sahabat Nabi SAW yang dipuji Al Quran dan diakui syi’ah : Mash’ab bin Umair

Mush’ab bin ‘Umayr

Mush’ab bin ‘Umayr (Arabمصعب بن عمير) adalah salah seorang sahabat nabi Nabi Muhammad. Mush’ab berhasil memasukan ajaran Islam kepada Usayd bin Hudhayr dan sahabat Usayd yang bernama Sa’ad bin Mu’adz.

Biografi

Mus’ab bin Umair berasal dari keturunan bangsawan dari suku Quraisy. Ia adalah salah satu sahabat yang pertama dalam memeluk Islamsetelah Nabi Muhammad saw diangkat sebagai Nabi dan menyebarkan agama Islam.

Mus’ab bin Umair diutus oleh Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Madinah, setelah orang-orang dari Madinah datang menyatakan keislamannya. Ia di Madinah hingga Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Mus’ab bin Umair mati syahid diPertempuran Uhud.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (ll)

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair.

 Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, 

surat Al Ahzab ayat 23 :

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur . Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya )”. (QS. Al Ahzab: 23)

Setiap kita sedang berjalan dalam rangka menepati janji kita kepada Allah. Diantara kita ada yang meninggal duluan, jika kita meninggal dalam berjuang dan menepati janji, maka itu adalah hal bagus dan indah. Ada diantara kita yang menunggu kapan matinya, dan itu tidaklah masalah, selama tidak merubah arah jalan kita dan tetap berpegang teguh pada komitnen dan tetap berjuang menepati janji itu.

.

Mash’ab pada suatu peristiwa  di PERANG BADAR berada di pihak Rasulullah SAW sementara keluarganya ada yang berada di pihak kemusyrikan. Turunlah QS. Mujadilah ayat 22.  Allah Subhanahu wata’ala berfirman :


لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya :

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw melaksanakan ajaran reformasi Rasul dalam kehidupan mereka dengan cara meninggalkan kesetiaan mereka kepada kelompok menuju kesetiaan kepada Islam.

Salah satu contoh yang paling baik untuk menjelaskan hal itu adalah Mash’ab bin Umair, salah seorang wisudawan madrasah Rasulullah. Riwayat singkatnya sebagai berikut; Bapaknya adalah Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Abdi Dar bin Qusyaiy bin Kilab. Dari jalur kakeknya, Mash’ab bersambung dengan Rasulullah saw.

Mash’ab bin Umair adalah seorang pemuda Mekkah yang terkenal sebagai remaja berwajah tampan, tegap, dan murah senyum. Dia termasuk Assâbiqun fîl Islâm. Ia bergelar Abu Muhammad sedangkan laqabnya adalah Mash’ab Al-Khair, Mash’ab Si Baik.

Mash’ab termasuk salah seorang yang hijrah ke Habsyi. Nabi saw mengutusnya sebagai mubaligh, mu’alim, dan mursyid ke Madinah. Berkat dakwah Mash’ab bin Umair, banyak kabilah Anshar yang masuk Islam. Dia ikut bersama Nabi dalam perang Badar. Pada perang Uhud, Nabi memberinya bendera pasukan dan ia pun gugur sebagai seorang syuhada di Perang Uhud

.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika kaum itu (orang-orang Madinah) hendak kembali, Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin ‘Umair agar menemani mereka. Dia diperintah Rasul agar membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada mereka.”

Setibanya di Madinah, beliau tinggal di rumah Sa’ad bin Zurarah. Selama di Madinah, kesehariannya diisi dengan mengajak para penduduknya untuk masuk Islam dan membacakan al-Quran kepada mereka secara door to door. Hasilnya, seorang demi seorang dari mereka bersyahadat.

Kesuksesan Mush’ab dalam mengislamkan penduduk Madinah bikin gerah Sa’ad bin Muadz, pemuka kaum bani ‘Abd al-Asyhal di Madinah. Sa’ad makin benci dengan Mush’ab ketika sepupunya, Usaid bin Hudhair, yang disuruh untuk menegur Mushab malah ikut masuk Islam. Sa’ad bergegas menemui Mushab. Di hadapan Mushab dan As’ad, Sa’ad ngomel-ngomel. Tapi apa respon Mushab?

“Ataukah Tuan berkenan duduk, lalu mendengarkan,” ajak Mush’ab pada Sa’ad dengan kata-kata yang halus. “Jika Tuan meridai perkara [yang hendak saya paparkan] ini dan Tuan menyukainya, Tuan bisa menerimanya. Jika Tuan membencinya, kami menyingkir darimu yang memang Tuan membencinya.”

“Ya, saya menerima. Itu adil,” jawab Sa’ad. Mush’ab menatapnya sejenak dengan muka manis, lalu memaparkan Islam dan membacakan al-Qur’an kepadanya. Sa’ad bertanya kepada keduanya, “Apa yang kalian lakukan ketika masuk Islam dan masuk agama ini?”

“Mandi dan sucikan diri dan pakainmu, kemudian bacalah kesaksian yang haq, lalu salatlah dua rakaat,” jelas Mush’ab dan As’ad.

Sa’ad berdiri, lalu mandi dan menyucikan pakaiannya, kemudian membaca syahadat dan salat dua rakaat, kemudian segera menuju kaumnya. Ketika sudah tiba Sa’ad berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya ucapan kaum pria dan wanita kalian terhadapku adalah haram hingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Selang beberapa waktu, Mush’ab dan As’ad berkata, “Demi Allah, semenjak itu di rumah bani ‘Abd al-Asyhal tidak satupun laki-laki dan wanita kecuali muslim.”

Dalam waktu satu tahun, Mush’ab berhasil membalik kekufuran di Madinah, dari keberhalaan yang bodoh dan masya’ir (perasaan-perasaan) yang salah menjadi agama tauhid dan iman serta masya’ir Islam. Gimana dengan kita? Kita bisa seperti Mush’ab asal mau tetep semangat untuk ngaji dan dakwah. Oke?

Pada umumnya, orang-orang yang masuk Islam itu kebanyakan miskin, para mustadh’afin yang berasal dari keluarga sengsara, kecuali Mash’ab bin Umair. Mash’ab adalah anak seorang keluarga elit. Orang tuanya kaya raya. Ibunya sangat sayang kepadanya sehingga dia selalu diberi pakaian yang bagus-bagus dan indah-indah.

Ketika dia masuk Islam, ibunya marah-marah dan tidak mau menerimanya lagi. Mash’ab diusir dari rumahnya. Ibunya pun pernah mogok makan dan hanya mau makan bila Mash’ab bin Umair kembali lagi memeluk agamanya semula. Tetapi Mash’ab bin Umair bertahan dan akhirnya ibunya menghentikan mogok makannya. Mash’ab bin Umair sangat mencintai ibunya tetapi dia lebih mencintai Islam. Dia mendahulukan kesetia-an kepada Islam dari pada kesetiaan kepada keluarganya.

Umar bin Khathab meriwayatkan kisah Mash’ab dalam sebuah hadits sebagai berikut; “Pada suatu hari, Rasulullah saw melihat Mash’ab bin Umair di Madinah. Mash’ab datang dengan pakaian yang compang-camping, sebagian pakaiannya dijahit dari kulit domba. Rasul menangis, lalu ia bersabda kepada para sahabatnya, “Lihat, itu orang yang telah Allah sinari hatinya. Dahulu aku pernah melihatnya berada di tengah orang tuanya yang memberinya makanan yang lezat, minuman yang enak, dan pakaian yang bagus. Kemudian kecinta-an kepada Allah dan Rasul-Nya membawanya kepada keadaan yang kalian lihat.”

Mash’ab bin Umair diutus oleh Rasulullah saw sebagai mubaligh di Madinah, atas permintaan orang-orang Anshar pada Bai’at Aqabah yang pertama. Mash’ab berdakwah dengan senyuman. Rasulullah saw tahu, orang-orang Arab itu jarang ada yang ramah dan mereka sukar sekali untuk tersenyum. Sampai Nabi pernah mengingat-kan kepada mereka berkali-kali, “Senyum kepada saudaramu itu shadaqah.” Mash’ab bin Umair menaklukkan hati orang dengan senyuman dan keramahannya.

Berikut ini adalah kisah sebagian dakwahnya di Madinah; Orang yang pertama masuk Islam di tangan Mash’ab bin Umair adalah As’ad bin Jurarah. Mash’ab bin Umair tinggal bersamanya. Kedua orang itu men-datangi satu kabilah di kalangan penduduk Madinah yang sangat berpengaruh, untuk berdakwah. Pemimpin kabilah itu adalah Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudair.

Mereka masuk melalui dinding Bani Zhafar. Dulu, setiap kabilah membatasi kampungnya dengan dinding-dinding. Semacam benteng yang mempunyai pintu gerbang. Begitupun dengan kota-kotanya. Kedua pemimpin kabilah itu masih musyrik. Ketika mendengar kedatangan Mash’ab dan As’ad, Sa’ad bin Mu’adz berkata pada Usaid bin Hudair, “La aban laka, mudah-mudahan kamu tidak punya bapak. Berangkatlah kamu menemui kedua orang itu yang sudah mendatangi perkampungan kita dan menipu orang-orang bodoh di kalangan kita. Sekira-nya dia tidak datang bersama As’ad bin Jurarah dan sekiranya kamu bukan merupa-kan keluarga As’ad bin Jurarah, aku sudah bunuh dia.”

Usaid bin Hudair lalu mengambil tombaknya untuk menemui kadua mubaligh itu. Ketika As’ad bin Jurarah melihat dia, dia berkata kepada Mash’ab bin Umair, “Inilah pemimpin kaum datang, dakwahi dia kepada Islam.” Mash’ab menjawab, “Kalau dia duduk, aku akan bicara dengan dia.”

Begitu Usaid bin Hudair tiba, ia langsung memaki-maki Mash’ab bin Umair. Mash’ab hanya tersenyum menghadapi makian tersebut. Usaid memaki, “Mau apa kalian datang kepada kami ini lalu menipu orang-orang bodoh di antara kami. Pergi! Kalau kalian masih memerlukan nafas kalian.”

Mash’ab bin Umair berkata, “Bagai-mana kalau anda duduk sebentar. Kita ngobrol-ngobrol. Kalau Engkau senang, Engkau terima. Kalau engkau tidak senang, Engkau dijauhkan dari apa yang tidak Engkau senangi.” Orang itu luluh melihat kebaikan hati Mash’ab bin Umair. Dia berkata, “Engkau benar.”

Kemudian Usaid meletakkan tombak-nya dan duduk bersama mereka. Mash’ab bin Umair lalu menerangkan tentang Islam. Ia membaca Al-Qur’an. Ketika melihat Usaid bin Hudair mendengarkan dengan penuh perhati-an, kedua mubaligh itu berkata, “Demi Allah aku sudah melihat di wajahnya keislaman, sebelum dia berbicara dan menunjukkan keramahan.”

Usaid bin Hudair bertanya, “Alangkah indahnya pembicaraan kamu itu. Kalau ada orang yang mau masuk Islam bagaimana caranya?” Keduanya berkata kepada Usaid, “Engkau mandi. Engkau bersuci. Bersihkan kedua pakaianmu, kemudian Engkau meng-ucapkan kalimat syahadat, setelah itu, Engkau shalat.”

Akhirnya Usaid bin Hudair berdiri. Ia mandi, membersihkan pakaiannya, kemudian dia mengucapkan syahadat dan salat dua rakaat. Usaid, yang diutus oleh kawannya Sa’ad bin Mu’adz untuk megusir mereka itu, malah masuk Islam dan berkata, “Sesungguh-nya di belakangku ada seorang tokoh. Jika tokoh itu ikut kepadamu, tidak ada seorang pun di antara kaumnya yang akan membatah-nya. Aku akan utus dia untuk menemui kamu sekarang, Sa’ad bin Mu’adz namanya.”

Usaid mengambil lagi tombaknya dan pergi menemui Sa’ad bin Mu’adz beserta kaumnya. Sa’ad sedang duduk di tengah-tengah kabilahnya. Ketika melihat Usaid datang, Sa’ad berkata, “Demi Allah! Usaid telah datang dengan wajah yang yang berbeda daripada ketika ia pergi tadi.” Saat Usaid duduk di tengah kelompok itu, Sa’ad bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?” Usaid pun menjawab, “Aku sudah berbicara dengan kedua orang itu. Dan Demi Allah, aku tidak melihat niat yang buruk pada mereka. Aku larang mereka untuk menemui kita, tapi mereka berkata, ‘Aku akan lakukan apa yang kalian kehendaki. Namun aku dengar Bani Haritsah sudah keluar untuk membunuh Ibnu Jurarah. Mereka tahu bahwa anak bibimu itu akan menyerang kamu, karena itu mereka akan membunuhnya’.”

Sa’ad bin Mu’adz marah. Usaid membohongi Sa’ad, supaya Sa’ad marah dan menemui Ibnu Jurarah karena kuatir Ibnu Jurarah akan diserang oleh Bani Haritsah. Sa’ad mengambil tombaknya, kemudian pergi menemui Mash’ab dan As’ad. Ketika Sa’ad melihat keduanya dalam keadaan tenang. Tahulah Sa’ad bahwa Usaid hanya mendorong dia supaya mendengarkan pembicaraan mereka.

Sa’ad berdiri dan memaki-maki. Seperti biasa, Mash’ab membalasnya dengan senyuman. Dia berkata kepada Asad bin Jurarah, “Yâ Abâ Umamah, sekiranya di antara kita ini tidak ada hubungan kekeluar-gaan, aku tidak akan sampai pada keadaan seperti sekarang ini.” Lalu Asad berkata kepada Mash’ab, “Ini sudah datang pemimpin yang diikuti oleh seluruh kaumnya di belakang. Jika ia mengikutimu, tidak seorang pun di antara kaumnya yang akan mem-bantahnya.”

Mash’ab dengan ramah mengajaknya duduk dan mendengarkan pembicaraannya. Sama seperti kepada Usaid, ia berkata, “Kalau engkau suka, engkau terimalah pembicaraan-ku. Tapi kalau engkau tidak suka, tinggalkan-lah apa yang tidak engkau sukai.” Kemudian Mash’ab pun duduk membaca Al-Qur’an. Singkat cerita, karena keramahan Mash’ab, Sa’ad bin Mu’adz akhirnya masuk Islam.

Dalam Bahasa Parsi, wajah yang ramah disebut hulu adapun wajah yang menakutkan disebut lulu. Saya pernah mendengar sebuah puisi Parsi sebagai berikut, “Orang-orang ‘Irfan memperkenalkan agama dengan hulu. Sedangkan para Fuqaha memperkenalkan agama dengan lulu.” Mash’ab bin Umair adalah orang yang memperkenalkan agama dengan wajah yang ramah. Orang yang mencaci maki tidak dilawan cacian dan makian. Malahan ia tersenyum, seakan-akan ia menikmati cacian itu. Dengan keramahannya, luluhlah hati orang-orang Anshar itu.

Usaid bin Hudair dan Sa’ad bin Mu’adz lalu menemui kaumnya. Sa’ad berkata kepada kaumnya, “Ya Bani Abdil Asyhal, bagaimana menurut kalian urusanku di tengah-tengah kalian?” Kaumnya menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami yang paling akrab diantara kami. Yang paling bagus pemikirannya. Kau adalah pemimpin yang paling bisa dipercaya.” Kemudian Sa’ad berkata, “Ketahuilah mulai saat ini, kalian, baik laki-laki maupun perempuan, haram berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Sa’ad ber-maksud untuk memutuskan hubungan tribalisme itu.

Berkat bantuan kedua orang ini, akhirnya Mash’ab dan Asad mendatangi seluruh perkampungan Anshar. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang tidak masuk Islam.
Kisah lain meriwayatkan Mash’ab pada suatu peristiwa di Perang Badar. Mash’ab bin Umair berada di pihak Rasulullah saw sementara keluarganya berada di pihak Musyrikin.
Seperti kita ketahui, pada Perang Badar orang Islam memetik kemenangan. Di antara tawanan yang berada di tangan kaum Muslimin adalah saudara Mash’ab bernama Abu Aziz Ibnu Umair. Mash’ab melewatinya dan melihat saudaranya tertawan. Abu Aziz adalah pemegang bendera Kaum Musyrikin. Ketika saudaranya menegur dan meminta pertolongannya, Mash’ab bin Umair berbicara kepada orang Anshar yang menawan saudara-nya, “Pegang tawanan ini kuat-kuat. Ibunya orang kaya. Mudah-mudahan ibunya bisa menebus dia dengan harga yang mahal”.

“Saudaraku, apakah ini nasihatmu kepadaku?” tanya saudaranya kebingungan. Mash’ab berkata kepada Abu Aziz sambil menunjuk orang Anshar yang menawannya, “Dia (orang Anshar) adalah saudaraku yang lebih dekat denganku dari pada kamu. Dia adalah saudaraku selainmu”.

Jadi, menurut Mash’ab, saudara seagama itu jauh lebih dekat dari pada saudara sedarah.
Tarikh yang saya kutip ini mengakhiri kisah Mash’ab bin Umair dengan Surat Hud ayat 46 yang mengisahkan Doa Nabi Nuh, ketika ia ingin menolong anaknya yang tenggelam. Nuh berdoa, “Tuhanku, ini anakku termasuk keluargaku. Dan janji-Mu benar, Engkaulah hakim yang paling bijaksana.” Lalu Tuhan berfirman, “Hai Nuh, dia bukan dari keluargamu. Dia adalah amal yang tidak shaleh. Dan janganlah kamu minta kepadaku yang kamu tidak punya ilmunya. Aku nasihati kamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

.

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang – orang Anshar yang telah beriman dan baiat kepada Rasulullah di bukti Aqabah. Disamping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush’ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada “Mush’ab yang baik”.  Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu, dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota tempatan atau kota hijrah, pusat dari dai dan dakwah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela al-Islam.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian Aqabah, kaum muslimin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka , oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush’ab bin Umair.

Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mush’ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah saw. atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah. Dengan didampingi As’ad, ia pergi mengunjungi kabilah -kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci Allah, menyampaikan kalimatullah “bahwa Allah Tuhan Maha Esa” secara hati-hati.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiga-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad saw. – yang diserukan beribadah kepada-Nya – oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush’ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi “Mush’ab yang baik” tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.

Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush’ab dan Sa’ad bin Zararah, bentaknya: “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam, laksana terang dan damainya cahaya fajar, terpancarlah ketulusan hati ”Mush’ab yang baik”, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush’ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nurani sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengarkan dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush’ab, dan jika tidak, maka Mush’ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyrakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.

“Sekarang saya insaf”, ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Quran dan mengajarkan dakwah yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah saw, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush’ab selesai dari uraiannya. Usaidpun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, ”Alangkah indah dan benarnya ucapan itu! Dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini?” Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush’ab, ”Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah”.

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Secepatnya berita itu pun tersiar. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz. dan setelah mendengarkan uraian Mush’ab, Sa’ad merasa puas dan masuk Islam pula.

Langkah ini disusul pula oleh Sa’ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan tanya bertanya sesama mereka, “Jika Usain bin Hudlair, Saad bin ‘Ubadah dan Sa’ad bin Mu’adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu. Ayolah kita pergi kepada Mush’ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!”

—oo—

Demikian duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisypun beroleh pelajaran pahit yang menghabisakan sisa-sisa fikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun berisap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera. Maka terpanggilah “Mush’ab yang baik”, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, merek meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan kaum muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, atau tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membatasi Kaum Muslimin yang tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuhpun menunjukkan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.

Mush’ab bi Umair menyadari suasana gawat ini, Maka diacungkannya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah saw. dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara.

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mushab bertempur laksana pasukan tentara besar. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Tetapi musuh kian bertambah banyak juga, mereka hendak menyeberang yang menginjak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah.

Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceritakan saat-saat terakhir kapahlawanan besar Mush’ab bin Umar.

Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seseorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangan-nya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul” Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuhpun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraih ke dada sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh”.

Gugurlah Mush’ab dan jatuhlah bendera. ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan. Disaat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Quran yang selalu dibaca orang.

—oo—

Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia. Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

Wahai Mush’ab cukuplah bagimu Ar-Raman.
Namamu harum semerbak dalam kehidupan.

—oo—

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai ditempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuran dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul ‘Urrat:

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw dengan mengharap keridlaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Diantara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun juga. Diantaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelaipun kain untuk menutupinya selain burdah. Andainya ditaruh diatas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah saw, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir!

Betapapun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi. Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para sahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya. Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya. Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush’ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubungi dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat :


Diantara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.

(Q.S. 33. Al-Ahzab : 23)

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda :

Ketika di Mekah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masi, hanya dibalut sehelai burdah.

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak diatanya, Rasulullah berseru :

Sungguh Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada disisi Allah

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, sabdanya,

Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslimpun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.

Salam atasmu wahai Mush’ab…….
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada….

Mash’ab bin Umair lebih mencintai Islam dari pada keluarganya. Dia meninggal dunia pada perang Uhud dan Rasulullah saw pun menangisi kepergiannya.

Saya akhiri kisah Mash’ab bin Umair ini dengan satu peristiwa ketika Rasulullah saw pulang dari Uhud memasuki Madinah. Beliau disambut oleh perempuan-perempuan yang menangisi kematian keluarga mereka. Di antaranya ialah Zainab binti Jahasy. Begitu Rasulullah saw melihat Zainab, ia berkata, “Bersabarlah engkau Zainab.” Zainab ber-tanya, “Siapa yang meninggal itu, Ya Rasulullah?” “Saudaramu” jawab Rasul. “Inallilâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” jawab Zainab. Kemudian Rasulullah kembali berkata, “Bersabarlah engkau.” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” tanya Zainab. “Untuk Hamzah bin Abdul Muthalib,” jawab Rasul. Kembali Zainab berkata, “Innalillâhi wa inna ilayhi râji’ûn. Berbahagialah dengan syahadah yang telah dicapainya” Untuk ketiga kalinya, Rasulullah saw masih berkata, “Bersabarlah engkau, Hai Zainab” “Untuk siapa, Ya Rasulullah?” Zainab bertanya cemas. Rasul menjawab, “Untuk suamimu, Mash’ab bin Umair.” Barulah Zainab berteriak, “Duhai derita, duhai kesedihan!”

Ketika Mash’ab meninggal, dia masih memakai pakaiannya yang compang-camping itu. Rasulullah saw menangis dan berkata di hadapan jenazah Mash’ab, “Semoga Allah menyayangimu, Hai Mash’ab bin Umair. Aku sudah melihatmu di Mekkah dulu. Dan aku tak pernah melihat orang yang pakaiannya sebagus pakaian kamu. Yang kesenangannya sebaik kamu. Tapi sekarang, engkau dalam keadaan compang-camping dan tertutup debu”.
Rasulullah saw lalu menguburkan-nya. Saudara Mash’ab, Abu Rum, turun di kuburannya. Begitu juga Amir bin Rabiah Al-Anzi.

Rasulullah saw mendo’akan Mash’ab bin Umair. Berkenaan dengan Mash’ab, turun ayat Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 23, “Di antara orang-orang yang beriman itu ada orang yang membenarkan janji yang sudah mereka berikan kepada Allah”.

Itulah Mash’ab bin Umair, yang mendahulukan kesetiaan kepada Islam di atas kesetiaan kepada kelompoknya, kepada keluarganya, dan kepada suku bangsanya. Mash’ab bin Umair adalah contoh orang yang mendahulukan Islam dengan keramahan, dengan akhlak yang baik, dan dengan senyuman.

Dialah orang yang membawa Islam dengan Bunga Mawar, tapi tidak dengan durinya. Sementara banyak orang yang menyebarkan Mawar, tidak dengan menyebar-kan harumnya, melainkan durinya. Kalau kita sebarkan Islam dengan duri, kita akan banyak menyakiti orang. Tapi kalau kita sebarkan Islam dengan harumnya, Insya Allah, kita akan menarik mereka kepada Islam.

Syiah Memuji Sahabat (1)

QS. Al-Muzzammil ayat 20

bismillah
Artinya :
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penjelasan Syi’ah : 

Ayat ini turun berkaitan dengan Utsman bin Mazh’un. Beliau termasuk pada “segolongan/tahifah dalam Qs. Al Muzammil ayat 20

Aisyah bertutur : “Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, shalat malam, terus menerus”. Aku ceritakan hal itu kepada Nabi SAW. Rasulullah menemui Utsman dan berkata , “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh  ? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum hukumnya”

.

Q.S. Al- Maidah ayat 93

laysa ‘alaa alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu idzaa maa ittaqaw waaamanuu wa’amiluu alshshaalihaati tsumma ittaqaw waaamanuu tsumma ittaqaw wa-ahsanuu waallaahu yuhibbu almuhsiniina
.
93. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Penjelasan Syi’ah : Menurut Ibn ‘Abd Al Birr, sehubungan dengan perilaku Utsman dan sahabat sahabat yang ingin terus menerus beribadah maka turunlah Qs. Al Maidah ayat 93 (Al Isti’ab 3:186).

bismillahUtsman bin Maz`un (wafat 2 H/624 M) (Bahasa Arab عثمان بن مظعون) adalah salah satu sahabat nabi. Ia termasuk cendekiawan Arab di zaman jahiliyah, sempat mengikuti Perang Badardan meninggal dunia sekembalinya dari perang tersebut. Sepeninggal Utsman, Muhammad menciumnya sambil mengalirkan air mata. Utsman inilah sahabat pertama yang meninggal diMadinah.

Utsman inilah yang pernah berniat membujang dan meninggalkan keduniawian, akan tetapi Muhammad melarangnya dari niat tersebut. Kemudian Utsman bin Mazh’un menikah denganKhawlah binti Hakim.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (1)

REFORMASI Agung kedua yang dilakukan Rasulullah adalah dengan mengubah kesetiaan kepada kelompok menjadi kesetiaan kepada Islam. Sekarang saya ingin memberikan contoh keberhasilan reformasi kedua itu melalui kehidupan beberapa sahabat yang lulus dari Madrasah Rasulullah saw. Tidak semua sahabat lulus dari Madrasah Rasulullah. Ada juga sahabat yang diskors selama tiga bulan dan semua sahabat-sahabat Nabi yang lain dilarang berbicara dengan dia. Sampai sahabat Nabi itu kemudian lari ke gunung, bertaubat siang dan malam.

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw, anehnya, banyak yang tidak kita kenal. Salah seorang tokoh yang tidak begitu kita kenal adalah Utsman bin Mazh’un, dia dikuburkan di Baqi. Bapaknya adalah Mazh’un bin Wahab bin Hudzafah bin Jumuh Al-Quraisyi. Sedangkan Ibunya ialah Suhailah binti Al-Anbas bin Ahban bin Khudzafah bin Jumuh.

Utsman masuk Islam beserta seluruh keluarganya. Dia adalah orang ketigabelas yang masuk Islam. Dia sangat rajin beribadah. Ia pun hijrah dua kali ke Habsyi. Dia ikut berperang di Badar bersama Rasulullah saw. Dia meninggal dua setengah tahun setelah Hijrah. Nabi menguburkannya di Baqi dan memberi tanda di kuburan Utsman dengan batu. Nabi sering menziarahi kuburannya. Hal ini sekaligus merupakan dalil bahwa ziarah ke kubur itu ialah sunnah Rasulullah saw. Kelak, salah seorang putera Utsman syahid pada hari Yamanah, ketika kelompok Musailamah Al-Kadzab melakukan perlawanan.

Kesetiaan Utsman bin Mazh’un kepada Allah dan Rasul-Nya lebih tinggi daripada kesetiaannya kepada yang lain. Ketika orang-orang Islam dikejar-kejar dan dianiaya, Utsman hijrah ke Habsy beserta seluruh keluarganya. Seperti kita ketahui, ‘Amr bin ‘Ash menyusul ke Habsyi dan meminta Utsman supaya kembali lagi ke Mekkah. ‘Amr bin ‘Ash juga meminta kepada Raja Habsyi supaya tidak menerima umat Islam di negeri itu dan mengembalikannya ke Mekkah.

Ketika Utsman bin Mazh’un kembali dari Habsyi ke Mekkah, penindasan masih berlangsung. Orang-orang Islam masih disiksa dan dianiaya. Dia menghadapi ancaman terhadap dirinya dan keluarganya. Akhirnya dia mencari perlindungan kepada keluarga Al-Walid bin Mughirah, seorang penyair yang sejak dulu dekat dengan Utsman.

Pada awalnya, Utsman bin Mazh’un masuk Islam karena rasa malu. Rasulullah saw sering berdakwah kepadanya dan berulang kali mengajak Utsman bin Mazh’un masuk Islam. Utsman pernah berkata, “Aku ini masuk Islam karena malu saja. Rasulullah berulang kali mengajak aku untuk masuk Islam. Waktu itu Islam belum ada dalam hatiku. Sampai suatu hari aku sedang bersama Rasulullah, tiba-tiba Rasul memandang ke langit. Seakan-akan beliau sedang memahami sesuatu. Setelah Rasul merenung, aku bertanya kepada Rasul tentang apa yang terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Allah menyuruh kamu untuk berbuat baik dan memberikan hak kepada keluargamu. Dan Allah melarang kamu dari keburukan dan kemungkaran.” (QS Al-Nahl 90).

“Waktu itu, menetaplah Islam dalam hatiku. Itulah saatnya aku masuk Islam yang sungguh-sungguh, karena aku tersentuh oleh ayat yang indah itu. Lalu aku datangi paman Nabi, Abu Thalib, dan aku kabarkan ke-islamanku. Beliau memberi nasehat, “Ya Ahli Quraisy, ikuti Muhammad, nanti kamu mendapat petunjuk. Karena Muhammad tidak memerintah kecuali kepada akhlak yang mulia.”

“Kemudian aku datangi Walid bin Mughirah, aku bacakan ayat itu dan Mughirah pun terpesona. Dia berkata, “Sungguh dalam ayat-ayat itu ada kemanisan-nya. Di atasnya juga ada keindahannya. Pada puncaknya ada buahnya. Dan di bawahnya rimbun. Ini bukan ucapan manusia. Kalau itu ucapan Muhammad, alangkah bagusnya ucapan Muhammad itu. Dan kalau itu ucapan Tuhannya, alangkah bagusnya ucapan Tuhannya itu”.

Walid bin Mughirah memang dekat dengan Utsman bin Mazh’un, meskipun dia tidak masuk Islam. Malahan ia termasuk dedengkot kekufuran. Tapi kepada Walid bin Mughirah, Utsman bin Mazh’un berlindung. Dan Walid bin Mughirah melindungi dia. Sehingga dia tidak diganggu oleh orang-orang kafir. Sementara orang-orang Islam yang lain menderita, Utsman bin Mazh’un ber-senang-senang di bawah perlindungan Walid bin Mughirah.

Utsman berkata, “Demi Allah, pagi dan soreku tentram dalam perlindungan seseorang yang musyrik. Sedangkan sahabat-sahabatku dan teman seagamaku sekarang menderita barbagai bala dan kesulitan karena Allah. Itu semua tidak menimpaku. Sungguh keadaanku ini adalah sebuah kekurangan yang besar, sebuah aib besar untuk diriku.”

Kemudian Utsman bin Mazh’un datang menemui Walid bin Mughirah, “Wahai Abâ ‘Abdi Syam, sudah selesai sekarang perlindunganmu itu. Aku kembalikan perlindunganmu itu.” Walid menjawab, “Kenapa kau kembalikan perlindungan itu, hai anak saudaraku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?” “Tidak,” jawab Utsman, “bukan karena itu. Tapi aku ingin memilih perlindungan Allah dan aku tidak ingin meminta perlindungan kepada selain Dia.” Walid berkata, “Kalau begitu, berangkatlah kamu ke mesjid dan umumkan terang-terangan bahwa kamu sudah menolak perlindunganku.” Keduanya pun lalu berangkat ke mesjid. Di sana Walid meng-umumkan, “Ini Utsman, dia menolak perlindunganku.” Utsman mengatakan, “Benar apa yang dia katakan dan dia sudah melindungi aku dengan sebaik-baiknya. Tapi aku lebih senang untuk berlindung kepada Allah saja dan karena itu aku kembalikan perlindungan Walid.”

Pada waktu itu datang rombongan tokoh-tokoh Quraisy, salah seorang di antaranya ialah Walid bin Rabiah bin Malik bin Ja’far bin Kilab dari Bani Kilab yang juga duduk di situ. Lalu ada seorang yang bernama Lubaib dari Bani Kilab yang ketika mendengar Utsman bin Mazh’un telah melepaskan perlindungan Walid bin Mughirah, dia membacakan sebuah syair, “Sungguh segala sesuatu selain Allah itu akhirnya jadi bathil.” “Shadaqta. Kamu benar”, kata Utsman. Kemudian Lubaib meneruskan syairnya, “Semua nikmat akhirnya akan berakhir juga.” Maksud Lubaib, perlindungan Mughirah itu sekarang berakhir semua. Utsman berkata, “Kamu dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah berakhir.” Lalu Lubaib berteriak, “Hai Quraisy, lihatlah orang yang duduk bersama kalian ini! Dia termasuk orang-orang bodoh yang meninggalkan agama kita.” Utsman terus membantahnya, sampai Lubaib marah. Kemudian salah satu telinga dan mata Utsman dipukul, sehingga matanya lebam karena pukulan.

Walid bin Mughirah, yang dulu sebagai pelindung Utsman, berada di situ dan berkata, “Hai anak saudaraku, sekiranya mata kamu itu sehat, itu karena dulu kau berada pada perlindungan yang kokoh.” Walid bermaksud menyindir Utsman. Tapi Utsman berkata, “Demi Allah, mataku yang sehat ini sekarang iri dengan mata yang lain dalam membela agama Allah.” Utsman menantang untuk dipukul lagi. Walid berkata, “Mari ke sini, Hai anak saudaraku. Kalau engkau mau, aku akan melindungimu.” “Tidak,” kata Utsman.

Ketika matanya hampir pecah karena dipukul, dia kemudian melantunkan syair yang berisi pujian tentang matanya: “Jika mataku, karena mencari rido Tuhan, mendapat pukulan tangan mulhid, ateis sesat. Tuhan Maha Pengasih telah menggantinya dengan pahala. Siapa yang mendapat rido Rahman pasti bahagia.”

Utsman bin Mazh’un adalah contoh orang yang meninggalkan kesetian kepada kelompoknya karena kesetian kepada Allah. Dia meninggalkan tribalisme menuju Tauhidul Ummah, menuju Al-Ukhuwah Al-Islamiyyah, persaudaran Islam.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an turun berkenaan dengan Utsman bin Mazh’un. Utsman termasuk pada “segolongan” (thâifah) dalam ayat “Sesungguhnya Tuhanmu menge-tahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (Al-Muzammil 20). Menurut A’isyah: Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, salat malam, terus menerus.” Datang Nabi saw. aku sebutkan hal itu. Rasulullah saw menemui Utsman dan berkata: “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum-hukumnya.”

Menurut Ibn ‘Abd Al-Birr, sehubung-an dengan perilaku Utsman dan sahabat-sahabat yang ingin terus menerus ibadah, turun ayat Al-Maidah 93: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Isti’ab 3:186).

Rasulullah mengunjunginya ketika dia sakit. Ketika dia meninggal dunia, Rasulullah saw ikut menguburkan jenazah-nya. Rasulullah saw juga menangisi kepergian Utsman bin Mazh’un. Sejak zaman Jahiliyyah, Utsman bin Mazh’un memang berakhlak bagus, apalagi setelah dia masuk Islam. Nabi berkata, “Manusia itu seperti logam. Kalau di Zaman Jahiliyyah emas, setelah Islam pun emas juga.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan Utsman sebagai, “Orang yang paling banyak beribadah. Puasa di waktu siang hari dan shalat di malam hari. Dia menjauhi syahwat dan meninggalkan perempuan. Kemudian dia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk mengebiri dirinya tetapi Rasulullah melarangnya. Sejak Zaman Jahilliyah, dia tidak pernah minum khamar. Dia beralasan, “Aku tidak akan minum satu minuman yang menyebabkan akal pikiranku hilang”.

“Waktu Rasulullah saw ditinggalkan oleh putranya yang sangat dicintainya, yaitu Ibrahim yang meninggal di Madinah, Nabi mendampingkan kuburannya di samping kuburan Utsman bin Mazh’un. Beliau bersabda, “Kuburkan Ibrahim di dekat pendahulu kita yang saleh.”

Utsman bin Mazh’un

Utsman bin Mazh’un
.
Tatkala cahaya agama Islam mulai bersinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikannya di beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa gelintir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri ke dalam kelompok pengikut Rasulullah saw. Ia adalah di antara sahabat Nabi saw yang masuk Islam pada urutan keempat belas
.
Dalam kehidupannya, ia pun tidak luput dari ancaman kaum biadab golongan kuffar Qurasy yang tidak menyukai kedatangan dan keberadaan agama baru, Islam. Ia ditempa oleh berbagai derita dan siksa, sebagaimana dialami oleh orang-orang Mukmin lainnya, pengikut setia pembawa risalah baru yang lurus, Rasulullah saw.Ketika keselamatan golongan kecil dari orang-orang beriman dan teraniaya ini menjadi pilihan utama Rasulullah saw, dengan jalan menyuruhnya berhijrah ke Habsyi, maka dipilihlah seorang yang juga membawa puteranya bernama Saib, Utsman bin Mazh’un, memimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini.

Dalam perantauannya, Utsman bin Mazh’un tidak dapat melupakan rencana-rencana jahat mereka termasuk saudara sepupunya, Umayah bin Khalaf. Dihiburlah dirinya dengan menggubah sya’ir yang berisikan sindiran dan peringatan terhadap saudaranya itu, katanya:

“Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya
Kamu runcing ia setajam-tajamnya
Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia
Kamu celakan ornag-orang yang berwibawa
Ingatlah nanti saat bahaya datang menimpa
Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyat jelata”

Suatu ketika tersiarlah kabar bahwa orang-orang Qurasy telah beriman dan menganut agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dengan hati riang dan gembira, bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke Mekah. Mereka sungguh telah merindukan kampung halamannya.

Akan tetapi, baru saja mereka sampai di dekat kota, ternyata berita tentang masuknya kaum Quraisy telah beriman hanyalah berita bohong belaka. Mereka benar-benar merasa terpukul dengan kejadian dan tipuan ini. Betapa tidak, untuk pergi lagi perjalanan mereka sudah terlanjur sampai dekat kota Mekah. Sementara itu, orang-orang musyrik di kota Mekah telah mendengar datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar. Perangkap-perangkap pun mereka siapkan. Takdir telah menentukannya, datanglah barisan kaum Muslimin ke tampat itu.

Untungnya, nasib baik masih menyertai Utsman bin Mazh’un sebagai pemimpin rombongan kala itu. Perlindungan ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi Arab yang memiliki kekudusan dan sangat dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan salah seorang pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh, hingga darahnya tidak boleh ditumpahkan. Hanya sebagian kecil yang dapat masuk memperoleh perlindungan itu. Termasuk di antaranya adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah. Ia pun selamat hingga masuk ke kota Mekah.

Di tengah keberadaan kaum Muslimin di Mekah yang dilanda kecemasan dan ketakutan karena perlakuan orang-orang musyrik, Utsman bin Mazh’un, seorang yang telah ditempa Al-Qur’an dan didikan langsung dari Rasulullah saw, merasa prihatin dan dalam dirinya timbul perasaan berontak menyikapi keadaan itu. Utsman bin Mazh’un keluar dari rumah perlindungannya dengan tekad dan niat yang bulat.

Mari kita dengarkan cerita dari saksi mata yang melukiskan kejadian peristiwa itu!

“Ketika Utsman bin Mazh’un menyaksikan penderitaan yang dialami oleh para sahabat Rasulullah saw, sementara ia sendiri pulang pergi dengan aman dan tenteram disebabkan perlindungan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku ….’

“Lalu ia pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan Anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan Anda.’ ‘Mengapa, wahai keponakanku?’ ujar Walid. ‘Mungkin ada salah seorang anak buahku yang mengganggumu?’ ‘Tidak,’ ujar Utsman bin Mazh’un. ‘Hanya, saya ingin berlindung kepada Allah, dan tidak suka lagi kepada lain-Nya. Karenanya, pergilah Anda ke masjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti Anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku!”

“Lalu, pergilah mereka berdua ke masjid, maka kata Walid, ‘Utsman ini datang untuk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya.’ Ulas Utsman, ‘Betullah kiranya apa yang dikatakan itu …, ternyata ia seorang yang memegang teguh janjinya …, hanya keinginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta’ala.”

Setelah itu, Utsman bin Mazh’un pun berlalulah, sementara di salah satu gedung pertemuan kaum Quraisy, Lubaid bin Rabi’ah menggubah sebuah syair dan melagukannya di hadapan mereka, hingga Utsman bin Mazh’un menjadi tertarik karenanya dan ikut duduk bersama mereka. Kata Lubaid:

“Ingatlah bahwa apa juga yang terdapat di bawah kolong ini selain dari Allah adalah hampa.” “Benar, ucapan Anda itu,” kata Utsman bin Mazh’un menanggapinya. Kata Lubaid lagi, “Dan semua kesenangan, tak dapat tiada lenyap dan sirna.” “Itu dusta!” kata Utsman, “Karena kesenangan surga takkan lenyap.” Kata Lubaid:

“Hai orang-orang Qurasy! Demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagaimana sikap kalian kalau ini terjadi?” Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Si tolol ini telah meninggalkan agama kita, jadi tidak usah digubris, apa ucapannya!”

Utsman bin Mazh’un membalas ucapannya itu hingga di antara mereka terjadi pertengkaran. Dengan perasaan marah, orang itu tiba-tiba bangkit mendekati Utsman lalu meninjunya hingga tepat mengenai matanya, sementara Walid bin Mughirah masih berada di dekat itu dan menyaksikan apa yang terjadi. Maka katanya kepada Utsman, “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh!” Ujar Utsman, “Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syams, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu.” “Ayuhlah Utsman,” kata Walid pula, “Jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku!” “Terima kasih,” ujar Ibnu Mazh’un menolak tawaran itu. Ibnu Mazh’un kemudian meninggalkan tempat itu; Utsman pun pergi. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, dengan hati gembira, ia mendendangkan pantun:

“Andaikata dalam mencintai ridla Ilahi
Mataku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridhai-Nya pasti berbahagia
Hai ummat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku ‘kan tetap dalam agama Rasul, Muhammad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan agama yang haq
walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena.”

Utsman bin Mazh’un telah memperlihatkan kepada kita suatu teladan yang menunjukan pribadi utama yang harum semerbak disebabkan pendiriannya yang luar biasa.

Setelah tidak mendapatkan perlindungan dari Walid, Utsman bin Mazh’un mulai mendapat siksaan dari orang-orang Quraisy. Akan tetapi, karena ketabahan dan kekuatan jiwanya, penderitaannya dirasakan dengan ikhlas dan bahagia.

Suatu ketika Utsman bin Mazh’un hijrah pula ke Madinah, hingga tidak diusik lagi oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya. Ia berangkat ke Madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama yang dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka telah lulus dalam ujian yang telah mencapai puncak kesulitan dan kesukarannya.

Di Madinah, tempat hijrahnya yang baru itu, Utsman bin Mazh’un sangat tekun dan rajin beribadah: malam harinya bagai rahib dengan ibadah shalat dan dzikirnya; siang harinya bagai pahlawan dengan berjuang membela kebenaran. Dengan ketabahan dalam zuhud dan ketekunan dalam ibadahnya, ia mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupannya, baik siang maupun malam dialihnya menjadi shalat yang terus-menerus dan tasbih yang tiada henti-hentinya. Rupanya ia telah memperoleh dan merasakan kemanisan beribdah kepada Allah SWT.

Dengan berpakaian usang yang telah sobek-sobek; yang ditambalnya dengan kulit unta, suatu hari ia masuk masjid, sementara Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Rasulullah saw kemudian bertanya kepada para sahabatnya:

“Bagaimana pendapat Kalian, bila Kalian punya pakaian satu stel untuk pakaian pagi dan sore hari diganti dengan stelan lainnya … kemudian disiapkan di depan kalian suatu perangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya yang telah diangkat … serta kalian dapat menutupi rumah-rumah kediaman kalian sebagaimana Ka’bah bertutup ….?”

“Kami ingin hal itu dapat terjadi, wahai Rasulullah,” ujar mereka, “… hingga kita dapat mengalami hidup makmur dan bahagia!” Maka sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya hal itu telah terjadi, kemudian Kalian sekarang ini lebih baik dari keadaan Kalian waktu lalu.”

Meskipun Utsman bin Mazh’un ikut mendengarkan percakapan itu, ia tidak terpengaruh dengan jawaban para sahabat yang mengharapkan berbagai kecukupan. Ia tetap menjalani hidup dengan bersahaja dan menghindari sejauh-jauhnya kesenangan dunia, sampai-sampai kepada urusan menggauli isterinya hendak menahan diri. Rasulullah pun memanggil dan menyampaikan kepadanya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu.”

Utsman bin Mazh’un amat dicintai oleh Rasulullah saw. Tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat menuju tempat tujuannya, Rasulullah berada di sisinya. Beliau saw membungkuk dan mencium keningnya, seraya membasahi kedua pipinya dengan derai air mata. Wajah Utsman bin Mazh’un tampak bersinar gilang-gemilang saat kematiannya. Ia seorang Muhajirin yang kali pertama wafat di Madinah; juga yang pertama kali dimakamkan di Baqi’.

Bersabdalah Rasulullah saw melepas sahabatnya yang tercinta itu:
“Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib….
Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang kamu peroleh daripadanya, serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu.”

Sepeninggal sahabatnya itu, Rasulullah tidak melupakannya. Ketika melepas puterinya, Rukayah; ketika nyawanya hendak melayang, Beliau pun berkata:

“Pergilah susul pendahulu kita yang pilihan, Utsman bin Mazh’un!”


Orang-orang kafir Quraiys amat gusar mendengar hijrahnya beberapa kaum muslimin ke negeri Habasyah. Mereka mengutus Amr ibnul ‘Ash dan Abdullah ibnu Abdi Rabi’ah untuk membujuk Raja Habasyah agar mau mengusir kaum muslimin dari negerinya. Namun, sang Raja menolaknya. Ia tetap melindungi kaum muslimin Makkah.

rang-orang  Quraiys tak kurang akal. Beberapa waktu berselang, mereka mengabarkan kepada kaum muslimin yang hijrah, bahwa tokoh-tokoh Quraisy sudah masuk Islam. Sehingga jika mereka kembali, mereka tak lagi mengalami siksaan.

Kaum muslimin di negeri Habasyah menyambut gembira kabar ini. Mereka sudah rindu kampung halaman, dan ingin segera bertemu Rasulullah. Mereka pun segera kembali ke Makkah.

Alangkah terkejutnya mereka. Sesampai di Makkah, orang-orang kafir menangkap mereka dan menyiksa mereka. Hanya satu orang yang tak diusik. Dia adalah Utsman bin Mazh’un. Orang-orang kafir Quraisy tak berani menangkapnya, karena pamannya, Walid bin Mughirah, yang juga salah satu tokoh Quraisy telah memberikan jaminan keamanan baginya. Utsman pun selamat.

Bukannya senang dengan perlindungan ini, Utsman bin Mazh’un justru merasa sedih. Ia sedih menyaksikan saudara-saudaranya seiman mengalami penderitaan dan penyiksaan. Hatinya berontak. Ia lantas menghadap sang paman, Walid bin Mughirah yang memberikan jaminan keamanan.

“Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari Allah. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang.

Sang paman tak menyangka, kemenakannya akan mengatakan hal ini. Tapi ia tak mampu menolaknya. Walid lantas mengumumkan kepada warga Makkah, bahwa ia telah melepaskan perlindungan atas Utsman bin Mazh’un.

Mendengar pengumuman ini, kaum Quraisy bergegas mendatangi Utsman dan mulai menyiksanya. Utsman menerimanya dengan lapang dada. Ia bangga karena kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia menikmati siksaan demi siksaan itu dengan kesabaran. Baginya, lebih baik berlindung kepada Allah daripada mendapat perlindungan manusia.

Sebenarnya sang paman bersedia memberikan perlindungan lagi, agar Utsman tak lagi disiksa. Tapi, Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.”

Dan kesabaran Utsman berbuah manis. Setelah berbagai siksaan dan pukulan diterimanya dengan tabah, ia pun memenuhi perintah Rasulullah untuk berangkat hijrah ke Madinah besama kaum muslimin lainnya.

Di Madinah, umat Islam dapat beribadah dengan tenang. Mereka bisa mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah tanpa rasa takut dan khawatir. Utsman bin Mazh’un pun menjadi sahabat yang cukup ternama. Utsman adalah orang yang ahli ibadah dan seorang zahid, waktunya habis untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sepanjang siang dan malam ia habiskan waktu untuk shalat, membaca Al-Quran, dan puasa.

Tokoh yang satu ini termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, yakni pada urutan yang keempatbelas. Baliau termasuk orang yang pertama juga dari kaumMuhajirin yang hijrah ke Madinah dan sekaligus menjadi orang pertama yang wafat di Medinah, karenanya menjadi yang pertama pula dari ummat Islam yang dikuburkan diBaqi.

Beliau dikenal sebagai orang yang suci dan punya kepribadian dan hati yang suci dalam beribadah kepada Allah SWT. Beliau suci bukan karena mengucilkan diri (‘Uzlah) jauh dari kehidupan yang bisa mengantarkan orang kepada kesesatan, tapi suci di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jahil. Corak kehidupannya sangat berbeda dengan konsep hidup kaum sufi pada umumnya yang sebagian mereka berpendapat atau memiliki prinsip “Uzlah” untuk mengambil sikap mengasingkan diri dari kelompok masyarakatnya yang tidak sejalan dengan prinsip hidup seorang mu’min

.

     Paling tidak, ada “dua” pola pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh umumnya orang Islam dan kelompok Sufi. Keduanya tentu saja sama-sama hidup di jalan Allah, namun dengan “Manhaj”(Metoda) yang agak berbeda dalam mengartikan “Uzlah”. Di mana yang satu mengartikannya dengan mengasingkan diri, atau hijrah dari sebuah kondisi masyarakat yang tidak kondusif untuk berkembangnya keimanan dan kesholehan seseorang. Namun, sementara yang lain tidak sependapat dengan pemaknaan “Uzlah” seperti itu
.
     Yang paling menonjol dari diri Utsman bin Mazh’un adalah “Mujahadah”nya, yakni upaya yang sungguh-sungguh untuk hidup di jalan Allah dengan melakukan semua yang dicintai Allah dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya dan untuk itu beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat, sebaliknya beliau senantiasa siap menghadapi segala resiko yang terjadi termasuk siap menghadapi siksaan yang sudah biasa dihadapi oleh orang-orang yang baru masuk Islam. Kala itu beliau hadapi segala macam siksaan dengan kesabaran dan tidak pernah berniat sedikit pun untuk lari dari kondisi yang dialaminya
.
     Beliau baru mau berhijrah ke Habsy setelah Rasulullah Saw memerintahkan Utsman dan para sahabat yang lain meninggalkan Mekah yang sangat tidak kondusif bagi orang-orang mu’min saat itu. Mereka pun berhijrah lalu menemukan lingkungan di Habsyi yang membuat mereka merasa aman dan nyaman serta bisa meninggalkan lingkungan para penyembah berhala yang telah membuat mereka “muak” melihatnya. Di Habsyi mereka hidup di lingkungan orang-orang Nasrani. Kedatangan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang Nasrani untuk mendakwahi dengan maksud agar orang-orang muslim masuk dalam keyakinan mereka. Para sahabat yang hijrah ke Habsyi di bawah pimpinan Utsman bin Mazh’un, tidak mungkin mengikuti ajakan mereka lari dari satu kekufuran lalu masuk ke dalam kekufuran yang lain, keluar dari kesesatan yang satu lalu masuk ke dalam kesesatan yang lain. Karena mereka yakin, “Hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar” (QS. Ali Imran, 3:19;85)
.
     Ketika mereka sedang menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman dalam beribadah dan mempelajari Al Qur’an, tiba-tiba muncul berita bahwa di Mekah, orang orang Quraisy dan para tokohnya telah masuk Islam. Berita yang cukup menggembirakan ini menjadikan mereka ingin sekali segera kembali ke Mekah dan mereka pun segera bersiap-siap. Namun, pada saat akan memasuki Mekah, arulah mereka menyadari, bahwa berita tersebut hanya fitnah dan tipu daya belaka sehingga membuat Utsman dan para sahabat betul-betul merasa terpukul atas kecerobohan mereka yang tidak menyelidiki dulu kebenaran berita tersebut. Padahal, mereka saat itu sudah berada di pintu masuk kota Mekah. Sementara itu orang-orang musyirikin yang mendengar akan kehadiran mereka yang dianggap “buronan” menyambut berita tersebut dengan suka cita. Bagi orang-orang musyirikin, Utsman dan para sahabat yang mau menegakkan kebenaran dianggap “buronan”
.
     Di masyarakat Arab Jahilliyyah saat itu berlaku sistim perlindungan, di mana setiap orang bisa mencari pelindung yang tentu saja dari tokoh Quraisy yang disegani. Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, Utsman dan para sahabat berupaya mencari perlindungan. Namun tidak semuanya berhasil. Salah satu yang berhasil adalah Utsman bin Mazh’un yang mendapat perlindungan dari Walid bin Mughirah, seorang tokoh musyirikin Quraisy yang disegani. Karena mendapat perlindungan dari Walid, maka Utsman bin Mazh’un bebas masuk ke Mekah dengan tenang, tidak ada yang berani mengganggu karena Walid sudah mengumumkan di depan masjid bahwa Utsman ada dalam perlindungannya
.
Mendapat perlindungan dari Walid sebenarnya hati Utsman kemudian menjadi sangat tidak tenang, pada saat beliau melihat saudara-saudaranya yang miskin dan lemah tidak menemukan orang untuk melindungi mereka, sehingga mereka harus menerima siksaan yang tidak tertahankan. Melihat saudara-saudaranya hidup dalam penderitaan, batin Utsman bin Mazh’un tidak rela. Akhirnya beliau memutuskan menemui Walid bin Muqhirah untuk menyatakan keinginannya melepaskan diri
.
Kisahnya dapat diikuti sebagaimana diriwayatkan oleh seorang sahabat: “Ketika Utsman bin Mazh’un melihat beberapa sahabat Rasul mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, sementara ia aman dalam perlindungan Walid bin Mughirah, lalu ia berkata dalam hatinya, Demi Allah, sesungguhnya saat ini aku sedang berlindung kepada musuh Allah, sementara sahabat-sahabatku merasakan berbagai azab dan siksaan, maka ia pun segera menemui Walid bin Mughirah dan berkata: “Wahai Abu Abdi Syams (Walid), bebaskan aku dari perlindunganmu! Berkata Walid: Kenapa wahai anak pamanku? Sementara orang lain susah mencari pelindung kau malah minta dibebaskan dari perlindunganku, jika kulepaskan maka boleh jadi kau akan disiksa oleh kaumku. Jawab Utsman: “Tidak, aku lebih suka ada di dalam perlindungan Allah. Pergilah kau ke depan masjid umumkanlah bahwa kau sudah tidak lagi melindungi aku sebagaimana kau dulu mengumumkan perlindungan terhadapku. Lalumereka berdua pun pergi ke halaman masjid. Walid berkata, ini adalah Utsman, dia datang menemuiku untuk membebaskan dirinya dari perlindunganku. Utsman menanggapi pernyataan Walid dengan menyatakan: “Benar yang diucapkan Walid. Dia betul orang yang selama ini bertanggung jawab melindungiku, tetapi aku lebih suka untuk dilindungi oleh Allah dan aku tidak pernah sudi lagi untuk dilindungi oleh orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT
.
Dapat kitaambil pelajaran bahwa Utsman sempat mengambil langkah yang kurang tepat, karena sesungguhnya yang tepat sebagai pelindung hanyalah Allah SWT. Karenanya ketika turun ayat 255 surah Al Baqarah, Rasul Saw segera memerintahkan kepada para sahabat yang selama ini menjadi pengawal Rasul: “Wahai saudara-saudaraku, pergilah kalian sekarang jangan lagi kalian mengawalku karena sudah ada yang mengawalku, Allah SWT”
.
Usai proses pelepasan perlindungan dari Walid, beliau menghadiri sebuah majelis orang-orang Quraisy yang sedang dipimpin oleh Lubaid bin Rabi’ah. Di dalam majelis tersebut, Lubaid bin Rabi’ah berkata: “Bukankah segala sesuatu selain Allah itu adalah hampa tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah?”. Kata Utsman:”Benar, apa yang kau katakan wahai Lubaid. Kata Lubaid pula: “Bukankah setiap kenikmatan suatu saat akan sirna”. Utsman menimpali pernyataan Lubaid:”Bohong, nikmat syurga tidak akan pernah sirna selama-lamanya, semua kenikmatandunia benar akan sirna tapi ada kenikmatan syurga yang tidak kalian yakini, tidak akan sirna selama-lamanya. Lubaid merasa terpotong dan terhina dengan ungkapan tersebut, padahal ia seorang tokoh Quraisy yang disegani. Lalu ia mengatakan: “Wahai kaum Quraisy, demi tuhan pernahkah kalian meliha seseorang menghinaku dalam majelis seperti ini?”. Salah seorang yang hadir di dalam majelis mengatkan:”Orang yang baru bicara ini adalah orang tolol yng baru saja meninggalkan agama nenek moyang kita, maka jangan digubris ucapannya”
.
Sejarah berulang, setiap orang yang akan kembali menegakkan ajaran Allah disebut tolol, bodoh atau idiot oleh orang-orangsesat. Padahal, yang bodoh menurut Allah adalah mereka yang tersirat dan tersurat dalam ayat 179 surah Al A’raaf, yang diantaranya adalah mereka yang memiliki akal namun tidak dipergunakan untuk berfikir di jalan Allah SWT. Utsman bin Mamh’un, menanggapi pernyataan orang tersebut sehingga terjadilah perang mulut di antara mereka, yang bersangkutan lalu berdiri dan memukul salah satu mata Utsman
.
Melihat kejadian tersebut, Walid bin Mughirah berkata :”demi tuhan wahai keponakanku, jika matamu itu kebal, kau pantas untuk melepaskan tanggungan dariku, tapi kau sudah melepaskan tanggungan itu maka aku tidak akan membelamu. Utsman berkata: “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang satu lagi sangat membutuhkan apa yang dialami oleh mataku yang sebelah  karena dianiaya di jalan Allah. Walid berkata: “Jika kau mau, aku masih siap untuk menjadi pelindungmu. Jawab Utsman: “Tidak, tidak untuk selama-lamanya!”
.
Pergilah Utsman dengan sebelah matanya yang sakit, tetapi ia begitu luar biasa terbebas jiwanya karena ia sekarang sedang berlindung kepada Allah SWT. Suatu ketika, Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Medinah dan termasuklah diataranya Utsman. Di Medinah mereka bisa merasakan kekhusyuan beribadah dan kembali kesucian pribadi Utsman nampak kembali tergambar dalam hidup kesehariannya. Ia menjadi “Rahib” (orang suci) yang menghabiskan malamnya untuk beribadah dan siangnya bekerja keras, lalu terkadang malam dan siang dipakai untuk beribadah atau malam dan siang untuk berjuang termasuk berperang menghadapi orang-orang musyirikin.
utsman punya keistimewaan tersendiri dalam ber-“Zuhud”, hidupnya benar-benar-benar jauh dari kenikmatan dunia, beliau lebih suka memakai pakaian yang kasar dan tidak mengganti pakaian dan beliau tidak makan, kecuali makanan yang sangat sederhana. Pada suatu saat beliau masuk ke dalam masjid yang saat itu Rasul dan para sahabat sedang duduk-duduk, beliau masuk dengan memakai pakaian yang sangat tidak layak dipakai, melihat kondisi beliau, Rasul pun tersentuh hatinya, sementara para sahabat yang menyaksikan malah mengalirkan air mata. Beliau beribadah ternyata bukan hanya dengan meninggalkan kenikmatan dunia dalam arti makan, minum dan berpakaian, tapi pernah juga berniat untuk menjauhi istrinya. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, maka Rasul mun menegur beliau dengan mengatakan: “Istrimu punya hak darimu”
.
Keinginan beliau senantiasa ber-“Mujahadah” inilah yang membuat Rasul sangat mencintai beliau. Karena ketika ruhnya yang suci hendak meninggalkan jasad menuju ke hadirat Allah SWT, Rasul pun berada disampingnya mendampingi sampai akhir hayatnya. Dan ketika utsman bin Mazh’un akhirnya meninggalkan alam dunia ini, Rasul menundukkan kepalanya dan mencium kening memenuhi wajah Utsman dengan air mata. Dengan iringan doa beliau; “Semoga Allah merahmatimu, wahai Utsman, kau tinggalkan alam dunia ini tidak pernah kau ambil sedikitpun keuntungan darinya, dan dunia pun tidak pernah dirugikan oleh sebab kehadiranmu”
.
Rasul tidak pernah melupakan orang yang sangat dicintainya, sepeninggal Utsman beliau selalu ingat dan memujinya di depan para sahabt, sehingga diriwayatkan saat putri Rasul, Rukayah akan meninggal dunia, Rasul berkata kepada putrinya:”Temuilah segera di alam barzah (Utsman bin Mazh’un) orang yang sangat baik dan mulia di sisi Allah SWT”
.
Seandainya anda hendak bermaksud menyusun daftar nama-nama sahabat yang Rasulullah saw. menurut urutan masa masuknya kedalam agama islam, maka pada urutan ke empat belas tentulah anda akan tempatkan Utsman bin Mazh’un.Tatkala agama islam cahayanya mulai menyinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikanya dari beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, maka Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa segelincir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri dari sekelompok Rasulullah.Seperti biasanya pengikut Rasulullah selalu diterpa berbagai derita dan siksaan pada saat itu.Rasulullah saw. mengutamakan keselamatan golongan kecil dari orang beriman dan teraniaya ini, dengan jalan menyuruh mereka berhijrah ke Habsyi. Dan Utsman bin Mazh’un terpilih sebagai pemimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini. dengan putranya yang bernama Saib, dilangkahkanya kaki ke suatu negeri yang jauh menghindar dari tiap daya musuh Rasulullah dari Abu Jahal dan orang Quraisy.Dan ketika mereka berada di Habsyi, di sana mereka menghadapi suatu agama yang teratur dan tersebar luas, mempunyai gereja-gereja, rahib-rahib dan para pendeta. Dan tentulah orang-orang gereja di negeri Habsyi itu telah berusaha sekuat daya untuk menarik orang-orang Muhajirin kedalam agama mereka, dan meyakinkan kebenaran agama Masehi. Tetapi para kaum Muhajirin tidak ada yang beranjak dari kecintaan mereka yang mendalam terhadap agama islam dan terhadap Muhammad Rasulullah.Demikianlah kaum Muhajirin tinggal di Habsyi dalam keadaan aman dan tentram. Mereka senantiasa beribadan kepada Allah dengan tekun dan mempelajari ayat-ayat al-Quran yang ada pada mereka. Tiba-tiba sampailah berita kepada mereka bahwa orang-orang Quraisy telah menganut agama islam dan mengikuti Rasulullah bersujud kepada Allah.Maka bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemas barang-barang mereka, dan bagaikan terbang mereka berangkat ke Makah dibawa kerinduan dan didorong kecintaan pada kampung halaman. Tetapi baru saja mereka sampai di kota, ternyata  masuknya orang-orang Quraisy itu hanya dusta belaka.Ketika itu mereka amat terpukul karena telah berlaku ceroboh dan amat tergesa-gesa. Tetapi betapa mereka akan kembali, padahal kota mereka telah berada di hadapan mereka. Dalam keadaan itu orang-orang musyrik di kota mekah telah mendengar  datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar dan pasang perangkap untuk menangkapnya.Perlindungan, ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi arab yang memiliki kekudusan dan dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh. Diantaranya yang termasuk mendapat perlindungan adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah.Dalam keadaan itu, ia melihat saudara-saudara yang lain mendapat siksaan oleh kaum Quraisy yang keji, maka hatinya bergejolak, maka ia bermaksud untuk menanggalkan perlindunganya.

Ia pun berkata kepada Walid bin Mughirah:

“wahai Abu Abdi Syam, cukup sudah perlindungan anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan anda.”

“kenapa wahai keponakanku?” ujar Walid, “mungkin ada seseorang anak buahku yang mengganggumu?”

“tidak” jawab Utsman, ‘hanya saya ingin berlindung kepada Allah’.

Maka Utsman pergi ke masjid dan mengumumkan penanggalan perlindunganya.

Disana Utsman mendapatkan tinjuan tepat mengenai mata. Berkatalah Walid

“wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa maka sungguh, benteng perlindunganmu sangat tangguh”.

Ujar Utsman “tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat pula membutuhkan pukulan yang telah dialami saudaranya dijalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syamas, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu dari padamu.”


Dan setelah ditanggalkanya perlindungan dari Walid, maka Utsman menemui siksaan dari orang-orang Quraisy. Tetapi dengan begitu ia tidak merana, malah bahagia.

Utsman melakukan hijrah ke madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka. Dan di kota hijrah Madinah al-Munawwarah itu bersingkaplah kepribadian dari Utsman bin Mazh’un tak ubah bagai batu permata yang telah diasah dan kebesaran hatinya yang istimewa. Ia memiliki ciri khas dalam zuhud dan ibadahnya. Ia amat tekun dan mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupanya baik siang maupun malam dialihkanya menjadi sholat  yang terus menerus dan tasbih yang tiada henti.

Rupanya ia telah merasakan manisnya keasyikan beribadah itu, iapun hendak memutuskan hubungan dengan segala kesenangan dan kemewahan dunia. Ia tak hendak memakai pakaiaan kecuali yang kasar dan tak hendak memakan makanan selain yang amat bersahaja.,

Ibnu Mazh’un amat disayangi oleh rasulullah saw dan tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat, hingga demikian ia merupakan orang Muhajirin yang pertama wafat di Madinah, dan yang mula-mula merintis jalan menuju surga, maka Rasulullah saw. berada disisinya.

Rasulullah saw. membungkuk, mencium kening Ibnu Mazh’un serta membasahi kedua pipinya dengan air yang berderai dari kedua mata beliau yang diliputi santun dan duka cita hingga saat kematiannya.

Dan bersabdah Rasulullah saw. melepas sahabat yang tercinta itu:

“semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu Saib. Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satupun keuntungan yang kamu peroleh dari padanya serta tak satu kerugianpun yang dideritanya daripada mu.”

Dan sepeninggalan sahabatnya, Rasulullah yang amat penyantun itu tidak pernah melupakanya, selalu ingat dan memujinya. Bahkan untuk melepas putri beliau Rukayah, yakni ketika nyawanya hendak melayang, adalah kata-kata berikut:

“pergilah susul pendahulu kita yang pilihan. Utsman bin Mazh’un”

sahabat Nabi SAW yang dipuji Al Quran dan diakui syi’ah : Utsman bin Mazh’un

Q.S. Al-Muzzammil ayat 20

bismillah
Artinya :
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Penjelasan Syi’ah : 

Ayat ini turun berkaitan dengan Utsman bin Mazh’un. Beliau termasuk pada “segolongan/tahifah dalam Qs. Al Muzammil ayat 20

Aisyah bertutur : “Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, shalat malam, terus menerus”. Aku ceritakan hal itu kepada Nabi SAW. Rasulullah menemui Utsman dan berkata , “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh  ? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum hukumnya”

.

Q.S. Al- Maidah ayat 93

laysa ‘alaa alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu idzaa maa ittaqaw waaamanuu wa’amiluu alshshaalihaati tsumma ittaqaw waaamanuu tsumma ittaqaw wa-ahsanuu waallaahu yuhibbu almuhsiniina
.
93. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Penjelasan Syi’ah : Menurut Ibn ‘Abd Al Birr, sehubungan dengan perilaku Utsman dan sahabat sahabat yang ingin terus menerus beribadah maka turunlah Qs. Al Maidah ayat 93 (Al Isti’ab 3:186).

bismillahUtsman bin Maz`un (wafat 2 H/624 M) (Bahasa Arab عثمان بن مظعون) adalah salah satu sahabat nabi. Ia termasuk cendekiawan Arab di zaman jahiliyah, sempat mengikuti Perang Badardan meninggal dunia sekembalinya dari perang tersebut. Sepeninggal Utsman, Muhammad menciumnya sambil mengalirkan air mata. Utsman inilah sahabat pertama yang meninggal diMadinah.

Utsman inilah yang pernah berniat membujang dan meninggalkan keduniawian, akan tetapi Muhammad melarangnya dari niat tersebut. Kemudian Utsman bin Mazh’un menikah denganKhawlah binti Hakim.

Wisudawan Madrasah Rasulullah saw (1)

REFORMASI Agung kedua yang dilakukan Rasulullah adalah dengan mengubah kesetiaan kepada kelompok menjadi kesetiaan kepada Islam. Sekarang saya ingin memberikan contoh keberhasilan reformasi kedua itu melalui kehidupan beberapa sahabat yang lulus dari Madrasah Rasulullah saw. Tidak semua sahabat lulus dari Madrasah Rasulullah. Ada juga sahabat yang diskors selama tiga bulan dan semua sahabat-sahabat Nabi yang lain dilarang berbicara dengan dia. Sampai sahabat Nabi itu kemudian lari ke gunung, bertaubat siang dan malam.

Para sahabat yang lulus dari madrasah Rasulullah saw, anehnya, banyak yang tidak kita kenal. Salah seorang tokoh yang tidak begitu kita kenal adalah Utsman bin Mazh’un, dia dikuburkan di Baqi. Bapaknya adalah Mazh’un bin Wahab bin Hudzafah bin Jumuh Al-Quraisyi. Sedangkan Ibunya ialah Suhailah binti Al-Anbas bin Ahban bin Khudzafah bin Jumuh.

Utsman masuk Islam beserta seluruh keluarganya. Dia adalah orang ketigabelas yang masuk Islam. Dia sangat rajin beribadah. Ia pun hijrah dua kali ke Habsyi. Dia ikut berperang di Badar bersama Rasulullah saw. Dia meninggal dua setengah tahun setelah Hijrah. Nabi menguburkannya di Baqi dan memberi tanda di kuburan Utsman dengan batu. Nabi sering menziarahi kuburannya. Hal ini sekaligus merupakan dalil bahwa ziarah ke kubur itu ialah sunnah Rasulullah saw. Kelak, salah seorang putera Utsman syahid pada hari Yamanah, ketika kelompok Musailamah Al-Kadzab melakukan perlawanan.

Kesetiaan Utsman bin Mazh’un kepada Allah dan Rasul-Nya lebih tinggi daripada kesetiaannya kepada yang lain. Ketika orang-orang Islam dikejar-kejar dan dianiaya, Utsman hijrah ke Habsy beserta seluruh keluarganya. Seperti kita ketahui, ‘Amr bin ‘Ash menyusul ke Habsyi dan meminta Utsman supaya kembali lagi ke Mekkah. ‘Amr bin ‘Ash juga meminta kepada Raja Habsyi supaya tidak menerima umat Islam di negeri itu dan mengembalikannya ke Mekkah.

Ketika Utsman bin Mazh’un kembali dari Habsyi ke Mekkah, penindasan masih berlangsung. Orang-orang Islam masih disiksa dan dianiaya. Dia menghadapi ancaman terhadap dirinya dan keluarganya. Akhirnya dia mencari perlindungan kepada keluarga Al-Walid bin Mughirah, seorang penyair yang sejak dulu dekat dengan Utsman.

Pada awalnya, Utsman bin Mazh’un masuk Islam karena rasa malu. Rasulullah saw sering berdakwah kepadanya dan berulang kali mengajak Utsman bin Mazh’un masuk Islam. Utsman pernah berkata, “Aku ini masuk Islam karena malu saja. Rasulullah berulang kali mengajak aku untuk masuk Islam. Waktu itu Islam belum ada dalam hatiku. Sampai suatu hari aku sedang bersama Rasulullah, tiba-tiba Rasul memandang ke langit. Seakan-akan beliau sedang memahami sesuatu. Setelah Rasul merenung, aku bertanya kepada Rasul tentang apa yang terjadi. Lalu Rasul menjawab, “Allah menyuruh kamu untuk berbuat baik dan memberikan hak kepada keluargamu. Dan Allah melarang kamu dari keburukan dan kemungkaran.” (QS Al-Nahl 90).

“Waktu itu, menetaplah Islam dalam hatiku. Itulah saatnya aku masuk Islam yang sungguh-sungguh, karena aku tersentuh oleh ayat yang indah itu. Lalu aku datangi paman Nabi, Abu Thalib, dan aku kabarkan ke-islamanku. Beliau memberi nasehat, “Ya Ahli Quraisy, ikuti Muhammad, nanti kamu mendapat petunjuk. Karena Muhammad tidak memerintah kecuali kepada akhlak yang mulia.”

“Kemudian aku datangi Walid bin Mughirah, aku bacakan ayat itu dan Mughirah pun terpesona. Dia berkata, “Sungguh dalam ayat-ayat itu ada kemanisan-nya. Di atasnya juga ada keindahannya. Pada puncaknya ada buahnya. Dan di bawahnya rimbun. Ini bukan ucapan manusia. Kalau itu ucapan Muhammad, alangkah bagusnya ucapan Muhammad itu. Dan kalau itu ucapan Tuhannya, alangkah bagusnya ucapan Tuhannya itu”.

Walid bin Mughirah memang dekat dengan Utsman bin Mazh’un, meskipun dia tidak masuk Islam. Malahan ia termasuk dedengkot kekufuran. Tapi kepada Walid bin Mughirah, Utsman bin Mazh’un berlindung. Dan Walid bin Mughirah melindungi dia. Sehingga dia tidak diganggu oleh orang-orang kafir. Sementara orang-orang Islam yang lain menderita, Utsman bin Mazh’un ber-senang-senang di bawah perlindungan Walid bin Mughirah.

Utsman berkata, “Demi Allah, pagi dan soreku tentram dalam perlindungan seseorang yang musyrik. Sedangkan sahabat-sahabatku dan teman seagamaku sekarang menderita barbagai bala dan kesulitan karena Allah. Itu semua tidak menimpaku. Sungguh keadaanku ini adalah sebuah kekurangan yang besar, sebuah aib besar untuk diriku.”

Kemudian Utsman bin Mazh’un datang menemui Walid bin Mughirah, “Wahai Abâ ‘Abdi Syam, sudah selesai sekarang perlindunganmu itu. Aku kembalikan perlindunganmu itu.” Walid menjawab, “Kenapa kau kembalikan perlindungan itu, hai anak saudaraku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?” “Tidak,” jawab Utsman, “bukan karena itu. Tapi aku ingin memilih perlindungan Allah dan aku tidak ingin meminta perlindungan kepada selain Dia.” Walid berkata, “Kalau begitu, berangkatlah kamu ke mesjid dan umumkan terang-terangan bahwa kamu sudah menolak perlindunganku.” Keduanya pun lalu berangkat ke mesjid. Di sana Walid meng-umumkan, “Ini Utsman, dia menolak perlindunganku.” Utsman mengatakan, “Benar apa yang dia katakan dan dia sudah melindungi aku dengan sebaik-baiknya. Tapi aku lebih senang untuk berlindung kepada Allah saja dan karena itu aku kembalikan perlindungan Walid.”

Pada waktu itu datang rombongan tokoh-tokoh Quraisy, salah seorang di antaranya ialah Walid bin Rabiah bin Malik bin Ja’far bin Kilab dari Bani Kilab yang juga duduk di situ. Lalu ada seorang yang bernama Lubaib dari Bani Kilab yang ketika mendengar Utsman bin Mazh’un telah melepaskan perlindungan Walid bin Mughirah, dia membacakan sebuah syair, “Sungguh segala sesuatu selain Allah itu akhirnya jadi bathil.” “Shadaqta. Kamu benar”, kata Utsman. Kemudian Lubaib meneruskan syairnya, “Semua nikmat akhirnya akan berakhir juga.” Maksud Lubaib, perlindungan Mughirah itu sekarang berakhir semua. Utsman berkata, “Kamu dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah berakhir.” Lalu Lubaib berteriak, “Hai Quraisy, lihatlah orang yang duduk bersama kalian ini! Dia termasuk orang-orang bodoh yang meninggalkan agama kita.” Utsman terus membantahnya, sampai Lubaib marah. Kemudian salah satu telinga dan mata Utsman dipukul, sehingga matanya lebam karena pukulan.

Walid bin Mughirah, yang dulu sebagai pelindung Utsman, berada di situ dan berkata, “Hai anak saudaraku, sekiranya mata kamu itu sehat, itu karena dulu kau berada pada perlindungan yang kokoh.” Walid bermaksud menyindir Utsman. Tapi Utsman berkata, “Demi Allah, mataku yang sehat ini sekarang iri dengan mata yang lain dalam membela agama Allah.” Utsman menantang untuk dipukul lagi. Walid berkata, “Mari ke sini, Hai anak saudaraku. Kalau engkau mau, aku akan melindungimu.” “Tidak,” kata Utsman.

Ketika matanya hampir pecah karena dipukul, dia kemudian melantunkan syair yang berisi pujian tentang matanya: “Jika mataku, karena mencari rido Tuhan, mendapat pukulan tangan mulhid, ateis sesat. Tuhan Maha Pengasih telah menggantinya dengan pahala. Siapa yang mendapat rido Rahman pasti bahagia.”

Utsman bin Mazh’un adalah contoh orang yang meninggalkan kesetian kepada kelompoknya karena kesetian kepada Allah. Dia meninggalkan tribalisme menuju Tauhidul Ummah, menuju Al-Ukhuwah Al-Islamiyyah, persaudaran Islam.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an turun berkenaan dengan Utsman bin Mazh’un. Utsman termasuk pada “segolongan” (thâifah) dalam ayat “Sesungguhnya Tuhanmu menge-tahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.” (Al-Muzammil 20). Menurut A’isyah: Datang kepadaku istri Utsman bin Mazh’un dalam keadaan lusuh. Aku tanya mengapa. Ia berkata, “Suamiku puasa siang, salat malam, terus menerus.” Datang Nabi saw. aku sebutkan hal itu. Rasulullah saw menemui Utsman dan berkata: “Hai Utsman, kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah kamu mengambilku sebagai contoh? Demi Allah, aku paling takut kepada Allah, dan paling memelihara hukum-hukumnya.”

Menurut Ibn ‘Abd Al-Birr, sehubung-an dengan perilaku Utsman dan sahabat-sahabat yang ingin terus menerus ibadah, turun ayat Al-Maidah 93: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Isti’ab 3:186).

Rasulullah mengunjunginya ketika dia sakit. Ketika dia meninggal dunia, Rasulullah saw ikut menguburkan jenazah-nya. Rasulullah saw juga menangisi kepergian Utsman bin Mazh’un. Sejak zaman Jahiliyyah, Utsman bin Mazh’un memang berakhlak bagus, apalagi setelah dia masuk Islam. Nabi berkata, “Manusia itu seperti logam. Kalau di Zaman Jahiliyyah emas, setelah Islam pun emas juga.”

Ibnu Ishaq meriwayatkan Utsman sebagai, “Orang yang paling banyak beribadah. Puasa di waktu siang hari dan shalat di malam hari. Dia menjauhi syahwat dan meninggalkan perempuan. Kemudian dia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk mengebiri dirinya tetapi Rasulullah melarangnya. Sejak Zaman Jahilliyah, dia tidak pernah minum khamar. Dia beralasan, “Aku tidak akan minum satu minuman yang menyebabkan akal pikiranku hilang”.

“Waktu Rasulullah saw ditinggalkan oleh putranya yang sangat dicintainya, yaitu Ibrahim yang meninggal di Madinah, Nabi mendampingkan kuburannya di samping kuburan Utsman bin Mazh’un. Beliau bersabda, “Kuburkan Ibrahim di dekat pendahulu kita yang saleh.”

Utsman bin Mazh’un

Utsman bin Mazh’un
.
Tatkala cahaya agama Islam mulai bersinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikannya di beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa gelintir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri ke dalam kelompok pengikut Rasulullah saw. Ia adalah di antara sahabat Nabi saw yang masuk Islam pada urutan keempat belas
.
Dalam kehidupannya, ia pun tidak luput dari ancaman kaum biadab golongan kuffar Qurasy yang tidak menyukai kedatangan dan keberadaan agama baru, Islam. Ia ditempa oleh berbagai derita dan siksa, sebagaimana dialami oleh orang-orang Mukmin lainnya, pengikut setia pembawa risalah baru yang lurus, Rasulullah saw.Ketika keselamatan golongan kecil dari orang-orang beriman dan teraniaya ini menjadi pilihan utama Rasulullah saw, dengan jalan menyuruhnya berhijrah ke Habsyi, maka dipilihlah seorang yang juga membawa puteranya bernama Saib, Utsman bin Mazh’un, memimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini.

Dalam perantauannya, Utsman bin Mazh’un tidak dapat melupakan rencana-rencana jahat mereka termasuk saudara sepupunya, Umayah bin Khalaf. Dihiburlah dirinya dengan menggubah sya’ir yang berisikan sindiran dan peringatan terhadap saudaranya itu, katanya:

“Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya
Kamu runcing ia setajam-tajamnya
Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia
Kamu celakan ornag-orang yang berwibawa
Ingatlah nanti saat bahaya datang menimpa
Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyat jelata”

Suatu ketika tersiarlah kabar bahwa orang-orang Qurasy telah beriman dan menganut agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dengan hati riang dan gembira, bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke Mekah. Mereka sungguh telah merindukan kampung halamannya.

Akan tetapi, baru saja mereka sampai di dekat kota, ternyata berita tentang masuknya kaum Quraisy telah beriman hanyalah berita bohong belaka. Mereka benar-benar merasa terpukul dengan kejadian dan tipuan ini. Betapa tidak, untuk pergi lagi perjalanan mereka sudah terlanjur sampai dekat kota Mekah. Sementara itu, orang-orang musyrik di kota Mekah telah mendengar datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar. Perangkap-perangkap pun mereka siapkan. Takdir telah menentukannya, datanglah barisan kaum Muslimin ke tampat itu.

Untungnya, nasib baik masih menyertai Utsman bin Mazh’un sebagai pemimpin rombongan kala itu. Perlindungan ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi Arab yang memiliki kekudusan dan sangat dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan salah seorang pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh, hingga darahnya tidak boleh ditumpahkan. Hanya sebagian kecil yang dapat masuk memperoleh perlindungan itu. Termasuk di antaranya adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah. Ia pun selamat hingga masuk ke kota Mekah.

Di tengah keberadaan kaum Muslimin di Mekah yang dilanda kecemasan dan ketakutan karena perlakuan orang-orang musyrik, Utsman bin Mazh’un, seorang yang telah ditempa Al-Qur’an dan didikan langsung dari Rasulullah saw, merasa prihatin dan dalam dirinya timbul perasaan berontak menyikapi keadaan itu. Utsman bin Mazh’un keluar dari rumah perlindungannya dengan tekad dan niat yang bulat.

Mari kita dengarkan cerita dari saksi mata yang melukiskan kejadian peristiwa itu!

“Ketika Utsman bin Mazh’un menyaksikan penderitaan yang dialami oleh para sahabat Rasulullah saw, sementara ia sendiri pulang pergi dengan aman dan tenteram disebabkan perlindungan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku ….’

“Lalu ia pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, katanya, ‘Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan Anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan Anda.’ ‘Mengapa, wahai keponakanku?’ ujar Walid. ‘Mungkin ada salah seorang anak buahku yang mengganggumu?’ ‘Tidak,’ ujar Utsman bin Mazh’un. ‘Hanya, saya ingin berlindung kepada Allah, dan tidak suka lagi kepada lain-Nya. Karenanya, pergilah Anda ke masjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti Anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku!”

“Lalu, pergilah mereka berdua ke masjid, maka kata Walid, ‘Utsman ini datang untuk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya.’ Ulas Utsman, ‘Betullah kiranya apa yang dikatakan itu …, ternyata ia seorang yang memegang teguh janjinya …, hanya keinginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta’ala.”

Setelah itu, Utsman bin Mazh’un pun berlalulah, sementara di salah satu gedung pertemuan kaum Quraisy, Lubaid bin Rabi’ah menggubah sebuah syair dan melagukannya di hadapan mereka, hingga Utsman bin Mazh’un menjadi tertarik karenanya dan ikut duduk bersama mereka. Kata Lubaid:

“Ingatlah bahwa apa juga yang terdapat di bawah kolong ini selain dari Allah adalah hampa.” “Benar, ucapan Anda itu,” kata Utsman bin Mazh’un menanggapinya. Kata Lubaid lagi, “Dan semua kesenangan, tak dapat tiada lenyap dan sirna.” “Itu dusta!” kata Utsman, “Karena kesenangan surga takkan lenyap.” Kata Lubaid:

“Hai orang-orang Qurasy! Demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagaimana sikap kalian kalau ini terjadi?” Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Si tolol ini telah meninggalkan agama kita, jadi tidak usah digubris, apa ucapannya!”

Utsman bin Mazh’un membalas ucapannya itu hingga di antara mereka terjadi pertengkaran. Dengan perasaan marah, orang itu tiba-tiba bangkit mendekati Utsman lalu meninjunya hingga tepat mengenai matanya, sementara Walid bin Mughirah masih berada di dekat itu dan menyaksikan apa yang terjadi. Maka katanya kepada Utsman, “Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa, maka sungguh, benteng perlindunganmu amat tangguh!” Ujar Utsman, “Tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syams, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu.” “Ayuhlah Utsman,” kata Walid pula, “Jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku!” “Terima kasih,” ujar Ibnu Mazh’un menolak tawaran itu. Ibnu Mazh’un kemudian meninggalkan tempat itu; Utsman pun pergi. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, dengan hati gembira, ia mendendangkan pantun:

“Andaikata dalam mencintai ridla Ilahi
Mataku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridhai-Nya pasti berbahagia
Hai ummat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku ‘kan tetap dalam agama Rasul, Muhammad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan agama yang haq
walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena.”

Utsman bin Mazh’un telah memperlihatkan kepada kita suatu teladan yang menunjukan pribadi utama yang harum semerbak disebabkan pendiriannya yang luar biasa.

Setelah tidak mendapatkan perlindungan dari Walid, Utsman bin Mazh’un mulai mendapat siksaan dari orang-orang Quraisy. Akan tetapi, karena ketabahan dan kekuatan jiwanya, penderitaannya dirasakan dengan ikhlas dan bahagia.

Suatu ketika Utsman bin Mazh’un hijrah pula ke Madinah, hingga tidak diusik lagi oleh Abu Lahab dan kawan-kawannya. Ia berangkat ke Madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama yang dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka telah lulus dalam ujian yang telah mencapai puncak kesulitan dan kesukarannya.

Di Madinah, tempat hijrahnya yang baru itu, Utsman bin Mazh’un sangat tekun dan rajin beribadah: malam harinya bagai rahib dengan ibadah shalat dan dzikirnya; siang harinya bagai pahlawan dengan berjuang membela kebenaran. Dengan ketabahan dalam zuhud dan ketekunan dalam ibadahnya, ia mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupannya, baik siang maupun malam dialihnya menjadi shalat yang terus-menerus dan tasbih yang tiada henti-hentinya. Rupanya ia telah memperoleh dan merasakan kemanisan beribdah kepada Allah SWT.

Dengan berpakaian usang yang telah sobek-sobek; yang ditambalnya dengan kulit unta, suatu hari ia masuk masjid, sementara Rasulullah sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Rasulullah saw kemudian bertanya kepada para sahabatnya:

“Bagaimana pendapat Kalian, bila Kalian punya pakaian satu stel untuk pakaian pagi dan sore hari diganti dengan stelan lainnya … kemudian disiapkan di depan kalian suatu perangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya yang telah diangkat … serta kalian dapat menutupi rumah-rumah kediaman kalian sebagaimana Ka’bah bertutup ….?”

“Kami ingin hal itu dapat terjadi, wahai Rasulullah,” ujar mereka, “… hingga kita dapat mengalami hidup makmur dan bahagia!” Maka sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya hal itu telah terjadi, kemudian Kalian sekarang ini lebih baik dari keadaan Kalian waktu lalu.”

Meskipun Utsman bin Mazh’un ikut mendengarkan percakapan itu, ia tidak terpengaruh dengan jawaban para sahabat yang mengharapkan berbagai kecukupan. Ia tetap menjalani hidup dengan bersahaja dan menghindari sejauh-jauhnya kesenangan dunia, sampai-sampai kepada urusan menggauli isterinya hendak menahan diri. Rasulullah pun memanggil dan menyampaikan kepadanya, “Sesungguhnya keluargamu itu mempunyai hak atas dirimu.”

Utsman bin Mazh’un amat dicintai oleh Rasulullah saw. Tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat menuju tempat tujuannya, Rasulullah berada di sisinya. Beliau saw membungkuk dan mencium keningnya, seraya membasahi kedua pipinya dengan derai air mata. Wajah Utsman bin Mazh’un tampak bersinar gilang-gemilang saat kematiannya. Ia seorang Muhajirin yang kali pertama wafat di Madinah; juga yang pertama kali dimakamkan di Baqi’.

Bersabdalah Rasulullah saw melepas sahabatnya yang tercinta itu:
“Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Saib….
Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang kamu peroleh daripadanya, serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu.”

Sepeninggal sahabatnya itu, Rasulullah tidak melupakannya. Ketika melepas puterinya, Rukayah; ketika nyawanya hendak melayang, Beliau pun berkata:

“Pergilah susul pendahulu kita yang pilihan, Utsman bin Mazh’un!”


Orang-orang kafir Quraiys amat gusar mendengar hijrahnya beberapa kaum muslimin ke negeri Habasyah. Mereka mengutus Amr ibnul ‘Ash dan Abdullah ibnu Abdi Rabi’ah untuk membujuk Raja Habasyah agar mau mengusir kaum muslimin dari negerinya. Namun, sang Raja menolaknya. Ia tetap melindungi kaum muslimin Makkah.

rang-orang  Quraiys tak kurang akal. Beberapa waktu berselang, mereka mengabarkan kepada kaum muslimin yang hijrah, bahwa tokoh-tokoh Quraisy sudah masuk Islam. Sehingga jika mereka kembali, mereka tak lagi mengalami siksaan.

Kaum muslimin di negeri Habasyah menyambut gembira kabar ini. Mereka sudah rindu kampung halaman, dan ingin segera bertemu Rasulullah. Mereka pun segera kembali ke Makkah.

Alangkah terkejutnya mereka. Sesampai di Makkah, orang-orang kafir menangkap mereka dan menyiksa mereka. Hanya satu orang yang tak diusik. Dia adalah Utsman bin Mazh’un. Orang-orang kafir Quraisy tak berani menangkapnya, karena pamannya, Walid bin Mughirah, yang juga salah satu tokoh Quraisy telah memberikan jaminan keamanan baginya. Utsman pun selamat.

Bukannya senang dengan perlindungan ini, Utsman bin Mazh’un justru merasa sedih. Ia sedih menyaksikan saudara-saudaranya seiman mengalami penderitaan dan penyiksaan. Hatinya berontak. Ia lantas menghadap sang paman, Walid bin Mughirah yang memberikan jaminan keamanan.

“Wahai Abu Abdi Syam (sebutan penghormatan bagi Walid bin Mughirah), sejak saat ini aku melepaskan perlindungan yang telah engkau berikan padaku. Karena aku tidak ingin mendapatkan perlindungan selain dari Allah. Umumkanlah hal ini, seperti waktu engkau umumkan perlindungan atasku sebelumnya,” kata Utsman dengan suara lantang.

Sang paman tak menyangka, kemenakannya akan mengatakan hal ini. Tapi ia tak mampu menolaknya. Walid lantas mengumumkan kepada warga Makkah, bahwa ia telah melepaskan perlindungan atas Utsman bin Mazh’un.

Mendengar pengumuman ini, kaum Quraisy bergegas mendatangi Utsman dan mulai menyiksanya. Utsman menerimanya dengan lapang dada. Ia bangga karena kini menerima nasib sama dengan saudara-saudara seimannya. Ia menikmati siksaan demi siksaan itu dengan kesabaran. Baginya, lebih baik berlindung kepada Allah daripada mendapat perlindungan manusia.

Sebenarnya sang paman bersedia memberikan perlindungan lagi, agar Utsman tak lagi disiksa. Tapi, Utsman menolak tawaran itu. Dengan tenang ia berkata, “Mataku yang sehat ini memerlukan pukulan seperti yang telah dirasakan saudara-saudaraku seiman. Sebenarnya aku berada dalam perlindungan Allah, yang lebih kuat dari perlindungan yang bisa engkau berikan untukku.”

Dan kesabaran Utsman berbuah manis. Setelah berbagai siksaan dan pukulan diterimanya dengan tabah, ia pun memenuhi perintah Rasulullah untuk berangkat hijrah ke Madinah besama kaum muslimin lainnya.

Di Madinah, umat Islam dapat beribadah dengan tenang. Mereka bisa mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah tanpa rasa takut dan khawatir. Utsman bin Mazh’un pun menjadi sahabat yang cukup ternama. Utsman adalah orang yang ahli ibadah dan seorang zahid, waktunya habis untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sepanjang siang dan malam ia habiskan waktu untuk shalat, membaca Al-Quran, dan puasa.

Tokoh yang satu ini termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, yakni pada urutan yang keempatbelas. Baliau termasuk orang yang pertama juga dari kaumMuhajirin yang hijrah ke Madinah dan sekaligus menjadi orang pertama yang wafat di Medinah, karenanya menjadi yang pertama pula dari ummat Islam yang dikuburkan diBaqi.

Beliau dikenal sebagai orang yang suci dan punya kepribadian dan hati yang suci dalam beribadah kepada Allah SWT. Beliau suci bukan karena mengucilkan diri (‘Uzlah) jauh dari kehidupan yang bisa mengantarkan orang kepada kesesatan, tapi suci di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jahil. Corak kehidupannya sangat berbeda dengan konsep hidup kaum sufi pada umumnya yang sebagian mereka berpendapat atau memiliki prinsip “Uzlah” untuk mengambil sikap mengasingkan diri dari kelompok masyarakatnya yang tidak sejalan dengan prinsip hidup seorang mu’min

.

     Paling tidak, ada “dua” pola pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh umumnya orang Islam dan kelompok Sufi. Keduanya tentu saja sama-sama hidup di jalan Allah, namun dengan “Manhaj”(Metoda) yang agak berbeda dalam mengartikan “Uzlah”. Di mana yang satu mengartikannya dengan mengasingkan diri, atau hijrah dari sebuah kondisi masyarakat yang tidak kondusif untuk berkembangnya keimanan dan kesholehan seseorang. Namun, sementara yang lain tidak sependapat dengan pemaknaan “Uzlah” seperti itu
.
     Yang paling menonjol dari diri Utsman bin Mazh’un adalah “Mujahadah”nya, yakni upaya yang sungguh-sungguh untuk hidup di jalan Allah dengan melakukan semua yang dicintai Allah dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya dan untuk itu beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat, sebaliknya beliau senantiasa siap menghadapi segala resiko yang terjadi termasuk siap menghadapi siksaan yang sudah biasa dihadapi oleh orang-orang yang baru masuk Islam. Kala itu beliau hadapi segala macam siksaan dengan kesabaran dan tidak pernah berniat sedikit pun untuk lari dari kondisi yang dialaminya
.
     Beliau baru mau berhijrah ke Habsy setelah Rasulullah Saw memerintahkan Utsman dan para sahabat yang lain meninggalkan Mekah yang sangat tidak kondusif bagi orang-orang mu’min saat itu. Mereka pun berhijrah lalu menemukan lingkungan di Habsyi yang membuat mereka merasa aman dan nyaman serta bisa meninggalkan lingkungan para penyembah berhala yang telah membuat mereka “muak” melihatnya. Di Habsyi mereka hidup di lingkungan orang-orang Nasrani. Kedatangan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang Nasrani untuk mendakwahi dengan maksud agar orang-orang muslim masuk dalam keyakinan mereka. Para sahabat yang hijrah ke Habsyi di bawah pimpinan Utsman bin Mazh’un, tidak mungkin mengikuti ajakan mereka lari dari satu kekufuran lalu masuk ke dalam kekufuran yang lain, keluar dari kesesatan yang satu lalu masuk ke dalam kesesatan yang lain. Karena mereka yakin, “Hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar” (QS. Ali Imran, 3:19;85)
.
     Ketika mereka sedang menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman dalam beribadah dan mempelajari Al Qur’an, tiba-tiba muncul berita bahwa di Mekah, orang orang Quraisy dan para tokohnya telah masuk Islam. Berita yang cukup menggembirakan ini menjadikan mereka ingin sekali segera kembali ke Mekah dan mereka pun segera bersiap-siap. Namun, pada saat akan memasuki Mekah, arulah mereka menyadari, bahwa berita tersebut hanya fitnah dan tipu daya belaka sehingga membuat Utsman dan para sahabat betul-betul merasa terpukul atas kecerobohan mereka yang tidak menyelidiki dulu kebenaran berita tersebut. Padahal, mereka saat itu sudah berada di pintu masuk kota Mekah. Sementara itu orang-orang musyirikin yang mendengar akan kehadiran mereka yang dianggap “buronan” menyambut berita tersebut dengan suka cita. Bagi orang-orang musyirikin, Utsman dan para sahabat yang mau menegakkan kebenaran dianggap “buronan”
.
     Di masyarakat Arab Jahilliyyah saat itu berlaku sistim perlindungan, di mana setiap orang bisa mencari pelindung yang tentu saja dari tokoh Quraisy yang disegani. Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, Utsman dan para sahabat berupaya mencari perlindungan. Namun tidak semuanya berhasil. Salah satu yang berhasil adalah Utsman bin Mazh’un yang mendapat perlindungan dari Walid bin Mughirah, seorang tokoh musyirikin Quraisy yang disegani. Karena mendapat perlindungan dari Walid, maka Utsman bin Mazh’un bebas masuk ke Mekah dengan tenang, tidak ada yang berani mengganggu karena Walid sudah mengumumkan di depan masjid bahwa Utsman ada dalam perlindungannya
.
Mendapat perlindungan dari Walid sebenarnya hati Utsman kemudian menjadi sangat tidak tenang, pada saat beliau melihat saudara-saudaranya yang miskin dan lemah tidak menemukan orang untuk melindungi mereka, sehingga mereka harus menerima siksaan yang tidak tertahankan. Melihat saudara-saudaranya hidup dalam penderitaan, batin Utsman bin Mazh’un tidak rela. Akhirnya beliau memutuskan menemui Walid bin Muqhirah untuk menyatakan keinginannya melepaskan diri
.
Kisahnya dapat diikuti sebagaimana diriwayatkan oleh seorang sahabat: “Ketika Utsman bin Mazh’un melihat beberapa sahabat Rasul mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, sementara ia aman dalam perlindungan Walid bin Mughirah, lalu ia berkata dalam hatinya, Demi Allah, sesungguhnya saat ini aku sedang berlindung kepada musuh Allah, sementara sahabat-sahabatku merasakan berbagai azab dan siksaan, maka ia pun segera menemui Walid bin Mughirah dan berkata: “Wahai Abu Abdi Syams (Walid), bebaskan aku dari perlindunganmu! Berkata Walid: Kenapa wahai anak pamanku? Sementara orang lain susah mencari pelindung kau malah minta dibebaskan dari perlindunganku, jika kulepaskan maka boleh jadi kau akan disiksa oleh kaumku. Jawab Utsman: “Tidak, aku lebih suka ada di dalam perlindungan Allah. Pergilah kau ke depan masjid umumkanlah bahwa kau sudah tidak lagi melindungi aku sebagaimana kau dulu mengumumkan perlindungan terhadapku. Lalumereka berdua pun pergi ke halaman masjid. Walid berkata, ini adalah Utsman, dia datang menemuiku untuk membebaskan dirinya dari perlindunganku. Utsman menanggapi pernyataan Walid dengan menyatakan: “Benar yang diucapkan Walid. Dia betul orang yang selama ini bertanggung jawab melindungiku, tetapi aku lebih suka untuk dilindungi oleh Allah dan aku tidak pernah sudi lagi untuk dilindungi oleh orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT
.
Dapat kitaambil pelajaran bahwa Utsman sempat mengambil langkah yang kurang tepat, karena sesungguhnya yang tepat sebagai pelindung hanyalah Allah SWT. Karenanya ketika turun ayat 255 surah Al Baqarah, Rasul Saw segera memerintahkan kepada para sahabat yang selama ini menjadi pengawal Rasul: “Wahai saudara-saudaraku, pergilah kalian sekarang jangan lagi kalian mengawalku karena sudah ada yang mengawalku, Allah SWT”
.
Usai proses pelepasan perlindungan dari Walid, beliau menghadiri sebuah majelis orang-orang Quraisy yang sedang dipimpin oleh Lubaid bin Rabi’ah. Di dalam majelis tersebut, Lubaid bin Rabi’ah berkata: “Bukankah segala sesuatu selain Allah itu adalah hampa tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah?”. Kata Utsman:”Benar, apa yang kau katakan wahai Lubaid. Kata Lubaid pula: “Bukankah setiap kenikmatan suatu saat akan sirna”. Utsman menimpali pernyataan Lubaid:”Bohong, nikmat syurga tidak akan pernah sirna selama-lamanya, semua kenikmatandunia benar akan sirna tapi ada kenikmatan syurga yang tidak kalian yakini, tidak akan sirna selama-lamanya. Lubaid merasa terpotong dan terhina dengan ungkapan tersebut, padahal ia seorang tokoh Quraisy yang disegani. Lalu ia mengatakan: “Wahai kaum Quraisy, demi tuhan pernahkah kalian meliha seseorang menghinaku dalam majelis seperti ini?”. Salah seorang yang hadir di dalam majelis mengatkan:”Orang yang baru bicara ini adalah orang tolol yng baru saja meninggalkan agama nenek moyang kita, maka jangan digubris ucapannya”
.
Sejarah berulang, setiap orang yang akan kembali menegakkan ajaran Allah disebut tolol, bodoh atau idiot oleh orang-orangsesat. Padahal, yang bodoh menurut Allah adalah mereka yang tersirat dan tersurat dalam ayat 179 surah Al A’raaf, yang diantaranya adalah mereka yang memiliki akal namun tidak dipergunakan untuk berfikir di jalan Allah SWT. Utsman bin Mamh’un, menanggapi pernyataan orang tersebut sehingga terjadilah perang mulut di antara mereka, yang bersangkutan lalu berdiri dan memukul salah satu mata Utsman
.
Melihat kejadian tersebut, Walid bin Mughirah berkata :”demi tuhan wahai keponakanku, jika matamu itu kebal, kau pantas untuk melepaskan tanggungan dariku, tapi kau sudah melepaskan tanggungan itu maka aku tidak akan membelamu. Utsman berkata: “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang satu lagi sangat membutuhkan apa yang dialami oleh mataku yang sebelah  karena dianiaya di jalan Allah. Walid berkata: “Jika kau mau, aku masih siap untuk menjadi pelindungmu. Jawab Utsman: “Tidak, tidak untuk selama-lamanya!”
.
Pergilah Utsman dengan sebelah matanya yang sakit, tetapi ia begitu luar biasa terbebas jiwanya karena ia sekarang sedang berlindung kepada Allah SWT. Suatu ketika, Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Medinah dan termasuklah diataranya Utsman. Di Medinah mereka bisa merasakan kekhusyuan beribadah dan kembali kesucian pribadi Utsman nampak kembali tergambar dalam hidup kesehariannya. Ia menjadi “Rahib” (orang suci) yang menghabiskan malamnya untuk beribadah dan siangnya bekerja keras, lalu terkadang malam dan siang dipakai untuk beribadah atau malam dan siang untuk berjuang termasuk berperang menghadapi orang-orang musyirikin.
utsman punya keistimewaan tersendiri dalam ber-“Zuhud”, hidupnya benar-benar-benar jauh dari kenikmatan dunia, beliau lebih suka memakai pakaian yang kasar dan tidak mengganti pakaian dan beliau tidak makan, kecuali makanan yang sangat sederhana. Pada suatu saat beliau masuk ke dalam masjid yang saat itu Rasul dan para sahabat sedang duduk-duduk, beliau masuk dengan memakai pakaian yang sangat tidak layak dipakai, melihat kondisi beliau, Rasul pun tersentuh hatinya, sementara para sahabat yang menyaksikan malah mengalirkan air mata. Beliau beribadah ternyata bukan hanya dengan meninggalkan kenikmatan dunia dalam arti makan, minum dan berpakaian, tapi pernah juga berniat untuk menjauhi istrinya. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, maka Rasul mun menegur beliau dengan mengatakan: “Istrimu punya hak darimu”
.
Keinginan beliau senantiasa ber-“Mujahadah” inilah yang membuat Rasul sangat mencintai beliau. Karena ketika ruhnya yang suci hendak meninggalkan jasad menuju ke hadirat Allah SWT, Rasul pun berada disampingnya mendampingi sampai akhir hayatnya. Dan ketika utsman bin Mazh’un akhirnya meninggalkan alam dunia ini, Rasul menundukkan kepalanya dan mencium kening memenuhi wajah Utsman dengan air mata. Dengan iringan doa beliau; “Semoga Allah merahmatimu, wahai Utsman, kau tinggalkan alam dunia ini tidak pernah kau ambil sedikitpun keuntungan darinya, dan dunia pun tidak pernah dirugikan oleh sebab kehadiranmu”
.
Rasul tidak pernah melupakan orang yang sangat dicintainya, sepeninggal Utsman beliau selalu ingat dan memujinya di depan para sahabt, sehingga diriwayatkan saat putri Rasul, Rukayah akan meninggal dunia, Rasul berkata kepada putrinya:”Temuilah segera di alam barzah (Utsman bin Mazh’un) orang yang sangat baik dan mulia di sisi Allah SWT”
.
Seandainya anda hendak bermaksud menyusun daftar nama-nama sahabat yang Rasulullah saw. menurut urutan masa masuknya kedalam agama islam, maka pada urutan ke empat belas tentulah anda akan tempatkan Utsman bin Mazh’un.Tatkala agama islam cahayanya mulai menyinar dari kalbu Rasulullah saw dan dari ucapan-ucapan yang disampaikanya dari beberapa majelis, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, maka Utsman bin Mazh’un adalah salah seorang dari beberapa segelincir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri dari sekelompok Rasulullah.Seperti biasanya pengikut Rasulullah selalu diterpa berbagai derita dan siksaan pada saat itu.Rasulullah saw. mengutamakan keselamatan golongan kecil dari orang beriman dan teraniaya ini, dengan jalan menyuruh mereka berhijrah ke Habsyi. Dan Utsman bin Mazh’un terpilih sebagai pemimpin rombongan pertama dari Muhajirin ini. dengan putranya yang bernama Saib, dilangkahkanya kaki ke suatu negeri yang jauh menghindar dari tiap daya musuh Rasulullah dari Abu Jahal dan orang Quraisy.Dan ketika mereka berada di Habsyi, di sana mereka menghadapi suatu agama yang teratur dan tersebar luas, mempunyai gereja-gereja, rahib-rahib dan para pendeta. Dan tentulah orang-orang gereja di negeri Habsyi itu telah berusaha sekuat daya untuk menarik orang-orang Muhajirin kedalam agama mereka, dan meyakinkan kebenaran agama Masehi. Tetapi para kaum Muhajirin tidak ada yang beranjak dari kecintaan mereka yang mendalam terhadap agama islam dan terhadap Muhammad Rasulullah.Demikianlah kaum Muhajirin tinggal di Habsyi dalam keadaan aman dan tentram. Mereka senantiasa beribadan kepada Allah dengan tekun dan mempelajari ayat-ayat al-Quran yang ada pada mereka. Tiba-tiba sampailah berita kepada mereka bahwa orang-orang Quraisy telah menganut agama islam dan mengikuti Rasulullah bersujud kepada Allah.Maka bangkitlah orang-orang Muhajirin mengemas barang-barang mereka, dan bagaikan terbang mereka berangkat ke Makah dibawa kerinduan dan didorong kecintaan pada kampung halaman. Tetapi baru saja mereka sampai di kota, ternyata  masuknya orang-orang Quraisy itu hanya dusta belaka.Ketika itu mereka amat terpukul karena telah berlaku ceroboh dan amat tergesa-gesa. Tetapi betapa mereka akan kembali, padahal kota mereka telah berada di hadapan mereka. Dalam keadaan itu orang-orang musyrik di kota mekah telah mendengar  datangnya buronan yang telah lama mereka kejar-kejar dan pasang perangkap untuk menangkapnya.Perlindungan, ketika itu merupakan suatu tradisi di antara tradisi-tradisi arab yang memiliki kekudusan dan dihormati. Sekiranya ada seorang yang lemah yang beruntung masuk dalam perlindungan pemuka Quraisy, maka ia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh. Diantaranya yang termasuk mendapat perlindungan adalah Utsman bin Mazh’un yang berada dalam perlindungan Walid bin Mughirah.Dalam keadaan itu, ia melihat saudara-saudara yang lain mendapat siksaan oleh kaum Quraisy yang keji, maka hatinya bergejolak, maka ia bermaksud untuk menanggalkan perlindunganya.

Ia pun berkata kepada Walid bin Mughirah:

“wahai Abu Abdi Syam, cukup sudah perlindungan anda, dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan anda.”

“kenapa wahai keponakanku?” ujar Walid, “mungkin ada seseorang anak buahku yang mengganggumu?”

“tidak” jawab Utsman, ‘hanya saya ingin berlindung kepada Allah’.

Maka Utsman pergi ke masjid dan mengumumkan penanggalan perlindunganya.

Disana Utsman mendapatkan tinjuan tepat mengenai mata. Berkatalah Walid

“wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa maka sungguh, benteng perlindunganmu sangat tangguh”.

Ujar Utsman “tidak, bahkan mataku yang sehat ini amat pula membutuhkan pukulan yang telah dialami saudaranya dijalan Allah. Dan sungguh wahai Abu Syamas, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu dari padamu.”


Dan setelah ditanggalkanya perlindungan dari Walid, maka Utsman menemui siksaan dari orang-orang Quraisy. Tetapi dengan begitu ia tidak merana, malah bahagia.

Utsman melakukan hijrah ke madinah bersama rombongan sahabat-sahabat utama dengan keteguhan dan ketabahan hati mereka. Dan di kota hijrah Madinah al-Munawwarah itu bersingkaplah kepribadian dari Utsman bin Mazh’un tak ubah bagai batu permata yang telah diasah dan kebesaran hatinya yang istimewa. Ia memiliki ciri khas dalam zuhud dan ibadahnya. Ia amat tekun dan mencapai puncak tertinggi, hingga corak kehidupanya baik siang maupun malam dialihkanya menjadi sholat  yang terus menerus dan tasbih yang tiada henti.

Rupanya ia telah merasakan manisnya keasyikan beribadah itu, iapun hendak memutuskan hubungan dengan segala kesenangan dan kemewahan dunia. Ia tak hendak memakai pakaiaan kecuali yang kasar dan tak hendak memakan makanan selain yang amat bersahaja.,

Ibnu Mazh’un amat disayangi oleh rasulullah saw dan tatkala ruhnya yang suci itu berkemas-kemas hendak berangkat, hingga demikian ia merupakan orang Muhajirin yang pertama wafat di Madinah, dan yang mula-mula merintis jalan menuju surga, maka Rasulullah saw. berada disisinya.

Rasulullah saw. membungkuk, mencium kening Ibnu Mazh’un serta membasahi kedua pipinya dengan air yang berderai dari kedua mata beliau yang diliputi santun dan duka cita hingga saat kematiannya.

Dan bersabdah Rasulullah saw. melepas sahabat yang tercinta itu:

“semoga Allah memberimu rahmat wahai Abu Saib. Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satupun keuntungan yang kamu peroleh dari padanya serta tak satu kerugianpun yang dideritanya daripada mu.”

Dan sepeninggalan sahabatnya, Rasulullah yang amat penyantun itu tidak pernah melupakanya, selalu ingat dan memujinya. Bahkan untuk melepas putri beliau Rukayah, yakni ketika nyawanya hendak melayang, adalah kata-kata berikut:

“pergilah susul pendahulu kita yang pilihan. Utsman bin Mazh’un”

Imam Kaum Syi’ah vs Imam Kaum Sunni.. Siapa yang benar ??

Imam Ali Abul Hasan Al Asy’ari: Sang Pencari Kebenaran

Abu al-Hasan al-Asy’ari

Abu al-Hasan bin Isma’il al-Asy’ari (Bahasa Arab ابو الحسن بن إسماعيل اﻷشعري) (lahir: 873- wafat: 935), adalah seorang pemikir muslim pendiri paham Asy’ari.

 Latar Belakang

namanya Abul al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah. Al-Asy’ari lahir tahun 260 H/873 M dan wafat pada tahun 324 H/935 M [1] Al-Asy’ari lahir di Basra, namun sebagian besar hidupnya di Baghdad. pada waktu kecilnya ia berguru pada seorang Mu’tazilah terkenal, yaitu Al-Jubbai, mempelajari ajaran-ajaran Muktazilah dan mendalaminya. Aliran ini diikutinya terus ampai berusia 40 tahun, dan tidak sedikit dari hidupnya digunakan untuk mengarang buku-buku kemuktazilahan. namun pada tahun 912 dia mengumumkan keluar dari paham Mu’tazilah, dan mendirikan teologi baru yang kemudian dikenal sebagai Asy’ariah

.

Ketika mencapai usia 40 tahun ia bersembunyi di rumahnya selama 15 hari, kemudian pergi ke Masjid Basrah. Di depan banyak orang ia menyatakan bahwa ia mula-mula mengatakan bahwa Quran adalah makhluk; Allah Swt tidak dapat dilihat mata kepala; perbuatan buruk adalah manusia sendiri yang memperbuatnya (semua pendapat aliran Muktazilah). Kemudian ia mengatakan: “saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut; saya harus menolak paham-paham orang Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahan-kelemahanya”. [1]

.

Walaupun banyak juga ulama yang menentang pamikirannya,tetapi banyak masyarakat muslim yang mengikuti pemikirannya. Orang-orang yang mengikuti/mendukung pendapat/faham imam ini dinamakan kaum/pengikut “Asyariyyah”, dinisbatkan kepada nama imamnya. DiIndonesia yang mayoritas penduduknya muslim banyak yang mengikuti paham imam ini, yang dipadukan dengan paham ilmu Tauhid yang dikembangkan oleh Imam Abu Manshur Al-Maturidi.

Karya-karyanya

Ia meninggalkan karangan-karangan, kurang lebih berjumlah 90 buah dalam berbagai lapangan.[1] Kitabnya yang terkenal ada tiga : 1. Maqalat al-Islamiyyin 2. Al-Ibanah ‘an Ushulid Diniyah 3. Al-Luma[1]

Mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah (sunni) mengikuti Imam Asy’ari dan Maturidi dalam hal tauhid, Mazhab Syafi’i dalam hal fikih dan tasawuf nya mengikuti Al Ghazali ?? Adakah yang menyuruh anda anda berimam pada mereka ?? Dasarnya apa ?? Dalilnya mana ???

Karya Abu Hasan Al Asy’ari yang paling termasyhur adalah kitab Maqalat Al Islamiyyin . Ini merupakan sebuah karya yang sangat kacau dan berantakan. Karya lainnya yang terbit adalah kitab Al Luma’  dan kitab Al Ibanah

Dibidang akidah kaum sunni terpecah menjadi dua kelompok yakni ahlulhadis dan ahlulkalam

  1. Ahlulhadis yang mengharamkan ilmu kalam. Pada abad abad pertama kalam sunni dianggap bertentangan dengan sunnah dan hadis. Bukankah para pemimpin ahlulhadis seperti Malik bin Anas dan Ahmad bin Hambal memandang perdebatan, telaah atau argumen (ilmu kalam) yang ada kaitannya  dengan masalah iman sebagai sesuatu yang diharamkan ??
  2. Asy’ariyyah selaku ahlulkalam (pengikut Abu Hasan Al Asy’ari) yang menganggap ilmu kalam boleh boleh saja. Abu Hasan Al Asy’ari menentang pandangan tokoh tokoh  ahlulhadis  pendahulunya seperti Ahmad bin Hambal, menganggap perdebatan dan argumen  serta penggunaan alat logika dalam masalah akidah boleh boleh saja. Asy’ari menulis kitab berjudul “Risalah fi Istihsan al Khawd fi ‘ilm al Kalam” (sebuah risalah tentang kelayakan telaah dalam ilmu kalam)

Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa membuktikan kesalahan banyak pikiran Asy’ari meskipun tanpa menyebutkan nama secara langsung

Akal saya sulit menerima kontradiksi ini ! Inilah gaya mazhab sunni, dua hal yang saling bertentangan dianggap sama sama benar !!

Anehnya, sebagian pengikutnya seperti Baqillaini,  Al Juwaini, Al Ghazali dan Fakhruddin Ar Razi  merevisi dan memodifikasi pandangan pandangan Asy’ari sehingga kaum Asy’ariyyah masa kini tidak mampu lagi membedakan yang mana pikiran Asy’ari yang asli dan mana pikiran pengikut pengikut Asy’ari..

Ini sangatlah menggelikan karena MAZHAB ASY’Ari telah mengalami perubahan perubahan gradual. Dan khususnya ditangan Imam Al Ghazali maka ilmu kalam sedikit banyak  kehilangan warna khasnya dan jadi berwarna irfan (sufisme). Al Ghazali adalah seorang Asy’ariyyah, dia telah banyak berbuat untuk memperkuat akidah akidah Asy’ariyyah , dia telah memberikan fondasi yang lain pada akidah akidah Asy’ariyyah . Berkat Al Ghazali maka kalam jadi lebih dekat dengan irfan dan sufisme

Dapat disebutkan bahwa  sesungguhnya semakin jauh dari masa Asy’ari maka pengikutnya semakin jauh dari ajaran asli Abu Hasan Al Asy’ari. Misalnya : Al Ghazali, kecenderungan sufinya yang kuat maka topik topik kalam jadi lain warnanya. Fakhruddin Ar Razi yang akrab dengan pemikiran filosofis mengubah bentuk kalam Asy’ari dan selanjutnya memperkuatnya

Kemenangan Asy’ariyyah atas Syi’ah Imamiyah pada masa lalu sangat merugikan dunia Islam karena Asy’arisme melemahkan semangat berpikir. Kemenangan kekuatan stagnasi atas kemerdekaan berpikir.

Syi’ah imamiyah meletakkan pendekatan rasional. Islam sebagai agama yang begitu kaya dan penuh inisiatif serta dapat memecahkan masalah membutuhkan kalam yang tak tergoyahkan keyakinannya pada kemerdekaan akal.

Kemenangan Asy’ariyyah terjadi karena adanya faktor faktor sejarah dan sosial tertentu. Dan peristiwa peristiwa politik tertentu memberikan andil yang efektif untuk kemenangan itu. Asy’ariyyah mendapat fondasi dialektiknya setelah seratus tahun dari Asy’ari

Pada umumnya ilmu tauhid yang dikenal dan diajarkan di Indonesia dan Malaysia adalah ilmu tauhid aliran Asy’ariyyah yang mana pembahasannya hanya bersifat sepihak !!

KALAM  SYI’AH

Sekarang tiba saatnya untuk membahas kalam syi’ah, meski tentu saja secara ringkas. Kalam dalam pengertian argumen logis dan rasional tentang akidah akidah pokok Islam. Di satu pihak, kalam syi’ah muncul dari bagian terpenting dari hadis syi’ah, dan dilain pihak mampu berpadu  dengan  filsafat syi’ah.

Kalam syi’ah bukan saja tidak bertentangan dengan sunnah dan hadis, kalam syi’ah berakar pada sunnah dan hadis.  Hadis Syi’ah berbeda dengan koleksi hadis sunni, terdiri atas banyak hadis atau riwayat yang membahas dengan logis masalah masalah metafisika dan sosial, dan yang menganalisis masalah masalah itu dengan rasional. Namun dalam koleksi hadis sunni tidak ada analsis seperti itu.

Sebagai contoh, banyak masalah masalah yang diangkat tidak ada argumen atau penjelasan rasionalnya  seperti qadha dan qadar , kehhendak Allah yang Maha Meliputi, sifat sifat Allah, atau topik topik seperti roh, akhirat, pengadilan akhirat, shirath, neraca atau topik topik seperti imamah, khilafah dan sebagainya

Dalam koleksi hadis syi’ah semua topik seperti itu dibahas dengan rasional dan logis. Karena itu, kalam dalam pengertian  analisis rasional atas berbagai masalah ada `dalam hadis syi’ah

Catatan kaki

  1. ^abcd Hanafi Ahmad: “Teologi Islam (Ilmu Kalam)”, hal 65-77,2001, Penerbit Bulan Bintang, ISBN : 979-418-074-2

Abu Mansur Al Maturidi

Abu Mansyur Almaturiddi

Nama lengkap beliau Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al samarqandi Al Maturidi Al Hanafi.Beliau lahir di Maturrid sebuah kota kecil di Samarkand.Nama Almaturridi nisbatkan dari dari tempat kelahirannya Maturrid. Wafat tahun 333H,9 tahun setelah Wafatnya AL Imam Asy’ari.Tidak ada data yang menerangkan bahwa kedua imam ini pernah bertemu walaupun hidup dalam satu zaman,Imam Asy’ari di bashrah- Irak,Imam maturridi di Maturrid-samarkand –Rusia.Imam Maturridi lebih dekat kepada imam Hanafi dan Asy’ari kepada Imam syafi,i,maka dalam masalah fiqih kedua imam tersebut terdapat perbedaan dalam beberapa segi walaupun tidak mendasar.

Kedua Imam ini terdapat banyak persamaan yang mendasar dalam masalah Aqidah,dan tersebut dalam kitab “Ihtihaf sadatul Muttaqin” karya “Sayid murtadha alhusaini az zabidi” yaitu kitab syarah dari “Ihya
ulumudin” karya Imam Ghozali, pada zilid II hal 6 yaitu :

إذَا أطلق أهلُ السنة والجَماعة فالمراد بِهِم الأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ
Apabila di sebut kaum Ahlu sunnah Wal’jama’ah,maka maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti Rumusan faham Al Asy’ari dan Al Maturidi.

Pokok-pokok pemikiran Imam Al Maturridi :

1.Masalah Iman :

Iman adalah ikrar dengan lisan dan tashdiq di dalam hati,serta ikrar itu adalah bagian dari iman.

2.qodlo dan qodhar dalam hubungannya dengan perbuatan manusia:

Kemauan manusia itu sebenarnya adalah kemauan Allah,akan tetapi perbuatan manusia itu tidak selamanya sesuai dengan kehendak Tuhan,sebab dia selalu menghendaki yang baik,bukan yang tidak baik.dan ini adalah prosedur akal saja sebab baik buruk adalah semua dari Qudrat dan iradatnya Allah Ta’ala

3.tentang sifat tuhan :
Sifat tuhan adalah sifatnya tidak perlu di permasalahkan lagi.

Pokok –pokok pikiran Imam Al Asy’ari :
1.Masalah Iman :

Tashdiq di dalam hati di ikuti dengan perkataan dan di buktikan dengan perbuatan.

2.qodlo dan qodhar dalam hubungannya dengan perbuatan manusia:
Di rumuskan dalam bentuk pertanyaan :
Apakah perbuatan manusia di ujudkan oleh Tuhan atau oleh Manusia itu sendiri :
Yaitu qodlo sifatnya qodim yaitu kehendak yang Azali,sedangkan Qodhar sifatnya adalah hudus/baru yaitu ,wujud pekerjaan manusia itu,Dengan kata lain terwujudnya perbuatan manusia adalah atas Qudrat dan Iradatnya Allah Ta,ala.

3.Sifat dan dzat Allah Ta’ala
Imam Asy’ari menetapkan adanya sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang tercantum dalam Alqur’an dan Sifat Allah bukan dzat Allah.Dzat Allah adalah tidak butuh kepada Dzat lain dan tidak butuh kepada yang menjadikan,sifat Allah adalah sifat yang qodim.

dalam kancah sejarah Abu Hasan Al-Asy’ari lebih di kenal daripada Abu Mansur Al Maturridi. Padahal hakikatnya baik Al-Asy’ari maupun Al-Maturidi merupakan dua pembesar Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Ketidak populeran Al Maturidi dibanding dengan Al Asy’ari dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya :

1.Para Sejarawan tidak mencantumkan pada tarajum-tarajum karangannya. Diantaranya yaitu Ibnu Al Nadim (379 H/987M) yang wafat 50 tahun setelah wafatnya Al Maturidy. Padahal ia mencantum Imam Attahawi dan Imam Al Asy’ari. Demikian pula sejarawan yang lain seperti Ibnu Kholikan, Ibnu Al ‘Amad, Assyafadi, Ibnu Khaldun pun tidak mencantumkannya dalam muqoddimahnya dalam ilmu kalam. Begitu pula Jalaludin Assuyuti tidak mencantumkanya dalam tobaqot al mufassirin, padahal Al Maturridi disamping seorang mutakalim dia juga seorang mufasir.

2.Faktor geografis.Sebagaimana kita ketahui bahwasanya Al Maturridi hidup di Samarkan yang jauh dari Irak yang saat itu merupakan pusat perkembangan Islam dan disaat yang sama Al Asy’ari mulai memperkenalkan ajaran-ajarannya disana.
Asya’irah dan Maturidiyah merupakan du teologi Islam yang legendaris yang masih eksis hingga saat ini, yang kita kenal dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Aliran Maturridiah banyak dianut umat Islam yang bermadzhab Hanafi sedangkan Asy’ariyah banyak dipakai oleh umat Islam bermadzhaf syafi’i . Oleh karena itu tidak heran jika kita mendengar ormas islam terbesar di  indonesia bahkan di dunia yaitu Nahdatul Ulama-N U. berfaham dalam aqidah  ASYTUR (Asy’ariyah Maturidiyah).dan di dalam fiqih berpegang kepada madzhabun arba’ah yaitu Hanafi-maliki-syafi’i &Hambali.
 

Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Abu Mansur al-Samarqandi al-Maturidi al-Hanafi (Bahasa Arab: محمد بن محمد بن محمود أبو منصور الماتريدي السمرقندي الحنفي) (wafat 333 AH / 944 ) adalah seorang cendekiawan muslim dan ahli di bidang ilmu kalam.

Maturidi dilahirkan di Maturid, dekat Samarqand. Di bidang ilmu agama, beliau berguru pada Abu Nasr al-`Ayadi and Abu Bakr Ahmad al-Jawzajani. Ia banyak menulis tentang Mu’tazilahQarmati, dan Syiah.

Karya

  • Kitab Al Tawhid
  • Kitab Radd Awa’il al-Adilla, sanggahan terhadap Mu’tazilah
  • Radd al-Tahdhib fi al-Jadal, sanggahan terhadap Mu’tazilah
  • Kitab Bayan Awham al-Mu’tazila (‘Kitab Pemaparan Kesalahan Mu’tazilah
  • Kitab Ta’wilat al-Qur’an.
  • Kitab al-Maqalat
  • Ma’akhidh al-Shara’i` dalam Usul al-Fiqh
  • Al-Jadal fi Usul al-Fiqh
  • Radd al-Usul al-Khamsa, sanggahan terhadap pemaparan Abu Muhammad al-Bahili’ tentang lima prinsip Mu’tazilah
  • Radd al-Imama, sanggahan terhadap konsepsi keimaman syiah
  • Al-Radd `ala Usul al-Qaramita
  • Radd Wa`id al-Fussaq

Muhammad Abu Mansur al-Maturidi (853 AD – 333 AH / 944 AD) (Persian: محمد بن محمد بن محمود أبو منصور ماتریدی سمرقندی حنفی‎) was an Iranian[1] Muslim theologian, and a scholar of Islamic jurisprudenceand Qur’anic exegesis. Al Maturidi is one of the pioneers[2] of Islamic Jurisprudence scholars and his two works are considered to be authoritative on the subject.[3] He had a “high standing” among the scholars of his time and region.[4]

Early life and education

He was born in Maturid near Samarkand, (possibly) in 853.[5] He was educated in Islamic theologyQur’anic exegesis, and Islamic jurisprudence. He was a Muslim theologian and his background is claimed as Tajik.[1] The area of Samarkand was at his time under theSamanid and its urban population were predominately Tajik while the surrounding steppes was largely populated by Turkic-speaking people.[6]

His Teachers were Abu Nasr Ahmed b. Abbas b. Husayin al-Iyazi, Abu Bakr Ahmed b. Ishak b. Salih el-Juzjani (writer from Al-Farq wat Tamyiz),Nusayr b. Yahya al-Balkhi and Qadilqudat Muhammad b. Mukatil ar-Razi. Abu Nasr al-Iyazi was his teacher and friend. Abu Bakr al-Juzjani was the pupil of Abu Sulayman Musa b. Sulayman el-Juzjani, who was the pupil of Imam Abu Yusuf and Imam Muhammad Ash-Shaybani. Muhammad b. Mukatil did learn from Imam Muhammad as-Shaybani too.

Works

When al-Maturidi was growing up there was an emerging reaction[7] against some schools within Islam, notably Mu’tazilisQarmati, and Shi’a. The Sunni scholars who were following Abu Hanifa. Al-Maturidi with other two preeminent scholars()[8] wrote especially on the creed of Islam and elaborated Abu Hanifa‘s doctrine, the other two being Abu al-Hasan al-Ash’ari in Iraq, and Ahmad ibn Muhammad al-Tahawi in Egypt.[9]

While Al-Ash’ari and Al-Tahawi were Sunni together with Al-Maturidi, they constructed their own theologies diverging slightly from Abu Hanifa‘s school. Al-Ash’ari, enunciated that God creates the individual’s power (qudra), will, and the actual act[10] giving way to a fatalist school of theology, which was later put in a consolidated form by Al Ghazali.[11] Al Maturidi, followed in Abu Hanifa‘s footsteps, and presented the “notion that God was the creator of man’s acts, although man possessed his own capacity and will to act”.[12] Al Maturidi and Al-Ash’ari also separated from each other in the issue of the attributes of God,[13] as well as some other minor issues.

Later, with the impact of Persianate states such as Great Seljuq Empire[14] and Ottoman Empire,[15] Hanafi-Maturidi school spread to greater areas where the Hanafi school of law is prevalent, such as AfghanistanCentral AsiaSouth AsiaBalkanRussiaChinaCaucasus andTurkey.

Maturidi had immense knowledge of dualist beliefs (Sanawiyya) and of other old Persian religions. His “Kitäb al-tawhld” in this way has become a primary source for modern researchers with its rich materials about Iranian Manicheanism (Mâniyya), a group of Brahmans (Barähima), and some controversial personalities such as Ibn al-RawandiMuhammad al Warraq, and Muhammad b. Shabib.[16][17]

References

  1. ab S. H. Nasr(1975), “The religious sciences”, in R.N.Frye, the Cambridge History of Iran, Cambridge University Press
  2. ^Katip Çelebi. (1943). Keşfü’z-Zünûn an Esâmi’l-Kütüb vel-Fünûn, (Vol. I), (pp. 110‑11). Istanbul:Maarif Matbaası.
  3. ^ Ali, A. (1963). Maturidism. In Sharif, M. M. (Ed.), A history of Muslim philosophy: With short accounts of other disciplines and the modern renaissance in the Muslim lands (Vol. 1), (p. 261). Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  4. ^ Mwakimako, H. (2004). Al Maturidi. In Martin, R. C. et al. (Eds.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World, (Vol. 1), (p. 443). New York: Macmillan Reference USA
  5. ^ Pessagno, J. M. (1984). The uses of evil in Maturidian thought. Studia Islamica, 60. p. 59.
  6. ^ Adeeb Khalid “Islam in contemporary Central Asia” in R. Michael Feener, “Islam in World Cultures: Comparative Perspectives”, Published by ABC-CLIO, 2004. pg 135, excerpt: Central Asia has long been an integral part of the Muslim world. Arab armies conquered the cities of Transoxiana in the early eight century, turning the region into the frontier of the Muslim world. Over the next two centuries, the urban population, mostly Tajiks converted to Islam, and the cities very soon became connected to the networks of Muslim culture and of Islami learning…. This position was cemented by the emergence, at the end of the tenth century, of Bukhara as the seat of the independent Samanid Persian dynasty, which patronized the development of “new Persian” (e.g. Persian as fully Islamized language) as a literary language. The surrendering steppe, with its largely Turkic-speaking population, remained a borderland.
  7. ^ Williams, J. A. (1994). The word of Islam. London: Thames and Hudson. p. 145.
  8. ^ Ali, A. (1963). Maturidism. In Sharif, p. 260. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  9. ^ Ali, A. (1963). Maturidism. In Sharif, p. 259. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  10. ^ Gimaret, D. (1980). The´ories de L’Acte Humain en The´ologie Musulmane. Paris: J. Vrin.
  11. ^ Hye, M. A. (1963). Ash’arism. In Sharif, p. 226. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  12. ^ Shah, M. (2006). Later Developments. In Meri, J. W. (Ed.),Medieval Islamic civilization: an encyclopedia, (Vol. 1), (p. 640). New York:Routledge.
  13. ^ Lucas, S. C.(2006). Sunni Theological Schools. In Meri, J. W. (Ed.),Medieval Islamic civilization: an encyclopedia, (Vol. 1), (p. 809). New York:Routledge.
  14. ^ Hughes, A. (2004). Ash’arites, Ash’aria. In Martin, R. C. et al. (Eds.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World, (Vol. 1), (pp. 83-84). New York: Macmillan Reference USA
  15. ^ DeWeese, D. (2004). Central Asian Culture and Islam. In Martin, R. C. et al. (Eds.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World, (Vol. 1), (p. 139). New York: Macmillan Reference USA
  16. ^ See G. Vajda, “Le Témoignage d’al-Maturidi sur la doctrine des manichéens, des daysanites et des rnarcionites”, Arabica, 13 (1966), pp. 1-38; Guy Mannot, “Matoridi et le manichéisme”, Melanges de l’Institut Dominicain d’Etudes Orientales de Caire, 13 (1977), pp. 39-66; Sarah Stroumsa, “The Barahima in Early Kalam”, Jarusalem Studies In Arable and Islam, 6 (1985), pp. 229-241; Josef van Ess, “al-Farabi and Ibn al-Rewandi”, Hamdard Islamicus, 3/4 (Winter 1980), pp. 3-15; J. Meric Pessagno, “The Reconstruction of the Thought of Muhammad Ibn Shabib”, Journal of American Oriental Society, 104/3 (1984), pp. 445-453.
  17. ^The Authenticity of the Manuscript of Maturidi’s Kitäb al-Tawhid, by M. Sait Özervarli, 1997. (Retrieved on: 23 December 2008)

Al GHAZALi

Dalam sebuah kajian yang ke sekian, ketika itu tema yang diangkat adalah seputar biografi dan mantik Imam Al-Ghazali. Presentator biografi adalah saya sendiri dan logika, orang lain. Dalam sesi tanya jawab, makalah yang saya presentasikan tidak banyak pertanyaan, hanya beberapa pertanyaan dan tambahan dari beberapa kekurangan dalam makalah yang saya tulis. Wajar saja, biografi kan masalah sejarah dan perjalanan hidup, peluang analisa lebih sempit dibanding yang lain. Sepertinya kurang menarik menurut beberapa orang, tapi menurut saya sangat penting karena banyak yang dapat diteladani dari Imam Al-Ghazali terutama perjuangannya dalam menuntut ilmu.

Salah satunya adalah ketika beliau kembali pulang setelah berguru pada Syaikh Isma’ily selama lima tahun. Beliau mencatat seluruh yang dipelajarinya bersama gurunya. Dalam perjalanan, Imam Al-Ghazali dirampok dan seluruh buku catatannya diambil. Ketika itu terjadi perdebatan sengit:

“Ambillah semua hartaku, tapi jangan kau ambil buku catatanku karena tidak gunanya bagimu”

Perampok itu menjawab, “Ilmu itu bukan dibuku, tapi otak”

Akhirnya buku catatannya pun dikembalikan lagi. Kejadian itu ternyata membuat Imam Al-Ghazali semakin semangat belajar. Akhirnya semua buku dan catatannya hasil belajar selama lima tahun itu, dihafalnya semua dalam waktu tiga tahun. Setelah itu berangkat lagi menuntut ilmu pada guru yang lain.

Seputar logika, ini yang seru. Presentator menjelaskan penggagas pertama logika dalam Islam dan asal mula logika yang berasal dari ilmu kedokteran. Jadi ulama dulu yang ahli dalam bidang mantiq juga mempunyai kapabelitas dalam bidang kedokteran. Dikatakan juga bahwa, Imam Al-Ghazali dalam hal ini mengikuti Imam Syafi’i sebagaimana dalam bidang yang lain. Kemudian masalah hukum mempelajari disiplin ilmu ini, Imam Al-Ghazali dalam kondisi tertentu mewajibkan untuk mempelajari ilmu ini.

“Man lâ yuhithu bihi ilmuhu falâ tsiqata lahu”

(Siapa yang ilmunya tidak didukung dengan mantik, maka keilmuannya diragukan)

Akan tetapi dalam waktu yang lain beliau melarang mempelajarinya.

“Man tamantaqa faqad tazandaqa”

(Barangsiapa bermain-main dangan mantik, maka dia zindik)

Tentu saja kata-kata tersebut dilontarkan kepada orang yang berbeda, bahkan berlawanan juga kondisinya.

Akan tetapi, ada salah satu diskusan yang tampaknya sangat getol meneliti pemikiran Imam Al-Ghazali, hal itu terlihat dengan gaya bicaranya yang mantap dan penuh keyakinan serta didukung dengan beberapa literatur yang pernah dibacanya. Dia mengungkapkan beberapa kekurangan Imam Al-Ghazali mulai dari filsafatnya, dengan mengatakan bahwa, “Filsafat Al-Ghazali hanya sesuai pesanan, karena ia mempelajari filsafat hanya untuk memberantas filsafat yang berkembang pada saat itu.” Selain poin filsafat, literatur punya Imam Al-Ghazali juga menurutnya banyak kelemahan. Ia juga tidak setuju sikap Imam Al-Ghazali yang mengkafirkan tiga poin dalam filsafat dalam bukunya ‘Tahafut al-Falasifah’. Terakhir ia menyimpulkan bahwa, “Al-Ghazali, tidak jelas…!”

Brek, hatiku kecewa. Kenapa kata itu terlontar kepada ulama sekaliber Imam Al-Ghazali. Mungkin ia hanya memandang dari satu segi saja. Jasa beliua dalam meng-Islamkan filsafat itu dianggap hanya sesuai pesanan dan perlu diragukan keilmuannya dalam bidang filsafat. Terlihat jelas bahwa disini ada indikasi penolakan terhadap filsafat islam yang sudah digagas oleh ulama pendahulu. Setinggi apakah keilmuan kita sehingga menganggap Imam Al-Ghazali demikian? Kalau anda tidak setuju, mana konsep yang Anda tawarkan sebagai pengganti konsep yang sudah ada? Ternyata ilmu kita tidak ada apa-apanya. Kalau mencari kesalahan tanpa memberikan solusi, banyak yang bisa Mas. Hatiku hanya berkata demikian, perasaan itu tidak ingin berpindah ke mulut karena jelas argumen saya sangat mudah dipatahkan dan saya tidak punya modal bukti ilmiah.

Sesunggunya telinga, mata, dan hati semuanya akan dipertanggungjawabkan.

wAllâhu A’lam bi ash-Shawâb

 
Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Muslim Syi’ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama (Abu Bakar As-Shiddiq, Umar ibn Khattab, dan Utsman ibn ‘Affan) seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Bentuk tunggal dari Syi’ah adalah Shī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.
Muslim Syi’ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah NabiMuhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah
.
Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah
.
Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenaiSahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan
.
Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini
.
Doktrin
Dalam Syi’ah terdapat apa yang namanya ushuluddin (pokok-pokok agama) danfuru’uddin {masalah penerapan agama). Syi’ah memiliki Lima Ushuluddin:
  1. Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa.
  2. Al-‘Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil.
  3. An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia
  4. Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam-imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian.
  5. Al-Ma’ad, bahwa akan terjadinya hari kebangkitan.
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir
.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).Dimensi ketuhanan ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir
.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang). Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. nabi sama seperti muslimin lain. I’tikadnya tentang kenabian ialah:
  1. Jumlah nabi dan rasul Allah ada 124.000.
  2. Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad SAW.
  3. Nabi Muhammad SAW suci dari segala aib dan tiada cacat apa pun. Ialah nabi paling utama dari seluruh Nabi yang ada.
  4. Ahlul Baitnya, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan 9 Imam dari keturunan Husain adalah manusia-manusia suci.
  5. Al-Qur’an ialah mukjizat kekal Nabi Muhammad SAW.
Sekte dalam Syi’ah
Dua Belas Imam
Disebut juga Imamiah atau Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan imam mereka yaitu:
  1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Ja’far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
  10. Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
.

Lebih Dekat Dengan Syiah Ali As

Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) :

“Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin karena jumlah mereka kurang dari 12. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah Bani Umayyah karena jumlah mereka lebih dari 12. Kesemuanya zalim kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan mereka juga bukan dari Bani Hashim karena Nabi bersabda: Semua Pemimpin ISLAM haruslah dari Bani Hashyim. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas karena mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar perintah al-Qur’an. Oleh karenanya itu satu satunya cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam dari Ahl Bait Rasulullah Saw. Karena mereka yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari ayah ayah mereka yang berhubung langsung dengan kakek mereka Muhammad Saw.”

(Yanabi al-Mawaddah, him. -447).

SYIAH

Saya menyimpulkan bahwa sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam”.

Dalam melihat suatu istilah, maka hendaknya kita tidak melihat dari arti leksikalnya saja. Karena ada istilah-istilah yang juga memuat makna khusus. Misalnya ijtihad, secara leksikal kata tersebut berarti “usaha keras, bersungguh-sungguh, bersusah-payah”. Namun kita tidak bisa dengan serta merta menyebut orang yang berusaha keras dengan sebutan “Mujtahid”, karena sebutan “Mujtahid” adalah istilah khas bagi mereka yang memiliki wewenang untuk melakukan istinbat hukum syar’i.

Begitu juga dengan dengan istilah “syi’ah”, secara leksikal maka itu berarti “pengikut”, sehingga pengikut Mu’awiyyah bisa disebut syi’ah Mu’awiyyah, pengikut Abubakar juga bisa disebut syi’ah Abubakar. Namun istilah “syi’ah” tersebut juga memiliki makna khas, yaitu sebutan untuk para pengikut Ali, yang tidak bisa ditempelkan begitu saja pada semua orang, sehingga pengikut selain Ali tidak bisa disebut sebagai “syi’ah”.

Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro' 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
[ Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319, Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62, Muttaqi Al-Hindi, dalam "Kanzul Ummal", jilid 15, hal. 15, Haikal, dalam "Hayat Muhammad"]

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :
“Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul saww. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul saww menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul saww dengan pengkhianat amanat Rasul saww. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

Rasul saww sendiri menggunakan istilah “syi’ah” ketika menyebut “pengikut Ali”, hal ini bisa dilihat pada hadits beliau saww.

Rasul saww bersabda :
“Cinta pada Ali menghindarkan dari neraka, Cinta pada Ali menghindarkan dari kemunafikan, syi’atu Ali (pengikut Ali) adalah orang-orang yang beruntung”.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, dan juga oleh Dailami sebagaimana termaktub dalam kitab “Kunuuzul Haqa’iq” (Al-Manawi).

Rasul saww juga bersabda : “Wahai Ali, engkau dan syi’ah-mu berada dalam syurga”.

[Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam "Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah", jilid 3, hal. 107-108, 162, 167]

Sehingga jelas sekali, istilah “syi’ah” dipergunakan oleh Rasul saww untuk menyebut para pengikut Ali. Oleh karena itulah, semakin jelas terlihat bahwa “syi’ah” adalah istilah khas untuk menyebut para pengikut Ali (syi’ah Ali).

Ali adalah hujjah Allah, Kholifah Rasul saww, penerus misi Rasul saww, sehingga apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka itu berarti ketetapan Ali as juga.

Kita semua tahu bahwa Rasul saww memerintahkan kita untuk mentaati para Imam Ahlul Bait as atau yang dikenal dengan “Dua belas Imam”. Sehingga ketetapan Rasul saww tersebut pastilah menjadi ketetapan Imam Ali as juga. Hal ini juga dapat dilihat pada khutbah beliau tentang Ahlul Bait as di Nahjul Balaghah.
[Nahjul Balaghah, khutbah No. 144 dan 154, tentang Ahlul Bait as]

Sehingga “syi’ah Ali” pastilah juga “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (syi’ah Dua Belas Imam)”.

Kesimpulan:

Sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, TIDAK ADA yang lain. Berikut sekedar tambahan keterangan bahwa kata “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “Syi’ah Ali” dan “Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, berdasarkan pengakuan ulama ahlusunnah :

Abul Hasan Al-Asy’ari :
“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.
["Maqaalaat Islamiyyin", jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab "Asy-Syi'ah Fi Maukibi At-Tarikh", dikeluarkan oleh "Mu'awaniyyah Syu'un At-Ta'lim Wa Al-Bahuts"]

Syahrastani, berkata :
“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.
[Syahrastani, dalam "Milal Wan Nihal", hal. 118]

Ibn Hazm, berkata :
“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”
[Ibn Hazm, dalam "Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal", jilid 2, hal 113. ]

Siapa saja yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” adalah bukan syi’ah. Termasuk siapa saja yang pada awalnya taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” namun setelah itu membangkang atau berkhianat kepada mereka as, maka orang tersebut juga bukan syi’ah. Termasuk madzhab Zaidiyah, yang tidak bisa dikatakan sebagai syi’ah, karena madzhab ini mengakui kepemimpinan Abubakar dan Umar, dan mereka tidak berpegang kepada hukum-hukum fiqih “Dua Belas Imam Ahlul Bait as”. Hanya mereka yang selalu taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” yang disebut sebagai syi’ah.

Dengan kesimpulan tersebut, maka orang yang telah berkhianat kepada Imam Hasan as seperti Ubaidallah bin Abbas— sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Mufid dalam kitab “Al-Irsyad”— tidak bisa lagi disebut sebagai syi’ah, karena pengkhianatannya kepada Imam Hasan as dengan bergabung kepada Mua’awiyyah.

Oleh karena itu, tidak ada istilah “pengkhianatan oleh syi’ah”— sebagaimana secara implisit dituduhkan oleh sebagian orang— karena mereka yang berkhianat kepada para Imam as tidak lagi berstatus sebagai syi’ah.

Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS

Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .

1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)

Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”

Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini” [90].

Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”

Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.

Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku”[91].

Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.

Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti? Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul bersabda:”Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan gigi geraham kalian.”Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.

Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengna ayat-ayat al-Qur’an. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian ucapan kita “Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku…”[92] tidak mempunyai hujah yang kuat lagi.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.

Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:” Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai” (Surah 19:5-6)

Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.

Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”

Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya:”Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda menjawab:”Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi Allah”[93]. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau berkata:”Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta”. Atau beliau berkata:”Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali, sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu”. Kemudian Umar bin Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:”Setelah aku ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali”.

Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa’:94:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang mengucapkan “salam” kepadamu:”Kamu bukan seorang Mukmin “(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.

Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.

Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).

Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.

Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai’ah di rumah Fatimah dan membakar mereka.

Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan nas-nas al-Qur’an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid:”Wahai musuh Allah, engkau telah bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam engkau dengan batu” [94]. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:”Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah. Tutup mulutmu Khalid”.

Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang  telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut, sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita memberikannya gelaran “Pedang Allah Yang Terhunus!!!”

Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu’; seorang yang dijadikan perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid: Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di waktu malam, Khalid menidurinya [95].

Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya as-Sidiq Abu Bakar. Di dalam bab Pendapat Umar  Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal menulis:”Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.

Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap – alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar – namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai “Pedang Allah” dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid dipanggil dan dimarahi [96].

Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama seumpamanya yang berusaha menjaga “kemuliaan” sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal – adalah model keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur’an jauh sekali.

Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi SAWA berkata:”Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka lakukan  kepadanya hukum hudud “.

Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakan Khalid ini dengan  menciptakan berbagai kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya dengan sebutan “Pedang Allah Yang Terhunus”.

Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukum-hukum Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.

Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka.  Kabilah ini tidak fasih di dalam menyebutkan Aslamna (kami telah masuk Islam). Mereka menyebutnya: Saba’na, saba’na.Lalu Khalid membunuh mereka dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:”Ya Allah, aku bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid”, dibacanya dua kali [97]. Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid”.Dibacanya sehingga tiga kali [98].

Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai  Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja? Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka Waillah tempat mereka kembali.

Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah tersalah takwil?

Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai “musuh Allah”. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid lebih dari orang lain.

Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya, sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila [99].

Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:”Demi nyawaku hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi [100]. Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:”Ini mesti ulah si A’saar”, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.

Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.

Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran. Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila’ mereka sedangkan aku masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:”Orang jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya”.

Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha Mengetahui wahai Tuhanku,  aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.

Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orang-orang yang berpegang-teguh kepada tali wila’ mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka. kerana NabiMu SAWA telah bersabda:”Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dia cintai”.

2. Hadith Bahtera

Bersabda Nabi SAWA:”Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam” [101].

“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni”[102].

Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-Muhriqah dan berkata:”Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan – pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis – dengan sikap rendah hati dan memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA sebagai sebab diampuninya mereka.”

Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:”Kami adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaan-keutamaan mereka”.

Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka, atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.

Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.

Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih  sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah  ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku

Bersabda Nabi SAWA:”Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di syurga Ad’n yang ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila’ walinya serta ikut Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku, diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya” [103].

Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak memberikan hak untuk  memilih kepada seorang Muslim, bahkan menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila’ Ali dan ikut Itrah keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk mereka Nabi SAWA.

Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara lain beliau berkata:”Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya’la al-Muharibi, seorang yang lemah”. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan  sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin Ya’la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran dengan sempurnanya.

Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul Munaqasat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan [104]. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya’la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati bahawa Bukhari telah meriwayatkan  hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi  yang thiqah. Para imam al-Jarh wa at-Ta’dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.

Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya Nubuwwah dan berjalan  di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan  orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga [105].

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah [106]. Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya [107], dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syi’ah

 Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.

Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.

Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”.

Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,”Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”.

Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.

Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”.

Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja’fariyyah

Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja’far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadith.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy’ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?

Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.

Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.

Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:

Jika mereka bertanya tentang madzhabku,

Aku berdiam diri lebih selamat,

Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,

Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,

Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan ‘berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.

Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,

Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.

Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).

Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.

Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali ‘penentuan’ itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah ‘penentuan’ kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.

Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.

Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).

Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur’an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.

Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur’an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.

Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.

Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.

Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!

Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).

Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).

Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:”Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam”.(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).

Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja’fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja’far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.

Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.

Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.

Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya”.

Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.

Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.

Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.

Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.

Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)” (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).

Rasulullah SAWA bersabda:”Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam”, (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).

Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.

Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.

Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:”Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu”.

Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.

Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:”Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air”.

Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:”Wuduk itu dua basuh dan dua sapu”, iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:'Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,'Ya'. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:'Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci'. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca'Bismillah' dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau - Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].

Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya ‘ala khayr al-’amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.

Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.

Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.

Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:”Sembahyang itu lebih baik dari tidur”, maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.

Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.

Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud”dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud” (Sahih Muslim, Bab Mawdi’ as-Salah).

Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.

Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.

Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya’ di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.

Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa “Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya’ tanpa musafir dan tanpa sebab takut”,(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam’ as-Salah fil-Hadr).

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:”Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita”.

Kemudian melantik Ubay bin Ka’ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:”Ini adalah bidaah yang baik”. Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).

Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.

Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan – sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.

Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)

Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga ‘Undang-undang 99 Perak’, dan ‘bersalam’ lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja’fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.

Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut’ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:”Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan” sehingga terbukti pembatalannya.

Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana ‘menghadkan waktu’ dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu’aqqat.

Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).

Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)

Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut’ah.

Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur’an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:”Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya”.

Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur’an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut’ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa’ (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur’an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:”Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)”.

Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut’ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut’ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi’in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut’ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:”Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu”.

Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.

Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.

Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:”Ayat mengenai mut’ah telah diturunkan dalam al-Qur’an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).

Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:”Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta’ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat” (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut’ah).

Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma’ binti Abu Bakar secara mut’ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut’ah)”.

Imam Ja’far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:”Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut’ah, dan ‘hayya ala khairil amal’ dan ditanya Imam Ja’far as-Sadiq AS mengenai nikah mut’ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut’ah).

Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.

Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.

Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.

Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur’an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang ‘ratusan ribu’ itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur’an itu ditujukan juga kepada mereka.

Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.

Mengenai Hadith “sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit”, maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.

Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)”.

Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja’far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.

Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti ‘jemputan’ kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.

Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur’an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.

Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?

Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan”Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid”. Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.

Nabi SAWA bersadba:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah ’satu’ (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji’ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.

Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa’at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).

Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.

Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai “Pintu Ilmu”.

Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:”Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya” (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).

Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.

Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.

Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.

Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja’far as-Sadiq AS.

Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz”Wahai anak Rasulullah” kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.

Imam Abu Hanifah berkata:”Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu’man” iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja’far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.

Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:

Aku adalah Syiah dalam agamaku,

Aku berasal dari Makkah,

Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).

Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.

Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa”Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa alihi Muhammad)

Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.

Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.

Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.

Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya – yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Katanya lagi,”Sesungguhnya Madzhab Ja’fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya….”(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)

Walaupun di Malaysia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.

Taqiyah termasuk konsep-konsep Al-Qur’an yang disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an

Taqiyah termasuk konsep-konsep Al-Qur’an yang disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an. Di dalam ayat-ayat tersebut ada isyarat jelas yang menunjukkan kasus-kasus ketika seorang Mukrnin terpaksa menempuh jalan yang disyariatkan ini dalam perjalanan hidupnya di tengah kondisi yang sulit. Guna melindungi diri, kehormatan, dan hartanya. Atau, untuk melindungi diri, kehormatan, dan harta orang yang ada hubungan dengannya

. Sebagaimana pernah ditempuh oleh kaum Mukmin dari keluarga Fir’aun untuk melindungi al-Kalim Musa as dari ancarnan pembunuhan. Hal itu juga pemah dilakukann ‘Ammar bin Yasir ketika ia ditawan dan diancam akan dibunuh. Dan masih banyak kasus-kasus lain yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan sunah. Yang jelas, kita harus mengenalnya, baik pengertian, tujuan, dalil, dan definisi maupun batasannya. Sehingga kita dapat menghindari sikap lalai dan berlebih-lebihan dalam melakukannya.

Taqiyah adalah isim dari kata ittaqa -yattaqi. Huruf ta’ pada kata itu menggantikan huruf waw. Asalnya adalah al-wiqayah. Dari situ, at-taqwa diartikan secara mutlak sebagai ketaatan kepada Allah. Sebab, orang yang taat menjadikannya sebagai perlindungan dari neraka dan siksaan. Maksud taqiyah itu adalah menjaga diri dari bahaya yang ditimpakan orang lain dengan menampakkan persetujuan kepadanya dalam ucapan atau perbuatan, yang bertentangan dengan kebenaran.

Pengertian Taqiyah

Jika kata at-taqiyyah itu diamhil dari kata al-wiqayah (perlindungan) dari kejahatan, pengertiannya dalam AI-Qur’an dan sunah adalah menampakkan (sikap) kekafiran dan menyembunyikan keimanan, atau memperlihatkan yang batil dan menyembunyikan yang benar. Apabila seperti itu pengertiannya, taqiyah berlawanan dengan kemunafikan seperti halnya keimanan berlawanan dengan kekafiran. Sebab, kemunafikan adalah lawannya. Kemunafikan adalah menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, serta memperlihatkan yang benar dan menyembunyikan yang batil. Karena ada kontradiksi di antara arti kedua kata tersebut, maka taqiyah tidak dapat dipandang sebagai cabang dari kemunafikan.

Benar, barangsiapa yang menafsirkan kemunafikan itu sebagai mutlak pertentangan yang tampak terhadap yang tersembunyi, dan memandang taqiyah – yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah-sebagai salah satu cabanghya, ia telah menafsirkannya dengan pengertian yang lehih luas dari pengertian yang sebenarnya dalam Al-Qur’an. la te1ah mendefinisikan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang menampakkan keimanan dan menyem- bunyikan kekafiran. Allah swt berfirman, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah menge- tahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafzk itu benar-benar pendusta. ” (QS. al-Munafiqun [63]: 1)

Apabila demikian definisi munafik, lalu bagaimana hal itu dapat mericakup orang yang menempuh taqiyah dalam menghadapi orang-orang kafir dan ahli maksiat sehingga ia menyembunyikan keimanannya dan menampakkan sikap persetujuan untuk melindungi diri, harta, dan kehormatan ketika menghadapi ancaman.

Kebenarannya akan tampak jika kita mengetahui penggunaannya dalam syariat Islam. Kalau taqiyah itu merupakan bagian dari kemunafikan, tentu hal itu akan dicela dan mustahil Dzat Yang Maha bijaksana memerintahkannya. A1lah swt berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) pe buatan yang keji. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. al-A’raf [7]: 28)

Tujuan Taqiyah

Tujuan taqiyah adalah untuk melindungi diri, kehorrnatan, dan harta. Hal itu dilakukan dalam kondisi-kondisi terpaksa ketika seorang Mukmin tidak dapat menyatakan sikapnya yang benar secara terang-terangan karena takut hal itu akan mendatangkan bahaya dan bencana dari kekuatan yang lalim, seperti kebiasaan- kebiasaan pemerintahan yang suka melalimi, mengintimidasi, mengusir, membunuh, menyita harta, dan merampas hak. Karenanya, orang yang memegang teguh akidah, yang melihat dirinya terancam, tentu ia akan menyembunyikan akidahnya. la menampakkan sikap persetujuan terhadap keinginan dan kebijakan penguasa. Sehingga ia selamat dari ancaman dan pembunuhan hingga Allah memutuskan perkara yang lain.

Taqiyah adalah senjata orang yang lemah dalam mengahadapi kekuatan yang lalim, senjata orang yang diuji dengan tindakan orang yang tidak menghargai hak hidup, kehormatan, dan hartanya. Bukan karena apa-apa, melainkan karena ia tidak sejalan dengannya dalam beberapa prinsip dan pendapatnya.

Taqiyah itu dipraktekkan oleh orang yang hidup dalam lingkungan yang tidak menerapkan kebebasan dalam berbicara, berbuat, berpendapat, dan berakidah. Orang yang menentangnya tidak akan selamat kecuali dengan sikap diam atau menampakkan persetujuan terhadap keinginan dan pemikiran penguasa. Atau, sebagian orang menggunakan taqiyah sebagai wahana yang harus ditempuh untuk menolong orang-orang lemah dan teraniaya yang tidak memiliki daya dan kekuatan. Maka mereka menampakkan sikap itu kepada penguasa yang lalim agar bisa berhubungan dengannya. Hal itu seperti yang dilakukan orang Mukmin dari keluarga Fir’aun yang dikisahkan Allah swt dalam Al-Qur’an.

Kebanyakan orang yang mencela orang-orang yang menempuh jalan taqiyah mengira bahwa tujuan taqiyah itu adalah untuk membentuk perkumpulan-perkumpulan rahasia yang bertujuan membuat kerusakan dan kehancuran. Hal itu seperti yang dikenal di kalangan penganut kebatinan dan partai-partai komunis ilegal. Itu merupakan pandangan keliru yang mereka anut karena ketidaktahuan atau kesengajaan tanpa mendasarkan pendapat mereka ini pada suatu dalil atau hujah yang benar. Apa yang telah kami sebutkan berbeda dengan apa yang mereka sebutkan. Kalau kondisi memaksa dan hukum-hukum yang lalim tidak menyentuh kelompok yang lemah ini, tentu mereka tidak akan menempuh taqiyah. Tentu mereka tidak akan menanggung beban berat dengan menyembunyikan akidah mereka dan pasti mengajak orang-orang pada akidah itu secara terang-terangan dan tanpa keraguan. Namun, senjata selalu dihunus oleh semua pemerintahan yang lalim untuk ditebaskan kepada orang-orang yang memiliki akidah yang berbeda dengan akidah yang dianutnya. Praktek pertahanan seperti ini berbeda dari praktek-praktek yang dilakukan para anggota perkumpulan-perkumpulan rahasia untuk menjatuhkan dan merebut kendali pemerintahan. Maka semua praktek mereka ditetapkan dan diatur untuk tujuan penghancuran. Mereka adalah orang-orang yang menganut slogan “tujuan menghalalkan segala cara”. Semua yang jelek menurut akal dan terlarang menurut syariat dibolehkan oleh mereka untuk meraih tujuan-tujuan mereka yang destruktif. Ada pendapat yang memandang bahwa mereka sama saja dengan orang yang menempuh taqiyah sebagai senjata pertahanan agar selamat dari kejahatan pihak lain. Sehingga ia tidak dibunuh atau dibinasakan, harta dan rumah mereka tidak dirampas, hingga Allah memutuskan perkara yang lain. Namun, pendapat itu muncul dari perasaan yang berlawanan dari hal seperti itu. Kaum Muslim yang tinggal di Uni Soviet (dulu) telah mendapat bencana dan cobaan yang menurut akal tidak mungkin mereka dapat menanggungnya. Kaum komunis selama kekuasaan mereka atas wilayah-wilayah Islam telah menunjukkan permusuhan kepada kaum Muslim. Mereka merampas harta, tanah, tempat tinggal, masjid, dan sekolah kaum Muslim, serta membakar perpustakaan-perpustakaan. Mereka membunuh banyak kaum Muslim dengan cara yang sangat keji. Tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dari kebiadaban mereka kecuali orang yang menempuh taqiyah dengan menampakkan sikap yang f1eksibel, menyembunyikan ritus-ritus agama, dan melaksanakan salat di dalam rumah hingga Allah menyelamatkan mereka dengan meruntuhkan kekuatan kafir tersebut. Maka kaum Muslim muncul kembali di atas pentas. Mereka menguasai tanah dan wilayah mereka. Mereka mulai menampakkan kembali kemuliaan dan keagungan mereka sedikit demi sedikit. Hal itu merupakan salah satu dari buah-buah taqiyah yang disyariatkan dan diperkenankan Allah SWT kepada para hamba-Nya sebagai anugerah dan kemuliaan-Nya kepada orang-orang yang tertindas.

Apabila demikian makna dan pengertian taqiyah, dan seperti itu maksud dan tujuannya, maka itu adalah sesuatu yang bersifat fitrah yang didambakan akal dan hati manusia sebelum segala sesuatu. Taqiyah mengajak manusia kepada fitrahnya. Untuk itu, taqiyah digunakan oleh orang yang diuji dengan tindakan penguasa dan pemerintahan yang tidak menghargai sesuatu apa pun selain ide, pemikiran, ambisi, dan kekuasaan mereka sendiri. Mereka tidak segan-segan untuk menimpakan bencana kepada setiap orang yang menentang mereka dalam hal itu. Mereka tidak membedakan antara Muslim-penganut Syi’ah ataupun Ahlusunah-dan selain Muslim. Dari sini, tampaklah fungsi dan faedah taqiyah.

Untuk mendukung prinsip kehidupan ini, kami mengkaji dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan sunah.

Dalil A1-Qur’an dan Sunah

Taqiyah disyariatkan dengan nas A1-Qur’an. Banyak ayat Al-Qur’an yang akan kami coba menjelaskannya dalam halaman- halaman berikut:

Ayat pertama

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan ( dia tidak berdosa). Akan tetapi, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar: ” (QS. an-Nahl [16]: 106)

Anda perhatikan, bahwa A1lah SWT membolehkan sikap menampakkan kekafiran karena terpaksa dan menuruti orang-orang kafir karena takut kepada mereka. Namun, dengan syarat hati tetap tenang dalam keimanan. Hal itu dijelaskan oleh sejumlah mufasir baik klasik maupun kontemporer. Kami akan berusaha mengetengahkan pendapat-pendapat sebagian dari mereka untuk menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele. Bagi siapa yang ingin mengetahuinya lebih jauh, silakan merujuk pada beberapa kitab tafsir.

I. Ath- Thabrasi berkata, “Ayat itu turun berkenaan dengan sekelompok orang yang dipaksa untuk menjadi kafir. Mereka adalah ‘Ammar, ayahnya Yasir, dan ibunya Sumayah. Kedua orang tua ‘Ammar dibunuh karena mereka tidak menampakkan sikap kekafiran. Sedangkan ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki. Karenanya, mereka me- lepaskannya. Kemudian ‘Ammar memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw, dan berita itu tersebar di tengah kaum Muslim. Maka orang-orang mengatakan bahwa ‘Ammar telah menjadi kafir. Tetapi Rasulullah saw menjawab, “Sama sekali tidak, ‘Ammar telah dipenuhi keimanan dari ubun-ubunnya hingga telapak kakinya. Keimanan itu telah bercampur dengan daging dan darahnya.”

Berkenaan dengan itu, turun ayat di atas dan. ‘Ammar pun menangis. Maka Rasulullah saw mengusap kedua matanya sambil bersabda, “Kalau mereka mengulangi tindakan serupa kepadamu, maka ulangilah apa yang engkau ucapkan itu.”

2. Az-Zamakhsyari berkata, “Diriwayatkan bahwa beberapa orang penduduk Makkah disiksa. Karenanya, mereka keluar dari Islam setelah mereka menganutnya. Di antara mereka ada yang dipaksa lalu kata-kata kekafiran mengalir pada lisannya, sementara ia tetap teguh dalam keimanannya. Di antara mereka adalah ‘Ammar bin yasir dan kedua orang tuanya, yaitu yasir dan Sumayyah, serta Shuhaib, Bilal, dan Khabab.

Adapun ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki dengan lisannya secara terpaksa

3. AI-Hafizh bin Majah berkata: AI-Ita’ artinya al-i’tha’. Yaitu, mereka menampakkan persetujuan pada keinginan orang- orang musyrik itu sebagai sikap taqiyah. Taqiyah dalam hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah SWT, “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.

(QS. an-Nahl [16]: 106)

4. Al-Qurthubi berkata: Al-Hasan berkata, “Taqiyah itu dibolehkan bagi manusia hingga hari kiamat.” Para ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa agar menjadi kafir sehingga ia takut dirinya akan dibunuh, ia tidak berdosa untuk menampakkan kekafiran tetapi hatinya tetap tenang dalam keimanan, ia tidak bercerai dari istrinya dan tidak dihukumi sebagai orang kafir. Ini adalah pendapat Malik. para ulama Kufah dan asy-Syafi’i.

5. Al-Khazin berkata: Taqiyah tidak dilakukan kecuali ketika ada ketakutan akan dibunuh dan dengan niat yang baik. Allah swt berfirman. “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.. (QS. an-Nahl [16]: 106). la tidak berdosa. karena tempat bagi keimanan ialah di dalam hati.

6. Al-Khathib asy-Syarbini berkata, kecuali orang-orang dipaksa kafir, yakni untuk mengucapkannya …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan. Tidak apa-apa ia melakukannya. karcna tempat keimanan adalah di dalam hati.

7. Isma’il Haqqi berkata: …kecuali orang yang dipaksa … la dipaksa untuk mengucapkan kata-kata itu karena takut akan ditimpakan sesuatu pada diri atau salah satu anggota tubuhnya. Sebab, kekafiran itu adalah keyakinan. Sedangkan pemaksaan untuk mengucapkan kata-kata itu bukan keyakinan. Jadi, makna ayat itu adalah “Akan tetapi, orang yang dipaksa terhadap kekafiran dengan lisannya”. …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …Akidahnya tidak berubah. Itu merupakan dalil bahwa keimanan yang benar dan diakui di sisi Allah adalah pembenaran (tashdiq) dengan hati.

Ayat kedua:

Allah swt berfirman, Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, Dan hanya kepada Allah kamu kembali. ” (QS. Ali ‘Imran [3]: 28)

Pendapat para mufasirtentang ayat ini sudah cukup jelas dan tidakmemerlukan penjelasan lagi.

I. Ath- Thabari berkata, “. ..kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. ” Abu al-‘A1iyah berkata, “Taqiyah itu dalam lisan, bukan dengan perbuatan.” Diriwayatkan dari al-Hasan: Saya mendengar Abu Mu’adz berkata: ‘Ubaid mengabarkan kepada kami. la berkata: Saya mendengar adh-Dhahak berkata tentang firman Allah, “kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka,” “Taqiyah dalam lisan adalah orang yang dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah. la mengucapkannya karena takut akan ditimpakan bahaya pada dirinya. “… padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …,maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya taqiyah itu dalam lisan.

2. Az-Zamakhsyari ketika menafsirkan firman Allah SWT: … kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …berkata, “Yaitu keringanan bagi mereka di tengah muwaltat apabila takut kepada para penguasa mereka. Yang dimaksud dengan muwalat adalah perbedaan dan pergaulan secara lahiriah. Sedangkan hatinya teguh dalam permusuhan dan kebencian, dan menunggu hilangnya rintangan.

3. Ar-Razi, ketika menafsirkan firman Allah SWT: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …, berkata, “Masalah keempat Ketahuilah, bahwa taqiyah memiliki banyak ketentuan. Kami akan menyebutkan sebagiannya sebagai berikut:

a. Taqiyah hanya dilakukan apabila seseorang berada di tengah kaum yang kafir, dan ia takut mereka akan menimpakan bahaya terhadap diri dan hartanya. Maka ia bersikap halus kepada mereka dalam ucapan, yaitu tidak menampakkan permusuhan dalam ucapan. Bahkan ia juga boleh menampakkan ucapan yang menunjukkan kecintaan dan kesetiaan.

” Akan tetapi, dengan syarat menyembunyikan sikap sebaliknya dan mengingkari setiap kata yang diucapkannya. Taqiyah itu memiliki pengaruh pada lahir, bukan dalam keadaan- keadaan hati.

b. Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri. Apakah taqiyah juga boleh dilakukan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu diperbolehkan berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim adalah seperti kemuliaan darahnya. Juga sabdanya: “Barangsiapa yang terbunuh dalam membela hartanya, ia mati syahid.”

4. An-Nasafi berkata, “… kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka ” Artinya, kecuali kamu takut terhadap kebijakan mereka sebagai sesuatu yang mendatangkan ketakutan. Yakni, agar orang kafir itu tidak memiliki kekuasaan atas dirimu. Sehingga engkau takut ia menimpakan bahaya kepada diri dan hartamu. Maka ketika itu, kamu boleh menampakkan kesetiaan dan menyembunyikan permusuhan.

5. Al-Alusi berkata: Dalam ayat itu terdapat dalil disyariatkannya taqiyah. Mereka mendefinisikannya sebagai memelihara diri, kehormatan, atau harta dari kejahatan musuh. Musuh itu ada dua bagian sebagai berikut:

a. Permusuhan yang didasarkan pada perbedaan agama, seperti orang kafir dan Muslim.

b. Pennusuhan yang didasarkan pada tujuan-tujuan keduniaan, seperti harta dan kekuasaan.

6. Jamaluddin al-Qasimi berkata: Terhadap ayat ini: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka … para imam (mazhab) menyimpulkan bahwa taqiyah disyariatkan ketika ada ketakutan. Ijmak tentang bolehnya melakukan taqiyah ketika takut telah dinukil oleh Imam al-Murtadha al-Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq.

7. Tentang ayat: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka , al-Maraghi menafsirkan, “Yakni, kaum Mukmin meninggalkan kesetiaan kepada orang-orang kafir merupakan suatu keharusan dalam setiap keadaan kecuali ketika takut mereka akan menimpakan suatu bahaya. Maka ketika itu, kamu boleh melakukan taqiyah rnenurut kadar ketakutan terhadap bahaya itu. Sebab, kaidah syariat rnengatakan, ‘Meninggalkan kerusakan lebih didahulukan daripada rnendatangkan kebaikan.”

Jika kesetiaan kepada mereka dibolehkan karena takut akan datang bahaya dari mereka. Maka lebih utama, jika hal itu untuk mendatangkan manfaat bagi kaum Muslim. Jadi, tidak ada salah- nya negara Muslim bersekutu dengan negara bukan Muslim untuk mendatangkan manfaat, baik dengan menolak bahaya atau mendatangkan manfaat. Kesetiaan itu bukan-dalam sesuatu yang mendatangkan bahaya bagi kaum Muslim. Kesetiaan seperti itu tidak khusus dilakukan dalam keadaan lemah, melainkan juga boleh dilakukan dalam setiap saat.

Para ulama telah menarik kesimpulan dari ayat ini, bahwa boleh melakukan taqiyah. Yaitu, seseorang mengatakan atau melakukan apa yang bertentangan dengan kebenaran karena menghindari bahaya dari musuh yang akan ditimpakan kepada diri, kehormatan, atau hartanya.

Barangsiapa yang mengucapkan kata-kata kekafiran karena terpaksa untuk memelihara diri dari kematian, sementara hatinya tetap teguh dalam keimanan, ia tidak menjadi kafir. Melainkan ia dimaafkan, sebagaimana yang dilakukan ‘Ammar bin yasir ketika ia dipaksa oleh orang-orang Quraisy agar menjadi kafir. Maka ia melakukannya dengan terpaksa, sementara hatinya tetap dipenuhi keimanan. Berkenaan dengan itu, turunlah ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa).

Kalimat-ka1imat dan ungkapan-ungkapan yang begitu jelas ini, tidak memberi peluang lagi untuk orang mengatakan kecuali menetapkan disyariatkannya taqiyah dalam pengertian yang telah Anda ketahui. Bahkan, seseorang tidak akan menemukan seorang mufasir atau ahli fiqih pun yang mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah merasa ragu dalam nenetapkan bolehnya taqiyah. Sebagaimana Anda, wahai pembaca yang mulia, tidak menemukan seseorang yang sadar tidak melakukan taqiyah dalam kondisi- kondisi sulit selama hal itu tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Hal itu akan saya jelaskan dalam penjelasan tentang batasan-batasan taqiyah.

Adapun orang yang menentang bolehnya taqiyah atau yang berlebih-lebihan dalam melakukannya, semata-mata menafsirkannya dengan taqiyah yang telah populer di kalangan anggota organisasi-organisasi bawah tanah dan aliran-aliran destruktif, seperti aliran kebatinan dan sebagainya. Padahal, seluruh kaum Muslim berlepas diri dari taqiyah yang bersifat destruktif seperti ini.

Ayat ketiga

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, apakah kamu akan membunuhseorang laki-laki karena dia mengatakan, “Tuhanku adalah Allah. Padahal, dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung ( dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar; niscaya sebagian (bencana) yang diancamkan kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta ,” (QS. al-Mu’min [40]: 28)

Sedangkan akibat dari perbuatannya itu adalah, “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikeu,ng oleh azab yang amat buruk. ” ( QS. al-Mu’min [ 40] : 45 )

Tiada lain, selain karena dengan taqiyah orang itu, Nabi A1lah itu dapat selamat dari kematian. Allah swt berfirrnan, “la berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu. Sebab itu, keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu. “, (QS. al-Qashash [28J: 20)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bolehnya taqiyah untuk menyelamatkan orang Mukmin dari kejahatan musuh yang kafir.

Taqiyah Muslim terhadap Muslim yang Lain dalam Kondisi Tertentu

Walaupun ayat-ayat di atas turun berkenaan dengan taqiyah orang Muslim terhadap orang kafir, namun pengertian ayat itu tidak dikhususkan dengan sebab turunnya. Sebab, bukanlah tujuan disyariatkannya taqiyah ketika mendapat ujian dengan tindakan orang-orang kafir kecuali untuk memelihara diri dari kejahatan. Jika seorang Muslim diuji dengan tindakan saudaranya sesama Muslim yang berbeda pendapat dalam beberapa furu’, dan pihak yang kuat tidak segan-segan menindas pihak yang lemah, seperti membunuh atau merampas hartanya, dalam kondisi-kondisi sempit itu akal sehat memutuskan untuk memelihara diri dengan menyembunyikan akidah dan menempuh taqiyah. Kalaupun dalam hal itu ada dosa, maka dosa itu adalah bagi orang yang kepadanya ditujukan taqiyah, bukan kepada orang yang melakukannya. Kalau kebebasan menjamin semua kelompok Islam, dan setiap kelompok menghargai pendapat kelompok lain karena mengetahui bahwa pendapat itu merupakan ijtihadnya, tentu tidak seorang pun dari kaum Muslim yang terpaksa untuk menempuh taqiyah. Pada gilirannya, keharmonisan akan menggantikan perselisihan.

Sebagian besar ulama memahami seperti itu dan menjelaskannya. Berikut ini penjelasan dari sebagian mereka:

I. Imam ar-Razi dalam menafsirkan firman Allah swt; …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …” mengatakan: Makna lahiriah ayat itu menunjukkan bahwa taqiyah hanya dibolehkan dilakukan terhadap orang-orang kafir yang merupakan mayoritas. Namun, Imam asy-Syafi’i ra berkata: “Jika keadaan di tengah sesama kaum Muslim sama dengan keadaan antara kaum Muslim dan kaum kafir, taqiyah itu dibolehkan untuk melindungi diri.” la mengatakan, “Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri.” Tetapi, apakah taqiyah juga dibolehkan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu dibolehkan berdasarkan sabda Rasulu1lah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim seperti kemuliaan darahnya.” Selain itu, beliau juga pernah bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya, ia mati syahid.”

2. Jamaluddin al-Qasimi menukil hadis dari Imam Murtadha al- Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq. Teksnya sebagai berikut: “Bekal kebenaran yang samar dan tersembunyi ada dua hal. Pertama, ketakutan para arif-dengan jumlah mereka yang sedikit-kepada para ulama yang jahat dan penguasa yang lalim dengan bolehnya menempuh taqiyah dalam hal itu adalah disyariatkan dalam Al-Qur’an dan ijmak kaum Muslim. Hal itu selama ketakutan tersebut masih menjadi perintang untuk menampakkan kebenaran dan orang yang benar masih dipandang musuh oleh kebanyakan orang. Telah diriwayatkan hadis sahih dari Abu Hurairah ra bahwa-pada masa awal Islam-ia berkata, “Saya menjaga dua bejana dari Rasulullah saw. Yang pertama, saya sebarkan kepada orang-orang, sedangkan yang kedua,jika saya menyebarkannya, tentu tenggorokan ini akan terputus.”

3. Dalam menafsirkan ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemumaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan, ” al-Maraghi berkata, “Termasuk ke da1am taqiyah adalah menampakkan kekafiran, kelaliman, dan kefasikan, serta melembutkan perkataan, tersenyum, dan menyumbangkan harta kepada mereka. Niscaya ha1 itu dapat menahan tindakan keras mereka dan memelihara kehormatan dari tindakan mereka. Ha1 itu tidak termasuk da1am kesetiaan ( muwtilat) yang dilarang.

Bahkan hal itu disyariatkan. Ath- Thabrani telah meriwayatkan sabda Rasulullah saw: “Sesuatu yang digunakan untuk memelihara kehormatan seorang Mukmin adalah sedekah.”

Kaum Syi’ah melakukan taqiyah terhadap orang-orang kafir dalam kondisi-kondisi tertentu untuk tujuan yang sama dengan tujuan yang dilakukan kaum Ahlusunah. Selain itu, karena sebab- sebab yang jelas, seorang Syi’ah melakukan taqiyah kepada saudaranya yang Muslim. Hal itu bukan karena sikap melampaui batas pada orang Syi’ah, melainkan saudaranya yang memaksa ia melakukan hal itu. Sebab, ia menyadari bahwa pengusiran dan pembunuhan pasti ditimpakan kepadanya apabila ia menampakkan keyakinannya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan akidah Islam. Memang, hingga saat ini, orang Syi ‘ah menghindari untuk mengatakan bahwa Allah itu tidak memiliki arah atau bahwa Dia tidak terlihat pada hari kiamat, serta dalam perujukan (marja’iyah) keilmuan dan politik adalah kepada ahlulbait sepeninggal Nabi saw atau bahwa hukum mut’ah tidak dihapus. Apabila orang Syi’ah menampakkan kebenaran-kebenaran ini- yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah-dirinya akan terancarn bencana danbahaya. Telah dikemukakan kepada Anda pendapat ar-Razi, Jamaluddin al-Qasimi, dan al-Maraghi yang begitu jelas tentang bolehnya melakukan taqiyah jenis ini. Maka mengkhususkan taqiyah dengan taqiyah terhadap orang kafir semata merupa- kan kejumudan terhadap makna lahiriah ayat, menutup pintu pemahamannya, penolakan terhadap substansinya yang telah disyariatkan untuk taqiyah, dan meniadakan hukum akal yang menetapkan untuk menjaga yang paling penting apabila tampak yang penting.

Sejarah kita mengemukakan tentang sejumlah pemuka kaum Muslim yang menempuh taqiyah dalam kondisi-kondisi sulit atau ketika kehidupan dan segala yang mereka miliki terancam kebinasaan. Contoh yang paling baik untuk itu adalah yang dikemukakan ath-Thabari dalam kitab tarikhnya (7/195-206) tentang usaha al-Ma’mun untuk memaksa para hakim dan ahli hadis di zamannya untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Se– hingga untuk itu mereka diancam akan dibunuh semuanya tanpa belas kasihan. Ketika para ahli hadis itu melihat pedang terhunus, mereka memenuhi keinginan al-Ma’mun dan menyembunyikan akidah mereka. Ketika mereka dicela karena berpendapat sesuai dengan keinginan al-Ma’mun, mereka membenarkan tindakan mereka dengan menganalogikannya pada perbuatan ‘Ammar bin yasir ketika dipaksa untuk menjadi musyrik sementara hatinya tenang dalam keimanan. Kisah ini sangat terkenal dan sangat jelas tentang bolehnya menempuh taqiyah yang mendorong sebagian orang menimpakan celaan kepada kaum Syi’ah. Seakan-akan mereka itu orang-orang yang mengada-adakannya dari pemikiran mereka sendiri tanpa dilandasi kaidah dan prinsip-prinsip Islam.

Kondisi-kondisi Sulit yang Dilalui Kaum Syi’ah yang mendorong kaum Syi’ah untuk melakukan taqiyah terhadap saudara mereka dan para penganut agama mereka hanyalah karena ketakutan terhadap kekuasaan yang tiran. Kalau dalam masa-masa lalu-dari masa dinasti Umayah, kemudian Abbasiyah dan Utsmaniyah-tidak ada tekanan terhadap kaum Syi’ah, serta negeri dan rumah mereka tidak dialiri darah mereka dan sejarah merupakan bukti paling baik untuk itu, maka adalah masuk akal kalau kaum Syi’ah melupakan kata taqiyah dan membuangnya dari catatan kehidupan mereka. Akan tetapi, sayang sekali, kebanyakan saudara mereka tunduk kepada kekuasaan Dinasti Umayah dan Abbasiyah yang memandang mazhab Syi’ah sebagai bahaya yang mengancam kedudukan mereka. Maka masyarakat Ahlusunah membangkitkan permusuhan terhadap kaum Syi ‘ah dengan membunuh dan mengintimidasi mereka. Oleh karena itu, sebagai akibat kondisi-kondisi sulit itu, kaum Syi’ah, bahkan setiap orang yang memiliki sedikit saja akal, tidak memiliki cara lain kecuali berlindung pada taqiyah atau mengangkat tangan dari prinsip-prinsip suci yang menurut mereka lebih berharga daripada diri dan harta.

“Bukti-bukti tentang hal itu lebih banyak daripada yang dapat dihitung. Namun, kami akan membentangkan sebagiannya secara ringkas. Di antaranya, surat Mu’awiyah yang menghalalkan darah kaum Syi’ah di mana saja mereka berada dan bagaimanapun keadaan mereka. Berikut ini teks tentang peristiwa tersebut yang disebutkan dalam sumber-sumber rujukan untuk mengetahui bencana yang menimpa kaum Syi’ah.

Penjelasan Mu’awiyyah kepada para Pegawainya

Abu al-Hasan ‘Ali bin Abi Sayf al-Mada ‘ini meriwayatkan hadis dalam kitabnya al-Ahdats. la berkata, “Mu.awiyah menulis selembar surat kepada para pegawainya: ‘Batalkanlah jaminan terhadap orang yang meriwayatkan keutamaan Abu Turab dan ahlulbait- nya.’ Maka para khatib di setiap desa dan di atas setiap mimbar melaknat ‘ Ali dan berlepas diri darinya. Mereka mencacinya beserta ahlulbaitnya. Orang-orang yang mendapat bencana paling besar ketika itu adalah masyarakat Kufah, karena banyak di antara mereka yang menjadi pengikut ‘Ali as. Ziyad bin Sumayah diangkat menjadi gubernur Kufah yang telah digabungkan dengan Basrah. la mengetahui betul para pengikut Syi’ah karena ia adalah penduduk daerah itu pada masa kekhalifahan ‘Ali as. Maka ia membunuh mereka di bawah setiap batu dan lumpur, mengamcam mereka, memotong tangan dan kaki mereka, mencongkel mata mereka, menyalib mereka di pohon kurma, dan mengusir mereka dari lrak. Maka tidak ada lagi yang tersisa dari mereka. Mu’awiyah mengirim surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah agar tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun pengikut ‘Ali dan ahlulbaitnya.”

Kemudian ia mengirim selembar surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah, “Perhatikanlah, barangsiapa yang terbukti bahwa ia mencintai ‘Ali dan ahlulbaitnya, maka hapuslah ia dari buku catatan (Baitul Mal), dan hentikanlah pemberian dan bagi- annya.” Hal itu ditegaskan dengan surat yang lain, “Siapa saja yang kalian duga setia kepada mereka, maka hukumlah dan hancurkan rumahnya.” Tidak ada bencana di lrak, terutama di Kufah. yang lebih besar daripada itu. Sehingga pengikut ‘Ali as didatangi oleh orang yang dipercayainya lalu menyampaikan rahasianya, tetapi ia sendiri takut kepada pelayan dan budak orang itu. la tidak menyampaikannya sebelum orang itu benar-benar bersumpah untuk merahasiakannya.

Ibn Abi al-Hadid menambahkan, “Hal itu terus berlangsung hingga al-Hasan bin ‘ Ali as Wafat. Maka bencana dan ujian semakin besar. Tidak tersisa seorang pun dari pihak ini kecuali terancam nyawanya atau diusir dari negerinya.

Kemudian bencana itu memuncak setelah al-Husain as wafat dan ‘Abd al-Malik bin Marwan menjadi khalifah. Maka semakin besar bencana yang ditimpakan kepada kaum Syi’ah. Ketika al- Hajjaj bin Yusuf berkuasa, para ulama mendekatinya dengan menampakkan kebencian kepada ‘ Ali dan kesetiaan kepada musuh- musuhnya serta kesetiaan kepada sebagian orang yang mengaku bahwa mereka pun adalah musuhnya. Para ulama itu membuat banyak riwayat tentang keutamaan mereka dan menyebarkan kebencian, cacian, dan celaan kepada ‘ Ali as. Sehingga ada seseorang yang berdiri di hadapan al-Hajjaj-dikatakan bahwa ia adalah kakeknya al-Ashma’i-, ‘Abd al-Malik bin Quraib bin Quraib. la berteriak, “Hai Amir, keluargaku sangat membenciku. Maka mereka menamaiku ‘ Ali. Aku ini seorang fakir. dan sangat berhajat pada hubungan dengan tuan.” Maka al-Hajjaj tertawa dan berkata, “Sungguh bagus caramu mencari perantara. Aku mengangkatmu untuk memimpin daerah anu.”

Akibatnya, kaum Syi’ah menyaksikan pembunuhan keji oleh para penguasa yang lalim. Maka ribuan di antara mereka terbunuh. Adapun sebagian dari mereka yang masih hidup diancam dengan berbagai bentuk ancaman dan teror. Yang pantas disebutkan, di antara hal-hal yang menakjubkan, kelompok ini dapat terus bertahan kendati menghadapi kelaliman yang besar dan pembunuhan yang keji. Bahkan yang sangat mengherankan, Anda mendapati kelompok ini terus bertambah kuat, dapat mendirikan pemerintahan, membangun peradaban, dan banyak dari mereka yang muncul sebagai ulama dan pakar.

Kalau saudara yang Sunni memandang taqiyah sebagai sesuatu yang haram, maka hilangkanlah tekanan terhadap sudaranya yang Syi’ah dan tidak mempersempit kebebasan yang diperkenankan Islam kepada para pemeluknya. Hendaklah diberikan kebebasan kepadanya dalam menjalankan akidah dan amalannya. Sebagaimana diberikan kebebasan kepada banyak orang yang menyimpang dari Al-Qur’an dan sunah, serta menumpahkan darah dan merampas tempat tinggal, apalagi kepada kelompok yang memeluk agama yang sama dan sepakat dengannya dalam banyak ajaran akidahnya. Kalau Mu’awiyyah dan para pembantunya serta Dinasti Abbasiyyah semuanya dianggap sebagai telah berijtihad dalam menyiksa dan menumpahkan darah orang-orang yang menentang mereka, maka apa yang menghalanginya untuk memberikan kebebasan kepada kaum Syi’ah dengan menganggap mereka telah berijtihad (dalam melakukan taqiyah-penj.).

Apabila mereka mengatakan-dan itu sesuatu yang aneh- bahwa orang-orang yang memberontak terhadap Imam ‘Ali as tidak merusak rasa keadilan orang-orang yang memberontak tersebut. Yang di antara pemukanya adalah Thalhah, az-Zubair, dan Ummul Mukininin ‘Aisyah. Dan bahwa tersebamya fitnah di Shiffin-yang berakhir dengan terbunuhnya banyak sahabat dan tabi’in serta tertumpahnya darah ribuan orang lrak dan Syam tidak mengurangi sedikit pun kewaraan orang-orang yang saling berperang itu. Bahkan setelah itu mereka dipandang sebagai mujtahid dan dimaafkan. Mereka memperoleh pahala orang yang berijtihad walaupun keliru dalam ijtihadnya. Maka mengapa mereka tidak bergaul dengan kaum Syi’ah berdasarkan prinsip ini dan berpendapat bahwa mereka itu dimaafkan dan memperoleh pahala?

Memang, taqiyah di kalangan kaum Syi’ah kadang-kadang meningkat intensitasnya dan kadang-kadang berkurang bergantung pada kuat dan lemahnya intimidasi (yang ditujukan kepada mereka). Terdapat perbedaan besar antara zaman al-Ma’mun yang membolehkan orang-orang memuji ahlulbait dan memuliakan kaum ‘Alawi, dan zaman al Mutawakkil yang memotong lidah orang- orang yang menyebut keutamaan mereka.

Inilah Ibn as-Sikkit, salah seorang sastrawan pada zaman al- Mutawakkil. Al-Mutawakkil telah memilihnya menjadi guru bagi kedua putranya. Pada suatu hari, al-Mutawakkil bertanya kepadanya, “Siapakah yang engkau cintai, kedua putraku atau al-Hasan dan al-Husain? ‘Ibn as-Sikkit menjawab, “Demi Allah, Qanbar, pelayan ‘Ali as lebih baik daripadamu dan kedua putramu”. Maka al-Mutawakkil berkata (kepada para pengawalnya) , “Potonglah lidahnya dari tengkuknya”. Kemudian mereka melakukannya hingga sastrawan wafat. Peristiwa itu terjadi pada malam Senin tanggal 5 Rajab 244 H. Ada juga yang mengatakan, tahun 243 H. Ketika itu umurya 28 tahun. Ketika ibn as-Sikkit wafat, al-Mutawakkil mengirimkan uang sepuluh ribu dirham kepada putra Ibn as-Sikkit, Yusuf. la mengatakan. “Ini adalah diyat (denda) atas kematian ayahmu”

Ibn ar-Rumi. seorang penyair ‘Abqari, dalam qashidahnya yang berisi ratapan (ratsa), atas kematian Yahya bin ‘Umar bin al-Husain bin Zaid bin ‘Ali. mengatakan:

Apakah di setiap waktu ada korban suci dari keluarga Nabi Muhammad yang gugur berlumuran darah

Wahai Bani Muhammad, berapa banyak sudah manusia memangsa jasadmu

Sabarlah, tak lama lagi akan datang penolong untuk musibahmu Apakah setelah Husain menjadi syahid pelita-pelita di langit

masih akan bercahaya terang dan memberi petunjuk?

Jika demikian keadaan keturunan Nabi saw, maka bagaimana halnya dengan para pengikut mereka dan orang-orang menapaki jejak-jejak mereka?

Allamah asy-Syahristani berkata, “Taqiyah adalah syiar setiap orang yang lemah dan terampas kebebasannya. Syi’ah lebih terkenal akan taqiyahnya daripada yang lain. Sebab, Syi’ah terus-menerus diuji dengan tekanan yang lebih besar daripada tekanan yang ditimpakan kepada umat yang lain. Kebebasannya dirampas pada seluruh masa Daulah Umayah, sepanjang masa Dinasti Abbasiyah, dan selama beberapa masa Daulah Utsmaniyah. Oleh karena itu, mereka menyiarkan taqiyah lebih gencar daripada yang dilakukan kaum yang lain. Ketika Syi ‘ah berbeda dari kelompok-kelompok yang bertentangan dengannya dalam bagian penting akidah, ushuluddin, dan banyak hukum-hukum fiqih, perbedaan itu secara alami memunculkan pengawasan (dari pihak musuh-penj.). Pengalaman membenarkan ha1 itu. Oleh karena itu, pengikut para imam ahlulbait selama waktu yang lama terpaksa me- nyembunyikan tradisi, akidah, fatwa, kitab, atau yang lainnya yang berbeda dengan kelompok yang lain. Dengan cara ini mereka melindungi diri dan memelihara kecintaan dan persaudaraan dengan saudara-saudara sesama kaum Muslim, agar tonggak ketaatan tidak patah dan agar orang-orang kafir tidak merasakan adanya perbedaan apa pun dalam masyarakat Islam sehingga mereka memperlebar jurang perbedaan itu di tengah umat Muhammad.

Untuk tujuan-tujuan suci ini, Syi’ah menggunakan taqiyah dan memelihara persetujuannya secara lahiriah dengan kelompok-kelompok lain. Dalam hal itu mereka mengikuti perilaku para imam dari keluarga Muhammad dan hukum-hukum mereka yang teguh tentang wajibnya taqiyah, karena “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku”. Sebab, agama Allah berja1an di atas sunnah taqiyah bagi orang-orang yang terampas kebebasannya. Hal itu berdasarkan dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari orang-orang terpercaya dari ahlulbait as dalam atsar yang sahih: “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku” Barangsiapa yang tidak bertaqiyah, tidak ada agama baginya.”

Taqiyah, merupakan syiar ahlulbait as untuk menolak bahaya dari mereka dan para pengikut mereka, dan melindungi darah mereka. Selain itu, taqiyah dilakukan untuk memperbaiki keadaan kaum Muslim, berpartisipasi dengan mereka, dan menyatukan kembali mereka. Hal itu senantiasa menjadi tanda yang dikenal Syi’ah Imamiyah yang berbeda dari kelompok-kelompok dan umat-umat lainnya. Jika setiap orang merasakan adanya bahaya atas diri atau hartanya disebabkan tersebar keyakinannya atau ia menampakkannya, ia harus menyembunyikannya dan melakukan taqiyah pada tempat-tempat yang berbahaya itu. Ini sesuatu yang dituntut fitrah dan akal.

Seperti telah diketahui, Syi’ah Imamiyah dan para imam mereka menghadapi berbagai bentuk ujian dan perampasan kebebasan dalam semua generasi yang tidak dialami oleh kelompok atau umat mana pun. Pada sebagian besar generasi, mereka terpaksa melakukan taqiyah dalam pergaulan mereka dengan orang-orang yang menentang mereka, tidak menampakkan keyakinan, serta menyembunyikan akidah dan arna1an mereka yang berbeda dengan orang lain. Sebab, jika tidak demikian, niscaya bahaya menimpa mereka di dunia ini.

Untuk a1asan ini, mereka dikena1 dan dibedakan dari kelompok lain dengan taqiyah.

Taqiyah memiliki beberapa ketentuan dalam hal wajib dan tidak wajibnya berdasarkan tingkat ketakutan akan bahaya. Perinciannya disebutkan dalam kitab-kitab fiqih.

Batasan Taqiyah

Anda telah mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah serta dalilnya. Kini akan dijelaskan batasan-batasannya.

Syi’ah dikenal dengan taqiyah. Mereka melakukan taqiyah dalam ucapan dan perbuatan. Maka hal itu menjadi sumber kebingungan dalam benak orang-orang bodoh. Mereka mengatakan bahwa karena taqiyah termasuk prinsip-prinsip ajaran Syi’ah, maka tidak boleh bersandar pada semua yang mereka ucapkan, mereka tulis, dan mereka sebarkan. Sebab, sangat mungkin tulisan- tulisan itu merupakan pengakuan belaka, sedangkan kenyataannya adalah sesuatu yang lain. Inilah yang berulang-ulang kami dengar dari mereka.

Akan tetapi, kami mengajak pembaca yang mulia melihat bahwa taqiyah hanya dilakukan dalam batasan masalah-masalah pribadi dan bersifat parsial ketika merasakan ketakutan atas diri. Jika alasan-alasan menunjukkan bahwa dalam menampakkan akidah atau mempraktekkan amalan menurut mazhab ahlulbait kemungkinan akan mendatangkan bahaya kepada seorang Mukmin, inilah salah satu kasusnya. Akal dan syariat menetapkan keharus- an melakukan taqiyah sehingga hal itu akan melindungi dirinya dari bahaya. Adapun hal-hal yang bersifat universal yang berada di luar lingkup ketakutan, maka tidakdilakukan taqiyah. Tulisan-tulisan yang tersebar tentang Syi’ah termasuk dalam bentuk terakhir ini. Sebab, dalam hal itu tidak ada ketakutan untuk menulis sesuatu yang berteniangan dengan yang diyakini. Padahal, tidak ada keharusan (melakukan taqiyah) sama sekali dalam hal ini se- hingga ia diam dan tidak menulis apa pun.

Apa yang mereka dakwakan bahwa tulisan-tulisan itu merupakan pengakuan belaka yang tidak berdasar adalah bersumber dari sedikitnya pengetahuan mereka terhadap hakikat taqiyah menurut Syi’ah. Alhasil, Syi’ah hanya melakukan taqiyah pada suatu masa ketika tidak memeliki pemerintahan yang melindungi mereka dan tidak ada kekuatan untuk menolak bahaya dari mereka. Adapun pada masa kini, tidak diperkenankan dan tidak dibenarkan me- lakukan taqiyah dalam kasus-kasus khusus.

Syi ‘ah, seperti yang telah kami sebutkan, tidak berlindung pada taqiyah kecuali setelah terpaksa untuk melakukan hal itu. ltulah yang benar. Saya tidak yakin ada seorang pun yang melihat permasalahan-permasalahan tersebut dengan akalnya, bukan dengan emosinya, akan menentang hal itu. Kecuali, di antara hal- hal yang bisa diterima dalam sejarah kesyiahan, ada pembatasan taqiyah dalam fatwa-fatwa; Taqiyah tidak diterjemahkan ke dalam praktek kecuali sedikit sekali. Bahkan secara praktis, mereka lebih banyak berkorban daripada orang lain. Hendaknya setiap peneliti melihat sikap-sikap para pengikut Syi’ah terhadap Mu’awiyah dan penguasa Dinasti Umayah lainnya, serta para penguasa Dinasti Abbasiyah. Mereka itu seperti Hujur bin’ Adi, Maitsam at- Tammar, Rasyid al-Hijri, Kumail bin Ziyad, dan ratusan orang lainnya, juga seperti sikap-sikap kaum ‘ Alawi sepanjang sejarah dan revolusi mereka yang berkesinambungan.

Taqiyah yang Haram

Berdasarkan hukumnya, taqiyah dibagi menjadi lima bagian. Sebagaimana wajib untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan harta, taqiyah juga haram dilakukan apabila akan menimbulkan bahaya yang lebih besar, seperti hancumya agama, tersembunyinya kebenaran bagi generasi-generasi selanjutnya, penguasaan musuh terhadap urusan, kehormatan, dan tempat-tempat per- ibadatan kaum Muslim. Oleh karena itu, Anda melihat bahwa kebanyakan pemuka Syi’ah menolak melakukan taqiyah dalam beberapa masa. Mereka mempersembahkan jiwa dan raga mereka sebagai korban untuk kepentingan agama. Maka taqiyah itu me- miliki tempat-tempat tertentu. Selain itu, taqiyah yang diharamkan juga memiliki tempat-tempat tertentu.

Pada dasamya, taqiyah adalah menyembunyikan sesuatu yang berbahaya untuk ditampakkan hingga hilang bahaya tersebut. la merupakan jalan paling utama untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kaum Syi’ah itu pengecut, hilang kekuatan, penakut, ragu untuk melangkah, dan penuh kehinaan. Sama sekali tidak. Taqiyah itu memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Sebagaimana ia wajib dalam suatu masa, ia pun haram pada masa yang lain. Dalam hal dibolehkan dan dilarang, taqiyah tidak didasarkan pada kekuatan dan kelemahan, melainkan didasarkan pada kepentingan Islam dan kaum Muslim.

Imam Khomeini as pemah berkomentar tentang hal ini. Kami nukilkan teksnya hingga pembaca mengetahui bahwa taqiyah memiliki ketentuan-ketentuan khusus dan kadang-kadang dilarang dilakukan untuk kepentingan yang lebih agung. Imam Khomeini a.s. berkata, “Taqiyah diharamkan dalam beberapa larangan dan kewajiban-kewajiban yang dalam pandangan Pembuat syariat menempati kedudukan yang tinggi, seperti penghancuran Ka’bah dan kuburan-kuburan suci, penolakan terhadap Islam dan Al-Qur’an, penafsiran yang dilakukan suatu mazhab yang sesuai dengan ateisme dan larang-larangan utama lainnya. Hal itu tidak dapat dijadikan dalil dan bukan suatu bentuk keterpaksaan untuk melakukan taqiyah.

Hal itu ditunjukkan da1am Mu’tabarah Mus’addah bin Shidqah. Di situ dikatakan, “Setiap sesuatu yang dilakukan seorang Mukmin di tengah mereka, padahal seharusnya ia melakukan taqiyah, selama tidak menimbulkan kerusakan dalam agama, maka itu boleh.”

Dari pengertian ini, jika orang yang melakukan taqiyah itu termasuk orang-orang yang memiliki kedudukan dan kepentingan di mata manusia, padahal melakukan beberapa perbuatan yang haram atau meninggalkan kewajiban dipandang sebagai melemah- kan mazhab atau merusak kemuliaannya, seperti dipaksa me- minum khamar dan berzina, maka bolehnya taqiyah dalam hal ini berdasarkan ketentuan dalil ar-raf dan dalil-dalil taqiyah adalah sulit, bahkan dilarang. Yang paling utama dari itu semua adalah tidak membolehkan taqiyah. Kalau salah satu prinsip Islam atau mazhab, atau salah satu kewajiban agama terancam hilang, rusak, dan berubah, seperti kalau orang-orang yang menyimpang hendak mengubah hukum-hukum waris, talak, salat, haji, dan prinsip-prinsip hukum lainnya, apalagi dari prinsip-prinsip agama atau mazhab, maka taqiyah dalam kasus seperti itu tidak diper- bolehkan. Kepentingan disyariatkannya taqiyah adalah agar mazhab tetap utuh, prinsip-prinsip tetap terpelihara, dan kesatuan kaum Muslim untuk menegakkan agama dan prinsip-prinsipnya. Apabila agama dan prinsip-prinsipnya terancam kerusakan, maka tidak boleh bertaqiyah. Hal itu tampak dengan jelas dari penjelasan di atas.

Demikianlah, telah kami jelaskan seluruh aspek taqiyah yang hakiki dan sebenamya. Dari uraian itu, kami simpulkan sebagao berikut:

1. Taqiyah merupakan prinsip Al-Qur’an yang didukung oleh sunah Nabi saw. Taqiyah telah dilakukan pada masa risalah oleh orang menghadapi ujian di kalangan sahabat untuk me- melihara dirinya. Rasulullah saw tidak menentangnya, bahkan menegaskannya dengan nas Al-Qur’an, seperti yang menimpa ‘Ammar bin yasir yang diperintah oleh Rasulullah saw untuk mengulanginya jika orang-orang musyrik itu memaksanya lagi agar menjadi kafir.

2. Taqiyah dalam pengertian pembentukan kelompok-kelompok rahasia untuk tujuan-tujuan destruktif ditolak oleh kaum Muslim pada umumnya, dan khususnya Syi’ah. Hal itu tidak ada hubungannya dengan taqiyah yang dianut kaum Syi .ah.

3. Para mufasir, dalam kitab-kitab tafsir mereka, ketika menafsikan ayat-ayat yang berkenaan dengan taqiyah, sepakat dengan apa yang dianut Syi’ah tentang bolehnya taqiyah.

4. Taqiyah tidak khusus dilakukan terhadap orang kafir, melainkan juga secara umum dilakukan terhadap orang Muslim yang menyimpang yang ingin berbuat jahat dan keji kepada saudaranya.

5. Berdasarkan pembagian hukum-hukumnya, taqiyah terbagi ke dalam lima bagian. Di antaranya, taqiyah itu wajib dalam kasus tertentu dan haram dalam kasus yang lain.

6. Lingkup taqiyah tidak melewati masalah~masalah individual, yaitu apabila dirasakan ada ketakutan. Namun, jika ketakutan dan tekanan itu hilang, tidak ada alasan untuk melakukan taqiyah.

Penutup

Kami asumsikan bahwa taqiyah merupakan tindak kejahatan yang dilakukan seseorang untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan hartanya. Akan tetapi, pada hakikatnya, hal itu kembali pada kondisi yang mengharuskan seorang Syi’ah yang Muslim melakukan taqiyah dan mendorongnya menampakkan sesuatu dalam ucapan dan perbuatan yang tidak diyakininya. Maka bagi orang yang mencela taqiyah terhadap sesama Muslim yang tertindas hendaklah memberikan kebebasan kepada orang itu dalam kehidupan dan membiarkannya di dalam keadaannya. Setidaknya yang dapat dibenarkan akal adalah menanyakan kepadanya tentang dalil akidahnya dan sumber pengamalannya. Jika didasarkan pada hujah yang jelas, ikutilah. Namun, jika sebaliknya, maafkanlah ia dalam mengikuti ijtihad dan jihad ilmiahnya.

Kami mengajak kaum Muslim untuk memperhatikan motif-motif yang mendorong kaum Syi’ah melakukan taqiyah. Hendaklah mereka, sedapat mungkin, memberikan keleluasaan kepada saudara mereka seagama. Karena setiap ahli fiqih Muslim memiliki pendapat dan pandangan serta kesungguhan dan kemampuan- nya sendiri.

Kaum Syi’ah mengikuti jejak para imam ahlulbait dalam akidah dan syariat; meriwayatkan pendapat mereka. Sebab mereka adalah orang-orang yang dihilangkan oleh Allah kotoran dari mereka dan menyucikan mereka sesuci-sucinya dan salah satu dari tsaqalain yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk dijadikan pegangan dalam bidang akidah dan syariat. Inilah akidah mereka yang dapat diketahui oleh siapa saja. Itulah hujah bagi semuanya.

Kami memohon kepada Allah swt agar memelihara darah dan kehormatan kaum Muslim dari gangguan orang-orang yang menyimpang; menyatukan barisan mereka; menyatukan hati mereka; menyatukan kembali mereka; dan menjadikan mereka satu barisan dalam menghadapi musuh. Sesungguhnya atas semua itu Dia Mahakuasa dan Mahapantas mengabulkan doa

.

Lebih Dekat Dengan Syiah Ali As

Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) :

“Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin karena jumlah mereka kurang dari 12. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah Bani Umayyah karena jumlah mereka lebih dari 12. Kesemuanya zalim kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan mereka juga bukan dari Bani Hashim karena Nabi bersabda: Semua Pemimpin ISLAM haruslah dari Bani Hashyim. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas karena mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar perintah al-Qur’an. Oleh karenanya itu satu satunya cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam dari Ahl Bait Rasulullah Saw. Karena mereka yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari ayah ayah mereka yang berhubung langsung dengan kakek mereka Muhammad Saw.”

(Yanabi al-Mawaddah, him. -447).

SYIAH

Saya menyimpulkan bahwa sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam”.

Dalam melihat suatu istilah, maka hendaknya kita tidak melihat dari arti leksikalnya saja. Karena ada istilah-istilah yang juga memuat makna khusus. Misalnya ijtihad, secara leksikal kata tersebut berarti “usaha keras, bersungguh-sungguh, bersusah-payah”. Namun kita tidak bisa dengan serta merta menyebut orang yang berusaha keras dengan sebutan “Mujtahid”, karena sebutan “Mujtahid” adalah istilah khas bagi mereka yang memiliki wewenang untuk melakukan istinbat hukum syar’i.

Begitu juga dengan dengan istilah “syi’ah”, secara leksikal maka itu berarti “pengikut”, sehingga pengikut Mu’awiyyah bisa disebut syi’ah Mu’awiyyah, pengikut Abubakar juga bisa disebut syi’ah Abubakar. Namun istilah “syi’ah” tersebut juga memiliki makna khas, yaitu sebutan untuk para pengikut Ali, yang tidak bisa ditempelkan begitu saja pada semua orang, sehingga pengikut selain Ali tidak bisa disebut sebagai “syi’ah”.

Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro' 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
[ Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319, Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62, Muttaqi Al-Hindi, dalam "Kanzul Ummal", jilid 15, hal. 15, Haikal, dalam "Hayat Muhammad"]

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :
“Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul saww. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul saww menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul saww dengan pengkhianat amanat Rasul saww. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

Rasul saww sendiri menggunakan istilah “syi’ah” ketika menyebut “pengikut Ali”, hal ini bisa dilihat pada hadits beliau saww.

Rasul saww bersabda :
“Cinta pada Ali menghindarkan dari neraka, Cinta pada Ali menghindarkan dari kemunafikan, syi’atu Ali (pengikut Ali) adalah orang-orang yang beruntung”.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, dan juga oleh Dailami sebagaimana termaktub dalam kitab “Kunuuzul Haqa’iq” (Al-Manawi).

Rasul saww juga bersabda : “Wahai Ali, engkau dan syi’ah-mu berada dalam syurga”.

[Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam "Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah", jilid 3, hal. 107-108, 162, 167]

Sehingga jelas sekali, istilah “syi’ah” dipergunakan oleh Rasul saww untuk menyebut para pengikut Ali. Oleh karena itulah, semakin jelas terlihat bahwa “syi’ah” adalah istilah khas untuk menyebut para pengikut Ali (syi’ah Ali).

Ali adalah hujjah Allah, Kholifah Rasul saww, penerus misi Rasul saww, sehingga apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka itu berarti ketetapan Ali as juga.

Kita semua tahu bahwa Rasul saww memerintahkan kita untuk mentaati para Imam Ahlul Bait as atau yang dikenal dengan “Dua belas Imam”. Sehingga ketetapan Rasul saww tersebut pastilah menjadi ketetapan Imam Ali as juga. Hal ini juga dapat dilihat pada khutbah beliau tentang Ahlul Bait as di Nahjul Balaghah.
[Nahjul Balaghah, khutbah No. 144 dan 154, tentang Ahlul Bait as]

Sehingga “syi’ah Ali” pastilah juga “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (syi’ah Dua Belas Imam)”.

Kesimpulan:

Sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, TIDAK ADA yang lain. Berikut sekedar tambahan keterangan bahwa kata “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “Syi’ah Ali” dan “Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, berdasarkan pengakuan ulama ahlusunnah :

Abul Hasan Al-Asy’ari :
“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.
["Maqaalaat Islamiyyin", jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab "Asy-Syi'ah Fi Maukibi At-Tarikh", dikeluarkan oleh "Mu'awaniyyah Syu'un At-Ta'lim Wa Al-Bahuts"]

Syahrastani, berkata :
“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.
[Syahrastani, dalam "Milal Wan Nihal", hal. 118]

Ibn Hazm, berkata :
“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”
[Ibn Hazm, dalam "Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal", jilid 2, hal 113. ]

Siapa saja yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” adalah bukan syi’ah. Termasuk siapa saja yang pada awalnya taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” namun setelah itu membangkang atau berkhianat kepada mereka as, maka orang tersebut juga bukan syi’ah. Termasuk madzhab Zaidiyah, yang tidak bisa dikatakan sebagai syi’ah, karena madzhab ini mengakui kepemimpinan Abubakar dan Umar, dan mereka tidak berpegang kepada hukum-hukum fiqih “Dua Belas Imam Ahlul Bait as”. Hanya mereka yang selalu taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” yang disebut sebagai syi’ah.

Dengan kesimpulan tersebut, maka orang yang telah berkhianat kepada Imam Hasan as seperti Ubaidallah bin Abbas— sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Mufid dalam kitab “Al-Irsyad”— tidak bisa lagi disebut sebagai syi’ah, karena pengkhianatannya kepada Imam Hasan as dengan bergabung kepada Mua’awiyyah.

Oleh karena itu, tidak ada istilah “pengkhianatan oleh syi’ah”— sebagaimana secara implisit dituduhkan oleh sebagian orang— karena mereka yang berkhianat kepada para Imam as tidak lagi berstatus sebagai syi’ah.

Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS

Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .

1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)

Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”

Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini[90].

Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”

Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.

Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku”[91].

Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.

Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti? Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul bersabda:”Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan gigi geraham kalian.”Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.

Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengna ayat-ayat al-Qur’an. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian ucapan kita “Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku…”[92] tidak mempunyai hujah yang kuat lagi.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.

Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:” Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai” (Surah 19:5-6)

Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.

Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”

Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya:”Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda menjawab:”Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi Allah”[93]. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau berkata:”Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta”. Atau beliau berkata:”Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali, sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu”. Kemudian Umar bin Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:”Setelah aku ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali”.

Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa’:94:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang mengucapkan “salam” kepadamu:”Kamu bukan seorang Mukmin “(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.

Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.

Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).

Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.

Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai’ah di rumah Fatimah dan membakar mereka.

Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan nas-nas al-Qur’an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid:”Wahai musuh Allah, engkau telah bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam engkau dengan batu” [94]. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:”Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah. Tutup mulutmu Khalid”.

Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang  telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut, sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita memberikannya gelaran “Pedang Allah Yang Terhunus!!!”

Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu’; seorang yang dijadikan perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid: Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di waktu malam, Khalid menidurinya [95].

Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya as-Sidiq Abu Bakar. Di dalam bab Pendapat Umar  Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal menulis:”Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.

Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap – alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar – namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai “Pedang Allah” dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid dipanggil dan dimarahi [96].

Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama seumpamanya yang berusaha menjaga “kemuliaan” sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal – adalah model keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur’an jauh sekali.

Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi SAWA berkata:”Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka lakukan  kepadanya hukum hudud “.

Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakan Khalid ini dengan  menciptakan berbagai kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya dengan sebutan “Pedang Allah Yang Terhunus”.

Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukum-hukum Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.

Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka.  Kabilah ini tidak fasih di dalam menyebutkan Aslamna (kami telah masuk Islam). Mereka menyebutnya: Saba’na, saba’na.Lalu Khalid membunuh mereka dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:”Ya Allah, aku bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid”, dibacanya dua kali [97]. Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid”.Dibacanya sehingga tiga kali [98].

Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai  Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja? Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka Waillah tempat mereka kembali.

Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah tersalah takwil?

Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai “musuh Allah”. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid lebih dari orang lain.

Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya, sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila [99].

Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:”Demi nyawaku hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi [100]. Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:”Ini mesti ulah si A’saar”, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.

Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.

Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran. Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila’ mereka sedangkan aku masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:”Orang jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya”.

Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha Mengetahui wahai Tuhanku,  aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.

Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orang-orang yang berpegang-teguh kepada tali wila’ mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka. kerana NabiMu SAWA telah bersabda:”Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dia cintai”.

2. Hadith Bahtera

Bersabda Nabi SAWA:”Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam” [101].

“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni”[102].

Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-Muhriqah dan berkata:”Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan – pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis – dengan sikap rendah hati dan memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA sebagai sebab diampuninya mereka.”

Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:”Kami adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaan-keutamaan mereka”.

Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka, atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.

Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.

Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih  sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah  ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku

Bersabda Nabi SAWA:”Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di syurga Ad’n yang ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila’ walinya serta ikut Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku, diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya” [103].

Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak memberikan hak untuk  memilih kepada seorang Muslim, bahkan menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila’ Ali dan ikut Itrah keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk mereka Nabi SAWA.

Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara lain beliau berkata:”Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya’la al-Muharibi, seorang yang lemah”. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan  sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin Ya’la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran dengan sempurnanya.

Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul Munaqasat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan [104]. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya’la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati bahawa Bukhari telah meriwayatkan  hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi  yang thiqah. Para imam al-Jarh wa at-Ta’dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.

Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya Nubuwwah dan berjalan  di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan  orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga [105].

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah [106]. Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya [107], dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syi’ah

 Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.

Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.

Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”.

Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,”Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”.

Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.

Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”.

Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja’fariyyah

Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja’far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadith.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy’ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?

Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.

Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.

Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:

Jika mereka bertanya tentang madzhabku,

Aku berdiam diri lebih selamat,

Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,

Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,

Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan ‘berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.

Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,

Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.

Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).

Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.

Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali ‘penentuan’ itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah ‘penentuan’ kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.

Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.

Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).

Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur’an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.

Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur’an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.

Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.

Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.

Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!

Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).

Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).

Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:”Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam”.(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).

Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja’fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja’far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.

Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.

Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.

Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya”.

Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.

Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.

Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.

Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.

Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)” (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).

Rasulullah SAWA bersabda:”Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam”, (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).

Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.

Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.

Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:”Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu”.

Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.

Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:”Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air”.

Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:”Wuduk itu dua basuh dan dua sapu”, iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:'Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,'Ya'. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:'Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci'. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca'Bismillah' dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau - Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].

Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya ‘ala khayr al-’amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.

Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.

Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.

Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:”Sembahyang itu lebih baik dari tidur”, maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.

Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.

Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud”dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud” (Sahih Muslim, Bab Mawdi’ as-Salah).

Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.

Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.

Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya’ di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.

Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa “Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya’ tanpa musafir dan tanpa sebab takut”,(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam’ as-Salah fil-Hadr).

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:”Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita”.

Kemudian melantik Ubay bin Ka’ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:”Ini adalah bidaah yang baik”. Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).

Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.

Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan – sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.

Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)

Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga ‘Undang-undang 99 Perak’, dan ‘bersalam’ lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja’fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.

Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut’ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:”Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan” sehingga terbukti pembatalannya.

Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana ‘menghadkan waktu’ dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu’aqqat.

Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).

Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)

Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut’ah.

Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur’an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:”Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya”.

Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur’an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut’ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa’ (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur’an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:”Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)”.

Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut’ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut’ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi’in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut’ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:”Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu”.

Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.

Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.

Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:”Ayat mengenai mut’ah telah diturunkan dalam al-Qur’an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).

Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:”Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta’ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat” (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut’ah).

Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma’ binti Abu Bakar secara mut’ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut’ah)”.

Imam Ja’far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:”Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut’ah, dan ‘hayya ala khairil amal’ dan ditanya Imam Ja’far as-Sadiq AS mengenai nikah mut’ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut’ah).

Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.

Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.

Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.

Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur’an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang ‘ratusan ribu’ itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur’an itu ditujukan juga kepada mereka.

Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.

Mengenai Hadith “sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit”, maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.

Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)”.

Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja’far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.

Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti ‘jemputan’ kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.

Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur’an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.

Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?

Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan”Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid”. Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.

Nabi SAWA bersadba:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah ’satu’ (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji’ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.

Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa’at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).

Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.

Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai “Pintu Ilmu”.

Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:”Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya” (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).

Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.

Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.

Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.

Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja’far as-Sadiq AS.

Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz”Wahai anak Rasulullah” kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.

Imam Abu Hanifah berkata:”Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu’man” iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja’far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.

Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:

Aku adalah Syiah dalam agamaku,

Aku berasal dari Makkah,

Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).

Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.

Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa”Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa alihi Muhammad)

Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.

Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.

Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.

Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya – yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Katanya lagi,”Sesungguhnya Madzhab Ja’fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya….”(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)

Walaupun di Malaysia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.

Hadits Israiliyah dan Hadis Menghina Nabi SAW bukti tidak semua hadis sunni berlabel shahih adalah shahih

Giliran Syiah bertanya

كل شيء تطور الا الكتابة عن الشيعة و لكل يد اية الا الاقتراء على الشيعة و لكل حكم مصدره و دليله الا الاحكام على الشيعة

Segala sesuatu berubah, kecuali tulisan menyerang Syiah

Setiap awal tentu berakhir, kecuali tuduhan terhadap Syiah

Setiap vonis berdasarkan dalil, kecuali vonis terhadap Syiah

Ulama-ulama Islam sepakat apapun mazhabnya bahwa siapapun yang menganggap Al-Qur’an mengalami perubahan, maka berarti telah mengingkari Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Sungguh, Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sungguh Kamilah yang menjaganya.” (Qs. Al-Hijr : 9) Keberadaan riwayat-riwayat yang menunjukkan keraguan terhadap keaslian Al-Qur’an terdapat dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah dan Syiah. Ulama-ulama Syiah telah berkali-kali melakukan bantahan dan menyatakan penolakan terhadap keberadaan riwayat-riwayat tersebut. Misalnya Syaikh Rasul Ja’farian telah menulis kitab, “Ukdzubah Tahrif Al-Qur’an baina as-Sunnah wa Asy-Syiah (Kedustaan Adanya Perubahan Al-Qur’an di Kalangan Sunnah dan Syiah) 1414 H, buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul, Menolak Isu Perubahan Al-Qur’an. Atau kitab, Shiyanah al-Qur’an min Ta’arif (Keterjagaan Al-Qur’an dari Perubahan) yang ditulis Al-Ustadz Al Allamah Muhammad Hadi Ma’rifah, penerbit Dar Al-Qur’an Al-Karim, Qom, cetakan 1, 1410 H.

Kehadiran dua kitab ini sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menjawab tuduhan yang senantiasa dilontarkan kepada Syiah, bahwa orang-orang Syiah meyakini adanya tahrif dalam Al-Qur’an atau tuduhan yang lebih keji lainnya, kaum Syiah memiliki Mushaf lain yang berbeda dengan yang dimiliki kaum muslimin lainnya. Namun sayangnya, tuduhan-tuduhan tersebut tetap ada, yang bagi saya sangat deceptif, menyesatkan dan merupakan kejahatan intelektual, sebab menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak diyakininya sangat tidak adil. Pada tulisan ini saya menyertakan riwayat-riwayat dari kitab Ahlus Sunnah yang mengindikasikan bahwa terjadi perubahan dalam Al-Qur’an atau adanya perbedaan antara bacaan beberapa sahabat dengan apa yang kita baca saat ini. Saya menukilnya dari kitab Shahih Bukhari, yang diterima kesahihannya oleh Ahlussunah

Hadits pertama :

Dari Qabishah bin Uqbah yang berasal dari Ibrahim bin Alqamah ra ia berkata kepada kami, “Saya dalam safar (perjalanan) bersama beberapa sahabat Abdullah (bin Ubay) datang ke Syam. Kedatangan kami didengar oleh Abu Darda dan berkata, “Adakah diantara kalian yang membaca (maksudnya membaca Al-Qur’an)?” Kami menjawab, “Na’am”. Kemudian orang-orang memberi isyarat kepada saya. Abu Darda berkata, “Bacalah !”. Maka sayapun membaca : “Wallaeli dst.. (bisa dibaca langsung pada teks hadits pada gambar yang bergaris bawah merah, Shahih Bukhari kitab Tafsir jilid 6 hal 210)”

Mendengar demikian dia bertanya, “Apakah engkau mendengar dari mulut temanmu (maksudnya Abdullah bin Ubay)?” Aku menjawab, “ya”. Ia melanjutkan, “Saya sendiri mendengarnya dari nabi saww dan mereka menolak untuk menerimanya.” Afwan kalau ada yang salah dari cara saya menerjemah, pembaca bisa membaca sendiri pada teks hadits tersebut. Yang bisa saya pahami dari hadits ini, ada perbedaan bacaan Al-Qur’an antara sahabat. Sebab yang dibaca sahabat-sahabat Abdullah bin Ubay ra berbeda dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an saat ini, bisa dibaca perbedaannya pada Qs. Al-Lail : 1-3. Bacaan sahabat-sahabat tersebut kurang wa ma khalaka (demi penciptaan). Lalu bagaimana penghukuman kita terhadap sahabat-sahabat yang dikatakan Abu Darda ra, mereka menolak menerimanya? Apakah Ahlus Sunnah bersedia mengkafirkan mereka, sebagaimana mereka mengkafirkan Syiah?

Jangan berpendapat itu hanya salah penulisan, sebab juga tertulis pada Fathul Ba’ari, Syarah Shahih Bukhari. Kesalahan penulisan akan meruntuhkan doktrin keshahihan kitab Shahih Bukhari, sebab jika pada penulisan saja terdapat kesalahan bagaimana pada penukilan yang membutuhkan tingkat ketelitian yang lebih ekstra?.

Saya ajukan lagi hadits berikutnya. 

Pada Shahih Bukhari Jilid 5 hal 132 bab Ghaswah Ar-Raji’i wa ri’li wa dzakwan. Riwayat ini diceritakan oleh Anas bin Malik bahwa Bani Raji’i, Dzakwan, Ushayyah dan Bani Hayan meminta bantuan Rasulullah saww untuk membantu mereka menghadapi musuh. Rasulullah saww mengirimkan 70 sahabat terbaik dari kalangan Anshar yang terkenal sebagai Al-Qurra’ (pembaca Al-Qur’an). Namun ketika mereka sampai pada sumber mata air yang bernama Bi-ir Ma’unah, dengan licik 70 sahabat Anshar tersebut mereka bunuh. Rasulullah sangat berduka atas peristiwa ini, dan selama satu bulan beliau membaca qunut melaknat pembunuh sahabat-sahabatnya. Sebelum melanjutkan, saya ingin mencoba membandingkan sikap ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terhadap Yazid bin Muawiyah dengan apa yang dilakukan Rasulullah saww kalau memang mereka mengaku sebagai pengikut dan pembela Sunnah. Rasulullah saww melaknat pembunuh 70 sahabatnya, ulama-ulama Ahlus Sunnah, diantaranya diwakili oleh Adz-Dzahabi yang berkata, “Kita tidak mencela Yazid namun tidak juga melaknatnya”. Merekapun berpendapat, bahwa sikap diamlah yang lebih sesuai dengan sunnah nabi. Padahal mereka sendiri meyakini, bahwa Yazid telah melakukan kedzaliman besar dalam 3 tahun masa kekuasaannya, Ibnu Katsir berkata, “Yazid telah bersalah besar dalam peristiwa Al Harrah dengan berpesan kepada pemimpin pasukannya, Muslim bin Uqbah untuk membolehkan pasukannya memanfaatkan semua harta benda, kendaraan, senjata, ataupun makanan penduduk Madinah selama tiga hari.” Dalam tragedi tersebut terbunuh sejumlah sahabat nabi yang mengantongi curicullum vitae keagungan berjihad bersama Rasulullah pada perang Badar, perempuan-perempuan Madinah diinjak-injak kehormatannya dan anak-anak mereka dibunuh. (baca diantaranya kitab Hiqbah minat-Tarikh, karya Syaikh Utsman bin Muhammad Alu Khamis at-Tamimi). Mana yang lebih mendekati sunnah, Adz-Dzahabi yang memilih mendiamkan Yazid, tidak melaknat dan juga tidak mencintai, atau orang-orang Syiah yang melaknat Yazid bin Muawiyah sebagaimana Rasulullah saww melaknat Bani Raji’i, Dzakwan, Ushayyah dan Bani Hayan yang membunuh 70 sahabatnya?.

Kita lanjutkan pembahasan hadits, sampailah kita pada ucapan Anas bin Malik ra selanjutnya, “Kami pernah membaca sebuah ayat tentang mereka, tetapi kemudian ayat tersebut diangkat kembali.” Ayat yang dimaksud lihat pada gambar yang bergaris merah. Pemahaman kita selama ini terhadap ayat-ayat Al-Qur’an adalah adanya ayat-ayat mansukh. Yakni ayat yang mengganti (atau membatalkan hukum) ayat yang lainnya. Kita tidak pernah mendengar ada ayat yang diangkat kembali. Yakni ayat yang sebelumnya tertulis dalam Al-Qur’an lalu kemudian diangkat dan tidak terdapat lagi dalam Al-Qur’an yang kita baca saat ini. Bukankah keberadaan riwayat ini mengajak kita berpikir, bahwa ada perubahan terhadap Al-Qur’an. Kita bisa jadi meragukan keaslian Al-Quran saat ini, sebab bisa saja, ada ayat yang diangkat kembali, tetapi karena kita tidak mendapatkan riwayatnya maka ayat tersebut masih tertulis dalam Al-Qur’an saat ini, ataupun sebaliknya. Sebagaimana yang kita pahami pada hadits pertama. Kita wajar mengajukan pertanyaan, mengapa riwayat-riwayat yang menimbulkan keraguan atas keutuhan dan keaslian Al-Qur’an terdapat pada kitab Shahih Bukhari, yang diterima mutawatir, textus receptus?. Dalam kitab Al-Itqan fi ulumul Qur’an karya Jalaluddin Suyuti, pada jilid 1 hlm 50, disitu tertulis riwayat dari Umar bin Khattab ra yang mengatakan, “Al-Qur’an memiliki 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) kata (ahruf).” Sedang yang ada pada Al-Qur’an tidak sampai sepertiganya. Bukankah menurut Umar terjadi pengurangan pada Al-Qur’an ?.

Saya yakin ulama Ahlus Sunnah pun akan mengatakan, menolak keshahihan riwayat-riwayat tersebut. Bedanya, ulama-ulama Syiah telah banyak menulis kitab bantahan terhadap riwayat-riwayat yang meragukan keaslian Al-Qur’an baik dalam kitab-kitab Syiah maupun Ahlus Sunnah, sementara ulama-ulama Ahlus Sunnah tidak (atau tepatnya belum) melakukannya, sementara mereka selalu melontarkan tuduhan dan fatwa kekafiran Syiah hanya karena riwayat-riwayat yang meragukan keutuhan Al-Qur’an terdapat dalam literatur Syiah.

Ya jelas, bisa jadi mereka takut untuk disebut keluar dari barisan kaum muslimin dengan melakukan kritik terhadap Shahih Bukhari. Sebab mereka sendiri telah membuat dogma Shahih Bukhari sederajat dengan Al-Qur’an yang tidak bisa dibantah, dikritisi, diragukan, siapa yang melakukannya, keluar dari Islam atau diragukan keislamannya. Sementara bagi Syiah, hanya satu kitab Shahih di dunia ini, Al-Qur’anul Karim.

Tanggapan atas Hadits Israiliyah

Dan Hujjah ALLAH AWJ pun membungkan mereka…

“Sulaiman mempunyai mukjizat tidur dengan wanita 100x semalam.”

Demikian ia mengawali paparannya

Demi mendukung Hujjah ia ajukan hadits Dari Bukhari sanad Abu Hurairah begini hadithnya :

Abu Hurai­rah telah berkata, “Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

sejuta dalil mereka bawakan – saya menyebutnya berqiyas, namun hal itu tidak lain malah menambah keroposnya hujjah.

Jawaban Radhi :

Harus sama sama sepakat bahwa yang sedang dibahas adalah Nabi ALLAH yang Mulia dan bukan tukang sapu jadi harus di sematkan ‘Nabi’ diawal penyebutan Nama Beliau As.

Sama sama sepakat Al Karim Surah As Shaad ayat 30 : Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)

Pertama, Abu Hurairah mendapat gelar Mudhalist dari Aisyah dan di Ancam Umar tuk dicambuk karena terlalu seringnya berbohong. Barometer selanjutnya adalah Para Tabi’in yang sejatinya adalah mercu suar para pengikut Salaf mengakui tidak memakai hadits hadits periwayatan Abu Hurairah. (ref to ibn Quthaibah mushaf)

Kedua, Hadist harus diuji dengan Al Quran. Landasannya Aisyah berkata Rasulullah Saww adalah Al Quran berjalan [ Bukhari ]

Ketika disajikan Sebuah Hadits harus di perhatikan Sanad dan Matannya. Lalu gunakan barometer aqli dan Al Quran sebagai Jawaban finalnya.

Saya akan ajukan metode reverse logic bagi kaum ortodoks karena mereka kerap hanya bertumpu pada literature semata. Alasan lainnya, Metode sederhana ini cukup memberi gambaran secara gamblang bagaimana Ke ‘rusakan’ Hadits tersebut.

Al Quran Surah As Shaad ayat 30 :

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).

Ayat diatas jelas menggambarkan bagaimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As adalah para pribadi Agung yang toat dan sebaik hamba

Perhatikan redaksi hadits :

Abu Hurai­rah telah berkata, “Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. (berpaling /cuek/mengabaikan Malaykat ALLAH)

Dalam Hadits ini jelas sekali diperlihatkan bagaimana Nabi Sulaiman As sebagai pribadi pembangkang..

Kedua, redaksi ini berubah ubah, pertama abu hurairah menyatakan 100 wanita, lalu kemudian 70 wanita, lalu di tempat lain 80 wanita, dst.

Hal ini menandakan bahwa ia –Abu Hurairah – hanyalah mengarang Hadits dan ia tidak pernah mendengar langsung dari Lisan Suci Rasulullah Saww.

Ketiga, Hubungan Suami Istri adalah Hubungan yang dilandasi oleh manusiawi, artinya dalam aspek apapun hatta seorang nabi sekalipun tidaklah mungkin dapat berhubungan sebanyak 100x semalaman.

Apakah ini bentuk keraguan pada Nabi ALLAH?
Sederhana menjawabnya, Saya meragui kebohongan pembawa Hadis yang pandai berbohong. Sederhananya pembawa hadis tidak pintar berkreatifitas.
Dan tidak ada hubungannya dengan Nabi ALLAH.

Sebagai manusia yang zohirnya sama seperti manusia pada umumnya, tidaklah ada yang mampu berhubungan 100x semalam..!

Pembahasan :
Saya memaknai hadist ini adalah hadist Israiliyat (Hadist yang di inspirasi dari pemikiran Yahudi lampau) dengan tujuan menjatuhkan martabat Nabi ALLAH dan juga merendahkan Utusan ALLAH.

Dalam makna luas ia akan berakibat fatal, seperti tercerabutnya iman dari dada tanpa ia sadari.

Mengapa ada di kitab Shahih bukhari ?

Shahih menurut Bukhari bukan berarti shahih menurut Al Quran.

Ada banyak factor yang menyebabkan hadis ini masuk dikitab bukhari, tekanan penguasa misalnya. Karena muktabar dikalangan pengkaji rijal bahwa syaikh bukhari sering pingsan karena mengkaji hadist.

Saya katakan, tidak pernah ada orang pingsan karena mengumpulkan hadis, karena ia adalah pekerjaan yang menyenangkan lagi menggembirakan. Pastilah ada factor lain yang mengakibatkan Bukhari pingsan. Stress karena tekanan mungkin, tenggat waktu dari penguasa kala itu. Dan lain sebagainya.

Sesungguhnya keberhati hatian dan sikap kritis amatlah sangat diperlukan dalam pengkajian agama, sesuai dengan Titah Suci Baginda Agung Rasulillah Saww :

“Terimalah apa yang sesuai dengan al Quran, dan tolaklah apa yang bertentangan dengannya”

Salam ya Sulaiman ibn Daud alaihissalam..
Salam sejahtera atasmu duhai Nabi Agung…

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS.Shad:30)

Sebaik baik Hamba tidak mungkin lupa berkata Insya ALLAH dan tidak mungkin berpaling dari Jibril Utusan ALLAH yang terpercaya.

Sayyid Qutub dalam Fii dhilal Al Quran Juz 23 hal 99 setelah mengkaji Hadits Hadist Israiliyah tersebut, Beliau berkata : “Semua hanyalah rekaan dan dugaan (bualan) Abu Hurairah semata”

………..

Berikut adalah beberapa Bagian Hadits yang mendeskreditkan Baginda Suci Saww yang dimuat oleh Kitab Bukhari

Rasulullah Cemas Akan Turunnya Wahyu

Shahih Bukhari Hadits No. 3

Dari ‘Aisyah, katanya: “Wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah SAW, ialah berupa mimpi-baik waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Hingga pada suatu ketika datang kepada beliau Al Haq (kebenaran atau wahyu), sewaktu beliau masih di Gua Hira. Malaikat Jibril datang kepadanya dan memeluk beliau sambil berkata, “Bacalah!” Sampai beliau dapat “membaca”, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal akram.

Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah, lalu beliau berkata,”Selimuti aku! Selimuti aku!” Lantas diselimuti oleh Khadijah hingga hilang rasa takutnya. Kata Nabi SAW kepada Khadijah (setelah dikabarkannya semua kejadian yang baru dialaminya itu), ”Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa).”

Kata Khadijah, “Jangan takut, Demi Allah, Tuhan sekali-kali tidak akan membinasakan Anda. Anda selalu menghubungkan tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.”

Setelah itu Khadijah (bersama Nabi SAWW) pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliyah itu. Usianya sudah lanjut dan matanya buta. Lalu Rasulullah menceritakan semua peristiwa yang dialaminya kepada Waraqah.

Berkata Waraqah, “Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Semoga saya masih hidup ketika itu, yaitu ketika Anda diusir oleh kaum Anda.” Maka bertanya Rasulullah, “Apakah mereka akan mengusirku?” Jawab Waraqah, “Ya, betul! Belum pernah seorang jua pun yang diberi wahyu seperti Anda yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari itu, niscaya saya akan menolong Anda sekuat-kuatnya.” Tidak berapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus sementara waktu.

Kajian:

Hadits ini jika diamati sekilas tidak mengandung keraguan. Tetapi marilah kita pahami baik-baik bahwa pada saat turunnya wahyu pertama kali tersebut,Nabi Muhammad Saww telah diangkat menjadi Rasul sehingga dapat kita ambil beberapa hal:

• Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dalam riwayat ini. Ia seakan-akan melihat dan mendengar sendiri. Ia melihat nabi pergi ke gua, pulang kepada Khadijah, mendengar percakapan khadijah dan Waraqah bin naufal. Kita boleh saja mengatakan bahwa Aisyah mendengarnya dari Rasulullah Saww; tetapi dalam ilmu Hadist, ia harus mengatakan : Aku mendengar Rasulullah Saww bersabda… dan seterusnya. Dengan begitu, kita harus menolak hadist ini sebagaimana kita menolak hadis yang mencerikan bahwa Abu hurairah berjumpa dengan Ruqayyah, istri Utsman, padahal Ruqayyah meninggal dunia ketika Abu Hurairah masih kafir dan tinggal di negeri Daws.

• Dalam peristiwa ini digambarkan kedatangan wahyu yang sangat berat. Malaikat jibril memuluk Nabi dengan keras, sampai kepayahan dan ketakutan. Nabi Saww dipaksa untuk membaca, padahal ia tidak bisa membaca. Tidak pernah wahyu datang dengan cara yang “menggerikan” seperti ketika ia datang kepada Nabi Saww. Padahal ia adalah kekasih Rabbil Alamin; yang tanpa dia tidak akan diciptakan seluruh alam semesta. Dampaknya kepada Nabi Saw juga sangat menyedihkan. Ia pulang ke rumah dengan diliputi ketakutan, kebingungan, dan kesedihan.

Bukankah ini sangat bertentangan dengan ayat Al-Quran yang disebutkan (QS.An-nisa:125) bahwa bila orang yang mendapat petunjuk, ia akan mengalami kelapangan dada, kelegaan hati, ketentraman jiwa. Jadi karena data rasulullah Saw, setelah menerima wahyu, sempit dan sesak, maka ia sedang dikehendaki untuk disesatkan, dan bukan diberi petunjuk.

• Rasulullah saw tidak paham dengan pengalaman ruhani yang ia alami, karena itu kemudian ia dibawa menemui Waraqah bin Naufal dan ternyata seorang nasrani yang lebih tahu tentang kenabiannya, ketimbang rasulullah sendiri. Waraqahlah yang meyakinkan Nabi bahwa ia itu utusan Allah, bahwa yang dating itu malaikat Jibril. Ia sendiri tidak yakin bahwa dirinya adalah Rasulullah. Kita tidak paham bagaimanan nabi yang mulia tidak menyadari kenabiannya, sedangkan orang lain – seperti Adas dan Waraqah- mengetahuinya. Bukankah Bahira pernah mengingatkan Abu thalib bahwa Muhammad itu adalah nabi Akhir zaman?, bukankah menurut banyak hadist, sebelum diangkat manjadi Nabi, kepadanya pepohonan dan bebatuan mengucapkan salam?

• Dilukiskan pula bahwa Ibunda Khadijah menasihati Rasulullah bahwa Allah tidak akan membinasakan Rasulullah. Hal ini menunjukkan seolah-olah Rasulullah kurang ilmu akan perjalanan spiritualnya ini sehingga beliau minta nasihat kepada Ibunda Khadijah.

Rujukan dari beberapa ayat Al-Qur’an:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Ahzab: 40).

Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah jadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al An’aam: 125).

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang dikendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak laggi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS.An-Nisa:125)

Dari kedua ayat ini, jelaslah bahwa dada Rasulullah sangat lapang dalam menerima wahyu, apalagi beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ditimpa kecemasan dan ketakutan. Dan beliau juga sangat mengetahui pengalaman spiritualnya ini karena beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ada orang lain yang lebih mengetahui dari beliau.

Kaum Syi’ah mengikuti jejak para imam ahlulbait dalam akidah dan syariat; meriwayatkan pendapat mereka. Sebab mereka adalah orang-orang yang dihilangkan oleh Allah kotoran dari mereka dan menyucikan mereka sesuci-sucinya dan salah satu dari tsaqalain yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk dijadikan pegangan dalam bidang akidah dan syariat. Inilah akidah mereka yang dapat diketahui oleh siapa saja. Itulah hujah bagi semuanya.

Taqiyah termasuk konsep-konsep Al-Qur’an yang disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an. Di dalam ayat-ayat tersebut ada isyarat jelas yang menunjukkan kasus-kasus ketika seorang Mukrnin terpaksa menempuh jalan yang disyariatkan ini dalam perjalanan hidupnya di tengah kondisi yang sulit. Guna melindungi diri, kehormatan, dan hartanya. Atau, untuk melindungi diri, kehormatan, dan harta orang yang ada hubungan dengannya

. Sebagaimana pernah ditempuh oleh kaum Mukmin dari keluarga Fir’aun untuk melindungi al-Kalim Musa as dari ancarnan pembunuhan. Hal itu juga pemah dilakukann ‘Ammar bin Yasir ketika ia ditawan dan diancam akan dibunuh. Dan masih banyak kasus-kasus lain yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan sunah. Yang jelas, kita harus mengenalnya, baik pengertian, tujuan, dalil, dan definisi maupun batasannya. Sehingga kita dapat menghindari sikap lalai dan berlebih-lebihan dalam melakukannya.

Taqiyah adalah isim dari kata ittaqa -yattaqi. Huruf ta’ pada kata itu menggantikan huruf waw. Asalnya adalah al-wiqayah. Dari situ, at-taqwa diartikan secara mutlak sebagai ketaatan kepada Allah. Sebab, orang yang taat menjadikannya sebagai perlindungan dari neraka dan siksaan. Maksud taqiyah itu adalah menjaga diri dari bahaya yang ditimpakan orang lain dengan menampakkan persetujuan kepadanya dalam ucapan atau perbuatan, yang bertentangan dengan kebenaran.

Pengertian Taqiyah

Jika kata at-taqiyyah itu diamhil dari kata al-wiqayah (perlindungan) dari kejahatan, pengertiannya dalam AI-Qur’an dan sunah adalah menampakkan (sikap) kekafiran dan menyembunyikan keimanan, atau memperlihatkan yang batil dan menyembunyikan yang benar. Apabila seperti itu pengertiannya, taqiyah berlawanan dengan kemunafikan seperti halnya keimanan berlawanan dengan kekafiran. Sebab, kemunafikan adalah lawannya. Kemunafikan adalah menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran, serta memperlihatkan yang benar dan menyembunyikan yang batil. Karena ada kontradiksi di antara arti kedua kata tersebut, maka taqiyah tidak dapat dipandang sebagai cabang dari kemunafikan.

Benar, barangsiapa yang menafsirkan kemunafikan itu sebagai mutlak pertentangan yang tampak terhadap yang tersembunyi, dan memandang taqiyah – yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunah-sebagai salah satu cabanghya, ia telah menafsirkannya dengan pengertian yang lehih luas dari pengertian yang sebenarnya dalam Al-Qur’an. la te1ah mendefinisikan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang menampakkan keimanan dan menyem- bunyikan kekafiran. Allah swt berfirman, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah menge- tahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafzk itu benar-benar pendusta. ” (QS. al-Munafiqun [63]: 1)

Apabila demikian definisi munafik, lalu bagaimana hal itu dapat mericakup orang yang menempuh taqiyah dalam menghadapi orang-orang kafir dan ahli maksiat sehingga ia menyembunyikan keimanannya dan menampakkan sikap persetujuan untuk melindungi diri, harta, dan kehormatan ketika menghadapi ancaman.

Kebenarannya akan tampak jika kita mengetahui penggunaannya dalam syariat Islam. Kalau taqiyah itu merupakan bagian dari kemunafikan, tentu hal itu akan dicela dan mustahil Dzat Yang Maha bijaksana memerintahkannya. A1lah swt berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) pe buatan yang keji. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. al-A’raf [7]: 28)

Tujuan Taqiyah

Tujuan taqiyah adalah untuk melindungi diri, kehorrnatan, dan harta. Hal itu dilakukan dalam kondisi-kondisi terpaksa ketika seorang Mukmin tidak dapat menyatakan sikapnya yang benar secara terang-terangan karena takut hal itu akan mendatangkan bahaya dan bencana dari kekuatan yang lalim, seperti kebiasaan- kebiasaan pemerintahan yang suka melalimi, mengintimidasi, mengusir, membunuh, menyita harta, dan merampas hak. Karenanya, orang yang memegang teguh akidah, yang melihat dirinya terancam, tentu ia akan menyembunyikan akidahnya. la menampakkan sikap persetujuan terhadap keinginan dan kebijakan penguasa. Sehingga ia selamat dari ancaman dan pembunuhan hingga Allah memutuskan perkara yang lain.

Taqiyah adalah senjata orang yang lemah dalam mengahadapi kekuatan yang lalim, senjata orang yang diuji dengan tindakan orang yang tidak menghargai hak hidup, kehormatan, dan hartanya. Bukan karena apa-apa, melainkan karena ia tidak sejalan dengannya dalam beberapa prinsip dan pendapatnya.

Taqiyah itu dipraktekkan oleh orang yang hidup dalam lingkungan yang tidak menerapkan kebebasan dalam berbicara, berbuat, berpendapat, dan berakidah. Orang yang menentangnya tidak akan selamat kecuali dengan sikap diam atau menampakkan persetujuan terhadap keinginan dan pemikiran penguasa. Atau, sebagian orang menggunakan taqiyah sebagai wahana yang harus ditempuh untuk menolong orang-orang lemah dan teraniaya yang tidak memiliki daya dan kekuatan. Maka mereka menampakkan sikap itu kepada penguasa yang lalim agar bisa berhubungan dengannya. Hal itu seperti yang dilakukan orang Mukmin dari keluarga Fir’aun yang dikisahkan Allah swt dalam Al-Qur’an.

Kebanyakan orang yang mencela orang-orang yang menempuh jalan taqiyah mengira bahwa tujuan taqiyah itu adalah untuk membentuk perkumpulan-perkumpulan rahasia yang bertujuan membuat kerusakan dan kehancuran. Hal itu seperti yang dikenal di kalangan penganut kebatinan dan partai-partai komunis ilegal. Itu merupakan pandangan keliru yang mereka anut karena ketidaktahuan atau kesengajaan tanpa mendasarkan pendapat mereka ini pada suatu dalil atau hujah yang benar. Apa yang telah kami sebutkan berbeda dengan apa yang mereka sebutkan. Kalau kondisi memaksa dan hukum-hukum yang lalim tidak menyentuh kelompok yang lemah ini, tentu mereka tidak akan menempuh taqiyah. Tentu mereka tidak akan menanggung beban berat dengan menyembunyikan akidah mereka dan pasti mengajak orang-orang pada akidah itu secara terang-terangan dan tanpa keraguan. Namun, senjata selalu dihunus oleh semua pemerintahan yang lalim untuk ditebaskan kepada orang-orang yang memiliki akidah yang berbeda dengan akidah yang dianutnya. Praktek pertahanan seperti ini berbeda dari praktek-praktek yang dilakukan para anggota perkumpulan-perkumpulan rahasia untuk menjatuhkan dan merebut kendali pemerintahan. Maka semua praktek mereka ditetapkan dan diatur untuk tujuan penghancuran. Mereka adalah orang-orang yang menganut slogan “tujuan menghalalkan segala cara”. Semua yang jelek menurut akal dan terlarang menurut syariat dibolehkan oleh mereka untuk meraih tujuan-tujuan mereka yang destruktif. Ada pendapat yang memandang bahwa mereka sama saja dengan orang yang menempuh taqiyah sebagai senjata pertahanan agar selamat dari kejahatan pihak lain. Sehingga ia tidak dibunuh atau dibinasakan, harta dan rumah mereka tidak dirampas, hingga Allah memutuskan perkara yang lain. Namun, pendapat itu muncul dari perasaan yang berlawanan dari hal seperti itu. Kaum Muslim yang tinggal di Uni Soviet (dulu) telah mendapat bencana dan cobaan yang menurut akal tidak mungkin mereka dapat menanggungnya. Kaum komunis selama kekuasaan mereka atas wilayah-wilayah Islam telah menunjukkan permusuhan kepada kaum Muslim. Mereka merampas harta, tanah, tempat tinggal, masjid, dan sekolah kaum Muslim, serta membakar perpustakaan-perpustakaan. Mereka membunuh banyak kaum Muslim dengan cara yang sangat keji. Tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dari kebiadaban mereka kecuali orang yang menempuh taqiyah dengan menampakkan sikap yang f1eksibel, menyembunyikan ritus-ritus agama, dan melaksanakan salat di dalam rumah hingga Allah menyelamatkan mereka dengan meruntuhkan kekuatan kafir tersebut. Maka kaum Muslim muncul kembali di atas pentas. Mereka menguasai tanah dan wilayah mereka. Mereka mulai menampakkan kembali kemuliaan dan keagungan mereka sedikit demi sedikit. Hal itu merupakan salah satu dari buah-buah taqiyah yang disyariatkan dan diperkenankan Allah SWT kepada para hamba-Nya sebagai anugerah dan kemuliaan-Nya kepada orang-orang yang tertindas.

Apabila demikian makna dan pengertian taqiyah, dan seperti itu maksud dan tujuannya, maka itu adalah sesuatu yang bersifat fitrah yang didambakan akal dan hati manusia sebelum segala sesuatu. Taqiyah mengajak manusia kepada fitrahnya. Untuk itu, taqiyah digunakan oleh orang yang diuji dengan tindakan penguasa dan pemerintahan yang tidak menghargai sesuatu apa pun selain ide, pemikiran, ambisi, dan kekuasaan mereka sendiri. Mereka tidak segan-segan untuk menimpakan bencana kepada setiap orang yang menentang mereka dalam hal itu. Mereka tidak membedakan antara Muslim-penganut Syi’ah ataupun Ahlusunah-dan selain Muslim. Dari sini, tampaklah fungsi dan faedah taqiyah.

Untuk mendukung prinsip kehidupan ini, kami mengkaji dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan sunah.

Dalil A1-Qur’an dan Sunah

Taqiyah disyariatkan dengan nas A1-Qur’an. Banyak ayat Al-Qur’an yang akan kami coba menjelaskannya dalam halaman- halaman berikut:

Ayat pertama

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan ( dia tidak berdosa). Akan tetapi, orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar: ” (QS. an-Nahl [16]: 106)

Anda perhatikan, bahwa A1lah SWT membolehkan sikap menampakkan kekafiran karena terpaksa dan menuruti orang-orang kafir karena takut kepada mereka. Namun, dengan syarat hati tetap tenang dalam keimanan. Hal itu dijelaskan oleh sejumlah mufasir baik klasik maupun kontemporer. Kami akan berusaha mengetengahkan pendapat-pendapat sebagian dari mereka untuk menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele. Bagi siapa yang ingin mengetahuinya lebih jauh, silakan merujuk pada beberapa kitab tafsir.

I. Ath- Thabrasi berkata, “Ayat itu turun berkenaan dengan sekelompok orang yang dipaksa untuk menjadi kafir. Mereka adalah ‘Ammar, ayahnya Yasir, dan ibunya Sumayah. Kedua orang tua ‘Ammar dibunuh karena mereka tidak menampakkan sikap kekafiran. Sedangkan ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki. Karenanya, mereka me- lepaskannya. Kemudian ‘Ammar memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw, dan berita itu tersebar di tengah kaum Muslim. Maka orang-orang mengatakan bahwa ‘Ammar telah menjadi kafir. Tetapi Rasulullah saw menjawab, “Sama sekali tidak, ‘Ammar telah dipenuhi keimanan dari ubun-ubunnya hingga telapak kakinya. Keimanan itu telah bercampur dengan daging dan darahnya.”

Berkenaan dengan itu, turun ayat di atas dan. ‘Ammar pun menangis. Maka Rasulullah saw mengusap kedua matanya sambil bersabda, “Kalau mereka mengulangi tindakan serupa kepadamu, maka ulangilah apa yang engkau ucapkan itu.”

2. Az-Zamakhsyari berkata, “Diriwayatkan bahwa beberapa orang penduduk Makkah disiksa. Karenanya, mereka keluar dari Islam setelah mereka menganutnya. Di antara mereka ada yang dipaksa lalu kata-kata kekafiran mengalir pada lisannya, sementara ia tetap teguh dalam keimanannya. Di antara mereka adalah ‘Ammar bin yasir dan kedua orang tuanya, yaitu yasir dan Sumayyah, serta Shuhaib, Bilal, dan Khabab.

Adapun ‘Ammar menampakkan kepada mereka apa yang mereka kehendaki dengan lisannya secara terpaksa

3. AI-Hafizh bin Majah berkata: AI-Ita’ artinya al-i’tha’. Yaitu, mereka menampakkan persetujuan pada keinginan orang- orang musyrik itu sebagai sikap taqiyah. Taqiyah dalam hal ini dibolehkan berdasarkan firman Allah SWT, “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.

(QS. an-Nahl [16]: 106)

4. Al-Qurthubi berkata: Al-Hasan berkata, “Taqiyah itu dibolehkan bagi manusia hingga hari kiamat.” Para ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa agar menjadi kafir sehingga ia takut dirinya akan dibunuh, ia tidak berdosa untuk menampakkan kekafiran tetapi hatinya tetap tenang dalam keimanan, ia tidak bercerai dari istrinya dan tidak dihukumi sebagai orang kafir. Ini adalah pendapat Malik. para ulama Kufah dan asy-Syafi’i.

5. Al-Khazin berkata: Taqiyah tidak dilakukan kecuali ketika ada ketakutan akan dibunuh dan dengan niat yang baik. Allah swt berfirman. “… kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan.. (QS. an-Nahl [16]: 106). la tidak berdosa. karena tempat bagi keimanan ialah di dalam hati.

6. Al-Khathib asy-Syarbini berkata, kecuali orang-orang dipaksa kafir, yakni untuk mengucapkannya …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan. Tidak apa-apa ia melakukannya. karcna tempat keimanan adalah di dalam hati.

7. Isma’il Haqqi berkata: …kecuali orang yang dipaksa … la dipaksa untuk mengucapkan kata-kata itu karena takut akan ditimpakan sesuatu pada diri atau salah satu anggota tubuhnya. Sebab, kekafiran itu adalah keyakinan. Sedangkan pemaksaan untuk mengucapkan kata-kata itu bukan keyakinan. Jadi, makna ayat itu adalah “Akan tetapi, orang yang dipaksa terhadap kekafiran dengan lisannya”. …padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …Akidahnya tidak berubah. Itu merupakan dalil bahwa keimanan yang benar dan diakui di sisi Allah adalah pembenaran (tashdiq) dengan hati.

Ayat kedua:

Allah swt berfirman, Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, Dan hanya kepada Allah kamu kembali. ” (QS. Ali ‘Imran [3]: 28)

Pendapat para mufasirtentang ayat ini sudah cukup jelas dan tidakmemerlukan penjelasan lagi.

I. Ath- Thabari berkata, “. ..kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. ” Abu al-‘A1iyah berkata, “Taqiyah itu dalam lisan, bukan dengan perbuatan.” Diriwayatkan dari al-Hasan: Saya mendengar Abu Mu’adz berkata: ‘Ubaid mengabarkan kepada kami. la berkata: Saya mendengar adh-Dhahak berkata tentang firman Allah, “kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka,” “Taqiyah dalam lisan adalah orang yang dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah. la mengucapkannya karena takut akan ditimpakan bahaya pada dirinya. “… padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan …,maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya taqiyah itu dalam lisan.

2. Az-Zamakhsyari ketika menafsirkan firman Allah SWT: … kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …berkata, “Yaitu keringanan bagi mereka di tengah muwaltat apabila takut kepada para penguasa mereka. Yang dimaksud dengan muwalat adalah perbedaan dan pergaulan secara lahiriah. Sedangkan hatinya teguh dalam permusuhan dan kebencian, dan menunggu hilangnya rintangan.

3. Ar-Razi, ketika menafsirkan firman Allah SWT: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …, berkata, “Masalah keempat Ketahuilah, bahwa taqiyah memiliki banyak ketentuan. Kami akan menyebutkan sebagiannya sebagai berikut:

a. Taqiyah hanya dilakukan apabila seseorang berada di tengah kaum yang kafir, dan ia takut mereka akan menimpakan bahaya terhadap diri dan hartanya. Maka ia bersikap halus kepada mereka dalam ucapan, yaitu tidak menampakkan permusuhan dalam ucapan. Bahkan ia juga boleh menampakkan ucapan yang menunjukkan kecintaan dan kesetiaan.

” Akan tetapi, dengan syarat menyembunyikan sikap sebaliknya dan mengingkari setiap kata yang diucapkannya. Taqiyah itu memiliki pengaruh pada lahir, bukan dalam keadaan- keadaan hati.

b. Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri. Apakah taqiyah juga boleh dilakukan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu diperbolehkan berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim adalah seperti kemuliaan darahnya. Juga sabdanya: “Barangsiapa yang terbunuh dalam membela hartanya, ia mati syahid.”

4. An-Nasafi berkata, “… kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka ” Artinya, kecuali kamu takut terhadap kebijakan mereka sebagai sesuatu yang mendatangkan ketakutan. Yakni, agar orang kafir itu tidak memiliki kekuasaan atas dirimu. Sehingga engkau takut ia menimpakan bahaya kepada diri dan hartamu. Maka ketika itu, kamu boleh menampakkan kesetiaan dan menyembunyikan permusuhan.

5. Al-Alusi berkata: Dalam ayat itu terdapat dalil disyariatkannya taqiyah. Mereka mendefinisikannya sebagai memelihara diri, kehormatan, atau harta dari kejahatan musuh. Musuh itu ada dua bagian sebagai berikut:

a. Permusuhan yang didasarkan pada perbedaan agama, seperti orang kafir dan Muslim.

b. Pennusuhan yang didasarkan pada tujuan-tujuan keduniaan, seperti harta dan kekuasaan.

6. Jamaluddin al-Qasimi berkata: Terhadap ayat ini: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka … para imam (mazhab) menyimpulkan bahwa taqiyah disyariatkan ketika ada ketakutan. Ijmak tentang bolehnya melakukan taqiyah ketika takut telah dinukil oleh Imam al-Murtadha al-Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq.

7. Tentang ayat: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka , al-Maraghi menafsirkan, “Yakni, kaum Mukmin meninggalkan kesetiaan kepada orang-orang kafir merupakan suatu keharusan dalam setiap keadaan kecuali ketika takut mereka akan menimpakan suatu bahaya. Maka ketika itu, kamu boleh melakukan taqiyah rnenurut kadar ketakutan terhadap bahaya itu. Sebab, kaidah syariat rnengatakan, ‘Meninggalkan kerusakan lebih didahulukan daripada rnendatangkan kebaikan.”

Jika kesetiaan kepada mereka dibolehkan karena takut akan datang bahaya dari mereka. Maka lebih utama, jika hal itu untuk mendatangkan manfaat bagi kaum Muslim. Jadi, tidak ada salah- nya negara Muslim bersekutu dengan negara bukan Muslim untuk mendatangkan manfaat, baik dengan menolak bahaya atau mendatangkan manfaat. Kesetiaan itu bukan-dalam sesuatu yang mendatangkan bahaya bagi kaum Muslim. Kesetiaan seperti itu tidak khusus dilakukan dalam keadaan lemah, melainkan juga boleh dilakukan dalam setiap saat.

Para ulama telah menarik kesimpulan dari ayat ini, bahwa boleh melakukan taqiyah. Yaitu, seseorang mengatakan atau melakukan apa yang bertentangan dengan kebenaran karena menghindari bahaya dari musuh yang akan ditimpakan kepada diri, kehormatan, atau hartanya.

Barangsiapa yang mengucapkan kata-kata kekafiran karena terpaksa untuk memelihara diri dari kematian, sementara hatinya tetap teguh dalam keimanan, ia tidak menjadi kafir. Melainkan ia dimaafkan, sebagaimana yang dilakukan ‘Ammar bin yasir ketika ia dipaksa oleh orang-orang Quraisy agar menjadi kafir. Maka ia melakukannya dengan terpaksa, sementara hatinya tetap dipenuhi keimanan. Berkenaan dengan itu, turunlah ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa).

Kalimat-ka1imat dan ungkapan-ungkapan yang begitu jelas ini, tidak memberi peluang lagi untuk orang mengatakan kecuali menetapkan disyariatkannya taqiyah dalam pengertian yang telah Anda ketahui. Bahkan, seseorang tidak akan menemukan seorang mufasir atau ahli fiqih pun yang mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah merasa ragu dalam nenetapkan bolehnya taqiyah. Sebagaimana Anda, wahai pembaca yang mulia, tidak menemukan seseorang yang sadar tidak melakukan taqiyah dalam kondisi- kondisi sulit selama hal itu tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Hal itu akan saya jelaskan dalam penjelasan tentang batasan-batasan taqiyah.

Adapun orang yang menentang bolehnya taqiyah atau yang berlebih-lebihan dalam melakukannya, semata-mata menafsirkannya dengan taqiyah yang telah populer di kalangan anggota organisasi-organisasi bawah tanah dan aliran-aliran destruktif, seperti aliran kebatinan dan sebagainya. Padahal, seluruh kaum Muslim berlepas diri dari taqiyah yang bersifat destruktif seperti ini.

Ayat ketiga

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, apakah kamu akan membunuhseorang laki-laki karena dia mengatakan, “Tuhanku adalah Allah. Padahal, dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung ( dosa) dustanya itu. Dan jika ia seorang yang benar; niscaya sebagian (bencana) yang diancamkan kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta ,” (QS. al-Mu’min [40]: 28)

Sedangkan akibat dari perbuatannya itu adalah, “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikeu,ng oleh azab yang amat buruk. ” ( QS. al-Mu’min [ 40] : 45 )

Tiada lain, selain karena dengan taqiyah orang itu, Nabi A1lah itu dapat selamat dari kematian. Allah swt berfirrnan, “la berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu. Sebab itu, keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu. “, (QS. al-Qashash [28J: 20)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bolehnya taqiyah untuk menyelamatkan orang Mukmin dari kejahatan musuh yang kafir.

Taqiyah Muslim terhadap Muslim yang Lain dalam Kondisi Tertentu

Walaupun ayat-ayat di atas turun berkenaan dengan taqiyah orang Muslim terhadap orang kafir, namun pengertian ayat itu tidak dikhususkan dengan sebab turunnya. Sebab, bukanlah tujuan disyariatkannya taqiyah ketika mendapat ujian dengan tindakan orang-orang kafir kecuali untuk memelihara diri dari kejahatan. Jika seorang Muslim diuji dengan tindakan saudaranya sesama Muslim yang berbeda pendapat dalam beberapa furu’, dan pihak yang kuat tidak segan-segan menindas pihak yang lemah, seperti membunuh atau merampas hartanya, dalam kondisi-kondisi sempit itu akal sehat memutuskan untuk memelihara diri dengan menyembunyikan akidah dan menempuh taqiyah. Kalaupun dalam hal itu ada dosa, maka dosa itu adalah bagi orang yang kepadanya ditujukan taqiyah, bukan kepada orang yang melakukannya. Kalau kebebasan menjamin semua kelompok Islam, dan setiap kelompok menghargai pendapat kelompok lain karena mengetahui bahwa pendapat itu merupakan ijtihadnya, tentu tidak seorang pun dari kaum Muslim yang terpaksa untuk menempuh taqiyah. Pada gilirannya, keharmonisan akan menggantikan perselisihan.

Sebagian besar ulama memahami seperti itu dan menjelaskannya. Berikut ini penjelasan dari sebagian mereka:

I. Imam ar-Razi dalam menafsirkan firman Allah swt; …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka …” mengatakan: Makna lahiriah ayat itu menunjukkan bahwa taqiyah hanya dibolehkan dilakukan terhadap orang-orang kafir yang merupakan mayoritas. Namun, Imam asy-Syafi’i ra berkata: “Jika keadaan di tengah sesama kaum Muslim sama dengan keadaan antara kaum Muslim dan kaum kafir, taqiyah itu dibolehkan untuk melindungi diri.” la mengatakan, “Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri.” Tetapi, apakah taqiyah juga dibolehkan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu dibolehkan berdasarkan sabda Rasulu1lah saw: “Kemuliaan harta seorang Muslim seperti kemuliaan darahnya.” Selain itu, beliau juga pernah bersabda, “Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya, ia mati syahid.”

2. Jamaluddin al-Qasimi menukil hadis dari Imam Murtadha al- Yamani dalam kitabnya Itsar al-Haqq ‘ala al-Khalq. Teksnya sebagai berikut: “Bekal kebenaran yang samar dan tersembunyi ada dua hal. Pertama, ketakutan para arif-dengan jumlah mereka yang sedikit-kepada para ulama yang jahat dan penguasa yang lalim dengan bolehnya menempuh taqiyah dalam hal itu adalah disyariatkan dalam Al-Qur’an dan ijmak kaum Muslim. Hal itu selama ketakutan tersebut masih menjadi perintang untuk menampakkan kebenaran dan orang yang benar masih dipandang musuh oleh kebanyakan orang. Telah diriwayatkan hadis sahih dari Abu Hurairah ra bahwa-pada masa awal Islam-ia berkata, “Saya menjaga dua bejana dari Rasulullah saw. Yang pertama, saya sebarkan kepada orang-orang, sedangkan yang kedua,jika saya menyebarkannya, tentu tenggorokan ini akan terputus.”

3. Dalam menafsirkan ayat, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemumaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan, ” al-Maraghi berkata, “Termasuk ke da1am taqiyah adalah menampakkan kekafiran, kelaliman, dan kefasikan, serta melembutkan perkataan, tersenyum, dan menyumbangkan harta kepada mereka. Niscaya ha1 itu dapat menahan tindakan keras mereka dan memelihara kehormatan dari tindakan mereka. Ha1 itu tidak termasuk da1am kesetiaan ( muwtilat) yang dilarang.

Bahkan hal itu disyariatkan. Ath- Thabrani telah meriwayatkan sabda Rasulullah saw: “Sesuatu yang digunakan untuk memelihara kehormatan seorang Mukmin adalah sedekah.”

Kaum Syi’ah melakukan taqiyah terhadap orang-orang kafir dalam kondisi-kondisi tertentu untuk tujuan yang sama dengan tujuan yang dilakukan kaum Ahlusunah. Selain itu, karena sebab- sebab yang jelas, seorang Syi’ah melakukan taqiyah kepada saudaranya yang Muslim. Hal itu bukan karena sikap melampaui batas pada orang Syi’ah, melainkan saudaranya yang memaksa ia melakukan hal itu. Sebab, ia menyadari bahwa pengusiran dan pembunuhan pasti ditimpakan kepadanya apabila ia menampakkan keyakinannya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan akidah Islam. Memang, hingga saat ini, orang Syi ‘ah menghindari untuk mengatakan bahwa Allah itu tidak memiliki arah atau bahwa Dia tidak terlihat pada hari kiamat, serta dalam perujukan (marja’iyah) keilmuan dan politik adalah kepada ahlulbait sepeninggal Nabi saw atau bahwa hukum mut’ah tidak dihapus. Apabila orang Syi’ah menampakkan kebenaran-kebenaran ini- yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah-dirinya akan terancarn bencana danbahaya. Telah dikemukakan kepada Anda pendapat ar-Razi, Jamaluddin al-Qasimi, dan al-Maraghi yang begitu jelas tentang bolehnya melakukan taqiyah jenis ini. Maka mengkhususkan taqiyah dengan taqiyah terhadap orang kafir semata merupa- kan kejumudan terhadap makna lahiriah ayat, menutup pintu pemahamannya, penolakan terhadap substansinya yang telah disyariatkan untuk taqiyah, dan meniadakan hukum akal yang menetapkan untuk menjaga yang paling penting apabila tampak yang penting.

Sejarah kita mengemukakan tentang sejumlah pemuka kaum Muslim yang menempuh taqiyah dalam kondisi-kondisi sulit atau ketika kehidupan dan segala yang mereka miliki terancam kebinasaan. Contoh yang paling baik untuk itu adalah yang dikemukakan ath-Thabari dalam kitab tarikhnya (7/195-206) tentang usaha al-Ma’mun untuk memaksa para hakim dan ahli hadis di zamannya untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Se– hingga untuk itu mereka diancam akan dibunuh semuanya tanpa belas kasihan. Ketika para ahli hadis itu melihat pedang terhunus, mereka memenuhi keinginan al-Ma’mun dan menyembunyikan akidah mereka. Ketika mereka dicela karena berpendapat sesuai dengan keinginan al-Ma’mun, mereka membenarkan tindakan mereka dengan menganalogikannya pada perbuatan ‘Ammar bin yasir ketika dipaksa untuk menjadi musyrik sementara hatinya tenang dalam keimanan. Kisah ini sangat terkenal dan sangat jelas tentang bolehnya menempuh taqiyah yang mendorong sebagian orang menimpakan celaan kepada kaum Syi’ah. Seakan-akan mereka itu orang-orang yang mengada-adakannya dari pemikiran mereka sendiri tanpa dilandasi kaidah dan prinsip-prinsip Islam.

Kondisi-kondisi Sulit yang Dilalui Kaum Syi’ah yang mendorong kaum Syi’ah untuk melakukan taqiyah terhadap saudara mereka dan para penganut agama mereka hanyalah karena ketakutan terhadap kekuasaan yang tiran. Kalau dalam masa-masa lalu-dari masa dinasti Umayah, kemudian Abbasiyah dan Utsmaniyah-tidak ada tekanan terhadap kaum Syi’ah, serta negeri dan rumah mereka tidak dialiri darah mereka dan sejarah merupakan bukti paling baik untuk itu, maka adalah masuk akal kalau kaum Syi’ah melupakan kata taqiyah dan membuangnya dari catatan kehidupan mereka. Akan tetapi, sayang sekali, kebanyakan saudara mereka tunduk kepada kekuasaan Dinasti Umayah dan Abbasiyah yang memandang mazhab Syi’ah sebagai bahaya yang mengancam kedudukan mereka. Maka masyarakat Ahlusunah membangkitkan permusuhan terhadap kaum Syi ‘ah dengan membunuh dan mengintimidasi mereka. Oleh karena itu, sebagai akibat kondisi-kondisi sulit itu, kaum Syi’ah, bahkan setiap orang yang memiliki sedikit saja akal, tidak memiliki cara lain kecuali berlindung pada taqiyah atau mengangkat tangan dari prinsip-prinsip suci yang menurut mereka lebih berharga daripada diri dan harta.

“Bukti-bukti tentang hal itu lebih banyak daripada yang dapat dihitung. Namun, kami akan membentangkan sebagiannya secara ringkas. Di antaranya, surat Mu’awiyah yang menghalalkan darah kaum Syi’ah di mana saja mereka berada dan bagaimanapun keadaan mereka. Berikut ini teks tentang peristiwa tersebut yang disebutkan dalam sumber-sumber rujukan untuk mengetahui bencana yang menimpa kaum Syi’ah.

Penjelasan Mu’awiyyah kepada para Pegawainya

Abu al-Hasan ‘Ali bin Abi Sayf al-Mada ‘ini meriwayatkan hadis dalam kitabnya al-Ahdats. la berkata, “Mu.awiyah menulis selembar surat kepada para pegawainya: ‘Batalkanlah jaminan terhadap orang yang meriwayatkan keutamaan Abu Turab dan ahlulbait- nya.’ Maka para khatib di setiap desa dan di atas setiap mimbar melaknat ‘ Ali dan berlepas diri darinya. Mereka mencacinya beserta ahlulbaitnya. Orang-orang yang mendapat bencana paling besar ketika itu adalah masyarakat Kufah, karena banyak di antara mereka yang menjadi pengikut ‘Ali as. Ziyad bin Sumayah diangkat menjadi gubernur Kufah yang telah digabungkan dengan Basrah. la mengetahui betul para pengikut Syi’ah karena ia adalah penduduk daerah itu pada masa kekhalifahan ‘Ali as. Maka ia membunuh mereka di bawah setiap batu dan lumpur, mengamcam mereka, memotong tangan dan kaki mereka, mencongkel mata mereka, menyalib mereka di pohon kurma, dan mengusir mereka dari lrak. Maka tidak ada lagi yang tersisa dari mereka. Mu’awiyah mengirim surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah agar tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun pengikut ‘Ali dan ahlulbaitnya.”

Kemudian ia mengirim selembar surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah, “Perhatikanlah, barangsiapa yang terbukti bahwa ia mencintai ‘Ali dan ahlulbaitnya, maka hapuslah ia dari buku catatan (Baitul Mal), dan hentikanlah pemberian dan bagi- annya.” Hal itu ditegaskan dengan surat yang lain, “Siapa saja yang kalian duga setia kepada mereka, maka hukumlah dan hancurkan rumahnya.” Tidak ada bencana di lrak, terutama di Kufah. yang lebih besar daripada itu. Sehingga pengikut ‘Ali as didatangi oleh orang yang dipercayainya lalu menyampaikan rahasianya, tetapi ia sendiri takut kepada pelayan dan budak orang itu. la tidak menyampaikannya sebelum orang itu benar-benar bersumpah untuk merahasiakannya.

Ibn Abi al-Hadid menambahkan, “Hal itu terus berlangsung hingga al-Hasan bin ‘ Ali as Wafat. Maka bencana dan ujian semakin besar. Tidak tersisa seorang pun dari pihak ini kecuali terancam nyawanya atau diusir dari negerinya.

Kemudian bencana itu memuncak setelah al-Husain as wafat dan ‘Abd al-Malik bin Marwan menjadi khalifah. Maka semakin besar bencana yang ditimpakan kepada kaum Syi’ah. Ketika al- Hajjaj bin Yusuf berkuasa, para ulama mendekatinya dengan menampakkan kebencian kepada ‘ Ali dan kesetiaan kepada musuh- musuhnya serta kesetiaan kepada sebagian orang yang mengaku bahwa mereka pun adalah musuhnya. Para ulama itu membuat banyak riwayat tentang keutamaan mereka dan menyebarkan kebencian, cacian, dan celaan kepada ‘ Ali as. Sehingga ada seseorang yang berdiri di hadapan al-Hajjaj-dikatakan bahwa ia adalah kakeknya al-Ashma’i-, ‘Abd al-Malik bin Quraib bin Quraib. la berteriak, “Hai Amir, keluargaku sangat membenciku. Maka mereka menamaiku ‘ Ali. Aku ini seorang fakir. dan sangat berhajat pada hubungan dengan tuan.” Maka al-Hajjaj tertawa dan berkata, “Sungguh bagus caramu mencari perantara. Aku mengangkatmu untuk memimpin daerah anu.”

Akibatnya, kaum Syi’ah menyaksikan pembunuhan keji oleh para penguasa yang lalim. Maka ribuan di antara mereka terbunuh. Adapun sebagian dari mereka yang masih hidup diancam dengan berbagai bentuk ancaman dan teror. Yang pantas disebutkan, di antara hal-hal yang menakjubkan, kelompok ini dapat terus bertahan kendati menghadapi kelaliman yang besar dan pembunuhan yang keji. Bahkan yang sangat mengherankan, Anda mendapati kelompok ini terus bertambah kuat, dapat mendirikan pemerintahan, membangun peradaban, dan banyak dari mereka yang muncul sebagai ulama dan pakar.

Kalau saudara yang Sunni memandang taqiyah sebagai sesuatu yang haram, maka hilangkanlah tekanan terhadap sudaranya yang Syi’ah dan tidak mempersempit kebebasan yang diperkenankan Islam kepada para pemeluknya. Hendaklah diberikan kebebasan kepadanya dalam menjalankan akidah dan amalannya. Sebagaimana diberikan kebebasan kepada banyak orang yang menyimpang dari Al-Qur’an dan sunah, serta menumpahkan darah dan merampas tempat tinggal, apalagi kepada kelompok yang memeluk agama yang sama dan sepakat dengannya dalam banyak ajaran akidahnya. Kalau Mu’awiyyah dan para pembantunya serta Dinasti Abbasiyyah semuanya dianggap sebagai telah berijtihad dalam menyiksa dan menumpahkan darah orang-orang yang menentang mereka, maka apa yang menghalanginya untuk memberikan kebebasan kepada kaum Syi’ah dengan menganggap mereka telah berijtihad (dalam melakukan taqiyah-penj.).

Apabila mereka mengatakan-dan itu sesuatu yang aneh- bahwa orang-orang yang memberontak terhadap Imam ‘Ali as tidak merusak rasa keadilan orang-orang yang memberontak tersebut. Yang di antara pemukanya adalah Thalhah, az-Zubair, dan Ummul Mukininin ‘Aisyah. Dan bahwa tersebamya fitnah di Shiffin-yang berakhir dengan terbunuhnya banyak sahabat dan tabi’in serta tertumpahnya darah ribuan orang lrak dan Syam tidak mengurangi sedikit pun kewaraan orang-orang yang saling berperang itu. Bahkan setelah itu mereka dipandang sebagai mujtahid dan dimaafkan. Mereka memperoleh pahala orang yang berijtihad walaupun keliru dalam ijtihadnya. Maka mengapa mereka tidak bergaul dengan kaum Syi’ah berdasarkan prinsip ini dan berpendapat bahwa mereka itu dimaafkan dan memperoleh pahala?

Memang, taqiyah di kalangan kaum Syi’ah kadang-kadang meningkat intensitasnya dan kadang-kadang berkurang bergantung pada kuat dan lemahnya intimidasi (yang ditujukan kepada mereka). Terdapat perbedaan besar antara zaman al-Ma’mun yang membolehkan orang-orang memuji ahlulbait dan memuliakan kaum ‘Alawi, dan zaman al Mutawakkil yang memotong lidah orang- orang yang menyebut keutamaan mereka.

Inilah Ibn as-Sikkit, salah seorang sastrawan pada zaman al- Mutawakkil. Al-Mutawakkil telah memilihnya menjadi guru bagi kedua putranya. Pada suatu hari, al-Mutawakkil bertanya kepadanya, “Siapakah yang engkau cintai, kedua putraku atau al-Hasan dan al-Husain? ‘Ibn as-Sikkit menjawab, “Demi Allah, Qanbar, pelayan ‘Ali as lebih baik daripadamu dan kedua putramu”. Maka al-Mutawakkil berkata (kepada para pengawalnya) , “Potonglah lidahnya dari tengkuknya”. Kemudian mereka melakukannya hingga sastrawan wafat. Peristiwa itu terjadi pada malam Senin tanggal 5 Rajab 244 H. Ada juga yang mengatakan, tahun 243 H. Ketika itu umurya 28 tahun. Ketika ibn as-Sikkit wafat, al-Mutawakkil mengirimkan uang sepuluh ribu dirham kepada putra Ibn as-Sikkit, Yusuf. la mengatakan. “Ini adalah diyat (denda) atas kematian ayahmu”

Ibn ar-Rumi. seorang penyair ‘Abqari, dalam qashidahnya yang berisi ratapan (ratsa), atas kematian Yahya bin ‘Umar bin al-Husain bin Zaid bin ‘Ali. mengatakan:

Apakah di setiap waktu ada korban suci dari keluarga Nabi Muhammad yang gugur berlumuran darah

Wahai Bani Muhammad, berapa banyak sudah manusia memangsa jasadmu

Sabarlah, tak lama lagi akan datang penolong untuk musibahmu Apakah setelah Husain menjadi syahid pelita-pelita di langit

masih akan bercahaya terang dan memberi petunjuk?

Jika demikian keadaan keturunan Nabi saw, maka bagaimana halnya dengan para pengikut mereka dan orang-orang menapaki jejak-jejak mereka?

Allamah asy-Syahristani berkata, “Taqiyah adalah syiar setiap orang yang lemah dan terampas kebebasannya. Syi’ah lebih terkenal akan taqiyahnya daripada yang lain. Sebab, Syi’ah terus-menerus diuji dengan tekanan yang lebih besar daripada tekanan yang ditimpakan kepada umat yang lain. Kebebasannya dirampas pada seluruh masa Daulah Umayah, sepanjang masa Dinasti Abbasiyah, dan selama beberapa masa Daulah Utsmaniyah. Oleh karena itu, mereka menyiarkan taqiyah lebih gencar daripada yang dilakukan kaum yang lain. Ketika Syi ‘ah berbeda dari kelompok-kelompok yang bertentangan dengannya dalam bagian penting akidah, ushuluddin, dan banyak hukum-hukum fiqih, perbedaan itu secara alami memunculkan pengawasan (dari pihak musuh-penj.). Pengalaman membenarkan ha1 itu. Oleh karena itu, pengikut para imam ahlulbait selama waktu yang lama terpaksa me- nyembunyikan tradisi, akidah, fatwa, kitab, atau yang lainnya yang berbeda dengan kelompok yang lain. Dengan cara ini mereka melindungi diri dan memelihara kecintaan dan persaudaraan dengan saudara-saudara sesama kaum Muslim, agar tonggak ketaatan tidak patah dan agar orang-orang kafir tidak merasakan adanya perbedaan apa pun dalam masyarakat Islam sehingga mereka memperlebar jurang perbedaan itu di tengah umat Muhammad.

Untuk tujuan-tujuan suci ini, Syi’ah menggunakan taqiyah dan memelihara persetujuannya secara lahiriah dengan kelompok-kelompok lain. Dalam hal itu mereka mengikuti perilaku para imam dari keluarga Muhammad dan hukum-hukum mereka yang teguh tentang wajibnya taqiyah, karena “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku”. Sebab, agama Allah berja1an di atas sunnah taqiyah bagi orang-orang yang terampas kebebasannya. Hal itu berdasarkan dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari orang-orang terpercaya dari ahlulbait as dalam atsar yang sahih: “Taqiyah adalah agamaku dan agama leluhurku” Barangsiapa yang tidak bertaqiyah, tidak ada agama baginya.”

Taqiyah, merupakan syiar ahlulbait as untuk menolak bahaya dari mereka dan para pengikut mereka, dan melindungi darah mereka. Selain itu, taqiyah dilakukan untuk memperbaiki keadaan kaum Muslim, berpartisipasi dengan mereka, dan menyatukan kembali mereka. Hal itu senantiasa menjadi tanda yang dikenal Syi’ah Imamiyah yang berbeda dari kelompok-kelompok dan umat-umat lainnya. Jika setiap orang merasakan adanya bahaya atas diri atau hartanya disebabkan tersebar keyakinannya atau ia menampakkannya, ia harus menyembunyikannya dan melakukan taqiyah pada tempat-tempat yang berbahaya itu. Ini sesuatu yang dituntut fitrah dan akal.

Seperti telah diketahui, Syi’ah Imamiyah dan para imam mereka menghadapi berbagai bentuk ujian dan perampasan kebebasan dalam semua generasi yang tidak dialami oleh kelompok atau umat mana pun. Pada sebagian besar generasi, mereka terpaksa melakukan taqiyah dalam pergaulan mereka dengan orang-orang yang menentang mereka, tidak menampakkan keyakinan, serta menyembunyikan akidah dan arna1an mereka yang berbeda dengan orang lain. Sebab, jika tidak demikian, niscaya bahaya menimpa mereka di dunia ini.

Untuk a1asan ini, mereka dikena1 dan dibedakan dari kelompok lain dengan taqiyah.

Taqiyah memiliki beberapa ketentuan dalam hal wajib dan tidak wajibnya berdasarkan tingkat ketakutan akan bahaya. Perinciannya disebutkan dalam kitab-kitab fiqih.

Batasan Taqiyah

Anda telah mengetahui pengertian dan tujuan taqiyah serta dalilnya. Kini akan dijelaskan batasan-batasannya.

Syi’ah dikenal dengan taqiyah. Mereka melakukan taqiyah dalam ucapan dan perbuatan. Maka hal itu menjadi sumber kebingungan dalam benak orang-orang bodoh. Mereka mengatakan bahwa karena taqiyah termasuk prinsip-prinsip ajaran Syi’ah, maka tidak boleh bersandar pada semua yang mereka ucapkan, mereka tulis, dan mereka sebarkan. Sebab, sangat mungkin tulisan- tulisan itu merupakan pengakuan belaka, sedangkan kenyataannya adalah sesuatu yang lain. Inilah yang berulang-ulang kami dengar dari mereka.

Akan tetapi, kami mengajak pembaca yang mulia melihat bahwa taqiyah hanya dilakukan dalam batasan masalah-masalah pribadi dan bersifat parsial ketika merasakan ketakutan atas diri. Jika alasan-alasan menunjukkan bahwa dalam menampakkan akidah atau mempraktekkan amalan menurut mazhab ahlulbait kemungkinan akan mendatangkan bahaya kepada seorang Mukmin, inilah salah satu kasusnya. Akal dan syariat menetapkan keharus- an melakukan taqiyah sehingga hal itu akan melindungi dirinya dari bahaya. Adapun hal-hal yang bersifat universal yang berada di luar lingkup ketakutan, maka tidakdilakukan taqiyah. Tulisan-tulisan yang tersebar tentang Syi’ah termasuk dalam bentuk terakhir ini. Sebab, dalam hal itu tidak ada ketakutan untuk menulis sesuatu yang berteniangan dengan yang diyakini. Padahal, tidak ada keharusan (melakukan taqiyah) sama sekali dalam hal ini se- hingga ia diam dan tidak menulis apa pun.

Apa yang mereka dakwakan bahwa tulisan-tulisan itu merupakan pengakuan belaka yang tidak berdasar adalah bersumber dari sedikitnya pengetahuan mereka terhadap hakikat taqiyah menurut Syi’ah. Alhasil, Syi’ah hanya melakukan taqiyah pada suatu masa ketika tidak memeliki pemerintahan yang melindungi mereka dan tidak ada kekuatan untuk menolak bahaya dari mereka. Adapun pada masa kini, tidak diperkenankan dan tidak dibenarkan me- lakukan taqiyah dalam kasus-kasus khusus.

Syi ‘ah, seperti yang telah kami sebutkan, tidak berlindung pada taqiyah kecuali setelah terpaksa untuk melakukan hal itu. ltulah yang benar. Saya tidak yakin ada seorang pun yang melihat permasalahan-permasalahan tersebut dengan akalnya, bukan dengan emosinya, akan menentang hal itu. Kecuali, di antara hal- hal yang bisa diterima dalam sejarah kesyiahan, ada pembatasan taqiyah dalam fatwa-fatwa; Taqiyah tidak diterjemahkan ke dalam praktek kecuali sedikit sekali. Bahkan secara praktis, mereka lebih banyak berkorban daripada orang lain. Hendaknya setiap peneliti melihat sikap-sikap para pengikut Syi’ah terhadap Mu’awiyah dan penguasa Dinasti Umayah lainnya, serta para penguasa Dinasti Abbasiyah. Mereka itu seperti Hujur bin’ Adi, Maitsam at- Tammar, Rasyid al-Hijri, Kumail bin Ziyad, dan ratusan orang lainnya, juga seperti sikap-sikap kaum ‘ Alawi sepanjang sejarah dan revolusi mereka yang berkesinambungan.

Taqiyah yang Haram

Berdasarkan hukumnya, taqiyah dibagi menjadi lima bagian. Sebagaimana wajib untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan harta, taqiyah juga haram dilakukan apabila akan menimbulkan bahaya yang lebih besar, seperti hancumya agama, tersembunyinya kebenaran bagi generasi-generasi selanjutnya, penguasaan musuh terhadap urusan, kehormatan, dan tempat-tempat per- ibadatan kaum Muslim. Oleh karena itu, Anda melihat bahwa kebanyakan pemuka Syi’ah menolak melakukan taqiyah dalam beberapa masa. Mereka mempersembahkan jiwa dan raga mereka sebagai korban untuk kepentingan agama. Maka taqiyah itu me- miliki tempat-tempat tertentu. Selain itu, taqiyah yang diharamkan juga memiliki tempat-tempat tertentu.

Pada dasamya, taqiyah adalah menyembunyikan sesuatu yang berbahaya untuk ditampakkan hingga hilang bahaya tersebut. la merupakan jalan paling utama untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kaum Syi’ah itu pengecut, hilang kekuatan, penakut, ragu untuk melangkah, dan penuh kehinaan. Sama sekali tidak. Taqiyah itu memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Sebagaimana ia wajib dalam suatu masa, ia pun haram pada masa yang lain. Dalam hal dibolehkan dan dilarang, taqiyah tidak didasarkan pada kekuatan dan kelemahan, melainkan didasarkan pada kepentingan Islam dan kaum Muslim.

Imam Khomeini as pemah berkomentar tentang hal ini. Kami nukilkan teksnya hingga pembaca mengetahui bahwa taqiyah memiliki ketentuan-ketentuan khusus dan kadang-kadang dilarang dilakukan untuk kepentingan yang lebih agung. Imam Khomeini a.s. berkata, “Taqiyah diharamkan dalam beberapa larangan dan kewajiban-kewajiban yang dalam pandangan Pembuat syariat menempati kedudukan yang tinggi, seperti penghancuran Ka’bah dan kuburan-kuburan suci, penolakan terhadap Islam dan Al-Qur’an, penafsiran yang dilakukan suatu mazhab yang sesuai dengan ateisme dan larang-larangan utama lainnya. Hal itu tidak dapat dijadikan dalil dan bukan suatu bentuk keterpaksaan untuk melakukan taqiyah.

Hal itu ditunjukkan da1am Mu’tabarah Mus’addah bin Shidqah. Di situ dikatakan, “Setiap sesuatu yang dilakukan seorang Mukmin di tengah mereka, padahal seharusnya ia melakukan taqiyah, selama tidak menimbulkan kerusakan dalam agama, maka itu boleh.”

Dari pengertian ini, jika orang yang melakukan taqiyah itu termasuk orang-orang yang memiliki kedudukan dan kepentingan di mata manusia, padahal melakukan beberapa perbuatan yang haram atau meninggalkan kewajiban dipandang sebagai melemah- kan mazhab atau merusak kemuliaannya, seperti dipaksa me- minum khamar dan berzina, maka bolehnya taqiyah dalam hal ini berdasarkan ketentuan dalil ar-raf dan dalil-dalil taqiyah adalah sulit, bahkan dilarang. Yang paling utama dari itu semua adalah tidak membolehkan taqiyah. Kalau salah satu prinsip Islam atau mazhab, atau salah satu kewajiban agama terancam hilang, rusak, dan berubah, seperti kalau orang-orang yang menyimpang hendak mengubah hukum-hukum waris, talak, salat, haji, dan prinsip-prinsip hukum lainnya, apalagi dari prinsip-prinsip agama atau mazhab, maka taqiyah dalam kasus seperti itu tidak diper- bolehkan. Kepentingan disyariatkannya taqiyah adalah agar mazhab tetap utuh, prinsip-prinsip tetap terpelihara, dan kesatuan kaum Muslim untuk menegakkan agama dan prinsip-prinsipnya. Apabila agama dan prinsip-prinsipnya terancam kerusakan, maka tidak boleh bertaqiyah. Hal itu tampak dengan jelas dari penjelasan di atas.

Demikianlah, telah kami jelaskan seluruh aspek taqiyah yang hakiki dan sebenamya. Dari uraian itu, kami simpulkan sebagao berikut:

1. Taqiyah merupakan prinsip Al-Qur’an yang didukung oleh sunah Nabi saw. Taqiyah telah dilakukan pada masa risalah oleh orang menghadapi ujian di kalangan sahabat untuk me- melihara dirinya. Rasulullah saw tidak menentangnya, bahkan menegaskannya dengan nas Al-Qur’an, seperti yang menimpa ‘Ammar bin yasir yang diperintah oleh Rasulullah saw untuk mengulanginya jika orang-orang musyrik itu memaksanya lagi agar menjadi kafir.

2. Taqiyah dalam pengertian pembentukan kelompok-kelompok rahasia untuk tujuan-tujuan destruktif ditolak oleh kaum Muslim pada umumnya, dan khususnya Syi’ah. Hal itu tidak ada hubungannya dengan taqiyah yang dianut kaum Syi .ah.

3. Para mufasir, dalam kitab-kitab tafsir mereka, ketika menafsikan ayat-ayat yang berkenaan dengan taqiyah, sepakat dengan apa yang dianut Syi’ah tentang bolehnya taqiyah.

4. Taqiyah tidak khusus dilakukan terhadap orang kafir, melainkan juga secara umum dilakukan terhadap orang Muslim yang menyimpang yang ingin berbuat jahat dan keji kepada saudaranya.

5. Berdasarkan pembagian hukum-hukumnya, taqiyah terbagi ke dalam lima bagian. Di antaranya, taqiyah itu wajib dalam kasus tertentu dan haram dalam kasus yang lain.

6. Lingkup taqiyah tidak melewati masalah~masalah individual, yaitu apabila dirasakan ada ketakutan. Namun, jika ketakutan dan tekanan itu hilang, tidak ada alasan untuk melakukan taqiyah.

Penutup

Kami asumsikan bahwa taqiyah merupakan tindak kejahatan yang dilakukan seseorang untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan hartanya. Akan tetapi, pada hakikatnya, hal itu kembali pada kondisi yang mengharuskan seorang Syi’ah yang Muslim melakukan taqiyah dan mendorongnya menampakkan sesuatu dalam ucapan dan perbuatan yang tidak diyakininya. Maka bagi orang yang mencela taqiyah terhadap sesama Muslim yang tertindas hendaklah memberikan kebebasan kepada orang itu dalam kehidupan dan membiarkannya di dalam keadaannya. Setidaknya yang dapat dibenarkan akal adalah menanyakan kepadanya tentang dalil akidahnya dan sumber pengamalannya. Jika didasarkan pada hujah yang jelas, ikutilah. Namun, jika sebaliknya, maafkanlah ia dalam mengikuti ijtihad dan jihad ilmiahnya.

Kami mengajak kaum Muslim untuk memperhatikan motif-motif yang mendorong kaum Syi’ah melakukan taqiyah. Hendaklah mereka, sedapat mungkin, memberikan keleluasaan kepada saudara mereka seagama. Karena setiap ahli fiqih Muslim memiliki pendapat dan pandangan serta kesungguhan dan kemampuan- nya sendiri.

Kaum Syi’ah mengikuti jejak para imam ahlulbait dalam akidah dan syariat; meriwayatkan pendapat mereka. Sebab mereka adalah orang-orang yang dihilangkan oleh Allah kotoran dari mereka dan menyucikan mereka sesuci-sucinya dan salah satu dari tsaqalain yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk dijadikan pegangan dalam bidang akidah dan syariat. Inilah akidah mereka yang dapat diketahui oleh siapa saja. Itulah hujah bagi semuanya.

Kami memohon kepada Allah swt agar memelihara darah dan kehormatan kaum Muslim dari gangguan orang-orang yang menyimpang; menyatukan barisan mereka; menyatukan hati mereka; menyatukan kembali mereka; dan menjadikan mereka satu barisan dalam menghadapi musuh. Sesungguhnya atas semua itu Dia Mahakuasa dan Mahapantas mengabulkan doa

.

Lebih Dekat Dengan Syiah Ali As

Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) :

“Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin karena jumlah mereka kurang dari 12. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah Bani Umayyah karena jumlah mereka lebih dari 12. Kesemuanya zalim kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan mereka juga bukan dari Bani Hashim karena Nabi bersabda: Semua Pemimpin ISLAM haruslah dari Bani Hashyim. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas karena mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar perintah al-Qur’an. Oleh karenanya itu satu satunya cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam dari Ahl Bait Rasulullah Saw. Karena mereka yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari ayah ayah mereka yang berhubung langsung dengan kakek mereka Muhammad Saw.”

(Yanabi al-Mawaddah, him. -447).

SYIAH

Saya menyimpulkan bahwa sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam”.

Dalam melihat suatu istilah, maka hendaknya kita tidak melihat dari arti leksikalnya saja. Karena ada istilah-istilah yang juga memuat makna khusus. Misalnya ijtihad, secara leksikal kata tersebut berarti “usaha keras, bersungguh-sungguh, bersusah-payah”. Namun kita tidak bisa dengan serta merta menyebut orang yang berusaha keras dengan sebutan “Mujtahid”, karena sebutan “Mujtahid” adalah istilah khas bagi mereka yang memiliki wewenang untuk melakukan istinbat hukum syar’i.

Begitu juga dengan dengan istilah “syi’ah”, secara leksikal maka itu berarti “pengikut”, sehingga pengikut Mu’awiyyah bisa disebut syi’ah Mu’awiyyah, pengikut Abubakar juga bisa disebut syi’ah Abubakar. Namun istilah “syi’ah” tersebut juga memiliki makna khas, yaitu sebutan untuk para pengikut Ali, yang tidak bisa ditempelkan begitu saja pada semua orang, sehingga pengikut selain Ali tidak bisa disebut sebagai “syi’ah”.

Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro' 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
[ Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319, Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62, Muttaqi Al-Hindi, dalam "Kanzul Ummal", jilid 15, hal. 15, Haikal, dalam "Hayat Muhammad"]

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :
“Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul saww. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul saww menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul saww dengan pengkhianat amanat Rasul saww. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

Rasul saww sendiri menggunakan istilah “syi’ah” ketika menyebut “pengikut Ali”, hal ini bisa dilihat pada hadits beliau saww.

Rasul saww bersabda :
“Cinta pada Ali menghindarkan dari neraka, Cinta pada Ali menghindarkan dari kemunafikan, syi’atu Ali (pengikut Ali) adalah orang-orang yang beruntung”.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, dan juga oleh Dailami sebagaimana termaktub dalam kitab “Kunuuzul Haqa’iq” (Al-Manawi).

Rasul saww juga bersabda : “Wahai Ali, engkau dan syi’ah-mu berada dalam syurga”.

[Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam "Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah", jilid 3, hal. 107-108, 162, 167]

Sehingga jelas sekali, istilah “syi’ah” dipergunakan oleh Rasul saww untuk menyebut para pengikut Ali. Oleh karena itulah, semakin jelas terlihat bahwa “syi’ah” adalah istilah khas untuk menyebut para pengikut Ali (syi’ah Ali).

Ali adalah hujjah Allah, Kholifah Rasul saww, penerus misi Rasul saww, sehingga apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka itu berarti ketetapan Ali as juga.

Kita semua tahu bahwa Rasul saww memerintahkan kita untuk mentaati para Imam Ahlul Bait as atau yang dikenal dengan “Dua belas Imam”. Sehingga ketetapan Rasul saww tersebut pastilah menjadi ketetapan Imam Ali as juga. Hal ini juga dapat dilihat pada khutbah beliau tentang Ahlul Bait as di Nahjul Balaghah.
[Nahjul Balaghah, khutbah No. 144 dan 154, tentang Ahlul Bait as]

Sehingga “syi’ah Ali” pastilah juga “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (syi’ah Dua Belas Imam)”.

Kesimpulan:

Sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, TIDAK ADA yang lain. Berikut sekedar tambahan keterangan bahwa kata “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “Syi’ah Ali” dan “Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, berdasarkan pengakuan ulama ahlusunnah :

Abul Hasan Al-Asy’ari :
“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.
["Maqaalaat Islamiyyin", jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab "Asy-Syi'ah Fi Maukibi At-Tarikh", dikeluarkan oleh "Mu'awaniyyah Syu'un At-Ta'lim Wa Al-Bahuts"]

Syahrastani, berkata :
“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.
[Syahrastani, dalam "Milal Wan Nihal", hal. 118]

Ibn Hazm, berkata :
“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”
[Ibn Hazm, dalam "Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal", jilid 2, hal 113. ]

Siapa saja yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” adalah bukan syi’ah. Termasuk siapa saja yang pada awalnya taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” namun setelah itu membangkang atau berkhianat kepada mereka as, maka orang tersebut juga bukan syi’ah. Termasuk madzhab Zaidiyah, yang tidak bisa dikatakan sebagai syi’ah, karena madzhab ini mengakui kepemimpinan Abubakar dan Umar, dan mereka tidak berpegang kepada hukum-hukum fiqih “Dua Belas Imam Ahlul Bait as”. Hanya mereka yang selalu taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” yang disebut sebagai syi’ah.

Dengan kesimpulan tersebut, maka orang yang telah berkhianat kepada Imam Hasan as seperti Ubaidallah bin Abbas— sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Mufid dalam kitab “Al-Irsyad”— tidak bisa lagi disebut sebagai syi’ah, karena pengkhianatannya kepada Imam Hasan as dengan bergabung kepada Mua’awiyyah.

Oleh karena itu, tidak ada istilah “pengkhianatan oleh syi’ah”— sebagaimana secara implisit dituduhkan oleh sebagian orang— karena mereka yang berkhianat kepada para Imam as tidak lagi berstatus sebagai syi’ah.

Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS

Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .

1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)

Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”

Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini[90].

Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”

Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.

Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku”[91].

Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.

Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti? Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul bersabda:”Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan gigi geraham kalian.”Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.

Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengna ayat-ayat al-Qur’an. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian ucapan kita “Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku…”[92] tidak mempunyai hujah yang kuat lagi.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.

Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:” Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai” (Surah 19:5-6)

Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.

Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”

Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya:”Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda menjawab:”Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi Allah”[93]. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau berkata:”Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta”. Atau beliau berkata:”Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali, sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu”. Kemudian Umar bin Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:”Setelah aku ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali”.

Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa’:94:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang mengucapkan “salam” kepadamu:”Kamu bukan seorang Mukmin “(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.

Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.

Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).

Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.

Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai’ah di rumah Fatimah dan membakar mereka.

Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan nas-nas al-Qur’an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid:”Wahai musuh Allah, engkau telah bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam engkau dengan batu” [94]. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:”Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah. Tutup mulutmu Khalid”.

Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang  telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut, sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita memberikannya gelaran “Pedang Allah Yang Terhunus!!!”

Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu’; seorang yang dijadikan perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid: Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di waktu malam, Khalid menidurinya [95].

Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya as-Sidiq Abu Bakar. Di dalam bab Pendapat Umar  Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal menulis:”Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.

Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap – alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar – namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai “Pedang Allah” dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid dipanggil dan dimarahi [96].

Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama seumpamanya yang berusaha menjaga “kemuliaan” sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal – adalah model keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur’an jauh sekali.

Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi SAWA berkata:”Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka lakukan  kepadanya hukum hudud “.

Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakan Khalid ini dengan  menciptakan berbagai kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya dengan sebutan “Pedang Allah Yang Terhunus”.

Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukum-hukum Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.

Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka.  Kabilah ini tidak fasih di dalam menyebutkan Aslamna (kami telah masuk Islam). Mereka menyebutnya: Saba’na, saba’na.Lalu Khalid membunuh mereka dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:”Ya Allah, aku bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid”, dibacanya dua kali [97]. Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid”.Dibacanya sehingga tiga kali [98].

Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai  Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja? Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka Waillah tempat mereka kembali.

Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah tersalah takwil?

Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai “musuh Allah”. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid lebih dari orang lain.

Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya, sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila [99].

Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:”Demi nyawaku hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi [100]. Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:”Ini mesti ulah si A’saar”, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.

Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.

Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran. Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila’ mereka sedangkan aku masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:”Orang jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya”.

Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha Mengetahui wahai Tuhanku,  aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.

Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orang-orang yang berpegang-teguh kepada tali wila’ mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka. kerana NabiMu SAWA telah bersabda:”Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dia cintai”.

2. Hadith Bahtera

Bersabda Nabi SAWA:”Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam” [101].

“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni”[102].

Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-Muhriqah dan berkata:”Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan – pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis – dengan sikap rendah hati dan memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA sebagai sebab diampuninya mereka.”

Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:”Kami adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaan-keutamaan mereka”.

Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka, atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.

Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.

Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih  sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah  ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku

Bersabda Nabi SAWA:”Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di syurga Ad’n yang ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila’ walinya serta ikut Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku, diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya” [103].

Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak memberikan hak untuk  memilih kepada seorang Muslim, bahkan menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila’ Ali dan ikut Itrah keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk mereka Nabi SAWA.

Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara lain beliau berkata:”Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya’la al-Muharibi, seorang yang lemah”. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan  sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin Ya’la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran dengan sempurnanya.

Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul Munaqasat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan [104]. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya’la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati bahawa Bukhari telah meriwayatkan  hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi  yang thiqah. Para imam al-Jarh wa at-Ta’dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.

Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya Nubuwwah dan berjalan  di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan  orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga [105].

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah [106]. Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya [107], dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syi’ah

 Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.

Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.

Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”.

Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,”Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”.

Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.

Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”.

Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja’fariyyah

Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja’far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadith.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy’ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?

Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.

Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.

Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:

Jika mereka bertanya tentang madzhabku,

Aku berdiam diri lebih selamat,

Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,

Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,

Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan ‘berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.

Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,

Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.

Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).

Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.

Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali ‘penentuan’ itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah ‘penentuan’ kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.

Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.

Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).

Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur’an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.

Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur’an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.

Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.

Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.

Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!

Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).

Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).

Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:”Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam”.(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).

Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja’fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja’far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.

Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.

Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.

Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya”.

Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.

Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.

Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.

Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.

Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)” (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).

Rasulullah SAWA bersabda:”Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam”, (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).

Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.

Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.

Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:”Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu”.

Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.

Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:”Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air”.

Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:”Wuduk itu dua basuh dan dua sapu”, iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:'Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,'Ya'. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:'Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci'. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca'Bismillah' dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau - Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].

Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya ‘ala khayr al-’amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.

Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.

Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.

Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:”Sembahyang itu lebih baik dari tidur”, maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.

Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.

Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud”dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud” (Sahih Muslim, Bab Mawdi’ as-Salah).

Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.

Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.

Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya’ di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.

Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa “Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya’ tanpa musafir dan tanpa sebab takut”,(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam’ as-Salah fil-Hadr).

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:”Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita”.

Kemudian melantik Ubay bin Ka’ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:”Ini adalah bidaah yang baik”. Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).

Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.

Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan – sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.

Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)

Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga ‘Undang-undang 99 Perak’, dan ‘bersalam’ lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja’fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.

Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut’ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:”Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan” sehingga terbukti pembatalannya.

Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana ‘menghadkan waktu’ dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu’aqqat.

Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).

Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)

Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut’ah.

Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur’an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:”Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya”.

Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur’an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut’ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa’ (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur’an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:”Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)”.

Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut’ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut’ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi’in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut’ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:”Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu”.

Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.

Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.

Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:”Ayat mengenai mut’ah telah diturunkan dalam al-Qur’an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).

Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:”Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta’ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat” (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut’ah).

Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma’ binti Abu Bakar secara mut’ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut’ah)”.

Imam Ja’far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:”Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut’ah, dan ‘hayya ala khairil amal’ dan ditanya Imam Ja’far as-Sadiq AS mengenai nikah mut’ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut’ah).

Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.

Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.

Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.

Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur’an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang ‘ratusan ribu’ itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur’an itu ditujukan juga kepada mereka.

Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.

Mengenai Hadith “sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit”, maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.

Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)”.

Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja’far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.

Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti ‘jemputan’ kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.

Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur’an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.

Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?

Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan”Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid”. Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.

Nabi SAWA bersadba:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah ’satu’ (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji’ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.

Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa’at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).

Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.

Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai “Pintu Ilmu”.

Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:”Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya” (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).

Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.

Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.

Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.

Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja’far as-Sadiq AS.

Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz”Wahai anak Rasulullah” kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.

Imam Abu Hanifah berkata:”Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu’man” iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja’far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.

Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:

Aku adalah Syiah dalam agamaku,

Aku berasal dari Makkah,

Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).

Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.

Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa”Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa alihi Muhammad)

Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.

Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.

Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.

Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya – yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Katanya lagi,”Sesungguhnya Madzhab Ja’fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya….”(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)

Walaupun di Malaysia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.

Syi’ah sesat karena berpedoman pada 12 imam ahlulbait ??

Lebih Dekat Dengan Syiah Ali As

Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) :

“Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin karena jumlah mereka kurang dari 12. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah Bani Umayyah karena jumlah mereka lebih dari 12. Kesemuanya zalim kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan mereka juga bukan dari Bani Hashim karena Nabi bersabda: Semua Pemimpin ISLAM haruslah dari Bani Hashyim. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas karena mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar perintah al-Qur’an. Oleh karenanya itu satu satunya cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam dari Ahl Bait Rasulullah Saw. Karena mereka yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari ayah ayah mereka yang berhubung langsung dengan kakek mereka Muhammad Saw.”

(Yanabi al-Mawaddah, him. -447).

SYIAH

Saya menyimpulkan bahwa sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam”.

Dalam melihat suatu istilah, maka hendaknya kita tidak melihat dari arti leksikalnya saja. Karena ada istilah-istilah yang juga memuat makna khusus. Misalnya ijtihad, secara leksikal kata tersebut berarti “usaha keras, bersungguh-sungguh, bersusah-payah”. Namun kita tidak bisa dengan serta merta menyebut orang yang berusaha keras dengan sebutan “Mujtahid”, karena sebutan “Mujtahid” adalah istilah khas bagi mereka yang memiliki wewenang untuk melakukan istinbat hukum syar’i.

Begitu juga dengan dengan istilah “syi’ah”, secara leksikal maka itu berarti “pengikut”, sehingga pengikut Mu’awiyyah bisa disebut syi’ah Mu’awiyyah, pengikut Abubakar juga bisa disebut syi’ah Abubakar. Namun istilah “syi’ah” tersebut juga memiliki makna khas, yaitu sebutan untuk para pengikut Ali, yang tidak bisa ditempelkan begitu saja pada semua orang, sehingga pengikut selain Ali tidak bisa disebut sebagai “syi’ah”.

Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro' 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
[ Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319, Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62, Muttaqi Al-Hindi, dalam "Kanzul Ummal", jilid 15, hal. 15, Haikal, dalam "Hayat Muhammad"]

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :
“Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul saww. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul saww menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul saww dengan pengkhianat amanat Rasul saww. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

Rasul saww sendiri menggunakan istilah “syi’ah” ketika menyebut “pengikut Ali”, hal ini bisa dilihat pada hadits beliau saww.

Rasul saww bersabda :
“Cinta pada Ali menghindarkan dari neraka, Cinta pada Ali menghindarkan dari kemunafikan, syi’atu Ali (pengikut Ali) adalah orang-orang yang beruntung”.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, dan juga oleh Dailami sebagaimana termaktub dalam kitab “Kunuuzul Haqa’iq” (Al-Manawi).

Rasul saww juga bersabda : “Wahai Ali, engkau dan syi’ah-mu berada dalam syurga”.

[Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam "Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah", jilid 3, hal. 107-108, 162, 167]

Sehingga jelas sekali, istilah “syi’ah” dipergunakan oleh Rasul saww untuk menyebut para pengikut Ali. Oleh karena itulah, semakin jelas terlihat bahwa “syi’ah” adalah istilah khas untuk menyebut para pengikut Ali (syi’ah Ali).

Ali adalah hujjah Allah, Kholifah Rasul saww, penerus misi Rasul saww, sehingga apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka itu berarti ketetapan Ali as juga.

Kita semua tahu bahwa Rasul saww memerintahkan kita untuk mentaati para Imam Ahlul Bait as atau yang dikenal dengan “Dua belas Imam”. Sehingga ketetapan Rasul saww tersebut pastilah menjadi ketetapan Imam Ali as juga. Hal ini juga dapat dilihat pada khutbah beliau tentang Ahlul Bait as di Nahjul Balaghah.
[Nahjul Balaghah, khutbah No. 144 dan 154, tentang Ahlul Bait as]

Sehingga “syi’ah Ali” pastilah juga “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (syi’ah Dua Belas Imam)”.

Kesimpulan:

Sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, TIDAK ADA yang lain. Berikut sekedar tambahan keterangan bahwa kata “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “Syi’ah Ali” dan “Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, berdasarkan pengakuan ulama ahlusunnah :

Abul Hasan Al-Asy’ari :
“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.
["Maqaalaat Islamiyyin", jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab "Asy-Syi'ah Fi Maukibi At-Tarikh", dikeluarkan oleh "Mu'awaniyyah Syu'un At-Ta'lim Wa Al-Bahuts"]

Syahrastani, berkata :
“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.
[Syahrastani, dalam "Milal Wan Nihal", hal. 118]

Ibn Hazm, berkata :
“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”
[Ibn Hazm, dalam "Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal", jilid 2, hal 113. ]

Siapa saja yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” adalah bukan syi’ah. Termasuk siapa saja yang pada awalnya taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” namun setelah itu membangkang atau berkhianat kepada mereka as, maka orang tersebut juga bukan syi’ah. Termasuk madzhab Zaidiyah, yang tidak bisa dikatakan sebagai syi’ah, karena madzhab ini mengakui kepemimpinan Abubakar dan Umar, dan mereka tidak berpegang kepada hukum-hukum fiqih “Dua Belas Imam Ahlul Bait as”. Hanya mereka yang selalu taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” yang disebut sebagai syi’ah.

Dengan kesimpulan tersebut, maka orang yang telah berkhianat kepada Imam Hasan as seperti Ubaidallah bin Abbas— sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Mufid dalam kitab “Al-Irsyad”— tidak bisa lagi disebut sebagai syi’ah, karena pengkhianatannya kepada Imam Hasan as dengan bergabung kepada Mua’awiyyah.

Oleh karena itu, tidak ada istilah “pengkhianatan oleh syi’ah”— sebagaimana secara implisit dituduhkan oleh sebagian orang— karena mereka yang berkhianat kepada para Imam as tidak lagi berstatus sebagai syi’ah.

Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS

Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .

1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)

Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”

Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini[90].

Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”

Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.

Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku”[91].

Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.

Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti? Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul bersabda:”Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan gigi geraham kalian.”Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.

Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengna ayat-ayat al-Qur’an. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian ucapan kita “Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku…”[92] tidak mempunyai hujah yang kuat lagi.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.

Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:” Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai” (Surah 19:5-6)

Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.

Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”

Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya:”Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda menjawab:”Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi Allah”[93]. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau berkata:”Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta”. Atau beliau berkata:”Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali, sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu”. Kemudian Umar bin Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:”Setelah aku ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali”.

Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa’:94:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang mengucapkan “salam” kepadamu:”Kamu bukan seorang Mukmin “(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.

Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.

Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).

Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.

Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai’ah di rumah Fatimah dan membakar mereka.

Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan nas-nas al-Qur’an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid:”Wahai musuh Allah, engkau telah bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam engkau dengan batu” [94]. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:”Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah. Tutup mulutmu Khalid”.

Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang  telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut, sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita memberikannya gelaran “Pedang Allah Yang Terhunus!!!”

Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu’; seorang yang dijadikan perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid: Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di waktu malam, Khalid menidurinya [95].

Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya as-Sidiq Abu Bakar. Di dalam bab Pendapat Umar  Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal menulis:”Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.

Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap – alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar – namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai “Pedang Allah” dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid dipanggil dan dimarahi [96].

Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama seumpamanya yang berusaha menjaga “kemuliaan” sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal – adalah model keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur’an jauh sekali.

Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi SAWA berkata:”Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka lakukan  kepadanya hukum hudud “.

Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakan Khalid ini dengan  menciptakan berbagai kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya dengan sebutan “Pedang Allah Yang Terhunus”.

Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukum-hukum Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.

Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka.  Kabilah ini tidak fasih di dalam menyebutkan Aslamna (kami telah masuk Islam). Mereka menyebutnya: Saba’na, saba’na.Lalu Khalid membunuh mereka dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:”Ya Allah, aku bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid”, dibacanya dua kali [97]. Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid”.Dibacanya sehingga tiga kali [98].

Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai  Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja? Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka Waillah tempat mereka kembali.

Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah tersalah takwil?

Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai “musuh Allah”. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid lebih dari orang lain.

Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya, sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila [99].

Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:”Demi nyawaku hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi [100]. Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:”Ini mesti ulah si A’saar”, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.

Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.

Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran. Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila’ mereka sedangkan aku masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:”Orang jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya”.

Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha Mengetahui wahai Tuhanku,  aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.

Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orang-orang yang berpegang-teguh kepada tali wila’ mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka. kerana NabiMu SAWA telah bersabda:”Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dia cintai”.

2. Hadith Bahtera

Bersabda Nabi SAWA:”Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam” [101].

“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni”[102].

Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-Muhriqah dan berkata:”Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan – pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis – dengan sikap rendah hati dan memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA sebagai sebab diampuninya mereka.”

Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:”Kami adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaan-keutamaan mereka”.

Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka, atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.

Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.

Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih  sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah  ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku

Bersabda Nabi SAWA:”Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di syurga Ad’n yang ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila’ walinya serta ikut Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku, diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya” [103].

Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak memberikan hak untuk  memilih kepada seorang Muslim, bahkan menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila’ Ali dan ikut Itrah keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk mereka Nabi SAWA.

Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara lain beliau berkata:”Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya’la al-Muharibi, seorang yang lemah”. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan  sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin Ya’la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran dengan sempurnanya.

Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul Munaqasat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan [104]. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya’la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati bahawa Bukhari telah meriwayatkan  hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi  yang thiqah. Para imam al-Jarh wa at-Ta’dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.

Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya Nubuwwah dan berjalan  di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan  orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga [105].

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah [106]. Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya [107], dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syi’ah

 Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.

Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.

Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”.

Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,”Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”.

Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.

Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”.

Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja’fariyyah

Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja’far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadith.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy’ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?

Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.

Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.

Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:

Jika mereka bertanya tentang madzhabku,

Aku berdiam diri lebih selamat,

Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,

Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,

Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan ‘berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.

Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,

Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.

Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).

Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.

Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali ‘penentuan’ itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah ‘penentuan’ kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.

Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.

Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).

Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur’an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.

Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur’an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.

Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.

Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.

Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!

Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).

Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).

Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:”Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam”.(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).

Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja’fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja’far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.

Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.

Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.

Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya”.

Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.

Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.

Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.

Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.

Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)” (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).

Rasulullah SAWA bersabda:”Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam”, (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).

Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.

Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.

Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:”Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu”.

Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.

Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:”Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air”.

Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:”Wuduk itu dua basuh dan dua sapu”, iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:'Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,'Ya'. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:'Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci'. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca'Bismillah' dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau - Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].

Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya ‘ala khayr al-’amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.

Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.

Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.

Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:”Sembahyang itu lebih baik dari tidur”, maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.

Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.

Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud”dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud” (Sahih Muslim, Bab Mawdi’ as-Salah).

Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.

Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.

Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya’ di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.

Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa “Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya’ tanpa musafir dan tanpa sebab takut”,(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam’ as-Salah fil-Hadr).

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:”Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita”.

Kemudian melantik Ubay bin Ka’ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:”Ini adalah bidaah yang baik”. Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).

Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.

Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan – sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.

Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)

Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga ‘Undang-undang 99 Perak’, dan ‘bersalam’ lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja’fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.

Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut’ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:”Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan” sehingga terbukti pembatalannya.

Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana ‘menghadkan waktu’ dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu’aqqat.

Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).

Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)

Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut’ah.

Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur’an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:”Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya”.

Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur’an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut’ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa’ (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur’an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:”Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)”.

Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut’ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut’ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi’in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut’ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:”Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu”.

Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.

Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.

Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:”Ayat mengenai mut’ah telah diturunkan dalam al-Qur’an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).

Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:”Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta’ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat” (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut’ah).

Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma’ binti Abu Bakar secara mut’ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut’ah)”.

Imam Ja’far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:”Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut’ah, dan ‘hayya ala khairil amal’ dan ditanya Imam Ja’far as-Sadiq AS mengenai nikah mut’ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut’ah).

Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.

Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.

Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.

Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur’an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang ‘ratusan ribu’ itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur’an itu ditujukan juga kepada mereka.

Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.

Mengenai Hadith “sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit”, maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.

Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)”.

Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja’far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.

Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti ‘jemputan’ kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.

Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur’an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.

Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?

Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan”Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid”. Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.

Nabi SAWA bersadba:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah ’satu’ (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji’ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.

Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa’at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).

Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.

Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai “Pintu Ilmu”.

Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:”Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya” (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).

Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.

Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.

Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.

Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja’far as-Sadiq AS.

Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz”Wahai anak Rasulullah” kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.

Imam Abu Hanifah berkata:”Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu’man” iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja’far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.

Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:

Aku adalah Syiah dalam agamaku,

Aku berasal dari Makkah,

Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).

Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.

Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa”Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa alihi Muhammad)

Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.

Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.

Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.

Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya – yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Katanya lagi,”Sesungguhnya Madzhab Ja’fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya….”(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)

Walaupun di Malaysia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.

Hadith Hadith Pendeskreditan Rasulullah Saww dalam HR.Bukhari ditolak syi’ah

Giliran Syiah bertanya

 

كل شيء تطور الا الكتابة عن الشيعة و لكل يد اية الا الاقتراء على الشيعة و لكل حكم مصدره و دليله الا الاحكام على الشيعة

Segala sesuatu berubah, kecuali tulisan menyerang Syiah

Setiap awal tentu berakhir, kecuali tuduhan terhadap Syiah

Setiap vonis berdasarkan dalil, kecuali vonis terhadap Syiah

Ulama-ulama Islam sepakat apapun mazhabnya bahwa siapapun yang menganggap Al-Qur’an mengalami perubahan, maka berarti telah mengingkari Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Sungguh, Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sungguh Kamilah yang menjaganya.” (Qs. Al-Hijr : 9) Keberadaan riwayat-riwayat yang menunjukkan keraguan terhadap keaslian Al-Qur’an terdapat dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah dan Syiah. Ulama-ulama Syiah telah berkali-kali melakukan bantahan dan menyatakan penolakan terhadap keberadaan riwayat-riwayat tersebut. Misalnya Syaikh Rasul Ja’farian telah menulis kitab, “Ukdzubah Tahrif Al-Qur’an baina as-Sunnah wa Asy-Syiah (Kedustaan Adanya Perubahan Al-Qur’an di Kalangan Sunnah dan Syiah) 1414 H, buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul, Menolak Isu Perubahan Al-Qur’an. Atau kitab, Shiyanah al-Qur’an min Ta’arif (Keterjagaan Al-Qur’an dari Perubahan) yang ditulis Al-Ustadz Al Allamah Muhammad Hadi Ma’rifah, penerbit Dar Al-Qur’an Al-Karim, Qom, cetakan 1, 1410 H.

Kehadiran dua kitab ini sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menjawab tuduhan yang senantiasa dilontarkan kepada Syiah, bahwa orang-orang Syiah meyakini adanya tahrif dalam Al-Qur’an atau tuduhan yang lebih keji lainnya, kaum Syiah memiliki Mushaf lain yang berbeda dengan yang dimiliki kaum muslimin lainnya. Namun sayangnya, tuduhan-tuduhan tersebut tetap ada, yang bagi saya sangat deceptif, menyesatkan dan merupakan kejahatan intelektual, sebab menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak diyakininya sangat tidak adil. Pada tulisan ini saya menyertakan riwayat-riwayat dari kitab Ahlus Sunnah yang mengindikasikan bahwa terjadi perubahan dalam Al-Qur’an atau adanya perbedaan antara bacaan beberapa sahabat dengan apa yang kita baca saat ini. Saya menukilnya dari kitab Shahih Bukhari, yang diterima kesahihannya oleh Ahlussunah

 

Hadits pertama :

Hadits pertama :

Dari Qabishah bin Uqbah yang berasal dari Ibrahim bin Alqamah ra ia berkata kepada kami, “Saya dalam safar (perjalanan) bersama beberapa sahabat Abdullah (bin Ubay) datang ke Syam. Kedatangan kami didengar oleh Abu Darda dan berkata, “Adakah diantara kalian yang membaca (maksudnya membaca Al-Qur’an)?” Kami menjawab, “Na’am”. Kemudian orang-orang memberi isyarat kepada saya. Abu Darda berkata, “Bacalah !”. Maka sayapun membaca : “Wallaeli dst.. (bisa dibaca langsung pada teks hadits pada gambar yang bergaris bawah merah, Shahih Bukhari kitab Tafsir jilid 6 hal 210)”

Mendengar demikian dia bertanya, “Apakah engkau mendengar dari mulut temanmu (maksudnya Abdullah bin Ubay)?” Aku menjawab, “ya”. Ia melanjutkan, “Saya sendiri mendengarnya dari nabi saww dan mereka menolak untuk menerimanya.” Afwan kalau ada yang salah dari cara saya menerjemah, pembaca bisa membaca sendiri pada teks hadits tersebut. Yang bisa saya pahami dari hadits ini, ada perbedaan bacaan Al-Qur’an antara sahabat. Sebab yang dibaca sahabat-sahabat Abdullah bin Ubay ra berbeda dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an saat ini, bisa dibaca perbedaannya pada Qs. Al-Lail : 1-3. Bacaan sahabat-sahabat tersebut kurang wa ma khalaka (demi penciptaan). Lalu bagaimana penghukuman kita terhadap sahabat-sahabat yang dikatakan Abu Darda ra, mereka menolak menerimanya? Apakah Ahlus Sunnah bersedia mengkafirkan mereka, sebagaimana mereka mengkafirkan Syiah?

Jangan berpendapat itu hanya salah penulisan, sebab juga tertulis pada Fathul Ba’ari, Syarah Shahih Bukhari. Kesalahan penulisan akan meruntuhkan doktrin keshahihan kitab Shahih Bukhari, sebab jika pada penulisan saja terdapat kesalahan bagaimana pada penukilan yang membutuhkan tingkat ketelitian yang lebih ekstra?.

Saya ajukan lagi hadits berikutnya. 

Pada Shahih Bukhari Jilid 5 hal 132 bab Ghaswah Ar-Raji’i wa ri’li wa dzakwan. Riwayat ini diceritakan oleh Anas bin Malik bahwa Bani Raji’i, Dzakwan, Ushayyah dan Bani Hayan meminta bantuan Rasulullah saww untuk membantu mereka menghadapi musuh. Rasulullah saww mengirimkan 70 sahabat terbaik dari kalangan Anshar yang terkenal sebagai Al-Qurra’ (pembaca Al-Qur’an). Namun ketika mereka sampai pada sumber mata air yang bernama Bi-ir Ma’unah, dengan licik 70 sahabat Anshar tersebut mereka bunuh. Rasulullah sangat berduka atas peristiwa ini, dan selama satu bulan beliau membaca qunut melaknat pembunuh sahabat-sahabatnya. Sebelum melanjutkan, saya ingin mencoba membandingkan sikap ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terhadap Yazid bin Muawiyah dengan apa yang dilakukan Rasulullah saww kalau memang mereka mengaku sebagai pengikut dan pembela Sunnah. Rasulullah saww melaknat pembunuh 70 sahabatnya, ulama-ulama Ahlus Sunnah, diantaranya diwakili oleh Adz-Dzahabi yang berkata, “Kita tidak mencela Yazid namun tidak juga melaknatnya”. Merekapun berpendapat, bahwa sikap diamlah yang lebih sesuai dengan sunnah nabi. Padahal mereka sendiri meyakini, bahwa Yazid telah melakukan kedzaliman besar dalam 3 tahun masa kekuasaannya, Ibnu Katsir berkata, “Yazid telah bersalah besar dalam peristiwa Al Harrah dengan berpesan kepada pemimpin pasukannya, Muslim bin Uqbah untuk membolehkan pasukannya memanfaatkan semua harta benda, kendaraan, senjata, ataupun makanan penduduk Madinah selama tiga hari.” Dalam tragedi tersebut terbunuh sejumlah sahabat nabi yang mengantongi curicullum vitae keagungan berjihad bersama Rasulullah pada perang Badar, perempuan-perempuan Madinah diinjak-injak kehormatannya dan anak-anak mereka dibunuh. (baca diantaranya kitab Hiqbah minat-Tarikh, karya Syaikh Utsman bin Muhammad Alu Khamis at-Tamimi). Mana yang lebih mendekati sunnah, Adz-Dzahabi yang memilih mendiamkan Yazid, tidak melaknat dan juga tidak mencintai, atau orang-orang Syiah yang melaknat Yazid bin Muawiyah sebagaimana Rasulullah saww melaknat Bani Raji’i, Dzakwan, Ushayyah dan Bani Hayan yang membunuh 70 sahabatnya?.

Kita lanjutkan pembahasan hadits, sampailah kita pada ucapan Anas bin Malik ra selanjutnya, “Kami pernah membaca sebuah ayat tentang mereka, tetapi kemudian ayat tersebut diangkat kembali.” Ayat yang dimaksud lihat pada gambar yang bergaris merah. Pemahaman kita selama ini terhadap ayat-ayat Al-Qur’an adalah adanya ayat-ayat mansukh. Yakni ayat yang mengganti (atau membatalkan hukum) ayat yang lainnya. Kita tidak pernah mendengar ada ayat yang diangkat kembali. Yakni ayat yang sebelumnya tertulis dalam Al-Qur’an lalu kemudian diangkat dan tidak terdapat lagi dalam Al-Qur’an yang kita baca saat ini. Bukankah keberadaan riwayat ini mengajak kita berpikir, bahwa ada perubahan terhadap Al-Qur’an. Kita bisa jadi meragukan keaslian Al-Quran saat ini, sebab bisa saja, ada ayat yang diangkat kembali, tetapi karena kita tidak mendapatkan riwayatnya maka ayat tersebut masih tertulis dalam Al-Qur’an saat ini, ataupun sebaliknya. Sebagaimana yang kita pahami pada hadits pertama. Kita wajar mengajukan pertanyaan, mengapa riwayat-riwayat yang menimbulkan keraguan atas keutuhan dan keaslian Al-Qur’an terdapat pada kitab Shahih Bukhari, yang diterima mutawatir, textus receptus?. Dalam kitab Al-Itqan fi ulumul Qur’an karya Jalaluddin Suyuti, pada jilid 1 hlm 50, disitu tertulis riwayat dari Umar bin Khattab ra yang mengatakan, “Al-Qur’an memiliki 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) kata (ahruf).” Sedang yang ada pada Al-Qur’an tidak sampai sepertiganya. Bukankah menurut Umar terjadi pengurangan pada Al-Qur’an ?.

Saya yakin ulama Ahlus Sunnah pun akan mengatakan, menolak keshahihan riwayat-riwayat tersebut. Bedanya, ulama-ulama Syiah telah banyak menulis kitab bantahan terhadap riwayat-riwayat yang meragukan keaslian Al-Qur’an baik dalam kitab-kitab Syiah maupun Ahlus Sunnah, sementara ulama-ulama Ahlus Sunnah tidak (atau tepatnya belum) melakukannya, sementara mereka selalu melontarkan tuduhan dan fatwa kekafiran Syiah hanya karena riwayat-riwayat yang meragukan keutuhan Al-Qur’an terdapat dalam literatur Syiah.

Ya jelas, bisa jadi mereka takut untuk disebut keluar dari barisan kaum muslimin dengan melakukan kritik terhadap Shahih Bukhari. Sebab mereka sendiri telah membuat dogma Shahih Bukhari sederajat dengan Al-Qur’an yang tidak bisa dibantah, dikritisi, diragukan, siapa yang melakukannya, keluar dari Islam atau diragukan keislamannya. Sementara bagi Syiah, hanya satu kitab Shahih di dunia ini, Al-Qur’anul Karim.

Tanggapan atas Hadits Israiliyah

Dan Hujjah ALLAH AWJ pun membungkan mereka…

“Sulaiman mempunyai mukjizat tidur dengan wanita 100x semalam.”

Demikian ia mengawali paparannya

Demi mendukung Hujjah ia ajukan hadits Dari Bukhari sanad Abu Hurairah begini hadithnya :

Abu Hurai­rah telah berkata, “Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

sejuta dalil mereka bawakan – saya menyebutnya berqiyas, namun hal itu tidak lain malah menambah keroposnya hujjah.

Jawaban Radhi :

Harus sama sama sepakat bahwa yang sedang dibahas adalah Nabi ALLAH yang Mulia dan bukan tukang sapu jadi harus di sematkan ‘Nabi’ diawal penyebutan Nama Beliau As.

Sama sama sepakat Al Karim Surah As Shaad ayat 30 : Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)

Pertama, Abu Hurairah mendapat gelar Mudhalist dari Aisyah dan di Ancam Umar tuk dicambuk karena terlalu seringnya berbohong. Barometer selanjutnya adalah Para Tabi’in yang sejatinya adalah mercu suar para pengikut Salaf mengakui tidak memakai hadits hadits periwayatan Abu Hurairah. (ref to ibn Quthaibah mushaf)

Kedua, Hadist harus diuji dengan Al Quran. Landasannya Aisyah berkata Rasulullah Saww adalah Al Quran berjalan [ Bukhari ]

Ketika disajikan Sebuah Hadits harus di perhatikan Sanad dan Matannya. Lalu gunakan barometer aqli dan Al Quran sebagai Jawaban finalnya.

Saya akan ajukan metode reverse logic bagi kaum ortodoks karena mereka kerap hanya bertumpu pada literature semata. Alasan lainnya, Metode sederhana ini cukup memberi gambaran secara gamblang bagaimana Ke ‘rusakan’ Hadits tersebut.

Al Quran Surah As Shaad ayat 30 :

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).

Ayat diatas jelas menggambarkan bagaimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As adalah para pribadi Agung yang toat dan sebaik hamba

Perhatikan redaksi hadits :

Abu Hurai­rah telah berkata, “Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. (berpaling /cuek/mengabaikan Malaykat ALLAH)

Dalam Hadits ini jelas sekali diperlihatkan bagaimana Nabi Sulaiman As sebagai pribadi pembangkang..

Kedua, redaksi ini berubah ubah, pertama abu hurairah menyatakan 100 wanita, lalu kemudian 70 wanita, lalu di tempat lain 80 wanita, dst.

Hal ini menandakan bahwa ia –Abu Hurairah – hanyalah mengarang Hadits dan ia tidak pernah mendengar langsung dari Lisan Suci Rasulullah Saww.

Ketiga, Hubungan Suami Istri adalah Hubungan yang dilandasi oleh manusiawi, artinya dalam aspek apapun hatta seorang nabi sekalipun tidaklah mungkin dapat berhubungan sebanyak 100x semalaman.

Apakah ini bentuk keraguan pada Nabi ALLAH?
Sederhana menjawabnya, Saya meragui kebohongan pembawa Hadis yang pandai berbohong. Sederhananya pembawa hadis tidak pintar berkreatifitas.
Dan tidak ada hubungannya dengan Nabi ALLAH.

Sebagai manusia yang zohirnya sama seperti manusia pada umumnya, tidaklah ada yang mampu berhubungan 100x semalam..!

Pembahasan :
Saya memaknai hadist ini adalah hadist Israiliyat (Hadist yang di inspirasi dari pemikiran Yahudi lampau) dengan tujuan menjatuhkan martabat Nabi ALLAH dan juga merendahkan Utusan ALLAH.

Dalam makna luas ia akan berakibat fatal, seperti tercerabutnya iman dari dada tanpa ia sadari.

Mengapa ada di kitab Shahih bukhari ?

Shahih menurut Bukhari bukan berarti shahih menurut Al Quran.

Ada banyak factor yang menyebabkan hadis ini masuk dikitab bukhari, tekanan penguasa misalnya. Karena muktabar dikalangan pengkaji rijal bahwa syaikh bukhari sering pingsan karena mengkaji hadist.

Saya katakan, tidak pernah ada orang pingsan karena mengumpulkan hadis, karena ia adalah pekerjaan yang menyenangkan lagi menggembirakan. Pastilah ada factor lain yang mengakibatkan Bukhari pingsan. Stress karena tekanan mungkin, tenggat waktu dari penguasa kala itu. Dan lain sebagainya.

Sesungguhnya keberhati hatian dan sikap kritis amatlah sangat diperlukan dalam pengkajian agama, sesuai dengan Titah Suci Baginda Agung Rasulillah Saww :

“Terimalah apa yang sesuai dengan al Quran, dan tolaklah apa yang bertentangan dengannya”

Salam ya Sulaiman ibn Daud alaihissalam..
Salam sejahtera atasmu duhai Nabi Agung…

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS.Shad:30)

Sebaik baik Hamba tidak mungkin lupa berkata Insya ALLAH dan tidak mungkin berpaling dari Jibril Utusan ALLAH yang terpercaya.

Sayyid Qutub dalam Fii dhilal Al Quran Juz 23 hal 99 setelah mengkaji Hadits Hadist Israiliyah tersebut, Beliau berkata : “Semua hanyalah rekaan dan dugaan (bualan) Abu Hurairah semata”

………..

Berikut adalah beberapa Bagian Hadits yang mendeskreditkan Baginda Suci Saww yang dimuat oleh Kitab Bukhari

Rasulullah Cemas Akan Turunnya Wahyu

Shahih Bukhari Hadits No. 3

Dari ‘Aisyah, katanya: “Wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah SAW, ialah berupa mimpi-baik waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Hingga pada suatu ketika datang kepada beliau Al Haq (kebenaran atau wahyu), sewaktu beliau masih di Gua Hira. Malaikat Jibril datang kepadanya dan memeluk beliau sambil berkata, “Bacalah!” Sampai beliau dapat “membaca”, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal akram.

Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah, lalu beliau berkata,”Selimuti aku! Selimuti aku!” Lantas diselimuti oleh Khadijah hingga hilang rasa takutnya. Kata Nabi SAW kepada Khadijah (setelah dikabarkannya semua kejadian yang baru dialaminya itu), ”Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa).”

Kata Khadijah, “Jangan takut, Demi Allah, Tuhan sekali-kali tidak akan membinasakan Anda. Anda selalu menghubungkan tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.”

Setelah itu Khadijah (bersama Nabi SAWW) pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliyah itu. Usianya sudah lanjut dan matanya buta. Lalu Rasulullah menceritakan semua peristiwa yang dialaminya kepada Waraqah.

Berkata Waraqah, “Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Semoga saya masih hidup ketika itu, yaitu ketika Anda diusir oleh kaum Anda.” Maka bertanya Rasulullah, “Apakah mereka akan mengusirku?” Jawab Waraqah, “Ya, betul! Belum pernah seorang jua pun yang diberi wahyu seperti Anda yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari itu, niscaya saya akan menolong Anda sekuat-kuatnya.” Tidak berapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus sementara waktu.

Kajian:

Hadits ini jika diamati sekilas tidak mengandung keraguan. Tetapi marilah kita pahami baik-baik bahwa pada saat turunnya wahyu pertama kali tersebut,Nabi Muhammad Saww telah diangkat menjadi Rasul sehingga dapat kita ambil beberapa hal:

• Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dalam riwayat ini. Ia seakan-akan melihat dan mendengar sendiri. Ia melihat nabi pergi ke gua, pulang kepada Khadijah, mendengar percakapan khadijah dan Waraqah bin naufal. Kita boleh saja mengatakan bahwa Aisyah mendengarnya dari Rasulullah Saww; tetapi dalam ilmu Hadist, ia harus mengatakan : Aku mendengar Rasulullah Saww bersabda… dan seterusnya. Dengan begitu, kita harus menolak hadist ini sebagaimana kita menolak hadis yang mencerikan bahwa Abu hurairah berjumpa dengan Ruqayyah, istri Utsman, padahal Ruqayyah meninggal dunia ketika Abu Hurairah masih kafir dan tinggal di negeri Daws.

• Dalam peristiwa ini digambarkan kedatangan wahyu yang sangat berat. Malaikat jibril memuluk Nabi dengan keras, sampai kepayahan dan ketakutan. Nabi Saww dipaksa untuk membaca, padahal ia tidak bisa membaca. Tidak pernah wahyu datang dengan cara yang “menggerikan” seperti ketika ia datang kepada Nabi Saww. Padahal ia adalah kekasih Rabbil Alamin; yang tanpa dia tidak akan diciptakan seluruh alam semesta. Dampaknya kepada Nabi Saw juga sangat menyedihkan. Ia pulang ke rumah dengan diliputi ketakutan, kebingungan, dan kesedihan.

Bukankah ini sangat bertentangan dengan ayat Al-Quran yang disebutkan (QS.An-nisa:125) bahwa bila orang yang mendapat petunjuk, ia akan mengalami kelapangan dada, kelegaan hati, ketentraman jiwa. Jadi karena data rasulullah Saw, setelah menerima wahyu, sempit dan sesak, maka ia sedang dikehendaki untuk disesatkan, dan bukan diberi petunjuk.

• Rasulullah saw tidak paham dengan pengalaman ruhani yang ia alami, karena itu kemudian ia dibawa menemui Waraqah bin Naufal dan ternyata seorang nasrani yang lebih tahu tentang kenabiannya, ketimbang rasulullah sendiri. Waraqahlah yang meyakinkan Nabi bahwa ia itu utusan Allah, bahwa yang dating itu malaikat Jibril. Ia sendiri tidak yakin bahwa dirinya adalah Rasulullah. Kita tidak paham bagaimanan nabi yang mulia tidak menyadari kenabiannya, sedangkan orang lain – seperti Adas dan Waraqah- mengetahuinya. Bukankah Bahira pernah mengingatkan Abu thalib bahwa Muhammad itu adalah nabi Akhir zaman?, bukankah menurut banyak hadist, sebelum diangkat manjadi Nabi, kepadanya pepohonan dan bebatuan mengucapkan salam?

• Dilukiskan pula bahwa Ibunda Khadijah menasihati Rasulullah bahwa Allah tidak akan membinasakan Rasulullah. Hal ini menunjukkan seolah-olah Rasulullah kurang ilmu akan perjalanan spiritualnya ini sehingga beliau minta nasihat kepada Ibunda Khadijah.

Rujukan dari beberapa ayat Al-Qur’an:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Ahzab: 40).

Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah jadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al An’aam: 125).

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang dikendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak laggi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS.An-Nisa:125)

Dari kedua ayat ini, jelaslah bahwa dada Rasulullah sangat lapang dalam menerima wahyu, apalagi beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ditimpa kecemasan dan ketakutan. Dan beliau juga sangat mengetahui pengalaman spiritualnya ini karena beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ada orang lain yang lebih mengetahui dari beliau.

Tuntutan Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib A.S terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hakikat yang tidak boleh dinafikan kerana ia dicatat di dalam buku-buku muktabar Ahl al-Sunnah dan Syi`ah.

Tuntutan Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib A.S terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hakikat yang tidak boleh dinafikan kerana ia dicatat di dalam buku-buku muktabar Ahl al-Sunnah dan Syi`ah.

Tuntutan tersebut lebih terserlah di dalam bentuk munasyadah (soal jawab) di mana beliau mengemukakan beberapa soalan kepada Khalifah Abu Bakr berdasarkan kepada hadis-hadis Rasulullah s.`a.w mengenai hak dan kelebihan dirinya, di mana orang yang ditanya harus menjawab soalan-soalan tersebut.

Bagi Amir al-Mukminin `Ali A.S, tuntutan beliau terhadap jawatan khalifah selepas Rasulullah s.`a.w adalah satu hak yang wajib dituntut. Kerana Rasulullah s.`a.w telah melantik beliau dan sebelas anak cucunya daripada Fatimah A.S sebagai Imam/Khalifah. Bagi `Ali, perlantikan beliau adalah daripada Allah S.W.T.melalui rasulNya. Justeru itu orang ramai harus mentaatinya dansebelas para imam selepas beliau satu persatu. Apatah lagi khutbah/hadis Rasulullah s.`a.w di Ghadir Khum pada 18 Dhu l-Hijjah tahun 10 hijrah menjadi asas yang penting di dalam tuntutan beliau terhadap jawatan khalifah secara langsung selepasRasulullah s.`a.w.

Terjemahan Teks Dialog

Di sini akan diperturunkan dialog Amir al-Mukminin `Ali A.S yang dikemukakan kepada Khalifah Abu Bakr mengenai Imamah/Khilafah. Di dalam pembentangan ini, penulis mengemukakan terjemahan teks tersebut menurut catatan al-`Allamah al-Tabarsi di dalam al-Ihtijaj(1),. Kemudian penulis membuat rujukan kepada buku-buku Ahl al-Sunnah kita sebagai pengukuhan kepada kesahihan hadis-hadis tersebut.

Daripada Ja`far, Imam Ja`far al-Sadiq adalah imam keenam Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w.Ja`far b. Muhammad, Imam Muhammad al-Baqir b. `Ali Zain al-Abidin b. Husain b.Ali adalah imam kelima Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w.daripada bapanya, daripada datuknya A.S. Beliau berkata: Apabila selesai urusan Abu Bakr dan bai`ah orang ramai kepadanya serta perbuatan mereka terhadap `Ali, Abu Bakr masih mengharapkan bai`ah daripada `Ali, tetapi beliu A.S telah menunjukkan sikap negatif terhadapnya. Abu Bakr menganggapnya sebagai serius lalu beliau ingin berjumpa dengannya dan meminta maaf daripadanya di atas bai`ah orang ramai kepadanya sedangkangkan dia (Abu Bakr) sendiri tidak begitu berhasrat untuk memegang jawatan khalifah kerana kezuhudannya.Dia mengadakan pertemuan empat mata dengan `Ali A.S.

Dia berkata: Wahai Abu l-Hasan! Demi Allah perkara ini bukanlah aku benar-benar mencintainya kerana aku tidak mempunyai keyakinan kepada diriku sendiri terhadap keperluan umat ini. Aku tidak mempunyai harta yang banyak dan keluarga yang ramai. Oleh itu kenapa anda menyembunyikan kepadaku apa yang aku tidak berhak daripada anda. Anda melahirkan kebencian terhadapku(2).

Amir al-Mukminin berkata:

1. Apakah yang mendorong anda untuk memegang jawatan khalifah sekiranya anda benar-benar tidak menghendakinya dan anda pula kurang yakin kepada diri anda sendiri untuk mengendalikannya?

Abu Bakr berkata: Sebuah hadis yang aku mendengarnya daripada Rasulullah s.`a.w bermaksud “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan”. Apabila aku melihat ijmak mereka terhadapku, maka akupun mengikuti sabda Nabi s.`a.w tersebut(3).

Dan aku tidak terfikir ijmak mereka menyalahi petunjuk. Lantaran itu aku memberi jawapan yang positif. Dan sekiranya aku mengetahui mahupun seorang yang tidak bersetuju di atas perlantikanku nescaya aku menolaknya.

2. `Ali berkata: Adapun sabda Nabi s.`a.w yang anda menyebutkannya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan”, adakah aku daripada umat ataupun tidak?

Abu Bakr menjawab: Tentu sekali anda daripada umat.

3. `Ali berkata: Adakah golongan menentang anda yang terdiri daripada Salman, `Ammar, Abu Dhar, al-Miqdad, Ibn `Ubbad dan orang-orang Ansar yang lain bersamanya termasuk di dalam umat?

Abu Bakr menjawab: Semuanya termasuk di dalam umat.

4. `Ali berkata: Bagaimana anda berhujah dengan hadis tersebut sedangkan orang seperti mereka telah membelakangi anda? Sedangkan umat tidak mencela mereka dan persahabatan mereka dengan Rasulullah adalah baik!

Abu Bakr menjawab: Aku tidak mengetahui penentangan mereka melainkan selepas berlaku pemilihan khalifah. Aku khuatir sekiranya aku meninggalkan “perkara” tersebut orang ramai akan menjadi murtad dari agama mereka. Lantaran itu perlakuan mereka terhadapku – sekiranya aku menyahuti seruan mereka – lebih senang bagikumememberi pertolongan di dalam agama dan mengekalkannya dari permusuhan di kalangan mereka. Justeru itu mereka kembali menjadi kafir. Aku menyedari bahawa anda bukanlah orang yang dapat mengekalkan keadaan mereka dan agama mereka.

5. `Ali berkata: Ya! Tetapi beritahukan kepadaku tentang orang yang berhak jawatan khalifah dan dengan apakah dia berhak?

Abu Bakr menjawab: Dengan nasihat, kesetiaan, perlakuan yang baik, melahirkan keadilan, alim dengan kitab dan sunnah, percakapan yangtinggi, zuhud di dalam soal keduniaan, tidak terlalu cintakan dunia, menyelamatkan orang yang tertindas dari ditindas,sama ada jauh dan dekat. Kemudian dia (Abu Bakr) diam.

6. `Ali berkata: Orang yang terawal memeluk Islam dan kerabat?

Abu Bakr menjawab: Ya!

7. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah wahai Abu Bakr, adakah sifat-sifat tersebut terdapat pada diri anda atau pada diriku?

Abu Bakr menjawab: Malah pada diri anda wahai Abu l-Hassan(4).

8. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah menyahuti dakwah Rasulullah (s.`a.w) dari kaum lelaki atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(5).

9. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku yang mengistiharkan Surah al-Bara’ah di musim haji akbar di hadapan kaum muslimin atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(6).

10. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, aku telah mempertahankan Rasulullah s.`a.w. dengan diriku di hari al-Ghadiratau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(7).

11. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku maula kepada anda dan semua muslimin melalui hadis Nabi (s.`a.w.) di hari al-Ghadir atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(8).

12. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah ayat al-Wilayah (al-Maidah5:55) daripada Allah bersama Rasul-Nya mengenai zakat dengan sebentuk cincin untuk aku atau anda?

Abu Bakr menjawab: Untuk anda(9).

13. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah al-Wazarah (wazir) untukku bersama Rasulullah (s.`a.w.) umpama Harun bersama Musa atau untuk anda?

Abu Bakr menjawab: Untuk anda(10).

14. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah Rasulullah (s.`a.w.) mempertaruhkan dengan aku, isteriku dan ana- anak lelakiku apabila bermubahalah dengan Musyrikin atau dengan isteri anda dan anak-anak lelaki anda?

Abu Bakr menjawab: Dengan kalian(11).

15. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah ayat al-Tathir (Surah al-Ahzab 33: 33) untukku, isteriku dan anak-anak lelakiku atau untuk anda, isteri anda dan anak-anak lelaki anda?

Abu Bakr menjawab: Anda dan anak isteri anda(12).

16. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku, isteriku dan anak-anak lelakiku yang didoakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di hari al-Kisa’ “Wahai Tuhanku mereka itulah keluargaku kepada Mu dan bukan kepada neraka” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda, isteri anda dan anak-anak lelakianda(13).

17. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang dimaksudkan dengan ayat “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana” (Surah al-Insan76:7) atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(14).

18. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dikembalikan matahari untuk waktu solat lalu ditunaikan solatnya kemudian ia terbenam atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(15).

19. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah melegakan Rasulullah (s.`a.w.) dan kaum Muslimin dengan pembunuhan `Amru b. `Abd Wuddin atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(16).

20. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diamanahkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dalam perutusannya kepada jin lalu anda menyahutinya atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(17).

21. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang disucikan oleh Allah dari perzinaan semenjak Adam sehinggalah kepada bapanya dengan sabda Rasulullah (s.`a.w.) “Aku dan anda (`Ali) dari nikah yang sah dan bukan dari perzinaan semenjak Adam hinggalah `Abdu l-Muttalib” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(18).

22. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah dipilih oleh Rasulullah dan mengahwinkan aku dengan anak perempuannya Fatimah (`a.s) dan bersabda: “Allah telah mengahwinkan anda dengan Fatimah di langit” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(19).

23. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku bapa Hasan dan Husain manakala beliau bersabda: “Kedua-duanya pemuda Ahli Syurga dan bapa mereka berdua adalah lebih baik daripada mereka berdua” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(20).

24. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah saudara anda yang dihiasi dengan dua sayap terbang di syurga bersama para malaikat atau saudaraku?

Abu Bakr menjawab: Saudara anda(21).

25. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah menjamin hutang Rasulullah (s.`a.w.) dan mengadakan perisytiharan di musim haji dengan melaksanakan janjinya atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(22).

26. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah, adakah aku orang yang didoakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dalam keadaan burung di sisinya, di mana beliau ingin memakannya. Beliau bersabda: “Wahai Tuhanku! bawa datanglah kepadaku orang yang paling Engkau cintai selepasku bagi memakan (daging) burung itu bersamaku “. Maka tidak seorangpun datang selain daripadaku atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(23).

27. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah akukah orang yang telah diberi mandat oleh Rasulullah (s.`a.w.) supaya memerangi al-Nakithin, al-Qasitin, al-Mariqin menurut takwil al-Qur’an atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(24).

28. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) dengan kehakiman dan kefasihan di dalam percakapan dengan sabdanya: “`Ali adalah orang yang paling alim di dalam ilmu penghakiman” atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(25).

29. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku di mana Rasulullah (s.`a.w.) memerintahkan para sahabatnya supaya memberi salam kepadanya untuk menjadi ketua pada masa hidupnya atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(26).

30. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah aku yang menyaksi percakapan Rasulullah (s.`a.w.) yang terakhir, menguruskan “mandi” dan mengkafannya atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(27).

31. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda kerabat Rasulullah (s.`a.w.) atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(28).

32. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dikurniakan oleh Allah dengan dinar ketika dia memerlukannya dan Jibra’il menjualkannya kepada anda dan anda menjadikan Muhammad sebagai tetamu lalu anda memberi makan anaknya atau aku?

Abu Bakr menangis dan berkata: Anda(29).

33. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diletakkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) di atas bahunya bagi menolak dan memecahkan berhala-berhala di atas ka`bah sehingga jika aku kehendaki nescaya aku dapat menyentuhi ketinggianlangit atau anda?

Abu Bakr menjawab: Anda(30).

34. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang disabdakan oleh Rasulullah (s.`a.w.) “Andalah pemilik bendera di dunia dan di akhirat” atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(31).

35. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang diperintahkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) supaya membuka pintu di masjidnya ketika beliau memerintahkan supaya ditutup semua pintu keluarganya dan para sahabatnya dan membenarkan pintu anda dibuka atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(32).

36. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda telah mengeluarkan sadqah apabila anda mengadakan perbicaraan khusus dengan Rasul dikala itu Allah mengkritik satu golongan”Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) kerana kamu memberi sadqah sebelum pembicaraan dengan Rasul?” (Surah al-Mujadalah 58:13) atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(33).

37. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang dimaksudkan oleh Rasulullah (s.`a.w.) ketika beliau bersabda kepada Fatimah: “Aku nikahkan akan anda kepada orang yang pertama beriman kepada Allah” atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(34).

38. `Ali berkata: Aku menyeru anda dengan nama Allah adakah anda yang telah diberi salam oleh para malaikat tujuh langit di hari al-Qulaib atau aku?

Abu Bakr menjawab: Anda(35).

39. `Ali berkata: Adakah dengan ini dan seumpamanya anda berhak melaksanakan urusan umat Muhammad? Apakah yang membuatkan anda terlanjur jauh dari Allah dan Rasul-Nya sedangkan anda tidak mempunyai sesuatu yang diperlukan oleh penganut agamanya!

Abu Bakr menangis dan berkata: Memang benar apa yang anda perkatakan wahai Abu l-Hassan. Tunggulah aku hingga berlalunya hariku. Aku akan memikirkan tentang jawatanku sebagai khalifah dan aku tidak akan mendengar lagi percakapan sebegini daripada anda(36).

30. `Ali berkata: Itu terserah kepada anda wahai Abu Bakr. Lantas dia kembali dan jiwanya agak tenang di hari itu dan tidak membenar seorangpun berjumpa dengannya sehingga di malam hari.

Ulasan

Di dalam munasyadah di antara Amir al-Mukminin `Ali dan Khalifah Abu Bakr ternyata bahawa Amir al-Mukminin telah mengemukakan beberapa soalan kepada Khalifah Abu Bakr khususnya mengenai Imamah/Khilafah di mana beliau berhujah bahawa jawatan Imamah/Khilafah secara langsung selepas Rasulullah (s.`a.w.) adalah haknya berdasarkan hadis-hadis Rasulullah (s.`a.w.) mengenai perlantikan beliau sebagai imam/khalifah. Ia juga disebut oleh beliau ketika melakukan munasyadah di antara beliau dan Khalifah Abu Bakr di mana Khalifah Abu Bakr kelihatan memperakui hakikat ini dan hampir-hampir menyerah jawatan Khalifah kepada Amir al-Mukminin `Ali b. Abi Talib jika tidak dihalang oleh `Umar.(37)

Persoalan yang timbul, jika perlantikan Rasulullah (s.`a.w.) ke atas `Ali sebagai imam/khalifah selepas beliau itu adalah benar – Ia memang benar berdasarkan hadis-hadis Nabi (s.`a.w.) -kenapa umat mengabaikan tanggungjawab mereka untuk mentaati perlantikan beliau? Atau jika perlantikannya daripada Rasulullah s.`a.w. tidak benar, kenapa `Ali A.S menuntut bukan haknya?

Adakah ini sifat Ahl al-Bait Rasulullah s.`a.w. yang telah disucikan di dalam Surah al-Ahzab 33: 33? Sebenarnya Amir al-Mukminin `Ali telah menerangkan kedudukannya mengenai imamah/khilafah kepada Ibn Qais yang mengemukakan soalan kepadanya. Sulaim b. Qais al-Hilali, meriwayatkan bahawa Ibn Qais bertanya kepada Amir al-Mukminin `Ali A.S: Apakah yang menghalang anda dari menghunus pedang anda untuk menuntut jawatan imamah/khilafah?(38)

Amir al-Mukminin `Ali A.S menjawab: Wahai Ibn Qais! Dengarlah jawapanku: Bukanlah kerana perasaan pengecut dan kebencianku menemui Tuhanku. Aku bukanlah tidak mengetahui bahawa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagiku daripada dunia dan kekal di dalamnya. Tetapi perintah Rasulullah (s.`a.w.) yang telah menghalangku dan janji beliau kepadaku. Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa umat akan belot selepasnya(39).

Meskipun begitu aku tidak begitu yakin terhadap apa yang mereka perlakukan di hadapanku kerana aku lebih menyakini sabda Rasulullah (s.`a.w.) daripada apa yang aku melihatnya sendiri.

Aku berkata: Wahai Rasulullah! Apakah janji anda kepadaku sekiranya ia berlaku sedemikian? Beliau bersabda: Jika anda dapat mencari pembantu-pembantu, maka tentangilah “mereka” dan jika anda tidak dapat pembantu-pembantu, tahanlah tangan anda, peliharalah darah anda sehingga anda mendapati pembantu-pembantu bagi menegakkan agama, kitab Allah dan Sunnahku(40).

Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa sesungguhnya umat aka menghinaku, membai`ah dan mengikut orang lain selain daripadaku. Rasulullah (s.`a.w.) telah memberitahuku bahawa kedudukanku di sisinya sepertilah kedudukan Harun di sisi Musa dan umat selepasnya seperti kedudukan Harun serta orang yang mengikutnya(41) , dan kedudukan al-`Ajl (anak lembu jantan) serta orang yang mengikutnya kerana Musa berkata kepadanya: “Wahai Harun, apa yang menghalang kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku? Harun menjawab: Wahai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khuatir bahawa kamu akan berkata (kepadaku): Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara ummatku” (SurahTaha 20: 92-94).

Apa yang dimaksudkan oleh Allah adalah sesungguhnya Musa telah memerintahkan Harun ketika beliau melantiknya ke atas mereka jika mereka sesat dan beliau (Harun) dapat pembantu-pembantunnya, hendaklah beliau menentang mereka dan sekiranya beliau tidak dapat pembantu-pembantu, hendaklah beliau menahan tangannya dan memelihara darahnya dan janganlah beliau melakukan perpecahan di kalangan mereka(42). Dan sesungguhnya aku takut saudaraku Rasulullah (s.`a.w.) akan berkata kepadaku kenapa anda memecahbelahkan mereka dan tidak memelihara ummatku? Sedangkan aku telah menjanjikan anda sesungguhnya jika anda tidak ada pembantu-pembantu, hendaklah anda menahan tangan anda, memelihara darah anda, darah keluarga anda dan Syi`ah anda(43).

Amir al-Mukminin `Ali berkata lagi: Apabila Rasulullah (s.`a.w.) wafat, orang ramai cenderung kepada Abu Bakr lantas mereka memberi bai`ah kepadanya. Sedangkan aku sibuk memandi dan mengkafan jenazah Rasulullah (s.`a.w.). Kemudian aku menghabiskan masaku dengan mengumpulkan al-Qur’an sehingga aku mengumpulkannya di dalam satu kain. Kemudian aku, Fatimah dan di tangan-nya Hassan dan Husain, menyeru kesemua orang-orang yang terlibat di dalam peperangan Badar dan orang-orang terdahulu memeluk Islam yang terdiri daripada orang-orang Muhajirin dan Ansar, semuanya aku telah mengemukakan hujah-hujahku dengan nama Allah S.W.T.mengenai hakku dan aku telah menyeru mereka supaya membantuku. Tetapi semua mereka tidak menyahut seruanku selain daripada empat orang; al-Zubair, Salman, Abu Dhar dan al-Miqdad(44).

Kemudian `Ali meneruskan kata-katanya: Wahai Ibn Qais, sesungguhnya mereka telah memaksaku dan menekanku hampir mereka membunuhku. Jika mereka berkata kepadaku: Kami semata-mata mahu membunuh anda, nescaya aku akan menghalang pembunuhan mereka terhadapku sekalipun aku seorang. Tetapi mereka berkata: Sekiranya anda memberi bai`ah (kepada Abu Bakr) nescaya kami akan melepaskan anda, memuliakan anda, mendampingi anda, menghormati anda. Dan sekiranya anda tidak melakukannya, nescaya kami membunuh anda. Apabila aku tidak dapati seorangpun yang akan membantuku, maka akupun memberi bai`ah kepada mereka. Tetapi bai`ahku terhadap mereka bukanlah membenarkan kebatilan mereka dan tidaklah mewajibkan kebenaran untuk mereka.

Kemudian `Ali berkata lagi: Sekiranya aku dapati di hari Abu Bakr dibai`ah empat puluh orang lelaki yang taat, nescaya aku menentang mereka(45).

Beliau begitu menyesali sikap orang-orang Ansar dan Muhajirin yang tidak membantunya. Beliau mengatakan bahawa mereka telah mencintai Abu Bakr dan `Umar secara membuta tuli. Beliau berkata: Hairan sekali! Hati umat ini telah dimabukkan oleh cinta kepada mereka berdua dan mencintai orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah.

Sekiranya umat ini berdiri di atas kakinya ke tanah dan meletakkan debu di atas kepala mereka bermunajat kepada Allah, serta menyeru di hari kiamat ke atas orang-orang yang telah menyesat dan menghalang mereka dari jalan Allah; menyeru mereka ke neraka, membentangkan mereka kepada kemurkaan Allah dan mewajibkan azab-Nya ke atas mereka kerana jenayah yang “mereka”lakukan ke atas mereka, nescaya mereka tergolong juga dari orang-orang yang cuai (muqassirin) kerana pengkaji yang benar dan alim dengan Allah dan Rasul-Nya merasa takut jika ia mengubah sesuatu sunnah dan bid`ah mereka berdua, orang ramai (umat) akan memusuhinya.

Apabila dia melakukannya, mereka akan menyulitkan (kehidupan)nya, menentangnya, membersihkan diri daripadanya, menghinanya, merampas haknya. Dan sekiranya ia mengambil sunnah mereka berdua, memperkuinya, memujinya dan menjadikannya agama, nescaya umat mencintainya, memuliakannya dan melebih-lebihkannya.(46)

Demi Allah sekiranya aku menerangkannya kepada askar-askarku segala kebenaran yang diturunkan oleh Allah ke atas Nabi-Nya, dan aku mendedah pentafsirannya menurut apa yang aku dengar dari Nabi Allah `a.s, nescaya sedikit sahaja askar-askarku tinggal bersama ku kerana mereka takut mendengarnya(47).

Sekiranya janji Rasulullah (s.`a.w.) tidak ada denganku, nescaya aku melakukannya (menyerang mereka dengan pedang). Tetapi Rasulullah (s.`a.w.) bersabda kepadaku: “Wahai saudaraku! Apabila seorang hamba itu terpaksa melakukan sesuatu, maka Allah menghalalkannya untuknya dan mengharuskannya untuknya”. Dan aku mendengar beliau bersabda: “Taqiyyah adalah dari agama Allah, tidak ada agama (al-Din) bagi orang yang tidak melakukan taqiyyah untuknya”(48).

Walaupun begitu `Ali percaya bahawa orang lain selain Ahl al-Bait a.s tidak layak memegang jawatan Imamah. Kerana ia telah dipilih oleh Allah S.W.T. Sulaim b. Qais al-Hilali menulis: `Ali berkata: Demi orang yang telah memuliakan kami Ahl al-Bait dengan “kenabian”. Dia telah menjadikan di kalangan kami Muhammad. Dia memuliakan kami selepasnya di mana Dia menjadikan pada kami para imam bagi mukminin, orang lain selain daripada kami tidak boleh mencapainya. Imamah dan Khilafah tidak layak melainkan pada kami(49).

Kesimpulan

Amir al-Mukminin `Ali b. Abu Talib yakin bahawa imamah/khilafah adalah haknya dan hak sebelas anak cucunya daripada Fatimah a.s berdasarkan kepada hadis al-Ghadir dan lain-lain. Oleh itu bai`ah beliau terhadap Abu Bakr selepas kewafatan Fatimah al-Zahra adalah secara terpaksa, tanpa pembantu-pembantu. Jika tidak beliau akan menghadapi musibat sebagaimana dihadapi oleh Nabi Harun a.s. Justeru itu janji Rasulullah (s.`a.w.) dengan beliau dipeliharanya demi perpaduan umat Islam sejagat.

Nota Kaki:

1 Al-Ihtijaj, I,hlm.115-129.

2 Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-Mas`udi, Muruj al-Dhahab, II, hlm. 302; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 127.

3 Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, I, hlm. 9.

4 Ibn Hajr al-`Asqalani, Lisan al-Mizan, VI, hlm. 78; al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 7;Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, VII, hlm. 356.

5 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 91-92.

6 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 156; al-Turmudhi, Sahih,

II, hlm. 461; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 51; Ibn Hajr

al-`Asqalani, al-Isabah, II, hlm. 509; al-Muttaqi al-Hindi,

Kanz al-`Ummal, I, hlm. 246.

7 Al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 53-54.

8 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, IV, hlm. 370; al-Wahidi, Asbab al- Nuzul, hlm. 150; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 120; al-Khatib

Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 290; al-Syablanji, Nur al-Absar,

hlm. 75; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 32.

9 Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 293; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 417; al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, I, hlm. 422; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, I, hlm. 4

10 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 175; al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 117; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm 116; al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 301; al-Nasa’i, al-Khasa’is,

hlm. 78; Abu Daud, al-Musnad, I, hlm. 28; al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 83.

11 al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, I, hlm. 482; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 20; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, I,hlm. 185; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 38; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 47; al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm.101.

12 Al-Tabari, Jami` al-Bayan, XXII, hlm. 502; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, V, hlm. 198; Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 259; al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 251.

13 Ibid.

14 Al-Wahidi, Asbab al-Nuzul, hlm. 331; Fakhr al-Din al-Razi, Mafatih al-Ghaib, VIII, hlm. 392; Ibn Hajr al-`Asqalani, al-Isabah, VIII, hlm. 168; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, V, hlm. 530; al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 102.

15 Ibn Hajr, Lisan al-Mizan, V, hlm. 76; Ibn Kathir,

al-Bidayah wa al-Nihayah, VI, hlm. 80; al-Tahawi, Musykil al-Athar, II,

hlm. 8; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 137.

16 Lihat umpamanya, al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 277.

17 Ibid., hlm. 230-231.

18 Ibid., hlm. 379; al-Haithami, Majma` al-Zawa’id, IX, hlm. 168.

19 Ibn Hajr al-Makki, al-Sawa`iq al-Muhriqah, hlm. 84-85; Muhibb al-Tabari, Dhakha`ir al-Uqba, hlm. 29; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 298-299.

20 Al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 204; al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 166.

21 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 519.

22 Ahmad b. Hanbal, al-Musnad,I, hlm. 3; al-Dhahabi, Mizan al-I`tidal, I, hlm. 306; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, III, hlm. 209.

23 Al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 299; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 130; Abu Nu`aim al-Asfahani, Hilyah al-Auliya’, VI, hlm. 339; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, IV, hlm. 30; al-Dhahabi, Muruj al-Dhahab, II, hlm. 49.

24 Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 154; Ibn Hajr,Tahdhib al-Tahdhib, III, hlm. 178; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Tahdhib, hlm. 167-168.

25 Al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 112.

26 Ibn Hajr, al-Isabah, III, hlm. 20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-`Ummal, VI, hlm. 155; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 128

27 Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 60-63.

28 Al-Khawarizmi, al-Manaqib, hlm. 90; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 76.

29 Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, V, hlm. 530; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 348-349.

30 Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 5.

31 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 81.

32 Al-Nasa’i, al-Khasa’is, hlm. 17; al-Hakim, al-Mustadrak, III,hlm. 125; al-Turmudhi, Sahih, II, hlm. 301; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 201.

33 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 100.

34 Muhibb al-Din al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba, hlm. 29; Ibn Hajr, al-Sawa`iq al-Muhriqah, hlm. 85; al-Kanji al-Syafi`i, Kifayah al-Talib, hlm. 298.

35 Lihat umpamanya, al-Khatib, Tarikh Baghdad, IV, hlm. 403.

36 Lihat umpamanya, Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 127-128.

37 Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19; al-Ya`qubi, Tarikh al-Ya`qubi, II, hlm. 127.

38 Kitab Sulaim , hlm.127

39 Lihat umpamanya, al-Bukhari, Sahih, IV, hlm. 94-99.

40 Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim , hlm 128.

41 Muslim, Sahih, II, hlm. 236

42 Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim, hal. 127.

43 Ibid., hlm. 127.

44 Ibid.

45 Ibid , hlm. 129.

46 Ibid, hlm.151.

47 Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi` al-Mawaddah, hlm. 403.

48 Sulaim b. Qais al-Hilali, Kitab Sulaim , hlm.151.

49 Ibid,hlm.120.

Ayatullah Misbah Yazdi dalam pertemuannya dengan jama’ah Pasdaran mengatakan manusia diciptakan Allah swt dilengkapi dengan keinginan dan kehendak untuk memilih jalan kebahagiaan, “Keistimewaan manusia sebagai khalifatullah di muka bumi, adalah dilengkapi oleh kemampuan untuk memilih jalan kesempurnaan atau sebaliknya memilih jalan yang membuat dia jatuh dari kemanusiaannya.”

 

Pengajar Hauzah Ilmiyah Qom ini lebih lanjut berkata, “Adalah sebuah kemestian jika ingin mencapai puncak kesempurnaan sebagai manusia, seseorang harus mengenal jalan yang benar yang akan ia tempuh terlebih dahulu. Sebab yang bisa mencapai kebahagiaan sejati, dengan menyempurnanya ia sebagai manusia hanyalah bagi mereka yang mengenal jalan yang benar dan berjalan di atasnya. Karenanya, dalam proses penciptaannya, manusia dilengkapi oleh Allah swt sarana untuk dapat mengenal jalan yang benar itu. Selain fitrah dan akal, Allah swt juga dengan kebijaksanaan dan kasih sayang-Nya mengutus para Nabi dan Aimmah as yang kemudian ditugaskan oleh Allah swt untuk memberi petunjuk, peringatan dan penunjuk jalan yang benar kepada umat manusia, agar tidak menyimpang dalam perjalanannya. Agar dapat memilih dan menetapkan jalan yang benar diantara banyaknya jalan yang sesat dan menyimpang.”

“Sebagian dari mereka yang mengaku pengikut para Aimmah Maksum as, banyak yang tidak setia, ada yang bahkan menjadi musuh dan memerangi mereka. Dan sebagiannya lagi, tidak memberikan ketaatan kepada imamnya. Namun bagaimanapun mereka, para maksumin adalah tetap hujjah Allah swt di muka bumi.” Tegas beliau.

Selanjutnya, Ayatulllah Misbah Yazdi mengaitkan kewajiban para mukallifin di zaman tidak adanya kemungkinan untuk berhubungan langsung dengan Imam, “Jangankan di masa kegaiban, di masa dimana umat bisa berinteraksi langsung dengan imam maksum, banyak dari kalangan umat manusia yang tidak memanfaatkannya. Karenanya, Imam Maksum senantiasa menunjuk seseorang untuk menjadi wakilnya, yang kemudian perintah tersebut dalam budaya kita disebut sebagai Wilayatul Faqih.”

“Sejarah juga menyebutkan, sejak awal permulaan Islam sampai sekarang, dengan ketiadaan akses langsung dengan Maksumin, terlebih lagi pada zaman kegaiban, para fukaha dan ulama sangat memberikan peran besar dalam memberikan petunjuk dan pengajaran kepada ummat. Tanpa peran dan kehadiran mereka, bisa dipastikan tidak ada yang tersisa dari Islam ini, kalaupun Islam tetap ada, ia akan menjadi sebuah agama yang menyimpang jauh dari awal ketetapannya.”

“Allah swt telah memberikan kemampuan yang besar kepada manusia, hatta meskipun Al-Qur’an yang diturunkan Allah swt sebagai kitab petunjuk, oleh kemampuan olah pikir manusia, Al-Qur’an justru mampu dimanfaatkan untuk menyesatkan manusia dan jauh dari Tuhan. Sebagaimana dilakukan oleh mereka yang murtad dari agama ini, mereka menggunakan Al-Qur’an untuk menyesatkan manusia. Karenanya, umat Islam harus bersungguh-sungguh, berupaya keras mengenal dengan baik agama ini, mempelajarinya dari ulama-ulama yang Rabbani, sehingga mampu membedakan mana yang jalan benar dan mana yang jalan yang sesat, sehingga mampu memilih dan menetapkan jalan mana yang  mesti ditempuh.”

Untuk lebih memudahkan memahami maksudnya, Ayatullah Misbah Yazdi mengangkat kisah Bani Israil yang disesatkan oleh Samiri, “Apa yang terjadi pada Bani Israil yang diabadikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an adalah pelajaran bagi umat Islam. Sebagaimana Samiri yang dikenal oleh Bani Israil sebagai orang yang berilmu dan abid, namun justru menyesatkan ummatnya dan mengalihkannya dari ajaran tauhid yang diajarkan oleh Nabi Musa as. Ini disebabkan karena ketidak taatan Bani Israil terhadap perintah Nabi Musa as yang telah menetapkan Nabi Harun as sebagai wakil dan penggantinya selama kepergian Nabi Musa as. Alhamdulillah umat Syiah mengambil dengan baik pelajaran pada kisah Samiri tersebut, khususnya pada masa awal-awal meninggalnya Rasulullah saww, jika banyak dikalangan umat Islam saat itu yang melupakan pesan Nabi yang telah disampaikannya 70 hari sebelum wafatnya di Ghadir Khum, umat Syiah tetap setia terhadap pesan tersebut dengan menjadikan Ali bin Abi Thalib as sebagai imam yang harus ditaati.”

“Sejarah juga menyebutkan banyak kaum muslimin yang ahli shalat, ahli puasa, membaca al-Qur’an dan infaq namun itu tidak membuat mereka taat kepada Imam, bahkan dengan dingin mereka membunuh cucu Nabi dan membantai keluarganya tanpa perasaan bersalah. Kita harus mengambil pelajaran dari semua peristiwa tersebut. Sebab ini bisa saja terjadi pada diri kita, telah merasa saleh dengan semua amal-amal ibadah namun pada hakekatnya menyimpang jauh dari pesan Islam sesungguhnya untuk taat kepada Imam Zaman afs.”

Lebih lanjut Ayatullah Misbah Yazdi memesankan, “Sebagai langkah awal untuk mencapai hidayah adalah penggunaan akal sehat. Setelah itu merujuk kepada Al-Qur’an dan perkataan para Maksumin as melalui perantaraan mereka yang ahli ilmu dan khusus menghabiskan waktunya untuk menekuni masalah-masalah syar’i seperti para ulama dan fukaha. Kita tidak dapat mempelajari dan memahami agama dengan baik melalui perantaraan mereka yang juga tidak mengenal agama ini dengan baik. Kita harus mempelajarinya dari mereka yang memang telah menghabiskan waktunya dengan serius menekuni ilmu-ilmu agama, yang telah mengikhlaskan dirinya di jalan agama ini, bukan dari mereka yang telah murtad dari agama atau dari mereka yang memang sejak awal punya niat buruk terhadap agama ini.”

“Ulama dan fukaha adalah pewaris Nabi, pewaris Al-Qur’an dan para Maksumin as. Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu perbuatan atas perintah selain Allah swt niscaya akan terjebak pada kesesatan dan kesyirikan.”

Dipenghujung ceramahnya, Ayatullah Misbah Yazdi berkata, “Jika kita telah mengetahui kebenaran, kita harus tetap setia terhadap kebenaran tersebut. Jika kita telah melakukan penelitian dan terbukti bahwa Wilayatul Faqih adalah kebenaran, maka kita harus tegar berdiri dengan setia membelanya. Dan harus kita tahu, menentang Wilayatul Faqih sama halnya menentang Aimmah as, dan menurut riwayat sama halnya dengan mensyirikkan Tuhan.”