dan hati manusia sebelum segala sesuatu. Taqiyah mengajak manusia kepada fitrahnya. Untuk itu, taqiyah digunakan oleh orang yang diuji dengan tindakan penguasa dan pemerintahan yang tidak menghargai sesuatu apa pun selain ide, pemikiran, ambisi, dan kekuasaan mereka sendiri. Mereka tidak segan-segan untuk menimpakan bencana kepada setiap orang yang menentang mereka dalam hal itu. Mereka tidak membedakan antara Muslim-penganut Syi’ah ataupun Ahlusunah-dan selain Muslim. Dari sini, tampaklah fungsi dan faedah taqiyah.

Untuk mendukung prinsip kehidupan ini, kami mengkaji dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan sunah.

Dalil A1-Qur’an dan Sunah

Taqiyah disyariatkan dengan nas A1-Qur’an. Banyak ayat Al-Qur’an yang akan kami coba menjelaskannya dalam halaman- halaman berikut:

Ayat pertama

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan ( dia tidak berdosa). Akan tetapi, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar: ” (QS. an-Nahl [16]: 106)

Anda perhatikan, bahwa A1lah SWT membolehkan sikap menampakkan kekafiran karena terpaksa dan menuruti orang-orang kafir karena takut kepada mereka. Namun, dengan syarat hati tetap tenang dalam keimanan. Hal itu dijelaskan oleh sejumlah mufasir baik klasik maupun kontemporer. Kami akan berusaha mengetengahkan pendapat-pendapat sebagian dari mereka untuk menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele. Bagi siapa yang ingin mengetahuinya lebih jauh, silakan merujuk pada beberapa kitab tafsir.

I. Ath- Thabrasi berkata, “Ayat itu turun berkenaan dengan sekelompok orang yang dipaksa untuk menjadi kafir. Mereka adalah ‘Ammar, ayahnya Yasir, dan ibunya Sumayah. Kedua orang tua ‘Ammar dibunuh karena mereka tidak menampakkan sikap kekafiran. Sedangkan ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki. Karenanya, mereka me- lepaskannya. Kemudian ‘Ammar memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw, dan berita itu tersebar di tengah kaum Muslim. Maka orang-orang mengatakan bahwa ‘Ammar telah menjadi kafir. Tetapi Rasulullah saw menjawab, “Sama sekali tidak, ‘Ammar telah dipenuhi keimanan dari ubun-ubunnya hingga telapak kakinya. Keimanan itu telah bercampur dengan daging dan darahnya.”

Berkenaan dengan itu, turun ayat di atas dan. ‘Ammar pun menangis. Maka Rasulullah saw mengusap kedua matanya sambil bersabda, “Kalau mereka mengulangi tindakan serupa kepadamu, maka ulangilah apa yang engkau ucapkan itu.”

2. Az-Zamakhsyari berkata, “Diriwayatkan bahwa beberapa orang penduduk Makkah disiksa. Karenanya, mereka keluar dari Islam setelah mereka menganutnya. Di antara mereka ada yang dipaksa lalu kata-kata kekafiran mengalir pada lisannya, sementara ia tetap teguh dalam keimanannya. Di antara mereka adalah ‘Ammar bin yasir dan kedua orang tuanya, yaitu yasir dan Sumayyah, serta Shuhaib, Bilal, dan Khabab.

Adapun ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki dengan lisannya secara terpaksa

3. AI-Hafizh bin Majah berkata: AI-Ita’ artinya al-i’tha’. Yaitu, mereka menampakkan persetujuan pada keinginan orang- orang musyrik itu sebagai sikap taqiyah. Taqiyah dalam hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah SWT, “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.

(QS. an-Nahl [16]: 106)

4. Al-Qurthubi berkata: Al-Hasan berkata, “Taqiyah itu dibolehkan bagi manusia hingga hari kiamat.” Para ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa agar menjadi kafir sehingga ia takut dirinya akan dibunuh, ia tidak berdosa untuk menampakkan kekafiran tetapi hatinya tetap tenang dalam keimanan, ia tidak bercerai dari istrinya dan tidak dihukumi sebagai orang kafir. Ini adalah pendapat Malik. para ulama Kufah dan asy-Syafi’i.

5. Al-Khazin berkata: Taqiyah tidak dilakukan kecuali ketika ada ketakutan akan dibunuh dan dengan niat yang baik. Allah swt berfirman. “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.. (QS. an-Nahl [16]: 106). la tidak berdosa. karena tempat bagi keimanan ialah di dalam hati.

6. Al-Khathib asy-Syarbini berkata, kecuali orang-orang dipaksa kafir, yakni untuk mengucapkannya …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan. Tidak apa-apa ia melakukannya. karcna tempat keimanan adalah di dalam hati.

7. Isma’il Haqqi berkata: …kecuali orang yang dipaksa … la dipaksa untuk mengucapkan kata-kata itu karena takut akan ditimpakan sesuatu pada diri atau salah satu anggota tubuhnya. Sebab, kekafiran itu adalah keyakinan. Sedangkan pemaksaan untuk mengucapkan kata-kata itu bukan keyakinan. Jadi, makna ayat itu adalah “Akan tetapi, orang yang dipaksa terhadap kekafiran dengan lisannya”. …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …Akidahnya tidak berubah. Itu merupakan dalil bahwa keimanan yang benar dan diakui di sisi Allah adalah pembenaran (tashdiq) dengan hati.

Ayat kedua:

Allah swt berfirman, Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, Dan hanya kepada Allah kamu kembali. ” (QS. Ali ‘Imran [3]: 28)

Pendapat para mufasirtentang ayat ini sudah cukup jelas dan tidakmemerlukan penjelasan lagi.

I. Ath- Thabari berkata, “. ..kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. ” Abu al-‘A1iyah berkata, “Taqiyah itu dalam lisan, bukan dengan perbuatan.” Diriwayatkan dari al-Hasan: Saya mendengar Abu Mu’adz berkata: ‘Ubaid mengabarkan kepada kami. la berkata: Saya mendengar adh-Dhahak berkata tentang firman Allah, “kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka,” “Taqiyah dalam lisan adalah orang yang dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah. la mengucapkannya karena takut akan ditimpakan bahaya pada dirinya. “… padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …,maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya taqiyah itu dalam lisan.

2. Az-Zamakhsyari ketika menafsirkan firman Allah SWT: … kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …berkata, “Yaitu keringanan bagi mereka di tengah muwaltat apabila takut kepada para penguasa mereka. Yang dimaksud dengan muwalat adalah perbedaan dan pergaulan secara lahiriah. Sedangkan hatinya teguh dalam permusuhan dan kebencian, dan menunggu hilangnya rintangan.

3. Ar-Razi, ketika menafsirkan firman Allah SWT: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …, berkata, “Masalah keempat Ketahuilah, bahwa taqiyah memiliki banyak ketentuan. Kami akan menyebutkan sebagiannya sebagai berikut:

a. Taqiyah hanya dilakukan apabila seseorang berada di tengah kaum yang kafir, dan ia takut mereka akan menimpakan bahaya terhadap diri dan hartanya. Maka ia bersikap halus kepada mereka dalam ucapan, yaitu tidak menampakkan permusuhan dalam ucapan. Bahkan ia juga boleh menampakkan ucapan yang menunjukkan kecintaan dan kesetiaan.

” Akan tetapi, dengan syarat menyembunyikan sikap sebaliknya dan mengingkari setiap kata yang diucapkannya. Taqiyah itu memiliki pengaruh pada lahir, bukan dalam keadaan- keadaan hati.

b. Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri. Apakah taqiyah juga boleh dilakukan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu diperbolehkan berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim adalah seperti kemuliaan darahnya. Juga sabdanya: “Barangsiapa yang terbunuh dalam membela hartanya, ia mati syahid.”

4. An-Nasafi berkata, “… kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka ” Artinya, kecuali kamu takut terhadap kebijakan mereka sebagai sesuatu yang mendatangkan ketakutan. Yakni, agar orang kafir itu tidak memiliki kekuasaan atas dirimu. Sehingga engkau takut ia menimpakan bahaya kepada diri dan hartamu. Maka ketika itu, kamu boleh menampakkan kesetiaan dan menyembunyikan permusuhan.

5. Al-Alusi berkata: Dalam ayat itu terdapat dalil disyariatkannya taqiyah. Mereka mendefinisikannya sebagai memelihara diri, kehormatan, atau harta dari kejahatan musuh. Musuh itu ada dua bagian sebagai berikut:

a. Permusuhan yang didasarkan pada perbedaan agama, seperti orang kafir dan Muslim.

b. Pennusuhan yang didasarkan pada tujuan-tujuan keduniaan, seperti harta dan kekuasaan.

6. Jamaluddin al-Qasimi berkata: Terhadap ayat ini: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka … para imam (mazhab) menyimpulkan bahwa taqiyah disyariatkan ketika ada ketakutan. Ijmak tentang bolehnya melakukan taqiyah ketika takut telah dinukil oleh Imam al-Murtadha al-Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq.

7. Tentang ayat: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka , al-Maraghi menafsirkan, “Yakni, kaum Mukmin meninggalkan kesetiaan kepada orang-orang kafir merupakan suatu keharusan dalam setiap keadaan kecuali ketika takut mereka akan menimpakan suatu bahaya. Maka ketika itu, kamu boleh melakukan taqiyah rnenurut kadar ketakutan terhadap bahaya itu. Sebab, kaidah syariat rnengatakan, ‘Meninggalkan kerusakan lebih didahulukan daripada rnendatangkan kebaikan.”

Jika kesetiaan kepada mereka dibolehkan karena takut akan datang bahaya dari mereka. Maka lebih utama, jika hal itu untuk mendatangkan manfaat bagi kaum Muslim. Jadi, tidak ada salah- nya negara Muslim bersekutu dengan negara bukan Muslim untuk mendatangkan manfaat, baik dengan menolak bahaya atau mendatangkan manfaat. Kesetiaan itu bukan-dalam sesuatu yang mendatangkan bahaya bagi kaum Muslim. Kesetiaan seperti itu tidak khusus dilakukan dalam keadaan lemah, melainkan juga boleh dilakukan dalam setiap saat.

Para ulama telah menarik kesimpulan dari ayat ini, bahwa boleh melakukan taqiyah. Yaitu, seseorang mengatakan atau melakukan apa yang bertentangan dengan kebenaran karena menghindari bahaya dari musuh yang akan ditimpakan kepada diri, kehormatan, atau hartanya.

Barangsiapa yang mengucapkan kata-kata kekafiran karena terpaksa untuk memelihara diri dari kematian, sementara hatinya tetap teguh dalam keimanan, ia tidak menjadi kafir. Melainkan ia dimaafkan, sebagaimana yang dilakukan ‘Ammar bin yasir ketika ia dipaksa oleh orang-orang Quraisy agar menjadi kafir. Maka ia melakukannya dengan terpaksa, sementara hatinya tetap dipenuhi keimanan. Berkenaan dengan itu, turunlah ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa).

Kalimat-ka1imat dan ungkapan-ungkapan yang begitu jelas ini, tidak memberi peluang lagi untuk orang mengatakan kecuali menetapkan disyariatkannya taqiyah dalam pengertian yang telah Anda ketahui. Bahkan, seseorang tidak akan menemukan seorang mufasir atau ahli fiqih pun yang mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah merasa ragu dalam nenetapkan bolehnya taqiyah. Sebagaimana Anda, wahai pembaca yang mulia, tidak menemukan seseorang yang sadar tidak melakukan taqiyah dalam kondisi- kondisi sulit selama hal itu tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Hal itu akan saya jelaskan dalam penjelasan tentang batasan-batasan taqiyah.

Adapun orang yang menentang bolehnya taqiyah atau yang berlebih-lebihan dalam melakukannya, semata-mata menafsirkannya dengan taqiyah yang telah populer di kalangan anggota organisasi-organisasi bawah tanah dan aliran-aliran destruktif, seperti aliran kebatinan dan sebagainya. Padahal, seluruh kaum Muslim berlepas diri dari taqiyah yang bersifat destruktif seperti ini.

Ayat ketiga

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, apakah kamu akan membunuhseorang laki-laki karena dia mengatakan, “Tuhanku adalah Allah. Padahal, dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung ( dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar; niscaya sebagian (bencana) yang diancamkan kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta ,” (QS. al-Mu’min [40]: 28)

Sedangkan akibat dari perbuatannya itu adalah, “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikeu,ng oleh azab yang amat buruk. ” ( QS. al-Mu’min [ 40] : 45 )

Tiada lain, selain karena dengan taqiyah orang itu, Nabi A1lah itu dapat selamat dari kematian. Allah swt berfirrnan, “la berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu. Sebab itu, keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu. “, (QS. al-Qashash [28J: 20)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bolehnya taqiyah untuk menyelamatkan orang Mukmin dari kejahatan musuh yang kafir.

Taqiyah Muslim terhadap Muslim yang Lain dalam Kondisi Tertentu

Walaupun ayat-ayat di atas turun berkenaan dengan taqiyah orang Muslim terhadap orang kafir, namun pengertian ayat itu tidak dikhususkan dengan sebab turunnya. Sebab, bukanlah tujuan disyariatkannya taqiyah ketika mendapat ujian dengan tindakan orang-orang kafir kecuali untuk memelihara diri dari kejahatan. Jika seorang Muslim diuji dengan tindakan saudaranya sesama Muslim yang berbeda pendapat dalam beberapa furu’, dan pihak yang kuat tidak segan-segan menindas pihak yang lemah, seperti membunuh atau merampas hartanya, dalam kondisi-kondisi sempit itu akal sehat memutuskan untuk memelihara diri dengan menyembunyikan akidah dan menempuh taqiyah. Kalaupun dalam hal itu ada dosa, maka dosa itu adalah bagi orang yang kepadanya ditujukan taqiyah, bukan kepada orang yang melakukannya. Kalau kebebasan menjamin semua kelompok Islam, dan setiap kelompok menghargai pendapat kelompok lain karena mengetahui bahwa pendapat itu merupakan ijtihadnya, tentu tidak seorang pun dari kaum Muslim yang terpaksa untuk menempuh taqiyah. Pada gilirannya, keharmonisan akan menggantikan perselisihan.

Sebagian besar ulama memahami seperti itu dan menjelaskannya. Berikut ini penjelasan dari sebagian mereka:

I. Imam ar-Razi dalam menafsirkan firman Allah swt; …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …” mengatakan: Makna lahiriah ayat itu menunjukkan bahwa taqiyah hanya dibolehkan dilakukan terhadap orang-orang kafir yang merupakan mayoritas. Namun, Imam asy-Syafi’i ra berkata: “Jika keadaan di tengah sesama kaum Muslim sama dengan keadaan antara kaum Muslim dan kaum kafir, taqiyah itu dibolehkan untuk melindungi diri.” la mengatakan, “Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri.” Tetapi, apakah taqiyah juga dibolehkan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu dibolehkan berdasarkan sabda Rasulu1lah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim seperti kemuliaan darahnya.” Selain itu, beliau juga pernah bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya, ia mati syahid.”

2. Jamaluddin al-Qasimi menukil hadis dari Imam Murtadha al- Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq. Teksnya sebagai berikut: “Bekal kebenaran yang samar dan tersembunyi ada dua hal. Pertama, ketakutan para arif-dengan jumlah mereka yang sedikit-kepada para ulama yang jahat dan penguasa yang lalim dengan bolehnya menempuh taqiyah dalam hal itu adalah disyariatkan dalam Al-Qur’an dan ijmak kaum Muslim. Hal itu selama ketakutan tersebut masih menjadi perintang untuk menampakkan kebenaran dan orang yang benar masih dipandang musuh oleh kebanyakan orang. Telah diriwayatkan hadis sahih dari Abu Hurairah ra bahwa-pada masa awal Islam-ia berkata, “Saya menjaga dua bejana dari Rasulullah saw. Yang pertama, saya sebarkan kepada orang-orang, sedangkan yang kedua,jika saya menyebarkannya, tentu tenggorokan ini akan terputus.”

3. Dalam menafsirkan ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemumaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan, ” al-Maraghi berkata, “Termasuk ke da1am taqiyah adalah menampakkan kekafiran, kelaliman, dan kefasikan, serta melembutkan perkataan, tersenyum, dan menyumbangkan harta kepada mereka. Niscaya ha1 itu dapat menahan tindakan keras mereka dan memelihara kehormatan dari tindakan mereka. Ha1 itu tidak termasuk da1am kesetiaan ( muwtilat) yang dilarang.

Bahkan hal itu disyariatkan. Ath- Thabrani telah meriwayatkan sabda Rasulullah saw: “Sesuatu yang digunakan untuk memelihara kehormatan seorang Mukmin adalah sedekah.”

Kaum Syi’ah melakukan taqiyah terhadap orang-orang kafir dalam kondisi-kondisi tertentu untuk tujuan yang sama dengan tujuan yang dilakukan kaum Ahlusunah. Selain itu, karena sebab- sebab yang jelas, seorang Syi’ah melakukan taqiyah kepada saudaranya yang Muslim. Hal itu bukan karena sikap melampaui batas pada orang Syi’ah, melainkan saudaranya yang memaksa ia melakukan hal itu. Sebab, ia menyadari bahwa pengusiran dan pembunuhan pasti ditimpakan kepadanya apabila ia menampakkan keyakinannya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan akidah Islam. Memang, hingga saat ini, orang Syi ‘ah menghindari untuk mengatakan bahwa Allah itu tidak memiliki arah atau bahwa Dia tidak terlihat pada hari kiamat, serta dalam perujukan (marja’iyah) keilmuan dan politik adalah kepada ahlulbait sepeninggal Nabi saw atau bahwa hukum mut’ah tidak dihapus. Apabila orang Syi’ah menampakkan kebenaran-kebenaran ini- yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah-dirinya akan terancarn bencana danbahaya. Telah dikemukakan kepada Anda pendapat ar-Razi, Jamaluddin al-Qasimi, dan al-Maraghi yang begitu jelas tentang bolehnya melakukan taqiyah jenis ini. Maka mengkhususkan taqiyah dengan taqiyah terhadap orang kafir semata merupa- kan kejumudan terhadap makna lahiriah ayat, menutup pintu pemahamannya, penolakan terhadap substansinya yang telah disyariatkan untuk taqiyah, dan meniadakan hukum akal yang menetapkan untuk menjaga yang paling penting apabila tampak yang penting.

Sejarah kita mengemukakan tentang sejumlah pemuka kaum Muslim yang menempuh taqiyah dalam kondisi-kondisi sulit atau ketika kehidupan dan segala yang mereka miliki terancam kebinasaan. Contoh yang paling baik untuk itu adalah yang dikemukakan ath-Thabari dalam kitab tarikhnya (7/195-206) tentang usaha al-Ma’mun untuk memaksa para hakim dan ahli hadis di zamannya untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Se– hingga untuk itu mereka diancam akan dibunuh semuanya tanpa belas kasihan. Ketika para ahli hadis itu melihat pedang terhunus, mereka memenuhi keinginan al-Ma’mun dan menyembunyikan akidah mereka. Ketika mereka dicela karena berpendapat sesuai dengan keinginan al-Ma’mun, mereka membenarkan tindakan mereka dengan menganalogikannya pada perbuatan ‘Ammar bin yasir ketika dipaksa untuk menjadi musyrik sementara hatinya tenang dalam keimanan. Kisah ini sangat terkenal dan sangat jelas tentang bolehnya menempuh taqiyah yang mendorong sebagian orang menimpakan celaan kepada kaum Syi’ah. Seakan-akan mereka itu orang-orang yang mengada-adakannya dari pemikiran mereka sendiri tanpa dilandasi kaidah dan prinsip-prinsip Islam.

Kondisi-kondisi Sulit yang Dilalui Kaum Syi’ah yang mendorong kaum Syi’ah untuk melakukan taqiyah terhadap saudara mereka dan para penganut agama mereka hanyalah karena ketakutan terhadap kekuasaan yang tiran. Kalau dalam masa-masa lalu-dari masa dinasti Umayah, kemudian Abbasiyah dan Utsmaniyah-tidak ada tekanan terhadap kaum Syi’ah, serta negeri dan rumah mereka tidak dialiri darah mereka dan sejarah merupakan bukti paling baik untuk itu, maka adalah masuk akal kalau kaum Syi’ah melupakan kata taqiyah dan membuangnya dari catatan kehidupan mereka. Akan tetapi, sayang sekali, kebanyakan saudara mereka tunduk kepada kekuasaan Dinasti Umayah dan Abbasiyah yang memandang mazhab Syi’ah sebagai bahaya yang mengancam kedudukan mereka. Maka masyarakat Ahlusunah membangkitkan permusuhan terhadap kaum Syi ‘ah dengan membunuh dan mengintimidasi mereka. Oleh karena itu, sebagai akibat kondisi-kondisi sulit itu, kaum Syi’ah, bahkan setiap orang yang memiliki sedikit saja akal, tidak memiliki cara lain kecuali berlindung pada taqiyah atau mengangkat tangan dari prinsip-prinsip suci yang menurut mereka lebih berharga daripada diri dan harta.

“Bukti-bukti tentang hal itu lebih banyak daripada yang dapat dihitung. Namun, kami akan membentangkan sebagiannya secara ringkas. Di antaranya, surat Mu’awiyah yang menghalalkan darah kaum Syi’ah di mana saja mereka berada dan bagaimanapun keadaan mereka. Berikut ini teks tentang peristiwa tersebut yang disebutkan dalam sumber-sumber rujukan untuk mengetahui bencana yang menimpa kaum Syi’ah.

Penjelasan Mu’awiyyah kepada para Pegawainya

Abu al-Hasan ‘Ali bin Abi Sayf al-Mada ‘ini meriwayatkan hadis dalam kitabnya al-Ahdats. la berkata, “Mu.awiyah menulis selembar surat kepada para pegawainya: ‘Batalkanlah jaminan terhadap orang yang meriwayatkan keutamaan Abu Turab dan ahlulbait- nya.’ Maka para khatib di setiap desa dan di atas setiap mimbar melaknat ‘ Ali dan berlepas diri darinya. Mereka mencacinya beserta ahlulbaitnya. Orang-orang yang mendapat bencana paling besar ketika itu adalah masyarakat Kufah, karena banyak di antara mereka yang menjadi pengikut ‘Ali as. Ziyad bin Sumayah diangkat menjadi gubernur Kufah yang telah digabungkan dengan Basrah. la mengetahui betul para pengikut Syi’ah karena ia adalah penduduk daerah itu pada masa kekhalifahan ‘Ali as. Maka ia membunuh mereka di bawah setiap batu dan lumpur, mengamcam mereka, memotong tangan dan kaki mereka, mencongkel mata mereka, menyalib mereka di pohon kurma, dan mengusir mereka dari lrak. Maka tidak ada lagi yang tersisa dari mereka. Mu’awiyah mengirim surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah agar tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun pengikut ‘Ali dan ahlulbaitnya.”

Kemudian ia mengirim selembar surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah, “Perhatikanlah, barangsiapa yang terbukti bahwa ia mencintai ‘Ali dan ahlulbaitnya, maka hapuslah ia dari buku catatan (Baitul Mal), dan hentikanlah pemberian dan bagi- annya.” Hal itu ditegaskan dengan surat yang lain, “Siapa saja yang kalian duga setia kepada mereka, maka hukumlah dan hancurkan rumahnya.” Tidak ada bencana di lrak, terutama di Kufah. yang lebih besar daripada itu. Sehingga pengikut ‘Ali as didatangi oleh orang yang dipercayainya lalu menyampaikan rahasianya, tetapi ia sendiri takut kepada pelayan dan budak orang itu. la tidak menyampaikannya sebelum orang itu benar-benar bersumpah untuk merahasiakannya.

Ibn Abi al-Hadid menambahkan, “Hal itu terus berlangsung hingga al-Hasan bin ‘ Ali as Wafat. Maka bencana dan ujian semakin besar. Tidak tersisa seorang pun dari pihak ini kecuali terancam nyawanya atau diusir dari negerinya.

Kemudian bencana itu memuncak setelah al-Husain as wafat dan ‘Abd al-Malik bin Marwan menjadi khalifah. Maka semakin besar bencana yang ditimpakan kepada kaum Syi’ah. Ketika al- Hajjaj bin Yusuf berkuasa, para ulama mendekatinya dengan menampakkan kebencian kepada ‘ Ali dan kesetiaan kepada musuh- musuhnya serta kesetiaan kepada sebagian orang yang mengaku bahwa mereka pun adalah musuhnya. Para ulama itu membuat banyak riwayat tentang keutamaan mereka dan menyebarkan kebencian, cacian, dan celaan kepada ‘ Ali as. Sehingga ada seseorang yang berdiri di hadapan al-Hajjaj-dikatakan bahwa ia adalah kakeknya al-Ashma’i-, ‘Abd al-Malik bin Quraib bin Quraib. la berteriak, “Hai Amir, keluargaku sangat membenciku. Maka mereka menamaiku ‘ Ali. Aku ini seorang fakir. dan sangat berhajat pada hubungan dengan tuan.” Maka al-Hajjaj tertawa dan berkata, “Sungguh bagus caramu mencari perantara. Aku mengangkatmu untuk memimpin daerah anu.”

Akibatnya, kaum Syi’ah menyaksikan pembunuhan keji oleh para penguasa yang lalim. Maka ribuan di antara mereka terbunuh. Adapun sebagian dari mereka yang masih hidup diancam dengan berbagai bentuk ancaman dan teror. Yang pantas disebutkan, di antara hal-hal yang menakjubkan, kelompok ini dapat terus bertahan kendati menghadapi kelaliman yang besar dan pembunuhan yang keji. Bahkan yang sangat mengherankan, Anda mendapati kelompok ini terus bertambah kuat, dapat mendirikan pemerintahan, membangun peradaban, dan banyak dari mereka yang muncul sebagai ulama dan pakar.

Kalau saudara yang Sunni memandang taqiyah sebagai sesuatu yang haram, maka hilangkanlah tekanan terhadap sudaranya yang Syi’ah dan tidak mempersempit kebebasan yang diperkenankan Islam kepada para pemeluknya. Hendaklah diberikan kebebasan kepadanya dalam menjalankan akidah dan amalannya. Sebagaimana diberikan kebebasan kepada banyak orang yang menyimpang dari Al-Qur’an dan sunah, serta menumpahkan darah dan merampas tempat tinggal, apalagi kepada kelompok yang memeluk agama yang sama dan sepakat dengannya dalam banyak ajaran akidahnya. Kalau Mu’awiyyah dan para pembantunya serta Dinasti Abbasiyyah semuanya dianggap sebagai telah berijtihad dalam menyiksa dan menumpahkan darah orang-orang yang menentang mereka, maka apa yang menghalanginya untuk memberikan kebebasan kepada kaum Syi’ah dengan menganggap mereka telah berijtihad (dalam melakukan taqiyah-penj.).

Apabila mereka mengatakan-dan itu sesuatu yang aneh- bahwa orang-orang yang memberontak terhadap Imam ‘Ali as tidak merusak rasa keadilan orang-orang yang memberontak tersebut. Yang di antara pemukanya adalah Thalhah, az-Zubair, dan Ummul Mukininin ‘Aisyah. Dan bahwa tersebamya fitnah di Shiffin-yang berakhir dengan terbunuhnya banyak sahabat dan tabi’in serta tertumpahnya darah ribuan orang lrak dan Syam tidak mengurangi sedikit pun kewaraan orang-orang yang saling berperang itu. Bahkan setelah itu mereka dipandang sebagai mujtahid dan dimaafkan. Mereka memperoleh pahala orang yang berijtihad walaupun keliru dalam ijtihadnya. Maka mengapa mereka tidak bergaul dengan kaum Syi’ah berdasarkan prinsip ini dan berpendapat bahwa mereka itu dimaafkan dan memperoleh pahala?

Memang, taqiyah di kalangan kaum Syi’ah kadang-kadang meningkat intensitasnya dan kadang-kadang berkurang bergantung pada kuat dan lemahnya intimidasi (yang ditujukan kepada mereka). Terdapat perbedaan besar antara zaman al-Ma’mun yang membolehkan orang-orang memuji ahlulbait dan memuliakan kaum ‘Alawi, dan zaman al Mutawakkil yang memotong lidah orang- orang yang menyebut keutamaan mereka.

Inilah Ibn as-Sikkit, salah seorang sastrawan pada zaman al- Mutawakkil. Al-Mutawakkil telah memilihnya menjadi guru bagi kedua putranya. Pada suatu hari, al-Mutawakkil bertanya kepadanya, “Siapakah yang engkau cintai, kedua putraku atau al-Hasan dan al-Husain? ‘Ibn as-Sikkit menjawab, “Demi Allah, Qanbar, pelayan ‘Ali as lebih baik daripadamu dan kedua putramu”. Maka al-Mutawakkil berkata (kepada para pengawalnya) , “Potonglah lidahnya dari tengkuknya”. Kemudian mereka melakukannya hingga sastrawan wafat. Peristiwa itu terjadi pada malam Senin tanggal 5 Rajab 244 H. Ada juga yang mengatakan, tahun 243 H. Ketika itu umurya 28 tahun. Ketika ibn as-Sikkit wafat, al-Mutawakkil mengirimkan uang sepuluh ribu dirham kepada putra Ibn as-Sikkit, Yusuf. la mengatakan. “Ini adalah diyat (denda) atas kematian ayahmu”

Ibn ar-Rumi. seorang penyair ‘Abqari, dalam qashidahnya yang berisi ratapan (ratsa), atas kematian Yahya bin ‘Umar bin al-Husain bin Zaid bin ‘Ali. mengatakan:

Apakah di setiap waktu ada korban suci dari keluarga Nabi Muhammad yang gugur berlumuran darah

Wahai Bani Muhammad, berapa banyak sudah manusia memangsa jasadmu

Sabarlah, tak lama lagi akan datang penolong untuk musibahmu Apakah setelah Husain menjadi syahid pelita-pelita di langit

masih akan bercahaya terang dan memberi petunjuk?

Jika demikian keadaan keturunan Nabi saw, maka bagaimana halnya dengan para pengikut mereka dan orang-orang menapaki jejak-jejak mereka?

Allamah asy-Syahristani berkata, “Taqiyah adalah syiar setiap orang yang lemah dan terampas kebebasannya. Syi’ah lebih terkenal akan taqiyahnya daripada yang lain. Sebab, Syi’ah terus-menerus diuji dengan tekanan yang lebih besar daripada tekanan yang ditimpakan kepada umat yang lain. Kebebasannya dirampas pada seluruh masa Daulah Umayah, sepanjang masa Dinasti Abbasiyah, dan selama beberapa masa Daulah Utsmaniyah. Oleh karena itu, mereka menyiarkan taqiyah lebih gencar daripada yang dilakukan kaum yang lain. Ketika Syi ‘ah berbeda dari kelompok-kelompok yang bertentangan dengannya dalam bagian penting akidah, ushuluddin, dan banyak hukum-hukum fiqih, perbedaan itu secara alami memunculkan pengawasan (dari pihak musuh-penj.). Pengalaman membenarkan ha1 itu. Oleh karena itu, pengikut para imam ahlulbait selama waktu yang lama terpaksa me- nyembunyikan tradisi, akidah, fatwa, kitab, atau yang lainnya yang berbeda dengan kelompok yang lain. Dengan cara ini mereka melindungi diri dan memelihara kecintaan dan persaudaraan dengan saudara-saudara sesama kaum Muslim, agar tonggak ketaatan tidak patah dan agar orang-orang kafir tidak merasakan adanya perbedaan apa pun dalam masyarakat Islam sehingga mereka memperlebar jurang perbedaan itu di tengah umat Muhammad.

Untuk tujuan-tujuan suci ini, Syi’ah menggunakan taqiyah dan memelihara persetujuannya secara lahiriah dengan kelompok-kelompok lain. Dalam hal itu mereka mengikuti perilaku para imam dari keluarga Muhammad dan hukum-hukum mereka yang teguh tentang wajibnya taqiyah, karena “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku”. Sebab, agama Allah berja1an di atas sunnah taqiyah bagi orang-orang yang terampas kebebasannya. Hal itu berdasarkan dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari orang-orang terpercaya dari ahlulbait as dalam atsar yang sahih: “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku” Barangsiapa yang tidak bertaqiyah, tidak ada agama baginya.”

Taqiyah, merupakan syiar ahlulbait as untuk menolak bahaya dari mereka dan para pengikut mereka, dan melindungi darah mereka. Selain itu, taqiyah dilakukan untuk memperbaiki keadaan kaum Muslim, berpartisipasi dengan mereka, dan menyatukan kembali mereka. Hal itu senantiasa menjadi tanda yang dikenal Syi’ah Imamiyah yang berbeda dari kelompok-kelompok dan umat-umat lainnya. Jika setiap orang merasakan adanya bahaya atas diri atau hartanya disebabkan tersebar keyakinannya atau ia menampakkannya, ia harus menyembunyikannya dan melakukan taqiyah pada tempat-tempat yang berbahaya itu. Ini sesuatu yang dituntut fitrah dan akal.

Seperti telah diketahui, Syi’ah Imamiyah dan para imam mereka menghadapi berbagai bentuk ujian dan perampasan kebebasan dalam semua generasi yang tidak dialami oleh kelompok atau umat mana pun. Pada sebagian besar generasi, mereka terpaksa melakukan taqiyah dalam pergaulan mereka dengan orang-orang yang menentang mereka, tidak menampakkan keyakinan, serta menyembunyikan akidah dan arna1an mereka yang berbeda dengan orang lain. Sebab, jika tidak demikian, niscaya bahaya menimpa mereka di dunia ini.

Untuk a1asan ini, mereka dikena1 dan dibedakan dari kelompok lain dengan taqiyah.

Taqiyah memiliki beberapa ketentuan dalam hal wajib dan tidak wajibnya berdasarkan tingkat ketakutan akan bahaya. Perinciannya disebutkan dalam kitab-kitab fiqih.

Batasan Taqiyah

Anda telah mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah serta dalilnya. Kini akan dijelaskan batasan-batasannya.

Syi’ah dikenal dengan taqiyah. Mereka melakukan taqiyah dalam ucapan dan perbuatan. Maka hal itu menjadi sumber kebingungan dalam benak orang-orang bodoh. Mereka mengatakan bahwa karena taqiyah termasuk prinsip-prinsip ajaran Syi’ah, maka tidak boleh bersandar pada semua yang mereka ucapkan, mereka tulis, dan mereka sebarkan. Sebab, sangat mungkin tulisan- tulisan itu merupakan pengakuan belaka, sedangkan kenyataannya adalah sesuatu yang lain. Inilah yang berulang-ulang kami dengar dari mereka.

Akan tetapi, kami mengajak pembaca yang mulia melihat bahwa taqiyah hanya dilakukan dalam batasan masalah-masalah pribadi dan bersifat parsial ketika merasakan ketakutan atas diri. Jika alasan-alasan menunjukkan bahwa dalam menampakkan akidah atau mempraktekkan amalan menurut mazhab ahlulbait kemungkinan akan mendatangkan bahaya kepada seorang Mukmin, inilah salah satu kasusnya. Akal dan syariat menetapkan keharus- an melakukan taqiyah sehingga hal itu akan melindungi dirinya dari bahaya. Adapun hal-hal yang bersifat universal yang berada di luar lingkup ketakutan, maka tidakdilakukan taqiyah. Tulisan-tulisan yang tersebar tentang Syi’ah termasuk dalam bentuk terakhir ini. Sebab, dalam hal itu tidak ada ketakutan untuk menulis sesuatu yang berteniangan dengan yang diyakini. Padahal, tidak ada keharusan (melakukan taqiyah) sama sekali dalam hal ini se- hingga ia diam dan tidak menulis apa pun.

Apa yang mereka dakwakan bahwa tulisan-tulisan itu merupakan pengakuan belaka yang tidak berdasar adalah bersumber dari sedikitnya pengetahuan mereka terhadap hakikat taqiyah menurut Syi’ah. Alhasil, Syi’ah hanya melakukan taqiyah pada suatu masa ketika tidak memeliki pemerintahan yang melindungi mereka dan tidak ada kekuatan untuk menolak bahaya dari mereka. Adapun pada masa kini, tidak diperkenankan dan tidak dibenarkan me- lakukan taqiyah dalam kasus-kasus khusus.

Syi ‘ah, seperti yang telah kami sebutkan, tidak berlindung pada taqiyah kecuali setelah terpaksa untuk melakukan hal itu. ltulah yang benar. Saya tidak yakin ada seorang pun yang melihat permasalahan-permasalahan tersebut dengan akalnya, bukan dengan emosinya, akan menentang hal itu. Kecuali, di antara hal- hal yang bisa diterima dalam sejarah kesyiahan, ada pembatasan taqiyah dalam fatwa-fatwa; Taqiyah tidak diterjemahkan ke dalam praktek kecuali sedikit sekali. Bahkan secara praktis, mereka lebih banyak berkorban daripada orang lain. Hendaknya setiap peneliti melihat sikap-sikap para pengikut Syi’ah terhadap Mu’awiyah dan penguasa Dinasti Umayah lainnya, serta para penguasa Dinasti Abbasiyah. Mereka itu seperti Hujur bin’ Adi, Maitsam at- Tammar, Rasyid al-Hijri, Kumail bin Ziyad, dan ratusan orang lainnya, juga seperti sikap-sikap kaum ‘ Alawi sepanjang sejarah dan revolusi mereka yang berkesinambungan.

Taqiyah yang Haram

Berdasarkan hukumnya, taqiyah dibagi menjadi lima bagian. Sebagaimana wajib untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan harta, taqiyah juga haram dilakukan apabila akan menimbulkan bahaya yang lebih besar, seperti hancumya agama, tersembunyinya kebenaran bagi generasi-generasi selanjutnya, penguasaan musuh terhadap urusan, kehormatan, dan tempat-tempat per- ibadatan kaum Muslim. Oleh karena itu, Anda melihat bahwa kebanyakan pemuka Syi’ah menolak melakukan taqiyah dalam beberapa masa. Mereka mempersembahkan jiwa dan raga mereka sebagai korban untuk kepentingan agama. Maka taqiyah itu me- miliki tempat-tempat tertentu. Selain itu, taqiyah yang diharamkan juga memiliki tempat-tempat tertentu.

Pada dasamya, taqiyah adalah menyembunyikan sesuatu yang berbahaya untuk ditampakkan hingga hilang bahaya tersebut. la merupakan jalan paling utama untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kaum Syi’ah itu pengecut, hilang kekuatan, penakut, ragu untuk melangkah, dan penuh kehinaan. Sama sekali tidak. Taqiyah itu memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Sebagaimana ia wajib dalam suatu masa, ia pun haram pada masa yang lain. Dalam hal dibolehkan dan dilarang, taqiyah tidak didasarkan pada kekuatan dan kelemahan, melainkan didasarkan pada kepentingan Islam dan kaum Muslim.

Imam Khomeini as pemah berkomentar tentang hal ini. Kami nukilkan teksnya hingga pembaca mengetahui bahwa taqiyah memiliki ketentuan-ketentuan khusus dan kadang-kadang dilarang dilakukan untuk kepentingan yang lebih agung. Imam Khomeini a.s. berkata, “Taqiyah diharamkan dalam beberapa larangan dan kewajiban-kewajiban yang dalam pandangan Pembuat syariat menempati kedudukan yang tinggi, seperti penghancuran Ka’bah dan kuburan-kuburan suci, penolakan terhadap Islam dan Al-Qur’an, penafsiran yang dilakukan suatu mazhab yang sesuai dengan ateisme dan larang-larangan utama lainnya. Hal itu tidak dapat dijadikan dalil dan bukan suatu bentuk keterpaksaan untuk melakukan taqiyah.

Hal itu ditunjukkan da1am Mu’tabarah Mus’addah bin Shidqah. Di situ dikatakan, “Setiap sesuatu yang dilakukan seorang Mukmin di tengah mereka, padahal seharusnya ia melakukan taqiyah, selama tidak menimbulkan kerusakan dalam agama, maka itu boleh.”

Dari pengertian ini, jika orang yang melakukan taqiyah itu termasuk orang-orang yang memiliki kedudukan dan kepentingan di mata manusia, padahal melakukan beberapa perbuatan yang haram atau meninggalkan kewajiban dipandang sebagai melemah- kan mazhab atau merusak kemuliaannya, seperti dipaksa me- minum khamar dan berzina, maka bolehnya taqiyah dalam hal ini berdasarkan ketentuan dalil ar-raf dan dalil-dalil taqiyah adalah sulit, bahkan dilarang. Yang paling utama dari itu semua adalah tidak membolehkan taqiyah. Kalau salah satu prinsip Islam atau mazhab, atau salah satu kewajiban agama terancam hilang, rusak, dan berubah, seperti kalau orang-orang yang menyimpang hendak mengubah hukum-hukum waris, talak, salat, haji, dan prinsip-prinsip hukum lainnya, apalagi dari prinsip-prinsip agama atau mazhab, maka taqiyah dalam kasus seperti itu tidak diper- bolehkan. Kepentingan disyariatkannya taqiyah adalah agar mazhab tetap utuh, prinsip-prinsip tetap terpelihara, dan kesatuan kaum Muslim untuk menegakkan agama dan prinsip-prinsipnya. Apabila agama dan prinsip-prinsipnya terancam kerusakan, maka tidak boleh bertaqiyah. Hal itu tampak dengan jelas dari penjelasan di atas.

Demikianlah, telah kami jelaskan seluruh aspek taqiyah yang hakiki dan sebenamya. Dari uraian itu, kami simpulkan sebagao berikut:

1. Taqiyah merupakan prinsip Al-Qur’an yang didukung oleh sunah Nabi saw. Taqiyah telah dilakukan pada masa risalah oleh orang menghadapi ujian di kalangan sahabat untuk me- melihara dirinya. Rasulullah saw tidak menentangnya, bahkan menegaskannya dengan nas Al-Qur’an, seperti yang menimpa ‘Ammar bin yasir yang diperintah oleh Rasulullah saw untuk mengulanginya jika orang-orang musyrik itu memaksanya lagi agar menjadi kafir.

2. Taqiyah dalam pengertian pembentukan kelompok-kelompok rahasia untuk tujuan-tujuan destruktif ditolak oleh kaum Muslim pada umumnya, dan khususnya Syi’ah. Hal itu tidak ada hubungannya dengan taqiyah yang dianut kaum Syi .ah.

3. Para mufasir, dalam kitab-kitab tafsir mereka, ketika menafsikan ayat-ayat yang berkenaan dengan taqiyah, sepakat dengan apa yang dianut Syi’ah tentang bolehnya taqiyah.

4. Taqiyah tidak khusus dilakukan terhadap orang kafir, melainkan juga secara umum dilakukan terhadap orang Muslim yang menyimpang yang ingin berbuat jahat dan keji kepada saudaranya.

5. Berdasarkan pembagian hukum-hukumnya, taqiyah terbagi ke dalam lima bagian. Di antaranya, taqiyah itu wajib dalam kasus tertentu dan haram dalam kasus yang lain.

6. Lingkup taqiyah tidak melewati masalah~masalah individual, yaitu apabila dirasakan ada ketakutan. Namun, jika ketakutan dan tekanan itu hilang, tidak ada alasan untuk melakukan taqiyah.

Penutup

Kami asumsikan bahwa taqiyah merupakan tindak kejahatan yang dilakukan seseorang untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan hartanya. Akan tetapi, pada hakikatnya, hal itu kembali pada kondisi yang mengharuskan seorang Syi’ah yang Muslim melakukan taqiyah dan mendorongnya menampakkan sesuatu dalam ucapan dan perbuatan yang tidak diyakininya. Maka bagi orang yang mencela taqiyah terhadap sesama Muslim yang tertindas hendaklah memberikan kebebasan kepada orang itu dalam kehidupan dan membiarkannya di dalam keadaannya. Setidaknya yang dapat dibenarkan akal adalah menanyakan kepadanya tentang dalil akidahnya dan sumber pengamalannya. Jika didasarkan pada hujah yang jelas, ikutilah. Namun, jika sebaliknya, maafkanlah ia dalam mengikuti ijtihad dan jihad ilmiahnya.

Kami mengajak kaum Muslim untuk memperhatikan motif-motif yang mendorong kaum Syi’ah melakukan taqiyah. Hendaklah mereka, sedapat mungkin, memberikan keleluasaan kepada saudara mereka seagama. Karena setiap ahli fiqih Muslim memiliki pendapat dan pandangan serta kesungguhan dan kemampuan- nya sendiri.

Kaum Syi’ah mengikuti jejak para imam ahlulbait dalam akidah dan syariat; meriwayatkan pendapat mereka. Sebab mereka adalah orang-orang yang dihilangkan oleh Allah kotoran dari mereka dan menyucikan mereka sesuci-sucinya dan salah satu dari tsaqalain yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk dijadikan pegangan dalam bidang akidah dan syariat. Inilah akidah mereka yang dapat diketahui oleh siapa saja. Itulah hujah bagi semuanya.

Kami memohon kepada Allah swt agar memelihara darah dan kehormatan kaum Muslim dari gangguan orang-orang yang menyimpang; menyatukan barisan mereka; menyatukan hati mereka; menyatukan kembali mereka; dan menjadikan mereka satu barisan dalam menghadapi musuh. Sesungguhnya atas semua itu Dia Mahakuasa dan Mahapantas mengabulkan doa

.

Lebih Dekat Dengan Syiah Ali As

Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) :

“Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin karena jumlah mereka kurang dari 12. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah Bani Umayyah karena jumlah mereka lebih dari 12. Kesemuanya zalim kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan mereka juga bukan dari Bani Hashim karena Nabi bersabda: Semua Pemimpin ISLAM haruslah dari Bani Hashyim. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas karena mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar perintah al-Qur’an. Oleh karenanya itu satu satunya cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam dari Ahl Bait Rasulullah Saw. Karena mereka yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari ayah ayah mereka yang berhubung langsung dengan kakek mereka Muhammad Saw.”

(Yanabi al-Mawaddah, him. -447).

SYIAH

Saya menyimpulkan bahwa sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam”.

Dalam melihat suatu istilah, maka hendaknya kita tidak melihat dari arti leksikalnya saja. Karena ada istilah-istilah yang juga memuat makna khusus. Misalnya ijtihad, secara leksikal kata tersebut berarti “usaha keras, bersungguh-sungguh, bersusah-payah”. Namun kita tidak bisa dengan serta merta menyebut orang yang berusaha keras dengan sebutan “Mujtahid”, karena sebutan “Mujtahid” adalah istilah khas bagi mereka yang memiliki wewenang untuk melakukan istinbat hukum syar’i.

Begitu juga dengan dengan istilah “syi’ah”, secara leksikal maka itu berarti “pengikut”, sehingga pengikut Mu’awiyyah bisa disebut syi’ah Mu’awiyyah, pengikut Abubakar juga bisa disebut syi’ah Abubakar. Namun istilah “syi’ah” tersebut juga memiliki makna khas, yaitu sebutan untuk para pengikut Ali, yang tidak bisa ditempelkan begitu saja pada semua orang, sehingga pengikut selain Ali tidak bisa disebut sebagai “syi’ah”.

Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro’ 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
[ Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319, Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62, Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15, Haikal, dalam “Hayat Muhammad”]

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :
“Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul saww. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul saww menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul saww dengan pengkhianat amanat Rasul saww. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

Rasul saww sendiri menggunakan istilah “syi’ah” ketika menyebut “pengikut Ali”, hal ini bisa dilihat pada hadits beliau saww.

Rasul saww bersabda :
“Cinta pada Ali menghindarkan dari neraka, Cinta pada Ali menghindarkan dari kemunafikan, syi’atu Ali (pengikut Ali) adalah orang-orang yang beruntung”.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, dan juga oleh Dailami sebagaimana termaktub dalam kitab “Kunuuzul Haqa’iq” (Al-Manawi).

Rasul saww juga bersabda : “Wahai Ali, engkau dan syi’ah-mu berada dalam syurga”.

[Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam “Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah”, jilid 3, hal. 107-108, 162, 167]

Sehingga jelas sekali, istilah “syi’ah” dipergunakan oleh Rasul saww untuk menyebut para pengikut Ali. Oleh karena itulah, semakin jelas terlihat bahwa “syi’ah” adalah istilah khas untuk menyebut para pengikut Ali (syi’ah Ali).

Ali adalah hujjah Allah, Kholifah Rasul saww, penerus misi Rasul saww, sehingga apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka itu berarti ketetapan Ali as juga.

Kita semua tahu bahwa Rasul saww memerintahkan kita untuk mentaati para Imam Ahlul Bait as atau yang dikenal dengan “Dua belas Imam”. Sehingga ketetapan Rasul saww tersebut pastilah menjadi ketetapan Imam Ali as juga. Hal ini juga dapat dilihat pada khutbah beliau tentang Ahlul Bait as di Nahjul Balaghah.
[Nahjul Balaghah, khutbah No. 144 dan 154, tentang Ahlul Bait as]

Sehingga “syi’ah Ali” pastilah juga “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (syi’ah Dua Belas Imam)”.

Kesimpulan:

Sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, TIDAK ADA yang lain. Berikut sekedar tambahan keterangan bahwa kata “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “Syi’ah Ali” dan “Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, berdasarkan pengakuan ulama ahlusunnah :

Abul Hasan Al-Asy’ari :
“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.
[“Maqaalaat Islamiyyin”, jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab “Asy-Syi’ah Fi Maukibi At-Tarikh”, dikeluarkan oleh “Mu’awaniyyah Syu’un At-Ta’lim Wa Al-Bahuts”]

Syahrastani, berkata :
“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.
[Syahrastani, dalam “Milal Wan Nihal”, hal. 118]

Ibn Hazm, berkata :
“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”
[Ibn Hazm, dalam “Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal”, jilid 2, hal 113. ]

Siapa saja yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” adalah bukan syi’ah. Termasuk siapa saja yang pada awalnya taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” namun setelah itu membangkang atau berkhianat kepada mereka as, maka orang tersebut juga bukan syi’ah. Termasuk madzhab Zaidiyah, yang tidak bisa dikatakan sebagai syi’ah, karena madzhab ini mengakui kepemimpinan Abubakar dan Umar, dan mereka tidak berpegang kepada hukum-hukum fiqih “Dua Belas Imam Ahlul Bait as”. Hanya mereka yang selalu taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” yang disebut sebagai syi’ah.

Dengan kesimpulan tersebut, maka orang yang telah berkhianat kepada Imam Hasan as seperti Ubaidallah bin Abbas— sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Mufid dalam kitab “Al-Irsyad”— tidak bisa lagi disebut sebagai syi’ah, karena pengkhianatannya kepada Imam Hasan as dengan bergabung kepada Mua’awiyyah.

Oleh karena itu, tidak ada istilah “pengkhianatan oleh syi’ah”— sebagaimana secara implisit dituduhkan oleh sebagian orang— karena mereka yang berkhianat kepada para Imam as tidak lagi berstatus sebagai syi’ah.

Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS

Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .

1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)

Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”

Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini[90].

Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”

Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.

Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku”[91].

Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.

Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti? Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul bersabda:”Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan gigi geraham kalian.”Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.

Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengna ayat-ayat al-Qur’an. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian ucapan kita “Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku…”[92] tidak mempunyai hujah yang kuat lagi.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.

Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:” Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai” (Surah 19:5-6)

Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.

Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”

Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya:”Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda menjawab:”Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi Allah”[93]. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau berkata:”Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta”. Atau beliau berkata:”Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali, sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu”. Kemudian Umar bin Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:”Setelah aku ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali”.

Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa’:94:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang mengucapkan “salam” kepadamu:”Kamu bukan seorang Mukmin “(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.

Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.

Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).

Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.

Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai’ah di rumah Fatimah dan membakar mereka.

Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan nas-nas al-Qur’an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid:”Wahai musuh Allah, engkau telah bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam engkau dengan batu” [94]. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:”Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah. Tutup mulutmu Khalid”.

Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang  telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut, sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita memberikannya gelaran “Pedang Allah Yang Terhunus!!!”

Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu’; seorang yang dijadikan perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid: Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di waktu malam, Khalid menidurinya [95].

Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya as-Sidiq Abu Bakar. Di dalam bab Pendapat Umar  Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal menulis:”Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.

Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap – alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar – namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai “Pedang Allah” dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid dipanggil dan dimarahi [96].

Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama seumpamanya yang berusaha menjaga “kemuliaan” sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal – adalah model keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur’an jauh sekali.

Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi SAWA berkata:”Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka lakukan  kepadanya hukum hudud “.

Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakan Khalid ini dengan  menciptakan berbagai kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya dengan sebutan “Pedang Allah Yang Terhunus”.

Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukum-hukum Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.

Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka.  Kabilah ini tidak fasih di dalam menyebutkan Aslamna (kami telah masuk Islam). Mereka menyebutnya: Saba’na, saba’na.Lalu Khalid membunuh mereka dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:”Ya Allah, aku bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid”, dibacanya dua kali [97]. Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid”.Dibacanya sehingga tiga kali [98].

Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai  Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja? Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka Waillah tempat mereka kembali.

Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah tersalah takwil?

Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai “musuh Allah”. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid lebih dari orang lain.

Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya, sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila [99].

Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:”Demi nyawaku hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi [100]. Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:”Ini mesti ulah si A’saar”, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.

Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.

Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran. Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila’ mereka sedangkan aku masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:”Orang jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya”.

Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha Mengetahui wahai Tuhanku,  aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.

Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orang-orang yang berpegang-teguh kepada tali wila’ mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka. kerana NabiMu SAWA telah bersabda:”Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dia cintai”.

2. Hadith Bahtera

Bersabda Nabi SAWA:”Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam” [101].

“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni”[102].

Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-Muhriqah dan berkata:”Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan – pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis – dengan sikap rendah hati dan memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA sebagai sebab diampuninya mereka.”

Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:”Kami adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaan-keutamaan mereka”.

Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka, atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.

Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.

Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih  sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah  ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku

Bersabda Nabi SAWA:”Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di syurga Ad’n yang ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila’ walinya serta ikut Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku, diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya” [103].

Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak memberikan hak untuk  memilih kepada seorang Muslim, bahkan menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila’ Ali dan ikut Itrah keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk mereka Nabi SAWA.

Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara lain beliau berkata:”Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya’la al-Muharibi, seorang yang lemah”. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan  sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin Ya’la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran dengan sempurnanya.

Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul Munaqasat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan [104]. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya’la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati bahawa Bukhari telah meriwayatkan  hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi  yang thiqah. Para imam al-Jarh wa at-Ta’dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.

Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya Nubuwwah dan berjalan  di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan  orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga [105].

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah [106]. Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya [107], dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syi’ah

 Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.

Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.

Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”.

Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,”Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”.

Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.

Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”.

Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja’fariyyah

Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja’far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadith.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy’ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?

Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.

Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.

Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:

Jika mereka bertanya tentang madzhabku,

Aku berdiam diri lebih selamat,

Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,

Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,

Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan ‘berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.

Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,

Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.

Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).

Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.

Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali ‘penentuan’ itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah ‘penentuan’ kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.

Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.

Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).

Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur’an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.

Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur’an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.

Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.

Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.

Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!

Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).

Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).

Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:”Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam”.(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).

Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja’fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja’far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.

Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.

Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.

Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya”.

Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.

Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.

Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.

Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.

Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)” (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).

Rasulullah SAWA bersabda:”Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam”, (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).

Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.

Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.

Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:”Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu”.

Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.

Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:”Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air”.

Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:”Wuduk itu dua basuh dan dua sapu”, iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:’Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,’Ya’. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:’Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci’. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca’Bismillah’ dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau – Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].

Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya ‘ala khayr al-’amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.

Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.

Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.

Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:”Sembahyang itu lebih baik dari tidur”, maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.

Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.

Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud”dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud” (Sahih Muslim, Bab Mawdi’ as-Salah).

Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.

Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.

Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya’ di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.

Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa “Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya’ tanpa musafir dan tanpa sebab takut”,(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam’ as-Salah fil-Hadr).

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:”Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita”.

Kemudian melantik Ubay bin Ka’ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:”Ini adalah bidaah yang baik”. Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).

Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.

Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan – sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.

Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)

Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga ‘Undang-undang 99 Perak’, dan ‘bersalam’ lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja’fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.

Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut’ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:”Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan” sehingga terbukti pembatalannya.

Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana ‘menghadkan waktu’ dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu’aqqat.

Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).

Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)

Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut’ah.

Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur’an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:”Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya”.

Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur’an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut’ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa’ (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur’an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:”Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)”.

Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut’ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut’ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi’in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut’ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:”Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu”.

Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.

Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.

Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:”Ayat mengenai mut’ah telah diturunkan dalam al-Qur’an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).

Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:”Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta’ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat” (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut’ah).

Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma’ binti Abu Bakar secara mut’ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut’ah)”.

Imam Ja’far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:”Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut’ah, dan ‘hayya ala khairil amal’ dan ditanya Imam Ja’far as-Sadiq AS mengenai nikah mut’ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut’ah).

Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.

Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.

Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.

Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur’an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang ‘ratusan ribu’ itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur’an itu ditujukan juga kepada mereka.

Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.

Mengenai Hadith “sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit”, maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.

Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)”.

Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja’far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.

Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti ‘jemputan’ kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.

Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur’an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.

Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?

Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan”Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid”. Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.

Nabi SAWA bersadba:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah ’satu’ (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji’ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.

Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa’at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).

Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.

Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai “Pintu Ilmu”.

Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:”Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya” (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).

Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.

Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.

Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.

Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja’far as-Sadiq AS.

Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz”Wahai anak Rasulullah” kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.

Imam Abu Hanifah berkata:”Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu’man” iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja’far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.

Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:

Aku adalah Syiah dalam agamaku,

Aku berasal dari Makkah,

Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).

Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.

Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa”Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa alihi Muhammad)

Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.

Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.

Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.

Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya – yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Katanya lagi,”Sesungguhnya Madzhab Ja’fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya….”(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)

Walaupun di Malaysia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.