Pendidikan Anak dalam Pandangan Syi’ah

 

Pendidikan Anak dalam Pandangan Syi’ah

Dalam kehidupan rumah tangga, salah satu masalah terpenting yang harus diperhatikan secara seksama oleh kedua orangtua adalah masalah pendidikan dan pengajaran ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Ayah dan ibu harus membentuk kepribadian dan watak anak-anaknya yang baik dan soleh dan juga menghormatinya. Salah satu bentuk bantuan yang bisa diberikan orangtua untuk mendorong anak-anak mereka menjadi anak-anak yang baik adalah, dengan mempersiapkan lingkungan yang sehat dan mendukung, dimana orangtua menyediakan lahan untuk anak-anak mereka sehingga bisa berkembang mencapai kesempurnaannya.

 

Haruslah disadari bahwa setiap perilaku dan perkataan kedua orangtua, sekecil apapun itu dapat berpengaruh terhadap anak-anak, dan sekarang ini telah terbukti bahwa seluruh ucapan dan tindakan setiap manusia -kepada bayi sekalipun- dapat berpengaruh bahkan pada segala unsur fisik yang berkenaan dengannya.

 

Kedudukan anak

 

Rasulullah Saw dalam menjelaskan kedudukan anak-anak umatnya di dalam lubuk penciptaan bersabda, “Setiap cermin bayi umatku lebih aku cintai ketimbang apa yang dipancarkan matahari kepada mereka”.

 

Di dalam dari setiap manusia tersembunyi benih-benih kebahagiaan, yang jika dipupuk dan dipelihara dengan benar, masing-masing dari mereka akan menjadi pohon kebaikan yang nantinya akan memiliki gerak yang sesuai bagi kesempurnaan manusia. Salah satu dari benih-benih itu adalah memiliki anak yang saleh. Rasulullah Saw bersabda, “Salah satu kebahagiaan manusia adalah memiliki sahabat-sahabat yang saleh dan anak yang baik”.

 

Tidak sedikit hadis-hadis dan riwayat yang senada dengan ini, riwayat-riwayat yang memusatkan perhatiannya kepada lingkungan keluarga, yaitu lingkungan keluarga yang dipenuhi oleh nilai-nilai suci Ilahi dan maknawi. Surga ditumbuhi bunga-bunga yang semerbak harumnya, dan anak yang soleh adalah salah satu dari bunga-bunga itu, ia adalah bunga yang mekar di dalam lingkungan serupa surga yang diciptakan oleh ayah dan ibunya.

 

Anak -terlepas dari adat istiadat dan kebiasaan yang diserapnya dari masyarakat- adalah cerminan dari budaya, moral, keimanan dan nilai-nilai yang dianut dan terpatri di dalam wujud kedua orangtua dan keluarga. Hal tersebut dikarenakan ayah dan ibu lah yang menumbuhkan benih-benih kesempurnaan wujudnya pada wujud anak-anak mereka. Anak-anak tidak akan tumbuh seperti yang kita inginkan, akan tetapi mereka tumbuh seperti adanya kita sekarang.Sehubungan dengan hal ini Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt menganugerahkan anak kepada manusia dalam kondisi fitrah yang suci, jiwa yang sehat dan berbahagia, dan kedua orangtualah yang menjadikannya celaka dan tersesat layaknya diri mereka sendiri”.

 

Rasulullah Saw memerintahkan kedua orangtua untuk berusaha mendidik anak-anak mereka dan bersabda, “Hormatilah anak-anak kalian dan hiasilah mereka dengan etika yang baik”.

 

Salah satu bentuk penting penghormatan kepada anak-anak dan pendidikan mereka adalah anjuran dan dorongan kepada mereka untuk melakukan shalat dan menjalin hubungan dengan Tuhan. Bentuk yang lain dari etika penting dalam mendidik anak adalah memilih nama yang baik bagi mereka. Nama-nama yang dipakai oleh anggota-anggota keluarga menunjukkan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga tersebut, bahkan kita dapat memahami semangat dan kecenderungan yang dimiliki oleh bangsa-bangsa dari nama-nama yang mereka gunakan. Betapa banyak anak-anak yang dikarenakan kesalahan dari orangtua mereka dalam memilih nama dan pendidikan etika yang tidak benar mengalami krisis kepribadian di tengah masyarakat. Nama yang digunakan manusia memiliki peran yang menentukan dalam pendidikan dan garis hidupnya. Rasulullah Saw kepada Ali bin Abi Thalib as bersabda, “Wahai Ali! Hak seorang ayah adalah memberikan nama yang baik kepada anaknya, mendidiknya dengan baik dan menempatkannya pada posisi yang layak di tengah masyarakat.”

 

Pendidikan sebelum pengajaran

 

Tujuan terpenting agama suci Islam adalah pendidikan dan perbaikan individu-individu masyarakat manusia sehingga masyarakat manusia menjadi bersih dari kotoran-kotoran dan pencemaran-pencemaran ruh dan jiwa. Jelas, bahwa tanpa pendidikan dan perbaikan, pengajaran ilmu pengetahuan dan hikmah kepada manusia bukan saja tidak akan menciptakan sebuah masyarakat ideal (madinah fadhilah), tetapi justru akan menjadi perusak masyarakat itu sendiri. Berkenaan dengan hal ini Imam Khomeini berkata:

 

“Yang menjadi ancaman bagi dunia bukanlah senjata-senjata, bayonet, roket-roket atau yang sejenisnya.Apa yang sedang menjerumuskan planet ini ke jurang dekadensi adalah penyimpangan akhlak.Jika tidak ada penyimpangan-penyimpangan akhlak, tidak ada satupun dari senjata-senjata ini yang membahayakan manusia. Apa yang sedang menarik manusia dan negara-negara ke jurang kehancuran dan dekadensi adalah kemerosotan-kemerosotan yang ada pada para pemimpin negara-negara yang sedang berkuasa atas pemerintahan-pemerintahan ini, mereka sedang menciptakan kemerosotan akhlak, mereka sedang menggiring seluruh umat manusia ke arah jurang kemerosotan dan dekadensi.”

 

Rasulullah Saw dengan meletakkan program penyucian, perbaikan dan pendidikan manusia dalam agenda kerjanya, dalam waktu yang tidak lama dan dengan tidak dimilikinya fasilitas-fasilitas pendidikan dan pengajaran seperti yang kita miliki di zaman ini, mampu menyumbangkan pribadi-pribadi teladan seperti Ali as dan Fathimah kepada masyarakat manusia.Sehubungan dengan ini Ali as berkata:

 

“Sesungguhnya kalian tahu kedudukan dan posisiku di sisi Rasulullah Saw.Aku dibesarkan beliau di pangkuannya, dan meletakkan aku di dada mulianya sehingga tercium olehku bau harum tubuhnya, beliau menyuapi aku makanan dan beliau tidak pernah sekalipun mendapati aku berbohong dalam perkataan, dan salah dalam perbuatan.

 

Aku selalu bersama Rasulullah Saw layaknya anak di sisi ibunya, setiap hari beliau menancapkan panji-panji kemuliaan akhlak di dalam wujudku dan memerintahkan aku supaya mengikutinya.”

 

Dengan menghabiskan anggaran yang luar biasa besar untuk sistem pendidikan, masyarakat manusia sampai saat ini masih belum mampu menyumbangkan kepada dunia, pribadi-pribadi seperti Imam Ali as dan para maksum (manusia suci) lain yang terdidik di sekolah Rasulullah Saw yang menjamin kesempurnaan jiwa manusia.

 

Akan tetapi jangan dibayangkan bahwa tercapainya kesempurnaan bagi selain manusia maksum adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena setiap manusia sesuai dengan kadar usaha dan kerja kerasnya dengan cara mengais sedikit demi sedikit ilmu dari sumber yang menjamin kesempurnaannya, dapat mencapai kesempurnaan yang sesuai dengan diri dan usahanya secara baik. Tidak diragukan bahwa orang-orang besar adalah orang-orang yang dididik di dalam keluarga-keluarga yang di sana tercium bau harum tarbiah Rasulullah Saw, tarbiah yang menjamin bagi tercapainya kesempurnaan manusia.

 

Kasih sayang kepada anak-anak

 

Selama masa hidupnya, anak-anak kita harus merasakan rasa kasih sayang semaksimal mungkin, karena Raulullah Saw dengan teladan dan tindakannya serta dengan petunjuk-petunjuknya yang terang memerintahkan umat beliau untuk melakukannya:

 

Rasulullah Saw di pagi hari mengelus kepala anak-anaknya dengan tangannya yang mulia. Dinukil dalam sebuah riwayat, “Suatu hari Rasulullah Saw dengan cepat menyelesaikan shalat jamaahnya dan orang-orang yang hadir pada waktu itu bertanya alasannya.Beliau bersabda,”Apakah kamu tidak mendengar suara tangis anak kecil?” Betapa Nabi Muhammad Saw dengan kedudukannya yang tinggi menghadapi setiap masalah dengan ketelitian.

 

Dan dalam riwayat yang lain disebutkan, “Allah Swt akan mencatat setiap ciuman ayah dan ibu terhadap anaknya sebagai kebaikan dan barangsiapa yang menggembirakan anaknya Allah Swt kelak di Hari Kiamat akan memakaikan untuknya baju yang karena cahaya baju itu, muka-muka penduduk surga akan bersinar.”

 

Di antara perkara penting yang patut diperhatikan dalam dalam menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada anak-anak, ialah menepati janji yang diberikan oleh kedua orangtua kepada anak-anaknya. Rasulullah Saw berkenaan dengan hal ini bersabda, “Cintailah anak-anak, berkasih sayanglah dengan mereka dan setiap kali kalian berjanji kepada mereka, tepatilah janji kalian itu.Karena anak-anak beranggapan bahwa mereka menerima rezeki dari tangan kalian”.

 

Masalah lain yang menyulitkan bagi keluarga adalah tidak sejalannya orangtua dalam berprilaku terhadap anak-anak dan kurangnya perhatian kepada tuntutan seusia mereka, Rasulullah Saw bersabda, “barangsiapa yang memiliki anak, berperilakulah kepadanya layaknya seorang anak”.

 

Anak-anak yang bermasyarakat

 

Dalam agama Islam sebagai madrasah yang menjamin kesempurnaan manusia, cara hidup seperti biarawan (menyendiri) dan anti sosial dilarang untuk dilakukan. Rasulullah Saw bersabda, “Manusia adalah makhluk sosial dan agama suci Islam menekankan dan mendorong manusia untuk bermasyarakat.”

 

Salah satu tugas terpenting orangtua dan juga lembaga kebudayaan dan pendidikan adalah meletakkan pondasi akhlak dan pendidikan Islam terhadap masyarakat dalam berperilaku dengan sesama. Menurut Islam titik awal interaksi ini tidak lain adalah mengangkat dan menebar nilai-nilai perdamaian dan kerukunan, dan ini terlihat dari perilaku saling mengucapkan salam kepada sesama. Guna membangun pondasi nilai-nilai agung ini dalam tubuh masyarakat, Rasulullah Saw bersabda, “Selama aku masih hidup aku tidak akan meninggalkan untuk selalu memberikan salam kepada anak-anak sehingga itu menjadi karakter dalam masyarakat dalam bentuk sunah (tradisi)”.

 

Jika kita lihat perkara ini dari sudut pandang yang lain, kita akan saksikan bahwa Rasulullah Saw dengan amal perbuatannya sedang mengajarkan kepada umat manusia dan mengatakan kepada mereka, “Wahai sekalian manusia! Wahai masyarakat manusia! Jika kalian ingin memiliki sebuah masyarakat yang dipenuhi dengan kedamaian, keselamatan dan kerukunan, mulailah dari diri kalian sendiri, hiasilah diri kalian dengan akhlak yang indah dan amalkan semua perkataan kalian sehingga anak-anak kalian akan terdidik dengan baik.”

Untuk apa setan diciptakan ? Ulama Syiah Menjawab

 

Ulama Syiah Menjawab:
Untuk apa setan diciptakan?
Setan sejak awal penciptaannya memiliki kekudusan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya. Setan dengan ikhtiar penuhnya jatuh, menyimpang dan memilih sendiri untuk celaka. Oleh karena itu, Tuhan tidak menciptakan iblis sebagai setan. Ia sendiri yang menghendaki dirinya menjadi setan. Namun, tindakan setaninya itu tidak sekedar mencelakakan para hamba Tuhan, tetapi Juga merupakan tangga kesempurnaan mereka. 

.

 Untuk apa setan diciptakan?Banyak yang bertanya bahwa sekiranya manusia diciptakan untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan melalui Jalan penyembahan (ibadah), keberadaan setan sebagai makhluk pembinasa adalah oposisi kesempurnaan. Apakah alasannya sehingga setan mesti ada? Ia adalah makhluk yang licik, penuh dendam, makar, penuh tipu-daya, dan beracun!

Apabila kita sedikit merenung, kita akan ketahui bahwa kehadiran musuh ini adalah untuk mendukung pencapaian manusia ke tingkat kesempurnaan. Kita tak perlu pergi jauh. Kekuatan resistensi dalam menghadapi musuh-musuh senantiasa ada pada jiwa manusia dan la dapat mengantarkannya ke jalan kesempurnaan.

Para komandan dan prajurit-prajurit tangguh dan terlatih adalah orang-orang yang berjibaku dengan musuh-musuh berat pada pertempuran-pertempuran besar.

Para politikus yang berpengalaman dan berpengaruh adalah mereka yang bertarung dengan musuh-musuh yang kuat dalam dunia politik yang kritis dan pelik.

Para juara besar gulat adalah pegulat-pegulat yang berjajal dengan rival-rival tangguh dan berat.

Oleh karena itu, tidak perlu takjub bila kita menyaksikan para hamba Tuhan setiap hari semakin kuat dan gairah dalam bertempur secara berkesinambungan dengan setan.

Dewasa ini para ilmuwan berkomentar tentang filsafat adanya mikroba-mikroba penggangu, “Sekiranya mikroba-mikroba tidak ada, maka sel-sel badan manusia pada suatu keadaan akan lemah dan kebas (karena kedinginan), dan kemungkinan tingginya postur manusia tidak akan melewati 80 sentimeter; semuanya dalam bentuk manusia-manusia cebol. Dengan demikian, manusia hari ini memperoleh kekuatan dan tinggi tubuh yang lebih karena mereka selalu dalam kontraksi dengan mikroba-mikroba pengganggu itu.

Demikian juga ruh manusia dalam berkonfrontasi dengan setan dan hawa nafsu.

Namun, hal ini tidak berarti bahwa setan memiliki tugas untuk menyelewengkan para hamba Tuhan. Setan sejak awal penciptaannya memiliki kekudusan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya. Setan dengan ikhtiar penuhnya jatuh, menyimpang dan memilih sendiri untuk celaka. Oleh karena itu, Tuhan tidak menciptakan iblis sebagai setan. Ia sendiri yang menghendaki dirinya menjadi setan. Namun, tindakan setaninya itu tidak sekedar mencelakakan para hamba Tuhan, tetapi Juga merupakan tangga kesempurnaan mereka. (perhatikan baik-baik)

Kendati demikian, pertanyaan yang tersisa adalah mengapa Tuhan mengabulkan permohonannya untuk tetap hidup? Mengapa Tuhan tidak melenyapkannya sejak dahulu?

Jawaban pertanyaan ini sama dengan jawaban yang telah kami sebutkan di atas. Dengan ungkapan lain, alam semesta adalah arena ujian dan cobaan. (Ujian ini adalah wasilah pembinaan dari penyempurnaan manusia). Dan kita ketahui, ujian hanya berarti bila berhadapan dengan musuh-musuh besar, krisis-krisis kehidupan yang datang menekan.

Tentu saja, sekiranya setan tidak ada, hawa nafsu dan sifat was-was manusia akan ditempatkan menjadi medan ujian baginya . Namun, dengan kehadiran setan, tanur ujian ini semakin membara, lantaran setan adalah pelaku eksoteris (lahir), sementara hawa nafsu adalah pelaku esoteris (batin).

Jawaban atas Sebuah Pertanyaan

Satu pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana mungkin Tuhan membiarkan kita sendiri berkonfrontasi dengan musuh tanpa welas asih dan kuat ini?

Jawaban pertanyaan ini dapat diperoleh dengan menaruh perhatian terhadap satu poin, yaitu -sebagaimana yang telah disebutkan dalam AI-Qur’an- bahwa Allah swt. mempersenjatai mukminin dengan para malaikat sebagai lasykar mereka untuk membangun dunia bersama kekuatan-kekuatan gaib dan maknawi yang mereka miliki dalam rangka memerangi diri sendiri (jihad an-nafs) dan bertempur melawan musuh.

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah ‘: kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan], Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; gembirakanlah mereka dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat …’” (QS. Fushshilat [33]: 30-31)

Poin penting lainnya adalah setan sekali-kali tidak akan masuk ke relung hati kita. Dan ia tidak akan dibiarkan melewati batas negara ruh tanpa memegang pasport. Serangannya tidak pernah membuat manusia lalai. Ia masuk ke dalam kediaman hati kita dengan ijin kita. Ya! Ia masuk melalui pintu, tidak melalui celah-celah rumah hati kita. Dan kitalah yang membuka pintu baginya untuk masuk. Demikianlah di dalam Al-Qur’an ditegaskan, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya [setan] hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. “ (QS. An-Nahl [16]: 99-100)

Secara asasi, perbuatan-perbuatan manusialah yang menyebakan lapangan bagi setan untuk melakukan infiltrasi. Sebagamana disinggung dalam Al-Qur’an, ”Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 27)

Namun di atas segalanya, untuk meraih keselamatan dari Jerat-Jerat setan dan prajuritnya dalam bentuk yang beraneka ragam, seperti syahwat, pusat-pusat kerusakan, politik-politik busuk, sekte-sekte yang menyimpang, budaya-budaya rusak dan merusak, jalan untuk selamat hanyalah berlindung kepada iman dan takwa, serta sinar kasih Tuhan Yang Mahakasih dan menyerahkan diri kepada Dzat Yang Mahakudus. AI-Qur’an berfirman, “…kalau tidaklah karena rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja [di antaramu].” (QS. An-Nisa [4]: 83)[1]

[1] Tafsir-e Payam-e Qur’an, jilid 1, hal. 423.

Diambil dari buku Menjawab 110 Isu Akidah, cet. Majma Jahani Ahlulbait, terj. Ust. A Kamil.
 

perempuan Syi’ah mempunyai peran penting

Iran:
Iran Selenggarakan Konferensi Internasional Perempuan Pertama
Tehran saat ini menjadi tamu para aktivis perempuan dari 80 negara dunia. Sekitar 70 persen dari mereka dari kalangan ahlus sunnah, sedangkan 30 persennya dari Syiah. 

 Iran Selenggarakan Konferensi Internasional Perempuan Pertama.

Republik Islam Iran untuk kesekian kalinya mengadakan konferensi tingkat Internasional bertemakan kebangkitan Islam yang kali ini mendatangkan lebih dari 1400 aktivis perempuan dari sekitar 85 negara. Berikut catatan Purkon Hidayat yang dirilis situs berita IRIB Indonesia mengenai konferensi tersebut:

Konferensi Internasional “Perempuan dan Kebangkitan Islam” digelar selama dua hari yang dihadiri lebih dari 1400 orang aktivis perempuan yang bergerak di bidang akademis, sosial, budaya dan politik dari berbagai negara dunia. Perhelatan akbar yang berlangsung sejak Selasa (10/7) ini menjadi bagian dari rangkaian acara Dewan Internasional Kebangkitan Islam yang dimulai sejak September tahun lalu.

Konferensi Internasional Kebangkitan Islam digelar di Tehran pada tanggal 17-18 September 2011. Adapun Konferensi Pemuda dan Kebangkitan Islam dilaksanakan pada tanggal 29-30 Januari 2012 dengan menghadirkan lebih dari 1.000 pemuda dan aktivis dari seluruh dunia. Pada kedua pertemuan itu, ratusan cendekiawan, pemikir, sosiolog, sejarawan, dan pemuda revolusioner dari berbagai negara dunia, terutama dunia Islam secara antusias mendiskusikan berbagai isu yang berhubungan dengan Kebangkitan Islam.

Sekretariat Dewan Internasional Kebangkitan Islam hingga kini berhasil menggelar tiga konferensi yaitu “Kebangkitan Islam”, “Pemuda dan Kebangkitan Islam”, serta “Penyair dan Kebangkitan Islam”. Ketiga konferensi itu mendapat perhatian besar dari aktivis, pemikir dan pengambil keputusan di berbagai bidang di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Terkait urgensi kebangkitan Islam Penasehat Ayatullah Sayid Ali Khamanei Bidang Internasional, Doktor Ali Akbar Velayati mengatakan, “Pada dasarnya, Kebangkitan Islam merupakan sebuah kesadaran luas dan mendalam yang berusaha membebaskan bangsa-bangsa Muslim dari perbudakan pikiran, politik, dan ekonomi. Gerakan itu berusaha mewujudkan kemajuan dan persatuan di tengah umat Islam.”

Penyelenggaran Konferensi internasional Perempuan dan Kebangkitan Islam digelar mengingat urgensi peran perempuan dalam transformasi kawasan. Isu perempuan dan kebangkitan Islam menarik untuk dikaji dari berbagai dimensi. Dan dalam konferensi kali ini diwujudkan melalui berbagai komisi terkait.

Kebangkitan Islam di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dalam 18 bulan terakhir berhasil menumbangkan empat rezim despotik di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. Transformasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan yang tidak kecil. Di sisi lain, tranformasi tersebut juga menentukan masa depan perempuan ke depan.

Menengok perjalanan jejak kedudukan perempuan dalam revolusi Iran, Revolusi Islam telah membuyarkan semua asumsi keliru tentang perempuan. Tidak bisa dipungkiri, perempuan Iran berada di garda depan dalam revolusi Islam. Revolusi ini jelas tidak mungkin terjadi tanpa kontribusi kaum perempuan Iran. Tanpa kehadiran perempuan, revolusi akan kehilangan separuh kekuatan revolusionernya.
Kaum perempuan Iran juga merupakan kekuatan budaya yang sangat berpengaruh dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Terkait hal ini, Bapak Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini ra berkata, “Seandainya kaum perempuan tidak berpartisipasi dalam kebangkitan ini, revolusi Islam tidak akan berjaya.”

Kebangkitan Islam dan revolusi di bawah komando Imam Khomeini ra menempatkan kaum perempuan dalam poros aktivitas politik dan menyerahkan bendera revolusi kepada kaum perempuan tanpa sedikitpun mengusik ketentuan hijab, wibawa Islami, iffah dan kualitas ketakwaan mereka. Siapapun tidak pernah memberikan hak sedemikian besar kepada kaum perempuan Iran dan muslimah.

Berkat revolusi Islam, kaum perempuan Iran di tempatkan pada posisi idealnya. Mereka dapat berkecimpung di dunia sains dan akademik tanpa mengurangi sedikitpun kualitas keagamaan, iffah, ketakwaan, kepribadian dan martabatnya sebagai muslimah. Mereka juga tidak mendapat hambatan apapun di ranah ilmu keagamaan. Mereka sekarang bisa berkiprah di gelanggang politik, sosial, jihad, layanan publik dan lain sebagainya sambil tetap mempertahankan hijab dan wibawanya sebagai muslimah sejati. Kini, gerakan-gerakan Kebangkitan Islam telah memisahkan nasib mereka dari para penguasa tiran yang menjadi boneka AS dan bergerak di jalan kemerdekaan dan kebebasan dengan partisipasi kaum perempuan.

Islam memberikan perhatian khusus mengenai kedudukan perempuan. Agama ilahi ini mempertimbangkan berbagai faktor mulai dari struktur fisik, emosi dan naluri, hukum dan aspek perempuan lainnya. Meski perempuan pada dasarnya memiliki fisik yang lemah dan lembut, namun ia memiliki perasaan dan naluri yang kuat, yang diciptakan oleh Allah swt guna mengemban tugas pendidikan dan pengajaran masyarakat untuk menghantarkan umat manusia kepada kesempurnaan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa Islam sangat memuliakan perempuan. Rahbar mengatakan, “Dalam pandangan Islam, sebagai manusia, tidak ada sedikitpun perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an, perempuan dan laki-laki sama dalam melangkah ke puncak ketinggian dan kedekatan kepada Allah.”

Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menilai krisis wanita dewasa ini merupakan salah satu problema paling krusial bagi setiap peradaban, masyarakat dan negara. Rahbar menyebut perspektif Barat terhadap perempuan sebagai pandangan yang menyimpang, kesesatan yang nyata, penghinaan terbesar, dan penistaan terhadap kehormatan perempuan. Pernyataan itu disampaikan Rahbar Rabu malam (5/1) dalam seminar pemikiran strategis ketiga dengan tema ‘Perempuan dan Keluarga’.

Beliau mengatakan, “Tidak seperti yang dibayangkan, tindakan yang dilakukan orang-orang feminis ternyata justru merugikan kaum perempuan. Sebab, dengan melecehkan perempuan mereka menjadikannya sebagai alat pemuas nafsu. Dan sayangnya, opini umum di Barat memandang masalah ini sebagai fenomena yang lumrah dan bisa terima.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa musuh menjadikan masalah perempuan sebagai salah satu sasaran serangan politik dan propaganda terhadap pemerintahan Islam di Iran. Karena itu masalah perempuan harus mendapat perhatian penuh. Ditegaskannya, “Dengan melakukan pencerahan kepada opini umum masyarakat dunia, kita jangan memberi kesempatan kepada Barat untuk mewujudkan target para pembuat keputusan dan penyusun agendanya dalam menyerang dasar-dasar ajaran Islam dalam masalah perempuan.”

Tehran saat ini menjadi tamu para aktivis perempuan dari 80 negara dunia. Sekitar 70 persen dari mereka dari kalangan ahlus sunnah, sedangkan 30 persennya dari Syiah. Sebelum mengikuti seminar, mereka diajak menikmati perjalanan ke Isfahan, Qom dan Mashhad dengan tujuan mengetahui dari dekat kemajuan Iran dewasa ini terutama aktivitas Iran di bidang sosial, budaya dan politik serta olahraga.

Pada konferensi internasional dan kebangkitan Islam kali ini lebih dari 400 paper dikaji dalam enam komisi yang terdiri dari komisi “Pemikiran Islam, Potensi Perempuan dan Sikap Revolusioner”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Peluang dan Ancaman”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Capaian dan Harapan”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Interaksi dan Hubungan”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Keluarga dan Potensi Revolusi”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Perspektif dan Masa Depan.” Sambutan kaum perempuan muslim terhadap Kebangkitan Islam mendorong terwujudnya masa depan perempuan Muslim yang lebih cerah.

.

Iran:
Presiden Iran Tekankan Peran Penting Perempuan
Dalam sambutannya membuka Konferensi internasional “Perempuan dan Kebangkitan Islam”, Presiden Iran Ahmadi Nejad menyatakan, ” Jika perempuan bangkit, maka seluruh masyarakat bangkit.” 

 Presiden Iran Tekankan Peran Penting Perempuan.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di depan lebih dari seribu Muslimah dari 85 negara, termasuk dari Indonesia, mengatakan perempuan mempunyai peran penting dan sangat berpengaruh khususnya untuk pembangunan sosial.

“Jika perempuan bangkit, maka seluruh masyarakat bangkit,” kata Ahmadinejad pada pidato pembukaan Konferensi Internasional Tentang Perempuan dan Kebangkitan Islam, di Teheran, Iran, Selasa (10/7).

Presiden Iran memuji perempuan sebagai manifestasi kebesaran dan kesempurnaan Tuhan seperti yang terlihat dari sifat-sifat kasih sayang perempuan.

Semua pria yang berhasil berutang budi pada ibu mereka yang telah membesarkan mereka dengan kasih sayang, ujarnya.
Ahmadinejad percaya bahwa semua perubahan memerlukan peran perempuan, seperti telah terbukti di Iran dan belahan lain di dunia, antara lain Mesir dan Tunisia.

Ia pun menyerukan reformasi atau perubahan di seluruh dunia menuju ke arah yang lebih baik

.
Islam dan Al Quran bersifat universal yang bertujuan untuk menyelamatkan seluruh manusia di dunia, agar dapat hidup bermartabat dan mulia.
Umat manusia perlu bangkit dari kehinaan, tekanan, tirani serta kemiskinan agar bisa merasakan manisnya hidup bermartabat

.
Turut hadir di konferensi internasional tersebut delegasi Indonesia yang beranggotakan 15 perempuan yang mewakili perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat seperti MER-C, atas undangan Pemerintah Iran

.

 

Ketua Komite Olimpiade London 2012:
Jilbab Bukan Halangan Perempuan untuk Berolahraga
“Saya sepakat dengan keputusan FIFA yang menetapkan bolehnya atlit perempuan mengenakan jilbab. Karena jilbab bukan halangan bagi perempuan untuk bisa terlibat dalam olahraga.” 

 Jilbab Bukan Halangan Perempuan untuk Berolahraga.

Jacques Rogge ketua Komite Olimpiade Internasional London 2012 ketika dimintai tanggapannya mengenai pengenaan jilbab oleh atlit muslimah di ajang Olimpiade khususnya di cabang sepak bola menyatakan, “Saya sepakat dengan keputusan FIFA yang menetapkan bolehnya atlit perempuan mengenakan jilbab. Karena jilbab bukan halangan bagi perempuan untuk bisa terlibat dalam olahraga.”

“Keputusan FIFA untuk mencabut pelarangan penggunaan jilbab adalah bukti ketidak berpihakan organisasi tersebut pada agama atau budaya tertentu.” Lanjutnya.

Ketika ditanya mengenai adanya ancaman teror oleh kelompok-kelompok yang disinyalir bakal melakukan kekacauan pada saat olimpiade berlangsung, ketua komite Olimpade tersebut menyatakan, “Keamanan berlangsungnya pesta olahraga ini adalah fokus utama kami. Dan kami telah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mencegah terjadinya kemungkinan buruk. Kami yakin semua pihak akan turut menjaga dan menghendaki suksesnya acara ini, karena ini milik kita semua.”

Sementara itu sebagaimana dirilis Press TV, Perancis mengatakan tidak akan mengizinkan pemain perempuan untuk mengenakan jilbab, meskipun Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) baru-baru ini menyetujui hal tersebut.

Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) mengumumkan bahwa mereka harus menghormati prinsip-prinsip konstitusional dan hukum sekularisme yang berlaku di negara ini dan masalah itu ada dalam undang-undang Perancis. Federasi secara eksplisit akan melarang pemain perempuan mengenakan jilbab

.

 

Hasil Nyata Jilbab, Memperkenalkan Kecantikan Sejati Kaum Hawa

Doktor Mohammad Ali Azarshab, anggota Komisi Budaya dan Peradaban Islam di Dewan Tinggi Revolusi Budaya Iran, menyatakan bahwa busana Muslimah adalah proteksi kemuliaan dan martabat hakiki seorang perempuan.

 

Mehr News (10/7) melaporkan, dalam membudayakan jilbab dan busana Muslimah di antara kaum perempuan, langkah awal yang perlu diambil adalah menyelesaikan berbagai masalah berkaitan sebelum menindaklanjuti masalah jilbab itu sendiri.

 

“Pertama kita harus sukseskan dahulu masalah-masalah yang berkaitan dan baru setelah itu kita memasyarakat jilbab. Karena munculnya ketimpangan tidak akan dapat menyukseskan program perluasan jilbab,” katanya.

 

Menurutnya, “Jilbab adalah ungkapan yang kita gunakan. Adapun inti masalah dalam jilbab dan busana islami adalah bahwa seorang perempuan harus berbusana sebagai seorang insan mulia dan bukan sebagai sarana pelampiasan hawa nafsu.”

 

Ditambahkannya, makna busana islami bukan berarti bahwa kecantikan perempuan harus disembunyikan, akan tetapi bahwa kecantikan perempuan dapat tercerminkan pada partisipasinya dalam masyarakat, berbagai aktivitas, kesantunan, kepiawaiannya dalam mengurus rumah tanggah, dan dalam mendidik putra-putrinya. Semuanya dapat dilakukan dengan baik oleh kaum perempuan mengingat Allah Swt telah melimpahkan banyak karunia khusus kepada kaum hawa, yang akan mencerminkan kecantikan sejati mereka.

 

Penasehat Hubungan Internasional Menteri Pendidikan dan Bimbingan Iran ini mengatakan, “Sayang sekali di Barat, perempuan telah menjadi produk hawa nafsu dan oleh karena itu mereka cenderung mengarah pada budaya bertelanjang.”

 

Doktor Azarshab menegaskan, “Jilbab berkaitan dengan sisi transendental dalam Islam. Agama ini adalah kekuatan maha dahsyat yang akan mengantar manusia pada kesempurnaan. Dan Islam memiliki bimbingan yang luar biasa untuk kaum perempuan.”

 

Pengajar Universitas Azad Tehran ini juga mengatakan bahwa dampak dari jilbab adalah memperkenalkan manusia pada kecantikan yang sejati, karena bagaimana pun hawa nafsu akan menjadi penghalang menuju kesempurnaan.

 

Jika jilbab diperkenalkan secara proporsional dalam masyarakat, maka kemuliaan dan martabat hakiki kaum perempuan juga akan terwujud. Tidak hanya itu akan tercipta keseimbangan antara rasionalitas dan seksualitas dalam masyarakat.

 

Dalam prosesnya, menurut Azarshab, kita harus menjelaskan filsafat jilbab dan maknanya yang benar kepada masyarakat. Kemudian, berbagai masalah yang berkaitan termasuk masalah-masalah sosial, budaya, ekonomi, ideologi, politik, dan lain-lain, harus terlebih dahulu diselesaikan sehingga kita dapat menyukseskan perluasan jilbab. Karena jika terjadi ketimpangan, maka upaya-upaya memasyarakatkan juga tidak akan tersandung.

Menuntut Ilmu Sejam Lebih Baik dari Shalat Semalam Suntuk

Ayatullah Shafi Ghulpaghani:
Menuntut Ilmu Sejam Lebih Baik dari Shalat Semalam Suntuk
“Satu jam kalian belajar dengan duduk pada suatu majelis ilmu, lebih Allah sukai dibanding mendirikan shalat sunnah semalam suntuk selama seribu malam, yang setiap malamnya diisi dengan mendirikan seribu raka’at.” 

.

Ayatullah Luthfullah Shafi Ghulpaghani, dalam pertemuannya dihadapan sejumlah santri di kota Masyhad Iran mengaskan bahwa tidak ada perkhidmatan dalam Islam melebihi menyibukkan diri dengan mempelajari agama, sejarah Islam dan menyampaikan ajaran-ajaran al-Qur’an ke masyarakat luas. “Pahala, hasil dan keberkahan yang diperoleh seorang muslim yang duduk dalam majelis ilmu ataupun menuntut ilmu di pondok-pondok pesantren sulit ditakar nilainya.” Ungkapnya.

Ulama tersebut melanjutkan pesannya, “Pada malam Lailatul Qadr, malam yang penuh keberkahan dan keagungan adalah malam yang sangat tepat untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya lewat belajar masalah-masalah keagamaan, tafsir Qur’an dan masalah fiqh.”

.
Beliau menekankan agar para santri mengetahui betapa pentingnya memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin sebagai santri (penuntut ilmu agama),”Kesempatan dan taufiq terbesar telah Allah SWT berikan kepada kalian. Keberadaan kalian dalam madrasah dan kehadiran asatid yang siap mengajar dan mendidik kalian adalah sebuah keberuntungan yang besar.”

“Satu jam kalian belajar dengan duduk pada suatu majelis ilmu, lebih Allah sukai dibanding mendirikan shalat sunnah semalam suntuk selama seribu malam, yang setiap malamnya diisi dengan mendirikan seribu raka’at.” Lanjutnya.

Guru Besar Hauzah Ilmiyah Qom Iran tersebut selanjutnya menegaskan santri dengan mempelajari ilmu agama akan mengetahui perkara halal haram di sisi Allah SWT yang dengan pengetahuan itu ia akan menyampaikannya kepada masyarakat. Beliau berkata, “Petunjuk dari al-Qur’an dan Ahlul Bait as maupun dari Nahjul Balaghah dan riwayat lainnya yang sampai kepada kita, dipenuhi oleh ma’rifat dan ilmu. Barangsiapa yang hendak mengenal Allah dengan baik dan benar maka jalur yang mesti ditempuhnya adalah melalui periwayatan Ahlul Bait as. Tidak satupun yang luput dari pengetahuan para Maksumin as, pertanyaan apapun yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dengan izin Allah mereka tahu jawabannya.”

Ayatullah Shafi Ghulpaghani lebih lanjut menjelaskan keutamaan mereka yang menuntut ilmu Ahlul Bait as, “Barang siapa yang meriwayatkan hadits dari Ahlul Bait yang dengan itu memperkokoh keyakinan umat Syiah maka itu lebih afdhal dari amal seribu orang ahli ibadah.”

Beliau pun mengingatkan, jika sekiranya umat muslim menjalankan dengan baik ajaran agamanya dan menyampaikan ke seantero dunia mengenai pesan akhlak Islam dan Qur’an maka perhatian dunia kepada Islam akan lebih besar. Ulama marja taklid tersebut berkata mengenai hal tersebut, “Nabi Muhammad saww diutus untuk mengajarkan kepada umat manusia mengenai makarim akhlak , karenanya sebagai pengikut nabi Muhammad saww tugas itupun harus kita emban, menyampaikan dan mengajarkan akhlak islam kepada umat manusia sedunia.”

.
Menurutnya hari ini umat manusia jauh dari makarim akhlak. Beliau berkata, “Banyak dari kaum muda Islam yang meniru gaya hidup orang Barat yang justru bertentangan dengan nilai-nilai akhlak Islam. karenanya kepada para santri, cendekiawan, penulis dan intelektual Islam untuk lebih mengutamakan menyampaikan masalah akhlak Islam kepada generasi muda tersebut agar bisa terselamatkan dari pergaulan dan gaya hidup yang menyimpang.”

“Insya Allah kita akan mampu melalui tantangan zaman ini dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Mari berpegang pada petunjuk Al-Qur’an dan Ahlul Bait dan para ulama yang Rabbani, serta menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah dituntunkan agama.” Tutupnya.

Perubahan Budaya dan Tantangan Dunia Muslim

“Manusia bukan lagi tawanan pemikiran yang sudah mapan, setelah mereka mampu mencapai elemen pengembangan ilmu pengetahuan, sosial, budaya dan bahkan politik dan ekonomi, melalui media teknologi informasi dan mekanisme revolusi pengetahuan.”

Bagi pengamat yang memperhatikan secara seksama pergerakan sosial dan budaya dunia secara umum, lalu pada level negara Arab dan Islam pada khususnya, akan mencatat dalam beberapa waktu terakhir, menjelang berakhirnya dekade pertama abad 21, bahwa dekade ini telah membuka pintu bagi sejumlah perubahan yang bisa kita sebutkan beberapa di antaranya sebagai berikut:

- Hilangnya sejumlah ideologi positif (rekaan manusia)

- Meningkatkan prosentase masyarakat yang hidup di atas dasar ilmiah dan teknologi

- Keragaman produksi budaya dan intelektual

- Meningkatkan penyebaran konsep pertukaran budaya dan perdagangan ekonomi antara masyarakat di bawah tuntutan globalisasi

- Memudarnya fenomena ekslusifitas budaya, dalam arti, adanya pengakuan akan hak setiap bangsa untuk memiliki identitas budaya sendiri yang tidak bertentangan dengan kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam perjalanan peradaban manusia secara umum.

Poin-poin ini dan juga yang lainnya telah mendorong beberapa ilmuwan untuk memprediksi semakin dekatnya kelahiran sistem kewarganegaraan kosmik yang setiap harinya dikuatkan oleh revolusi informasi, meleburnya pola pemikiran, kebudayaan dan perilaku, melalui media massa dan teknologi komunikasi elektronik dan satelit-satelit yang sangat cepat berkembang biak.

Meskipun sistem kewarganegaraan kosmik ini belum terwujud, akan tetapi kemampuan untuk mengikuti semua peristiwa yang terjadi di seluruh dunia dan semua hal yang mutakhir, terutama yang berhubungan dengan pola intelektual dan kreasi inovatif yang dihasilkan mercusuar dunia, baik Timur maupun Barat, telah menjadi tanda yang sangat kentara, bahkan di tingkat masyarakat yang paling sederhana dilihat dari segi kontruksi dan kemampuan untuk berkomunikasi..

Ini berarti bahwa ratusan juta manusia mampu mengakses dan mengikuti seluruh peristiwa global – baik buatan manusia atau ciptaan alam – pada saat yang sama dengan terjadinya peristiwa tersebut, terlepas dari tingkat kelemahan budaya dan teknologi yang menaungi kehidupan sosial dan budayanya ..

Fenomena ini mendukung gagasan yang menyatakan bahwa:

1. Manusia bukan lagi tawanan pemikiran yang sudah mapan, setelah mereka mampu mencapai elemen pengembangan ilmu pengetahuan, sosial, budaya dan bahkan politik dan ekonomi, melalui media teknologi informasi dan mekanisme revolusi pengetahuan.

2. Kebudayaan, tidak lagi menjadi model yang kaku, yang tidak bisa menerima pembaharuan atau pengembangan kecuali dari dirinya sendiri. Akan tetapi, telah menjadi sebuah entitas interaktif yang terus berproses untuk memperbarui pola tradisional yang sekian lama telah mengurungnya, karena budaya telah menjadi salah satu pusat pengaturan masyarakat berdasarkan pakem ilmiah dan teknologi, setelah budaya merangkul ilmu pengetahuan, seni dan sastra kedalam rangakaian sistemnya.

3. Budaya khas masyarakat mencakup serangkaian nilai yang ditentukan agama di samping adat dan tradisi di satu sisi, pola perilaku dan khazanah intelektual dalam bentuk warisan masyarakat klasik yang terus dipegang sepanjang sejarah melalui berbagai ruang dan waktu di sisi kedua, serta hubungan semua item tersebut dengan kontribusi ke-khas-an ini untuk membangun peradaban manusia di sisi ketiga.

Dari sini, muncul sebuah tantangan yang mengharuskan semua masyarakat manusia – terutama di dunia Arab dan Muslim – untuk menjaga identitas budayanya dengan segala cara dan terutama menjaga nilai-nilai dan keyakinan yang membedakan muslim dari komunitas lain, nilai-nilai yang mengatur hubungan mereka dengan orang lain dan pola pikir lain yang membentuk perilaku budaya dan menjadi ciri utama masyarakat informasi dalam kurun waktu dekade pertama abad 21.

Tantangan itu adalah:

Pertama, keniscayaan bergulirnya kehidupan masyarakat menuju tingkat dunia dan konsekwensi yang lahir daripadanya, seperti interaksi politik, ekonomi dan terhubungnya masyarakat secara sosial, budaya dan peradaban dibawah naungan globalisasi.

Kedua, keniscayaan memeratakan semua produk di era teknologi komunikasi dan revolusi informasi yang dihasilkan pada semua lapisan masyarakat dan sistem yang menaunginya.

Ketiga, pentingnya menjaga ekslusifitas kehidupan budaya masyarakat dan bekerja untuk merangsang kepatuhan terhadap nilai-nilai, adat dan tradisi yang menentukan visi hidup individu dan masyarakatnya.

Bukanlah sesuatu yang berlebihan ketika kita mengatakan bahwa itu adalah tantangan yang sangat besar dilihat dari berbagai segi!

Karena yang diperlukan dari masyarakat adalah untuk menjaga rangkaian nilai-nilai agama, sosial dan budaya, sebab dalam hal itulah terkandung adat dan tradisi yang menjadi indikator perilaku individu antara tradisi dan modernitas .. sehingga masyarakat tetap berada di jantung modernitas dan bukan di pinggirannya.

Masalah yang harus diperhatikan di sini, keberhasilan mengatasi tantangan meniscayakan adanya keseimbangan yang cermat antara mengambil semua kemajuan ilmiah dan teknologi yang terbaik di satu sisi dan menjaga ekslusifitas budaya masyarakat di sisi lain.

Kami melihat, bahwa keberhasilan ini tidak akan terealisasikan dengan baik kecuali dengan mengambil langkah-langkah berikut:

- Masuk ke dalam dunia informasi dan membagun infrastruktur yang menyediakan arus informasi, kemudian menentukan arah penggunaan informasi secara optimal, dengan mencermati efek samping dari adanya produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi.

- Keyakinan yang tinggi terhadap nilai karya dan pengakuan atas prestasi ilmu pengetahuan.

- Mengembalikan orisinalitas hak asasi manusia dan merealisasikannya berikut semua hal yang berkaitan dengannya, seperti kebebasan berpendapat dan hak berbeda pendapat tanpa ada rasa takut di semua tingkat masyarakat dan pemerintahannya.

- Pengakuan setiap masyarakat bahwa setiap kelompok dan kelas sosial memiliki hak dan kewajiban yang sama, mereka semua sama di hadapan hukum.

- Keberhasilan masyarakat dalam menjalankan dialog peradaban dengan budaya-budaya lain pada tingkat ekualitas, dan fakta bahwa kontribusi budaya masyarakat akan berperan positif dalam pembentukan budaya kemanusiaan.

Keberhasilan ini tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat, karena itu, masyarakat Arab dan sejumlah besar masyarakat Muslim harus meyakini pentingnya program pengembangan kebudayaan yang berkelanjutan dan berupaya untuk menyempurnakan perjalanannya bersama pihak lain dalam koordinasi dan kerja sama dengan mereka, karena budaya dalam arti sebenarnya tidak lagi terbatas pada kreasi seni, literatur dan pemikiran, bahkan kemudian meluas mencakup pola nilai, tradisi dan perilaku individu .. Inilah sebabnya mengapa budaya ada dalam pengembangan ekonomi, sosial dan politik, yang berupaya keras untuk merespon tuntutan masyarakat dan memberikan kontribusi dalam memecahkan masalahnya di satu sisi, serta mempertimbangkan bagaimana mengatasi hambatan di sisi lain

.

Wahai Manusia, Persiapkan Jawabanmu Sekarang!

Kamis, 2012 Juli 12 12:15

 

 

رَویَ اَبُو حَمزِهِ ثَمالی قالَ:

کانَ عَلِیُّ بنُ الحُسَینِ عَلَیهِمَا السَّلامُ یَقُولُ: اِبنَ آدَمُ لایَزالُ بِخَیرٍ ماکانَ لَکَ واعِظٌ مِن نَفسِکَ وَ ماکانَتِ المُحاسِبَةُ مِن هَمِّکَ وَ ماکانَ الخَوفُ لَکَ شِعاراً وَ الحُزنُ لَکَ دِثاراً. اِبنََ آدَمُ! اِنَّکَ مَیِّتُ وَ مَبعُوثٌ وَ مَوقُوفٌ بَینَ یَدَیِ اللهِ عَزَّوَجَلَّ وَ مَسئُولٌ فَاَعِدَّ جَواباً[1]

 

Artinya: Abu Hamzah Tsumali meriwayatkan: Ali bin Husein as berkata: “Wahai anak Adam, kau dalam kebaikan selama kau memiliki pembimbing [dalam diri kalian], selama kau memperhitungkan amal perbuatanmu, dan selama kau tidak berpisah dari ketakutan dan kesedihan, ketakutan menjadi busanamu dan kesedihan menjadi  baju dalammu. Wahai anak Adam, kau akan mati dan dihidupkan kembali dan akan diadili di hadapan Allah Swt, ketika itu kau akan ditanya, maka persiapkanlah jawabanmu sekarang.”

 

Ayatullah Mojtaba Tehrani menjelaskan hadis tersebut dan menyatakan, “Manusia alam kehidupannya selalu mengacu pada kebaikan dan kebajikan, jika beberapa hal penting diperhatikannya. Pertama, peringatan dalam dirinya atas perbuatan-perbuatan buruk. Yakin selama peringatan dan bimbingan atau kesadaran itu belum musnah dalam hati manusia dan masih berpengaruh dalam menuntun amalnya, maka manusia akan bergerak dalam kebaikan. Karena dalam riwayat disebutkan bahwa bimbingan dari luar tidak akan berguna jika kesadaran hati telah hilang. Karena jika kesadaran hati itu hilang, maka sama seperti sedang membentuk besi yang telah dingin.”

 

“Kedua adalah perhitungan terhadap amalnya sendiri. Karena banyak sekali orang yang sama sekali tidak mempedulikan apa saja yang telah dilakukannya. Semua orang harus memperhatikan dan melihat kembali apa saja yang telah dilakukannya. Ketiga, adalah ketika manusia menjadikan rasa takut sebagai busananya dalam beramal, sedih dan khawatir akan azab dan siksa Allah Swt.”

 

“Selama unsur-unsur itu ada dalam diri manusia, maka pastinya manusia akan melangkah menuju kebajikan.”

 

“Itu adalah mukaddimah untuk tahap yang lebih sulit yaitu peringatan. Wahai manusia! Kau akan mati dan akan dibangkitkan pada hari kiamat, dan kau akan ditanya: apa yang telah kau lakukan? Pikirkanlah bahwa besok adalah hari kiamat dan besok kau harus memberikan jawaban. Maka persiapkanlah jawabanmu sekarang!”

Benarkah ِAhlusunnah Lebih Mengandalkan Pendapat Umar Dari Hukum Allah dan Rasul-Nya?

Buat Kaum Salafi Yang Sok Sunnati!

Dengan memonopoli nama Ahlusunnah, mereka berusaha mempropagandakan bahwa merekalah pewaris sejati ajaran Rasulullah saw.! tetapi, benarkah demikian kenyataannya, bahwa ajaran agama mereka (kaum Sunni) itu murni diambil dari Sunnah Nabi saw.? banyak kekhawatiran bahwa yang demikian itu hanya sekedar propaganda yang untuk sementara waktu mampu menawan pikiran sebagian kaum awam. Namun dengan meneliti lebih dalam hakikat ajaran mazhab mereka akan segera dikethui bahwa tidaklah demikian kenyataaannya.

Kenyataan yang tidak dapat disembunyikan adalah bahwa dalam banyak ajarannya, mereka tidak lagi mengindahkan Sunnah Nabi saw. dan ajaran beliau! Yang mereka percayai sebagai sumber agama bukan lagi Nabi Muhammad saw; Rasul utusan Allah untuk umat manusia. Akan tetapi adalah sahabat Umar bin Khaththab yang sedemikian rupa mereka sanjung setinggi langit, sampai-sampai diunggulkan lebih dari Nabi Muhammad saw.! banyak bukti yang menunjukan kenyataan penyimpangan itu. Namun dalam kesempatan ini saya hanya mengajak Anda menyimak satu bukti saja, sambil menanti sikap dan tanggapan para ulama (bukan awam yang hanya berani komentar tanpa dasar ilmu)!

Hukum Shalat Sunnah Berjamaah!

Telah dibincangkan panjang lebar oleh para ulama Ahlusunnah, tantang manakah yang lebih afdhal, apakah dilaksanakan secara sendirian/tanpa berjamaah, atau yang lebih afdhal dilaksakana secara berjamaah!

Dalamkitab Tahdzîb Fi Fiqhi asy Syafi’i[1], Al Baghawi (yang mereka gelari dengan Muhyisunnah/penyegar Sunnah Nabi saw.):

Apakah shalat sunnah dilaksanakan secara berjamaah atau sendirian? Ada dua pendapat:

Pertama: Lebih afdhal dilaksanakan berjamaah. Karena Umar mengumpulkan mereka dipimpin/diimami oleh Ubay bin Ka’ab.[2]

Kedua: Dilaksanakan sendirin itu lebih afdhal. Karena Nabi saw. shalat beberapa malam di masjid kemudian malam berikutnya hinggga akhir bulan beliau tidak keluar rumah. Beliau berkata: “Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian. Karena shalat seorang di rumahnya –selain shalat wajib- itu afdhal/utama.” Dan pendapat pertama itu lebih shahih!

Ustad Husain Ardilla :

Innâ Lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn. Itu artinya bahwa pendapat Umar lebih benar dan lebih sesuai kehendak Allah ketimbang Sunnah Nabi dan ajaran Allah!

Mereka tidak cukup mensejejarkan Umar dengan Nabi saw. tetapi lebih dari itu, mereka lebih mengutamakan Umar di atas Nabi saw.!

Saya tidak akan berkomentar apa-apa lagi tentangnya! Saya hanya akan menyebutkan ucapan Ibnu Abbas ra. (seorang sahabat mulia, yang tentunya juga harus diagungkan oleh Ahlusunnah, khususnya kaum Wahhabi Salafi yang mengaku sebagai pewaris ajaran Salaf Shaleh!) ketika menghadapi kenyataan bahwa di masa beliau telah banyak orang menjadi sesat karena lebih mengutamakan ucapan Umar dari Sunnah dan ajaran Nabi saw.!

Dalam kitab Zâdul Ma’âd diriwayatkan: Urwah berkata menghujat Ibnu Abbas ra., “Tidakkah engkau takut kepada Allah ketika engkau mengizinkan haji tamattu’. Ibnu Abbas ra. menjawab, ‘Tanyakan ibumu hai Urayyah!’[3] Urwah berkata, ‘Tetapi Abu Bakar dan Umar tidak melaksanakannya!’ Ibnu Abbas ra. berkata, ‘Aku sampaikan kepada kalian hadis Nabi saw. kalian sampaikan kepadaku sikap Abu Bakar dan Umar!’[4]

Kata Ibnu Abbas ra. Mereka Yang Lebih Mengutamakan Pendapat Abu Bakar dan Umar atas Sunnah Nabi saw. Pantas Dibinasakan Allah!

Demikian Ibnu Abbas ra. menghardik mereka! Dengarkan riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya: ketika mendengar jawaban Urwah yang lebih mengutamakan pendapat Abu Bakar dan Umar atas Sunnah dan ajaran Rasulullah saw.: Aku yakin mereka pasti akan binasa! Aku berkata, ‘Nabi saw. bersabda… ‘ sedangkan dia (Urwah) berkata, ‘Abu Bakar dan Umar melarangnya![5]

Inilah kenyataan mazhab yang memonopoli nama Ahlusunnah wal Jamâ’ah!

Dan selain contoh di atas, Anda dapat menemukan puluhan atau bahkan ratusan contoh lain, bahwa mereka benar-benar mengenyampingkan Sunnah Nabi saw. dan lebih mengedepankan pendapat para sahabat tertentu, khususnya para sahabat yang disanjung penguasa Bani Uamayyah dan Bani Abbas dengan tujuan politis tertentu!

Semoga kita diselamatkan dari penyimpangan dalam agama. Amîn.


[1] Tahdzîb Fi Fiqhi asy Syafi’i,3/232.

[2] Maksudnya pada bulan Ramadhan, kaum Muslimin dikumpulkan oleh Khalifah Umar untuk melaksanakan shalat sunnah berjamaah di masjid dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab, seperti dalam riwayat Bukhari dll.

[3] Bentuk tashghir dari kata Urwah sebagai sikap meremehkan Ibnu Abbas ra. kepada si Urwah yang sok pinter dan agamis seperti kebanyakan kaum Salafi yang baru melek agama!

[4] Zâdul Ma’âd,1/257 dan al Mathâlib al ‘Âliyah Bi Zawâid al Masânid ats Tsamâniyah; Ibu Hajar,1/1214.

[5] Musnad Imam Ahmad,1/337 hadis no. 3121 dan Zâdul Ma’âd,1/257.

Foto-foto exclusive Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi di Banjarmasin

Foto-foto exclusive  Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi di Banjarmasin :

TENANG dan berwibawa.
.
Begitulah sosok Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi Ketua Islamic Cultural Centre (ICC) Asia Pasifik itu bercerita banyak tentang kultur dan politik dinegaranya, Iran, saat berkunjung kekantor Banjarmasin Post Group, Senin (18/6/2012)
.
.
Sejak mengetuai ICC Asia Pasifik, Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi harus meninggalkan Iran dan telah satu setengah tahun berkantor di Jakarta. Namun, bahasa Indonesia yang dikuasainya masih seputar sapaan umum,contohnya Apa Kabar dan Terimakasih (walaupun beliau sebenarnya bisa bahasa Inggris, Arab dan tentunya Farsi..pen)
.
.
Tak heran, al Habib Prof.DR. Abdullah al Hinduan, M.A harus selalu berada didekat cindekia asal Kota Qum, Iran tersebut sebagai penterjemah.
Selain, al Habib Prof.DR. Abdullah al Hinduan, M.A, beliau Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi datang ke Banjarmasin Post didampingi Ketua LKIK (Lingkar Kajian Islam Kontemporer) Muliadi Saktirajasa, S.Ag
.
.
Mereka baru saja menggelar Dialog Internasional bertema “Mengkaji Kedekatan Cultural Iran dan Indonesia” di Aula PSB (Pusat Sumber Belajar) IAIN Antasari Banjarmasin.
Mereka disambut oleh Yusran Pare, Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post Group, Irhamsyah Safari, Manajer Redaksi B.Post Group dan Asisten Kordinator Liputan, Hary Tri Widodo
.
.
Meski singkat, perbincangan berlangsung hangat. Dengan lugas Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi menilai Indonesia merupakan negara yang memiliki keistimewaan, karena sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar didunia.
Negara ini juga memiliki banyak suku, namun dapat hidup berdampingan. ” Ini Nikmat Besar dari Allah,” ujar beliau sebagaimana diterjemahkan oleh al Habib Prof.DR. Abdullah al Hinduan, M.A
.
.
Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi menambahkan, dibawah kepemimpinan Presiden Mahmoed Ahmaddinejad, Republik Islam Iran masih bisa bertahan dan  maju, meski dibawah tekanan selama 30 tahun lebih dari embargo ekonomi dan tekhnologi
.
.
“Kami punya prinsip seperti  Indonesia, Tidak Mau tunduk terhadap Imprealis/penjajahan. Meski di Embargo Ekonomi dan Tekhnologi, berkat ILLAHI Republik Islam Iran sekarang maju. Beberapa tahun kedepan Republik Islam Iran akan lebih maju dari negara-negara maju lainnya,” tegas beliau.
Terkait tudingan bahwa Indonesia negara yang tidak toleran dalam hal beragama, Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi menyatakan bahwa tudingan PBB itu diabaikan saja. Beliau beralasan, PBB yang semestinya menjaga keamanan dunia, sekarang ini berada dibawah Poltik Imprealis/Penjajahan
.
.
Disinggung tentang penanganan korupsi di Indonesia, Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi mengatakan, seharusnya ajaran ISLAM menjadi doktrin sebagai asas utama. Apa saja yang diajarkan ISLAM di praktekkan dan diamalkan secara tegas
.
.
“Kalau ditanyakan Apakah ada kaitannya dengan keteladanan dari sang pemimpin dan hidup sederhana, mungkin ada benarnya. Yang jelas, ajaran Islam sebagai asas utama kami Republik Islam Iran,” tegas beliau
.
.
Selain itu lanjut beliau, Sebaik apapun manusia, bisa KHILAF. Karena itu di Republik Islam Iran dibangun Sistem Pemerintahan yang tidak lepas dari kontrol. Tiga Kekuatan Negara yaitu Eksekutif,  Legislatif dan Yudikatif tidak lepas dari Pengawasan.
Seperti Presiden dibawah Pengawasan Pemimpin Spritual Tertinggi. Kemudian Pemimpin Spritual Tertinggipun diawasi oleh 70 ULAMA
.
.
“Semua tingkatan dipilih oleh Rakyat. Bagi yang tidak menjalankan Amanah sebagaimana  yang diatur Undang-undang Azasi Republik Islam Iran, akan DITURUNKAN,” beber beliau.
.
.

Sementara tentang Kebebasan Pers, Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi menyatakan TIDAK BENAR jika pemerintah Republik Islam Iran mengontrol ketat media massa
.
Menurut beliau Media yang tidak PROREVOLUSI  juga bisa cetak bebas. Hujatul Islam Morteza Mousavi atau Prof. Dr. Sayyid Murthada Al-Mussawi menyebut Kebebasan Pers di Republik Islam Iran paling BEBAS di dunia
.
” Kalau ada Media Massa yang ditutup, itu bukan berkaitan dengan content/isi pemberitaan, melainkan TERBUKTI dibiayai dan bekerjasama dengan musuh-musuh negara Republik Islam Iran. Soal Kebebasan Pers, Kami paling bebas didunia,” tandas beliau.

.

Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban menurut ISLAM SYI’AH

Filipina:
Perayaan Nisfu Sya’ban di Manila dengan Kehadiran Ulama Iran
Peringatan hari kelahiran Hadhrat Imam Mahdi afs malam Nisfu Sya’ban (4/7) dengan kehadiran Hujjatul Islam wa Muslimin Sayyid Abul Hasan Nawab anggota Majelis Syura Majma Jahani Ahlul Bait telah berlangsung di Filipina dengan diikuti ratusan warga setempat. 
peringatan hari kelahiran Hadhrat Imam Mahdi afs dengan kehadiran Hujjatul Islam wa Muslimin Sayyid Abul Hasan Nawab anggota Majelis Syura Majma Jahani Ahlul Bait telah berlangsung di Filipina dengan diikuti ratusan warga setempat
.

Acara yang terselenggara atas inisiatif Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Islam Manila bekerjasama dengan departemen Kebudayaan Kedutaan Besar Iran untuk Filipina tersebut dimulai dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do’a bersama untuk kemunculan Imam Mahdi afs. Sebelum memasuki acara inti, Husain Diusalar, salah seorang staff kedutaan Iran bagian kebudayaan memberikan sambutan, yang kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh Hujjatul Islam wa Muslimin Sayyid Abul Hasan Nawab

.

Ulama yang juga menjabat sebagai rektor Universitas Adyan dan Mazahib Iran tersebut dalam ceramahnya membahas mengenai falsafah kegaiban Imam Zaman dan apa saja yang mesti dilakukan kaum muslimin di masa penantian tersebut.

.

Pada acara tersebut juga diadakan beberapa pertandingan pembacaan puisi dan syair pujian dan kecintaan terhadap Ahlul Bait. Di akhir acara, diadakan pengumpulan dana untuk disedekahkan kepada warga muslim setempat yang membutuhkan.

Manusia secara naluri mempunyai kecenderungan pada kesempurnaan seperti mencari keadilan, kebenaran dan kebaikan. Dengan adanya kecenderungan tersebut, manusia sepanjang sejarah berusaha merealisasikan kebenaran, keadilan dan nilai-nilai akhlak. Para nabi dan wali merupakan penggagas dan pendahulu misi-misi suci tersebut. Upaya dan perjuangan mereka semenjak awal berupaya memberikan petunjuk kepada manusia ke arah kebaikan dan keadilan hingga dunia ini terlepas dari kezaliman dan arogansi.
.
Meski para nabi berupaya menyebarkan kepercayaan kepada Allah Swt dan keadilan, namun sejarah membuktikan bahwa upaya itu tidak memberikan hasil yang sempurna dan komprehensif. Sebab, ada sejumlah pihak yang menjadi kendala bagi misi para nabi. Karena itulah realiasi keadilan secara merata dan perlawanan terhadap segala kezaliman dan penindasan dihadapkan pada kendala serius dan jauh dari harapan setiap manusia.

.

Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban menurut ISLAM SYI’AH

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Ketika Muhammad Al-Baqir (sa) ditanyai tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban, beliau berkata: ‘malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling utama sesudah malam Al-Qadar; pada malam ini Allah menganugerahkan karunia-Nya dan mengampuni mereka dengan anugerah-Nya, maka bersungguh-sungguhlah kamu dalam mendekatkan diri kepada Allah pada malam ini. Karena malam ini adalah malam Allah bersumpah pada diri-Nya untuk tidak menolak permohonan orang yang memohon selama ia tidak memohon kemaksiatan kepada-Nya, dan Allah menjadikan malam ini malam kami Ahlul bait sebagaimana Dia menjadikan malam Al-Qadar adalah malam Nabi kita. Karena itulah, hendaknya kamu bersungguh-sungguh dalam berdoa dan memuji Allah swt’.”

.
Di antara keagungan dan keberkahan malam Nishfu Sya’ban adalah malam kelahiran Imam Mahdi (aj), yaitu waktu dini hari tahun 255 H. (Mafâtih Al-Jinân, bab 2, pasal 2)
.
Malam Nishfu Sya’ban
Ayah Ali bin Fadhal berkata: Aku pernah bertanya kepada Imam Ali Ar-Ridha (sa) tentang  malam Nishfu Sya’ban, beliau berkata: “Malam Nishfu Sya’ban adalah malam Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka dan mengampuni dosa-dosa.” Aku bertanya lagi: Apakah sebaiknya memperbanyak shalat sunnah di dalamnya lebih dari malam-malan yang lain? Beliau berkata: “Di dalamnya tidak ada sesuatu yang harus menjadi beban, tetapi jika kamu ingin melakukan sesuatu, maka hendaknya melakukan shalat Ja’far Ath-Thayyar (shalat tasbih). Dan Perbanyaklah di dalamnya zikir kepada Allah azza wa jalla, istighfar dan doa. Karena ayahku berkata: ‘Doa di dalamnya mustajabah.” (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 45)
.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Ali bin Abi Thalib (sa) benar-benar mengosongkan dirinya pada empat malam dalam satu tahun: Malam pertama bulan Rajab, malam Idul Adhha, malam Idul Fitri, dan malam nishfu Sya’ban.”
.
Hadis ini bersumber dari Ahmad bin Idris dari Muhammad bin Yahya, dari Abu Ja’far Ahmad bin Abdullah dari ayahnya, dari Wahhab bin Wahhab, dari Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa). (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 46)
.
Shalat sunnah
Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Pada malam ini (malam nishfu Sya’ban) kekasihku Jibril datang kepadaku dan berkata: wahai Muhammad, perintahkan pada umatmu: jika telah datang malam nishfu Sya’ban, hendaknya salah seorang dari mereka melakukan shalat sepuluh rakaat, setiap rakaat membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlash (10 kali).
.
Kemudian sujud sambil membaca:
اللهم لك سجد سوادي و جناني و بياضي يا عظيم كل عظيم اغفر ذنبي العظيم و إنه لا يغفر غيرك يا عظيم
Ya Allah, kepada-Mu sujud jiwa dan ragaku, wahai Yang Maha Agung dari semua yang agung, ampuni dosaku yang besar, karena tidak ada yang dapat mengampuninya selain-Mu wahai Yang Maha Agung.
.
Jika ia telah melakukannya, Allah menghapus tujuh puluh dua ribu keburukannya, mencatat baginya tujuh puluh dua ribu kebaikan, dan menghapus tujuh puluh ribu keburukan kedua orang tuanya.”  (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 65)

.

Doa Rasulullah saw di Malam Nishfu Sya’ban

 .
Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang paling utama sesudah malam Al-Qadar. Di dalamnya Allah swt membagikan rejeki kepada hamba-hamba-Nya, memberikan karunia kepada mereka, dan mengampuni dosa-dosa mereka. Berikut ini di antara doa Rasulullah saw di malam Nishfu Sya’ban:
 .
بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على محمد وآل  محمد
اَللًّهُمَّ اقْسِمْ مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ رِضْوَانَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا يَهُونُ عَلَيْنَا بِهِ مُصِيبَاتُ الدُّنْيَا. اَللًّهُمَّ اَمْتِعْنَا بِاَسْمَاعِنَا وَاَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا ما اَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوارِثَ مِنَّا، واجْعَلْ ثأرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصيبَتَنَا في دينِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيا اَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا، بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
 .
Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad
Allâmmaqsim min khasyyatika mâ yahûlu baynanâ wa bayna ma’shiyatika, wa min thâ’atika mâ tuballighunâ bihi ridhwânaka, wa minal yaqîni mâ yahûnu ‘alaynâ bihi mushîbâtud dun-yâ.
.
Allâhumma amti’nâ biasmâ’inâ wa abshârinâ wa quwwatinâ mâ ahyaytanâ. Waj’alhu wâritsa minnâ. Waj’al tsarina ‘alâ man zhalamanâ, wanshurnâ ‘alâ man ‘âdânâ, wa lâ taj’al mushîbatanâ fî dîninâ, wa lâ taj’alid dun-yâ akbara hamminâ, wa lâ mablagha ‘ilminâ, wa lâ tusallith ‘alaynâ mallâ yarhamunâ, birahmatika yâ Arhamar râhimîn.
.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
 .
Ya Allah, karuniakan kepada kami
rasa takut kepada-Mu, rasa takut yang menghalangi dari maksiat pada-Mu    ketaatan pada-Mu, ketaatan  yang menyampaikan kami pada ridha-Mu
dan keyakinan yang dengannya musibah dunia tidak menghinakan kami
 .
Ya Allah
Karuniakan kepada kami dengan pendengaran kami, pandangan kami dan kekuatan kami, kenikmatan yang Kau izinkan dalam hidup kami.
Jadikan semua itu pewaris dari kami
.
Jadikan tuntutan kami terhadap orang-orang yang menzalimi kami
Bantulah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami
Jangan jadikan bagi kami musibah dalam agama kami
Jangan jadikan dunia sebagai cita-cita utama kami dan menjadi tujuan ilmu kami
Jangan biarkan kami dikuasai oleh orang yang tidak menyayangi kami, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi. (Mafatihul Jinan, bab 2, pasal 2)

.

 Amalan di Malam Nishfu Sya’ban
Pertama: Mandi sunnah, manfaatnya agar dosa-dosa kita diringankan oleh Allah swt.
.
Kedua: Menghidupkan malam ini dengan shalawat, doa dan istighfar.
Ketiga: Ziarah atau membaca doa ziarah kepada Imam Husein cucu Rasulullah saw. Ziarah ini merupakan amalan yang paling utama pada malam Nishfu Sya’ban, dan menjadi penyebab dosa-dosa diampuni
.
Dalam suatu hadis disebutkan:
“Barangsiapa yang ingin berjabatan tangan dengan ruh para Nabi, maka hendaknya berziarah kepada Al-Husein (sa) malam ini. Ziarah yang paling singkat mengucapkan salam kepadanya, yaitu:

اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يا اَبا عَبْدِ اللهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاتُهُ

Assalâmu’alaika yâ Abâ ‘Abdillâh, assalâmu’aika wa rahmatullâhi wa barakâtuh.
Salam atasmu wahai Aba Abdillah, semoga rahmat dan keberkahan Allah tercurahkan padamu
.
Keempat: Membaca shalawat yang dibaca setiap matahari tergelincir
.
Kelima: Membaca doa Kumail
.
Keenam: Membaca zikir berikut, masing-masing (100 kali), agar Allah mengampuni dosa-dosa yang lalu dan memperkenankan hajat-hajat dunia dan akhirat:
Subhânallâh
Alhamdulillâh
Lailâha illallâh
Allâhu Akbar
.
Ketujuh: Melakukan shalat dua rakaat setelah Isya’. Rakaat pertama membaca surat Fatihah dan surat Al-Kafirun (sekali), rakaat kedua membaca Fatihah dan surat Al-Ikhlash (sekali). Kemudian setelah salam membaca zikir berikut masing-masing (33 kali):
Subhânallâh
Alhamdulillâh
Allâhu Akbar
Kemudian membaca doa keempat, lihat di bagian doa-doa di malam Nishfu Sya’ban.
Kemudian sujud sambil membaca zikir berikut:
Yâ Rabbi (20 kali)
Yâ Allâh (7 kali)
Lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâh (7 kali)
Mâ syâa Allâh (10 kali)
Lâ quwwata illâ billâh (10 kali)
Kemudian membaca shalawat kepada Nabi dan keluarganya, lalu sampaikan hajat yang diinginkan, niscaya Allah memenuhinya dengan kemulian dan karunia-Nya..
.
Kedelapan: Membaca doa pada dini hari, doa kelima, lihat di bagian doa-doa pada malam Nishfu Sya’ban.

Penguasa Umayyah Abbbasiyah memvonis Syi’ah “SESAT” karena takut kehadiran para Imam Syi’ah akan mengundang simpati umat

Arab Saudi:
Ulama Syiah Saudi Menjadi Incaran Penangkapan
“Kamu hendak membunuh rakyat, bunuhlah, bantailah. Namun mesti anda tahu, darah syuhada yang tertumpah hanya akan menambah subur semangat perjuangan rakyat untuk menuntut tegaknya keadilan dan kebebasan.”
 Ulama Syiah Saudi Menjadi Incaran Penangkapanmedia setempat Arab Saudi menyebutkan Ayatullah Syaikh Namr Baqir al Namr menjadi incaran pemerintah Saudi untuk ditangkap dan diadili setelah menyampaikan khutbahnya dihadapan masyarakat Syiah Arab Saudi. Lewat ceramahnya tersebut pihak kerajaan menilai ulama Syiah tersebut secara sengaja memprovokasi masyarakat dan menebar kebencian kepada raja Saudi. Syaikh Baqir Al Namr berkata dalam ceramahnya yang ditujukan kepada Raja Saudi
,
“Tidak ada satupun kekuatan yang dapat menghentikan gerakan rakyat yang menuntut kebebasan, keadilan dan penegakan hak-hak kemanusiaan.””Kamu hendak membunuh rakyat, bunuhlah, bantailah. Namun mesti anda tahu, darah syuhada yang tertumpah hanya akan menambah subur semangat perjuangan rakyat untuk menuntut tegaknya keadilan dan kebebasan.” Tegasnya.

Syaikh Baqir al Namr kemudian menegaskan upaya penghentian gerakan rakyat dengan pembunuhan dan penculikan tidak akan menghasilkan apa-apa selain bertambahnya kebencian rakyat terhadap rezim Saudi. “Sampai saat ini, rezim Saudi masih terus berupaya untuk menghentikan gerakan dan aksi rakyat, namun tidak juga mencapai hasil yang mereka inginkan. Saya tidak takut kematian, malah saya mendambakannya. Saya yakin darah saya seperti tumpahnya darah syuhada yang lain. Hanya akan menambah suburnya perjuangan.”

Disebutkan, warga Qutaif Arab Saudi yang mayoritas Syiah sampai saat ini masih terus melakukan aksi-aksi unjuk rasa dan protes terhadap kebijakan Raja Saudi yang disebut tidak adil dan meminggirkan warga Syiah sebagai warga kelas dua. Aksi protes semakin meluas dan massif sejak Saudi memutuskan mengirimkan kekuatan militer untuk membantu kerajaan Bahrain untuk menghentikan aksi rakyat

.
Imam Al Hadi as, Teguh di Atas Kebenaran
Mengenal Imam Ahlul Bait as:
Imam Al Hadi as, Teguh di Atas Kebenaran
Riwayat Singkat Imam Ali Al-Hadi
Nama : Ali.
Gelar : Al-Hadi.
Panggilan : Abul Hasan.
Ayah : Imam Muhammad Al-Jawad.
Ibu : Samanah.
Kelahiran : Madinah, 212 H.
Kesyahidan : 254 H.
Makam : Samara, Irak.
 

 Hari Lahir

Imam Ali Al-Hadi as dilahirkan pada 15 Dzulhijjah 212 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kesepuluh dari silsilah imam Ahlulbait as.

Ayah beliau ialah Imam Muhammad Al-Jawad as, dan ibu beliau berasal dari Maroko bernama Samanah; seorang wanita yang mulia dan bertakwa.

Ketika sang ayah syahid akibat diracun, Imam Al-Hadi as baru berusia 8 tahun. Pada usia yang masih sangat dini itu pula beliau memegang amanat Imamah (kepemimpinan Ilahi atas umat manusia).

Orang-orang memanggil Imam as dengan berbagai julukan, antara lain Al-Murtadha, Al-Hadi, An-Naqi, Al-’Alim, Al-Faqih, Al-Mu’taman, At-Thayyib. Yang paling masyhur di antara semua julukan itu adalah Al-Hadi dan An-Naqi.

Akhlak Luhur Imam

Imam Ali Al-Hadi as senantiasa menjalani kehidupannya dengan zuhud dan ibadah kepada Allah SWT. Di dalam sebuah kamar yang hanya dihiasai oleh selembar tikar kecil, beliau menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya.

Beliau menyambut orang-orang begitu ramah, berbelas kasih kepada orang-orang fakir, dan membantu orang-orang yang membutuhkannya.
Suatu hari, Khalifah Al-Mutawakkil mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar kepada beliau. Beliau membagi-bagikan uang tersebut kepada fakir miskin.

Pada kesempatan lain, Al-Mutawakil jatuh sakit sehingga para dokter pribadi khalifah kebingungan bagaimana mengobatinya. Lalu, ibu Al-mutawakil mengutus menterinya ,Al-Fath bin Khaqan untuk menemui Imam Ali as. Beliau segera memberinya obat yang reaksinya sangat cepat sekali, sehingga para dokter khalifah itu tercengang melihatnya.

Atas kesembuhan putranya, ibu khalifah mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar sebagai hadiah kepada Imam as, dan beliau pun membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Kisah Batu Cincin

Yunus An-Naqasi masuk datang ke rumah Imam Ali Al-Hadi as. Dalam keadaan gemetar ketakutan, ia berkata kepada beliau, “Wahai tuanku, seseorang dari istana telah datang kepadaku dengan membawa sepotong batu Firuz yang sangat berharga sekali. Ia memintaku untuk mengukirnya. Namun, ketika aku sedang melakukannya, batu tersebut terbelah jadi dua, padahal besok siang aku harus mengembalikannya. Bila dia tahu akan hal itu, pasti dia akan marah padaku.”

Imam as menenangkannya dan berkata, “Jangan kuatir! Tidak akan ada keburukan yang akan menimpamu. Bahkan, dengan izin Allah SWT engkau akan mendapatkan kebaikan darinya.”

Pada hari berikutnya, ajudan Khalifah datang dan berkata, “Sungguh aku telah mengubah pandanganku. Kalau sekiranya kamu bisa memotongnya menjadi dua, aku akan menambah upahmu!”

Pengukir tersebut berpura-pura berpikir padahal hatinya sangat bergembira. Kemudian berkata, “Baiklah, akan aku coba pesananmu itu!”

Akhirnya, pengawal Khalifah berterima kasih pada pengukir tersebut. Dari sana, pengukir itu bergegas menemui Imam Ali as untuk menumpahkan rasa terima kasih kepadanya. Dalam keadaan itu, Imam as berkata kepadanya, “Sungguh aku telah berdoa kepada Allah, semoga Dia memperlihatkan kebaikan khalifah kepadamu dan melindungimu dari kejahatannya.”

Al-Mutawakkil

Setelah Khalifah Al-Mu’tashim meninggal, kedudukannya digantikan oleh khalifah Al-Watsiq yang masa pemerintahannya berlangsung selama 5 tahun 6 bulan. Setelah itu, pemerintahan jatuh ke tangan Al-Mutawakkil.

Pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil, kerusakan dan kezaliman telah mewabah di mana-mana. Pengaruh orang-orang Turki dalam kekhalifahan sangat kuat dan luas sekali, sehingga mereka menjadi pengendali jalannya roda pemerintahan dan khalifah Al-Mutawakkil pun menjadi alat permainan mereka.

Saat itu, kebencian Al-Mutawakkil terhadap Ahlulbait Nabi as dan Syi’ahnya begitu besar. Ia memerintahkan agar membuat sungai di atas makam Imam Husain as dan melarang kaum muslimin untuk menziarahi makamnya. Bahkan, ia telah membunuh banyak peziarah, sampai digambarkan dalam sebuah syair:

Demi Allah, bila Bani Umayyah telah melakukan pembunuhan
terhadap putra dan putri Nabinya secara teraniaya,
kini keluarga saudara ayahnya (Bani Abbas) melakukan hal yang sama.
Maka esok lusa demi Allah ia akan menghancurkan kuburnya.
Mereka menyesal bila seandainya saja tidak ikut serta membunuhnya.

Tak segan lagi, Al-Mutawakkil melakukan pengawasan yang ketat terhadap Imam Ali Al-Hadi as di Madinah. Mata-mata khalifah senantiasa mengintai setiap langkah Imam as, lalu melaporkan padanya setiap gerak dan pembicaraanya.

Al-Mutawakkil merasa kuatir sekali setelah tahu kepribadian dan kedudukan Imam as di tengah-tengah masyarakat. Mereka begitu menghormati dan mencintainya, karena beliau berbuat baik kepada mereka dan menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid.
Al-Mutawakkil mengirim Yahya bin Harsamah sebagai utusan khusus untuk menghadirkan Imam Ali as. Segera ia memasuki kota Madinah. Sementara itu, berita tentang rencana jahat Al-Mutawakkil telah tersebar di tengah-tengah masyarakat, hingga orang-orang berkumpul di seputar tempat tinggal utusan khusus itu, sebagai bentuk kepedulian dan kekuatiran mereka atas apa yang akan terjadi pada diri Imam as.

Dalam pengkuannya, Yahya bin Harsamah mengatakan, “Aku sudah berupaya menenangkan mereka, dan bersumpah di hadapan mereka bahwa aku tidak diperintah untuk menyakitinya.”

Al-Mutawakkil senantiasa berpikir bagaimana cara menurunkan kedudukan tinggi Imam as di tengah masyarakat. Maka, sebagian penasehatnya mengusulkan untuk menebarkan berita-berita bohong yang dapat menjatuhkan kehormatan beliau, melalui saudaranya, Musa yang terkenal dengan perilakunya yang buruk.

Usulan tersebut disambut senang oleh Al-Mutawakkil. Segera ia memanggil Musa. Imam Ali as sendiri pernah memperingatkan saudaranya itu dengan ucapan, “Sesungguhnya khalifah menghadirkanmu untuk menghancurkan nama baikmu dan menyodorkan uang yang dapat menguasaimu. Maka, takutlah kepada Allah, wahai saudaraku dan jannganlah melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya!”
Musa tidak mau menghiraukan nasehat Imam as. Ia bertekad bulat untuk melakukannya, dan ternyata Al-mutawakkil justru merendahkannya. Sejak saat itu pula Khalifah itu tidak menyambut Musa lagi.

Kalimat Hak di Hadapan Orang Zalim

Ibnu Sikkit adalah salah seorang ulama besar. Abul Abbas Al-Mubarrad pernah memberikan kesaksian, “Aku tidak pernah melihat buku karya tulis orang-orang Baghdad yang lebih baik dari buku Ibnu Sikkit tentang Logika.”

Al-Mutawakkil meminta kepada Ibnu Sikkit untuk mengajar kedua anaknya; Al-Mu’taz dan Al-Mu’ayyad.
Suatu hari, Al-Mutawakkil bertanya kepada Ibnu Sikkit, “Mana yang paling kau cintai, kedua anakku ini ataukah Hasan dan Husain?”
Ibnu Sikkit menjawab dengan penuh kebencian, “Demi Allah, sesungguhnya pembantu Imam Ali bin Abi Thalib lebih baik dari pada kamu dan kedua anakmu itu!”

Mendengar jawaban Ibnu Sikkit tersebut, Al-Mutawakkil terperanjat dan begitu berang. Segera ia memerintahkan algojo Turki untuk mencabut lidahnya sampai mati. Demikianlah, Ibnu Sikkit pun pergi ke hadapan Allah SWT dan menemui kesyahidan.
Rasulullah saw telah bersabda, “Penghulu para syahid adalah Hamzah dan seorang yang mengatakan kalimat hak di depan penguasa yang zalim.”

Politik Al-Mutawakkil

Al-Mutawakkil telah menghambur-hamburkan kekayaan umat Islam. Hidupnya dipenuhi dengan foya-foya, serbamewah, dan sombong. Umurnya ia habiskan untuk bermabuk-mabukan dan berpesta pora dengan menghamburkan milyaran uang.
Sementara itu, betapa banyak orang yang hidup dalam kesusahan dan kefakiran, apalagi golongan Alawi (keluarga dan pengikut Imam Ali bin Abi Thalib as) yang senantiasa menjalani hidup mereka dalam kefakiran yang mencekam. Belum lagi hak-hak mereka dirampas, sampai hal-hal yang sangat tidak bernilai dalam kehidupan mereka.

Imam Ali Al-Hadi as bersama putranya dipanggil ke kota Samara. Kemudian mereka diturunkan di sebuah kemah yang di sana sudah berbaris pasukan Al-Mutawakkil. Itu dilakukan supaya beliau berada di bawah pengawalan tentara-tentara yang sangat bengis dan dungu terhadap kedudukan Ahlulbait as.

Rupanya, tentara Al-Mutawakkil itu terdiri atas orang-orang Turki yang telah berbuat kejam, dengan membentuk kondisi dan menciptakan pribadi-pribadi yang tidak lagi mengerti kecuali ketaatan kepada raja-raja dan penguasa.

Beberapa Kisah Menarik

• Seseorang di antara tentara itu mempunyai anak yang tertimpa penyakit batu ginjal, kemudian seorang dokter menasehati agar anaknya menjalani operasi.

Pada saat operasi sedang berjalan, tiba-tiba anak tersebut mati. Lalu orang-orang mencelanya, “Kau telah membunuh anakmu sendiri, maka engkau pun harus bertanggung jawab atas kematiannya.”

Kemudian ia mengadu kepada Imam Al-Hadi as. Beliau mengatakan, “Bagi kamu tidak ada tanggung jawab apapun atas apa yang kamu perbuat. Ia meninggal hanya karena pengaruh obat, dan ajal anak tersebut memang sampai di situ.”

• Suatu hari, seorang anak menyodorkan bunga kepada Imam Ali Al-Hadi as. Lalu Imam as mengambil bnunga itu seraya menciumnya dan meletakkan di atas kedua pelupuk matanya. Kemudian beliau memberikan kepada salah seorang sahabatnya sembari berkata, “Barang siapa mengambil bunga mawar atau selasih kemudian mencium dan meletakkannya di atas kedua pelupuk matanya, lalu membaca shalawat atas Muhammad dan keluarga sucinya, maka Allah akan menulis untuknya kebaikan sejumlah kerikil-kerikil di padang sahara, dan akan menghapuskan kejelekan-kejelekannya sebanyak itu pula.”

Yahya bin Hartsamah yang menyertai perjalanan Imam Ali as dari Madinah ke Samara mengatakan, “Kami berjalan sedang langit dalam keadaan cerah. Tiba-tiba Imam as meminta sahabat-sahabatnya untuk mempersiapkan sesuatu yang bisa melindungi mereka dari hujan.
Sebagian dari kami merasa heran. Malah sebagian yang lain tertawa meledek. selang beberapa saat, tiba-tiba langit mendung dan hujan pun turun begitu derasnya. Imam as menoleh kepadaku dan berkata, “Sungguh engkau telah mengingkari hal itu, lalu kau kira bahwa aku mengetahui alam gaib dan hal itu terjadi bukanlah sebagaimana yang kau kira. Akan tetapi, aku hidup di daerah pedalaman. Aku mengetahui angin yang mengiringi hujan dan angin telah berhembus. Aku mencium bau hujan itu, maka aku pun bersiap-siap.”

• Suatu hari, Al-Mutawakkil menderita sakit. Ia bernazar untuk menyedekahkan uang yang banyak tanpa menentukan berapa jumlahnya. Dan ketika ia hendak menunaikan nazarnya, para fuqaha (ahli hukum) berselisih pendapat tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan oleh Al-Mutawakkil. Mereka pun tidak mendapatkan suatu kesepakatan.

Sebagian mereka mengusulkan untuk menanyakan masalah kepada Imam as. Tatkala ditanya tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan, Imam as menjawab, “Banyak itu adalah delapan puluh.”

Meresa belum puas. Mereka meminta dalil dari Imam as. Beliau mengatakan, “Allah berfirman, ‘Allah telah menolong kalian dalam berbagai kesempatan. Maka, Kami hitung medan-medan peperangan dalam Islam’. Dan jumlahnya medan peperangan itu adalah delapan puluh.”

Penggeledahan Rumah

Meskipun Imam Ali Al-Hadi as dalam tahanan rumah yang ketat, beliau tidak luput dari berbagai fitnah dan tuduhan kosong. Salah seorang di antara mereka melaporkan kepada Al-Mutawakkil, bahwa Imam as mengumpulkan senjata dan uang untuk mengadakan pemberontakan. Maka, Al-Mutawakkil memerintahkan Sa’id, penjaganya untuk memeriksa rumah beliau pada waktu malam, dan mengecek tentang kebenaran berita tersebut.

Tatkala ia memeriksa rumah Imam, ia dapati Imam as dalam sebuah kamar dan tidak ada sesuatu apapun di dalamnya kecuali sehelai tikar. Di dalamnya beliau sedang melakukan shalat dengan khusyuk.

Ia telah memeriksa rumah Imam as dengan awas dan jeli. Akan tetapi, ia tidak menemukan suatu apa pun. Kemudian ia berkata pada Imam, “Maafkan aku tuanku. Aku hanya diperintahkan.”

Imam as menjawab dengan sedih, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui akibat perbuatan mereka sendiri.”

Kandang Binatang Buas

Seorang perempuan mengaku, bahwa dirinya adalah Zainab putri Ali bin Abi Thalib as. Ia berkata, bahwa masa mudanya terus berganti setiap 50 tahun.

Segera Al-Mutawakkil mengirimkan utusan dan bertanya kepada Bani Thalib. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Zainab as telah meninggal pada tanggal sekian dan telah dikuburkan. Akan tetapi, perempuan ini tetap saja bersikukuh pada pengakuannya.
Menteri Al-Mutawakkil yang bernama Al-Fath bin Khaqan jengkel melihat itu. Ia berkata, “Tidak ada yang bisa mengetahui tentang hal ini kecuali putra Imam Ridha as.”

Maka, Al-Mutawakkil mengutus utusan kepada Imam Ali Al-Hadi as dan menanyakan perihal perempuan tersebut padanya. Kemudian Imam as. menjawab, “Sesungguhnya terdapat tanda pada keturunan Ali as. Tanda itu adalah binatang buas tidak akan mengganggu dan menyakitinya. Maka, cobalah kumpulkan perempuan itu bersama binatang buas, dan bila dia tidak diterkam, maka dia benar.”

Tak tahan lagi, Al-Mutawakkil ingin sekali menguji kebenaran ucapan Imam as di atas. Beliau pun masuk ke dalam sangkar binatang buas dengan penuh keyakinan. Tiba-tiba binatang buas di dalamnya mengikuti beliau sambil mengebas-kebaskan ekor di telapak kaki beliau.
Saat itu Al-Mutawakkil memerintahkan untuk melemparkan wanita tersebut ke dalam sangkar itu. Tatkala binatang buas itu muncul, ia pun menjerit dan segera menarik balik pengakuannya.

Di Majelis Al-Mutawakkil

Di saat sedang mabuk, Al-Mutawakkil memerintahkan para pengawalnnya agar segera mendatangkan Imam Ali Al-Hadi as. Dengan cepat mereka bergegas menuju kediaman beliau. Sesampainya di sana, mereka memasuki rumah Imam as dengan keras dan menyeret beliau sampai di istana khilafah.

Ketika Imam as berdiri di hadapan Al-Mutawakkil, khalifah yang zalim itu mengambil kendi khamer dan meminumnya sampai mabuk, lalu ia mendekati Imam as dan menyodorkan segelas minuman haram tersebut kepada beliau.

Imam as menolak dan berkata, “Demi Allah, darah dagingku tidak bercampur sedikit pun dengan minuman ini.”
Hari Kesyahidan

Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan pada Allah SWT, Imam Ali Al-Hadi as menjalani kehidupan dunia yang fana ini. Cobaan demi cobaan telah beliau lewati dengan segenap ketabahan. Hingga akhirnya, pada tahun 254 Hijrih beliau menjumpai Tuhannya dalam keadaan syahid akibat racun yang merusak tubuhnya.

Ketika itu usia Imam as menginjak usia 42 tahun. Beliau dimakamkan di kota Samara yang kini ramai dikunjungi kaum msulimin dari berbagai belahan dunia.

Murid-Murid Imam Ali

Meskipun Imam as senantiasa hidup di bawah pengawasan yang begitu ketat, namun beliau memiliki murid-murid yang tetap setia kepadanya. Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berjumpa dan bertatap muka dengan Imam as. Salah seorang dari mereka adalah Abdul ‘Azhim Al-Hasani.

Abdul ‘Azhim termasuk ulama besar dan seorang yang amat bertakwa. Dalam berbagai kesempatan, Imam Ali as seringkali memujinya. Ia senantiasa menunjukkan penentangannya terhadap penguasa. Kemudian ia bersembunyi di kota Rey dan meninggal di sana. Hingga sekarang ini, makam beliau masih selalu dipadati oleh para peziarah.

Murid beliau yang lain adalah Hasan bin Sa’id Al-Ahwazi. Ia juga termasuk sahabat Imam Ali Ar-Ridha as dan Imam Muhammad Al-Jawad as. Ia hidup di Kufah dan Ahwaz, kemudian pindah ke Qom dan meninggal dunia di sana. Hasan menyusun tiga puluh karya tulis di bidang Fiqih dan Akhlak. Di antara jajaran perawi, ia termasuk orang yang tsiqah (terdipercaya) dalam meriwatkan hadis-hadis.

Selain Abdul ‘Azhim dan Hasan, sahabat setia Imam Ali Al-Hadi as ialah Fadhl bin Syadzan An-Naisyaburi. Ia terkenal sebagai seorang ahli Fiqih besar dan ahli ilmu Kalam terkemuka.

Fadhl banyak meriwayatkan hadis dari Imam Ali as. Bahkan, anaknya pun ikut menjadi salah seorang sahabat Imam Hasan Askari as. Imam Ali as sering memujinya. Ia menasehati orang-orang Khurasan untuk merujuk kepada Fadhl dalam berbagai masalah yang mereka hadapi.[]
Mutiara Hadis Imam Ali Al-Hadi

• “Barang siapa taat kepada Allah, maka ia tidak akan kuatir terhadap kekecewaan makhluk.”
• “Barang siapa tunduk pada hawa nafsunya, maka ia tidak akan selamat dari kejelekannya.”
• “Barang siapa rela tunduk terhadap hawa nafsunya, maka akan banyak orang-orang yang tidak suka padanya.”
• “Kemarahan itu terdapat pada orang-orang yang memiliki kehinaan.”
• “Pelaku kebaikan itu lebih baik daripada kebaikan itu sendiri. Sedang pelaku keburukan itu lebih buruk daripada keburukan itu sendiri.”
• “Cercaan itu lebih baik dari pada kedengkian.”
• Beliau berkata kepada Al-Mutawakkil, “Janganlah engkau menuntut janji kepada orang yang telah engkau khianati.”

Imam Muhammad Al Baqir, Penyingkap Khazanah Ilmu

Mengenal Imam Ahlul Bait:
Imam Muhammad Al Baqir, Penyingkap Khazanah Ilmu
Riwayat Singkat Imam Al-Baqir as
Nama : Muhammad.
Gelar : Al-Baqir.
Panggilan : Abu Ja’far.
Ayah : Ali Zainal Abidin.
Ibu : Fatimah.
Kelahiran : Madinah, 1 Rajab 57 H.
Kesyahidan : 7 Dzulhijjah 114 H.
Makam : Pemakaman Baqi‘, Madinah.
 

 

Hari Lahir

Imam Muhammad Al-Baqir as dilahirkan pada awal bulan Rajab tahun 57 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kelima Ahlulbait as. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin as, dan ibunya adalah seorang wanita dari keturunan Imam Hasan as yang bernama Fatimah.

Dengan demikian, Imam Muhammad Baqir as adalah imam pertama yang memiliki nasab keturunan Rasulullah saw dari pihak ayah dan ibu, sekaligus.

Imam Al-Baqir as mengalami hidup bersama kakeknya, Imam Husain as pada saat tragedi Karbala, yang ketika itu beliau masih berusia empat tahun.

Beliau hidup bersama ayahnya selama 18 tahun dan masa itu adalah masa keimamahan (kepemimpinan)-nya. Beliau mengkhidmatkan masa-masa hidupnya demi menyebarkan ilmu pengetahuan Islam.

Orang-orang memberi beliau gelar Al-Baqir (Sang Jenius), karena beliau telah membongkar ilmu pengetahuan dari khazanah-khazanahnya. Imam as juga memiliki gelar-gelar lain yang menunjukkan sifat dan akhlak agung beliau, seperti Asy-Syakir (yang banyak bersyukur) dan Al-Hadi (pemberi petunjuk).

Sewaktu masih berusia belia, Imam Muhammad Al-Baqir as bertemu dengan sebagian besar sahabat utama Nabi, seperti Jabir bin Abdillah Al-Anshari. Kepada beliau Jabir mengatakan, “Rasulullah mengirimkan salam untukmu.” Salam ini membuat orang-orang yang hadir saat itu menjadi heran.

Jabir melanjutkan, “Suatu hari aku sedang duduk bersama Rasulullah, sedangkan Husain as berada di haribaannya. Beliau berkata padaku, ‘Hai Jabir, putraku ini kelak mempunyai seorang anak yang bernama Ali. Dan pada Hari Kiamat, seseorang akan memanggilnya ‘Sayyidul Abidin’. Kemudian melalui Ali, seorang anak yang bernama Muhammad Al-Baqir—yang memiliki keluasan ilmu—akan lahir. Bila engkau berjumpa dengannya, sampaikan salamku kepadanya.’”

Imam Al-Baqir as memiliki dua kebun yang dikelola oleh beliau sendiri. Beliau melibatkan para petani untuk menuai hasil kebunnya, serta menginfakkan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Pada zaman itu, beliau dikenal sebagai orang yang paling dermawan.

Dinukil dalam kitab-kitab sejarah, bahwa seorang sufi bernama Muhammad bin Al-Munkadir berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang seperti Ali bin Husain as yang meninggalkan keturunan yang begitu utama, sampai aku melihat putranya Muhammad as. Aku hendak menasihatinya, ia malah lebih dulu menasihatiku. Pada suatu hari, saat matahari terik menyinari bumi, aku keluar menuju sebuah daerah di luar kota Madinah. Aku bertemu dengan Muhammad bin Ali as yang sedang bersandar pada dua orang budaknya. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Orang tua Quraisy di saat seperti ini masih sibuk mencari dunia? Demi Allah, aku akan menasihatinya.’

“Aku mendekatinya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku. Aku melihat dia penuh dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Aku berkata padanya, ‘Semoga Allah memberikan hidayah-Nya padamu, wahai orang tua Quraisy. Di saat seperti ini kau masih sibuk mencari dunia? Bagaimana kalau sekiranya maut datang menjemputmu sedang kau dalam keadaan seperti ini?’

“Ia melepaskan kedua tangannya dari sandaran kedua budaknya dan berkata, ‘Demi Allah, jika sekiranya maut datang kepadaku dalam keadaan seperti ini, sungguh ia datang kepadaku sedang aku dalam ketaatan kepada Allah, yang dengannya jiwaku bisa terhindar darimu dan manusia lainnya. Sesungguhnya yang aku takutkan adalah bila kematian itu datang sedang aku dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.’

“Mendengar jawabannya, aku membalas kagum, ‘Semoga Allah mengasihimu. Aku sebenarnya ingin menasihatimu, malah kaulah yang menasihatiku.’”

Dalam kisah ini, Imam Muhammad Al-Baqir as menunjukkan sikap tegas beliau sehingga orang dapat memahami, bahwa mencari rezeki itu adalah ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT, bukan malah meninggalkan pekerjaan dan menghabiskan waktunya untuk salat sementara hidupnya menjadi tanggungan orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi, seperti Ibn Al-Munkadir dan yang lainnya.

Keilmuan Imam

Seorang warga Syam, yang sebelumnya enggan hadir di majlis Imam Muhammad Al-Baqir as, berkata kepada beliau, “Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih aku benci daripadamu. Kebencian padamu sungguh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Meski begitu, aku melihatmu begitu sopan, beradab serta bertutur-kata yang santun. Maka ketahuilah, kehadiranku di majlismu ini karena kebaikan budi dan bahasamu.”

Dalam setiap kesempatan, Imam Al-Baqir as selalu mengatakan yang baik. Kepada orang Syam itu Imam as mengatakan, “Tiada sesuatu pun yang tersembunyi di sisi Allah SWT.”

Selang beberapa hari, orang tersebut tidak pernah kelihatan lagi. Imam as merasa kehilangan. Beliau bertanya kepada orang-orang yang mengenalnya. Kata mereka, orang itu sedang sakit.

Imam as bergegas menjenguknya. Beliau duduk di sisinya sambil bercakap-cakap dan bertanya tentang penyebab sakitnya. Lalu, Imam menganjurkan agar memakan makanan yang dingin dan segar. Setelah itu, Imam as pun meninggalkan orang tersebut.

Beberapa hari kemudian, orang itu pulih dari sakitnya. Pertama kali yang dia lakukan ialah pergi ke majelis Imam as. Di sana, dia memohon maaf kepada Imam, dan akhirnya menjadi salah satu sahabat beliau.

Dikisahkan, seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang sebuah masalah. Abdullah kebingungan menjawabnya. Ia berkata kepada si penanya, “Pergilah kepada anak itu, dan tanyalah padanya, kemudian beritahukan jawabannya kepadaku.” Anak yang dimaksudkannya itu ialah Imam Muhammad Al-Baqir as.

Maka orang tersebut datang kepada Imam as. dan bertanya padanya. Selekas itu, ia kembali kepada Abdullah dengan membawa jawaban yang didapatkannya dari beliau. Abdullah berkata, “Sesungguhnya mereka adalah Ahlul Bait Nabi yang telah diberikan pemahaman tentang segala sesuatu.”

Dialog dengan Pendeta

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menceritakan, bahwa suatu ketika beliau berada di Syam bersama ayahnya (Imam Muhammad Al-Baqir as). Keberadaan mereka di Syam karena Khalifah Hisyam bin Abdul Malik meminta mereka untuk datang ke sana.

Pada suatu hari, Imam Al-Baqir as melihat kerumunan orang-orang di sebuah tempat. Semua sedang menantikan seseorang. Beliau menanyakan perihal mereka itu. Dijawab, “Mereka itu sedang menunggu salah seorang pendeta, karena ia hanya muncul setahun sekali. Mereka bertanya dan meminta fatwa darinya.”

Imam as ikut menunggu bersama mereka sampai pendeta tersebut datang. Tatkala pendeta itu melihat Imam, ia menyapa beliau, “Apakah Anda dari golongan kami atau dari umat yang perlu dikasihani ini?”

Imam as menjawab, “Aku dari umat ini.”

Pendeta bertanya lagi, “Dari orang awam umat ini atau dari ulamanya?”

Imam menjawab, “Aku bukan dari orang awamnya.”

Pendeta berkata lebih serius, “Aku punya beberapa pertanyaan untuk Anda; dari mana Anda percaya bahwa penghuni surga makan dan minum tapi mereka tidak buang air?”

Imam as menjawab, “Bukti kami adalah janin yang ada dalam rahim ibunya. Ia makan tapi tidak buang kotoran.”

Pendeta itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang setenggat waktu yang tidak terhitung malam juga tidak terhitung siang.”

Imam as menjawab, “Waktu di antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari.”

Mendengar jawaban-jawaban Imam as, sang pendeta terkejut. Ia ingin sekali membungkam Imam dengan pertanyaan lain. Ia berkata, “Kabarkan kepadaku tentang dua bayi yang keduanya dilahirkan pada hari yang sama dan meninggal pada hari yang sama juga. Umur bayi yang pertama 50 tahun dan yang kedua 150 tahun.”

Imam as menjawab, “Uzair dan saudaranya, saat itu usia Uzair 25 tahun. Tatkala melewati suatu desa di Antakia yang ditinggal mati oleh penduduknya, ia merenung, ‘Bagaimana Allah akan menghidupkan penduduk ini setelah kematian mereka?’

“Kemudian Allah SWT mematikan Uzair selama 100 tahun, lalu membangkitkannya lagi dan ia kembali ke rumahnya dalam keadaan muda, sementara saudaranya sudah tua-renta. Uzair hidup bersama saudaranya selama 25 tahun, dan kedua bersaudara itu pun meninggal pada hari yang sama.”

Melihat keluasan dan ketinggian ilmu Imam Al-Baqir as ini, pendeta itu lagi-lagi takjub. Tak ayal lagi, ia pun menyatakan keislamannya di depan khalayak, dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya.

Di Majelis Hisyam

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mengundang Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq. Karena itu, keduanya meninggalkan Madinah, bergerak menuju Syam. Tujuan undangan Hisyam sebenarnya hendak menunjukkan kebesaran kerajaannya.

Setibanya di Syam, Imam Al-Baqir as memasuki istana, yang ketika itu Hisyam duduk di atas singgasana dengan dikelilingi oleh pengawal bersenjata dan di depannya ada golongan elite yang siap berlomba memanah. Hisyam berkata, “Ya Muhammad! Coba kau bertanding melawan orang-orang ini dan bidikkan panah ke sasaran!”

Imam as berkata, “Sesungguhnya aku sudah lama meninggalkan permainan memanah. Maafkan aku.”

Hisyam menolak alasan Imam, dan memaksanya untuk melakukannya. Ia pun menyuruh seorang tokoh dari Bani Umayyah untuk mengambilkan panah dan busurnya. Akhirnya, Imam as menerimanya dan meletakkan anak panah itu pada busurnya, kemudian ia lesatkan ke sasaran dan tepat mengenai titik pusatnya. Untuk kedua kalinya, beliau membidikkan anak panah, hingga yang kesembilan kali. Semua anak panah itu menancap tepat pada sasaran.

Hisyam pun tercengang melihat kepandaian Imam as dan memujinya sambil berkata, “Alangkah pandainya kau wahai Abu Ja’far. Kau adalah orang yang paling pandai memanah dari kalangan Arab dan Ajam. Beginikah kau katakan, ‘Aku sudah lama meninggalkan permainan memanah?”

Kemudian, Hisyam menuntun Imam Al-Baqir as dan mendudukkannya di sampingnya. Ia berkata, “Wahai Muhammad! Bangsa Arab dan Ajam akan senantiasa mengikuti orang-orang Quraisy selagi di tengah-tengah mereka ada orang sepertimu. Demi Allah, siapa yang mengajarimu memanah? Dan pada usia berapakah kau mempelajarinya?”

Imam as menjawab, “Aku belajar di masa aku masih kecil, kemudian aku tinggalkan.”

Hisyam berkata, “Aku tidak pernah menyangka bahwa di atas bumi ini masih ada orang yang memanah seperti ini. Apakah Ja’far (putra Imam as) juga dapat memanah seperti ini? Apakah dia juga dapat memanah sebagaimana engkau memanah?”

Imam as menjawab, “Kami Ahlulbait Nabi mewarisi kesempurnaan dan kelengkapan yang keduanya telah Allah SWT turunkan kepada Nabinya saw dalam firmannya, ‘Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah aku lengkapkan nikmatku untukmu serta aku rela Islam sebagai agamamu.’

Mendengar jawaban itu, muka Hisyam memerah lantaran marah dan berkata, “Dari mana kau mewarisi ilmu ini, padahal tidak ada nabi setelah Muhammad dan kau sendiri juga bukanlah seorang nabi?”

Imam as menjawab, “Kami mewarisinya dari datuk kami Ali bin Abi Thalib as. Beliau pernah berkata, ‘Rasulullah saw telah mengajariku seribu pintu ilmu … Dari setiap pintunya terbuka seribu ilmu lagi ….”

Hisyam pun diam tertunduk sambil berpikir. Lalu ia memerintahkan pengawalnya untuk mengembalikan Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq as ke Madinah secepat mungkin, karena ia takut kehadiran dua Imam ini di Syam akan mengundang simpati warga kota kepada mereka.

Mata Uang Islam

Perebutan batas-batas wilayah yang sangat keras sekali telah terjadi antara negara Islam dan Romawi. Imperium Romawi mengancam Abdul Malik bin Marwan akan memutus mata uang negara Islam bila tidak menyerahkan wilayah-wilayah yang dipersengketakan. Abdul Malik merasa ketakutan dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ia kumpulkan pemuka-pemuka dan tokoh-tokoh umat Islam untuk dimintai pendapatnya, tapi mereka tidak bisa memberikan keputusan apa-apa. Akhirnya, sebagian mereka mengusulkan agar merujuk kepada Imam Muhammad Al-Baqir as.

Lalu, Abdul Malik mengutus utusan untuk memanggil Imam as ke Syam. Beliau pun memenuhi panggilan tersebut. Setelah mengetahui duduk persoalan, beliau mengatakan kepada Abdul Malik, “Tidak ada yang perlu ditakutkan. Cepat kirim utusan ke Kaisar Romawi dan mintalah jangka waktu darinya. Di sela-sela itu, kirimlah surat ke gubernur-gubernur daerah, dan perintahkan mereka untuk mengumpulkan emas dan perak, sehingga bila telah sampai jumlah yang cukup, segeralah engkau mencetak mata uang Islam!”

Kemudian, Imam as menentukan timbangan dan bentuknya. Beliau memerintahkan Abdul Malik untuk menuliskan di atas salah satu sisi uang tersebut kalimat “Muhammad Rasulullah.” Bila pekerjaan ini telah selesai, tidak akan terjadi transaksi dengan mata uang Romawi. Ketika itulah Imperium Romawi tidak akan punya kekuatan lagi di hadapan pemerintahan Islam.

Setelah pekerjaan itu selesai dan mata uang Islam sudah tersebar, Abdul Malik mengeluarkan keputusannya yang terakhir mengenai persengketaan batas-batas wilayah.

Dan ternyata, Imperium Romawi tidak mendapatkan cara apapun untuk melancarkan tekanan terhadap ekonomi negara Islam. Maka, dipilihlah jalan militer. Akan tetapi, mereka pun gagal, setelah laskar-laskar muslimin menyerang pasukan mereka.

Demikianlah Imam kita, Imam Muhammad Al-Baqir as. Dengan pikiran dan arahannya yang cemerlang, beliau telah menyelamatkan pemerintahan Islam dari ancaman musuh-musuh, sehingga kaum muslimin memiliki mata uang sendiri yang menjadi lambang kebesaran Islam.

Sahabat-Sahabat Imam

Tatkala orang-orang Bani Umayyah sibuk meredam kekacauan dan kerusuhan massa di sana-sini, Imam Muhammad Al-Baqir as mendapatkan kesempatan yang baik untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, membina kader-kader, dan mengokohkan ajaran-ajaran Ahlulbait as.

Pada zaman Imam as, telah muncul sebagian murid-murid utama beliau yang memiliki peranan besar dalam penyebaran ajaran-ajaran tersebut. Di antara mereka yang paling menonjol ialah:

1. Aban bin Taghlib

Ia pernah hidup sezaman dengan tiga imam Ahlulbait. Ia juga pernah menghadiri majelis Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Muhammad Al-Baqir as, dan Imam Ja’far Ash-Shadiq as. Namun begitu, ia lebih banyak belajar pada Imam Al-Baqir as.

Aban menonjol di bidang ilmu Fiqh, Hadis, Sastra Arab, Tafsir, dan Nahwu. Imam Al-Baqir as pernah berkata kepadanya, “Duduklah di masjid Madinah dan ajarilah masyarakat, karena sesungguhnya aku lebih suka melihat orang sepertimu di antara pengikutku.”

2. Zurarah bin A’yun

Tentang Zurarah, Imam Ja’far as mengatakan, “Sekiranya tidak ada Zurarah, niscaya hadis-hadis ayahku akan hilang.”

Dalam kesempatan yang lain, Imam as menyatakan, “Semoga Allah mengasihi dan merahmati Zurarah bin A’yun. Seandainya tidak ada Zurarah dan orang-orang sepertinya, tidak akan ada yang tersisa lagi hadis-hadis ayahku.”

3. Muhammad bin Muslim Ats-Tsaqafi

Imam Ja’far Ash-Shadiq as sangat menghormati dan mencintai Muhammad. Dia adalah salah seorang sahabat utama dari empat orang sahabat Imam Ja’far as. Beliau berkata, “Empat orang manusia yang sangat aku cintai, baik mereka masih hidup maupun sesudah meninggal dunia.”

Imam Ja’far as memerintahkan sebagian sahabat-sahabatnya untuk merujuk kepada Muhammad dengan perkataannya, “Ia telah mendengarkan hadis-hadis ayahku, dan dia orang terpandang di sisi ayahku.”

Muhammad bin Muslim sendiri pernah menyatakan, “Aku bertanya kepada Imam Muhammad Al-Baqir as tentang tiga puluh ribu hadis.”

Imam Ja’far as seringkali memuji sahabat-sahabat ayahnya. Beliau mengatakan, “Sekiranya sahabat-sahabatku mendengarkan dan taat kepadaku, niscaya akan aku titipkan kepada mereka apa yang ayahku titipkan pada sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya semua sahabat ayahku menjadi penghias bagi kami, di masa hidupnya maupun matinya.”

Di antara sahabat Imam Muhammad Al-Baqir as yang lain adalah Al-Kumait Al-Asady, seorang pujangga ternama. Setiap kali berjumpa dengannya, Imam Al-Baqir as memanjatkan doa, “Ya Allah! Curahkanlah ampunan-Mu kepada Al-Kumait!”

Hari Kesyahidan

Meskipun usaha Imam Muhammad Al-Baqir as hanya tercurahkan di bidang-bidang ilmu pengetahuan dan penyebaran agama, akan tetapi para penguasa Bani Umayyah tidak bisa tenang melihat keberadaannya, khususnya setelah orang-orang mengetahui keutamaan, keluhuran, dan keluasan ilmu beliau. Kepribadian, akhlak, dan rasa kemanusiannnya menyinari mereka. Sebagaimana dari silsilah nasab beliau yang bersambung langsung ke Rasulullah saw, semua itu mengangkat kedudukannya di hati umat Islam menjadi begitu tinggi nan agung.

Begitu pula bagi Hisyam bin Abdul Malik. Dia senantiasa berpikir untuk membunuh Imam Al-Baqir as. Akhirnya, dia gunakan racun untuk membunuh beliau. Di tangannyalah Imam as syahid pada 7 Dzulhijjah 114 H.

Imam Muhammad Al-Baqir as telah menjalani masa hidupnya selama 57 tahun untuk mengabdi sepenuhnya kepada Islam dan kaum muslimin serta menyebarkan ilmu pengetahuan dan ajaran Ahlulbait as.[]

Mutiara Hadis Imam Al-Baqir as

• “Kesombongan tidak akan masuk ke dalam hati seseorang kecuali akalnya kurang.”

• “Seorang alim yang mengamalkan ilmunya adalah lebih utama dari seribu orang ‘abid (yang tekun ibadah). Demi Allah, kematian seorang alim lebih disukai oleh iblis daripada kematian tujuh puluh orang ‘abid.”

• Kepada salah seorang anaknya, beliau mengatakan, “Wahai anakku, jauhilah kemalasan dan kebosanan, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Sesungguhnya bila kamu malas, niscaya engkau tidak akan pernah menunaikan tanggung jawabmu, dan bila kamu bosan niscaya engkau tidak akan bersabar dalam melaksanakan tugasmu.”

• “Cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memandang aib orang lain sementara aibnya sendiri tidak pernah ia lihat. Dan cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memerintahkan orang lain akan suatu yang ia sendiri tidak mampu mengembannya.”

• Dalam nasihat untuk salah seorang sahabatnya, Imam as mengatakan, “Aku wasiatkan kepadamu lima perkara: bila engkau dianiaya, maka janganlah kau membalasnya, bila engkau dikhianati, maka janganlah kau balas dengan khianat pula, bila kau didustai, maka janganlah kau balas dengan dusta pula, bila engkau dipuji, maka janganlah kau merasa puas, dan bila kau dicela, maka janganlah kau bersedih.”

Lebih dari 5 juta peziarah di hari Nisfu Sya’ban memenuhi kompleks pemakaman Imam Husain as di Karbala

Irak:
Malam Nisfu Sya’ban, Jutaan Peziarah Membludak di Karbala
Meskipun keamanan Irak belum bisa dikatakan stabil dan aman sepenuhnya dari aksi-aksi teroris, itu tidak menjadi halangan bagi pecinta Ahlul Bait memasuki Karbala dan berziarah di makam Imam Husain as tiap tahunnya.
 

 Malam Nisfu Sya.

Amaluddin Alhar, gubernur provinsi Karbala menyatakan, “Lebih dari 5 juta peziarah di hari Nisfu Sya’ban memenuhi kompleks pemakaman Imam Husain as di Karbala.”

Beliau lebih lanjut menyatakan bahwa peziarah dari luar Irak tidak sedikit jumlahnya yang bermula sekitar 100 ribu orang beberapa waktu kemudian melonjak bertambah.
.
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Nashif Jasim Al Khatabi wakil majelis syura provinsi Karbala, “Kami tak menyangka peziarah justru semakin membludak dari tahun ke tahun. Tampaknya aksi teroris dan adanya peledakan bom yang telah menewaskan ratusan orang peziarah tidak menjadi alasan mereka takut dan tidak berziarah ke Karbala.”

Beliau lebih lanjut menyatakan, “Peziarah tersebut berdatangan memasuki Karbala, kebanyakan dari mereka berjalan kaki, dan sebagiannya lagi dengan mengendarai bus. Mereka datang dari berbagai kota dengan kafilah yang berbeda-beda, bahkan datang dari berbagai negara sekitar Irak. Jutaan peziarah tersebut menyemarakkan malam nisfu Sya’ban di kompleks pemakaman Imam Husain as dengan munajat dan doa’-do’a semalam suntuk sampai pagi.”

Kota Karbala, sekitar 108 kilo meter bagian selatan kota Baghdad ibu kota Irak. Setiap tahun pada malam Nisfu Sya’ban dalam rangka memperingati hari kelahiran Imam ke-12 muslim Syiah menjadi salah satu tempat jutaan warga Syiah memperbaharui bai’at dan janji kesetiaan kepada Imam Mahdi afs. Tiap tahun jumlah peziarah dan pecinta Ahlul Bait yang mengunjungi Karbala semakin bertambah. Meskipun keamanan Irak belum bisa dikatakan stabil dan aman sepenuhnya dari aksi-aksi teroris, itu tidak menjadi halangan bagi pecinta Ahlul Bait memasuki Karbala dan berziarah di makam Imam Husain as tiap tahunnya

Acara Peringatan Pertengahan Sya

Tanzania:
Acara Peringatan Pertengahan Sya’ban di Tanzania
Sebagaimana di negara berpenduduk muslim lainnya, Tanzania turut merayakan malam Nisfu Sya’ban dengan berbagai kesemarakan. 

 pada malam Nisfu Syaban Rabu (4/7) telah berlangsung acara peringatan hari kelahiran Imam Mahdi as di kota Darul Salam, Tanzania. Acara tersebut dimulai pukul 18:30 waktu setempat usai shalat maghrib dan Isya.

Dalam acara itu, berbagai tokoh masyarakat dan ulama datang memeriahkan peringatan kelahiran Imam Mahdi as. Mereka juga berdialog membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan sang Imam zaman. Beberapa ulama dan cendekiawan terkemuka Tanzania menyampaikan ceramah mereka mengenai isu-isu yang berkaitan dengan imam Zaman termasuk hikmah kegaiban beliau.

Acara peringatan tersebut dimeriahkan dengan bacaan puisi dan pujian untuk Ahlul Bait as.

Segenap umat Syiah setempat turut hadir merayakan hari kelahiran imam Mahdi afs dalam acara tersebut.

Sahabat Syi’ah antara lain Salman al Farisi, Miqdad al Aswad, Malik al Asytar, Ammar Ibn Yasser, Abal Fadhl al Abbas dan ramai lagi.

Nukilan dari Kitab Syaikh Shaduq:
Beginilah Akhlak Pecinta Ahlulbait
Imam Shadiq as mengatakan,: “Syiah kami adalah ahli wara’, ahli ijtihad, penunai janji, amanah, ahli zuhud, ahli ibadah, suka sholat 51 raka’at sehari semalam, tahajud di malam hari, shaum di siang hari, membersihkan harta-harta mereka dan haji ke tanah suci.” 

Syaikh Shaduq rahimahullah

 Beginilah Akhlak Pecinta Ahlulbait1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”. Jabir kemudian mengatakan,:“Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. ikh Shâduq (305-381)

Beliau mengatakan,” Wahai Jabir janganlah engkau bermazhab kepada orang-orang yang hanya mengatakan aku cinta Ali as dan berwali kepadanya, dan jika ada yang mengatakan aku cinta kepada rasul dan dan Rasulullah lebih baik dari Ali as, tapi kemudian tidak mengikuti jalannya tidak mengamalkan sunnahnya maka kecintaannya itu tidak bermanfaat sedikitpun. Maka bertakwalah kepada Allah dan beramalah karena Allah, karena tidak ada kekerabatan antara Allah dan siapapun. Hamba yang paling dicintai dan dihormati di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dan yang paling mentaati-NYA.Wahai Jabir seseorang hamba tidak bisa mendekati Tuhannya kecuali dengan mentaati-NYA. Arti dibebaskan dari Neraka tidak ada artinya dan tidak ada satupun diantara kalian yang menjadi hujjah bagi Allah. Siapa yang ta’at itulah bagian dari kami dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah maka itu musuh kami, wilayah (kesetian) kepada kami tidak bisa dicapai kecuali dengan ketakwaan dan kewara’an.

2. Imam Shadiq as mengatakan,: “Syiah kami adalah ahli wara’, ahli ijtihad, penunai janji, amanah, ahli zuhud, ahli ibadah, suka sholat 51 raka’at sehari semalam, tahajud di malam hari, shaum di siang hari, membersihkan harta-harta mereka dan haji ke tanah suci.”

3. Dari Muhammad bin Musa Al-Mutawakil dari Ahmad bin Abdullah dari Abi Abdillah ia mengatakan,:“Tiada lain syiah Ali kecuali yang bersih perut dan kemaluannya, beramal untuk tuhannya, mengharapkan pahala dan takut kepada siksa-NYA.”

4. Muhammad bin Azlan mengatakan aku bersama Aba Abdillah, kemudian seseorang masuk dan mengucapkan salam. Ia ditanya bagaimana orang-orang yang engkau tinggalkan. Si lelaki yang datang tadi memuji-mujinya. Kemudian Aba Abdillah bertanya seberapa sering orang-orang kaya mereka mendatangi orang-orang miskin. Lelaki tadi menjawab sangat jarang. Kemudian ia ditanya lagi sejauhmana orang-orang kayanya menjenguk orang-orang miskin? . Lelaki tadi menjawab, :“Tuan menyebutkan sifat-sifat yang tidak dimiliki mereka. Abu Abdillah kemudian balik mengatakan,” Kenapa pula engkau menyebut mereka sebagai syiah?”

5. Semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, Seorang rawi mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Aabadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far,: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait, demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-NYA, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”. Jabir kemudian mengatakan, “Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. Lalu aku bertanya,”Dimana bisa kutemukan orang-orang seperti itu?” Imam menjawab, “Mereka ada di pinggiran diantara pasar-pasar Itulah mereka yang dimaksud dengan firman Allah “merendahkan hati terhadap orang-orang mukmin dan berwibawa di depan orang-orang kafir.”

6. Meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Muhammad bin Husan bin Alwalid semoga Allah meridhai mereka dari Mufadhol bin Qais dan Abi Abdillah alaihi as. Beliau mengatakan, : “Berapa syiah kami di Kufah?” Aku menjawab:” lima puluh ribu. Beliau lantas mengatakan: “Saya mengharapkan jumlahnya hanya 20. Kemudian beliau mengatakan: “Demi Allah aku harap di Kufah syiah kami hanya ada 25 orang yang mengetahui urusan kami dan dan tidak berkata tentang kami kecuali dengan benar.”

7. Meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Muhammad bin Majilwaih dari Abu Abdillah Berkata kepadanya Abu ja’far Ad-Dawaniqi di Hirah dimasa pemerintahan Abi Al-Abbas,: ”Ya Aba Abdillah, bagaimana dengan Syiahmu yang mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya dalam satu majlis sehingga diketahui madzhabnya”. Beliau mengatakan,: “Itu karena memiliki kemanisan iman di dadanya dan karena manisnya menjadi tampak sejelas-jelasnya.”

8. Meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Ahmad bin Muhammmad bin Yahya al-‘Athor dari Muhammad bin Sadir ia mengatakan Bahwa Abu abdillah mengatakan,: “Jika tiba hari kiyamat makhluk-makhluk akan dipanggil dengan ibu-ibu mereka kecuali kami dan syiah kami karena tidak ada hubungan darah diantara kami.”

9. Meriwayatkan sebuah hadis dari Muhammad bin Majilwaeh meriwayatkan sebuah hadis kepada kami Umar bin Muhammad bin Abi Qosim dari Harun bin Muslim dari Musidah bin Shodaqo. Ia mengatakan Abu Abdilah ditanya tentang syiah kami beliau menjawab,:“Syiah kami yang mempelopori kebajikan dan menahan dari keburukan, menunjukkan hal-hal yang indah dan bersegera dalam melakukan perintah Tuhan, karena mengharapkan rahmatnya. Merekalah dari kami kembali kepada kami dan bersama kami dimana saja berada.”

10. Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku ia mengatakan telah meriwayatkan kepadanya Sa’ad bin Abdilllah dari Ali bin Abdul Aziz ia mengatakan Abu Abdillah mengatakan,:“Ya Ali bin Abdil Aziz janganlah kau tertipu dengan tangisan mereka, karena ketakwaan itu adanya di hati.”

11. Ayahandaku meriwayatkan sebuah hadis kepadaku ia mengatakan meriwayatkan sebuah hadis kepadaku Abdullah bin ja’far Alhumairi dari Mus’idah bin Shodaqoh dari Ashodiq, Rasulullah saw mengatakan,: “Barang siapa yang nestapa karena perbuatan buruk dan memiliki perjalanan hidup yang baik ialah orang mukmin.”

12. Dengan sanad yang sama Abu Abdilah mengatakan,: “Alangkah jeleknya orang mukmin kalau dihinakan oleh keinginannnya.” [Nano W]

Ket: Disadur dari kitab ‘Shifâtu as- Syiah’ karya Syaikh Shâduq (305-381)

.

Peringkat-peringkat Syiah Berdasarkan Riwayat Ahlulbait(as)

Salam alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala.

Dewasa ini, perkataan Syiah semakin popular di kalangan masyarakat Malaysia, apabila ajaran ini semakin menonjol dan dikenali, terima kasih kepada para penceramah anti Syiah dan media-media Massa yang mempopularkan terma ini, samada dari sudut negatif atau positif(jika ada).

Kami telah pun membahaskan tentang terma “Syiah” dari sisi Quran dan hadis Sunni, namun demi artikel ini, kami akan mengulang semula secara ringkas definasi Syiah.

Dari sudut bahasa, Syiah bermaksud penolong, pengikut dan pembantu atau ahli parti kepada seseorang atau sesuatu kumpulan. Dari segi istilah yang popular di masa kini pula, kata Syiah ini merujuk kepada satu kumpulan manusia yang beragama Islam, di mana, mereka memegang ideologi atau doktrin Imamah Ahlulbait(as) dan mengikuti mereka dalam segala hal, dari segi fiqh, siyasah, akhlaq, aqidah dan lain-lain hal duniawi juga ukhrawi. Pendek kata, kata Syiah ini merujuk kepada satu mazhab yang mengikuti Ahlulbait.

Namun, ini adalah definasi yang terlampau umum dan tidak terperinci. Benarkah semua yang mengaku Syiah itu adalah Syiah? Untuk mengetahui perkara ini dengan lebih mendalam, insyaAllah, akan dibahaskan secara ringkas, berdasarkan pendapat Imam Ahlulbait(as) tentang hal ini. Ambil perhatian bahawa kami hanya akan membahas peringkat-peringkat ini berdasarkan konteks zaman moden ini.

Kelompok Syiah Yang Pertama: Pengikut Fiqh

Seperti juga Sunni, ini adakah lapisan asas dalam pengikut Syiah, yakni selalunya tetapi tidak semestinya, mereka yang dilahirkan dalam keluarga Syiah. Mereka mungkin memahami atau mungkin tidak tentang doktrin-doktrin asas Syiah, dan hanya mengikuti apa yang diperturunkan dari keluarga mereka. Seperti direkodkan dalam firman Allah:

Dan apabila dikatakan kepada mereka” Turutlah akan apa yang telah diturunkan oleh Allah” mereka menjawab: “(Tidak), bahkan kami (hanya) menurut apa yang kami dapati datuk nenek kami melakukannya”. Patutkah (mereka menurutnya) sekalipun datuk neneknya itu tidak faham sesuatu (apa pun tentang perkara-perkara ugama), dan tidak pula mendapat petunjuk hidayah (dari Allah)? Al Quran(2:170)

Di dalam hati mereka, mungkin ada dan mungkin tidak ada naluri sebagai Syiah kepada Ahlulbait, rasa cinta dan taat kepada mereka. Mereka berpotensi menjadi pengkut yang baik, juga berpotensi berubah menjadi musuh Islam. Sejarah telah berkali-kali menyaksikan bagaimana kelompok ini ada yang menjadi pengikut setia, namun ada juga yang berubah menjadi musuh. Cukuplah peristiwa perang Siffin, peristiwa Khawarij, Kufah dan di zaman sekarang orang-orang Syiah seperti Shah Reza Pahlawi menjadi contoh kepada kumpulan ini.

Seseorang itu mungkin berada di dalam kumpulan tentera Imam Ali, ada menjadi sebahagian dari “Syiah”nya pada awal waktu. Namun apabila merima sogokan dari Muawiyah, contohnya, atau menerima tekanan ketakutan dan dugaan duniawi, mereka kemudian meninggalkan Imam sendirian dan tanggungjawab mereka sebagai pengikut Imam. Begitu juga dengan peristiwa lain, yang menunjukkan bagaimana kelompok ini bertindak, samada positif dan negatif.

Contoh lain, kami ambil konteks di zaman sekarang, seorang pemuda Iran, dilahirkan di dalam keluarga Syiah sudah pastinya akan bermazhab Syiah, bermakna mereka bersolat ikut cara Ahlulbait dan beribadah mengikut fiqh mereka. Namun, adakah beliau mempunyai ittikad yang kuat sebagai Syiah? Mungkin tidak. Beliau boleh sahaja menjadi ejen Amerika dan Zionis untuk menjadi pengintip atau pemorak peranda keamanan dan kesatuan.

Mengapakah terjadinya perkara ini? Ini adalah kerana jiwa dan akal mereka tidak menerima wilayah dan imamah Ahlulbait dengan erti kata sebenar. Mereka tidak memahami doktrin Islam dan Iman, dan hanya Islam pada nama sahaja. Maka segala tindakan mereka, tidak semestinya boleh dinisbatkan kepada mereka yang merupakan Syiah yang benar, mukmin. Malah para Imam kerap menegur mereka, dan tindak balas mereka kepada teguran ini boleh sahaja positif atau negatif.

Seseorang berkata: “Aku berkata kepada Imam Shadiq as: “Sebagian dari pengikutmu melakukan dosa-dosa dan berkata: “Kami memiliki harapan.” Lalu Imam as berkata: “Mereka berbohong. Mereka bukanlah kawan kami. Mereka adalah orang-orang yang membawa harapannya kesana kemari, yang mana ketika mereka mengharap sesuatu, mereka mengejarnya, lalu jika mereka takut akan sesuatu, mereka lari.”.”[Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jil. 2, hal. 68, Darul Kutub Islamiah, Tehran, cetakan keempat, 1365 HS]

Imam al-Sadiq (AS) berkata, ‘ Seseorang yang mendakwa mengikut kami dengan lidahnya, tetapi bertindak bertentangan dengan tindakan dan amalan kami, maka beliau bukanlah dari kalangan Syiah kami.’[Bihar al-Anwar, v. 68, hal. 164, no. 13]

Kelompok Syiah Yang Kedua: Pencinta Ahlulbait

Kelompok ini adalah kelompok yang lebih diangkat dari mereka yang sekadar mengikuti fiqh. Mereka memahami dan berpaut pada wilayah dan imamah Ahlulbait(as), meyakininya, beramal dengannya sedaya yang mampu, mencintai mereka dan bertabbara pada musuh-musuh mereka.

Dari luaran, mereka sudah layak digelar Syiah jika tampak ciri-ciri ini. Namun hanya Allah, Rasul dan Imam dari Ahlulbait sahaja yang mengetahui tahap sebenar kedudukan ini, di dalam dada para mukmin. Ini adalah kerana perbezaan antara Syiah sebenar dan pencinta Ahlulbait, hanyalah dari segi kekuatan hati, Iman dan tahap kesetiaan kepada para Imam. Sampai ke tahap manakah seorang mukmin itu sanggup mentaati Imamnya, itulah penentu ukurnya.

Seorang Syiah mungkin sanggup menggadaikan segala hartanya untuk jalan Islam, namun apabila diminta menggadaikan nyawa, tiba-tiba beliau berasa ragu takut dan bimbang. Masih terbuka ruang godaan yang besar untuk mereka digoda syaitan. Namun secara asasnya, mereka adalah mukmin yang baik dan menuju kebaikan.

Seorang lelaki berkata kepada Imam Hasan As, “Saya adalah Syiah(pengikut) Anda,” Imam pun menjawab, “Wahai hamba Tuhan! Jika kamu benar-benar taat kepada perintah kami dan menjauhi larangan kami, maka kamu telah berkata benar, namun jika tidak demikian, maka janganlah menambah dosa-dosamu dengan mendakwa kamu telah mencapai tahap yang sangat mulia dan darjat yang sangat tinggi sedang kamu bukan ahlinya. Janganlah kamu menyatakan, saya adalah Syiah Anda, tetapi katakanlah, “Saya adalah pencinta Anda dan musuh bagi musuh-musuh Anda”. Jika demikian, maka kamu dalam kebaikan dan sedang menuju kepada kebaikan.” (Tanbihul Khawathir, jil. 2, hal. 106)

Imam jelas membuat perbezaan akan dua kumpulan ini dalam banyak ayat-ayat mereka. Contoh yang lain.

Imam Ja’far as berkata:“Sesiapa daripada kalangan Syi‘ah kami dan pencinta kami tidak memiliki Kitab Sulaim Bin Qais al-Hilali, mereka tidak mengetahui urusan kami dengan sebenarnya. Mereka tidak mengetahui sesuatu pun daripada sebab-sebab kami. Ia adalah Abjad Syi‘ah yang mengandungi rahsia daripada rahsia-rahsia keluarga Muhammad Saw.” (Kitab Sulaim). 

Oleh kerana dasar perbezaan antara seorang Syiah dan pencinta Ahlulbait sangat subjektif, maka kami akan teruskan kepada kelompok seterusnya.

Kelompok Syiah Yang Ketiga: Syiah Ahlulbait yang haq

Merekalah pengikut sebenar, mukmin sejati dan dokongan Imam. Apakah ciri-ciri mereka?

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan gigih beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari semalam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[Al Bihâr, 68/167.] 

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya di saat marah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan orang yang berdamai dengannya.”[Al Bihar, 168] 

Syiah adalah orang yang hati dan lidahnya sejalan dengan kami, begitu pula perilaku dan amal perbuatannya mengikuti kami; merekalah Syiah kami.” (Majlisi, Muhammad Baqir, Biharl Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H)

Kalian adalah penyokong kebenaran dan saudara dalam aqidah. Kalian adalah perisai di hari kesusahan dan pemegang amanahku di antara mereka yang lain. Dengan sokongan kalian, aku menyerang mereka yang berpaling dan mengharapkan kesetiaan orang yang bergerak ke hadapan. Oleh itu, berikanlah aku sokongan kalian yang bebas dari penipuan dan suci dari keraguan, kerana demi Allah, akulah yang terpilih dari kalangan manusia.[Khutbah 117, Kitab Nahjul Balagha] 

Sudah tentu ramai contoh-contoh personaliti yang jatuh ke dalam kategori ini, antaranya, Salman al Farisi, Miqdad al Aswad, Malik al Asytar, Ammar Ibn Yasser, Abal Fadhl al Abbas dan ramai lagi.

Jelas, dengan artikel ini, seorang Syiah pasti tidak akan membunuh Imam, seperti yang di dakwa golongan bodoh, penduduk “Syiah” Kufah membunuh Imam. Seorang Syiah adalah mereka yang berpihak kepada Imam. Apabila seseorang itu menentang Imam, maka beliau bukan lagi Syiah, malah mereka adalah musuh Ahlulbait yang terlaknat dan wajib bagi pencinta dan Syiah bertabbarra pada mereka.

Orang yang berakal waras pasti

Semoga bermanfaat. Wallahu alam