MIUMI Bongkar Habis Paham Sesat Syiah di Kantor MUI Pusat ?? MIUMI wahabi tukang semir sepatu AS/Israel

E-mail Cetak PDF

Jakarta -

Ya ahlulbait, kami dizalimi..

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

Dalam pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Selasa (27/3) Delegasi dari MIUMI, Ustadz Farid Ahmad Okbah di dihadapan sejumlah petinggi MUI, menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan Syiah di Indonesia

“Melihat awal perkembangan Syiah di Indonesia, pertama kali muncul dari Bangil, Madura, Jawa Timur.  Saya sendiri orang Bangil. Kita mengetahui, dalam menyebarkan paham Syiah di Indonesia, para penggeraknya berdalih menggalang persaudaran diantara umat Islam, namun didalamnya mengandung visi-misi Syiah. Jika dulu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini mulai terang-terangan, contohnya seperti YAPI di Jawa Timur yang dikenal sebagai pusat dakwah dan kaderisasi Syiah,” ujar Ustadz Farid menjelaskan.

Tak dipungkiri, untuk menciptakan kader ulama Syiah, mereke mengutus kadernya untuk belajar ke Syiria, Irak dan Iran, termasuk ke Bangil, Jawa Timur. Ketahuilah, suara ukhuwah Islamiyah adalah kaum Syiah untuk menggalang dukungan dari umat Islam Ahli Sunnah. Sebagai contoh,  tulisan Haidar Bagir di harian Republika yang berjudul “Menuju Persatuan umat”. Tulisan Haidar Bagir pun mendapat tanggapan dari Fahmi Salim dan Prof Baharun di harian yang sama. Dengan licik, Haidar Bagir memasang iklan Yayasan Muslim Islam Bersatu sebagai bentuk propaganda terselubung.

Menurut Ustadz Farid, perkembangah Syiah di Indonesia telah dikukuhkan oleh oleh Gus Dur pada tahun 2000 dengan berdirinya IJABI (Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia). Kata Gus Dur, Syiah itu seperti wanita hamil, yang kini telah lahir sebagai ormas resmi kaum Syiah.

Kemudian tahun 2011, pemerintahan SBY juga mengakui keberadaan ABI (Ahlu Bait Indonesia), dimana Departemen Dalam negeri telah menerima ABI sebagai ormas baru kaum Syiah. Kini, sudah ada dua ormas Syiah: IJABI dan ABI. Meski keduanya, dikabarkan, telah berseberangan pendapat.

Yang mencemaskan Ustadz Farid adalah ternyata gerakan Syiah bukan hanya sebatas pemikiran atau lewat buku, tapi telah menggunakan media-media pemerintah. Di Bandung, pernah diadakan bedah Syiah, dimana Prof  Mohammad Baharun menjadi narasumbernya. Ketika itu, panitia yang menyelenggarakan bedah Syiah sempat mendapat tekanan dari polisi atas permintaan dari IJABI yang ingin cara tersebut dibubarkan. Yang jelas, hal sepert ini terjadi di banyak tempa

Hal yang harus diwaspadai, kata Ustadz Farid, kini mulai banyak anak muda Indonesia yang dicuci otaknya oleh pemahaman Syiah.  Bayangkan, sudah ratusan yayasan  Syiah ada di negeri ini, bahkan mereka membentuk lembaga advokasi, (LBH Universaliyah). Ini menunjukkan Syiah sudah menggurita. “Karena itu, kita harus melakukan langkah kongkrit. Mengingat gerakan Syiah di daerah semakin masif, yang dilakukan oleh gerakan Syiah yang militan dan terdidik.Ini menjadi tantangan dakwah kita semua.”

Corong DMI Dimanfaatkan Syiah ??

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah  selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Allahu Akbar…

Oknum MUI berniat mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Gerakan anti syi’ah di tubuh NU dan Muhammadiyah tidak lebih dari upaya merebut kursi ketua Umum NU dan merampas kursi ketua Umum Muhammadiyah…

MIUMi bergerak cepat sebelum 2014, di back up oknum MUI Pusat melakukan trik trik murahan ini..


Farid Ahmad Okbah juga menyesalkan, DMI yang jelas-jelas Sunni, telah kecolongan dan kesusupan gerakan Syiah. Melihat media internal DMI Tabloid Jumat dalam beberapa edisi, penyusup Syiah itu jelas-jelas menjadikan Tabloid Jumat sebagai corong Syiah.

“Corong Ahlus Sunnah Wal Jamaah pun dijadikan Corong Syiah atas nama ukhuwah. Bahkan ada oknum DMI yang bekerjasama IJABI dengan membentuk Muhsin, dimana Jalaluddin Rahmat sebagai perintisnya. Padahal, Ketua Umum DMI menyatakan penolakannya terhadap Syiah,” kata Ustadz Farid.

Gerakan Syiah juga menggalang kekuatan Ahlu Sunnah di Masjid Sunni al Azhar Kalimalang, dengan cara  membagikan buletin Jum’atan.

MIUMI mengetahui,  tanggal 20 Februari 2011 lalu, MUI Pusat kedatangan tamu dari Iran. “Saya diundang oleh pengurus MUI. Saat itu saya tunjukkan data, bahwa ulama sunni di Iran di penjara dan ditekan. Bahkan, ada penghancuran masjid Sunni di Mashad oleh Pemerintah Iran.

Farid sangat menyesalkan setiap ulama Sunni yang membela Sunni akan dituduh pemecah belah umat, wahabi dan agen zionis.Termasuk dirinya yang difitnah pemecah belah umat dan agen zionis. Seorang Sunni Yusuf Qaradahwi yang mendambakan ukhuwah Islamiyah, kini mulai kecewa dengan Syiah. “Bahkan MIUMI terkena getahnya. MIUMI dikatakan sesat menyesatkan oleh sebuah blog milik Syiah.”

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Resolusi Jihad NU: “Wahabi Aliran Sesat, Harus Ditumpas”?

OPINI | 10 December 2011 | 04:07

begitulah bila membaca, menyimak tulisan tulisan anti Wahaby yang mendominasi ruangan situs situs NU, seperti sedang menabuh Genderang Perang, sesama anak anak bangsa.

Sebagaimana tercermin dalam tulisan tulisan para tokoh tokoh elit NU, ada kesengajaan menabur angin, mengoreksi, mengkritisi, memaki dan menuduh ulama ulama wahaby banyak melakukan “PENIPUAN TERHADAP UMAT” ? ,

wahaby adalah illegal action, teroris, vampire yang haus darah  atau wahabi laksana bajak laut yang berkeliaran dilaut lepas, memburu buruannya: “Wahabi  harus ditumpas”, kilahnya begitu.

Entah kenapa sehingga begitu semangatnya “Anti Wahaby” menggelegar, menggelora , membakar dan mengaduk aduk dada elita  elita NU, dengan semangat kebencian telah melahirkan sikap sikap yang tidak elegan dan picik memahami perbedaan,  tak rela rasanya kalau ada umat Islam memahami Islam versi Wahaby, sehingga berkonotasi “yang berbau wahabiyah pasti salah”, yang benar menurut versi NU, hanya metode beragama yang dikembangkan NU. Hal itu dimuat oleh sebuah situs Resmi “Nahdhatul Ulama” , diantaranya:

    1. Organisasi Tarekat NU Mesir Waspadai Bahaya Laten Wahabisme
    1. Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi
    1. Hubungan dengan Saudi Perlu Ditinjau Ulang
    1. Buku “Pintar Berdebat dengan Wahabi” Dibedah, Sejumlah Pengikutnya Sadar
    1. Karya Nawawi Al Bantani Kukuhkan Doktrin Aswaja atas Wahabi
    1. Waspadai Buku Sejarah yang Beredar
    1. Jaga Generasi Muda dari Ajaran Fundamental
    1. Salafi Jihadi
    1. Salafi
    1. Sejarah “Hitam” Kaum Wahabi
    1. Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan (1)
    1. Bentengi Wahabi, Sekolah Maarif Perlu Miliki Komisariat IPNU-IPPNU
    1. Warga Hentikan Pengajian Wahabi di Masjid
    1. Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi
    1. Kang Said: Waspadai Yayasan Pendidikan dari Arab
    1. Tunas Radikalisme dari Najd
  1. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Itulah doktrin NU kepada anNahdhiyyin, menyerukan Jihad memerangi tukang semir sepatu AS/israel

Konsep NU memandang wahaby adalah sekte yang membahayakan Islam berdasarkan prinsip prinsip telaah pemahaman NU tentang Agama.

wahabi doktrin yang membahayakan Umat  justru bisa memecah belah Umat menjadi berkeping keping seperti pecahan kaca yang berserakan di jalan. Tatapan amarah dan buas terhadap Wahabi mencerminkan NU yang pernah hidup Tenpo doeloe, masa lahirnya orma islam, sebelum lahirnya NU itu sendiri.

Sejarah itu terulang kembali sebagai episode dari “kebencian” yang tidak tercapai sejak tahun 1912. Penghujatan terhadap “wahabi” merupakan “bara api” yang tersimpan dan terasa selama puluhan tahun. Kini saatnya NU menjadi pemuja perdamaian ala ke-NU-an dengan berdamai dengan syiah, tentunya merupakan Usaha NU yang paling sepaktakuler di abad ini memerangi pemahaman Islam yang dirasakan merongrong NU.

=Salam Damai=

Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Ketua MIUMI Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir Lc. MM.

MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) sesat menyesatkan !!! Ngga ngerti syi’ah

Siaran Pers MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI) karena keawaman ilmu saja

Ketua PBNU: Waspadai Gerakan Wahabi

  • Monday, February 6, 2012, 11:32

UMMATONLINE.NET –

Gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj dalam bedah buku  sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2/2012).

Wahabi memiliki dua fraksi :

1. Salafi dakwah, misal : penulis web syiahindonesia.com, Farid Ahmad Oqbah

2. Salafi jihadi, misal : Amrozi, Imam Samudera, Noordin M Top, Doktor Azahari, Abubakar Ba’asyir

MUI, NU dan Muhammadiyah coba disusupi Wahabi dengan misi pro AS/israel

Gerakan anti syi’ah ditubuh NU, Muhammadiyah dan MUi bertujuan :

1. Mewahabikan indonesia (gerakan trans nasional) pro AS/israel

2. Merebut jabatan ketua umum NU / Muhammadiyah

3. Menggagalkan niat  muslimin sunni untuk mengangkat Ketua Umum NU dan Muhammadiyah menjadi CAPRES RI 2014, mereka ingin mengusung CAPRES pro wahabi

4. Sebagian dari mereka didanai AS / israel / Saudi

.

…………………………………………………………..

MINGGU, 24 JULI 2011

Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?


Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.”
.
Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid
.
“Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Saya khawatir, Syiah akan menjadi sasaran berikutnya. Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah
.
Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi
.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

.

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama

.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

.

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan

.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

.

MINGGU, 24 JULI 2011

PROF.UMAR SHIHAB (KETUA MUI) : SYI’AH MAZHAB YANG SAH DI DALAM ISLAM


Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Sy’iah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut Syi’ah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 ,
.
Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat iniRombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.Apakah berita sidang pleno MUI setelah kunjungan resmi ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib hanya dusta dan fitnah atau benar adanya, seperti yg di tulis saudara Kholili Hasib di atas?
.
Sementara MOU itu adalah resmi atas nama Lembaga MUI dan bukan perorangan, beginilah sejatinya kelompok takfir selalu memprovokasi awam dengan berbagia info dan berita yg menyesatkan demi menjalankan agenda musuh2 Islam melalui adu-domba dan pecah-belah Ummat agar Islam lemah dari dalam.
_____________________________________________________________________________________________________________
Setelah MOU antar MUI dan Majma’ Taqrib baynal Mazahib Islamiyah akan keabsahan mazhab Ahlussunah dan Syi’ah (28 April 2011) maka MUI sudah sepantasnya untuk meninjau kembali Fatwa 1984 yg sekarang menjadi dasar pembenaran terjadinya anarkhisme terhadap muslim syi’ah dan mengajak Ulama Syi’ah dan ormas2 Islam untuk merumuskan kembali tentang makna Ukhuwah Islamiyah
.
Dan terpenting adalah Fatwa eksplisit dulu dari MUI bahwa Sunnah-Syi’ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah, agar siapa saja yg ingin berlaku anarkhis mentasnamakan mazhab maka akan berfikir seribu kali, tak jadi soal Fatwa itu efektif atau tidak yg jelas dgn keluarnya fatwa eksplisit dan tegas MUI berperan sebagai pengayom dan pemersatu umat dan bukannya termakan hasudan dan fitnahan dari kelompok takfir lintas mazhab yg lambat-laun akan merobohkan bangunan NKRI dengan konflik horisontal yg mereka lestarikan.UKHUWAH ISLAMIYAH :
.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalaupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama

.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

.

SABTU, 23 JULI 2011

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 23 di Teheran


Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam Ke-23 Teheran 15-17 Rabiul Awal 1431 HSegala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya
.
Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism
.
Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau
.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat
.
Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya
.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah

.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya

.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini

.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll

.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:

a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.

d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.

e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.

f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.

g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.

h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.

i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.

j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi

.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini

.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

RABU, 20 JULI 2011

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam


Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.
“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin
.
Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia
.
Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)
.
Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi
.
“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya
.
Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.
“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)
.

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab


Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju
.
Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syi’ah.Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Buhairah, Mesir
.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H. menjadi mufti umum Al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.Syekh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syi’ah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.

Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syi’ah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayyid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar Al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah Al-Islam”.

2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syi’ah, yang berhubungan dengan pendekatan antar mazhab.

3. Memasukkan fikih Syi’ah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.

4. Dan, yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti Al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu. Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiyah)?

Syekh Syaltut menjawab,

1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.

2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syi’ah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib

Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar Al-Taqrib bayna Al-Madzahib Al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syi’ah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar

Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jum’at tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

Nahju Al-Qur’an fi Bina Al-mujtama’

Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah

Al-Fatawa

Al-Qital fi Al-Islam

Min Tawjihat Al-Islam

Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh

Fiqh Al-Qur’an

SYEIKH AL-AZHAR, DR. AHMED AL-TAYEB: SERUKAN UMAT ISLAM BERSATU


Sheikh – Azhar Dr Ahmed Al-Tayeb meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tentang perlunya melakukan kebijakan keadilan dan menghentikan kebijakan standar ganda tentang isu-isu Islam dan bangsa Arab.hal ini harus ditunjukkan dengan keseriusan dan tanggung jawab.keadilan yang berhubungan dengan masalah Palestina dan isu utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh rakyat Palestina.Syaikh Al-Azhar dalam sambutannya pada pembukaan Global Forum ke lima untuk lulusan Al-Azhar pada Sabtu malam, yang berlangsung selama empat hari.Pendekatan sejarah Al-Azhar yang cukup panjang untuk mempertahankan Islam yang benar dan untuk membela serta menyebarkan keadilan, keamanan dan perdamaian di antara semua agama dan mengutuk kekerasan
.
Syekh Al Azhar dalam sambutannya mengatakan Islam moderat menghadapi ekstremisme,” afiliasi dalam beberapa pelaku kekacauan serta penyebaran kekerasan dan doktrin terhadap Islam, hal ini tidak mencerminkan realitas pemikiran Islam, yang menyerukan sentrisme, moderasi, yang berhubungan dengan non-Muslim.Syekh Al Azhar menekankan tentang kebutuhan umat Muslim karena menderita diskriminasi untuk kembali kepada satu pemahaman dan menjauhkan dari perbedaan ideology, dalam rangka mencapai kesatuan muslim dan kekuatan baru islam.Syekh Al Azhar juga mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab, keadilan yang menyangkut status Palestina serta untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dari penindasan bangsa Israel.

Farid Okbah Bongkar Kesesatan Syiah ?, Umar Shihab Tinggalkan Rapat karena Wahabi cuma Tukang Semir Sepatu AS/Israel

Rabu, 28 Maret 2012 11:17 Redaksi

E-mail Cetak PDF

Jakarta –

Umar Shihab Tinggalkan Rapat karena Wahabi cuma Tukang Semir Sepatu AS/Israel

Ada yang menarik dalam pertemuan antara MIUMI dengan MUI, Selasa (27/3) kemarin.

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

Di saat bersamaan hadir pula Umar Shihab, salah seorang ketua MUI yang memang terkenal pro terhadap Syiah. Umar Shihab pun begitu seksama mendengarkan paparan Ustadz Farid Okbah. Namun lama kelamaan Umar Shihab memilih keluar dari ruangan rapat ditengah para pengurus lainnya setia mendengarkan. Tadinya para wartawan menduga, Umar hanya keluar untuk kepentingan sementara, namun hingga usai pertemuan pada pukul 12.30, wajah Umar Shihab tidak kunjung muncul.

Tidak ada keterangan resmi mengapa Umar Shihab memilih meninggalkan ruangan. Para wartawan yang setia menunggunya pun tidak bisa mengkonfirmasi terkait hal ini.

Sebelumnya, salah seorang ketua MUI, KH Anwar Abbas mengatakan umat Islam perlu mewaspadai beasiswa-beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Iran. Sebab melalui beasiswa pendidikan itulah, Syiahisasi dilakukan. “Saya yakin kalau mereka kembali sudah berubah jadi Syiah,” katanya.

Tokoh Muhammadiyah itu lantas bercerita pengalaman Profesor Amir Syarifudin ke Iran. “Saat berkunjung ke Iran, Prof Amir Syamsuddin bertanya kamu masih Sunni atau sudah Syiah? Mahasiswa itu menjawab, ya sudah Syiah donk Pak,” kata Kiyai Anwar Abbas menirukan jawaban mahasiswa.

Kyai Anwar juga mencium aroma penjinakan yang dilakukan pemerintah Iran kepada tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan cara mengundang mereka datang ke Iran. “Saya sudah mencium, kita kalau diundang ke sana dalam rangka penjinakan,” tambahnya

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah  selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…

[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.

[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.

[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.

[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.

[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.

Allahu Akbar…

Oknum MUI berniat  mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Gerakan anti syi’ah di tubuh NU dan Muhammadiyah tidak lebih dari upaya merebut kursi ketua Umum NU dan merampas kursi ketua Umum Muhammadiyah…

MIUMi bergerak cepat sebelum 2014, di back up oknum MUI Pusat melakukan trik trik murahan ini..

Ketua PBNU: Waspadai Gerakan Wahabi

  • Monday, February 6, 2012, 11:32

UMMATONLINE.NET –

Gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.

“Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj dalam bedah buku  sejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram di Aula Politeknik Negeri Batam di Batam, Ahad (5/2/2012).

Wahabi memiliki dua fraksi :

1. Salafi dakwah, misal : penulis web syiahindonesia.com, Farid Ahmad Oqbah

2. Salafi jihadi, misal : Amrozi, Imam Samudera, Noordin M Top, Doktor Azahari, Abubakar Ba’asyir

MUI, NU dan Muhammadiyah coba disusupi Wahabi dengan misi pro AS/israel

Gerakan anti syi’ah ditubuh NU, Muhammadiyah dan MUi bertujuan :

1. Mewahabikan indonesia (gerakan trans nasional) pro AS/israel

2. Merebut jabatan ketua umum NU / Muhammadiyah

3. Menggagalkan niat  muslimin sunni untuk mengangkat Ketua Umum NU dan Muhammadiyah menjadi CAPRES RI 2014, mereka ingin mengusung CAPRES pro wahabi

4. Sebagian dari mereka didanai AS / israel / Saudi

.

Resolusi Jihad NU: “Wahabi Aliran Sesat, Harus Ditumpas”?

OPINI | 10 December 2011 | 04:07

begitulah bila membaca, menyimak tulisan tulisan anti Wahaby yang mendominasi ruangan situs situs NU, seperti sedang menabuh Genderang Perang, sesama anak anak bangsa.

Sebagaimana tercermin dalam tulisan tulisan para tokoh tokoh elit NU, ada kesengajaan menabur angin, mengoreksi, mengkritisi, memaki dan menuduh ulama ulama wahaby banyak melakukan “PENIPUAN TERHADAP UMAT” ? ,

wahaby adalah illegal action, teroris, vampire yang haus darah  atau wahabi laksana bajak laut yang berkeliaran dilaut lepas, memburu buruannya: “Wahabi  harus ditumpas”, kilahnya begitu.

Entah kenapa sehingga begitu semangatnya “Anti Wahaby” menggelegar, menggelora , membakar dan mengaduk aduk dada elita  elita NU, dengan semangat kebencian telah melahirkan sikap sikap yang tidak elegan dan picik memahami perbedaan,  tak rela rasanya kalau ada umat Islam memahami Islam versi Wahaby, sehingga berkonotasi “yang berbau wahabiyah pasti salah”, yang benar menurut versi NU, hanya metode beragama yang dikembangkan NU. Hal itu dimuat oleh sebuah situs Resmi “Nahdhatul Ulama” , diantaranya:

    1. Organisasi Tarekat NU Mesir Waspadai Bahaya Laten Wahabisme
    1. Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi
    1. Hubungan dengan Saudi Perlu Ditinjau Ulang
    1. Buku “Pintar Berdebat dengan Wahabi” Dibedah, Sejumlah Pengikutnya Sadar
    1. Karya Nawawi Al Bantani Kukuhkan Doktrin Aswaja atas Wahabi
    1. Waspadai Buku Sejarah yang Beredar
    1. Jaga Generasi Muda dari Ajaran Fundamental
    1. Salafi Jihadi
    1. Salafi
    1. Sejarah “Hitam” Kaum Wahabi
    1. Memecah Gelombang Gerakan Wahabi di Kampung Nelayan (1)
    1. Bentengi Wahabi, Sekolah Maarif Perlu Miliki Komisariat IPNU-IPPNU
    1. Warga Hentikan Pengajian Wahabi di Masjid
    1. Ketika Kitab-Kitab Dipolitisasi
    1. Kang Said: Waspadai Yayasan Pendidikan dari Arab
    1. Tunas Radikalisme dari Najd
  1. Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Itulah doktrin NU kepada anNahdhiyyin, menyerukan Jihad memerangi tukang semir sepatu AS/israel

Konsep NU memandang wahaby adalah sekte yang membahayakan Islam berdasarkan prinsip prinsip telaah pemahaman NU tentang Agama.

wahabi doktrin yang membahayakan Umat  justru bisa memecah belah Umat menjadi berkeping keping seperti pecahan kaca yang berserakan di jalan. Tatapan amarah dan buas terhadap Wahabi mencerminkan NU yang pernah hidup Tenpo doeloe, masa lahirnya orma islam, sebelum lahirnya NU itu sendiri.

Sejarah itu terulang kembali sebagai episode dari “kebencian” yang tidak tercapai sejak tahun 1912. Penghujatan terhadap “wahabi” merupakan “bara api” yang tersimpan dan terasa selama puluhan tahun. Kini saatnya NU menjadi pemuja perdamaian ala ke-NU-an dengan berdamai dengan syiah, tentunya merupakan Usaha NU yang paling sepaktakuler di abad ini memerangi pemahaman Islam yang dirasakan merongrong NU.

=Salam Damai=

Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Ketua MIUMI Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir Lc. MM.

MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) sesat menyesatkan !!! Ngga ngerti syi’ah

Siaran Pers MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI) karena keawaman ilmu saja

…………………………………………………………..

MINGGU, 24 JULI 2011

Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?


Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.”
.
Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid
.
“Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Saya khawatir, Syiah akan menjadi sasaran berikutnya. Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah
.
Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi
.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

.

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama

.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

.

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan

.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

.

MINGGU, 24 JULI 2011

PROF.UMAR SHIHAB (KETUA MUI) : SYI’AH MAZHAB YANG SAH DI DALAM ISLAM


Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Sy’iah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut Syi’ah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 ,
.
Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat iniRombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.Apakah berita sidang pleno MUI setelah kunjungan resmi ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib hanya dusta dan fitnah atau benar adanya, seperti yg di tulis saudara Kholili Hasib di atas?
.
Sementara MOU itu adalah resmi atas nama Lembaga MUI dan bukan perorangan, beginilah sejatinya kelompok takfir selalu memprovokasi awam dengan berbagia info dan berita yg menyesatkan demi menjalankan agenda musuh2 Islam melalui adu-domba dan pecah-belah Ummat agar Islam lemah dari dalam.
_____________________________________________________________________________________________________________
Setelah MOU antar MUI dan Majma’ Taqrib baynal Mazahib Islamiyah akan keabsahan mazhab Ahlussunah dan Syi’ah (28 April 2011) maka MUI sudah sepantasnya untuk meninjau kembali Fatwa 1984 yg sekarang menjadi dasar pembenaran terjadinya anarkhisme terhadap muslim syi’ah dan mengajak Ulama Syi’ah dan ormas2 Islam untuk merumuskan kembali tentang makna Ukhuwah Islamiyah
.
Dan terpenting adalah Fatwa eksplisit dulu dari MUI bahwa Sunnah-Syi’ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah, agar siapa saja yg ingin berlaku anarkhis mentasnamakan mazhab maka akan berfikir seribu kali, tak jadi soal Fatwa itu efektif atau tidak yg jelas dgn keluarnya fatwa eksplisit dan tegas MUI berperan sebagai pengayom dan pemersatu umat dan bukannya termakan hasudan dan fitnahan dari kelompok takfir lintas mazhab yg lambat-laun akan merobohkan bangunan NKRI dengan konflik horisontal yg mereka lestarikan.UKHUWAH ISLAMIYAH :
.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalaupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama

.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

.

SABTU, 23 JULI 2011

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 23 di Teheran


Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam Ke-23 Teheran 15-17 Rabiul Awal 1431 HSegala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya
.
Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism
.
Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau
.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat
.
Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya
.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah

.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya

.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini

.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll

.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:

a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.

d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.

e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.

f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.

g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.

h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.

i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.

j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi

.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini

.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

RABU, 20 JULI 2011

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam


Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.
“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin
.
Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia
.
Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)
.
Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi
.
“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya
.
Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.
“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)
.

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab


Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju
.
Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syi’ah.Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Buhairah, Mesir
.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H. menjadi mufti umum Al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.Syekh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syi’ah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.

Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syi’ah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayyid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar Al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah Al-Islam”.

2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syi’ah, yang berhubungan dengan pendekatan antar mazhab.

3. Memasukkan fikih Syi’ah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.

4. Dan, yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti Al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu. Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiyah)?

Syekh Syaltut menjawab,

1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.

2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syi’ah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib

Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar Al-Taqrib bayna Al-Madzahib Al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syi’ah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar

Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jum’at tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

Nahju Al-Qur’an fi Bina Al-mujtama’

Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah

Al-Fatawa

Al-Qital fi Al-Islam

Min Tawjihat Al-Islam

Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh

Fiqh Al-Qur’an

SYEIKH AL-AZHAR, DR. AHMED AL-TAYEB: SERUKAN UMAT ISLAM BERSATU


Sheikh – Azhar Dr Ahmed Al-Tayeb meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tentang perlunya melakukan kebijakan keadilan dan menghentikan kebijakan standar ganda tentang isu-isu Islam dan bangsa Arab.hal ini harus ditunjukkan dengan keseriusan dan tanggung jawab.keadilan yang berhubungan dengan masalah Palestina dan isu utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh rakyat Palestina.Syaikh Al-Azhar dalam sambutannya pada pembukaan Global Forum ke lima untuk lulusan Al-Azhar pada Sabtu malam, yang berlangsung selama empat hari.Pendekatan sejarah Al-Azhar yang cukup panjang untuk mempertahankan Islam yang benar dan untuk membela serta menyebarkan keadilan, keamanan dan perdamaian di antara semua agama dan mengutuk kekerasan
.
Syekh Al Azhar dalam sambutannya mengatakan Islam moderat menghadapi ekstremisme,” afiliasi dalam beberapa pelaku kekacauan serta penyebaran kekerasan dan doktrin terhadap Islam, hal ini tidak mencerminkan realitas pemikiran Islam, yang menyerukan sentrisme, moderasi, yang berhubungan dengan non-Muslim.Syekh Al Azhar menekankan tentang kebutuhan umat Muslim karena menderita diskriminasi untuk kembali kepada satu pemahaman dan menjauhkan dari perbedaan ideology, dalam rangka mencapai kesatuan muslim dan kekuatan baru islam.Syekh Al Azhar juga mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab, keadilan yang menyangkut status Palestina serta untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dari penindasan bangsa Israel.

penyimpangan syiah ???

Suatu hari di tahun 1982, pemerintah Iran pimpinan Khomeini mengirim tiga orang utusannya ke Indonesia . Mereka adalah Ayatollah Ibrahim Amini, Ayatollah Masduqi, dan Hujjatul Islam Mahmudi. Salah satu dari kegiatan mullah-mullah ini adalah kunjungan ke Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Desa Kenep, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, untuk menemui pimpinannya, Husein al-Habsyi
.
Hasil dari pertemuan tersebut adalah diterimanya 10 murid pilihan Husein al-Habsyi untuk belajar di hauzah ‘ilmiyyah di kota Qom, Iran. Sejak saat itu hingga wafatnya pada tahun 1994, Husein al-Habsyi bertanggung jawab penuh menyeleksi para kandidat yang ingin nyantri ke hauzah ‘ilmiyyah di Qom, dan kota-kota lainnya di Iran
.
Direktur pusat Kebudayaan Iran (Islamic Cultural Center-Jakarta), Mohsen Hakimollahi mengatakan, selepas wafatnya Husein al-Habsyi, rekomendasi untuk kuliah ke Iran dilakukan oleh tokoh-tokoh ormas Islam seperti Amien Rais, Said Aqil Siradj, ataupun Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
.

Penyelewengan Ahlu s- Sunah

.
Pengenalan
 Perkataan “penyelewengan” bererti perbuatan menyeleweng, penyimpangan dari dasar, memisahkan seseorang dari hakikat pengajaran agama.  Sementara perkataan “ kesesatan” bererti perihal sesat. Dan “sesat” adalah tidak mengikuti jalan yang betul, tersalah jalan, terkeliru, menyimpan dari jalan yang benar (dk, hlm. 1191).
.
Perkataan Dhalal (kesesatan) di dalam al-Qur’an dikaitkan kepada penderhakaan terhadap Allah (swt) dan Rasul-Nya, kerana menyalahi, menolak, mengubah, dan menangguhkan hukum-Nya. Firman-Nya “ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu.Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya (wa man ya ‘si Llaha wa Rasula-hu), maka ianya telah sesat (Dhalla) dengan  kesesatan yang nyata (Dhalalan)” (Al-Ahzab (33):35) dan ikutan (Taqlid) kepada orang yang mulia dan pembesar-pembesar yang melakukan perkara yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.)  Firman-Nya “ Mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati orang yang mulia kami dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan Engkau ( fa-adhallu-na s-Sabila)” (Al-Ahzab(33): 67)
.
Ini bererti sesiapa yang menyalahi, membelakangi, mengganti, membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya sama ada secara sukarela atau ikutan (taqlid) kepada orang yang mulia dan pembesar-pembesar mereka yang melakukan perkara tersebut dahulu dan sekarang (salaf dan khalaf) adalah termasuk golongan yang sesat atau menyeleweng dari Islam yang sebenar. Dan maksud “Islam yang sebenar” adalah Islam yang bertepatan dengan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Dan bukan sebaliknya.
           .
  A. Penyelewengan dari sudut Akidah
.
Dikemukakan dibawah ini sebahagian dari penyelewengan Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah dari segi Akidah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) seperti berikut.
.
1. Imam tidak maksum. Siapa sahaja boleh menjadi Imam sama ada orang yang zalim, fasiq, si jahil, pembohong, penipu, perampas, pembunuh, penzina, peliwat dan lain-lain. Ianya  menyeleweng daripada firman Tuhan “ Sesungguhnya aku menjadikan engkau Imam bagi manusia. Dia (Ibrahim) berkata: Semua zuriyatku? Dia berfirman: Janjiku tidak termasuk orang-orang yang zalim” (al-Baqarah(2):124). Lantaran itu orang yang zalim tidak boleh menjadi Imam. Tetapi Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah menyokong orang-orang yang zalim menjadi pemimpin dan kemaksuman mereka tidak perlu. Kemudian mereka mewajibkan orang ramai supaya mentaati pemimpin-pemimpin tersebut. Justeru itu mereka telah menyeleweng dari ajaran Islam yang sebenar:al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Lantaran itu mereka telah memisahkan agama dengan politik. Mereka percaya bahawa Rasulullah (Saw.) kurang tahu urusan dunia kerana beliau bersabda “Kalian lebih mengetahui urusan duniamu” (antum a‘lamu bi-umuri dunya-kum) (Muslim, Sahih , ii, hlm. 875).
.
2. Menolak ayat al-Qur’an mengenai pengumpulan  semula setiap umat satu kumpulan (Raj‘ah). Firman-Nya “Pada hari itu kami kumpulkan daripada setiap umat satu kumpulan (faujan) di kalangan mereka yang mendustakan ayat ayat kami, mereka akan dikumpulkan” (Al-Naml (27:83) Ayat ini jelas menunjukkan kebangkitan semula satu kumpulan pada setiap umat di kalangan mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah (swt), tetapi Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah menolaknya. Justeru itu mereka yang menolak ayat inilah yang sesat atau menyeleweng dan bukan sebaliknya.
.
3. Berterus terang menyokong pemimpin-pemimpin yang zalim, tanpa berpura-pura. Dan menentangMustadh‘afin, tanpa berpura-pura. Lantaran itu akidah mereka menyeleweng dari Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah ,kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud (11):113).
.
4. Melebihkan taraf Abu Bakr dan Umar  daripada Allah(swt) dari segi pelaksanaan hukum. Mereka mempraktikkan sunnah Abu Bakr dan Umar yang berlawanan  dengan hukum Allah. Dan barangsiapa yang menyalahi sunnah mereka berdua dikira menyeleweng atau sesat dari Islam sebenar. Mereka maksudkan dengan Islam yang sebenar itu adalah Islam yang mematuhi sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar sekalipun ianya bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.).
.
Ini bererti orang yang percaya dan mengamal keseluruhan hukum al-Qur’an adalah dikira sesat, dan menyeleweng dari Islam sebenar, kerana menolak sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar. Kemudian mereka mengadakan program pemulihan atau  kemurnian akidah bagi memaksa orang ramai mentaati sunnah mereka berdua. Mereka jadikan Masa’il al-Mursalah, Maslahah, Ihsan Sadd dh-Dhara‘i‘, ijmak, ijtihad, dan Qiyas bagi membatal atau menukar atau mengubah hukum Allah (swt).
.
Kemudian mereka memberitahu orang-ramai perlakuan sedemikian adalah kerana menjaga maqasid asy-Syari‘ah, bukan menentang hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Orang ramai adalah jahil, lalu menerima fatwa mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Mereka menyakinkan orang ramai bahawa perbuatan mereka tidak terkeluar dari roh Syari‘ah, pada hakikatnya terkeluar dari Syari‘ah Allah. Orang ramai menerimanya. Perkataan Syari‘ah yang digunakan oleh mereka pula bukan bererti al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) sahaja.
.
Malah menggunakan istilah-istilah lain untuk mengkaburkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dari diamalkan. Umpamanya mereka mengatakan khalifah Umar tidak memberi saham Muallaf adalah untuk menjaga Maqasid asy Syari‘ah. Sepatutnya Maqasid asy-Syari‘ah adalah penerusan pemberian zakat kepada Muallaf, tetapi khalifah Umar telah menahan pemberian tersebut dengan alasan Muallaf tidak memerlukanya lagi
.
Mereka menyokong tindakan khalifah Umar yamg menyalahi al-Qur’an itu sebagai tindakan yang bijak dan memujinya pula. Sepatutnya mereka menjaga Maqasidu l-Qur’an yang meneruskan pemberian zakat kepada Muallaf, tetapi disebabkan mereka lebih meredhai sunnah Umar daripada hukum Allah, maka mereka mencari jalan bagi menutup kesalahannya.Dan kesalahannya pula menjadi sunnah atau hukum yang menangguh atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Sehingga sekarang mereka mempertahankan perbuatan atau sunnah Abu Bakr dan Umar meskipun ia bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Malah mereka memaksa orang ramai mengamalkan sunnah tersebut di dalam peribadatan mereka.
.
Justeru itu sesiapa yang percaya dan mengamalkan hukum al-Qur’an 100% akan dikira sesat atau menyeleweng  dari ajaran Islam yang sebenar kerana mereka  menolak sunnah khalifah Abu Bakr dan Umar yang menyalahi al-Qur’an. Jika sesiapa yang tidak menerima sunnah tersebut mereka  menganggapnya  terkeluar daripada agama Islam sebenar; menyeleweng  atau sesat, dan perlu kepada pemulihan atau pemurnian akidah kerana ia mengancam keselamatan negara. Sepatutnya mereka yang mengamalkan sunnah Abu Bakr dan Umar  yang bertentangan  dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) lebih perlu dipulihkan akidah mereka kepada  akidah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dengan meninggalkan sunnah mereka berdua. Tetapi percayalah bahawa mereka akan meneruskan sunnah Abu Bakr dan Umar yang menyalahi al-Qur’an.
.
Mereka tidak akan menyerah kepada hukum Allah sepenuhnya sebagaimana firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah,dan taatlah kepada Rasul dan Uli l-Amri min-kum.Jika kamu bertelagah di dalam sesuatu perkara,maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Demikian itu lebih baik dan sebaik-baik jalan” (al-Nisa’ (4):59). Dan firman-Nya “Tidakkah kamu mengetahui bahawa mereka yang mendakwa bahawa mereka beriman kepada (al-Qur’an) yang diturunkan kepada engkau dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum engkau; mereka hendak meminta hukum kepada Thaghut (berhala),sedangkan mereka diperintahkan supaya menentang thaghut.Syaitan menghendaki supaya ia menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh” (al-Nisa’ (4): 60). Justeru itu ajaran Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah menyeleweng dari ajaran al-Qur’an.
.
5. Melebihkan taraf Abu Bakr dan Umar  daripada Rasulullah (Saw.) dari segi pelaksanaan hukum. Mereka lebih mentaati sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar daripada sunnah Rasulullah (Saw.) Sebaliknya mereka menyesatkan orang yang tidak mentaati sunnah mereka berdua sekalipun bertentangan dengan sunnah Rasulullah (Saw.). Jika sesiapa mengamalkan Sunnah Rasulullah 100% adalah dikira sesat, dan menyeleweng dari Islam yang sebenar, oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah kerana menolak sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar yang menyalahi sunnah Rasulullah (Saw.). Mereka percaya bahawa khalifah Abu Bakr dan Umar lebih mengetahui daripada Rasulullah (Saw.).
.
Lantaran itu mereka menggunakan istilah-istilah Masalih Mursalah, Maslahah, Ihsan, Maqasidu sy-Syari‘ah, ijtihad dan lain-lain bagi membatalkan atau menangguh atau menggantikan sebahagian Sunnah Rasulullah (Saw.). Justeru itu mereka menyalahi Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah(hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu.Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ianya telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab (33):35)
.
Firman-Nya “Tidak, demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka,kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau, dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya” (Al-Nisa’(4):65) Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir” (al-Ma ‘idah (5):44)
.
Dan firman-Nya “Barang siapa yang menentang Rasul,sesudah nyata petunjuk baginya dan mengikut bukan jalan orang-orang Mukmin, maka kami biarkan dia memimpin dan kami memasukkan dia ke dalam nereka Jahannam. Itulah sejahat-jahat tempat kembali” (Al-Nisa ‘(4);115)
.
6. Mengharamkan nikah Mut‘ah yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kerana Umar mengharamkannya. Dengan pengharaman tersebut banyak gejala masyarakat timbul dan tidak dapat di atasi. Lantaran itu kita dapati di dalam masyarakat Ahlu s-Sunnah wa l–Jama‘ah perzinayan, perogolan banyak berlaku. Terdapat bapa berzina dengan anak perempuannya, iparnya, ibu saudaranya, adik perempuannya, datuk pula merogol cucu perempuannya serta cicitnya dan lain-lain. Bayi luar nikah dibuang begitu sahaja. Oleh itu tidak hairanlah jika Imam Ali a.s berkata: “perzinayan yang berlaku, adalah ekoran pengharaman nikah Mut‘ah”.  Mereka mentaati Umar lebih dari mentaati Allah (swt) dan Rasul-Nya dari segi pelaksanaan hukum. Al-Suyuti berkata: Umarlah orang pertama yang mengharamkan nikah Mut‘ah (Tarikh al-Khulafa’, hlm.137)  Kenyataan al-Suyuti bererti:
.
a)  Nikah mut’ah adalah halal menurut Islam.
b) Khalifah Umarlah yang mengharamkan nikah mut’ah yang telah dihalalkan pada masa Rasulullah (Saw.), khalifah Abu Bakar dan pada masa permulaan zaman khalifah Umar.
c) Umar mempunyai kuasa veto yang boleh memansuhkan atau membatalkan hukum nikah mut’ah sekalipun ianya halal di sisi Allah dan Rasul-Nya. Al-Suyuti seorang Mujaddid Ahlil Sunnah abad ke-6 Hijrah mempercayai bahawa nikah mut’ah adalah halal, kerana pengharamannya adalah dilakukan oleh Umar dan bukan oleh Allah dan RasulNya.Kenyataan al-Suyuti adalah berdasarkan kepada al-Qur’an dan kata-kata Umar sendiri.
.
Al-Suyuti seorang Mujaddid Ahlil Sunnah abad ke-6 Hijrah mempercayai bahawa nikah mut’ah adalah halal, kerana pengharamannya adalah dilakukan oleh Umar dan bukan oleh Allah dan RasulNya.Kenyataan al-Suyuti adalah berdasarkan kepada al-Qur’an dan kata-kata Umar sendiri.
.
7. Khalifah tidak diwasiatkan oleh Rasulullah saw,tetapi khalifah Abu Bakr telah berwasiat kepada Umar, dan Umar telah berwasiat kepada Uthman  secara tersusun. Lantaran itu Abu Bakr tidak mentaati Rasulullah saw kerana  meninggalkan wasiat, begitu juga Umar. Sebenarnya Rasulullah saw telah berwasiat kepada Ali a.s. “Siapa yang telah menjadikan aku maulanya , maka Ali adalah maulanya” Lantaran itu Ali dan sebelas para imam Ahlu l-Bait Rasulullah saw menuntutnya.
.
Lantaran itu, jika mereka mendakwa Rasulullah tidak meninggalkan wasiat, tetapi mereka berdua telah berwasiat, bererti mereka telah menyalahi Sunnah Rasulullah saw yang tidak berwasiat menurut pendapat mereka.Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Rasulullah saw.Dan jika Rasulullah saw telah berwasiat-tentu beliau berwasiat-Mereka juga telah menyalahi Sunnah Rasulullah saw, kerana beliau telah berwasiatkan kepada Ali, Hasan, Husain sehinggalah kepada Imam al-Mahdi a.s. dan bukan kepada mereka berdua. (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, hlm.124-5) Justeru itu Ahlu s-Sunnah yang menolak hadis Imam Dua Belas sepatutnya  meneleweng,  bukan Syi‘ah yang mempercayainya.
.
8. Tidak memahami  konsep ilmu Allah tentang al-Bada’ di dalam konteks “Dia menghapuskan apa  yang dikehendaki dan menetapkan(yamhu Llahu ma yasya‘ wa yuthbit) dan di sisi-Nya Ummu l-Kitab’ (al-Ra‘d (13):39) Dan firman-Nya “ Kami tidak mengubah mana mana ayat ( ma nansakhu min ayatin) atau kami lupakan(kepada kamu) kami datangkan (gantiannya) dengan lebih baik daripadanya (na’ti bi-kharin min-ha) atau yang seumpamanya ( au mithli-ha)” (Al-Baqarah(2):106) Oleh itu, Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah tidak memahami konsep  al- Bada’nasikh dan mansukh sehingga mereka mempercayai  bahawa Abu Bakr dan Umar  boleh membatalkan atau mengubah hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dengan alasanmaslahah, lalu memtaati mereka berdua.
.
9. Tidak mempercayai Muhammad bin Hasan al-Askari sebagai imam al-Mahdi al-Muntazar. Sikap penentangan ini semata-mata penentangan mereka terhadap  hadis  Dua Belas Imam (al-Qunduzi l-Hanafi,Yanabi ‘ al-Mawaddah, hlm.148-9)
.
10. Memartabatkan majoriti para sahabat Nabi (Saw.) yang telah menjadi kafir-murtad dengan sendiri. Sedangkan Rasulullah (Saw.) mengatakan bahawa majoriti mereka  telah menjadi kafir murtad selepas kewafatannya, kerana mereka telah mengubah  atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Hanya sedikit sahaja bilangan mereka terselamat. Syi‘ah tidak mengkafirkan mereka tetapi al-Bukhari dan Muslim telah mencatat di dalam Sahih Sahih  mereka mengenai perkara tersebut. 
.
                                                                                               I
    Definisi kekafiran
.
Kafir dan murtad disini bermakan tidak taat atau tidak patuh, bukan bermakna kafir tulen
.
Kajian mengenai para sahabat yang telah menjadi kafir-murtad selepas kewafatan Nabi (Saw.) amat mencemaskan, tetapi ianya suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan oleh sesiapapun kerana ia telah dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka di mana kedua dua kitab tersebut dinilai sebagai kitab yang paling Sahih selepas al-Qur’an oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sendiri. Di samping itu ia juga telah dicatat oleh pengumpul-pengumpul Hadis daripada mazhab Ahlu l-Bait(a.s) di dalam buku-buku mereka.
.
Amatlah dikesali bahawa kaum Wahabi yang menyamar sebagai Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sentiasa menyamarakkan sentimen anti Syi‘ah dengan slogan “Syi‘ah mengkafirkan para sahabat” bagi mendapatkan sokongan orang ramai kepada gerakan mereka.Walau bagaimanapun rencana ringkas ini sekadar mendedahkan hakikat sebenar  bagi menjawab tuduhan tersebut, dan tidak sekali-kali bertujuan meresahkan kaum Muslimin di rantau ini.
.
Sekiranya al-Bukhari dan Muslim telah mencatat kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) di dalam Sahih-Sahih mereka, kenapa kita menolaknya dan melemparkan kemarahan kepada orang lain pula? Dan jika mereka berdua berbohong, merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah (swt) Dan jika kita Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), nescaya kita menerimanya. Jika tidak, kitalah Ahli anti Sunnah atau Hadis Nabi (Saw.)
.
      Definisi sahabat
Berbagai pendapat mengenai definisi sahabat telah dikemukakan. Ada pendapat yang mengatakan: “Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya daripada orang-orang Islam, maka ia adalah daripada para sahabatnya.”
.
Definisi inilah yang dipegang oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm.1). Sementara gurunya Ali bin al-Madini berpendapat: Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya, sekalipun satu jam di siang hari, adalah sahabatnya (Ibid). Manakala al-Zain al-Iraqi berkata: “Sahabat adalah sesiapa yang berjumpa dengan Nabi sebagai seorang Muslim, kemudian mati di dalam Islam.” Said bin Musayyab berpendapat: “Sesiapa yang tinggal bersama Nabi selama satu tahun atau berperang bersamanya satu peperangan.”
.
Pendapat ini tidak boleh dilaksanakan kerana ianya mengeluarkan sahabat-sahabat yang tinggal kurang daripada satu tahun bersama Nabi (Saw.) dan sahabat-sahabat yang tidak ikut berperang bersamanya.Ibn Hajar berkata: “Definisi tersebut tidak boleh diterima (Ibn Hajr, Fath al-Bari, viii, hlm.1)
.
Ibn al-Hajib menceritakan pendapat ‘Umru bin Yahya yang mensyaratkan seorang itu tinggal bersama Nabi (Saw.) dalam masa yang lama dan “mengambil (hadith) daripadanya (Syarh al-Fiqh al-‘Iraqi, hlm.4-3) Ada juga pendapat yang mengatakan: “Sahabat adalah orang Muslim yang melihat Nabi (Saw.) dalam masa yang pendek(Ibid).
.                                                                  
                  Kedudukan para sahabat
.
Kedudukan para sahabat di bahagikan kepada tiga:
1. Sahabat semuanya adil dan mereka adalah para mujtahid. Ini adalah pendapat Ahlu s- Sunnah wa l-Jama‘ah.
.
2. Sahabat seperti orang lain, ada yang adil dan ada yang fasiq kerana mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Justeru itu yang baik diberi ganjaran kerana kebaikannya. Sebaliknya yang jahat dibalas dengan kejahatannya. Ini adalah pendapat mazhab Ahlu l-Bait Rasulullah (Saw.) atau Syi‘ah atau Imam Dua belas.
.
3. Semua sahabat adalah kafir-semoga dijauhi Allah-Ini adalah pendapat Khawarij yang terkeluar daripada Islam.
                                                                                            II
Dikemukan dibawah ini lima hadis daripada Sahih al-Bukhari (Al-Bukhari, Sahih, (Arabic-English), by Dr.Muhammad Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Medina al-Munawwara, Kazi Publications, Chicago, USA1987, jilid viii, hlm.378-384 (Kitab ar-Riqaq,bab fi l-Haudh)dan enam hadis dari Sahih MuslimMuslim, Sahih, edisi Muhammad Fuad  ‘Abdu l-Baqi, Cairo, 1339H,
        . 
                                                      Terjemahan hadis-hadis dari Sahih al-Bukhari
.
1. Hadis no. 578. Daripada Abdullah bahawa Nabi(Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh dan sebahagian daripada kamu akan dibawa di hadapanku.Kemudian mereka akan dipisahkan jauh daripadaku.Aku akan bersabda: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
2. Hadis no. 584. Daripada Anas daripada Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga aku mengenali mereka, lantas mereka dibawa jauh daripadaku. Kemudian aku akan bersabda:Para sahabatku (ashabi)! Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
3. Hadis no. 585. Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan miminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi  ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah  mendengar  sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka Aku akan bersabda:Jauh!Jauh! (daripada rahmat Allah)  atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (suhqan suhqan li-man ghayyara ba‘di) 
.
           Abu Hurairah berkata bahawa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa  yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la  ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu  ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy)
.
4. Hadis no. 586. Daripada Ibn Musayyab bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada para sahabatku akan mendatangiku di Haudh, dan mereka akan dipisahkan dari Haudh.Maka aku berkata:Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku (ashabi), maka akan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka.Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad ke belakang selepas anda meninggalkan mereka (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka  ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)
.
5.Hadis no.587. Daripada Abu Hurairah bahawa Nabi (Saw.)bersabda: Manakala aku sedang tidur, tiba-tiba sekumpulan (para sahabatku) datang kepadaku. Apabila aku mengenali mereka,tiba-tiba seorang lelaki (Malaikat) keluar di antara aku dan mereka. Dia berkata kepada mereka : Datang kemari.Aku bertanya kepadanya: Ke mana? Dia menjawab: Ke Neraka,demi Allah. Aku pun bertanya lagi: Apakah kesalahan mereka? Dia menjawab: Mereka telah menjadi kafir-murtad selepas kamu meninggalkan mereka( inna-hum irtaddu ba‘da-ka  ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Justeru itu aku tidak melihat mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya (fala ara-hu yakhlusu min-hum illa mithlu hamali n-Na‘ am).
.
                                                         Terjemahan hadis-hadis dari Sahih Muslim
.
1. Hadis no.26. (2290) Daripada Abi Hazim berkata: Aku telah mendengar Sahlan berkata:Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh.Siapa yang melaluinya, dia akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya, dia tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku (para sahabatku). Kemudian dipisahkan di antaraku dan mereka.Abu Hazim berkata: Nu‘man bin Abi ‘Iyasy telah mendengarnya dan aku telah memberitahu mereka tentang Hadis ini. Maka dia berkata:Adakah anda telah mendengar Sahlan berkata sedemikian? Dia berkata: Ya.
.
(2291) Dia berkata: Aku naik saksi  bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri menambah: Dia berkata: Sesungguhnya mereka itu adalah daripadaku (inna-hum min-ni). Dan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh !Jauh! (daripada rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Tuhanku dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di)
.
2. Hadis no.27 (2293) Dia berkata:Asma‘ binti Abu Bakr berkata: Rasulullah (Saw.) bersabda:Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu  ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Tidakkah anda merasai atau menyedari apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka sentiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him)Dia berkata:Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”
.
3. Hadis no. 28. (2294) Daripada  ‘Aisyah berkata: Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya (ashabi-hi): Aku akan menunggu mereka di kalangan kamu yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik dengan pantas dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah daripada (para sahabat) ku dan daripada umatku. Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma  ‘amilu ba‘da-ka). Mereka sentiasa mengundur ke belakang(kembali kepada kekafiran) (Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him)
.
4. Hadis no.29 (2295) Daripada Abdullah bin Rafi‘; Maula Ummi Salmah; isteri Nabi (Saw.)Rasulullah (Saw.) bersabda: Sesungguhnya aku akan mendahului kamu di Haudh. Tidak seorang daripada kamu(para sahabatku) akan datang kepadaku sehingga dia akan dihalau/diusir daripadaku(fa-yudhabbu ‘anni) sebagaimana  dihalau/diusir unta yang tersesat (ka-ma yudhabbu l-Ba‘iru dh-Dhallu). Aku akan bersabda: Apakah salahnya?  Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)Maka aku bersabda:Jauh! (daripada  rahmat Allah) (suhqan).
.
5. Hadis no.32 (2297) Daripada Abdillah, Rasulullah (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan aku akan bertelagah dengan mereka (aqwaman). Kemudian aku akan menguasai mereka.Maka aku bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku.Mereka itu adalah para sahabatku (Ya Rabb! Ashabi, ashabi). Lantas dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)
.
6. Hadis no.40. (2304) Daripada Anas bin Malik bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Akan datang kepadaku di Haudh beberapa lelaki (rijalun) daripada mereka yang telah bersahabat denganku (mimman sahabani) sehingga aku melihat mereka diangkat kepadaku.Kemudian mereka dipisahkan daripadaku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku. Mereka adalah para sahabatku (Usaihabi) Akan dijawab kepadaku: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka).
.
  Perkataan-perkataan yang penting di dalam hadis-hadis tersebut.
.
Daripada hadis-hadis di atas kita dapati al-Bukhari telah menyebut perkataan:
a. Ashabi (para sahabatku) secara literal sebanyak empat kali
b. Inna-ka la tadri atau la  ‘ilma la-ka ma ahdathu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) sebanyak tiga kali. Perkataan ahdathu bererti mereka telah melakukan bid‘ah-bid‘ah atau inovasi yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah nabi (Saw.).
c. Inna-hum  Irtaddu (Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad) sebanyak empat kali.
d. Suhqan suhqan li-man gyayara ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau ke Nerakalah mereka yang telah mengubah atau menukarkan-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan“Ghayyara” bererti mengubah atau menukarkan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
e. Fala arahu yakhlusu minhum mithlu hamali n-Na‘am (Aku tidak fikir mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya) satu kali.
.
Sementara Muslim telah menyebut perkataan:
.
a. Ashabi (para sahabatku) secara literal satu kali.
b. Ashabi-hi (para sahabatnya) satu kali,
c. Sahaba-ni ( bersahabat denganku) satu kali
d. Usaihabi (para sahabatku) dua kali.
e. Innaka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka (sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali.
f. Inna-ka la tadri atau sya‘arta ma  ‘amilu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui atau menyedari apa yang dilakukan (ma ‘amilu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali . Perkataan “Ma‘amilu” (Apa yang dilakukan oleh mereka) adalah amalan-amalan yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
g. Ma barihu atau Ma zalu Yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him (mereka sentiasa kembali kepada kekafiran) dua kali
h. Suhqan suhqan li-man baddala  ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau  ke
.
Nerakalah mereka yang telah mengganti atau  mengubah atau  menukar-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan “Baddala” bererti mengganti atau mengubah atau menukar hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
Justeru itu sebab-sebab  mereka menjadi kafir-murtad menurut al-Bukhari dan Muslim adalah kerana mereka:
(1)  Ahdathu=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(2) ‘Amilu   =Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(3) Ghayyaru=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
(4) Baddalu=Irtaddu atau yarji‘un ‘ala a‘qabi-him
.
                                                                                           III
Ini bererti mereka yang telah mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya dilaknati(mal‘unin). Lantaran itu sebarang justifikasi (tabrirat) seperti MaslahahMasalihu l-MursalahSaddu dh-Dhara’i‘, Maqasidu sy-Syari‘ah‘, dan sebagainya bagi mengubah atau menukar atau menangguh atau membatalkan sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Jika mereka terus melakukan sedemikian, maka mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), malah mereka adalah Ahli anti Sunnah nabi (Saw.)
.
Sebab utama yang membawa mereka menjadi kafir-murtad (Irtaddu atau La yazalun yarji‘un ‘ala  a‘qabi-him)di dalan hadis-hadis tersebut adalah kerana mereka telah mengubah sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya (baddalu wa ghayyaru) dengan melakukan berbagai bid‘ah (ahdathu)  dan amalan-amalan (‘amilu) yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Perkara yang sama akan berlaku kepada kita di abad ini jika kita melakukan perkara yang sama. Menurut al-Bukhari dan Muslim,hanya sebilangan kecil daripada mereka terselamat seperti bilangan unta yang tersesat atau terbiar (mithlu hamali n-Na‘am). Justeru itu konsep keadilan semua para sahabat yang diciptakan oleh Abu l-Hasan al-Asy‘ari (al-Asy‘ari, al-Ibanah, cairo, 1958, hlm.12) dan dijadikan akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah bertentangan dengan hadis-hadis tersebut.
.
Walau bagaimanapun hadis-hadis tersebut adalah bertepatan dengan firma-Nya di dalam Surah al-Saba’ (34):131 “Dan sedikit daripada hamba-hambaKu yang bersyukur”, firman-Nya di dalam Surah Yusuf (12):103“Dan kebanyakan manusia bukanlah orang-orang yang beriman, meskipun engkau harapkan”, dan firman-Nya di dalam Surah Sad (38):24 “Melainkan orang-orang yang beriman,dan beramal salih, tetapi sedikit (bilangan) mereka” Dia berfirman kepada Nuh di dalam Surah hud (11):40 “ Dan tiadalah beriman bersamanya melainkan sedikit sahaja.” Mukminun adalah sedikit.Justeru itu tidak hairanlah jika di kalangan Para sahabat ada yang telah mengubah Sunnah Nabi (Saw.), tidak meredhai keputusan yang dibuat oleh Nabi (Saw.) Malah mereka menuduh beliau melakukannya kerana kepentingan diri sendiri dan bukan kerana Allah (swt).
.
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, hlm. 47 bab al-Sabr ‘Ala al-Adha meriwayatkan bahawa al-A’masy telah memberitahu kami bahawa dia berkata: “Aku mendengar Syaqiq berkata: “Abdullah berkata: Suatu hari Nabi (Saw.) telah membahagikan-bahagikan sesuatu kepada para sahabatnya sebagaimana biasa dilakukannya. Tiba-tiba seorang Ansar mengkritiknya seraya berkata: “Sesungguhnya pembahagian ini bukanlah kerana Allah (swt).Akupun berkata kepadanya bahawa aku akan memberitahu Nabi (Saw.) mengenai kata-katanya. Akupun mendatangi beliau ketika itu beliau berada bersama para sahabatnya. Lalu aku memberitahukan beliau apa yang berlaku. Tiba-tiba mukanya berubah dan menjadi marah sehingga aku menyesal memberitahukannya. Kemudian beliau bersabda:”Musa disakiti lebih dari itu tetapi beliau bersabar.”
.
Perhatikanlah bagaimana perlakuan (ma ‘amilu) sahabat terhadap Nabi (Saw.)! Tidakkah apa yang diucapkan oleh Nabi (Saw.)  itu adalah wahyu? Tidakkah keputusan Nabi (Saw.)  itu harus ditaati? Tetapi mereka tidak mentaatinya kerana mereka tidak mempercayai kemaksuman Nabi (Saw.).
.
Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, Kitab al-Adab bab Man lam yuwajih al-Nas bi l-’Itab berkata: “Aisyah berkata: Nabi (Saw.)  pernah melakukan sesuatu kemudian membenarkan para sahabat untuk melakukannya. Tetapi sebahagian para sahabat tidak melakukannya. Kemudian berita ini sampai kepada Nabi (Saw.), maka beliau memberi khutbah memuji Allah kemudian bersabda: “Kenapa mereka menjauhi dari melakukannya perkara yang aku melakukannnya. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih mengetahui dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya dari mereka.”
.
Al-Bukhari juga di dalam Sahihnya Jilid IV, hlm. 49 bab al-Tabassum wa al-Dhahak (senyum dan ketawa) meriwayatkan bahawa Anas bin Malik telah memberitahukan kami bahawa dia berkata: “Aku berjalan bersama Rasulullah (Saw.) di waktu itu beliau memakai burdah (pakaian) Najrani yang tebal. Tiba-tiba datang seorang Badwi lalu menarik pakaian Nabi (Saw.) dengan kuat.” Anas berkata: “Aku melihat kulit leher Nabi (Saw.) menjadi lebam akibat tarikan kuat yang dilakukan oleh Badwi tersebut. Kemudian dia (Badwi) berkata: Wahai Muhammad! Berikan kepadaku sebahagian dari harta Allah yang berada di sisi anda. Maka Nabi (Saw.) berpaling kepadanya dan ketawa lalu menyuruh sahabatnya supaya memberikan kepadanya.”
.
Di kalangan mereka ada yang telah menghina Nabi (Saw.)dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau”  di hadapan Nabi (Saw.) “ Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” .( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]” “ Mereka telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.) Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar. “[Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida”, Tarikh, I, hlm. 156]  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II, hlm.14; Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’, III, hlm.208; Ibn Abi al-Hadid,Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku , dia menyakiti Allah”  “Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah”  “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi,Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 129-131 dan lain-lain).
.
Mereka telah membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V , hlm. 140), “ menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) ” [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111],  mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’hlm.136)
.
Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (Saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukari, Sahih, v, hlm.343 (Hadis no.488 )
.
Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah  akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.” Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”
      .
                                                                                       Kesimpulan
Kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) sebagaimana dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka amat menakutkan  sekali. Dan ianya menyalahi akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang menegaskan bahawa semua para sahabat adalah adil (kebal). Lantaran itu mana-mana Muslim sama ada dia seorang yang bergelar sahabat, tabi‘i, mufti, kadi  dan kita sendiri, tidak boleh mengubah atau  menangguhkan atau melanggar atau  membatalkan mana-mana hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya dengan alasan Maqasidu sy-Syari‘ah, Maslahah, dan sebagainya. Kerana Allah dan Rasul-Nya tidak akan meridhai perbuatan tersebut. Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu.Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ianya telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35)
.
Firman-Nya “Tidak ,demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka, kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau,dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya” (Al-Nisa’(4): 65) Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir” (al-Ma ‘idah(5):44)
.
Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”(al-Ma ‘idah(5):45) Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq”(al-Ma‘idah(5):47)
.
Dan firman-Nya “Barang siapa yang menentang Rasul,sesudah nyata petunjuk baginya dan mengikut bukan jalan orang-orang Mukmin,maka kami biarkan dia memimpin dan kami memasukkan dia ke dalam nereka Jahannam.Itulah sejahat-jahat tempat kembali” (Al-Nisa ‘(4);115)
 Semoga semua orang Islam sama ada sahabat atau tidak, dahulu dan sekarang, akan diampun dosa mereka dan dimasukkan ke dalam Syurga-Nya. Amin.
.
11. Membuang perkataan “Hayya  ‘ala khairi l ‘amal ” di dalam azan dan iqamah, dan menambah “al-Salatu kharun mina-n-Naum” di dalam azan subuh. (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm.137 dll.). Mereka melakukan Dua Syahadat bukan di dalam ertikata yang sebenar, kerana mereka menjadikan sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar lebih tinggi dari hukum Allah dan Sunnah Muhammah (Saw.). Sementara Syi‘ah Ja‘fariyyah atau Imam Dua Belas atau Mazhab Ahlu l-Bait (a.s) Dua Syahadat di dalam ertikata yang sebenar. Mereka tidak menjadikan sunnah Abu Bakr dan Umar lebih tinggi dari hukum Allah dan Rasul-Nya dari segi pelaksanaan.
.
Sementara ungkapan “penyaksian mereka bahawa Ali adalah wali Allah” disebutkan di dalam azan daniqamah  oleh sebahagian Syi‘ah,  tetapi mereka tidak menjadikannya  sebahagian dari azan dan iqamah. Mereka menyebutnya kerana mengisytiharkan bahawa Ali adalah wali Allah”. Umpamanya Ayatullah al-Khoei tidak  menyebutnya di dalam azan dan iqamah. Sementara Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah mempercayai azan dan iqamah yang mereka lakukan sekarang adalah azan dan iqamah Rasulullah (Saw.). Mereka  tidak mengetahui bahawa  azan atau iqamah tersebut telah dibuang perkataan “Hayya  ‘ala khairi l ‘amal” dan ditambah perkataan “As-Salatu kharun mina n-Naum” oleh khalifah Umar. Sebenarnya syahadah boleh dilakukan diluar azan dan iqamat lebih daripada tiga kali, umpamanya,  aku naik saksi (asyhadu) bahawa hari Kiamat itu adalah benar (haqqun), aku naik saksi bahawa al-Sirat itu adalah benar, aku naik saksi bahawa syurga dan neraka itu adalah benar dan lain-lain. Meskipun begitu syahadat yang dilakukan oleh Syi‘ah adalah dua syahadat di dalam sembahyang mereka. Hanya Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang tidak mengetahuinya.
.
12. Membuang  atau memperkecilkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para Imam Ahlu l-Bait sekalipun Mutawatir dan bertepatan dengan al-Qur’an. Dan menerima atau memperbesarkan hadis hadis yang diriwayatkan oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sekalipun menyalahi al-Qur’an.
.
13. Menolak hukum-hukum al-Qur’an yang menyalahi sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah.
.
14. Menolak Sunnah Rasulullah yang menyalahi sunnah Abu Bakr , Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah.
.
15. Menjadikan sunnah Abu Bakr, sunnah Umar, sunnah Uthman, dan sunnah Mu‘awiyah lebih tinggi dari al-Qur’an dari segi pelaksanaan .
.
16. Menjadikan sunnah Abu Bakr, sunnah Umar, sunnah Uthman,dan sunnah Mu‘awiyah lebih tinggi dari Sunnah Rasulullah (Saw.) dari segi pelaksanaan.
.
17. Memulih atau memurnikan akidah mereka yang menolak sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah yang berlawanan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) sehingga mereka menolak hukum atau ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dengan alasan maslahah, keselamatan negara,perpaduan dan sebagainya. Sepatutnya mereka yang menolak sebahagian hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya patut dipulih atau dimurnikan akidah mereka sehingga mereka menolak sunnah Abu Bakr , Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang bertentangan dengan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
.
18. Menjadikan berbagai-bagai istilah seperti Maslahah, Istihsan, masalihu l-Mursalah, Maqasidu sy-Syari‘ah, Saddu dh-Dhari‘ah, Ijtihad, Ijmak, Qiyas, dan lain-lain biasanya bagi membatal atau menangguh atau mengilak atau  mengubah atau  mengeliru atau menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Orang ramai menerimanya,kerana kejahilan mereka. Sepatutnya istilah-istilah tersebut digunakan 100% bagi mentaati hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya, tetapi apa yang berlaku adalah sebaliknya.
.
19. Mereka memusuhi orang yang menolak sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Sebaliknya mencintai orang yang menolak hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, tetapi menerima sunnah-sunnah mereka tersebut.
.
20. Mereka menjadikan sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya sebagai amal ibadat harian, bulanan, dan tahunan mereka bagi bertaqarrub kepada Allah (swt). Mereka meninggi diri dan berkata : Inilah akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah; kumpulan yang berjaya (firqah Najiyah). Sementara kumpulan yang menolak sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) ke Neraka.
.
21. Mereka menggunakan perkataan al-Sunnah atau Sunnah bagi menggambarkakan Sunnah Rasulullah (Saw.) sahaja, tetapi pada hakikatnya ia meliputi sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah. Begitu juga mereka mengguna perkataan “Ahlu s-Sunnah” bagi mempamirkan kepada orang ramai bahawa apa yang mereka maksudkan dengan perkataan tersebut adalah “Ahlu s-Sunnah Rasulullah (Saw.) sahaja”; merekalah yang menjaga, dan pengamal Sunnah Rasulullah (Saw.) yang sebenarnya, tetapi pada hakikatmya ia meliputi sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan merekalah pengamalnya. Orang ramai disebabkan kejahilan dan kefanatikan mereka, tidak dapat membezakan di antara Sunnah Rasulullah (Saw.) dan sunnah-sunnah mereka berempat. Lalu mereka mentaati sunnah-sunnah tersebut, dan menjadikanya ibadat bagi menghampiri diri kepada Allah (swt).
.
22. Mereka membenci atau memulau atau memisahkan orang yang yang ingin membezakan di antara Sunnah Rasulullah (Saw.) dan sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah. Kerana mereka khuatir orang ramai akan mengetahuinya, dan mungkin akan mentaati hukum Allah (swt) dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Justeru itu mereka akan menolak sunnah-sunnah mereka. Lantaran itu mereka popularkan hadis “Ikutlah Sunnahku dan sunnah khulafa’ Rasyidin selepasku” Mereka menjadi kesamaran,lalu mereka mengikuti sunnah-sunnah khalifah yang menyalahi hukum Allah (swt) dan Sunnah Rasul-Nya. Kemudian mereka meredhainya dan beramal ibadat dengannya dan menjadikannya sebagai penilai kebenaran yang mengatasi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Orang ramai menerimanya, kerana kejahilan dan kefanatikan mereka. Mereka berkata:Inilah akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah. Dan siapa yang menyalahi Akidah  Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah sesat dan menyeleweng. Dengan mengguna pola pemikiran tersebut bahawa  mereka yang mengamalkan 100% hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya  dikira sesat dan menyeleweng oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah.
.
23. Mereka membenci terhadap orang yang berselawat secara terus kepada Rasulullah (Saw.) dan keluarganya dengan lafaz “Allahumma Salli ‘ala Muhammad wa  ali Muhammad”. Kerana selawat mereka terputus setakat Muhammad sahaja. Mereka berselawat: “SallaLlahu ‘ala Muhammad” tanpa “ ali-hi ” keluarganya. Mereka tidak menyebut “ali-hi” tanpa “ wa sahbi-hi ”. Mereka khuatir orang ramai akan mencintai keluarga Rasulullah  lebih daripada sahabatnya. Mereka mengadakan upacara keagamaan mereka hanya dengan lafaz “ SallaLlahu “ala Muhammad” secara beramai-ramai. Siapa yang mengaitkan lafaz  “wa ali-hi” kepada Muhammad dianggap seorang Syi‘ah. Sedangkan Rasulullah (Saw.) ketika ditanya bagaimana berselawat ke atas beliau?  Beliau bersabda: “Janganlah kalian berselawat ke atasku dengan selawat yang terputus”. Lalu mereka bertanya: Apakah selawat yang terputus? Beliau menjawab: Kalian berkata: Allahuma salli ‘ala Muhammad, kemudian kalian berhenti.Justeru iti katalah : Allahumma salli ‘ala muhammad wa ali Muhammad (Ibn Hajr, al-Sawa‘iqu l-Muhriqah, hlm.144). Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.
.
24. Mereka memuji dan memuja orang yang melebih-lebihkan sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiah ke atas hukum Allah (swt) dan Sunnah Rasul-Nya. Mereka melantik mereka kejawatan yang tinggi bagi menangguh atau mengkabur atau membatalkan sebahagian hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
 .
   Penyelewengan Dari Sudut Syari‘at (al-Qur’an dan Sunnah   Rasulullah (Saw.).
.
1. Menerima ijmak ulama Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sahaja walau pun menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Umpamanya mereka berijmak menyalahi firman-Nya “ Talak (yang dapat dirujukkan) dua kali” dengan menghukum bahawa talak tiga sekali gus jatuh tiga. Sedangkan di dalam al-Qur’an ia jatuh satu. Di dalam hadis juga ia jatuh satu.Khalifah Umar telah bertanya Rasulullah (Saw.) tentang talak tiga sekali gus:Jika ia menceraikan isterinya tiga kali sekali gus? Beliau bersabda: Anda telah mendurhakai Tuhan anda” (A‘lamu l-Muwaqqa‘in, iv, hlm. 349) Justeru itu mereka telah menggunakan Ijmak (ulama Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah) bagi membatalkan hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasul- Dan bukan untuk mentaati hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.) sepenuhnya.Orang ramai menerimanya kerana kejahilan dan kefanatikan mereka.
.
2. Menerima Qiyas sekalipun menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Bagaimana dikiaskan saksi kepada “pembunuhan” yang memerlukan dua saksi sementara saksi kepada “perzinayan” memerlukan kepada empat saksi. Manakah yang lebih berat pembunuhan atau perzinayan? Justeru itu Qiyas tidak boleh dijadikan sumber hukum. Dan sumber hukum pula tidak boleh menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) Kerana Allah dan Rasul-Nya tidak meredhainya. Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ianya telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab (33): 35)
.
Firman-Nya “Tidak, demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka, kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau,dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya”(Al-Nisa’(4): 65)
.
3. Membiarkan perzinayan berlaku dengan memperketatkan syarat nikah yang tidak disyaratkan oleh Rasulullah (Saw.) firman-Nya “ Maka kahwinilah olehmu perempuan-perempuan yang baik hati, berdua, bertiga atau berempat orang” (Al-Nisa’(4):3). Kemudian mepermudahkan pencerian tanpa saksi sedangkan ia adalah syarat  di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) . Firman-Nya “ Dan persaksikanlah dengan dua saksi yang adil di antara kamu” ((al-Talaq (65):2), dan mengharamkan nikah Mut‘ah yang dihalalkan dan pernah dilakukan oleh Rasulullah (Saw.), Umar, Umran bin Hasin, Ibn Juraij dan lain-lain. Ali (a.s) berkata: Jika Umar tidak melarangnya, nescaya tidak akan berzina melainkan orang yang celaka”. “Mereka memaafkan penzina-penzina mereka, tetapi mereka membunuh orang yang melakukan nikah mut‘ah”.
.
4. Menerima ‘Aul yang tidak dilakukan oleh Rasulullah (Saw.) Umarlah orang yang pertama mengenakan ‘Aul di dalam pesaka (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, 137). Lantaran itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Rasulullah saw, malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar. Kerana mereka menghukum sesat atau menyeleweng orang yang menolak ‘Aul yang tidak dilakukan oleh Rasulullah (Saw.).
.
5. Menjadikan pendapat Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah lebih tinggi daripada hukum Allah (swt) dan mentaati mereka pula sekalipun mereka menyalahi hukum Allah.Justeru itu, tidak hairanlah jika Imam Ali mengatakan “mereka” adalah berhala Quraisy. Kerana Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah mentaati sunnah mereka lebih dari mentaati hukum Allah. (al-Majlisi,  Biharu l-Anwar, Bairut 1991, xxx , hlm.393).
.
6. Menjadikan pendapat Abu Bakr Umar, Uthman dan Mu‘awiyah lebih tinggi daripada Sunnah Rasulullah (Saw.). Bererti mereka adalah seperti berhala Quraisy yang disembah. Kerana mereka mentaati mereka berempat lebih daripada Allah (swt) di dalam pelaksanaan hukum.Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sanggup menolak hukum Allah daripada hukum “mereka” . Ini bererti orang yang menolak hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya adalah musuh Allah dan Rasul-Nya. (al-Majlisi, Biharu l-Anwar, Bairut 1991, xxx, hlm. 393). Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu.Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya,maka ianya telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35)
.
Firman-Nya “Tidak, demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka, kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau,dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya” (Al-Nisa’(4):65)
.
7. Mereka mendakwa  bahawa Rasulullah (Saw.) tidak mengumpul al-Qur’an. Hanya Abu Bakr, Umar dan Uthman yang mengumpul al-Qur’an yang ada sekarang. Uthman telah mnegambil mushaf Umar dan Umar mengambilnya daripada Abu Bakr. Penafian tersebut memberi implikasi bahawa Rasulullah (Saw.) adalah seorang yang cuai,tidak mementingkan umatnya sedangkan tiga khalifah selepas beliau telah mengumpulkan al-Qur’an. Apakah peranan Rasulullah (Saw.) sendiri tentang al-Qur’an? Mereka menganggap taraf tiga khalifah tersebut melebihi Rasulullah (Saw.) di dalam pengumpulan al-Qur’an sekalipun mereka telah menghalang penyibaran Sunnah Rasulullah (Saw.) dan membakarnya. (al-Dhahabi,Tadhkirah al-Huffaz,I, hlm.3 dll.) Lalu mereka mengamalkan sunnah-sunnah mereka serndiri. Kemudian mereka berkata : Rasulullah (Saw.) tidak meninggalkan wasiat.Lantarn itu,apa yang beliau tinggal? Justeru itu mereka menganggap  tiga khalifah lebih tinggi  daripada Rasulullah (Saw.) dari segi pelaksanaan hukum. Lalu mereka mengamalkan sunnah-sunnah mereka yang berlawanan dengan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya .
.
          
   C. Pelbagai Penyelewengan Umum.
1. Menziarah kubur Rasulullah  (Saw.) bukan sahaja tidak dapat pahala, malah ia adalah perbuatan syirik (suni wahabi). Ianya bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang mengharuskannya (al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, iii, hlm.78). Dan ia juga bertentangan dengan naluri manusia yang mencintai seseorang berterusan hingga ke kuburnya.
.
2. Bergembira atau berpesta kerana keshahidan Husain bin Ali di Karbala’, malah menghina orang yang memperingati kesyahidannya. Kerana  Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ahlah yang telah membunuhnya. Justeru itu mereka turut membenci mereka yang bersimpati dengannya. Sedangkan Rasulullah (Saw.) bersabda “Husain adalah daripadaku dan aku adalah daripada Husain” (Muslim, Sahih, iv, hlm 1800)Ini bererti pembunuh Husain bin Ali (a.s) adalah pembunuh Rasulullah (Saw.)  Pembeci kepada Husain bin Ali (a.s) adalah pembenci kepada Rasulullah (Saw.). Jika mereka berkata  bahawa mereka mencintai Husain bin Ali (a.s), kenapa mereka berada bersama musuhnya, membantu musuhnya dan mementang Syi‘ah Husain bin Ali (a.s)?
.
3. Menghormati Abu Bakr, Umar, ‘Aisyah dan Hafsah sekalipun mereka menghina atau mempersenda atau menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau”  di hadapan Nabi (Saw.) sendiri“ Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” . ( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) “Sunnah nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]” “ mereka telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.) Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar.”[Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida”,Tarikh, I, hlm. 156]  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya(Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II , hlm.14; Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’, III, hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain,kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku ,dia menyakiti Allah”  Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah”  “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dll).
.
4. Tidak mengharuskan jamak sembahyang di dalam semua keadaan Sekalipun al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) membenarkannya. Firman-Nya “Dirilah sembahyang dari gelincir matahari sehingga gelap malam” (al-Isra’(17):78) Ibn Abbas berkata: Rasulullah (Saw.) telah menjamak sembahyang Zuhr dan ‘Asr, maghrib dan  ‘Isya’ secara berjama‘ah tanpa sakit atau musafir” (Muslim, Sahih, iii, hlm.254). Mereka memusuhi orang yang menjamak sembahyang, tetapi mereka memaafkan orang yang meninggalkan sembahyang dikalangan mereka.
.
5. Melakukan sembahyang Dhuha yang telah diharamkan oleh Rasulullah (Saw.). ‘Aisyah berkata: Sesungguhnya Nabi (Saw.) tidak pernah sembahyang Dhuha.Abdullah bin Umar berkata:Sembahyang Dhuha adalah bid‘ah dari segala bid‘ah (Ahmad bin Hanbal,al-Musnad, ii, hlm. 129, al-Musnad, vi, hlm.30, Malik, al-Muwatta’, I,hlm. 167) . Justeru itu,mereka yang menyeleweng  atau sesat adalah mereka melakukan sembahyang Dhuha dan bukan sebaliknya.
.
6. Membuang atau membatalkan prinsip Khums untuk Ahlu l-Bait Rasulullah (Saw.) yang diwajibkan di dalam al-Qur’an,  tetapi Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga Rasulullah (Saw.). Kemudian sunnahnya diikuti oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah . Sunnahnya  itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (8):41 “ Ketahuilah, apa yang kamu perolehi seperlima adalah untuk Allah, Rasul-Nya, Kerabat, anak-anak yatim,orang miskin, dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, II , hlm.127]. Lantaran itu mengamal ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang bertentangan dengan sunnnah Abu Bakr dan Umar dikira sesat dan menyeleweng oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah dari Islam yang sebenar. Sepatutnya mereka yang  yang membuang atau membatalkan hukum Khums yang menyeleweng atau sesat, bukan mereka yang mengamalkannya. Inilah ajaran Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang menyesatkan mereka yang menolak sunnah Abu Bakr dengan mematuhi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.).
.
7. Menjadikan Imamah dan khilafah soal yang kecil,dan tidak penting. Tetapi dari segi kenyataan mereka  telah menjadikan jawatan khalifah seperti barangan yang perlu direbut. Siapa yang cepat, maka dialah yang dapat sekalipun dengan menggunakan kekerasan penipuan dan kezaliman. Mereka sanggup membunuh, berbohong kerana merebut jawatan tersebut. Hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.) bukan menjadi pengukuranya.Justeru itu ianya menyalahi firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka.Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah,kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud(11):113).
.
8. Menafikan taklif sembahyang ke atas orang kafir. Ini bererti mereka menolak firman-Nya “Apakah yang membuat kalian memasuki Saqar? Mereka menjawab: Kami tidak termasuk mereka yang mengerjakan sembahyang” Itulah ucapan orang-orang kafir kepada Tuhan. Mereka tidak berkata:Kami kafir, kenapa bertanya kepada kami?. Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah mengingkari orang kafir ditaklifkan sembahyang, begitu juga dengan Haji. Justeru itu mereka bukan Ahlu s-Sunnah Rasulullah (Saw.), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Umar atau Uthman  atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.
.
9. Wajib membasuhi dua kaki dan tidak memadai menyapu kedua –dua kaki tersebut
.

BAHAGIAN KEDUA:
                        
                                          AKIDAH AHLU S-SUNNAH WA L-JAMA’AH
                                          YANG BERTENTANGAN DENGAN AL-QUR’AN

AI-Asy’ari sebagai pelopor mazhab al-Asya’irah kemudian dikenali dengan mazhab Ahlu Sunnah Wa I-Jama’ah, adalah seorang yang pernah hidup di abad ketiga Hijrah. Beliau dikatakan meninggal dalam tahun 330H? Ini bererti tiga abad seiepas kewafatan Nabi (Saw) orang-orang Islam tid­ak berpegang kepada mazhab al-Asya’irah atau mazhab Ahlu s-Sunnah Wa I-Jama’ah

.
Menurut al-Syahrastani (w. 548H), bermulanya mazhab Ahlu Sunnah Wa I-Jama’ah apabila ai-Asy’ari berkecimpung dengan golongan al-Sifatiyyah (menetapkan sifat-sifat azaliyyah bagi Allah S.W.T) dan menyokong pendapat-pendapat mereka dengan hujah-hujah Ilmu I-Kalam. Dan semen­jak itulah nama al-Sifatiyyah bertukar kepada al-Asy’a’iyyah. (al-MiIal Wa n-NiIial, Cairo, 1968, I, him. 93)
Al-Asy’ari dalam Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilafal-Musalliyyin, Cai­ro, 1950, I, hIm. 320, apabila membicarakan tentang pendapat-pendapatnya atau akidah-akidahnya, dia menyebutkan “ini adalah sebahagian daripada pendapat (Qaul) Ashab al-Hadith dan Ahl al-Sunnah.” Sementara di dalam al-lbanah an Usul al-Diyanah, Cairo, 1385 H, him. 8, dia menyebutkan “ini adaIah pendapat (Qau[) Ahl al-Haq dan al-Sunnah.”

.

Di dalam kedua-dua kenyataan tersebut, dia tidak menyebut perkataan aI-Jama‘ah. Kemungkinan aI-Baghdadi (w.429H) adalah orang pertama di kalangan al-Asya’irah yang mengguna perkataan al-Jama’ahselepas per­kataan Ahlu s-Sunnah (Ai-Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq, Beirut, 1973, hIm. 304), kemudian diikuti oleh Al-Syahrastani (Al-Milal Wa n-Nihal, I, him. Ii). Al-Jama’ah yang hakiki, menurut Imam Ali A.S ialah bersama Ahli kebenaran sekalipun mereka itu sedikit. Al-Furqah (perpecahan) ialah mengikut AhI al-Batil sekaiipun mereka itu ramai (Qadhi Abd al-Jabbar, Fadhl al-I ‘tizal, Cairo, 1955, him. 185). Sementara al-Asy’ari al-Qummi (w.301H) berkata: al-Jama’ah ialah golongan ramai, menyokong mana-mana pemerintahan tanpa mengira sama ada pemerintahan itu adil atau pun zalim. Mereka bersepakat (berjema’ah) bukan kerana keugamaan. Malah penger­tian al-Jama’ah yang sebenar bagi mereka adalah penpecahan (al-Furqah) kerana dendam mendendam berlaku sesama mereka terutamanya mengenai Tauhid, hukum-hukum, fatwa-fatwa dan lain-lain. Mereka bertengkar dan mengkafir sesama mereka (Kitab al-maqalat wa l-Firaq, Tehran, 1963, hlm.15)

.

Oleh itu tidak hairanlah jika al-Asy’ari sendiri bertelagah dengan Ahmad bin Hanbal mengenai perbincangan di dalam ‘ilmu l-Kalam, dia menulis buku al-Istihsan bagi menentang musuhnya Ahmad b. Hanbal, walaupun pada muIanya al-Asy’ari mengakuinya sebagai imam.Begitu juga  pengikut ai-Hanbali mengkafirkan pengikut aI-Asy’ari kerana menyangka  bahawa dia telah membohongi Rasul (Saw) .Al-Asy’ari pula mengkafirkan Mu’tazilah dengan alasan mereka membohongi Rasul (Saw) di dalam pengithbatan (Sifat) ilmu, qudrat dan lain-lain (ai-Ghazali, Fisal al-Tafriqah baina- I-Islam wa Zandaqah, Cairo, 1970, hIm. 126). A1-Asy’ari pula mengkafirkan Murji’ah (al-Maqalat, I, him. 202). Tindakan al-Asy’ari melahirkan perasaan tidak puas hati di kaiangan pengikut-pengikut Abu Hanifah. Lantaran itu mereka kemudian mengatakan Abu Hanifah seorang Murji’ah tetapi ianya adalah Murji’ah Ahlu  s-Sunnah. Justeru itu tidak hairaniah jika al-Zamakhsyari (w.537H) memandang begitu negatif terhadap Ahlu s-Sunnah wa I-Jama’ah, malah dia menanamkan mereka al-Mujbirah (al-Kasysvaf, Cairo, 1 307H. I, him. 421). OIeh itu al-Jama’ah menurutpengertian yang kedua adalah simbol Perpaduan lahiriyah sesama mereka di bawah satu pemerintahan tanpa kaitan dengan keugamaan (Perpaduan Politik). Pada hakikatnya ia adalah perpecahan dan perselisihan dari segi hukum, fatwa dan lain-lain

.
Walau bagaimanpun di sini dikemukakan sebahagian daripada akidah al-Asy’ari dan ai-Asya’irah atau akidah-akidah Ahlu s-Sunnah wa l- Jama’ah yang bertentangan dengan al-Qur’an sepenti berikut:
1. Ja'fari: Allah tidak menghendaki orang-orang kafir menjadi kafir.
Al-Asy'ari: Allah (swt) menghendaki orang-orang kafir menjadi kafir dan mengunci hati mereka (al-Asy'ari, al-Ibanah, hlm. 10; al-Asy'ari, al-Maqalat, hlm. 321).
Lantaran itu pendapat ini adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Muddathir (74): 43-46, terjemahannya, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?" Mereka menjawab:"Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sembahyang, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan." Sekiranya Allah telah menghendaki mereka menjadi kafir - memasuki neraka, kenapa Dia pula bertanya,"Apakah yang memasukkan kamu ke neraka Saqar?" Dan orang-orang kafir pula akan menjawab: Kami memasuki neraka Saqar kerana kamu (Tuhan) telah menghendaki kami menjadi kafir? Dan Allah (swt) tidak bertanya di dalam firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2):28, terjemahannya,"Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaku)?." Justeru itu jikalau apa yang dikatakan oleh al-Asy'ari itu betul, nescaya Tuhan tidak akan bertanya lagi kepada mereka kerana mereka telah dijadikan kafir oleh-Nya. Sedangkan Dia juga berfirman: Surah al-Zumar (39), terjemahannya,"Dan Dia tidak meredhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya."

.
2. Ja'fari: Allah (swt)  tidak akan menyiksa seseorang hamba kerana perbuatan-Nya padanya dan tidak akan mencelainya.
Al-Asyar'irah: Allah (swt)  akan menyiksa seorang hamba di atas perbuatanNya, malah Dia menjadikan padanya kekafiran, kemudian menyiksanya (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96)

.
Oleh itu pendapat al-Asya'irah adalah bertentangan dengan firman Allah SWT dalam Surah al-An'am (6):164, terjemahannya,"Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." Dan firman-Nya dalam Surah al-Fussilat (41):46, terjemahannya,"Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimi hamba-hamba-Nya. "Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawa Allah SWT tidak akan menyiksa seseorang kerana perbuatan orang lain

.
3. Ja'fari: Taklif adalah mendahului perbuatan.
Al-Asya'irah: Taklif semasa melakukan perbuatan dan bukan sebelumnya (al-Milal Wa n-Nihal, I, hlm. 96)

.
Ini bererti seorang itu tidak menjadi penderhaka ('asi) kerana penderhakaan adalah menyalahi perintah. Dan jikalau penderhakaan tidak boleh berlaku melainkan semasa melakukan sesuatu, oleh itu masa penderhakaan ialah masa tidak melakukan sesuatu. Justeru itu ia (seseorang) tidak ditaklifkan (dibebankan) pada masa itu. Jika tidak, taklif mestilah mendahului perbuatan dan ini adalah bertentangan dengan mazhab mereka. Walau bagaimanapun al-'Isyan (penderhakaan) telah berlaku menurut al-Qur'an, firmanNya dalam Surah Taha (20):93, terjemahannya, "Maka apakah kamu (sengaja) menderhakai perintahku?," firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18):69, terjemahannya,"Dan aku tidak akan menderhaka (menentang)mu dalam sesuatu urusan," dan firman-Nya dalam Surah Yunus (10):91, terjemahannya, "Apakah sekarang (baru kamu percaya) pada hal sesungguhnya kamu telah derhaka sejak dahulu." Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawa taklif adalah mendahului perbuatan. Justeru itu pendapat al-Asya'irah adalah bertentangan dengan nas

.
4. Ja'fari: Allah tidak menjadikan kejahatan hamba-hamba-Nya tetapi mereka sendiri yang melakukannya.
Al-Asy'ari: Kejahatan hamba-hamba-Nya (Sayi'at al-'Ibad) dijadikan oleh Allah SWT, dan mereka tidak ada pilihan (al-Maqalat, I, hlm. 32; al-Ibanah, hlm. 10)

.
Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Allah dalam Surah al-Fussilat (41):46, terjemahannya,"Barang siapa yang mengerjakan amal soleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimi hamba-hamba(Nya)." Ayat tersebut menerangkan bahawa kejahatan tidak dijadikan oleh Tuhan malah manusia yang melakukannya di atas pilihan mereka sendiri. Justeru itu pendapat al-Asy'ari tersebut menyalahi nas

.
5. Ja'fari: Qudrat (kuasa) mendahului perbuatan.
Al-Asy'ari dan al-Asya'irah: Qudrat tidak mendahului perbuatan malah ia bersama perbuatan (al-Ibanah, hlm. 10; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96).
Ini bererti taklif di luar kemampuan, kerana orang kafir dibebankan (ditaklifkan) di luar kemampuannya dengan keimanan. Dan sekiranya ia mampu beriman semasa kafirnya, ini adalah bertentangan dengan mazhab mereka iaitu Qudrat bersama perbuatan, dan tidak mendahului perbuatan sebaliknya jika ia tidak mampu beriman, bererti taklif di luar kemampuan. Sedangkan Allah (swt)  tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Justeru itu Qudrat semasa melakukan sesuatu adalah bertentangan dengan akal dan nas

.
6. Ja'fari: Allah SWT melakukan sesuatu kerana tujuan tertentu (gharad) menurut hikmah dan kemuslihatan orang-orang yang ditaklifkan.
Al-Asya'irah: Tidak harus bagi Allah (swt)  melakukan sesuatu kerana tujuan dan kemuslihatan tertentu, kembali kepada hamba-hamba-Nya (Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Cairo, 1962, XVII, hlm. 11).
Ini memberi implikasi bahawa terdapat perbuatanNya yang sia-sia.

Lantaran itu pendapat al-Asya'irah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Anbiya' (21):16, terjemahannya,"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main." Dan firmanNya dalam Surah Ali Imran (3):191,terjemahan,"Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia." Oleh itu pendapat al-Asya'irah tersebut adalah menyalahi nas

.
7. Ja'fari: Allah (swt) tidak membebankan (taklif) seseorang apa-apa yang ia tidak mampu, kerana membebankan seorang apa yang ia tidak mampu adalah terkeluar daripada Hikmah (kebijaksanaan) Allah (swt). Oleh itu adalah tidak harus bagiNya membebankan seorang yang lumpuh terbang ke udara, menghimpunkan dua perkara yang berlawanan supaya berhimpun,  mengembalikan hari kelmarin, menurunkan bulan dan matahari dan lain-lain

.
Al-Asya'irah: Allah (swt)  membebankan seseorang apa yang ia tidak mampu (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96). Justeru itu pendapat al-Asya'irah adalah bertentangan dengan firman Allah (swt)  dalam Surah al-Baqarah (2):286, terjemahannya,"Sesungguhnya Allah tidak membebankan seseorang melainkan apa yang ia mampu," dan iannya juga bertentangan dengan firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18):49, terjemahannya,"Tuhan kamu tidak akan menzalimi seorang pun daripada kamu."Justeru itu pendapat al-Asya'irah adalah bertentangan dengan nas

.
8. Ja'fari: Nabi (Saw.) menghendaki apa yang dikehendaki oleh Allah (swt). Dia membenci apa yang dibencikan oleh Allah (swt)  dan ia tidak menyalahi-Nya di dalam masalah Iradah dan Karahah (kebencian)

.
Al-Asya'irah: Nabi (Saw.) menghendaki apa yang dibencikan oleh Allah (swt). Dan ia membenci apa yang dikehendaki oleh Allah (swt). Kerana Allah (swt) menghendaki kekafiran daripada orang kafir, kemaksiatan daripada orang yang melakukan maksiat, kejahatan daripada penjahat, kefasikan daripada orang yang fasik (al-Ibanah, hlm. 10; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96). Sedangkan Nabi (Saw.) menghendaki ketaatan daripada mereka. Justeru itu al-Asya'irah adalah diantara apa yang dikehendaki oleh Allah (swt)  dan apa yang dikehendaki oleh Nabi (Saw.). Oleh itu Allah (swt)  membenci ketaatan daripada orang fasik, iman daripada orang kafir, tetapi Nabi (Saw.) sebaliknya menghendaki kedua-duanya

.
Al-Asya'irah juga menyalahi di antara apa yang dibencikan oleh Allah (swt)  dan apa yang dibencikan oleh Nabi (Saw.). Lantaran itu mengikut al-Asya'irah, Allah (swt)  tidak menghendaki taat daripada orang yang melakukan maksiat, sebagaimana dikehendaki oleh Nabi (Saw.). Oleh itu pendapat al-Asya'irah adalah menyalahi firman Allah (swt) dalam Surah al-Isra'(17): 38, terjemahannya, Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu," dan firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39):7, terjemahannya,"dan Dia tidak meredhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya."

.
9. Ja'fari: Imamah dan Khilafah adalah sebahagian daripada rukun Islam, dan ianya berlaku melalui nas

.
Al-Asy'ari: Ianya bukanlah sebahagian daripada agama (al-Din). Dan ianya berlaku melalui al-ittifaq(persetujuan) atau al-ikhtiyar (pemilihan) (al-Milal Wa n-Nihal, I, hlm. 103). Oleh itu persoalannya siapakah yang lebih berhak Khalifah tidaklah penting. Tetapi apa yang lebih penting baginya ialah siapakah yang telah memegang jawatan khalifah dengan cara tersebut. Dan ianya tidak ada kaitan dengan nas. Justeru itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur'an yang tidak memisahkan (Imamah)politik dengan agama, firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2):124, terjemahannya, "Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia."Ibrahim berkata,"Saya memohon juga dari keturunanku."Allah berfirman:"JanjiKu ini tidak meliputi orang yang zalim." Dan firman-Nya dalam Surah al-Nisa'(4) :59, terjemahannya, "Hai orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr daripada kamu," kedua-dua ayat tersebut menunjukkan bahawa politik (Imamah) tidak terpisah daripada agama, kerana Dia mewajibkan ketaatan kepada Uli l-Amr sebagaimana Dia mewajibkannya kepada rasul-Nya ke atas umatnya. Justeru itu pendapat al-Asy'ari yang memisahkan politik (Imamah) dan agama adalah bertentangan dengan nas

.
10. Ja'fari: Tidak mengakui kepimpinan orang yang tidak ada istiqamah dengan berpandukan al-Qur'an.
Al-Asy'ari: Mengakui kepimpinan mereka sekalipun tidak ada istiqamah (zalim) dan sekali-kali tidak boleh menentang mereka secara kekerasan, malah memadailah dengan berdoa untuk kebaikan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, I, hlm. 324). Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Tuhan Surah Hud (11): 113, terjemahan,"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim maka kamu akan disentuh api neraka." Dan firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4):59, terjemahannya,"Hai orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan Uli l-Amr daripada kamu." Uli l-Amr yang wajib ditaati selepas rasul-Nya ialah orang yang ada istiqamah, bukannya pelaku kezaliman. Lantaran itu tidak hairanlah jika pendapat al-Asy'ari diterima oleh pemerintah dan dijadikan akidah negara sepanjang abad

.
11. Ja'fari: Penentangan kepada segala bentuk kezaliman sekalipun melibatkan peperangan adalah berterusan dengan apa cara sekalipun kerana ianya tuntutan Allah dan Rasul-Nya

.
Al-Asy'ari: Peperangan (penentangan) di dalam keadaan fitnah hendaklah dihentikan (Tark al-Qital Fi l-Fitnah), (al-Ibanah, hlm. 12). Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Tuhan Surah al-Baqarah (2): 193, terjemahannya,"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi...."Dan firmanNya Surah al-Hujurat (49): 9, terjemahannya,"Perangilah golongannya yang melakukan kezaliman itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah." Justeru itu pendapat beliau itu adalah menyalahi nas

.
12. Ja'fari: Tidak sah sembahyang di belakang Fajir (orang yang derhaka kepada Allah)

.
Al-Asy'ari: Sah sembahyang di belakang fajir. Beliau berpegang kepada perbuatan Abdullah bin Umar yang telah mengerjakan sembahyang di belakang al-Hajjaj(al-Maqalat, I, hlm. 324; al-Ibanah, hlm.12). Bagi al-Asy'ari al-Hajjaj adalah seorang fajir dan Abdullah bin Umar adalah seorang birr (yang baik). Walau bagaimanapun apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar tidak boleh dijadikan dalil atau bukti sahnya sembahyang di belakang fajir. Kerana ianya bertentangan dengan firman-Nya Surah al-Infitar (82): 14, terjemahannya,"Sesungguhnya Fujjar (orang-orang yang derhaka) benar-benar berada di dalam neraka," dan firman-Nya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya,"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim (fajr), maka kamu akan disentuh api neraka." Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah menyalahi nas

.
13. Ja'fari: Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq berdasarkan nas. Oleh itu mereka mestilah dinilai dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.) yang tidak bertentangan dengan al-Qur'an secara keseluruhan. Segala pujian atau celaan Tuhan kepada mereka adalah daripada Sifat fi'l (sementara), bukan daripada Sifat Dhat (kekal). Lantaran itu ianya tergantung di atas kelakuan mereka sama ada menyalahi nas atau pun tidak.
Al-Asy'ari: Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa'ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy'ari memberikan implikasi:

a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbezaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang menyalahi nas

.
b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur'an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur'an yang mencela perbuatan mereka, kerana mereka menyalahi nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma'at (62): 11)

.
c) Mengutamakan pendapat sahabat daripada hukum Allah (swt)  seperti hukum seorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, jatuh satu menurut al-Qur'an dalam Surah al-Baqarah (2): 229, terjemahannya,"Talak (yang dapat dirujuk) dua kali." Tetapi apabila Khalifah Umar mengatakan ianya jatuh tiga (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137), al-Asya'irah menerimanya dan dijadikannya "hukum" yang sah sekalipun ianya menyalahi nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301)

.
d) Mengutamakan Sunnah Sahabat daripada Sunnah Nabi (Saw.) seperti membuang perkataan Haiyy 'Ala Khairil l-'Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada masa Nabi ianya sebahagian daripada azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Khairun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110)

.
e) Kehormatan Sahabat tidak boleh disentuhi oleh al-Qur'an, kerana mereka berkata: Semua sahabat adalah adil walaupun menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.)

.
f) Menilai kebenaran Islam menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.) yang sebenar. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Lantaran itu mereka berpegang kepada pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt)  berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya," dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil." Mereka juga berkata," Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat daripada iman umat ini." Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat daripada iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata," Nabi (Saw.)  tidak segan silu kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman."

.

Persoalannya, kenapa Nabi (Saw.)  tidak malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi (Saw.)  tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi (Saw.)  dan ianya menyalahi nas dan hakikat sebenar, kerana kebenaran adalah berada di lidah Nabi (Saw.)  dan al-Qur'an

.
g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saw.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikannya "akidah" sedangkan Sahabat sendiri bergaduh, caci-mencaci dan berperang sesama mereka

.
h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309), sekalipun ianya bertentangan dengan nas, kerana "bersetuju" dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:"Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau menyokong semua Sahabat selain daripada Ahlu s-Sunnah wa l-Jama'ah (Ibid, hlm.304). Lantaran itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan "persetujuan" dengan Sahabat sekalipun Sahabat menyalahi nas

.
i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat menyalahi al-Qur’an dan   Sunnah Nabi Saw. dengan berbagai cara sekalipun. Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenar sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:" Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun ianya telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu."

.
Mereka berkata lagi: "Kajian tersebut adalah merbahaya dan ianya merupakan barah kepada "akidah" mereka, jangan dibiarkan ianya menular di dalam masyarakat." Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang menyalahi al-Qur'an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng atau 1001 malam. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai akidah mereka wal hal ianya bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman! Akhir sekali mereka menyuruh "pihak berkuasa" supaya mengambil tindakan, kerana khuatir mereka tidak begitu mampu lagi untuk mempertahankan "akidah" mereka yang bertentangan dengan al-Qur'an

.
Oleh itu pihak berkuasa terus menerima cadangan tersebut, dan diletakkan pengkaji tersebut di kandang orang salah. Sebenarnya mereka tidak mahu tunduk kepada kebenaran al-Qur'an dan keadaan sebenar "umat manusia." Mereka menganggapnya sebagai barah pada hakikatnya itulah penawar. Tetapi ianya tidak dapat diketahui dan dinilai oleh orang yang tidak mempunyai fikiran yang luas dan mendalam. Wahai Tuhanku! Di manakah keadilan di dunia ini!

.
14. Ja'fari: Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam semua perkara.
Al-Asy'ari: Berkecuali, tidak memihak kepada mana-mana sahabat sekiranya berlaku pertelingkahan atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324). Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, terjemahannya,"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah," dan ianya juga  bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya," Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka." Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah menyalahi nas kerana tidak ada pengecualian di dalam menyokong kebenaran

.
15. Ja'fari: Allah (swt)  tidak dapat dilihat di dunia dan di akhirat kerana Dia bukan jism dan setiap yang bukan jism tidak dapat dilihat.
Al-Asy'ari: Allah SWT dapat dilihat di akhirat firmanNya dalam Surah al-Qiyamah (75): 22-23, terjemahannya," Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri kepada Tuhannyalah ia (Wajah-wajah) melihat." Al-Asy'ari mengatakan Allah dapat dilihat di akhirat seperti dilihatnya bulan penuh purnama (al-Ibanah, hlm. 10;  al-Maqalat, I, hlm. 321)

.
Sebenarnya apa yang dipegang oleh al-Asy'ari itu adalah ayat Mutasyabihah. Oleh itu ianya hendaklah dirujuk kepada ayat Muhkamah iaitu firman-Nya dalam Surah al-An'am (6): 103, terjemahannya,"Dia tidak dapat dicapai penglihatan, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." Dan juga ianya  hendakklah dirujuk kepada firman-Nya dalam Surah al-A'raf (7): 143, terjemahannya, "Dan tatkala Musa datang pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa,"Ya Tuhankunampaklah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." Tuhan berfirman, "Kamu sekali-kali tidak dapat melihatku (Lan tara-ni), tetapi lihatlah ke bukit, maka jika ia tetapi di tempatnya nescaya kamu dapat melihatku." Tatkala Tuhannya nampak bagi bukit itu, maka bukit itu hancur lebur dan Musa pun jatuh pengsan."

.

Ayat tersebut menunjukkan:
a) Allah tidak dapat dilihat kerana Tuhan berfirman,"Sekal-kali (Lan tara-ni)  kamu tidak akan melihatKu."
b) Allah mengaitkan "penglihatan" kepada perkara yang mustahil iaitu sekiranya bukit itu tetap. Tetapi terbukti ianya hancur lebur.
c) Permintaan Musa untuk melihat Tuhan adalah di atas desakan kaumnya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4): 153,"Ahli Kitab meminta kepadamu agar menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata." Maka mereka disambar petir kerana kezaliman. Lantaran itu Allah tidak dapat dilihat di dunia dan di akhirat

.
16. Ja'fari: Amalan baik (ta'at) seorang mukmin berhak diberi pahala jikalau tidak, ianya menjadi sia-sia dan kezaliman dikaitkan kepada Allah (swt)  .
Al-Asy'ari: Amalan baik yang dilakukan oleh seorang mukmin belum tentu mendapat pahala daripada Allah (swt)  .
Sebaliknya ia boleh dimasukkan ke neraka tanpa mengira kebaikannya. Dan Tuhan pula tidak boleh dikatakan zalim jika Dia berbuat demikian (al-Maqalat, I, hlm. 322; al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 101). Ini bererti orang yang paling tinggi takwanya seperti Nabi (Saw.) belum pasti ianya ke syurga atau orang yang paling jahat seperti Fir'aun belum tentu dia dimasukkan ke neraka. Lantaran itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firmanNya dalam Surah al-Qasas (28): 84, terjemahanya,"Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya." Dan firmanNya dalam Surah al-An'am (6): 160, terjemahannya,"Barang siapa membawa amal yang baik baginya (pahala) sepuluh kali ganda, dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka Dia tidak memberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya."

.
Oleh itu pendapat al-Asy'ari tidak memberangsangkan seseorang mukmin supaya melakukan amalan yang lebih baik kerana belum pasti, dia akan mendapat pahala. Sebaliknya ia merangsangkan orang fasiq untuk meningkatkan kefasikannya kerana belum pasti, dia akan dimasukkan ke neraka

.
17. Ja'fari: Perbuatan manusia bukan al-Jabr (terpaksa menurut apa yang telah "ditetapkan" oleh Allah (swt)   dan bukan al-Tafwid (diberi kebebasan mutlak) tetapi ianya di antara kedua-duanya

.
Al-Asy'ari: Perbuatan manusia dijadikan oleh Allah (swt)  (makhluqah) (al-Ibanah, hlm. 9; al-Maqalat, I, hlm. 321)

.
Al-Asy'ari berpegang kepada Surah al-Saffat (37): 96, terjemahannya, "Dan Allah telah menjadikan kamu dan apa yang kamu buat." Sebenarnya ayat tersebut adalah menunjukkan keingkaran Allah (swt)   terhadap perbuatan penyembah-penyembah berhala kerana mereka mengukir berhala-berhala mereka dari batu dan kayu kemudian menyembahnya pula. Sedangkan kayu-kayu dan batu-batu tersebut adalah kejadian  Allah (swt)  .
Dan jikalaulah ianya sebagaimana yang dikatakan oleh al-Asy'ari ini bererti Tuhan tidak akan menyiksa hamba-hamba-Nya kerana perbuatanNya. Jika tidak, Dia tidak menepati janji-Nya dan Dia dikatakan zalim. Justeru itu ianya bertentangan dengan firman-Nya dalam Surah Taha (20): 15, terjemahannya,"Tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan."Dan firmanNya dalam Surah al-An'am (6): 160, terjemahannya,"Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali ganda amalannya dan barang siapa yang membawa amal yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya. Sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." Oleh itu jika seorang itu dipaksa (majbur) di dalam perbuatannya, nescaya ia mempunyai hujah yang kuat di hadapan Allah (swt)  apabila Dia mahu menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya yang telah dikehendaki oleh Allah SWT, kerana dia tidak diberi pilihan untuk tidak melakukannya

.
Kerumitan yang dihadapi oleh al-Asy'ari mengenai "perbuatan manusia adalah perbuatan Allah (swt)" agak ketara dan beliau cuba mencipta teori al-kasb atau al-iktisab (usaha), tetapi ia bukan sahaja tidak dapat menyelesaikan masalah, malah ianya bertentangan dengan formulanya sendiri; kekafiran dan kejahatan dikehendaki Allah. Beliau memberi definisi al-iktisab sebagai perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan kuasa baru (qudrah muhdathah) selepas Allah SWT menjadikan perbuatan tersebut (al-Maqalat, hlm. 199; al-Asy'ari, al-Luma', Cairo, 1955, hlm. 97). Atau Allah menjadikan perbuatan dan seseorang itu (al-Abd) berusaha (muktasib) untuknya." (al-Milal wa n-Nihal, I, hlm. 96)

.
Persoalannya bagaimana seorang itu dapat melakukan al-kasb atau al-iktisab (usaha) menurut pilihannya sedangkan usahanya (al-kasb) itu sendiri adalah penerusan daripada perbuatan Allah (swt) yang telah menetapkan kekafiran, kefasikan dan kejahatan hamba-hambaNya? Oleh itu, teori al-kasb atau al-iktisab yang diciptakan oleh al-Asy'ari kemudian diikuti pula oleh al-Asya'irah (al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, hlm. 328), nampaknya tidak dapat melepaskan mereka daripada fahaman Jabariyyah (al-Allamah, Ja'far Subhani, Ma'alim al-Tauhid, Tehran, 1980, hlm. 308) kerana mereka percaya bahawa tidak ada mu'aththir (pelaku) yang sebenar selain daripada Allah SWT

.
Justeru itu perbuatan manusia bukanlah al-Jabr (terpaksa menurut apa yang telah ditetapkan Allah (swt)  , dan bukan juga al-Tafwid (diberikan kebebasan mutlak), tetapi ianya di antara kedua-duanya. Lantaran itu Imam Ridha AS berkata:"Sesiapa yang menyangka bahawa Allah membuat perbuatan kita, kemudian Dia menyiksa kita kerana perbuatanNya, maka dia telah berkata (Fahaman) Jabariyyah dan sesiapa yang berkata bahawa Allah telah menyerahkan perbuatan dan rezeki kepada manusia, maka dia berkata dengan (Fahaman) al-Tafwid (Mu'tazilah) (Akhbar 'Uyun al-Ridha, Tehran, 1980, hlm. 325). Oleh itu manusia mestilah melakukan amalan yang baik untuk mendapat ganjaran sebagaimana dijanjikan oleh-Nya. Sebaliknya manusia mestilah mejauhkan amalan maksiat kerana dengannya ia disiksa. Imam Musa al-Kazim AS berkata:"Maksiat sama ada datang daripada Allah, justeru  itu hamba tiada kaitan dengannya, dan Dia tidak akan menyiksa hambaNya. Atau ianya daripada hambaNya. Atau ianya bersyarikat dengan Allah (swt)  . Oleh itu sekutu yang lebih kuat (Allah (swt)  ) tidak akan menyiksa sekutu yang lebih lemah (manusia) dengan dosa yang mereka berdua lakukan bersama (Yusuf al-Najafi, al-Aqa'id al-Imamiah, Najaf, 1982, hlm. 64)

.

 BAHAGIAN KETIGA

Di sini diperturunkan sebahagian daripada ayat-ayat al-Qur'an yang bertentangan dengan akidah-akidah al-Asy'ari dan al-Asya'irah atau akidah-akidah Ahlu s-Sunnah Wa l-Jama'ah secara langsung seperti berikut:
Pertama: Ayat-ayat yang menunjukkan celaan kepada hamba-hamba-Nya kerana kekafiran dan kemaksiatan
1. Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 20, terjemahannya, "Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaKu? ) "Keingkaran dan celaan kepada orang yang lemah atau tidak mampu beriman kepada-Nya adalah mustahil.
2. Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18); 55, terjemahannya,"Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika penunjuk telah datang kepada mereka." Bagaimana Dia mencela orang kafir jika mereka tidak mampu beriman.
3. Firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4): 39, terjemahannya,"Apakah kemudharatannya bagi mereka kalau mereka beriman kepada Allah."
4. Firman-Nya dalam Surah Sad (38): 75, terjemahannya,"Apakah yang menghalang kamu sujud."
5. Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 92, terjemahannya,"Apa yang menghalang kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat."
6. Firman-Nya dalam Surah al-Muddathir (74): 49, terjemahannya, "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?"
7. Firman-Nya dalam Surah al-Insyiqaq (84): 20, terjemahannya, "Mengapa mereka tidak mahu beriman."  Firman-Nya dalam Surah al-Taubah (9): 43, terjemahannya,"Semoga Allah memaafkan kamu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang)."
8. Firman-Nya dalam Surah al-Tahrim (66); 1, terjemahannya, "Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu." Bagaimana harus Dia berkata: Mengapa kamu lakukan? Sedangkan dia tidak melakukannya.
9. Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3): 71, terjemahannya, "Mengapa kamu mencampuradukan yang haq dengan yang batil."
10. Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3): 99, terjemahannya, "Mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah...?"

.
Lantaran itu tidak hairanlah jika al-Sahib bin 'Abbad (w. 995M), Perdana Menteri di bawah Muayyid al-Daulah berkata: Bagaimana Dia menyuruh seorang supaya beriman tetapi Dia tidak menghendakinya? Dia melarang kemungkaran dan Dia menghendakinya? Dia menyiksa orang yang melakukan kebatilan sedangkan Dia telah menetapkannya? Bagaimana Dia memalingkannya daripada keimanan? Sedangkan Dia berfirman dalam Surah Yunus (10): 32, terjemahannya, "Maka bagaimanakah kamu dipalingkan  (dari kebenaran)? Dia menjadikan pada mereka kekafiran kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Baqarah (2): 28, terjemahannya,"Mengapa kamu (jadi) kafir (kepadaku?)." Dia mencampuradukkan kebatilan pada mereka, kemudian Dia berfirman dalam Surah Ali Imran (3): 71, terjemahannya,"Mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil?"

.
Dia telah menghalangi mereka dari jalan benar, kemudian Dia berfirman dalam Surah Ali Imran (3): 99, terjemahannya,"Mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah?"

.
Dia telah mendindingkan mereka daripada keimanan kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Nisa'(4): 39, terjemahannya,"Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah?"

.
Dia menghilangkan kewarasan mereka, kemudian berfirman dalam Surah al-Takwir (81): 26, terjemahannya,"Maka kemanakah kamu akan pergi?"
Dia menyesatkan mereka daripada ugama sehingga mereka berpaling kemudian Dia berfirman dalam Surah al-Muddathir (74): 49, terjemahannya,"Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?"

.

Kedua: Ayat-ayat yang menunjukkan pilihan hamba-hamba pada perbuatan-perbuatan mereka dengan kehendak mereka sendiri
1. Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18): 29, terjemahannya, "Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir."
2. Firman-Nya dalam Surah al-Fussilat (41): 40, terjemahannya, "Perbuatan apa yang kamu  kehendaki."
3. Firman-Nya dalam al-Taubah (9): 105, terjemahannya, "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu."
4. Firman-Nya dalam al-Muddathir (74): 37, terjemahannya,"Bagi siapa yang di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur."
5. Firman-Nya dalam Abasa (80): 12, terjemahannya, "Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya."
6. Firman-Nya dalam al-Muzzammil (73): 19, terjemahannya, "Maka barangsiapa yang menghendaki nescaya ia menempuh jalan  (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya."
7. Firman-Nya dalam Surah al-Naba' (78): 39, terjemahannya, "Maka barangsiapa yang menghendaki, nescaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya."
Dan sesungguhnya Allah SWT mengingkari orang yang menafikan kemahuan (al-masyi'ah) daripada diri mereka dan mengaitkannya kepada Allah Ta'ala:
8. Firman-Nya dalam Surah al-An'am (6): 148, terjemahannya,"Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak mempersekutukannya."
9. Firman-Nya dalam dalam Surah al-Zukhruf (43): 20, terjemahannya, " 
Dan mereka berkata: Jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak  menyalah mereka (mala'ikat)."

.

Ketiga: Ayat-ayat yang menyuruh hamba-hamba yang melakukan amalan-amalan dan bersegera melakukannya

1. FirmanNya dalam dalam Surah Ali Imran (3): 133, terjemahannya, "Dan bersegeralah kamu kepada keampunan dari Tuhanmu."
2. Firman-Nya dalam Surah al-Ahqaf (48): 31, terjemahannya, "Sahutilah dan berimanlah kepadaNya."
3. Firman-Nya dalam Surah al-Anfal (8): 24, terjemahannya, "Sahutilah seruan Allah dan Rasul."
4. Firman-Nya dalam Surah al-Hajj (22): 77, terjemahannya, "Hai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah kamu."
5. Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 21, terjemahannya, "Sembahlah Tuhanmu."
6. Firman-Nya dalam Surah al-Isra' (17): 107, terjemahannya, "Berimanlah kamu kepada-Nya."
7. Firman-Nya dalam al-Zumar (39): 55, terjemahannya, "Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu."
8. Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 54, terjemahannya,"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu."
Bagaimana Dia menyuruh melakukan ketaatan dan bersegera kepadanya sedangkan orang yang disuruh itu ditegah, tidak mampu untuk melakukannya?

.

Keempat: Ayat-ayat yang memberangsangkan supaya memohon pertolongan denganNya

1. Firman-Nya dalam Surah al-Fatihah (1): 5, terjemahannya,"Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."
2. Firman-Nya dalam Surah al-Nahl (16): 98, terjemahannya,"Mintalah kamu perlindungan kepada Allah dari Syaitan yang terkutuk."
3. Firman-Nya dalam Surah al-A'raf (7): 128, terjemahannya,"Mohonlah pertolongan kepada Allah."
Sekiranya Dia telah menjadikan kekufuran dan kemaksiatan sebagaimana didakwa oleh al-Asya'irah atau Ahlu s-Sunnah wa l-Jama'ah, bagaimana pertolongan dan perlindungan diminta daripadaNya?

.

Kelima: Ayat-ayat yang menunjukkan sandaran perbuatan kepada hamba

1. Firman-Nya dalam Surah Maryam (19): 37, terjemahannya,"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir."
2. Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 79, terjemahannya,"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka."
3. Firman-Nya dalam Surah al-An'am (6): 148, terjemahannya,"Kami tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka."
4. Firman-Nya dalam Surah al-Anfal (8): 53, terjemahannya,"Yang demikian itu adalah kerana sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkannya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."
5. Firman-Nya dalam Surah Yusuf (12): 18, terjemahannya, "Sebenarnya diri kamulah yang memandang baik perbuatan (buruk) itu, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku)."
6. Firman-Nya dalam Surah al-Ma'idah (5): 30, terjemahannya,"Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah."
7. Firman-Nya dalam Surah al-Tur (52): 21, terjemahannya,"Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."
8. Firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4): 123, terjemahannya, "Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, nescaya akan diberi pembalasan kejahatan itu."
9. Firman-Nya dalam Surah Ibrahim (14): 22, terjemahannya,"Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku."
10. Firman-Nya dalam Surah al-Kahf (18): 7, terjemahannya, "Agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya."
11. Firman-Nya dalam Surah al-Jathiah (45); 21, terjemahannya, "Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahawa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh?"
12. Firman-Nya dalam Surah al-Sad (38): 28, terjemahannya,"Patutkah kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama  dengan orang-orang yang berbuat kerosakan di muka bumi? Patutkah (pula) kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat baik?"
13. Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 31, terjemahannya,"Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka telah kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga)."
14. Firman-Nya dalam Surah Fussilat (41): 46, terjemahannya, "Barangsiapa mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri."
15. Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 82, terjemahannya,"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat beriman, beramal saleh kemudian tetap dijalan yang benar."
Bagaimana Dia menyuruh dan melarang tanpa orang melakukannya? Jikalaulah begitu keadaannya, maka ianya sepertilah menyuruh dan melarang al-Jamad (benda yang tidak bergerak)! Nabi Saw. bersabda:"Niat seorang mukmin adalah lebih baik daripada amalannya (al-Muttaqi al-Hindi, Kunz al-Ummal, III, hlm. 242).

.

Keenam: Ayat-ayat yang menunjukkan pengakuan para nabi ke atas amalan-amalan mereka:

1. Firman-Nya (Surah al-A’raf 7:23) terjemahannya:’ Ya  
Tuhan kami,kami telah menganaya dir kami sendiri’
2. Firman-Nya (Surahal-Anbiya’21:87)   terjemahannya: ’Maha   Suci                                 
Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang- orang zalim’.
3. Firman-Nya (Surah al-Qasas 28:16) terjemahannya:
’Ya Tuhan sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri’   

4.  Firman-Nya (Surah Yusuf 12:18) terjemahannya: ’Sebenarnya
dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk)
itu”
5. Firman-Nya (Surah Yusuf 12:100) terjemahannya:’Setelah syaitan merosakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku’.
6. Firman-Nya (Surah Hud 11:47) terjemahannya: ‘Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dan memohon kepada Engkau seperti yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya’.

Ayat-ayat di atas menunjukkan pengakuan para nabi A.S.di atas per­buatan-perbuatan mereka dan merekalah yang melakukannya, tidak Se­bagaimana pendapat al-Asya’irah atau AhIu s-Sunnah Wa I-Jama’ah yang menyatakan Allah telah menjadi perbuatan-perbuatan mereka sehingga mereka tidak mempunyai pilihan. Pengakuan kesalahan tersebut adalah dari bab “Hasanat al-A brar Sayyi ‘at al-Mu qarrabin

.

Ketujuh: Ayat-ayat yang menunjukkan pengakuan orang-orang kafir dan penderhaka di atas perbuatan mereka

1. Firman-Nya dalam Surah Saba' (34): 31-32, terjemahannya,"kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhan mereka...."Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa."
2. Firman-Nya dalam Surah al-Muddathir (74): 43- 46, terjemahannya, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?" Mereka menjawab:"Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sembahyang."
3. Firman-Nya dalam Surah al-Mulk (67): 8-9, terjemahannya, "Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka :"Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?" Mereka menjawab:"benar ada", sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kamu mendustakannya."
4. Firman-Nya dalam Surah al-A'raf (7): 37, terjemahannya, "Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayatNya? Orang-orang itu akan memperolehi bahagian mereka di dalam al-kitab."
5. Firman-Nya dalam Surah al-A'raf (7): 39, terjemahannya,"Maka rasakanlah siksaan kerana perbuatan yang telah kamu lakukan."

.

Kelapan: Penyesalan orang-orang kafir di akhirat di atas kekufuran mereka dan menuntut supaya dikembalikan di dunia

1. Firman-Nya dalam Surah Fatir (35): 37, terjemahannya,"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu:"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami nescaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan."
2. Firman-Nya dalam Surah al-Mukminun (23): 99, terjemahannya,"Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang aku tinggalkan."
3. Firman-Nya dalam Surah al-Sajdah (32): 12, terjemahannya,"Dan jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata):"Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin."
4. Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 58, terjemahannya,"Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia) nescaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik."

.

Kesembilan: Ayat-ayat yang menunjukkan perbuatan Allah SWT tidak menyerupai perbuatan makhluk, tidak seimbang tanpa perselisihan dan kezaliman

1. Firman-Nya dalam Surah al-Mulk (67): 3, terjemahannya,"Kami sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang."
2. Firman-Nya dalam Surah al-Sajdah (32): 7, terjemahannya,"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya." Oleh itu kekufuran dan kezaliman bukanlah suatu yang baik.
3. Firman-Nya dalam Surah al-Hijr (15): 85, terjemahannya,"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara kedua-duanya, melainkan dengan benar." Oleh itu kekufuran bukanlah suatu kebenaran."
4. Firman-Nya dalam Surah al-Nisa' (4);40, terjemahannya, "Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah."
5. Firman-Nya dalam Surah Fussilat (4): 46, terjemahannya,"Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya)."
6. Firman-Nya dalam Surah Hud (11): 101, terjemahannya,"Dan Kami tidak menganiaya mereka."
7. Firman-Nya dalam Surah al-Isra' (17): 7, terjemahannya,"Dan mereka tidak dianiaya sedikitpun."

.

Kesepuluh: Ayat-ayat yang memuji Mukmin kerana imannya dan mencela Kafir kerana kekafirannya

1. Firman-Nya dalam Surah al-Tur (52): 16, terjemahannya,"Kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan."
2. Firman-Nya dalam Surah al-Mu'min (40): 17, terjemahannya,"Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya."
3. Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 37, terjemahannya,"dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji."
4. Firman-Nya dalam Surah al-Najm (53): 38, terjemahannya,"Bahawa seorang yang berdosa itu tidak akan memikul dosa orang lain."
5. Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 15, terjemahannya,"tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan."
6. Firman-Nya dalam Surah al-Rahman (27): 60, terjemahannya,"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."
7. Firman-Nya dalam Surah al-Naml (27): 90, terjemahannya,"Tiada lah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan."
8. Firman-Nya dalam Surah al-An'am (6): 160, terjemahannya, "Barangsiapa yang membawa amal baik maka baginya (pahala) sepuluh kali ganda."
9. Firman-Nya dalam Surah Taha (20): 124, terjemahannya,"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanku."
10. Firman-Nya dalam Surah al-Baqarah (2): 86, terjemahannya,"Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia."
11. Firman-Nya dalam Surah Ali Imran (3):86, terjemahannya, "Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman."

.
Demikianlah dikemukankan ayat-ayat al-Qur'an yang bertentangan dengan akidah al-Asya'irah atau akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama'ah. Kesemua ayat-ayat di atas "adalah yang tidak datang kepadanya kebatilan baik depan mahupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji [Surah al-Fussilat (41): 42]

.
Justeru apakah keuzuran untuk tidak berpandukan  kepada fahaman yang selaras dengan akidah al-Qur’an? Kenapa mereka meninggalkan ayat-ayat tersebut wal hal ianya jelas dan nyata? Atau hanya bertaqlid kepada orang-orang yang terdahulu tanpa kajian dan renungan?
Firman Allah SWT dalam Surah al-A’raf (7): 28, terjemahannya, “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata:”Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya, katakanlah: Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui.”

.
Firman Allah SWT dalam Surah al-An’am (6): 70, terjemahannya, “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia.”

.
Firman-Nya dalam Surah al-Zumar (39): 56, terjemahannya, “Supaya jangan ada orang yang mengatakan:”Amat besar penyesalanku atau kesalahanku terhadap Allah sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).”
Dan firman-Nya dalam Surah al-An’am (6): 91, terjemahannya, “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.”

.

Kesimpulan

Ajaran Ahlu s-Sunnah wa  l-Jama’ah yang  bertentangan dengan al-Qur’an dan ketaatan mereka kepada sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah melebihi (yaghlun) hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya menjadikannya satu ajaran yang menyeleweng dan sesat menurut definisi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.).

.

Walaubagaimana pun penguasa Ahlus Sunnah wa l-Jama‘ah mempunyai definisi mereka sendiri di dalam sesuatu perkara sekalipun menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Dan sebaliknya mereka mengatakan orang yang menolak sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah dikira sesat dan menyeleweng, sekalipun sunnah mereka menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Justeru itu, mereka adalah pelampau agama ( al-Ghulat fi d-Din). Penggunaan istilah seperti Maslahah, Maqasidu sy-Syari‘ah, Istihsan, IjtihadIjmak, Qiyas dan sebagainya bukanlah bagi melaksanakan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya, malah bagi menangguh atau  memansukh atau menukar atau menyalahi hukum-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Firman-Nya “Fir‘aun telah menyesatkan kaumnya dan  tidak menunjukinya” (Taha (20): 79)

.
Banyak lagi penyelewengan ajaran Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah dari segi akidah, Syari‘at Allah yang belum dikemukakan. Justeru itu, jika mereka  yang mengikut 100% hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasulullh (Saw.) itu dikira sesat atau menyeleweng dan perlu dipulih atau dimurnikan akidah mereka oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah, maka Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang mengikut sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya adalah lebih sesat dan menyeleweng serta lebih perlu dipulih atau dimurnikan akidah mereka oleh Syi‘ah Imam Dua Belas atau Syi‘ah Ja‘fariyyah atau mazhab Ahlu l-Bait (a.s).

MAKNA IMAMAH

Pelanjut kenabian dan pembimbing selain nabi sebagimana disebutkan sebelumnya adalah sebuah keharusan pula. Dan dalam mazhab ahlul bait, pelanjut tersebut dikenal dengan imam, yang menjadi washi (penerima wasiat), khalifah (pengganti), dan wali (pemimpin) setelah Nabi saw. Jadi imamah adalah konsep kepemimpinan yang diyakini oleh umat syiah.

Imamah merupakan bahasa Arab yang berakar dari kata imam. Kata imam sendiriberasal dari kata “amma” yang berarti “menjadi ikutan”. Kata imam berarti “pemimpin atau contoh yang harus diikuti, atau yang mendahului”. Orang yang menjadi pemimpin harus selalu di depan untuk diteladani sebagai contoh dan ikutan. Kedudukan imam sama dengan penanggung jawab urusan umat. Dalam al-Quran, kata imam memiliki banyak makna sesuai dengan konteksnya, dan salah satu maknanya adalah pemimpin. Dan pemimpin tersebut bisa dalam makna negatif maupun positif, dalam makna pemimpin umum maupun khusus yang bersifat spiritual.[1]

Kata imam yang berarti pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum bisa digunakan untuk sebutan pemimpin pemerintahan atau pemimpin politik (sekuler), dan bisa pula untuk pemimpin agama. Sedangkan dalam arti pemimpin yang bersifat khusus, yakni sebagai pemimpin spiritual, bisa saja berimplikasi politik karena dipengaruhi oleh tuntutan keadaan. Karena, pada kenyataannya, upaya melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat dalam ajaran Islam, tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga kehidupan kolektif, sebab itu, urusan seorang imambisa berdimensi politis.[2]

Secara istilah, imam adalah seorang yang memegang jabatan umum dalam urusan agama dan juga urusan dunia sekaligus. Dengan demikian Islam tidak mengenal pemisahan mutlak agama dan negara, dunia dan akhirat, mesjid dan istana, atau ulama dan politikus. Inilah yang menjadikan penganut syiah, tidak hanya memandang para imam sebagai pengajar agama, tetapi juga sebagai pengatur segala urusan umat yang berhubungan dengan pranata-pranata sosial, politik, keamanan, ekonomi, budaya, dan seluruh kebutuhan interaksi umat lainya.

Dalam syiah konsep imamah berarti meyakini bahwa Allah swt melalui lisan Nabi-Nya telah mengangkat orang-orang yang memiliki kualitas tinggi untuk menjadi pemimpin umat setelah wafatnya Nabi Muhammad saaw.

KEDUDUKAN IMAMAH SEBAGAI USHULUDDIN

Keyakinan pada posisi imamah ini begitu mendasar dalam mazhab syiah imamiyah, sehingga dijadikan salah satu prinsip agama (ushuluddin), selain keyakinan pada ketuhanan (tauhid), keadilan (al-adl), kenabian (an-nubuwah), dan hari kebangkitan (al-ma’ad). Sehingga secara sederhana dapat dikatakan, seseorang dapat disebut sebagai penganut syiah jika ia mempercayai adanya imam yang dipilih Nabi saaw, yang secara formal berhak penuh melanjutkan kedudukan menggantikan Nabi Muhammad sebagai Imam seluruh umat, yang dalam keyakinan syiah, orang yang dipilih nabi tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, kerabat dan menantu beliau.

Sebagai dasar pikirnya, syiah meyakini bahwa kebijaksanaan Tuhan (al-hikmah al-ilahiah) menuntut perlunya pengutusan para rasul untuk membimbing umat manusia. Demikian pula mengenai imamah, yakni bahwa kebijaksanaan Tuhan juga menuntut perlunya kehadiran seorang imam sesudah meninggalnya seorang rasul guna terus dapat membimbing umat manusia dan memelihara kemurnian ajaran para nabi dan agama Ilahi dari penyimpangan dan perubahan. Selain itu, untuk menerangkan kebutuhan-kebutuhan zaman dan menyeru umat manusia ke jalan serta pelaksanaan ajaran para nabi. Tanpa itu, tujuan penciptaan, yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan, al-takamul wa al-sa’adah, sulit dicapai, karena tidak ada yang membimbing, sehingga umat manusia tidak tentu arah dan ajaran para nabi menjadi sia-sia.[3]

Hal ini juga berdasar pada wahyu ilahi. Misalnya, di dalam al-Quran, Allah berfirman bahwa manusia diperintahkan untuk bergabung dengan orang-orang yang takwa dan benar, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bergabunglah bersama orang-orang yang benar” (QS. Al-Taubah: 119).

Ayat ini tidak berlaku untuk satu masa saja, tapi untuk seluruh zaman. Seruan agar orang-orang beriman bergabung dalam barisan orang-orang benar, al-shadiqin,pertanda adanya imam maksum yang harus diikuti pada setiap zaman, sebagaimana disebutkan oleh banyak mufassir sunni dan syiah terhadap makna ayat ini.[4]

KRITERIA IMAMAH: ISHMAH DAN ILMU

Imam yang menggantikan Nabi Saw bukanlah sembarang orang, tetapi harus memiliki sejumlah sifat yang dimiliki Nabi Saw. oleh karena itu, persyaratan menjadi Imam tidak cukup harus seorang Quraisy, seperti yang diyakini sahabat ketika itu, tetapi harus pula memiliki syarat-syarat lain, yaitu ‘ismah (kemampuan menjaga diri dari dosa walau sekecil apa pun) dan ilm (ilmu yang sempurna).[5] Dalam hal ini, berdasarkan pada nas-nas yang shahih, syiah menegaskan bahwa orang yang memiliki sifat demikian hanyalah orang-orang tertentu (bukan semuanya) dari ahlul bait yang memiliki kedekatan dengan Nabi Saaw. Ahlul bait nabi yang dimaksud sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran (Q.S. al-Ahzab: 33) diantaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib dan kedua anaknya, Imam Hasan dan Imam Husain.

Imamah yang memiliki sifat ‘ismah perlu, karena syariat tidak akan dapat berjalan tanpa adanya kekuasaan mutlak yang berfungsi memelihara serta menafsirkan pengertian yang benar dan murni (tanpa melakukan kesalahan) terhadap syariat itu. Begitu pula dengan ilmu imam, mestilah suci dan bersifat hudhuri (kehadiran langsung objek ilmu) dan syuhudi (tersaksikan dengan mata batin) atau bantuan gaib dan taufik ilahiah. Selain itu, struktur jasmani, otak serta urat syaraf, dan potensi ilmiah para imam sempurna dan senantiasa mendapat pertolongan ilahi. Semua itu, mutlak diperlukan untuk sampainya pesan-pesan ilahi secara jelas dan sempurna, tanpa cacat dan kesalahan.[6]

Ishmah dan ilmu berjalan seiring dan saling dukung. Maksudnya, ishmah diperoleh salah satunya melalui ilmu yang sempurna. Dengan ilmunya, seorang imam mengetahui hukum-hukum agama dan akibat-akibat yang ditimbulkan karena melanggar ajaran-ajaran agama tersebut. Dengan ilmu yang yakin (ilmu al-yakin) dan menyaksikan konsekuensi perbuatannya (ain al-yakin), seorang imam akan senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan dosa. Laiknya seperti orang yang mengetahui dengan ilmunya yang pasti bahwa minyak panas akan dapat melukai dan menghancurkan kulitnya, maka ia tidak akan mau mencelupkan tangannya ke dalam kuali yang berisi minyak panas, walaupun hal itu belum pernah dicobanya.

Syiah, selain menggunakan dalil akal untuk menetapkan ‘ishmah para Imam, juga mengajukan dalil naqli, al-Quran dan hadits. Diantaranya yang cukup jelas adalah firman Allah kepada Nabi Ibrahim as, bahwa imam akan diangkat dari keturunannya,“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ’sesungguhnya Aku menjadikan engkau Imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman: “Janjiku (ini) tidak berlaku untuk orang yang zalim. (Q.S. al-Baqarah: 124).

Ayat ini membicarakan tentang kisah Nabi Ibrahim as. yang setelah melewati fase kenabian dan kerasulan, dan setelah lulus dalam sejumlah ujian berat, maka Nabi Ibrahim as. diangkat menjadi Imam seluruh manusia. Dengan kesungguhannya, Nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar jabatan ini diberikan juga kepada sebagian keturunannya, tetapi Allah menegaskan kepada Nabi Ibrahim bahwa orang-orang zalim dan para pendosa tidak akan mencapai posisi ini.

Frase terakhir dari ayat di atas menegaskan bahwa ketetapan Allah tidak akan mengenai orang-orang yang zalim. Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa dalam hal ini, secara terperinci kelompok manusia dibagi pada empat posisi, yaitu :

  1. Manusia yang zalim sepanjang umurnya.
  2. Manusia yang tidak zalim sepanjang umurnya.
  3. Manusia yang zalim di awal umurnya, dan tidak diakhir umurnya.
  4. Manusia yang tidak zalim di awal umurnya, tetapi zalim diakhirnya.[7]

Merujuk pada pembagian ini, maka kelompok manusia yang kedualah yang berhak mendapat dan diangkat menjadi imam, karena tidak pernah berbuat zalim alias maksum, seperti ditegaskan oleh ayat di atas. Sebab seseorang yang berbuat dosa adalah orang zalim atas dirinya, sesuai dengan firman Allah, “…di antara mereka ada yang manganiaya diri mereka sendiri.” (Q.S. Fatir: 32).

Selain ayat di atas, Allah juga menegaskan kepada manusia untuk mematuhi pemimpin melalui firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-(Nya), dan ulil amri diantara kamu.” (Q.S. al-Nisa’: 59).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ulil amri yang wajib ditaati adalah pemimpin yang senantiasa cocok dengan hukum Allah Swt. Ketaatan mutlak tidak akan pernah dilaksanakan kecuali jika pemimpin tersebut adalah orang yang maksum. Sebab, jika mereka berbuat kesalahan, maka harus ditegur dan ditolak saat itu juga. Sikap semacam ini bertentangan dengan keharusan taat kepada mereka. Akhirnya dua perintah Allah akan menjadi saling berbenturan, padahal keduanya menuntut adanya pelaksanaan untuk menghindari murka Yang Maha Kuasa, dalam arti kata taat kepada mereka.[8]

Sedangkan ayat yang secara jelas menyebutkan ahlul bait adalah ayat tathir,Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Q.S. al-Ahzab: 33)

Para ulama ahli hadis, tafsir, dan sejarawan menyatakan bahwa ayat di atas turun kepada lima orang, yaitu Nabi Muhammad Saw, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan dan Husein. Hal ini dapat ditemukan dalam banyak literatur baik di kalangan sunni maupun syiah seperti Musnad Ahmad bin Hambal, Mustadrak al-Hakim, Sunanal-Turmizi, tafsir Al-Tabari, Tarikh Baghdadi dan lain-lain.[9] Bahkan beberapa buku ditulis khusus untuk menguraikan tentang ayat tersebut, diantaranya[10]:

  1. Sayid Syahid al-Qadhi Nurullah al-Tusturi, Al-Sahab al-Mathir fi Tafsiri Ayat Tathir.
  2. Allamah Baha’uddin Muhammad bin Hasan al-Isfahani yang dikenal dengan gelar al-Fadhil al-Hindi, Tathir at-Tathir.
  3. Allamah Sayid Abdul Baqi al-Husaini, Syarhu Tathir at-Tahir.
  4. Syekh Abdul Karim bin Muhammad bin Thahir al-Qummi, Al-Shuwar al-Munthabaah.
  5. Syekh Ismail bin Zainal Abidin yang bergelar Misbah, Tafsir Ayat at-Tathir.
  6. Syekh Muhammad Ali bin Muhammad Taqi al-Bahrain, Jala’ul Dhamir fi Halli Musykilat Ayat Takhir.
  7. Allamah Syekh Abdul Husain bin Mustafa, Aghlab ad-Dawain fi Tafsiri Ayat Tathir.
  8. Syekh Luthfullah Ash-Shafi, Risalah Qayyimah fi Tafsiri Ayat Tathir.
  9. Sayid Ja’far Murtadha al-Amili, Ahlulbait fi Ayat at-Tathir.
  10. Syekh Muhammad Mahdi ash-Shifi, Kitab fi Maqal Ayat Tathir.
  11. Sayid Ali al-Muwahhid al-Abthahi, Ayat Tathir fi Ahadits al-Fariqain.
  12. Syekh Ja’far Subhani, Ayat at-Tathir.
  13. Sayid Kamal haydari, al-Ishmah.

Dengan demikian, nas-nas al-Quran di atas secara jelas mengungkapkan bahwa, kepemimpinan ilahiah dalam Islam tidaklah berakhir setelah Rasulullah saw  wafat. Akan tetapi, garis imamah dilanjutkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib dan orang-orang suci dari keturunannya melalui jalur Imam Ali dan Fatimah al-Zahra as.

Dan batasan di atas mengenai imamah tampak bahwa untuk mencapai kedudukan ini dituntut syarat-syarat yang sangat berat, baik dari sisi taqwa, yaitu telah mencapai tingkat ishmah, kemaksuman yang menjadikan seseorang terpelihara dari perbuatan-perbuatan dosa dan kesalahan, serta memiliki ilmu dan pengetahuan yang mencakup seluruh bidang pengetahuan dan aturan agama serta pengetahuan tentang manusia dan kebutuhannya untuk setiap zaman. Setidaknya ada tiga syarat penting yang mesti dimiliki seseorang untuk menduduki posisi Imamah yaitu :

  1. Merupakan pilihan dan diangkat oleh Allah swt, bukan diangkat oleh masyarakat umum
  2. Memiliki keilmuan yang mencakup keseluruhan ilmu yang diperoleh secaraladunni dari sisi Allah swt.
  3. Maksum dari segala kesalahan dan kekeliruan serta dosa.[11]

Ketiga syarat tersebut mengindikasikan bahwa orang yang menjadi imam mestilah diangkat oleh Allah, seperti halnya para Nabi, bukan diangkat oleh manusia. Namun, orang yang diangkat Allah swt haruslah orang yang memiliki kualitas kenabian secara lahiriah dan ruhaniah seperti yang disyaratkannya memiliki ilmu dan kemaksuman. Orang-orang yang memiliki kualitas seperti ini hanya Allah swt yang mengetahuinya, karena hanya Dialah yang senantiasa mengawasi manusia dengan kecermatan, ketelitian, dan pengawasan yang tidak mungkin dihinggapi kekeliruan.

Selain itu, Imamah juga merupakan petunjuk pelaksanaan prinsip-prinsip keadilan Ilahi yang mesti dijalankan manusia. Tuhan dianggap adil karena Ia ingin manusia berjalan di garis yang benar; Tuhan pencipta manusia dan tidak akan membiarkan makhluk-Nya dalam kesesatan. Untuk misi itulah para rasul dan imam diutus oleh Tuhan.

PENGANGKATAN DAN PENUNJUKKAN IMAM

Seperti disebutkan di atas bahwa pengangkatan atau penunjukan imam merupakan hak preogratif Allah swt, yang disampaikan melalui wahyu dan lisan Rasulullah saaw. Manusia tidaklah memiliki peran dalam pemilihan tersebut, disebabkan penentuan seorang imam menunut kelayakan zatiah, yakni kelayakan yang mana pada diri seseorang telah tertanam sifat-sifat dan kriteria imam seperti ishmah danilmu secara sempurna dan telah menjadi jati dirinya.

Imamah dalam pandangan kaum syiah tidak hanya merupakan suatu sistem pemerintahan, tetapi juga rancangan Tuhan yang absolut dan menjadi dasar syariat, yang kepercayaan kepadanya dianggap sebagai penegas keimanan. Khwajah Nasiruddin at-Thusi sebagaimana dikutip oleh Murtadha Muthahhari menggunakan ungkapan ilmiah dan mengatakan bahwa Imam adalah luthf (karunia) Allah. Maksudnya seperti kenabian dan berada di luar otoritas manusia. Karenanya, Imam tak dapat dipilih berdasarkan keputusan manusia. Seperti Nabi Saw, Imam ditunjuk berdasarkan ketetapan Allah Swt. Bedanya, Nabi berhubungan langsung dengan Allah Swt, sedangkan Imam diangkat oleh Nabi saw setelah mendapat perintah dari Allah Swt.[12]

Pandangan ini diperkuat dengan penunjukan langsung Rasulullah Muhammad saaw untuk menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin (maula, waliy) seluruh kaum muslimin sesaat setelah menyelesaikan haji wada’. Peristiwa bersejarah ini dikenal dengan “hadits ghadir khum” yang mencapai derajat mutawatir.

Jumhur ulama Islam baik dari sunni dan syiah telah mengakui bahwa Nabi Saw pada hari ke-18, pada bulan Zulhijjah tahun ke-10 H, sepulangnya dari haji wada’ menuju Madinah al-Munawarah, beliau berhenti di Ghadir, di sebuah dataran yang bernama Khum. Beliau memerintahkan orang yang mendahuluinya untuk kembali dan menanti orang-orang yang tertinggal di belakang. Sehingga semua orang yang bersama beliau berkumpul, jumlah mereka pada waktu itu diperkirakan mencapai 70.000 orang atau lebih, dan ada yang berpendapat 120.000 orang.[13]

Rasulullah naik ke atas mimbar, beliau berbicara dengan khutbah yang sangat istimewa. Pesan-pesan ilahiah mengenai persaudaraan, keimanan, keutamaan Islam, dan sebagainya disampaikan nabi saaw dengan fasihnya. Hingga kemudian beliau menyampaikan akan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib, mendoakannya dan mendoakan orang-orang yang mendukungnya, serta mereka yang menjadikannya sebagai wali.[14]

Kemudian, beliau memerintahkan para sahabatnya agar menyediakan tempat bagi Ali, kemudian mendudukkannya di tempat itu. Nabi kemudian memerintahkan semua yang bersama beliau untuk mendatanginya, baik perseorangan maupun berjamaah, untuk menyampaikan ucapan selamat kepadanya. Setelah itu para sahabat diperintahkan nabi membai’at Imam Ali.

Inilah deklarasi umum kepemimpinan Imam Ali, dengan memproklamirkan, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya juga (man kuntu maula hu fa hadza Ali maula hu .[15]

Hadits ini mempunyai banyak jalur periwayatan baik dari jalur sunni maupun syiah, sehingga mustahil untuk diragukan. Ridha al-Hakimi dalam Hamaseh Ghadirmenyatakan “Apabila (kriteria keshahihan) hadits al-Ghadir ini tidak kita terima kebenarannya, niscaya tidak ada satupun hadits lain yang dapat kita terima”.[16]

Hal ini karena, hadis al-Ghadir termasuk hadis yang paling mutawatir. Husain Ali Mahfuz, dalam risetnya yang mendalam seputar persoalan Ghadir Khum, telah mencatat dengan dokumentasi bahwa hadits al-ghadir ini telah diriwayatkan oleh paling sedikit 110 sahabat, 84 thabiin, 355 ulama, 25 sejarawan, 27 ahli hadits, 11 mufasir, 18 teolog, dan 5 filolog.[17] Al-Amini dalam karya monumentalnya al-Ghadirsebanyak 11 jilid dengan panjang lebar menelusuri sumber-sumber rujukan hadits tersebut. Al-Amini menyebutkan para perawinya dari kalangan sahabat yang mencapai 110 orang sahabat sebagai berikut :

  1. Abu Hurairah al-Dausi (w.57/58H). Diantaranya diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad jilid VIII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqib, hlm. 130. Ibn Hajar di dalam Tahzhib al-Tahzhib jilid VII, hlm. 327.
  2. Abu Laila al-Ansari (w. 37 H). Diantaranya ditulis oleh al-Khawarizmi, Manaqib, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114 dan Samhudi di dalam kitab Jawahir al-Aqidain.
  3. Abu Zainab bin ‘Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah jilid 3, hlm. 307. dan jilid 5, hlm. 205; Ibn Hajr Asqalani, al-Isabah jilid 3, hlm. 408 dan jilid 4, hlm. 80.
  4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi saaw di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada ‘Ali AS dengan hadith al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir dalam Usd al-Ghabahjilid 3, hlm. 307, dan jilid 5, hlm.205.
  5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan ‘Ali AS di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir dalam Usd al-Ghabah jilid 5, hlm. 276.
  6. Abu ‘Umrah bin ‘Umru bin Muhsin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah Jilid 3, hlm. 307.
  7. Abu al-Haitsam bin al-Taihan meninggal dunia saat perang al-Siffin tahun 37 H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 67.
  8. Abu Rafi’ al-Qibti, hamba Rasulullah SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhb.
  9. Abu Dhuwaib Khuwalid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah ‘Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dalamHadith al-Wilayah, al-Khawarizmi di dalam Maqtal.
  10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w.13H). Lihat Ibn Uqdah dalam Hadith al-Wilayah; Abu Bakr al-Ja’abi dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i dalam Asna al-Matalib, hlm. 3.
  11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w.54H). Diriwayatkan di dalamHadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.
  12. Ubayy bin Ka’ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32H). Lihat Abu Bakr al-Ja’abi dalam Nakhb al-Manaqib.
  13. As’ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalamAsna al-Matalib, hlm. 4.
  14. Asma’ binti Umais al-Khath’amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dalamHadith al-Wilayah.
  15. Umm Salamah isteri Nabi SAWAW. Lihat al-Samhudi al-Syafii dalam Jawahir al-Aqirain; dan al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi al-Mawaddah, hlm. 40.
  16. Umm Hani’ binti Abi Talib. Lihat al-Qunduzi l-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn ‘Uqdah, Hadith al-Wilayah.
  17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah saaw (w. 93H). Lihat al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya jilid VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah, al-Ma’arif, hlm. 291; al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
  18. Al-Barra’ bin ‘Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281; Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.
  19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
  20. Abu Sa’id Thabit bin Wadi’ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
  21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa’i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 398.
  22. Jabir bin Abdullah al-Ansari (w. 73/74H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-Isti’ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tadhib, V, hlm. 337.
  23. Jabalah bin ‘Umru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
  24. Jubair bin Mut’am bin ‘Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 31, 336.
  25. Jarir bin ‘Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 106.
  26. Abu Dhar Janadah al-Ghaffari (w.31 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.
  27. Abu Junaidah Janda’ bin ‘Umru bin Mazin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 308.
  28. Hubbah bin Juwain Abu Qadamah al-’Arani (w. 76-79H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.
  29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307, V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa Nihayah, VI, hlm. 211.
  30. Habib bin Badil bin Waraqa’ al-Khaza’i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.
  31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari. (w.40/42 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38.
  32. Huzaifah al-Yamani (w.36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 40.
  33. Hasan bin Tsabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama Hijrah.
  34. Imam Mujtaba Hasan bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
  35. Imam Husain bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, IX, hlm.9.
  36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w.50/51H). Diriwayatkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, I, hlm. 169; Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabbah, V, hlm. 6 dan lain-lain.
  37. Abu Sulaiman Khalid bin al-Walid al-Mughirah al-Makhzumi (w. 21/22H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
  38. Khuzaimah  bin Thabit al-Ansari Dhu al-Syahadataini  (w.  37H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd  al-Ghabah,III, hlm. 307 dan lain-lain.
  39. 39. Abu  Syuraih Khuwailid Ibn `Umru al-Khaza`i (w. 68  H).Di antara orang yang menyaksikan Amiru l-Mukminin dengan hadis al-Ghadir.
  40. Rifaah bin `Abd al-Munzhir al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadis al-Wilayah.
  41. Zubair bin al-`Awwam al-Qurasyi (w. 36 H).Diriwayatkan oleh Syamsuddin  al-Jazari  al-Syafi`i di dalam  Asna  l-Matalib, hlm. 3.
  42. Zaid  bin Arqam al-Ansari al-Khazraji (w. 66/68  H).   Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV,  hlm.368 dan lain-lain.
  43. Abu Sa`id Zaid bin Thabit (w. 45/48 H).Diriwayatkan  oleh Syamsuddin  al-Jazari  al-Syafi`i di dalam  Asna  l-Matalib,hlm. 4 dan lain-lain.
  44. Zaid Yazid bin  Syarahil al-Ansari. Diriwayatkan oleh  Ibn al-Athir  di dalam Usd al-Ghabah, II, hlm. 233; Ibn Hajr  di dalam al-Isabah, I, hlm. 567 dan lain-lain.
  45. Zaid bin `Abdullah al-Ansari.Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadis al-Wilayah.
  46. Abu Ishak Sa`d bin Abi Waqqas (w. 54/56/58 H).  Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak , III, hlm. 116 dan lain-lain.
  47. Sa`d bin Janadah al-`Aufi bapa kepada `Atiyyah al-`Aufi. Diriwayatkan  oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah , dan lain-lain.
  48. Sa`d bin `Ubadah al-Ansari al-Khazraji (w. 14/15  H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja`abi di dalam Nakhb.
  49. Abu Sa`id Sa`d  bin Malik al-Ansari al-Khudri  (w.63/64/65H).  Diriwayatkan  oleh al-Khawarizmi di  dalam Manaqibnya, hlm. 8; Ibn Kathir di dalamTafsirnya, II, hlm. 14 dan lain-lain.
  50. Sa`id bin Zaid al-Qurasyi `Adwi (w. 50/51 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Maghazili di dalam Manaqibnya.
  51. Sa`id bin Sa`d bin `Ubadah al-Ansari.Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalamHadis al-Wilayah.
  52. Abu `Abdullah Salman al-Farisi (w. 36/37 H). Diriwayatkan oleh  Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna  l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
  53. Abu Muslim Salmah  bin `Umru bin al-Akwa` al-Islami  (w. 74H).  Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah dengan  sanad-sanadnya  didalam Hadis al-Wilayah.
  54. Abu Sulaiman Samurah bin Jundab al-Fazari (w.58/59/60  H). Diriwayatkan  oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di  dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
  55. Sahal  bin Hanif al-Ansari al-Awsi (w. 38 H). Diriwayatkan  oleh  Syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna  l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
  56. Abu `Abbas Sahal  bin Sa`d al-Ansari  al-Khazraji  al-Sa`idi (w. 91H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di  dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
  57. Abu Imamah al-Sadiq Ibn `Ajalan al-Bahili (w. 86 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  58. Dhamirah  al-Asadi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah  di  dalam Hadis al-Wilayah.
  59. Talhah bin `Ubaidillah al-Tamimi wafat pada tahun 35  Hijrah di dalam Perang Jamal. Diriwayatkan oleh al-Mas`udi di dalam Muruj  al-Dhahab, II, hlm. 11;  al-Hakim di dalam  al-Mustadrak, III, hlm. 171 dan lain-lain.
  60. Amir bin `Umair al-Namiri. Diriwayatkan oleh Ibn  Hajr  di dalam al-Isabah, II, hlm. 255.
  61. Amir bin Laila bin Dhumrah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 92 dan lain-lain.
  62. Amir bin Laila al-Ghaffari. Diriwayatkan oleh Ibn Hajr  di dalam al-Isabah, II, hlm. 257 dan lain-lain.
  63. 63. Abu Tufail `Amir bin Wathilah. Diriwayatkan oleh  Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 118; al-Turmudhi di dalam Sahihnya, II, hlm. 298 dan lain-lain.
  64. 64. `Aisyah  binti  Abu  Bakr  bin  Abi  Qahafah,  isteri   Nabi (s.`a.w.).  Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  65. Abbas  bin `Abdu l-Muttalib bin Hasyim  bapa  saudara Nabi (s.`a.w.). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  66. Abdu al-Rahman  bin `Abd Rabb al-Ansari.  Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hlm. 408 dan lain-lain.
  67. Abu Muhammad bin `Abdu al-Rahman bin Auf al-Qurasyi al Zuhri (w.  31  H). Diriwayatkan oleh  Syamsuddin  al-Jazari  al-Syafi`i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 dan lain-lain.
  68. Abdu al-Rahman bin Ya`mur al-Daili. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalamHadis al-Wilayah dan lain-lain.
  69. Abdullah  bin  Abi `Abd al-Asad  al-Makhzumi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  70. Abdullah bin Badil bin Warqa’ Sayyid Khuza`ah. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  71. Abdullah bin Basyir al-Mazini. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  72. Abdullah bin Thabit al-Ansari. Diriwayatkan oleh  al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 67.
  73. Abdullah bin Ja`far bin Abi Talib al-Hasyim (w. 80 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  74. Abdullah  bin Hantab al-Qurasyi  al-Makhzumi. Diriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam Ihya’ al-Mayyit.
  75. Abdullah bin Rabi`ah.  Diriwayatkan oleh  al-Khawarizmi  di dalam Maqtalnya.
  76. Abdullah bin `Abbas (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Nasa`i di dalam al-Khasa`is, hlm. 7 dan lain-lain.
  77. Abdullah bin Ubayy Aufa `Alqamah al-Aslami (w.86/87H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  78. Abu `Abd al-Rahman `Abdullah  bin  `Umar  bin al-Khattab al- `Adawi (w. 72/73 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 106 dan lain-lain.
  79. Abu `Abdu al-Rahman `Abdullah bin Mas`ud al-Hazali (w. 32/33H).   Diriwayatkan  oleh  al-Suyuti  di  dalam  al-Durr  al-Manthur, II, hlm. 298 dan lain-lain.
  80. Abdullah bin Yamil. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 274;  Ibn Hajr di dalam  al-Isabah, II, hlm. 382 dan lain-lain.
  81. Uthman bin `Affan (w. 35 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah dan lain-lain.
  82. Ubaid bin `Azib al-Ansari, saudara al-Bara’ bin  `Azib.  Di antara  orang yang membuat penyaksian kepada `Ali a.s di Rahbah.  Diriwayatkan  oleh Ibn al-Athir di  dalam  Usd  al-Ghabah, III, hlm. 307.
  83. Abu Tarif `Adi bin Hatim (w. 68 H).  Diriwayatkan  oleh  al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 38  dan lain-lain.
  84. Atiyyah bin Basr al-Mazini. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  85. Uqbah bin `Amir al-Jauhani. Diriwayatkan oleh  al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 68.
  86. Amiru l-Mukminin `Ali bin Abi Talib a.s. Diriwayatkan  oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 152; al-Haithami  di dalam Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 107;  al-Suyuti  di dalam Tarikh al- Khulafa’, hlm. 114; Ibn Hajr di dalam Tahdhib  al-Tahdhib, VII, hlm. 337; Ibn Kathir di  dalam  al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 211 dan lain-lain.
  87. Abu Yaqzan `Ammar bin Yasir (w. 37H).Diriwayatkan  oleh Syamsuddin  al-Jazari al-Syafi`i di dalam  Asna  al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
  88. Ammarah al-Khazraji al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalamMajma` al-Zawa’id, IX, hlm. 107 dan lain-lain.
  89. Umar bin Abi Salmah bin `Abd al-Asad al-Makhzumi (w. 83 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  90. Umar bin al-Khattab (w. 23 H). Diriwayatkan oleh  Muhibbuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, II, hlm.  161; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, VII, hlm.  349 dan lain-lain.
  91. Abu Najid `Umran bin Hasin al-Khuza`i (w. 52 H). Diriwayatkan  oleh syamsuddin al-Jazari al-Syafi`i di dalam Asna  al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
  92. Amru bin al-Humq al-Khuza`i al-Kufi (w. 50 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  93. Amru  bin  Syarhabil.Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtalnya.
  94. Amru bin al-`Asi.  Diriwayatkan oleh Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Siyasah, hlm. 93 dan lain-lain.
  95. Amru bin Murrah al-Juhani Abu Talhah atau Abu Maryam. Diri-wayatkan  oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz  al-`Ummal, VI, hlm. 154 dan lain-lain.
  96. Al-Siddiqah Fatimah binti Nabi (s.`a.w.).Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalamHadis al-Wilayah dan lain-lain.
  97. Fatimah binti Hamzah bin `Abdu l-Muttalib. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.
  98. Qais bin Thabit bin Syamas al-Ansari. Diriwayatkan oleh  Ibn al-Athir  di dalamUsd al-Ghabah, I, hlm. 368;  Ibn Hajr  di dalam al-Isabah, I, hlm. 305 dan lain-lain.
  99. Qais bin Sa`d bin `Ubadah al-Ansari al-Khazraji. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

100.  Abu Muhammad Ka`ab bin `Ajrah al-Ansari al-Madani (w. 51 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

101.  Abu Sulaiman Malik  bin  al-Huwairath al-Laithi  (w. 84  H). Diriwayatkan  oleh  al-Suyuti di dalam  Tarikh  al-Khulafa’, hlm. 114 dan lain-lain.

102.  Al-Miqdad bin `Amru al-Kindi al-Zuhri (w. 33 H). Diriwayatkan  oleh  Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah dan  lain-lain.

103. Najiah bin`Amru al-Khuza`i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di  dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 6;  Ibn Hajr di  dalam al-Isabah, III, hlm. 542 dan lain-lain.

104. Abu Barzah Fadhlah  bin `Utbah al-Aslami (w. 65 H). Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

105. Na’mar bin `Ajalan al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi  di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 68 dan lain-lain.

106.  Hasyim al-Mirqal Ibn`Utbah  bin Abi Waqqas al-Zuhri (w.  37H).  Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd  al-Ghabah, I, hlm. 366; Ibn Hajr di dalam _al-Isabah, I, hlm. 305.

107.  Abu Wasmah Wahsyiy bin Harb al-Habsyi al-Hamsi. Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

108.  Wahab bin Hamzah.Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi pada Fasal Keempat di dalam Maqtalnya.

109.  Abu Juhaifah Wahab bin`Abdullah al-Suwa’i (w. 74 H).  Diriwayatkan oleh Ibn `Uqdah di dalam Hadis al-Wilayah.

110.  Abu Murazim Ya’li  bin Murrah bin Wahab al-Thaqafi. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah , II, hlm.233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah , III, hlm. 542[18].

Demikianlah  110 perawi-perawi hadis  al-Ghadir  di kalangan sahabat  mengenai  penunjukan Ali a.s sebagai imam atau khalifah secara langsung oleh Rasulullah saaw. Kemudian diikuti pula oleh 84 perawi-perawi dari golongan para Tabi`in yang meriwayatkan hadis al-Ghadir serta 360 perawi-perawi di  kalangan para ulama Sunnah  yang  meriwayatkan  hadis tersebut di dalam buku-buku mereka. Bahkan terdapat 26 pengarang dari  kalangan para ulama Ahl al-Sunnah yang mengarang  buku secara khusus tentang hadis al-Ghadir, diantaranya :[19]

  1. Ahmad Zaini Dahlan al-Makki al-Syafii dalam kitabnya Futuhat al-Islamiyah
  2. Syeikh Yusuf al-Nabhani al-Beiruti dalam kitabnya al-Syaraf al-Muayyad
  3. Muhammad Abduh dalam karyanya Tafsir al-Manar
  4. Abdul Hamid al-Alusi al-Baghdadi dalam kitabnya Natsr al-La’ali
  5. Sayyid Mukmin Sablanji al-Misri dalam Nur al-Abshar
  6. Syeikh Muhammad Habibullah Syanqithi dalam Kifayah al-Thalib
  7. Dr. Ahmad Rifai dalam kitabnya Ta’liqat Mu’jam al-Udaba
  8. Ahmad Zaki al-Mishri dalam kitabnya Ta’liqat al-Ghani
  9. Ahmad Nashim al-Mishri dalam kitabnya Ta’liqat Diwan Mihyar Dailami
  10. Muhammad Mahmud Rifai dalam kitabnya Syarhu al-Hasyimiyat
  11. Nashir as-sunnah al-Hamdhrani dalam Tasynif al-Adzan
  12. Dr. Umar al-Faruk dalam Hakim al-Muammarah.[20]

Adapun ulama Syiah diantaranya :

  1. Syeikh Ahmad bin Ali bin Abi Thalib at-Thabarsi menulis kitab al-Ihtijaj
  2. Mir Hamid Husain al-Hindi dalam karyanya Abaqat al-Anwar sebanyak 20 jilid
  3. Syeikh Abdul Husain al-Amini dalam karyanya al-Ghadir sebanyak 11 jilid
  4. Ali Akbar Shadeqi, Payam Ghadir (Khutbah al-Rasul saw fi Ghadir Khum).
  5. Syeikh Ayub al-Hairi, al-Ghadir

Adapun mengenai jumlah imam, syiah meyakini adanya 12 imam. Hal ini didukung teks-teks hadits yang cukup terkenal yang diriwayatkan para ahli hadits di dalam kitab-kitab utama mereka seperti : Sahih Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Daud, Musnad Ibn Hanbal, serta kitab-kitab standar lainnya yang jika kita telusuri akan mencapai setidaknya 270 riwayat, diantaranya Al-Qanduzi al-Hanafi menyebutkan di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah, bahwa Yahya bin Hasan di dalam kitab al-’Umdah meriwayatkan dua puluh jalur mengenai khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas dan seluruhnya Quraisy. Adapun di dalam Sahih Bukhari melalui tiga jalan, dalam Sahih Muslim melalui sembilan jalan, dalam Sunan Abu Dawud melalui tiga jalan, di dalam Sunan Turmudzi melalui satu jalan, dan di dalam al-Hamidi melalui tiga jalan.

Ayatullah Ibrahim Amini meneliti hadits-hadits tentang 12 imam atau khalifah dan mengelompokkanya menjadi lima kelompok,[21] yaitu :

  1. Hadits-hadits yang menggambarkan bahwa para khalifah dan umara setelah nabi berjumlah 12 orang. Misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim Jilid III, “Agama ini akan terus tegak hingga datangnya hari kiamat atau datang kepada kamu dua belas orang khalifah, (imam) semuanya berasal dan suku Quraisy.”
  2. Hadits-hadits yang menyebutkan bahwa para imam berjumlah dua belas orang dan terakhirnya bernama al-Qaim atau Mahdi.
  3. Hadits-hadits yang menyebutkan jumlah 12 orang dengan disertai nama-nama setiap imam.
  4. Hadits-hadits yang menyatakan bahwa para imam ada 12 orang dan semuanya suci.
  5. Hadits-hadits yang menunjukkan bahwa ahlul bait akan tetap ada hingga hari kiamat.

Syiah meyakini bahwa tafsiran yang paling tepat mengenai dua belas khalifah yang ditentukan Nabi Muhammad saaw. itu adalah para Imam maksum as. dari Imam Ali bin Abi Thalib as hingga Imam Muhammad al-Mahdi afs.

Meskipun begitu, umumnya ulama sunni tetap menganggap bahwa pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah bukanlah hal yang mutlak, bahkan sebagiannya ada yang menolak persoalan tersebut. Menurut analisa Jalaluddin Rakhmat, setidaknya, dalam menanggapi persoalan ini  para pemikir sunni melakukan enam teknik pengalihan fakta[22], yaitu :

  1. Membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang kabur. Contoh: Tarikh al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi tentang Ali, “Inilah washiku dan khalifahku untuk kamu”. Kata-kata ini dalam tafsir al-Thabari dan Ibnu Katsir diganti dengan “wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah)”. Tentu kata ‘washi’ dan ‘khalifah’ sangat jelas, sedangkan” wa kadza”  tidak jelas.
  2. Membuang seluruh beritanya dengan memberithaukan bahwa pembuangan cerita itu ada. Contohnya: Dalam buku ‘Shiffin’ karya Nashr bin Mazahim (w. 212 H) dan Muruj al-Dzahab karya al-Masudi (w. 246 H) diceritakan bahwa Muhammad bin Abu Bakar menulis surat kepada Muawiyah menjelakan keutamaan Imam Ali sebagai ‘washi’ nabi, dan muawiyah mengakuinya. Namun, al-Thabari yang juga menceritakan kisah tersebut dengan merujuk pada buku-buku di atas sebagai sumber, membuang semua isi surat itu dengan alasan supaya orang banyak tidak resah mendengarnya. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, juga menghilangkan isi surat itu dengan alasan yang sama.
  3. Memberikan makna lain (takwil) pada riwayat. Contohnya : al-Thabrani dalamMajma al-Zawaid meriwayatkan ucapan Nabi kepada Salman al-Farisi bahwa Ali adalah washi-nya. Al-Thabrani memberikan komentar, “Nabi menjadikannya washi untuk keluarganya, bukan untuk khalifah”.
  4. Membuang sebagian riwayat tanpa menyebutkan petunjuk atau alasan. Contohnya: Ibnu Hisyam mendasarkan  kitabnya, Tarikh Ibnu Hisyam padaTarikh Ibnu Ishaq. Akan tetapi Ibnu Hisyam dalam kata pengantarnya berkata bahwa ia meninggalkan beberapa bagian riwayat Ibnu Ishaq yang jelek bila disebut orang. Diantara yang ditinggalakanya itu adalah kisah “wa andzir ashiratakal aqrabin”, yang dalam Sirah Ibnu Ishaq di riwayatkan Nabi mengatakan “Inilah (Ali) saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Muhammad Husein Haikal dalam bukunya Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. Pada bukunya cetakan pertama, ia mengutip ucapan Nabi, “siapa yang akan membantuku dalam urusan ini akan menjadi saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu”. Pada cetakan kedua (tahun 1354 H) ucapan Nabi ini dibuang dari bukunya.
  5. Melarang penulisan hadits-hadits Nabi saw, dari masa sahabat sampai masa thabiin, sehingga kemungkinan hadits banyak yang hilang.
  6. Mendhaifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan orang yang kita dukung atau yang menunjukkan kehebatan lawan. Contohnya: Ibnu Katsir mendhaifkan hadits-hadits tentang keutamaan Imam Ali sebagai washi dankhalifah Nabi. Ia menganggap riwayat ini sebagai dusta yang dibuat-buat orang syiah atau orang-orang bodoh dalam ilmu hadits. Padahal hadits itu diriwayatkan dari banyak sahabat oleh Imam Ahmad, al-Thabari, al-Thabrani, Abu Nuaim al-Isbahani, Ibnu Asakir, dan lainya.

Cara ini telah melahirkan diskusi mazhab yang panjang. Ulama Sunni menulis buku yang menyerang mazhab syiah, dan Ulama syiah membalasnya dengan menulis buku juga sebagai jawaban. Al-Hilli menulis buku Minhaj al-Karamah yang dibantah oleh Ibnu Rouzban (dari sunni) dan dibalas lagi oleh al-Marasyi al-Tustary (dari Syiah). Kompilasi bantahan ini sekarang menjadi buku ‘Ihqaq al-Haq’ sebanyak 19 jilid, yang setiap jilidnya sama dengan ukuran Encyclopedia Britannica. Ibnu Taymiyah menulis buku ‘Minhaj al-Sunnah’ juga untuk membantah buku ‘Minhaj al-Karamah’. Akhirnya ditulislah 11 jilid al-Ghadir dan 20 jilid “Abaqat al-Anwar” untuk membuktikan keshahihan hadits ghadir khum yang didhaifkan Ibnu Taymiyah. Sampai saat ini belum ada bantahan untuk kedua buku tersebut.

HUBUNGAN IMAMAH DAN WILAYAH

Pada dasarnya, imamah dan wilayah adalah konsepsi yang tak terpisahkan, antara bagian dan keseluruhan. Maksudnya, wilayah adalah payung besar yang menaungi seluruh konsepsi kepemimpinan Islam, baik itu kenabian (an-nubuwah), keimaman (imamah), ataupun keulamaan (fukaha). Ini berarti wilayah merupakan konsepsi yang khas sebagai bentuk distribusi kepemimpinan mulai dari Allah (wilayah Allah), Nabi (wilayah al-nabi), imam (wilayah al-imam), hingga ulama (wilayah al-faqih).

Ayat berikut dipandang oleh syiah sebagai rujukan penting mengenai wilayah: “Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan memberikan sedekah dalam keadaan rukuk.” (Q.S. al-Maidah: 55)

Ayat ini menetapkan tiga “kewalian” yaitu Allah, Nabi Muhammad Saw, dan “orang yang beriman”. Frasa terakhir (orang yang beriman) ini, disebutkan oleh para ahli hadits dan tafsir merujuk kepada Imam Ali bin Abi Thalib.[23] Jadi, ayat ini mengindikasikan kewalian Imam Ali bin Abi Thalib, dan para imam lainnya yangwilayah mereka ditetapkan melalui penunjukan mereka oleh Nabi Saw.[24]

Menurut A.A. Sachedina, Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir telah melaksanakan tugasnya mengemban wilayah al-ilahiyahWilayah al-Ilahiyah berkaitan dengan visi moral wahyu islami. Wahyu islami memandang kehidupan publik sebagai suatu proyeksi niscaya dari tanggapan pribadi terhadap tantangan moral untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang berdasarkan ajaran-ajaran Allah di muka bumi. Untuk mewujudkan itu, kepemimpinan amat penting. Sebab hanya melalui kepemimpinan yang dibimbing oleh Allah, penciptaan masyarakat yang ideal dapat diwujudkan. Masalah kepemimpinan yang dibimbing oleh Allah dalam memenuhi rencana Allah, di bawah naungan wilayah al-Ilahiyah, dengan demikian menempati posisi sentral dalam sistem keimanan atau pandangan Syiah, yang di dalamnya Nabi Muhammad Saw sebagai wakil aktif Allah yang transendental di muka bumi, digambarkan sebagai memiliki wilayah Ilahi. Untuk menjamin kontinuitas visi wahyu yang demikian, kontinuitas realisasi kepemimpinan menjadi sebuah keniscayaan.[25]

Fakta ini demikian penting, sehingga baik selama masa hidup Nabi Muhammad Saw, maupun segera setelah wafatnya, masalah kepemimpinan dalam Islam menjadi jalin-berjalin demikian erat dengan penciptaan suatu tatanan Islami. Wahyu Islami tak pelak lagi mengandung arti bimbingan Allah melalui perwakilan yang ditunjuk oleh Allah, yaitu Nabi Muhammad Saw, untuk mewujudkan tatanan masyarakat Islami. Dan setelah Rasulullah Muhammad saaw, amanah untuk menjaga dan mewujudkan tatanan islami itu dilanjutkan oleh para imam yang diangkat oleh Allah melalui lisan wahyu Rasulullah saaw.

IMAMAH DAN WILAYAH SEBAGAI KEPEMIMPINAN UNIVERSAL

Kata maula[26] dan al-waliy dalam kamus-kamus Bahasa Arab memiliki beberapa arti, diantaranya : yang bertanggung jawab dalam suatu pekerjaan (al-mutawalli fi al-amr), penolong (nashir), teman (shahib), pecinta (muhib), sekutu (haliif), pewaris (warits).

Akan tetapi, kata al-wali atau maula, sebagaimana terdapat dalam konteks ayat wilayah (Q.S. al-maidah: 55) dan hadits Ghadir Khum di atas, disepakati oleh ulama syiah sebagai konsepsi kepemimpinan universal yang dimiliki oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Sedangkan bagi ulama sunni, istilah ini ditafsirkan bermacam-macam,meskipun ada konsensus di antara mereka bahwa ayat dan hadits itu diwahyukan untuk memuji kesalehan dan ketakwaan Ali, namun kata al-wali ditafsirkan sebagai mengandung arti muwalat (persahabatan yang menolong) Ali dan tidak meniscayakan penerimaan akan wilayah (otoritas dalam bentuk kepemimpinan universal/imamah).

Sebagian dari penulis ahli sunnah menyatakan bahwa al-wali atau maula dalam ayat dan hadis “man kuntu maula” berarti teman atau kekasih atau dengan kata lain dalam hadis al-Ghadir, Rasul hanya ingin menegaskan pada kaum muslimin bahwa siapa yang mencintai beliau harus juga mencintai Imam Ali a.s dan tidak lebih dari itu.

Memang tidak ada yang memungkiri bahwa kata al-wali atau maula bisa berarti teman atau kekasih. Akan tetapi, menurut pandangan syiah, dalam konteks ayatwilayah dan hadits al-ghadir, tidaklah tepat memaknai kata tersebut dengan teman atau kekasih dikarenakan alasan sebagai berikut: [27]

  1. Ayat tentang wilayah ini mengandung makna pengaturan dan ketaatan khusus pada tiga wali yakni Allah, Nabi dan ‘orang beriman’ (Imam Ali).
  2. Bahwasanya kecintaan terhadap Imam Ali a.s. dan kecintaan kaum muslimin dengan sesama mereka adalah masalah yang sudah tersebar luas dan diketahui oleh seluruh umat Islam, karena diawal-awal dakwah rasul, beliau selalu menyampaikan “sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara“. Oleh karena itu tidak perlu rasul mengumpulkan ratusan ribu kaum muslimin dalam kondisi dibawah terik matahari hanya untuk menyampaikan bahwa mereka harus mencintai Imam Ali as.
  3. Sesungguhnya sabda Rasul saww, “Bukankah aku lebih berhak atas kalian dibanding dari kalian?”, menandakan yang dimaksud dengan maula dihadisal-Ghadir bukan hanya sekedar kecintaan, akan tetapi kepemimpinan Imam Ali as.
  4. Doa Nabi Muhammad saaw, “Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Bantulah mereka yang membantunya dan tiggalkanlah mereka yang meninggalkannya”, mengindikasikan kepemimpinan Imam Ali, sebab secara alami dalam kepemimpinan ada yang mendukung dan ada yang memusuhinya.
  5. Ucapan selamat dan baiat yang disampaikan para sahabat kepada Imam Ali as juga membuktikan akan adanya suatu yang istimewa.

Para ulama Syiah, memaknai maula dalam arti pokoknya yang lain, yaitu al-awla bittasharruf (pemimpin) dan al-ahaq (lebih berhak untuk mengemban otoritas), sebab al-awla dalam penggunaan umum sering diterapkan pada seseorang yang dapat mengemban otoritas atau yang mampu mengelola urusan-urusan. al-Waliyang diterapkan pada Nabi Muhammad Saaw, mengandung makna wilayah tasharruf, yang berarti pemilikan akan otoritas yang memberi wali hak untuk bertindak dengan cara apa pun yang dinilainya paling baik, menurut kearifannya, sebagai seorang wakil bebas dalam mengelola urusan-urusan umat. Wilayah al-tasharrufdapat diemban hanya oleh orang yang ditunjuk untuk ini oleh otoritas mutlak yaitu Allah, atau oleh orang yang secara eksplisit ditunjuk oleh Nabi Muhammad Saaw, dalam kedudukan otoritas melalui perwakilan. Konsekuensinya, Imam yang ditunjuk oleh nas sebagai wali memiliki wilayah al-tasharrruf dan diakui sebagai penguasa umat.[28]

Dari hal-hal di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud “maula” dalam hadis al-Ghadir adalah “Khilafah dan Imamah” bagi Imam Ali as. sebagai pemimpin universal. Kepemimpinan universal ini akan terus berlangsung melalui garis para imam, yang secara eksplisit ditunjuk oleh imam-imam sebelumnya. Dalam pengertian terakhir inilah wilayah imam atas umat terkonseptualisasikan. Karena itu, secara keagamaan, melecehkan para imam yang ditunjuk oleh Allah ini sama saja dengan pengingkaran.

Secara kronologis, kepemimpinan umat pasca Nabi Muhammad saaw, menurut perspektif syiah, dimulai oleh Imam Ali bin Abi Thalib, kemudian anak beliau yakni Imam Hasan al-Mujtaba, Imam Husain, dan dilanjutkan sembilan keturunan dari Imam Husain yaitu Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far Shadiq, Musa Kazhim, Ali Ridha, Muhammad al-Jawad, Ali al-Hadi, Hasan al-Askari, dan Muhammad al-Mahdi. Hanya saja, Imam yang terakhir ini, meskipun telah lahir pada abad ke-3 Hijrah (tahun 255 H) namun mengalami kegaiban hingga waktu yang tidak diketahui. Dalam masa ketersembunyian Imam Mahdi ini, wilayah imam terdelegasikan kepada ulama yang memenuhi syarat-syarat tertentu untuk secara formal memimpin, membimbing, dan menjelaskan syariat Islam kepada kaum muslimin. Kepemimpinan ulama ini berlaku hingga hadirnya Imam kedua belas, Imam Muhammad al-Mahdi afs.

Ketika al-Mahdi, Imam kedua belas datang kembali, maka otoritas-otoritas temporal dan spiritual akan terpadu pada dirinya seperti halnya Nabi Muhammad saw. Dia akan mempersatukan dua bidang pemerintahan islami yang ideal itu. Maka gagasan tentang Imamah yang ditunjuk di antara keturunan Ali, yang berkesinambungan di sepanjang sejarah dan dalam segala keadaan politis, diperkuat oleh harapan berkenaan dengan Imamah dari Imam terakhir yang sedang gaib. Hal ini mengukuhkan kembali harapan Imamiyah akan pemerintahan islami sejati oleh seorang Imam yang absah dari kalangan keturunan Husein.[29]

Kegaiban  dalam pemikiran dan keyakinan syiah terbagi dalam dua tingkatan.Pertama, “kegaiban kecil” (minor occultation/ghaibah ash-shugra) selama 74 tahun (255-329 H), yaitu ketika Imam Mahdi “bersembunyi di dunia fisik dan mewakilkan kepemimpinannya kepada para wakil Imam”. Pada masa ini kesulitan dalam halmarja’ (kepemimpinan agama dan politik) relatif bisa diatasi. Karena, posisi marja’dijabat oleh empat wakil al-Mahdi, yaitu Abu ‘Ammar Usman bi Sa’id, Abu Ja’far Muhammad bin Usman, Abu al-Qasim al-Husain bin Ruh dan Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad Samari.

Kedua, “kegaiban besar” (major occultation/ ghaibah al-kubra), yaitu pasca meninggalnya keempat wakil Imam di atas hingga datangnya kembali Imam Muhammad al-Mahdi pada akhir zaman. Dalam periode “kegaiban besar” inilah kepemimpinan didelegasikan kepada para faqih. Konsepsi inilah yang dikenal dengan istilah wilayah al-faqih.


[1] Dalam al-Quran, kata imam (bentuk tunggal) dipergunakan sebanyak 7 kali, dan kata aimmah (bentuk plural) 5 kali dengan arti dan maksud yang bervariasi sesuai dengan penggunaanya. Bisa bermakna jalan umum (Q.S. Yasin: 12); pedoman (Q.S. Hud: 7); ikut (Q.S. al-Furqan: 74); dan petunjuk (Q.S. al-Ahqaf: 12). Begitu pula dalam makna pemimpin, kata ini merujuk pada banyak konteks, seperti pemimpin yang akan dipanggil Tuhan bersama umatnya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka (Q.S. al-Isra: 71); pemimpin orang-orang kafir (Q.S. at-Taubah: 12); pemimpin spiritual atau para rasul  yang dibekali wahyu untuk mengajak manusia mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, yaitu Nabi Ibrahim, Ishaq  dan Ya‘qub (Q.S. al-Anbiya: 73); pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum ataupun dalam arti negatif (Q.S. al-Qasas: 5 dan 41); dan pemimpin yang memberi petunjuk berdasarkan perintah Allah Swt (Q.S. as-Sajadah: 24). Taufik Abdullah. et. al., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002),  h. 204-206.

[2] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 205.

[3] Pembahasan mengenai dalil-dalil imamah banyak di bahas dalam kitab-kitab syiah. Lihat misalnya, al-Kulaini. Ushul al-Kafi.(Beirut: Muassasah al-a’lami li al-mathbuat, 2005). Abdul Husain  Ahmad al-Amini al-Najafi. al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab Jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami lil mathbuat, 1994).

[4] Tentang ayat ini, Fakhr al-Razi, berkomentar; “Ayat ini menjelaskan bahwa setiap orang yang jaiz al-khatha, yang dapat melakukan kesalahan, harus bergabung dan wajib mengikuti orang yang dijamin kebenarannva atau maksum. Mereka adalah orang yang dimaksud oleh Allah sebagai orang-orang yang benar di atas, as-shodiqun. Prinsip ini bukan hanya berlaku pada satu masa saja, tapi untuk sepanjang masa. Jadi, pada setiap masa pasti ada orang maksum. Lihat Fakr al-Razi. Tafsir al-Kabir  jilid XVI, h. 221.

[5] Tentang ‘Ismah, lihat kembali pembahasan Bab Kemaksuman.

[6] Ibrahim Amini. Para Pemimpin Teladan. (Jakarta: Al-Huda, 2005), h. 31. dan 40-64.

[7] Allamah Thabathabai. al-Mizan fi Tafsir al-Quran jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami li al-mathbuat, 1991), h. 270.

[8] Lihat Husain Al-Habsyi.  Sunnah-Syiah dalam Ukhwah Islamiyah.(Malang: Yayasan Al-Kautsar, 1991)h. 186. Ja’far Subhani. Ma’a al-Syiah, h. 61.

[9] Lihat pembahasan khusus tentang ayat ini dalam Ali Umar al-Habsyi. Keluarga Suci Nabi Saw: Tafsir Surah al-Ahzab Ayat 33. (Jakarta: Ilya, 2004). Husain Al-Habsyi.  Sunnah, h. 187, dan  Ja’far Subhani. Ma’a al-Syiah, h. 58.

[10] Lihat Ali Umar al-Habsyi. Keluarga, h. 10-11.

[11] Lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Iman Semesta: Merancang Piramida Keyakinan (Jakarta: al-Huda, 2005), h. 290.

[12] Murtadha Muthahhari. Manusia dan Alam Semesta. (Jakarta: Lentera, 2002), h. 471.

[13] Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab Syiah. (Bandung: Muthahari Press, 2005), h. 460.

[14] Teks khutbah ini dikumpulkan dengan baik dari berbagai sumber oleh Ali Akbar Shadeqi. Pesan Terakhir Nabi saw: Terjemahan Lengkap Kotbah Nabi saw di Ghadir Khum 18 Dzulhijjah 10 H. (Bandung: Pustaka Pelita, 1998).

[15] Ali Akbar Shadeqi. Pesan terakhir, h. 58. lihat juga Al-Mustdrak li al-Hakim juz 3, h. 109. Musnad Ahmad juz 4, h. 437-438. Sunan al-Tirmizi juz 5, h.297. Husain Al-Habsyi. Sunnah, h. 37. Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab, h. 460-461. Muhammad Baqir al-Majlisi. Bihar al-Anwar Juz al-Hadi wa al-’Isyrun,  (Beirut: Muassasatu al-Wafa’, 1983), h. 387.

[16] Ali Akbar Shadeqi. Pesan Terakhir, h. 18.

[17] Sayid Husain Muhammad Jafri. Dari Saqifah Sampai Imamah (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), h. 51.

[18] Abdul Husain  Ahmad al-Amini al-Najafi. al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab Jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami lil mathbuat, 1994), h. 14-158.

[19] Al-Amini. Al-Ghadir, h. 14-158.

[20] Lihat al-Amini. al-Ghadir, h. 147-151.

[21] Lihat Ibrahim Amini. Para, h. 319-321.

[22] Jalaluddin Rakhmat. Tinjauan Kritis Atas Sejarah Fiqih: Dari Fiqih al-Khulafa’ al-Rasyidin Hingga Mazhab Liberalisme, dalam Budhy Munawar Rachman. ed.Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah. (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 264-266.

[23] Lihat diantaranya : Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim ats-Tsa’labi. Tafsir al-Kasyfwa al-bayan ‘an Tafsir al-Qur’an. al-Hakim al-Hiskani. Syawahid at-Tanzil jilid 1 (Beirut), h. 171-177. Jalaluddin as-Suyuthi. Tafsir ad-Durr al-Mantsur. al-Muttaqi al-Hindi. Kanz al-’Ummal jilid 1, h. 305 dan jilid 15, h. 146. (bab keutamaan Ali); ath-Thabrani.Mu’jamah al-Awsath. Al-Hakim an-Naisaburi. Ma’rifah ‘Ulum al-Hadits. (Mesir, 1937), h. 102. al-Khawarizmi. Kitab al-Manaqib, h. 187. Ibnu ‘Asakir. Tarikh Dimasyq jilid 2, h. 409. Ibnu Hajar al-’Asqalani. al-Kaff asy-Syaf fi Takhrij Ahadits al-Kasysyaf. Mesir, h. 56. Muhibuddin ath-Thabari. Dzakha’ir al-’Ugba, h. 201. dan kitab ar-Riyadh an-Nadhirah jilid 2, h. 227. Ahmad bin Yahya al-Baladzari. Ansab al-Asyraf jilid 2diperiksa oleh Mahmudi (Beirut), h. 150. Al-Wahidi. Asbab an-Nuzul, diperiksa oleh Sayid Ahmad al-Shamad (1389 ), h. 192.

[24] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan Islam Perspektif Syiah. (Bandung: Mizan, 1994), h. 165.

[25] Lihat Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan, h. 164.

[26] Al-Amini menyebutkan padanan kata maula hingga mencapai 27 makna yaitu :al-Rab (Tuhan), al-am (paman), ibn al-am (anak paman), al-ibn (anak laki-laki), ibn al-ukht (putra saudari perempuan), al-mu’tiq (pembebas), al-mu’taq (yang dibebaskan), al-abd (hamba), al-malik (penguasa), al-tabi’ (pengikut), al-mun’am alaih (yang diberi nikmat), as-syarik (sekutu), al-halif (sekutu), ash-shahib (teman), al-jar (tetangga), al-nazil (tamu yang berkunjung), al-Shihru (keluarga suami), al-Qarib(teman dekat), al-mun’im (pemberi nikmat), al-faqid (mitra), al-waliy (pelindung), al-aula bi al-syai (yang lebih utama), al-Sayid ghairu al-malik wa al-mu’tiq (tuan), al-muhib (yang mencintai), al-nashir (penolong), al-mutasharrif fi al-amr (yang terlibat dalam urusan), al-mutawalli fi al-amr (yang bertanggung jawab atas urusan). Lihat al-Amini, al-Ghadir, h. 362-363.

[27] Bandingkan dengan Ibrahim Amini. Para, h. 96-97. Tim Penerbit al-Huda (peny).Antologi Islam. (Jakarta: al-Huda, 2005), h. 301-310.

[28] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan, h. 166.

[29] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan, h. 167.


“Barangsiapa yang mencintaimu akan mengkritikmu”

~ Imam Alias, Bihar al-Anwar 78 : 12

ORANG yang benar-benar tulus mencintai kita adalah orang yang penuh perhatian kepada kita. Orang seperti itu senantiasa berkeinginan agar kita menjadi semakin baik dan semakin sukses.

Perhatian yang tulus seperti ini akan memunculkan kritik, saran atau pun koreksi dari sang pencinta. Dan sayangnya, kritik, saran dan koreksi sering disalahpahami oleh kita. Kita cenderung marah apabila dikritik, yang secara tidak langsung menunjukkan ketidakdewasaan pribadi kita sendiri.

Padahal sesungguhnya, kritik, dan koreksi seperti itu menunjukkan perhatian yang sungguh-sungguh dari sang kekasih, tetapi sekali lagi, kita sering memaknai kritik sebagai bentuk kebencian. Padahal Imam Ali as berkata, “Nasihatilah saudaramu dengan setulus-tulus nasihat, baik dengan sesuatu yang menyenangkan atau pun yang tidak” [85].

Ketika nasihat itu menyenangkan (hawa nafsu) kita, maka kita pun menjadi senang, tetapi ketika nasihat itu berupa kritik yang tidak menyenangkan (hawa nafsu), kita cenderung berbalik memusuhi saudara kita sendiri.

Padahal sesungguhnya orang yang menasihati kita baik itu berupa kritik yang pedas – yang sering kita terjemahkan sebagi celaan – mau pun saran yang menyenangkan, hakikatnya merupakan bentuk cinta dan perhatian yang dalam. Karena seseorang yang tidak mencintai kita, ia pun tidak akan peduli dengan kita.

Imam Ali as berkata, “Orang yang sama sekali tidak mau memperhatikan kepentinganmu sama saja dengan seorang musuh” [86]

Di lain tempat Imam Ali as mengatakan, “Orang yang mengingatkanmu itu seperti orang yang memberimu kabar gembira” [87]

Alangkah baiknya rasa suka maupun rasa tidak suka atau pun rasa cinta dan benci, kita hubungkan dengan kecintaan dan kebencian Tuhan. Hal yang demikian ini untuk menyelaraskan hati dan jiwa kita kepada Tuhan dan agar di suatu saat nantiTuhan akan mengangkat kita ke derajat iman yang lebih tinggi lagi sehingga tiada yang kita ingin lagi kecuali apa yang diinginkan Tuhan.

Allah ‘Azza waJalla berfirman : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu mencintai (menyukai) sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS al-Baqarah [2] : 216)

Orang-orang yang ANTI KRITIK, suatu waktu bisa menjadi orang yang OTORITER, dan pada akhirnya MERASA BENAR SENDIRI.

“To avoid criticism, do nothing, say nothing, be nothing. – Untuk menghindar dari kritik : jangan melakukan apa pun, jangan mengatakan apa pun, dan jangan jadi apa pun!” begitu kata Elbert Hubbard

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-’Ashr : 2-3)

CatatanKaki :

[85]. Mutiara Nahjul Balaghah, hal. 137
[86]. Mutiara Nahjul Balaghah, hal. 139
[87]. Nahjul Balaghah, Sayings No. 59


“Jika seseorang memujimu: ‘betapa baik (shalih)-nya kamu!’ dan hal ini membuat kamu merasa lebih senang ketimbang ketika seseorang mengatakan: ‘Betapa buruknya kamu!’, maka berarti keadaan batinmu masih buruk.” ~ Llewellyn Vaughan-Lee, Travelling the Path of Love, p. 109

Kesenangan dlm bekerja membuat pekerjaan itu sempurna. ~ Aristoteles

Imam Ja’far Al-Shadiq as berkata, “Apabila perkara2 dari Penguasa atau selain itu menyedihkanmu, maka hendaklah engkau memperbanyak membaca “Laa hawla wa laa quwwata illa billahi”, karena sesungguhnya bacaan ini adalah kunci pembuka kemudahan dan salah satu khazanah dari khazanah-khazanah surga.” (Bihar al-Anwar 78 : 201, Mizan al-Hikmah 2 : 397)

“Berkat kasih abadi-Nyalah,maka para ibu mjd kukuh spt ‘Arsy Allah itu sendiri,memiliki kekuatan utk menanggung kesakitan dan kesusahan menjadi ibu, sejak awal kehamilan, selama kehamilan itu sendiri, persalinan, tahun-tahun anaknya masih bayi, dan sepanjang hidupnya. Itulah hal-hal yang seorang ayah tak bisa menanggungnya meskipun hanya semalam” ~ Imam Khomeini qs

Imam Khomeini (qs) sangat menghargai perempuan. Ketika cucunya datang mengunjungi beliau, beliau menyuruh cucu2nya pertama kali untuk menemui neneknya dan mencium tangannya.

“Aku lebih suka memiliki mata yang tak dapat melihat, telinga yang tak dapat mendengar, bibir yang tak dapat berbicara, ketimbang hati yang tak dapat mencintai.”

“Kau (bisa) tahu apa itu cinta,(yaitu) ketika semua yang engkau inginkan adalah kebahagiaan seseorang (yang engkau cintai), bahkan jika engkau bukan bagian dari kebahagiaan mereka.” ~ Julia Roberts

“Manusia tidak pernah aman dari kejahatan setan dan egonya sampai akhir hayatnya. Dia tidak boleh membayangkan bahwa setelah ia berbuat ikhlas semata-mata demi Allah tanpa adanya keinginan untuk menyenangkan makhluk, kemurniann perbuatannya akan selalu aman dari kejahatan godaan setan, lintasan-lintasan ego dan hawa nafsu.” ~ Jalan Penghambaan

“Sebelum kita dpt melihat CAHAYA ILMU, kita harus melewati kulit diri kita yaitu KEBODOHAN, kita harus keluar dari koridor gelap jiwa EGO (ke-aku-an) kita & khayalan-khayalan. Kita bukanlah milik dunia; kita berada di dlmnya namun kita bkn berasal darinya. Kita merasakan EGO (ke-aku-an kita), namun EGO bukanlah WUJUD HAKIKI kita. Jika cahaya jiwa yang tinggi mulai dirasakan, berarti kenikmatan KESADARAN DIRI telah dimulai.”

Hadiah terbesar yg dpt kita berikan kpd org lain (terutama org2 terdekat kita) adalah perhatian yg tulus.


Ghurur artinya tertipu. Ketertipuan ini disebabkan oleh bayangan/khayalan/perasaan kita thd diri kita sendiri. Perasaan/khayalan dan bayangan ini tercipta dari gambaran keinginan ego/nafsu kita sendiri, seperti yg saya ceritakan ttg org yg MERASA/MEMBAYANGKAN/MENGKHAYALKAN bhw dirinya tawadlu’, padahal semua itu cuma gambaran yg diciptakan ego kita sendiri.

Imam Ja’far al-Shadiq as memberikan wejangan :

“Jangan mengagumi dirimu sendiri. Kadang2 kamu tertipu oleh kekayaanmu & kesehatan jasmanimu sendiri sehingga kamu menganggap bhw kamu akan hidup selamanya…

Kadang2 kamu tertipu oleh kecantikanmu & keadaan tempat kamu dilahirkan, yg dpt memenuhi harapan2 & keinginanmu dg begitu mudah sehingga beranggapan bhw kamu benar dan berhasil dlm mencapai tujuanmu…

Kadang2 kamu tertipu oleh penyesalan yg kamu tunjukkan kpd org2 atas kekuranganmu dlm beribadah, tetapi Allah mengetahui yg sebaliknya yg ada di dlm hatimu..

‎Kadang2 kamu mendorong dirimu sendiri beribadah dg jiwa keterpaksaan, padahal Allah menginginkan ketulusan/kesukarelaanmu…

Kadang2 kamu membayangkan bhw kamu sedang memohon/berdoa kpd Allah padahal kamu sedang memohon kpd yg lain…

‎Kadang2 kamu membayangkan bhw kamu memberikan nasihat2 baik kpd org lain, padahal kamu menginginkan agar mereka menghormatimu…

Ketahuilah bhw kamu hanya akan bangkit dlm kegelapan khayalan kosongmu…

Jika kamu puas dg keadaanmu sekarang, tdk ada org yg lebih menyedihkan keadaannya dibandingkan dirimu baik dlm ilmu/pengetahuan maupun dlm amal/perbuatan. Dan tak ada yg lebih sia2 hidupnya selain dirimu. Kamu kelak akam mewarisi kesengsaraan pada Hari Kebangkitan.” [Imam Ja'far al-Shadiq as, Mishbah al-Syari'ah]


Rasulullah Saw bersabda, “Seutama-utama zuhud adalah mengingat maut, seutama-utama ibadah adalah tafakkur, seutama-utama tafakkur adalah mengingat maut. Barangsiapa yg membebani dirinya dg selalu mengingat maut, niscaya dia akan mendptkan kuburnya menjadi salah satu taman dari taman2 di surga.” (Al-Bihar 6:137)

Imam Ali as berkata, “Jauhilah oleh kalian dari sikap berpura2 dan sikap bermusuhan yg berlebihan (dendam), karena keduanya dpt membuat kalbu kalian sakit (rusak) dan dpt menumbuhkan penyakit nifaq (munafik).” (Al-Kafi 2:300)

Imam al-Kazhim as berkata, “Menolong org yg lemah termasuk dari seutama-utamanya sedekah.” (Al-Bihar 78:326)

Mengimani Wilayah Ahlulbait as. Adalah Jaminan Keselamatan Dari Api Neraka Jahannam

Allah SWT berfirman:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” (QS. ash Shaffat:24)

 Keterangan:

Di antara peristiwa-peristiwa mengerikan nun menentukan nasib di hari kiamat adalah diberhentikannya manusia di jembatan pemeriksaan di atas neraka Jahim. Allah memerintahkan para malaikat-Nya agar menahan umat manusia karena akan ada pertanyaan yang mesti mereka jawab. Pertanyaan yang akan mengungkap jati diri setiap orang. Allah berfiaman, “Hentikan (tahan) mereka karena mereka akan ditanyai.”

Tentang apa yang akan ditanyakan kepada umat manusia kelak di hari kiamat, di antara para ulama dan ahli tafsir ada yang mengatakan pertanyaan itu terkait dengan konsep Tauhid; Lâ Ilâha Illallah/Tiada Tuhan selain Allah! Ada pula yangt mengatakan mereka akan ditayai dan dimintai pertanggung-jawaban tentang Wilâyah Imam Ali as.

Akan tetapi di sini perlu diketahui bahwa apa yang disebutkan di atas adalah penyebutan mishdâq dari apa yang akan ditanyakan… ia tidak sedang membatasai… bukan hanya itu yang akan ditanyakan…. Inti dari pertanyaan itu tentang kebenaran apapun yang mereka abaikan di dunia, baik ia berupa I’tiqâd/keyakinan yang intinya adalah Syahâdatain…Tentunya dan juga tentang Wilâyah Imam Ali as. yang akan menentukan nilai Syahâdatain di sisi Allah SWT. … Atau berupa amal shaleh yang mereka tinggalkan kerena keangkuhan dan sikap takabbur kepada atasnya.

Riwayat Tafsir Nabi saw.

Para muhaddis telah meriwayatkan bahwa Nabi saw. telah menyebut bahwa di antara pertanyaan penting yang akan ditanyakan adalah tentang Wilâyah Imam Ali as., karenanya para ulama Ahlusunnah meriwayatkan dari para mufassir Salaf; sahabat dan tabi’în, di antara mereka Abu Said al Khadri, Ibnu Abbas, Abu Ishaq as Subai’i, Jabir al Ju’fi, Mujahid, Imam Muhammad al Baqir as. dan Mandal bahwa kelak pada hari kiamat Allah SWT akan menanyai setiap orang akan sikapnya terhadap wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as.

Riwayat Abu Sa’id al Khadri:

Ibnu Hajar (dan juga para ulama lainnya) menggolongkan ayat di atas sebagai ayat yang turun menjelaskan keagungan, keutamaan dan maqam mulia Ahlulbait as., ia berkata: “(Ayat Keempat) Firman Allah –Ta’âlâ-:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”

Ad Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khadri bahwa Nabi saw. bersabda:

{و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ} عن وِلايَةِ علِيٍّ.

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”tentang wilayah Ali.

Sepertinya sabda ini yang dimaksud oleh al Wâhidi dengan ucapannya, ‘“Dan Hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” tentang wilayah Ali dan Ahlubait, sebab Allah telah memerintah Nabi-Nya saw. agar memberitahui umat manusia bahwa ia tidak meminta upah atas jerih payah mentablîghkan Risalah (agama) kecuali kecintaan kepada keluarga beliau. Maknanya, bahwa mereka akan ditanyai apakah mereka mengakui Wilâyah mereka dengan sepenuh arti seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka atau mereka menyia-nyiakan dan mengabaikannya, maka mereka akan dituntut dan dikenakan sanksi.’

Dan dengan ucapannya ‘seperti yang diwasiatkan Nabi saw. kepada mereka’ ia menunjuk kepada hadis-hadis yang datang dalam masalah ini, dan ia sangat banyak sebagainnya akan kami sebutkan pada pasal kedua nanti.”[1] 

 

Sumber Riwayat:

Hadis Abu Sa’id telah diriwayatkan para ulama Ahlusunnah dari banyak jalur. Dalam riwayat al Wâhidi di atas hadis itu diriwayatkan dari jalur: Qais ibn Rabî’i dari’Athiyyah dari Abu Sa’id dari Nabi saw.

Al Hakim al Hiskâni meriwayatkannya dari  dua jalur; 1) dari Qais ibn Rabî’ dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw…. 2) dari Isa ibn Maimun dari Abu Harun al Abdi dari Abu Sa’id dari Nabi saw. hadis

Riwayat Ibnu Abbas ra.

Al Hakim al Hiskâni juga meriwayatkan tafsir serupa dari Nabi saw. dari riwayat Ibnu Abbas ra….. Dari ‘Athâ’ ibn Sâib dari Sa’id ibn Jubair dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

“Kelak di hari kiamat aku dan Ali diberdirikan di atas Shirâth (jembatan pemeriksaan), maka tiada seorang pun yang melewatinya melainkan kami tanyai tentang Wilâyah Ali. Maka barang siapa memilikinya (maka ia boleh berjalan terus), dan yang tidak akan kami lemparkan ke dalam api neraka. Itu adalah firman Allah:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.”[2]

Dalam riwayat lain, Al Hakim meriwayatkan tentang firman Allah SWT.:

و قِفُوْهُمْ إنَّهُم مَسْؤُوْلُونَ

“Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Tentang Wilayah Ali ibn Abi Thalib.”[3]

 Status Hadis:

Seperti Anda saksikan bahwa Nabi saw.[4] sendirilah yang menafsirkan ayat di atas dengan Wilâyah Ali as…. Bahwa perkara terpenting yang akan ditanyakan kepada setiap manusia kelak di hari kiamat setelah tentang keesaan Allah dan kerasulan Mahammad saw. adalah Wilayah/kepemimpinan Ali dan Ahlulbait as. dan berdasarkan sikap setiap orang, nasib mereka akan ditentukan di sana!

Apabila seorang dalam hidupnya mengimani Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa dan Muhammad ibn Abdillah sebagai Rasul penutup Allah serta mengimani Ali dan Ahlulbait as. sebagai para Wali (pemimpin)nya, maka ia akan mendapat rahmat dan nikmat dari Allah dan apabila tidak maka Allah akan memintainya pertangung-jawaban atas sikapnya tersebut dan memberinya sanksi, seperti yang ditegaskan Al Wâhidi di atas.

Lalu bagaimana sikap Anda? Apakah Anda telah mempersiapkan jawaban untuk intrograsi para malaikat Allah kelak di hari Pengadilan Akbar; hari kiamat terkait dengan sikap Anda terhadap kepemimpinan Imam Ali dan Ahlulbait as.?

Apakah Anda termasuk orang yang peduli akan nasib abadi Anda di alam akhirat sana? Atau Anda termasuk mereka yang acuh terhadap apapun tentang tanggung jawab di hadapan Tuhan?

Jawabnya terserah Anda!!

Catatan:

Hadis Abu Sa’id dan keterangan Al Wâhidi, selain dikutip dan dibenarkan oleh Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab ash Shawâiq-nya juga dikutip dan dibenarkan oleh banyak ulama Ahlusunnah lainnya, di antaranya:

A)        Syihâbuddîn al Khaffâji dalam kitab tafsir Ayat al Mawaddah-nya:82, seperti disebutkan dengan lengkap oleh az Zarandi dalam Nadzm  Durar as Simthain:109.

B)          Syeikhul Islam al Hamawaini dalam Farâid as Simthain,1/78-79 ketika menyebut hadis no.46 dan 47.

C)         As Samhûdi dalam Jawâhir al Iqdain,2/108.

Mereka menyebut dan menukilnya serta mendukungnya dengan beberapa bukti pendukung lainnya.

Tafsir Para Sahabat Dan Mufassir Salaf

Selain dua sahabat yang telah kami sebutkan tafsir mereka, para mufassir Salaf juga menafsirkan ayat di atas sesuai denga tafsir Nabi saw. di antara tafsir yang diriwayatkan dari mereka adalah sebagai berikut:

(1)                       Abu Ishaq as Subai’i

Al Khawârizmi meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu Ahwash dari Abu Ishaq as Subai’i tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[5]

(2)        Mujahid

Adz Dzahabi menykil riwayat dari jalur Israil dari Ibnu Najîh dari Mujahid tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.[6]

(3)        Imam Muhammad al Baqir as.

Al Hiskani meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Daud ibn Hasan ibn Hasan dari ayahnya dari (Imam) Abu Ja’far tentang ayat: “Dan hentikan mereka sesungguhnya mereka akan ditayai.” Yaitu tentang Wilâyah Ali.

Hadis serupa juga diriwayatkan dari jalur Abu Ishaq as Subai’i dari Jabir al Ju’fi.[7]

 

Hadis-hadis Pendukung!

Selain itu hadis tafsir Nabi saw. di atas dan juga tafsir para sahabat telah dikuatkan dan didukung oleh banyak bukti… di antara bukti-bukti itu adalah:

  • Hadis-hadis yang menegaskan bahwa kelak di hari kiamat Nabi saw. akan meminta dari umat Islam pertanggung-jawaban sikap terhadap Kitabullah dan Ahlulbait as. Di antara hadis-hadis itu dalah sebagai berikut ini:

Dari Abu Thufail Amir ibn Watsilah dari Hudzaifah ibn Usaid al Giffari dalam sebuah hadis panjang di antaranya beliau saw. bersabda:

يَا أيُّها الناسُ إِنِّيْ فَرَطُكُمْ, إِنَّكُمْ وَارِدُونَ عَلَيَّ الْحَوْضَ أَعْرَضَ مِمَّا بين بُصْرَى إلى صَنْعاءَ فيهِ عَدَدُ النُّجُومِ قَدْحانَ فِضَّةٍ، و إِنِّيْ سائِلُكُمْ حين تَرِدُوْنَ عَنِ الثَّقَليْنَ ، فَانْظُرُوا كيفَ تَخْلُفُونِيْ فيهِما: الثقل ألأكْبَرُ كتابَ اللهِ عز و جلَّ سببٌ طَرَفُهُ بِيَدِ اللهِ و طرفُهُ بِأَيْدِيْكُمْ، فاسْتَمْسِكُوا بِهِ و لا تَضِلُّوا و لا تُبَدِّلُوا، وَعِتْرتِيْ أَهلَ بيتِيْ، فَإِنَِّ اللطيفَ الخبيرَنَبَّأَنِيْ أَنَّهُما لَنْ يَنْقَضِيا حتى يرِدَا عليَّ الْحَوْضَ.

“Wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku akan mendahului kalian menuju telaga dan kalian pasti mendatangiku di telaga, sebuah telaga yang lebih lebar dari kota Bushra hingga kota Shan’a’, di dalamnya terdapat cawan-cawan sejumlah bintang di langit. Aku akan meminta pertanggung-jawaban kalian ketika menjumpaiku akan Tsaqalaian. Maka perhatikan, bagaimana perlakuan kalian terhadap keduanya. Tsaqal pertama adalah Kitabullah ‘Azza wa Jalla, sebab penyambung yang satu ujungnya di tangan Allah dan satu ujungnya lagi di tangan kalian, maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah; jangan kalian menyimpang dan mencari ganti selainnya, dan kedua adalah Itrah-ku yaitu Ahlulbaitku. Sesungguhnya Allah Yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui telah memberitauku bahwa keduanya tidak akan berakhir sehingga menjumpaiku di haudh (telaga).”[8]

  • Hadis akan ditanyakannya empat perkara di hari kiamat. Di antaranya adalah riwayat di bawah ini:

Al Hafidz al Haitsami berkata, “dan dari Ibnu Abbbas, ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda:

لاَ تزولُ قَدَما عبْدٍ يومَ القيامة حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ و عن ماله فِيمَ أنْفَقَهُ و مِنْ أين إكْتَسَبَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang pada hari kiamat sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang hartanya untuk apa ia belanjakan dan dari mana ia perolah dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Awsath, dan pada sanadnya terdapat Husain al Asyqar, ia dianggap lemah oleh sebagian ulama, akan tetapi Ibnu Hibbân mentsiqahkannya.

Al Haitsami juga meriwayatkannya dari jalur lain dari Abu Barzah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

تزولُ قَدَما عبْدٍ حتَّى يُسْأَلَ عَن أربَع: عَن جسدِه فِيمَ أبلاهُ وَ عَن عُمُرِهِ فِيمَ أفناه و عن ماله مِنْ أين إكْتَسَبَهُ وَ فِيمَ أنْفَقَهُ و عن حُبِّنا أَهْلَ البيتِ.

“Tiada akan beranjak dua kaki seorang sehingga ia ditanyai tentang empat perkara; tentang jasadnya untuk ia pakai, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang harta dari mana ia perolahnya dan untuk apa ia belanjakan dan tentang kecintaan kepada kami Ahlulbait.”

Lalu ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa tanda kecintaan kepada kalian Ahlulbait?’

Maka beliau menunjuk Ali sambil menepuk pundaknya.“

Ia berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam Awsath.

Perhatikan di sini, al Haitsami hanya mencacat hadis dengan jalur pertama yaitu disebabkan Husain al Asyqar. Sementara terhadap hadis dengan jalur kedua ia mendiamkan dan tidak mencacatnya dengan sepatah kata pun..

Dan dalam sumber aslinya disebutkan bahwa Nabi menjawab si penanya dengan sabda beliau, “Tanda kecintaan kepada kami adalah kecintaan kepada orang ini sepeninggalaku.” Sabda ini tidak disebutkan oleh al Haitsami. Adapun pencacatannya atas Husain al Asyqar sangat tidak berdasar. Perawi yang satu ini tsiqah dan adil seperti telah dibuktikan pada tempatnya.

Ikhtisar kata, hadis ini termasuk dari hadis-hadis terkuat tentang keutamaan Ali dan Ahlulbait as. tidak ada tempat untuk pencacatan!

  • Hadis yang mengatakan bahwa manusia tidak akan diizinkan melewati jembatan penyeberangan di Shirâth kelak kecuali setelah terbutki ia meyakini Wilayah Imam Ali as.

Di antara hadis-hadis itu adalah sebagai berikut:

A)                    Hadis riwayat Imam Ali as.

Al Hafidz Abul Khair al Hâkimi ath Thâliqâni berkata, “Dan dengannya al Hâkim berkata…. Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا جمَع اللهُ الأولين و الآخرين يوم القيامة و نصب الصراطَ على جسر جهنمَ ما جازاها أحدٌ حتى كانت معه برآءَةٌ بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kelak pada hari kiamat Allah mengumpulkan manusia yang pertama hingga yang terakhir dan Dia menegakkan Shirâth di atas jembatan neraka Jahannam, maka tidak seorang pun melewatinya sehingga ia memiliki surat jalan berupa (keyakinan akan) Wilâyah Ali ibn Abi Thalib.”[9]

B)          Hadis Anas ibn Malik.

Ibnu al Maghâzili meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Anas ibn Malik, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

إذا كان يوم القيامة و نُصِبَ الصراطُ على شَفِير جهنمَ لَمْ يَجُزْ إلاَّ مَن معه كتابُ  بِولايةِ عليِّ بن أبي طالبِ.

“Jika kiamat terjadi dan Shirath dibentangkan di atas bantaran nereka Jahannam, maka tidak ada yang dapat melewatinya kecuali orang memiliki catatan berupa  Wilayah kepada Ali ibn Abi Thalib.”[10]

Dan selain dua hadis di atas banyak hadis lainnya dari riwayat Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas dan Abu Bakar.

Setelah ini semua adalah sebuah sikap gegabah jika ada yang meragukan kesahaihan tafsir ayat di atas dengan Wilayah Imam Ali ibn Abi Thalib as., apalagi mengatakannya sebagai hadis palsu!!

Wallahu A’lam.


[1] Ash Shawâiq al Muhriqah:149. Cet. Maktabah al Qahirah. Thn.1385 H/1965 M. dengan tahqiq Abdul Wahhâb Abdul Lathîf..

[2] Syawâhid at Tanzîl,2/162 hadis no..789.

[3] Ibid. no790.

[4] Pada riwayat-riwayat Abu Sa’id dan Ibnu Abbas ra. di atas Anda dapat saksikan bahwa sesekali mereka menukil tafsir ayat tersebut dari Nabi saw. dan sesekali mereka memauqufkan (tidak menyandarkannya) kepada Nabi saw.! Untuk bentuk yang kedua (yang mauqûf) para ulama Ahlusunnah telah membangun sebuah kaidah bahwa ucapan para sahabat tentang tafsir ayat-ayat Al Qur’an yang tidak ada ruang bagi ijtihad dan pendapat maka dihukumi marfû’ (diambil dari Nabi saw.) sebab tidak mungkin para sahabat itu membuat-buat keterangan palsu tentang masalah yang tidak ada ruang bagi berijtihad. Dan kasus kita sekarang ini termasuk darinya… pertanyaan di hari kaimat termasuk berita ghaib, maka pastilah ucapan Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam masalah ini bersumber dari Nabi saw. Apalgi telah terbukti bahwa Nabi saw. telah menafsirkan sendiri makna ayat tersebut seperti mereka berdua sampaikan!

[5] Manâqib:275 hadis no.256.

[6] Mâzân al I’tidâl,5/145 ketika menyebut sejarah hidup Ali ibn Hatim.

[7] Syawâhid at Tanzîl,2/164 hadis no.790.

[8] Hadis ini telah diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir, Hilyah al Awliyâ’,1/355 dan 9/64, Tarikh Damasqus,1/45 tentang sejarah hidup Imam Ali as., 3/180, hadis no. 3052, Al Haitsami dalam Majma’ az Zawaid, 9/165, Tarikh Ibnu Katsir,7/348, as Sirah al Halabiyah,3/301, ash Shaw^aiq al Muhriqah:25, Farâid as Simthain,2/274, Nadzm Durar as Simthain:231 dan al Fushûl al Muhimmah:23.

[9] Kitâb al Arba’în al Muntaqâ Min Manâqib Ali al Murtadhâ, hadis no 40.

[10] Manâqib Ali ibn Abi Thalib:243.

Karakteristik Bintang:

1. Bintang merupakan sarana untuk mendapatkan petunjuk. Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang-bagimu, agar engkau mendapat petunjuk. (QS. al-An`am:97)

2. Bintang merupakan hiasan langit. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang gemintang. (QS. ash-Shaffat:6)

3. Bintang patuh kepada perintah Allah Swt. Dan bintang-bintang pun tunduk kepada perintah-Nya. (QS. an-Nahl:12)

4. Bintang mempunyai kedudukan istimewa di alam semesta. Maka Aku bersumpah dengan tempat bintang-bintang. Sungguh sumpah ini adalah sumpah yang sangat besar. (QS. al-Waqi`ah:75-76)

5. Bintang menembus kegelapan. Demi langit dan yang datang pada malam hari. Tahukah engkau apakah yang datang pada malam hari itu? (Yaitu) bintang yang cahayanya menembus (kegelapan). (QS. ath-Thariq:1-3)

6. Bintang sebagai alat pengusir setan. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan untuk memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka. (QS. ash-Shaffat:6-7)

7. Setiap ada bintang yang terbenam maka ada bintang lain yang terbit. Imam Ali as berkata, “Perumpamaan keluarga Muhammad sama seperti bintang geminta di langit. Setiap ada bintang yang terbenam maka ada bintang lain yang terbit.”

Penyerupaan Keluarga Muhammad dengan Bintang Gemintang:

1. Sebagaimana bintang memberikan petunjuk kepada orang yang tersesat maka keluarga Nabi Muhammad saw pun memberikan petunjuk kepada masyarakat manusia dan menyelamatkan mereka kezaliman, kebodohan, dan kebingungan.

2. Sebagaimana bintang merupakan perhiasan langit maka keluarga Nabi Muhammad saw merupakan perhiasan agama. Jika sejarah hanya berisi sejarah kehidupan orang-orang jahat dan tidak mencatat sejarah kehidupan keluarga Nabi Muhammad saw, sudah tentu sejarah mempunyai wajah yang buruk. Jika dunia kosong dari para nabi dan kekasih Allah Swt, dan hanya menjadi tempat hidup orang-orang jahat, maka dunia manusia akan mempunyai rupa yang buruk.

3. Sebagaimana bintang-bintang tunduk kepada perintah Allah Swt dan gerakannya berdasarkan keinginan-Nya, demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Artinya, pikiran, alunan zikir, berdiri dan duduk mereka senantiasa berada dalam poros penghambaan diri kepada Allah Swt.

4. Tiap-tiap bintang mempunyai kedudukan yang khusus. Demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Masing-masing dari mereka berbuat sesuai dengan tempat dan keadaan masing-masing. Sebagai contoh, Imam Hasan as menghidupkan Islam melalui perdamaian sementara Imam Husain as dengan perang.

5. Bintang-bintang menyibak kegelapan sehingga sirna dengan cahayanya. Demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Mereka menembus dan menerangi hati-hati manusia yang gelap dengan ilmu dan cahaya.

6. Bintang-bintang adalah alat untuk mengusir setan. Ketika setan hendak menembus kawasan suci wahyu, mereka mendapat serangan batu-batu meteor yang tajam. Demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Mereka adalah permata dunia Islam. Namun pada saat yang diperlukan mereka bisa menjadi halilintar yang dapat menghancurkan kehidupan orang-orang zalim. Sebagaimana yang telah dilakukan Imam Ali as terhadap Muawiyah dan Imam Husain as terhadap Yazid.

7. Pada saat ada bintang yang terbenam maka ada bintang lain yang terbit. Demikian pula dengan keluarga Nabi Muhammad saw. Pada saat seorang keluarga Nabi Muhammad saw meninggal dunia, ada yang menggantikannya dan meneruskan cita-citanya. []

.
Perbedaan itu diantaranya, Syiah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam” . Perbedaan lain terletak dalam melihat kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama,sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat
.
seperti mengulang kisah munculnya konflik syi’ah dan sunni, yang dipicu perbedaan pendapat terkait imammah setelah Rasulullah SAW, wafat.
.
Sepeninggal Rasulullah SAW, minoritas syi’ah berpisah dengan ahlussunnah. Saat itu, ketika Ahlul Bayt a.s. dan para pengikut setianya sibuk mengurusi jenazah Rasulullah SAW untuk dikebumikan, mayoritas sahabat yang memiliki kepentingan pribadi dengan Islam, berkumpul di sebuah balai pertemuan, yang bernama Saqifah Bani Sa’idah. Pertemuan itu untuk menentukan khalifah pengganti Rasulullah SAW. Dalam pertemuan itu diputuskan Abu Bakar sebagai khalifah pertama
.
Setelah pengikut Imam Ali a.s, selesai mengebumikan jenazah Rasulullah SAW, mereka mendapat kabar, jika khalifah muslimin sudah dipilih. Banyak pengikut Imam Ali a.s,. seperti Abbas, Zubair, Salman, Abu Dzar, Ammar Yasir dan lain-lain protes atas pemilihan tersebut dan menganggapnya tidak sah. Tapi protes itu hanya dijawab “Kemaslahatan muslimin menuntut demikian”.
.
Protes minoritas inilah yang menyebabkan mereka memisahkan diri dari mayoritas masyarakat yang mendominasi arena politik saat itu. Akibatnya, muncul dua golongan di dalam tubuh masyarakat muslim yang baru ditinggal Rasulullah SAW. Namun belakangan pihak mayoritas mengabarkan kepada masyarakat bahwa minoritas itu adalah penentang pemerintahan yang resmi. Akibatnya, mereka dianggap sebagai musuh Islam. Meski ada tekanan dari kelompok mayoritas, pengikut Imam Ali a.s masih tetap teguh memegang keyakinannya bahwa kepemimpinan adalah hak Imam Ali a.s. setelah wafatnya Rasulullah SAW
.
Pada masa kepemimpinan tiga khalifah pertama, terjadi banyak penyelewengan dalam pemerintahan. Mulai dari diamnya pemerintah atas pembunuhan yang dilakukan Khalid bin Walid terhadap Malik bin Nuwairah yang berlanjut dengan pemerkosaan terhadap istrinya, pembagian harta baitul mal yang tidak merata, sehingga menimbulkan perbedaan strata masyarakat kaya dan miskin, penghapusan dua jenis mut’ah yang sebelumnya pernah berlaku pada masa Rasulullah SAW, hingga penghapusan khumus dari orang-orang yang berhak menerimanya, serta pelarangan penulisan hadis-hadis Rasulullah SAW
.
Setelah Utsman bin Affan, Khalifat ketiga dibunuh para “pemberontak” yang memprotes kinerja pemerinatahannya, masyarakat memilih Imam Ali a.s, sebagai khalifah ke empat. Di antara Muhajirin yang pertama kali berbai’at dengan Imam Ali a.s pada tahun 5 Hijriah, adalah Thalhah dan Zubair. Meski Imam Ali hanya memerintah sekitar 4 tahun 5 bula, tapi ia membuat. perombakan secara besar-besaran. Ia mengganti semua gubernur daerah dengan orang yang layak untuk memegang jabatan tersebut, dan membagikan harta baitul mal dengan sama rata di antara masyarakat
.
Tapi pembagian harta baitul mal itu justru menjadi pemicu perang Jamal. Kondisi itu justru disebabkan rasa sakit hati sahabat Imam Ali.as, Thalhah dan Zubair. Sebagai sahabat senior, keduanya tak terima jika disamaratakan dengan masyarakat umum terkait pembagian harta baitul mal . Thalhah dan Zubair, mngajak A’isyah, yang memang memiliki hubungan tidak baik dengan Imam Ali a.s, untuk memberontak. Mereka menggunakan slogan membalas dendam atas kematian Utsman. Padahal, ketika Utsman dikepung para “pemberontak” yang ingin membunuhnya, mereka ada di Madinah dan tidak ada upaya untuk membela
.
Selepas perang Jamal, muncul perang Shiffin. Perang itu dipicu kekecewaan Mu’awiyah atas khilafah, karena ia disingkirkan Imam Ali a.s. dari kursi Gubernur Syam. Perang itu berlangsung selama 1,5 tahun dengan korban jiwa cukup banyak. Slogan yang digunakan Mu’awiyah masih sama, membalas dendam atas kematian Utsman. Padahal, selama Utsman dalam kepungan para “pemberontak”, ia meminta bantuan Mua’wiyah yang bercokol di Syam. Tapi bantuan itu tak pernah datang. Muawiyah memang mengirim satu pleton pasukan, yang berangkat dari Syam ke Madinah. Tapi di tengah perjalanan mereka sengaja memperlambat jalannya pasukan sehingga Utsman terbunuh. Setelah mendengar Utsman terbunuh, mereka kembali ke Syam dan kemudian bergerak kembali menuju ke Madinah dengan slogan “membalas dendam atas kematian Utsman”. Akhirnya pecahlah Shiffin
.
Perang Shiffin berhasil dipadamkan, kembali muncul perang Nahrawan. Faktornya adalah ketidakpuasan sebagian sahabat yang disulut oleh Mu’awiyah atas pemerintahan Imam Ali a.s. dan atas hasil perdamaian yang dipaksakan oleh mereka sendiri terhadap Imam Ali a.s. yang menghasilkan pencabutannya dari kursi khilafah dan penetapan Mu’awiyah sebagai khalifah muslimin. Tapi akhirnya, Imam Ali a.s. juga berhasil memadamkan api perang tersebut
.
Tidak lama berselang dari peristiwa Nahrawan, Imam Ali a.s. syahid dengan kepala yang mengucurkan darah akibat tebasan pedang Abdurrahman bin Muljam di mihrab masjid Kufah. Setelah Imam Ali a.s. syahid di mihrab shalatnya, masyarakat membai’at Imam Hasan a.s. memegang tampuk khilafah. Tapi Mu’awiyah tidak tinggal diam. Ia mengirim pasukan ke Irak sebagai pusat pemerintahan Islam waktu itu untuk berperang melawan pemerintahan yang sah
.
Mu’awiyah berhasil merebut khilafah dari tangan Imam Hasan a.s. pada tahun 40 H. Ia langsung menghidupkan kembali sistem kerajaan sebagai ganti dari sistem khilafah sebagai penerus kenabian. Mua’wiyah tidak pernah memberikan kesempatan kepada pengikut Syi’ah untuk bernafas tenang. Setiap ada orang yang diketahui pengikut Syi’ah, langsung dibunuh. Bahkan mereka yang melantunkan syair yang berisi pujian terhadap keluarga Ali a.s., juga menjadi korban pembunuhan. Kebiasaan itu berlangsung hingga masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz pada tahun 99-101 H
.
Mayoritas pengikut Ahlussunnah menakwilkan semua pembunuhan yang dilakukan para sahabat, khususnya Mu’awiyah dengan berasumsi bahwa mereka adalah sahabat Nabi SAW, dan semua perilaku mereka adalah ijtihad yang dilandasi hadis yang mereka terima. Oleh karena itu, semua perilkau mereka adalah benar dan diridhai oleh Allah SWT. Seandainya pun mereka salah dalam menentukan sikap dan perilaku, mereka akan tetap mendapatkan pahala berdasarkan ijtihad yang telah mereka lakukan
.
Tapi kaum Syi’ah menolak asumsi itu dengan alasan, tidak masuk akal jika seorang pemimpin yang ingin menegakkan kebenaran, keadilan dan kebebasan, setelah tujuan yang diinginkannya itu terwujud, ia merusak sendiri cita-citanya dengan cara memberikan kebebasan mutlak kepada para pengikutnya. Segala kesalahan, perampasan hak orang lain dengan segala cara, serta tindakaan-tindakan kriminal yang mereka lakukan lalu dimaafkan
.
Selain itu hadis yang “menyucikan” para sahabat, dan membenarkan perilaku non-manusiwi mereka berasal dari para sahabat sendiri. Sejarah membuktikan, mereka tidak pernah memperhatikan hadis-hadis di atas. Mereka justru saling menuduh, membunuh, mencela dan melaknat. Dengan bukti di atas, keabsahan hadis-hadis di atas perlu diragukan. Dengan melihat kelaliman yang dilakukan para khalifah saat itu, pengikut Syi’ah makin kokoh dalam memegang keyakinan mereka
.
Ada baiknya kita memahami pernyataan Sayyid Hadi Khosrushagi, dalam sebuah konferensi tentang Pemikiran Islam yang diselenggerakan di al-Jazair. Wakil Imam Khomeini itu mengatakan, “Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin”
.
Ustad Sami’ Athifuzzain, penulis kitab al-Islam wa Tsiqafatul Insan, dalam bukunya yang berjudul “Al-Muslimun…Man Hum? (Siapakah Kaum Muslimin?) mencoba mendudukan posisi syi’ah dan sunni. Dalam mukadimah buku itu, ia menulis adanya pengelompokan dalam masyarakat muslim Syiah dan Sunni yang semestinya terhapus dengan terhapusnya kejahilan. Tetapi pengelompokan itu justru terus berakar. Padahal sumber pengelompokan itu adalah sekelompok orang yang berhasil menguasai dunia Islam lewat nifaq. “Kelompok itu adalah musuh Islam yang tidak bisa hidup kecuali sepert lintah penghisap darah” tulis Ustad Sami
.
Perbedaan yang terjadi antara kelompok Sunni dan Syiah hanya terletak pada pemahaman atas Qur’an dan Sunnah bukan pada asli Qur’an dan sunnah. Ustad Shabir Tha’imah dalam buku Tahdidat Imamul ‘Arubah wal Islam, mengatakan, antara Syiah dan Sunni tidak memiliki perbedaan dalam ushul. Sunni dan Syiah adalah muwahhid. Perbedaan hanya pada furu’ [fikih] yang sama saja seperti perbedaan fikih di antara mazhab yang empat (Syafii, Hanbali…). Mereka mengimani ushuluddin sebagaimana yang ada dalam Quran dan sunnah Nabi. Selain itu mereka juga mengimani apa yang harus diimani. Mereka juga mengimani bahwa seorang muslim yang keluar dari hukum-hukum penting agama, maka Islamnya tidak benar (bathil). “ Yang benar adalah bahwa Sunni dan Syiah, keduanya adalah mazhab dari beberapa mazhab Islam yang mengambil ilham dari kitabullah dan sunnah nabi,” katanya
.
Tapi perbedaan pemahaman itu justru dijadikan ladang konflik. Bukan tidak mungkin ada kelompok yang khawatir, jika kelompok Sunni dan Syiah bersatu, seperti diuangkapkan Ustad Abul Hasan Nadawi kepada Majalah Al I’tisham. “Jika hal ini terlaksana—yaitu kedekatan Sunni dan Syiah—akan terjadi sebuah revolusi yang tak ada tandingannya dalam sejarah baru pemikiran Islami.” Katanya. Jadi tak ada salahnya untuk menutup jalan bagi kelompok yang ingin memperluas kekerasan dalam agama, dan membangun persatuan dan saling bekerjasama bukan mengelompokan dirijauh satu sama lainnya
.
Mendiang Imam Khomeini alam khutbah di bulan Jumadil Awal 1384 H) mengatakan, “Tangan-tangan kotor yang telah menciptakan pertentangan di dunia Islam antara Sunni dan Syiah bukan Sunni dan Syiah. Mereka adalah tangan-tangan imperialis yang ingin berkuasa di negara-negara Islam. Mereka adalah pemerintahan-pemerintahan yang ingin merampok kekayaan rakyat kita denganberbagai tipuan dan alat dan menciptakan pertentangan dengan nama Syiah dan Sunni.”
.
Pemerintah memang tidak melarang aliran syi’ah di Indonesia. Bahkan Majelis Ulama Indonesia juga tidak mengeluarkan fatwa larangan syi’ah. Meski ada desakan untuk “mengharamkan” syi’ah, tapi MUI hanya mengeluarkan fatwa mewaspadai aliran syi’ah
.
Kalaupun nanti ada kecurigaan dari pihak pemerintah terhadap Syi’ah, kecurigaan itu hanyalah akibat dari lobbying orang-orang yang anti Syi’ah, yang berusaha memberikan gambaran tertentu kepada pemerintah, untuk mencurigai Syi’ah
.
. Syiah sendiri hadir dalam bentuk yang tidak monolitis di Madura sejak puluhan tahun lalu.
Arah penyebaran syiah biasanya dimulai oleh alumni pesantren Yapi, Bangil Pasuruan. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, kaum muda syiah juga dijumpai ada yang alumni Iran. Fokus penyebarannya dipusatkan di desa-desa maupun di kota-kota. Penyebar gagasannya adalah gabungan antara warga pribumi Madura dan keturunan Arab
.
Menurut Habib Muhammad Baharun dalam disertasinya di IAIN Sunan Ampel berjudul Tipologi Pemahaman Doktrin Syiah di Jawa Timur (2006), syiah di Jawa Timur terbagi menjadi tiga kelompok yaitu syiah ideologis, syiah su-si (sunni syiah) dan syiah simpatisan. Syiah ideologis yaitu mereka yang mengamalkan doktrin syiah secara total serta syiah su-si adalah syiah yang mengamalkan doktrin syiah separuh saja
.
Separuh pemahamannya sunni dan separuh pemahamannya syiah. Adapun syiah simpatisan adalah syiah yang hanya bergerak pada rasa simpati dan apresiasi terhadap pemikiran tokoh-tokoh syiah seperti Ali Syariati, Mutahhari dan lainnya
.
Syiah Madura pada umumnya adalah syiah su-si yaitu syiah yang pemahamannya separuh sunni dan separuh syiah. Hal ini wajar terjadi di Madura, karena warga Madura masih teramat sulit untuk melepaskan diri dari pemahaman leluhurnya yang ahlu sunnah wal jamaah. Syiah Madura merayakan maulid nabi, haul dan acara keagamaan ala kaum sunni lainnya
.

Perayaan maulid maupun haulpun disinyalir bukan saja milik sunni namun juga milik syiah.

Penggagasnya adalah sultan Mu’iz Lidinillah, seorang raja syiah. Haulpun banyak dilakukan komunitas syiah pada masa lalu, utamanya haul para Imam. Meskipun, di Madura sendiri jarang diselenggarakan haul para Imam. Kaum syiah Madura juga memperlakukan secara istimewa lima tokoh keagamaan mereka, Nabi Muhammad, Ali Bin Abi Thalib, Fatimah Az Zahra, Hasan dan Husein.
Di kalangan sunni Madura perlakuan ini juga biasa dilakukan seperti pada syair Li Khamsatun dan Li Asyaratun kaum sunni yang diantaranya memuji Rasul, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Bahkan di pintu-pintu rumah orang Madura sering dijumpai rajah yang kalau diterjemahkan berbunyi aku berlindung dengan perantaraan Muhammad, Ali, Fatimah, Husein dan Hasan. Rajah jenis ini dipakai sejak lama dan tak ada kaitannya dengan syiah
.
Persinggungan tradisi ini menunjukkan ada tradisi yang berdekatan antara sunni dengan syiah di Madura. Persoalan menjadi lain manakala perayaan maulid syiah diisi dengan ceramah agama yang biasanya berbau khas syiah sebagai cara mendakwahkan agamanya dan ini yang menjadi sebab penolakan warga sunni pada tahun 2007 lalu ketika kaum syiah Sampang hendak merayakan maulid nabi
.
Namun, untuk merayakan ritual khas syiah seperti asyura dan arbain, kaum syiah Madura belum berani melakukan itu. Biasanya mereka merayakannya dengan bergabung pada perayaan serupa di tanah Jawa. Syiah ideologis belum dijumpai secara massif di Madura, karena mereka biasanya melakukan taqiyyah. Sementara syiah simpatisan atau syiah pemikiran dijumpai secara sporadis pada individu-individu tertentu di Madura, biasanya adalah kalangan terpelajar
.
Pemahaman syiah Madura justru sama dengan pemahaman syiah Imamiyah pada umumnya. Jenis syiah Zaidiyah yang moderat tak dijumpai di Madura sekarang. Begitupula syiah yang lebih ekstrem seperti syiah Ismailiyah. Semestinya, syiah Zaidiyah lebih banyak dijumpai di Madura karena penyebar ajaran syiah pertama kali adalah keturunan Arab Hadramaut. Bisa jadi, dulunya mereka syiah Zaidiyah namun karena ada faktor transformasi pemikiran Iran, syiah mereka menjadi Imamiyah
.
Pemahaman yang jamak dijumpai adalah pemahaman yang menyembunyikan doktrin aslinya dihadapan publik ala syiah Imamiyah. Doktrin asli tentang pendiskualifikasian para sahabat dan istri nabi utamanya Aisyah dijumpai dalam pengajian-pengajian tertutup kaum syiah. Sebagian syiah Madura juga memiliki doktrin tentang interpolasi Quran. Menelusuri pemahaman kaum syiah ini bukan saja teramat sulit karena taqiyyahnya tapi juga karena syiah Madura adalah syiah yang berada dalam tahap konsolidasi.
Ketidaksukaan warga sunni Madura muncul ketika beberapa individu syiah melakukan ibadah yang bagi kalangan awam sunni Madura terasa aneh, seperti azan yang berbeda, cara shalat yang kelihatan janggal karena tidak bersedekap dan membawa batu kecil serta persoalan shalat jamak Dhuhur-ashar dan maghrib-isya’. Adapun tentang kawin kontrak (nikah mut’ah) masih belum dijumpai dilakukan oleh kaum syiah Madura
.
Persoalan khilafiah ini sensitif di kalangan awam Madura. Pasalnya, jangankan syiah, kaum Islam modernispun yang memiliki praktek berbeda sering diacuhkan oleh orang Madura. Lelucon yang menyebut agama orang Madura adalah NU memang benar adanya. Kaum muslim Madura memang fanatik terhadap Islam ala Ahlu Sunnah Wal Jamaah sejak dulu sampai kini
.
Sindiran orang Madura terhadap muslim modernis seperti Muhammadiyah dan Persis adalah Islam ongghu’, suatu istilah yang mendekati makna abangan dalam diskursus keislaman di Jawa. Di Madura juga ada ungkapan humoris ”jadilah orang Islam yang baik, minimal Muhammadiyah”. Ini bukti bahwa kesunnian Madura memang berpaut erat dengan tipologi sunni tradisional
.
Ironisnya, ketika konflik pecah, banyak yang kemudian mempersoalkan serangan massa sunni terhadap syiah tanpa sempat meninjau secara jelas penyebab serangan itu terjadi. Secara hukum, tindakan tersebut memang tidak benar. Pelakunyapun harus diusut tuntas. Para penganut syiah juga harus dilindungi dari segala macam kekerasan.
Namun, seharusnya, syiah juga menyikapi dengan bijak pola-pola dakwahnya selama ini agar tidak mendapat respon negatif dari masyarakat. Syiah Madura harus lebih arif dalam menyampaikan dakwahnya di tengah masyarakat. Tak ada asap tanpa ada api. Begitupun pembakaran ponpes syiah tanggal 29 Desember lalu. Semuanya terjadi karena dakwah syiah tak disukai masyarakat
.
Syiah sendiri adalah satu kelompok dengan tipe beragam dengan aneka pemahaman. Doktrin-doktrinnya tidak monolitis namun juga pluralis. Syiah Madura seharusnya memilih doktrin-doktrin yang lebih dekat dengan doktrin kaum sunni untuk meminimalisir konflik. Contoh besarnya dalam masalah interpolasi Al Quran, kaum syiah seharusnya juga mempertimbangkan pendapat para ulama syiah yang mengatakan bahwa Al Quran terpelihara dari zaman ke zaman. Para ulama itu misalnya Zainuddin Al Bayadh, Fathullah Al Kasyani, Al Allamah Husein Thabataba’i dan Ali Al Fadhl Bin Hasan Al Tabarsyi
.
Para ulama ini melahirkan antitesis terhadap para ulama syiah yang mengatakan bahwa Al Quran telah mengalami perubahan. Sayang kaum syiah Madura masih terpaku dengan pemikiran ala Nikmatullah Al Jazairi, Al Kulaini, Al Qummi, Al Nuri Al Tabarsyi dan Muhammad Al Mufid yang berpendapat bahwa dalam Quran telah terjadi perubahan
.
Kecenderungan ini sebenarnya kecenderungan kaum syiah di Jawa Timur. Kecenderungan lainnya adalah diskualifikasi terhadap para sahabat nabi terutama tiga Khulafaur Rasyidin. Kecenderungan ini sudah pasti akan memancing konflik terus menerus dengan kaum sunni. Apalagi, kategori syiah pemikiran atau syiah simpatisan tak begitu membumi di Madura. Absennya syiah pemikiran di Madura pada gilirannya takkan menambah sesuatu yang baru pada pemikiran keagamaan di Madura
.
Syiah pemikiran biasanya adalah tipologi syiah intelektual yang kaya diskursus dan gagasan progresif dan itu akan menambah swalayan keberagamaan di Madura. Ketiadaan syiah pemikiran pada gilirannya hanya akan memberi kesempatan syiah su-si menjadi syiah ideologis yang memiliki perbedaan akidah dan fikih secara tajam dengan kaum sunni Madura. Hasil akhirnya pasti bisa ditebak. Konflik berkelanjutan di bumi Madura
.
Syiah Madura harus memahamai persoalan ini. Ekstremitas fikih dan juga akidah sudah pasti akan memperuncing persoalan. Alangkah baiknya kalau syiah Madura mengembangkan ciri hidup tasawuf seperti kecenderungan kaum syiah Persia dan menghindari perdebatan fikih dan akidah. Transformasi pemikiran tasawuf syiah bukan saja dapat memperkaya kehidupan sufisme di Madura yang telah mapan, namun juga karena struktur tasawuf syiah banyak mirip dengan struktur tasawuf sunni
.
Dalam syiah juga ada struktur Quthbul Aqthab, aqthab, arba’ah, arbain, meski terdapat tambahan seperti imam, ayatullah dan ruhullah. Tasawuf syiah juga banyak berpadu dengan tasawuf sunni terutama pada silsilah yang melibatkan Salman Al Farisi dan Sayyidina Ali.
Persoalan syiah-sunni di Madura juga buah dari transformasi petroreligiositas yang digencarkan secara besar-besaran sejak era reformasi
.
Negara-negara yang kaya minyak seperti Iran dan Arab Saudi rajin menyebarkan paham keagamaannya dengan dukungan dana minyak yang melimpah ruah. Persoalan ini akan semakian rumit di masa depan. Kalau acuannya adalah sunni tradisional seperti NU sebagai pemahaman mayoritas orang Madura, maka konflik bukan saja akan terjadi antara massa sunni dengan syiah tapi juga dengan kelompok salafi
.
Di Madura, saat ini juga lahir semacam sentimen terhadap kelompok Salafi. Motifnya juga sama. Salafi banyak memiliki perbedaan dengan pemahaman mayoritas muslim Madura. Di beberapa tempat, ketidaksukaan terhadap salafi mulai tumbuh subur, namun masih dapat diredam. Sepertinya, petroreligiositas masih akan menimbulkan konflik lagi di masa depan
.
Kita berharap agar semua pihak arif dalam memahami persoalan konflik sunni syiah ini. Jangan jadikan Madura sebagai Irak kedua atau Yaman kedua!

Dialog Bukan Solusi Tuntaskan Masalah Syi’ah ???

Senin, 26 Maret 2012 13:22 Redaksi
E-mailCetakPDF

Salah satu syarat bagi umat Islam keluar dari persoalan adalah persatuan, termasuk dalam menangkal aliran atau paham sesat di Indonesia,seperti paham Syi’ah.  Karenanya, umatpun diharap bisa satu sikap dan tindakan dalam masalah Syiah. Walau di kalangan elit ormas ada yang “membela” Syi’ah, namun umat Islam yang lain diharap bisa bersikap tegas, tanpa menunggu kebijakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mensikapi paham Syi’ah.Demikian pernyataan pemerhati masalah Syiah, Prof. Dr. Mohammad Baharun, SH,MA dalam acara “Bedah Aqidah Syi’ah” di masjid Istiqomah Kota Bandung, Ahad (25/3/2012) kemarin. Acara yang di prakarsai Dewan Dakwah Islam Indoensia (DDII) Jabar tersebut mampu menarik delapan ratusan peserta.

Menurut Baharun, umat Islam bisa merespon langsung setiap ada gerakan penyesatan aqidah termasuk gerakan Syi’ah kini, dinilai mulai berani terang-terangan menunjukan kegiatannya.

“Jangan menunggu “perintah” dari MUI, kita harus bisa merespon sendiri dengan kekuatan umat. Arus bawah akan lebih efektif jika bergerak,” ujar Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat tersebut.

Dirinya juga meminta umat Islam (kalangan Sunni) tidak berdebat dengan Syi’ah dalam masalah fiqh (hukum). Namun harus pada pokok persoalan, yakni soal aqidah. Karena menurut Baharun, fiqh boleh saja berbeda akan tetapi jika aqidah-nya berbeda maka sejatinya telah sesat.

Sementara menjawab pertanyaan peserta, mungkinkah Sunni-Syi’ah bersatu? Dengan tegas Baharun menjawab jika aqidah sudah berbeda, maka itu sebuah kemustahilan. Dirinya juga menjelaskan jika upaya persatuan Sunni-Syi’ah seperti yang diklarasikan Majelis Ukhuwah Sunni-Syi’ah hanyalah pembohongan dan penyesatan opini umat saja.

Namun Baharun berpendapat upaya dialog dengan kalangan Syi’ah masih terbuka jika hal tersebut dilakukan secara fair. Hanya saja menurutnya, dialog yang pernah dilakukan sering gagal dan tidak menemui titik temu dan menyelesaikan inti persoalan.

Hal tersebut juga diamini dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah M. Natsir-DDII Jakatra, Anung Al-Hammat,Lc,M Pd yang turut menjadi narasumber.

Menurut Anung, berangkat dari pengalamannya selama ini beberapa kali melakukan dialog dengan kalangan Syi’ah,dialog bukanlah solusi utama.

“Sampai saat ini kita menilai semua dialog yang pernah kita lakukan tidak ada titik temu. Namun jika merekafairdan terbuka, kita siap, ” tegasnya.

Anung sendiri berharap dauroh dan kajian tentang Syi’ah perlu diselenggarakan kepada umat. Sehingga umat Islam mempunyai pemahaman yang utuh tentang Syi’ah. Dengan pemahaman yang utuh tersebut diharapkan umat bisa bersikap tegas.

“Sehingga tidak ada lagi umat Islam yang mengaku dan berpaham Susyi (Sunni-Syi’i),” harap Anung.

====================

Jawaban kami :

Itu artinya, tidak ada satupun manusia dan jin dimuka bumi ini yang tidak mengetahui sebuah kebenaran… Yang ada hanyalah, penolakan dan mengabaikan kebenaran setelah berita itu sampai kepada mereka.. Versi kesesatan memang begitu beragam dari zaman ke zaman,. Kristen tdk mengakui Muhammad sebagai mesiah (nabi terakhir)… Sedang Kaum muslim umumnya, tidak mengakui keturunan Muhammad sebagai wasy dan penerus risalah yang benar dari beliau…

sedang janji Allah, bahwa sesungguhnya manusia tidak mungkin dibiarkan begitu saja tanpa imam ( pemimpin) diantara mereka sampai akhir zaman, namun kebanyakan manusia sekarang memilih pemimpin dengan pilihan mereka sendiri dan dari kalangan mereka sendiri, sedang mereka itu tidak bisa memberikan safaat sedikitpun kepada yang lain.

Tulisan dan artikel2 yang dimuat dalam website ini adalah mutiara2 indah yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam baik itu Suni maupun Syiah.

Mengingat sulitnya untuk memperoleh Teks2 Syiah asli dari toko2 buku dan kitab ( berkaitan masih begitu kuatnya tekanan terhadap Syiah sampai detik ini ) maka website ini sama ibaratnya sebuah mata air dipadang gersang.

Disamping itu besarnya propaganda anti Syiah yang dilancarkan berbagai kalangan baik melalui buku2 maupun situs2 internet membuat bingung dan bisa menggelincirkan orang2 yang pengetahuannya masih awam tentang Syiah. Dari website ini diperoleh bantahan2 berdasarkan kajian ilmiah yang bisa membendung aksi propaganda mereka.

Demikian, mudah2an Allah senantiasa memberikan kekuatan dan Ridlonya kepada para pengikut setia Rasulullah Muhammad, Ahli Baitnya, dan keturunannya……..

Yang Menuduh syi’ah Sesat adalah pendukung MahaDajjal = MahaIblis

Mengurus mazhab sendiri saja nggak becus udah mau ngurus Syi’ah..
Hukum thaghut merajalela, artis dipuja, korupsi marak, nginjak rakyat, moral hancur hancuran, seks bebas  (ngurus tuch semua !!)
Buka mata lu jangan ngurus mazhab orang…

An Armed Iranian women in front of mosque during Iraq invasion in 1980. Iraq was backed by most of Arab and West country but still can’t invade entirely Iran. Saddam was give up after 8 years in effort to invade Iran. This is because Iranian was fight for their faith different with Saddam’s army who fight for the dictatorship .

MahaFiraun + MahaDajjal = MahaIblis
.

Potret Kampus Islam di Indonesia

Di Indonesia, tidak jarang kita menemukan mahasiswi yang mengaku dirinya Muslim namun berpakaian tidak sesuai dengan syariat. Berpakaian ketat dan transparan hingga  nampak aurat dan lekuk tubuhnya. Cara mereka berpakaian tidak beda dengan pakaian non Muslim. Ada pula mahasiswa pria berambut gondrong, memakai gelang/kalung, celana jean compang-camping dan awut-awutan, (maaf) mungkin sulit bagi masyarakat umum membedakan mana antara mahasiswa dan penampilan preman.

Bukan rahasia,  pergaulan bebas mewarnai kehidupan di kampus, termasuk kampus di Perguruan Tinggi Islam. Di kantin, taman, tempat parkir,  menjadi tempat pacaran dan khalwat. Tak sedikit berlanjut kasus  mesum (zina). Tentu saja, ini akibat percampuran (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan. Hubungan akrab antara laki-laki dan perempuan dianggap suatu hal yang wajar. Bahkan mereka tidak merasa malu dan canggung berboncengan mesra dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim dengan sepeda motor, baik di dalam maupun di luar kampus.

Mahasiswa dengan bebasnya merokok di kantin, ruang kelas, bahkan di depan kelas dosen bisa mengajar sambil menghisap asap beracun ini. Di sisi lain, mahasiswa dan para dosen tak beranjak ke masjid ketika azan sudah dikumandangkan

.

Inilah potret kehidupan kampus Islam kita yang memprihatinkan. Rasanya,  mustahil mengharapkan mahasiswa dari perguruan tinggi Islam melahirkan sosok intelektual yang cerdas dan berakhlak mulia

.

Yang terjadi justru sebaliknya. Kita sering mendengar, mahasiswa atau dosen fakultas syariah justru mencela syariah Islam (hukum-hukum Allah).  Alangkah ironis, mahasiswa syariah justru melahirkan pencela  ilmu-ilmu syar’i.

.

 Israel serang Iran, Arab jadi patung, Palestin jadi mayat

News told that Israel was likely to attack Iran between April dan June. Orang paling gembira dengar berita ini adalah Arab Saudi. Mereka tidak hidup senang jika Iran yang dilabel kafir, lebih kafir dari Yahudi tidak dihapuskan. Tetapi orang yang paling kafir ini paling ambil kisah tentang isu Palestin.Arab Saudi sudah memujuk US supaya menyerang Iran- dakwaan wikileaks. Arab Saudi tidak boleh berdiam diri jika Iran mempunyai senjata Nuklear. Maklumlah Arab takut orang Syiah takluk bumi Mekah sedangkan populasi Syiah hanya 20%. Mana mungkin!Iran, Syria, dan Parti Hizbullah dan Hamas merupakan pakatan anti-Israel dan sekutunya
.
Pakatan ini tidak dayus, mereka akan buat apa yang mereka cakap. Syria pernah srerang Israel during Six Days War, manakala Hizbullah pernah serang Israel tahun 2006. Iran menjadi ketua pembekal senjata dan semangat moral kepada mereka. Pakatan ini menjadi igauan ngeri kepada Israel.Israel pernah menyerang reaktor nukluer Iraq dan Syria, Hizbullah dan Hamas juga masih under control. Hanya Iran dan Ahmadinejad iaitu Hitler moden belum dihapuskan
.
Iran bukan bangsa dayus, sejarah batu dan moden menjadi bukti mereka bukan anak ikan. Rejim Saddam yang dibantu US dan negara Arab pun gagal during Iran-Iraq war 1980-1988. Israel sedar mereka bakal bermian dengan api ditambah pula pakatan Hamas-Hizbullah-Syria.Jika Israel ingin menghapus Iran, mereka perlu melakukannya dengan pantas, itu dalam sekali serangan. Jika Iran tidak dilupuhkan dalam satu masa, Israel akan parah. Iran akan menyerang Israel sepenuh kekuatan. Hamas dari arah barat dan Hizbullah dari arah utara akan memberi tekanan kepada Israel. Pemuda Mesir akan membakar paip gas ke Israel.Iraq pula tidak beri muka kepada Amerika untuk menyerang Iran dari negara mereka. Tetapi Amerika akan berpangkal di Arab Saudi
.
Sekatan Ekonomi terhadap Iran sudah mencapai tahap maksimum dan bakal melupuhkan Iran. Syria merupakan rakan dagang rapat Iran dan membenarkan Iran membina pangkalan tentera di pesisir pantai (Hishamuddin Rais yang cakap). Syria semakin huru-hara, ditambah dengan media yang berat sebelah untuk menipu dunia. Seperti cerita adik Nayirah(15) yang diupah oleh US untuk menipu dunia bahawa rejim Saddam bakar bayi hidup-hidup. Walau apa keadaan, Syria harus dilemahkan untuk menyerang Iran dengan mudah
.

Di Malaysia, pula dibawa cerita persoalan mazhab, di mana rejim al-Assad di Syria benci rakyatnya yang berfahaman Sunni. Sudah 30 tahun rejim ini memerintah, populasi Sunni di Syria meningkat ke 74% manakala Syiah hanya 12%. Kenapa tiba-tiba keluar alasan Syiah tindas Sunni? Kenapa tidak pula kita kisah minoriti Syiah Jordan yang dibunuh oleh tentera Sunni dari Arab Saudi semasa Jordan Spring tahun lepas? Yang jahat tetap jahat dan keadilan harus dituntut tanpa mengira fahaman.


Syria sudah hampir lumpuh, mangsa mati meningkat. Israel pula bersiap sedia sedia serang Iran. Arab Saudi beli popcorn untuk menonton real action. Palestine menunggu ajal sama ada dijemput Tuhan atau tentera Zionis. Negara Islam lain mula berbicara soal mazhab dan Ulama sibuk keluar fatwa halal atau haram perangi Syiah. Para Kapitalis bergembira kerana bisnes senjata sangat menguntungkan. Aku pula hanya mampu menangis di hadapan komputer.

1. Jika rakyat di Gaza disekat segala bentuk bantuan oleh Zionis, Di Libya pun ada. Ghadafi memutuskan bekalan api, air, dan internet di wilayah Beghazi (kubu pemberontak).

Ghadaffi membaling buku piagam PBB kerana tidak berpuas hati dengan dasar PBB. Tetapi di negara sendiri, Mahafiraun ini bunuh rakyatnya sendiri.

2. Protester di Palestin akan ditembak tanpa sebarang tolak ansur oleh Zionis. Di Bahrain juga tidak kurang hebatnya.

Mahafiraun turut menyerang hospital yang merawat protester

Protester ditembak dari jarak dekat oleh mahafiraun

Mangsa digilis hidup-hidup oleh kenderaan mahafiraun
3. Kita tunggu dan lihat bagaimana pula firaun-firaun di Syria, Morocco, dan Saudi Arabia beraksi selepas ini.
Pemimpin Arab lebih teruk daripada pemimpin Zionis kerana at least Zionis tidaklah kejam sebegitu kpd rakyatnya sendiri. So, tidak hairanlah kenapa Pemimpin Arab tidak simpati terhadap rakyat Palestin
.
Akar tunjang agama adalah akidah yang bererti penghambaan. Apabila agama itu dieksploitasi, manusia akan mudah terperdaya akibat taklid buta. Firaun menggunakan pendeta untuk meyakinkan rakyat akan sifat ketuhanannya. Ini membuktikan sejak dahulu kala lagi agamawan berperanan dalam pemerintahan negara.Tetapi amatlah malang, Islam sebagai agama mukjizat gagal memainkan peranan ini dalam membina tamadun yang berjaya. Universiti al-Azhar yang melahirkan berpuluh ribu alim ulama gagal memandu rakyat menjatuhkan diktator di Mesir. Akhirnya inspirasi RevolusiArab Spring bermula dari si penjual sayur di Tunisia.Sebab itu Arab Spring bukan Revolusi Islam seperti yang berlaku di Iran pada tahun 1979.Revolusi Iran dipandu oleh agamawan, Imam Khomeini yang menanam benih idealisme dalam rakyat Iran. Penulisan idealisme Imam Khomeini disebar sehingga ke Malaysia (diterbit oleh ABIM). Di sini, kita dapat lihat akan kepentingan idealisme dalam diri kita, iaitu harapan untuk bangun dan bergerak ke hadapan.“Gott ist tot” (tuhan telah mati), merupakan laungan berbentuk literal(tersirat) Nitzschesebagai simbol kemenangan mutlak ideologi sekularisme. Semasa zaman kegelapan Eropah, pihak gereja telah memanipulasikan agama untuk kepentingan tertentu. Namun, aku lebih suka pandangan Karl Marx kerana beliau bercakap atas konteks ekonomi dan kemaslahatan rakyat.

Karl Marx berpendapat agama seperti candu kepada rakyat yang memberi kebahagian dalam bentuk khayalan. Karl Marx mengajak masyarakat Eropah berfikir secara realistik. Candu memberi kebaikan untuk tujuan perubatan, tetapi ia memudaratkan apabila diguna luar kawalan.

Pandangan Karl Marx harus dinilai secara kritikal kerana kita perlu akui bahawa terdapat pembodohan berlaku atas nama agama. Ramai alim ulama yang menyeleweng agama untuk menjadi pengampu kepada pemerintah.Qur’an dan Hadis diseleweng mengikut selera pemerintah seperti yang berlaku pada zaman Firaun:

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka (kaumnya) itu daripada kalangan orang-orang yang fasiq” [az-Zukhruf : 54]

Pembodohan agama juga berlaku dalam perperangan. Kita dapat lihat beberapa aktor pengganas yang melaungkan Allahu Akhbar sedangkan mereka membunuh orang yang tidak berdosa. Benih-benih kebencian dan fasis disebarkan atas nama jihad oleh Taliban dan al-Qaeda. Puak ini yang memecah belahkan umat Islam di Somalia, Mesir (pembunuhan Anwar Sadat), Morocco, Pakistan, dan Afghanistan.Tragedi pembodohan atas nama agama juga ada dalam konsep politik dan kenegaraan. Terdapat negara yang mengaku dan berbangga dengan mendakwa negara mereka adalahIslamic State. Hanya melaksanakan hukum Hudud, maka negara mereka menjadi Islamic State sedangkan soal penyelewengan kuasa dan ekonomi diketepikan.

Ulama di Middle East menyokong autokrasi dengan alasan Demokrasi buatan orang Kafir. Sedangkan al-Quran tidak pernah menyebut sistem beraja mahupun Autokrasi. Ulama ini mengeluarkan fatwa haram demonstrasi, haram derhaka kepada pemerintah, dan haram tukar kerajaan.

Kajian yang dijalankan telah membuktikan negara bukan Islam lebih Islamik berbanding negara Islam sendiri. Dalam journal How Islamic are Islamic Countries, negara seperti New Zealand, Norway, Ireland, dan Iceland lebih Islamik dari negara Islam. Negara jaguh agama seperti Arab Saudi menduduki tangga ke 131

Satu persoalan, kenapa negara Sekular lebih Islamik berbanding negara yang berpaksikan wahyu Tuhan?

“Jika orang kata Dajjal itu bahaya, Ulama sebenarnya lebih bahaya dari Dajjal”, kata Imam surau kampung aku semasa Ramadan tahun lepas.

p/s: wait for the next post about pembodohan Agama di Malaysia. Just leave your opinion, so i could conclude

Sebar Propaganda di Tengah Tabligh Akbar Tentang Kesesatan Syiah ???

Minggu, 25 Maret 2012 16:50 Redaksi
E-mailCetakPDF

Di saat tabligh akbar “Sesatkah Aqidah Syiah?” tengah berlangsung, seorang pria meletakkan fotokopi artikel di atas mobil-mobil yang parkir di sekitar lokasi acara. Artikel yang berjudul “Risalah Kerukunan Ummat” ini disinyalir propaganda.Tidak jelas siapa yang menebar. Namun pihak pemateri menengarai, pelakunya kemungkinan penganut Syiah.

“Memang biasanya dalam acara seperti ini selalu ada selebaran yang dibuat kalangan Syiah untuk memutarbalikkan fakta,” ujar Ust Anang Al Hammat, Lc. M.Pd.I, salah satu pemateri kepada hidayatullah.com.

Dalam artikel tersebut, tertulis diparagraf pertama, “Siapa saja yang mengikuti salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafii, Hanafi, Maliki, dan Maliki), mazhab Ibadhi, dan mazhab Izhari adalah Muslim.”

Di halaman lain, si pembuat artikel mancantumkan berita yang dimuat sebuah koran harian berjudul “MUI: Syiah sah sebagai mazhab Islam.”

Menurut Abu Zanki, yang menangkap pria penyebar artikel, lelaki itu mengaku dibayar oleh seseorang.

“Cuma dia tidak mengaku siapa yang membayarnya. Yang pasti lelaki itu ketakutan waktu saya menangkapnya,” kata Abu Zanki.

Seperti diketahui, lebih dari 500 orang umat Islam berkumpul di Masjid Al-Istiqamah, Bandung dalam tabligh akbar bertema “Sesatkah Aqidah Syiah?” (25/03/2012).

Acara yang digelar oleh KODAS (Komite Dakwah Salafi), Mahasiswa Pencinta Islam, dan DDII Jawa Barat ini menghadirkan pembicara Ust Prof Dr H Muhammad Baharun, SH MA (Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat) dan Ust Anang Al Hammat, Lc. M.Pd.I (Dosen STID Moh Natsir).*

Keterangan: Seorang peserta mendapatkan makalah berisi propaganda.

=========

jawaban kami :

Itu artinya, tidak ada satupun manusia dan jin dimuka bumi ini yang tidak mengetahui sebuah kebenaran… Yang ada hanyalah, penolakan dan mengabaikan kebenaran setelah berita itu sampai kepada mereka.. Versi kesesatan memang begitu beragam dari zaman ke zaman,. Kristen tdk mengakui Muhammad sebagai mesiah (nabi terakhir)… Sedang Kaum muslim umumnya, tidak mengakui keturunan Muhammad sebagai wasy dan penerus risalah yang benar dari beliau…

sedang janji Allah, bahwa sesungguhnya manusia tidak mungkin dibiarkan begitu saja tanpa imam ( pemimpin) diantara mereka sampai akhir zaman, namun kebanyakan manusia sekarang memilih pemimpin dengan pilihan mereka sendiri dan dari kalangan mereka sendiri, sedang mereka itu tidak bisa memberikan safaat sedikitpun kepada yang lain.

Tulisan dan artikel2 yang dimuat dalam website ini adalah mutiara2 indah yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam baik itu Suni maupun Syiah.

Mengingat sulitnya untuk memperoleh Teks2 Syiah asli dari toko2 buku dan kitab ( berkaitan masih begitu kuatnya tekanan terhadap Syiah sampai detik ini ) maka website ini sama ibaratnya sebuah mata air dipadang gersang.

Disamping itu besarnya propaganda anti Syiah yang dilancarkan berbagai kalangan baik melalui buku2 maupun situs2 internet membuat bingung dan bisa menggelincirkan orang2 yang pengetahuannya masih awam tentang Syiah. Dari website ini diperoleh bantahan2 berdasarkan kajian ilmiah yang bisa membendung aksi propaganda mereka.

Demikian, mudah2an Allah senantiasa memberikan kekuatan dan Ridlonya kepada para pengikut setia Rasulullah Muhammad, Ahli Baitnya, dan keturunannya……..

Yang Menuduh syi’ah Sesat adalah pendukung MahaDajjal = MahaIblis

Mengurus mazhab sendiri saja nggak becus udah mau ngurus Syi’ah..
Hukum thaghut merajalela, artis dipuja, korupsi marak, nginjak rakyat, moral hancur hancuran, seks bebas  (ngurus tuch semua !!)
Buka mata lu jangan ngurus mazhab orang…

An Armed Iranian women in front of mosque during Iraq invasion in 1980. Iraq was backed by most of Arab and West country but still can’t invade entirely Iran. Saddam was give up after 8 years in effort to invade Iran. This is because Iranian was fight for their faith different with Saddam’s army who fight for the dictatorship .

MahaFiraun + MahaDajjal = MahaIblis
.

Potret Kampus Islam di Indonesia

Di Indonesia, tidak jarang kita menemukan mahasiswi yang mengaku dirinya Muslim namun berpakaian tidak sesuai dengan syariat. Berpakaian ketat dan transparan hingga  nampak aurat dan lekuk tubuhnya. Cara mereka berpakaian tidak beda dengan pakaian non Muslim. Ada pula mahasiswa pria berambut gondrong, memakai gelang/kalung, celana jean compang-camping dan awut-awutan, (maaf) mungkin sulit bagi masyarakat umum membedakan mana antara mahasiswa dan penampilan preman.

Bukan rahasia,  pergaulan bebas mewarnai kehidupan di kampus, termasuk kampus di Perguruan Tinggi Islam. Di kantin, taman, tempat parkir,  menjadi tempat pacaran dan khalwat. Tak sedikit berlanjut kasus  mesum (zina). Tentu saja, ini akibat percampuran (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan. Hubungan akrab antara laki-laki dan perempuan dianggap suatu hal yang wajar. Bahkan mereka tidak merasa malu dan canggung berboncengan mesra dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim dengan sepeda motor, baik di dalam maupun di luar kampus.

Mahasiswa dengan bebasnya merokok di kantin, ruang kelas, bahkan di depan kelas dosen bisa mengajar sambil menghisap asap beracun ini. Di sisi lain, mahasiswa dan para dosen tak beranjak ke masjid ketika azan sudah dikumandangkan

.

Inilah potret kehidupan kampus Islam kita yang memprihatinkan. Rasanya,  mustahil mengharapkan mahasiswa dari perguruan tinggi Islam melahirkan sosok intelektual yang cerdas dan berakhlak mulia

.

Yang terjadi justru sebaliknya. Kita sering mendengar, mahasiswa atau dosen fakultas syariah justru mencela syariah Islam (hukum-hukum Allah).  Alangkah ironis, mahasiswa syariah justru melahirkan pencela  ilmu-ilmu syar’i.

.

 Israel serang Iran, Arab jadi patung, Palestin jadi mayat

News told that Israel was likely to attack Iran between April dan June. Orang paling gembira dengar berita ini adalah Arab Saudi. Mereka tidak hidup senang jika Iran yang dilabel kafir, lebih kafir dari Yahudi tidak dihapuskan. Tetapi orang yang paling kafir ini paling ambil kisah tentang isu Palestin.Arab Saudi sudah memujuk US supaya menyerang Iran- dakwaan wikileaks. Arab Saudi tidak boleh berdiam diri jika Iran mempunyai senjata Nuklear. Maklumlah Arab takut orang Syiah takluk bumi Mekah sedangkan populasi Syiah hanya 20%. Mana mungkin!Iran, Syria, dan Parti Hizbullah dan Hamas merupakan pakatan anti-Israel dan sekutunya
.
Pakatan ini tidak dayus, mereka akan buat apa yang mereka cakap. Syria pernah srerang Israel during Six Days War, manakala Hizbullah pernah serang Israel tahun 2006. Iran menjadi ketua pembekal senjata dan semangat moral kepada mereka. Pakatan ini menjadi igauan ngeri kepada Israel.Israel pernah menyerang reaktor nukluer Iraq dan Syria, Hizbullah dan Hamas juga masih under control. Hanya Iran dan Ahmadinejad iaitu Hitler moden belum dihapuskan
.
Iran bukan bangsa dayus, sejarah batu dan moden menjadi bukti mereka bukan anak ikan. Rejim Saddam yang dibantu US dan negara Arab pun gagal during Iran-Iraq war 1980-1988. Israel sedar mereka bakal bermian dengan api ditambah pula pakatan Hamas-Hizbullah-Syria.Jika Israel ingin menghapus Iran, mereka perlu melakukannya dengan pantas, itu dalam sekali serangan. Jika Iran tidak dilupuhkan dalam satu masa, Israel akan parah. Iran akan menyerang Israel sepenuh kekuatan. Hamas dari arah barat dan Hizbullah dari arah utara akan memberi tekanan kepada Israel. Pemuda Mesir akan membakar paip gas ke Israel.Iraq pula tidak beri muka kepada Amerika untuk menyerang Iran dari negara mereka. Tetapi Amerika akan berpangkal di Arab Saudi
.
Sekatan Ekonomi terhadap Iran sudah mencapai tahap maksimum dan bakal melupuhkan Iran. Syria merupakan rakan dagang rapat Iran dan membenarkan Iran membina pangkalan tentera di pesisir pantai (Hishamuddin Rais yang cakap). Syria semakin huru-hara, ditambah dengan media yang berat sebelah untuk menipu dunia. Seperti cerita adik Nayirah(15) yang diupah oleh US untuk menipu dunia bahawa rejim Saddam bakar bayi hidup-hidup. Walau apa keadaan, Syria harus dilemahkan untuk menyerang Iran dengan mudah
.

Di Malaysia, pula dibawa cerita persoalan mazhab, di mana rejim al-Assad di Syria benci rakyatnya yang berfahaman Sunni. Sudah 30 tahun rejim ini memerintah, populasi Sunni di Syria meningkat ke 74% manakala Syiah hanya 12%. Kenapa tiba-tiba keluar alasan Syiah tindas Sunni? Kenapa tidak pula kita kisah minoriti Syiah Jordan yang dibunuh oleh tentera Sunni dari Arab Saudi semasa Jordan Spring tahun lepas? Yang jahat tetap jahat dan keadilan harus dituntut tanpa mengira fahaman.


Syria sudah hampir lumpuh, mangsa mati meningkat. Israel pula bersiap sedia sedia serang Iran. Arab Saudi beli popcorn untuk menonton real action. Palestine menunggu ajal sama ada dijemput Tuhan atau tentera Zionis. Negara Islam lain mula berbicara soal mazhab dan Ulama sibuk keluar fatwa halal atau haram perangi Syiah. Para Kapitalis bergembira kerana bisnes senjata sangat menguntungkan. Aku pula hanya mampu menangis di hadapan komputer.

1. Jika rakyat di Gaza disekat segala bentuk bantuan oleh Zionis, Di Libya pun ada. Ghadafi memutuskan bekalan api, air, dan internet di wilayah Beghazi (kubu pemberontak).

Ghadaffi membaling buku piagam PBB kerana tidak berpuas hati dengan dasar PBB. Tetapi di negara sendiri, Mahafiraun ini bunuh rakyatnya sendiri.

2. Protester di Palestin akan ditembak tanpa sebarang tolak ansur oleh Zionis. Di Bahrain juga tidak kurang hebatnya.

Mahafiraun turut menyerang hospital yang merawat protester

Protester ditembak dari jarak dekat oleh mahafiraun

Mangsa digilis hidup-hidup oleh kenderaan mahafiraun
3. Kita tunggu dan lihat bagaimana pula firaun-firaun di Syria, Morocco, dan Saudi Arabia beraksi selepas ini.
Pemimpin Arab lebih teruk daripada pemimpin Zionis kerana at least Zionis tidaklah kejam sebegitu kpd rakyatnya sendiri. So, tidak hairanlah kenapa Pemimpin Arab tidak simpati terhadap rakyat Palestin
.
Akar tunjang agama adalah akidah yang bererti penghambaan. Apabila agama itu dieksploitasi, manusia akan mudah terperdaya akibat taklid buta. Firaun menggunakan pendeta untuk meyakinkan rakyat akan sifat ketuhanannya. Ini membuktikan sejak dahulu kala lagi agamawan berperanan dalam pemerintahan negara.Tetapi amatlah malang, Islam sebagai agama mukjizat gagal memainkan peranan ini dalam membina tamadun yang berjaya. Universiti al-Azhar yang melahirkan berpuluh ribu alim ulama gagal memandu rakyat menjatuhkan diktator di Mesir. Akhirnya inspirasi RevolusiArab Spring bermula dari si penjual sayur di Tunisia.Sebab itu Arab Spring bukan Revolusi Islam seperti yang berlaku di Iran pada tahun 1979.Revolusi Iran dipandu oleh agamawan, Imam Khomeini yang menanam benih idealisme dalam rakyat Iran. Penulisan idealisme Imam Khomeini disebar sehingga ke Malaysia (diterbit oleh ABIM). Di sini, kita dapat lihat akan kepentingan idealisme dalam diri kita, iaitu harapan untuk bangun dan bergerak ke hadapan.“Gott ist tot” (tuhan telah mati), merupakan laungan berbentuk literal(tersirat) Nitzschesebagai simbol kemenangan mutlak ideologi sekularisme. Semasa zaman kegelapan Eropah, pihak gereja telah memanipulasikan agama untuk kepentingan tertentu. Namun, aku lebih suka pandangan Karl Marx kerana beliau bercakap atas konteks ekonomi dan kemaslahatan rakyat.

Karl Marx berpendapat agama seperti candu kepada rakyat yang memberi kebahagian dalam bentuk khayalan. Karl Marx mengajak masyarakat Eropah berfikir secara realistik. Candu memberi kebaikan untuk tujuan perubatan, tetapi ia memudaratkan apabila diguna luar kawalan.

Pandangan Karl Marx harus dinilai secara kritikal kerana kita perlu akui bahawa terdapat pembodohan berlaku atas nama agama. Ramai alim ulama yang menyeleweng agama untuk menjadi pengampu kepada pemerintah.Qur’an dan Hadis diseleweng mengikut selera pemerintah seperti yang berlaku pada zaman Firaun:

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka (kaumnya) itu daripada kalangan orang-orang yang fasiq” [az-Zukhruf : 54]

Pembodohan agama juga berlaku dalam perperangan. Kita dapat lihat beberapa aktor pengganas yang melaungkan Allahu Akhbar sedangkan mereka membunuh orang yang tidak berdosa. Benih-benih kebencian dan fasis disebarkan atas nama jihad oleh Taliban dan al-Qaeda. Puak ini yang memecah belahkan umat Islam di Somalia, Mesir (pembunuhan Anwar Sadat), Morocco, Pakistan, dan Afghanistan.Tragedi pembodohan atas nama agama juga ada dalam konsep politik dan kenegaraan. Terdapat negara yang mengaku dan berbangga dengan mendakwa negara mereka adalahIslamic State. Hanya melaksanakan hukum Hudud, maka negara mereka menjadi Islamic State sedangkan soal penyelewengan kuasa dan ekonomi diketepikan.

Ulama di Middle East menyokong autokrasi dengan alasan Demokrasi buatan orang Kafir. Sedangkan al-Quran tidak pernah menyebut sistem beraja mahupun Autokrasi. Ulama ini mengeluarkan fatwa haram demonstrasi, haram derhaka kepada pemerintah, dan haram tukar kerajaan.

Kajian yang dijalankan telah membuktikan negara bukan Islam lebih Islamik berbanding negara Islam sendiri. Dalam journal How Islamic are Islamic Countries, negara seperti New Zealand, Norway, Ireland, dan Iceland lebih Islamik dari negara Islam. Negara jaguh agama seperti Arab Saudi menduduki tangga ke 131

Satu persoalan, kenapa negara Sekular lebih Islamik berbanding negara yang berpaksikan wahyu Tuhan?

“Jika orang kata Dajjal itu bahaya, Ulama sebenarnya lebih bahaya dari Dajjal”, kata Imam surau kampung aku semasa Ramadan tahun lepas.

p/s: wait for the next post about pembodohan Agama di Malaysia. Just leave your opinion, so i could conclude

Tabligh Akbar Bahas Kesesatan Syiah ???

Minggu, 25 Maret 2012 15:22 Redaksi
E-mailCetakPDF

Lebih dari 500 orang umat Islam berkumpul di Masjid Al-Istiqamah, Bandung dalam tabligh akbar bertema “Sesatkah Aqidah Syiah?” (25/03/2012).Acara yang digelar oleh KODAS (Komite Dakwah Salafi), Mahasiswa Pencinta Islam, dan DDII Jawa Barat ini menghadirkan pembicara Ust Prof Dr H Muhammad Baharun, SH MA (Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat) dan Ust Anang Al Hammat, Lc. M.Pd.I (Dosen STID Moh Natsir).

Menurut ketua penyelenggara, Dani Muhammad Ramdhani, acara digelar dalam rangka meluruskan pemahaman umat Islam, khususnya yang di Bandung, tentang ajaran Syiah.

“Jangan sampai umat keliru dengan ajaran Syiah ini,” kata Dani kepada hidayatullah.com.

Sebagaimana diketahui, kata Dani, Bandung ini merupakan salah satu basis penyebaran Syiah. Jalaluddin Rakhmat, tokoh syiah, tinggal dan menyebarkan ajaran Syiah di kota kembang ini.

“Selama ini tidak banyak yang menyentuh masalah Syiah,” ujar Dani.

Dani juga mengatakan, pihak Syiah mencoba untuk menghalangi acara ini. Tadi malam (24/03/2012), panitia tabligh akbar dipanggil oleh pihak kepolisian dari Polsek Bandung Wetan. Kepolisian meminta agar acara ini dibatalkan.

Setelah ditelisik oleh panitia, ada keluhan dari pijak IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan ABI (Ahlul Bait Indonesia), keduanya merupakan ormas bentukan kalangan Syiah.

“Sepertinya mereka gelisah dengan acara yang kami selenggarakan,” pungkas Dani.

=======

Jawaban kami :

Itu artinya, tidak ada satupun manusia dan jin dimuka bumi ini yang tidak mengetahui sebuah kebenaran… Yang ada hanyalah, penolakan dan mengabaikan kebenaran setelah berita itu sampai kepada mereka.. Versi kesesatan memang begitu beragam dari zaman ke zaman,. Kristen tdk mengakui Muhammad sebagai mesiah (nabi terakhir)… Sedang Kaum muslim umumnya, tidak mengakui keturunan Muhammad sebagai wasy dan penerus risalah yang benar dari beliau…

sedang janji Allah, bahwa sesungguhnya manusia tidak mungkin dibiarkan begitu saja tanpa imam ( pemimpin) diantara mereka sampai akhir zaman, namun kebanyakan manusia sekarang memilih pemimpin dengan pilihan mereka sendiri dan dari kalangan mereka sendiri, sedang mereka itu tidak bisa memberikan safaat sedikitpun kepada yang lain.

Tulisan dan artikel2 yang dimuat dalam website ini adalah mutiara2 indah yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam baik itu Suni maupun Syiah.

Mengingat sulitnya untuk memperoleh Teks2 Syiah asli dari toko2 buku dan kitab ( berkaitan masih begitu kuatnya tekanan terhadap Syiah sampai detik ini ) maka website ini sama ibaratnya sebuah mata air dipadang gersang.

Disamping itu besarnya propaganda anti Syiah yang dilancarkan berbagai kalangan baik melalui buku2 maupun situs2 internet membuat bingung dan bisa menggelincirkan orang2 yang pengetahuannya masih awam tentang Syiah. Dari website ini diperoleh bantahan2 berdasarkan kajian ilmiah yang bisa membendung aksi propaganda mereka.

Demikian, mudah2an Allah senantiasa memberikan kekuatan dan Ridlonya kepada para pengikut setia Rasulullah Muhammad, Ahli Baitnya, dan keturunannya……..

Yang Menuduh syi’ah Sesat adalah pendukung MahaDajjal = MahaIblis

Mengurus mazhab sendiri saja nggak becus udah mau ngurus Syi’ah..
Hukum thaghut merajalela, artis dipuja, korupsi marak, nginjak rakyat, moral hancur hancuran, seks bebas  (ngurus tuch semua !!)
Buka mata lu jangan ngurus mazhab orang…

An Armed Iranian women in front of mosque during Iraq invasion in 1980. Iraq was backed by most of Arab and West country but still can’t invade entirely Iran. Saddam was give up after 8 years in effort to invade Iran. This is because Iranian was fight for their faith different with Saddam’s army who fight for the dictatorship .

MahaFiraun + MahaDajjal = MahaIblis
.

Potret Kampus Islam di Indonesia

Di Indonesia, tidak jarang kita menemukan mahasiswi yang mengaku dirinya Muslim namun berpakaian tidak sesuai dengan syariat. Berpakaian ketat dan transparan hingga  nampak aurat dan lekuk tubuhnya. Cara mereka berpakaian tidak beda dengan pakaian non Muslim. Ada pula mahasiswa pria berambut gondrong, memakai gelang/kalung, celana jean compang-camping dan awut-awutan, (maaf) mungkin sulit bagi masyarakat umum membedakan mana antara mahasiswa dan penampilan preman.

Bukan rahasia,  pergaulan bebas mewarnai kehidupan di kampus, termasuk kampus di Perguruan Tinggi Islam. Di kantin, taman, tempat parkir,  menjadi tempat pacaran dan khalwat. Tak sedikit berlanjut kasus  mesum (zina). Tentu saja, ini akibat percampuran (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan. Hubungan akrab antara laki-laki dan perempuan dianggap suatu hal yang wajar. Bahkan mereka tidak merasa malu dan canggung berboncengan mesra dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim dengan sepeda motor, baik di dalam maupun di luar kampus.

Mahasiswa dengan bebasnya merokok di kantin, ruang kelas, bahkan di depan kelas dosen bisa mengajar sambil menghisap asap beracun ini. Di sisi lain, mahasiswa dan para dosen tak beranjak ke masjid ketika azan sudah dikumandangkan

.

Inilah potret kehidupan kampus Islam kita yang memprihatinkan. Rasanya,  mustahil mengharapkan mahasiswa dari perguruan tinggi Islam melahirkan sosok intelektual yang cerdas dan berakhlak mulia

.

Yang terjadi justru sebaliknya. Kita sering mendengar, mahasiswa atau dosen fakultas syariah justru mencela syariah Islam (hukum-hukum Allah).  Alangkah ironis, mahasiswa syariah justru melahirkan pencela  ilmu-ilmu syar’i.

.

 Israel serang Iran, Arab jadi patung, Palestin jadi mayat

News told that Israel was likely to attack Iran between April dan June. Orang paling gembira dengar berita ini adalah Arab Saudi. Mereka tidak hidup senang jika Iran yang dilabel kafir, lebih kafir dari Yahudi tidak dihapuskan. Tetapi orang yang paling kafir ini paling ambil kisah tentang isu Palestin.Arab Saudi sudah memujuk US supaya menyerang Iran- dakwaan wikileaks. Arab Saudi tidak boleh berdiam diri jika Iran mempunyai senjata Nuklear. Maklumlah Arab takut orang Syiah takluk bumi Mekah sedangkan populasi Syiah hanya 20%. Mana mungkin!Iran, Syria, dan Parti Hizbullah dan Hamas merupakan pakatan anti-Israel dan sekutunya
.
Pakatan ini tidak dayus, mereka akan buat apa yang mereka cakap. Syria pernah srerang Israel during Six Days War, manakala Hizbullah pernah serang Israel tahun 2006. Iran menjadi ketua pembekal senjata dan semangat moral kepada mereka. Pakatan ini menjadi igauan ngeri kepada Israel.Israel pernah menyerang reaktor nukluer Iraq dan Syria, Hizbullah dan Hamas juga masih under control. Hanya Iran dan Ahmadinejad iaitu Hitler moden belum dihapuskan
.
Iran bukan bangsa dayus, sejarah batu dan moden menjadi bukti mereka bukan anak ikan. Rejim Saddam yang dibantu US dan negara Arab pun gagal during Iran-Iraq war 1980-1988. Israel sedar mereka bakal bermian dengan api ditambah pula pakatan Hamas-Hizbullah-Syria.Jika Israel ingin menghapus Iran, mereka perlu melakukannya dengan pantas, itu dalam sekali serangan. Jika Iran tidak dilupuhkan dalam satu masa, Israel akan parah. Iran akan menyerang Israel sepenuh kekuatan. Hamas dari arah barat dan Hizbullah dari arah utara akan memberi tekanan kepada Israel. Pemuda Mesir akan membakar paip gas ke Israel.Iraq pula tidak beri muka kepada Amerika untuk menyerang Iran dari negara mereka. Tetapi Amerika akan berpangkal di Arab Saudi
.
Sekatan Ekonomi terhadap Iran sudah mencapai tahap maksimum dan bakal melupuhkan Iran. Syria merupakan rakan dagang rapat Iran dan membenarkan Iran membina pangkalan tentera di pesisir pantai (Hishamuddin Rais yang cakap). Syria semakin huru-hara, ditambah dengan media yang berat sebelah untuk menipu dunia. Seperti cerita adik Nayirah(15) yang diupah oleh US untuk menipu dunia bahawa rejim Saddam bakar bayi hidup-hidup. Walau apa keadaan, Syria harus dilemahkan untuk menyerang Iran dengan mudah
.

Di Malaysia, pula dibawa cerita persoalan mazhab, di mana rejim al-Assad di Syria benci rakyatnya yang berfahaman Sunni. Sudah 30 tahun rejim ini memerintah, populasi Sunni di Syria meningkat ke 74% manakala Syiah hanya 12%. Kenapa tiba-tiba keluar alasan Syiah tindas Sunni? Kenapa tidak pula kita kisah minoriti Syiah Jordan yang dibunuh oleh tentera Sunni dari Arab Saudi semasa Jordan Spring tahun lepas? Yang jahat tetap jahat dan keadilan harus dituntut tanpa mengira fahaman.


Syria sudah hampir lumpuh, mangsa mati meningkat. Israel pula bersiap sedia sedia serang Iran. Arab Saudi beli popcorn untuk menonton real action. Palestine menunggu ajal sama ada dijemput Tuhan atau tentera Zionis. Negara Islam lain mula berbicara soal mazhab dan Ulama sibuk keluar fatwa halal atau haram perangi Syiah. Para Kapitalis bergembira kerana bisnes senjata sangat menguntungkan. Aku pula hanya mampu menangis di hadapan komputer.

1. Jika rakyat di Gaza disekat segala bentuk bantuan oleh Zionis, Di Libya pun ada. Ghadafi memutuskan bekalan api, air, dan internet di wilayah Beghazi (kubu pemberontak).

Ghadaffi membaling buku piagam PBB kerana tidak berpuas hati dengan dasar PBB. Tetapi di negara sendiri, Mahafiraun ini bunuh rakyatnya sendiri.

2. Protester di Palestin akan ditembak tanpa sebarang tolak ansur oleh Zionis. Di Bahrain juga tidak kurang hebatnya.

Mahafiraun turut menyerang hospital yang merawat protester

Protester ditembak dari jarak dekat oleh mahafiraun

Mangsa digilis hidup-hidup oleh kenderaan mahafiraun
3. Kita tunggu dan lihat bagaimana pula firaun-firaun di Syria, Morocco, dan Saudi Arabia beraksi selepas ini.
Pemimpin Arab lebih teruk daripada pemimpin Zionis kerana at least Zionis tidaklah kejam sebegitu kpd rakyatnya sendiri. So, tidak hairanlah kenapa Pemimpin Arab tidak simpati terhadap rakyat Palestin
.
Akar tunjang agama adalah akidah yang bererti penghambaan. Apabila agama itu dieksploitasi, manusia akan mudah terperdaya akibat taklid buta. Firaun menggunakan pendeta untuk meyakinkan rakyat akan sifat ketuhanannya. Ini membuktikan sejak dahulu kala lagi agamawan berperanan dalam pemerintahan negara.Tetapi amatlah malang, Islam sebagai agama mukjizat gagal memainkan peranan ini dalam membina tamadun yang berjaya. Universiti al-Azhar yang melahirkan berpuluh ribu alim ulama gagal memandu rakyat menjatuhkan diktator di Mesir. Akhirnya inspirasi RevolusiArab Spring bermula dari si penjual sayur di Tunisia.Sebab itu Arab Spring bukan Revolusi Islam seperti yang berlaku di Iran pada tahun 1979.Revolusi Iran dipandu oleh agamawan, Imam Khomeini yang menanam benih idealisme dalam rakyat Iran. Penulisan idealisme Imam Khomeini disebar sehingga ke Malaysia (diterbit oleh ABIM). Di sini, kita dapat lihat akan kepentingan idealisme dalam diri kita, iaitu harapan untuk bangun dan bergerak ke hadapan.“Gott ist tot” (tuhan telah mati), merupakan laungan berbentuk literal(tersirat) Nitzschesebagai simbol kemenangan mutlak ideologi sekularisme. Semasa zaman kegelapan Eropah, pihak gereja telah memanipulasikan agama untuk kepentingan tertentu. Namun, aku lebih suka pandangan Karl Marx kerana beliau bercakap atas konteks ekonomi dan kemaslahatan rakyat.

Karl Marx berpendapat agama seperti candu kepada rakyat yang memberi kebahagian dalam bentuk khayalan. Karl Marx mengajak masyarakat Eropah berfikir secara realistik. Candu memberi kebaikan untuk tujuan perubatan, tetapi ia memudaratkan apabila diguna luar kawalan.

Pandangan Karl Marx harus dinilai secara kritikal kerana kita perlu akui bahawa terdapat pembodohan berlaku atas nama agama. Ramai alim ulama yang menyeleweng agama untuk menjadi pengampu kepada pemerintah.Qur’an dan Hadis diseleweng mengikut selera pemerintah seperti yang berlaku pada zaman Firaun:

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka (kaumnya) itu daripada kalangan orang-orang yang fasiq” [az-Zukhruf : 54]

Pembodohan agama juga berlaku dalam perperangan. Kita dapat lihat beberapa aktor pengganas yang melaungkan Allahu Akhbar sedangkan mereka membunuh orang yang tidak berdosa. Benih-benih kebencian dan fasis disebarkan atas nama jihad oleh Taliban dan al-Qaeda. Puak ini yang memecah belahkan umat Islam di Somalia, Mesir (pembunuhan Anwar Sadat), Morocco, Pakistan, dan Afghanistan.Tragedi pembodohan atas nama agama juga ada dalam konsep politik dan kenegaraan. Terdapat negara yang mengaku dan berbangga dengan mendakwa negara mereka adalahIslamic State. Hanya melaksanakan hukum Hudud, maka negara mereka menjadi Islamic State sedangkan soal penyelewengan kuasa dan ekonomi diketepikan.

Ulama di Middle East menyokong autokrasi dengan alasan Demokrasi buatan orang Kafir. Sedangkan al-Quran tidak pernah menyebut sistem beraja mahupun Autokrasi. Ulama ini mengeluarkan fatwa haram demonstrasi, haram derhaka kepada pemerintah, dan haram tukar kerajaan.

Kajian yang dijalankan telah membuktikan negara bukan Islam lebih Islamik berbanding negara Islam sendiri. Dalam journal How Islamic are Islamic Countries, negara seperti New Zealand, Norway, Ireland, dan Iceland lebih Islamik dari negara Islam. Negara jaguh agama seperti Arab Saudi menduduki tangga ke 131

Satu persoalan, kenapa negara Sekular lebih Islamik berbanding negara yang berpaksikan wahyu Tuhan?

“Jika orang kata Dajjal itu bahaya, Ulama sebenarnya lebih bahaya dari Dajjal”, kata Imam surau kampung aku semasa Ramadan tahun lepas.

p/s: wait for the next post about pembodohan Agama di Malaysia. Just leave your opinion, so i could conclude

Bandung merupakan salah satu basis penyebaran Syiah. Jalaluddin Rakhmat tinggal dan menyebarkan ajaran Syiah di kota kembang ini.

Itu artinya, tidak ada satupun manusia dan jin dimuka bumi ini yang tidak mengetahui sebuah kebenaran… Yang ada hanyalah, penolakan dan mengabaikan kebenaran setelah berita itu sampai kepada mereka.. Versi kesesatan memang begitu beragam dari zaman ke zaman,. Kristen tdk mengakui Muhammad sebagai mesiah (nabi terakhir)… Sedang Kaum muslim umumnya, tidak mengakui keturunan Muhammad sebagai wasy dan penerus risalah yang benar dari beliau…

sedang janji Allah, bahwa sesungguhnya manusia tidak mungkin dibiarkan begitu saja tanpa imam ( pemimpin) diantara mereka sampai akhir zaman, namun kebanyakan manusia sekarang memilih pemimpin dengan pilihan mereka sendiri dan dari kalangan mereka sendiri, sedang mereka itu tidak bisa memberikan safaat sedikitpun kepada yang lain.

Tulisan dan artikel2 yang dimuat dalam website ini adalah mutiara2 indah yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam baik itu Suni maupun Syiah.

Mengingat sulitnya untuk memperoleh Teks2 Syiah asli dari toko2 buku dan kitab ( berkaitan masih begitu kuatnya tekanan terhadap Syiah sampai detik ini ) maka website ini sama ibaratnya sebuah mata air dipadang gersang.

Disamping itu besarnya propaganda anti Syiah yang dilancarkan berbagai kalangan baik melalui buku2 maupun situs2 internet membuat bingung dan bisa menggelincirkan orang2 yang pengetahuannya masih awam tentang Syiah. Dari website ini diperoleh bantahan2 berdasarkan kajian ilmiah yang bisa membendung aksi propaganda mereka.

Demikian, mudah2an Allah senantiasa memberikan kekuatan dan Ridlonya kepada para pengikut setia Rasulullah Muhammad, Ahli Baitnya, dan keturunannya……..

Lebih dari 500 orang umat Islam berkumpul di Masjid Al-Istiqamah, Bandung dalam tabligh akbar bertema “Sesatkah Aqidah Syiah?” (25/03/2012).

Acara yang digelar oleh KODAS (Komite Dakwah Salafi), Mahasiswa Pencinta Islam, dan DDII Jawa Barat ini menghadirkan pembicara Ust Prof Dr H Muhammad Baharun, SH MA (Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat) dan Ust Anang Al Hammat, Lc. M.Pd.I (Dosen STID Moh Natsir).

Menurut ketua penyelenggara, Dani Muhammad Ramdhani, acara digelar dalam rangka meluruskan pemahaman umat Islam, khususnya yang di Bandung, tentang ajaran Syiah.

“Jangan sampai umat keliru dengan ajaran Syiah ini,” kata Dani kepada hidayatullah.com.

Sebagaimana diketahui, kata Dani, Bandung ini merupakan salah satu basis penyebaran Syiah. Jalaluddin Rakhmat, tokoh syiah, tinggal dan menyebarkan ajaran Syiah di kota kembang ini.

“Selama ini tidak banyak yang menyentuh masalah Syiah,” ujar Dani.

Dani juga mengatakan, pihak Syiah mencoba untuk menghalangi acara ini. Tadi malam (24/03/2012), panitia tabligh akbar dipanggil oleh pihak kepolisian dari Polsek Bandung Wetan. Kepolisian meminta agar acara ini dibatalkan.

Setelah ditelisik oleh panitia, ada keluhan dari pijak IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan ABI (Ahlul Bait Indonesia), keduanya merupakan ormas bentukan kalangan Syiah.

“Sepertinya mereka gelisah dengan acara yang kami selenggarakan,” pungkas Dani.

=========

jawaban kami :

Itu artinya, tidak ada satupun manusia dan jin dimuka bumi ini yang tidak mengetahui sebuah kebenaran… Yang ada hanyalah, penolakan dan mengabaikan kebenaran setelah berita itu sampai kepada mereka.. Versi kesesatan memang begitu beragam dari zaman ke zaman,. Kristen tdk mengakui Muhammad sebagai mesiah (nabi terakhir)… Sedang Kaum muslim umumnya, tidak mengakui keturunan Muhammad sebagai wasy dan penerus risalah yang benar dari beliau…

sedang janji Allah, bahwa sesungguhnya manusia tidak mungkin dibiarkan begitu saja tanpa imam ( pemimpin) diantara mereka sampai akhir zaman, namun kebanyakan manusia sekarang memilih pemimpin dengan pilihan mereka sendiri dan dari kalangan mereka sendiri, sedang mereka itu tidak bisa memberikan safaat sedikitpun kepada yang lain.

Tulisan dan artikel2 yang dimuat dalam website ini adalah mutiara2 indah yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam baik itu Suni maupun Syiah.

Mengingat sulitnya untuk memperoleh Teks2 Syiah asli dari toko2 buku dan kitab ( berkaitan masih begitu kuatnya tekanan terhadap Syiah sampai detik ini ) maka website ini sama ibaratnya sebuah mata air dipadang gersang.

Disamping itu besarnya propaganda anti Syiah yang dilancarkan berbagai kalangan baik melalui buku2 maupun situs2 internet membuat bingung dan bisa menggelincirkan orang2 yang pengetahuannya masih awam tentang Syiah. Dari website ini diperoleh bantahan2 berdasarkan kajian ilmiah yang bisa membendung aksi propaganda mereka.

Demikian, mudah2an Allah senantiasa memberikan kekuatan dan Ridlonya kepada para pengikut setia Rasulullah Muhammad, Ahli Baitnya, dan keturunannya……..

Yang Menuduh syi’ah Sesat adalah pendukung MahaDajjal = MahaIblis

Mengurus mazhab sendiri saja nggak becus udah mau ngurus Syi’ah..
Hukum thaghut merajalela, artis dipuja, korupsi marak, nginjak rakyat, moral hancur hancuran, seks bebas  (ngurus tuch semua !!)
Buka mata lu jangan ngurus mazhab orang…

An Armed Iranian women in front of mosque during Iraq invasion in 1980. Iraq was backed by most of Arab and West country but still can’t invade entirely Iran. Saddam was give up after 8 years in effort to invade Iran. This is because Iranian was fight for their faith different with Saddam’s army who fight for the dictatorship .

MahaFiraun + MahaDajjal = MahaIblis
.

Potret Kampus Islam di Indonesia

Di Indonesia, tidak jarang kita menemukan mahasiswi yang mengaku dirinya Muslim namun berpakaian tidak sesuai dengan syariat. Berpakaian ketat dan transparan hingga  nampak aurat dan lekuk tubuhnya. Cara mereka berpakaian tidak beda dengan pakaian non Muslim. Ada pula mahasiswa pria berambut gondrong, memakai gelang/kalung, celana jean compang-camping dan awut-awutan, (maaf) mungkin sulit bagi masyarakat umum membedakan mana antara mahasiswa dan penampilan preman.

Bukan rahasia,  pergaulan bebas mewarnai kehidupan di kampus, termasuk kampus di Perguruan Tinggi Islam. Di kantin, taman, tempat parkir,  menjadi tempat pacaran dan khalwat. Tak sedikit berlanjut kasus  mesum (zina). Tentu saja, ini akibat percampuran (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan. Hubungan akrab antara laki-laki dan perempuan dianggap suatu hal yang wajar. Bahkan mereka tidak merasa malu dan canggung berboncengan mesra dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim dengan sepeda motor, baik di dalam maupun di luar kampus.

Mahasiswa dengan bebasnya merokok di kantin, ruang kelas, bahkan di depan kelas dosen bisa mengajar sambil menghisap asap beracun ini. Di sisi lain, mahasiswa dan para dosen tak beranjak ke masjid ketika azan sudah dikumandangkan

.

Inilah potret kehidupan kampus Islam kita yang memprihatinkan. Rasanya,  mustahil mengharapkan mahasiswa dari perguruan tinggi Islam melahirkan sosok intelektual yang cerdas dan berakhlak mulia

.

Yang terjadi justru sebaliknya. Kita sering mendengar, mahasiswa atau dosen fakultas syariah justru mencela syariah Islam (hukum-hukum Allah).  Alangkah ironis, mahasiswa syariah justru melahirkan pencela  ilmu-ilmu syar’i.

.

 Israel serang Iran, Arab jadi patung, Palestin jadi mayat

News told that Israel was likely to attack Iran between April dan June. Orang paling gembira dengar berita ini adalah Arab Saudi. Mereka tidak hidup senang jika Iran yang dilabel kafir, lebih kafir dari Yahudi tidak dihapuskan. Tetapi orang yang paling kafir ini paling ambil kisah tentang isu Palestin.Arab Saudi sudah memujuk US supaya menyerang Iran- dakwaan wikileaks. Arab Saudi tidak boleh berdiam diri jika Iran mempunyai senjata Nuklear. Maklumlah Arab takut orang Syiah takluk bumi Mekah sedangkan populasi Syiah hanya 20%. Mana mungkin!Iran, Syria, dan Parti Hizbullah dan Hamas merupakan pakatan anti-Israel dan sekutunya
.
Pakatan ini tidak dayus, mereka akan buat apa yang mereka cakap. Syria pernah srerang Israel during Six Days War, manakala Hizbullah pernah serang Israel tahun 2006. Iran menjadi ketua pembekal senjata dan semangat moral kepada mereka. Pakatan ini menjadi igauan ngeri kepada Israel.Israel pernah menyerang reaktor nukluer Iraq dan Syria, Hizbullah dan Hamas juga masih under control. Hanya Iran dan Ahmadinejad iaitu Hitler moden belum dihapuskan
.
Iran bukan bangsa dayus, sejarah batu dan moden menjadi bukti mereka bukan anak ikan. Rejim Saddam yang dibantu US dan negara Arab pun gagal during Iran-Iraq war 1980-1988. Israel sedar mereka bakal bermian dengan api ditambah pula pakatan Hamas-Hizbullah-Syria.Jika Israel ingin menghapus Iran, mereka perlu melakukannya dengan pantas, itu dalam sekali serangan. Jika Iran tidak dilupuhkan dalam satu masa, Israel akan parah. Iran akan menyerang Israel sepenuh kekuatan. Hamas dari arah barat dan Hizbullah dari arah utara akan memberi tekanan kepada Israel. Pemuda Mesir akan membakar paip gas ke Israel.Iraq pula tidak beri muka kepada Amerika untuk menyerang Iran dari negara mereka. Tetapi Amerika akan berpangkal di Arab Saudi
.
Sekatan Ekonomi terhadap Iran sudah mencapai tahap maksimum dan bakal melupuhkan Iran. Syria merupakan rakan dagang rapat Iran dan membenarkan Iran membina pangkalan tentera di pesisir pantai (Hishamuddin Rais yang cakap). Syria semakin huru-hara, ditambah dengan media yang berat sebelah untuk menipu dunia. Seperti cerita adik Nayirah(15) yang diupah oleh US untuk menipu dunia bahawa rejim Saddam bakar bayi hidup-hidup. Walau apa keadaan, Syria harus dilemahkan untuk menyerang Iran dengan mudah
.

Di Malaysia, pula dibawa cerita persoalan mazhab, di mana rejim al-Assad di Syria benci rakyatnya yang berfahaman Sunni. Sudah 30 tahun rejim ini memerintah, populasi Sunni di Syria meningkat ke 74% manakala Syiah hanya 12%. Kenapa tiba-tiba keluar alasan Syiah tindas Sunni? Kenapa tidak pula kita kisah minoriti Syiah Jordan yang dibunuh oleh tentera Sunni dari Arab Saudi semasa Jordan Spring tahun lepas? Yang jahat tetap jahat dan keadilan harus dituntut tanpa mengira fahaman.


Syria sudah hampir lumpuh, mangsa mati meningkat. Israel pula bersiap sedia sedia serang Iran. Arab Saudi beli popcorn untuk menonton real action. Palestine menunggu ajal sama ada dijemput Tuhan atau tentera Zionis. Negara Islam lain mula berbicara soal mazhab dan Ulama sibuk keluar fatwa halal atau haram perangi Syiah. Para Kapitalis bergembira kerana bisnes senjata sangat menguntungkan. Aku pula hanya mampu menangis di hadapan komputer.

1. Jika rakyat di Gaza disekat segala bentuk bantuan oleh Zionis, Di Libya pun ada. Ghadafi memutuskan bekalan api, air, dan internet di wilayah Beghazi (kubu pemberontak).

Ghadaffi membaling buku piagam PBB kerana tidak berpuas hati dengan dasar PBB. Tetapi di negara sendiri, Mahafiraun ini bunuh rakyatnya sendiri.

2. Protester di Palestin akan ditembak tanpa sebarang tolak ansur oleh Zionis. Di Bahrain juga tidak kurang hebatnya.

Mahafiraun turut menyerang hospital yang merawat protester

Protester ditembak dari jarak dekat oleh mahafiraun

Mangsa digilis hidup-hidup oleh kenderaan mahafiraun
3. Kita tunggu dan lihat bagaimana pula firaun-firaun di Syria, Morocco, dan Saudi Arabia beraksi selepas ini.
Pemimpin Arab lebih teruk daripada pemimpin Zionis kerana at least Zionis tidaklah kejam sebegitu kpd rakyatnya sendiri. So, tidak hairanlah kenapa Pemimpin Arab tidak simpati terhadap rakyat Palestin
.
Akar tunjang agama adalah akidah yang bererti penghambaan. Apabila agama itu dieksploitasi, manusia akan mudah terperdaya akibat taklid buta. Firaun menggunakan pendeta untuk meyakinkan rakyat akan sifat ketuhanannya. Ini membuktikan sejak dahulu kala lagi agamawan berperanan dalam pemerintahan negara.Tetapi amatlah malang, Islam sebagai agama mukjizat gagal memainkan peranan ini dalam membina tamadun yang berjaya. Universiti al-Azhar yang melahirkan berpuluh ribu alim ulama gagal memandu rakyat menjatuhkan diktator di Mesir. Akhirnya inspirasi RevolusiArab Spring bermula dari si penjual sayur di Tunisia.Sebab itu Arab Spring bukan Revolusi Islam seperti yang berlaku di Iran pada tahun 1979.Revolusi Iran dipandu oleh agamawan, Imam Khomeini yang menanam benih idealisme dalam rakyat Iran. Penulisan idealisme Imam Khomeini disebar sehingga ke Malaysia (diterbit oleh ABIM). Di sini, kita dapat lihat akan kepentingan idealisme dalam diri kita, iaitu harapan untuk bangun dan bergerak ke hadapan.“Gott ist tot” (tuhan telah mati), merupakan laungan berbentuk literal(tersirat) Nitzschesebagai simbol kemenangan mutlak ideologi sekularisme. Semasa zaman kegelapan Eropah, pihak gereja telah memanipulasikan agama untuk kepentingan tertentu. Namun, aku lebih suka pandangan Karl Marx kerana beliau bercakap atas konteks ekonomi dan kemaslahatan rakyat.

Karl Marx berpendapat agama seperti candu kepada rakyat yang memberi kebahagian dalam bentuk khayalan. Karl Marx mengajak masyarakat Eropah berfikir secara realistik. Candu memberi kebaikan untuk tujuan perubatan, tetapi ia memudaratkan apabila diguna luar kawalan.

Pandangan Karl Marx harus dinilai secara kritikal kerana kita perlu akui bahawa terdapat pembodohan berlaku atas nama agama. Ramai alim ulama yang menyeleweng agama untuk menjadi pengampu kepada pemerintah.Qur’an dan Hadis diseleweng mengikut selera pemerintah seperti yang berlaku pada zaman Firaun:

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka (kaumnya) itu daripada kalangan orang-orang yang fasiq” [az-Zukhruf : 54]

Pembodohan agama juga berlaku dalam perperangan. Kita dapat lihat beberapa aktor pengganas yang melaungkan Allahu Akhbar sedangkan mereka membunuh orang yang tidak berdosa. Benih-benih kebencian dan fasis disebarkan atas nama jihad oleh Taliban dan al-Qaeda. Puak ini yang memecah belahkan umat Islam di Somalia, Mesir (pembunuhan Anwar Sadat), Morocco, Pakistan, dan Afghanistan.Tragedi pembodohan atas nama agama juga ada dalam konsep politik dan kenegaraan. Terdapat negara yang mengaku dan berbangga dengan mendakwa negara mereka adalahIslamic State. Hanya melaksanakan hukum Hudud, maka negara mereka menjadi Islamic State sedangkan soal penyelewengan kuasa dan ekonomi diketepikan.

Ulama di Middle East menyokong autokrasi dengan alasan Demokrasi buatan orang Kafir. Sedangkan al-Quran tidak pernah menyebut sistem beraja mahupun Autokrasi. Ulama ini mengeluarkan fatwa haram demonstrasi, haram derhaka kepada pemerintah, dan haram tukar kerajaan.

Kajian yang dijalankan telah membuktikan negara bukan Islam lebih Islamik berbanding negara Islam sendiri. Dalam journal How Islamic are Islamic Countries, negara seperti New Zealand, Norway, Ireland, dan Iceland lebih Islamik dari negara Islam. Negara jaguh agama seperti Arab Saudi menduduki tangga ke 131

Satu persoalan, kenapa negara Sekular lebih Islamik berbanding negara yang berpaksikan wahyu Tuhan?

“Jika orang kata Dajjal itu bahaya, Ulama sebenarnya lebih bahaya dari Dajjal”, kata Imam surau kampung aku semasa Ramadan tahun lepas.

p/s: wait for the next post about pembodohan Agama di Malaysia. Just leave your opinion, so i could conclude

dilarangnya buku “Tafsir Sufi Al-Fathihah Mukadimah” karya Jalaluddin Rakhmat di Malaysia

 

Kabar mengenai dilarangnya buku “Tafsir Sufi Al-Fathihah Mukadimah” karya Jalaluddin Rakhmat di Malaysia dibenarkan Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Melalui Humas dan Promosi PT Remaja Rosdakarya Bandung, Tony Kurnia mengatakan bahwa pihaknya menbenarkan berita tersebut.

 

Namun dirinya belum tahu persis sebab apa buku tersebut dilarang di negeri jiran tersebut. Tony hanya menduga, barangkali kondisi keberagamaan di Malaysia berbeda dengan di Indonesia.Dirinya juga mengaku bahwa pihak Rosda sendiri tidak memasarkan dan tidak mempunyai distributor atau perwakilan di Malaysia.

“Kita juga heran mengapa buku tersebut baru dilarang sekarang?. Padahal buku tersebut terbit tahun 1999,” akunya kepada hidayatullah.com.

Tony menambahkan ,pihak Rosda sendiri selaku penerbit sebenarnya telah mengembalikan hak cipta buku tersebut kepada penulis (Jalaluddin Rakhmat) beberapa tahun yang lalu. Degan alasan buku tersebut kurang laku dipasaran.

Hingga Jum’at sore (23/3/2012) Jalaluddin Rakhmat atau yang akrap dipanggil Kang Jalal yang coba di hubungi hidayatullah.com berulang kali melalui telepon selulernya untuk dimintai tanggapannya, tidak ada jawaban.

Selain buku Kang Jalal, pihak Malaysia juga melarang buku “Dialog Sunnah-Syiah” tulisan Syarafuddin al-Musawi yang dalam terjemahan Indonesia di terbitkan PT Mizan Pustaka Bandung.Pihak Mizan yang diwakili Yadi Saeful Hidayat pun membenarkan berita tersebut.

Senada dengan Tony, Yadi pun merasa heran buku tersebut baru mendapat pelarangan di Malaysia.Mizan juga tidak mengedarkan buku tersebut hingga Malaysia.Namun Yadi mengakui sejak diterbitkan pertama kali tahun 1983 buku tersebut sudah menuai pro dan kontra dikalangan pembaca.

“Soal pro dan kontra terhadap sebuah buku kami anggap wajar. Tetapi perlu saya tegaskan bahwa Mizan tidak mengkapanyekan sebuah paham (Syiah).Kami hanya sebagai penerbit saja,bahkan kalau dihitung lebih dari 95 persen buku-buku terbitan Mizan bermahzab Sunni koq,” jelas Yadi.

Mizan sendiri mengakui bahwa buku tersebut salah satu buku best seller. Hingga saat ini buku tersebut sudah terjual lebih dari 35 ribu eksemplar dengan beberapa kali cetak ulang.Yadi menambahkan bahwa pihaknya belum akan bereaksi dan mengambil tindakan apa-apa atas buku tersebut.

“Kami akan pelajari dulu dan menunggu perkembangan lebih lanjut,” pungkas Yadi.*

aliran wahabi gagal, syi’ah di Arab Saudi mencapai 15 hingga 20 persen dari total populasi

Kondisi di wilayah timur Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir semakin kritis. Berbagai kota di timur Arab Saudi khususnya Qatif dan Awamiyah menjadi ajang demonstrasi dan protes warga menentang kezaliman dan kesewenang-wenangan para penguasa. Para demonstran mengecam politik brutal rezim al-Saud seraya menuntut pembebasan para tahanan politik dan pemberantasan diskriminasi di negara itu.

Sejak awal tahun 2012, puluhan demonstran dan aktivis sipil dan politik Arab Saudi dijebloskan ke penjara. Sementara sejumlah sumber pemberitaan memperkirakan terdapat 30.000 tahanan politik di Arab Saudi. Selain protes warga terhadap politik tangan besi rezim al-Saud di jalan-jalan di wilayah timur negara ini, penentangan dan ketidakpuasan dari kalangan mahasiswa Saudi juga semakin nyata.

Rezim al-Saud yang khawatir aksi demo tersebut akan meluas ke seluruh kawasan, semakin meningkatkan represi terhadap para demonstran. Aparat semakin brutal menindak segala bentuk konsentrasi dan protes yang berlangsung secara damai. Dalam insiden terbaru, pasukan Arab Saudi menyerang “kawasan-kawasan rawan protes” di wilayah timur dan menembaki rumah-rumah warga di Qatif dan Awamiyah.

Arab Saudi adalah negara kaya minyak. Akan tetapi kekayaan dan pendapatan dari sektor tersebut tidak didistribusikan secara merata kepada rakyat negara ini. Kaum Syiah yang merupakan 15 hingga 20 persen dari total populasi di negara ini, tidak menikmati hak yang setara dibandingkan warga lainnya.

Cukup pelik masalah dan kendala  yang dihadapi warga Syiah Arab Saudi. Selain tidak memiliki kebebasan sipil dan dilarang beraktivitas di kancah politik, ternyata masih ada kendala yang mereka hadapi. Misalnya, meski pemerintah tidak menetapkan ketentuan resmi dalam hal ini, akan tetapi tidak ada penguasaha atau pegawai pemerintah yang berani memperkerjakan seorang Syiah. Warga Syiah Saudi tidak akan dapat bekerja di instansi pemeritahan. Yang lebih parah lagi, mayoritas warga Syiah Saudi bermukim di wilayah timur negara ini, yang merupakan wilayah paling kaya sumber minyak. Akan tetapi mereka hidup “pas-pasan”, jika tidak dapat dibilang miskin. Faktor-faktor itu yang akhirnya memicu protes dan demonstrasi warga.

Sebenarnya ketidakpuasan atas kinerja dan politik diskriminatif pemerintah Saudi, khususnya dalam distribusi kekayaan negara yang hanya dibagi-bagikan di antara para pangeran dan keluarga raja, bukan dari warga Syiah di timur negara ini, melainkan dipendam oleh semua warga Saudi. Sebab itu pula, kini rezim al-Saud meningkatkan represinya karena khawatir aksi protes akan menjalar dan berubah menjadi gerakan nasional.

Gugurnya seorang aktivis Arab Saudi beberapa hari lalu, semakin meningkatkan kemarahan warga. Perluasan protes di Arab Saudi itu berarti bahwa kini warga tidak lagi takut dengan ancaman serta brutalitas rezim al-Saud dan ini merupakan lonceng tanda bahaya bagi para penguasa Riyadh

.

 

Forum Internasional Ahlul Bait Kecam Fatwa Mufti Saudi

Selasa, 2012 Maret 27 08:19
Forum Internasional Ahlul Bait as merilis statemen mengecam fatwa mufti Arab Saudi, Abdul Aziz al-Syeikh, soal penghancuran gereja-gereja di negara-negara Arab dan menegaskan bahwa rezim Saudi dan para ulama gadungan Wahabi tidak mewakili Islam yang hakiki.

 

Mehr News (26/3) melaporkan, dalam statemen itu disebutkan ayat delapan surat Mumtahanah;

لَا یَنْهَاکُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِینَ لَمْ یُقَاتِلُوکُمْ فِی الدِّینِ وَلَمْ یُخْرِجُوکُم مِّن دِیَارِکُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَیْهِم إِنَّ اللَّهَ یُحِبُّ الْمُقسِطِین.

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

 

Dijelaskan pula bahwa lebih dari 200 tahun sebuah aliran rekayasa melancarkan berbagai syubhah dan khurafat serta mengatasnamaknnya sebagai syariat Islam dengan menggunakan senjata, kekuatan, paksaan, dan memanfaatkan ketidaktahuan dan fanatisme sejumlah Muslim.

 

Pengikut aliran tersebut memperkenalkan diri dengan nama Wahabi atau Takfiri yang mengeluarkan fatwa-fatwa anti-Islam dan menyebabkan tumpahnya darah orang-orang tak berdosa, kerusakan pada tempat-tempat suci, sentimen anti-agama, dan meluasnya ketidakamanan di banyak tempat di dunia.

 

Dalam statemen tersebut, Forum Internasional Ahlul Bait as, menilai fatwa Abdul Aziz al-Syeikh sebagai salah satu contoh dari aksi itu.

 

Dalam fatwanya, mufti Saudi itu mewajibkan penghancuran seluruh gereja di negara-negara Arab.

MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) sesat menyesatkan !!! Ngga ngerti syi’ah

MIUMI, Sabili, VOA islam.com dan Hidayatullah pendukung SETAN NEJED WAHABi, Agen Zionis dan Pemecah Belah Umat !! MIUMI, Sabili, VOA islam.com dan Hidayatullah sangat anti kepada ahlul bait Nabi SAWSekjen ABI Tuding MIUMI Agen Zionis

Jum’at, 31 Agustus 2012

Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia ( DPP ABI) mengecam segala pernyataan yang dikeluarkan Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) karena melanggar HAM !

MIUMI bisa diseret ke Mahkamah Internasional, Human Right Watch, Komnas HAM dan Komisi HAM PBB karena berupaya melanggar HAM yaitu bidang kebebasan beragama

Menurut ABI, beberapa pernyataan yang dilontarkan MIUMI,termasuk soal syiah di Sampang,Madura bisa memicu pertikaian dan memecah persatuan bangsa.

“MIUMI itu wahabi takfiri,pernyataan dan sikapnya menimbulkan kebencian. Harus diwaspadai,”ucap Sekretaris Jenderal DPP ABI, Ahmad Hidayat,saat menggelar konfrensi pers soal Syiah di Sampang,di gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (31/08/2012).

Selain itu, Ahmad Hidayat juga melontarkan tuduhan  pada lembaga yang baru berdiri kurang dari satu tahun ini

“Kalau ada kelompok seperti MIUMI,ini jelas antek-antek Yahudi, Zionis dan Komunis. Mereka ingin melihat bangsa ini tercabik-cabik,” tegasnya.

Dalam waktu dekat ini DPP ABI mengaku akan melayangkan surat terbuka kepada Presiden. Inti dari surat tersebut yakni, Syiah di Indonesia menginginkan agar pemerintah memberikan perlindungan dan berperilaku adil.

ABI juga menuduh fatwa MUI Jatim sebagai biang kerusuhan Sampang

Tuduhan yang dilontarkan Sekjen organisasi Syiah Ahlul Bait Indonesia, Ahmad Hidayat terhadap Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) sebagai kelompok wahabi takfiri, antek zionis dan komunis.

Kamis, 30 Aug 4012

Tokoh Syi’ah Hasan Daliel Sesalkan MIUMI yang Mengkafirkan Syi’ah

Tokoh Syi’ah yang juga pimpinan dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) Hasan Dalil Alaydrus menyesalkan sikap MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) yang telah mengkafirkan kaum Syiah. Padahal, banyak pernyataan dari tokoh nasional dan internasional yang mengatakan, Syiah adalah bagian dari kaum muslimin.

“Mengapa ada sekelompok kecil seperti MIUMI yang mengkafirkan Syi’ah. Agenda siapa yang mereka bawa,” ujar Hasan Dalil di kediamannya.

“Tiba-tiba kita dikejutkan oleh sekelompok anak bangsa menyerang saudaranya sendiri.,” tukas Hasan Dalil yang akrab disapa Habib.

Terkait kasus Sampang, Hasan Dalil mempertanyakan, siapa yang menyerang dan siapa yang diserang. “Yang diserang tak lain adalah saudaranya sendiri sesama muslimin, bahkan masih tetangga dan saudaranya sendiri. Kejadian ini karena ada setan lokal yang bekerjasama dengan setan internasional untuk mempengaruhi beberapa orang untuk bertindak anarkis,” katanya.

Habib Hasan Daliel menegaskan, apa yang terjadi di Sampang, bukanlah pertikaian antara Suni dan Syiah. Karena Suni dan Syiah sama-sama menyakini rukun Islam yang lima, dan rukun Iman yang enam. Bahkan kalimat syahadatnya sama, sholatnya sama-sama 5 waktu, kitab sucinya, yaitu Al-Quran, berpuasa dibulan suci Ramadhan, dan pergi haji ke Makkah. Juga ibadah yang lain seperti zakat, infak, sadaqoh, dan sebagainya.

“Kita akui, di setiap kelompok ada yang beraliran menyimpang, baik itu di Sunni maupun di Syiah. Tetapi hendaknya, jangan digeneralisir dan dipukul rata dengan memvonis Syiah sesat,” ungkapnya.

Dikatakan Hasan Daliel, meski ada perbedaan dalam hal interpretasi, namun persamaannya jauh lebih banyak dari pada perbedaanya. Jika Sunni punya tokoh di level Internasional, begitu juga dengan Syiah. Hasan Dalil mengklaim, bahwa tokoh  Sunni sekalipun mengatakan, bahwa Syiah merupakan bagian dari kaum muslimin. Begitu juga tokoh Syiah yang menganggap kaum Sunni sebagai saudaranya.

Lebih jauh Hasan Daliel menjelaskan, ada penyataan sikap dalam Konferensi Islam Internasional’ di Amman-Yordania pada tahun 2005, yakni: bahwa mazhab di dunia Islam ada delapan, meliputi: Ahlussunnah Wal Jamaah (terdiri dari Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali), lalu dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), dan dua mazhab lagi (Ibadi dan Zhahiri). Semua mazhab ini adalah muslim dan bagian dari umat Rasulullah Saw.

Selanjutnya, pengurus ABI ini  menyebut nama-nama tokoh Islam dari kalangan Sunni yang tidak mengkafirkan Syiah, dan tidak pernah ada masalah dengan Syiah. , Sebut saja seperti KH. Said Aqil Siraj (Ketua Umum PBNU), KH. Sholahuddin Wahid (tokoh NU), Prof. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhamadiyah), Habib Rizieq Shihab (Ketua Umum FPI), Jos Rizal (MER-C).

miumi Jika MUI Lamban, MIUMI Bisa Keluarkan Fatwa Sesat Syiah

Ya ahlulbait, kami dizalimi..

Setelah memasukkan ratusan ribu tentara kafir najis AS ketanah suci Mekkah pada masa Perang Teluk I menghancurkan muslimin Irak maka kini gerakan Neo wahabi mengulah lagi

Setelah membantu Saddam Hussein membantai warga Iran dalam perang Irak Iran yang membuat 1 juta orang tewas maka kini wahabi mengulah lagi

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

Dalam pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Selasa (27/3) Delegasi dari MIUMI, Ustadz Farid Ahmad Okbah di dihadapan sejumlah petinggi MUI, menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan Syiah di Indonesia

“Melihat awal perkembangan Syiah di Indonesia, pertama kali muncul dari Bangil, Madura, Jawa Timur.  Saya sendiri orang Bangil. Kita mengetahui, dalam menyebarkan paham Syiah di Indonesia, para penggeraknya berdalih menggalang persaudaran diantara umat Islam, namun didalamnya mengandung visi-misi Syiah. Jika dulu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kini mulai terang-terangan, contohnya seperti YAPI di Jawa Timur yang dikenal sebagai pusat dakwah dan kaderisasi Syiah,” ujar Ustadz Farid menjelaskan.

Tak dipungkiri, untuk menciptakan kader ulama Syiah, mereke mengutus kadernya untuk belajar ke Syiria, Irak dan Iran, termasuk ke Bangil, Jawa Timur. Ketahuilah, suara ukhuwah Islamiyah adalah kaum Syiah untuk menggalang dukungan dari umat Islam Ahli Sunnah. Sebagai contoh,  tulisan Haidar Bagir di harian Republika yang berjudul “Menuju Persatuan umat”. Tulisan Haidar Bagir pun mendapat tanggapan dari Fahmi Salim dan Prof Baharun di harian yang sama. Dengan licik, Haidar Bagir memasang iklan Yayasan Muslim Islam Bersatu sebagai bentuk propaganda terselubung.

Menurut Ustadz Farid, perkembangah Syiah di Indonesia telah dikukuhkan oleh oleh Gus Dur pada tahun 2000 dengan berdirinya IJABI (Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia). Kata Gus Dur, Syiah itu seperti wanita hamil, yang kini telah lahir sebagai ormas resmi kaum Syiah.

Kemudian tahun 2011, pemerintahan SBY juga mengakui keberadaan ABI (Ahlu Bait Indonesia), dimana Departemen Dalam negeri telah menerima ABI sebagai ormas baru kaum Syiah. Kini, sudah ada dua ormas Syiah: IJABI dan ABI. Meski keduanya, dikabarkan, telah berseberangan pendapat.

Yang mencemaskan Ustadz Farid adalah ternyata gerakan Syiah bukan hanya sebatas pemikiran atau lewat buku, tapi telah menggunakan media-media pemerintah. Di Bandung, pernah diadakan bedah Syiah, dimana Prof  Mohammad Baharun menjadi narasumbernya. Ketika itu, panitia yang menyelenggarakan bedah Syiah sempat mendapat tekanan dari polisi atas permintaan dari IJABI yang ingin cara tersebut dibubarkan. Yang jelas, hal sepert ini terjadi di banyak tempa

Hal yang harus diwaspadai, kata Ustadz Farid, kini mulai banyak anak muda Indonesia yang dicuci otaknya oleh pemahaman Syiah.  Bayangkan, sudah ratusan yayasan  Syiah ada di negeri ini, bahkan mereka membentuk lembaga advokasi, (LBH Universaliyah). Ini menunjukkan Syiah sudah menggurita. “Karena itu, kita harus melakukan langkah kongkrit. Mengingat gerakan Syiah di daerah semakin masif, yang dilakukan oleh gerakan Syiah yang militan dan terdidik.Ini menjadi tantangan dakwah kita semua.”

Oknum MUI berniat mengkudeta KH.Said Aqil Siraj dan Prof.Dr. Dien Syamsuddin dari kursi CAPRES 2014

Gerakan anti syi’ah di tubuh NU dan Muhammadiyah tidak lebih dari upaya merebut kursi ketua Umum NU dan merampas kursi ketua Umum Muhammadiyah…

MIUMi bergerak cepat sebelum 2014, di back up oknum MUI Pusat melakukan trik trik murahan ini..

Farid Ahmad Okbah juga menyesalkan, DMI yang jelas-jelas Sunni, telah kecolongan dan kesusupan gerakan Syiah. Melihat media internal DMI Tabloid Jumat dalam beberapa edisi, penyusup Syiah itu jelas-jelas menjadikan Tabloid Jumat sebagai corong Syiah.

“Corong Ahlus Sunnah Wal Jamaah pun dijadikan Corong Syiah atas nama ukhuwah. Bahkan ada oknum DMI yang bekerjasama IJABI dengan membentuk Muhsin, dimana Jalaluddin Rahmat sebagai perintisnya. Padahal, Ketua Umum DMI menyatakan penolakannya terhadap Syiah,” kata Ustadz Farid.

Gerakan Syiah juga menggalang kekuatan Ahlu Sunnah di Masjid Sunni al Azhar Kalimalang, dengan cara  membagikan buletin Jum’atan.

MIUMI mengetahui,  tanggal 20 Februari 2011 lalu, MUI Pusat kedatangan tamu dari Iran. “Saya diundang oleh pengurus MUI. Saat itu saya tunjukkan data, bahwa ulama sunni di Iran di penjara dan ditekan. Bahkan, ada penghancuran masjid Sunni di Mashad oleh Pemerintah Iran.

Farid sangat menyesalkan setiap ulama Sunni yang membela Sunni akan dituduh pemecah belah umat, wahabi dan agen zionis.Termasuk dirinya yang difitnah pemecah belah umat dan agen zionis. Seorang Sunni Yusuf Qaradahwi yang mendambakan ukhuwah Islamiyah, kini mulai kecewa dengan Syiah. “Bahkan MIUMI terkena getahnya. MIUMI dikatakan sesat menyesatkan oleh sebuah blog milik Syiah.”

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Jakarta –

Niatan kader kader kader NU dan Muhammadiyah untuk mengantarkan ketua Umumnya menuju kursi CAPRES RI 2014 terus dijegal sejumlah pihak.. Ada 2,5 juta kaum syi’ah indonesia yang terheran heran dengan aksi terselubung ini.. Wow, politik memang halus nan licin

KH.Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa lambatnya fatwa MUI pusat terkait masalah kesesatan ajaran Syi’ah, dipengaruhi banyak faktor internal, pihak-pihak yang berada di dalam MUI sendiri. Salah satunya perihal kedekatan ideologis orang-orang tertentu di MUI dengan ajaran syi’ah, padahal MUI sendiri adalah lembaga ulama sunni.

“Ada SUSI juga, SUSI itu adalah Sunni-Syi’i, kajian Syi’ah ini agak ruwet sedikit jadinya” kata Ketua MUI Pusat KH Ma’ruf Amin di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi 51, Menteng, Jakarta Pusat, selasa (27/3).

Oleh Karena itu, Kiyai Ma’ruf meminta maaf kepada umat Islam kalau fatwa tentang Syiah hingga sekarang belum juga keluar. “Minta maaf kalau MUI agak lambat. Di MUI ada kesulitan menghadapi kelompok SUSI”, tandasnya.

Ia menegaskan kembali bahwa, MUI adalah lembaga Ahlus Sunnah wal jama’ah bukan syi’ah.

“MUI itu sunni, jadi jangan khawatir” tegasnya menepis keragu-raguan akibat lambatnya fatwa tentang syi’ah.

Sementara terkait fungsi MUI sebagai wadah pemersatu umat (tauhidil ummah), MUI akan mentolerasi perbedaan yang memang bersifat berbeda (al Mukhtalafu fiihi).“Perbedaan ditolerasi, penyimpangan diamputasi”, katanya.

Meski demikian MUI juga menyadari bahwa upaya penyatuan umat juga tidak mudah. “Tauhidul ummah itu susah sekali, ini satu pekerjaan supaya ada kesatuan gerakan (tauhidul harakah)“, tandasnya.

“Untuk perbedaan NU dan Muhammadiyah itu harus ditoleransi, namun untuk urusan aqidah Syiah ini harus diamputasi,” jelasnya diiringi gemuruh takbir seiisi ruangan rapat.

Senada dengan KH Ma’ruf Amin, Sekjen MUI Pusat, Drs. HH. Ichwan Sam mengatakan MUI kali akan segera mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dengan bukti yang tak terbantahkan.

“MUI akan mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah ini, namun kami akan melakukan riset dan investigasi untuk menampung semua data bukan hanya dari MIUMI saja, agar fatwa ini benar benar memiliki alasan dan bukti yang tidak terbantahkan,” jelasnya kepada hidayatullah.com usai acara silaturrahmi tersebut.*

E-mail Cetak PDF

Jakarta –

Umar Shihab Tinggalkan Rapat karena Wahabi cuma Tukang Semir Sepatu AS/Israel

Ada yang menarik dalam pertemuan antara MIUMI dengan MUI, Selasa (27/3) kemarin.

Di saat bersamaan hadir pula Umar Shihab, salah seorang ketua MUI yang memang terkenal pro terhadap Syiah. Umar Shihab pun begitu seksama mendengarkan paparan Ustadz Farid Okbah. Namun lama kelamaan Umar Shihab memilih keluar dari ruangan rapat ditengah para pengurus lainnya setia mendengarkan. Tadinya para wartawan menduga, Umar hanya keluar untuk kepentingan sementara, namun hingga usai pertemuan pada pukul 12.30, wajah Umar Shihab tidak kunjung muncul.

Tidak ada keterangan resmi mengapa Umar Shihab memilih meninggalkan ruangan. Para wartawan yang setia menunggunya pun tidak bisa mengkonfirmasi terkait hal ini.

Sebelumnya, salah seorang ketua MUI, KH Anwar Abbas mengatakan umat Islam perlu mewaspadai beasiswa-beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Iran. Sebab melalui beasiswa pendidikan itulah, Syiahisasi dilakukan. “Saya yakin kalau mereka kembali sudah berubah jadi Syiah,” katanya.

Tokoh Muhammadiyah itu lantas bercerita pengalaman Profesor Amir Syarifudin ke Iran. “Saat berkunjung ke Iran, Prof Amir Syamsuddin bertanya kamu masih Sunni atau sudah Syiah? Mahasiswa itu menjawab, ya sudah Syiah donk Pak,” kata Kiyai Anwar Abbas menirukan jawaban mahasiswa.

Kyai Anwar juga mencium aroma penjinakan yang dilakukan pemerintah Iran kepada tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan cara mengundang mereka datang ke Iran. “Saya sudah mencium, kita kalau diundang ke sana dalam rangka penjinakan,” tambahnya

Sejarah NU adalah sejarah perlawanan terhadap kaum Wahabi. Seperti dituturkan KH Abd. Muchith Muzadi, sang Begawan NU dalam kuliah Nahdlatulogi di Ma’ had Aly Situbondo dua bulan yang silam, jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar perlawanan terhadap dua kutub ekstrem pemahaman agama dalam Islam. Yaitu: kubu ekstrem kanan yang diwakili kaum Wahabi di Saudi Arabia dan ekstrem kiri yang sekuler dan diwakili oleh Kemal Attartuk di Turki, saat itu. Tidak mengherankan jika kelahiran Nahdlatul Ulama di tahun 1926 M sejatinya merupakan simbol perlawanan terhadap dua kutub ekstrem tersebut.

Itulah doktrin NU kepada anNahdhiyyin, menyerukan Jihad memerangi tukang semir sepatu AS/israel

Konsep NU memandang wahaby adalah sekte yang membahayakan Islam berdasarkan prinsip prinsip telaah pemahaman NU tentang Agama.

wahabi doktrin yang membahayakan Umat  justru bisa memecah belah Umat menjadi berkeping keping seperti pecahan kaca yang berserakan di jalan. Tatapan amarah dan buas terhadap Wahabi mencerminkan NU yang pernah hidup Tenpo doeloe, masa lahirnya orma islam, sebelum lahirnya NU itu sendiri.

Sejarah itu terulang kembali sebagai episode dari “kebencian” yang tidak tercapai sejak tahun 1912. Penghujatan terhadap “wahabi” merupakan “bara api” yang tersimpan dan terasa selama puluhan tahun. Kini saatnya NU menjadi pemuja perdamaian ala ke-NU-an dengan berdamai dengan syiah, tentunya merupakan Usaha NU yang paling sepaktakuler di abad ini memerangi pemahaman Islam yang dirasakan merongrong NU.

Terkait insiden bentrokan Sunni-Syiah jilid 2 di Karang Gayam Omben, Kab. Sampang Madura, DPP ABI melalui Ketua Umum nya Hassan Dalil Alaydrus dinilai Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) telah melakukan lakukan fitnah dan pembohongan publik

MIUMI hanyalah kaki tangan wahabi yang pro Arab Saudi, tujuan mereka cuma uang real saudiIslam itu hanya ada dua macam, yaitu :
1. Syiah Muawiyah, yang telah diplopori oleh ; 14 Dhalimin Bani Umayah dan diteruskan oleh Bani Abasiyah dan Osmaniyah dan kelompok ini terdiri dari
a. Mazhab Maliki,
b. Mazhab Hanafi,
c. Mazhab Syafe’i,
d. Mazhab Hambali,

2. Syiah Ali, dinaungi oleh 14 Maksumim, yaitu dari Muhammad s/d Muhammad al Mahdi atau Muntazhar, terdiri dari : Syiah Itsna Asyaroh (12 Imam) yang Al Haq.

Nah, tolong antum mintakan ke Oki agar Shahih Buchori dan Muslim agar dicabut dari peredaran agar bisa dihapus dulu tentang :

1. Hadist tentang Islam akan jaya sampai hari kiamat dan kalian akan dipimpin oleh 12 Amir atau Khlaifah, sementara fakta lapangan ga bisa dibuktikan, malah ini dituduhkan sisipan Syiah. Kan, gampang saja kalau kalian merasa benar 100%, semestinya bisa lakukan dan aku bisa bertaruh yang mampu menghilangkan hadist ini, pasti Wahabi atau Sarafi (orang-orang yang agak sarap/gila)

.

2.Tentang sergahan Umar bin Khatab kepada Guru dan Imam Agung untuk tidak berwasiat apapun, ketika detik-detik akhir menjelang wafatnya Rosul, dimana harapan beliau agar umat tak tersesat. Karena hal ini tidak terlaksana, malah jasadnya beliau tergeletak selam 3 (tiga) hari, mengingat akan dilakukan PILKADA untuk menggantikan Kepemimpinan Rosul, yang artinya Jasad Rosul ini tak ada artinya apa-apa dan Umat mengamini hal ini tanpa mampu mengkritisinya, yang berarti Nilai Sahab lebih besar dari Nilai Rosul sendiri. Tahukah Wahai manusia apa konsekwensinya wasiat tidak terealisir yang berartti KESESATANLAH yang akan dimiliki oleh sebagian besar Umat ini

3. Qs. An-Nisa 59 sudah dieliminir oleh pernyataan Salah satu Imam NON SYIAH (Namanya cukup aku saja yang tahu, karena cukup banyak buku yang harus kubaca), yatu :

“Pemimpin adalah Orang yang telah mengalahkan musuhnya (Husein) dengan pedangnya, baikl dia (pemimpin) itu fasik ataupun Mukmin”,

Jadi nilai si bedebah Yazid itu lebih Mulia dari Keluarga Rosul dan aku akan tamsilkan An-Nisa 59, adalah Bila ketika penciptaan awal Syeitan harus tunduk/sujud ke Adam, maka ketika Keluarga Rosul (Calon Pemimpin anak-anak muda di Surga) terbantai, maka ketika ini terjadi maka Anak Adam harus sujud ke Bani Syeitan al Kabir”,

mungkinkah seperti ini, coba terawang pakai akal waras : Allah Mahakudus, Rosul adalah Maksum, maka Ulil Amri minkum adalah para imam syi’ah , jika memegang ulil amri minkum sunni maka mungkinkah jika kita perpedoman pada pemimpin bejat dan tak bermoral untuk melindungi Al-Qur’an yang suci ini tanpa diobok-obok dulu pemahamannya, sementara matan al-Qur’an sedikitpun tak mungkin terdistorsi.Hujah apa yang kalian punya, dan jawablah secara Ilmiah bukan bacot kaya anak ingusan yang idiot wahai MIUMI

Para intelektual dan ulama muda se-Indonesia yang tergabung dalam Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Ketua MIUMI Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Sekjen MIUMI, Bachtiar Nasir Lc. MM.

MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) sesat menyesatkan !!! Ngga ngerti syi’ah

Siaran Pers MAJELIS INTELEKTUAL DAN ULAMA MUDA INDONESIA (MIUMI) karena keawaman ilmu saja
miumi Jika MUI Lamban, MIUMI Bisa Keluarkan Fatwa Sesat Syiah

PDF

Sabili Majalah Anti Syi’ah ! Luar Biasa Syi’ah dihantam Sabili

Jumat, 10 Juni 2011 16:49 yudy
E-mail Cetak PDF

CyberSabili-Jakarta. Pasca Deklarasi Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah di Masjid Al Akbar, Jakarta (20/5/2011. Kalangan mayoritas Sunni di Indonesia menolak deklarasi bersatunya Sunni-Syiah itu. Namun, sampai saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai kumpulan ulama yang mayoritas berpaham Sunni, tidak memiliki fatwa kesesatan Syiah.

“Pada tahun 1984, MUI hanya mengeluarkan himbauan paham Syiah. Yang Saat itu ditandatangani oleh Prof Ibrahim Hosen,” papar Ketua MUI KH Kholil Ridwan pada diskusi tentang ajaran Syiah di Masjid Al-Furqan, Komplek Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Kramat Raya, Jakarta (10/6/2011).

Dikatakan Kholil, anggota MUI bersifat heterogen sehingga banyak kepentingan yang diakomodir, salah satunya ada yang membela kepentingan Syiah. ”Di MUI ada ulama yang membela kepentingan Syiah sehingga tidak ada fatwa sesat Syiah,” katanya.

Peluncuran Buku Putih Syiah

Quraisy Shihab: Syiah Puluhan, Tidak Bisa Dipungkiri ada yang Sesat

Rabu, 19 September 2012

Hidayatullah.com merupakan web yang luar biasa menghantam syi’ah ! Itu fakta

Bertempat di Gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu, Kav 34 Jakarta Selatan, Selasa kemarin (18/09/2012), Ahlul Bait Indonesia (ABI) mengadakan seminar “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam”. Acara seminar  tersebut sekaligus menandai peluncuran buku Syiah berjudul “Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah yang Muktabar” yang dirumuskan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ABI.

Prof.Dr Quraisy Shihab yang menjadi keynote speaker, mengatakan, buku itu sebagai upaya untuk meluruskan dan mengenalkan apa dan siapa Syiah sebenarnya. Direktur Pusat Studi Al-Qur’an ini menilai bahwa apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini adalah karena kesalahpahaman.

“Tidak bisa ada persamaan kalau tidak ada kesepahaman, tidak ada kesepahaman kalau tidak ada pemahaman atas diri sendiri dan orang lain,” ungkapnya.

Prof. Quraisy mengakui bahwa Syiah banyak kelompoknya. Ia juga mengakui bila memang ada juga Syiah yang sesat.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa Syiah itu banyak kelompoknya. Syiah ada puluhan. Kita tidak bisa memungkiri ada Syiah yang sesat, bahkan ada juga kelompok Syiah yang menyesatkan Syiah lain,” jelasnya.

Ia juga berpendapat bahwa bersatu dalam akidah, perumusannya tidak harus sama.

Acara yang dihadiri oleh ormas-ormas seperti NU dan Muhammadiyah itu juga dihadiri oleh Dr. Umar Shahab, Ketua Dewan Syuro ABI dan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Shadra, Masdar F. Mas’udi (PBNU), tokoh Syiah yang juga Direktur Moderat Institute Dr. Muhsin Labib serta Prof. Dr. Zainun Kamal, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Muhsin Labib yang menjadi salah satu narasumber dalam acara tersebut berpendapat soal wilayatul faqih yang ada dalam ajaran Syiah.

Wilayatul faqih sama saja dengan kepausan. Kita tidak apa-apa sama dengan Kristen, karena mereka adalah Ahlul Kitab. Hubungan wilayatul faqih adalah pertanggungjawaban keagamaan Syiah, tapi itu tidak berarti menghilangkan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia,” jelasnya.

Muhsin yang juga lulusan Hauzah Ilmiah Qom, Republik Iran ini mengakui bahwa selama ini Syiah sering tidak diberi hak jawab.

“Ini saatnya Syiah membuka diri, jangan sampai kita dianggap tidak mau membuka diri. Kita tidak benar-benar eksklusif hanya sering tidak diberi hak jawab,” akunya.

Dalam paparannya, ia juga sempat menyinggung bila bahwa NU adalah proses upaya untuk menggabungkan Sunni-Syi’ah dan juga menuduh fatwa MUI Jawa Timur tentang kesesatan Syiah sebagai ‘legalisasi untuk membunuh”.*

Fitnah VOA ISLAM.COM kepada syi’ah sudah kelewatan

JAKARTA (voa-islam.com) kerap menyerang syi’ah, namun faktanya baca dibawah ini :

…………………………………………………………..

Foto-foto Persekutuan Arab Saudi dengan Inggris dan AS:

Oleh pengikut Salafi, itu dianggap fitnah keji.

kitab sejarah pembunuhan wahabi

kitab sejarah pembunuhan wahabi

FAKTA SEJARAH MEMBUKTIKAN KEZALIMAN WAHHABI DI MEKAH AL-MUKARRAMAH MEMBUNUH UMAT ISLAM BERDASARKAN BUKU SEJARAH WAHHABI SENDIRI

(Edisi Sejarah HITAM Wahhabi Di Mekah Al-Mukarramah)

Setelah Wahhabi menyerang kota Thoif dan membunuh umat Islam dan ulamanya disana. Wahhabi menyerang tanah yang mulia Mekah Al-Mukarramah pula tahun 1803M : 1218H seperti yang dinyatakan oleh pengkaji sejarah Abdullah bin Asy-Syarif Husain dalam kitabnya berjudul Sidqul Akhbar Fi Khawarij Al-Qorni Thaniy ‘Asyar. Manakala pengkaji sejarah Wahhabi bernama Uthman Ibnu Basyir Al-Hambaly An-Najdy menyatakan kejadian tersebut berlaku pada tahun 1220H dalam kitabnya Tarikh Najad. Dalam kedua-dua kita sejarah tadi menceritakan kezaliman Wahhabi di tanah suci Mekah antaranya:

KEZALIMAN DILAKUKAN OLEH WAHHABI DI KOTA MEKAH:-

- Pada bulan Muharram 1220H bersamaan 1805M Wahhabi di Mekah membunuh umat Islam yang menunaikan ibadah haji.

- Ibu-ibu penduduk kota Mekah dipaksa menjual harta hak milik masing-masing untuk menebus kembali anak-anak mereka yang masih kecil ditangkap oleh Wahhabi.

- Penduduk Mekah kelaparan kerana keadaan begitu zalim dilakukan oleh Wahhabi sehingga kanak-kanak mati kelaparan berkelimpangan mayat-mayat mereka.

- Pengkaji sejarah & merupakan golongan Wahhabi juga (Uthman An-Najdy) menyatakan bahawa Wahhabi menjual daging-daging keldai dan bangkai kepada penduduk Islam Mekah dengan harga yang tinggi dalam keadaan mereka kelaparan. Sungguh dihina umat Islam Mekah ketika itu.

( RUJUK FAKTA SEJARAH DI ATAS YANG DINYATAKAN TADI DALAM KITAB PENGKAJI WAHHABI SENDIRI BERNAMA UTHMAN IBNU BASYIR AL-HAMBALY AN-NAJDY DALAM KITABNYA BERJUDUL ‘INWAN AL-MAJDY FI TARIKH NAJAD JUZUK 1 MUKASURAT 135, RUJUK JUGA KITAB YANG TELAH DISCAN DI ATAS ).

Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab sangat kontroversial. Ada yang menyukai. Ada juga yang membencinya. Pengikutnya, kelompok Muwahhidun atau sekarang menamakan dirinya Salafi (oleh lawannya disebut Wahabi), Muhammad bin Abdul Wahhab disebut sebagai Pejuang Tauhid yang memurnikan Islam. Namun oleh lawannya, Muhammad bin Abdul Wahhab disebut sebagai sosok yang ekstrim.

Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung ‘Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang.

Beliau meninggal dunia pada 29 Syawal 1206 H (1793 M) dalam usia 92 tahun, setelah mengabdikan diri selama lebih 46 tahun dalam memangku jabatan sebagai menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi .

Nama lengkapnya: Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi. Syekh Abdul Wahab tergolong Banu Siman, dari Tamim. Pendidikannya dimulai di Madinah yakni berguru pada ustadz Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad Hayat al-Sind. Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah pendiri kelompok Wahabi yang mazhab fikihnya dijadikan mazhab resmi kerajaan Saudi Arabia, hingga saat ini.

Di situs Arrahmah disebut:

Gerakan al-Muwahhidun atau yang kini sering disebut sebagai gerakan “wahabi” ini menjadi ancaman bagi kekuasaan Inggris di daerah perbatasan dan Punjab sampai 1871. Ketika itu pemerintah Inggris bersekongkol untuk mengeluarkan ‘fatwa’ guna memfitnah kaum Wahhabi sebagai orang-orang kafir.

Sebetulnya jika kita teliti sejarah, justru Muhammad Bin Abdul Wahhab bersama dengan Ibnu Saud dibantu dengan dana dan senjata oleh Pemerintah Inggris guna melawan Kekhalifahan Islam Turki Usmani. Foto bareng Muhammad Bin Abdul Wahhab dengan Ibnu Saud dan juga Jenderal Inggris, Sir Percy Cox, merupakan satu bukti.

Tidak ada catatan sejarah yang menuliskan Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Ibnu Saud atau Arab Saudi berperang melawan Inggris. Semua melawan ummat Islam seperti pasukan Pemerintah Khalifah Turki Usmani.

Sebaliknya, banyak sekali tulisan atau pun foto-foto yang mengungkap kerjasama Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Ibnu Saud bekerjasama dengan Inggris.

Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri aliran Muwahhidun atau Salafi (Wahabi)

Dari situs Isnet yang pro Wahabi disebut bagaimana Muhammad bin Abdul Wahhab berdakwah dengan pedang atau perang sebagaimana Nabi Muhammad SAW. Namun jika Nabi Muhammad SAW itu memerangi orang-orang kafir bersama orang-orang yang beriman, Muhammad bin Abdul Wahab justru memerangi ummat Islam yang dia tuduh sebagai Musyrik atau Kafir dengan bantuan persenjataan Inggris seperti senapan dan peluru:

Demikianlah perjuangan Tuan Syeikh yang berawal dengan lisan, lalu dengan pena dan seterusnya dengan senjata, telah didukung sepenuhnya oleh Amir Muhammad bin Saud, penguasa Dar’iyah.

Beliau memulakan jihadnya dengan pedang pada tahun 1158 H. Sebagaimana kita ketahui bahwa seorang da’i ilallah, apabila tidak didukung oleh kekuatan yang mantap, pasti dakwahnya akan surut, meskipun pada tahap pertama mengalami kemajuan. Namun pada akhirnya orang akan jemu dan secara beransur-ansur dakwah itu akan ditinggalkan oleh para pendukungnya.

Oleh kerana itu, maka kekuatan yang paling ampuh untuk mempertahankan dakwah dan pendukungnya, tidak lain harus didukung oleh senjata. Kerana masyarakat yang dijadikan sebagai objek daripada dakwah kadangkala tidak mampan dengan lisan maupun tulisan, akan tetapi mereka harus diiring dengan senjata, maka waktu itulah perlunya memainkan peranan senjata. Alangkah benarnya firman Allah SWT [Al Hadiid}:

Namun semua itu tidak mungkin berjalan dengan lancar dan stabil tanpa ditunjang oleh kekuatan besi (senjata) yang menurut keterangan al-Qur'an al-Hadid fihi basun syadid iaitu, besi waja yang mempunyai kekuatan dahsyat. Iaitu berupa senjata tajam, senjata api, peluru, senapang, meriam, kapal perang, nuklear dan lain-lain lagi, yang pembuatannya mesti menggunakan unsur besi.

Sungguh besi itu amat besar manfaatnya bagi kepentingan umat manusia yang mana al-Qur'an menta'birkan dengan Wama nafiu linasi iaitu dan banyak manfaatnya bagi umat manusia. Apatah lagi jika dipergunakan bagi kepentingan dakwah dan menegakkan keadilan dan kebenaran seperti yang telah dimanfaatkan oleh Tuan Syeikh Muhammad bin 'Abdul Wahab semasa gerakan tauhidnya tiga abad yang lalu.

Orang yang mempunyai akal yang sihat dan fikiran yang bersih akan mudah menerima ajaran-ajaran agama, sama ada yang dibawa oleh Nabi, maupun oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang zalim dan suka melakukan kejahatan, yang diperhambakan oleh hawa nafsunya, mereka tidak akan tunduk dan tidak akan mau menerimanya, melainkan jika mereka diiring dengan senjata.

Demikianlah Tuan Syeikh Muhammad bin 'Abdul Wahab dalam dakwah dan jihadnya telah memanfaatkan lisan, pena serta pedangnya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sendiri, di waktu baginda mengajak kaum Quraisy kepada agama Islam pada waktu dahulu.

.

Arab Saudi bukanlah negara pembuat/industri senjata. Oleh karena itu senjata canggih mereka dapatkan dari sekutunya, Inggris, guna melawan Turki.

Sama sekali tidak ada peperangan melawan Inggris. Yang ada adalah peperangan dengan ummat Islam dari Thaif, Mekkah, dan Madinah. Berikutnya dengan Turki dan Mesir:

Berangkatlah Imam Saud bin 'Abdul 'Aziz menuju tanah Haram Mekah dan Madinah (Haramain) yang dikenal juga dengan nama tanah Hijaz.

Mula-mula beliau bersama pasukannya berjaya menawan Ta'if. Penaklukan Ta'if tidak begitu banyak mengalami kesukaran kerana sebelumnya Imam Saud bin 'Abdul 'Aziz telah mengirimkan Amir Uthman bin 'Abdurrahman al-Mudhayifi dengan membawa pasukannya dalam jumlah yang besar untuk mengepung Ta'if. Pasukan ini terdiri dari orang-orang Najd dan daerah sekitarnya. Oleh kerana itu Ibnu 'Abdul 'Aziz tidak mengalami banyak kerugian dalam penaklukan negeri Ta'if, sehingga dalam waktu singkat negeri Ta'if menyerah dan jatuh ke tangan Wahabi.

Di Ta'if, pasukan muwahidin membongkar beberapa maqam yang di atasnya didirikan masjid, di antara maqam yang dibongkar adalah maqam Ibnu Abbas r.a. Masyarakat tempatan menjadikan maqam ini sebagai tempat ibadah, dan meminta syafaat serta berkat daripadanya.

Dari Ta'if pasukan Imam Saud bergerak menuju Hijaz dan mengepung kota Mekah. Manakala gabenor Mekah mengetahui hal ehwal pengepungan tersebut (waktu itu Mekah di bawah pimpinan Syarif Husin), maka hanya ada dua pilihan baginya, menyerah kepada pasukan Wahabi atau melarikan diri ke negeri lain. Ia memilih pilihan kedua, iaitu melarikan diri ke Jeddah. Kemudian, pasukan Saud segera masuk ke kota Mekah untuk kemudian menguasainya tanpa perlawanan sedikit pun.

Tepat pada waktu fajar, Muharram 1218 H, kota suci Mekah sudah berada di bawah kekuasaan muwahidin sepenuhnya.

Lihat bagaimana para "Muwahhidun" atau Salafi memerangi ummat Islam sehingga jatuh banyak korban di kalangan ummat Islam. Pemerintah Kekhalifahan Islam Turki pun lemah sehingga bisa dikalahkan Inggris:

Setelah lapan tahun wilayah ini berada di bawah kekuasaan Imam Saud, pemerintah Mesir bersama sekutunya Turki, mengirimkan pasukannya untuk membebaskan tanah Hijaz, terutama Mekah dan Madinah dari tangan muwahidin sekaligus hendak mengusir mereka keluar dari daerah tersebut.

Adapun sebab campurtangan pemerintah Mesir dan Turki itu adalah seperti yang telah dikemukakan pada bahagian yang lalu, iaitu kerana pergerakan muwahidin mendapat banyak tentangan dari pihak musuh-musuhnya, sama ada ianya dari pihak dalam Islam sendiri ataupun dari luarnya, yang mana tujuan mereka sama iaitu untuk memulau dan memadamkan api gerakan dakwah salafiyyah. Oleh kerana musuh-musuh gerakan salafiyyah tidak mempunyai kekuatan yang memadai untuk menentang pergerakan Wahabiyah, maka mereka menghasut pemerintah Mesir dan Turki dengan menggunakan nama agama, seperti yang telah diterangkan pada bahagian yang lalu. Maka menyerbulah pasukan Mesir dan Turki ke negeri Hijaz untuk membebaskan kedua-dua kota suci Mekah dan Madinah dari cengkaman kaum muwahiddin, sehingga terjadilah peperangan di antara Mesir bersama sekutunya Turki di satu pihak menentang pasukan muwahidin dari Najd dan Hijaz di pihak lain. Peperangan ini telah berlangsung selama tujuh tahun, iaitu dari tahun 1226 hingga 1234 H.

Dalam masa perang tujuh tahun itu tidak sedikit kerugian yang dialami oleh kedua belah pihak, terutama dari pihak pasukan Najd dan Hijaz, selain kerugian harta benda, tidak sedikit pula kerugian nyawa dan tubuh manusia

Dari tulisan di website Isnet yang pro Wahabi kita paham bahwa dengan dalih membersihkan Islam dari kemusyrikan dan kekafiran, Wahabi menyerang ummat Islam di Thaif, Mekkah, Madinah, dsb. Banyak ummat Islam yang jadi korban. Ada satu pertanyaan, jika ummat Islam di Mekkah dan Madinah disebut Musyrik dan Kafir, di mana ummat Islam yang lurus?

Bagaimana ummat Islam diperangi dan dibunuh sementara kaum kafir Inggris justru aman dari tangan mereka? Sejalankan tindakan kaum Salafi dengan firman Allah di bawah?

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..” [Al Fath 29]

“..kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir..” [Al Maa-idah 54]

Dari situs Arrahmah.com disebut:

Perjuangan tauhid beliau terkristalisasi dalam ungkapan la ilaha illa Allah. Menurut beliau, aqidah atau tauhid umat telah dicemari oleh berbagai hal seperti takhayul, bid’ah dan khurafat (TBC) yang bisa menjatuhkan pelakunya kepada syirik. Aktivitas-aktivitas seperti mengunjungi para wali, mempersembahkan hadiah dan meyakini bahwa mereka mampu mendatangkan keuntungan atau kesusahan, mengunjungi kuburan mereka, mengusap-usap kuburan tersebut dan memohon keberkahan kepada kuburan tersebut. Seakan-akan Allah SWT sama dengan penguasa dunia yang dapat didekati melalui para tokoh mereka, dan orang-orang dekat-Nya. Bahkan manusia telah melakukan syirik apabila mereka percaya bahwa pohon kurma, pepohonan yang lain, sandal atau juru kunci makam dapat diambil berkahnya, dengan tujuan agar mereka dapat memperoleh keuntungan.

Menurut Muhammad bin Abdul Wahhab, ummat Islam sekarang lebih musyrik daripada kaum kafir Mekkah yang menyembah berhala serta ingkar kepada Allah, Al Qur’an, dan Nabi Muhammad.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Qawaidul Arba’ berkata, “Kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu, karena (kaum musyrikin) dahulu berbuat syirik (ketika) keadaan senang dan mereka ikhlas dalam keadaan susah. Sementara kaum musyrikin zaman kita, kesyirikan mereka terus-menerus dalam keadaan senang maupun susah, dan dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65)
.

Surah Al-’Ankabut adalah surah ke-29 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 69 ayat serta termasuk golongan surah-surrah Makkiyah. Dinamai Al-’Ankabut berhubung terdapatnya kata Al-’Ankabut yang berarti Laba-Laba pada ayat 41 surah ini, dimana Allah mengumpamakan para penyembah berhala-berhala itu dengan laba-laba yang percaya kepada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat ia menjerat mangsanya, padahal kalau dihembus angin atau ditimpa oleh suatu barang yang kecil saja, rumah itu akan hancur. Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sembahan-sembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka ingini, padahal sembahan-sembahan mereka itu tidak mampu sedikit juga menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Nuh, kaum Ibrahim, kaum Luth, kaum Syu’aib, kaum Saleh, dan lain-lain. Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sembahan-sembahan mereka itu lebih tidak mampu menghindarkan dan melindungi mereka.

Jadi jika dengan memakai ayat-ayat Al Qur’an yang diperuntukkan kepada orang2 kafir Mekkah kepada ummat Islam bahkan menyatakan ummat Islam lebih syirik daripada orang2 musyrik tersebut apalagi sampai membantai sesama Muslim, itu tidak selaras dengan ajaran Islam.

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

Janganlah kita sembarang menuduh sesama Muslim Syirik atau nama lain yang tidak menyenangkan (Al Hujuraat 11-12)

Saat ini ada 7 milyar manusia di mana ummat Islam cuma 1,3 milyar. Harusnya ayat2 kemusyrikan tsb ditujukan pada orang2 kafir yang masih menyembah selain Allah dan berhala seperti Hindu, Budha, Kristen, dsb. Bukan orang2 Islam.

Ingin meluruskan Tauhid dan membersihkan Syirik bagus. Tapi lakukan dengan cara
yang benar.

Muhammad bin Abdul Wahhab terlalu su’u zhon atau berprasangka buruk terhadap ummat Islam. Orang yang melakukan ziarah kubur, ditudingnya sebagai penyembah kuburan atau musyrik. Padahal ziarah kubur itu adalah sunnah Nabi:

Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya telah pernah -dahulu- melarang engkau semua perihal ziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah ke kubur itu!” (Riwayat Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka barangsiapa yang hendak berziarah kubur, maka baiklah berziarah, sebab ziarah kubur itu dapat mengingatkan kepada akhirat.”

Dari Aisyah ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu setiap malam gilirannya di tempat Aisyah, beliau s.a.w. lalu keluar pada akhir malam ke makam Baqi’, kemudian mengucapkan -yang artinya-: “Keselamatan atasmu semua hai perkampungan kaum mu’minin, akan datang padamu semua apa-apa yang engkau semua dijanjikan besok yakni masih ditangguhkan waktunya. Sesungguhnya kita semua ini Insya Allah menyusul engkau semua pula. Ya Allah, ampunilah para penghuni makam Baqi’ Algharqad ini.” (Riwayat Muslim)

Tudingan bid’ah dan sesat itu terjadi karena memahami Al Qur’an dan Hadits setengah-setengah dengan cara yang keliru. Tidak menyeluruh dan benar.

Karena pandangannya yang ekstrim itulah Muhammad bin Abdul Wahab ditentang bahkan oleh saudara-saudaranya sendiri yang juga ulama. Dari situs Arrahman ditulis:

Pada awalnya, idenya tidak begitu mendapat tanggapan bahkan banyak mendapatkan tantangan, kebanyakan dari saudaranya sendiri, termasuk kakaknya Sulaiman dan sepupunya Abdullah bin Husain.

Dari referensi lain seperti Buku yang ditulis oleh Syekh Idahram, bukan cuma kakaknya yang menentang, tapi juga ayahnya, Abdul Wahhab, menentang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh sebab itulah sebagian ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menuding Muhammad bin Abdul Wahab tidak bersanad karena gurunya sendiri yang juga ayah kandungnya, menolak pemahamannya yang ekstrim dan aneh.

Tudingan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap sesama Muslim seperti Musyrik, Kafir, Penyembah Kuburan, dsb yang belum tentu benar dan kemudian membantainya/memeranginya jelas tidak sesuai dengan perintah Allah dalam Al Qur’an dan juga sunnah Nabi:

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim itu bersaudara terhadap muslim lainnya, ia tidak boleh menganiaya dan menghinanya. Seseorang cukup dianggap berlaku jahat karena ia menghina saudaranya sesama muslim.”(HR.Muslim)

Termasuk perbuatan mencaci muslim di antaranya adalah menyakiti, mencela, mengadu domba serta senang menyebarkan gosip yang tidak benar, mencemarkan nama baik sehingga bisa merusak keluhuran martabat saudaranya, dan membuka rahasia pribadi yang tidak patut diketahui orang lain.

Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki atau perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. AlAhzab:58)

Apa pun dalihnya, sesungguhnya haram mencaci dan membunuh sesama Muslim. Kecuali betul-betul ada pengadilan di bawah Khalifah Islam yang membuktikan bahwa orang itu memang harus dihukum mati.

Namun kalau cuma kelompok seperti firqoh atau golongan tak boleh melakukan itu. Minimal harus ada Ijma’/Kesepakatan Ulama agar tidak jadi golongan Khawarij yang mudah mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim.

“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari no.46,48, muslim no. .64,97, Tirmidzi no.1906,2558, Nasa’I no.4036, 4037, Ibnu Majah no.68, Ahmad no.3465,3708)

Ada yang membela Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai orang asing yang dimusuhi oleh orang-orang yang sesat. Namun orang asing yang dimaksud Nabi adalah orang yang mengasingkan diri dari para Sultan demi menghindari fitnah.

Ini beda dengan Muhammad bin Abdul Wahhab yang justru bergaul dengan Sultan dan mengobarkan peperangan terhadap sesama Muslim dengan dalih memerangi kemusyrikan dan kekafiran:

Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

Tudingan Muhammad bin Abdul Wahhab bekerjasama dengan Inggris dalam rangka bughot/berontak terhadap Kekhalifahan Islam Turki Usmani mungkin dianggap fitnah oleh pengikutnya. Mereka menganggap itu cuma fitnah dari Syi’ah Rafidhoh, Ahlul Bid’ah, Sufi, dan sebagainya. Namun dari berbagai tulisan, termasuk dari kelompok Pro Wahabi sendiri, dan juga foto-foto menunjukkan hal itu. Kerjasama dengan Inggris yang dilanjutkan oleh Pemerintah Arab Saudi dan Wahabi seperti dengan Lawrence of Arabia memerangi Kekhalifahan Islam Turki Usmani. Kemudian berlanjut dengan kerjasama dengan Amerika Serikat seperti menyediakan pangkalan militer bagi AS guna memerangi Iraq.

Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan terkadang juga agak membingungkan. Siapa pun tak kan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat—jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat—Amerika Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi mata dunia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab dan bersekutu dengannya.

Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya—termasuk Makkah dan Madinah—kepada tentara Zionis Amerika.

Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut.

Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.

Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul ‘Lawrence of Arabia’ dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, “Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!”).

Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia.

Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.

Bahkan di film itu digambarkan bahwa klanSaud dengan bantuan Lawrence mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya “Lawrence of Arabia was a Zionist” seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.

Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.

Entah apa yang terjadi, namunhingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.

Selain film ‘Lawrence of Arabia’, ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:

  • Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005)
  • Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
  • Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
  • History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)

Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat “pemberontakan” terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung utama bagi kekuatan Dunia Islam,wallahu a’lam. (Rz)

Terakhir ada berita dari catatan harian Mr. Hempher, agen Inggris yang mengatakan agar Penjajahan Inggris bisa bertahan, mereka harus menciptakan aliran Islam sesat guna memecah-belah kekuatan Islam di daerah jajahannya. Di Inggris dan Pakistan mereka ciptakan Ahmadiyyah yang menghilangkan Jihad. Di Iran mereka buat aliran Baha’i. Ada pun di Arab Saudi yang Islamnya sangat kuat, mereka ciptakan Wahabi yang meski kelihatannya ingin memurnikan Islam, namun dengan isyu memurnikan Islam itulah tercipta perpecahan dan peperangan antar ummat Islam sehingga Pemerintah Kekhalifahan Islam Turki pun melemah akibat diserang Wahabi

.

Di Indonesia sendiri, AS yang merupakan penerus Inggris membentuk dan mendanai aliran sesat Islam Liberal yang menyatakan semua agama sama benarnya dan menghapuskan jihad serta Hukum Allah. Paling mudah bagi AS dan Inggris untuk menghancurkan Islam adalah dengan menghancurkannya dari dalam dengan membentuk aliran sesat sehingga ummat Islam saling perang/bunuh.

Meski kebenarannya harus diteliti lebih jauh, namun beberapa situs Islam memuatnya seperti:

Walaupun Ibn Abdul-Wahhab dianggap sebagai Bapak Wahabisme, namun aktualnya Kerajaan Inggeris-lah yang membidani kelahirannya dengan gagasan-gagasan Wahabisme dan merekayasa Ibn Abdul-Wahhab sebagai Imam dan Pendiri Wahabisme, untuk tujuan menghancurkan Islam dari dalam dan meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki. Seluk-beluk dan rincian tentang konspirasi Inggeris dengan Ibn Abdul-Wahhab ini dapat Anda temukan di dalam memoar Mr. Hempher : “Confessions of a British Spy”

Memoirs Of Mr. Hempher, The British Spy To The Middle East is the title of a document that was published in series (episodes) in the German paper Spiegel and later on in a prominent French paper. A Lebanese doctor translated the document to the Arabic language and from there on it was translated to English and other languages. Waqf Ikhlas publications put out and circulated the document in English in hard copy and electronically under the title: Confessions of a British spy and British enmity against Islam. This document reveals the true background of the Wahhabi movement which was innovated by Mohammad bin abdul Wahhab and explains the numerous falsehood they spread in the name of Islam and exposes their role of enmity towards the religion of Islam and towards prophet Mohammad sallallahu ^alayhi wa sallam and towards Muslims at large. No wonder the Wahhabis today stand as the backbone of terrorism allowing and financing and planning shedding the blood of Muslims and other innocent people. Their well known history of terrorism as documented in Fitnatul Wahhabiyyah by the mufti of Makkah, Sheikh Ahmad Zayni Dahlan, and their current assassinations and contravention is due to their ill belief that all are blasphemers save themselves. May Allah protect our nation from their evils.

Mungkin itu sulit dipercaya. Namun Wahabi memang bekerjasama dengan Raja Arab Saudi. Wahabi adalah Mazhab Resmi Kerajaan Arab Saudi. Posisi Mufti Agama selalu dipegang ulama Wahabi. Sementara Raja Arab Saudi memang biasa bekerjasama dengan Inggris saat melawan Turki dan sekarang dengan AS saat melawan Iraq. Berita tentang itu begitu banyak/mutawatir dari berbagai sumber/sanad. Sulit dipungkiri:

Dokumen Ekspos Pendiri Saudi Yakinkan Inggris untuk Dirikan Negara Yahudi

Sebuah dokumen kuno mengungkapkan bagaimana Sultan Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi meyakinkan Inggris untuk menciptakan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina, sebuah laporan berita mengatakan.

Pengikut Abdul Wahhab mungkin menganggap itu fitnah yang keji. Sementara yang anti terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab justru menuduh Muhammad bin Abdul Wahhab lah yang gemar memfitnah sesama Muslim dengan sebutan Ahlul Bid’ah, Musyrik, Kafir, dan sebagainya kemudian memeranginya.

Agar tidak bingung terhadap 2 pendapat yang berbeda tersebut, hendaknya kita kembali kepada Al Qur’an dan Hadits. Kita imani apa adanya. Jangan ditakwilkan sehingga berubah maknanya.

Sebagaimana kita ketahui, Muhammad bin Abdul Wahhab lahir dan besar di Najd, sehingga beliau disebut juga Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdi. Nah ternyata Nabi telah mengisahkan kepada kita tentang Najd yang merupakan tempat timbulnya fitnah:

Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167)

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]

tanduk-setan
mekah-berubah-mengikuti-rencana-illuminati

najd-is-najd-iraq-is-iraq1

Najd adalah Najad, Iraq adalah Iraq

basmalah

Syi’ah Sesat hanya propaganda SETAN NEJED WAHABi, Agen Zionis dan Pemecah Belah Umat !! Milyaran dollar tumpah ke Indonesia

wahabi1.1

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ   رواه البخاري، والترمذي، وأحمد وابن حبان في صحيحه

 
Daripada Abdullah Ibn Umar r.a., beliau berkata: Rasulullah SAW menyebut: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah! Rasulullah pun bersabda: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah!Dan aku menyangka (seingat aku) pada kali ketiga Rasulullah SAW bersabda: Di sanalah berlakunya gegaran-gegaran, fitnah-fitnah dan di sanalah terbitnya tanduk Syaitan.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam al-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban dan lain-lain.

Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukhari no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

tanduk-setan

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H/ 1792 M.

…………………………………………………………..

MINGGU, 24 JULI 2011

Apa Kata Para Pemuka Agama Soal Syiah?


Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.”
.
Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid
.
“Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Saya khawatir, Syiah akan menjadi sasaran berikutnya. Padahal Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah
.
Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi
.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

.

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama

.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

.

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan

.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

.

MINGGU, 24 JULI 2011

PROF.UMAR SHIHAB (KETUA MUI) : SYI’AH MAZHAB YANG SAH DI DALAM ISLAM


Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Sy’iah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut Syi’ah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam.Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Qom, Iran kamis (28/4) sore pukul 18.00 ,
.
Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat iniRombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
.
“Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.Apakah berita sidang pleno MUI setelah kunjungan resmi ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib hanya dusta dan fitnah atau benar adanya, seperti yg di tulis saudara Kholili Hasib di atas?
.
Sementara MOU itu adalah resmi atas nama Lembaga MUI dan bukan perorangan, beginilah sejatinya kelompok takfir selalu memprovokasi awam dengan berbagia info dan berita yg menyesatkan demi menjalankan agenda musuh2 Islam melalui adu-domba dan pecah-belah Ummat agar Islam lemah dari dalam.
_____________________________________________________________________________________________________________
Setelah MOU antar MUI dan Majma’ Taqrib baynal Mazahib Islamiyah akan keabsahan mazhab Ahlussunah dan Syi’ah (28 April 2011) maka MUI sudah sepantasnya untuk meninjau kembali Fatwa 1984 yg sekarang menjadi dasar pembenaran terjadinya anarkhisme terhadap muslim syi’ah dan mengajak Ulama Syi’ah dan ormas2 Islam untuk merumuskan kembali tentang makna Ukhuwah Islamiyah
.
Dan terpenting adalah Fatwa eksplisit dulu dari MUI bahwa Sunnah-Syi’ah adalah mazhab yg sah di dalam Islam, Sunnah-Syi’ah bersaudara dan wajib menjalin Ukhuwah Islamiyah, agar siapa saja yg ingin berlaku anarkhis mentasnamakan mazhab maka akan berfikir seribu kali, tak jadi soal Fatwa itu efektif atau tidak yg jelas dgn keluarnya fatwa eksplisit dan tegas MUI berperan sebagai pengayom dan pemersatu umat dan bukannya termakan hasudan dan fitnahan dari kelompok takfir lintas mazhab yg lambat-laun akan merobohkan bangunan NKRI dengan konflik horisontal yg mereka lestarikan.UKHUWAH ISLAMIYAH :
.

Marilah kita kembangkan sikap toleransi dan persaudaraan bahwa perbedaan mazhab bukan berarti permusuhan, Ukhuwah Islamiyah bukan berarti meniadakan atau peleburan semua mazhab, kaum Sunni tetap menjadi Sunni dan kaum Syi’ah tetap menjadi Syi’ah karena Sunnah dan Syi’ah adalah aliran yang sah yang lahir dari Rahim Islam yang Satu, kalaupun ada perbedaan tidak lebih kepada masalah furu’iyah bukan masalah pokok aqidah lebih baik saling mendekatkan dengan banyaknya persamaan daripada terus bersengketa dengan sedikitnya perbedaan dan termakan isyu propaganda dari kaum zionis, salibis, dan kelompok fanatis yang tidak sadar dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkan agama yang haq ini, marilah kita bersama-sama baik Sunnah maupun Syi’ah berlomba-lomba memberikan kontribusi kepada Islam agar Islam jaya sebagai Rahmatan lil alamin meskipun lewat jalan yang tidak harus selalu sama

.

Saudaraku semua! Musuh-musuh kita tidak membedakan Sunni dan Syiah. Mereka hanya mau menghancurkan Islam sebagai sebuah ideologi dunia. Oleh karena itu, segala kerja sama dan langkah demi menciptakan perbedaan dan pertentangan antara muslimin dengan tema Syiah dan Sunni berarti bekerja sama dengan kufr dan memusuhi Islam dan kaum muslimin. Berdasarkan hal ini, fatwa Imam Khomeini adalah Pertentangan adalah haram dan pertentangan harus dihapuskan.”

.

SABTU, 23 JULI 2011

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 23 di Teheran


Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam Ke-23 Teheran 15-17 Rabiul Awal 1431 HSegala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya
.
Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism
.
Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau
.
Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat
.
Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya
.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah

.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya

.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini

.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll

.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:

a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.

c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.

d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.

e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.

f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.

g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.

h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.

i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.

j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi

.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini

.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.

Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

RABU, 20 JULI 2011

Prof.Dr. Din Syamsudin: Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam


Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu
.
“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin
.
Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia
.
Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah)
.
Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi
.
“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi,” katanya
.
Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.
“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)
.

Syeikh Mahmud Syaltut, Penggagas Ide Pendekatan antar Mazhab


Syekh Mahmud Syaltut adalah seorang ulama, ahli tafsir dan mufti di Kairo. Beliau juga dikenal sebagai penyeru persatuan umat islam. Sebelum dikenal sebagai pemikir dan teolog besar, beliau sudah dikenal sebagai seorang fakih dan pelopor pendekatan antar mazhab Islam.Beliau telah melakukan langkah-langkah dasar dalam pembenahan pandangan Islam dan pendekatan antar mazhab dengan ide-idenya yang maju
.
Jasa-jasa beliau dalam hal ini sangatlah besar dan mendasar. Dalam salah satu fatwanya yang paling bersejarah, beliau sebagai ulama besar Ahli Sunah dan mufti Al-Azhar mengumumkan diperbolehkannya mengikuti mazhab Syi’ah.Syekh Mahmud Syaltut lahir pada tahun 1310 H. di Buhairah, Mesir
.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di universitas Iskandariah Mesir, beliau mengajar di universitas tersebut lalu pindah ke universitas Al-Azhar. Di sana beliau terus berkembang dan maju hingga pada akhirnya pada tahun 1378 H. menjadi mufti umum Al-Azhar. Beliau terus mengemban tanggung-jawab ini hingga wafat pada tahun 1383 H.Syekh Syaltut seorang fakih yang bijak dan tidak fanatik. Beliau telah melakukan usaha-usaha yang sangat berpengaruh dalam upaya pendekatan mazhab-mazhab Islam. Para ulama dan pembesar Ahli sunah dan Syi’ah juga mendampingi beliau dalam mewujudkan hal ini.

Beliau sempat surat-menyurat dan berdialog dengan tokoh-tokoh besar (Syi’ah) seperti Muhammad Husein Kasyiful Ghita, sayyid Abdul Husein Syarafuddin Amili, dan ayatullah sayyid Husein Borujerdi. Beliau juga telah melakukan banyak hal dalam usaha pendekatan antar mazhab, antara lain:

1. Menyebarkan pemikiran pendekatan antar mazhab Islam untuk menghilangkan pertikaian dan mendirikan yayasan pendekatan antar mazhab Islam di Kairo yang bernama “Dar Al-Taqrib wa Nasyri Majallah Risalah Al-Islam”.

2. Mengumpulkan dan mengoreksi validitas hadis-hadis yang sama antara Ahli Sunah dan Syi’ah, yang berhubungan dengan pendekatan antar mazhab.

3. Memasukkan fikih Syi’ah dalam mata pelajaran fikih Islam komperatif untuk mahasiswa universitas al-Azhar.

4. Dan, yang terpenting adalah fatwa beliau yang telah membenarkan mazhab syi’ah sebagai salah satu mazhab yang sah dan boleh diikuti. Padahal, sampai saat itu belum ada ulama besar dari Ahli Sunah maupun mufti Al-Azhar yang pernah memberikan fatwa seperti itu. Dengan fatwa ini beliau telah menunjukkan kebesarannya dan memperkecil jarak antar mazhab. Karena pentingnya fatwa bersejarah Syeikh Syaltut tentang pembenaran mazhab syiah ini, kami akan membawakan teks fatwa tersebut:

Seseorang telah bertanya, “Sebagian masyarakat berpendapat bahwa setiap muslim harus mengikuti salah satu fikih dari empat mazhab agar amal ibadah dan muamalahnya sah. Sedangakan Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah tidak termasuk dalam empat mazhab tersebut. Apakah anda sepakat dengan pendapat ini dan mengharamkan mengikuti mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam atau Imamiyah)?

Syekh Syaltut menjawab,

1) Agama islam tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti mazhab tertentu. Setiap muslim boleh mengikuti mazhab apapun yang benar riwayatnya dan mempunyai kitab fikih khusus. Setiap muslim yang mengikuti mazhab tertentu dapat merujuk ke mazhab lain (mazhab apapun) dan tidak ada masalah.

2) Mazhab Ja’fari yang dikenal sebagai mazhab Syi’ah Dua Belas Imam adalah mazhab yang secara syariat boleh diikuti seperti mazhab-mazhab Ahli Sunah lainnya.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya umat islam memahami hal ini dan meninggalkan fanatisme buta terhadap mazhabnya, karena agama dan syariat Allah tidak mengikuti mazhab tertentu dan tidak pula terpaku pada mazhab tertentu, akan tetapi semua pemimpin mazhab adalah mujtahid dan ijtihad mereka sah di mata Allah Swt. Setiap muslim yang bukan mujtahid dapat merujuk kepada mazhab yang mereka pilih. Ia boleh mengikuti hukum-hukum fikih dari mazhab yang dipilih itu dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara ibadah dan muamalah.

Dar Al-Taqrib

Syekh Syaltut adalah seorang tokoh besar dan pendiri “Dar Al-Taqrib bayna Al-Madzahib Al-Islamiyah” Mesir. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perpecahan dan perselisihan yang ada antara Ahli Sunah dan Syi’ah. Yayasan ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam) di Iran.

Pimpinan Universitas Al-Azhar

Beliau menjadi wakil rektor universitas tersebut pada tahun 1957 M. Pada bulan Oktober tahun 1958 beliau diangkat menjadi rektor universitas oleh presiden. Beliau mengemban tanggung-jawab ini hingga akhir hayatnya. Pemimpin besar dan cendekiawan ini wafat pada umurnya yang ke 70 di malam Jum’at tanggal 26 Rajab tahun 1383 H., yang bertepatan dengan tanggal 12 September 1963 M.

Hasil karya beliau yang populer antara lain:

Tafsir Al-Qur’an Al-Karim

Nahju Al-Qur’an fi Bina Al-mujtama’

Al-Islam, Al-Aqidah wa Al-Syariah

Al-Fatawa

Al-Qital fi Al-Islam

Min Tawjihat Al-Islam

Muqaronah Al-Madzahib fi Al-Fiqh

Fiqh Al-Qur’an

SYEIKH AL-AZHAR, DR. AHMED AL-TAYEB: SERUKAN UMAT ISLAM BERSATU


Sheikh – Azhar Dr Ahmed Al-Tayeb meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tentang perlunya melakukan kebijakan keadilan dan menghentikan kebijakan standar ganda tentang isu-isu Islam dan bangsa Arab.hal ini harus ditunjukkan dengan keseriusan dan tanggung jawab.keadilan yang berhubungan dengan masalah Palestina dan isu utama dari penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh rakyat Palestina.Syaikh Al-Azhar dalam sambutannya pada pembukaan Global Forum ke lima untuk lulusan Al-Azhar pada Sabtu malam, yang berlangsung selama empat hari.Pendekatan sejarah Al-Azhar yang cukup panjang untuk mempertahankan Islam yang benar dan untuk membela serta menyebarkan keadilan, keamanan dan perdamaian di antara semua agama dan mengutuk kekerasan
.
Syekh Al Azhar dalam sambutannya mengatakan Islam moderat menghadapi ekstremisme,” afiliasi dalam beberapa pelaku kekacauan serta penyebaran kekerasan dan doktrin terhadap Islam, hal ini tidak mencerminkan realitas pemikiran Islam, yang menyerukan sentrisme, moderasi, yang berhubungan dengan non-Muslim.Syekh Al Azhar menekankan tentang kebutuhan umat Muslim karena menderita diskriminasi untuk kembali kepada satu pemahaman dan menjauhkan dari perbedaan ideology, dalam rangka mencapai kesatuan muslim dan kekuatan baru islam.Syekh Al Azhar juga mendesak para pemimpin Eropa dan Amerika untuk menunjukkan keseriusan dan tanggung jawab, keadilan yang menyangkut status Palestina serta untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina dari penindasan bangsa Israel.