tanda-tanda Akhir Zaman telah nampak. Inilah era sekularisme di negara sunni

Mengenai perkara-perkara yang berkenaan dengan akidah, kita perlu memperhatikan beberapa masalah di bawah ini:

 

Pertama, kita perlu meniru al-Quran yang mengajarkan kita cara berdiskusi dan membahas sesuatu. Metode diskusi dan perbincangan yang diajarkan al-Quran akan mengantarkan kita keluar dari lingkaran egoisme dan kesempitan berpikir menuju sikap inklusif dan keterbukaan. Metode inilah yang disebut metode terbaik dalam berkomunikasi, dimana kedua belah pihak benar-benar mendapatkan penghormatan oleh lawan bicaranya.

 

Kedua, kita harus menjadikan Islam sebagai parameter tertinggi dalam berinteraksi. Seharusnya dua syahadat (bersaksi bahwa Allah Swt sebagai Pencipta alam semesta dan Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya) dijadikan sebagai syarat terjaganya setiap Muslim dari kekufuran dan kebebasannya dalam berpendapat sesuai dengan mazhab yang diyakininya, sekaligus menjadi syarat perlindungan terhadap harta dan kekayaan yang dimilikinya.

 

Ketiga, seharusnya kata “kafir” dihapus dari kamus percakapan dan komunikasi antar Muslim. Seseorang tidak akan pernah keluar dari bingkai keimanan dan masuk dalam jurang kekufuran selama ia tidak bertentangan dengan prinsip dua syahadat tersebut.

 

Keempat, perbedaan mazhab seharusnya dianggap sebagai variasi dalam kesatuan. Ijtihad setiap mazhab tidak boleh dengan mudah dinilai melenceng dari garis Islam. Mazhab lain tidak boleh dianggap bodoh, bahkan musuh, hanya karena perbedaan cara berpikir dan sumbernya saja. Oleh karenanya, sudah merupakan tugas para pemikir Islam untuk menjadikan budaya komunikasi dan diskusi yang sehat sebagai budaya resmi mereka dimana tak seorang pun yang meragukan dampak positif hal ini.

 

Kelima, jiwa persahabatan, perdamaian, cinta dan kebebasan harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim. Ini adalah tugas utama yang harus diemban oleh setiap cendekiawan dan ulama.

 

Keenam, pada situasi tertentu, perlu adanya sikap tegas terhadap pihak-pihak garis keras dan yang fanatik agar mereka sadar dan mengikuti aturan yang seharusnya. Sering kali terjadi, misalnya saat diadakan sebuah seminar pendekatan antar-mazhab, kita tidak leluasa mengutarakan pelbagai pendapat kita karena masih tetap ada saja rasa fanatik dalam diri kita, atau mungkin kita tidak menjelaskan kenyataan yang sebenarnya tentang suatu mazhab atau pihak lain karena kita tidak sejalan dengan mereka sehingga lawan bicara kita tidak mengetahui yang sebenarnya.

 

Ketujuh, menjalankan ajaran al-Quran, yakni saling menghormati dalam berdiskusi dan bertukar pendapat. Meskipun lawan bicara kita non-Muslim sekalipun, tentu ada titik-titik kesamaan yang dapat ditelusuri dalam pemikirannya dan ditanggapi dengan positif.

 

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan kondisi politik adalah:

 

Pertama, harus ada pemisah antara permasalahan primer dan permasalahan sekunder dalam masyarakat-Muslim. Sebagian dari permasalahan yang berkaitan dengan keseluruhan umat Islam tidak dapat dilakukan oleh seseorang atau tokoh tertentu yang mewakili beberapa kalangan atau juga sebuah partai yang semuanya mengatasnamakan umat Islam, karena kesalahan bertindak dalam hal ini akan membawa bahaya dan kerugian yang dampaknya akan menimpa umat Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, permasalahan yang mengyangkut kepentingan seluruh umat Islam hanya diselesaikan secara bersama dengan melalui pertimbangan yang matang. Adapun sebagian permasalah yang lainnya, yang bersifat terbatas pada dataran geografis, seperti permasalahan satu negara, adalah masalah yang tidak pokok. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan kondisi masyarakat Muslim setempat dan dengan memperhatikan mazhab-mazhab yang ada.

 

Kedua, negara-negara adidaya secara umum, dan Amerika secara khusus, adalah pihak-pihak yang menjadikan Islam dan penganutnya sebagai sasaran utama mereka. Umat Islam harus mengerti tindakan dan usaha kolektif apa yang harus dilakukan guna menghadapi mereka.

 

Ketiga, kita harus waspada dengan maraknya istilah-istilah seperti teroris, kekerasan, kejahatan dan lain sebagainya, yang mana semua kata-kata itu ditujukan kepada kita, umat Islam.

 

Keempat, kita harus memiliki sikap bersama dalam hal bagaimana seharusnya kita menghadapi upaya-upaya musuh yang berlawanan dengan persatuan umat Islam, juga dalam menyikapi istilah-istilah baru yang tersebar di tengah-tengah komunitas dunia, agar kesatuan umat Islam tetap terjaga.

 

Persatuan antar umat Islam bukan sekedar formalitas dan slogan belaka, bahkan berkaitan langsung dengan keberadaan Islam dan kaum Muslimin di panggung dunia yang keadaan mereka saat ini sedang terpuruk. Poin terakhir yang perlu kami ingatkan adalah, jika kita memang benar-benar tidak mampu mencapai persatuan, maka paling tidak kita harus bisa mengatur dan memahami perbedaan-perbedaan antara sesama kita, agar keutuhan kita sesama sebagai ummatan wahidah (umat yang satu) selalu terjaga.

 

Jalan terjal dan berliku yang kita sedang kita lewati begitu banyak. Kita sedang berada di situasi yang genting. sepanjang sejarah kita belum pernah menemukan keadaan umat Islam seperti saat ini. Karena itu, kita harus waspada dan bersikap bijaksana. Jika kita masih sibuk mengungkit perbedaan dan isu ikhtilaf mazhab, maka kita harus bersiap-siap untuk terus terpuruk dan kemudian mengalami kebinasaan.

Pertanyaan penting pertama adalah kenapa bumi diciptakan? Dalam surah Thâha ayat 53, Alquran menyebutkan: “(Dia) yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan.” Allamah Thabathabai dalam tafsir al-Mîzân (14/171) menjelaskan: “Kemudian Allah menempatkan manusia di bumi untuk menghidupkan kehidupan dunia, sehingga mereka dapat memperoleh ketetapan bagi kesenangannya dan kehidupannya yang agung; seperti seorang bayi yang ditempatkan dalam buaian dan membawa naik kepada kehidupan yang lebih mulia…”

Dari sini kita bisa menyadari bahwa bumi telah diciptakan sebagai sebuah lahan persiapan dan alat bagi kesempurnaan manusia serta kesucian hatinya. Kelirunya, banyak orang yang tidak menjaga dunia untuk akhirat yang lebih baik, namun justru menghancurkannya demi keuntungan pribadi.

Apakah Manusia sudah Memanfaatkan Bumi sebagaimana Tujuan Penciptaanya?

Dalam surah ar-Rûm (30: 41), Alquran sudah berbicara dengan jelas tentang orang-orang yang seharusnya bersyukur kepada Allah swt. dengan memanfaatkan bumi untuk tujuan utamanya, tapi malah menyebabkan kerusakan dan setelah itu menghadapi konsekuensi perbuatannya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Dan di dalam surah al-A’râf (7: 10), Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” Kalimat “amat sedikitlah kamu bersyukur” tidaklah selalu dimaknai syukur dengan lisan, karena kenyataannya syukur yang benar adalah memanfaatkan karunia sebagaimana tujuan penciptaannya.

Apa Kewajiban Kita untuk Bumi Saat Ini?

Sejak awal, jawabannya sudah jelas: karena bumi diciptakan untuk meraih kesempurnaan manusia, kita harus membuat keputusan tegas dengan memanfaatkan bumi semata-mata untuk hal tersebut. Bukan berarti kita menghentikan kemajuan ilmu pengetahuan, karena ventures juga sebuah media dalam membantu mengembangkan bumi. Tapi menciptakan solusi dalam memanfaatkan bumi sebagai alat untuk meraih kesempurnaan manusia, mengharuskan kita untuk memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana memanfaatkan bumi dan sumber dayanya dengan baik… dan wahyu (Tuhan) merupakan sumber terbaik dalam mengarahkan kita tentang hal ini.

Pertama kita harus mempelajari unsur-unsur yang bertanggung jawab bagi kerusakan dunia baik secara fisik maupun spiritual. Selama kita tidak mencari akar masalahnya, sekuat apapun usaha kita untuk merubah akan sia-sia. Selama kita berusaha, kita harus tetap berdoa dengan rendah hati agar Allah Swt. dapat menjaga usaha kita (istiqamah) sehingga dapat menyelesaikan dan melepas diri kita dari kelompok yang tidak bertanggung jawab atas krisis bumi ini.

Akar Masalah

Berbagai seminar dan diskusi tentang krisis bumi telah, sedang, dan akan terus diselenggarkan di berbagai tempat. Perayaan seperti “Hari Bumi” juga diperingati agar masyarakat menyadari bahaya yang dihadapi bumi. Pecinta lingkungan telah menyebutkan beberapa masalah. Tulisan yang singkat ini tidak mungkin menyebutkannya satu per satu. Di antara masalah yang mereka sebutkan adalah:

  1. Menipisnya lapisan ozon (yang berperan seperti layar yang melindungi bumi dari radiasi sinar ultra-violet berbahaya). Hal ini berkaitan dengan penggunaan barang-barang yang mengandung gas CFC (chlorofluorocarbon). Di antara dampak bahaya menipisnya ozon adalah kanker kulit, penyakit mata, pemanasan global (global warming), dan seterusnya.
  2. Pencemaran air. Hal ini berkaitan dengan pembuangan limbah industri ke air tanah. Sikap egois dan kapitalistik para produsen dan pengusaha pabrik menimbulkan rasa tidak peduli akan risiko kesehatan bagi mereka yang mengkonsumsi air. Karena sudah jelas bahwa penggunaan air yang terkontaminasi memiliki risiko dan berbahaya bagi kesehatan.
  3. Pencemaran udara melalui limbah industri dan unsur lainnya. Bagi mereka yang ingin lebih tahu lebih jelas tentang masalah lingkungan dapat mencari di ensiklopedia dan internet.

Tapi sebenarnya kita punya pertanyaan mendasar bagi diri kita sendiri: Apa akar masalah dari sikap bodoh yang menyebabkan polusi lingkungan? Jika kita bisa menjawabnya, maka kita mampu menghargai bumi, mengurangi bahkan mungkin menghapus krisis ekologi yang terjadi di bumi yang terzalimi ini.

Alasan mendasar bagi terjadinya krisis ini adalah pandangan-dunia (world view) yang keliru serta pemikiran yang sempit tentang dunia ini. Selama manusia tidak memahami hakikat hidup ini, tujuan penciptaannya, dan hubungan antara Pencipta (khalik) dan yang diciptakan (makhluk), maka ia tidak pernah bermurah hati pada dirinya sendiri serta membiarkan bumi ini rusak. Bumi sejatinya adalah alat bagi tujuan penciptaan, yakni perantara dan kedekatan dengan Allah Swt.

Hal ini juga berhubungan dengan ketidaktahuan kita tentang fakta tersebut atau kurangnya ketaatan dalam diri kita yang menyebabkan kekacauan di bumi yang fana ini. Faktanya, mengapa para aktivis yang berjuang bagi “lingkungan fisik” harus melupakan “lingkungan spiritual”? “Polusi spiritual” lebih terlupakan dari pada polusi fisik. Terlebih, polusi spiritual merupakan penyebab terjadinya polusi fisik. Kesimpulannya, dua alasan yang mungkin menyebabkan kerusakan yang ada di bumi ini:

  1. Kesalahan pandangan terhadap realita: tidak percaya akan Tuhan, wahyu, kehidupan akhirat, dan memiliki keyakinan buatan yang berlawanan dengan sifat alami manusia. Kecenderungan seperti ini diikuti oleh penilaian yang salah, yang datang sebagai hasil dari ketidaktahuan metode yang tepat dalam meraih kebenaran. Ketika seseorang memiliki pandangan yang salah dan tidak mengetahui makna kehidupan, dia akan melakukan apapun yang egonya kehendaki. Dia akan cenderung mengabaikan ketentraman (makhluk) lainnya.
  2. Pengabaian bagi mereka yang beriman: Jika orang beriman yang memiliki pendirian yang kuat tentang keyakinannya ia akan tetap tabah dalam menjalani perintah Allah Swt., bumi akan menjadi tempat yang tentram. Bertentangan jika ia mengikuti keinginannya dengan mengalahkan pemikirannya serta memiliki kelemahan dalam keyakinannya; dia akan membuat bahaya, tidak hanya bagi manusia tapi seluruh makhluk yang hidup di bumi.

Selepas pulang kerja beberapa malam yang lalu, bersama rekan kami melihat keramaian orang yang menyaksikan aksi kejahatan pencurian kaca spion mobil mewah. Tanpa malu berbuat kejahatan di muka publik, peristiwa ini terjadi di tengah rutinitas kemacetan. Masih di malam yang sama, bus kota yang saya tumpangi kehadiran penodong mabuk berkedok pengamen. Tanpa bernyanyi meski membawa gitar, penodong meminta uang kepada penumpang sambil mengeluarkan kata-kata kotor.

Saya sedih. Sambil berpikir benarkah kondisi bumi semakin hari semakin memburuk? Dulu, nabi saw. pernah berkata bahwa menjelang akhir zaman nanti, keburukan dan kejahatan akan benar-benar meliputi seluruh muka bumi, sebelum seseorang dari keturunannya akan menegakkan keadilan.

Ayatullah Mazhahiri mengatakan bahwa manusia mempunyai dua dimensi. Pertama adalah dimensi materi, yang dalam filsafat disebut dengan dimensi hewani. Dalam dimensi ini, ketika nafsu menguasai akalnya, maka manusia adalah hewan dalam arti sesungguhnya. Tapi manusia juga memiliki dimensi kedua, yakni dimensi malakuti, karena ia adalah makhluk yang ditiupkan roh Ilahi. Roh, akal, nurani akhlak, dan hati semuanya tertuju kepada sisi spiritual manusia.[1]

Karenanya kita pernah mendengar dan tahu bahwa jika dimensi malakuti kita kalah maka kita akan menjadi lebih buruk daripada hewan. Sebaliknya, jika kita bisa menaklukkan dimensi hewani, kita bisa menjadi lebih tinggi dari malaikat, karena malaikat hanya diberikan dimensi spiritual. Lalu, kalau manusia memiliki dua dimensi, tidakkah bumi sebagai tempat tinggal manusia memiliki dua dimensi pula?

Melihat perkembangan dimensi materi yang dimiliki bumi akan membuat kita terkagum-kagum. Dulu, butuh waktu berbulan-bulan untuk kita pindah dari satu benua ke benua lain, tapi sekarang dapat ditempuh dalam hitungan jam. Berkat kemajuan teknologi, komunikasi lintas negara juga dapat dilakukan dalam waktu singkat. Kita juga akan dibuat kagum ketika, misalnya, menyaksikan serial dokumenter MegaStructures yang ditayangkan National Geographic. Saya kagum dengan kehebatan manusia sekarang ketika membangun jembatan atau gedung pencakar langit. Tapi yang namanya materi, nantinya ia hanya akan menjadi bagian dari sejarah dan tidak akan kekal.

Dalam Matsnawi dikatakan bahwa setiap kali kita memberikan perhatian kepada dimensi materi semata, maka pada saat yang sama kita akan membunuh dimensi spiritual. Dalam contoh kecil, jika kita hanya memusatkan dan memuaskan kebutuhan hewani seperti makan, minum, atau tuntutan syahwat, maka spiritual kita akan melemah. Ketika dimensi spiritual melemah, mereka itu tidak ubahnya binatang ternak bahkan lebih sesat lagi (QS. Al-A’raf: 179). Kita bisa berbohong, menodong bahkan membunuh demi kepuasan hewani.

Dunia ini selalu menawarkan janji tentang indah dan kekalnya kehidupan materi dan membuat lupa bahwa kita mempunyai sisi rohani, spiritual. Jika kita mampu memusatkan pada dimensi spiritual maka kita bisa mengendalikan dimensi materi (hewani), untuk dimanfaatkan sesuai dengan akal dan agama. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Siapa memperbaiki batinnya maka Allah akan memperbaiki lahiriahnya.

Di antara tanda-tanda akhir zaman sebagaimana yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad saw. adalah “waktu akan terasa begitu cepat; sehingga setahun akan berlalu seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari, sehari seperti sejam, dan satu jam seperti jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan api”. Mengapa?

Beliau menjelaskan bahwa persepsi waktu yang bergerak begitu cepat merupakan konsekuensi dari hilangnya mengingat Allah (zikir) dalam hati dan kesibukan kehidupan dunia menempati posisi penting dalam hati. Konsekuensi dari kekosongan spiritual ini menjadikan “orang-orang saling melakukan kesepakatan bisnis dan nyaris tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya”, dan “akan dikatakan bahwa di antara suku ini dan itu ada seseorang yang bisa dipercaya. Orang-orang akan berkomentar betapa cerdas, unggul, dan tegas orang itu padahal (sebenarnya) dia tidak memiliki iman (kepada Allah) meskipun seukuran biji sawi dalam hatinya.”

Nabi juga memperingatkan bahwa akan ada pengkhianatan besar di mana “fitnah atau godaan akan dilemparkan ke hati manusia dalam bentuk jerami sebatang demi sebatang, dan setiap bagian hati yang terkena olehnya akan memiliki tanda hitam. Hasilnya hati akan menjadi dua jenis, pertama, seperti batu putih yang tidak akan dirusak oleh fitnah selama bumi dan langit masih ada; kedua, hitam berdebu sehingga tidak mampu mengenali kebaikan atau menolak keburukan, karena diselimuti oleh fitnah tersebut.”

Tidak diragukan lagi bahwa masa yang disebut ‘kemajuan’ saat ini adalah masa di mana tanda-tanda Akhir Zaman telah nampak. Inilah era sekularisme. Negara sekular, begitu juga dengan politik, ekonomi, pendidikan, pasar, media, olah raga, entertainment, dan sebagainya. Ruang makan dan kamar tidur juga tersekularisasi. Sekularisme dimulai dengan ‘mengeluarkan Tuhan’ dan berpuncak pada ‘menyangkal Tuhan’! Bagaimana bisa? Ketika pengetahuan tersekularisasi, ia mengarahkan pada keyakinan bahwa pengetahuan datang hanya dari satu sumber, misalnya, observasi eksternal dan penyelidikan rasional. Implikasi pengadopsian epistemologi ini adalah: karena dunia materi ini adalah dunia yang hanya bisa kita ‘ketahui’ dengan cara ini, ia membawa pada keyakinan bahwa inilah satu-satunya dunia yang benar-benar ‘eksis’.

Jadi sekularisme itulah yang membawa kepada materialisme, yaitu, penerimaan atau pengakuan bahwa tidak ada realitas di luar realitas material. Materialisme juga mengarah, secara alami, kepada dunia yang penuh dengan keserakahan, kebohongan, ketidakadilan, penindasan, kefasikan, dan pengkhianatan besar karena fondasi moral masyarakat tidak bisa bertahan tanpa hati berisi spiritualisme agama. Dunia seperti itu tidak ingat sedikitpun dengan hal-hal seperti ‘zikir, mengingat’ Allah Taala.

Apa itu ‘zikir’? Ketika seorang pria menemukan dalam hatinya wanita yang ia cintai, dia akan gemetar seolah-olah pesona wanginya menyelimuti hati. Ini terjadi setiap waktu! Ketika dia mendengar namanya disebut, hal yang sama terjadi. Inilah ‘zikir’! Zikir hanya mungkin terjadi ketika ada cinta sejati. Sehingga ketika cinta pada Allah Taala benar-benar menghilang dari hati, ‘waktu’ bergerak lebih cepat dan semakin cepat. Oleh karena itu, cinta yang tulus kepada Allah akan mengiri kebenaran (al-haq) masuk dan menguasai hati; tentunya ‘waktu’ akan bergerak lambat dan semakin lambat, sampai kebenaran itu memindahkan kita ke dunia ‘tanpa batas waktu’.

Perbedaan-perbedaan antara Maturidiyah dan Asya`irah

E-mail Cetak PDF

Oleh: Ustad Husain Ardilla

PENJELASAN mengenai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah kepada umat menjadi penting, sebab ini dilakukan demi merajut ukhuwah kelompok Ahlus Sunnah (Sunni), memantapkan dan meluruskan pemahaman, memadamkan fitnah, serta membentengi diri

Menentukan apakah sebuah agama atau keyakinan itu salah atau benar tidak bisa diambil dari sedikit atau banyaknya para pengikut yang menganutnya.
Ayat Al-Qur’an seringkali menyalahkan umat mayoritas dan malah memuji umat minoritas dalam berbagai ayatnya dan ini sangat mengherankan karena berbeda dengan keyakinan kebanyakan orang yang menentukan kebenaran suatu keyakinan itu dengan jumlah orang yang meyakininya. Kita lihat misalnya dalam sebuah ayat-ayat berikut ini:
  1. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“. (QS. Saba’: 36)
  2. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 243)
  3. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)
  4. …….. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 49)
  5. …………………….. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-An’am: 119)
  6. ……………….. Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS. Huud: 17)
  7. Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36)
  8. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya). (QS. Al-Israa: 89)
  9. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Ruum: 30)
  10. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(QS. Saba’: 28)
Dan masih banyak lagi ayat yang bernada sama dimana Allah sering menunjukkan betapa yang mayoritas justeru bersama kesesatan dan kesalahan. Allah pastilah punya maksud khusus ketika menyiratkan (dan menyuratkan) berkali-kali dalam Al-Qur’an (lebih dari 30 kali) ketika menggambarkan betapa kebanyakan manusia itu tidak punya rasa syukur dan tidak punya pengetahuan atau tidak condong kepada kebenaran. Bisa dibayangkan kalau kita menentukan kebenaran dengan melihat jumlah orang yang percaya bahwa itu benar sedangkan kebanyakan orang seperti yang dinyatakan oleh Al-Qur’an selalu memilih kesesatan dan lebih condong kepada kesalahan.
.
Jadi orang yang realistik tidak akan pernah merasa khawatir apabila para pengikut dari agama yang diyakininya itu merupakan kelompok minoritas di dalam sebuah kelompok yang besar. Ia juga tidak akan merasa bangga ketika kelompoknya kebetulan adalah kelompok yang mayoritas karena siapa tahu kelompoknya adalah kelompok yang ikut kesesatan dan bukan kebenaran. Sebagai orang yang realistis ia seharusnya berpikir logis.
.
Dalam perang Jamal, seorang laki-laki datang menghampiri Imam Ali bin Abi Thalib dan bertanya:
.
“Bagaimana mungkin engkau menyebut musuh perangmu itu sebagai orang yang ikut kesesatan sementara jumlah mereka lebih banyak daripada pasukanmu?”
.
Imam Ali bin Abi Thalib menjawab:
.
“Kebenaran dan kesesatan itu tidak diukur dari jumlah pengikutnya. Kenalilah kebenaran, dan engkau akan melihat siapakah para pengikutnya; kenalilah kesesatan dan engkau akan tahu juga siapakah para pengikutnya”
.
Seorang Muslim itu sudah sepantasnya dan sepatutnya memecahkan permasalahan itu dengan berpikir logis dan empiris dan mengambil Qur’an sebagai panduan hidupnya.
.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.(QS. Al-Israa: 36)
.
Memang benar bahwa Syi’ah itu hanya diikuti oleh seperempat umat Muslim sedunia (LIHAT A’yan al-Shi’ah, volume 1, halaman 194). Akan tetapi orang dengan terang benderang bisa melihat sepanjang sejarah bahwa lebih banyak ilmuwan dan penulis yang lahir dari kaum Muslimin golongan Syi’ah ini. Bahkan kalau mau jujur hampir semua pendiri cabang ilmu itu berasal dari kaum Muslimin dari golongan Syi’ah. Salah satu yang sering juga disebut-sebut namanya oleh kaum Muslimin ialah Ibnu Sina yang menjadi pendiri atau pelopor ilmu kedokteran moderen yang melepaskan diri dari belenggu takhayul dan kepercayaan sempit yang tidak ada hubungannya dengan kedokteran itu sendiri.
.
Berikut empat nama yang akan saya jadikan contoh (Nama-nama lainnya anda bisa lihat dalam kitab-kitab berikut ini:
  1. al-Dhari’ah Ila Tasanif al-Shi’ah
  2. A’yan al-Shi’ah
  3. Tarikh al-Shi’ah)

.

Mereka adalah:
  • Abu’l-Aswad al-Du’ali, penemu ilmu sintaksis bahasa Arab
  • Al-Khalil Ibn Ahmad, peletak dasar dari ilmu prosody
  • Mu’adh ibn Muslim Ibn Abi Sarah dari Kufah, peletak dasar dari ilmu konyugasi, salah satu cabang ilmu biologi
  • Abu Abdullah Muhammad Ibn Imran Katib dari Khurasan (disebut juga Marzbani), pencetus ilmu retorika (LIHAT: Ta’sis al-Shi’ah, ditulis oleh Sayyid Hasan al-Sadr)

Sepanjang kesaksian sejarah, pada masa kekhalifahan Muawiyah, umat Islam dikenal dalam dua kelompok, yaitu Alawiyah dan Utsmaniyah. Setelah itu, akibat beberapa peristiwa, di masa Umar bin Abdulaziz (versi pertama), atau di masa kekhalifahan Bani Abbas (versi kedua), istilah Ahlussunnah disematkan kepada Utsmaniyah (para pengikut Utsman), sementara Alawiyah (para pengikut Ali) tetap disebut dengan nama pertama mereka, yaitu Syiah.

Secara umum, umat Islam dibagi menjadi dua kelompok utama: Ahlussunnah dan Syiah. Ahlussunnah bercabang kepada beberapa mazhab kalam (teologi), yang terpenting di antaranya adalah Mu`tazilah, Ahlul hadits (hadis centris), Asya`irah, Maturidiyah, dan Wahabiyah. Mu`tazilah adalah hasil dari pertentangan antara keyakinan Khawarij dan Murjiah.

Sebelum mazhab kalam Asya`irah dan Maturidiyah muncul, komunitas Ahlussunnah mengikuti dua mazhab Mu`tazilah dan Ahlul hadits atau Hanbaliyah. Akibat pertentangan keyakinan antara Mu`tazilah dan Ahlul hadits, para ulama Ahlussunnah berinisiatif untuk mereformasi mazhab mereka, khususnya untuk menghadapi prinsip-prinsip kalam Mu`tazilah. Buah dari reformasi ini, adalah kemunculan dua mazhab baru bernama Asya`irah dan Maturidiyah. Sehingga di masa ini, istilah Ahlussunnah wal Jama`ah khusus diberikan kepada dua mazhab terakhir ini.

Pendiri mazhab Asya`irah adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Ia lahir pada tahun 260 H di Bashrah dan wafat tahun 324 H di Baghdad. Sampai usia empat puluh tahun, ia adalah salah satu murid Abu Ali Jubai yang mendukung mazhab Mu`tazilah. Abu Hasan Asy`ari keluar dari mazhab Mu`tazilah pada tahun 300 H. Setelah mengadakan beberapa perbaikan dalam ajaran Ahlul hadits, Abu Hasan Asy`ari mendirikan mazhab baru, yang berlawanan dengan Ahlul hadits dan juga Mu`tazilah. Dalam bidang fikih, Abu Hasan Asy`ari mengikuti mazhab Syafi`i. Di masa sekarang, sebagian besar pengikutnya juga berkiblat kepada Imam Syafi`i dalam masalah hukum.

Sezaman dengan mazhab Asya`irah, Maturidiyah didirikan oleh Abu Manshur Muhammad bin Muhammad Maturidi, di daerah Maturid Samarqand, untuk melawan mazhab Mu`tazilah. Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) menganut mazhab Abu Hanifah dalam masalah fikih. Oleh sebab itu, kebanyakan pengikutnya juga bermazhab Hanafi.

Ada banyak kesamaan antara dua mazhab ini. Keduanya termasuk dalam aliran Ahlussunnah. Terkait kepemimpinan para khalifah setelah Nabi saw sesuai urutan historis yang telah terjadi, keduanya memiliki pandangan serupa. Juga tak ada perbedaan dalam pandangan mereka terhadap para penguasa Bani Umayah dan Bani Abbas. Dalam semua sisi masalah imamah pun mereka saling sepakat. Keduanya juga sepaham bahwa Allah bisa dilihat tanpa kaif (cara), had (batas), qiyam (berdiri) wa qu`ud (duduk) dan hal-hal sejenisnya. Berbeda dengan Hasyawiyah dan Ahlul hadits yang berpendapat bahwa Allah, seperti selain-Nya, bisa dilihat dengan kaif dan had. Dalam hal kalam Allah (Al-Quran), kedua mazhab ini juga memiliki pandangan sama, yaitu bahwa kalam-Nya memiliki dua tingkatan. Pertama adalah kalam nafsi yang bersifat qadim (dahulu), dan kedua adalah kalam lafdhi (lafal) yang bersifat hadits (baru). Ini adalah pendapat moderat dari kedua mazhab ini, yang berada di antara pendapat Mu`tazilah bahwa kalam Allah hadits secara mutlak, dan pendapat Ahlul hadits bahwa kalam-Nya qadim secara mutlak.

Ringkas kata, Asya`irah dan Maturidiyah memiliki banyak kesamaan pandangan dalam masalah akidah. Namun, di saat yang sama, ada pula beberapa perbedaan dalam prinsip-prinsip teologis dua mazhab ini, yang membedakan mereka satu sama lain.

Dalam rangka mereformasi dan mengembangkan akidah Ahlussunnah di hadapan Mu`tazilah, Abu Hasan Asy`ari menempuh jalan Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam banyak kasus, ia memilih sikap jumud `ala dhawahir (hanya memerhatikan sisi lahiriah) dan jarang menggunakan akal dan argumentasi. Namun Abu Manshur Maturidi menjadikan metode Abu Hanifah sebagai dasar teologi Ahlussunnah dan banyak menggunakan argumentasi rasional. Perbedaan mendasar dalam metode ini pula yang memunculkan perbedaan pendapat antara teologi Maturidiyah dan Asya`irah dalam sebagian masalah. Karena itu, metode Maturidiyah lebih jauh dari tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhluk) dan tajsim (menganggap Tuhan memiliki bentuk seperti materi) serta lebih dekat kepada tanzih (penyucian). Sementara metode Abu Hasan Al Asy’ari lebih condong kepada tasybih dan tajsim, walaupun Baqilaini dan Juwaini merombak metode Asy’ari tetapi pengikut Asy’ari tidak tau lagi ajaran Asy’ari yang asli

Parameter utama dalam perbedaan mazhab-mazhab Ahlussunnah adalah masalah husn wa qubh `aqli (baik dan buruk rasional) dan persoalan-persoalan terkait akal dan argumen rasional. Jika Mu`tazilah disebut sebagai simbol husn wa qubh `aqli, maka Maturidiyah berada di tingkat kedua, Asya`irah di tingkat ketiga, sementara Hasyawiyah menolak sepenuhnya masalah husn wa qubh `aqli. Sedangkan Wahabiyah adalah mazhab baru gabungan dari Hasyawiyah dan Hanbaliyah.

Perbedaan-perbedaan antara Maturidiyah dan Asya`irah bisa diklasifikasikan sebagai berikut:

Terkait sifat-sifat khabariyah (sifat-sifat Alah yang tersebut dalam Al Qur’an, seperti yadullah [tangan Allah] dll), Asya`irah meyakini makna lahiriah ayat tanpa takwil dan tafwidh (menyerahkan maknya kepada Allah), sedangkan Maturidiyah menerima tafwidh dan menolak takwil. Sementara prinsip Mu`tazilah dalam masalah ini adalah menakwilkan sifat-sifat khabariyah.

Asya`irah menganggap makrifat Allah wajib berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, sementara Maturidiyah, seperti halnya Mu`tazilah, berpendapat bahwa kewajiban mengenal Allah bersifat rasional.

Karena Asya`irah mengingkari husn wa qubh `aqli, maka mereka berpendapat bahwa perbuatan Allah tidak berlandaskan tujuan. Namun Maturidiyah mengatakan bahwa perbuatan Allah berasaskan maslahat, sebab mereka menerima konsep husn wa qubh `aqli dalam sebagian tingkatannya.

Asya`irah berpendapat bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, sementara manusia adalah wadah bagi perbuatan-Nya. Untuk menghindar dari problem jabr (determinasi), mereka mengemukakan solusi ‘kasb‘. Maturidiyah menolak tafwidh (manusia bertindak bebas dan menafikan intervensi kekuasaan Tuhan) Mu`tazilah serta jabr Ahlul hadits dan Asya`irah. Mereka berpendapat bahwa meski perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, namun di saat yang sama, ia adalah pelaku dan kasib (hasil) perbuatannya sendiri.

Seperti kaum `Adliyyin, Asya`irah membagi sifat-sifat Allah kepada dzati dan fi`li. Namun Maturidiyah menolak pembagian ini dan menyatakan bahwa semua sifat fi`li-Nya qadim seperti sifat dzati.

Asya`irah mengatakan bahwa Allah mustahil membebankan taklif yang tak mampu dilakukan manusia, sementara Maturidiyah berpendapat sebaliknya.

Asya`irah meyakini bahwa semua yang dilakukan Allah adalah baik, sedangkan Maturidiyah, berdasarkan hukum akal, berpandangan bahwa Dia mustahil berbuat zalim.

Kesimpulannya, meski Asya`irah dan Maturidiyah tergabung dalam kelompok Ahlussunnah dan banyak memiliki kesamaan, namun mereka juga memiliki perbedaan pendapat dalam sebagian masalah

.

Mazhab Teologi Asyariyah Dalam Sorotan

Asy’ariyah atau Asya`irah adalah sebutan bagi para pengikut Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Asy`ari. Tolak Ukur utama dalam meneliti proses terbentuknya Asya`irah adalah kinerja mazhab Mu`tazilah. Dijadikannya perubahan sebagai landasan penyingkapan hakikat oleh Mu`tazilah dan perselisihan mereka dengan para fukaha dan ahli hadis, memicu penentangan terhadap Mu`tazilah. Hingga akhirnya, dengan adanya provokasi dari pihak Mutawakkil, kelompok Mu`tazilah dikucilkan dan kemudian lahirlah kelompok moderat, yaitu Asya`irah.

Asya`irah menjadikan dalil rasional (`aqli) sebagai sarana pembuktian ajaran akidah konvensional. Di penghujung abad keenam, ada tiga tokoh yang memilih metode ini, yaitu Abu al-Hasan Asy`ari di Baghdad, Thahawi (wafat 331 H) di Mesir, dan Abu Manshur Maturidi (wafat 333 H) di Samarqand. Kendati terdapat perbedaan antara mereka, namun mereka sepakat untuk sama-sama menentang Mu`tazilah.

Abu al-Hasan Asy`ari lahir di Bashrah tahun 260 H. Garis keturunannya sampai kepada Abu Musa Asy`ari, salah seorang sahabat terkenal. Beliau adalah murid Abu Ali Jubba’i. Beliau mempelajari ilmu kalam (teologi) dari Mu`tazilah dan banyak menimba ilmu dari para fukaha dan ahli hadis. Setelah mengkaji hasil pelajaran terdahulunya, beliau lalu mengkritisi dan menolak sebagian keyakinan dirinya yang diambil dari Mu`tazilah. Di antara keyakinan terdahulunya adalah al-Quran itu makhluk, kemustahilan melihat Allah, dan menghindari penisbatan keburukan kepada Allah. Kitab al-Ibanah mengandung kritik-kritik Asy`ari terhadap Mu`tazilah. Dalam kitab itu, ia menyebut Mu`tazilah sebagai kelompok penakwil al-Quran dan menyatakan kecenderungannya kepada al-Quran, sunah, dan metode Ahmad bin Hanbal. Ibnu `Asakir menyebut judul 98 kitab yang ditulis Asy`ari hingga tahun 32 H. Empat karyanya yang terkenal adalah:

1. Al-Luma` fi Al-Rad `ala Ahl al-Zaigh wa al-Bida`.

2. Al-Ibanah fi Ushul al-Diyanah.

3. Istihsan al-Khaudh fi `Ilm al-Kalam.

4. Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin.

Tiga kitab pertama seputar ilmu kalam dan kitab keempat tentang pengenalan mazhab-mazhab. Judul yang dipilih untuk kitab keempat menunjukkan sikap moderat dan toleransi Asy`ari.

Pandangan-pandangan Asy`ari

Asy`ari memilih metode `aqli-naqli (kombinasi akal dan riwayat) sebagai metode yang moderat. Misalnya, dalam bab tauhid, ia meyakini penambahan sifat atas zat Allah. Sikap moderat ini tampak dalam pandangan-pandangannya. Secara umum, Asya`irah membuktikan keberadaan Tuhan dengan tiga cara: naqli, `aqli, dan qalbi (hati) yang mirip dengan metode sufi Imam Ghazali dan Fakhruddin Razi. Berdasarkan pendapat Fakhruddin Razi, ada dua argumen filosofis, yaitu Burhan Imkan al-Ajsam (argumentasi kemungkinan keberadaan materi) dan Imkan al-A`radh (kemungkinan sifat), serta dua argumen teologis, yaitu Burhan Huduts al-Ajsam (argumentasi barunya materi) dan Huduts al-A`radh (barunya sifat), yang semua ini digunakan Asya`irah untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Terkait pengenalan Tuhan, sebagian Mu`tazilah (seperti Juwaini dan Ghazali) berpendapat bahwa hal ini tidak mungkin, sementara sebagian yang lain (seperti Baqillani) berpandangan sebaliknya.

Sifat-sifat Allah: Sifat-sifat Allah ada tiga bagian, yaitu salbi (negatif), tsubuti (tetap), dan ikhbari, yaitu seperti sifat manusia (misalnya, memiliki mata dan tangan). Asy`ari berpendapat bahwa bagian yang ketiga harus diyakini secara bila kaif (tanpa cara dan bagaimana), sebab substansi sifat-sifat ini tidak jelas bagi kita.

Determinasi (Jabr) dan Ikhtiar: Dalam masalah ini, demi menjaga sisi qadha dan qadar Allah serta ikhtiar manusia, Asya`irah mengemukakan pandangan kasb (usaha) yang merupakan istilah al-Quran. Penafsiran mereka tentang kasb adalah sebagai berikut: Kemampuan (qudrah) ada dua macam, yaitu qadim/lama (yang merupakan milik Allah dan berperan dalam penciptaan perbuatan) dan hadits/baru (yang merupakan milik hamba). Satu-satunya fungsi kemampuan hadits adalah bahwa hamba merasakan kebebasan dalam dirinya. Oleh karena itu, makna kasb al-fi`l adalah berbarengannya penciptaan perbuatan dengan penciptaan kemampuan hadits pada diri manusia. Tentunya, Asy`ari menyebut kasb sendiri sebagai ciptaan Allah. Beliau berpendapat bahwa orang yang melakukan kasb adalah tempat Allah mewujudkan perbuatan-Nya dan orang itu berperan sebagai sarana perbuatan Allah.

Baik dan buruknya perbuatan (husn wa qubh): Asy`ari menyebut tiga makna baik dan buruknya perbuatan dan memilih makna ketiga sebagai makna yang benar. Tiga makna itu adalah:

1. Kesempurnaan dan kekurangan.

2. Mengandung maslahat atau madharat.

3. Layak dipuji atau dicela. Menurutnya, tidak ada perbuatan yang layak dipuji atau dicela secara mandiri. Hanya lantaran perintah dan larangan dari syariat-lah suatu perbuatan layak dipuji atau dicela.

Kosmologi: Meliputi dua masalah:

a) Struktur semesta: Asya`irah condong kepada teori atomisme (jauhar fard). Melalui teori ini, Asya`irah mendapat peluang untuk membuktikan bahwa dunia itu hadits (baru) dan Allah sebagai satu-satunya Zat yang qadim (dahulu).

b) Mortalitas semesta: Asya`irah berpendapat bahwa semesta itu mortal. Mereka menyebut `aradh (sifat) mortal dan jauhar (esensi) imortal. Tujuan dari pandangan ini adalah pembuktian sifat qadim Allah dan peran abadi-Nya dalam segala perkara semesta.

Antropologi: Meliputi dua pandangan:

a) Hakikat manusia adalah jauhar (esensi) jasmani (Juwaini).

b) Hakikat manusia adalah esensi ruhani (Baqalani).

Tokoh-tokoh Asya`irah: Di antaranya adalah: Abu Bakar Baqillani (penulis al-Tamhid), Imam Ghazali, Imam al-Haramain Juwaini, Fakhrurrazi, Baidhawi, dan Sayyid Syarif Jurjani.

Mazhab kalam ini memiliki peran penting di tengah kaum Muslimin, kendati di masa Asy`ari sendiri tidak begitu mendapat perhatian khalayak. Pada hakikatnya, Asy`ari dikucilkan lantaran penentangan dan perselisihan sengitnya dengan ahlul hadits (para pendukung hadis). Namun belakangan, khususnya setelah era Imam al-Haramain Juwaini dan dukungan dinasti Saljuqi di masa Khaje Nidham al-Mulk Thusi terhadap mazhab ini, Asya`irah menjadi mazhab kalam yang dominan di tengah Ahlussunnah. Hingga sekarang pun, sebagian besar kaum Muslimin Ahlussunah di seluruh dunia, khususnya yang bermazhab Syafi`i dan Hanafi, merujuk dan mengacu kepada Asya`irah dalam masalah-masalah akidah.

Hanya saja umat Islam perlu memahami kembali akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam konteks sekarang ini – dengan tujuan untuk lebih memantapkan pemahaman kita terhadap akidah, pemikiran dan tantangannya. Hal ini penting, sebab bisa terjadi seseorang mengaku Sunni, tetapi di luar pengetahuannya ia sebenarnya bukan pengikut Sunni sejati.

Identitas sebagai kelompok Sunni terkadang diperebutkan, terkadang pula disempitkan konsepnya. Identitas ini diperebutkan, sebab kelompok ini yang disebut para ulama dahulu sebagai kelompok yang setia memegang ajaran Islam. Karena pandangan yang terlalu riqid dan sentimen kepada kelompok lain, sehingga konsep Ahlus Sunnah kadang dipersempit untuk ‘jama’ah’-nya sendiri.

Syi’ah pakistan dibantai, pemerintah Pakistan tidak ubahnya upahan Barat

Derita Warga Syiah Pakistan Tidak Bisa Didiamkan

 

“Konflik menjadi terbuka di Pakistan dalam tahun 80-an setelah kemenangan Revolusi Islam Iran 1979. Revolusi Islam Iran yang membawa pesan persatuan Islam kepada seluruh dunia, menjadi pemicu bermunculannya kelompok-kelompok teroris. AS tidak akan pernah memberi izin kepada umat Islam untuk bersatu, karena itu konflik-konflik mereka rekayasa dalam tubuh umat Islam, sehingga persatuan yang didambakan kaum muslimin tersebut menjauh dan tidak terjadi.”

 

Derita Warga Syiah Pakistan Tidak Bisa Didiamkan.
Hujjatul Islam Wal Muslimin Husaini Arif Selasa siang (6/3) dalam penyelenggaraan Seminar ‘Syuhada Ruhani Wahdat Islami’ yang diselenggarakan oleh Kantor Berita ABNA bekerjasama dengan beberapa yayasan di Qom Iran telah menceritakan hal-hal yang melatari terjadinya tindakan kekerasan dan teror bagi warga Syiah di Pakistan
.
Sambil mengucapkan terima kasih kepada para hadirin yang menyempatkan diri hadir dalam seminar tersebut, beliau berkata, “Pakistan telah merdeka dari India sejak tahun 1947 dibawah kepemimpinan Muhammad Ali Jinnah seorang muslim Syiah dari Negara tersebut.”
Pimpinan Kantor Berita ABNA tersebut lebih lanjut berkata, “Sejak kemerdekaan Pakistan sampai saat ini, pengikut Syiah di Negara tersebut tidak pernah terpisah dari keseluruhan masyarakat Pakistan, mereka bagian dari Pakistan yang tidak pernah terpisah dari Negara tersebut. Bertahun-tahun mereka hidup bersosial satu sama lain, saling menikahkan antara mereka. Hal tersebut menunjukkan sunni-syiah bisa hidup harmonis dan berdampingan tanpa memunculkan persoalan-persoalan yang dipicu oleh perbedaan mazhab.”
.
Mengenai peristiwa pertama yang memicu konflik sektarian yang terjadi di Pakistan, beliau menyatakan, “Peristiwa pertama yang terjadi di Pakistan mungkin boleh dikatakan berlatarkan seperti hari ini, yaitu pada tahun 1960 di Universitas Lahore terjadi pembunuhan seorang mahasiswa yang kebetulan pengikut Syiah yang kemudian berlarut-larut dan membesar menjadi konflik sunni-syiah di Negara tersebut.
“Kematian mahasiswa Syiah di Universitas Lahore tersebut memancing mahasiswa Syiah seluruh Pakistan mendeklarasikan sebuah kelompok yang mereka beri nama, Persatuan Mahasiswa Syiah, yang bertujuan untuk mempertahankan hak-hak Syiah sebagai warga Negara yang berhak diperlakukan adil. Keberadaan organisasi tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi perselisihan-perselisihan yang ditimbulkan karena perbedaan mazhab.” Lanjutnya.

“Hingga tahun 1980, kita tidak melihat adanya konflik yang dipicu alasan perbedaan mazhab. Namun sejak tahun 1982 teror-teror kepada penganut mazhab yang berbeda sudah mulai bermunculan, yang dipelopori oleh kelompok radikal Sepah-e-Sahaba (tentara sahabat). Tercatat sejak tahun 1985 kelompok teroris tersebut sampai saat ini masih juga melumuri tangan mereka dengan darah kaum muslimin, baik Sunni maupun Syiah.”

Beliau menambahkan, “Konflik menjadi terbuka di Pakistan dalam tahun 80-an setelah kemenangan Revolusi Islam Iran 1979. Revolusi Islam Iran yang membawa pesan persatuan Islam kepada seluruh dunia, menjadi pemicu bermunculannya kelompok-kelompok teroris. AS tidak akan pernah memberi izin kepada umat Islam untuk bersatu, karena itu konflik-konflik mereka rekayasa dalam tubuh umat Islam, sehingga persatuan yang didambakan kaum muslimin tersebut menjauh dan tidak terjadi.”

Hujjatul Islam Husain Arif menceritakan dalam berbagai operasi militer kelompok Sepah-e-Sahaba telah merenggut nyawa banyak orang. “Tahun lalu saja 291 warga Syiah Pakistan terbunuh dalam berbagai aksi teror mereka di mana 123 orang meninggal oleh ledakan bom dan 168 lainnya meninggal oleh tembakan spionase maupun serangan bersenjata secara terbuka.” Paparnya.

bahawa keganasan di Pakistan tidak hanya dilakukan oleh kumpulan Sepah-e-Sahaba sahaja. Menurut beliau, “Beberapa kumpulan pengganas di Pakistan dilindungi oleh Amerika, Israel dan pertubuhan-pertubuhan keselamatan yang diupah mereka aktif di rantau itu.”

Selain itu beliau menceritakan apa yang terjadi di Parachinar, “Parachinar adalah wilayah berpenduduk mayoritas Syiah, dan konflik baru di wilayah ini bermula pada tahun 2007 akibat penghinaan kelompok teroris terhadap Imam Husain dan penyelenggaraan upacara duka Muharram”.

Hujjatul Islam Husaini Arif menambahkan, “Sejak tahun 2007 sampai saat ini, sudah 5 tahun lebih warga Parachinar terisolir. Meskipun telah berkali terjadi beberapa gencatan senjata namun pada kenyataannya, kawasan tersebut tidak pernah aman.”

Pimpinan ABNA tersebut mengkritik pemerintah Pakistan dengan mengatakan, “Pemerintah Pakistan turut bertanggungjawab atas terjadinya berbagai aksi teror yang merenggut ratusan nyawa tersebut. Sayangnya, pemerintah Pakistan tidak ubahnya upahan Barat yang bekerjasama dengan kelompok teroris. 1600 nyawa melayang di Parachinar tidak membuat pemerintah Pakistan turun tangan untuk menghentikan atau mencegah aksi-aksi biadab tersebut.”
.
Hujjatul Islam Husain Arif berkata, “Ketakutan terhadap wacana persatuan Islam yang didengungkan revolusi Islam Iran, berubah menjadi ketakutan terhadap ideologi Syiah. Berbagai macam cara dilakukan musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dan menyingkirkan Syiah. Termasuk dengan menebar teror dan melakukan pembantaian berdarah.”

.
Beliau menegaskan bahawa Syiah mampu melakukan perubahan dalam negara tersebut, “30 juta Syiah di Pakistan telah bertekad melakukan perubahan di Negara tersebut, agar keadilan bisa ditegakkan.”
.
Di akhir pembicaraan, beliau mengingatkan mengenai Al-Quran yang mengajarkan umat Islam untuk mengagungkan dan membesarkan kedudukan para syuhada. “Untuk kepentingan mengagungkan syuhadalah acara ini diadakan.” Tutupnya.

Masjid Umat Syiah Belgia Dibakar wahabi, imam masjid dibunuh !!

Belgia:
 Masjid Umat Syiah Belgia Dibakar wahabi, imam masjid dibunuh !!
Atas nama kebencian, permusuhan dan dengan dalih perbedaan keyakinan masjid Imam Ridha as di kota Brussel yang selama ini menjadi tempat beribadah umat Syiah Belgia, dibakar dan diratakan dengan tanah. Tidak cukup dengan itu, imam jama’ah masjid tersebut Hujjatul Islam wa Muslimin Syaikh Abdullah Al Dahdo harus kehilangan nyawa ditangan orang-orang yang telah dibutakan oleh fanatisme.
Masjid Umat Syiah Brussel Dibakar, Majma Menyatakan Kecaman.
, kembali masjid umat Syiah mendapat serangan teroris Wahabi. Kali ini masjid Imam Ridha As yang terletak di kota Brussel, ibu kota Belgia diserang kelompok bersenjata yang menyebabkan Imam Masjid Syaikh Abdullah Al Dahdo meninggal ditempat dan beberapa jama’ah shalat lainnya mengalami luka-luka. Menyikapi kejadian tragis tersebut, Majma Jahani Ahlul Bait As sebagai sebuah lembaga internasional yang beranggotakan cendekiawan dan tokoh-tokoh pemikir Islam di seluruh dunia mengecam dan mengutuk pelaku penyerangan tersebut.Majma Jahani Ahlul Bait As juga meminta tanggungjawab lembaga-lembaga hukum dan perlindungan HAM Eropa untuk tidak mendiamkan kejadian tersebut. Majma menyebutkan serangan kepada warga yang sedang menjalankan ibadahnya atas nama apapun tidak bisa dibenarkan dan menginjak-injak kemanusiaan. Jika hal tersebut dibiarkan, maka akan memicu peristiwa yang lebih besar lagi yang pada akhirnya akan merusak perdamaian dunia.Berikut teks lengkap pernyataan sikap Majma Jahani Ahlul Bait As mengenai peristiwa yang tidak berprikemanusiaan tersebut:
Bismilllahirrahmanirrahim

من المؤمنین رجال صدقوا ما عاهدو الله علیه فمنهم من قضی نحبه ومنهم من ینتظر وما بدلو تبدیلا.(قرآن کریم)

Masjid, sebuah tempat yang dimuliakan umat Islam, yang dipercaya sebagai rumah Tuhan dan tempat beribadah kepada Allah SWT kembali rubuh dan mihrab yang semestinya menjadi tempat sujud hamba-hamba yang beriman justru bergelinang darah. Atas nama kebencian, permusuhan dan dengan dalih perbedaan keyakinan masjid Imam Ridha as di kota Brussel yang selama ini menjadi tempat beribadah umat Syiah Belgia, dibakar dan diratakan dengan tanah. Tidak cukup dengan itu, imam jama’ah masjid tersebut Hujjatul Islam wa Muslimin Syaikh Abdullah Dahdave harus kehilangan nyawa ditangan orang-orang yang telah dibutakan oleh fanatisme. .

Peristiwa ini akan membakar jiwa insan-insan yang merdeka dan hati-hati seluruh kaum muslimin. Peristiwa tragis ini bukan kejadian yang serba tiba-tiba namun dirancang oleh sebuah konspirasi yang besar. Kejadian serupa dan sampai saat ini masih terjadi di Pakistan, Afghanistan, Irak, Belgia dan Negara-negara yang lain adalah kejadian yang saling terpaut satu sama lain, dan dirancang oleh sebuah agenda besar yang tidak diragukan lagi ada kepentingan AS dan Israel yang bermain di dalamnya. Sayangnya, dalam tubuh umat Islam ada kelompok yang justru baik sadar maupun tidak sadar perbuatannya justru memuluskan kepentingan AS dan Israel tersebut. Melalui fatwa-fatwa jahil hanya karena perbedaan mazhab, seorang muslim halal darahnya untuk ditumpahkan. Disaat gaung persatuan umat Islam mulai membahana diseantero dunia, mereka malah sibuk memecah belah umat Islam dengan isu-isu perbedaan mazhab.

Meninggalnya Hujjatul Islam wa Muslimin Syaikh Abdullah Al Dahdo, imam jama’ah shalat dan Pembina masjid Imam Ridha as di kota Brussel-Belgia adalah kedukaan bagi semua pengikut dan pecinta Ahlul Bait di seluruh dunia. Majma Jahani Ahlul Bait as dalam hal ini mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada imam Zaman Afs, kepada seluruh kaum muslimin khususnya warga muslim Belgia dan begitu pula kepada keluarga mulia beliau yang ditinggalkan.

Syahid Syaikh Abdullah Al Dahdo sepanjang umurnya berkhidmat untuk Islam dan kaum muslimin, namun mata beliau harus terpejam dan tubuhnya harus bersimbah darah oleh kelompok yang tidak melakukan apa-apa selain kerusakan dan pengrusakan. Ia terbunuh oleh kebencian dan fanatik buta serta dipicu oleh fatwa yang menyebutkan halal darahnya pengikut Syiah ditumpahkan dan mendapatkan pahala yang besar.

Majma Jahani Ahlul Bait As menyatakan dengan tegas kecaman dan mengutuk aksi biadab tersebut. Dan menghimbau kepada seluruh pengikut Ahlul Bait di seluruh dunia untuk tidak melakukan aksi balasan dengan melakukan hal yang serupa, melainkan menuntut tanggungjawab pelakunya melakui jalur hukum yang berlaku.

Terakhir, Majma Jahani Ahlul Bait As kembali mengucapkan perasaan duka yang mendalam atas tragedi tersebut dan berharap semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan bagi Syahid Syaikh Abdullah Al Dahdo mendapat kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Kami yakin kesyahidan beliau akan menjadi pemicu semakin eratnya persatuan umat Islam di seluruh dunia yang akan semakin menggentarkan musuh-musuh Islam.

Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Majma Jahani Ahlul Bait As

.

Imam Masjid Korban Kebiadaban Wahabi:
Biografi Singkat Syaikh Abdullah Al Dahdoh
Anggota Majma Jahani Ahlul Bait As tersebut, tidak hanya mendakwahkan Islam di negerinya, namun juga melakukan perjalanan dakwah di beberapa Negara Eropa lainnya dan juga berkali-kali menjadi pembicara dalam beberapa konferensi-konferensi Internasional.

Biografi Singkat Syaikh Abdullah Al Dahdoh.

kesyahidan Hujjatul Islam wa Muslimin Syaikh Abdullah Al Dahdoh, salah seorang anggota Majma Jahani Ahlul Bait as dan imam shalat jama’ah Masjid Imam Ridha kota Brussel ibu kota Belgia melahirkan kedukaan yang sangat mendalam bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan namun juga seluruh pecinta dan teman-teman dekat beliau.

Kantor Berita ABNA merasa perlu untuk menuliskan secara singkat biografi dan riwayat hidup pejuang Islam ini.

Hujjatul Islam wa Muslimin Syaikh Abdullah Al Dahdoh adalah warga asli dan lahir di Negara Belgia, setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya pada jurusan Ilmu Sains di Belgia, ia tertarik untuk lebih mendalami Islam dan ajaran Ahlul Bait dengan berhijrah ke Iran dan menimba ilmu di Hauzah Ilmiyah Qom, Iran pada tahun 1981. Sepulang dari menimba ilmu pada jurusan Fikih dan Ma’arif Islam, ia mendirikan yayasan Islam dan masjid Imam Ridha As di Brussel ibu kota Belgia, yang kemudian menjadi tempat ia mengajarkan ilmu-ilmu keislaman yang telah dipelajarinya.
Tidak hanya sekedar memimpin Yayasan dan mengasuh jama’ah masjid yang berjumlah kurang lebih 200 orang, beliau juga menulis berjilid-jilid buku-buku keislaman yang sangat diminati bukan hanya kaum muslimin di Belgia namun juga dari kalangan non muslim. Beliau juga menerjemahkan beberapa buku karya ulama Iran dalam bahasa Perancis yang juga tidak kurang peminatnya.

Anggota Majma Jahani Ahlul Bait As tersebut, tidak hanya mendakwahkan Islam di negerinya, namun juga melakukan perjalanan dakwah di beberapa Negara Eropa lainnya dan juga berkali-kali menjadi pembicara dalam beberapa konferensi-konferensi Internasional. Konferensi Internasional yang terakhir beliau ikuti adalah pertemuan kelima tokoh-tokoh dan pemikir Islam di Teheran tahun ini dan sempat bertemu dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Sayyid Ali Khamanei ra.

Perjalanan terakhir beliau keluar negeri adalah ke Irak untuk berziarah ke makam Sayyidussyuhada Imam Husain as. Dan riwayat perjalanan kehidupan beliau berakhir pada Senin (12/3) menjelang shalat maghrib. Ketika hendak memimpin shalat, ia harus meregang nyawa oleh serangan bersenjata kelompok yang mengklaim diri menganut mazhab paling Islami

.

 

Ekstremisme Keberagamaan… Fanatisme, Terorisme dan Intoleran

Islam adalah agama kasih sayang, toleran dan moderat. Umat Islam berbeda dengan umat-umat lain karena kemoderatannya, sebagaimana dinyatakan oleh Allah Swt dalam firman-Nya. Agama kita unggul karena mengedepankan toleransi, kemudahan, dan tidak mempersulit umatnya. Namun demikian, ada saja kelompok-kelompok yang menyalahi maksud Pembuat syariat yang Mahabijaksana. Mereka menanggalkan tanda sebagai umat yang moderat dan seimbang. Mereka menyimpang dari jalan yang lurus dan menyempal dari manhaj yang benar. Mereka cenderung berlebih-lebihan dan kaku.

 

Fenomena yang memilukan ini memberikan peluang kepada musuh-musuh Islam untuk melancarkan kampanye gelap berisi fitnah dan tuduhan yang ingin disematkan kepada Islam, yaitu tuduhan fanatik, teroris, intoleran dan tudingan-tudingan lain yang tidak berdasar tentang Islam dan tidak ada sandarannya, baik dari ilmu pengetahuan maupun dari realitas sejarah. Orang-orang yang menyimpang itu, sadar tidak sadar, telah membantu musuh-musuh umat Islam untuk mewujudkan apa yang ingin mereka ambil dari Islam dan pemeluknya.

 

Inilah topik bahasan dalam dialog kita kali ini bersama Syekh Yusuf al-Ghaus, peneliti Islam dari Lebanon.

 

Tanya: Profesor yang terhormat! Apa itu ekstremisme keberagamaan?

 

Jawab: Ekstremisme atau al-tatharruf adalah berlebih-lebihan dalam beragama, tepatnya menerapkan agama secara kaku dan keras hingga melewati batas kewajaran. Para ulama dulu menerapkan kata ekstremisme keberagamaan kepada orang, pendapat, atau perbuatan yang menyalahi syariat. Dia memahami nash-nash syariat dengan pemahaman yang melenceng jauh dari maksud Pembuat syariat dan spirit Islam. Dengan demikian, ekstremisme dalam beragama adalah pemahaman yang mengarah kepada salah satu dari dua kesimpulan yang tidak baik, yaitu keterlaluan dan melampaui batas (al-ifrâth wa al-tafrîth).

 

Orang yang ekstremis dalam beragama adalah orang yang melewati batas-batas agama, berpaling dari hukum dan petunjuknya. Orang yang berlebih-lebihan dalam beragama adalah ekstremis yang menyangkal kemoderatan dan kemudahan agama. Kata lain yang punya kaitan dengan ekstremis adalah berlebih-lebihan atau al-ghuluw. Para ulama telah menjelaskan pengertian berlebih-lebihan dalam beragama, antara lain al-Nawawi. Dia mengatakan, “Al-Ghuluw (berlebih-lebihan) adalah menambah-nambahkan sesuatu di luar yang dituntut oleh syariat.” Dengan kata lain, al-ghuluw adalah melampaui perintah Allah dengan alasan untuk memperketat.

 

Tanya: Menurut Anda, mengapa fenomena ekstremisme keberagamaan ini bisa terjadi? Apa penyebabnya?

 

Jawab: Penyebab utama terjadinya ekstremisme dalam beragama adalah salah memahami agama, fanatik buta kepada satu pendapat, dan tidak mengakui pendapat orang lain, terutama dalam persoalan-persoalan ijtihad (ijtihâdiyah). Salah paham dan fanatik buta kepada satu pendapat menyebabkan orang yang ekstremis menganggap masalah-masalah ijtihâdiyah sebagai masalah yang pasti, yang hanya memiliki satu pendapat, yaitu pendapatnya. Petunjuk paling jelas atas ekstremisme adalah fanatik kepada satu pendapat dan tidak mengakui pendapat orang lain. Petunjuk lainnya adalah bersikeras dengan satu pemahaman dan tidak menerima pemahaman lain meskipun jelas-jelas membawa kemaslahatan bagi manusia…. Ada orang yang membolehkan dirinya berijtihad dalam masalah-masalah yang sangat sulit dipahami dan sangat pelik, kemudian dia memberikan fatwa sesuai dengan pendapatnya, entah tepat ataupun tidak, tapi dia tidak memperkenankan para ulama masa kini yang ahli di bidang tersebut, baik individu maupun kolektif, untuk memberikan pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya. Aneh bukan?

 

Tanya: Seperti kita ketahui bahwa fanatik kepada satu pendapat dan salah memahami agama itu bermacam-macam bentuknya. Bisakah Anda menceritakan bentuk yang paling menonjol dari fenomena yang terjadi di masyarakat muslim ini?

 

Jawab: pertama-tama kita bicarakan soal pemikiran mengafirkan orang lain (takfîr). Dampak al-ghuluww dan ekstremisme yang paling membahayakan adalah merebaknya pemikiran mengafirkan orang lain di tengah-tengah masyarakat muslim.Orang-orang yang punya pemikiran seperti itu akan dengan mudah menyatakan orang lain sesat dan kafir, bahkan menyatakan boleh mengucurkan darah dan merampas hartanya. Mereka membunuh kaum muslimin yang tidak bersalah hanya lantaran berbeda pendapat dengan mereka. Orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka diancam akan dibunuh. Bahkan ada di antara mereka yang mengafirkan pemerintah dan sistem yang menerapkan hukum positif. Mereka menyatakan semua orang yang bekerja di bidang peradilan, parlemen, administrasi pemerintahan, tentara, dan kepolisian telah murtad, dan oleh karena itu boleh dibunuh. Menurut mereka, orang-orang tersebut telah menjalankan hukum syaitan (thâghût).

 

Harus diingat bahwa mengafirkan orang lain merupakan ideologi yang ditolak dan dilarang oleh agama. Sejumlah nas yang sahih, jelas, dan mutawatir melarang kita mengafirkan orang lain. Itu sudah cukup untuk kita jadikan pegangan. Sebagai catatan, Khawarij adalah yang pertama kali memunculkan pemikiran mengafirkan orang lain di kalangan umat ini. Menurut mereka, muslim yang berbuat dosa itu kafir, darahnya halal ditumpahkan, dan hartanya halal dirampas.

 

Partisipasi politik demi perubahan ke arah yang lebih baik dalam pelbagai sendi kehidupan telah hilang dari logika kelompok keagamaan yang ekstrem, yang telah menyimpang dari pemahaman agama Islam yang moderat. Mereka menjadikan kekerasan sebagai sarana untuk setiap perubahan dalam masyarakat. Padahal mekanisme partisipasi politik, baik di dewan legislatif maupun lembaga swadaya masyarakat, sejatinya lebih berpengaruh dalam mengurusi persoalan real di Pakistan daripada melakukan tindak kekerasan. Berkarya melalui lembaga politik dan legislatif untuk melakukan perubahan dan melaksanakan reformasi jauh lebih praktis, tidak membahayakan masa depan negara, dan tidak mengancam keamanan dan stabilitas negara.

 

Tahapan berikutnya adalah soal interaksi dengan non-muslim. Islam tidak memaksa siapa pun untuk memeluk agama Islam. “Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam).” (QS. al-Baqarah [2]: 256), sebagaimana telah menjadi pendapat umum dalam yurisprudensi Islam.Islam menekankan kehidupan yang damai antar agama. Piagam Madinah (Perjanjian antara Muslim dan Yahudi) adalah bukti paling otentik atas hal itu. Namun demikian, sebagian orang yang sejatinya tidak mengetahui hakikat Islam mengumumkan ke khalayak umat beragama bahwa kekafiran merupakan alasan yang cukup untuk menumpahkan darah. Ini jelas merupakan ketidaktahuan terhadap agama dan bertentangan dengan keterangan ayat-ayat al-Quran yang mulia, Sunnah Nabi, dan pengalaman praktis dari sejarah Islam. Perlu dicatat bahwa Islam tidak melarang berbuat baik kepada non-muslim selama mereka berlaku damai. Allah Swt berfirman, “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanan [60]: 8).

 

Tanya: Bagaimana sikap ekstremisme keberagamaan dalam hal partisipasi perempuan?

 

Jawab: Sebagian pemeluk agama menjadi batu sandungan bagi partisipasi perempuan dalam membangun masyarakat, padahal Allah yang Mahakuasa menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, dalam kehidupan ini untuk menyembah-Nya. Ibadah adalah gerak-gerik manusia yang sesuai dengan syariat Allah Swt dalam menyucikan diri dan menata masyarakat. Menonaktifkan kapasitas dan kemampuan merealisasikan tujuan tersebut merupakan tindakan yang bertentangan dengan hukum Allah Swt. Perempuan juga bagian dari masyarakat. Aktivitasnya dalam menunaikan tugas-tugas kemasyarakatan akan menjadikan masyarakat lebih mampu menatap peradaban dan menghadapi tantangan, unggul dalam berkontribusi dan mempengaruhi masyarakat lain. Demikian pula menonaktifkan perempuan dari tugas-tugas kemasyarakatan dan mengekang potensinya dalam merealisasikan tujuan-tujuan masyarakat adalah penyebab stagnasi masyarakat dan ujung-ujungnya bakal ditinggalkan oleh peradaban manusia.

 

Saat ini umat Islam telah kehilangan banyak hal karena gagal memanfaatkan kemampuannya secara optimal dalam mengamankan nasionalnya dan menyaksikan peradabannya. Akan lebih parah lagi apabila menonaktifkan perempuan dari tanggung jawab kemasyarakatannyadengan mengatasnamakan agama. Janganlupa bahwa ada tugas-tugas kemasyarakatan yang hanya dapat dilakukan secara optimal dengan partisipasi aktif dari laki-laki dan perempuan.

 

Ketiadaan kaum perempuan di dunia Islam yang mengemban tanggung jawab kemasyarakatan dalam bentuknya yang bisa diterima telah memberikan kesempatan kepada musuh-musuh Islam untuk menuduh Islam telah memberangus hak-hak perempuan dan melarang mereka bekerja. Bahkan sebagian muslim telah menjadi korban kebohongan terhadap agama ini. Mereka menyalahkan ketiadaan perempuan dalam berbagai bidang pekerjaan kepada agama. Menurutmereka kaum perempuan telah dirampas hak-haknya yang telah diberikan oleh Allah atas nama agama atau tradisi.

 

Itulah yang membuat banyak perempuan muslim meninggalkan agama dan terlibat dalam gerakan anti-agama. Mereka kira agama tidak memberikan hak-hak mereka, melarang mereka bekerja dan berkontribusi kepada masyarakat. Mereka kira agama bertentangan dengan perkembangan kemampuan dan energi mereka. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Jika kita flashback ke masa perkembangan Islam di era Nabi saw, disebutkan bahwa perempuan berpartisipasi aktif dalam isu-isu sosial. Mereka memiliki kesadaran dan kemampuan dalam menangani isu-isu reformasi dan pembangunan. Mengekang perempuan dari interaksi dengan isu-isu kemasyarakatandan menjauhkannya dari keterlibatan secara praktis dalam isu-isu pembangunan dan reformasi masyarakat semata-mata merupakan residu dari masa-masa keterbelakangan dan kejumudan. Hal itu jelas harus dilewati. Oleh karena itu, mengaktifkan peran perempuan dalam pekerjaan masyarakat, di samping tetap aktif mengerjakan tugas dan fungsi pendidikan di rumah, adalah salah satu tuntutan strategis dakwah Islam di era sekarang. Bahkan, hal itu merupakan respons praktis terhadap kesimpangsiuran dan tuduhan tidak berdasar yang telah dialamatkan kepada agama Islam.

 

Penugasan perempuan untuk bekerja masuk dalam keumuman tugas-tugas syariat yang mencakup berbagai bidang kehidupan, kecuali jika ada ketetapan khusus untuknya. Mematuhi tugas-tugas yang luas cakupannya ini menuntut kaum laki-laki dan perempuan berinteraksi dengan semua isu kemasyarakatan dan berpartisipasi di dalamnya. Itu merupakan sebuah kemestian dan harus didahului dengan menciptakan lingkungan yang layak untuk membentuk kesadaran dan kemampuan menganalisis realitas dan memahami berbagai dimensinya.

 

Upaya yang dibutuhkan untuk maju merupakan tanggung jawab bersama laki-laki dan perempuan seraya memperhatikan perbedaan masing-masing terkait jenis pekerjaan yang dapat mereka lakukan, di samping mempertimbangkan kemampuan bertugas masing-masing. Terkadang perempuan lebih cakap melaksanakan pekerjaan tertentu daripada pria dalam bidang tersebut. Alasan kuat agar perempuan bekerja dan memanfaatkan kemampuannya melampaui batasan kebutuhan keluarga untuk memperbaiki taraf kehidupan. Lebih dari itu, seharusnya yang menjadi dasar dan kriterianya adalah kebutuhan umat dan menjembatani kesenjangannya dengan memanfaatkan potensi dan kemampuan yang ada dalam segmen masyarakat, pria maupun wanita, terlepas dari kebutuhan keluarga untuk mendapatkan finansial.

Bualan “Syi’ah SESAT” oleh ulama kaki tangan Thaghut Dinasti Umayyah

Bualan “Syi’ah SESAT” oleh ulama kaki tangan Thaghut Dinasti Umayyah

Apakah anda kaum sunni melakukan kritik historis terhadap hadis hadis anda ??? Jangankan kritik sejarah, kritik matan saja tidak..

Kemewahan dan kerusakan para pemimpin Umayyah sangat parah. Dimana beberapa pemimpin khilfah Umayyah yang cendrung kepada kemewahan dan hura-hura. Sehingga urusan negara dan pemerintahan tidak tangani secara serius.

sebagai contoh kasus, apa yang terjadi pada Khalifah Yazid bin Malik ( 101-105- H. ) yang terkenal dengan sikap hura-huranya dan cinta terhadap perempuan, dalam suatu riwayat dikatakan bahwa dia memiliki dua orang perempan yang selalu mendampingi hidupnya setiap detik. Satu namanya Salamah dan satu lagi bernama Hababah, Hababh disebalah kananya dan Salamah disebelah kirinya sepanjang waktu yang menyebabkan kelengahan terhadap urusan pemeritahan. Dan diriwayatkan juga, ketika habah meninggal dunia ia menyimpan bersamanya selama berhari-hari sebelum dikuburkan, dan merasa sedih yang berlarut-larut yang menyebabkan dirinya tertimpa sakit dan meninggal setelah beberapa hari Hababah dikuburkan.

Hal yang serupa terjadi pada khalifah Alwalid bin Yazid bin Abdul Malik (125-126 H ) yang masyhur dengan sikap hura-huranya, hanya memeprhatikan Syair-syair dan gemar terhadap minuman kahmar.

Kepemimpinanya tidak disenagi oleh masyarkat karena Akhlaknya yang sangat buruk, suka terhadap hal-hal yang haram. sehingga iapun terbunuh oleh anak saudara bapaknya sendiri.

Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik.

Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah (tidak jelas sanadnya) yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.

Jika pecinta keluarga Muhammad saww disebut Rafidhah Maka, saksikanlah wahai Tsaqolan (jin dan manusia) bahwa diriku adalah Rafidhi. (Diwan imam Syafi’i ra Hal:55)

Lagi-lagi sebuah julukan yang masih juga diidentikan dengan Syiah. Istilah ini baru dikenal semenjak abad kedua Hijriyah. Itupun dipakai untuk para penentang kekuasaan tertentu yang berkuasa pada zaman itu. Para penguasa kala itu ingin menjadikan para penentangnya memiliki kesan buruk di hadapan publik, oleh karenanya melalui beragam propaganda mereka mencari julukan negatif bagi mereka yang tidak sejalan dengan pikirannya. Julukan rafidhah adalah salah satu predikat negatif yang diberikan oleh penguasa kala itu untuk para penentangnya. Mungkin pada masa itu, Rafidhah memiliki kemiripan dengan julukan ekstrimis atau teroris pada zaman sekarang ini. Julukan-julukan miring semacam itu sengaja dibikin oleh yang kuat terhadap yang lemah, yang mayoritas untuk yang minoritas, yang zalim untuk yang teraniaya (mazlum)…dsb.

Beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab ingin memberikan julukan miring tersebut untuk rival pemikirannya. Akhirnya, julukan Rafidhah diperluas pemakaiannya terhadap aliran pemikiran yang dianggap lemah, minoritas, teraniaya… untuk dijadikan sarana pengelabuhan kesadaran publik. Yang lebih fatal dari itu, sang pemakai istilah tersebut justru menyandarkan pemakaian julukan tersebut dengan landasan hadis-hadis dha’if yang dinisbatkan kepada Rasulullah saww. Lantas, siapakah gerangan yang dapat menjadi obyek empuk untuk gelar tersebut? Ya…! Siapa lagi kalau bukan Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mazhab al-Ja’fariyah, adalah sasaran empuk untuk mendapat predikat negatif itu.

Kenapa mesti Syiah al-Ja’fariyah? Salah satu penyebabnya adalah karena hanya Syiah Ja’fariyah satu-satunya mazhab yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak berpangku-tangan atas setiap perbuatan zalim yang dilakukan oleh individu manapun, termasuk para penguasa. Itu terbukti, baik jika dilihat dari teks ajaran mazhabnya, maupun pemaraktekkannya dalam kehidupan mereka. Dalam sejarah didapatkan bagaimana usaha mereka untuk menegakkan keadilan yang dipelopori oleh para imam suci mereka. Para Syiah Ahlul Bait selalui berusaha mengkritisi sepak terjang para penguasa yang selalu cenderung bertentangan dengan ajaran Rasulullah saww, sementara di sisi lain mereka (imam-imam suci) juga menamakan dirinya sebagai khalifah (pengganti) Rasul. Hal inilah yang tidak disukai oleh para penguasa zalim –Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah– kala itu. Oleh karenanya, tekanan demi tekanan mereka lakukan untuk membendung tersebarnya ajaran Syiah. Mereka tak segan-segan melakukan pembantaian masal demi tercapainya tujuan mereka, dan kelangsungan dinasti mereka. Dari situlah terjawab sudah pertanyaan, kenapa Syiah selalu teraniaya dan minoritas? Namun, karena kehendak Ilahi, walau tekanan demi tekanan dari pihak musuh-musuh Islam beserta kaki-tangannya dengan gencar terus menghadangnya, mazhab ini makin eksis di tengah-tengah umat.

Terminologi Rafidhah:

Dalam terminologi istilah Rafidhah, kata itu berasal dari kata ra-fa-dha yang berarti menolak dan meninggalkan sesuatu. Istilah ini sering diidentikkan dengan kaum Syiah Imamiah yang menolak akan kepemimpinan tiga khalifah pra-kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as, dan hanya mengakui kepemimpinan Ali as pasca wafat Rasulullah saww.[1] Abul-Hasan al-Asy’ary dalam kitab “Maqolat al-Islamiyin” menyatakan, julukan ini pertama kali dilontarkan oleh Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib atas para Syiah di kota Kufah. Masih menurut al-Asy’ary, pada mulanya, para Syiah di Kufah memberikan baiatnya kepada Zaid, namun mereka tidak konsekwen terhadap baiatnya. Mereka tidak mau mengindahkan perintah Zaid untuk tetap menghormati dan memuliakan Abu Bakar dan Umar.

Oleh karena itu, Zaid menjuluki mereka dengan sebutan Rafidhah.[2] Akan tetapi, pendapat ini memiliki banyak celah untuk dibatalkan, mengingat bahwa banyak pakar sejarah yang menyebutkan secara detail sejarah hidup terkhusus kesyahidan Zaid bin Ali, namun tidak satupun dari mereka yang menyebutkan akan hal pengungkapan Zaid di atas tadi. Selain dari itu, para ahli sejarah hanya menyebutkan bahwa para penghuni kota Kufah tidak mengindahkan kebangkitan Zaid bin Ali, dan membiarkannya bergerak sendiri tanpa bantuan penduduk Kufah.[3] Hal itu sama persis sebagaimana yang terjadi pada kakek Zaid, Husein bin Ali as, cucu Rasulullaha saww. Husein bin Ali pada tragedi Karbala, tak dapat dukungan dari penduduk kota Kufah. Dengan demikian, penisbatan istilah itu yang bermula dari Zaid bin Ali sama sekali tidak berasas pada bukti sejarah yang kuat.

Di sisi lain, telah terbukti bahwa istilah Rafidhah digunakan untuk pribadi-pribadi yang meragukan legalitas kekuasaan suatu rezim dan pemerintahan tertentu. Jadi, istilah ini lebih bermuatan politis ketimbang teologis. Nasr bin Muzahim (Wafat tahun 212 H) dalam salah satu karyanya yang berjudul Waqoatu Shiffin menyatakan bahwa Muawiyah dalam suratnya yang ditujukan kepada Amr bin ‘Ash –yang saat itu tinggal di Palestina– menyebutkan: “Perkara tentang Ali, Thalhah dan Zubair telah kamu ketahui, namun (ketahuilah bahwa) Marwan bin Hakam telah bergabung dengan para Rafidhah (penentang) dari penduduk kota Bashrah, dan Jabir bin Abdullah telah melawan kita…”[4] Dari sini ada beberapa poin yang dapat diambil pelajaran; Pertama, awal kemunculan istilah rafidhah sangat bermuatan politis, bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ihwal teologis. Muawiyah menyebut Marwan bin Hakam beserta para pendukungnya sebagai Rafidhah, karena ia telah bergabung dengan para penduduk kota Bashrah yang kala itu mayoritas tidak mengakui legalitas pemerintahan Ali as yang berpusat di kota Kufah. Kedua, istilah itu telah ada sebelum kelahiran Zaid bin Ali, bukan sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abul Hasan al-Asy’ary di atas.

Pribadi-pribadi yang Dinyatakan Rafidhi pada Kitab-kitab Ahlussunnah

Julukan Rafidhah mempunyai konotasi miring. Orang akan enggan untuk dijuluki dengan sebutan itu. Pihak ketiga pun akan menghindar di saat bertemu orang yang dianggap memiliki gelar tadi. Itulah salah satu dampak negatif propaganda yang dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Walau mereka terbukti Syiah namun tetap saja hadis yang mereka bawakan tercantum dalam enam kitab induk Ahlussunnah. Sebagai contoh:

1- Kendati Ibn Hajar menyatakan bahwa Ismail bin Musa al-fazazi sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Abi Dawud[5] juga Ibn Majah[6] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis yang ia bawakan.

2- Meskipun Ibn Hajar menyatakan bahwa Bakir bin Abdullah at-Tha’i sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Muslim dalam kitab Shohih-nya[7] dan Ibn Majah dalam Sunan-nya[8] menukil hadis-hadis yang ia riwayatkan.

3- Begitu juga dengan Talid bin Sulaiman al-Muharibi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah) oleh Abu Dawud, dimana ia berkata: “Ia adalah Rafidhi yang keji dan jelek, dan yang memusuhi Abu Bakar serta Umar”[9] Namun, at-Turmuzi dalam kitab Sunan-nya[10] tetap menukil hadis darinya.

4- Ibn Hajar menyatakan bahwa Jabir bin Yazid al-Ju’fi adalah pengikut Syiah (Rafidhah)[11], namun Abu Dawud[12], Ibn Majah[13] dan at-Turmuzi[14] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis darinya.

5- Dan masih banyak lagi pribadi-pribadi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah), namun hadis-hadisnya tetap tercantum dalam kitab-kitab standart Ahlussunnah. Seperti; Jumai’ bin Umair, Haris bin Abdullah al-Hamdani, Hamran bin A’yun, Dinar bin Umar al-Asadi…dsb.[15]

Hadis-hadis yang tidak jelas sanadnya tentang Rafidhah:

Setelah kita mengetahui bahwa istilah Rafidhah dipakai untuk para rival politik sebuah kekuasaan tertentu. Istilah itu mempunyai konotasi negatif bagi khalayak umum, berkat adanya propaganda para penguasa zalim pada abad-abad permulaan awal kemunculan Islam. Namun, lama-kelamaan istilah itu dipakai oleh para musuh Syiah untuk mengganyang Syiah, bahkan tak jarang mereka pun (para musuh Syiah) menyandarkannya pada hadis-hadis yang bermasalah dari sisi sanad hadis, yang berakhir pada peraguan dari sisi kesahihannya. Sebagai contoh, ada empat hadis yang bersumber dari Ibn Abi ‘Ashim tentang pencelaan terhadap Syiah.[16] Doktor Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qoffary dalam kitab Ushul Mazhab Syi’ah menyatakan bahwa Nashiruddin al-Bani[17] sendiri mengemukakan bahwa hadis-hadis yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim tadi jika dilihat dari sanad hadisnya amat lemah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah[18] yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.[19]

Salah satu riwayat yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah adalah hadis: “Aku beri kabar gembira engkau wahai Ali, engkau beserta para sahabatmu adalah (calon) penghuni Surga. Namun, ada sekelompok orang yang mengaku sebagai pecinta-mu padahal mereka adalah penentang (penolak) Islam. Mereka disebut ar-Rafidhah. Jika engkau bertemu dengan kelompok tersebut maka perangilah mereka, karena mereka telah musyrik. Aku (Ali) berkata: Wahai Rasulullah, apakah gerangan ciri-ciri mereka? Beliau menjawab: “Mereka tidak menghadiri (shalat) Jum’at dan jama’ah, dan mencela para pendahulu (salaf)” [20] oleh as-Syaukani, hadis ini dikategorikan sebagai hadis Maudhu’ (buatan).[21]

Contoh lain dari hadis tentang Rafidhah adalah hadis yang dinukil oleh at-Tabrani bahwa Rasul bersabda: “Wahai Ali, akan datang pada umat-ku suatu kelompok yang mengaku sebagai pecinta Ahlul-Bait, bagi mereka …., mereka disebut Rafidhah. Bunuhlah mereka, karena mereka telah kafir”. Akan tetapi, dikarenakan sanad hadis ini diriwayatkan oleh orang-orang seperti Hajjaj bin Tamim yang sama sekali tidak dapat dipercaya, maka hadis ini masuk kategori hadis Dza’if (lemah).[22]

Dalam kitab ad-Dala’il disebutkan bahwa Al-Baihaqi setelah menukil hadis Marfu’ yang bersumber dari Ibn Abbas tentang celaan terhadap Rafidhah, menyatakan: “Banyak sekali hadis-hadis serupa tentang hal yang sama dari sumber-sumber yang berbeda, namun kesemua sanad-nya tergolong lemah”[23]

Dan masih banyak lagi beberapa ulama hadis dari Ahlussunnah yang menyatakan kelemahan hadis-hadis berkaitan dengan Rafidhah yang kebohongan itu disandarkan kepada Rasulullah. Bisa dilihat kembali karya-karya ulama Ahlussunnah seperti karya kepunyaan al-‘Aqili yang berjudul ad-Dhu’afa’, Ibn Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyyah ataupun al-Maudhu’aat.

Dari sini jelaslah, bahwa istilah Rafidhah adalah istilah murni politis dan tidak ada kaitannya dengan pembahasan teologis, termasuk masalah kekhilafahan pasca Rasul. Namun istilah itu dinisbatkan untuk para pecinta Ahlul-Bait (Syiah) oleh para pembenci Syiah. Mereka dalam kasus pemaksaan gelar Rafidhah untuk kelompok Syiah, tidak segan-segan menggunakan kebohongan atas nama Rasulullah saww. Bukankah kebohongan atas diri Rasul merupakan bagian dari menyakiti Rasul? Dan menyakiti Rasul termasuk dosa besar, yang pantas dilaknat oleh Allah?[24] Bukankah kebohongan atas Rasul juga berakibat kebohongan atas segenap kaum muslimin? Mengingat kaum muslimin sampai akhir zaman akan selalu mengikuti hadis-hadis Rasulullah[25] Membenarkan, memegang erat dan mengajarkan hadis palsu –atas dasar pengetahuannya– adalah termasuk sesat dan menyesatkan. Oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk menghindarinya seoptimal mungkin agar tidak termasuk orang yang sesat dan menyesatkan.

Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (al-Hujuraat :11)

Mengenai perkara-perkara yang berkenaan dengan akidah, kita perlu memperhatikan beberapa masalah di bawah ini:

Pertama, kita perlu meniru al-Quran yang mengajarkan kita cara berdiskusi dan membahas sesuatu. Metode diskusi dan perbincangan yang diajarkan al-Quran akan mengantarkan kita keluar dari lingkaran egoisme dan kesempitan berpikir menuju sikap inklusif dan keterbukaan. Metode inilah yang disebut metode terbaik dalam berkomunikasi, dimana kedua belah pihak benar-benar mendapatkan penghormatan oleh lawan bicaranya.

Kedua, kita harus menjadikan Islam sebagai parameter tertinggi dalam berinteraksi. Seharusnya dua syahadat (bersaksi bahwa Allah Swt sebagai Pencipta alam semesta dan Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya) dijadikan sebagai syarat terjaganya setiap Muslim dari kekufuran dan kebebasannya dalam berpendapat sesuai dengan mazhab yang diyakininya, sekaligus menjadi syarat perlindungan terhadap harta dan kekayaan yang dimilikinya.

Ketiga, seharusnya kata “kafir” dihapus dari kamus percakapan dan komunikasi antar Muslim. Seseorang tidak akan pernah keluar dari bingkai keimanan dan masuk dalam jurang kekufuran selama ia tidak bertentangan dengan prinsip dua syahadat tersebut.

Keempat, perbedaan mazhab seharusnya dianggap sebagai variasi dalam kesatuan. Ijtihad setiap mazhab tidak boleh dengan mudah dinilai melenceng dari garis Islam. Mazhab lain tidak boleh dianggap bodoh, bahkan musuh, hanya karena perbedaan cara berpikir dan sumbernya saja. Oleh karenanya, sudah merupakan tugas para pemikir Islam untuk menjadikan budaya komunikasi dan diskusi yang sehat sebagai budaya resmi mereka dimana tak seorang pun yang meragukan dampak positif hal ini.

Kelima, jiwa persahabatan, perdamaian, cinta dan kebebasan harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim. Ini adalah tugas utama yang harus diemban oleh setiap cendekiawan dan ulama.

Keenam, pada situasi tertentu, perlu adanya sikap tegas terhadap pihak-pihak garis keras dan yang fanatik agar mereka sadar dan mengikuti aturan yang seharusnya. Sering kali terjadi, misalnya saat diadakan sebuah seminar pendekatan antar-mazhab, kita tidak leluasa mengutarakan pelbagai pendapat kita karena masih tetap ada saja rasa fanatik dalam diri kita, atau mungkin kita tidak menjelaskan kenyataan yang sebenarnya tentang suatu mazhab atau pihak lain karena kita tidak sejalan dengan mereka sehingga lawan bicara kita tidak mengetahui yang sebenarnya.

Ketujuh, menjalankan ajaran al-Quran, yakni saling menghormati dalam berdiskusi dan bertukar pendapat. Meskipun lawan bicara kita non-Muslim sekalipun, tentu ada titik-titik kesamaan yang dapat ditelusuri dalam pemikirannya dan ditanggapi dengan positif.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan kondisi politik adalah:

Pertama, harus ada pemisah antara permasalahan primer dan permasalahan sekunder dalam masyarakat-Muslim. Sebagian dari permasalahan yang berkaitan dengan keseluruhan umat Islam tidak dapat dilakukan oleh seseorang atau tokoh tertentu yang mewakili beberapa kalangan atau juga sebuah partai yang semuanya mengatasnamakan umat Islam, karena kesalahan bertindak dalam hal ini akan membawa bahaya dan kerugian yang dampaknya akan menimpa umat Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain, permasalahan yang mengyangkut kepentingan seluruh umat Islam hanya diselesaikan secara bersama dengan melalui pertimbangan yang matang. Adapun sebagian permasalah yang lainnya, yang bersifat terbatas pada dataran geografis, seperti permasalahan satu negara, adalah masalah yang tidak pokok. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan kondisi masyarakat Muslim setempat dan dengan memperhatikan mazhab-mazhab yang ada.

Kedua, negara-negara adidaya secara umum, dan Amerika secara khusus, adalah pihak-pihak yang menjadikan Islam dan penganutnya sebagai sasaran utama mereka. Umat Islam harus mengerti tindakan dan usaha kolektif apa yang harus dilakukan guna menghadapi mereka.

Ketiga, kita harus waspada dengan maraknya istilah-istilah seperti teroris, kekerasan, kejahatan dan lain sebagainya, yang mana semua kata-kata itu ditujukan kepada kita, umat Islam.

Keempat, kita harus memiliki sikap bersama dalam hal bagaimana seharusnya kita menghadapi upaya-upaya musuh yang berlawanan dengan persatuan umat Islam, juga dalam menyikapi istilah-istilah baru yang tersebar di tengah-tengah komunitas dunia, agar kesatuan umat Islam tetap terjaga.

Persatuan antar umat Islam bukan sekedar formalitas dan slogan belaka, bahkan berkaitan langsung dengan keberadaan Islam dan kaum Muslimin di panggung dunia yang keadaan mereka saat ini sedang terpuruk. Poin terakhir yang perlu kami ingatkan adalah, jika kita memang benar-benar tidak mampu mencapai persatuan, maka paling tidak kita harus bisa mengatur dan memahami perbedaan-perbedaan antara sesama kita, agar keutuhan kita sesama sebagai ummatan wahidah (umat yang satu) selalu terjaga.

Jalan terjal dan berliku yang kita sedang kita lewati begitu banyak. Kita sedang berada di situasi yang genting. sepanjang sejarah kita belum pernah menemukan keadaan umat Islam seperti saat ini. Karena itu, kita harus waspada dan bersikap bijaksana. Jika kita masih sibuk mengungkit perbedaan dan isu ikhtilaf mazhab, maka kita harus bersiap-siap untuk terus terpuruk dan kemudian mengalami kebinasaan.

———————————

Catatan Kaki:

[1] Al-Asy’ary, Abul-Hasan, Maqolat al-Islamiyin, Jil:1 Hal:88-89

[2] Ibid, Hal:138

[3] Amin, Muhsin, A’yan as-Syi’ah, Jil:1 Hal:21

[4] Al-Manqory, Nasr bin Muzahim, Waqoatu Shiffin, Hal:29

[5] Sunan Abi Dawud, Jil:4 Hal:165 Hadis ke-4486

[6] Sunan Ibn Majah, Jil:1 Hal:13 Hadis ke-31

[7] Shohih Muslim, Jil:1 Hal:529, Kitab Sholat Musafirin wa Qoshruha

[8] Sunan Ibn Majah, Jil: 1 Hal:170, Kitab at-Thoharoh

[9] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:322

[10] Sunan at-Tirmizi, Jil:5 Hal:616, Kitab al-Manaqib hadis ke-3680

[11] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:468 No:879

[12] Sunan Abu Dawud, Jil:1 Hal: 272, Kitab as-Sholat Hadis ke-1036

[13] Sunan Ibnu Majah, Jil:1 Hal:381 Hadis ke-1208

[14] Sunan at-Turmuzi, Jil:2 Hal:200, Bab: “Maa Jaa’a fi al-Imam yanhadhu fi ar-Rak’atain naasiyan”

[15] Untuk lebih detailnya, lihat kitab “al-Muraaja’aat” karya Syarafuddin al-Musawi.

[16] Lihat: Ibn Abi ‘Ashim, as-Sunnah, Jil:2 Hal:475

[17] Seorang ahli hadis terkemuka dari kalangan salafi (wahabi).

[18] Hadis marfu’ adalah hadis yang tidak jelas sanadnya.

[19] Ushul Mazhab as-Syiah, bagian Sejarah Syiah (Tarikh as-Syiah)

[20] Ibid: Jil: 2 Hal: 475

[21] Al-Ahadist al-Maudhu’ah, Hal:380

[22] Taqrib at-Tazhib, Jil:1 Hal:152

[23] ad-Dala’il, Jil:6 Hal:548

[24] Lihat Q S al-Ahzab :57

[25] Lihat Q S ali-Imran :61

Said Aqil: Syiah Tidak Sesat

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.
.
Al Firqoh Al Islamiyah ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. “Ulama Sunni seberi Ibnu Khazm menilai Syaih itu Islam,” katanya.Meski Syiah dan Sunni berbeda, lanjut Said, umat Islam tidak perlu mempertajam perbedaan. “Dalam Sunni saja banyak perbedaan yang tajam, misalnya penganut Imam Syafii dan Hanafi, itu saja berbeda tajam, apalagi Syiah,” katanya. Fatwa NU mengenai Syaih, Said menambahkan, pernah dikeluarkan pada 2006 yang menyebutkan Syiah bukan aliran yang sesat. “NU tidak pernah keras,” ujarnya.
.
Wakil Sekretaris Jenderal Muslimat Nahdatul Ulama Hanief Saha Ghafur menyatakan tidak setuju jika Syiah disebut ajaran agama yang sesat
.
Aliran Islam Syiah yang ada di Indonesia menurut kajian Centries sebenarnya merupakan aliran Islam dengan tokoh sentralnya adalah Djalaluddin Rahmad, seorang cendikiawam Muslim asal Bandung. Berbeda dengan kelompok Islam lainnya, kelompok ini, kata Direktur Central for Religion and Political Studies (Centries) Madura Sulaisi Abdurrazak, memang cenderung menokohkan Khalifah Ali Bin Abi Tholib dibanding ketiga Khalifah lainnya, semisal Abu Bakar, Umar dan Usman.Sebab menurut Sulaisi, yang menjadi landasan pijakan mereka adalah Hadits Nabi Muhammad yang menyatakan ‘Aku ini adalah gudang ilmu dan Ali adalah pintunya.’ “Syiah di Sampang ini menurut kajian kami sementara afiliasinya ke sana. Makanya, kami heran, ketika tiba-tiba ada pernyataan itu sesat hanya karena perbedaan cara pandang saja atau sebagian tradisi yang berbeda,” kata Sulaisi
.
Ke depan, pemuda yang pada masa kecilnya pernah mengenyam pendidikan di pesantren kelompok Islam Sunni ini menyatakan, pendidikan keagamaan yang plural, bukan hanya bertumpu pada salah satu paham dari sekian pemahamaan keagamaan yang berkembang adalah sangat diperlukan. Sehingga pemuda Islam lebih terbuka dan tidak hanya bertumpu pada satu titik pemahaman saja. Kegagalan lembaga pendidikan Islam selama ini, sambung dia, karena pemuda Islam hanya disuguhkan dengan satu pemahaman saja, atau satu cara pandang
.

“Perbandingan mazhab saya kira perlu mulai diajarkan kepada kaum muda Islam sejak dini. Selama ini kan tidak seperti itu. Santri yang mondok di pesantren tertentu hanya satu pahan keagamaan saja. Jadi pikiran merekan tentang Islam tetap picik,” katanya menambahkan. Akibatnya, kata pemuda lulusan magister ilmu politik Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini, semua jenis pemahamaan yang berbeda dan tidak lumrah terjadi di masyarakat lalu dianggap sesat, apalagi pernyataan itu memang disampaikan oleh tokoh ulama setempat yang dianggap paham agama

.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Umar Syihab tak sependapat dengan MUI Jawa Timur yang menyebut aliran Syiah sesat. Umar menegaskan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Syiah sebagai aliran sesat

.

Mengenai insiden pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura beberapa waktu lalu, Umar berpendapat insiden hanyalah ditumpangi pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam dengan kedok ajaran Syiah yang dituding sesat. “MUI tidak pernah menyatakan bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar sama halnya dengan ahli sunnah wal jama’ah ialah mazhab yang benar dan mazhab dua tersebut sudah ada sejak awal Islam,” katanya saat ditemui okezone di kediamannya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu (1/1/2012).

Mari kita mengulangi kembali salah satu subbab pelajaran dasar logika: generalisasi. Karena mungkin saja kita pernah mengucapkan atau mendengar seseorang mengatakan untuk tidak melakukan generalisasi. Kita akan mengulang sedikit saja agar saya dan Anda tidak salah lagi dalam melakukan penilaian terhadap kelompok atau orang lain.

Sebagai salah satu proses penalaran induksi (khusus-umum), generalisasi merupakan penyimpulan yang berawal dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum. Fenomena yang dialami kita setarakan dengan seluruh fenomena sejenis. Jadi, kesimpulan dari satu peristiwa yang terjadi kita berlakukan juga kepada peristiwa lain yang belum terjadi. Karena itulah, proses seperti ini sebenarnya tidak sampai pada kebenaran absolut, tetapi hanya sebuah kemungkinan.

Ketika berbicara mengenai generalisasi, maka yang dimaksud adalah generalisasi tidak sempurna, yaitu generalisasi yang didasarkan beberapa fenomena untuk menyimpulkan fenomena sejenis yang belum diselidiki. Untuk menguji apakah sebuah generalisasi yang dihasilkan cukup kuat, kita harus mengevaluasi bukti-bukti yang ada, di antaranya:

  1. Meski tidak ada ukuran yang pasti, tapi apakah benar jumlah sampel yang dimiliki cukup untuk membuktikan kebenaran? Karena untuk menentukan faktor dominan, apalagi sebuah keyakinan, tidak cukup didasarkan kepada beberapa orang saja.
  2. Meski tidak menjamin kebenaran absolut, apakah sampel yang digunakan cukup bervariasi? Sampel yang semakin bervariasi akan semakin memperkuat kemungkinan kebenarannya; misalkan variasi pengaruh kehidupan dan lingkungan, latar belakang pendidikan, kultur, usia, negara, dan sebagainya.

Selain dua hal di atas, ada beberapa hal lain yang patut diperhatikan seperti pengecualian dan konsistensi dalam menyimpulkan generalisasi.[1] Jika kita tidak memperhatikan banyak faktor maka dapat menghasilkan generalisasi yang salah. Misalkan, pelaku pemboman itu orang Arab, berjanggut, beragama Islam, lantas kita simpulkan bahwa (semua) orang Arab, berjanggut, Islam adalah teroris. Atau tersangka korupsi bermazhab suni, lantas kita simpulkan bahwa orang bermazhab suni koruptor.

Generalisasi yang salah ini tidak hanya terjadi pada Islam secara umum tapi juga Syiah. Satu, dua, tiga orang Syiah yang melakukan caci maki terhadap sahabat tidak bisa kita generalisasi bahwa mencaci maki sahabat adalah ajaran apalagi akidah Syiah. Satu, dua pendapat ulama Syiah tidak bisa dijadikan ukuran bahwa itu adalah ajaran Syiah, karena sebuah fatwa bukanlah ijmak. Satu, dua hadis lemah yang ada di dalam kitab Syiah tidak bisa dijadikan sandaran atas keyakinan Syiah.

Anjuran untuk tidak melakukan generalisasi terhadap Syiah sudah pernah dilontarkan oleh kristolog masyhur Ahmad Deedat. Beliau mengatakan, jika kita melihat satu orang suni melakukan kesalahan, kita hanya mengatakan bahwa orang itu tidak islami. Tapi jika satu orang Syiah melakukan kesalahan, kita malah menyalahkan seluruh komunitas Syiah yang jumlahnya jutaan.[2]

Pesan yang sama juga pernah disampaikan Habib Rizieq Shihab. Dia mengatakan bahwa kita tidak boleh menggeneralisasi semua Syiah itu kafir dan sesat, karena mereka bermacam-macam. Begitu pula, dia mengatakan agar orang Syiah awam tidak melakukan caci-maki terhadap sahabat, sebab orang suni yang tidak paham akan menggeneralisasi bahwa Syiah memang seperti itu. Katanya, “Orang awam mudah menggeneralisasi.”[3]

Source: Shia Memes

Kebanyakan generalisasi yang muncul adalah generalisasi empiris, yakni generalisasi yang tidak disertai penjelasan. Diperparah lagi dengan orang yang menerimanya tidak berusaha mencari penjelasan mengapanya. Generalisasi mengenai Syiah sebagai kelompok sesat yang berakidahkan caci maki terhadap sahabat akan terus berjalan bertahun dan berabad lamanya. Tanpa ada penjelasan dan mencari penjelasan, sehingga menghasilkan stereotip.

Stereotip adalah konsepsi yang ada di benak mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Stereotip ini membuat seseorang malas berpikir, mempertanyakan, atau menganalisa. Anda melihat seseorang memakai kemeja putih-celana hitam-membawa map, maka kita simpulkan (melalui stereotip) bahwa dia sedang mencari kerja. Melihat orang memakai jubah dan peci maka disimpulkan bahwa dia bagian dari kelompok garis keras. Jika berkaitan dengan Syiah, tanpa perlu pikir panjang maka segera muncul konsepsi dalam benak orang-orang sebagai kelompok “sesat! kafir!”

Sampai di situ orang akan enggan untuk mencari tahu apakah konsepsinya benar atau tidak. Dia sudah merasa puas dengan apa yang pernah diterimanya dari seseorang yang—melalui stereotip—terlihat seperti pakar agama. Sebagai contoh, seorang syekh salafi mengatakan bahwa lebih baik merokok dan minum khamar daripada berdebat dengan orang Syiah.[4] Semua itu muncul karena stereotip bahwa Syiah kafir, sesat, dan pembicaraannya adalah kebohongan. Padahal untuk membuktikannya diperlukan dialog, bukan menutup mata

Pendidikan Islam Syi’ah Yess !! Islam Sunni larut dalam dunia artis dan narkoba

Anda berharap ulama sunni atau pendidikan sunni akan mampu memberantas narkoba di Indonesia ?? dimana akal anda..

Artis dan narkoba seperti dua sisi yang saling keterkaitan. Menurut kabar mayoritas artis adalah pengguna narkoba, benar salahnya itu belum mutlak. Tapi yang jelas sudah begitu banyak artis indonesia yang masuk penjara gara gara NARKOBA dan sudah banyak pula artis indonesia yang tewas sia sia akibat NARKOBA

.

Indonesia sedang menuju kehancuran dari dalam dengan dua cara, korupsi dan narkoba. Pelan-2 prosesnya sehingga banyak orang kurang menyadarinya, tetapi arahnya jelas… Ibaratnya Indonesia akan jatuh sendiri tanpa harus ditembak …5 Juta Pengguna Narkoba di Indonesia, artinya 5 Juta orang dengan sadar merusak diri sendiri. jadi apakah kita mau mengurusi orang yang dengan akal sehatnya merusak dirinya sendiri????????……….
.
memberantas narkoba bukan dengan cara menangkap, mengadili, dan menghukum para pedagang dan pemakainya. itu bullshit dan buang2 waktu. ditambah lagi aparat yang dipercaya untuk memberantas narkoba seperti polisi juga ikut terlibat didalam peredaran narkoba di Indonesia. cara yang baik untuk mengurangi peredaran narkoba ialah dengan cara merubah pola pikir masyarakat Indonesia dan buka lapangan kerja yang banyak sehingga orang2 yang nganggur itu tidak terpikir untuk berdagang narkoba.
Hari Anti Narkotika Internasional
BNN: 5 Juta Pengguna Narkoba di Indonesia
| Kistyarini | Minggu, 26 Juni 2011 | 11:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com —

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memimpin pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekusor Narkotika (P4GN) 2011-2015.

Pada tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang. Pada tahun 2011, prevalensi penyalahgunaan meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden Yudhoyono saat meluncurkan Jakstranas P4GN di Lapangan Silang Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (26/6/2011), bertepatan dengan peringatan Hari Antinarkotika Internasional.

“Saya instruksikan BNN di depan,” katanya.

Menurut Kepala Negara, ia juga telah menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk mendukung tekat BNN mewujudkan Indonesia Bebas Narkotika pada 2015.

Ia menilai bila semua pihak memberikan komitmen dan kerja keras bersama, Indonesia akan berhasil menghentikan dan mencegah kejahatan narkotika yang berpotensi merusak generasi muda, karakter dan fisik masyarakat, serta dalam jangka panjang merusak daya saing bangsa.

Sementara itu, menurut Kepala BNN Gories Mere, survei prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia oleh BNN menunjukkan semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Dalam survei BNN sejak tahun 2009, prevalensi penyalahgunaan narkoba pada tahun 2009 adalah 1,99 persen dari penduduk Indonesia berumur 10-59 tahun atau sekitar 3,6 juta orang.

Pada tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang. Pada tahun 2011, prevalensi penyalahgunaan meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang.

Ia menyebut hal itu sebagai suatu fenomena gunung es, yang bisa meningkat dari tahun ke tahun dan menilai kalangan pelajar sebagai suatu kelompok yang paling rentan.

Gories juga menyebutkan adanya jaringan peredaran narkotika internasional yang beroperasi di Indonesia, antara lain sindikat dari Iran, Nigeria, India, China, dan Malaysia, termasuk yang melibatkan WNI. Beberapa di antaranya telah diungkap oleh aparat yang berwenang.

Namun, ia mengakui, upaya dan komitmen bersama terus dibutuhkan untuk melindungi Indonesia dari kejahatan narkotika.

Berikut 10 artis indonesia yang masuk penjara akibat narkoba.

1. Sammy Kerispatih

2. Sheila Marcia

3. Revaldo

4. Jennifer Dunn

5. Roy Marten

6. Gery Iskak

7. Ahmad Albar

8. Ibra Azhari

9. Faris RM

10. Imam S Arifin

Narkoba di Dunia Artis
Sabtu, 12 Maret 2011 | 14:44

Peredaran narkotika dan obat-obatan psikotropika (narkoba) sudah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Penangkapan artis Ratna Fairuz alias Iyut Bing Slamet dan Kalapas Narkotika Nusakambangan Marwan Adli, beberapa waktu lalu, hanya mengonfirmasikan bahwa peredaran barang-barang haram tersebut sudah begitu meluas.

Tak sulit untuk menemukan titik-titik permasalahan mengapa peredaran narkoba sampai begitu cepat dan meluas di Tanah Air. Lemahnya penegakan hukum dan lengahnya aparat penegak hukum kita telah membuat Indonesia menjadi surga peredaran narkotika. Bayangkan, bagaimana mungkin undang-undang kita secara tegas melarang produksi obat-obatan terlarang tersebut. Tapi, faktanya, pabrik-pabrik narkoba jenis ekstasi dan sabu-sabu bisa dengan mudah kita temukan di tengah permukiman penduduk, di ruko-ruko, bahkan di apartemen-apartemen.

Undang-undang kita juga memberlakukan hukuman seberat-beratnya bagi para pengedar atau distributor barang-barang haram tersebut. Tapi, anehnya, jaringan pengedar bisa berkeliaran ke sana kemari untuk menjajakan barang-barang haram tersebut. Mereka sering lolos dari intaian para petugas di pintu-pintu masuk bandara internasional kita.

Lebih ironis lagi, tak sedikit oknum aparat yang justru terlibat aktif dalam jaringan pengedar. Mereka menjadi bagian dari mata rantai distribusi peredaran narkoba di Indonesia. Inilah yang membuat jaringan ini kerap sulit terbongkar tuntas.

Di luar bertumbuh suburnya pusatpusat produksi dan meluasnya jaringan distribusi, jumlah pengguna narkoba di Indonesia juga terus meningkat. Pada 2008, misalnya, jumlah pengguna narkoba mencapai 3,6 juta orang atau 2% dari jumlah penduduk. Itu yang tampil di permukaan.

Adapun jumlah pengguna riil diprediksi jauh lebih banyak lagi.Peningkatan jumlah pengguna rata-rata per tahun mencapai 100.000 orang. Para pemakai tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari remaja, profesional, hingga artis. Di kalangan artis, pemakaian narkoba malah telah menjadi sebuah tren baru. Sederetan artis Indonesia, tercatat pernah terlibat pemakaian narkoba, dari pemain film, bintang sinteron, sampai penyanyi.

Saat ini, aparat kepolisian tengah membidik 23 artis yang sudah lama masuk daftar incaran mereka. Mereka umumnya artis sinetron pendatang baru. Banyak artis mengonsumsi narkoba karena mereka percaya benda setan ini bisa meningkatkan vitalitas tubuh. Sialnya, persoalan tidak lagi sebatas kepentingan peningkatan vitalitas tubuh untuk bisa mendukung aktivitas syuting mereka. Penggunaan narkoba di kalangan artis kini cenderung menjadi gaya hidup. Sebagai figur publik, hal seperti ini jelas berdampak sangat buruk bagi kehidupan masyarakat, terutama kaum remaja. Bagaimanapun mereka adalah idola, segala perilaku mereka akan gampang ditiru. Apakah kita rela membiarkan perilaku nyabu dan ngineks di kalangan artis ini hidup, berkembang, dan selanjutnya meracuni masyarakat dan generasi muda kita?

Kita harus sepakat untuk “Berkata tidak pada narkoba”. Say no to drugs, begitu slogan yang sering kita dengar. Saatnya kita harus kibarkan bendera perang terhadap perdedaran narkotika di Tanah Air. Ini harus dimulai dengan menutup peluang hidup dan berkembangnya barang-barang setan ini di semua lini: produksi, distribusi, dan pemakai. Aparat penegak hukum harus tegas memberangus habis pabrikpabrik yang memproduksi sabu, cimeng, ekstasi, dan zat-zat adiktif lainnya. Pastikan bahwa tak ada rumahrumah produksi untuk menghasilkan barang-barang haram tersebut di ruko-ruko, apartemen, dan di tengah rumah penduduk.

Aparat penegak hukum juga harus berani mengejar, membongkar, dan memutus semua jaringan penjualan dan pengedaran narkoba dari hulu hingga hilir, dan dari kelas kakap dalam sebuah jaringan internasional hingga pengedar kelas teri yang beroperasi di gang-gang. Pintu-pintu bandara harus diperketat. Hukuman berat harus dijatuhkan kepada mereka yang terbukti sebagai pembuat dan pengedar. Hukuman lebih berat lagi kepada penegak hokum yang terlibat narkoba, baik sebagai pemakai maupun pengedar.

Dari sisi pemakai, keluarga kembali dituntut perannya sebagai institusi pertama yang mengajarkan semua kebaikan kepada putra-putrinya. Jagalah keharmonisan keluarga, perkuat hubungan saling mengasihi dan saling mencintai. Kebanyakan pemakai berasal dari keluarga brokenhome, kurang bahagia. Selain orangtua, lembaga pendidikan berperan penting dalam mencegah pemakaian narkoba di kalangan generasi muda.

Karena itu, sekolah-sekolah harus terus-menerus berbicara kepada anak didiknya tentang bahaya mengonsumsi narkoba. Masyarakat, bahkan negara pun harus terlibat aktif dalam perang melawan narkoba. Akhirnya, semua komponen bangsa ini harus sepakat bahwa negeri ini memerlukan generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki kepercayaan diri tinggi untuk menjawab tantangan ke depan. Kita harus yakini bahwa sumber daya manusia seperti itu hanya bisa tumbuh dan berkembang kalau generasi mudanya tak terbelit pemakaian narkoba. ***

Peran Kasih Sayang dalam Pendidikan

Ekpresikan cintamu terhadap anakmu dengan ciuman karena Nabi bersabda saw: “Perbanyaklah mencium anak-anakmu, karena setiap ciuman memiliki derajat tersendiri di surga.”

Manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang bak pelita bagi hati. Barangsiapa yang mencintai dirinya dan ingin dicintai orang lain maka ia harus menghidupkan perasaan kasih sayang dalam dirinya. Kasih sayang memberikan pengaruh timbal balik dalam hubungan antara guru dan murid. Ketika seseorang guru, misalnya, tidak mencintai anak didiknya maka bagaimana mungkin ia mampu mengarahkan dan membimbingnya. Karena itu, kasih sayang memiliki peran penting dalam dunia pendidikan, dan ia bisa dikategorikan sebagai salah satu faktor utama dalam pendidikan dan dalam membangun hubungan/interaksi yang harmonis antara pendidik dan anak didiknya.

Sebaik-baik metode hubungan adalah hubungan yang dibangun atas dasar kasih sayang. Kenapa? Karena sistem hubungan ini begitu alami, sedangkan hubungan yang dibangun atas dasar pemaksaan dan kekerasan—dengan cara apapun—adalah hubungan yang tidak alami alias tidak normal.

Secara psikologis anak-anak membutuhkan—dalam pergaulan dan persahabatan dengan mereka—kasih sayang dan perhatian. Orang tua sebagai pembimbing awal anak-anak harus memperhatikan apakah kasih sayang sudah terpenuhi dengan baik pada mereka, karena kasih sayang merupakan pilar dan pondasi dalam pendidikan. Ketika kasih sayang terpenuhi dengan baik maka akan terwujud ketenangan jiwa, perasaan aman, percaya diri, dan timbulnya kepercayaan kepada orang tua. Bahkan sejatinya kasih sayang yang didapatkan seorang anak secara proporsional akan berpengaruh pada keselamatan jasmani anak tersebut. Nabi bersabda saw: “Perbanyaklah mencium anak-anakmu, karena setiap ciuman memiliki derajat tersendiri di surga.” Oleh karena itu, tanggung jawab terpenting orang tua terhadap anaknya adalah berinteraksi dengan lemah lembut dan penuh kasah sayang serta menampakkan kasih sayang tersebut kepada anak-anaknya secara nyata. Selain cara ini, tidak akan tercipta hubungan baik yang mampu mendorong pada perkembangan dan penyempurnaan mental dan spiritual anak. Hubungan yang dingin, hampa dan tanpa cinta akan mengakibatkan kekeringan ruh dan jiwa dan akhirnya akan mengiring anak-anak bertindak amoral dan berbuat doa di tengah masyarakat. Dengan kata lain, boleh jadi anak-anak yang berbuat nakal dan membuat kerusakan di luar rumah adalah anak-anak yang kurang atau bahkan tidak mendapatkan kasih sayang orang tua dan orang-orang dekatnya.

Urgensi Kasih Sayang

Kasih sayang menciptakan kerja sama di antara manusia. Bila Kasih sayang tidak ada maka tidak akan terwujud persaudaraan di antara manusia; tak seorang pun yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap orang lain; keadilan dan pengorbanan akan menjadi hal yang absurd utopis. Oleh sebab itu, sikap kasih sayang sesama manusia, khususnya dalam dunia pengajaran dan pendidikan, adalah hal esensial. Di samping itu, kasih sayang juga menyebabkan keselamatan jasmani dan ruhani, menjadi solusi tepat dalam memperbaiki perilaku amoral dan mengharmoniskan hubungan manusia.

Allah Swt melukiskan konsep cinta dalam ayat Al-Quran dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertakwa.” (Al Imran: 76). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al Imran: 138). Jadi, hubungan antar sesama manusia, khususnya anak-anak harus dibangun berdasarkan bahasa cinta dan kasih sayang. Dunia pendidikan akan sukses dan makmur kalau pelbagai jenjangnya ditempuh dengan irama cinta.

Kasih sayang begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Dalam hal ini Nabi saw bersabda: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.” Antara kasih sayang dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Yakni, kasih sayang akan mewujudkan ketaatan dan kebersamaan. Ketika kasih sayang orang tua tertanam dalam sanubari anak-anak maka mereka akan menjadi penurut dan pengikut orang tuanya. Buah dari kasih sayang orang tua ini akan membuat anak-anak tidak mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang diamanahkan kepada mereka.

Begitu penting peran kasih sayang dalam pengembangan ruh dan keseimbangan jiwa anak-anak. Teguh tidaknya pendirian dan kebaikan perilaku seorang anak bergantung banyak sejauh mana kasih sayang yang diterimanya selama masa pendidikan. Kondisi keluarga yang penuh dengan kasih sayang menyebabkan kelembutan sikap anak-anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan perhatian akan memiliki kepribadian yang mulia, suka mencintai orang lain dan berperilaku baik dalam masyarakat. Kehangatan cinta dan kasih sayang yang diterima anak-anak akan menjadikan kehidupan mereka bermakna, membangkitkan semangat, melejitkan potensi dan bakat yang terpendam, serta mendorong untuk bekerja/berusaha secara kreatif.

Kecintaan pada anak-anak dan remaja merupakan dasar ajaran Islam. Nabi Besar Muhammad saw sangat mencintai anak-anak dan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda: “Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka.” Maka, orang tua harus menunjukkan ketulusan cintanya kepada anaknya, sehingga anak tersebut akan membalas positif sikap demikian.

Orang tua pada umumnya ingin sekali mengubah watak buruk anaknya, membentuk jati dirinya, dan menanamkan keyakinan yang benar dalam pikirannya. Keinginan orang tua ini tidak mungkin terwujud tanpa cinta dan motivasi menuju perkembangan dan penyempurnaan.

Kebutuhan Anak akan Kasih sayang

Manusia secara alami membutuhkan kasih saying. Hanya kasih sayang yang mampu mengubah perilaku seseorang. Kasih sayang merupakan sumber pendidikan jiwa. Bukanlah perkara mudah mengubah hati yang keras menjadi lembut, namun kasih sayang telah terbukti menjadi resep yang manjur dalam mengarahkan hati seseorang dan mengontrolnya serta mampu mencegahnya dari perbuatan-perbuatan tercela dan hina. Bahkan kasih sayang dapat menyulap manusia yang semula tampak sederhana dan kurang diperhitungkan menjadi insan seutuhnya, jujur dan benar.

Anak-anak, kalangan remaja hingga orang dewasa pun sama-sama membutuhkan cinta dan kasih sayang. Kasih sayang merupakan hal yang sangat penting dalam sistem pengajaran dan pendidikan anak-anak. Ketika seorang anak melihat ikatan kasih sayang pada kedua orang tuanya, maka hal tersebut sedikit banyak berpengaruh dalam menjauhkannya dari perbuatan tercela. Para psikolog berpendapat bahwa akar dari kebanyakan penyelewangan yang dilakukan anak-anak karena kurangnya kasih sayang di dalam rumah, dan mereka yakin bahwa takkala kasih sayang tersebut tidak dipenuhi secara baik dan benar maka jangan harapkan anak-anak akan dapat mengubah kebiasaan dan perilaku buruknya.

Anak-anak dan remaja lebih membutuhkan kasih sayang dibandingkan orang dewasa. Saat makan dan minum pun mereka minta atau senang diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Ini menandakan bahwa dalam setiap keadaan mereka merindukan kasih sayang dan perhatian orang tua. Dalam dekapan kasih sayang, perasaan cinta dan kelembutan anak/remaja dapat berkembang dengan baik dan akan menjelma menjadi manusia ideal. Seorang pendidik yang mengabaikan cinta dan kasih sayang tidak akan mampu membangun hubungan yang baik dengan anak didiknya, dan ia pasti gagal dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepadanya. Seorang guru yang lebih dahulu membuka pintu mata hatinya ketimbang penalaran dan pemikirannya akan lebih memberikan pengaruh terhadap anak-anak didiknya. Namun guru yang miskin cinta tidak akan dapat menjadikan anak didiknya sebagai pendengar yang baik.

Manusia adalah budak kasih sayang, sebagaimana dikatakan bahwa ”manusia adalah budak kebaikan”. Dengan kata lain, kasih sayang dan persahabatan yang tulus mampu menjadikan manusia sampai seperti budak yang menuruti apa saja kemauan majikannya/tuannya.

Pencipta alam semesta begitu luar biasa dalam mencintai hamba-Nya, bahkan cinta-Nya melebihi cinta ibu terhadap naknya. Cinta Allah menjadi faktor pendidikan dan penyempurnaan bagi para hamba-Nya, sehingga jiwa-jiwa mereka jauh dari segalah kotoran dan kemaksiatan. Al-Quran banyak menyebutkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah sebagai Pendidik yang baik berfirman kepada Nabi Musa: “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS: Thaha 39).

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata: “Kasih sayang Allah begitu mengakar dan berbekas dalam dirimanusia. Ketika Allah mencintai hamba-Nya maka Ia mengilhamkan ketaatan, menamkan sifaf kanaah (rela dengan segala pemberian Allah dan selalu merasa cukup) dan menjadikannya alim dalam urusan agama.” Orang tua yang mampu menjalin persahabatan dengan anaknya secara baik dan membangun komunikasi timbal balik dengan sehat adalah orang tua yang berhasil dan patut diacungi jempol. Orang tua seperti ini biasanya mudah mengarahkan dan mendidik anak-anaknya.

Imam Shadiq as berkata: “Nabi Musa as berkata wahai Tuhan amalan apa yang paling utama disisimu? Ia berfirman: mencintai anak-anak; karena meraka saya ciptakan dengan fitrah keesaan-Ku”.

Nabi Muhammad saw bersabda: “Bukanlah termasuk golongan kami seseorang yang tidak menyayangi anak-anak kecil dan tidak menghormati yang lebih tua.”

Metode yang paling berpengaruh dan efektif dalam pendidikan adalah pendekatan kasih saying. Sebab kasih sayang memiliki daya tarik dan memotivasi akhlak yang baik serta memberikan ketenangan kepada anak yang nakal sekalipun. Rasa cinta dan kasih sayang harus terlebih dahulu menjadi jaminan ketenangan dan kedaiaman anak-anak di lingkungan keluarga sebelum mereka berhadapan dengan pelbagai aturan dan keputusan yang dibuat oleh orang tua. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa mereka akan terpenuhi jika sebuah keluarga dapat menjadi pusat ekspresi perasaan, kasih sayang, dan kecintaan. Apabila sang ayah dan ibu tidak mampu memenuhi kebutuhan esensial ini, maka sang anak tumbuh kurang percaya diri sehingga di masa depan akan muncul pelbagai penyimpangan individual dan sosial. Lingkungan keluarga harus diwarnai dengan kehangatan cinta dan kemesraan hubungan antar anggota keluarga sehingga seorang anak juga berusaha dan berupaya memberikan kehangatan cinta pada lingkungan keluarganya. Kasih sayang mampu mengatasi segalah macam persoalan dalam pendidikan. Semua pekerjaan, khususnya kerja yang berkaitan dengan pemikiran dan budaya butuh akan cinta. Sebuah pekerjaan harus dilakukan dengan sedikit senyuman, tidak dengan pemaksaan dan kekerasan. Sebagaimana diungkapkan oleh Allamah Sayyid Ismail Balhi:

Hati yang didalamnya tidak bersemayan kerinduan laksana kuburan yang sempit Tanpa cinta dunia laksana jiwa yang sempit

Maulawi juga berkata:

Karena cinta pahit terasa manis

Karena cinta baja menjadi emas

Karena cinta duri menjadi bunga

Karena cinta asam menjadi perasa yang nikmat

Karena cinta orang mati menjadi hidup

Karena cinta raja menjadi budak

Sebagian orang berpandangan bahwa antara pendidik dan yang dididik harus ada pemisah dan jarak hingga pendidikan berhasil, tapi mereka lupa kalau pendidikan yang dilakukan dengan ancaman dan kekerasan hanya mencegah sifat-sifat amoral secara temporal saja. Yakni, ketika sebab ketakutan dan ancaman telah hilang maka sifat-sifat jelek tersebut akan kembali tampak dalam perilaku anak didik.

Mengekspresikan Cinta dan Kasih

Salah satu poin penting berkaitan dengan kasih sayang orang tua terhadap anak adalah hendaklah orang tua tidak hanya puas dengan memendam kasih sayang dalam batin; karena kasih sayang hanya berpengaruh dalam pendidikan jika ia ditampakkan secara lahiriah, supaya anak-anak sadar dan mengetahuinya/melihatnya secara langsung. Kalau tidak, makna kasih sayang hanya bermanfaat bagi pecinta semata, bukan orang yang dicintai. Penampakkan kasih sayang dan cinta merupakan poin penting yang dianjurkan dan ditekankan oleh Nabi saw dimana beliau bersabda: “Ketika seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia menunjukkan kecintaan ini padanya, karena dengan demikian ikatan dan persahabatan akan lebih baik dengannya.”

Alkisah, seseorang datang kepada Imam Muhammad al-Baqir dan mengekspresikan cintanya dengan mengatakan: Saya menyukai si anu. Imam berkata: “Ekpresikan kecintaanmu padanya; karena hal ini mempunyai pengaruh dalam persahabatan.” Karena itu, ibu dan bapak dengan berbagai metode harus menyatakan dan menampakkan cinta dan kasih sayangnya kepada sang anak karena kasih sayang dengan hati tidaklah cukup.

Orang tua yang cerdas adalah orang tua yang pandai mengekspresikan kasih sayangnya secara tepat kepada anak-anaknya sehingga bisa dirasakan langsung oleh mereka. Ketika anak merasakan bahwa orang tuanya menyukainya, peduli akan nasibnya, mengarahkannya pada perkembangan dan penyempurnaan dan memperhatikan pendidikannya, maka anak tersebut akan mencinta dan mengidolakan kedua orang tuanya.

Cinta yang Ekstrem

Pendekatan kasih sayang akan sangat bermanfaat dalam pendidikan ketika tidak keluar dari konsep yang ideal, yakni tidak berlebihan dan tidak kurang dari yang semestinya. Kurangnya kasih sayang akan menarik orang pada arah ketidakmampuan, tidak sehat dan akhlak yang tidak terpuji. Kasih sayanglah yang menyebabkan perkembangan yang positif pada anak-anak. Peran kasih sayang dalam pendidikan ruh dan jiwa anak-anak begitu penting seperti pentingnya makanan bagi pertumbuhan tubuh. Sebagaimana makanan yang kurang atau berlebihan menyebabkan penyakit yang tidak diinginkan pada tubuh maka begitu juga kurangya kasih sayang atau kasih sayang yang sangat berlebihan (terlalu dimanja) juga akan merusak jiwa anak-anak.

Dahulu para pendidik menggunakan cara-cara yang tidak benar dalam mendidik anak-anak dan kalangan remaja, seperti merendahkan (kemampuan mereka), memaksa mereka melakukan pekerjaan yang berat, melontarkan perkataan yang tidak pantas, membiasakan cacian dan tidak memberikan kesempatan anak untuk membela diri, gampang naik pitam, buruk sangka, dendam, kasar dan bahkan menghalalkan perbuatan kriminal (pemukulan dll). Namun sekarang ini dengan akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan dan munculnya ilmu psikologi dan penelitian, pelbagai cara di atas dianggap cara yang tidak rasional dan proporsional. Para ahli pendidikan modern justru mengembangkan metode pendidikan anak-anak dan remaja yang mengacu pada hubungan harmonis yang bersandar pada konsep kasih sayang.

Kasih sayang itu sangat postitif bila memang dilakukan secara seimbang, namun ketika kasih sayang orang tua berlebihan dan tidak ideal maka secara tidak sadar ia telah mengiring anak untuk melakukan perbuatan yang tidak senonoh dan tidak bertanggung jawab. Hal ini merupakan dampak dari metode pendidikan yang salah. Anak yang mendapatkan kasih sayang secara berlebihan alias dimanja kelewatan batas akan cenderung malas, pasrah, lemah, dan cepat putus asa ketika menghadapi problema kecil dalam hidupanya.

Karena itu, orang tua harus mencintai anaknya secara tulus, tapi tetap objektif. Yakni, orang tua juga harus melihat aib dan sifat-sifat tercela anaknya dan kemudian memperbaikinya dengan pendekatan rasional. Menerima dan mengiyakan begitu saja keinginan dan perbuatan anak-anak tanpa mempertimbangkan plus-minusnya akan berdampak negative dalam pendidikan mereka dan merusak karakter mereka yang sulit untuk diperbaiki seperti semula.

Bersikap Adil dalam Mencurahkan Kasih Sayang

Salah satu masalah penting yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah menjaga keadilan dan persamaan saat mereka menunjukkan kasih sayang di antara anak-anak. Bapak dan ibu dalam mencintai dan menyayangi anak-anaknya tidak dibenarkan bersikap pilih kasih; karena ini secara alami akan menyebabkan hilangnya kehormatan mereka dan hilangnya kepercayaan anak-anak terhadap lingkungan keluarganya. Rasul saw dan para imam ahlul bait yang suci menekankan pentingnya menjaga persamaan dan tidak bersikap pilih kasih dalam menunjukkan kasih sayang.

Dikisahkan, Nabi saw sedang berbicara di tengah sahabatnya lalu seorang anak kecil masuk ke tempat tersebut dan menuju ayahnya yang berada di sekitar majelis. Sang ayah mengelus kepala sang anak lalu mendudukannya di pangkuan kanannya. Tidak lama kemudian anak perempuannya juga masuk dan menuju bapaknya. Sang ayah kemudian mengelus kepala sang anak perempuan tersebut lalu mendudukannya di sampingnya. Ketika Nabi saw melihat perlakuan berbeda sang ayah dibanding sebelumnya, beliau bersabda: Kenapa kamu tidak mendudukannya di pangkuanmu yang satu? Lalu sang bapak pun menuruti perintah Nabi saw dan mendudukkan anak perempuannya di pangkuan krinya. Waktu itu juga Nabi bersabda: “Sekarang kamu telah menjaga keadilan.”

Nabi juga saw bersabda: “Berlaku adil-lah di tengah anak-anakmu sebagaimana kamu suka diperlakukan adil oleh mereka, baik dalam kebaikan maupun dalam kasih sayang.” Oleh karena itu, menjaga persamaan di antara anak-anak dalam pendidikan adalah hal yang penting dan ketika hal itu tidak diperhatikan akan memberikan efek negatif.

Kasih sayang terhadap anak memilik efek positif dan manfaat, di antaranya:

· Kasih sayang akan mendatangkan kesenangan dan kegembiraan. Semakin besar kasih sayang orang tua pada anak maka kegembiraan pada anak semakin besar dan menjadikan hati anak semakin peduli dan perhatian.

· Anak belajar kasih sayang dari orang tuanya sehingga ia akan menerapkan kasih sayang tersebut kepada orang lain dengan cara yang dilihatnya dari orang tuanya. Anak yang tidak merasakan kasih sayang yang hakiki di samping mendapatkan pengaruh negative pada tubuh dan jiwanya, juga akan bermasalah dalam mempelajari kasih sayang dan akhirnya ia tidak mampu mencintai dan menyayangi orang lain di masa yang akan datang.

· Munculnya kepercayaan diri. Anak yang memiliki kemerdekaan dan kepercayaan diri mampu memecahkan persoalan sendiri dan tidak menunggu bantuan orang lain. Dengan motivasi besar dan tekad yang membaja, anak tersebut berusaha mencari solusi atas setiap problem yang dihadapinya, sehingga sebelum mencapai tujuannya maka pantang baginya untuk mundur.

· Kasih sayang akan memotivasi anak-anak untuk melakukan pelbagai aktivitas dengan sukses. Anak yang merasakan kasih sayang secara cukup maka ia akan sukses dalam menggeluti pelbagai aktivitas dan bidang yang digemarinya. Di bidang pendidikan ia akan menjadi anak yang cerdas dan terampil dan secara fisik pun ia akan tumbuh secara sehat.

· Kasih sayang kepada anak mampu menarik simpati sang anak, dan pada giliranya anak akan mempercayai ayahnya, sehingga terjalinlah hubungan baik antara keduanya dan anak akan mendengar dan menuruti perkataan sang ayah. Dengan demikian anak ini akan mudah dididik dan diarahkan oleh ayahnya. Sebab anak ini menyukai orang yang penyayang dan yang memahami keinginannya dimana orang seperti ini ia temukan pada pribadi ayahnya, sehingga ia akan menuruti perintah ayahnya. Sehubungan dengan hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib berkata: “Hati manusia itu kejam. Barangsiapa yang berbuat lembut dan penuh kasih sayang terhadapnya maka hati tersebut akan tunduk dan patuh padanya.”

Kesimpulan

Orang tua yang mengekspresikan kasih sayang kepada anaknya sejatinya sedang membentuk karakter sang anak menjadi penurut. Dengan kasih sayang dan hubungan tulus serta harmonis, orang tua dapat mencegah anak-anak mereka dari melakukan perbuatan tercela dan menggiring mereka menuju tindakan yang mulia dan luhur. Kasih sayang merupakan kunci menuju kesempurnaan dan pendidikan yang ideal.

Kiat Memahami Gejolak Pikiran Remaja

gejolak pikiran remajaKetika anak menginjak masa remaja dan mulai merasa dewasa, ia mulai berpikir kritis dan tidak akan gampang menerima perkataan atau pendapat orang-orang yang usianya lebih tua tanpa argumentasi yang memuaskannya. Melihat realitas ini, kadang ibu/bapak sangat khawatir akan nasib anaknya; jangan-jangan ia akan terjerumus pada kesesatan dan penyimpangan.

Sebagian bapak dan ibu menyikapi keresahan dan pertanyaan anak remajanya secara tidak rasional dan tidak proporsional serta tidak berusaha menjaga kehormatannya. Sikap negatif ini pada hakikatnya merupakan bentuk ekspresi kasih sayang dari orang tua, namun ini justru menambah masalah bagi pemuda yang sedang berusaha mengenal dan menemukan jati dirinya. Sikap ini dimaknai oleh seorang remaja secara negatif dimana ia menilai bahwa orang tuanya tidak bisa merasakan dan memahami kondisinya. Keadaan seperti ini kemudian berakibat pada ketidakharmonisan hubungan antara remaja dan keluarganya. Padahal dalam psikologi telah ditetapkan bahwa keresahan pikiran, rasa ingin tahu, berusaha berpikir secara matang dan penuh pertimbangan, memiliki pelbagai keyakinan dan pandangan merupakan varian dari tahap sebuah perkembangan dimana hal ini secara alami terjadi dalam pembentukan pengetahuan dan keyakinan seorang pemuda. Karena itu, kondisi alami ini seyogiyanya tidak harus mencemaskan kedua orang tua dan orang-orang yang ada di sekelilingnya, tapi mereka justru harus memberikan ruang dan kesempatan yang cukup hingga identitas, pemikiran dan keyakinan kaum remaja bisa terbentuk secara alami. Karena, masa ini merupakan masa-masa yang sangat sensitif dan penuh gelora yang disertai perubahan dan perkembangan jasmani, pemikiran, dan kejiwaan, dan pengalaman baru, suka menyendiri, ingin bebas serta masa pencarian jati diri. Maka, ragu-ragu, waswas dan kritis terhadap pelbagai masalah penting dalam kehidupan merupakan hal yang sangat alami dan positif bagi orang-orang yang baru berkembang alias para remaja dimana mereka ingin memantapkan dan membangun pondasi keyakinannya berdasarkan argumentasi yang tahan banting dan tidak membebek saja (baca: taklid buta semata).

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan

Masa remaja yang penuh gejolak ini akan tumbuh secara sehat dan benar bila kita memperhatikan penjelasan berikut ini:

Masa remaja berada di antara masa dewasa dan anak-anak. Seorang ABG (anak baru gede) tidak mau lagi dianggap sebagai “anak ingusan” yang melahap dan menerima apa saja secara mentah-mentah perkataan orang dewasa dan ia tidak boleh diposisikan sebagai orang dewasa yang mampu mengkaji segalah fenomena/peristiwa dengan kejelian analisa dan kematangan pikirannya. Bagaimanapun ia tetap menyandang predikat sebagai seorang remaja atau ABG. Menurut pandangan para psikolog, remaja dari sisi pengetahuan mampu memahami dan menjangkau masalah-masalah seperti mazhab, moral, dan gaya kehidupan yang beraneka ragam lalu menilainya secara sistematis dan argumentatif dimana ia dapat membandingkan plus-minus pelbagai solusi yang ada, sehingga akhirnya ia akan menemukan jawaban yang paling tepat. Dengan demikian jangkauan pemikirannya menjadi lebih luas dan mendalam. Namun dengan segala kemajuan pola pikir, cara menganalisa masalah, dan mengambil keputusan, si anak remaja dari segi kematangan dan kekuatan berpikir masih mengalami masa transisi dari tahap anak-anak menuju masa dewasa. Dengan kata lain, bahwa benar seorang remaja sedang mengalami perkembangan cukup pesat, tapi ia belum sampai pada titik kematangan hingga mampu bersandar pada pandangan pribadi dan argumentasi yang dikemukakannya. Seorang remaja terlalu prematur untuk dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit dengan hanya mengandalkan pengalaman pribadi dan seluruh pontensi psikologisnya (buah pikiran, motivasi, nilai-nilai, pemahaman sosial, budaya dan sejarah). Jadi, kebiasan kalangan remaja yang meragukan pelbagai prinsip kehidupan merupakan sebuah pengantar untuk memperluas dan memperdalam prinsip-prinsip tersebut dan hal semacam ini tidak perlu dicemaskan.

Masa remaja masa pencarian jati diri

Masa remaja begitu penting karena ia merupakan masa pencarian jati diri. Pada masa ini, setiap individu berusaha menemukan dan menanyakan “identitas” dirinya (siapa saya). Pertanyaan ini harus terjawab. Seseorang harus berkaca pada dirinya sendiri. Yakni, di samping ia berhubungan dengan masa lalu, ia juga berkaitan dengan masa depan. Ericson berkata: Membentuk dan membangun jati diri merupakan hal yang sangat sulit dan penuh resiko. Remaja di usai ini harus belajar dan memilih ideologi yang benar dari pelbagai ideologi yang disodorkan padanya. Orang-orang yang sukses dalam tahapan ini dan memiliki jati diri yang kuat akan siap menghadapi masa depannya dengan perasaan yang tenang dan kepercayaan diri yang tinggi. Di usia-sia seperti ini, kelompok masyarakat sangat berpengaruh dalam membentuk karakter remaja. Kelompok masyarakat mampu mengontrol dan mempengaruhi perkembangan jati diri para remaja. Karena itu, teman, pemilihan tokoh teladan dalam agama atau non-agama dan gaya kehidupan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter dan perilaku kalangan remaja. Dengan demikian peluang pengembangan diri bagi remaja sangat terbuka lebar. Masa remaja merupakan masa untuk mengenal diri dan mengenal Sang Pencipta. Karena di masa remaja seseorang dapat mengaraungi tangga kehidupan dengan mudah dan enerjik maka ia perlu berpikir sebelum bertindak dan bermusawarah dengan orang penyayang dan berpandangan luas hingga ia tidak tergelincir dalam pencarian jati dirinya.

Bagaimana Seorang Remaja Membantu Dirinya Sendiri?

Supaya remaja dapat memahami jati dirinya dengan benar dan menemukan hakikat yang didambakannya serta tercerahkan dalam sistem pendidikan yang tepat, maka hendaknya ia memperhatikan hal-hal berikut ini:

Belajar

Menuntut ilmu merupakan kewajiban mutlak bagi setiap remaja. Ilmu yang luas merupakan mutiara yang paling berharga bagi pemuda yang dapat membantunya dalam mengaraungi kehidupan yang benar. Pengetahuan adalah instrument penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, membaca kitab-kitab agama adalah jalan untuk menambah dan memantapkan akidah. Manusia yang kurang pengetahuan tidak akan mampu mengetahui tugas dan kewajiban yang Tuhan bebankan padanya dan pada akhirnya ia tidak dapat memahami makna kehidupan yang hakiki.

Berpikir

Ilmu adalah alat untuk memahami banyak hal, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Kemampuan memahami dan menjawab problematika kehidupan sangat tergantung kepada kadar pemikiran seseorang. Dengan kata lain, kekuatan dan keluasan berpikir seseorang akan menempatkannya pada posisi yang mulia. Jadi, berpikir secara sehat adalah pembimbing ideal dalam mengatasi setiap kejadian dan problematika kehidupan.

Iman

Yang dimaksud dengan iman adalah keyakinan hati terhadap keberadaan Pencipta alam semesta dan menerima dan menaati segala perintah dan firman-firman-Nya. Semakin kuat keimanan seseorang maka manifestasinya semakin jelas dalam berbagai dimensi wujud manusia. Oleh karena itu, barangsiapa yang dalam kehidupannya menempatkan Tuhan sebagai pengawasnya maka ia semakin percaya diri, termotivasi dan memiliki pelindung.

Berbuat Baik

Berbuat baik menjadikan manusia mudah dalam meraih tujuan dan cita-citanya sebagaimana disinggung dalam Al-Quran bahwa perbuatan baik menyebabkan perkembangan dan penyempurnaan pelbagai potensi orang mukmin yang terpendam. Kita mengetahui dengan baik bahwa pendidikan agama memiliki pengaruh kuat terhadap perbuatan baik dan juga terhadap ilmu dan iman. Karena untuk itu, perbuatan yang terbaik adalah mengamalkan kewajiban agama kita, dan hendaknya kita memotivasi orang lain untuk berbuat baik dan mencegah dari perbuatan amoral. Melaksanakan kewajiban Ilahi selain memotivasi perkembangan dalam diri kita, juga melatih merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan, meningkatkan dasar iman dan memperkuat pandangan dan komitmen keberagamaan seseorang. Kiranya semua ini dapat menjadi modal penting bagi seseorang untuk mendapatkan jalan yang benar dalam menghadapi pelbagai perubahan penting kehidupan dengan tawakal kepada Allah sehingga ia berhasil meraih tujuannya.

Kesimpulan

Kita mengetahui bahwasanya masa remaja adalah masa penuh pergolakan pemikiran, namun karena pondasi dasar pemikiran di saat itu belum begitu kuat, maka ia rentan menghadapi banyak ancaman dan masalah. Seandainya kita membantu mereka dalam mengembangkan keilmuan, berpikir secara sehat dan jernih dan berbuat amal kebajikan serta mengingat Allah dalam semua aktifitas yang mereka geluti, maka mereka mampu mengapai kemajuan di bidang agama, pola pikir, moral, sosial dan sebagainya.

sistem Wilayatul Faqih Syi’ah bukan monarkhi gaya Umayyah Abbasiyah ( dua rezim pembentuk Sunni)

oleh : Ustad Husain Ardilla

Makam Sayidina Husein dan masjid Karbala

.

Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Perpecahan internal dalam Islam yang meruncing dari waktu ke waktu

.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.
saya  tidak menerima hadits yang menjadi salah satu dasar pengangkatan salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar sebagai Khalifah karena syiah  tidak mengakui kekhalifahan tiga sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman
.

Hadits yang tertulis dalam Shahih Bukhari tersebut, menjelaskan tentang ditunjuknya Abu Bakar oleh Nabi Muhammad Saw sebagai imam shalat, saat Nabi sedang sakit. Ini menjadi isyarat, bahwa Nabi menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah. Syi’ah menganggap hadits tersebut meragukan, meskipun diriwayatkan oleh imam Bukhari, dan hadits tersebut termasuk sahih (kuat)

.

Dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu’tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun. Bagaimana menjelaskan ini?

.

Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab

.

Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits. Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakar terjadi larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu

.

Pada mulanya perpecahan Islam  itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarahsyura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).Agama Muhammad SAW  terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pada setiap khotib jum’at harus ada kata-kata mencela Ali & keluarga .

o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam”

Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan kontra.    Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.

Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah.

hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi. Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam

Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap pembantai pengikut ahlulbait

   Murji`ah versus Syiah.

Pertentangan orang-orang Murji`ah dengan orang-orang Syiah terjadi oleh karena Murji`ah menyerahkan persoalan khalifah atau pengganti Nabi kepada Tuhan. Mereka tidak mendukung gagasan Syiah tentang negara teokratis Ali, yang didasarkan atas keadilan agama dan juga tidak meyakini klaim Ahli Bait sebagai pewaris kepemimpinan Nabi atas umat Islam.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.

Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Bersamaan dengan itu, kaum Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali, dan mengajak Husain bin Ali melakukan perlawanan.

Husain bin Ali sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah,

Pada tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia. Dalam sebuah perjalanan  terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan Pertempuran Karbala, Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala sebuah daerah di dekat Kufah.

Kelompok Syi’ah sendiri bahkan terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan diantaranya adalah yang dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar (yang pada akhirnya mengaku sebagai nabi) mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari PersiaArmenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah secara keseluruhan.

Abdullah bin Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepung Madinah dan Mekkah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus.

Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Setelah itu gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi’ah juga dapat diredakan.

pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyimyang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.

Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus

.

Sistem Pemerintahan Thaghut Umayyah :

1. Sistem Suksesi (penggantian khalifah)

Permintaan Hasan Bin Ali kepada Mu’awiyah untuk tidak menunjuk pengganti khalifah dan menyerahkan penggantinya kepada umat Islam melalui pemilihan tidak dilaksanakan oleh Mu’awiyah. Ia menunjuk anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Penunjukan ini dilaksanakan oleh Mu’awiyah atas saran Al Mughirah bin Syu’bah. Ia berpendapat bahwa penunjukan putra Mahkota dapat menghindarkan konflik politik intern umat Islam, seperti yang terjadi pada masa sebelumnya. Cara ini terus berlanjut untuk semua khalifah, mereka selalu menunjuk putra mahkota. Dan untuk mendapatkan pengesahannya para khalifah memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan bai’at di hadapan khalifah.Selain Bani Umaiyah tidak mempunyai kesempatan menjadi pejabat kerajaan.

2. Lembaga Syura

Dewan Penasihat khalifah tidak berfungsi secara baik, mereka diangkat hanya dari kerabat khalifah sendiri sehingga lebih banyak mendukung kebijakan khalifah, dan tidak lagi memperhatikan usulan, pendapat dan kepentingan rakyat. Hal ini terjadi karena penguasa bani Umaiyah benar-benar menganggap dirinya sebagai raja yang tidak dipilih dan diangkat oleh rakyat. Mereka menjadi penguasa karena berjuang untuk merebutnya, sehinga negara adalah miliknya
.
pada masa Bani Umaiyah para khalifah dan keluarganya hidup dalam kemewahan dan selalu mendapatkan penjagaan yang ketat dari para pengawalnya. Mereka berdalih, bahwa khalifah adalah pemimpin umat yang harus dijaga kewibawaannya, dan juga keamanannya, wibawa khalifah adalah wibawa umat, dan keselamatan khalifah adalah keselamatan negara.

3. Sistem Organisasi Pemerintahan

Organisasi pemerintahan yang dikembangkan oleh Daulah Bani Umaiyah lebih modern dan lebih rapi. Dauah bani Umaiyah menetapkan Damaskus sebagai ibu kota pemerintahan. Dan urusan pemerintahan pusat dijalankan oleh lima dewan (departemen), yaitu :

  • Diwanul Jundi yang menangani urusan kemiliteran.
  • Diwanur Rasail yang menngani urusan admnistrasi pemerintah dan surat-menyurat
  • Diwanul Barid yang menangani urusan pos
  • Diwanul Kharraj yang menangani urusan keuangan.
  • Diwanul Khatam yang menangani urusan dokumentasi.

Sedangkan secara administatif wilayah kekuasaan dibagi menjadi lima kelompok wilayah propinsi, yaitu :

  • Kelompok wilayah propinsi Hijaz dan Yaman.
  • Kelompok wilayah Mesir bagian utara dan selatan.
  • Kelompok wilayah propinsi Irak Arab meliputi wilayah Babilonia dan Kaldea, dan Irak Ajam meliputi Yaman dan Persia.
  • Kelompok wilayah Armenia, Mesopotamia, dan Azerbaijan.
  • Kelompok wilayah propinsi Afrika Utara, meliputi Spanyol, Perancis bagian Selatan, serta Sicilia.

4. Angkatan Perang

Angkatan Perang yang diubangun oleh Daulah Bani Umaiyah lebih banyak mencontoh model Romawi dan Persia. Yaitu membangun tentara khusus yang dibayar oleh negara. Selain itu mereka juga mengembangkan angkatan laut. Dalam rekrutmen tentara Daulah Bani Umaiayah lebih mengutamakan orang-orang Arab dari pada orang-orang Mawali atau Non Arab. Kesemuanya ini sangat mendukung kebijakan Bani Umaiaya yang mengutamakan perluasan wilayah.

Muawiyah bin Abu Sufyan

Muawiyah I
Memerintah 661 – 680
Dinobatkan 661
Dilantik 661
Nama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan
Lahir 602
Meninggal 6 Mei 680
Pendahulu Ali
Pewaris Yazid I
Pengganti Yazid I
Anak Yazid I
Wangsa Bani Abdus Syams
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Abu Sufyan
Ibu Hindun binti Utbah

Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, dipaksa berbai’at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy’ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan biadab

.

Kekhalifahan Utama di Damaskus

  1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
  2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
  3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
  4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M
  5. Abdullah bin Zubair bin Awwam, (peralihan pemerintahan, bukan Bani Umayyah).
  6. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
  7. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
  8. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
  9. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
  10. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
  11. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
  12. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
  13. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
  14. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
  15. Marwan II bin Muhammad (memerintah di HarranJazira), 127-133 H / 744-750 M

Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar
.
Menurut ajaran sunni :
- Imam Ali berijtihad
- Mu’awiyah berijtihad
- Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

saudaraku…. 

Tanggapan syi’ah tentang bai’at Imam Ali :

Imam Ali r.a dan Syiah membai’at Abubakar sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I…

Saudaraku..

- Imam Ali terpaksa membai’at Abubakar karena ingin memelihara umat agar tidak mati sia sia dalam perang saudara melawan Pasukan Abubakar dibawah pimpinan Khalid Bin Walid yang haus darah

- Dengan mengalah Imam Ali telah menyelamatkan umat Islam dari kehancuran..Kalau perang saudara terjadi dan imam Ali tidak membai’at Abubakar maka tidak ada lagi Islam seperti yang sekarang ini

Akan tetapi…..

syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..

Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

===============================================================================================================================================================
CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

(9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

(10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

(11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

(12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

Beda utama Syi’ah – Sunni :
Sunni :
1. Nabi SAW tidak menunjuk siapa pengganti nya
2. Fokus pedoman : Sahabat
3. Semua sahabat adil

Mu’awiyah di dalam khutbahnya dishalat Jum’at telah mengutuk ’Ali, Hasan dan Hussein. Mu’awiyah juga mengintruksikan didalam semua forum jamaah ketika dia berkuasa supaya mengutuk manusia yang suci itu (baca keluarga Rasul) Justru itu siapapun yang bersatupadu dengan manusia yang terkutuk itu (baca Mu’awiyah) dan merasa senang dengan tindakan mereka (baca komunitas Mu’awiyah) tidak pantaskah untuk dikutuk? Dan ketika dia sedang bersekutu dengan manusia seperti itu, jika dia membantu mereka dalam memalsukan Hadist dari Ahlulbayt (keluarga/keturunan Rasul) dan memaksakan manusia untuk melakukan kutukannya kepada manusia suci ini (baca ’Ali, Fatimah, Hasan dan Husen),

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

====================================================

MASALAH   KHALiFAH

Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah  itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku

Hanya karna dukungan politik dari ulama ulama Bani Umayyah dan  ulama ulama  Bani Abbasiah keempat mazhab aswaja sunni   dapat berkembang ditengah masyarakat ( Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq )

 saudaraku….

banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Pada hari Asyura tahun 61 hijriah, padang Karbala saat itu menyaksikan peristiwa heroik yang ditampilkan oleh cucu kesayangan Rasulullah Saw, Imam Husein as dan para sahabatnya yang setia. Pada saat yang sama, Imam Ali Zainal Abidin as, putra Imam Husein as, tergeletak sakit di kemah. Kondisi itu membuat Imam Ali Zainal Abidin as tidak dapat bangkit membantu ayahnya dan para pejuang Karbala. Akan tetapi jiwa Imam Ali Zainal Abidin as yang juga dikenal al-Sajjad atau orang yang banyak bersujud, tak dapat ditahan untuk membantu ayahnya, tapi raga sama sekali tak mengizinkan.

Kondisi sakit Imam Ali Zainal Abidin pada hari Asyura mengandung hikmah ilahi dan rahasia Tuhan. Setelah peristiwa Asyura, Imam al-Sajjad mengemban tanggung jawab kepemimpinan demi menjaga risalah kenabian Rasulullah Saw.

Sejarah mencatat, tatkala pertempuran di padang Karbala bergolak, Imam Sajjad as mendengar suara ayahnya, Imam Husein as yang berkata: “Siapakah yang menolongku?”, dalam keadaan lemah beliau pun berusaha bangkit hendak memenuhi panggilan ayahnya. Namun melihat hal itu, Ummi Kultsum, bibi beliau pun berusaha menahannya pergi lantaran masih lemahnya kondisi kesehatan Imam Sajjad as.

Dengan penuh harapan, beliau berkata, “Bibi, ijinkan aku pergi berjihad bersama putra Rasulullah Saw”. Akan tetapi, karena lemahnya kondisi jasmani beliau, Imam pun tak mampu mengantarkan dirinya ke garis pertempuran. Hingga akhirnya takdir pun menyelamatkan beliau dan cita-cita kebangkitan Imam Husein dapat terus diperjuangkan.

Imam al-Sajjad menerima tanggung jawab kepemimpinan atau imamah pada umur 23 tahun. Tanggung jawab itu diterima saat kondisi sangat pelik. Pada masa itu, Dinasti Bani Umayyah berkuasa. Masyarakat saat itu jauh dari ajaran murni agama Islam. Akan tetapi penguasa saat itu berpenampilan religius, tapi pada dasarnya bertujuan membabat habis nilai-nilai agama.

Dinasti Umayyah di masa itu juga berusaha mengesankan kebangkitan Imam Husein sebagai langkah ekstrim yang keluar dari ajaran agama. Bani Umayyah berupaya menghapuskan pesan Imam Husein di padang Karbala supaya tidak sampai ke masyarakat. Di tengah kondisi seperti itu, Imam Ali Zainal Abidin as berusaha menjelaskan tujuan-tujuan penting kebangkitan Imam Husein as sehingga konspirasi musuh yang berupaya memojokkan posisi Ahlul Bait as dihadapkan pada kegagalan total.

Imam Ali Zainal Abidin as bersama Sayidah Zainab as memegang peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan gerakan Imam Husein as kepada masyarakat. Salah satu lembaran penting dalam sejarah pasca Peristiwa Karbala adalah pidato tegas Imam al-Sajjad di masjid Bani Umayyah, Syam. Dengan pidatonya, Imam al-Sajjad mampu menyampaikan pesan revolusionernya dengan landasan argumentasi kuat dan logis.

Saat Imam as digelandang bersama para tawanan Karbala dan sampai di kota Kufah, beliau melontarkan orasi yang sangat memukau dan menyentuh, sampai-sampai seluruh warga kota Kufah seakan tersihir oleh orasi beliau. Setelah memaparkan tentang keutamaan Ahlul Bait Nabi dan Imam Husein as, beliau berbicara kepada warga Kufah, “Wahai umat manusia, demi Allah aku bersumpah dengan kalian, apakah kalian ingat, kalian sendiri yang telah menulis surat kepada ayahku, namun setelah itu kalian menipunya? Kalian menjalin janji dan berbaiat kepadanya, namun kalian juga yang memeranginya? Lantas dengan mata yang mana lagi kalian akan melihat saat Rasulullah Saw di hari Kiamat kelak berkata, “Kalian telah bunuh Ahlul Baitku dan mematahkan kehormatanku!”

Puncak orasi Imam Sajjad as saat beliau berpidato di hadapan khalifah zalim, Yazid bin Muawiyah di Syam. Seluruh kejahatan dan kebobrokan penguasa zalim itupun diungkap secara jelas oleh Imam as hingga Yazid kehilangan muka. Dalam salah satu bagian pidatonya, Imam Sajjad as menuturkan, “Wahai umat manusia, Allah Swt menganugerahkan keutamaan-keutamaan seperti keilmuan, kesabaran, kedermawanan, kelugasan dan keberanian kepada Ahlul Bait Rasulullah Saw. Allah juga menganugerahkan kecintaan kepada Ahlul Bait pada hati orang-orang mukmin.”

Beliau menambahkan, “Wahai umat manusia, barangsiapa yang tidak mengenal aku, maka aku akan mengenalkan diriku.” Dikatakannya, “Akulah putra Fatimah, akulah putra seorang yang syahid saat bibirnya kering kehausan”.

Imam pun terus menegaskan keutamaan diri dan keluarganya hingga masyarakat Syam pun menangis penuh penyesalan. Untuk memotong pidato Imam Sajjad, Yazid pun memerintahkan untuk melantunkan azan.

Pidato Imam al-Sajjad membuat kondisi kota Syam yang juga pusat pemerintahan dinasti Umayyah saat itu menjadi kalang kabut. Bahkan para petinggi Bani Umayyah memutuskan untuk segara membawa Imam Husein dan para tawanan keluarga Nabi lainnya ke Madinah.

Tak dapat dipungkiri, pidato Imam Sajjad berhasil membangkitkan nurani masyarakat kota Syam yang selama ini dikuasai Dinasti Bani Umayyah. Di pusat pemerintahan, para petinggi Bani Umayyah tidak mampu menghalau pidato-pidato Imam Ali Zainal Abidin as yang memancarkan semangat revolusi dan gerakan anti-arogansi. Pencerahan Imam Sajjad as secara perlahan, mampu membangkitkan semangat umat Islam untuk melawan kezaliman di berbagai penjuru. Karena itu, pasca tragedi Karbala muncul belbagai gerakan kebangkitan menentang ketidakadilan pemerinatahan Bani Umayyah.

Setiba di kota Madinah, Imam al-Sajjad terus melanjutkan pidato-pidato pencerahannya yang isinya menyingkap kezaliman penguasa Bani Umayyah. Sementara itu, para penguasa Bani Umayyah kian bersikap sewenang-wenang. Saat itu, perjuangan utama Imam Sajjad as mempunyai misi untuk meluruskan pandangan masyarakat dan meningkatkan kesadaran umat.

Peran dan jasa berharga Imam Sajjad as pasca tragedi Asyura adalah menyebarkan risalah doa dan munajat yang sangat luhur. Kini kumpulan doa-doa dan munajat beliau itu dihimpun dalam sebuah kitab bernama Sahifah Sajjadiyah. Kendati doa dan munajat Imam Husein merupakan naskah doa, namun di dalamnya mengandung muatan ajaran Islam yang sangat luhur mengenai filsafat hidup, penciptaan, keyakinan, moral dan politik.

Imam al-Sajjad as dalam salah satu doanya mengatakan, “Ya Allah berilah kami kekuatan untuk mampu menjaga sunnah Nabi-Mu, dan berjuang melawan bid’ah-bid’ah, serta melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.”

Al-Sajjad dalam sejarah hidupnya selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengungkap misteri di balik tragedi Karbala. Imam Ali Zainal Abidin as selalu meneteskan air mata dan menunjukkan duka yang mendalam saat menceritakan peristiwa pembantaian terhadap keluarga Nabi pada hari Asyura. Duka yang ditunjukkan Imam Sajjad as itulah yang akhirnya mampu membangkitkan semangat juang umat Islam dalam melawan kezaliman Bani Umayyah. Imam al-Sajjad as juga dikenal sebagai sosok pemaaf, pengasih dan populis.

Imam Ali Zainal Abidin as gugur syahid pada tahun 95 hijrah setelah penguasa Bani Umayyah, Walid bin Abdul Malik mengeluarkan perintah untuk meracuni al-Sajjad as

Imamah dan kepemimpinan merupakan prinsip dan pondasi penting agama Islam. Kedua masalah ini, di samping prinsip-prinsip lainnya, mewujudkan eksistensi Islam. Keuniversalan agama Islam membuatnya tidak bergantung pada lainnya. Kedua prinsip ini sebagai penjaga hukum, undang-undang dan nilai-nilai ilahi. Bahkan lebih dari itu, begitu pentingnya prinsip ini juga sebagai penjamin keberlangsungan hasil dari prinsip-prinsip yang lain. Keberadaan dan peran dari prinsip Imamah menjamin tauhid, keadilan ilahi, kenabian dan hari akhir menjadi lebih realistis; mulai dari sisi teoritis hingga praktis. Manusia dengan mudah dapat merasakan itu dan memanfaatkannya.

Dalam sistem politik Islam, prinsip Imamah dan kepemimpinan keberadaan dan perannya tidak diragukan lagi. Prinsip Imamah dan kepemimpinan adalah langkah awal untuk mendirikan sebuah pemerintahan Islam yang pada gilirannya menyiapkan kondisi dan fasilitas demi terlaksananya undang-undang politik, sosial, ekonomi, militer, moral, pendidikan, hukum dan peradilan di tengah-tengah masyarakat berdasarkan Islam.

Kewajiban, peran dan dampak penting dari prinsip Imamah dan kepemimpin dalam ajaran Islam menjadi tanggung jawab seorang Imam dan pemimpin. (Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 29) Pada saat yang bersamaan, setiap orang diwajibkan untuk mengetahui Imam di zamannya. (Farhang Sukhanan Emam Hossein as, penerbit Masyhur, hal 92) Ketaatan terhadap seorang Imam identik dengan ketaatan terhadap Allah Swt. (Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 208) Dan para Imam menjadi saksi atas perbuatan manusia.(Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 206)

Dalam peristiwa Asyura, terjadi pertemuan dan bincang-bincang antara Imam Husein as dengan Imam Sajjad as. Sebuah percakapan bersejarah. Pembicaraan itu bila diteliti menunjukkan posisi dan pentingnya Imamah dan kepemimpinan.

Imam Sajjad as dalam peristiwa Asyura menderita sakit. Penderitaan yang membuatnya tidak dapat ikut serta dalam peperangan itu. Sakit membuatnya tidak dapat berjihad di samping ayahnya. Ketidakmampuannya untuk ikut dalam membela kebenaran yang diusung oleh Imam Husein as membuatnya sangat bersedih.

Pada detik-detik terakhir peristiwa Asyura, Imam Husein as untuk terakhir kalinya menyambangi anaknya, Imam Sajjad as. Pertemuan untuk terakhir kalinya. Ketika Imam Husein as mendekat anaknya, ia ditanya, “Ayah! Hari ini apa yang engkau lakukan dengan orang-orang munafik?”

Imam Husein as menjawab, “Wahai anakku! Setan telah mengalahkan mereka. Setan berhasil menyingkirkan rasa mengingat Allah dari hati mereka. Perang akhirnya merupakan pilihan yang tidak dapat dielakkan. Mereka bak orang kehausan sampai berhasil melihat bumi menyerap semua darah kami.”

Imam Sajjad kembali bertanya, “Pamanku Abbas di mana?”

Imam Husein as menjawab, “Wahai anakku! Pamanmu dibunuh. Jasadnya berada dekat sungai Furat. Tangannya terpotong.”

Mendengar penjelasan ayahnya, Imam Sajjad menangis tersedu-sedu. Ia kemudian bertanya, “Bagaimana kabar Ali, saudaraku dan rombongan yang lain?”

Imam Husein as menjawab, “Anakku! Ketahuilah bahwa di perkemahan kita tidak ada lagi orang yang tersisa, selain kita berdua. Semua orang yang engkau Tanya telah tewas berkalang tanah.”

Kembali Imam Sajjad as menangis tersedu-sedu. Ia kemudian memohon kepada Zainab agar mengambilkan tongkat dan pedangnya.

Imam Husein as ganti bertanya, “Apa yang ingin engkau lakukan dengan tongkat dan pedang?”

Imam Sajjad as menjawab, “Dengan tongkat aku dapat menyanggah tubuhku. Dan dengan pedang aku akan membela keturunan Nabi saw.”

Imam Husein as memanggil Ummu Kultsum dan berkata, “Jaga dia! Tidak boleh terjadi bumi kosong dari Alu Muhammad (keluarga Muhammad).” (Farhang Sukhanan Emam Hossein as, hal 539-540)

Sekejap, Imam Husein as dapat merasakan mengapa anaknya mengucapkan hal itu. Ucapan dan sikap yang lahir dari rasa tanggung jawab yang tinggi, sekalipun dalam kondisi sakit dan lemah. Sebuah keputusan yang lahir dari semangat melawan musuh. Namun, Imam Husein as melarang anaknya untuk ikut berperang. Argumentasinya adalah Imam Sajjad as harus tetap hidup. Ia harus hidup untuk masa yang akan datang. Masa yang menuntut tanggung jawab yang besar dari prinsip Imamah dan kepemimpinan.Imam Sajjad as harus tetap hidup agar prinsip ini tetap langgeng, tidak terputus. Kematian Imam Sajjad as berarti terputusnya prinsip Imamah dan sama dengan kosongnya bumi dari seorang Imam dan pemimpin.

Tiba saatnya Imam Husein as harus mengucapkan salam perpisahan kepada anaknya.

Pertama, beliau menasihati keluarganya bahwa setelah ia terbunuh, mereka semua bakal ditawan. Kedua, beliau membeberkan rencana dan tugas yang harus diemban oleh mereka. Dan yang bertanggung jawab penuh dalam tugas ini adalah imam Sajjad as. Mereka harus menyampaikan dan menyingkap semua keteraniayaan Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya.

Nasihat Imam Husein as kepada anaknya, “Kapan saja anggota keluarga berteriak akibat beratnya cobaan, maka engkau yang harus mendiamkan mereka!

Kapan saja mereka merasa ketakutan, maka engkau yang bertugas menenangkan mereka!

Pikiran mereka yang bercabang harus engkau satukan dengan ucapan yang dapat menenangkan!

Ini harus engkau lakukan karena orang yang menjadi tempat pengaduan mereka telah tiada selain engkau. Biarkan mereka dengan keadannya sehingga dapat merasakan kehadiranmu dan engkau dapat merasakan penderitaan mereka. Lakukan ini agar mereka menangisimu dan engkau menangisi mereka.”

Setelah itu, Imam Husein as memegang dan mengangkat tangan Imam Sajjad as. Dengan nada tinggi ia berkata kepada anak-anak dan wanita Ahlul Bait, “Dengarkan ucapanku!

Ketahuilah! Ini adalah anakku dan khalifahku untuk kalian. Ia adalah Imam yang wajib untuk ditaati”. (Farhang Sukhanan Emam Hossein as, hal 541-542)

Percakapan antara Imam Husein as dengan Imam Sajjad as dan keluarganya pada detik-detik terakhir peristiwa Asyura sangat jelas dan kuat menekankan posisi, peran dan nilai “Imamah dan kepemimpinan”. Pentingnya masalah ini dengan memperkenalkan Imam dan pemimpin setelahnya. Imam dan pemimpin bagi khilafah, wilayah dan pemerintahan atas masyarakat dan negara Islam.

Prinsip Imamah dan kepemimpinan hadir di tengah-tengah peristiwa Karbala. Hadir dan dapat dirasakan dalam semua tahapan-tahapan kejadian Karbala. Imamah dan kepemimpin mengawasi jalannya peristiwa bersejarah ini agar sahabat-sahabatnya tidak keluar dari garis itu. Dan yang terpenting pada detik-detik terakhir Asyura prinsip Imamah dan kepemimpinan ditetapkan, bahkan suksesi berjalan sempurna. Imamah dan kepemimpinan tidak berhenti, namun hadir dalam bentangan sejarah pada semua generasi dan di setiap zaman.

Pasca syahadahnya Imam Husein bin Ali as beserta sejumlah keluarga dan sahabatnya di Padang Karbala, keluarga yang beliau tinggal mengalami penderitaan yang tak terhingga dan mereka menjadi tawanan. Sungguh pemandangan yang sangat mengiriskan di mana mereka yang mengaku pecinta Nabi, kini dengan tega membantai cucu beliau dan tak puas dengan itu, mereka membelenggu keturunannya serta diseret sebagai tawanan. Ibnu Ziyad sebelum para tawanan tiba di istananya mengizinkan setiap orang untuk memasuki kediamannya tersebut.

Setelah warga penuh sesak memasuki istana Ibnu Ziyad, ia memerintahkan keluarga Imam Husein untuk dihadirkan di hadapan khalayak. Ubaidullah bin Ziyad mengambil tongkat kayu seraya memukul kepala mulia Imam Husain as dan menyatakan bahwa kejadian ini merupakan kemenangan baginya di medan laga, dan terbunuhnya Imam Husain merupakan kehendak-Nya. Saat itulah ia mendapatkan jawaban yang mematikan dan sangat pedas dari Zainab as dan Imam Ali bin Imam Husain as yang menyebabkan kehinaan Yazid dan para keturunan Yazid.

Saat itu, Ibnu Ziyad menoleh ke Imam Sajjad dan bertanya ?

Siapa namamu ?

Imam menjawab: Saya, Ali bin Husein as.

Ibnu Ziyad berkata: Bukannya Ali bin Husein telah dibunuh oleh Allah Swt.

Imam menjawab: Saya punya saudara tua bernama Ali dan ia dibunuh oleh rakyat.

Ibnu Ziyad membantah: Ia bukannya dibunuh rakyat, namun Allah yang membunuhnya.

Imam Sajjad: Memang benar setiap manusia akan mati jika Allah menghendaki dan tanpa izin Allah kematian tidak akan menjemput manusia.

Ibnu Ziyad tidak dapat menahan amarahnya atas jawaban Imam Sajjad  dan memerintahkan anak buahnya untuk memenggal Imam yang tengah sakit tersebut. Saat itulah Zainab, saudari Imam Husein bangkit menjadi tameng keponakannya.

Dengan tegas Imam Sajjad berkata kepada Ibnu Ziyad, Apakah hingga kini kamu belum memahami bahwa kematian adalah tujuan kami dan kesyahidan merupakan kebanggaan kami ?

Imam Sajjad seperti ayah dan kakek-kakeknya memiliki keutamaan, ketinggian ilmu dan kesempurnaan. Di depan warga Kufah, Imam Sajjad as berpidato. Beliau berkata,”Wahai manusia, barangsiapa mengenalku, dia telah mengenalku. Dan barangsiapa tidak mengenalku, ketahuilah bahwa aku adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Akulah putra yang dirusak kehormatannya, dihilangkan kenikmatannya, dirampas hartanya, dan ditawan keluarganya. Akulah putra yang disembelih di sisi sungai Furat. Akulah putra orang yang telah dibunuh dalam keadaan sabar, dan cukuplah semua itu sebagai kebanggaanku. Wahai manusia, aku minta kalian bersumpah kepada Allah; apakah kalian tahu bahwa sesungguhnya kalian telah menulis dan memberikan janji serta baiat kepada ayahku, lalu kalian membunuhnya? Maka, celakalah kalian atas apa yang telah kalian berikan untuk diri kalian! Dengan pandangan macam apa kalian akan melihat Rasulullah saww jika berkata kepada kalian, ‘Kalian semua telah membunuh putraku, telah merusak kehormatanku! Kalian bukan umatku!’”

Pasca syahadahnya Imam Husein as,kondisi kehidupan umat Islam kian sulit. Di kondisi seperti inilah, Imam Sajjad as bangkit meneruskan perjuangan ayahnya menyelamatkan Islam dari kehancuran total. Beliau menyadari sepenuhnya bahwa yang menyebabkan gugurnya Imam Husein bukan hanya Yazid dan kroninya, namun masih terdapat musibah yang lebih besar dan itu adalah kebodohan serta kelalaian umat Islam sendiri.

Sementara itu, Bani Umayyah setelah wafatnya Rasulullah Saw mengerahkan segenap usahanya untuk menghapus nama serta pengaruh nabi beserta keluarganya di tengah masyarakat Islam. Dampaknya adalah munculnya kembali era jahiliyah di tengah-tengah masyarakat. Ketika itulah, Imam Sajjad bangkit untuk menyelamatkan umat. Jalan yang ditempuh Imam berbeda dengan ayahnya, beliau memilih mengobarkan revolusi budaya dan hal ini dikemas Imam melalui doa-doa yang beliau panjatkan.

Tak diragukan lagi bahwa doa bukan sekedar ibadah, namun merupakan cahaya yang bangkit dari jiwa orang-orang yang berdoa. Doa juga merupakan kekuatan paling kokoh sebagai energi yang dihasilkan oleh seseorang. Menurut Alexis Carreel, “Pengaruh doa bagi jiwa dan fisik manusia tak kalah dengan mensekresi kelenjar badan. Kelenjar ini dapat diditeksi dengan bertambahnya daya berfikir, moral serta bertambahkan pemahaman seseorang. Dengan doa manusia menyingkap rasa egoisme, puas diri, bodoh dan ketakutan yang ada di dalam dirinya. Kemudian di dalam dirinya akan timbul akhlak terpuji dan kerendahan diri yang masuk akal. Dengan demikian jiwa seseorang akan berpetualang inayah dan kelembutan Allah Swt. Sebagai seorang dokter saya mengatakan bahwa kekuatan doa seperti daya grafitasi bumi dan doa juga yang dapat mengalahkan ketentuan alam.”

Imam Sajjad dengan doa-doanya memberikan pelajaran kepada manusia faktor-faktor yang mendukung hidup sehat, teratur dan indah. Dengan doanya Imam juga menyebarkan budaya membenahi diri sehingga keselamatan mental masyarakat terjamin. Di kumpulan doa-doa Imam Sajjad, Sahifah Sajjadiyah, beliau dalam doanya menggunakan ibarat seperti keselamatan, hikmah dan keamanan. Imam memiliki metode tersendiri dalam doanya. Pertama-tama beliau mengenalkan sosok manusia sempurna. Karena tanpa adanya pengenalan terhadap manusia sempurna kekurangan pada diri manusia tidak dapat diketahui. Hal inilah yang ingin diajarkan Imam Sajjad kepada umatnya dengan mengawali setiap doanya dengan shalawat kepada Rasulullah berserta keluarganya yang suci.

Selanjutnya Imam mengajak manusia untuk memperhatikan keistimewaan yang terpendam dalam diri mereka, khususnya perasaan untuk mengenal Tuhan. Perasaan ini sangat membantu manusia untuk memperbaiki perilakunya. Manusia seperti ini senantiasa mengingat Tuhannya sehingga ia terhindar dari perbuatan dosa. Imam Sajjad menyadari sepenuhnya bahwa jika manusia berlindung di bawah keimanan dan keyakinan terhadap Tuhan, maka ia akan terhindar dari keraguan serta hidupnya akan selalu tenang. Manusia seperti ini juga akan tegar menghadapi gelombang kehidupan yang menerpanya. Selalu mengingat Tuhan membuat jiwa manusia kebal dari setiap cobaan yang menerpanya. Gangguan mental seperti ketakutan dan kehinaan.

Sejumlah sifat-sifat tak terpuji seperti hasud, haus kekuasaan dan ingin menang sendiri termasuk hal-hak yang menekan jiwa manusia. Imam dalam doanya memberikan solusi kepada manusia seperti ini. Di antara salah satu sifat  manusia adalah senang kekayaan duniawi. Sifat ini disebabkan manusia menyaksikan kekayaan dapat mensejahterakan kehidupan manusia dan apa yang dia inginkan selalu tercapai dengan uang. Dalam memberi pelajaran kepada manusia terkait dunia, Imam pertama mencela dunia karena kejelakan yang merugikan manusia. Selanjutnya Imam meminta kepada Allah Swt menjadikan dunia sebagai tempat beribadah dan menghamba kepada-Nya.

Manusia biasanya ketika terpaku pada sebuah masalah akan melalaikan hal-hal lain. Hal ini akan membuat manusia kehilangan kesempatan serta mendorongnya untuk menyeleweng. Dalam doanya Imam banyak memberikan contoh bukti dari kelalaian seperti lalai diri sendiri, lalai menjalankan tugas, lalai terhadap Tuhan dan kematian.

Sejatinya Imam Sajjad mendidik manusia untuk dapat berinteraksi dengan diri sendiri, masyarakat, alam dan Tuhan. Ketika manusia dengan tepat dapat menjalin hubungan antara dirinya, alam dan Tuhan maka akan muncul dalam dirinya ketenangan dan dalam falsafah hidupnya ia akan selalu berserah diri kepada Allah Swt. Ketika itulah, ia benar-benar menemukan kehidupan sejati yang penuh makna dan kebahagiaan menjadi bagian dari dirinya.

Asyura merupakan peristiwa besar yang terjadi di abad 61 hijriah atau 680 M di padang Karbala, Irak. Tragedi itu menjadi epik paling mengharukan, sekaligus kejadian paling abadi dalam lembaran sejarah Islam. Hingga kini Asyura memiliki dimensi individu maupun sosial yang layak untuk dikaji dari berbagai sisi.

Peristiwa Asyura juga menjadi sumber inspirasi dari gerakan revolusi besar dalam sejarah Islam. Peran Asyura bagi kehidupan umat Islam tidak diragukan lagi banyak berutang budi kepada Imam Husein dan pengikutnya yang menumpahkan darah mereka demi membela prinsip yang mereka yakini.

Hingga kini peristiwa Asyura telah menjadi inspirasi atas lahirnya berbagai karya seni mulai dari buku, artikel, syair, film maupun karya seni lainnya. Meski demikian, peristiwa dan tokoh Asyura masih menjadi daya tarik yang memikat. Pesona yang menyebabkan umat Islam di berbagai penjuru dunia di bulan Muharram untuk mengingat tragedi yang menyajikan keberanian dan ketakwaan sejati telah memberikan warna lain bagi dunia.

Peringatan duka di bulan Muharram di kalangan umat Islam bukan hanya sebuah peringatan keagamaan semata yang masih memisahkan kehidupan individu dan sosial. Asyura mewujudkan spirit perjuangan dan kesyahidan, sekaligus memperkokoh persatuan dan solidaritas bangsa. Selain itu, Asyura juga menjadi cermin bagi kehidupan umat manusia melalui tokoh-tokoh dalam peristiwa besar itu dan refleksinya dalam kehidupan kekinian.

Lalu apa yang sangat vital dalam peristiwa Asyura dalam konteks kekinian hingga menyebabkan peristiwa masa lampau itu senantiasa hidup dan berpengaruh terhadap kehidupan dewasa ini. Apa faktor yang menyebabkan peristiwa itu abadi hingga kini ? Mengapa penguasa dan sebagian masyarakat gagal mengubur maupun menyelewengkan peristiwa Asyura ? Lalu metode apa yang dijadikan untuk menyampaikan pesan-pesan Karbala dari satu generasi ke generasi hingga saat ini ?

Untuk menganalisis peran penting media dalam menyampaikan pesan Karbala membutuhkan sedikit kajian tentang metode informasi masyarakat tradisional. tradisi lisan dan interaksi langsung merupakan salah satu karakteristik media massa lalu. Ketika itu, budaya tulisan belum berkembang pesat seperti saat ini.

Kehadiran rakyat di alun-alun, pasar-pasar dan warung kopi bukan hanya mengisi waktu istirahat dan liburan mereka saja, namun menjadi sebagai media informasi dan sekaligus pengingat antargenerasi. Media  informasi massa tersebut selama berabad-abad relatif bertahan sebagai media yang cukup efektif.

Seiring terjadinya penyebaran budaya Islam, hubungan media pun menemukan bentuk khususnya yang sangat berbeda dengan agama lain. Contohnya masjid, pusat pendidikan keagamaan seperti hauzah maupun pesantren. Selain itu peringatan acara keagamaan seperti shalat jemaah dan shalat Jumat di kalangan umat Islam juga memiliki urgensitas khusus, dan menjadi media penting bagi penyebaran budaya Islam.

Masjid merupakan salah satu capaian penting agama Islam. Realitas hijrahnya Rasulullah ke Madinah bermakna terbentuknya pusat pemerintahan Islam yang berporos pada Rasulullah, sekaligus terbentuknya pilar-pilar masyarakat Islam.

Rasulullah pada tahap pertama membangun Masjid Quba dan masjid Nabi yang mempersatukan umat Islam Mekah dan Madinah. Di tempat itulah didirikan shalat berjamaah dan shalat Jumat, serta ibadah lainnya.Tidak hanya itu, di tempat itu pula Rasullah menjelaskan berbagai permasalahan mengenai berbagai masalah yang menimpa masyarakat Islam.

Dengan demikian secara bertahap masjid menjadi pusat media dan interaksi umat Islam. Dalam sejarah, para penguasa seperti Imam shalat maupun khatib Jumat memberikan ceramah penting. Bahkan masjid juga berperan sebagai media penyadaran bagi rakyat terhadap berbagai masalah penting.

Mengenai peristiwa Asyura, masjid memegang peran penting sebagai media yang berfungsi menyebarkan nilai-nilai peristiwa Karbala. Kehadiran tokoh agama di mimbar mengungkapkan urgensi dan pesan-pesan peristiwa kebangkitan Imam Husein menjadikan masjid sebagai pusat penerangan dan informasi paling efektif. Ketika pemerintahan Bani Umayah melarang segala bentuk penulisan sejarah Asyura, namun tradisi lisan dalam bentuk ceramah di masjid menjadi media penyadaran bagi umat Islam atas tragedi besar yang menimpa Imam Husein dan pengikutnya di padang Karbala.

Dr. Naser Bahonar mengungkapkan peran ulama di mimbar masjid dalam menyadarkan masyarakat atas peristiwa Karbala. Peneliti Iran ini menilai acara peringatan duka di masjid dan huseiniyah merupakan media yang efektif dalam menanamkan kesadaran masyarakat terhadap peristiwa Karbala.

Di berbagai belahan dunia setiap bangsa memiliki karakteristik budaya dan seni yang khas dan membedakannya dengan yang lain. Bangsa Iran yang dikenal sebagai bangsa yang mencintai seni memiliki media seni yang sangat beragam. Tradisi puisi dan narasi lisan serta teatrikal rakyat turut menyumbangkan peran besar dalam penyebaran pesan Karbala.

Jabir Anasiri, penulis dan peneliti Iran mengatakan bahwa seni teatrikal religius telah ada sebelum Islam. Dengan datangnya Islam, seni itu semakin berkembang dan menemukan bentuknya yang lebih kokoh dan hidup di tengah masyarakat hingga kini. Dari seni teatrikal religius inilah muncul seni religius “takziah”. Saat ini mengacu pada memperingati peristiwa Karbala, dengan menceritakan kisah kemartiran Imam Husein dan pengikutnya di padang Karbala.

Naiknya pemerintahan Safavi memerintah Iran memberikan kontribusi besar bagi pengembangan seni Takziah dengan penggunaan alat musik dan lukisan besar yang menyertai teatrikal duka itu. Takziah kemudian mencapai puncaknya pada periode Dinasti Qajar, terutama di masa pemerintahan Nasser-edin Shah.

Takziah dan seni religius lainnya di Iran telah menjadi sebuah media lokal  yang berperan menyebarkan nilai-nilai Karbala hingga kini. Harmoni antara teater dan iringan dalam musik Takziah memudahkan peristiwa Karbala dan pesan-pesan pentingnya diterima di tengah masyarakat.

Sejatinya peran para ulama dan media tradisional seperti Takziah memainkan peran penting bagi penyebaran pesan-pesan dan kelestarian peristiwa Karbala. Inilah media yang menjadikan Karbala tetap hidup dalam diri dan kehidupan umat Islam, terutama syiah hingga kini.

Buku Pedoman

  1. Al-Bidaayah Wan Nihaayah, Ibn Katsir.
  2. Tarikh Khulafa’, As-Suyuthi.
  3. Tarikh Bani Umayyah, Al-Mamlakah Su’udiyyah.
  4. Tarikh Islamy, Ibn Khaldun.
  5. Sejarah Bani Umayyah, Muhammad Syu’ub, Penerbit PT.Bulan Bintang.

Kepadanyalah kami memberikan sumpah setia kami, ya Husein!

Dizaman kini…

Sekjen Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam (FIPMI), Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri mengatakan, sistem Wilayatul Faqih memperoleh legitimasi dari syariat Islam dan rakyat, sementara wali faqih adalah hasil pilihan rakyat. Ditambahkannya, Dewan Ahli Kepemimpinan juga dipilih oleh rakyat untuk mengawasi kinerja dan menggantikan pemimpin jika ia telah kehilangan kualifikasi untuk kepemimpinan.

Kantor berita taghrib (TNA) melaporkan, Ayatullah Taskhiri dalam wawancara dengan televisi al-Alam, mengatakan sistem yang didasarkan pada Wilayatul Faqih adalah hasil pilihan rakyat dan pemimpin harus memiliki pengetahuan tentang semua aspek hukum syariat yang diyakini oleh rakyat.

“Syarat kedua wali faqih adalah adil dan berpegang teguh pada semua hukum syariat. Selain itu, seorang pemimpin Islam juga harus memiliki kemampuan untuk mengatur negara,” jelasnya.

“Pemilihan wali faqih tidak dilakukan secara langsung, akan tetapi diangkat oleh para ahli fiqih dan pakar hukum. Mereka juga dipilih oleh rakyat untuk duduk di Dewan Ahli Kepemimpinan. Lembaga ini akan memilih tokoh yang paling berkompeten dan memiliki syarat-syarat yang dibutuhkan untuk memimpin umat,” ujar Ayatullah Taskhiri.

Ayatullah Taskhiri menolak komparasi antara sistem Wilayatul Faqih dan monarki. Dikatakannya, “Dalam sistem monarki, rakyat tidak punya hak pilih, karena penguasa dipimpin oleh keluarga tertentu. Setelah itu, putra raja atau orang yang dipercaya akan diangkat sebagai pewaris kerajaan. Akan tetapi dalam sistem Wilayatul Faqih, seorang pemimpin harus memiliki kualifikasi yang ditetapkan oleh hukum, tanpa memperhatikan faktor-faktor lain.”

Ulama berpengaruh ini lebih lanjut menandaskan, hubungan antara wali faqih dan rakyat didasarkan pada syariat dan kedua belah pihak memiliki beberapa hak menurut hukum Islam.

“Hubungan antara wali faqih dan rakyat didasarkan pada kasih sayang, persatuan, ketaatan, dan penjajakan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik dan melaksanakan hukum syariat di semua aspek kehidupan,” tambahnya.

Pada bagian akhir pernyataannya, Ayatullah Taskhiri menuturkan, wali faqih mengawasi ketiga cabang pemerintah dan menciptakan koordinasi di antara mereka. Sementara Dewan Ahli Kepemimpinan senantiasa mengawasi sifat-sifat kepemimpinan seorang wali faqih dan jika telah kehilangan syarat-syarat yang dibutuhkan, mereka akan mencopot dan menggantikan dengan orang baru.

.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil, misalnya, memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. Namun anaknya, al-Muntashir (861-862 M.), kembali memperkenankan orang syi’ah “menziarahi” makam Husein tersebut

Dizaman dulu, Raja Umayyah Abbasiyah Merusak Islam ! Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan alBukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis. [1] Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu). [2] Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis. [3], Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis

Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan alBukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis. [1] Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu). [2] Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis. [3], Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis. [4].

Bukhari (194/255 H/810/869 M), Muslim (204/261 H/819/875M), Tirmidzi (209/279 H/824/892 M), Nasa’i (214/303 H/829/915 M), Abu Dawud (203/275 H/818/888 M) dan Ibnu Majah (209/295 H/824/908 M) misalnya telah menyeleksi untuk kita hadishadis yang menurut mereka adalah benar, shahih. Hadishadis ini telah terhimpun dalam enam buku shahih, ashshihah,assittah, dengan judul kitab masing-masing menurut nama mereka; Shahih BukhariShahih MuslimShahih (Sunan) Ibnu Majah, Shahih (SunanAbu Dawud, Shahih (Jami’) Tirmidzi dan Shahih (Sunan) Nasa’i.[5]

Tetapi, bila kita baca penelitian para ahli yang terkenal dengan nama Ahlul Jarh wa’ Ta’dil, maka masih banyak hadis shahih ini akan gugur, kerana ternyata banyak di antara pelapor hadis, setelah diteliti lebih dalam adalah pembuat hadis palsu. AlAmini, misalnya, telah mengumpulkan tujuh ratus nama pembohong yang diseleksi oleh Ahlu’l Jarh wa Ta’dil Sunni yang selama ini dianggap adil atau jujur, dan hadis yang mereka sampaikan selama ini dianggap shahih dan tertera dalam buku shahih enam.

Ada di antara mereka yang menyampaikan, seorang diri, beriburibu hadis palsu. Dan terdapat pula para “pembohong zuhud” [6] , yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman dan mulai pagi hari mengajar dan berbohong seharian. Para pembohong zuhud ini, bila ditanyakan kepada mereka, mengapa mereka membuat hadis palsu terhadap Rasul Allah saw yang diancam api neraka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak membuat hadis terhadap (‘ala) Rasul Allah saw tetapi untuk (li) Rasul Allah saw. Maksudnya, mereka ingin membuat agama Islam lebih bagus. [7], Tidak mungkin mengutip semua. Sebagai contoh, kita ambil seorang perawi secara acak dari 700 orang perawi yang ditulis Amini. [8]

“Muqatil bin Sulaiman alBakhi, meninggal tahun 150 H/767 M. Ia adalah pembohong,dan pemalsu hadis. Nasa’i memasukkannya sebagai seorang pembohong; terkenal sebagai pemalsu hadis terhadap Rasul Allah sa Ia berkata terangterangan kepada khalifah Abu Ja’far alManshur: “Bila Anda suka akan saya buat hadis dari Rasul untukmu”. Ia lalu melakukannya. Dan ia berkata kepada khalifah alMahdi dari Banu Abbas: “Bila Anda suka akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas’. AlMahdi menjawab: “Aku tidak menghendakinya!”[9].

Para pembohong ini bukanlah orang bodoh. Mereka mengetahui sifat-sifat dan cara berbicara para sahabat. Mereka juga memakai nama para tabi’in seperti Ibnu Umar, ‘Urwah bin Zuba sebagai pelapor pertama, dan rantai sanad dipilih dari orang-orang yang dianggap dapat dipercaya. Hadis-hadis ini disusun dengan rapih, kadangkadang dengan rincian yang sangat menjebak. Tetapi kesalahan terjadi tentu saja kerana namanya tercantum di dalam rangkaian perawi. Dengan demikian para ahli tentang cacat tidaknya suatu hadis yang dapat menyusuri riwayat pribadi yang buruk itu, menolak Hadis-hadis tersebut. [10]

Demikian pula, misalnya hadis-hadis yang menggunakan kata-kata ‘mencerca sahabat’ tidak mungkin diucapkan Rasul, kerana katakata tersebut mulai diucapkan di zaman Mu’awiyah, lama sesudah Rasul wafat. Seperti kata-kata Rasul “Barang siapa mencerca sahabat-sahabatku maka ia telah mencercaku dan barang siapa mencercaku maka ia telah mencerca Allah dan mereka akan dilemparkan ke api neraka” yang banyak jumlahnya.[11].

Juga, hadishadis berupa perintah Rasul agar secara langsung atau tidak langsung meneladani atau mengikuti seluruh sahabat, seperti ‘Para sahabatku laksana bintang-bintang, siapa saja yang kamu ikuti, pasti akan mendopat petunjuk’ atau ‘Para sahabatku adalah penyelamat umatku’ tidaklah historis sifatnya.

Disamping perintah ini menjadi janggal, kerana pendengarnya sendiri adalah sahabat, sehingga menggambarkan perintah agar para sahabat meneladani diri mereka sendiri, sejarah menunjukkan bahwa selama pemerintahan Bani Umayyah, cerca dan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib serta keluarga dan pengikutnya, selama itu, tidak ada sahabat atau tabi’in yang menyampaikan hadis ini untuk menghentikan perbuatan tercela yang dilakukan di atas mimbar masjid di seluruh negeri tersebut. Lagi pula di samping fakta sejarah, alQur’an dan hadis telah menolak keadilan seluruh sahabat. [12]

Atau hadishadis bahwa para khalifah diciptakan atau berasal dan nur (sinar) yang banyak jumlahnya, sebab menurut AlQur’an manusia berasal dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah dan tidak mungkin orang yang tidak menduduki jabatan dibuat dari tanah sedang yang ‘berhasil’ menjadi khalifah dibikin dari nur.

Para ahli telah mengumpul para pembohong dan pemalsu dan jumlah hadis yang disampaikan.

Abu Sa’id Aban bin Ja’far, misalnya, membuat hadis palsu sebanyak 300.

Abu Ali Ahmad alJubari 10.000 Ahmad bin Muhammad alQays 3.000

Ahmad bin Muhammad Maruzi 10.000

Shalih bin Muhammad alQairathi 10.000 dan banyak sekali yang lain.

Jadi, bila Anda membaca sejarah, dan nama pembohong yang telah ditemukan para ahli hadis tercantum di dalam rangkaian isnad, Anda harus hatihati.

Ada pula pembohong yang menulis sejarah dan tulisannya dikutip oleh para penulis lain. Sebagai contoh Saif bin Umar yang akan dibicarakan di bagian lain secara sepintas lalu. Para ahli telah menganggapnya sebagai pembohong. Dia menulis tentang seorang tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ yang fiktif sebagai pencipta ajaran Syiah. Dan ia juga memasukkan 150 [13] sahabat yang tidak pernah ada yang semuanya memakai nama keluarganya. Dia menulis di zaman khalifah Harun alRasyid. Bukunya telah menimbulkan demikian banyak bencana yang menimpa kaum Syiah. Bila membaca, misalnya, kitab sejarah Thabari dan nama Saif bin Umar berada dalam rangkaian isnad, maka berita tersebut harus diperiksa dengan teliti.

Referensi:

[1] Tarikh Baghdad, jilid 2, hlm. 8; AlIrsyad asSari, jilid 1, hlm. 28; Shifatu’s Shafwah, jilid 4, hlm. 143.

[2] Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 101; alMuntazam, jilid 5, hlm. 3 2; Thabaqat al Huffazh, jilid 2, hlm. 151, 157; Wafayat alAyan, jilid 5, hlm. 194.

[3] Tarikh Baghdad jilid 9, hlm. 57; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 154; alMuntazani, jilid 5, hlm. 97; Wafayat alA’yan jilid 2, hlm. 404.

[4] Tarikh Baghdad, jilid 4, hlm. 419420; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 17; Tahdzib atTahdzib, jilid 1, hlm. 74; Wafayat alA’yan, jilid 1, hlm. 64.

[5] Menurut metode pengelompokan, hadits-hadits dibagi dalam Musnad, Shahih, Jami’, Sunan, Mujam dan Zawa’id.

[6] Zuhud = orang yang menjauhi kesenangan duniawi dan memilih kehidupan akhirat.

[7] AIAmini, alGhadir, Beirut, 1976, jilid 5, hlm. 209375.

[8] AIAmini, alGhadir, jilid 5, hlm. 266.

[9] Abu Bakar alKhatib, Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 168; ‘Ala’udin Muttaqi alHindi, Kanzul- Ummal, jilid 5, hlm. 16, Syamsuddin adzDzahabi, Mizan alI’tidal, jilid 3, hlm. 196; alHafizh lbnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib, jilid 10, hlm. 284; Jalaluddin asSuyuthi, alLaAli ul Mashmu’ah, jilid 1, hlm. 168 jilid 2, hlm. 60, 122..

[10] Contoh-contoh Ahlul Jarh wa Ta’dil: Ibnu Abi Hatim arRazi, Ahlul Jarh wa Ta’dil (Ahli Cacat dan Penelurusan); Syamsuddin AzDzahabi, Mizan alI’tidal (Timbanga Kejujuran); Ibnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib (Pembetulan bagi Pembetulan) dan Lisan alMizan (Katakata Timbangan); ‘Imaduddin ibnu Katsir alBidayah wa’nNihayah (Awal dan Akhir), Jalaluddin AsSuyuthi,alLa’ali’ul Mashnu’ah (Mutiara-mutiara buatan), Ibnu Khalikan, Wafayat alA’yan wa Anba Abna azZaman (Meninggalnya Para Tokoh dan Berita Anakanak Zaman). Dan masih banyak lagi.

[11] Lihat AIMuhibb Thabari, Riyadh anNadhirah, jilid 1, hlm. 30.

[12] Lihat Bab 19: ‘Tiga dan Tiga’ sub bab Sahabat Rasul.

[13] Seratus lima puluh.

FATWA AL-ALAMAH AS-SAYYID AL-HABIB HASAN BIN ALI BIN HASYIM BIN AHMAD BIN ALWY BA’AGIL AL-ALAWY MUFTI MAZHAB SYAFI’I DI MEKKAH AL-MUKARRAMAH / Wafat tahun 1335 H / 1914 M.Sebenarnya, hadits yang tsabit dan shahih adalah hadits yang berakhir dengan wa ahli baity. Sedang yang berakhir dengan kata-kata wa sunnaty itu bathil (salah) dari sisi matan dan sanadnya.

Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah (tidak jelas sanadnya) yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.

Jika pecinta keluarga Muhammad saww disebut Rafidhah Maka, saksikanlah wahai Tsaqolan (jin dan manusia) bahwa diriku adalah Rafidhi. (Diwan imam Syafi’i ra Hal:55)

Lagi-lagi sebuah julukan yang masih juga diidentikan dengan Syiah. Istilah Rafidhah dipakai untuk para penentang kekuasaan tertentu yang berkuasa pada zaman itu. Para penguasa kala itu ingin menjadikan para penentangnya memiliki kesan buruk di hadapan publik, oleh karenanya melalui beragam propaganda mereka mencari julukan negatif bagi mereka yang tidak sejalan dengan pikirannya. Julukan rafidhah adalah salah satu predikat negatif yang diberikan oleh penguasa kala itu untuk para penentangnya. Mungkin pada masa itu, Rafidhah memiliki kemiripan dengan julukan ekstrimis atau teroris pada zaman sekarang ini. Julukan-julukan miring semacam itu sengaja dibikin oleh yang kuat terhadap yang lemah, yang mayoritas untuk yang minoritas, yang zalim untuk yang teraniaya (mazlum)…dsb.

Beberapa pihak yang tidak bertanggung-jawab ingin memberikan julukan miring tersebut untuk rival pemikirannya. Akhirnya, julukan Rafidhah diperluas pemakaiannya terhadap aliran pemikiran yang dianggap lemah, minoritas, teraniaya… untuk dijadikan sarana pengelabuhan kesadaran publik. Yang lebih fatal dari itu, sang pemakai istilah tersebut justru menyandarkan pemakaian julukan tersebut dengan landasan hadis-hadis dha’if yang dinisbatkan kepada Rasulullah saww. Lantas, siapakah gerangan yang dapat menjadi obyek empuk untuk gelar tersebut? Ya…! Siapa lagi kalau bukan Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mazhab al-Ja’fariyah, adalah sasaran empuk untuk mendapat predikat negatif itu.

Kenapa mesti Syiah al-Ja’fariyah? Salah satu penyebabnya adalah karena hanya Syiah Ja’fariyah satu-satunya mazhab yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak berpangku-tangan atas setiap perbuatan zalim yang dilakukan oleh individu manapun, termasuk para penguasa. Itu terbukti, baik jika dilihat dari teks ajaran mazhabnya, maupun pemaraktekkannya dalam kehidupan mereka. Dalam sejarah didapatkan bagaimana usaha mereka untuk menegakkan keadilan yang dipelopori oleh para imam suci mereka.

Para Syiah Ahlul Bait selalui berusaha mengkritisi sepak terjang para penguasa yang selalu cenderung bertentangan dengan ajaran Rasulullah saww, sementara di sisi lain mereka (imam-imam suci) juga menamakan dirinya sebagai khalifah (pengganti) Rasul. Hal inilah yang tidak disukai oleh para penguasa zalim –Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah– kala itu. Oleh karenanya, tekanan demi tekanan mereka lakukan untuk membendung tersebarnya ajaran Syiah. Mereka tak segan-segan melakukan pembantaian masal demi tercapainya tujuan mereka, dan kelangsungan dinasti mereka. Dari situlah terjawab sudah pertanyaan, kenapa Syiah selalu teraniaya dan minoritas? Namun, karena kehendak Ilahi, walau tekanan demi tekanan dari pihak musuh-musuh Islam beserta kaki-tangannya dengan gencar terus menghadangnya, mazhab ini makin eksis di tengah-tengah umat.

terminologi Rafidhah:

Dalam terminologi istilah Rafidhah, kata itu berasal dari kata ra-fa-dha yang berarti menolak dan meninggalkan sesuatu. Istilah ini sering diidentikkan dengan kaum Syiah Imamiah yang menolak akan kepemimpinan tiga khalifah pra-kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as, dan hanya mengakui kepemimpinan Ali as pasca wafat Rasulullah saww.[1] Abul-Hasan al-Asy’ary dalam kitab “Maqolat al-Islamiyin” menyatakan, julukan ini pertama kali dilontarkan oleh Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib atas para Syiah di kota Kufah. Masih menurut al-Asy’ary, pada mulanya, para Syiah di Kufah memberikan baiatnya kepada Zaid, namun mereka tidak konsekwen terhadap baiatnya. Mereka tidak mau mengindahkan perintah Zaid untuk tetap menghormati dan memuliakan Abu Bakar dan Umar.

Oleh karena itu, Zaid menjuluki mereka dengan sebutan Rafidhah.[2] Akan tetapi, pendapat ini memiliki banyak celah untuk dibatalkan, mengingat bahwa banyak pakar sejarah yang menyebutkan secara detail sejarah hidup terkhusus kesyahidan Zaid bin Ali, namun tidak satupun dari mereka yang menyebutkan akan hal pengungkapan Zaid di atas tadi. Selain dari itu, para ahli sejarah hanya menyebutkan bahwa para penghuni kota Kufah tidak mengindahkan kebangkitan Zaid bin Ali, dan membiarkannya bergerak sendiri tanpa bantuan penduduk Kufah.[3]

Hal itu sama persis sebagaimana yang terjadi pada kakek Zaid, Husein bin Ali as, cucu Rasulullaha saww. Husein bin Ali pada tragedi Karbala, tak dapat dukungan dari penduduk kota Kufah. Dengan demikian, penisbatan istilah itu yang bermula dari Zaid bin Ali sama sekali tidak berasas pada bukti sejarah yang kuat.

Di sisi lain, telah terbukti bahwa istilah Rafidhah digunakan untuk pribadi-pribadi yang meragukan legalitas kekuasaan suatu rezim dan pemerintahan tertentu. Jadi, istilah ini lebih bermuatan politis ketimbang teologis. Nasr bin Muzahim (Wafat tahun 212 H) dalam salah satu karyanya yang berjudul Waqoatu Shiffin menyatakan bahwa Muawiyah dalam suratnya yang ditujukan kepada Amr bin ‘Ash –yang saat itu tinggal di Palestina– menyebutkan: “Perkara tentang Ali, Thalhah dan Zubair telah kamu ketahui, namun (ketahuilah bahwa) Marwan bin Hakam telah bergabung dengan para Rafidhah (penentang) dari penduduk kota Bashrah, dan Jabir bin Abdullah telah melawan kita…”[4]

Dari sini ada beberapa poin yang dapat diambil pelajaran; Pertama, awal kemunculan istilah rafidhah sangat bermuatan politis, bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ihwal teologis. Muawiyah menyebut Marwan bin Hakam beserta para pendukungnya sebagai Rafidhah, karena ia telah bergabung dengan para penduduk kota Bashrah yang kala itu mayoritas tidak mengakui legalitas pemerintahan Ali as yang berpusat di kota Kufah. Kedua, istilah itu telah ada sebelum kelahiran Zaid bin Ali, bukan sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abul Hasan al-Asy’ary di atas.

 Pribadi-pribadi yang Dinyatakan Rafidhi pada Kitab-kitab Ahlussunnah

Julukan Rafidhah mempunyai konotasi miring. Orang akan enggan untuk dijuluki dengan sebutan itu. Pihak ketiga pun akan menghindar di saat bertemu orang yang dianggap memiliki gelar tadi. Itulah salah satu dampak negatif propaganda yang dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Walau mereka terbukti Syiah namun tetap saja hadis yang mereka bawakan tercantum dalam enam kitab induk Ahlussunnah. Sebagai contoh:

 1- Kendati Ibn Hajar menyatakan bahwa Ismail bin Musa al-fazazi sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Abi Dawud[5] juga Ibn Majah[6] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis yang ia bawakan.

 2- Meskipun Ibn Hajar menyatakan bahwa Bakir bin Abdullah at-Tha’i sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Muslim dalam kitab Shohih-nya[7] dan Ibn Majah dalam Sunan-nya[8] menukil hadis-hadis yang ia riwayatkan.

 3- Begitu juga dengan Talid bin Sulaiman al-Muharibi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah) oleh Abu Dawud, dimana ia berkata: “Ia adalah Rafidhi yang keji dan jelek, dan yang memusuhi Abu Bakar serta Umar”[9] Namun, at-Turmuzi dalam kitab Sunan-nya[10] tetap menukil hadis darinya.

 4- Ibn Hajar menyatakan bahwa Jabir bin Yazid al-Ju’fi adalah pengikut Syiah (Rafidhah)[11], namun Abu Dawud[12], Ibn Majah[13] dan at-Turmuzi[14] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis darinya.

 5- Dan masih banyak lagi pribadi-pribadi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah), namun hadis-hadisnya tetap tercantum dalam kitab-kitab standart Ahlussunnah. Seperti; Jumai’ bin Umair, Haris bin Abdullah al-Hamdani, Hamran bin A’yun, Dinar bin Umar al-Asadi…dsb.[15]

Hadis-hadis yang tidak jelas sanadnya tentang Rafidhah:

Setelah kita mengetahui bahwa istilah Rafidhah dipakai untuk para rival politik sebuah kekuasaan tertentu. Istilah itu mempunyai konotasi negatif bagi khalayak umum, berkat adanya propaganda para penguasa zalim pada abad-abad permulaan awal kemunculan Islam. Namun, lama-kelamaan istilah itu dipakai oleh para musuh Syiah untuk mengganyang Syiah, bahkan tak jarang mereka pun (para musuh Syiah) menyandarkannya pada hadis-hadis yang bermasalah dari sisi sanad hadis, yang berakhir pada peraguan dari sisi kesahihannya. Sebagai contoh, ada empat hadis yang bersumber dari Ibn Abi ‘Ashim tentang pencelaan terhadap Syiah.[16] Doktor Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qoffary dalam kitab Ushul Mazhab Syi’ah menyatakan bahwa Nashiruddin al-Bani[17] sendiri mengemukakan bahwa hadis-hadis yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim tadi jika dilihat dari sanad hadisnya amat lemah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah[18] yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.[19]

Salah satu riwayat yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah adalah hadis: “Aku beri kabar gembira engkau wahai Ali, engkau beserta para sahabatmu adalah (calon) penghuni Surga. Namun, ada sekelompok orang yang mengaku sebagai pecinta-mu padahal mereka adalah penentang (penolak) Islam. Mereka disebut ar-Rafidhah. Jika engkau bertemu dengan kelompok tersebut maka perangilah mereka, karena mereka telah musyrik. Aku (Ali) berkata: Wahai Rasulullah, apakah gerangan ciri-ciri mereka? Beliau menjawab: “Mereka tidak menghadiri (shalat) Jum’at dan jama’ah, dan mencela para pendahulu (salaf)” [20] oleh as-Syaukani, hadis ini dikategorikan sebagai hadis Maudhu’ (buatan).[21]

Contoh lain dari hadis tentang Rafidhah adalah hadis yang dinukil oleh at-Tabrani bahwa Rasul bersabda: “Wahai Ali, akan datang pada umat-ku suatu kelompok yang mengaku sebagai pecinta Ahlul-Bait, bagi mereka …., mereka disebut Rafidhah. Bunuhlah mereka, karena mereka telah kafir”. Akan tetapi, dikarenakan sanad hadis ini diriwayatkan oleh orang-orang seperti Hajjaj bin Tamim yang sama sekali tidak dapat dipercaya, maka hadis ini masuk kategori hadis Dza’if (lemah).[22]

Dalam kitab ad-Dala’il disebutkan bahwa Al-Baihaqi setelah menukil hadis Marfu’ yang bersumber dari Ibn Abbas tentang celaan terhadap Rafidhah, menyatakan: “Banyak sekali hadis-hadis serupa tentang hal yang sama dari sumber-sumber yang berbeda, namun kesemua sanad-nya tergolong lemah”[23]

Dan masih banyak lagi beberapa ulama hadis dari Ahlussunnah yang menyatakan kelemahan hadis-hadis berkaitan dengan Rafidhah yang kebohongan itu disandarkan kepada Rasulullah. Bisa dilihat kembali karya-karya ulama Ahlussunnah seperti karya kepunyaan al-‘Aqili yang berjudul ad-Dhu’afa’, Ibn Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyyah ataupun al-Maudhu’aat.

Dari sini jelaslah, bahwa istilah Rafidhah adalah istilah murni politis dan tidak ada kaitannya dengan pembahasan teologis, termasuk masalah kekhilafahan pasca Rasul. Namun istilah itu dinisbatkan untuk para pecinta Ahlul-Bait (Syiah) oleh para pembenci Syiah. Mereka dalam kasus pemaksaan gelar Rafidhah untuk kelompok Syiah, tidak segan-segan menggunakan kebohongan atas nama Rasulullah saww. Bukankah kebohongan atas diri Rasul merupakan bagian dari menyakiti Rasul? Dan menyakiti Rasul termasuk dosa besar, yang pantas dilaknat oleh Allah?[24] Bukankah kebohongan atas Rasul juga berakibat kebohongan atas segenap kaum muslimin? Mengingat kaum muslimin sampai akhir zaman akan selalu mengikuti hadis-hadis Rasulullah[25] Membenarkan, memegang erat dan mengajarkan hadis palsu –atas dasar pengetahuannya– adalah termasuk sesat dan menyesatkan. Oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk menghindarinya seoptimal mungkin agar tidak termasuk orang yang sesat dan menyesatkan.

Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (al-Hujuraat :11)

____________________________________________________________________

Catatan Kaki:

[1] Al-Asy’ary, Abul-Hasan, Maqolat al-Islamiyin, Jil:1 Hal:88-89

[2] Ibid, Hal:138

[3] Amin, Muhsin, A’yan as-Syi’ah, Jil:1 Hal:21

[4] Al-Manqory, Nasr bin Muzahim, Waqoatu Shiffin, Hal:29

[5] Sunan Abi Dawud, Jil:4 Hal:165 Hadis ke-4486

[6] Sunan Ibn Majah, Jil:1 Hal:13 Hadis ke-31

[7] Shohih Muslim, Jil:1 Hal:529, Kitab Sholat Musafirin wa Qoshruha

[8] Sunan Ibn Majah, Jil: 1 Hal:170, Kitab at-Thoharoh

[9] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:322

[10] Sunan at-Tirmizi, Jil:5 Hal:616, Kitab al-Manaqib hadis ke-3680

[11] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:468 No:879

[12] Sunan Abu Dawud, Jil:1 Hal: 272, Kitab as-Sholat Hadis ke-1036

[13] Sunan Ibnu Majah, Jil:1 Hal:381 Hadis ke-1208

[14] Sunan at-Turmuzi, Jil:2 Hal:200, Bab: “Maa Jaa’a fi al-Imam yanhadhu fi ar-Rak’atain naasiyan”

[15] Untuk lebih detailnya, lihat kitab “al-Muraaja’aat” karya Syarafuddin al-Musawi.

[16] Lihat: Ibn Abi ‘Ashim, as-Sunnah, Jil:2 Hal:475

[17] Seorang ahli hadis terkemuka dari kalangan salafi (wahabi).

[18] Hadis marfu’ adalah hadis yang tidak jelas sanadnya.

[19] Ushul Mazhab as-Syiah, bagian Sejarah Syiah (Tarikh as-Syiah)

[20] Ibid: Jil: 2 Hal: 475

[21] Al-Ahadist al-Maudhu’ah, Hal:380

[22] Taqrib at-Tazhib, Jil:1 Hal:152

[23] ad-Dala’il, Jil:6 Hal:548

[24] Lihat Q S al-Ahzab :57

[25] Lihat Q S ali-Imran :61

  
Asal-usul Daulah Abbasiyah
Nama pamannya Al-Abbas bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf . Pusat daulah Abbasiyah di Baghdad.
,
Faktor Pendukung Berdirinya Daulah Abbasiyah
o   Ada dukungan dari kaum Mawali (orang-orang Arab yang memeluk Islam). Kaum Mawali kecewa kepada Bani Umayyah, karena kaum mawali diberlakukan tidak adil .
o   Ada dukungan dari para Ulama. Kaum Mawali kecewa pada Umayyah karena tidak ada perkembangan agama islam, tidak mementingkan SDM
o   Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.
o   Adanya persaingan antara orang-orang arab. Arab Utara (Bani Qais) dan Arab Selatan (Bani Kalb)
.
    LANGKAH YANG DILAKUKAN AL-ABBAS DALAM MEREBUT KEKUASAAN
Langkah yang dilakukan al-abbas dalam merebut kekuasaan adalah dengan cara : Melakukan propaganda (isu-isu) hasut dari mulut ke mulut .
Isi propaganda :
-          Apabila Abbasiyah jadi khalifah, nanti khalifahnya keturunan Rasul tanpa menyebutkan namanya. Keuntungan tidak menyebutkan namanya :
gerakan tidak akan terhenti dengan kematian tokoh tersebut”
.
   

SILSILAH BANI ABBAS

Abdi Manaf
Hasyim
Abdul Mutholib
Abdullah – Abbas – Abu Thalib
Muhammad – Abdullah – Ali bin Abi Thalib
Ali
Muhammad
Ibrohim al-Imam

  1. Abu Abbas ( 132-136 H = 750-754 M)
  2. Abu Ja’far al-Mansur (136-158 H = 754-775 M)
  3. Al-Mahdi (158-169 H = 775-785 M)
  4. Musa al-Hadi ( 169-170 H = 785-786 M)
  5. Harun ar-Rasyid (170-193 H = 786-809 M)
  6. al-Amin ( 193-198 H = 809-813 M)
  7. al-Makmun (198-218 H = 813-833 M)
  8. al-Mu’tasim (218-227 H = 833-842 M)
  9. al-Watsiq (227-232 H = 842-847 M)
-          Sesudah al-Watsiq masih ada 28 khalifah lagi yang memerintah .
-          Tanda panah ke bawah menunjukan garis keturunan
-          Angka menunjukan urutan kekhalifahan
.
PERIODISASI MASA KEKHALIFAHAN BANI ABBAS
1.       Periode I   (132-232 H = 750-847 M) : pengaruh Persia I
2.       Periode II  (232-334 H = 847-945 M) : pengaruh Turki I
3.       Periode III (334-447 H = 945-1055 M) : pengaruh Persia II (Bani Buwaihi)
4.       Periode IV (447-590 H = 1055-1194 M) : pengaruh Turki II (Bani Saljuk)
5.       Periode V  (590-656 H = 1194-1258 M) : tanpa pengaruh, tapi kekuasaannya hanya sekitar Baghdad.

.

Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar
.
Menurut ajaran sunni :
- Imam Ali berijtihad
- Mu’awiyah berijtihad
- Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

saudaraku…. 

Tanggapan syi’ah tentang bai’at Imam Ali :

Imam Ali r.a dan Syiah membai’at Abubakar sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I…

Saudaraku..

- Imam Ali terpaksa membai’at Abubakar karena ingin memelihara umat agar tidak mati sia sia dalam perang saudara melawan Pasukan Abubakar dibawah pimpinan Khalid Bin Walid yang haus darah

- Dengan mengalah Imam Ali telah menyelamatkan umat Islam dari kehancuran..Kalau perang saudara terjadi dan imam Ali tidak membai’at Abubakar maka tidak ada lagi Islam seperti yang sekarang ini

Akan tetapi…..

syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..

Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

===============================================================================================================================================================
CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

(9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

(10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

(11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

(12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

.

Beda utama Syi’ah – Sunni :
Sunni :
1. Nabi SAW tidak menunjuk siapa pengganti nya
2. Fokus pedoman : Sahabat
3. Semua sahabat adil

Mu’awiyah di dalam khutbahnya dishalat Jum’at telah mengutuk ’Ali, Hasan dan Hussein. Mu’awiyah juga mengintruksikan didalam semua forum jamaah ketika dia berkuasa supaya mengutuk manusia yang suci itu (baca keluarga Rasul) Justru itu siapapun yang bersatupadu dengan manusia yang terkutuk itu (baca Mu’awiyah) dan merasa senang dengan tindakan mereka (baca komunitas Mu’awiyah) tidak pantaskah untuk dikutuk? Dan ketika dia sedang bersekutu dengan manusia seperti itu, jika dia membantu mereka dalam memalsukan Hadist dari Ahlulbayt (keluarga/keturunan Rasul) dan memaksakan manusia untuk melakukan kutukannya kepada manusia suci ini (baca ’Ali, Fatimah, Hasan dan Husen),

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

====================================================

MASALAH   KHALiFAH

Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah  itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku

Hanya karna dukungan politik dari ulama ulama Bani Umayyah dan  ulama ulama  Bani Abbasiah keempat mazhab aswaja sunni   dapat berkembang ditengah masyarakat ( Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq )

 saudaraku….

banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Bila Imam Ali(as) Diiktiraf Sebagai Khalifah Rashid Oleh Sunni?

Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala

Agak mengejutkan juga apabila saya menemui satu riwayat, yang menunjukkan pada asalnya, Ahlul Sunnah wal Jamaah tidak mengiktiraf  Sayyidina Ali sebagai khalifah ar Rashidin. Nama Imam Ali(as) baru dimasukkan sebagai khalifah yang adil di zaman Imam Ahmad bin Hanbal

.

Di dalam kitab Tabaqat, yang dianggap oleh ulama’ bermazhab Hanbali sebagai rujukan utama mereka, Ibn Abu Ya’li menyatakan bahawa Wadeezah al-Himsi berkata

:

‘Saya menziarahi Ahmad ibn Hanbal, setelah penambahan nama Ali [ke dalam urutan nama Khalifah yang tiga [Khalifah yang adil]. Saya berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdullah! Apa yang telah kamu lakukan adalah memburukkan kedua mereka Talhah dan al-Zubayr!
.
Ahmad berkata: ‘Janganlah membuat kenyataan yang jahil! Apa yang ada kena mengena dengan kita mengenai peperangan mereka, dan kenapa kamu menyebutnya sekarang?’
Saya berkata: ‘Semoga Allah memandu kamu kepada kebenaran, kami menyatakannya setelah kamu menambah nama Ali dan memberi mandat kepadanya [dengan sanjungan] sebagai Khalifah sebagaimana yang telah dimandatkan kepada Imam-imam sebelumnya!’ 
.
Ahmad berkata: ‘Dan apa yang akan menahan saya dari melakukannya?’
.
Saya berkata: ‘Satu hadits yang disampaikan oleh Ibn Umar.’ 
Dia berkata kepada saya: ‘Umar ibn al-Khattab adalah terlebih baik dari anaknya, kerana dia menerima [i.e mengesyor] Ali sebagai Khalifah ke atas Muslim dan menyenaraikan beliau di antara mereka-mereka ahli syura, dan Ali merujuk dirinya sebagai Amirul Mukminin; adakah saya yang akan mengatakan bahawa mereka yang beriman tidak mempunyai pemimpin?!’ Maka saya pun pergi.[Tabaqat al-Hanabila, jilid 1 ms 292]
.

Dari riwayat ini, dapat kita lihat bahawa dari zaman tabiin, nama Imam Ali(as) pada asalnya bukanlah tersenarai sebagai para khalifah yang benar. Pegangan mereka ini, berkemungkinan besar disebabkan oleh suasana politik yang tidak menyebelahi Ahlulbait(as). Lihat sahaja hadis Ibnu Umar(ra):

Abdullah ibn Umar berkata: ‘Semasa hidup rasul Allah, kami menganggap Abu Bakr paling utama, kemudian Umar ibn al-Khattab, kemudian Uthman ibn Affan, semoga Allah merasa senang dengan mereka’.[Al-Bukhari, sahih jilid 4 ms 191, jilid 4 didalam buku pada mula kejadian didalam bab mengenai kemuliaan Abu Bakr yang hampir sama dengan kemuliaan para rasul]

Persoalannya, di mana Imam Ali di sisi mereka? Mengapa Ibnu Umar meninggalkan Imam Ali(as)? Mungkin pihak Sunni boleh tolong menerangkan hadis ini. Riwayat seperti ini kerap dijumpai di dalam kitab Sunni.

كنا نفاضل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم نسكت

“Kami mengutamakan di zaman Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian kami diam” [Diriwayatkan dalam Shahih Ibnu Hibban no. 7251, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/9, Musnad Ahmad 2/14 no 4626, As Sunnah Ibnu Abi ‘Aashim no. 1195, dan Mu’jam Al Kabir Ath-Thabaraniy 12/345 no. 13301: shahih]

.

Ternyata di sini, dari awal lagi, Imam Ali(as) tidak mendapat kemuliaan yang sepatutnya di sisi sesetengah para sahabat dan perkara ini menjadi asas kepada generasi para tabiin untuk tidak memasukkan nama Ali sebagai sebahagian para khalifah yang adil. Tambahan pula, ketika itu, wujudnya pemerintahan yang sangat membenci Ahlulbait dan para pengikut mereka. Sesiapa yang meriwayatkan keutamaan Ahlulbait(as) boleh dituduh sebagai Rafidhah Zindiq.

Oleh kerana Imam Ali tidak dianggap sebagai seorang sahabat yang utama, tidak hairanlah nama beliau boleh dilaknat dari mimbar selama 80 tahun. Nauzubillah.

Oleh itu, saya menanti penjelasan berkaitan riwayat-riwayat ini, walaupun saya tahu, jawabannya hanyalah berbentuk basa basi, dan penakwilan makna, agar dapat menyedapkan telinga sahaja, tanpa sebarang nilai ilmiah. Aqidah Ahlul Sunnah yang asal berittikad bahawa Imam Ali(as) hanyalah seorang sahabat yang biasa tanpa keutamaan yang besar. Riwayat di atas adalah hujahnya.

Peran Rasulullah Saw dan Ahlul Bait dalam membimbing dan memberi petunjuk umat manusia sepanjang sejarah tidak dapat dipungkiri. Ahlul Bait di samping al-Qur’an menjadi rujukan lain bagi umat untuk menimba pengetahuan. Berdekatan dan berinteraksi dengan Ahlul Bait merupakan harapan umat Islam sejak dulu, khususnya bagi mereka yang memahami posisi tinggi manusia suci ini baik keilmuan maupun ketakwaannya.

Imam Musa Kazim, salah satu keturunan Rasulullah dilahirkan pada tahun 128 H di desa Abwa, antara Mekah dan Madinah. Di usia 20 tahun, setelah kesyahidan ayahnya, Imam Sadiq as, beliau memegang kendali untuk membimbing umat. Masa keimamahan Imam Kazim 35 tahun. Selama itu, beliau menghadapi berbagai peristiwa bersejarah dan poliitk. Bersamaan dengan keimamahan Imam Kazim, dinasti Abbasiyah kian ketat mengawasi rakyat dan memberlakukan berbagai peraturan mengikat.

Fase kehidupan Imam Kazim di era pemerintahan dinasti Abbasiyah dipenuhi tekanan dan pembatasan ekstra dari pemerintah. Hal ini memaksa Imam menghabiskan sebagian usianya di penjara Harun al-Rashid, khalifah Bani Abbasiyah. Akhirnya beliau pun tak lolos dari kejahatan Bani Abbasiyah dan beliau gugur syahid di usia 55 tahun karena diracun Harun al-Rashid. Beliau dimakamkan di Kazimain, dekat kota Baghdad Irak dan kini menjadi salah satu tempat ziarah umat Islam yang termashur di negara ini.

Mengingat kondisi yang sulit di masa pemerintahan Bani Abbasiyah, Imam Kazim memprioritaskan untuk memperbaiki ideologi dan budaya umat demi mencegah penyelewengan serta bid’ah di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Imam sepanjang hidupnya aktif memberikan arahan dan petunjuk tentang ajaran murni Islam yang beliu warisi dari kakeknya, Rasulullah Saw.

Ibnu Hajar Haitsami, salah satu pemuka Ahlu Sunnah berkata, Musa Kazim pewaris ilmu-ilmu dari ayahnya dan memiliki keutamaan serta kesempurnaan. Beliau mendapat gelar Kazim karena kesabaran beliau menghadapi cacian dan kelapangan beliau memaafkan orang yang bersalah kepadanya. Di zamannya, tidak ada orang yang menandinginya baik dari sisi keilmuan maupun ketakwaan.

Imam Kazim hidup di tengah-tengah penguasa yang kejam dan menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya termasuk menumpas habis para penentangnya. Meraka mengatasnamakan Islam untuk berkuasa, namun perilaku mereka sangat bertentangan dengan ajaran Islam sendiri. Hal inilah yang membuat mereka merasa was-was terhadap keturunan Rasulullah. Dengan demikian seluruh khalifah Bani Abbasiyah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membatasi gerak Ahlul Bait.

Imam Kazim dengan berbagai cara menjelaskan kepada umat sistem politik dan sosial ideal berdasarkan ajaran Islam. Di sisi lain, masyarakat pun akhirnya memahami bahwa kinerja pemerintahan Bani Abbasiyah bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sementara itu, Harun al-Rashid menempuh berbagai strategi untuk menjauhkan Imam dari umat. Misalnya, dengan berbagai alasan, ia menjebloskan Imam Kazim ke penjara dengan harapan masyarakat terputus komunikasinya dengan beliau.

Imam di saat-saat sulit seperti itu masih tidak melupakan kewajibannya membimbing umat serta memperingatkan mereka dari bid’ah yang menjamur kala itu. Arahan dan bimbingan Imam tentu saja sangat berpengaruh bagi masyarakat. Hisham bin Hakam adalah salah satu murid Imam Kazim. Ia banyak meninggalkan karya di berbagai ilmu. Imam kerap memberi nasehat kepada Hisham, salah satunya berkenaan dengan dunia dan akhirat. Beliau berkata, bukan dari kami orang yang rela menjual akhiratnya demi dunia atau sebaliknya (Tufahul Uqul hal 433)

Pembahasan soal agama dan dunia merupakan polemik di diskusi-diskusi keislaman sejak dulu. Apakah agama dan dunia saling bertentangan atau saling melengkapi ? Dengan kata lain, apakah seorang agamawan dan lebih memilih akhirat berarti melepaskan kenikmatan duniawi serta memutus hubungan dengan dunia ? Dalam pandangan Imam Kadzim, dunia dan akhirat bukan hanya tidak dapat dipisahkan, namun keduanya juga sangat erat berhubungan.

Dengan demikian, dunia merupakan kesempatan dan medan bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan. Keberadaan manusia di dunia karena mereka dipersiapkan untuk menjadi wakil Tuhan. Oleh karena itu, dunia menjadi arena persaingan dan usaha untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Menurut Imam Kadzim, sikap ifrat dan tafrit (berlebih-lebihan) dalam masalah dunia dan akhirat berarti seseorang telah keluar dari jalan Ahlul Bait. Dunia akan menjadi hina ketika ia dijadikan sebagai tujuan oleh manusia dan manusia sangat bergantung dengannya. Ketika itu, dunia berubah menjadi arena yang melalikan manusia, bukannya tempat untuk mencapai kesempurnaan.

Masyarakat ideal dalam pandangan Ahlul Bait adalah masyarakat yang mampu menyeimbangkan antara akal, perasaan, ibadah, agama dan dunia serta tidak berlebih-lebihan dalam menggunakannya. Di sisi lain, terkait dunia yang menjadi dasarnya adalah ajaran agama. Dari sinilah kita saksikan Imam Kazim memprotes sikap Safwan bin Mahran yang menyewakan unta-untanya kepada Harun al-Rashid, pemimpin zalim untuk pergi haji. Beliau berkata, “Wahai Safwan tindakanmu terpuji kecuali ketika kamu menyewakan untamu kepada Harun al-Rashid.”

Sepintas Safwan ketika bertransaksi dengan Harun hanya sekedar transaksi ekonomi. Namun dalam pandangan agama, transaksi ekonomi yang dilakukan dengan pemimpin zalim akan merusak kebahagiaan akhirat seseorang. Ini adalah masalah yang senantiasa diperingatkan Imam Kazim dengan sabda beliau, Wahai manusia ! berhati-hatilah, jangan kalian rusak akhiratmu dikarenakan dunia. Artinya jangan kalian tenggelam dalam kenikmatan duniawi sehingga kalian melupakan tujuan utama hidup kalian di dunia ini.

Berkenaan dengan para penguasa zalim Imam Kazim a.s. berkata: “Barang siapa yang menghendaki mereka tetap hidup, maka ia termasuk golongan mereka. Dan barang siapa yang termasuk golongan mereka, maka ia akan masuk neraka”. Dengan demikian, Imam telah menentukan sikap tegas terhadap pemerintahan Harun al-Rashid, mengharamkan kerja sama dengannya dan melarang para pengikutnya untuk bergantung kepada pemerintahannya.

Sementara itu, Harun terus berupaya bagaimana caranya membunuh Imam Musa. Suatu hari, dia mengutus Yahya bin Khalik ke penjara. Tugas yang diemban Yahya adalah meminta Imam untuk tidak menentang Khalifah dan menawarkan pengampunan serta pembebasan kepada beliau. Namun, Imam menolak semua tawaran itu.

Imam as menulis sepucuk surat kepada Harun yang berbunyi, “Setiap hari kulalui dengan kesusahan, sementara kau lalui hari-harimu dengan kesenangan. Lalu, kita akan sama-sama mati. Hingga di suatu hari yang tiada akhirnya, kelak kita diberdirikan di hadapan Mahkamah Ilahi, ketika orang-orang licik hanya akan menjadi pecundang dan terhinakan.”

Alasan Harun mengapa dia harus memindahkan Imam Musa as dari satu penjara ke penjara lain tidak ada lain adalah karena permintaannya kepada setiap kepala penjara untuk membunuh Imam, namun mereka tidak bersedia untuk memenuhi permintaan tersebut. Hingga akhirnya Sindi yang berhati keras itu bersedia untuk meracun Imam as. Maka, di dalam penjara Sindi-lah beliau meninggal akibat racun yang dibubuhkan ke dalam makanan beliau, tepatnya pada tahun 183 H.

Harun dengan menggunakan saksi-saksi palsu dan orang-orang bayaran mencoba menunjukkan kepada khalayak, bahwa kematian Imam Musa adalah sebuah kematian yang wajar dan alamiah. Siasat licik dan keji ini digunakan untuk menghindari pemberontakan sahabat-sahabat dan orang-orang setia Imam. Namun, segala kelicikan dan siasat Harun sia-sia belaka. Seorang lelaki bernama Sulaiman malah memimpin pemberontakan di Baghdad.

Arab Saudi Sensor Media Sensor Syi’ah

Saud bin Nasser Al Shahry dan anak yang akan dijualnya //

RIYADH –

Kementerian Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi melarang publikasi berita-berita yang berkaitan dengan kemiskinan dan keterbelakangan negara tersebut. Rasa Newsmelaporkan para pejabat Arab Saudi sangat mengkhawatirkan gelombang kebangkitan Islam di negara-negara Arab akan mendera negara mereka.

Oleh karena itu, Kementerian Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi menginstruksikan kepada seluruh media massa nasional untuk tidak mempublikasikan berita-berita kemiskinan dan keterbelakangan. Kementerian mengklaim bahwa publikasi berita-berita tersebut hanya akan mencoreng citra sosial bangsa Arab Saudi.

Larangan pemberitaan kemiskinan dan keterbelakangan itu dirilis menyusul aksi seorang warga Saudi, Saud bin Nasser Al Shahry, yang mengumumkan menjual anaknya lewat facebook. Dia terpaksa menjual anaknya karena kemiskinan yang melilit keluarganya. Berita tersebut langsung direaksi secara luas oleh media massa Saudi.

Para pejabat Saudi menggunakan segala macam cara untuk menjegal protes rakyat akibat kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan, diskriminasi, dan kebijakan tidak adil pemerintah Riyadh. Selain wilayah timur Saudi yang mayoritas berpenduduk Syiah, warga di berbagai wilayah secara bertahap mulai menyuarakan protes mereka. Sejumlah ulama Sunni juga dituding berkhianat dan terlibat dalam aksi-aksi teror setelah mereka menyatakan dukungan terhadap demonstrasi warga Syiah

Kondisi Pengikut Ahlu Sunnah di Iran dan Syiah di Saudi

kelompok Syiah di berbagai negara Arab terutama negara-negara Teluk Persia khususnya Arab Saudi juga punya klaim serupa dan menilai hak-haknya dirampas oleh rezim-rezim di negara tersebut.

Dalam tulisan singkat ini, kami ingin secara global membandingkan tentang kondisi kehidupan pengikut Sunni di Iran dan Syiah di Arab Saudi sehingga tampak jelas sebagian realita di kedua negara itu.

Pihak-pihak yang mengklaim bahwa minoritas Muslim Sunni di Iran mengalami penindasan dan provinsi-provinsi berpenduduk Sunni berada di bawah garis kemiskinan dan diskriminasi, ada baiknya mereka mengetahui bahwa populasi Muslim Sunni di Iran kurang dari 10 persen.

Di Provinsi Sistan dan Baluchestan – yang tergolong daerah miskin – tidak ada orang yang berani melalukan investasi karena ketidakamanan yang diciptakan oleh Abdul Malik Rigi, pemimpin kelompok teroris Jundullah yang tewas beberapa waktu lalu, tapi meski demikian pemerintah Iran saat ini telah tiga kali melakukan kunjungan kerja ke wilayah itu. Pemerintah telah mensahkan dan melaksanakan sejumlah proyek properti dan nasional berskala besar di Sistan dan Baluchestan, seperti peresmian rel kereta api Zahedan-Tehran dan Chabahar-Mashad. Selain itu, pemerintah juga sudah memasang pipa gas untuk mengaliri energi kepada seluruh warga di provinsi itu.

Di samping pemerintah, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei juga telah melakukan kunjungan sembilan hari ke Sistan dan Baluchestan beberapa tahun lalu dan mengeluarkan instruksi-instruksi khusus untuk memberantas kemiskinan di daerah itu. Selain itu, pembangunan sejumlah rumah sakit lapangan, pelayanan pengobatan gratis, pembangunan jalan raya, pemasangan pipa air dan gas serta jaringan listrik, dan ratusan proyek-proyek besar lainnya, semua bertujuan untuk melaksanakan keadian dan pemerataan serta memberantas diskriminasi.

Sementara di Arab Saudi dengan populasi Syiah sekitar 15 hingga 20 persen, terutama di wilayah timur negara itu, hingga sekarang tidak hanya kabinet pemerintah Saudi yang belum pernah berkunjung ke sana, tapi juga tidak satu pun dari para raja keluarga al-Saud yang menyambangi daerah itu kecuali untuk melihat perusahaan minyak nasional, Aramco, yang beroperasi di timur Saudi.

Perlu diketahui bahwa Syiah Saudi meski tinggal di wilayah kaya minyak dan pusat cadangan energi dunia, akan tetapi mereka hidup miskin dan menerima pelayanan publik yang sangat rendah dibanding daerah-daerah lain di Saudi.

Arab Saudi, pengekspor utama minyak dunia dan sekutu besar Amerika Seikat, adalah monarki absolut yang tidak mentoleransi perbedaan pendapat. Minoritas Syiah Saudi tinggal sebagian besar di Provinsi Timur, yang memiliki banyak kekayaan minyak negara itu. Masyarakat Syiah di sana menerima perlakukan diskriminatif dan tidak menerima hak-haknya.

Partisipasi Dalam Pemerintah

Orang-orang yang mengklaim bahwa masyarakat Sunni di Iran tidak diberi posisi di pemerintahan, ada baiknya mereka melihat kehadiran beberapa perwakilan Sunni di parlemen nasional Iran atau di parlemen kota seperti Zahedan, di mana populasi Sunni hampir berimbang dengan Syiah. Mereka bahkan aktif di dewan kota, kantor gubernur, bupati, dan instansi-instansi pemerintah lainnya. Kebanyakan pengikut Sunni juga mengabdi di lembaga-lembaga seperti kepolisian dan militer serta lainnya.

Sementara di Arab Saudi tidak satu pun perwakilan Syiah hadir di Dewan Syura Saudi. Komunitas Syiah bahkan tidak diizinkan untuk memangku jabatan sebagai kepala di sekolah-sekolah dan hanya dalam beberapa tahun belakangan mereka diperbolehkan mengirim wakilnya ke dewan-dewan kota. Ironisnya, Syiah sama sekali tidak punya hak untuk terlibat dalam dunia militer atau kepolisian.

Sosial dan Keagamaan

Mereka yang menyuarakan keterpasungan Muslim Sunni dalam ritual-ritual mazhabnya dan berbicara tentang praktek diskriminasi di Iran, faktanya masyarakat Sunni memiliki masjid di seluruh kota berpenduduk Sunni dan mereka menggelar shalat berjamaah dan Jumat secara independen. Jumlah pusat pendidikan dan hauzah ilmiah (pesantren) serta masjid Sunni di kota-kota seperti Zahedan bahkan bisa sepuluh kali lipat. Muslim Sunni secara keseluruhan memiliki lebih dari 400 pusat kegiatan agama dan hauzah ilmiah di daerah-daerah mereka dan ini belum termasuk masjid. Namun, masyarakat Syiah di seluruh Arab Saudi hanya memiliki kurang dari 50 hauzah ilmiah.

Belum lagi masjid-masjid Syiah di Saudi kerap mendapat serangan pasukan keamanan dan penyegelan. Di sebagian kota seperti al-Khabar, Muslim Syiah bahkan tidak punya masjid sama sekali, karena ketiga masjdi di daerah itu telah disegel oleh aparat pemerintah. Puluhan hauzah ilmiah juga ditutup paksa dengan berbagai alasan dan dalih.

Para siswa Sunni di sekolah-sekolah pemerintah Iran pada jam-jam pelajaran agama, tidak mempelajari buku-buku lain kecuali kitab khusus Ahlu Sunnah wal Jamaah. Tapi tentu saja sistem Republik Islam Iran akan menindak tegas pusat-pusat atas nama agama, yang menyebarluaskan pemikiran Salafi dan Wahabi serta mengakibatkan ketidakamanan di negara. Sayangnya, kebijakan itu ditafsirkan dan dikesankan sebagai sikap represif pemerintah Iran terhadap pengikut Sunni.

Perlu diketahui bahwa pada masa perang 22 hari di Jalur Gaza, Republik Islam Iran termasuk salah satu di antara segelintir negara yang memberi dukungan spiritual dan media kepada warga Sunni di kawasan itu. Padahal, mayoritas negara berpenduduk Sunni di Teluk Persia seperti Arab Saudi, selain tidak memberi dukungan, mereka malah secara rahasia dan diam-diam membantu rezim Zionis Israel. Jaringan televisi satelit milik salah seorang pangeran Saudi, Al Arabiya bahkan secara terang-terangan mendukung Israel dalam agresi brutal itu.

Pertemuan Ulama Sunni Iran dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Apa hasilnya ?

Jakarta;
Pertemuan Ulama Sunni Iran dan Majelis Ulama Indonesia tekankan perpaduan

 

Pertemuan Ulama Sunni Iran dan Majelis Ulama Indonesia tekankan perpaduanAgensi Berita Ahlul Bait (ABNA.co) – Majlis pertemuan antara Ketua syura tertinggi Majma’ Jahani Taqrib Mazahib Islami dan Penasihat Antarabangsa Urusan Ahlusunnah Iran bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah berlangsung di Jakarta pada Isnin lalu (20-02-2012).

Dalam pertemuan ini, lebih 50 orang ulama dan tokoh Islam hadir yang membincangkan tentang perpaduan umat Islam dan menjawab persoalan tentang isu-isu terkini.

Di awal pertemuan ini, ahli jawatankuasa kepimpinan MUI, Dr. Junaidi berkata, “Konflik sejak akhir-akhir ini tentang Syiah di Indonesia, beberapa permasalahan tentang Ahlusunnah di Iran dan beberapa syubhat mengenai Syiah telah dijelaskan di mana kedutaan Iran di Indonesia mengambil kesempatan yang baik menganjurkan dialog, pendekatan pemikiran dan termasuk pemahaman yang sesuai antara satu sama lain.”

Dalam pertemuan ini, ketua Syura Tertinggi Majma’ Taqrib dan penasihat presiden Iran tentang Ahlusunnah Iran, Syeikh Mawlavi Ishaq Madani menjelaskan tentang kedudukan Ahlusunnah di Iran sambil membandingkan situasi mereka sebelum dan setelah revolusi Islam Iran. Katanya kemajuan prasarana, pusat-pusat agama, masjid dan madrasah Ahlusunnah di Iran berkembang pesat melebihi seratus peratus setelah revolusi Islam.

Imam Sunni Iran tersebut, menjelaskan bahwa keadaan Sunni di Iran adalah baik. “Keadaan Ahlussunnah adalah baik, tidak mengalami penindasan,” terangnya di hadapan para ulama.

Mawlavi Ishaq Madani menegaskan bahawa kebebasan Ahlusunnah di Iran adalah berpunca perlembagaan Iran yang membela nasib mereka. Selain itu mereka dapat melibatkan di diri di dalam majlis syura Islami, Majlis Khubregan dan jabatan-jabatan kerajaan sambil bebas mengamalkan kaedah dan akidah mazhab. Selain itu, beberapa pusat pengajian kerajaan Iran turut mengajar mata pelajaran fikah Ahlusunnah.

Wakil Majma’ Taqrib, Dr. Tabra’iyan turut membicarakan tentang betapa pentingnya perpaduan umat Islam. Katanya Islam adalah sebuah agama yang menganjurkan dialog, perpaduan, persaudaraan dan kerjasama sehingga tidak ada perpecahan dan ikhtilaf di kalangan umat Islam. Dr. Tabra’iyan menambah, “Perpaduan umat Islam adalah peraturan Al-Quran. Matlamatnya bukanlah menghapuskan atau mengasimilasikan mazhab di antara pengikut mazhab lainnya, bahkan maksudnya ialah meluaskan dan menguatkan ruang persamaan untuk berdialog berasaskan manfaat yang dapat dikongsi di sisi masyarakat dan agama.”

Beliau turut menganggap fatwa pemimpin agung Revolusi Islam Iran yang mengharamkan sebarang penghinaan terhadap isteri-isteri Rasulullah sebagai salah satu usaha perpaduan dan pendekatan antara mazhab. Selain itu, beliau menyatakan harapan tentang tandatangan MOU antara MUI dan Majma’ Taqrib dapat membuka peluang dialog, kerjasama ekonomi dan perkembangan politik.

Sutradara Filem Amerika Sean Stone masuk islam Syi’ah karena pribadi Imam Ali AS yang maksum

Sutradara filem Amerika;
Saya sudah masuk Syiah dan peribadi Ali menarik perhatian saya
Saya sudah masuk Syiah dan peribadi Ali menarik perhatian saya.Sutradara Filem Amerika, Sean Stone atau anak lelaki pelakon terkenal, Oliver Stone telah memeluk agama Islam di Iran baru-baru ini dengan memilih Syiah sebagai mazhabnya. Selain itu beliau turut menukar nama kepada Ali. Sepanjang berada di Iran dalam rangka menghadiri Seminar Kajian Filem Hollywood, beliau sempat bertemu dengan dan berdialog dengan para penggiat seni Iran.Antara wawancara beliau dengan wartawan Fars adalah seperti berikut:

-Apakah sebab anda masuk Islam?

Sean Stone: Agama Islam melestarikan kalimah Allah; iaitu Tuhan yang mengutuskan Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan seluruh mazhab dan Ushul agama telah disatukan. Nabi Muhammad telah menyatukan umat manusia yang telah kufur. Saya mengerti keberanian dan pengetahuan Rasulullah (s.a.w), kerana itu saya masuk Islam.

-Apakah keluarga anda mengetahui keislaman anda?

Sean Stone: Saya tidak tahu.

-Apakah yang anda fikirkan tentang reaksi mereka tentang perkara ini?

Sean Stone: Sebenarnya dengan Islam, saya menjadi pengikut seluruh agama terdahulu. Kita semua dalam perhatian Tuhan yang berkuasa. Agama dan mazhab yang lain seperti Islam juga yang menyembah Tuhan yang maha esa. Oleh itu La Ilaha Illallah bukanlah fahaman yang baru. Bahkan ia sentiasa mengiringi berbagai agama walaupun tafsirannya berbeza.

-Mengapakah anda masuk Islam dalam usia 27 tahun?

Sean Stone: Keislaman saya adalah kehendak Allah, saya bukanlah orang yang menentukan masanya.

-Apakah pandangan anda tentang Al-Quran?

Sean Stone: Saya membaca Al-Quran. Sudah tentu pembacaan selama satu malam tidak menyebabkan seseorang menjadi muslim. Hendaklah seluruh hidupnya membaca Al-Quran.

- Apakah perasaan anda ketika mengucap dua kalimah syahadah?

Sean Stone: Saya merasakan berada dalam situasi kerohanian dan kesucian, pemikiran saya ada hubungan khusus dengan Allah.

- Mengapakah anda memilih nama Ali?

Sean Stone: Saya tertarik dengan peribadi manusia suci ini. Oleh itu simbol pedang Maula Ali (a.s) sentiasa ada di sekitar leher saya; kerana pedang adalah keadilan.

- Ciri-ciri manakah menarik pada Ali?

Sean Stone: Keimanan beliau Kepada Allah, kesetiaan beliau dengan Muhammad (s.a.w), keadilan, keilmuan dan kepahlawanan pemimpin Syiah ini menarik perhatian saya.

- Pada pandangan anda, apakah masa depan umat Islam di serantau?

Sean Stone: Saya fikir, sebagaimana kerajaan Babylon yang gagah sudah tenggelam, maka kuasa-kuasa di zaman ini juga akan tenggelam. Ini disebabkan rakyat mula bangkit di setiap rantau. Perbezaan di antara insan ialah keimanan dan Barat tidak mempunyai iman.

- Apakah penilaian anda terhadap gerakan Wall Street?

Sean Stone: Wall Street tidak akan berakhir kerana tidak bertempat di hati orang ramai.

- Eduardo Anil, anak lelaki seorang yang terkenal di Eropah seperti anda yang masuk Syiah dan memilih nama Mahdi, namun musuh Islam telah membunuhnya. Apakah anda tidak takut peristiwa ini terjadi pada anda?

Sean Stone: Saya tidak takut untuk mati selagi Allah melindungi saya.

Pesan Imam Ali: Gunakan Mata Ukhrawi Dalam Menilai Segala Sesuatu

رُوِيَ عَنْ عَليٍّ عليه السلام قال:

مَا خَيْرٌ بِخَيْرٍ بَعْدَهُ النَّارُ وَ مَا شَرٌّ بِشَرٍّ بَعْدَهُ الْجَنَّةُ وَ كُلُّ نَعِيمٍ دُونَ الْجَنَّةِ فَهُوَ مَحْقُورٌ وَ كُلُّ بَلَاءٍ دُونَ النَّارِ عَافِيَةٌ.[*]

Diriwayatkan Imam Ali as berkata: “Kebaikan yang setelahnya adalah api negara, bukan kebaikan, keburukan yang setelahnya adalah sorga bukan keburukan, segala nikmat menjadi tidak berarti di hadapan surga, dan setiap bencana di hadapan neraka adalah afiat.”

Ayatullah Mojtaba Tehrani dalam menjelaskan hadis dari Imam Ali as itu mengatakan, “Parameter kita dalam menilai kebaikan dan keburukan di dunia ini secara materi. Akan tetapi Imam Ali as ingin menjelaskan kepada kita bahwa cara tersebut keliru. Jika ternyata di balik seluruh kebaikan di dunia ini terdapat neraka jahannam, maka tidak satu pun dari hal itu yang baik. Karena sesungguhnya semua itu buruk. Apapun bentuknya, dan sumber dari seluruh kebaikan duniawi adalah uang, kekuasaan, dan semacamnya. Akan tetapi ketika tidak melalui jalur syar’i maka neraka jahannam sedang menanti. Oleh karena itu jangan bersenang hati.”

“Begitu juga sebaliknya, jika di balik keburukan duniawi ada surga maka hal sebenarnya bukan keburukan. Maksunya adalah jika ada kesulitan yang dinilai sebagai keburukan di dunia ini, perhatikan apa hasil dari hal tersebut? Jika hasilnya adalah surga, maka sesungguhnya hal itu bukan keburukan. Jika kalian memasuki jalur syar’i akan tetapi dari sisi duniawi dan materi adalah keburukan, kalian harus melihat batinnya, jika batinnya baik maka hal itu bukan keburukan, karena surga menanti.”

“Riwayat ini ingin menekankan bahwa penilaian kita berdasarkan materi. Kita tidak akan mampu membedakan kebaikan dan keburukan dengan mata duniawi. Sesuatu yang baik bisa jadi sesungguhnya buruk. Dengan demikian ada kebaikan dan keburukan duniawi dan ada juga kebaikan dan keburukan ukhrawi. Orang yang tidak memiliki pandangan ukhrawi maka dia tidak akan dapat mengetahui kebaikan dan keburukan yang hakiki. Ketika kalian menjalan syariat, dan dalam prosesnya kalian menghadapi keburukan duniawi, kalian yakin bahwa itu bukan keburukan melainkan kebaikan. Begitu juga sebaliknya.”

“Setelah itu Imam Ali as melakukan perbandingan bahwa setiap nikmat duniawi tidak ada artinya dibandingkan nikat ukhrawi. Begitu juga sebaliknya. Kesulitan apapun di dunia tidak ada artinya jika dibandingkan dengan siksa neraka.”

“Oleh karena itu pandangan dan perbandingan kita keliru, karena kita menilai kebaikan dan keburukan secara materi. Oleh karena itu kita harus mengubah kacamata kita.”

[*]. نهج البلاغه، حکمت 387، صفحه 544