Agama Muhammad SAW terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

oleh : Ustad Husain Ardilla

Makam Sayidina Husein dan masjid Karbala

.

Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Perpecahan internal dalam Islam yang meruncing dari waktu ke waktu

.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

.
sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
.
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
.
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
.
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
.
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
.
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
.
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
.
Tahapan studi kritis yang mantap
.
saya  tidak menerima hadits yang menjadi salah satu dasar pengangkatan salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar sebagai Khalifah karena syiah  tidak mengakui kekhalifahan tiga sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman
.

Hadits yang tertulis dalam Shahih Bukhari tersebut, menjelaskan tentang ditunjuknya Abu Bakar oleh Nabi Muhammad Saw sebagai imam shalat, saat Nabi sedang sakit. Ini menjadi isyarat, bahwa Nabi menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah. Syi’ah menganggap hadits tersebut meragukan, meskipun diriwayatkan oleh imam Bukhari, dan hadits tersebut termasuk sahih (kuat)

.

Dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu’tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun. Bagaimana menjelaskan ini?

.

Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab

.

Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits. Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakar terjadi larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu

.

Pada mulanya perpecahan Islam  itu terjadi disebabkan pemikiran politik, namun lambat laun diikuti oleh perbedaan paham keagamaan. Pertikaian internal ini antara lain disebabkan:

Pertama, masalah kedudukan khalifah sebagai pengganti Nabi, apakah mesti didasarkan atas pemilihan secara demokratis (musyawarahsyura) atau berdasar tingkat kearifan yang dimiliki (melalui bai’at).Agama Muhammad SAW  terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan yang diawali oleh kudeta Abubakar dan Umar di Saqifah

Kedua, masalah kedudukan orang beriman, termasuk khalifah dilihat dari sudut hukum Islam. Atau tentang bagaimana cara menetapkan ukuran orang beriman. Khalifah Bani Umayyah memerintahkan pada setiap khotib jum’at harus ada kata-kata mencela Ali & keluarga .

o   Banyak pemimpin syiah yang dibunuh (seperti: Hasan, Husen ) .
o   Bani Umayyah melanggar perjanjian Madain (perjanjian antara Muawiyah dengan Husen bin Ali bin Abi Thalib). Yang isinya : “apabila Muawiyyah wafat, kekholifahan dikembalikan pada umat islam”

Ketiga, sistem pemerintahan Umayyah yang meniru gaya pemerintahan Byzantium yang sekular, menimbulkan kontra.    Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.

Kelima, keinginan menafsirkan al-Qur`an yang berbeda-beda  yang dilanjutkan dengan upaya merumuskan doktrin keagamaan (kalam, teologi).

Pada zaman khalifah Usman bin Affan sampai zaman Umayyah terdapat beberapa golongan Muslim, yang saling berbeda pendapat mengenai berbagai masalah keagamaan.

Di antara golongan-golongan itu ialah: (1) Golongan orang-orang Zuhud atau ahli Sunnah yang merupakan sayap ortodoksi Islam. (2)   Khawarij, yang disebut golongan puritan dan radikal, pembela teokrasi| (3) Syi`ah, partai Ali atau kaum `Aliyun| (4) Mawali atau Maula, orang-orang Muslim non-Arab yang berpikiran sederhana. Pada umumnya mereka adalah para tuan tanah dan pedagang. Kelak kemudian hari golongan ini merapat dengan golongan Zuhudiyah atau ahli ibadah, yang merupakan cikal bakal Ahlu Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Pada masa selanjutnya muncul pula golongan Murji`ah, Jabariyah dan Qadariyah. Dari kalangan Qadariyah lahir golongan Mu`tazila. Apabila empat golongan yang disebut pertama muncul dari gerakan politik, baru kemudian mengembangkan pemikiran keagamaan tersendiri, maka golongan yang disebut terakhir muncul dari gerakan keagamaan, baru kemudian mendapat nuansa sebagai gerakan sosial atau politik.

Golongan Syiah. Disebut juga pengikut Ali. Syiah artinya Partai, maksudnya Partai Ali. Saingannya ialah Partai Mu`awiyah.

hanya partai Ali yang disebut Syiah. Golongan Syiah tidak mengakui klaim Bani Umayyah sebagai pewaris kekhalifatan Islam. Bagi mereka hanya Ali dan keturunannya yang merupakan khalifah yang syah. Ali orang yang dekat dengan Nabi, dan memiliki tingkat pengetahuan agama dan kerohanian paling tinggi di antara sekalian sahabat Nabi. Menurut golongan Syiah hanya Ahli Bait (keturunan langsung Nabi) mempunyai hak ilahiyah sebagai pemimpin umat Islam

Manakala Bani Umayyah berhasil mengokohkan kekuasaan mereka, dan pertentangan politik kian parah di antara golongan yang berlainan paham itu, dan penguasa Umayyah dianggap pembantai pengikut ahlulbait

   Murji`ah versus Syiah.

Pertentangan orang-orang Murji`ah dengan orang-orang Syiah terjadi oleh karena Murji`ah menyerahkan persoalan khalifah atau pengganti Nabi kepada Tuhan. Mereka tidak mendukung gagasan Syiah tentang negara teokratis Ali, yang didasarkan atas keadilan agama dan juga tidak meyakini klaim Ahli Bait sebagai pewaris kepemimpinan Nabi atas umat Islam.

Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat monarchiheridetis (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu Yazid bin Muawiyah. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di Persia dan Bizantium, istilah khalifah tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimana khalifah Allah dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.

Dan kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Muawiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.

Ketika Yazid bin Muawiyah naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid bin Muawiyah kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husain bin Ali Ibnul Abu Thalib dan Abdullah bin Zubair Ibnul Awwam. Bersamaan dengan itu, kaum Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali, dan mengajak Husain bin Ali melakukan perlawanan.

Husain bin Ali sendiri juga dibait sebagai khalifah di Madinah,

Pada tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah mengirim pasukan untuk memaksa Husain bin Ali untuk menyatakan setia. Dalam sebuah perjalanan  terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang kemudian hari dikenal dengan Pertempuran Karbala, Husain bin Ali terbunuh, kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus, sedang tubuhnya dikubur di Karbala sebuah daerah di dekat Kufah.

Kelompok Syi’ah sendiri bahkan terus melakukan perlawanan dengan lebih gigih dan diantaranya adalah yang dipimpin oleh Al-Mukhtar di Kufah pada 685-687 M. Al-Mukhtar (yang pada akhirnya mengaku sebagai nabi) mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali (yaitu umat Islam bukan Arab, berasal dari PersiaArmenia dan lain-lain) yang pada masa Bani Umayyah dianggap sebagai warga negara kelas dua. Namun perlawanan Al-Mukhtar sendiri ditumpas oleh Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husain bin Ali terbunuh. Walaupun dia juga tidak berhasil menghentikan gerakan Syi’ah secara keseluruhan.

Abdullah bin Zubair membina kekuatannya di Mekkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid bin Muawiyah. Tentara Yazid bin Muawiyah kembali mengepung Madinah dan Mekkah. Dua pasukan bertemu dan pertempuran pun tak terhindarkan. Namun, peperangan ini terhenti karena taklama kemudian Yazid bin Muawiyah wafat dan tentara Bani Umayyah kembali ke Damaskus.

Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Setelah itu gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok Khawarij dan Syi’ah juga dapat diredakan.

pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, Hisyam bin Abdul-Malik (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyimyang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.

Setelah Hisyam bin Abdul-Malik wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyah yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimana Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus

.

Sistem Pemerintahan Thaghut Umayyah :

1. Sistem Suksesi (penggantian khalifah)

Permintaan Hasan Bin Ali kepada Mu’awiyah untuk tidak menunjuk pengganti khalifah dan menyerahkan penggantinya kepada umat Islam melalui pemilihan tidak dilaksanakan oleh Mu’awiyah. Ia menunjuk anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Penunjukan ini dilaksanakan oleh Mu’awiyah atas saran Al Mughirah bin Syu’bah. Ia berpendapat bahwa penunjukan putra Mahkota dapat menghindarkan konflik politik intern umat Islam, seperti yang terjadi pada masa sebelumnya. Cara ini terus berlanjut untuk semua khalifah, mereka selalu menunjuk putra mahkota. Dan untuk mendapatkan pengesahannya para khalifah memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan bai’at di hadapan khalifah.Selain Bani Umaiyah tidak mempunyai kesempatan menjadi pejabat kerajaan.

2. Lembaga Syura

Dewan Penasihat khalifah tidak berfungsi secara baik, mereka diangkat hanya dari kerabat khalifah sendiri sehingga lebih banyak mendukung kebijakan khalifah, dan tidak lagi memperhatikan usulan, pendapat dan kepentingan rakyat. Hal ini terjadi karena penguasa bani Umaiyah benar-benar menganggap dirinya sebagai raja yang tidak dipilih dan diangkat oleh rakyat. Mereka menjadi penguasa karena berjuang untuk merebutnya, sehinga negara adalah miliknya
.
pada masa Bani Umaiyah para khalifah dan keluarganya hidup dalam kemewahan dan selalu mendapatkan penjagaan yang ketat dari para pengawalnya. Mereka berdalih, bahwa khalifah adalah pemimpin umat yang harus dijaga kewibawaannya, dan juga keamanannya, wibawa khalifah adalah wibawa umat, dan keselamatan khalifah adalah keselamatan negara.

3. Sistem Organisasi Pemerintahan

Organisasi pemerintahan yang dikembangkan oleh Daulah Bani Umaiyah lebih modern dan lebih rapi. Dauah bani Umaiyah menetapkan Damaskus sebagai ibu kota pemerintahan. Dan urusan pemerintahan pusat dijalankan oleh lima dewan (departemen), yaitu :

  • Diwanul Jundi yang menangani urusan kemiliteran.
  • Diwanur Rasail yang menngani urusan admnistrasi pemerintah dan surat-menyurat
  • Diwanul Barid yang menangani urusan pos
  • Diwanul Kharraj yang menangani urusan keuangan.
  • Diwanul Khatam yang menangani urusan dokumentasi.

Sedangkan secara administatif wilayah kekuasaan dibagi menjadi lima kelompok wilayah propinsi, yaitu :

  • Kelompok wilayah propinsi Hijaz dan Yaman.
  • Kelompok wilayah Mesir bagian utara dan selatan.
  • Kelompok wilayah propinsi Irak Arab meliputi wilayah Babilonia dan Kaldea, dan Irak Ajam meliputi Yaman dan Persia.
  • Kelompok wilayah Armenia, Mesopotamia, dan Azerbaijan.
  • Kelompok wilayah propinsi Afrika Utara, meliputi Spanyol, Perancis bagian Selatan, serta Sicilia.

4. Angkatan Perang

Angkatan Perang yang diubangun oleh Daulah Bani Umaiyah lebih banyak mencontoh model Romawi dan Persia. Yaitu membangun tentara khusus yang dibayar oleh negara. Selain itu mereka juga mengembangkan angkatan laut. Dalam rekrutmen tentara Daulah Bani Umaiayah lebih mengutamakan orang-orang Arab dari pada orang-orang Mawali atau Non Arab. Kesemuanya ini sangat mendukung kebijakan Bani Umaiaya yang mengutamakan perluasan wilayah.

Muawiyah bin Abu Sufyan

Muawiyah I
Memerintah 661 – 680
Dinobatkan 661
Dilantik 661
Nama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan
Lahir 602
Meninggal 6 Mei 680
Pendahulu Ali
Pewaris Yazid I
Pengganti Yazid I
Anak Yazid I
Wangsa Bani Abdus Syams
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Abu Sufyan
Ibu Hindun binti Utbah

Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, dipaksa berbai’at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy’ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan biadab

.

Kekhalifahan Utama di Damaskus

  1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
  2. Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
  3. Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
  4. Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M
  5. Abdullah bin Zubair bin Awwam, (peralihan pemerintahan, bukan Bani Umayyah).
  6. Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
  7. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
  8. Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
  9. Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
  10. Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
  11. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
  12. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
  13. Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
  14. Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
  15. Marwan II bin Muhammad (memerintah di HarranJazira), 127-133 H / 744-750 M

Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar
.
Menurut ajaran sunni :
- Imam Ali berijtihad
– Mu’awiyah berijtihad
– Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

saudaraku…. 

Tanggapan syi’ah tentang bai’at Imam Ali :

Imam Ali r.a dan Syiah membai’at Abubakar sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I…

Saudaraku..

- Imam Ali terpaksa membai’at Abubakar karena ingin memelihara umat agar tidak mati sia sia dalam perang saudara melawan Pasukan Abubakar dibawah pimpinan Khalid Bin Walid yang haus darah

- Dengan mengalah Imam Ali telah menyelamatkan umat Islam dari kehancuran..Kalau perang saudara terjadi dan imam Ali tidak membai’at Abubakar maka tidak ada lagi Islam seperti yang sekarang ini

Akan tetapi…..

syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..

Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

===============================================================================================================================================================
CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

(9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

(10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

(11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

(12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

Beda utama Syi’ah – Sunni :
Sunni :
1. Nabi SAW tidak menunjuk siapa pengganti nya
2. Fokus pedoman : Sahabat
3. Semua sahabat adil

Mu’awiyah di dalam khutbahnya dishalat Jum’at telah mengutuk ’Ali, Hasan dan Hussein. Mu’awiyah juga mengintruksikan didalam semua forum jamaah ketika dia berkuasa supaya mengutuk manusia yang suci itu (baca keluarga Rasul) Justru itu siapapun yang bersatupadu dengan manusia yang terkutuk itu (baca Mu’awiyah) dan merasa senang dengan tindakan mereka (baca komunitas Mu’awiyah) tidak pantaskah untuk dikutuk? Dan ketika dia sedang bersekutu dengan manusia seperti itu, jika dia membantu mereka dalam memalsukan Hadist dari Ahlulbayt (keluarga/keturunan Rasul) dan memaksakan manusia untuk melakukan kutukannya kepada manusia suci ini (baca ’Ali, Fatimah, Hasan dan Husen),

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

====================================================

MASALAH   KHALiFAH

Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah  itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku

Hanya karna dukungan politik dari ulama ulama Bani Umayyah dan  ulama ulama  Bani Abbasiah keempat mazhab aswaja sunni   dapat berkembang ditengah masyarakat ( Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq )

 saudaraku….

banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Pada hari Asyura tahun 61 hijriah, padang Karbala saat itu menyaksikan peristiwa heroik yang ditampilkan oleh cucu kesayangan Rasulullah Saw, Imam Husein as dan para sahabatnya yang setia. Pada saat yang sama, Imam Ali Zainal Abidin as, putra Imam Husein as, tergeletak sakit di kemah. Kondisi itu membuat Imam Ali Zainal Abidin as tidak dapat bangkit membantu ayahnya dan para pejuang Karbala. Akan tetapi jiwa Imam Ali Zainal Abidin as yang juga dikenal al-Sajjad atau orang yang banyak bersujud, tak dapat ditahan untuk membantu ayahnya, tapi raga sama sekali tak mengizinkan.

Kondisi sakit Imam Ali Zainal Abidin pada hari Asyura mengandung hikmah ilahi dan rahasia Tuhan. Setelah peristiwa Asyura, Imam al-Sajjad mengemban tanggung jawab kepemimpinan demi menjaga risalah kenabian Rasulullah Saw.

Sejarah mencatat, tatkala pertempuran di padang Karbala bergolak, Imam Sajjad as mendengar suara ayahnya, Imam Husein as yang berkata: “Siapakah yang menolongku?”, dalam keadaan lemah beliau pun berusaha bangkit hendak memenuhi panggilan ayahnya. Namun melihat hal itu, Ummi Kultsum, bibi beliau pun berusaha menahannya pergi lantaran masih lemahnya kondisi kesehatan Imam Sajjad as.

Dengan penuh harapan, beliau berkata, “Bibi, ijinkan aku pergi berjihad bersama putra Rasulullah Saw”. Akan tetapi, karena lemahnya kondisi jasmani beliau, Imam pun tak mampu mengantarkan dirinya ke garis pertempuran. Hingga akhirnya takdir pun menyelamatkan beliau dan cita-cita kebangkitan Imam Husein dapat terus diperjuangkan.

Imam al-Sajjad menerima tanggung jawab kepemimpinan atau imamah pada umur 23 tahun. Tanggung jawab itu diterima saat kondisi sangat pelik. Pada masa itu, Dinasti Bani Umayyah berkuasa. Masyarakat saat itu jauh dari ajaran murni agama Islam. Akan tetapi penguasa saat itu berpenampilan religius, tapi pada dasarnya bertujuan membabat habis nilai-nilai agama.

Dinasti Umayyah di masa itu juga berusaha mengesankan kebangkitan Imam Husein sebagai langkah ekstrim yang keluar dari ajaran agama. Bani Umayyah berupaya menghapuskan pesan Imam Husein di padang Karbala supaya tidak sampai ke masyarakat. Di tengah kondisi seperti itu, Imam Ali Zainal Abidin as berusaha menjelaskan tujuan-tujuan penting kebangkitan Imam Husein as sehingga konspirasi musuh yang berupaya memojokkan posisi Ahlul Bait as dihadapkan pada kegagalan total.

Imam Ali Zainal Abidin as bersama Sayidah Zainab as memegang peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan gerakan Imam Husein as kepada masyarakat. Salah satu lembaran penting dalam sejarah pasca Peristiwa Karbala adalah pidato tegas Imam al-Sajjad di masjid Bani Umayyah, Syam. Dengan pidatonya, Imam al-Sajjad mampu menyampaikan pesan revolusionernya dengan landasan argumentasi kuat dan logis.

Saat Imam as digelandang bersama para tawanan Karbala dan sampai di kota Kufah, beliau melontarkan orasi yang sangat memukau dan menyentuh, sampai-sampai seluruh warga kota Kufah seakan tersihir oleh orasi beliau. Setelah memaparkan tentang keutamaan Ahlul Bait Nabi dan Imam Husein as, beliau berbicara kepada warga Kufah, “Wahai umat manusia, demi Allah aku bersumpah dengan kalian, apakah kalian ingat, kalian sendiri yang telah menulis surat kepada ayahku, namun setelah itu kalian menipunya? Kalian menjalin janji dan berbaiat kepadanya, namun kalian juga yang memeranginya? Lantas dengan mata yang mana lagi kalian akan melihat saat Rasulullah Saw di hari Kiamat kelak berkata, “Kalian telah bunuh Ahlul Baitku dan mematahkan kehormatanku!”

Puncak orasi Imam Sajjad as saat beliau berpidato di hadapan khalifah zalim, Yazid bin Muawiyah di Syam. Seluruh kejahatan dan kebobrokan penguasa zalim itupun diungkap secara jelas oleh Imam as hingga Yazid kehilangan muka. Dalam salah satu bagian pidatonya, Imam Sajjad as menuturkan, “Wahai umat manusia, Allah Swt menganugerahkan keutamaan-keutamaan seperti keilmuan, kesabaran, kedermawanan, kelugasan dan keberanian kepada Ahlul Bait Rasulullah Saw. Allah juga menganugerahkan kecintaan kepada Ahlul Bait pada hati orang-orang mukmin.”

Beliau menambahkan, “Wahai umat manusia, barangsiapa yang tidak mengenal aku, maka aku akan mengenalkan diriku.” Dikatakannya, “Akulah putra Fatimah, akulah putra seorang yang syahid saat bibirnya kering kehausan”.

Imam pun terus menegaskan keutamaan diri dan keluarganya hingga masyarakat Syam pun menangis penuh penyesalan. Untuk memotong pidato Imam Sajjad, Yazid pun memerintahkan untuk melantunkan azan.

Pidato Imam al-Sajjad membuat kondisi kota Syam yang juga pusat pemerintahan dinasti Umayyah saat itu menjadi kalang kabut. Bahkan para petinggi Bani Umayyah memutuskan untuk segara membawa Imam Husein dan para tawanan keluarga Nabi lainnya ke Madinah.

Tak dapat dipungkiri, pidato Imam Sajjad berhasil membangkitkan nurani masyarakat kota Syam yang selama ini dikuasai Dinasti Bani Umayyah. Di pusat pemerintahan, para petinggi Bani Umayyah tidak mampu menghalau pidato-pidato Imam Ali Zainal Abidin as yang memancarkan semangat revolusi dan gerakan anti-arogansi. Pencerahan Imam Sajjad as secara perlahan, mampu membangkitkan semangat umat Islam untuk melawan kezaliman di berbagai penjuru. Karena itu, pasca tragedi Karbala muncul belbagai gerakan kebangkitan menentang ketidakadilan pemerinatahan Bani Umayyah.

Setiba di kota Madinah, Imam al-Sajjad terus melanjutkan pidato-pidato pencerahannya yang isinya menyingkap kezaliman penguasa Bani Umayyah. Sementara itu, para penguasa Bani Umayyah kian bersikap sewenang-wenang. Saat itu, perjuangan utama Imam Sajjad as mempunyai misi untuk meluruskan pandangan masyarakat dan meningkatkan kesadaran umat.

Peran dan jasa berharga Imam Sajjad as pasca tragedi Asyura adalah menyebarkan risalah doa dan munajat yang sangat luhur. Kini kumpulan doa-doa dan munajat beliau itu dihimpun dalam sebuah kitab bernama Sahifah Sajjadiyah. Kendati doa dan munajat Imam Husein merupakan naskah doa, namun di dalamnya mengandung muatan ajaran Islam yang sangat luhur mengenai filsafat hidup, penciptaan, keyakinan, moral dan politik.

Imam al-Sajjad as dalam salah satu doanya mengatakan, “Ya Allah berilah kami kekuatan untuk mampu menjaga sunnah Nabi-Mu, dan berjuang melawan bid’ah-bid’ah, serta melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.”

Al-Sajjad dalam sejarah hidupnya selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengungkap misteri di balik tragedi Karbala. Imam Ali Zainal Abidin as selalu meneteskan air mata dan menunjukkan duka yang mendalam saat menceritakan peristiwa pembantaian terhadap keluarga Nabi pada hari Asyura. Duka yang ditunjukkan Imam Sajjad as itulah yang akhirnya mampu membangkitkan semangat juang umat Islam dalam melawan kezaliman Bani Umayyah. Imam al-Sajjad as juga dikenal sebagai sosok pemaaf, pengasih dan populis.

Imam Ali Zainal Abidin as gugur syahid pada tahun 95 hijrah setelah penguasa Bani Umayyah, Walid bin Abdul Malik mengeluarkan perintah untuk meracuni al-Sajjad as

Imamah dan kepemimpinan merupakan prinsip dan pondasi penting agama Islam. Kedua masalah ini, di samping prinsip-prinsip lainnya, mewujudkan eksistensi Islam. Keuniversalan agama Islam membuatnya tidak bergantung pada lainnya. Kedua prinsip ini sebagai penjaga hukum, undang-undang dan nilai-nilai ilahi. Bahkan lebih dari itu, begitu pentingnya prinsip ini juga sebagai penjamin keberlangsungan hasil dari prinsip-prinsip yang lain. Keberadaan dan peran dari prinsip Imamah menjamin tauhid, keadilan ilahi, kenabian dan hari akhir menjadi lebih realistis; mulai dari sisi teoritis hingga praktis. Manusia dengan mudah dapat merasakan itu dan memanfaatkannya.

Dalam sistem politik Islam, prinsip Imamah dan kepemimpinan keberadaan dan perannya tidak diragukan lagi. Prinsip Imamah dan kepemimpinan adalah langkah awal untuk mendirikan sebuah pemerintahan Islam yang pada gilirannya menyiapkan kondisi dan fasilitas demi terlaksananya undang-undang politik, sosial, ekonomi, militer, moral, pendidikan, hukum dan peradilan di tengah-tengah masyarakat berdasarkan Islam.

Kewajiban, peran dan dampak penting dari prinsip Imamah dan kepemimpin dalam ajaran Islam menjadi tanggung jawab seorang Imam dan pemimpin. (Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 29) Pada saat yang bersamaan, setiap orang diwajibkan untuk mengetahui Imam di zamannya. (Farhang Sukhanan Emam Hossein as, penerbit Masyhur, hal 92) Ketaatan terhadap seorang Imam identik dengan ketaatan terhadap Allah Swt. (Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 208) Dan para Imam menjadi saksi atas perbuatan manusia.(Ghurar al-Hikam, jilid 2, hal 206)

Dalam peristiwa Asyura, terjadi pertemuan dan bincang-bincang antara Imam Husein as dengan Imam Sajjad as. Sebuah percakapan bersejarah. Pembicaraan itu bila diteliti menunjukkan posisi dan pentingnya Imamah dan kepemimpinan.

Imam Sajjad as dalam peristiwa Asyura menderita sakit. Penderitaan yang membuatnya tidak dapat ikut serta dalam peperangan itu. Sakit membuatnya tidak dapat berjihad di samping ayahnya. Ketidakmampuannya untuk ikut dalam membela kebenaran yang diusung oleh Imam Husein as membuatnya sangat bersedih.

Pada detik-detik terakhir peristiwa Asyura, Imam Husein as untuk terakhir kalinya menyambangi anaknya, Imam Sajjad as. Pertemuan untuk terakhir kalinya. Ketika Imam Husein as mendekat anaknya, ia ditanya, “Ayah! Hari ini apa yang engkau lakukan dengan orang-orang munafik?”

Imam Husein as menjawab, “Wahai anakku! Setan telah mengalahkan mereka. Setan berhasil menyingkirkan rasa mengingat Allah dari hati mereka. Perang akhirnya merupakan pilihan yang tidak dapat dielakkan. Mereka bak orang kehausan sampai berhasil melihat bumi menyerap semua darah kami.”

Imam Sajjad kembali bertanya, “Pamanku Abbas di mana?”

Imam Husein as menjawab, “Wahai anakku! Pamanmu dibunuh. Jasadnya berada dekat sungai Furat. Tangannya terpotong.”

Mendengar penjelasan ayahnya, Imam Sajjad menangis tersedu-sedu. Ia kemudian bertanya, “Bagaimana kabar Ali, saudaraku dan rombongan yang lain?”

Imam Husein as menjawab, “Anakku! Ketahuilah bahwa di perkemahan kita tidak ada lagi orang yang tersisa, selain kita berdua. Semua orang yang engkau Tanya telah tewas berkalang tanah.”

Kembali Imam Sajjad as menangis tersedu-sedu. Ia kemudian memohon kepada Zainab agar mengambilkan tongkat dan pedangnya.

Imam Husein as ganti bertanya, “Apa yang ingin engkau lakukan dengan tongkat dan pedang?”

Imam Sajjad as menjawab, “Dengan tongkat aku dapat menyanggah tubuhku. Dan dengan pedang aku akan membela keturunan Nabi saw.”

Imam Husein as memanggil Ummu Kultsum dan berkata, “Jaga dia! Tidak boleh terjadi bumi kosong dari Alu Muhammad (keluarga Muhammad).” (Farhang Sukhanan Emam Hossein as, hal 539-540)

Sekejap, Imam Husein as dapat merasakan mengapa anaknya mengucapkan hal itu. Ucapan dan sikap yang lahir dari rasa tanggung jawab yang tinggi, sekalipun dalam kondisi sakit dan lemah. Sebuah keputusan yang lahir dari semangat melawan musuh. Namun, Imam Husein as melarang anaknya untuk ikut berperang. Argumentasinya adalah Imam Sajjad as harus tetap hidup. Ia harus hidup untuk masa yang akan datang. Masa yang menuntut tanggung jawab yang besar dari prinsip Imamah dan kepemimpinan.Imam Sajjad as harus tetap hidup agar prinsip ini tetap langgeng, tidak terputus. Kematian Imam Sajjad as berarti terputusnya prinsip Imamah dan sama dengan kosongnya bumi dari seorang Imam dan pemimpin.

Tiba saatnya Imam Husein as harus mengucapkan salam perpisahan kepada anaknya.

Pertama, beliau menasihati keluarganya bahwa setelah ia terbunuh, mereka semua bakal ditawan. Kedua, beliau membeberkan rencana dan tugas yang harus diemban oleh mereka. Dan yang bertanggung jawab penuh dalam tugas ini adalah imam Sajjad as. Mereka harus menyampaikan dan menyingkap semua keteraniayaan Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya.

Nasihat Imam Husein as kepada anaknya, “Kapan saja anggota keluarga berteriak akibat beratnya cobaan, maka engkau yang harus mendiamkan mereka!

Kapan saja mereka merasa ketakutan, maka engkau yang bertugas menenangkan mereka!

Pikiran mereka yang bercabang harus engkau satukan dengan ucapan yang dapat menenangkan!

Ini harus engkau lakukan karena orang yang menjadi tempat pengaduan mereka telah tiada selain engkau. Biarkan mereka dengan keadannya sehingga dapat merasakan kehadiranmu dan engkau dapat merasakan penderitaan mereka. Lakukan ini agar mereka menangisimu dan engkau menangisi mereka.”

Setelah itu, Imam Husein as memegang dan mengangkat tangan Imam Sajjad as. Dengan nada tinggi ia berkata kepada anak-anak dan wanita Ahlul Bait, “Dengarkan ucapanku!

Ketahuilah! Ini adalah anakku dan khalifahku untuk kalian. Ia adalah Imam yang wajib untuk ditaati”. (Farhang Sukhanan Emam Hossein as, hal 541-542)

Percakapan antara Imam Husein as dengan Imam Sajjad as dan keluarganya pada detik-detik terakhir peristiwa Asyura sangat jelas dan kuat menekankan posisi, peran dan nilai “Imamah dan kepemimpinan”. Pentingnya masalah ini dengan memperkenalkan Imam dan pemimpin setelahnya. Imam dan pemimpin bagi khilafah, wilayah dan pemerintahan atas masyarakat dan negara Islam.

Prinsip Imamah dan kepemimpinan hadir di tengah-tengah peristiwa Karbala. Hadir dan dapat dirasakan dalam semua tahapan-tahapan kejadian Karbala. Imamah dan kepemimpin mengawasi jalannya peristiwa bersejarah ini agar sahabat-sahabatnya tidak keluar dari garis itu. Dan yang terpenting pada detik-detik terakhir Asyura prinsip Imamah dan kepemimpinan ditetapkan, bahkan suksesi berjalan sempurna. Imamah dan kepemimpinan tidak berhenti, namun hadir dalam bentangan sejarah pada semua generasi dan di setiap zaman.

Pasca syahadahnya Imam Husein bin Ali as beserta sejumlah keluarga dan sahabatnya di Padang Karbala, keluarga yang beliau tinggal mengalami penderitaan yang tak terhingga dan mereka menjadi tawanan. Sungguh pemandangan yang sangat mengiriskan di mana mereka yang mengaku pecinta Nabi, kini dengan tega membantai cucu beliau dan tak puas dengan itu, mereka membelenggu keturunannya serta diseret sebagai tawanan. Ibnu Ziyad sebelum para tawanan tiba di istananya mengizinkan setiap orang untuk memasuki kediamannya tersebut.

Setelah warga penuh sesak memasuki istana Ibnu Ziyad, ia memerintahkan keluarga Imam Husein untuk dihadirkan di hadapan khalayak. Ubaidullah bin Ziyad mengambil tongkat kayu seraya memukul kepala mulia Imam Husain as dan menyatakan bahwa kejadian ini merupakan kemenangan baginya di medan laga, dan terbunuhnya Imam Husain merupakan kehendak-Nya. Saat itulah ia mendapatkan jawaban yang mematikan dan sangat pedas dari Zainab as dan Imam Ali bin Imam Husain as yang menyebabkan kehinaan Yazid dan para keturunan Yazid.

Saat itu, Ibnu Ziyad menoleh ke Imam Sajjad dan bertanya ?

Siapa namamu ?

Imam menjawab: Saya, Ali bin Husein as.

Ibnu Ziyad berkata: Bukannya Ali bin Husein telah dibunuh oleh Allah Swt.

Imam menjawab: Saya punya saudara tua bernama Ali dan ia dibunuh oleh rakyat.

Ibnu Ziyad membantah: Ia bukannya dibunuh rakyat, namun Allah yang membunuhnya.

Imam Sajjad: Memang benar setiap manusia akan mati jika Allah menghendaki dan tanpa izin Allah kematian tidak akan menjemput manusia.

Ibnu Ziyad tidak dapat menahan amarahnya atas jawaban Imam Sajjad  dan memerintahkan anak buahnya untuk memenggal Imam yang tengah sakit tersebut. Saat itulah Zainab, saudari Imam Husein bangkit menjadi tameng keponakannya.

Dengan tegas Imam Sajjad berkata kepada Ibnu Ziyad, Apakah hingga kini kamu belum memahami bahwa kematian adalah tujuan kami dan kesyahidan merupakan kebanggaan kami ?

Imam Sajjad seperti ayah dan kakek-kakeknya memiliki keutamaan, ketinggian ilmu dan kesempurnaan. Di depan warga Kufah, Imam Sajjad as berpidato. Beliau berkata,”Wahai manusia, barangsiapa mengenalku, dia telah mengenalku. Dan barangsiapa tidak mengenalku, ketahuilah bahwa aku adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Akulah putra yang dirusak kehormatannya, dihilangkan kenikmatannya, dirampas hartanya, dan ditawan keluarganya. Akulah putra yang disembelih di sisi sungai Furat. Akulah putra orang yang telah dibunuh dalam keadaan sabar, dan cukuplah semua itu sebagai kebanggaanku. Wahai manusia, aku minta kalian bersumpah kepada Allah; apakah kalian tahu bahwa sesungguhnya kalian telah menulis dan memberikan janji serta baiat kepada ayahku, lalu kalian membunuhnya? Maka, celakalah kalian atas apa yang telah kalian berikan untuk diri kalian! Dengan pandangan macam apa kalian akan melihat Rasulullah saww jika berkata kepada kalian, ‘Kalian semua telah membunuh putraku, telah merusak kehormatanku! Kalian bukan umatku!'”

Pasca syahadahnya Imam Husein as,kondisi kehidupan umat Islam kian sulit. Di kondisi seperti inilah, Imam Sajjad as bangkit meneruskan perjuangan ayahnya menyelamatkan Islam dari kehancuran total. Beliau menyadari sepenuhnya bahwa yang menyebabkan gugurnya Imam Husein bukan hanya Yazid dan kroninya, namun masih terdapat musibah yang lebih besar dan itu adalah kebodohan serta kelalaian umat Islam sendiri.

Sementara itu, Bani Umayyah setelah wafatnya Rasulullah Saw mengerahkan segenap usahanya untuk menghapus nama serta pengaruh nabi beserta keluarganya di tengah masyarakat Islam. Dampaknya adalah munculnya kembali era jahiliyah di tengah-tengah masyarakat. Ketika itulah, Imam Sajjad bangkit untuk menyelamatkan umat. Jalan yang ditempuh Imam berbeda dengan ayahnya, beliau memilih mengobarkan revolusi budaya dan hal ini dikemas Imam melalui doa-doa yang beliau panjatkan.

Tak diragukan lagi bahwa doa bukan sekedar ibadah, namun merupakan cahaya yang bangkit dari jiwa orang-orang yang berdoa. Doa juga merupakan kekuatan paling kokoh sebagai energi yang dihasilkan oleh seseorang. Menurut Alexis Carreel, “Pengaruh doa bagi jiwa dan fisik manusia tak kalah dengan mensekresi kelenjar badan. Kelenjar ini dapat diditeksi dengan bertambahnya daya berfikir, moral serta bertambahkan pemahaman seseorang. Dengan doa manusia menyingkap rasa egoisme, puas diri, bodoh dan ketakutan yang ada di dalam dirinya. Kemudian di dalam dirinya akan timbul akhlak terpuji dan kerendahan diri yang masuk akal. Dengan demikian jiwa seseorang akan berpetualang inayah dan kelembutan Allah Swt. Sebagai seorang dokter saya mengatakan bahwa kekuatan doa seperti daya grafitasi bumi dan doa juga yang dapat mengalahkan ketentuan alam.”

Imam Sajjad dengan doa-doanya memberikan pelajaran kepada manusia faktor-faktor yang mendukung hidup sehat, teratur dan indah. Dengan doanya Imam juga menyebarkan budaya membenahi diri sehingga keselamatan mental masyarakat terjamin. Di kumpulan doa-doa Imam Sajjad, Sahifah Sajjadiyah, beliau dalam doanya menggunakan ibarat seperti keselamatan, hikmah dan keamanan. Imam memiliki metode tersendiri dalam doanya. Pertama-tama beliau mengenalkan sosok manusia sempurna. Karena tanpa adanya pengenalan terhadap manusia sempurna kekurangan pada diri manusia tidak dapat diketahui. Hal inilah yang ingin diajarkan Imam Sajjad kepada umatnya dengan mengawali setiap doanya dengan shalawat kepada Rasulullah berserta keluarganya yang suci.

Selanjutnya Imam mengajak manusia untuk memperhatikan keistimewaan yang terpendam dalam diri mereka, khususnya perasaan untuk mengenal Tuhan. Perasaan ini sangat membantu manusia untuk memperbaiki perilakunya. Manusia seperti ini senantiasa mengingat Tuhannya sehingga ia terhindar dari perbuatan dosa. Imam Sajjad menyadari sepenuhnya bahwa jika manusia berlindung di bawah keimanan dan keyakinan terhadap Tuhan, maka ia akan terhindar dari keraguan serta hidupnya akan selalu tenang. Manusia seperti ini juga akan tegar menghadapi gelombang kehidupan yang menerpanya. Selalu mengingat Tuhan membuat jiwa manusia kebal dari setiap cobaan yang menerpanya. Gangguan mental seperti ketakutan dan kehinaan.

Sejumlah sifat-sifat tak terpuji seperti hasud, haus kekuasaan dan ingin menang sendiri termasuk hal-hak yang menekan jiwa manusia. Imam dalam doanya memberikan solusi kepada manusia seperti ini. Di antara salah satu sifat  manusia adalah senang kekayaan duniawi. Sifat ini disebabkan manusia menyaksikan kekayaan dapat mensejahterakan kehidupan manusia dan apa yang dia inginkan selalu tercapai dengan uang. Dalam memberi pelajaran kepada manusia terkait dunia, Imam pertama mencela dunia karena kejelakan yang merugikan manusia. Selanjutnya Imam meminta kepada Allah Swt menjadikan dunia sebagai tempat beribadah dan menghamba kepada-Nya.

Manusia biasanya ketika terpaku pada sebuah masalah akan melalaikan hal-hal lain. Hal ini akan membuat manusia kehilangan kesempatan serta mendorongnya untuk menyeleweng. Dalam doanya Imam banyak memberikan contoh bukti dari kelalaian seperti lalai diri sendiri, lalai menjalankan tugas, lalai terhadap Tuhan dan kematian.

Sejatinya Imam Sajjad mendidik manusia untuk dapat berinteraksi dengan diri sendiri, masyarakat, alam dan Tuhan. Ketika manusia dengan tepat dapat menjalin hubungan antara dirinya, alam dan Tuhan maka akan muncul dalam dirinya ketenangan dan dalam falsafah hidupnya ia akan selalu berserah diri kepada Allah Swt. Ketika itulah, ia benar-benar menemukan kehidupan sejati yang penuh makna dan kebahagiaan menjadi bagian dari dirinya.

Asyura merupakan peristiwa besar yang terjadi di abad 61 hijriah atau 680 M di padang Karbala, Irak. Tragedi itu menjadi epik paling mengharukan, sekaligus kejadian paling abadi dalam lembaran sejarah Islam. Hingga kini Asyura memiliki dimensi individu maupun sosial yang layak untuk dikaji dari berbagai sisi.

Peristiwa Asyura juga menjadi sumber inspirasi dari gerakan revolusi besar dalam sejarah Islam. Peran Asyura bagi kehidupan umat Islam tidak diragukan lagi banyak berutang budi kepada Imam Husein dan pengikutnya yang menumpahkan darah mereka demi membela prinsip yang mereka yakini.

Hingga kini peristiwa Asyura telah menjadi inspirasi atas lahirnya berbagai karya seni mulai dari buku, artikel, syair, film maupun karya seni lainnya. Meski demikian, peristiwa dan tokoh Asyura masih menjadi daya tarik yang memikat. Pesona yang menyebabkan umat Islam di berbagai penjuru dunia di bulan Muharram untuk mengingat tragedi yang menyajikan keberanian dan ketakwaan sejati telah memberikan warna lain bagi dunia.

Peringatan duka di bulan Muharram di kalangan umat Islam bukan hanya sebuah peringatan keagamaan semata yang masih memisahkan kehidupan individu dan sosial. Asyura mewujudkan spirit perjuangan dan kesyahidan, sekaligus memperkokoh persatuan dan solidaritas bangsa. Selain itu, Asyura juga menjadi cermin bagi kehidupan umat manusia melalui tokoh-tokoh dalam peristiwa besar itu dan refleksinya dalam kehidupan kekinian.

Lalu apa yang sangat vital dalam peristiwa Asyura dalam konteks kekinian hingga menyebabkan peristiwa masa lampau itu senantiasa hidup dan berpengaruh terhadap kehidupan dewasa ini. Apa faktor yang menyebabkan peristiwa itu abadi hingga kini ? Mengapa penguasa dan sebagian masyarakat gagal mengubur maupun menyelewengkan peristiwa Asyura ? Lalu metode apa yang dijadikan untuk menyampaikan pesan-pesan Karbala dari satu generasi ke generasi hingga saat ini ?

Untuk menganalisis peran penting media dalam menyampaikan pesan Karbala membutuhkan sedikit kajian tentang metode informasi masyarakat tradisional. tradisi lisan dan interaksi langsung merupakan salah satu karakteristik media massa lalu. Ketika itu, budaya tulisan belum berkembang pesat seperti saat ini.

Kehadiran rakyat di alun-alun, pasar-pasar dan warung kopi bukan hanya mengisi waktu istirahat dan liburan mereka saja, namun menjadi sebagai media informasi dan sekaligus pengingat antargenerasi. Media  informasi massa tersebut selama berabad-abad relatif bertahan sebagai media yang cukup efektif.

Seiring terjadinya penyebaran budaya Islam, hubungan media pun menemukan bentuk khususnya yang sangat berbeda dengan agama lain. Contohnya masjid, pusat pendidikan keagamaan seperti hauzah maupun pesantren. Selain itu peringatan acara keagamaan seperti shalat jemaah dan shalat Jumat di kalangan umat Islam juga memiliki urgensitas khusus, dan menjadi media penting bagi penyebaran budaya Islam.

Masjid merupakan salah satu capaian penting agama Islam. Realitas hijrahnya Rasulullah ke Madinah bermakna terbentuknya pusat pemerintahan Islam yang berporos pada Rasulullah, sekaligus terbentuknya pilar-pilar masyarakat Islam.

Rasulullah pada tahap pertama membangun Masjid Quba dan masjid Nabi yang mempersatukan umat Islam Mekah dan Madinah. Di tempat itulah didirikan shalat berjamaah dan shalat Jumat, serta ibadah lainnya.Tidak hanya itu, di tempat itu pula Rasullah menjelaskan berbagai permasalahan mengenai berbagai masalah yang menimpa masyarakat Islam.

Dengan demikian secara bertahap masjid menjadi pusat media dan interaksi umat Islam. Dalam sejarah, para penguasa seperti Imam shalat maupun khatib Jumat memberikan ceramah penting. Bahkan masjid juga berperan sebagai media penyadaran bagi rakyat terhadap berbagai masalah penting.

Mengenai peristiwa Asyura, masjid memegang peran penting sebagai media yang berfungsi menyebarkan nilai-nilai peristiwa Karbala. Kehadiran tokoh agama di mimbar mengungkapkan urgensi dan pesan-pesan peristiwa kebangkitan Imam Husein menjadikan masjid sebagai pusat penerangan dan informasi paling efektif. Ketika pemerintahan Bani Umayah melarang segala bentuk penulisan sejarah Asyura, namun tradisi lisan dalam bentuk ceramah di masjid menjadi media penyadaran bagi umat Islam atas tragedi besar yang menimpa Imam Husein dan pengikutnya di padang Karbala.

Dr. Naser Bahonar mengungkapkan peran ulama di mimbar masjid dalam menyadarkan masyarakat atas peristiwa Karbala. Peneliti Iran ini menilai acara peringatan duka di masjid dan huseiniyah merupakan media yang efektif dalam menanamkan kesadaran masyarakat terhadap peristiwa Karbala.

Di berbagai belahan dunia setiap bangsa memiliki karakteristik budaya dan seni yang khas dan membedakannya dengan yang lain. Bangsa Iran yang dikenal sebagai bangsa yang mencintai seni memiliki media seni yang sangat beragam. Tradisi puisi dan narasi lisan serta teatrikal rakyat turut menyumbangkan peran besar dalam penyebaran pesan Karbala.

Jabir Anasiri, penulis dan peneliti Iran mengatakan bahwa seni teatrikal religius telah ada sebelum Islam. Dengan datangnya Islam, seni itu semakin berkembang dan menemukan bentuknya yang lebih kokoh dan hidup di tengah masyarakat hingga kini. Dari seni teatrikal religius inilah muncul seni religius “takziah”. Saat ini mengacu pada memperingati peristiwa Karbala, dengan menceritakan kisah kemartiran Imam Husein dan pengikutnya di padang Karbala.

Naiknya pemerintahan Safavi memerintah Iran memberikan kontribusi besar bagi pengembangan seni Takziah dengan penggunaan alat musik dan lukisan besar yang menyertai teatrikal duka itu. Takziah kemudian mencapai puncaknya pada periode Dinasti Qajar, terutama di masa pemerintahan Nasser-edin Shah.

Takziah dan seni religius lainnya di Iran telah menjadi sebuah media lokal  yang berperan menyebarkan nilai-nilai Karbala hingga kini. Harmoni antara teater dan iringan dalam musik Takziah memudahkan peristiwa Karbala dan pesan-pesan pentingnya diterima di tengah masyarakat.

Sejatinya peran para ulama dan media tradisional seperti Takziah memainkan peran penting bagi penyebaran pesan-pesan dan kelestarian peristiwa Karbala. Inilah media yang menjadikan Karbala tetap hidup dalam diri dan kehidupan umat Islam, terutama syiah hingga kini.

Buku Pedoman

  1. Al-Bidaayah Wan Nihaayah, Ibn Katsir.
  2. Tarikh Khulafa’, As-Suyuthi.
  3. Tarikh Bani Umayyah, Al-Mamlakah Su’udiyyah.
  4. Tarikh Islamy, Ibn Khaldun.
  5. Sejarah Bani Umayyah, Muhammad Syu’ub, Penerbit PT.Bulan Bintang.

Kepadanyalah kami memberikan sumpah setia kami, ya Husein!

Dizaman kini…

Sekjen Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam (FIPMI), Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri mengatakan, sistem Wilayatul Faqih memperoleh legitimasi dari syariat Islam dan rakyat, sementara wali faqih adalah hasil pilihan rakyat. Ditambahkannya, Dewan Ahli Kepemimpinan juga dipilih oleh rakyat untuk mengawasi kinerja dan menggantikan pemimpin jika ia telah kehilangan kualifikasi untuk kepemimpinan.

Kantor berita taghrib (TNA) melaporkan, Ayatullah Taskhiri dalam wawancara dengan televisi al-Alam, mengatakan sistem yang didasarkan pada Wilayatul Faqih adalah hasil pilihan rakyat dan pemimpin harus memiliki pengetahuan tentang semua aspek hukum syariat yang diyakini oleh rakyat.

“Syarat kedua wali faqih adalah adil dan berpegang teguh pada semua hukum syariat. Selain itu, seorang pemimpin Islam juga harus memiliki kemampuan untuk mengatur negara,” jelasnya.

“Pemilihan wali faqih tidak dilakukan secara langsung, akan tetapi diangkat oleh para ahli fiqih dan pakar hukum. Mereka juga dipilih oleh rakyat untuk duduk di Dewan Ahli Kepemimpinan. Lembaga ini akan memilih tokoh yang paling berkompeten dan memiliki syarat-syarat yang dibutuhkan untuk memimpin umat,” ujar Ayatullah Taskhiri.

Ayatullah Taskhiri menolak komparasi antara sistem Wilayatul Faqih dan monarki. Dikatakannya, “Dalam sistem monarki, rakyat tidak punya hak pilih, karena penguasa dipimpin oleh keluarga tertentu. Setelah itu, putra raja atau orang yang dipercaya akan diangkat sebagai pewaris kerajaan. Akan tetapi dalam sistem Wilayatul Faqih, seorang pemimpin harus memiliki kualifikasi yang ditetapkan oleh hukum, tanpa memperhatikan faktor-faktor lain.”

Ulama berpengaruh ini lebih lanjut menandaskan, hubungan antara wali faqih dan rakyat didasarkan pada syariat dan kedua belah pihak memiliki beberapa hak menurut hukum Islam.

“Hubungan antara wali faqih dan rakyat didasarkan pada kasih sayang, persatuan, ketaatan, dan penjajakan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik dan melaksanakan hukum syariat di semua aspek kehidupan,” tambahnya.

Pada bagian akhir pernyataannya, Ayatullah Taskhiri menuturkan, wali faqih mengawasi ketiga cabang pemerintah dan menciptakan koordinasi di antara mereka. Sementara Dewan Ahli Kepemimpinan senantiasa mengawasi sifat-sifat kepemimpinan seorang wali faqih dan jika telah kehilangan syarat-syarat yang dibutuhkan, mereka akan mencopot dan menggantikan dengan orang baru.

.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan:

“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia… telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam …Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah … menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga”.

Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil, misalnya, memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. Namun anaknya, al-Muntashir (861-862 M.), kembali memperkenankan orang syi’ah “menziarahi” makam Husein tersebut

Dizaman dulu, Raja Umayyah Abbasiyah Merusak Islam ! Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan alBukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis. [1] Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu). [2] Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis. [3], Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis

Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan alBukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis. [1] Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu). [2] Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis. [3], Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis. [4].

Bukhari (194/255 H/810/869 M), Muslim (204/261 H/819/875M), Tirmidzi (209/279 H/824/892 M), Nasa’i (214/303 H/829/915 M), Abu Dawud (203/275 H/818/888 M) dan Ibnu Majah (209/295 H/824/908 M) misalnya telah menyeleksi untuk kita hadishadis yang menurut mereka adalah benar, shahih. Hadishadis ini telah terhimpun dalam enam buku shahih, ashshihah,assittah, dengan judul kitab masing-masing menurut nama mereka; Shahih BukhariShahih MuslimShahih (Sunan) Ibnu Majah, Shahih (SunanAbu Dawud, Shahih (Jami’) Tirmidzi dan Shahih (Sunan) Nasa’i.[5]

Tetapi, bila kita baca penelitian para ahli yang terkenal dengan nama Ahlul Jarh wa’ Ta’dil, maka masih banyak hadis shahih ini akan gugur, kerana ternyata banyak di antara pelapor hadis, setelah diteliti lebih dalam adalah pembuat hadis palsu. AlAmini, misalnya, telah mengumpulkan tujuh ratus nama pembohong yang diseleksi oleh Ahlu’l Jarh wa Ta’dil Sunni yang selama ini dianggap adil atau jujur, dan hadis yang mereka sampaikan selama ini dianggap shahih dan tertera dalam buku shahih enam.

Ada di antara mereka yang menyampaikan, seorang diri, beriburibu hadis palsu. Dan terdapat pula para “pembohong zuhud” [6] , yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman dan mulai pagi hari mengajar dan berbohong seharian. Para pembohong zuhud ini, bila ditanyakan kepada mereka, mengapa mereka membuat hadis palsu terhadap Rasul Allah saw yang diancam api neraka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak membuat hadis terhadap (‘ala) Rasul Allah saw tetapi untuk (li) Rasul Allah saw. Maksudnya, mereka ingin membuat agama Islam lebih bagus. [7], Tidak mungkin mengutip semua. Sebagai contoh, kita ambil seorang perawi secara acak dari 700 orang perawi yang ditulis Amini. [8]

“Muqatil bin Sulaiman alBakhi, meninggal tahun 150 H/767 M. Ia adalah pembohong,dan pemalsu hadis. Nasa’i memasukkannya sebagai seorang pembohong; terkenal sebagai pemalsu hadis terhadap Rasul Allah sa Ia berkata terangterangan kepada khalifah Abu Ja’far alManshur: “Bila Anda suka akan saya buat hadis dari Rasul untukmu”. Ia lalu melakukannya. Dan ia berkata kepada khalifah alMahdi dari Banu Abbas: “Bila Anda suka akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas’. AlMahdi menjawab: “Aku tidak menghendakinya!”[9].

Para pembohong ini bukanlah orang bodoh. Mereka mengetahui sifat-sifat dan cara berbicara para sahabat. Mereka juga memakai nama para tabi’in seperti Ibnu Umar, ‘Urwah bin Zuba sebagai pelapor pertama, dan rantai sanad dipilih dari orang-orang yang dianggap dapat dipercaya. Hadis-hadis ini disusun dengan rapih, kadangkadang dengan rincian yang sangat menjebak. Tetapi kesalahan terjadi tentu saja kerana namanya tercantum di dalam rangkaian perawi. Dengan demikian para ahli tentang cacat tidaknya suatu hadis yang dapat menyusuri riwayat pribadi yang buruk itu, menolak Hadis-hadis tersebut. [10]

Demikian pula, misalnya hadis-hadis yang menggunakan kata-kata ‘mencerca sahabat’ tidak mungkin diucapkan Rasul, kerana katakata tersebut mulai diucapkan di zaman Mu’awiyah, lama sesudah Rasul wafat. Seperti kata-kata Rasul “Barang siapa mencerca sahabat-sahabatku maka ia telah mencercaku dan barang siapa mencercaku maka ia telah mencerca Allah dan mereka akan dilemparkan ke api neraka” yang banyak jumlahnya.[11].

Juga, hadishadis berupa perintah Rasul agar secara langsung atau tidak langsung meneladani atau mengikuti seluruh sahabat, seperti ‘Para sahabatku laksana bintang-bintang, siapa saja yang kamu ikuti, pasti akan mendopat petunjuk’ atau ‘Para sahabatku adalah penyelamat umatku’ tidaklah historis sifatnya.

Disamping perintah ini menjadi janggal, kerana pendengarnya sendiri adalah sahabat, sehingga menggambarkan perintah agar para sahabat meneladani diri mereka sendiri, sejarah menunjukkan bahwa selama pemerintahan Bani Umayyah, cerca dan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib serta keluarga dan pengikutnya, selama itu, tidak ada sahabat atau tabi’in yang menyampaikan hadis ini untuk menghentikan perbuatan tercela yang dilakukan di atas mimbar masjid di seluruh negeri tersebut. Lagi pula di samping fakta sejarah, alQur’an dan hadis telah menolak keadilan seluruh sahabat. [12]

Atau hadishadis bahwa para khalifah diciptakan atau berasal dan nur (sinar) yang banyak jumlahnya, sebab menurut AlQur’an manusia berasal dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah dan tidak mungkin orang yang tidak menduduki jabatan dibuat dari tanah sedang yang ‘berhasil’ menjadi khalifah dibikin dari nur.

Para ahli telah mengumpul para pembohong dan pemalsu dan jumlah hadis yang disampaikan.

Abu Sa’id Aban bin Ja’far, misalnya, membuat hadis palsu sebanyak 300.

Abu Ali Ahmad alJubari 10.000 Ahmad bin Muhammad alQays 3.000

Ahmad bin Muhammad Maruzi 10.000

Shalih bin Muhammad alQairathi 10.000 dan banyak sekali yang lain.

Jadi, bila Anda membaca sejarah, dan nama pembohong yang telah ditemukan para ahli hadis tercantum di dalam rangkaian isnad, Anda harus hatihati.

Ada pula pembohong yang menulis sejarah dan tulisannya dikutip oleh para penulis lain. Sebagai contoh Saif bin Umar yang akan dibicarakan di bagian lain secara sepintas lalu. Para ahli telah menganggapnya sebagai pembohong. Dia menulis tentang seorang tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ yang fiktif sebagai pencipta ajaran Syiah. Dan ia juga memasukkan 150 [13] sahabat yang tidak pernah ada yang semuanya memakai nama keluarganya. Dia menulis di zaman khalifah Harun alRasyid. Bukunya telah menimbulkan demikian banyak bencana yang menimpa kaum Syiah. Bila membaca, misalnya, kitab sejarah Thabari dan nama Saif bin Umar berada dalam rangkaian isnad, maka berita tersebut harus diperiksa dengan teliti.

Referensi:

[1] Tarikh Baghdad, jilid 2, hlm. 8; AlIrsyad asSari, jilid 1, hlm. 28; Shifatu’s Shafwah, jilid 4, hlm. 143.

[2] Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 101; alMuntazam, jilid 5, hlm. 3 2; Thabaqat al Huffazh, jilid 2, hlm. 151, 157; Wafayat alAyan, jilid 5, hlm. 194.

[3] Tarikh Baghdad jilid 9, hlm. 57; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 154; alMuntazani, jilid 5, hlm. 97; Wafayat alA’yan jilid 2, hlm. 404.

[4] Tarikh Baghdad, jilid 4, hlm. 419420; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 17; Tahdzib atTahdzib, jilid 1, hlm. 74; Wafayat alA’yan, jilid 1, hlm. 64.

[5] Menurut metode pengelompokan, hadits-hadits dibagi dalam Musnad, Shahih, Jami’, Sunan, Mujam dan Zawa’id.

[6] Zuhud = orang yang menjauhi kesenangan duniawi dan memilih kehidupan akhirat.

[7] AIAmini, alGhadir, Beirut, 1976, jilid 5, hlm. 209375.

[8] AIAmini, alGhadir, jilid 5, hlm. 266.

[9] Abu Bakar alKhatib, Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 168; ‘Ala’udin Muttaqi alHindi, Kanzul- Ummal, jilid 5, hlm. 16, Syamsuddin adzDzahabi, Mizan alI’tidal, jilid 3, hlm. 196; alHafizh lbnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib, jilid 10, hlm. 284; Jalaluddin asSuyuthi, alLaAli ul Mashmu’ah, jilid 1, hlm. 168 jilid 2, hlm. 60, 122..

[10] Contoh-contoh Ahlul Jarh wa Ta’dil: Ibnu Abi Hatim arRazi, Ahlul Jarh wa Ta’dil (Ahli Cacat dan Penelurusan); Syamsuddin AzDzahabi, Mizan alI’tidal (Timbanga Kejujuran); Ibnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib (Pembetulan bagi Pembetulan) dan Lisan alMizan (Katakata Timbangan); ‘Imaduddin ibnu Katsir alBidayah wa’nNihayah (Awal dan Akhir), Jalaluddin AsSuyuthi,alLa’ali’ul Mashnu’ah (Mutiara-mutiara buatan), Ibnu Khalikan, Wafayat alA’yan wa Anba Abna azZaman (Meninggalnya Para Tokoh dan Berita Anakanak Zaman). Dan masih banyak lagi.

[11] Lihat AIMuhibb Thabari, Riyadh anNadhirah, jilid 1, hlm. 30.

[12] Lihat Bab 19: ‘Tiga dan Tiga’ sub bab Sahabat Rasul.

[13] Seratus lima puluh.

FATWA AL-ALAMAH AS-SAYYID AL-HABIB HASAN BIN ALI BIN HASYIM BIN AHMAD BIN ALWY BA’AGIL AL-ALAWY MUFTI MAZHAB SYAFI’I DI MEKKAH AL-MUKARRAMAH / Wafat tahun 1335 H / 1914 M.Sebenarnya, hadits yang tsabit dan shahih adalah hadits yang berakhir dengan wa ahli baity. Sedang yang berakhir dengan kata-kata wa sunnaty itu bathil (salah) dari sisi matan dan sanadnya.

Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah (tidak jelas sanadnya) yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.

Jika pecinta keluarga Muhammad saww disebut Rafidhah Maka, saksikanlah wahai Tsaqolan (jin dan manusia) bahwa diriku adalah Rafidhi. (Diwan imam Syafi’i ra Hal:55)

Lagi-lagi sebuah julukan yang masih juga diidentikan dengan Syiah. Istilah Rafidhah dipakai untuk para penentang kekuasaan tertentu yang berkuasa pada zaman itu. Para penguasa kala itu ingin menjadikan para penentangnya memiliki kesan buruk di hadapan publik, oleh karenanya melalui beragam propaganda mereka mencari julukan negatif bagi mereka yang tidak sejalan dengan pikirannya. Julukan rafidhah adalah salah satu predikat negatif yang diberikan oleh penguasa kala itu untuk para penentangnya. Mungkin pada masa itu, Rafidhah memiliki kemiripan dengan julukan ekstrimis atau teroris pada zaman sekarang ini. Julukan-julukan miring semacam itu sengaja dibikin oleh yang kuat terhadap yang lemah, yang mayoritas untuk yang minoritas, yang zalim untuk yang teraniaya (mazlum)…dsb.

Beberapa pihak yang tidak bertanggung-jawab ingin memberikan julukan miring tersebut untuk rival pemikirannya. Akhirnya, julukan Rafidhah diperluas pemakaiannya terhadap aliran pemikiran yang dianggap lemah, minoritas, teraniaya… untuk dijadikan sarana pengelabuhan kesadaran publik. Yang lebih fatal dari itu, sang pemakai istilah tersebut justru menyandarkan pemakaian julukan tersebut dengan landasan hadis-hadis dha’if yang dinisbatkan kepada Rasulullah saww. Lantas, siapakah gerangan yang dapat menjadi obyek empuk untuk gelar tersebut? Ya…! Siapa lagi kalau bukan Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mazhab al-Ja’fariyah, adalah sasaran empuk untuk mendapat predikat negatif itu.

Kenapa mesti Syiah al-Ja’fariyah? Salah satu penyebabnya adalah karena hanya Syiah Ja’fariyah satu-satunya mazhab yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak berpangku-tangan atas setiap perbuatan zalim yang dilakukan oleh individu manapun, termasuk para penguasa. Itu terbukti, baik jika dilihat dari teks ajaran mazhabnya, maupun pemaraktekkannya dalam kehidupan mereka. Dalam sejarah didapatkan bagaimana usaha mereka untuk menegakkan keadilan yang dipelopori oleh para imam suci mereka.

Para Syiah Ahlul Bait selalui berusaha mengkritisi sepak terjang para penguasa yang selalu cenderung bertentangan dengan ajaran Rasulullah saww, sementara di sisi lain mereka (imam-imam suci) juga menamakan dirinya sebagai khalifah (pengganti) Rasul. Hal inilah yang tidak disukai oleh para penguasa zalim –Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah– kala itu. Oleh karenanya, tekanan demi tekanan mereka lakukan untuk membendung tersebarnya ajaran Syiah. Mereka tak segan-segan melakukan pembantaian masal demi tercapainya tujuan mereka, dan kelangsungan dinasti mereka. Dari situlah terjawab sudah pertanyaan, kenapa Syiah selalu teraniaya dan minoritas? Namun, karena kehendak Ilahi, walau tekanan demi tekanan dari pihak musuh-musuh Islam beserta kaki-tangannya dengan gencar terus menghadangnya, mazhab ini makin eksis di tengah-tengah umat.

terminologi Rafidhah:

Dalam terminologi istilah Rafidhah, kata itu berasal dari kata ra-fa-dha yang berarti menolak dan meninggalkan sesuatu. Istilah ini sering diidentikkan dengan kaum Syiah Imamiah yang menolak akan kepemimpinan tiga khalifah pra-kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as, dan hanya mengakui kepemimpinan Ali as pasca wafat Rasulullah saww.[1] Abul-Hasan al-Asy’ary dalam kitab “Maqolat al-Islamiyin” menyatakan, julukan ini pertama kali dilontarkan oleh Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib atas para Syiah di kota Kufah. Masih menurut al-Asy’ary, pada mulanya, para Syiah di Kufah memberikan baiatnya kepada Zaid, namun mereka tidak konsekwen terhadap baiatnya. Mereka tidak mau mengindahkan perintah Zaid untuk tetap menghormati dan memuliakan Abu Bakar dan Umar.

Oleh karena itu, Zaid menjuluki mereka dengan sebutan Rafidhah.[2] Akan tetapi, pendapat ini memiliki banyak celah untuk dibatalkan, mengingat bahwa banyak pakar sejarah yang menyebutkan secara detail sejarah hidup terkhusus kesyahidan Zaid bin Ali, namun tidak satupun dari mereka yang menyebutkan akan hal pengungkapan Zaid di atas tadi. Selain dari itu, para ahli sejarah hanya menyebutkan bahwa para penghuni kota Kufah tidak mengindahkan kebangkitan Zaid bin Ali, dan membiarkannya bergerak sendiri tanpa bantuan penduduk Kufah.[3]

Hal itu sama persis sebagaimana yang terjadi pada kakek Zaid, Husein bin Ali as, cucu Rasulullaha saww. Husein bin Ali pada tragedi Karbala, tak dapat dukungan dari penduduk kota Kufah. Dengan demikian, penisbatan istilah itu yang bermula dari Zaid bin Ali sama sekali tidak berasas pada bukti sejarah yang kuat.

Di sisi lain, telah terbukti bahwa istilah Rafidhah digunakan untuk pribadi-pribadi yang meragukan legalitas kekuasaan suatu rezim dan pemerintahan tertentu. Jadi, istilah ini lebih bermuatan politis ketimbang teologis. Nasr bin Muzahim (Wafat tahun 212 H) dalam salah satu karyanya yang berjudul Waqoatu Shiffin menyatakan bahwa Muawiyah dalam suratnya yang ditujukan kepada Amr bin ‘Ash –yang saat itu tinggal di Palestina– menyebutkan: “Perkara tentang Ali, Thalhah dan Zubair telah kamu ketahui, namun (ketahuilah bahwa) Marwan bin Hakam telah bergabung dengan para Rafidhah (penentang) dari penduduk kota Bashrah, dan Jabir bin Abdullah telah melawan kita…”[4]

Dari sini ada beberapa poin yang dapat diambil pelajaran; Pertama, awal kemunculan istilah rafidhah sangat bermuatan politis, bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ihwal teologis. Muawiyah menyebut Marwan bin Hakam beserta para pendukungnya sebagai Rafidhah, karena ia telah bergabung dengan para penduduk kota Bashrah yang kala itu mayoritas tidak mengakui legalitas pemerintahan Ali as yang berpusat di kota Kufah. Kedua, istilah itu telah ada sebelum kelahiran Zaid bin Ali, bukan sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abul Hasan al-Asy’ary di atas.

 Pribadi-pribadi yang Dinyatakan Rafidhi pada Kitab-kitab Ahlussunnah

Julukan Rafidhah mempunyai konotasi miring. Orang akan enggan untuk dijuluki dengan sebutan itu. Pihak ketiga pun akan menghindar di saat bertemu orang yang dianggap memiliki gelar tadi. Itulah salah satu dampak negatif propaganda yang dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Walau mereka terbukti Syiah namun tetap saja hadis yang mereka bawakan tercantum dalam enam kitab induk Ahlussunnah. Sebagai contoh:

 1- Kendati Ibn Hajar menyatakan bahwa Ismail bin Musa al-fazazi sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Abi Dawud[5] juga Ibn Majah[6] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis yang ia bawakan.

 2- Meskipun Ibn Hajar menyatakan bahwa Bakir bin Abdullah at-Tha’i sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Muslim dalam kitab Shohih-nya[7] dan Ibn Majah dalam Sunan-nya[8] menukil hadis-hadis yang ia riwayatkan.

 3- Begitu juga dengan Talid bin Sulaiman al-Muharibi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah) oleh Abu Dawud, dimana ia berkata: “Ia adalah Rafidhi yang keji dan jelek, dan yang memusuhi Abu Bakar serta Umar”[9] Namun, at-Turmuzi dalam kitab Sunan-nya[10] tetap menukil hadis darinya.

 4- Ibn Hajar menyatakan bahwa Jabir bin Yazid al-Ju’fi adalah pengikut Syiah (Rafidhah)[11], namun Abu Dawud[12], Ibn Majah[13] dan at-Turmuzi[14] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis darinya.

 5- Dan masih banyak lagi pribadi-pribadi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah), namun hadis-hadisnya tetap tercantum dalam kitab-kitab standart Ahlussunnah. Seperti; Jumai’ bin Umair, Haris bin Abdullah al-Hamdani, Hamran bin A’yun, Dinar bin Umar al-Asadi…dsb.[15]

Hadis-hadis yang tidak jelas sanadnya tentang Rafidhah:

Setelah kita mengetahui bahwa istilah Rafidhah dipakai untuk para rival politik sebuah kekuasaan tertentu. Istilah itu mempunyai konotasi negatif bagi khalayak umum, berkat adanya propaganda para penguasa zalim pada abad-abad permulaan awal kemunculan Islam. Namun, lama-kelamaan istilah itu dipakai oleh para musuh Syiah untuk mengganyang Syiah, bahkan tak jarang mereka pun (para musuh Syiah) menyandarkannya pada hadis-hadis yang bermasalah dari sisi sanad hadis, yang berakhir pada peraguan dari sisi kesahihannya. Sebagai contoh, ada empat hadis yang bersumber dari Ibn Abi ‘Ashim tentang pencelaan terhadap Syiah.[16] Doktor Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qoffary dalam kitab Ushul Mazhab Syi’ah menyatakan bahwa Nashiruddin al-Bani[17] sendiri mengemukakan bahwa hadis-hadis yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim tadi jika dilihat dari sanad hadisnya amat lemah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah[18] yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.[19]

Salah satu riwayat yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah adalah hadis: “Aku beri kabar gembira engkau wahai Ali, engkau beserta para sahabatmu adalah (calon) penghuni Surga. Namun, ada sekelompok orang yang mengaku sebagai pecinta-mu padahal mereka adalah penentang (penolak) Islam. Mereka disebut ar-Rafidhah. Jika engkau bertemu dengan kelompok tersebut maka perangilah mereka, karena mereka telah musyrik. Aku (Ali) berkata: Wahai Rasulullah, apakah gerangan ciri-ciri mereka? Beliau menjawab: “Mereka tidak menghadiri (shalat) Jum’at dan jama’ah, dan mencela para pendahulu (salaf)” [20] oleh as-Syaukani, hadis ini dikategorikan sebagai hadis Maudhu’ (buatan).[21]

Contoh lain dari hadis tentang Rafidhah adalah hadis yang dinukil oleh at-Tabrani bahwa Rasul bersabda: “Wahai Ali, akan datang pada umat-ku suatu kelompok yang mengaku sebagai pecinta Ahlul-Bait, bagi mereka …., mereka disebut Rafidhah. Bunuhlah mereka, karena mereka telah kafir”. Akan tetapi, dikarenakan sanad hadis ini diriwayatkan oleh orang-orang seperti Hajjaj bin Tamim yang sama sekali tidak dapat dipercaya, maka hadis ini masuk kategori hadis Dza’if (lemah).[22]

Dalam kitab ad-Dala’il disebutkan bahwa Al-Baihaqi setelah menukil hadis Marfu’ yang bersumber dari Ibn Abbas tentang celaan terhadap Rafidhah, menyatakan: “Banyak sekali hadis-hadis serupa tentang hal yang sama dari sumber-sumber yang berbeda, namun kesemua sanad-nya tergolong lemah”[23]

Dan masih banyak lagi beberapa ulama hadis dari Ahlussunnah yang menyatakan kelemahan hadis-hadis berkaitan dengan Rafidhah yang kebohongan itu disandarkan kepada Rasulullah. Bisa dilihat kembali karya-karya ulama Ahlussunnah seperti karya kepunyaan al-‘Aqili yang berjudul ad-Dhu’afa’, Ibn Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyyah ataupun al-Maudhu’aat.

Dari sini jelaslah, bahwa istilah Rafidhah adalah istilah murni politis dan tidak ada kaitannya dengan pembahasan teologis, termasuk masalah kekhilafahan pasca Rasul. Namun istilah itu dinisbatkan untuk para pecinta Ahlul-Bait (Syiah) oleh para pembenci Syiah. Mereka dalam kasus pemaksaan gelar Rafidhah untuk kelompok Syiah, tidak segan-segan menggunakan kebohongan atas nama Rasulullah saww. Bukankah kebohongan atas diri Rasul merupakan bagian dari menyakiti Rasul? Dan menyakiti Rasul termasuk dosa besar, yang pantas dilaknat oleh Allah?[24] Bukankah kebohongan atas Rasul juga berakibat kebohongan atas segenap kaum muslimin? Mengingat kaum muslimin sampai akhir zaman akan selalu mengikuti hadis-hadis Rasulullah[25] Membenarkan, memegang erat dan mengajarkan hadis palsu –atas dasar pengetahuannya– adalah termasuk sesat dan menyesatkan. Oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk menghindarinya seoptimal mungkin agar tidak termasuk orang yang sesat dan menyesatkan.

Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (al-Hujuraat :11)

____________________________________________________________________

Catatan Kaki:

[1] Al-Asy’ary, Abul-Hasan, Maqolat al-Islamiyin, Jil:1 Hal:88-89

[2] Ibid, Hal:138

[3] Amin, Muhsin, A’yan as-Syi’ah, Jil:1 Hal:21

[4] Al-Manqory, Nasr bin Muzahim, Waqoatu Shiffin, Hal:29

[5] Sunan Abi Dawud, Jil:4 Hal:165 Hadis ke-4486

[6] Sunan Ibn Majah, Jil:1 Hal:13 Hadis ke-31

[7] Shohih Muslim, Jil:1 Hal:529, Kitab Sholat Musafirin wa Qoshruha

[8] Sunan Ibn Majah, Jil: 1 Hal:170, Kitab at-Thoharoh

[9] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:322

[10] Sunan at-Tirmizi, Jil:5 Hal:616, Kitab al-Manaqib hadis ke-3680

[11] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:468 No:879

[12] Sunan Abu Dawud, Jil:1 Hal: 272, Kitab as-Sholat Hadis ke-1036

[13] Sunan Ibnu Majah, Jil:1 Hal:381 Hadis ke-1208

[14] Sunan at-Turmuzi, Jil:2 Hal:200, Bab: “Maa Jaa’a fi al-Imam yanhadhu fi ar-Rak’atain naasiyan”

[15] Untuk lebih detailnya, lihat kitab “al-Muraaja’aat” karya Syarafuddin al-Musawi.

[16] Lihat: Ibn Abi ‘Ashim, as-Sunnah, Jil:2 Hal:475

[17] Seorang ahli hadis terkemuka dari kalangan salafi (wahabi).

[18] Hadis marfu’ adalah hadis yang tidak jelas sanadnya.

[19] Ushul Mazhab as-Syiah, bagian Sejarah Syiah (Tarikh as-Syiah)

[20] Ibid: Jil: 2 Hal: 475

[21] Al-Ahadist al-Maudhu’ah, Hal:380

[22] Taqrib at-Tazhib, Jil:1 Hal:152

[23] ad-Dala’il, Jil:6 Hal:548

[24] Lihat Q S al-Ahzab :57

[25] Lihat Q S ali-Imran :61

  
Asal-usul Daulah Abbasiyah
Nama pamannya Al-Abbas bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf . Pusat daulah Abbasiyah di Baghdad.
,
Faktor Pendukung Berdirinya Daulah Abbasiyah
o   Ada dukungan dari kaum Mawali (orang-orang Arab yang memeluk Islam). Kaum Mawali kecewa kepada Bani Umayyah, karena kaum mawali diberlakukan tidak adil .
o   Ada dukungan dari para Ulama. Kaum Mawali kecewa pada Umayyah karena tidak ada perkembangan agama islam, tidak mementingkan SDM
o   Masyarakat pada saat itu, ingin punya pemimpin yang adil, karena mayoritas khalifaBani Umayyah tidak adil.
o   Adanya persaingan antara orang-orang arab. Arab Utara (Bani Qais) dan Arab Selatan (Bani Kalb)
.
    LANGKAH YANG DILAKUKAN AL-ABBAS DALAM MEREBUT KEKUASAAN
Langkah yang dilakukan al-abbas dalam merebut kekuasaan adalah dengan cara : Melakukan propaganda (isu-isu) hasut dari mulut ke mulut .
Isi propaganda :
-          Apabila Abbasiyah jadi khalifah, nanti khalifahnya keturunan Rasul tanpa menyebutkan namanya. Keuntungan tidak menyebutkan namanya :
gerakan tidak akan terhenti dengan kematian tokoh tersebut”
.
   

SILSILAH BANI ABBAS

Abdi Manaf
Hasyim
Abdul Mutholib
Abdullah – Abbas – Abu Thalib
Muhammad – Abdullah – Ali bin Abi Thalib
Ali
Muhammad
Ibrohim al-Imam

  1. Abu Abbas ( 132-136 H = 750-754 M)
  2. Abu Ja’far al-Mansur (136-158 H = 754-775 M)
  3. Al-Mahdi (158-169 H = 775-785 M)
  4. Musa al-Hadi ( 169-170 H = 785-786 M)
  5. Harun ar-Rasyid (170-193 H = 786-809 M)
  6. al-Amin ( 193-198 H = 809-813 M)
  7. al-Makmun (198-218 H = 813-833 M)
  8. al-Mu’tasim (218-227 H = 833-842 M)
  9. al-Watsiq (227-232 H = 842-847 M)
-          Sesudah al-Watsiq masih ada 28 khalifah lagi yang memerintah .
-          Tanda panah ke bawah menunjukan garis keturunan
-          Angka menunjukan urutan kekhalifahan
.
PERIODISASI MASA KEKHALIFAHAN BANI ABBAS
1.       Periode I   (132-232 H = 750-847 M) : pengaruh Persia I
2.       Periode II  (232-334 H = 847-945 M) : pengaruh Turki I
3.       Periode III (334-447 H = 945-1055 M) : pengaruh Persia II (Bani Buwaihi)
4.       Periode IV (447-590 H = 1055-1194 M) : pengaruh Turki II (Bani Saljuk)
5.       Periode V  (590-656 H = 1194-1258 M) : tanpa pengaruh, tapi kekuasaannya hanya sekitar Baghdad.

.

Inilah Tahun Lahir dan wafat Khulafaur rasyidin Syi’ah
Imamiyah Itsna Asyariah ( kecuali Imam Mahdi ) :
1.KHALiFAH Ali bin Abi Thalib : 600–661 M atau 23–40 H Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. ..Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk  dengan pisau beracun..

Pembunuhan beliau akibat politik adu domba (devide it impera) yang dilakukan Mu’awiyah bin Abu Sofyan untuk memecah belah pendukung Imam Ali…

Padahal meninggal kan itrah ahlul bait = meninggal kan QURAN,
itrah ahlul bait dan Quran adalah satu tak terpisahkan !
Aswaja Sunni meninggalkan hadis 12 imam lalu berpedoman pada sahabat yang cuma sebentar kenal Nabi seperti Abu hurairah dan ibnu Umar
.
Menurut ajaran sunni :
- Imam Ali berijtihad
– Mu’awiyah berijtihad
– Jadi keduanya benar ! Pihak yang salah dapat satu pahala !
Pihak yang benar ijtihad dapat dua pahala

Ajaran sunni tersebut PALSU !! Ijtihad yang salah lalu si mujtahid berpahala hanya pada

PERKARA/MASALAH yang belum ada nash yang terang, misal :Apa hukum melakukan bayi tabung pada pasangan suami isteri yang baru setahun nikah dan belum punya anak ??

Mu’awiyah membunuh orang tak berdosa, Aisyah membunuh orang yang tak berdosa !! Dalam hukum Allah SWT : “”hukum membunuh orang yang tak berdosa adalah haram”” ( nash/dalil nya sudah terang dan jelas tanpa khilafiyah apapun yaitu QS.An Nisa ayat 93 dan Qs. Al hujurat ayat 9 ) …

Membunuh sudah jelas haram, jika saya membunuh ayah ibu anda yang tidak berdosa lalu saya katakan bahwa saya salah ijtihad, apakah murid TK tidak akan tertawa ???????

Nabi SAW saja pernah bersabda : “” Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangan nya”” … Tidak ada istilah kebal hukum didepan Nabi SAW

saudaraku…. 

Tanggapan syi’ah tentang bai’at Imam Ali :

Imam Ali r.a dan Syiah membai’at Abubakar sebagai sahabat besar dan pemimpin Negara secara the facto, seperti hal nya anda mengakui SBY sebagai Presiden R.I…

Saudaraku..

- Imam Ali terpaksa membai’at Abubakar karena ingin memelihara umat agar tidak mati sia sia dalam perang saudara melawan Pasukan Abubakar dibawah pimpinan Khalid Bin Walid yang haus darah

- Dengan mengalah Imam Ali telah menyelamatkan umat Islam dari kehancuran..Kalau perang saudara terjadi dan imam Ali tidak membai’at Abubakar maka tidak ada lagi Islam seperti yang sekarang ini

Akan tetapi…..

syi’ah dan Imam Ali tidak mengakui tiga khalifah sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ( imamah ) seperti halnya anda menginginkan Presiden R.I mestinya adalah orang yang berhukum dengan hukum Allah..

Karena keimamam itu bukanlah berdasarkan pemilihan sahabat Nabi SAW, tapi berdasarkan Nash dari Rasulullah SAW… Apa bukti Ahlul bait sampai matipun menolak Abubakar sebagai pemimpin keagamaan dan pemimpin negara secara yuridis ??? Ya, buktinya Sayyidah FAtimah sampai mati pun tidak mau memaafkan Abubakar dan Umar cs

2.KHALiFAH Hasan bin Ali : 624–680 M atau 3–50 H
Diracuni oleh istrinya di Madinah atas perintah dari Muawiyah I
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak

3.KHALiFAH Husain bin Ali : 626–680 M atau 4–61 H
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah..Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.

4.KHALiFAH Ali bin Husain : 658-712 M atau 38-95 H
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah…wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah,

5.KHALiFAH Muhammad al-Baqir : 677–732 M atau 57–114 H
Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

6. KHALiFAH Ja’far ash-Shadiq : 702–765 M atau 83–148 H
beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah..Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia

7.KHALiFAH Musa al-Kadzim : 744–799 M –atau 128–183 H
Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad

8.KHALiFAH Ali ar-Ridha : 765–817 atau 148–203 H
beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran.

9.KHALiFAH Muhammad al-Jawad : 810–835 M atau 195–220 H
Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim.

10.KHALiFAH Ali al-Hadi : 827–868 M atau 212–254 H
beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz

11.KHALiFAH Hasan al-Asykari : 846–874 M atau 232–260 H
beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid.
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid

12.KHALiFAH Mahdi : Lahir tahun 868 M atau 255 H
beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan yang akan muncul menjelang akhir zaman.. Sebelum beliau muncul, Iran menyiapkan “Fakih yang adil” sebagai pengganti sementara, misal : Ayatullah Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei

===============================================================================================================================================================
CARA SiSTEMATiS UMAYYAH ABBASiYAH MEMALSU AGAMA

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka

(9) Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara

(10) Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror dan menyiksa pengikut/pendukung mereka (syi’ah)

(11)Mereka mempropagandakan dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

(12) sebuah institusi sangat penting dalam sejarah perkembangan sekte Sunni, yakni Universitas Nizamiyya, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk yang berkuasa tahun 1063 M/465 H. Inilah universitas yang didirikan oleh perdana menteri dinasti Saljuk yang sangat cinta ilmu itu untuk menyebarkan doktrin Sunni, terutama Ash’ariyyah dan Syafi’i . Di universitas itu, beberapa ulama besar yang sudah kita kenal namanya sempat melewatkan waktu untuk mengajar, seperti Imam Ghazali dan gurunya, Imam al-Juwayni. Karena faktor DUKUNGAN PENGUASA mazhab sunni bisa cepat tersebar

.

Beda utama Syi’ah – Sunni :
Sunni :
1. Nabi SAW tidak menunjuk siapa pengganti nya
2. Fokus pedoman : Sahabat
3. Semua sahabat adil

Mu’awiyah di dalam khutbahnya dishalat Jum’at telah mengutuk ’Ali, Hasan dan Hussein. Mu’awiyah juga mengintruksikan didalam semua forum jamaah ketika dia berkuasa supaya mengutuk manusia yang suci itu (baca keluarga Rasul) Justru itu siapapun yang bersatupadu dengan manusia yang terkutuk itu (baca Mu’awiyah) dan merasa senang dengan tindakan mereka (baca komunitas Mu’awiyah) tidak pantaskah untuk dikutuk? Dan ketika dia sedang bersekutu dengan manusia seperti itu, jika dia membantu mereka dalam memalsukan Hadist dari Ahlulbayt (keluarga/keturunan Rasul) dan memaksakan manusia untuk melakukan kutukannya kepada manusia suci ini (baca ’Ali, Fatimah, Hasan dan Husen),

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

====================================================

MASALAH   KHALiFAH

Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah  itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku

Hanya karna dukungan politik dari ulama ulama Bani Umayyah dan  ulama ulama  Bani Abbasiah keempat mazhab aswaja sunni   dapat berkembang ditengah masyarakat ( Silahkan lihat dikitab Ahlu Sunnah, Al Intifa’Ibnu Abdul Bar, Dhahral Al Islam Ahmad Amin dan manakib Abu Hanifah Al Muwafiq )

 saudaraku….

banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar  -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Bila Imam Ali(as) Diiktiraf Sebagai Khalifah Rashid Oleh Sunni?

Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala

Agak mengejutkan juga apabila saya menemui satu riwayat, yang menunjukkan pada asalnya, Ahlul Sunnah wal Jamaah tidak mengiktiraf  Sayyidina Ali sebagai khalifah ar Rashidin. Nama Imam Ali(as) baru dimasukkan sebagai khalifah yang adil di zaman Imam Ahmad bin Hanbal

.

Di dalam kitab Tabaqat, yang dianggap oleh ulama’ bermazhab Hanbali sebagai rujukan utama mereka, Ibn Abu Ya’li menyatakan bahawa Wadeezah al-Himsi berkata

:

‘Saya menziarahi Ahmad ibn Hanbal, setelah penambahan nama Ali [ke dalam urutan nama Khalifah yang tiga [Khalifah yang adil]. Saya berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdullah! Apa yang telah kamu lakukan adalah memburukkan kedua mereka Talhah dan al-Zubayr!
.
Ahmad berkata: ‘Janganlah membuat kenyataan yang jahil! Apa yang ada kena mengena dengan kita mengenai peperangan mereka, dan kenapa kamu menyebutnya sekarang?’
Saya berkata: ‘Semoga Allah memandu kamu kepada kebenaran, kami menyatakannya setelah kamu menambah nama Ali dan memberi mandat kepadanya [dengan sanjungan] sebagai Khalifah sebagaimana yang telah dimandatkan kepada Imam-imam sebelumnya!’ 
.
Ahmad berkata: ‘Dan apa yang akan menahan saya dari melakukannya?’
.
Saya berkata: ‘Satu hadits yang disampaikan oleh Ibn Umar.’ 
Dia berkata kepada saya: ‘Umar ibn al-Khattab adalah terlebih baik dari anaknya, kerana dia menerima [i.e mengesyor] Ali sebagai Khalifah ke atas Muslim dan menyenaraikan beliau di antara mereka-mereka ahli syura, dan Ali merujuk dirinya sebagai Amirul Mukminin; adakah saya yang akan mengatakan bahawa mereka yang beriman tidak mempunyai pemimpin?!’ Maka saya pun pergi.[Tabaqat al-Hanabila, jilid 1 ms 292]
.

Dari riwayat ini, dapat kita lihat bahawa dari zaman tabiin, nama Imam Ali(as) pada asalnya bukanlah tersenarai sebagai para khalifah yang benar. Pegangan mereka ini, berkemungkinan besar disebabkan oleh suasana politik yang tidak menyebelahi Ahlulbait(as). Lihat sahaja hadis Ibnu Umar(ra):

Abdullah ibn Umar berkata: ‘Semasa hidup rasul Allah, kami menganggap Abu Bakr paling utama, kemudian Umar ibn al-Khattab, kemudian Uthman ibn Affan, semoga Allah merasa senang dengan mereka’.[Al-Bukhari, sahih jilid 4 ms 191, jilid 4 didalam buku pada mula kejadian didalam bab mengenai kemuliaan Abu Bakr yang hampir sama dengan kemuliaan para rasul]

Persoalannya, di mana Imam Ali di sisi mereka? Mengapa Ibnu Umar meninggalkan Imam Ali(as)? Mungkin pihak Sunni boleh tolong menerangkan hadis ini. Riwayat seperti ini kerap dijumpai di dalam kitab Sunni.

كنا نفاضل على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم نسكت

“Kami mengutamakan di zaman Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam Abu Bakr, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian kami diam” [Diriwayatkan dalam Shahih Ibnu Hibban no. 7251, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/9, Musnad Ahmad 2/14 no 4626, As Sunnah Ibnu Abi ‘Aashim no. 1195, dan Mu’jam Al Kabir Ath-Thabaraniy 12/345 no. 13301: shahih]

.

Ternyata di sini, dari awal lagi, Imam Ali(as) tidak mendapat kemuliaan yang sepatutnya di sisi sesetengah para sahabat dan perkara ini menjadi asas kepada generasi para tabiin untuk tidak memasukkan nama Ali sebagai sebahagian para khalifah yang adil. Tambahan pula, ketika itu, wujudnya pemerintahan yang sangat membenci Ahlulbait dan para pengikut mereka. Sesiapa yang meriwayatkan keutamaan Ahlulbait(as) boleh dituduh sebagai Rafidhah Zindiq.

Oleh kerana Imam Ali tidak dianggap sebagai seorang sahabat yang utama, tidak hairanlah nama beliau boleh dilaknat dari mimbar selama 80 tahun. Nauzubillah.

Oleh itu, saya menanti penjelasan berkaitan riwayat-riwayat ini, walaupun saya tahu, jawabannya hanyalah berbentuk basa basi, dan penakwilan makna, agar dapat menyedapkan telinga sahaja, tanpa sebarang nilai ilmiah. Aqidah Ahlul Sunnah yang asal berittikad bahawa Imam Ali(as) hanyalah seorang sahabat yang biasa tanpa keutamaan yang besar. Riwayat di atas adalah hujahnya.

Peran Rasulullah Saw dan Ahlul Bait dalam membimbing dan memberi petunjuk umat manusia sepanjang sejarah tidak dapat dipungkiri. Ahlul Bait di samping al-Qur’an menjadi rujukan lain bagi umat untuk menimba pengetahuan. Berdekatan dan berinteraksi dengan Ahlul Bait merupakan harapan umat Islam sejak dulu, khususnya bagi mereka yang memahami posisi tinggi manusia suci ini baik keilmuan maupun ketakwaannya.

Imam Musa Kazim, salah satu keturunan Rasulullah dilahirkan pada tahun 128 H di desa Abwa, antara Mekah dan Madinah. Di usia 20 tahun, setelah kesyahidan ayahnya, Imam Sadiq as, beliau memegang kendali untuk membimbing umat. Masa keimamahan Imam Kazim 35 tahun. Selama itu, beliau menghadapi berbagai peristiwa bersejarah dan poliitk. Bersamaan dengan keimamahan Imam Kazim, dinasti Abbasiyah kian ketat mengawasi rakyat dan memberlakukan berbagai peraturan mengikat.

Fase kehidupan Imam Kazim di era pemerintahan dinasti Abbasiyah dipenuhi tekanan dan pembatasan ekstra dari pemerintah. Hal ini memaksa Imam menghabiskan sebagian usianya di penjara Harun al-Rashid, khalifah Bani Abbasiyah. Akhirnya beliau pun tak lolos dari kejahatan Bani Abbasiyah dan beliau gugur syahid di usia 55 tahun karena diracun Harun al-Rashid. Beliau dimakamkan di Kazimain, dekat kota Baghdad Irak dan kini menjadi salah satu tempat ziarah umat Islam yang termashur di negara ini.

Mengingat kondisi yang sulit di masa pemerintahan Bani Abbasiyah, Imam Kazim memprioritaskan untuk memperbaiki ideologi dan budaya umat demi mencegah penyelewengan serta bid’ah di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Imam sepanjang hidupnya aktif memberikan arahan dan petunjuk tentang ajaran murni Islam yang beliu warisi dari kakeknya, Rasulullah Saw.

Ibnu Hajar Haitsami, salah satu pemuka Ahlu Sunnah berkata, Musa Kazim pewaris ilmu-ilmu dari ayahnya dan memiliki keutamaan serta kesempurnaan. Beliau mendapat gelar Kazim karena kesabaran beliau menghadapi cacian dan kelapangan beliau memaafkan orang yang bersalah kepadanya. Di zamannya, tidak ada orang yang menandinginya baik dari sisi keilmuan maupun ketakwaan.

Imam Kazim hidup di tengah-tengah penguasa yang kejam dan menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya termasuk menumpas habis para penentangnya. Meraka mengatasnamakan Islam untuk berkuasa, namun perilaku mereka sangat bertentangan dengan ajaran Islam sendiri. Hal inilah yang membuat mereka merasa was-was terhadap keturunan Rasulullah. Dengan demikian seluruh khalifah Bani Abbasiyah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membatasi gerak Ahlul Bait.

Imam Kazim dengan berbagai cara menjelaskan kepada umat sistem politik dan sosial ideal berdasarkan ajaran Islam. Di sisi lain, masyarakat pun akhirnya memahami bahwa kinerja pemerintahan Bani Abbasiyah bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sementara itu, Harun al-Rashid menempuh berbagai strategi untuk menjauhkan Imam dari umat. Misalnya, dengan berbagai alasan, ia menjebloskan Imam Kazim ke penjara dengan harapan masyarakat terputus komunikasinya dengan beliau.

Imam di saat-saat sulit seperti itu masih tidak melupakan kewajibannya membimbing umat serta memperingatkan mereka dari bid’ah yang menjamur kala itu. Arahan dan bimbingan Imam tentu saja sangat berpengaruh bagi masyarakat. Hisham bin Hakam adalah salah satu murid Imam Kazim. Ia banyak meninggalkan karya di berbagai ilmu. Imam kerap memberi nasehat kepada Hisham, salah satunya berkenaan dengan dunia dan akhirat. Beliau berkata, bukan dari kami orang yang rela menjual akhiratnya demi dunia atau sebaliknya (Tufahul Uqul hal 433)

Pembahasan soal agama dan dunia merupakan polemik di diskusi-diskusi keislaman sejak dulu. Apakah agama dan dunia saling bertentangan atau saling melengkapi ? Dengan kata lain, apakah seorang agamawan dan lebih memilih akhirat berarti melepaskan kenikmatan duniawi serta memutus hubungan dengan dunia ? Dalam pandangan Imam Kadzim, dunia dan akhirat bukan hanya tidak dapat dipisahkan, namun keduanya juga sangat erat berhubungan.

Dengan demikian, dunia merupakan kesempatan dan medan bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan. Keberadaan manusia di dunia karena mereka dipersiapkan untuk menjadi wakil Tuhan. Oleh karena itu, dunia menjadi arena persaingan dan usaha untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Menurut Imam Kadzim, sikap ifrat dan tafrit (berlebih-lebihan) dalam masalah dunia dan akhirat berarti seseorang telah keluar dari jalan Ahlul Bait. Dunia akan menjadi hina ketika ia dijadikan sebagai tujuan oleh manusia dan manusia sangat bergantung dengannya. Ketika itu, dunia berubah menjadi arena yang melalikan manusia, bukannya tempat untuk mencapai kesempurnaan.

Masyarakat ideal dalam pandangan Ahlul Bait adalah masyarakat yang mampu menyeimbangkan antara akal, perasaan, ibadah, agama dan dunia serta tidak berlebih-lebihan dalam menggunakannya. Di sisi lain, terkait dunia yang menjadi dasarnya adalah ajaran agama. Dari sinilah kita saksikan Imam Kazim memprotes sikap Safwan bin Mahran yang menyewakan unta-untanya kepada Harun al-Rashid, pemimpin zalim untuk pergi haji. Beliau berkata, “Wahai Safwan tindakanmu terpuji kecuali ketika kamu menyewakan untamu kepada Harun al-Rashid.”

Sepintas Safwan ketika bertransaksi dengan Harun hanya sekedar transaksi ekonomi. Namun dalam pandangan agama, transaksi ekonomi yang dilakukan dengan pemimpin zalim akan merusak kebahagiaan akhirat seseorang. Ini adalah masalah yang senantiasa diperingatkan Imam Kazim dengan sabda beliau, Wahai manusia ! berhati-hatilah, jangan kalian rusak akhiratmu dikarenakan dunia. Artinya jangan kalian tenggelam dalam kenikmatan duniawi sehingga kalian melupakan tujuan utama hidup kalian di dunia ini.

Berkenaan dengan para penguasa zalim Imam Kazim a.s. berkata: “Barang siapa yang menghendaki mereka tetap hidup, maka ia termasuk golongan mereka. Dan barang siapa yang termasuk golongan mereka, maka ia akan masuk neraka”. Dengan demikian, Imam telah menentukan sikap tegas terhadap pemerintahan Harun al-Rashid, mengharamkan kerja sama dengannya dan melarang para pengikutnya untuk bergantung kepada pemerintahannya.

Sementara itu, Harun terus berupaya bagaimana caranya membunuh Imam Musa. Suatu hari, dia mengutus Yahya bin Khalik ke penjara. Tugas yang diemban Yahya adalah meminta Imam untuk tidak menentang Khalifah dan menawarkan pengampunan serta pembebasan kepada beliau. Namun, Imam menolak semua tawaran itu.

Imam as menulis sepucuk surat kepada Harun yang berbunyi, “Setiap hari kulalui dengan kesusahan, sementara kau lalui hari-harimu dengan kesenangan. Lalu, kita akan sama-sama mati. Hingga di suatu hari yang tiada akhirnya, kelak kita diberdirikan di hadapan Mahkamah Ilahi, ketika orang-orang licik hanya akan menjadi pecundang dan terhinakan.”

Alasan Harun mengapa dia harus memindahkan Imam Musa as dari satu penjara ke penjara lain tidak ada lain adalah karena permintaannya kepada setiap kepala penjara untuk membunuh Imam, namun mereka tidak bersedia untuk memenuhi permintaan tersebut. Hingga akhirnya Sindi yang berhati keras itu bersedia untuk meracun Imam as. Maka, di dalam penjara Sindi-lah beliau meninggal akibat racun yang dibubuhkan ke dalam makanan beliau, tepatnya pada tahun 183 H.

Harun dengan menggunakan saksi-saksi palsu dan orang-orang bayaran mencoba menunjukkan kepada khalayak, bahwa kematian Imam Musa adalah sebuah kematian yang wajar dan alamiah. Siasat licik dan keji ini digunakan untuk menghindari pemberontakan sahabat-sahabat dan orang-orang setia Imam. Namun, segala kelicikan dan siasat Harun sia-sia belaka. Seorang lelaki bernama Sulaiman malah memimpin pemberontakan di Baghdad.

Walid bin Uqbah sahabat Nabi yang pemabuk yang disebut Al Quran sebagai fasik justru diangkat oleh Usman bin Affan sebagai gubernur Kufah

Al Quran menyatakan dalam Qs.Al-Hujarat: (49): 6 bahwa Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’it adalah Sahabat Nabi yang fasik  Khalifah Uthman melantik beliau sebagai gubernur di Kufah !! Apakah Tuhan menyuruh anda mengikuti al-Walid bin Uqbah yang sembahyang Subuh empat rakaat kerana mabuk ?? 

Zaman  Usman : Sahabat  Walid  Bin Uqbah Meminum  Khamar… Wow, Sunni  Menyuruh Kita Mempedomani  Sahabat  Pecandu  Miras… Itukah  Sahabat Adil ??

Sahabat Agung Kebanggaan Ahlusunnah ! Allah SWT Menyebut al Walîd bin Uqbah Dengan Gelar Si Fâsiq ! Kegemaran  al Walîd bin Uqbah Mabok-mabokan Yang Mendarah Daging!
dukung.JPG

Walid bin Uqbah

Utsman juga mengangkat Walid bin Uqbah sebagai gubernur Kufah, padahal Walid bin Uqbah, pada masa Nabi Saw disebut al-Quran sebagai seorang fasik seperti yang diungkapkan dalam ayat Quran (QS al-Hujurat [49] ayat 6). Suatu waktu Nabi Saw mengirimkan Walid bin Uqbah ke Bani Musthaliq untuk mengumpulkan zakat, padahal sebelum Walid menjadi Muslim, dia adalah orang yang tidak disukai suku itu (Bani Musthaliq).Belum lagi sampai di tujuan, Walid mengubah pikirannya, karena dia takut dibunuh oleh orang-orang Bani Musthaliq. Walid pun kembali kepada Rasulullah dan berbohong kepada Rasulullah bahwa suku Bani Musthaliq menolak memberikan zakat..Mendengar hal ini Rasulullah Saw marah dan sempat ingin bertindak lebih jauh, namun Allah Swt segera mencegahnya dengan menurunkan ayat (QS 49:6) demi membongkar kebohongan Walid.

.

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al-Hujurat [49]:6) [Jalaluddin Al-Suyuthi, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, ayat QS 49:6]

.

Pada masa berkuasanya Utsman bin ‘Affan, suatu ketika, Walid yang diangkat menjadi Gubernur Kufah mengimami shalat subuh dalam keadaan mabuk khamr, dan melakukan shalat subuh 4 rakaat. Bahkan dia berkata kepada makmum, akan menambahkan rakaatnya jika dia mau. [Abu A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, Penerbit Mizan.] Inilah profil salah seorang sahabat yang dikatakan Al-Qur’an sebagai FASIQ!

.

Bahkan seorang sarjana ternama Muslim Sunni, Al-Syahid Sayyid Quthb, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas fakta sejarah ini. Sayyid Quthub menulis, “Adalah celaka sekali bahwa kekuasaan kekhalifahan diberikan kepada Utsman yang pada saat itu telah tua renta, lemah semangat juangnya untuk menegakkan Islam, tak berdaya menentang tipu daya pembantunya, Marwan bin Hakam serta pendukungnya, kaum keluarga Ummayyah.” [Sayyid Quthb, Keadilan Sosial Dalam Islam, hlm. 270, Penerbit Pustaka Bandung, Cet. I, 1984.]

.

“…tetapi sejarah juga sulit untuk memaafkan kesalahannya (Utsman bin Affan) akibat usianya yang telah sangat tua dan fisiknya yang sudah lemah, terombang-ambing dalam pengaruh buruk Bani Umayyah.” [Ibid, hlm. 272.]

.

Ketika para shahabat yang shalih masih hidup mengapa kedudukkan-kedudukkan penting justru diberikan kepada orang-orang berperilaku buruk seperti itu? Jawaban obyektifnya adalah agar sang khalifah dengan mudah mempunyai kesempatan untuk memberikan kekuasaan yang langgeng bagi Bani Umayyah. Inilah suatu kaum yang di dalam sejarahnya berambisi untuk memadamkan Cahaya Islam, yang mendapatkan kesempatan secara mulus dari para khalifah-khlaifah sebelumnya untuk berkuasa dan menghancurkan Islam dari dalam.

.

Dan saat itu pula musuh bebuyutan mereka, Bani Hasyim tidak lagi memiliki kekuatan yang berarti setelah pertahanan ekonomi mereka (Fadak) dirampas, dan posisi-posisi penting mereka dan para pendukung mereka berhasil digusur. Kemutlakan pilih kasih telah diberikan kepada Bani Umayyah dan menghapus segala kemungkinan Bani Hasyim dapat meraih kekhalifahan.

.

Utsman telah memberikan khumus (20%) dari rampasan perang dari expedisi pertama ke Afrika kepada saudara lelakinya, Abdullah ibn Abu Sarh. Marwan bin Hakam memperoleh khumus (20%) dari expedisi ke 2 Afrika. Dan akhirnya khalifah memberikan kepadanya keseluruhannya (100%). [Tarikh Ibn al Athir Volume 3 page 49 publishers, Dar ul Kitan al Lubnani, 1973.]

.

* Tanah Fadak yang merupakan milik Rasulullah Saw, yang disita Abu Bakar dari tangan Sayyidah Fathimah, akhirnya diberikan Utsman kepada Marwan.

[Ibn Qutayba, Al Ma'arif, p. 190 edited by Tharwat 'Ukasha, Cairo edition 1960.]

.

* Utsman juga memberikan sepupunya, Harits hadiah yaitu, unta-unta yang telah dikumpulkan sebagai zakat dan pajak, lalu membawa unta-unta itu ke Madinah. [Ansab al-Ashraf, Baladhuri, Vol 5 p 28, edited by S.D.F. Goitein Jerusalem 1936.]

.

* Apakah hal ini tidak mengundang keingintahuan, bahwa Abu Bakar telah menetapkan Fadak menjadi milik negara, lalu ‘diberikan’ kepada Marwan? Utsman telah memberikan Zakat dari Qud’ah yang berjumlah 300.000 dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 1, p. 193, Dar al- Ma’arif, Egypt, 1953] dan Abdul Rahman bin Auf 3 juta dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 3, p. 126, Dar al-Ma'arif, Egypt 1953]

.

Mungkin menurut Umar bin Khaththab hal ini dipandang sebagai alternatif, setelah menyadari ketamakan Bani Umayyah, dengan dalih agar tidak terjadi perang saudara (antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim) dan menjaga persatuan umat Islam secara keseluruhan.

Tidak bisa dibantah, mengapa Umar bin Khaththab tidak menganugerahkan kekhilafahan kepada putranya, Abdullah bin Umar? Ternyata Umar mempunya visi yang terlalu jauh untuk ini.

.

Dia menyadari jika dia memberikan kekhalifahan kepada putranya, Abdullah bin Umar, dia akan mendapatkan ancaman kekuasaan dari Bani Umayyah, sehingga dengan terpaksa dia memberikannya kepada Banu Umayyah, yang dia ketahui sangat haus kekuasaan. Pada kenyataannya, dia telah membuat putranya sendiri, Abdullah bin Umar mesti memutuskan pemilihan suara dalam Dewan Syura yang sudah disiapkan Umar bin Khaththab sedemikian rupa agar Utsman bin Affan unggul dalam pemilihan tersebut.

.

Dengan cara ini, putra Umar, Abdullah bin Umar menjadi sekutu dekat dengan Bani Umayyah dan menjadi seorang musuh yang pahit bagi putra-putra Imam Ali, khususnya Imam Husain (as)

.

dukung.JPG

 

Usman memberi keutamaan kepada anggota sukunya atau menunjuk keluarga nya untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Utsman, Ia hidup dalam  kemewahan. la menunjuk anggota dari sukunya (Umayah) untuk menduduki posisi yang penting dan kuat dalam pemerintahan, dengan memberi keutamaan kepada mereka daripada umat Islam lainnya, tanpa melihat kepentingan mereka. Padahal, keluarganya ini tidak beriman, juga royal dan sangat berlebihan.

Bani Umayah seperti Muawiyah dan Marwan yang benar-benar mencari keuntungan dari keberadaan Utsman dan juga kematiannya. Kisah Ibnu Saba dalam hal ini berfungsi sebagai topeng bagi wajah-wajah yang haus kekuasaan, yang juga merupakan cara lain untuk menyerang Ali bin Abi Thalib dan pengikut-pengikut setianya.

Khalifah Utsman mengangkat saudara angkatnya, Abdullah bin Sa’d, sebagai gubernur Mesir. Pada saat itu, Mesir merupakan propinsi terbesar di negara Islam. Ibnu Sa’d telah masuk Islam dan pindah dari Mekkah ke Madinah. Ketika Mekkah ditaklukkan, Nabi Muhammad SAW menyuruh kaum Muslimin untuk membunuh Ibnu Sa’d. Ia harus dibunuh meskipun ia menalikan kain Kabah ke tubuhnya. Ibnu Sa’d bersembunyi di rumah Utsman

Khalifah Usman bin Affan membawa pamannya, Hakam bin Abi As (putra Umayah, putra Abdussyams), ke Madinah setelah Nabi Muhammad mengasingkannya dari Madinah

 Diriwayatkan bahwa Hakam sering bersembunyi dan mendengarkan percakapan Nabi Muhammad ketika ia berbicara secara rahasia kepada sahabat-sahabat utamanya, lalu menyebarkan apa yang ia dengar. Ia sering mengikuti dan memperolok-olok cara berjalan Nabi. Suatu waktu Nabi melihatnya ketika ia sedang meniru-niru jalannya dan berkata, “Selamanya ia akan seperti itu.” Segera Hakam menjadi seperti itu hingga ia meninggal. Diriwayatkan juga bahwa, suatu hari, ketika sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, Nabi Muhammad berkata, “Seorang lelaki yang telah dikutuk akan memasuki ruangan ini.” Tak lama setelah itu masuklah Hakam.

Setelah membawanya ke Madinah, Utsman memberi pamannya uang sebanyak 300 ribu dirham.

la menjadikan Marwan bin Hakam, sebagai pembantu utamanya, dan penasehat tertinggi nya, dengan memberi kekuasaan yang sama dengan dirinya. Marwan menerima seperlima pendapatan dari Afrika Utara sebesar 500 ribu dinar. Tetapi ia tidak menyerah kan uang ini. Khalifah mengizinkannya untuk menyimpan uang ini. Jumlahnya sama dengan 10 juta dollar.

Ali bin Abi Thalib sering memperingatkan Utsman mengenai berbahayanya Marwan, tetapi hal itu sia-sia saja. Percakapan berikut antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman membuktikan kenyataan ini. Kejadian ini terjadi ketika Utsman diserang, lalu ia meminta bantuan Ali bin Abi Thalib.

Orang-orang menyampaikan hal ini kepada Ali. Kemudian Ali mendatangi Utsman dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah membuat puas Marwan (sekali lagi), tetapi ia hanya akan puas jika engkau menyimpang dari agamamu dan akalmu, seperti seekor unta membawa tandu yang dituntun semaunya. Demi Allah, Marwan tidak mengetahui apapun tentang agama dan jiwanya. Aku bersumpah demi Allah, menurutku, ia akan membawamu masuk dan tidak akan mengeluarkanmu kembali. Setelah pertemuan ini, aku tidak akan datang untuk mencacimu lagi. Engkau telah menghancurkan kehormatanmu sendiri dan merampas kekuasaanmu.”

Ketika Utsman wafat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Demi Allah! Aku telah berusaha membelanya (Utsman) hingga aku dipenuhi rasa malu. Tetapi Marwan, Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As telah melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau saksikan. Ketika aku memberi nasehat yang sungguh-sungguh dan menganjurkan ia untuk mengusir mereka, ia menjadi curiga, sehingga terjadilah apa yang terjadi saat ini.”

Marwan beserta keturunannya merupakan dasar dari beberapa tuduhan korupsi dan nepotisme yang paling serius yang dilakukan Utsman. Marwan, tentu saja, merampas kekhalifahan dan menaiki tahta pada tahun 64/684 dan merupakan nenek moyang raja-raja Umayah selanjutnya di Damaskus juga pemimpin Cordova hingga setelah tahun 756.

c.  Memberikan jabatan publik kepada keluarga; khalifah Utsman mengangkat Walid bin Aqabah (salah satu keluarga Umayah) sebagai gubernur Kufah, tingkah laku Walid ketika Nabi masih hidup buruk. Quran merendahkannya dan menyebutnya sebagai orang yang menyimpang. Contohnya Nabi Muhammad SAW mengirim dia kepada Bani Mustalaq untuk mengumpulkan zakat mereka.walid melihat dari jauh Bani Mustalaq ini mendekat ke arahnya dengan mengendarai kuda, Ia menjadi takut karena ketegangan antara dia dan kaum ini sebelumnya. Ia kembali kepada Nabi Muhammad SAW dan memberitahu bahwa mereka ingin membunuhnya. Hal. ini tidak benar. Tetapi keterangan Walid ini membuat murka kaum Muslimin Madinah dan mereka ingin menyerang Bani Mustalaq

Pada saat itu turunlah ayat berikut, Hai orang-orang yang beriman, jika seorang yang menyimpang datang kepadamu membawa berita, buktikanlah kebenaran berita itu! Jika tidak engkau akan menghancurkan suatu umat tanpa kalian sengaja, kemudian kalian akan menyesal dengan perbuatan kalian yang tergesa-gesa itu

Walid masih terus menjalankan praktik hidup jahiliyahnya selama hidupnya. la selalu meminum arak dan banyak saksi menyatakan kepada khalifah bahwa mereka menyaksikan Walid sedang mabuk ketika memimpin shalat berjamaah.

Usman  malah menggantikan Jabatan Walid dengan Said bin As, anggota keluarga Umayah yang lain.

d. Umar adalah orang yang menempatkan Muawiyah di pemerintahannya selama ia berkuasa dan USMAN hanya melakukan hal yang sama.”

Tabari menukilkan bahawa ‘Uthman menulis surat kepada Muawiyah dan berkata: Sesungguh nya warga Madinah telah kafir, menderhaka dan memutuskan bai’at mereka (Tarikh Tabari jilid 3 halaman 402)

Utsman bin Affan tidak seperti pendahulunya yang cerdik dalam politik dan mampu mengatur pemerintahnya lebih baik. Setelah Abdurrahman bin Auf menyerahkan suaranya kepada Utsman dan ia terpilih sebagai khalifah, Utsman diarak menuju masjid Rasulullah saw. untuk mengumumkan kebijakan politiknya demi memperbaiki kondisi yang ada. Utsman naik ke atas mimbar dan duduk di atas tempat yang biasa diduduki Nabi semasa hidupnya, padahal Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak berani melakukannya ketika mereka menjabat sebagai khalifah. Mereka berdua hanya berani duduk di undakan yang menuju tempat duduk Nabi. Di atas tempat duduk Nabi itulah Utsman berpidato. Sebagian sahabat berkata: “Hari ini kepongahan telah lahir”.[31]

Utsman bin Affan bukan seorang yang pandai pidato. Ia tidak mampu berkata banyak di atas mimbar Nabi. Ia berkata: “Amma Ba’du (selanjutnya), sesungguhnya pertama kali mengendarai sesuatu adalah saat yang sangat sulit. Di sisi lain, aku bukanlah seorang orator. Allah Maha Mengetahui. Sesungguhnya masalah yang berada di antara seseorang dan Adam adalah seorang ayah yang telah meninggal dan perlu dinasehati”.[32]

Al-Ya’qubi menulis: “Utsman bin Affan berdiri dan untuk sementara waktu ia tidak berkata apapun. Kemudian ia membuka mulutnya dan berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar bin Khatthab telah menyiapkan posisi ini sebelumnya. Kalian lebih membutuhkan seorang khalifah yang adil daripada seorang khalifah yang hanya bisa berpidato. Bila kalian masih hidup, ucapan dan pidatoku akan mendatangi kalian. Kemudian Utsman turun dari mimbar”.[33]

Utsman bin Affan mulai menjalankan pemerintahannya dan melakukan kebijakan-kebijakan yang membuat mayoritas kaum muslimin marah dan membencinya kecuali keluarganya, yaitu Bani Umayyah. Ia secara transparan menunjukkan sikap fanatisme kesukuannya dan kecondongannya kepada keluarga, sekaligus mengumumkan bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar Umayyah. Ia mulai mengangkat dan menokohkan anggota keluarga Umayyah di atas masyarakat yang lain. Posisi penting mulai diisi oleh Bani Umayyah tanpa mampu ditolak oleh kaum muslimin.

Utsman bin Affan telah melampaui batas dalam kebijakan rasisnya; melebihi apa yang telah ditanamkan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khatthab. Quraisy tidak lagi memegang kendali pemerintahan, namun dibatasi oleh Utsman pada Bani Umayyah saja.

Utsman bin Affan tidak lagi  peduli pada nasihat dan peringatan-peringatan para sahabat dan di atas mereka semua Ali bin Abi Thalib. Benar, Utsman telah menguasai kekuasaan, namun ia lupa berkaca kepada pendahulunya dalam menjalankan pemerintahan di atas metode yang sah dan berdasarkan pemerintahan Islam. Elemen-elemen penting dan baik semakin lemah untuk dapat mengubah kebijakan pemerintah secara langsung. Kebijakan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab pada masa pemerintahan mereka cukup berhasil menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari kekuasaan dan kepercayaan rakyat pada pandangan dan tuntunannya. Akibatnya, penyelewengan dan penyimpangan dari pemerintahan islami dan munculnya arus kebencian dan permusuhan terhadap Ahlul Bait semakin kuat. Kondisi ini sangat menyulitkan usaha Ali agar khalifah baru mau mendengarkan nasihat. Kondisi dipersulit dengan arus kaum munafik dan Quraisy yang memeluk Islam secara terpaksa ketika pembebasan kota Mekkah serta orang-orang yang punya kepentingan yang berada di sekelilingnya.

Sikap Abu Sufyan setelah pembaiatan Utsman bin Affan

Setelah selesai pembaiatan Utsman bin Affan, Abu Sufyan berjalan mendekati rumah Utsman bin Affan, dan secara berdesak-desakan dengan keluarga dan teman-teman Utsman ia maju dan menyampaikan awal kemenangan menguasai kekuasaan. Tampak wajahnya berbinar-binar menerima kemenangan ini dengan terpilihnya Utsman sebagai khalifah kaum muslimin. Mulutnya terbuka lebar untuk menandakan kebenciannya. Tampak kegeramannya mengingat Islam telah menghina tokoh-tokoh Bani Umayah. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan kemudian berkata kepada segenap yang hadir di rumah Utsman bin Affan: “Apakah ada orang lain selain keluarga dan teman-teman Bani Umayyah?” Mereka serentak menjawab: “Tidak”. Abu Sufyan melanjutkan: “Wahai Bani Umayyah! Dengan cepat kalian telah meraih dan menguasai kekuasaan seperti menangkap bola. Demi Zat yang Abu Sufyan bersumpah atasnya! Tidak ada yang namanya surga dan neraka. Tidak pula ada perhitungan di Hari Kiamat, dan tidak ada juga yang namanya pembalasan. Sejak dahulu aku selalu mengharap kekuasaan ini untuk kalian. Jadikan ini sebagai warisan untuk anak cucu kalian”.[34]

kemudian ia berjalan menuju kuburan pemimpin para syahid, Hamzah bin Abdul Mutthalib. Ia berhenti di samping kuburan sambil menendang kuburan Hamzah dengan kakinya dan berkata: “Wahai Abu ‘Imarah! Apa yang selama ini engkau perjuangkan dengan pedangmu sekarang telah berada di tangan anak keturunan kami. Mereka menjadikannya sebagai barang mainan”.[35]

Dampak Negatif Kebijakan Pemerintahan Utsman bin Affan

Selama hidup dengan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib a.s. tidak pernah menunjukkan ketidaksetujuannya secara terbuka. Demikian ini tidak lain karena penyimpangan yang terjadi juga tidak secara terang-terangan. Bahkan dalam banyak kesempatan, Ali terlibat dalam usaha memperbaiki sikap dan posisi khalifah bila terjadi kesalahan dan itu diterima oleh keduanya. Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak khawatir karena Ali memainkan peranannya hanya sebatas tokoh agama di hadapan umatnya dan sebagai pemilik yang sah kekhalifahan dan pemimpin oposisi bersama sebagian sahabat besar lainnya. Ali siap untuk tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah dan memberikan ketenangan kepada masyarakat, sekalipun ia tidak akan mundur dari prinsip yang diwarisinya dari Rasulullah saw. sebagai penjaga dan pelindung akidah Islam.

Sikap yang diambil oleh Ali bin Abi Thalib berbeda ketika Utsman bin Affan mengambil alih pemerintahan sebagai khalifah baru. Pada pemerintahan Utsman, perilaku korup telah menyebar luas dan secara perlahan-lahan korupsi itu masuk dalam struktur pemerintahan secara terang-terangan. Kerusakan moral ini akhirnya menjalar dan merasuki masyarakat Islam. Di sini, Ali bin Abi Thalib kemudian mengambil sikap dan secara terang-terangan menentang kepemimpinan Utsman bin Affan. Banyak sahabat besar yang mendukung sikap Ali seperti: Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lain, bahkan dukungan juga mengalir dari mereka yang sebelumnya mengingkari hak Ali sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Mereka tidak setuju dengan kebijakan Utsman dalam pengelolaan negara dan kerusakan moral pemerintahannya. Di sini dapat dilihat secara global pemerintahan Utsman dan dampak buruknya:

Utsman bin Affan menerima tampuk pimpinan ketika ia telah berumur tujuh puluh tahun; batasan umur di mana seseorang sangat mencintai keluarga dan mau berkorban untuk mereka. Diriwayatkan ucapannya: “Seandainya aku memiliki kunci-kunci pintu surga, niscaya aku akan memberikannya kepada Bani Umayyah sehingga mereka semua memasukinya”.

Begitu juga sebelum Islam, Utsman bin Affan hidup dalam kondisi yang serba ada dan kondisi itu berlangsung setelah memeluk Islam. Oleh karenanya, ia tidak dapat merasakan betapa sulitnya orang-orang fakir miskin menjalani kehidupan mereka. Kepribadiannya betul-betul teruji ketika harus bersikap dengan sekelompok besar orang-orang miskin yang meminta keadilan dan persamaan hak darinya. Ia memperlakukan mereka dengan keras dan kasar sebagaimana perlakuannya kepada Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lainnya.

Dari sisi keluarga, Utsman bin Affan sangat dekat dan bahkan menempatkan mereka pada posisi-posisi penting. Ia mengangkat Al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith sebagai gubernur Kufah, padahal Al-Walid termasuk orang yang diberitakan oleh Rasulullah sebagai penghuni neraka. Utsman juga mengangkat  Abdullah bin Abi Sarh sebagai gubernur Mesir, Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam dan Abdullah bin ‘Amir sebagai gubernur Bashrah. Ia juga telah mencopot Al-Walid bin ‘Uqbah dari jabatannya sebagai gubernur Kufah dan menggantikannya dengan Said bin Al-’Ash.[36]

Utsman bin Affan adalah orang yang lemah, terutama bila berhadapan dengan Marwan bin Al-Hakam. Ia senantiasa mendengar ucapan dan menuruti keinginan Marwan. Hal itu terus berlangsung bahkan ketika terjadi konspirasi untuk menggulingkannya dan kondisi yang betul-betul gawat. Ketika keadaan telah kritis, Ali bin Abi Thalib melibatkan diri untuk meredakan ketegangan sampai berhasil memulangkan orang-orang yang melakukan demonstrasi menuntut perubahan dan perbaikan kebijakan pemerintahan sekaitan dengan kolusi dan korupsi yang telah menggerogoti pemerintah, bahkan permintaan untuk menggantikan sebagian gubernur di beberapa daerah. Ali berhasil mendapatkan janji Utsman untuk tidak lagi mendengar dan mengikuti ucapan Marwan bin Al-Hakam dan Said bin Al-’Ash.

Sayangnya, tatkala situasi mereda dan normal, Marwan dan Said kembali mendekati Utsman bin Affan dan memaksanya keluar dari rumah disertai pengawal pribadi. Melihat hal itu, Ali bin Abi Thalib a.s. menemui Utsman dengan penuh kemarahan sambil berkata: “Kau setuju dengan perkataan Marwan, namun ia tidak pernah puas padamu. Yang diinginkan darimu adalah agar engkau menyimpang dari agama dan akalmu seperti unta yang dicocok hidungnya ikut ke mana saja pemiliknya pergi. Demi Allah! Marwan bukan orang yang agama dan jiwanya baik”.[37]

Pada kesempatan lain, Utsman bin Affan sangat marah kepada para saksi yang menyaksikan Al-Walid bin ‘Uqbah yang dituduh meminum khamar sehingga Utsman mengusir mereka. Mengetahui kejadian tersebut, Ali bin Abi Thalib memperingatkan Utsman akan akibat yang bakal terjadi dari perbuatannya ini. Ali memerintahkan Utsman untuk menghadirkan Al-Walid agar diadili dan dihukum bila terbukti tuduhan tersebut. Ketika Al-Walid dihadirkan dihadirkan dalam sidang dan terbukti melakukan demikian atas kesaksian para saksi, Ali sendiri yang melaksanakan hukumannya yang membuat Utsman semakin marah. Ia berkata kepada Ali: “Engkau tidak punya hak untuk melaksanakan hukum tersebut atas Al-Walid”. Ali menjawab dengan logika yang kuat dan berlandaskan syariat Islam: “Bahkan yang lebih buruk dari ini adalah bila seseorang yang berbuat kefasikan dan mencegah hak-hak Allah berlaku kepada orang yang berbuat fasik”.[38]

Kebijakan Utsman bin Affan di bidang keuangan adalah kepanjangan dari kebijakan yang diberlakukan sebelumnya oleh Umar bin Khatthab, yaitu kebijakan  yang menciptakan sistem kasta. Umar membagikan kekayaan negara secara tidak adil kepada sebagian kelompok dan tidak kepada sebagian lainnya. Ketimpangan itu yang kemudian dilanjutkan dengan bentuk yang lebih ekstrim di zaman Utsman bin Affan. Ia memberikan perhatian khusus kepada Bani Umayyah.

Suatu waktu, penjaga khazanah Baitul Mal mengajukan keberatannya kepada Utsman mengenai kebijakan keuangannya. Mendengar itu, Utsman menjawab: “Engkau adalah penjaga Baitu Mal kami. Bila kami memberikan sesuatu kepadamu maka ambillah, dan bila kami diam maka engkau juga harus diam”. Penjaga Baitul Mal kemudian menjawab: “Demi Allah! Aku bukan penjaga Baitul Mal khalifah dan keluarganya melainkan penjaga harta kaum muslimin”.

Pada hari Jumat, ketika Utsman berkhotbah, penjaga Baitul Mal itu berkata: “Wahai kaum muslimin, Utsman bin Affan menganggap bahwa aku adalah penjaga Baitul Malnya dan keluarganya. Aku ingin mengatakan di sini bahwa aku adalah penjaga Baitul Mal kaum muslimin. Ini adalah kunci-kunci Baitul Mal milik kalian”. Ia kemudian melemparkan kunci-kunci tersebut ke hadapan Utsman.[39]

Sikap Ali terhadap Utsman bin Affan

Kaum muslimin semakin membenci Utsman bin Affan karena perilakunya. Sahabat-sahabat terbaik Rasulullah saw. semakin bersatu terhadap penyimpangan khalifah dan pejabat yang berada di bawahnya. Di seberang sana, Utsman bin Affan mengerti dan mulai menyiksa para penentang kebijakannya yang menyimpang. Penyiksaan yang dilakukan sudah tidak lagi memandang para sahabat Rasulullah saw. Dari situ, ia menyiksa Abu Dzar; salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw, karena seringnya melakukan protes terhadap kebijakan Utsman yang buruk. Utsman membuangnya ke Syam. Muawiyah sebagai gubernur Syam juga tidak mampu menahan protes Abu Dzar sehingga ia mengirimkan Abu Dzar kembali ke Madinah.

Di kota Madinah, Abu Dzar kembali melakukan perjuangan dengan memprotes kebijakan buruk Bani Umayyah. Utsman semakin terpojok dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh Abu Dzar.  Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk mengasingkan Abu Dzar ke daerah bernama Rabadzah (sebuah tempat di Lebanon sekarang ini) dan melarang siapa pun untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya.

Tanpa kekhawatiran sedikitpun, Ali bin Abi Thalib mengantarkan Abu Dzar untuk mengucapkan selamat tinggal. Ali ditemani kedua anaknya Hasan dan Husein, Aqil, dan Abdullah bin Ja’far. Marwan bin Al-Hakam gusar terhadap perlakuan baik Ali tersebut. Ia melakukan protes kepada Utsman bin Affan agar menahan mereka untuk tidak memberi ucapan selamat dan mengantarkan Abu Dzar. Ali bangkit dan menyerang Marwan. Ia berhasil memotong kedua telinga binatang tunggangan Marwan. Setelah itu, Ali berteriak kepadanya: “Coba halangi! Semoga Allah mengirimmu ke Neraka”.[40]

Ali bin Abi Thalib tetap bersikeras untuk mengucapkan perpisahan dan mengantarkan Abu Dzar sambil berkata kepadanya: “Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau bila marah karena Allah, aku berharap kemarahanmu ditujukan kepada mereka. Orang-orang takut kepadamu karena urusan dunia dan harta mereka, sementara engkau takut kepada mereka karena masalah agama mereka. Tinggalkanlah apa yang mereka takutkan atasmu buat mereka (harta dan dunia). Pergilah engkau bersama ketakutanmu atas mereka (agama). Mereka lebih butuh kepada apa yang engkau larang (cinta dunia). Apa yang mereka larang kepadamu lebih berharga (agama). Engkau akan tahu siapa yang lebih beruntung di Hari Kiamat dan siapa yang lebih dengki!”[41]

Sekembalinya dari mengantar Abu Dzar untuk mengucapkan salam perpisahan, orang-orang menyambut Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Utsman bin Affan sangat marah denganmu”. Ali menjawab: “Biarkan kuda marah karena kekangannya”.

Dampak Negatif Pemerintahan Utsman terhadap Umat Islam

Pemerintahan Utsman bin Affan merupakan kelangsungan dari garis politik pemerintah yang melalaikan kandungan risalah Islam, baik secara praktis maupun teoritis. Kondisi ini meninggalkan efek-efek negatif dalam perjalanan pemerintahan Islam dan umat sebagai kesatuan. Hal itu ditambah dengan kerusakan dan tuduhan keji terhadap transparansi pemerintahan Islam di hadapan umat Islam yang tidak pernah hidup di bawah seorang pemimpin yang maksum (Nabi Muhammad saw) kecuali selama satu dekade. Pada sepuluh tahun itulah umat melihat pemimpinnya sekaligus penguasa dan pendidik. Sementara, api fitnah semakin berkobar luas di pinggiran negara Islam yang akan membawa malapetaka kepada umat Islam. Dengan memeriksa data-data sejarah, dapat ditemukan beberapa kesimpulan di bawah ini:

1.  Kebijakan pemerintahan Utsman bin Affan tidak sesuai dengan syariat Islam. Hukum-hukum tidak dijalankan secara baik, kebusukan dan kebobrokan semakin meluas sehingga para pejabat pemerintahan tidak mampu memperbaiki kondisi yang telah buruk itu. Ini semua menjadikan keonaran dalam kehidupan bermasyarakat yang pada akhirnya memunculkan semangat untuk tidak lagi taat kepada hukum. Dampak buruk dari munculnya kebusukan ini adalah kecerobohan dan acuh terhadap nilai-nilai moral dan hukum-hukum Islam. Di rumah-rumah gubernur dan pejabat-pejabat tinggi, dapat ditemukan dengan mudah pesta pora yang diisi dengan acara musik dan nyanyian yang di sela-sela itu minuman keras dihidangkan.[42]

2.  Pemerintah Utsman bin Affan memfokuskan kebijakannya atas dasar semangat kesukuan yang sejak awal telah ditanamkan oleh Abu Bakar dalam kebijakan politiknya. Kekuasaan yang didasari oleh kesukuan semakin transparan dalam kekuasaan Bani Umayyah. Mereka bagaikan sebuah keluarga besar menguasai semua jabatan-jabatan penting, karena mereka menganggap bahwa mereka adalah penguasa besar yang menguntung Islam dan sekarang kekuasaan ini kembali kepada pemiliknya. Di sini sudah tidak ada lagi prinsip-prinsip syariat Islam. Bani Umayyah muncul sebagai haluan politik yang kuat; haluan yang memusuhi Islam dan khususnya Ahlul Bait Nabi. Mereka telah menjelma menjadi penghalang terbesar yang dapat menahan Ali bin Abi Thalib untuk dapat mengambil kembali haknya yang terampas. Mereka kemudian membentuk front di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menghadapi Ali.

3.  Pemerintahan Utsman bin Affan menganggap bahwa kekuasaan adalah hak dan sebuah pemberian dan tidak seorang pun berhak untuk merampasnya dari mereka. Kekuasaan dijadikan alat untuk memenuhi keinginan dan kerakusan mereka yang dipenuhi oleh hawa nafsu yang sesat. Menurut mereka, kekuasaan bukan untuk memperbaiki masyarakat dan menyebarkan Islam di muka bumi.[43] Pandangan seperti ini sedikit banyaknya mempengaruhi banyak orang untuk berlomba-lomba berusaha menguasai pemerintahan, karena kekuasaan akan memberikan keuntungan, kekuatan dan derajat. Amr bin Al-Ash, Muawiyah, Thalhah dan Zubeir termasuk dalam kelompok ini. Mereka tidak lagi berusaha meraih kekuasaan dengan alasan mewujudkan tujuan kemanusiaan atau sosial yang menguntungkan umat Islam.

4.  Pemerintahan Utsman bin Affan berhasil menciptakan masyarakat kelas kaya yang cukup luas. Kelas ini selalu terancam kepentingannya bila pemerintahan bermaksud untuk menjalankan kebenaran dan hukum Islam. Arus tuntutan gerakan kaum miskin muslimin ialah perubahan sistem keuangan dan lajunya kehidupan ekonomi serta pembatasan intervensi ke dalam kehidupan pribadi. Gerakan Abu Dzar menentang pemerintah karena kebusukan kebijakan moneter merupakan sebuah bukti betapa dalamnya kegusaran masyarakat miskin di tengah umat.

5.  Penggunaan kekerasan untuk meredam kritik bahkan penghinaan yang dilakukan menimbulkan reaksi yang tersumbat dan pada waktunya muncul sebagai kudeta militer. Pembunuhan Utsman bin Affan adalah titik geser dalam konflik yang melingkar di antara pandangan yang ada di kaum muslimin. Masyarakat menjadikan tindakan kekerasan sebagai solusi kebuntuan selama ini. Hal ini ditambah dengan sikap keras kepala Bani Umayyah dan pejabat-pejabat mereka yang senantiasa menantang kebenaran, keinginan dan tuntutan masyarakat luas untuk munculnya sebuah perubahan dan perbaikan.

Kondisi ini sekali lagi membuka kesempatan kepada kaum oportunis agar dapat merebut kekuasaan dengan kekerasan dan kekuatan senjata setelah umat Islam tercerai berai dan saling berselisih. Setiap kelompok menginginkan kekuasaan untuknya.

6.  Pembunuhan Utsman bin Affan meninggalkan pekerjaan rumah yang besar. Fitnah yang setiap saat dapat memanas dan membakar siapa saja setiap saat, dan dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan dan mereka yang keluar dari baiat sebagai semboyan untuk menyulut peperangan dan pertumpahan darah guna menghadapi pemerintahan sah yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib lewat pemilihan oleh masyarakat Islam. Fitnah ini kemudian dikemas sedemikian rupa kemudian menjadi sempurna di tangan Muawiyah. Ia memerangi Ali dan terjadilah pertumpahan darah yang mengakibatkan banyak kaum muslimin yang tewas. Tidak itu saja, dengan fitnah itu, mereka memanfaatkannya untuk menyesatkan perhatian kaum muslimin kepada agama yang benar melalui budaya yang digerakkan oleh sebuah masyarakat dengan tujuan melanjutkan kekuasaan kerajaan. Luasnya wilayah pemerintahan Islam sangat membantu mereka dan betapa banyaknya jumlah kelompok dalam masyarakat Islam yang tidak memahami akidah Islam secara benar dan sadar.

7.  Salah satu hasil dari kudeta yang dilakukan terhadap Utsman bin Affan adalah munculnya kelompok-kelompok bersenjata di sekitar kota-kota Islam yang kemudian mengepung Madinah. Mereka menunggu nasib dan arah perjalanan pemerintahan Islam. Kejadian-kejadian yang ada memberikan ruang kepada masyarakat untuk melakukan aksi-aksi militer demi mengubah pemerintahan. Semua ini menjadi basis kekuatan yang berpotensi untuk menekan pemerintah yang baru.

[31] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 166. Tarikh Al-Khulafa, hal 162.

[32] . Lihat Al-Muwaffaqiyat,  jilid 2, hal 2.

[33] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163.

[34] . Muruj Adz-dzahab, jilid 1, hal 440.

[35] . Al-Ghadir, jilid 8, hal 278. Al-Isti’ab, jilid 2, hal 690. Tarikh Ibnu Asakir, jilid 6, hal 407. Al-Aghani, jilid 6, hal 330.

[36]. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 160. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 445. Al-Baladzri, Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 49. Hilyah Al-Auliya, jilid 1, hal 156. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 166. Al-Ghadir, jilid 8, hal 238. An-Nash wa Al-Ijtihad, hal 399.

[37]. Ath-thabari, jilid 3, hal 397.

[38] . Muruj Adz-dzahab, , jilid 2, hal 225.

[39] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat, jilid 5, hal 388. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 153. Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 58. Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif, hal 84. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 169. Al-Ghadir, jilid 8, hal 276.

[40] . Muruj Adz-dzahab, jilid 2, hal 350.

[41] . Syarh Nahjul Balaghah, jilid 3, hal 54. Disebutkan pula oleh Abu Bakar Ahad bin Abdul Aziz dalam bukunya As-Saqifah. A’yan As-Syi’ah, jilid 3, hal 336.

[42] . Abu Al-Faraj Al-Ishfahani, Al-Aghani, jilid 7, hal 179.

[43] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 64. Tarikh Ath-thabari, jilid 5, hal 341-346.

dukung.JPG

Keanehan mazhab Sunni

Anomali Sunni :
a. Thalhah bin  Ubaidillah di ancam  Allah SWT pada  QS. al Ahzâb[33];53 karena bersikap tidak senonoh
.
b. Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
c. Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas. Kok Sahabat bunuh sahabat sich ??
.
Akal saya sulit mencerna kontradiksi  ini…
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS. 4:93)
.
Wajarlah mazhab syi’ah imamiyah pantas menjadi AL Firqatun Najiyah alias satu satunya Firqah yang selamat
dukung.JPG

DEFINISI SAHABAT OLEH ULAMA-ULAMA AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH

Berbagai pendapat mengenai definisi sahabat telah dikemukakan. Ada pendapat yang mengatakan: Al-Bukhari, al-Sahih, V, hlm.1: Terjemahan:“Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi SAW atau melihatnya daripada orang-orang Islam, maka ia adalah (tergolong) daripada sahabat-sahabatnya.”

Definisi inilah yang dipegang oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya. Sementara gurunya Ali bin al-Madini berpendapat:

Terjemahan:”Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi SAW atau melihatnya, sekalipun satu jam di siang hari, adalah sahabatnya.”

Definisi ini meliputi orang yang murtad pada masa hidup Nabi SAW, dan selepasnya. Walau bagaimanapun setiap orang mempunyai pendapatnya sendiri, sekalipun ianya tidak masuk akal. Kerana al-Riddah (kemurtadan) itu menghapuskan amal. Lantaran itu “nama sahabat” tidak ada tempat baginya.

Pendapat ini disokong oleh al-Syafi’i di dalam al-Umm. Sila rujuk: Al-Shafi’i, al-Umm, Cairo, 1961, IV, hlm. 215-216

Manakala al-Zain al-Iraqi berkata: Terjemahan:”Sahabat adalah sesiapa yang berjumpa dengan Nabi sebagai seorang Muslim, kemudian mati di dalam Islam.”

Said bin Musayyab berpendapat:

Terjemahan:”Sesiapa yang tinggal bersama Nabi selama satu tahun atau berperang bersamanya satu peperangan.”

Nota: Pendapat ini tidak boleh dilaksanakan kerana ianya mengeluarkan sahabat-sahabat yang tinggal kurang daripada satu tahun bersama Nabi SAW dan sahabat-sahabat yang tidak ikut berperang bersamanya.

Ibn Hajar berkata:”Definisi (sahabat) tersebut tidak boleh diterima.” Sila rujuk: Ibn Hajar, Fath Bari, VIII, hlm.1-2; al-Mawahib Syarh al-Zarqani, hlm. 8-26

Ibn al-Hajib menceritakan pendapat ‘Umru bin Yahya yang mensyaratkan seorang itu tinggal bersama Nabi dalam masa yang lama dan “mengambil (hadith) daripadanya. Sila rujuk: Syarh al-Fiqh al-Iraqi, hlm. 4-33.

Ada juga pendapat yang mengatakan:”Sahabat adalah orang Muslim yang melihat Nabi SAW dalam masa yang pendek. Walau bagaimanapun definisi-definisi tersebut menegaskan bahawa sesiapa yang mendengar daripada Nabi SAW atau melihatnya daripada orang Islam secara mutlak mereka semuanya adil – mengikut pendapat mereka – dan mereka pula adalah Mujtahidin (orang yang boleh berijtihad tentang hukum-hukum Islam).

BERDASARKAN DEFINISI-DEFINISI SAHABAT DI ATAS OLEH PARA ULAMA MUKTABAR AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH, DI SINI  RIWAYAT-RIWAYAT BERKENAAN DENGAN SEBAHAGIAN PERBUATAN-PERBUATAN PARA SAHABAT NABI S.A.W. DARI KITAB-KITAB HADIS, SEJARAH DAN SEBAGAINYA YANG DIKUMPULKAN, DIKARANG DAN DITULIS OLEH ULAMA-ULAMA AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH.

Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’it yang telah dinamakan oleh Allah sebagai fasiq ketika diutuskan oleh Nabi SAW untuk memungut zakat daripada Bani Mustalaq. Dia pulang dan memberi tahu Nabi SAW bahawa Bani Mustalaq telah keluar untuk memeranginya. Lalu Nabi SAW bersiap sedia dengan tentera untuk memerangi mereka.Maka Allah berfirman: Terjemahan:”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atau perbuatanmu itu.” [Al-Hujarat: (49): 6] Dia adalah di kalangan sahabat, dan di manakah keadilan daripada seorang yang fasiq?

Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’it adalah adik Khalifah Uthman dari sebelah ibunya. Semasa pemerintahannya, Khalifah Uthman melantik beliau sebagai gubernur di Kufah, al-Baladhuri, al-Ansab al-Asyraf, V, hlm. 22; Ibn Abd al-Barr, al-Isti’ab, III, hlm.594 menceritakan bahawa al-Walid bin Uqbah adalah seorang peminum arak. Beliau pernah sembahyang Subuh dalam keadaan mabuk. Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Siyasah, Cairo, 1957, I, hlm.32, menyatakan al-Walid bin Uqbah   sembahyang Subuh empat rakaat kerana mabuk.

dukung.JPG

Silahkan Berteladan Dengan Sahabat Pecandu Miras, pasti Anda Mendapat Petunjuk Allah!

.

Sepertinya yang diteladankan para sahabat andalan para penganut -doktrin keadilan sahabat- tidak terbatas hanya pada menjual khamr (minuman keras) dan memperdagangkannya untuk dikonsumsi masyarakat Muslim yang membutuhkannya… tapi, agar Umat Islam khususnya Wahhabi Salafi tidak ragu, maka seorang sahabat mulia dan kerabat dekat serta Gubernur kesayangan Khalifah Utsman ibn Affân mencontohkan bagaimana cara meminum khamr!

Walid ibn ‘Uqbah yang telah turun untuknya ayat yang menegaskan kefasikannya, kembali menegaskan jati dirinya sebagai sahabat “Adil” yang Fasiq dengan ketidak mauannya meninggalkan kebiasaannya menenggak khamr bahkan di waktu-waktu shalat pun ia masih teler/mabuk sambil mengimami kaum Muslimin.

Setelah berita tentangnya tersebar luas dan kemudian dilaporkan kepada Khalifah di kota Madinah, kaum Muslimin pun mendesak sang Khalifah agar menegakkan hukum Allah atas Al-Walîd ibn ‘Uqbah. Di bawah desakan massa itu, Khalifah pun rela menjalankan hukum Allah!

Demikian data yang diharapkan oleh masyâikh Wahhabi-Salafi agar disembunyikan serapi mungkin ternyata luput dari upaya pemusnahan seperti yang dialami data-data rahasia lainnya. Imam Ahmad membongkar data rahasia tentang kefasikan Walîd ibn ‘Uqbah.

Perhatikan data di bawah ini:

.

.

626: … Datanglah sekelompok penduduk Kufah menemui Utsman ra., mereka memberitahukan kepadanya tentang Walîd yaitu tentang ia meminum khamr, maka Utsman pun berbicara kepada Ali tentangnya. Utsman berkata, ‘Tegakkan hukum atas anak pamanmu.’ Maka Ali berkata kepada hasan, ‘Hai putraku bangun dan tegakkan had atasnya!’ ….

Ustad  Syiah  Ali  :

Mungkin Khalifah Utsman dan Sayyidina Ali as. belum tahu bahwa seluruh sahabat Nabi saw. Itu ‘Udûl, kebal hukum sebab Allah telah ridha atas mereka!! Akankah Allah murka kepada para sahabat, termasuk Walîd ibn ‘Uqbah si fasiq setelah Ia ridha?

Atau Allah -wal iyadzubillah- tidak tahu habwa sahabat kebanggaan Nabi-Nya di kemudian hari akan menjadi fasiq, kerenanya Ia “tergesah-gesah” menurunkan rekomendasi ridha-Nya dalam Al Qur’an suci-Nya?

Atau jangan-jangan doqma keadilan seluruh sahabat ajma’in adalah doqma palsu buatan kaum dzalim demi menutup-nutupi kemunafikan dan kefasikan sebagain sahabat lalu ulama Aswaja pun tertipu dan meneriman sebagai bagian dari ajaran Islam?

Siapa tau

dukung.JPG

Sahabat agung, jalîl lain kebanggaan Ahlusunnnah adalah al Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith saudara seibu Khalifah Utsman bin Affân yang hingga masa kekhalifahaannya ia percayai untuk menjabat sebagai Gubenur kendati ia fasik.

Tentang siapa dan bagaimana sepak-terjangnya yang mungkin dapat “menjadi teladan” bagi para pemuda  Salafy/Sunni penuh semangat, simak uraian di bawah ini!

Ibnun Hajar al Asqallâni memperkenalkan kepada kita tentang siapa sejatinya al Walîd bin ‘Uqbah, ia berkata, “Al Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith … al Umawi, saudara seibu Ustman bin Affân ibu mereka bernama Arwâ binti Karîz bin Rabî’ah…

Ayahnya (‘Uqbah) dipancung setelah selesai parang Badr. Ia (‘Uqbah) sangat membenci dan ganas terhadap kaum Muslimin, banyak mengganggu Rasulullah saw. ia ditawan dalam perang Badr lalu Nabi saw. memerintahkan agar ia dibunuh. Ia barkata, ‘Hai Muhammad (jika engkau bunuh aku) siapa yang akan mengurus anak-anakku?’ Nabi saw. berkata, ‘Anak-anakmu untuk neraka!’

Dikatakan bahwa untuknyalah ayat “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang yang fasik membawa berita maka periksalah dengan teliti….” (QS. Al Hujurât [49];6) turun, Ibnu Abdil Barr berkata, ‘Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama ahli tafsir Al Qur’an bahwa ayat ini turun untukknya.’[1] (Lalu ia menyebutkan kisah seperti nanti akan saya sebutkan dari riwayat para ulama)

Ibnu Hajar melanjutkan,

“Dan kisahnya ketika memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabok adalah sangat masyhur dan diriwayatkan dengan banyak jalur. Demikian juga kisah dicopotnya ia dari jabatan sebagai Gubenur wilayah Kufah setelah terbukti mabok juga masyhur dan diriwayatkan dengan banyak sanad dalam kitab Shahîhain (Bukhari dan Muslim)…. setelah kematian Utsman, al Walîd mengucilkan diri dari dunia politik, tidak ikut terlibat dalam fitnah, tidak bersama Ali tidak juga bersama lawan-lawannya. Akan tetapi ia membakar semangat Mu’awiyah agar memberontak terhadap Ali. Ia menulis surat dan menggubah bait-bait syair untuk tujuan itu dan ia kirimkan juga di antara nya    kepada Mu’awiyah! [2]

Ibnu Abdil Barr menegaskan kepada kita hahwa semasa menjabat sebagai Gubenur Kufah, bau busuk sepak terjang terkutuk al Walîd sangat mengganggu penciuman penduduk kota Kufah! Ia berkata, ‘Dan all Walîd memiliki banyak kejadian buruk selama di kota Kufah yang membuktikan kejelekan keadaannya dan keburukan tindakannya…

Al Ashmu’i, Abu Ubaid dan al Kalbi serta ulama lainnya mengatakan bahwa al Walîd adalah pecandu berat khamer… kabar tentang pesta khamer yang biasa ia gelar bersama Abu Yazîd ath Thâi adalah sangat terkenal dan banyak. Kami jijik menyebutnya di sini. Kami hanya akan menyebutkan sekelumit saja apa yang disebutkan oleh  Umar bin Syubbah, “…al Walîd memimpin shalat shubuh empat raka’at dalam keadaan mabok berat, lalu ia menolek kepada para makmum dan berkata, ‘Apa mau saya tambah lagi?!’ dan berita al Walîd yang shalat shubuh empat raka’at adalah sangat masyhur dari riwayat para perawi jujur terpercaya/tsiqât dari penukilan ahli hadis dan ahli sejarah….

Karena perbuataannya itu ia dihukum dera/cambuk sebanyak empat puluh kali cambukan setelah para saksi bersaksi. Palaksana hukuman itu adalah Abdullah bin Ja’far (anak saudara Imam Ali as.).[3]

Dalam banyak riwayat bahwa ia mabok hingga muntah-muntah di mihrab ketika memimpin shalat shubuh tersebut![4]

Kegemaran Mabok-mabokan Yang Mendarah Daging!

Rupanya ketergantungan terhadap khamer begitu dalam dalam kehidupan sang Sahabat Panutan ulama Ahlusunnah yang Jalîl ini. Sebab apa yang Anda baca di atas bukan satu-satunya kasus yang terpantau dan dicatat sejarah… banyak kasus serupa yang dicatat para ulama dan ahli sejarah. Ibnu ‘Asâkir dalam Târîkh Damasqus-nya berkata, “Al Walîd bin ‘Uqbah adalah pejabat Utsman pertama yang berbuat kerusakan. Ia mengundang tukang sihir [ke dalam masjid], menenggak khamer dan teman minumnya adalah Abu Zaid seorang nashrani yang sangat dia istimewakan.”[5]

Imam adz Dzahabi (ulama kebanggaan dan andalan Ahlnsunnah) dalam Siyar al A’lâm, Ibnu Qudâmah dalam kitab al Mughni dan Ibnu ‘Asâkir melaporkan dari ‘Alqamah, “Kami bergabung dalam satu pasukan dalam peperangan melawan Romawi bersama kami Hudzaifah, pemimpin kami saat itu adalah al Walîd, lalu ia minum khamer (setelah terbukti berdasarkan kesaksian) kami bermaksud menegakkan hukuman atasnya, Hudzaifah berkata, ‘Apakah kalian akan menyambuk Emir kalian sekarang, sedangkan kalian sudah dekat dengan musuh kalian, maka jika kalian lakukan, maka mereka menjadi berani menyerang kita.’ Lalu sampailah ucapan Hudzaifah kepada  al Walîd maka ia menggubah baik syair yang berbunyi:

Aku akan terus meminumnya kendati ia haram hukumnya***

dan aku tetap akan meminumnya betapapun orang-orang murka atasku.[6]

Bait syair al Walîd di atas jelas menunjukkan betapa benar-benar melecehkan agama dan umat Islam… tetapi jika al Walîd bersikap demikian maka hal itu pantas-pantas saja sebab dia adalah seorang fasik yang telah diabadikan kefasikannya oleh Allah dalam Al Qur’an…. Mungkinkah seorang fasik jiwanya akan muncul dari dirinya keshalehan sejati?

Apa yang Allah firmankan (seperti akan kami buktikan nanti) adalah bukti mu’jizat Al Qur’an… betapa seorang yang ditegaskan sebagai fasik tidak mungkin berubah menjadi tidak fasik… tentunya semuanya dengan sepenuh ikhtiyar hamba! Persis ketika Allah SWT memastikan bahwa Abu Lahab akan mati dalam keadaan kafir dan masuk neraka! Benar bahwa hingga mati, Abu Lahab tidak bertobat dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!

Tetapi, apa yang dinyatakan al Walîd adalah bukti betapa ia benar-benar tidak menghormati norma agama!

Inilah sekilas sejarah sahabat Agung nun mulia kebanggaan Ahlusunnah! Dan untuk lebih lengkapnya dan demi memantapkan keyakinan Anda akan kesalehan dan keteladanan sahabat unggulan yang satu ini ikuti ulasan berikut! Semoga Anda puas!

Allah SWT Menyebut al Walîd Dengan Gelar Si Fâsiq!

Dalam sebuah ayat, Allah SWT dengan tegas menggelari al Walîd bin ‘Uqbah sebagai si fasiq. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّها الذينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيّنُوا …

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang yang fasik membawa berita maka periksalah dengan teliti….” (QS. Al Hujurât [49];6)

Keterangan Para Ulama Ahlusunnah

Kendati nama al Walîd bin ‘Uqbah tidak disebut dalam ayat di atas (seperti kebiasaan al Qur’an dalam menyebut peristiwa atau kasus yang terjadi di masa turunnya) namun demikian seluruh riwayat tentang sebab turunnya ayat di atas telah sepakat bahwa ia turun untuk al Walîd bin ‘Uqbah terkait sebuah kisah yang panjang, seperti juga telah Anda baca keterangan Imam Ibnu Abdil Barr al Mâliki.[7]

Al Walîd bin ‘Uqbah  diutus sebagai ‘âmil zakat untuk mengumpulkan harta zakat dan shadaqah dari bani al Mushthaliq yang telah memeluk Islam, mendengar kabar bahwa utusan Rasulullah saw. akan datang, mereka menyambutnya keluar ke perbatasan desa mereka, namun menyaksikan itu al Walîd bin ‘Uqbah  justeru malah kembali pulang dan kemudian membuat-buat berita palsu bahwa mereka telah murtad dan kembali kafi. Mereka menolak menyerahkan harta zakat mereka dan hampir-hampir mereka membunuhku, kata al Walîd. Mendengar berita itu Rasulullah saw. memerintahkan sekelompok sabahat beliau untuk memastikan kabar berita itu, ternyata tidak benar dan al Walîd berbohong kepada Rasululah saw. karena, kata sebagian riwayat itu, antara dia dan kaum itu terdapat permusuhan di masa jahiliyah, dan ia ingin melampiaskna demdamnya atas mereka. Maka turunlah ayat tersebut di atas sebagai peringatan bagi kaum Mukmin agar berhati-hati dalam menerima kabar berita dari seorang yang fasik, supaya tidak bertindak keliru.

Para ulama dan ahli tafsir Ahlusunnah telah bersepakat berdasarkan riwayat-riwayat yang kuat bahwa yang dimaksud dengan “si safik” yang berbohong kepada Nabi saw. dalam urusan yang penting ini adalah al Walîd bin ‘Uqbah saudara seibu Utsman bin Affân.

Dibawah ini akan saya sebutkan komentar sebagian ulama tentangnya.

  1. Ibnu Katsir, ia berkataberkata:

و قد ذكر كثير من المفسرين أن هذه الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط، حين بعثه رسول اللّه صلى اللّه عليه و سلم على صدقات بني المصطلق، و قد روي ذلك من طرق‏ و من أحسنها ما رواه الإمام أحمد في مسنده من رواية ملك بني المصطلق، و هو الحارث بن ضرار والد جويرية بنت الحارث أم المؤمنين رضي اللّه عنها

“Dan banyak dari para mufassir menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk l Walîd ibn ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith ketika diutus untuk memungut shadagah bani Mushthaliq, kisah itu telah diriwayatkan dari banyak jalur, jalur paling bagus adalah apa yang diriyawatkan Imam Ahmad dari jalur raja/pemimpin bani Mushthaliq yaitu Hârits bin Dhirâr ayah Juwairiyah istri Nabi ra. “

Kemudian ia menyebutkan beberapa riwayat tentangnya dari riwayat Imam Ahmad, Ibnu Jarîr ath Thabari.

Ia juga mengatakan:

و كذا ذكر غير واحد من السلف‏ منهم ابن أبي ليلى و يزيد بن رومان و الضحاك، و مقاتل بن حيان، و غيرهم في هذه الآية أنها أنزلت في الوليد بن عقبة، و اللّه أعلم.

“Tidak sedikit dari kalangan ulama Salaf di antara mereka ialah Ibnu Abi Lailâ, Yazid ibn Rûmân, al Dhahhâk dan Muqâtil ibn Hayyân yang menyebutkan bahwa ayat ini untuk Al Wlîd bin ‘Uqbah,.”[8]

  1. Al Qurthubi dalam tafsirnya, setelah mengatakan bahwa ayat ini turun untuk al Walîd, menukil riwayat dari Qatadah… lalu Allah menurunkan ayat ini.

وسمي الوليد فاسقا أي كاذبا. قال‏ ابن زيد و- مقاتل و- سهل بن عبد الله: الفاسق الكذاب‏ . و- قال أبو الحسن  الوراق: هو المعلن بالذنب. و- قال ابن طاهر: الذي لا يستحي من الله.

“Dan al Walîd dinamai fasik artinya si pembohong. Ibnu Zaid berkata, fasik artinya al kadzdzâb, pembohong besar. Abu al Hasan  al Warrâq berkata, fasik artinya yang terang-terangan dalam menampakkan dosa.. Ibnu Thahir berkata, yang tidak malu terhadap Allah…[9]

  • ANasafi menegaskan, para ulama telah sepakat bahwa ayat ini turun untuk Al-Walîd ibn ‘Uqbah. Beliau juga menyimpulkan bahwa disebutkannya kata fâsiqun dalam bentuk nakirah (tanpa alif dan lâm) untuk tujuan keuumuman, siapapun dari orang yang fasik tanpa melihat golongannya, jika membawa kabar harus diuji kebenarannya terlebih dahulu… jangan kamu bersandar kepada ucapan si fasik, sebab seeorang yang tidak menjaga diri dari jenis kefasikan tertentu ia pasti tidak menjaga diri dari berbohong yang mana ia adalah bagian dari kefasikan itu…[10]
  • Al Khâzin berkata:

الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط

“Ayat ini turun untuk Al-Waliid ibn ‘Uqbah ibn Abi Mt’aith.” Setelahnya, ia menyebutkan riwayat tentangnya.

Walaupun kemudian ia berusaha membelanya dengan tanpa alasan. Seperti akan Anda saksikan nanti! Dan sikap itu adalah aneh, khususnya ia sendiri memastikan bahwa yang dimaksud dengan si fasik dalam ayat itu adalah al Walîd.[11]

  • Al Baghawi berkata:

 نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط

“Ayat ini turun untuk al Walîd bin ‘Uqbah ibn Abi Mut’aith.”[12]

  •  Syeikh al Alûsi dalam tafsir Rûh al Ma’âni-nya menyebutkan riwayat Imam Ahmad, Ibnu Abi al Dunya, al Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih dengan sanad, yang ia sifati dengan jayyid (bagus) dari al Harits ibn Abi Dhirâr al Khuza’i. Sebagaimana ia juga menyebut riwayat dari Abduh ibn Humaid dari al Hasan.[13] Setelahnya ia menerangkan makna kata fâsiq. Ia berkata:

و الفاسق الخارج عن حجر الشرع من قولهم: فسق الرطب إذا خرج عن قشرة، قال الراغب: و الفسق أعم من الكفر و يقع بالقليل من الذنوب و الكثير لكن تعورف فيما كانت كثيرة، و أكثر ما يقال الفاسق لمن التزم حكم الشرع و أقر به ثم أخل بجميع أحكامه أو ببعضها

“Dan fasik itu adalah orang yang keluar dari ikatan syari’at, di ambil dari ucapan orang Arab, fasaqa ar rathbu artinya daging kurma setengah matang itu keluar dari kulitnya. Ar Râghib (al Isfahâni), ‘Kata fasik lebih umum dari kekafiran, dan kefasikan itu bisa terjadi diakibatkan sedikit dosa atau juga banyak, tetapi ia lebih identik digunakan untuk pelaku  tindakan dosa yang banyak. Yang yang terbanyak digunakan kata fasik itu untuk orang yang telah menerima secara formal syari’at kemudian ia menyalahingnya dengan menyalahi seluruh atau sebagian hukumnya.” 

  • Asy Syaukâni berkata:

قال المفسرون: إن هذه الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط كما سيأتي بيانه إن شاء اللّه‏

“Para ahli tafsir berkata ayat ini turun untuk al Walîd bin ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith seperti akan kami terangkan nanti…”

Kemudian ia menyebutkan riwayat tentangnya dari riwayat Ahmad, Ibnu Abi Hatim, al Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih, al Suyûthi dan ia mengatakan bahwa sanadnya bagus dari al Hârits…

Kemudian ia mengutip Ibnu Katsir:

قال ابن كثير: هذا من أحسن ما روي في سبب نزول الآية. و قد رويت روايات كثيرة متفقة على أنه سبب نزول الآية، و أنه المراد بها و إن اختلفت القصص.

‘Dan ini adalah paling bagusnya riwayat tentang sebab turun ayat ini. Dan telah diriwayatkan banyak riwayat yang sepakat bahwa ia adalah sebab turunnya ayat tersebut, walaupun ada perbedaan dalam kisahnya.’[14]

  • Al Qâsimi dalam tafsir ayat ini menukil riwayat-riwayat tentang sebab turun dari Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Ia berkata:

قال ابن كثير: ذكر كثير من المفسرين أن هذه الآية نزلت في الوليد بن عقبة بن أبي معيط، حين بعثه رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم على صدقات بني المصطلق. و قد روي ذلك من طرق. و من أحسنها ماعن ابن المصطلق، و هو الحارث بن ضرار والد جويرية أم المؤمنين رضي اللّه عنها.

“Ibnu Katsîr berkata: “Dan banyak dari para mufassir menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk l Walîd ibn ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith ketika diutus untuk memungut shadagah bani Mushthaliq, kisah itu telah diriwayatkan dari banyak jalur, jalur paling bagus adalah apa yang diriyawatkan Imam Ahmad dari jalur raja/pemimpin bani Mushthaliq yaitu Hârits bin Dhirâr ayah Juwairiyah istri Nabi ra.“

Kemudian ia memperkenalkan kepada kita siapa sejatinya al Walîd itu, ia berkata: Ibnu Qutaibah berkata dalam al-Ma’arif:

الوليد بن عقبة بن أبي معيط بن أبي عمرو بن أمية ابن عبد شمس، و هو أخو عثمان لأمه، أروى بنت كريز. أسلم يوم فتح مكة، و بعثه رسول اللّه صلّى اللّه عليه و سلّم مصدقا إلى بني المصطلق، فأتاه فقال: منعوني الصدقة! و كان كاذبا فأنزل اللّه هذه الآية. و ولّاه عمر على صدقات بني تغلب، و ولّاه عثمان الكوفة بعد سعد بن أبي وقاص، فصلى بأهلها صلاة الفجر، و هو سكران، أربعا، و قال: أزيدكم؟! فشهدوا عليه بشرب الخمر عند عثمان، فعزله و حدّه. و لم يزل بالمدينة حتى بويع عليّ، فخرج إلى الرقّة فنزلها، و اعتزل عليّا و معاوية. و مات بناحية الرّقة.

“Al Walîd bin ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith bin Abi bin Umayyah ibn Abdi Syams, ia adalah saudara seibu dengan Utsman yaitu ibu Arwâ binti Karîz. Ia (al Walîd) masuk Islam pada saat penaklukan kota Makkah, ia diutus Rasulullah saw. sebagai pemungut zakat kepada bani al Mushthaliq, ia kembali kepada beliau saw. dan berkata, mereka menolak menyerahkan zakat kepadaku! Dan ia adalah pembohong. Maka Allah menurunkan ayat ini. Umar mengangkatnya sebagai pemungut shadaqah bani Taghlib. Utsman mengangkatnya sebagai Gubernur kota Kufah setelah dicopotnya Sa’ad ibn Abi Waqqâsh, ia ( al Walîd) memimpin salah shubuh dalam keadaan mabuk, ia salat empat raka’at, dan (setelah salam) mengatakan, ‘Apakah mau saya tambah?!’ Penduduk kota Kufah juga memberikan kesaksian di hadapan Utsman bahwa ia mabuk, maka ia mencopot dan memberikan sanksi (cambuk) kepadanya[15], setelah itu ia tinggal di kota Madinah hingga Ali dibaiat, maka ia keluar menuju daerah al Riqqah dan tinggal di sana, ia menjauhkan diri dalam komflik antara Ali dan Mu’awiyah, ia mati di daerah al Riqqah…. “

Al Qasimi juga menukil kesimpulan yang dibuat al Suyuthi, ‘Dalam ayat ini terdapat (kesimpulan) bahwa bertia orang fasik harus ditolak…’.[16]

  • Jalaluddin as Suyûthi dalam tafsir ad Durr al Mantsur-nya menyebutkan sepuluh riwayat yang menegaskan banhwa ayat ini untuk al Walîd bin ‘Uqbah;
  1. Riwayat pertama dari Ahmad, Ibnu Abi Hatim, ath Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih, dengan sanad yang bagus dari sahabat al Hârits.
  2. Riwayat kedua dari ath Thabarâni, Ibnu Mandah dan Ibnu Mardawaih dari sahabat Alqamah ibn Nahiyah.
  3. Ketiga, dari riwayat ath Thabarâni dari sahabat Jabir ibn Abdillah.
  4. Riwayat keempat, dari riwayat Ibnu Rahawaih, Ibnu Jarir, ath Thabari dan Ibnu Mardawaih dari Ummu Salamah- istri Nabi saw.
  5. Riwayat kelima, dari riwayat Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu Mardawaih dan al—Baihaqi dalam Sunannya dan Ibnu Asakir dari sahabat Ibnu Abbas ra.
  6. Riwayat keenam, dari riwayat, Adam, Abdu ibn Humaid, Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu al Mundzir dan al Baihaqi dari Mujahid,
  7. Riwayat ketujuh, dari riwayat Ibnu Mardawaih dari sahabat Jabir ibn Abdillah,
  8. Riwayat kedelapan, dari riwayat Abdu ibn Humaid dari al Hasan,
  9. Riwayat kesembilan dari riwayat Abdu ibn Humaid dari Ikrimah,
  10. dan riwayat kesepuluh, dari riwayat Abdu ibn Humaid dan Ibnu Jarir dari Qatadah.
  • Dalam Lubâb aNuqûl, as Suyûthi kembali menyebutkan riwayat yang menegaskan bahwa ayat ini turun untuk al Walîd.[17]
  • Imam al Wâhidi dalam kitab Asbâb an Nuzûl-nya menegeskan bahwa ayat ini turun untuk al Walîd bbn ‘Uqbah ibn Abi Mu’aith. Kemudian ia menyebutkan kisah tentangnya dan juga menukil riwayat panjang dari Imam al Hakim.[18]
  • Syeikh Ibnu Âsyûr dalam tafsir at Tahhîr wa an Nanwîr-nya menegaskan bahwa riwayat yang menyebutkan turunnya ayat tersebut untuk al Walîd sangat banyak sekali. Ia berkata:

و قد تضافرت الروايات عند المفسرين عن أم سلمة و ابن عباس و الحارث بن ضرارة الخزاعي أن هذه الآية نزلت عن سبب قضية حدثت. ذلك أن النبي‏ء صلى اللّه عليه و سلّم بعث الويد بن عقبة بن أبي معيط إلى بني المصطلق من خزاعة ليأتي بصدقاتهم‏

“Dan telah banyak riwayat di kalangan para ahli tafsir dari Ummmu Salamah, Ibnu Abbas dan al Hârits bin Dhirâr bahwa ayat ini turun terkait dengan sebuah peristiwa yang menjadi sebab turunnya yaitu Nabi saw. mengutus al Walîd bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith kepada bani Mushthalaq dari suku Khuzâ’ah untuk mengumpulkan zakat mereka.”[19]

Ibnu Jakfari berkata:

Inilah beberapa kutipan dari para ulama sengaja saya hadirkan dari berbagai kitab tafsir Ahlusunnah agar menjadi jelas bahwa hal ini telah diaklamasikan oleh para ulama dan bukan yang hanya diriwayatkan dalam satu atau dua riwayat yang belum pasti kesahihannya.

Dan sepak terjang al Walîd seperti juga telah disinggung, tidak berubah, ia tatap fasik dengan tidak henti-hentinya berlaku zalim dalam kekuasaannya, tanpa ada kontrol dari pemerintahan pusat; Khalifah Utsman bin Affân ketika itu. Dan rupanya pridikat sebagai orang fasik tidak hanya ditegaskan Allah dalam ayat di atas semata, tetapi ada ayat lain yang juga menyebut al Walîd dengan gelar fasik.

Banyak riwayat menyebutkan bahwa terjadi konflik antara Imam Ali as. dan al-Waliid, lalu Imam Ali as. mengecamnya dengan mengatakan, hai orang fasik,diam kamu. Maka Allah SWT. menururnkan sebuah ayat yang membenarkan kecaman dan mentalaitas fasik al-Waliid.

Allah SWT. berfirman:

أَ فَمَنْ كانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كان فَاسِقًا لا يَسْتَوُوْنَ * فَأَمَّا الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ فَلَهُمْ جَناتُ المَأْوَى نُزُلاً بِما كَانوا يَعْمَلُوْنَ * وَ أَمَّا الذيْنَ فَسَقُوا فَمَأْواهُمْ النارُ, كُلَّما أَرادُوا أَنْ يَخْرُحُوا مِنْها أُعِيْدُوا فِيْها, وَ قِيْلَ لَهُمْ ذُوْقُوا عَذابَ النارِ الذيْ كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُوْنَ.

Maka apakah oranmg yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama * Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan* Dan adapun orang-ornag yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikataan kepada mereka:” Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (SQ:32;17-19)

Dalam kesempatan ini saya tidak hendak menyebutkan data-data yang menguatkan hal ini, karena saya khawatir pembahahasan kita semakin menjauh, namun saya persilahkan Anda merujuk ke berbagai kitab-kitab tafsir standar, seperti Fath al Qadîr dan Syawâhid aTanzîil karya al Hâkim al Hiskâni,[20] pasti Anda menemukan kebenaran apa yang saya katakan.

ustad syiahali Berkata:

Dalam ayat-ayat di atas, setelah menegaskan bahwa tidak akan sama antara orang yang mukmin dan orang yang fasik (yang dalam tafsiran para ulama maksudnya adalah orang kafir), Allah SWT. menyebutkan kesudahan dan nasib kedua model manusia itu, orang-orang yang fasik itu di pastikan neraka sebagai tempat tinggal mereka di akhirat nanti.

Namun anehnya para ulama Ahlusunnah mengatakan, al Walîd adalah sahabat yang ‘adil (baik/shaleh, mulia) bukan seorang yang fasik! dan surga penuh kenikmatan, dan bukan neraka sebagai tempat tinggalnya kelak!! Manakah yang harus kita dengar, firman dan ketetapan Allah atau pendapat para ulama itu?! Jawabnya saya serahkan kepada kejernihan pikiran Anda.

 Para Ulama Ahlusunnah Membela Mati-matian Kehormatan al Walîd!

Kendati telah nyata bukti-bukti pasti dari riwayat-riwayat shahih serta kenyataan sejarah hidup al Walîd yang fasik, dan kendati Allah telah menegaskan bahwa al Walîd adalah orang yang fasik yang berani mengada-ngeda kepalsuan membehayakan terhadap Nabi saw…. Namun demikian para ulama Ahlusunnah tidak suka hati jika ada yang menyebut al Walîd sebagai si fasik! Seakan mereka memprotes Allah SWT yang menyebut sahabat kebanggaan mereka dengan gelar fasik! Sikap itu, memang aneh dan sungguh aneh. Betapa tidak?! Mereka menyaksikan dan menshahihkan riwayat-riwayat tentang sebab turunnya ayat tersebut untuk al Walîd yang Allah sebut sebagai fasik, tetapi mereka menolak menetapn gelar itu untuk al Walîd!

Sunnguh mengherankan sikap sebagian ulama Ahlusunnah seperti ar Râzi, ash Shâwi –dalam komentarnya atas tafsir Jalalain-, Ibnu Âsyûr dan beberapa lainnya… kebaratan itu benar-benar tanpa alasan selain bahwa karena al Walîd adalah sahabat agung, jalîl, maka tidak pantas kita berprasangka demikian terhadap sahabat. Karena, kami; ulama Ahlusunnah telah bersepakat bahwa seluruh sahabat itu ‘adil/baik, jujur terpercaya, panutan … persetan dengan siapa pun yang berani menyebut al Walîd; sahabat keganggan dan teladan kami sebagai fasik! Zindiqlah kalian yang menyebutnya fasik!!

Persetan dengan Sayyidina Hasan cucu tercinta Nabi saw. yang berani menghina sahabat agung panutan kami; Ahlusunnnah dengan menggelarinya si fasik –seperti yang digelarkan Allah untuknya- seperti dal;am riwayat shahih yang telah diabadikan para ulama sejarah. Imam Hasan as. Berkata kepada al Walîd, “… Demi Allah aku tidak mencelamu atas kebencianmu kepada Ali karena Ali telah menderamu sebanyak delapan puluh kali karena kamu menenggak khamr (miras)… engkau adalah orang yang telah dinamai Allah dengan FASIQ dan Allah menamai Ali MUKMIN.[21]

Persetan dengan “mulut busuk” siapa pun yang berani menyebut al Walîd bin ‘Uqbah, pujaan kami; Ahluusunnah dengan gelar yang ditetapkan Allah atasnya! Kami siap berperang dan menghukumi sebagai Ahli Bid’ah dan Zindiq/kafir atas Anda yang berani menyebut al Walîd bin ‘Uqbah; sahabat agung itu dengan gelar FASIQ!! Demikian kira-kira ancaman para ulama pengagung Para Salaf Shalihîn, seperti al Walîd bin ‘Uqbah, Mu’awiyah putra Abu Sufyân (gembong kaum kafir/musyrik), ‘Amr putra al Âsh (Penghina Nabi saw.), Samurah bin Jundub Cs.

Ketetapan Allah dan Rasul-Nya harus diabaikan! Demi menjaga kehormatan sahabat betapa pun ia seorang fasik, pemabuk dan pembohong besar nash-nash keagamaan harus diperkosa!! Demikian kira-kira luapan semangat pembalaan yang ditampakkann ulama Ahlusunnah itu. Lebih jelasnya Anda baca tafsir Ibnu Âsyur, dia sangat berapi-api dalam usahanya memperkosa ayat dan riwayat-riwayat di atas!

Seakan persahabatan seorang dengan Nabi saw. akan membentenginya dari kemunafikan, kefasikan dan kebobrokan moral. Dengan logika seperti itu bukankah kaum munafik juga bersahabat dengan Nabi saw., dan berjumpa serta menyatakan keimanan di hadapan Nabi saw., namun demikian mereka tetap disebut munafik dan tempat mereka adalah al-darkil asfali minan nâr (tempat paling bawah dan hina dalam api neraka).

Akan tetapi keterheranan kita mungkin berakhir apabila kita mengerti bahwa bukan persahabatan dengan Nabi saw. yang menjadi titik fokus pembelaaan, akan tetapi sebenarnya adalah kecintan kepada keluraga besar bani Umayyah dan koleganya yang mendorong mereka membela keluarga terkutuk itu.

Apa yang saya katakan ini tidak berlebihan atau tanpa dasar. Perhatikan betapa mereka menelantarkan sahabat-sahabat besar seperti Ammâr, Abu Dzarr dan tidak memberikan pembelaan yang semestinya dan dengan semangat yang seperti mereka tampakkan ketika membela Mu’awiyah, ‘Amr ibn al-Ash, Abu Hurairah, al Mughirah bin Syu’bah, al Walîd dan kawan-kawan. Bahkan yang sangat mengeherankan, mereka sama sekali tidak memberikan pembelaan ketika Bukhari melecehkan Imam Ali as. dengan menyebutnya menentang Nabi saw. dan bersikap kepada beliau saw. seperti sikap orang kafir dengan mendebat dan membantah sehingga Nabi saw. berpaling dan membacakan sebuah ayat yang kata para ulama itu turun menggambarkan karakter buruk orang-orang kafir!

Sekali lagi para pensyarah Bukhari yang terhormat tidak satu pun dari mereka yang mengatakan, misalnya, tidak layak kita berprasangka buruk terhadap sahabat… bahkan Ibnu Katsir (mufassir andalan Ahluusunnah) menyebutnya dalam tafsir ayat 54 surah al Kahfi dan menjadikan Imam Ali dan Fatimah putri Nabi as. sebagai yang dimaksud dengan ayat kecaman itu.!

Mereka; para ulama Ahlusunnah juga tetap saja menampakkan senyum ceria mereka ketika giliran Nabi Muhammad saw., nabi mereka dihina, dilecehkan dan difitnah habis-habsan oleh riwayat-riwayat yang mengatakan misalnya, Nabi saw. kerjanya hanya mengisi waktu-waktu malamnya dengan kegiatan sek menggilir sembilan atau sebelas istrinya dan yang lebih konyol lagi kata ulama itu Nabi saw. tidak mandi jenabat melainkan hanya sekali saja!

Nabi saw. dihina dan difitnah membunuh dengan bengis dan tidak manusiawi lawan-lawannya dengan menusuk mata-mata meerka dengan pedang panas mengangah dan setelahnya membiarkan mereka menggelepar-gelepar di atas padang pasir membakar hingga mati kehabisan darah!

Mereka doiam seribu bahasa jika Nabi Muhammad saw. dituduh mau bunu diri karena stres tidak didatangin wahyu… beliau lari ke puncak gunung dan bertekad melemparkan diri, namun untung Malaikat Jibrilsegera datang, jika tidak….? Jika tidak, para ulama Ahlusunnah tidak sempat punya nabi akhir zaman!!

Mereka menuduh Nabi saw. tidak mengetahui bahwa Allah SWT telah mengutusnya sebagai nabi sehingga seorang pendeta  nashranoi bernama Waraqah bin Naufal menyadarkannya bahwa yang daatang kepadanya itu malaikat Jibril pembawa wahyu kudus… barulah Nabi saw. sadar dan yakin bahwa beliau benar-benar sebagai utunsan Allah… andai bukan karena jasa Waraqah bin Naufal pastilah ulama Ahlusunnah akan menyaksikan nabi mereka tepat dalam keraguan dan tidak pernah mau mentablighkan wahyu yang diterimanya!!

Tidak cukup sampai di sini, para ulama Ahlusunnah itu justeru menyerang setiap yang berusaha membela Nabi saw. dengan menepis semua fitnahan itu! Tetapi jika giliran data kefasikan al Walîd dibongkar, mereka bangkit bak singa kelaparan mencari mansa dan meraung-raung menyerang musuh!

Demikianlah para ulama Ahlusunnah dengan segenap kekuatan yang mereka miliki membela sahabat kebanggaan mereka; al Walîd yang fasik itu! Karena Salaf kebanggaan mereka harus dibela… siapa pun yang menghinanya harus dilawan, ditentang dan dikecam habis-habisan betapa pun dia adalah Allah Rabbul ‘Alâmin! Sebab kehormatan “Sahabat Agung” kebanggaan mereka di atas segalanya!!

Selamat bagi Anda yang membanggakan memiliki Salaf Panutan Yang Fasik! Dan di sini saya meminta kepada Anda saudara Sunniku untuk mendatangkan bukti barang satu saja bahwa al Walîd tidak fasik!! Dan data-data yang telah saya sebutkan di atas adalah palsu!!

ustad syiahali :

Nah sekarang permasalahnya ialah, apakah kita tetap bersikeras mengatakan bahwa orang yang telah ditegaskan Allah SWT. sebagai orang yang fasik, orang yang disebut Nabi saw. sebagai calon tetap penguni neraka[22] apakah juga harus kita yakini keadilannya?

Dan apakah kita masih tentram menjadikan perantara dalam mengambil ajaran agama seorang yang berani berbohong kepada Nabi saw. justru dikala beliau saw. masih hidup? Tidakkah ia lebih berani berbohong kepada kita; manusia biasa ini? Manakah yang lebih harus kita ambil, firman Allah tentang al Walîd bahwa ia fasik atau pendapat para ulama yang mengatakan al Walîd adalah sahabat yang adil dan saleh serta layak dijadikan perantaraan dalam menimba ajaran agama?


[1] Al Ishâbah,3/637.

[2] Ibid.

[3] Istî’âb (dicetak dipinggir al Ishâbah),3/630-636.

[4] Ansâb al Asyrâf,6/144.

[5] Târîkh Damasqus,11/314 baca juga Tahdzîb al Kamâl,5/144.

[6] Târîkh Damasqus,239 Siyar al A’lâm,3/414 dan al Mughni,10/538.

[7]Ibid.3/632.

[8] Ibnu Katsir. Tafsir al-Qura’n al-Adziim. Vol.4,208-210. daar al-Ma’rifah – Beirut. Tahun1400 H/1980 M.

[9] Al-Qurthubi. Al-Jâmi’ li Ahkâm alqur’an. jilid. IIX, juz.16, hal.311-312.

[10] Tafsir Al-Nasafi. Jilid. Ii, juz4,hal.168. daar al-Kitaab al-’Arabi. Beirut. tt.

[11] Al Khâzin. Lubâb al Ta’wîl. Vol.6,222 dan Al Baghawi. Cet. Al-Bâbi al-Halabi-Mesir.

[12] Ma’âlim al al Tanzîl. Dicetak dipinggir al Khâzin.

[13] Rûh al Ma’âni. Jil.13, juz.26, hal.297-298. Dâr al Kutub al Ilmiyah. Beirut. Tahun.1994.

[14] Al-Syaukani. Fath al-Qadir. Vol.5,61-62. Daar al-Fikr. Beirut.tt.

[15]Dalam banyak dokumen sejarah bahwa Utsman melakukan itu setelah sebelumnya jusrtu berusaha memberikan sanksi kepada para saksi, akan tetapi Imam Ali as. turun tangan dan memaksa Utsman untuk menegakkan hukum Allah SWT. atas al Walîd, si pemabuk yang fasik itu. Dan akhirnya Utsman pun menghukumnya.

[16] Al-Qasimi. Mahâsin al Ta’wîl. Vol.15,115-117. Dâr al Fikr. Tahun.1978.

[17] Lubâb an Nuqûl fi Asbbâb al-Nuzûl.196-197. Dâr Iyâ’ al-’Ulûm. Beirut. Tahun 1978.

[18] Asbbâb al-Nuzûl.261-263. Dâr al Fikr, Beirut. Cet. Tahun 1988.

[19] At Tahhîr wa an Nanwîr,26/190.

[20] Dalam Syawahidnya vol.1,445-453, al-Hiskani menyebutkan empat belas riwayat, riwayat610 hingga 623. Fath al-Qadir. Vol.4,255-256.

[21] Syarah Nahjul Balâghah; Ibu Abi al Hadîd al Mu’tazili,6/292.

[22] Demikian disebutkan al Mas’ûdi dalam Murûj adz Dzahab-nya,2/344.

dukung.JPG

Abdullah bin Sarh sahabat yang dimusuhi Nabi SAW justru diangkat menjadi PEJABAT oleh Usman bin Affan


dukung.JPG

Abdullah ibn Sa‘ad ibn Abī as-Sarḥ

‘Abdullāh ibn Sa‘ad ibn Abī as-Sarḥ (Arabic: عبدالله بن سعد بن أبي السرح‎) was the foster brother of Uthman. His father was Saad ibn Abi Sarh. Abdullah bin Sa’ad bin Abi’l Sarh built a strong Egyptian Arab navy. Under him the Muslim navy won a number of naval victories including its first major naval battle against Constans II at the Battle of the Masts in 655 CE. Abdullah bin Sa’ad bin Abi’l Sarh was the Governor of Egypt at the time. One of his achievements while governor of Egypt, was the capture of Tripoli in 647 whereby he brought Libya into the folds of Islamic Empire
.

Abdullah Ibn Sa’d Ibn Abi Sarh was a governor of Upper Egypt during the reign of Uthman (644–656). He was the co-founder of the first Muslim Navy.

Utsman bin Affan menjadi khalifah pada usia 74, sekali lagi muncul pertanyaan mengapa dia lebih disukai ketimbang sahabat-sahabat lainnya yang lebih muda dan lebih mampu? Apakah ini merupakan siasat Umar bin Khathab untuk memberikan kekuasaan mutlak kepada klan Bani Umayyah? Strategi ini memuluskan berdirinya kekuasaan Utsman yang notabene adalah Bani Umayyah.

.
‘Abdullāh ibn Sa‘ad ibn Abī as-Sarḥ 

Abdallah Ibn Sarh al-`Amiri   adalah suku Quraisy pertama dari pada orang-orang yang menulis di Mekkah sebelum dia berpaling dari Islam. Sebelumnya ia merupakan seorang Muslim yang diperintahkan menulis kumpulan firman-firman Allah, namun ia berkhianat dan bergabung dengan pemberontak (murtad) . Setelah Pembebasan Mekkah, ia dijatuhi hukuman mati. Kemudian ia mengungsi ke saudara sepersusuannya, Utsman bin Affan

Utsman memberinya suaka, dan membawanya ke hadapan Muhammad dan memohon agar ia diampuni. Pada hari Muhammad menaklukkan Mekkah, dia memerintahkan pencatat Qurannya untuk di bunuh. Tetapi pencatat itu kabur kepada Ustman ibn Affan, karena Ustman adalah saudara angkatnya (ibunya menyusui Ustman). Ustman, oleh karena itu, menjauhkannya dari Muhammad. Setelah orang-orang mulai reda, Ustman membawa pencatat itu kepada Muhammad dan mencari perlindungan baginya. Muhammad berdiam untuk waktu yang cukup lama, yang setelah itu mengatakn ya. Ketika Ustman sudah pergi, Muhammad mengatakan “Saya berdiam diri hanya supaya kalian seharusnya membunuh dia (si pencatat, Abdullah)

.

Dan ketika berkuasa, Utsman pun menunjuk salah seorang musuh Nabi (Saw), saudara sepupunya, Abdullah bin Sarh sebagaimana yang ditulis Amir Ali: “…Abdullah ini, suatu waktu pernah menjadi seorang sekretaris Nabi, dan ketika Nabi mendiktekan wahyu yang diterimanya, dia (Abdullah) selalu mengubah kata-katanya dan mengubah maknanya” [Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, p. 294]

pernyataan bahwa al-Quran al-Karim telah dinodai oleh Ibn Abî Sarh sama sekali tidak terbukti, mengotori segenggam air pun tidak.

.

Bahkan seorang sarjana ternama Muslim Sunni, Al-Syahid Sayyid Quthb, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas fakta sejarah ini. Sayyid Quthub menulis, “Adalah celaka sekali bahwa kekuasaan kekhalifahan diberikan kepada Utsman yang pada saat itu telah tua renta, lemah semangat juangnya untuk menegakkan Islam, tak berdaya menentang tipu daya pembantunya, Marwan bin Hakam serta pendukungnya, kaum keluarga Ummayyah.” [Sayyid Quthb, Keadilan Sosial Dalam Islam, hlm. 270, Penerbit Pustaka Bandung, Cet. I, 1984.]

.

“…tetapi sejarah juga sulit untuk memaafkan kesalahannya (Utsman bin Affan) akibat usianya yang telah sangat tua dan fisiknya yang sudah lemah, terombang-ambing dalam pengaruh buruk Bani Umayyah.” [Ibid, hlm. 272.]

.

Ketika para shahabat yang shalih masih hidup mengapa kedudukkan-kedudukkan penting justru diberikan kepada orang-orang berperilaku buruk seperti itu? Jawaban obyektifnya adalah agar sang khalifah dengan mudah mempunyai kesempatan untuk memberikan kekuasaan yang langgeng bagi Bani Umayyah. Inilah suatu kaum yang di dalam sejarahnya berambisi untuk memadamkan Cahaya Islam, yang mendapatkan kesempatan secara mulus dari para khalifah-khlaifah sebelumnya untuk berkuasa dan menghancurkan Islam dari dalam.

.

Dan saat itu pula musuh bebuyutan mereka, Bani Hasyim tidak lagi memiliki kekuatan yang berarti setelah pertahanan ekonomi mereka (Fadak) dirampas, dan posisi-posisi penting mereka dan para pendukung mereka berhasil digusur. Kemutlakan pilih kasih telah diberikan kepada Bani Umayyah dan menghapus segala kemungkinan Bani Hasyim dapat meraih kekhalifahan.

.

Utsman telah memberikan khumus (20%) dari rampasan perang dari expedisi pertama ke Afrika kepada saudara lelakinya, Abdullah ibn Abu Sarh. Marwan bin Hakam memperoleh khumus (20%) dari expedisi ke 2 Afrika. Dan akhirnya khalifah memberikan kepadanya keseluruhannya (100%). [Tarikh Ibn al Athir Volume 3 page 49 publishers, Dar ul Kitan al Lubnani, 1973.]

.

* Tanah Fadak yang merupakan milik Rasulullah Saw, yang disita Abu Bakar dari tangan Sayyidah Fathimah, akhirnya diberikan Utsman kepada Marwan.

[Ibn Qutayba, Al Ma'arif, p. 190 edited by Tharwat 'Ukasha, Cairo edition 1960.]

.

* Utsman juga memberikan sepupunya, Harits hadiah yaitu, unta-unta yang telah dikumpulkan sebagai zakat dan pajak, lalu membawa unta-unta itu ke Madinah. [Ansab al-Ashraf, Baladhuri, Vol 5 p 28, edited by S.D.F. Goitein Jerusalem 1936.]

.

* Apakah hal ini tidak mengundang keingintahuan, bahwa Abu Bakar telah menetapkan Fadak menjadi milik negara, lalu ‘diberikan’ kepada Marwan? Utsman telah memberikan Zakat dari Qud’ah yang berjumlah 300.000 dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 1, p. 193, Dar al- Ma’arif, Egypt, 1953] dan Abdul Rahman bin Auf 3 juta dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 3, p. 126, Dar al-Ma'arif, Egypt 1953]

.

Mungkin menurut Umar bin Khaththab hal ini dipandang sebagai alternatif, setelah menyadari ketamakan Bani Umayyah, dengan dalih agar tidak terjadi perang saudara (antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim) dan menjaga persatuan umat Islam secara keseluruhan.

Tidak bisa dibantah, mengapa Umar bin Khaththab tidak menganugerahkan kekhilafahan kepada putranya, Abdullah bin Umar? Ternyata Umar mempunya visi yang terlalu jauh untuk ini.

.

Dia menyadari jika dia memberikan kekhalifahan kepada putranya, Abdullah bin Umar, dia akan mendapatkan ancaman kekuasaan dari Bani Umayyah, sehingga dengan terpaksa dia memberikannya kepada Banu Umayyah, yang dia ketahui sangat haus kekuasaan. Pada kenyataannya, dia telah membuat putranya sendiri, Abdullah bin Umar mesti memutuskan pemilihan suara dalam Dewan Syura yang sudah disiapkan Umar bin Khaththab sedemikian rupa agar Utsman bin Affan unggul dalam pemilihan tersebut.

.

Dengan cara ini, putra Umar, Abdullah bin Umar menjadi sekutu dekat dengan Bani Umayyah dan menjadi seorang musuh yang pahit bagi putra-putra Imam Ali, khususnya Imam Husain (as)

.

dukung.JPG

 

Usman memberi keutamaan kepada anggota sukunya atau menunjuk keluarga nya untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Utsman, Ia hidup dalam  kemewahan. la menunjuk anggota dari sukunya (Umayah) untuk menduduki posisi yang penting dan kuat dalam pemerintahan, dengan memberi keutamaan kepada mereka daripada umat Islam lainnya, tanpa melihat kepentingan mereka. Padahal, keluarganya ini tidak beriman, juga royal dan sangat berlebihan.

Bani Umayah seperti Muawiyah dan Marwan yang benar-benar mencari keuntungan dari keberadaan Utsman dan juga kematiannya. Kisah Ibnu Saba dalam hal ini berfungsi sebagai topeng bagi wajah-wajah yang haus kekuasaan, yang juga merupakan cara lain untuk menyerang Ali bin Abi Thalib dan pengikut-pengikut setianya.

Khalifah Utsman mengangkat saudara angkatnya, Abdullah bin Sa’d, sebagai gubernur Mesir. Pada saat itu, Mesir merupakan propinsi terbesar di negara Islam. Ibnu Sa’d telah masuk Islam dan pindah dari Mekkah ke Madinah. Ketika Mekkah ditaklukkan, Nabi Muhammad SAW menyuruh kaum Muslimin untuk membunuh Ibnu Sa’d. Ia harus dibunuh meskipun ia menalikan kain Kabah ke tubuhnya. Ibnu Sa’d bersembunyi di rumah Utsman

Khalifah Usman bin Affan membawa pamannya, Hakam bin Abi As (putra Umayah, putra Abdussyams), ke Madinah setelah Nabi Muhammad mengasingkannya dari Madinah

 Diriwayatkan bahwa Hakam sering bersembunyi dan mendengarkan percakapan Nabi Muhammad ketika ia berbicara secara rahasia kepada sahabat-sahabat utamanya, lalu menyebarkan apa yang ia dengar. Ia sering mengikuti dan memperolok-olok cara berjalan Nabi. Suatu waktu Nabi melihatnya ketika ia sedang meniru-niru jalannya dan berkata, “Selamanya ia akan seperti itu.” Segera Hakam menjadi seperti itu hingga ia meninggal. Diriwayatkan juga bahwa, suatu hari, ketika sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, Nabi Muhammad berkata, “Seorang lelaki yang telah dikutuk akan memasuki ruangan ini.” Tak lama setelah itu masuklah Hakam.

Setelah membawanya ke Madinah, Utsman memberi pamannya uang sebanyak 300 ribu dirham.

la menjadikan Marwan bin Hakam, sebagai pembantu utamanya, dan penasehat tertinggi nya, dengan memberi kekuasaan yang sama dengan dirinya. Marwan menerima seperlima pendapatan dari Afrika Utara sebesar 500 ribu dinar. Tetapi ia tidak menyerah kan uang ini. Khalifah mengizinkannya untuk menyimpan uang ini. Jumlahnya sama dengan 10 juta dollar.

Ali bin Abi Thalib sering memperingatkan Utsman mengenai berbahayanya Marwan, tetapi hal itu sia-sia saja. Percakapan berikut antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman membuktikan kenyataan ini. Kejadian ini terjadi ketika Utsman diserang, lalu ia meminta bantuan Ali bin Abi Thalib.

Orang-orang menyampaikan hal ini kepada Ali. Kemudian Ali mendatangi Utsman dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah membuat puas Marwan (sekali lagi), tetapi ia hanya akan puas jika engkau menyimpang dari agamamu dan akalmu, seperti seekor unta membawa tandu yang dituntun semaunya. Demi Allah, Marwan tidak mengetahui apapun tentang agama dan jiwanya. Aku bersumpah demi Allah, menurutku, ia akan membawamu masuk dan tidak akan mengeluarkanmu kembali. Setelah pertemuan ini, aku tidak akan datang untuk mencacimu lagi. Engkau telah menghancurkan kehormatanmu sendiri dan merampas kekuasaanmu.”

Ketika Utsman wafat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Demi Allah! Aku telah berusaha membelanya (Utsman) hingga aku dipenuhi rasa malu. Tetapi Marwan, Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As telah melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau saksikan. Ketika aku memberi nasehat yang sungguh-sungguh dan menganjurkan ia untuk mengusir mereka, ia menjadi curiga, sehingga terjadilah apa yang terjadi saat ini.”

Marwan beserta keturunannya merupakan dasar dari beberapa tuduhan korupsi dan nepotisme yang paling serius yang dilakukan Utsman. Marwan, tentu saja, merampas kekhalifahan dan menaiki tahta pada tahun 64/684 dan merupakan nenek moyang raja-raja Umayah selanjutnya di Damaskus juga pemimpin Cordova hingga setelah tahun 756.

c.  Memberikan jabatan publik kepada keluarga; khalifah Utsman mengangkat Walid bin Aqabah (salah satu keluarga Umayah) sebagai gubernur Kufah, tingkah laku Walid ketika Nabi masih hidup buruk. Quran merendahkannya dan menyebutnya sebagai orang yang menyimpang. Contohnya Nabi Muhammad SAW mengirim dia kepada Bani Mustalaq untuk mengumpulkan zakat mereka.walid melihat dari jauh Bani Mustalaq ini mendekat ke arahnya dengan mengendarai kuda, Ia menjadi takut karena ketegangan antara dia dan kaum ini sebelumnya. Ia kembali kepada Nabi Muhammad SAW dan memberitahu bahwa mereka ingin membunuhnya. Hal. ini tidak benar. Tetapi keterangan Walid ini membuat murka kaum Muslimin Madinah dan mereka ingin menyerang Bani Mustalaq

Pada saat itu turunlah ayat berikut, Hai orang-orang yang beriman, jika seorang yang menyimpang datang kepadamu membawa berita, buktikanlah kebenaran berita itu! Jika tidak engkau akan menghancurkan suatu umat tanpa kalian sengaja, kemudian kalian akan menyesal dengan perbuatan kalian yang tergesa-gesa itu

Walid masih terus menjalankan praktik hidup jahiliyahnya selama hidupnya. la selalu meminum arak dan banyak saksi menyatakan kepada khalifah bahwa mereka menyaksikan Walid sedang mabuk ketika memimpin shalat berjamaah.

Usman  malah menggantikan Jabatan Walid dengan Said bin As, anggota keluarga Umayah yang lain.

d. Umar adalah orang yang menempatkan Muawiyah di pemerintahannya selama ia berkuasa dan USMAN hanya melakukan hal yang sama.”

Tabari menukilkan bahawa ‘Uthman menulis surat kepada Muawiyah dan berkata: Sesungguh nya warga Madinah telah kafir, menderhaka dan memutuskan bai’at mereka (Tarikh Tabari jilid 3 halaman 402)

.

Utsman bin Affan tidak seperti pendahulunya yang cerdik dalam politik dan mampu mengatur pemerintahnya lebih baik. Setelah Abdurrahman bin Auf menyerahkan suaranya kepada Utsman dan ia terpilih sebagai khalifah, Utsman diarak menuju masjid Rasulullah saw. untuk mengumumkan kebijakan politiknya demi memperbaiki kondisi yang ada. Utsman naik ke atas mimbar dan duduk di atas tempat yang biasa diduduki Nabi semasa hidupnya, padahal Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak berani melakukannya ketika mereka menjabat sebagai khalifah. Mereka berdua hanya berani duduk di undakan yang menuju tempat duduk Nabi. Di atas tempat duduk Nabi itulah Utsman berpidato. Sebagian sahabat berkata: “Hari ini kepongahan telah lahir”.[31]

Utsman bin Affan bukan seorang yang pandai pidato. Ia tidak mampu berkata banyak di atas mimbar Nabi. Ia berkata: “Amma Ba’du (selanjutnya), sesungguhnya pertama kali mengendarai sesuatu adalah saat yang sangat sulit. Di sisi lain, aku bukanlah seorang orator. Allah Maha Mengetahui. Sesungguhnya masalah yang berada di antara seseorang dan Adam adalah seorang ayah yang telah meninggal dan perlu dinasehati”.[32]

Al-Ya’qubi menulis: “Utsman bin Affan berdiri dan untuk sementara waktu ia tidak berkata apapun. Kemudian ia membuka mulutnya dan berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar bin Khatthab telah menyiapkan posisi ini sebelumnya. Kalian lebih membutuhkan seorang khalifah yang adil daripada seorang khalifah yang hanya bisa berpidato. Bila kalian masih hidup, ucapan dan pidatoku akan mendatangi kalian. Kemudian Utsman turun dari mimbar”.[33]

Utsman bin Affan mulai menjalankan pemerintahannya dan melakukan kebijakan-kebijakan yang membuat mayoritas kaum muslimin marah dan membencinya kecuali keluarganya, yaitu Bani Umayyah. Ia secara transparan menunjukkan sikap fanatisme kesukuannya dan kecondongannya kepada keluarga, sekaligus mengumumkan bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar Umayyah. Ia mulai mengangkat dan menokohkan anggota keluarga Umayyah di atas masyarakat yang lain. Posisi penting mulai diisi oleh Bani Umayyah tanpa mampu ditolak oleh kaum muslimin.

Utsman bin Affan telah melampaui batas dalam kebijakan rasisnya; melebihi apa yang telah ditanamkan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khatthab. Quraisy tidak lagi memegang kendali pemerintahan, namun dibatasi oleh Utsman pada Bani Umayyah saja.

Utsman bin Affan tidak lagi  peduli pada nasihat dan peringatan-peringatan para sahabat dan di atas mereka semua Ali bin Abi Thalib. Benar, Utsman telah menguasai kekuasaan, namun ia lupa berkaca kepada pendahulunya dalam menjalankan pemerintahan di atas metode yang sah dan berdasarkan pemerintahan Islam. Elemen-elemen penting dan baik semakin lemah untuk dapat mengubah kebijakan pemerintah secara langsung. Kebijakan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab pada masa pemerintahan mereka cukup berhasil menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari kekuasaan dan kepercayaan rakyat pada pandangan dan tuntunannya. Akibatnya, penyelewengan dan penyimpangan dari pemerintahan islami dan munculnya arus kebencian dan permusuhan terhadap Ahlul Bait semakin kuat. Kondisi ini sangat menyulitkan usaha Ali agar khalifah baru mau mendengarkan nasihat. Kondisi dipersulit dengan arus kaum munafik dan Quraisy yang memeluk Islam secara terpaksa ketika pembebasan kota Mekkah serta orang-orang yang punya kepentingan yang berada di sekelilingnya.

Sikap Abu Sufyan setelah pembaiatan Utsman bin Affan

Setelah selesai pembaiatan Utsman bin Affan, Abu Sufyan berjalan mendekati rumah Utsman bin Affan, dan secara berdesak-desakan dengan keluarga dan teman-teman Utsman ia maju dan menyampaikan awal kemenangan menguasai kekuasaan. Tampak wajahnya berbinar-binar menerima kemenangan ini dengan terpilihnya Utsman sebagai khalifah kaum muslimin. Mulutnya terbuka lebar untuk menandakan kebenciannya. Tampak kegeramannya mengingat Islam telah menghina tokoh-tokoh Bani Umayah. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan kemudian berkata kepada segenap yang hadir di rumah Utsman bin Affan: “Apakah ada orang lain selain keluarga dan teman-teman Bani Umayyah?” Mereka serentak menjawab: “Tidak”. Abu Sufyan melanjutkan: “Wahai Bani Umayyah! Dengan cepat kalian telah meraih dan menguasai kekuasaan seperti menangkap bola. Demi Zat yang Abu Sufyan bersumpah atasnya! Tidak ada yang namanya surga dan neraka. Tidak pula ada perhitungan di Hari Kiamat, dan tidak ada juga yang namanya pembalasan. Sejak dahulu aku selalu mengharap kekuasaan ini untuk kalian. Jadikan ini sebagai warisan untuk anak cucu kalian”.[34]

kemudian ia berjalan menuju kuburan pemimpin para syahid, Hamzah bin Abdul Mutthalib. Ia berhenti di samping kuburan sambil menendang kuburan Hamzah dengan kakinya dan berkata: “Wahai Abu ‘Imarah! Apa yang selama ini engkau perjuangkan dengan pedangmu sekarang telah berada di tangan anak keturunan kami. Mereka menjadikannya sebagai barang mainan”.[35]

Dampak Negatif Kebijakan Pemerintahan Utsman bin Affan

Selama hidup dengan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib a.s. tidak pernah menunjukkan ketidaksetujuannya secara terbuka. Demikian ini tidak lain karena penyimpangan yang terjadi juga tidak secara terang-terangan. Bahkan dalam banyak kesempatan, Ali terlibat dalam usaha memperbaiki sikap dan posisi khalifah bila terjadi kesalahan dan itu diterima oleh keduanya. Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak khawatir karena Ali memainkan peranannya hanya sebatas tokoh agama di hadapan umatnya dan sebagai pemilik yang sah kekhalifahan dan pemimpin oposisi bersama sebagian sahabat besar lainnya. Ali siap untuk tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah dan memberikan ketenangan kepada masyarakat, sekalipun ia tidak akan mundur dari prinsip yang diwarisinya dari Rasulullah saw. sebagai penjaga dan pelindung akidah Islam.

Sikap yang diambil oleh Ali bin Abi Thalib berbeda ketika Utsman bin Affan mengambil alih pemerintahan sebagai khalifah baru. Pada pemerintahan Utsman, perilaku korup telah menyebar luas dan secara perlahan-lahan korupsi itu masuk dalam struktur pemerintahan secara terang-terangan. Kerusakan moral ini akhirnya menjalar dan merasuki masyarakat Islam. Di sini, Ali bin Abi Thalib kemudian mengambil sikap dan secara terang-terangan menentang kepemimpinan Utsman bin Affan. Banyak sahabat besar yang mendukung sikap Ali seperti: Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lain, bahkan dukungan juga mengalir dari mereka yang sebelumnya mengingkari hak Ali sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Mereka tidak setuju dengan kebijakan Utsman dalam pengelolaan negara dan kerusakan moral pemerintahannya. Di sini dapat dilihat secara global pemerintahan Utsman dan dampak buruknya:

Utsman bin Affan menerima tampuk pimpinan ketika ia telah berumur tujuh puluh tahun; batasan umur di mana seseorang sangat mencintai keluarga dan mau berkorban untuk mereka. Diriwayatkan ucapannya: “Seandainya aku memiliki kunci-kunci pintu surga, niscaya aku akan memberikannya kepada Bani Umayyah sehingga mereka semua memasukinya”.

Begitu juga sebelum Islam, Utsman bin Affan hidup dalam kondisi yang serba ada dan kondisi itu berlangsung setelah memeluk Islam. Oleh karenanya, ia tidak dapat merasakan betapa sulitnya orang-orang fakir miskin menjalani kehidupan mereka. Kepribadiannya betul-betul teruji ketika harus bersikap dengan sekelompok besar orang-orang miskin yang meminta keadilan dan persamaan hak darinya. Ia memperlakukan mereka dengan keras dan kasar sebagaimana perlakuannya kepada Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lainnya.

Dari sisi keluarga, Utsman bin Affan sangat dekat dan bahkan menempatkan mereka pada posisi-posisi penting. Ia mengangkat Al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith sebagai gubernur Kufah, padahal Al-Walid termasuk orang yang diberitakan oleh Rasulullah sebagai penghuni neraka. Utsman juga mengangkat  Abdullah bin Abi Sarh sebagai gubernur Mesir, Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam dan Abdullah bin ‘Amir sebagai gubernur Bashrah. Ia juga telah mencopot Al-Walid bin ‘Uqbah dari jabatannya sebagai gubernur Kufah dan menggantikannya dengan Said bin Al-’Ash.[36]

Utsman bin Affan adalah orang yang lemah, terutama bila berhadapan dengan Marwan bin Al-Hakam. Ia senantiasa mendengar ucapan dan menuruti keinginan Marwan. Hal itu terus berlangsung bahkan ketika terjadi konspirasi untuk menggulingkannya dan kondisi yang betul-betul gawat. Ketika keadaan telah kritis, Ali bin Abi Thalib melibatkan diri untuk meredakan ketegangan sampai berhasil memulangkan orang-orang yang melakukan demonstrasi menuntut perubahan dan perbaikan kebijakan pemerintahan sekaitan dengan kolusi dan korupsi yang telah menggerogoti pemerintah, bahkan permintaan untuk menggantikan sebagian gubernur di beberapa daerah. Ali berhasil mendapatkan janji Utsman untuk tidak lagi mendengar dan mengikuti ucapan Marwan bin Al-Hakam dan Said bin Al-’Ash.

Sayangnya, tatkala situasi mereda dan normal, Marwan dan Said kembali mendekati Utsman bin Affan dan memaksanya keluar dari rumah disertai pengawal pribadi. Melihat hal itu, Ali bin Abi Thalib a.s. menemui Utsman dengan penuh kemarahan sambil berkata: “Kau setuju dengan perkataan Marwan, namun ia tidak pernah puas padamu. Yang diinginkan darimu adalah agar engkau menyimpang dari agama dan akalmu seperti unta yang dicocok hidungnya ikut ke mana saja pemiliknya pergi. Demi Allah! Marwan bukan orang yang agama dan jiwanya baik”.[37]

Pada kesempatan lain, Utsman bin Affan sangat marah kepada para saksi yang menyaksikan Al-Walid bin ‘Uqbah yang dituduh meminum khamar sehingga Utsman mengusir mereka. Mengetahui kejadian tersebut, Ali bin Abi Thalib memperingatkan Utsman akan akibat yang bakal terjadi dari perbuatannya ini. Ali memerintahkan Utsman untuk menghadirkan Al-Walid agar diadili dan dihukum bila terbukti tuduhan tersebut. Ketika Al-Walid dihadirkan dihadirkan dalam sidang dan terbukti melakukan demikian atas kesaksian para saksi, Ali sendiri yang melaksanakan hukumannya yang membuat Utsman semakin marah. Ia berkata kepada Ali: “Engkau tidak punya hak untuk melaksanakan hukum tersebut atas Al-Walid”. Ali menjawab dengan logika yang kuat dan berlandaskan syariat Islam: “Bahkan yang lebih buruk dari ini adalah bila seseorang yang berbuat kefasikan dan mencegah hak-hak Allah berlaku kepada orang yang berbuat fasik”.[38]

Kebijakan Utsman bin Affan di bidang keuangan adalah kepanjangan dari kebijakan yang diberlakukan sebelumnya oleh Umar bin Khatthab, yaitu kebijakan  yang menciptakan sistem kasta. Umar membagikan kekayaan negara secara tidak adil kepada sebagian kelompok dan tidak kepada sebagian lainnya. Ketimpangan itu yang kemudian dilanjutkan dengan bentuk yang lebih ekstrim di zaman Utsman bin Affan. Ia memberikan perhatian khusus kepada Bani Umayyah.

Suatu waktu, penjaga khazanah Baitul Mal mengajukan keberatannya kepada Utsman mengenai kebijakan keuangannya. Mendengar itu, Utsman menjawab: “Engkau adalah penjaga Baitu Mal kami. Bila kami memberikan sesuatu kepadamu maka ambillah, dan bila kami diam maka engkau juga harus diam”. Penjaga Baitul Mal kemudian menjawab: “Demi Allah! Aku bukan penjaga Baitul Mal khalifah dan keluarganya melainkan penjaga harta kaum muslimin”.

Pada hari Jumat, ketika Utsman berkhotbah, penjaga Baitul Mal itu berkata: “Wahai kaum muslimin, Utsman bin Affan menganggap bahwa aku adalah penjaga Baitul Malnya dan keluarganya. Aku ingin mengatakan di sini bahwa aku adalah penjaga Baitul Mal kaum muslimin. Ini adalah kunci-kunci Baitul Mal milik kalian”. Ia kemudian melemparkan kunci-kunci tersebut ke hadapan Utsman.[39]

Sikap Ali terhadap Utsman bin Affan

Kaum muslimin semakin membenci Utsman bin Affan karena perilakunya. Sahabat-sahabat terbaik Rasulullah saw. semakin bersatu terhadap penyimpangan khalifah dan pejabat yang berada di bawahnya. Di seberang sana, Utsman bin Affan mengerti dan mulai menyiksa para penentang kebijakannya yang menyimpang. Penyiksaan yang dilakukan sudah tidak lagi memandang para sahabat Rasulullah saw. Dari situ, ia menyiksa Abu Dzar; salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw, karena seringnya melakukan protes terhadap kebijakan Utsman yang buruk. Utsman membuangnya ke Syam. Muawiyah sebagai gubernur Syam juga tidak mampu menahan protes Abu Dzar sehingga ia mengirimkan Abu Dzar kembali ke Madinah.

Di kota Madinah, Abu Dzar kembali melakukan perjuangan dengan memprotes kebijakan buruk Bani Umayyah. Utsman semakin terpojok dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh Abu Dzar.  Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk mengasingkan Abu Dzar ke daerah bernama Rabadzah (sebuah tempat di Lebanon sekarang ini) dan melarang siapa pun untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya.

Tanpa kekhawatiran sedikitpun, Ali bin Abi Thalib mengantarkan Abu Dzar untuk mengucapkan selamat tinggal. Ali ditemani kedua anaknya Hasan dan Husein, Aqil, dan Abdullah bin Ja’far. Marwan bin Al-Hakam gusar terhadap perlakuan baik Ali tersebut. Ia melakukan protes kepada Utsman bin Affan agar menahan mereka untuk tidak memberi ucapan selamat dan mengantarkan Abu Dzar. Ali bangkit dan menyerang Marwan. Ia berhasil memotong kedua telinga binatang tunggangan Marwan. Setelah itu, Ali berteriak kepadanya: “Coba halangi! Semoga Allah mengirimmu ke Neraka”.[40]

Ali bin Abi Thalib tetap bersikeras untuk mengucapkan perpisahan dan mengantarkan Abu Dzar sambil berkata kepadanya: “Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau bila marah karena Allah, aku berharap kemarahanmu ditujukan kepada mereka. Orang-orang takut kepadamu karena urusan dunia dan harta mereka, sementara engkau takut kepada mereka karena masalah agama mereka. Tinggalkanlah apa yang mereka takutkan atasmu buat mereka (harta dan dunia). Pergilah engkau bersama ketakutanmu atas mereka (agama). Mereka lebih butuh kepada apa yang engkau larang (cinta dunia). Apa yang mereka larang kepadamu lebih berharga (agama). Engkau akan tahu siapa yang lebih beruntung di Hari Kiamat dan siapa yang lebih dengki!”[41]

Sekembalinya dari mengantar Abu Dzar untuk mengucapkan salam perpisahan, orang-orang menyambut Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Utsman bin Affan sangat marah denganmu”. Ali menjawab: “Biarkan kuda marah karena kekangannya”.

Dampak Negatif Pemerintahan Utsman terhadap Umat Islam

Pemerintahan Utsman bin Affan merupakan kelangsungan dari garis politik pemerintah yang melalaikan kandungan risalah Islam, baik secara praktis maupun teoritis. Kondisi ini meninggalkan efek-efek negatif dalam perjalanan pemerintahan Islam dan umat sebagai kesatuan. Hal itu ditambah dengan kerusakan dan tuduhan keji terhadap transparansi pemerintahan Islam di hadapan umat Islam yang tidak pernah hidup di bawah seorang pemimpin yang maksum (Nabi Muhammad saw) kecuali selama satu dekade. Pada sepuluh tahun itulah umat melihat pemimpinnya sekaligus penguasa dan pendidik. Sementara, api fitnah semakin berkobar luas di pinggiran negara Islam yang akan membawa malapetaka kepada umat Islam. Dengan memeriksa data-data sejarah, dapat ditemukan beberapa kesimpulan di bawah ini:

1.  Kebijakan pemerintahan Utsman bin Affan tidak sesuai dengan syariat Islam. Hukum-hukum tidak dijalankan secara baik, kebusukan dan kebobrokan semakin meluas sehingga para pejabat pemerintahan tidak mampu memperbaiki kondisi yang telah buruk itu. Ini semua menjadikan keonaran dalam kehidupan bermasyarakat yang pada akhirnya memunculkan semangat untuk tidak lagi taat kepada hukum. Dampak buruk dari munculnya kebusukan ini adalah kecerobohan dan acuh terhadap nilai-nilai moral dan hukum-hukum Islam. Di rumah-rumah gubernur dan pejabat-pejabat tinggi, dapat ditemukan dengan mudah pesta pora yang diisi dengan acara musik dan nyanyian yang di sela-sela itu minuman keras dihidangkan.[42]

2.  Pemerintah Utsman bin Affan memfokuskan kebijakannya atas dasar semangat kesukuan yang sejak awal telah ditanamkan oleh Abu Bakar dalam kebijakan politiknya. Kekuasaan yang didasari oleh kesukuan semakin transparan dalam kekuasaan Bani Umayyah. Mereka bagaikan sebuah keluarga besar menguasai semua jabatan-jabatan penting, karena mereka menganggap bahwa mereka adalah penguasa besar yang menguntung Islam dan sekarang kekuasaan ini kembali kepada pemiliknya. Di sini sudah tidak ada lagi prinsip-prinsip syariat Islam. Bani Umayyah muncul sebagai haluan politik yang kuat; haluan yang memusuhi Islam dan khususnya Ahlul Bait Nabi. Mereka telah menjelma menjadi penghalang terbesar yang dapat menahan Ali bin Abi Thalib untuk dapat mengambil kembali haknya yang terampas. Mereka kemudian membentuk front di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menghadapi Ali.

3.  Pemerintahan Utsman bin Affan menganggap bahwa kekuasaan adalah hak dan sebuah pemberian dan tidak seorang pun berhak untuk merampasnya dari mereka. Kekuasaan dijadikan alat untuk memenuhi keinginan dan kerakusan mereka yang dipenuhi oleh hawa nafsu yang sesat. Menurut mereka, kekuasaan bukan untuk memperbaiki masyarakat dan menyebarkan Islam di muka bumi.[43] Pandangan seperti ini sedikit banyaknya mempengaruhi banyak orang untuk berlomba-lomba berusaha menguasai pemerintahan, karena kekuasaan akan memberikan keuntungan, kekuatan dan derajat. Amr bin Al-Ash, Muawiyah, Thalhah dan Zubeir termasuk dalam kelompok ini. Mereka tidak lagi berusaha meraih kekuasaan dengan alasan mewujudkan tujuan kemanusiaan atau sosial yang menguntungkan umat Islam.

4.  Pemerintahan Utsman bin Affan berhasil menciptakan masyarakat kelas kaya yang cukup luas. Kelas ini selalu terancam kepentingannya bila pemerintahan bermaksud untuk menjalankan kebenaran dan hukum Islam. Arus tuntutan gerakan kaum miskin muslimin ialah perubahan sistem keuangan dan lajunya kehidupan ekonomi serta pembatasan intervensi ke dalam kehidupan pribadi. Gerakan Abu Dzar menentang pemerintah karena kebusukan kebijakan moneter merupakan sebuah bukti betapa dalamnya kegusaran masyarakat miskin di tengah umat.

5.  Penggunaan kekerasan untuk meredam kritik bahkan penghinaan yang dilakukan menimbulkan reaksi yang tersumbat dan pada waktunya muncul sebagai kudeta militer. Pembunuhan Utsman bin Affan adalah titik geser dalam konflik yang melingkar di antara pandangan yang ada di kaum muslimin. Masyarakat menjadikan tindakan kekerasan sebagai solusi kebuntuan selama ini. Hal ini ditambah dengan sikap keras kepala Bani Umayyah dan pejabat-pejabat mereka yang senantiasa menantang kebenaran, keinginan dan tuntutan masyarakat luas untuk munculnya sebuah perubahan dan perbaikan.

Kondisi ini sekali lagi membuka kesempatan kepada kaum oportunis agar dapat merebut kekuasaan dengan kekerasan dan kekuatan senjata setelah umat Islam tercerai berai dan saling berselisih. Setiap kelompok menginginkan kekuasaan untuknya.

6.  Pembunuhan Utsman bin Affan meninggalkan pekerjaan rumah yang besar. Fitnah yang setiap saat dapat memanas dan membakar siapa saja setiap saat, dan dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan dan mereka yang keluar dari baiat sebagai semboyan untuk menyulut peperangan dan pertumpahan darah guna menghadapi pemerintahan sah yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib lewat pemilihan oleh masyarakat Islam. Fitnah ini kemudian dikemas sedemikian rupa kemudian menjadi sempurna di tangan Muawiyah. Ia memerangi Ali dan terjadilah pertumpahan darah yang mengakibatkan banyak kaum muslimin yang tewas. Tidak itu saja, dengan fitnah itu, mereka memanfaatkannya untuk menyesatkan perhatian kaum muslimin kepada agama yang benar melalui budaya yang digerakkan oleh sebuah masyarakat dengan tujuan melanjutkan kekuasaan kerajaan. Luasnya wilayah pemerintahan Islam sangat membantu mereka dan betapa banyaknya jumlah kelompok dalam masyarakat Islam yang tidak memahami akidah Islam secara benar dan sadar.

7.  Salah satu hasil dari kudeta yang dilakukan terhadap Utsman bin Affan adalah munculnya kelompok-kelompok bersenjata di sekitar kota-kota Islam yang kemudian mengepung Madinah. Mereka menunggu nasib dan arah perjalanan pemerintahan Islam. Kejadian-kejadian yang ada memberikan ruang kepada masyarakat untuk melakukan aksi-aksi militer demi mengubah pemerintahan. Semua ini menjadi basis kekuatan yang berpotensi untuk menekan pemerintah yang baru.

[31] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 166. Tarikh Al-Khulafa, hal 162.

[32] . Lihat Al-Muwaffaqiyat,  jilid 2, hal 2.

[33] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163.

[34] . Muruj Adz-dzahab, jilid 1, hal 440.

[35] . Al-Ghadir, jilid 8, hal 278. Al-Isti’ab, jilid 2, hal 690. Tarikh Ibnu Asakir, jilid 6, hal 407. Al-Aghani, jilid 6, hal 330.

[36]. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 160. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 445. Al-Baladzri, Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 49. Hilyah Al-Auliya, jilid 1, hal 156. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 166. Al-Ghadir, jilid 8, hal 238. An-Nash wa Al-Ijtihad, hal 399.

[37]. Ath-thabari, jilid 3, hal 397.

[38] . Muruj Adz-dzahab, , jilid 2, hal 225.

[39] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat, jilid 5, hal 388. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 153. Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 58. Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif, hal 84. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 169. Al-Ghadir, jilid 8, hal 276.

[40] . Muruj Adz-dzahab, jilid 2, hal 350.

[41] . Syarh Nahjul Balaghah, jilid 3, hal 54. Disebutkan pula oleh Abu Bakar Ahad bin Abdul Aziz dalam bukunya As-Saqifah. A’yan As-Syi’ah, jilid 3, hal 336.

[42] . Abu Al-Faraj Al-Ishfahani, Al-Aghani, jilid 7, hal 179.

[43] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 64. Tarikh Ath-thabari, jilid 5, hal 341-346.

Keanehan mazhab Sunni

Anomali Sunni :
a. Thalhah bin  Ubaidillah di ancam  Allah SWT pada  QS. al Ahzâb[33];53 karena bersikap tidak senonoh
.
b. Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
c. Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas. Kok Sahabat bunuh sahabat sich ??
.
Akal saya sulit mencerna kontradiksi  ini…
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS. 4:93)
.
Wajarlah mazhab syi’ah imamiyah pantas menjadi AL Firqatun Najiyah alias satu satunya Firqah yang selamat

Marwan bin al-Hakam, sahabat Nabi yang menyuruh Yazid untuk membunuh Imam Husain dan yang membantu Mu’awiyah untuk membantai para pengikut Imam Ali (ahlulbait)

Marwan bin al-Hakam

Tahukah anda siapakah Marwan ? dialah yang menyuruh Yazid untuk membunuh Imam Husain
.
Tahukah anda siapakah Marwan ? dialah yang membantu Mu’awiyah  untuk membantai para pengikut Imam Ali (ahlulbait)
.
Tahukah anda siapakah Marwan ? dialah yang tertawa mencemooh  ketika datang berita syahidnya Imam Husain.
.
Tahukah anda siapakah Marwan ? Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas
.
Tahukah anda siapakah Marwan ? yang menjerumuskan Khalifah Usman kedalam kehancuran total adalah Marwan bin Hakam , Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As yang merupakan para pembantu Usman. Mereka benar-benar mencari keuntungan dari keberadaan Usman dan juga kematiannya
.
Inikah sahabat Nabi SAW yang menjadi pedoman sunni ?????????
.
Marwan bin al-Hakam bergelar Marwan I (623 – 685) ialah Khalifah Bani Umayyah yang mengambil alih tampuk kekuasaan setelah Muawiyah II menyerahkan jabatannya pada 684. Naiknya Marwan menunjukkan pada perubahan silsilah Bani Umayyah dari keturunan Abu Sufyan ke Hakam, mereka ialah cucu Umayyah (darinya nama Bani Umayyah diambil). Hakam ialah saudara sepupu Utsman bin Affan
.

Selama masa pemerintahan Utsman, Marwan mengambil keuntungan dari hubungannya pada khalifah dan diangkat sebagai Gubernur Madinah. Bagaimanapun, ia diberhentikan dari posisi ini oleh Ali, hanya diangkat kembali oleh Muawiyah I. Akhirnya Marwan dipindahkan dari kota ini saat Abdullah bin Zubair memberontak terhadap Yazid I. Dari sini, Marwan pergi ke Damsaskus, di mana ia menjadi khalifah setelah Muawiyah II turun tahta

.

Masa pemerintahan singkat Marwan diwarnai perang saudara di antara keluarga Umayyah, seperti perang terhadap Ibnu Zubair yang melanjutkan pemerintahan atas Hejaz, IrakMesir dan sebagian Suriah. Marwan sanggup memenangkan perang saudara Bani Umayyah, yang berakibat naiknya keturunan Marwan sebagai jalur penguasa baru dari Khalifah Umayyah. Ia juga sanggup merebut kembali Mesir dan Suriah dari Ibnu Zubair, namun tak sanggup sepenuhnya mengalahkannya

.

Marwan bin al-Hakam digantikan sebagai khalifah oleh anaknya Abdul Malik bin Marwan.


dukung.JPG

Utsman bin Affan menjadi khalifah pada usia 74, sekali lagi muncul pertanyaan mengapa dia lebih disukai ketimbang sahabat-sahabat lainnya yang lebih muda dan lebih mampu? Apakah ini merupakan siasat Umar bin Khathab untuk memberikan kekuasaan mutlak kepada klan Bani Umayyah?

.

Strategi ini memuluskan berdirinya kekuasaan Utsman yang notabene adalah Bani Umayyah.

.
Utsman juga mengangkat Marwan bin Hakam dengan sepenuh keyakinan, yang oleh Baladzuri dikatakan: “…dia (Hakam) memeluk Islam setelah penaklukan kota Makkah, namun dia tetap terus menghina Nabi, yang mengakibatkan Hakam dan anaknya (Marwan) diusir dari kota Madinah. Pengasingan ini tetap dilaksanakan Abu Bakar dan Umar. Namun ketika Utsman berkuasa, dia mengabaikan hukum yang telah ditetapkan Nabi Saw, dia justru memanggil balik Marwan dan Hakam ke Madinah, bahkan menjadikan Marwan sebagai Asistennya dan Kepala Hakim Pengadilan”.

[Al-Baladzuri, Ansab al-Ashaf, Jil. 5, hlm. 17]

.

Bahkan seorang sarjana ternama Muslim Sunni, Al-Syahid Sayyid Quthb, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya atas fakta sejarah ini. Sayyid Quthub menulis, “Adalah celaka sekali bahwa kekuasaan kekhalifahan diberikan kepada Utsman yang pada saat itu telah tua renta, lemah semangat juangnya untuk menegakkan Islam, tak berdaya menentang tipu daya pembantunya, Marwan bin Hakam serta pendukungnya, kaum keluarga Ummayyah.” [Sayyid Quthb, Keadilan Sosial Dalam Islam, hlm. 270, Penerbit Pustaka Bandung, Cet. I, 1984.]

.

“…tetapi sejarah juga sulit untuk memaafkan kesalahannya (Utsman bin Affan) akibat usianya yang telah sangat tua dan fisiknya yang sudah lemah, terombang-ambing dalam pengaruh buruk Bani Umayyah.” [Ibid, hlm. 272.]

.

Ketika para shahabat yang shalih masih hidup mengapa kedudukkan-kedudukkan penting justru diberikan kepada orang-orang berperilaku buruk seperti itu? Jawaban obyektifnya adalah agar sang khalifah dengan mudah mempunyai kesempatan untuk memberikan kekuasaan yang langgeng bagi Bani Umayyah. Inilah suatu kaum yang di dalam sejarahnya berambisi untuk memadamkan Cahaya Islam, yang mendapatkan kesempatan secara mulus dari para khalifah-khlaifah sebelumnya untuk berkuasa dan menghancurkan Islam dari dalam.

.

Dan saat itu pula musuh bebuyutan mereka, Bani Hasyim tidak lagi memiliki kekuatan yang berarti setelah pertahanan ekonomi mereka (Fadak) dirampas, dan posisi-posisi penting mereka dan para pendukung mereka berhasil digusur. Kemutlakan pilih kasih telah diberikan kepada Bani Umayyah dan menghapus segala kemungkinan Bani Hasyim dapat meraih kekhalifahan.

.

Utsman telah memberikan khumus (20%) dari rampasan perang dari expedisi pertama ke Afrika kepada saudara lelakinya, Abdullah ibn Abu Sarh. Marwan bin Hakam memperoleh khumus (20%) dari expedisi ke 2 Afrika. Dan akhirnya khalifah memberikan kepadanya keseluruhannya (100%). [Tarikh Ibn al Athir Volume 3 page 49 publishers, Dar ul Kitan al Lubnani, 1973.]

.

* Tanah Fadak yang merupakan milik Rasulullah Saw, yang disita Abu Bakar dari tangan Sayyidah Fathimah, akhirnya diberikan Utsman kepada Marwan.

[Ibn Qutayba, Al Ma'arif, p. 190 edited by Tharwat 'Ukasha, Cairo edition 1960.]

.

* Utsman juga memberikan sepupunya, Harits hadiah yaitu, unta-unta yang telah dikumpulkan sebagai zakat dan pajak, lalu membawa unta-unta itu ke Madinah. [Ansab al-Ashraf, Baladhuri, Vol 5 p 28, edited by S.D.F. Goitein Jerusalem 1936.]

.

* Apakah hal ini tidak mengundang keingintahuan, bahwa Abu Bakar telah menetapkan Fadak menjadi milik negara, lalu ‘diberikan’ kepada Marwan? Utsman telah memberikan Zakat dari Qud’ah yang berjumlah 300.000 dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 1, p. 193, Dar al- Ma’arif, Egypt, 1953] dan Abdul Rahman bin Auf 3 juta dirham. [Thaha Hussayn, Al-Fitnah al-Kubra, Vol. 3, p. 126, Dar al-Ma'arif, Egypt 1953]

.

Mungkin menurut Umar bin Khaththab hal ini dipandang sebagai alternatif, setelah menyadari ketamakan Bani Umayyah, dengan dalih agar tidak terjadi perang saudara (antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim) dan menjaga persatuan umat Islam secara keseluruhan.

Tidak bisa dibantah, mengapa Umar bin Khaththab tidak menganugerahkan kekhilafahan kepada putranya, Abdullah bin Umar? Ternyata Umar mempunya visi yang terlalu jauh untuk ini.

.

Dia menyadari jika dia memberikan kekhalifahan kepada putranya, Abdullah bin Umar, dia akan mendapatkan ancaman kekuasaan dari Bani Umayyah, sehingga dengan terpaksa dia memberikannya kepada Banu Umayyah, yang dia ketahui sangat haus kekuasaan. Pada kenyataannya, dia telah membuat putranya sendiri, Abdullah bin Umar mesti memutuskan pemilihan suara dalam Dewan Syura yang sudah disiapkan Umar bin Khaththab sedemikian rupa agar Utsman bin Affan unggul dalam pemilihan tersebut.

.

Dengan cara ini, putra Umar, Abdullah bin Umar menjadi sekutu dekat dengan Bani Umayyah dan menjadi seorang musuh yang pahit bagi putra-putra Imam Ali, khususnya Imam Husain (as)

.

dukung.JPG

 

Usman memberi keutamaan kepada anggota sukunya atau menunjuk keluarga nya untuk menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Utsman, Ia hidup dalam  kemewahan. la menunjuk anggota dari sukunya (Umayah) untuk menduduki posisi yang penting dan kuat dalam pemerintahan, dengan memberi keutamaan kepada mereka daripada umat Islam lainnya, tanpa melihat kepentingan mereka. Padahal, keluarganya ini tidak beriman, juga royal dan sangat berlebihan.

Bani Umayah seperti Muawiyah dan Marwan yang benar-benar mencari keuntungan dari keberadaan Utsman dan juga kematiannya. Kisah Ibnu Saba dalam hal ini berfungsi sebagai topeng bagi wajah-wajah yang haus kekuasaan, yang juga merupakan cara lain untuk menyerang Ali bin Abi Thalib dan pengikut-pengikut setianya.

Khalifah Utsman mengangkat saudara angkatnya, Abdullah bin Sa’d, sebagai gubernur Mesir. Pada saat itu, Mesir merupakan propinsi terbesar di negara Islam. Ibnu Sa’d telah masuk Islam dan pindah dari Mekkah ke Madinah. Ketika Mekkah ditaklukkan, Nabi Muhammad SAW menyuruh kaum Muslimin untuk membunuh Ibnu Sa’d. Ia harus dibunuh meskipun ia menalikan kain Kabah ke tubuhnya. Ibnu Sa’d bersembunyi di rumah Utsman

Khalifah Usman bin Affan membawa pamannya, Hakam bin Abi As (putra Umayah, putra Abdussyams), ke Madinah setelah Nabi Muhammad mengasingkannya dari Madinah

 Diriwayatkan bahwa Hakam sering bersembunyi dan mendengarkan percakapan Nabi Muhammad ketika ia berbicara secara rahasia kepada sahabat-sahabat utamanya, lalu menyebarkan apa yang ia dengar. Ia sering mengikuti dan memperolok-olok cara berjalan Nabi. Suatu waktu Nabi melihatnya ketika ia sedang meniru-niru jalannya dan berkata, “Selamanya ia akan seperti itu.” Segera Hakam menjadi seperti itu hingga ia meninggal. Diriwayatkan juga bahwa, suatu hari, ketika sedang duduk bersama beberapa sahabatnya, Nabi Muhammad berkata, “Seorang lelaki yang telah dikutuk akan memasuki ruangan ini.” Tak lama setelah itu masuklah Hakam.

Setelah membawanya ke Madinah, Utsman memberi pamannya uang sebanyak 300 ribu dirham.

la menjadikan Marwan bin Hakam, sebagai pembantu utamanya, dan penasehat tertinggi nya, dengan memberi kekuasaan yang sama dengan dirinya. Marwan menerima seperlima pendapatan dari Afrika Utara sebesar 500 ribu dinar. Tetapi ia tidak menyerah kan uang ini. Khalifah mengizinkannya untuk menyimpan uang ini. Jumlahnya sama dengan 10 juta dollar.

Ali bin Abi Thalib sering memperingatkan Utsman mengenai berbahayanya Marwan, tetapi hal itu sia-sia saja. Percakapan berikut antara Ali bin Abi Thalib dan Utsman membuktikan kenyataan ini. Kejadian ini terjadi ketika Utsman diserang, lalu ia meminta bantuan Ali bin Abi Thalib.

Orang-orang menyampaikan hal ini kepada Ali. Kemudian Ali mendatangi Utsman dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah membuat puas Marwan (sekali lagi), tetapi ia hanya akan puas jika engkau menyimpang dari agamamu dan akalmu, seperti seekor unta membawa tandu yang dituntun semaunya. Demi Allah, Marwan tidak mengetahui apapun tentang agama dan jiwanya. Aku bersumpah demi Allah, menurutku, ia akan membawamu masuk dan tidak akan mengeluarkanmu kembali. Setelah pertemuan ini, aku tidak akan datang untuk mencacimu lagi. Engkau telah menghancurkan kehormatanmu sendiri dan merampas kekuasaanmu.”

Ketika Utsman wafat, Ali bin Abi Thalib berkata, “Demi Allah! Aku telah berusaha membelanya (Utsman) hingga aku dipenuhi rasa malu. Tetapi Marwan, Muawiyah, Abdullah bin Amru, dan Sa’d bin As telah melakukan sesuatu sebagaimana yang engkau saksikan. Ketika aku memberi nasehat yang sungguh-sungguh dan menganjurkan ia untuk mengusir mereka, ia menjadi curiga, sehingga terjadilah apa yang terjadi saat ini.”

Marwan beserta keturunannya merupakan dasar dari beberapa tuduhan korupsi dan nepotisme yang paling serius yang dilakukan Utsman. Marwan, tentu saja, merampas kekhalifahan dan menaiki tahta pada tahun 64/684 dan merupakan nenek moyang raja-raja Umayah selanjutnya di Damaskus juga pemimpin Cordova hingga setelah tahun 756.

c.  Memberikan jabatan publik kepada keluarga; khalifah Utsman mengangkat Walid bin Aqabah (salah satu keluarga Umayah) sebagai gubernur Kufah, tingkah laku Walid ketika Nabi masih hidup buruk. Quran merendahkannya dan menyebutnya sebagai orang yang menyimpang. Contohnya Nabi Muhammad SAW mengirim dia kepada Bani Mustalaq untuk mengumpulkan zakat mereka.walid melihat dari jauh Bani Mustalaq ini mendekat ke arahnya dengan mengendarai kuda, Ia menjadi takut karena ketegangan antara dia dan kaum ini sebelumnya. Ia kembali kepada Nabi Muhammad SAW dan memberitahu bahwa mereka ingin membunuhnya. Hal. ini tidak benar. Tetapi keterangan Walid ini membuat murka kaum Muslimin Madinah dan mereka ingin menyerang Bani Mustalaq

Pada saat itu turunlah ayat berikut, Hai orang-orang yang beriman, jika seorang yang menyimpang datang kepadamu membawa berita, buktikanlah kebenaran berita itu! Jika tidak engkau akan menghancurkan suatu umat tanpa kalian sengaja, kemudian kalian akan menyesal dengan perbuatan kalian yang tergesa-gesa itu

Walid masih terus menjalankan praktik hidup jahiliyahnya selama hidupnya. la selalu meminum arak dan banyak saksi menyatakan kepada khalifah bahwa mereka menyaksikan Walid sedang mabuk ketika memimpin shalat berjamaah.

Usman  malah menggantikan Jabatan Walid dengan Said bin As, anggota keluarga Umayah yang lain.

d. Umar adalah orang yang menempatkan Muawiyah di pemerintahannya selama ia berkuasa dan USMAN hanya melakukan hal yang sama.”

Tabari menukilkan bahawa ‘Uthman menulis surat kepada Muawiyah dan berkata: Sesungguh nya warga Madinah telah kafir, menderhaka dan memutuskan bai’at mereka (Tarikh Tabari jilid 3 halaman 402)

.

Utsman bin Affan tidak seperti pendahulunya yang cerdik dalam politik dan mampu mengatur pemerintahnya lebih baik. Setelah Abdurrahman bin Auf menyerahkan suaranya kepada Utsman dan ia terpilih sebagai khalifah, Utsman diarak menuju masjid Rasulullah saw. untuk mengumumkan kebijakan politiknya demi memperbaiki kondisi yang ada. Utsman naik ke atas mimbar dan duduk di atas tempat yang biasa diduduki Nabi semasa hidupnya, padahal Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak berani melakukannya ketika mereka menjabat sebagai khalifah. Mereka berdua hanya berani duduk di undakan yang menuju tempat duduk Nabi. Di atas tempat duduk Nabi itulah Utsman berpidato. Sebagian sahabat berkata: “Hari ini kepongahan telah lahir”.[31]

Utsman bin Affan bukan seorang yang pandai pidato. Ia tidak mampu berkata banyak di atas mimbar Nabi. Ia berkata: “Amma Ba’du (selanjutnya), sesungguhnya pertama kali mengendarai sesuatu adalah saat yang sangat sulit. Di sisi lain, aku bukanlah seorang orator. Allah Maha Mengetahui. Sesungguhnya masalah yang berada di antara seseorang dan Adam adalah seorang ayah yang telah meninggal dan perlu dinasehati”.[32]

Al-Ya’qubi menulis: “Utsman bin Affan berdiri dan untuk sementara waktu ia tidak berkata apapun. Kemudian ia membuka mulutnya dan berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar bin Khatthab telah menyiapkan posisi ini sebelumnya. Kalian lebih membutuhkan seorang khalifah yang adil daripada seorang khalifah yang hanya bisa berpidato. Bila kalian masih hidup, ucapan dan pidatoku akan mendatangi kalian. Kemudian Utsman turun dari mimbar”.[33]

Utsman bin Affan mulai menjalankan pemerintahannya dan melakukan kebijakan-kebijakan yang membuat mayoritas kaum muslimin marah dan membencinya kecuali keluarganya, yaitu Bani Umayyah. Ia secara transparan menunjukkan sikap fanatisme kesukuannya dan kecondongannya kepada keluarga, sekaligus mengumumkan bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar Umayyah. Ia mulai mengangkat dan menokohkan anggota keluarga Umayyah di atas masyarakat yang lain. Posisi penting mulai diisi oleh Bani Umayyah tanpa mampu ditolak oleh kaum muslimin.

Utsman bin Affan telah melampaui batas dalam kebijakan rasisnya; melebihi apa yang telah ditanamkan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khatthab. Quraisy tidak lagi memegang kendali pemerintahan, namun dibatasi oleh Utsman pada Bani Umayyah saja.

Utsman bin Affan tidak lagi  peduli pada nasihat dan peringatan-peringatan para sahabat dan di atas mereka semua Ali bin Abi Thalib. Benar, Utsman telah menguasai kekuasaan, namun ia lupa berkaca kepada pendahulunya dalam menjalankan pemerintahan di atas metode yang sah dan berdasarkan pemerintahan Islam. Elemen-elemen penting dan baik semakin lemah untuk dapat mengubah kebijakan pemerintah secara langsung. Kebijakan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab pada masa pemerintahan mereka cukup berhasil menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari kekuasaan dan kepercayaan rakyat pada pandangan dan tuntunannya. Akibatnya, penyelewengan dan penyimpangan dari pemerintahan islami dan munculnya arus kebencian dan permusuhan terhadap Ahlul Bait semakin kuat. Kondisi ini sangat menyulitkan usaha Ali agar khalifah baru mau mendengarkan nasihat. Kondisi dipersulit dengan arus kaum munafik dan Quraisy yang memeluk Islam secara terpaksa ketika pembebasan kota Mekkah serta orang-orang yang punya kepentingan yang berada di sekelilingnya.

Sikap Abu Sufyan setelah pembaiatan Utsman bin Affan

Setelah selesai pembaiatan Utsman bin Affan, Abu Sufyan berjalan mendekati rumah Utsman bin Affan, dan secara berdesak-desakan dengan keluarga dan teman-teman Utsman ia maju dan menyampaikan awal kemenangan menguasai kekuasaan. Tampak wajahnya berbinar-binar menerima kemenangan ini dengan terpilihnya Utsman sebagai khalifah kaum muslimin. Mulutnya terbuka lebar untuk menandakan kebenciannya. Tampak kegeramannya mengingat Islam telah menghina tokoh-tokoh Bani Umayah. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan kemudian berkata kepada segenap yang hadir di rumah Utsman bin Affan: “Apakah ada orang lain selain keluarga dan teman-teman Bani Umayyah?” Mereka serentak menjawab: “Tidak”. Abu Sufyan melanjutkan: “Wahai Bani Umayyah! Dengan cepat kalian telah meraih dan menguasai kekuasaan seperti menangkap bola. Demi Zat yang Abu Sufyan bersumpah atasnya! Tidak ada yang namanya surga dan neraka. Tidak pula ada perhitungan di Hari Kiamat, dan tidak ada juga yang namanya pembalasan. Sejak dahulu aku selalu mengharap kekuasaan ini untuk kalian. Jadikan ini sebagai warisan untuk anak cucu kalian”.[34]

kemudian ia berjalan menuju kuburan pemimpin para syahid, Hamzah bin Abdul Mutthalib. Ia berhenti di samping kuburan sambil menendang kuburan Hamzah dengan kakinya dan berkata: “Wahai Abu ‘Imarah! Apa yang selama ini engkau perjuangkan dengan pedangmu sekarang telah berada di tangan anak keturunan kami. Mereka menjadikannya sebagai barang mainan”.[35]

Dampak Negatif Kebijakan Pemerintahan Utsman bin Affan

Selama hidup dengan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab, Ali bin Abi Thalib a.s. tidak pernah menunjukkan ketidaksetujuannya secara terbuka. Demikian ini tidak lain karena penyimpangan yang terjadi juga tidak secara terang-terangan. Bahkan dalam banyak kesempatan, Ali terlibat dalam usaha memperbaiki sikap dan posisi khalifah bila terjadi kesalahan dan itu diterima oleh keduanya. Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak khawatir karena Ali memainkan peranannya hanya sebatas tokoh agama di hadapan umatnya dan sebagai pemilik yang sah kekhalifahan dan pemimpin oposisi bersama sebagian sahabat besar lainnya. Ali siap untuk tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah dan memberikan ketenangan kepada masyarakat, sekalipun ia tidak akan mundur dari prinsip yang diwarisinya dari Rasulullah saw. sebagai penjaga dan pelindung akidah Islam.

Sikap yang diambil oleh Ali bin Abi Thalib berbeda ketika Utsman bin Affan mengambil alih pemerintahan sebagai khalifah baru. Pada pemerintahan Utsman, perilaku korup telah menyebar luas dan secara perlahan-lahan korupsi itu masuk dalam struktur pemerintahan secara terang-terangan. Kerusakan moral ini akhirnya menjalar dan merasuki masyarakat Islam. Di sini, Ali bin Abi Thalib kemudian mengambil sikap dan secara terang-terangan menentang kepemimpinan Utsman bin Affan. Banyak sahabat besar yang mendukung sikap Ali seperti: Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lain, bahkan dukungan juga mengalir dari mereka yang sebelumnya mengingkari hak Ali sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Mereka tidak setuju dengan kebijakan Utsman dalam pengelolaan negara dan kerusakan moral pemerintahannya. Di sini dapat dilihat secara global pemerintahan Utsman dan dampak buruknya:

Utsman bin Affan menerima tampuk pimpinan ketika ia telah berumur tujuh puluh tahun; batasan umur di mana seseorang sangat mencintai keluarga dan mau berkorban untuk mereka. Diriwayatkan ucapannya: “Seandainya aku memiliki kunci-kunci pintu surga, niscaya aku akan memberikannya kepada Bani Umayyah sehingga mereka semua memasukinya”.

Begitu juga sebelum Islam, Utsman bin Affan hidup dalam kondisi yang serba ada dan kondisi itu berlangsung setelah memeluk Islam. Oleh karenanya, ia tidak dapat merasakan betapa sulitnya orang-orang fakir miskin menjalani kehidupan mereka. Kepribadiannya betul-betul teruji ketika harus bersikap dengan sekelompok besar orang-orang miskin yang meminta keadilan dan persamaan hak darinya. Ia memperlakukan mereka dengan keras dan kasar sebagaimana perlakuannya kepada Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lainnya.

Dari sisi keluarga, Utsman bin Affan sangat dekat dan bahkan menempatkan mereka pada posisi-posisi penting. Ia mengangkat Al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith sebagai gubernur Kufah, padahal Al-Walid termasuk orang yang diberitakan oleh Rasulullah sebagai penghuni neraka. Utsman juga mengangkat  Abdullah bin Abi Sarh sebagai gubernur Mesir, Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam dan Abdullah bin ‘Amir sebagai gubernur Bashrah. Ia juga telah mencopot Al-Walid bin ‘Uqbah dari jabatannya sebagai gubernur Kufah dan menggantikannya dengan Said bin Al-‘Ash.[36]

Utsman bin Affan adalah orang yang lemah, terutama bila berhadapan dengan Marwan bin Al-Hakam. Ia senantiasa mendengar ucapan dan menuruti keinginan Marwan. Hal itu terus berlangsung bahkan ketika terjadi konspirasi untuk menggulingkannya dan kondisi yang betul-betul gawat. Ketika keadaan telah kritis, Ali bin Abi Thalib melibatkan diri untuk meredakan ketegangan sampai berhasil memulangkan orang-orang yang melakukan demonstrasi menuntut perubahan dan perbaikan kebijakan pemerintahan sekaitan dengan kolusi dan korupsi yang telah menggerogoti pemerintah, bahkan permintaan untuk menggantikan sebagian gubernur di beberapa daerah. Ali berhasil mendapatkan janji Utsman untuk tidak lagi mendengar dan mengikuti ucapan Marwan bin Al-Hakam dan Said bin Al-‘Ash.

Sayangnya, tatkala situasi mereda dan normal, Marwan dan Said kembali mendekati Utsman bin Affan dan memaksanya keluar dari rumah disertai pengawal pribadi. Melihat hal itu, Ali bin Abi Thalib a.s. menemui Utsman dengan penuh kemarahan sambil berkata: “Kau setuju dengan perkataan Marwan, namun ia tidak pernah puas padamu. Yang diinginkan darimu adalah agar engkau menyimpang dari agama dan akalmu seperti unta yang dicocok hidungnya ikut ke mana saja pemiliknya pergi. Demi Allah! Marwan bukan orang yang agama dan jiwanya baik”.[37]

Pada kesempatan lain, Utsman bin Affan sangat marah kepada para saksi yang menyaksikan Al-Walid bin ‘Uqbah yang dituduh meminum khamar sehingga Utsman mengusir mereka. Mengetahui kejadian tersebut, Ali bin Abi Thalib memperingatkan Utsman akan akibat yang bakal terjadi dari perbuatannya ini. Ali memerintahkan Utsman untuk menghadirkan Al-Walid agar diadili dan dihukum bila terbukti tuduhan tersebut. Ketika Al-Walid dihadirkan dihadirkan dalam sidang dan terbukti melakukan demikian atas kesaksian para saksi, Ali sendiri yang melaksanakan hukumannya yang membuat Utsman semakin marah. Ia berkata kepada Ali: “Engkau tidak punya hak untuk melaksanakan hukum tersebut atas Al-Walid”. Ali menjawab dengan logika yang kuat dan berlandaskan syariat Islam: “Bahkan yang lebih buruk dari ini adalah bila seseorang yang berbuat kefasikan dan mencegah hak-hak Allah berlaku kepada orang yang berbuat fasik”.[38]

Kebijakan Utsman bin Affan di bidang keuangan adalah kepanjangan dari kebijakan yang diberlakukan sebelumnya oleh Umar bin Khatthab, yaitu kebijakan  yang menciptakan sistem kasta. Umar membagikan kekayaan negara secara tidak adil kepada sebagian kelompok dan tidak kepada sebagian lainnya. Ketimpangan itu yang kemudian dilanjutkan dengan bentuk yang lebih ekstrim di zaman Utsman bin Affan. Ia memberikan perhatian khusus kepada Bani Umayyah.

Suatu waktu, penjaga khazanah Baitul Mal mengajukan keberatannya kepada Utsman mengenai kebijakan keuangannya. Mendengar itu, Utsman menjawab: “Engkau adalah penjaga Baitu Mal kami. Bila kami memberikan sesuatu kepadamu maka ambillah, dan bila kami diam maka engkau juga harus diam”. Penjaga Baitul Mal kemudian menjawab: “Demi Allah! Aku bukan penjaga Baitul Mal khalifah dan keluarganya melainkan penjaga harta kaum muslimin”.

Pada hari Jumat, ketika Utsman berkhotbah, penjaga Baitul Mal itu berkata: “Wahai kaum muslimin, Utsman bin Affan menganggap bahwa aku adalah penjaga Baitul Malnya dan keluarganya. Aku ingin mengatakan di sini bahwa aku adalah penjaga Baitul Mal kaum muslimin. Ini adalah kunci-kunci Baitul Mal milik kalian”. Ia kemudian melemparkan kunci-kunci tersebut ke hadapan Utsman.[39]

Sikap Ali terhadap Utsman bin Affan

Kaum muslimin semakin membenci Utsman bin Affan karena perilakunya. Sahabat-sahabat terbaik Rasulullah saw. semakin bersatu terhadap penyimpangan khalifah dan pejabat yang berada di bawahnya. Di seberang sana, Utsman bin Affan mengerti dan mulai menyiksa para penentang kebijakannya yang menyimpang. Penyiksaan yang dilakukan sudah tidak lagi memandang para sahabat Rasulullah saw. Dari situ, ia menyiksa Abu Dzar; salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw, karena seringnya melakukan protes terhadap kebijakan Utsman yang buruk. Utsman membuangnya ke Syam. Muawiyah sebagai gubernur Syam juga tidak mampu menahan protes Abu Dzar sehingga ia mengirimkan Abu Dzar kembali ke Madinah.

Di kota Madinah, Abu Dzar kembali melakukan perjuangan dengan memprotes kebijakan buruk Bani Umayyah. Utsman semakin terpojok dengan aksi-aksi yang dilakukan oleh Abu Dzar.  Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk mengasingkan Abu Dzar ke daerah bernama Rabadzah (sebuah tempat di Lebanon sekarang ini) dan melarang siapa pun untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya.

Tanpa kekhawatiran sedikitpun, Ali bin Abi Thalib mengantarkan Abu Dzar untuk mengucapkan selamat tinggal. Ali ditemani kedua anaknya Hasan dan Husein, Aqil, dan Abdullah bin Ja’far. Marwan bin Al-Hakam gusar terhadap perlakuan baik Ali tersebut. Ia melakukan protes kepada Utsman bin Affan agar menahan mereka untuk tidak memberi ucapan selamat dan mengantarkan Abu Dzar. Ali bangkit dan menyerang Marwan. Ia berhasil memotong kedua telinga binatang tunggangan Marwan. Setelah itu, Ali berteriak kepadanya: “Coba halangi! Semoga Allah mengirimmu ke Neraka”.[40]

Ali bin Abi Thalib tetap bersikeras untuk mengucapkan perpisahan dan mengantarkan Abu Dzar sambil berkata kepadanya: “Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau bila marah karena Allah, aku berharap kemarahanmu ditujukan kepada mereka. Orang-orang takut kepadamu karena urusan dunia dan harta mereka, sementara engkau takut kepada mereka karena masalah agama mereka. Tinggalkanlah apa yang mereka takutkan atasmu buat mereka (harta dan dunia). Pergilah engkau bersama ketakutanmu atas mereka (agama). Mereka lebih butuh kepada apa yang engkau larang (cinta dunia). Apa yang mereka larang kepadamu lebih berharga (agama). Engkau akan tahu siapa yang lebih beruntung di Hari Kiamat dan siapa yang lebih dengki!”[41]

Sekembalinya dari mengantar Abu Dzar untuk mengucapkan salam perpisahan, orang-orang menyambut Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Utsman bin Affan sangat marah denganmu”. Ali menjawab: “Biarkan kuda marah karena kekangannya”.

Dampak Negatif Pemerintahan Utsman terhadap Umat Islam

Pemerintahan Utsman bin Affan merupakan kelangsungan dari garis politik pemerintah yang melalaikan kandungan risalah Islam, baik secara praktis maupun teoritis. Kondisi ini meninggalkan efek-efek negatif dalam perjalanan pemerintahan Islam dan umat sebagai kesatuan. Hal itu ditambah dengan kerusakan dan tuduhan keji terhadap transparansi pemerintahan Islam di hadapan umat Islam yang tidak pernah hidup di bawah seorang pemimpin yang maksum (Nabi Muhammad saw) kecuali selama satu dekade. Pada sepuluh tahun itulah umat melihat pemimpinnya sekaligus penguasa dan pendidik. Sementara, api fitnah semakin berkobar luas di pinggiran negara Islam yang akan membawa malapetaka kepada umat Islam. Dengan memeriksa data-data sejarah, dapat ditemukan beberapa kesimpulan di bawah ini:

1.  Kebijakan pemerintahan Utsman bin Affan tidak sesuai dengan syariat Islam. Hukum-hukum tidak dijalankan secara baik, kebusukan dan kebobrokan semakin meluas sehingga para pejabat pemerintahan tidak mampu memperbaiki kondisi yang telah buruk itu. Ini semua menjadikan keonaran dalam kehidupan bermasyarakat yang pada akhirnya memunculkan semangat untuk tidak lagi taat kepada hukum. Dampak buruk dari munculnya kebusukan ini adalah kecerobohan dan acuh terhadap nilai-nilai moral dan hukum-hukum Islam. Di rumah-rumah gubernur dan pejabat-pejabat tinggi, dapat ditemukan dengan mudah pesta pora yang diisi dengan acara musik dan nyanyian yang di sela-sela itu minuman keras dihidangkan.[42]

2.  Pemerintah Utsman bin Affan memfokuskan kebijakannya atas dasar semangat kesukuan yang sejak awal telah ditanamkan oleh Abu Bakar dalam kebijakan politiknya. Kekuasaan yang didasari oleh kesukuan semakin transparan dalam kekuasaan Bani Umayyah. Mereka bagaikan sebuah keluarga besar menguasai semua jabatan-jabatan penting, karena mereka menganggap bahwa mereka adalah penguasa besar yang menguntung Islam dan sekarang kekuasaan ini kembali kepada pemiliknya. Di sini sudah tidak ada lagi prinsip-prinsip syariat Islam. Bani Umayyah muncul sebagai haluan politik yang kuat; haluan yang memusuhi Islam dan khususnya Ahlul Bait Nabi. Mereka telah menjelma menjadi penghalang terbesar yang dapat menahan Ali bin Abi Thalib untuk dapat mengambil kembali haknya yang terampas. Mereka kemudian membentuk front di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menghadapi Ali.

3.  Pemerintahan Utsman bin Affan menganggap bahwa kekuasaan adalah hak dan sebuah pemberian dan tidak seorang pun berhak untuk merampasnya dari mereka. Kekuasaan dijadikan alat untuk memenuhi keinginan dan kerakusan mereka yang dipenuhi oleh hawa nafsu yang sesat. Menurut mereka, kekuasaan bukan untuk memperbaiki masyarakat dan menyebarkan Islam di muka bumi.[43] Pandangan seperti ini sedikit banyaknya mempengaruhi banyak orang untuk berlomba-lomba berusaha menguasai pemerintahan, karena kekuasaan akan memberikan keuntungan, kekuatan dan derajat. Amr bin Al-Ash, Muawiyah, Thalhah dan Zubeir termasuk dalam kelompok ini. Mereka tidak lagi berusaha meraih kekuasaan dengan alasan mewujudkan tujuan kemanusiaan atau sosial yang menguntungkan umat Islam.

4.  Pemerintahan Utsman bin Affan berhasil menciptakan masyarakat kelas kaya yang cukup luas. Kelas ini selalu terancam kepentingannya bila pemerintahan bermaksud untuk menjalankan kebenaran dan hukum Islam. Arus tuntutan gerakan kaum miskin muslimin ialah perubahan sistem keuangan dan lajunya kehidupan ekonomi serta pembatasan intervensi ke dalam kehidupan pribadi. Gerakan Abu Dzar menentang pemerintah karena kebusukan kebijakan moneter merupakan sebuah bukti betapa dalamnya kegusaran masyarakat miskin di tengah umat.

5.  Penggunaan kekerasan untuk meredam kritik bahkan penghinaan yang dilakukan menimbulkan reaksi yang tersumbat dan pada waktunya muncul sebagai kudeta militer. Pembunuhan Utsman bin Affan adalah titik geser dalam konflik yang melingkar di antara pandangan yang ada di kaum muslimin. Masyarakat menjadikan tindakan kekerasan sebagai solusi kebuntuan selama ini. Hal ini ditambah dengan sikap keras kepala Bani Umayyah dan pejabat-pejabat mereka yang senantiasa menantang kebenaran, keinginan dan tuntutan masyarakat luas untuk munculnya sebuah perubahan dan perbaikan.

Kondisi ini sekali lagi membuka kesempatan kepada kaum oportunis agar dapat merebut kekuasaan dengan kekerasan dan kekuatan senjata setelah umat Islam tercerai berai dan saling berselisih. Setiap kelompok menginginkan kekuasaan untuknya.

6.  Pembunuhan Utsman bin Affan meninggalkan pekerjaan rumah yang besar. Fitnah yang setiap saat dapat memanas dan membakar siapa saja setiap saat, dan dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan dan mereka yang keluar dari baiat sebagai semboyan untuk menyulut peperangan dan pertumpahan darah guna menghadapi pemerintahan sah yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib lewat pemilihan oleh masyarakat Islam. Fitnah ini kemudian dikemas sedemikian rupa kemudian menjadi sempurna di tangan Muawiyah. Ia memerangi Ali dan terjadilah pertumpahan darah yang mengakibatkan banyak kaum muslimin yang tewas. Tidak itu saja, dengan fitnah itu, mereka memanfaatkannya untuk menyesatkan perhatian kaum muslimin kepada agama yang benar melalui budaya yang digerakkan oleh sebuah masyarakat dengan tujuan melanjutkan kekuasaan kerajaan. Luasnya wilayah pemerintahan Islam sangat membantu mereka dan betapa banyaknya jumlah kelompok dalam masyarakat Islam yang tidak memahami akidah Islam secara benar dan sadar.

7.  Salah satu hasil dari kudeta yang dilakukan terhadap Utsman bin Affan adalah munculnya kelompok-kelompok bersenjata di sekitar kota-kota Islam yang kemudian mengepung Madinah. Mereka menunggu nasib dan arah perjalanan pemerintahan Islam. Kejadian-kejadian yang ada memberikan ruang kepada masyarakat untuk melakukan aksi-aksi militer demi mengubah pemerintahan. Semua ini menjadi basis kekuatan yang berpotensi untuk menekan pemerintah yang baru.

[31] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 166. Tarikh Al-Khulafa, hal 162.

[32] . Lihat Al-Muwaffaqiyat,  jilid 2, hal 2.

[33] . Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 163.

[34] . Muruj Adz-dzahab, jilid 1, hal 440.

[35] . Al-Ghadir, jilid 8, hal 278. Al-Isti’ab, jilid 2, hal 690. Tarikh Ibnu Asakir, jilid 6, hal 407. Al-Aghani, jilid 6, hal 330.

[36]. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 160. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 445. Al-Baladzri, Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 49. Hilyah Al-Auliya, jilid 1, hal 156. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 166. Al-Ghadir, jilid 8, hal 238. An-Nash wa Al-Ijtihad, hal 399.

[37]. Ath-thabari, jilid 3, hal 397.

[38] . Muruj Adz-dzahab, , jilid 2, hal 225.

[39] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat, jilid 5, hal 388. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 153. Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 58. Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif, hal 84. Syeikh Al-Mudhirah Abu Hurairah, hal 169. Al-Ghadir, jilid 8, hal 276.

[40] . Muruj Adz-dzahab, jilid 2, hal 350.

[41] . Syarh Nahjul Balaghah, jilid 3, hal 54. Disebutkan pula oleh Abu Bakar Ahad bin Abdul Aziz dalam bukunya As-Saqifah. A’yan As-Syi’ah, jilid 3, hal 336.

[42] . Abu Al-Faraj Al-Ishfahani, Al-Aghani, jilid 7, hal 179.

[43] . Ibnu Saad, Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 64. Tarikh Ath-thabari, jilid 5, hal 341-346.

Keanehan mazhab Sunni

Anomali Sunni :
a. Thalhah bin  Ubaidillah di ancam  Allah SWT pada  QS. al Ahzâb[33];53 karena bersikap tidak senonoh
.
b. Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
c. Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas. Kok Sahabat bunuh sahabat sich ??
.
Akal saya sulit mencerna kontradiksi  ini…
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.(QS. 4:93)
.

Wajarlah mazhab syi’ah imamiyah pantas menjadi AL Firqatun Najiyah alias satu satunya Firqah yang selamat

Umar bin Khattab berkata kepada Thalhah : “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum Rasul Allah wafat, ia marah kepadamu kerana kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saw wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”. Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53

Di bahagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”.

Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah. Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan: “Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya” Dan di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’

Tiada seorang nabi yang diganggu kaumnya seperti Nabi Muhammad saw. diganggu kaumnya!

Dan tiada nabi yang lebih sabar  dari Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi gangguan kaumnya, baik yang kafir maupun yang munafik atau yang lemah imannya!

Serta tiada dosa melebihi dosa mengganggu Allah dan Rasul-Nya! Allah melaknat dan mencampakkan ke dalam siksa pedih-Nya sesiapa yangberani-berani mengganggu rasul-Nya!

Allah SWT. berfirman:

إِنَّ الَّذينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيا وَ الْآخِرَةِ وَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذاباً مُهيناً.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. al Ahzâb[33] ;57)

Keterangan:

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir berkata, “Allah berfirman sembari mengancam dan manjanjikan siksaan atas sesiapa yang mengganggu-Nya dengan melanggar perintah-perintah-Nya dan menerjang larangan-larangan-Nya serta berterus-terus dalam melanggar. Allah juga mengancam sesiapa yang mengganggu Rasul-Nya dengan menisbatkan aib atau cacat –kami berlindung kepada Allah darinya-…. .” Dan setelah menyebutkan perselisihat pendapat para ahli tafsir tentang siapa atau kelompok mana yang dimaksud dengannya, di antaranya adalah pendapat Ibnu Abbas ra. bahwa yang dimaksud dengannya  adalah para sahabat yang mengganggu Nabi saw. terkait dengan pernikahan beliau saw. dengan Shaifyah binti Huyai ibn Akhthab, ia melanjutkan, “Yang zahir bahwa ayat itu bersifat umum untuk siapapun yang mengganggu beliau dengan bentuk gangguan apapun. Maka barang siapa mengganggu beliau berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah. Sebagaimana ta’at kepada beliau adalah ta’at kepada Allah.”[1]

Asy Syaukani menjelaskan makna mengganggu dengan: “Tindakan apapun yang tidak disukai Allah dan rasul-Nya berupa maksiat. Sebab mustahil Allah terganggu. Adapun makna la’nah (laknat) adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah. Dan Allah menjadikan ganjaran itu di dunia dan di akhirat agar mereka diliputi laknat sehingga tidak tersisa waktu hidup dan mati mereka melainkan laknat/kutukan Allah mengena dan menyertai mereka.”[2]

Dalam ayat di atas Allah menegaskan bahwa siapapun yang mengganggu Rasulullah saw. berarti ia menganggu Allah, sebab seorang rasul selaku rasul tidak lain adalah utusan Allah, maka siapapun yang mengganggunya berarti sebenarnya ia sedang bermaksud mengganngu Allah. Dan Allah mencancam bagi yang mengganngu-Nya dan mengganggu Rasul-Nya dengan kutukan/ laknatan yang akan mengena dan menyertainya di sepanjang kehidupan dunia dan akhiratnya, selain Allah siapkan siksa yang menghinakan kelak di hari kiamat ketika mereka dicampakkan ke dalam api neraka!

Allah mengancamnya dengan laknat yang artinya –seperti telah disebutkan- adalah diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT. Dan rahmat Allah yang khusus bagi kaum Mukmin adalah berbentuk bimbingan kepada keyakinan yang benar/haq dan hakikat keimanan yang akan diikuti dengan amal shaleh. Jadi dijauhkan dari rahmat di dunia berkonsekuensi terhalanginya orang tersebut dari mendapatkan rahmat tersebut di atas sebagai balasan atas kejahatannya. Dan ia akan menyebabkan terkuncinya hati dari menerima kebenaran, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

لَعَنَّاهُمْ وَ جَعَلْنَا قُلُوبَهُم قاسِيَةً.

“Kami laknati mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (QS. Al Mâidah [5];13)

Sebagaimana mata hati mereka menjadi buta dan telinga battin mereka menjadi tuli. Allah SWT berfiaman:

أُلئكَ الذين لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُم و أَعْمَى أَبْصارَهُمْ.

“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad [47];23)

Inilah ganjaran mereka yang menggangggu Rasulullah saw. di dunia. Adaapun ganjarang atas mereka di akhirat nanti adalah dijauhkan dari rahmat kedekatan Allah. Mereka dihalau dari mendapat anugrah-Nya. Dan setelah itu Allah menambahkan lagi dengan firman-Nya: “dan (Allah) menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang menghinakan mereka, karena daahulu di dunia mereka mengganggu Rasulullah saw. sebagai bentuk kecongkakan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka sekarang mereka dibalas dengan kehinaan abadi.

Salah Satu Bentuk Mengganggu Nabi saw.

Para ulama ahli tafsir Sunni menyebutkan bahwa di antara sikap yang mengganggu dan menyakitkan hati Nabbi saw. adalah ucapan sebagian sahabat bahwa ia akan menikahi seorang dari istri beliau saw. jika nanti beliau mati. Maka Allah merekam sikap tidak senonoh tersebut dalam firman-Nya:

وَ ما كانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَ لا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْواجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَداً إِنَّ ذلِكُمْ كانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظيماً.

“….Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. al Ahzâb[33];53)

Keterangan:

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah (dengan melanggar perintahnya baik yang terkait dengan sikap kalian terhadap istri-istri beliau atau dalam masalah-masalah lain) dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu ( menikahi istri-iastri beliau sepeninggal beliau)adalah (dosa yang) amat besar (dosanya) di sisi Allah.

Ayat ini mengesankan secara kuat bahwa sebagian sahabat telah menyebut-nyebut niatan/ucapan yang disebut di dalamnya bahwa ada di antara mereka yang berniat menikahi istri-istri Nabi saw. sepeninggal beliau saw.

Beberapa riwayat telah direkan para Ahli Hadis bahwa yang berbicara tidak sononoh itu adalah salah seorang sahabat Nabi saw. Sementara beberapa riwayat lainnya menegaskan bahwa sahabat yang dimaksud adalah Thalhal ibn Ubaidillah.

Jalaluddin as Suyuthi menyebutkan dalam kitab tafsir ad Durr al Mantsûr-nya delapan riwayat dalam masalah ini dari para muhaddis kenamaan Ahlusunnah, di antaranya adalah:

(1)   Ibnu Jarir ath Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Ada seorang datang menemui salah seorang istri Nabi saw. lalu berbincang-bincang dengannya, ia adalah anak pamannya. Maka Nabi saw. bersabda, ‘Jangan kamu ulang lagi perbuatan ini setelah hari ini!’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Dia adalah anak pamanku dan aku tidak berbincang-bincang yang munkar kepadanya dan dia pun tidak berbicara yang munkar kepadaku.’ Nabi saw. bersabda, ‘Aku mengerti itu. Tiada yang lebih cemburu dibanding Allah dan tiada seorang yang lebih pecemburu dibanding aku.’ Lalu ia meninggalkan Nabi kemudian berkata, ‘Dia meralangku berbincang-bincang dengan anak pamanku, jika ia mati aku benar-benar akan menikahinya.’ Maka turunlah ayat itu. …. “

(2)   Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari as Siddi ra., ia berkata, “Telah samapai kepada kami berita bahwa Thalhah berkata, ‘Apakah Muhammad menghalang-halangi kami dari menikahi wanita-wanita suku kami, sementara ia menihaki wanita-wanita kami setelah kematian kami? Jika terjadi sesuatu atasnya (mati_maksudnya) aku akan nikahi istri-istrinya.” Maka turunlah ayat ini.

(3)   Abdurrazzâq, Abdu ibn Humaid dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Qatadah ra., ia baerkata, “Thahlah berkata, ‘Jika Nabi wafat aku akan nikahi ‘Aisyah ra.” maka turunlah ayat: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat… “

(4)   Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Abu Bakar ibn Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm tentang firman Allah: Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat….”, ia berkata, “Ayat ini turun untuk Thalhah ibn Ubaidillah, sebab dia berkata, ‘Jika Rasulullah saw. aku akan nikahi Aisyah ra.’”[3]

Wallahu A’lam.

Khulashah:

Dari keterangan di atas dimengerti bahwa karenan Allah SWT. tidak mungkin menimpa-Nya gangguan apapun baik secara fisik maupun non fisik karena Dzat Allah Maha suci dari mengalami itu semua. Maka Allah menetapkan manusia-manusia suci pilihan-Nya sebagai barometer gangguan kepada Allah. Nabi Muhammad saw. adalah barometer tersebut! Sesiapa yang mengganggu Nabi Muhammad saw. maka berarti ia benar-benar telah mengganggu Allah SWT. Sebab beliau adalah duta Allah dan hamba pilihan-Nya!


[1] Tafsir al Qur’an al Adzîm; Ibnu Katsir,4/517.

[2] Fathul Qadîr,4/302-303.

[3] Baca ad Durr al Mantsûr,5/403-404, Tafsir Fathul Qadîr,4/298-300, tafsir Ibnu Katsir,3/506, Tafsir Ma’âlim at Tanzîl,5/273, dll.

Apabila kita melihat sejarah maka kita akan terkesima karena para sahabat ternama ternyata terlibat dalam peperangan besar. Para sahabat seperti Thalhah bin Ubaydillah, Zubayr bin Awwam, Mu’awiyyah bin Abu Sofyan, Amr bin Ash, Al-Naaman bin Basyir, dan Samurah bin Jundub terlibat dalam pembunuhan kaum Muslimin. ‘Aisyah binti Abu Bakar sendiri malah menjadi kepala penyerangan terhadap khalifah yang syah pada waktu itu yaitu Ali bin Abi Thalib. A’isyah beserta Thalhah dan Zubayr menjadi tiga serangkai yang menyerang khalifah Ali bin Abi Thalib dalam perang saudara yang disebut dengan perang unta atau Perang Jamal. Puluhan ribu sahabat terbunuh dalam peristiwa itu. Mereka menyerang Imam Ali bin Abi Thalib karena ingin menjadikan salah satu dari Thalhah atau Zubayr menjadi khalifah menggantikan Imam Ali bin Abi Thalib yang sangat tidak disukai oleh ‘Aisyah. Ketidak sukaan ‘Aisyah terhadap Ali sudah terkenal dalam sejarah
.
Pembunuhan yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin yang didasari oleh nafsu duniawi sama sekali tidak dibenarkan oleh Islam. Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya” (QS. An-Nisaa: 93)
.
Mu’awiyyah, Amr bin Ash, Thalhah dan Zubayr yang telah menumpahkan darah sebanyak lebih dari 40,000 kaum Muslimin yang semuanya sahabat Nabi anda anggap adil ??? baca QS. An-Nisaa: 93
.
Sangatlah tidak masuk di akal apabila memasukkan nama-nama mereka kedalam kelompok para sahabat yang shaleh dan beriman dan sangat tidak masuk di akal juga apabila kita masih mau mengambil hadits-hadits dari mereka karena ada kemungkinan hadits yang mereka laporkan dipenuhi kepentingan politis di dalamnya
.
Ada memang sekelompok orang yang menganggap mereka sebagai orang baik-baik dan shaleh karena mereka katanya termasuk orang-orang yang menganut Islam pertama kali dari kalangan penduduk Makah dan Madinah. Mereka juga dianggap sebagai orang yang pernah hadir dalam bait ar-ridhwan  (mereka yang mengikat bai’at kesetiaan di bawah pohon) setelah perjanjian Hudaybiyah. Oleh karena itu, (masih menurut klaim mereka), orang-orang tersebut di atas orang-orang ridha terhadap Allah dan Allah ridha kepada mereka. Dan barangsiapa pernah diridhai atau disukai oleh Allah maka Allah takkan pernah marah lagi kepada mereka (itu masih menurut klaim mereka)
.
maka memang dengan jelas kita bisa melihat bahwa ada sekelompok sahabat nabi yang merupakan penduduk kota Makah dan Madinah yang akan mendapatkan balasan berupa surga yang di dalamnya ada kebun-kebun subur dan sungai-sungai mengalir dimana mereka akan tinggal kekal bersama para penghuni surga yang lain
.
Akan tetapi yang menjadi masalah ialah bahwa Mu’awiyyah dan Amr bin Ash tidak termasuk kedalam orang yang dimaksud oleh ayat ini bersama ayat tentang bai’at kesetiaan di bawah pohon. Mereka berdua bukan orang yang masuk Islam pertama kali. Mereka juga bukan kaum imigran atau Muhajirin dari kota Makah. Mereka juga tidak pernah hadir dalam bait ar-ridhwan. Amr bin Ash itu terpaksa masuk Islam  setelah perjanjian Hudaybiyyah. Sementara Mu’awiyyah juga tidak memiliki alternatif lain selain memeluk Islam untuk menyelamatkan kehidupannya setelah peristiwa penaklukan kota Makah
.
Lebih jauh lagi kita tidak menemukan apapun dalam al-Qur’an itu yang menyiratkan bahwa orang-orang yang sudah diridhai atau disukai oleh akan bebas dari murka Allah. Pernyataan seperti itu hanya datang dari mereka yang terlalu memuja-muja para sahaba Nabi sehingga luput dari mengenali kebenaran
.
Sangat sukar sekali dibayangkan apabila Allah memberikan kekebalan hukum secara permanen kepada orang yang berbuat baik pada suatu waktu dan kemudian berbuat sangat jahat di waktu lainnya. Tidak bisa dibayangkan bahwa Allah akan mema’afkan orang-orang yang pernah membunuh ribuan orang beriman setelah sebelumnya pernah berbuat baik (bukankah para ulama itu percaya bahwa ada sekelompok orang yang mati dalam keburukan atau biasa disebut dengan su’ul khatimah?)
.
Kalau memang kekebalan hukum itu ada untuk para sahabat, maka bisa saja seorang sahabat nabi itu tidak menjalankan (atau malah menentang) ajaran yang diajarkan dalam Al-Qur’an (seperti larangan membunuh orang tanpa dosa) atau ajaran yang diajarkan langsung oleh Nabi kepada dirinya
.
Akan tetapi kita tidak akan mempercayai hal ini karena Allah sendiri pernah berfirman kepada Rasulullah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan adzab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS. Al-An’am: 15)
.
Apabila para sahabat itu boleh menafsirkan ayat-ayat Qur’an dan sabda Rasulullah sekehendak hatinya (sampai mereka bisa membunuh kaum Muslimin tanpa dosa), maka bisa saja mereka mengeluarkan fatwa bahwa shalat wajib 5 kali dalam sehari semalam itu adalah sunnah dan bukan kewajiban! Bisa saja mereka berdalih, “Kami menganggap bahwa kata-kata aqiimus shalah itu artinya kita boleh atau sunnah untuk melakukan shalat. Karena dalam kata-kata itu tidak dijelaskan apakah kita harus berdiri, kemudian rukuk kemudian sujud dan seterusnya. Tidak juga dijelaskan bahwa kita harus membaca Al-Qur’an di dalamnya atau membaca syahadat di dalamnya. Kita cukup saja berdo’a kepada Allah untuk memohonkan ampun dan meminta rizki atau memohon untuk dipanjangkan umur karena kata “Shalat” itu sendiri artinya berdo’a
.

APA KATA RASULULLAH TENTANG MU’AWIYYAH

Berikut ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya:
“Rasulullah (saw) pada suatu hari menyuruh Ibnu Abbas untuk mengundangnya (Mu’awiyyah) agar datang ke rumah Rasulullah untuk menuliskan sesuatu untuknya. Ibnu Abbas menemukan Mu’awiyyah sedang makan dengan lahapnya (Mu’awiyyah tidak bisa memenuhi undangan Nabi). Rasulullah kemudian mengirimnya (Ibnu Abbas) sekali lagi kepada Mu’awiyyah, dan Ibnu Abbas sekali lagi melihatnya masih dalam keadaan makan. Kejadian ini berulang hingga tiga kali hingga Rasulullah berkata:
“Semoga Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”
(Lihat: Muslim, Shahih, volume 5, halaman 462 dalam Kitab Keramah-tamahan, Kedermawanan, dan Sopan Santun; dalam sebuah bab tentang seseorang yang pernah dikutuk oleh Rasulullah (edisi Dar al-Sha’b) seperti yang dikutip oleh al-Nawawi dalam Sharh-nya)
.

Juga dalam Shahih Muslim ada tulisan berikut: “Rasulullah berkata:

.
‘………adapun Mu’awiyyah, ia itu seorang pengangguran dan seorang pemalas’
(Lihat: Al-Bukhari, Shahih, volume 3, halaman 693)
.
Dalam Musnad-nya Imam Ahmad, Rasulullah diriwayatkan pernah berkata seperti berikut ini tntang Mu’awiyyah dan ‘Amr bi Ash:
.
“Ya Allah! Lemparkanlah mereka kedalam permusuhan sesegera mungkin, dan masukkanlah mereka kedalam api neraka,”. Masih ada beberapa lagi riwayat yang menggambarkan Mu’awiyyah (yang kerapkali disebut sebagai “Amirul Mukminin” atau “Pemimpin Orang-orang Yang Beriman” oleh sebagian kaum Muslimin yang memujanya). Mu’awiyyah adalah anak dari seorang ibu yang berani memakan jantung Sayyidina Hamzah pada peperangan Uhud. Mu’awiyyah menutup hidupnya dengan mengangkat anaknya Yazid bin Mu’awiyyah seorang pemuda yang memiliki sifat hedonis—suka berpoya-poya, bermabuk-mabukan dan melakukan perzinahan—sebagai khalifah bagi kaum Muslimin
.
Sungguh pemimpin yang sangat tidak bijak karena merelakan umat untuk dipimpin oleh makhluk terburuk yang pernah lahir ke dunia ini. Yazid waktu itu baru berusia 20 tahun ketika ia menjabat menjadi khalifah. Pengangkatan Yazid itu merupakan pelanggaran atas kesepakatan yang telah dijalin oleh Mu’awiyyah bersama dengan Imam Hasan (as). Selengkapnya perjanjian damai antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah itu adalah sebagai berikut.

PERJANJIAN DAMAI DAN SYAHIDNYA IMAM HASAN (AS)

Setelah kesyahidan Imam Ali (as) (karena dibacok oleh Ibnu Muljam ketika sedang shalat Shubuh), Imam Hasan (as) naik ke atas mimbar dan orang-orang Kufah pada waktu itu memberikan bai’at kesetiannya kepada Imam Hasan (as) sebagai khalifah pengganti ayahnya; dan orang-orang Kufah menginginkan Imam Hasan (as) menjadi pemimpin umat Islam secara keseluruhan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Akan tetapi hal ini ternyata hanya berlangsung hingga enam bulan saja
.
Ketika kabar tentang syahidnya Imam Ali (as) itu sampai ke Syiria, Mu’awiyyah memimpin pasukan yang besar sekali dan berangkat menuju Kufah (pusat pemerintahan Islam pada waktu itu karena Imam Ali memindahkan pusat pemerintahannya dari Madinah ke Kufah karena Imam Ali selalu dirongrong kekuasaannya oleh para sahabat senior dari Rasulullah—red). Mu’awiyyah menyerbu Kufah untuk merampas khilafah dari Imam Hasan (as). Imam Hasan dipaksa untuk menyerah kepada Mu’awiyyah
.
Demi melihat keadaan genting yang bisa menyebabkan pertempuran yang besar sekali dan melibatkan seluruh umat Islam, maka Imam Hasan (as) tidak punya pilihan lain selain berdamai dengan Mu’awiyyah demi melindungi kaum Muslimin dari perang saudara yang besar. Imam Hasan (as) tidak ingin darah kaum Muslimin tertumpahkan hanya karena mereka saling membunuh satu sama lain karena keduanya ingin memperebutkan kursi kekhalifahan. Imam Hasan (as) tidak seperti para pemimpin Arab saat ini yang lebih memilih untuk bertahan dan mengorbankan rakyatnya untuk kekuasaannya. Imam Hasan (as) mencintai rakyatnya dan ia tidak mau darah umat tertumpah gara-gara ia mempertahankan kekuasaan yang tidak ada apa-apanya di hadapan Imam
.
Selain itu Imam Hasan melihat ada bibit perpecahan di kalangan tentaranya sendiri yang sudah berhasil disuap oleh mata-mata Mu’awiyyah. Ditambah dengan kondisi politis yang tidak stabil di Irak (dan Kufah terletak di Irak!); ditambah lagi dengan ancaman dari negara lain—Kekaisaran Romawi sedang mengintai dan melihat peluang yang matang untuk menyerbu umat Islam. Jadi seandainya perang itu terjadi antara Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah, maka kemungkinan besar yang akan keluarg menjadi pemenang justeru kekuatan di luar Islam yaitu kekaisaran Romawi karena siapa saja yang menang perang akan berkurang kekuatannya setelah peperangan berakhir dan kekaisaran Romawi akan dengan mudah menyerang dan melumpuhkan umat Islam
.
Imam Hasan langsung memilih opsi untuk melakukan perjanjian damai untuk melepaskan umat Islam dari ancaman bahaya yang jauh lebih besar lagi. Perjanjian damai yang disepakati dengan Mu’awiyyah adalah sebagai berikut:
  1. Imam Hasan harus menyerahkan kekhalifahan dan urusan umat Islam kepada Mu’awiyyah dengan syarat bahwa Mu’awiyyah harus mengurus dan mengatur umat dengan berdasarkan Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
  2. Kursi khilafah—apabila Mu’awiyyah meninggal lebih dulu—harus segera dan langsung diserahkan kepada Imam Hasan (as). Apabila ada sesuatu yang terjadi kepada Imam Hasan, maka kursi khilafah akan diserahkan kepada adiknya, Imam Husein (as).
  3. Semua kutukan dan laknat terhadap Imam Ali harus dihentikan baik itu yang dilakukan di mimbar-mimbar maupun yang dilakukan di tempat lainnya.
  4. Uang sebanyak 5 juta dirham yang ada di baytul mal di Kufah sepenuhnya akan dijaga dan diawasi oleh Imam Hasan (as) dan Mu’awiyyah harus mengirimkan sebanyak 1 juta dirham tiap tahun untuk pajak khiraj kepada Imam Hasan (as) yang akan disalurkan langsung kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh para syuhada pada perang Unta dan perang Siffin yang bertempur di pihak Imam Ali.
  5. Mu’awiyyah harus bersumpah untuk tidak mengganggu umat manusia dari kalangan manapun tanpa memandang ras, suku, dan agama. Mu’awiyyah tidak boleh mengejar-ngejar mereka; menyakiti mereka dan ia harus bersumpah akan melaksanakan seluruh isi perjanjian ini dan berjanji untuk menjadikan umat manusia sebagai saksinya
    .
Akan tetapi kemudian yang terjadi benar-benar menyesakkan dada. Imam Hasan (as) syahid terbunuh pada tahun 50H (670 masehi). Imam Hasan (as) meninggal dibunuh dengan racun yang dibubuhkan oleh isterinya sendiri yang bernama Ju’dah binti Al-Ash’ath ibn Qays. Isteri Imam Hasan ini berasal dari keluarga yang memiliki kehidupan dan keyakinan yang berbeda dengan kehidupan dan keyakinan yang dimiliki oleh keluarga atau keturunan Imam Ali (as). Mu’awiyyah menyuruh Ju’dah untuk memberikan racun kepada makanan yang akan dimakan oleh Imam Hasan (as) dengan terlebih dahulu mengirimkan uang sebanyak 100,000 dirham dan sebuah janji kepadanya bahwa sepeninggal Imam Hasan (as), Ju’dah akan dinikahkan kepada puteranya Mu’awiyyah yaitu Yazid bin Mu’awiyyah
.
Mu’awiyyah tertawa kegirangan di istananya demi mendengar kematian Imam Hasan (as). Ia merasa telah mengangkat duri dalam daging yang mengganggu kehidupannya siang dan malam. Dengan itu maka impiannya yaitu mengangkat anaknya, Yazid, seorang pemuda mesum, akan segera menjadi kenyataan. Tinggal satu orang lagi yang masih mengganggu pikirannya. Ia adalah Imam Husein (as).

Imam Ali bin Abi Thalib bersama kelompok Nakitsin (perang Jamal)
Para pencetus fitnah

Pembaiatan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib AS. oleh mayoritas kaum muslimin laksana petir yang menyambar bagi Quraisy dan bagi mereka yang memusuhi Islam. Mereka tahu bahwa pemerintahan Ali bin Abi Thalib adalah kepanjangan tangan pemerintahan Rasulullah saw yang merendahkan dan menghina kezaliman, permusuhan dan pemberontakan. Pemerintahan yang membawa nilai-nilai keadilan, persamaan dan kebenaran. Pemerintahan yang mengumumkan perang terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi yang berlandaskan riba, monopoli dan eksploitasi. Pemerintahan yang memberikan hak yang sama kepada para tokoh Quraisy dengan masyarakat lainnya dari manapun ia. Itu setelah mereka mendapat perlakukan istimewa di zaman Usman.

Thalhah dan Zubeir keduanya melihat dirinya setara dengan Ali bin Abi Thalib. Hal itu dikarenakan keduanya adalah sama-sama kandidat dalam syura yang dibentuk oleh Umar bin Khatthab untuk dipilih menjadi khalifah. Setidak-tidaknya, bila tidak menjadi khalifah mereka mendapat bagian menguasai sebagian dari negara Islam. Sementara Aisyah memiliki posisi yang cukup diperhitungkan oleh khalifah-khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib sebagaimana terlihat pada zaman itu ia dapat berbicara apa saja yang diinginkannya. Saat ini ia tahu benar bahwa kebebasan yang seperti itu tidak akan didapatkannya lagi di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib yang senantiasa bersandarkan Al-Quran dan Sunah sebagai sumber perundang-undangan dan eksekutif.

Di Syam, Muawiyah bin Abu Sufyan berlaku bagaikan penguasa mutlak yang tidak berada di bawah pemerintah pusat. Ketamakannya akan kekuasaan untuk memimpin umat Islam membuatnya ia mengatur urusan kaum muslimin secara mutlak. Muawiyah bin Abu Sufyan dan kroniknya tiba-tiba dikejutkan dengan aturan-aturan Imam Ali bin Abi Thalib AS. yang melakukan perbaikan sesuai dengan langkahnya mendapatkan kenyataan bahwa posisi yang didapatkan di zaman Usman bin Affan sedang dalam terancam. Keberadaan Imam Ali bin Abi Thalib AS. di puncak piramida kekuasaan dianggap sebagai ancaman bagi garis kebijakan para khalifah sebelumnya yang menguntungkan Quraisy. Hal itu dikarenakan Imam Ali bin Abi Thalib mampu untuk mengangkat kembali bendera Islam dan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikit pun. Ia pasti akan membuka kedok penyelewengan yang selama ini terjadi tanpa ada rasa khawatir sedikit pun.

Dari sini mereka sepakat memunculkan fitnah untuk mencegah kestabilan pemerintah yang baru. Adanya elemen-elemen yang memusuhi pandangan dan perjalanan pemerintahan Islam yang sah tidaklah aneh bagi Imam Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw telah memberitahukannya bahwa pada masa pemerintahannya akan ada kelompok-kelompok pemberontak yang menentangnya. Nabi juga mengatakan bahwa ia akan memerangi mereka sebagaimana kelompok-kelompok ini, dinamai oleh Rasulullah dengan Nakitsin, Qasithin dan mariqin

.

Aisyah mengumumkan pemberontakan

Posisi Ummul Mukminin Aisyah pada Usman bin Affan adalah sangat aneh dan kontradiktif yang tidak pantas disandang oleh seorang wanita, istri Nabi. Ia berkali-kali berkata, ‘Bunuh Na’tsal (orang tua yang bego, Usman bin Affan)! Aisyah juga mengajak orang-orang untuk membangkang terhadap Usman dan bahkan membunuhnya. Ia keluar dari kota Madinah menuju Mekkah di tengah-tengah pengepungan Usman bin Affan. sebelum terjadi pembunuhan Usman. pengharapannya sangat besar agar Usman cepat terbunuh, ia ingin sekali Thalhah, yang masih keluarga dekatnya menjadi khalifah.

Sekonyong-konyong harapan Aisyah buyar karena pemerintahan berada di tangan Ali bin Abi Thalib setelah umat Islam membaiatnya. Aisyah membatalkan rencananya menuju Madinah dan kembali ke Mekkah. Di Mekkah ia menampakkan kesedihan dan keteraniayaannya atas kematian Usman bin Affan. Ada yang bertanya kepadanya, ‘Bukankah engkau yang mengajak orang untuk membunuhnya dan sekarang engkau berubah pikiran dengan alasan yang terlalu sederhana’. Ia menjawab, ‘mereka telah memintanya agar bertaubat namun kemudian tetap membunuhnya. Ucapannya memberikan kesan seakan-akan ia hadir di tempat kejadian dan menyaksikan pembunuhan Usman bin Affan.

Aisyah mengumumkan perang terhadap Imam Ali bin Abi Thalib dalam pidato yang diucapkannya di Mekkah dengan memberi semangat pendukungnya untuk perang.

Ketamakan Aisyah tidak cukup sampai di sini saja, ia mengajak istri-istri Nabi untuk ikut bersamanya memerangi Imam Ali bin Abi Thalib. Aisyah

kecewa karena ajakannya tidak bersambut. Para istri Nabi tidak ada yang mau ikut dengannya memerangi Ali bin Abi Thalib

.

Selain tidak ikut, Ummu Salamah malah menasihatinya untuk tidak melanjutkan niatnya. Alasannya sederhana agar tidak terjadi pertumpahan darah antar sesama muslimin

.

Aisyah menjawab, ‘Engkau sebelumnya termasuk orang yang mengajak untuk membunuh Usman. Setiap kali engkau berbicara mengenai Usman niscaya dengan bahasa yang buruk. Engkau tidak pernah memanggilnya selain dengan kata Na’tsal. Engkau juga tahu bagaimana posisi Ali bin Abi Thalib di sisi Rasulullah saw. Apakah aku perlu mengingatkanmu tentang hal ini? Ummu Salamah menjawab, ‘Apakah engkau ingat ketika Nabi datang dan kita bersamanya. Bagaimana Nabi bersama Ali bin Abi Thalib berduaan dengan menghamparkan sebuah alas di sebelah kiri kemudian keduanya berbicara agak lama. Melihat percakapan mereka sedemikian lamanya, engkau ingin menuju ke arah mereka dengan kesal namun aku menahanmu tapi engkau tetap bersikeras menuju ke arah mereka. Yang membuatku heran pada waktu itu adalah mengapa engkau kembali sambil berderaian air mata. Aku kemudian ingin mengetahui apa yang terjadi padamu sehingga kutanya, ‘Apa yang terjadi denganmu? Pada waktu itu engkau menjawab, ‘Aku menerobos ke arah keduanya ternyata mereka lagi berdialog. Aku lalu menatap Ali dan berkata kepadanya, ‘Aku tidak punya waktu bersama Rasulullah saw kecuali satu hari dari sembilan hari yang dimilikinya. Apakah engkau mau meninggalkan aku bersama hariku? Nabi kemudian mengarahkan wajahnya membelakangi Ali bin Abi Thalib dan menatapku. Ia tampak marah wajahnya kemerah-merahan saking marahnya dan kemudian berkata, ‘Kembali ke tempatmu! Demi Allah, orang yang membenci Ali bin Abi Thalib, siapa pun dia, berarti telah keluar dari imannya’. Mendengar itu aku kembali ke tempatku menyesali apa yang telah kulakukan namun aku marah besar terhadap Ali bin Abi Thalib’. Aisyah mengangguk dan berkata, ‘Aku ingat apa yang kau ucapkan’. Ummu Salamah kemudian menambahkan, ‘Apa yang membuat harus keluar memerangi Ali bin Abi Thalib setelah kejadian ini? Aisyah menjawab, ‘ Aku keluar melakukan ini untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan mendamaikan mereka. Aku hanya ingin mendapat balasan dari Allah swt’. Ummu Salamah menyela,’Itu engkau dan pikiranmu’. Mendengar itu Aisyah langsung pergi dari situ

.

Diriwayatkan bahwa istri-istri Nabi keluar bersama Aisyah sampai pada sebuah tempat bernama Dzatu ‘Araq. Tampaknya penyertaan mereka adalah usaha untuk menggagalkan keinginan Aisyah ke Madinah agar tidak terjadi fitnah. Ketika dirasa bahwa usaha mereka sia-sia mereka kemudian menangis bersama-sama karena membayangkan apa yang akan terjadi dengan Islam. Orang-orang yang ikut bersama mereka ikut pula menangis. Pada hari itu disebut dengan hari An-Nahib (hari ratapan)

.

Perbuatan makar Muawiyah dan pelanggaran janji baiat dari Zubeir dan Thalhah

Muawiyah bin Abu Sufyan menikmati kekuasaannya di Syam. Ia memiliki alat-alat dan pendukung yang dapat digerakkan sesuai dengan keinginannya. Di samping itu, ia tidak memiliki masalah dengan masyarakat Syam karena kota Syam semenjak mengenal Islam itu dibarengi dengan pengenalan mereka kepada keluarga Abu Sufyan dan Muawiyah adalah gubernur yang ditunjuk oleh khalifah. Sebelum Muawiyah, saudaranya Yazid menjadi gubernur di sana yang kemudian digantikannya. Dan Muawiyah diuntungkan karena letak geografis Syam jauh dari ibu kota Islam yang memberinya kekuatan yang cukup untuk menyusun kekuatan. Dengan memperhatikan semua ini, Muawiyah bin Abu Sufyan mulai melaksanakan ide-idenya untuk membesarkan api fitnah yang sudah mulai menyala dengan pembunuhan Usman bin Affan. Ia memanfaatkan kondisi ini untuk meraih tujuan-tujuannya. Ia berbicara kepada Zubeir dan Thalhah dan mengompori keduanya agar ketamakan akan kekuasaan yang ada dalam dirinya semakin kuat muncul ke permukaan dan dengan itu secara serius memasuki medan pertempuran dengan Ali bin Abi Thalib yang pada gilirannya menambah besar cakupan fitnah di ibu kota. Ia mengirimkan surat kepada Zubeir yang isinya:

‘Kepada Amir Mukminin Zubeir dari Muawiyah bin Abu Sufyan. Salam untukmu. Aku membaiatmu atas nama rakyat Syam. Mereka mendengar perintah dan akan menaatimu. Kuasailah kota Kufah dan Basrah karena Ali bin Abi Thalib tidak dapat mendahuluimu bila engkau telah lebih dahulu berkuasa di sana. Kedua kota ini adalah segala-galanya. Bila engkau telah menguasai keduanya sama artinya engkau telah menguasai yang lain. Aku telah membaiat Thalhah bin Ubaidillah sebagai khalifah sepeninggalmu. Tunjukkan tuntutanmu akan darah Usman bin Affan dan ajak manusia mengikuti langkahmu. Tentunya ini semua akan berhasil bila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah memenangkan kalian berdua dan mengalahkan musuh kalian’

.

Ketika surat Muawiyah bin Abu Sufyan sampai di tangannya ia betul-betul gembira dan merasa yakin dan percaya akan kebenaran niat Muawiyah. Ia bersama Thalhah kemudian sepakat untuk melanggar baiat terhadap Ali bin Abi Thalib. Langkah pertama yang diambil adalah menunjukkan penyesalan mengapa melakukan baiat kepada Ali bin Abi Thalib. Dan kedua, mengajak Aisyah ikut dalam gerakannya untuk memberi dukungan. Untuk dapat menarik Aisyah, oleh keduanya kemudian menyusun rencana untuk ikut bersama mereka. Diriwayatkan bahwa keduanya datang dan menuntut haknya untuk ikut dalam pemerintah Imam Ali bin Abi Thalib setidak-tidaknya sebagai pejabat dalam pemerintahannya namun keduanya gagal karena Ali bin Abi Thalib tidak menerima. Kemudian mereka berdua ingin bergabung dengan Aisyah dan untuk itu meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Mekkah mengerjakan umrah. Imam Ali bin Abi Thalib memberikan izin sambil berkata, ‘Baiklah. Demi Allah! Kalian tidak benar-benar hendak melakukan umrah. Yang akan kalian lakukan adalah ingin melakukan sesuatu untuk posisi kalian’. Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib berkata kepada keduanya, ‘Bahkan kalian ingin melakukan pengkhianatan’

.

Mereka yang melanggar janji dan baiatnya kepada Ali bin Abi Thalib berkumpul di rumah Aisyah di Mekkah setelah sebelumnya orang-orang ini adalah penentang keras Usman bin Affan. Zubeir, Thalhah dan Marwan bin Hakam bergabung dengan mereka dan sepakat menjadikan darah Usman bin Affan sebagai simbol perlawanan mereka kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka mengangkat baju Usman sebagai bentuk penentangan dan Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling bertanggung jawab terjadinya pembunuhan Usman bin Affan. Hal itu disimpulkan dari sikap Ali bin Abi Thalib yang melindungi dan keengganan Ali bin Abi Thalib untuk membalas dendam kepada mereka. Mereka sepakat untuk pergi ke Basrah mendudukinya dan menjadikannya sebagai pusat gerakan dan peperangan mereka menghadapi Ali bin Abi Thalib dan pasukannya sementara Muawiyah menguasai daerah Syam sedangkan Madinah senantiasa dalam kondisi tidak aman

.

Pergerakan Aisyah menuju kota Basrah

Aisyah tetap bersikeras untuk tetap melanjutkan apa yang telah direncanakan untuk mengobarkan fitnah dan langsung terjun secara langsung berperang dengan Imam Ali bin Abi Thalib AS. selaku khalifah yang sah. Aisyah mengumpulkan sejumlah orang yang punya kedengkian terhadap Islam dan Ali bin Abi Thalib serta ditambah dengan para spekulan kekuasaan. Ya’la bin Muniyyah mempersiapkan persenjataan untuk mereka mulai dari pedang dan unta yang dicurinya dari Yaman ketika Imam Ali bin Abi Thalib mengusirnya ke sana. Datang juga Abdullah bin ‘Amir membantu sejumlah besar uang dari Basrah yang juga dicurinya dari sana. Mereka menyiapkan sebuah unta khusus untuk Aisyah yang diberi nama Askar. Posisi Aisyah berada di tengah pasukan dan dilindungi dengan mengitarinya Bani Umayyah. Aisyah dengan posisi seperti ini berada paling depan dan pasukan besar mengiringnya dari belakang menuju kota Basrah. Sebelum sampai ke Basrah, surat yang ditulis untuk beberapa tokoh Basrah telah sampai terlebih dahulu. Isi surat itu mengajak mereka untuk sama-sama dengannya merobek perjanjian dan meninggalkan baiat yang telah dilakukan dengan alasan menuntut darah Usman.

Dimulailah usaha makar dan tipuan yang memang menjadi kebiasaan siapa saja yang ingin menentang Imam Ali bin Abi Thalib. Ketika pasukan Aisyah hendak keluar dari kota Mekkah, Marwan bin Hakam mengucapkan azan untuk melakukan salat. Ia mendatangi Thalhah dan Zubeir untuk mengadu domba antara keduanya dan pada suatu saat menguasai keduanya. Ia berkata, ‘kepada salah satu dari kalian kuserahkan kekuasaan padanya, dengan menjadi imam salat, dan aku meminta izin darinya untuk mengucapkan azan salat. Pengikut keduanya saling berlomba-lomba untuk mendudukan pemimpinnya sebagai yang paling utama untuk menjadi imam salat sebagai lambang kekhalifahan. Aisyah yang paling dahulu memahami apa yang akan terjadi karena kelihatannya pertikaian sudah di depan hidung. Ia kemudian mengutus Zubeir anak saudaranya untuk menjadi imam salat

.

Saat pasukan Aisyah memasuki sebuah tempat bernama Authas mereka bertemu denga Said bin Al-‘Ash dan Mughirah bin Syu’bah. Ketika Said mengetahui bahwa Aisyah mengklaim ‘menuntut darah Usman’, ia menertawakannya dan berkata, ‘Yang membunuh Usman adalah orang-orang yang bersamamu, wahai ummul mukminin!

.

Diriwayatkan, Said berkata, ‘Kalian hendak ke mana? Apakah kalian ingin meninggalkan dendam kalian di balik unta-unta yang lemah? Yang dimaksud dengan ucapannya adalah Thalhah, Zubeir dan Aisyah. Pasukan melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tempat yang bernama Hauab. Di pertengahan jalan mereka menemui sekelompok anjing yang menggonggong. Gonggongan itu menakutkan hati Aisyah yang membuatnya akhirnya bertanya kepada Muhammad bin Thalhah tempat yang sedang mereka lalui ini, ‘Air yang ada di sini disebut apa? Muhammad menjawab, ‘Air Hauab, wahai ummul mukminin’. Serentak badannya menggigil dan berteriak dengan lantang, ‘Kita harus kembali! Di tanya kepadanya, ‘Mengapa? Aisyah berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata, ‘Seakan-akan ada salah satu dari kalian (istri-istri Nabi), yang akan digonggong oleh anjing-anjing Hauab. Pada saat itu engkau, wahai Humaira (panggilan kesayangan Nabi untuk Aisyah), harus berhati-hati dan meninggalkan tempat itu. Aisyah kemudian menghentakkan kakinya agar untanya bergerak dan berkata, ‘Pulangkan aku! Demi Allah, akulah yang disebut oleh Rasulullah sebagai air Hauab dan aku harus kembali. Pasukan yang ada kemudian untanya di tahan sambil mengitarinya sehari semalam. Kemudian Abdullah bin Zubeir mendatanginya dan bersumpah di hadapannya, ‘Demi Allah di sini bukan tempat yang bernama Hauab’. Ia kemudian mendatangkan dua orang Arab badui dan dipaksanya keduanya untuk mengucapkan sumpah bahwa tempat ini bukan Hauab. Ini adalah sebuah sumpah yang diucapkan dengan paksaan yang pertama kali dicatat dalam Islam

.

Pertempuran-pertempuran kecil Basrah

Ketika pasukan Aisyah sampai di kota Basrah, Usman bin Hanif menjelaskan kepada masyarakat Basrah apa tujuan kelompok ini. Ia mewanti-wanti mereka untuk berhati-hati dengan mereka karena fitnah yang akan ditimbulkan pemimpin-pemimpinnya. Ia mengajak mereka yang ikhlas dan masih setia kepada Imam Ali bin Abi Thalib untuk menyiapkan dirinya mempertahankan kebenaran dan syariat Islam yang suci sekaligus menahan pasukan Nakitsin untuk menguasai kota Basrah

.

Usaha yang dapat dilakukan oleh Usman bin Hanif adalah memperlakukan Aisyah dengan segala penuh penghormatan sebagaimana layaknya akhlak Islam. Ia berusaha sebisa mungkin agar perang tidak terjadi. Ia mengutus kepada mereka Imran bin Hashin dan Abu Aswad Ad-Duali untuk berdiplomasi dengan Aisyah dan pengikutnya serta meyakinkan mereka bahwa sikap yang diambil ini adalah satu kesalahan besar. Akan tetap usaha ini menemui jalan buntu dan gagal. Aisyah dan Thalhah serta Zubeir yang senantiasa bersamanya bersikeras untuk tetap ingin mengobarkan api fitnah dan mengumumkan perang.

Aisyah dan pasukannya merangsek maju hingga mencapai daerah Al-Marbad. Para petinggi pasukan memasuki kota. Usman bin Hanif bersama penduduk kota Basrah keluar menemui mereka. Aisyah, Thalhah dan Zubeir mengajak orang-orang untuk meninggalkan janji baiat yang telah mereka ucapkan kepada Ali bin Abi Thalib dengan alasan menuntut darah Usman bin Affan. Orang-orang yang mendengar pidato ketiga orang itu langsung terbagi antara yang pro dan kontra

.

Budak wanita dari Ibn Qudamah As-Sa’di maju menemui Aisyah dan menasihatinya siapa tahu ia mau mengurungkan niatnya untuk mengobarkan api fitnah dan perpecahan. Ia berkata, ‘Wahai ummul mukminin! Demi Allah, orang-orang yang membunuh Usman bin Affan lebih rendah dari usahamu keluar dari rumah sambil menunggang unta terlaknat ini. Urungkanlah senjatamu! Sesungguhnya engkau memiliki kemuliaan tersendiri di sisi Allah namun sekarang engkau yang membuka penutup dirimu dan merusak kehormatanmu sendiri. Sesungguhnya siapa saja yang melihat engkau berperang pasti mengetahui bahwa suatu saat ia akan memerangimu. Bila engkau datang kepada kami dengan ketaatan maka lebih baik engkau pulang ke rumahmu. Dan bila engkau cengkal maka masyarakat akan membantuku’

.

Peperangan, gencatan senjata dan pengkhianatan

Kedatangan Aisyah ke kota Basrah membuat penduduk kota terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian setuju dengan cara pandang Aisyah dan sebagian lain tidak setuju. Mulailah perang mulut di antara mereka. Yang memisahkan mereka adalah malam ketika mereka harus istirahat dan tidur. Usman bin Hanif tetap bersikeras agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah. Ia berusaha untuk menjaga agar kota tetap dalam kedamaian sambil menunggu kedatangan Imam Ali bin Abi Thalib ke Basrah. Ketika akhirnya peperangan dimulai dari kedua belah pihak mereka sama-sama menginginkan perdamaian. Untuk itu dilakukanlah gencatan senjata. Perjanjian gencatan senjata berisikan permintaan untuk mengirim seorang utusan ke Madinah dan bertanya kepada penduduk kota Madinah. Bila Thalhah dan Zubeir memang melakukan baiat dengan dipaksa maka Usman bin Hanif harus keluar dari Basrah dan bila ternyata memang mereka ini melakukan baiat maka Thalhah dan Zubeir yang harus keluar dari kota Basrah.

Ka’ab bin Musawwir utusan yang dikirim oleh kedua belah pihak yang mengadakan gencatan senjata kembali dari Madinah dengan klaim Usamah bin Ziyad yang mengatakan bahwa memang benar ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah keduanya dipaksa untuk melakukan baiat sementara pandangan penduduk kota Madinah berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pendapat Usamah. Namun para komandan pasukan Aisyah mengambil pendapat Usamah dan pada malam harinya ketika hujan turun mereka langsung menyerang bangunan pemerintah dan membunuh setiap yang ada di sana kecuali Usman bin Hanif karena saudaranya, Sahl bin Hanif adalah gubernur Ali bin Abi Thalib di Madinah. Tidak membunuhnya tidak berarti Usman bin Hanif aman dari penyiksaan. Mereka mencabut bulu-bulunya mulai dari kepala, jenggot dan alisnya

.

Usaha Ali Menumpas Pemberontakan

Tatkala Ali bin Abi Thalib a.s. menerima tampuk kepemimpinan dan menjabat sebagai khalifah kaum muslimin, terdapat tantangan yang mengganggu kestabilan  pemerintahan pusat. Tantangan itu ialah penolakan Muawiyah bin Abu Sufyan untuk berbaiat kepadanya. Ali telah menyiapkan angkatan bersenjata yang setiap saat siap menjaga kestabilan negara dari ancaman para pemberontak. Demikian itu agar keamanan tetap terbina dan tidak terjadi pertumpahan darah di antara umat Islam.

Sebenarnya, pasukan itu disiapkan untuk menyerang Muawiyah. Dan karena mengetahui pasukan pemberontakan itu dikomandani oleh Aisyah, Thalhah dan Zubeir, Ali bin Abi Thalib memimpin pasukannya menuju Basrah. Pasukan ini diikuti oleh tokoh-tokoh dari kaum Anshar dan Muhajirin.

Setibanya di sebuah tempat yang bernama Rabadzah, Ali bin Abi Thalib menulis surat kepada pemerintah-pemerintah daerah untuk menambah personil dan menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi sehingga mereka ikut membantu memadamkan api fitnah dan menahannya agar tidak menyebar. Untuk itu, Ali mengirim dua utusan; Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Ja’far, ke Kufah. Di sana mereka menerangkan apa maksud kedatangan, sementara Abu Musa Al-Asy’ari, gubernur Kufah, tidak ingin terlibat dalam membantu Ali, sekalipun dalam berperan aktif guna menahan penyebaran fitnah.

Untuk kedua kalinya Ali bin Abi Thalib mengirim utusan. Ia adalah Abdullah bin Abbas. Ia pun tidak mampu meyakinkan Abu Musa untuk mndapatkan dukungannya; membantu dan menguatkan semangat warga Kufah untuk tetap memihaknya. Akhirnya, untuk kali yang ketiga, Ali bin Abi Thalib mengirim anaknya Hasan dan Ammar bin Yasir yang kemudian Malik bin Asytar ikut bergabung. Tugas mereka adalah menurunkan Abu Musa dari jabatannya. Dengan demikian, Kufah dengan segala kekuatannya memihak Ali dan bergabung dengan pasukannya di tempat bernama Dzi Qar.

Dalam pada itu, Ali bin Abi Thalib juga mengirim surat dan utusan kepada Thalhah, Zubeir dan Aisyah. Ia masih berharap dapat mengembalikan mereka ke jalan yang benar dan agar mereka menyadari bahwa langkah mereka itu sangat merugikan kepentingan segenap umat Islam. Hendaknya mereka juga berpikir untuk menghindarkan umat dari kesulitan, tantangan dan pertumpahan darah.

Ali mengirim utusan kepada Aisyah dan kelompoknya. Zaid bin Shuhan, Abdullah bin Abbas dan beberapa orang lain ditugaskan untuk berdialog dengan mereka. Setelah berargumentasi dengan teks-teks wahyu dan akal, Aisyah berkata kepada Ibnu Abbas: “Aku tidak mampu berargumentasi di hadapanmu”. “Bila engkau tidak mampu membela diri di hadapan makhluk, bagaimana engkau akan  membela diri di hadapan Al-Khaliq kelak?!”, demikian Ibnu Abbas menjawab

.

Nasihat Terakhir

Semakin mendekati pintu gerbang kota Basrah, Ali bin Abi Thalib a.s. lebih banyak lagi menyurati Thalhah dan Zubeir. Sedangkan Aisyah merasa khawatir dengan surat-surat tersebut. Kekhawatiran bisa dimengerti karena bisa jadi mereka berdua terpengaruh oleh ucapan dan argumentasi Ali.

Akhirnya, Aisyah memimpin pasukannya untuk menahan pasukan Ali. Ketika kedua pasukan telah berhadap-hadapan, Ali memerintahkan seseorang untuk berteriak menginstruksikan pasukannya: “Jangan ada yang melepaskan busur dari anak panahnya, tidak juga melemparkan batu dan tombak sampai jelas bagi mereka bahwa mereka telah mendengar bukti terakhir, dan tidak lagi punya alasan untuk mengingkarinya di kemudikan hari”.

Ketika Ali bin Abi Thalib melihat maksud keras mereka untuk berperang, ia keluar dari barisan pasukan menuju Zubeir dan Thalhah yang berada di antara dua barisan pasukan. Kepada kedua sahabat ini ia mengatakan: “Demi Allah! Kalian berdua telah menyiapkan pasukan dengan persenjataan lengkap, kuda dan bala tentara yang siap berperang. Bila kalian berdua mengerahkan semua ini karena alasan yang benar di sisi Allah, maka takutlah kepada-Nya. Jangan sampai kalian seperti seorang wanita yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat sehingga bercerai berai kembali. Bukankah aku saudara kalian dalam agama Allah? Kalian mengharamkan darahku dan aku mengharamkan darah kalian. Lalu, gerangan apakah yang tiba-tiba membuat darahku halal bagi kalian?”

Kemudian Ali bin Abi Thalib berbicara khusus kepada Thalhah: “Engkau membawa istri Rasulullah untuk berperang bersamanya, sementara engkau tinggalkan istrimu sendirian di rumah?! Apakah hanya dengan dalih tidak berbaiat kepadaku?!”

Lalu beliau berpaling kepada Zubeir dan berkata: “Selama ini, kami telah menganggapmu sebagai bagian dari Bani Abdul Mutthalib sampai anakmu menjadi bejat dan berusaha memisahkan kita”. Ali melanjutkan: “Wahai Zubeir! Masih ingatkah engkau; ketika bersama Nabi aku melintas kampung Bani Ghanim. Tiba-tiba Nabi melihatku lalu tertawa dan aku pun ikut tertawa. Kemudian engkau berkata kepada Nabi: ‘Jangan biarkan dia menjadi sombong’. Nabi menjawab teguranmu: ‘Dia, Ali bin Abi Thalib, bukanlah manusia sombong. Pada suatu hari nanti, engkau akan memeranginya dan engkau dalam posisi sebagai pihak yang dzalim!”

Mendengar kejadian itu, Zubeir menjawab: “Benar apa yang engkau katakan”. Diriwayatkan juga bahwa Zubeir lantas meninggalkan medan pertempuran, namun ia dibunuh di tempatnya yang jauh darinya. Sayangnya, itu terjadi setelah api fitnah telah menyala.

Sejarah berlanjut menuju PERANG JAMAL ::::

Qatadah meriwayatkan peristiwa berikut. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, Zubair menyeruak ke muka mengendarai kudanya dengan persenjataan lengkap. Orang-orang berkata kepada Ali, “Dia Zubair!” Karena itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Zubair diharapkan dari dua orang itu lebih mengingat Allah, sekiranya ia diberi peringatkan.” Thalhah juga maju ke hadapan Ali. Ketika Ali berhadapan dengan mereka, ia berkata, “Sesungguhnya kalian telah menyiapkan persenjataan, kendaraan, dan pasukan. Apakah kalian telah menyiapkan alasan di Hari Perhitungan ketika kalian menemui Tuhan kalian? Bertakwalah kepada Allah dan janganlah menjadi seperti seorang wanita yang menguraikan hasil tenunannya setelah selesai menenunnya! Bukankah aku adalah saudara kalian dan kalian meyakini kesucian darahku? Apakah ada yang menjadikannya halal sehingga kalian berani menumpahkan darahku?” Thalhah berkata, “Kalian telah memfitnah umat untuk memerangi Utsman.”

Ali bin Abi Thalib menjawab dengan mengutip ayat Quran, Pada hari itu (Hari Pembalasan), Allah akan membalas mereka dengan balasan yang adil, dan mereka akan mengetahui hal itu, sesungguhnya Allah adalah saksi yang nyata. (QS. 24:25) Lalu Ali melanjutkan, “Thalhah, apakah engkau berperang untuk menuntut darah Utsman? Semoga Allah mengutuk mereka yang telah membunuh Utsman. Zubair, ingatkah ketika engkau sedang bersama Rasulullah dan melewati Bani Ghunam dan ia melihat kepadaku dan tersenyum? Aku tersenyum kepadanya dan engkau berkata kepadanya, Ali bin Abi Thalib selalu sombong.” Rasulullah bersabda kepadamu, “la tidak sombong, engkaulah yang akan memeranginya dengan tidak adil!”

Dzahabi meriwayatkan, “Kami berada di tenda Ali bin Abi Thalib ketika terjadi Perang Unta. Saat itu Ali mengutus seseorang untuk menemui Thalhah agar ia berunding dengannya (sebelum perang dimulai). Thalhah maju ke depan dan Ali berkata kepadanya, “Aku ingatkan engkau atas nama Allah! Tidakkah engkau mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, Ali adalah juga maulanya. Ya Allah, cintailah orang-orang yang mencintainya, dan bencilah orang-orang yang membencinya!”‘ Thalhah menjawab, “Ya, aku mendengarnya.” Ali berkata, “Lalu mengapa engkau memerangiku?

Imam Ali as yg tau persis niat dan tujuan Aisyah, Thalhah dan Zubair, tau bhw tujuan mereka hanya utk menjatuhkan Imam Ali as dari Kekhalifahan bukan mencari pembunuh yg adalah mereka (Aisyah dan Thalhah) sendiri yg merencanakannya.

Akhirnya pecah perang. Dalam perang itu, Thalhah dibunuh oleh Marwan bin Hakam (Marwan ikut pasukan Aisyah membunuh Thalhah dari belakang) karena Marwan menyaksikan bahwa Thalhahlah yg mengayunkan pedang membunuh Utsman.

Demikian sejarah singkat yg saya simpulkan dari berbagai sumber.

Kesimpulannya: Karena berlomba-lomba dalam urusan duniawi mereka semua terjerumus.

[29:2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

Mereka (Aisyah dan para sahabat) telah diuji dalam urusan duniawi, dan kebanyakan mereka terbukti gagal oleh sejarah.
[6:119] Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Marwan bin Hakam yang berada di barisan pasukan Thalhah melihat Thalhah tengah mundur (ketika pasukannya dikalahkan di medan perang JAMAL), ia melepaskan panah kepadanya hingga tewas

Sebagaimana juga nasib akhir Thalhah yang kemudian dibunuh oleh Marwan bin Hakam di tempat yang juga jauh dari medan pertempuran

.

Perang Dimulai

Sebelum perang dimulai, Ali bin Abi Thalib a.s. sangat berharap kelompok Nakitsin itu pada akhirnya akan mengurungkan niat mereka. Ia tidak mengizinkan satu orang pun dari pasukannya untuk memulai peperangan, sekalipun ia melihat bagaimana para komandan pasukan Nakitsin itu sudah tidak sabar lagi untuk memulai peperangan. Kepada para pengikutnya, Ali berkata: :Tidak kuperkenankan seorang pun dari kalian memanah musuh dan tidak kuperbolehkan melempar tombak ke barisan musuh sampai mereka yang pertama memulai peperangan dan terjadi sesuatu ke atas kalian. Tunggulah sampai mereka memulai peperangan”.

Akhirnya, pasukan Jamal (unta) tidak lagi dapat menahan kesabarannya. Mereka mulai memanah pasukan Ali bin Abi Thalib dan membunuh satu dari bala tentaranya. Ali masih belum memperkenankan pasukannya untuk bergerak sehingga orang kedua pun gugur terkena panah. Ali masih tetap dengan sikapnya semula menahan pasukannya. Sampai ketika orang ketiga dari pasukannya terbunuh gugur, Ali bin Abi Thalib tidak dapat lagi menahan dirinya. Ia memberikan izin dan memerintahkan pasukan untuk mulai bergerak mempertahankan kebenaran dan keadilan.

Kemudian kedua pasukan maju dan saling menyerbu. Peperangan yang sangat hebat dan sungguh menakutkan. Begitu banyak kepala-kepala menggelinding terpisah dari badannya, tangan-tangan putus berserakan dan luka-luka diderita oleh kedua belah pihak.

Ali bin Abi Thalib a.s. mulai mengevaluasi apa yang terjadi di medan pertempuran. Ia melihat bagaimana pasukan Jamal berusaha mati-matian mempertahankan unta mereka. Kemudian Ali berteriak dengan suara lantang: “Celakalah kalian! Sembelih unta itu. Binatang itu adalah setan”.

Lalu Ali bin Abi Thalib a.s. bersama para sahabatnya menerjang dan maju mendesak ke depan hingga berhasil mendekati unta yang dipertahankan mati-matian oleh musuh dan kemudian menyembelihnya. Melihat kekuatan Ali dan pasukannya, sebagian dari pasukan Jamal melarikan diri dari medan pertempuran. Kemudian Ali  a.s. kemudian memerintahkan pasukannya untuk membakar unta itu lalu melemparkan abunya ke udara agar tidak dipolitisasi untuk memprovokasi orang-orang awam. Setelah semua itu usai, Ali berkata: “Semoga Allah melaknat unta tadi. Binantang itu  persis dengan anak sapi Bani Israel’.

Ali bin Abi Thalib a.s. memandang abu yang berhamburan di angkasa sambil membaca ayat:

“Dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)”.

Sikap Ali Pasca Perang Jamal

Usai sudah perang Jamal yang dimenangkan oleh pasukan Ali bin Abi Thalib a.s. Debu-debu yang beterbangan telah hilang. Ali memerintahkan salah seorang agar mengumumkan amnesti umum untuk kategori-kategori berikut ini: “Ketahuilah! Siapa saja yang tidak membunuh orang yang terluka, siapa saja yang tidak ikut memimpin perang Jamal, siapa saja yang tidak menghina gubernur, siapa saja yang meletakkan senjata, maka mereka aman. Siapa saja yang menutup pintu rumahnya, ia aman dan tidak akan diganggu. Pasukan dilarang mengambil harta pasukan Jamal kecuali yang ditemukan di medan pertempuran seperti senjata dan lain-lainnya yang dipakai untuk bertempur. Sementara selain yang disebutkan tadi, harta mereka menjadi milik pewarisnya”.

Ali bin Abi Thalib a.s. memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar dan Ammar bin Yasir untuk membawa sekedup Aisyah yang tergeletak di antara korban-korban perang yang terbunuh di tengah medan pertempuran dan meletakkan kembali di atas unta. Muhammad bin Abu Bakarlah yang mengurusi semua urusan saudarinya sendiri; Aisyah. Menjelang pagi, Muhammad membawanya masuk kota Basrah dan menginapkannya di rumah Abdullah bin Khalaf Al-Khuza’i.

Setelah semuanya usai, Ali bin Abi Thalib a.s. berputar mengelilingi mayat-mayat pasukan Jamal dan berbicara kepada mereka dengan mengulang-ulangi perkataan: “Aku telah menemukan apa yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku sebagai sebuah kebenaran. Apakah kalian juga mendapatkan janji dari Tuhan kalian sebagai kebenaran?”

Ali bin Abi Thalib a.s. berkata lagi: “Sungguh hari yang paling hina dan tercela bagi orang yang menginginkan kematian kami dan selain kami. Namun yang lebih celaka lagi adalah mereka yang hendak memerangi dan membunuh kami”.

Ali bin Abi Thalib a.s. tidak langsung memasuki Basrah. Ia tinggal sejenak di luar kota. Di sana ia memberikan izin kepada siapa saja yang memiliki kerabat yang terbunuh di perang Jamal untuk menguburkan mayatnya. Setelah itu, ia memasuki kota Basrah; pusat kelompok Nakitsin. Sesampainya di masjid jami’ Basrah, ia melakukan shalat kemudian berpidato di hadapan warga Basrah dan pasukannya. Ia mengingatkan mereka akan baiat yang telah mereka berikan sebelumnya dan sikap kelompok Nakitsin terhadap baiat. Warga kota yang merasa salah meminta kebesaran hati Ali a.s. untuk mengampuni mereka. Ia berkata: “Aku telah memberi ampunan kepada kalian. Tetapi kalian harus waspada untuk tidak lagi melakukan dan mengobarkan fitnah. Kalian adalah kelompok yang pertama merobek perjanjian yang telah kalian lakukan dengan membaiatku. Kalian orang pertama yang memorak-porandakan persatuan umat Islam”. Kemudian warga yang hadir—termasuk tokoh-tokoh masyarakat Basrah—kembali mengulangi dan mengukuhkan baiat mereka kepadanya.

Setelah menerima pembaiatan kedua kali dari warga Basrah, Ali bin Abi Thalib a.s. mendatangi Baitul Mal kota. Ketika melihat sekian besarnya jumlah harta yang tersimpan, ia berkata: “Berikan harapan kepada selainku!”. Itu diucapkannya berulang kali. Kemudian Ali a.s. memerintahkan untuk membagi harta Baitul Mal kepada semua warga secara sama rata. Pada saat itu, setiap orang menerima lima ratus Dirham. Ali sendiri mendapat jumlah Dirham yang sama dengan yang lain.

Ketika harta Baitul Mal itu telah terbagi habis, seseorang menghadap Ali bin Abi Thalib a.s. Ia tidak hadir dalam perangan Jamal, namun menuntut bagiannya. Lalu Ali a.s. pun memberikan bagian yang telah diterimanya kepada orang itu. Semua sudah mendapatkan bagian kecuali Ali bin Abi Thalib yang telah memberikan bagiannya kepada orang tadi.

Ali bin Abi Thalib a.s. memerintahkan untuk mempersiapkan segala keperluan perjalanan Aisyah menuju Madinah. Ia mengutus saudara Aisyah, Muhammad, dan beberapa orang wanita bersenjata dan bersorban untuk mengawal perjalanannya sampai tiba di Madinah dengan selamat. Meski demikian, Aisyah masih saja berburuk sangka kepada Ali a.s. lantaran ia merasa dirinya tidak diperlakukan sebagaimana mestinya; yakni didampingi oleh segerombolan laki-laki asing. Namun, segera setelah ia tahu bahwa Ali tidaklah demikian karena yang mendampinginya adalah  saudaranya sendiri, Muhammad, dan wanita-wanita yang dipakaikan sorban, ia pun menyesali dirinya. Akhirnya, Aisyah menyesali perbuatannya ikut dengan pasukan Jamal dan memberontak khalifah terpilih yang kemudian menjadi fitnah yang tidak mungkin ditarik lagi. Nasi telah menjadi bubur. Aisyah pun menangis tersedu-sedu

.

Dampak Negatif Perang Jamal

Perang Jamal meninggalkan dampak-dampak negatif terhadap masyarakat Islam, antara lain:

1.  Kasus pembunuhan Utsman bin Affan semakin berkembang luas sehingga menjadi krisis politik besar yang kemudian menjadi gelombang fitnah yang secara langsung menyerang risalah Islam, baik berupa pernyataan ataupun aksi. Di sisi lain, Muawiyah mempolitisasi situasi ini demi kepentingan pribadi dan mengoptimalkannya dengan kejadian perang Jamal dan pertumpahan darah di sana.

2.  Kebencian dan kecurigaan massal yang mengancam integritas kaum muslimin dan terkadang menjadi penyulut peperangan di antara mereka. Seperti yang terjadi antara sekelompok warga Basrah dan kaum muslimin dari luar kota. Kebencian dan permusuhan itu muncul lantaran tuntutan atas darah kerabat-kerabat mereka yang  terbunuh di perang Jamal.

3.  Penyimpangan yang terjadi di dalam kubu kaum muslimin sendiri semakin merekah. Kondisi ini membuat tugas Ali bin Abi Thalib a.s. menjadi semakin berat. Belum lagi pembangkangan Muawiyah di Syam yang telah membuka medan baru. Akibatnya, ekspansi dan perluasan wilayah Islam menjadi bermasalah. Demikian juga, aksi Muawiyah telah membuat sulit proses pembaharuan dan pembanguan peradaban yang dapat dilakukan di dalam masyarakat Islam.

4.  Kebencian dan penyimpangan telah membuka jalan bagi para penentang pemerintahan yang sah untuk secara mudah menyelesaikan masalah mereka dengan kekuatan senjata dan perang

.

Kufah menjadi ibu kota pemerintahan Islam

Setelah kondisi perlahan-lahan tenang, Imam Ali bin Abi Thalib dan pasukannya bergerak menuju kota Kufah untuk dijadikan ibu kota. Sebelum itu, Imam Ali bin Abi Thalib telah mengirikan utusan ke sana untuk menjelaskan detil masalah apa yang sebenarnya telah terjadi. Sebagaimana juga Imam Ali bin Abi Thalib telah mengutus dan menjadikan Abdullah bin Abbas sebagai gubernur di sana serta menjelaskan secara lengkap bagaimana bersikap dan menghadapi mereka setelah kejadian perang Jamal.

Alasan Imam Ali bin Abi Thalib memilih Kufah sebagai ibu kota baru bagi negara Islam dengan memperhatikan alasan-alasan yang di antaranya:

1. Perluasan area dan teritori dunia Islam. Hal ini harus diimbangi dengan adanya sebuah ibu kota yang terpusat baik secara administrasi dan politik. Dan untuk itu, ibu kota harus berada di tempat yang strategis untuk dapat bergerak cepat mencapai semua titik di negara Islam.

2. Pertimbangan terbesar lainnya adalah orang-orang yang turut membantu Imam Ali bin Abi Thalib dalam menumpas pasukan Jamal adalah tokoh-tokoh dan masyarakat Irak dan yang paling banyak memberikan bantuan adalah dari Kufah.

3. Kondisi politik dan ketegangan yang disebabkan oleh pembunuhan Usman bin Affan dan perang Jamal membuat Imam Ali bin Abi Thalib memutuskan memilih Kufah sebagai ibu kota baru untuk memastikan dan memberikan keamanan pada daerah sekitar itu.

sumber :

.Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 450.

.Ibid.

.Nahjul Balaghah, Kalimat pendek 92.

.Ibid.

. Nahjul Balaghah, Khotbah Ketiga yang dikenal dengan Khotbah Syiqsyiqiyah.

. Ansab Al-Asyraf, jilid 1, hal 157.

. Ansab Al-Asyraf, jilid 5, hal 22.

. Nahjul Balaghah, kalimat pendek 229.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 452.

. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 17-18.

. Nahjul Balaghah, khotbah ke 15.

. Bihar Al-Anwar, jilid 41, hal 116.

. As-Sunan Al-Kubra, jilid 10, hal 136. Tarikh Dimasyq, jilid 3, hal 196. Al-Aghani, jilid16, hal 36. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, hal 4. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid3, hal 399. As-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal 78.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 462.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 461. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 255.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 3, hal 469.

. Nahjul Balaghah, Khotbah ke 3.

. Bihar Al-Anwar, jilid 6, hal 179.

. Sunan At-Turmudzi, jilid 2, hal 298.

. Waq’ah Shiffin, hal 119.

. As-Syahid Muhammad Baqir As-Shadr, Ahl Al-Bait Tanawwu’ wa Wadah Hadaf, hal 59-69.

. Untuk lebih detilnya lihat: Sayyid Murtadha Al-‘Askari, Ma’alim Al-Madrasatain, jilid2, hal 43.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 1, hal 125. Sunan Abi Daud, jilid 2, hal 262. Musnad Ahad, jilid 2, hal 162. Tadzkirah Al-Huffazh, jilid 1, hal 2.

. Ibnu Saad, Thabaqat, jilid 5, hal 140.

. Tarikh Ibnu Kasir, jilid 8, hal 107. Sunan Ad-Darimi, jilid 1, hal 54. Tafsir Ath-thabari, jilid 3, hal 38. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 1, hal 115.

. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 448.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 365. Al-Baihaqi, Sunan Al-Kubra, jilid 6, hal 223.

. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 359. Usd Al-Ghabah, jilid 3, hal 299.

. Futuh Al-Buldan, hal 55. As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa, hal 136.

. Kanz Al-‘Ummal, jilid 16, hal 519, hadis ke 54715. Ibnu Al-Qayyim, Zad Al-Ma’ad, jilid 2, hal 205.

. Ibnu Taimiah, Minhaj As-Sunnah, jilid 3, hal 193. Buku-buku sejarah mencatat banyak ijtihad yang dilakukan oleh ketiga khalifah.

. Nahjul Balaghah, khotbah ke 50.

. Al-Aghani, jilid 12, hal 13. Ibnu An-Nadim, Al-Fihrist, hal 59. Wafayat Al-‘Ayan, jilid 2, hal 216. Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, 312.

. Ath-thabaqat Al-Kubra, jilid 6, hal 186. As-Sayyid Al-Jalali, Tadwin As-Sunnah Asy-Syarifah, hal 137.

. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 139. Tarikh Baghdad, jilid 8, hal 340. Majma’ Az-Zawaid, jilid 9, hal 235. Kanz Al-‘Ummal, jilid 6, hal 82.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 6, hal 215. Kasyf Al-Ghummah, jilid 3, hal 323.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 206.

. Idem.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 474.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 6, hal 217. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 149.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 209.

. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 231.

. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 70.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 232.

. Tarikh At-Thabari, jilid 3, hal 471.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 79. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 207.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 80. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 210.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 209.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82. Musnad Ahmad, jilid 6, hal 521. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 497.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 82. Muruj Az-Dzahab, jilid 2, hal 395.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 83.

. Tarikh At-Thabari, jilid 3, hal 479. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 211.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 482. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 213.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 87. Ath-Thabari, jilid 3, hal 483-484. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 215.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 89. Tarikh Ath-Thabari, jilid 3, hal 484. Muruj Adz-Dzhab, jilid 2, hal 367.

. Al-Imamah Wa As-Siyasah, hal 90. Bihar Al-Anwar, jilid 32, hal 122.

. Idem, hal 91. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 270.

. Al-Mamah wa As-Siyasah, hal 91. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 270

. Ath-Thabaqat Al-Kubra, jilid 3, hal 158. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 97.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 9, hal 111.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 95.

. QS. 20 : 97.

. Tarikh Al-Ya’qubi, jilid 2, hal 172. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 371.

. Al-Mufid, Al-Irsyad, jilid 1, hal 256, cetakan Muassasah Alu Al-Bait.

. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 255.

. Tarikh Ath-Thabari, jilid, 3, hal 544. Al-Mufid, Al-Irsyad, hal 137.

. Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 250.

. Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 98. Muruj Adz-Dzahab, jilid 2, hal 379. Al-Khawarizmi, Al-Manaqib, hal 115. As-Sibth bin Al-Jauzi, At-Tadzkirah, hal 80.

.

Catatan :

Semua refensi di atas adalah kitab-kitab yang ditulis oleh sarjana-sarjana Muslim Sunni.

sahabat Nabi SAW yang dipuji diakui syi’ah : Khalid bin Sa’id bin Ash

Kisah Sahabat Nabi: Khalid bin Sa’id bin Ash, Keturunan Bani Umayyah yang dipuji syi’ah.. ia berpendirian bahwa di antara Kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan Khalifah itu, adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Kisah Sahabat Nabi: Khalid bin Sa'id bin Ash, Kebesaran Jiwa Seorang Sahabat

KHALID BIN SA’ID BIN ‘ASH
ANGGOTA PASUKAN BERANI MATI ANGKATAN YANG PERTAMA

Khalid bin Sa’id bin ‘Ash dilahirkan dari suatu keluarga kaya dan mewah, tergolong kepala-kepala suku dari seorang warga Quraisy yang terkemuka dan memegang pimpinan. Dan jika hendak ditambahkan lagi sebutlah: “Bin Umaiyah bin Abdi Syamsi bin Abdi Manaf … !”

Ketika berkas cahaya mulai merayap di pelosok-pelosok kota Mekah secara diam-diam, membisikkan bahwa Muhammad orang terpercaya” itu memberitakan soal wahyu yang datang kepadanya di gua Hira’, begitu pun soal Risalah yang diterimanya dari Allah untuk disampaikan kepada hamba-hambanya, maka hati nurani Khalid dapat menangkap bisikan-bisikan tersebut dan mengakui kebenarannya . . . !

Jiwanya rasa terbang kegembiraan, seolah-olah di antaranya dengan Risalah itu sudah ada janji dari pertama …. Dan mulai­lah ia mengikuti berkas cahaya itu dalam segala liku-likunya. Dan setiap kali ia mendengarkan kelompok kaumnya mempercakap­kan Agama baru itu, ia pun duduk dekat mereka, mendengarkan­nya dengan baik disertai perasaan suka cita yang dipendam. Dari waktu ke waktu ia seolah-olah dipompa dengan kata-kata atau kalimat-kalimat mengenai peristiwa itu, yang mendorongnya untuk menyebarkan beritanya, untuk mempengaruhi orang dan mengajari mereka … !

Orang-orang yang memandang Khalid waktu itu, melihatnya sebagai seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara, tapi yang sebenarnya pada bathinnya dan dalam lubuk hatinya bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegem­biraan. Di dalamnya menggelegar bunyi gendang yang di tabuh, kepakan bendera yang dinaikkan, bahana sangkakala yang ditiup . . . , nyanyian-nyanyian yang memanjatkan doa, Serta lagu-lagu pujaan yang mengagungkan Tuhan . … Pesta pora dengan segala keindahannya, dengan semua kemegahan, luapan semangat dan hiruk pikuknya . . . ! Pemuda ini menyimpan kegembiraan pesta-pora ini di dalam dadanya, ditutupnya rapat­-rapat. Karena seandainya diketahui oleh bapaknya bahwa bathin­nya sedang bersuka cita dengan da’wah Muhammad, niscaya hidupnya akan dibinasakannya dan tubuhnya akan diper­sembahkannya sebagai korban bagi tuhan-tuhan pujaan Abdu Manaf … !

Tetapi jiwa dan kesadaran bathin seseorang bila ia telah penuh sesak dengan suatu masalah, dan meluap sampai keper­mukaan, maka limpahannya tak dapat dibendung lagi …

.

Khalid pun pergilah mencari Rasulullah saw. sampai me­nemukan tempat beliau, lalu menumpahkan isi hatinya, dan menanyakan tentang da’wahnya. Jawab Nabi:

“Hendaklah engkau beriman kepada Allah yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu opapun . . . . Dan engkau beriman kepadc, Muhammad, hamba-Nya dan Rasul-Nye . . . . Dan engkau tinggalkan menyembah berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudarat dan tidak pula manfaat…” (al-Hadits)

Khalid lalu mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan kanan  Rasulullah saw. dengan penuh kemesraan, dan Khalid pun mengucapkan:

“Aku naik saksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan aku naik saksi bahwa Muhammad Rasul Allah”

Maka terlepaslah sudah senandung jiwa dan nyanyian kalbu­nya . . . . Terlepas bebas semua gelora yang bergolak dalam bathinnya . . . dan sampailah pula berita ini kepada bapaknya….

Pada waktu Khalid memeluk Islam, belum ada orang yang mendahuluinya masuk itu kecuali empat atau lima orang, hingga dengan demikian ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk Islam. Dan setelah diketahui yang menjadi pelopor dari Agama ini, salah seorang di antaranya putera Sa’id bin ‘Ash maka bagi Sa’id, peristiwa itu akan menyebabkannya men. jadi bulan-bulanan penghinaan dan ejekan bangsa Quraisy, dan akan menggoncangkan kedudukannya sebagai pemimpin.

Oleh karena itu dipanggilnyalah anaknya Khalid, lalu tanya­nya: “Benarkah kamu telah mengikuti Muhammad dan mem­biarkannya mencaci tuhan-tuhan kita … ?” Jawab Khalid:

“Demi Allah, sungguh ia seorang yang benar dan sesungguh­nya aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya . . . “.

Ketika itu bertubi-tubilah pukulan ayahnya menimpa diri­nya, yang kemudian mengurungnya dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya terpenjara menderita lapar dan dahaga … sedang Khalid berseru kepadanya dengan suara keras dari balik pintu yang terkunci:

“Demi Allah, sesungguhnya ia benar dan aku beriman ke­padanya!”

Jelaslah sekarang bagi Sa’id bahwa siksa yang ditimpakan kepada anaknya itu belum lagi cukup dan memadai. Oleh sebab itu dibawanya anak itu ke tengah panas teriknya kota Mekah, lalu ia menginjak-injaknya di atas batu-batu yang panasnya menyengat, selama tiga hari penuh, tanpa perlindungan dan keteduhan . . . , tanpa setetes air pun yang membasahi bibir­nya….

Akhirnya sang ayah putus asa lalu kembali pulang ke rumah­nya. Tapi di sana ia terus berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara baik dengan membujuk atau mengancam­nya, memberi janji kesenangan atau mempertakutinya dengan siksaan . . . tetapi Khalid berpegang teguh kepada kebenaran, Ia berkata kepada ayahnya: “Aku tak hendak meninggalkan Islam karena suatu apapun, aku akan hidup dan mati bersamanya!”

Maka berteriaklah Sa’id: — “Kalau begitu enyahlah engkau pergi dari sini, anak keparat . . . ! Demi kata kau tak boleh makan di sini . . .           Jawab Khalid: “Allah adalah sebaik-baik pemberi rizqi . . . Kemudian ditinggalkannya rumah yang penuh dengan kemewahan, berupa makanan, pakaian dan kesenangan itu, pergi memasuki kesukaran dan aral rintang­an….

Tetapi apa yang ditakutkan … ?

Bukankah ia didampingi oleh imannya … ?

Bukankah ia selalu mempertahankan kepemimpinan Hati nuraninya . . . ?

Dan dengan tegas telah menentukan nasib dirinya?

Apalah artinya lapar kalau begitu, apalah artinya halangan dan rintangan … ?

Dan bila manusia telah menemukan dirinya berada bersama kebenaran luhur seperti kebenaran yang diserukan Muham­mad saw. ini, maka masih adakah tersisa di seantero alam ini sesuatu yang berharga yang belum dimilikinya, padahal semuanya itu, bukankah Allah yang jadi pemilik dan pem­berinya … ?

Demikianlah Khalid melalui bermacam derita dengan pe­ngurbanan dan mengatasi segala halangan dan keimanan ….

Dan sewaktu Rasulullah saw. memerintahkan para shahabat­nya yang telah beriman hijrah yang kedua ke Habsyi, maka Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan …. Ia berdiam di sana beberapa lamanya, kemudian kembali bersama kawan-kawannya ke kampung halaman mereka di tahun yang ketujuh. Mereka dapatkan Kaum Muslimin telah menyelesaikan rencana mereka membebaskan Khaibar.

Sekarang Khalid bermukim di Madinah, di tengah-tengah masyarakat Islam yang baru, di mana ia termasuk salah seorang angkatan lima pertama yang menyaksikan kelahiran Islam, dan ikut membina bangunannya. Sejak itu Khalid selalu beserta Nabi dalam barisan pertama pada setiap peperangan atau per­tempuran . . . . Dan karena kepeloporannya dalam Islam ini serta keteguhan hatinya dan kesetiaannya, jadilah ia tumpuan ke­sayangan dan penghormatan . .. . Ia memegang teguh prinsip dan pendiriannya, tak hendak menodai atau menjadikannya sebagai barang dagangan.

Sebelum Rasul wafat, beliau mengangkatnya menjadi guber­nur di Yaman. Sewaktu sampai kepadanya berita pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan pengukuhannya, ia lalu meninggalkan jabatannya datang ke Madinah.

 Tetapi ia berpendirian bahwa di antara Kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan Khalifah itu, adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Pendiriannya ini dipegangnya teguh, hingga ia tidak bai’at kepada Abu Bakar . . . . Namun Abu Bakar tetap mencintai dan menghargainya, tidak memaksanya untuk mengangkat bai’at dan tidak pula membencinya karena tidak bai’at. Setiap disebut namanya di kalangan Muslimin, khalifah besar itu tetap menghargai dan memujinya, suatu hal yang memang menjadi hak dan miliknya ….

Belakangan pendirian Khalid bin Sa’id ini berubah. Tiba-tiba di suatu hari ia menerobos dan melewati barisan-barisan di mesjid, menuju Abu Bakar yang sedang berada di atas mimbar, maka Ia pun membai’atnya dengan tulus dan hati yang teguh….

Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke Syria, beliau menyerahkan salah satu panji perang kepada Khalid bin Sa’id, hingga dengan demikian berarti ia menjadi salah seorang kepala pasukan tentara. . . . . Tetapi sebelum tentara itu bergerak me­ninggalkan Madinah, Umar menentang pengangkatan Khalid bin Sa’id, dan dengan gigih mendesakkan usulnya kepada khalifah, hingga akhirnya beliau merubah keputusannya dalam pengangkatan ini ….

Berita itu sampailah kepada Khalid, maka tanggapannya hanyalah sebagai berikut: “Demi Allah, tidaklah kami bergem­bira dengan pengangkatan anda, dan tidak pula akan berduka dengan pemberhentian anda . . . !” Abu Bakar Shiddiq meringan­kan langkah ke rumah Khalid meminta ma’af padanya Serta menerangkan pendiriannya yang baru, dan menanyakan kepada kepala dan pemimpin pasukan mana ia akan bergabung, apakah kepada Amar bin ‘Ash anak pamannya, atau kepada Syurahbil bin Hasanah? Maka Khalid memberikan jawaban yang menunjuk­kan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, ujarnya: “Anak paman­ku lebih kusukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena Agamanya “‘ Kemudian dipilihnya sebagai prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah ….

Sebelum pasukan bergerak maju, Abu Bakar meminta Syu­rahbil menghadap kepadanya lalu katanya:  ”Perhatikanlah Khalid bin Sa’id, berikanlah apa yang menjadi haknya atas anda, sebagaimana anda ingin mendapatkan apa yang menjadi hak anda daripadanya, yakni seandainya anda di tempatnya, dan ia di tempat anda . . . . Tentu anda tabu kedudukannya dalam Islam . . . Dan tentu anda tidak lupa bahwa sewaktu Rasulullah wafat, ia adalah salah seorang dari gubernurnya . . . . Dan sebenarnya aku pun telah mengangkatnya sebagai panglima, tetapi kemudian aku berubah pendirian . . . . Dan semoga itulah yang lebih baik baginya dalam Agamanya, karena sungguh, aku tak pernah iri hati kepada seseorang dengan kepemimpinan … !

Dan sesungguhnya aku telah memberi kebebasan kepadanya untuk memilih di antara pemimpin-pemimpin pasukan siapa yang disukainya untuk menjadi atasannya, maka ia lebih me­nyukai anda daripada anak pamannya sendiri ….Maka apabila anda menghadapi suatu persoalan yang membutuhkan nasihat dan buah pikiran yang taqwa, pertama-tama hendaklah anda hubungi Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu Mu’adz bin Jabal dan hendaklah Khalid bin Sa’id sebagai orang ketiga. Dengan demi­kian pastilah anda akan beroleh nasihat dan kebaikan ….

Dan jauhilah mementingkan pendapat sendiri dengan mengabaikan mereka atau menyembunyikan sesuatu dari mereka…!

Di medan pertempuran Marjus Shufar di daerah Syria yang terjadi dengan dahsyatnya antara Muslimin dengan orang-orang Romawi, maka di antara orang-orang yang pertama yang telah pasti tersedia pahala mereka di sisi Allah, terdapat seorang syahid mulia, yang telah menempuh jalan hidupnya sejak masa remaja belia saat ia menghadapi ajal, secara benar, beriman lagi berani . . . . Kaum Muslimin yang sedang mencari-cari para syuhada sebagai qurban pertempuran, telah mendapatinya seperti sediakala: bersikap tenang, pendiam dan keras hati, lalu kata mereka: “ya Allah, berikanlah keridlaan kapada. Khalid bin Sa’id … ! “

Syiah Memuji Sahabat (3)

Kisah Sahabat Nabi: Khalid bin Sa’id bin Ash, Keturunan Bani Umayyah yang dipuji syi’ah.. ia berpendirian bahwa di antara Kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan Khalifah itu, adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Kisah Sahabat Nabi: Khalid bin Sa'id bin Ash, Kebesaran Jiwa Seorang Sahabat

KHALID BIN SA’ID BIN ‘ASH
ANGGOTA PASUKAN BERANI MATI ANGKATAN YANG PERTAMA

Khalid bin Sa’id bin ‘Ash dilahirkan dari suatu keluarga kaya dan mewah, tergolong kepala-kepala suku dari seorang warga Quraisy yang terkemuka dan memegang pimpinan. Dan jika hendak ditambahkan lagi sebutlah: “Bin Umaiyah bin Abdi Syamsi bin Abdi Manaf … !”

Ketika berkas cahaya mulai merayap di pelosok-pelosok kota Mekah secara diam-diam, membisikkan bahwa Muhammad orang terpercaya” itu memberitakan soal wahyu yang datang kepadanya di gua Hira’, begitu pun soal Risalah yang diterimanya dari Allah untuk disampaikan kepada hamba-hambanya, maka hati nurani Khalid dapat menangkap bisikan-bisikan tersebut dan mengakui kebenarannya . . . !

Jiwanya rasa terbang kegembiraan, seolah-olah di antaranya dengan Risalah itu sudah ada janji dari pertama …. Dan mulai­lah ia mengikuti berkas cahaya itu dalam segala liku-likunya. Dan setiap kali ia mendengarkan kelompok kaumnya mempercakap­kan Agama baru itu, ia pun duduk dekat mereka, mendengarkan­nya dengan baik disertai perasaan suka cita yang dipendam. Dari waktu ke waktu ia seolah-olah dipompa dengan kata-kata atau kalimat-kalimat mengenai peristiwa itu, yang mendorongnya untuk menyebarkan beritanya, untuk mempengaruhi orang dan mengajari mereka … !

Orang-orang yang memandang Khalid waktu itu, melihatnya sebagai seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara, tapi yang sebenarnya pada bathinnya dan dalam lubuk hatinya bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegem­biraan. Di dalamnya menggelegar bunyi gendang yang di tabuh, kepakan bendera yang dinaikkan, bahana sangkakala yang ditiup . . . , nyanyian-nyanyian yang memanjatkan doa, Serta lagu-lagu pujaan yang mengagungkan Tuhan . … Pesta pora dengan segala keindahannya, dengan semua kemegahan, luapan semangat dan hiruk pikuknya . . . ! Pemuda ini menyimpan kegembiraan pesta-pora ini di dalam dadanya, ditutupnya rapat­-rapat. Karena seandainya diketahui oleh bapaknya bahwa bathin­nya sedang bersuka cita dengan da’wah Muhammad, niscaya hidupnya akan dibinasakannya dan tubuhnya akan diper­sembahkannya sebagai korban bagi tuhan-tuhan pujaan Abdu Manaf … !

Tetapi jiwa dan kesadaran bathin seseorang bila ia telah penuh sesak dengan suatu masalah, dan meluap sampai keper­mukaan, maka limpahannya tak dapat dibendung lagi …

.

Khalid pun pergilah mencari Rasulullah saw. sampai me­nemukan tempat beliau, lalu menumpahkan isi hatinya, dan menanyakan tentang da’wahnya. Jawab Nabi:

“Hendaklah engkau beriman kepada Allah yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu opapun . . . . Dan engkau beriman kepadc, Muhammad, hamba-Nya dan Rasul-Nye . . . . Dan engkau tinggalkan menyembah berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudarat dan tidak pula manfaat…” (al-Hadits)

Khalid lalu mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan kanan  Rasulullah saw. dengan penuh kemesraan, dan Khalid pun mengucapkan:

“Aku naik saksi bahwa tak ada Tuhan selain Allah dan aku naik saksi bahwa Muhammad Rasul Allah”

Maka terlepaslah sudah senandung jiwa dan nyanyian kalbu­nya . . . . Terlepas bebas semua gelora yang bergolak dalam bathinnya . . . dan sampailah pula berita ini kepada bapaknya….

Pada waktu Khalid memeluk Islam, belum ada orang yang mendahuluinya masuk itu kecuali empat atau lima orang, hingga dengan demikian ia termasuk dalam lima orang angkatan pertama pemeluk Islam. Dan setelah diketahui yang menjadi pelopor dari Agama ini, salah seorang di antaranya putera Sa’id bin ‘Ash maka bagi Sa’id, peristiwa itu akan menyebabkannya men. jadi bulan-bulanan penghinaan dan ejekan bangsa Quraisy, dan akan menggoncangkan kedudukannya sebagai pemimpin.

Oleh karena itu dipanggilnyalah anaknya Khalid, lalu tanya­nya: “Benarkah kamu telah mengikuti Muhammad dan mem­biarkannya mencaci tuhan-tuhan kita … ?” Jawab Khalid:

“Demi Allah, sungguh ia seorang yang benar dan sesungguh­nya aku telah beriman kepadanya dan mengikutinya . . . “.

Ketika itu bertubi-tubilah pukulan ayahnya menimpa diri­nya, yang kemudian mengurungnya dalam kamar gelap di rumahnya, lalu membiarkannya terpenjara menderita lapar dan dahaga … sedang Khalid berseru kepadanya dengan suara keras dari balik pintu yang terkunci:

“Demi Allah, sesungguhnya ia benar dan aku beriman ke­padanya!”

Jelaslah sekarang bagi Sa’id bahwa siksa yang ditimpakan kepada anaknya itu belum lagi cukup dan memadai. Oleh sebab itu dibawanya anak itu ke tengah panas teriknya kota Mekah, lalu ia menginjak-injaknya di atas batu-batu yang panasnya menyengat, selama tiga hari penuh, tanpa perlindungan dan keteduhan . . . , tanpa setetes air pun yang membasahi bibir­nya….

Akhirnya sang ayah putus asa lalu kembali pulang ke rumah­nya. Tapi di sana ia terus berusaha menyadarkan anaknya itu dengan berbagai cara baik dengan membujuk atau mengancam­nya, memberi janji kesenangan atau mempertakutinya dengan siksaan . . . tetapi Khalid berpegang teguh kepada kebenaran, Ia berkata kepada ayahnya: “Aku tak hendak meninggalkan Islam karena suatu apapun, aku akan hidup dan mati bersamanya!”

Maka berteriaklah Sa’id: — “Kalau begitu enyahlah engkau pergi dari sini, anak keparat . . . ! Demi kata kau tak boleh makan di sini . . .           Jawab Khalid: “Allah adalah sebaik-baik pemberi rizqi . . . Kemudian ditinggalkannya rumah yang penuh dengan kemewahan, berupa makanan, pakaian dan kesenangan itu, pergi memasuki kesukaran dan aral rintang­an….

Tetapi apa yang ditakutkan … ?

Bukankah ia didampingi oleh imannya … ?

Bukankah ia selalu mempertahankan kepemimpinan Hati nuraninya . . . ?

Dan dengan tegas telah menentukan nasib dirinya?

Apalah artinya lapar kalau begitu, apalah artinya halangan dan rintangan … ?

Dan bila manusia telah menemukan dirinya berada bersama kebenaran luhur seperti kebenaran yang diserukan Muham­mad saw. ini, maka masih adakah tersisa di seantero alam ini sesuatu yang berharga yang belum dimilikinya, padahal semuanya itu, bukankah Allah yang jadi pemilik dan pem­berinya … ?

Demikianlah Khalid melalui bermacam derita dengan pe­ngurbanan dan mengatasi segala halangan dan keimanan ….

Dan sewaktu Rasulullah saw. memerintahkan para shahabat­nya yang telah beriman hijrah yang kedua ke Habsyi, maka Khalid termasuk salah seorang anggota rombongan …. Ia berdiam di sana beberapa lamanya, kemudian kembali bersama kawan-kawannya ke kampung halaman mereka di tahun yang ketujuh. Mereka dapatkan Kaum Muslimin telah menyelesaikan rencana mereka membebaskan Khaibar.

Sekarang Khalid bermukim di Madinah, di tengah-tengah masyarakat Islam yang baru, di mana ia termasuk salah seorang angkatan lima pertama yang menyaksikan kelahiran Islam, dan ikut membina bangunannya. Sejak itu Khalid selalu beserta Nabi dalam barisan pertama pada setiap peperangan atau per­tempuran . . . . Dan karena kepeloporannya dalam Islam ini serta keteguhan hatinya dan kesetiaannya, jadilah ia tumpuan ke­sayangan dan penghormatan . .. . Ia memegang teguh prinsip dan pendiriannya, tak hendak menodai atau menjadikannya sebagai barang dagangan.

Sebelum Rasul wafat, beliau mengangkatnya menjadi guber­nur di Yaman. Sewaktu sampai kepadanya berita pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dan pengukuhannya, ia lalu meninggalkan jabatannya datang ke Madinah.

 Tetapi ia berpendirian bahwa di antara Kaum Muslimin yang lebih berhak dengan jabatan Khalifah itu, adalah salah seorang dari keturunan Hasyim, umpamanya Abbas atau Ali bin Abi Thalib.

Pendiriannya ini dipegangnya teguh, hingga ia tidak bai’at kepada Abu Bakar . . . . Namun Abu Bakar tetap mencintai dan menghargainya, tidak memaksanya untuk mengangkat bai’at dan tidak pula membencinya karena tidak bai’at. Setiap disebut namanya di kalangan Muslimin, khalifah besar itu tetap menghargai dan memujinya, suatu hal yang memang menjadi hak dan miliknya ….

Belakangan pendirian Khalid bin Sa’id ini berubah. Tiba-tiba di suatu hari ia menerobos dan melewati barisan-barisan di mesjid, menuju Abu Bakar yang sedang berada di atas mimbar, maka Ia pun membai’atnya dengan tulus dan hati yang teguh….

Abu Bakar memberangkatkan pasukannya ke Syria, beliau menyerahkan salah satu panji perang kepada Khalid bin Sa’id, hingga dengan demikian berarti ia menjadi salah seorang kepala pasukan tentara. . . . . Tetapi sebelum tentara itu bergerak me­ninggalkan Madinah, Umar menentang pengangkatan Khalid bin Sa’id, dan dengan gigih mendesakkan usulnya kepada khalifah, hingga akhirnya beliau merubah keputusannya dalam pengangkatan ini ….

Berita itu sampailah kepada Khalid, maka tanggapannya hanyalah sebagai berikut: “Demi Allah, tidaklah kami bergem­bira dengan pengangkatan anda, dan tidak pula akan berduka dengan pemberhentian anda . . . !” Abu Bakar Shiddiq meringan­kan langkah ke rumah Khalid meminta ma’af padanya Serta menerangkan pendiriannya yang baru, dan menanyakan kepada kepala dan pemimpin pasukan mana ia akan bergabung, apakah kepada Amar bin ‘Ash anak pamannya, atau kepada Syurahbil bin Hasanah? Maka Khalid memberikan jawaban yang menunjuk­kan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, ujarnya: “Anak paman­ku lebih kusukai karena ia kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena Agamanya “‘ Kemudian dipilihnya sebagai prajurit biasa dalam kesatuan Syurahbil bin Hasanah ….

Sebelum pasukan bergerak maju, Abu Bakar meminta Syu­rahbil menghadap kepadanya lalu katanya:  ”Perhatikanlah Khalid bin Sa’id, berikanlah apa yang menjadi haknya atas anda, sebagaimana anda ingin mendapatkan apa yang menjadi hak anda daripadanya, yakni seandainya anda di tempatnya, dan ia di tempat anda . . . . Tentu anda tabu kedudukannya dalam Islam . . . Dan tentu anda tidak lupa bahwa sewaktu Rasulullah wafat, ia adalah salah seorang dari gubernurnya . . . . Dan sebenarnya aku pun telah mengangkatnya sebagai panglima, tetapi kemudian aku berubah pendirian . . . . Dan semoga itulah yang lebih baik baginya dalam Agamanya, karena sungguh, aku tak pernah iri hati kepada seseorang dengan kepemimpinan … !

Dan sesungguhnya aku telah memberi kebebasan kepadanya untuk memilih di antara pemimpin-pemimpin pasukan siapa yang disukainya untuk menjadi atasannya, maka ia lebih me­nyukai anda daripada anak pamannya sendiri ….Maka apabila anda menghadapi suatu persoalan yang membutuhkan nasihat dan buah pikiran yang taqwa, pertama-tama hendaklah anda hubungi Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu Mu’adz bin Jabal dan hendaklah Khalid bin Sa’id sebagai orang ketiga. Dengan demi­kian pastilah anda akan beroleh nasihat dan kebaikan ….

Dan jauhilah mementingkan pendapat sendiri dengan mengabaikan mereka atau menyembunyikan sesuatu dari mereka…!

Di medan pertempuran Marjus Shufar di daerah Syria yang terjadi dengan dahsyatnya antara Muslimin dengan orang-orang Romawi, maka di antara orang-orang yang pertama yang telah pasti tersedia pahala mereka di sisi Allah, terdapat seorang syahid mulia, yang telah menempuh jalan hidupnya sejak masa remaja belia saat ia menghadapi ajal, secara benar, beriman lagi berani . . . . Kaum Muslimin yang sedang mencari-cari para syuhada sebagai qurban pertempuran, telah mendapatinya seperti sediakala: bersikap tenang, pendiam dan keras hati, lalu kata mereka: “ya Allah, berikanlah keridlaan kapada. Khalid bin Sa’id … ! “

Syiah Memuji Sahabat (2)

silahkan baca artikel kami yang lain :

PANDANGAN ALQURAN TENTANG SAHABAT

Keutamaan-Keutamaan Sahabat Nabi dalam Al-Quran

Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Kemuliaan para Sahabat Nabi SAW

Mush’ab bin ‘Umayr

Mush’ab bin ‘Umayr (Arabمصعب بن عمير) adalah salah seorang sahabat nabi Nabi Muhammad. Mush’ab berhasil memasukan ajaran Islam kepada Usayd bin Hudhayr dan sahabat Usayd yang bernama Sa’ad bin Mu’adz.

Biografi

Mus’ab bin Umair berasal dari keturunan bangsawan dari suku Quraisy. Ia adalah salah satu sahabat yang pertama dalam memeluk Islamsetelah Nabi Muhammad saw diangkat sebagai Nabi dan menyebarkan agama Islam.

Mus’ab bin Umair diutus oleh Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Madinah, setelah orang-orang dari Madinah datang menyatakan keislamannya. Ia di Madinah hingga Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Mus’ab bin Umair mati syahid diPertempuran Uhud.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (ll)

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair.

Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, 

surat Al Ahzab ayat 23 :

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur . Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya )”. (QS. Al Ahzab: 23)

Setiap kita sedang berjalan dalam rangka menepati janji kita kepada Allah. Diantara kita ada yang meninggal duluan, jika kita meninggal dalam berjuang dan menepati janji, maka itu adalah hal bagus dan indah. Ada diantara kita yang menunggu kapan matinya, dan itu tidaklah masalah, selama tidak merubah arah jalan kita dan tetap berpegang teguh pada komitnen dan tetap berjuang menepati janji itu.

.

Mash’ab pada suatu peristiwa  di PERANG BADAR berada di pihak Rasulullah SAW sementara keluarganya ada yang berada di pihak kemusyrikan. Turunlah QS. Mujadilah ayat 22.  Allah Subhanahu wata’ala berfirman :


لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya :

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw melaksanakan ajaran reformasi Rasul dalam kehidupan mereka dengan cara meninggalkan kesetiaan mereka kepada kelompok menuju kesetiaan kepada Islam.

Salah satu contoh yang paling baik untuk menjelaskan hal itu adalah Mash’ab bin Umair, salah seorang wisudawan madrasah Rasulullah. Riwayat singkatnya sebagai berikut; Bapaknya adalah Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Abdi Dar bin Qusyaiy bin Kilab. Dari jalur kakeknya, Mash’ab bersambung dengan Rasulullah saw.

Mash’ab bin Umair adalah seorang pemuda Mekkah yang terkenal sebagai remaja berwajah tampan, tegap, dan murah senyum. Dia termasuk Assâbiqun fîl Islâm. Ia bergelar Abu Muhammad sedangkan laqabnya adalah Mash’ab Al-Khair, Mash’ab Si Baik.

Mash’ab termasuk salah seorang yang hijrah ke Habsyi. Nabi saw mengutusnya sebagai mubaligh, mu’alim, dan mursyid ke Madinah. Berkat dakwah Mash’ab bin Umair, banyak kabilah Anshar yang masuk Islam. Dia ikut bersama Nabi dalam perang Badar. Pada perang Uhud, Nabi memberinya bendera pasukan dan ia pun gugur sebagai seorang syuhada di Perang Uhud

.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika kaum itu (orang-orang Madinah) hendak kembali, Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin ‘Umair agar menemani mereka. Dia diperintah Rasul agar membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada mereka.”

Setibanya di Madinah, beliau tinggal di rumah Sa’ad bin Zurarah. Selama di Madinah, kesehariannya diisi dengan mengajak para penduduknya untuk masuk Islam dan membacakan al-Quran kepada mereka secara door to door. Hasilnya, seorang demi seorang dari mereka bersyahadat.

Kesuksesan Mush’ab dalam mengislamkan penduduk Madinah bikin gerah Sa’ad bin Muadz, pemuka kaum bani ‘Abd al-Asyhal di Madinah. Sa’ad makin benci dengan Mush’ab ketika sepupunya, Usaid bin Hudhair, yang disuruh untuk menegur Mushab malah ikut masuk Islam. Sa’ad bergegas menemui Mushab. Di hadapan Mushab dan As’ad, Sa’ad ngomel-ngomel. Tapi apa respon Mushab?

“Ataukah Tuan berkenan duduk, lalu mendengarkan,” ajak Mush’ab pada Sa’ad dengan kata-kata yang halus. “Jika Tuan meridai perkara [yang hendak saya paparkan] ini dan Tuan menyukainya, Tuan bisa menerimanya. Jika Tuan membencinya, kami menyingkir darimu yang memang Tuan membencinya.”

“Ya, saya menerima. Itu adil,” jawab Sa’ad. Mush’ab menatapnya sejenak dengan muka manis, lalu memaparkan Islam dan membacakan al-Qur’an kepadanya. Sa’ad bertanya kepada keduanya, “Apa yang kalian lakukan ketika masuk Islam dan masuk agama ini?”

“Mandi dan sucikan diri dan pakainmu, kemudian bacalah kesaksian yang haq, lalu salatlah dua rakaat,” jelas Mush’ab dan As’ad.

Sa’ad berdiri, lalu mandi dan menyucikan pakaiannya, kemudian membaca syahadat dan salat dua rakaat, kemudian segera menuju kaumnya. Ketika sudah tiba Sa’ad berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya ucapan kaum pria dan wanita kalian terhadapku adalah haram hingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Selang beberapa waktu, Mush’ab dan As’ad berkata, “Demi Allah, semenjak itu di rumah bani ‘Abd al-Asyhal tidak satupun laki-laki dan wanita kecuali muslim.”

Dalam waktu satu tahun, Mush’ab berhasil membalik kekufuran di Madinah, dari keberhalaan yang bodoh dan masya’ir (perasaan-perasaan) yang salah menjadi agama tauhid dan iman serta masya’ir Islam. Gimana dengan kita? Kita bisa seperti Mush’ab asal mau tetep semangat untuk ngaji dan dakwah. Oke?

Pada umumnya, orang-orang yang masuk Islam itu kebanyakan miskin, para mustadh’afin yang berasal dari keluarga sengsara, kecuali Mash’ab bin Umair. Mash’ab adalah anak seorang keluarga elit. Orang tuanya kaya raya. Ibunya sangat sayang kepadanya sehingga dia selalu diberi pakaian yang bagus-bagus dan indah-indah.

Ketika dia masuk Islam, ibunya marah-marah dan tidak mau menerimanya lagi. Mash’ab diusir dari rumahnya. Ibunya pun pernah mogok makan dan hanya mau makan bila Mash’ab bin Umair kembali lagi memeluk agamanya semula. Tetapi Mash’ab bin Umair bertahan dan akhirnya ibunya menghentikan mogok makannya. Mash’ab bin Umair sangat mencintai ibunya tetapi dia lebih mencintai Islam. Dia mendahulukan kesetia-an kepada Islam dari pada kesetiaan kepada keluarganya.

Umar bin Khathab meriwayatkan kisah Mash’ab dalam sebuah hadits sebagai berikut; “Pada suatu hari, Rasulullah saw melihat Mash’ab bin Umair di Madinah. Mash’ab datang dengan pakaian yang compang-camping, sebagian pakaiannya dijahit dari kulit domba. Rasul menangis, lalu ia bersabda kepada para sahabatnya, “Lihat, itu orang yang telah Allah sinari hatinya. Dahulu aku pernah melihatnya berada di tengah orang tuanya yang memberinya makanan yang lezat, minuman yang enak, dan pakaian yang bagus. Kemudian kecinta-an kepada Allah dan Rasul-Nya membawanya kepada keadaan yang kalian lihat.”

Mash’ab bin Umair diutus oleh Rasulullah saw sebagai mubaligh di Madinah, atas permintaan orang-orang Anshar pada Bai’at Aqabah yang pertama. Mash’ab berdakwah dengan senyuman. Rasulullah saw tahu, orang-orang Arab itu jarang ada yang ramah dan mereka sukar sekali untuk tersenyum. Sampai Nabi pernah mengingat-kan kepada mereka berkali-kali, “Senyum kepada saudaramu itu shadaqah.” Mash’ab bin Umair menaklukkan hati orang dengan senyuman dan keramahannya.

Berikut ini adalah kisah sebagian dakwahnya di Madinah; Orang yang pertama masuk Islam di tangan Mash’ab bin Umair adalah As’ad bin Jurarah. Mash’ab bin Umair tinggal bersamanya. Kedua orang itu men-datangi satu kabilah di kalangan penduduk Madinah yang sangat berpengaruh, untuk berdakwah. Pemimpin kabilah itu adalah Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudair.

Mereka masuk melalui dinding Bani Zhafar. Dulu, setiap kabilah membatasi kampungnya dengan dinding-dinding. Semacam benteng yang mempunyai pintu gerbang. Begitupun dengan kota-kotanya. Kedua pemimpin kabilah itu masih musyrik. Ketika mendengar kedatangan Mash’ab dan As’ad, Sa’ad bin Mu’adz berkata pada Usaid bin Hudair, “La aban laka, mudah-mudahan kamu tidak punya bapak. Berangkatlah kamu menemui kedua orang itu yang sudah mendatangi perkampungan kita dan menipu orang-orang bodoh di kalangan kita. Sekira-nya dia tidak datang bersama As’ad bin Jurarah dan sekiranya kamu bukan merupa-kan keluarga As’ad bin Jurarah, aku sudah bunuh dia.”

Usaid bin Hudair lalu mengambil tombaknya untuk menemui kadua mubaligh itu. Ketika As’ad bin Jurarah melihat dia, dia berkata kepada Mash’ab bin Umair, “Inilah pemimpin kaum datang, dakwahi dia kepada Islam.” Mash’ab menjawab, “Kalau dia duduk, aku akan bicara dengan dia.”

Begitu Usaid bin Hudair tiba, ia langsung memaki-maki Mash’ab bin Umair. Mash’ab hanya tersenyum menghadapi makian tersebut. Usaid memaki, “Mau apa kalian datang kepada kami ini lalu menipu orang-orang bodoh di antara kami. Pergi! Kalau kalian masih memerlukan nafas kalian.”

Mash’ab bin Umair berkata, “Bagai-mana kalau anda duduk sebentar. Kita ngobrol-ngobrol. Kalau Engkau senang, Engkau terima. Kalau engkau tidak senang, Engkau dijauhkan dari apa yang tidak Engkau senangi.” Orang itu luluh melihat kebaikan hati Mash’ab bin Umair. Dia berkata, “Engkau benar.”

Kemudian Usaid meletakkan tombak-nya dan duduk bersama mereka. Mash’ab bin Umair lalu menerangkan tentang Islam. Ia membaca Al-Qur’an. Ketika melihat Usaid bin Hudair mendengarkan dengan penuh perhati-an, kedua mubaligh itu berkata, “Demi Allah aku sudah melihat di wajahnya keislaman, sebelum dia berbicara dan menunjukkan keramahan.”

Usaid bin Hudair bertanya, “Alangkah indahnya pembicaraan kamu itu. Kalau ada orang yang mau masuk Islam bagaimana caranya?” Keduanya berkata kepada Usaid, “Engkau mandi. Engkau bersuci. Bersihkan kedua pakaianmu, kemudian Engkau meng-ucapkan kalimat syahadat, setelah itu, Engkau shalat.”

Akhirnya Usaid bin Hudair berdiri. Ia mandi, membersihkan pakaiannya, kemudian dia mengucapkan syahadat dan salat dua rakaat. Usaid, yang diutus oleh kawannya Sa’ad bin Mu’adz untuk megusir mereka itu, malah masuk Islam dan berkata, “Sesungguh-nya di belakangku ada seorang tokoh. Jika tokoh itu ikut kepadamu, tidak ada seorang pun di antara kaumnya yang akan membatah-nya. Aku akan utus dia untuk menemui kamu sekarang, Sa’ad bin Mu’adz namanya.”

Usaid mengambil lagi tombaknya dan pergi menemui Sa’ad bin Mu’adz beserta kaumnya. Sa’ad sedang duduk di tengah-tengah kabilahnya. Ketika melihat Usaid datang, Sa’ad berkata, “Demi Allah! Usaid telah datang dengan wajah yang yang berbeda daripada ketika ia pergi tadi.” Saat Usaid duduk di tengah kelompok itu, Sa’ad bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?” Usaid pun menjawab, “Aku sudah berbicara dengan kedua orang itu. Dan Demi Allah, aku tidak melihat niat yang buruk pada mereka. Aku larang mereka untuk menemui kita, tapi mereka berkata, ‘Aku akan lakukan apa yang kalian kehendaki. Namun aku dengar Bani Haritsah sudah keluar untuk membunuh Ibnu Jurarah. Mereka tahu bahwa anak bibimu itu akan menyerang kamu, karena itu mereka akan membunuhnya’.”

Sa’ad bin Mu’adz marah. Usaid membohongi Sa’ad, supaya Sa’ad marah dan menemui Ibnu Jurarah karena kuatir Ibnu Jurarah akan diserang oleh Bani Haritsah. Sa’ad mengambil tombaknya, kemudian pergi menemui Mash’ab dan As’ad. Ketika Sa’ad melihat keduanya dalam keadaan tenang. Tahulah Sa’ad bahwa Usaid hanya mendorong dia supaya mendengarkan pembicaraan mereka.

Sa’ad berdiri dan memaki-maki. Seperti biasa, Mash’ab membalasnya dengan senyuman. Dia berkata kepada Asad bin Jurarah, “Yâ Abâ Umamah, sekiranya di antara kita ini tidak ada hubungan kekeluar-gaan, aku tidak akan sampai pada keadaan seperti sekarang ini.” Lalu Asad berkata kepada Mash’ab, “Ini sudah datang pemimpin yang diikuti oleh seluruh kaumnya di belakang. Jika ia mengikutimu, tidak seorang pun di antara kaumnya yang akan mem-bantahnya.”

Mash’ab dengan ramah mengajaknya duduk dan mendengarkan pembicaraannya. Sama seperti kepada Usaid, ia berkata, “Kalau engkau suka, engkau terimalah pembicaraan-ku. Tapi kalau engkau tidak suka, tinggalkan-lah apa yang tidak engkau sukai.” Kemudian Mash’ab pun duduk membaca Al-Qur’an. Singkat cerita, karena keramahan Mash’ab, Sa’ad bin Mu’adz akhirnya masuk Islam.

Dalam Bahasa Parsi, wajah yang ramah disebut hulu adapun wajah yang menakutkan disebut lulu. Saya pernah mendengar sebuah puisi Parsi sebagai berikut, “Orang-orang ‘Irfan memperkenalkan agama dengan hulu. Sedangkan para Fuqaha memperkenalkan agama dengan lulu.” Mash’ab bin Umair adalah orang yang memperkenalkan agama dengan wajah yang ramah. Orang yang mencaci maki tidak dilawan cacian dan makian. Malahan ia tersenyum, seakan-akan ia menikmati cacian itu. Dengan keramahannya, luluhlah hati orang-orang Anshar itu.

Usaid bin Hudair dan Sa’ad bin Mu’adz lalu menemui kaumnya. Sa’ad berkata kepada kaumnya, “Ya Bani Abdil Asyhal, bagaimana menurut kalian urusanku di tengah-tengah kalian?” Kaumnya menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami yang paling akrab diantara kami. Yang paling bagus pemikirannya. Kau adalah pemimpin yang paling bisa dipercaya.” Kemudian Sa’ad berkata, “Ketahuilah mulai saat ini, kalian, baik laki-laki maupun perempuan, haram berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Sa’ad ber-maksud untuk memutuskan hubungan tribalisme itu.

Berkat bantuan kedua orang ini, akhirnya Mash’ab dan Asad mendatangi seluruh perkampungan Anshar. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang tidak masuk Islam.
Kisah lain meriwayatkan Mash’ab pada suatu peristiwa di Perang Badar. Mash’ab bin Umair berada di pihak Rasulullah saw sementara keluarganya berada di pihak Musyrikin.
Seperti kita ketahui, pada Perang Badar orang Islam memetik kemenangan. Di antara tawanan yang berada di tangan kaum Muslimin adalah saudara Mash’ab bernama Abu Aziz Ibnu Umair. Mash’ab melewatinya dan melihat saudaranya tertawan. Abu Aziz adalah pemegang bendera Kaum Musyrikin. Ketika saudaranya menegur dan meminta pertolongannya, Mash’ab bin Umair berbicara kepada orang Anshar yang menawan saudara-nya, “Pegang tawanan ini kuat-kuat. Ibunya orang kaya. Mudah-mudahan ibunya bisa menebus dia dengan harga yang mahal”.

“Saudaraku, apakah ini nasihatmu kepadaku?” tanya saudaranya kebingungan. Mash’ab berkata kepada Abu Aziz sambil menunjuk orang Anshar yang menawannya, “Dia (orang Anshar) adalah saudaraku yang lebih dekat denganku dari pada kamu. Dia adalah saudaraku selainmu”.

Jadi, menurut Mash’ab, saudara seagama itu jauh lebih dekat dari pada saudara sedarah.
Tarikh yang saya kutip ini mengakhiri kisah Mash’ab bin Umair dengan Surat Hud ayat 46 yang mengisahkan Doa Nabi Nuh, ketika ia ingin menolong anaknya yang tenggelam. Nuh berdoa, “Tuhanku, ini anakku termasuk keluargaku. Dan janji-Mu benar, Engkaulah hakim yang paling bijaksana.” Lalu Tuhan berfirman, “Hai Nuh, dia bukan dari keluargamu. Dia adalah amal yang tidak shaleh. Dan janganlah kamu minta kepadaku yang kamu tidak punya ilmunya. Aku nasihati kamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

.

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang – orang Anshar yang telah beriman dan baiat kepada Rasulullah di bukti Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.  Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian Aqabah, kaum muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka , oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah saw. atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah -kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci Allah, menyampaikan kalimatullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiga-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad saw. – yang diserukan beribadah kepada-Nya – oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan Sa’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati ”Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nurani sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengarkan dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyrakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaidpun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, ”Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab, ”Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Secepatnya berita itu pun tersiar. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. dan setelah mendengarkan uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.

Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya bertanya sesama mereka, “Jika Usain bin Hudlair, Saad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!”

—oo—

Demikian duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisypun beroleh pelajaran pahit yang menghabisakan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun berisap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggilah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, merek meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan kaum muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, atau tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membatasi Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuhpun menunjukkan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

Mush’ab bi Umair menyadari suasana gawat ini, Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah saw. dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara.

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mushab bertempur laksana pasukan tentara besar. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang yang menginjak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah.

Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceritakan saat-saat terakhir kapahlawanan besar Mush’ab bin Umar.

Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seseorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangan-nya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul” Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuhpun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraih ke dada sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh”.

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera. ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan. Disaat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Quran yang selalu dibaca orang.

—oo—

Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia. Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

Wahai Mush’ab cukuplah bagimu Ar-Raman.
Namamu harum semerbak dalam kehidupan.

—oo—

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai ditempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuran dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul ‘Urrat:

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw dengan mengharap keridlaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Diantara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun juga. Diantaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain burdah. Andainya ditaruh diatas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah saw, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir!

Betapapun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para sahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubungi dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat :


Diantara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.

(Q.S. 33. Al-Ahzab : 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda :

Ketika di Mekah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masi, hanya dibalut sehelai burdah.

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak diatanya, Rasulullah berseru :

Sungguh Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada disisi Allah

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, sabdanya,

Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslimpun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.

Salam atasmu wahai Mush’ab…….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada….

Mash’ab bin Umair lebih mencintai Islam dari pada keluarganya. Dia meninggal dunia pada perang Uhud dan Rasulullah saw pun menangisi kepergiannya.

Saya akhiri kisah Mash’ab bin Umair ini dengan satu peristiwa ketika Rasulullah saw pulang dari Uhud memasuki Madinah. Beliau disambut oleh perempuan-perempuan yang menangisi kematian keluarga mereka. Di antaranya ialah Zainab binti Jahasy. Begitu Rasulullah saw melihat Zainab, ia berkata, “Bersabarlah engkau Zainab.” Zainab ber-tanya, “Siapa yang meninggal itu, Ya Rasulullah?” “Saudaramu” jawab Rasul. “Inallilâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” jawab Zainab. Kemudian Rasulullah kembali berkata, “Bersabarlah engkau.” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” tanya Zainab. “Untuk Hamzah bin Abdul Muthalib,” jawab Rasul. Kembali Zainab berkata, “Innalillâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” Untuk ketiga kalinya, Rasulullah saw masih berkata, “Bersabarlah engkau, Hai Zainab” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” Zainab bertanya cemas. Rasul menjawab, “Untuk suamimu, Mash’ab bin Umair.” Barulah Zainab berteriak, “Duhai derita, duhai kesedihan!”

Ketika Mash’ab meninggal, dia masih memakai pakaiannya yang compang-camping itu. Rasulullah saw menangis dan berkata di hadapan jenazah Mash’ab, “Semoga Allah menyayangimu, Hai Mash’ab bin Umair. Aku sudah melihatmu di Mekkah dulu. Dan aku tak pernah melihat orang yang pakaiannya sebagus pakaian kamu. Yang kesenangannya sebaik kamu. Tapi sekarang, engkau dalam keadaan compang-camping dan tertutup debu”.
Rasulullah saw lalu menguburkan-nya. Saudara Mash’ab, Abu Rum, turun di kuburannya. Begitu juga Amir bin Rabiah Al-Anzi.

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair. Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang yang membenarkan janji yang sudah mereka berikan kepada Allah”.

Itulah Mash’ab bin Umair, yang mendahulukan kesetiaan kepada Islam di atas kesetiaan kepada kelompoknya, kepada keluarganya, dan kepada suku bangsanya. Mash’ab bin Umair adalah contoh orang yang mendahulukan Islam dengan keramahan, dengan akhlak yang baik, dan dengan senyuman.

Dialah orang yang membawa Islam dengan Bunga Mawar, tapi tidak dengan durinya. Sementara banyak orang yang menyebarkan Mawar, tidak dengan menyebar-kan harumnya, melainkan durinya. Kalau kita sebarkan Islam dengan duri, kita akan banyak menyakiti orang. Tapi kalau kita sebarkan Islam dengan harumnya, Insya Allah, kita akan menarik mereka kepada Islam.

sahabat Nabi SAW yang dipuji Al Quran dan diakui syi’ah : Mash’ab bin Umair

Mush’ab bin ‘Umayr

Mush’ab bin ‘Umayr (Arabمصعب بن عمير) adalah salah seorang sahabat nabi Nabi Muhammad. Mush’ab berhasil memasukan ajaran Islam kepada Usayd bin Hudhayr dan sahabat Usayd yang bernama Sa’ad bin Mu’adz.

Biografi

Mus’ab bin Umair berasal dari keturunan bangsawan dari suku Quraisy. Ia adalah salah satu sahabat yang pertama dalam memeluk Islamsetelah Nabi Muhammad saw diangkat sebagai Nabi dan menyebarkan agama Islam.

Mus’ab bin Umair diutus oleh Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Madinah, setelah orang-orang dari Madinah datang menyatakan keislamannya. Ia di Madinah hingga Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Mus’ab bin Umair mati syahid diPertempuran Uhud.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (ll)

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair.

 Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, 

surat Al Ahzab ayat 23 :

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur . Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya )”. (QS. Al Ahzab: 23)

Setiap kita sedang berjalan dalam rangka menepati janji kita kepada Allah. Diantara kita ada yang meninggal duluan, jika kita meninggal dalam berjuang dan menepati janji, maka itu adalah hal bagus dan indah. Ada diantara kita yang menunggu kapan matinya, dan itu tidaklah masalah, selama tidak merubah arah jalan kita dan tetap berpegang teguh pada komitnen dan tetap berjuang menepati janji itu.

.

Mash’ab pada suatu peristiwa  di PERANG BADAR berada di pihak Rasulullah SAW sementara keluarganya ada yang berada di pihak kemusyrikan. Turunlah QS. Mujadilah ayat 22.  Allah Subhanahu wata’ala berfirman :


لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya :

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw melaksanakan ajaran reformasi Rasul dalam kehidupan mereka dengan cara meninggalkan kesetiaan mereka kepada kelompok menuju kesetiaan kepada Islam.

Salah satu contoh yang paling baik untuk menjelaskan hal itu adalah Mash’ab bin Umair, salah seorang wisudawan madrasah Rasulullah. Riwayat singkatnya sebagai berikut; Bapaknya adalah Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Abdi Dar bin Qusyaiy bin Kilab. Dari jalur kakeknya, Mash’ab bersambung dengan Rasulullah saw.

Mash’ab bin Umair adalah seorang pemuda Mekkah yang terkenal sebagai remaja berwajah tampan, tegap, dan murah senyum. Dia termasuk Assâbiqun fîl Islâm. Ia bergelar Abu Muhammad sedangkan laqabnya adalah Mash’ab Al-Khair, Mash’ab Si Baik.

Mash’ab termasuk salah seorang yang hijrah ke Habsyi. Nabi saw mengutusnya sebagai mubaligh, mu’alim, dan mursyid ke Madinah. Berkat dakwah Mash’ab bin Umair, banyak kabilah Anshar yang masuk Islam. Dia ikut bersama Nabi dalam perang Badar. Pada perang Uhud, Nabi memberinya bendera pasukan dan ia pun gugur sebagai seorang syuhada di Perang Uhud

.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika kaum itu (orang-orang Madinah) hendak kembali, Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin ‘Umair agar menemani mereka. Dia diperintah Rasul agar membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada mereka.”

Setibanya di Madinah, beliau tinggal di rumah Sa’ad bin Zurarah. Selama di Madinah, kesehariannya diisi dengan mengajak para penduduknya untuk masuk Islam dan membacakan al-Quran kepada mereka secara door to door. Hasilnya, seorang demi seorang dari mereka bersyahadat.

Kesuksesan Mush’ab dalam mengislamkan penduduk Madinah bikin gerah Sa’ad bin Muadz, pemuka kaum bani ‘Abd al-Asyhal di Madinah. Sa’ad makin benci dengan Mush’ab ketika sepupunya, Usaid bin Hudhair, yang disuruh untuk menegur Mushab malah ikut masuk Islam. Sa’ad bergegas menemui Mushab. Di hadapan Mushab dan As’ad, Sa’ad ngomel-ngomel. Tapi apa respon Mushab?

“Ataukah Tuan berkenan duduk, lalu mendengarkan,” ajak Mush’ab pada Sa’ad dengan kata-kata yang halus. “Jika Tuan meridai perkara [yang hendak saya paparkan] ini dan Tuan menyukainya, Tuan bisa menerimanya. Jika Tuan membencinya, kami menyingkir darimu yang memang Tuan membencinya.”

“Ya, saya menerima. Itu adil,” jawab Sa’ad. Mush’ab menatapnya sejenak dengan muka manis, lalu memaparkan Islam dan membacakan al-Qur’an kepadanya. Sa’ad bertanya kepada keduanya, “Apa yang kalian lakukan ketika masuk Islam dan masuk agama ini?”

“Mandi dan sucikan diri dan pakainmu, kemudian bacalah kesaksian yang haq, lalu salatlah dua rakaat,” jelas Mush’ab dan As’ad.

Sa’ad berdiri, lalu mandi dan menyucikan pakaiannya, kemudian membaca syahadat dan salat dua rakaat, kemudian segera menuju kaumnya. Ketika sudah tiba Sa’ad berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya ucapan kaum pria dan wanita kalian terhadapku adalah haram hingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Selang beberapa waktu, Mush’ab dan As’ad berkata, “Demi Allah, semenjak itu di rumah bani ‘Abd al-Asyhal tidak satupun laki-laki dan wanita kecuali muslim.”

Dalam waktu satu tahun, Mush’ab berhasil membalik kekufuran di Madinah, dari keberhalaan yang bodoh dan masya’ir (perasaan-perasaan) yang salah menjadi agama tauhid dan iman serta masya’ir Islam. Gimana dengan kita? Kita bisa seperti Mush’ab asal mau tetep semangat untuk ngaji dan dakwah. Oke?

Pada umumnya, orang-orang yang masuk Islam itu kebanyakan miskin, para mustadh’afin yang berasal dari keluarga sengsara, kecuali Mash’ab bin Umair. Mash’ab adalah anak seorang keluarga elit. Orang tuanya kaya raya. Ibunya sangat sayang kepadanya sehingga dia selalu diberi pakaian yang bagus-bagus dan indah-indah.

Ketika dia masuk Islam, ibunya marah-marah dan tidak mau menerimanya lagi. Mash’ab diusir dari rumahnya. Ibunya pun pernah mogok makan dan hanya mau makan bila Mash’ab bin Umair kembali lagi memeluk agamanya semula. Tetapi Mash’ab bin Umair bertahan dan akhirnya ibunya menghentikan mogok makannya. Mash’ab bin Umair sangat mencintai ibunya tetapi dia lebih mencintai Islam. Dia mendahulukan kesetia-an kepada Islam dari pada kesetiaan kepada keluarganya.

Umar bin Khathab meriwayatkan kisah Mash’ab dalam sebuah hadits sebagai berikut; “Pada suatu hari, Rasulullah saw melihat Mash’ab bin Umair di Madinah. Mash’ab datang dengan pakaian yang compang-camping, sebagian pakaiannya dijahit dari kulit domba. Rasul menangis, lalu ia bersabda kepada para sahabatnya, “Lihat, itu orang yang telah Allah sinari hatinya. Dahulu aku pernah melihatnya berada di tengah orang tuanya yang memberinya makanan yang lezat, minuman yang enak, dan pakaian yang bagus. Kemudian kecinta-an kepada Allah dan Rasul-Nya membawanya kepada keadaan yang kalian lihat.”

Mash’ab bin Umair diutus oleh Rasulullah saw sebagai mubaligh di Madinah, atas permintaan orang-orang Anshar pada Bai’at Aqabah yang pertama. Mash’ab berdakwah dengan senyuman. Rasulullah saw tahu, orang-orang Arab itu jarang ada yang ramah dan mereka sukar sekali untuk tersenyum. Sampai Nabi pernah mengingat-kan kepada mereka berkali-kali, “Senyum kepada saudaramu itu shadaqah.” Mash’ab bin Umair menaklukkan hati orang dengan senyuman dan keramahannya.

Berikut ini adalah kisah sebagian dakwahnya di Madinah; Orang yang pertama masuk Islam di tangan Mash’ab bin Umair adalah As’ad bin Jurarah. Mash’ab bin Umair tinggal bersamanya. Kedua orang itu men-datangi satu kabilah di kalangan penduduk Madinah yang sangat berpengaruh, untuk berdakwah. Pemimpin kabilah itu adalah Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudair.

Mereka masuk melalui dinding Bani Zhafar. Dulu, setiap kabilah membatasi kampungnya dengan dinding-dinding. Semacam benteng yang mempunyai pintu gerbang. Begitupun dengan kota-kotanya. Kedua pemimpin kabilah itu masih musyrik. Ketika mendengar kedatangan Mash’ab dan As’ad, Sa’ad bin Mu’adz berkata pada Usaid bin Hudair, “La aban laka, mudah-mudahan kamu tidak punya bapak. Berangkatlah kamu menemui kedua orang itu yang sudah mendatangi perkampungan kita dan menipu orang-orang bodoh di kalangan kita. Sekira-nya dia tidak datang bersama As’ad bin Jurarah dan sekiranya kamu bukan merupa-kan keluarga As’ad bin Jurarah, aku sudah bunuh dia.”

Usaid bin Hudair lalu mengambil tombaknya untuk menemui kadua mubaligh itu. Ketika As’ad bin Jurarah melihat dia, dia berkata kepada Mash’ab bin Umair, “Inilah pemimpin kaum datang, dakwahi dia kepada Islam.” Mash’ab menjawab, “Kalau dia duduk, aku akan bicara dengan dia.”

Begitu Usaid bin Hudair tiba, ia langsung memaki-maki Mash’ab bin Umair. Mash’ab hanya tersenyum menghadapi makian tersebut. Usaid memaki, “Mau apa kalian datang kepada kami ini lalu menipu orang-orang bodoh di antara kami. Pergi! Kalau kalian masih memerlukan nafas kalian.”

Mash’ab bin Umair berkata, “Bagai-mana kalau anda duduk sebentar. Kita ngobrol-ngobrol. Kalau Engkau senang, Engkau terima. Kalau engkau tidak senang, Engkau dijauhkan dari apa yang tidak Engkau senangi.” Orang itu luluh melihat kebaikan hati Mash’ab bin Umair. Dia berkata, “Engkau benar.”

Kemudian Usaid meletakkan tombak-nya dan duduk bersama mereka. Mash’ab bin Umair lalu menerangkan tentang Islam. Ia membaca Al-Qur’an. Ketika melihat Usaid bin Hudair mendengarkan dengan penuh perhati-an, kedua mubaligh itu berkata, “Demi Allah aku sudah melihat di wajahnya keislaman, sebelum dia berbicara dan menunjukkan keramahan.”

Usaid bin Hudair bertanya, “Alangkah indahnya pembicaraan kamu itu. Kalau ada orang yang mau masuk Islam bagaimana caranya?” Keduanya berkata kepada Usaid, “Engkau mandi. Engkau bersuci. Bersihkan kedua pakaianmu, kemudian Engkau meng-ucapkan kalimat syahadat, setelah itu, Engkau shalat.”

Akhirnya Usaid bin Hudair berdiri. Ia mandi, membersihkan pakaiannya, kemudian dia mengucapkan syahadat dan salat dua rakaat. Usaid, yang diutus oleh kawannya Sa’ad bin Mu’adz untuk megusir mereka itu, malah masuk Islam dan berkata, “Sesungguh-nya di belakangku ada seorang tokoh. Jika tokoh itu ikut kepadamu, tidak ada seorang pun di antara kaumnya yang akan membatah-nya. Aku akan utus dia untuk menemui kamu sekarang, Sa’ad bin Mu’adz namanya.”

Usaid mengambil lagi tombaknya dan pergi menemui Sa’ad bin Mu’adz beserta kaumnya. Sa’ad sedang duduk di tengah-tengah kabilahnya. Ketika melihat Usaid datang, Sa’ad berkata, “Demi Allah! Usaid telah datang dengan wajah yang yang berbeda daripada ketika ia pergi tadi.” Saat Usaid duduk di tengah kelompok itu, Sa’ad bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?” Usaid pun menjawab, “Aku sudah berbicara dengan kedua orang itu. Dan Demi Allah, aku tidak melihat niat yang buruk pada mereka. Aku larang mereka untuk menemui kita, tapi mereka berkata, ‘Aku akan lakukan apa yang kalian kehendaki. Namun aku dengar Bani Haritsah sudah keluar untuk membunuh Ibnu Jurarah. Mereka tahu bahwa anak bibimu itu akan menyerang kamu, karena itu mereka akan membunuhnya’.”

Sa’ad bin Mu’adz marah. Usaid membohongi Sa’ad, supaya Sa’ad marah dan menemui Ibnu Jurarah karena kuatir Ibnu Jurarah akan diserang oleh Bani Haritsah. Sa’ad mengambil tombaknya, kemudian pergi menemui Mash’ab dan As’ad. Ketika Sa’ad melihat keduanya dalam keadaan tenang. Tahulah Sa’ad bahwa Usaid hanya mendorong dia supaya mendengarkan pembicaraan mereka.

Sa’ad berdiri dan memaki-maki. Seperti biasa, Mash’ab membalasnya dengan senyuman. Dia berkata kepada Asad bin Jurarah, “Yâ Abâ Umamah, sekiranya di antara kita ini tidak ada hubungan kekeluar-gaan, aku tidak akan sampai pada keadaan seperti sekarang ini.” Lalu Asad berkata kepada Mash’ab, “Ini sudah datang pemimpin yang diikuti oleh seluruh kaumnya di belakang. Jika ia mengikutimu, tidak seorang pun di antara kaumnya yang akan mem-bantahnya.”

Mash’ab dengan ramah mengajaknya duduk dan mendengarkan pembicaraannya. Sama seperti kepada Usaid, ia berkata, “Kalau engkau suka, engkau terimalah pembicaraan-ku. Tapi kalau engkau tidak suka, tinggalkan-lah apa yang tidak engkau sukai.” Kemudian Mash’ab pun duduk membaca Al-Qur’an. Singkat cerita, karena keramahan Mash’ab, Sa’ad bin Mu’adz akhirnya masuk Islam.

Dalam Bahasa Parsi, wajah yang ramah disebut hulu adapun wajah yang menakutkan disebut lulu. Saya pernah mendengar sebuah puisi Parsi sebagai berikut, “Orang-orang ‘Irfan memperkenalkan agama dengan hulu. Sedangkan para Fuqaha memperkenalkan agama dengan lulu.” Mash’ab bin Umair adalah orang yang memperkenalkan agama dengan wajah yang ramah. Orang yang mencaci maki tidak dilawan cacian dan makian. Malahan ia tersenyum, seakan-akan ia menikmati cacian itu. Dengan keramahannya, luluhlah hati orang-orang Anshar itu.

Usaid bin Hudair dan Sa’ad bin Mu’adz lalu menemui kaumnya. Sa’ad berkata kepada kaumnya, “Ya Bani Abdil Asyhal, bagaimana menurut kalian urusanku di tengah-tengah kalian?” Kaumnya menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami yang paling akrab diantara kami. Yang paling bagus pemikirannya. Kau adalah pemimpin yang paling bisa dipercaya.” Kemudian Sa’ad berkata, “Ketahuilah mulai saat ini, kalian, baik laki-laki maupun perempuan, haram berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Sa’ad ber-maksud untuk memutuskan hubungan tribalisme itu.

Berkat bantuan kedua orang ini, akhirnya Mash’ab dan Asad mendatangi seluruh perkampungan Anshar. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang tidak masuk Islam.
Kisah lain meriwayatkan Mash’ab pada suatu peristiwa di Perang Badar. Mash’ab bin Umair berada di pihak Rasulullah saw sementara keluarganya berada di pihak Musyrikin.
Seperti kita ketahui, pada Perang Badar orang Islam memetik kemenangan. Di antara tawanan yang berada di tangan kaum Muslimin adalah saudara Mash’ab bernama Abu Aziz Ibnu Umair. Mash’ab melewatinya dan melihat saudaranya tertawan. Abu Aziz adalah pemegang bendera Kaum Musyrikin. Ketika saudaranya menegur dan meminta pertolongannya, Mash’ab bin Umair berbicara kepada orang Anshar yang menawan saudara-nya, “Pegang tawanan ini kuat-kuat. Ibunya orang kaya. Mudah-mudahan ibunya bisa menebus dia dengan harga yang mahal”.

“Saudaraku, apakah ini nasihatmu kepadaku?” tanya saudaranya kebingungan. Mash’ab berkata kepada Abu Aziz sambil menunjuk orang Anshar yang menawannya, “Dia (orang Anshar) adalah saudaraku yang lebih dekat denganku dari pada kamu. Dia adalah saudaraku selainmu”.

Jadi, menurut Mash’ab, saudara seagama itu jauh lebih dekat dari pada saudara sedarah.
Tarikh yang saya kutip ini mengakhiri kisah Mash’ab bin Umair dengan Surat Hud ayat 46 yang mengisahkan Doa Nabi Nuh, ketika ia ingin menolong anaknya yang tenggelam. Nuh berdoa, “Tuhanku, ini anakku termasuk keluargaku. Dan janji-Mu benar, Engkaulah hakim yang paling bijaksana.” Lalu Tuhan berfirman, “Hai Nuh, dia bukan dari keluargamu. Dia adalah amal yang tidak shaleh. Dan janganlah kamu minta kepadaku yang kamu tidak punya ilmunya. Aku nasihati kamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

.

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang – orang Anshar yang telah beriman dan baiat kepada Rasulullah di bukti Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.  Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian Aqabah, kaum muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka , oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah saw. atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah -kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci Allah, menyampaikan kalimatullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiga-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad saw. – yang diserukan beribadah kepada-Nya – oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan Sa’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati ”Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nurani sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengarkan dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyrakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaidpun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, ”Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab, ”Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Secepatnya berita itu pun tersiar. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. dan setelah mendengarkan uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.

Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya bertanya sesama mereka, “Jika Usain bin Hudlair, Saad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!”

—oo—

Demikian duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisypun beroleh pelajaran pahit yang menghabisakan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun berisap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggilah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, merek meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan kaum muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, atau tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membatasi Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuhpun menunjukkan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

Mush’ab bi Umair menyadari suasana gawat ini, Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah saw. dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara.

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mushab bertempur laksana pasukan tentara besar. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang yang menginjak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah.

Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceritakan saat-saat terakhir kapahlawanan besar Mush’ab bin Umar.

Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seseorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangan-nya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul” Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuhpun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraih ke dada sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh”.

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera. ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan. Disaat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Quran yang selalu dibaca orang.

—oo—

Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia. Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

Wahai Mush’ab cukuplah bagimu Ar-Raman.
Namamu harum semerbak dalam kehidupan.

—oo—

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai ditempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuran dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul ‘Urrat:

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw dengan mengharap keridlaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Diantara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun juga. Diantaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain burdah. Andainya ditaruh diatas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah saw, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir!

Betapapun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para sahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubungi dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat :


Diantara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.

(Q.S. 33. Al-Ahzab : 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda :

Ketika di Mekah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masi, hanya dibalut sehelai burdah.

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak diatanya, Rasulullah berseru :

Sungguh Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada disisi Allah

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, sabdanya,

Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslimpun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.

Salam atasmu wahai Mush’ab…….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada….

Mash’ab bin Umair lebih mencintai Islam dari pada keluarganya. Dia meninggal dunia pada perang Uhud dan Rasulullah saw pun menangisi kepergiannya.

Saya akhiri kisah Mash’ab bin Umair ini dengan satu peristiwa ketika Rasulullah saw pulang dari Uhud memasuki Madinah. Beliau disambut oleh perempuan-perempuan yang menangisi kematian keluarga mereka. Di antaranya ialah Zainab binti Jahasy. Begitu Rasulullah saw melihat Zainab, ia berkata, “Bersabarlah engkau Zainab.” Zainab ber-tanya, “Siapa yang meninggal itu, Ya Rasulullah?” “Saudaramu” jawab Rasul. “Inallilâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” jawab Zainab. Kemudian Rasulullah kembali berkata, “Bersabarlah engkau.” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” tanya Zainab. “Untuk Hamzah bin Abdul Muthalib,” jawab Rasul. Kembali Zainab berkata, “Innalillâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” Untuk ketiga kalinya, Rasulullah saw masih berkata, “Bersabarlah engkau, Hai Zainab” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” Zainab bertanya cemas. Rasul menjawab, “Untuk suamimu, Mash’ab bin Umair.” Barulah Zainab berteriak, “Duhai derita, duhai kesedihan!”

Ketika Mash’ab meninggal, dia masih memakai pakaiannya yang compang-camping itu. Rasulullah saw menangis dan berkata di hadapan jenazah Mash’ab, “Semoga Allah menyayangimu, Hai Mash’ab bin Umair. Aku sudah melihatmu di Mekkah dulu. Dan aku tak pernah melihat orang yang pakaiannya sebagus pakaian kamu. Yang kesenangannya sebaik kamu. Tapi sekarang, engkau dalam keadaan compang-camping dan tertutup debu”.
Rasulullah saw lalu menguburkan-nya. Saudara Mash’ab, Abu Rum, turun di kuburannya. Begitu juga Amir bin Rabiah Al-Anzi.

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair. Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang yang membenarkan janji yang sudah mereka berikan kepada Allah”.

Itulah Mash’ab bin Umair, yang mendahulukan kesetiaan kepada Islam di atas kesetiaan kepada kelompoknya, kepada keluarganya, dan kepada suku bangsanya. Mash’ab bin Umair adalah contoh orang yang mendahulukan Islam dengan keramahan, dengan akhlak yang baik, dan dengan senyuman.

Dialah orang yang membawa Islam dengan Bunga Mawar, tapi tidak dengan durinya. Sementara banyak orang yang menyebarkan Mawar, tidak dengan menyebar-kan harumnya, melainkan durinya. Kalau kita sebarkan Islam dengan duri, kita akan banyak menyakiti orang. Tapi kalau kita sebarkan Islam dengan harumnya, Insya Allah, kita akan menarik mereka kepada Islam.

Syiah Memuji Sahabat (1)

QS. Al-Muzzammil ayat 20

bismillah
Artinya :
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penjelasan Syi’ah : 

Ayat ini turun berkaitan dengan Utsman bin Mazh’un. Beliau termasuk pada “segolongan/tahifah dalam Qs. Al Muzammil ayat 20

Aisyah bertutur : “Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, shalat malam, terus menerus”. Aku ceritakan hal itu kepada Nabi SAW. Rasulullah menemui Utsman dan berkata , “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh  ? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum hukumnya”

.

Q.S. Al- Maidah ayat 93

laysa ‘alaa alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu idzaa maa ittaqaw waaamanuu wa’amiluu alshshaalihaati tsumma ittaqaw waaamanuu tsumma ittaqaw wa-ahsanuu waallaahu yuhibbu almuhsiniina
.
93. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Penjelasan Syi’ah : Menurut Ibn ‘Abd Al Birr, sehubungan dengan perilaku Utsman dan sahabat sahabat yang ingin terus menerus beribadah maka turunlah Qs. Al Maidah ayat 93 (Al Isti’ab 3:186).

bismillahUtsman bin Maz`un (wafat 2 H/624 M) (Bahasa Arab عثمان بن مظعون) adalah salah satu sahabat nabi. Ia termasuk cendekiawan Arab di zaman jahiliyah, sempat mengikuti Perang Badardan meninggal dunia sekembalinya dari perang tersebut. Sepeninggal Utsman, Muhammad menciumnya sambil mengalirkan air mata. Utsman inilah sahabat pertama yang meninggal diMadinah.

Utsman inilah yang pernah berniat membujang dan meninggalkan keduniawian, akan tetapi Muhammad melarangnya dari niat tersebut. Kemudian Utsman bin Mazh’un menikah denganKhawlah binti Hakim.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (1)

REFORMASI Agung kedua yang dilakukan Rasulullah adalah dengan mengubah kesetiaan kepada kelompok menjadi kesetiaan kepada Islam. Sekarang saya ingin memberikan contoh keberhasilan reformasi kedua itu melalui kehidupan beberapa sahabat yang lulus dari Madrasah Rasulullah saw. Tidak semua sahabat lulus dari Madrasah Rasulullah. Ada juga sahabat yang diskors selama tiga bulan dan semua sahabat-sahabat Nabi yang lain dilarang berbicara dengan dia. Sampai sahabat Nabi itu kemudian lari ke gunung, bertaubat siang dan malam.

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw, anehnya, banyak yang tidak kita kenal. Salah seorang tokoh yang tidak begitu kita kenal adalah Utsman bin Mazh’un, dia dikuburkan di Baqi. Bapaknya adalah Mazh’un bin Wahab bin Hudzafah bin Jumuh Al-Quraisyi. Sedangkan Ibunya ialah Suhailah binti Al-Anbas bin Ahban bin Khudzafah bin Jumuh.

Utsman masuk Islam beserta seluruh keluarganya. Dia adalah orang ketigabelas yang masuk Islam. Dia sangat rajin beribadah. Ia pun hijrah dua kali ke Habsyi. Dia ikut berperang di Badar bersama Rasulullah saw. Dia meninggal dua setengah tahun setelah Hijrah. Nabi menguburkannya di Baqi dan memberi tanda di kuburan Utsman dengan batu. Nabi sering menziarahi kuburannya. Hal ini sekaligus merupakan dalil bahwa ziarah ke kubur itu ialah sunnah Rasulullah saw. Kelak, salah seorang putera Utsman syahid pada hari Yamanah, ketika kelompok Musailamah Al-Kadzab melakukan perlawanan.

Kesetiaan Utsman bin Mazh’un kepada Allah dan Rasul-Nya lebih tinggi daripada kesetiaannya kepada yang lain. Ketika orang-orang Islam dikejar-kejar dan dianiaya, Utsman hijrah ke Habsy beserta seluruh keluarganya. Seperti kita ketahui, ‘Amr bin ‘Ash menyusul ke Habsyi dan meminta Utsman supaya kembali lagi ke Mekkah. ‘Amr bin ‘Ash juga meminta kepada Raja Habsyi supaya tidak menerima umat Islam di negeri itu dan mengembalikannya ke Mekkah.

Ketika Utsman bin Mazh’un kembali dari Habsyi ke Mekkah, penindasan masih berlangsung. Orang-orang Islam masih disiksa dan dianiaya. Dia menghadapi ancaman terhadap dirinya dan keluarganya. Akhirnya dia mencari perlindungan kepada keluarga Al-Walid bin Mughirah, seorang penyair yang sejak dulu dekat dengan Utsman.

Pada awalnya, Utsman bin Mazh’un masuk Islam karena rasa malu. Rasulullah saw sering berdakwah kepadanya dan berulang kali mengajak Utsman bin Mazh’un masuk Islam. Utsman pernah berkata, “Aku ini masuk Islam karena malu saja. Rasulullah berulang kali mengajak aku untuk masuk Islam. Waktu itu Islam belum ada dalam hatiku. Sampai suatu hari aku sedang bersama Rasulullah, tiba-tiba Rasul memandang ke langit. Seakan-akan beliau sedang memahami sesuatu. Setelah Rasul merenung, aku bertanya kepada Rasul tentang apa yang terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Allah menyuruh kamu untuk berbuat baik dan memberikan hak kepada keluargamu. Dan Allah melarang kamu dari keburukan dan kemungkaran.” (QS Al-Nahl 90).

“Waktu itu, menetaplah Islam dalam hatiku. Itulah saatnya aku masuk Islam yang sungguh-sungguh, karena aku tersentuh oleh ayat yang indah itu. Lalu aku datangi paman Nabi, Abu Thalib, dan aku kabarkan ke-islamanku. Beliau memberi nasehat, “Ya Ahli Quraisy, ikuti Muhammad, nanti kamu mendapat petunjuk. Karena Muhammad tidak memerintah kecuali kepada akhlak yang mulia.”

“Kemudian aku datangi Walid bin Mughirah, aku bacakan ayat itu dan Mughirah pun terpesona. Dia berkata, “Sungguh dalam ayat-ayat itu ada kemanisan-nya. Di atasnya juga ada keindahannya. Pada puncaknya ada buahnya. Dan di bawahnya rimbun. Ini bukan ucapan manusia. Kalau itu ucapan Muhammad, alangkah bagusnya ucapan Muhammad itu. Dan kalau itu ucapan Tuhannya, alangkah bagusnya ucapan Tuhannya itu”.

Walid bin Mughirah memang dekat dengan Utsman bin Mazh’un, meskipun dia tidak masuk Islam. Malahan ia termasuk dedengkot kekufuran. Tapi kepada Walid bin Mughirah, Utsman bin Mazh’un berlindung. Dan Walid bin Mughirah melindungi dia. Sehingga dia tidak diganggu oleh orang-orang kafir. Sementara orang-orang Islam yang lain menderita, Utsman bin Mazh’un ber-senang-senang di bawah perlindungan Walid bin Mughirah.

Utsman berkata, “Demi Allah, pagi dan soreku tentram dalam perlindungan seseorang yang musyrik. Sedangkan sahabat-sahabatku dan teman seagamaku sekarang menderita barbagai bala dan kesulitan karena Allah. Itu semua tidak menimpaku. Sungguh keadaanku ini adalah sebuah kekurangan yang besar, sebuah aib besar untuk diriku.”

Kemudian Utsman bin Mazh’un datang menemui Walid bin Mughirah, “Wahai Abâ ‘Abdi Syam, sudah selesai sekarang perlindunganmu itu. Aku kembalikan perlindunganmu itu.” Walid menjawab, “Kenapa kau kembalikan perlindungan itu, hai anak saudaraku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?” “Tidak,” jawab Utsman, “bukan karena itu. Tapi aku ingin memilih perlindungan Allah dan aku tidak ingin meminta perlindungan kepada selain Dia.” Walid berkata, “Kalau begitu, berangkatlah kamu ke mesjid dan umumkan terang-terangan bahwa kamu sudah menolak perlindunganku.” Keduanya pun lalu berangkat ke mesjid. Di sana Walid meng-umumkan, “Ini Utsman, dia menolak perlindunganku.” Utsman mengatakan, “Benar apa yang dia katakan dan dia sudah melindungi aku dengan sebaik-baiknya. Tapi aku lebih senang untuk berlindung kepada Allah saja dan karena itu aku kembalikan perlindungan Walid.”

Pada waktu itu datang rombongan tokoh-tokoh Quraisy, salah seorang di antaranya ialah Walid bin Rabiah bin Malik bin Ja’far bin Kilab dari Bani Kilab yang juga duduk di situ. Lalu ada seorang yang bernama Lubaib dari Bani Kilab yang ketika mendengar Utsman bin Mazh’un telah melepaskan perlindungan Walid bin Mughirah, dia membacakan sebuah syair, “Sungguh segala sesuatu selain Allah itu akhirnya jadi bathil.” “Shadaqta. Kamu benar”, kata Utsman. Kemudian Lubaib meneruskan syairnya, “Semua nikmat akhirnya akan berakhir juga.” Maksud Lubaib, perlindungan Mughirah itu sekarang berakhir semua. Utsman berkata, “Kamu dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah berakhir.” Lalu Lubaib berteriak, “Hai Quraisy, lihatlah orang yang duduk bersama kalian ini! Dia termasuk orang-orang bodoh yang meninggalkan agama kita.” Utsman terus membantahnya, sampai Lubaib marah. Kemudian salah satu telinga dan mata Utsman dipukul, sehingga matanya lebam karena pukulan.

Walid bin Mughirah, yang dulu sebagai pelindung Utsman, berada di situ dan berkata, “Hai anak saudaraku, sekiranya mata kamu itu sehat, itu karena dulu kau berada pada perlindungan yang kokoh.” Walid bermaksud menyindir Utsman. Tapi Utsman berkata, “Demi Allah, mataku yang sehat ini sekarang iri dengan mata yang lain dalam membela agama Allah.” Utsman menantang untuk dipukul lagi. Walid berkata, “Mari ke sini, Hai anak saudaraku. Kalau engkau mau, aku akan melindungimu.” “Tidak,” kata Utsman.

Ketika matanya hampir pecah karena dipukul, dia kemudian melantunkan syair yang berisi pujian tentang matanya: “Jika mataku, karena mencari rido Tuhan, mendapat pukulan tangan mulhid, ateis sesat. Tuhan Maha Pengasih telah menggantinya dengan pahala. Siapa yang mendapat rido Rahman pasti bahagia.”

Utsman bin Mazh’un adalah contoh orang yang meninggalkan kesetian kepada kelompoknya karena kesetian kepada Allah. Dia meninggalkan tribalisme menuju Tauhidul Ummah, menuju Al-Ukhuwah Al-Islamiyyah, persaudaran Islam.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an turun berkenaan dengan Utsman bin Mazh’un. Utsman termasuk pada “segolongan” (thâifah) dalam ayat “Sesungguhnya Tuhanmu menge-tahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (Al-Muzammil 20). Menurut A’isyah: Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, salat malam, terus menerus.” Datang Nabi saw. aku sebutkan hal itu. Rasulullah saw menemui Utsman dan berkata: “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum-hukumnya.”

Menurut Ibn ‘Abd Al-Birr, sehubung-an dengan perilaku Utsman dan sahabat-sahabat yang ingin terus menerus ibadah, turun ayat Al-Maidah 93: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Isti’ab 3:186).

Rasulullah mengunjunginya ketika dia sakit. Ketika dia meninggal dunia, Rasulullah saw ikut menguburkan jenazah-nya. Rasulullah saw juga menangisi kepergian Utsman bin Mazh’un. Sejak zaman Jahiliyyah, Utsman bin Mazh’un memang berakhlak bagus, apalagi setelah dia masuk Islam. Nabi berkata, “Manusia itu seperti logam. Kalau di Zaman Jahiliyyah emas, setelah Islam pun emas juga.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan Utsman sebagai, “Orang yang paling banyak beribadah. Puasa di waktu siang hari dan shalat di malam hari. Dia menjauhi syahwat dan meninggalkan perempuan. Kemudian dia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk mengebiri dirinya tetapi Rasulullah melarangnya. Sejak Zaman Jahilliyah, dia tidak pernah minum khamar. Dia beralasan, “Aku tidak akan minum satu minuman yang menyebabkan akal pikiranku hilang”.

“Waktu Rasulullah saw ditinggalkan oleh putranya yang sangat dicintainya, yaitu Ibrahim yang meninggal di Madinah, Nabi mendampingkan kuburannya di samping kuburan Utsman bin Mazh’un. Beliau bersabda, “Kuburkan Ibrahim di dekat pendahulu kita yang saleh.”

Utsman bin Mazh’un

Utsman bin Mazh’un
.
Tatkala cahaya agama Islam mulai bersinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikannya di beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa gelintir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri ke dalam kelompok pengikut Rasulullah saw. Ia adalah di antara sahabat Nabi saw yang masuk Islam pada urutan keempat belas
.
Dalam kehidupannya, ia pun tidak luput dari ancaman kaum biadab golongan kuffar Qurasy yang tidak menyukai kedatangan dan keberadaan agama baru, Islam. Ia ditempa oleh berbagai derita dan siksa, sebagaimana dialami oleh orang-orang Mukmin lainnya, pengikut setia pembawa risalah baru yang lurus, Rasulullah saw.Ketika keselamatan golongan kecil dari orang-orang beriman dan teraniaya ini menjadi pilihan utama Rasulullah saw, dengan jalan menyuruhnya berhijrah ke Habsyi, maka dipilihlah seorang yang juga membawa puteranya bernama Saib, Utsman bin Mazh’un, memimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini.

Dalam perantauannya, Utsman bin Mazh’un tidak dapat melupakan rencana-rencana jahat mereka termasuk saudara sepupunya, Umayah bin Khalaf. Dihiburlah dirinya dengan menggubah sya’ir yang berisikan sindiran dan peringatan terhadap saudaranya itu, katanya:

“Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya
Kamu runcing ia setajam-tajamnya
Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia
Kamu celakan ornag-orang yang berwibawa
Ingatlah nanti saat bahaya datang menimpa
Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyat jelata”

Suatu ketika tersiarlah kabar bahwa orang-orang Qurasy telah beriman dan menganut agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dengan hati riang dan gembira, bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke Mekah. Mereka sungguh telah merindukan kampung halamannya.

Akan tetapi, baru saja mereka sampai di dekat kota, ternyata berita tentang masuknya kaum Quraisy telah beriman hanyalah berita bohong belaka. Mereka benar-benar merasa terpukul dengan kejadian dan tipuan ini. Betapa tidak, untuk pergi lagi perjalanan mereka sudah terlanjur sampai dekat kota Mekah. Sementara itu, orang-orang musyrik di kota Mekah telah mendengar datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar. Perangkap-perangkap pun mereka siapkan. Takdir telah menentukannya, datanglah barisan kaum Muslimin ke tampat itu.

Untungnya, nasib baik masih menyertai Utsman bin Mazh’un sebagai pemimpin rombongan kala itu. Perlindungan ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi Arab yang memiliki kekudusan dan sangat dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan salah seorang pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh, hingga darahnya tidak boleh ditumpahkan. Hanya sebagian kecil yang dapat masuk memperoleh perlindungan itu. Termasuk di antaranya adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah. Ia pun selamat hingga masuk ke kota Mekah.

Di tengah keberadaan kaum Muslimin di Mekah yang dilanda kecemasan dan ketakutan karena perlakuan orang-orang musyrik, Utsman bin Mazh’un, seorang yang telah ditempa Al-Qur’an dan didikan langsung dari Rasulullah saw, merasa prihatin dan dalam dirinya timbul perasaan berontak menyikapi keadaan itu. Utsman bin Mazh’un keluar dari rumah perlindungannya dengan tekad dan niat yang bulat.

Mari kita dengarkan cerita dari saksi mata yang melukiskan kejadian peristiwa itu!

“Ketika Utsman bin Mazh’un menyaksikan penderitaan yang dialami oleh para sahabat Rasulullah saw, sementara ia sendiri pulang pergi dengan aman dan tenteram disebabkan perlindungan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku ….’

“Lalu ia pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan Anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan Anda.’ ‘Mengapa, wahai keponakanku?’ ujar Walid. ‘Mungkin ada salah seorang anak buahku yang mengganggumu?’ ‘Tidak,’ ujar Utsman bin Mazh’un. ‘Hanya, saya ingin berlindung kepada Allah, dan tidak suka lagi kepada lain-Nya. Karenanya, pergilah Anda ke masjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti Anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku!”

“Lalu, pergilah mereka berdua ke masjid, maka kata Walid, ‘Utsman ini datang untuk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya.’ Ulas Utsman, ‘Betullah kiranya apa yang dikatakan itu …, ternyata ia seorang yang memegang teguh janjinya …, hanya keinginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta’ala.”

Setelah itu, Utsman bin Mazh’un pun berlalulah, sementara di salah satu gedung pertemuan kaum Quraisy, Lubaid bin Rabi’ah menggubah sebuah syair dan melagukannya di hadapan mereka, hingga Utsman bin Mazh’un menjadi tertarik karenanya dan ikut duduk bersama mereka. Kata Lubaid:

“Ingatlah bahwa apa juga yang terdapat di bawah kolong ini selain dari Allah adalah hampa.” “Benar, ucapan Anda itu,” kata Utsman bin Mazh’un menanggapinya. Kata Lubaid lagi, “Dan semua kesenangan, tak dapat tiada lenyap dan sirna.” “Itu dusta!” kata Utsman, “Karena kesenangan surga takkan lenyap.” Kata Lubaid:

“Hai orang-orang Qurasy! Demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagaimana sikap kalian kalau ini terjadi?” Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Si tolol ini telah meninggalkan agama kita, jadi tidak usah digubris, apa ucapannya!”

Utsman bin Mazh’un membalas ucapannya itu hingga di antara mereka terjadi pertengkaran. Dengan perasaan marah, orang itu tiba-tiba bangkit mendekati Utsman lalu meninjunya hingga tepat mengenai matanya, sementara Walid bin Mughirah masih berada di dekat itu dan menyaksikan apa yang terjadi. Maka katanya kepada Utsman, “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh!” Ujar Utsman, “Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syams, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu.” “Ayuhlah Utsman,” kata Walid pula, “Jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku!” “Terima kasih,” ujar Ibnu Mazh’un menolak tawaran itu. Ibnu Mazh’un kemudian meninggalkan tempat itu; Utsman pun pergi. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, dengan hati gembira, ia mendendangkan pantun:

“Andaikata dalam mencintai ridla Ilahi
Mataku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridhai-Nya pasti berbahagia
Hai ummat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku ‘kan tetap dalam agama Rasul, Muhammad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan agama yang haq
walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena.”

Utsman bin Mazh’un telah memperlihatkan kepada kita suatu teladan yang menunjukan pribadi utama yang harum semerbak disebabkan pendiriannya yang luar biasa.

Setelah tidak mendapatkan perlindungan dari Walid, Utsman bin Mazh’un mulai mendapat siksaan dari orang-orang Quraisy. Akan tetapi, karena ketabahan dan kekuatan jiwanya, penderitaannya dirasakan dengan ikhlas dan bahagia.

Suatu ketika Utsman bin Mazh’un hijrah pula ke Madinah, hingga tidak diusik lagi oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya. Ia berangkat ke Madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama yang dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka telah lulus dalam ujian yang telah mencapai puncak kesulitan dan kesukarannya.

Di Madinah, tempat hijrahnya yang baru itu, Utsman bin Mazh’un sangat tekun dan rajin beribadah: malam harinya bagai rahib dengan ibadah shalat dan dzikirnya; siang harinya bagai pahlawan dengan berjuang membela kebenaran. Dengan ketabahan dalam zuhud dan ketekunan dalam ibadahnya, ia mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupannya, baik siang maupun malam dialihnya menjadi shalat yang terus-menerus dan tasbih yang tiada henti-hentinya. Rupanya ia telah memperoleh dan merasakan kemanisan beribdah kepada Allah SWT.

Dengan berpakaian usang yang telah sobek-sobek; yang ditambalnya dengan kulit unta, suatu hari ia masuk masjid, sementara Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Rasulullah saw kemudian bertanya kepada para sahabatnya:

“Bagaimana pendapat Kalian, bila Kalian punya pakaian satu stel untuk pakaian pagi dan sore hari diganti dengan stelan lainnya … kemudian disiapkan di depan kalian suatu perangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya yang telah diangkat … serta kalian dapat menutupi rumah-rumah kediaman kalian sebagaimana Ka’bah bertutup ….?”

“Kami ingin hal itu dapat terjadi, wahai Rasulullah,” ujar mereka, “… hingga kita dapat mengalami hidup makmur dan bahagia!” Maka sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya hal itu telah terjadi, kemudian Kalian sekarang ini lebih baik dari keadaan Kalian waktu lalu.”

Meskipun Utsman bin Mazh’un ikut mendengarkan percakapan itu, ia tidak terpengaruh dengan jawaban para sahabat yang mengharapkan berbagai kecukupan. Ia tetap menjalani hidup dengan bersahaja dan menghindari sejauh-jauhnya kesenangan dunia, sampai-sampai kepada urusan menggauli isterinya hendak menahan diri. Rasulullah pun memanggil dan menyampaikan kepadanya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu.”

Utsman bin Mazh’un amat dicintai oleh Rasulullah saw. Tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat menuju tempat tujuannya, Rasulullah berada di sisinya. Beliau saw membungkuk dan mencium keningnya, seraya membasahi kedua pipinya dengan derai air mata. Wajah Utsman bin Mazh’un tampak bersinar gilang-gemilang saat kematiannya. Ia seorang Muhajirin yang kali pertama wafat di Madinah; juga yang pertama kali dimakamkan di Baqi’.

Bersabdalah Rasulullah saw melepas sahabatnya yang tercinta itu:
“Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib….
Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang kamu peroleh daripadanya, serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu.”

Sepeninggal sahabatnya itu, Rasulullah tidak melupakannya. Ketika melepas puterinya, Rukayah; ketika nyawanya hendak melayang, Beliau pun berkata:

“Pergilah susul pendahulu kita yang pilihan, Utsman bin Mazh’un!”


Orang-orang kafir Quraiys amat gusar mendengar hijrahnya beberapa kaum muslimin ke negeri Habasyah. Mereka mengutus Amr ibnul ‘Ash dan Abdullah ibnu Abdi Rabi’ah untuk membujuk Raja Habasyah agar mau mengusir kaum muslimin dari negerinya. Namun, sang Raja menolaknya. Ia tetap melindungi kaum muslimin Makkah.

rang-orang  Quraiys tak kurang akal. Beberapa waktu berselang, mereka mengabarkan kepada kaum muslimin yang hijrah, bahwa tokoh-tokoh Quraisy sudah masuk Islam. Sehingga jika mereka kembali, mereka tak lagi mengalami siksaan.

Kaum muslimin di negeri Habasyah menyambut gembira kabar ini. Mereka sudah rindu kampung halaman, dan ingin segera bertemu Rasulullah. Mereka pun segera kembali ke Makkah.

Alangkah terkejutnya mereka. Sesampai di Makkah, orang-orang kafir menangkap mereka dan menyiksa mereka. Hanya satu orang yang tak diusik. Dia adalah Utsman bin Mazh’un. Orang-orang kafir Quraisy tak berani menangkapnya, karena pamannya, Walid bin Mughirah, yang juga salah satu tokoh Quraisy telah memberikan jaminan keamanan baginya. Utsman pun selamat.

Bukannya senang dengan perlindungan ini, Utsman bin Mazh’un justru merasa sedih. Ia sedih menyaksikan saudara-saudaranya seiman mengalami penderitaan dan penyiksaan. Hatinya berontak. Ia lantas menghadap sang paman, Walid bin Mughirah yang memberikan jaminan keamanan.

“Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari Allah. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang.

Sang paman tak menyangka, kemenakannya akan mengatakan hal ini. Tapi ia tak mampu menolaknya. Walid lantas mengumumkan kepada warga Makkah, bahwa ia telah melepaskan perlindungan atas Utsman bin Mazh’un.

Mendengar pengumuman ini, kaum Quraisy bergegas mendatangi Utsman dan mulai menyiksanya. Utsman menerimanya dengan lapang dada. Ia bangga karena kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia menikmati siksaan demi siksaan itu dengan kesabaran. Baginya, lebih baik berlindung kepada Allah daripada mendapat perlindungan manusia.

Sebenarnya sang paman bersedia memberikan perlindungan lagi, agar Utsman tak lagi disiksa. Tapi, Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.”

Dan kesabaran Utsman berbuah manis. Setelah berbagai siksaan dan pukulan diterimanya dengan tabah, ia pun memenuhi perintah Rasulullah untuk berangkat hijrah ke Madinah besama kaum muslimin lainnya.

Di Madinah, umat Islam dapat beribadah dengan tenang. Mereka bisa mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah tanpa rasa takut dan khawatir. Utsman bin Mazh’un pun menjadi sahabat yang cukup ternama. Utsman adalah orang yang ahli ibadah dan seorang zahid, waktunya habis untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sepanjang siang dan malam ia habiskan waktu untuk shalat, membaca Al-Quran, dan puasa.

Tokoh yang satu ini termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, yakni pada urutan yang keempatbelas. Baliau termasuk orang yang pertama juga dari kaumMuhajirin yang hijrah ke Madinah dan sekaligus menjadi orang pertama yang wafat di Medinah, karenanya menjadi yang pertama pula dari ummat Islam yang dikuburkan diBaqi.

Beliau dikenal sebagai orang yang suci dan punya kepribadian dan hati yang suci dalam beribadah kepada Allah SWT. Beliau suci bukan karena mengucilkan diri (‘Uzlah) jauh dari kehidupan yang bisa mengantarkan orang kepada kesesatan, tapi suci di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jahil. Corak kehidupannya sangat berbeda dengan konsep hidup kaum sufi pada umumnya yang sebagian mereka berpendapat atau memiliki prinsip “Uzlah” untuk mengambil sikap mengasingkan diri dari kelompok masyarakatnya yang tidak sejalan dengan prinsip hidup seorang mu’min

.

     Paling tidak, ada “dua” pola pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh umumnya orang Islam dan kelompok Sufi. Keduanya tentu saja sama-sama hidup di jalan Allah, namun dengan “Manhaj”(Metoda) yang agak berbeda dalam mengartikan “Uzlah”. Di mana yang satu mengartikannya dengan mengasingkan diri, atau hijrah dari sebuah kondisi masyarakat yang tidak kondusif untuk berkembangnya keimanan dan kesholehan seseorang. Namun, sementara yang lain tidak sependapat dengan pemaknaan “Uzlah” seperti itu
.
     Yang paling menonjol dari diri Utsman bin Mazh’un adalah “Mujahadah”nya, yakni upaya yang sungguh-sungguh untuk hidup di jalan Allah dengan melakukan semua yang dicintai Allah dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya dan untuk itu beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat, sebaliknya beliau senantiasa siap menghadapi segala resiko yang terjadi termasuk siap menghadapi siksaan yang sudah biasa dihadapi oleh orang-orang yang baru masuk Islam. Kala itu beliau hadapi segala macam siksaan dengan kesabaran dan tidak pernah berniat sedikit pun untuk lari dari kondisi yang dialaminya
.
     Beliau baru mau berhijrah ke Habsy setelah Rasulullah Saw memerintahkan Utsman dan para sahabat yang lain meninggalkan Mekah yang sangat tidak kondusif bagi orang-orang mu’min saat itu. Mereka pun berhijrah lalu menemukan lingkungan di Habsyi yang membuat mereka merasa aman dan nyaman serta bisa meninggalkan lingkungan para penyembah berhala yang telah membuat mereka “muak” melihatnya. Di Habsyi mereka hidup di lingkungan orang-orang Nasrani. Kedatangan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang Nasrani untuk mendakwahi dengan maksud agar orang-orang muslim masuk dalam keyakinan mereka. Para sahabat yang hijrah ke Habsyi di bawah pimpinan Utsman bin Mazh’un, tidak mungkin mengikuti ajakan mereka lari dari satu kekufuran lalu masuk ke dalam kekufuran yang lain, keluar dari kesesatan yang satu lalu masuk ke dalam kesesatan yang lain. Karena mereka yakin, “Hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar” (QS. Ali Imran, 3:19;85)
.
     Ketika mereka sedang menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman dalam beribadah dan mempelajari Al Qur’an, tiba-tiba muncul berita bahwa di Mekah, orang orang Quraisy dan para tokohnya telah masuk Islam. Berita yang cukup menggembirakan ini menjadikan mereka ingin sekali segera kembali ke Mekah dan mereka pun segera bersiap-siap. Namun, pada saat akan memasuki Mekah, arulah mereka menyadari, bahwa berita tersebut hanya fitnah dan tipu daya belaka sehingga membuat Utsman dan para sahabat betul-betul merasa terpukul atas kecerobohan mereka yang tidak menyelidiki dulu kebenaran berita tersebut. Padahal, mereka saat itu sudah berada di pintu masuk kota Mekah. Sementara itu orang-orang musyirikin yang mendengar akan kehadiran mereka yang dianggap “buronan” menyambut berita tersebut dengan suka cita. Bagi orang-orang musyirikin, Utsman dan para sahabat yang mau menegakkan kebenaran dianggap “buronan”
.
     Di masyarakat Arab Jahilliyyah saat itu berlaku sistim perlindungan, di mana setiap orang bisa mencari pelindung yang tentu saja dari tokoh Quraisy yang disegani. Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, Utsman dan para sahabat berupaya mencari perlindungan. Namun tidak semuanya berhasil. Salah satu yang berhasil adalah Utsman bin Mazh’un yang mendapat perlindungan dari Walid bin Mughirah, seorang tokoh musyirikin Quraisy yang disegani. Karena mendapat perlindungan dari Walid, maka Utsman bin Mazh’un bebas masuk ke Mekah dengan tenang, tidak ada yang berani mengganggu karena Walid sudah mengumumkan di depan masjid bahwa Utsman ada dalam perlindungannya
.
Mendapat perlindungan dari Walid sebenarnya hati Utsman kemudian menjadi sangat tidak tenang, pada saat beliau melihat saudara-saudaranya yang miskin dan lemah tidak menemukan orang untuk melindungi mereka, sehingga mereka harus menerima siksaan yang tidak tertahankan. Melihat saudara-saudaranya hidup dalam penderitaan, batin Utsman bin Mazh’un tidak rela. Akhirnya beliau memutuskan menemui Walid bin Muqhirah untuk menyatakan keinginannya melepaskan diri
.
Kisahnya dapat diikuti sebagaimana diriwayatkan oleh seorang sahabat: “Ketika Utsman bin Mazh’un melihat beberapa sahabat Rasul mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, sementara ia aman dalam perlindungan Walid bin Mughirah, lalu ia berkata dalam hatinya, Demi Allah, sesungguhnya saat ini aku sedang berlindung kepada musuh Allah, sementara sahabat-sahabatku merasakan berbagai azab dan siksaan, maka ia pun segera menemui Walid bin Mughirah dan berkata: “Wahai Abu Abdi Syams (Walid), bebaskan aku dari perlindunganmu! Berkata Walid: Kenapa wahai anak pamanku? Sementara orang lain susah mencari pelindung kau malah minta dibebaskan dari perlindunganku, jika kulepaskan maka boleh jadi kau akan disiksa oleh kaumku. Jawab Utsman: “Tidak, aku lebih suka ada di dalam perlindungan Allah. Pergilah kau ke depan masjid umumkanlah bahwa kau sudah tidak lagi melindungi aku sebagaimana kau dulu mengumumkan perlindungan terhadapku. Lalumereka berdua pun pergi ke halaman masjid. Walid berkata, ini adalah Utsman, dia datang menemuiku untuk membebaskan dirinya dari perlindunganku. Utsman menanggapi pernyataan Walid dengan menyatakan: “Benar yang diucapkan Walid. Dia betul orang yang selama ini bertanggung jawab melindungiku, tetapi aku lebih suka untuk dilindungi oleh Allah dan aku tidak pernah sudi lagi untuk dilindungi oleh orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT
.
Dapat kitaambil pelajaran bahwa Utsman sempat mengambil langkah yang kurang tepat, karena sesungguhnya yang tepat sebagai pelindung hanyalah Allah SWT. Karenanya ketika turun ayat 255 surah Al Baqarah, Rasul Saw segera memerintahkan kepada para sahabat yang selama ini menjadi pengawal Rasul: “Wahai saudara-saudaraku, pergilah kalian sekarang jangan lagi kalian mengawalku karena sudah ada yang mengawalku, Allah SWT”
.
Usai proses pelepasan perlindungan dari Walid, beliau menghadiri sebuah majelis orang-orang Quraisy yang sedang dipimpin oleh Lubaid bin Rabi’ah. Di dalam majelis tersebut, Lubaid bin Rabi’ah berkata: “Bukankah segala sesuatu selain Allah itu adalah hampa tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah?”. Kata Utsman:”Benar, apa yang kau katakan wahai Lubaid. Kata Lubaid pula: “Bukankah setiap kenikmatan suatu saat akan sirna”. Utsman menimpali pernyataan Lubaid:”Bohong, nikmat syurga tidak akan pernah sirna selama-lamanya, semua kenikmatandunia benar akan sirna tapi ada kenikmatan syurga yang tidak kalian yakini, tidak akan sirna selama-lamanya. Lubaid merasa terpotong dan terhina dengan ungkapan tersebut, padahal ia seorang tokoh Quraisy yang disegani. Lalu ia mengatakan: “Wahai kaum Quraisy, demi tuhan pernahkah kalian meliha seseorang menghinaku dalam majelis seperti ini?”. Salah seorang yang hadir di dalam majelis mengatkan:”Orang yang baru bicara ini adalah orang tolol yng baru saja meninggalkan agama nenek moyang kita, maka jangan digubris ucapannya”
.
Sejarah berulang, setiap orang yang akan kembali menegakkan ajaran Allah disebut tolol, bodoh atau idiot oleh orang-orangsesat. Padahal, yang bodoh menurut Allah adalah mereka yang tersirat dan tersurat dalam ayat 179 surah Al A’raaf, yang diantaranya adalah mereka yang memiliki akal namun tidak dipergunakan untuk berfikir di jalan Allah SWT. Utsman bin Mamh’un, menanggapi pernyataan orang tersebut sehingga terjadilah perang mulut di antara mereka, yang bersangkutan lalu berdiri dan memukul salah satu mata Utsman
.
Melihat kejadian tersebut, Walid bin Mughirah berkata :”demi tuhan wahai keponakanku, jika matamu itu kebal, kau pantas untuk melepaskan tanggungan dariku, tapi kau sudah melepaskan tanggungan itu maka aku tidak akan membelamu. Utsman berkata: “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang satu lagi sangat membutuhkan apa yang dialami oleh mataku yang sebelah  karena dianiaya di jalan Allah. Walid berkata: “Jika kau mau, aku masih siap untuk menjadi pelindungmu. Jawab Utsman: “Tidak, tidak untuk selama-lamanya!”
.
Pergilah Utsman dengan sebelah matanya yang sakit, tetapi ia begitu luar biasa terbebas jiwanya karena ia sekarang sedang berlindung kepada Allah SWT. Suatu ketika, Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Medinah dan termasuklah diataranya Utsman. Di Medinah mereka bisa merasakan kekhusyuan beribadah dan kembali kesucian pribadi Utsman nampak kembali tergambar dalam hidup kesehariannya. Ia menjadi “Rahib” (orang suci) yang menghabiskan malamnya untuk beribadah dan siangnya bekerja keras, lalu terkadang malam dan siang dipakai untuk beribadah atau malam dan siang untuk berjuang termasuk berperang menghadapi orang-orang musyirikin.
utsman punya keistimewaan tersendiri dalam ber-“Zuhud”, hidupnya benar-benar-benar jauh dari kenikmatan dunia, beliau lebih suka memakai pakaian yang kasar dan tidak mengganti pakaian dan beliau tidak makan, kecuali makanan yang sangat sederhana. Pada suatu saat beliau masuk ke dalam masjid yang saat itu Rasul dan para sahabat sedang duduk-duduk, beliau masuk dengan memakai pakaian yang sangat tidak layak dipakai, melihat kondisi beliau, Rasul pun tersentuh hatinya, sementara para sahabat yang menyaksikan malah mengalirkan air mata. Beliau beribadah ternyata bukan hanya dengan meninggalkan kenikmatan dunia dalam arti makan, minum dan berpakaian, tapi pernah juga berniat untuk menjauhi istrinya. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, maka Rasul mun menegur beliau dengan mengatakan: “Istrimu punya hak darimu”
.
Keinginan beliau senantiasa ber-“Mujahadah” inilah yang membuat Rasul sangat mencintai beliau. Karena ketika ruhnya yang suci hendak meninggalkan jasad menuju ke hadirat Allah SWT, Rasul pun berada disampingnya mendampingi sampai akhir hayatnya. Dan ketika utsman bin Mazh’un akhirnya meninggalkan alam dunia ini, Rasul menundukkan kepalanya dan mencium kening memenuhi wajah Utsman dengan air mata. Dengan iringan doa beliau; “Semoga Allah merahmatimu, wahai Utsman, kau tinggalkan alam dunia ini tidak pernah kau ambil sedikitpun keuntungan darinya, dan dunia pun tidak pernah dirugikan oleh sebab kehadiranmu”
.
Rasul tidak pernah melupakan orang yang sangat dicintainya, sepeninggal Utsman beliau selalu ingat dan memujinya di depan para sahabt, sehingga diriwayatkan saat putri Rasul, Rukayah akan meninggal dunia, Rasul berkata kepada putrinya:”Temuilah segera di alam barzah (Utsman bin Mazh’un) orang yang sangat baik dan mulia di sisi Allah SWT”
.
Seandainya anda hendak bermaksud menyusun daftar nama-nama sahabat yang Rasulullah saw. menurut urutan masa masuknya kedalam agama islam, maka pada urutan ke empat belas tentulah anda akan tempatkan Utsman bin Mazh’un.Tatkala agama islam cahayanya mulai menyinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikanya dari beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, maka Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa segelincir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri dari sekelompok Rasulullah.Seperti biasanya pengikut Rasulullah selalu diterpa berbagai derita dan siksaan pada saat itu.Rasulullah saw. mengutamakan keselamatan golongan kecil dari orang beriman dan teraniaya ini, dengan jalan menyuruh mereka berhijrah ke Habsyi. Dan Utsman bin Mazh’un terpilih sebagai pemimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini. dengan putranya yang bernama Saib, dilangkahkanya kaki ke suatu negeri yang jauh menghindar dari tiap daya musuh Rasulullah dari Abu Jahal dan orang Quraisy.Dan ketika mereka berada di Habsyi, di sana mereka menghadapi suatu agama yang teratur dan tersebar luas, mempunyai gereja-gereja, rahib-rahib dan para pendeta. Dan tentulah orang-orang gereja di negeri Habsyi itu telah berusaha sekuat daya untuk menarik orang-orang Muhajirin kedalam agama mereka, dan meyakinkan kebenaran agama Masehi. Tetapi para kaum Muhajirin tidak ada yang beranjak dari kecintaan mereka yang mendalam terhadap agama islam dan terhadap Muhammad Rasulullah.Demikianlah kaum Muhajirin tinggal di Habsyi dalam keadaan aman dan tentram. Mereka senantiasa beribadan kepada Allah dengan tekun dan mempelajari ayat-ayat al-Quran yang ada pada mereka. Tiba-tiba sampailah berita kepada mereka bahwa orang-orang Quraisy telah menganut agama islam dan mengikuti Rasulullah bersujud kepada Allah.Maka bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemas barang-barang mereka, dan bagaikan terbang mereka berangkat ke Makah dibawa kerinduan dan didorong kecintaan pada kampung halaman. Tetapi baru saja mereka sampai di kota, ternyata  masuknya orang-orang Quraisy itu hanya dusta belaka.Ketika itu mereka amat terpukul karena telah berlaku ceroboh dan amat tergesa-gesa. Tetapi betapa mereka akan kembali, padahal kota mereka telah berada di hadapan mereka. Dalam keadaan itu orang-orang musyrik di kota mekah telah mendengar  datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar dan pasang perangkap untuk menangkapnya.Perlindungan, ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi arab yang memiliki kekudusan dan dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh. Diantaranya yang termasuk mendapat perlindungan adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah.Dalam keadaan itu, ia melihat saudara-saudara yang lain mendapat siksaan oleh kaum Quraisy yang keji, maka hatinya bergejolak, maka ia bermaksud untuk menanggalkan perlindunganya.

Ia pun berkata kepada Walid bin Mughirah:

“wahai Abu Abdi Syam, cukup sudah perlindungan anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan anda.”

“kenapa wahai keponakanku?” ujar Walid, “mungkin ada seseorang anak buahku yang mengganggumu?”

“tidak” jawab Utsman, ‘hanya saya ingin berlindung kepada Allah’.

Maka Utsman pergi ke masjid dan mengumumkan penanggalan perlindunganya.

Disana Utsman mendapatkan tinjuan tepat mengenai mata. Berkatalah Walid

“wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa maka sungguh, benteng perlindunganmu sangat tangguh”.

Ujar Utsman “tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat pula membutuhkan pukulan yang telah dialami saudaranya dijalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syamas, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu dari padamu.”


Dan setelah ditanggalkanya perlindungan dari Walid, maka Utsman menemui siksaan dari orang-orang Quraisy. Tetapi dengan begitu ia tidak merana, malah bahagia.

Utsman melakukan hijrah ke madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka. Dan di kota hijrah Madinah al-Munawwarah itu bersingkaplah kepribadian dari Utsman bin Mazh’un tak ubah bagai batu permata yang telah diasah dan kebesaran hatinya yang istimewa. Ia memiliki ciri khas dalam zuhud dan ibadahnya. Ia amat tekun dan mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupanya baik siang maupun malam dialihkanya menjadi sholat  yang terus menerus dan tasbih yang tiada henti.

Rupanya ia telah merasakan manisnya keasyikan beribadah itu, iapun hendak memutuskan hubungan dengan segala kesenangan dan kemewahan dunia. Ia tak hendak memakai pakaiaan kecuali yang kasar dan tak hendak memakan makanan selain yang amat bersahaja.,

Ibnu Mazh’un amat disayangi oleh rasulullah saw dan tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat, hingga demikian ia merupakan orang Muhajirin yang pertama wafat di Madinah, dan yang mula-mula merintis jalan menuju surga, maka Rasulullah saw. berada disisinya.

Rasulullah saw. membungkuk, mencium kening Ibnu Mazh’un serta membasahi kedua pipinya dengan air yang berderai dari kedua mata beliau yang diliputi santun dan duka cita hingga saat kematiannya.

Dan bersabdah Rasulullah saw. melepas sahabat yang tercinta itu:

“semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu Saib. Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satupun keuntungan yang kamu peroleh dari padanya serta tak satu kerugianpun yang dideritanya daripada mu.”

Dan sepeninggalan sahabatnya, Rasulullah yang amat penyantun itu tidak pernah melupakanya, selalu ingat dan memujinya. Bahkan untuk melepas putri beliau Rukayah, yakni ketika nyawanya hendak melayang, adalah kata-kata berikut:

“pergilah susul pendahulu kita yang pilihan. Utsman bin Mazh’un”

sahabat Nabi SAW yang dipuji Al Quran dan diakui syi’ah : Utsman bin Mazh’un

Q.S. Al-Muzzammil ayat 20

bismillah
Artinya :
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penjelasan Syi’ah : 

Ayat ini turun berkaitan dengan Utsman bin Mazh’un. Beliau termasuk pada “segolongan/tahifah dalam Qs. Al Muzammil ayat 20

Aisyah bertutur : “Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, shalat malam, terus menerus”. Aku ceritakan hal itu kepada Nabi SAW. Rasulullah menemui Utsman dan berkata , “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh  ? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum hukumnya”

.

Q.S. Al- Maidah ayat 93

laysa ‘alaa alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu idzaa maa ittaqaw waaamanuu wa’amiluu alshshaalihaati tsumma ittaqaw waaamanuu tsumma ittaqaw wa-ahsanuu waallaahu yuhibbu almuhsiniina
.
93. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Penjelasan Syi’ah : Menurut Ibn ‘Abd Al Birr, sehubungan dengan perilaku Utsman dan sahabat sahabat yang ingin terus menerus beribadah maka turunlah Qs. Al Maidah ayat 93 (Al Isti’ab 3:186).

bismillahUtsman bin Maz`un (wafat 2 H/624 M) (Bahasa Arab عثمان بن مظعون) adalah salah satu sahabat nabi. Ia termasuk cendekiawan Arab di zaman jahiliyah, sempat mengikuti Perang Badardan meninggal dunia sekembalinya dari perang tersebut. Sepeninggal Utsman, Muhammad menciumnya sambil mengalirkan air mata. Utsman inilah sahabat pertama yang meninggal diMadinah.

Utsman inilah yang pernah berniat membujang dan meninggalkan keduniawian, akan tetapi Muhammad melarangnya dari niat tersebut. Kemudian Utsman bin Mazh’un menikah denganKhawlah binti Hakim.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (1)

REFORMASI Agung kedua yang dilakukan Rasulullah adalah dengan mengubah kesetiaan kepada kelompok menjadi kesetiaan kepada Islam. Sekarang saya ingin memberikan contoh keberhasilan reformasi kedua itu melalui kehidupan beberapa sahabat yang lulus dari Madrasah Rasulullah saw. Tidak semua sahabat lulus dari Madrasah Rasulullah. Ada juga sahabat yang diskors selama tiga bulan dan semua sahabat-sahabat Nabi yang lain dilarang berbicara dengan dia. Sampai sahabat Nabi itu kemudian lari ke gunung, bertaubat siang dan malam.

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw, anehnya, banyak yang tidak kita kenal. Salah seorang tokoh yang tidak begitu kita kenal adalah Utsman bin Mazh’un, dia dikuburkan di Baqi. Bapaknya adalah Mazh’un bin Wahab bin Hudzafah bin Jumuh Al-Quraisyi. Sedangkan Ibunya ialah Suhailah binti Al-Anbas bin Ahban bin Khudzafah bin Jumuh.

Utsman masuk Islam beserta seluruh keluarganya. Dia adalah orang ketigabelas yang masuk Islam. Dia sangat rajin beribadah. Ia pun hijrah dua kali ke Habsyi. Dia ikut berperang di Badar bersama Rasulullah saw. Dia meninggal dua setengah tahun setelah Hijrah. Nabi menguburkannya di Baqi dan memberi tanda di kuburan Utsman dengan batu. Nabi sering menziarahi kuburannya. Hal ini sekaligus merupakan dalil bahwa ziarah ke kubur itu ialah sunnah Rasulullah saw. Kelak, salah seorang putera Utsman syahid pada hari Yamanah, ketika kelompok Musailamah Al-Kadzab melakukan perlawanan.

Kesetiaan Utsman bin Mazh’un kepada Allah dan Rasul-Nya lebih tinggi daripada kesetiaannya kepada yang lain. Ketika orang-orang Islam dikejar-kejar dan dianiaya, Utsman hijrah ke Habsy beserta seluruh keluarganya. Seperti kita ketahui, ‘Amr bin ‘Ash menyusul ke Habsyi dan meminta Utsman supaya kembali lagi ke Mekkah. ‘Amr bin ‘Ash juga meminta kepada Raja Habsyi supaya tidak menerima umat Islam di negeri itu dan mengembalikannya ke Mekkah.

Ketika Utsman bin Mazh’un kembali dari Habsyi ke Mekkah, penindasan masih berlangsung. Orang-orang Islam masih disiksa dan dianiaya. Dia menghadapi ancaman terhadap dirinya dan keluarganya. Akhirnya dia mencari perlindungan kepada keluarga Al-Walid bin Mughirah, seorang penyair yang sejak dulu dekat dengan Utsman.

Pada awalnya, Utsman bin Mazh’un masuk Islam karena rasa malu. Rasulullah saw sering berdakwah kepadanya dan berulang kali mengajak Utsman bin Mazh’un masuk Islam. Utsman pernah berkata, “Aku ini masuk Islam karena malu saja. Rasulullah berulang kali mengajak aku untuk masuk Islam. Waktu itu Islam belum ada dalam hatiku. Sampai suatu hari aku sedang bersama Rasulullah, tiba-tiba Rasul memandang ke langit. Seakan-akan beliau sedang memahami sesuatu. Setelah Rasul merenung, aku bertanya kepada Rasul tentang apa yang terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Allah menyuruh kamu untuk berbuat baik dan memberikan hak kepada keluargamu. Dan Allah melarang kamu dari keburukan dan kemungkaran.” (QS Al-Nahl 90).

“Waktu itu, menetaplah Islam dalam hatiku. Itulah saatnya aku masuk Islam yang sungguh-sungguh, karena aku tersentuh oleh ayat yang indah itu. Lalu aku datangi paman Nabi, Abu Thalib, dan aku kabarkan ke-islamanku. Beliau memberi nasehat, “Ya Ahli Quraisy, ikuti Muhammad, nanti kamu mendapat petunjuk. Karena Muhammad tidak memerintah kecuali kepada akhlak yang mulia.”

“Kemudian aku datangi Walid bin Mughirah, aku bacakan ayat itu dan Mughirah pun terpesona. Dia berkata, “Sungguh dalam ayat-ayat itu ada kemanisan-nya. Di atasnya juga ada keindahannya. Pada puncaknya ada buahnya. Dan di bawahnya rimbun. Ini bukan ucapan manusia. Kalau itu ucapan Muhammad, alangkah bagusnya ucapan Muhammad itu. Dan kalau itu ucapan Tuhannya, alangkah bagusnya ucapan Tuhannya itu”.

Walid bin Mughirah memang dekat dengan Utsman bin Mazh’un, meskipun dia tidak masuk Islam. Malahan ia termasuk dedengkot kekufuran. Tapi kepada Walid bin Mughirah, Utsman bin Mazh’un berlindung. Dan Walid bin Mughirah melindungi dia. Sehingga dia tidak diganggu oleh orang-orang kafir. Sementara orang-orang Islam yang lain menderita, Utsman bin Mazh’un ber-senang-senang di bawah perlindungan Walid bin Mughirah.

Utsman berkata, “Demi Allah, pagi dan soreku tentram dalam perlindungan seseorang yang musyrik. Sedangkan sahabat-sahabatku dan teman seagamaku sekarang menderita barbagai bala dan kesulitan karena Allah. Itu semua tidak menimpaku. Sungguh keadaanku ini adalah sebuah kekurangan yang besar, sebuah aib besar untuk diriku.”

Kemudian Utsman bin Mazh’un datang menemui Walid bin Mughirah, “Wahai Abâ ‘Abdi Syam, sudah selesai sekarang perlindunganmu itu. Aku kembalikan perlindunganmu itu.” Walid menjawab, “Kenapa kau kembalikan perlindungan itu, hai anak saudaraku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?” “Tidak,” jawab Utsman, “bukan karena itu. Tapi aku ingin memilih perlindungan Allah dan aku tidak ingin meminta perlindungan kepada selain Dia.” Walid berkata, “Kalau begitu, berangkatlah kamu ke mesjid dan umumkan terang-terangan bahwa kamu sudah menolak perlindunganku.” Keduanya pun lalu berangkat ke mesjid. Di sana Walid meng-umumkan, “Ini Utsman, dia menolak perlindunganku.” Utsman mengatakan, “Benar apa yang dia katakan dan dia sudah melindungi aku dengan sebaik-baiknya. Tapi aku lebih senang untuk berlindung kepada Allah saja dan karena itu aku kembalikan perlindungan Walid.”

Pada waktu itu datang rombongan tokoh-tokoh Quraisy, salah seorang di antaranya ialah Walid bin Rabiah bin Malik bin Ja’far bin Kilab dari Bani Kilab yang juga duduk di situ. Lalu ada seorang yang bernama Lubaib dari Bani Kilab yang ketika mendengar Utsman bin Mazh’un telah melepaskan perlindungan Walid bin Mughirah, dia membacakan sebuah syair, “Sungguh segala sesuatu selain Allah itu akhirnya jadi bathil.” “Shadaqta. Kamu benar”, kata Utsman. Kemudian Lubaib meneruskan syairnya, “Semua nikmat akhirnya akan berakhir juga.” Maksud Lubaib, perlindungan Mughirah itu sekarang berakhir semua. Utsman berkata, “Kamu dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah berakhir.” Lalu Lubaib berteriak, “Hai Quraisy, lihatlah orang yang duduk bersama kalian ini! Dia termasuk orang-orang bodoh yang meninggalkan agama kita.” Utsman terus membantahnya, sampai Lubaib marah. Kemudian salah satu telinga dan mata Utsman dipukul, sehingga matanya lebam karena pukulan.

Walid bin Mughirah, yang dulu sebagai pelindung Utsman, berada di situ dan berkata, “Hai anak saudaraku, sekiranya mata kamu itu sehat, itu karena dulu kau berada pada perlindungan yang kokoh.” Walid bermaksud menyindir Utsman. Tapi Utsman berkata, “Demi Allah, mataku yang sehat ini sekarang iri dengan mata yang lain dalam membela agama Allah.” Utsman menantang untuk dipukul lagi. Walid berkata, “Mari ke sini, Hai anak saudaraku. Kalau engkau mau, aku akan melindungimu.” “Tidak,” kata Utsman.

Ketika matanya hampir pecah karena dipukul, dia kemudian melantunkan syair yang berisi pujian tentang matanya: “Jika mataku, karena mencari rido Tuhan, mendapat pukulan tangan mulhid, ateis sesat. Tuhan Maha Pengasih telah menggantinya dengan pahala. Siapa yang mendapat rido Rahman pasti bahagia.”

Utsman bin Mazh’un adalah contoh orang yang meninggalkan kesetian kepada kelompoknya karena kesetian kepada Allah. Dia meninggalkan tribalisme menuju Tauhidul Ummah, menuju Al-Ukhuwah Al-Islamiyyah, persaudaran Islam.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an turun berkenaan dengan Utsman bin Mazh’un. Utsman termasuk pada “segolongan” (thâifah) dalam ayat “Sesungguhnya Tuhanmu menge-tahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (Al-Muzammil 20). Menurut A’isyah: Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, salat malam, terus menerus.” Datang Nabi saw. aku sebutkan hal itu. Rasulullah saw menemui Utsman dan berkata: “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum-hukumnya.”

Menurut Ibn ‘Abd Al-Birr, sehubung-an dengan perilaku Utsman dan sahabat-sahabat yang ingin terus menerus ibadah, turun ayat Al-Maidah 93: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Isti’ab 3:186).

Rasulullah mengunjunginya ketika dia sakit. Ketika dia meninggal dunia, Rasulullah saw ikut menguburkan jenazah-nya. Rasulullah saw juga menangisi kepergian Utsman bin Mazh’un. Sejak zaman Jahiliyyah, Utsman bin Mazh’un memang berakhlak bagus, apalagi setelah dia masuk Islam. Nabi berkata, “Manusia itu seperti logam. Kalau di Zaman Jahiliyyah emas, setelah Islam pun emas juga.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan Utsman sebagai, “Orang yang paling banyak beribadah. Puasa di waktu siang hari dan shalat di malam hari. Dia menjauhi syahwat dan meninggalkan perempuan. Kemudian dia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk mengebiri dirinya tetapi Rasulullah melarangnya. Sejak Zaman Jahilliyah, dia tidak pernah minum khamar. Dia beralasan, “Aku tidak akan minum satu minuman yang menyebabkan akal pikiranku hilang”.

“Waktu Rasulullah saw ditinggalkan oleh putranya yang sangat dicintainya, yaitu Ibrahim yang meninggal di Madinah, Nabi mendampingkan kuburannya di samping kuburan Utsman bin Mazh’un. Beliau bersabda, “Kuburkan Ibrahim di dekat pendahulu kita yang saleh.”

Utsman bin Mazh’un

Utsman bin Mazh’un
.
Tatkala cahaya agama Islam mulai bersinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikannya di beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa gelintir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri ke dalam kelompok pengikut Rasulullah saw. Ia adalah di antara sahabat Nabi saw yang masuk Islam pada urutan keempat belas
.
Dalam kehidupannya, ia pun tidak luput dari ancaman kaum biadab golongan kuffar Qurasy yang tidak menyukai kedatangan dan keberadaan agama baru, Islam. Ia ditempa oleh berbagai derita dan siksa, sebagaimana dialami oleh orang-orang Mukmin lainnya, pengikut setia pembawa risalah baru yang lurus, Rasulullah saw.Ketika keselamatan golongan kecil dari orang-orang beriman dan teraniaya ini menjadi pilihan utama Rasulullah saw, dengan jalan menyuruhnya berhijrah ke Habsyi, maka dipilihlah seorang yang juga membawa puteranya bernama Saib, Utsman bin Mazh’un, memimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini.

Dalam perantauannya, Utsman bin Mazh’un tidak dapat melupakan rencana-rencana jahat mereka termasuk saudara sepupunya, Umayah bin Khalaf. Dihiburlah dirinya dengan menggubah sya’ir yang berisikan sindiran dan peringatan terhadap saudaranya itu, katanya:

“Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya
Kamu runcing ia setajam-tajamnya
Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia
Kamu celakan ornag-orang yang berwibawa
Ingatlah nanti saat bahaya datang menimpa
Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyat jelata”

Suatu ketika tersiarlah kabar bahwa orang-orang Qurasy telah beriman dan menganut agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dengan hati riang dan gembira, bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke Mekah. Mereka sungguh telah merindukan kampung halamannya.

Akan tetapi, baru saja mereka sampai di dekat kota, ternyata berita tentang masuknya kaum Quraisy telah beriman hanyalah berita bohong belaka. Mereka benar-benar merasa terpukul dengan kejadian dan tipuan ini. Betapa tidak, untuk pergi lagi perjalanan mereka sudah terlanjur sampai dekat kota Mekah. Sementara itu, orang-orang musyrik di kota Mekah telah mendengar datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar. Perangkap-perangkap pun mereka siapkan. Takdir telah menentukannya, datanglah barisan kaum Muslimin ke tampat itu.

Untungnya, nasib baik masih menyertai Utsman bin Mazh’un sebagai pemimpin rombongan kala itu. Perlindungan ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi Arab yang memiliki kekudusan dan sangat dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan salah seorang pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh, hingga darahnya tidak boleh ditumpahkan. Hanya sebagian kecil yang dapat masuk memperoleh perlindungan itu. Termasuk di antaranya adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah. Ia pun selamat hingga masuk ke kota Mekah.

Di tengah keberadaan kaum Muslimin di Mekah yang dilanda kecemasan dan ketakutan karena perlakuan orang-orang musyrik, Utsman bin Mazh’un, seorang yang telah ditempa Al-Qur’an dan didikan langsung dari Rasulullah saw, merasa prihatin dan dalam dirinya timbul perasaan berontak menyikapi keadaan itu. Utsman bin Mazh’un keluar dari rumah perlindungannya dengan tekad dan niat yang bulat.

Mari kita dengarkan cerita dari saksi mata yang melukiskan kejadian peristiwa itu!

“Ketika Utsman bin Mazh’un menyaksikan penderitaan yang dialami oleh para sahabat Rasulullah saw, sementara ia sendiri pulang pergi dengan aman dan tenteram disebabkan perlindungan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku ….’

“Lalu ia pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan Anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan Anda.’ ‘Mengapa, wahai keponakanku?’ ujar Walid. ‘Mungkin ada salah seorang anak buahku yang mengganggumu?’ ‘Tidak,’ ujar Utsman bin Mazh’un. ‘Hanya, saya ingin berlindung kepada Allah, dan tidak suka lagi kepada lain-Nya. Karenanya, pergilah Anda ke masjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti Anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku!”

“Lalu, pergilah mereka berdua ke masjid, maka kata Walid, ‘Utsman ini datang untuk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya.’ Ulas Utsman, ‘Betullah kiranya apa yang dikatakan itu …, ternyata ia seorang yang memegang teguh janjinya …, hanya keinginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta’ala.”

Setelah itu, Utsman bin Mazh’un pun berlalulah, sementara di salah satu gedung pertemuan kaum Quraisy, Lubaid bin Rabi’ah menggubah sebuah syair dan melagukannya di hadapan mereka, hingga Utsman bin Mazh’un menjadi tertarik karenanya dan ikut duduk bersama mereka. Kata Lubaid:

“Ingatlah bahwa apa juga yang terdapat di bawah kolong ini selain dari Allah adalah hampa.” “Benar, ucapan Anda itu,” kata Utsman bin Mazh’un menanggapinya. Kata Lubaid lagi, “Dan semua kesenangan, tak dapat tiada lenyap dan sirna.” “Itu dusta!” kata Utsman, “Karena kesenangan surga takkan lenyap.” Kata Lubaid:

“Hai orang-orang Qurasy! Demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagaimana sikap kalian kalau ini terjadi?” Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Si tolol ini telah meninggalkan agama kita, jadi tidak usah digubris, apa ucapannya!”

Utsman bin Mazh’un membalas ucapannya itu hingga di antara mereka terjadi pertengkaran. Dengan perasaan marah, orang itu tiba-tiba bangkit mendekati Utsman lalu meninjunya hingga tepat mengenai matanya, sementara Walid bin Mughirah masih berada di dekat itu dan menyaksikan apa yang terjadi. Maka katanya kepada Utsman, “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh!” Ujar Utsman, “Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syams, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu.” “Ayuhlah Utsman,” kata Walid pula, “Jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku!” “Terima kasih,” ujar Ibnu Mazh’un menolak tawaran itu. Ibnu Mazh’un kemudian meninggalkan tempat itu; Utsman pun pergi. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, dengan hati gembira, ia mendendangkan pantun:

“Andaikata dalam mencintai ridla Ilahi
Mataku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridhai-Nya pasti berbahagia
Hai ummat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku ‘kan tetap dalam agama Rasul, Muhammad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan agama yang haq
walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena.”

Utsman bin Mazh’un telah memperlihatkan kepada kita suatu teladan yang menunjukan pribadi utama yang harum semerbak disebabkan pendiriannya yang luar biasa.

Setelah tidak mendapatkan perlindungan dari Walid, Utsman bin Mazh’un mulai mendapat siksaan dari orang-orang Quraisy. Akan tetapi, karena ketabahan dan kekuatan jiwanya, penderitaannya dirasakan dengan ikhlas dan bahagia.

Suatu ketika Utsman bin Mazh’un hijrah pula ke Madinah, hingga tidak diusik lagi oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya. Ia berangkat ke Madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama yang dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka telah lulus dalam ujian yang telah mencapai puncak kesulitan dan kesukarannya.

Di Madinah, tempat hijrahnya yang baru itu, Utsman bin Mazh’un sangat tekun dan rajin beribadah: malam harinya bagai rahib dengan ibadah shalat dan dzikirnya; siang harinya bagai pahlawan dengan berjuang membela kebenaran. Dengan ketabahan dalam zuhud dan ketekunan dalam ibadahnya, ia mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupannya, baik siang maupun malam dialihnya menjadi shalat yang terus-menerus dan tasbih yang tiada henti-hentinya. Rupanya ia telah memperoleh dan merasakan kemanisan beribdah kepada Allah SWT.

Dengan berpakaian usang yang telah sobek-sobek; yang ditambalnya dengan kulit unta, suatu hari ia masuk masjid, sementara Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Rasulullah saw kemudian bertanya kepada para sahabatnya:

“Bagaimana pendapat Kalian, bila Kalian punya pakaian satu stel untuk pakaian pagi dan sore hari diganti dengan stelan lainnya … kemudian disiapkan di depan kalian suatu perangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya yang telah diangkat … serta kalian dapat menutupi rumah-rumah kediaman kalian sebagaimana Ka’bah bertutup ….?”

“Kami ingin hal itu dapat terjadi, wahai Rasulullah,” ujar mereka, “… hingga kita dapat mengalami hidup makmur dan bahagia!” Maka sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya hal itu telah terjadi, kemudian Kalian sekarang ini lebih baik dari keadaan Kalian waktu lalu.”

Meskipun Utsman bin Mazh’un ikut mendengarkan percakapan itu, ia tidak terpengaruh dengan jawaban para sahabat yang mengharapkan berbagai kecukupan. Ia tetap menjalani hidup dengan bersahaja dan menghindari sejauh-jauhnya kesenangan dunia, sampai-sampai kepada urusan menggauli isterinya hendak menahan diri. Rasulullah pun memanggil dan menyampaikan kepadanya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu.”

Utsman bin Mazh’un amat dicintai oleh Rasulullah saw. Tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat menuju tempat tujuannya, Rasulullah berada di sisinya. Beliau saw membungkuk dan mencium keningnya, seraya membasahi kedua pipinya dengan derai air mata. Wajah Utsman bin Mazh’un tampak bersinar gilang-gemilang saat kematiannya. Ia seorang Muhajirin yang kali pertama wafat di Madinah; juga yang pertama kali dimakamkan di Baqi’.

Bersabdalah Rasulullah saw melepas sahabatnya yang tercinta itu:
“Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib….
Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang kamu peroleh daripadanya, serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu.”

Sepeninggal sahabatnya itu, Rasulullah tidak melupakannya. Ketika melepas puterinya, Rukayah; ketika nyawanya hendak melayang, Beliau pun berkata:

“Pergilah susul pendahulu kita yang pilihan, Utsman bin Mazh’un!”


Orang-orang kafir Quraiys amat gusar mendengar hijrahnya beberapa kaum muslimin ke negeri Habasyah. Mereka mengutus Amr ibnul ‘Ash dan Abdullah ibnu Abdi Rabi’ah untuk membujuk Raja Habasyah agar mau mengusir kaum muslimin dari negerinya. Namun, sang Raja menolaknya. Ia tetap melindungi kaum muslimin Makkah.

rang-orang  Quraiys tak kurang akal. Beberapa waktu berselang, mereka mengabarkan kepada kaum muslimin yang hijrah, bahwa tokoh-tokoh Quraisy sudah masuk Islam. Sehingga jika mereka kembali, mereka tak lagi mengalami siksaan.

Kaum muslimin di negeri Habasyah menyambut gembira kabar ini. Mereka sudah rindu kampung halaman, dan ingin segera bertemu Rasulullah. Mereka pun segera kembali ke Makkah.

Alangkah terkejutnya mereka. Sesampai di Makkah, orang-orang kafir menangkap mereka dan menyiksa mereka. Hanya satu orang yang tak diusik. Dia adalah Utsman bin Mazh’un. Orang-orang kafir Quraisy tak berani menangkapnya, karena pamannya, Walid bin Mughirah, yang juga salah satu tokoh Quraisy telah memberikan jaminan keamanan baginya. Utsman pun selamat.

Bukannya senang dengan perlindungan ini, Utsman bin Mazh’un justru merasa sedih. Ia sedih menyaksikan saudara-saudaranya seiman mengalami penderitaan dan penyiksaan. Hatinya berontak. Ia lantas menghadap sang paman, Walid bin Mughirah yang memberikan jaminan keamanan.

“Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari Allah. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang.

Sang paman tak menyangka, kemenakannya akan mengatakan hal ini. Tapi ia tak mampu menolaknya. Walid lantas mengumumkan kepada warga Makkah, bahwa ia telah melepaskan perlindungan atas Utsman bin Mazh’un.

Mendengar pengumuman ini, kaum Quraisy bergegas mendatangi Utsman dan mulai menyiksanya. Utsman menerimanya dengan lapang dada. Ia bangga karena kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia menikmati siksaan demi siksaan itu dengan kesabaran. Baginya, lebih baik berlindung kepada Allah daripada mendapat perlindungan manusia.

Sebenarnya sang paman bersedia memberikan perlindungan lagi, agar Utsman tak lagi disiksa. Tapi, Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.”

Dan kesabaran Utsman berbuah manis. Setelah berbagai siksaan dan pukulan diterimanya dengan tabah, ia pun memenuhi perintah Rasulullah untuk berangkat hijrah ke Madinah besama kaum muslimin lainnya.

Di Madinah, umat Islam dapat beribadah dengan tenang. Mereka bisa mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah tanpa rasa takut dan khawatir. Utsman bin Mazh’un pun menjadi sahabat yang cukup ternama. Utsman adalah orang yang ahli ibadah dan seorang zahid, waktunya habis untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sepanjang siang dan malam ia habiskan waktu untuk shalat, membaca Al-Quran, dan puasa.

Tokoh yang satu ini termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, yakni pada urutan yang keempatbelas. Baliau termasuk orang yang pertama juga dari kaumMuhajirin yang hijrah ke Madinah dan sekaligus menjadi orang pertama yang wafat di Medinah, karenanya menjadi yang pertama pula dari ummat Islam yang dikuburkan diBaqi.

Beliau dikenal sebagai orang yang suci dan punya kepribadian dan hati yang suci dalam beribadah kepada Allah SWT. Beliau suci bukan karena mengucilkan diri (‘Uzlah) jauh dari kehidupan yang bisa mengantarkan orang kepada kesesatan, tapi suci di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jahil. Corak kehidupannya sangat berbeda dengan konsep hidup kaum sufi pada umumnya yang sebagian mereka berpendapat atau memiliki prinsip “Uzlah” untuk mengambil sikap mengasingkan diri dari kelompok masyarakatnya yang tidak sejalan dengan prinsip hidup seorang mu’min

.

     Paling tidak, ada “dua” pola pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh umumnya orang Islam dan kelompok Sufi. Keduanya tentu saja sama-sama hidup di jalan Allah, namun dengan “Manhaj”(Metoda) yang agak berbeda dalam mengartikan “Uzlah”. Di mana yang satu mengartikannya dengan mengasingkan diri, atau hijrah dari sebuah kondisi masyarakat yang tidak kondusif untuk berkembangnya keimanan dan kesholehan seseorang. Namun, sementara yang lain tidak sependapat dengan pemaknaan “Uzlah” seperti itu
.
     Yang paling menonjol dari diri Utsman bin Mazh’un adalah “Mujahadah”nya, yakni upaya yang sungguh-sungguh untuk hidup di jalan Allah dengan melakukan semua yang dicintai Allah dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya dan untuk itu beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat, sebaliknya beliau senantiasa siap menghadapi segala resiko yang terjadi termasuk siap menghadapi siksaan yang sudah biasa dihadapi oleh orang-orang yang baru masuk Islam. Kala itu beliau hadapi segala macam siksaan dengan kesabaran dan tidak pernah berniat sedikit pun untuk lari dari kondisi yang dialaminya
.
     Beliau baru mau berhijrah ke Habsy setelah Rasulullah Saw memerintahkan Utsman dan para sahabat yang lain meninggalkan Mekah yang sangat tidak kondusif bagi orang-orang mu’min saat itu. Mereka pun berhijrah lalu menemukan lingkungan di Habsyi yang membuat mereka merasa aman dan nyaman serta bisa meninggalkan lingkungan para penyembah berhala yang telah membuat mereka “muak” melihatnya. Di Habsyi mereka hidup di lingkungan orang-orang Nasrani. Kedatangan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang Nasrani untuk mendakwahi dengan maksud agar orang-orang muslim masuk dalam keyakinan mereka. Para sahabat yang hijrah ke Habsyi di bawah pimpinan Utsman bin Mazh’un, tidak mungkin mengikuti ajakan mereka lari dari satu kekufuran lalu masuk ke dalam kekufuran yang lain, keluar dari kesesatan yang satu lalu masuk ke dalam kesesatan yang lain. Karena mereka yakin, “Hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar” (QS. Ali Imran, 3:19;85)
.
     Ketika mereka sedang menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman dalam beribadah dan mempelajari Al Qur’an, tiba-tiba muncul berita bahwa di Mekah, orang orang Quraisy dan para tokohnya telah masuk Islam. Berita yang cukup menggembirakan ini menjadikan mereka ingin sekali segera kembali ke Mekah dan mereka pun segera bersiap-siap. Namun, pada saat akan memasuki Mekah, arulah mereka menyadari, bahwa berita tersebut hanya fitnah dan tipu daya belaka sehingga membuat Utsman dan para sahabat betul-betul merasa terpukul atas kecerobohan mereka yang tidak menyelidiki dulu kebenaran berita tersebut. Padahal, mereka saat itu sudah berada di pintu masuk kota Mekah. Sementara itu orang-orang musyirikin yang mendengar akan kehadiran mereka yang dianggap “buronan” menyambut berita tersebut dengan suka cita. Bagi orang-orang musyirikin, Utsman dan para sahabat yang mau menegakkan kebenaran dianggap “buronan”
.
     Di masyarakat Arab Jahilliyyah saat itu berlaku sistim perlindungan, di mana setiap orang bisa mencari pelindung yang tentu saja dari tokoh Quraisy yang disegani. Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, Utsman dan para sahabat berupaya mencari perlindungan. Namun tidak semuanya berhasil. Salah satu yang berhasil adalah Utsman bin Mazh’un yang mendapat perlindungan dari Walid bin Mughirah, seorang tokoh musyirikin Quraisy yang disegani. Karena mendapat perlindungan dari Walid, maka Utsman bin Mazh’un bebas masuk ke Mekah dengan tenang, tidak ada yang berani mengganggu karena Walid sudah mengumumkan di depan masjid bahwa Utsman ada dalam perlindungannya
.
Mendapat perlindungan dari Walid sebenarnya hati Utsman kemudian menjadi sangat tidak tenang, pada saat beliau melihat saudara-saudaranya yang miskin dan lemah tidak menemukan orang untuk melindungi mereka, sehingga mereka harus menerima siksaan yang tidak tertahankan. Melihat saudara-saudaranya hidup dalam penderitaan, batin Utsman bin Mazh’un tidak rela. Akhirnya beliau memutuskan menemui Walid bin Muqhirah untuk menyatakan keinginannya melepaskan diri
.
Kisahnya dapat diikuti sebagaimana diriwayatkan oleh seorang sahabat: “Ketika Utsman bin Mazh’un melihat beberapa sahabat Rasul mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, sementara ia aman dalam perlindungan Walid bin Mughirah, lalu ia berkata dalam hatinya, Demi Allah, sesungguhnya saat ini aku sedang berlindung kepada musuh Allah, sementara sahabat-sahabatku merasakan berbagai azab dan siksaan, maka ia pun segera menemui Walid bin Mughirah dan berkata: “Wahai Abu Abdi Syams (Walid), bebaskan aku dari perlindunganmu! Berkata Walid: Kenapa wahai anak pamanku? Sementara orang lain susah mencari pelindung kau malah minta dibebaskan dari perlindunganku, jika kulepaskan maka boleh jadi kau akan disiksa oleh kaumku. Jawab Utsman: “Tidak, aku lebih suka ada di dalam perlindungan Allah. Pergilah kau ke depan masjid umumkanlah bahwa kau sudah tidak lagi melindungi aku sebagaimana kau dulu mengumumkan perlindungan terhadapku. Lalumereka berdua pun pergi ke halaman masjid. Walid berkata, ini adalah Utsman, dia datang menemuiku untuk membebaskan dirinya dari perlindunganku. Utsman menanggapi pernyataan Walid dengan menyatakan: “Benar yang diucapkan Walid. Dia betul orang yang selama ini bertanggung jawab melindungiku, tetapi aku lebih suka untuk dilindungi oleh Allah dan aku tidak pernah sudi lagi untuk dilindungi oleh orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT
.
Dapat kitaambil pelajaran bahwa Utsman sempat mengambil langkah yang kurang tepat, karena sesungguhnya yang tepat sebagai pelindung hanyalah Allah SWT. Karenanya ketika turun ayat 255 surah Al Baqarah, Rasul Saw segera memerintahkan kepada para sahabat yang selama ini menjadi pengawal Rasul: “Wahai saudara-saudaraku, pergilah kalian sekarang jangan lagi kalian mengawalku karena sudah ada yang mengawalku, Allah SWT”
.
Usai proses pelepasan perlindungan dari Walid, beliau menghadiri sebuah majelis orang-orang Quraisy yang sedang dipimpin oleh Lubaid bin Rabi’ah. Di dalam majelis tersebut, Lubaid bin Rabi’ah berkata: “Bukankah segala sesuatu selain Allah itu adalah hampa tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah?”. Kata Utsman:”Benar, apa yang kau katakan wahai Lubaid. Kata Lubaid pula: “Bukankah setiap kenikmatan suatu saat akan sirna”. Utsman menimpali pernyataan Lubaid:”Bohong, nikmat syurga tidak akan pernah sirna selama-lamanya, semua kenikmatandunia benar akan sirna tapi ada kenikmatan syurga yang tidak kalian yakini, tidak akan sirna selama-lamanya. Lubaid merasa terpotong dan terhina dengan ungkapan tersebut, padahal ia seorang tokoh Quraisy yang disegani. Lalu ia mengatakan: “Wahai kaum Quraisy, demi tuhan pernahkah kalian meliha seseorang menghinaku dalam majelis seperti ini?”. Salah seorang yang hadir di dalam majelis mengatkan:”Orang yang baru bicara ini adalah orang tolol yng baru saja meninggalkan agama nenek moyang kita, maka jangan digubris ucapannya”
.
Sejarah berulang, setiap orang yang akan kembali menegakkan ajaran Allah disebut tolol, bodoh atau idiot oleh orang-orangsesat. Padahal, yang bodoh menurut Allah adalah mereka yang tersirat dan tersurat dalam ayat 179 surah Al A’raaf, yang diantaranya adalah mereka yang memiliki akal namun tidak dipergunakan untuk berfikir di jalan Allah SWT. Utsman bin Mamh’un, menanggapi pernyataan orang tersebut sehingga terjadilah perang mulut di antara mereka, yang bersangkutan lalu berdiri dan memukul salah satu mata Utsman
.
Melihat kejadian tersebut, Walid bin Mughirah berkata :”demi tuhan wahai keponakanku, jika matamu itu kebal, kau pantas untuk melepaskan tanggungan dariku, tapi kau sudah melepaskan tanggungan itu maka aku tidak akan membelamu. Utsman berkata: “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang satu lagi sangat membutuhkan apa yang dialami oleh mataku yang sebelah  karena dianiaya di jalan Allah. Walid berkata: “Jika kau mau, aku masih siap untuk menjadi pelindungmu. Jawab Utsman: “Tidak, tidak untuk selama-lamanya!”
.
Pergilah Utsman dengan sebelah matanya yang sakit, tetapi ia begitu luar biasa terbebas jiwanya karena ia sekarang sedang berlindung kepada Allah SWT. Suatu ketika, Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Medinah dan termasuklah diataranya Utsman. Di Medinah mereka bisa merasakan kekhusyuan beribadah dan kembali kesucian pribadi Utsman nampak kembali tergambar dalam hidup kesehariannya. Ia menjadi “Rahib” (orang suci) yang menghabiskan malamnya untuk beribadah dan siangnya bekerja keras, lalu terkadang malam dan siang dipakai untuk beribadah atau malam dan siang untuk berjuang termasuk berperang menghadapi orang-orang musyirikin.
utsman punya keistimewaan tersendiri dalam ber-“Zuhud”, hidupnya benar-benar-benar jauh dari kenikmatan dunia, beliau lebih suka memakai pakaian yang kasar dan tidak mengganti pakaian dan beliau tidak makan, kecuali makanan yang sangat sederhana. Pada suatu saat beliau masuk ke dalam masjid yang saat itu Rasul dan para sahabat sedang duduk-duduk, beliau masuk dengan memakai pakaian yang sangat tidak layak dipakai, melihat kondisi beliau, Rasul pun tersentuh hatinya, sementara para sahabat yang menyaksikan malah mengalirkan air mata. Beliau beribadah ternyata bukan hanya dengan meninggalkan kenikmatan dunia dalam arti makan, minum dan berpakaian, tapi pernah juga berniat untuk menjauhi istrinya. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, maka Rasul mun menegur beliau dengan mengatakan: “Istrimu punya hak darimu”
.
Keinginan beliau senantiasa ber-“Mujahadah” inilah yang membuat Rasul sangat mencintai beliau. Karena ketika ruhnya yang suci hendak meninggalkan jasad menuju ke hadirat Allah SWT, Rasul pun berada disampingnya mendampingi sampai akhir hayatnya. Dan ketika utsman bin Mazh’un akhirnya meninggalkan alam dunia ini, Rasul menundukkan kepalanya dan mencium kening memenuhi wajah Utsman dengan air mata. Dengan iringan doa beliau; “Semoga Allah merahmatimu, wahai Utsman, kau tinggalkan alam dunia ini tidak pernah kau ambil sedikitpun keuntungan darinya, dan dunia pun tidak pernah dirugikan oleh sebab kehadiranmu”
.
Rasul tidak pernah melupakan orang yang sangat dicintainya, sepeninggal Utsman beliau selalu ingat dan memujinya di depan para sahabt, sehingga diriwayatkan saat putri Rasul, Rukayah akan meninggal dunia, Rasul berkata kepada putrinya:”Temuilah segera di alam barzah (Utsman bin Mazh’un) orang yang sangat baik dan mulia di sisi Allah SWT”
.
Seandainya anda hendak bermaksud menyusun daftar nama-nama sahabat yang Rasulullah saw. menurut urutan masa masuknya kedalam agama islam, maka pada urutan ke empat belas tentulah anda akan tempatkan Utsman bin Mazh’un.Tatkala agama islam cahayanya mulai menyinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikanya dari beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, maka Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa segelincir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri dari sekelompok Rasulullah.Seperti biasanya pengikut Rasulullah selalu diterpa berbagai derita dan siksaan pada saat itu.Rasulullah saw. mengutamakan keselamatan golongan kecil dari orang beriman dan teraniaya ini, dengan jalan menyuruh mereka berhijrah ke Habsyi. Dan Utsman bin Mazh’un terpilih sebagai pemimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini. dengan putranya yang bernama Saib, dilangkahkanya kaki ke suatu negeri yang jauh menghindar dari tiap daya musuh Rasulullah dari Abu Jahal dan orang Quraisy.Dan ketika mereka berada di Habsyi, di sana mereka menghadapi suatu agama yang teratur dan tersebar luas, mempunyai gereja-gereja, rahib-rahib dan para pendeta. Dan tentulah orang-orang gereja di negeri Habsyi itu telah berusaha sekuat daya untuk menarik orang-orang Muhajirin kedalam agama mereka, dan meyakinkan kebenaran agama Masehi. Tetapi para kaum Muhajirin tidak ada yang beranjak dari kecintaan mereka yang mendalam terhadap agama islam dan terhadap Muhammad Rasulullah.Demikianlah kaum Muhajirin tinggal di Habsyi dalam keadaan aman dan tentram. Mereka senantiasa beribadan kepada Allah dengan tekun dan mempelajari ayat-ayat al-Quran yang ada pada mereka. Tiba-tiba sampailah berita kepada mereka bahwa orang-orang Quraisy telah menganut agama islam dan mengikuti Rasulullah bersujud kepada Allah.Maka bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemas barang-barang mereka, dan bagaikan terbang mereka berangkat ke Makah dibawa kerinduan dan didorong kecintaan pada kampung halaman. Tetapi baru saja mereka sampai di kota, ternyata  masuknya orang-orang Quraisy itu hanya dusta belaka.Ketika itu mereka amat terpukul karena telah berlaku ceroboh dan amat tergesa-gesa. Tetapi betapa mereka akan kembali, padahal kota mereka telah berada di hadapan mereka. Dalam keadaan itu orang-orang musyrik di kota mekah telah mendengar  datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar dan pasang perangkap untuk menangkapnya.Perlindungan, ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi arab yang memiliki kekudusan dan dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh. Diantaranya yang termasuk mendapat perlindungan adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah.Dalam keadaan itu, ia melihat saudara-saudara yang lain mendapat siksaan oleh kaum Quraisy yang keji, maka hatinya bergejolak, maka ia bermaksud untuk menanggalkan perlindunganya.

Ia pun berkata kepada Walid bin Mughirah:

“wahai Abu Abdi Syam, cukup sudah perlindungan anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan anda.”

“kenapa wahai keponakanku?” ujar Walid, “mungkin ada seseorang anak buahku yang mengganggumu?”

“tidak” jawab Utsman, ‘hanya saya ingin berlindung kepada Allah’.

Maka Utsman pergi ke masjid dan mengumumkan penanggalan perlindunganya.

Disana Utsman mendapatkan tinjuan tepat mengenai mata. Berkatalah Walid

“wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa maka sungguh, benteng perlindunganmu sangat tangguh”.

Ujar Utsman “tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat pula membutuhkan pukulan yang telah dialami saudaranya dijalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syamas, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu dari padamu.”


Dan setelah ditanggalkanya perlindungan dari Walid, maka Utsman menemui siksaan dari orang-orang Quraisy. Tetapi dengan begitu ia tidak merana, malah bahagia.

Utsman melakukan hijrah ke madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka. Dan di kota hijrah Madinah al-Munawwarah itu bersingkaplah kepribadian dari Utsman bin Mazh’un tak ubah bagai batu permata yang telah diasah dan kebesaran hatinya yang istimewa. Ia memiliki ciri khas dalam zuhud dan ibadahnya. Ia amat tekun dan mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupanya baik siang maupun malam dialihkanya menjadi sholat  yang terus menerus dan tasbih yang tiada henti.

Rupanya ia telah merasakan manisnya keasyikan beribadah itu, iapun hendak memutuskan hubungan dengan segala kesenangan dan kemewahan dunia. Ia tak hendak memakai pakaiaan kecuali yang kasar dan tak hendak memakan makanan selain yang amat bersahaja.,

Ibnu Mazh’un amat disayangi oleh rasulullah saw dan tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat, hingga demikian ia merupakan orang Muhajirin yang pertama wafat di Madinah, dan yang mula-mula merintis jalan menuju surga, maka Rasulullah saw. berada disisinya.

Rasulullah saw. membungkuk, mencium kening Ibnu Mazh’un serta membasahi kedua pipinya dengan air yang berderai dari kedua mata beliau yang diliputi santun dan duka cita hingga saat kematiannya.

Dan bersabdah Rasulullah saw. melepas sahabat yang tercinta itu:

“semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu Saib. Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satupun keuntungan yang kamu peroleh dari padanya serta tak satu kerugianpun yang dideritanya daripada mu.”

Dan sepeninggalan sahabatnya, Rasulullah yang amat penyantun itu tidak pernah melupakanya, selalu ingat dan memujinya. Bahkan untuk melepas putri beliau Rukayah, yakni ketika nyawanya hendak melayang, adalah kata-kata berikut:

“pergilah susul pendahulu kita yang pilihan. Utsman bin Mazh’un”