Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab bershalawat ditengah umat yang anti ahlulbait

 1/11/2012 01:57:00 PM

Syekh Wahbah Azzuhaili (kiri), Ayatollah Ali Taskhiri (tengah), KH Tolhah Hasan (kanan)
.
“Nahdlatul Ulama (NU) itu Syiah minus Imamah. Syiah itu NU plus Imamah.” Demikian pernyataan populer almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), cendekiawan NU. Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah. Bahkan peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan posisi Imam dalam tradisi Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud budaya, sementara di Syiah dalam bentuk teologi. Ini substansi pernyataan Gus Dur di atas.
.
Namun sangat memprihatinkan, baru-baru ini terjadi tindak kekerasan terhadap muslim Syiah di Sampang, Madura, salah satu basis NU. Sebuah pesantren Syiah dibakar massa karena aliran itu dinilai sebagai ajaran sesat. Tindak serupa ini bukan yang pertama, baik di Madura maupun di daerah lain di provinsi yang sama, Jawa Timur. Sebelumnya, di Bondowoso, Pasuruan, Malang, dan Bangil pernah terjadi penyerangan terhadap muslim Syiah.
.
Eskalasi ini terjadi kira-kira dalam tempo empat tahun terakhir. Seharusnya ini menjadi catatan tersendiri bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur beserta jajaran keamanannya untuk mengantisipasi dan mencari solusi. Sebelum eskalasi konflik terjadi, horizon keislaman di Jawa Timur sangat kondusif. Aroma Islam toleran sangat kuat di provinsi ini. Kekhasan corak keislaman seperti ini tak lepas dari akar budaya Nahdlatul Ulama (NU) yang tertanam kuat.
.
Said Agil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar NU, menegaskan bahwa selama ini Madura memiliki preseden positif soal hubungan antara muslim Sunni dan Syiah. Said mensinyalir kejadian ini diletupkan pihak ketiga yang ingin merusak keharmonisan tersebut.
.
Sunni-Syiah saudara
.
Secara substansial, hubungan antar muslim Sunni dan Syiah tidak memiliki rintangan signifikan bagi terjalinnya keharmonisan. Karena dua mazhab dalam Islam ini justru memiliki banyak titik kesamaan ketimbang perbedaan. Teologi Syiah dan Sunni tidak memiliki perbedaan mendasar. Baik dalam hal konsep ketuhanan (tauhid), kenabian, kitab suci Al-Quran, maupun kepercayaan akan hari akhir dan persoalan teologis lainnya. Ini bisa dirujuk pada literatur teologi dan juga filsafat dari keduanya. Bahkan keduanya sering dipertemukan pada tokoh yang sama dengan pemikiran yang sepaham.
.
Kajian tentang dialog Sunni-Syiah semakin intensif menemukan banyak kesamaan di satu sisi, dan menyadari bahwa perbedaan yang selama ini digaungkan sebenarnya tidak menyangkut aspek yang fundamental dari ajaran masing-masing. Namun, sayangnya, semakin dekatnya persaudaraan antara pemikiran Syiah dan Sunni ini hanya berhenti pada tataran elite. Umat secara mayoritas belum diberi asupan dakwah yang memadai tentang persaudaraan Sunni-Syiah. Ibarat piramida, di pucuk sebenarnya bertemu, namun di bawah terpisah jauh. Karena itu, yang berkembang di tingkat massa justru kesalahpahaman satu dengan yang lain. Mulai soal teologi hingga syariah. Di antaranya, kesalahpahaman bahwa Al-Quran Syiah dan Sunni berbeda, soal nikah mut’ah, penghormatan kepada sahabat, tata cara ibadah salat, dan lain sebagainya.
.
Pada tingkat “elite”, kesalahpahaman ini dianggap tidak berdasar secara akademis, bahkan sekadar asumsi belaka. Namun, faktanya, kesalahpahaman ini fundamental, signifikan, dan berefek besar. Walhasil, ada jurang pemisah yang lebar antara proses dialog akademis pada tingkat intelektual dan pemahaman umat mayoritas. Ini terjadi karena belum dilakukan strategi dakwah yang secara serius berupaya untuk “membumikan” proses dialog yang terjadi pada tingkat “langit” tersebut. Kalaupun ada, hanya berupa produk buku dan produk akademis elitis lainnya. Padahal massa pada tingkat bawah memiliki “bahasa” tersendiri. Metode dakwahnya seharusnya dilakukan secara lebih sederhana.
.
Pendekatan kultural
.
Sangat menarik bahwa ternyata, secara kultural, banyak tradisi keislaman yang dipraktekkan di Indonesia memiliki akar pada ajaran dan tradisi Syiah. Tradisi Tabok dan peringatan bulan Muharam adalah salah satu contohnya. Tradisi ini sudah berkolaborasi dalam berbagai budaya: Jawa, Sulawesi, maupun Sumatera. Pada tanggal 10 Muharam, kita bisa melihat gelaran tradisi tersebut dalam berbagai wajah budaya, namun satu substansi. Artinya, secara kultural masyarakat Indonesia memiliki ikatan sosiologis dan historis yang kuat dengan ajaran Syiah.
.
Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan: pertama, bahwa di Indonesia pada dasarnya sudah terjalin harmoni yang kuat dan berlangsung berabad-abad antara Sunni dan Syiah. Demikian kuatnya hingga menyatu dalam sebuah tradisi bersama. Kedua, budaya adalah medium yang paling efektif sebagai pintu dialog dan harmoni. Sejauh ini, jalinan dialog dan harmoni Syiah-Sunni kurang memaksimalkan perangkat budaya sebagai mediumnya. Padahal dalam budayalah kita menemukan jejak-jejak harmoni antara muslim Sunni dan Syiah Indonesia.
.
Budaya sangat efektif untuk menerjemahkan hasil dialog akademis pada tingkat intelektual ke dalam bahasa-bahasa yang sederhana yang mudah dicerna oleh umat secara keseluruhan. Dan berbagai kesalahpahaman yang terjadi antara umat Islam Sunni dan Syiah Indonesia, salah satunya, disebabkan oleh absennya budaya sebagai perangkat dakwah dan dialog. Perangkat hardware (teologi, syariah, fiqh) lebih dikedepankan ketimbang software (budaya, akhlak, moral). Padahal yang kedua justru lebih efektif untuk membangun harmoni. Absennya budaya ini menciptakan sebuah “ruang kosong” yang menjadi jurang pemisah antara dialog akademis (elite agama) dan umat.
.
“Ruang kosong budaya” inilah yang kemudian diisi dan dimanipulasi oleh pihak atau kelompok tertentu, dengan kepentingan tertentu pula, untuk menciptakan kesalahpahaman-kesalahpahaman antara muslim Syiah dan muslim Sunni. Sebagaimana ditegaskan Said Agil Siradj. Dengan memanfaatkan “ruang kosong budaya” tersebut, pihak ketiga tersebut merekonstruksi sebuah pemahaman yang saling menyesatkan antara Sunni dan Syiah, sehingga muncul kecurigaan, kebencian, dan motif untuk berkonflik di antara keduanya.
.
Ke depan, agenda yang sangat penting untuk dilakukan adalah penelitian komprehensif, baik kualitatif maupun kuantitatif, tentang peta kesalahpahaman tersebut. Bagaimana proses terbangunnya kesalahpahaman itu, seperti apa pola dan modusnya, seberapa jauh efek sosial-kulturalnya?
.
Sebab, menurut saya, di tiap daerah, kesalahpahaman yang berkembang tidak sama karakteristiknya. Di beberapa provinsi, kesalahpahaman yang berkembang lebih kuat pada isu teologis, seperti kecurigaan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda. Sedangkan di provinsi lainnya, kesalahpahaman lebih mengarah pada aspek ibadah dan fiqh. Ini menunjukkan bahwa ada karakteristik yang berbeda, yang menimbulkan efek kesalahpahaman yang juga berbeda.
.
Dengan bekal pemetaan, kita bisa mendiagnosis “penyakit” kesalahpahaman ini. Setelah semua diketahui, akan lebih mudah untuk memberikan “obatnya”. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan budaya. Peta kesalahpahaman dapat dijadikan sebagai blueprint proses dialog Sunni-Syiah. Jadi, harus ada sebuah kajian dan penelitian yang komprehensif terhadap persoalan ini, sebagai bagian dari upaya dialog Syiah-Sunni. Walhasil, konflik yang terjadi di Sampang bisa dilihat dari sudut pandang ini. Konflik ini sengaja dilecutkan oleh pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan “kosongnya budaya”.

Ketua MUI: Syiah Sah sebagai Mazhab Islam

Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan syiah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut syiah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.

Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Iran, Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab Kamis (28/4) mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu.”

Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita ABNA, dalam kunjungannya ke Iran atas undangan Forum Pendekatan Mazhab Islam, Umar Shihab beserta beberapa anggota rombongan menyempatkan mengadakan tatap muka dan pertemuan dengan pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota suci Qom, Iran.

Rombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut. “Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.

Lebih lanjut beliau menjelaskan,”Diantara bentuk kerjasama yang disepakati adalah pengiriman para peneliti dan ulama Indonesia ke Iran untuk mengikuti pertemuan dan pendidikan khusus mengenai beberapa hal yang beragam di Iran begitu juga sebaliknya, ulama-ulama dan peneliti Iran akan berkunjung ke Indonesia. Di samping itu juga kita telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Departemen Pengurusan Haji dan juga berkunjung ke Kamar Dagang Industri Iran untuk bekerjasama dalam produk halal. Insya Allah, jalinan kerjasama ini diharapkan dengan tujuan mengeratkan hubungan antara Republik Islam Iran dengan masyarakat muslim Indonesia.”

“Semoga dengan adanya kesepakatan dan kerjasama tersebut ukhuwah Islamiyah dapat terjalin dengan baik dan kedua belah pihak bisa saling memahami.” Harapnya.

Perpecahan dan Kebodohan, Ujian bagi Umat Islam

KH. Prof. DR. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya di hadapan seratus lebih pelajar Indonesia yang hadir. Beliau menyatakan bahwa hidup di dunia ini penuh dengan tantangan, ujian dan kesulitan-kesulitan. Lebih lanjut menjelaskan, “Masyarakat Indonesia saat ini diuji dengan perpecahan. Dalam internal umat Islam sendiri terdapat berbagai macam kelompok yang mengarah kepada perpecahan, ada yang menyatakan diri sebagai kelompok liberal, kelompok anti agama, kelompok anti Syiah dan lain-lain. Keberadaan kelompok-kelompok ini sangat mengancam persatuan umat Islam.”

Menurut beliau ada dua kelompok pemecah umat Islam. Pertama kelompok pemecah dari luar umat Islam, yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur’an keduanya tidak akan senang sampai umat Islam mengikuti agama dan kelompok mereka. Mereka melakukan berbagai macam cara dengan giat utuk memecah belah umat, melalui buku-buku, selebaran dan memanfaatkan tekhnologi yang mereka miliki. Mereka menipu dan menghasut umat misalnya melalui pemahaman pluralisme yang menyatakan semua agama sama. Ini adalah pemahaman yang sesat bahkan mengarah kepada kekafiran. Karena itu MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa pernyataan dan keyakinan semua agama sama adalah pernyataan yang tidak bisa dibenarkan dan MUI telah mengharamkannya.

Kedua, kelompok pemecah dari kalangan umat Islam sendiri. Tidak sedikit dari kelompok umat Islam yang justru memecah belah umat. Mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memicu perpecahan umat, mereka misalnya menyebut maulid itu bid’ah, mengucapkan shalawat di setiap kegiatan itu bid’ah sehingga dengan pemahaman yang seperti itu mereka menyesatkan dan memusuhi kelompok Islam yang mengamalkannya.

Di bagian lain ceramahnya, Ketua MUI Pusat ini menyebut ujian kedua Umat islam adalah kebodohan. “Pelajari dan tuntutlah ilmu agama ini dengan benar dan dari sumbernya yang asli. Al-Qur’an menyebutkan, yang manakah lebih layak kamu ikuti, orang yang memiliki pengetahuan atau orang yang tidak memiliki pengetahuan?. Dan Nabi Muhammad saww dalam haditsnya menyebutkan, Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Dari riwayat Nabi ini, jelas disebutkan bahwa Sayyidina Ali lebih layak diikuti setelah Nabi. Karenanya tuntutlah ilmu yang berasal langsung dari sumbernya. Sayangnya kebanyakan kaum muslimin menyingkirkan dan melupakan hadits-hadits yang bersumber dari Sayyidina Ali, keluarga, sahabat utama dan terdekat dengan Nabi, dan lebih banyak mengamalkan dan menerima hadits dari selain beliau,”tegas Umar Shihab.

Di penghujung ceramah beliau, Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab kembali mempertegas pesan Al-Qur’an, Innamal mu’minuna ikhwa, orang-orang yang beriman itu bersaudara. “Saudara-saudara belajarlah yang bersungguh-sungguh, dan ketika kembali ke tanah air, sampaikanlah ajaran Islam yang benar. Saya tidak menyatakan yang benar itu Syiah atau Sunni, tetapi keduanya.”tegas beliau.

Prinsip MUI: Sunni dan Syiah Bersaudara

Setelah Prof. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Beberapa pelajar kemudian mengajukan pertanyaan. Diantara pertanyaan yang diajukan, bisakah MUI wilayah di daerah mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Pusat?.

Prof Umar Shihab memberikan jawaban, MUI wilayah jika berkaitan khusus dengan persoalan umat di daerahnya dibenarkan untuk mengeluarkan fatwa sendiri, namun jika berkaitan dengan kepentingan nasional, maka yang berhak mengeluarkan fatwa hanya MUI Pusat yang harus diikuti oleh MUI-MUI di daerah. Dan MUI di daerah tidak memiliki wewenang untuk menganulir fatwa yang telah dikeluarkan MUI Pusat.

“Misalnya ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa Syiah itu sesat -namun Alhamdulillah syukurnya belum ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa seperti itu- maka fatwa tersebut tidak sah secara konstitusi, sebab MUI Pusat menyatakan Syiah itu sah sebagai mazhab Islam dan tidak sesat. Jika ada petinggi MUI yang mengatakan seperti itu, itu adalah pendapat pribadi dan bukan keputusan MUI sebagai sebuah organisasi.” Jelas beliau.

Ketika ditanyakan langkah-langkah MUI Pusat yang akan dilakukan untuk mewujudkan persatuan umat dan menyelesaikan perselisihan Sunni-Syiah, Prof. Umar Shihab menjelaskan bahwa MUI akan menjadi penyelenggara seminar Internasional Persaudaraan umat Islam di bulan Desember akhir tahun ini. “MUI akan mengundang ulama-ulama dari berbagai Negara, dari Mesir, Iran bahkan dari Arab Saudi termasuk Syaikh Yusuf Qhardawi untuk hadir sebagai pembicara. Indonesia insya Allah akan menjadi perintis persatuan umat Islam khususnya antara Sunni dan Syiah, semoga Allah membantu usaha-usaha kita.” Jelas beliau.

Setelah memasuki waktu maghrib, dilakukan shalat maghrib berjama’ah yang diimami oleh Sayyid Farid, dan Prof. Umar Shihab menjadi jama’ah di shaf pertama.

Acara pertemuan tersebut diakhiri dengan makan malam bersama, dan do’a bersama dipenghujung acara dipimpin oleh KH. Prof. DR. Umar Shihab.  Pertemuan Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab dengan pelajar Indonesia yang sedang berada di Qom Iran ini adalah pertemuan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya dua tahun lalu diadakan pertemuan di tempat yang sama.

Mengapa shalawat dianggap sebagai zikir termulia? Mari kita ulas melalui tulisan ringan sebagai berikut:

Apakah Nabi (Muhammad) itu manusia biasa ataukah manusia luar biasa? Sepintas pertanyaan di atas ringan bagi sebagian orang, namun bila ditelisik lebih mendalam, banyak konsekuensi teologis yang akan menentukan cara dan sikap kita terhadap masa depan agama ini.

Kelompok anti “manusia biasa”
Premis I : Wahyu Tuhan adalah biasa (tidak pasti)
Premis II: Sesuatu yang tidak pasti benar mesti ditolak
Premis II: Wahyu Tuhan mesti ditolak

Karena agama yang dianutnya ternyata tidak benar, maka ia pun meninggalkannya. Ini juga bisa dimaklumi bila melihat konteks dasar penerimaannya.

Ini bisa diumpamakan dengan orang yang menolak makan martabak yang sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasinya tentang martabak yang layak dimakan.

Kelompok ini tidak perlu dibicarakan lebih lanjut, karena sejak semula telah menyatakan diri sebagai penolak agama dan sistem mediasi atau kerasulan. Mungkin sebagian dari mereka meyakini “faith without religion” atau sembunyi di balik bangunan mistik bernama “esoterisme” atau “perenialisme”. Kali ini kita tidak berkepentingan untuk menjadikan kelompok ini sebagai objek pembedahan.

Dua Kelompok “Pro manusia biasa”
Kelompok ini menganggap Muhammad sebagaimana umumnya manusia lainnya. Pandangannya dapat diuraikan dalam asumsi sebagai berikut:

Asumsi pertama: Pembawa agama dan penyampai wahyu Tuhan itu manusia biasa, yang berbuat salah dan kadang lupa. Karena itu, sebagian ajarannya tidak bisa mutlak diterima dan diterapkan, bahkan perlu dikoreksi dan diganti dengan pandangan-pandangan lain yang dinilai lebih logis dan relevan.

Premis I : Penyampai wahyu Tuhan dan pengawalnya adalah manusia biasa (tidak pasti benar karena lupa dan salah)
Premis II : Nabi adalah penyampai wahyu Tuhan
Premis II: Wahyu Tuhan adalah biasa (tidak pasti benar)

Karena agama yang dianutnya “biasa”, ia merasa perlu menyempurnakan, bongkar-pasang dan merevisinya. Ini sangat bisa dimaklumi bila dilihat dari konteks dasar penerimaannya.

Kelompok yang sejak semula menganggap pewarta wahyu sebagai manusia biasa yang berbuat salah dan lupa, menerima Islam sebagai “agama biasa”.

Pandangan ini memberinya justifikasi untuk melakukan bongkar pasang bahkan sesekali mengkritik, dan kadang menggugatnya dengan nada sinis dan mengejek. Karena tidak memiliki literatur yang cukup tentang kelompok-kelompok lain di luar lingkungan sosio-religiusnya. Kelompok ini secara serampangan bersikap under-estimate seraya menganggap Islam yang dianutnya secara temurun sebagai representasi dari “agama biasa”.

Dan karena itu, kelompok ini tidak pernah mengutip pandangan-pandangan kelompok lain. Paling-paling, yang sesekali dikutip adalah teologi Mu’tazilah dan para cendekiawan pembaharu di Mesir. Filosof yang selalu dikutip tanpa kedalaman adalah Farabi dan Ibnu Rusyd (meski keduanya bukanlah filosof secara definitif). Mereka benar-benar “kuper” soal sejarah dan dinamika filsafat di Iran dan benua Syiah. Tapi, karena dilontarkan di tengah masyarakat tradisional yang fakir informasi tentang filsafat dan rasionalisme Islam, tetap saja pandangan dan artikel-artikel mereka dianggap “baru” dan kontroversial.

Kelompok ini secara terbuka mengusung jargon “Islam Liberal”. Liberalisme semula adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Digunakanlah kata ini demi menegaskan pandangan yang menolak apa yang disebutnya dengan “sakralitas” atau “sakralisasi”, “kultus”, “otoritas teks” seraya mengumandangkan dekonstruksi, lokalisasi, dan kontekstualisasi sesuai dengan pandangan subjektifnya.

Gagasan-gagasan kritis kelompok ini hampir tidak pernah mengalami kemajuan. Setiap tokohnya hampir mengulang-ulang lontaran tentang isu-isu langganan, semacam kritik terhadap apa yang disebutnya “bias gender” dalam hukum waris, poligami dan semacamnya dalam teks-teks suci, al-Qur’an dan Hadits. Menurut Haidar Bagir, tak sulit untuk mencari dasar bagi prinsip-prinsip pemikiran tokoh-tokoh JIL, termasuk di dalamnya soal nilai penting prinsip-prinsip (moral) universal atau maqashid al-Syari’ah versus hukum-hukum yang bersifat partikular, sifat progresif pemikiran dan penafsiran Islam serta keharusan ijtihad tanpa henti, pemberian perhatian pada konteks hermeneutik selain teks tradisi suci, sifat abadi dan temporal doktrin-doktrin keislaman, inklusivisme Islam, sekularisasi, dan sebagainya. Ringkasnya, tidak ada yang benar-benar fresh sebagai gagasan yang layak untuk menyita perhatian dunia.

Sebagian besar pengkritik kelompok ini mempersoalkan metodologi dan landasan epistemologis yang digunakannya. Haidar Bagir adalah salah satu cendekiawan yang mempertanyakan metodologi dan epistemologi kelompok ini. Tapi, yang menjadi landasan utama pemikiran kelompok sebenarnya adalah pandangannya tentang kenabian dan Nabi yang dianggapnya sebagai “manusia biasa”.

Ulil dalam artikelnya mengatakan, “Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi, tanpa memandang aspek beliau sebagai manusia yang banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah). Karena itu, menurutnya, Muhammad saw sebagai seorang politikus tidak harus ditiru kebijaksanaannya. Pandangan ini menjadi biang bagi seluruh gagasan-gagasan kritis yang menuai kontroversi. Karena Muhammad dipandang sebagai manusia biasa, maka ia tidak imun dari pengaruh di luar wahyu, dan karena itu, kebijaksanaannya selama di Madinah sangat dikondisikan oleh konteks sosial dan sejarah yang spesifik pada saat itu.”

Bila dikaji lebih runut, sumber persoalannya adalah irasionalitas pandangannya tentang prinsip ketuhanan (teologi) dan keberadaan (ontologi). Harus diakui, meski umat Islam sama-sama meyakini Muhammad sebagai Nabi, namun landasan sikap dan keyakinan tentang prinsip ini tidaklah melulu sama, terutama dalam detail penjabarannya.

Dalam ranah teologi Islam, kita mungkin hanya mengenal “iman kepada Nabi”, sebagaimana dalam Rukun Iman dalam teologi Asy’ariyah. Padahal dalam literatur Islam yang di luar poros Mesir Sunni dan Saudi Wahabi (yang juga bisa disebut poros Islam Arab, bagi yang hendak mencari-cari latar belakang demografisnya), ada yang memasukkan “iman kepada Nabi” sebagai bagian dari prinsip filosofis rasional “iman kepada kenabian”. Ini mungkin bisa disebut sebagai pandangan Islam poros Syiah plus representasi Islam non Arab. (Penyebutan aspek etnis “Arab” dan “non Arab” kadang menjadi penting bagi kelompok ini karena isu “Islam lokal” yang selalu digemborkannya).

Kelompok ini, secara filosofis, menjelaskan “nabi” dan “kenabian” (an-nubuwah) sebagai dua entitas konseptual yang berbeda, meski menjurus kepada figur yang sama. “Iman kepada Nabi” tanpa didahului dengan “iman kepada kenabian” hanya akan mengarahkan pengiman kepada keterikatan personal. Inilah yang bisa dianggap sebagai celah kritik pemujaan personal yang disebut dengan “kultus individu”. Menerima dan meyakini sebuah person dan figur sebagai Nabi, tanpa dilandasi dengan pandangan dunia Ketuhanan berikut sistem dan tujuan penciptaan, sangat rentan bagi munculnya kebingungan dalam menyikapi keputusannya baik sebagai pewarta wahyu maupun sebagai pemimpin.

Asumsi kedua: Pembawa agama dan penyampai wahyu Tuhan itu manusia biasa, yang berbuat salah dan kadang lupa. Namun ajarannya tetap benar dan tidak salah.

Ini bisa dianggap sebagai katalog falasi. Kelompok ini meski menganggap Muhammad itu “biasa”, bersikeras mengklaim bahwa ajarannya yang disampaikannya tidak salah. Tanpa menyadari adanya paradoks dan kontradiksi, kelompok ini malah menganggap apa yang diyakininya adalah representasi seratus persen ajaran Muhammad. Ia bahkan menganggap generasi masyarakat yang hidup di zaman Muhammad sebagai generasi terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Melalui merekalah, ajaran Muhammad dipercaya aman dari segala manipulasi.

Yang menarik, adalah penganut “agama biasa” terbagi dalam dua kelompok yang terlihat sangat berseberangan. Kelompok pertama, yang meyakini pengawal agama dan penyampai sebagai manusia biasa alias pasti berbuat salah dan lupa, menerima sepenuhnya “menu biasa” itu tanpa sedikitpun menolak atau paling tidak merevisinya agar menjadi “luar biasa”, karena memang tidak menyadari atau memang mengabaikan kritisisme. Lebih dari itu, kelompok ini menganjurkan semua kelompok untuk mengambil dan meniru pilihan menunya dengan mengerek bendera “back to origin” (alias kembali ke “salaf”).

Betapapun kenyataan menegaskan tidak semua hukum terjelaskan dalam teks al-Quran dan riwayat-riwayat Nabi, karena sejak berakhirnya masa pewahyuan dan pengawalan agama dengan wafatnya Muhammad saw, kelompok yang getol memasang atribut “salafi” ini tetap bersikukuh menganggap semua persoalan dan problema manusia baik individual maupun sosial telah dijelaskan hukumnya dalam teks al-Qur’an dan Sunnah. Kontradiksi demikian memang tidak menjadi beban psikologis dan tidak membuat mereka risih secara intelektual. Mengapa? Sejak semula, tampaknya kelompok ini, terutama para pemukanya, menyadari akan adanya “celah” invaliditas ini. Karenanya, kelompok ini mengantisipasinya dengan menutup rapat celah kritisisme dengan mengharamkan logika dan meniru penegasan para pemuka Kristen yang menganggap iman sebagai kontra akal dan logika.

Tidak hanya betrhenti di situ, kelompok ini memunculkan sejumlah doktrin penunjang demi memproteksi AD/ART-nya dengan mengharamkan dan menyesatkan kelompok-kelompok lain, terutama yang menjadikan logika sebagai sesat, kafir dan sejumlah atribut lainnya yang dijadikan sebagai palu vonis melalui kampanye dan propaganda ekstensif dan sistematis.

Apa lacur? Karena terlanjur memposisikan logika dan rasio sebagai musuh nomor satu, kelompok ini menafsirkan teks-teks ayat dan riwayat metofaris secara skriptural dan literal, terutama yang berkaitan dengan Tuhan. Jangan heran bila mereka menafsirkan “istawa ala al`arsy” sebagai “nongkrong di atas singgasana”. Selain tidak perlu diherankan, penafsiran mereka yang visual dan fisikal terhadap Tuhan tidak patut disalahkan, karena ia hanyalah konsekuensi dari sebuah pandangan fundamental, yaitu bahwa pengawal agama dan perantara Tuhan dengan manusia tidak lebih dari ordinary man.

Keganjilan masih berlanjut. Akibat dari pilihan nekad ini, sikap dan cara mereka menghadapi tema-tema mutakhir, teristimewa fenomena-fenomena modernitas, benar-benar menggelikan sekaligus menyeramkan. Karena kecanduan “visualisasi”, mereka menyatakan perang terhadap segala sesuatu yang bersifat esoterik, mistik, abstrak dan, tentu saja semua yang beraroma tasawuf. Siapapun yang menyimpan apresiasi terhadap tasawuf, apalagi menjadi member ordo atau tarekat akan dibungkus oleh kelompok “kacamata kuda” ini dalam karung “sesat” dan “bid’ah”.

Dan karena hampir selain mereka, dianggap teridentifikasi virus bid’ah, sesat dan syirik, harga darah kelompok lain di mata kelompok ini tidak terlalu mahal. Kelompok ini dengan bekal “agama biasa” melakukan segala aksi pemusnahan, pembunuhan dan paling ramah, penyesatan, hanya dengan satu alasan amar makruf dan nahi munkar, yang lagi-lagi ditafsirkan secara “biasa”. Karenanya, pengkafiran sesama muslim pun menjadi kebiasaan. Ini semua karena “biasa”.

Asumsi ketiga: Penyampai wahyu Tuhan dan pengawal agama adalah manusia biasa. Karena biasa (salah dan lupa), maka ajarannya biasa (salah dan lupa). Karena ajarannya (biasa) bisa salah dan lupa, maka ajaran Tuhan yang benar tidak bisa disampaikan. Karena tidak bisa disampaikan ke manusia, maka tidak ada agama yang bisa diterima.

Kelompok “Pro Manusia Luar Biasa”
Ada 2 kelompok yang meyakini Muhammad sebagai “manusia luar biasa” :
Kelompok pertama meyakini Muhammad sebagai manusia luar biasa semata-mata karena personnya dan tidak berkaitan sama sekali dengan sistem mediasi Tuhan. Hal ini karena kelompok ini sejak semula menjadikan keyakinan kepada person Nabi sebagai salah satu fundamen iman, yang disebut dengan rukun iman. Karena itulah, dengan tetap meyakini keluarbiasaan Muhammad sebagai person, kelompok ini tidak menolak teks-teks riwayat yang bertentangan dengan prinsip mediasi atau Nubuwah. Akibatnya, penghormatan dan pemujaan serta kecintaan kelompok ini kepada Muhammad bersifat personal, bukan institusional dan sistemik. Namun, demikian, dibanding dengan kelompok pertama dan kedua, kelompok ini bisa dianggap yang terbaik. Kelompok ini bahkan melestarikan penghormatan kepada Nabi dalam tradisi-tradisi yang sangat menyejukkan.

Kelompok kedua, mendasarkan keyakinannya atas prinsip rasional “Nubuwah” (kenabian). Dengan kata lain, alasan kelompok ini menganggap Muhammad sebagai manusia “luar biasa” semata-mata karena keyakinannya akan sistem penciptaan dan tujuan penciptaan serta keyakinannya yang sangat rasional tentang lembaga mediasi Tuhan.

Pandangannya dapat diuraikan dalam asumsi sebagai berikut:
Asumsi ketiga: Pembawa dan penyampai wahyu bukanlah manusia biasa, karena manusia penyampai wahyu berbeda dengan manusia yang tidak menyampaikan wahyu. Apabila penyampai wahyu adalah manusia biasa (salah dan lupa), maka :
1) Manusia penyampai wahyu dan yang bukan penyampai wahyu adalah sama (lupa dan salah) (Ajaran Nabi tidak terjamin kebenarannya) (asumsi pertama).
2) Ajaran Tuhan tidak akan pernah sampai (asumsi kedua).

Padahal kita umat bergama dan umat Islam secara khusus telah menerima agama dan membenarkan wahyu yang disampaikan oleh manusia penyampai tersebut. Maka konsekuensinya adalah : penyampai wahyu pastilah manusia luar biasa (tidak lupa dan tidak salah) agar :
1) Ajaran Tuhan yang disampaikannya luar biasa (tidak salah dan tidak lupa)
2) Penyampai ajaran Tuhan adalah manusia luar biasa (tidak salah dan tidak lupa)
3) Ajarannya yang disampaikan mesti diterima dan diterapkan karena disampaikan oleh manusia yang tidak salah dan tidak lupa.

Shalawat sebagai Deklarasi Mediasi Transenden

Hukum aksioma menetapkan bahwa mutlak dan relatif tidak akan bertemu. Hukum ontologi menetapkan bahwa Tuhan adalah mutlak (tak terbatas) dan selainnya, termasuk manusia adalah relatif (terbatas).
Karena itu, bila Tuhan yang tak terbatas berkoneksi dengan yang terbatas maka konsekuensinya Ia menjadi terbatas. Demikian pula sebaliknya, bila manusia yang merupakan entitas terbatas berkoneksi dengan Tuhan sebagai wujud yang tak terbatas, maka Tuhan menjadi terbatas. Inilah paradoks yang tidak bisa dikompromikan.

Jalan keluarnya hanya dua:
1) Tidak ada koneksi antara Tuhan dan manusia. Bila konsekuensi ini diterima, maka ia melahirkan konskeunsi berikutnya, yaitu absurditas;
2) Ada koneksi antara Tuhan yang tak terbatas dan manusia yang terbatas, yaitu melalui entitas luarbiasa yang memiliki dua sisi; sisi transenden (sisi ketakterbatasan), dan sisi immanen (sisi keterbatasan). Bila konsekuensi kedua ini diterima, maka ia akan melahirkan konsekuensi berikutnya, yaitu kesimpulan bahwa ada manusia luar biasa yang menjadi katalisator dan penghubung. Dialah Muhammad.

Shalawat adalah deklarasi dan ekspresi ikrar adanya mediasi transenden antara Sang Adikodrati dan manusia, makhlukNya yang dipercaya menjadi tajalli-Nya yang paling utama di antara semua makhluk.

Banyak ayat dalam al-Quran yang secara tegas menyandangkan sifat-sifat Tuhan kepada Muhamamd saw. Antara lain dalam “Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (Q.S. At-Taubah [9]: 128). Dalam ayat tersebut Allah memberikan sifatNya “aziz”, “harish”, “ra’uf” dan “rahim”. Bila Muhammad saw tidak memiliki sisi transendensi, maka ia tidak akan layak menyandang sifat-sifat transenden itu. Dan banyak lagi teks ayat yang bila diperhatikan, menegaskan keluarbiasaan Muhammad.

Satu hal yang mungkin perlu diperhatikan ialah, “Muhammad” transenden bukan semata Muhammad historis dan Muhammad fisikal, tapi ia adalah sistem dan lembaga kenabian, kerasulan dan otoritas atas nama Tuhan di atas muka bumi. Karena itu, manusia-manusia suci tidak lain adalah duplikat-duplikat Muhammad. “Kita semua adalah Muhammad,” kata Ja’far Shadiq. Shalawat!

Kaum Anti Syi’ah Tidak Kenal ilmu tauhid dan anti keluarga Nabi SAW

Ketuhanan Dalam Nahjul Balaghah

 

Di antara alumni-alumni lulusan akademi dan khalaqah adalah lulusan terbaiknya. Dengan potensi suci dan sempurna Ali as. mampu menangkap semua pelajaran sang guru, tidak ada satu hurufpun yang tidak difahami olehnya bahkan setiap satu huruf yang diajarkan oleh Rasul saww. terbuka baginya seribu pintu ilmu. Hal ini menjadikan Ali as. pemilik kesempurnaan akal dan iman.Di kalangan para arif, Ali as. adalah wujud tajalli tertinggi dari Haq yang maha tinggi. Karena ketinggian wujud suci alawi ini, hanya ka’bah yang mampu menerima tajalliwujudnya dan hanya mihrab yang sanggup menahan berat beban shahadah wujud suci ini. Hijab dunia dan tabir akherat dihadapan pandangan hakekat Ali as. tidak lagi memiliki warna. Pandangan Ali as. mampu menembus alam malakut serta tidak ada lagi yang tersembunyi dari pandangannya.

Beliau berkata : “ Sesungguhnya aku telah melihat alam malakut dengan izin Tuhanku, tidak ada yang ghaib ( tersembunyi ) dariku apa-apa yang sebelumku dan apa-apa yang akan datang sesudahku.”[1] Ali as. adalah ayat kubra Haq yang maha tinggi, insan kamil yang memiliki ilmu kitab, seperti yang disabdakan oleh Rasulallah saww.: “ salah seorang misdaq dari ayat ( katakanalah! Cukuplah Allah swt. sebagai saksi antara aku dan kalian serta orang yang memiliki ilmu kitab )[2] adalah saudaraku Ali.”[3]
Para arif serta ahli bathin dengan bangga mengaku diri mereka sebagai murid dari sang murod agung ini, dan menjadikan Ali as. sebagai qutub dari silsilah mursyidnya. Imam Hadi as. berkata : Ali as. adalah kiblat kaum Arifiin[4] Dikalangan ahli hikmah, hikmah alawi merupakah hikmah tertinggi. Wujud, perbuatan serta kalam Ali as. sarat dengan hikmah yang memancar dari maqam imamahnya serta menjadi lentera bagi para pengikutnya. Dalam filsafat ketuhanan Ali as. adalah orang pertama dalam islam yang meletakkan batu pondasi burhan dan membukakan pintu argumtasi falsafi bagi para filusuf dan ahli hikmah sesudahnya. Selain dari itu Ali as. adalah orang pertama yang menggunakan istililah-istilah falsafi arab dalam menjelaskan masalah-masalah filsafat. Menurut pandangan Ali as. makriaf ketuhanan merupakan makrifat tertinggi dan merupakan paling sempurnanya makrifat. Seperti dalam ucapannya : “ Makrifat tentang Allah Ta’ala adalah paling tingginya makrifat[5] serta ucapannya : “ Barang siapa yang mengenal Allah swt. maka sempurnalah makrifatnya “.[6]

Ucapan-ucapan fasih Ali as. dalam Nahjul Balaghah sangat sarat dengan hikmah dan makrifat tertinggi. Ucapan seperti ini tidak mungkin keluar kecuali dari orang yang memiliki kedudukan khusus dan tinggi tentang pengetahuan dan makrifatnya terhadap Tuhan.

Tahapan Pengenalan Tuhan Dalam Ucapan Imam Ali as.

Ali as. dalam khutbah pertama dari Nahjul Balaghah menjelaskan urutan tahapan pengenalan terhadap Tuhan, mulai dari tahapan sederhana hingga berakhir kepada tahapan yang sangat dalam dan detail.

1. Mengenal Tuhan dan mengakui akan ketuhananNya. Sebuah pandangan dunia yang dimiliki semua keyakinan dan agama baik yang muwahid ataupun yang musyrik mulai dari agama primitive sampai kepada islam. Yang tertera dalam ucapannya : “awwal ( asas ) dari agama adalah mengenal Tuhan”.[7]Ali as. dalam beberapa khutbahnya berusaha mengajukan beberapa argument untuk pembuktian akan keberadaan sang pencipta dari alam semesta, seperti dalam ucapan singkatnya : “setiap sesuatu yang bersandar kepada selainnya maka ia adalah sebab”.[8] Ucapan singkat akan tetapi memiliki kandungan yang luas ini ingin menjelaskan hokum kausalitas dan menjelaskan bahwa semua yang ada di dunia ini sebab, karena wujud mereka bukanlah dzati ( mumkin ). Oleh karenanya harus ada sesuatu yang keberadaanya dzati (wajib alwujud).Dalam khutbah lain Ali as. berkata : “Celakalah orang yang mengingkari sang maha muqaddir dan tidak meyakini mudabbir[9] kelanjutan dari kutbah ini : “Apakah mungkin ada bangunan tanpa ada yang membangun dan apakah mungkin ada perbuatan tanpa adanya pelaku?[10] Dalam pandangan Ali as. keyakinan akan keberadaan Tuhan merupakan sesuatu yang fitri dan dengan sekedar melihat wujud makhluknya, manusia akan mempu mengungkap keberadaan sang pencipta, seperti dalam ucapannya : “Aku merasa heran dengan orang yang mengingkari Allah swt., sementara dia melihat ciptaanNya !”[11]

2. tashdiq

Tashdiq adalah satu konsep yang lebih khusus dibanding dengan makrifat, karena makrifat merupakan konsep mencakup pengetahuan yang bersifat dlanni serta pengetahuan yaqinni. Seperti halnya makrifat, tashdiq juga memiliki beberapa tingkatan :

Pertama : tasawwur ibtidai dari bagian-bagian ( maudlu dan mahmul ) proposisi dan keyakinan sederhana akan kebenaran hukum dari nisbah tiap bagian tadi. Keyakinan orang awam terhadap proposisi-proposisi seperti “Tuhan ada” atau “Tuhan maha melihat” tidak didasari oleh kemantapan pengetahuan setiap bagian dari proposisi atau hukum nisbah antara bagian-bagian tersebut. Artinya pengetahuan mereka tentang bagian dari proposisi serta hukum dari nisbah antara keduanya sangatlah ijmal. Oleh karenanya keykinan mereka sangatlah rapuh.

Kedua : Tashdiq yang muncul setelah pengetahuan yang nisbi terhadap bagian-bagian proposisi serta keyakinan yang muncul dari pengakuan akan kebenaran nisbah antara bagian-bagian tersebut. Akan tetapi keyakinan nisbi ini masih belum bisa menjadi faktor penggerak kehidupannya, artinya keyakinan ini masih tergantung kepada perhitungan untung rugi. Kalau proposisi tersebut membawa keuntungan bagi keberadaannya maka proposisi tersebut sempurna dan kalau tidak maka dia akan berpaling dari keyakinan ini.

Ketiga : Tashdiq yang muncul dari kejelasan terhadap bagian-bagian proposisi dan tidak ada sedikitpun keraguan terhadapnya serta keyakinan yang mantap terhadap hukum nisbah antara bagian-bagian proposisi tadi. Akan tetapi keyinanan tersebut belum malakah dan menjadi darah dagingnya, artinya walaupun dengan segala kejelasan akan bagian proposisi serta hukumnya akan tetapi keykinan ini tidak merasuk ke dalam kehidupan dan tujuan hidupnya.

Keempat : Tashdiq atau keyakinan yang dihasilkan dari pengetahuan sempurna terhadap bagian-bagian proposisi serta hukum nisbah antara bagain-bagian ini. Dan keyakinan ini sudah mendarah daging, malakah dan sudah menjadi faktor penggerak yang besar dalam kehidupannya. Ini merupakan keyakinan hakiki yang muncul dari kesempurnaan makrifar. Keyakinan seperti ini yang dianjurkan oleh Ali as. dalam salah satu khutbahnya : “jangan jadikan ilmu kalian kebodohan dan keyakinan kalian menjadi syak, jika kalian sudah mengetahui maka amalkanlah dan jika kalian sudah meyakininya maka praktekanlah[12] Atau dalam salah satu hadits Ali as. berkata : “Ilmu selalu bergandengan ( maqrun ) dengan amal ; barang siapa yang sudah mengetahui maka ia akan mengamalkan dan barang siapa yang mengamalkan berarti ia telah mengetahui. Ilmu selalu bergandengan dengan amal, ( jika ia mengamalkannya ) maka ilmu akan menjawabnya dan jika tidak maka ia pun akan meninggalkannya[13]

3. Tauhid.

Setelah manusia melewati ketiga tahapan tashdiq dan masuk kepada tingkatan keempat, maka kelazimannya dia akan mengakui keesaan Tuhan. Karena pada tingkatan keempat dari tashdiq, manusia sudah memiliki pengetahuan sempurna terhadap bagian-bagian proposisi, Argumentasi akan keberadaan wajib al-wujud merupakan argumentasi terhadap keesaannya. Pembuktian akan keberadaan wajib al-wujud ( dalam istilah falsafi ) yaitu Allah swt. ( dalam istilah agama ) adalah pembuktian akan keberadaan Dzat yang maha sempurna dan tidak terbatas. Dan kelaziman dari ketidak terbatasanNya adalah keesaanNya. Dalam salah satu hadistnya : “mengetahuinya berarti mengesakannya[14] ( seperti argumentasi yang dikemukakan oleh Mulla Sadra ). Dalam pandangan Ali as. yang dimaksud dengan esa dan satunya Tuhan bukanlah satu dalam bilangan sehingga Dia terpisah dari yang lain dengan batasan, akan tetapi artinya tidak ada sekutu bagiNya dan Tuhan adalah wujud yang bashit dan tidak tersusun dari bagian seperti dalam ucapannya : “Satu akan tetapi bukan dengan bilangan[15]

4. Ikhlas

Tahapan selanjutnya adalah Ikhlas tentang Tuhan ; “kesempurnaan tuahid adalah ikhlas terhadapNya[16] Ibnu Abi Hadid ( diyakini juga oleh Allamah Ja’fari ); maksud dari ikhlas dalam khutbah ini – dengan melihat kalimat-kalimat berikutnya dari khutbah ini- adalah mensucikan ( akhlasha/khalis danestan ) wujud Tuhan dari segala kekurangan dan sifat-sifat salbi.[17]

5. Penafian Sifat

Tuhan merupakan wujud yang mutlak serta maha tidak terbatas, oleh karenanya kekuatan akal dengan konsep-konsep dzihn-nya setiap kali hendak memberikan sifat ( dengan konsep-konsep ) tidak akan bisa mensifati Tuhan dengan sempurna dan mensifati Tuhan dengan apa yang seharusnya. Karena setiap konsep dari satu sifat berbeda dengan konsep dari sifat lain ( terlepas dari misdaq ), maka kelazimannya adalah keterbatasan. Artinya kalau kita memberikan sifat kepadaNya berarti kita telah membandingkan ( satu sifat dengan yang lain atau antara Dzat dengan sifat ). Ketika kita telah membandingkan berarti kita menduakannya, ketika kita menduakannya berarti kita men-tajziah, ketika kita men-tajziah berarti kita tidak mengenalNya dan seterusnya seperti yang uraikan dalam khutbahnya.[18] Wujud Tuhan yang maha tidak terbatas tidak mungkin bisa diletakkan dalam satu wadah, baik wadah berupa suatu wujud atau dicakup dalam wadah berupa konsep kulli yang dihasilkan dari perbuatan akal. Oleh karenanya golongan yang meyakini adanya hulul pada dzat Tuhan, mereka telah membatasi Tuhan dalam satu wujud makhluk tertentu. Seperti keyakinan bahwa Isa as. atau Ali as. adalah wadah bagi wujud Tuhan, sangat jelas bahwa pandangan seperti itu sudah menyimpang dari Tauhid dan bertetangan dengan akal serta teks-teks agama seperti ucapan Ali as. : “ barang siapa yang berkata bahwa Tuhan ada pada sesuatu maka ia telah menyatukanNya dengan sesutau itu, dan barang siapa yang menyatakan bahwa Tuhan diatas ( diluar ) dari sesutau berarti ia telah memisahkan Tuhan darinya “. Wujud yang maha tidak terbatas, tidak berakhir dan memiliki wahdat ithlaqi memiliki dua kekhususan; pertama ‘ainiah wujudi dan hadir secara wujud dengan semua makhluk sebagai tajalli isim-Nya akan tetapi tidak dalam artian hulul. Kedua : fauqiah wujudi , karena wujudnya yang tidak terbatas tidak mungkin bisa dibatasi hanya pada makhluk yang terbatas ( hulul ). Artinya wujud mutlak ini selian hadir di dalam wujud makhluk juga berada di luar wujud makhluk, sebab kalau tidak maka wujudNya akan terbatas. Seperti yang diutarakan oleh Imam Husein bin Ali as. ketika menafsirkan ayat “ Allah al-shamad “ maknanya adalah “ laa jaufa lahu “ atau wujudNya tidak memiliki kekosongan artinya tidak ada bagianpun dari wujud ini yang kosong dariNya. Hal ini juga dijelaskan dalam khutbah selanjutnya : “ bersama segala sesuatu akan tetapi tidak dengan muqaranah dan bukan segala sesuatu akan tetapi tidak jawal dan terpisah darinya.Kesimpulannya bahwa filsafat yang bersenjatakan akal dengan segala kekuatannya tidak akan bisa memahami Tuhan dengan apa adaNya ( ihathah ). Begitu pula kekuatan amal manusia yang terbatas, lewat irfannya, tidak akan sampai pada shuhud dan hudzur pada kedalaman sifat dari wujud yang maha Agung ini. Pengetahuan manusia tentang Tuhan selalu diiringi dengan pengakuan ketidak mampuan dan kelemahan. Pada kutbah lain Ali as. berkata : “kekuatan fikr manusia tidak sampai kepada sifatNya, dan hati tidak akan bisa meraih kedalamNya[19] penjelasan lain dari penafian sifat, adalah menafikan sifat sebagai sesuatu yang terpisah dari mausuf. Penafsiran ini dikuatkan oleh kalimat sesudahnya : “dengan kesaksian bahwa setiap sifat bukanlah mausuf dan setiap mausuf bukanlah sifat “ atau kalimat sebelumnya dari khutbah ini : : “Dzat yang sifatnya tidak memiliki batasan yang membatasinya”

Manabi’:

1. hikmat-e alawi . Jawadi Aamuli

2. Tarjumeh wa tafir-e Nahjul Balaghah , Muhammad Taqi Ja’fari

3. Al-Insan wa Al-Aqidah : Muhammad Husein Tabhatbha’i

4. Zandagi-e ‘arifaneh-e Ali, Jawwadi Aamuli

5. Irfan Islami, Ali Fadzli


[1] Aamaal Syekh Thusi : hal 205.

[2] Al-Ra’d : 43

[3] Nur Al-Staqalain : jilid 2 hal. 523.

[4] Misbah Al-Zaair : 477.

[5] Gurar wa Durar : Hadist no. 1674

[6] Ibid : Hadist no. 7999.

[7] Nahjul Balaghah : 1

[8] Nahjul Balaghah : 186

[9] Nahjul Balaghah : 185

[10] Ibid

[11] Nahjul Balaghah : 126

[12] Nahjul Balaghah : 523, hikmah : 274.

 

[14] Al-Ihtijaj : 1/201 dan Bihar Al-Anwar : 4/253.

[15] Nahjul Balaghah : 279 khutbah no. 185.

[16] Nahjul balaghah :1

[17] Syarh Nahjul Balaghah : 2/57 ( Muhammad Taqi Ja’fari )

[18] Nahjul Balaghah : 1

[19] Nahjul Balaghah : 85.

Mengapa Kita Harus Mencintai Ahlul Bait Nabi?

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Qs. Al-Ahzab : 33)

“Jika dengan mencintai keluarga Nabi Saw aku disebut Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah sesungguhnya aku seorang Rafidhi (Syiah) dan cukuplah shalatku menjadi tidak sah dengan tidak menyertakan shalawat kepada mereka.” (Imam Syafi’i ra)

Sebagaimana pernyataan Imam Syafi’i ra di atas, akan timbul berbagai pertanyaan dalam benak kaum muslimin yang mau berpikir tentang kebenaran sebuah keyakinan, siapakah yang dimaksud keluarga Nabi (Ahlul bait) yang hendak disucikan oleh Allah swt? adakah kewajiban untuk mencintai mereka sebagaimana kewajiban mencintai Nabi? mengapa dalam redaksi shalawat kepada Nabi kita harus menyertakan pula shalawat kepada keluarganya? Keistimewaan seperti apa yang dimiliki keluarga Nabi sampai dalam setiap shalat kita harus menyertakan shalawat kepada mereka? Kalau mereka memiliki kedudukan yang agung dan mulia dalam agama ini, namun mengapa kajian tentang keluarga nabi tidak banyak kita dapatkan dalam kehidupan religius kita sehari-hari?

Tidaklah berlebihan, dalam ruang yang sempit ini saya mencoba menyelipkan sedikit tulisan mengenai mereka. Semoga dengan itu kita mau mengenal, mengikuti dan mencintai keluarga nabi atau yang sering kita dengar dengan ungkapan: Ahlul Bait.

Keistimewaan Keluarga Para Nabi
Telah menjadi sunatullah, Nabi-nabi memiliki keluarga yang dimuliakan, diagungkan dan anak keturunan mereka dipilih oleh Allah sebagai washi, pelanjut risalah kenabian. Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an menjelaskan masalah ini :

“Dan Kami menganugerahkan kepada Ishak dan Yaqub. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik; dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh; dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth, masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya); dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Inilah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. Al-An’am : 84).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan al-kitab, maka diantara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak diantara mereka yang fasiq”  (Qs. Al-Hadid : 26).

“Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yaqub dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab kepada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasan di dunia; dan sesungguhnya di akhirat mereka benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh” ( Qs. Al-Ankabut : 27)
Dan beberapa ayat lainnya yang tersebar dalam Al-Qur’an satu-satunya kitab Samawi yang tetap steril dari berbagai upaya penyelewengan dan perubahan.

Ayat-ayat di atas berbicara tentang sunatullah di muka bumi, dalam hal pemilihan washi para Nabi yang berasal dari keturunan mereka yang saleh dan suci, bukan yang fasiq dan bahwa pewarisan ilmu al-Kitab, hukum dan kenabian di antara putra-putra mereka yang suci telah ditetapkan sejak diturunkannya Adam as ke muka bumi. Silsilah yang suci ini memberikan gambaran yang jelas bahwa risalah Ilahiah ini tidak pernah keluar dari lingkaran keluarga-keluarga Nabi yang disucikan, dan tidak diwarisi oleh hati yang pernah dikotori oleh kesyirikan, kekejian dan kezaliman.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qs. Al-Baqarah: 124)

Jika ajaran Nabi terdahulu saja yang hanya berlaku untuk masa dan kaum tertentu memerlukan silsilah yang suci dan jiwa yang bersih, maka bagaimana mungkin ajaran Islam tidak memerlukan silsilah yang suci yang akan saling mewarisi ajaran Muhammad Saw yang luhur dan kekal hingga hari kiamat?. Jika Nabi terdahulu saja memerlukan orang yang menggantikannya di dalam urusan tabligh dari kalangan keluarga dan keturunannya yang saleh, maka bagaimana mungkin Rasulullah Saw tidak membutuhkan orang-orang yang meneruskan ajaran ini dari keluarga dan keturunannya yang suci?

Jika ayat-ayat tentang nabi dan keturunannya menekankan bahwa pemilihan washi para nabi telah berlaku bagi keluarga nabi yang saleh dengan tujuan untuk menjaga kesucian risalah, maka bagaimana mungkin ajaran Muhammad Saw yang kekal tidak membutuhkan pribadi-pribadi suci dari keturunannya yang akan menjaga nilai-nilai ajaran Ilahi dari usaha penyimpangan?

Melalui pengkajian ayat-ayat Al-Qur’an, tampak jelas bahwa masalah pemilihan atau seleksi pelanjut kepemimpinan Ilahiah adalah semata-mata wewenang Dzat yang Maha Mengetahui, tanpa adanya campur tangan siapapun.

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (Qs. Fathir : 32).

Dalam ayat lain, dikisahkan tentang Nabi Musa as, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui (keadaan) kami.” Allah berfirman : “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.” (Qs. Thaha : 29-36).

Kita menyaksikan dalam ayat ini betapa Nabi Musa memohon kepada Allah SWT dengan penuh pengharapan dan kerendahan hati untuk memilih saudaranya, Harun, sebagai pembantunya dalam urusan Tabligh. Jika nabi Musa as saja, dengan segala ketinggian kedudukan dan kedekatannya kepada Allah SWT tidak memperkenankan dirinya untuk memilih langsung orang yang akan menggantikan dia sepeninggalnya dan yang membantunya dalam tugas-tugasnya, maka bagaimana mungkin umat Islam berhak memilih orang-orang yang menggantikan Rasulullah Saw sebagai khalifah sepeninggalnya? sebuah keberanian ‘ijtihad’ yang telah menimbulkan perselisihan, perpecahan bahkan sampai pertumpahan darah dikalangan sahabat.

Imamah dan Ahlul Bait
Sekarang, seberapa banyakkah yang kita tahu tentang ayat muhkamah di dalam Al-Qur’an yang turun berkaitan dengan keagungan keluarga Rasulullah yang mulia? Atau seberapa banyakkah kisah yang kita ketahui tentang Rasulullah yang selalu mengingatkan ummatnya akan pengutamaan Allah atas keluarganya.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, (juz 4 hal 123, cetakan Beirut Lebanon), Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Saw berdiri di tengah-tengah kami dan menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak antara Makah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah Saw berkata, “Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka akupun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barang siapa yang meninggalnya maka ia berada di atas kesesatan.”

Kemudian Rasulullah Saw melanjutkan sabdanya, Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.” Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadraknya dari Zaid bin Arqam bahwa nabi bersabda pada Haji Wada’, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga) yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain, Kitabullah (Al-Qur’an) dan keturunanku. Oleh karena itu perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.” Setelah menyebutkan hadits ini Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat (yang ditetapkan Bukhari-Muslim).”

Sebagaimana diketahui bahwa kaum muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, maka saya mencukupkan dengan hanya mengutip kedua hadits ini sebab dalam banyak kitab hadits ini pun dinukil. Di antaranya juga terdapat dalam Sunan Ad-Darimi, Shahih Turmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan beberapa kitab lainnya. Ibnu Hajar dalam kitabnya ash-Shawai’iq telah menyampaikan silsilah hadits ini hingga kepada dua puluh lebih sahabat, lalu beliau (rahimahullah) menyatakan dengan tegas, ” Ketahuilah, sesunggguhnya hadits berpegang teguh kepada Kitab Allah dan ahlul bait mempunyai jalur yang banyak, dan diriwayatkan lebih dari 20 orang sahabat.”

Dalam riwayat tersebut, Rasul menyebut keduanya (Al-Qur’an dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya sebagaimana hadits Rasulullah tidak akan pernah terpisah dan saling melengkapi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, apalagi oleh sekedar perkataan Umar bin Khattab pada saat Rasulullah mengalami masa-masa akhir dalam kehidupannya, bahwa Al-Qur’an sudah cukup bagi kita (baca tragedi ini dalam Al-Bukhari pada bab “Al-Ilmu” (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355). Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini.

Tentu saja sabda Rasul tentang Ahlul Baitnya yang tidak akan terpisah dengan Al-Qur’an bukan berdasarkan hawa nafsu pribadinya, sebab Allah SWT telah menjamin dalam Al-Quran bahwa apapun yang disampaikan Rasul adalah semata-mata wahyu dari-Nya.  Pertanyaanya, mengapa Al-Quran saja tidak cukup menjadi petunjuk bagi kaum muslimin sepeninggal Rasulullah?.

Di antara jawabannya, semua kitab suci adalah kitab-kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip dasar petunjuk dan tidak menjelaskan prinsip-prinsip tersebut secara mendetail dan terperinci. Dan para Rasul diutus untuk menjelaskan kitab yang diwahyukan yang menjadi bukti kerasulannya, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. ” (Qs. Ibrahim: 4).

Apakah semasa hidupnya Rasulullah telah menjelaskan kepada ummat Islam seluruh aturan-aturan dalam Al-Qur’an secara mendetail? Niscaya kita akan menjawab tidak seluruhnya, sebab selama sepuluh tahun Rasulullah Saw memerintah di Madinah, telah terjadi sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan tiga puluh lima hingga sembilan puluh sariyah. Ghazwah adalah sebuah peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw, sedangkan sariyah adalah sebuah peperangan yang tidak langsung dipimpin olehnya. Akan tetapi, ia mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh salah seorang sahabat yang telah ditunjuk olehnya. Tentu saja dengan berbagai kesibukan mengatur pertahanan dan peperangan menghadapi kaum kafir pada awal-awal revolusi Islam membuat Rasululllah tidak sempat untuk menjelaskan semua maksud ayat-ayat Al-Qur’an secara terperinci.

Sementara Allah SWT berfirman, ” Alif  Lam Ra. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci , (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti”. (Qs. Hud : 1). Dan di ayat lain, “Tidaklah Kami lalaikan sesuatu pun dalam Kitab ini.” (Qs. Al-An’am : 38).

Berkembangnya paham-paham yang saling bertolak belakang misalnya antara paham Jabariyah dan Qadariyah yang masing-masing menjadikan Al-Qur’an menjadikan landasan pemikirannya, menjadi bukti bahwa kaum muslimin di awal perkembangan Islam mengalami kehilangan pegangan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Bahwa sesungguhnya Rasul belum menjelaskan seluruhnya, walaupun agama ini telah sempurna, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” (Qs. Al-Maidah : 3 ). Sebab, “Kewajiban Rasul tidak lain hanya menyampaikan (risalah Allah).” (Qs. Al-Maidah : 99). Bukan berarti Rasulullah sama sekali tidak menjelaskan, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64), masalah ini berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al-Qur’an, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.

Al-Qur’an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf : 52). Dan menurut hadits Rasulullah Ahlul Baitlah yang meneruskan tugas Rasulullah untuk menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Al-Qur’an.

Penerus nabi adalah orang-orang tahu interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya yang dihimpun dalam Nahj Balaqah, khutbah ke-4, “Melalui kami kalian akan dibimbing dalam kegelapan dan akan mampu menapakkan kaki di jalan yang benar. Dengan bantuan kami kalian dapat melihat cahaya fajar setelah sebelumnya berada dalam kegelapan malam. Tulilah telinga yang tidak mendengarkan seruan (nasihat) sang pemandu”.

Tentang Imam Ali as Rasulullah bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya” Hadits ini disepakati keshahihannya oleh kaum muslimin sebab banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits, diantaranya At-Thabari, Hakim, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan lainnya. Umar bin Khattab pun mengakui keilmuan Imam Ali as sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabari, Al-Kanji Asy-Syati’i dan As-Shuyuti dalam kitabnya masing-masing, “Dari sanad Abu Hurairah, Umar bin Khattab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum. Aku mengetahui hal itu dari Rasululah maka sekali-kali aku tidak akan pernah meninggalkannya” Dalil yang menyatakan bahwa tidak hanya Rasulullah yang mengetahui makna Ilahiah Al-Qur’an, maksud sebagaimana yang diinginkan Allah SWT terdapat dalam ayat, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas dalam dada orang-orang berilmu.” (Qs. Al-Ankabut : 49).  Dan Ahlul Baitlah yang dimaksud dengan orang-orang berilmu tersebut.

Dan dengan firman Allah SWT, “Aku hendak jadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah : 30), berarti di muka bumi akan senantiasa ada yang menjadi pemimpin otoritatif yang diangkat Allah SWT untuk menjadi khalifahnya. Akan tetap ada di muka bumi orang-orang yang menerima pengetahuan dari sumber Ilahiah. Imam Ali as berkata, “Pengetahuan masuk ke mereka, sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam tentang kebenaran.” Mereka memiliki pengetahuan bukan hasil belajar dan terlepas dari kekeliruan. Mereka pun memiliki ‘Roh Tuhan’ yang menghubungkan mereka dengan dunia gaib.

Betapa pentingnya keberadaan Imam dan seorang Khalifah di muka bumi, “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. ” (Qs. Al-Baqarah : 251). Sebagian manusia yang menjadi pelindung atas manusia yang lainnya adalah Ahlul Bait sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Perumpamaan Ahlul Baitku seperti bahtera  Nuh, barangsiapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.”

Seluruh ulama Islam sepakat akan keshahihan hadits ini yang dikenal sebagai hadits Safinah, diantaranya Al-Hakim, Ibnu Hajar dan Ath-Thabrani. Dan kitapun tahu dari informasi Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul juru penyelamat yang akan menyelamatkan manusia dari berbagai kedzaliman dan menyebarkan keadilan di muka bumi, dialah yang dinanti-nantikan, Imam Mahdi as. Rasulullah Saw bersabda, “Kiamat tidak akan tiba kecuali kalau dunia ini sudah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Kemudian keluar setelah itu seorang laki-laki dari Ahlul Baitku memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan.” Hadits-hadits Rasulullah Saw tentang Imam Mahdi sangat banyak jumlahnya.
Hanya saja, sejauh mana kita mencoba mengenali siapa yang termasuk Ahlul Bait nabi, siapakah mereka Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, dan siapakah Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman?. Sebagai muslim adalah kewajiban untuk mengetahui dan taat kepada mereka, sebagaimana wajibnya kaum muslimin taat kepada titah Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” Dan dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), pada hari ketika Kami panggil setiap umat dengan imamnya.” (Qs. Al-Isra’: 71).

Jadi kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi Saw bukan sekedar cinta biasa, bukan sekedar efek dari kecintaan kepada Nabi Saw bukan pula sekedar upah terhadap dakwah Rasulullah Saw, bukan pilihan, melainkan kewajiban yang telah menjadi bagian dari syariat agama karena Ahlul Bait dan Itrah Nabilah yang menjadi pelanjut tugas kenabian untuk menjaga kemurnian risalah Ilahi. Kecintaan kita kepada Ahlul Bait adalah juga kecintaan kepada Rasulullah Saw, kecintaan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Islam dan agama ini. Imam Syafii pernah mengatakan, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak menyertakan dalam shalatnya, shalawat kepada Nabi dan Ahlul Baitnya.”

.

Kembali Kepada Al Quran dan Ahlul Bait

Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.

Sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, polemik dan perbedaan pendapat telah menjadi keniscayaan tersendiri yang tak terelakkan. Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah SWT dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10).

Oleh karenanya, keberadaan tolok ukur kebenaran yang menjadi rujukan semua pihak adalah suatu keniscayaan pula, yang eksistensinya bagian dari hikmah Ilahi. Allah SWT telah menurunkan kitab pedoman yang merupakan tolok ukur kebenaran dan menjadi penengah untuk menyelesaikan berbagai hal yang diperselisihkan umat manusia

.
Allah SWT berfirman: “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para Nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Qs. Al-Baqarah : 213)

.
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia tanpa bimbingan dan petunjuk Ilahi akan berpecah belah dan bergolong-golongan. Penggalan selanjutnya pada ayat yang sama menjelaskan pula, bahwa kedengkian dan memperturutkan hawa nafsulah yang menyebabkan manusia terlibat dalam perselisihan dan perpecahan

.
Kebijaksanaan Ilahilah yang kemudian menurunkan sang Penengah (para nabi as) yang membawa kitab-kitab yang menerangi. Kitab-kitab Ilahiah terutama Al Quran memberikan petunjuk dan arahan yang jelas tentang kebenaran yang seharusnya ditempuh umat manusia.
Namun hawa nafsu, kedengkian, kedurhakaan dan juga kebodohan telah menjerumuskan manusia jauh berpaling dari mata air jernih kebenaran.
Puluhan ribu nabi telah diutus sepanjang sejarah hidup manusia di segala penjuru dunia. Umat Islam meyakini mata rantai kenabian bermula dari Nabi Adam as dan berakhir di tangan Muhammad SAW dan tidak ada lagi nabi sesudahnya.
Ditutupnya kenabian hanya bisa sesuai dengan hikmah dan falsafah diutusnya para nabi bila syariat samawi yang terakhir tersebut memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, di setiap masa dan di setiap tempat. Al Quran sebagai kitab samawi terakhir telah dijamin oleh Allah SWT keabadian dan keutuhannya dari berbagai penyimpangan hingga akhir masa

.
Akan tetapi secara zahir Al Quran tidak menjelaskan hukum-hukum dan ajaran Islam secara mendetail. Oleh karenanya penjelasan perincian hukum menjadi tanggung jawab nabi untuk menerangkannya kepada seluruh umatnya.

Sewaktu Nabi Muhammad SAW masih hidup tanggung jawab itu berada dipundaknya. Karena itu hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi hujah dan sumber autentik ajaran Islam. Namun apakah semasa hidupnya, Rasulullah SAW telah menjelaskan seluruh hukum dan syariat Islam kepada seluruh umat?
Kalau tidak semua, siapa yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya? Siapa pula yang bertanggung jawab menengahi silang sengketa sekiranya terjadi penafsiran yang berbeda tentang ayat-ayat Al Quran dalam tubuh umat Islam?
Saya sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca Rasul jatuh ke tangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan salat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan salat bertahun-tahun di hadapan mereka

.
Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru. Ataupun tanggung jawab penafsiran Al Quran jatuh kepada keempat imam mazhab yang untuk sekadar menafsirkan apa yang dimaksud debu pada surah Al-Maidah ayat 6 saja sulit menemukan kesepakatan

.
Kata mazhab Syafi’i debu meliputi pasir dan tanah, tanah saja kata Hanbali; tanah, pasir, batuan, salju dan logam kata Maliki; tanah, pasir dan batuan kata Hanafi (al-Mughniyah, 1960; Al-Jaziri, 1986).
Petunjuk Umat
Islam hanya dapat ditawarkan sebagai agama yang sempurna, yang dapat memenuhi segala kebutuhan manusia jika di dalam agama itu sendiri tidak terdapat perselisihan dan perpecahan. Karenanya, hikmah Ilahi meniscayakan adanya orang-orang yang memiliki kriteria seperti yang dimiliki Nabi Muhammad SAW untuk memberikan bimbingan kepada umat manusia di setiap masa tentunya selain syariat.
Ilmu yang mereka miliki tidak terbatas dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW (sebagaimana maklum Nabi tidak sempat menjelaskan semua tentang syariat Islam) namun juga memiliki potensi mendapatkan ilmu langsung dari Allah SWT ataupun melalui perantara sebagaimana ilham yang diterima Siti Maryam dan ibu nabi Musa as (Lihat Qs. Ali-Imran : 42, Thaha:38)

.
Mereka menguasai ilmu Al Quran sebagaimana penguasaan nabi Muhammad SAW sehingga ucapan-ucapan merekapun merupakan hujjah dan sumber autentik ajaran Islam. Masalah ini berkaitan dengan Al Quran sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al Quran, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas

.
Al Quran adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al Quran) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf :52).
Pada ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64).
Dengan pemahaman seperti ini maka jelaslah maksud dari penggalan hadits Rasulullah, Kutinggalkan bagi kalian dua hal yang berharga, Al Quran dan Ahlul Baitku. (HR Muslim). Bahwa keduanya Al Quran dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tak terpisahkan hingga hari kiamat, memisahkan satu sama lain akibatnya adalah kesesatan dan di luar dari koridor ajaran Islam itu sendiri

.
Penyimpangan
Rasul menyebut keduanya (Al Quran dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Penerus nabi adalah orang-orang yang tahu interpretasi ayat-ayat Al Quran sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT

.
Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum Muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini

.
Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.
Imam Ja’far Shadiq (fiqh), Jalaluddin Rumi (tasawuf), Ibnu Sina (kedokteran), Mullah Sadra (Filsafat), Allamah Taba’tabai (tafsir) dan Imam Khomeini (politik), sebagian kecil orang-orang besar yang terlahir dari madrasah ini.

MIUMI dan oknum MUI yang anti syi’ah sesat menyesatkan karena anti ahlulbait

MIUMI, Sabili, VOA islam.com dan Hidayatullah pendukung SETAN NEJED WAHABi, Agen Zionis dan Pemecah Belah Umat !! MIUMI, Sabili, VOA islam.com dan Hidayatullah sangat anti kepada ahlul bait Nabi SAWSekjen ABI Tuding MIUMI Agen Zionis

Jum’at, 31 Agustus 2012

Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia ( DPP ABI) mengecam segala pernyataan yang dikeluarkan Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) karena melanggar HAM !

MIUMI bis diseret ke Mahkamah Internasional, Human Right Watch, Komnas HAM dan Komisi HAM PBB karena berupaya melanggar HAM yaitu bidang kebebasan beragama

Menurut ABI, beberapa pernyataan yang dilontarkan MIUMI,termasuk soal syiah di Sampang,Madura bisa memicu pertikaian dan memecah persatuan bangsa.

“MIUMI itu wahabi takfiri,pernyataan dan sikapnya menimbulkan kebencian. Harus diwaspadai,”ucap Sekretaris Jenderal DPP ABI, Ahmad Hidayat,saat menggelar konfrensi pers soal Syiah di Sampang,di gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (31/08/2012).

Selain itu, Ahmad Hidayat juga melontarkan tuduhan  pada lembaga yang baru berdiri kurang dari satu tahun ini

“Kalau ada kelompok seperti MIUMI,ini jelas antek-antek Yahudi, Zionis dan Komunis. Mereka ingin melihat bangsa ini tercabik-cabik,” tegasnya.

Dalam waktu dekat ini DPP ABI mengaku akan melayangkan surat terbuka kepada Presiden. Inti dari surat tersebut yakni, Syiah di Indonesia menginginkan agar pemerintah memberikan perlindungan dan berperilaku adil.

ABI juga menuduh fatwa MUI Jatim sebagai biang kerusuhan Sampang

Tuduhan yang dilontarkan Sekjen organisasi Syiah Ahlul Bait Indonesia, Ahmad Hidayat terhadap Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) sebagai kelompok wahabi takfiri, antek zionis dan komunis.

Kamis, 30 Aug 4012

Tokoh Syi’ah Hasan Daliel Sesalkan MIUMI yang Mengkafirkan Syi’ah

Tokoh Syi’ah yang juga pimpinan dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) Hasan Dalil Alaydrus menyesalkan sikap MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) yang telah mengkafirkan kaum Syiah. Padahal, banyak pernyataan dari tokoh nasional dan internasional yang mengatakan, Syiah adalah bagian dari kaum muslimin.

“Mengapa ada sekelompok kecil seperti MIUMI yang mengkafirkan Syi’ah. Agenda siapa yang mereka bawa,” ujar Hasan Dalil di kediamannya.

“Tiba-tiba kita dikejutkan oleh sekelompok anak bangsa menyerang saudaranya sendiri.,” tukas Hasan Dalil yang akrab disapa Habib.

Terkait kasus Sampang, Hasan Dalil mempertanyakan, siapa yang menyerang dan siapa yang diserang. “Yang diserang tak lain adalah saudaranya sendiri sesama muslimin, bahkan masih tetangga dan saudaranya sendiri. Kejadian ini karena ada setan lokal yang bekerjasama dengan setan internasional untuk mempengaruhi beberapa orang untuk bertindak anarkis,” katanya.

Habib Hasan Daliel menegaskan, apa yang terjadi di Sampang, bukanlah pertikaian antara Suni dan Syiah. Karena Suni dan Syiah sama-sama menyakini rukun Islam yang lima, dan rukun Iman yang enam. Bahkan kalimat syahadatnya sama, sholatnya sama-sama 5 waktu, kitab sucinya, yaitu Al-Quran, berpuasa dibulan suci Ramadhan, dan pergi haji ke Makkah. Juga ibadah yang lain seperti zakat, infak, sadaqoh, dan sebagainya.

“Kita akui, di setiap kelompok ada yang beraliran menyimpang, baik itu di Sunni maupun di Syiah. Tetapi hendaknya, jangan digeneralisir dan dipukul rata dengan memvonis Syiah sesat,” ungkapnya.

Dikatakan Hasan Daliel, meski ada perbedaan dalam hal interpretasi, namun persamaannya jauh lebih banyak dari pada perbedaanya. Jika Sunni punya tokoh di level Internasional, begitu juga dengan Syiah. Hasan Dalil mengklaim, bahwa tokoh  Sunni sekalipun mengatakan, bahwa Syiah merupakan bagian dari kaum muslimin. Begitu juga tokoh Syiah yang menganggap kaum Sunni sebagai saudaranya.

Lebih jauh Hasan Daliel menjelaskan, ada penyataan sikap dalam Konferensi Islam Internasional’ di Amman-Yordania pada tahun 2005, yakni: bahwa mazhab di dunia Islam ada delapan, meliputi: Ahlussunnah Wal Jamaah (terdiri dari Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali), lalu dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), dan dua mazhab lagi (Ibadi dan Zhahiri). Semua mazhab ini adalah muslim dan bagian dari umat Rasulullah Saw.

Selanjutnya, pengurus ABI ini  menyebut nama-nama tokoh Islam dari kalangan Sunni yang tidak mengkafirkan Syiah, dan tidak pernah ada masalah dengan Syiah. , Sebut saja seperti KH. Said Aqil Siraj (Ketua Umum PBNU), KH. Sholahuddin Wahid (tokoh NU), Prof. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhamadiyah), Habib Rizieq Shihab (Ketua Umum FPI), Jos Rizal (MER-C).

miumi Jika MUI Lamban, MIUMI Bisa Keluarkan Fatwa Sesat Syiah

Ya ahlulbait, kami dizalimi..

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

Dalam pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Selasa (27/3) Delegasi dari MIUMI, Ustadz Farid Ahmad Okbah di dihadapan sejumlah petinggi MUI, menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan Syiah di Indonesia

“Melihat awal perkembangan Syiah di Indonesia, pertama kali muncul dari Bangil, Madura, Jawa Timur.  Saya sendiri orang Bangil. Kita mengetahui, dalam menyebarkan paham Syiah di Indonesia, para penggeraknya berdalih menggalang persaudaran diantara umat Islam, namun didalamnya mengandung visi-misi Syiah. Jika dulu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini mulai terang-terangan, contohnya seperti YAPI di Jawa Timur yang dikenal sebagai pusat dakwah dan kaderisasi Syiah,” ujar Ustadz Farid menjelaskan.

Tak dipungkiri, untuk menciptakan kader ulama Syiah, mereke mengutus kadernya untuk belajar ke Syiria, Irak dan Iran, termasuk ke Bangil, Jawa Timur. Ketahuilah, suara ukhuwah Islamiyah adalah kaum Syiah untuk menggalang dukungan dari umat Islam Ahli Sunnah. Sebagai contoh,  tulisan Haidar Bagir di harian Republika yang berjudul “Menuju Persatuan umat”. Tulisan Haidar Bagir pun mendapat tanggapan dari Fahmi Salim dan Prof Baharun di harian yang sama. Dengan licik, Haidar Bagir memasang iklan Yayasan Muslim Islam Bersatu sebagai bentuk propaganda terselubung.

Menurut Ustadz Farid, perkembangah Syiah di Indonesia telah dikukuhkan oleh oleh Gus Dur pada tahun 2000 dengan berdirinya IJABI (Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia). Kata Gus Dur, Syiah itu seperti wanita hamil, yang kini telah lahir sebagai ormas resmi kaum Syiah.

Kemudian tahun 2011, pemerintahan SBY juga mengakui keberadaan ABI (Ahlu Bait Indonesia), dimana Departemen Dalam negeri telah menerima ABI sebagai ormas baru kaum Syiah. Kini, sudah ada dua ormas Syiah: IJABI dan ABI. Meski keduanya, dikabarkan, telah berseberangan pendapat.

Yang mencemaskan Ustadz Farid adalah ternyata gerakan Syiah bukan hanya sebatas pemikiran atau lewat buku, tapi telah menggunakan media-media pemerintah. Di Bandung, pernah diadakan bedah Syiah, dimana Prof  Mohammad Baharun menjadi narasumbernya. Ketika itu, panitia yang menyelenggarakan bedah Syiah sempat mendapat tekanan dari polisi atas permintaan dari IJABI yang ingin cara tersebut dibubarkan. Yang jelas, hal sepert ini terjadi di banyak tempa

Hal yang harus diwaspadai, kata Ustadz Farid, kini mulai banyak anak muda Indonesia yang dicuci otaknya oleh pemahaman Syiah.  Bayangkan, sudah ratusan yayasan  Syiah ada di negeri ini, bahkan mereka membentuk lembaga advokasi, (LBH Universaliyah). Ini menunjukkan Syiah sudah menggurita. “Karena itu, kita harus melakukan langkah kongkrit. Mengingat gerakan Syiah di daerah semakin masif, yang dilakukan oleh gerakan Syiah yang militan dan terdidik.Ini menjadi tantangan dakwah kita semua.”

Oknum MUI berniat mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Gerakan anti syi’ah di tubuh NU dan Muhammadiyah tidak lebih dari upaya merebut kursi ketua Umum NU dan merampas kursi ketua Umum Muhammadiyah…

MIUMi bergerak cepat sebelum 2014, di back up oknum MUI Pusat melakukan trik trik murahan ini..

Farid Ahmad Okbah juga menyesalkan, DMI yang jelas-jelas Sunni, telah kecolongan dan kesusupan gerakan Syiah. Melihat media internal DMI Tabloid Jumat dalam beberapa edisi, penyusup Syiah itu jelas-jelas menjadikan Tabloid Jumat sebagai corong Syiah.

“Corong Ahlus Sunnah Wal Jamaah pun dijadikan Corong Syiah atas nama ukhuwah. Bahkan ada oknum DMI yang bekerjasama IJABI dengan membentuk Muhsin, dimana Jalaluddin Rahmat sebagai perintisnya. Padahal, Ketua Umum DMI menyatakan penolakannya terhadap Syiah,” kata Ustadz Farid.

Gerakan Syiah juga menggalang kekuatan Ahlu Sunnah di Masjid Sunni al Azhar Kalimalang, dengan cara  membagikan buletin Jum’atan.

MIUMI mengetahui,  tanggal 20 Februari 2011 lalu, MUI Pusat kedatangan tamu dari Iran. “Saya diundang oleh pengurus MUI. Saat itu saya tunjukkan data, bahwa ulama sunni di Iran di penjara dan ditekan. Bahkan, ada penghancuran masjid Sunni di Mashad oleh Pemerintah Iran.

Farid sangat menyesalkan setiap ulama Sunni yang membela Sunni akan dituduh pemecah belah umat, wahabi dan agen zionis.Termasuk dirinya yang difitnah pemecah belah umat dan agen zionis. Seorang Sunni Yusuf Qaradahwi yang mendambakan ukhuwah Islamiyah, kini mulai kecewa dengan Syiah. “Bahkan MIUMI terkena getahnya. MIUMI dikatakan sesat menyesatkan oleh sebuah blog milik Syiah.”

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Jakarta –

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

KH.Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa lambatnya fatwa MUI pusat terkait masalah kesesatan ajaran Syi’ah, dipengaruhi banyak faktor internal, pihak-pihak yang berada di dalam MUI sendiri. Salah satunya perihal kedekatan ideologis orang-orang tertentu di MUI dengan ajaran syi’ah, padahal MUI sendiri adalah lembaga ulama sunni.

“Ada SUSI juga, SUSI itu adalah Sunni-Syi’i, kajian Syi’ah ini agak ruwet sedikit jadinya” kata Ketua MUI Pusat KH Ma’ruf Amin di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi 51, Menteng, Jakarta Pusat, selasa (27/3).

Oleh Karena itu, Kiyai Ma’ruf meminta maaf kepada umat Islam kalau fatwa tentang Syiah hingga sekarang belum juga keluar. “Minta maaf kalau MUI agak lambat. Di MUI ada kesulitan menghadapi kelompok SUSI”, tandasnya.

Ia menegaskan kembali bahwa, MUI adalah lembaga Ahlus Sunnah wal jama’ah bukan syi’ah.

“MUI itu sunni, jadi jangan khawatir” tegasnya menepis keragu-raguan akibat lambatnya fatwa tentang syi’ah.

Sementara terkait fungsi MUI sebagai wadah pemersatu umat (tauhidil ummah), MUI akan mentolerasi perbedaan yang memang bersifat berbeda (al Mukhtalafu fiihi).“Perbedaan ditolerasi, penyimpangan diamputasi”, katanya.

Meski demikian MUI juga menyadari bahwa upaya penyatuan umat juga tidak mudah. “Tauhidul ummah itu susah sekali, ini satu pekerjaan supaya ada kesatuan gerakan (tauhidul harakah)“, tandasnya.

“Untuk perbedaan NU dan Muhammadiyah itu harus ditoleransi, namun untuk urusan aqidah Syiah ini harus diamputasi,” jelasnya diiringi gemuruh takbir seiisi ruangan rapat.

Senada dengan KH Ma’ruf Amin, Sekjen MUI Pusat, Drs. HH. Ichwan Sam mengatakan MUI kali akan segera mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dengan bukti yang tak terbantahkan.

“MUI akan mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah ini, namun kami akan melakukan riset dan investigasi untuk menampung semua data bukan hanya dari MIUMI saja, agar fatwa ini benar benar memiliki alasan dan bukti yang tidak terbantahkan,” jelasnya kepada hidayatullah.com usai acara silaturrahmi tersebut.*

E-mail Cetak PDF

Jakarta –

Umar Shihab Tinggalkan Rapat karena Wahabi cuma Tukang Semir Sepatu AS/Israel

Ada yang menarik dalam pertemuan antara MIUMI dengan MUI, Selasa (27/3) kemarin.

Di saat bersamaan hadir pula Umar Shihab, salah seorang ketua MUI yang memang terkenal pro terhadap Syiah. Umar Shihab pun begitu seksama mendengarkan paparan Ustadz Farid Okbah. Namun lama kelamaan Umar Shihab memilih keluar dari ruangan rapat ditengah para pengurus lainnya setia mendengarkan. Tadinya para wartawan menduga, Umar hanya keluar untuk kepentingan sementara, namun hingga usai pertemuan pada pukul 12.30, wajah Umar Shihab tidak kunjung muncul.

Tidak ada keterangan resmi mengapa Umar Shihab memilih meninggalkan ruangan. Para wartawan yang setia menunggunya pun tidak bisa mengkonfirmasi terkait hal ini.

Sebelumnya, salah seorang ketua MUI, KH Anwar Abbas mengatakan umat Islam perlu mewaspadai beasiswa-beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Iran. Sebab melalui beasiswa pendidikan itulah, Syiahisasi dilakukan. “Saya yakin kalau mereka kembali sudah berubah jadi Syiah,” katanya.

Tokoh Muhammadiyah itu lantas bercerita pengalaman Profesor Amir Syarifudin ke Iran. “Saat berkunjung ke Iran, Prof Amir Syamsuddin bertanya kamu masih Sunni atau sudah Syiah? Mahasiswa itu menjawab, ya sudah Syiah donk Pak,” kata Kiyai Anwar Abbas menirukan jawaban mahasiswa.

Kyai Anwar juga mencium aroma penjinakan yang dilakukan pemerintah Iran kepada tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan cara mengundang mereka datang ke Iran. “Saya sudah mencium, kita kalau diundang ke sana dalam rangka penjinakan,” tambahnya

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Itulah doktrin NU kepada anNahdhiyyin, menyerukan Jihad memerangi tukang semir sepatu AS/israel

Konsep NU memandang wahaby adalah sekte yang membahayakan Islam berdasarkan prinsip prinsip telaah pemahaman NU tentang Agama.

wahabi doktrin yang membahayakan Umat  justru bisa memecah belah Umat menjadi berkeping keping seperti pecahan kaca yang berserakan di jalan. Tatapan amarah dan buas terhadap Wahabi mencerminkan NU yang pernah hidup Tenpo doeloe, masa lahirnya orma islam, sebelum lahirnya NU itu sendiri.

Sejarah itu terulang kembali sebagai episode dari “kebencian” yang tidak tercapai sejak tahun 1912. Penghujatan terhadap “wahabi” merupakan “bara api” yang tersimpan dan terasa selama puluhan tahun. Kini saatnya NU menjadi pemuja perdamaian ala ke-NU-an dengan berdamai dengan syiah, tentunya merupakan Usaha NU yang paling sepaktakuler di abad ini memerangi pemahaman Islam yang dirasakan merongrong NU.

Terkait insiden bentrokan Sunni-Syiah jilid 2 di Karang Gayam Omben, Kab. Sampang Madura, DPP ABI melalui Ketua Umum nya Hassan Dalil Alaydrus dinilai Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) telah melakukan lakukan fitnah dan pembohongan publik

MIUMI hanyalah kaki tangan wahabi yang pro Arab Saudi, tujuan mereka cuma uang real saudiIslam itu hanya ada dua macam, yaitu :
1. Syiah Muawiyah, yang telah diplopori oleh ; 14 Dhalimin Bani Umayah dan diteruskan oleh Bani Abasiyah dan Osmaniyah dan kelompok ini terdiri dari
a. Mazhab Maliki,
b. Mazhab Hanafi,
c. Mazhab Syafe’i,
d. Mazhab Hambali,

2. Syiah Ali, dinaungi oleh 14 Maksumim, yaitu dari Muhammad s/d Muhammad al Mahdi atau Muntazhar, terdiri dari : Syiah Itsna Asyaroh (12 Imam) yang Al Haq.

Nah, tolong antum mintakan ke Oki agar Shahih Buchori dan Muslim agar dicabut dari peredaran agar bisa dihapus dulu tentang :

1. Hadist tentang Islam akan jaya sampai hari kiamat dan kalian akan dipimpin oleh 12 Amir atau Khlaifah, sementara fakta lapangan ga bisa dibuktikan, malah ini dituduhkan sisipan Syiah. Kan, gampang saja kalau kalian merasa benar 100%, semestinya bisa lakukan dan aku bisa bertaruh yang mampu menghilangkan hadist ini, pasti Wahabi atau Sarafi (orang-orang yang agak sarap/gila)

.

2.Tentang sergahan Umar bin Khatab kepada Guru dan Imam Agung untuk tidak berwasiat apapun, ketika detik-detik akhir menjelang wafatnya Rosul, dimana harapan beliau agar umat tak tersesat. Karena hal ini tidak terlaksana, malah jasadnya beliau tergeletak selam 3 (tiga) hari, mengingat akan dilakukan PILKADA untuk menggantikan Kepemimpinan Rosul, yang artinya Jasad Rosul ini tak ada artinya apa-apa dan Umat mengamini hal ini tanpa mampu mengkritisinya, yang berarti Nilai Sahab lebih besar dari Nilai Rosul sendiri. Tahukah Wahai manusia apa konsekwensinya wasiat tidak terealisir yang berartti KESESATANLAH yang akan dimiliki oleh sebagian besar Umat ini

3. Qs. An-Nisa 59 sudah dieliminir oleh pernyataan Salah satu Imam NON SYIAH (Namanya cukup aku saja yang tahu, karena cukup banyak buku yang harus kubaca), yatu :

“Pemimpin adalah Orang yang telah mengalahkan musuhnya (Husein) dengan pedangnya, baikl dia (pemimpin) itu fasik ataupun Mukmin”,

Jadi nilai si bedebah Yazid itu lebih Mulia dari Keluarga Rosul dan aku akan tamsilkan An-Nisa 59, adalah Bila ketika penciptaan awal Syeitan harus tunduk/sujud ke Adam, maka ketika Keluarga Rosul (Calon Pemimpin anak-anak muda di Surga) terbantai, maka ketika ini terjadi maka Anak Adam harus sujud ke Bani Syeitan al Kabir”,

mungkinkah seperti ini, coba terawang pakai akal waras : Allah Mahakudus, Rosul adalah Maksum, maka Ulil Amri minkum adalah para imam syi’ah , jika memegang ulil amri minkum sunni maka mungkinkah jika kita perpedoman pada pemimpin bejat dan tak bermoral untuk melindungi Al-Qur’an yang suci ini tanpa diobok-obok dulu pemahamannya, sementara matan al-Qur’an sedikitpun tak mungkin terdistorsi.Hujah apa yang kalian punya, dan jawablah secara Ilmiah bukan bacot kaya anak ingusan yang idiot wahai MIUMI

Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Ketua MIUMI Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir Lc. MM.

MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) sesat menyesatkan !!! Ngga ngerti syi’ah

Siaran Pers MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI) karena keawaman ilmu saja
miumi Jika MUI Lamban, MIUMI Bisa Keluarkan Fatwa Sesat Syiah

PDF

Sabili Majalah Anti Syi’ah ! Luar Biasa Syi’ah dihantam Sabili

Jumat, 10 Juni 2011 16:49 yudy
E-mail Cetak PDF

CyberSabili-Jakarta. Pasca Deklarasi Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah di Masjid Al Akbar, Jakarta (20/5/2011. Kalangan mayoritas Sunni di Indonesia menolak deklarasi bersatunya Sunni-Syiah itu. Namun, sampai saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai kumpulan ulama yang mayoritas berpaham Sunni, tidak memiliki fatwa kesesatan Syiah.

“Pada tahun 1984, MUI hanya mengeluarkan himbauan paham Syiah. Yang Saat itu ditandatangani oleh Prof Ibrahim Hosen,” papar Ketua MUI KH Kholil Ridwan pada diskusi tentang ajaran Syiah di Masjid Al-Furqan, Komplek Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Kramat Raya, Jakarta (10/6/2011).

Dikatakan Kholil, anggota MUI bersifat heterogen sehingga banyak kepentingan yang diakomodir, salah satunya ada yang membela kepentingan Syiah. ”Di MUI ada ulama yang membela kepentingan Syiah sehingga tidak ada fatwa sesat Syiah,” katanya.

Peluncuran Buku Putih Syiah

Quraisy Shihab: Syiah Puluhan, Tidak Bisa Dipungkiri ada yang Sesat

Rabu, 19 September 2012

Hidayatullah.com merupakan web yang luar biasa menghantam syi’ah ! Itu fakta

Bertempat di Gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu, Kav 34 Jakarta Selatan, Selasa kemarin (18/09/2012), Ahlul Bait Indonesia (ABI) mengadakan seminar “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam”. Acara seminar  tersebut sekaligus menandai peluncuran buku Syiah berjudul “Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah yang Muktabar” yang dirumuskan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ABI.

Prof.Dr Quraisy Shihab yang menjadi keynote speaker, mengatakan, buku itu sebagai upaya untuk meluruskan dan mengenalkan apa dan siapa Syiah sebenarnya. Direktur Pusat Studi Al-Qur’an ini menilai bahwa apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini adalah karena kesalahpahaman.

“Tidak bisa ada persamaan kalau tidak ada kesepahaman, tidak ada kesepahaman kalau tidak ada pemahaman atas diri sendiri dan orang lain,” ungkapnya.

Prof. Quraisy mengakui bahwa Syiah banyak kelompoknya. Ia juga mengakui bila memang ada juga Syiah yang sesat.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa Syiah itu banyak kelompoknya. Syiah ada puluhan. Kita tidak bisa memungkiri ada Syiah yang sesat, bahkan ada juga kelompok Syiah yang menyesatkan Syiah lain,” jelasnya.

Ia juga berpendapat bahwa bersatu dalam akidah, perumusannya tidak harus sama.

Acara yang dihadiri oleh ormas-ormas seperti NU dan Muhammadiyah itu juga dihadiri oleh Dr. Umar Shahab, Ketua Dewan Syuro ABI dan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Shadra, Masdar F. Mas’udi (PBNU), tokoh Syiah yang juga Direktur Moderat Institute Dr. Muhsin Labib serta Prof. Dr. Zainun Kamal, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Muhsin Labib yang menjadi salah satu narasumber dalam acara tersebut berpendapat soal wilayatul faqih yang ada dalam ajaran Syiah.

Wilayatul faqih sama saja dengan kepausan. Kita tidak apa-apa sama dengan Kristen, karena mereka adalah Ahlul Kitab. Hubungan wilayatul faqih adalah pertanggungjawaban keagamaan Syiah, tapi itu tidak berarti menghilangkan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia,” jelasnya.

Muhsin yang juga lulusan Hauzah Ilmiah Qom, Republik Iran ini mengakui bahwa selama ini Syiah sering tidak diberi hak jawab.

“Ini saatnya Syiah membuka diri, jangan sampai kita dianggap tidak mau membuka diri. Kita tidak benar-benar eksklusif hanya sering tidak diberi hak jawab,” akunya.

Dalam paparannya, ia juga sempat menyinggung bila bahwa NU adalah proses upaya untuk menggabungkan Sunni-Syi’ah dan juga menuduh fatwa MUI Jawa Timur tentang kesesatan Syiah sebagai ‘legalisasi untuk membunuh”.*

Fitnah VOA ISLAM.COM kepada syi’ah sudah kelewatan

JAKARTA (voa-islam.com) kerap menyerang syi’ah, namun faktanya baca dibawah ini :

…………………………………………………………..

Foto-foto Persekutuan Arab Saudi dengan Inggris dan AS:

Oleh pengikut Salafi, itu dianggap fitnah keji.

kitab sejarah pembunuhan wahabi

kitab sejarah pembunuhan wahabi

FAKTA SEJARAH MEMBUKTIKAN KEZALIMAN WAHHABI DI MEKAH AL-MUKARRAMAH MEMBUNUH UMAT ISLAM BERDASARKAN BUKU SEJARAH WAHHABI SENDIRI

(Edisi Sejarah HITAM Wahhabi Di Mekah Al-Mukarramah)

Setelah Wahhabi menyerang kota Thoif dan membunuh umat Islam dan ulamanya disana. Wahhabi menyerang tanah yang mulia Mekah Al-Mukarramah pula tahun 1803M : 1218H seperti yang dinyatakan oleh pengkaji sejarah Abdullah bin Asy-Syarif Husain dalam kitabnya berjudul Sidqul Akhbar Fi Khawarij Al-Qorni Thaniy ‘Asyar. Manakala pengkaji sejarah Wahhabi bernama Uthman Ibnu Basyir Al-Hambaly An-Najdy menyatakan kejadian tersebut berlaku pada tahun 1220H dalam kitabnya Tarikh Najad. Dalam kedua-dua kita sejarah tadi menceritakan kezaliman Wahhabi di tanah suci Mekah antaranya:

KEZALIMAN DILAKUKAN OLEH WAHHABI DI KOTA MEKAH:-

- Pada bulan Muharram 1220H bersamaan 1805M Wahhabi di Mekah membunuh umat Islam yang menunaikan ibadah haji.

- Ibu-ibu penduduk kota Mekah dipaksa menjual harta hak milik masing-masing untuk menebus kembali anak-anak mereka yang masih kecil ditangkap oleh Wahhabi.

- Penduduk Mekah kelaparan kerana keadaan begitu zalim dilakukan oleh Wahhabi sehingga kanak-kanak mati kelaparan berkelimpangan mayat-mayat mereka.

- Pengkaji sejarah & merupakan golongan Wahhabi juga (Uthman An-Najdy) menyatakan bahawa Wahhabi menjual daging-daging keldai dan bangkai kepada penduduk Islam Mekah dengan harga yang tinggi dalam keadaan mereka kelaparan. Sungguh dihina umat Islam Mekah ketika itu.

( RUJUK FAKTA SEJARAH DI ATAS YANG DINYATAKAN TADI DALAM KITAB PENGKAJI WAHHABI SENDIRI BERNAMA UTHMAN IBNU BASYIR AL-HAMBALY AN-NAJDY DALAM KITABNYA BERJUDUL ‘INWAN AL-MAJDY FI TARIKH NAJAD JUZUK 1 MUKASURAT 135, RUJUK JUGA KITAB YANG TELAH DISCAN DI ATAS ).

Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab sangat kontroversial. Ada yang menyukai. Ada juga yang membencinya. Pengikutnya, kelompok Muwahhidun atau sekarang menamakan dirinya Salafi (oleh lawannya disebut Wahabi), Muhammad bin Abdul Wahhab disebut sebagai Pejuang Tauhid yang memurnikan Islam. Namun oleh lawannya, Muhammad bin Abdul Wahhab disebut sebagai sosok yang ekstrim.

Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung ‘Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang.

Beliau meninggal dunia pada 29 Syawal 1206 H (1793 M) dalam usia 92 tahun, setelah mengabdikan diri selama lebih 46 tahun dalam memangku jabatan sebagai menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi .

Nama lengkapnya: Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi. Syekh Abdul Wahab tergolong Banu Siman, dari Tamim. Pendidikannya dimulai di Madinah yakni berguru pada ustadz Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad Hayat al-Sind. Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pendiri kelompok Wahabi yang mazhab fikihnya dijadikan mazhab resmi kerajaan Saudi Arabia, hingga saat ini.

Di situs Arrahmah disebut:

Gerakan al-Muwahhidun atau yang kini sering disebut sebagai gerakan “wahabi” ini menjadi ancaman bagi kekuasaan Inggris di daerah perbatasan dan Punjab sampai 1871. Ketika itu pemerintah Inggris bersekongkol untuk mengeluarkan ‘fatwa’ guna memfitnah kaum Wahhabi sebagai orang-orang kafir.

Sebetulnya jika kita teliti sejarah, justru Muhammad Bin Abdul Wahhab bersama dengan Ibnu Saud dibantu dengan dana dan senjata oleh Pemerintah Inggris guna melawan Kekhalifahan Islam Turki Usmani. Foto bareng Muhammad Bin Abdul Wahhab dengan Ibnu Saud dan juga Jenderal Inggris, Sir Percy Cox, merupakan satu bukti.

Tidak ada catatan sejarah yang menuliskan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Ibnu Saud atau Arab Saudi berperang melawan Inggris. Semua melawan ummat Islam seperti pasukan Pemerintah Khalifah Turki Usmani.

Sebaliknya, banyak sekali tulisan atau pun foto-foto yang mengungkap kerjasama Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Ibnu Saud bekerjasama dengan Inggris.

Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri aliran Muwahhidun atau Salafi (Wahabi)

Dari situs Isnet yang pro Wahabi disebut bagaimana Muhammad bin Abdul Wahhab berdakwah dengan pedang atau perang sebagaimana Nabi Muhammad SAW. Namun jika Nabi Muhammad SAW itu memerangi orang-orang kafir bersama orang-orang yang beriman, Muhammad bin Abdul Wahab justru memerangi ummat Islam yang dia tuduh sebagai Musyrik atau Kafir dengan bantuan persenjataan Inggris seperti senapan dan peluru:

Demikianlah perjuangan Tuan Syeikh yang berawal dengan lisan, lalu dengan pena dan seterusnya dengan senjata, telah didukung sepenuhnya oleh Amir Muhammad bin Saud, penguasa Dar’iyah.

Beliau memulakan jihadnya dengan pedang pada tahun 1158 H. Sebagaimana kita ketahui bahwa seorang da’i ilallah, apabila tidak didukung oleh kekuatan yang mantap, pasti dakwahnya akan surut, meskipun pada tahap pertama mengalami kemajuan. Namun pada akhirnya orang akan jemu dan secara beransur-ansur dakwah itu akan ditinggalkan oleh para pendukungnya.

Oleh kerana itu, maka kekuatan yang paling ampuh untuk mempertahankan dakwah dan pendukungnya, tidak lain harus didukung oleh senjata. Kerana masyarakat yang dijadikan sebagai objek daripada dakwah kadangkala tidak mampan dengan lisan maupun tulisan, akan tetapi mereka harus diiring dengan senjata, maka waktu itulah perlunya memainkan peranan senjata. Alangkah benarnya firman Allah SWT [Al Hadiid}:

Namun semua itu tidak mungkin berjalan dengan lancar dan stabil tanpa ditunjang oleh kekuatan besi (senjata) yang menurut keterangan al-Qur’an al-Hadid fihi basun syadid iaitu, besi waja yang mempunyai kekuatan dahsyat. Iaitu berupa senjata tajam, senjata api, peluru, senapang, meriam, kapal perang, nuklear dan lain-lain lagi, yang pembuatannya mesti menggunakan unsur besi.

Sungguh besi itu amat besar manfaatnya bagi kepentingan umat manusia yang mana al-Qur’an menta’birkan dengan Wama nafiu linasi iaitu dan banyak manfaatnya bagi umat manusia. Apatah lagi jika dipergunakan bagi kepentingan dakwah dan menegakkan keadilan dan kebenaran seperti yang telah dimanfaatkan oleh Tuan Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab semasa gerakan tauhidnya tiga abad yang lalu.

Orang yang mempunyai akal yang sihat dan fikiran yang bersih akan mudah menerima ajaran-ajaran agama, sama ada yang dibawa oleh Nabi, maupun oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang zalim dan suka melakukan kejahatan, yang diperhambakan oleh hawa nafsunya, mereka tidak akan tunduk dan tidak akan mau menerimanya, melainkan jika mereka diiring dengan senjata.

Demikianlah Tuan Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab dalam dakwah dan jihadnya telah memanfaatkan lisan, pena serta pedangnya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sendiri, di waktu baginda mengajak kaum Quraisy kepada agama Islam pada waktu dahulu.

.

Arab Saudi bukanlah negara pembuat/industri senjata. Oleh karena itu senjata canggih mereka dapatkan dari sekutunya, Inggris, guna melawan Turki.

Sama sekali tidak ada peperangan melawan Inggris. Yang ada adalah peperangan dengan ummat Islam dari Thaif, Mekkah, dan Madinah. Berikutnya dengan Turki dan Mesir:

Berangkatlah Imam Saud bin ‘Abdul ‘Aziz menuju tanah Haram Mekah dan Madinah (Haramain) yang dikenal juga dengan nama tanah Hijaz.

Mula-mula beliau bersama pasukannya berjaya menawan Ta’if. Penaklukan Ta’if tidak begitu banyak mengalami kesukaran kerana sebelumnya Imam Saud bin ‘Abdul ‘Aziz telah mengirimkan Amir Uthman bin ‘Abdurrahman al-Mudhayifi dengan membawa pasukannya dalam jumlah yang besar untuk mengepung Ta’if. Pasukan ini terdiri dari orang-orang Najd dan daerah sekitarnya. Oleh kerana itu Ibnu ‘Abdul ‘Aziz tidak mengalami banyak kerugian dalam penaklukan negeri Ta’if, sehingga dalam waktu singkat negeri Ta’if menyerah dan jatuh ke tangan Wahabi.

Di Ta’if, pasukan muwahidin membongkar beberapa maqam yang di atasnya didirikan masjid, di antara maqam yang dibongkar adalah maqam Ibnu Abbas r.a. Masyarakat tempatan menjadikan maqam ini sebagai tempat ibadah, dan meminta syafaat serta berkat daripadanya.

Dari Ta’if pasukan Imam Saud bergerak menuju Hijaz dan mengepung kota Mekah. Manakala gabenor Mekah mengetahui hal ehwal pengepungan tersebut (waktu itu Mekah di bawah pimpinan Syarif Husin), maka hanya ada dua pilihan baginya, menyerah kepada pasukan Wahabi atau melarikan diri ke negeri lain. Ia memilih pilihan kedua, iaitu melarikan diri ke Jeddah. Kemudian, pasukan Saud segera masuk ke kota Mekah untuk kemudian menguasainya tanpa perlawanan sedikit pun.

Tepat pada waktu fajar, Muharram 1218 H, kota suci Mekah sudah berada di bawah kekuasaan muwahidin sepenuhnya.

Lihat bagaimana para “Muwahhidun” atau Salafi memerangi ummat Islam sehingga jatuh banyak korban di kalangan ummat Islam. Pemerintah Kekhalifahan Islam Turki pun lemah sehingga bisa dikalahkan Inggris:

Setelah lapan tahun wilayah ini berada di bawah kekuasaan Imam Saud, pemerintah Mesir bersama sekutunya Turki, mengirimkan pasukannya untuk membebaskan tanah Hijaz, terutama Mekah dan Madinah dari tangan muwahidin sekaligus hendak mengusir mereka keluar dari daerah tersebut.

Adapun sebab campurtangan pemerintah Mesir dan Turki itu adalah seperti yang telah dikemukakan pada bahagian yang lalu, iaitu kerana pergerakan muwahidin mendapat banyak tentangan dari pihak musuh-musuhnya, sama ada ianya dari pihak dalam Islam sendiri ataupun dari luarnya, yang mana tujuan mereka sama iaitu untuk memulau dan memadamkan api gerakan dakwah salafiyyah. Oleh kerana musuh-musuh gerakan salafiyyah tidak mempunyai kekuatan yang memadai untuk menentang pergerakan Wahabiyah, maka mereka menghasut pemerintah Mesir dan Turki dengan menggunakan nama agama, seperti yang telah diterangkan pada bahagian yang lalu. Maka menyerbulah pasukan Mesir dan Turki ke negeri Hijaz untuk membebaskan kedua-dua kota suci Mekah dan Madinah dari cengkaman kaum muwahiddin, sehingga terjadilah peperangan di antara Mesir bersama sekutunya Turki di satu pihak menentang pasukan muwahidin dari Najd dan Hijaz di pihak lain. Peperangan ini telah berlangsung selama tujuh tahun, iaitu dari tahun 1226 hingga 1234 H.

Dalam masa perang tujuh tahun itu tidak sedikit kerugian yang dialami oleh kedua belah pihak, terutama dari pihak pasukan Najd dan Hijaz, selain kerugian harta benda, tidak sedikit pula kerugian nyawa dan tubuh manusia

Dari tulisan di website Isnet yang pro Wahabi kita paham bahwa dengan dalih membersihkan Islam dari kemusyrikan dan kekafiran, Wahabi menyerang ummat Islam di Thaif, Mekkah, Madinah, dsb. Banyak ummat Islam yang jadi korban. Ada satu pertanyaan, jika ummat Islam di Mekkah dan Madinah disebut Musyrik dan Kafir, di mana ummat Islam yang lurus?

Bagaimana ummat Islam diperangi dan dibunuh sementara kaum kafir Inggris justru aman dari tangan mereka? Sejalankan tindakan kaum Salafi dengan firman Allah di bawah?

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..” [Al Fath 29]

“..kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir..” [Al Maa-idah 54]

Dari situs Arrahmah.com disebut:

Perjuangan tauhid beliau terkristalisasi dalam ungkapan la ilaha illa Allah. Menurut beliau, aqidah atau tauhid umat telah dicemari oleh berbagai hal seperti takhayul, bid’ah dan khurafat (TBC) yang bisa menjatuhkan pelakunya kepada syirik. Aktivitas-aktivitas seperti mengunjungi para wali, mempersembahkan hadiah dan meyakini bahwa mereka mampu mendatangkan keuntungan atau kesusahan, mengunjungi kuburan mereka, mengusap-usap kuburan tersebut dan memohon keberkahan kepada kuburan tersebut. Seakan-akan Allah SWT sama dengan penguasa dunia yang dapat didekati melalui para tokoh mereka, dan orang-orang dekat-Nya. Bahkan manusia telah melakukan syirik apabila mereka percaya bahwa pohon kurma, pepohonan yang lain, sandal atau juru kunci makam dapat diambil berkahnya, dengan tujuan agar mereka dapat memperoleh keuntungan.

Menurut Muhammad bin Abdul Wahhab, ummat Islam sekarang lebih musyrik daripada kaum kafir Mekkah yang menyembah berhala serta ingkar kepada Allah, Al Qur’an, dan Nabi Muhammad.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Qawaidul Arba’ berkata, “Kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu, karena (kaum musyrikin) dahulu berbuat syirik (ketika) keadaan senang dan mereka ikhlas dalam keadaan susah. Sementara kaum musyrikin zaman kita, kesyirikan mereka terus-menerus dalam keadaan senang maupun susah, dan dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65)
.

Surah Al-’Ankabut adalah surah ke-29 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah. Dinamai Al-’Ankabut berhubung terdapatnya kata Al-’Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, dimana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur. Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu’aib, kaum Saleh, dan lain-lain. Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Jadi jika dengan memakai ayat-ayat Al Qur’an yang diperuntukkan kepada orang2 kafir Mekkah kepada ummat Islam bahkan menyatakan ummat Islam lebih syirik daripada orang2 musyrik tersebut apalagi sampai membantai sesama Muslim, itu tidak selaras dengan ajaran Islam.

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

Janganlah kita sembarang menuduh sesama Muslim Syirik atau nama lain yang tidak menyenangkan (Al Hujuraat 11-12)

Saat ini ada 7 milyar manusia di mana ummat Islam cuma 1,3 milyar. Harusnya ayat2 kemusyrikan tsb ditujukan pada orang2 kafir yang masih menyembah selain Allah dan berhala seperti Hindu, Budha, Kristen, dsb. Bukan orang2 Islam.

Ingin meluruskan Tauhid dan membersihkan Syirik bagus. Tapi lakukan dengan cara
yang benar.

Muhammad bin Abdul Wahhab terlalu su’u zhon atau berprasangka buruk terhadap ummat Islam. Orang yang melakukan ziarah kubur, ditudingnya sebagai penyembah kuburan atau musyrik. Padahal ziarah kubur itu adalah sunnah Nabi:

Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya telah pernah -dahulu- melarang engkau semua perihal ziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah ke kubur itu!” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka barangsiapa yang hendak berziarah kubur, maka baiklah berziarah, sebab ziarah kubur itu dapat mengingatkan kepada akhirat.”

Dari Aisyah ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu setiap malam gilirannya di tempat Aisyah, beliau s.a.w. lalu keluar pada akhir malam ke makam Baqi’, kemudian mengucapkan -yang artinya-: “Keselamatan atasmu semua hai perkampungan kaum mu’minin, akan datang padamu semua apa-apa yang engkau semua dijanjikan besok yakni masih ditangguhkan waktunya. Sesungguhnya kita semua ini Insya Allah menyusul engkau semua pula. Ya Allah, ampunilah para penghuni makam Baqi’ Algharqad ini.” (Riwayat Muslim)

Tudingan bid’ah dan sesat itu terjadi karena memahami Al Qur’an dan Hadits setengah-setengah dengan cara yang keliru. Tidak menyeluruh dan benar.

Karena pandangannya yang ekstrim itulah Muhammad bin Abdul Wahab ditentang bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri yang juga ulama. Dari situs Arrahman ditulis:

Pada awalnya, idenya tidak begitu mendapat tanggapan bahkan banyak mendapatkan tantangan, kebanyakan dari saudaranya sendiri, termasuk kakaknya Sulaiman dan sepupunya Abdullah bin Husain.

Dari referensi lain seperti Buku yang ditulis oleh Syekh Idahram, bukan cuma kakaknya yang menentang, tapi juga ayahnya, Abdul Wahhab, menentang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh sebab itulah sebagian ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menuding Muhammad bin Abdul Wahab tidak bersanad karena gurunya sendiri yang juga ayah kandungnya, menolak pemahamannya yang ekstrim dan aneh.

Tudingan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap sesama Muslim seperti Musyrik, Kafir, Penyembah Kuburan, dsb yang belum tentu benar dan kemudian membantainya/memeranginya jelas tidak sesuai dengan perintah Allah dalam Al Qur’an dan juga sunnah Nabi:

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim itu bersaudara terhadap muslim lainnya, ia tidak boleh menganiaya dan menghinanya. Seseorang cukup dianggap berlaku jahat karena ia menghina saudaranya sesama muslim.”(HR.Muslim)

Termasuk perbuatan mencaci muslim di antaranya adalah menyakiti, mencela, mengadu domba serta senang menyebarkan gosip yang tidak benar, mencemarkan nama baik sehingga bisa merusak keluhuran martabat saudaranya, dan membuka rahasia pribadi yang tidak patut diketahui orang lain.

Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki atau perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. AlAhzab:58)

Apa pun dalihnya, sesungguhnya haram mencaci dan membunuh sesama Muslim. Kecuali betul-betul ada pengadilan di bawah Khalifah Islam yang membuktikan bahwa orang itu memang harus dihukum mati.

Namun kalau cuma kelompok seperti firqoh atau golongan tak boleh melakukan itu. Minimal harus ada Ijma’/Kesepakatan Ulama agar tidak jadi golongan Khawarij yang mudah mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim.

“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari no.46,48, muslim no. .64,97, Tirmidzi no.1906,2558, Nasa’I no.4036, 4037, Ibnu Majah no.68, Ahmad no.3465,3708)

Ada yang membela Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai orang asing yang dimusuhi oleh orang-orang yang sesat. Namun orang asing yang dimaksud Nabi adalah orang yang mengasingkan diri dari para Sultan demi menghindari fitnah.

Ini beda dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang justru bergaul dengan Sultan dan mengobarkan peperangan terhadap sesama Muslim dengan dalih memerangi kemusyrikan dan kekafiran:

Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

Tudingan Muhammad bin Abdul Wahhab bekerjasama dengan Inggris dalam rangka bughot/berontak terhadap Kekhalifahan Islam Turki Usmani mungkin dianggap fitnah oleh pengikutnya. Mereka menganggap itu cuma fitnah dari Syi’ah Rafidhoh, Ahlul Bid’ah, Sufi, dan sebagainya. Namun dari berbagai tulisan, termasuk dari kelompok Pro Wahabi sendiri, dan juga foto-foto menunjukkan hal itu. Kerjasama dengan Inggris yang dilanjutkan oleh Pemerintah Arab Saudi dan Wahabi seperti dengan Lawrence of Arabia memerangi Kekhalifahan Islam Turki Usmani. Kemudian berlanjut dengan kerjasama dengan Amerika Serikat seperti menyediakan pangkalan militer bagi AS guna memerangi Iraq.

Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan terkadang juga agak membingungkan. Siapa pun tak kan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat—jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat—Amerika Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi mata dunia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab dan bersekutu dengannya.

Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya—termasuk Makkah dan Madinah—kepada tentara Zionis Amerika.

Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut.

Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.

Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul ‘Lawrence of Arabia’ dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, “Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!”).

Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia.

Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.

Bahkan di film itu digambarkan bahwa klanSaud dengan bantuan Lawrence mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya “Lawrence of Arabia was a Zionist” seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.

Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.

Entah apa yang terjadi, namunhingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.

Selain film ‘Lawrence of Arabia’, ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:

  • Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005)
  • Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
  • Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
  • History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)

Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat “pemberontakan” terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung utama bagi kekuatan Dunia Islam,wallahu a’lam. (Rz)

Terakhir ada berita dari catatan harian Mr. Hempher, agen Inggris yang mengatakan agar Penjajahan Inggris bisa bertahan, mereka harus menciptakan aliran Islam sesat guna memecah-belah kekuatan Islam di daerah jajahannya. Di Inggris dan Pakistan mereka ciptakan Ahmadiyyah yang menghilangkan Jihad. Di Iran mereka buat aliran Baha’i. Ada pun di Arab Saudi yang Islamnya sangat kuat, mereka ciptakan Wahabi yang meski kelihatannya ingin memurnikan Islam, namun dengan isyu memurnikan Islam itulah tercipta perpecahan dan peperangan antar ummat Islam sehingga Pemerintah Kekhalifahan Islam Turki pun melemah akibat diserang Wahabi

.

Di Indonesia sendiri, AS yang merupakan penerus Inggris membentuk dan mendanai aliran sesat Islam Liberal yang menyatakan semua agama sama benarnya dan menghapuskan jihad serta Hukum Allah. Paling mudah bagi AS dan Inggris untuk menghancurkan Islam adalah dengan menghancurkannya dari dalam dengan membentuk aliran sesat sehingga ummat Islam saling perang/bunuh.

Meski kebenarannya harus diteliti lebih jauh, namun beberapa situs Islam memuatnya seperti:

Walaupun Ibn Abdul-Wahhab dianggap sebagai Bapak Wahabisme, namun aktualnya Kerajaan Inggeris-lah yang membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme dan merekayasa Ibn Abdul-Wahhab sebagai Imam dan Pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghancurkan Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Seluk-beluk dan rincian tentang konspirasi Inggeris dengan Ibn Abdul-Wahhab ini dapat Anda temukan di dalam memoar Mr. Hempher : “Confessions of a British Spy”

Memoirs Of Mr. Hempher, The British Spy To The Middle East is the title of a document that was published in series (episodes) in the German paper Spiegel and later on in a prominent French paper. A Lebanese doctor translated the document to the Arabic language and from there on it was translated to English and other languages. Waqf Ikhlas publications put out and circulated the document in English in hard copy and electronically under the title: Confessions of a British spy and British enmity against Islam. This document reveals the true background of the Wahhabi movement which was innovated by Mohammad bin abdul Wahhab and explains the numerous falsehood they spread in the name of Islam and exposes their role of enmity towards the religion of Islam and towards prophet Mohammad sallallahu ^alayhi wa sallam and towards Muslims at large. No wonder the Wahhabis today stand as the backbone of terrorism allowing and financing and planning shedding the blood of Muslims and other innocent people. Their well known history of terrorism as documented in Fitnatul Wahhabiyyah by the mufti of Makkah, Sheikh Ahmad Zayni Dahlan, and their current assassinations and contravention is due to their ill belief that all are blasphemers save themselves. May Allah protect our nation from their evils.

Mungkin itu sulit dipercaya. Namun Wahabi memang bekerjasama dengan Raja Arab Saudi. Wahabi adalah Mazhab Resmi Kerajaan Arab Saudi. Posisi Mufti Agama selalu dipegang ulama Wahabi. Sementara Raja Arab Saudi memang biasa bekerjasama dengan Inggris saat melawan Turki dan sekarang dengan AS saat melawan Iraq. Berita tentang itu begitu banyak/mutawatir dari berbagai sumber/sanad. Sulit dipungkiri:

Dokumen Ekspos Pendiri Saudi Yakinkan Inggris untuk Dirikan Negara Yahudi

Sebuah dokumen kuno mengungkapkan bagaimana Sultan Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi meyakinkan Inggris untuk menciptakan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina, sebuah laporan berita mengatakan.

Pengikut Abdul Wahhab mungkin menganggap itu fitnah yang keji. Sementara yang anti terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab justru menuduh Muhammad bin Abdul Wahhab lah yang gemar memfitnah sesama Muslim dengan sebutan Ahlul Bid’ah, Musyrik, Kafir, dan sebagainya kemudian memeranginya.

Agar tidak bingung terhadap 2 pendapat yang berbeda tersebut, hendaknya kita kembali kepada Al Qur’an dan Hadits. Kita imani apa adanya. Jangan ditakwilkan sehingga berubah maknanya.

Sebagaimana kita ketahui, Muhammad bin Abdul Wahhab lahir dan besar di Najd, sehingga beliau disebut juga Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi. Nah ternyata Nabi telah mengisahkan kepada kita tentang Najd yang merupakan tempat timbulnya fitnah:

Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167)

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]

tanduk-setan
mekah-berubah-mengikuti-rencana-illuminati

najd-is-najd-iraq-is-iraq1

Najd adalah Najad, Iraq adalah Iraq

basmalah

Syi’ah Sesat hanya propaganda SETAN NEJED WAHABi, Agen Zionis dan Pemecah Belah Umat !! Milyaran dollar tumpah ke Indonesia

wahabi1.1

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ   رواه البخاري، والترمذي، وأحمد وابن حبان في صحيحه

 
Daripada Abdullah Ibn Umar r.a., beliau berkata: Rasulullah SAW menyebut: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah! Rasulullah pun bersabda: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah!Dan aku menyangka (seingat aku) pada kali ketiga Rasulullah SAW bersabda: Di sanalah berlakunya gegaran-gegaran, fitnah-fitnah dan di sanalah terbitnya tanduk Syaitan.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam al-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban dan lain-lain.

Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukhari no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

tanduk-setan

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H/ 1792 M.

…………………………………………………………..

MINGGU, 24 JULI 2011

Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?


Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.”
.
Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid
.
“Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Saya khawatir, Syiah akan menjadi sasaran berikutnya. Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah
.
Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi
.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

.

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama

.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

.

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan

.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

.

MINGGU, 24 JULI 2011

PROF.UMAR SHIHAB (KETUA MUI) : SYI’AH MAZHAB YANG SAH DI DALAM ISLAM


Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Sy’iah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut Syi’ah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 ,
.
Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat iniRombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.Apakah berita sidang pleno MUI setelah kunjungan resmi ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib hanya dusta dan fitnah atau benar adanya, seperti yg di tulis saudara Kholili Hasib di atas?
.
Sementara MOU itu adalah resmi atas nama Lembaga MUI dan bukan perorangan, beginilah sejatinya kelompok takfir selalu memprovokasi awam dengan berbagia info dan berita yg menyesatkan demi menjalankan agenda musuh2 Islam melalui adu-domba dan pecah-belah Ummat agar Islam lemah dari dalam.
_____________________________________________________________________________________________________________
Setelah MOU antar MUI dan Majma’ Taqrib baynal Mazahib Islamiyah akan keabsahan mazhab Ahlussunah dan Syi’ah (28 April 2011) maka MUI sudah sepantasnya untuk meninjau kembali Fatwa 1984 yg sekarang menjadi dasar pembenaran terjadinya anarkhisme terhadap muslim syi’ah dan mengajak Ulama Syi’ah dan ormas2 Islam untuk merumuskan kembali tentang makna Ukhuwah Islamiyah
.
Dan terpenting adalah Fatwa eksplisit dulu dari MUI bahwa Sunnah-Syi’ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah, agar siapa saja yg ingin berlaku anarkhis mentasnamakan mazhab maka akan berfikir seribu kali, tak jadi soal Fatwa itu efektif atau tidak yg jelas dgn keluarnya fatwa eksplisit dan tegas MUI berperan sebagai pengayom dan pemersatu umat dan bukannya termakan hasudan dan fitnahan dari kelompok takfir lintas mazhab yg lambat-laun akan merobohkan bangunan NKRI dengan konflik horisontal yg mereka lestarikan.UKHUWAH ISLAMIYAH :
.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalaupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama

.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

.

SABTU, 23 JULI 2011

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 23 di Teheran


Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam Ke-23 Teheran 15-17 Rabiul Awal 1431 HSegala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya
.
Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism
.
Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau
.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat
.
Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya
.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah

.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya

.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini

.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll

.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:

a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.

d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.

e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.

f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.

g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.

h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.

i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.

j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi

.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini

.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

RABU, 20 JULI 2011

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam


Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu
.
“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin
.
Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia
.
Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)
.
Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi
.
“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya
.
Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.
“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)
.

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab


Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju
.
Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syi’ah.Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Buhairah, Mesir
.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H. menjadi mufti umum Al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.Syekh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syi’ah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.

Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syi’ah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayyid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar Al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah Al-Islam”.

2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syi’ah, yang berhubungan dengan pendekatan antar mazhab.

3. Memasukkan fikih Syi’ah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.

4. Dan, yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti Al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu. Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiyah)?

Syekh Syaltut menjawab,

1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.

2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syi’ah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib

Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar Al-Taqrib bayna Al-Madzahib Al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syi’ah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar

Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jum’at tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

Nahju Al-Qur’an fi Bina Al-mujtama’

Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah

Al-Fatawa

Al-Qital fi Al-Islam

Min Tawjihat Al-Islam

Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh

Fiqh Al-Qur’an

SYEIKH AL-AZHAR, DR. AHMED AL-TAYEB: SERUKAN UMAT ISLAM BERSATU


Sheikh – Azhar Dr Ahmed Al-Tayeb meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tentang perlunya melakukan kebijakan keadilan dan menghentikan kebijakan standar ganda tentang isu-isu Islam dan bangsa Arab.hal ini harus ditunjukkan dengan keseriusan dan tanggung jawab.keadilan yang berhubungan dengan masalah Palestina dan isu utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh rakyat Palestina.Syaikh Al-Azhar dalam sambutannya pada pembukaan Global Forum ke lima untuk lulusan Al-Azhar pada Sabtu malam, yang berlangsung selama empat hari.Pendekatan sejarah Al-Azhar yang cukup panjang untuk mempertahankan Islam yang benar dan untuk membela serta menyebarkan keadilan, keamanan dan perdamaian di antara semua agama dan mengutuk kekerasan
.
Syekh Al Azhar dalam sambutannya mengatakan Islam moderat menghadapi ekstremisme,” afiliasi dalam beberapa pelaku kekacauan serta penyebaran kekerasan dan doktrin terhadap Islam, hal ini tidak mencerminkan realitas pemikiran Islam, yang menyerukan sentrisme, moderasi, yang berhubungan dengan non-Muslim.Syekh Al Azhar menekankan tentang kebutuhan umat Muslim karena menderita diskriminasi untuk kembali kepada satu pemahaman dan menjauhkan dari perbedaan ideology, dalam rangka mencapai kesatuan muslim dan kekuatan baru islam.Syekh Al Azhar juga mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab, keadilan yang menyangkut status Palestina serta untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dari penindasan bangsa Israel.

Gerakan Trans Nasional Wahabi Indonesia ditunggangi AS / israel

 1/11/2012 01:57:00 PM

Syekh Wahbah Azzuhaili (kiri), Ayatollah Ali Taskhiri (tengah), KH Tolhah Hasan (kanan)
.
“Nahdlatul Ulama (NU) itu Syiah minus Imamah. Syiah itu NU plus Imamah.” Demikian pernyataan populer almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), cendekiawan NU. Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah. Bahkan peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan posisi Imam dalam tradisi Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud budaya, sementara di Syiah dalam bentuk teologi. Ini substansi pernyataan Gus Dur di atas.
.
Namun sangat memprihatinkan, baru-baru ini terjadi tindak kekerasan terhadap muslim Syiah di Sampang, Madura, salah satu basis NU. Sebuah pesantren Syiah dibakar massa karena aliran itu dinilai sebagai ajaran sesat. Tindak serupa ini bukan yang pertama, baik di Madura maupun di daerah lain di provinsi yang sama, Jawa Timur. Sebelumnya, di Bondowoso, Pasuruan, Malang, dan Bangil pernah terjadi penyerangan terhadap muslim Syiah.
.
Eskalasi ini terjadi kira-kira dalam tempo empat tahun terakhir. Seharusnya ini menjadi catatan tersendiri bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur beserta jajaran keamanannya untuk mengantisipasi dan mencari solusi. Sebelum eskalasi konflik terjadi, horizon keislaman di Jawa Timur sangat kondusif. Aroma Islam toleran sangat kuat di provinsi ini. Kekhasan corak keislaman seperti ini tak lepas dari akar budaya Nahdlatul Ulama (NU) yang tertanam kuat.
.
Said Agil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar NU, menegaskan bahwa selama ini Madura memiliki preseden positif soal hubungan antara muslim Sunni dan Syiah. Said mensinyalir kejadian ini diletupkan pihak ketiga yang ingin merusak keharmonisan tersebut.
.
Sunni-Syiah saudara
.
Secara substansial, hubungan antar muslim Sunni dan Syiah tidak memiliki rintangan signifikan bagi terjalinnya keharmonisan. Karena dua mazhab dalam Islam ini justru memiliki banyak titik kesamaan ketimbang perbedaan. Teologi Syiah dan Sunni tidak memiliki perbedaan mendasar. Baik dalam hal konsep ketuhanan (tauhid), kenabian, kitab suci Al-Quran, maupun kepercayaan akan hari akhir dan persoalan teologis lainnya. Ini bisa dirujuk pada literatur teologi dan juga filsafat dari keduanya. Bahkan keduanya sering dipertemukan pada tokoh yang sama dengan pemikiran yang sepaham.
.
Kajian tentang dialog Sunni-Syiah semakin intensif menemukan banyak kesamaan di satu sisi, dan menyadari bahwa perbedaan yang selama ini digaungkan sebenarnya tidak menyangkut aspek yang fundamental dari ajaran masing-masing. Namun, sayangnya, semakin dekatnya persaudaraan antara pemikiran Syiah dan Sunni ini hanya berhenti pada tataran elite. Umat secara mayoritas belum diberi asupan dakwah yang memadai tentang persaudaraan Sunni-Syiah. Ibarat piramida, di pucuk sebenarnya bertemu, namun di bawah terpisah jauh. Karena itu, yang berkembang di tingkat massa justru kesalahpahaman satu dengan yang lain. Mulai soal teologi hingga syariah. Di antaranya, kesalahpahaman bahwa Al-Quran Syiah dan Sunni berbeda, soal nikah mut’ah, penghormatan kepada sahabat, tata cara ibadah salat, dan lain sebagainya.
.
Pada tingkat “elite”, kesalahpahaman ini dianggap tidak berdasar secara akademis, bahkan sekadar asumsi belaka. Namun, faktanya, kesalahpahaman ini fundamental, signifikan, dan berefek besar. Walhasil, ada jurang pemisah yang lebar antara proses dialog akademis pada tingkat intelektual dan pemahaman umat mayoritas. Ini terjadi karena belum dilakukan strategi dakwah yang secara serius berupaya untuk “membumikan” proses dialog yang terjadi pada tingkat “langit” tersebut. Kalaupun ada, hanya berupa produk buku dan produk akademis elitis lainnya. Padahal massa pada tingkat bawah memiliki “bahasa” tersendiri. Metode dakwahnya seharusnya dilakukan secara lebih sederhana.
.
Pendekatan kultural
.
Sangat menarik bahwa ternyata, secara kultural, banyak tradisi keislaman yang dipraktekkan di Indonesia memiliki akar pada ajaran dan tradisi Syiah. Tradisi Tabok dan peringatan bulan Muharam adalah salah satu contohnya. Tradisi ini sudah berkolaborasi dalam berbagai budaya: Jawa, Sulawesi, maupun Sumatera. Pada tanggal 10 Muharam, kita bisa melihat gelaran tradisi tersebut dalam berbagai wajah budaya, namun satu substansi. Artinya, secara kultural masyarakat Indonesia memiliki ikatan sosiologis dan historis yang kuat dengan ajaran Syiah.
.
Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan: pertama, bahwa di Indonesia pada dasarnya sudah terjalin harmoni yang kuat dan berlangsung berabad-abad antara Sunni dan Syiah. Demikian kuatnya hingga menyatu dalam sebuah tradisi bersama. Kedua, budaya adalah medium yang paling efektif sebagai pintu dialog dan harmoni. Sejauh ini, jalinan dialog dan harmoni Syiah-Sunni kurang memaksimalkan perangkat budaya sebagai mediumnya. Padahal dalam budayalah kita menemukan jejak-jejak harmoni antara muslim Sunni dan Syiah Indonesia.
.
Budaya sangat efektif untuk menerjemahkan hasil dialog akademis pada tingkat intelektual ke dalam bahasa-bahasa yang sederhana yang mudah dicerna oleh umat secara keseluruhan. Dan berbagai kesalahpahaman yang terjadi antara umat Islam Sunni dan Syiah Indonesia, salah satunya, disebabkan oleh absennya budaya sebagai perangkat dakwah dan dialog. Perangkat hardware (teologi, syariah, fiqh) lebih dikedepankan ketimbang software (budaya, akhlak, moral). Padahal yang kedua justru lebih efektif untuk membangun harmoni. Absennya budaya ini menciptakan sebuah “ruang kosong” yang menjadi jurang pemisah antara dialog akademis (elite agama) dan umat.
.
“Ruang kosong budaya” inilah yang kemudian diisi dan dimanipulasi oleh pihak atau kelompok tertentu, dengan kepentingan tertentu pula, untuk menciptakan kesalahpahaman-kesalahpahaman antara muslim Syiah dan muslim Sunni. Sebagaimana ditegaskan Said Agil Siradj. Dengan memanfaatkan “ruang kosong budaya” tersebut, pihak ketiga tersebut merekonstruksi sebuah pemahaman yang saling menyesatkan antara Sunni dan Syiah, sehingga muncul kecurigaan, kebencian, dan motif untuk berkonflik di antara keduanya.
.
Ke depan, agenda yang sangat penting untuk dilakukan adalah penelitian komprehensif, baik kualitatif maupun kuantitatif, tentang peta kesalahpahaman tersebut. Bagaimana proses terbangunnya kesalahpahaman itu, seperti apa pola dan modusnya, seberapa jauh efek sosial-kulturalnya?
.
Sebab, menurut saya, di tiap daerah, kesalahpahaman yang berkembang tidak sama karakteristiknya. Di beberapa provinsi, kesalahpahaman yang berkembang lebih kuat pada isu teologis, seperti kecurigaan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda. Sedangkan di provinsi lainnya, kesalahpahaman lebih mengarah pada aspek ibadah dan fiqh. Ini menunjukkan bahwa ada karakteristik yang berbeda, yang menimbulkan efek kesalahpahaman yang juga berbeda.
.
Dengan bekal pemetaan, kita bisa mendiagnosis “penyakit” kesalahpahaman ini. Setelah semua diketahui, akan lebih mudah untuk memberikan “obatnya”. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan budaya. Peta kesalahpahaman dapat dijadikan sebagai blueprint proses dialog Sunni-Syiah. Jadi, harus ada sebuah kajian dan penelitian yang komprehensif terhadap persoalan ini, sebagai bagian dari upaya dialog Syiah-Sunni. Walhasil, konflik yang terjadi di Sampang bisa dilihat dari sudut pandang ini. Konflik ini sengaja dilecutkan oleh pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan “kosongnya budaya”.

.

AS / israel tunggangi Gerakan Wahabi

wahabi adalah perpanjangan tangan dari AS / zionis yang berupaya memanfaatkan indonesia agar loyal kepada kafir asing

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

NU Melawan Wahabi

Kondisi Indonesia dewasa ini begitu labil, bangsa yang terkenal dengan peramah sekarang lebih kental dengan pemarah, mudah di adu domba dan diintervensi asing. Bangsa asing begitu bebas mengintervensi internal bangsa, mulai politik, keuangan hingga agama. Pejabat dan para pemangku penting urusan bangsa lebih peduli diri sendiri dan kelompoknya atau partainya dari pada urusan bangsa. Banyaknya kasus korupsi adalah bentuk nyata ketidakpedulian itu.

Memang masalah bangsa ini begitu semerawut, mulai bangsa asing yang diberi kesempatan luas menguasai Sumber Daya Alam, kebijakan-kebijakan strategis bangsa yang lebih banyak memihak para pemodal (bangsa asing tentunya pemodal paling besar), hutang negara yang kian menumpuk, hingga moral anak bangsa dan pejabat yang kian parah.

Meski susah dibenahi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Bangsa yang besar ini mesti harus tetap optimis menatap masa depan yang lebih membanggakan. Bangsa yang optimis pasti bertahan dan menang melawan krisis!

Bangsa Indonesia masih memiliki pewaris-pewaris bangsa yang cerdas, orang-orang gigih yang masih mencintai negaranya, para pahlawan bayangan yang bekerja tanpa pamrih juga ormas-ormas yang masih konsisten manjaga negaranya dari kehancuran. Dari merekalah bumi pertiwi ini berharap, para pahlawan sekarang dan masa depan!

Di antara elemen bangsa yang konsisten berjuang dari sekian banyak itu adalah Nahdhotul Ulama (NU). Tentunya NU secara umum tanpa melihat oknum yang justru mencoreng nama besar NU itu sendiri.

Menyimak beberapa ceramah dan kiprah beberapa tokoh NU di beberapa tempat, konsistennya mereka menjaga harga diri dan keutuhan NKRI ini terlihat jelas. Ulama-ulama NU melihat, diantara masalah utama yang sedang diahadapi bangsa ini adalah ancaman ideologi Wahabi. Bahaya dan ancaman golongan Wahabi Takfiri ini sudah terjadi di negara-negara mayoritas muslim. Dimana teror, perpecahan dan saling mengkafirman menjadi ciri utamanya.

Saat harlah ke-86 NU yang digelar oleh PCNU Kabupaten Tegal, Ahad (4/3), Khatib Syuriyah Pengurus Wilayah Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh, menyampaikan tausiyah dihadapan ribuan pengunjung tentang peranan NU bagi Indonesia dan ancaman bangsa ini kedepan.

Beliau mengatakan, Jika Nahdlatul Ulama bubar maka Indonesia juga akan bubar, ini adalah bukti sejarah sejak NU didirikan, siapa yang pertama kali menerima asas tunggal negara ini, siapa dibalik pertempuran 10 November di Surabaya, siapa yang pertama kali mengeluarkan Resolusi Jihad untuk melawan Belanda dan masih banyak lagi bukti yang lain kontibusi NU kepada bangsa. Tidak ada sejarahnya NU melakukan pemberontakan terhadap negara ini.

“Insya Allah jika NU baik maka negara ini baldatul toyibatun warobbun ghofur, apa sih yang kurang dengan NU. Kebudayaan juga ada, bagaimana Islam itu bisa disebarkan lewat budaya, tidak sedikit-sedikit haram,“ tuturnya.

Beliau pun menyinggung peranan Walisongo dan kebudayaan yang mereka wariskan. Menurutnya dakwah sekarang harus mengembangkan ajaran-ajaran Walisongo, Islam yang diajarkan oleh Walisongo begitu damai dan indah. Perpaduan antara adat, budaya dan tatanan norma, dengan ajaran Islam begitu dipahami betul oleh para Walisongo, sehingga Islam di Jawa ini dapat besar dan menjadi penduduk mayoritas.

Islam Times pernah memuat riview buku, berjudul “Walisongo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan”, Agus Sunyoto.  Sebagai jawaban dari buku Ensiklopedi Islam terbitan Van Hoeve yang menghilangkan sejarang Wali Songo dan menggantikannya dengan tokoh-tokoh ulama Wahabi.

Kiai Ubaidillah juga mengingatkan, supaya menjaga kerukunan jangan sampai bercerai berai, kalau kita bercerai berai maka tidak akan ada kemajuan, hanya soal pilkada atau pil-pil yang laianya saja kita saling bermusuhan, orang NU tidak boleh seperti itu, kalau sudah memilih bupati atau gubernur juga harus mendapingi agar selalu memberikan yang terbaik dan memegang amanah, karena jabatan hanya sebentar.

Menurutnya, semakin indonesia ruwet dan hancur maka semakin banyak orang yang senang.

“Saya juga bingung katanya tidak suka dengan Amerika tetapi malah yang di bom Masjid dan kantor polisi. Ini apa? Kalau tidak disebut bohong apalagi. Untuk itu Ansor dan Banser harus siap dengan segala kemampuanya, suatu saat negara membutuhkan,“ harapnya.

Dalam kesempatan yang sama Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tegal, dalam khutbah iftitahnya yang diwakili oleh Wakil Rais Syuriyah KH Ainur Rofiq mengharapkan, supaya warga NU tetap komitment membangun bangsa dan negara dengan nilai-nilai yang luhur, serta membangun gerasi muda yang tangguh agar tidak terjebak pada lingkaran yang akan menyesatkan.

“Teroris adalah bentuk jebakan terhadap kesesatan, NU dibangun dengan landasan yang kuat . dalam menjalankan amalan tetap berpegang tegus pada sumber hukum Islam yang empat yaitu, Qur’an, Hadist, Ijma dan Qiyas, jadi NU tidak mungkin menjadi teroris,” tuturnya .

Sementara itu Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal H Akhmad Wasy’ari juga menegaskan, musuh NU adalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, terorisme dan yang gampang mengkafirkan golongan lain (Wahabi Takfiri).

“Ini adalah musuh kita bersama yang harus dilawan di manapun berada. Musuh kita itu bukan orang yang berbeda organisasi,” tegasnya.

Perang terhadap pemikiran Wahabi juga gencar dilakukan oleh PCNU Pamekasan, dengan menerbitkan buletin Aswaja yang di sebar ke masyarakat, dan samapai sekarang sudah sampai edisi ke tujuh. Karena umumnya di Jawa Timur dan khususnya di Madura, pemikiran Wahabi mulai merusak warga NU dan menyusupi organisasi-organisasi NU. Bahkan ada tokoh ulama NU tapi pemikirannya Wahabi.

Mengutip NU online, di Pamekasan pemikiran wahabi bukan hanya menyusupi masjid-masjid bahkan sudah masuk ke sekolah. Oleh karenanya, buletin Aswaja didistribusikan ke sekolah-sekolah dengan membangun kerja sama erat dengan kepala sekolah.

Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), KH Syamsul Ma’arif di hadapan ribuan jamaah yang memadati Masjid Al-Munawwaroh Ciganjur Jakarta, (3/2). Juga mengatakan hal yang sama, menurutnya warga Nahdliyin harus bersatu padu untuk menangkal semakin merebaknya faham wahabi yang meresahkan masyarakat. Warga Nahdliyin tidak boleh egois dan saling bersengketa dengan sesama pengamal Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Apa pun kepentingan yang masuk melalui Warga Nahdliyin, jangan sampai kita saling bertengkar karenanya. Orang lain di luar NU akan bertepuk tangan gembira bila sesama warga NU saling bermusuhan hanya karena urusan Pilkada misalnya,” tutur Syamsul.

“Jangan sampai warga nahdliyin bertikai dengan sesamanya. Apalagi malah mengasingkan diri dari masyarakat. Warga Nahdliyin harus menyatu dengan , masyarakat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat manapun,” tandasnya.

Ketua PBNU, Said Aqil Syiroj dalam beberapa kesempatan juga menegaskan supaya warga NU memeperkuat diri dari ancaman pemikiran Wahabi dan harus memeranginya. Menurutnya jika ideologi yang mudah mengkafirkan orang lain tumbuh di Indonesia, maka akan mengancam kebhinekaan dan persatuan yang sudah menjadi ciri bangsa Indonesia.

Wakil PBNU: Bahaya Wahabi Mengancam

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali meminta kepada segenap pengurus dan warga NU untuk mewaspadai gerakan Wahabi di lingkungan masing-masing.

Dirinya menengarai, saat ini gerakan Wahabi tidak masuk di tengah-tengah masyarakat saja, akan tetapi telah masuk ke jajaran pemerintah, sehingga pemerintah nampaknya tidak berdaya menghadapinya.

Hal tersebut dikatakan wakil ketua umum PBNU saat berdiskusi dengan jajaran Pengurus Cabang NU Kota dan Kabupaten Pekalongan, Ahad sore  (25/3) di Gedung Aswaja Pekalongan.

Lebih lanjut dikatakan, Gerakan Wahabi selain membid’ahkan amaliyah warga nahdliyyin, juga berusaha sekuat tenaga merebut posisi strategis di tengah tengah masyarakat maupun di jajaran eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Oleh karena itu, dirinya meminta kepada warga nahdliyyin melalui pengurus NU di semua tingkatan untuk merapatkan barisan dengan cara memberikan pencerahan secara rutin kepada warga nahdliyyin tentang amaliyah yang diajarkan oleh para ulama NU bukan merupakan perbuatan bid’ah.

Dan yang lebih penting, menurut As’ad, adalah memberikan pengertian secara komprehensif kepada warga NU tentang bahaya gerakan Wahabi baik bagi Nahdlatul Ulama dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara itu, dalam sesi dialog salah satu peserta meminta kepada PBNU untuk kembali mempertegas gerakan NU sebagaimana yang tercantum dalam Mukadimah Qonun Asasi yang dibuat oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama, dengan cara ini NU akan bisa selamat dan warga nahdliyyin yang ada di bawah tidak ragu lagi untuk berbuat dan bertindak.

“Selama ini, PBNU belum melakukan aksi apapun, kecuali hanya wacana belaka, sementara di bawah gerarakan wahabi semakin mengkhawatirkan,” ujar Muhibbin.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua PCNU Kota Pekalongan Drs. H. Ahmad Marzuki. Dikatakan, warga nahdliyyin di Pekalongan dan sekitarnya mulai resah atas sikap dan gerakan Wahabi, akan tetapi sampai saat ini belum ada petunjuk apapun dari PBNU, bagaimana NU di cabang harus bersikap dalam menghadapi gerakan ini.

Dewan Ahlul Bait Sedunia Mengutuk Fatwa Ulama Wahabi

Dewan Ahlul Bait Sedunia mengutuk fatwa terbaru yang dikeluarkan oleh pejabat keagamaan Arab Saudi, yang menyerukan penghancuran semua gereja di Semenanjung Arab. Tujuan wahabi adalah pro AS / israel namun anti gereja

Fatwa terakhir Mufti Agung Sheikh Abdulaziz bin Abdullah dikeluarkan sebagai respon terhadap keputusan parlemen Kuwait pekan lalu, yang melarang pembangunan gereja-gereja baru di negara itu.

“Mengingat negara Teluk Persia kecil dan merupakan bagian dari Semenanjung Arab, maka perlu untuk menghancurkan semua gereja-gereja di wilayah itu,” kata Sheikh Abdulaziz seperti dilaporkan media Arab.

Dewan Ahlul Bait Sedunia dalam sebuah pernyataan pada Selasa (27/3) mengatakan, “Pertama-tama, Mufti Wahabi tidak mewakili Islam. Dunia harus tahu bahwa agama yang sekarang sedang dipublikasikan di Arab Saudi, bukan Islam yang sesungguhnya.”

Pernyataan itu menambahkan bahwa isi fatwa baru tersebut bertentangan dengan perintah Allah Swt serta sunnah Nabi Muhammad Saw dan keturunannya. Oleh karena itu, ditolak tidak hanya oleh komunitas Syiah, tetapi juga oleh Muslim Sunni.

Dewan itu mencatat bahwa sepanjang sejarahnya, Islam telah hidup berdampingan dengan umat Kristen dan Yahudi dan fatwa seperti itu tidak pernah dikeluarkan oleh Rasul Saw, keturunannya, dan khalifah Islam selanjutnya.

“Selain Rasul Saw, keturunannya, dan para sahabat, juga tidak ada ulama yang pernah mengeluarkan fatwa seperti itu selama 1.400 tahun terakhir,” tambahnya.

“Karena itu, Mufti Agung Wahabi telah mengeluarkan fatwa di luar kerangka yurisprudensi Islam dan belum pernah dikeluarkan oleh pusat-pusat ilmiah besar umat Islam,” tegas pernyataan itu.

Menurut Dewan Ahlul Bait Sedunia, fatwa tersebut juga merupakan intervensi terang-terangan dalam urusan internal negara-negara Muslim lainnya, karena Mufti Saudi mengeluarkan fatwa tidak hanya terbatas untuk wilayah Saudi, tapi sudah termasuk Semenanjung Arab secara keseluruhan.

Dewan Ahlul Bait Sedunia juga mengecam sikap bungkam para cendekiawan Muslim dalam menanggapi fatwa yang merusak citra Islam itu.

“Bukankah ulama dari berbagai mazhab di Mesir, Irak, Tunisia, Suriah, Lebanon, Yaman, Jazirah Arab dan belahan dunia lain, seharusnya mereaksi fatwa yang memberikan gambaran tidak benar mengenai Islam di dunia?” tanyanya.

Di akhir pernyataannya, Dewan Ahlul Bait Sedunia mengkritik organisasi internasional hak asasi manusia serta pemerintah Barat dan Kristen atas dukungan mereka terhadap radikalisme kelompok Wahabi.

Ulama Saudi Klaim Nabi Pernah Menjual Arak ! Mufti Saudi tersebut juga mengklaim minuman keras bukan najis dan tidak membatalkan shalat dengan menyentuhnya

Arab Saudi:
Ulama Saudi Klaim Nabi Pernah Menjual Arak
Muhammad Al ‘Arifi, seorang ulama mufti Arab Saudi dalam sebuah acara yang disiarkan stasiun televisi Emarati menyatakan, sebelum pengharaman minuman keras, seseorang telah menghadiahkan kepada Rasulullah Saw minuman keras, kemudian minuman keras tersebut dijual oleh Nabi dan sebagiannya diberikan kembali kepada orang lain sebagai hadiah.
Ulama Saudi Klaim Nabi Pernah Menjual Arak.
Muhammad Al ‘Arifi, seorang ulama mufti Arab Saudi dalam sebuah acara yang disiarkan stasiun televisi Emarati menyatakan, sebelum pengharaman minuman keras, seseorang telah menghadiahkan kepada Rasulullah Saw minuman keras, kemudian minuman keras tersebut dijual oleh Nabi dan sebagiannya diberikan kembali kepada orang lain sebagai hadiah.

Mufti Saudi tersebut juga mengklaim minuman keras bukan najis dan tidak membatalkan shalat dengan menyentuhnya. Menurut pengakuannya, sewaktu Islam mengharamkan minuman keras, maka para sahabat menumpahkan minuman keras mereka dari tempat-tempatnya sehingga tergenang di jalan-jalan. Dan karena itulah dalam perjalanan menuju masjid, kaki-kaki para sahabat menyentuh minuman keras yang menggenang di jalanan. Dan dalam kondisi demikian mereka mendirikan shalat berjama’ah

.

AS / israel tunggangi Gerakan Wahabi

wahabi adalah perpanjangan tangan dari AS / zionis yang berupaya memanfaatkan indonesia agar loyal kepada kafir asing

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

NU Melawan Wahabi

Kondisi Indonesia dewasa ini begitu labil, bangsa yang terkenal dengan peramah sekarang lebih kental dengan pemarah, mudah di adu domba dan diintervensi asing. Bangsa asing begitu bebas mengintervensi internal bangsa, mulai politik, keuangan hingga agama. Pejabat dan para pemangku penting urusan bangsa lebih peduli diri sendiri dan kelompoknya atau partainya dari pada urusan bangsa. Banyaknya kasus korupsi adalah bentuk nyata ketidakpedulian itu.

Memang masalah bangsa ini begitu semerawut, mulai bangsa asing yang diberi kesempatan luas menguasai Sumber Daya Alam, kebijakan-kebijakan strategis bangsa yang lebih banyak memihak para pemodal (bangsa asing tentunya pemodal paling besar), hutang negara yang kian menumpuk, hingga moral anak bangsa dan pejabat yang kian parah.

Meski susah dibenahi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Bangsa yang besar ini mesti harus tetap optimis menatap masa depan yang lebih membanggakan. Bangsa yang optimis pasti bertahan dan menang melawan krisis!

Bangsa Indonesia masih memiliki pewaris-pewaris bangsa yang cerdas, orang-orang gigih yang masih mencintai negaranya, para pahlawan bayangan yang bekerja tanpa pamrih juga ormas-ormas yang masih konsisten manjaga negaranya dari kehancuran. Dari merekalah bumi pertiwi ini berharap, para pahlawan sekarang dan masa depan!

Di antara elemen bangsa yang konsisten berjuang dari sekian banyak itu adalah Nahdhotul Ulama (NU). Tentunya NU secara umum tanpa melihat oknum yang justru mencoreng nama besar NU itu sendiri.

Menyimak beberapa ceramah dan kiprah beberapa tokoh NU di beberapa tempat, konsistennya mereka menjaga harga diri dan keutuhan NKRI ini terlihat jelas. Ulama-ulama NU melihat, diantara masalah utama yang sedang diahadapi bangsa ini adalah ancaman ideologi Wahabi. Bahaya dan ancaman golongan Wahabi Takfiri ini sudah terjadi di negara-negara mayoritas muslim. Dimana teror, perpecahan dan saling mengkafirman menjadi ciri utamanya.

Saat harlah ke-86 NU yang digelar oleh PCNU Kabupaten Tegal, Ahad (4/3), Khatib Syuriyah Pengurus Wilayah Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh, menyampaikan tausiyah dihadapan ribuan pengunjung tentang peranan NU bagi Indonesia dan ancaman bangsa ini kedepan.

Beliau mengatakan, Jika Nahdlatul Ulama bubar maka Indonesia juga akan bubar, ini adalah bukti sejarah sejak NU didirikan, siapa yang pertama kali menerima asas tunggal negara ini, siapa dibalik pertempuran 10 November di Surabaya, siapa yang pertama kali mengeluarkan Resolusi Jihad untuk melawan Belanda dan masih banyak lagi bukti yang lain kontibusi NU kepada bangsa. Tidak ada sejarahnya NU melakukan pemberontakan terhadap negara ini.

“Insya Allah jika NU baik maka negara ini baldatul toyibatun warobbun ghofur, apa sih yang kurang dengan NU. Kebudayaan juga ada, bagaimana Islam itu bisa disebarkan lewat budaya, tidak sedikit-sedikit haram,“ tuturnya.

Beliau pun menyinggung peranan Walisongo dan kebudayaan yang mereka wariskan. Menurutnya dakwah sekarang harus mengembangkan ajaran-ajaran Walisongo, Islam yang diajarkan oleh Walisongo begitu damai dan indah. Perpaduan antara adat, budaya dan tatanan norma, dengan ajaran Islam begitu dipahami betul oleh para Walisongo, sehingga Islam di Jawa ini dapat besar dan menjadi penduduk mayoritas.

Islam Times pernah memuat riview buku, berjudul “Walisongo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan”, Agus Sunyoto.  Sebagai jawaban dari buku Ensiklopedi Islam terbitan Van Hoeve yang menghilangkan sejarang Wali Songo dan menggantikannya dengan tokoh-tokoh ulama Wahabi.

Kiai Ubaidillah juga mengingatkan, supaya menjaga kerukunan jangan sampai bercerai berai, kalau kita bercerai berai maka tidak akan ada kemajuan, hanya soal pilkada atau pil-pil yang laianya saja kita saling bermusuhan, orang NU tidak boleh seperti itu, kalau sudah memilih bupati atau gubernur juga harus mendapingi agar selalu memberikan yang terbaik dan memegang amanah, karena jabatan hanya sebentar.

Menurutnya, semakin indonesia ruwet dan hancur maka semakin banyak orang yang senang.

“Saya juga bingung katanya tidak suka dengan Amerika tetapi malah yang di bom Masjid dan kantor polisi. Ini apa? Kalau tidak disebut bohong apalagi. Untuk itu Ansor dan Banser harus siap dengan segala kemampuanya, suatu saat negara membutuhkan,“ harapnya.

Dalam kesempatan yang sama Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tegal, dalam khutbah iftitahnya yang diwakili oleh Wakil Rais Syuriyah KH Ainur Rofiq mengharapkan, supaya warga NU tetap komitment membangun bangsa dan negara dengan nilai-nilai yang luhur, serta membangun gerasi muda yang tangguh agar tidak terjebak pada lingkaran yang akan menyesatkan.

“Teroris adalah bentuk jebakan terhadap kesesatan, NU dibangun dengan landasan yang kuat . dalam menjalankan amalan tetap berpegang tegus pada sumber hukum Islam yang empat yaitu, Qur’an, Hadist, Ijma dan Qiyas, jadi NU tidak mungkin menjadi teroris,” tuturnya .

Sementara itu Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal H Akhmad Wasy’ari juga menegaskan, musuh NU adalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, terorisme dan yang gampang mengkafirkan golongan lain (Wahabi Takfiri).

“Ini adalah musuh kita bersama yang harus dilawan di manapun berada. Musuh kita itu bukan orang yang berbeda organisasi,” tegasnya.

Perang terhadap pemikiran Wahabi juga gencar dilakukan oleh PCNU Pamekasan, dengan menerbitkan buletin Aswaja yang di sebar ke masyarakat, dan samapai sekarang sudah sampai edisi ke tujuh. Karena umumnya di Jawa Timur dan khususnya di Madura, pemikiran Wahabi mulai merusak warga NU dan menyusupi organisasi-organisasi NU. Bahkan ada tokoh ulama NU tapi pemikirannya Wahabi.

Mengutip NU online, di Pamekasan pemikiran wahabi bukan hanya menyusupi masjid-masjid bahkan sudah masuk ke sekolah. Oleh karenanya, buletin Aswaja didistribusikan ke sekolah-sekolah dengan membangun kerja sama erat dengan kepala sekolah.

Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), KH Syamsul Ma’arif di hadapan ribuan jamaah yang memadati Masjid Al-Munawwaroh Ciganjur Jakarta, (3/2). Juga mengatakan hal yang sama, menurutnya warga Nahdliyin harus bersatu padu untuk menangkal semakin merebaknya faham wahabi yang meresahkan masyarakat. Warga Nahdliyin tidak boleh egois dan saling bersengketa dengan sesama pengamal Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Apa pun kepentingan yang masuk melalui Warga Nahdliyin, jangan sampai kita saling bertengkar karenanya. Orang lain di luar NU akan bertepuk tangan gembira bila sesama warga NU saling bermusuhan hanya karena urusan Pilkada misalnya,” tutur Syamsul.

“Jangan sampai warga nahdliyin bertikai dengan sesamanya. Apalagi malah mengasingkan diri dari masyarakat. Warga Nahdliyin harus menyatu dengan , masyarakat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat manapun,” tandasnya.

Ketua PBNU, Said Aqil Syiroj dalam beberapa kesempatan juga menegaskan supaya warga NU memeperkuat diri dari ancaman pemikiran Wahabi dan harus memeranginya. Menurutnya jika ideologi yang mudah mengkafirkan orang lain tumbuh di Indonesia, maka akan mengancam kebhinekaan dan persatuan yang sudah menjadi ciri bangsa Indonesia.

Wakil PBNU: Bahaya Wahabi Mengancam

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H As’ad Said Ali meminta kepada segenap pengurus dan warga NU untuk mewaspadai gerakan Wahabi di lingkungan masing-masing.

Dirinya menengarai, saat ini gerakan Wahabi tidak masuk di tengah-tengah masyarakat saja, akan tetapi telah masuk ke jajaran pemerintah, sehingga pemerintah nampaknya tidak berdaya menghadapinya.

Hal tersebut dikatakan wakil ketua umum PBNU saat berdiskusi dengan jajaran Pengurus Cabang NU Kota dan Kabupaten Pekalongan, Ahad sore  (25/3) di Gedung Aswaja Pekalongan.

Lebih lanjut dikatakan, Gerakan Wahabi selain membid’ahkan amaliyah warga nahdliyyin, juga berusaha sekuat tenaga merebut posisi strategis di tengah tengah masyarakat maupun di jajaran eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Oleh karena itu, dirinya meminta kepada warga nahdliyyin melalui pengurus NU di semua tingkatan untuk merapatkan barisan dengan cara memberikan pencerahan secara rutin kepada warga nahdliyyin tentang amaliyah yang diajarkan oleh para ulama NU bukan merupakan perbuatan bid’ah.

Dan yang lebih penting, menurut As’ad, adalah memberikan pengertian secara komprehensif kepada warga NU tentang bahaya gerakan Wahabi baik bagi Nahdlatul Ulama dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara itu, dalam sesi dialog salah satu peserta meminta kepada PBNU untuk kembali mempertegas gerakan NU sebagaimana yang tercantum dalam Mukadimah Qonun Asasi yang dibuat oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama, dengan cara ini NU akan bisa selamat dan warga nahdliyyin yang ada di bawah tidak ragu lagi untuk berbuat dan bertindak.

“Selama ini, PBNU belum melakukan aksi apapun, kecuali hanya wacana belaka, sementara di bawah gerarakan wahabi semakin mengkhawatirkan,” ujar Muhibbin.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua PCNU Kota Pekalongan Drs. H. Ahmad Marzuki. Dikatakan, warga nahdliyyin di Pekalongan dan sekitarnya mulai resah atas sikap dan gerakan Wahabi, akan tetapi sampai saat ini belum ada petunjuk apapun dari PBNU, bagaimana NU di cabang harus bersikap dalam menghadapi gerakan ini.

Dewan Ahlul Bait Sedunia Mengutuk Fatwa Ulama Wahabi

Dewan Ahlul Bait Sedunia mengutuk fatwa terbaru yang dikeluarkan oleh pejabat keagamaan Arab Saudi, yang menyerukan penghancuran semua gereja di Semenanjung Arab. Tujuan wahabi adalah pro AS / israel namun anti gereja

Fatwa terakhir Mufti Agung Sheikh Abdulaziz bin Abdullah dikeluarkan sebagai respon terhadap keputusan parlemen Kuwait pekan lalu, yang melarang pembangunan gereja-gereja baru di negara itu.

“Mengingat negara Teluk Persia kecil dan merupakan bagian dari Semenanjung Arab, maka perlu untuk menghancurkan semua gereja-gereja di wilayah itu,” kata Sheikh Abdulaziz seperti dilaporkan media Arab.

Dewan Ahlul Bait Sedunia dalam sebuah pernyataan pada Selasa (27/3) mengatakan, “Pertama-tama, Mufti Wahabi tidak mewakili Islam. Dunia harus tahu bahwa agama yang sekarang sedang dipublikasikan di Arab Saudi, bukan Islam yang sesungguhnya.”

Pernyataan itu menambahkan bahwa isi fatwa baru tersebut bertentangan dengan perintah Allah Swt serta sunnah Nabi Muhammad Saw dan keturunannya. Oleh karena itu, ditolak tidak hanya oleh komunitas Syiah, tetapi juga oleh Muslim Sunni.

Dewan itu mencatat bahwa sepanjang sejarahnya, Islam telah hidup berdampingan dengan umat Kristen dan Yahudi dan fatwa seperti itu tidak pernah dikeluarkan oleh Rasul Saw, keturunannya, dan khalifah Islam selanjutnya.

“Selain Rasul Saw, keturunannya, dan para sahabat, juga tidak ada ulama yang pernah mengeluarkan fatwa seperti itu selama 1.400 tahun terakhir,” tambahnya.

“Karena itu, Mufti Agung Wahabi telah mengeluarkan fatwa di luar kerangka yurisprudensi Islam dan belum pernah dikeluarkan oleh pusat-pusat ilmiah besar umat Islam,” tegas pernyataan itu.

Menurut Dewan Ahlul Bait Sedunia, fatwa tersebut juga merupakan intervensi terang-terangan dalam urusan internal negara-negara Muslim lainnya, karena Mufti Saudi mengeluarkan fatwa tidak hanya terbatas untuk wilayah Saudi, tapi sudah termasuk Semenanjung Arab secara keseluruhan.

Dewan Ahlul Bait Sedunia juga mengecam sikap bungkam para cendekiawan Muslim dalam menanggapi fatwa yang merusak citra Islam itu.

“Bukankah ulama dari berbagai mazhab di Mesir, Irak, Tunisia, Suriah, Lebanon, Yaman, Jazirah Arab dan belahan dunia lain, seharusnya mereaksi fatwa yang memberikan gambaran tidak benar mengenai Islam di dunia?” tanyanya.

Di akhir pernyataannya, Dewan Ahlul Bait Sedunia mengkritik organisasi internasional hak asasi manusia serta pemerintah Barat dan Kristen atas dukungan mereka terhadap radikalisme kelompok Wahabi.

MIUMI: Kaum Syiah Bertobatlah, Jangan Menodai Qur’an & Shahabat ??

 1/11/2012 01:57:00 PM

Syekh Wahbah Azzuhaili (kiri), Ayatollah Ali Taskhiri (tengah), KH Tolhah Hasan (kanan)
.
“Nahdlatul Ulama (NU) itu Syiah minus Imamah. Syiah itu NU plus Imamah.” Demikian pernyataan populer almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), cendekiawan NU. Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah. Bahkan peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan posisi Imam dalam tradisi Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud budaya, sementara di Syiah dalam bentuk teologi. Ini substansi pernyataan Gus Dur di atas.
.
Namun sangat memprihatinkan, baru-baru ini terjadi tindak kekerasan terhadap muslim Syiah di Sampang, Madura, salah satu basis NU. Sebuah pesantren Syiah dibakar massa karena aliran itu dinilai sebagai ajaran sesat. Tindak serupa ini bukan yang pertama, baik di Madura maupun di daerah lain di provinsi yang sama, Jawa Timur. Sebelumnya, di Bondowoso, Pasuruan, Malang, dan Bangil pernah terjadi penyerangan terhadap muslim Syiah.
.
Eskalasi ini terjadi kira-kira dalam tempo empat tahun terakhir. Seharusnya ini menjadi catatan tersendiri bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur beserta jajaran keamanannya untuk mengantisipasi dan mencari solusi. Sebelum eskalasi konflik terjadi, horizon keislaman di Jawa Timur sangat kondusif. Aroma Islam toleran sangat kuat di provinsi ini. Kekhasan corak keislaman seperti ini tak lepas dari akar budaya Nahdlatul Ulama (NU) yang tertanam kuat.
.
Said Agil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar NU, menegaskan bahwa selama ini Madura memiliki preseden positif soal hubungan antara muslim Sunni dan Syiah. Said mensinyalir kejadian ini diletupkan pihak ketiga yang ingin merusak keharmonisan tersebut.
.
Sunni-Syiah saudara
.
Secara substansial, hubungan antar muslim Sunni dan Syiah tidak memiliki rintangan signifikan bagi terjalinnya keharmonisan. Karena dua mazhab dalam Islam ini justru memiliki banyak titik kesamaan ketimbang perbedaan. Teologi Syiah dan Sunni tidak memiliki perbedaan mendasar. Baik dalam hal konsep ketuhanan (tauhid), kenabian, kitab suci Al-Quran, maupun kepercayaan akan hari akhir dan persoalan teologis lainnya. Ini bisa dirujuk pada literatur teologi dan juga filsafat dari keduanya. Bahkan keduanya sering dipertemukan pada tokoh yang sama dengan pemikiran yang sepaham.
.
Kajian tentang dialog Sunni-Syiah semakin intensif menemukan banyak kesamaan di satu sisi, dan menyadari bahwa perbedaan yang selama ini digaungkan sebenarnya tidak menyangkut aspek yang fundamental dari ajaran masing-masing. Namun, sayangnya, semakin dekatnya persaudaraan antara pemikiran Syiah dan Sunni ini hanya berhenti pada tataran elite. Umat secara mayoritas belum diberi asupan dakwah yang memadai tentang persaudaraan Sunni-Syiah. Ibarat piramida, di pucuk sebenarnya bertemu, namun di bawah terpisah jauh. Karena itu, yang berkembang di tingkat massa justru kesalahpahaman satu dengan yang lain. Mulai soal teologi hingga syariah. Di antaranya, kesalahpahaman bahwa Al-Quran Syiah dan Sunni berbeda, soal nikah mut’ah, penghormatan kepada sahabat, tata cara ibadah salat, dan lain sebagainya.
.
Pada tingkat “elite”, kesalahpahaman ini dianggap tidak berdasar secara akademis, bahkan sekadar asumsi belaka. Namun, faktanya, kesalahpahaman ini fundamental, signifikan, dan berefek besar. Walhasil, ada jurang pemisah yang lebar antara proses dialog akademis pada tingkat intelektual dan pemahaman umat mayoritas. Ini terjadi karena belum dilakukan strategi dakwah yang secara serius berupaya untuk “membumikan” proses dialog yang terjadi pada tingkat “langit” tersebut. Kalaupun ada, hanya berupa produk buku dan produk akademis elitis lainnya. Padahal massa pada tingkat bawah memiliki “bahasa” tersendiri. Metode dakwahnya seharusnya dilakukan secara lebih sederhana.
.
Pendekatan kultural
.
Sangat menarik bahwa ternyata, secara kultural, banyak tradisi keislaman yang dipraktekkan di Indonesia memiliki akar pada ajaran dan tradisi Syiah. Tradisi Tabok dan peringatan bulan Muharam adalah salah satu contohnya. Tradisi ini sudah berkolaborasi dalam berbagai budaya: Jawa, Sulawesi, maupun Sumatera. Pada tanggal 10 Muharam, kita bisa melihat gelaran tradisi tersebut dalam berbagai wajah budaya, namun satu substansi. Artinya, secara kultural masyarakat Indonesia memiliki ikatan sosiologis dan historis yang kuat dengan ajaran Syiah.
.
Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan: pertama, bahwa di Indonesia pada dasarnya sudah terjalin harmoni yang kuat dan berlangsung berabad-abad antara Sunni dan Syiah. Demikian kuatnya hingga menyatu dalam sebuah tradisi bersama. Kedua, budaya adalah medium yang paling efektif sebagai pintu dialog dan harmoni. Sejauh ini, jalinan dialog dan harmoni Syiah-Sunni kurang memaksimalkan perangkat budaya sebagai mediumnya. Padahal dalam budayalah kita menemukan jejak-jejak harmoni antara muslim Sunni dan Syiah Indonesia.
.
Budaya sangat efektif untuk menerjemahkan hasil dialog akademis pada tingkat intelektual ke dalam bahasa-bahasa yang sederhana yang mudah dicerna oleh umat secara keseluruhan. Dan berbagai kesalahpahaman yang terjadi antara umat Islam Sunni dan Syiah Indonesia, salah satunya, disebabkan oleh absennya budaya sebagai perangkat dakwah dan dialog. Perangkat hardware (teologi, syariah, fiqh) lebih dikedepankan ketimbang software (budaya, akhlak, moral). Padahal yang kedua justru lebih efektif untuk membangun harmoni. Absennya budaya ini menciptakan sebuah “ruang kosong” yang menjadi jurang pemisah antara dialog akademis (elite agama) dan umat.
.
“Ruang kosong budaya” inilah yang kemudian diisi dan dimanipulasi oleh pihak atau kelompok tertentu, dengan kepentingan tertentu pula, untuk menciptakan kesalahpahaman-kesalahpahaman antara muslim Syiah dan muslim Sunni. Sebagaimana ditegaskan Said Agil Siradj. Dengan memanfaatkan “ruang kosong budaya” tersebut, pihak ketiga tersebut merekonstruksi sebuah pemahaman yang saling menyesatkan antara Sunni dan Syiah, sehingga muncul kecurigaan, kebencian, dan motif untuk berkonflik di antara keduanya.
.
Ke depan, agenda yang sangat penting untuk dilakukan adalah penelitian komprehensif, baik kualitatif maupun kuantitatif, tentang peta kesalahpahaman tersebut. Bagaimana proses terbangunnya kesalahpahaman itu, seperti apa pola dan modusnya, seberapa jauh efek sosial-kulturalnya?
.
Sebab, menurut saya, di tiap daerah, kesalahpahaman yang berkembang tidak sama karakteristiknya. Di beberapa provinsi, kesalahpahaman yang berkembang lebih kuat pada isu teologis, seperti kecurigaan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda. Sedangkan di provinsi lainnya, kesalahpahaman lebih mengarah pada aspek ibadah dan fiqh. Ini menunjukkan bahwa ada karakteristik yang berbeda, yang menimbulkan efek kesalahpahaman yang juga berbeda.
.
Dengan bekal pemetaan, kita bisa mendiagnosis “penyakit” kesalahpahaman ini. Setelah semua diketahui, akan lebih mudah untuk memberikan “obatnya”. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan budaya. Peta kesalahpahaman dapat dijadikan sebagai blueprint proses dialog Sunni-Syiah. Jadi, harus ada sebuah kajian dan penelitian yang komprehensif terhadap persoalan ini, sebagai bagian dari upaya dialog Syiah-Sunni. Walhasil, konflik yang terjadi di Sampang bisa dilihat dari sudut pandang ini. Konflik ini sengaja dilecutkan oleh pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan “kosongnya budaya”.

MIUMI: Kaum Syiah Bertobatlah, Jangan Menodai Qur’an & Shahabat

 Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia mengimbau para pengikut Syi’ah agar bertobat dari kesesatan Syi’ah dan kembali ke jalan Islam yang benar. Kesesatan Syi’ah adalah menistakan pokok-pokok keyakinan Ahlus Sunnah terkait status Al-Qur’an, kehormatan para Sahabat dan Isteri Rasulullah SAW, kema’shuman imam, dan juga sebagian aspek syari’ah Islam

Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengapresiasi fatwa MUI Kabupaten Sampang dan MUI Propinsi Jawa Timur tentang sesatnya ajaran Syi’ah.

Pernyataan MIUMI Tentang Kesesatan Ajaran Syiah ??

Rabu, 28 Maret 2012 11:17 Redaksi

E-mail Cetak PDF

Jakarta –

Umar Shihab Tinggalkan Rapat karena Wahabi cuma Tukang Semir Sepatu AS/Israel

Ada yang menarik dalam pertemuan antara MIUMI dengan MUI, Selasa (27/3) kemarin.

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

Di saat bersamaan hadir pula Umar Shihab, salah seorang ketua MUI yang memang terkenal pro terhadap Syiah. Umar Shihab pun begitu seksama mendengarkan paparan Ustadz Farid Okbah. Namun lama kelamaan Umar Shihab memilih keluar dari ruangan rapat ditengah para pengurus lainnya setia mendengarkan. Tadinya para wartawan menduga, Umar hanya keluar untuk kepentingan sementara, namun hingga usai pertemuan pada pukul 12.30, wajah Umar Shihab tidak kunjung muncul.

Tidak ada keterangan resmi mengapa Umar Shihab memilih meninggalkan ruangan. Para wartawan yang setia menunggunya pun tidak bisa mengkonfirmasi terkait hal ini.

Sebelumnya, salah seorang ketua MUI, KH Anwar Abbas mengatakan umat Islam perlu mewaspadai beasiswa-beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Iran. Sebab melalui beasiswa pendidikan itulah, Syiahisasi dilakukan. “Saya yakin kalau mereka kembali sudah berubah jadi Syiah,” katanya.

Tokoh Muhammadiyah itu lantas bercerita pengalaman Profesor Amir Syarifudin ke Iran. “Saat berkunjung ke Iran, Prof Amir Syamsuddin bertanya kamu masih Sunni atau sudah Syiah? Mahasiswa itu menjawab, ya sudah Syiah donk Pak,” kata Kiyai Anwar Abbas menirukan jawaban mahasiswa.

Kyai Anwar juga mencium aroma penjinakan yang dilakukan pemerintah Iran kepada tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan cara mengundang mereka datang ke Iran. “Saya sudah mencium, kita kalau diundang ke sana dalam rangka penjinakan,” tambahnya

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah  selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Allahu Akbar…

Oknum MUI berniat  mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Gerakan anti syi’ah di tubuh NU dan Muhammadiyah tidak lebih dari upaya merebut kursi ketua Umum NU dan merampas kursi ketua Umum Muhammadiyah…

MIUMi bergerak cepat sebelum 2014, di back up oknum MUI Pusat melakukan trik trik murahan ini..

Ketua PBNU: Waspadai Gerakan Wahabi

  • Monday, February 6, 2012, 11:32

UMMATONLINE.NET –

Gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj dalam bedah buku  sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2/2012).

Wahabi memiliki dua fraksi :

1. Salafi dakwah, misal : penulis web syiahindonesia.com, Farid Ahmad Oqbah

2. Salafi jihadi, misal : Amrozi, Imam Samudera, Noordin M Top, Doktor Azahari, Abubakar Ba’asyir

MUI, NU dan Muhammadiyah coba disusupi Wahabi dengan misi pro AS/israel

Gerakan anti syi’ah ditubuh NU, Muhammadiyah dan MUi bertujuan :

1. Mewahabikan indonesia (gerakan trans nasional) pro AS/israel

2. Merebut jabatan ketua umum NU / Muhammadiyah

3. Menggagalkan niat  muslimin sunni untuk mengangkat Ketua Umum NU dan Muhammadiyah menjadi CAPRES RI 2014, mereka ingin mengusung CAPRES pro wahabi

4. Sebagian dari mereka didanai AS / israel / Saudi

.

Resolusi Jihad NU: “Wahabi Aliran Sesat, Harus Ditumpas”?

OPINI | 10 December 2011 | 04:07

begitulah bila membaca, menyimak tulisan tulisan anti Wahaby yang mendominasi ruangan situs situs NU, seperti sedang menabuh Genderang Perang, sesama anak anak bangsa.

Sebagaimana tercermin dalam tulisan tulisan para tokoh tokoh elit NU, ada kesengajaan menabur angin, mengoreksi, mengkritisi, memaki dan menuduh ulama ulama wahaby banyak melakukan “PENIPUAN TERHADAP UMAT” ? ,

wahaby adalah illegal action, teroris, vampire yang haus darah  atau wahabi laksana bajak laut yang berkeliaran dilaut lepas, memburu buruannya: “Wahabi  harus ditumpas”, kilahnya begitu.

Entah kenapa sehingga begitu semangatnya “Anti Wahaby” menggelegar, menggelora , membakar dan mengaduk aduk dada elita  elita NU, dengan semangat kebencian telah melahirkan sikap sikap yang tidak elegan dan picik memahami perbedaan,  tak rela rasanya kalau ada umat Islam memahami Islam versi Wahaby, sehingga berkonotasi “yang berbau wahabiyah pasti salah”, yang benar menurut versi NU, hanya metode beragama yang dikembangkan NU. Hal itu dimuat oleh sebuah situs Resmi “Nahdhatul Ulama” , diantaranya:

    1. Organisasi Tarekat NU Mesir Waspadai Bahaya Laten Wahabisme
    1. Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi
    1. Hubungan dengan Saudi Perlu Ditinjau Ulang
    1. Buku “Pintar Berdebat dengan Wahabi” Dibedah, Sejumlah Pengikutnya Sadar
    1. Karya Nawawi Al Bantani Kukuhkan Doktrin Aswaja atas Wahabi
    1. Waspadai Buku Sejarah yang Beredar
    1. Jaga Generasi Muda dari Ajaran Fundamental
    1. Salafi Jihadi
    1. Salafi
    1. Sejarah “Hitam” Kaum Wahabi
    1. Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan (1)
    1. Bentengi Wahabi, Sekolah Maarif Perlu Miliki Komisariat IPNU-IPPNU
    1. Warga Hentikan Pengajian Wahabi di Masjid
    1. Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi
    1. Kang Said: Waspadai Yayasan Pendidikan dari Arab
    1. Tunas Radikalisme dari Najd
  1. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Itulah doktrin NU kepada anNahdhiyyin, menyerukan Jihad memerangi tukang semir sepatu AS/israel

Konsep NU memandang wahaby adalah sekte yang membahayakan Islam berdasarkan prinsip prinsip telaah pemahaman NU tentang Agama.

wahabi doktrin yang membahayakan Umat  justru bisa memecah belah Umat menjadi berkeping keping seperti pecahan kaca yang berserakan di jalan. Tatapan amarah dan buas terhadap Wahabi mencerminkan NU yang pernah hidup Tenpo doeloe, masa lahirnya orma islam, sebelum lahirnya NU itu sendiri.

Sejarah itu terulang kembali sebagai episode dari “kebencian” yang tidak tercapai sejak tahun 1912. Penghujatan terhadap “wahabi” merupakan “bara api” yang tersimpan dan terasa selama puluhan tahun. Kini saatnya NU menjadi pemuja perdamaian ala ke-NU-an dengan berdamai dengan syiah, tentunya merupakan Usaha NU yang paling sepaktakuler di abad ini memerangi pemahaman Islam yang dirasakan merongrong NU.

=Salam Damai=

Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Ketua MIUMI Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir Lc. MM.

MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) sesat menyesatkan !!! Ngga ngerti syi’ah

Siaran Pers MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI) karena keawaman ilmu saja

…………………………………………………………..

MINGGU, 24 JULI 2011

Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?


Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.”
.
Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid
.
“Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Saya khawatir, Syiah akan menjadi sasaran berikutnya. Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah
.
Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi
.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

.

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama

.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

.

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan

.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

.

MINGGU, 24 JULI 2011

PROF.UMAR SHIHAB (KETUA MUI) : SYI’AH MAZHAB YANG SAH DI DALAM ISLAM


Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Sy’iah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut Syi’ah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 ,
.
Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat iniRombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.Apakah berita sidang pleno MUI setelah kunjungan resmi ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib hanya dusta dan fitnah atau benar adanya, seperti yg di tulis saudara Kholili Hasib di atas?
.
Sementara MOU itu adalah resmi atas nama Lembaga MUI dan bukan perorangan, beginilah sejatinya kelompok takfir selalu memprovokasi awam dengan berbagia info dan berita yg menyesatkan demi menjalankan agenda musuh2 Islam melalui adu-domba dan pecah-belah Ummat agar Islam lemah dari dalam.
_____________________________________________________________________________________________________________
Setelah MOU antar MUI dan Majma’ Taqrib baynal Mazahib Islamiyah akan keabsahan mazhab Ahlussunah dan Syi’ah (28 April 2011) maka MUI sudah sepantasnya untuk meninjau kembali Fatwa 1984 yg sekarang menjadi dasar pembenaran terjadinya anarkhisme terhadap muslim syi’ah dan mengajak Ulama Syi’ah dan ormas2 Islam untuk merumuskan kembali tentang makna Ukhuwah Islamiyah
.
Dan terpenting adalah Fatwa eksplisit dulu dari MUI bahwa Sunnah-Syi’ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah, agar siapa saja yg ingin berlaku anarkhis mentasnamakan mazhab maka akan berfikir seribu kali, tak jadi soal Fatwa itu efektif atau tidak yg jelas dgn keluarnya fatwa eksplisit dan tegas MUI berperan sebagai pengayom dan pemersatu umat dan bukannya termakan hasudan dan fitnahan dari kelompok takfir lintas mazhab yg lambat-laun akan merobohkan bangunan NKRI dengan konflik horisontal yg mereka lestarikan.UKHUWAH ISLAMIYAH :
.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalaupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama

.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

.

SABTU, 23 JULI 2011

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 23 di Teheran


Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam Ke-23 Teheran 15-17 Rabiul Awal 1431 HSegala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya
.
Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism
.
Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau
.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat
.
Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya
.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah

.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya

.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini

.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll

.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:

a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.

d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.

e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.

f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.

g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.

h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.

i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.

j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi

.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini

.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

RABU, 20 JULI 2011

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam


Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.
“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin
.
Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia
.
Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)
.
Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi
.
“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya
.
Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.
“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)
.

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab


Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju
.
Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syi’ah.Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Buhairah, Mesir
.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H. menjadi mufti umum Al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.Syekh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syi’ah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.

Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syi’ah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayyid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar Al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah Al-Islam”.

2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syi’ah, yang berhubungan dengan pendekatan antar mazhab.

3. Memasukkan fikih Syi’ah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.

4. Dan, yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti Al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu. Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiyah)?

Syekh Syaltut menjawab,

1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.

2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syi’ah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib

Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar Al-Taqrib bayna Al-Madzahib Al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syi’ah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar

Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jum’at tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

Nahju Al-Qur’an fi Bina Al-mujtama’

Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah

Al-Fatawa

Al-Qital fi Al-Islam

Min Tawjihat Al-Islam

Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh

Fiqh Al-Qur’an

SYEIKH AL-AZHAR, DR. AHMED AL-TAYEB: SERUKAN UMAT ISLAM BERSATU


Sheikh – Azhar Dr Ahmed Al-Tayeb meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tentang perlunya melakukan kebijakan keadilan dan menghentikan kebijakan standar ganda tentang isu-isu Islam dan bangsa Arab.hal ini harus ditunjukkan dengan keseriusan dan tanggung jawab.keadilan yang berhubungan dengan masalah Palestina dan isu utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh rakyat Palestina.Syaikh Al-Azhar dalam sambutannya pada pembukaan Global Forum ke lima untuk lulusan Al-Azhar pada Sabtu malam, yang berlangsung selama empat hari.Pendekatan sejarah Al-Azhar yang cukup panjang untuk mempertahankan Islam yang benar dan untuk membela serta menyebarkan keadilan, keamanan dan perdamaian di antara semua agama dan mengutuk kekerasan
.
Syekh Al Azhar dalam sambutannya mengatakan Islam moderat menghadapi ekstremisme,” afiliasi dalam beberapa pelaku kekacauan serta penyebaran kekerasan dan doktrin terhadap Islam, hal ini tidak mencerminkan realitas pemikiran Islam, yang menyerukan sentrisme, moderasi, yang berhubungan dengan non-Muslim.Syekh Al Azhar menekankan tentang kebutuhan umat Muslim karena menderita diskriminasi untuk kembali kepada satu pemahaman dan menjauhkan dari perbedaan ideology, dalam rangka mencapai kesatuan muslim dan kekuatan baru islam.Syekh Al Azhar juga mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab, keadilan yang menyangkut status Palestina serta untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dari penindasan bangsa Israel.

 

Fakta Gerakan Salafy Meresahkan Ummat

Banyak laporan yang dikeluhkan umat dan gerakan Islam dengan keberadaan Salafy — demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Meski di kalangan Salafy sendiri terjadi perpecahan dalam menyikapi ijtihad tertentu, namun kebanyakan umat tidak memahami peta islam

Bukan sekali terjadi, benturan antara Salafy dengan gerakan Islam yang ada. Sehingga menimbulkan gelombang penolakan. Di Lippo Cikarang, kajian Salafy terpaksa diliburkan selama sebulan, karena adanya tekanan (ancaman) dari kelompok tertentu untuk membubarkan halaqah ini. Kemudian di Matraman, Jakarta, pernah terjadi penyerbuan kelompok jamaah dzikir yang dipimpin oleh seorang Habaib, terhadap masjid jamaah Salafy.

Gelombang penolakan juga terjadi di luar Jawa, di Lombok Barat (NTB), sudah beberapa kali terjadi perusakan fasilitas milik ”penganut” Salafy oleh warga setempat. Akibat kesalahpahaman di kedua belah pihak, warga di Dusun Mesangguk, Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok, menyerang jamaah Salafy dengan lemparan batu. Sebelumnya, November 2005, ribuan warga Desa Sesela menyerbu Yayasan Pondok Pesantren Ubay bin Kaab di Dusun Kebon Lauk.

Ketua Komisi Pengkajian Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Amin Djamaluddin mengaku bahwa Salafy pernah mendatanginya. Mereka meminta agar LPPI menjelaskan kepada masyarakat, bahwa Salafy bukanlah ajaran sesat.

Cara dakwah yang dilakukan kelompok Salafy, membuat umat Islam resah, dan mendesak MUI mengeluarkan fatwa tentang keberadaan Salafy. Sesatkah Salafy? ”Salafy bukan merupakan sekte atau aliran sesat. Salafy, tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh MUI. Demikian fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Utara tanggal 8 April 2009. Fatwa yang ditandatangani oleh Qoimuddien Thamsy (Ketua Umum MUI Jakarta Utara) dan Drs. Arif Muzakkir Manna, HI (Sekretaris Umum) tersebut, setidaknya melegakan kelompok Salafy.

K

KENAPA SALAFY – WAHABY DIKECAM ?

Lantas, apa yang membuat kelompok Salafy dikecam? Karena kelompok Salafy kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Inilah yang menimbulkan tenaga gelombang itu membesar.

Salafy acapkali mencela ulama seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, Hasan al-Banna, Taqiyuddin An-Nabhani, Sayyid Quthb, Ahmad Yasin, ’Aidh al-Qarni, Yusuf al-Qaradhawi dan sebagainya. Sementara gerakan Islam yang diserang Salafy diantaranya: Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, FIS Al-Jazair, tak terkecuali Persis, NU,  Muhammadiyah, Majelis Mujahidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan sebagainya.

Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar keluar dari mulut kaum Salafy. Dengan enteng, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khawarij, pemberontak, ruwaibidhah (dungu), ahlu takfir, gerakan sempalan sesat, serta teroris, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya.

Salafy punya julukan tersendiri terhadap gerakan Islam yang berseberangan dengannya. Seperti Quthbiy (penganut paham Sayyid Quthb), Sururi (penganut paham Muhammad Surur ibn Zain al-’Abidin yang menggabungkan paham Salafy dengan Ikhwanul Muslimin), dan hizbi atau hizbiyun (kelompok yang berorganisasi/partai).

Salafy yang merasa dirinya paling benar, sering menuduh tanpa bukti, berdusta atas nama para ulama dan sebagainya. Fitnah pun ditebar di tengah kaum muslimin.

Anehnya,  ketika (ulama) Salafy dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya, mereka tidak rela, bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya. Seabreg kecaman pun tertuju kepada Salafy, ketika kelompok ini anti bicara politik, tidak peka terhadap penderitaan kaum Muslimin, fanatik kepada para syaikhnya, keras menghukumi saudaranya sendiri.

Maling teriak maling, khawarij teriak khawarij. Seperti itulah yang digambarkan Abu Muhammad Waskito dalam bukunya yang berjudul: ”Wajah Salafy Ekstrim: Propaganda Menyebarkan Fitnah & Permusuhan”. Sebutan Salafy ekstrim, karena di antara mereka ada yang terjerumus dalam sikap ghuluw (melampaui batas). ”Jumlah mereka mungkin tidak terlalu banyak, kekuatan mereka juga tidak besar, tetapi suara mereka sangat keras dalam mengobarkan fitnah dan permusuhan,” tulis Waskito.

Yang lebih menyakitkan adalah, di saat warga Gaza dibantai Zionis Israel, ulama Salafy asal Saudi, Syaikh Shalih Al Luhaidan melarang umat berdemo. Bahkan menyebut pendemo itu sebagai khawarij. ”Demonstrasi yang terjadi di jalanan Arab untuk membela warga Gaza termasuk membuat fasad fi Al Ardhi alias kerusakan di muka bumi,” kata Syeikh Shalih.

Sebelumnya, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (ulama Salafy) mengeluarkan fatwa agar kaum Muslimin Palestina hijrah untuk keluar meninggalkan bumi Palestina. Fatwa ini menuai kontroversi di tengah kaum Muslimin.

APALAGI ?

Dengan membabibuta, Salafy ”menyerang” Ikhwanul Muslimin dengan memelesetkannya menjadi Ikhwanul Muflisin (ikhwan yang boke alias tak punya uang). Aroma ”kebencian” pada Ikhwanul Muslimin mencuat tatkala pecah Perang Teluk Babak I. Adalah DR. Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali, yang pertama kali menyusun buku berjudul ”Matha ’in Sayyid Quthb fi Ashab al Rasul” (Tikaman-tikaman Sayyid Quthb terhadap Para Sahabat Rasul). Rabi’ al Madkhali, bahkan mengkritik habis Fi Zhilal al-Qur’an (karya Sayyid Quthb).

Mantan Panglima Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib juga melontarkan cacimaki terhadap Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dengan menyebutnya sebagai ’aduwullah (musuh Allah) dan Yusuf al-Quraizhi (penisbatan kepada salah satu kabilah Yahudi di Madinah, Bani Quraizhah). Ja’far dikritik gurunya sendiri, Syeikh Muqbil di Yaman, yang mengganti celaan itu  terhadap Qaradhawi dengan sebutan Yusuf al-Qaradha (Yusuf Sang Penggunting Syari’at Islam). Tak hanya itu, Hasan al Banna kerap disebut pelaku bid’ah yang akan berakhir di Neraka. Sayyid Quthb disebut pembawa ajaran sesat.

HOBI MENCELA

Tak dipungkiri, banyak umat Islam di Indonesia tak memahami Salafy secara utuh. Umat kadang terjebak dengan penampilan kaum Salafy. Sebagai contoh, sebuah acara Todays Dialogue di Metro TV (2 September 2008), tengah membicarakan topik: ”Islam Radikal Mau Ke mana? Acara itu menghadirkan tiga pembicara, yakni Ustadz Ja’far Umar Thalib, Abdul Moqsith Ghozali (tokoh JIL), dan Nasir Abas (eks anggota JI). Abdul Moqsith Ghazali dan Nasir Abas mewakili pihak yang berseberangan dengan gerakan Islam ”radikal”. Sedangkan Ja’far diharapkan Metro TV menjadi penyeimbang yang mewakili gerakan Islam radikal. Ada skenario, narasumber itu akan dikonfrontasi.

Tapi apa yang terjadi? Ja’far Umar Thalib dalam dialog itu, tidak menunjukkan sikap ”radikal” seperti yang diharapkan Metro TV. Justru sebaliknya, Ja’far dengan berbagai statemennya malah menyerang ”teman seperjuangan”.

Bahkan lebih galak ketimbang dua narasumber lainnya. Apa kata Ja’far tatkala ditanya tentang kelompok-kelompok ”Islam radikal” yang ingin berjuang menegakkan syariat Islam dan negara Islam? Dengan gamblang, Ja’far yang Salafy ini mengatakan,”kelompok-kelompok itu harus diberangus sampai ke akar-akarnya.” Bukan hanya pemirsa yang terkejut, Meutia Hafidh, sang pembawa acara pun bertanya keheranan, kenapa harus diberangus?

Ja’far kembali menjawab, dulu, Khalifah Ali bin Abi Thalib memberangus khawarij. Kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam disebut Ja’far sebagai Ahlul Bughot (pemberontak) karena itu wajib diberangus hingga akar-akarnya. Ja’far pun menyamakan pejuang syariat dengan khawarij, penerap doktrin takfir kepada penguasa Muslim.

Terakhir, dalam sebuah dialog di televisi swasta, Ja’far dijadikan narasumber untuk bicara tentang terorisme. Ia kembali menyerang Sayyid Quthb (tokoh Ikhwanul Muslimin), dan membela Syeikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i. Ja’far mengatakan, semua bentuk radikalisme dan ekstrimisme muncul dari pemikiran Sayyid Quthb.

Yang menarik, adalah ketika terjadi perang pemikiran dalam bentuk buku. Awalnya, (alm) Imam Samudra menulis buku ”Aku Melawan Teroris!”. Seorang ustadz Salafy Abu Hamzah meresponnya dengan menulis pamflet ”Membongkar Pemikiran Sang Begawan Teroris”. Selanjutnya, muncul buku bantahan yang berjudul ”Mereka adalah Teroris! Sebuah Tinjauan Syari’at”, ditulis oleh Luqman bin Muhammad Ba’abduh, seorang ulama Salafy Yamani dari Jawa Timur dan merupakan teman seperguruan Ja’far Umar Thalib. Setelah itu, juga terbit buku ”Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Karya Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, buku yang juga bantahan terhadap Luqman Ba’abduh (Mereka adalah Teroris).

Menurut Ustadz Abduh Zulfidar Akaha Lc, buku ”Mereka adalah Teroris!” ternyata tidak sungguh-sungguh membantah Imam Samudra. ”Imam Samudra hanya dijadikan batu loncatan saja. Karena di balik itu, ada lebih dari satu orang yang diserang, baik ulama maupun gerakan Islam. Di dalam buku Mereka adalah Teroris, Luqman Ba’abduh menyebut nama-nama ulama Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan al-Banna, Sayyid Quthb sebagai teroris, Abdullah Azzam, pejuang Islam di Afghanistan, termasuk pula tokoh-tokoh Hamas seperti Syaikh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Ar-Rantisi dan sebagainya sebagai teroris Khawarij.” Intinya, tak ada penghormatan kelompok Salafy ekstrim terhadap ulama maupun mujahid di luar kelompoknya.

Keresahan umat Islam terhadap gerakan Salafy ekstrim di Indonesia, sebetulnya sudah muncul tatkala orang tua santri terkejut melihat putranya yang belajar di Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga, Semarang. Begitu pulang ke rumah saat liburan sekolah, anak-anak hasil didikan Ja’far Umar Thalib dan Yazid Abdul Qadir Jawwas itu, tiba-tiba mencopot gambar-gambar di dinding, membuang radio dan televisi dari rumah mereka. Sejumlah orang tua cemas akan hal ini, lantas mendatangi kantor cabang al-Irsyad di Tengaran, Semarang untuk menanyakan pola didik yang diterima anak-anak mereka. Orang tua juga menuntut cabang al Irsyad bertanggung jawab langsung terhadap pesantren, agar mengekang kecenderungan militan ini.

Kini, penyebaran paham Salafy berkembang melalui buku-buku agama, majalah, kaset, dan situs internet untuk mereka jadikan sebagai propaganda. Buku-buku, majalah dan internet adalah media lain yang mereka gunakan. Hal ini menimbulkan gelombang yang juga tidak kecil. Melengkapi penolakan-penolakan lainnya.

Mereka disokong dana yang cukup besar dari oknum Syekh Saudi Arabia. Suatu ketika pimpinan cabang NU pernah memohon kepada Menteri Agama Maftuh Batsuni agar menyampaikan satu hal kepada Pemerintah Saudi untuk tidak membagikan buku-buku agama kepada jamaah haji di airport, yang hendak pulang ke Tanah Air. Mengingat, buku itu, bertentangan dengan pemahaman agama yang ada di daerah tertentu, sehingga membuat masyarakat bingung, bahkan berubah. Atas laporan pimpinan cabang NU ini, Menteri Agama meminta Pemerintah Saudi tidak membagi-bagikan buku-buku agama, tapi cukup Al Qur’an dan terjemahan saja.

Ketua PBNU: Waspadai Gerakan Wahabi

  • Monday, February 6, 2012, 11:32

UMMATONLINE.NET –

Gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj dalam bedah buku  sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2/2012).

Wahabi memiliki dua fraksi :

1. Salafi dakwah, misal : penulis web syiahindonesia.com, Farid Ahmad Oqbah

2. Salafi jihadi, misal : Amrozi, Imam Samudera, Noordin M Top, Doktor Azahari, Abubakar Ba’asyir

MUI, NU dan Muhammadiyah coba disusupi Wahabi dengan misi pro AS/israel

Gerakan anti syi’ah ditubuh NU, Muhammadiyah dan MUi bertujuan :

1. Mewahabikan indonesia (gerakan trans nasional) pro AS/israel

2. Merebut jabatan ketua umum NU / Muhammadiyah

3. Menggagalkan niat  muslimin sunni untuk mengangkat Ketua Umum NU dan Muhammadiyah menjadi CAPRES RI 2014, mereka ingin mengusung CAPRES pro wahabi

4. Sebagian dari mereka didanai AS / israel / Saudi

.
Perlu kita ketahui bersama pembaca, bahwa sikap toleransi yang wajib diperlihatkan kaum Muslimin terhadap orang-orang ahli kitab telah terbukti sepanjang sejarah Islam. Selama berabad-abad, umat Islam memperlakukan kaum Yahudi dengan sangat bersahabat dan mereka menyambut persahabatan ini dengan kesetiaan. Namun, hal yang telah merusak keadaan ini adalah Zionisme.

Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme, telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras. Mereka meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan, karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air tersendiri bagi mereka.

Hingga saat kemunculan Zionisme di Timur Tengah, ideologi ini tidak mendatangkan apapun selain pertikaian dan penderitaan. Dalam masa di antara dua perang dunia, berbagai kelompok teroris Zionis melakukan serangan berdarah terhadap masyarakat Arab dan Inggris. Di tahun 1948, menyusul didirikannya negara Israel, strategi perluasan wilayah Zionisme telah menyeret keseluruhan Timur Tengah ke dalam kekacauan.

Titik awal dari Zionisme yang melakukan segala kebiadaban ini bukanlah agama Yahudi, tetapi Darwinisme Sosial, sebuah ideologi rasis dan kolonialis yang merupakan warisan dari abad ke-19. Darwinisme Sosial meyakini adanya perjuangan atau peperangan yang terus-menerus di antara masyarakat manusia. Dengan mengindoktrinasikan ke dalam otak mereka pemikiran “yang kuat akan menang dan yang lemah pasti terkalahkan”, ideologi ini telah menyeret bangsa Jerman kepada Nazisme, sebagaimana orang-orang Yahudi kepada Zionisme.

 Gus Dur memahami kebiadaban wahabi

Soal koleksi humor dan keanehan, bisa jadi Gus Dur adalah orang nomor wahid di Indonesia. Sepanjang hayatnya, mantan Ketua PBNU tak bisa dipisahkan dari kontroversi, keanehan dan nyeleneh berbalut guyonan. Kini, sepeninggal kiyai nyentrik ini pun masih menyisakan keanehan.

Semasa hidupnya Gus Dur adalah orang yang sangat alergi terhadap kaum “Wahabi.” Saking kerasnya, presiden RI keempat ini bahkan menyebut kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab (Sang Penipu) yang rendah diri.

“Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah Al-Kadzab. Jadi, sikap rendah diri itu lalu ditutupi dengan sikap seolah paling benar sendiri. Wahabi dijadikan alat untuk menutupi masa lalu Dinasti Saud saja,” tegas Gus Dur.

Demikian disampaikan Gus Dur pada diskusi buku karya Stephen Sulaiman Schwartz berjudul “Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme dalam Wacana Global,” di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina Jakarta, Rabu, (31/10/2007) malam. Buku ini berjudul asli “The Two Faces of Islam: The House of Sa’ud from Tradition to Terror” (2002) yang diterjemahkan dan diterbitkan kembali oleh the WAHID Institute pada September 2007.

wahabi movement si tanduk syaitan

wahabi movement | TANDUK SYAITAN YANG KELUAR DARI NAJD

Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha mengasihani , sudah lama tidak ke halaman al-wahidah kerana kesibukan untuk menerbitkan dan penulisan kitab , di samping kesehatan yang tidak mengizinkan .serta cuaca di sini yang sangat panas berdebu dan sbg Kepada saudara RAHASIA mungkin terlalu lama menunggu

Banyak hadis sahih yang menceritakan tentang Tanduk Syaitan .Ada yang menyebut 2 Tanduk ada yang riwayat lain SATU tanduk atau ‘Qaran ” . Tanduk Syaitan : bererti segolongan manusia yang telah melakukan kerusakan serta malapetaka dan bencana yang maha dahsyat yang tidak pernah berlaku pada masa kini dan akan datang Siapakah mereka ? Di mana mereka akan muncul ? Apakah yang mereka lakukan ? Apakan tanda-tanda mereka ?.Bagaimana pula rupa mereka ? Maka di sini cukuplah di paparkan beberapa hadis sahih yang diriwayatkan oleh para sahabat nabi dan juga tafsiran ulamak .

1. “Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Syam , Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Yaman : Mereka berkata : Ya Rasulullah doakan di negeri Najd pula. Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Syam , Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Yaman . Ya Rasulullah doakan di negeri Najd pula. Kemudian Rasulullah bersabda di sanalah berlaku : Zalazilu wal fitan ( malapetaka dan fitnah ) dan di sana juga munculnya tanduk syaitan “

Darjat Hadis.
Hadis ini adalah hadis sohih di keluarkan oleh Imam Bukhari no: 1037 – Bab Zalazil juga oleh Imam Muslim : Kitab Haji ” no; 476, Imam Ahmad Juz 2, 3, 6, dan juga “Al-Muntaq’ Al-Hindi Kanzul Ummal ” no; 35116 dan 38158 dan Ibnu Asakir di dalam ” Tahzib Tarikh Damsyik “, Ibu hajar di dalam “Majumuk Zawaid” , Khotib Al-Baghadi ” Tarikh Bagdad ” , Abu Nuim di dalam ” Hilyatul Awliyak ” juga Al-Munzir di dalam Targib wal tarhib, Imam As-sayuti ” Jamul jawamik ” NO 9836

Ini menunjukkan bahawa Rasulullah tidak mendoakan Najd,!!!!!!!!! ( Riyadh ) tiada ulama’ juga awliyak, orang soleh di Najd ( Riyadh ) , kerana kawasan tersebut merupakan kawasan Badwi dan jelmaan Syaitan dan munculnya malapetaka apa yang akan di sebut sebentar lagi sebagai TANDUK SYAITAN merupakan tempat tinggal Muhammad Abdul Wahab, Abul Azizi Al-baz yang tinggal di Najd ( Riyad ) , juga Soleh Usimain serta Musilamatul kazab

2. Bersabda nabi : Fitnah berlaku pihak Masyarik – di riwayatkan oleh Imam Bukhari ” Kitab Fitnah ” hadis 7092 bab ke 17 .

3. Dari Salim dari Bapanya dari Nabi s.a.w. bahawsanya ia berdiri di sisi mimbar maka ia berkata : “Fitnah akan berlaku di sana dan munculnya tanduk syaitan atau tanduk matahari ” -

Di keluarkan oleh Imam Bukhari no ; 7093 . Kitab Khamis bab ke 4, Kitab Istaq bab 27 , kitab Fitan Bab 16 , kitab Talaq bab 25 , Kitab Maghazi bab 74 , Kitab Manaqib bab ke 5 dan Kitab Bade Kholaq bab 11, 15. Juga Riwayat muslim no; 81 Kitab Fitan hadis no; 44 , 46-50.At-Tasmizi di dalam Manaqib bab 73 , Kitab Fitan Bab 79 , Al-Muwatuk : Kitab Isti’ zak hadis no : 29 .

4. Dari Nafik bin Ibnu Umar beliau dengar nabi bersabda semasa menghadap ke Masyarik
( timur ) : Tidaklah fitnah itu akan berlaku di sana nanti – sehingga munculnya tanduk syaitan ” Hadis Bukhari no hadis : 7094 , hadis muslim no : 81 [ Sama seperti di atas ]

5. Di dalam Musnad Imam Ahmad no : 3679 dari IbnuUmar dari Nabi Bahwa baginda berdiri di pintu Saidatina ‘Asyiah maka ia menunjukkan tangannya ke Masyrik : lalu bersabda : Fitnah akan berlaku di sana sehingga meunculnya tanduk syaitan ” – Isnad sohih -

6. Sabda Baginda s.a.w. “Akan muncul segolongan manusia daripada Masyriq ( Timur ) mereka membaca al-quran akan tetapi tidak melebihi had ,dan mereka akan keluar daripada agama (sesat) umpama tersesatnya anak panah yang keluar dari busurnya dan tanda-tanda mereka adalah mencukuri rambut ( botak )”

7. Diriwayatkan oleh Abi Hurairah r.a. daripada nabi s.a.w bahawasanya baginda bersabda “Ketua kaum kuffar di Masyriq ( Nadj )

8 Di dalam riwayat yang lain sabda baginda lagi ” Di sanalah akan keluarnya (munculnya) Tanduk Syaitan “

9. Sabda baginda lagi yang diriwayatkan oleh ibnu Umar ” Di sanalah ( Masyriq ) akan berlakunya malapetaka dan fitnah

Kesimpulannya
Dalam meneliti dari pelbagai aspek seperti nahu, saraf dan di mana baginda bersabda. Nabi berkata ( Keluar atau Muncul ) adalah Fei’el Mudhar’ yang memberi erti : berterusan atau berturut-turut, kini dan akan datang!!!!!!! . Jadi boleh kita fahami bahawa selepas Musilamatul al-Kazab di Najd ( Riyadh ) akan muncul pula segolongan dari umat ini secara terus menerus dari TEMPAT YANG SAMA , DAN BERTERUSAN antara golongan yang pendusta agama yang TELAH muncul di Nadj ( Riyadh ) adalah :

1. Musilamatul Kazab ,- di Nadj ( Riyadh )-
2. Zu-Khuwaisirah at-Tamimi ketua Khawarij – Nadj ( Riyadh ) -
3. Kasib b.Rabi’, – Nadj ( Riyadh )-
4. Misar b. Fadki, – Nadj ( Riyadh )-
5. Al-Qaramitah – Nadj ( Riyadh )-
6. dan YANG TERAKHIR Muhammad Abdul Wahab an-Najdi, dari Bani Tamim seperti juga golongan Khawarij yang berasal dari BANI TAMIM , besar kemungkinan mereka adalah SATU qabilah juga dari Riyadh

Syeikh Zaini Dahlan menyebutkan yang di maksudkan 2 tanduk syaitan dari Nadj ( Riyadh ) di dalam hadis itu adalah Musilamatul Kazab dan Muhammad Abdul Wahab .
Jadi Kelima -lima golongan ini yang mashyurnya adalah Musailamtul Kazab yang di kurnaikan Irhas dan pada abad ini adalah Muhammad Abdul Wahab.

TAHQIQ TANDUK SYITAN ADALAH WAHABI DAN SALAFI DI NAJD ;

Di dalam sebuah hadis nabi yang begitu panjang menceritakan sekumpulan Pendusta Agama ‘ Akan datang segolongan dari kamu mereka yang menyeru ajaran Tauhid tetapi mereka tidak mempunyai apa-apa, mereka membaca al-quran tidak melepasi ke tengorok ( bukan dari hati) , dan mereka membaca al-quran tidak sama seperti kamu baca, mereka sembahyang tidak sama seperti mana kamu sembanyang dan mereka berpuasa tidak sama seperti kamu puasa ,mereka sesat dari agama Islam seperti tersasarnya panah dari busurnya ,kemudian nabi memberikan bentuk fizikilnya ,mereka mencukur rambut dan misai , manakala jubahnya di pertengahan betis kemudian mereka membunuh serta menuduh orang-orang Islam adalah penyembah berhala Kemudian nabi menyuruh kita apabila kita bertemu mereka, maka hendaklah kita memerangi mereka maka barang siapa yang memerangi mereka maka ia mendapat ganjaran yang besar , maka barang siapa yang terbunuh maka ia syahid”

Hadis ini di keluarkan oleh Imam Bukhari di dalam ” Alamat Nubuwah ” dan juga Imam Muslim di dalam “Kitab Zakat, bab Tahzir pakaian dunia” An-Nasaei di dalam Khosis .Ibnu Majah Bab Khawarij , Hakim di dalam Al-Mustadrak juz 2 , Tarikh Baghdad juzuk ke 1 , Abu Nuim Hilyatul Awliyak juz ke 4. Hadis ini adalah hadis sohih .

Keterangan ;
Berdasarkan hadis ini maka tidak syak lagi golongan yang di maksudkan oleh nabi adalah salafi dan wahabi , kerana apa ??? kerana golongan wahabi dan salafi ini menyeru ke jalan Tauhid tetapi sia-sia.Golongan wahabi membaca al-quran dengan fasih dan lancar akan tetapi hati mereka busuk dan najis, kerana itu golongan wahabi dan salafi ini apabila membaca Al-quran tidak sama dengan orang yang beriman dan ikhlas .

Begitu juga golongan wahabi ini solat mereka tidak sama dengan orang Islam yang lain , lihat sahaja solat mereka tidak membaca Basmalah yang tidak diajar oleh nabi, kemudian lihat sahaja jari telunjuk mereka bergerak-gerak dan memusing-musingkan ketika tahiyat akhir yang menganggu orang lain hendak bersolat , lihat sahaja i’tidal di sama kan dengan qiam dengan meletakan tangan di pusat , dan kadang-kadang itu beriya-iya sehingga ke dada , qunut di katakanya bidaah .Membaca doa iftitah di katakan bidaah. Kemudian dalam solat banyak bergerak-gerak ke sana dan ke mari untuk membetulkan serban kita boleh lihat sendiri dalam solat tarawih ( sebab ada kemera) Begitu juga berpuasa mereka hanya mendapat lapar dan dahaga sebab amalan mereka tidak di terima kerana hati mereka busuk dan kotor .

Setelah itu nabi nabi pun menerangkan ciri-ciri mereka iaitu kepala botak , maka golongan wahabi dan salafi di sini ( Mesir, Saudi dan lain-lain ) ini semuanya botak jikalau ada rambut pun pendek , begitu juga dengan misai ,Manakala pakaian mereka macam mana ??? jikalau antum hendak lihat pakaian mereka setekat betis kononya hendak ikut sunnah , rupanya ikut syaitan , orang wahabi di Saudi pakai jubah di betis dan ciri yang terakhir mereka membunuh serta menuduh orang-orang Islam adalah penyembah berhala ciri inilah yang sering berlaku di saudi yang mengatakan bidah!!!!!!!!! syirik!!!!!!!!! atau peyembah berhala!!!!!!! sudah sekian ramai ulamak yang telah di bunuh oleh golongan wahabi laknatullah di Najd antara ialah Syeikh Zamzami dan banyak lagi yang terkorban .

SERANGAN JIHAD TERHADAP WAHABI

Para Ulama’ Mekah, Madinah, Qadhi dan Mufti di seluruh pelosok dunia berfatwa agar serangan jihad dilancar oleh Wahabi, mereka terdiri dari kalangan ulama’ yang mu’tabar yang sezaman dengan Muhammad Abdul Wahab seperti As-Shaikh Ahmad al-Ba Alawi, As-Shaikh Umar Abdul Rasul, As-Shaikh Aqail b. Yahya al-’Alawi , As-Shaikh Abdul Malik dan As-Shaikh Hussin al-Maghribi. Akhirnya para ulamak Mekah menghukumi kafir dan wajib Amir Mekah memaksa dan menyingkirkan mereka (golongan Wahabi ) keluar daripada Masjidil Haram. Setelah itu mereka mewajibkan semua orang Islam membantu dan bersatu, barang siapa yang melarikan diri tanpa uzur adalah berdosa, dan barang siapa memeranginya jadilah mujahid dan barang siapa yang dibunuh memperolehi syahid. Akhirnya ijmak ulama’ bersepakat tanpa khilaf menulis surat kepada Amir Mekah ,sebaik sahaja menunaikan solat Maghrib mereka pun mengadap Amir Mekah, kemudian seluruh penduduk Mekah bersatu serta mendokong kesatuan Amir Mekah untuk melancarkan serangan jihad dan menyingirkan mereka daripada Mekah (Sila rujuk al-ajwibahtu al-Makkiyatu fi rad ‘al ar-Risalati an-Najdiyati m.s.84-86 )

Jadi berperang dengan golongan wahabi berdasarkan hadis di atas juga fatawa ulamak Mekah pada zaman muhammad Abdul Wahab adalah wajib dan jikalau mati merupakan mati syahid.

TAHQIQ MASYARIK ADALAH NADJ DI RIYAD ( nama sekarang )

Hadis yang diriwayatkan oleh nabi itu umum iaitu Masyriq kemudian baginda mengkhususkan dengan sebutan Nadj. Para ulamak ada menyatakan bahawa Masyriq adalah Nadj, antaranya

1. Shaikh Taqiuddin berkata; Masyriq ( Timur) daripada pihak Madinah, adalah tempat di mama munculnya Musailamatul Kazab ,

2. Imam Qustalani berkata Masyriq adalah Nadj (Irsyad as-Saary 12; 626 cetakan Darul Fikr .Tahun 1410H) .

3. Shaikh Muhammad Idris al-Marbawi ulama Nusantara yang tidak asing lagi menyebut Nadj adalah negeri Wahabi yang keluar daripadanya orang-orang Wahabi sekarang yang memerintah Mekah dan tempat keluar Musilamatul al-Kazab yang mendakwa dirinya Rasul (sila lihat Kamus Idris al-Marbawi )

4. Di dalam Kamus Mu’jam Al-Asasi m.s 1174 Nadj -adalah Riyad merupakan kerajaan Wahabi yang pertama.

5. Begitu juga nabi mengisyaratkan dengan tangan dan inilah dalil yang kuat menunjukkan bahawa Masyrik itu adalah Najd atau Riyad nama sekarang .

6. Dalam Surah urah at-Taubah ayat 97 “Orang Arab Badwi itu lebih sangat kekafiran dan kemunafiqan dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNYA.”

Siapakah orang badawi di sini ??? jikalau bukan penduduk najd ( Riyadh ) ????? kerana itulah golongan wahabi dan salafi itu sangat kafir dan munafiq seperti firman Allah di atas yang tidak mengetahui hukum-hukum yang di turunkan oleh Allah .

7. Begitu juga di dalam surah Al-Hujarat ayat 1- 4 ” menceritakan ada seorang yang terpekik-pekik dan terlolong-lolong dan menyerit-menjerit di hadapan rumah baginda ” lalu turun ayat supaya merendahkan suara , siapakah mereka ???? tidak lain adalah penduduk Najd
( Riyadh ) yang kurang beradab sehingga sekarang golongan wahabi dan salafi kurang dan tidak lansung mempunyai adab dengan nabi, bagi mereka nabi sudah mati tiada apa manafat , nauzubillahi min zalik.

8. Begitu juga kisah seorang penduduk badawi dari Najd yang kencing di Masjid nabi , siapakah dia jikalau bukan dari Najd ( Riyadh ) yang kencing merata-rata…!!!!!!

9. Selain dari itu nama Najd adalah nama KHAS, bukan nama AM .Jikalau nama AM bererti tanah tinggi di mana negeri TANAH TINGGI ITU !!!!!!!! takan apabila iblis berkata : Aku dari NAJD bereri aku dari TANAH TINGGI . Jadi Najd adalah nama AM nama negeri sekarang adalah RIYAD bukan nama KHAS

PERJANJIAN SYAITAN
Ketika mana mereka berkumpul di ‘Darul Nadwah’ sebagaimana yang telah di janjikan lalu datanglah Iblis berdiri di hadapan pintu menyerupai Shaikh Najd, kita ikuti perbualan ini

Quraisy ; Siapa Shaikh?
Iblis: Shaikh dari Ahli Najd didatangkan dari Mekah ,aku dengar pertemuan kamu maka aku hadir untuk mendengar apa yang kamu bincangkan ,moga -moga aku boleh memberi cadangan dan nasihat.
Quraisy: Baiklah, silalah Masuk ! maka Iblis pun masuk bersama mereka dengan menyerupai seorang Shaikh Najd,setelah mereka berbincang maka berkata sebahagian daripada mereka
Abu al-Bahtari; ‘Kita penjarakannya ( Nabi Muhammad ) Ibnu Hisyam ; Kita kunci pintu rumahnya, ( Nabi Muhammad )

Keterangan :
Ini adalah catatan ringkas perkataan jahat antara orang kafir dengan iblis yang menyerupai Shaikh Najd untuk membunuh nabi., sudah pasti antum ingat kisah ini , bagaimana Abu Jahal dan sahaba2nya memerintahkan untuk memenjarakan nabi ada pula yang menyuuruh menyingkirkan nabi dan akan tetapi Iblis menyuruh membunuh .

Dari kisah ini dapatlah kita ketahui bahawa Syeikh Najd ( Riyadh ) itu adalah iblis lakatullah yang menjelma sebagai manusia , dari mana ia datang ????? tidak lain dari tentu sahaja dari Najd
( Riyad ) Iblis berkata : Aku ahli Najd ( Riyadh ) . maka diri sini kita dapat ketahui bahawa Iblis dari ahli Najd ( Riyadh ) telah lama berlaku sejak zaman nabi maka tidak mustahil ia akan muncul semua selepas ini.

Sila rujuk (Bidayah wan-Nihayah jilid 2 m.s. 557 & As-Sirah an-Nabawihah ibnu Hisham jilid 2 m.s. 157 Bab Hijrah & Dalaail an-Nubuah & Mukhtasar sirah ar-Rasul Muhamad Abdul Wahab tahun 1408 m.s. 125 )

Sekian wassalam

p/s; Malangnya golongan Wahabi cuba memesongkan fakta ini, dengan mengatakan Najd, yang di maksud oleh nabi adalah Baghdad, kerana itulah tentera Saudi menyerang Iraq di Baghdad, pada tahun 1990 sebenarnya di Baghdad adalah Najaf bukan Najd. Jikalau anda meneliti peta Arab Saudi sudah pasti kedudukan Nadj di Timur berhampiran dengan persisiran Teluk. Golongan ini cuba menukar beberapa istilah Nadj kepada Riyad nama sekarang dan Hijaz kepada Saudi, hatta jikalau anda sebut Wahabi di Mekah atau di Madinah secara terang -terangn pasti anda akan ditanggkap, begitu hinanya dan marahya golongan ini sekarang ni dah tukar ic jadi Salafiyah sedangkan Salafi yang di maksudkan oleh Nabi hanya setakat kurun ketiga inilah di pembohong besar .

MIUMI begitu lahir langsung hantam Syiah, ada oknum MUI yang cemas

Oknum MUI ada yang cemas dengan lahirnya MIUMI yang sejak semula menghantam syiah

Segelintir anggota MUI Pusat Cemas dengan Kehadiran MIUMI

Sejumlah delegasi dari Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Kemarin, Selasa (27/3) menyambangi sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jl. Proklamasi No.51, Jakarta Pusat.

Dari pihak MIUMI, delegasi dipimpin oleh Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi. Beberapa delegasi lainnya antara lain:  Fahmi Salim, Farid Ahmad Okbah, Muhammad Rasmin Zaytun, Fadzlan Garamatan, Henri Shalahudin, Zaenal Najah, Ust Jeje Zainuddin.

Delegasi MIUMI diterima oleh Ketua MUI Pusat KH. Ma’ruf Amin dan anggota MUI lainnya, diantaranya:  Ichwan Sam, KH. Muhyiddin Junaidi, Umar Shihab, Nasir Zubaidi, Anwar Abas, Nadratudzzaman, Sinanseri Encip, Tuty Alawiyah, Amidhan, Teuku Zulkarnaen, Hasanuddin AF.

E-mail Cetak PDF

Jakarta -

Ya ahlulbait, kami dizalimi..

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

Dalam pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Selasa (27/3) Delegasi dari MIUMI, Ustadz Farid Ahmad Okbah di dihadapan sejumlah petinggi MUI, menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan Syiah di Indonesia

“Melihat awal perkembangan Syiah di Indonesia, pertama kali muncul dari Bangil, Madura, Jawa Timur.  Saya sendiri orang Bangil. Kita mengetahui, dalam menyebarkan paham Syiah di Indonesia, para penggeraknya berdalih menggalang persaudaran diantara umat Islam, namun didalamnya mengandung visi-misi Syiah. Jika dulu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini mulai terang-terangan, contohnya seperti YAPI di Jawa Timur yang dikenal sebagai pusat dakwah dan kaderisasi Syiah,” ujar Ustadz Farid menjelaskan.

Tak dipungkiri, untuk menciptakan kader ulama Syiah, mereke mengutus kadernya untuk belajar ke Syiria, Irak dan Iran, termasuk ke Bangil, Jawa Timur. Ketahuilah, suara ukhuwah Islamiyah adalah kaum Syiah untuk menggalang dukungan dari umat Islam Ahli Sunnah. Sebagai contoh,  tulisan Haidar Bagir di harian Republika yang berjudul “Menuju Persatuan umat”. Tulisan Haidar Bagir pun mendapat tanggapan dari Fahmi Salim dan Prof Baharun di harian yang sama. Dengan licik, Haidar Bagir memasang iklan Yayasan Muslim Islam Bersatu sebagai bentuk propaganda terselubung.

Menurut Ustadz Farid, perkembangah Syiah di Indonesia telah dikukuhkan oleh oleh Gus Dur pada tahun 2000 dengan berdirinya IJABI (Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia). Kata Gus Dur, Syiah itu seperti wanita hamil, yang kini telah lahir sebagai ormas resmi kaum Syiah.

Kemudian tahun 2011, pemerintahan SBY juga mengakui keberadaan ABI (Ahlu Bait Indonesia), dimana Departemen Dalam negeri telah menerima ABI sebagai ormas baru kaum Syiah. Kini, sudah ada dua ormas Syiah: IJABI dan ABI. Meski keduanya, dikabarkan, telah berseberangan pendapat.

Yang mencemaskan Ustadz Farid adalah ternyata gerakan Syiah bukan hanya sebatas pemikiran atau lewat buku, tapi telah menggunakan media-media pemerintah. Di Bandung, pernah diadakan bedah Syiah, dimana Prof  Mohammad Baharun menjadi narasumbernya. Ketika itu, panitia yang menyelenggarakan bedah Syiah sempat mendapat tekanan dari polisi atas permintaan dari IJABI yang ingin cara tersebut dibubarkan. Yang jelas, hal sepert ini terjadi di banyak tempa

Hal yang harus diwaspadai, kata Ustadz Farid, kini mulai banyak anak muda Indonesia yang dicuci otaknya oleh pemahaman Syiah.  Bayangkan, sudah ratusan yayasan  Syiah ada di negeri ini, bahkan mereka membentuk lembaga advokasi, (LBH Universaliyah). Ini menunjukkan Syiah sudah menggurita. “Karena itu, kita harus melakukan langkah kongkrit. Mengingat gerakan Syiah di daerah semakin masif, yang dilakukan oleh gerakan Syiah yang militan dan terdidik.Ini menjadi tantangan dakwah kita semua.”

Corong DMI Dimanfaatkan Syiah ??

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah  selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Allahu Akbar…

Oknum MUI berniat mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Gerakan anti syi’ah di tubuh NU dan Muhammadiyah tidak lebih dari upaya merebut kursi ketua Umum NU dan merampas kursi ketua Umum Muhammadiyah…

MIUMi bergerak cepat sebelum 2014, di back up oknum MUI Pusat melakukan trik trik murahan ini..


Farid Ahmad Okbah juga menyesalkan, DMI yang jelas-jelas Sunni, telah kecolongan dan kesusupan gerakan Syiah. Melihat media internal DMI Tabloid Jumat dalam beberapa edisi, penyusup Syiah itu jelas-jelas menjadikan Tabloid Jumat sebagai corong Syiah.

“Corong Ahlus Sunnah Wal Jamaah pun dijadikan Corong Syiah atas nama ukhuwah. Bahkan ada oknum DMI yang bekerjasama IJABI dengan membentuk Muhsin, dimana Jalaluddin Rahmat sebagai perintisnya. Padahal, Ketua Umum DMI menyatakan penolakannya terhadap Syiah,” kata Ustadz Farid.

Gerakan Syiah juga menggalang kekuatan Ahlu Sunnah di Masjid Sunni al Azhar Kalimalang, dengan cara  membagikan buletin Jum’atan.

MIUMI mengetahui,  tanggal 20 Februari 2011 lalu, MUI Pusat kedatangan tamu dari Iran. “Saya diundang oleh pengurus MUI. Saat itu saya tunjukkan data, bahwa ulama sunni di Iran di penjara dan ditekan. Bahkan, ada penghancuran masjid Sunni di Mashad oleh Pemerintah Iran.

Farid sangat menyesalkan setiap ulama Sunni yang membela Sunni akan dituduh pemecah belah umat, wahabi dan agen zionis.Termasuk dirinya yang difitnah pemecah belah umat dan agen zionis. Seorang Sunni Yusuf Qaradahwi yang mendambakan ukhuwah Islamiyah, kini mulai kecewa dengan Syiah. “Bahkan MIUMI terkena getahnya. MIUMI dikatakan sesat menyesatkan oleh sebuah blog milik Syiah.”

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Ketua PBNU: Waspadai Gerakan Wahabi

  • Monday, February 6, 2012, 11:32

UMMATONLINE.NET –

Gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj dalam bedah buku  sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2/2012).

Wahabi memiliki dua fraksi :

1. Salafi dakwah, misal : penulis web syiahindonesia.com, Farid Ahmad Oqbah

2. Salafi jihadi, misal : Amrozi, Imam Samudera, Noordin M Top, Doktor Azahari, Abubakar Ba’asyir

MUI, NU dan Muhammadiyah coba disusupi Wahabi dengan misi pro AS/israel

Gerakan anti syi’ah ditubuh NU, Muhammadiyah dan MUi bertujuan :

1. Mewahabikan indonesia (gerakan trans nasional) pro AS/israel

2. Merebut jabatan ketua umum NU / Muhammadiyah

3. Menggagalkan niat  muslimin sunni untuk mengangkat Ketua Umum NU dan Muhammadiyah menjadi CAPRES RI 2014, mereka ingin mengusung CAPRES pro wahabi

4. Sebagian dari mereka didanai AS / israel / Saudi

.
Perlu kita ketahui bersama pembaca, bahwa sikap toleransi yang wajib diperlihatkan kaum Muslimin terhadap orang-orang ahli kitab telah terbukti sepanjang sejarah Islam. Selama berabad-abad, umat Islam memperlakukan kaum Yahudi dengan sangat bersahabat dan mereka menyambut persahabatan ini dengan kesetiaan. Namun, hal yang telah merusak keadaan ini adalah Zionisme.

Zionisme muncul pada abad ke-19. Dua hal yang menjadi ciri menonjol Eropa abad ke-19, yakni rasisme dan kolonialisme, telah pula berpengaruh pada Zionisme. Ciri utama lain dari Zionisme adalah bahwa Zionisme adalah ideologi yang jauh dari agama. Orang-orang Yahudi, yang merupakan para mentor ideologis utama dari Zionisme, memiliki keimanan yang lemah terhadap agama mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka adalah ateis. Mereka menganggap agama Yahudi bukan sebagai sebuah agama, tapi sebagai nama suatu ras. Mereka meyakini bahwa masyarakat Yahudi mewakili suatu ras tersendiri dan terpisah dari bangsa-bangsa Eropa. Dan, karenanya, mustahil bagi orang Yahudi untuk hidup bersama mereka, sehingga bangsa Yahudi memerlukan tanah air tersendiri bagi mereka.

Hingga saat kemunculan Zionisme di Timur Tengah, ideologi ini tidak mendatangkan apapun selain pertikaian dan penderitaan. Dalam masa di antara dua perang dunia, berbagai kelompok teroris Zionis melakukan serangan berdarah terhadap masyarakat Arab dan Inggris. Di tahun 1948, menyusul didirikannya negara Israel, strategi perluasan wilayah Zionisme telah menyeret keseluruhan Timur Tengah ke dalam kekacauan.

Titik awal dari Zionisme yang melakukan segala kebiadaban ini bukanlah agama Yahudi, tetapi Darwinisme Sosial, sebuah ideologi rasis dan kolonialis yang merupakan warisan dari abad ke-19. Darwinisme Sosial meyakini adanya perjuangan atau peperangan yang terus-menerus di antara masyarakat manusia. Dengan mengindoktrinasikan ke dalam otak mereka pemikiran “yang kuat akan menang dan yang lemah pasti terkalahkan”, ideologi ini telah menyeret bangsa Jerman kepada Nazisme, sebagaimana orang-orang Yahudi kepada Zionisme.

 Gus Dur memahami kebiadaban wahabi

Soal koleksi humor dan keanehan, bisa jadi Gus Dur adalah orang nomor wahid di Indonesia. Sepanjang hayatnya, mantan Ketua PBNU tak bisa dipisahkan dari kontroversi, keanehan dan nyeleneh berbalut guyonan. Kini, sepeninggal kiyai nyentrik ini pun masih menyisakan keanehan.

Semasa hidupnya Gus Dur adalah orang yang sangat alergi terhadap kaum “Wahabi.” Saking kerasnya, presiden RI keempat ini bahkan menyebut kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab (Sang Penipu) yang rendah diri.

“Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah Al-Kadzab. Jadi, sikap rendah diri itu lalu ditutupi dengan sikap seolah paling benar sendiri. Wahabi dijadikan alat untuk menutupi masa lalu Dinasti Saud saja,” tegas Gus Dur.

Demikian disampaikan Gus Dur pada diskusi buku karya Stephen Sulaiman Schwartz berjudul “Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme dalam Wacana Global,” di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina Jakarta, Rabu, (31/10/2007) malam. Buku ini berjudul asli “The Two Faces of Islam: The House of Sa’ud from Tradition to Terror” (2002) yang diterjemahkan dan diterbitkan kembali oleh the WAHID Institute pada September 2007.

wahabi movement si tanduk syaitan

wahabi movement | TANDUK SYAITAN YANG KELUAR DARI NAJD

Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha mengasihani , sudah lama tidak ke halaman al-wahidah kerana kesibukan untuk menerbitkan dan penulisan kitab , di samping kesehatan yang tidak mengizinkan .serta cuaca di sini yang sangat panas berdebu dan sbg Kepada saudara RAHASIA mungkin terlalu lama menunggu

Banyak hadis sahih yang menceritakan tentang Tanduk Syaitan .Ada yang menyebut 2 Tanduk ada yang riwayat lain SATU tanduk atau ‘Qaran ” . Tanduk Syaitan : bererti segolongan manusia yang telah melakukan kerusakan serta malapetaka dan bencana yang maha dahsyat yang tidak pernah berlaku pada masa kini dan akan datang Siapakah mereka ? Di mana mereka akan muncul ? Apakah yang mereka lakukan ? Apakan tanda-tanda mereka ?.Bagaimana pula rupa mereka ? Maka di sini cukuplah di paparkan beberapa hadis sahih yang diriwayatkan oleh para sahabat nabi dan juga tafsiran ulamak .

1. “Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Syam , Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Yaman : Mereka berkata : Ya Rasulullah doakan di negeri Najd pula. Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Syam , Ya Allah berkatilah bagi kami negeri Yaman . Ya Rasulullah doakan di negeri Najd pula. Kemudian Rasulullah bersabda di sanalah berlaku : Zalazilu wal fitan ( malapetaka dan fitnah ) dan di sana juga munculnya tanduk syaitan “

Darjat Hadis.
Hadis ini adalah hadis sohih di keluarkan oleh Imam Bukhari no: 1037 – Bab Zalazil juga oleh Imam Muslim : Kitab Haji ” no; 476, Imam Ahmad Juz 2, 3, 6, dan juga “Al-Muntaq’ Al-Hindi Kanzul Ummal ” no; 35116 dan 38158 dan Ibnu Asakir di dalam ” Tahzib Tarikh Damsyik “, Ibu hajar di dalam “Majumuk Zawaid” , Khotib Al-Baghadi ” Tarikh Bagdad ” , Abu Nuim di dalam ” Hilyatul Awliyak ” juga Al-Munzir di dalam Targib wal tarhib, Imam As-sayuti ” Jamul jawamik ” NO 9836

Ini menunjukkan bahawa Rasulullah tidak mendoakan Najd,!!!!!!!!! ( Riyadh ) tiada ulama’ juga awliyak, orang soleh di Najd ( Riyadh ) , kerana kawasan tersebut merupakan kawasan Badwi dan jelmaan Syaitan dan munculnya malapetaka apa yang akan di sebut sebentar lagi sebagai TANDUK SYAITAN merupakan tempat tinggal Muhammad Abdul Wahab, Abul Azizi Al-baz yang tinggal di Najd ( Riyad ) , juga Soleh Usimain serta Musilamatul kazab

2. Bersabda nabi : Fitnah berlaku pihak Masyarik – di riwayatkan oleh Imam Bukhari ” Kitab Fitnah ” hadis 7092 bab ke 17 .

3. Dari Salim dari Bapanya dari Nabi s.a.w. bahawsanya ia berdiri di sisi mimbar maka ia berkata : “Fitnah akan berlaku di sana dan munculnya tanduk syaitan atau tanduk matahari ” -

Di keluarkan oleh Imam Bukhari no ; 7093 . Kitab Khamis bab ke 4, Kitab Istaq bab 27 , kitab Fitan Bab 16 , kitab Talaq bab 25 , Kitab Maghazi bab 74 , Kitab Manaqib bab ke 5 dan Kitab Bade Kholaq bab 11, 15. Juga Riwayat muslim no; 81 Kitab Fitan hadis no; 44 , 46-50.At-Tasmizi di dalam Manaqib bab 73 , Kitab Fitan Bab 79 , Al-Muwatuk : Kitab Isti’ zak hadis no : 29 .

4. Dari Nafik bin Ibnu Umar beliau dengar nabi bersabda semasa menghadap ke Masyarik
( timur ) : Tidaklah fitnah itu akan berlaku di sana nanti – sehingga munculnya tanduk syaitan ” Hadis Bukhari no hadis : 7094 , hadis muslim no : 81 [ Sama seperti di atas ]

5. Di dalam Musnad Imam Ahmad no : 3679 dari IbnuUmar dari Nabi Bahwa baginda berdiri di pintu Saidatina ‘Asyiah maka ia menunjukkan tangannya ke Masyrik : lalu bersabda : Fitnah akan berlaku di sana sehingga meunculnya tanduk syaitan ” – Isnad sohih -

6. Sabda Baginda s.a.w. “Akan muncul segolongan manusia daripada Masyriq ( Timur ) mereka membaca al-quran akan tetapi tidak melebihi had ,dan mereka akan keluar daripada agama (sesat) umpama tersesatnya anak panah yang keluar dari busurnya dan tanda-tanda mereka adalah mencukuri rambut ( botak )”

7. Diriwayatkan oleh Abi Hurairah r.a. daripada nabi s.a.w bahawasanya baginda bersabda “Ketua kaum kuffar di Masyriq ( Nadj )

8 Di dalam riwayat yang lain sabda baginda lagi ” Di sanalah akan keluarnya (munculnya) Tanduk Syaitan “

9. Sabda baginda lagi yang diriwayatkan oleh ibnu Umar ” Di sanalah ( Masyriq ) akan berlakunya malapetaka dan fitnah

Kesimpulannya
Dalam meneliti dari pelbagai aspek seperti nahu, saraf dan di mana baginda bersabda. Nabi berkata ( Keluar atau Muncul ) adalah Fei’el Mudhar’ yang memberi erti : berterusan atau berturut-turut, kini dan akan datang!!!!!!! . Jadi boleh kita fahami bahawa selepas Musilamatul al-Kazab di Najd ( Riyadh ) akan muncul pula segolongan dari umat ini secara terus menerus dari TEMPAT YANG SAMA , DAN BERTERUSAN antara golongan yang pendusta agama yang TELAH muncul di Nadj ( Riyadh ) adalah :

1. Musilamatul Kazab ,- di Nadj ( Riyadh )-
2. Zu-Khuwaisirah at-Tamimi ketua Khawarij – Nadj ( Riyadh ) -
3. Kasib b.Rabi’, – Nadj ( Riyadh )-
4. Misar b. Fadki, – Nadj ( Riyadh )-
5. Al-Qaramitah – Nadj ( Riyadh )-
6. dan YANG TERAKHIR Muhammad Abdul Wahab an-Najdi, dari Bani Tamim seperti juga golongan Khawarij yang berasal dari BANI TAMIM , besar kemungkinan mereka adalah SATU qabilah juga dari Riyadh

Syeikh Zaini Dahlan menyebutkan yang di maksudkan 2 tanduk syaitan dari Nadj ( Riyadh ) di dalam hadis itu adalah Musilamatul Kazab dan Muhammad Abdul Wahab .
Jadi Kelima -lima golongan ini yang mashyurnya adalah Musailamtul Kazab yang di kurnaikan Irhas dan pada abad ini adalah Muhammad Abdul Wahab.

TAHQIQ TANDUK SYITAN ADALAH WAHABI DAN SALAFI DI NAJD ;

Di dalam sebuah hadis nabi yang begitu panjang menceritakan sekumpulan Pendusta Agama ‘ Akan datang segolongan dari kamu mereka yang menyeru ajaran Tauhid tetapi mereka tidak mempunyai apa-apa, mereka membaca al-quran tidak melepasi ke tengorok ( bukan dari hati) , dan mereka membaca al-quran tidak sama seperti kamu baca, mereka sembahyang tidak sama seperti mana kamu sembanyang dan mereka berpuasa tidak sama seperti kamu puasa ,mereka sesat dari agama Islam seperti tersasarnya panah dari busurnya ,kemudian nabi memberikan bentuk fizikilnya ,mereka mencukur rambut dan misai , manakala jubahnya di pertengahan betis kemudian mereka membunuh serta menuduh orang-orang Islam adalah penyembah berhala Kemudian nabi menyuruh kita apabila kita bertemu mereka, maka hendaklah kita memerangi mereka maka barang siapa yang memerangi mereka maka ia mendapat ganjaran yang besar , maka barang siapa yang terbunuh maka ia syahid”

Hadis ini di keluarkan oleh Imam Bukhari di dalam ” Alamat Nubuwah ” dan juga Imam Muslim di dalam “Kitab Zakat, bab Tahzir pakaian dunia” An-Nasaei di dalam Khosis .Ibnu Majah Bab Khawarij , Hakim di dalam Al-Mustadrak juz 2 , Tarikh Baghdad juzuk ke 1 , Abu Nuim Hilyatul Awliyak juz ke 4. Hadis ini adalah hadis sohih .

Keterangan ;
Berdasarkan hadis ini maka tidak syak lagi golongan yang di maksudkan oleh nabi adalah salafi dan wahabi , kerana apa ??? kerana golongan wahabi dan salafi ini menyeru ke jalan Tauhid tetapi sia-sia.Golongan wahabi membaca al-quran dengan fasih dan lancar akan tetapi hati mereka busuk dan najis, kerana itu golongan wahabi dan salafi ini apabila membaca Al-quran tidak sama dengan orang yang beriman dan ikhlas .

Begitu juga golongan wahabi ini solat mereka tidak sama dengan orang Islam yang lain , lihat sahaja solat mereka tidak membaca Basmalah yang tidak diajar oleh nabi, kemudian lihat sahaja jari telunjuk mereka bergerak-gerak dan memusing-musingkan ketika tahiyat akhir yang menganggu orang lain hendak bersolat , lihat sahaja i’tidal di sama kan dengan qiam dengan meletakan tangan di pusat , dan kadang-kadang itu beriya-iya sehingga ke dada , qunut di katakanya bidaah .Membaca doa iftitah di katakan bidaah. Kemudian dalam solat banyak bergerak-gerak ke sana dan ke mari untuk membetulkan serban kita boleh lihat sendiri dalam solat tarawih ( sebab ada kemera) Begitu juga berpuasa mereka hanya mendapat lapar dan dahaga sebab amalan mereka tidak di terima kerana hati mereka busuk dan kotor .

Setelah itu nabi nabi pun menerangkan ciri-ciri mereka iaitu kepala botak , maka golongan wahabi dan salafi di sini ( Mesir, Saudi dan lain-lain ) ini semuanya botak jikalau ada rambut pun pendek , begitu juga dengan misai ,Manakala pakaian mereka macam mana ??? jikalau antum hendak lihat pakaian mereka setekat betis kononya hendak ikut sunnah , rupanya ikut syaitan , orang wahabi di Saudi pakai jubah di betis dan ciri yang terakhir mereka membunuh serta menuduh orang-orang Islam adalah penyembah berhala ciri inilah yang sering berlaku di saudi yang mengatakan bidah!!!!!!!!! syirik!!!!!!!!! atau peyembah berhala!!!!!!! sudah sekian ramai ulamak yang telah di bunuh oleh golongan wahabi laknatullah di Najd antara ialah Syeikh Zamzami dan banyak lagi yang terkorban .

SERANGAN JIHAD TERHADAP WAHABI

Para Ulama’ Mekah, Madinah, Qadhi dan Mufti di seluruh pelosok dunia berfatwa agar serangan jihad dilancar oleh Wahabi, mereka terdiri dari kalangan ulama’ yang mu’tabar yang sezaman dengan Muhammad Abdul Wahab seperti As-Shaikh Ahmad al-Ba Alawi, As-Shaikh Umar Abdul Rasul, As-Shaikh Aqail b. Yahya al-’Alawi , As-Shaikh Abdul Malik dan As-Shaikh Hussin al-Maghribi. Akhirnya para ulamak Mekah menghukumi kafir dan wajib Amir Mekah memaksa dan menyingkirkan mereka (golongan Wahabi ) keluar daripada Masjidil Haram. Setelah itu mereka mewajibkan semua orang Islam membantu dan bersatu, barang siapa yang melarikan diri tanpa uzur adalah berdosa, dan barang siapa memeranginya jadilah mujahid dan barang siapa yang dibunuh memperolehi syahid. Akhirnya ijmak ulama’ bersepakat tanpa khilaf menulis surat kepada Amir Mekah ,sebaik sahaja menunaikan solat Maghrib mereka pun mengadap Amir Mekah, kemudian seluruh penduduk Mekah bersatu serta mendokong kesatuan Amir Mekah untuk melancarkan serangan jihad dan menyingirkan mereka daripada Mekah (Sila rujuk al-ajwibahtu al-Makkiyatu fi rad ‘al ar-Risalati an-Najdiyati m.s.84-86 )

Jadi berperang dengan golongan wahabi berdasarkan hadis di atas juga fatawa ulamak Mekah pada zaman muhammad Abdul Wahab adalah wajib dan jikalau mati merupakan mati syahid.

TAHQIQ MASYARIK ADALAH NADJ DI RIYAD ( nama sekarang )

Hadis yang diriwayatkan oleh nabi itu umum iaitu Masyriq kemudian baginda mengkhususkan dengan sebutan Nadj. Para ulamak ada menyatakan bahawa Masyriq adalah Nadj, antaranya

1. Shaikh Taqiuddin berkata; Masyriq ( Timur) daripada pihak Madinah, adalah tempat di mama munculnya Musailamatul Kazab ,

2. Imam Qustalani berkata Masyriq adalah Nadj (Irsyad as-Saary 12; 626 cetakan Darul Fikr .Tahun 1410H) .

3. Shaikh Muhammad Idris al-Marbawi ulama Nusantara yang tidak asing lagi menyebut Nadj adalah negeri Wahabi yang keluar daripadanya orang-orang Wahabi sekarang yang memerintah Mekah dan tempat keluar Musilamatul al-Kazab yang mendakwa dirinya Rasul (sila lihat Kamus Idris al-Marbawi )

4. Di dalam Kamus Mu’jam Al-Asasi m.s 1174 Nadj -adalah Riyad merupakan kerajaan Wahabi yang pertama.

5. Begitu juga nabi mengisyaratkan dengan tangan dan inilah dalil yang kuat menunjukkan bahawa Masyrik itu adalah Najd atau Riyad nama sekarang .

6. Dalam Surah urah at-Taubah ayat 97 “Orang Arab Badwi itu lebih sangat kekafiran dan kemunafiqan dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada RasulNYA.”

Siapakah orang badawi di sini ??? jikalau bukan penduduk najd ( Riyadh ) ????? kerana itulah golongan wahabi dan salafi itu sangat kafir dan munafiq seperti firman Allah di atas yang tidak mengetahui hukum-hukum yang di turunkan oleh Allah .

7. Begitu juga di dalam surah Al-Hujarat ayat 1- 4 ” menceritakan ada seorang yang terpekik-pekik dan terlolong-lolong dan menyerit-menjerit di hadapan rumah baginda ” lalu turun ayat supaya merendahkan suara , siapakah mereka ???? tidak lain adalah penduduk Najd
( Riyadh ) yang kurang beradab sehingga sekarang golongan wahabi dan salafi kurang dan tidak lansung mempunyai adab dengan nabi, bagi mereka nabi sudah mati tiada apa manafat , nauzubillahi min zalik.

8. Begitu juga kisah seorang penduduk badawi dari Najd yang kencing di Masjid nabi , siapakah dia jikalau bukan dari Najd ( Riyadh ) yang kencing merata-rata…!!!!!!

9. Selain dari itu nama Najd adalah nama KHAS, bukan nama AM .Jikalau nama AM bererti tanah tinggi di mana negeri TANAH TINGGI ITU !!!!!!!! takan apabila iblis berkata : Aku dari NAJD bereri aku dari TANAH TINGGI . Jadi Najd adalah nama AM nama negeri sekarang adalah RIYAD bukan nama KHAS

PERJANJIAN SYAITAN
Ketika mana mereka berkumpul di ‘Darul Nadwah’ sebagaimana yang telah di janjikan lalu datanglah Iblis berdiri di hadapan pintu menyerupai Shaikh Najd, kita ikuti perbualan ini

Quraisy ; Siapa Shaikh?
Iblis: Shaikh dari Ahli Najd didatangkan dari Mekah ,aku dengar pertemuan kamu maka aku hadir untuk mendengar apa yang kamu bincangkan ,moga -moga aku boleh memberi cadangan dan nasihat.
Quraisy: Baiklah, silalah Masuk ! maka Iblis pun masuk bersama mereka dengan menyerupai seorang Shaikh Najd,setelah mereka berbincang maka berkata sebahagian daripada mereka
Abu al-Bahtari; ‘Kita penjarakannya ( Nabi Muhammad ) Ibnu Hisyam ; Kita kunci pintu rumahnya, ( Nabi Muhammad )

Keterangan :
Ini adalah catatan ringkas perkataan jahat antara orang kafir dengan iblis yang menyerupai Shaikh Najd untuk membunuh nabi., sudah pasti antum ingat kisah ini , bagaimana Abu Jahal dan sahaba2nya memerintahkan untuk memenjarakan nabi ada pula yang menyuuruh menyingkirkan nabi dan akan tetapi Iblis menyuruh membunuh .

Dari kisah ini dapatlah kita ketahui bahawa Syeikh Najd ( Riyadh ) itu adalah iblis lakatullah yang menjelma sebagai manusia , dari mana ia datang ????? tidak lain dari tentu sahaja dari Najd
( Riyad ) Iblis berkata : Aku ahli Najd ( Riyadh ) . maka diri sini kita dapat ketahui bahawa Iblis dari ahli Najd ( Riyadh ) telah lama berlaku sejak zaman nabi maka tidak mustahil ia akan muncul semua selepas ini.

Sila rujuk (Bidayah wan-Nihayah jilid 2 m.s. 557 & As-Sirah an-Nabawihah ibnu Hisham jilid 2 m.s. 157 Bab Hijrah & Dalaail an-Nubuah & Mukhtasar sirah ar-Rasul Muhamad Abdul Wahab tahun 1408 m.s. 125 )

Sekian wassalam

p/s; Malangnya golongan Wahabi cuba memesongkan fakta ini, dengan mengatakan Najd, yang di maksud oleh nabi adalah Baghdad, kerana itulah tentera Saudi menyerang Iraq di Baghdad, pada tahun 1990 sebenarnya di Baghdad adalah Najaf bukan Najd. Jikalau anda meneliti peta Arab Saudi sudah pasti kedudukan Nadj di Timur berhampiran dengan persisiran Teluk. Golongan ini cuba menukar beberapa istilah Nadj kepada Riyad nama sekarang dan Hijaz kepada Saudi, hatta jikalau anda sebut Wahabi di Mekah atau di Madinah secara terang -terangn pasti anda akan ditanggkap, begitu hinanya dan marahya golongan ini sekarang ni dah tukar ic jadi Salafiyah sedangkan Salafi yang di maksudkan oleh Nabi hanya setakat kurun ketiga inilah di pembohong besar .

MUI Berjanji Segera Keluarkan Fatwa tentang Syiah ?? Kiat Oknum MUI mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Rabu, 28 Maret 2012 14:26 Redaksi
E-mail Cetak PDF

Jakarta –

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah  selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Allahu Akbar…

Oknum MUI berniat mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Gerakan anti syi’ah di tubuh NU dan Muhammadiyah tidak lebih dari upaya merebut kursi ketua Umum NU dan merampas kursi ketua Umum Muhammadiyah…

MIUMi bergerak cepat sebelum 2014, di back up oknum MUI Pusat melakukan trik trik murahan ini..

Umar Shihab Tinggalkan Rapat karena Wahabi cuma Tukang Semir Sepatu AS/Israel

Ada yang menarik dalam pertemuan antara MIUMI dengan MUI, Selasa (27/3) kemarin.

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

Ketua PBNU: Waspadai Gerakan Wahabi

Gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj dalam bedah buku  sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2/2012).

Wahabi memiliki dua fraksi :

1. Salafi dakwah, misal : penulis web syiahindonesia.com, Farid Ahmad Oqbah

2. Salafi jihadi, misal : Amrozi, Imam Samudera, Noordin M Top, Doktor Azahari, Abubakar Ba’asyir

MUI, NU dan Muhammadiyah coba disusupi Wahabi dengan misi pro AS/israel

Gerakan anti syi’ah ditubuh NU, Muhammadiyah dan MUi bertujuan :

1. Mewahabikan indonesia (gerakan trans nasional) pro AS/israel

2. Merebut jabatan ketua umum NU / Muhammadiyah

3. Menggagalkan niat  muslimin sunni untuk mengangkat Ketua Umum NU dan Muhammadiyah menjadi CAPRES RI 2014, mereka ingin mengusung CAPRES pro wahabi

4. Sebagian dari mereka didanai AS / israel / Saudi

.

KH.Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa lambatnya fatwa MUI pusat terkait masalah kesesatan ajaran Syi’ah, dipengaruhi banyak faktor internal, pihak-pihak yang berada di dalam MUI sendiri. Salah satunya perihal kedekatan ideologis orang-orang tertentu di MUI dengan ajaran syi’ah, padahal MUI sendiri adalah lembaga ulama sunni.

“Ada SUSI juga, SUSI itu adalah Sunni-Syi’i, kajian Syi’ah ini agak ruwet sedikit jadinya” kata Ketua MUI Pusat KH Ma’ruf Amin di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi 51, Menteng, Jakarta Pusat, selasa (27/3).

Oleh Karena itu, Kiyai Ma’ruf meminta maaf kepada umat Islam kalau fatwa tentang Syiah hingga sekarang belum juga keluar. “Minta maaf kalau MUI agak lambat. Di MUI ada kesulitan menghadapi kelompok SUSI”, tandasnya.

Ia menegaskan kembali bahwa, MUI adalah lembaga Ahlus Sunnah wal jama’ah bukan syi’ah.

“MUI itu sunni, jadi jangan khawatir” tegasnya menepis keragu-raguan akibat lambatnya fatwa tentang syi’ah.

Sementara terkait fungsi MUI sebagai wadah pemersatu umat (tauhidil ummah), MUI akan mentolerasi perbedaan yang memang bersifat berbeda (al Mukhtalafu fiihi).“Perbedaan ditolerasi, penyimpangan diamputasi”, katanya.

Meski demikian MUI juga menyadari bahwa upaya penyatuan umat juga tidak mudah. “Tauhidul ummah itu susah sekali, ini satu pekerjaan supaya ada kesatuan gerakan (tauhidul harakah)“, tandasnya.

“Untuk perbedaan NU dan Muhammadiyah itu harus ditoleransi, namun untuk urusan aqidah Syiah ini harus diamputasi,” jelasnya diiringi gemuruh takbir seiisi ruangan rapat.

Senada dengan KH Ma’ruf Amin, Sekjen MUI Pusat, Drs. HH. Ichwan Sam mengatakan MUI kali akan segera mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dengan bukti yang tak terbantahkan.

“MUI akan mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah ini, namun kami akan melakukan riset dan investigasi untuk menampung semua data bukan hanya dari MIUMI saja, agar fatwa ini benar benar memiliki alasan dan bukti yang tidak terbantahkan,” jelasnya kepada hidayatullah.com usai acara silaturrahmi tersebut.*

Resolusi Jihad NU: “Wahabi Aliran Sesat, Harus Ditumpas”?

OPINI | 10 December 2011 | 04:07

begitulah bila membaca, menyimak tulisan tulisan anti Wahaby yang mendominasi ruangan situs situs NU, seperti sedang menabuh Genderang Perang, sesama anak anak bangsa.

Sebagaimana tercermin dalam tulisan tulisan para tokoh tokoh elit NU, ada kesengajaan menabur angin, mengoreksi, mengkritisi, memaki dan menuduh ulama ulama wahaby banyak melakukan “PENIPUAN TERHADAP UMAT” ? ,

wahaby adalah illegal action, teroris, vampire yang haus darah  atau wahabi laksana bajak laut yang berkeliaran dilaut lepas, memburu buruannya: “Wahabi  harus ditumpas”, kilahnya begitu.

Entah kenapa sehingga begitu semangatnya “Anti Wahaby” menggelegar, menggelora , membakar dan mengaduk aduk dada elita  elita NU, dengan semangat kebencian telah melahirkan sikap sikap yang tidak elegan dan picik memahami perbedaan,  tak rela rasanya kalau ada umat Islam memahami Islam versi Wahaby, sehingga berkonotasi “yang berbau wahabiyah pasti salah”, yang benar menurut versi NU, hanya metode beragama yang dikembangkan NU. Hal itu dimuat oleh sebuah situs Resmi “Nahdhatul Ulama” , diantaranya:

    1. Organisasi Tarekat NU Mesir Waspadai Bahaya Laten Wahabisme
    1. Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi
    1. Hubungan dengan Saudi Perlu Ditinjau Ulang
    1. Buku “Pintar Berdebat dengan Wahabi” Dibedah, Sejumlah Pengikutnya Sadar
    1. Karya Nawawi Al Bantani Kukuhkan Doktrin Aswaja atas Wahabi
    1. Waspadai Buku Sejarah yang Beredar
    1. Jaga Generasi Muda dari Ajaran Fundamental
    1. Salafi Jihadi
    1. Salafi
    1. Sejarah “Hitam” Kaum Wahabi
    1. Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan (1)
    1. Bentengi Wahabi, Sekolah Maarif Perlu Miliki Komisariat IPNU-IPPNU
    1. Warga Hentikan Pengajian Wahabi di Masjid
    1. Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi
    1. Kang Said: Waspadai Yayasan Pendidikan dari Arab
    1. Tunas Radikalisme dari Najd
  1. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Itulah doktrin NU kepada anNahdhiyyin, menyerukan Jihad memerangi tukang semir sepatu AS/israel

Konsep NU memandang wahaby adalah sekte yang membahayakan Islam berdasarkan prinsip prinsip telaah pemahaman NU tentang Agama.

wahabi doktrin yang membahayakan Umat  justru bisa memecah belah Umat menjadi berkeping keping seperti pecahan kaca yang berserakan di jalan. Tatapan amarah dan buas terhadap Wahabi mencerminkan NU yang pernah hidup Tenpo doeloe, masa lahirnya orma islam, sebelum lahirnya NU itu sendiri.

Sejarah itu terulang kembali sebagai episode dari “kebencian” yang tidak tercapai sejak tahun 1912. Penghujatan terhadap “wahabi” merupakan “bara api” yang tersimpan dan terasa selama puluhan tahun. Kini saatnya NU menjadi pemuja perdamaian ala ke-NU-an dengan berdamai dengan syiah, tentunya merupakan Usaha NU yang paling sepaktakuler di abad ini memerangi pemahaman Islam yang dirasakan merongrong NU.

=Salam Damai=

Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Ketua MIUMI Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir Lc. MM.

MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) sesat menyesatkan !!! Ngga ngerti syi’ah

Siaran Pers MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI) karena keawaman ilmu saja

 1/11/2012 01:57:00 PM

Syekh Wahbah Azzuhaili (kiri), Ayatollah Ali Taskhiri (tengah), KH Tolhah Hasan (kanan)
.
“Nahdlatul Ulama (NU) itu Syiah minus Imamah. Syiah itu NU plus Imamah.” Demikian pernyataan populer almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), cendekiawan NU. Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah. Bahkan peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan posisi Imam dalam tradisi Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud budaya, sementara di Syiah dalam bentuk teologi. Ini substansi pernyataan Gus Dur di atas.
.
Namun sangat memprihatinkan, baru-baru ini terjadi tindak kekerasan terhadap muslim Syiah di Sampang, Madura, salah satu basis NU. Sebuah pesantren Syiah dibakar massa karena aliran itu dinilai sebagai ajaran sesat. Tindak serupa ini bukan yang pertama, baik di Madura maupun di daerah lain di provinsi yang sama, Jawa Timur. Sebelumnya, di Bondowoso, Pasuruan, Malang, dan Bangil pernah terjadi penyerangan terhadap muslim Syiah.
.
Eskalasi ini terjadi kira-kira dalam tempo empat tahun terakhir. Seharusnya ini menjadi catatan tersendiri bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur beserta jajaran keamanannya untuk mengantisipasi dan mencari solusi. Sebelum eskalasi konflik terjadi, horizon keislaman di Jawa Timur sangat kondusif. Aroma Islam toleran sangat kuat di provinsi ini. Kekhasan corak keislaman seperti ini tak lepas dari akar budaya Nahdlatul Ulama (NU) yang tertanam kuat.
.
Said Agil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar NU, menegaskan bahwa selama ini Madura memiliki preseden positif soal hubungan antara muslim Sunni dan Syiah. Said mensinyalir kejadian ini diletupkan pihak ketiga yang ingin merusak keharmonisan tersebut.
.
Sunni-Syiah saudara
.
Secara substansial, hubungan antar muslim Sunni dan Syiah tidak memiliki rintangan signifikan bagi terjalinnya keharmonisan. Karena dua mazhab dalam Islam ini justru memiliki banyak titik kesamaan ketimbang perbedaan. Teologi Syiah dan Sunni tidak memiliki perbedaan mendasar. Baik dalam hal konsep ketuhanan (tauhid), kenabian, kitab suci Al-Quran, maupun kepercayaan akan hari akhir dan persoalan teologis lainnya. Ini bisa dirujuk pada literatur teologi dan juga filsafat dari keduanya. Bahkan keduanya sering dipertemukan pada tokoh yang sama dengan pemikiran yang sepaham.
.
Kajian tentang dialog Sunni-Syiah semakin intensif menemukan banyak kesamaan di satu sisi, dan menyadari bahwa perbedaan yang selama ini digaungkan sebenarnya tidak menyangkut aspek yang fundamental dari ajaran masing-masing. Namun, sayangnya, semakin dekatnya persaudaraan antara pemikiran Syiah dan Sunni ini hanya berhenti pada tataran elite. Umat secara mayoritas belum diberi asupan dakwah yang memadai tentang persaudaraan Sunni-Syiah. Ibarat piramida, di pucuk sebenarnya bertemu, namun di bawah terpisah jauh. Karena itu, yang berkembang di tingkat massa justru kesalahpahaman satu dengan yang lain. Mulai soal teologi hingga syariah. Di antaranya, kesalahpahaman bahwa Al-Quran Syiah dan Sunni berbeda, soal nikah mut’ah, penghormatan kepada sahabat, tata cara ibadah salat, dan lain sebagainya.
.
Pada tingkat “elite”, kesalahpahaman ini dianggap tidak berdasar secara akademis, bahkan sekadar asumsi belaka. Namun, faktanya, kesalahpahaman ini fundamental, signifikan, dan berefek besar. Walhasil, ada jurang pemisah yang lebar antara proses dialog akademis pada tingkat intelektual dan pemahaman umat mayoritas. Ini terjadi karena belum dilakukan strategi dakwah yang secara serius berupaya untuk “membumikan” proses dialog yang terjadi pada tingkat “langit” tersebut. Kalaupun ada, hanya berupa produk buku dan produk akademis elitis lainnya. Padahal massa pada tingkat bawah memiliki “bahasa” tersendiri. Metode dakwahnya seharusnya dilakukan secara lebih sederhana.
.
Pendekatan kultural
.
Sangat menarik bahwa ternyata, secara kultural, banyak tradisi keislaman yang dipraktekkan di Indonesia memiliki akar pada ajaran dan tradisi Syiah. Tradisi Tabok dan peringatan bulan Muharam adalah salah satu contohnya. Tradisi ini sudah berkolaborasi dalam berbagai budaya: Jawa, Sulawesi, maupun Sumatera. Pada tanggal 10 Muharam, kita bisa melihat gelaran tradisi tersebut dalam berbagai wajah budaya, namun satu substansi. Artinya, secara kultural masyarakat Indonesia memiliki ikatan sosiologis dan historis yang kuat dengan ajaran Syiah.
.
Tradisi-tradisi tersebut menunjukkan: pertama, bahwa di Indonesia pada dasarnya sudah terjalin harmoni yang kuat dan berlangsung berabad-abad antara Sunni dan Syiah. Demikian kuatnya hingga menyatu dalam sebuah tradisi bersama. Kedua, budaya adalah medium yang paling efektif sebagai pintu dialog dan harmoni. Sejauh ini, jalinan dialog dan harmoni Syiah-Sunni kurang memaksimalkan perangkat budaya sebagai mediumnya. Padahal dalam budayalah kita menemukan jejak-jejak harmoni antara muslim Sunni dan Syiah Indonesia.
.
Budaya sangat efektif untuk menerjemahkan hasil dialog akademis pada tingkat intelektual ke dalam bahasa-bahasa yang sederhana yang mudah dicerna oleh umat secara keseluruhan. Dan berbagai kesalahpahaman yang terjadi antara umat Islam Sunni dan Syiah Indonesia, salah satunya, disebabkan oleh absennya budaya sebagai perangkat dakwah dan dialog. Perangkat hardware (teologi, syariah, fiqh) lebih dikedepankan ketimbang software (budaya, akhlak, moral). Padahal yang kedua justru lebih efektif untuk membangun harmoni. Absennya budaya ini menciptakan sebuah “ruang kosong” yang menjadi jurang pemisah antara dialog akademis (elite agama) dan umat.
.
“Ruang kosong budaya” inilah yang kemudian diisi dan dimanipulasi oleh pihak atau kelompok tertentu, dengan kepentingan tertentu pula, untuk menciptakan kesalahpahaman-kesalahpahaman antara muslim Syiah dan muslim Sunni. Sebagaimana ditegaskan Said Agil Siradj. Dengan memanfaatkan “ruang kosong budaya” tersebut, pihak ketiga tersebut merekonstruksi sebuah pemahaman yang saling menyesatkan antara Sunni dan Syiah, sehingga muncul kecurigaan, kebencian, dan motif untuk berkonflik di antara keduanya.
.
Ke depan, agenda yang sangat penting untuk dilakukan adalah penelitian komprehensif, baik kualitatif maupun kuantitatif, tentang peta kesalahpahaman tersebut. Bagaimana proses terbangunnya kesalahpahaman itu, seperti apa pola dan modusnya, seberapa jauh efek sosial-kulturalnya?
.
Sebab, menurut saya, di tiap daerah, kesalahpahaman yang berkembang tidak sama karakteristiknya. Di beberapa provinsi, kesalahpahaman yang berkembang lebih kuat pada isu teologis, seperti kecurigaan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda. Sedangkan di provinsi lainnya, kesalahpahaman lebih mengarah pada aspek ibadah dan fiqh. Ini menunjukkan bahwa ada karakteristik yang berbeda, yang menimbulkan efek kesalahpahaman yang juga berbeda.
.
Dengan bekal pemetaan, kita bisa mendiagnosis “penyakit” kesalahpahaman ini. Setelah semua diketahui, akan lebih mudah untuk memberikan “obatnya”. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan budaya. Peta kesalahpahaman dapat dijadikan sebagai blueprint proses dialog Sunni-Syiah. Jadi, harus ada sebuah kajian dan penelitian yang komprehensif terhadap persoalan ini, sebagai bagian dari upaya dialog Syiah-Sunni. Walhasil, konflik yang terjadi di Sampang bisa dilihat dari sudut pandang ini. Konflik ini sengaja dilecutkan oleh pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan “kosongnya budaya”.

…………………………………………………………..

MINGGU, 24 JULI 2011

Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?


Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.”
.
Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid
.
“Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Saya khawatir, Syiah akan menjadi sasaran berikutnya. Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah
.
Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi
.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

.

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama

.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

.

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan

.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

.

MINGGU, 24 JULI 2011

PROF.UMAR SHIHAB (KETUA MUI) : SYI’AH MAZHAB YANG SAH DI DALAM ISLAM


Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Sy’iah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut Syi’ah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 ,
.
Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat iniRombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.Apakah berita sidang pleno MUI setelah kunjungan resmi ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib hanya dusta dan fitnah atau benar adanya, seperti yg di tulis saudara Kholili Hasib di atas?
.
Sementara MOU itu adalah resmi atas nama Lembaga MUI dan bukan perorangan, beginilah sejatinya kelompok takfir selalu memprovokasi awam dengan berbagia info dan berita yg menyesatkan demi menjalankan agenda musuh2 Islam melalui adu-domba dan pecah-belah Ummat agar Islam lemah dari dalam.
_____________________________________________________________________________________________________________
Setelah MOU antar MUI dan Majma’ Taqrib baynal Mazahib Islamiyah akan keabsahan mazhab Ahlussunah dan Syi’ah (28 April 2011) maka MUI sudah sepantasnya untuk meninjau kembali Fatwa 1984 yg sekarang menjadi dasar pembenaran terjadinya anarkhisme terhadap muslim syi’ah dan mengajak Ulama Syi’ah dan ormas2 Islam untuk merumuskan kembali tentang makna Ukhuwah Islamiyah
.
Dan terpenting adalah Fatwa eksplisit dulu dari MUI bahwa Sunnah-Syi’ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah, agar siapa saja yg ingin berlaku anarkhis mentasnamakan mazhab maka akan berfikir seribu kali, tak jadi soal Fatwa itu efektif atau tidak yg jelas dgn keluarnya fatwa eksplisit dan tegas MUI berperan sebagai pengayom dan pemersatu umat dan bukannya termakan hasudan dan fitnahan dari kelompok takfir lintas mazhab yg lambat-laun akan merobohkan bangunan NKRI dengan konflik horisontal yg mereka lestarikan.UKHUWAH ISLAMIYAH :
.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalaupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama

.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

.

SABTU, 23 JULI 2011

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 23 di Teheran


Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam Ke-23 Teheran 15-17 Rabiul Awal 1431 HSegala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya
.
Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism
.
Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau
.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat
.
Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya
.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah

.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya

.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini

.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll

.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:

a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.

d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.

e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.

f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.

g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.

h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.

i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.

j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi

.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini

.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

RABU, 20 JULI 2011

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam


Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.
“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin
.
Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia
.
Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)
.
Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi
.
“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya
.
Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.
“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)
.

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab


Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju
.
Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syi’ah.Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Buhairah, Mesir
.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H. menjadi mufti umum Al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.Syekh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syi’ah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.

Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syi’ah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayyid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar Al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah Al-Islam”.

2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syi’ah, yang berhubungan dengan pendekatan antar mazhab.

3. Memasukkan fikih Syi’ah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.

4. Dan, yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti Al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu. Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiyah)?

Syekh Syaltut menjawab,

1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.

2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syi’ah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib

Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar Al-Taqrib bayna Al-Madzahib Al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syi’ah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar

Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jum’at tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

Nahju Al-Qur’an fi Bina Al-mujtama’

Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah

Al-Fatawa

Al-Qital fi Al-Islam

Min Tawjihat Al-Islam

Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh

Fiqh Al-Qur’an

SYEIKH AL-AZHAR, DR. AHMED AL-TAYEB: SERUKAN UMAT ISLAM BERSATU


Sheikh – Azhar Dr Ahmed Al-Tayeb meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tentang perlunya melakukan kebijakan keadilan dan menghentikan kebijakan standar ganda tentang isu-isu Islam dan bangsa Arab.hal ini harus ditunjukkan dengan keseriusan dan tanggung jawab.keadilan yang berhubungan dengan masalah Palestina dan isu utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh rakyat Palestina.Syaikh Al-Azhar dalam sambutannya pada pembukaan Global Forum ke lima untuk lulusan Al-Azhar pada Sabtu malam, yang berlangsung selama empat hari.Pendekatan sejarah Al-Azhar yang cukup panjang untuk mempertahankan Islam yang benar dan untuk membela serta menyebarkan keadilan, keamanan dan perdamaian di antara semua agama dan mengutuk kekerasan
.
Syekh Al Azhar dalam sambutannya mengatakan Islam moderat menghadapi ekstremisme,” afiliasi dalam beberapa pelaku kekacauan serta penyebaran kekerasan dan doktrin terhadap Islam, hal ini tidak mencerminkan realitas pemikiran Islam, yang menyerukan sentrisme, moderasi, yang berhubungan dengan non-Muslim.Syekh Al Azhar menekankan tentang kebutuhan umat Muslim karena menderita diskriminasi untuk kembali kepada satu pemahaman dan menjauhkan dari perbedaan ideology, dalam rangka mencapai kesatuan muslim dan kekuatan baru islam.Syekh Al Azhar juga mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab, keadilan yang menyangkut status Palestina serta untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dari penindasan bangsa Israel.

MIUMI Bongkar Habis Paham Sesat Syiah di Kantor MUI Pusat ?? MIUMI wahabi tukang semir sepatu AS/Israel

E-mail Cetak PDF

Jakarta -

Ya ahlulbait, kami dizalimi..

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

Dalam pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Selasa (27/3) Delegasi dari MIUMI, Ustadz Farid Ahmad Okbah di dihadapan sejumlah petinggi MUI, menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan Syiah di Indonesia

“Melihat awal perkembangan Syiah di Indonesia, pertama kali muncul dari Bangil, Madura, Jawa Timur.  Saya sendiri orang Bangil. Kita mengetahui, dalam menyebarkan paham Syiah di Indonesia, para penggeraknya berdalih menggalang persaudaran diantara umat Islam, namun didalamnya mengandung visi-misi Syiah. Jika dulu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini mulai terang-terangan, contohnya seperti YAPI di Jawa Timur yang dikenal sebagai pusat dakwah dan kaderisasi Syiah,” ujar Ustadz Farid menjelaskan.

Tak dipungkiri, untuk menciptakan kader ulama Syiah, mereke mengutus kadernya untuk belajar ke Syiria, Irak dan Iran, termasuk ke Bangil, Jawa Timur. Ketahuilah, suara ukhuwah Islamiyah adalah kaum Syiah untuk menggalang dukungan dari umat Islam Ahli Sunnah. Sebagai contoh,  tulisan Haidar Bagir di harian Republika yang berjudul “Menuju Persatuan umat”. Tulisan Haidar Bagir pun mendapat tanggapan dari Fahmi Salim dan Prof Baharun di harian yang sama. Dengan licik, Haidar Bagir memasang iklan Yayasan Muslim Islam Bersatu sebagai bentuk propaganda terselubung.

Menurut Ustadz Farid, perkembangah Syiah di Indonesia telah dikukuhkan oleh oleh Gus Dur pada tahun 2000 dengan berdirinya IJABI (Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia). Kata Gus Dur, Syiah itu seperti wanita hamil, yang kini telah lahir sebagai ormas resmi kaum Syiah.

Kemudian tahun 2011, pemerintahan SBY juga mengakui keberadaan ABI (Ahlu Bait Indonesia), dimana Departemen Dalam negeri telah menerima ABI sebagai ormas baru kaum Syiah. Kini, sudah ada dua ormas Syiah: IJABI dan ABI. Meski keduanya, dikabarkan, telah berseberangan pendapat.

Yang mencemaskan Ustadz Farid adalah ternyata gerakan Syiah bukan hanya sebatas pemikiran atau lewat buku, tapi telah menggunakan media-media pemerintah. Di Bandung, pernah diadakan bedah Syiah, dimana Prof  Mohammad Baharun menjadi narasumbernya. Ketika itu, panitia yang menyelenggarakan bedah Syiah sempat mendapat tekanan dari polisi atas permintaan dari IJABI yang ingin cara tersebut dibubarkan. Yang jelas, hal sepert ini terjadi di banyak tempa

Hal yang harus diwaspadai, kata Ustadz Farid, kini mulai banyak anak muda Indonesia yang dicuci otaknya oleh pemahaman Syiah.  Bayangkan, sudah ratusan yayasan  Syiah ada di negeri ini, bahkan mereka membentuk lembaga advokasi, (LBH Universaliyah). Ini menunjukkan Syiah sudah menggurita. “Karena itu, kita harus melakukan langkah kongkrit. Mengingat gerakan Syiah di daerah semakin masif, yang dilakukan oleh gerakan Syiah yang militan dan terdidik.Ini menjadi tantangan dakwah kita semua.”

Corong DMI Dimanfaatkan Syiah ??

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah  selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Allahu Akbar…

Oknum MUI berniat mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Gerakan anti syi’ah di tubuh NU dan Muhammadiyah tidak lebih dari upaya merebut kursi ketua Umum NU dan merampas kursi ketua Umum Muhammadiyah…

MIUMi bergerak cepat sebelum 2014, di back up oknum MUI Pusat melakukan trik trik murahan ini..


Farid Ahmad Okbah juga menyesalkan, DMI yang jelas-jelas Sunni, telah kecolongan dan kesusupan gerakan Syiah. Melihat media internal DMI Tabloid Jumat dalam beberapa edisi, penyusup Syiah itu jelas-jelas menjadikan Tabloid Jumat sebagai corong Syiah.

“Corong Ahlus Sunnah Wal Jamaah pun dijadikan Corong Syiah atas nama ukhuwah. Bahkan ada oknum DMI yang bekerjasama IJABI dengan membentuk Muhsin, dimana Jalaluddin Rahmat sebagai perintisnya. Padahal, Ketua Umum DMI menyatakan penolakannya terhadap Syiah,” kata Ustadz Farid.

Gerakan Syiah juga menggalang kekuatan Ahlu Sunnah di Masjid Sunni al Azhar Kalimalang, dengan cara  membagikan buletin Jum’atan.

MIUMI mengetahui,  tanggal 20 Februari 2011 lalu, MUI Pusat kedatangan tamu dari Iran. “Saya diundang oleh pengurus MUI. Saat itu saya tunjukkan data, bahwa ulama sunni di Iran di penjara dan ditekan. Bahkan, ada penghancuran masjid Sunni di Mashad oleh Pemerintah Iran.

Farid sangat menyesalkan setiap ulama Sunni yang membela Sunni akan dituduh pemecah belah umat, wahabi dan agen zionis.Termasuk dirinya yang difitnah pemecah belah umat dan agen zionis. Seorang Sunni Yusuf Qaradahwi yang mendambakan ukhuwah Islamiyah, kini mulai kecewa dengan Syiah. “Bahkan MIUMI terkena getahnya. MIUMI dikatakan sesat menyesatkan oleh sebuah blog milik Syiah.”

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Resolusi Jihad NU: “Wahabi Aliran Sesat, Harus Ditumpas”?

OPINI | 10 December 2011 | 04:07

begitulah bila membaca, menyimak tulisan tulisan anti Wahaby yang mendominasi ruangan situs situs NU, seperti sedang menabuh Genderang Perang, sesama anak anak bangsa.

Sebagaimana tercermin dalam tulisan tulisan para tokoh tokoh elit NU, ada kesengajaan menabur angin, mengoreksi, mengkritisi, memaki dan menuduh ulama ulama wahaby banyak melakukan “PENIPUAN TERHADAP UMAT” ? ,

wahaby adalah illegal action, teroris, vampire yang haus darah  atau wahabi laksana bajak laut yang berkeliaran dilaut lepas, memburu buruannya: “Wahabi  harus ditumpas”, kilahnya begitu.

Entah kenapa sehingga begitu semangatnya “Anti Wahaby” menggelegar, menggelora , membakar dan mengaduk aduk dada elita  elita NU, dengan semangat kebencian telah melahirkan sikap sikap yang tidak elegan dan picik memahami perbedaan,  tak rela rasanya kalau ada umat Islam memahami Islam versi Wahaby, sehingga berkonotasi “yang berbau wahabiyah pasti salah”, yang benar menurut versi NU, hanya metode beragama yang dikembangkan NU. Hal itu dimuat oleh sebuah situs Resmi “Nahdhatul Ulama” , diantaranya:

    1. Organisasi Tarekat NU Mesir Waspadai Bahaya Laten Wahabisme
    1. Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi
    1. Hubungan dengan Saudi Perlu Ditinjau Ulang
    1. Buku “Pintar Berdebat dengan Wahabi” Dibedah, Sejumlah Pengikutnya Sadar
    1. Karya Nawawi Al Bantani Kukuhkan Doktrin Aswaja atas Wahabi
    1. Waspadai Buku Sejarah yang Beredar
    1. Jaga Generasi Muda dari Ajaran Fundamental
    1. Salafi Jihadi
    1. Salafi
    1. Sejarah “Hitam” Kaum Wahabi
    1. Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan (1)
    1. Bentengi Wahabi, Sekolah Maarif Perlu Miliki Komisariat IPNU-IPPNU
    1. Warga Hentikan Pengajian Wahabi di Masjid
    1. Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi
    1. Kang Said: Waspadai Yayasan Pendidikan dari Arab
    1. Tunas Radikalisme dari Najd
  1. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Itulah doktrin NU kepada anNahdhiyyin, menyerukan Jihad memerangi tukang semir sepatu AS/israel

Konsep NU memandang wahaby adalah sekte yang membahayakan Islam berdasarkan prinsip prinsip telaah pemahaman NU tentang Agama.

wahabi doktrin yang membahayakan Umat  justru bisa memecah belah Umat menjadi berkeping keping seperti pecahan kaca yang berserakan di jalan. Tatapan amarah dan buas terhadap Wahabi mencerminkan NU yang pernah hidup Tenpo doeloe, masa lahirnya orma islam, sebelum lahirnya NU itu sendiri.

Sejarah itu terulang kembali sebagai episode dari “kebencian” yang tidak tercapai sejak tahun 1912. Penghujatan terhadap “wahabi” merupakan “bara api” yang tersimpan dan terasa selama puluhan tahun. Kini saatnya NU menjadi pemuja perdamaian ala ke-NU-an dengan berdamai dengan syiah, tentunya merupakan Usaha NU yang paling sepaktakuler di abad ini memerangi pemahaman Islam yang dirasakan merongrong NU.

=Salam Damai=

Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Ketua MIUMI Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir Lc. MM.

MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) sesat menyesatkan !!! Ngga ngerti syi’ah

Siaran Pers MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI) karena keawaman ilmu saja

Ketua PBNU: Waspadai Gerakan Wahabi

  • Monday, February 6, 2012, 11:32

UMMATONLINE.NET –

Gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj dalam bedah buku  sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2/2012).

Wahabi memiliki dua fraksi :

1. Salafi dakwah, misal : penulis web syiahindonesia.com, Farid Ahmad Oqbah

2. Salafi jihadi, misal : Amrozi, Imam Samudera, Noordin M Top, Doktor Azahari, Abubakar Ba’asyir

MUI, NU dan Muhammadiyah coba disusupi Wahabi dengan misi pro AS/israel

Gerakan anti syi’ah ditubuh NU, Muhammadiyah dan MUi bertujuan :

1. Mewahabikan indonesia (gerakan trans nasional) pro AS/israel

2. Merebut jabatan ketua umum NU / Muhammadiyah

3. Menggagalkan niat  muslimin sunni untuk mengangkat Ketua Umum NU dan Muhammadiyah menjadi CAPRES RI 2014, mereka ingin mengusung CAPRES pro wahabi

4. Sebagian dari mereka didanai AS / israel / Saudi

.

…………………………………………………………..

MINGGU, 24 JULI 2011

Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?


Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.”
.
Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid
.
“Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Saya khawatir, Syiah akan menjadi sasaran berikutnya. Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah
.
Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi
.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

.

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama

.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

.

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan

.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

.

MINGGU, 24 JULI 2011

PROF.UMAR SHIHAB (KETUA MUI) : SYI’AH MAZHAB YANG SAH DI DALAM ISLAM


Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Sy’iah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut Syi’ah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 ,
.
Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat iniRombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.Apakah berita sidang pleno MUI setelah kunjungan resmi ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib hanya dusta dan fitnah atau benar adanya, seperti yg di tulis saudara Kholili Hasib di atas?
.
Sementara MOU itu adalah resmi atas nama Lembaga MUI dan bukan perorangan, beginilah sejatinya kelompok takfir selalu memprovokasi awam dengan berbagia info dan berita yg menyesatkan demi menjalankan agenda musuh2 Islam melalui adu-domba dan pecah-belah Ummat agar Islam lemah dari dalam.
_____________________________________________________________________________________________________________
Setelah MOU antar MUI dan Majma’ Taqrib baynal Mazahib Islamiyah akan keabsahan mazhab Ahlussunah dan Syi’ah (28 April 2011) maka MUI sudah sepantasnya untuk meninjau kembali Fatwa 1984 yg sekarang menjadi dasar pembenaran terjadinya anarkhisme terhadap muslim syi’ah dan mengajak Ulama Syi’ah dan ormas2 Islam untuk merumuskan kembali tentang makna Ukhuwah Islamiyah
.
Dan terpenting adalah Fatwa eksplisit dulu dari MUI bahwa Sunnah-Syi’ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah, agar siapa saja yg ingin berlaku anarkhis mentasnamakan mazhab maka akan berfikir seribu kali, tak jadi soal Fatwa itu efektif atau tidak yg jelas dgn keluarnya fatwa eksplisit dan tegas MUI berperan sebagai pengayom dan pemersatu umat dan bukannya termakan hasudan dan fitnahan dari kelompok takfir lintas mazhab yg lambat-laun akan merobohkan bangunan NKRI dengan konflik horisontal yg mereka lestarikan.UKHUWAH ISLAMIYAH :
.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalaupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama

.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

.

SABTU, 23 JULI 2011

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 23 di Teheran


Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam Ke-23 Teheran 15-17 Rabiul Awal 1431 HSegala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya
.
Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism
.
Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau
.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat
.
Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya
.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah

.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya

.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini

.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll

.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:

a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.

d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.

e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.

f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.

g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.

h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.

i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.

j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi

.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini

.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

RABU, 20 JULI 2011

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam


Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.
“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin
.
Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia
.
Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)
.
Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi
.
“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya
.
Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.
“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)
.

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab


Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju
.
Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syi’ah.Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Buhairah, Mesir
.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H. menjadi mufti umum Al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.Syekh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syi’ah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.

Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syi’ah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayyid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar Al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah Al-Islam”.

2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syi’ah, yang berhubungan dengan pendekatan antar mazhab.

3. Memasukkan fikih Syi’ah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.

4. Dan, yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti Al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu. Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiyah)?

Syekh Syaltut menjawab,

1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.

2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syi’ah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib

Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar Al-Taqrib bayna Al-Madzahib Al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syi’ah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar

Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jum’at tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

Nahju Al-Qur’an fi Bina Al-mujtama’

Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah

Al-Fatawa

Al-Qital fi Al-Islam

Min Tawjihat Al-Islam

Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh

Fiqh Al-Qur’an

SYEIKH AL-AZHAR, DR. AHMED AL-TAYEB: SERUKAN UMAT ISLAM BERSATU


Sheikh – Azhar Dr Ahmed Al-Tayeb meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tentang perlunya melakukan kebijakan keadilan dan menghentikan kebijakan standar ganda tentang isu-isu Islam dan bangsa Arab.hal ini harus ditunjukkan dengan keseriusan dan tanggung jawab.keadilan yang berhubungan dengan masalah Palestina dan isu utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh rakyat Palestina.Syaikh Al-Azhar dalam sambutannya pada pembukaan Global Forum ke lima untuk lulusan Al-Azhar pada Sabtu malam, yang berlangsung selama empat hari.Pendekatan sejarah Al-Azhar yang cukup panjang untuk mempertahankan Islam yang benar dan untuk membela serta menyebarkan keadilan, keamanan dan perdamaian di antara semua agama dan mengutuk kekerasan
.
Syekh Al Azhar dalam sambutannya mengatakan Islam moderat menghadapi ekstremisme,” afiliasi dalam beberapa pelaku kekacauan serta penyebaran kekerasan dan doktrin terhadap Islam, hal ini tidak mencerminkan realitas pemikiran Islam, yang menyerukan sentrisme, moderasi, yang berhubungan dengan non-Muslim.Syekh Al Azhar menekankan tentang kebutuhan umat Muslim karena menderita diskriminasi untuk kembali kepada satu pemahaman dan menjauhkan dari perbedaan ideology, dalam rangka mencapai kesatuan muslim dan kekuatan baru islam.Syekh Al Azhar juga mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab, keadilan yang menyangkut status Palestina serta untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dari penindasan bangsa Israel.

Farid Okbah Bongkar Kesesatan Syiah ?, Umar Shihab Tinggalkan Rapat karena Wahabi cuma Tukang Semir Sepatu AS/Israel

Rabu, 28 Maret 2012 11:17 Redaksi

E-mail Cetak PDF

Jakarta –

Umar Shihab Tinggalkan Rapat karena Wahabi cuma Tukang Semir Sepatu AS/Israel

Ada yang menarik dalam pertemuan antara MIUMI dengan MUI, Selasa (27/3) kemarin.

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

Di saat bersamaan hadir pula Umar Shihab, salah seorang ketua MUI yang memang terkenal pro terhadap Syiah. Umar Shihab pun begitu seksama mendengarkan paparan Ustadz Farid Okbah. Namun lama kelamaan Umar Shihab memilih keluar dari ruangan rapat ditengah para pengurus lainnya setia mendengarkan. Tadinya para wartawan menduga, Umar hanya keluar untuk kepentingan sementara, namun hingga usai pertemuan pada pukul 12.30, wajah Umar Shihab tidak kunjung muncul.

Tidak ada keterangan resmi mengapa Umar Shihab memilih meninggalkan ruangan. Para wartawan yang setia menunggunya pun tidak bisa mengkonfirmasi terkait hal ini.

Sebelumnya, salah seorang ketua MUI, KH Anwar Abbas mengatakan umat Islam perlu mewaspadai beasiswa-beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Iran. Sebab melalui beasiswa pendidikan itulah, Syiahisasi dilakukan. “Saya yakin kalau mereka kembali sudah berubah jadi Syiah,” katanya.

Tokoh Muhammadiyah itu lantas bercerita pengalaman Profesor Amir Syarifudin ke Iran. “Saat berkunjung ke Iran, Prof Amir Syamsuddin bertanya kamu masih Sunni atau sudah Syiah? Mahasiswa itu menjawab, ya sudah Syiah donk Pak,” kata Kiyai Anwar Abbas menirukan jawaban mahasiswa.

Kyai Anwar juga mencium aroma penjinakan yang dilakukan pemerintah Iran kepada tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan cara mengundang mereka datang ke Iran. “Saya sudah mencium, kita kalau diundang ke sana dalam rangka penjinakan,” tambahnya

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah  selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Allahu Akbar…

Oknum MUI berniat  mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Gerakan anti syi’ah di tubuh NU dan Muhammadiyah tidak lebih dari upaya merebut kursi ketua Umum NU dan merampas kursi ketua Umum Muhammadiyah…

MIUMi bergerak cepat sebelum 2014, di back up oknum MUI Pusat melakukan trik trik murahan ini..

Ketua PBNU: Waspadai Gerakan Wahabi

  • Monday, February 6, 2012, 11:32

UMMATONLINE.NET –

Gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj dalam bedah buku  sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2/2012).

Wahabi memiliki dua fraksi :

1. Salafi dakwah, misal : penulis web syiahindonesia.com, Farid Ahmad Oqbah

2. Salafi jihadi, misal : Amrozi, Imam Samudera, Noordin M Top, Doktor Azahari, Abubakar Ba’asyir

MUI, NU dan Muhammadiyah coba disusupi Wahabi dengan misi pro AS/israel

Gerakan anti syi’ah ditubuh NU, Muhammadiyah dan MUi bertujuan :

1. Mewahabikan indonesia (gerakan trans nasional) pro AS/israel

2. Merebut jabatan ketua umum NU / Muhammadiyah

3. Menggagalkan niat  muslimin sunni untuk mengangkat Ketua Umum NU dan Muhammadiyah menjadi CAPRES RI 2014, mereka ingin mengusung CAPRES pro wahabi

4. Sebagian dari mereka didanai AS / israel / Saudi

.

Resolusi Jihad NU: “Wahabi Aliran Sesat, Harus Ditumpas”?

OPINI | 10 December 2011 | 04:07

begitulah bila membaca, menyimak tulisan tulisan anti Wahaby yang mendominasi ruangan situs situs NU, seperti sedang menabuh Genderang Perang, sesama anak anak bangsa.

Sebagaimana tercermin dalam tulisan tulisan para tokoh tokoh elit NU, ada kesengajaan menabur angin, mengoreksi, mengkritisi, memaki dan menuduh ulama ulama wahaby banyak melakukan “PENIPUAN TERHADAP UMAT” ? ,

wahaby adalah illegal action, teroris, vampire yang haus darah  atau wahabi laksana bajak laut yang berkeliaran dilaut lepas, memburu buruannya: “Wahabi  harus ditumpas”, kilahnya begitu.

Entah kenapa sehingga begitu semangatnya “Anti Wahaby” menggelegar, menggelora , membakar dan mengaduk aduk dada elita  elita NU, dengan semangat kebencian telah melahirkan sikap sikap yang tidak elegan dan picik memahami perbedaan,  tak rela rasanya kalau ada umat Islam memahami Islam versi Wahaby, sehingga berkonotasi “yang berbau wahabiyah pasti salah”, yang benar menurut versi NU, hanya metode beragama yang dikembangkan NU. Hal itu dimuat oleh sebuah situs Resmi “Nahdhatul Ulama” , diantaranya:

    1. Organisasi Tarekat NU Mesir Waspadai Bahaya Laten Wahabisme
    1. Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi
    1. Hubungan dengan Saudi Perlu Ditinjau Ulang
    1. Buku “Pintar Berdebat dengan Wahabi” Dibedah, Sejumlah Pengikutnya Sadar
    1. Karya Nawawi Al Bantani Kukuhkan Doktrin Aswaja atas Wahabi
    1. Waspadai Buku Sejarah yang Beredar
    1. Jaga Generasi Muda dari Ajaran Fundamental
    1. Salafi Jihadi
    1. Salafi
    1. Sejarah “Hitam” Kaum Wahabi
    1. Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan (1)
    1. Bentengi Wahabi, Sekolah Maarif Perlu Miliki Komisariat IPNU-IPPNU
    1. Warga Hentikan Pengajian Wahabi di Masjid
    1. Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi
    1. Kang Said: Waspadai Yayasan Pendidikan dari Arab
    1. Tunas Radikalisme dari Najd
  1. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Itulah doktrin NU kepada anNahdhiyyin, menyerukan Jihad memerangi tukang semir sepatu AS/israel

Konsep NU memandang wahaby adalah sekte yang membahayakan Islam berdasarkan prinsip prinsip telaah pemahaman NU tentang Agama.

wahabi doktrin yang membahayakan Umat  justru bisa memecah belah Umat menjadi berkeping keping seperti pecahan kaca yang berserakan di jalan. Tatapan amarah dan buas terhadap Wahabi mencerminkan NU yang pernah hidup Tenpo doeloe, masa lahirnya orma islam, sebelum lahirnya NU itu sendiri.

Sejarah itu terulang kembali sebagai episode dari “kebencian” yang tidak tercapai sejak tahun 1912. Penghujatan terhadap “wahabi” merupakan “bara api” yang tersimpan dan terasa selama puluhan tahun. Kini saatnya NU menjadi pemuja perdamaian ala ke-NU-an dengan berdamai dengan syiah, tentunya merupakan Usaha NU yang paling sepaktakuler di abad ini memerangi pemahaman Islam yang dirasakan merongrong NU.

=Salam Damai=

Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Ketua MIUMI Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir Lc. MM.

MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) sesat menyesatkan !!! Ngga ngerti syi’ah

Siaran Pers MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI) karena keawaman ilmu saja

…………………………………………………………..

MINGGU, 24 JULI 2011

Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?


Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.”
.
Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid
.
“Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Saya khawatir, Syiah akan menjadi sasaran berikutnya. Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah
.
Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi
.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

.

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama

.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

.

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan

.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

.

MINGGU, 24 JULI 2011

PROF.UMAR SHIHAB (KETUA MUI) : SYI’AH MAZHAB YANG SAH DI DALAM ISLAM


Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Sy’iah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut Syi’ah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 ,
.
Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat iniRombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.Apakah berita sidang pleno MUI setelah kunjungan resmi ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib hanya dusta dan fitnah atau benar adanya, seperti yg di tulis saudara Kholili Hasib di atas?
.
Sementara MOU itu adalah resmi atas nama Lembaga MUI dan bukan perorangan, beginilah sejatinya kelompok takfir selalu memprovokasi awam dengan berbagia info dan berita yg menyesatkan demi menjalankan agenda musuh2 Islam melalui adu-domba dan pecah-belah Ummat agar Islam lemah dari dalam.
_____________________________________________________________________________________________________________
Setelah MOU antar MUI dan Majma’ Taqrib baynal Mazahib Islamiyah akan keabsahan mazhab Ahlussunah dan Syi’ah (28 April 2011) maka MUI sudah sepantasnya untuk meninjau kembali Fatwa 1984 yg sekarang menjadi dasar pembenaran terjadinya anarkhisme terhadap muslim syi’ah dan mengajak Ulama Syi’ah dan ormas2 Islam untuk merumuskan kembali tentang makna Ukhuwah Islamiyah
.
Dan terpenting adalah Fatwa eksplisit dulu dari MUI bahwa Sunnah-Syi’ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah, agar siapa saja yg ingin berlaku anarkhis mentasnamakan mazhab maka akan berfikir seribu kali, tak jadi soal Fatwa itu efektif atau tidak yg jelas dgn keluarnya fatwa eksplisit dan tegas MUI berperan sebagai pengayom dan pemersatu umat dan bukannya termakan hasudan dan fitnahan dari kelompok takfir lintas mazhab yg lambat-laun akan merobohkan bangunan NKRI dengan konflik horisontal yg mereka lestarikan.UKHUWAH ISLAMIYAH :
.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalaupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama

.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

.

SABTU, 23 JULI 2011

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 23 di Teheran


Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam Ke-23 Teheran 15-17 Rabiul Awal 1431 HSegala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya
.
Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism
.
Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau
.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat
.
Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya
.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah

.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya

.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini

.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll

.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:

a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.

d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.

e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.

f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.

g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.

h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.

i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.

j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi

.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini

.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

RABU, 20 JULI 2011

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam


Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.
“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin
.
Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia
.
Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)
.
Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi
.
“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya
.
Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.
“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)
.

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab


Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju
.
Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syi’ah.Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Buhairah, Mesir
.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H. menjadi mufti umum Al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.Syekh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syi’ah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.

Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syi’ah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayyid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar Al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah Al-Islam”.

2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syi’ah, yang berhubungan dengan pendekatan antar mazhab.

3. Memasukkan fikih Syi’ah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.

4. Dan, yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti Al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu. Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiyah)?

Syekh Syaltut menjawab,

1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.

2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syi’ah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib

Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar Al-Taqrib bayna Al-Madzahib Al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syi’ah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar

Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jum’at tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

Nahju Al-Qur’an fi Bina Al-mujtama’

Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah

Al-Fatawa

Al-Qital fi Al-Islam

Min Tawjihat Al-Islam

Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh

Fiqh Al-Qur’an

SYEIKH AL-AZHAR, DR. AHMED AL-TAYEB: SERUKAN UMAT ISLAM BERSATU


Sheikh – Azhar Dr Ahmed Al-Tayeb meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tentang perlunya melakukan kebijakan keadilan dan menghentikan kebijakan standar ganda tentang isu-isu Islam dan bangsa Arab.hal ini harus ditunjukkan dengan keseriusan dan tanggung jawab.keadilan yang berhubungan dengan masalah Palestina dan isu utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh rakyat Palestina.Syaikh Al-Azhar dalam sambutannya pada pembukaan Global Forum ke lima untuk lulusan Al-Azhar pada Sabtu malam, yang berlangsung selama empat hari.Pendekatan sejarah Al-Azhar yang cukup panjang untuk mempertahankan Islam yang benar dan untuk membela serta menyebarkan keadilan, keamanan dan perdamaian di antara semua agama dan mengutuk kekerasan
.
Syekh Al Azhar dalam sambutannya mengatakan Islam moderat menghadapi ekstremisme,” afiliasi dalam beberapa pelaku kekacauan serta penyebaran kekerasan dan doktrin terhadap Islam, hal ini tidak mencerminkan realitas pemikiran Islam, yang menyerukan sentrisme, moderasi, yang berhubungan dengan non-Muslim.Syekh Al Azhar menekankan tentang kebutuhan umat Muslim karena menderita diskriminasi untuk kembali kepada satu pemahaman dan menjauhkan dari perbedaan ideology, dalam rangka mencapai kesatuan muslim dan kekuatan baru islam.Syekh Al Azhar juga mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab, keadilan yang menyangkut status Palestina serta untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dari penindasan bangsa Israel.