Kita sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada salah seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus kepada umatnya, lalu semua umatnya menjadi adil. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya.

perbedaan yang banyak di antara sesama empat mazhab membuat anda pasti bingung kan ?

“Bukankah Anda mengetahui bahwa mazhab yang empat (madzâhibul arba’ah) itu saling bertentangan satu sama lainnya dalam banyak masalah, dan dalam hal ini mereka tidak berlandaskan pada dalil yang kuat atau keterangan yang jelas dan nyata bahwa ialah yang benar, bukan yang lainnya? Orang yang terikat dengan salah satu mazhab dari empat mazhab tersebut hanyalah menyebutkan dalil-dalil yang tidak ada penopangnya. Sebab, ia tidak semuanya bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Ia seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.

Misalnya, seandainya Anda tanyakan kepada seseorang yang bennazhab Hanafi, ‘Mengapa engkau memilih mazhab Hanafi, bukan yang lainnya? Dan mengapa engkau memilih Abu Hanifah sebagai imam untuk dirimu setelah seribu tahun dari kematiannya?

Niscaya orang tersebut tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan hatimu. Demikian juga jika Anda menanyakan hal yang sama kepada seseorang yang mengikuti mazhab asy-Syafi’i, Maliki, atau Hanbali.

Rahasia di balik itu adalah setiap imam dari empat mazhab tersebut bukanlah seorang nabi atau washiyy (orang yang menerima wasiat untuk meneruskan kepemimpinan nabi). Mereka tidak mendapatkan wahyu ataupun mendapatkan ilham, mereka hanya seperti ulama yang lain, dan orang yang seperti mereka amatlah banyak.

Kemudian mereka bukanlah sahabat Nabi Saw, kebanyakan mereka atau bahkan keseluruhan mereka tidak menjumpai Nabi Saw dan tidak pula menjumpai para sahabat Nabi Saw. Setiap orang dari mereka (imam mazhab yang empat) membuat mazhab untuk dirinya sendiri, ia mengikuti mazhabnya itu dan mempunyai pendapat­-pendapat tersendiri, yang boleh jadi terdapat kesalahan atau kelalaian di dalamnya.

Dan setiap dari mereka mempunyai pendapat yang bermacam-macam, yang satu sama lainnya saling bertentangan. Akal sehat tidak akan dapat menerima hal itu, demikian pula hati yang bersih. Sebab, ia tidak berdasarkan pada dalil yang tegas dan kuat, yaitu al-­Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Maka, orang yang berpegangan atau mengikuti salah satu dari mazhab yang empat tersebut tidak mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat kelak di hadapan Allah pada Hari Perhitungan. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah hujah yang jelas lagi kuat itu. Seandainya Allah menanyakan kepada orang yang mengikuti salah satu dari mazhab yang empat itu pada hari kiamat, dengan dalil apa engkau mengikuti mazhabmu ini? Tentu saja ia tidak mempunyai jawaban kecuali ucapannya, Dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Qs. Az-Zukhruf [43]:23)

Atau, ia berkata,

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). (Qs. Al-Azhab [33]:67)

“Adapun kami yang mengikuti wilâyah (kepemimpinan) al-’itrah ath-thâhirah (keturunan yang suci), Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa, dan kami beribadah kepada Allah Swt dengan mengikuti fiqih al-Ja’fari, kami akan berkata kelak pada Hari Perhitungan, ketika kami berdiri di hadapan Allah Swt.”

‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan kami dengan hal itu karena sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam Kitab-Mu, Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (Qs. Al-Hasyr [59]:7)

Dan Nabi-Mu, Muhammad Saw, telah bersabda, sebagaimana yang telah disepakati kaum Muslim, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua pusaka yang sangar berharga (ats-tsaqalain), yaitu Kitabullâh dan Itrah Ahlulbaitku; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di Haudh.”

Dan Nabi-Mu juga telah bersabda, “Perumpamaan Ahlu/ Bairku di rengah-rengah kalian seperti bahrera Nuh barang siapa menaikinya, niscaya dia akan selamat; dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya dia akan tenggelam dan binasa.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah dari al-i’trah ath-thâhirah (keturunan yang suci), yaitu Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa. llmunya adalah ilmu ayahnya, ilmu ayahnya adalah ilmu kakeknya, yaitu Rasulullah Saw, sedangkan ilmu Rasulullah Saw bersumber dari Allah.

Selain itu, semua kaum Muslim telah sepakat akan kejujuran dan keutamaan Imam Ja’far Ash-Shiidiq As: Sesungguhnya ia (Imam Ja’far Ash-Shiidiq As) adalah seorang washiyy keenam dan Imam Maksum, sesuai keyakinan segolongan besar kaum Muslim, yaitu para pengikut mazhab Ahlubait, mazhab yang hak. Dan sesungguhnya ia adalah hujah Allah atas makhluk-Nya.

Imam Ja’far Ash-Shadiq As meriwayatkan hadis dari ayah  dan datuknya yang suci, dan ia tidak berfatwa dengan pendapatnya sendiri. Hadisnya adalah “hadis ayahku dan datukku”. Sebab, mereka adalah sumber ilmu dan hikmah.

Mazhab Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah mazhab ayahnya, dan mazhab kakeknya bersumber dari wahyu, yang tidak akan pernah berpaling sedikit pun darinya. Bukan dari hasil ijtihad, seperti lainnya yang berijtihad.

Oleh karena itu, orang yang mengikuti mazhab Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq As dan mazhab kakek-kakeknya, berarti ia telah mengikuti mazhab yang benar dan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw.

Setelah aku kemukakan dalil-dalil yang jelas dan kuat, Syaikh al-Azhar tersebut mengucapkan banyak terima kasih kepadaku dan ia pun sangat memuliakan kedudukanku.

Kemudian ia menanyakan tentang pandangan Syi’ah terhadap para sahabat Rasulullah Saw. Lalu, aku jelaskan kepadanya bahwa Syi’ah tidak menecela sahabat Rasulullah Saw secara keseluruhan. Akan tetapi, Syi’ah meletakkan mereka sesuai kedudukan mereka. Sebab, di antara mereka ada yang adil dan ada pula yang tidak adil, di antara mereka ada yang pandai dan ada pula yang bodoh, dan di antara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat.

Bukankah Anda tahu apa yang telah mereka lakukan pada hari Saqifah? Mereka telah meninggalkan jenazah Nabi mereka dalam keadaan terbujur kaku di atas tempat tidumya, mereka berlomba-lomba memperebutkan kekhalifahan. Setiap orang dari mereka beranggapan bahwa ialah yang berhak menjadi khalifah, seakan-akan ia adalah barang dagangan yang dapat diperoleh bagi siapa saja yang lebih dahulu mendapatkannya. Padahal mereka telah mendengar nash-nash yang tegas yang telah disampaikan oleh Nabi Saw tentang kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib As, baik sejak awal dakwahnya maupun hadis Ghadir Khum yang terkenal itu.

Selain itu, mengurusi jenazah Rasulullah Saw lebih penting daripada urusan kekhalifahan. Bahkan, seandainya saja Rasulullah Saw tidak mewasiatkan seseorang untuk menjadi khalifahnya (Rasulullah Saw. secara tegas telah menunjuk ‘Ali untuk menjadi khalifahnya), maka wajib bagi mereka untuk mengurusi jenazah Rasulullah Saw  terlebih dahulu.

Kemudian setelah selesai mengurusi jenazah Rasulullah Saw, seyogyanya mereka menyatakan belasungkawa kepada keluarga beliau, seandainya saja mereka adalah orang-orang yang adi!.

Akan tetapi, dimanakah keadilan dan perasaan hati mereka, dimanakah keluhuran akhlak, dan dimanakah ketulusan dan kecintaan? Dan yang lebih menyakitkan lagi di dalam hati adalah penyerbuan mereka ke rumah belahan jiwa Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra As, yang dilakukan oleh sekitar lima puluh orang pria.

Mereka telah mengumpulkan kayu bakar untuk membakar rumah Fatimah dan semua orang yang di dalamnya. Sehingga ada seseorang yang berkata kepada ‘Umar, “Sesungguhnya di dalam rumah tersebut terdapat al-Hasan, al-Husain, dan Fatimah.”

Akan tetapi, ‘Umar berkata, “Walaupun (di dalam rumah tersebut ada mereka).”

Peristiwa ini banyak disebutkan oleh sejarawan Ahlus Sunnah,[3] apalagi para sejarawan Syi’ah.

Semua orang tahu, baik orang yang berbakti maupun orang yang jahat, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka ia telah menyakitiku; barang siapa yang membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka; barang siapa yang membuatku murka, maka ia teah membuat Allah murka; dan barang siapa membuat Allah murka, maka Allah akan menyungkurkan kedua lubang hidungnya ke dalam neraka.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada para sahabat Nabi Saw secara jelas menunjukkan bahwa tidak semua sahabat itu adil. Silakan Anda merujuk ke Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh al-Muslim tentang hadis Haudh, niscaya Anda akan mendapatkan kebenaran pendapat Syi’ah tentang penilaian mereka terhadap para sahabat Nabi Saw.

Jika demikian adanya, maka dosa apakah bagi mereka (Syi’ah) jika mereka berpendapat bahwa banyak di antara sahabat Nabi Saw yang tidak adil, sedangkan banyak dari mereka sendiri (para sahabat Nabi Saw.) yang menunjukkan jati diri mereka sendiri.

Perang Jamal dan Perang Shiffin adalah dalil dan bukti yang paling jelas terhadap kebenaran pendapat mereka (Syi’ah). Dan al-Qur’an telah menyingkapkan banyak keburukan perbuatan di antara mereka (para sahabat Nabi Saw).

Bukankah Anda juga tahu apa yang telah dilakukan oleh Mu’awiyah, ‘Amru bin ‘Ash, Marwan bin Hakam, Ziyad dan anaknya, Mughirah bin Syu’bah, ‘Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah dan Zubair, yang keduanya telah memberikan baiat kepada Amirul Mukminin ‘Ali As, tetapi keduanya kemudian melanggar baiatnya dan memerangi Imam mereka (‘Ali bin Abi Thalib As) bersama ‘A’isyah di Basrah, yang sebelumnya mereka telah melakukan kejahatan-kejahatan di kota tersebut (Basrah) yang tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang mempunyai jiwa satria.

Selain itu, selama keberadaan Nabi Saw di tengah-tengah mereka (para sahabat beliau), banyak di antara mereka yang melakukan perbuatan nifâk (munafik), apakah kemudian setelah Nabi Saw menemui Tuhannya (wafat), mereka lantas menjadi adil semuanya?

Kita sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada salah seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus kepada umatnya, lalu semua umatnya menjadi adil. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan kepada kita tentang hal itu.

Sesungguhnya apa yang telah kami persembahkan kepada para pembaca adalah bersumber dari  al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dalam hadis sahih dalam kitab-kitab sahih Sunni, dan merupakan bukti yang kuat terhadap kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung (belâ fashl), sekiranya orang yang menentang kami berlaku adil.

Perhatikanlah dengan seksama dan sungguh-sungguh terhadap semua yang telah kami sebutkan  yaitu hujjah dan keterangan yang jelas, dengan begitu niscaya akan tersingkap kebenaran yang hakiki bagi Anda dan akan memudahkan jalan bagi siapa saja yang hendak menempuh jalan kebenaran. Yaitu, orang-orang yang mengikhlaskan niatnya dan menjauhkan dirinya dari fanatisme mazhab yang membutakan hati dan pikiran sehat dan membinasakan.

Orang yang bersikeras dalam fanatismenya, tidak akan berguna riwayat, walaupun jumlahnya sangat banyak dan telah dikemukakan baginya seribu dalil.

Adapun orang yang mempunyai pikiran yang jemih dan akal yang cerdas, maka yang telah kami persembahkan, dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, telah memadai baginya karena dalil-dalil tersebut adalah riwayat-riwayat yang sahih yang telah disepakati kebenarannya, baik di kalangan Sunni maupun Syi’ah.

Selain itu, orang yang bersikeras di dalam kefanatikannya, bahkan seandainya Nabi Saw sendiri yang datang kepadanya dan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia tetap akan berada di dalam sikap keras kepalanya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh   salah seorang di antara mereka, yang keras kepala, kepada saudaraku “Seandainya Jibril turun, dan ikut bersamanya Muhammad dan ‘Ali, aku tetap tidak akan membenarkan ucapanmu.”

Sesungguhnya manusia itu bermacam-macam. Dan merupakan hal yang sulit mendapatkan kerelaan seluruh manusia, bahkan itu merupakan suatu hal yang mustahil diraih.

Semoga Allah Swt. mencurahkan rahmat-Nya kepada ‘Ali al-Kailani, seorang pujangga berkebangsaan Palestina yang berkata,

Jika Tuhannya makhluk tidak meridhai makhluk-Nya,

Maka bagaimana mungkin makhluk dapat diharapkan keridhaannya.


[1] . Allah membukakan hatinya untuk menerima dan mengikuti mazhab yang benar yaitu mazhab Ahlulbait al-Ja’fari.

[2] . Silahkan Anda rujuk pada bagian ketiga dari buku ini.

[3] .  Lihat al-Imâmah was Siyâsah. Ar-Riyadhun Nadhrah, Murujudz Dzahab, Ansâbul Asyrâf, al-Imâm ‘Ali, karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud, Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadid, dan kitab-­kitab lainnya yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Anda akan mendapatkan bahwa mereka menyebutkan peristiwa yang menyedihkan dan memilukan hati ini. Adapun Syi’ah, para sejarawan mereka telah menyebutkan peristiwa yang menyakitkan hati ini berikut nama-nama mereka yang melakukan tindakan kejahatan ini. Mereka menyatakan bahwa perirstiwa penyerbuan ke rumah Fatimah As tersebut dipimpin oleh ‘Umar “seorang pahlawan yang gagah berani” tetapi gagah berani bukan di medan perang.

Abubakar dan Umar dijamin surga ?? Mereka telah meninggalkan jenazah Nabi mereka dalam keadaan terbujur kaku di atas tempat tidumya, mereka berlomba-lomba memperebutkan kekhalifahan pada hari Saqifah

Bismihi Ta’ala

Allahumma bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad, shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

Kenapa imam Ali  Membai’at  Abubakar  Didepan  Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar  meraih peluang  besar ketika gelombang kemurtadan  dan penentangan  terhadap islam  melanda Hijaz… Kaum Muslimin  yang  tercekam  MENOLAK  BERPERANG MELAWAN Musailamah  Al  Kadzab  dan  KAUM  MURTAD    kecuali  Imam Ali membai’at  ABUBAKAR…

Sehingga Imam Ali  TERPAKSA  membai’at  Abubakar … Menentang  Abubakar  hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal  KAUM  MUSLiMiN  berkepentingan  menyelamatkan islam agar  langgeng … Jika Imam Ali Memerangi  Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Sampai  matipun Fatimah tidak mau menerima Kekhalifahan Abubakar !!! Syi’ah Mencontoh  Al Maksum  Fatimah Karena itu Maqashid  Asy Syariah… Kenapa imam Ali Membai’at Abubakar Didepan Massa ( Orang Ramai ) ??? Abubakar meraih peluang besar ketika gelombang kemurtadan dan penentangan terhadap islam melanda Hijaz…

Kaum Muslimin yang tercekam MENOLAK BERPERANG MELAWAN Musailamah Al Kadzab dan KAUM MURTAD kecuali Imam Ali membai’at ABUBAKAR… Sehingga Imam Ali TERPAKSA membai’at Abubakar …

Menentang Abubakar hanya akan membuat islam lenyap (punah) padahal KAUM MUSLiMiN berkepentingan menyelamatkan islam agar langgeng … Jika Imam Ali Memerangi Abubakar Maka Tidak Ada Lagi Islam Yang Tersisa

Ulama sunni menyatakan  bahwa semua sahabat adalah adil!

Kata-kata itu adalah pembohongan dan rekaan belaka, bagaimana mungkin semua sahabat adil sedangkan Allah melaknati sebahagian mereka. Rasul sendiri telah melaknati sebahagian sahabatnya ! Sahabat pula saling melaknati sesama mereka, memerangi sesama mereka, mencaci sesama mereka dan membunuh sesama mereka bahkan ada yang menindas keluarga Nabi

Mazhab Syi’ah tidak menggugat semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran. Ayat ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuai baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. Allah Maha Adil sehingga mustahil memberikan jaminan masuk surga pada sahabat yang berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil.

Terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

Ref. Ahlusunnah :

  1. Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”.
  2. Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”.
  3. 3.     Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”.
  4. 4.     Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”.
  5. 5.     Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”.

dan lain-lain.

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, BabHabsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat.

Dalam Kitab Sunan Abu Dawud(klik) tercatat :

13 – أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي صلى الله عليه وسلم إنما بنو هاشم وبنو المطلب شيء واحد قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله صلى الله عليه وسلم غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله صلى الله عليه وسلم ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده

الراوي: جبير بن مطعم المحدث: الألباني – المصدر: صحيح أبي داود – الصفحة أو الرقم: 2978

خلاصة حكم المحدث: صحيح

Riwayat yang sama dari Sunan Abu Dawud No.2978 :

2978 – حدثنا عبيد الله بن عمر بن ميسرة ثنا عبد الرحمن بن مهدي عن عبد الله بن المبارك عن يونس بن يزيد عن الزهري قال أخبرني سعيد بن المسيب قال

« أخبرني جبير بن مطعم أنه جاء هو وعثمان بن عفان يكلمان رسول الله فيما قسم من الخمس بين بني هاشم وبني المطلب فقلت يا رسول الله قسمت لإخواننا بني المطلب ولم تعطنا شيئا وقرابتنا وقرابتهم منك واحدة فقال النبي ” إنما بنو هاشم وبنو المطلب شىء واحد ” قال جبير ولم يقسم لبني عبد شمس ولا لبني نوفل [ شيئا ] من ذلك الخمس كما قسم لبني هاشم وبني المطلب. قال وكان أبو بكر يقسم الخمس نحو قسم رسول الله غير أنه لم يكن يعطي قربى رسول الله ما كان النبي يعطيهم قال وكان عمر بن الخطاب يعطيهم منه وعثمان بعده. » 72

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Maisarah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Abdullah bin Al Mubarak dari Yunus bin Yazid dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Musayyab yang berkata telah mengabarkan kepadaku Jubair bin Muth’im, bahwa ia bersama Utsman bin Affan datang untuk berbicara kepada Rasulullah (saww) tentang bagian khumus yang beliau bagikan diantara Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Kemudian aku berkata : “Wahai Rasulullah, anda telah membagi untuk saudara-saudara kami Bani Al Muththalib, dan anda tidak memberikan sesuatupun kepada kami, padahal kerabat kami dan kerabat mereka bagi anda adalah satu”.

Kemudian Nabi (saww) bersabda : “Sesungguhnya Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib adalah satu.”

Jubair mengatakan Beliau tidak membagikan kepada Bani Abdu Syams dan Bani Naufal dari khumus tersebut sebagaimana beliau membagikan kepada Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib.

Jubair berkata : “Abu Bakar membagikan khumus sebagaimana Rasulullah (saww) membagikannya hanya saja ia tidak memberikan (khumus) kepada kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan kepada mereka“.

Jubair berkata : Dan Umar bin  Khathab memberikan kepada mereka (kerabat Rasul saww) dari bagian tersebut begitu juga Utsman setelahnya”

Derajat HaditsShahih (klik)

.

“…..hanya saja ia (yaitu ABU BAKAR) tidak memberikan khumus kepada kaum kerabat (qurba) Rasulullah (saww), sebagaimana Rasulullah (saww) telah memberikan khumus kepada mereka

Seperti inikah yang dikatakan khalifah yang adil..??

Gembong Nashibi Ibn Taymiyah dalam Komik kebanggaan para Nashibi (LA) Minhaj As-Sunnah 8/291 (klik), mengatakan  :

وغاية ما يقال إنه كبس البيت لينظر هل فيه شيء من مال الله الذي يقسمه وأن يعطيه لمستحق

Tujuan dari apa yang dikatakan bahwa ia (abu bakar) mendobrak rumah (rumah Fathimah as) adalah untuk melihat jika disana ada harta Allah untuk disalurkan dan diberikan kepada yang layak menerimanya”

Masuk akalkah Ahlul Bait (as) menyimpan harta yang bukan miliknya alias harta ilegal..??  sehingga Abu Bakar mencari-carinya dan mendobrak rumah Fathimah (as) karena alasan tersebut?

0
inShare

Tindakan-tindakah khalifah Abu Bakar yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) serta akal yang sejahtera melebihi 4 perkara sebagaimana dicatat oleh ulama Ahlus-Sunnah wa l-Jama’ah di dalam buku-buku mereka. Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka, maka merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah (swt). Dan sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita menolaknya dan terus memusuhi Sunnah Nabi (Saw.) yang bertentangan dengan tindakan Abu Bakar? Berikut dikemukakan sebagian dari tindakan khalifah Abu Bakar :

1.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi saw, niscaya mereka tidak melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3].

2.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perpecahan kepada umat, tetapi khalifah Abu Bakar berpendapat Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perselisihan dan perpecahan kepada umat. Dia berkata: “Kalian meriwayatkan dari Rasulullah (Saw.) hadits-hadits di mana kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas kalian akan berselisih faham lebih kuat lagi.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

3.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi( Saw.), niscaya mereka meriwayatkan dan menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.) di kalangan orang ramai,tetapi khalifah Abu Bakar melarang orang ramai dari meriwayatkannya. Dia berkata: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatu pun (syai’an) dari Rasulullah (Saw.)” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

4.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak akan mengatakan bahwa Kitab Allah adalah cukup untuk menyelesaikan segala masalah tanpa Sunnah Nabi (Saw.), tetapi khalifah Abu Bakar berkata: “Kitab Allah dapat menyelesaikan segala masalah tanpa memerlukan Sunnah Nabi (Saw.)” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.”[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas peristiwa Hari Khamis yaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika dia berkata:” Rasulullah (Saw.) sedang meracau dan cukuplah bagi kita Kitab Allah (Hasbuna Kitabullah).” Lantaran itu sunnah Abu Bakar tadi adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya ; Kitab Allah dan “Sunnahku.”

5.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membakar Sunnah Nabi (Saw.), tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakarnya. Oleh itu tidak heranlah jika Khalifah Abu Bakar tidak pernah senang hati semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadits Nabi (Saw.) semasa pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula. [al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, V, hlm. 237]

Dengan ini dia telah menghilangkan Sunnah Rasulullah (Saw.). Oleh itu kata-kata Abu Bakar: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun dari Rasulullah (Saw.)” menunjukkan larangan umum terhadap periwayatan dan penulisan hadits Rasulullah (Saw,). Dan hal itu tidak boleh ditakwilkan sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.

6.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.), dan menjaganya, tetapi khalifah Abu Bakar, melarangnya dan memusnahkannya (Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,V,hlm. 237] Lantaran itu tindakan khalifah Abu Bakar adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.):”Allah memuliakan seseorang yang mendengar haditsku dan menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadits) membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala pembawa ilmu (hadits) bukanlah seorang yang alim.”[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm.437; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm.78] Dan sabdanya “Siapa yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan membelenggukannya dengan api neraka.” [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, III, hlm.263]

7.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka berkata: “Kami perlu kepada sunnah Nabi (Saw.) setiap masa,” tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya berkata: “Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi, karena kitab Allah sudah cukup bagi kita.” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

8.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka percaya bahwa taat kepada Nabi (Saw.) adalah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Nisa’(4) 80 : “Siapa yang mentaati Rasul, maka dia mentaati Allah”. Ini berarti siapa yang mendurhakai Rasul, maka dia mendurhakai Allah, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya percaya sebaliknya ketika dia berkata: : “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) Baginya mendurhakai Nabi (Saw.) bukan berarti mendurhakai Allah.

9.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak bermusuhan dengan Ahlu l-Bait Nabi (Saw.), apa lagi mengepung dan coba membakar rumah anak perempuannya; Fatimah (a.s), tetapi mereka telah mengepung dan coba membakarnya dengan menyalakan api di pintu rumahnya.Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengepung dan coba membakar rumah Fatimah al-Zahra’ sekalipun Fatimah, Ali, Hasan dan Husain (a.s) berada di dalamnya. Ini disebabkan mereka tidak melakukan bai’ah kepadanya. Khalifah Abu Bakar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan mengadu kepadanya. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, IV, hlm.196 meriwayatkan dari Aisyah bahwa Fatimah tidak bercakap dengan Abu Bakar sehingga beliau meninggal dunia. Beliau hidup selepas Nabi saw wafat selama 6 bulan. [Al-Bukhari,Sahih ,VI,hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh,I,hlm.159; al-Tabari,Tarikh,III,hlm.159]

10.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membawa Ali (a.s) di dalam keadaan lehernya terikat, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepadanya di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah , I ,hlm.18-20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal,iii,hlm.139;Abul-Fida,Tarikh,I,hlm.159; al- Tabari, Tarikh ,III , hlm.159].

Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (Saw.) yang bersifat lembut terhadap Ali (a.s) dan melantiknya sebagai khalifah selepasnya: “Siapa yang telah menjadikan aku maulanya,maka Ali adalah maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap kedudukan khalifah.(al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.144,al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal ,vi,hlm.2180)

11.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka diizinkan untuk mengerjakan solat jenazah ke atas Fatimah (a.s), tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk mengerjakan solat ke atasnya. Beliau telah berwasiat kepada suaminya Ali (a.s) supaya Abu Bakar dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat ke atasnya. Karena perbuatan mereka berdua yang menyakitkan hatinya, khususnya mengenai Fadak [Al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh, I ,hlm.159;al-Tabari, Tarikh,III,hlm.159]. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

12.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka tidak dirahasiakan tentang makam Fatimah (a.s), tetapi Abu Bakar dan kumpulannya telah dirahasiakan tentang lokasi makam Fatimah (a.s),karena Fatimah (a.s) berwasiat kepada suaminya supaya merahasiakan makamnya dari mereka berdua. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

13.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mencaci Ali dan Fatimah a.s, tetapi Khalifah Abu Bakar telah mencaci Ali (a.s) dan Fatimah (a.s) sebagai musang dan ekornya. Bahkan beliau mengatakan Ali (a.s) seperti Umm al-Tihal (seorang perempuan pelacur) karena menimbulkan soal tanah Fadak. Kata-kata ini telah diucapkan oleh Abu Bakar di dalam Masjid Nabi (Saw.) selepas berlakunya dialog dengan Fatimah (a.s) mengenai tanah Fadak. Ibn Abi al-Hadid telah bertanya gurunya, Yahya Naqib Ja’far bin Yahya bin Abi Zaid al-Hasri, mengenai kata-kata tersebut:”Kepada siapakah hal itu ditujukan?”Gurunya menjawab:”hal itu ditujukan kepada Ali AS.” Kemudian ia bertanya lagi:”Adakah ia ditujukan kepada Ali?” Gurunya menjawab:”Wahai anakku inilah artinya pemerintahan dan pangkat duniawi tidak mengira kata-kata tersebut.”[Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV,hlm.80] . Kata-kata Abu Bakar adalah bertentangan dengan firman-Nya:”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”[Surah al-Ahzab (33):33] Fatimah dan Ali AS adalah Ahlul Bayt Rasulullah SAW yang telah disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda:”Kami Ahlul Bayt tidak boleh seorangpun dibandingkan dengan kami.”[Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah,hlm.243]

14.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menghentikan pemberian khums kepada keluarga Nabi saw, tetapi Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga Rasulullah (Saw.). Ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (8):41 “Ketahuilah,apa yang kamu perolehi seperlima adalah untuk Allah,Rasul-Nya,Kerabat,anak-anak yatim,orang miskin,dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ,II,hlm.127]

15.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) ,tetapi Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) selepas wafatnya Nabi (Saw.).Khalifah Abu Bakar memberi alasan “Kami para nabi tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa yang kami tinggalkan ialah sedekah.” Hujah yang diberikan oleh Abu Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan Ali (a.s) karena hal itu bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti berikut:

a) Firman-Nya yang bermaksud ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka) untuk anak-anakmu.”[Surah an-Nisa (4):11] Apa yang dimaksudkan dengan ‘anak-anak’ ialah termasuk anak-anak Nabi (Saw.).

b) Firman-Nya yang bermaksud:”Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.”(Surah al-Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman (a.s) mewarisi kerajaan Nabi Daud (a.s) dan menggantikan kenabiannya.

c) Firman-Nya yang bermaksud:”Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai.”(Surah Maryam:5-6)

Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu Bakar yang berpegang dengan hadits tersebut. Dan apabila hadits bertentangan dengan al-Qur’an, maka hal itu (hadits) mestilah diketepikan.

d) Kalau hadits tersebut benar, ia berart Nabi (Saw.) sendiri telah cuai untuk memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan hal itu bercanggah dengan firman-Nya yang bermaksud:”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”(Surah al-Syua’ra:214)

e) Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan hal itu tidak boleh menjadi hujah karena Fatimah dan Ali (a.s) menentangnya. Fatimah (a.s) berkata:”Adakah kamu sekarang menyangka bahwa aku tidak boleh menerima pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum Jahiliyyah? Tidakkah hukum Allah lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah kamu wahai anak Abi Qahafah mewarisi ayah kamu sedangkan aku tidak mewarisi ayahku? Sesungguhnya kamu telah melakukan perkara keji.” (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’,II,hlm.14;Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’,III,hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV, hlm.79,92)

f) Fatimah dan Ali (a.s) adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di dalam Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-Kisa’. Dan termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang Nasrani di dalam ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran:61. Adakah wajar orang yang disucikan Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi pembohong, penuntut harta Muslimin yang bukan haknya?

g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul hal itu bermakna Rasulullah (Saw.) sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai seorang ayah terhadap anaknya. Karena anak-anak para nabi yang terdahulu menerima harta pusaka dari ayah-ayah mereka.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi (Saw.) dengan keluarganya menunjukkan betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya, Fatimah sebagai ibu dan nenek kepada sebelas Imam AS. Beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah marah karena kemarahanmu (Fatimah ) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III , hlm.153; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, hlm.522; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI, hlm.219;Mahyu al-Din al-Syafi'i al-Tabari, Dhakhair al-Uqba,hlm.39] Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan merayu kepadanya.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14]

Beliau berwasiat supaya beliau dikebumikan di waktu malam dan tidak membenarkan seorangpun dari “mereka” menyembahyangkan jenazahnya. [Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm. 542;al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm, 177; Ibn Abd al-Birr, al-Isti'ab,II,hlm.75]

Sebenarnya Fatimah a.s menuntut tiga perkara:

1. Kedudukan khalifah untuk suaminya Ali AS karena dia adalah dari ahlul Bait yang disucikan dan perlantikannya di Ghadir Khum disaksikan oleh 120,000 orang dan hal itu diriwayatkan oleh 110 sahabat.
2. Fadak.
3. Al-khums, saham kerabat Rasulullah tetapi kesemuanya ditolak oleh khalifah Abu Bakar [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,V,hlm.86]

16.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi sawa,niscaya mereka mengenakan hukum had ke atas pelakunya tanpa pilih kasih,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali (a.s) mau supaya Khalid dihukum rejam.[Ibn Hajr, al-Isabah , III, hlm.336]

Umar berkata kepada Khalid:”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”[Al-Tabari,Tarikh ,IV, hlm.1928] Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahwa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa Umar berkata:”Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”

Umar memahami bahwa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak patut dilakukan karena mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah kepada kemurtadan mereka. Pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan ‘idfi’u, yaitu mengikut suku Kinanah ia berart “bunuh” dan dalam bahasa Arab biasa ia berart “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid bagi mengetahui maksudnya yang sebenar.

Tetapi mereka terus membunuh kaumnya dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Oleh itu Dhirar pasti memahami bahwa perkataaan idfi’u bukanlah perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik. Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam pembunuhan tersebut tidak boleh menjadi hujah dalam kejahatan Khalid, apatah lagi perzinaannya dengan isteri Malik bin Nuwairah selepas dia dibunuh. Dengan itu tidak heranlah jika Ali AS dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu Bakar enggan melakukannya.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, maka Nabi (Saw.) sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha’labah yang enggan membayar zakat kepada beliau (Saw.). Allah (swt) menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah(9):75-77. Semua ahli tafsir Ahlu s-Sunnah menyatakan bahwa ayat itu diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat karena beranggapan bahwa hal itu jizyah. Maka Allah (swt) mendedahkan hakikatnya. Dan Nabi (Saw.) tidak memeranginya dan tidak pula merampas hartanya sedangkan beliau (Saw.) mampu melakukannya. Adapun Malik bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama. Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu Bakar ke atas kedudukan khalifah selepas Rasulullah (Saw.) dengan menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadits al-Ghadir. Oleh itu tidak heranlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa mengira kejahatan yang dilakukannya terhadap Muslimin karena Khalid telah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya di bawah operasi “enggan membayar zakat dan murtad” sekalipun hal itu bertentangan dengan Sunah Nabi (Saw.).

17.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal mereka sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal dia sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.). Beliau bersabda:”Ali adalah saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku” dan sabdanya:”Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan penyerahan kedudukan khalifah kepada Umar adalah menyalahi prinsip syura yang diagung-agungkan oleh Ahlul Sunnah. Justru itu Abu Bakar adalah orang yang pertama merusakkan sistem syura dan memansuhkannya. Pertama, dia menggunakan “syura terhad” bagi mencapai cita-citanya untuk menjadi khalifah tanpa menjemput Bani Hasyim untuk menyertainya. Kedua, apabila kedudukannya menjadi kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah selepasnya tanpa syura dengan alasan bahwa Umar adalah orang yang paling baik baginya untuk memegang kedudukan khalifah selepasnya.

18.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka dilantik oleh Nabi (Saw.)untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah dilantik oleh Nabi (Saw.) untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan, malah beliau melantik orang lain. Hanya pada satu masa beliau melantiknya untuk membawa Surah Bara’ah, tetapi beliau mengambil kembali tugas itu dan kemudian meminta Ali (a.s) untuk melaksanakannya.[Al-Tabari, Dhakha'ir al-Uqba,hlm.61;al-Turmudhi, Sahih,II, hlm.461;Ibn Hajr, al-Isabah,II, hlm.509]

19.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui pengertian al-Abb di dalam al-Qur’an,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui pengertian al-Abb yaitu firman-Nya di dalam Surah ‘Abasa (80):31:”Dan buah-buahan (Fakihatun) serta rumput-rumputan (abban).”Dia berkata:”Langit mana aku akan junjung dan bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang aku tidak mengetahui?”[al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,I,hlm.274]

20.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.) tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengetahui dia akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.). Malik bin Anas di dalam a-Muwatta bab “jihad syuhada’ fi sabilillah’ telah meriwayatkan dari hamba Umar bin Ubaidillah bahwa dia menyampaikannya kepadanya bahwa Rasulullah bersabda kepada para syahid di Uhud:”Aku menjadi saksi kepada mereka semua.”Abu Bakar berkata:”Tidakkah kami wahai Rasulullah (Saw.) saudara-saudara mereka. Kami telah masuk Islam sebagaimana mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana mereka berjihad?” Rasulullah menjawab:”Ya! Tetapi aku tidak mengetahui bid’ah mana yang kalian akan lakukan selepasku.”Abu Bakar pun menangis, dan dia terus menangis. Bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri, di antaranya al-Bara’ bin Azib.

Al-Bukhari di dalam Sahihnya “Kitab bad’ al-Khalq fi bab Ghuzwah al-Hudaibiyyah” telah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ala bin al-Musayyab dari ayahnya bahwa dia berkata:”Aku berjumpa al-Barra bin Azib maka aku berkata kepadanya: Alangkah beruntungnya anda karena bersahabat dengan Nabi (Saw.) dan anda telah membai’ah kepadanya di bawah pohon. Maka dia menjawab: Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang kami telah lakukan (Ahdathna) selepasnya.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.32]

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi (Saw.) bersabda kepada orang-orang Ansar:”Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya di Haudh.”Anas berkata:”Kami tidak sabar.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.135]

Ibn Sa’d juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm. 51, dengan sanadnya dari Ismail bin Qais bahwa dia berkata:”Aisyah ketika wafatnya berkata: Sesungguhnya aku telah melakukan bid’ah-bid’ah (Ahdathtu) selepas Rasulullah (Saw.), maka kebumikanlah aku bersama-sama isteri Nabi (Saw.).” Apa yang dimaksudkan olehnya ialah “Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Nabi (Saw.) karena aku telah melakukan bid’ah-bid’ah selepasnya.”

Lantaran itu, khalifah Abu Bakar, al-Barra bin Azib, Anas bin Malik dan Aisyah telah memberi pengakuan masing-masing bahwa mereka telah melakukan bid’ah-bid’ah dengan mengubah Sunnah Nabi (Saw.).

21.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan berkata: “Syaitan menggodaku, sekiranya aku betul, maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng , maka betulkanlah aku.” Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata: “Aku digodai Syaitan. Sekiranya aku betul,maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng, maka betulkanlah aku.” [Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I, hlm. 6; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,III, hlm. 126; Ibn Hajr, al-Sawa'iq al-Muhriqah, hlm. 7; al-Syablanci,Nur al-Absar, hlm. 53] Ini berarti dia tidak mempunyai keyakinan diri,dan bagaimana dia boleh menyakinkan orang lain pula?

22.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) ,niscaya mereka tidak menyesal menjadi seorang manusia, tetapi Khalifah Abu Bakar menyesal menjadi seorang manusia, malah dia ingin menjadi pohon dimakan oleh binatang kemudian mengeluarkannya. Abu Bakar berkata:”Ketika dia melihat seekor burung hinggap di atas suatu pohon, dia berkata:Beruntunglah engkau wahai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon tanpa hisab dan balasan. Tetapi aku lebih suka jika aku ini sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan. Kemudian datang seekor unta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan pula dan tidak menjadi seorang manusia.”[al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah,I,hlm. 134; Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah,III,hlm. 130]

Kata-kata khalifah Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) di dalam Surah al-Tin (95):4:”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia di dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Dan jika Abu Bakar seorang wali Allah kenapa dia harus takut kepada hari hisab? Sedangkan Allah telah memberi khabar gembira kepada wali-walinya di dalam Surah Yunus(10):62-64,”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah ini tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.Tidak ada perubahan kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

23.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengganggu rumah Fatimah (a.s) semenjak awal lagi, tetapi khalifah Abu Bakar telah mengganggunya dan ketika sakit menyesal karena mengganggu rumah Fatimah (a.s). Dia berkata: “Sepatutnya aku tidak mengganggu rumah Fatimah sekalipun beliau mengisytiharkan perang terhadapku.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm. 18-19; al-Tabari, Tarikh ,IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, Iqd al-Farid,II,hlm.254]

24.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menjatuhkan air muka Nabi (Saw.), Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menjatuhkan air muka Nabi (Saw.) di hadapan musyrikin yang datang berjumpa dengan Nabi (Saw.) supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata:”Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah karena mereka cinta kepada agama tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami adalah tetangga anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.”Tetapi Nabi (Saw.) tidak mau menyerahkan kepada mereka hamba-hamba tersebut karena khawatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut dan beliau tidak mau juga mendedahkan hakikat ini kepada mereka. Nabi (Saw.) bertanya kepada Abu Bakar dengan harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar berkata:”Benar kata-kata mereka itu.” Lantas berubah muka Nabi (Saw.)karena jawabannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.[al-Nasa'i, al-Khasa'is,hlm. 11; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 155] Sepatutnya khalifah Abu Bakar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Nabi, tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah diam memihak kepada Musyrikun berdasarkan ijtihadnya.

25.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka telah membunuh Dhu al-Thadyah (seorang lelaki yang mempunyai payudara, akhirnya menentang khalifah Ali), tetapi khalifah Abu Bakar tidak membunuh Dhu al-Thadyah sedangkan Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar supaya membunuh Dhu al-Thadyah. Abu Bakar mendapati lelaki itu sedang mengerjakan solat. Lalu dia berkata kepada Rasulullah (Saw.) :”Subhanallah! Bagaimana aku membunuh lelaki yang sedang mengerjakan solat?” (Ahmad b.Hanbal,al-Musnad,III,hlm.14-150) Sepatutnya dia membunuh lelaki itu tanpa mengira keadaan karena Nabi (Saw.)telah memerintahkannya. Tetapi dia tidak membunuhnya, malah dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Nabi (Saw.).

26.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Seorang nenek bertanya kepada Abu Bakar tentang pusakanya. Abu Bakar menjawab:”Tidak ada saham untuk anda di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Oleh itu kembalilah.”Lalu al-Mughirah bin Syu”bah berkata:”Aku berada di sisi Nabi (Saw.)bahwa beliau memberikannya (nenek) seperenam saham.”Abu Bakar berkata:”Adakah orang lain bersama anda?” Muhammad bin Muslimah al-Ansari bangun dan berkata sebagaimana al-Mughirah. Maka Abu Bakar memberikannya seperenam.[Malik, al-Muwatta,I,hlm. 335; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,IV,hlm.224;Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid,II, hlm.334]

27.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui hukum had
ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui hukum had ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya. Dari Safiyyah binti Abi Ubaid,”Seorang lelaki buntung satu tangan dan satu kakinya telah mencuri pada masa pemerintahan Abu Bakar. Lalu Abu Bakar mau memotong kakinya dan bukan tangannya supaya dia dapat bermunafaat dengan tangannya. Maka Umar berkata:”Demi yang diriku di tangan-Nya, anda mesti memotong tangannya yang satu itu.” Lalu Abu Bakar memerintahkan supaya tangannya dipotong.”[al-Baihaqi, Sunan,VIII,hlm.273-4]
28.

Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim .Tetapi Khalifah Abu Bakar berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim (afdhal).[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I,hlm. 16; al-Baqillani, al-Tamhid,hlm. 195; al-Halabi, Sirah Nabawiyyah,III, hlm.386] Ijtihadnya adalah bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-Zumar (39):9:”Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” dan firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):35:”Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?”

29.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka melakukan korban (penyembelihan) sekali di dalam hidupnya.Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah melakukan korban (penyembelihan) karena khawatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib. Sunnahnya adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.) yang menggalakkannya.[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, IX,hlm. 265; al-Syafi'i, al-Umm, II, hlm.189]

30.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, kemudian Dia menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya. Seorang lelaki bertanya kepadanya:”Adakah anda fikir zina juga qadarNya? Lelaki itu bertanya lagi:”Allah mentakdirkannya ke atasku kemudian menyiksa aku?” Khalifah Abu Bakar menjawab:” Ya. Demi Tuhan sekiranya aku dapati seseorang masih berada di sisiku, niscaya aku menyuruhnya memukul hidung anda.”[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, hlm.65]

Oleh itu ijtihad Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman-firman Tuhan di antaranya:

a. Firman-Nya di dalam Surah al-Insan (76):3:”Sesungguhnya kami telah menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
b. Firman-Nya di dalam Surah al-Balad (90):10:”Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
c. Firman-Nya di dalam Surah al-Naml (27):40:”Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’”.

31.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata: Jika pendapat kami betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari kami dan dari syaitan. Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Jika pendapatku betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari aku dan dari syaitan.”[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VI, hlm. 223; al-Tabari, Tafsir, VI hlm. 30; Ibn Kathir, Tafsir, I, hlm.260] Kata-kata Abu Bakar menunjukkan bahwa dia sendiri tidak yakin kepada pendapatnya. Dan dia memerlukan bimbingan orang lain untuk menentukan kesalahannya.

32.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka akur kepada Sunnah Nabi (Saw.) apabila mengetahui kesannya dengan mengilakkan dirinya dari kilauan dunia ,tetapi Khalifah Abu Bakar mengetahui bahwa dia tidak terlepas dari kilauan dunia, lantaran itu dia menangis. Al-Hakim di dalam Mustadrak, IV, hlm. 309 meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Arqam, dia berkata:”Kami pada suatu masa telah berada bersama Abu Bakar, dia meminta minuman, lalu diberikan air dan madu. Manakala dia mendekatkannya ke mulutnya dia menangis sehingga membuatkan sahabat-sahabatnya menangis. Akhirnya merekapun berhenti menangis, tetapi dia terus menangis.

Kemudian dia kembali dan menangis lagi sehingga mereka menyangka bahwa mereka tidak mampu lagi menyelesaikan masalahnya. Dia berkata:kemudian dia menyapu dua matanya. Mereka berkata:Wahai khalifah Rasulullah! Apakah yang sedang ditolak oleh anda? Beliau menjawab:”Dunia ini (di hadapanku) telah “memperlihatkan”nya kepadaku, maka aku berkata kepadanya:Pergilah dariku maka hal itu pergi kemudian dia kembali lagi dan berkata:Sekiranya anda terlepas dariku, orang selepas anda tidak akan terlepas dariku.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh ak-Khatib di dalam Tarikh Baghdad, X,hlm. 268 dan Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, I, hlm.30]

33.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahan mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahannya melainkan hal itu dipersetujui oleh Umar. Adalah diriwayatkan bahwa “Uyainah bin Hasin dan al-Aqra bin Habis datang kepada Abu Bakar dan berkata:”Wahai khalifah Rasulullah, izinkan kami menanam di sebidang tanah yang terbiar berhampiran kami. Kami akan membajak dan menanamnya. Mudah-mudahan Allah akan memberikan manfaat kepada kami dengannya.”Lalu Abu Bakar menulis surat tentang persetujuannya. Maka kedua-duanya berjumpa Umar untuk mempersaksikan kandungan surat tersebut. Apabila kedua-duanya membacakan kandungannya kepadanya, Umar merebutnya dari tangan mereka berdua dan meludahnya. Kemudian memadamkannya. Lalu kedua-duanya mendatangi Abu Bakar dan berkata:”Kami tidak mengetahui adakah anda khalifah atau Umar.” Kemudian mereka berdua menceritakan kepadanya. Lalu Abu Bakar berkata:”Kami tidak melaksanakan sesuatu melainkannya dipersetujui oleh Umar.”{al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm. 335; Ibn Hajr, al-Isabah, I,hlm.56] .

34.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Nabi (Saw.). Tetapi Khalifah Abu Bakar telah dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Rasulullah SAWA. Tetapi Nabi (Saw.)tidak melarangnya sebaliknya beliau tersenyum pula, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa seorang lelaki telah mencaci Abu Bakar dan Nabi sawa sedang duduk, maka Nabi (Saw.) kagum dan tersenyum.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, VI, hlm.436] .

35.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Nabi (Saw.) khalifah Abu Bakar dan Umar telah bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.) . Abu Bakar berkata:”Wahai Rasulullah lantiklah al-Aqra bin Habi bagi mengetuai kaumnya.” Umar berkata:”Wahai Rasulullah janganlah anda melantiknya sehingga mereka menengking dan meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.).” Lalu diturunkan ayat di dalam Surah al-Hujurat(49):2,”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyedari.” Sepatutnya mereka berdua bertanya dan merujuk kepada Rasulullah (Saw.) mengenainya.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV , hlm.6;al-Tahawi, Musykil al-Athar,I,hlm. 14-42] .

36.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana mereka sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi Khalifah Abu Bakar banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana dia sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi tidak melakukannya dan sebaliknya. Ibn Qutaibah mencatatkan dalam bukunya al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19,

9 perkara yang disesali oleh Abu Bakar seperti berikut:

“Tiga perkara yang aku telah lakukan sepatutnya aku tidak melakukannya dan tiga perkara yang aku tidak lakukannya sepatutnya aku melakukannya dan tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) mengenainya. Adapun tiga perkara yang aku telah melakukannya sepatutnya aku tidak melakukannya:

1. Sepatutnya aku tinggalkan rumah Ali (Fatimah) sekalipun mereka mengisytiharkan perang ke atasku.
2. Sepatutnya aku membai’ah sama Umar atau Abu Ubadah di Saqifah Bani Saidah, yaitu salah seorang mereka menjadi amir dan aku menjadi wazir.
3. Sepatutnya aku menyembelih Fuja’ah al-Silmi atau melepaskannya dari tawanan dan aku tidak membakarnya hidup-hidup.

Adapun tiga perkara yang aku tidak melakukannya sepatutnya aku melakukannya:
1. Sepatutnya ketika al-Asy’ath bin Qais dibawa kepadaku sebagai tawanan, aku membunuhnya dan tidak memberinya peluang untuk hidup, karena aku telah mendengar tentangnya bahwa ia bersifat sentiasa menolong segala kejahatan.
2. Sepatutnya ketika aku mengutus Khalid bin al-Walid kepada orang-orang murtad, aku mesti berada di Dhi al-Qissah, dengan itu sekiranya mereka menang, mereka boleh bergembira dan sekiranya mereka kalah aku boleh menghulurkan bantuan.
3. ???-red

Adapun tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) ialah:

1. Kepada siapakan kedudukan khalifah patut diberikan sesudah beliau wafat, dengan demikian tidaklah kedudukan itu menjadi rebutan.
2. Sepatutnya aku bertanya kepada beliau, adakah orang Ansar mempunyai hak menjadi khalifah.
3. Sepatutnya aku bertanya beliau tentang pembagian harta pusaka anak saudara perempuan sebelah lelaki dan ibu saudara sebelah lelaki karena aku tida puas hati tentang hukumnya dan memerlukan penyelesaian.”

Kenyataan di atas telah disebut juga oleh al-Tabari dalam Tarikhnya, IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, ‘Iqd Farid,II,hlm. 254;Abu Ubaid, al-Amwal,hlm. 131]

37.
Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengundurkan diri dari tentara Usamah yang telah dilantik oleh Nabi saw menjadi penglima perang di dalam ushal itu yang muda,tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi (Saw.) bersabda:”Perlengkapkan tentara Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentara Usamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa'd, Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi].

38.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak menamakan dirinya(Abu Bakar) “Khalifah Rasulullah”.[Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menamakan dirinya “Khalifah Rasulullah”.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah ,I,hlm.13];al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’,hlm.78] Penamaannya adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah karena beliau tidak menamakannya dan melantiknya, malah beliau menamakan Ali dan melantiknya. Beliau bersabda:”Siapa yang aku menjadimaulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan hadits-hadits yang lain tentang perlantikan Ali (a.s) sebagai khalifah selepas Rasulullah (Saw.).

39.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membakar manusia hidup-hidup,tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakar Fuja’ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian dia menyesali perbuatannya.[al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.52] Dan hal itu bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.)”Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari Tuhannya.”(Al-Bukhari, Sahih ,X,hlm.83]

40.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak lari di dalam peperangan, tetapi Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam peperangan Uhud dan Hunain. Sepatutnya dia mempunyai sifat keberanian melawan musuh. Tindakannya itu menyalahi ayat-ayat jihad di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 37; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI,hlm.394;al-Dhahabi,al-Talkhis,III,hlm.37]

41.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak meragukan kedudukan khalifah. Tetapi Khalifah Abu Bakar telah meragukan kedudukan khalifahnya. Dia berkata:”Sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.), adalah orang-orang Ansar mempunyai hak yang sama di dalam kedudukan khalifah?” Ini adalah keraguan tentang kesahihan atau kebatilannya. Dialah orang yang menentang orang-orang Ansar manakala mereka mengatakan bahwa Amir mestilah dari golongan Quraisy.” Sekiranya apa yang diriwayatkan olehnya itu benar, bagaimana dia meragukan”nya” pula. Dan jikalau tidak, dia telah menentang orang-orang Ansar dengan “hujah palsu.”[Al-Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi,II,hlm.127; Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.18,19;al-Masudi, Muruj al-Dhahab,II,hlm.302]

42.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepada mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepadanya oleh orang Yahudi. Anas bin Malik berkata:”Seorang Yahudi datang selepas kewafatan Rasulullah (Saw.). Maka kaum Muslimin menunjukkannya kepada Abu Bakar. Dia berdiri di hadapan Abu Bakar dan berkata: Aku akan kemukakan soalan-soalan yang tidak akan dijawab melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Abu Bakar berkata:”Tanyalah apa yang anda mau. Yahudi berkata: Beritahukan kepadaku perkara yang tidak ada pada Allah, tidak ada di sisi Allah, dan tidak diketahui oleh Allah? Abu Bakar berkata: Ini adalah soalan-soalan orang zindiq wahai Yahudi! Abu Bakar dan kaum Muslimin mulai marah dengan Yahudi tersebut.

Ibn Abbas berkata: Kalian tidak dapat memberikan jawaban kepada lelaki itu. Abu Bakar berkata: Tidakkah anda mendengar apa yang diperkatakan oleh lelaki itu? Ibn Abbas menjawab: Sekirannya kalian tidak dapat menjawabnya, maka kalian pergilah bersamanya menemui Ali AS, niscaya dia akan menjawabnya karena aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda kepada Ali bin Abi Talib:”Wahai Tuhanku! Sinarilah hatinya, dan perkuatkanlah lidahnya.” Dia berkata:”Abu Bakar dan orang-orang yang hadir bersamanya datang kepada Ali bin Abi Talib, mereka meminta izin darinya. Abu Bakar berkata: Wahai Abu l-Hasan, sesungguhnya lelaki ini telah bertanya kepadaku beberapa soalan (zindiq).

Ali berkata: Apakah yang anda perkatakan wahai Yahudi? Dia menjawab: Aku akan bertanya kepada anda perkara-perkara yang tidak diketahui melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Yahudi mengemukakan soalan-soalan kepadanya. Ali berkata: Adapun perkara-perkara yang tidak diketahui oleh Allah ialah kata-kata anda bahwa Uzair adalah anak lelaki Tuhan, dan Allah tidak mengetahui bahwa Dia mempunyai anak lelaki. Adapun kata-kata anda apa yang tidak ada di sisi Allah, maka jawabannya perkara yang tidak ada di sisi Allah ialah kezaliman. Adapun kata-kata anda: Apa yang tidak ada bagi Allah maka jawabannya tidak ada bagi Allah syirik. Yahudi menjawab: Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah dan sesungguhnya anda adalah wasinya.”[Ibn Duraid, al-Mujtana, hlm.35]

43.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mempersendakan Nabi (Saw.) di masa hidupnya,apatah lagi pada masa Nabi SAWA sakit dan selepas kematiannya, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mempersendakan Nabi (Saw.) dengan menolak Sunnah Nabi (Saw.) di hadapannya ketika Nabi (Saw.) sedang sakit “ dia sedang meracau” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69),kemudian menghalang penyebarannya. (Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

44.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Di dalam riwayat lain,”Ali di kalangan kalian.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,III,hlm.132] Jikalau kata-katanya benar, berarti dia tidak layak untuk menjadi khalifah Rasulullah SAWA, berdasarkan pengakuannya sendiri.

45.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membenci orang yang mencintai dan mengamalkan Sunnah Nabi (Saw.), tetapi mereka membenci orang yang mencintai Sunnah Nabi (Saw.)dan mengamalkanya sekiranya Sunnah Nabi (Saw.) bertentangan dengan sunnah Abu Bakar.] Justru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakar dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.Lantaran Ali dan keluarganya berusaha dengan keras bagi membersihkan kekotoran yang dilakukan oleh Abu Bakar dan pengikutnya.

Para pembaca..

terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sunni sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.

Rasulullah SAW tidak menjamin surga kepada Abubakar. Setelah beliau bersaksi tentang  para syuhada di perang uhud. Rasul saw kemudian berkata kepada Abubakar : “Sungguh aku   tidak tahu apa yang akan kau lakukan sepeninggalku”. Dan kemudian Abubakar menangis” (Referensi  Ahlusunnah : Imam Malik, dalam “Al-Muwatta’”, kitab “Jihad”)

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul saww, sebagai berikut : “(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawan kalian yang lain, memanggil kalian…”.

Bahkan termasuk Abubakar dan Umar juga lari dari perang Uhud tersebut. Dan mereka berdua (Abubakar dan Umar) juga lari dari perang Hunain dan Khaibar. Padahal Allah murka kepada mereka yang lari dari perang sebagaimana Firman-Nya pada [ Q.S. Al-Anfaal  15-16 ].

(Ref. Ahlusunnah :Haikal, “Hayat Muhammad”, bab “perang uhud” dan “perang khaibar”..Al-Waqidi, dalam “Al-Maghazi”..    Siroh Ibn Hisyam, Jilid 4, bab “Perang Uhud”..Ibn Hajar, dalam “Al-Ishobah”, jilid 3, hal. 108, pada muntakhab “Al-Isti’ab”..Siroh Al-Halabiyah, pada bab “Perang Hunain” dan “Perang Khaibar”)

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Padahal nyata nyata Allah mengancam menggugurkan amal Abubakar dan Umar. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat  ayat 2,  tentang larangan untuk meninggikan suara melebihi   suara Rasul saw. Tuhan memperingatkan kepada Abubakar dan Umar supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.

Asbabun nuzul Ayat ini adalah Abubakar dan Umar yang saling berdebat dengan suara keras dihadapan Rasul saw (Shahih Bukhari, juz 3, kitab “Al-Maghazi”, bab “Waqd Bani Tamim”)

Hasil yang sedemikian besar yang diperoleh dari Fadak jika digunakan oleh kubu Imam Ali maka akan menjadikan mereka sebagai oposisi yang tangguh

Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis : “Umar  (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.– dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.

Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw tentang perkara kebun FADAK ! Di bawah ini kami sebutkan hadis riwayat Muslim dan Bukhari yang melaporkan pengaduan/sengketa di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:

 “… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda: “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan). Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu kalian berdua memandangku sebagai pembohong (kâdziban)., pendosa (atsiman), penipu (ghadiran) dan pengkhianat (khâinan)…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)

Secara tidak jujur maka Bukhari membuang redaksi tersebut yang merugikan kaum sunni dan menggantinya dengan lafaz: lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu “(HR. Bukhari,6/191, Kitab an Nafaqât/Nafkah, Bab Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi / Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)

Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran! Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!

Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti bahwa kebenaran/al Haq betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya ! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai Shiddîq dan Fârûq dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?

Sunni adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini dalam rangka mengkultuskan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, mempedomani  ribuan hadis-hadis palsu keutamaan sejumlah sahabat yang semuanya saling berbenturan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun akal yang sihat

.

 sejarah telah menunjukkan bahwa Abubakar dan seluruh keluarganya (kecuali putrinya Asma’ dan putranya Muhammad) bersikap bermusuhan terhadap keluarga Nabi SAWW, yangmemiliki konsekwensi sebagai  pembangkangan nyata terhadap apa yg ditetapkan Al Quran atau disabdakan Nabi mengenai penghargaan dan kasih sayang kepada keluarga beliau SAWW.Sebagai bukti, inilah daftar dari keluarga Abubakar yg permusuhannya terhadap keluarga Nabi SAWW sangat mencolok :
.
1. ABUBAKAR, saat kenaikannya ke tahta kekhalifahan, mengirim Umar ke rumah Sayyidah Fathimah untuk memaksa Imam Ali AS, dengan kekerasan, untuk datang dan berbaiat kepadanya. Umar mengancam Sayyidah Fathimah bahwa ia akan membumi hanguskan rumah. Setelah itu Sayyidah Fathimah begitu marah terhadap Abubakar, sehingga sepanjang sisa hidupnya, ia tdk pernah berbicara sepatah kata jua kepada Abubakar. Dan di ranjang kematiannya, ia melarang Abubakar mengiringi pemakamannya
.
2. AISYAH, putri Abubakar, memberontak terhadap Imam Ali AS, sang Khalifah, dan didepan 30 ribu pasukan, ia memimpin perang Jamal, namun dipermalukan dengan kekalahan telak
.
3. ZUBAIR BIN AWWAM, suami Asma’, putri tertua Abubakar, adalah panglima pasukan Aisyah, ditengah pertempuran ia mundur dan hendak melarikan diri ke arah Mekkah, namun terbunuh tak berapa jauh dari medan pertempuran.

4. ABDULLAH, putra Zubair dari Asma’, adalah panglima pasukan infanteri Aisyah. Ia adalah anak angkat Aisyah. Setelah pertempuran, jasadnya ditarik keluar dari setumpuk mayat yg terbaring di medan tempur.

5. THALHAH, sepupu Abubakar dan jg suami putri Abubakar Ummu Kultsum, adalah seorang panglima pasukan Aisyah. Ditengah pertempuran, Marwan bin Hakam (juru tulis dan penasihat jahat khalifah Usman), seorang perwira dari pasukan yg sama , yg melihat Thalhah sibuk bertempur, berkata kepada budaknya, “Baru kemarin Thalhah sibuk menghasut para pembunuh Usman, dan kini ia sibuk membalaskan darahnya. Betapa munafiknya ia dalam mencari kemegahan duniawi!” Selesai berbicara, ia melepaskan anak panah yg menembus kaki Thalhah dan mengenai kudanya yg lalu melonjak liar dari barisan dan Thalhah pun terjerembab ke tanah. Ia segera dibawa ke Basrah tempat ia meninggal dunia setelah beberapa saat.

6. ABU AR RAHMAN, saudaranya Thalhah dan jg sepupunya Abubakar, jg terbunuh dalam pertempuran yg sama.

7. MUHAMMAD, putra Thalhah, ikut tewas dalam pertemputan tersebut.

8. JU’DAH BINTI ASY’ATS, putri Ummu Farwah (saudara perempuan Abubakar), meracuni Imam Hasan AS hingga syahid. Ia disuap agar melakukan kekejian oleh Yazid putra Muawiyah atau oleh Muawiyah sendiri.

9. ISHAQ, putra Ummu Farwah. Kedua bersaudara putra2 Asy’ats menjadi anggota pasukan Yazid bin Muawiyah, yg bertempur melawan Imam Husain AS di karbala. Belakangan, yg pertama tewas dalam pertempuran melawan Mukhtar, yg membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS. Sementara yg kedua, yg telah menelanjangi sebagian tubuh Imam Husain AS, tercabik2 sampai mati oleh kawanan anjing.

10. MUS’AB, putra Zubair (menantu Abubakar), bertempur melawan Mukhtar, yg terbunuh selagi membalaskan dendam atas pembunuhan Imam Husain AS.

Inilah bukti fakta bukan rekayasa tentang permusuhan Abubakar dan keturunannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAWW. Ini adalah bukti sejarah otentik yg tidak bisa dibantah lagi kebenarannya!

.

Umar bin Khattab Pembuka Jalan Bagi Berkuasanya Bani ‘Umayyah

Sepeninggal Rasul, dari empat khalifah yang empat,  tiga di antaranya dibunuh tatkala sedang dalam tugas, yaitu Umar, Utsman dan Ali. Yang menarik adalah ramalan Umar bin Khaththab bahwa Utsman akan dibunuh kerana membuat pemerintahan yang nepotis sepertiyang dikatakannya.

Umar seperti melibat bahaya munculnya sifat-sifat jahiliah ini sehingga tatkala ia baru ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah dan mengetahui bahwa ia akan meninggal pada tahun 24 H-645M, ia memanggil keenam anggota Syura yang ia pilih sendiri.

Umar berkata: “Sesungguhnya Rasul Allah telah wafat dan ia rida akan enam tokoh Quraisy: Ali, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahman bin ‘Auf.”

Kepada Thalhah bin Ubaidillah ia berkata: “Boleh saya bicara atau tidak!”

Thalhah:‘Bicaralah!’.

Umar: “Engkau belum pernah berbicara baik sedikit pun juga. Aku ingat sejak jarimu putus pada perang Uhud, orang bercerita tentang kesombonganmu, dan sesaat sebelum RasulAllah wafat, ia marah kepadamu [34] karena kata-kata yang engkau keluarkan sehingga turun ayat hijab…Bukankah engkau telah berkata: “Bila Nabi saww wafat aku akan menikahi jandanya? “Bukankah Allah SWT lebih berhak terhadap wanita sepupu kita, yang menjadi istrinya, dari diri kita sendiri, sehingga Allah SWT menurunkan ayat:

“Tiadalah pantas bagi kamu untuk mengganggu Rasul Allah, atau menikahi janda-jandanya sesudah ia wafat. Sungguh yang demikian itu suatu dosa besar menurut Allah”.[1]

 Di bagian lain: “Bila engkau jadi khalifah, engkau akan pasang cincin kekhalifahan di jari kelingking istrimu”. Demikian kata-kata Umar terhadap Thalhah.

 Seperti diketahui ayat ini turun berkenaan dengan Thalhah yang mengatakan:“ Muhammad telah membuat pemisah antara kami dan putri-putri paman kami dan telah mengawini para wanita kami. Bila sesuatu terjadi padanya maka pasti kami akan mengawini jandanya”Dan  di bagian lain: “Bila Rasul Allah saw wafat akan aku kawini Aisyah kerana dia adalah

sepupuku.” Dan berita ini sampai kepada Rasul Allah saw, Rasul merasa terganggu dan turunlah ayat hijab’. [2]

Kemudian kepada Zubair, Umar berkata : “Dan engkau, ya Zubair, engkau selalu gelisah dan resah, bila engkau senang engkau Mu’min, bila marah, engkau jadi kafir, satu hari engkau seperti manusia dan pada hari lain seperti setan. Dan andaikata engkau jadi khalifah, engkau akan tersesat dalam peperangan. Bisakah engkau bayangkan, bila engkau jadi khalifah? Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada umat pada hari engkau jadi manusia dan apa yang akan terjadi pada mereka tatkala engkau jadi setan, yaitu tatkala engkau marah. Dan Allah tidak akan menyerahkan kepadamu urusan umat ini selama engkau punya sifat ini” [3]

Di bagian lain: “Dan engkau ya Zubir, demi Allah, hatimu tidak pernah tenang siang maupun malam, dan selalu berwatak kasar sekasar-kasarnya; jilfan jafian”. [4]

 Bersama Aisyah, Thalhah dan Zubair setelah membunuh Utsman memerangi Ali dan menyebabkan paling sedikit 20.000 orang meninggal dalam Perang Jamal. Dan selama puluhan tahun menyusul, beribu-ribu kepala yang dipancung banyak tangan dan kaki yang dipotong, mata yang dicungkil dengan mengatas namakan menuntut darah Utsman.

Kepada Utsman, Umar berkata: “Aku kira kaum Quraisy akan menunjukmu untuk jabatan ini kerana begitu besar cinta mereka kepadamu dan engkau akan mengambil Bani‘Umayyah dan Bani Mu’aith untuk memerintah umat. Engkau akan melindungi mereka dan membagi-bagikan Uang baitul mal kepada mereka dan orang-orang akan membunuhmu, menyembelihmu di tempat tidur”[6]

Atau menurut riwayat dari Ibnu Abbas yang didengarnya sendiri dari Umar “Andaikata aku menyerahkan kekhalifahan kepada Utsman ia akan mengambil Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat. Bila melakukannya mereka akan membunuhnya”.[7]

Di bagian lain, dalam lafal Imam Abu Hanifah: “Andaikata aku menyerah kekhalifahan kepada Utsman, ia akan mengambil keluarga Abi Mu’aith untuk memerintah umat, demi Allah andaikata aku melakukannya, ia akan melakukannya, dan mereka akhirnya akan memotong kepalanya”. [8] Atau di bagian lain: Umar berwasiat kepada Utsman dengan kata-kata: “Bila aku menyerahkan urusan ini kepadamu maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah mengambil keluarga Banu Abi Mu’aith untuk memerintah umat’. [9]

Mari kita lihat ‘ramalan’ Umar bin Khaththab. Tatkala Imam Ali menolak mengikuti peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan (Sunnah) Abu Bakar dan Umar, dalam pertemuan anggota Syura,Utsman justru sebaliknya. Ia berjanji menaati peraturan dan keputusan Abu Bakar dan Umar. [10] Ia menjadi khalifah tanggal 1 Muharam tahun 24 H pada umur 79 tahun dan meninggal dibunuh tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 H/ 17 Juni 656 M.

Pemerintahannya dianggap nepotis oleh banyak kalangan. Misalnya, ia mengangkat anggota keluarganya, yang bernama Marwan anak Hakam Ibnu ‘Abi’l Ash yang telah diusir Rasul saww dari Madinah kerana telah bertindak sebagai mata-mata musuh. Utsman membolehkania kembali dan mengangkatnya menjadi Sekretaris Negara.

Utsman juga memperluas wilayah kekuasaan Mu’awiyah, yang mula-mula hanya kota Damaskus, sekarang ditambah dengan Palestina, Yordania dan Libanon. Ia memecat gubernur-gubernur yang ditunjuk Umar dan menggantinya dengan keluarganya yang Thulaqa  [11], ada di antaranya yang pernah murtad dan disuruh bunuh oleh Rasul, dilaknat Rasul, penghina Rasul dan pemabuk. Ia mengganti gubernur Kufah Sa’d bin Abi Waqqash dengan Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, saudara seibu dengannya. Walid disebut sebagai munafik dalam Al-Qur’an.

Ali, Thalhah dan Zubair, tatkala Utsman mengangkat Walid bin ‘Uqbah jadi gubernur Kufah, menegur Utsman: “Bukankah Umar telah mewasiatkan kepadamu agar jangan sekali-kali mengangkat keluarga Abi Waith dan Banu ‘Umayyah untuk memerintah umat?”  Dan Utsman tidak menjawab sama sekali’. [12]

Walid adalah seorang pemabuk dan penghambur uang negara. Utsman juga mengganti gubernur Mesir ‘Amr bin ‘Ash dengan Abdullah bin Sa’id bin Sarh, seorang yang pernah disuruh bunuh Rasul saww kerana menghujat Rasul. Di Bashrah ia mengangkat Abdullah binAmir, seorang yang terkenal sebagai munafik.

Utsman juga dituduh telah menghambur-hamburkan uang negara kepada keluarga dan paragubernur Banu ‘Umayyah’ yaitu orang-orang yang disebut oleh para sejarahwan sebagai takbermoral(fujur), pemabuk (shahibu‘l-khumur), tersesat(fasiq), malah terlaknat oleh Rasulsaww (la’in) atau tiada berguna(‘abats). Ia menolak kritik-kritik para sahabat yang terkenal jujur. Malah ia membiarkan pegawainya memukul saksi seperti Abdullah bin Mas’ud, pemegang baitul mal di Kufah sehingga menimbulkan kemarahan Banu Hudzail.

Ia juga membiarkan pemukulan ‘Ammir bin Yasir sehingga mematahkan rusuknya dan menimbulkan kemarahan Banu Makhzum dan Banu Zuhrah. Ia juga menulis surat kepada penguasa di Mesir agar membunuh Muhammad bin Abu Bakar. Meskipun tidak sampai terlaksana, tetapi menimbulkan kemarahan Banu Taim.

Ia membuang Abu Dzarr al-Ghifari –pemrotes ketidakadilan dan penyalahgunaan uang negara- ke Rabdzah dan menimbulkan kemarahan keluarga Ghifari. Para demonstran dating dari segala penjuru, seperti Mesir, Kufah, Bashrah dan bergabung dengan yang di Madinahyang mengepung rumahnya selama 40 hari  [13] yang menuntut agar Utsman memecat Marwan

yang tidak hendak dipenuhi Utsman. Tatkala diingatkan bahwa uang Baitul Mal adalahmilik umat yang harus dikeluarkan berdasarkan hukum syariat seperti sebelumnya oleh ‘AbuBakar dan Umar ia mengatakan bahwa ia harus mempererat silaturahmi dengan keluarganya.Ia mengatakan: “Akulah yang memberi dan akulah yang tidak memberi. Akulah yang membagi  uang sesukaku!”.[14]

Utsman memberikan kebun Fadak kepada Marwan, yang telah diambil oleh Abu Bakar dari Fathimah  SA putrid Rasulullah SAWW.

Dirham adalah standar mata uang perak dan dinar adalah standar mata uang emas. Satudinar berharga sekitar 10-12 dirham. Satu dirham sama harganya dengan emas seberat 55butir gandum sedang. Satu dinar seberat 7 mitsqal. Satu mitsqal sama berat dengan 72 butirgandum. Jadi satu dinar sama berat dengan 7 X 72 butir gandum atau dengan ukuransekarang sama dengan 4 grain. Barang dagangan satu kafilah di zaman Rasul yang terdiridari 1.000 unta, dan dikawal oleh sekitar 70 orang berharga 50.000 dinar yang jadi milikseluruh pedagang Makkah. Seorang budak berharga 400 dirham.

Contoh penerima hadiah dari Utsman adalah Zubair bin ‘Awwam. Ia yang hanya kepercikanuang baitul mal itu, seperti disebut dalam shahih Bukhari, memiliki 11 (sebelas) rumah diMadinah, sebuah rumah di Bashrah, sebuah rumah di Kufah, sebuah di Mesir…Jumlahuangnya, menurut Bukhari adalah 50.100.000 dan di lain tempat 59.900.000 dinar, disamping [15] seribu ekor kuda dan seribu budak.  [16]

Aisyah menuduh Utsman telah kafir dengan panggilan Na’tsal [17] dan memerintahkan agar iadibunuh. Zubair menyuruh serbu dan bunuh Utsman. Thalhah menahan air minum untukUtsman. Akhirnya Utsman dibunuh. Siapa yang menusuk Utsman, tidak pernah diketahuidengan pasti. Siapa mereka yang pertama mengepung rumah Utsman selama empat bulandan berapa jumlah mereka dapat dibaca sekilas dalam catatan berikut. Mu’awiyah mengejarmereka satu demi satu.

—————————————————————————————————-

  1.  Sebagaimana biasa, banyak perdebatan telah terjadi mengenai kata-kata ‘Umar ini. Bukankah ‘Umar mengatakan bahwa Rasul Allah saww rida kepada mereka berenam?.
  2.  Al-Qur’an, al-Ahzab (33), ayat 53.
  3.  Lihat Tafsir al-Qurthubi jilid 14, hlm. 228; Faidh al-Qadir, jilid,4, hlm. 290; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hlm.506; Tafsir Baqawi jilid 5, hlm. 225; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 185, 186, jilid 12, hlm. 259 dan lain-lain.
  4. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 175.
  5. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’I-Balaghah, jilid 12, hlm. 259.
  6. Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju’l-Balaghah, jilid 1, hlm. 186.
  7. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 16.
  8.  Abu uysuf dalamal-Atsar, hlm. 215.
  9. 9.      Ibnu Sa’d,Thabaqat, jilid 3, hlm. 247; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm 16; Mithibbuddin Thabari,Ar-Riydah an-Nadhirah, jilid 2, hlm. 76
  10. Lihat Bab 15, ‘Sikap ‘Ali terhadap Peristiwa Saqifah’ dan Bab 14: ‘Pembaiatan ‘Umar dan’Utsman’.
  11. Yang dibebaskan, baru memeluk Islam setelah penaklukan Makkah.
  12. Ba-ladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, hlm. 30.
  13. Menurut Mas’udi, ‘Utsman dikepung selama 49 hari, Thabari 40 hari, dan ada yang mengatakan lebih dari itu. Ia dibunuh malam Jumat 3 hari sebelum berakhir bulan Dzul Hijah, tahun 34 H, 8 Juli 655 M. LihatMurujadz-Dzahab, jilid 1, hlm. 431-432
  14. Dengan lafal yang sedikit berbeda lihatlah Shahih Bukhari, jilid 5, hlm. 17; Sunan Abu Dawud, jilid 2, hlm.25.
  15. Shahih Bukhari, Kitab Jihad, jilid 5, hlm. 21 dll.
  16. Lihat Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, jilid 1, hlm. 424.
  17. Nama lelaki asal Mesir dan berjanggut panjang menyerupai ‘Utsman. Dalam al-Lisan al-’Arab Abu Ubaid berkata: ‘Orang mencerca ‘Utsman dengan nama Na’tsal ini’. Ada yang mengatakan Na’tsal ini orang Yahudi

.

Syahidnya Fathimah as.

Fatimah Az Zahra Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!!
Ya Nabi SAW Puterimu Di Zalimi !

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang- Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya. (Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251)

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu. Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar. Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.   Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang. Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. (Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58)

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash   Fatimah dicambuk. Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk. (Talkhis Syafi jilid 3 hal 156  )

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang. Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah. (Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312.)

perbedaan yang banyak di antara sesama empat mazhab membuat anda pasti bingung kan ?

“Bukankah Anda mengetahui bahwa mazhab yang empat (madzâhibul arba’ah) itu saling bertentangan satu sama lainnya dalam banyak masalah, dan dalam hal ini mereka tidak berlandaskan pada dalil yang kuat atau keterangan yang jelas dan nyata bahwa ialah yang benar, bukan yang lainnya? Orang yang terikat dengan salah satu mazhab dari empat mazhab tersebut hanyalah menyebutkan dalil-dalil yang tidak ada penopangnya. Sebab, ia tidak semuanya bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Ia seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.

Misalnya, seandainya Anda tanyakan kepada seseorang yang bennazhab Hanafi, ‘Mengapa engkau memilih mazhab Hanafi, bukan yang lainnya? Dan mengapa engkau memilih Abu Hanifah sebagai imam untuk dirimu setelah seribu tahun dari kematiannya?

Niscaya orang tersebut tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan hatimu. Demikian juga jika Anda menanyakan hal yang sama kepada seseorang yang mengikuti mazhab asy-Syafi’i, Maliki, atau Hanbali.

Rahasia di balik itu adalah setiap imam dari empat mazhab tersebut bukanlah seorang nabi atau washiyy (orang yang menerima wasiat untuk meneruskan kepemimpinan nabi). Mereka tidak mendapatkan wahyu ataupun mendapatkan ilham, mereka hanya seperti ulama yang lain, dan orang yang seperti mereka amatlah banyak.

Kemudian mereka bukanlah sahabat Nabi Saw, kebanyakan mereka atau bahkan keseluruhan mereka tidak menjumpai Nabi Saw dan tidak pula menjumpai para sahabat Nabi Saw. Setiap orang dari mereka (imam mazhab yang empat) membuat mazhab untuk dirinya sendiri, ia mengikuti mazhabnya itu dan mempunyai pendapat­-pendapat tersendiri, yang boleh jadi terdapat kesalahan atau kelalaian di dalamnya.

Dan setiap dari mereka mempunyai pendapat yang bermacam-macam, yang satu sama lainnya saling bertentangan. Akal sehat tidak akan dapat menerima hal itu, demikian pula hati yang bersih. Sebab, ia tidak berdasarkan pada dalil yang tegas dan kuat, yaitu al-­Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Maka, orang yang berpegangan atau mengikuti salah satu dari mazhab yang empat tersebut tidak mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat kelak di hadapan Allah pada Hari Perhitungan. Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah hujah yang jelas lagi kuat itu. Seandainya Allah menanyakan kepada orang yang mengikuti salah satu dari mazhab yang empat itu pada hari kiamat, dengan dalil apa engkau mengikuti mazhabmu ini? Tentu saja ia tidak mempunyai jawaban kecuali ucapannya, Dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Qs. Az-Zukhruf [43]:23)

Atau, ia berkata,

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). (Qs. Al-Azhab [33]:67)

“Adapun kami yang mengikuti wilâyah (kepemimpinan) al-’itrah ath-thâhirah (keturunan yang suci), Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa, dan kami beribadah kepada Allah Swt dengan mengikuti fiqih al-Ja’fari, kami akan berkata kelak pada Hari Perhitungan, ketika kami berdiri di hadapan Allah Swt.”

‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan kami dengan hal itu karena sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam Kitab-Mu, Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (Qs. Al-Hasyr [59]:7)

Dan Nabi-Mu, Muhammad Saw, telah bersabda, sebagaimana yang telah disepakati kaum Muslim, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua pusaka yang sangar berharga (ats-tsaqalain), yaitu Kitabullâh dan Itrah Ahlulbaitku; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di Haudh.”

Dan Nabi-Mu juga telah bersabda, “Perumpamaan Ahlu/ Bairku di rengah-rengah kalian seperti bahrera Nuh barang siapa menaikinya, niscaya dia akan selamat; dan barangsiapa yang tertinggal darinya, niscaya dia akan tenggelam dan binasa.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah dari al-i’trah ath-thâhirah (keturunan yang suci), yaitu Ahlulbait Nabi Saw yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya dari segala dosa. llmunya adalah ilmu ayahnya, ilmu ayahnya adalah ilmu kakeknya, yaitu Rasulullah Saw, sedangkan ilmu Rasulullah Saw bersumber dari Allah.

Selain itu, semua kaum Muslim telah sepakat akan kejujuran dan keutamaan Imam Ja’far Ash-Shiidiq As: Sesungguhnya ia (Imam Ja’far Ash-Shiidiq As) adalah seorang washiyy keenam dan Imam Maksum, sesuai keyakinan segolongan besar kaum Muslim, yaitu para pengikut mazhab Ahlubait, mazhab yang hak. Dan sesungguhnya ia adalah hujah Allah atas makhluk-Nya.

Imam Ja’far Ash-Shadiq As meriwayatkan hadis dari ayah  dan datuknya yang suci, dan ia tidak berfatwa dengan pendapatnya sendiri. Hadisnya adalah “hadis ayahku dan datukku”. Sebab, mereka adalah sumber ilmu dan hikmah.

Mazhab Imam Ja’far ash-Shadiq As adalah mazhab ayahnya, dan mazhab kakeknya bersumber dari wahyu, yang tidak akan pernah berpaling sedikit pun darinya. Bukan dari hasil ijtihad, seperti lainnya yang berijtihad.

Oleh karena itu, orang yang mengikuti mazhab Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq As dan mazhab kakek-kakeknya, berarti ia telah mengikuti mazhab yang benar dan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw.

Setelah aku kemukakan dalil-dalil yang jelas dan kuat, Syaikh al-Azhar tersebut mengucapkan banyak terima kasih kepadaku dan ia pun sangat memuliakan kedudukanku.

Kemudian ia menanyakan tentang pandangan Syi’ah terhadap para sahabat Rasulullah Saw. Lalu, aku jelaskan kepadanya bahwa Syi’ah tidak menecela sahabat Rasulullah Saw secara keseluruhan. Akan tetapi, Syi’ah meletakkan mereka sesuai kedudukan mereka. Sebab, di antara mereka ada yang adil dan ada pula yang tidak adil, di antara mereka ada yang pandai dan ada pula yang bodoh, dan di antara mereka ada yang baik dan ada pula yang jahat.

Bukankah Anda tahu apa yang telah mereka lakukan pada hari Saqifah? Mereka telah meninggalkan jenazah Nabi mereka dalam keadaan terbujur kaku di atas tempat tidumya, mereka berlomba-lomba memperebutkan kekhalifahan. Setiap orang dari mereka beranggapan bahwa ialah yang berhak menjadi khalifah, seakan-akan ia adalah barang dagangan yang dapat diperoleh bagi siapa saja yang lebih dahulu mendapatkannya. Padahal mereka telah mendengar nash-nash yang tegas yang telah disampaikan oleh Nabi Saw tentang kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib As, baik sejak awal dakwahnya maupun hadis Ghadir Khum yang terkenal itu.

Selain itu, mengurusi jenazah Rasulullah Saw lebih penting daripada urusan kekhalifahan. Bahkan, seandainya saja Rasulullah Saw tidak mewasiatkan seseorang untuk menjadi khalifahnya (Rasulullah Saw. secara tegas telah menunjuk ‘Ali untuk menjadi khalifahnya), maka wajib bagi mereka untuk mengurusi jenazah Rasulullah Saw  terlebih dahulu.

Kemudian setelah selesai mengurusi jenazah Rasulullah Saw, seyogyanya mereka menyatakan belasungkawa kepada keluarga beliau, seandainya saja mereka adalah orang-orang yang adi!.

Akan tetapi, dimanakah keadilan dan perasaan hati mereka, dimanakah keluhuran akhlak, dan dimanakah ketulusan dan kecintaan? Dan yang lebih menyakitkan lagi di dalam hati adalah penyerbuan mereka ke rumah belahan jiwa Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra As, yang dilakukan oleh sekitar lima puluh orang pria.

Mereka telah mengumpulkan kayu bakar untuk membakar rumah Fatimah dan semua orang yang di dalamnya. Sehingga ada seseorang yang berkata kepada ‘Umar, “Sesungguhnya di dalam rumah tersebut terdapat al-Hasan, al-Husain, dan Fatimah.”

Akan tetapi, ‘Umar berkata, “Walaupun (di dalam rumah tersebut ada mereka).”

Peristiwa ini banyak disebutkan oleh sejarawan Ahlus Sunnah,[3] apalagi para sejarawan Syi’ah.

Semua orang tahu, baik orang yang berbakti maupun orang yang jahat, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku. Barang siapa yang menyakitinya, maka ia telah menyakitiku; barang siapa yang membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka; barang siapa yang membuatku murka, maka ia teah membuat Allah murka; dan barang siapa membuat Allah murka, maka Allah akan menyungkurkan kedua lubang hidungnya ke dalam neraka.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada para sahabat Nabi Saw secara jelas menunjukkan bahwa tidak semua sahabat itu adil. Silakan Anda merujuk ke Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh al-Muslim tentang hadis Haudh, niscaya Anda akan mendapatkan kebenaran pendapat Syi’ah tentang penilaian mereka terhadap para sahabat Nabi Saw.

Jika demikian adanya, maka dosa apakah bagi mereka (Syi’ah) jika mereka berpendapat bahwa banyak di antara sahabat Nabi Saw yang tidak adil, sedangkan banyak dari mereka sendiri (para sahabat Nabi Saw.) yang menunjukkan jati diri mereka sendiri.

Perang Jamal dan Perang Shiffin adalah dalil dan bukti yang paling jelas terhadap kebenaran pendapat mereka (Syi’ah). Dan al-Qur’an telah menyingkapkan banyak keburukan perbuatan di antara mereka (para sahabat Nabi Saw).

Bukankah Anda juga tahu apa yang telah dilakukan oleh Mu’awiyah, ‘Amru bin ‘Ash, Marwan bin Hakam, Ziyad dan anaknya, Mughirah bin Syu’bah, ‘Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah dan Zubair, yang keduanya telah memberikan baiat kepada Amirul Mukminin ‘Ali As, tetapi keduanya kemudian melanggar baiatnya dan memerangi Imam mereka (‘Ali bin Abi Thalib As) bersama ‘A’isyah di Basrah, yang sebelumnya mereka telah melakukan kejahatan-kejahatan di kota tersebut (Basrah) yang tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang mempunyai jiwa satria.

Selain itu, selama keberadaan Nabi Saw di tengah-tengah mereka (para sahabat beliau), banyak di antara mereka yang melakukan perbuatan nifâk (munafik), apakah kemudian setelah Nabi Saw menemui Tuhannya (wafat), mereka lantas menjadi adil semuanya?

Kita sama sekali tidak pernah mendengar bahwa ada salah seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus kepada umatnya, lalu semua umatnya menjadi adil. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan kepada kita tentang hal itu.

Sesungguhnya apa yang telah kami persembahkan kepada para pembaca adalah bersumber dari  al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dalam hadis sahih dalam kitab-kitab sahih Sunni, dan merupakan bukti yang kuat terhadap kekhalifahan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw secara langsung (belâ fashl), sekiranya orang yang menentang kami berlaku adil.

Perhatikanlah dengan seksama dan sungguh-sungguh terhadap semua yang telah kami sebutkan  yaitu hujjah dan keterangan yang jelas, dengan begitu niscaya akan tersingkap kebenaran yang hakiki bagi Anda dan akan memudahkan jalan bagi siapa saja yang hendak menempuh jalan kebenaran. Yaitu, orang-orang yang mengikhlaskan niatnya dan menjauhkan dirinya dari fanatisme mazhab yang membutakan hati dan pikiran sehat dan membinasakan.

Orang yang bersikeras dalam fanatismenya, tidak akan berguna riwayat, walaupun jumlahnya sangat banyak dan telah dikemukakan baginya seribu dalil.

Adapun orang yang mempunyai pikiran yang jemih dan akal yang cerdas, maka yang telah kami persembahkan, dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, telah memadai baginya karena dalil-dalil tersebut adalah riwayat-riwayat yang sahih yang telah disepakati kebenarannya, baik di kalangan Sunni maupun Syi’ah.

Selain itu, orang yang bersikeras di dalam kefanatikannya, bahkan seandainya Nabi Saw sendiri yang datang kepadanya dan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia tetap akan berada di dalam sikap keras kepalanya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh   salah seorang di antara mereka, yang keras kepala, kepada saudaraku “Seandainya Jibril turun, dan ikut bersamanya Muhammad dan ‘Ali, aku tetap tidak akan membenarkan ucapanmu.”

Sesungguhnya manusia itu bermacam-macam. Dan merupakan hal yang sulit mendapatkan kerelaan seluruh manusia, bahkan itu merupakan suatu hal yang mustahil diraih.

Semoga Allah Swt. mencurahkan rahmat-Nya kepada ‘Ali al-Kailani, seorang pujangga berkebangsaan Palestina yang berkata,

Jika Tuhannya makhluk tidak meridhai makhluk-Nya,

Maka bagaimana mungkin makhluk dapat diharapkan keridhaannya.


[1] . Allah membukakan hatinya untuk menerima dan mengikuti mazhab yang benar yaitu mazhab Ahlulbait al-Ja’fari.

[2] . Silahkan Anda rujuk pada bagian ketiga dari buku ini.

[3] .  Lihat al-Imâmah was Siyâsah. Ar-Riyadhun Nadhrah, Murujudz Dzahab, Ansâbul Asyrâf, al-Imâm ‘Ali, karya ‘Abdul Fattah ‘Abdul Maqshud, Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadid, dan kitab-­kitab lainnya yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Anda akan mendapatkan bahwa mereka menyebutkan peristiwa yang menyedihkan dan memilukan hati ini. Adapun Syi’ah, para sejarawan mereka telah menyebutkan peristiwa yang menyakitkan hati ini berikut nama-nama mereka yang melakukan tindakan kejahatan ini. Mereka menyatakan bahwa perirstiwa penyerbuan ke rumah Fatimah As tersebut dipimpin oleh ‘Umar “seorang pahlawan yang gagah berani” tetapi gagah berani bukan di medan perang.

Golongan Islam yang Selamat hanyalah Syi’ah Imamiyah Ushuliyah

sebab-sebab yang mendorongku mengikuti mazhab Syi’ah, ‘yang paling utama; adalah masalah khilafah (kekhalifahan), yang merupakan sebab yang paling besar dan menyebabkan terjadinya perselisihan di antara sesama kaum Muslim.”

Sebab, sangatlah tidak masuk akal jika Rasulullah Saw meninggalkan umatnya tanpa menunjuk seorang penggantinya, yang memerintah dengan melaksanakan syariat Allah, sebagaimana para rasul yang lain yang menunjuk seorang washiy (yang menerima wasiat untuk meneruskan kepemimpinannya, yakni menjadi khalifahnya sepeninggalnya).

Menurutku, telah terbukti secara meyakinkan bahwa kebenaran ada bersama Syi’ah. Sebab, keyakinan mereka menegaskan bahwa Nabi Saw, telah berwasiat kepada ‘Ali untuk menjadi khalifahnya sepeninggalnya (sebelum wafatnya  bahkan sejak awal dakwah beliau), dan setelahnya adalah anak keturunannya, yaitu sebelas imam. Mereka (Syi’ah) ,mengambil hukum-hukum agama, mereka dari dua belas Imam Ahlulbait, yaitu para Imam Maksum (terpelihara dari dosa dan kesalahan) di dalam akidah mereka dengan dalil-dalil yang kuat.

Lantaran sebab itulah dan sebab-sebab yang lainnya,’ aku mengikuti mazhab yang mulia ini, mazhab Ahlulbait. Selain itu, aku tidak menemukan satu pun dalil yang mewajibkan kita mengikuti salah satu dari mazhab yang empat. Sebaliknya, aku mendapatkan dalil-dalil yang sangat banyak yang mewajibkan kita mengikuti mazhab Ahlulbait yang menuntun setiap Muslim ke jalan yang lurus.”

Rasulullah Saw adalah orang yang sangat penyayang dan pengasih terhadap umatnya. Oleh karena itu, mustahil beliau membiarkan umatnya atau tidak memberitahukan kepada mereka hal yang sangat penting, yaitu golongan yang selamat (firqa an-najiyah).

Aku katakan, sesungguhnya golongan yang selamat adalah mereka yang berpegang teguh pada ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan para Imam Ahlulbait beliau yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah dari segala dosa dan kesalahan, serta berlepas diri dari musuh-musuh mereka. Hal ini merupakan pengamalan sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadis yang telah disepakati kesahihannya, baik oleh Ahlus Sunnah maupun Syi’ah, yaitu sabda beliau, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai maula-nya (pemimpinnya), maka ini ‘Ali adalah maula-nya (pemimpinnya) juga. Ya Allah,  cintailah orang yang mencintainya. musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya, dan telantarkanlah orang yang menelantarkannya.”

Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Saw ketika ditanya tentang golongan yang selamat, siapakah golongan itu? Lalu ia bersabda, “Mereka (golongan yang selamat) adalah golongan yang mengikutiku dan para sahabatku, ” riwayat ini tidak sahih. Sebab, para sahabat Nabi Saw tidak semuanya mengikuti Nabi Saw karena terbukti sebagian di antara mereka melakukan hal-hal yang tercela dan tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Misalnya, Marwan al-Hakam, ia adalah ath-Tharid (orang yang telah diusir oleh Nabi Saw dari Madinah) bin ath-Tharid dan al-Mal’un (terkutuk) bin al-Ma’un; Mu’awiyah, ‘Amru bin’ Ash, ia adalah orang yang terkenal dengan kelicikan dan penipuannya; al-Mughlrah bin Syu’bah; dan masih banyak lagi yang lainnya.

Allah Swt berfirman,

“Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui mereka. nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (Qs. at-Taubah [9]:101)

Sekiranya riwayat yang menyebutkan, “Mereka (golongan yang selamat) adalah golongan yang mengikutiku dan para sahabatku,” adalah riwayat sahih, betapapun menurutku riwayat ini tidak sahih, maka mereka yang dimaksud adalah Ahlulbait Nabi Saw, mereka inilah yang telahd dijadikan  oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai panutan bagi orang-orang yang berpikir. Rasulullah Saw telah memerintahkan umatnya agar berpegang teguh kepada Ahlulbaitnya dan melarang mereka untuk berpaling dari Ahlulbaitnya, sebagaimana ditegaskan dalam banyak sabda Nabi Saw.

Adapun pendapat yang berkata bahwa umat Nabi Saw seluruhnya selamat, maka ini bertentangan dengan sabda beliau yang telah disepakati kesahihannya, demikian juga pendapat yang menyatakan bahwa umat beliau seluruhnya binasa.

Dengan demikian, golongan yang selamat hanyalah satu, sebagaimana menurut sabda Nabi Saw. Golongan ini (yang selamat) haruslah berbeda dengan golongan-golongan lainnya.

Syi’ah berbeda dengan golongan-golongan lainnya dalam banyak perkara yang khusus ada pada mereka. Misalnya, pendapat mereka (Syi’ah) tentang kemaksuman para imam dan dikhususkannya kekhalifahan bagi para Imam Ahlulbait dengan dalil-dalil yang mematahkan segala hujah para penentang mereka.

Oleh karena itu, jabatan khalifah tidak sah untuk selain para Imam Ahlulbait As, dan tidaklah sempurna peraturan umat yang dipimpin oleh seorang khalifah yang di luar mereka (para imam Ahlulbait).

Seandainya para sahabat Rasulullah Saw mengikuti ajaran­ajaran Nabi mereka, niscaya tidak akan terjadi pertentangan dan peperangan di antara sesama mereka. Akan tetapi, sayangnya banyak dari mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka terjadilah apa yang telah terjadi pada mereka (yaitu pertikaian dan peperangan).

Maka, cukuplah Allah sebagai Pelindung kami dan Dia adalah sebaik-baiknya Pelindung, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

Sesungguhnya dalil-dalil dan nasihat yang telah kami sampaikan telah cukup bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.

Sebagai akhir kalam dari bagian ini, sekali lagi kami sampaikan bahwa Syi’ah adalah kelompok Mukminin, yang berpegang teguh pada setiap yang berasal atau bersumber dari Rasulullah Saw dan dari Tuhannya. Syi’ah adalah golongan yang selamat, yang berpijak di atas jalan kebenaran serta benar dalam setiap keyakinannya.

Akan tetapi, orang-orang yang jahat mengalamatkan bennacam-macam tuduhan dusta dan keji terhadap Syi’ah, sedangkan ia berlepas diri (bersih) dari segala macam tuduhan dusta dan keji tersebut.

Silakan Anda merujuk kepada kitab-kitab karangan para ulama mereka dengan tulus, niscaya Anda akan mengetahui kebenaran ucapan kami.

Kalimat “Syi’ah” itu sendiri merupakan kemuliaan yang agung karena Al-Quran telah menyebutkannya dalam bentuk pujian. Allah Swt. berfirman,

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan, Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).(Qs. al-Qashash [28]:15)

Dan firman-Nya,

Dan Sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (syiah).” (Qs. ash-Shaffat [37]:83)

Artinya Ibrahim As adalah termasuk Syi’ah (golongan) Nuh As.

Telah beberapa kali Anda membaca dalam buku ini sabda Rasulullah Saw. kepada ‘Ali As, “Engkau dan Syi ‘ahmu adalah orang­-orang yang beruntung kelak pada hari kiamat.

Dengan demikian, Syi’ah mereka adalah pengikut  agama Allah dan pengikut para nabi dan aushiya’ (orang-orang yang telah mendapat wasiat dari Nabi Saw untuk meneruskan kepemimpinan Nabi Saw sepeninggalnya, yaitu para Imam Ahlulbait Nabi Saw). Dan segala puji bagi Allah Swt.

Orang yang pertama memberikan nama Syi’ah kepada para pengikut Amirul Mukminin ‘Ali As adalah Rasulullah Saw dan ia pula sebagai peletak dasar batu fondasinya serta penanam benihnya, sedangkan orang yang mengukuhkannya adalah Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As. Semenjak saat itu, para pengikut ‘Ali dikenal sebagai Syi’ah ‘Ali bin Abi Thalib.

Ibn Khaldun berkata di dalam Muqaddimah-nya, “Ketahuilah! Sesungguhnya Syi’ah secara bahasa artinya adalah sahabat dan pengikut. Dan di dalam istilah para fuqaha dan ahli kalam, dari kalangan salaf dan khalaf, sebutan Syi’ah ditujukan kepada para pengikut ‘Ali dan anak keturunannya.”[1]

Dan di dalam Khuthathu Syâm, karya Muhammad Kurd ‘Ali, cukuplah sebagai hujjah tentang penamaan istilah Syi’ah. Ia secara tegas berkata bahwa Syi’ah adalah sekelompok dari golongan sahabat Rasulullah Saw yang dikenal sebagai Syi’ah ‘Ali. Muhammad Kurd’ Ali berkata, “Adapun sebagian penulis yang berpandangan bahwa mazhab Tasyayyu’ (Syi’ah) adalah ciptaan ‘Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan Ibn As-Sauda’, maka itu merupakan khayalan belaka dan sedikitnya pengetahuan mereka tentang mazhab Syi’ah.”[2]

Inilah kesaksian Muhammad Kurd’ Ali, padahal ia dikenal bukan sebagai seorang Syi’ ah, bahkan termasuk orang yang mendiskreditkan Syi’ah.

Sesungguhnya hadis-hadis Nabi Saw. menguatkan apa yang telah kami sebutkan, baik yang diriwayatkan melalui jalur ulama-ulama kenamaan Ahlus Sunnah apalagi yang diriwayatkan melalui jalur Syi’ah. Hadis-hadis yang ada mencapai batas mutawatir.

Berikut ini kami sampaikan beberapa hadis tersebut yang diriwayatkan melalui jalur riwayat Ahlus Sunnah, sebagai penjelasan dan penyempurnaan di dalam hujjah kami.

Ibn Hajar al-Haitsami meriwayatkan di dalam kitabnya ash­Shawâ’iqul Muhriqah dari Ibn ‘Abbas sesungguhnya ia berkata, ketika Allah Ta’ala menurunkan ayat, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Ali, “Mereka itu adalah engkau dan Syi ‘ahmu. Engkau dan Syi’ahmu akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada mereka. Adapun musuhmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan dimurkai (oleh Allah) dan tertengadah (tangan mereka diangkat ke dagu).”[3]

‘Ali berkata, ‘Siapakah musuhku?’

Rasulullah Saw. bersabda, “Yaitu orang yang berlepas diri darimu dan melaknatmu.”[4]

Al-Hakim meriwayatkan di dalam kitabnya dengan sanadnya dari ‘Ali bahwa ia berkata; “Rasulullah Saw. bersabda kepadaku, “Wahai ‘Ali, bukankah engkau mendengar firman Allah Swt,Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Mereka itu adalah Syi’ahmu.[5]

Al-Hamuyini asy-Syafi’i meriwayatkan dalam “Farâ’idus Simthain” dengan sanadnya dari Jabir, ia berkata, “Kami pemah berkumpul di rumah Nabi Saw, lalu ‘Ali datang, kemudian ia bersabda, “Telah datang kepada kalian saudaraku.” kemudian ia bersabda, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya orang ini (‘Ali) dan Syi’ahnya adalah orang-orang yang beruntung kelak pada hari kiamat. Sesungguhnya ia (‘Ali) adalah orang yang pertama kali di antara kalian yang beriman kepadaku, orang yang paling menepati janjinya dengan Allah. orang yang paling lurus dalam melaksanakan perintah Allah, orang yang paling berlaku adil di dalam memperlakukan rakyatnya, orang yang paling adil di dalam pembagian, dan orang yang paling agung di antara kalian di sisi Allah di dalam hal kemuliaan.”[6]

Kemudian Jabir berkata, “Dan ayat ini diturunkan berkenaan dengannya (yakni dengan ‘Ali), Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Dahulu, kata Jiibir lebih lanjut, para sahabat Muhammad Saw jika ‘Ali datang, maka mereka biasa mengucapkan, “Telah datang sebaik-baik makhluk.”

Hadis semisal ini juga diriwayatkan oleh al-Khawarizimi al­Hanafi di dalam Manâqib-nya dari Jabir Ra dari Rasulullah Saw.

Al-Khawarizmi juga meriwayatkan dalam Manâqib-nya dari al-Manshur ad-Dawaniqi dalam sebuah hadis yang panjang, di antaranya ia bersabda, “Dan sesungguhnya ‘Ali dan Syi’ahnya kelak pada hari kiamat adalah orang-orang yang beruntung dengan masuk ke dalam surga.

Ia juga meriwayatkan di dalam kitabnya sarna dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Wahai ‘Ali, sesungguhnya Allah telah mengampunimu, keluargamu. Syi’ahmu, dan para pecinta Syi’ahmu.

Ia juga meriwayatkan dalam kitabnya yang sama dari Nabi Saw bahwa ia bersabda tentang keutamaan ‘Ali,

“Sesungguhnya ia (‘Ali) adalah orang yang paling pandai di antara manusia, orang yang paling dahulu masuk Islam. dan sesungguhnya ia dan Syi’ahnya adalah orang-orang yang beruntung besok pada hari kiamat.”

Ia juga meriwayatkan di dalam Manâqib-nya,[7] ia berkata, ‘an-Nashir lil Haqq meriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa ketika ‘Ali maju menghadap Rasulullah Saw untuk menaklukkan benteng Khaibar, Rasulullah Saw bersabda kepadanya, “Sekiranya aku tidak khawatir sekelompok orang dari umatku akan berkata tentang dirimu, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berkata sesuatu tentang al-Masih (‘Isa As), niscaya akan aku katakan tentang dirimu pada hari ini suatu perkataan, yang apabila engkau melewati orang banyak tentu mereka akan mengambi tanah bekas telapak kakimu dan dari bekas air wudhumu untuk mereka jadikan sebagai obat (mengambi/ keberkahan darinya).

Akan tetapi, cukup bagimu bahwa kedudukanmu di sisiku, seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi sesudahku. Sesungguhnya engkau membayarkan utangku dan engkau berperang di atas Sunnahku. Sesungguhnya engkau kelak di akhirat adalah orang yang paling dekat denganku, sesungguhnya engkau orang pertama yang menjumpaiku di Haudh dan orang pertama yang diberi pakaian bersamaku serta orang pertama yang masuk surga bersamaku dari kalangan umatku. Sesungguhnya Syi’ahmu berada di atas mimbar-­mimbar yang terbuat dari cahaya. Dan sesungguhnya kebenaran senantiasa berada di lisanmu, hatimu, dan di hadapanmu.

Aku katakan, hadis semacam ini juga diriwayatkan di dalarn kitab Kifâyatuth Thâlib, karya al-Kanji asy-Syafi’i, Târikh Baghdâd, karya al-Khathib al-Baghdadi “Majmâ’uz Zawâ’id, dan kitab-kitab lainnya yang dikarang oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Al-Khawarizimi juga meriwayatkan di dalam Manâqib-nya dalam sebuah hadis yang panjang dengan sanadnya dari Ibn ‘Abbas bahwa Jibril telah mengabarkan kepada Nabi Saw bahwa ‘Ali dan Syi’ahnya akan dibawa ke dalam surga berombongan bersama Muhammad Saw.”

Al-Qunduzi al-Hanafi meriwayatkan di dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah[8] dari kitab Mawaddatul Qurbâ, karya al­-Hamdani asy-Syafi’i, dari Abu Dzar dari Nabi Saw sesungguhnya ia bersabda:

“Sesungguhnya Allah memandang bumi dari ‘Arsy­-Nya, lalu Dia memilihku dan memilih ‘Ali sebagai menantuku dengan menikahkannya dengan Fatimah al-’Adzra al-Batul, dan Dia tidak memberikan hal itu kepada seorang pun dari nabi-nabi-Nya; Dia mengaruniakan kepadanya al-Hasan dan al-Husain dan tidak mengaruniai seorang pun yang seperti mereka berdua,” hingga pada sabdanya, “Dia memasukkan Syi’ahnya ke dalam surga; dan Dia menjadikan aku sebagai saudaranya, dan tidak ada seorang pun yang bersaudarakan sepertiku. “

Kemudian Nabi Saw bersabda, “Ayyuhannas, barang siapa ingin memadamkan kemurkaan Tuhan dan ingin amalnya diterima oleh Allah, maka hendaklah ia mencintai ‘Ali bin Abi Thalib. Sebab, sesungguhnya mencintai ‘Ali bin Abi Thalib itu menambah keimanan, dan sesungguhnya mencintainya dapat meleburkan dosa­-dosa sebagaimana api meleburkan timah.”

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan di dalam kitabnya Yanâbi’ul Mawaddah, dalam bab yang sama dan juga dari kitab yang sama dari Anas dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Jibril telah menceritakan kepadaku, ia berkata. ‘Sesungguhnya Allah mencintai ‘Ali lebih daripada kecintaan-Nya kepada malaikat. Dan. tidak ada satu tasbih pun yang ditujukan kepada Allah kecuali Allah menciptakan darinya seorang malaikat yang memohonkan ampun kepada pecinta ‘Ali dan Syi’ahnya sampai hari kiamat,

Al-Qunduzi al-Hanafi juga meriwayatkan dalam kitabnya yang sama, dalam bab yang sama dari kitab al-Firdaus dari Ummu Salamah dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Ali dan Syi’ahnya mereka adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.

Ibn al-Maghazali asy-Syafi’i meriwayatkan di dalam Manâqib­nya dengan sanadnya dari ‘Ali, dari Nabi Saw bahwa ia bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk ke dalam surga tanpa dihisab,” kemudian ia menoleh kepada ‘Ali seraya bersabda, “Mereka adalah Syi’ahmu dan engkau adalah imam mereka. “

Al-Khawarizimi juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Manâqib-nya, tetapi terdapat sedikit perbedaan dalam teks hadis tersebut, “Kemudian ‘Ali As bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, ‘Mereka adalah Syi ‘ahmu dan engkau adalah imam mereka.”

Al-Kanji asy-Syafi’i meriwayatkan dalam kitabnya Kifâyatu ath-Thâlib” dari Jabir bin’ Abdillah, ia berkata, “Kami pemah berkumpul bersama Nabi Saw, tiba-tiba ‘Ali bin Abi Thalib datang, lalu ia bersabda, ‘Telah datang kepada kalian saudaraku,’ kemudian beliau bersabda, ‘Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya,’ sesungguhnya orang ini (‘Ali) dan Syi ‘ahnya adalah orang-orang yang beruntung kelak pada hari kiamat. Sesungguhnya dia (‘Ali) adalah yang’ pertama kali di antara kalian yang beriman kepadaku, orang yang paling menepati janjinya dengan Allah, orang yang paling lurus dalam melaksanakan perintah Allah, orang yang paling berlaku adil di dalam memperlakukan rakyatnya. orang yang paling adif di dalam pembagian, dan orang yang paling agung di an/ara kalian di sisi Allah di dalam hal kemuliaan.

Kemudian Jabir berkata, “Dan ayat ini diturunkan berkenaan dengannya (‘Ali), Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Dahulu, tutur Jabir lebih jauh, “Jika ‘Ali datang pada suatu tempat dan di tempat itu berkumpul para sahabat Muhammad Saw jika ‘Ali datang, maka mereka biasa mengucapkan, “Telah datang sebaik-baik makhluk.”

Al-Kanji asy-Syafi’i berkata, “Demikianlah yang diriwayatkan oleh perawi hadis Syam, lbn ‘Asakir, dalam kitabnya yang dikenal dengan Târikh Ibn ‘Asakir, dengan jalur riwayat yang berbeda-beda.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Hamuyini asy-Syafi’i dalam kitabnya Farâ’idus Simthain, jilid pertama, bab ke-31; Al­Khawarizimi al-Hanafi dalam Manâqib-nya; dan selain keduanya dari kalangan tokoh-tokoh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Ibnus Shabiigh al-Maliki meriwayatkan dalam al-Fushûlul Muhimmah” dan asy-Syablanji asy-Syiifi’i di dalam Nurul Abshar’ dari lbnu ‘Abbas, ia berkata, “Ketika ayat ini turun, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7) Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, Engkau dan Syi’ahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepada mereka, sedangkan musuh-musuhmu datang dalam keadaan dimurkai dan tertengadah (tangan mereka diangkat ke dagu).”[9]

Ummu Salamah berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Ali dan Syi ‘ahnya adalah orang-orang yang beruntung pada hari kiamat.”

Hadis ini diriwayatkan oleh dari Kunuzûl Haqâiq, karya al-Manawi, dan dari Tadzkiratul Khawwâsh, karangan Sibth Ibn al-Jauzi, dengan sedikit perbedaan dalam teks hadisnya.

Ibnu al-Maghazali asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Manâqib-nya dari Ibn ‘Abbas, ia berkata, “Aku pemah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang firman Allah Swt, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Qs. al-Bayyinah [98]:7)

Kemudian, ia bersabda, “Jibril telah berkata kepadaku bahwa mereka itu adalah ‘Ali dan Syi’ahnya. Mereka adalah orang-­orang yang paling dahulu memasuki surga, yang didekatkan kepada Allah karena kemuliaannya.”

Al-Khathib juga meriwayatkan hadis tersebut dalam Târikh­nya dan Ibn Mardawaih di dalam al-Manâqib.

Ibn Hajar meriwayatkan dalam Ash-Shawâ’iqul Muhriqah, ia berkata, “Ahmad meriwayatkan di dalam al-Manâqib, halaman 159, bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, ‘Wahai ‘Ali, apakah engkau tidak ridha bahwa engkau bersamaku di dalam surga, sedangkan al-Hasan, al-Husain, dan kelurunan kita berada di belakang punggung kita, istri-istri kita berada di belakang keturunan kita, dan Syi’ah kita berada di sebelah kanan dan kiri kita,”

Kemudian ia meriwayatkan hadis yang lain dari ad-Dailami bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, “Wahai ‘Ali, sesungguhnya Allah telah mengampunimu, keturunanmu, keluargamu, dan Syi’ahmu.”

Ibnu Hajar juga meriwayatkan dalam Shawâ’iq-nya, ia berkata, “Ath-Thabrani meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda kepada ‘Ali, “Orang yang mula-mula masuk surga adalah empat orang, yaitu: Aku, engkau, al-Hasan, dan al-Husain, sedangkan keturunan kita berada di belakang punggung kita, istri-istri kita berada di belakang keturunan kita, dan Syi ‘ah kita berada di sebelah kanan dan kiri kita.

Masih banyak lagi hadis-hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh para ulama terkemuka Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam buku­buku karangan mereka dan musnad-musnad serta kitab-kitab sahih mereka, yang berisikan pujian terhadap Syi’ah ‘Ali dan Ahlulbaitnya yang telah disucikan oleh Allah dari segala dosa dan kesalahan, yang jumlahnya sangat banyak, bahkan tidak dapat dihitung.

Hujjatul Islam wal Muslimin al-’Allamah as-Sayyid al­’Abbas al-Kasyani telah menghimpun dalam sebuah naskah (yang masih berbentuk manuskrip) sejumlah hadis Nabi Saw, yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang berisikan pujian terhadap Syi’ah. Hadis-hadis yang ia himpun dalam naskah tersebut  mencapai seratus hadis, yang semuanya diriwayatkan melalui jalur riwayat Ahlus Sunnah wal Jamaah. Aku telah melihat naskah tersebut pada perpustakaannya di Kota Suci Karbala, yaitu pada ketika aku mengunjungi tanah suci tersebut pada tahun 1370 Hijriah. Aku kira naskah tersebut masih dalam bentuk manuskrip (tulisan tangan) bersama naskah-naskah yang lain yang jumlahnya sangat banyak.

Aku memohon kepada Allah Yang Mahakuasa untuk memberikan taufik kepada Maulana al-Hujjah as-Sayyid al-Kasyani dan seluruh ulama kita yang mulia dan berbakti, semoga mereka dapat mencetak dan menerbitkan kitab-kitab karangan mereka agar dengan kehadirannya dapat memberikan manfaat kepada umat Islam. Sesungguhnya Dia Mahadekat lagi Maha Mengabulkan doa hamba­hamba-Nya.[]


[1] . Lihat, Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hal. 130.

[2] . Lihat, Khuthathu Syâm, jilid 5, hal. 156.

[3] . Lihat, Ibn Hajar al-Haitsami, ash-­Shawâ’iqul Muhriqah, hal. 128.

[4] . Aku katakan. segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Ibn !::!ajar mengucapkan kata-kata yang benar. Sebab, kebenaran itu memang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya. Oi dalam hat ini. hendaklah kita menanyakan kepada orang nawashib dan pendusta ini (Ibn tlajar) tentang orang yang bel1epas diri dari ‘ali a.s. dan melaknatnya, apakah dia buka tuannya, yailu Mu’awfyah Ath- Thagh;yah (orang yang zalim) dan yang mengikuti jalannya? Mu’awiyah adalah orang yang membuat ketetapan yang buruk, yaitu pelaknatan terhadap pemuka para washiyy (Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib a.s.) di alas tujuh puluh ribu mimbar, sebagaimana yang dlrlwayatkan oleh para sejarawan.

[5] . Lihat, al-Hakim, Syawâhidut Tanzil.

[6] . Lihat,  Farii’idus Simthain, jilid 1, bab ke- 31.

[7] . Lihat, Manâqib, hal. 118.

[8] . Lihat, Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanâbi’ul Mawaddah  bab 56.

[9] . Lihat, asy-Syablanji asy-Syiifi’i, Nurul Abshâr’, hal. 102.

Mungkinkah di Masa Depan, Syi’ah Menggeser Dominasi Sunni?

Berdiri Sekolah Tinggi Filsafat Islam Pertama”Berbau” Syiah

Namanya merujuk Mulla Sadra, filsuf mazhab Syiah Imamiyah

Jum’at, 13 Juli 2012

Mengaku sempat terseok-seok selama dua tahun akibat kendala perizinan, akhirnya Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STIF) Sadra resmi berdiri tahun ini

.
Lembaga yang berdiri di bawah naungan Yayasan Hikmat Al Mustafa Jakarta ini diresmikan oleh Prof. M. Zein, selaku pewakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kemenag.

Dalam pernyataannya, M. Zein sempat memberikan apresiasi terhadap sekolah filsafat ini. Ia bahka berharap STFI Sadra dapat menjadi kebanggaan umat Islam dalam mempelajari filsafat, al-Qur’an dan Hadits.

“Rasulullah bersabda ambillah hikmah dar imanapun asalnya,” ujarnya saat launching di Gedung Sucofindo, Jakarta Selatan, Kamis, (12/07/2012) kemarin.

Acara dihadiri oleh Wakil Menteri Agama, Prof Dr Nasarudin Umar dan Perwakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Prof M. Zein. Juga dihadiri Dewan Penyantun STFI Sadra, Prof. Umar Shihab, Ketua STFI Sadra Umar Shahab dan Direktur Mizan Dr Haidar Bagir,  dan sejumlah pembicara beserta undangan.

Sementara itu Profesor Ahmad Fazeli, Ketua Yayasan Hikmat Al Mustafa turut berterimakasih kepada Kementerian Agama (Kemenag) yang mengeluarkan izin sekolah filsafat ini. Ia berharap smoga STFI Sadra memberikan sumbangan pemikir bagi perkembangan negeri ini.

Beberapa dosen di Sekolah ini di antaranya Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara, Prof Dr. Abdul Hadi MM, Dr. Haidar Bagir (Mizan), Dr Umar Shahab, Dr. Muhsin Labib, Dr. Zainal Abidin Bagir (Center for Religious and Cross-Cultural Studies/CRCS), Dr Donny Gahral Adaian, Prof. Dr Rosikhon Anwar (Guru Besar Ilmu Al-Quran UIN Sunan Gunung Djati Bandung) juga Dr. Khalid Walid, alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, Iran.

Ahmad Jubaili, Ketua Tim Perumus Kurikulum dikutip radio Iran, IRIB, mengatakan, kuliah yang disusun dirancang secara integral, saling terkait. Kampus ini menurutnya merupakan tempat kajian ilmiah yang merujuk pada Filsafat Mulla Sadra yang mampu menggabungkan seluruh pendekatan keilmuan, terutama teologi, filsafat dan Tasawuf.

Mulla Shadra mempunyai nama lengkap Shadr al Din Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Yahya Qawami al Syiraz, seorang filsuf terbesar mazhab Syiah Imamiyah.

Sekolah ini dikembangkan dengan model boarding (berasrama) yang direncanakan menampung setiap tahun 80 mahasiwa laki-laki dan perempuan yang direkruit secara ketat dari sekolah terbaik (SMA, Pesatren) di seluruh Indonesia. Mahasiswa yang lulus seleksi di beri beasiswa secara penuh selama  7 tahun.

Sementara itu, Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjen Majelis (Waskjen) Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Komisi Pengkajian di MUI Pusat mengatakan, dari bentuknya, lembaga ini dinilai dekat dengan Syiah.

“Karena selama ini, gerakan Syiah masuk melalui filsafat,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat (13/07/2012) siang.*

Mungkinkah di Masa Depan, Syiah-Iran Menggeser Dominasi Sunni?

IRAN saat ini menjelma menjadi Kekuatan Baru di Pentas politik Dunia. Menurut dosen Politik Islam UIN Malang, Basri Zain, PhD, sebagai kekuatan baru, Iran ditopang 3 faktor pendukung, yakni: minyak, teknologi nuklir dan ideologi syiah. Dalam satu dekade belakangan ini khususnya di era kepemimpinan Ahmadinejad, Iran yang mayoritas bercorak Syiah secara mengejutkan berani mengambil sikap kritis terhadap barat khususnya Amerika dan sekutunya Israel. Hubungan Iran dengan Barat sering tegang terutama berkaitan soal nuklir, selat Hormuz, Palestina dan Israel.
http://syiahali.files.wordpress.com/2012/07/41.jpg?w=300

Ahmadinejad pernah menyerukan dunia tanpa zionis. Ketika gempa melanda Haiti, ia menuding Amerika menggunakan senjata tektonik HAARP-nya untuk menghancurkan negara itu. Iran melalui Ahmadinejad juga menuding Amerika merekayasa gejolak di Timur tengah. Kemudian Ahmadinejad pernah menuding Amerika telah membunuh bonekanya sendiri yaitu Osama yang ditengarai sebagai agen CIA

.

Iran, lain dengan negara tetangganya di Timur tengah yang mayoritas sunni tetapi pemimpinnya cenderung satu suara dengan Amerika dan sekutunya. Para pemimpin negeri-negeri Arab ini tiba-tiba menjadi lemah ketika berhadapan dengan isu Palestina dan program nuklir Iran. Mereka lemah apabila ditekan oleh Washington, maklum saja sebagian pemimpin Arab seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat, Mesir, dan Kuwait tidak lebih merupakan boneka Amerika yang melayani kepentingan tuannya dan apabila sudah tidak berguna bisa dilengserkan dengan revolusi rakyat, sanksi ekonomi, pembunuhan dengan melibatkan intelijen dan serangan militer ala NATO.

Terkait dengan topik tulisan ini, mungkinkah Syiah suatu saat bisa menggeser dominasi sunni dalam tatanan politik islam? Jawabannya Bisa!, syaratnya:

1.  Memperbaiki citranya di dunia Sunni (masalah aqidah dan perlakuan terhadap minoritas Sunni di Iran)

2.  Mampu menggeser pengaruh 2 kekuatan besar islam Sunni yakni, al-Ikhwan al-Muslimun dan Wahabi (1)

3.  Memiliki pemimpin berpengaruh seperti Ayatulllah ruhullah Khomenei yang mampu menggerakkan semua elemen civil society untuk bersatu.

Point Pertama, persoalan Aqidah mereka-lah yang membuat citra Syiah jelek di mata Sunni sehingga tidak mengundang rasa simpati dan dialog. Sebagian besar dialog antara Syiah-Sunni selalu berada dalam tataran segelintir elit mereka saja tetapi untuk level akar rumput yang ada ialah saling membongkar keburukan masing-masing bahkan bentrokan fisik.

Meski dianggap berbeda aqidah, adakalanya ketika Indonesia sebagai negeri mayoritas Sunni butuh bantuan energi dan investasi ekonomi, boleh saja kita ambil manfaat dari mereka. Dan tidak ada masalah dengan kerjasama itu. Lain halnya dengan Israel yang jelas beda agama dan ideologi politik, ketika pemerintah Indonesia mau mewacanakan kerjasama hubungan dagang, teknologi dan pendidikan, ramai-ramai kita protes dengan aksi unjuk rasa besar-besaran bahkan menyerukan boykot produk yahudi.

Kedua, Syiah harus bisa menggeser pengaruh dan dominasi al-Ikhwan al-Muslimun, harakah yang dianggap sebagian pengamat Islam politik ini dianggap sebagai ibu susuan bagi gerakan politik di belahan dunia lainnya seperti FIS di Al-jazair, Hammas di Palestina, PAS Malaysia dan Masyumi. Tiffatul sembiring dalam sebuah kata pengantar untuk buku Efek bola salju PKS (2006), mempunyai teori dalam tesis S2-nya yang berjudul “Rivalry between Modernist and Traditionalist Islamic Movement” di International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan, bahwa “Tidak ada satu pun gerakan Islam modern di dunia ini yang tidak berpengaruh oleh pemikiran Hassan al-Banna. Pokok-pokok pikiran yang beliau gulirkan merupakan tafsir operasional gerakan, semacam fikih gerakan Islam. Sehingga Gerakan mana saja yang berupaya konsisten dengan al-Qur’an dan Sunnah akan bermuara pada point-point kesimpulan yang telah dirumuskan al-Banna”.

Dibandingkan dengan Wahabi dari sisi finansial Ikhwan jelas tak sebanding, tetapi dari segi kekritisan berfikir, lobi-lobi politik dan militansi jelas tidak sebanding jika dibandingkan dengan wahabi yang bercorak “tekstual” itu. Soal lobi politik, Ikhwan dikatakan dalam buku Diplomasi revolusi Indonesia di luar negeri(Bulan bintang 1980) adalah aktor  utama dibalik kenapa pemerintah Mesir mau mengakui kemerdekaan RI. Oleh karena itu, delegasi Agus salim ketika bertemu dengan al-Banna menyampaikan rasa terima kasih kepada founder Ikhwan tersebut atas bantuannya yang tak terkira.

Nama ikhwan tetap terkenang atas jasa-jasanya membantu RI di masa lalu. Pertanyaannya, mampukah Syiah melalui Iran melakukan hal seperti itu? Apakah pemerintah Iran berani menembakkan rudal balistik ke Israel untuk menggertak mereka sebagai mana yang sering dilakukan oleh Hizbullah? Saya pikir Iran jangan jago kandang saja! Ini adalah tantangan bagi Iran khususnya elit-elit Syiah di sana. Memang sih di berbagai media, presidennya terlihat sering mengkritik Barat dan zionis. Cuma mana aksi nyata Ahmadinejad untuk Palestina sebagaimana Hizbullah di Lebanon yang mempecundangi militer Israel. Atau Iran bisa juga mengikuti jejak Turki dan eks Ikhwan al-Muslimun ketika mengirim Kapal kemanusiaan Freedom flotilia ke Gaza pada Mei 2011.

Soal bagaimana Syiah menggeser dominasi Sunni Wahabi, sebeltulnya cukup bermodalkan dengan teknologi, jalur pendidikan dan dunia penerbitan. Sebenarnya wahabi cuma menang di pendanaan dan propaganda saja. Sampai sekarang juga tak terlihat apa sumbangsih nyata Pemerintah Saudi dalam pembebasan al-Quds. Pernahkah mereka berinisiatif membangun rumah sakit di Palestina sebagaimana yang dipelopori Muslim Indonesia? Atau memindahkan ribuan warga Palestina ke luar negaranya untuk diberdayakan, dididik dan diberi biaya hidup cuma-cuma seperti yang dilakukan Ratu rania dari Yordania.

Ketiga, Memiliki pemimpin yang berpengaruh seperti imam Khomenei. Dalam Revolusi Islam 1979, keberadaan seorang pemimpin yang bijak dan berpengaruh merupakan salah satu karakter utama yang membedakannya dengan revolusi-revolusi yang lain. Imam khomenei boleh jadi salah satu sosok yang berpengaruh itu. Saat ini, Iran butuh pemimpin spiritual seperti itu agar pengaruh politiknya makin kuat.

Revolusi Islam Iran menorehkan kemenangannya di penghujung abad ke-20. Sejarah membuktikan, tak ada satupun revolusi yang bisa mengubah suatu sistem kekuasaan tanpa dilandasi dengan paradigma pemikiran dan ideologi. Kaidah ini menjadi prinsip dasar seluruh revolusi dunia. Revolusi Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu: Agama, Kepemimpinan kharismatik dan Persatuan rakyat

Tanpa 3 syarat tersebut, mustahil rezim Syah pahlevi tumbang. Kini pada dekade keempat Revolusi Islam, pemerintah Iran hendaknya mencanangkannya sebagai dekade kemajuan dan keadilan. Namun demikian, dalam literatur Revolusi Islam, kemajuan yang dimaksud berbeda dengan apa yang selama ini didefinisikan Barat. Karena kemajuan yang dikehendaki Revolusi Islam adalah kemajuan yang berkeadilan. Sebab tanpa keadilan, kemajuan hanya akan memperlebar jurang ketimpangan sosial yang akan berujung pada hancurnya tatanan masyarakat. Sebaliknya keadilan yang ada juga mesti dibarengi dengan kemajuan. Karena jika tidak, maka keadilan yang dicapai sama saja dengan menyerah pada keterbelakangan. Tentu saja untuk merealisasikan tujuan mulia itu memerlukan proses panjang dan kerja keras.

Tanpa ketiga langkah di atas, agak sulit bagi Syiah untuk menggeser dominasi muslim sunni. Saat ini peluang itu ada karena dunia sunni sedang bergejolak terutama di Timur tengah. Tinggal bagaimana Syiah mensosialisasikan ijtihad-ijtihad politiknya ke dunia Sunni khususnya Indonesia dengan kemasan menarik sehingga mengundang simpati. Jalur yang efektif bisa dengan melalui pendidikan dan publikasi pers.(2)

End notes:


(1) Sebenarnya selain 2 kekuatan itu masih ada satu kekuatan lagi yakni Khadaffi. Akan tetapi ia tewas mengenaskan ditangan para pemberontak. Di samping itu, negara-negara Arab tidak ada yang membantunya ketika Libya digempur NATO. Sepertinya Khadaffi di negara teluk tak memiliki teman/sekutu

(2) Kajian tentang Syi’ah di Indonesia mulai ramai dilakukan oleh para ilmuwan setelah Imam Khomenei berhasil menumbangkan Syah Iran (Reza Pahlevi) pada tahun 1979 melalui sebuah revolusiPublikasi pers tentang Syiah kian populer terutama di indonesia. Setelah jaringan pengiriman pelajar ke Qum dibuka. Beberapa orang Indonesia belajar di madrasah-madrasah dan perguruan tinggi Qum. Sepulang mereka ke tanah air, mulai mengajarkan Syiah. Syi’ah di Indonesia belum dianggap gerakan politik praktis. Pengembangan fahamnya melalui pengajian, tulisan maupun sekolah dan atau pondok pesantren. Afiliasi pada partai politik selama Pemilu maupun PILKADA juga tidak terdengar.

Berbau Syiah : Sadra, Sekolah Tinggi Filsafat Islam Pertama

launching Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra hari Kamis, (12/07/2012) kemarin,  di Gedung Sucofindo, Jakarta Selatan dihadiri para tokoh. Di antaranya Wakil Menteri Agama, Prof Dr Nasarudin Umar, perwakilan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Prof M. Zein, Dewan Penyantun STFI Sadra, Prof. Umar Shihab, Ketua STFI Sadra Umar Shahab serta Direktur Mizan Haidar Bagir dan sejumlah pembicara beserta undangan.

Beberapa pengajar dalam sekolah tinggi filsafat ini adalah lulusan Iran. Di antaranya, Dr. Khalid Walid, alumnus dari Qom, Iran dengan desertasinya “Pandangan Eskatologi Mulla Shadra”. Walid juga Wakil Ketua Yayasan Hikmat Al-Mustofa Jakarta. Pengajar lain juga ada Abdullah Beik, MA, Qom tahun 1991.

Sementara itu, Fahmi Salim, MA, Wakil Sekjen Majelis (Waskjen) Intelektual dan Ulama Muda Indonesia, serta Komisi Pengkajian di MUI Pusat mengatakan, dari bentuk, link (jalur), lembaga ini dinilai berbau dengan Syiah. Termasuk jalur ke Jamiah Almustafa, Qom, Iran.

“Karena selama ini, gerakan Syiah masuk melalui filsafat,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat (13/07/2012) siang.

Juga dari situs hidayatullah.com, disebutkan nama STFI Sadra merujuk Mulla Sadra, filsuf mazhab Syiah Imamiyah

Namanya merujuk Mulla Sadra, filsuf mazhab Syiah Imamiyah

Menurut Ahmad Jubaili, ketua tim perumus kurikulum mengatakan, kampus ini merupakan tempat kajian ilmiah yang merujuk pada Filsafat Mulla Sadra yang mampu menggabungkan seluruh pendekatan keilmuan, terutama teologi, filsafat dan Tasawuf.Seperti dikutip IRIB Indonesia, juga salah satu situs berita yang dikenal ke-Iran-Iran-an.

Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, beralamat di jl. Pejaten Raya No.19, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Phone: +62-21-780 6545, Fax. +62-21-780 6425

Web: http://www.sadra.ac.id

Blog: http://www.STFI-Sadra.Blogspot.com

wahabi sesat menyesatkan

Kalau tanganmu panas tersentuh api, hindarilah induknya segala api (neraka), selagi masih ada kesempatan hidup…

Penulis web ini (Ustad Husain Ardilla) sudah sejak lama menantang wahabi berdebat face to face, namun mereka pengecut ! Wahabi tak pernah menang verdebat dengan kaum syi’ah, maklum mereka bodoh

kami muak dengan tingkah polah wahabi antek2 yahudi yang merasa paling benar…padahal wahabi paling Bahlul…lihat di samping masjidil Haram dan Nabawie…berdiri mc.donal dan KFC fast food milik yahudi..

Wahabi memukuli jamaah haji yang berusaha mencium Hajar Aswad

Tampak pada gambar di bawah ini polisi-polisi Wahabi berusaha mengamankan Ka’bah! Tampak salah seorang polisi Wahabi memukul jamaah haji yang berusaha mencium Hajar Aswad. Mengapa? Karena SYIRIK!!!

Sungguh aneh. Mencium batu suci yang begitu diagungkan mereka sebut syirik. Perli kita ketahui, kata-kata “syirik, bid’ah, kafir, sesat…” adalah selogan Wahabi! Hati-hati jika anda mendengar kata-kata tersebut.

Kita tidak boleh berfikiran sempit dan tak bijak. Orang tidak akan kembali ke ajaran klenik hanya karena mencium Hajar Aswad. Justru dengan demikian hati mereka menjadi luluh, merasa malu akan dosa-dosa yang pernah dilakukan dan kelak tidak mau melakukan dosa-dosa itu lagi; karena telah mencium batu suci rumah Allah. Mencium adalah ekspresi cinta. Tidak ada yang bisa melarangku mencium orang yang kucintai. Tuhan tidak bisa kucium, aku hanya bisa mencium rumahnya. Maka apa salahnya aku mencium dinding rumah Tuhanku?

sebagai orang biasa, berdasarkan kecintaan kepada Allah dan wali-Nya mereka berziarah. Dengan niat mendekatkan diri kepada-Nya. Kemudian berdoa kepada Allah di dekat wali yang Ia cintai dengan harapan Allah mau melupakan kesalahan-kesalahan mereka karena kini mereka telah berusaha dekat kepada-Nya melalui wali-walinya.

wah..wah, orang yang mengatakan mencium hajar aswad syirik berarti gak ngerti syariat agama. kan dah jelas, haji itu syariat Nabi Ibrahim, lalu disyariatkan juga kepada Nabi Muhammad saw. Maka tata cara pelaksanaan haji adalah perkara syar’i, bukan ranah ijtihadi, baik itu sa’i, wukuf, thawaf, atau taqbil hajar aswad. Liyat hadits deh, ada kok kisah Sayidina Umar mencium hajar aswad dan berkata,…”….kalau bukan karena rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu…” Disini jelas, Sayidina Umar aja ngikutin sunnah Nabi. Sekarang yang ikut sunnah siapa sih?! Wahabi?!

Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan umat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh umat Islam itu sendiri.

Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudl “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi

Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?

Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi.

Habib - Habaib

Para Ulama Pendakwah Islam di Bumi Nusantara, Mereka Bukan Salafi Wahabi

Salafi Wahabi mungkin perlu kita tanya: “Bisakah Salafi Wahabi masuk dan berkembang di bumi Nusantara seandainya sekarang ini masyarakatnya masih memeluk agama Hindu Budha?” Pertanyaan seperti ini sungguh tidak mengada-ada, sebab track record dakwah Salafi Wahabi sejak dulu hingga kini selalu  menjadi benalu bagi jama’ah kaum muslimin di mana saja di seluruh dunia. Kita tidak pernah dengar keberhasilan dakwah Salafi Wahabi di tengah-tengah kaum non Islam, lalu kaum non Islam berbondong-bondong memeluk agama Islam ala Salafy Wahabi. Pernahkan ada di suatu negeri atau wilayah keberhasilan Salafi wahabi dalam dakwah  mengajak masyarakat beragama non Islam menjadi pemeluk Islam?

Justru yang sering kita dengar adalah dakwah  Salafi Wahabi selalu berseru lantang  memusyrik-musyrikkan orang-orang yang sudah jelas-jelas beragama Islam. Masyarakat beragama Islam yang sedang berziarah kubur mengikuti Sunnah Nabi Saw disebut-sebut oleh Salafi Wahabi sebagai Penyembah Kuburan, na’udzu billah min dzaalik! Salafi Wahabi mengaku sebagai satu-satunya pengikut Sunnah Nabi tapi Sinis dan benci dengan Ziarah Kubur, padahal Ziarah Kubur adalah Sunnah Nabi Saw.  

Salafi Wahabi tidak punya methode berdakwah di tengah Ummat non Islam, jadi kesimpulannya mereka tidak akan sanggup berdakwah di tengah masyarakat non Islam. Missi dan visi Salafi Wahabi berdakwah bukan mengajak orang-orang non Islam masuk Islam, tetapi missinya adalah membuat onar dengan menebar isu-isu bid’ah, isu-isu kekafiran dan isu-isu  kemusyrikan di tengah Ummat Islam sendiri. Nah, kira-kira siapa gerangan dalang di balik layar dakwah Salafi Wahabi?

Pendidikan Anak dalam Pandangan Syi’ah

 

Pendidikan Anak dalam Pandangan Syi’ah

Dalam kehidupan rumah tangga, salah satu masalah terpenting yang harus diperhatikan secara seksama oleh kedua orangtua adalah masalah pendidikan dan pengajaran ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Ayah dan ibu harus membentuk kepribadian dan watak anak-anaknya yang baik dan soleh dan juga menghormatinya. Salah satu bentuk bantuan yang bisa diberikan orangtua untuk mendorong anak-anak mereka menjadi anak-anak yang baik adalah, dengan mempersiapkan lingkungan yang sehat dan mendukung, dimana orangtua menyediakan lahan untuk anak-anak mereka sehingga bisa berkembang mencapai kesempurnaannya.

 

Haruslah disadari bahwa setiap perilaku dan perkataan kedua orangtua, sekecil apapun itu dapat berpengaruh terhadap anak-anak, dan sekarang ini telah terbukti bahwa seluruh ucapan dan tindakan setiap manusia -kepada bayi sekalipun- dapat berpengaruh bahkan pada segala unsur fisik yang berkenaan dengannya.

 

Kedudukan anak

 

Rasulullah Saw dalam menjelaskan kedudukan anak-anak umatnya di dalam lubuk penciptaan bersabda, “Setiap cermin bayi umatku lebih aku cintai ketimbang apa yang dipancarkan matahari kepada mereka”.

 

Di dalam dari setiap manusia tersembunyi benih-benih kebahagiaan, yang jika dipupuk dan dipelihara dengan benar, masing-masing dari mereka akan menjadi pohon kebaikan yang nantinya akan memiliki gerak yang sesuai bagi kesempurnaan manusia. Salah satu dari benih-benih itu adalah memiliki anak yang saleh. Rasulullah Saw bersabda, “Salah satu kebahagiaan manusia adalah memiliki sahabat-sahabat yang saleh dan anak yang baik”.

 

Tidak sedikit hadis-hadis dan riwayat yang senada dengan ini, riwayat-riwayat yang memusatkan perhatiannya kepada lingkungan keluarga, yaitu lingkungan keluarga yang dipenuhi oleh nilai-nilai suci Ilahi dan maknawi. Surga ditumbuhi bunga-bunga yang semerbak harumnya, dan anak yang soleh adalah salah satu dari bunga-bunga itu, ia adalah bunga yang mekar di dalam lingkungan serupa surga yang diciptakan oleh ayah dan ibunya.

 

Anak -terlepas dari adat istiadat dan kebiasaan yang diserapnya dari masyarakat- adalah cerminan dari budaya, moral, keimanan dan nilai-nilai yang dianut dan terpatri di dalam wujud kedua orangtua dan keluarga. Hal tersebut dikarenakan ayah dan ibu lah yang menumbuhkan benih-benih kesempurnaan wujudnya pada wujud anak-anak mereka. Anak-anak tidak akan tumbuh seperti yang kita inginkan, akan tetapi mereka tumbuh seperti adanya kita sekarang.Sehubungan dengan hal ini Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt menganugerahkan anak kepada manusia dalam kondisi fitrah yang suci, jiwa yang sehat dan berbahagia, dan kedua orangtualah yang menjadikannya celaka dan tersesat layaknya diri mereka sendiri”.

 

Rasulullah Saw memerintahkan kedua orangtua untuk berusaha mendidik anak-anak mereka dan bersabda, “Hormatilah anak-anak kalian dan hiasilah mereka dengan etika yang baik”.

 

Salah satu bentuk penting penghormatan kepada anak-anak dan pendidikan mereka adalah anjuran dan dorongan kepada mereka untuk melakukan shalat dan menjalin hubungan dengan Tuhan. Bentuk yang lain dari etika penting dalam mendidik anak adalah memilih nama yang baik bagi mereka. Nama-nama yang dipakai oleh anggota-anggota keluarga menunjukkan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga tersebut, bahkan kita dapat memahami semangat dan kecenderungan yang dimiliki oleh bangsa-bangsa dari nama-nama yang mereka gunakan. Betapa banyak anak-anak yang dikarenakan kesalahan dari orangtua mereka dalam memilih nama dan pendidikan etika yang tidak benar mengalami krisis kepribadian di tengah masyarakat. Nama yang digunakan manusia memiliki peran yang menentukan dalam pendidikan dan garis hidupnya. Rasulullah Saw kepada Ali bin Abi Thalib as bersabda, “Wahai Ali! Hak seorang ayah adalah memberikan nama yang baik kepada anaknya, mendidiknya dengan baik dan menempatkannya pada posisi yang layak di tengah masyarakat.”

 

Pendidikan sebelum pengajaran

 

Tujuan terpenting agama suci Islam adalah pendidikan dan perbaikan individu-individu masyarakat manusia sehingga masyarakat manusia menjadi bersih dari kotoran-kotoran dan pencemaran-pencemaran ruh dan jiwa. Jelas, bahwa tanpa pendidikan dan perbaikan, pengajaran ilmu pengetahuan dan hikmah kepada manusia bukan saja tidak akan menciptakan sebuah masyarakat ideal (madinah fadhilah), tetapi justru akan menjadi perusak masyarakat itu sendiri. Berkenaan dengan hal ini Imam Khomeini berkata:

 

“Yang menjadi ancaman bagi dunia bukanlah senjata-senjata, bayonet, roket-roket atau yang sejenisnya.Apa yang sedang menjerumuskan planet ini ke jurang dekadensi adalah penyimpangan akhlak.Jika tidak ada penyimpangan-penyimpangan akhlak, tidak ada satupun dari senjata-senjata ini yang membahayakan manusia. Apa yang sedang menarik manusia dan negara-negara ke jurang kehancuran dan dekadensi adalah kemerosotan-kemerosotan yang ada pada para pemimpin negara-negara yang sedang berkuasa atas pemerintahan-pemerintahan ini, mereka sedang menciptakan kemerosotan akhlak, mereka sedang menggiring seluruh umat manusia ke arah jurang kemerosotan dan dekadensi.”

 

Rasulullah Saw dengan meletakkan program penyucian, perbaikan dan pendidikan manusia dalam agenda kerjanya, dalam waktu yang tidak lama dan dengan tidak dimilikinya fasilitas-fasilitas pendidikan dan pengajaran seperti yang kita miliki di zaman ini, mampu menyumbangkan pribadi-pribadi teladan seperti Ali as dan Fathimah kepada masyarakat manusia.Sehubungan dengan ini Ali as berkata:

 

“Sesungguhnya kalian tahu kedudukan dan posisiku di sisi Rasulullah Saw.Aku dibesarkan beliau di pangkuannya, dan meletakkan aku di dada mulianya sehingga tercium olehku bau harum tubuhnya, beliau menyuapi aku makanan dan beliau tidak pernah sekalipun mendapati aku berbohong dalam perkataan, dan salah dalam perbuatan.

 

Aku selalu bersama Rasulullah Saw layaknya anak di sisi ibunya, setiap hari beliau menancapkan panji-panji kemuliaan akhlak di dalam wujudku dan memerintahkan aku supaya mengikutinya.”

 

Dengan menghabiskan anggaran yang luar biasa besar untuk sistem pendidikan, masyarakat manusia sampai saat ini masih belum mampu menyumbangkan kepada dunia, pribadi-pribadi seperti Imam Ali as dan para maksum (manusia suci) lain yang terdidik di sekolah Rasulullah Saw yang menjamin kesempurnaan jiwa manusia.

 

Akan tetapi jangan dibayangkan bahwa tercapainya kesempurnaan bagi selain manusia maksum adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena setiap manusia sesuai dengan kadar usaha dan kerja kerasnya dengan cara mengais sedikit demi sedikit ilmu dari sumber yang menjamin kesempurnaannya, dapat mencapai kesempurnaan yang sesuai dengan diri dan usahanya secara baik. Tidak diragukan bahwa orang-orang besar adalah orang-orang yang dididik di dalam keluarga-keluarga yang di sana tercium bau harum tarbiah Rasulullah Saw, tarbiah yang menjamin bagi tercapainya kesempurnaan manusia.

 

Kasih sayang kepada anak-anak

 

Selama masa hidupnya, anak-anak kita harus merasakan rasa kasih sayang semaksimal mungkin, karena Raulullah Saw dengan teladan dan tindakannya serta dengan petunjuk-petunjuknya yang terang memerintahkan umat beliau untuk melakukannya:

 

Rasulullah Saw di pagi hari mengelus kepala anak-anaknya dengan tangannya yang mulia. Dinukil dalam sebuah riwayat, “Suatu hari Rasulullah Saw dengan cepat menyelesaikan shalat jamaahnya dan orang-orang yang hadir pada waktu itu bertanya alasannya.Beliau bersabda,”Apakah kamu tidak mendengar suara tangis anak kecil?” Betapa Nabi Muhammad Saw dengan kedudukannya yang tinggi menghadapi setiap masalah dengan ketelitian.

 

Dan dalam riwayat yang lain disebutkan, “Allah Swt akan mencatat setiap ciuman ayah dan ibu terhadap anaknya sebagai kebaikan dan barangsiapa yang menggembirakan anaknya Allah Swt kelak di Hari Kiamat akan memakaikan untuknya baju yang karena cahaya baju itu, muka-muka penduduk surga akan bersinar.”

 

Di antara perkara penting yang patut diperhatikan dalam dalam menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada anak-anak, ialah menepati janji yang diberikan oleh kedua orangtua kepada anak-anaknya. Rasulullah Saw berkenaan dengan hal ini bersabda, “Cintailah anak-anak, berkasih sayanglah dengan mereka dan setiap kali kalian berjanji kepada mereka, tepatilah janji kalian itu.Karena anak-anak beranggapan bahwa mereka menerima rezeki dari tangan kalian”.

 

Masalah lain yang menyulitkan bagi keluarga adalah tidak sejalannya orangtua dalam berprilaku terhadap anak-anak dan kurangnya perhatian kepada tuntutan seusia mereka, Rasulullah Saw bersabda, “barangsiapa yang memiliki anak, berperilakulah kepadanya layaknya seorang anak”.

 

Anak-anak yang bermasyarakat

 

Dalam agama Islam sebagai madrasah yang menjamin kesempurnaan manusia, cara hidup seperti biarawan (menyendiri) dan anti sosial dilarang untuk dilakukan. Rasulullah Saw bersabda, “Manusia adalah makhluk sosial dan agama suci Islam menekankan dan mendorong manusia untuk bermasyarakat.”

 

Salah satu tugas terpenting orangtua dan juga lembaga kebudayaan dan pendidikan adalah meletakkan pondasi akhlak dan pendidikan Islam terhadap masyarakat dalam berperilaku dengan sesama. Menurut Islam titik awal interaksi ini tidak lain adalah mengangkat dan menebar nilai-nilai perdamaian dan kerukunan, dan ini terlihat dari perilaku saling mengucapkan salam kepada sesama. Guna membangun pondasi nilai-nilai agung ini dalam tubuh masyarakat, Rasulullah Saw bersabda, “Selama aku masih hidup aku tidak akan meninggalkan untuk selalu memberikan salam kepada anak-anak sehingga itu menjadi karakter dalam masyarakat dalam bentuk sunah (tradisi)”.

 

Jika kita lihat perkara ini dari sudut pandang yang lain, kita akan saksikan bahwa Rasulullah Saw dengan amal perbuatannya sedang mengajarkan kepada umat manusia dan mengatakan kepada mereka, “Wahai sekalian manusia! Wahai masyarakat manusia! Jika kalian ingin memiliki sebuah masyarakat yang dipenuhi dengan kedamaian, keselamatan dan kerukunan, mulailah dari diri kalian sendiri, hiasilah diri kalian dengan akhlak yang indah dan amalkan semua perkataan kalian sehingga anak-anak kalian akan terdidik dengan baik.”

Untuk apa setan diciptakan ? Ulama Syiah Menjawab

 

Ulama Syiah Menjawab:
Untuk apa setan diciptakan?
Setan sejak awal penciptaannya memiliki kekudusan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya. Setan dengan ikhtiar penuhnya jatuh, menyimpang dan memilih sendiri untuk celaka. Oleh karena itu, Tuhan tidak menciptakan iblis sebagai setan. Ia sendiri yang menghendaki dirinya menjadi setan. Namun, tindakan setaninya itu tidak sekedar mencelakakan para hamba Tuhan, tetapi Juga merupakan tangga kesempurnaan mereka. 

.

 Untuk apa setan diciptakan?Banyak yang bertanya bahwa sekiranya manusia diciptakan untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan melalui Jalan penyembahan (ibadah), keberadaan setan sebagai makhluk pembinasa adalah oposisi kesempurnaan. Apakah alasannya sehingga setan mesti ada? Ia adalah makhluk yang licik, penuh dendam, makar, penuh tipu-daya, dan beracun!

Apabila kita sedikit merenung, kita akan ketahui bahwa kehadiran musuh ini adalah untuk mendukung pencapaian manusia ke tingkat kesempurnaan. Kita tak perlu pergi jauh. Kekuatan resistensi dalam menghadapi musuh-musuh senantiasa ada pada jiwa manusia dan la dapat mengantarkannya ke jalan kesempurnaan.

Para komandan dan prajurit-prajurit tangguh dan terlatih adalah orang-orang yang berjibaku dengan musuh-musuh berat pada pertempuran-pertempuran besar.

Para politikus yang berpengalaman dan berpengaruh adalah mereka yang bertarung dengan musuh-musuh yang kuat dalam dunia politik yang kritis dan pelik.

Para juara besar gulat adalah pegulat-pegulat yang berjajal dengan rival-rival tangguh dan berat.

Oleh karena itu, tidak perlu takjub bila kita menyaksikan para hamba Tuhan setiap hari semakin kuat dan gairah dalam bertempur secara berkesinambungan dengan setan.

Dewasa ini para ilmuwan berkomentar tentang filsafat adanya mikroba-mikroba penggangu, “Sekiranya mikroba-mikroba tidak ada, maka sel-sel badan manusia pada suatu keadaan akan lemah dan kebas (karena kedinginan), dan kemungkinan tingginya postur manusia tidak akan melewati 80 sentimeter; semuanya dalam bentuk manusia-manusia cebol. Dengan demikian, manusia hari ini memperoleh kekuatan dan tinggi tubuh yang lebih karena mereka selalu dalam kontraksi dengan mikroba-mikroba pengganggu itu.

Demikian juga ruh manusia dalam berkonfrontasi dengan setan dan hawa nafsu.

Namun, hal ini tidak berarti bahwa setan memiliki tugas untuk menyelewengkan para hamba Tuhan. Setan sejak awal penciptaannya memiliki kekudusan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya. Setan dengan ikhtiar penuhnya jatuh, menyimpang dan memilih sendiri untuk celaka. Oleh karena itu, Tuhan tidak menciptakan iblis sebagai setan. Ia sendiri yang menghendaki dirinya menjadi setan. Namun, tindakan setaninya itu tidak sekedar mencelakakan para hamba Tuhan, tetapi Juga merupakan tangga kesempurnaan mereka. (perhatikan baik-baik)

Kendati demikian, pertanyaan yang tersisa adalah mengapa Tuhan mengabulkan permohonannya untuk tetap hidup? Mengapa Tuhan tidak melenyapkannya sejak dahulu?

Jawaban pertanyaan ini sama dengan jawaban yang telah kami sebutkan di atas. Dengan ungkapan lain, alam semesta adalah arena ujian dan cobaan. (Ujian ini adalah wasilah pembinaan dari penyempurnaan manusia). Dan kita ketahui, ujian hanya berarti bila berhadapan dengan musuh-musuh besar, krisis-krisis kehidupan yang datang menekan.

Tentu saja, sekiranya setan tidak ada, hawa nafsu dan sifat was-was manusia akan ditempatkan menjadi medan ujian baginya . Namun, dengan kehadiran setan, tanur ujian ini semakin membara, lantaran setan adalah pelaku eksoteris (lahir), sementara hawa nafsu adalah pelaku esoteris (batin).

Jawaban atas Sebuah Pertanyaan

Satu pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana mungkin Tuhan membiarkan kita sendiri berkonfrontasi dengan musuh tanpa welas asih dan kuat ini?

Jawaban pertanyaan ini dapat diperoleh dengan menaruh perhatian terhadap satu poin, yaitu -sebagaimana yang telah disebutkan dalam AI-Qur’an- bahwa Allah swt. mempersenjatai mukminin dengan para malaikat sebagai lasykar mereka untuk membangun dunia bersama kekuatan-kekuatan gaib dan maknawi yang mereka miliki dalam rangka memerangi diri sendiri (jihad an-nafs) dan bertempur melawan musuh.

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah ‘: kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan], Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; gembirakanlah mereka dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat …’” (QS. Fushshilat [33]: 30-31)

Poin penting lainnya adalah setan sekali-kali tidak akan masuk ke relung hati kita. Dan ia tidak akan dibiarkan melewati batas negara ruh tanpa memegang pasport. Serangannya tidak pernah membuat manusia lalai. Ia masuk ke dalam kediaman hati kita dengan ijin kita. Ya! Ia masuk melalui pintu, tidak melalui celah-celah rumah hati kita. Dan kitalah yang membuka pintu baginya untuk masuk. Demikianlah di dalam Al-Qur’an ditegaskan, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya [setan] hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. “ (QS. An-Nahl [16]: 99-100)

Secara asasi, perbuatan-perbuatan manusialah yang menyebakan lapangan bagi setan untuk melakukan infiltrasi. Sebagamana disinggung dalam Al-Qur’an, ”Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 27)

Namun di atas segalanya, untuk meraih keselamatan dari Jerat-Jerat setan dan prajuritnya dalam bentuk yang beraneka ragam, seperti syahwat, pusat-pusat kerusakan, politik-politik busuk, sekte-sekte yang menyimpang, budaya-budaya rusak dan merusak, jalan untuk selamat hanyalah berlindung kepada iman dan takwa, serta sinar kasih Tuhan Yang Mahakasih dan menyerahkan diri kepada Dzat Yang Mahakudus. AI-Qur’an berfirman, “…kalau tidaklah karena rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja [di antaramu].” (QS. An-Nisa [4]: 83)[1]

[1] Tafsir-e Payam-e Qur’an, jilid 1, hal. 423.

Diambil dari buku Menjawab 110 Isu Akidah, cet. Majma Jahani Ahlulbait, terj. Ust. A Kamil.
 

perempuan Syi’ah mempunyai peran penting

Iran:
Iran Selenggarakan Konferensi Internasional Perempuan Pertama
Tehran saat ini menjadi tamu para aktivis perempuan dari 80 negara dunia. Sekitar 70 persen dari mereka dari kalangan ahlus sunnah, sedangkan 30 persennya dari Syiah. 

 Iran Selenggarakan Konferensi Internasional Perempuan Pertama.

Republik Islam Iran untuk kesekian kalinya mengadakan konferensi tingkat Internasional bertemakan kebangkitan Islam yang kali ini mendatangkan lebih dari 1400 aktivis perempuan dari sekitar 85 negara. Berikut catatan Purkon Hidayat yang dirilis situs berita IRIB Indonesia mengenai konferensi tersebut:

Konferensi Internasional “Perempuan dan Kebangkitan Islam” digelar selama dua hari yang dihadiri lebih dari 1400 orang aktivis perempuan yang bergerak di bidang akademis, sosial, budaya dan politik dari berbagai negara dunia. Perhelatan akbar yang berlangsung sejak Selasa (10/7) ini menjadi bagian dari rangkaian acara Dewan Internasional Kebangkitan Islam yang dimulai sejak September tahun lalu.

Konferensi Internasional Kebangkitan Islam digelar di Tehran pada tanggal 17-18 September 2011. Adapun Konferensi Pemuda dan Kebangkitan Islam dilaksanakan pada tanggal 29-30 Januari 2012 dengan menghadirkan lebih dari 1.000 pemuda dan aktivis dari seluruh dunia. Pada kedua pertemuan itu, ratusan cendekiawan, pemikir, sosiolog, sejarawan, dan pemuda revolusioner dari berbagai negara dunia, terutama dunia Islam secara antusias mendiskusikan berbagai isu yang berhubungan dengan Kebangkitan Islam.

Sekretariat Dewan Internasional Kebangkitan Islam hingga kini berhasil menggelar tiga konferensi yaitu “Kebangkitan Islam”, “Pemuda dan Kebangkitan Islam”, serta “Penyair dan Kebangkitan Islam”. Ketiga konferensi itu mendapat perhatian besar dari aktivis, pemikir dan pengambil keputusan di berbagai bidang di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Terkait urgensi kebangkitan Islam Penasehat Ayatullah Sayid Ali Khamanei Bidang Internasional, Doktor Ali Akbar Velayati mengatakan, “Pada dasarnya, Kebangkitan Islam merupakan sebuah kesadaran luas dan mendalam yang berusaha membebaskan bangsa-bangsa Muslim dari perbudakan pikiran, politik, dan ekonomi. Gerakan itu berusaha mewujudkan kemajuan dan persatuan di tengah umat Islam.”

Penyelenggaran Konferensi internasional Perempuan dan Kebangkitan Islam digelar mengingat urgensi peran perempuan dalam transformasi kawasan. Isu perempuan dan kebangkitan Islam menarik untuk dikaji dari berbagai dimensi. Dan dalam konferensi kali ini diwujudkan melalui berbagai komisi terkait.

Kebangkitan Islam di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dalam 18 bulan terakhir berhasil menumbangkan empat rezim despotik di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman. Transformasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan yang tidak kecil. Di sisi lain, tranformasi tersebut juga menentukan masa depan perempuan ke depan.

Menengok perjalanan jejak kedudukan perempuan dalam revolusi Iran, Revolusi Islam telah membuyarkan semua asumsi keliru tentang perempuan. Tidak bisa dipungkiri, perempuan Iran berada di garda depan dalam revolusi Islam. Revolusi ini jelas tidak mungkin terjadi tanpa kontribusi kaum perempuan Iran. Tanpa kehadiran perempuan, revolusi akan kehilangan separuh kekuatan revolusionernya.
Kaum perempuan Iran juga merupakan kekuatan budaya yang sangat berpengaruh dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Terkait hal ini, Bapak Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini ra berkata, “Seandainya kaum perempuan tidak berpartisipasi dalam kebangkitan ini, revolusi Islam tidak akan berjaya.”

Kebangkitan Islam dan revolusi di bawah komando Imam Khomeini ra menempatkan kaum perempuan dalam poros aktivitas politik dan menyerahkan bendera revolusi kepada kaum perempuan tanpa sedikitpun mengusik ketentuan hijab, wibawa Islami, iffah dan kualitas ketakwaan mereka. Siapapun tidak pernah memberikan hak sedemikian besar kepada kaum perempuan Iran dan muslimah.

Berkat revolusi Islam, kaum perempuan Iran di tempatkan pada posisi idealnya. Mereka dapat berkecimpung di dunia sains dan akademik tanpa mengurangi sedikitpun kualitas keagamaan, iffah, ketakwaan, kepribadian dan martabatnya sebagai muslimah. Mereka juga tidak mendapat hambatan apapun di ranah ilmu keagamaan. Mereka sekarang bisa berkiprah di gelanggang politik, sosial, jihad, layanan publik dan lain sebagainya sambil tetap mempertahankan hijab dan wibawanya sebagai muslimah sejati. Kini, gerakan-gerakan Kebangkitan Islam telah memisahkan nasib mereka dari para penguasa tiran yang menjadi boneka AS dan bergerak di jalan kemerdekaan dan kebebasan dengan partisipasi kaum perempuan.

Islam memberikan perhatian khusus mengenai kedudukan perempuan. Agama ilahi ini mempertimbangkan berbagai faktor mulai dari struktur fisik, emosi dan naluri, hukum dan aspek perempuan lainnya. Meski perempuan pada dasarnya memiliki fisik yang lemah dan lembut, namun ia memiliki perasaan dan naluri yang kuat, yang diciptakan oleh Allah swt guna mengemban tugas pendidikan dan pengajaran masyarakat untuk menghantarkan umat manusia kepada kesempurnaan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa Islam sangat memuliakan perempuan. Rahbar mengatakan, “Dalam pandangan Islam, sebagai manusia, tidak ada sedikitpun perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an, perempuan dan laki-laki sama dalam melangkah ke puncak ketinggian dan kedekatan kepada Allah.”

Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menilai krisis wanita dewasa ini merupakan salah satu problema paling krusial bagi setiap peradaban, masyarakat dan negara. Rahbar menyebut perspektif Barat terhadap perempuan sebagai pandangan yang menyimpang, kesesatan yang nyata, penghinaan terbesar, dan penistaan terhadap kehormatan perempuan. Pernyataan itu disampaikan Rahbar Rabu malam (5/1) dalam seminar pemikiran strategis ketiga dengan tema ‘Perempuan dan Keluarga’.

Beliau mengatakan, “Tidak seperti yang dibayangkan, tindakan yang dilakukan orang-orang feminis ternyata justru merugikan kaum perempuan. Sebab, dengan melecehkan perempuan mereka menjadikannya sebagai alat pemuas nafsu. Dan sayangnya, opini umum di Barat memandang masalah ini sebagai fenomena yang lumrah dan bisa terima.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa musuh menjadikan masalah perempuan sebagai salah satu sasaran serangan politik dan propaganda terhadap pemerintahan Islam di Iran. Karena itu masalah perempuan harus mendapat perhatian penuh. Ditegaskannya, “Dengan melakukan pencerahan kepada opini umum masyarakat dunia, kita jangan memberi kesempatan kepada Barat untuk mewujudkan target para pembuat keputusan dan penyusun agendanya dalam menyerang dasar-dasar ajaran Islam dalam masalah perempuan.”

Tehran saat ini menjadi tamu para aktivis perempuan dari 80 negara dunia. Sekitar 70 persen dari mereka dari kalangan ahlus sunnah, sedangkan 30 persennya dari Syiah. Sebelum mengikuti seminar, mereka diajak menikmati perjalanan ke Isfahan, Qom dan Mashhad dengan tujuan mengetahui dari dekat kemajuan Iran dewasa ini terutama aktivitas Iran di bidang sosial, budaya dan politik serta olahraga.

Pada konferensi internasional dan kebangkitan Islam kali ini lebih dari 400 paper dikaji dalam enam komisi yang terdiri dari komisi “Pemikiran Islam, Potensi Perempuan dan Sikap Revolusioner”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Peluang dan Ancaman”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Capaian dan Harapan”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Interaksi dan Hubungan”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Keluarga dan Potensi Revolusi”, “Perempuan dan Kebangkitan Islam: Perspektif dan Masa Depan.” Sambutan kaum perempuan muslim terhadap Kebangkitan Islam mendorong terwujudnya masa depan perempuan Muslim yang lebih cerah.

.

Iran:
Presiden Iran Tekankan Peran Penting Perempuan
Dalam sambutannya membuka Konferensi internasional “Perempuan dan Kebangkitan Islam”, Presiden Iran Ahmadi Nejad menyatakan, ” Jika perempuan bangkit, maka seluruh masyarakat bangkit.” 

 Presiden Iran Tekankan Peran Penting Perempuan.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di depan lebih dari seribu Muslimah dari 85 negara, termasuk dari Indonesia, mengatakan perempuan mempunyai peran penting dan sangat berpengaruh khususnya untuk pembangunan sosial.

“Jika perempuan bangkit, maka seluruh masyarakat bangkit,” kata Ahmadinejad pada pidato pembukaan Konferensi Internasional Tentang Perempuan dan Kebangkitan Islam, di Teheran, Iran, Selasa (10/7).

Presiden Iran memuji perempuan sebagai manifestasi kebesaran dan kesempurnaan Tuhan seperti yang terlihat dari sifat-sifat kasih sayang perempuan.

Semua pria yang berhasil berutang budi pada ibu mereka yang telah membesarkan mereka dengan kasih sayang, ujarnya.
Ahmadinejad percaya bahwa semua perubahan memerlukan peran perempuan, seperti telah terbukti di Iran dan belahan lain di dunia, antara lain Mesir dan Tunisia.

Ia pun menyerukan reformasi atau perubahan di seluruh dunia menuju ke arah yang lebih baik

.
Islam dan Al Quran bersifat universal yang bertujuan untuk menyelamatkan seluruh manusia di dunia, agar dapat hidup bermartabat dan mulia.
Umat manusia perlu bangkit dari kehinaan, tekanan, tirani serta kemiskinan agar bisa merasakan manisnya hidup bermartabat

.
Turut hadir di konferensi internasional tersebut delegasi Indonesia yang beranggotakan 15 perempuan yang mewakili perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat seperti MER-C, atas undangan Pemerintah Iran

.

 

Ketua Komite Olimpiade London 2012:
Jilbab Bukan Halangan Perempuan untuk Berolahraga
“Saya sepakat dengan keputusan FIFA yang menetapkan bolehnya atlit perempuan mengenakan jilbab. Karena jilbab bukan halangan bagi perempuan untuk bisa terlibat dalam olahraga.” 

 Jilbab Bukan Halangan Perempuan untuk Berolahraga.

Jacques Rogge ketua Komite Olimpiade Internasional London 2012 ketika dimintai tanggapannya mengenai pengenaan jilbab oleh atlit muslimah di ajang Olimpiade khususnya di cabang sepak bola menyatakan, “Saya sepakat dengan keputusan FIFA yang menetapkan bolehnya atlit perempuan mengenakan jilbab. Karena jilbab bukan halangan bagi perempuan untuk bisa terlibat dalam olahraga.”

“Keputusan FIFA untuk mencabut pelarangan penggunaan jilbab adalah bukti ketidak berpihakan organisasi tersebut pada agama atau budaya tertentu.” Lanjutnya.

Ketika ditanya mengenai adanya ancaman teror oleh kelompok-kelompok yang disinyalir bakal melakukan kekacauan pada saat olimpiade berlangsung, ketua komite Olimpade tersebut menyatakan, “Keamanan berlangsungnya pesta olahraga ini adalah fokus utama kami. Dan kami telah bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mencegah terjadinya kemungkinan buruk. Kami yakin semua pihak akan turut menjaga dan menghendaki suksesnya acara ini, karena ini milik kita semua.”

Sementara itu sebagaimana dirilis Press TV, Perancis mengatakan tidak akan mengizinkan pemain perempuan untuk mengenakan jilbab, meskipun Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) baru-baru ini menyetujui hal tersebut.

Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) mengumumkan bahwa mereka harus menghormati prinsip-prinsip konstitusional dan hukum sekularisme yang berlaku di negara ini dan masalah itu ada dalam undang-undang Perancis. Federasi secara eksplisit akan melarang pemain perempuan mengenakan jilbab

.

 

Hasil Nyata Jilbab, Memperkenalkan Kecantikan Sejati Kaum Hawa

Doktor Mohammad Ali Azarshab, anggota Komisi Budaya dan Peradaban Islam di Dewan Tinggi Revolusi Budaya Iran, menyatakan bahwa busana Muslimah adalah proteksi kemuliaan dan martabat hakiki seorang perempuan.

 

Mehr News (10/7) melaporkan, dalam membudayakan jilbab dan busana Muslimah di antara kaum perempuan, langkah awal yang perlu diambil adalah menyelesaikan berbagai masalah berkaitan sebelum menindaklanjuti masalah jilbab itu sendiri.

 

“Pertama kita harus sukseskan dahulu masalah-masalah yang berkaitan dan baru setelah itu kita memasyarakat jilbab. Karena munculnya ketimpangan tidak akan dapat menyukseskan program perluasan jilbab,” katanya.

 

Menurutnya, “Jilbab adalah ungkapan yang kita gunakan. Adapun inti masalah dalam jilbab dan busana islami adalah bahwa seorang perempuan harus berbusana sebagai seorang insan mulia dan bukan sebagai sarana pelampiasan hawa nafsu.”

 

Ditambahkannya, makna busana islami bukan berarti bahwa kecantikan perempuan harus disembunyikan, akan tetapi bahwa kecantikan perempuan dapat tercerminkan pada partisipasinya dalam masyarakat, berbagai aktivitas, kesantunan, kepiawaiannya dalam mengurus rumah tanggah, dan dalam mendidik putra-putrinya. Semuanya dapat dilakukan dengan baik oleh kaum perempuan mengingat Allah Swt telah melimpahkan banyak karunia khusus kepada kaum hawa, yang akan mencerminkan kecantikan sejati mereka.

 

Penasehat Hubungan Internasional Menteri Pendidikan dan Bimbingan Iran ini mengatakan, “Sayang sekali di Barat, perempuan telah menjadi produk hawa nafsu dan oleh karena itu mereka cenderung mengarah pada budaya bertelanjang.”

 

Doktor Azarshab menegaskan, “Jilbab berkaitan dengan sisi transendental dalam Islam. Agama ini adalah kekuatan maha dahsyat yang akan mengantar manusia pada kesempurnaan. Dan Islam memiliki bimbingan yang luar biasa untuk kaum perempuan.”

 

Pengajar Universitas Azad Tehran ini juga mengatakan bahwa dampak dari jilbab adalah memperkenalkan manusia pada kecantikan yang sejati, karena bagaimana pun hawa nafsu akan menjadi penghalang menuju kesempurnaan.

 

Jika jilbab diperkenalkan secara proporsional dalam masyarakat, maka kemuliaan dan martabat hakiki kaum perempuan juga akan terwujud. Tidak hanya itu akan tercipta keseimbangan antara rasionalitas dan seksualitas dalam masyarakat.

 

Dalam prosesnya, menurut Azarshab, kita harus menjelaskan filsafat jilbab dan maknanya yang benar kepada masyarakat. Kemudian, berbagai masalah yang berkaitan termasuk masalah-masalah sosial, budaya, ekonomi, ideologi, politik, dan lain-lain, harus terlebih dahulu diselesaikan sehingga kita dapat menyukseskan perluasan jilbab. Karena jika terjadi ketimpangan, maka upaya-upaya memasyarakatkan juga tidak akan tersandung.

Menuntut Ilmu Sejam Lebih Baik dari Shalat Semalam Suntuk

Ayatullah Shafi Ghulpaghani:
Menuntut Ilmu Sejam Lebih Baik dari Shalat Semalam Suntuk
“Satu jam kalian belajar dengan duduk pada suatu majelis ilmu, lebih Allah sukai dibanding mendirikan shalat sunnah semalam suntuk selama seribu malam, yang setiap malamnya diisi dengan mendirikan seribu raka’at.” 

.

Ayatullah Luthfullah Shafi Ghulpaghani, dalam pertemuannya dihadapan sejumlah santri di kota Masyhad Iran mengaskan bahwa tidak ada perkhidmatan dalam Islam melebihi menyibukkan diri dengan mempelajari agama, sejarah Islam dan menyampaikan ajaran-ajaran al-Qur’an ke masyarakat luas. “Pahala, hasil dan keberkahan yang diperoleh seorang muslim yang duduk dalam majelis ilmu ataupun menuntut ilmu di pondok-pondok pesantren sulit ditakar nilainya.” Ungkapnya.

Ulama tersebut melanjutkan pesannya, “Pada malam Lailatul Qadr, malam yang penuh keberkahan dan keagungan adalah malam yang sangat tepat untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya lewat belajar masalah-masalah keagamaan, tafsir Qur’an dan masalah fiqh.”

.
Beliau menekankan agar para santri mengetahui betapa pentingnya memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin sebagai santri (penuntut ilmu agama),”Kesempatan dan taufiq terbesar telah Allah SWT berikan kepada kalian. Keberadaan kalian dalam madrasah dan kehadiran asatid yang siap mengajar dan mendidik kalian adalah sebuah keberuntungan yang besar.”

“Satu jam kalian belajar dengan duduk pada suatu majelis ilmu, lebih Allah sukai dibanding mendirikan shalat sunnah semalam suntuk selama seribu malam, yang setiap malamnya diisi dengan mendirikan seribu raka’at.” Lanjutnya.

Guru Besar Hauzah Ilmiyah Qom Iran tersebut selanjutnya menegaskan santri dengan mempelajari ilmu agama akan mengetahui perkara halal haram di sisi Allah SWT yang dengan pengetahuan itu ia akan menyampaikannya kepada masyarakat. Beliau berkata, “Petunjuk dari al-Qur’an dan Ahlul Bait as maupun dari Nahjul Balaghah dan riwayat lainnya yang sampai kepada kita, dipenuhi oleh ma’rifat dan ilmu. Barangsiapa yang hendak mengenal Allah dengan baik dan benar maka jalur yang mesti ditempuhnya adalah melalui periwayatan Ahlul Bait as. Tidak satupun yang luput dari pengetahuan para Maksumin as, pertanyaan apapun yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dengan izin Allah mereka tahu jawabannya.”

Ayatullah Shafi Ghulpaghani lebih lanjut menjelaskan keutamaan mereka yang menuntut ilmu Ahlul Bait as, “Barang siapa yang meriwayatkan hadits dari Ahlul Bait yang dengan itu memperkokoh keyakinan umat Syiah maka itu lebih afdhal dari amal seribu orang ahli ibadah.”

Beliau pun mengingatkan, jika sekiranya umat muslim menjalankan dengan baik ajaran agamanya dan menyampaikan ke seantero dunia mengenai pesan akhlak Islam dan Qur’an maka perhatian dunia kepada Islam akan lebih besar. Ulama marja taklid tersebut berkata mengenai hal tersebut, “Nabi Muhammad saww diutus untuk mengajarkan kepada umat manusia mengenai makarim akhlak , karenanya sebagai pengikut nabi Muhammad saww tugas itupun harus kita emban, menyampaikan dan mengajarkan akhlak islam kepada umat manusia sedunia.”

.
Menurutnya hari ini umat manusia jauh dari makarim akhlak. Beliau berkata, “Banyak dari kaum muda Islam yang meniru gaya hidup orang Barat yang justru bertentangan dengan nilai-nilai akhlak Islam. karenanya kepada para santri, cendekiawan, penulis dan intelektual Islam untuk lebih mengutamakan menyampaikan masalah akhlak Islam kepada generasi muda tersebut agar bisa terselamatkan dari pergaulan dan gaya hidup yang menyimpang.”

“Insya Allah kita akan mampu melalui tantangan zaman ini dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Mari berpegang pada petunjuk Al-Qur’an dan Ahlul Bait dan para ulama yang Rabbani, serta menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah dituntunkan agama.” Tutupnya.

Perubahan Budaya dan Tantangan Dunia Muslim

“Manusia bukan lagi tawanan pemikiran yang sudah mapan, setelah mereka mampu mencapai elemen pengembangan ilmu pengetahuan, sosial, budaya dan bahkan politik dan ekonomi, melalui media teknologi informasi dan mekanisme revolusi pengetahuan.”

Bagi pengamat yang memperhatikan secara seksama pergerakan sosial dan budaya dunia secara umum, lalu pada level negara Arab dan Islam pada khususnya, akan mencatat dalam beberapa waktu terakhir, menjelang berakhirnya dekade pertama abad 21, bahwa dekade ini telah membuka pintu bagi sejumlah perubahan yang bisa kita sebutkan beberapa di antaranya sebagai berikut:

- Hilangnya sejumlah ideologi positif (rekaan manusia)

- Meningkatkan prosentase masyarakat yang hidup di atas dasar ilmiah dan teknologi

- Keragaman produksi budaya dan intelektual

- Meningkatkan penyebaran konsep pertukaran budaya dan perdagangan ekonomi antara masyarakat di bawah tuntutan globalisasi

- Memudarnya fenomena ekslusifitas budaya, dalam arti, adanya pengakuan akan hak setiap bangsa untuk memiliki identitas budaya sendiri yang tidak bertentangan dengan kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam perjalanan peradaban manusia secara umum.

Poin-poin ini dan juga yang lainnya telah mendorong beberapa ilmuwan untuk memprediksi semakin dekatnya kelahiran sistem kewarganegaraan kosmik yang setiap harinya dikuatkan oleh revolusi informasi, meleburnya pola pemikiran, kebudayaan dan perilaku, melalui media massa dan teknologi komunikasi elektronik dan satelit-satelit yang sangat cepat berkembang biak.

Meskipun sistem kewarganegaraan kosmik ini belum terwujud, akan tetapi kemampuan untuk mengikuti semua peristiwa yang terjadi di seluruh dunia dan semua hal yang mutakhir, terutama yang berhubungan dengan pola intelektual dan kreasi inovatif yang dihasilkan mercusuar dunia, baik Timur maupun Barat, telah menjadi tanda yang sangat kentara, bahkan di tingkat masyarakat yang paling sederhana dilihat dari segi kontruksi dan kemampuan untuk berkomunikasi..

Ini berarti bahwa ratusan juta manusia mampu mengakses dan mengikuti seluruh peristiwa global – baik buatan manusia atau ciptaan alam – pada saat yang sama dengan terjadinya peristiwa tersebut, terlepas dari tingkat kelemahan budaya dan teknologi yang menaungi kehidupan sosial dan budayanya ..

Fenomena ini mendukung gagasan yang menyatakan bahwa:

1. Manusia bukan lagi tawanan pemikiran yang sudah mapan, setelah mereka mampu mencapai elemen pengembangan ilmu pengetahuan, sosial, budaya dan bahkan politik dan ekonomi, melalui media teknologi informasi dan mekanisme revolusi pengetahuan.

2. Kebudayaan, tidak lagi menjadi model yang kaku, yang tidak bisa menerima pembaharuan atau pengembangan kecuali dari dirinya sendiri. Akan tetapi, telah menjadi sebuah entitas interaktif yang terus berproses untuk memperbarui pola tradisional yang sekian lama telah mengurungnya, karena budaya telah menjadi salah satu pusat pengaturan masyarakat berdasarkan pakem ilmiah dan teknologi, setelah budaya merangkul ilmu pengetahuan, seni dan sastra kedalam rangakaian sistemnya.

3. Budaya khas masyarakat mencakup serangkaian nilai yang ditentukan agama di samping adat dan tradisi di satu sisi, pola perilaku dan khazanah intelektual dalam bentuk warisan masyarakat klasik yang terus dipegang sepanjang sejarah melalui berbagai ruang dan waktu di sisi kedua, serta hubungan semua item tersebut dengan kontribusi ke-khas-an ini untuk membangun peradaban manusia di sisi ketiga.

Dari sini, muncul sebuah tantangan yang mengharuskan semua masyarakat manusia – terutama di dunia Arab dan Muslim – untuk menjaga identitas budayanya dengan segala cara dan terutama menjaga nilai-nilai dan keyakinan yang membedakan muslim dari komunitas lain, nilai-nilai yang mengatur hubungan mereka dengan orang lain dan pola pikir lain yang membentuk perilaku budaya dan menjadi ciri utama masyarakat informasi dalam kurun waktu dekade pertama abad 21.

Tantangan itu adalah:

Pertama, keniscayaan bergulirnya kehidupan masyarakat menuju tingkat dunia dan konsekwensi yang lahir daripadanya, seperti interaksi politik, ekonomi dan terhubungnya masyarakat secara sosial, budaya dan peradaban dibawah naungan globalisasi.

Kedua, keniscayaan memeratakan semua produk di era teknologi komunikasi dan revolusi informasi yang dihasilkan pada semua lapisan masyarakat dan sistem yang menaunginya.

Ketiga, pentingnya menjaga ekslusifitas kehidupan budaya masyarakat dan bekerja untuk merangsang kepatuhan terhadap nilai-nilai, adat dan tradisi yang menentukan visi hidup individu dan masyarakatnya.

Bukanlah sesuatu yang berlebihan ketika kita mengatakan bahwa itu adalah tantangan yang sangat besar dilihat dari berbagai segi!

Karena yang diperlukan dari masyarakat adalah untuk menjaga rangkaian nilai-nilai agama, sosial dan budaya, sebab dalam hal itulah terkandung adat dan tradisi yang menjadi indikator perilaku individu antara tradisi dan modernitas .. sehingga masyarakat tetap berada di jantung modernitas dan bukan di pinggirannya.

Masalah yang harus diperhatikan di sini, keberhasilan mengatasi tantangan meniscayakan adanya keseimbangan yang cermat antara mengambil semua kemajuan ilmiah dan teknologi yang terbaik di satu sisi dan menjaga ekslusifitas budaya masyarakat di sisi lain.

Kami melihat, bahwa keberhasilan ini tidak akan terealisasikan dengan baik kecuali dengan mengambil langkah-langkah berikut:

- Masuk ke dalam dunia informasi dan membagun infrastruktur yang menyediakan arus informasi, kemudian menentukan arah penggunaan informasi secara optimal, dengan mencermati efek samping dari adanya produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi.

- Keyakinan yang tinggi terhadap nilai karya dan pengakuan atas prestasi ilmu pengetahuan.

- Mengembalikan orisinalitas hak asasi manusia dan merealisasikannya berikut semua hal yang berkaitan dengannya, seperti kebebasan berpendapat dan hak berbeda pendapat tanpa ada rasa takut di semua tingkat masyarakat dan pemerintahannya.

- Pengakuan setiap masyarakat bahwa setiap kelompok dan kelas sosial memiliki hak dan kewajiban yang sama, mereka semua sama di hadapan hukum.

- Keberhasilan masyarakat dalam menjalankan dialog peradaban dengan budaya-budaya lain pada tingkat ekualitas, dan fakta bahwa kontribusi budaya masyarakat akan berperan positif dalam pembentukan budaya kemanusiaan.

Keberhasilan ini tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat, karena itu, masyarakat Arab dan sejumlah besar masyarakat Muslim harus meyakini pentingnya program pengembangan kebudayaan yang berkelanjutan dan berupaya untuk menyempurnakan perjalanannya bersama pihak lain dalam koordinasi dan kerja sama dengan mereka, karena budaya dalam arti sebenarnya tidak lagi terbatas pada kreasi seni, literatur dan pemikiran, bahkan kemudian meluas mencakup pola nilai, tradisi dan perilaku individu .. Inilah sebabnya mengapa budaya ada dalam pengembangan ekonomi, sosial dan politik, yang berupaya keras untuk merespon tuntutan masyarakat dan memberikan kontribusi dalam memecahkan masalahnya di satu sisi, serta mempertimbangkan bagaimana mengatasi hambatan di sisi lain

.

Wahai Manusia, Persiapkan Jawabanmu Sekarang!

Kamis, 2012 Juli 12 12:15

 

 

رَویَ اَبُو حَمزِهِ ثَمالی قالَ:

کانَ عَلِیُّ بنُ الحُسَینِ عَلَیهِمَا السَّلامُ یَقُولُ: اِبنَ آدَمُ لایَزالُ بِخَیرٍ ماکانَ لَکَ واعِظٌ مِن نَفسِکَ وَ ماکانَتِ المُحاسِبَةُ مِن هَمِّکَ وَ ماکانَ الخَوفُ لَکَ شِعاراً وَ الحُزنُ لَکَ دِثاراً. اِبنََ آدَمُ! اِنَّکَ مَیِّتُ وَ مَبعُوثٌ وَ مَوقُوفٌ بَینَ یَدَیِ اللهِ عَزَّوَجَلَّ وَ مَسئُولٌ فَاَعِدَّ جَواباً[1]

 

Artinya: Abu Hamzah Tsumali meriwayatkan: Ali bin Husein as berkata: “Wahai anak Adam, kau dalam kebaikan selama kau memiliki pembimbing [dalam diri kalian], selama kau memperhitungkan amal perbuatanmu, dan selama kau tidak berpisah dari ketakutan dan kesedihan, ketakutan menjadi busanamu dan kesedihan menjadi  baju dalammu. Wahai anak Adam, kau akan mati dan dihidupkan kembali dan akan diadili di hadapan Allah Swt, ketika itu kau akan ditanya, maka persiapkanlah jawabanmu sekarang.”

 

Ayatullah Mojtaba Tehrani menjelaskan hadis tersebut dan menyatakan, “Manusia alam kehidupannya selalu mengacu pada kebaikan dan kebajikan, jika beberapa hal penting diperhatikannya. Pertama, peringatan dalam dirinya atas perbuatan-perbuatan buruk. Yakin selama peringatan dan bimbingan atau kesadaran itu belum musnah dalam hati manusia dan masih berpengaruh dalam menuntun amalnya, maka manusia akan bergerak dalam kebaikan. Karena dalam riwayat disebutkan bahwa bimbingan dari luar tidak akan berguna jika kesadaran hati telah hilang. Karena jika kesadaran hati itu hilang, maka sama seperti sedang membentuk besi yang telah dingin.”

 

“Kedua adalah perhitungan terhadap amalnya sendiri. Karena banyak sekali orang yang sama sekali tidak mempedulikan apa saja yang telah dilakukannya. Semua orang harus memperhatikan dan melihat kembali apa saja yang telah dilakukannya. Ketiga, adalah ketika manusia menjadikan rasa takut sebagai busananya dalam beramal, sedih dan khawatir akan azab dan siksa Allah Swt.”

 

“Selama unsur-unsur itu ada dalam diri manusia, maka pastinya manusia akan melangkah menuju kebajikan.”

 

“Itu adalah mukaddimah untuk tahap yang lebih sulit yaitu peringatan. Wahai manusia! Kau akan mati dan akan dibangkitkan pada hari kiamat, dan kau akan ditanya: apa yang telah kau lakukan? Pikirkanlah bahwa besok adalah hari kiamat dan besok kau harus memberikan jawaban. Maka persiapkanlah jawabanmu sekarang!”

Benarkah ِAhlusunnah Lebih Mengandalkan Pendapat Umar Dari Hukum Allah dan Rasul-Nya?

Buat Kaum Salafi Yang Sok Sunnati!

Dengan memonopoli nama Ahlusunnah, mereka berusaha mempropagandakan bahwa merekalah pewaris sejati ajaran Rasulullah saw.! tetapi, benarkah demikian kenyataannya, bahwa ajaran agama mereka (kaum Sunni) itu murni diambil dari Sunnah Nabi saw.? banyak kekhawatiran bahwa yang demikian itu hanya sekedar propaganda yang untuk sementara waktu mampu menawan pikiran sebagian kaum awam. Namun dengan meneliti lebih dalam hakikat ajaran mazhab mereka akan segera dikethui bahwa tidaklah demikian kenyataaannya.

Kenyataan yang tidak dapat disembunyikan adalah bahwa dalam banyak ajarannya, mereka tidak lagi mengindahkan Sunnah Nabi saw. dan ajaran beliau! Yang mereka percayai sebagai sumber agama bukan lagi Nabi Muhammad saw; Rasul utusan Allah untuk umat manusia. Akan tetapi adalah sahabat Umar bin Khaththab yang sedemikian rupa mereka sanjung setinggi langit, sampai-sampai diunggulkan lebih dari Nabi Muhammad saw.! banyak bukti yang menunjukan kenyataan penyimpangan itu. Namun dalam kesempatan ini saya hanya mengajak Anda menyimak satu bukti saja, sambil menanti sikap dan tanggapan para ulama (bukan awam yang hanya berani komentar tanpa dasar ilmu)!

Hukum Shalat Sunnah Berjamaah!

Telah dibincangkan panjang lebar oleh para ulama Ahlusunnah, tantang manakah yang lebih afdhal, apakah dilaksanakan secara sendirian/tanpa berjamaah, atau yang lebih afdhal dilaksakana secara berjamaah!

Dalamkitab Tahdzîb Fi Fiqhi asy Syafi’i[1], Al Baghawi (yang mereka gelari dengan Muhyisunnah/penyegar Sunnah Nabi saw.):

Apakah shalat sunnah dilaksanakan secara berjamaah atau sendirian? Ada dua pendapat:

Pertama: Lebih afdhal dilaksanakan berjamaah. Karena Umar mengumpulkan mereka dipimpin/diimami oleh Ubay bin Ka’ab.[2]

Kedua: Dilaksanakan sendirin itu lebih afdhal. Karena Nabi saw. shalat beberapa malam di masjid kemudian malam berikutnya hinggga akhir bulan beliau tidak keluar rumah. Beliau berkata: “Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian. Karena shalat seorang di rumahnya –selain shalat wajib- itu afdhal/utama.” Dan pendapat pertama itu lebih shahih!

Ustad Husain Ardilla :

Innâ Lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn. Itu artinya bahwa pendapat Umar lebih benar dan lebih sesuai kehendak Allah ketimbang Sunnah Nabi dan ajaran Allah!

Mereka tidak cukup mensejejarkan Umar dengan Nabi saw. tetapi lebih dari itu, mereka lebih mengutamakan Umar di atas Nabi saw.!

Saya tidak akan berkomentar apa-apa lagi tentangnya! Saya hanya akan menyebutkan ucapan Ibnu Abbas ra. (seorang sahabat mulia, yang tentunya juga harus diagungkan oleh Ahlusunnah, khususnya kaum Wahhabi Salafi yang mengaku sebagai pewaris ajaran Salaf Shaleh!) ketika menghadapi kenyataan bahwa di masa beliau telah banyak orang menjadi sesat karena lebih mengutamakan ucapan Umar dari Sunnah dan ajaran Nabi saw.!

Dalam kitab Zâdul Ma’âd diriwayatkan: Urwah berkata menghujat Ibnu Abbas ra., “Tidakkah engkau takut kepada Allah ketika engkau mengizinkan haji tamattu’. Ibnu Abbas ra. menjawab, ‘Tanyakan ibumu hai Urayyah!’[3] Urwah berkata, ‘Tetapi Abu Bakar dan Umar tidak melaksanakannya!’ Ibnu Abbas ra. berkata, ‘Aku sampaikan kepada kalian hadis Nabi saw. kalian sampaikan kepadaku sikap Abu Bakar dan Umar!’[4]

Kata Ibnu Abbas ra. Mereka Yang Lebih Mengutamakan Pendapat Abu Bakar dan Umar atas Sunnah Nabi saw. Pantas Dibinasakan Allah!

Demikian Ibnu Abbas ra. menghardik mereka! Dengarkan riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya: ketika mendengar jawaban Urwah yang lebih mengutamakan pendapat Abu Bakar dan Umar atas Sunnah dan ajaran Rasulullah saw.: Aku yakin mereka pasti akan binasa! Aku berkata, ‘Nabi saw. bersabda… ‘ sedangkan dia (Urwah) berkata, ‘Abu Bakar dan Umar melarangnya![5]

Inilah kenyataan mazhab yang memonopoli nama Ahlusunnah wal Jamâ’ah!

Dan selain contoh di atas, Anda dapat menemukan puluhan atau bahkan ratusan contoh lain, bahwa mereka benar-benar mengenyampingkan Sunnah Nabi saw. dan lebih mengedepankan pendapat para sahabat tertentu, khususnya para sahabat yang disanjung penguasa Bani Uamayyah dan Bani Abbas dengan tujuan politis tertentu!

Semoga kita diselamatkan dari penyimpangan dalam agama. Amîn.


[1] Tahdzîb Fi Fiqhi asy Syafi’i,3/232.

[2] Maksudnya pada bulan Ramadhan, kaum Muslimin dikumpulkan oleh Khalifah Umar untuk melaksanakan shalat sunnah berjamaah di masjid dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab, seperti dalam riwayat Bukhari dll.

[3] Bentuk tashghir dari kata Urwah sebagai sikap meremehkan Ibnu Abbas ra. kepada si Urwah yang sok pinter dan agamis seperti kebanyakan kaum Salafi yang baru melek agama!

[4] Zâdul Ma’âd,1/257 dan al Mathâlib al ‘Âliyah Bi Zawâid al Masânid ats Tsamâniyah; Ibu Hajar,1/1214.

[5] Musnad Imam Ahmad,1/337 hadis no. 3121 dan Zâdul Ma’âd,1/257.